Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 05 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga I Jilid 05

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
“LAPORAN tentang bedil dan meriam itu agak membimbangkan panglima-panglima Hui- Liong-kun. Kata Tong Siau Beng, "Apakah kita mampu melawan ratusan pucuk bedil dan meriam mereka hanya dengan puluhan pucuk bedil di pihak kita? Apa tidak perlu menunggu pasukan induk Jenderal Ni yang pasti mengangkut bedil dan meriam yang cukup banyak pula?"

Sahut Pak Kiong Liong. "Pasukan Ni Keng Giau berjumlah besar dan berjalan kaki pula, tentu terlalu lama menunggu mereka. Aku khawatir Jepang akan sempat memperkuat mata rantai pertahanan sepanjang Sungai Hek- liong sehingga semakin kokoh kedudukan mereka."

"Lalu kita akan bertindak bagaimana?" tanya Hai Lun To.

"Nanti tengah malam, kita tinggalkan Jiat-ho dengan menyusur hutan cemara sepanjang Pegunungan Tiang-pek-san agar tidak tertangkap pengintaian musuh. Selanjutnya kita dekati Sungai Hek-liong dan kita akan melakukan serangan malam hari, menggempur perkemahan demi perkemahan mereka. Dalam serangan malam hari, apalagi kalau mendadak, bedil dan senapan mereka tak akan terlalu banyak berguna, bisa salah tembak mengenai teman sendiri."

Panglima-panglima bawahan Pak Kiong Liong mengangguk-angguk kepala mendengar siasat itu. Sekali lagi Pak Kiong Liong mengulanginya, dengan jari telunjuk menggores-gores peta yang digelar di atas meja. Hari itu, seluruh perajurit dan kuda serta perlengkapan dipersiapkan. Kemudian malam harinya, selagi seisi kota Jiat-ho tidur lelap, Pak Kiong Liong dan pasukannya justru menyelinap keluar kota.

Beberapa hari berikutnya, Pak Kiong Liong dan pasukannya menempuh perjalanan yang berat, bukan lewat jalan besar yang rata, melainkan lewat lereng- lereng Pegunungan Ti ang-pek-san yang berselimut salju. Tidak jarang para perajurit harus turun dari kuda dan menuntun kudanya. Istirahat dilakukan sekedarnya saja, sebab mereka ingin secepatnya tiba di sasaran.

Malam keempat, dari lereng Tiang-pek-san mereka melihat sebuah garis perak melingkar- lingkar di dataran rendah, memantulkan cahaya bulan dan bintang. Itulah Sungai Hek-liong yang permukaan airnya membeku menjadi es, begitu tebal lapisan es itu sehingga pasukan berkudapun dapat menyeberanginya dengan gampang.

Setelah menyuruh pasukannya beristirahat dan bersembunyi di hutan cemara Tiang-pek- san, Pak Kiong Liong sendirian memakai pakaian serba putih ringkas agar tidak gampang dilihat di dataran salju, mendekati cahaya kelap-kelip di tempat yang diduganya menjadi salah satu perkemahan musuh.

Dilihatnya di seberang sungai beku itu ada perkemahan diterangi beberapa puluh perapian. Melihat pakaian mereka, yakinlah Pak Klong Liong bahwa itulah pasukan Jepang, dan menghitung pucuk kemah yang berderet-deret, Pak Kiong Liong menduga jumlah musuh di situ kira-kira seimbang dengan pasukannya. Dengan serangan mendadak, keseimbangan itu akan tumbang.

Dengan gerakan secepat rase atau rusa saiju, Pak Kiong Liong kembali ke tempat pasukannya dan jatuhlah perin-tahnya, "Aku beri waktu sesulutan hio dupa ini untuk mengisi perut, ber- siap-siap dan beristirahat sejenak, setelah itu kita serbu mereka!"

Para perajurit segera menjalankan perintah. Makanan bekal mereka dimakan dingin-dingin saja, sebab mereka tidak berani menyalakan api, takut terlihat oleh musuh. Kemudian, ketika sebatang dupa sudah habis terbakar, perajurit-perajuritpun sudah siap dengan semangat berkobar.

Pak Kiong Liong puas melihat kesigapan perajurit-perajuritnya, hasil gembIengannya sendiri selama bertahun tahun. Perintah terakhirnya, "Kita akan berpacu secepatnya, menyeberangi dataran sempit antara hutan cemara dan Sungai Hek-liong, kemudian langsung serbu. Mereka punya bedil, kita harus berusaha jangan sampai menjadi sasaran bedil mereka, karena itu kita harus meynebar dalam serangan melebar. Paham?"

Perintah didengarkan oleh para Ji an-hu-thio (Pemimpin Seribu Perajurit), para Jian-hu-thio meneruskan kepada semua Pek-hu-thio (Pemimpin Seratus Perajurit) bawahannya , kemudian Pek hu-thio kepada Sip-hu-thio (Pemimpin Sepuluh Perajurit) dan para Sip-hu-thio kepada anggota regunya masing-masing. Dengan demikian, tanpa berisik seluruh perajurit sudah mendengar perintah dan siap menjalankannya.

Begitu Pak Kiong Liong memberi aba-aba dengan lambaian tangannya, dua-ribu limaratus kuda tegar dengan perajurit-perajurit bersemangat baja segera berderap bagaikan kilat ke arah perkemahan musuh. Suara derap pasukan berkuda itu seperti gempa yang melongsorkan salju dari pucuk-pucuk cemara.

Pasukan di perkemahan itu tidak menduga datangnya serangan di malam dingin itu. Sebagian dari mereka sedang berkerumun di sekitar api unggun sambil menghangatkan diri dengan sake, sebagian lagi meringkuk dalam kemah masing-masing sambil membungkus badan dengan selimut. Begitu merasa bumi bergetar dan mendengar teriakan perang perajurit-perajurit Manchu, mereka kaget, lalu sambil berteriak-teriak berlompatan mencari senjata mereka masing masing.

Detik berikutnya, perajurit-perajurit Manchu sudah menyerbu ke tengah-tengah perkemahan. Puluhan peluru bedil pasukan Manchu mendesing merobek udara dan merontokkan beberapa musuh. Tapi bedil-bedil kemudian harus disimpan di pelana kuda, karena tak sempat mengisi bubuk bedil dan pelurunya lagi, digantikan dengan tombak, pedang, kapak atau senjata-senjata lainnya.

Diatas kudanya, Pak Kiong Liong menerjang paling depan dan menyebar maut bagaikan sang dewa maut sendiri. Dari pihak pasukan Jepang juga melepaskan tembakan yang membuat beberapa perajurit Manchu terjungkal roboh dari kuda, namun tembakan-tembakan itu kurang terarah. Ada beberapa orang Eropa yang membantu pihak Jepang, menembakkan pula bedil-bedil mereka, namun setelah musuh di depan hidung, maka merekapun harus membela diri dengan pedang mereka.

Maka di pinggir Sungai Hek-liong-kang itupun berlangsung pertempuran sengit. Para samurai Jepang dibantu sejumlah kecil orang kulit putih, mencoba bertahan dengan gigih, tetapi karena kalah persiapan merekapun terdesak. Baik dalam pasukan Manchu maupun pasukan Jepang ada perajurit-perajurit berdarah Korea, namun berhadapan di medan pertempuran itu mereka tidak sungkan-sungkan lagi mengayunkan pedang atau tombak untuk saling membantai.

Satu keturunan ya satu keturunan, tapi karena seragam berbeda, ya apa boleh buat. Dalam pertempuran riuh tentu saja tak ada waktu untuk saling memperkenalkan diri seperti "aku teman saudara sepupu mu" atau "aku asal satu desa denganmu" atau "keponakan nenekmu adalah isteri pamanku" dan sebagainya. Yang ada ialah "kamu musuh dan aku harus menggorokmu!”

Beberapa perajurit Manchu sempat menyapukan pedang atau tombak ke arah api unggun, sehingga kayu-kayu menyala bertebaran, yang jatuh di kemah-kemahpun segera menyala membakar kemah, sehingga timbul kebakaran yang membuat arena pertempuran semakin terang-benderang. Sepotong kayu api jatuh di tenda penyimpanan bubuk bedil dan menimbulkan ledakan hebat. Ledakan yang "adil" sebab tidak memilih Jepang atau Manchu atau Korea atau Han atau Eropa, pokoknya yang berada di dekatnya segera terlempar hangus. Kuda juga tidak ketinggalan.

Para perajurit Jepang ternyata adalah manusia-manusia tangguh yang tidak gampang ditaklukkan. Begitu pula orang orang bule Eropa yang berpihak kepada mereka. Merekalah penakluk-penakluk samudera yang tangguh, badai dan gelombang dahsyat di samudera pernah mereka tantang, pertempuran dahsyat di lautan maupun di berbagai benua pernah mereka jalani, karena itu merekapun manusia gemblengan yang tak gampang menyerah. Meskipun mereka bertempur di pihak Jepang bukan karena rasa kebangsaan, melainkan hanya karena uang.

Perajurit-perajurit Jepang dengan tombak atau pedang mereka kemudian mencoba menyabet kuda-kuda tunggangan para perajurit Manchu. Sebagian berhasil, sebagian lagi gagal. Kemudian beberapa orang lagi dengan keberanian luar biasa mencoba memeluk kaki perajurit Manchu untuk diseret turun dari kuda, Pak Kiong Liong malang-melintang di arena pertempuran, membuat pasukan musuh morat-marit.

Perajurit-perajurit Jepang tidak lagi berani mendekatinya, melainkan hanya menyerang dari kejauhan dengan lembing dan panah. Bedil tak bisa digunakan lagi kecuali sebagai tongkat pemukul, karena tak ada yang sempat mengisinya setelah ditembakkan satu kali.

Betapapun gigihnya musuh, tapi pasukan Manchu semakin lama semakin menguasai arena, Pak Kiong Liong sempat mengamat- amati jalannya pertempuran, dan tersenyum sendiri melihat keunggulan pihaknya. la sempat melihat bagaimana orang Jepang dan orang Eropa di pihak mereka memperagakan dua jenis iImu pedang yang berbeda.

Orang Jepang memegang “katana" (pedang panjang) mereka dengan dua tangan, memainkan gerak-gerak pedang yang nyaris seluruhnya terdiri dari gerakan menabas, hampir-hampir tak ada gerak tusukannya,

Sedang orang-orang Eropa dengan pedang berbentuk sempit dan runcing, dengan pelindung tangan berbentuk tempurung, memainkan ilmu pedang yang hanya kenal menikam secepat patukan ular, nyaris tidak ada gerak menabas, Dua jenis ilmu pedang yang bertolak belakang gayanya dari dua benua, namun sama-sama berbahaya karena digerakkan oleh tangan-tangan yang mahir.

Tengah Pak Kiong Liong mengamati pertempuran, tiba-tiba dari sampingnya menyambarlah seleret cahaya tajam dingin ke lehernya, disertai bentakan geram. Cepat Pak Kiong Liong menangkis dengan pedangnya, dan terasa betapa kuatnya tangan-tangan yang memegang tangkai pedang itu.

Penyerangnya adalah seorang Jepang bertubuh kekar dan beralis tebal, memakai kimono coklat seperti perajurit-perajurit lainnya, namun di dada kirinya bersulam bunga berkelopak lima yang agaknya merupakan tanda pangkatnya. Menilik kecepatan dan kekuatan ayunan pedangnya tadi, agaknya orang ini tak bisa dipandang remeh. Selain pedang panjang di tangannya, dipinggangnya masih terselip sebatang pedang pendek.

Orang itu menuding-nudingkan pedangnya sambil mengucapkan kata-kata asing yang nadanya seperti orang bertengkar. Tapi Pak Kiong Liong paham bahwa orang itu menantangnya agar turun dari kuda dan berduel dengannya. Sebelum Pak Kiong Liong meladeni tantangan itu, dari samping tel ah terdengar suara seseorang, "Serankan kepadaku, Goan-swe!"

Yang berkata itu ada Hai Lun To, orang Mongol yang langsung melompat turun dari kuda dan menghunus pedangnya yang melengkung seperti bulan sabit, pedang khas orang Mongol. Dengan bahasa isyarat, Hai Lun To menyatakan sanggup meladeni tantangan samurai itu.

Orang Jepang itu adalah perwira bawahan Hirosaki Takashima yang bernama Obata Zukimoto, pemain Kenjitsu (seni pedang) paling ulung dari Kyushu. Tanpa banyak bicara lagi, pedangnya mendesing dengan kekuatan hebat ke arah kepala Hai Lun To. Biarpun tubuhnya lebih pendek dan kecil dari lawannya, tapi Hai Lun To berjulukan Thai-lek-siau-him yang menggambarkan kekuatannya. Tanpa kenal takut, goloknya dipalangkan ke atas untuk menangkis secara kekerasan, lalu kakinya meluncur menendang lambung lawannya.

Tangkas sekali Obata melangkah berputar, sambil sabetkan pedangnya mendatar. Hai Lun To melompat tinggi dan balas membacok kepala. Begitulah keduanya terlibat pertarungan sengit, masing-masing agaknya mendapatkan lawan seimbang.

Tapi keseimbangan itu tidak mewakili pertempuran antara kedua pasukan. Pasukan Jepang terdesak semakin hebat, mereka melawan terus sampai berguguran satu demi satu meskipun diserukan untuk menyerah. Beberapa perwira Hui-liong-kun yang sedikit banyak paham bahasa Jepang dan selalu meneriakkan "Menyerahlah", hasilnya bukan seperti yang diharapkan, malah kepala perwira itu nyaris terbabat pedang seorang perajurit musuh yang kalap.

Pasukan Jepang ternyata bertempur sampai orang yang penghabisan, sehingga tepian Sungai Hek-liong itu penuh bertaburan ribuan mayat. Maka pertempuranpun selesai, yang belum selesai adalah duel Hai-Lun To dan Obata, bahkan semakin sengit. Ribuan kali pedang mereka berbenturan keras sampai memercikkan bunga api, tanpa penentuan siapa bakal menang dan kalah.

Tapi ketika Obata mengetahui pasukannya sudah habis, timbullah kecemasannya. Bukan cemas untuk mati, tapi justru cemas kalau tidak bisa mati. Kalau sampai ia ditawan dan dilucuti, alangkah memalukan kehormatannya sebagai seorang samurai terhormat, sedang kalau mati terhormat arwahnya akan segera menempati Kuil Yasakuni, tempat terhormat bagi arwah para perajurit yang mati terhormat pula.

Demikian kepercayaan kaum samurai yang membuat mereka memandang kematian seenaknya saja. Ketika melihat Pak Kiong Liong dan perajurit-perajurit Hui-liong-kun lainnya sudah berdiri mengelilingi arena, Obata semakin cemas. la meneriakkan beberapa patah bahasa Jepang.

Perwira yang bisa berbahasa Jepang lalu menterjermahkan untuk Pak Kiong Liong, "Goan-swe, orang ini minta untuk diijinkan mati secara terhormat, secara seorang Bushi Tenno (samurai Kaisar), dan ia akan sangat berterima kasih kepada kita."

"Bagaimana kalau kita tangkap hidup-hidup saja?" tanya Pak Kiong Liong.

Si penterjemah terdiam sejenak, lalu menjawab, “Itu bisa saja kita lakukan, tapi akan merupakan hinaan seumur hidup baginya. Mereka percaya, arwah mereka kelak tidak akan menghuni Kuil Yasakuni dan tidak bisa lahir kembali...”

"Mati terhormat bagaimana yang dia inginkan?"

"Melakukan harakiri, merobek perut sendiri dengan pedang pendeknya itu."

"Baiknya kita kabulkan atau tidak?"

"Terserah Goan-swe."

"Bagaimana kalau dia kita bebas-kan, tidak kita tangkap dan tidak kita hina?"

