Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 01 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga I Jilid 01

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
ROMBONGAN tentara kekaisaran itu tengah menggiring tiga orang pesakitan yang terbelenggu tangan dan kaki mereka, bahkan leher ketiga-tiganya juga dljepit papan kayu yang teba1 dan berat. Mereka memang pesakaitan-pesakitan berbahaya, bekas perampok-perampok berilmu tinggi yang sudah membunuh banyak petugas keamanan yang berusaha menangkap.

Namun kini ketiga manusia berbahaya itu sudah tertangkap dan sedang menyeret kaki menuju tiang gantungan yang sudah tersedia di kota Tay tong. Untuk keberhasilan meringkus ketiga bandit itu, Panglima Tay-tong yang bernama Ji Kim liong itu patut menepuk dada. Entah berapa banyak jago-jago pe merintah yang gagal menangkap ketiga bersaudara seperguruan yang jahat itu, dan semua jago-jago pemerintah itu kembali dengan tangan hampa, atau malahan tidak kembali sama sekali kecuali arwahnya.

Tapi belum ada setengah tahun Ji Kim Iiong menjadi Panglima di Tay-tong, dan ia teiah berhasil meringkus ketiga bandit perkasa itu. Sarang bandit beserta seluruh gerombolan peram-pok juga sudah ditumpas, sebagian besar mati dan sebagian kecil yang tidak berarti dapat iolos, namun bukan lagi kekuatan yang berbahaya.

Panglima Tay-tong yang mahir Cui-sian-kun (silat dewa mabuk) itu sudah membayangkan hadiah besar yang bakal diterimanya, atau kenaikan pangkat, kalau pusat pemerintahan di Pak-khia ke-lak menerima laporannya disertal bukti tiga butir kepala manusia.

Dengan gagahnya Ji Kim-liong menunggangi kuda coklatnya, berjalan paling depan dari pasukan kecilnya. Benteng kota Tay-tong sudah kelihatan di kejauhan, seperti seleret garis bergerigi, dan di balik tembok itu tentu rakyat sudah siap menyambut keberhasilannya dan mengelu-eIukannya.

Namun lamunan yang mengasyikkan itu bubar berantakan ketika di hadapan pasukannya tiba-tiba muncul seorang lelakl bertubuh tinggi tegap dan berpinggang ramping kokoh, tetapi wajahhya tak terlihat, sebab disembunyikan dl balik selembar kedok kain hitam. Bah-kan orang berkedok itu mengangkat ta-ngan sambil berkata dengan nada memerintah, "Berhenti...!”

Ji Kim Liong terkejut dan menghentikan pasukannya, Siapakah yang bernyali begitu besar sehingga berani menghadang Panglima Tay-tong dan dua ratus lima puluh perajurtnya? Kemudian ternyata keberanian orang berkedok itu cukup beralasan, sebab diapun tidak sendirian.

Dari balik batang pohon-pohon besar, dari atas po-hon, dari belakang semak-semak, malah ada yang seolah muncul dari tanah, berlompatanlah orang-orang yang menunjuk-kan gerak-gerik tangkas dan membawa senjata, tapi semuanya memakai kedok kain. Dalam beberapa detik saja, pasu- kan Ji Kim-liong sudah dikepung oleh orang- orang berkedok yang jumlahnya cukup banyak itu.

Tapi Ji Kim liong tidak gentar, tubuhnya bagaikan dilempar dari atas pelana kudanya untuk berdiri dltanah, sambil memerintah pasukannya, “Jaga tawanan jangan sampai lepas!”

Pasukan kecil yang terlatih itupun segera membentuk pertahanan melingkar yang berlapis-lapis, sementara tiga orang tawanan yang terbelenggu itupun ditempatkan di tengah-tengah. Detik berikutnya, Ji Kim liong sudah menghunus siang-kek (sepasang tombak pendek) yang tadinya tergendong bersilangan di punggungnya.

Gertaknya, "Kalian rupanya sudah bosan hidup se-hingga berani menghadang tentara kekaisaran yang sedang menjalankan tugas keamanan. Siapa kalian sebenarnya?"

Orang berkedok bertubuh tinggi tegap yang muncul pertama kali tadi, bukannya menjawab, malah balas menggertak tidak kalah garangnya, "Ji Kim-liong, tidak ada waktu menerangkan tentang siapa kami ini. Sekarang bagimu hanya ada dua piiihan. Serahkan tawanan-tawanan Itu, dan kau akan selamat, bahkan di kemudian hari kau akan menemui perjalanan gemilang daIam jalur ke pangkatanmu. Tapi kalau kau menolak kami, kami akan menumpasmu sampai habis!”

Ji-Kim-Liongg yang berotak cerdas itu toh kebingungan juga mendengar ucapan orang berkedok itu. Dengan susah payah otaknya mencoba mencari hubungan yang masuk akal antara "melepaskan tawanan" dengan "perjalanan gemilang dalam jalur kepangkatan" dan ia tidak berhasil menemukan jawabannya. Kalau orang-orang berkedok ini adalah perampok, mana ada perampok yang menjanjikan "perjalanan gemilang dalam jalur kepangkatan segala?”

Tapi Panglima Tay-tong ini cepat-cepat membuang semua kebimbangannya dan mengambil sikap tegas. Baru setengah tahun ia menduduki jabatannya dan baru saja hendak mendirikan pahala dengan menangkap penjahat-penjahat itu, tentu saja ia tidak ingin menyerahkan tawanannya kepada orang-orang tak dikenal itu. Karena itulah ia segera memerintahkan, “Tumpas kurcaci-kurcaci itu!”

Maka pinggiran hutan yang sepi itu pun berubah menjadi arena pertempuran yang hebat antara pihak yang hendak me rebut tawanan melawan yang mempertahan kannya. Perajurit-perajurit kota Tay-tong itu tangkas-tangkas, sebab Ji-Kim-Liongg selama ini mewajibkan mereka latihan setiap hari. Selain tangkas, juga mahir bertempur secara teratur sebagai sebuah pasukan, saling membantu dan memperkuat antar bagian serta ti-dak berkelahi sendiri-sendiri.

Tapi orang-orang berkedok yang menghadang jalan mereka itupun menun- jukkan perlawanan yang diluar dugaan. Jumlah mereka leblh sedikit, tapi per-lahan-lahan ternyata malah mampu menekan pasukan dari Tay-tong. Mereka tidak mirip perampok- perampok yang bertempur secara liar, tapi lebih menyeru pai ketangkasan prajurit-prajurit istimewa semacam Han-Lim-kun, Gi-lim- kun atau Hui-Liong-kun, pasukan Naga Terbang bawahan Pak-kiong Liong yang dibawah komando Pangeran In Te itu.

Mellhat kenyataan itu, JiKim-liong merasa heran dan sekaligus gentar juga. Inilah lawan- lawan yang misterius, menimbulkan kebingungan. Namun ia masih mengeraskan hati untuk tidak menyerah begitu saja. Pikirnya, "Persetan dari mana asal-usul mereka, tapi siapapun yang kuhadapi ini harus kulawan demi tugasku. Bahkan seandainya mereka ini jagoan-jagoan Gi-ci-an-si-wi (Pengawal Kaisar) sendiri, tapi karena memakai tutup muka dan bertingkah seperti bandit, aku tidak akan disalahkan kalau menumpas mereka tanpa ampun!"

la sendiripun memutuskan untuk ber tempur. Sepasang tombak pendeknya segera diputar kencang sampai mengeluarkan angin menderu, lalu ia melangkah maju melakukan serangan Siang-Iiong-jut-hai (Sepasang Naga Muncul di Samudera) untuk menikam serempak dada sebelah kanan dan kiri orang berkedok yang menjadi pimpinan itu.

Biarpun orang berkedok itu bertubuh tinggi-besar seperti menara besi, namun juga punya gerakan licin seperti belut. Serangan Ji-Kim-Liongg dengan mudah dapat dihindari dengan sebuah langkah pendek ke samping sambil membungkuk, berbarengan dengan telapak tangannya menyodok ke rusuk Ji Kim-liong yang terbuka. Agaknya ia juga seorang yang sombong dan mencoba mengalahkan Ji-Kim-Liongg dengan tangan kosong saja.

Tetapi sebagai penanggung jawab keamanan kota Tay-tong dan sekitarnya, Ji-Kim-Liongg juga bukan orang lernah. Badannya tiba-tiba terhuyung ke belakang, seolah hendak roboh, tetapi dibarengi kaki kanannya terangkat dan ujungnya hendak menendang ke siku tangan lawan yang tengah terjulur.

Biarpun orang berkedok itu bertubuh tinggi besar seperti manusia besi, namun ia juga mempunyai gerakan licin seper belut dari tangan, jika orang berkedok itu tidak cepat-cepat menarik lengannya, maka jalan darah Jing-ling-hiat di lengannya akan kena tendangan dan lumpuh seketika.

"Cui-sian-kun-hoat yang benar-benar hebat!” geram orang berkedok itu sambil cepat-cepat mundur selangkah dan menekuk lengannya.

Sadar bahwa dirinya tak mungkin mengalahkan Ji-Kim-Liong dengan tangan kosong, orang berkedok itu dengan gerak cepat menghunus pedang yang tadi-nya tergantung di pinggangnya. Sebenarnya Ji-Kim-Liong sudah bertekad untuk mempertahankan tawanannya mati-matian, tapi demi melihat pedang yang dipegang lawannya itu, maka tekadnya pun terguncang.

Bagian pelindung tangan dari pedang itu terbuat dari emas dan berbentuk ukiran seekor naga. Itulah pedang yang diidamkan oleh orang-orang yang mengabdi kepada Kerajaan sebagai prajurit. Pedang itu biasanya dianugerahkan oleh Kaisar sendiri kepada prajurit-prajuritnya yang berjasa besar dari tingkat kepangkatan tertentu, yaitu hanya yang sudah mempunyai Hoa-leng (bulu burung merak yang dipasang pada topi para pejabat Manchu dari tingkatan tertentu).

Ji-Kim-Liongg sendiri sudah memakai Hoa-leng di topinya, namun untuk mendapat anugerah pedang macam itu agaknya ia masih harus berbakti bertahun-tahun lagi. Maka timbullah keraguannya, siapakah orang berkedok yang di lawannya itu? Apakah juga seorang perwira kerajaan yang pangkatnya justru lebih tinggi darinya?

"Darimana kau curi peaang itu? Darimana pula asalmu?" Ji-Kim-Liongg mencoba membentak segarang mungkin, namun hatinya sebenarnya sudah goyah.

Melihat kebimbangan Ji-Kim-Liongg, orang berkedok itu juga tidak menyerang. Pedangnya ditimang-timang, memberi kesempatan kepada Ji-Kim-Liong untuk melihat lebih jelas. Katanya sambil tertawa, "Tentang siapa diriku, maaf, aku tidak bisa memberi tahu. Tapi pedang ini, kuberi tahu bahwa aku mendapatnya bukan dengan mencuri. Aku terima sambil berlutut dengan kedua tangan ku sendiri, langsung dari salah seorang putera Kaisar!"

Keragu-raguan Ji-Kim-Liong tak dapat disembunyikan lagi. Kalau ia berhadapan dengan kelompok hitam bagaimanapun ganasnya, ia siap melawan habis-habisan. Tapi kini lawannya mengaku menerima pedang itu langsung dari tangan seorang Putera Kaisar, sikapnyapun tidak mirip orang-orang Hek-to (jalan hi tam), melainkan agak keningratan. Siapa orang ini?

Sesaat Ji-Kim-Liong hanya berdiri mematung, mencari keputusan yang tepat. la curiga bahwa soal yang dihadapinya saat itu jangan-jangan adalah riak kecil dari kemelut yang sedang berlangsung di pemerintahan pusat di Pak-khia? la tahu, Kaisar Khong-hi yang sudah lanjut dan lemah tubuhnya itu mempunyai belasan orang putera yang hampir semuanya berebut ingin menggantikan kedudukannya.

Persaingan antar Putera Kaisar itu juga merembet menjadi persaingan antar Panglima dan Gubernur yang mendukung pilihan masing masing. Pergolakan itu membuat panglima-panglima kecil di daerah-daerah yang jauh, seperti Ji-Kim-liong, jadi kebingungan menentukan kiblat. Harus berpihak kepada Pangeran yang mana Kalau terang-terangan berpihak kepada Pangeran yang satu, jangan-jangan yang kelak naik tahta malah Pangeran lainnya?

Maka jalan yang paling aman hanyalah menunggu arah angin. Tetapi disamping orang-orang tak berpendirian macam itu, banyak pula jenderaI-jenderaI atau panglima-panglima yang dengan beraninya langsung memihak salah satu putera kaisar yang bersaing itu, semacam permainan untung-untungan.

Kalau pangeran dukungannya berhasil naik tahta, maka pendukungnya pun akan menjadi orang dekatnya Kaisar yang baru. Kalau Pangeran yang didukungnya kalah, ya berantakanlah semua perhitungan, atau siap- siap untuk ganti haluan yang paling menguntungkan.

Ji-Kim-Liong bukanlah orang toloI. Penghadangan yang dihadapinya itu, ia yakin, pasti berlatarbelakang kemelut perebutan kekuasaan di Pak khia. Kalau demikian, persoalannya tidak sesederhana kalau menghadapi perampok-perampok biasa. Yang ini harus dihadapi dengan penuh perhitungan untung-rugi, agar tidak membahayakan kedudukannya di kemudian hari.

Karena itulah Ji-Kim-Liong tidak bersikap garang lagi, tapi mencoba me-mancing. "Sahabat, aku menduga tindakanmu ini dilatar-belakangi persaingan antar Putera Kaisar di Pak-khia. Benar tidak?"

"Terus terang, ya," sahut orang berkedok itu. "Aku menganjurkan agar pandai melihat gelagat, supaya masa depanmu cerah. Kelak apabila Pangeran junjunganku berhasil naik tahta, beliau tidak akan melupakan budimu, sekecil apapun."

"Kalau gagal naik tahta?"

"Pangeran akan menanggung akibat-nya sendiri, tanpa menyeret-nyeret dirimu. Kau tidak rugi apa-apa, kecuali kehilangan sedikit pahala karena ketiga tawanan penting itu hilang ditengah jalan. Namun yakinlah, Pangeran junjunganku adalah yang paling berpeluang naik tahta dibandingkan Pangeran-pange ran lainnya. Pendukungnya tidak banyak, tapi kekuatan yang menentukan.”

"Pangeran yang mana?"

"Masih harus kurahasiakan. Maaf."

"Kalau sudah merasa begitu yakin akan menduduki Tahta Naga, kenapa masih juga di sembunyikan namanya?”

"Sekedar supaya tidak menimbulkan keributan. Kelak pergantian pemegang kekuasaan harus berjalan dengan mulus, tanpa gejolak sedikitpun."

Sebetulnya Ji-Kim-Liong hampir berhasil menebak Pangeran yang mana yang dibicarakan orang berkedok itu, namun ia merasa lebih aman untuk tetap berpura-pura bodoh saja. Batok kepala dan kedudukannya terlalu berharga untuk di pertaruhkan karena berlagak pintar. Tetapi, main untung-untungan sedikit apa salahnya.

Mungkin ini sebuah kesempatan untuk melonjakkan pangkatnya. Tapi ia tidak ingin ikut "bermain“ terlalu dalam,dalam kemelut itu, cukup di “pinggiran" saja, sehingga kalau keadaan tidak menguntungkan maka ia dengan gampang akan dapat keluar arena dan cuci tangan.

Sesaat otak Ji-Kim-Liong menghitung-hitung, lalu keputusanpun diambil nya, "Baik. Aku akan tutup mata dan tutup telinga siapa kalian atau apapun yang kalian lakukan. Bawa ketiga tawanan itu.”

Orang berkedok itu tertawa sampai pundaknya tergoncang-goncang. Ji Ciankun (Panglima Ji), kau benar-benar hati-hati dalam memainkan kartu. Baiklah, terima kaslh."

Ketika kemudian Ji-Kim-Iiong memerintahkan pasukannya agar menghentikan perlawanan dan menyerahkan tawanan-tawanan itu, maka anak buahnya menjadi heran campur penasaran. Untuk menangkap tawanan-tawanan itu, korban sudah jatuh, kenapa diserahkan begitu saja ke tangan orang-orang berkedok itu?

