Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 18 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga I Jilid 18

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
"Terima kasih, Tuanku," kata Ni Keng Giau. Ketika ia mengangkat kembali wajahnya nampak betul bedanya antara Ni Keng Giau yang tadi dengan yang sekarang. Tadi angkuh, garang, bangga. Kini agak pucat dan penuh keprihatinan. Ketika melangkah keluar ruangan, ia tidak setegap tadi, karena langkahnya dibebani penyesalan.

"Goan-swe, kau kenapa?" Lu Kong Hwe menyambutnya dengan pertanyaan di luar pintu.

"Hanya sedikit kurang enak badan," sahut sang jenderal muda. Melihat wajah Lu Kong Hwe, tiba-tiba Ni Keng Giau timbul gagasannya untuk besok meredakan amarah Kaisar di hadapan Sidang Kerajaan. Mudah-mudahan jalan keluar yang ditemukannya itu cukup manjur.

Sambil berjalan pulang ke tangsi, sepanjang- jalan Lu Kong Hwe memuji-muji Ni Keng Giau sebagai jendera) yang berkuasa, sehingga Kaisar pun takut kepadanya, dan sebagainya. Namun Ni Keng Giau hanya berkata singkat, "Lu Cong-peng, malam ini kau menginap di rumahku saja, supaya besok pagi-pagi kita bisa berangkat bersama-sama menghadiri Sidang Kerajaan."

Hati Lu Kong Hwe melonjak gembira. Alangkah bangganya dia diperkenankan mendampingi si jenderal muda perkasa yang telah menggemparkan istana. Tentu saja ia langsung menyanggupi permintaan Ni Keng Giau.

Di istana, sepeninggal Ni Keng Giau dan seluruh pasukannya, Yong Ceng tak sanggup mengekang amarahnya lagi. Ujung meja dicengkeram sehingga hancur menjadi bubuk kayu. "Ni Keng Giau... Ni Keng Giau.." berulang kali diucapkan nama itu dengan perasaan geram.

Sementara Kim Seng Pa masih berdiri dihadapannya dengan hati berdebar-debar. "Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa tadi, Kim Cong-koan?" Yong Ceng tiba-tiba bertanya.

Naluri Kim Seng Pa yang tajam merasa itulah detik-detik berharga untuk menunjukkan bahwa dialah "anak manis”, bukan "anak nakal" seperti Ni Keng Giau. Sahutnya, "Tuanku, sebelum hamba menjawab, apakah hamba diperkenankan lebih dulu membubarkan anak buah hamba?"

Waktu itu memang para pengawal berseragam ungu, termasuk Ji Han Lim, masih berdiri dengan tertib dan hormat dipinggiran. Sikap yang serba minta ijin dulu itu memang merupakan "obat" bagi Yong Ceng yang harga dirinya baru saja dilucuti habis-habisan oleh Ni Keng Giau.

"Silahkan, Cong-koan."

Kim Seng Pa lalu memerintahkan anak-buahnya, "Kembali ke tempat kalian dengan tertib. Jangan sampai peristiwa tadi tersiar dari mulut kalian tanpa perkenan Hong-siang sendiri."

Para pengawaI jubah ungu ialu berlutut kepada Yong Ceng, Ialu pergi meninggalkan ruangan itu. Kim Seng Pa melirik ke wajah Kaisar, dan lega ketika melihat kemarahan di wajah itu mereda. Bahkan Kaisar memuji, "Anak-buahmu tidak kalah tertibnya dengan anak-buah Ni Keng Giau, Cong-koan."

"Kami semua adalah hamba-hamba Tuanku yang siap menyerahkan nyawa demi kejayaan Tuanku."

Setelah tinggal berdua saja dengan Kim Seng Pa, Yong Ceng berkata, "Nah, apa katamu tentang ulah Ni Keng Giau tadi?"

"Tuanku, sesungguhnya ucapan hamba ini sama sekali tidak berdasarkan sakit hati pribadi kedua terhadap Ni Keng Giau," Kim Seng Pa mulai dengan sebuah kebohongan. "Ini demi kejayaan kekaisaran kita..."

"Katakan saja, Cong-koan."

"Singkat saja, Tuanku. Hamba harap Tuanku waspada, agar jangan sampai terjadi peristiwa seperti Bu Sam-kui dulu..."

Yong Ceng terkesiap, ingat sejarah lama. Jaman menjelang runtuhnya Kerajaan Beng dulu, ada seorang Panglima Beng bernama Bu Sam Kui yang menjaga kota San Hai-koan. Ketika Kerajaan Beng diruntuhkan oleh pemberontakan Li Cu Seng, Bu Sam Kui enggan tunduk kepada Li Cu Seng hanya karena masalah pribadi, karena perempuan yang dicintainya direbut oleh Li Cu Seng.

Dari pada tunduk kepada Li Cu Seng, Bu Sam Kui malah mengundang balatentara Kerajaan Manchu untuk ke Tiong-goan, lewat San-hai-koan, sehingga akhirnya orang Manchu berhasil menguasai seluruh negeri. Bu Sam Kui diberi balas jasa, dianugerahi wilayah Se-cuan dan Hun-lam, dan menjadi gubernur dengan gelar Peng-se-ong.

Namun di masa mudanya Kaisar Khong Hi, ayah Yong Ceng, Bu Sam Kui memberontak, bahkan sempat mendirikan "negara dalam negara" yang beribu kota di Heng-ciu dan mengangkat diri sendiri sebagai Kaisar. Akhirnya pemberontakan itupun tertumpas habis oleh pihak Manchu.

Kini Kim Seng Pa mengingatkan Yong Ceng, jangan sampai Ni Keng Giau menjadi "Bu Sam Kui kedua", karena betapapun Ni Keng Giau berdarah Han. Jangan sampai diberi kekuasaan terlalu besar, nanti susah dikendalikan.

Kim Seng Pa yang berdarah Manchu itu lebih suka kalau kedudukan Panglima Tertinggi dijabat oleh orang Manchu, syukur-syukur dirinya sendiri. Namun ia tidak memperlihatkan ambisinya, sebab tahu bahwa Yong Ceng selalu merasa terancam oleh pembantunya yang terlalu berambisi.

Diam-diam Yong Ceng menyesal telah memberi kekuasaan terlalu besar kepada Ni Keng Giau, dan akibatnya sungguh mengerikan, Pasukan Tiat-ki-kun tidak mau tunduk kepada siapapun kecuali kepada Ni Keng Giau. Si harimau keciI yang dulu lucu dan menyenangkan, kini telah tumbuh taringnya dan kuku-kukunya yang tajam.

"Aku paham kecemasanmu, Kim Cong-koan, tetapi..." Yong Ceng ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Dapatkah Kim Seng Pa dipercaya untuk mengetahui seluruh isi hatinya?

"Tetapi kenapa, Tuanku? Hamba akan berbahagia sekali kalau Tuanku mau mempercayai hamba, hamba akan menjunjung tinggi kepercayaan yang Tuanku berikan...”

Namun Yong Ceng tetap menjawab secara samar-samar, "Kemauan ada, tetapi jalannya belum ditemukan."

"Menjatuhkan Ni Keng Giau? Hamba tahu jalannya, Tuanku...."

Tetapi Yong Ceng lebih dulu mengibaskan tangannya dan berkata, "Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Besok pagi aku tidak boleh kelihatan mengantuk dalam sidang istana."

"Baiklah, hamba mohon diri, Tuanku "Silahkan, Cong-koan."

Keesokan harinya, Ni Keng Giau mengajak Lu Kong Hwe menghadiri Sidang Kerajaan. Tapi ia tidak mengajak seluruh tubuh Lu Kong Hwe, cukup batok kepalanya saja, yang dibawa di atas sebuah nampan porselen. Batok kepala Lu Kong Hwe kelihatan masih segar bola matanya membelalak penasaran, membuat semua hadirin di Sidang Kerajaan bergidik ngeri. Itulah cara Ni Keng Giau meredakan kemarahan Kaisar.

Sambil berlutut, Ni Keng Giau mengangkat tinggi-tinggi nampan itu, dan berkata, "Inilah perwira hamba yang tadi malam menimbulkan kerusakan di istana. Dia pantas dihukum mati, Tuanku."

Banyak Menteri dan Panglima di ruangan itu yang bergidik oleh kekejaman Ni Keng Giau. Mereka sudah mendengar bisik-bisik tentang peristiwa kemarin malam. Kalau tidak diperintahkan oleh Ni Keng Giau, mana berani perwiranya bertindak terlalu jauh? Namun kini enak saja Ni Keng Giau memenggal kepala perwiranya sendiri untuk sekedar meredakan kemarahan Kaisar.

Sahut Yong Ceng, "Cukuplah, Ni Goan-swe, kau sudah menunjukkan kesetiaan besar terhadapku. Sekarang, singkirkan kepala itu."

Sidang segera dimulai. Batok kepala Lu Kong Hwe dibawa keluar oleh seorang pengawal dan dibuang entah kemana.

* * * *

Pada suatu hari yang cerah, di tanah berbukit di luar ibukota Kekaisaran, nampak serombongan pemburu berkuda tengah menguber binatang-binatang buruan mereka. Itulah Yong Ceng dan pengawal-pengawal pribadinya yang ingin menyegarkan otak, setelah cukup lama pusing menghadapi urusan negara yang bertumpuk-tumpuk.

Dengan tangkasnya Yong Ceng menderapkan kudanya, mementang busur dan menembakkan panah-panahnya yang mengenai sebagian besar dari binatang-binatang buruannya. Namun Yong Ceng cukup berhati-hati untuk tidak berpisah jauh dari pengawaI-pengawal terpercayanya, sebab sadar bahwa di luar istananya ada banyak orang yang tidak puas kepadanya dan selalu mengintai nyawanya. la membawa empat puluh orang pengawal jubah ungu.

Ji Han Lim juga ikut. Namun sebagai pengawal baru yang belum mendapat kepercayaan penuh, ia hanya kebagian mengawal di lapisan yang paling luar. Sedang yang diperkenankan dekat dalam jarak kurang dari sepuluh langkah, hanyalah empat orang yang benar-benar sudah dipercayai Yong Ceng. Mereka adalah Kim Seng Pa, Toh Jiat Hong, Su-ma Hek-long dan Sat Siau Kun. Hanya mereka itulah.

Kegembiraan suasana perburuan sedikit terganggu, ketika kuda Ji Han Lim tiba-tiba meringkik-ringkik dan melonjak-lonjak, entah kenapa, lalu berlari kesetanan membawa penunggangnya ke arah Yong Ceng. Melihat itu, serempak Toh Jiat Hong, Su-ma Hek-long dan Sat Siau Kun menghadangkan kuda mereka di sekitar tubuh Yong Ceng, siap melindunginya Sedang Kim Sena Pa memacu kudanya untuk menyongsong kuda Ji Han Lim, dengan tangkasnya ia berhasil menyambar tali mulut kuda Ji Han Lim untuk ditekan ke bawah, sehingga kuda itu langsung bertekuk lutut kaki depannya. Sementara Ji Han Lim buru-buru melompat turun dengan dahi berkeringat. Cepat-cepat Ji Han Lim berkata ke pada Kim Seng Pa,

"Aku minta maaf, Cong-koan. Tak kuketahui sebabnya kuda tungganganku menjadi binal sehingga merepotkan Cong-koan."

Kim Seng Pa mentap tajam-tajam wajah Ji Han Lim, namun tidak dilihatnya sesuatu yang patut dicurigai, maka kata-katanyapun lunak, “Tidak apa-apa, saudara Ji. Lain kali hati-hatilah, sekarang kembalilah ke tempat tugasmu."

“Baik, Cong-koan," kemudian Ji Han Lim menunggangi kudanya yang sudah tenang kembali, dan kembali ke tempatnya bertugas, diujung padang perburuan sana, ratusan langkah dari Yong Ceng. Ketika Kim Seng Pa tiba kembali di samping Yong Ceng, bertanyalah Yong Ceng, "Apa yang terjadi?"

"Seorang pengawal agaknya kurang mahir mengendalikan kudanya, Tuanku. Tetapi tidak apa-apa, dia sudah berhasil menenangkannya kembali."

Yong Ceng mengangguk puas mendengar keterangan itu. Membinalnya kuda tunggangan Ji Han Lim itu hanyalah selingan kecil yang sama sekali tidak mempengaruhi kegembiraan acara berburu Kaisar. Menjelang sore, rombongan Kaisar kembali kedalam kota Pak-khia. Meskipun Yong Ceng mengenakan pakaian seorang pemburu biasa, namun perajurit-perajurit penjaga pintu kota mengenalnya, sehingga mereka semua berlutut. Dengan sendirinya, rakyat yang melihat itu lalu berlutut pula di sepanjang jalan yang dilewati rombongan itu.

Yong Ceng berkuda diapit Kim Seng Pa dan Toh Jiat Hong. Tepat dibelakangnya adalah Su-ma hek-long dan Sat Siau-kun, sedangkan pongawal-pengawal lainnya berbaris dua deretan dibelakang mereka. Seragam para pengawal itu memhuat iring-iringan itu nampak megah juga biarpun tidak seberapa jumlahnya. Tetapi ada juga orang yang tidak kagum melihat rombongan itu, malah orang itu hampir melompat ke tengah jalan untuk mengamuk. Untung dicegah oleh empat orang kawannya.

Di sebuah loteng rumah makan di pinggir jalan, orang itu meronta-ronta mencoba melepaskan pegangan temean-temannya, sambil berkata keras, “Lepaskan aku! Bangsat itu benar-benar telah menjadi anjingnya Yong Ceng harus kubacok tubuhnya menjadi delapan potong."

Adegan meronta dan memegang dari orang-orang Itu menarik perhatian tamu-tamu rumah makan lainnya, lebih-lebih ketika mendengar tentang "anjingnya Yong Ceng" segala. Orang-orang yang takut kena urusan lalu buru-buru membayar dan kabur, bahkan ada yang sebenarnya belum kenyang sedlkit pun. Tetapi di antara tamu-tamu rumah makan, juga ada seorang mata mata kerajaan yang segera melaporkan ke tangsi tentara terdekat, mengatakan di loteng rumah makan itu ada "sekawanan pemberontak”.

Sementara itu, orang yang meronta ronta dan teman-temannya itu sadar bahwa mereka tak bisa tinggal lebih lama di rumah makan itu, sebab mereka sudah terlanjur menarik perhatian orang. Bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Mereka adalah orang-orang Hwe-liong-pang yang datang ke Pak-khia untuk "menyadarkan" atau “menghukum" Ji Han Lim, salah satu dari dua pilihan itu. Yang meronta-ronta tadi adalah Ji Han Bok, Ang-ki Hutong-cu (wakil pemimpin kelompok bendera merah), adik dan sekaligus wakil Ji Han Lim.

Lainnya adalah Pek-ki Tong-cu (pemimpin kelompok bendera putih) Kiong Wan Peng yang berjulukan Thian-lui-tui (tendangan petir), wakil Kiong Wan Peng yang bernama Oh Bu Siang dan mahir memainkan tameng di tangan kiri dan golok di tangan kanan, Ui Ki Tong cu (pemimpin regu bendera kuning) yang bertampang kutu buku, yaitu Siang-koan Long yang berjulukan Sai kim-ciam- su-sing (Pelajar Penyebar Jarum Emas), serta wakilnya yang bernama Kwe Thian dan bertampang seperti kuli bangunan, apalagi karena bersenjata martil besi.

Dengan susah payah, Oh Bu Siang dan Kwe Thian setengah menyeret setengah membujuk Ji Han Bok agar sabar dan tidak merusak rencana bersama. Mereka masuk sebuah gang kecil di pinggir jalan yang kiri kanannya adalah tembok-tembok bangunan yang tinggi.

