Dewi Sungai Kuning Jilid 02 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

DEWI SUNGAI KUNING Jilid 02

Karya : Kho Ping Hoo

YAN BUN menjawab dengan tenang. "Aku adalah Ui Yan Bun, putera dari Ui Hauw, dan aku datang mewakili Ayahku. Dan ini...."

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Tetapi Thian Hwa mendahuluinya. "Dan aku adalah Huangho Sian-li, Dewi Sungai Huang-ho yang datang hendak menangkap buaya kecil berkepala busuk!"

"Perempuan rendah, kau akan kubunuh lebih dulu!" teriak Ma Tek San dengan marah sekali.

Yan Bun yang lebih berhati-hati dan tahu bahwa dengan sampokan ketika menangkis lontaran tombak Thian Hwa tadi maka ternyata bahwa kepala bajak itu memiliki tenaga besar dan kepandaian yang luar biasa juga, maka dia merasa bahwa kalau harus melayani pengeroyokan itu di atas papan terompah air, mereka tidak akan leluasa sekali. Maka dia lalu berkata kepada Thian Hwa, "Thian-moi, marilah kita mendarat saja."

Sebenarnya, gadis itu tidak jerih sama sekali walaupun harus melayani mereka semua di atas papan terompah air, tetapi karena ia maklum bahwa Yan Bun memang belum mahir seperti dia menggunakan kepandaian itu, dan untuk membantahnya ia takut kalau-kalau membikin malu Yan Bun, maka ia lalu berkata keras, "Hei, bajak-bajak kecil, kalau mau tahu kegagahan kami, kalian naiklah ke darat!"

"Kalian telah terkurung, bagaimana hendak mendarat?" Ma Tek San tertawa mengejek dan memberi isyarat untuk menyerbu. Maka perahu-perahu itu meluncur datang dan ujung-ujung senjata mereka digerakkan untuk menyerang Thian Hwa dan Yan Bun. Kedua anak muda itu telah bersiap dan keduanya telah mencabut pedang mereka.

Dengan beberapa kali gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa telah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air, maka kedua anak muda itu lalu menggerakkan tubuh dan melompati perahu yang telah kosong itu untuk melepaskan diri dari kepungan, lalu dengan enak sekali mereka menuju ke tepi!

Ma Tek San dengan marah mengejar ke tepian bersama suhengnya. Ketika kepala bajak itu dan suhengnya serta orang-orangnya telah berada di tepi sungai, tiba-tiba seorang anak buah bajak menunjuk ke arah perahu Thian Bong Sianjin. Ma Tek San yang memang berwatak curang dan licin segera memberi perintah kepada orang-orangnya,

"Tangkap orang tua itu dan bawa dia ke sini, tapi jangan lukai dia!" Kepala bajak she Ma ini telah dapat menduga bahwa kedua anak muda utusan dari Ui Hauw itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat, maka ia telah mengambil keputusan jika dia dan suhengnya kalah, akan mengeroyoknya. Tetapi orang tua dalam perahu itu mungkin akan kabur dan memberi laporan kepada Ui Hauw hingga datang bala-bantuan, karena itu lebih baik orang tua itu ditawan lebih dulu!

Dengan beberapa kali gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa telah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air. Mendengar perintah Ma Tek San ini, beberapa orang bajak dalam tiga buah perahu segera mendayung perahu ke arah perahu kecil di mana Thian Bong Sianjin masih duduk berpeluk tangan tak bergerak. Ui Yan Bun dan Thian Hwa melihat hal ini hanya tersenyum saja dan saling pandang.

Para bajak segera mengurung kedua anak muda itu dan merupakan lingkaran besar, sedangkan kedua anak muda itu berdiri di tengah-tengah dengan sikap tenang sekali. Ma Tek San lalu maju dan membentak.

"Apakah kalian masih berkeras kepala dan ingin mampus di sini?"

Ui Yan Bun pun maju dan berkata sabar, "Orang muda she Ma! Kau ini benar-benar tidak memakai peraturan dan kesopanan sesama kaum sungai telaga! Tanpa alasan dan sebab kau telah memusuhi Ayahku, bahkan kaubunuh dua orang kami yang sedang mencari ikan. Bukankah hal ini sangat merendahkan namamu?"

"Memang aku sengaja membunuh orangmu, habis kau mau apa?" kata Ma Tek San ketus, sedangkan suhengnya dan para anak buahnya terkekeh mentertawakan.

"Perbuatanmu itu berarti kau menantang fihak kami, maka sekarang aku mewakili ayah datang ke sini hendak mencoba sampai di mana kekuatanmu maka kau berani berlaku sewenang-wenang. Apakah kau hendak melakukan pengeroyokan atau kau berani melayani aku secara laki-laki?"

Marahlah Ma Tek San mendengar tantangan ini. "Eh, anak kecil sombong, jangan kau kira kepandaianmu sudah tiada lawannya dengan hanya memiliki ginkang dan permainan kanak-kanak di atas air itu saja! Majulah kau kalau hendak berkenalan dengan Tiat-thou-kim-go!" Setelah berkata demikian orang she Ma itu mencabut golok besarnya yang berkilauan karena tajamnya.

Tetapi sebelum kedua musuh itu bertempur, tiba-tiba terdengar suara ramai-ramai dari arah sungai. Mereka semua memandang dan terkejut melihat bahwa yang ramai-ramai itu adalah beberapa orang anak buah bajak datang sambil memikul biduk kecil di atas mana Thian Bong Sianjing masih saja duduk bersedakap tak bergerak sambil memejamkan mata!

"Eh, mengapa kalian berbuat segila ini?" Ma Tek San membentak kepada seorang bajak yang berjalan paling depan.

Bajak itu segera minta maaf kepada pemimpinnya dan menceritakan bahwa dia dan kawan-kawannya tidak sanggup mengeluarkan kakek itu dari perahunya! Telah dicoba oleh banyak orang tetapi tak seorang pun sanggup menggerakkan tubuh yang bagaikan membatu itu keluar dari perahu. Maka, untuk mentaati perintah Ma Tek San, dia dan kawan-kawannya lalu menggusur saja biduk itu ke tepi lalu mengangkat kakek itu dengan perahunya!

Yan Bun dan Thian Hwa tertawa geli. Ma Tek San marah sekali dan mendekati Thian Bong Sianjin di dalam perahunya yang kini telah diletakkan di atas tanah. "He, orang tua, siapakah engkau sebenarnya?"

Thian Bong Sianjin membuka matanya perlahan dan menjawab dengan tak acuh, "Namaku Thian Bong, kalian hendak membawaku ke manakah?"

Thian Hwa dengan keras berkata, "Orang she Ma, ketahuilah, dulu Kakekku ini disebut orang Huang-ho Sui-mo!"

Terkejutlah Ma Tek San mendengar ini, juga semua anak buah bajak. Lebih-lebih para bajak yang tadi memaksa Thian Bong Sianjin mendarat, mereka ini menggigil dan wajah mereka pucat sekali, bahkan tiga orang anak buah bajak yang telah lama menjalankan pekerjaan itu dan cukup kenal dengan nama Huang-ho Sui-mo, segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Bong Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala minta ampun!

Lauw Keng Hwesio melihat lagak tiga orang bajak itu menjadi sangat sebal dan dia yang belum pernah mendengar nama Huang-ho Sui-mo lalu memajukan kaki dan tiba-tiba kedua tangannya memukul ke arah kepala Thian Bong Sianjin dari kanan kiri! Lauw Keng Hwesio hendak memperlihatkan kepandaiannya dan ingin sekali memukul mati kakek yang agaknya terkenal dan ditaati itu, maka datang-datang dia mengirimkan serangan maut dalam gerak tipu Dewa Mabuk Menuangkan Arak!

Tetapi, kakek tua yang tampak tenang-tenang saja itu tiba-tiba mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah tangan Lauw Keng Hwesio yang meluncur maju dan tepat sekali ujung lengan bajunya menyambar ke arah jalan darah di pergelangan lengan hwesio itu!

Bukan main terkejutnya Lauw Keng Hwesio sehingga dia buru-buru menarik kembali kedua tangannya, karena kalau diteruskan, belum sampai kepalannya mendarat di kepala lawan, dia akan tertotok terlebih dulu. Dia tahu betapa hebat ujung lengan baju itu, karena anginnya telah terasa dan membuat urat tangannya kesemutan. Diam-diam dia mengeluarkan keringat dingin karena maklum bahwa kakek itu benar-benar berilmu tinggi sekali.

Thian Bong Sianjin tersenyum sabar sambil berkata perlahan. "Eh, hwesio, kau mau apakah?"

Lauw Keng Hwesio meloncat mundur dengan malu, dan pada saat itu Thian Hwa maju dan memakinya. "Bangsat gundul jangan kau berani mengganggu Kakekku!"

Kepala gundul itu menjadi marah dan dia melepaskan sabuknya yang ternyata terbuat daripada baja lemas dan merupakan joan-pian yang kuat. Tanpa banyak kata lagi dia lalu menyerang Thian Hwa yang sudah siap dengan pedang di tangan. Dan pada saat itu juga, Ma Tek San juga sudah mulai bertempur dengan Ui Yan Bun.

Ma Tek San dan Lauw Keng Hwesio memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ganas, ditambah lagi tenaga mereka besar. Tetapi kini mereka menghadapi dua orang muda gemblengan Thian Bong Sianjin yang telah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, maka baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya telah terdesak hebat oleh pedang Thian Hwa dan Yan Bun!

Ma Tek San yang selalu berpikir jahat, ketika mendapat kenyataan bahwa kedua lawannya itu benar-benar lihai, segera berseru kepada anak buahnya yang masih berdiri mengelilingi lapangan pertempuran itu. "Hayo kamu semua lekas bantu menangkap dua setan ini!"

Suara Ma Tek San yang keras terdengar berpengaruh dan tidak seorang pun di antara anak buahnya yang berani menentang atau mengabaikan perintah ini, karena mereka sudah mengenal kekejaman Ma Tek San. Dengan senjata-senjata tajam di tangan, mereka bergerak maju untuk mengeroyok. Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras sekali.

"Kalian semua mundur!" Inilah bentakan Thian Bong Sianjin yang masih duduk di dalam perahunya. Suaranya lebih keras dan nyaring dibanding suara Ma Tek San sehingga para bajak terkejut dan sebagian besar mundur. Tapi sebagian lagi tetap maju karena mereka lebih takut kepada pimpinan mereka yang kejam.

"Mundur kalian! Kalau tidak, tangan Huang-ho Sui-mo ikut berbicara!'

Ancaman ini berhasil juga, karena lebih dua puluh orang yang pernah mendengar nama ini segera mundur dan melihat ke arah orang tua itu dengan hormat, tapi masih ada juga yang berani maju dengan maksud mengeroyok Thian Hwa dan Yan Bun. Tapi Thian Bong Sianjin mengangkat tangan dan mengayunkan tangannya ke arah mereka dan pada saat itu juga beberapa orang bajak berteriak-teriak sambil melepaskan senjata mereka.

Karena ternyata sambil duduk di perahunya kakek itu telah meraup segenggam pasir kasar dan mempergunakan pasir itu sebagai senjata rahasia! Ternyata pasir kasar yang hampir menyerupai kerikil itu telah memecahkan kulit tubuh mereka yang tersambit sehingga mengeluarkan darah dan rasanya perih sekali! Melihat kelihaian orang tua itu, para bajak menjadi ketakutan dan tidak berani maju lagi.

Sementara itu, Thian Hwa yang memainkan pedangnya secara cepat sekali telah berhasil mengurung Lauw Keng Hwesio sehingga hwesio itu hanya dapat menangkis saja tanpa dapat membalas sedikitpun juga.

"Thian Hwa, jangan membunuhnya!" Thian Bong Sianjin berteriak.

Dan Thian Hwa lalu mengubah gerakan pedangnya dengan secepat kilat! Dia menggunakan ujung pedang menusuk ke arah jalan darah di tenggorokan lawan dengan gerak tipu Burung Kepinis Mematuk Ikan. Karena gerakan ini cepat sekali, maka Lauw Keng Hwesio hampir saja tak dapat mengelakkan diri, tetapi masih ingat untuk melempar diri ke belakang sehingga dia terjengkang, tapi terhindar dari maut.

Pada saat dia belum dapat memperbaiki kedudukannya, sepasang kaki Thian Hwa bergerak cepat dan joan-pian-nya telempar karena tendangan kaki kiri Thian Hwa, sedangkan ujung sepatu kanan gadis itu mampir di pundaknya menendang jalan darahnya sehingga dia berteriak keras dan merasa betapa pundaknya sakit sekali sampai meresap ke ulu hati!

Masih untung bagi Lauw Keng Hwesio bahwa Thian Bong Sianjin dalam saat yang tepat telah mencegah cucunya untuk menghabiskan jiwa hwesio itu sehingga gadis itu tidak menggunakan ujung sepatu untuk menendang tempat kematian, maka hwesio itu hanya menderita luka dalam dan patah tulang pundak saja. Tapi rasa sakit cukup membuat dia roboh pingsan!

Sementara itu, Ui Yan Bun juga berhasil merobohkan lawannya. Pemuda ini merasa sakit hati dan marah sekali kepada Ma Tek San yang telah berlaku kejam membunuh dua orang anak buah ayahnya, maka dia tidak mau memberi hati sedikit pun. Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat dan mendesak terus sehingga lawannya bertempur sambil mundur berputar-putar. Napas Ma Tek San telah terengah-engah dan wajahnya telah menjadi pucat.

Pada saat yang tepat, Yah Bun memutar pedangnya sedemikian rupa dalam gerak tipu Air Ombak Menampar Karang dan serangan yang dahsyat dan ganas ini datang bergulung-gulung bagaikan ombak samudera sehingga tak dapat ditangkis lagi oleh Thiatthou-kim-gq Ma Tek San. Dengan teriakan menyeramkan, kepala bajak yang jahat itu roboh terguling setelah tertembus pedang Yan Bun! Maka binasalah orang she Ma ini!

Para anak buah bajak laut melihat betapa kedua kepala mereka dengan mudah terbunuh oleh Thian Hwa dan Yan Bun segera mengangkat senjata hendak mengeroyok, tapi lagi-lagi Thian Bong Sianjin membentak keras.

"Kalian masih belum takluk? Siapa melawan berarti mati!" setelah berkata demikian, kakek itu berdiri dan tubuhnya yang tinggi tampak angker menakutkan. Memang nama Huang-ho Sui-mo sudah merupakan sesuatu yang menakutkan mereka, apalagi melihat betapa kepandaian tiga orang itu hebat sekali, maka para bajak itu segera menjatuhkan diri berlutut meminta ampun!

"Kalian dengarkan baik-baik! Berpuluh tahun yang lalu aku telah adakan aturan-aturan dan larangan-larangan bagi para bajak di Huang-ho untuk bekerja dengan mengenal aturan dan memilih orang yang patut dijadikan korban! Tapi orang she Ma ini telah melanggarnya, dan lihat, apa yang menjadi akibatnya saat ini! Harus kalian ketahui bahwa jika ada yang tidak mentaati aturan dan bertindak sewenang-wenang, tak usah aku sendiri turun tangan, pasti ada saja yang akan mewakili aku memberi hajaran kepada pelanggar itu! Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang gagah yang kesemuanya siap sedia membasmi kejahatan! Nah, kalian sekarang boleh memilih kepala baru, tapi awas, jangan sekali-kali pelanggaran seperti yang telah dilakukan orang she Ma ini kalian ulangi!"