Lagjpula pertempuran tadi belum tentu di menangkan oleh orang-orang berkedok itu, kenapa menyerah begitu cepat? Tapi perintah sudah jatuh dan tak bisa di-bantah lagi. Dengan berat hati, tiga pesakitan yang mereka tangkap dengan susah-payah itu harus mereka serahkan ke pihak orang-orang berkedok itu.

Para prajurit keroco itu lebih tidak mengerti lagi ketika melihat Ji-Kim-Liong ternyata malah bersikap ramah dan hormat kepada orang berkedok yang memimpin itu. Sebelum berpisah, keduanya saling memberi hormat, dan entah apa yang mereka percakapkan, prajurit- prajurit itu tidak mendengarnya.

Setelah rombongan orang-orang berkedok itu menghilang ke dalam hutan, seorang perwira bawahan Ji-Kim-Liong segera mengutarakan rasa penasarannya, mewakili teman-temannya, "Ciangkun, siapakah mereka, sehingga kita enak saja menyerahkan tawanan-tawanan yang kita tangkap dengan susah-payah dan pengorbanan tewasnya beberapa orang kita?”

Ji-Kim-Liong menjawab sambil menegakkan kepalanya, "Aku tahu apa yang aku perbuat. Kau tidak usah coba-coba mengatur aku."

Tapi perwira itu masih juga penasaran, "Tapi apakah nyawa teman-temanku yang tewas ketika menangkap ketiga penjahat itu juga tidak kita hargai? Setidak-tidaknya kita harus tahu kepada siapa tawanan-tawanan itu kita serahkan, sedang orang-orang tadi membuka kedoknyapun tidak mau....."

Dalam hati, sebenarnya Ji-Kim-Liong merasa kurang enak juga kepada pasukannya yang sudah menyabung nyawa menggempur sarang perampok itu. Namun ia tidak mau kehilangan muka kalau didebat di hadapan prajurit-prajuritnya, maka dengan pura-pura marah dia memben tak, "Sudah, diam! Aku sudah memper- hitungkan semua tindakanku, kalian sebagai bawahan hanya wajib menjalankan semua perintah!"

Para perwira dan prajurit bawahan itu bungkam. Namun dalam hati mengeluh, alangkah tidak enaknya menjadi ba wahan dari orang macam Ji-Kim-Liong. Mereka seperti bidak-bidak di atas papan catur saja. Kadang-kadang disuruh maju ke depan untuk mempertaruhkan nyawa, namun tiba-tiba nyawa yang sudah terlanjur melayang itu jadi kehilangan harganya karena tindakan “kebijaksanaan" dari atasan.

Pasukan itu kemudian mengatur diri, berbaris kembali ke kota Tay-tong. Namun jangan harap akan mendapat sambutan meriah dari penduduk, sebab penjahat-penjahat yang mereka tangkap sudah "hilang" di tengah jalan.

Sementara itu, tiga penjahat itu digiring oleh orang-orang berkedok Itu ke sebuah tempat tersembunyi dalam hutan. Ketiga tawanan itu sendiri tidak tahu bagaimana nasib mereka nanti, namun mereka berharap akan menemui nasib yang lebih baik daripada harus mati dijerat tali gantungan di hadapan penduduk kota Taytong.

Tak lama kemudian, rombongan itu tiba di seberang hutan, di sebuah lapangan rumput. Di tempat itu ternyata telah bergerombol ratusan orang berpakaian prajurit Kerajaan Manchu. Sebagian besar dari mereka bersenjata tombak, pedang dan perisai, namun ada sebagian kecil yang membawa bedil-bediI seperti yang sering dibawa pelaut-pelaut barat.

Bubuk mesiu yang menjadi “nyawa" bedil-bedil itu sebenarnya ditemukan orang Cina di jaman dinasti Tong, abad ke delapan. Kemudian ketika Jenghis Khan si penaluk Mongol itu menyerbu sampai ke Eropa, bahan peledak itupun dikenal dan dipelajari orang-orang Eropa, sehingga terciptalah bedil dan pistol.

Di jaman Kaisar Khong-hi berkuasa di negeri Cina saat itu, sudah banyak orang-orang Eropa mendarat di negeri-negeri timur sehingga jenis-jenis senjata api itupun mulai dikenal bangsa-bangsa timur. Meskipun senjata api itu ada kelemahannya, yaitu setiap habis melepaskan satu peluru akan makan waktu untuk mengisi obat peledak dan pelurunya lagi, tapi toh senjata itu ikut berperanan mengubah jalannya sejarah negeri-negeri timur.

Begitu melihat munculnya orang-orang berkedok itu, para prajurit serempak menekuk sebelah lututnya sambiI memberi salam secara serempak, "Hormat untuk Ni Goan-swe (Jenderal Ni)!"

Ada seorang pendeta Tibet berjubah kuning dirangkapi kain merah, di antara prajurit-prajurit itu. Tapi pendeta itu tidak ikut berlutut, hanya merangkap dua telapak tangan sambil sedikit membungkuk. Orang berkedok yang menjadi pernimpin itu melepaskan kedoknya, sehingga nampaklah seraut wajah lelaki muda tampan dan gagah, dengan alis tebal dan hidung agak besar yang menggambarkan orang yang selalu mengejar ambisinya.

Dengan langkah agung, ia langsung menghampiri kursi berlapis kulit macan yang tersedia baginya meskipun di pinggir hutan, dan mendudukinya. Seorang prajurit menjunjung tinggi nampan teh hangat di atas kepalanya, dan menyuguh kannya sambiI berlutut.

Lebih dulu Jenderal Ni menghirup tehnya dengan nikmat, lalu menatap ketiga penjahat tawanan rampasannya itu, dan memerintahkan anak-buahnya, "Buka ikatan mereka!"

Tiga prajurit membuka belenggu tiga penjahat itu, dan seorang dari pra-jurit-prajurit itu berkata, "Berlututlah kepada Jenderal Ni Keng-Giau yang sudah melepaskan kalian dari jalan kematian!”

Disebutnya nama Jenderal Ni membuat hati ketiga tawanan itu terguncang hebat. Itu sebuah nama terkenal dari seorang jenderal muda yang sudah mendudukl jabatan ketentaraan berkekuasaan besar, karena la adalah adik seperguruan dari Pangeran In Ceng, salah seorang Pangeran yang berpengaruh di Pak khia. Kini ketiga tawanan itu tidak tahu apa maksud Ni Keng-giau merebut diri mereka dari tangan pasukan Tay-tong?

Maka meskipun dengan agak serabutan, dua dari tiga tawanan itu cepat-cepat berlutut. Namun yang seorang lainya tidak mau berlutut, hanya menganggukkan kepalanya sedikit, sikapnya itu tentu saja sangat menyolok. Ni Keng-giau melirik sekejap ke arah penjahat yang enggan berlutut itu, namun kesan wajahnya dingin saja. Kata Ni Keng-giau kemudian,

"Aku sudah mendengar tentang diri kalian. Tapi supa-ya aku yakin tidak keliru, coba kalian sebutkan nama kalian sendiri-sendiri!"

"Entah keberuntungan entah bencana yang sedang menghadang di depan kami ini?" begitu kurang lebih pikiran ketiga tawanan itu. Namun menilik lepasnya belenggu-belenggu mereka, agaknya mereka tidak perlu cemas akan nyawa mereka, setidak-tidaknya untuk sementara.

Penjahat yang paling tua umurnya segera menjawab, "Hamba bernama Ho Ti-an-ek dan berjulukan Tiat-jio-hui-hou (Macan Terbang Bertumbak Besi)"

Disusul yang kedua, "Hamba Ho Tian sek, dijuluk Tiat-jiau-him (Beruang Berkuku Besi)!"

Tawanan yang enggan berlutut itu menjawab paling akhir, "Dan aku Ko Leng-tay, si Jian-Li-hui-Lok (Menjangan Terbang Seribu Li)!" Kalau kedua rekannya menggunakan kata "hamba" untuk menyebut diri sendiri, maka dia cukup dengan "aku" saja.

Sikap angkuh Jian-Li-hui-lok Ko Leng-tay itu membuat beberapa anak-buah Ni-Keng-giau kurang senang, tapi si Jenderal muda sendiri berwajah setenang danau yang amat dalam, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkan atau di rasakannya. Tanpa peduli lagak Ko Leng-tay, Ni Keng-giau berkata,

‘'Aku tidak akan bicara panjang lebar, langsung saja. Aku tawarkan dua pilihan kepada kalian. Pertama, dengan ilmu kalian yang pernah menggegerkan wilayah Siam-si Utara, Pangeran menginginkan kalian bergabung dengan beliau. Kelak jika Pangeran naik tahta, kalianpun akan ikut mencicipi kemuliaan. Kedua, kalau kalian menolak, kalian akan tetap bergelandangan sebagai penjahat yang mengadu nyawa hanya untuk berebutan setahil dua tahil, dan kalau tertangkap kalian akan dijerat oleh tali gantungan atau dipenggal oleh algojo pemerintah. Nah, pikirkan."

Dua bandit bersaudara, Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek nampaknya mulai tertarik oleh tawaran menggiurkan itu. Dari seorang perampok yang senantiasa di uber-uber, akan menjadi orang terhormat yang dipanggil "tai-jin", siapa tidak tertarik? Mereka saling lirik sebentar satu sama lain, lalu Ho Tian-ek bertanya, "Ni Goan-swe, kalau hamba boleh tahu, mengabdi Pangeran dengan cara bagaimana?"

"Pangeran sedang membentuk sebuah pasukan rahasia yang terdiri dari orang-orang luar daerah, tak peduli asal-usul atau latar belakang kehidupanya. Kelak kalau Pangeran menang dalam perebutan tahta, anggota-anggota pasukan rahasianya itu akan menjadi Ni Keng-giau!" dengan menunjuk barisan pengawalnya.

Dua saudara Ho mengikuti arah telunjuk Ni Keng-giau. Mereka nelihat deretan perwira yang berjubah ungu dengan ikat pinggang berkepala batu giok hijau, memakai topi mirip caping berhias benang merah dan bulu burung merak yang indah. Kedua saudara Ho itu membayangkan, alangkah gagahnya kalau merekapun memakai pakaian seperti itu.

Tidak usah takut lagi kepada petugas-petugas keamanan yang selama ini menguber-uber mereka, sebab mereka akan berkedudukan lebih tinggi sebagai pengawal-pengawal dari seorang Pangeran yang akan menduduki tahta.

Mata Ni Keng-giau yang lihai itu dengan sekali pandang saja sudah berhasil membaca pikiran kedua orang itu. Diam-diam ia merasa bahwa kedua orang itu sudah dalam genggaman tangannya. Tapi alisnya berkerut ketika melihat Ko Leng-tay acuh tak acuh saja menghadapi tawaran mengiurkan itu.

Bahkan Ko Leng-tay kemudian berkata kepada kedua rekannya, "Lo-toa dan Lo-ji, meskipun kita adalah orang-orang bernama busuk dan sering dikutuk dunia persilatan, tapi bagaimanapun juga selama ini kita punya harga diri dan kebebasan. Akankah kita jual harga diri dan kebebasan itu, lalu menjadi anjing-anjing pemburunya pihak kerajaan?"

Ucapan itu bukan saja mengagetkan dua saudara Ho yang kuatir kalau Ni Keng-giau marah dan membatalkan tawarannya, tetapi juga membuat darah Ni Keng-giau menggelegak karena marah bahwa makian "anjing-anjing pemburu" itu juga menyerempet dirinya. Sekilas sebuah seringai kejam tersungging di wajah Jenderal muda itu.

Lebih dulu Ni Keng-giau bertanya kepada dua saudara Ho, "Bagaimana pendapat kalian sendiri tentang tawaran tadi?"

Keduanya memang sudah mengambil keputusan, karena itu tanpa pikir panjang lagi merekapun menjawab serempak, "Kami bersedia, Goan-swe!"

"Dan kau?" tanya Ni Keng-giau kepada Ko Leng-tay.

Lebih dulu Ko Leng-tay melirik penuh penghinaan ke arah kedua rekannya, lalu menjawab, "Aku cuma seorang gunung yang bodoh, tidak berbakat menjadi orang berpangkat. Aku mohon diri, Goanswe!” Habis kata-katanya, ia segera memutar tubuh untuk melangkah pergi.

Tapi langkahnya tertahan oleh bentakan Ni Keng-giau, "Tunggu!"

"Ada apa lagi, Goan-swe?"

Perlahan-lahan Ni Keng-giau bangkit dari kursinya, suaranya bergetar menahan kemarahannya, "Sudah kau pikir kan baik-baik keputusanmu untuk menolak uluran tangan kerja-sama ini?"

Ternyata bandit itu tetap kukuh pada pendiriannya. "Kerja sama apa? Paling-paling tenaga kami hanya akan diperas habis-habisan demi kepentingan majikanmu. Setelah tujuan majikanmu tercapai, nasib kami sendiripun akan sulit diramalkan. Selamat tinggal..."

"Jangan pergi dulu!"

"Apakah Goan-swe menyesal telah me ngambil aku dari tangan Ji Kim-Liong, dan kini akan menangkapku kembali?"

"Ya, aku menyesal membebaskanmu, orang tak kenal budi. Seharusnya kau kubiarkan saja mati digantung atau dipenggal di Tay-tong. Namun sekarang pun rasanya belum terlambat untuk mengambil nyawamu!”

Ko Leng-tay bergidik hatinya. Diri nya tidak bersenjata sepotongpun, sementara di pihak Ni Keng-giau ada sekelompok prajurit bersenjata lengkap. Namun ternyata Ko Leng-tay tetap nekad membangkang, dengan tajam ia menatap Ni Keng-giau sambil berkata, "Baik, ambillah nyawaku, Goan-swe. Tapi aku akan melawan habis-habisan biarpun hanya dengan sepasang tangan kosong, sedang di pihakmu ada ratusan pucuk senjata..."

Ni-Keng-giau menyeringai kejam. "Julukanmu adalah Menjangan Terbang Seribu Li, tentunya ilmu meringankan tubuhmu berani diuji bukan? Nah, kita adakan permainan sedikit. Kalau kau menang, kau selamat. Kalau kalah ya mampus. Tapi aku tidak akan menyuruh anak buahku untuk mengeroyokmu"

Manusia yang manapun juga, kalau hidupnya sudah terjepit dan kemudian mendapat setitik peluang untuk hidup, tentu akan berjuang sekuat-kuatnya untuk merebut peluang itu. Begitulah dengan Ko Leng-tay yang dengan tegang siap mengikuti "permainan” Ni Keng-giau. Kalau benar ucapan Ni-Keng-giau tadi bahwa "ilmu meringankan tubuhnya akan “diuji", itu justru keahliannya.

Sementara itu Ni Keng-giau telah menunjuk sebatang pohon di kejauhan, sambil berkata, "Pohon itu letaknya hanya tigapuluh langkah dari sini. Kalau kau berhasil melewati pohon itu, kau bebas..."

Hati Ko Leng-tay melonjak mendengar "permainan" itu ternyata hanya demikian saja. Seringan itukah "ujian" bagi Si Menjangan Terbang Seribu Li? Masa tidak bisa berlari melewati pohon itu dalam beberapa detik saja? Namun ia agak ragu-ragu juga, jangan-jangan Ni Keng-giau menyiapkan semacam akal Iicik.

Agaknya paham apa yang sedang terpikir oleh Ko Leng-tay, Ni Keng-giau berkata, "Jangan khawatir, tak akan seorangpun anak buahku bergeser dari tempatmu sekarang, di dekat pohon itu juga tidak ada perangkap.”

"Hemm, memang anak-buahmu tidak perlu bergeser selangkahpun, Goan-swe, kalau menggunakan bedil, panah atau lembing untuk mengincar punggungku..."

"Tidak akan ada bediI, panah lembing yang dilepaskan. Kenapa ragu-ragu, bergeraklah. Jalan kebebasan sudah terbentang di hadapanmu, tergantung kau berani melangkah atau tidak?"