"la akan tetap melakukan harakiri di hadapan Jenderalnya, karena merasa gagal menjalankan tugasnya."

Pak Kiong Liong sendiri seorang ksatria Manchu yang lebih suka gugur daripada terhina, sehingga diapun bisa merasakan apa yang dirasakan Obata. Meskipun bagi dirinya, cara menebus malu dengan merobek perut itu kelihatan rada tolol, tapi kalau yang akan melakukannya sendiri merasa bangga dan terhormat, apa mau dikata?

Akhirnya Pak Kiong Liong menyuruh Hai Lun To mundur dari arena. Obata tidak memburunya, tapi membungkuk hormat kepada Pak Kiong Liong dan mengucapkan beberapa patah kata lagi.

Si Perwira penterjemah segera menyalin kata-katanya ke dalam bahasa Manchu, "Dia sangat berterima kasih kepada Goan-swe, dan ingin mengetahui nama dan kedudukan Goan-swe."

Pak Kiong l long menyebutkannya. Si penterjemah menyalin, Obata berkata-kata lagi, dan si penterjemah berkata kepada Pak Kiong Liong, "Dia merasa terhormat dikalahkan oleh Si Naga Utara (julukan Pak Kiong Liong) yang dikenal sampai ke Jepang. Tapi ia akan tetap melakukan harakiri demi tanggung-jawab kepada Jenderal Hirosaki dan negerinya. Dia juga akan berterima kasih sekali kalau Goan-swe bersedia menjadi Kaishakunin baginya."

"Apa itu kai... kai-sam... apa itu?" tanya Pak Kiong Liong.

Si perwira menerangkan, "Di saat seorang samurai melakukan harakiri, sering ia merasa amat kesakitan namun tidak segera mati. Saat itulah seorang Kaishakunin mengakhiri penderitaanya dengan jalan menebas lehernya."

Pak Kiong Liong mengerutkan alis mendengar permintaan yang terasa aneh itu. Katanya, "Katakan kepadanya, seorang ksatria Kekaisaran Manchu yang agung tidak sudi membunuh seorang Iawan yang tidak melawan."

Perwira Hui-Liong-kun itu menterjemahkannya untuk Obata, dan Obata nampak kecewa sekali wajahnya. la berkata lagi, di salin oleh si perwira Hui-liong-kun, "Membantu seorang samurai melakukan harakiri bukanlah tindakan hina, tetapi membantu sesama ksatria menuntaskan kewajiban alas tugasnya.”

Kata-kata "sesama ksatria" mendapat tekanan suara, sehingga mengesankan bahwa Obata juga menghormati Pak Kiong Liong sebagai ksatria, biarpun dengan adat yang berbeda. Sinar mata Obata penuh permohonan menatap Pak Kiong Liong. Akhirnya Pak Kiong menganggukkan kepalanya. Obata membungkuk hormat untuk menyatakan terima kasih, lalu upacara yang mencekam itu dimulai.

Pertempuran rupanya hampir berlangsung semalam suntuk, sehingga saat itu fajar sudah terbit di ufuk timur. Obata berlutut ke arah matahari, Sang Amaterasu Omikami, juga kearah negeri dan kaisarnya. Pedang panjangnya dimasukkan sarung dan dengan dua tangan di letakkan dia tas salju di depannya, kemudian dengan dua telapak tangan menekan tanah, ia bersujud sampai jidatnya mengenai salju.

Dibukanya baju bagian atasnya sehingga tampak ototnya yang kokoh gempal, pedang pendek dihunus dipegang tangkainya dengan kedua belah tangan, lalu ditikamkan ke perutnya sebelah kiri. Ia menggunakan cara bunuh diri yang disebut “Ichimonji” yaitu dari kiri perut pedangnya merobek lebar, darah yang memancar langsung membeku disalju. Seringai kesakitan mulai mewarnai wajahnya.

Saat itulah si pewira penterjemah membisiki Pak Kion Liong, “Sekarang, Goan-Swe!”

Pak Kiong Liong melangkah maju dan mengayun pedangnya. Kepala Obata menggelundung cepat. Pak Kiong Liong sempat melihat senyum kebanggaan mekar dibibir Obata. Ia menyongsong maut dengan penuh kebanggaan, tanpa rasa takut sedikitpun.

Pak Kiong Liong segera membawa pasukannya meninggalkan bekas ajang pertempuran itu. Ia tahu, pasukan Jepang yang mendarat di Liao-tong itu berjumlah amat besar, perkemahan yang hancur itu sebagian kecil dari musuh, kalau tidak segera meninggalkan tempat itu maka akan terkepung musuh yang bertebaran sepanjang tepian sungai Hek-Liong.

Alam untuk sementara memihak pasukan Machu, sebab begitu mereka pergi, salju yang lembut turun kebumi untuk menutupi jejak arah perginya pasukan itu. Pasukan Jepang yang kemudian datang ketempat itu hanya menemui perkemahan yang hancur, mayat teman-teman mereka bergelimpangan bercampur perajurit-perajurit Manchu yang gugur. Sementara berpuluh-puluh pucuk bedil telah dibawa pasukan Manchu beserta peluru-peluru dan obat peledaknya sekalian.

Pak Kiong Liong dan pasukannya pun tiba kembali di hutan cemara yang merupakan persembunyian bagus itu. Setelah beristirahat sehari, Pak Kiong Liong kemudian memimpin pasukannya untuk menyusur ke arah selatan. Angin yang dingin mengiris kulit merupakan musuh tersendiri yang harus dilawan, untunglah bahwa pohon-pohon cemara dapat sedikit memberi perlindungan kepada perajurit-perajurit Manchu itu.

Kira-kira 100 li ke selatan, kembali nampak perkemahan pasukan Jepang yang digelar di sebuah dataran di lereng bukit. Masih di pinggir Sungai Hek-liong. Merekalah sebagian kecil dari ratusan ribu samurai yang dikerahkan ke garis depan untuk memenuhi ambisi Shogun mereka menguasai daratan Cina.

Dalam memeriksa kekuatan musuh Pak Kiong Liong melakukan sendiri dan tidak menyuruh pengintainya. Diam-diam ia merambat bukit dari belakang perkemahan musuh, dan meiihat keadaan di perkemahan itu. Taksirannya, kekuatan musuh di perkemahan itu lebih kuat dari yang telah dihancurkan lebih duIu.

Bukan saja nampak perajurit-perajurit bayaran berkulit putih yang hilir mudik, tapi juga nampak beberapa buah meriam yang menghadap ke berbagai arah di seputar perkemahan itu. Nampak Pak Kiong Liong membuat perhitungan sendiri dan merasa yakin pasukannya masih mampu menghancurkan perkemahan ini, asal dengan perhitungan yang tepat.

Setelah kembali kepada pasukannya, Pak Kiong Liong mengumpulkan ketiga pangl imanya dan berkata, "Meriam-meriam itu memang berbahaya, tapi asal kita menyergap pada arah yang tidak menghadap moncong meriam, rasanya cukup aman. Meriam itu berat, butuh tenaga dan waktu untuk memutar-mutar arahnya, sementara kita dengan kecepatan kuda-kuda kita akan langsung menyerang ke tengah-tengah mereka dan memaksa bertempur jarak dekat."

Ketiga panglimanya mengangguk-angguk mengerti, sementara Pak Kiong Liong meneruskan, "Pasukan kita akan kubagi dua. Separuh aku pimpin sendiri untuk menerjang dari lereng bukit, separuh lagi dipimpin Tong Siau langsung menerjang menyeberangi sungai yang beku itu . Tapi aku perintahkan Tong Siau Beng agak menyerong ke selatan sedikit, supaya tidak langsung menghadapi moncong meriam-meriam di tebing sungai. Paham?"

Tong Siau Beng, Hai Lun To dan Ki Peng Lam menyatakan paham semua. Seluruh pasukan segera diberitahu agar bersiap-siap untuk serangan malam nanti. Apa yang tidak diketahui Pak Kiong Liong ialah bahwa Ki Peng Lam, panglima kepercayaannya itu, adaiah seorang musuh dalam selimut. Sejak Kaisar Khong Hi wafat dan Kaisar Yong Ceng menggantikannya, maka Ki Peng Lam menganggap Pangeran In Te tidak ada lagi gunanya didukung habis-habisan, peluangnya paling tidak sudah hilang separuh.

Saat itu Ki Peng Lam sudah mulai masuk jerat Ni Keng Giau. Keikutsertaannya ke medan perang Liao-tong kali inipun mengemban tugas rahasia dari Ni Keng Giau agar menjerumuskan Pak Kiong Liong ke dalam bencana, dengan meminjam tangan orang-orang Jepang kalau berhasil, Ni Keng Giau sudah berjanji akan membujuk Kaisar agar angkat Ki Peng Lam sebagai Panglima Hui-Liong-kun, menggantikan Pak Kiong Liong.

Ketika hari mulai gelap dan seluruh pasukan sedang beristirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk serangan malam nanti, Ki Peng Lam justru sedang memutar otak bagaimana membocorkan rencana itu ke pihak musuh agar Pak Kiong Liong terjebak dan mampus. Diam-diam rencana Pak Kiong Liong itu ditulis terinci di atas sehelai kertas, diberi denah pula arah serangannya, lalu diam diam ditinggalkannya pasukannya tanpa diketahui siapapun.

la berjulukan Tu-hong-kak, si Kaki Pemburu Angin, menandakan keunggulan ilmu meringankan tubuhnya. Di bantu selubung malam, tidak sulit ia menyeberangi sungai beku dan mendekati perkemahan musuh dari arah lereng bukit. Ketika melihat sekelompok perajurit Jepang meronda di kaki bukit, cepat Ki Peng Lam melemparkan gulungan kertas yang sudah disiapkan-nya, kemudian ia sendiri kabur dengan gerakan kilat ke atas bukit.

Para perajurit Jepang itu terkejut, sebagian berusaha mengejar tapi kalah cepat, sebagian lagi membuka gulungan kertas dan melihat isinya. Ketika gulungan kertas itu kemudian diserahkan kepada pemimpin perkemahan yang bernama Onoshi, isi gulungan dengan mudah dipahami, karena huruf Cina dan Jepang hampir sepenuhnya sama kecuali pengucapannya berbeda. Apalagi karena da lam “surat kaleng" itu ada pula gambaran-gambaran kasar yang mempermudah pemahaman.

Tetapi Onoshi Yozen tidak menelan mentah-mentah perkara itu demikian saja, disuruhnya seorang pengawalnya untuk memanggil Sasuke Kanamori, perwira pembantunya yang agak paham sejarah dan kebudayaan Cina. Ketika Sasuke sudah menghadap, keduanyapun memperbincangkan surat gelap itu. Sambil membeber kertas kiriman Ki Peng Lam itu di atas tatami (tikar) dalam kemahnya, Onoshi berkata,

"Bagaimana pendapatmu tentang ini? Peronda kita mendapatkannya karena dilempar oleh seseorang yang nampaknya adalah prajurit Cina, sebab ada kuncir panjang di kepalanya."

Sasuke seorang yang bertubuh kurus jangkung, bermata tajam dan pendiam. Kedua tangannya nampak kokoh biarpun kurus, karena ia adalah ahli dalam Kyujutsu (ilmu memanah) serta Yarijit-su (ilmu tombak) yang disegani di propinsi asalnya. Dengan matanya yang seperti mata alap-alap itu Sasuke memperhatikan coretan-coretan di atas kertas, kemudian berkata dengan nada datar dan dingin sesuai kebiasaannya,

"Agaknya dalam pasukan Cina sendiri ada seorang pengkhianat. Ada baiknya kita bersiap-siap, berdasar keterangan ini, supaya kita tidak mengalami nasib seperti perkemahan Obata tempo hari."

"Bagaimana kalau keterangan ini hanya tipuan musuh agar kita salah langkah?"

"Aku pikir tidak. Kalau tidak ada keterangan ini, bahkan kita belum tahu bahwa musuh sudah ada di muka hidung kita. Jadi buat apa mereka mengirim kertas ini untuk membuat kita bersiaga? Bukankah lebih menguntungkan bagi mereka kalau menyerang mendadak? Tentu dalam pasukan Cina itu ada seorang pengkhianat yang mungkin menginginkan kehancuran teman-temannya sendiri."

"Kira-kira untuk tujuan apa?"

Jawaban Sasuke mantap, seperti seorang guru sejarah di depan murid-muridnya. "Karena persaingan antar suku. Dalam pasukan Cina ada orang dari suku suku Manchu, Mongol, Han, Sehe, Hui, Liao, Korea dan sebagainya. Yang berkuasa di tahta sekarang adalah orang Manchu, kemungkinan membuat iri orang-orang suku lain dan si pengkhianat ini sengaja merusak rencana penyerangan dengan membocorkannya kepada kita."

"Orang suku apa yang paling membenci orang Manchu?"

"Orang Han. Mereka menganggap diri suku paling berbudaya, paling cerdas, paling beradab dan memandang rendah suku-suku lain. Tapi pemerintahan justru dijalankan orang Manchu, sehingga banyak orang Han menentang pemerintahan. Terang-terangan atau diam-diam. Pengirim kertas ini kemungkinan besar seorang perajurit Cina dari suku Han yang tidak senang kepada Pak Kiong Liong yang berdarah Manchu."

Onoshi menyeringai. "Seperti negeri kita, ya? Sudah satu abad lebih Dinasti Tokugawa memerintah, tapi sisa-sisa keturunan atau pengikut Hideyoshi Toyotomi masih saja bermimpi ingin membangun kejayaan mereka di Osaka. Orang-orang Kyushu juga mulai diragukan kepatuhannya kepada Shogun, gara-gara mereka telah memeluk agama baru itu."

Sasuke tahu diri, sebagai sekedar seorang perwira pelaksana perintah, lebih baik tidak usah usil mulut membicarakan hal yang peka itu. Maka ia diam saja. Sementara Onoshi berkata, "Siapkan pasukan kita tapi dengan cara tidak menyolok, supaya musuh mengira kita tetap lengah. Geser meriam-meriam menghadap lereng bukit dan tepi sungai. Ingat jangan menyolok."

"Baik."

"Meriam-meriam biar ditangani setan-setan bule itu. Mereka mahir menggunakannya, bahkan dalam pertempuran di laut.”

"Baik” sahut Sasuke sambil berlutut sampai jidatnya mengenai tanah, kemudian melangkah meninggalkan kemah itu.

Tengah malam tiba, itulah saat penyerangan yang direncanakan Pak Kiong Liong. Sesuai dengan rencana, pasukan bagi dua. Pak Kiong Liong yang rambutnya sudah putih semua itu akan memimpin penyerangan dari lereng bukit setelah memotong Sungai Hek-liong agak keutara. Tong Siau Beng dengan separuh pasukan lainnya akan langsung menyergap menyeberangi sungai yang beku itu.

Begitu tangan Pak Kiong Liong melambaikan isyarat, gemuruhlah derap kaki kuda dari perajurit-perajurit Hui-Liong-kun yang bergerak meyerang musuh. Setelah menyeberangi sungai Hek-liong agak ke utara, Pak Kiong Liong membelokkan pasukannya melintasi dan langsung menyerbu ke perkemahan musuh. Pak Kiong Long didampingi perajurit-perajuritnya yang bersenjata bedil berkuda pada lapisan depan.

Biarpun sudah ada bedil, panah dan lembing tetap disiapkan juga, meskipun kalah ampuh dari bedil namun bisa dilontarkan berturut-turut. Sedang bedil setiap kali ditembakkan sekali akan makan waktu untuk mengisinya lagi. Mengira pihak musuh belum siap, perajurit-perajurit Hui-Liong-kun bersorak-sorai penuh semangat, yakin akan mengulangi kemenangan yang dulu.