Setelah memberi nasehat-nasehat kepada para bajak, Thian Bong Sianjin mengajak Thian Hwa dan Yan Bun untuk kembali ke kampung. Mereka disambut Ui Hauw yang mendengarkan cerita puteranya dengan girang dan bangga sekali. Setelah bermalam di situ beberapa hari lagi, Thian Bong Sianjin lalu mengajak cucunya meninggalkan kampung itu.

Mereka berdua memang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berpindah-pindah dan sebagian besar dari waktu mereka digunakan untuk mendayung perahu, menangkap ikan dan mengunjungi kawan-kawan dan orang-orang kampung yang tinggal di sepanjang Sungai Huang-ho yang panjang itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa sedang menjalankan biduk mereka perlahan di sepanjang tepi sungai yang airnya tenang dan hawa udara pada pagi hari itu sangat baiknya, Thian Hwa kembali mengulangi pertanyaannya yang telah berkali-kali diajukan kepada kakeknya itu.

"Kong-kong, kuharap kali ini Kong-kong menaruh kasihan kepadaku. Dulu Kong-kong berjanji akan membuka rahasia ini kepadaku setelah aku dewasa dan memiliki kepandaian. Nah, sekarang aku telah berusia tujuh belas tahun, dan tentang kepandaian, kiranya tidak sia-sia Kong-kong mengajar padaku. Kong-kong, beritahukanlah kepadaku siapa sebenarnya Ayah dan Ibuku...."

Pada kalimat terakhir ini suara Thian Hwa menjadi perlahan dan mengharukan sehingga Thian Bong Sianjin menghela napas sedih, karena dia bingung sekali. Bagaimana dia harus menceritakan kalau dia sendiri pun tidak mengenal dan tidak tahu siapa orang tua gadis itu? Dia teringat betapa dulu pernah bertemu dengan wanita cantik dalam mimpi, maka karena tiada jawaban lain, dia menjawab.

"Thian Hwa, cucuku! Sebetulnya kalau menurut kehendakku, tak usah kau pergi mencari orang tuamu karena aku sangat merasa ragu apakah kau akan berhasil. Tapi, kalau aku larang kau melakukan hal ini, berarti bahwa aku adalah seorang yang tidak berbudi dan hanya mementingkan diri sendiri saja." Kakek itu menghela napas lagi dan melanjutkan kata-katanya sambil menatap wajah cucunya yang sangat dikasihinya itu.

"Thian Hwa, terus terang saja aku ulangi, bahwa aku selama hidup belum pernah bertemu muka dengan kedua orang tuamu. Tapi aku pernah bermimpi dan melihat Ibumu...."

Sepasang mata gadis itu berkilat dan wajahnya berseri. "Ibuku....!" kata-kata "ibu" ini sangat asing baginya dan sangat mesra. "Bagaimana rupanya dan di mana dia, Kongkong?” tanyanya cepat.

"Ibumu adalah seorang wanita yang cantik sekali dan di atas bibirnya sebelah kiri terdapat sebuah tanda tahi lalat hitam yang kecil. Wajah Ibumu itu seperti... seperti... kau sendiri, Thian Hwa, dan melihat dari pakaian yang dipakainya, ia adalah seorang bangsawan."

"Kong-kong, kenapakah aku harus mencarinya?" tanya Thian Hwa.

"Thian Hwa, inilah yang sangat menyusahkan hatiku. Kalau aku sendiri mengetahui dimana adanya orang tuamu, agaknya sudah dulu-dulu kucari mereka. Tapi aku hanya bertemu dengan Ibumu dalam mimpi, dan aku tidak tahu di mana tempat tinggal mereka."

Kakek tua ini lalu menundukkan muka dan tidak berani menentang wajah cucunya, karena dia maklum betapa kata-katanya ini sangat menusuk hati dan menghancurkan pengharapan gadis itu. Dia hanya mendengar isak tangis Thian Hwa yang berusaha sekuat tenaga menekan perasaan dan menahan tangisnya.

"Kong-kong... bukankah para bangsawan... bertempat tinggal di kota raja saja?" akhirnya gadis itu bertanya setelah mereka diam untuk beberapa lama.

Kini barulah kakek itu berani mengangkat muka memandang wajah cucunya dan hatinya seperti dikerat pisau ketika melihat betapa wajah cucunya tampak pucat dan di kedua pipinya mengalir air mata yang bening.

"Thian Hwa, memang di kota raja banyak sekali terdapat bangsawan tinggi, tapi di antara ribuan para bangsawan itu, yang manakah keluarga yang kita maksudkan? Ahh, seakanakan mencari setitik air dalam Sungai Huang-ho!"

Semenjak terjadinya percakapan ini, wajah Thian Hwa nampak suram-muram dan tidak bergembira sedikit pun seperti biasanya sehingga diam-diam Thian Bong Sianjin merasa khawatir sekali. Malam hari itu mereka bermalam dalam sebuah bio rusak yang telah lama kosong, dan yang berdiri di pinggir sungai dalam sebuah hutan yang sunyi.

Karena hatinya sedih dan terharu melihat cucunya, maka Thian Bong Sianjin tekun bersamadhi untuk menenteramkan hati dan pikiran sehingga seakan-akan mati duduk dan tak bergerak bagaikan sebuah patung batu. Ketika pada keesokan harinya dia sadar, dia merasa tidak enak hati seakan-akan ada sesuatu yang terjadi.

Dan benar saja, karena Thian Hwa, cucunya yang semenjak berusia tiga hari tak pernah terpisah darinya itu, telah pergi dengan diam-diam! Gadis yang dikasihinya itu pergi dengan nekad hendak mencari orang tuanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang kini dia pegang di dalam kedua tangannya yang gemetar dan keriputan, sambil dibacanya dengan terharu.

Kong-kong,

Mohon beribu ampun bahwa aku terpaksa pergi karena tak tahan melawan desakan hati untuk mencari Ibu dan Ayahku. Aku pergi ke kota raja dan takkan kembali sebelum bertemu dengan mereka!

Cucumu Thian Hwa


Thian Bong Sianjin menghela napas dalam-dalam. Hasrat hatinya hendak segera menyusul, tapi dia menggeleng-geleng kepala tanda tidak menyetujui kehendak hati sendiri ini. Kalau dia menyusul, maka gadis itu tentu akan kecewa dan menganggap dia menghalang-halangi maksudnya. Pula, Thian Hwa sudah memiliki kepandaian tinggi dan dia tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Yang dia cemaskan adalah bahwa gadis itu takkan mungkin bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dia sendiri tidak percaya bahwa wanita yang dilihatnya dalam mimpi itu benar-benar ibu Thian Hwa!

Gadis itu tentu takkan dapat menemukan orang tuanya di kota raja dan akan kecewa hati. Inilah yang dikhawatirkan. Kini Thian Bong Sianjin merasa sunyi, sunyi sepi yang biasanya mengamankan hati menyedapkan perasaan itu kini berubah menjadi sunyi yang menyayat hati, yang menimbulkan kenangan-kenangan sedih, kesunyian seorang yang kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dikasihaninya! Kakek tua yang gagah perkasa itu akhirnya menundukkan kepala dan memejamkan mata sambil menahan napas untuk melawan gelora yang mengamuk di dalam dirinya dan membuatnya lemas.

Kira-kira setengah bulan kemudian, Thian Bong Sianjin mengunjungi Ui Hauw dan kepala bajak ini kaget sekali mendengar tentang perginya Thian Hwa. "Ah, mengapa Suhu tidak menahannya? Ke manakah anak itu pergi? Ahh, bagaimana kalau terjadi sesuatu??"

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum. Setelah beberapa hari lewat, orang tua ini dapat juga menetapkan hatinya dan melenyapkan rasa sedih yang menyerangnya. "Ia akan selamat. Kepandaiannya cukup untuk menjaga diri."

Sementara itu, ketika mendengar tentang perginya Thian Hwa ke kota raja, Yan Bun merasa terkejut sekali. Ia merasa seakan-akan hatinya terbawa pergi oleh gadis itu. Dengan lemas ia meninggalkan Thian Bong Sianjin dan ayahnya, tanpa berkata sesuatu, dan masuk ke kamarnya. Tiba-tiba saja dia merasa bahwa gadis itu sungguh merupakan arti yang besar sekali baginya.

Dan pada keesokan harinya, semua orang kaget dan bingung karena Yan Bun tahu-tahu telah pergi dengan sebuah biduk tanpa memberitahukan sesuatu kepada semua orang. Tapi Ui Hauw dan Thian Bong Sianjin saling pandang dengan penuh pengertian. Mereka ini tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, telah dapat menduga bahwa Yan Bun tentu pergi menyusul Thian Hwa dan mereka tahu pula apa artinya perbuatan pemuda itu. Diam-diam Ui Hauw menarik napas dan dia berkata kepada Thian Bong Sianjin.

"Alangkah baiknya kalau dulu-dulu kita jodohkan kedua anak itu!"

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum dan berkata perlahan. "Ui Hauw, jodoh tak dapat dipaksakan. Kita orang-orang tua menunggu saja dan melihat perkembangan terlebih jauh. Sementara itu, biarlah kita doakan agar mereka dapat bertemu dan dijauhkan dari segala bencana."

* * * *

Thian Hwa pergi melakukan perjalanannya dengan hanya membawa sebungkus pakaian dan sebatang pedang. Ia pernah diberitahu kakeknya bahwa letak kota raja adalah di sebelah utara, maka ia langsung menuju ke utara dengan menggunakan ilmu lari cepat. Karena ia biasanya melakukan perjalanan dengan berperahu dan di sepanjang Sungai Huangho, kini melalui gunung-gunung dan lembah-lembah yang penuh dengan tamasya alam yang jauh bedanya dengan pemandangan di sepanjang sungai, hatinya tertarik dan gembira sekali, seperti seorang kanak-kanak yang mendapat barang permainan baru.

Setelah berjalan dua hari, ia tiba di sebuah kampung yang makmur, dengan rumah-rumah yang bagus. Ternyata bahwa tanah di sekitar kampung itu subur dan menghasilkan banyak palawija sehingga memakmurkan para petani di kampung itu. Tanah-tanah di sekitar kampung itu terbagi rata di antara para petani sehingga di situ tiada terjadi pemerasan tenaga seperti halnya di kampung-kampung yang terdapat tuan tanah yang menguasai seluruh sawah ladang dan para petaninya hanya buruh tani belaka.

Di kampung Luncwan ini, para petani memiliki sedikit tanah yang hasilnya cukup untuk menghidupkan semua keluarga dan mereka hidup dengan rukun dan damai, saling tolong, dan membuat kampung itu menjadi sebuah tempat kediaman yang sangat menyenangkan mereka. Kampung itu hanya didiami keluarga-keluarga Tan dan Ong yang masih terikat kekeluargaan pula karena pemuda-pemudi kedua turunan ini banyak yang terikat sebagai suami isteri. Ada juga pendatang dari keturunan lain, tapi pendatang-pendatang baru ini pun taat dan tunduk kepada kerukunan yang telah ada dan menambah kekuatan dan persatuan kampung.

Kepala kampung di situ adalah seorang tua bernama Tan Hok San yang terkenal adil dan bijaksana sehingga dicintai dan dihormati orang-orang kampung. Akan tetapi, setelah beberapa pekan ini terjadi perubahan hebat sekali di kampung itu. Sebetulnya yang sangat berubah dan membuat orang-orang kampung merasa heran dan penasaran adalah kepala kampung itu sendiri. Tanpa mengetahui sebab-sebabnya orang-orang kampung melihat betapa Tan Hok San sekarang berubah menjadi pemeras rakyat yang luar biasa.

Kepala kampung yang bertahun-tahun dianggap sebagai seorang pemimpin yang cakap dan baik, tiba-tiba berubah menjadi seekor srigala yang ganas. Dia menetapkan pajak hasil sawah yang sangat berat karena tujuh bagian hasil sawah harus diserahkan kepadanya dengan alasan untuk disetorkan kepada pembesar atasan di kota raja. Juga peternak-peternak dikenakan pajak besar sekali, sehingga dalam beberapa pekan saja keadaan kampung itu menjadi berbeda sekali.

Kegembiraan lenyap digantikan oleh kedukaan dan keheranan. Tiada seorang pun berani menegur, karena pernah seorang mencoba untuk menegur kepala kampung itu tapi hasilnya orang itu sendiri ditahan dan katanya dikirim ke kota raja karena dianggap memberontak terhadap pemerintah!

Ketika hendak memasuki kampung itu Thian Hwa melewati sebuah hutan dan di situ ia melihat mayat seorang laki-laki tua yang sudah rusak karena diganggu binatang hutan. Karena pemandangan ini maka ia berlaku hati-hati dan menganggap bahwa kampung yang dimasukinya ini tentu bukan kampung yang aman dan baik. Ia mencoba mencari rumah penginapan, tapi sungguh mengherankan, dua buah rumah penginapan kecil yang biasa dibuka, kini tertutup dan tidak menerima tamu.

"Maaf, Nona, rumah penginapan tidak dibuka lagi," kata seorang bekas pelayan rumah penginapan itu.

"Mengapa tidak?"

"Kami tidak kuat membayar pajak!"

Demikian pun, ketika Thian Hwa hendak pesan makanan disebuah rumah makan yang telah ditutup, ia mendapat jawaban serupa. Keadaan kampung itu membuat ia merasa curiga dan menduga pasti ada apa-apa. Ia bertanya kepada seorang yang tampak muram dan duduk di depan rumahnya.

"Maaf, Lopeh, aku baru saja mendengar bahwa orang-orang takut berusaha-karena dikenakan pajak. Sebetulnya siapakah yang mengadakan pajak-pajak besar itu, Lopeh?"

Orang tua itu memandangnya dengan mata terbelalak, kemudian setelah ia menengok ke kanan kiri, dia segera mempersilakan Thian Hwa masuk, lalu mengunci pintu rumahnya! "Siocia, kau agaknya seorang luar kampung dan agaknya kau seorang yang biasa merantau karena kau membawa-bawa pedang di punggung. Di kampung ini jangan kau bicarakan sembarangan saja."

"Ada apakah, Lopeh?" tanya Thian Hwa heran.

Orang tua itu lalu menceritakan betapa kepala kampung yang tadinya berbudi dan adil itu kini berubah menjadi pemeras rakyat yang kejam. Thian Hwa lalu menceritakan bahwa ia telah melihat mayat di dalam hutan. Ketika empek itu mendengar tentang hal ini, dia segera bertanya tentang keadaan mayat itu, tentang pakaian dan lain-lain. Setelah mendengar keterangan Thian Hwa bahwa mayat itu memakai baju biru dan celana abu-abu, orang tua itu menjadi pucat dan berseru. "Kalau begitu, dia adalah Cun Sam!"

"Cun Sam? Siapakah Cun Sam itu, Lopeh?"

Tiba-tiba kakek itu menangis dan isterinya yang juga berada disitu ikut pula menangis. "Cun Sam adalah adikku...."

Kemudian kakek itu menceritakan betapa Cun Sam ditangkap karena berani mencela kepala kampung dan katanya dikirim ke kota raja diadukan karena dianggap pemberontak.

"Kalau begitu semua itu bohong belaka...." kakek itu mengeluh. "Cun Sam bukan dibawa ke kota raja, tapi dibawa ke hutan dan dibunuhnya." Kemudian kakek itu lalu berlari keluar untuk mengajak kawan-kawan mengambil dan mengubur mayat adiknya itu.

Sementara itu, Thian Hwa merasa gemas dan marah sekali. Ia menganggap perbuatan kepala kampung itu sewenang-wenang dan mau tidak mau ia harus turun tangan dan mencampuri perkara penasaran ini. Dengan hati panas ia lalu mencari rumah kepala kampung itu. Tapi ternyata bahwa gedung kepala kampung yang bercat kuning itu pun tertutup pintunya. Ia mengetuk dengan keras dan pintu dibuka oleh seorang pengawal bersenjata golok yang bertubuh tinggi besar dan membentaknya.