Akhirnya Ko Leng-tay jadi nekad. la sadar, kalau ia masih menunda-nunda tindakan, maka semangatnya akan semakin merosot di bawah tekanan sorot mata Ni Keng-giau yang amat berkuasa itu. Maka sambil mengertak gigi dan mengerahkan seluruh semangatnya, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah pohon itu. Gerakannya begitu cepat, sehingga tak percumalah dia berjulukan Jian-li-hui-lok.

Tetapi pada detik Ko Leng-tay ber-gerak, Ni Keng-giau memberi isyarat anggukan kepala kepada si Pendeta Tibet yang berdiri di sebelah kursinya. Di tangan. pendeta itu ada benda seperti kantong kulit besar yang menggelembung, besarnya seukuran semangka lebih, sedang pada pantat kantong kulit itu ada sehelai rantai yang tipis tapi kuat, tergulung di lengan si pendeta.

Begitu mendapat isyarat Ni-Keng-giau, si pendeta menyeringai sadis, berbarengan dengan melemparkan kantong kulitnya ke udara. Kantong kulit itu seperti sebuah Iayang-layang saja, berpusing di udara dan mengeluarkan suara gemerincing, memburu ke arah kepala Ko Leng-tay.

Jian-li-hui-lok Ko Leng-tay yang tengah berlari kencang untuk mencapai “batas kebebasannya, terkejut ketika mendengar suara gemerincing di atas kepalanya. la agak tertegun langkahnya karena menoleh ke atas, melihat sebuah kantong kulit besar sedang menungkrup kepalanya dari atas dengan kecepatan luar biasa. Bukan kantong kulit itu yang menyeramkan, melainkan bagian dalamnyalah, yang terdapat kerangka besi tipis, sedang di mulut kantong bagian dalam ada jajaran pisau-pisau tipis yang menyilang.

Darah Ko Leng-tay berdesir melihat iitu, namun pohon "batas kebebasan" itu kurang dua langkah lagi. la tingkatkan kecepatan langkahnya, berbareng dengan itu pandangannya terasa gelap karena kepalanya terkerudung kantong terbang itu, dan lehernya terasa pedih bukan main.

Ni Keng-giau dan anak-buahnya melihat bagaimana Ko Leng-tay berhasil melewati pohon itu, namun tanpa mengikut sertakan kepalanya. Tubuh tanpa kepala itu masih berlari beberapa langkah ke depan sambil menggapai-gapaikan kedua tangannya, sebelum ambruk, bergetar seperti ayam disembelih, lalu diam selama-lamanya.

Dimana kepalanya? Kepalanya sekarang dalam kantong kulit besar itu. Ketika si pendeta Tibet menyentakkan rantai itu, kantong kulit itu melayang kembali ke arahnya dan ditangkap dengan tangannya. Digoyangkannya kantong itu keras-keras dan batok kepala Ko Leng-tay menggelundung keluar. Wajah penjahat itu seolah masih hidup saja, matanya membelalak, kerut kulit wajahnya memancarkan kenge-rian dan ketidak-percayaan, sedang lehernya yang terpotong itu hanya mengeluarkan beberapa titik darah saja.

Dua saudara Hot bahkan beberapa perwira bawahan Ni-Keng-giau, memaling kan mukanya karena tidak berani menatap kepala tanpa tubuh dengan ekspresi yang mengerikan itu. Tapi Ni-Keng-giau malah bertepuk tangan dan memuji pendeta Tibet itu, "Biau-beng Lama, sungguh hebat senjatamu itu. Apa namanya?"

Biau-beng Lama nampak bangga, sahutnya, "Senjata perguruanku ini membunuh korban tanpa darah yang berceceran maka guruku almarhum menamainya Hiat-ti-cu (Setetes Darah)."

Ni-Keng-giau sebenarnya sudah lama tahu nama senjata itu, namun ia sengaja mengulanginya panjang lebar untuk diperdengarkan kepada dua saudara Ho, "Hiat-ti-cu”. "Nama yang tepat. Bagaimana kemajuan pasukan rahasia kita yang dilatih menggunakan Hiat-ti-cu itu?"

Biau-beng Lama menyahut, "Dalam dua atau tiga bulan lagi, semua anggota pasukan rahasia akan mahir menggunakan Hiat-ti-cu, sehingga pihak kita akan memiliki algojo-algojo yang ampuh. Siapapun lawan-lawan kita, ataupun orang-orang kita sendiri yang bermaksud berkhianat, akan segera kita lenyapkan kepalanya!”

Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek berkeringat dingin mendengar tanya-jawab antara Ni-Keng-giau dan pendeta Tibet itu. Mereka sadar bahwa percakapan itu ditujukan kepada mereka, semacam peringatan agar jangan coba-coba berkhianat.

Kata Ni Keng-giau kemudian kepada kedua penjahat yang ditaklukkan itu, "Kalau kalian sudah setuju bergabung dengan kami, maka tata-tertib kelompok kamipun berlaku untuk kalian berdua. Paham?"

Dua saudara Hot bahkan beberapa perwira bawahan Ni-Keng-giau, memalingkan mukanya karena tidak berani menatap kepala tanpa tubuh dengan ekspresi yang mengerikan itu. Apa lagi yang bisa diperbuat oleh Ho bersaudara itu kecuali mengangguk-angguk dengan patuh? Kombinasi antara ancaman kematian yang mengerikan dengan bujukan hidup mewah dan berkekuasaan, membuat kedua begal itu bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani "hidup baru" mereka.

"Karena kalian berdua sudah menjadi orang-orang sendiri," kata Ni-Keng-giau lagi, "Tak ada halangannya kalian tahu kepada siapa kita mengabdi, yaitu kepada Pangeran In Ceng, pangeran keempat, yang dimasa mudanya pernah mengembara di Kang-lam sebagai seorang pendekar dengan nama Su Liong-cu. Kita harus bersungguh-sungguh bekerja untuk nya supaya kelak Pangeran dapat naik tahta."

Kembali Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek hanya bisa mengangguk-angguk,sementara di angan-angan mereka sudah terbayang betapa menterengnya hidup mereka di kemudian hari. Rombongan Itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Tubuh dan kepala Ko Leng-tay yang terpisah jauh itu ditinggalkan begitu saja untuk "disumbangkan" kepada anjing-anjing liar, burung gagak, atau semut-semut. Kedua saudara Ho rasanya tidak tega juga membiarkan mayat bekas rekan "seprofesi" mereka selama belasan tahun itu. Namun hati mereka terlalu kecut untuk bicara kepada Ni-Keng-giau yang sadis itu.

Di saat-saat berikutnya, Pangeran In Ceng dibantu oleh Ni Keng-giau dan orang-orang kepercayaannya yang lain, tak pernah berhenti mengumpulkan jagoan-jagoan ke pihaknya, tidak peduli latar-belakang riwayat para jagoan itu hitam atau putih. Pangeran In Ceng juga menjalin hubungan baik dengan orang kuat di istana, yaitu Liong Ke-toh, ipar Kaisar Khong-hi, yang dengan demikian juga terhitung sebagai pamanda Pangeran In Ceng sendiri.

Maka pengaruh Pangeran In Ceng di istana maupun di Ibukota Kekaisaranpun semakin kuat mencengkeram, tak peduli ada desas- desus bahwa In Ceng adalah pangeran yang paling tidak disukai oleh ayahanda Kaisarnya maupun oleh saudara-saudaranya sendiri.

Tapi perjuangan untuk menduduki Slnggasana Naga agaknya akan memerlukan perjuangan berat In Ceng. Kaisar Khong-hi punya enam belas orang anak laki-laki yang hampir semuanya mengincar Singgasana Naga pula, dan saudara-saudara In Ceng itupun punya pendukung-pendukung yang tak bisa diabaikan kekuatannya. Tetapi saingan In Ceng yang terberat adalah Pangeran In Te, putera ke empat belas Kaisar Khong-hi.

In Te bukan cuma putera yang paling disayangi oleh ayahandanya, tapi juga memegang kekuasaan atas Angkatan Perang Kekaisaran. Pangeran In Te juga berjasa besar menaklukkan wilayah Jing-hai dan Sin-kiang sehingga suku-suku padang rumput di sana tunduk kepada Kerajaan Manchu. Dengan demikian, persaingan paling sengit dalam memperebutkan tahta adalah antara Pangeran In Ceng dan Pangeran In Te.

Tetapi pangeran-pangeran berambisi lainnyapun tidak putus asa. Disela-sela pertarungan kedua "raksasa" itu, mereka tetap mencari peluang untuk mewujudkan ambisi mereka. Nasib orang siapa tahu?

Kaisar Khong-hi semakin hari semakin lemah tubuhnya karena usianya yang sudah lanjut. Kelemahan tubuhnya ditambah keprihatinan melihat putera-puteranya bukannya menggalang persatuan demi kejayaan kekaisaran, tapi malah cakar-cakaran memperebutkan tahta. Kaisar tua itu cemas, jika kelak dirinya tiada, maka kekaisaran besar yang telah dibinanya baik-baik selama hampir enam puluh tahun itu akan terpecah-belah karena pertikaian putera-puteranya sendirl.

Kalau di hadapannya, putera-puteranya kelihatan alim dan rukun satu sama lain, tapi didengarnya kabar bahwa putera-puteranya sudah memupuk basis kekuatan masing-masing sampai jauh di luar dinding kota Pak-khia. Salah satu upaya mencegah perpecahan di kemudian hari, Kaisar Khong-hi menulis sepucuk surat wasiat yang menunjuk siapa penggantinya kelak, surat yang hanya boleh dibaca kelak setelah dirinya wafat.

Surat itu disimpan di bagian istana yang siang malam dijaga ketat oleh Pasukan Han-Lim-kun, pasukan yang hanya setia kepada Kaisar, sehingga para Pangeranpun tidak berani coba-coba menerobos penjagaan pasukan istimewa ini.

Pak-khia, ibukota Kerajaan. Itu adalah sebuah kota tua dengan jalan-jalan lebar yang senantiasa penuh orang-orang hilir-mudik. Di beberapa tempat nampak pagoda-pagoda, gedung-gedung kediaman para bangsawan yang megah, rumah-rumah makan besar yang menjanjikan pemanjaan selera, dan dibagian lain adalah orang-orang berpakaian lusuh yang hidup berjubel-jubel di lorong-lorong kecil, bertetangga dengan tikus dan kacoa.

Di kota tua itu sejarah mencatat bangkit dan runtuhnya banyak dinasti-dinasti di daratan Cina. Jaman dinasti Kim, ibukota itu disebut "Tay-toh", kemudian ketika orang-orang Mongol masuk dan mendirikan Dinasti Goan, Tay-toh diganti ke dalam bahasa Mongol "Khan-baluk" atau "kota Khan". Awal Dinasti Beng, kota Pak-khia pernah digantikan Lam-khia di selatan sebagai ibukota, namun kemudian Pak-khia kembali menjadi ibukota Beng sampai runtuh oleh pemberontakan Li Cu-seng.

Kemudian Li Cu-seng pun hanya berkuasa dalam waktu singkat karena masuknya orang- orang Manchu yang kemudian berkuasa di daratan sampai detik itu. Itulah Pak-khia, "buku sejarah raksasa" yang menggoreskan huruf- hurufnya dengan pedang dan tombak sebagai pena, darah sebagai tinta dan mayat-mayat sebagai tanda-tanda halamannya.

Sore itu di jalan besar Pak-khia nampak beberapa penunggang kuda yang menjalankan kuda mereka perlahan-lahan saja. Orang-orang di pinggir jalan dapat melihat, yang berkuda paling depan adalah seorang tua berpakaian pejabat tinggi Kerajaan Manchu. Meski alis, rambut dan jenggotnya telah seputih kapas, namun kulitnya nampak tetap segar, tubuhnya ramping dan tatapan matanya tajam. Beberapa orang di pinggir jalan segera mengenalnya sebagai Panglima Pasukan Naga Terbang, Hui- liong-kun, Pak-kiong Liong, saudara sepupu Kaisar Khong-hi yang berilmu tinggi.

Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawa lnya berhenti di depan sebuah gedung besar dan indah yang dijaga pintunya oleh beberapa prajurit, sehingga mudah disimpulkan bahwa gedung itu tentu kediaman seorang pejabat tinggi Kerajaan. Prajurit-prajurit penjaga gerbang itu membungkuk hormat kepada Pak-kiong Liong, sementara Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawalnyapun berlompatan turun dari kuda.

“Bok-ciangkun (Panglima Bok) mengundang aku secara lisan," kata Pak-kiong Liong singkat kepada pemimpin regu penjaga gedung itu.

Pemimpin regu itu sudah kenal siapa Pak-kiong Liong, maka dengan hormat ia mempersilakan Pak-kiong Liong masuk gedung kediaman Bok Eng-siang, Panglima Hui-hou-kun (Pasukan Macan Terbang) itu. Baru saja Pak-kiong Liong berjalan menyeberangi halaman depan, Bok Eng-siang sudah menyambut dengan berlutut. Sebagai Panglima dari sebuah pasukan jalan-kaki yang disebut terbaik di kekaisaran, sebenarnya pangkat Bok Eng-siang sama dengan Pak-kiong Liong yang memimpin pasukan berkuda itu.

Tetapi Bok Eng-siang menghormati Pak-kiong Liong karena dua hal. Pertama, Pak-kiong Liong masih dekat hubungan darahnya dengan Kaisar, sehingga putera-putera kaisarpun menyebut "paman" kepadanya. Kedua, usia Pak-kiong Liong yang jauh lebih tua dari Bok Eng-siang. Pada saat Pak-kiong Liong menjadi seorang panglima yang perkasa di medan-medan pertempuran dulu, ketika keadaan belum setenang itu, ketika itulah Bok Eng-siang baru belajar membersihkan hidungnya dari ingus.

Di ruangan tengah, Bok Eng-siang berkata, "Goan-swe, aku mohon maaf telah bertindak kurang sopan dengan memanggil Goan-swe ke rumah ini, bukan-nya aku yang menghadap Goan-swe di Kun hu, Namun aku berbuat begini demi kea-manan seseorang yang ingin berbicara dengan Goan-swe.”

Dengan akrab Pak-kiong Liong merangkul pundak Bok Eng-siang sambil berkata, "Kita sama-sama abdi Kaisar, saudara Bok, tidak usah sungkan-sungkan. Tapi siapa yang ingin berbicara denganku itu?”

Bok Eng-siang cepat menekuk sebelah kakinya untuk berlutut sambil berkata, "Hormatku untuk Pangeran."

Sebelum Bok Eng-siang menjawab, dari pintu berbentuk bundar yang menghubungkan ruangan itu dengan taman bunga di belakang gedung, telah terdengar suara seseorang, “Aku yang ingin bertemu denganmu, Paman.”

Kedua Panglima itu serempak menoleh, dan melihat seorang lelaki muda berperawakan gagah, berpakaian sederhana namun memancarkan keagungan, tengah melangkah perlahan memasuki ruangan itu.

Sedangkan Pak-kiong Liong hanya membungkuk tanpa berlutut. "Selamat datang kembali ke Pak-khia, Pangeran..."

Setelah membangunkan Bok Eng-siang dari berlututnya dan mengucapkan sedikit kata sopan-santun, lelaki muda itu berkata kepada Pak-kiong Liong. ''Paman, baik-baikkah Paman selama ini..?”

"Terima kasih atas perhatian Pangeran. Hamba selama ini baik-baik saja." Pak-kiong Liong memang merasa amat di luar dugaan bahwa di rumah Bok Eng-siang ini dia menjumpai Pangeran In Te putera kesayangan Kaisar Khong-hi.

Bukankah Pangeran ini sudah setahun lebih meninggalkan Pak-khia untuk memimpin angkatan perang, menumpas pemberontakan di Sin-kiang? Kenapa tiba-tiba muncul di Pak-khia yang berjarak ribuan mil dari garis depan? Siapa yang memimpin pasukan itu sekarang?

Pak-kiong Liong menarik napas menyesal ketika samar-samar dapat menduga kenapa Pangeran In Te mendadak muncul di Pak-khia. Pangeran ke empatbelas itu tentu cemas melihat pergolakan di Pak-khia, dan takut kehilangan impiannya, Singgasana Naga.