Baru saja mereka masuk belasan langkah, di mulut lorong tahu-tahu telah muncul sepasukan perajurit. Mata-mata yang tadi melaporkan itu menuding kelima orang Hwe-liong-pang itu sambil berteriak-teriak, "Mereka itulah! Tadi di loteng rumah makan telah menghina Hong-siang dan juga merencanakan pembunuhan!“

Perajurit-perajurit itu dari pasukan Kiu-bun Te-tok (Garnisum Ibukota) yang paling bertanggung-jawab untuk keamanan kota Pak-khia. Mereka dipimpin seorang berpangkat cam-ciang yang bersenjata golok tebal, yang tanpa banyak cakap lagi langsung menyerbu ke arah orang-orang Hwe-liong-pang.

"Bagaimana tindakan kita, saudara Kiong?" Siang-koan Long bertanya, sambil melibatkan jubah sasterawannya kepinggangnya, agar tidak mengganggu dalam bertempur nanti.

Sahut Kiong Wan Peng. "Hindari bentrokan dulu. Belum semua teman kita masuk kota ini, belum seluruh kekuatan kita terkumpul..."

Memang orang-orang Hwe-liong-pang masuk kota tidak dengan cara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, agar tidak "memukul rumput mengagetkan ular". Namun toh gara-gara ulah Ji Han Bok, "ular”nya kaget juga. Karena merasa bersalah, Ji Han Bok berkata, "Maafkan aku. Saudara-saudara berempat pergilah dulu menghubungi teman-teman, aku akan menahan musuh sendiri di sini."

"Tidak bisa," bantah Kwe Thian sambil menyiapkan martil besinya. "Mana bisa aku kabur sendirian dan membiarkan saudara Ji menghadapi bahaya sendirian disini?”

"Betul, lari bersama atau bertempur bersama," sambung Oh Bu Siang. Perisai yang tergendong di punggungnye sudah dipegangnya dengan tangan kiri, dan golok di pinggangnya sudah dicabut dengan tangan kanan.

Karena musuh sudah dekat, Siang-koan Long cepat memutuskan, "Jangan berbantahan. Kita lari bersama ke kuil Thai-hud-si...."

Di kiri kanan hanya ada tembok-tembok tinggi, sementara musuh sudah menyerbu dari depan. Kalau lari ke ujung lorong lainnya, entah aman entah tidak, maka Siang Koan Long mengambil keputusan cepat lagi, "Lompat ke atas tembok!"

Namun timbul masalah baru. Tembok itu cukup tinggi, agaknya hanya Siang Koan Long dan Kiong Wan Peng yang bisa melompatinya, sedang tiga Hutong-cu belum cukup kepandaian untuk itu. "Gunakan ikat pinggang! Saudara Kiong, kau naik dulu!" teriak Siang Koan Long bergegas.

Baru saja mulut Siang Koan Long bungkam, tubuh Kiong Wan Peng telah melejit ke atas dan hinggap seperti seekor kucing. la langsung melepas ikat pinggangnya dan mengulurkannya ke bawah, membantu tiga Hutong-cu memanjat naik. Sementara itu, ketika para perajurit sudah dekat, Siang Koan Long mengayunkan tangannya dan jarum-jarumnya mencicit serta gemerlapan ke arah para perajurit.

Biarpun julukannya adalah Sastrawan Penyebar Jarum Emas, tapi Siang Koan Long bukanlah orang kaya yang seenaknya saja menghamburkan emas. Jarum-jarum hanya terbuat dari perunggu yang digosok sampai mengkilat seperti emas. Kalau jarumnya benar-benar dari emas, tentu yang disambit tidak akan marah, malah berterima kasih.

Beberapa perajurit yang paling depan roboh oleh jarumnya. Namun si komandan ternyata berilmu tidak rendah, ia sanggup memutar goloknya sampai rapat seperti perisai, memukul runtuh semua jarum yang diarahkan kepadanya. Bahkan dengan tangan kirinya ia balas menyambitkan senjata rahasia toh-kut ting (Paku Penembak Tulang) yang berdesing mengejutkan Siang Koan Long.

Siang Koan Long enggan maladeni lebih lanjut. Ketika melihat tiga Hong tong-cu sudah sampai di atas tembok, maka Siang Koan Long juga melompat pergi. Perwira musuh itu memiliki tenaga yang besar dan iImu golok yang bagus, tetapi tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup. Maka iapun segera kehilangan buruan-buruannya yang melompat-lompat di atas genteng dan tembok-tembok tinggi. Apalagi anak-bualnya hanya suara merekalah yang bisa "mengejar" orang-orang Hwe-liong-pang itu.

Sementara Kiong Wan Peng dan kawan kawannya menuju ke kuil Thai-hud-si yang dijadikan "pangkalan" gerakan. Sebuah kuil yang di pimpin seorang bekas perwira Pangeran In Te yang diam-diam tetap berjuang di bawah tanah. Kiu-bun Te-tok segera mengerahkan puluhan ribu perajuritnya untuk menggeledah seluruh Pak-khia.

Namun kota itu terdiri dari berpuIuh-puluh ribu lorong yang simpang-siur dan saling menembus, berpuluh ribu tikungan- tikungan gelap, ratusan ribu rumah-rumah. Untuk mencari lima orang Hwe-liong-pang itu, sulitnya sama dengan mencari sebatang jarum di dasar laut. Apalagi hari segera menjadi gelap.

Kiong Wan Peng serta teman-temannya memasuki Thai-hud-si dengan meIompati dinding belakang. Karena mereka terengah-engah dan berwajah tegang, maka mereka mengejutkan teman-teman mereka lainnya.

"He, ada apa?" tanya Jing-ki Tong cu (pemimpin kelompok bendera hijau) Liong Su Koan yang berjuluk Bu-sia Hi-jin (Nelayan Selat Bu-sia), didampingi Yang Goan, wakilnya yang bertubuh pendek gempal dan bersenjata rantai besi. Beberapa orang jago Hwe-liong-pang lainnya pun menyambut keluar, mengira ada musuh yang datang karena sudah tahu tempat persembunyian mereka.

Siang Koan long yang menjawab, "Kelengahan kami berlima, saudara liong. Kehadiran kami dicurigai seorang mata-mata kerajaan, sehingga musuh mengerahkan pasukan untuk mengaduk seluruh kota."

Tiba-tiba Khai-sim Hwe-shio, nama samaran bekas perwira In Te itu, berseru, "Celaka...”

Keruan semuanya kaget dan menoleh kearahnya. "Apanya yang celaka, Tio Cong-peng?" Namanya Khai-sim Hwe-shio, namun orang-orang yang kenal dengannya tetap memanggilnya Tio Cong-peng.

Sahut Khai-sim Hwe-shio bernaca cemas, "Ji Han Lim sudah tahu letak tempat ini, ketika dulu ia ikut dalam gerakan hendak menyeIamatkan Pangeran In Te dan tiga anak-anak yang diculik. itu. la tahu rahasia tempat ini, dan sekarang ia sudah menjadi begundalnya Yong Ceng. Berarti tempat ini tidak aman lagi untuk dijadikan persembunyian."

Keruan semuanya jadi tegang, tapi tak seorangpun berhasil menemukan akal bagus. Mereka tidak mungkin pindah tempat malam itu, sebab seluruh kota sedang dalam penjagaan ketat. Mereka juga tidak mau keluar lewat terowongan di bawah kakus yang dulu, khawatir kalau Ji Han Lim sudah mengajak orang orangnya Yong Ceng lainnya untuk menyumbat mulut terowongan dengan ujung pedang. Kalau begitu, tentu mereka akan mati seperti tikus-tikus dalam terowongan busuk itu.

Tiba-tiba di atas dinding kuil itu muncul sesosok bayangan berpakaian hitam ringkas dan berkedok pula, melemparkan sesuatu benda ke arah kerumunan orang-orang Hwe-Iiong-pang, lalu dengan cepatnya menghilang kembaIi tak terkejar.

"Menghindar semua!" teriak Siang Koan Long, la khawatir benda itu adalah sejenis senjata yang disebut Tok-bu-kim-ciam-cu-bo- tan (Peluru Api Penyebar Kabut Racun dan Jarum Emas) yang dapat melukai beberapa orang sekaligus dalam ledakannya. Namun benda itu tidak meledak ketika membentur tanah, sebab itu hanyalah sebutir batu yang dibungkus selembar kertas.

Orang orang Hwe-liong-pang itu keruan saling berpandangan dengan heran. "Suatu cara mengirim berita yang terhitung bersahabat," komentar Siang Koan Long yang banyak pengalaman. "Kalau dikirim pihak yang bermusuhan, biasanya dengan menggunakan pisau belati, atau suratnya digulungkan ke batang anak panah."

Sementara, Liong Su Koan telah membaca suratnya keras-keras, supaya semua orang ikut mendengar, "Besok tengah malam di Taman Cun-hoa. Jangan terlaiu banyak orang."

"Siapa pengirimnya?" tanya Kiong Wan Peng.

"Tidak tertulis, namun ada gambar kampak bergagang pendek. Barangkali...barangkali Ji Han Lim."

Ji Han Bok langsung bergejolak kembali hatinya, "Katanya, besok tengah malam di Taman Cun-hoa?"

"Benar, saudara Ji."

"Tentu aku yang dituju oleh surat itu," kata Ji Han Bok sambil mengepalkan tinjunya. "Besok pasti aku pergi, tak peduli ada perangkap atau tidak. Kalau dia sudah rela menjadi anjingnya Yong Ceng, biar dia puas memotong-motong tubuhku."

Ada nada pedih dalam suara si adik yang mengira kakaknya telah menjadi pengkhianat itu. Semuanya ikut terharu dan hanya bisa menghiburnya. Siang Koan Long, yang berusia paling tua dan paling disegani itu kemudian berkata, "Kalau si pelempar batu adalah Ji Han Lim, aneh juga bahwa ia datang sendiri dan tidak mengerahkan perajurit. Namun kita harus tetap waspada."

"Jadi, bagaimana baiknya, saudara Siang Koan?"

"Biar besok saudara Ji Han Bok ke Taman Cun-hoa, tetapi aku harus menemaninya. Dan setiap limapuluh langkah, harus ada setidak-tidaknya satu orang kita yang akan mengawasi keadaan. Kalau ada perangkap, jangan sampai semuanya masuk perangkap."

“Baik, itu gagasan yang bagus."

’’Dan malam ini, kita boleh tidur senyenyak- nyenyaknya tanpa perlu mengungsi dari sini. Firasatku mengatakan, yang akan mengunjungi kita malam ini hanyalah nyamuk-nyamuk dari parit sebelah. Bukan Ji Han Lim atau pasukannya Yong Ceng yang lain."

Sementara itu, Ji Han Lim sendiri sudah ada di bangsal Bwe-hoa-kiong, tidak jauh dari bangsal Kaisar sendiri. Karena mereka tidak pernah boleh berjauhan dari Kaisar, untuk menjaga keselamatan si Putera Langit itu. la baru saja keluar dari istana, dan masuk kembaIi tanpa banyak kesulitan dari para penjaga, sebab Ji Han Lim punya Kim-pai (lencana emas) sebagai anggota pengawal berseragam ungu.

Namun begitu ia mendorong pintu unluk masuk ke kamar tidurnya, ia kaget. Di kamarnya telah duduk menunggu seorang yang termasuk anggota pengawal berseragam ungu, dan di atas meja sudah tertata rapi sebuah papan catur dengan biji-biji caturnya.

Melihat kedatangan Ji Han Lim, orang itu tertawa ramah, "Ah, lama benar saudara Ji berjalan-jalan di luar istana. Aku sampai mengantuk menunggumu untuk bermain catur."

Ji Han Lim berusaha menekan kegugupannya. Orang yang menunggunya bermain catur itu bernama Wan Yen Coan. Ahli memainkan cambuk Liong-jui-pian (Cambuk Moncong Naga) dan tingkat ilmunya sama sekali tidak di bawah Ji Han Lim atau para Tong- cu Hwe-liong-pang lainnya. Wan Yen Coan bersahabat dengan Ji Han Lim, tapi hanya pura-pura saja, sebab sebenarnva ia mengemban tugas dari Kim Seng Pa agar diam-diam mengawasi tingkah-laku Ji Han Lim, si orang baru.

Sahut Ji Han Lim sambiI tersenyum, "Udara di luar istana sangat sejuk, sehingga aku cukup lama berjalan-jalan. Maaf, telah menunggu terlalu lama."

Wan Yen Coan kemudian melirik sepatu Ji Han Lim secara diam-diam, dan melihat sepatu itu dikotori oleh lumpur. Maka ia menduga, tentu Ji Han Lim lewat juga di lorong-lorong yang becek juga. "Saudara Ji, silahkan saudara berganti pakaian lebih dulu, biar lebih santai."

Tetapi Ji Han Lim langsung menarik kursi untuk duduk berseberangan meja dengan Wan Yen Coan. "Tidak perlu, saudara Wan Yen, aku sudah gatal tangan ingin menggerakkan biji-biji caturku. Ayolah...."

Waktu itu, memang Ji Han Lim masih memakai jubah ungu seragamnya. Tapi ia tidak mau berganti pakaian ditempat itu, di hadapan mata Wan Yen Coan, sebab di balik seragam ungunya itu ia memakai pakaian hitam ringkas, dan ia tidak ingin meladeni seribu pertanyaan Wan Yen Coan tentang pakaian hitamnya itu.

Keduanya kemudian bermain catur beberapa babak, berganti-ganti kalah dan menang, diselingi percakapan-perckapan ringan. Dan setiap kali Wan Yen Coan menyinggung tentang Hwe-liong-pang, Ji Han Lim menanggapinya dengan mengeluarkan kata-kata sengitnya tentang ketua Hwe-Iiong-pang, yang telah tidak menghiraukan nasibnya seIagi tertawan Kim Seng Pa. Juga bersumpah akan mengajak rekan-rekan lamanya di Hwe-liong-pang agar berbalik menentang Ketua Hwe-liong-pang, atau meninggalkan Hwe-liong-pang saja.

Permainan berakhir, ketika Wan Yen Coan mengeluh sudah mengantuk dan ingin berpamitan pulang ke tempatnya sendiri. Namun setelah meninggalkan kamar Ji Han Lim, Wan Yen Coan ternyata tidak langsung kembali ke tempatnya, melainkan langsung ke bagian depan bangsal Bwe-hoa-kiong, tempat tinggal Kim Seng Pa.

Tengah malam sudah lewat, namun Kim Seng Pa belum tidur. la masih asyik berlatih ilmu pukulan Liok-hap-ciang-hoat dengan bersemangat. Biarpun rambutnya putih semua, namun tubuhnya justru mirip tubuh anak-anak muda yang tengah bersemangat-semangatnya berlatih. Tegap, tak ada lemak berlebihan, penuh dengan otot-otot yang berjalur-jalur menghiasai kulitnya. la memang latihan keras, sebab setelah berhasil mengalahkan Pak Kiong Liong, suatu ketika ia juga ingin mengalahkan Tony Lam Hou dan Pun-bu Hwe-shio, tak pedu- li Pun-bu Hwe-shio adalah guru dari Kaisar Yong Ceng dan Ni Keng Giau.

Ketika Wan Yen Coan mengetuk pintu , Kim Seng Pa tengah menyelesaikan jurus terakhirnya. Kun-tun-jut-kai (Terciptanya Alam Semesta), jurus kebanggaan yang pernah membuat Pak Kiong Liong terjungkal, biarpun Pak Kiong Liong telah menggunakan jurus terhebatnya pula waktu itu.

"Siapa?" tanyanya ketika mendengar ketukan di pintu.

"Cong-koan, aku Wan Yen Coan."

Kim Seng Pa menyeka keringatnya dan memakai bajunya, lalu berkata, masuklah."

Wan Yen Coan lebih dulu member hormat, "Maaf, aku mengganggu latihan Cong-koan. Ada yang hendak kulaporkan tentang Ji Han Lim, bekas orang Hwe-liong-pang itu."

"Kenapa dia?"

“Aku tidak berani menyimpulkan sendiri, Cong-koan. Tetapi malam ini ia pergi ke luar istana, mengakunya hanya berjalan-jalan. Tetapi kuperhatikan sepatunya penuh lumpur, apakah dia berjalan-jalan di lorong-lorong becek?"

