Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 05 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Kemelut Tahta Naga II Jilid 05

Karya Stevanus S P

Sedangkan ketiga pengawal Liong Ke Toh kembali ke istana, sambil menggotong mayat seorang rekan mereka. Ketika mereka sudah bergabung dengan Liong Ke Toh serta kedua pemikul tandu di dekat pintu Hou-cai-mui di belakang istana, terdengar Liong Ke Toh menggeram sambil mengepal-ngepal tinjunya,


"Bocah ingusan itu agaknya makin besar kepala. Caranya menentang aku sudah mulai kasar, cara kampungan. Baik. Besok akan kulaporkan semua ini kepada Sribaginda."


Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Lalu Liong Ke Toh terbatuk-batuk lama sekali, sampai tubuhnya terbungkuk bungkuk. "Latihan lari" malam itu benar-benar tidak direncanakan, sampai paru-parunya terasa hampir rontok.


Pagi harinya, di bangsal kediaman Pangeran Hong-lik. Seorang thai-kam kecil yang menjadi pelayan pribadi Pangeran Hong-lik, dengan langkah lembut mendekati pintu kamar tidur Pangeran Hong-lik, lalu mengetuknya pelan-pelan.


“Thai-cu Thai-ciL..." panggilnya agak takut-takut. Kemudian diulangi lagi beberapa kali.


Dari dalam kamar, terdengar suara Pangeran Hong-lik menguap, dan terdengar suaranya yang masih ogah-ogahan, "Siapa di luar?"


"Hamba Hi-cu. Mohon ampun sebesar-besarnya karena telah mengganggu Thai-cu."


"Ada apa? Tidak biasanya kau bangunkan aku sepagi ini."


"Ampun, Thai-cu. Ada panggilan dari Sribaginda yang sekarang menunggu di Bangsal Yang-wan-kiong, agar Thai-cu segera menghadap. Thai-cu juga dimohon membawa serta ketiga pengawal yang sering bersama Thai-cu."


Terdengar suara perlahan di dalam kamar yang menandakan keheranan pangeran Hong-lik. Lalu, "Di bangsal Yang-wan-kiong itu ada siapa lagi selain Hu Hong?"


"Di sana juga ada Ong-ya Liong Ke Toh." Sesaat lamanya dari dalam kamar tidur Pangeran Hong-lik cuma terdengar suara langkah hilir-mudik dan dehem-dehem kecil. Lalu kata Putera Mahkota itu, "Baiklah, Hi-cu. Suruhlah An-cu menyiapkan perlengkapan mandiku dan pakaianku, dan suruh Kui-cu memanggil tiga pendekar Heng-san-sam-kiam dari Bangsal Bwe-hoa-kiong kemari."


"Baiklah, Thai-cu." Kemudian si thaikam kecil Hi-cu itupun pergi menjalankan perintah.


Tidak lama kemudian, Pangeran Hong-Lik dan ketiga pengawal kepercayaannya yang diambil dari Ci-ih Wi-kun (kelompok pengawal Jubah Ungu) yang berjalan bersama ke bangsal Yang-wan-kiong. Tiga pengawal itu masing-masing adalah Jian-eng-kiam (Pedang Seribu Bayangan) Ho Se Liang, Lam-thai-hong (Prahara Selatan) Auyang Kong dan Hui kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang) Teng Jiu.


Ketika mereka memasuki bangsal, segera terlihat Liong Ke Toh yang wajahnya merah padam, mirip orang ketika sedang mengejan dalam kakus. Juga nampak tiga pengawal pribadinya yang nampak babak belur, penuh balutan balutan berdarah di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu masih ada pula sesosok mayat yang dibaringkan di lantai. Kaisar Yong Ceng sendiri nampak duduk di sebuah kursi beralas kulit macan tutul.


Pangeran Hong-lik dan ketiga pengawalnya cepat-cepat berlutut kepada Kaisar. "Apakah Hu Hong memanggil hamba?" tanya Pangeran Hong-lik.


"Ya, bangunlah," kata Kaisar Yong Ceng yang suaranya terdengar ramah. Juga kepada ketiga pengawal Pangeran Hong-lik, "Kalian juga, sobat-sobat lamaku."


"Terima kasih, Tuanku," sahut ketiga pendekar Heng-san-sam-kiam itu.


Dulu, semasa Kaisar Yong Ceng masih mengembara sebagai pendekar dengan nama samaran Si Liong Cu, antara lain ia bersahabat dengan ketiga pendekar ini, sehingga ketika terjadi persaingan merebut tahta beberapa tahun kemudian, ketiga pendekar itu berhasil di rangkul menjadi pendukungnya. Itulah sebabnya ia bersikap seperti teman lama kepada ketiga orang itu.


Kaisar Yong Ceng juga tidak tahu kalau ketiga bekas teman lama itu sebenarnya kecewa, setelah melihat cara pemerintahannya yang bertangan besi. Kaisar hanya merasa gembira melihat ketiga pendekar itu nampak dekat hubungannya dengan Pangeran Hong-lik, anaknya. Dikiranya dengan demikian ke tiga pendekar itu tetap setia kepada dirinya dan keturunannya.


Sementara itu Liong Ke Toh telah berbicara, "Tuanku, apakah hamba sudah boleh diperkenankan bicara?"


Kaisar Yong Ceng mengangguk sedikit. "Silahkan, Paman."


Liong Ke Toh lalu menatap penuh kebencian kepada ketiga pengawal Pangeran Hong-lik, dan berkata kepada Pangeran Hong-lik, "Pangeran, hamba mohon dengan sangat agar ketiga pengawal Pangeran itu dijatuhi hukuman mati!"


Pangeran Hong-lik mengerutkan alisnya, sedangkan Heng-san-sam-kiam terkejut. "Kehormatan" macam apa ini, sehingga Liong Ke Toh yang biasanya cuma memfitnah pejabat-pejabat kalangan atas, tiba-tiba sekarang mengincar pengawal-pengawal biasa seperti mereka? Ataukah Liong Ke Toh sudah tahu, kalau mereka bertiga diam-diam pernah berikrar untuk mendukung Pangeran In Te, setelah kecewa terhadap Kaisar Yong Ceng?


Pangeran Hong-lik lah yang mewakili pertanyaan dalam hati ketiga pendekar itu, "Paman, mohon disebutkan alasannya kenapa aku harus menghukum mereka begitu berat?"


"Karena mereka telah berani melakukan percobaan penculikan dan pembunuhan terhadap seorang anggaota keluarga istana. Semalam hamba telah diserang mereka. Biarpun mereka memakai kedok, tetapi hamba yakin merekalah yang melakukan. Lihat, seorang pengawal pribadi hamba tewas, dan tiga lainnya luka-luka, menandakan betapa bersungguh-sungguhnya mereka hendak membunuh hamba."


Dengan tuduhan ini, sebenarnya Liong Ke Toh bermaksud pula menuduh Pangeran Hong-lik di hadapan Kaisar. Namun karena tidak berani menuduh langsung, maka hanya berani menuduh ketiga pengawal Pangeran Hong-lik. Ia berharap agar Kaisar sendiri yang mendapat kesimpulan bahwa ketiga pengawal itu takkan berani bertindak kalau tidak disuruh oleh Pangeran Hong-lik sendiri. Dengan demikian Pangeran Hong-lik akan menimbulkan kesan jelek di mata ayahandanya sendiri, begitulah harapan Liong Ke Toh.


"Peristiwa itu terjadi malam tadi?" tanya Pangeran Hong-lik sambil tersenyum.


"Ya!" sahut Liong Ke Toh ngotot.


Senyuman Pangeran Hong-lik pun semakin melebar, bahkan ketiga pendekar Heng-san-sam-kiam itu pun ikut tersenyum. Kata Pangeran Hong-lik. "Paman, semalam kami bertiga tidak melangkah keluar dari dinding istana. Aku bermain catur dengan Ho Toa-ko sampai enam babak, sedang Auyang Jiko dan Teng Sam-ko menonton pertandingan kami sambil minum arak dan makan kacang. Kalau Paman tidak percaya, silahkan panggil pengawal-pengawal yang semalam tugas jaga sekitar pondok Jing-tiok-ting. Mereka akan menjadi saksi bahwa apa yang kukatakan ini benar."


Liong Ke Toh nampak jadi agak salah tingkah. Sebentar mengusap-usapkan telapak tangan ke jubahnya, sebentar lagi mengelus jenggotnya, dan macam-macam lagi. Dan setelah berdehem-dehem sebentar, ia masih juga mencoba ngotot dengan tuduhannya, "Tetapi... penjahat-penjahat itu berjumlah tiga orang, dan semuanya bersenjata pedang!"


Pangeran Hong-lik tertawa lagi, "Di kota Pak-khia ini entah ada berapa ribu pemain pedang, apakah mereka juga Paman tuduh semua? Lagi pula, kalau benar-benar Ho Toa-ko bertiga yang menghadang Paman, biarpun jumlah pengawal Paman dilipat-sepuluhkan, apakah Paman pikir pagi ini Paman masih hidup? Maaf...”


Merasa bahwa tuduhannya memang terlalu lemah, Liong Ke Toh lalu berpaling kepada Kaisar Yong Ceng dan berkata, "Ampun, Tuanku. Hamba mohon Tuanku memberi keputusan dalam urusan yang telah mengancam nyawa hamba ini." Nyata diapun mulai merengek, minta agar Kaisar membelanya.


Kaisar Yong Ceng mengurut jenggotnya dan menjawab, "Bukankah Paman sudah mendengar keterangan Hong-lik? Aku rasa dia berkata benar. Aku sendiri kenal kepandaian hebat dari ketiga sobat masa mudaku dari Heng-san ini, ketika aku dulu masih berkelana di rimba persilatan."