Namun kemudian sambutan dari perkemahan musuh ternyata amat mengejutkan. Terdengar gelegar hebat berturut-turut sebab meriam-meriam mulai "bicara" pula. Lereng bukit yang sedang dilintasi pasukan Manchu itu tanahnya bagaikan berledakan karena dihantam bola-bola besi dengan kecepatan dan kekuatan tinggi. Tanah campur salju muncrat berhamburan, beberapa perajurit sekalian kuda tunggangannya terlempar dan terbanting.

Robohnya kuda yang di depan membuat kuda di belakangnya tersandung kakinya dan roboh pula. Teriakan kaget dan kesakitan para perajurit bercampur aduk dengan ringkik kuda-kuda yang meronta-ronta sekarat. Keadaan semakin kacau dan menghambat. Karena meriam-meriam musuh masih saja berdentum dan menuntut korban lebih banyak lagi.

Di tengah keributan itu Pak Ki-ong Liong dengan gemas terus memacu kudanya ke kaki bukit sambiI berteriak. "Maju terus! Mundurpun punggung kita akan digempur dari belakang, lebih baik diajak musuh bertarung jarak dekat!"

Perajurit-perajurit Hui-Liong kun memang terkenal bernyali besar semua, dalam kekacauan seperti itu, barisan belakang terus maju ke depan bersama Pak Kiong Liong. Yang bersenjata bedil membalas menembak ke arah musuh, lainnya melempar-lemparkan lembing atau memanah, sambil tetap berkuda.

Ternyata pasukan Jepang tidak kocar-kacir seperti di perkemahan Obata dulu, melainkan menyambut serbuan pasukan Manchu dengan persiapan yang matang. Ketika meriam-meriam tak sempat diisi lagi, muncul sepasukan perajurit Jepang bersenjata bedil, membidik sambil berjongkok berderet. Dengan sebuah aba-aba dari pemimpin regu, belasan bedil meletus serempak dan belasan pasukan Manchu yang paling depanpun terjungkal roboh. Bagi Pak Kiong Liong yang berilmu tinggi, peluru-peluru itu bisa ditangkis dengan pedangnya yang diputar rapat. Namun perajurit-perajuritnya tentu saja tak sanggup menirukannya sehingga banyak yang menjadi korban peluru.

Meskipun bedil abad delapan belas itu cuma dapat ditembakkan sekali dan harus segera diisi kembali, namun ternyata pasukan Jepang punya cara untuk menembak terus menerus. Perajurit perajurit di deretan depan, sehabis menembak segera mundur ke deretan belakang untuk mengisi obat dan peluru. Tempatnya digantikan perajurit-perajurit deretan kedua, yang setelah menembak digantikan deretan ketiga, dan seterusnya.

Saat lapisan ketiga selesai menembak dan mundur ke belakang, lapisan yang pertama tadi sudah siap kembali terisi. Demikian rapi kerjasama ini sehingga tembakan dapat bersambung terus. Itulah cara bertempur gaya Eropa yang dipelajari oleh Jepang, selain cara bertempur ajaran leluhurnya sendiri.

Orang Jepang pertama kali mengenal bedil tahun 1543, diperkenalkan oleh orang-orang Portugis. Bedil waktu itu belum ada pelatuknya, untuk menembakkannya harus menyulut sumbu di pangkal larasnya sehingga tak ubahnya meriam. Oleh kasta samurai (perajurit), senjata itu dianggap merendahkan derajat mereka, sehingga yang dipersenjatai bedil hanyalah perajurit-perajuri keturunan orang biasa, bukan keluarga samurai yang bersiteguh menggunakan pedang atau tombak.

Tahun 1575 meletus Perang Nagashino, dimana Oda Nobunaga, Gubernur Owari, menaklukkan gubernur-gubernur lain dan menyatukan Jepang. Saat itu Oda Nobunaga mematahkan anggapan bahwa orang samurai yang bersenjata bedil adalah hina, ia justru mewajibkan semua samurainya berlatih menembak disamping main pedang atau tombak, sehingga keluarlah Oda Nobunaga sebagai pemenang dalam Perang Nagashiro. Sejak itu, bedil adalah bagian dari persenjataan perajurit Jepang, disamping pedang atau tombak.

Belum sampai pasukan Manchu berhasil menerjang perkemahan pasukan Jepang, korban yang jatuh sudah banyak sekali. Semakin dekat dengan perkemahan, perajurit-perajurit Jepang lainnya juga mulai memanah dan melontarkan lembing-lembing. Tapi sebagian dari pasukan Manchu berhasil juga menerjang ke perkemahan dan dengan garang menyambar-nyambarkan kuda mereka sambil mengayun-ayunkan pedang.

Perajurit-perajurit Jepangpun harus meletakkan bedil-bedil atau panah-panah mereka dan menghunus pedang atau, tombak mereka untuk menyambut musuh. Pertempuranpun berkobar di sisi perkemahan yang menghadap lereng bukit, perajurit-perajurit Jepang melawan dengan teratur, dibantu perajurit-perajurit bayaran berkulit putih yang jumlahnya tak seberapa namun merupakan ahli-ahli perang yang tangguh juga.

Sebenarnya perajurit-perajurit Jepang yang berjalan kaki itu agak repot juga menghadapi perajurit-perajurit Manchu yang tangkas dalam pertempuran berkuda, untung bagi rnereka bahwa jumlah perajurit Manchu sudah banyak berkurang karena tersambar peluru-peluru bedil tadi. Perajurit-perajurit Jepang tidak jarang berhasil menyabet kaki kuda perajurit Manchu dengan tombak mereka, sehingga musuh jatuh berguling dan terpaksa bertempur di atas tanah.

Kini yang terdengar adalah gemerincing pedang dan tombak yang beradu namun sekaIi-sekali masih terdengar letusan bedil juga. Bercampur derap kuda dengan atau tanpa penumpang yang meringkik-ringkik dengan ribut, dan sumpah serapah ribuan manusia peperangan yang saling bantai dengan kalapnya. Makian "bangsat", "anjing" atau "mampus" terdengar riuh rendah dalam berbagai bahasa, sehingga arena itu mirip juga dengan kontes mencaci-maki antar bangsa.

Pak Kiong Liong yang marah karena telah kehilangan banyak anak buah, mengamuk seperti malaikat maut yang sedang mencari tambahan penduduk neraka. Tiap ia menerjangkan kudanya sambil mengayunkan pedangnya kearah kerumunan perajurit musuh, tentu beberapa musuh roboh atau menggelinding kepalanya.

Beberapa perajurit Jepang mencoba menyabet kaki kuda si Jenderal tua itu, namun bukan saja gagal, malahan nyawa merekapun "dimangsa" pedang Pak Kiong Liong. Rambut, kumis dan jenggot Pak Kiong Liong yang putih itu sudah terpercik beberapa titik darah. Bukan darah nya sendiri, melainkan darah korban korbannya.

Dari pihak pasukan Jepang muncul seorang lelaki kurus jangkung bersenjata tombak panjang. Dengan ganas orang ini mengamuk di arena dengan jurus-jurus tombaknya yang secepat kilat, setiap kali membuat perajurit Manchu roboh dengan leher, dada, perut atau punggung yang berlubang. Kadang kadang tubuhnya melambung untuk menyerang korbannya dari atas, dan jarang gagal. Itulah Sasuke Kanamori, si ahli Varijitsu yang kini menunjukkan kehebatan ilmunya. Sekejap saja belasan perajurit Hui-Liong-kun sudah menjadi korban tombaknya.

Melihat itu, Hai Lun To yang bertubuh kecil namun bertenaga raksasa itu segera melompat turun dari kudanya, dengan memegang erat golok lengkung bulan-sabitnya, ia langsung menghadang Sasuke. Kedua orang itu saling berpandangan dengan tajam, masing-masing diperingatkan oleh naluri kependekaran mereka bahwa lawan ampuh sudah di depan mata.

Sasuke membuka pertarungan dengan patukan ujung tombak secepat ular. Ketika Hai Lun To menghindar ke samping, ujung tombakpun mengikutinya dengan ketat, dimainkan dengan tangkas oleh sepasang tangan yang kurus-kurus namun kokoh itu.

"Hebat!" desis Hai Lun To. Goloknya yang ukuran panjangnya cuma sepertiga tombak lawan, dipukulkan ke batang tombak kemudian berguling merapat untuk membabat sepasang kaki Sasuke. Sasuke melompat tinggi sambil mematukkan tombaknya ke bawah, Hai Lun To menggeliat bangun dan melompat tinggi pula untuk membabat jidat lawan.

Pertarungan kedua orang itupun semakin sengit. Sasuke Kanamori tidak sekuat Hai Lun To, namun langkah kakinya selincah kijang dan patukan tombaknya segencar hujan gerimis. Lawannya adalah Hai Lun To yang putaran goloknya bagaikan perisai besi rapatnya dan sekali waktu menggulung ke depan bagaikan gelombang samudera. Untuk sementara, sulit diramalkan siapa yang bakalan unggul.

Sementara itu, dari arah lain Tong Siau Beng memimpin separuh pasukannya untuk menyerbu dengan menyeberangi Sungai Hek-Liong yang permukaannya membeku keras dan tebal itu. Tetapi, baru saja ia dan pasukannya sampai di tengah-tengah sungai, meriam-meriam musuh sudah menggelegar. Tong Siau Beng terkejut, sebab bukankah dalam perhitungan semula, arah yang disebutnya itu tidak langsung menghadapi meriam? Apakah musuh mengubah letak meriam-meriamnya?

Bola-bola besi dari mulut meriam itu tidak ditembakkan langsung kearah pasukan Manchu, melainkan ke permukaan Sungai Hek-Liong yang berlapis es. Lapisan es itu sebenarnya cukup tebal dan kuat biarpun dilalui sebuah pasukan berkuda, namun setelah dihantam bertubi-tubi dengan peluru meriam, timbullah retakan di permukaannya.

Ditambah beban ratusan perajurit berkuda yang tengah menyeberang, retakan es itu makin lebar dan akhirnya amblong, puluhan prajurit berkuda Manchu sekaligus terjerumus ke dalam sungai bersama kuda-kuda*tunggangan mereka. Lapisan es beku yang tadinya menjadi "pembantu" pasukan Manchu untuk dapat menyerang musuh, kini berubah menjadi "musuh' yang dahsyat.

Meskipun permukaan sungai membeku, tapi di bawahnya tetap ada aliran air yang deras. Para prajurit yang terjeblos segera terseret arus dan baru akan muncul kembali di muara Sungai Hek-liong di Laut Po-hai yang jaraknya ratusan mil dari situ, sebab di musim dingin Sungai Hek-liong seperti sebuah pipa raksasa tanpa lubang sedikitpun di sepanjang “pipa".

Dan perajurit-perajurit yang terseret arus itu ibarat lalat-lalat yang tak berdaya melawan kekuatan alam, betapapun mereka tergembleng keras. Mereka pasti mati, sebab mana ada manusia sanggup tidak bernapas dalam air sepanjang ratusan mil? Sedang air sungai yang amat dingin itu pun sudah merupakan pembunuh yang perkasa.

Perajurit-perajurit di belakang yang terperosok itu dengan kaget berhasil menghentikan lari kuda mereka agar tidak ikut terjeblos pula. Sebagian tetap nyemplung menyusul teman-temannya, sebagian lagi berhasil menghentikan kuda. Tapi yang dapat berhenti itupun dilanda oleh barisan belakangnya yang tidak menduga kalau teman-teman didepan berhenti secara mendadak. Kembali puluhan perajurit menyusul terjun ke arus sungai sambil menjerit ngeri, karena terjanjur terdorong dari belakang.

Ringkik kuda yang timbul tenggelam di arus sungai sebelum menghilang terseret arus menambah girisnya suasana. Beberapa perajurit bisa berenang secara mati-matian sampai ke tepian dan ditarik dibantu teman-teman mereka di darat. Wajah mereka pucat dan tubuh menggigil bukan saja karena kedinginan, tapi juga oleh kengerian membayangkan kematian yang hampir menyambar mereka.

Terseret arus di bawah lapisan es sepanjang ratusan mil adalah kematian yang penasaran, lebih ngeri dari mati dalam pertempuran. Mereka bergidik mengingat ratusan teman-teman mereka telah menga lami nasib seperti itu.

Melihat itu, Ki Peng Lam juga merasa bergidik karena merasa bersalah bahwa kematian perajurit-perajurit itu gara-gara pengkhianatannya. Namun demi teringat akan kedudukan Panglima Hui-Liong-kun yang dijanjikan Ni Keng Giau apabila ia berhasil menjerumuskan Pak Kiong Liong, maka dihiburnya hatinya sendiri, "Apa boleh buat, anggap saja mereka mati karena nasib buruk. Apabila di dalam peperangan tentu setiap orang berpeluang mati dengan bermacam-macam cara, termasuk juga aku."

Sementara itu Tong Siau Beng meneriakkan perintah untuk sisa pasukannya, “Menyebar lebar dan maju terus! Kita harus menolong Pak Kiong Goan-swe dan teman-teman kita yang sudah terlanjur terjebak di seberang!"

Perajurit-perajurit Hui-L iong-kun yang tersisa dan sudah pulih kembali dari kepanikan itupun mengatur diri sejenak, kemudian dengan kemarahan meluap-luap menyeberangi lapisan-lapisan salju yang belum retak oleh peluru meriam.

Meriam-meriam musuh masih berdentum beberapa kali, tapi meriam yang cuma beberapa pucuk itu tak berdaya menghentikan pasukan berkuda Manchu yang menyerang menyebar lebar itu. Ketika perajurit-perajurit Manchu tiba di tepian seberang, penembak-penembak Jepang menyambut dengan cara seperti ketika menyongsong pasukan Pak Kiong Liong tadi.

Kembali sebagian perajurit-perajurit Manchu berpelantingan dari atas kuda karena diterpa peluru. Tapi sebagian lainnya terus menyerbu dipimpin Tong Siau Beng sendiri, malah sempat membalas menembak sehingga pasukan Jepangpun kehilangan sebagian perajurit mereka ditembus peluru.

Tetapi setelah gelombang tentara kedua betah pihak berpapasan dekat, bedil-bedil berubah menjadi alat pemukul atau penikam dengan bayonet-bayonet di ujungnya. Yang sempat menghunus pedang atau tombak segera mengulangi cara bertempur abad silam.

Onoshi Yozen dengan pedang di tangan memimpin sendiri pasukannya bertahan di bibir sungai. Menyusup-nyusup diantara gemuruh kuda tunggangan perajurit-perajurit Manchu, Onoshi mengelebatkan pedangnya ke kanan dan kiri, tiap kali berhasil merobohkan musuh satu demi satu. Darah tertumpah ke salju dan langsung membeku atau meresap mewarnai salju.

Begitulah, pasukan Manchu yang menyergap dari lereng bukit maupun dari tebing sungai sama-sama membentur perlawanan yang tadinya tidak mereka duga. Jauh berbeda dengan ketika menyerbu perkemahan Jepang sebelumnya, dima-na perajurit-perajurit Jepang masih mengantuk dan kebingungan saat itu.

Mula-mula garis pertempuran masih jelas, tapi karena perajurit kedua pihak saling menerjang dan menyusup, maka merekapun menjadi campuraduk. Pertempuran segera menyebar ke mana-mana. perajurit-perajurit Manchu tak sepenuh nya berhasil mengandalkan keunggulan bertempur di atas kuda, sebab banyak dari mereka yang terpaksa bertempur di atas tanah karena kuda tunggangannya roboh diserampang musuh.

Memperhatikan semuanya itu, Pak Kiong Liong menarik napas. Siasat "gempur dan lari" yang direncanakannya ternyata macet, pertempuran menyebar dan campur-aduk seperti itu pasti akan berjalan lama dan berlarut-larut. Kalau pihak musuh kedatangan bala bantuan dari perkemahan-perkemahan lain, tentu pasukannya sendirilah yang bakal terbantai habis di tepi Sungai Hek-liong itu.