"Bangsat kurang ajar dari mana berani mengganggu rumah kami?"

Tapi ketika ia telah membuka pintu dan melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis yang cantik sekali, wajah yang tadinya tampak kejam itu berubah dan kini orang tinggi besar itu tersenyum-senyum ceriwis dan menyebalkan. "Eh, Nona... kau hendak mencari siapakah?"

Thian Hwa merasa curiga sekali melihat orang ini. Terang bahwa ia bukan orang baik-baik, mengapa bisa menjadi pengawal di tempat ini? Pula, orang ini tadi menyebut "rumah kami" yang sudah tidak selayaknya bagi seorang pengawal menyebut rumah seorang kepala kampung. Ia hendak menerjang, tapi dapat mengendalikan nafsu marahnya, lalu bertanya. "Kau siapakah?"

Orang tinggi besar itu memperlebar senyumnya. "Aku adalah seorang penjaga keamanan di sini. Apakah Nona hendak bertemu dengan Chungcu?"

Thian Hwa mengangguk. "Ya, tolong panggil keluar Chungcu kampung ini, aku hendak bertemu dengan dia."

Orang tinggi besar itu tersenyum lagi. "Tunggu sebentar, Nona, hendak kulaporkan ke dalam."

Setelah berkata demikian, dia masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar dan berkata. "Kau dipersilakan masuk menghadap di dalam, Nona."

Thian Hwa mengikuti penjaga itu memasuki ruang dalam dan berlaku hati-hati karena ia tetap menaruh kecurigaan besar. Mereka tiba di ruang dalam yang cukup luas dan di atas sebuah kursi di belakang mejanya duduk seorang laki-laki tua. Dengan memandangnya sekilas saja Thian Hwa tahu bahwa orang itu adalah seorang terpelajar dan baik hati, tapi sepasang matanya redup dan layu seakan-akan menderita hebat di dalam batinnya. Ketika melihat ia datang, orang tua itu bersikap sombong dan angkuh, tapi Thian Hwa yang bermata tajam sering menerima wejangan dari kakeknya dapat mengenal wajah dan sifat manusia, maka tahulah ia bahwa sikap itu adalah paksaan belaka.

"Siocia, kau siapakah, datang dari mana dan ada keperluan apa mencari aku?" tanya Tan-chungcu dengan suara angkuh.

"Chungcu, maafkan kalau aku mengganggumu. Aku adalah seorang perantau yang kebetulan lewat di kampung ini, tapi keadaan ganjil yang terjadi di kampungmu membuat aku merasa tidak enak dan aku harus menegurmu."

Wajah kepala kampung itu berubah pucat, agaknya merasa cemas dan marah. "Siocia, kau seorang muda janganlah mencampuri urusan pemerintahan. Lebih baik pergilah dari kampungku dengan aman."

"Tan-chungcu! Kau berlaku kejam sekali dengan memeras rakyatmu sendiri, menghisap orang-orang kampung yang mengangkatmu menjadi kepala! Tidak tahukah kau bahwa dengan peraturanmu yang sewenang-wenang menjatuhkan pajak besar itu membuat banyak orang-orangmu menderita kelaparan? Tidak dengarkah kau betapa mereka mengeluh dan menangis karena peluh dan darah yang mereka peras di ladang ternyata kaurampas hasilnya? Apakah ini adil? Kau sebagai seorang pemimpin seharusnya membimbing mereka ke jalan kebahagiaan, tapi kau bahkan menggunakan hak dan kekuasaanmu untuk memburu nafsu, mengenakkan diri sendiri tanpa mempedulikan keadaan orang lain!"

"Diamlah... diamlah! Kau... kau keluar dari sini!" Tanchungcu berteriak keras sedangkan wajahnya makin pucat.

"Tidak! Aku takkan keluar sebelum bicara habis, sebelum kau mengubah kelakuanmu yang tiada bedanya dengan seorang perampok rendah! Kau bahkan berani menangkap seorang kampung yang memperingatkanmu dan membunuhnya!"

"Apa? Kau membohong! Aku tak pernah membunuh orangku."

Bibir gadis itu tersenyum sindir. "Oh, begitukah? Di manakah Cun Sam sekarang? Coba kau terangkan!" kata Thian Hwa.

Tan-chungcu berkata sungguh-sungguh. "Cun Sam? Ah, dia... dia telah memberontak, maka dikirim ke kota raja agar diadili."

"Ah, jangan berpura-pura! Kau bukan mengirim dia ke kota raja, tapi kau mengirim dia ke hutan dan kau bunuh dia di sana. Kau telah menyuruh orang-orangmu membunuhnya. Aku sendiri melihat jenazahnya di hutan!"

"Apa?" Tan-chungcu berteriak dengan wajah pucat dan mata terbelalak. "Dia... di... dibunuh....??"

Dan pada saat itu, dari balik pintu sebelah dalam keluarlah berloncatan lima orang, dan orang tinggi besar yang tadi membuka pintu untuk Thian Hwa terdapat juga di antara mereka. Seorang pendek gemuk yang matanya juling berkata. "Chungcu, budak perempuan ini kurang ajar dan memberontak apakah harus ditawan?"

Tapi Tan-chungcu berdiri dengan tubuh gemetar dan bahkan bertanya kepada... Si Gemuk Pendek itu. "Kau... kau apakan Si Cun Sam??"

Si Gemuk Pendek tersenyum dingin. "Nanti saja kita bicarakan soal itu, sekarang kita bereskan dulu budak hina ini!" katanya.

"Tidak, tidak! Kau... kau pembunuh kejam... kau perampok jahat....!"

Si Gemuk Pendek itu membelalakkan matanya dan secepat kilat tubuhnya yang gemuk itu bergerak dan pedangnya berkilauan meluncur ke arah dada Tan-chungcu! Tapi Thian Hwa telah siap sedia, maka ia mendahului Si Gemuk itu, dan sekali berkelebat ia berhasil menyambar tangan Tan-chungcu dan menariknya sehingga terluput dari tusukan Si Gemuk Pendek. Tan-chungcu segera bersembunyi dibelakang tubuh gadis itu karena tahu bahwa Thian Hwa adalah seorang gadis pendekar yang mungkin akan dapat menolongnya.

"Li-hiap, kau berhati-hatilah. Mereka adalah perampok-perampok kejam dan ganas yang telah lama menguasai dan mengancamku!" kata Kepala Kampung itu.

Thian Hwa mengangguk-angguk dan bertolak pinggang sambil menghadapi lima orang yang berwajah ganas itu. "Hm, hm! Sudah kuduga begitu. Jadi kalian perampok-perampok hina ini dengan secara pengecut sekali telah memaksa Chungcu melakukan semua pemerasan ini? Sungguh rendah, tapi hari ini aku tentu akan menamatkan riwayatmu yang kotor ini!"

"Budak hina! Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?" teriak orang tinggi besar yang menjadi pengawal tadi.

"Tentu saja aku tahu. Kalian berlima adalah calon-calon makanan api neraka!"

"Perempuan sombong! Kau masih begini muda tapi mau besar kepala. Ketahuilah, kami adalah Bweesan Ngo-heng, Lima Raja dari Gunung Bweesan, maka jangan harap kau akan dapat keluar dari gedung ini dengan selamat!" kata Si Gemuk Pendek yang agaknya menjadi pemimpin mereka.

Thian Hwa tersenyum menyindir. "Siapa takut pada siluman dari Bweesan? Hari ini kalian lima ekor siluman bertemu dengan aku, Huang-ho Sian-li, dan akulah yang akan mengirim kalian pulang ke asalmu!"

"Bangsat perempuan sombong!" Si Tinggi Besar meloncat maju kedua tangan terulur dengan maksud hendak menubruk dan memeluk gadis jelita itu dan membuatnya malu. Tapi dengan cepat Thian Hwa meloncat berputar ke kiri dan kaki kanannya cepat menendang ke arah lambung kanan lawan.

Si Tinggi Besar terkejut sekali karena sama sekali tidak menduga bahwa gadis cilik itu dapat bergerak secepat itu sehingga hampir saja lambungnya berkenalan dengan ujung sepatu. Cepat tangan kanannya bergerak hendak menyaut dan menangkap kaki Thian Hwa, tapi ternyata tendangan itu hanya pancingan belaka.

Ketika tangan kanan Si Tinggi Besar itu bergerak hendak menangkap kakinya, ia cepat memutar ujung kakinya dan dengan dua jari tangan dikembangkan ia menusuk kedua mata lawan! Sekali lagi Si Tinggi Besar terkejut dan buru-buru meloncat mundur dengan keringat dingin membasahi jidatnya!

Melihat betapa anak perempuan itu benar-benar lihai, Kelima Raja Gunung Bweesan itu mencabut senjata mereka dan maju menyerang! Kini mereka tidak ada hasrat untuk menangkap gadis cantik itu lagi, mereka hanya ingin membunuhnya secepat mungkin karena gadis ini merupakan bahaya dan halangan besar bagi usaha mereka!

Tapi Thian Hwa tidak menjadi takut, bahkan ia merasa gembira sekali melihat berkeredepannya senjata-senjata musuh. Ia cepat mencabut pedangnya sendiri dan sebentar saja sinar pedangnya menari-nari dan bergulung-gulung mengurung kelima perampok itu! Dengan ilmu pedang Kwan Im Kiam-hoat, ia dapat melayani kelima lawannya dengan baik, bahkan dapat membuat mereka itu repot sekali.

Kemudian Thian Hwa mengubah permainannya dan mainkan ilmu pedang gubahan kakeknya yang disebut Huang-ho Kiamhoat. Ilmu pedang ini tampaknya tenang-tenang saja tapi mendatangkan tenaga yang luai biasa kuatnya, dan kadang-kadang tampak buas dan bergulung-gulung, lalu tenang-tenang lagi, sehingga sama dengan sifat dan pergerakan aliran air sungai Huang-ho, tapi yang di dalamnya mengandung gerak tipu mematikan.

Dengan gerak tipu baru ini sebentar saja Thian Hwa dapat merobohkan tiga orang pengeroyok. Sementara itu, melihat bahwa lima orang yang selalu mengancamnya dan membuatnya tidak berdaya itu kini bertempur melawan Thian Hwa, diam-diam Tan-chungcu berlari keluar dan berteriak-teriak minta tolong kepada orang-orang kampung.

Semua orang kampung ketika mengetahui bahwa di gedung kepala kampung ada perampok, lalu datang membawa senjata masing-masing dan menyerbu. Mereka melihat betapa tiga orang perampok telah roboh mandi darah dan yang dua sudah terdesak hebat. Tanpa ampun lagi tiga orang perampok yang belum mampus tapi sudah terluka oleh pedang Thian Hwa itu, lalu dikeroyok dan tubuh mereka hancur di bawah hantaman dan bacokan orang-orang kampung!

Dua orang perampok yang belum roboh, yakni Si Tinggi Besar dan Si Gemuk Pendek, yang ternyata memiliki kepandaian lumayan juga, melihat nasib ketiga kawannya, lalu menjadi ngeri dan takut. Mereka hendak melarikan diri, tapi pedang gadis yang gesit itu mengurung dan menahan mereka. Kemudian Si Gemuk Pendek menggunakan akal busuk dan memperlihatkan kekejaman dan kejahatannya. Dia meloncat ke belakang kawannya Si Tinggi Besar, lalu mendorong kawannya itu dengan keras ke arah Thian Hwa! Sehabis melakukan ini, dia meloncat ke atas melalui jendela dan kabur!

Thian Hwa cepat berkelit menghindarkan diri dari tubrukan dan langsung menusuk ke arah dada Si Tinggi Besar yang dikorbankan oleh kawannya sendiri sehingga Si Tinggi Besar roboh dan menjadi korban orang-orang kampung pula. Sementara itu Thian Hwa yang merasa gemas dan benci kepada kepala perampok yang curang dan pengecut itu, segera menggerakkan tubuh mengejar keluar jendela.

Ketika tiba di atas genteng, ia melihat bayangan kepala perampok itu bergerak-gerak jauh di depan, maka segera ia mengeluarkan kepandaiannya mengejar cepat. Ternyata dalam hal kepandaian ginkang ia masih menang jauh, maka sebentar saja ia dapat mengejarnya.

Si Pendek Gemuk itu dengan gemas lalu berlaku nekad dan melawan mati-matian, tapi dalam beberapa jurus saja dia terpaksa mengakui keunggulan Huang-ho Sian-li yang walaupun masih sangat muda namun memiliki kepandaian yang berlipat ganda lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Sebuah tusukan yang tepat menembus lehernya membuat dia roboh berguling-guling dari atas genteng dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Setelah mendengar cerita kepala kampung, maka seluruh penduduk baru mengerti mengapa Tan-chungcu demikian berubah. Tidak tahunya, beberapa pekan yang lalu, pada suatu malam, lima orang penjahat itu masuk dan menyerbu dari atas genteng ke dalam gedung Tan-chungcu. Lalu mereka itu mengancam kepala kampung untuk memeras rakyat dan menyerahkan semua hasil pemerasan kepada mereka!

Mereka ini bersembunyi di dalam gedung Tan-chungcu dengan menyamar sebagai pengawal-pengawal yang katanya datang dari kota raja! Tentu saja Cun Sam juga mereka yang membunuhnya. Semua keluarga kepala kampung tidak berdaya dan tidak seorang pun berani membuka rahasia mereka karena itu berarti bencana bagi keluarga kepala kampung itu!

Semua penduduk kampung menyambut kedatangan Thian Hwa yang menyeret tubuh Si Gemuk Pendek yang tak bernyawa lagi itu dengan sorakan gemuruh. Mereka berterima kasih sekali, terutama Tan-chungcu sendiri. Kepala kampung yang sudah tua ini mengumpulkan seluruh keluarganya dan bersama-sama mereka berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala di depan Thian Hwa! Tentu saja gadis itu menjadi repot dan bingung, karena tak mungkin ia dapat mencegah orang sebanyak itu yang berlutut padanya, maka tiada lain jalan baginya selain ikut pula berlutut membalas hormat mereka!

Maka berpestalah seluruh kampung pada hari itu dan tiap bibir menyebut-nyebut nama Huang-ho Sian-li! Pada keesokan harinya, setelah menanyakan jalan, Thian Hwa meninggalkan kampung Lun-cwan dengan diantar oleh seluruh penduduk kampung, tua muda, laki-laki perempuan, sampai jauh di luar kampung. Gadis ini diberi seekor kuda yang bagus dan banyak pula bekal makanan dan pakaian yang diberikan padanya dengan setengah memaksa sehingga ia tidak dapat menolak lagi!

Di sepanjang jalan, Thian Hwa merasa betapa senangnya memberi pertolongan kepada orang yang sedang menderita kesukaran, dan jika ia mengenang kembali kemesraan yang ia dapat dari para penduduk kampung Lun-cwan, ia tidak merasa hidup sebatang kara lagi, bahkan merasa bahwa seluruh penduduk kampung itu adalah saudara dan keluarganya!

Karena telah mendapat petunjuk dari kepala kampung Tan tentang jalan dan jurusan yang menuju ke kota raja, pula karena kini telah mempunyai seekor kuda yang kuat dan cepat larinya, maka perjalanan Thian Hwa menjadi lancar dan cepat. Biarpun semenjak kecil hidup di atas air sungai Huang-ho, tapi karena kakeknya seorang yang berpemandangan luas, maka ia pernah dilatih menunggang kuda, sehingga kini tidak kaku lagi dan dapat melakukan perjalanan jauh dengan kuda.