"Terima kasih, Tuanku," Heng-san-sam-kiam menjawab serempak demi kesopanan.


Sedangkan Kaisar Yong Ceng melanjutkan, "Maka kusarankan agar Paman menyudahi saja urusan kecil tak berarti ini, dan lebih memusatkan perhatian kepada pelaksanaan rencana besar yang sudah kita bicarakan kemarin." Yang dimaksud "rencana besar" ialah rencana untuk menjatuhkan Ni Keng Giau tanpa membahayakan tahta.


Keruan Liong Ke Toh jadi agak penasaran, sebab urusan keselamatan dirinya ternyata cuma dianggap "urusan kecil" oleh Kaisar. Maka diapun nekad berkata, "Ampun Tuanku, ketiga perwira berkedok yang mencegat hamba itu ada hubungannya dengan rencana besar yang kita rancang. Mereka mencegat hamba untuk memaksa hamba memberitahukan mereka tentang..."


Kaisar Yong Ceng cepat mengangkat punggungnya dari sandaran kursi, lalu mencegah, "Tunggu, Paman!" Liong Ke Toh mengatupkan mulut. Sedang Kaisar berkata kepada Hong-lik. "Hong-lik, kau dan ketiga sobat dari Heng-san itu boleh mengundurkan diri,"


Paling tidak disinilah Liong Ke Toh boleh merasa unggul dari Pangeran Hong-lik, sebab Kaisar mempercayainya untuk berbincang soal "rencana besar" itu sedangkan Pangeran Hong-lik disuruh pergi tidak boleh ikut mendengarkan.


Namun Pangeran Hong-lik bersikap tenang saja. Setelah berlutut kepada ayahandanya, diapun mengundurkan diri dengan mengajak ketiga pengawalnya. Hanya saja, setelah sampai diluar Bangsal Yang-wan-kiong, Pangeran Hong-lik menggerutu sengit,


"Hem, ayahanda menganggap aku masih sebagai anak ingusan yang tidak boleh tahu apa apa. Sebaliknya malah suka mendengarkan ucapan beracun dari ular tua itu."


Ho Se Liang bertanya, "Bagaiamana dengan nasib kami, Pangeran? Jangan-jangan Sribaginda akan mempercayai bahwa kami bertigalah yang semalam menghadang Liong Ong-ya?"


"Kalian bertiga jangan khawatir. Semalam bukankah kalian bertiga memang bersamaku sampai hampir pagi? Siapapun yang nekad menuduh kalian, berarti sama dengan menuduh aku sebagai pembohong, sebab aku akan menjadi saksi buat kalian."


"Terima kasih, Pangeran."


Sementara itu, di dalam bangsal Yang-wan-kiong, Liong Ke Toh belum pergi dari situ. Pengawal-pengawalnya sudah disuruhnya pergi lebih dulu, kemudian Liong Ke Toh sendiri terlibat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan Kaisar Yong Ceng.


"Jadi, ketiga perwira berkedok yang menghadang Paman itu mengancam Paman, agar Paman mengatakan tentang rencana kita terhadap Ni Keng Giau?"


"Benar, Tuanku."


"Apakah Paman tidak salah dengar?"


"Tidak, Tuanku. Hamba bersumpah. Para pengawal hamba serta dua pemikul tandu itupun mendengar hal yang sama."


Wajah Kaisar nampak menjadi gelisah. "Aneh. Bukankah kita baru membicarakannya berdua dan belum ada orang ketiga? Bahkan Hong-lik pun tidak kuberi tahu. Bagaimana perwira-perwira di luar istana itu tiba-tiba malah sudah menaruh kecurigaan?"


"Hamba pun heran sekali. Tuanku. Ini berbahaya sekali, pasti ada mata-mata di.... istana ini. Mata-mata Ni Keng Giau yang tanpa kita ketahui telah mencuri dengar pembicaraan kita. Dan kalau sampai ke kuping Ni Keng Giau, dia bisa marah, padahal angkatan perang masih tergenggam di tangannya. Biarpun Kim Seng Pa setia kepada Tuanku, namun kalau Ni Keng Giau sudah nekad, tentu gampang saja Kim Seng Pa akan dipitasnya seperti semut!"


"Paman....." kata Kaisar Yong Ceng tiba-tiba sambil menyeringai bengis sehingga Liong Ke Toh merinding.


"Hamba, Tuanku."


“Sekarang kita perlu mengadakan langkah pengamanan, agar rencana kita berjalan aman. Untuk itu dibutuhkan pengorbananmu, Paman, betul tidak?"


"Maksud Tuanku...." suara Liong Ke Toh agak tercekik. Khawatir kalau tiba-tiba Kaisar menginginkan dirinyalah yang dijadikan tumbal rencana itu.


"Karena itu, Paman. Kedua pemikul tandu jolimu dan ketiga pangawal Paman yang masih hidup itu, harus dilenyapkan. Secepat mungkin, sebelum mulut mereka pun ikut-ikutan bocor. Sebab semalam mereka sudah ikut mendengar kata-kata para perwira berkedok itu.”


"Baik, baik. Segera hamba laksanakan. Tuanku,” sahut Liong Ke Toh agak lega. Demi keselamatannya sendiri, ia tidak sayang lagi kepada orang-orang yang selama ini mengabdi kepadanya. "Tetapi siapakah mata-mata dalam istana ini, yang membocorkan pembicaraan rahasia kita kemarin?”


"Aku punya caraku sendiri. Paman. Pasti pelayan-pelayan dekatku yang tak pernah jauh daripadaku. Karena itu, hari ini juga akupun akan mengadakan pembersihan."


Ringan saja Kaisar Yong Ceng mengucapkannya. Padahal "pembersihan" itu bisa melenyapkan puluhan nyawa kaum pelayan mana yang dicurigai sebagai mata-mata Ni Keng Giau.


"Dan... bagaimana dengan ketiga perwira berkedok itu?"


"Aku sudah punya daftar nama para perwira yang selama ini ada hubungan dekat dengan Ni Keng Giau. Akan kuperintahkan Hap Toh dan Toh Jiat Hong untuk meneliti mereka satu persatu."


Liong Ke Toh mengangguk-angguk, lalu berkata, "Kalau begitu, hamba diperkenankan mengundurkan diri, Tuanku."


"Silahkan, Paman."


Hari itu juga terjadi kegemparan di istana. Dengan dalih "ada komplotan yang mengancam nyawanya", Yong Ceng menyingkirkan seluruh pelayan pribadinya. Ia yakin bahwa mata-mata Ni Keng Giau dalam istana itu ada di antara pelayan-pelayan pribadinya, namun daripada susah-susah "mencari tikus dalam rumah" maka ia lebih suka "membakar rumahnya" sekalian toh tikusnya akan ikut mati. Dengan demikian, puluhan pelayan yang tak bersalah ikut menggelinding batok kepalanya oleh golok algojo.


* * * *


Disalah satu ruangan dari salah satu rumah dari puluhan ribu rumah yang ada di Pak-khia, berlangsung sebuah pertemuan. Ada tujuh orang perwira di tempat itu, mereka saling berbicara dengan wajah amat bersungguh-sungguh, kadang-kadang tegang, tidak jarang ada yang berbicara keras sambil menggebrak meja.


"Pembunuhan para pelayan Kaisar itu membuatku semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Sribaginda! Dan orang kita yang ada di antara pelayan-pelayan itupun ikut terbunuh, dan aku yakin memang dia seoranglah yang sebenarnya diincar. Hanya karena Sribaginda tidak tahu pasti siapa yang telah memberitahu kita, maka Sribaginda membunuh semua pelayannya untuk gampangnya saja!" kata seorang perwira berjenggot panjang, dengan hati yang panas.


"Benar, saudara Oh Bun Kai!" sambut seorang perwira lain yang mukanya gemuk bundar, di rahangnya ada bekas luka yang didapatnya dalam suatu pertempuran. "Kita semua yakin. Alasan adanya komplotan para pelayan yang hendak membunuh Sribaginda itu hanyalah dalih palsu untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya. Aku yakin ada suatu rencana jahat yang sedang ditujukan kepada Goan-swe Ni Keng Giau. Aku yakin. Hanya karena takut rencana itu bocor, maka Sribaginda telah melakukan pembunuhan besar-besaran untuk menyumbat sumber berita kita di dalam istana!"


"Aku menduga keras, ini pasti pokalnya si mulut busuk Liong Ke Toh. Bukan rahasia lagi buat kita, bahwa dia amat iri kepada kedudukan Goan-swe kita dan tentu tambah iri lagi setelah mendengar tentang kemenangan Goan-swe yang gemilang di Jing-hai. Pasti ulah bangsat tua itu! Coba pikir, saudara-saudara, masuk akalkah kalau kita anggap rentetan kejadian akhir-akhir ini hanya semacam kebetulan saja? Mula-mula Liong Ke Toh sering berbincang-bincang dengan Sribaginda, begitu laporan orang kita di istana sebelum matinya, lalu peristiwa pembunuhan itu. Masuk akalkah kalau ini dianggap kebetulan saja?”


"Benar. Pasti ulah Liong Ke Toh Toh yang iri!"


"Selama ini, angkatan perang telah mengalami kemajuan yang membanggakan berkat pimpinan Goan-swe Ni Keng Giau, mengalami peningkatan disiplin. Tidak ada lagi perajurit yang berjiwa lemah. Semuanya adalah karena pimpinan Goan-swe kita. Kalau sampai Goan-swe kita berhasil disingkirkan, berantakanlah apa yang sudah dicapai selama ini!"