Mendadak timbul semacam pikiran yang menyedihkan Pak Kiong Liong, "Benarkah aku memang sudah pikun karena usia tua? Dulu pernah juga mengalami kegagalan sebagai pemimpin pasukan, tapi tidak separah ini. Mungkinkah kurang tahu diri dan sudah harus mengundurkan diri dari jabatanku sekarang?”

Tentu saja Pak Kiong Liong tidak tahu bahwa kesulitan pasukannya saat itu bukan karena ia sudah pikun, tapi karena ada seorang perwira bawahannya sendiri yang berkhianat. Kalau bisa di sebut "kesalahan" Pak Kiong Liong hanyalah karena ia terlalu mempercayai orang lain. Karena selama ini Ki Peng Lam adalah seorang perwira yang baik dan terpercaya.

Pak Kiong Liong pun mengamuk di antara pasukan musuh, tapi ilmunya yang tinggi itu kurang berperan dalam menentukan kalah menang dari dua pasukan dalam pertempuran massal itu. Seperti sering dikatakan kepada perwira-perwiranya sendiri, "Biarpun seorang pemimpin pasukan berhasil membunuh berpuluh-puluh tentara musuh, tapi kalau pasukannya sendiri kocar-kacir, dialah pemimpin perang yang kalah...." Dan keadaannya saat itu persis seperti yang sering dikatakannya sendiri.

Kesulitan yang diderita pasukan Manchu rasanya akan semakin berat, ketika seorang perajurit Jepang tiba-tiba melepaskan kembang api warna merah, menggores langit yang kelam. Memang itulah tanda-tanda kesulitan. Tidak jauh dari arena itu, ada dua perkemahan perajurit Jepang lainnya yang berjarak sekitar enam Li.

Masing-masing perkemahan, termasuk yang sedang diserang, adalah bagian dari mata rantai pertahanan yang disusun Jenderal Hirasaki untuk mengamankan wilayah-wilayah yang berhasil direbutnya dari Manchu. Jika satu perkemahan diserang, perkemahan-perkemahan paling dekat harus segera membantu kalau mendapat isyarat.

Onoshi Yozen memerintahkan perajuritnya melepaskan isyarat itu bukan karena pasukannya terdesak, melainkan karena ia tidak ingin pertempuran berlarut-larut, dan ia ingin segera menyelesaikan dengan mengundang rekan-rekannya dari perkemahan terdekat.

Tak lama kemudian dari arah utara dan selatan serempak muncul dua barisan obor seperti rombongan kunang-kunang. Lalu semakin dekat terlihat pula bendera bergambar matahari semakin jelas. Merekapun langsung menerjunkan diri ke gelanggang pertempuran. Suasana maut terasa semakin kental di pihak pasukan Manchu.

Pak Kiong Liong sendiri sadar pasukannya tak akan sanggup mengalahkan pasukan lawan yang berjumlah empat atau lima kali lipat itu. Maka iapun berteriak dengan bahasa sandi, "Mundur ke bukit!"

Perajurit-perajurit Manchu pun secara beranting menyampaikan perintah itu kepada teman-teman mereka, dengan bahasa sandi pula. Itu untuk menjaga siapa tahu ada perajurit jepang yang paham bahasa Cina, agar tetap tidak tahu tujuan pasukan Manchu.

Perajurit-perajurit Manchu yang masih berkuda maupun yang sudah kehilangan kuda serempak mendesak ke arah bukit. Biarpun mereka berpencar-pencar di seluruh arena, tapi karena berbareng mendesak ke satu arah, maka terasa juga akibatnya.

Seperti beras ditampi yang perlahan-lahan mengumpul di pinggir tampah, begitu pula mereka yang bertempur tiba tiba makin padat di kaki bukit, sementara di bagian lain justru semakin longggar. Tong Siau Beng tak bisa ikut mundur, sebab ia gugur oleh pedang Onoshi Yozen, sementara duel antara Hai Lun To dengan Sasuke Kanamori belum juga selesai. Tapi Hai Lun To harus bergeser searah dengan gerak pasukannya.

Pak Kiong Liong sudah mandi darah korban-korbannya, sebab ia dengan gigih berjuang mencarikan jalan bagi perajurit-perajuritnya, nyaris tidak mempedulikan keselamatannya serdiri. Tapi pasukan musuh berlapis-lapis tebalnya. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya ujung-ujung katana yang berjumlah ribuan, gelung-gelung rambut para samurai yang bertempur kesetanan, obor-obor dan bendera-bendera musuh.

Bendera Kerajaan Manchu yang bergambar naga itu sudah tak kelihatan lagi, kemungkinan besar si pembawa bendera sudah gugur dan benderanya sendiri terinjak injak oleh mereka yang sedang bertempur. Dalam keadaan seperti itu, Pak Kiong Liong mengertak gigi dan bertekad dalam hatinya, "Mungkin inilah pengabdian terakhirku kepada Kekaisaran. Biarpun aku harus mampus, harus kubunuh kaum penyerbu ini sebanyak-banyaknya,"

Dengan tekad macam itu, malah tenteramlah hati Pak Kiong Liong. la segera melompat turun dari kuda, karena medan pertempuran sudah demikian padat dan tidak memungkinkan lagi untuk pertempuran berkuda. la bertempur, sama gigihnya dengan perajurit-perajurit Manchu yang tidak kenal kata berhenti sebelum tubuh ambruk ditinggalkan nyawa.

Pak Kiong Liong melihat seorang perajurit Hui-Liong-kun sudah terbabat putus sepasang kakinya, tapi masih menggulingkan tubuh sambil membabatkan pedangnya. Perlawanan baru berakhir ketika sebatang tombak Jepang menyatukan tubuhnya dengan tanah berlapis salju.

"Maju terus, perajurit-perajurit perkasa!" teriak Pak Kiong Liong diluar kesadarannya. "Tunjukkan bagaimana Hui-Liong-kun bertempur sampai titik darah terakhir!"

Tanpa teriakan itupun perajurit-perajurit Hui-Liong-kun sudah berkelahi seperti kesurupan setan, apalagi setelah mendengar teriakan Pak Kiong Liong semangat merekapun menyala kian hebat. Tetapi Hai Lun To serta beberapa perwira yang pakaiannya sudah robek-robek dan berlumuran darah, rupanya bermaksud lain. Hai Lun To mendekati Pak Kiong Liong dan berkata,

"Goan-swe, kami boleh gugur di sini, tapi Goan-swe tidak boleh!"

Pak Kiong Liong membelalakkan mata mendengar ucapan i tu. "Kau bilang apa tadi?! Aku kau suruh kabur seperti anjing kena gebuk, meninggalkan perajurit-perajuritku menyabung nyawa sendiri ada sini?"

Hai Lun To menyahut, "Goan-swe, kalau Goan-swe nekad gugur di tempat ini, mungkin Goan-swe akan puas. Tapi dengan demikian Goan-swe telah melupakan satu hal yang lebih penting yang masih harus dikerjakan oleh orang hidup, bukan oleh orang mati."

"Apa?"

'Mendampingi dan mendukung Pangeran In Te merebut tahta yang kini di-kangkangi orang tak berhak yang dikeliling dorna-dorna penyebar fitnah. Pertimbangkanlah, Goan-swe. Kalah menang dalam pertempuran ini hanya setitik debu kecil dalam perjalanan panjang sejarah kekaisaran kita, tapi kalah menangnya Pangeran In Te dalam perebutan tahta akan berpengaruh sangat penting bagi masa depan kekaisaran. Goan-swe pilih yang mana?"

Ucapan Hai Lun To itu seperti seember air salju yang digebyurkan ke kepala Pak Kiong Liong yang tengah panas oleh api kemarahan. Memang tepat apa yang dikatakan Hai Lun To. Benar Pangeran In Te punya angkatan perang yang besar, namun menghadapi Kaisar Yong Ceng yang licin dan dibantu Liong Ke Toh yang kepalanya merupakan gudang akal bulus itu, maka Pangeran In Te pun membutuhkan pendamping yang juga punya otak. Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri? Tapi Pak Kiong Liong masih ragu-ragu, tidak tega meninggalkan perajurit-perajuritnya menyabung nyawa lanpa pimpinannya.

"Goan-swe, marilah kami kawal keluar dari neraka ini," desak Hai Lun To. "Kita memang sayangkan gugurnya perajurit-perajurit kita, tapi mereka akan gugur dengan terhormat dan penuh kebanggaan. Arwah mereka akan lebih kecewa kalau kekaisaran runtuh di tangan seorang Kaisar lalim."

Pak Kiong Liong mengangguk, meski pun hatinya bagaikan disayat. la harus lari meninggalkan gelanggang, sementara perajurit-perajuritnya menyongsong maut. Suatu tindakan yang baru sekali dilakukan dalam hidupnya. Dikawal Hai Lun To dan sekelompok perajurit yang benar-benar siap berkorban nyawa demi Pak Kiong Liong, Pak Kiong Liong menerobos keluar dari kepungan musuh yang berlapis-Iapis. Para pengawalnya roboh satu demi satu, namun sisanya terus bertarung seperti serigala kelaparan.

Pak Kiong Liong sendiri telah mengeluarkan llmu Hwe-liong Sin-kang yang disalurkan ke batang pedangnya, sehingga pedang itu nampak membara kemerah-merahan. Setiap serangannya bukan hanya membuat lawan roboh, tetapi juga hangus. Begitulah jenderal tua itu membuat pasukan musuh jadi gempar.

Untuk coba-coba memadamkan "neraka berjalan" itu, beberapa perajurit musuh dengan pikiran gampang-gampangan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan salju ke arah Pak Kiong Liong. Tetapi tiga atau empat langkah sebelum menyentuh kulit Pak Kiong Liong, gumpaIan salju sudah berubah menjadi uap air. Keruan para samurai dari negeri matahari terbit itu terlongong kaget melihat pameran ilmu semacam itu.

Gabungan antara ketinggian ilmu Pak Kiong Liong dan keadaan Hai Lun To serta sekelompok perwira yang inigin menyelamatkan Pak Kiong Liong, membuat rombongan kecil itu tiba juga di tebing sungai setelah melangkahi ratusan mayat musuh, Pak Kiong Liong sudah mandi keringat, rambut dan kumisnya yang putih sudah separuh merah terpercik darah dan awut-awutan. Sedang keadaan Hai Lun To lebih mengenaskan lagi, namun matanya memancarkan semangat yang menyala.

"Selamatkan perjuangan Pangeran In Te, Goan swe," kata Hai Lun To da-tar tanpa gejolak. "Mudah-mudahan kita masih bisa bertemu lagi."

Pak Kiong Liong sadar takkan melihat Hai Lun To dalam keadaan hidup lagi, digenggamnya tangan perwira itu erat-erat sambil berkata, "Aku mengharap kita bisa bertemu lagi..."

Biarpun bukan orang cengeng, toh detik itu Pak Kiong Liong harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata. Cepat ia rnemalingkan muka, lalu meIompat menyeberangi es beku dipermukaan Sungai Hek-liong. Beberapa perajurit musuh mencoba mengejar dan hanya menjadi makanan empuk Pak Kiong liong. Beberapa penembak membidik punggung Pak Kiong Liong, tetapi yang dibidik bergerak cepat seperti burung, menghilang di hutan cemara di seberang sungai dan membuat peluru-peluru hanya menghantam batang-batang pohon.

Sebelum melangkah lebih jauh, Pak Kiong Liong menyempatkan diri untuk menoleh dan melihat Hai Lun To terhuyung-huyung karena dibacok seorang prajurit Jepang, menyusul sebatang tombak menancap di punggungnya. Namun sebelum roboh, Ha i Lun To sempat melambaikan tangan kepada Pak Kiong Liong sambil tertawa lebar.

Seorang perajurit Jepang berkata kepada temannya, "Tadinya aku kira Bushide (semangat ksatria) hanya ada dikalangan kita, namun di daratan inipun kita temui orang-orang demikian."

Temannya mengangguk menyetujui sambil menatap mayat Hai Lun To yang tertelungkup dengan tangkai tombak masih tegak di punggungnya, "Sementara di antara kita sendiripun tidak semua samurai berwatak bushido, ada yang hanya pantas menjadi seorang eta (kasta paling rendah) meskipun resminya adalah samurai.."

Sementara itu Pak Kiong Liong semakin jauh dari gelanggang pertempuran biarpun kupingnya sayup-sayup masih menangkap suara riuhnya pertempuran di belakangnya. Sekali-sekaIi terdengar sorak-sorai perajurit Jepang yang khas, dan Pak Kiong Liong membayangkan perajurit-perajuritnya tentu sedang di bantai.

Jenderal tua itu melangkah cepat sampai matahari muncul di cakrawala timur. Betapa tangguh ilmu silatnya, namun dalam usia yang mendekati tujuh puluh tahun itu membuat tenaganya habis. Lebih-lebih ketegangan dan kesedihan hampir semalam suntuk juga ikut mempercepat habisnya daya tahannya. Langkahnya mulai terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh pingsan di pegunungan salju yang sunyi itu.

Pak Kiong Liong tak tahu berapa lama ia pingsan, hanya ketika matanya terbuka, iapun heran. Dirinya tidak terkapar di pegunungan dengan berselimut salju beku, tapi di atas pembaringan dan di bawah sehelai selimut hangat, biarpun selimut itu bertambal-tambaI dan berbau agak apek karena tuanya. la berada di lingkungan dinding-dinding dan atap yang terbuat dari batang-batang pohon cemara yang dikuliti, sebuah gubuk yang sederhana namun kokoh dan memberi kehangatan.

Di salah satu bagian dinding, bergantungan kuIit macam-macam binatang yang dikeringkan, peralatan dalam gubuk menunjukkan itulah kediaman seorang pemburu. Suasana gubuk itu melayangkan ingatan Pak Kiong Liong ke masa mudanya, namun di tempat yang berada di wilayah Hun-lam, ribuan mil dari tempatnya sekarang. Di gubuk di Hun-lam yang bercuaca panas lembab itulah la dulu bertemu dan bersahabat dengan Tong Lam Hou yang kini bahkan menjadi besannya.

Akankah klni aku menemui "Tong Lam Hou ke dua"? pikirnya. Mendadak dari luar gubuk terdengar suara kaki-kaki menglnjak salju dan juga percakapan beberapa orang. Suara-suara dari lelaki dewasa, perempuan dan seorang anak. Tentunya keluar ga penghuni gubuk itu. Pintu gubuk didorong dari luar dan muncul tiga orang sesuai dugaan Pak Kiong Liong.

Seorang lelaki tegap berusia empatpuluh tahun yang tubuhnya terbungkus pakaian bulu binatang tebal penahan dingin, begitu pula kepalanya dengan topi bulu. Yang perempuan juga berpakaian bulu tebal, tubuhnya agak tegap dan kasar karena sudah biasa bekerja di tengah alam yang kurang ramah, usianya sebaya dengan yang lelaki.

Sedanag dibelakangng mereka ada seorang bocah lelaki berusia kira-kira empatbelas tahun yang bermata lebar dan nampak berani. Ketiganya berpakaian dan bertampang orang suku Manchu asli, penduduk di wilayah timur laut itu.

Melihat Pak Kiong Liong sudah siuman dan setengah duduk di atas pernbaringannya, tiga orang itu cepat-cepat berlutut memberi hormat, sementara lelaki itu mewakili bicara pihaknya, "Kami sekeluarga mohon maaf karena telah lancang membawa tubuh Tai-jin (tuan pembesar) ke gubuk kami yang tidak layak ini. Hamba yang menemukan tubuh Tai-jin kemarin petang......"
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 05

Kemelut Tahta Naga I Jilid 05

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
“LAPORAN tentang bedil dan meriam itu agak membimbangkan panglima-panglima Hui- Liong-kun. Kata Tong Siau Beng, "Apakah kita mampu melawan ratusan pucuk bedil dan meriam mereka hanya dengan puluhan pucuk bedil di pihak kita? Apa tidak perlu menunggu pasukan induk Jenderal Ni yang pasti mengangkut bedil dan meriam yang cukup banyak pula?"