Seolah dapat membaca pikiran Pak-kiong Liong, Pangeran In Te berkata, “Barangkali Paman heran bahwa aku muncul seorang diri tanpa angkatan perang ku. Perlu Paman ketahui, pemberontakan di Sin-kaing dan Jing-hai sudah padam, tinggal sisa-sisanya yang kekuatannya tak berarti. Sudah aku tinggalkan He-hou Tok dengan 250.000 prajuritnya disana untuk menjaga keamanan. Sedang angkatan perang aku bawa pulang. ke Pak khia untuk menjaga keamanan ibukota, terutama keselamatan Hu-hong (ayahanda Ka isar)..”

Pak-kiong Liong dapat memaklumi alasan yang dikemukakan Pangeran In Te itu. Pangeran itu tentu gelisah mendengar ayahandanya mulai menurun kesehatannya, sementara pengaruh kakandanya, Pangeran In Ceng, semakin kuat mencekam. Bahkan kabarnya jagoan-jagoan pengikut-pengikut In Ceng sudah menempati titik-titik penting di istana.

"Di manakah sekarang pasukan Pangeran?" tanya Pak-kiong Liong.

Sahut In Te, "Sedang dalam perjalanan pulang ke Pak-khia, mungkin sudah masuk propinsi Kam-siok. Namun perjalanan itu amat lambat dan membuatku tidak sabar, sehingga aku mendahului masuk ke Pak-khia dengan beberapa pengawal saja.”

"Apakah Pangeran sudah menghadap Hu- hong?”

Pangeran In Te mendudukkan dirinya di atas kursi, sahutnya dengan wajah murung, "Paman, untuk menyelundup masuk Pak-khia inipun aku harus mempertaruhkan nyawa, sampai menyamar sebagai pengemis segala. Namun di daIam kotapun ternyata aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berkerut seperti kura-kura. Sudah kuperintahkan orangku untuk menyelidiki istana, dan ternyata benarlah desas-desus bahwa istana hampir mutlak dalam genggaman Kakanda In Ceng, jago-jago bawahan Kakanda In Ceng sudah menyebar di semua sudut. Kalau dia tahu aku ada di Pak-khia tanpa pasukanku, habislah aku. Karena itu, aku belum memberitahukan kehadiranku ini kepada Hu-hong. Aku mohon pertolongan Paman untuk memberitahukannya kepada Hu-hong, bukankah setiap pagi Paman masih tetap pergi ke istana?"

"Jadi inikah maksud Pangeran memanggil hamba lewat Bok-ciangkun?"

Suara Pangeran In Te terdengar memelas, "Hanya Paman yang dapat menolong aku, sebab pengaruh Paman di istana masih cukup besar, bahkan tidak jarang Hu-hong mendengar dan melaksanakan pendapat Paman. Aku lebih percaya kepada Paman daripada kepada Pamar Liong Ke-toh, meskipun ia juga pamanku, sebab Paman Liong Ke-toh sudah berkomplot dengan Kakanda In Ceng. Tolonglah bagaimana caranya agar aku dapat menghadap Hu-hong...."

Hampir saja Pangeran In Te berlutut kepada Pak-kiong Liong untuk menekankan permintaannya. Tapi panglima tua itu cepat-cepat mencegahnya. "Jangan berlutut kepada hamba, Pangeran, hamba tak sanggup menerima kehormatan sebesar ini dari Putera Kaisar junjungan hamba. Tentang permohonan Pangeran tadi, baiklah pelan-pelan kita pikirkan cara yang terbaik..."

"Paman menyanggupi?"

"Sedang hamba pikirkan caranya."

"Kalau Paman sanggup, aku harus menghadap Hu-hong dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, sebab waktunya sudah mendesak. Pengaruh Kakanda In Ceng semakin tajam terasa, dan aku tidak boleh kalah cepat dalam bertindak. Kalau dalam tiga hari ini Paman gagal membawa aku menghadap Hu-hong, terpaksa aku akan mengambil jalan pintas untuk mengambil hakku yang hendak direbut Kakanda In Ceng!"

Pak-kiong Liong maupun Bok Eng-siang sama-sama terkejut mendengar ucapan itu. "Jalan pintas bagaimana maksud Pangeran?" tanya Pak-kiong Liong sambil menatap dengan tajam.

Pangeran In Te berdiri dari kursi-nya dan berkata sambil mengepalkan tinjunya. "Singgasana adalah hakku, sebab Hu-hong pernah mengucapkannya sendiri, tidak mungkin beliau salah bicara atau kupingku yang salah dengar. Coba Paman pikir, di antara saudara-saudaraku, siapa yang pernah menerima anugerah Jubah Naga Kuning dari Hu-hong? Hanyalah aku. Kakanda In Si sebagai putera tertuapun tidak, apalagi Kakanda In Ceng, In Gi, In Tong atau In Go. Anugerah Jubah Naga Kuning itulah sebuah isyarat bahwa Hu-hong menginginkan aku menggantikannya, bukan orang lain. Tapi kini kedudukanku terancam, apa salahnya kalau kugunakan kekuasaanku atas Angkatan Perang untuk memaksa Kakanda In Ceng minggir?"

Pak-kiong Liong cemas melihat sikap In Te yang nampaknya sulit "dijinakkan" itu. Katanya, "Pangeran, hamba mengharap agar penggunaan Angkatan Perang itu hanyalah menjadi cara terakhir, kalau cara-cara lain menemui jalan buntu. Tidak sedikit pengorbanan nyawa dan tenaga ketika mendirikan dan mempersatukan kekaisaran ini, jangan-lah kita terperosok ke dalam perpecahan yang menghancurkan diri sendiri karena terdorong marah tak terkendaIi.."

Bok Eng-siang ikut berbicara pula, "hamba mohon maaf karena ikut bicara tanpa diminta. Ucapan Pak-Kiong Liong Goan-Swe itu benar adanya. Saat ini sisa-sisa dinasti Beng belum tertumpas sama sekali, mereka masih menyusun kekuatan sambiI menunggu kesempatan untuk bangkit. Kalau kekaisaran kita menunjukkan kelemahan, itu akan menjadi peluang emas buat sisa-sisa Dinasti yang lama itu untuk bangkit."

Pangeran In Te termangu-mangu mendengar pendapat kedua Panglima itu. la berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil mengepal-ngepalkan tangannya dengan gelisah, kemudian berkata kepada Pak-kiong Liong, "Paman, kalau Paman melarangku menggerakkan Angkatan Perang, apakah aku harus gigit jari saja melihat Kakanda In Ceng semakin berkuasa dan mengangkangi apa yang menjadi hakku?"

"Masih ada banyak jalan untuk mempertahankan hak tanpa kekerasan," kata Pak-kiong Liong, meskipun dalam hatinya diapun ragu-ragu sendiri kalau membaca situasinya. "Kalau Pangeran yakin bahwa diri Pangeranlah pilihan Kaisar, janganlah kuatir. Hamba tahu Hong-siang menulis sepucuk surat wasiat yang dijaga ketat prajurit-prajurit Han-lim-kun, surat itu menunjuk siapa pengganti Kaisar berikutnya. Kelak kalau surat wasiat itu dibuka, siapa berani menentang pesan Kaisar?"

"Tetapi aku tetap ingln menghadap Hu-hong. Aku dengar belakangan ini sakitnya semakin menjadi, sedangkan kakanda In Ceng kurang memperhatikan kesehatan Hu-hong..."

Kuatir kalau permohonan itupun ditolak dan Pangeran In Te menjadi kalap serta mengobarkan perang, maka Pak-kiong-Liong terpaksa menyetujui, “baiklah hamba sudah mendapat akal. Besok sudah ada persidangan di istana dipimpin sendiri oleh Kaisar. Hamba tentu harus menghadiri persidangan itu, dan kalau Pangeran tidak keberatan, Pangeran boleh menyamar sebagai salah seorang pengawal hamba supaya bisa masuk istana..."

"Tentu saja tidak keberatan, Paman , menyamar yang lebih hina pun aku pernah. Ketika masuk Pak-khia, aku dan pengawaI-pengawalku menyamar sebagai segerombolan pengemis..," diselingi helaan napas bernada penasaran dari Pangeran In Te, lalu dilanjutkan, "Itulah nasib celakaku. Untuk pulang ke rumahku sendiri saja harus menyelundup-nyelundup seperti maling takut ketauan. Semua ini gara-gara ketamakan kanda In Ceng...."

Sementara itu, tanpa dirasakan oleh Pak-kiong Liong, ketika tadi ia masuk gedung kediaman Bok Eng-siang, ada dua pasang mata yang mengawasinya. Dua orang yang berpakaian seperti penduduk biasa, hilir-mudik di jalan di depan gedung Bok Eng-siang. Tak ada yang mencurigai mereka, sebab jalanan itu memang ramai menjelang sore.

Setelah Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawal menghilang dalam gedung, kedua orang itu saling berbisik-bisik. "Perkembangan menarik. Harus segera di ketahui oleh Pangeran.”

Temannya yang bertampang agak ketolol-tololan berkata, “Hanya Pak-kiong Liong mengunjungi Bok Eng-siang saja, apanya yang menarik?”

“Kau benar-benar berotak udang. Coba pikir, Bok Eng-siang adalah pendukung Pangeran In Te yang gigih, terang terangan berani menunjukkan ketidak-senangannya kepada Pangeran junjungan kita. Kini Pak-kiong Liong mendadak berkunjung ke gedungnya, tidakkah ini membuktikan desas-desus Itu tidak bo- hong?"

"Desas-desus yang mana?"

"Pak-kiong Liong yang dulunya bersikap tidak memihak itu, kini agaknya menunjukkan kecenderungan memihak kepada Pangeran In Te. Ini tidak boleh diabaikan, sebab Panglima tua itu punya pengaruh kuat dalam pemerintahan maupun kemiliteran, ilmu silatnya tinggi dan perhitungannya cermat. Kalau dia sudah memihak Pangeran In Te, dialah lawan yang sulit dihadapi. Pangeran kita harus segera mengetahuinya..."

"Bagaimana kalau kita coba-coba me nyelundup ke gedung itu dan mencoba menguping pembicaraan Bok-Eng-siang dan Pak-kiong Liong?" si wajah bego mengeluarkan usul.

Temannya menyahut, “Kalau kau ngin melakukannya sendiri. silakan, jangan mengajak aku. Kelak kalau kau tiada, aku berjanji akan merawat ibumu yang sudah tua itu,."

"Apakah Pak-kiong Liong begitu hebat?"

"Entahlah, aku belum pernah bertempur dengannya. Tetapi kalau kau ingin menjajalnya, apa salahnya?"

"Kalau kau tidak mau akupun tidak usah saja."

"Nah, itu baru bijaksana dan ada kemungkinan untuk panjang umur."

Kedua mata-mata itupun menuju ke gedung Pangeran junjungan mereka, yang bukan lain adalah Pangeran In Ceng, saingan terberat Pangeran In Te, Kalau Pangeran In Te menguasai Angkatan Perang, maka Pangeran ln Ceng menguasai dukungan pendekar-pendekar tangguh di wilayah Kang-lam, sebab masa mudanya ia pernah mengembara sebagai pendekar bernama Su Liong-cu.

Kepada para pendekar, In Ceng pernah mengobral janji, kalau berhasil naik tahta dia akan menghapus semua undang-undang yang merendahkan derajat bangsa Han, dia hendak mengumumkan undang-undang bahwa bangsa Manchu dan Han sederajat. Karena itulah ia mendapat dukungan banyak pendekar bangsa Han.

Meskipun banyak juga pendekar yang tidak tergiur janji itu, dan lebih suka melanjutkan perjuangan bawah-tanah untuk membangun kembali Dinasti Beng. Sedangkan pendekar-pendekar pendukung In Ceng itu, begitu mendengar bahwa situasi. di Pak-khia mu lai menghangat, banyak yang sudah ber- bondong-bondong datang ke utara.

Ketika mendengar laporan kedua mata-matanya, Pangeran In Ceng mengerutkan alisnya. Katanya, "Baik, laporan sudah kuterima dan kalian boleh pergi.”

Kedua mata-mata itu berlutut dan mohon diri dengan perasaan puas, karena mereka telah ikut membuat pahala untuk calon Kaisar yang amat berambisi itu. Kalau In Ceng berhasil naik tahta, merekapun berharap akan ikut naik pangkat pula.

Kemudian Pangeran In Ceng menyuruh seorang anak-buahnya yang lain untuk memanggil Ni-Keng-giau datang ke gedungnya untuk merundingkan masalah itu Ni-Keng-giau, jenderal muda yang menjadi adik seperguruan Pangeran In Ceng karena sama-sama murid Pun-bu Hwe sio darl Siau- Iim-si, sekaligus juga tangan kanan dan algojo terpercaya In Ceng untuk menyingklrkan orang- orang yang dianggap merintangi ambisinya, tak lama kemudian sudah ada di gedung Pangeran In Ceng.

"Sute (adlk seperguruan), baru saja aku terima laporan orang-orangku bahwa tanda-tandanya semakin jelas, Pak-kiong Liong semakin memihak Adinda In Te, padahal dia adalah kekuatan yang cukup menentukan dalam percaturan ini," kata In Ceng sambil menepuk meja keras-keras. "Ini harus kita cegah!"

"Pangeran," kata Ni Keng-giau yang tidak berani membalas memanggil "su-heng" (kakak seperguruan) kepada In Ceng yang "calon Kaisar" itu. "Seharusnya kecenderungan Pak-kiong Liong untuk memihak Pangeran In Te itu sudah kita ketahui sejak dulu. Kita sekarang tidak perlu kaget melihat dia membuka kedoknya sendiri, setelah sebelum ini ia berlagak sebagai seorang Paman yang adil dl tengah pertikaian keponakan-ke ponakannya.”

. "Paman Pak-kiong harus segera di-jungkirkan dari kedudukannya sebagai Panglima Hui-liong-kun” kata In Ceng gelisah. "Sute, bagaimana hasilnya kau membujuk beberapa perwira Hui-Liong-kun agar memihak kita?"

Ni Keng-giau menarik napas beberapa kali dan menundukkan kepalanya. “Boleh dikatakan belum ada hasllnya, Pangeran. Perwira-perwira keras kepala itu terlalu terbius oleh wibawa Pak-kiong Liong, andaikata mereka disuruh mati-pun, mereka akan melakukannya sambil mengangkat kepala dengan bangga...”

"Apakah segala cara menurut petunjukku dulu sudah kau terapkan?”

"Sudah sebagian, Pangeran, dan belum ada hasilnya. Hamba sudah menghubungi beberapa perwira Hui-Liong-kun yang kelihatannya sedang mengalami kesulitan keuangan, membujuk mereka agar bergabung dalam gerakan kita dan menjanjikan masa depan gemilang. Tapi mereka tetap menggeleng-geleng kepala lebih suka berhutang kepada sesama perwira daripada menerima uluran pertolongan kita..."

'’Tidak kau gertak dengan kekerasan?"

“Melihat sikap bandel mereka, hamba tidak berani melakukannya. Gertakan kepada mereka malah akan mendorong mereka semakin dalam ke dalam rangkulan Pangeran In Te. Harus dicari cara lain, Pangeran."

"Kalau begini lambat kita bergerak, kita bakal kalah. Seorang mata-mata kita sudah melaporkan bahwa Adinda In Te sudah membawa Angkatan Perangnya kembali ke Pak-khia, setelah menaklukkan pemberontakan di Sin-kiang dan Jing-hai. Kalau Angkatan Perang itu tiba di Pak-khia sebelum kita berhasil merebut kemenangan, itu berarti kita tidak pernah akan menang sama sekali...”

Sesaat kesunyian merajai ruangan itu. "Pangeran, hamba punya sebuah pikiran," tiba-tiba Ni Keng-giau berkata sambil mengangkat kepalanya.

“Katakan, sute!"

"Pangeran In Te adalah seorang putera yang amat berbakti dan menuru pada Ayahandanya, karena itu hamba berpendapat bahwa kunci kalah-menangnya kita bukan Pak-kiong Liong, melainkan Surat Wasiat yang ditulis oleh Hong-siang itu...”