"Ini harus kita cegah dengan pengorbanan apapun!"


Lalu bersahut-sahutanlah perwira-perwira pengikut fanatik Ni Keng Giau di ruangan itu, beradu kerasnya suara, sambil mengacung-acungkan tinju kelangit segala. Mereka bukan cuma mendukung Ni Keng Giau, tetapi juga berang karena semuanya bercuriga bahwa Ni Keng Giau sedang hendak disingkirkan.


Hiruk-pikuk suara-suara emosional itu mereda, ketika seorang perwira ubanan bernama Pui Ciong mengangkat tangannya, meminta agar rekan-rekannya diam. Sesaat kemudian, ruangan itu sudah menjadi sunyi, semuanya siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Pui Ciong yang mereka segani karena umurnya.


“Kita boleh marah, saudara-saudara, tapi jangan sampai kemarahan itu menyeret kita ke dalam tindakan gegabah, sebab ini bukan urusan kecil yang bisa diselesaikan sekedar dengan keberanian dan kekuatan saja," kata Pui Ciong. "Kita harus tetap mewaspadai Liong Ke Toh, tapi kita tak bisa bertindak apapun kalau tidak bisa membuktikan niat jahatnya. Kalau kita bertindak ngawur kita malah akan menjadi bahan tertawaan banyak orang, kehilangan simpati umum, dan berarti juga mempermalukan Goan-swe Ni Keng Giang sendiri!"


Perwira-perwira lain bungkam semua, sementara Pui Ciong meneruskan, "Tidak ada gunanya kita berkumpul kalau hanya untuk saling membakar kemarahan seperti ini. Kita harus menetapkan langkah yang jelas yang akan kita lakukan, dengan kepala dingin dan kecermatan yang tinggi!"


Oh Bun Kai, si perwira berjenggot painjang, tiba-tiba berkata, "Tapi jangan terlalu lambat bertindak. Goan-swe kita sedang terancam intrik jahat. Situasi di istana saat ini persis saat-saat menjelang jatuhnya Menteri Song dan Menteri Tan beberapa bulan yang lalu. Ada kasak-kusuk Liong Ke Toh, ada pembunuhan yang tak jelas latar belakangnya, persis sekarang ini. Itu semacam tanda bahwa Liong Ke Toh sedang ingin menjatuhkan seseorang!"


Pui Ciong mengangguk-angguk, "Aku sependapat, apalagi kita sudah tahu betapa dengkinya Liong Ke Toh kepada Goan-swe, dan tentu berusaha menjatuhkan setiap ada kesempatan. Tapi aku tidak sependapat dengan tindakan kasar yang dilakukan saudara Oh, Ciu dan Koan dua malam yang lalu. Mencegat Liong Ke Toh di jalanan, memaksa dia bicara, dan apa hasilnya? Tidak ada hasil apa-apa. Malahan sekarang pihak istana mungkin akan bertindak semakin hati-hati, dan membabat sumber berita kita dalam istana. Nah, malahan merugikan kita dan menyulitkan tindakan kita selanjutnya bukan?"


"Tetapi kami berhasil melarikan diri, dan bahkan Liong Ke Toh tidak tahu siapa kami, sebab waktu itu kami bertiga memakai kedok," bantah Oh Bun Kai untuk meringankan kesalahannya sendiri.


"Tapi kalau setiap dari kita bertindak sendiri-sendiri, tanpa menyesuaikan langkah atau merundingkan dulu dengan rekan-rekan lain, lama-lama gerakan kitapun akan berantakan dan ditumpas dengan mudah!" suara Pui Ciong meninggi, setengah mendamprat.


Ketiga perwira yang kena damprat itu menundukkan kepala. Suasana jadi, hening untuk beberapa waktu, sampai Pui Ciong memperdengar kan. suaranya yang kali ini sudah menurun kembali. "Kalau saudara-saudara semua mempercayai aku sebagai senior yang usianya paling tua, turuti kata-kataku. Agar kita dapat mengambil langkah bersama yang kompak dan rapi, bukan bertindak menuruti emosi kalian sendiri- sendiri. Bagaimana?”


Ketika beberapa perwira menyatakan setuju, maka sisanyapun ikut mendukung pula. Gerakan itu memang harus ada pimpinannya.


“Bagus. Kawanan tukang copet saja ada pemimpinnya, apalagi kita," kata Pui Ciong puas. "Kepemimpinanku atas saudara-saudara hanya dalam urusan ini, hanya di kalangan kita. Sedangkan di jalur resmi, atau di hadapan banyak orang, kita harus tetap seperti biasa satu sama lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak-pihak lain yang tidak sepaham dengan kita. Bisa diterima?”


Semua perwira mengangguk-anggukkan kepala. "Sekarang ini kita belum tahu langkah apa yang akan dilakukan Liong Ke Toh dalam rencana jahatnya, karena itu, kitapun hanya akan menunggu sambil menyerap keterangan sebanyak-banyaknya. Tiga hari lagi kita berkumpul disini, dan kalian harus sudah membawa keterangan tentang gerak-gerik Liong Ke Toh. Tapi ingat, cara kalian mencari keterangan tidak boleh kasar. Kalau sebelum tiga hari ada perkembangan yang gawat, kalian harus saling berhubungan dan berkumpul di sini. Paham?”


"Paham!” sahut para perwira.


"Pergilah kalian, jangan lupa pesan-pesanku."


Pertemuan rahasia para perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau pun bubarlah. Oh Bun Kai meninggalkan tempat itu dengan kepala agak menunduk, hatinya masih merasa penasaran. Menuruti dorongan hatinya, ingin rasanya menyerbu istana dan meringkus Liong Ke Toh, dan ia yakin Kaisar takkan berani bertindak kalau tahu dia anak-buah Ni Keng Giau. Namun agaknya Pui Ciong ingin menyelesaikannya "secara halus" dan Oh Bun Kai terpaksa harus menurut.


Ia cuma berharap agar Ni Keng Giau dan angkatan perangnya segera tiba di Pak-khia, supaya dapat segera memaksa Kaisar untuk "membersihkan" istana dari Liong Ke Toh dan kaki tangannya. Tengah ia berjalan sambil menunduk, dengan pikiran melayang-layang, tiba-tiba di antara orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan itu ada seorang yang menepuk pundaknya dari belakang, sambil menyapa,


"Berjalan sambil melamun, Oh-heng (saudara Oh)?”


Oh Bun Kai tergagap sambil menoleh ke arah penyapanya, dan dilihatnya Teng Jiau yang dikenalnya sebagai salah satu anggota pengawal istana. Namun kali itu Teng Jiu sendirian saja, pakaiannya pun bukan seragam pengawal, melainkan jubah preman yang sederhana dan berkesan santai.


"Oh, Teng Sam-ko, kenapa sendirian saja? Sedang apa?"


"Sekedar berjalan-jalan, mumpung tidak bertugas. Sumpek rasanya berada dalam istana terus, rasanya ingin juga sekali-kali melihat luar dinding istana."


"Tidak sedang menemani Pangeran Hong-lik?"


"Tidak. Hari ini Pangeran Hong-lik mengatakan ingin beristirahat saja dibangsalnya. Oh, ya, aku hampir saja lupa mengucapkan selamat kepadamu, Oh heng."


Senyuman gembira tiba-tiba merekah di wajah Oh Bun Kai, ketika mendengar ucapan selamat itu. Sebagai manusia biasa, bagaimanapun juga ia senang mendapat perhatian dari orang lain. "Terima kasih, Teng Sam-ko. Yah, beginilah, untuk mendapatkan seorang anak laki-laki aku harus bersabar sebelas tahun lamanya. Enam anak yang kudapatkan terdahulu perempuan semua, baru yang ke tujuh inilah lahir lelaki."


Teng Jiu merasa mendapat angin untuk menggabungkan langkahnya dengan Oh Bun Kai, maka diapun berjalan mendampinginya. Ditimbulkannya simpati dari pihak Oh Bun Kai dengan bertanya lagi, "Apakah isteri Oh-heng dan bayinya dalam keadaan sehat semua?"


"Oh, baik, baik semua. Teng Sam-ko, bagaimana kalau kubagi kegembiraan-ku denganmu? Mari, mari, aku traktir kau di Pek- goat-lau. Di sana ada Bwe-hoa-keh-ting (bunga bwe masak ayam), masakan Soh-ciu yang pasti akan membuatmu rindu kampung halaman. Bukankah Teng Sam-ko berasal dari Heng-san yang jauh di selatan?"


"Sungguh beruntung perutku hari ini, Oh-heng. Mari."


Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah duduk menghadapi hidangan di Pek-goat-lau, salah satu rumah makan terkenal di Pak-khia. Sambil makan minum, yang mereka omongkan tak lain dari soal-soal ringan, jauh dari soal-soal dinas, apalagi politik. Namun, dalam hati Oh Bun Kai sebenarnya punya tujuan juga. Teng Jiu adalah pengawal istana, kalau dibaiki terus, barangkali Teng Jiu bisa dijadikan sumber berita baru tentang apa saja yang terjadi dalam istana. Untuk kepen tingan kelompoknya tentu saja. Kelompok pengikut fanatik Ni Keng Giau.


Tak diketahui oleh Oh Bun Kai, kalau Teng Jiu diam-diam juga punya tujuan sendiri. Hanya saja, kedua pihak masih berhati-haii dan belum mulai merintis pembicaraan untuk mencapai tujuan masing-masing. Keduanya masih saja bicara soal-soal ringan. Mereka berada di lantai atas rumah makan itu, dekat jendela, sehingga bisa melihat orang- orang hilir-mudik di jalan raya.