Sahut Pak Kiong Liong. "Pasukan Ni Keng Giau berjumlah besar dan berjalan kaki pula, tentu terlalu lama menunggu mereka. Aku khawatir Jepang akan sempat memperkuat mata rantai pertahanan sepanjang Sungai Hek- liong sehingga semakin kokoh kedudukan mereka."

"Lalu kita akan bertindak bagaimana?" tanya Hai Lun To.

"Nanti tengah malam, kita tinggalkan Jiat-ho dengan menyusur hutan cemara sepanjang Pegunungan Tiang-pek-san agar tidak tertangkap pengintaian musuh. Selanjutnya kita dekati Sungai Hek-liong dan kita akan melakukan serangan malam hari, menggempur perkemahan demi perkemahan mereka. Dalam serangan malam hari, apalagi kalau mendadak, bedil dan senapan mereka tak akan terlalu banyak berguna, bisa salah tembak mengenai teman sendiri."

Panglima-panglima bawahan Pak Kiong Liong mengangguk-angguk kepala mendengar siasat itu. Sekali lagi Pak Kiong Liong mengulanginya, dengan jari telunjuk menggores-gores peta yang digelar di atas meja. Hari itu, seluruh perajurit dan kuda serta perlengkapan dipersiapkan. Kemudian malam harinya, selagi seisi kota Jiat-ho tidur lelap, Pak Kiong Liong dan pasukannya justru menyelinap keluar kota.

Beberapa hari berikutnya, Pak Kiong Liong dan pasukannya menempuh perjalanan yang berat, bukan lewat jalan besar yang rata, melainkan lewat lereng- lereng Pegunungan Ti ang-pek-san yang berselimut salju. Tidak jarang para perajurit harus turun dari kuda dan menuntun kudanya. Istirahat dilakukan sekedarnya saja, sebab mereka ingin secepatnya tiba di sasaran.

Malam keempat, dari lereng Tiang-pek-san mereka melihat sebuah garis perak melingkar- lingkar di dataran rendah, memantulkan cahaya bulan dan bintang. Itulah Sungai Hek-liong yang permukaan airnya membeku menjadi es, begitu tebal lapisan es itu sehingga pasukan berkudapun dapat menyeberanginya dengan gampang.

Setelah menyuruh pasukannya beristirahat dan bersembunyi di hutan cemara Tiang-pek- san, Pak Kiong Liong sendirian memakai pakaian serba putih ringkas agar tidak gampang dilihat di dataran salju, mendekati cahaya kelap-kelip di tempat yang diduganya menjadi salah satu perkemahan musuh.

Dilihatnya di seberang sungai beku itu ada perkemahan diterangi beberapa puluh perapian. Melihat pakaian mereka, yakinlah Pak Klong Liong bahwa itulah pasukan Jepang, dan menghitung pucuk kemah yang berderet-deret, Pak Kiong Liong menduga jumlah musuh di situ kira-kira seimbang dengan pasukannya. Dengan serangan mendadak, keseimbangan itu akan tumbang.

Dengan gerakan secepat rase atau rusa saiju, Pak Kiong Liong kembali ke tempat pasukannya dan jatuhlah perin-tahnya, "Aku beri waktu sesulutan hio dupa ini untuk mengisi perut, ber- siap-siap dan beristirahat sejenak, setelah itu kita serbu mereka!"

Para perajurit segera menjalankan perintah. Makanan bekal mereka dimakan dingin-dingin saja, sebab mereka tidak berani menyalakan api, takut terlihat oleh musuh. Kemudian, ketika sebatang dupa sudah habis terbakar, perajurit-perajuritpun sudah siap dengan semangat berkobar.

Pak Kiong Liong puas melihat kesigapan perajurit-perajuritnya, hasil gembIengannya sendiri selama bertahun tahun. Perintah terakhirnya, "Kita akan berpacu secepatnya, menyeberangi dataran sempit antara hutan cemara dan Sungai Hek-liong, kemudian langsung serbu. Mereka punya bedil, kita harus berusaha jangan sampai menjadi sasaran bedil mereka, karena itu kita harus meynebar dalam serangan melebar. Paham?"

Perintah didengarkan oleh para Ji an-hu-thio (Pemimpin Seribu Perajurit), para Jian-hu-thio meneruskan kepada semua Pek-hu-thio (Pemimpin Seratus Perajurit) bawahannya , kemudian Pek hu-thio kepada Sip-hu-thio (Pemimpin Sepuluh Perajurit) dan para Sip-hu-thio kepada anggota regunya masing-masing. Dengan demikian, tanpa berisik seluruh perajurit sudah mendengar perintah dan siap menjalankannya.

Begitu Pak Kiong Liong memberi aba-aba dengan lambaian tangannya, dua-ribu limaratus kuda tegar dengan perajurit-perajurit bersemangat baja segera berderap bagaikan kilat ke arah perkemahan musuh. Suara derap pasukan berkuda itu seperti gempa yang melongsorkan salju dari pucuk-pucuk cemara.

Pasukan di perkemahan itu tidak menduga datangnya serangan di malam dingin itu. Sebagian dari mereka sedang berkerumun di sekitar api unggun sambil menghangatkan diri dengan sake, sebagian lagi meringkuk dalam kemah masing-masing sambil membungkus badan dengan selimut. Begitu merasa bumi bergetar dan mendengar teriakan perang perajurit-perajurit Manchu, mereka kaget, lalu sambil berteriak-teriak berlompatan mencari senjata mereka masing masing.

Detik berikutnya, perajurit-perajurit Manchu sudah menyerbu ke tengah-tengah perkemahan. Puluhan peluru bedil pasukan Manchu mendesing merobek udara dan merontokkan beberapa musuh. Tapi bedil-bedil kemudian harus disimpan di pelana kuda, karena tak sempat mengisi bubuk bedil dan pelurunya lagi, digantikan dengan tombak, pedang, kapak atau senjata-senjata lainnya.

Diatas kudanya, Pak Kiong Liong menerjang paling depan dan menyebar maut bagaikan sang dewa maut sendiri. Dari pihak pasukan Jepang juga melepaskan tembakan yang membuat beberapa perajurit Manchu terjungkal roboh dari kuda, namun tembakan-tembakan itu kurang terarah. Ada beberapa orang Eropa yang membantu pihak Jepang, menembakkan pula bedil-bedil mereka, namun setelah musuh di depan hidung, maka merekapun harus membela diri dengan pedang mereka.

Maka di pinggir Sungai Hek-liong-kang itupun berlangsung pertempuran sengit. Para samurai Jepang dibantu sejumlah kecil orang kulit putih, mencoba bertahan dengan gigih, tetapi karena kalah persiapan merekapun terdesak. Baik dalam pasukan Manchu maupun pasukan Jepang ada perajurit-perajurit berdarah Korea, namun berhadapan di medan pertempuran itu mereka tidak sungkan-sungkan lagi mengayunkan pedang atau tombak untuk saling membantai.

Satu keturunan ya satu keturunan, tapi karena seragam berbeda, ya apa boleh buat. Dalam pertempuran riuh tentu saja tak ada waktu untuk saling memperkenalkan diri seperti "aku teman saudara sepupu mu" atau "aku asal satu desa denganmu" atau "keponakan nenekmu adalah isteri pamanku" dan sebagainya. Yang ada ialah "kamu musuh dan aku harus menggorokmu!”

Beberapa perajurit Manchu sempat menyapukan pedang atau tombak ke arah api unggun, sehingga kayu-kayu menyala bertebaran, yang jatuh di kemah-kemahpun segera menyala membakar kemah, sehingga timbul kebakaran yang membuat arena pertempuran semakin terang-benderang. Sepotong kayu api jatuh di tenda penyimpanan bubuk bedil dan menimbulkan ledakan hebat. Ledakan yang "adil" sebab tidak memilih Jepang atau Manchu atau Korea atau Han atau Eropa, pokoknya yang berada di dekatnya segera terlempar hangus. Kuda juga tidak ketinggalan.

Para perajurit Jepang ternyata adalah manusia-manusia tangguh yang tidak gampang ditaklukkan. Begitu pula orang orang bule Eropa yang berpihak kepada mereka. Merekalah penakluk-penakluk samudera yang tangguh, badai dan gelombang dahsyat di samudera pernah mereka tantang, pertempuran dahsyat di lautan maupun di berbagai benua pernah mereka jalani, karena itu merekapun manusia gemblengan yang tak gampang menyerah. Meskipun mereka bertempur di pihak Jepang bukan karena rasa kebangsaan, melainkan hanya karena uang.

Perajurit-perajurit Jepang dengan tombak atau pedang mereka kemudian mencoba menyabet kuda-kuda tunggangan para perajurit Manchu. Sebagian berhasil, sebagian lagi gagal. Kemudian beberapa orang lagi dengan keberanian luar biasa mencoba memeluk kaki perajurit Manchu untuk diseret turun dari kuda, Pak Kiong Liong malang-melintang di arena pertempuran, membuat pasukan musuh morat-marit.

Perajurit-perajurit Jepang tidak lagi berani mendekatinya, melainkan hanya menyerang dari kejauhan dengan lembing dan panah. Bedil tak bisa digunakan lagi kecuali sebagai tongkat pemukul, karena tak ada yang sempat mengisinya setelah ditembakkan satu kali.

Betapapun gigihnya musuh, tapi pasukan Manchu semakin lama semakin menguasai arena, Pak Kiong Liong sempat mengamat- amati jalannya pertempuran, dan tersenyum sendiri melihat keunggulan pihaknya. la sempat melihat bagaimana orang Jepang dan orang Eropa di pihak mereka memperagakan dua jenis iImu pedang yang berbeda.

Orang Jepang memegang “katana" (pedang panjang) mereka dengan dua tangan, memainkan gerak-gerak pedang yang nyaris seluruhnya terdiri dari gerakan menabas, hampir-hampir tak ada gerak tusukannya,

Sedang orang-orang Eropa dengan pedang berbentuk sempit dan runcing, dengan pelindung tangan berbentuk tempurung, memainkan ilmu pedang yang hanya kenal menikam secepat patukan ular, nyaris tidak ada gerak menabas, Dua jenis ilmu pedang yang bertolak belakang gayanya dari dua benua, namun sama-sama berbahaya karena digerakkan oleh tangan-tangan yang mahir.

Tengah Pak Kiong Liong mengamati pertempuran, tiba-tiba dari sampingnya menyambarlah seleret cahaya tajam dingin ke lehernya, disertai bentakan geram. Cepat Pak Kiong Liong menangkis dengan pedangnya, dan terasa betapa kuatnya tangan-tangan yang memegang tangkai pedang itu.

Penyerangnya adalah seorang Jepang bertubuh kekar dan beralis tebal, memakai kimono coklat seperti perajurit-perajurit lainnya, namun di dada kirinya bersulam bunga berkelopak lima yang agaknya merupakan tanda pangkatnya. Menilik kecepatan dan kekuatan ayunan pedangnya tadi, agaknya orang ini tak bisa dipandang remeh. Selain pedang panjang di tangannya, dipinggangnya masih terselip sebatang pedang pendek.

Orang itu menuding-nudingkan pedangnya sambil mengucapkan kata-kata asing yang nadanya seperti orang bertengkar. Tapi Pak Kiong Liong paham bahwa orang itu menantangnya agar turun dari kuda dan berduel dengannya. Sebelum Pak Kiong Liong meladeni tantangan itu, dari samping tel ah terdengar suara seseorang, "Serankan kepadaku, Goan-swe!"

Yang berkata itu ada Hai Lun To, orang Mongol yang langsung melompat turun dari kuda dan menghunus pedangnya yang melengkung seperti bulan sabit, pedang khas orang Mongol. Dengan bahasa isyarat, Hai Lun To menyatakan sanggup meladeni tantangan samurai itu.

Orang Jepang itu adalah perwira bawahan Hirosaki Takashima yang bernama Obata Zukimoto, pemain Kenjitsu (seni pedang) paling ulung dari Kyushu. Tanpa banyak bicara lagi, pedangnya mendesing dengan kekuatan hebat ke arah kepala Hai Lun To. Biarpun tubuhnya lebih pendek dan kecil dari lawannya, tapi Hai Lun To berjulukan Thai-lek-siau-him yang menggambarkan kekuatannya. Tanpa kenal takut, goloknya dipalangkan ke atas untuk menangkis secara kekerasan, lalu kakinya meluncur menendang lambung lawannya.

Tangkas sekali Obata melangkah berputar, sambil sabetkan pedangnya mendatar. Hai Lun To melompat tinggi dan balas membacok kepala. Begitulah keduanya terlibat pertarungan sengit, masing-masing agaknya mendapatkan lawan seimbang.

Tapi keseimbangan itu tidak mewakili pertempuran antara kedua pasukan. Pasukan Jepang terdesak semakin hebat, mereka melawan terus sampai berguguran satu demi satu meskipun diserukan untuk menyerah. Beberapa perwira Hui-liong-kun yang sedikit banyak paham bahasa Jepang dan selalu meneriakkan "Menyerahlah", hasilnya bukan seperti yang diharapkan, malah kepala perwira itu nyaris terbabat pedang seorang perajurit musuh yang kalap.

Pasukan Jepang ternyata bertempur sampai orang yang penghabisan, sehingga tepian Sungai Hek-liong itu penuh bertaburan ribuan mayat. Maka pertempuranpun selesai, yang belum selesai adalah duel Hai-Lun To dan Obata, bahkan semakin sengit. Ribuan kali pedang mereka berbenturan keras sampai memercikkan bunga api, tanpa penentuan siapa bakal menang dan kalah.

Tapi ketika Obata mengetahui pasukannya sudah habis, timbullah kecemasannya. Bukan cemas untuk mati, tapi justru cemas kalau tidak bisa mati. Kalau sampai ia ditawan dan dilucuti, alangkah memalukan kehormatannya sebagai seorang samurai terhormat, sedang kalau mati terhormat arwahnya akan segera menempati Kuil Yasakuni, tempat terhormat bagi arwah para perajurit yang mati terhormat pula.

Demikian kepercayaan kaum samurai yang membuat mereka memandang kematian seenaknya saja. Ketika melihat Pak Kiong Liong dan perajurit-perajurit Hui-liong-kun lainnya sudah berdiri mengelilingi arena, Obata semakin cemas. la meneriakkan beberapa patah bahasa Jepang.

Perwira yang bisa berbahasa Jepang lalu menterjermahkan untuk Pak Kiong Liong, "Goan-swe, orang ini minta untuk diijinkan mati secara terhormat, secara seorang Bushi Tenno (samurai Kaisar), dan ia akan sangat berterima kasih kepada kita."

"Bagaimana kalau kita tangkap hidup-hidup saja?" tanya Pak Kiong Liong.

Si penterjemah terdiam sejenak, lalu menjawab, “Itu bisa saja kita lakukan, tapi akan merupakan hinaan seumur hidup baginya. Mereka percaya, arwah mereka kelak tidak akan menghuni Kuil Yasakuni dan tidak bisa lahir kembali...”

"Mati terhormat bagaimana yang dia inginkan?"

"Melakukan harakiri, merobek perut sendiri dengan pedang pendeknya itu."

"Baiknya kita kabulkan atau tidak?"

"Terserah Goan-swe."

"Bagaimana kalau dia kita bebas-kan, tidak kita tangkap dan tidak kita hina?"

"la akan tetap melakukan harakiri di hadapan Jenderalnya, karena merasa gagal menjalankan tugasnya."