Beberapa hari lewat tanpa terjadi sesuatu yang penting. Pada hari yang ketiga, Thian Hwa tiba di tepi sebuah sungai tapi jika dibandingkan dengan Huang-ho tampak tidak berarti, tapi cukup lebar karena pada waktu itu musim hujan telahtiba, Thian Hwa telah diberitahu oleh orang di kampung yang baru dilewatinya bahwa jembatan besar yang menyeberangi sungai itu terdapat kira-kira lima li di sebelah barat.

Karena semenjak kecil selalu hidup dekat sungai, maka melihat sungai ini timbullah kegembiraan Thian Hwa. Ia melihat di tempat itu sunyi sekali, maka segera ia tambatkan kudanya pada sebatang pohon dan ia cepat menanggalkan pakaian luarnya dan mengganti pakaian mandi yang ringkas.

Rambutnya yang panjang itu ia gelung ke atas dan diikatnya dengan sepotong sutera halus. Kemudian ia terjun ke dalam air yang dalam dan mengalir deras itu! Sebentar kemudian tubuhnya berenang hilir mudik dengan cepat sekali dan Thian Hwa merasa tubuhnya segar dan enak. Alangkah nikmatnya mandi di sungai yang airnya dalam dan dingin itu. Ternyata air sungai itu jernih dan lebih dingin daripada air Sungai Huang-ho, maka Thian Hwa merasa betah sekali mandi di situ.

Ia menyelam ke dalam air mencari kerang dan mengejar ikan-ikan kecil yang bermacam-macam warna dan bentuknya, seperti yang tiap hari dilakukannya di Huang-ho dulu ketika ia masih kecil. Pada saat seperti itu ia lupa akan segala, lupa akan orang tua yang sedang dicarinya, lupa akan kakek yang ditinggalkannya, pendeknya lupa akan segala kesusahan dan hanya merasa gembira dan bahagia. Ia merasa dirinya benar-benar menjadi dewi air!

Air sungai itu makin ke hilir makin besar dan dalam kegembiraannya, Thian Hwa telah berenang mengikuti aliran air sungai jauh juga dari tempat kudanya ditambatkan! Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang mengerikan terjadi di permukaan air, agak jauh ke hilir. Sebuah perahu kecil yang indah terombang-ambing di permukaan air karena sedang diserang oleh seekor ular air warna hitam yang besar dan panjang!

Ular itu telah menggunakan ekor dan tubuhnya membelit perahu dan kepala dijulurkan ke dalam hendak menerkam seorang yang mempertahankan dirinya dengan sebuah dayung kayu dan mencoba untuk memukul kepala ular itu dengan dayung. Tapi usaha orang itu sia-sia karena kepala ular makin dekat dan tiap saat tentu ia akan menjadi mangsa binatang itu yang agaknya tidak terburu-buru untuk segera menerkam mangsanya dan hendak mempermainkan lebih dulu!

Melihat ini, Thian Hwa mempercepat berenangnya menuju ke perahu itu dan sekali meloncat sambil menekan pinggiran perahu, ia telah berada di atas perahu dan tanpa berkata ia telah merampas dayung dari tangan orang itu. Orang itu ternyata seorang tua yang berpakaian bangsawan dan sikapnya gagah dan kini berdiri dengan mata terbelalak memandang gadis yang pakaian dan keadaannya bagaikan seorang dewi yang baru saja muncul dari Kerajaan Hai Liong Ong yang berada di bawah air!

Dalam keadaan yang demikian mendesak untuk menolong jiwa orang Thian Hwa tidak menggunakan banyak peradatan dan upacara lagi, bahkan ia lupa bahwa dengan pakaiannya yang ringkas dan basah itu sebetulnya tidak pantas untuk memperlihatkan diri di depan seorang laki-laki. Ia menggunakan dayung itu untuk memukul kepala ular.

Tadi ketika dayung itu masih berada di tangan laki-laki bangsawan itu dan digunakan untuk menyerangnya, binatang itu dengan mudah dan secara main-main mengelakkan tiap pukulan. Kini menghadapi serangan Thian Hwa, sekali pukul saja dayung itu tepat mengenai kepala ular sehingga ular itu mengamuk karena merasa sakit. Dari mulutnya keluar busa dan ia menyembur-nyembur dan mendesis-desis!

Tapi Thian Hwa tidak takut bahkan ia menggunakan dayungnya menghantam tubuh dan ekor yang melilit perahu. Ular itu memberontak keras dan perahu itu hampir terguling dan terbalik! Orang tua bangsawan itu berteriak ketakutan karena dia tidak pandai berenang dan jika jatuh ke dalam air berarti mati baginya, maka dia berpegang kepada pinggiran perahu dan duduk dengan tubuh menggigil.

Melihat hal ini, Thian Hwa lalu meloncat ke dalam air dan menggunakan tangannya menahan badan perahu sehingga tidak berguncang lagi. Tapi pada saat itu, ular yang panjangnya lebih sepuluh kaki itu meluncur di permukaan air dan menyerangnya dengan hebat dan mulut terbuka lebar!

"Awaaaassss!!!" bangsawan itu menjerit ngeri ketika melihat hal ini, tapi Thian Hwa cepat bergerak menjauhi perahu karena ia hendak memancing ular itu menjauhi perahu. Kalau harus bertempur di dekat perahu, maka ia akan sibuk sekali dan harus memecah perhatian dan tenaganya menjadi dua, sebagian untuk melawan ular, sebagian lagi untuk menjaga perahu. Ia berenang cepat dan dikejar dari belakang oleh ular itu!

Sebetulnya, melihat badan ular yang panjang dan kelihatan licin berlenggang-lenggok itu, timbul ngeri dan jijik di dalam dada Thian Hwa, tapi sekali-kali tidak merasa takut. Ia mencari akal untuk melawan sebaiknya dan secepatnya menjatuhkan atau membinasakan ular itu. Tiba-tiba ia membalik dan berenang sambil telentang menghadapi ular itu.

Ia sengaja berenang perlahan dan kadang-kadang mengangkat tubuhnya tinggi untuk memanaskan hati ular itu. Benar saja, ular itu makin marah dan mempercepat berenangnya. Ia kini meluncur cepat sekari ke arah gadis itu dengan mulut dibuka selebar-lebarnya. Thian Hwa membuat perhitungan tepat, lalu ia siap sedia. Ketika ular datang mendekat dan menerjangnya dengan mulut terbuka lebar sehingga giginya yang runcing tampak nyata.

Thian Hwa memapakinya dengan dayung di tangan dan gerakan dayungnya sedemikian rupa sehingga dayung kecil itu tepat sekali memasuki mulut ular dan terus disodokkan ke dalam sehingga memasuki perutnya! Ular itu berontak, sebagian tubuh belakang dan ekornya menyabet-nyabet dan berdaya melepaskan diri, tapi tusukan dayung itu terlampau dalam sehingga hampir saja seluruhnya masuk ke dalam tubuh!

Ia hendak selulup (menyelam) tidak dapat, hendak berenang lari pun sukar karena kepala dan leher tidak dapat digerakkan lagi, maka ia hanya dapat menggerak-gerakkan tubuh belakangnya melilit-lilit dan berputar-putar menimbulkan ombak besar pada air yang telah mulai memerah bercamput dengan darahnya yang keluar dari mulut yang tak berdaya itu.

Sementara itu, Thian Hwa berenang cepat menuju ke perahu kecil indah yang kini terputar-putar di tengah sungai karena tidak ada dayung yang mengemudikannya lagi. Bangsawan tua tadi hanya duduk bengong karena masih merasa ngeri dan heran melihat perkelahian antara ular dan gadis aneh itu. Dan dari tepi sungai tampak beberapa orang laki-laki berteriak-teriak bingung. Thian Hwa lalu menghampiri perahu dan sambil berenang ia mendorong perahu itu ke pinggir di mana orang-orang menyambut perahu itu dengan teriakan-teriakan girang.

"Kau... kau... manusiakah?" tanya bangsawan tua itu.

Thian Hwa memandangnya dengan senyum manis. Wajah bangsawan itu mendatangkan rasa simpatinya, karena wajah itu membayangkan watak yang agung dan gagah. "Aku orang biasa saja yang kebetulan lewat di sini."

Bangsawan tua itu tak dapat berkata apa-apa lagi dan sementara itu perahunya telah tiba di tepi dan banyak tangan kini membantunya ke tepi. Begitu naik, bangsawan itu lalu melepas baju luarnya yang lebar dan indah lalu melemparkannya ke arah Thian Hwa yang masih berada di air.

"Siocia, kaupakailah ini dan naiklah. Aku ingin sekali bicara denganmu dan menyatakan terima kasihku."

Thian Hwa makin tertarik melihat kesopanan dan kebaikan orang tua itu, apalagi sikap orang tua yang terus terang dan tanpa banyak peradatan itu mengingatkan ia akan kakeknya. Ia tahu bahwa dalam pakaian mandinya tak pantas kalau ia keluar dari air, maka ia lalu menggunakan pakaian luar bangsawan itu untuk menutupi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut, lalu mendarat.

Semua orang heran melihat Thian Hwa dan memandang dengan bengong, bahkan beberapa orang bertanya. "Siapakah gadis cantik ini?"

Karena banyak mata orang memperhatikannya, Thian Hwa menjadi tidak senang dan malu, maka bangsawan itu membentak. "Kalian semua manusia yang tidak bisa diharapkan! Baru ada serangan ular begitu saja kalian melarikan diri dan semua memikirkan keselamatan diri sendiri dan meninggalkan aku seorang diri di tengah sungai! Sungguh semangat kalian dibandingkan dengan semangat tikus pun masih kalah besar. Lihatlah Siocia ini. Ia adalah seorang wanita yang gagah perkasa. Dengan sebatang dayung kecil ia berhasil membuat ular air tadi tak berdaya. Ia menusuk mulut ular itu sehingga dayung perahuku masuk sampai ke perut ular! Ha, ha! Sungguh hebat, sungguh lucu! Aku ingin sekali melihat muka ular air itu sekarang! Tadi ketika ia menyerangku sangat ganas sekali!"

Kemudian bangsawan itu bertanya kepada Thian Hwa tentang asal-usulnya yang dijawab oleh gadis itu dengan sederhana saja. "Aku adalah seorang dari Sungai Huang-ho, dan hidup sebagai nelayan. Aku pada waktu ini sedang merantau meluaskan pengalaman dan hendak pergi ke kota raja."

Mendengar kata-kata gadis yang sangat sederhana dan tidak banyak menggunakan peradatan seperti yang biasa ia mendengar orang bersopan-sopan padanya, pembesar itu semakin tertarik, lalu ia memperkenalkan diri. Ternyata bangsawan itu adalah seorang pangeran bernama Ciu Wan Kong yang menduduki tempat penting juga di dalam istana raja. Pada waktu itu dia sedang pesiar dan dengan diikuti oleh beberapa orang teman dan pengawal, dia lewat di tempat itu dan bermain-main di atas perahu.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa di sungai yang tak berapa besar itu terdapat ular air yang demikian besar dan galak sehingga hampir saja menewaskan jiwanya kalau tidak segera datang gadis itu menolong. Ketika melihat ular itu, semua sahabat dan pengawalnya cepat-cepat mendayung perahu dan berenang lari ke tepi, tanpa sedikit pun pedulikan jiwa pangeran itu.

Oleh karena pertolongan ini maka pangeran itu sangat berterima kasih kepada Thian Hwa. "Lihiap tentu seorang pendekar gagah. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu?"

"Aku bernama Thian Hwa dan sudah lama orang menyebut diriku Huang-ho Sian-li." jawab Thian Hwa, kemudian gadis itu memohon diri karena teringat akan kuda dan pakaiannya.

"Lihiap, kalau hendak ke kota raja, marilah ikut saja dengan kami. Kami ada kendaraan dan kuda di kampung dekat itu."

Thian Hwa menolak dengan halus dan biarpun dibujuk-bujuk oleh bangsawan yang sangat berterima kasih dan hendak memperlihatkan keramahan dan kebaikan untuk sekedar membalas budi, tetapi gadis itu menolak. "Lopeh, Kakekku selalu berkata bahwa manusia hidup harus selalu menolong sesamanya di saat yang perlu, karena untuk itulah kita dilahirkan di dunia ini. Aku hanya mentaati pesan Kakekku, dan sekali-kali bukan hendak menanam budi dan mengharap balas. Nah, selamat tinggal, Lopeh!"

Thian Hwa adalah seorang gadis didikan kampung yang tidak tahu akan adat istiadat atau tata cara kesopanan, maka ia pun menyebut bangsawan itu dengan "Lopeh" atau paman saja, panggilan yang selalu ditujukan kepada seorang laki-laki tua! Tapi pangeran itu tidak marah bahkan ia terharu sekali mendengar kata-kata filsafat yang tinggi itu keluar begitu saja dari mulut seorang gadis muda yang berilmu silat tinggi ini! Padahal gadis itu sedemikian bodoh dan sederhana sehingga menyebut orang dengan patut saja tidak pandai!

Thian Hwa lalu meloncat ke dalam air kembali dan dari situ ia melemparkan jubah luar pangeran itu ke darat sambil berkata. "Aku kembalikan pakaian luar, terima kasih!" Sehabis berkata demikian ia menggerakkan kaki tangannya dan sebentar saja ia lenyap di bawah permukaan air!

Pangeran Ciu Wan Kong dan kawan-kawan serta sekalian pengiringnya merasa kagum dan heran sekali, dan berkali-kali pangeran tua itu menghela napas karena merasa kecewa dan menyesal tak dapat bicara dan mengetahui riwayat gadis itu lebih banyak lagi. Dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis itu. Kemudian setelah menegur lagi orang-orangnya yang memperlihatkan sifat pengecut ketika menghadapi bahaya, dia lalu kembali ke kota raja.

Thian Hwa berenang kembali ke tempat semula dan alangkah kagetnya ketika ia tidak melihat lagi kudanya di tempat tadi! Kuda dan bungkusan pakaiannya telah lenyap! Ia menjadi bingung sekali dan hampir saja menangis di pinggir sungai itu karena tak mungkin ia melanjutkan perjalanan dengan pakaian seperti itu dan pakaian mandinya basah pula! Dengan bingung dan gemas Thian Hwa berlari cepat menuju ke jembatan untuk menyeberangi sungai itu, karena ia merasa di tempat itu tentu terdapat kampung di mana ia dapat meminjam pakaian!

Untung baginya bahwa ketika itu sudah hampir senja sehingga ia tidak lama menanti hari menjadi gelap dan memasuki sebuah kampung di dekat jembatan itu. Dengan menggunakan kepandaiannya, mudah saja ia memasuki rumah yang agak besar dan indah bagaikan seorang maling yang pandai ia masuk ke dalam kamar dan memilih seperangkat pakaian wanita. Akhirnya ia mendapat juga pakaian berwarna biru yang lumayan dan segera dipakainya lalu ia pergi dari rumah itu.

Karena ia tidak ingin lagi keesokan harinya terlihat oleh pemilik pakaian yang dicurinya itu, maka malam itu juga ia menyeberang sungai dan tiba di sebuah dusun. Ia naik ke atas wuwungan dan tidur di atas rumah orang. Hawa sangat dingin, tetapi Thian Hwa sudah biasa tidur di udara terbuka sehingga hawa dingin tidak lagi merupakan gangguan hebat baginya. Apalagi ia telah memakai pakaian yang agak tebal maka sebentar saja ia telah tidur nyenyak di atas genteng rumah orang...!
Selanjutnya,

Dewi Sungai Kuning Jilid 02

DEWI SUNGAI KUNING Jilid 02

Karya : Kho Ping Hoo

YAN BUN menjawab dengan tenang. "Aku adalah Ui Yan Bun, putera dari Ui Hauw, dan aku datang mewakili Ayahku. Dan ini...."