Tengah mereka makan minum dengan santai, biarpun menyimpan pikirannya sendiri-sendiri, tiba-tiba terdengar tangga loteng itu berdetak-detak keras. Lalu muncullah dua orang lelaki memakai jubah longgar, namun nyata benar tubuh mereka yang berotot kekar. Tatapan mata mereka tajam. Jelaslah mereka itu pesilat-pesilat tangguh. Tetapi muka mereka justru pucat kekuning-kuningan, kelihatan kurang ajar. Juga ada kumis dan jenggot yang bentuknya agak tak karuan.


Begitu kedua orang ini duduk, mereka terus menatap tajam ke arah Teng Jiu. Teng Jiu sendiri sengaja menunjukkan sikap agak tegang, sehingga berhasil memancing Oh Bun Kai untuk bertanya, "Ada apakah, Teng Sam-ko?"


Sambil agak membungkukkan tubuh di atas meja, mendekatkan mulut ke te linga Oh Bun Kai, Teng Jiu berbisik, "Tidak apa-apa, saudara Oh. Teruskan saja acara kita, kalau mereka kurang ajar, itu akan menjadi urusanku."


Karena sudah dipesan begitu, Oh Bun Kai tidak tanya-tanya lagi. Namun memang dasar watak manusia umumnya, semakin dilarang mengetahui sesuatu, malah semakin besar rasa penasaran un tuk mengetahuinya. Begitu pula Oh Bun Kai, biarpun hanya disimpan dalam hati. Sambil makan minum, berkali-kali Oh Bun Kai melirik ke arah dua manusia bertampang aneh itu, dalam hatinya juga menduga-duga. Siapa mereka? Ada urusan apa dengan Teng Jiu si pengawal istana?


Kedua orang bertampang janggal itupun mulai menyantap, daging ayam goreng, tidak menggunakan sumpit melainkan hanya menggunakan jari-jari tangannya. Kemudian mereka mulai seenaknya melempar-lemparkan tulang-tulang ayam ke meja Teng Jiu dan Oh Bun Kai.


Oh Bun Kai yang berangasan itu kontan menggebrak meja sambil berkata (lengan sengit, "Kurang ajar! Agaknya kalian mau cari perkara denganku, ya?"


Oh Bun Kai hampir berdiri untuk menghajar kedua orang, itu, namun Teng Jiu cepat-cepat berdiri pula untuk menekan pundak Oh Bun Kai sambil berkata, "Oh-heng, ini urusanku."


Oh Bun Kai menahan kejengkelannya dan duduk kembali. Sedangkan Teng Jiu meraup tulang-tulang ayam yang bertebaran di mejanya, lalu dengan tenangnya dibawa ke meja kedua orang itu untuk disebarkan kemeja mereka. Salah seorang dari mereka berteriak gusar, tiba-tiba ia berdiri dan langsung mengayunkan jotosannya ke arah hidung Teng Jiu. Namun Teng Jiu berkelit sambil menangkap tangan lawannya, sekaligus juga mengait kakinya. Lawannya terhuyung kehilangan keseimbangan.


"Keluar!" bentak Teng Jiu. Selagi keseimbangan lawannya belum mantap, tangan Teng Jiu yang satunya lagi telah mencengkeram ke punggung orang itu, lalu dengan dua tangan ia mengangkat dan melemparkan tubuh orang itu keluar jendela. Sedetik kemudian, dari bawah jendela itu'' terdengar suara gedubrakan bercampur jerit kesakitan orang tadi, disusul suara derap langkahnya yang berlari menjauh.


Sementara itu, tamu bertampang aneh yang satu lagi juga telah menyerang dengan lebih ganas dari kawannya, la mengangkat bangku untuk diayunkan mengepruk ke kepala Teng Jiu. Tapi gerakannya terlalu lambat. Selagi ayunan serangannya baru setengah jalan, kaki Teng Jiu sudah menghunjam ke perutnya, dan cukup bertenaga untuk melemparkan tubuh orang itu beberapa langkah ke belakang. Tubuh orang itu langsung menggelundung ke lantai bawah tangga, dan dengan terpincang-pincang langsung ia kabur pula.


Tentu saja si pemilik rumah makan merasa dirugikan, sebab kedua orang itu belum membayar dan tahu-tahu sudah kabur, tak mungkin disusul. Mau menagih ganti rugi kepada Teng Jiu juga takut karena melihat seragam perwira yang masih dikenakan Oh Bun Kai. Maklumlah, di jaman Kaisar Yong Geng itu tentara lebih ditakuti dari macan.

Namun si pemilik rumah makan jadi lega ketika mendengar ucapan Teng Jiu. “Semua kerugian akan aku ganti!"


Teng Jiu dan Oh Bun Kai pun lalu melanjutkan makan minum mereka. Tapi saat itulah Oh Bun Kai tak kuasa lagi menahan rasa ingin tahunya, "Sebenarnya, siapakah kedua orang tadi?"


Dengan berlagak masih jengkel, Teng Jiu menyahut, "Mereka adalah begundal- begundalnya Liong.... Liong Ong-ya...." Lagaknya seolah-olah jengkel, namun tidak berani menyebut nama Liong Ke Toh begitu saja.


Sikap yang seolah-olah benci tapi takut itulah yang di mata Oh Bun Kai kelihatan bersungguh-sungguh. Kebetulan Oh Bun Kai baru saja bubar dari rapat perwira-perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau dan membenci Liong Ke Toh sampai ke tulang sungsum. Maka terhadap Teng Jiu, sedikit banyak timbul kesan "segolongan".


"Anak buah Liong Oh-ya? Kenapa mereka mengganggu Sam-ko?"


"Kurang pasti. Mungkin karena aku sering membantu Pangeran Hong-lik dalam menjegal beberapa rencana Liong Ong-ya, jadi dia sakit hati kepadaku," sahut Teng Jiu agak berani, untuk memancing bagaimana reaksi Oh Bun-kai.


"Emm... begitu?" ternyata cuma sekian reaksi Oh Bun-kai. "Sam-ko, soal mengganti kerugian kepada rumah-makan ini, serahkan saja kepadaku. Bukankah aku yang berjanji mentraktirmu? Tentunya juga termasuk resiko-resiko seperti ini."


Teng Jiu masih pura-pura sungkan. "Oh-heng, mana bisa begitu? Keributan tadi bersumber dari diriku, seharusnya..."


Sambil tertawa dan menggoyangkan tangan, Oh Bun Kai tiba-tiba berkata, "Ah, jangan sungkan, Sam-ko. Kau bermusuhan dengan Liong Ke Toh, berarti tujuan kita satu arah."


Bicara sampai di sini, tiba-tiba perwira itu cepat-cepat menutup mulutnya, karena merasa sudah bicara terlalu terbuka kepada Teng Jiu. Biarpun Teng Jiu adalah kenalan baik secara pribadi, di luar kedinasan, namun tidak termasuk dalam kelompok politik yang sepaham dan sekepentingan. Maka, cepat-cepat Oh Bun Kai mengalihkan pembicaraan kesoal lain, "Ah, masakan di tempat ini benar-benar lezat. Juru masaknya mungkin orang asli dari Soh-ciu."


Dengan berlagak seolah tidak memperhatikan ucapan Oh Bun Kai tentang "tujuan kita satu arah" tadi, Teng Jiu pun kemudian ikut memuji-muji masakannya. Selesai makan minum, Oh Bun Kai benar-benar merogoh kantongnya untuk membayari semua makan minum itu, termasuk ganti rugi atas kerusakan akibat keributan tadi. Teng Jiu mengucapkan terima kasih.


Setelah mereka keluar dari rumah makan itu dan hendak berpisahan, Teng Jiu berkata, "Dalam waktu dekat, aku ingin melihat anak lelakimu yang baru lahir, Oh-heng. Kuharapkan diapun akan menjadi seorang perwira segagah ayahnya."


"Terima kasih, Sam-ko."


Sesaat Teng Jiu memperhatikan ke arah mana Oh Bun Kai berjalan, lalu diapun mengambil arahnya sendiri. Mula mula mengikuti jalan besar, lalu tiba-tiba membelok ke sebuah jalan cabang yang agak kecilan, berbelok beberapa kali, sampai akhirnya memasuki sebuah rumah kecil yang letaknya rapat berhimpitan dengan rumah-rumah kecil lainnya. Teng Jiu masuk tanpa mengetuk pintu, lalu menutup kembali pintunya.


Di dalam rumah itu, ternyata telah menunggu dua orang bertampang aneh yang tadi berkelahi dengan Teng Jiu di rumah makan. Tanpa adanya orang lain di ruangan itu, mereka ternyata tidak menunjukkan sikap bermusuhan, bahkan akrab.


"Bagaimana?" tanya orang yang tadi dilempar lewat jendela, sambil mengusap-usap mukanya. Kumis dan jenggotnya tiba-tiba lepas, menyusul lapisan-lapisan tipis lilin kuning yang tadinya melapisi wajah mereka. Ternyata, kedua orang itu bukan lain adalah kakak-kakak seperguruan Teng Jiu sendiri. Jian-eng-kiam Ho Se liang dan Lam-thai-hong Auyang Kong.


"Sabar, Ji Suheng (kakak seperguruan kedua). Kita semua sudah tahu bahwa kelompok perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau itu amat tertutup, gampang curiga terhadap orang yang tidak termasuk kelompok mereka. Maka untuk mendekati, apalagi mencoba memancing keterangan dari mereka, haruslah hati-hati sekali dan membutuhkan waktu lama."