Pak Kiong Liong sendiri seorang ksatria Manchu yang lebih suka gugur daripada terhina, sehingga diapun bisa merasakan apa yang dirasakan Obata. Meskipun bagi dirinya, cara menebus malu dengan merobek perut itu kelihatan rada tolol, tapi kalau yang akan melakukannya sendiri merasa bangga dan terhormat, apa mau dikata?

Akhirnya Pak Kiong Liong menyuruh Hai Lun To mundur dari arena. Obata tidak memburunya, tapi membungkuk hormat kepada Pak Kiong Liong dan mengucapkan beberapa patah kata lagi.

Si Perwira penterjemah segera menyalin kata-katanya ke dalam bahasa Manchu, "Dia sangat berterima kasih kepada Goan-swe, dan ingin mengetahui nama dan kedudukan Goan-swe."

Pak Kiong l long menyebutkannya. Si penterjemah menyalin, Obata berkata-kata lagi, dan si penterjemah berkata kepada Pak Kiong Liong, "Dia merasa terhormat dikalahkan oleh Si Naga Utara (julukan Pak Kiong Liong) yang dikenal sampai ke Jepang. Tapi ia akan tetap melakukan harakiri demi tanggung-jawab kepada Jenderal Hirosaki dan negerinya. Dia juga akan berterima kasih sekali kalau Goan-swe bersedia menjadi Kaishakunin baginya."

"Apa itu kai... kai-sam... apa itu?" tanya Pak Kiong Liong.

Si perwira menerangkan, "Di saat seorang samurai melakukan harakiri, sering ia merasa amat kesakitan namun tidak segera mati. Saat itulah seorang Kaishakunin mengakhiri penderitaanya dengan jalan menebas lehernya."

Pak Kiong Liong mengerutkan alis mendengar permintaan yang terasa aneh itu. Katanya, "Katakan kepadanya, seorang ksatria Kekaisaran Manchu yang agung tidak sudi membunuh seorang Iawan yang tidak melawan."

Perwira Hui-Liong-kun itu menterjemahkannya untuk Obata, dan Obata nampak kecewa sekali wajahnya. la berkata lagi, di salin oleh si perwira Hui-liong-kun, "Membantu seorang samurai melakukan harakiri bukanlah tindakan hina, tetapi membantu sesama ksatria menuntaskan kewajiban alas tugasnya.”

Kata-kata "sesama ksatria" mendapat tekanan suara, sehingga mengesankan bahwa Obata juga menghormati Pak Kiong Liong sebagai ksatria, biarpun dengan adat yang berbeda. Sinar mata Obata penuh permohonan menatap Pak Kiong Liong. Akhirnya Pak Kiong menganggukkan kepalanya. Obata membungkuk hormat untuk menyatakan terima kasih, lalu upacara yang mencekam itu dimulai.

Pertempuran rupanya hampir berlangsung semalam suntuk, sehingga saat itu fajar sudah terbit di ufuk timur. Obata berlutut ke arah matahari, Sang Amaterasu Omikami, juga kearah negeri dan kaisarnya. Pedang panjangnya dimasukkan sarung dan dengan dua tangan di letakkan dia tas salju di depannya, kemudian dengan dua telapak tangan menekan tanah, ia bersujud sampai jidatnya mengenai salju.

Dibukanya baju bagian atasnya sehingga tampak ototnya yang kokoh gempal, pedang pendek dihunus dipegang tangkainya dengan kedua belah tangan, lalu ditikamkan ke perutnya sebelah kiri. Ia menggunakan cara bunuh diri yang disebut “Ichimonji” yaitu dari kiri perut pedangnya merobek lebar, darah yang memancar langsung membeku disalju. Seringai kesakitan mulai mewarnai wajahnya.

Saat itulah si pewira penterjemah membisiki Pak Kion Liong, “Sekarang, Goan-Swe!”

Pak Kiong Liong melangkah maju dan mengayun pedangnya. Kepala Obata menggelundung cepat. Pak Kiong Liong sempat melihat senyum kebanggaan mekar dibibir Obata. Ia menyongsong maut dengan penuh kebanggaan, tanpa rasa takut sedikitpun.

Pak Kiong Liong segera membawa pasukannya meninggalkan bekas ajang pertempuran itu. Ia tahu, pasukan Jepang yang mendarat di Liao-tong itu berjumlah amat besar, perkemahan yang hancur itu sebagian kecil dari musuh, kalau tidak segera meninggalkan tempat itu maka akan terkepung musuh yang bertebaran sepanjang tepian sungai Hek-Liong.

Alam untuk sementara memihak pasukan Machu, sebab begitu mereka pergi, salju yang lembut turun kebumi untuk menutupi jejak arah perginya pasukan itu. Pasukan Jepang yang kemudian datang ketempat itu hanya menemui perkemahan yang hancur, mayat teman-teman mereka bergelimpangan bercampur perajurit-perajurit Manchu yang gugur. Sementara berpuluh-puluh pucuk bedil telah dibawa pasukan Manchu beserta peluru-peluru dan obat peledaknya sekalian.

Pak Kiong Liong dan pasukannya pun tiba kembali di hutan cemara yang merupakan persembunyian bagus itu. Setelah beristirahat sehari, Pak Kiong Liong kemudian memimpin pasukannya untuk menyusur ke arah selatan. Angin yang dingin mengiris kulit merupakan musuh tersendiri yang harus dilawan, untunglah bahwa pohon-pohon cemara dapat sedikit memberi perlindungan kepada perajurit-perajurit Manchu itu.

Kira-kira 100 li ke selatan, kembali nampak perkemahan pasukan Jepang yang digelar di sebuah dataran di lereng bukit. Masih di pinggir Sungai Hek-liong. Merekalah sebagian kecil dari ratusan ribu samurai yang dikerahkan ke garis depan untuk memenuhi ambisi Shogun mereka menguasai daratan Cina.

Dalam memeriksa kekuatan musuh Pak Kiong Liong melakukan sendiri dan tidak menyuruh pengintainya. Diam-diam ia merambat bukit dari belakang perkemahan musuh, dan meiihat keadaan di perkemahan itu. Taksirannya, kekuatan musuh di perkemahan itu lebih kuat dari yang telah dihancurkan lebih duIu.

Bukan saja nampak perajurit-perajurit bayaran berkulit putih yang hilir mudik, tapi juga nampak beberapa buah meriam yang menghadap ke berbagai arah di seputar perkemahan itu. Nampak Pak Kiong Liong membuat perhitungan sendiri dan merasa yakin pasukannya masih mampu menghancurkan perkemahan ini, asal dengan perhitungan yang tepat.

Setelah kembali kepada pasukannya, Pak Kiong Liong mengumpulkan ketiga pangl imanya dan berkata, "Meriam-meriam itu memang berbahaya, tapi asal kita menyergap pada arah yang tidak menghadap moncong meriam, rasanya cukup aman. Meriam itu berat, butuh tenaga dan waktu untuk memutar-mutar arahnya, sementara kita dengan kecepatan kuda-kuda kita akan langsung menyerang ke tengah-tengah mereka dan memaksa bertempur jarak dekat."

Ketiga panglimanya mengangguk-angguk mengerti, sementara Pak Kiong Liong meneruskan, "Pasukan kita akan kubagi dua. Separuh aku pimpin sendiri untuk menerjang dari lereng bukit, separuh lagi dipimpin Tong Siau langsung menerjang menyeberangi sungai yang beku itu . Tapi aku perintahkan Tong Siau Beng agak menyerong ke selatan sedikit, supaya tidak langsung menghadapi moncong meriam-meriam di tebing sungai. Paham?"

Tong Siau Beng, Hai Lun To dan Ki Peng Lam menyatakan paham semua. Seluruh pasukan segera diberitahu agar bersiap-siap untuk serangan malam nanti. Apa yang tidak diketahui Pak Kiong Liong ialah bahwa Ki Peng Lam, panglima kepercayaannya itu, adaiah seorang musuh dalam selimut. Sejak Kaisar Khong Hi wafat dan Kaisar Yong Ceng menggantikannya, maka Ki Peng Lam menganggap Pangeran In Te tidak ada lagi gunanya didukung habis-habisan, peluangnya paling tidak sudah hilang separuh.

Saat itu Ki Peng Lam sudah mulai masuk jerat Ni Keng Giau. Keikutsertaannya ke medan perang Liao-tong kali inipun mengemban tugas rahasia dari Ni Keng Giau agar menjerumuskan Pak Kiong Liong ke dalam bencana, dengan meminjam tangan orang-orang Jepang kalau berhasil, Ni Keng Giau sudah berjanji akan membujuk Kaisar agar angkat Ki Peng Lam sebagai Panglima Hui-Liong-kun, menggantikan Pak Kiong Liong.

Ketika hari mulai gelap dan seluruh pasukan sedang beristirahat untuk mengumpulkan tenaga untuk serangan malam nanti, Ki Peng Lam justru sedang memutar otak bagaimana membocorkan rencana itu ke pihak musuh agar Pak Kiong Liong terjebak dan mampus. Diam-diam rencana Pak Kiong Liong itu ditulis terinci di atas sehelai kertas, diberi denah pula arah serangannya, lalu diam diam ditinggalkannya pasukannya tanpa diketahui siapapun.

la berjulukan Tu-hong-kak, si Kaki Pemburu Angin, menandakan keunggulan ilmu meringankan tubuhnya. Di bantu selubung malam, tidak sulit ia menyeberangi sungai beku dan mendekati perkemahan musuh dari arah lereng bukit. Ketika melihat sekelompok perajurit Jepang meronda di kaki bukit, cepat Ki Peng Lam melemparkan gulungan kertas yang sudah disiapkan-nya, kemudian ia sendiri kabur dengan gerakan kilat ke atas bukit.

Para perajurit Jepang itu terkejut, sebagian berusaha mengejar tapi kalah cepat, sebagian lagi membuka gulungan kertas dan melihat isinya. Ketika gulungan kertas itu kemudian diserahkan kepada pemimpin perkemahan yang bernama Onoshi, isi gulungan dengan mudah dipahami, karena huruf Cina dan Jepang hampir sepenuhnya sama kecuali pengucapannya berbeda. Apalagi karena da lam “surat kaleng" itu ada pula gambaran-gambaran kasar yang mempermudah pemahaman.

Tetapi Onoshi Yozen tidak menelan mentah-mentah perkara itu demikian saja, disuruhnya seorang pengawalnya untuk memanggil Sasuke Kanamori, perwira pembantunya yang agak paham sejarah dan kebudayaan Cina. Ketika Sasuke sudah menghadap, keduanyapun memperbincangkan surat gelap itu. Sambil membeber kertas kiriman Ki Peng Lam itu di atas tatami (tikar) dalam kemahnya, Onoshi berkata,

"Bagaimana pendapatmu tentang ini? Peronda kita mendapatkannya karena dilempar oleh seseorang yang nampaknya adalah prajurit Cina, sebab ada kuncir panjang di kepalanya."

Sasuke seorang yang bertubuh kurus jangkung, bermata tajam dan pendiam. Kedua tangannya nampak kokoh biarpun kurus, karena ia adalah ahli dalam Kyujutsu (ilmu memanah) serta Yarijit-su (ilmu tombak) yang disegani di propinsi asalnya. Dengan matanya yang seperti mata alap-alap itu Sasuke memperhatikan coretan-coretan di atas kertas, kemudian berkata dengan nada datar dan dingin sesuai kebiasaannya,

"Agaknya dalam pasukan Cina sendiri ada seorang pengkhianat. Ada baiknya kita bersiap-siap, berdasar keterangan ini, supaya kita tidak mengalami nasib seperti perkemahan Obata tempo hari."

"Bagaimana kalau keterangan ini hanya tipuan musuh agar kita salah langkah?"

"Aku pikir tidak. Kalau tidak ada keterangan ini, bahkan kita belum tahu bahwa musuh sudah ada di muka hidung kita. Jadi buat apa mereka mengirim kertas ini untuk membuat kita bersiaga? Bukankah lebih menguntungkan bagi mereka kalau menyerang mendadak? Tentu dalam pasukan Cina itu ada seorang pengkhianat yang mungkin menginginkan kehancuran teman-temannya sendiri."

"Kira-kira untuk tujuan apa?"

Jawaban Sasuke mantap, seperti seorang guru sejarah di depan murid-muridnya. "Karena persaingan antar suku. Dalam pasukan Cina ada orang dari suku suku Manchu, Mongol, Han, Sehe, Hui, Liao, Korea dan sebagainya. Yang berkuasa di tahta sekarang adalah orang Manchu, kemungkinan membuat iri orang-orang suku lain dan si pengkhianat ini sengaja merusak rencana penyerangan dengan membocorkannya kepada kita."

"Orang suku apa yang paling membenci orang Manchu?"

"Orang Han. Mereka menganggap diri suku paling berbudaya, paling cerdas, paling beradab dan memandang rendah suku-suku lain. Tapi pemerintahan justru dijalankan orang Manchu, sehingga banyak orang Han menentang pemerintahan. Terang-terangan atau diam-diam. Pengirim kertas ini kemungkinan besar seorang perajurit Cina dari suku Han yang tidak senang kepada Pak Kiong Liong yang berdarah Manchu."

Onoshi menyeringai. "Seperti negeri kita, ya? Sudah satu abad lebih Dinasti Tokugawa memerintah, tapi sisa-sisa keturunan atau pengikut Hideyoshi Toyotomi masih saja bermimpi ingin membangun kejayaan mereka di Osaka. Orang-orang Kyushu juga mulai diragukan kepatuhannya kepada Shogun, gara-gara mereka telah memeluk agama baru itu."

Sasuke tahu diri, sebagai sekedar seorang perwira pelaksana perintah, lebih baik tidak usah usil mulut membicarakan hal yang peka itu. Maka ia diam saja. Sementara Onoshi berkata, "Siapkan pasukan kita tapi dengan cara tidak menyolok, supaya musuh mengira kita tetap lengah. Geser meriam-meriam menghadap lereng bukit dan tepi sungai. Ingat jangan menyolok."

"Baik."

"Meriam-meriam biar ditangani setan-setan bule itu. Mereka mahir menggunakannya, bahkan dalam pertempuran di laut.”

"Baik” sahut Sasuke sambil berlutut sampai jidatnya mengenai tanah, kemudian melangkah meninggalkan kemah itu.

Tengah malam tiba, itulah saat penyerangan yang direncanakan Pak Kiong Liong. Sesuai dengan rencana, pasukan bagi dua. Pak Kiong Liong yang rambutnya sudah putih semua itu akan memimpin penyerangan dari lereng bukit setelah memotong Sungai Hek-liong agak keutara. Tong Siau Beng dengan separuh pasukan lainnya akan langsung menyergap menyeberangi sungai yang beku itu.

Begitu tangan Pak Kiong Liong melambaikan isyarat, gemuruhlah derap kaki kuda dari perajurit-perajurit Hui-Liong-kun yang bergerak meyerang musuh. Setelah menyeberangi sungai Hek-liong agak ke utara, Pak Kiong Liong membelokkan pasukannya melintasi dan langsung menyerbu ke perkemahan musuh. Pak Kiong Long didampingi perajurit-perajuritnya yang bersenjata bedil berkuda pada lapisan depan.

Biarpun sudah ada bedil, panah dan lembing tetap disiapkan juga, meskipun kalah ampuh dari bedil namun bisa dilontarkan berturut-turut. Sedang bedil setiap kali ditembakkan sekali akan makan waktu untuk mengisinya lagi. Mengira pihak musuh belum siap, perajurit-perajurit Hui-Liong-kun bersorak-sorai penuh semangat, yakin akan mengulangi kemenangan yang dulu.