"Tidak kau tanyakan kemana perginya?"

"Tidak. Aku khawatir dia akan merasa dirinya sedang diawasi, nanti tentu lebih sulit diawasi lagi."

Kim Seng Pa tersenyum. "Otakmu rupanya jalan juga ya? Nah, awasi dia terus, jangan sedetikpun lepas dari pengawasan. Akan kuperintahkan Sat Siau Kun untuk membantumu."

"Baik. Cong-koan,"

"Kalau ada apa-apa laporkan kepadaku. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Paham.?”

"Paham, Cong-koan." Kemudian Wan Yen Coan mengundurkan diri dari hadapan komandannya itu. la mengharap akan mendapat pahala besar kelak, kalau tugasnya berhasil baik. Namun ia menggerutu juga, karena kelak pahalanya harus dibagi dua dengan Sat Siau Kun si kecil bungkuk yang tak henti-hentinya mengisap pipa tembakunya Itu.

* * * *


Taman Cun-hoa. Kalau siang, tempat ini ramai dikunjungi orang-orang yang menghibur diri, pengemis-pengemis yang mencari sedekah, hidung belang yang mencari mangsa, seniman-seniman yang mencari ilham atau sekedar orang-orang yang berlagak seniman.

Tapi di malam hari, tak seorang pun mengunjunginya. Khusus untuk malam Itu ada perkecualiannya. Nampak beberapa sosok bayangan datang berbisik-bisik, lalu berpencaran. Ada yang memanjat atap gardu, bersembunyi dibalik pohon, bertiarap di rumput, bahkan ada yang tidak segan-segan mencebur ke dalam kolam dengan hanya menyisakan kepalanya di atas air.

Tempat persembunyian mereka berpencaran, tetapi memilih tempat yang dapat mengawasi keadaan seluas-luasnya, dan dapat saling melihat persembunyian teman masing masing. Mereka orang-orang terlatih rupanya. Salah satu dari mereka tidak bersembunyi, namun duduk dl bangku batu di tengah taman, sikapnya nampak agak gelisah. Dialah Ji Han Bok, adik dan sekaligus wakil Ji Han Lim.

Suara lonceng di menara kota di kejauhan telah menunjukkan waktu tengah maiam, berbarengan dengan munculnya sesosok tubuh di pintu taman, yang berjalan seperti maling mendekati ayam yang hendak disambarnya. Pakaiannya ringkas hitam, mukanya berkedok hitam pula. Dialah kakak kandung Ji Han Bok, ji Han Lim, yang berjanji akan menemui adiknya dan orang-orang Hwe-liong-pang iainnya di Taman Cun-hoa.

Sebelum melangkah masuk taman, Ji Han Lim menoleh dulu kesekelilingnya bahwa tidak ada orahg yang mengikutinya. Setelah merasa aman barulah ia melangkah masuk ke taman Hatinya bergejolak ketika mengenali Seseorang yang duduk dibangku taman. "Bok-te (adik Bok)..." desisnya tertahan.

Namun Ji Han Bok menjawab dengan dingin, “Apakah kita masih bisa menjadi kakak beradik, tergantung hasil pembicaraan kita nanti."

Ji Han Lim menarik napas mendengar jawaban bernada amat bermusuhan itu. Baru saja muiutnya hendak menjelaskan sikapnya, tiba-tiba matanya yang tajam melihat sesosok bayangan melompat di ujung taman, hanya sekejap kelihatan, lalu bersembunyi di belakang sebuah tugu hiasan taman. Tetapi Ji Han Lim dapat melihat bahwa orang itu adalah Kim Seng Pa dan ia yakin Kim Seng Pa tak mungkin datang sendirian. Maka tahulah JI Han Lim bahwa gerak geriknya sebenarnya diawasi terus sejak ia meninggalkan bangsal Bwe-hoa-kiong.

Ji Han Lim mengeluh dalam hati jelaslah bahwa pembicaraannya dengan adiknya tidak akan berlangsung dengan bebas. Dalam keadaan terjepit itu, akhirnya Ji Han Lim memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan yang melukai hatinya sendiri.

Sedang Ji Han Bok yang sama sekali tidak paham perasaan kakaknya itu telah membentak sengit, "Cepat bicara! Kenapa kau bertekuk lutut kepada Kaisar lalim dan mengkhianati perjuangan luhur Hwe-liong-pang?!"

Hati Ji Han Lim serasa tersayat, namun ia sengaja bersuara keras agar terdengar sampai ke ujung taman, "Adikku, kau adalah satu-satunya saudaraku. Aku sayangkan masa depanmu yang akan terbuang percuma kalau terus bersama orang-orang kurang pekerjaan di Hwe-liong-pang, mengabdi kepada Tong Lam Hou yang sama sekali tidak punya belas kasihan kepada anak-buahnya."

Sambil bicara panjang lebar, berkali-kali Ji Han Lim memberi isyarat dengan ekor mata ke pintu taman, sambil memonyong-monyongkan mulutnya, maksudnya agar adiknya memahami isyaratnya agar kabur saja.

Tetapi Ji Han Bok tengah meluap darahnya dan keruh pikirannya, isyarat kakaknya itu tidak digubrisnya. Malah sepasang kampak bergagang pendek yang tergantung di pinggangnya dihunus, dan ia berteriak penuh kemarahan, "Keparat, jadi kau benar-benar sudah rela menjadi anjingnya si penindas rakyat itu? Sungguh kecewa ayah kita di alam baka mempunyai anak sehina kau!”

Lalu sepasang kampaknya menyambar dengan jurus Tui bun-kian-san (Mendorong Pintu Melihat Gunung), Sepasang kampaknya menggunting ke arah leher dan perut sekaligus. Ketika kakaknya menghindar, Ji Han Bok memutar tubuh dan kedua kampaknya menyambar sejajar dari atas ke bawah. Ji Han Lim mengeluh dalam hati, sekaligus memaki keberangasan adiknya yang kalau marah tak ingat apa-apa lagi.

Dengan gesit ia menghindar lagi, dan berbisik, "Pergi secepatnya tempat ini diawasi…”

Bukannya menurut, malah adiknya berteriak, “Perginya nanti saja, setelah memotong-motong tubuhmu!"

Tubuhnya melompat berputar, jurus liong-wi-gong-coan (Naga Bergulingan di Angkasa) dilancarkan. Nafsu membunuh Ji Han Bok begitu meluap-luap, sampai lupa bahwa yang dihadapinya itu adalah kakak kandungnya yang sejak kecil bermain bersama, berlatih bersama dan kemudian berjuang bersama di daiam Hwe-liong-pang.

Sementara itu, di bagian lain Taman Cun-hoa tiba-tiba terjadi pertempuran pula, Rupanya salah seorang anak buah Kim Seng Pa yang tengah merunduk-runduk, tanpa sengaja menginjak pantat seorang anggota Hwe-liong pang yang sedang bertiarap. Sudah sama-sama kepergok, baku hantam tak terhindar lagi.

Jagoan istana Yong Ceng itu ialah Su-ma Hek-long yang berjulukan Toat-beng-san (Payung Perenggut Nyawa). Payung hitamnya dengan lincah ditusukkan, diputar, disabetkan atau dibuka tutup dengan berbagai gerakan berbahaya. Mukanya pucat seperti orang kelaparan, namun tandangnya beringas seperti serigala kelaparan juga.

Lawan Su-ma Hek-long dua orang, masing-masing Oh Bu Siang yang bersenjata tameng dan golok, dan Kwe Thian yang bersenjata martil dan jidat Su-ma Hek-long senentiasa dianggap segumpal batu yang harus dipecahkan. Tapi kalau jidat terlalu sulit diincar, jempol kaki juga bolehlah.

Gabungan kekuatan dua Hutong-cu Hwe-liong-pang itu cukup hebat, namun mereka kaget karena Su-ma Hek-long juga tangguh sekali biarpun dikeroyok dua. Kalau payungnya terbuka, rapatnya tak kalah dengan perisai di tangan kiri Oh Bu Siang, atau digerakkan berpu- tar seperti roda berpisau yang bisa mencincang dua lawannya. Kalau paying ditutup, ujung payung menjadi tombak dan badan payung menjadi gada yang bisa meremukkan tulang.

Namun dua lawan Su-ma Hek-long bukan makanan-makanan empuk. Orang-orang yang bisa menduduki jabatan Hutong-cu dalam serikat setenar Hwe-liong-pang adalah orang orang pilihan dari ribuan anggota Hwe-liong-pang. Oh Bu Siang tangkas sekuat kerbau tapi otaknya bukan otak kerbau, bayangan martilnya memenuhi udara dan kalau lawannya lengah sedikit saja, entah bagian mana tubuh-nya yang bakal diremukkan olehnya.

Timbulnya bentrokan menyebabkan kedua pihak merasa tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Jago-jago istana segera berlompatan keluar, dan biarpun jumlah mereka tidak banyak, namun merekalah jago- jago tangguh semua. Mereka juga muncul dari segala jurusan untuk mengepung. Di sebelah timur muncul Kim Seng Pa dan seorang jagoan bersenjata khek (tombak bermata ganda), di sebelah utara muncul Toh Jiat Hong dan Sat siau Kun, dari barat muncul Wan Yen Coan dan dua orang lainnya, dan dari selatan menghadanglah Heng-san-sam-kiam bertiga.

Kali ini Kim Seng Pa berharap semua pahala hanya dimiliki oleh kelompoknya sendiri, kelompok jubah ungu, tidak dibagi dengan kelompok lain. Karena itulah tidak seorangpun dari kaum Ang-ih-kau, Hiat-ti-cu atau kelompok istana lainnya. Mendengar dan melihat Ji Han Lim rela bertengkar dan bertempur dengan adiknya sendiri, Kim Seng Pa merasa puas. la lalu berseru keras.

“Orang-orang Hwe-liong-pang, kalian takkan mungkin lolos malam ini! Yang bersedia mengikuti jejak Ji Han Lim untuk mengabdi kepada Hong-siang, akan mendapat hidup terhormat. Yang membangkang, akan ditumpas tanpa ampun!"

Baru saja kalimatnya selesai, seseorang telah melompat dari balik gerumbul bunga dan langsung menubruknya. Orang itu berbaju pendek dan celananya cuma setinggi lutut, dari kain kasar murahan, kepalanya memakai caping. Tampangnya sepele, namun gerakan tongkat besinya dahsyat hendak menimpa kepala Kim Seng Pa. Dialah Liong Su Koan, si Tong-cu Bendera Hijau, yang berjuluk Bu-sia Hi jin. Permainan tongkatnya memang hebat namun ia agak keliru memilih lawan.

Kiong Wan Peng yang tidak jauh dari Liong Su Koan, terperanjat melihat rekannya itu memilih lawan Kim Seng Pa yang telah berhasil mengalahkan Pak Kiong Liong. Cepat Kiong Wan Peng melompat keluar dari persembunyiannya sambil berseru, "Saudara Liong, hati-hati..."

Peringatan yang agak lambat datangnya. Dilihatnya lengan Liong Su Koan telah tercengkeram oleh Kim Seng Pa lalu diputar di udara dan dibanting jungkir balik. Lalu Kim Seng Pa dengan telapak tangannya yang berkekuatan seperti gunung runtuh itu menghantam ke kepala Liong Su Koan yang masih terkapar. Liong Su Koan memalangkan tongkat besinya untuk menangkis.

Cepat bagaikan kilat Kiong Wan Peng berusaha menolong kawannya itu. la melompat sambil menendang miring dengan gerakan Hui-hou-tui (tendangan Macan Terbang), ke arah kepala Kim Seng Pa. Sebagai ahIi Tong-jiau-tao (llmu Tendangan Gaya Korea), kekuatan kaki Kiong Wan Peng juga luar biasa, seperti seekor belalang raksasa.

Tapi Lawannya adalah Kim Seng Pa yang berilmu jauh lebih tinggi. Sambil menunduk mengelak, tiba-tiba kuncir rambutnya yang ubanan itu berubah menjadi sehelai cambuk perak yang langsung melibat kaki Kiong Wan Peng dan langsung membantingnya ke tanah pula. Begitulah, dua Tong-cu yang tangguh dari Hwe-liong-pang itu berturut-turut menelan pil pahit dari Kim Seng Pa.

Namun keduanya segera melompat bangkit untuk mengeroyok Kim Seng Pa. Liong Su Koan dengan tongkat besinya yang menderu bagaikan gelombang samudera, Kiong Wan Peng dengan sepasang tinju dan sepasang kakinya yang bagaikan empat buah palu godam berbahaya. Namun mereka berdua toh tetap kewalahan menghadapi Kim Seng Pa.

Wakil Hong Su Koan yang bernama Yang Goan, segera muncul dari dalam air kolam. Rantai bajanya sepanjang tiga depa segera diputar kencang-kencang sehingga pohon bunga-bungaan disekitarnya tersapu beterbangan. Serunya, "Liong Tong-cu dan Kiong Tong-cu, biar aku ikut dalam permainan ini!"

Rantainya tiba-tiba meluncur dengan gerak tipu Liong-leng-hong hu (Naga Berputar dan Burung Hong Menari) untuk menyabet ke pinggang Kim Seng Pa.

“Hem, kepandaian serendah ini pun berani jual tampang di depanku!" dengus Kim Seng Pa mengejek. Lebih dulu ia pukul mundur Kiong Wan Peng dan Liong Su Koan dengan angin pukulannya yang menderu hebat, sampai kedua Tong-cu itu sempoyongan. Lalu telapak tangannya mengibas ke belakang, hanya angin pukulannya saja sudah cukup membuat ujung rantai besi Yang Goan "berkibar” membalik, nyaris mengenai jidat Yang Goan sendiri.

Demikianlah ketangguhan Kim Seng Pa yang mengejutkan lawan-lawannya, apalagi setelah orang-orangnya terjun pula ke gelanggang. Seorang jagoan jubah ungu yang bersenjata tombak segera menerjang ke hadapan Yang Goan. Ujung tombaknya mematuk dengan kecepatan seekor ular kobra ke dada Yang Goan, sambil membentak, "Akulah lawanmu!”

Yang Goan ingin bertempur jarak jauh agar menguntungkan rantainya yang panjang. la mengguIingkan badan menjauhi lawan, bersamaan dengan rantainya disabetkan ke sepasang kaki musuh dengan gerakan Liong- bun-kek-long (Naga Mendampar Ombak Samudera). Lawannya melompat tinggi untuk me nyelamatkan kakinya, sekaligus menikamkan tombak dari atas, untuk “memaku" tubuh Yang Goan di tanah.

Begitulah, mereka bertempur sengit. Yang bersenjata tombak kuat dan garang seperti harimau terluka, sementara lawannya memutar rantainya seperti naga mengamuk. Untuk sementara, sulit diketahui mana yang iebih unggul. Perkelahian telah berkobar disegenap sudut taman, membuat taman y.nuj indah itu berantakan hancur. Keindahan tak dipedulikan lagi, masing-masing pihak hanya memburu kemenangan.

Toh Jiat Hong bertempur melaw,m Siang Koan Long. Tokoh nornor dua setelah Kim Seng Pa di kelompok jubah ungu itu, memainkan Pek- pian-kui-jiau-hoat (Cakar Iblis Dengan Beratus Perubahan) Bayangan beratus cakarnya mengintai Siang Koan Long dari Segala arah, sehingga sepasang pedang Siang Koan Long tak bisa untuk menyerang, hanya untuk membela diri, dan ia terus-terusan didesak mundur.

Dua orang jagoan Hwe-liong-pang segera membantu Siang Koan Long. Biarpun mereka juga jago-jago pilihan yang sudah tersaring untuk ikut berangkat ke Pak-khia, namun mereka tidak bisa membebaskan Siang Koan Long dari kesulitan. Paling banter hanya membuat beban Siang Koan Long berkurang, alias hanya berbagi nasib.