Cerita Silat Mandarin Karya Kho Ping Hoo
Tetapi Thian Hwa mendahuluinya. "Dan aku adalah Huangho Sian-li, Dewi Sungai Huang-ho yang datang hendak menangkap buaya kecil berkepala busuk!"

"Perempuan rendah, kau akan kubunuh lebih dulu!" teriak Ma Tek San dengan marah sekali.

Yan Bun yang lebih berhati-hati dan tahu bahwa dengan sampokan ketika menangkis lontaran tombak Thian Hwa tadi maka ternyata bahwa kepala bajak itu memiliki tenaga besar dan kepandaian yang luar biasa juga, maka dia merasa bahwa kalau harus melayani pengeroyokan itu di atas papan terompah air, mereka tidak akan leluasa sekali. Maka dia lalu berkata kepada Thian Hwa, "Thian-moi, marilah kita mendarat saja."

Sebenarnya, gadis itu tidak jerih sama sekali walaupun harus melayani mereka semua di atas papan terompah air, tetapi karena ia maklum bahwa Yan Bun memang belum mahir seperti dia menggunakan kepandaian itu, dan untuk membantahnya ia takut kalau-kalau membikin malu Yan Bun, maka ia lalu berkata keras, "Hei, bajak-bajak kecil, kalau mau tahu kegagahan kami, kalian naiklah ke darat!"

"Kalian telah terkurung, bagaimana hendak mendarat?" Ma Tek San tertawa mengejek dan memberi isyarat untuk menyerbu. Maka perahu-perahu itu meluncur datang dan ujung-ujung senjata mereka digerakkan untuk menyerang Thian Hwa dan Yan Bun. Kedua anak muda itu telah bersiap dan keduanya telah mencabut pedang mereka.

Dengan beberapa kali gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa telah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air, maka kedua anak muda itu lalu menggerakkan tubuh dan melompati perahu yang telah kosong itu untuk melepaskan diri dari kepungan, lalu dengan enak sekali mereka menuju ke tepi!

Ma Tek San dengan marah mengejar ke tepian bersama suhengnya. Ketika kepala bajak itu dan suhengnya serta orang-orangnya telah berada di tepi sungai, tiba-tiba seorang anak buah bajak menunjuk ke arah perahu Thian Bong Sianjin. Ma Tek San yang memang berwatak curang dan licin segera memberi perintah kepada orang-orangnya,

"Tangkap orang tua itu dan bawa dia ke sini, tapi jangan lukai dia!" Kepala bajak she Ma ini telah dapat menduga bahwa kedua anak muda utusan dari Ui Hauw itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian hebat, maka ia telah mengambil keputusan jika dia dan suhengnya kalah, akan mengeroyoknya. Tetapi orang tua dalam perahu itu mungkin akan kabur dan memberi laporan kepada Ui Hauw hingga datang bala-bantuan, karena itu lebih baik orang tua itu ditawan lebih dulu!

Dengan beberapa kali gerakan pedang saja, Yan Bun dan Thian Hwa telah membuat empat orang bajak tercebur ke dalam air. Mendengar perintah Ma Tek San ini, beberapa orang bajak dalam tiga buah perahu segera mendayung perahu ke arah perahu kecil di mana Thian Bong Sianjin masih duduk berpeluk tangan tak bergerak. Ui Yan Bun dan Thian Hwa melihat hal ini hanya tersenyum saja dan saling pandang.

Para bajak segera mengurung kedua anak muda itu dan merupakan lingkaran besar, sedangkan kedua anak muda itu berdiri di tengah-tengah dengan sikap tenang sekali. Ma Tek San lalu maju dan membentak.

"Apakah kalian masih berkeras kepala dan ingin mampus di sini?"

Ui Yan Bun pun maju dan berkata sabar, "Orang muda she Ma! Kau ini benar-benar tidak memakai peraturan dan kesopanan sesama kaum sungai telaga! Tanpa alasan dan sebab kau telah memusuhi Ayahku, bahkan kaubunuh dua orang kami yang sedang mencari ikan. Bukankah hal ini sangat merendahkan namamu?"

"Memang aku sengaja membunuh orangmu, habis kau mau apa?" kata Ma Tek San ketus, sedangkan suhengnya dan para anak buahnya terkekeh mentertawakan.

"Perbuatanmu itu berarti kau menantang fihak kami, maka sekarang aku mewakili ayah datang ke sini hendak mencoba sampai di mana kekuatanmu maka kau berani berlaku sewenang-wenang. Apakah kau hendak melakukan pengeroyokan atau kau berani melayani aku secara laki-laki?"

Marahlah Ma Tek San mendengar tantangan ini. "Eh, anak kecil sombong, jangan kau kira kepandaianmu sudah tiada lawannya dengan hanya memiliki ginkang dan permainan kanak-kanak di atas air itu saja! Majulah kau kalau hendak berkenalan dengan Tiat-thou-kim-go!" Setelah berkata demikian orang she Ma itu mencabut golok besarnya yang berkilauan karena tajamnya.

Tetapi sebelum kedua musuh itu bertempur, tiba-tiba terdengar suara ramai-ramai dari arah sungai. Mereka semua memandang dan terkejut melihat bahwa yang ramai-ramai itu adalah beberapa orang anak buah bajak datang sambil memikul biduk kecil di atas mana Thian Bong Sianjing masih saja duduk bersedakap tak bergerak sambil memejamkan mata!

"Eh, mengapa kalian berbuat segila ini?" Ma Tek San membentak kepada seorang bajak yang berjalan paling depan.

Bajak itu segera minta maaf kepada pemimpinnya dan menceritakan bahwa dia dan kawan-kawannya tidak sanggup mengeluarkan kakek itu dari perahunya! Telah dicoba oleh banyak orang tetapi tak seorang pun sanggup menggerakkan tubuh yang bagaikan membatu itu keluar dari perahu. Maka, untuk mentaati perintah Ma Tek San, dia dan kawan-kawannya lalu menggusur saja biduk itu ke tepi lalu mengangkat kakek itu dengan perahunya!

Yan Bun dan Thian Hwa tertawa geli. Ma Tek San marah sekali dan mendekati Thian Bong Sianjin di dalam perahunya yang kini telah diletakkan di atas tanah. "He, orang tua, siapakah engkau sebenarnya?"

Thian Bong Sianjin membuka matanya perlahan dan menjawab dengan tak acuh, "Namaku Thian Bong, kalian hendak membawaku ke manakah?"

Thian Hwa dengan keras berkata, "Orang she Ma, ketahuilah, dulu Kakekku ini disebut orang Huang-ho Sui-mo!"

Terkejutlah Ma Tek San mendengar ini, juga semua anak buah bajak. Lebih-lebih para bajak yang tadi memaksa Thian Bong Sianjin mendarat, mereka ini menggigil dan wajah mereka pucat sekali, bahkan tiga orang anak buah bajak yang telah lama menjalankan pekerjaan itu dan cukup kenal dengan nama Huang-ho Sui-mo, segera maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Bong Sianjin sambil mengangguk-anggukkan kepala minta ampun!

Lauw Keng Hwesio melihat lagak tiga orang bajak itu menjadi sangat sebal dan dia yang belum pernah mendengar nama Huang-ho Sui-mo lalu memajukan kaki dan tiba-tiba kedua tangannya memukul ke arah kepala Thian Bong Sianjin dari kanan kiri! Lauw Keng Hwesio hendak memperlihatkan kepandaiannya dan ingin sekali memukul mati kakek yang agaknya terkenal dan ditaati itu, maka datang-datang dia mengirimkan serangan maut dalam gerak tipu Dewa Mabuk Menuangkan Arak!

Tetapi, kakek tua yang tampak tenang-tenang saja itu tiba-tiba mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah tangan Lauw Keng Hwesio yang meluncur maju dan tepat sekali ujung lengan bajunya menyambar ke arah jalan darah di pergelangan lengan hwesio itu!

Bukan main terkejutnya Lauw Keng Hwesio sehingga dia buru-buru menarik kembali kedua tangannya, karena kalau diteruskan, belum sampai kepalannya mendarat di kepala lawan, dia akan tertotok terlebih dulu. Dia tahu betapa hebat ujung lengan baju itu, karena anginnya telah terasa dan membuat urat tangannya kesemutan. Diam-diam dia mengeluarkan keringat dingin karena maklum bahwa kakek itu benar-benar berilmu tinggi sekali.

Thian Bong Sianjin tersenyum sabar sambil berkata perlahan. "Eh, hwesio, kau mau apakah?"

Lauw Keng Hwesio meloncat mundur dengan malu, dan pada saat itu Thian Hwa maju dan memakinya. "Bangsat gundul jangan kau berani mengganggu Kakekku!"

Kepala gundul itu menjadi marah dan dia melepaskan sabuknya yang ternyata terbuat daripada baja lemas dan merupakan joan-pian yang kuat. Tanpa banyak kata lagi dia lalu menyerang Thian Hwa yang sudah siap dengan pedang di tangan. Dan pada saat itu juga, Ma Tek San juga sudah mulai bertempur dengan Ui Yan Bun.

Ma Tek San dan Lauw Keng Hwesio memang memiliki kepandaian yang tinggi dan ganas, ditambah lagi tenaga mereka besar. Tetapi kini mereka menghadapi dua orang muda gemblengan Thian Bong Sianjin yang telah menurunkan ilmu silat tinggi kepada kedua muridnya itu, maka baru bertempur beberapa puluh jurus saja keduanya telah terdesak hebat oleh pedang Thian Hwa dan Yan Bun!

Ma Tek San yang selalu berpikir jahat, ketika mendapat kenyataan bahwa kedua lawannya itu benar-benar lihai, segera berseru kepada anak buahnya yang masih berdiri mengelilingi lapangan pertempuran itu. "Hayo kamu semua lekas bantu menangkap dua setan ini!"

Suara Ma Tek San yang keras terdengar berpengaruh dan tidak seorang pun di antara anak buahnya yang berani menentang atau mengabaikan perintah ini, karena mereka sudah mengenal kekejaman Ma Tek San. Dengan senjata-senjata tajam di tangan, mereka bergerak maju untuk mengeroyok. Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras sekali.

"Kalian semua mundur!" Inilah bentakan Thian Bong Sianjin yang masih duduk di dalam perahunya. Suaranya lebih keras dan nyaring dibanding suara Ma Tek San sehingga para bajak terkejut dan sebagian besar mundur. Tapi sebagian lagi tetap maju karena mereka lebih takut kepada pimpinan mereka yang kejam.

"Mundur kalian! Kalau tidak, tangan Huang-ho Sui-mo ikut berbicara!'

Ancaman ini berhasil juga, karena lebih dua puluh orang yang pernah mendengar nama ini segera mundur dan melihat ke arah orang tua itu dengan hormat, tapi masih ada juga yang berani maju dengan maksud mengeroyok Thian Hwa dan Yan Bun. Tapi Thian Bong Sianjin mengangkat tangan dan mengayunkan tangannya ke arah mereka dan pada saat itu juga beberapa orang bajak berteriak-teriak sambil melepaskan senjata mereka.

Karena ternyata sambil duduk di perahunya kakek itu telah meraup segenggam pasir kasar dan mempergunakan pasir itu sebagai senjata rahasia! Ternyata pasir kasar yang hampir menyerupai kerikil itu telah memecahkan kulit tubuh mereka yang tersambit sehingga mengeluarkan darah dan rasanya perih sekali! Melihat kelihaian orang tua itu, para bajak menjadi ketakutan dan tidak berani maju lagi.

Sementara itu, Thian Hwa yang memainkan pedangnya secara cepat sekali telah berhasil mengurung Lauw Keng Hwesio sehingga hwesio itu hanya dapat menangkis saja tanpa dapat membalas sedikitpun juga.

"Thian Hwa, jangan membunuhnya!" Thian Bong Sianjin berteriak.

Dan Thian Hwa lalu mengubah gerakan pedangnya dengan secepat kilat! Dia menggunakan ujung pedang menusuk ke arah jalan darah di tenggorokan lawan dengan gerak tipu Burung Kepinis Mematuk Ikan. Karena gerakan ini cepat sekali, maka Lauw Keng Hwesio hampir saja tak dapat mengelakkan diri, tetapi masih ingat untuk melempar diri ke belakang sehingga dia terjengkang, tapi terhindar dari maut.

Pada saat dia belum dapat memperbaiki kedudukannya, sepasang kaki Thian Hwa bergerak cepat dan joan-pian-nya telempar karena tendangan kaki kiri Thian Hwa, sedangkan ujung sepatu kanan gadis itu mampir di pundaknya menendang jalan darahnya sehingga dia berteriak keras dan merasa betapa pundaknya sakit sekali sampai meresap ke ulu hati!

Masih untung bagi Lauw Keng Hwesio bahwa Thian Bong Sianjin dalam saat yang tepat telah mencegah cucunya untuk menghabiskan jiwa hwesio itu sehingga gadis itu tidak menggunakan ujung sepatu untuk menendang tempat kematian, maka hwesio itu hanya menderita luka dalam dan patah tulang pundak saja. Tapi rasa sakit cukup membuat dia roboh pingsan!

Sementara itu, Ui Yan Bun juga berhasil merobohkan lawannya. Pemuda ini merasa sakit hati dan marah sekali kepada Ma Tek San yang telah berlaku kejam membunuh dua orang anak buah ayahnya, maka dia tidak mau memberi hati sedikit pun. Dia mengeluarkan ilmu pedangnya yang hebat dan mendesak terus sehingga lawannya bertempur sambil mundur berputar-putar. Napas Ma Tek San telah terengah-engah dan wajahnya telah menjadi pucat.

Pada saat yang tepat, Yah Bun memutar pedangnya sedemikian rupa dalam gerak tipu Air Ombak Menampar Karang dan serangan yang dahsyat dan ganas ini datang bergulung-gulung bagaikan ombak samudera sehingga tak dapat ditangkis lagi oleh Thiatthou-kim-gq Ma Tek San. Dengan teriakan menyeramkan, kepala bajak yang jahat itu roboh terguling setelah tertembus pedang Yan Bun! Maka binasalah orang she Ma ini!

Para anak buah bajak laut melihat betapa kedua kepala mereka dengan mudah terbunuh oleh Thian Hwa dan Yan Bun segera mengangkat senjata hendak mengeroyok, tapi lagi-lagi Thian Bong Sianjin membentak keras.

"Kalian masih belum takluk? Siapa melawan berarti mati!" setelah berkata demikian, kakek itu berdiri dan tubuhnya yang tinggi tampak angker menakutkan. Memang nama Huang-ho Sui-mo sudah merupakan sesuatu yang menakutkan mereka, apalagi melihat betapa kepandaian tiga orang itu hebat sekali, maka para bajak itu segera menjatuhkan diri berlutut meminta ampun!

"Kalian dengarkan baik-baik! Berpuluh tahun yang lalu aku telah adakan aturan-aturan dan larangan-larangan bagi para bajak di Huang-ho untuk bekerja dengan mengenal aturan dan memilih orang yang patut dijadikan korban! Tapi orang she Ma ini telah melanggarnya, dan lihat, apa yang menjadi akibatnya saat ini! Harus kalian ketahui bahwa jika ada yang tidak mentaati aturan dan bertindak sewenang-wenang, tak usah aku sendiri turun tangan, pasti ada saja yang akan mewakili aku memberi hajaran kepada pelanggar itu! Ketahuilah bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang gagah yang kesemuanya siap sedia membasmi kejahatan! Nah, kalian sekarang boleh memilih kepala baru, tapi awas, jangan sekali-kali pelanggaran seperti yang telah dilakukan orang she Ma ini kalian ulangi!"