Namun kemudian sambutan dari perkemahan musuh ternyata amat mengejutkan. Terdengar gelegar hebat berturut-turut sebab meriam-meriam mulai "bicara" pula. Lereng bukit yang sedang dilintasi pasukan Manchu itu tanahnya bagaikan berledakan karena dihantam bola-bola besi dengan kecepatan dan kekuatan tinggi. Tanah campur salju muncrat berhamburan, beberapa perajurit sekalian kuda tunggangannya terlempar dan terbanting.

Robohnya kuda yang di depan membuat kuda di belakangnya tersandung kakinya dan roboh pula. Teriakan kaget dan kesakitan para perajurit bercampur aduk dengan ringkik kuda-kuda yang meronta-ronta sekarat. Keadaan semakin kacau dan menghambat. Karena meriam-meriam musuh masih saja berdentum dan menuntut korban lebih banyak lagi.

Di tengah keributan itu Pak Ki-ong Liong dengan gemas terus memacu kudanya ke kaki bukit sambiI berteriak. "Maju terus! Mundurpun punggung kita akan digempur dari belakang, lebih baik diajak musuh bertarung jarak dekat!"

Perajurit-perajurit Hui-Liong kun memang terkenal bernyali besar semua, dalam kekacauan seperti itu, barisan belakang terus maju ke depan bersama Pak Kiong Liong. Yang bersenjata bedil membalas menembak ke arah musuh, lainnya melempar-lemparkan lembing atau memanah, sambil tetap berkuda.

Ternyata pasukan Jepang tidak kocar-kacir seperti di perkemahan Obata dulu, melainkan menyambut serbuan pasukan Manchu dengan persiapan yang matang. Ketika meriam-meriam tak sempat diisi lagi, muncul sepasukan perajurit Jepang bersenjata bedil, membidik sambil berjongkok berderet. Dengan sebuah aba-aba dari pemimpin regu, belasan bedil meletus serempak dan belasan pasukan Manchu yang paling depanpun terjungkal roboh. Bagi Pak Kiong Liong yang berilmu tinggi, peluru-peluru itu bisa ditangkis dengan pedangnya yang diputar rapat. Namun perajurit-perajuritnya tentu saja tak sanggup menirukannya sehingga banyak yang menjadi korban peluru.

Meskipun bedil abad delapan belas itu cuma dapat ditembakkan sekali dan harus segera diisi kembali, namun ternyata pasukan Jepang punya cara untuk menembak terus menerus. Perajurit perajurit di deretan depan, sehabis menembak segera mundur ke deretan belakang untuk mengisi obat dan peluru. Tempatnya digantikan perajurit-perajurit deretan kedua, yang setelah menembak digantikan deretan ketiga, dan seterusnya.

Saat lapisan ketiga selesai menembak dan mundur ke belakang, lapisan yang pertama tadi sudah siap kembali terisi. Demikian rapi kerjasama ini sehingga tembakan dapat bersambung terus. Itulah cara bertempur gaya Eropa yang dipelajari oleh Jepang, selain cara bertempur ajaran leluhurnya sendiri.

Orang Jepang pertama kali mengenal bedil tahun 1543, diperkenalkan oleh orang-orang Portugis. Bedil waktu itu belum ada pelatuknya, untuk menembakkannya harus menyulut sumbu di pangkal larasnya sehingga tak ubahnya meriam. Oleh kasta samurai (perajurit), senjata itu dianggap merendahkan derajat mereka, sehingga yang dipersenjatai bedil hanyalah perajurit-perajuri keturunan orang biasa, bukan keluarga samurai yang bersiteguh menggunakan pedang atau tombak.

Tahun 1575 meletus Perang Nagashino, dimana Oda Nobunaga, Gubernur Owari, menaklukkan gubernur-gubernur lain dan menyatukan Jepang. Saat itu Oda Nobunaga mematahkan anggapan bahwa orang samurai yang bersenjata bedil adalah hina, ia justru mewajibkan semua samurainya berlatih menembak disamping main pedang atau tombak, sehingga keluarlah Oda Nobunaga sebagai pemenang dalam Perang Nagashiro. Sejak itu, bedil adalah bagian dari persenjataan perajurit Jepang, disamping pedang atau tombak.

Belum sampai pasukan Manchu berhasil menerjang perkemahan pasukan Jepang, korban yang jatuh sudah banyak sekali. Semakin dekat dengan perkemahan, perajurit-perajurit Jepang lainnya juga mulai memanah dan melontarkan lembing-lembing. Tapi sebagian dari pasukan Manchu berhasil juga menerjang ke perkemahan dan dengan garang menyambar-nyambarkan kuda mereka sambil mengayun-ayunkan pedang.

Perajurit-perajurit Jepangpun harus meletakkan bedil-bedil atau panah-panah mereka dan menghunus pedang atau, tombak mereka untuk menyambut musuh. Pertempuranpun berkobar di sisi perkemahan yang menghadap lereng bukit, perajurit-perajurit Jepang melawan dengan teratur, dibantu perajurit-perajurit bayaran berkulit putih yang jumlahnya tak seberapa namun merupakan ahli-ahli perang yang tangguh juga.

Sebenarnya perajurit-perajurit Jepang yang berjalan kaki itu agak repot juga menghadapi perajurit-perajurit Manchu yang tangkas dalam pertempuran berkuda, untung bagi rnereka bahwa jumlah perajurit Manchu sudah banyak berkurang karena tersambar peluru-peluru bedil tadi. Perajurit-perajurit Jepang tidak jarang berhasil menyabet kaki kuda perajurit Manchu dengan tombak mereka, sehingga musuh jatuh berguling dan terpaksa bertempur di atas tanah.

Kini yang terdengar adalah gemerincing pedang dan tombak yang beradu namun sekaIi-sekali masih terdengar letusan bedil juga. Bercampur derap kuda dengan atau tanpa penumpang yang meringkik-ringkik dengan ribut, dan sumpah serapah ribuan manusia peperangan yang saling bantai dengan kalapnya. Makian "bangsat", "anjing" atau "mampus" terdengar riuh rendah dalam berbagai bahasa, sehingga arena itu mirip juga dengan kontes mencaci-maki antar bangsa.

Pak Kiong Liong yang marah karena telah kehilangan banyak anak buah, mengamuk seperti malaikat maut yang sedang mencari tambahan penduduk neraka. Tiap ia menerjangkan kudanya sambil mengayunkan pedangnya kearah kerumunan perajurit musuh, tentu beberapa musuh roboh atau menggelinding kepalanya.

Beberapa perajurit Jepang mencoba menyabet kaki kuda si Jenderal tua itu, namun bukan saja gagal, malahan nyawa merekapun "dimangsa" pedang Pak Kiong Liong. Rambut, kumis dan jenggot Pak Kiong Liong yang putih itu sudah terpercik beberapa titik darah. Bukan darah nya sendiri, melainkan darah korban korbannya.

Dari pihak pasukan Jepang muncul seorang lelaki kurus jangkung bersenjata tombak panjang. Dengan ganas orang ini mengamuk di arena dengan jurus-jurus tombaknya yang secepat kilat, setiap kali membuat perajurit Manchu roboh dengan leher, dada, perut atau punggung yang berlubang. Kadang kadang tubuhnya melambung untuk menyerang korbannya dari atas, dan jarang gagal. Itulah Sasuke Kanamori, si ahli Varijitsu yang kini menunjukkan kehebatan ilmunya. Sekejap saja belasan perajurit Hui-Liong-kun sudah menjadi korban tombaknya.

Melihat itu, Hai Lun To yang bertubuh kecil namun bertenaga raksasa itu segera melompat turun dari kudanya, dengan memegang erat golok lengkung bulan-sabitnya, ia langsung menghadang Sasuke. Kedua orang itu saling berpandangan dengan tajam, masing-masing diperingatkan oleh naluri kependekaran mereka bahwa lawan ampuh sudah di depan mata.

Sasuke membuka pertarungan dengan patukan ujung tombak secepat ular. Ketika Hai Lun To menghindar ke samping, ujung tombakpun mengikutinya dengan ketat, dimainkan dengan tangkas oleh sepasang tangan yang kurus-kurus namun kokoh itu.

"Hebat!" desis Hai Lun To. Goloknya yang ukuran panjangnya cuma sepertiga tombak lawan, dipukulkan ke batang tombak kemudian berguling merapat untuk membabat sepasang kaki Sasuke. Sasuke melompat tinggi sambil mematukkan tombaknya ke bawah, Hai Lun To menggeliat bangun dan melompat tinggi pula untuk membabat jidat lawan.

Pertarungan kedua orang itupun semakin sengit. Sasuke Kanamori tidak sekuat Hai Lun To, namun langkah kakinya selincah kijang dan patukan tombaknya segencar hujan gerimis. Lawannya adalah Hai Lun To yang putaran goloknya bagaikan perisai besi rapatnya dan sekali waktu menggulung ke depan bagaikan gelombang samudera. Untuk sementara, sulit diramalkan siapa yang bakalan unggul.

Sementara itu, dari arah lain Tong Siau Beng memimpin separuh pasukannya untuk menyerbu dengan menyeberangi Sungai Hek-Liong yang permukaannya membeku keras dan tebal itu. Tetapi, baru saja ia dan pasukannya sampai di tengah-tengah sungai, meriam-meriam musuh sudah menggelegar. Tong Siau Beng terkejut, sebab bukankah dalam perhitungan semula, arah yang disebutnya itu tidak langsung menghadapi meriam? Apakah musuh mengubah letak meriam-meriamnya?

Bola-bola besi dari mulut meriam itu tidak ditembakkan langsung kearah pasukan Manchu, melainkan ke permukaan Sungai Hek-Liong yang berlapis es. Lapisan es itu sebenarnya cukup tebal dan kuat biarpun dilalui sebuah pasukan berkuda, namun setelah dihantam bertubi-tubi dengan peluru meriam, timbullah retakan di permukaannya.

Ditambah beban ratusan perajurit berkuda yang tengah menyeberang, retakan es itu makin lebar dan akhirnya amblong, puluhan prajurit berkuda Manchu sekaligus terjerumus ke dalam sungai bersama kuda-kuda*tunggangan mereka. Lapisan es beku yang tadinya menjadi "pembantu" pasukan Manchu untuk dapat menyerang musuh, kini berubah menjadi "musuh' yang dahsyat.

Meskipun permukaan sungai membeku, tapi di bawahnya tetap ada aliran air yang deras. Para prajurit yang terjeblos segera terseret arus dan baru akan muncul kembali di muara Sungai Hek-liong di Laut Po-hai yang jaraknya ratusan mil dari situ, sebab di musim dingin Sungai Hek-liong seperti sebuah pipa raksasa tanpa lubang sedikitpun di sepanjang “pipa".

Dan perajurit-perajurit yang terseret arus itu ibarat lalat-lalat yang tak berdaya melawan kekuatan alam, betapapun mereka tergembleng keras. Mereka pasti mati, sebab mana ada manusia sanggup tidak bernapas dalam air sepanjang ratusan mil? Sedang air sungai yang amat dingin itu pun sudah merupakan pembunuh yang perkasa.

Perajurit-perajurit di belakang yang terperosok itu dengan kaget berhasil menghentikan lari kuda mereka agar tidak ikut terjeblos pula. Sebagian tetap nyemplung menyusul teman-temannya, sebagian lagi berhasil menghentikan kuda. Tapi yang dapat berhenti itupun dilanda oleh barisan belakangnya yang tidak menduga kalau teman-teman didepan berhenti secara mendadak. Kembali puluhan perajurit menyusul terjun ke arus sungai sambil menjerit ngeri, karena terjanjur terdorong dari belakang.

Ringkik kuda yang timbul tenggelam di arus sungai sebelum menghilang terseret arus menambah girisnya suasana. Beberapa perajurit bisa berenang secara mati-matian sampai ke tepian dan ditarik dibantu teman-teman mereka di darat. Wajah mereka pucat dan tubuh menggigil bukan saja karena kedinginan, tapi juga oleh kengerian membayangkan kematian yang hampir menyambar mereka.

Terseret arus di bawah lapisan es sepanjang ratusan mil adalah kematian yang penasaran, lebih ngeri dari mati dalam pertempuran. Mereka bergidik mengingat ratusan teman-teman mereka telah menga lami nasib seperti itu.

Melihat itu, Ki Peng Lam juga merasa bergidik karena merasa bersalah bahwa kematian perajurit-perajurit itu gara-gara pengkhianatannya. Namun demi teringat akan kedudukan Panglima Hui-Liong-kun yang dijanjikan Ni Keng Giau apabila ia berhasil menjerumuskan Pak Kiong Liong, maka dihiburnya hatinya sendiri, "Apa boleh buat, anggap saja mereka mati karena nasib buruk. Apabila di dalam peperangan tentu setiap orang berpeluang mati dengan bermacam-macam cara, termasuk juga aku."

Sementara itu Tong Siau Beng meneriakkan perintah untuk sisa pasukannya, “Menyebar lebar dan maju terus! Kita harus menolong Pak Kiong Goan-swe dan teman-teman kita yang sudah terlanjur terjebak di seberang!"

Perajurit-perajurit Hui-L iong-kun yang tersisa dan sudah pulih kembali dari kepanikan itupun mengatur diri sejenak, kemudian dengan kemarahan meluap-luap menyeberangi lapisan-lapisan salju yang belum retak oleh peluru meriam.

Meriam-meriam musuh masih berdentum beberapa kali, tapi meriam yang cuma beberapa pucuk itu tak berdaya menghentikan pasukan berkuda Manchu yang menyerang menyebar lebar itu. Ketika perajurit-perajurit Manchu tiba di tepian seberang, penembak-penembak Jepang menyambut dengan cara seperti ketika menyongsong pasukan Pak Kiong Liong tadi.

Kembali sebagian perajurit-perajurit Manchu berpelantingan dari atas kuda karena diterpa peluru. Tapi sebagian lainnya terus menyerbu dipimpin Tong Siau Beng sendiri, malah sempat membalas menembak sehingga pasukan Jepangpun kehilangan sebagian perajurit mereka ditembus peluru.

Tetapi setelah gelombang tentara kedua betah pihak berpapasan dekat, bedil-bedil berubah menjadi alat pemukul atau penikam dengan bayonet-bayonet di ujungnya. Yang sempat menghunus pedang atau tombak segera mengulangi cara bertempur abad silam.

Onoshi Yozen dengan pedang di tangan memimpin sendiri pasukannya bertahan di bibir sungai. Menyusup-nyusup diantara gemuruh kuda tunggangan perajurit-perajurit Manchu, Onoshi mengelebatkan pedangnya ke kanan dan kiri, tiap kali berhasil merobohkan musuh satu demi satu. Darah tertumpah ke salju dan langsung membeku atau meresap mewarnai salju.

Begitulah, pasukan Manchu yang menyergap dari lereng bukit maupun dari tebing sungai sama-sama membentur perlawanan yang tadinya tidak mereka duga. Jauh berbeda dengan ketika menyerbu perkemahan Jepang sebelumnya, dima-na perajurit-perajurit Jepang masih mengantuk dan kebingungan saat itu.

Mula-mula garis pertempuran masih jelas, tapi karena perajurit kedua pihak saling menerjang dan menyusup, maka merekapun menjadi campuraduk. Pertempuran segera menyebar ke mana-mana. perajurit-perajurit Manchu tak sepenuh nya berhasil mengandalkan keunggulan bertempur di atas kuda, sebab banyak dari mereka yang terpaksa bertempur di atas tanah karena kuda tunggangannya roboh diserampang musuh.

Memperhatikan semuanya itu, Pak Kiong Liong menarik napas. Siasat "gempur dan lari" yang direncanakannya ternyata macet, pertempuran menyebar dan campur-aduk seperti itu pasti akan berjalan lama dan berlarut-larut. Kalau pihak musuh kedatangan bala bantuan dari perkemahan-perkemahan lain, tentu pasukannya sendirilah yang bakal terbantai habis di tepi Sungai Hek-liong itu.