Wan Yen Coan dengan cambuk Liong Jui-pian tel ah bertanding melawan Khai sim Hwe-shio alias Tio Cong-peng dari kelenteng Thai-hud-si. Rupanya Wan Yen Coan sudah mengenal lawannya, sehingga mengejek, "Wah, sejak kapan Tio Cong peng mencukur rambut menjadi pendeta? Kebetulan, Hong-siang tentu akan senang sekali berjumpa denganmu."

Khai-siim Hwe-shio tidak menjawab, melainkan memutar toyanya lebih kencang untuk melabrak lawannya. Begitulah, yang satu main keras dengan toya, yang lain mengandalkan kelemasan cambuknya. Biarpun orang-orang Hwe-liong-pang berkelahi dengan nekad dan gigih, apa daya, jumlah mereka hanya sepuluh oraag. Bukan saja kalah jumlah namun juga kalah kwalitas.

Mereka datang ke Pak-khia dengan dipecah-pecah menjadi regu-regu keciI, dan yang ada di Taman Cun-hoa malam itu baru kelompok pertama dan kelompok kedua ditambah Khai-sim Hwe-shio yang membantu dengan suka rela. Sedang jagoan-jagoan tingkat atas macam Tong Lam Hou dan Pak Kiong Liong belum tiba. Tidak heran kalau tekanan para jagoan jubah ungu semakin menyesakkan napas. Kehancuran mutlak sudah terbayang di mata orang-orang Hwe-liong-pang.

Tidak lama kemudian, terdengar Kwe Thian menjerit ngeri karena telah menjadi korban payung maut Su-ma Hek-long. Ketika ia menubruk maju untuk menghantam jidat Su-ma Hek-long, lawan nya melejit ke samping dan berhasil menghantam lengan Kwe Thian dengan tangkai payungnya. Di saat Kwe Thian masih sempoyongan, ujung payung Su-ma Hek-long yang lancip itu menembus perut Kwe Thian. Ditambah satu tendangan lagi, gugurlah salah satu Hutong-cu Hwe-liong-pang itu.

Oh Bu Siang menjadi kalap melihat kematian rekannya itu. la meraung dan molompat seperti harimau luka, tameng di tangan kirinya tidak lagi menjadi aiat pembela diri, melainkan dikeprukkan kepala Su ma Hek-long, dibarengi goloknya yang menebas dengan kalap.

Su ma Hek-long tertawa dingin, payungnya dibuka dan diputar menjadi cahaya hitam bundar lebar yang melindungi badannya. Begitu kuat putarannya, sehingga Oh Bu Siang dan sepasang senjatanya hampir terpelanting ke samping. Hampir saja Su-ma Hek long menyusulkan sebuah pukulan mematikan ke kepala Oh Bu Siang, tapi didengarnya seruan Kim Seng Pa, "Hek-long, coba tangkap hidup-hidup!"

Su-ma Hek-long memang lihai. Begitu mendengar perintah, gerakannya langsung berubah sesuai dengan perintah. Pukulan ke kepala ditarik dan secepat kilat digantikan tendangan ke pinggang Oh Bu Siang, tepat mengenai jalan darah Ki-keng-hiat. Oh Bu Siang roboh hidup-hidup dan menjadi tawanan.

Maka keseluruhan pertempuran di taman itu menjadi berat sebelah, memberatkan pihak Hwe-liong-pang. Menyusul beberapa orang Hwe-liong-pang yang terbunuh atau tertawan hidup-hidup, sehingga tidak lama kemudian pertempuranpun selesailah.

Selain Oh Bu Siang, yang tertangkap hidup- hidup antara lain Ji Han Bok, Kiong Wan Peng, Siang Koan Long dan beberapa orang lagi Sementata Liong Su Koan, Yang Goan dan Khai-sim Hwe-shio telah terbunuh beserta orang- orang Hwe liong-pang lainnya.

Kiong Wan Peng tangannya sudah terbelenggu, begitu juga kakinya yang dianggap senjata berbahaya. Namun ketika ia digiring dan kebetulan lewat di depan Ji Han Lim, mendadak ia meludahi muka Ji Han Lim. Selama bertahun-tahun Kiong Wan Peng dan Ji Han Lim adalah sahabat akrab, sampai hampir seperti saudara kandung.

Tapi kali ini ia sampai meludahi muka Ji Han Lim, menandakan betapa kecewanya ia terhadap Ji Han Lim yang telah menyeberang ke pihak Yong Ceng. Juga marah karena meng- anggap Ji Han Lim tega menjebak teman-temannya sendiri di Taman Cun-hoa.

Wajah Ji Han Lim pucat pasi dan tak berani menentang sorot mata Kiong Wan Peng. Dengan tangan gemetar ia mem bersihkan air ludah itu dari mukanya sementara hatinya remuk-redam. Malam itu juga, para tawanan dijebloskan ke dalam penjara yang dijaga oleh perajarit- perajurit, dan jagoan-jagoan seragam ungu sendiri. Itulah ke menangan besar Kim Seng Pa yang kedua, setelah ia berhasil mengaiahkan Pak Ki ong Liong.

Malam itu pula, Ji Han Lim tak sanggup memejamkan matanya di atas tempat tidurnya. Pikirannya melayang terus ke penjara gelap, tempat adik kandungnya dan orang-orang Hwe-liong-pang lainnya dikurung. Namun ia mengertak gigi, rencananya sudah setengah jalan dan ia tidak mau mundur lagi. la siap mengorbankan nama baiknya, teman-temannya, adik kandungnya, bahkan nyawanya sendiri, demi tercapai tujuannya sela-ma ini. Tujuan yang hendak dicapai itu memang mahal harganya.

Tanpa tidur sekejappun, tahu-tahu pagi sudah tiba. Di bangsal Bwe-hoa-kiong, semua pengawal jubah ungu sudah berkumpul untuk mendengarkan perintah-perintah harian Kim Seng Pa. Entah disengaja entah tidak, Kim Seng Pa kemudian mengajak Ji Han Lim serta beberapa pengawal jubah ungu lainnya, untuk menengok ke penjara tempat disekapnya tawanan-tawanan semalam.

Dilingkungan Ci-kim-shia (Kota Terlarang) yang luas itu ada beberapa buah penjara, sebab tiap kelompok "mengelola" penjaranya sendiri-sendiri. Kaum Ang-ih kau punya sendiri, kaum Hiat-ti-cu punya sendiri, begitu juga kelompok-kelompok lain. Seperti anak-anak yang masing-masing diberi sebuah celengan oleh ayah mereka, dan kelak kalau sang ayah memeriksa "celengan" mereka, yang isinya paling penuh akan mendapat paling banyak pujian.

Kini Kim Seng Pa melangkah dengan tegap untuk memeriksa "isi celengan"nya. Ji Han Llm melangkah di belakang Kim Seng Pa dengan jantung berdegupan. la sadar, ia akan menghadapi "ujian" yang maha berat untuk menguji sampai dimana kesetiaannya kepada Kaisar Yong Ceng, dengan dihadapkan ke bekas teman temannya sendiri.

Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Ji Han Lim, sekilas timbul pikirannya, bagaimana kalau ia ajak teman-teman Hwe-liong-pang itu nekad menerjang keluar? Tetapi akal sehatnya masih menyadarkan, bahwa di hadapan orang selihai Kim Seng Pa, ia dan orang-orang Hwe-liong-pang lainnya takkan bisa terlalu banyak bertingkah.

Akhirnya Ji Han Lim menetapkan langkah untuk tetap menjalankan rencananya, apapun taruhannya. Rintangan rencana itu bukan saja datang dari luar, tapi juga dari dalam hati nuraninya sendiri yang siap untuk dilukai. Langkahnya kini mulai menuruni tangga batu menuju ke penjara gelap dan lembab. Beberapa obor yang ditancapkan di dinding batu setiap duapuluh langkah hanya mampu memberikan cahaya yang redup kemerah-merahan. Para penjaga di situ memberi hormat kepada Kim Seng Pa.

"Bagaimana dengan bandit-bandit yang tertangkap semalam?" tanya Kim Seng Pa kepada komandan kawal.

Sahut si komandan. "Nampaknya mereka bandel-bandel. Cong-koan akan melihat mereka?"

"Ya, bagaimana keadaan tubuh mereka?"

"Sudah kami cambuki hampir setengah malam untuk memaksa mereka mengaku di mana teman-teman mereka lainnya bersembunyi di Pak-khia ini. Namun mereka tetap tutup mulut, biarpun gigi mereka sudah dirontokkan."

Ketika komandan kawal mengucapkan kata- kata itu, diam-diam Kim Seng Pa melirik wajah Ji Han Lim untuk mempelajari bagaimana perubahan wajahnya. Namun wajah itu tetap dingin, meskipun beberapa butir keringat mengembun di tepi jidatnya. Kim Seng Pa puas, Ji Han Lim benar-benar "setia" kepadanya.

“Aku sendiri yang akan manangani mereka," dengus Kim Seng Pa. "Bawa mereka semua ke ruang penyiksaan!"

"Baik, Cong-koan!"

Lalu Ji Han Lim ikut Kim Seng Pa ketempat yang disebut Ruang Penyiksaan itu. Sebuah tempat yang menggidikkan tubuh, alat-alat penyiksaan di ruangan itu cukup memberi gambaran keadaan neraka dalam dongeng-dongeng apalagi kalau melihat alat-alat itu dikerja kan. Ada bercak-bercak hitam di lantai, dinding ataupun pada alat-alat itu. Tentunya itu adalah bekas-bekas darah yang sudah membeku. Bau busuk menyergap hidung.

Biarpun Ji Han Lim adalah seorang petualang di dunia persilatan, ia merinding juga. Itulah alat-alat yang di rancang untuk membuat korbannya setengah mati setengah hidup, lalu mati perlahan-lahan. Susah-payah Ji Han Lim harus menjaga agar wajahnya tidak menimbulkan kesan apapun. la harus tampil dengan wajah seorang algojo berdarah ding in.

Terdengar suara gemerincing rantai dilorong, lalu satu persatu tawanan-tawanan itu diseret masuk, dengan kaki tangan mereka tetap dirantai. Semalam mereka masih manusia, dan pagi ini mereka hanya "rongsokan manusia". Berjalan pun hampir tidak kuat kalau tidak diseret para pengawal penjara. Pakaian mereka sudah hancur, sehingga nampak kulit mereka yang tidak utuh lagi penuh jalur-jalur bekas cambukan yang merah kebiru-biruan.

Hampir saja Ji Han Lim memalingkan wajahnya. la kenal betapa kuat daya tahan tubuh Kiong Wan Peng misalnya, namun dalam waktu setengah malam saja, Kiong Wan Peng telah berubah menjadi begitu mengenaskan keadaannya. Tak terbayangkan betapa hebat semalam mereka disiksa.

Melihat seramnya alat-alat penyiksaan di ruangan remang-remang itu. Oh Bu Siang tiba tiba menggigit putus lidahnya sendiri, sehingga tubuhnya terkulai di pelukan perajurit-perajurit yang menyeretnya. Rupanya ia khawatir takkan bisa menahan siksaan yang lebih kejam lagi, dia memilih mati daripada berkhianat kepada Hwe- liong-pang dengan menjawab pertanyaan para penyiksanya.

"Pameran kesetiaan membabi-buta yang tolol sekali," ejek Kim Seng Pa melihat itu. “Buang mayatnya di hutan agar menjadi makanan anjing liar dan burung gagak!"

Mayat itu segera digotong keluar. Lalu Kim Seng Pa dengan santai duduk disebuah kursi, dan memerintah Ji Han Lim, "Saudara Ji, coba kau saja yang berbicara dengan teman-temanmu itu. Barangkali kau akan lebih mengerti caranya membujuk mereka."

Hatii Ji Han Lim tergetar juga, meskipun sudah siap mental sejak semula. Tanyanya, "Apa yang harus kutanyakan, Cong-koan?"

"Di mana bandit-bandit Hwe-liong-pang lainnya bersembunyi di kota ini?"

"Baik, Cong-koan!" Lalu diambilnya sehelai cambuk yang tergantung di dinding batu dan dengan berlagak segarang mungkin, ia mendekati Ji Han Bok yang disangga dua pengawal agar tidak melorot jatuh. Sambil memutar-mutar cambuknya. Ji Han Lim berkata,

"Adikku, aku beri kau kesempatan pertama untuk berjasa kepada Sribaginda. Katakanlah, siapa saja orang Hwe-liong-pang yang datang ke Pak-khia ini, dan bersembunyi dimana mereka sekarang. Kalau kau mau bersikap bijaksana, Kim Cong-koan pasti juga akan bersikap bijak."

Tiba-tiba kepala Ji Han Bok yang terkulai itu terangkat, lalu segumpal ludah bercampur darah meluncur dari mulutnya dan kena wajah Ji Han Lim. la menyeringai puas, lalu kepalanya terkulai kembali. Sepatah kata pun tak di keluarkan menjawab kata-kata kakak kandungnya itu.

Ji Han Lim pedih hatinya. Namun di depan Kim Seng Pa, ia berlagak menjadi beringas, "Kurang ajar! Lupakah kau, bahwa aku adalah kakakmu yang menggantikan kedudukan ayah sejak beliau wafat? Aku hendak mengajakmu menikmati masa depan yang cerah di bawah lindungan Hong-siang, malah kau begitu kurang ajar kepada saudara tuamu sendiri...?”

Lalu cemetinya bergerak dua kali, "menggambar" dua garis tambahan di tubuh Ji Han Bok yang sudah lemah karena siksaan semalam, tak tahan lagi lalu pingsan biarpun "hanya" mendapat dua cambukan. Diam-diam Ji Han Lim lebih lega melihat adiknya pingsan, karena dengan pingsan tidak akan mengalami penderitaan tubuhnya.

Tak terduga Kim Seng Pa memerintah para pengawal, "Siramkan air garam dan siksa terus sampai mengaku."

Ji Han Lim kaget, "Cong-koan, tawanan ini sudah lemah sekali, dia bisa mati..."

Tukas Kim Seng Pa dingin, "Biarpun mati dengan tubuh hancur lebur juga pantas untuk orang-orang yang tidak mau mengakui kebaikan Hong-siang ini!"

Tubuh Ji Han Lim gemetar, namun ia berhasiI memaksakan diri untuk berkata, "Aku akan tetap menjalankan perintah Cong-koan.”

Ketika Ji Han Bok sudah disiram air garam, dan sadar kembali dengan menggeIiat-geIiat pedih, Ji Han Lim menghantamkan cambuknya berulang kali, seperti seorang kalap. Tidak peduli Kiong Wan Peng dan Siang Koan Long memakinya dengan kalap pula!

Tiap kali Ji Han Bok pingsan, air garam disiramkan. Bukan saja disadarkan dari pingsannya, tapi juga menambah penderitaannya karena air garam itu pedih di luka. Tubuh Ji Han Bok menggeliat-geIiat seperti seekor ulat yang dikeroyok semut. Namun yang jauh lebih pedih dari tubuh Ji Han Bok, adalah hati Ji Han Lim sendiri, yang harus berperanan sebagai algojo atas saudaranya sendiri.

Cambuknya terus meledak- ledak, dan tiap kali bertambah bilur di tubuh adiknya, bertambah pula bilur di hatinya sendiri. Tetapi ia seperti seorang mabuk yang kehilangan akal sehatnya, mencambuk... mencambuk.... mencambuk. Tak tahan melihat adiknya menderita, tiba-tiba Ji Han Lim membanting cambuknya. Tombak salah seorang pengawal yang berdiri di sampingnya direbutnya.

"Ji Han Lim!" teriak bersamaan dari Kim Seng Pa, Kiong Wan Peng dan Siang Koang Long.

Teriakan itu tak bisa menahan ujung tombak itu terbenam ke dada kiri Ji Han Bok, tepat di jantungnya, mengakhiri penderitaannya. Sang algojo sejenak mamatung melihat tubuh Ji Han Bok melorot ke lantai yang bersimbah darah. Tanpa ada yang mengetahui bahwa hati sang algojo lebih berdarah dari korbannya....
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 18

Kemelut Tahta Naga I Jilid 18

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
"Terima kasih, Tuanku," kata Ni Keng Giau. Ketika ia mengangkat kembali wajahnya nampak betul bedanya antara Ni Keng Giau yang tadi dengan yang sekarang. Tadi angkuh, garang, bangga. Kini agak pucat dan penuh keprihatinan. Ketika melangkah keluar ruangan, ia tidak setegap tadi, karena langkahnya dibebani penyesalan.