Setelah memberi nasehat-nasehat kepada para bajak, Thian Bong Sianjin mengajak Thian Hwa dan Yan Bun untuk kembali ke kampung. Mereka disambut Ui Hauw yang mendengarkan cerita puteranya dengan girang dan bangga sekali. Setelah bermalam di situ beberapa hari lagi, Thian Bong Sianjin lalu mengajak cucunya meninggalkan kampung itu.

Mereka berdua memang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berpindah-pindah dan sebagian besar dari waktu mereka digunakan untuk mendayung perahu, menangkap ikan dan mengunjungi kawan-kawan dan orang-orang kampung yang tinggal di sepanjang Sungai Huang-ho yang panjang itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika Thian Bong Sianjin dan Thian Hwa sedang menjalankan biduk mereka perlahan di sepanjang tepi sungai yang airnya tenang dan hawa udara pada pagi hari itu sangat baiknya, Thian Hwa kembali mengulangi pertanyaannya yang telah berkali-kali diajukan kepada kakeknya itu.

"Kong-kong, kuharap kali ini Kong-kong menaruh kasihan kepadaku. Dulu Kong-kong berjanji akan membuka rahasia ini kepadaku setelah aku dewasa dan memiliki kepandaian. Nah, sekarang aku telah berusia tujuh belas tahun, dan tentang kepandaian, kiranya tidak sia-sia Kong-kong mengajar padaku. Kong-kong, beritahukanlah kepadaku siapa sebenarnya Ayah dan Ibuku...."

Pada kalimat terakhir ini suara Thian Hwa menjadi perlahan dan mengharukan sehingga Thian Bong Sianjin menghela napas sedih, karena dia bingung sekali. Bagaimana dia harus menceritakan kalau dia sendiri pun tidak mengenal dan tidak tahu siapa orang tua gadis itu? Dia teringat betapa dulu pernah bertemu dengan wanita cantik dalam mimpi, maka karena tiada jawaban lain, dia menjawab.

"Thian Hwa, cucuku! Sebetulnya kalau menurut kehendakku, tak usah kau pergi mencari orang tuamu karena aku sangat merasa ragu apakah kau akan berhasil. Tapi, kalau aku larang kau melakukan hal ini, berarti bahwa aku adalah seorang yang tidak berbudi dan hanya mementingkan diri sendiri saja." Kakek itu menghela napas lagi dan melanjutkan kata-katanya sambil menatap wajah cucunya yang sangat dikasihinya itu.

"Thian Hwa, terus terang saja aku ulangi, bahwa aku selama hidup belum pernah bertemu muka dengan kedua orang tuamu. Tapi aku pernah bermimpi dan melihat Ibumu...."

Sepasang mata gadis itu berkilat dan wajahnya berseri. "Ibuku....!" kata-kata "ibu" ini sangat asing baginya dan sangat mesra. "Bagaimana rupanya dan di mana dia, Kongkong?” tanyanya cepat.

"Ibumu adalah seorang wanita yang cantik sekali dan di atas bibirnya sebelah kiri terdapat sebuah tanda tahi lalat hitam yang kecil. Wajah Ibumu itu seperti... seperti... kau sendiri, Thian Hwa, dan melihat dari pakaian yang dipakainya, ia adalah seorang bangsawan."

"Kong-kong, kenapakah aku harus mencarinya?" tanya Thian Hwa.

"Thian Hwa, inilah yang sangat menyusahkan hatiku. Kalau aku sendiri mengetahui dimana adanya orang tuamu, agaknya sudah dulu-dulu kucari mereka. Tapi aku hanya bertemu dengan Ibumu dalam mimpi, dan aku tidak tahu di mana tempat tinggal mereka."

Kakek tua ini lalu menundukkan muka dan tidak berani menentang wajah cucunya, karena dia maklum betapa kata-katanya ini sangat menusuk hati dan menghancurkan pengharapan gadis itu. Dia hanya mendengar isak tangis Thian Hwa yang berusaha sekuat tenaga menekan perasaan dan menahan tangisnya.

"Kong-kong... bukankah para bangsawan... bertempat tinggal di kota raja saja?" akhirnya gadis itu bertanya setelah mereka diam untuk beberapa lama.

Kini barulah kakek itu berani mengangkat muka memandang wajah cucunya dan hatinya seperti dikerat pisau ketika melihat betapa wajah cucunya tampak pucat dan di kedua pipinya mengalir air mata yang bening.

"Thian Hwa, memang di kota raja banyak sekali terdapat bangsawan tinggi, tapi di antara ribuan para bangsawan itu, yang manakah keluarga yang kita maksudkan? Ahh, seakanakan mencari setitik air dalam Sungai Huang-ho!"

Semenjak terjadinya percakapan ini, wajah Thian Hwa nampak suram-muram dan tidak bergembira sedikit pun seperti biasanya sehingga diam-diam Thian Bong Sianjin merasa khawatir sekali. Malam hari itu mereka bermalam dalam sebuah bio rusak yang telah lama kosong, dan yang berdiri di pinggir sungai dalam sebuah hutan yang sunyi.

Karena hatinya sedih dan terharu melihat cucunya, maka Thian Bong Sianjin tekun bersamadhi untuk menenteramkan hati dan pikiran sehingga seakan-akan mati duduk dan tak bergerak bagaikan sebuah patung batu. Ketika pada keesokan harinya dia sadar, dia merasa tidak enak hati seakan-akan ada sesuatu yang terjadi.

Dan benar saja, karena Thian Hwa, cucunya yang semenjak berusia tiga hari tak pernah terpisah darinya itu, telah pergi dengan diam-diam! Gadis yang dikasihinya itu pergi dengan nekad hendak mencari orang tuanya, dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang kini dia pegang di dalam kedua tangannya yang gemetar dan keriputan, sambil dibacanya dengan terharu.

Kong-kong,

Mohon beribu ampun bahwa aku terpaksa pergi karena tak tahan melawan desakan hati untuk mencari Ibu dan Ayahku. Aku pergi ke kota raja dan takkan kembali sebelum bertemu dengan mereka!

Cucumu Thian Hwa


Thian Bong Sianjin menghela napas dalam-dalam. Hasrat hatinya hendak segera menyusul, tapi dia menggeleng-geleng kepala tanda tidak menyetujui kehendak hati sendiri ini. Kalau dia menyusul, maka gadis itu tentu akan kecewa dan menganggap dia menghalang-halangi maksudnya. Pula, Thian Hwa sudah memiliki kepandaian tinggi dan dia tak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Yang dia cemaskan adalah bahwa gadis itu takkan mungkin bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dia sendiri tidak percaya bahwa wanita yang dilihatnya dalam mimpi itu benar-benar ibu Thian Hwa!

Gadis itu tentu takkan dapat menemukan orang tuanya di kota raja dan akan kecewa hati. Inilah yang dikhawatirkan. Kini Thian Bong Sianjin merasa sunyi, sunyi sepi yang biasanya mengamankan hati menyedapkan perasaan itu kini berubah menjadi sunyi yang menyayat hati, yang menimbulkan kenangan-kenangan sedih, kesunyian seorang yang kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dikasihaninya! Kakek tua yang gagah perkasa itu akhirnya menundukkan kepala dan memejamkan mata sambil menahan napas untuk melawan gelora yang mengamuk di dalam dirinya dan membuatnya lemas.

Kira-kira setengah bulan kemudian, Thian Bong Sianjin mengunjungi Ui Hauw dan kepala bajak ini kaget sekali mendengar tentang perginya Thian Hwa. "Ah, mengapa Suhu tidak menahannya? Ke manakah anak itu pergi? Ahh, bagaimana kalau terjadi sesuatu??"

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum. Setelah beberapa hari lewat, orang tua ini dapat juga menetapkan hatinya dan melenyapkan rasa sedih yang menyerangnya. "Ia akan selamat. Kepandaiannya cukup untuk menjaga diri."

Sementara itu, ketika mendengar tentang perginya Thian Hwa ke kota raja, Yan Bun merasa terkejut sekali. Ia merasa seakan-akan hatinya terbawa pergi oleh gadis itu. Dengan lemas ia meninggalkan Thian Bong Sianjin dan ayahnya, tanpa berkata sesuatu, dan masuk ke kamarnya. Tiba-tiba saja dia merasa bahwa gadis itu sungguh merupakan arti yang besar sekali baginya.

Dan pada keesokan harinya, semua orang kaget dan bingung karena Yan Bun tahu-tahu telah pergi dengan sebuah biduk tanpa memberitahukan sesuatu kepada semua orang. Tapi Ui Hauw dan Thian Bong Sianjin saling pandang dengan penuh pengertian. Mereka ini tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, telah dapat menduga bahwa Yan Bun tentu pergi menyusul Thian Hwa dan mereka tahu pula apa artinya perbuatan pemuda itu. Diam-diam Ui Hauw menarik napas dan dia berkata kepada Thian Bong Sianjin.

"Alangkah baiknya kalau dulu-dulu kita jodohkan kedua anak itu!"

Thian Bong Sianjin hanya tersenyum dan berkata perlahan. "Ui Hauw, jodoh tak dapat dipaksakan. Kita orang-orang tua menunggu saja dan melihat perkembangan terlebih jauh. Sementara itu, biarlah kita doakan agar mereka dapat bertemu dan dijauhkan dari segala bencana."

* * * *

Thian Hwa pergi melakukan perjalanannya dengan hanya membawa sebungkus pakaian dan sebatang pedang. Ia pernah diberitahu kakeknya bahwa letak kota raja adalah di sebelah utara, maka ia langsung menuju ke utara dengan menggunakan ilmu lari cepat. Karena ia biasanya melakukan perjalanan dengan berperahu dan di sepanjang Sungai Huangho, kini melalui gunung-gunung dan lembah-lembah yang penuh dengan tamasya alam yang jauh bedanya dengan pemandangan di sepanjang sungai, hatinya tertarik dan gembira sekali, seperti seorang kanak-kanak yang mendapat barang permainan baru.

Setelah berjalan dua hari, ia tiba di sebuah kampung yang makmur, dengan rumah-rumah yang bagus. Ternyata bahwa tanah di sekitar kampung itu subur dan menghasilkan banyak palawija sehingga memakmurkan para petani di kampung itu. Tanah-tanah di sekitar kampung itu terbagi rata di antara para petani sehingga di situ tiada terjadi pemerasan tenaga seperti halnya di kampung-kampung yang terdapat tuan tanah yang menguasai seluruh sawah ladang dan para petaninya hanya buruh tani belaka.

Di kampung Luncwan ini, para petani memiliki sedikit tanah yang hasilnya cukup untuk menghidupkan semua keluarga dan mereka hidup dengan rukun dan damai, saling tolong, dan membuat kampung itu menjadi sebuah tempat kediaman yang sangat menyenangkan mereka. Kampung itu hanya didiami keluarga-keluarga Tan dan Ong yang masih terikat kekeluargaan pula karena pemuda-pemudi kedua turunan ini banyak yang terikat sebagai suami isteri. Ada juga pendatang dari keturunan lain, tapi pendatang-pendatang baru ini pun taat dan tunduk kepada kerukunan yang telah ada dan menambah kekuatan dan persatuan kampung.

Kepala kampung di situ adalah seorang tua bernama Tan Hok San yang terkenal adil dan bijaksana sehingga dicintai dan dihormati orang-orang kampung. Akan tetapi, setelah beberapa pekan ini terjadi perubahan hebat sekali di kampung itu. Sebetulnya yang sangat berubah dan membuat orang-orang kampung merasa heran dan penasaran adalah kepala kampung itu sendiri. Tanpa mengetahui sebab-sebabnya orang-orang kampung melihat betapa Tan Hok San sekarang berubah menjadi pemeras rakyat yang luar biasa.

Kepala kampung yang bertahun-tahun dianggap sebagai seorang pemimpin yang cakap dan baik, tiba-tiba berubah menjadi seekor srigala yang ganas. Dia menetapkan pajak hasil sawah yang sangat berat karena tujuh bagian hasil sawah harus diserahkan kepadanya dengan alasan untuk disetorkan kepada pembesar atasan di kota raja. Juga peternak-peternak dikenakan pajak besar sekali, sehingga dalam beberapa pekan saja keadaan kampung itu menjadi berbeda sekali.

Kegembiraan lenyap digantikan oleh kedukaan dan keheranan. Tiada seorang pun berani menegur, karena pernah seorang mencoba untuk menegur kepala kampung itu tapi hasilnya orang itu sendiri ditahan dan katanya dikirim ke kota raja karena dianggap memberontak terhadap pemerintah!

Ketika hendak memasuki kampung itu Thian Hwa melewati sebuah hutan dan di situ ia melihat mayat seorang laki-laki tua yang sudah rusak karena diganggu binatang hutan. Karena pemandangan ini maka ia berlaku hati-hati dan menganggap bahwa kampung yang dimasukinya ini tentu bukan kampung yang aman dan baik. Ia mencoba mencari rumah penginapan, tapi sungguh mengherankan, dua buah rumah penginapan kecil yang biasa dibuka, kini tertutup dan tidak menerima tamu.

"Maaf, Nona, rumah penginapan tidak dibuka lagi," kata seorang bekas pelayan rumah penginapan itu.

"Mengapa tidak?"

"Kami tidak kuat membayar pajak!"

Demikian pun, ketika Thian Hwa hendak pesan makanan disebuah rumah makan yang telah ditutup, ia mendapat jawaban serupa. Keadaan kampung itu membuat ia merasa curiga dan menduga pasti ada apa-apa. Ia bertanya kepada seorang yang tampak muram dan duduk di depan rumahnya.

"Maaf, Lopeh, aku baru saja mendengar bahwa orang-orang takut berusaha-karena dikenakan pajak. Sebetulnya siapakah yang mengadakan pajak-pajak besar itu, Lopeh?"

Orang tua itu memandangnya dengan mata terbelalak, kemudian setelah ia menengok ke kanan kiri, dia segera mempersilakan Thian Hwa masuk, lalu mengunci pintu rumahnya! "Siocia, kau agaknya seorang luar kampung dan agaknya kau seorang yang biasa merantau karena kau membawa-bawa pedang di punggung. Di kampung ini jangan kau bicarakan sembarangan saja."

"Ada apakah, Lopeh?" tanya Thian Hwa heran.

Orang tua itu lalu menceritakan betapa kepala kampung yang tadinya berbudi dan adil itu kini berubah menjadi pemeras rakyat yang kejam. Thian Hwa lalu menceritakan bahwa ia telah melihat mayat di dalam hutan. Ketika empek itu mendengar tentang hal ini, dia segera bertanya tentang keadaan mayat itu, tentang pakaian dan lain-lain. Setelah mendengar keterangan Thian Hwa bahwa mayat itu memakai baju biru dan celana abu-abu, orang tua itu menjadi pucat dan berseru. "Kalau begitu, dia adalah Cun Sam!"

"Cun Sam? Siapakah Cun Sam itu, Lopeh?"

Tiba-tiba kakek itu menangis dan isterinya yang juga berada disitu ikut pula menangis. "Cun Sam adalah adikku...."

Kemudian kakek itu menceritakan betapa Cun Sam ditangkap karena berani mencela kepala kampung dan katanya dikirim ke kota raja diadukan karena dianggap pemberontak.

"Kalau begitu semua itu bohong belaka...." kakek itu mengeluh. "Cun Sam bukan dibawa ke kota raja, tapi dibawa ke hutan dan dibunuhnya." Kemudian kakek itu lalu berlari keluar untuk mengajak kawan-kawan mengambil dan mengubur mayat adiknya itu.