"Jadi apa hasilmu hari ini?"


"Hanya mendekatinya dan bicara soal-soal ringan. Tentang anaknya yang baru lahir, tentang masakan dan sebagainya. Cuma satu kali mulutnya kelepasan bicara, katanya aku dan dia "bertujuan satu arah" karena sama-sama bermusuhan dengan Liong Ke Toh, setelah itu ia ganti pembicaraan dan aku tidak berani mendesaknya, khawatir kalau dia merasa sedang diselidiki. Dia benar-benar mengira bahwa Tong suheng dan Ji-su-heng kaki tangan Liong Ke Toh yang memusuhi aku, maka dalam dirinya sudah timbul pandangan setidak-tidaknya aku punya musuh yang sama dengan dia. Untuk langkah pertama, ini sudah cukup."


Auyang Kong menepuk keras-keras jidatnya sendiri, sambil menggerutu, "Astaga, jadi pengorbananku melompat dari jendela lantai dua tadi hanyalah mendapat sekecil ini, Sam-te?"


"Lalu harus bagaimana, Ji-suheng? Haruskah aku langsung bertanya sebanyak-banyaknya, supaya dia segera mencurigai aku dan kitapun takkan mendapatkan keterangan apa-apa? Sabarlah, ini bukan urusan yang bisa dilakukan dengan sekali gebrak."


"Tapi, apakah sudah pasti bahwa pengikut- pengikut Ni Kong Giau itulah yang pernah mencegat Liong Ke Toh di malam hari?"


"Gegabah sekali kalau kujawab sudah pasti, tapi dugaan kerasnya ya kearah itu. Di Pak-khia ini banyak orang membenci Liong Ke Toh si tukang fitnah itu, namun rasanya memang hanya pengikut Ni Keng Giau yang berani bertindak demikian. Lantaran kelompok itu merasa dirinya kuat di bawah pimpinan Ni Keng Giau. Ingat saja peristiwa ketika mereka berani menerobos masuk istana dengan senjata lengkap, lalu memaksa Kaisar agar membubarkan jamuan makan yang sedang diadakan oleh Kim Seng Pa. Itu tanda bahwa mereka berani berbuat apa saja karena merasa kuat."


Sesaat ketiganya bungkam dan merenung, lalu Teng Jiu memecah kesunyian, "Sebenarnya kita begitu bersusah payah seperti ini, kita ini berjuang untuk keuntungan siapa?"


Ho Se Liang sebagai saudara seperguruan yang tertua, lalu menjawab, "Tujuan kita terutama ialah mendepak Ni Keng Giau sebagai tiang utama pemerintahan yang sekarang sehingga agak gampang untuk merobohkannya. Agar kita dapat memaksa teman lama kita Si Liong-cu pensiun dari kedudukannya sekarang, sebab ternyata ia telah ingkar janji dan menipu banyak pendekar sahabatnya."


Si Liong-cu adalah nama samaran Kaisar Yong Ceng semasa belum bertahta, ketika masih berkelana sebagai pendekar di rimba persilatan. "Setelah Ni Keng Giau roboh, menyusul Yong Ceng juga roboh, terus bagaimana?"


"Setelah itu, ada dua pilihan calon Kaisar yang baik, yang akan mensejahterakan rakyat. Yaitu Pangeran Hong-lik dan Pangeran In Te, entah yang mana kelak harus menggantikan Yong Ceng. Kita bertiga masih terikat sumpah setia dengan Pangeran In Te, meskipun saat ini dia tak terdengar kabar beritanya.


"Satu hal yang aku benci, dalam usaha merobohkan Ni Keng Giau ini seolah-olah kita bekerja untuk Liong Ke Toh si bangsat tua itu. Bukankah menurut Pangeran Hong-lik, si tua itu sedang merencanakan untuk merobohkan Ni Keng Giau karena iri?"


"Kita seolah-olah membantu Liong Ke Toh, tapi hanya seolah-olah. Wujudnya, kita dan dia sama-sama ingin merobohkan Ni Keng Giau, tapi latar belakangnya berbeda. Kita bertindak karena menentang kelalimannya, sedangkan Liong Ke Toh didasari ambisi dan kebencian pribadinya," kata Ho Se Liang.


Auyang Kong menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan Teng Jiu mencoba melengkapi penjelasan itu, "Ji-suheng, boleh saja kau membenci Liong Ke Toh, dan akupun demikian. Namun kali ini kita harus memanfaatkan pengaruhnya untuk menyingkirkan Ni Keng Giau, sebab kekuatan kita sendiri jelas tidak cukup untuk menandingi Ni Keng Giau yang berkuasa atas hampir satu juta pe rajurit."


"Kalau kekuatan kita terlalu kecil, apakah tidak kita coba untuk menghubungi dan menghimpun orang-orang yang masih setia kepada Pangeran In Te?" usul Auyang Kong yang masih kurang puas karena harus "satu jalan" dengan Liong Ke Toh.


”Ji-sute, apakah kau pikir masih ada pendukung Pangeran In Te di Pak-khia ini, kecuali kita bertiga, dan mungkin satu dua gelintir lainnya yang kekuatannya tak berarti? Apa kau kira Si Liong-cu bisa hidup setenang sekarang kalau belum menyingkirkan semua pengikut Pangeran In Te dari Pak-khia ini? Ada yang dibunuh diam-diam, ada yang ditugaskan ke pos-pos perbatasan yang saling berjauhan, dan entah bagaimana nasib yang lain-lain. Kita bertiga masih hidup, ini merupakan suatu keberuntungan dan tidak semua pengikut Pangeran In Te seberuntung kita. Ini berkat ilmu bunglon kita. Karena itu, daripada susah-susah menghubungi pengikut-pengikut Pangeran In Te yang masih ada dan saling berjauhan itu, kenapa tidak numpang Liong Ke Toh dalam melucuti Ni Kong Giau? Ji-sute, kita sedang main politik, jadi berpikirlah praktis sedikit.”


"Baiklah. eh, Toa-suheng, rasanya kita sudah terlalu lama meninggalkan istana, kalau tidak segera pulang akan menimbulkan kecurigaan orang lain.”


"Baik. Kita pulang, tapi masuknya ke istana harus mengambil jalan yang berpencaran dan jangan bersama-sama."


"Aku masih harus mampir ke toko lebih dulu, untuk membeli kado," kata Teng Jiu tiba-tiba.


"Kado? Buat siapa?"


"Buat bayinya Oh Bun Kai. Bukankah aku harus terus mendekatinya agar bisa menyadap apa yang akan dilakukan oleh para pendukung Ni Keng Giau?"


"Kapan kau akan berkunjung kerumahnya?"


"Secepatnya."


* * * *


Di dunia persilatan sering terdengar omongan gagah macam ini, "Aku baru puas kalau bisa membunuh dengan tangan ku sendiri!"


Namun omongan macam ini tidak laku di arena intrik di seputar tahta. Kenapa harus dengan tangan sendiri? Kalau bisa memakai tangan orang lain, ya pakailah tangan orang lain untuk me nyingkirkan lawan politik, kemudian dengan tangan yang "bersih" dia akan mengunjungi si korban sambil menyatakan "ikut belasungkawa".


Sepersepuluh kegiatan politik dilakukan untuk disorot rakyat dan diberi tepuk tangan. Sembilan persepuluhnya dilakukan di belakang layar untuk saling terkam dengan sengit, dalam rangka memperjuangkan tempat yang senyaman-nyamannya bagi diri sendiri.


Berkat (istilah yang sebenarnya tidak tepat) hubungan baik antara Teng Jiu dan Oh Bun Kai, akhirnya Teng Jiu berhasil mengetahui tempat dan waktunya pendukung-pendukung Ni Keng Giau akan berkumpul lagi untuk merundingkan langkah-langkah rahasia. Tidak diberitahu terang-terangan oleh Oh Bun Kai, namun dengan mengambil kesimpulan setelah memperhatikan ucapan-ucapan dan sepak terjang Oh Bun Kai.


Dan sambil minta maaf sebesar-besarnya kepada Oh Bun Kai, dalam hati, Teng Jiu membisikkan keterangan itu ke pihak Liong Ke Toh. Oh Bun Kai memang sahabat secara pribadi, sayangnya Oh Bun Kai terlalu setia kepada Ni Keng Giau, padahal Teng Jiu ingin Ni Keng Giau jatuh. Maka ya begitulah.


Malam itu di rumah Pui Ciong, perwira pendukung Ni Keng Giau yang usianya paling tua, dan oleh teman-teman sepahamnya diangkat sebagai pimpinan “operasi penyelamatan Ni Keng Giau” itu, para perwira pendukung Ni Keng Giau sudah kumpul semua.


“Jadi sudah jelas, saudara-saudara!” kata Pui Ciong berusaha tetap tenang, agar kawan-kawannya jangan kehilangan kendali diri. “Dari keterangan-keterangan kalian, dan juga yang aku peroleh lewat beberapa sumber dalam istana, dapat kita pastikan kalau memang ada sebuah rencana licik yang ditujukan kepada Goan-swe, didalangi oleh Liong Ke Toh. Sayangnya, Sribaginda nampaknya malah merestui rencana Liong Ke Toh itu.”


Wajah para perwira menjadi tegang namun semuanya berusaha tetap bersikap disipling menunggu kelanjutan kata-kata Pui Ciong. Inilah kelanjutannya,


“Saudara-saudara, inikah balas jasa yang harus diterima oleh Panglima Tertinggi kita, setelah beliau berjasa besar menaklukkan pemberontakan di Jing-hai? Inikah? Dia hendak disingkirkan lewat sebuah penghianatan! Dan bisakah saudara-saudara bayangkan, kalau sampai kedudukan Panglima Tertinggi itu diduduki orang lain kecuali Goan-we Ni Keng Giau?”