"Goan-swe, kau kenapa?" Lu Kong Hwe menyambutnya dengan pertanyaan di luar pintu.

"Hanya sedikit kurang enak badan," sahut sang jenderal muda. Melihat wajah Lu Kong Hwe, tiba-tiba Ni Keng Giau timbul gagasannya untuk besok meredakan amarah Kaisar di hadapan Sidang Kerajaan. Mudah-mudahan jalan keluar yang ditemukannya itu cukup manjur.

Sambil berjalan pulang ke tangsi, sepanjang- jalan Lu Kong Hwe memuji-muji Ni Keng Giau sebagai jendera) yang berkuasa, sehingga Kaisar pun takut kepadanya, dan sebagainya. Namun Ni Keng Giau hanya berkata singkat, "Lu Cong-peng, malam ini kau menginap di rumahku saja, supaya besok pagi-pagi kita bisa berangkat bersama-sama menghadiri Sidang Kerajaan."

Hati Lu Kong Hwe melonjak gembira. Alangkah bangganya dia diperkenankan mendampingi si jenderal muda perkasa yang telah menggemparkan istana. Tentu saja ia langsung menyanggupi permintaan Ni Keng Giau.

Di istana, sepeninggal Ni Keng Giau dan seluruh pasukannya, Yong Ceng tak sanggup mengekang amarahnya lagi. Ujung meja dicengkeram sehingga hancur menjadi bubuk kayu. "Ni Keng Giau... Ni Keng Giau.." berulang kali diucapkan nama itu dengan perasaan geram.

Sementara Kim Seng Pa masih berdiri dihadapannya dengan hati berdebar-debar. "Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa tadi, Kim Cong-koan?" Yong Ceng tiba-tiba bertanya.

Naluri Kim Seng Pa yang tajam merasa itulah detik-detik berharga untuk menunjukkan bahwa dialah "anak manis”, bukan "anak nakal" seperti Ni Keng Giau. Sahutnya, "Tuanku, sebelum hamba menjawab, apakah hamba diperkenankan lebih dulu membubarkan anak buah hamba?"

Waktu itu memang para pengawal berseragam ungu, termasuk Ji Han Lim, masih berdiri dengan tertib dan hormat dipinggiran. Sikap yang serba minta ijin dulu itu memang merupakan "obat" bagi Yong Ceng yang harga dirinya baru saja dilucuti habis-habisan oleh Ni Keng Giau.

"Silahkan, Cong-koan."

Kim Seng Pa lalu memerintahkan anak-buahnya, "Kembali ke tempat kalian dengan tertib. Jangan sampai peristiwa tadi tersiar dari mulut kalian tanpa perkenan Hong-siang sendiri."

Para pengawaI jubah ungu ialu berlutut kepada Yong Ceng, Ialu pergi meninggalkan ruangan itu. Kim Seng Pa melirik ke wajah Kaisar, dan lega ketika melihat kemarahan di wajah itu mereda. Bahkan Kaisar memuji, "Anak-buahmu tidak kalah tertibnya dengan anak-buah Ni Keng Giau, Cong-koan."

"Kami semua adalah hamba-hamba Tuanku yang siap menyerahkan nyawa demi kejayaan Tuanku."

Setelah tinggal berdua saja dengan Kim Seng Pa, Yong Ceng berkata, "Nah, apa katamu tentang ulah Ni Keng Giau tadi?"

"Tuanku, sesungguhnya ucapan hamba ini sama sekali tidak berdasarkan sakit hati pribadi kedua terhadap Ni Keng Giau," Kim Seng Pa mulai dengan sebuah kebohongan. "Ini demi kejayaan kekaisaran kita..."

"Katakan saja, Cong-koan."

"Singkat saja, Tuanku. Hamba harap Tuanku waspada, agar jangan sampai terjadi peristiwa seperti Bu Sam-kui dulu..."

Yong Ceng terkesiap, ingat sejarah lama. Jaman menjelang runtuhnya Kerajaan Beng dulu, ada seorang Panglima Beng bernama Bu Sam Kui yang menjaga kota San Hai-koan. Ketika Kerajaan Beng diruntuhkan oleh pemberontakan Li Cu Seng, Bu Sam Kui enggan tunduk kepada Li Cu Seng hanya karena masalah pribadi, karena perempuan yang dicintainya direbut oleh Li Cu Seng.

Dari pada tunduk kepada Li Cu Seng, Bu Sam Kui malah mengundang balatentara Kerajaan Manchu untuk ke Tiong-goan, lewat San-hai-koan, sehingga akhirnya orang Manchu berhasil menguasai seluruh negeri. Bu Sam Kui diberi balas jasa, dianugerahi wilayah Se-cuan dan Hun-lam, dan menjadi gubernur dengan gelar Peng-se-ong.

Namun di masa mudanya Kaisar Khong Hi, ayah Yong Ceng, Bu Sam Kui memberontak, bahkan sempat mendirikan "negara dalam negara" yang beribu kota di Heng-ciu dan mengangkat diri sendiri sebagai Kaisar. Akhirnya pemberontakan itupun tertumpas habis oleh pihak Manchu.

Kini Kim Seng Pa mengingatkan Yong Ceng, jangan sampai Ni Keng Giau menjadi "Bu Sam Kui kedua", karena betapapun Ni Keng Giau berdarah Han. Jangan sampai diberi kekuasaan terlalu besar, nanti susah dikendalikan.

Kim Seng Pa yang berdarah Manchu itu lebih suka kalau kedudukan Panglima Tertinggi dijabat oleh orang Manchu, syukur-syukur dirinya sendiri. Namun ia tidak memperlihatkan ambisinya, sebab tahu bahwa Yong Ceng selalu merasa terancam oleh pembantunya yang terlalu berambisi.

Diam-diam Yong Ceng menyesal telah memberi kekuasaan terlalu besar kepada Ni Keng Giau, dan akibatnya sungguh mengerikan, Pasukan Tiat-ki-kun tidak mau tunduk kepada siapapun kecuali kepada Ni Keng Giau. Si harimau keciI yang dulu lucu dan menyenangkan, kini telah tumbuh taringnya dan kuku-kukunya yang tajam.

"Aku paham kecemasanmu, Kim Cong-koan, tetapi..." Yong Ceng ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Dapatkah Kim Seng Pa dipercaya untuk mengetahui seluruh isi hatinya?

"Tetapi kenapa, Tuanku? Hamba akan berbahagia sekali kalau Tuanku mau mempercayai hamba, hamba akan menjunjung tinggi kepercayaan yang Tuanku berikan...”

Namun Yong Ceng tetap menjawab secara samar-samar, "Kemauan ada, tetapi jalannya belum ditemukan."

"Menjatuhkan Ni Keng Giau? Hamba tahu jalannya, Tuanku...."

Tetapi Yong Ceng lebih dulu mengibaskan tangannya dan berkata, "Sudahlah, sekarang sudah larut malam. Besok pagi aku tidak boleh kelihatan mengantuk dalam sidang istana."

"Baiklah, hamba mohon diri, Tuanku "Silahkan, Cong-koan."

Keesokan harinya, Ni Keng Giau mengajak Lu Kong Hwe menghadiri Sidang Kerajaan. Tapi ia tidak mengajak seluruh tubuh Lu Kong Hwe, cukup batok kepalanya saja, yang dibawa di atas sebuah nampan porselen. Batok kepala Lu Kong Hwe kelihatan masih segar bola matanya membelalak penasaran, membuat semua hadirin di Sidang Kerajaan bergidik ngeri. Itulah cara Ni Keng Giau meredakan kemarahan Kaisar.

Sambil berlutut, Ni Keng Giau mengangkat tinggi-tinggi nampan itu, dan berkata, "Inilah perwira hamba yang tadi malam menimbulkan kerusakan di istana. Dia pantas dihukum mati, Tuanku."

Banyak Menteri dan Panglima di ruangan itu yang bergidik oleh kekejaman Ni Keng Giau. Mereka sudah mendengar bisik-bisik tentang peristiwa kemarin malam. Kalau tidak diperintahkan oleh Ni Keng Giau, mana berani perwiranya bertindak terlalu jauh? Namun kini enak saja Ni Keng Giau memenggal kepala perwiranya sendiri untuk sekedar meredakan kemarahan Kaisar.

Sahut Yong Ceng, "Cukuplah, Ni Goan-swe, kau sudah menunjukkan kesetiaan besar terhadapku. Sekarang, singkirkan kepala itu."

Sidang segera dimulai. Batok kepala Lu Kong Hwe dibawa keluar oleh seorang pengawal dan dibuang entah kemana.

* * * *

Pada suatu hari yang cerah, di tanah berbukit di luar ibukota Kekaisaran, nampak serombongan pemburu berkuda tengah menguber binatang-binatang buruan mereka. Itulah Yong Ceng dan pengawal-pengawal pribadinya yang ingin menyegarkan otak, setelah cukup lama pusing menghadapi urusan negara yang bertumpuk-tumpuk.

Dengan tangkasnya Yong Ceng menderapkan kudanya, mementang busur dan menembakkan panah-panahnya yang mengenai sebagian besar dari binatang-binatang buruannya. Namun Yong Ceng cukup berhati-hati untuk tidak berpisah jauh dari pengawaI-pengawal terpercayanya, sebab sadar bahwa di luar istananya ada banyak orang yang tidak puas kepadanya dan selalu mengintai nyawanya. la membawa empat puluh orang pengawal jubah ungu.

Ji Han Lim juga ikut. Namun sebagai pengawal baru yang belum mendapat kepercayaan penuh, ia hanya kebagian mengawal di lapisan yang paling luar. Sedang yang diperkenankan dekat dalam jarak kurang dari sepuluh langkah, hanyalah empat orang yang benar-benar sudah dipercayai Yong Ceng. Mereka adalah Kim Seng Pa, Toh Jiat Hong, Su-ma Hek-long dan Sat Siau Kun. Hanya mereka itulah.

Kegembiraan suasana perburuan sedikit terganggu, ketika kuda Ji Han Lim tiba-tiba meringkik-ringkik dan melonjak-lonjak, entah kenapa, lalu berlari kesetanan membawa penunggangnya ke arah Yong Ceng. Melihat itu, serempak Toh Jiat Hong, Su-ma Hek-long dan Sat Siau Kun menghadangkan kuda mereka di sekitar tubuh Yong Ceng, siap melindunginya Sedang Kim Sena Pa memacu kudanya untuk menyongsong kuda Ji Han Lim, dengan tangkasnya ia berhasil menyambar tali mulut kuda Ji Han Lim untuk ditekan ke bawah, sehingga kuda itu langsung bertekuk lutut kaki depannya. Sementara Ji Han Lim buru-buru melompat turun dengan dahi berkeringat. Cepat-cepat Ji Han Lim berkata ke pada Kim Seng Pa,

"Aku minta maaf, Cong-koan. Tak kuketahui sebabnya kuda tungganganku menjadi binal sehingga merepotkan Cong-koan."

Kim Seng Pa mentap tajam-tajam wajah Ji Han Lim, namun tidak dilihatnya sesuatu yang patut dicurigai, maka kata-katanyapun lunak, “Tidak apa-apa, saudara Ji. Lain kali hati-hatilah, sekarang kembalilah ke tempat tugasmu."

“Baik, Cong-koan," kemudian Ji Han Lim menunggangi kudanya yang sudah tenang kembali, dan kembali ke tempatnya bertugas, diujung padang perburuan sana, ratusan langkah dari Yong Ceng. Ketika Kim Seng Pa tiba kembali di samping Yong Ceng, bertanyalah Yong Ceng, "Apa yang terjadi?"

"Seorang pengawal agaknya kurang mahir mengendalikan kudanya, Tuanku. Tetapi tidak apa-apa, dia sudah berhasil menenangkannya kembali."

Yong Ceng mengangguk puas mendengar keterangan itu. Membinalnya kuda tunggangan Ji Han Lim itu hanyalah selingan kecil yang sama sekali tidak mempengaruhi kegembiraan acara berburu Kaisar. Menjelang sore, rombongan Kaisar kembali kedalam kota Pak-khia. Meskipun Yong Ceng mengenakan pakaian seorang pemburu biasa, namun perajurit-perajurit penjaga pintu kota mengenalnya, sehingga mereka semua berlutut. Dengan sendirinya, rakyat yang melihat itu lalu berlutut pula di sepanjang jalan yang dilewati rombongan itu.

Yong Ceng berkuda diapit Kim Seng Pa dan Toh Jiat Hong. Tepat dibelakangnya adalah Su-ma hek-long dan Sat Siau-kun, sedangkan pongawal-pengawal lainnya berbaris dua deretan dibelakang mereka. Seragam para pengawal itu memhuat iring-iringan itu nampak megah juga biarpun tidak seberapa jumlahnya. Tetapi ada juga orang yang tidak kagum melihat rombongan itu, malah orang itu hampir melompat ke tengah jalan untuk mengamuk. Untung dicegah oleh empat orang kawannya.

Di sebuah loteng rumah makan di pinggir jalan, orang itu meronta-ronta mencoba melepaskan pegangan temean-temannya, sambil berkata keras, “Lepaskan aku! Bangsat itu benar-benar telah menjadi anjingnya Yong Ceng harus kubacok tubuhnya menjadi delapan potong."

Adegan meronta dan memegang dari orang-orang Itu menarik perhatian tamu-tamu rumah makan lainnya, lebih-lebih ketika mendengar tentang "anjingnya Yong Ceng" segala. Orang-orang yang takut kena urusan lalu buru-buru membayar dan kabur, bahkan ada yang sebenarnya belum kenyang sedlkit pun. Tetapi di antara tamu-tamu rumah makan, juga ada seorang mata mata kerajaan yang segera melaporkan ke tangsi tentara terdekat, mengatakan di loteng rumah makan itu ada "sekawanan pemberontak”.

Sementara itu, orang yang meronta ronta dan teman-temannya itu sadar bahwa mereka tak bisa tinggal lebih lama di rumah makan itu, sebab mereka sudah terlanjur menarik perhatian orang. Bergegas mereka meninggalkan tempat itu. Mereka adalah orang-orang Hwe-liong-pang yang datang ke Pak-khia untuk "menyadarkan" atau “menghukum" Ji Han Lim, salah satu dari dua pilihan itu. Yang meronta-ronta tadi adalah Ji Han Bok, Ang-ki Hutong-cu (wakil pemimpin kelompok bendera merah), adik dan sekaligus wakil Ji Han Lim.

Lainnya adalah Pek-ki Tong-cu (pemimpin kelompok bendera putih) Kiong Wan Peng yang berjulukan Thian-lui-tui (tendangan petir), wakil Kiong Wan Peng yang bernama Oh Bu Siang dan mahir memainkan tameng di tangan kiri dan golok di tangan kanan, Ui Ki Tong cu (pemimpin regu bendera kuning) yang bertampang kutu buku, yaitu Siang-koan Long yang berjulukan Sai kim-ciam- su-sing (Pelajar Penyebar Jarum Emas), serta wakilnya yang bernama Kwe Thian dan bertampang seperti kuli bangunan, apalagi karena bersenjata martil besi.

Dengan susah payah, Oh Bu Siang dan Kwe Thian setengah menyeret setengah membujuk Ji Han Bok agar sabar dan tidak merusak rencana bersama. Mereka masuk sebuah gang kecil di pinggir jalan yang kiri kanannya adalah tembok-tembok bangunan yang tinggi.