Sementara itu, Thian Hwa merasa gemas dan marah sekali. Ia menganggap perbuatan kepala kampung itu sewenang-wenang dan mau tidak mau ia harus turun tangan dan mencampuri perkara penasaran ini. Dengan hati panas ia lalu mencari rumah kepala kampung itu. Tapi ternyata bahwa gedung kepala kampung yang bercat kuning itu pun tertutup pintunya. Ia mengetuk dengan keras dan pintu dibuka oleh seorang pengawal bersenjata golok yang bertubuh tinggi besar dan membentaknya.

"Bangsat kurang ajar dari mana berani mengganggu rumah kami?"

Tapi ketika ia telah membuka pintu dan melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis yang cantik sekali, wajah yang tadinya tampak kejam itu berubah dan kini orang tinggi besar itu tersenyum-senyum ceriwis dan menyebalkan. "Eh, Nona... kau hendak mencari siapakah?"

Thian Hwa merasa curiga sekali melihat orang ini. Terang bahwa ia bukan orang baik-baik, mengapa bisa menjadi pengawal di tempat ini? Pula, orang ini tadi menyebut "rumah kami" yang sudah tidak selayaknya bagi seorang pengawal menyebut rumah seorang kepala kampung. Ia hendak menerjang, tapi dapat mengendalikan nafsu marahnya, lalu bertanya. "Kau siapakah?"

Orang tinggi besar itu memperlebar senyumnya. "Aku adalah seorang penjaga keamanan di sini. Apakah Nona hendak bertemu dengan Chungcu?"

Thian Hwa mengangguk. "Ya, tolong panggil keluar Chungcu kampung ini, aku hendak bertemu dengan dia."

Orang tinggi besar itu tersenyum lagi. "Tunggu sebentar, Nona, hendak kulaporkan ke dalam."

Setelah berkata demikian, dia masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar dan berkata. "Kau dipersilakan masuk menghadap di dalam, Nona."

Thian Hwa mengikuti penjaga itu memasuki ruang dalam dan berlaku hati-hati karena ia tetap menaruh kecurigaan besar. Mereka tiba di ruang dalam yang cukup luas dan di atas sebuah kursi di belakang mejanya duduk seorang laki-laki tua. Dengan memandangnya sekilas saja Thian Hwa tahu bahwa orang itu adalah seorang terpelajar dan baik hati, tapi sepasang matanya redup dan layu seakan-akan menderita hebat di dalam batinnya. Ketika melihat ia datang, orang tua itu bersikap sombong dan angkuh, tapi Thian Hwa yang bermata tajam sering menerima wejangan dari kakeknya dapat mengenal wajah dan sifat manusia, maka tahulah ia bahwa sikap itu adalah paksaan belaka.

"Siocia, kau siapakah, datang dari mana dan ada keperluan apa mencari aku?" tanya Tan-chungcu dengan suara angkuh.

"Chungcu, maafkan kalau aku mengganggumu. Aku adalah seorang perantau yang kebetulan lewat di kampung ini, tapi keadaan ganjil yang terjadi di kampungmu membuat aku merasa tidak enak dan aku harus menegurmu."

Wajah kepala kampung itu berubah pucat, agaknya merasa cemas dan marah. "Siocia, kau seorang muda janganlah mencampuri urusan pemerintahan. Lebih baik pergilah dari kampungku dengan aman."

"Tan-chungcu! Kau berlaku kejam sekali dengan memeras rakyatmu sendiri, menghisap orang-orang kampung yang mengangkatmu menjadi kepala! Tidak tahukah kau bahwa dengan peraturanmu yang sewenang-wenang menjatuhkan pajak besar itu membuat banyak orang-orangmu menderita kelaparan? Tidak dengarkah kau betapa mereka mengeluh dan menangis karena peluh dan darah yang mereka peras di ladang ternyata kaurampas hasilnya? Apakah ini adil? Kau sebagai seorang pemimpin seharusnya membimbing mereka ke jalan kebahagiaan, tapi kau bahkan menggunakan hak dan kekuasaanmu untuk memburu nafsu, mengenakkan diri sendiri tanpa mempedulikan keadaan orang lain!"

"Diamlah... diamlah! Kau... kau keluar dari sini!" Tanchungcu berteriak keras sedangkan wajahnya makin pucat.

"Tidak! Aku takkan keluar sebelum bicara habis, sebelum kau mengubah kelakuanmu yang tiada bedanya dengan seorang perampok rendah! Kau bahkan berani menangkap seorang kampung yang memperingatkanmu dan membunuhnya!"

"Apa? Kau membohong! Aku tak pernah membunuh orangku."

Bibir gadis itu tersenyum sindir. "Oh, begitukah? Di manakah Cun Sam sekarang? Coba kau terangkan!" kata Thian Hwa.

Tan-chungcu berkata sungguh-sungguh. "Cun Sam? Ah, dia... dia telah memberontak, maka dikirim ke kota raja agar diadili."

"Ah, jangan berpura-pura! Kau bukan mengirim dia ke kota raja, tapi kau mengirim dia ke hutan dan kau bunuh dia di sana. Kau telah menyuruh orang-orangmu membunuhnya. Aku sendiri melihat jenazahnya di hutan!"

"Apa?" Tan-chungcu berteriak dengan wajah pucat dan mata terbelalak. "Dia... di... dibunuh....??"

Dan pada saat itu, dari balik pintu sebelah dalam keluarlah berloncatan lima orang, dan orang tinggi besar yang tadi membuka pintu untuk Thian Hwa terdapat juga di antara mereka. Seorang pendek gemuk yang matanya juling berkata. "Chungcu, budak perempuan ini kurang ajar dan memberontak apakah harus ditawan?"

Tapi Tan-chungcu berdiri dengan tubuh gemetar dan bahkan bertanya kepada... Si Gemuk Pendek itu. "Kau... kau apakan Si Cun Sam??"

Si Gemuk Pendek tersenyum dingin. "Nanti saja kita bicarakan soal itu, sekarang kita bereskan dulu budak hina ini!" katanya.

"Tidak, tidak! Kau... kau pembunuh kejam... kau perampok jahat....!"

Si Gemuk Pendek itu membelalakkan matanya dan secepat kilat tubuhnya yang gemuk itu bergerak dan pedangnya berkilauan meluncur ke arah dada Tan-chungcu! Tapi Thian Hwa telah siap sedia, maka ia mendahului Si Gemuk itu, dan sekali berkelebat ia berhasil menyambar tangan Tan-chungcu dan menariknya sehingga terluput dari tusukan Si Gemuk Pendek. Tan-chungcu segera bersembunyi dibelakang tubuh gadis itu karena tahu bahwa Thian Hwa adalah seorang gadis pendekar yang mungkin akan dapat menolongnya.

"Li-hiap, kau berhati-hatilah. Mereka adalah perampok-perampok kejam dan ganas yang telah lama menguasai dan mengancamku!" kata Kepala Kampung itu.

Thian Hwa mengangguk-angguk dan bertolak pinggang sambil menghadapi lima orang yang berwajah ganas itu. "Hm, hm! Sudah kuduga begitu. Jadi kalian perampok-perampok hina ini dengan secara pengecut sekali telah memaksa Chungcu melakukan semua pemerasan ini? Sungguh rendah, tapi hari ini aku tentu akan menamatkan riwayatmu yang kotor ini!"

"Budak hina! Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan?" teriak orang tinggi besar yang menjadi pengawal tadi.

"Tentu saja aku tahu. Kalian berlima adalah calon-calon makanan api neraka!"

"Perempuan sombong! Kau masih begini muda tapi mau besar kepala. Ketahuilah, kami adalah Bweesan Ngo-heng, Lima Raja dari Gunung Bweesan, maka jangan harap kau akan dapat keluar dari gedung ini dengan selamat!" kata Si Gemuk Pendek yang agaknya menjadi pemimpin mereka.

Thian Hwa tersenyum menyindir. "Siapa takut pada siluman dari Bweesan? Hari ini kalian lima ekor siluman bertemu dengan aku, Huang-ho Sian-li, dan akulah yang akan mengirim kalian pulang ke asalmu!"

"Bangsat perempuan sombong!" Si Tinggi Besar meloncat maju kedua tangan terulur dengan maksud hendak menubruk dan memeluk gadis jelita itu dan membuatnya malu. Tapi dengan cepat Thian Hwa meloncat berputar ke kiri dan kaki kanannya cepat menendang ke arah lambung kanan lawan.

Si Tinggi Besar terkejut sekali karena sama sekali tidak menduga bahwa gadis cilik itu dapat bergerak secepat itu sehingga hampir saja lambungnya berkenalan dengan ujung sepatu. Cepat tangan kanannya bergerak hendak menyaut dan menangkap kaki Thian Hwa, tapi ternyata tendangan itu hanya pancingan belaka.

Ketika tangan kanan Si Tinggi Besar itu bergerak hendak menangkap kakinya, ia cepat memutar ujung kakinya dan dengan dua jari tangan dikembangkan ia menusuk kedua mata lawan! Sekali lagi Si Tinggi Besar terkejut dan buru-buru meloncat mundur dengan keringat dingin membasahi jidatnya!

Melihat betapa anak perempuan itu benar-benar lihai, Kelima Raja Gunung Bweesan itu mencabut senjata mereka dan maju menyerang! Kini mereka tidak ada hasrat untuk menangkap gadis cantik itu lagi, mereka hanya ingin membunuhnya secepat mungkin karena gadis ini merupakan bahaya dan halangan besar bagi usaha mereka!

Tapi Thian Hwa tidak menjadi takut, bahkan ia merasa gembira sekali melihat berkeredepannya senjata-senjata musuh. Ia cepat mencabut pedangnya sendiri dan sebentar saja sinar pedangnya menari-nari dan bergulung-gulung mengurung kelima perampok itu! Dengan ilmu pedang Kwan Im Kiam-hoat, ia dapat melayani kelima lawannya dengan baik, bahkan dapat membuat mereka itu repot sekali.

Kemudian Thian Hwa mengubah permainannya dan mainkan ilmu pedang gubahan kakeknya yang disebut Huang-ho Kiamhoat. Ilmu pedang ini tampaknya tenang-tenang saja tapi mendatangkan tenaga yang luai biasa kuatnya, dan kadang-kadang tampak buas dan bergulung-gulung, lalu tenang-tenang lagi, sehingga sama dengan sifat dan pergerakan aliran air sungai Huang-ho, tapi yang di dalamnya mengandung gerak tipu mematikan.

Dengan gerak tipu baru ini sebentar saja Thian Hwa dapat merobohkan tiga orang pengeroyok. Sementara itu, melihat bahwa lima orang yang selalu mengancamnya dan membuatnya tidak berdaya itu kini bertempur melawan Thian Hwa, diam-diam Tan-chungcu berlari keluar dan berteriak-teriak minta tolong kepada orang-orang kampung.

Semua orang kampung ketika mengetahui bahwa di gedung kepala kampung ada perampok, lalu datang membawa senjata masing-masing dan menyerbu. Mereka melihat betapa tiga orang perampok telah roboh mandi darah dan yang dua sudah terdesak hebat. Tanpa ampun lagi tiga orang perampok yang belum mampus tapi sudah terluka oleh pedang Thian Hwa itu, lalu dikeroyok dan tubuh mereka hancur di bawah hantaman dan bacokan orang-orang kampung!

Dua orang perampok yang belum roboh, yakni Si Tinggi Besar dan Si Gemuk Pendek, yang ternyata memiliki kepandaian lumayan juga, melihat nasib ketiga kawannya, lalu menjadi ngeri dan takut. Mereka hendak melarikan diri, tapi pedang gadis yang gesit itu mengurung dan menahan mereka. Kemudian Si Gemuk Pendek menggunakan akal busuk dan memperlihatkan kekejaman dan kejahatannya. Dia meloncat ke belakang kawannya Si Tinggi Besar, lalu mendorong kawannya itu dengan keras ke arah Thian Hwa! Sehabis melakukan ini, dia meloncat ke atas melalui jendela dan kabur!

Thian Hwa cepat berkelit menghindarkan diri dari tubrukan dan langsung menusuk ke arah dada Si Tinggi Besar yang dikorbankan oleh kawannya sendiri sehingga Si Tinggi Besar roboh dan menjadi korban orang-orang kampung pula. Sementara itu Thian Hwa yang merasa gemas dan benci kepada kepala perampok yang curang dan pengecut itu, segera menggerakkan tubuh mengejar keluar jendela.

Ketika tiba di atas genteng, ia melihat bayangan kepala perampok itu bergerak-gerak jauh di depan, maka segera ia mengeluarkan kepandaiannya mengejar cepat. Ternyata dalam hal kepandaian ginkang ia masih menang jauh, maka sebentar saja ia dapat mengejarnya.

Si Pendek Gemuk itu dengan gemas lalu berlaku nekad dan melawan mati-matian, tapi dalam beberapa jurus saja dia terpaksa mengakui keunggulan Huang-ho Sian-li yang walaupun masih sangat muda namun memiliki kepandaian yang berlipat ganda lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Sebuah tusukan yang tepat menembus lehernya membuat dia roboh berguling-guling dari atas genteng dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Setelah mendengar cerita kepala kampung, maka seluruh penduduk baru mengerti mengapa Tan-chungcu demikian berubah. Tidak tahunya, beberapa pekan yang lalu, pada suatu malam, lima orang penjahat itu masuk dan menyerbu dari atas genteng ke dalam gedung Tan-chungcu. Lalu mereka itu mengancam kepala kampung untuk memeras rakyat dan menyerahkan semua hasil pemerasan kepada mereka!

Mereka ini bersembunyi di dalam gedung Tan-chungcu dengan menyamar sebagai pengawal-pengawal yang katanya datang dari kota raja! Tentu saja Cun Sam juga mereka yang membunuhnya. Semua keluarga kepala kampung tidak berdaya dan tidak seorang pun berani membuka rahasia mereka karena itu berarti bencana bagi keluarga kepala kampung itu!

Semua penduduk kampung menyambut kedatangan Thian Hwa yang menyeret tubuh Si Gemuk Pendek yang tak bernyawa lagi itu dengan sorakan gemuruh. Mereka berterima kasih sekali, terutama Tan-chungcu sendiri. Kepala kampung yang sudah tua ini mengumpulkan seluruh keluarganya dan bersama-sama mereka berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala di depan Thian Hwa! Tentu saja gadis itu menjadi repot dan bingung, karena tak mungkin ia dapat mencegah orang sebanyak itu yang berlutut padanya, maka tiada lain jalan baginya selain ikut pula berlutut membalas hormat mereka!

Maka berpestalah seluruh kampung pada hari itu dan tiap bibir menyebut-nyebut nama Huang-ho Sian-li! Pada keesokan harinya, setelah menanyakan jalan, Thian Hwa meninggalkan kampung Lun-cwan dengan diantar oleh seluruh penduduk kampung, tua muda, laki-laki perempuan, sampai jauh di luar kampung. Gadis ini diberi seekor kuda yang bagus dan banyak pula bekal makanan dan pakaian yang diberikan padanya dengan setengah memaksa sehingga ia tidak dapat menolak lagi!

Di sepanjang jalan, Thian Hwa merasa betapa senangnya memberi pertolongan kepada orang yang sedang menderita kesukaran, dan jika ia mengenang kembali kemesraan yang ia dapat dari para penduduk kampung Lun-cwan, ia tidak merasa hidup sebatang kara lagi, bahkan merasa bahwa seluruh penduduk kampung itu adalah saudara dan keluarganya!

Karena telah mendapat petunjuk dari kepala kampung Tan tentang jalan dan jurusan yang menuju ke kota raja, pula karena kini telah mempunyai seekor kuda yang kuat dan cepat larinya, maka perjalanan Thian Hwa menjadi lancar dan cepat. Biarpun semenjak kecil hidup di atas air sungai Huang-ho, tapi karena kakeknya seorang yang berpemandangan luas, maka ia pernah dilatih menunggang kuda, sehingga kini tidak kaku lagi dan dapat melakukan perjalanan jauh dengan kuda.