Lalu Ni Keng-gau mendekatkan mulutnya ke telinga Pangeran In Ceng, dan membisikkan beberapa kalian yang membuat wajah Pangeran itu berubah hebat karena terkejut...
Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga Bagian 1 Jilid 01

Kemelut Tahta Naga I Jilid 01

Karya Stevanus S P
Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S.P
ROMBONGAN tentara kekaisaran itu tengah menggiring tiga orang pesakitan yang terbelenggu tangan dan kaki mereka, bahkan leher ketiga-tiganya juga dljepit papan kayu yang teba1 dan berat. Mereka memang pesakaitan-pesakitan berbahaya, bekas perampok-perampok berilmu tinggi yang sudah membunuh banyak petugas keamanan yang berusaha menangkap.

Namun kini ketiga manusia berbahaya itu sudah tertangkap dan sedang menyeret kaki menuju tiang gantungan yang sudah tersedia di kota Tay tong. Untuk keberhasilan meringkus ketiga bandit itu, Panglima Tay-tong yang bernama Ji Kim liong itu patut menepuk dada. Entah berapa banyak jago-jago pe merintah yang gagal menangkap ketiga bersaudara seperguruan yang jahat itu, dan semua jago-jago pemerintah itu kembali dengan tangan hampa, atau malahan tidak kembali sama sekali kecuali arwahnya.

Tapi belum ada setengah tahun Ji Kim Iiong menjadi Panglima di Tay-tong, dan ia teiah berhasil meringkus ketiga bandit perkasa itu. Sarang bandit beserta seluruh gerombolan peram-pok juga sudah ditumpas, sebagian besar mati dan sebagian kecil yang tidak berarti dapat iolos, namun bukan lagi kekuatan yang berbahaya.

Panglima Tay-tong yang mahir Cui-sian-kun (silat dewa mabuk) itu sudah membayangkan hadiah besar yang bakal diterimanya, atau kenaikan pangkat, kalau pusat pemerintahan di Pak-khia ke-lak menerima laporannya disertal bukti tiga butir kepala manusia.

Dengan gagahnya Ji Kim-liong menunggangi kuda coklatnya, berjalan paling depan dari pasukan kecilnya. Benteng kota Tay-tong sudah kelihatan di kejauhan, seperti seleret garis bergerigi, dan di balik tembok itu tentu rakyat sudah siap menyambut keberhasilannya dan mengelu-eIukannya.

Namun lamunan yang mengasyikkan itu bubar berantakan ketika di hadapan pasukannya tiba-tiba muncul seorang lelakl bertubuh tinggi tegap dan berpinggang ramping kokoh, tetapi wajahhya tak terlihat, sebab disembunyikan dl balik selembar kedok kain hitam. Bah-kan orang berkedok itu mengangkat ta-ngan sambil berkata dengan nada memerintah, "Berhenti...!”

Ji Kim Liong terkejut dan menghentikan pasukannya, Siapakah yang bernyali begitu besar sehingga berani menghadang Panglima Tay-tong dan dua ratus lima puluh perajurtnya? Kemudian ternyata keberanian orang berkedok itu cukup beralasan, sebab diapun tidak sendirian.

Dari balik batang pohon-pohon besar, dari atas po-hon, dari belakang semak-semak, malah ada yang seolah muncul dari tanah, berlompatanlah orang-orang yang menunjuk-kan gerak-gerik tangkas dan membawa senjata, tapi semuanya memakai kedok kain. Dalam beberapa detik saja, pasu- kan Ji Kim-liong sudah dikepung oleh orang- orang berkedok yang jumlahnya cukup banyak itu.

Tapi Ji Kim liong tidak gentar, tubuhnya bagaikan dilempar dari atas pelana kudanya untuk berdiri dltanah, sambil memerintah pasukannya, “Jaga tawanan jangan sampai lepas!”

Pasukan kecil yang terlatih itupun segera membentuk pertahanan melingkar yang berlapis-lapis, sementara tiga orang tawanan yang terbelenggu itupun ditempatkan di tengah-tengah. Detik berikutnya, Ji Kim liong sudah menghunus siang-kek (sepasang tombak pendek) yang tadinya tergendong bersilangan di punggungnya.

Gertaknya, "Kalian rupanya sudah bosan hidup se-hingga berani menghadang tentara kekaisaran yang sedang menjalankan tugas keamanan. Siapa kalian sebenarnya?"

Orang berkedok bertubuh tinggi tegap yang muncul pertama kali tadi, bukannya menjawab, malah balas menggertak tidak kalah garangnya, "Ji Kim-liong, tidak ada waktu menerangkan tentang siapa kami ini. Sekarang bagimu hanya ada dua piiihan. Serahkan tawanan-tawanan Itu, dan kau akan selamat, bahkan di kemudian hari kau akan menemui perjalanan gemilang daIam jalur ke pangkatanmu. Tapi kalau kau menolak kami, kami akan menumpasmu sampai habis!”

Ji-Kim-Liongg yang berotak cerdas itu toh kebingungan juga mendengar ucapan orang berkedok itu. Dengan susah payah otaknya mencoba mencari hubungan yang masuk akal antara "melepaskan tawanan" dengan "perjalanan gemilang dalam jalur kepangkatan" dan ia tidak berhasil menemukan jawabannya. Kalau orang-orang berkedok ini adalah perampok, mana ada perampok yang menjanjikan "perjalanan gemilang dalam jalur kepangkatan segala?”

Tapi Panglima Tay-tong ini cepat-cepat membuang semua kebimbangannya dan mengambil sikap tegas. Baru setengah tahun ia menduduki jabatannya dan baru saja hendak mendirikan pahala dengan menangkap penjahat-penjahat itu, tentu saja ia tidak ingin menyerahkan tawanannya kepada orang-orang tak dikenal itu. Karena itulah ia segera memerintahkan, “Tumpas kurcaci-kurcaci itu!”

Maka pinggiran hutan yang sepi itu pun berubah menjadi arena pertempuran yang hebat antara pihak yang hendak me rebut tawanan melawan yang mempertahan kannya. Perajurit-perajurit kota Tay-tong itu tangkas-tangkas, sebab Ji-Kim-Liongg selama ini mewajibkan mereka latihan setiap hari. Selain tangkas, juga mahir bertempur secara teratur sebagai sebuah pasukan, saling membantu dan memperkuat antar bagian serta ti-dak berkelahi sendiri-sendiri.

Tapi orang-orang berkedok yang menghadang jalan mereka itupun menun- jukkan perlawanan yang diluar dugaan. Jumlah mereka leblh sedikit, tapi per-lahan-lahan ternyata malah mampu menekan pasukan dari Tay-tong. Mereka tidak mirip perampok- perampok yang bertempur secara liar, tapi lebih menyeru pai ketangkasan prajurit-prajurit istimewa semacam Han-Lim-kun, Gi-lim- kun atau Hui-Liong-kun, pasukan Naga Terbang bawahan Pak-kiong Liong yang dibawah komando Pangeran In Te itu.

Mellhat kenyataan itu, JiKim-liong merasa heran dan sekaligus gentar juga. Inilah lawan- lawan yang misterius, menimbulkan kebingungan. Namun ia masih mengeraskan hati untuk tidak menyerah begitu saja. Pikirnya, "Persetan dari mana asal-usul mereka, tapi siapapun yang kuhadapi ini harus kulawan demi tugasku. Bahkan seandainya mereka ini jagoan-jagoan Gi-ci-an-si-wi (Pengawal Kaisar) sendiri, tapi karena memakai tutup muka dan bertingkah seperti bandit, aku tidak akan disalahkan kalau menumpas mereka tanpa ampun!"

la sendiripun memutuskan untuk ber tempur. Sepasang tombak pendeknya segera diputar kencang sampai mengeluarkan angin menderu, lalu ia melangkah maju melakukan serangan Siang-Iiong-jut-hai (Sepasang Naga Muncul di Samudera) untuk menikam serempak dada sebelah kanan dan kiri orang berkedok yang menjadi pimpinan itu.

Biarpun orang berkedok itu bertubuh tinggi-besar seperti menara besi, namun juga punya gerakan licin seperti belut. Serangan Ji-Kim-Liongg dengan mudah dapat dihindari dengan sebuah langkah pendek ke samping sambil membungkuk, berbarengan dengan telapak tangannya menyodok ke rusuk Ji Kim-liong yang terbuka. Agaknya ia juga seorang yang sombong dan mencoba mengalahkan Ji-Kim-Liongg dengan tangan kosong saja.

Tetapi sebagai penanggung jawab keamanan kota Tay-tong dan sekitarnya, Ji-Kim-Liongg juga bukan orang lernah. Badannya tiba-tiba terhuyung ke belakang, seolah hendak roboh, tetapi dibarengi kaki kanannya terangkat dan ujungnya hendak menendang ke siku tangan lawan yang tengah terjulur.

Biarpun orang berkedok itu bertubuh tinggi besar seperti manusia besi, namun ia juga mempunyai gerakan licin seper belut dari tangan, jika orang berkedok itu tidak cepat-cepat menarik lengannya, maka jalan darah Jing-ling-hiat di lengannya akan kena tendangan dan lumpuh seketika.

"Cui-sian-kun-hoat yang benar-benar hebat!” geram orang berkedok itu sambil cepat-cepat mundur selangkah dan menekuk lengannya.

Sadar bahwa dirinya tak mungkin mengalahkan Ji-Kim-Liong dengan tangan kosong, orang berkedok itu dengan gerak cepat menghunus pedang yang tadi-nya tergantung di pinggangnya. Sebenarnya Ji-Kim-Liong sudah bertekad untuk mempertahankan tawanannya mati-matian, tapi demi melihat pedang yang dipegang lawannya itu, maka tekadnya pun terguncang.

Bagian pelindung tangan dari pedang itu terbuat dari emas dan berbentuk ukiran seekor naga. Itulah pedang yang diidamkan oleh orang-orang yang mengabdi kepada Kerajaan sebagai prajurit. Pedang itu biasanya dianugerahkan oleh Kaisar sendiri kepada prajurit-prajuritnya yang berjasa besar dari tingkat kepangkatan tertentu, yaitu hanya yang sudah mempunyai Hoa-leng (bulu burung merak yang dipasang pada topi para pejabat Manchu dari tingkatan tertentu).

Ji-Kim-Liongg sendiri sudah memakai Hoa-leng di topinya, namun untuk mendapat anugerah pedang macam itu agaknya ia masih harus berbakti bertahun-tahun lagi. Maka timbullah keraguannya, siapakah orang berkedok yang di lawannya itu? Apakah juga seorang perwira kerajaan yang pangkatnya justru lebih tinggi darinya?

"Darimana kau curi peaang itu? Darimana pula asalmu?" Ji-Kim-Liongg mencoba membentak segarang mungkin, namun hatinya sebenarnya sudah goyah.

Melihat kebimbangan Ji-Kim-Liongg, orang berkedok itu juga tidak menyerang. Pedangnya ditimang-timang, memberi kesempatan kepada Ji-Kim-Liong untuk melihat lebih jelas. Katanya sambil tertawa, "Tentang siapa diriku, maaf, aku tidak bisa memberi tahu. Tapi pedang ini, kuberi tahu bahwa aku mendapatnya bukan dengan mencuri. Aku terima sambil berlutut dengan kedua tangan ku sendiri, langsung dari salah seorang putera Kaisar!"

Keragu-raguan Ji-Kim-Liong tak dapat disembunyikan lagi. Kalau ia berhadapan dengan kelompok hitam bagaimanapun ganasnya, ia siap melawan habis-habisan. Tapi kini lawannya mengaku menerima pedang itu langsung dari tangan seorang Putera Kaisar, sikapnyapun tidak mirip orang-orang Hek-to (jalan hi tam), melainkan agak keningratan. Siapa orang ini?

Sesaat Ji-Kim-Liong hanya berdiri mematung, mencari keputusan yang tepat. la curiga bahwa soal yang dihadapinya saat itu jangan-jangan adalah riak kecil dari kemelut yang sedang berlangsung di pemerintahan pusat di Pak-khia? la tahu, Kaisar Khong-hi yang sudah lanjut dan lemah tubuhnya itu mempunyai belasan orang putera yang hampir semuanya berebut ingin menggantikan kedudukannya.

Persaingan antar Putera Kaisar itu juga merembet menjadi persaingan antar Panglima dan Gubernur yang mendukung pilihan masing masing. Pergolakan itu membuat panglima-panglima kecil di daerah-daerah yang jauh, seperti Ji-Kim-liong, jadi kebingungan menentukan kiblat. Harus berpihak kepada Pangeran yang mana Kalau terang-terangan berpihak kepada Pangeran yang satu, jangan-jangan yang kelak naik tahta malah Pangeran lainnya?

Maka jalan yang paling aman hanyalah menunggu arah angin. Tetapi disamping orang-orang tak berpendirian macam itu, banyak pula jenderaI-jenderaI atau panglima-panglima yang dengan beraninya langsung memihak salah satu putera kaisar yang bersaing itu, semacam permainan untung-untungan.

Kalau pangeran dukungannya berhasil naik tahta, maka pendukungnya pun akan menjadi orang dekatnya Kaisar yang baru. Kalau Pangeran yang didukungnya kalah, ya berantakanlah semua perhitungan, atau siap- siap untuk ganti haluan yang paling menguntungkan.

Ji-Kim-Liong bukanlah orang toloI. Penghadangan yang dihadapinya itu, ia yakin, pasti berlatarbelakang kemelut perebutan kekuasaan di Pak khia. Kalau demikian, persoalannya tidak sesederhana kalau menghadapi perampok-perampok biasa. Yang ini harus dihadapi dengan penuh perhitungan untung-rugi, agar tidak membahayakan kedudukannya di kemudian hari.

Karena itulah Ji-Kim-Liong tidak bersikap garang lagi, tapi mencoba me-mancing. "Sahabat, aku menduga tindakanmu ini dilatar-belakangi persaingan antar Putera Kaisar di Pak-khia. Benar tidak?"

"Terus terang, ya," sahut orang berkedok itu. "Aku menganjurkan agar pandai melihat gelagat, supaya masa depanmu cerah. Kelak apabila Pangeran junjunganku berhasil naik tahta, beliau tidak akan melupakan budimu, sekecil apapun."

"Kalau gagal naik tahta?"

"Pangeran akan menanggung akibat-nya sendiri, tanpa menyeret-nyeret dirimu. Kau tidak rugi apa-apa, kecuali kehilangan sedikit pahala karena ketiga tawanan penting itu hilang ditengah jalan. Namun yakinlah, Pangeran junjunganku adalah yang paling berpeluang naik tahta dibandingkan Pangeran-pange ran lainnya. Pendukungnya tidak banyak, tapi kekuatan yang menentukan.”

"Pangeran yang mana?"

"Masih harus kurahasiakan. Maaf."

"Kalau sudah merasa begitu yakin akan menduduki Tahta Naga, kenapa masih juga di sembunyikan namanya?”

"Sekedar supaya tidak menimbulkan keributan. Kelak pergantian pemegang kekuasaan harus berjalan dengan mulus, tanpa gejolak sedikitpun."

Sebetulnya Ji-Kim-Liong hampir berhasil menebak Pangeran yang mana yang dibicarakan orang berkedok itu, namun ia merasa lebih aman untuk tetap berpura-pura bodoh saja. Batok kepala dan kedudukannya terlalu berharga untuk di pertaruhkan karena berlagak pintar. Tetapi, main untung-untungan sedikit apa salahnya.

Mungkin ini sebuah kesempatan untuk melonjakkan pangkatnya. Tapi ia tidak ingin ikut "bermain“ terlalu dalam,dalam kemelut itu, cukup di “pinggiran" saja, sehingga kalau keadaan tidak menguntungkan maka ia dengan gampang akan dapat keluar arena dan cuci tangan.

Sesaat otak Ji-Kim-Liong menghitung-hitung, lalu keputusanpun diambil nya, "Baik. Aku akan tutup mata dan tutup telinga siapa kalian atau apapun yang kalian lakukan. Bawa ketiga tawanan itu.”

Orang berkedok itu tertawa sampai pundaknya tergoncang-goncang. Ji Ciankun (Panglima Ji), kau benar-benar hati-hati dalam memainkan kartu. Baiklah, terima kaslh."

Ketika kemudian Ji-Kim-Iiong memerintahkan pasukannya agar menghentikan perlawanan dan menyerahkan tawanan-tawanan itu, maka anak buahnya menjadi heran campur penasaran. Untuk menangkap tawanan-tawanan itu, korban sudah jatuh, kenapa diserahkan begitu saja ke tangan orang-orang berkedok itu?