Baru saja mereka masuk belasan langkah, di mulut lorong tahu-tahu telah muncul sepasukan perajurit. Mata-mata yang tadi melaporkan itu menuding kelima orang Hwe-liong-pang itu sambil berteriak-teriak, "Mereka itulah! Tadi di loteng rumah makan telah menghina Hong-siang dan juga merencanakan pembunuhan!“

Perajurit-perajurit itu dari pasukan Kiu-bun Te-tok (Garnisum Ibukota) yang paling bertanggung-jawab untuk keamanan kota Pak-khia. Mereka dipimpin seorang berpangkat cam-ciang yang bersenjata golok tebal, yang tanpa banyak cakap lagi langsung menyerbu ke arah orang-orang Hwe-liong-pang.

"Bagaimana tindakan kita, saudara Kiong?" Siang-koan Long bertanya, sambil melibatkan jubah sasterawannya kepinggangnya, agar tidak mengganggu dalam bertempur nanti.

Sahut Kiong Wan Peng. "Hindari bentrokan dulu. Belum semua teman kita masuk kota ini, belum seluruh kekuatan kita terkumpul..."

Memang orang-orang Hwe-liong-pang masuk kota tidak dengan cara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, agar tidak "memukul rumput mengagetkan ular". Namun toh gara-gara ulah Ji Han Bok, "ular”nya kaget juga. Karena merasa bersalah, Ji Han Bok berkata, "Maafkan aku. Saudara-saudara berempat pergilah dulu menghubungi teman-teman, aku akan menahan musuh sendiri di sini."

"Tidak bisa," bantah Kwe Thian sambil menyiapkan martil besinya. "Mana bisa aku kabur sendirian dan membiarkan saudara Ji menghadapi bahaya sendirian disini?”

"Betul, lari bersama atau bertempur bersama," sambung Oh Bu Siang. Perisai yang tergendong di punggungnye sudah dipegangnya dengan tangan kiri, dan golok di pinggangnya sudah dicabut dengan tangan kanan.

Karena musuh sudah dekat, Siang-koan Long cepat memutuskan, "Jangan berbantahan. Kita lari bersama ke kuil Thai-hud-si...."

Di kiri kanan hanya ada tembok-tembok tinggi, sementara musuh sudah menyerbu dari depan. Kalau lari ke ujung lorong lainnya, entah aman entah tidak, maka Siang Koan Long mengambil keputusan cepat lagi, "Lompat ke atas tembok!"

Namun timbul masalah baru. Tembok itu cukup tinggi, agaknya hanya Siang Koan Long dan Kiong Wan Peng yang bisa melompatinya, sedang tiga Hutong-cu belum cukup kepandaian untuk itu. "Gunakan ikat pinggang! Saudara Kiong, kau naik dulu!" teriak Siang Koan Long bergegas.

Baru saja mulut Siang Koan Long bungkam, tubuh Kiong Wan Peng telah melejit ke atas dan hinggap seperti seekor kucing. la langsung melepas ikat pinggangnya dan mengulurkannya ke bawah, membantu tiga Hutong-cu memanjat naik. Sementara itu, ketika para perajurit sudah dekat, Siang Koan Long mengayunkan tangannya dan jarum-jarumnya mencicit serta gemerlapan ke arah para perajurit.

Biarpun julukannya adalah Sastrawan Penyebar Jarum Emas, tapi Siang Koan Long bukanlah orang kaya yang seenaknya saja menghamburkan emas. Jarum-jarum hanya terbuat dari perunggu yang digosok sampai mengkilat seperti emas. Kalau jarumnya benar-benar dari emas, tentu yang disambit tidak akan marah, malah berterima kasih.

Beberapa perajurit yang paling depan roboh oleh jarumnya. Namun si komandan ternyata berilmu tidak rendah, ia sanggup memutar goloknya sampai rapat seperti perisai, memukul runtuh semua jarum yang diarahkan kepadanya. Bahkan dengan tangan kirinya ia balas menyambitkan senjata rahasia toh-kut ting (Paku Penembak Tulang) yang berdesing mengejutkan Siang Koan Long.

Siang Koan Long enggan maladeni lebih lanjut. Ketika melihat tiga Hong tong-cu sudah sampai di atas tembok, maka Siang Koan Long juga melompat pergi. Perwira musuh itu memiliki tenaga yang besar dan iImu golok yang bagus, tetapi tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup. Maka iapun segera kehilangan buruan-buruannya yang melompat-lompat di atas genteng dan tembok-tembok tinggi. Apalagi anak-bualnya hanya suara merekalah yang bisa "mengejar" orang-orang Hwe-liong-pang itu.

Sementara Kiong Wan Peng dan kawan kawannya menuju ke kuil Thai-hud-si yang dijadikan "pangkalan" gerakan. Sebuah kuil yang di pimpin seorang bekas perwira Pangeran In Te yang diam-diam tetap berjuang di bawah tanah. Kiu-bun Te-tok segera mengerahkan puluhan ribu perajuritnya untuk menggeledah seluruh Pak-khia.

Namun kota itu terdiri dari berpuIuh-puluh ribu lorong yang simpang-siur dan saling menembus, berpuluh ribu tikungan- tikungan gelap, ratusan ribu rumah-rumah. Untuk mencari lima orang Hwe-liong-pang itu, sulitnya sama dengan mencari sebatang jarum di dasar laut. Apalagi hari segera menjadi gelap.

Kiong Wan Peng serta teman-temannya memasuki Thai-hud-si dengan meIompati dinding belakang. Karena mereka terengah-engah dan berwajah tegang, maka mereka mengejutkan teman-teman mereka lainnya.

"He, ada apa?" tanya Jing-ki Tong cu (pemimpin kelompok bendera hijau) Liong Su Koan yang berjuluk Bu-sia Hi-jin (Nelayan Selat Bu-sia), didampingi Yang Goan, wakilnya yang bertubuh pendek gempal dan bersenjata rantai besi. Beberapa orang jago Hwe-liong-pang lainnya pun menyambut keluar, mengira ada musuh yang datang karena sudah tahu tempat persembunyian mereka.

Siang Koan long yang menjawab, "Kelengahan kami berlima, saudara liong. Kehadiran kami dicurigai seorang mata-mata kerajaan, sehingga musuh mengerahkan pasukan untuk mengaduk seluruh kota."

Tiba-tiba Khai-sim Hwe-shio, nama samaran bekas perwira In Te itu, berseru, "Celaka...”

Keruan semuanya kaget dan menoleh kearahnya. "Apanya yang celaka, Tio Cong-peng?" Namanya Khai-sim Hwe-shio, namun orang-orang yang kenal dengannya tetap memanggilnya Tio Cong-peng.

Sahut Khai-sim Hwe-shio bernaca cemas, "Ji Han Lim sudah tahu letak tempat ini, ketika dulu ia ikut dalam gerakan hendak menyeIamatkan Pangeran In Te dan tiga anak-anak yang diculik. itu. la tahu rahasia tempat ini, dan sekarang ia sudah menjadi begundalnya Yong Ceng. Berarti tempat ini tidak aman lagi untuk dijadikan persembunyian."

Keruan semuanya jadi tegang, tapi tak seorangpun berhasil menemukan akal bagus. Mereka tidak mungkin pindah tempat malam itu, sebab seluruh kota sedang dalam penjagaan ketat. Mereka juga tidak mau keluar lewat terowongan di bawah kakus yang dulu, khawatir kalau Ji Han Lim sudah mengajak orang orangnya Yong Ceng lainnya untuk menyumbat mulut terowongan dengan ujung pedang. Kalau begitu, tentu mereka akan mati seperti tikus-tikus dalam terowongan busuk itu.

Tiba-tiba di atas dinding kuil itu muncul sesosok bayangan berpakaian hitam ringkas dan berkedok pula, melemparkan sesuatu benda ke arah kerumunan orang-orang Hwe-Iiong-pang, lalu dengan cepatnya menghilang kembaIi tak terkejar.

"Menghindar semua!" teriak Siang Koan Long, la khawatir benda itu adalah sejenis senjata yang disebut Tok-bu-kim-ciam-cu-bo- tan (Peluru Api Penyebar Kabut Racun dan Jarum Emas) yang dapat melukai beberapa orang sekaligus dalam ledakannya. Namun benda itu tidak meledak ketika membentur tanah, sebab itu hanyalah sebutir batu yang dibungkus selembar kertas.

Orang orang Hwe-liong-pang itu keruan saling berpandangan dengan heran. "Suatu cara mengirim berita yang terhitung bersahabat," komentar Siang Koan Long yang banyak pengalaman. "Kalau dikirim pihak yang bermusuhan, biasanya dengan menggunakan pisau belati, atau suratnya digulungkan ke batang anak panah."

Sementara, Liong Su Koan telah membaca suratnya keras-keras, supaya semua orang ikut mendengar, "Besok tengah malam di Taman Cun-hoa. Jangan terlaiu banyak orang."

"Siapa pengirimnya?" tanya Kiong Wan Peng.

"Tidak tertulis, namun ada gambar kampak bergagang pendek. Barangkali...barangkali Ji Han Lim."

Ji Han Bok langsung bergejolak kembali hatinya, "Katanya, besok tengah malam di Taman Cun-hoa?"

"Benar, saudara Ji."

"Tentu aku yang dituju oleh surat itu," kata Ji Han Bok sambil mengepalkan tinjunya. "Besok pasti aku pergi, tak peduli ada perangkap atau tidak. Kalau dia sudah rela menjadi anjingnya Yong Ceng, biar dia puas memotong-motong tubuhku."

Ada nada pedih dalam suara si adik yang mengira kakaknya telah menjadi pengkhianat itu. Semuanya ikut terharu dan hanya bisa menghiburnya. Siang Koan Long, yang berusia paling tua dan paling disegani itu kemudian berkata, "Kalau si pelempar batu adalah Ji Han Lim, aneh juga bahwa ia datang sendiri dan tidak mengerahkan perajurit. Namun kita harus tetap waspada."

"Jadi, bagaimana baiknya, saudara Siang Koan?"

"Biar besok saudara Ji Han Bok ke Taman Cun-hoa, tetapi aku harus menemaninya. Dan setiap limapuluh langkah, harus ada setidak-tidaknya satu orang kita yang akan mengawasi keadaan. Kalau ada perangkap, jangan sampai semuanya masuk perangkap."

“Baik, itu gagasan yang bagus."

’’Dan malam ini, kita boleh tidur senyenyak- nyenyaknya tanpa perlu mengungsi dari sini. Firasatku mengatakan, yang akan mengunjungi kita malam ini hanyalah nyamuk-nyamuk dari parit sebelah. Bukan Ji Han Lim atau pasukannya Yong Ceng yang lain."

Sementara itu, Ji Han Lim sendiri sudah ada di bangsal Bwe-hoa-kiong, tidak jauh dari bangsal Kaisar sendiri. Karena mereka tidak pernah boleh berjauhan dari Kaisar, untuk menjaga keselamatan si Putera Langit itu. la baru saja keluar dari istana, dan masuk kembaIi tanpa banyak kesulitan dari para penjaga, sebab Ji Han Lim punya Kim-pai (lencana emas) sebagai anggota pengawal berseragam ungu.

Namun begitu ia mendorong pintu unluk masuk ke kamar tidurnya, ia kaget. Di kamarnya telah duduk menunggu seorang yang termasuk anggota pengawal berseragam ungu, dan di atas meja sudah tertata rapi sebuah papan catur dengan biji-biji caturnya.

Melihat kedatangan Ji Han Lim, orang itu tertawa ramah, "Ah, lama benar saudara Ji berjalan-jalan di luar istana. Aku sampai mengantuk menunggumu untuk bermain catur."

Ji Han Lim berusaha menekan kegugupannya. Orang yang menunggunya bermain catur itu bernama Wan Yen Coan. Ahli memainkan cambuk Liong-jui-pian (Cambuk Moncong Naga) dan tingkat ilmunya sama sekali tidak di bawah Ji Han Lim atau para Tong- cu Hwe-liong-pang lainnya. Wan Yen Coan bersahabat dengan Ji Han Lim, tapi hanya pura-pura saja, sebab sebenarnva ia mengemban tugas dari Kim Seng Pa agar diam-diam mengawasi tingkah-laku Ji Han Lim, si orang baru.

Sahut Ji Han Lim sambiI tersenyum, "Udara di luar istana sangat sejuk, sehingga aku cukup lama berjalan-jalan. Maaf, telah menunggu terlalu lama."

Wan Yen Coan kemudian melirik sepatu Ji Han Lim secara diam-diam, dan melihat sepatu itu dikotori oleh lumpur. Maka ia menduga, tentu Ji Han Lim lewat juga di lorong-lorong yang becek juga. "Saudara Ji, silahkan saudara berganti pakaian lebih dulu, biar lebih santai."

Tetapi Ji Han Lim langsung menarik kursi untuk duduk berseberangan meja dengan Wan Yen Coan. "Tidak perlu, saudara Wan Yen, aku sudah gatal tangan ingin menggerakkan biji-biji caturku. Ayolah...."

Waktu itu, memang Ji Han Lim masih memakai jubah ungu seragamnya. Tapi ia tidak mau berganti pakaian ditempat itu, di hadapan mata Wan Yen Coan, sebab di balik seragam ungunya itu ia memakai pakaian hitam ringkas, dan ia tidak ingin meladeni seribu pertanyaan Wan Yen Coan tentang pakaian hitamnya itu.

Keduanya kemudian bermain catur beberapa babak, berganti-ganti kalah dan menang, diselingi percakapan-perckapan ringan. Dan setiap kali Wan Yen Coan menyinggung tentang Hwe-liong-pang, Ji Han Lim menanggapinya dengan mengeluarkan kata-kata sengitnya tentang ketua Hwe-Iiong-pang, yang telah tidak menghiraukan nasibnya seIagi tertawan Kim Seng Pa. Juga bersumpah akan mengajak rekan-rekan lamanya di Hwe-liong-pang agar berbalik menentang Ketua Hwe-liong-pang, atau meninggalkan Hwe-liong-pang saja.

Permainan berakhir, ketika Wan Yen Coan mengeluh sudah mengantuk dan ingin berpamitan pulang ke tempatnya sendiri. Namun setelah meninggalkan kamar Ji Han Lim, Wan Yen Coan ternyata tidak langsung kembali ke tempatnya, melainkan langsung ke bagian depan bangsal Bwe-hoa-kiong, tempat tinggal Kim Seng Pa.

Tengah malam sudah lewat, namun Kim Seng Pa belum tidur. la masih asyik berlatih ilmu pukulan Liok-hap-ciang-hoat dengan bersemangat. Biarpun rambutnya putih semua, namun tubuhnya justru mirip tubuh anak-anak muda yang tengah bersemangat-semangatnya berlatih. Tegap, tak ada lemak berlebihan, penuh dengan otot-otot yang berjalur-jalur menghiasai kulitnya. la memang latihan keras, sebab setelah berhasil mengalahkan Pak Kiong Liong, suatu ketika ia juga ingin mengalahkan Tony Lam Hou dan Pun-bu Hwe-shio, tak pedu- li Pun-bu Hwe-shio adalah guru dari Kaisar Yong Ceng dan Ni Keng Giau.

Ketika Wan Yen Coan mengetuk pintu , Kim Seng Pa tengah menyelesaikan jurus terakhirnya. Kun-tun-jut-kai (Terciptanya Alam Semesta), jurus kebanggaan yang pernah membuat Pak Kiong Liong terjungkal, biarpun Pak Kiong Liong telah menggunakan jurus terhebatnya pula waktu itu.

"Siapa?" tanyanya ketika mendengar ketukan di pintu.

"Cong-koan, aku Wan Yen Coan."

Kim Seng Pa menyeka keringatnya dan memakai bajunya, lalu berkata, masuklah."

Wan Yen Coan lebih dulu member hormat, "Maaf, aku mengganggu latihan Cong-koan. Ada yang hendak kulaporkan tentang Ji Han Lim, bekas orang Hwe-liong-pang itu."

"Kenapa dia?"

“Aku tidak berani menyimpulkan sendiri, Cong-koan. Tetapi malam ini ia pergi ke luar istana, mengakunya hanya berjalan-jalan. Tetapi kuperhatikan sepatunya penuh lumpur, apakah dia berjalan-jalan di lorong-lorong becek?"