Para perwira masih diam, tapi mata mereka mulai menyala, api fanatisme mulai menyala lebih hebat.


“Disiplin baja yang selama ini dibina dengan susah payah oleh Goan-swe kita akan hancur! Pembangkang-pembangkang akan bermunculan kembali! Dan itu juga berarti negeri ini menuju ke jurang kehancuran!”


Warna merah di wajah Pui Ciong kini sudah mulai menjalar ke wajah perwira-perwira lainnya. "Saudara-saudara, bisakah hal itu dibiarkan saja?" kata Pui Ciong mulai membakar.


Para perwira serempak berdiri tegap, hasil didikan keras Ni Keng Giau selama ini.


"Malam ini kita kerahkan pasukan menyerbu istana!" seru seorang perwira. "Kita tuntut Sribaginda agar menyerahkan Liong Ke Toh untuk kita hukum dengan cara kita sendiri! Lalu kita telanjangi di depan umur, biar semua orang tahu!"


"Benar! Kita tunjukkan kesetiaan kita kepada Goan-swe!"


"Kita tunjukkan kekuatan kita!"


"Istana harus dibersihkan dari tikus tua macam Liong Ke Toh!"


Kalau orang lain tentu menghindari kata-kata "menyerbu istana" atau "menuntut Sribaginda", maka bagi perwira-perwira Ni Keng Giau ini justru berani mengucapkannya dengan ringan saja. Maklum, mereka pernah menyerbu istana dan ternyata keluar kembali dengan selamat. Sampai saat itu tidak ada hukuman, dan itu mereka anggap karena wibawa Ni Keng Giau. Sejak itu mereka jadi bangga, bahkan rada besar kepala, menganggap bahwa “Kaisar pun takut ke pada kita".


Tapi kali ini ada yang mengejutkan. Mendadak dari bagian belakang rumah Pui Ciong itu terdengar suara jeritan, lalu disusul suara perempuan menangis ketakutan. Pui Ciong yang sedang berpidato mengobarkan semangat rekan-rekannya itupun terkejut, wajahnya berubah hebat, sebab ia kenal suara itu adalah suara isterinya dan pembantu-pembantu rumahnya. Seperti seekor kijang yang dikejutkan, Pui Ciong melompat ke pintu. Perwira-perwira yang lain bangkit untuk mengikutinya, tetapi Pui Ciong mencegah,


’Tetap di sini! Kalau terjadi apapun yang tidak kita kehendaki, jangan mengadakan perlawanan yang sia-sia, tapi lebih baik langsung bubar berpencaran. Siapapun yang berhasil lolos haruslah langsung berusaha memberitahu Goan-swe kalau di Pak-khia ini ada renrana licik, cepat!"


Segalanya memang berlangsung serba cepat dan mengejutkan, tapi perwira perwira didikan Ni Keng Giau itu tidak menjadi panik. Pui Ciong sendiri hendak menuju ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. Namun tiba-tiba dari ambang pintu itu melayang masuk sebuah kantong kulit yang menggelembung dengan mulut kantongnya menghadap ke bawah.


Apabila orang mendongak, terlihat di bagian dalam kantong itu ada kerangka besi tipis dan ringan, serta pisau-pisau kecil dilingkaran dalam mulut kantong yang sekilas nampak seperti geraham seekor ikan hiu. Kantong itu melayang cepat, dan langsung turun menungkrup ke kepala Pui Ciong.


Pui Ciong kaget, tak bisa menghindar. Namun sebelum kepalanya lenyap ke dalam kantong, masih terdengar teriakannya yang gagah, "Selamatkan Goan-swe!"


Di bagian pantar kantong kulit itu ada seutas rantai tipis. Ketika rantai itu ditarik dari luar, maka batok kepala Pui Ciong pun ikut terbawa dalam kantong maut itu, meninggalkan tubuhnya. Tubuhnya masih sesaat berdiri di ambang pintu, menabrak-nabrak dengan tangan menggapai-gapai sejenak, lalu ambruk. Dari bekas irisan di lehernya, ternyata hanya sedikit darah yang mengalir. Tepat seperti nama kantong maut terbang itu, Hiat-ti-cu yang artinya "setitik darah", sama dengan nama kelompok algojo yang diperintah sendiri oleh Kaisar Yong Ceng.


"Selamatkan Goan-swe!" ucapan terakhir Pui Ciong tadi diulang oleh para perwira dengan tak gentar. Dengan pedang-pedang terhunus, para perwira itu siap menerjang keluar dari ruangan itu.


Namun dari luar pintu terdengarlah bentakan menggeledek, "Hukuman mati buat semua penentang rencana Sribaginda!"


Di ambang pintu itu munculah Hap To, komandan kelompok Hiat-ti-cu. Tangannya menjinjing kantong kulit yang rantainya sudah digulung di tangan. Ketika ia guncang-guncangkan kantong itu, jatuhlah batok kepala Pui Ciong dari dalamnnya. Dan sambil tertawa dingin, Hap To mengulangi kata-katanya tadi, "Mati buat semua penentang Sribaginda!"


Dan dari halaman luarpun terdengar sahutan yang sama, "Mati buat semua penentang Sribaginda!!" Jelaslah bahwa Hap To tidak datang sendirian, melainkan membawa regu algojonya.


Belum hilang gema suara itu, jendela-jendela dan pintu-pintu didobrak dari luar, dan berlompatan masuklah anggota-anggota Hiat-ti- cu, dengan pakaian mereka yang khas. Ringkas hitam. Jumlah mereka hanya sepuluh orang, separuh dari jumlah para perwira yang berkumpul di ruangan itu. Namun para anggota Hiat-ti-cu itu menunjukkan sikap yakin akan bisa melaksanakan tugas secara tuntas.


Para perwira pun nampak tegang, menyadari betapa berat lawan-lawan mereka kali ini. Namun salah seorang perwira masih coba menggertak, ''Kami adalah perwira perwira yang langsung dibawah perintah Goan-swe Ni Keng Giau! Siapapun tidak berhak menghukum kami, kecuali Goan-swe Ni Keng Giau sendiri. Kaisar pun tidak. Bahkan Sribaginda amat mengasihi Goan-swe Ni Keng Giau yang menjadi adik seperguruannya!"


Hap To tertawa terbahak-bahak, "Ni Keng Giau benar-benar berhasil membentuk kalian meniadi boneka-boneka wayangnya yang setia. Tapi urusan malam ini tak ada hubungannya dengan berhak atau tidak berhak, yang perlu kalian ketahui hanya satu ini, biarpun kami tidak berhak tetapi kami mampu menghukum kalian, dan kami mampu melaksanakannya!"


Dan kepada orang-orangnya, Hap To memerintah dengan suara bengis, "Sikat habis para pembangkang ini!"


Para perwira menjadi gusar, namun mereka sadar, sudah tiba saatnya bahwa pedang akan berbicara lebih nyaring dari mulut. Sudah tentu mereka takkan menyerah mentah-mentah. Seorang perwira senior lalu mengambil pimpinan dan menyerukan aba-abanya. "Arus ke muara! Siapapun yang lolos, langsung melaksanakan rencana tadi!”


Arus ke muara. Istilah itu dalam latihan pertempuran maupun pertempuran yang sebenarnya, dimaksudkan sebagai gerakan yang memusatkan seluruh kekuatan untuk mendobrak ke satu arah. Daya gempur dipusatkan ke satu sisi, sedang sisi-sisi lainnya hanya bertahan dan menjaga agar pasukan tidak pecah. Di ruangan sempit itu, para perwira tahu bahwa yang dimaksud "muara” tentunya adalah pintu keluar.


Para perwira segera membentuk barisan kecil untuk menembus penjagaan musuh dipintu depan. Benar dalam hal ilmu silat perorangan para perwira itu tak setangguh anggota-anggota Hiat-ti-cu, tetapi mereka juga bukan orang-orang lemah atau bernyali kecil. Dalam suanana pertempuran, para perwira tidak luput dari keharusan untuk bertempur langsung, sehingga. para perwira itu sedikit banyak melatih ilmu silatnya juga.


Begitu para perwira bergerak ke pintu, para Hiat-ti-cu juga bergerak untuk berusaha mencegah. Di ruangan terbatas itu, para Hiat-ti- cu merasa tidak leluasa menggunakan kantong-kantong maut mereka yang berantai panjang, maka mereka menggunakan senjata-senjata biasa. Pintu keluar dijaga Tam-tai Liong, tokoh nomor dua dalam kelompok Hiat-ti-cu yang kepandaiannya hanya dibawah Hap To seorang. Ia bersenjata sebuah tiat-koai, tongkat besi yang ujungnya melengkung dan lancip.


Seorang perwira menerjangnya dengan golok, Tam-tai Liong menangkis sambil berusaha mengait golok lawannya. Si perwira itu terhuyung ke depan dan hampir saja melepaskan goloknya, namun seorang perwira lain yang bersenjata pedang telah maju ke depan untuk membantu temannya. Karena menyadari kalau secara perorangan kalah dari para anggaota Hiat-ti-cu.


Maka para perwira berusaha bertempur kompak dalam satu barisan, tidak mau terpancing bertempur sendiri-sendiri. Mereka juga membagi tugas. Yang menghadap kepintu keluar berusaha untuk mencari jalan, sedangkan yang lain mengambil sikap bertahan yang rapi.