Lagjpula pertempuran tadi belum tentu di menangkan oleh orang-orang berkedok itu, kenapa menyerah begitu cepat? Tapi perintah sudah jatuh dan tak bisa di-bantah lagi. Dengan berat hati, tiga pesakitan yang mereka tangkap dengan susah-payah itu harus mereka serahkan ke pihak orang-orang berkedok itu.

Para prajurit keroco itu lebih tidak mengerti lagi ketika melihat Ji-Kim-Liong ternyata malah bersikap ramah dan hormat kepada orang berkedok yang memimpin itu. Sebelum berpisah, keduanya saling memberi hormat, dan entah apa yang mereka percakapkan, prajurit- prajurit itu tidak mendengarnya.

Setelah rombongan orang-orang berkedok itu menghilang ke dalam hutan, seorang perwira bawahan Ji-Kim-Liong segera mengutarakan rasa penasarannya, mewakili teman-temannya, "Ciangkun, siapakah mereka, sehingga kita enak saja menyerahkan tawanan-tawanan yang kita tangkap dengan susah-payah dan pengorbanan tewasnya beberapa orang kita?”

Ji-Kim-Liong menjawab sambil menegakkan kepalanya, "Aku tahu apa yang aku perbuat. Kau tidak usah coba-coba mengatur aku."

Tapi perwira itu masih juga penasaran, "Tapi apakah nyawa teman-temanku yang tewas ketika menangkap ketiga penjahat itu juga tidak kita hargai? Setidak-tidaknya kita harus tahu kepada siapa tawanan-tawanan itu kita serahkan, sedang orang-orang tadi membuka kedoknyapun tidak mau....."

Dalam hati, sebenarnya Ji-Kim-Liong merasa kurang enak juga kepada pasukannya yang sudah menyabung nyawa menggempur sarang perampok itu. Namun ia tidak mau kehilangan muka kalau didebat di hadapan prajurit-prajuritnya, maka dengan pura-pura marah dia memben tak, "Sudah, diam! Aku sudah memper- hitungkan semua tindakanku, kalian sebagai bawahan hanya wajib menjalankan semua perintah!"

Para perwira dan prajurit bawahan itu bungkam. Namun dalam hati mengeluh, alangkah tidak enaknya menjadi ba wahan dari orang macam Ji-Kim-Liong. Mereka seperti bidak-bidak di atas papan catur saja. Kadang-kadang disuruh maju ke depan untuk mempertaruhkan nyawa, namun tiba-tiba nyawa yang sudah terlanjur melayang itu jadi kehilangan harganya karena tindakan “kebijaksanaan" dari atasan.

Pasukan itu kemudian mengatur diri, berbaris kembali ke kota Tay-tong. Namun jangan harap akan mendapat sambutan meriah dari penduduk, sebab penjahat-penjahat yang mereka tangkap sudah "hilang" di tengah jalan.

Sementara itu, tiga penjahat itu digiring oleh orang-orang berkedok Itu ke sebuah tempat tersembunyi dalam hutan. Ketiga tawanan itu sendiri tidak tahu bagaimana nasib mereka nanti, namun mereka berharap akan menemui nasib yang lebih baik daripada harus mati dijerat tali gantungan di hadapan penduduk kota Taytong.

Tak lama kemudian, rombongan itu tiba di seberang hutan, di sebuah lapangan rumput. Di tempat itu ternyata telah bergerombol ratusan orang berpakaian prajurit Kerajaan Manchu. Sebagian besar dari mereka bersenjata tombak, pedang dan perisai, namun ada sebagian kecil yang membawa bedil-bediI seperti yang sering dibawa pelaut-pelaut barat.

Bubuk mesiu yang menjadi “nyawa" bedil-bedil itu sebenarnya ditemukan orang Cina di jaman dinasti Tong, abad ke delapan. Kemudian ketika Jenghis Khan si penaluk Mongol itu menyerbu sampai ke Eropa, bahan peledak itupun dikenal dan dipelajari orang-orang Eropa, sehingga terciptalah bedil dan pistol.

Di jaman Kaisar Khong-hi berkuasa di negeri Cina saat itu, sudah banyak orang-orang Eropa mendarat di negeri-negeri timur sehingga jenis-jenis senjata api itupun mulai dikenal bangsa-bangsa timur. Meskipun senjata api itu ada kelemahannya, yaitu setiap habis melepaskan satu peluru akan makan waktu untuk mengisi obat peledak dan pelurunya lagi, tapi toh senjata itu ikut berperanan mengubah jalannya sejarah negeri-negeri timur.

Begitu melihat munculnya orang-orang berkedok itu, para prajurit serempak menekuk sebelah lututnya sambiI memberi salam secara serempak, "Hormat untuk Ni Goan-swe (Jenderal Ni)!"

Ada seorang pendeta Tibet berjubah kuning dirangkapi kain merah, di antara prajurit-prajurit itu. Tapi pendeta itu tidak ikut berlutut, hanya merangkap dua telapak tangan sambil sedikit membungkuk. Orang berkedok yang menjadi pernimpin itu melepaskan kedoknya, sehingga nampaklah seraut wajah lelaki muda tampan dan gagah, dengan alis tebal dan hidung agak besar yang menggambarkan orang yang selalu mengejar ambisinya.

Dengan langkah agung, ia langsung menghampiri kursi berlapis kulit macan yang tersedia baginya meskipun di pinggir hutan, dan mendudukinya. Seorang prajurit menjunjung tinggi nampan teh hangat di atas kepalanya, dan menyuguh kannya sambiI berlutut.

Lebih dulu Jenderal Ni menghirup tehnya dengan nikmat, lalu menatap ketiga penjahat tawanan rampasannya itu, dan memerintahkan anak-buahnya, "Buka ikatan mereka!"

Tiga prajurit membuka belenggu tiga penjahat itu, dan seorang dari pra-jurit-prajurit itu berkata, "Berlututlah kepada Jenderal Ni Keng-Giau yang sudah melepaskan kalian dari jalan kematian!”

Disebutnya nama Jenderal Ni membuat hati ketiga tawanan itu terguncang hebat. Itu sebuah nama terkenal dari seorang jenderal muda yang sudah mendudukl jabatan ketentaraan berkekuasaan besar, karena la adalah adik seperguruan dari Pangeran In Ceng, salah seorang Pangeran yang berpengaruh di Pak khia. Kini ketiga tawanan itu tidak tahu apa maksud Ni Keng-giau merebut diri mereka dari tangan pasukan Tay-tong?

Maka meskipun dengan agak serabutan, dua dari tiga tawanan itu cepat-cepat berlutut. Namun yang seorang lainya tidak mau berlutut, hanya menganggukkan kepalanya sedikit, sikapnya itu tentu saja sangat menyolok. Ni Keng-giau melirik sekejap ke arah penjahat yang enggan berlutut itu, namun kesan wajahnya dingin saja. Kata Ni Keng-giau kemudian,

"Aku sudah mendengar tentang diri kalian. Tapi supa-ya aku yakin tidak keliru, coba kalian sebutkan nama kalian sendiri-sendiri!"

"Entah keberuntungan entah bencana yang sedang menghadang di depan kami ini?" begitu kurang lebih pikiran ketiga tawanan itu. Namun menilik lepasnya belenggu-belenggu mereka, agaknya mereka tidak perlu cemas akan nyawa mereka, setidak-tidaknya untuk sementara.

Penjahat yang paling tua umurnya segera menjawab, "Hamba bernama Ho Ti-an-ek dan berjulukan Tiat-jio-hui-hou (Macan Terbang Bertumbak Besi)"

Disusul yang kedua, "Hamba Ho Tian sek, dijuluk Tiat-jiau-him (Beruang Berkuku Besi)!"

Tawanan yang enggan berlutut itu menjawab paling akhir, "Dan aku Ko Leng-tay, si Jian-Li-hui-Lok (Menjangan Terbang Seribu Li)!" Kalau kedua rekannya menggunakan kata "hamba" untuk menyebut diri sendiri, maka dia cukup dengan "aku" saja.

Sikap angkuh Jian-Li-hui-lok Ko Leng-tay itu membuat beberapa anak-buah Ni-Keng-giau kurang senang, tapi si Jenderal muda sendiri berwajah setenang danau yang amat dalam, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkan atau di rasakannya. Tanpa peduli lagak Ko Leng-tay, Ni Keng-giau berkata,

‘'Aku tidak akan bicara panjang lebar, langsung saja. Aku tawarkan dua pilihan kepada kalian. Pertama, dengan ilmu kalian yang pernah menggegerkan wilayah Siam-si Utara, Pangeran menginginkan kalian bergabung dengan beliau. Kelak jika Pangeran naik tahta, kalianpun akan ikut mencicipi kemuliaan. Kedua, kalau kalian menolak, kalian akan tetap bergelandangan sebagai penjahat yang mengadu nyawa hanya untuk berebutan setahil dua tahil, dan kalau tertangkap kalian akan dijerat oleh tali gantungan atau dipenggal oleh algojo pemerintah. Nah, pikirkan."

Dua bandit bersaudara, Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek nampaknya mulai tertarik oleh tawaran menggiurkan itu. Dari seorang perampok yang senantiasa di uber-uber, akan menjadi orang terhormat yang dipanggil "tai-jin", siapa tidak tertarik? Mereka saling lirik sebentar satu sama lain, lalu Ho Tian-ek bertanya, "Ni Goan-swe, kalau hamba boleh tahu, mengabdi Pangeran dengan cara bagaimana?"

"Pangeran sedang membentuk sebuah pasukan rahasia yang terdiri dari orang-orang luar daerah, tak peduli asal-usul atau latar belakang kehidupanya. Kelak kalau Pangeran menang dalam perebutan tahta, anggota-anggota pasukan rahasianya itu akan menjadi Ni Keng-giau!" dengan menunjuk barisan pengawalnya.

Dua saudara Ho mengikuti arah telunjuk Ni Keng-giau. Mereka nelihat deretan perwira yang berjubah ungu dengan ikat pinggang berkepala batu giok hijau, memakai topi mirip caping berhias benang merah dan bulu burung merak yang indah. Kedua saudara Ho itu membayangkan, alangkah gagahnya kalau merekapun memakai pakaian seperti itu.

Tidak usah takut lagi kepada petugas-petugas keamanan yang selama ini menguber-uber mereka, sebab mereka akan berkedudukan lebih tinggi sebagai pengawal-pengawal dari seorang Pangeran yang akan menduduki tahta.

Mata Ni Keng-giau yang lihai itu dengan sekali pandang saja sudah berhasil membaca pikiran kedua orang itu. Diam-diam ia merasa bahwa kedua orang itu sudah dalam genggaman tangannya. Tapi alisnya berkerut ketika melihat Ko Leng-tay acuh tak acuh saja menghadapi tawaran mengiurkan itu.

Bahkan Ko Leng-tay kemudian berkata kepada kedua rekannya, "Lo-toa dan Lo-ji, meskipun kita adalah orang-orang bernama busuk dan sering dikutuk dunia persilatan, tapi bagaimanapun juga selama ini kita punya harga diri dan kebebasan. Akankah kita jual harga diri dan kebebasan itu, lalu menjadi anjing-anjing pemburunya pihak kerajaan?"

Ucapan itu bukan saja mengagetkan dua saudara Ho yang kuatir kalau Ni Keng-giau marah dan membatalkan tawarannya, tetapi juga membuat darah Ni Keng-giau menggelegak karena marah bahwa makian "anjing-anjing pemburu" itu juga menyerempet dirinya. Sekilas sebuah seringai kejam tersungging di wajah Jenderal muda itu.

Lebih dulu Ni Keng-giau bertanya kepada dua saudara Ho, "Bagaimana pendapat kalian sendiri tentang tawaran tadi?"

Keduanya memang sudah mengambil keputusan, karena itu tanpa pikir panjang lagi merekapun menjawab serempak, "Kami bersedia, Goan-swe!"

"Dan kau?" tanya Ni Keng-giau kepada Ko Leng-tay.

Lebih dulu Ko Leng-tay melirik penuh penghinaan ke arah kedua rekannya, lalu menjawab, "Aku cuma seorang gunung yang bodoh, tidak berbakat menjadi orang berpangkat. Aku mohon diri, Goanswe!” Habis kata-katanya, ia segera memutar tubuh untuk melangkah pergi.

Tapi langkahnya tertahan oleh bentakan Ni Keng-giau, "Tunggu!"

"Ada apa lagi, Goan-swe?"

Perlahan-lahan Ni Keng-giau bangkit dari kursinya, suaranya bergetar menahan kemarahannya, "Sudah kau pikir kan baik-baik keputusanmu untuk menolak uluran tangan kerja-sama ini?"

Ternyata bandit itu tetap kukuh pada pendiriannya. "Kerja sama apa? Paling-paling tenaga kami hanya akan diperas habis-habisan demi kepentingan majikanmu. Setelah tujuan majikanmu tercapai, nasib kami sendiripun akan sulit diramalkan. Selamat tinggal..."

"Jangan pergi dulu!"

"Apakah Goan-swe menyesal telah me ngambil aku dari tangan Ji Kim-Liong, dan kini akan menangkapku kembali?"

"Ya, aku menyesal membebaskanmu, orang tak kenal budi. Seharusnya kau kubiarkan saja mati digantung atau dipenggal di Tay-tong. Namun sekarang pun rasanya belum terlambat untuk mengambil nyawamu!”

Ko Leng-tay bergidik hatinya. Diri nya tidak bersenjata sepotongpun, sementara di pihak Ni Keng-giau ada sekelompok prajurit bersenjata lengkap. Namun ternyata Ko Leng-tay tetap nekad membangkang, dengan tajam ia menatap Ni Keng-giau sambil berkata, "Baik, ambillah nyawaku, Goan-swe. Tapi aku akan melawan habis-habisan biarpun hanya dengan sepasang tangan kosong, sedang di pihakmu ada ratusan pucuk senjata..."

Ni-Keng-giau menyeringai kejam. "Julukanmu adalah Menjangan Terbang Seribu Li, tentunya ilmu meringankan tubuhmu berani diuji bukan? Nah, kita adakan permainan sedikit. Kalau kau menang, kau selamat. Kalau kalah ya mampus. Tapi aku tidak akan menyuruh anak buahku untuk mengeroyokmu"

Manusia yang manapun juga, kalau hidupnya sudah terjepit dan kemudian mendapat setitik peluang untuk hidup, tentu akan berjuang sekuat-kuatnya untuk merebut peluang itu. Begitulah dengan Ko Leng-tay yang dengan tegang siap mengikuti "permainan” Ni Keng-giau. Kalau benar ucapan Ni-Keng-giau tadi bahwa "ilmu meringankan tubuhnya akan “diuji", itu justru keahliannya.

Sementara itu Ni Keng-giau telah menunjuk sebatang pohon di kejauhan, sambil berkata, "Pohon itu letaknya hanya tigapuluh langkah dari sini. Kalau kau berhasil melewati pohon itu, kau bebas..."

Hati Ko Leng-tay melonjak mendengar "permainan" itu ternyata hanya demikian saja. Seringan itukah "ujian" bagi Si Menjangan Terbang Seribu Li? Masa tidak bisa berlari melewati pohon itu dalam beberapa detik saja? Namun ia agak ragu-ragu juga, jangan-jangan Ni Keng-giau menyiapkan semacam akal Iicik.

Agaknya paham apa yang sedang terpikir oleh Ko Leng-tay, Ni Keng-giau berkata, "Jangan khawatir, tak akan seorangpun anak buahku bergeser dari tempatmu sekarang, di dekat pohon itu juga tidak ada perangkap.”

"Hemm, memang anak-buahmu tidak perlu bergeser selangkahpun, Goan-swe, kalau menggunakan bedil, panah atau lembing untuk mengincar punggungku..."

"Tidak akan ada bediI, panah lembing yang dilepaskan. Kenapa ragu-ragu, bergeraklah. Jalan kebebasan sudah terbentang di hadapanmu, tergantung kau berani melangkah atau tidak?"