"Tidak kau tanyakan kemana perginya?"

"Tidak. Aku khawatir dia akan merasa dirinya sedang diawasi, nanti tentu lebih sulit diawasi lagi."

Kim Seng Pa tersenyum. "Otakmu rupanya jalan juga ya? Nah, awasi dia terus, jangan sedetikpun lepas dari pengawasan. Akan kuperintahkan Sat Siau Kun untuk membantumu."

"Baik. Cong-koan,"

"Kalau ada apa-apa laporkan kepadaku. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Paham.?”

"Paham, Cong-koan." Kemudian Wan Yen Coan mengundurkan diri dari hadapan komandannya itu. la mengharap akan mendapat pahala besar kelak, kalau tugasnya berhasil baik. Namun ia menggerutu juga, karena kelak pahalanya harus dibagi dua dengan Sat Siau Kun si kecil bungkuk yang tak henti-hentinya mengisap pipa tembakunya Itu.

* * * *


Taman Cun-hoa. Kalau siang, tempat ini ramai dikunjungi orang-orang yang menghibur diri, pengemis-pengemis yang mencari sedekah, hidung belang yang mencari mangsa, seniman-seniman yang mencari ilham atau sekedar orang-orang yang berlagak seniman.

Tapi di malam hari, tak seorang pun mengunjunginya. Khusus untuk malam Itu ada perkecualiannya. Nampak beberapa sosok bayangan datang berbisik-bisik, lalu berpencaran. Ada yang memanjat atap gardu, bersembunyi dibalik pohon, bertiarap di rumput, bahkan ada yang tidak segan-segan mencebur ke dalam kolam dengan hanya menyisakan kepalanya di atas air.

Tempat persembunyian mereka berpencaran, tetapi memilih tempat yang dapat mengawasi keadaan seluas-luasnya, dan dapat saling melihat persembunyian teman masing masing. Mereka orang-orang terlatih rupanya. Salah satu dari mereka tidak bersembunyi, namun duduk dl bangku batu di tengah taman, sikapnya nampak agak gelisah. Dialah Ji Han Bok, adik dan sekaligus wakil Ji Han Lim.

Suara lonceng di menara kota di kejauhan telah menunjukkan waktu tengah maiam, berbarengan dengan munculnya sesosok tubuh di pintu taman, yang berjalan seperti maling mendekati ayam yang hendak disambarnya. Pakaiannya ringkas hitam, mukanya berkedok hitam pula. Dialah kakak kandung Ji Han Bok, ji Han Lim, yang berjanji akan menemui adiknya dan orang-orang Hwe-liong-pang iainnya di Taman Cun-hoa.

Sebelum melangkah masuk taman, Ji Han Lim menoleh dulu kesekelilingnya bahwa tidak ada orahg yang mengikutinya. Setelah merasa aman barulah ia melangkah masuk ke taman Hatinya bergejolak ketika mengenali Seseorang yang duduk dibangku taman. "Bok-te (adik Bok)..." desisnya tertahan.

Namun Ji Han Bok menjawab dengan dingin, “Apakah kita masih bisa menjadi kakak beradik, tergantung hasil pembicaraan kita nanti."

Ji Han Lim menarik napas mendengar jawaban bernada amat bermusuhan itu. Baru saja muiutnya hendak menjelaskan sikapnya, tiba-tiba matanya yang tajam melihat sesosok bayangan melompat di ujung taman, hanya sekejap kelihatan, lalu bersembunyi di belakang sebuah tugu hiasan taman. Tetapi Ji Han Lim dapat melihat bahwa orang itu adalah Kim Seng Pa dan ia yakin Kim Seng Pa tak mungkin datang sendirian. Maka tahulah JI Han Lim bahwa gerak geriknya sebenarnya diawasi terus sejak ia meninggalkan bangsal Bwe-hoa-kiong.

Ji Han Lim mengeluh dalam hati jelaslah bahwa pembicaraannya dengan adiknya tidak akan berlangsung dengan bebas. Dalam keadaan terjepit itu, akhirnya Ji Han Lim memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan yang melukai hatinya sendiri.

Sedang Ji Han Bok yang sama sekali tidak paham perasaan kakaknya itu telah membentak sengit, "Cepat bicara! Kenapa kau bertekuk lutut kepada Kaisar lalim dan mengkhianati perjuangan luhur Hwe-liong-pang?!"

Hati Ji Han Lim serasa tersayat, namun ia sengaja bersuara keras agar terdengar sampai ke ujung taman, "Adikku, kau adalah satu-satunya saudaraku. Aku sayangkan masa depanmu yang akan terbuang percuma kalau terus bersama orang-orang kurang pekerjaan di Hwe-liong-pang, mengabdi kepada Tong Lam Hou yang sama sekali tidak punya belas kasihan kepada anak-buahnya."

Sambil bicara panjang lebar, berkali-kali Ji Han Lim memberi isyarat dengan ekor mata ke pintu taman, sambil memonyong-monyongkan mulutnya, maksudnya agar adiknya memahami isyaratnya agar kabur saja.

Tetapi Ji Han Bok tengah meluap darahnya dan keruh pikirannya, isyarat kakaknya itu tidak digubrisnya. Malah sepasang kampak bergagang pendek yang tergantung di pinggangnya dihunus, dan ia berteriak penuh kemarahan, "Keparat, jadi kau benar-benar sudah rela menjadi anjingnya si penindas rakyat itu? Sungguh kecewa ayah kita di alam baka mempunyai anak sehina kau!”

Lalu sepasang kampaknya menyambar dengan jurus Tui bun-kian-san (Mendorong Pintu Melihat Gunung), Sepasang kampaknya menggunting ke arah leher dan perut sekaligus. Ketika kakaknya menghindar, Ji Han Bok memutar tubuh dan kedua kampaknya menyambar sejajar dari atas ke bawah. Ji Han Lim mengeluh dalam hati, sekaligus memaki keberangasan adiknya yang kalau marah tak ingat apa-apa lagi.

Dengan gesit ia menghindar lagi, dan berbisik, "Pergi secepatnya tempat ini diawasi…”

Bukannya menurut, malah adiknya berteriak, “Perginya nanti saja, setelah memotong-motong tubuhmu!"

Tubuhnya melompat berputar, jurus liong-wi-gong-coan (Naga Bergulingan di Angkasa) dilancarkan. Nafsu membunuh Ji Han Bok begitu meluap-luap, sampai lupa bahwa yang dihadapinya itu adalah kakak kandungnya yang sejak kecil bermain bersama, berlatih bersama dan kemudian berjuang bersama di daiam Hwe-liong-pang.

Sementara itu, di bagian lain Taman Cun-hoa tiba-tiba terjadi pertempuran pula, Rupanya salah seorang anak buah Kim Seng Pa yang tengah merunduk-runduk, tanpa sengaja menginjak pantat seorang anggota Hwe-liong pang yang sedang bertiarap. Sudah sama-sama kepergok, baku hantam tak terhindar lagi.

Jagoan istana Yong Ceng itu ialah Su-ma Hek-long yang berjulukan Toat-beng-san (Payung Perenggut Nyawa). Payung hitamnya dengan lincah ditusukkan, diputar, disabetkan atau dibuka tutup dengan berbagai gerakan berbahaya. Mukanya pucat seperti orang kelaparan, namun tandangnya beringas seperti serigala kelaparan juga.

Lawan Su-ma Hek-long dua orang, masing-masing Oh Bu Siang yang bersenjata tameng dan golok, dan Kwe Thian yang bersenjata martil dan jidat Su-ma Hek-long senentiasa dianggap segumpal batu yang harus dipecahkan. Tapi kalau jidat terlalu sulit diincar, jempol kaki juga bolehlah.

Gabungan kekuatan dua Hutong-cu Hwe-liong-pang itu cukup hebat, namun mereka kaget karena Su-ma Hek-long juga tangguh sekali biarpun dikeroyok dua. Kalau payungnya terbuka, rapatnya tak kalah dengan perisai di tangan kiri Oh Bu Siang, atau digerakkan berpu- tar seperti roda berpisau yang bisa mencincang dua lawannya. Kalau paying ditutup, ujung payung menjadi tombak dan badan payung menjadi gada yang bisa meremukkan tulang.

Namun dua lawan Su-ma Hek-long bukan makanan-makanan empuk. Orang-orang yang bisa menduduki jabatan Hutong-cu dalam serikat setenar Hwe-liong-pang adalah orang orang pilihan dari ribuan anggota Hwe-liong-pang. Oh Bu Siang tangkas sekuat kerbau tapi otaknya bukan otak kerbau, bayangan martilnya memenuhi udara dan kalau lawannya lengah sedikit saja, entah bagian mana tubuh-nya yang bakal diremukkan olehnya.

Timbulnya bentrokan menyebabkan kedua pihak merasa tidak ada gunanya lagi bersembunyi. Jago-jago istana segera berlompatan keluar, dan biarpun jumlah mereka tidak banyak, namun merekalah jago- jago tangguh semua. Mereka juga muncul dari segala jurusan untuk mengepung. Di sebelah timur muncul Kim Seng Pa dan seorang jagoan bersenjata khek (tombak bermata ganda), di sebelah utara muncul Toh Jiat Hong dan Sat siau Kun, dari barat muncul Wan Yen Coan dan dua orang lainnya, dan dari selatan menghadanglah Heng-san-sam-kiam bertiga.

Kali ini Kim Seng Pa berharap semua pahala hanya dimiliki oleh kelompoknya sendiri, kelompok jubah ungu, tidak dibagi dengan kelompok lain. Karena itulah tidak seorangpun dari kaum Ang-ih-kau, Hiat-ti-cu atau kelompok istana lainnya. Mendengar dan melihat Ji Han Lim rela bertengkar dan bertempur dengan adiknya sendiri, Kim Seng Pa merasa puas. la lalu berseru keras.

“Orang-orang Hwe-liong-pang, kalian takkan mungkin lolos malam ini! Yang bersedia mengikuti jejak Ji Han Lim untuk mengabdi kepada Hong-siang, akan mendapat hidup terhormat. Yang membangkang, akan ditumpas tanpa ampun!"

Baru saja kalimatnya selesai, seseorang telah melompat dari balik gerumbul bunga dan langsung menubruknya. Orang itu berbaju pendek dan celananya cuma setinggi lutut, dari kain kasar murahan, kepalanya memakai caping. Tampangnya sepele, namun gerakan tongkat besinya dahsyat hendak menimpa kepala Kim Seng Pa. Dialah Liong Su Koan, si Tong-cu Bendera Hijau, yang berjuluk Bu-sia Hi jin. Permainan tongkatnya memang hebat namun ia agak keliru memilih lawan.

Kiong Wan Peng yang tidak jauh dari Liong Su Koan, terperanjat melihat rekannya itu memilih lawan Kim Seng Pa yang telah berhasil mengalahkan Pak Kiong Liong. Cepat Kiong Wan Peng melompat keluar dari persembunyiannya sambil berseru, "Saudara Liong, hati-hati..."

Peringatan yang agak lambat datangnya. Dilihatnya lengan Liong Su Koan telah tercengkeram oleh Kim Seng Pa lalu diputar di udara dan dibanting jungkir balik. Lalu Kim Seng Pa dengan telapak tangannya yang berkekuatan seperti gunung runtuh itu menghantam ke kepala Liong Su Koan yang masih terkapar. Liong Su Koan memalangkan tongkat besinya untuk menangkis.

Cepat bagaikan kilat Kiong Wan Peng berusaha menolong kawannya itu. la melompat sambil menendang miring dengan gerakan Hui-hou-tui (tendangan Macan Terbang), ke arah kepala Kim Seng Pa. Sebagai ahIi Tong-jiau-tao (llmu Tendangan Gaya Korea), kekuatan kaki Kiong Wan Peng juga luar biasa, seperti seekor belalang raksasa.

Tapi Lawannya adalah Kim Seng Pa yang berilmu jauh lebih tinggi. Sambil menunduk mengelak, tiba-tiba kuncir rambutnya yang ubanan itu berubah menjadi sehelai cambuk perak yang langsung melibat kaki Kiong Wan Peng dan langsung membantingnya ke tanah pula. Begitulah, dua Tong-cu yang tangguh dari Hwe-liong-pang itu berturut-turut menelan pil pahit dari Kim Seng Pa.

Namun keduanya segera melompat bangkit untuk mengeroyok Kim Seng Pa. Liong Su Koan dengan tongkat besinya yang menderu bagaikan gelombang samudera, Kiong Wan Peng dengan sepasang tinju dan sepasang kakinya yang bagaikan empat buah palu godam berbahaya. Namun mereka berdua toh tetap kewalahan menghadapi Kim Seng Pa.

Wakil Hong Su Koan yang bernama Yang Goan, segera muncul dari dalam air kolam. Rantai bajanya sepanjang tiga depa segera diputar kencang-kencang sehingga pohon bunga-bungaan disekitarnya tersapu beterbangan. Serunya, "Liong Tong-cu dan Kiong Tong-cu, biar aku ikut dalam permainan ini!"

Rantainya tiba-tiba meluncur dengan gerak tipu Liong-leng-hong hu (Naga Berputar dan Burung Hong Menari) untuk menyabet ke pinggang Kim Seng Pa.

“Hem, kepandaian serendah ini pun berani jual tampang di depanku!" dengus Kim Seng Pa mengejek. Lebih dulu ia pukul mundur Kiong Wan Peng dan Liong Su Koan dengan angin pukulannya yang menderu hebat, sampai kedua Tong-cu itu sempoyongan. Lalu telapak tangannya mengibas ke belakang, hanya angin pukulannya saja sudah cukup membuat ujung rantai besi Yang Goan "berkibar” membalik, nyaris mengenai jidat Yang Goan sendiri.

Demikianlah ketangguhan Kim Seng Pa yang mengejutkan lawan-lawannya, apalagi setelah orang-orangnya terjun pula ke gelanggang. Seorang jagoan jubah ungu yang bersenjata tombak segera menerjang ke hadapan Yang Goan. Ujung tombaknya mematuk dengan kecepatan seekor ular kobra ke dada Yang Goan, sambil membentak, "Akulah lawanmu!”

Yang Goan ingin bertempur jarak jauh agar menguntungkan rantainya yang panjang. la mengguIingkan badan menjauhi lawan, bersamaan dengan rantainya disabetkan ke sepasang kaki musuh dengan gerakan Liong- bun-kek-long (Naga Mendampar Ombak Samudera). Lawannya melompat tinggi untuk me nyelamatkan kakinya, sekaligus menikamkan tombak dari atas, untuk “memaku" tubuh Yang Goan di tanah.

Begitulah, mereka bertempur sengit. Yang bersenjata tombak kuat dan garang seperti harimau terluka, sementara lawannya memutar rantainya seperti naga mengamuk. Untuk sementara, sulit diketahui mana yang iebih unggul. Perkelahian telah berkobar disegenap sudut taman, membuat taman y.nuj indah itu berantakan hancur. Keindahan tak dipedulikan lagi, masing-masing pihak hanya memburu kemenangan.

Toh Jiat Hong bertempur melaw,m Siang Koan Long. Tokoh nornor dua setelah Kim Seng Pa di kelompok jubah ungu itu, memainkan Pek- pian-kui-jiau-hoat (Cakar Iblis Dengan Beratus Perubahan) Bayangan beratus cakarnya mengintai Siang Koan Long dari Segala arah, sehingga sepasang pedang Siang Koan Long tak bisa untuk menyerang, hanya untuk membela diri, dan ia terus-terusan didesak mundur.

Dua orang jagoan Hwe-liong-pang segera membantu Siang Koan Long. Biarpun mereka juga jago-jago pilihan yang sudah tersaring untuk ikut berangkat ke Pak-khia, namun mereka tidak bisa membebaskan Siang Koan Long dari kesulitan. Paling banter hanya membuat beban Siang Koan Long berkurang, alias hanya berbagi nasib.