Beberapa hari lewat tanpa terjadi sesuatu yang penting. Pada hari yang ketiga, Thian Hwa tiba di tepi sebuah sungai tapi jika dibandingkan dengan Huang-ho tampak tidak berarti, tapi cukup lebar karena pada waktu itu musim hujan telahtiba, Thian Hwa telah diberitahu oleh orang di kampung yang baru dilewatinya bahwa jembatan besar yang menyeberangi sungai itu terdapat kira-kira lima li di sebelah barat.

Karena semenjak kecil selalu hidup dekat sungai, maka melihat sungai ini timbullah kegembiraan Thian Hwa. Ia melihat di tempat itu sunyi sekali, maka segera ia tambatkan kudanya pada sebatang pohon dan ia cepat menanggalkan pakaian luarnya dan mengganti pakaian mandi yang ringkas.

Rambutnya yang panjang itu ia gelung ke atas dan diikatnya dengan sepotong sutera halus. Kemudian ia terjun ke dalam air yang dalam dan mengalir deras itu! Sebentar kemudian tubuhnya berenang hilir mudik dengan cepat sekali dan Thian Hwa merasa tubuhnya segar dan enak. Alangkah nikmatnya mandi di sungai yang airnya dalam dan dingin itu. Ternyata air sungai itu jernih dan lebih dingin daripada air Sungai Huang-ho, maka Thian Hwa merasa betah sekali mandi di situ.

Ia menyelam ke dalam air mencari kerang dan mengejar ikan-ikan kecil yang bermacam-macam warna dan bentuknya, seperti yang tiap hari dilakukannya di Huang-ho dulu ketika ia masih kecil. Pada saat seperti itu ia lupa akan segala, lupa akan orang tua yang sedang dicarinya, lupa akan kakek yang ditinggalkannya, pendeknya lupa akan segala kesusahan dan hanya merasa gembira dan bahagia. Ia merasa dirinya benar-benar menjadi dewi air!

Air sungai itu makin ke hilir makin besar dan dalam kegembiraannya, Thian Hwa telah berenang mengikuti aliran air sungai jauh juga dari tempat kudanya ditambatkan! Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang mengerikan terjadi di permukaan air, agak jauh ke hilir. Sebuah perahu kecil yang indah terombang-ambing di permukaan air karena sedang diserang oleh seekor ular air warna hitam yang besar dan panjang!

Ular itu telah menggunakan ekor dan tubuhnya membelit perahu dan kepala dijulurkan ke dalam hendak menerkam seorang yang mempertahankan dirinya dengan sebuah dayung kayu dan mencoba untuk memukul kepala ular itu dengan dayung. Tapi usaha orang itu sia-sia karena kepala ular makin dekat dan tiap saat tentu ia akan menjadi mangsa binatang itu yang agaknya tidak terburu-buru untuk segera menerkam mangsanya dan hendak mempermainkan lebih dulu!

Melihat ini, Thian Hwa mempercepat berenangnya menuju ke perahu itu dan sekali meloncat sambil menekan pinggiran perahu, ia telah berada di atas perahu dan tanpa berkata ia telah merampas dayung dari tangan orang itu. Orang itu ternyata seorang tua yang berpakaian bangsawan dan sikapnya gagah dan kini berdiri dengan mata terbelalak memandang gadis yang pakaian dan keadaannya bagaikan seorang dewi yang baru saja muncul dari Kerajaan Hai Liong Ong yang berada di bawah air!

Dalam keadaan yang demikian mendesak untuk menolong jiwa orang Thian Hwa tidak menggunakan banyak peradatan dan upacara lagi, bahkan ia lupa bahwa dengan pakaiannya yang ringkas dan basah itu sebetulnya tidak pantas untuk memperlihatkan diri di depan seorang laki-laki. Ia menggunakan dayung itu untuk memukul kepala ular.

Tadi ketika dayung itu masih berada di tangan laki-laki bangsawan itu dan digunakan untuk menyerangnya, binatang itu dengan mudah dan secara main-main mengelakkan tiap pukulan. Kini menghadapi serangan Thian Hwa, sekali pukul saja dayung itu tepat mengenai kepala ular sehingga ular itu mengamuk karena merasa sakit. Dari mulutnya keluar busa dan ia menyembur-nyembur dan mendesis-desis!

Tapi Thian Hwa tidak takut bahkan ia menggunakan dayungnya menghantam tubuh dan ekor yang melilit perahu. Ular itu memberontak keras dan perahu itu hampir terguling dan terbalik! Orang tua bangsawan itu berteriak ketakutan karena dia tidak pandai berenang dan jika jatuh ke dalam air berarti mati baginya, maka dia berpegang kepada pinggiran perahu dan duduk dengan tubuh menggigil.

Melihat hal ini, Thian Hwa lalu meloncat ke dalam air dan menggunakan tangannya menahan badan perahu sehingga tidak berguncang lagi. Tapi pada saat itu, ular yang panjangnya lebih sepuluh kaki itu meluncur di permukaan air dan menyerangnya dengan hebat dan mulut terbuka lebar!

"Awaaaassss!!!" bangsawan itu menjerit ngeri ketika melihat hal ini, tapi Thian Hwa cepat bergerak menjauhi perahu karena ia hendak memancing ular itu menjauhi perahu. Kalau harus bertempur di dekat perahu, maka ia akan sibuk sekali dan harus memecah perhatian dan tenaganya menjadi dua, sebagian untuk melawan ular, sebagian lagi untuk menjaga perahu. Ia berenang cepat dan dikejar dari belakang oleh ular itu!

Sebetulnya, melihat badan ular yang panjang dan kelihatan licin berlenggang-lenggok itu, timbul ngeri dan jijik di dalam dada Thian Hwa, tapi sekali-kali tidak merasa takut. Ia mencari akal untuk melawan sebaiknya dan secepatnya menjatuhkan atau membinasakan ular itu. Tiba-tiba ia membalik dan berenang sambil telentang menghadapi ular itu.

Ia sengaja berenang perlahan dan kadang-kadang mengangkat tubuhnya tinggi untuk memanaskan hati ular itu. Benar saja, ular itu makin marah dan mempercepat berenangnya. Ia kini meluncur cepat sekari ke arah gadis itu dengan mulut dibuka selebar-lebarnya. Thian Hwa membuat perhitungan tepat, lalu ia siap sedia. Ketika ular datang mendekat dan menerjangnya dengan mulut terbuka lebar sehingga giginya yang runcing tampak nyata.

Thian Hwa memapakinya dengan dayung di tangan dan gerakan dayungnya sedemikian rupa sehingga dayung kecil itu tepat sekali memasuki mulut ular dan terus disodokkan ke dalam sehingga memasuki perutnya! Ular itu berontak, sebagian tubuh belakang dan ekornya menyabet-nyabet dan berdaya melepaskan diri, tapi tusukan dayung itu terlampau dalam sehingga hampir saja seluruhnya masuk ke dalam tubuh!

Ia hendak selulup (menyelam) tidak dapat, hendak berenang lari pun sukar karena kepala dan leher tidak dapat digerakkan lagi, maka ia hanya dapat menggerak-gerakkan tubuh belakangnya melilit-lilit dan berputar-putar menimbulkan ombak besar pada air yang telah mulai memerah bercamput dengan darahnya yang keluar dari mulut yang tak berdaya itu.

Sementara itu, Thian Hwa berenang cepat menuju ke perahu kecil indah yang kini terputar-putar di tengah sungai karena tidak ada dayung yang mengemudikannya lagi. Bangsawan tua tadi hanya duduk bengong karena masih merasa ngeri dan heran melihat perkelahian antara ular dan gadis aneh itu. Dan dari tepi sungai tampak beberapa orang laki-laki berteriak-teriak bingung. Thian Hwa lalu menghampiri perahu dan sambil berenang ia mendorong perahu itu ke pinggir di mana orang-orang menyambut perahu itu dengan teriakan-teriakan girang.

"Kau... kau... manusiakah?" tanya bangsawan tua itu.

Thian Hwa memandangnya dengan senyum manis. Wajah bangsawan itu mendatangkan rasa simpatinya, karena wajah itu membayangkan watak yang agung dan gagah. "Aku orang biasa saja yang kebetulan lewat di sini."

Bangsawan tua itu tak dapat berkata apa-apa lagi dan sementara itu perahunya telah tiba di tepi dan banyak tangan kini membantunya ke tepi. Begitu naik, bangsawan itu lalu melepas baju luarnya yang lebar dan indah lalu melemparkannya ke arah Thian Hwa yang masih berada di air.

"Siocia, kaupakailah ini dan naiklah. Aku ingin sekali bicara denganmu dan menyatakan terima kasihku."

Thian Hwa makin tertarik melihat kesopanan dan kebaikan orang tua itu, apalagi sikap orang tua yang terus terang dan tanpa banyak peradatan itu mengingatkan ia akan kakeknya. Ia tahu bahwa dalam pakaian mandinya tak pantas kalau ia keluar dari air, maka ia lalu menggunakan pakaian luar bangsawan itu untuk menutupi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut, lalu mendarat.

Semua orang heran melihat Thian Hwa dan memandang dengan bengong, bahkan beberapa orang bertanya. "Siapakah gadis cantik ini?"

Karena banyak mata orang memperhatikannya, Thian Hwa menjadi tidak senang dan malu, maka bangsawan itu membentak. "Kalian semua manusia yang tidak bisa diharapkan! Baru ada serangan ular begitu saja kalian melarikan diri dan semua memikirkan keselamatan diri sendiri dan meninggalkan aku seorang diri di tengah sungai! Sungguh semangat kalian dibandingkan dengan semangat tikus pun masih kalah besar. Lihatlah Siocia ini. Ia adalah seorang wanita yang gagah perkasa. Dengan sebatang dayung kecil ia berhasil membuat ular air tadi tak berdaya. Ia menusuk mulut ular itu sehingga dayung perahuku masuk sampai ke perut ular! Ha, ha! Sungguh hebat, sungguh lucu! Aku ingin sekali melihat muka ular air itu sekarang! Tadi ketika ia menyerangku sangat ganas sekali!"

Kemudian bangsawan itu bertanya kepada Thian Hwa tentang asal-usulnya yang dijawab oleh gadis itu dengan sederhana saja. "Aku adalah seorang dari Sungai Huang-ho, dan hidup sebagai nelayan. Aku pada waktu ini sedang merantau meluaskan pengalaman dan hendak pergi ke kota raja."

Mendengar kata-kata gadis yang sangat sederhana dan tidak banyak menggunakan peradatan seperti yang biasa ia mendengar orang bersopan-sopan padanya, pembesar itu semakin tertarik, lalu ia memperkenalkan diri. Ternyata bangsawan itu adalah seorang pangeran bernama Ciu Wan Kong yang menduduki tempat penting juga di dalam istana raja. Pada waktu itu dia sedang pesiar dan dengan diikuti oleh beberapa orang teman dan pengawal, dia lewat di tempat itu dan bermain-main di atas perahu.

Tidak disangkanya sama sekali bahwa di sungai yang tak berapa besar itu terdapat ular air yang demikian besar dan galak sehingga hampir saja menewaskan jiwanya kalau tidak segera datang gadis itu menolong. Ketika melihat ular itu, semua sahabat dan pengawalnya cepat-cepat mendayung perahu dan berenang lari ke tepi, tanpa sedikit pun pedulikan jiwa pangeran itu.

Oleh karena pertolongan ini maka pangeran itu sangat berterima kasih kepada Thian Hwa. "Lihiap tentu seorang pendekar gagah. Bolehkah aku mengetahui nama dan julukanmu?"

"Aku bernama Thian Hwa dan sudah lama orang menyebut diriku Huang-ho Sian-li." jawab Thian Hwa, kemudian gadis itu memohon diri karena teringat akan kuda dan pakaiannya.

"Lihiap, kalau hendak ke kota raja, marilah ikut saja dengan kami. Kami ada kendaraan dan kuda di kampung dekat itu."

Thian Hwa menolak dengan halus dan biarpun dibujuk-bujuk oleh bangsawan yang sangat berterima kasih dan hendak memperlihatkan keramahan dan kebaikan untuk sekedar membalas budi, tetapi gadis itu menolak. "Lopeh, Kakekku selalu berkata bahwa manusia hidup harus selalu menolong sesamanya di saat yang perlu, karena untuk itulah kita dilahirkan di dunia ini. Aku hanya mentaati pesan Kakekku, dan sekali-kali bukan hendak menanam budi dan mengharap balas. Nah, selamat tinggal, Lopeh!"

Thian Hwa adalah seorang gadis didikan kampung yang tidak tahu akan adat istiadat atau tata cara kesopanan, maka ia pun menyebut bangsawan itu dengan "Lopeh" atau paman saja, panggilan yang selalu ditujukan kepada seorang laki-laki tua! Tapi pangeran itu tidak marah bahkan ia terharu sekali mendengar kata-kata filsafat yang tinggi itu keluar begitu saja dari mulut seorang gadis muda yang berilmu silat tinggi ini! Padahal gadis itu sedemikian bodoh dan sederhana sehingga menyebut orang dengan patut saja tidak pandai!

Thian Hwa lalu meloncat ke dalam air kembali dan dari situ ia melemparkan jubah luar pangeran itu ke darat sambil berkata. "Aku kembalikan pakaian luar, terima kasih!" Sehabis berkata demikian ia menggerakkan kaki tangannya dan sebentar saja ia lenyap di bawah permukaan air!

Pangeran Ciu Wan Kong dan kawan-kawan serta sekalian pengiringnya merasa kagum dan heran sekali, dan berkali-kali pangeran tua itu menghela napas karena merasa kecewa dan menyesal tak dapat bicara dan mengetahui riwayat gadis itu lebih banyak lagi. Dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis itu. Kemudian setelah menegur lagi orang-orangnya yang memperlihatkan sifat pengecut ketika menghadapi bahaya, dia lalu kembali ke kota raja.

Thian Hwa berenang kembali ke tempat semula dan alangkah kagetnya ketika ia tidak melihat lagi kudanya di tempat tadi! Kuda dan bungkusan pakaiannya telah lenyap! Ia menjadi bingung sekali dan hampir saja menangis di pinggir sungai itu karena tak mungkin ia melanjutkan perjalanan dengan pakaian seperti itu dan pakaian mandinya basah pula! Dengan bingung dan gemas Thian Hwa berlari cepat menuju ke jembatan untuk menyeberangi sungai itu, karena ia merasa di tempat itu tentu terdapat kampung di mana ia dapat meminjam pakaian!

Untung baginya bahwa ketika itu sudah hampir senja sehingga ia tidak lama menanti hari menjadi gelap dan memasuki sebuah kampung di dekat jembatan itu. Dengan menggunakan kepandaiannya, mudah saja ia memasuki rumah yang agak besar dan indah bagaikan seorang maling yang pandai ia masuk ke dalam kamar dan memilih seperangkat pakaian wanita. Akhirnya ia mendapat juga pakaian berwarna biru yang lumayan dan segera dipakainya lalu ia pergi dari rumah itu.

Karena ia tidak ingin lagi keesokan harinya terlihat oleh pemilik pakaian yang dicurinya itu, maka malam itu juga ia menyeberang sungai dan tiba di sebuah dusun. Ia naik ke atas wuwungan dan tidur di atas rumah orang. Hawa sangat dingin, tetapi Thian Hwa sudah biasa tidur di udara terbuka sehingga hawa dingin tidak lagi merupakan gangguan hebat baginya. Apalagi ia telah memakai pakaian yang agak tebal maka sebentar saja ia telah tidur nyenyak di atas genteng rumah orang...!
Selanjutnya,