Akhirnya Ko Leng-tay jadi nekad. la sadar, kalau ia masih menunda-nunda tindakan, maka semangatnya akan semakin merosot di bawah tekanan sorot mata Ni Keng-giau yang amat berkuasa itu. Maka sambil mengertak gigi dan mengerahkan seluruh semangatnya, tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah pohon itu. Gerakannya begitu cepat, sehingga tak percumalah dia berjulukan Jian-li-hui-lok.

Tetapi pada detik Ko Leng-tay ber-gerak, Ni Keng-giau memberi isyarat anggukan kepala kepada si Pendeta Tibet yang berdiri di sebelah kursinya. Di tangan. pendeta itu ada benda seperti kantong kulit besar yang menggelembung, besarnya seukuran semangka lebih, sedang pada pantat kantong kulit itu ada sehelai rantai yang tipis tapi kuat, tergulung di lengan si pendeta.

Begitu mendapat isyarat Ni-Keng-giau, si pendeta menyeringai sadis, berbarengan dengan melemparkan kantong kulitnya ke udara. Kantong kulit itu seperti sebuah Iayang-layang saja, berpusing di udara dan mengeluarkan suara gemerincing, memburu ke arah kepala Ko Leng-tay.

Jian-li-hui-lok Ko Leng-tay yang tengah berlari kencang untuk mencapai “batas kebebasannya, terkejut ketika mendengar suara gemerincing di atas kepalanya. la agak tertegun langkahnya karena menoleh ke atas, melihat sebuah kantong kulit besar sedang menungkrup kepalanya dari atas dengan kecepatan luar biasa. Bukan kantong kulit itu yang menyeramkan, melainkan bagian dalamnyalah, yang terdapat kerangka besi tipis, sedang di mulut kantong bagian dalam ada jajaran pisau-pisau tipis yang menyilang.

Darah Ko Leng-tay berdesir melihat iitu, namun pohon "batas kebebasan" itu kurang dua langkah lagi. la tingkatkan kecepatan langkahnya, berbareng dengan itu pandangannya terasa gelap karena kepalanya terkerudung kantong terbang itu, dan lehernya terasa pedih bukan main.

Ni Keng-giau dan anak-buahnya melihat bagaimana Ko Leng-tay berhasil melewati pohon itu, namun tanpa mengikut sertakan kepalanya. Tubuh tanpa kepala itu masih berlari beberapa langkah ke depan sambil menggapai-gapaikan kedua tangannya, sebelum ambruk, bergetar seperti ayam disembelih, lalu diam selama-lamanya.

Dimana kepalanya? Kepalanya sekarang dalam kantong kulit besar itu. Ketika si pendeta Tibet menyentakkan rantai itu, kantong kulit itu melayang kembali ke arahnya dan ditangkap dengan tangannya. Digoyangkannya kantong itu keras-keras dan batok kepala Ko Leng-tay menggelundung keluar. Wajah penjahat itu seolah masih hidup saja, matanya membelalak, kerut kulit wajahnya memancarkan kenge-rian dan ketidak-percayaan, sedang lehernya yang terpotong itu hanya mengeluarkan beberapa titik darah saja.

Dua saudara Hot bahkan beberapa perwira bawahan Ni-Keng-giau, memaling kan mukanya karena tidak berani menatap kepala tanpa tubuh dengan ekspresi yang mengerikan itu. Tapi Ni-Keng-giau malah bertepuk tangan dan memuji pendeta Tibet itu, "Biau-beng Lama, sungguh hebat senjatamu itu. Apa namanya?"

Biau-beng Lama nampak bangga, sahutnya, "Senjata perguruanku ini membunuh korban tanpa darah yang berceceran maka guruku almarhum menamainya Hiat-ti-cu (Setetes Darah)."

Ni-Keng-giau sebenarnya sudah lama tahu nama senjata itu, namun ia sengaja mengulanginya panjang lebar untuk diperdengarkan kepada dua saudara Ho, "Hiat-ti-cu”. "Nama yang tepat. Bagaimana kemajuan pasukan rahasia kita yang dilatih menggunakan Hiat-ti-cu itu?"

Biau-beng Lama menyahut, "Dalam dua atau tiga bulan lagi, semua anggota pasukan rahasia akan mahir menggunakan Hiat-ti-cu, sehingga pihak kita akan memiliki algojo-algojo yang ampuh. Siapapun lawan-lawan kita, ataupun orang-orang kita sendiri yang bermaksud berkhianat, akan segera kita lenyapkan kepalanya!”

Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek berkeringat dingin mendengar tanya-jawab antara Ni-Keng-giau dan pendeta Tibet itu. Mereka sadar bahwa percakapan itu ditujukan kepada mereka, semacam peringatan agar jangan coba-coba berkhianat.

Kata Ni Keng-giau kemudian kepada kedua penjahat yang ditaklukkan itu, "Kalau kalian sudah setuju bergabung dengan kami, maka tata-tertib kelompok kamipun berlaku untuk kalian berdua. Paham?"

Dua saudara Hot bahkan beberapa perwira bawahan Ni-Keng-giau, memalingkan mukanya karena tidak berani menatap kepala tanpa tubuh dengan ekspresi yang mengerikan itu. Apa lagi yang bisa diperbuat oleh Ho bersaudara itu kecuali mengangguk-angguk dengan patuh? Kombinasi antara ancaman kematian yang mengerikan dengan bujukan hidup mewah dan berkekuasaan, membuat kedua begal itu bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani "hidup baru" mereka.

"Karena kalian berdua sudah menjadi orang-orang sendiri," kata Ni-Keng-giau lagi, "Tak ada halangannya kalian tahu kepada siapa kita mengabdi, yaitu kepada Pangeran In Ceng, pangeran keempat, yang dimasa mudanya pernah mengembara di Kang-lam sebagai seorang pendekar dengan nama Su Liong-cu. Kita harus bersungguh-sungguh bekerja untuk nya supaya kelak Pangeran dapat naik tahta."

Kembali Ho Tian-ek dan Ho Tian-sek hanya bisa mengangguk-angguk,sementara di angan-angan mereka sudah terbayang betapa menterengnya hidup mereka di kemudian hari. Rombongan Itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Tubuh dan kepala Ko Leng-tay yang terpisah jauh itu ditinggalkan begitu saja untuk "disumbangkan" kepada anjing-anjing liar, burung gagak, atau semut-semut. Kedua saudara Ho rasanya tidak tega juga membiarkan mayat bekas rekan "seprofesi" mereka selama belasan tahun itu. Namun hati mereka terlalu kecut untuk bicara kepada Ni-Keng-giau yang sadis itu.

Di saat-saat berikutnya, Pangeran In Ceng dibantu oleh Ni Keng-giau dan orang-orang kepercayaannya yang lain, tak pernah berhenti mengumpulkan jagoan-jagoan ke pihaknya, tidak peduli latar-belakang riwayat para jagoan itu hitam atau putih. Pangeran In Ceng juga menjalin hubungan baik dengan orang kuat di istana, yaitu Liong Ke-toh, ipar Kaisar Khong-hi, yang dengan demikian juga terhitung sebagai pamanda Pangeran In Ceng sendiri.

Maka pengaruh Pangeran In Ceng di istana maupun di Ibukota Kekaisaranpun semakin kuat mencengkeram, tak peduli ada desas- desus bahwa In Ceng adalah pangeran yang paling tidak disukai oleh ayahanda Kaisarnya maupun oleh saudara-saudaranya sendiri.

Tapi perjuangan untuk menduduki Slnggasana Naga agaknya akan memerlukan perjuangan berat In Ceng. Kaisar Khong-hi punya enam belas orang anak laki-laki yang hampir semuanya mengincar Singgasana Naga pula, dan saudara-saudara In Ceng itupun punya pendukung-pendukung yang tak bisa diabaikan kekuatannya. Tetapi saingan In Ceng yang terberat adalah Pangeran In Te, putera ke empat belas Kaisar Khong-hi.

In Te bukan cuma putera yang paling disayangi oleh ayahandanya, tapi juga memegang kekuasaan atas Angkatan Perang Kekaisaran. Pangeran In Te juga berjasa besar menaklukkan wilayah Jing-hai dan Sin-kiang sehingga suku-suku padang rumput di sana tunduk kepada Kerajaan Manchu. Dengan demikian, persaingan paling sengit dalam memperebutkan tahta adalah antara Pangeran In Ceng dan Pangeran In Te.

Tetapi pangeran-pangeran berambisi lainnyapun tidak putus asa. Disela-sela pertarungan kedua "raksasa" itu, mereka tetap mencari peluang untuk mewujudkan ambisi mereka. Nasib orang siapa tahu?

Kaisar Khong-hi semakin hari semakin lemah tubuhnya karena usianya yang sudah lanjut. Kelemahan tubuhnya ditambah keprihatinan melihat putera-puteranya bukannya menggalang persatuan demi kejayaan kekaisaran, tapi malah cakar-cakaran memperebutkan tahta. Kaisar tua itu cemas, jika kelak dirinya tiada, maka kekaisaran besar yang telah dibinanya baik-baik selama hampir enam puluh tahun itu akan terpecah-belah karena pertikaian putera-puteranya sendirl.

Kalau di hadapannya, putera-puteranya kelihatan alim dan rukun satu sama lain, tapi didengarnya kabar bahwa putera-puteranya sudah memupuk basis kekuatan masing-masing sampai jauh di luar dinding kota Pak-khia. Salah satu upaya mencegah perpecahan di kemudian hari, Kaisar Khong-hi menulis sepucuk surat wasiat yang menunjuk siapa penggantinya kelak, surat yang hanya boleh dibaca kelak setelah dirinya wafat.

Surat itu disimpan di bagian istana yang siang malam dijaga ketat oleh Pasukan Han-Lim-kun, pasukan yang hanya setia kepada Kaisar, sehingga para Pangeranpun tidak berani coba-coba menerobos penjagaan pasukan istimewa ini.

Pak-khia, ibukota Kerajaan. Itu adalah sebuah kota tua dengan jalan-jalan lebar yang senantiasa penuh orang-orang hilir-mudik. Di beberapa tempat nampak pagoda-pagoda, gedung-gedung kediaman para bangsawan yang megah, rumah-rumah makan besar yang menjanjikan pemanjaan selera, dan dibagian lain adalah orang-orang berpakaian lusuh yang hidup berjubel-jubel di lorong-lorong kecil, bertetangga dengan tikus dan kacoa.

Di kota tua itu sejarah mencatat bangkit dan runtuhnya banyak dinasti-dinasti di daratan Cina. Jaman dinasti Kim, ibukota itu disebut "Tay-toh", kemudian ketika orang-orang Mongol masuk dan mendirikan Dinasti Goan, Tay-toh diganti ke dalam bahasa Mongol "Khan-baluk" atau "kota Khan". Awal Dinasti Beng, kota Pak-khia pernah digantikan Lam-khia di selatan sebagai ibukota, namun kemudian Pak-khia kembali menjadi ibukota Beng sampai runtuh oleh pemberontakan Li Cu-seng.

Kemudian Li Cu-seng pun hanya berkuasa dalam waktu singkat karena masuknya orang- orang Manchu yang kemudian berkuasa di daratan sampai detik itu. Itulah Pak-khia, "buku sejarah raksasa" yang menggoreskan huruf- hurufnya dengan pedang dan tombak sebagai pena, darah sebagai tinta dan mayat-mayat sebagai tanda-tanda halamannya.

Sore itu di jalan besar Pak-khia nampak beberapa penunggang kuda yang menjalankan kuda mereka perlahan-lahan saja. Orang-orang di pinggir jalan dapat melihat, yang berkuda paling depan adalah seorang tua berpakaian pejabat tinggi Kerajaan Manchu. Meski alis, rambut dan jenggotnya telah seputih kapas, namun kulitnya nampak tetap segar, tubuhnya ramping dan tatapan matanya tajam. Beberapa orang di pinggir jalan segera mengenalnya sebagai Panglima Pasukan Naga Terbang, Hui- liong-kun, Pak-kiong Liong, saudara sepupu Kaisar Khong-hi yang berilmu tinggi.

Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawa lnya berhenti di depan sebuah gedung besar dan indah yang dijaga pintunya oleh beberapa prajurit, sehingga mudah disimpulkan bahwa gedung itu tentu kediaman seorang pejabat tinggi Kerajaan. Prajurit-prajurit penjaga gerbang itu membungkuk hormat kepada Pak-kiong Liong, sementara Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawalnyapun berlompatan turun dari kuda.

“Bok-ciangkun (Panglima Bok) mengundang aku secara lisan," kata Pak-kiong Liong singkat kepada pemimpin regu penjaga gedung itu.

Pemimpin regu itu sudah kenal siapa Pak-kiong Liong, maka dengan hormat ia mempersilakan Pak-kiong Liong masuk gedung kediaman Bok Eng-siang, Panglima Hui-hou-kun (Pasukan Macan Terbang) itu. Baru saja Pak-kiong Liong berjalan menyeberangi halaman depan, Bok Eng-siang sudah menyambut dengan berlutut. Sebagai Panglima dari sebuah pasukan jalan-kaki yang disebut terbaik di kekaisaran, sebenarnya pangkat Bok Eng-siang sama dengan Pak-kiong Liong yang memimpin pasukan berkuda itu.

Tetapi Bok Eng-siang menghormati Pak-kiong Liong karena dua hal. Pertama, Pak-kiong Liong masih dekat hubungan darahnya dengan Kaisar, sehingga putera-putera kaisarpun menyebut "paman" kepadanya. Kedua, usia Pak-kiong Liong yang jauh lebih tua dari Bok Eng-siang. Pada saat Pak-kiong Liong menjadi seorang panglima yang perkasa di medan-medan pertempuran dulu, ketika keadaan belum setenang itu, ketika itulah Bok Eng-siang baru belajar membersihkan hidungnya dari ingus.

Di ruangan tengah, Bok Eng-siang berkata, "Goan-swe, aku mohon maaf telah bertindak kurang sopan dengan memanggil Goan-swe ke rumah ini, bukan-nya aku yang menghadap Goan-swe di Kun hu, Namun aku berbuat begini demi kea-manan seseorang yang ingin berbicara dengan Goan-swe.”

Dengan akrab Pak-kiong Liong merangkul pundak Bok Eng-siang sambil berkata, "Kita sama-sama abdi Kaisar, saudara Bok, tidak usah sungkan-sungkan. Tapi siapa yang ingin berbicara denganku itu?”

Bok Eng-siang cepat menekuk sebelah kakinya untuk berlutut sambil berkata, "Hormatku untuk Pangeran."

Sebelum Bok Eng-siang menjawab, dari pintu berbentuk bundar yang menghubungkan ruangan itu dengan taman bunga di belakang gedung, telah terdengar suara seseorang, “Aku yang ingin bertemu denganmu, Paman.”

Kedua Panglima itu serempak menoleh, dan melihat seorang lelaki muda berperawakan gagah, berpakaian sederhana namun memancarkan keagungan, tengah melangkah perlahan memasuki ruangan itu.

Sedangkan Pak-kiong Liong hanya membungkuk tanpa berlutut. "Selamat datang kembali ke Pak-khia, Pangeran..."

Setelah membangunkan Bok Eng-siang dari berlututnya dan mengucapkan sedikit kata sopan-santun, lelaki muda itu berkata kepada Pak-kiong Liong. ''Paman, baik-baikkah Paman selama ini..?”

"Terima kasih atas perhatian Pangeran. Hamba selama ini baik-baik saja." Pak-kiong Liong memang merasa amat di luar dugaan bahwa di rumah Bok Eng-siang ini dia menjumpai Pangeran In Te putera kesayangan Kaisar Khong-hi.

Bukankah Pangeran ini sudah setahun lebih meninggalkan Pak-khia untuk memimpin angkatan perang, menumpas pemberontakan di Sin-kiang? Kenapa tiba-tiba muncul di Pak-khia yang berjarak ribuan mil dari garis depan? Siapa yang memimpin pasukan itu sekarang?

Pak-kiong Liong menarik napas menyesal ketika samar-samar dapat menduga kenapa Pangeran In Te mendadak muncul di Pak-khia. Pangeran ke empatbelas itu tentu cemas melihat pergolakan di Pak-khia, dan takut kehilangan impiannya, Singgasana Naga.