Wan Yen Coan dengan cambuk Liong Jui-pian tel ah bertanding melawan Khai sim Hwe-shio alias Tio Cong-peng dari kelenteng Thai-hud-si. Rupanya Wan Yen Coan sudah mengenal lawannya, sehingga mengejek, "Wah, sejak kapan Tio Cong peng mencukur rambut menjadi pendeta? Kebetulan, Hong-siang tentu akan senang sekali berjumpa denganmu."

Khai-siim Hwe-shio tidak menjawab, melainkan memutar toyanya lebih kencang untuk melabrak lawannya. Begitulah, yang satu main keras dengan toya, yang lain mengandalkan kelemasan cambuknya. Biarpun orang-orang Hwe-liong-pang berkelahi dengan nekad dan gigih, apa daya, jumlah mereka hanya sepuluh oraag. Bukan saja kalah jumlah namun juga kalah kwalitas.

Mereka datang ke Pak-khia dengan dipecah-pecah menjadi regu-regu keciI, dan yang ada di Taman Cun-hoa malam itu baru kelompok pertama dan kelompok kedua ditambah Khai-sim Hwe-shio yang membantu dengan suka rela. Sedang jagoan-jagoan tingkat atas macam Tong Lam Hou dan Pak Kiong Liong belum tiba. Tidak heran kalau tekanan para jagoan jubah ungu semakin menyesakkan napas. Kehancuran mutlak sudah terbayang di mata orang-orang Hwe-liong-pang.

Tidak lama kemudian, terdengar Kwe Thian menjerit ngeri karena telah menjadi korban payung maut Su-ma Hek-long. Ketika ia menubruk maju untuk menghantam jidat Su-ma Hek-long, lawan nya melejit ke samping dan berhasil menghantam lengan Kwe Thian dengan tangkai payungnya. Di saat Kwe Thian masih sempoyongan, ujung payung Su-ma Hek-long yang lancip itu menembus perut Kwe Thian. Ditambah satu tendangan lagi, gugurlah salah satu Hutong-cu Hwe-liong-pang itu.

Oh Bu Siang menjadi kalap melihat kematian rekannya itu. la meraung dan molompat seperti harimau luka, tameng di tangan kirinya tidak lagi menjadi aiat pembela diri, melainkan dikeprukkan kepala Su ma Hek-long, dibarengi goloknya yang menebas dengan kalap.

Su ma Hek-long tertawa dingin, payungnya dibuka dan diputar menjadi cahaya hitam bundar lebar yang melindungi badannya. Begitu kuat putarannya, sehingga Oh Bu Siang dan sepasang senjatanya hampir terpelanting ke samping. Hampir saja Su-ma Hek long menyusulkan sebuah pukulan mematikan ke kepala Oh Bu Siang, tapi didengarnya seruan Kim Seng Pa, "Hek-long, coba tangkap hidup-hidup!"

Su-ma Hek-long memang lihai. Begitu mendengar perintah, gerakannya langsung berubah sesuai dengan perintah. Pukulan ke kepala ditarik dan secepat kilat digantikan tendangan ke pinggang Oh Bu Siang, tepat mengenai jalan darah Ki-keng-hiat. Oh Bu Siang roboh hidup-hidup dan menjadi tawanan.

Maka keseluruhan pertempuran di taman itu menjadi berat sebelah, memberatkan pihak Hwe-liong-pang. Menyusul beberapa orang Hwe-liong-pang yang terbunuh atau tertawan hidup-hidup, sehingga tidak lama kemudian pertempuranpun selesailah.

Selain Oh Bu Siang, yang tertangkap hidup- hidup antara lain Ji Han Bok, Kiong Wan Peng, Siang Koan Long dan beberapa orang lagi Sementata Liong Su Koan, Yang Goan dan Khai-sim Hwe-shio telah terbunuh beserta orang- orang Hwe liong-pang lainnya.

Kiong Wan Peng tangannya sudah terbelenggu, begitu juga kakinya yang dianggap senjata berbahaya. Namun ketika ia digiring dan kebetulan lewat di depan Ji Han Lim, mendadak ia meludahi muka Ji Han Lim. Selama bertahun-tahun Kiong Wan Peng dan Ji Han Lim adalah sahabat akrab, sampai hampir seperti saudara kandung.

Tapi kali ini ia sampai meludahi muka Ji Han Lim, menandakan betapa kecewanya ia terhadap Ji Han Lim yang telah menyeberang ke pihak Yong Ceng. Juga marah karena meng- anggap Ji Han Lim tega menjebak teman-temannya sendiri di Taman Cun-hoa.

Wajah Ji Han Lim pucat pasi dan tak berani menentang sorot mata Kiong Wan Peng. Dengan tangan gemetar ia mem bersihkan air ludah itu dari mukanya sementara hatinya remuk-redam. Malam itu juga, para tawanan dijebloskan ke dalam penjara yang dijaga oleh perajarit- perajurit, dan jagoan-jagoan seragam ungu sendiri. Itulah ke menangan besar Kim Seng Pa yang kedua, setelah ia berhasil mengaiahkan Pak Ki ong Liong.

Malam itu pula, Ji Han Lim tak sanggup memejamkan matanya di atas tempat tidurnya. Pikirannya melayang terus ke penjara gelap, tempat adik kandungnya dan orang-orang Hwe-liong-pang lainnya dikurung. Namun ia mengertak gigi, rencananya sudah setengah jalan dan ia tidak mau mundur lagi. la siap mengorbankan nama baiknya, teman-temannya, adik kandungnya, bahkan nyawanya sendiri, demi tercapai tujuannya sela-ma ini. Tujuan yang hendak dicapai itu memang mahal harganya.

Tanpa tidur sekejappun, tahu-tahu pagi sudah tiba. Di bangsal Bwe-hoa-kiong, semua pengawal jubah ungu sudah berkumpul untuk mendengarkan perintah-perintah harian Kim Seng Pa. Entah disengaja entah tidak, Kim Seng Pa kemudian mengajak Ji Han Lim serta beberapa pengawal jubah ungu lainnya, untuk menengok ke penjara tempat disekapnya tawanan-tawanan semalam.

Dilingkungan Ci-kim-shia (Kota Terlarang) yang luas itu ada beberapa buah penjara, sebab tiap kelompok "mengelola" penjaranya sendiri-sendiri. Kaum Ang-ih kau punya sendiri, kaum Hiat-ti-cu punya sendiri, begitu juga kelompok-kelompok lain. Seperti anak-anak yang masing-masing diberi sebuah celengan oleh ayah mereka, dan kelak kalau sang ayah memeriksa "celengan" mereka, yang isinya paling penuh akan mendapat paling banyak pujian.

Kini Kim Seng Pa melangkah dengan tegap untuk memeriksa "isi celengan"nya. Ji Han Llm melangkah di belakang Kim Seng Pa dengan jantung berdegupan. la sadar, ia akan menghadapi "ujian" yang maha berat untuk menguji sampai dimana kesetiaannya kepada Kaisar Yong Ceng, dengan dihadapkan ke bekas teman temannya sendiri.

Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh Ji Han Lim, sekilas timbul pikirannya, bagaimana kalau ia ajak teman-teman Hwe-liong-pang itu nekad menerjang keluar? Tetapi akal sehatnya masih menyadarkan, bahwa di hadapan orang selihai Kim Seng Pa, ia dan orang-orang Hwe-liong-pang lainnya takkan bisa terlalu banyak bertingkah.

Akhirnya Ji Han Lim menetapkan langkah untuk tetap menjalankan rencananya, apapun taruhannya. Rintangan rencana itu bukan saja datang dari luar, tapi juga dari dalam hati nuraninya sendiri yang siap untuk dilukai. Langkahnya kini mulai menuruni tangga batu menuju ke penjara gelap dan lembab. Beberapa obor yang ditancapkan di dinding batu setiap duapuluh langkah hanya mampu memberikan cahaya yang redup kemerah-merahan. Para penjaga di situ memberi hormat kepada Kim Seng Pa.

"Bagaimana dengan bandit-bandit yang tertangkap semalam?" tanya Kim Seng Pa kepada komandan kawal.

Sahut si komandan. "Nampaknya mereka bandel-bandel. Cong-koan akan melihat mereka?"

"Ya, bagaimana keadaan tubuh mereka?"

"Sudah kami cambuki hampir setengah malam untuk memaksa mereka mengaku di mana teman-teman mereka lainnya bersembunyi di Pak-khia ini. Namun mereka tetap tutup mulut, biarpun gigi mereka sudah dirontokkan."

Ketika komandan kawal mengucapkan kata- kata itu, diam-diam Kim Seng Pa melirik wajah Ji Han Lim untuk mempelajari bagaimana perubahan wajahnya. Namun wajah itu tetap dingin, meskipun beberapa butir keringat mengembun di tepi jidatnya. Kim Seng Pa puas, Ji Han Lim benar-benar "setia" kepadanya.

“Aku sendiri yang akan manangani mereka," dengus Kim Seng Pa. "Bawa mereka semua ke ruang penyiksaan!"

"Baik, Cong-koan!"

Lalu Ji Han Lim ikut Kim Seng Pa ketempat yang disebut Ruang Penyiksaan itu. Sebuah tempat yang menggidikkan tubuh, alat-alat penyiksaan di ruangan itu cukup memberi gambaran keadaan neraka dalam dongeng-dongeng apalagi kalau melihat alat-alat itu dikerja kan. Ada bercak-bercak hitam di lantai, dinding ataupun pada alat-alat itu. Tentunya itu adalah bekas-bekas darah yang sudah membeku. Bau busuk menyergap hidung.

Biarpun Ji Han Lim adalah seorang petualang di dunia persilatan, ia merinding juga. Itulah alat-alat yang di rancang untuk membuat korbannya setengah mati setengah hidup, lalu mati perlahan-lahan. Susah-payah Ji Han Lim harus menjaga agar wajahnya tidak menimbulkan kesan apapun. la harus tampil dengan wajah seorang algojo berdarah ding in.

Terdengar suara gemerincing rantai dilorong, lalu satu persatu tawanan-tawanan itu diseret masuk, dengan kaki tangan mereka tetap dirantai. Semalam mereka masih manusia, dan pagi ini mereka hanya "rongsokan manusia". Berjalan pun hampir tidak kuat kalau tidak diseret para pengawal penjara. Pakaian mereka sudah hancur, sehingga nampak kulit mereka yang tidak utuh lagi penuh jalur-jalur bekas cambukan yang merah kebiru-biruan.

Hampir saja Ji Han Lim memalingkan wajahnya. la kenal betapa kuat daya tahan tubuh Kiong Wan Peng misalnya, namun dalam waktu setengah malam saja, Kiong Wan Peng telah berubah menjadi begitu mengenaskan keadaannya. Tak terbayangkan betapa hebat semalam mereka disiksa.

Melihat seramnya alat-alat penyiksaan di ruangan remang-remang itu. Oh Bu Siang tiba tiba menggigit putus lidahnya sendiri, sehingga tubuhnya terkulai di pelukan perajurit-perajurit yang menyeretnya. Rupanya ia khawatir takkan bisa menahan siksaan yang lebih kejam lagi, dia memilih mati daripada berkhianat kepada Hwe- liong-pang dengan menjawab pertanyaan para penyiksanya.

"Pameran kesetiaan membabi-buta yang tolol sekali," ejek Kim Seng Pa melihat itu. “Buang mayatnya di hutan agar menjadi makanan anjing liar dan burung gagak!"

Mayat itu segera digotong keluar. Lalu Kim Seng Pa dengan santai duduk disebuah kursi, dan memerintah Ji Han Lim, "Saudara Ji, coba kau saja yang berbicara dengan teman-temanmu itu. Barangkali kau akan lebih mengerti caranya membujuk mereka."

Hatii Ji Han Lim tergetar juga, meskipun sudah siap mental sejak semula. Tanyanya, "Apa yang harus kutanyakan, Cong-koan?"

"Di mana bandit-bandit Hwe-liong-pang lainnya bersembunyi di kota ini?"

"Baik, Cong-koan!" Lalu diambilnya sehelai cambuk yang tergantung di dinding batu dan dengan berlagak segarang mungkin, ia mendekati Ji Han Bok yang disangga dua pengawal agar tidak melorot jatuh. Sambil memutar-mutar cambuknya. Ji Han Lim berkata,

"Adikku, aku beri kau kesempatan pertama untuk berjasa kepada Sribaginda. Katakanlah, siapa saja orang Hwe-liong-pang yang datang ke Pak-khia ini, dan bersembunyi dimana mereka sekarang. Kalau kau mau bersikap bijaksana, Kim Cong-koan pasti juga akan bersikap bijak."

Tiba-tiba kepala Ji Han Bok yang terkulai itu terangkat, lalu segumpal ludah bercampur darah meluncur dari mulutnya dan kena wajah Ji Han Lim. la menyeringai puas, lalu kepalanya terkulai kembali. Sepatah kata pun tak di keluarkan menjawab kata-kata kakak kandungnya itu.

Ji Han Lim pedih hatinya. Namun di depan Kim Seng Pa, ia berlagak menjadi beringas, "Kurang ajar! Lupakah kau, bahwa aku adalah kakakmu yang menggantikan kedudukan ayah sejak beliau wafat? Aku hendak mengajakmu menikmati masa depan yang cerah di bawah lindungan Hong-siang, malah kau begitu kurang ajar kepada saudara tuamu sendiri...?”

Lalu cemetinya bergerak dua kali, "menggambar" dua garis tambahan di tubuh Ji Han Bok yang sudah lemah karena siksaan semalam, tak tahan lagi lalu pingsan biarpun "hanya" mendapat dua cambukan. Diam-diam Ji Han Lim lebih lega melihat adiknya pingsan, karena dengan pingsan tidak akan mengalami penderitaan tubuhnya.

Tak terduga Kim Seng Pa memerintah para pengawal, "Siramkan air garam dan siksa terus sampai mengaku."

Ji Han Lim kaget, "Cong-koan, tawanan ini sudah lemah sekali, dia bisa mati..."

Tukas Kim Seng Pa dingin, "Biarpun mati dengan tubuh hancur lebur juga pantas untuk orang-orang yang tidak mau mengakui kebaikan Hong-siang ini!"

Tubuh Ji Han Lim gemetar, namun ia berhasiI memaksakan diri untuk berkata, "Aku akan tetap menjalankan perintah Cong-koan.”

Ketika Ji Han Bok sudah disiram air garam, dan sadar kembali dengan menggeIiat-geIiat pedih, Ji Han Lim menghantamkan cambuknya berulang kali, seperti seorang kalap. Tidak peduli Kiong Wan Peng dan Siang Koan Long memakinya dengan kalap pula!

Tiap kali Ji Han Bok pingsan, air garam disiramkan. Bukan saja disadarkan dari pingsannya, tapi juga menambah penderitaannya karena air garam itu pedih di luka. Tubuh Ji Han Bok menggeliat-geIiat seperti seekor ulat yang dikeroyok semut. Namun yang jauh lebih pedih dari tubuh Ji Han Bok, adalah hati Ji Han Lim sendiri, yang harus berperanan sebagai algojo atas saudaranya sendiri.

Cambuknya terus meledak- ledak, dan tiap kali bertambah bilur di tubuh adiknya, bertambah pula bilur di hatinya sendiri. Tetapi ia seperti seorang mabuk yang kehilangan akal sehatnya, mencambuk... mencambuk.... mencambuk. Tak tahan melihat adiknya menderita, tiba-tiba Ji Han Lim membanting cambuknya. Tombak salah seorang pengawal yang berdiri di sampingnya direbutnya.

"Ji Han Lim!" teriak bersamaan dari Kim Seng Pa, Kiong Wan Peng dan Siang Koang Long.

Teriakan itu tak bisa menahan ujung tombak itu terbenam ke dada kiri Ji Han Bok, tepat di jantungnya, mengakhiri penderitaannya. Sang algojo sejenak mamatung melihat tubuh Ji Han Bok melorot ke lantai yang bersimbah darah. Tanpa ada yang mengetahui bahwa hati sang algojo lebih berdarah dari korbannya....
Selanjutnya,