Akibatnya, Tam Tai Liong dan beberapa Hiat-ti-cu yang menghalangi pintu itulah yang paling berat menahan arus serbuan yang hendak menjebol pintu. Biarpun Tam Tai Liong pesilat tangguh, agak repot juga dia menghadapi ujung-ujung senjata musuh yang bergantian menyelonong dari berbagai arah. Lebih repot lagi karena ia tidak boleh meninggalkan ambang pintu, harus menjaga agar para perwira jangan sampai ada satupun yang berhasil kabur. Perintah yang didengarnya sudah jelas, semua manusia di rumah itu harus ditumpas habis.


Melihat cara bertempur perwira-perwira itu, Hap To diam-diam kagum juga. Ia melihat betapa beratnya beban Tam Tai Liong, mungkin takkan bisa bertahan lama. Karena itulah Hap To siap-siap untuk turun tangan. Dilingkungan istana, memang ilmunya tak setinggi Kim Seng Pa atau Biau Beng Lama, pemimpin kawanan pendeta-pendeta Ang-ih-kau dari Tibet, namun Hap To hanya selapis di bawah mereka. Setidaknya ia sejajar dengan To Jiat Hong, orang nomor dua bawahan Kim Seng Pa. Maka diapun memasuki gelanggang dengan tangan kosong, sikapnya memandang rendah para perwira itu.


Begitu dia turun tangan, para pengikut fanatik Ni Keng Giau itupun seperti helai-helai ilalang dilewati angin kencang. Disertai bentakannya yang mirip singa meraung, sekali gebrak Hap To berhasil menjotos ringsek dada seorang perwira. Namun para perwira lainnya bukan saja bernyali baja dan fanatik, hasil ajaran Ni Keng Giau, juga dengan cerdik berusaha menerapkan taktik-taktik pertempuran.


Tempat yang menjadi lemah karena gugurnya salah seorang teman mereka, segera "ditambali” oleh Perwira lain agar barisan tidak rusak. Ketika dua orang terasa belum cukup untuk menahan amukan Hap To yang membadai, maka dua orang lagi membantu sehingga jadi empat orang. Begitulah, kerjasama para perwira itu begitu ulet. Pihak Hiat-ti-cu yang tadinya mengira akan dapat membantai mereka dengan mudah, terpaksa kini harus memeras keringat entah sampai kapan.


Hap To terdengar meraung sekali lagi. Seorang perwira berhasil dicengkeramnya, ditarik keluar dari barisan, lalu tubuhnya ditendang mencelat sampai membentur langit-langit. Ketika tubuh itu turun kembali ke lantai, dia sudah jadi mayat. Di satu pihak Hap To berhasil mengurangi jumlah lawan, di lain pihak Tam Tai Liong gagal mempertahakan "pos"nya, karena tekanan para perwira yang menggunakan siasat "satu arus" itu.


Tam Tai Liong tidak berilmu setinggi Hap To, biarpun ia berhasil merobohkan satu musuh, namun seorang musuh lain berhasil melukai lengannya. Sambil berdesis pedih, ia melompat mundur dua langkah, dengan demikian terbukalah ambang pintu yang seharusnya dia jaga. Seorang perwira berhasil menerobos keluar, disusul dua orang lagi lalu dua orang lagi.


"Tahan mereka, Tam Tai Liong goblok!" dari sebelah lain Hap To berseru marah.


Tam Tai Liortg dengan gigih mencoba "menambal kebocoran" itu. Dengan sebuah jurus yang ganas, perwira yang keluar paling dulu telah berhasil dibabatnya roboh. Tapi masih ada empat orang lagi yang sudah melewati ambang pintu. Padahal Tam Tai Liong yang sudah terluka lengannya itu cuma mampu menahan dua dari empat orang, itu, yang bertempur bagaikan kesetanan.


Sedangkan yang dua lainnya sudah lolos dan langsung berlari ke pintu halaman depan. Lari bukan karena takut mati, tapi justru untuk memikul tugas berat, yaitu memberitahu Ni Keng Giau tentang adanya rencannya pengkhianatan di Pak-khia.


Perwira-perwira lain yang masih bertempur dalam ruangan, gembira ketika mengetahui ada dua rekan mereka berhasil lolos. Itu sudah cukup. Supaya jangan sampai para Hiat-ti-cu berhasil mengejar mereka, seorang perwira yang paling senior meneriakkan aba-ba lagi buat teman-temannya, "Arus berputar!”


Perintah itu berarti, sisa perwira yang masih bertahan di tempat itu harus melibat para Hiat-ti-cu dalam pertempuran campur-aduk agar tak bisa meninggalkan ruangan itu. "Arus berputar" pun dilaksanakan. Semua perwira tanpa rasa takut segera berpencaran, mengamuk, tanpa memberi kesempatan para Hiat-ti-cu pergi dari ruangan itu. Mereka bahkan siap mati demi tujuan mereka.


Bukan kepalang murkanya Hap To. Kalau sampai satu perwira saja yang berhasil lolos, berarti bocorlah rencana untuk menjatuhkan Ni Keng Giau, dan kalau sampai Ni Keng Giau mendengarnya, sudah pasti Ni Keng Giau takkan mentah-mentah menjulurkan lehernya untuk dikalungi borgol. Sedangkan Hap To sendiri pasti harus mempertanggung-jawabkan kegagalan itu dihadapan Kaisar Yong Ceng, mungkin dengan batang lehernya pula.


Karena itulah teriakannya menggelegar, "Jangan lolos seorangpun!" Lalu ditambahkannya perintah lagi untuk anak-buahnya. "Siapapun yang sempat keluar dari sini, kejar dan tumpas dua pembangkang yang melarikan diri tadi!”


Seorang Hiat-ti-cu yang bertempur dekat jendela, bertubi-tubi menyabet-nyabetkan ruyungnya untuk memaksa mundur seorang perwira yang menjadi lawannya. Ketika lawannya terdesak mundur, secepat kilat ia membalik tubuh, hendak melompat keluar jendela untuk mengejar perwira-perwira yang kabur tadi.


Namun diluar dugaan, perwira yang terdesak mundur tadi tiba-tiba melompat masuk ke jendela dan menikam punggung Hiat ti-cu itu. Si Hiat-ti-cu meraung kesakitan karena punggungnya tertembus pedang. Namun perwira yang membunuhnya itu pun terbunuh oleh seorang Hiat-ti-cu lainnya.


Pertarungan jadi sengit dan habis-habisan. Para Hiat-ti-cu sekuat tenaga berusaha mencari jalan keluar, sementara para perwira menghalanginya. Semuanya sudah lupa kalau mereka masing-masing cuma punya satu nyawa.


Seorang anggota Hiat-ti-cu lagi dengan susah-payah berhasil mendesak mendekati jendela, asal mendapat kesempatan satu detik saja, dia pasti akan berhasil keluar. Tapi yang satu detik itu tidak diberikan begitu saja oleh lawannya, seorang perwira bersenjata sepasang tiat-pi (trisula bertangkai pendek), yang berkelahi dengan kalap macam anjing gila.


Seorang anggota Hiat-ti-cu lain yang sudah kehilangan senjata, tapi agaknya ahli dalam Sut-kau (gulat), berusaha menolong temannya yang dekat jendela itu. Ia menubruk dan memeluk perwira bersenjata sepasang tiat-pi itu dari belakang, sambil berteriak kepada kawannya,


"Cepat keluar dan kejar pembakang yang lolos tadi! Biar yang ini kutahan di sini..."

Selanjutnya,

Kemelut Tahta Naga 2 Jilid 05

Kemelut Tahta Naga II Jilid 05

Karya Stevanus S P

Sedangkan ketiga pengawal Liong Ke Toh kembali ke istana, sambil menggotong mayat seorang rekan mereka. Ketika mereka sudah bergabung dengan Liong Ke Toh serta kedua pemikul tandu di dekat pintu Hou-cai-mui di belakang istana, terdengar Liong Ke Toh menggeram sambil mengepal-ngepal tinjunya,


"Bocah ingusan itu agaknya makin besar kepala. Caranya menentang aku sudah mulai kasar, cara kampungan. Baik. Besok akan kulaporkan semua ini kepada Sribaginda."


Cerita Silat Mandarin Karya Stevanus S P

Lalu Liong Ke Toh terbatuk-batuk lama sekali, sampai tubuhnya terbungkuk bungkuk. "Latihan lari" malam itu benar-benar tidak direncanakan, sampai paru-parunya terasa hampir rontok.


Pagi harinya, di bangsal kediaman Pangeran Hong-lik. Seorang thai-kam kecil yang menjadi pelayan pribadi Pangeran Hong-lik, dengan langkah lembut mendekati pintu kamar tidur Pangeran Hong-lik, lalu mengetuknya pelan-pelan.


“Thai-cu Thai-ciL..." panggilnya agak takut-takut. Kemudian diulangi lagi beberapa kali.


Dari dalam kamar, terdengar suara Pangeran Hong-lik menguap, dan terdengar suaranya yang masih ogah-ogahan, "Siapa di luar?"


"Hamba Hi-cu. Mohon ampun sebesar-besarnya karena telah mengganggu Thai-cu."


"Ada apa? Tidak biasanya kau bangunkan aku sepagi ini."


"Ampun, Thai-cu. Ada panggilan dari Sribaginda yang sekarang menunggu di Bangsal Yang-wan-kiong, agar Thai-cu segera menghadap. Thai-cu juga dimohon membawa serta ketiga pengawal yang sering bersama Thai-cu."


Terdengar suara perlahan di dalam kamar yang menandakan keheranan pangeran Hong-lik. Lalu, "Di bangsal Yang-wan-kiong itu ada siapa lagi selain Hu Hong?"