Mendadak timbul semacam pikiran yang menyedihkan Pak Kiong Liong, "Benarkah aku memang sudah pikun karena usia tua? Dulu pernah juga mengalami kegagalan sebagai pemimpin pasukan, tapi tidak separah ini. Mungkinkah kurang tahu diri dan sudah harus mengundurkan diri dari jabatanku sekarang?”

Tentu saja Pak Kiong Liong tidak tahu bahwa kesulitan pasukannya saat itu bukan karena ia sudah pikun, tapi karena ada seorang perwira bawahannya sendiri yang berkhianat. Kalau bisa di sebut "kesalahan" Pak Kiong Liong hanyalah karena ia terlalu mempercayai orang lain. Karena selama ini Ki Peng Lam adalah seorang perwira yang baik dan terpercaya.

Pak Kiong Liong pun mengamuk di antara pasukan musuh, tapi ilmunya yang tinggi itu kurang berperan dalam menentukan kalah menang dari dua pasukan dalam pertempuran massal itu. Seperti sering dikatakan kepada perwira-perwiranya sendiri, "Biarpun seorang pemimpin pasukan berhasil membunuh berpuluh-puluh tentara musuh, tapi kalau pasukannya sendiri kocar-kacir, dialah pemimpin perang yang kalah...." Dan keadaannya saat itu persis seperti yang sering dikatakannya sendiri.

Kesulitan yang diderita pasukan Manchu rasanya akan semakin berat, ketika seorang perajurit Jepang tiba-tiba melepaskan kembang api warna merah, menggores langit yang kelam. Memang itulah tanda-tanda kesulitan. Tidak jauh dari arena itu, ada dua perkemahan perajurit Jepang lainnya yang berjarak sekitar enam Li.

Masing-masing perkemahan, termasuk yang sedang diserang, adalah bagian dari mata rantai pertahanan yang disusun Jenderal Hirasaki untuk mengamankan wilayah-wilayah yang berhasil direbutnya dari Manchu. Jika satu perkemahan diserang, perkemahan-perkemahan paling dekat harus segera membantu kalau mendapat isyarat.

Onoshi Yozen memerintahkan perajuritnya melepaskan isyarat itu bukan karena pasukannya terdesak, melainkan karena ia tidak ingin pertempuran berlarut-larut, dan ia ingin segera menyelesaikan dengan mengundang rekan-rekannya dari perkemahan terdekat.

Tak lama kemudian dari arah utara dan selatan serempak muncul dua barisan obor seperti rombongan kunang-kunang. Lalu semakin dekat terlihat pula bendera bergambar matahari semakin jelas. Merekapun langsung menerjunkan diri ke gelanggang pertempuran. Suasana maut terasa semakin kental di pihak pasukan Manchu.

Pak Kiong Liong sendiri sadar pasukannya tak akan sanggup mengalahkan pasukan lawan yang berjumlah empat atau lima kali lipat itu. Maka iapun berteriak dengan bahasa sandi, "Mundur ke bukit!"

Perajurit-perajurit Manchu pun secara beranting menyampaikan perintah itu kepada teman-teman mereka, dengan bahasa sandi pula. Itu untuk menjaga siapa tahu ada perajurit jepang yang paham bahasa Cina, agar tetap tidak tahu tujuan pasukan Manchu.

Perajurit-perajurit Manchu yang masih berkuda maupun yang sudah kehilangan kuda serempak mendesak ke arah bukit. Biarpun mereka berpencar-pencar di seluruh arena, tapi karena berbareng mendesak ke satu arah, maka terasa juga akibatnya.

Seperti beras ditampi yang perlahan-lahan mengumpul di pinggir tampah, begitu pula mereka yang bertempur tiba tiba makin padat di kaki bukit, sementara di bagian lain justru semakin longggar. Tong Siau Beng tak bisa ikut mundur, sebab ia gugur oleh pedang Onoshi Yozen, sementara duel antara Hai Lun To dengan Sasuke Kanamori belum juga selesai. Tapi Hai Lun To harus bergeser searah dengan gerak pasukannya.

Pak Kiong Liong sudah mandi darah korban-korbannya, sebab ia dengan gigih berjuang mencarikan jalan bagi perajurit-perajuritnya, nyaris tidak mempedulikan keselamatannya serdiri. Tapi pasukan musuh berlapis-lapis tebalnya. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya ujung-ujung katana yang berjumlah ribuan, gelung-gelung rambut para samurai yang bertempur kesetanan, obor-obor dan bendera-bendera musuh.

Bendera Kerajaan Manchu yang bergambar naga itu sudah tak kelihatan lagi, kemungkinan besar si pembawa bendera sudah gugur dan benderanya sendiri terinjak injak oleh mereka yang sedang bertempur. Dalam keadaan seperti itu, Pak Kiong Liong mengertak gigi dan bertekad dalam hatinya, "Mungkin inilah pengabdian terakhirku kepada Kekaisaran. Biarpun aku harus mampus, harus kubunuh kaum penyerbu ini sebanyak-banyaknya,"

Dengan tekad macam itu, malah tenteramlah hati Pak Kiong Liong. la segera melompat turun dari kuda, karena medan pertempuran sudah demikian padat dan tidak memungkinkan lagi untuk pertempuran berkuda. la bertempur, sama gigihnya dengan perajurit-perajurit Manchu yang tidak kenal kata berhenti sebelum tubuh ambruk ditinggalkan nyawa.

Pak Kiong Liong melihat seorang perajurit Hui-Liong-kun sudah terbabat putus sepasang kakinya, tapi masih menggulingkan tubuh sambil membabatkan pedangnya. Perlawanan baru berakhir ketika sebatang tombak Jepang menyatukan tubuhnya dengan tanah berlapis salju.

"Maju terus, perajurit-perajurit perkasa!" teriak Pak Kiong Liong diluar kesadarannya. "Tunjukkan bagaimana Hui-Liong-kun bertempur sampai titik darah terakhir!"

Tanpa teriakan itupun perajurit-perajurit Hui-Liong-kun sudah berkelahi seperti kesurupan setan, apalagi setelah mendengar teriakan Pak Kiong Liong semangat merekapun menyala kian hebat. Tetapi Hai Lun To serta beberapa perwira yang pakaiannya sudah robek-robek dan berlumuran darah, rupanya bermaksud lain. Hai Lun To mendekati Pak Kiong Liong dan berkata,

"Goan-swe, kami boleh gugur di sini, tapi Goan-swe tidak boleh!"

Pak Kiong Liong membelalakkan mata mendengar ucapan i tu. "Kau bilang apa tadi?! Aku kau suruh kabur seperti anjing kena gebuk, meninggalkan perajurit-perajuritku menyabung nyawa sendiri ada sini?"

Hai Lun To menyahut, "Goan-swe, kalau Goan-swe nekad gugur di tempat ini, mungkin Goan-swe akan puas. Tapi dengan demikian Goan-swe telah melupakan satu hal yang lebih penting yang masih harus dikerjakan oleh orang hidup, bukan oleh orang mati."

"Apa?"

'Mendampingi dan mendukung Pangeran In Te merebut tahta yang kini di-kangkangi orang tak berhak yang dikeliling dorna-dorna penyebar fitnah. Pertimbangkanlah, Goan-swe. Kalah menang dalam pertempuran ini hanya setitik debu kecil dalam perjalanan panjang sejarah kekaisaran kita, tapi kalah menangnya Pangeran In Te dalam perebutan tahta akan berpengaruh sangat penting bagi masa depan kekaisaran. Goan-swe pilih yang mana?"

Ucapan Hai Lun To itu seperti seember air salju yang digebyurkan ke kepala Pak Kiong Liong yang tengah panas oleh api kemarahan. Memang tepat apa yang dikatakan Hai Lun To. Benar Pangeran In Te punya angkatan perang yang besar, namun menghadapi Kaisar Yong Ceng yang licin dan dibantu Liong Ke Toh yang kepalanya merupakan gudang akal bulus itu, maka Pangeran In Te pun membutuhkan pendamping yang juga punya otak. Siapa lagi kalau bukan dirinya sendiri? Tapi Pak Kiong Liong masih ragu-ragu, tidak tega meninggalkan perajurit-perajuritnya menyabung nyawa lanpa pimpinannya.

"Goan-swe, marilah kami kawal keluar dari neraka ini," desak Hai Lun To. "Kita memang sayangkan gugurnya perajurit-perajurit kita, tapi mereka akan gugur dengan terhormat dan penuh kebanggaan. Arwah mereka akan lebih kecewa kalau kekaisaran runtuh di tangan seorang Kaisar lalim."

Pak Kiong Liong mengangguk, meski pun hatinya bagaikan disayat. la harus lari meninggalkan gelanggang, sementara perajurit-perajuritnya menyongsong maut. Suatu tindakan yang baru sekali dilakukan dalam hidupnya. Dikawal Hai Lun To dan sekelompok perajurit yang benar-benar siap berkorban nyawa demi Pak Kiong Liong, Pak Kiong Liong menerobos keluar dari kepungan musuh yang berlapis-Iapis. Para pengawalnya roboh satu demi satu, namun sisanya terus bertarung seperti serigala kelaparan.

Pak Kiong Liong sendiri telah mengeluarkan llmu Hwe-liong Sin-kang yang disalurkan ke batang pedangnya, sehingga pedang itu nampak membara kemerah-merahan. Setiap serangannya bukan hanya membuat lawan roboh, tetapi juga hangus. Begitulah jenderal tua itu membuat pasukan musuh jadi gempar.

Untuk coba-coba memadamkan "neraka berjalan" itu, beberapa perajurit musuh dengan pikiran gampang-gampangan melempar-lemparkan gumpalan-gumpalan salju ke arah Pak Kiong Liong. Tetapi tiga atau empat langkah sebelum menyentuh kulit Pak Kiong Liong, gumpaIan salju sudah berubah menjadi uap air. Keruan para samurai dari negeri matahari terbit itu terlongong kaget melihat pameran ilmu semacam itu.

Gabungan antara ketinggian ilmu Pak Kiong Liong dan keadaan Hai Lun To serta sekelompok perwira yang inigin menyelamatkan Pak Kiong Liong, membuat rombongan kecil itu tiba juga di tebing sungai setelah melangkahi ratusan mayat musuh, Pak Kiong Liong sudah mandi keringat, rambut dan kumisnya yang putih sudah separuh merah terpercik darah dan awut-awutan. Sedang keadaan Hai Lun To lebih mengenaskan lagi, namun matanya memancarkan semangat yang menyala.

"Selamatkan perjuangan Pangeran In Te, Goan swe," kata Hai Lun To da-tar tanpa gejolak. "Mudah-mudahan kita masih bisa bertemu lagi."

Pak Kiong Liong sadar takkan melihat Hai Lun To dalam keadaan hidup lagi, digenggamnya tangan perwira itu erat-erat sambil berkata, "Aku mengharap kita bisa bertemu lagi..."

Biarpun bukan orang cengeng, toh detik itu Pak Kiong Liong harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata. Cepat ia rnemalingkan muka, lalu meIompat menyeberangi es beku dipermukaan Sungai Hek-liong. Beberapa perajurit musuh mencoba mengejar dan hanya menjadi makanan empuk Pak Kiong liong. Beberapa penembak membidik punggung Pak Kiong Liong, tetapi yang dibidik bergerak cepat seperti burung, menghilang di hutan cemara di seberang sungai dan membuat peluru-peluru hanya menghantam batang-batang pohon.

Sebelum melangkah lebih jauh, Pak Kiong Liong menyempatkan diri untuk menoleh dan melihat Hai Lun To terhuyung-huyung karena dibacok seorang prajurit Jepang, menyusul sebatang tombak menancap di punggungnya. Namun sebelum roboh, Ha i Lun To sempat melambaikan tangan kepada Pak Kiong Liong sambil tertawa lebar.

Seorang perajurit Jepang berkata kepada temannya, "Tadinya aku kira Bushide (semangat ksatria) hanya ada dikalangan kita, namun di daratan inipun kita temui orang-orang demikian."

Temannya mengangguk menyetujui sambil menatap mayat Hai Lun To yang tertelungkup dengan tangkai tombak masih tegak di punggungnya, "Sementara di antara kita sendiripun tidak semua samurai berwatak bushido, ada yang hanya pantas menjadi seorang eta (kasta paling rendah) meskipun resminya adalah samurai.."

Sementara itu Pak Kiong Liong semakin jauh dari gelanggang pertempuran biarpun kupingnya sayup-sayup masih menangkap suara riuhnya pertempuran di belakangnya. Sekali-sekaIi terdengar sorak-sorai perajurit Jepang yang khas, dan Pak Kiong Liong membayangkan perajurit-perajuritnya tentu sedang di bantai.

Jenderal tua itu melangkah cepat sampai matahari muncul di cakrawala timur. Betapa tangguh ilmu silatnya, namun dalam usia yang mendekati tujuh puluh tahun itu membuat tenaganya habis. Lebih-lebih ketegangan dan kesedihan hampir semalam suntuk juga ikut mempercepat habisnya daya tahannya. Langkahnya mulai terhuyung-huyung, dan akhirnya jatuh pingsan di pegunungan salju yang sunyi itu.

Pak Kiong Liong tak tahu berapa lama ia pingsan, hanya ketika matanya terbuka, iapun heran. Dirinya tidak terkapar di pegunungan dengan berselimut salju beku, tapi di atas pembaringan dan di bawah sehelai selimut hangat, biarpun selimut itu bertambal-tambaI dan berbau agak apek karena tuanya. la berada di lingkungan dinding-dinding dan atap yang terbuat dari batang-batang pohon cemara yang dikuliti, sebuah gubuk yang sederhana namun kokoh dan memberi kehangatan.

Di salah satu bagian dinding, bergantungan kuIit macam-macam binatang yang dikeringkan, peralatan dalam gubuk menunjukkan itulah kediaman seorang pemburu. Suasana gubuk itu melayangkan ingatan Pak Kiong Liong ke masa mudanya, namun di tempat yang berada di wilayah Hun-lam, ribuan mil dari tempatnya sekarang. Di gubuk di Hun-lam yang bercuaca panas lembab itulah la dulu bertemu dan bersahabat dengan Tong Lam Hou yang kini bahkan menjadi besannya.

Akankah klni aku menemui "Tong Lam Hou ke dua"? pikirnya. Mendadak dari luar gubuk terdengar suara kaki-kaki menglnjak salju dan juga percakapan beberapa orang. Suara-suara dari lelaki dewasa, perempuan dan seorang anak. Tentunya keluar ga penghuni gubuk itu. Pintu gubuk didorong dari luar dan muncul tiga orang sesuai dugaan Pak Kiong Liong.

Seorang lelaki tegap berusia empatpuluh tahun yang tubuhnya terbungkus pakaian bulu binatang tebal penahan dingin, begitu pula kepalanya dengan topi bulu. Yang perempuan juga berpakaian bulu tebal, tubuhnya agak tegap dan kasar karena sudah biasa bekerja di tengah alam yang kurang ramah, usianya sebaya dengan yang lelaki.

Sedanag dibelakangng mereka ada seorang bocah lelaki berusia kira-kira empatbelas tahun yang bermata lebar dan nampak berani. Ketiganya berpakaian dan bertampang orang suku Manchu asli, penduduk di wilayah timur laut itu.

Melihat Pak Kiong Liong sudah siuman dan setengah duduk di atas pernbaringannya, tiga orang itu cepat-cepat berlutut memberi hormat, sementara lelaki itu mewakili bicara pihaknya, "Kami sekeluarga mohon maaf karena telah lancang membawa tubuh Tai-jin (tuan pembesar) ke gubuk kami yang tidak layak ini. Hamba yang menemukan tubuh Tai-jin kemarin petang......"
Selanjutnya,