Seolah dapat membaca pikiran Pak-kiong Liong, Pangeran In Te berkata, “Barangkali Paman heran bahwa aku muncul seorang diri tanpa angkatan perang ku. Perlu Paman ketahui, pemberontakan di Sin-kaing dan Jing-hai sudah padam, tinggal sisa-sisanya yang kekuatannya tak berarti. Sudah aku tinggalkan He-hou Tok dengan 250.000 prajuritnya disana untuk menjaga keamanan. Sedang angkatan perang aku bawa pulang. ke Pak khia untuk menjaga keamanan ibukota, terutama keselamatan Hu-hong (ayahanda Ka isar)..”

Pak-kiong Liong dapat memaklumi alasan yang dikemukakan Pangeran In Te itu. Pangeran itu tentu gelisah mendengar ayahandanya mulai menurun kesehatannya, sementara pengaruh kakandanya, Pangeran In Ceng, semakin kuat mencekam. Bahkan kabarnya jagoan-jagoan pengikut-pengikut In Ceng sudah menempati titik-titik penting di istana.

"Di manakah sekarang pasukan Pangeran?" tanya Pak-kiong Liong.

Sahut In Te, "Sedang dalam perjalanan pulang ke Pak-khia, mungkin sudah masuk propinsi Kam-siok. Namun perjalanan itu amat lambat dan membuatku tidak sabar, sehingga aku mendahului masuk ke Pak-khia dengan beberapa pengawal saja.”

"Apakah Pangeran sudah menghadap Hu- hong?”

Pangeran In Te mendudukkan dirinya di atas kursi, sahutnya dengan wajah murung, "Paman, untuk menyelundup masuk Pak-khia inipun aku harus mempertaruhkan nyawa, sampai menyamar sebagai pengemis segala. Namun di daIam kotapun ternyata aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berkerut seperti kura-kura. Sudah kuperintahkan orangku untuk menyelidiki istana, dan ternyata benarlah desas-desus bahwa istana hampir mutlak dalam genggaman Kakanda In Ceng, jago-jago bawahan Kakanda In Ceng sudah menyebar di semua sudut. Kalau dia tahu aku ada di Pak-khia tanpa pasukanku, habislah aku. Karena itu, aku belum memberitahukan kehadiranku ini kepada Hu-hong. Aku mohon pertolongan Paman untuk memberitahukannya kepada Hu-hong, bukankah setiap pagi Paman masih tetap pergi ke istana?"

"Jadi inikah maksud Pangeran memanggil hamba lewat Bok-ciangkun?"

Suara Pangeran In Te terdengar memelas, "Hanya Paman yang dapat menolong aku, sebab pengaruh Paman di istana masih cukup besar, bahkan tidak jarang Hu-hong mendengar dan melaksanakan pendapat Paman. Aku lebih percaya kepada Paman daripada kepada Pamar Liong Ke-toh, meskipun ia juga pamanku, sebab Paman Liong Ke-toh sudah berkomplot dengan Kakanda In Ceng. Tolonglah bagaimana caranya agar aku dapat menghadap Hu-hong...."

Hampir saja Pangeran In Te berlutut kepada Pak-kiong Liong untuk menekankan permintaannya. Tapi panglima tua itu cepat-cepat mencegahnya. "Jangan berlutut kepada hamba, Pangeran, hamba tak sanggup menerima kehormatan sebesar ini dari Putera Kaisar junjungan hamba. Tentang permohonan Pangeran tadi, baiklah pelan-pelan kita pikirkan cara yang terbaik..."

"Paman menyanggupi?"

"Sedang hamba pikirkan caranya."

"Kalau Paman sanggup, aku harus menghadap Hu-hong dalam waktu tidak lebih dari tiga hari, sebab waktunya sudah mendesak. Pengaruh Kakanda In Ceng semakin tajam terasa, dan aku tidak boleh kalah cepat dalam bertindak. Kalau dalam tiga hari ini Paman gagal membawa aku menghadap Hu-hong, terpaksa aku akan mengambil jalan pintas untuk mengambil hakku yang hendak direbut Kakanda In Ceng!"

Pak-kiong Liong maupun Bok Eng-siang sama-sama terkejut mendengar ucapan itu. "Jalan pintas bagaimana maksud Pangeran?" tanya Pak-kiong Liong sambil menatap dengan tajam.

Pangeran In Te berdiri dari kursi-nya dan berkata sambil mengepalkan tinjunya. "Singgasana adalah hakku, sebab Hu-hong pernah mengucapkannya sendiri, tidak mungkin beliau salah bicara atau kupingku yang salah dengar. Coba Paman pikir, di antara saudara-saudaraku, siapa yang pernah menerima anugerah Jubah Naga Kuning dari Hu-hong? Hanyalah aku. Kakanda In Si sebagai putera tertuapun tidak, apalagi Kakanda In Ceng, In Gi, In Tong atau In Go. Anugerah Jubah Naga Kuning itulah sebuah isyarat bahwa Hu-hong menginginkan aku menggantikannya, bukan orang lain. Tapi kini kedudukanku terancam, apa salahnya kalau kugunakan kekuasaanku atas Angkatan Perang untuk memaksa Kakanda In Ceng minggir?"

Pak-kiong Liong cemas melihat sikap In Te yang nampaknya sulit "dijinakkan" itu. Katanya, "Pangeran, hamba mengharap agar penggunaan Angkatan Perang itu hanyalah menjadi cara terakhir, kalau cara-cara lain menemui jalan buntu. Tidak sedikit pengorbanan nyawa dan tenaga ketika mendirikan dan mempersatukan kekaisaran ini, jangan-lah kita terperosok ke dalam perpecahan yang menghancurkan diri sendiri karena terdorong marah tak terkendaIi.."

Bok Eng-siang ikut berbicara pula, "hamba mohon maaf karena ikut bicara tanpa diminta. Ucapan Pak-Kiong Liong Goan-Swe itu benar adanya. Saat ini sisa-sisa dinasti Beng belum tertumpas sama sekali, mereka masih menyusun kekuatan sambiI menunggu kesempatan untuk bangkit. Kalau kekaisaran kita menunjukkan kelemahan, itu akan menjadi peluang emas buat sisa-sisa Dinasti yang lama itu untuk bangkit."

Pangeran In Te termangu-mangu mendengar pendapat kedua Panglima itu. la berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil mengepal-ngepalkan tangannya dengan gelisah, kemudian berkata kepada Pak-kiong Liong, "Paman, kalau Paman melarangku menggerakkan Angkatan Perang, apakah aku harus gigit jari saja melihat Kakanda In Ceng semakin berkuasa dan mengangkangi apa yang menjadi hakku?"

"Masih ada banyak jalan untuk mempertahankan hak tanpa kekerasan," kata Pak-kiong Liong, meskipun dalam hatinya diapun ragu-ragu sendiri kalau membaca situasinya. "Kalau Pangeran yakin bahwa diri Pangeranlah pilihan Kaisar, janganlah kuatir. Hamba tahu Hong-siang menulis sepucuk surat wasiat yang dijaga ketat prajurit-prajurit Han-lim-kun, surat itu menunjuk siapa pengganti Kaisar berikutnya. Kelak kalau surat wasiat itu dibuka, siapa berani menentang pesan Kaisar?"

"Tetapi aku tetap ingln menghadap Hu-hong. Aku dengar belakangan ini sakitnya semakin menjadi, sedangkan kakanda In Ceng kurang memperhatikan kesehatan Hu-hong..."

Kuatir kalau permohonan itupun ditolak dan Pangeran In Te menjadi kalap serta mengobarkan perang, maka Pak-kiong-Liong terpaksa menyetujui, “baiklah hamba sudah mendapat akal. Besok sudah ada persidangan di istana dipimpin sendiri oleh Kaisar. Hamba tentu harus menghadiri persidangan itu, dan kalau Pangeran tidak keberatan, Pangeran boleh menyamar sebagai salah seorang pengawal hamba supaya bisa masuk istana..."

"Tentu saja tidak keberatan, Paman , menyamar yang lebih hina pun aku pernah. Ketika masuk Pak-khia, aku dan pengawaI-pengawalku menyamar sebagai segerombolan pengemis..," diselingi helaan napas bernada penasaran dari Pangeran In Te, lalu dilanjutkan, "Itulah nasib celakaku. Untuk pulang ke rumahku sendiri saja harus menyelundup-nyelundup seperti maling takut ketauan. Semua ini gara-gara ketamakan kanda In Ceng...."

Sementara itu, tanpa dirasakan oleh Pak-kiong Liong, ketika tadi ia masuk gedung kediaman Bok Eng-siang, ada dua pasang mata yang mengawasinya. Dua orang yang berpakaian seperti penduduk biasa, hilir-mudik di jalan di depan gedung Bok Eng-siang. Tak ada yang mencurigai mereka, sebab jalanan itu memang ramai menjelang sore.

Setelah Pak-kiong Liong dan pengawal-pengawal menghilang dalam gedung, kedua orang itu saling berbisik-bisik. "Perkembangan menarik. Harus segera di ketahui oleh Pangeran.”

Temannya yang bertampang agak ketolol-tololan berkata, “Hanya Pak-kiong Liong mengunjungi Bok Eng-siang saja, apanya yang menarik?”

“Kau benar-benar berotak udang. Coba pikir, Bok Eng-siang adalah pendukung Pangeran In Te yang gigih, terang terangan berani menunjukkan ketidak-senangannya kepada Pangeran junjungan kita. Kini Pak-kiong Liong mendadak berkunjung ke gedungnya, tidakkah ini membuktikan desas-desus Itu tidak bo- hong?"

"Desas-desus yang mana?"

"Pak-kiong Liong yang dulunya bersikap tidak memihak itu, kini agaknya menunjukkan kecenderungan memihak kepada Pangeran In Te. Ini tidak boleh diabaikan, sebab Panglima tua itu punya pengaruh kuat dalam pemerintahan maupun kemiliteran, ilmu silatnya tinggi dan perhitungannya cermat. Kalau dia sudah memihak Pangeran In Te, dialah lawan yang sulit dihadapi. Pangeran kita harus segera mengetahuinya..."

"Bagaimana kalau kita coba-coba me nyelundup ke gedung itu dan mencoba menguping pembicaraan Bok-Eng-siang dan Pak-kiong Liong?" si wajah bego mengeluarkan usul.

Temannya menyahut, “Kalau kau ngin melakukannya sendiri. silakan, jangan mengajak aku. Kelak kalau kau tiada, aku berjanji akan merawat ibumu yang sudah tua itu,."

"Apakah Pak-kiong Liong begitu hebat?"

"Entahlah, aku belum pernah bertempur dengannya. Tetapi kalau kau ingin menjajalnya, apa salahnya?"

"Kalau kau tidak mau akupun tidak usah saja."

"Nah, itu baru bijaksana dan ada kemungkinan untuk panjang umur."

Kedua mata-mata itupun menuju ke gedung Pangeran junjungan mereka, yang bukan lain adalah Pangeran In Ceng, saingan terberat Pangeran In Te, Kalau Pangeran In Te menguasai Angkatan Perang, maka Pangeran ln Ceng menguasai dukungan pendekar-pendekar tangguh di wilayah Kang-lam, sebab masa mudanya ia pernah mengembara sebagai pendekar bernama Su Liong-cu.

Kepada para pendekar, In Ceng pernah mengobral janji, kalau berhasil naik tahta dia akan menghapus semua undang-undang yang merendahkan derajat bangsa Han, dia hendak mengumumkan undang-undang bahwa bangsa Manchu dan Han sederajat. Karena itulah ia mendapat dukungan banyak pendekar bangsa Han.

Meskipun banyak juga pendekar yang tidak tergiur janji itu, dan lebih suka melanjutkan perjuangan bawah-tanah untuk membangun kembali Dinasti Beng. Sedangkan pendekar-pendekar pendukung In Ceng itu, begitu mendengar bahwa situasi. di Pak-khia mu lai menghangat, banyak yang sudah ber- bondong-bondong datang ke utara.

Ketika mendengar laporan kedua mata-matanya, Pangeran In Ceng mengerutkan alisnya. Katanya, "Baik, laporan sudah kuterima dan kalian boleh pergi.”

Kedua mata-mata itu berlutut dan mohon diri dengan perasaan puas, karena mereka telah ikut membuat pahala untuk calon Kaisar yang amat berambisi itu. Kalau In Ceng berhasil naik tahta, merekapun berharap akan ikut naik pangkat pula.

Kemudian Pangeran In Ceng menyuruh seorang anak-buahnya yang lain untuk memanggil Ni-Keng-giau datang ke gedungnya untuk merundingkan masalah itu Ni-Keng-giau, jenderal muda yang menjadi adik seperguruan Pangeran In Ceng karena sama-sama murid Pun-bu Hwe sio darl Siau- Iim-si, sekaligus juga tangan kanan dan algojo terpercaya In Ceng untuk menyingklrkan orang- orang yang dianggap merintangi ambisinya, tak lama kemudian sudah ada di gedung Pangeran In Ceng.

"Sute (adlk seperguruan), baru saja aku terima laporan orang-orangku bahwa tanda-tandanya semakin jelas, Pak-kiong Liong semakin memihak Adinda In Te, padahal dia adalah kekuatan yang cukup menentukan dalam percaturan ini," kata In Ceng sambil menepuk meja keras-keras. "Ini harus kita cegah!"

"Pangeran," kata Ni Keng-giau yang tidak berani membalas memanggil "su-heng" (kakak seperguruan) kepada In Ceng yang "calon Kaisar" itu. "Seharusnya kecenderungan Pak-kiong Liong untuk memihak Pangeran In Te itu sudah kita ketahui sejak dulu. Kita sekarang tidak perlu kaget melihat dia membuka kedoknya sendiri, setelah sebelum ini ia berlagak sebagai seorang Paman yang adil dl tengah pertikaian keponakan-ke ponakannya.”

. "Paman Pak-kiong harus segera di-jungkirkan dari kedudukannya sebagai Panglima Hui-liong-kun” kata In Ceng gelisah. "Sute, bagaimana hasilnya kau membujuk beberapa perwira Hui-Liong-kun agar memihak kita?"

Ni Keng-giau menarik napas beberapa kali dan menundukkan kepalanya. “Boleh dikatakan belum ada hasllnya, Pangeran. Perwira-perwira keras kepala itu terlalu terbius oleh wibawa Pak-kiong Liong, andaikata mereka disuruh mati-pun, mereka akan melakukannya sambil mengangkat kepala dengan bangga...”

"Apakah segala cara menurut petunjukku dulu sudah kau terapkan?”

"Sudah sebagian, Pangeran, dan belum ada hasilnya. Hamba sudah menghubungi beberapa perwira Hui-Liong-kun yang kelihatannya sedang mengalami kesulitan keuangan, membujuk mereka agar bergabung dalam gerakan kita dan menjanjikan masa depan gemilang. Tapi mereka tetap menggeleng-geleng kepala lebih suka berhutang kepada sesama perwira daripada menerima uluran pertolongan kita..."

'’Tidak kau gertak dengan kekerasan?"

“Melihat sikap bandel mereka, hamba tidak berani melakukannya. Gertakan kepada mereka malah akan mendorong mereka semakin dalam ke dalam rangkulan Pangeran In Te. Harus dicari cara lain, Pangeran."

"Kalau begini lambat kita bergerak, kita bakal kalah. Seorang mata-mata kita sudah melaporkan bahwa Adinda In Te sudah membawa Angkatan Perangnya kembali ke Pak-khia, setelah menaklukkan pemberontakan di Sin-kiang dan Jing-hai. Kalau Angkatan Perang itu tiba di Pak-khia sebelum kita berhasil merebut kemenangan, itu berarti kita tidak pernah akan menang sama sekali...”

Sesaat kesunyian merajai ruangan itu. "Pangeran, hamba punya sebuah pikiran," tiba-tiba Ni Keng-giau berkata sambil mengangkat kepalanya.

“Katakan, sute!"

"Pangeran In Te adalah seorang putera yang amat berbakti dan menuru pada Ayahandanya, karena itu hamba berpendapat bahwa kunci kalah-menangnya kita bukan Pak-kiong Liong, melainkan Surat Wasiat yang ditulis oleh Hong-siang itu...”

Lalu Ni Keng-gau mendekatkan mulutnya ke telinga Pangeran In Ceng, dan membisikkan beberapa kalian yang membuat wajah Pangeran itu berubah hebat karena terkejut...
Selanjutnya,