"Di sana juga ada Ong-ya Liong Ke Toh." Sesaat lamanya dari dalam kamar tidur Pangeran Hong-lik cuma terdengar suara langkah hilir-mudik dan dehem-dehem kecil. Lalu kata Putera Mahkota itu, "Baiklah, Hi-cu. Suruhlah An-cu menyiapkan perlengkapan mandiku dan pakaianku, dan suruh Kui-cu memanggil tiga pendekar Heng-san-sam-kiam dari Bangsal Bwe-hoa-kiong kemari."


"Baiklah, Thai-cu." Kemudian si thaikam kecil Hi-cu itupun pergi menjalankan perintah.


Tidak lama kemudian, Pangeran Hong-Lik dan ketiga pengawal kepercayaannya yang diambil dari Ci-ih Wi-kun (kelompok pengawal Jubah Ungu) yang berjalan bersama ke bangsal Yang-wan-kiong. Tiga pengawal itu masing-masing adalah Jian-eng-kiam (Pedang Seribu Bayangan) Ho Se Liang, Lam-thai-hong (Prahara Selatan) Auyang Kong dan Hui kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang) Teng Jiu.


Ketika mereka memasuki bangsal, segera terlihat Liong Ke Toh yang wajahnya merah padam, mirip orang ketika sedang mengejan dalam kakus. Juga nampak tiga pengawal pribadinya yang nampak babak belur, penuh balutan balutan berdarah di beberapa bagian tubuhnya. Selain itu masih ada pula sesosok mayat yang dibaringkan di lantai. Kaisar Yong Ceng sendiri nampak duduk di sebuah kursi beralas kulit macan tutul.


Pangeran Hong-lik dan ketiga pengawalnya cepat-cepat berlutut kepada Kaisar. "Apakah Hu Hong memanggil hamba?" tanya Pangeran Hong-lik.


"Ya, bangunlah," kata Kaisar Yong Ceng yang suaranya terdengar ramah. Juga kepada ketiga pengawal Pangeran Hong-lik, "Kalian juga, sobat-sobat lamaku."


"Terima kasih, Tuanku," sahut ketiga pendekar Heng-san-sam-kiam itu.


Dulu, semasa Kaisar Yong Ceng masih mengembara sebagai pendekar dengan nama samaran Si Liong Cu, antara lain ia bersahabat dengan ketiga pendekar ini, sehingga ketika terjadi persaingan merebut tahta beberapa tahun kemudian, ketiga pendekar itu berhasil di rangkul menjadi pendukungnya. Itulah sebabnya ia bersikap seperti teman lama kepada ketiga orang itu.


Kaisar Yong Ceng juga tidak tahu kalau ketiga bekas teman lama itu sebenarnya kecewa, setelah melihat cara pemerintahannya yang bertangan besi. Kaisar hanya merasa gembira melihat ketiga pendekar itu nampak dekat hubungannya dengan Pangeran Hong-lik, anaknya. Dikiranya dengan demikian ke tiga pendekar itu tetap setia kepada dirinya dan keturunannya.


Sementara itu Liong Ke Toh telah berbicara, "Tuanku, apakah hamba sudah boleh diperkenankan bicara?"


Kaisar Yong Ceng mengangguk sedikit. "Silahkan, Paman."


Liong Ke Toh lalu menatap penuh kebencian kepada ketiga pengawal Pangeran Hong-lik, dan berkata kepada Pangeran Hong-lik, "Pangeran, hamba mohon dengan sangat agar ketiga pengawal Pangeran itu dijatuhi hukuman mati!"


Pangeran Hong-lik mengerutkan alisnya, sedangkan Heng-san-sam-kiam terkejut. "Kehormatan" macam apa ini, sehingga Liong Ke Toh yang biasanya cuma memfitnah pejabat-pejabat kalangan atas, tiba-tiba sekarang mengincar pengawal-pengawal biasa seperti mereka? Ataukah Liong Ke Toh sudah tahu, kalau mereka bertiga diam-diam pernah berikrar untuk mendukung Pangeran In Te, setelah kecewa terhadap Kaisar Yong Ceng?


Pangeran Hong-lik lah yang mewakili pertanyaan dalam hati ketiga pendekar itu, "Paman, mohon disebutkan alasannya kenapa aku harus menghukum mereka begitu berat?"


"Karena mereka telah berani melakukan percobaan penculikan dan pembunuhan terhadap seorang anggaota keluarga istana. Semalam hamba telah diserang mereka. Biarpun mereka memakai kedok, tetapi hamba yakin merekalah yang melakukan. Lihat, seorang pengawal pribadi hamba tewas, dan tiga lainnya luka-luka, menandakan betapa bersungguh-sungguhnya mereka hendak membunuh hamba."


Dengan tuduhan ini, sebenarnya Liong Ke Toh bermaksud pula menuduh Pangeran Hong-lik di hadapan Kaisar. Namun karena tidak berani menuduh langsung, maka hanya berani menuduh ketiga pengawal Pangeran Hong-lik. Ia berharap agar Kaisar sendiri yang mendapat kesimpulan bahwa ketiga pengawal itu takkan berani bertindak kalau tidak disuruh oleh Pangeran Hong-lik sendiri. Dengan demikian Pangeran Hong-lik akan menimbulkan kesan jelek di mata ayahandanya sendiri, begitulah harapan Liong Ke Toh.


"Peristiwa itu terjadi malam tadi?" tanya Pangeran Hong-lik sambil tersenyum.


"Ya!" sahut Liong Ke Toh ngotot.


Senyuman Pangeran Hong-lik pun semakin melebar, bahkan ketiga pendekar Heng-san-sam-kiam itu pun ikut tersenyum. Kata Pangeran Hong-lik. "Paman, semalam kami bertiga tidak melangkah keluar dari dinding istana. Aku bermain catur dengan Ho Toa-ko sampai enam babak, sedang Auyang Jiko dan Teng Sam-ko menonton pertandingan kami sambil minum arak dan makan kacang. Kalau Paman tidak percaya, silahkan panggil pengawal-pengawal yang semalam tugas jaga sekitar pondok Jing-tiok-ting. Mereka akan menjadi saksi bahwa apa yang kukatakan ini benar."


Liong Ke Toh nampak jadi agak salah tingkah. Sebentar mengusap-usapkan telapak tangan ke jubahnya, sebentar lagi mengelus jenggotnya, dan macam-macam lagi. Dan setelah berdehem-dehem sebentar, ia masih juga mencoba ngotot dengan tuduhannya, "Tetapi... penjahat-penjahat itu berjumlah tiga orang, dan semuanya bersenjata pedang!"


Pangeran Hong-lik tertawa lagi, "Di kota Pak-khia ini entah ada berapa ribu pemain pedang, apakah mereka juga Paman tuduh semua? Lagi pula, kalau benar-benar Ho Toa-ko bertiga yang menghadang Paman, biarpun jumlah pengawal Paman dilipat-sepuluhkan, apakah Paman pikir pagi ini Paman masih hidup? Maaf...”


Merasa bahwa tuduhannya memang terlalu lemah, Liong Ke Toh lalu berpaling kepada Kaisar Yong Ceng dan berkata, "Ampun, Tuanku. Hamba mohon Tuanku memberi keputusan dalam urusan yang telah mengancam nyawa hamba ini." Nyata diapun mulai merengek, minta agar Kaisar membelanya.


Kaisar Yong Ceng mengurut jenggotnya dan menjawab, "Bukankah Paman sudah mendengar keterangan Hong-lik? Aku rasa dia berkata benar. Aku sendiri kenal kepandaian hebat dari ketiga sobat masa mudaku dari Heng-san ini, ketika aku dulu masih berkelana di rimba persilatan."


"Terima kasih, Tuanku," Heng-san-sam-kiam menjawab serempak demi kesopanan.


Sedangkan Kaisar Yong Ceng melanjutkan, "Maka kusarankan agar Paman menyudahi saja urusan kecil tak berarti ini, dan lebih memusatkan perhatian kepada pelaksanaan rencana besar yang sudah kita bicarakan kemarin." Yang dimaksud "rencana besar" ialah rencana untuk menjatuhkan Ni Keng Giau tanpa membahayakan tahta.


Keruan Liong Ke Toh jadi agak penasaran, sebab urusan keselamatan dirinya ternyata cuma dianggap "urusan kecil" oleh Kaisar. Maka diapun nekad berkata, "Ampun Tuanku, ketiga perwira berkedok yang mencegat hamba itu ada hubungannya dengan rencana besar yang kita rancang. Mereka mencegat hamba untuk memaksa hamba memberitahukan mereka tentang..."


Kaisar Yong Ceng cepat mengangkat punggungnya dari sandaran kursi, lalu mencegah, "Tunggu, Paman!" Liong Ke Toh mengatupkan mulut. Sedang Kaisar berkata kepada Hong-lik. "Hong-lik, kau dan ketiga sobat dari Heng-san itu boleh mengundurkan diri,"


Paling tidak disinilah Liong Ke Toh boleh merasa unggul dari Pangeran Hong-lik, sebab Kaisar mempercayainya untuk berbincang soal "rencana besar" itu sedangkan Pangeran Hong-lik disuruh pergi tidak boleh ikut mendengarkan.


Namun Pangeran Hong-lik bersikap tenang saja. Setelah berlutut kepada ayahandanya, diapun mengundurkan diri dengan mengajak ketiga pengawalnya. Hanya saja, setelah sampai diluar Bangsal Yang-wan-kiong, Pangeran Hong-lik menggerutu sengit,


"Hem, ayahanda menganggap aku masih sebagai anak ingusan yang tidak boleh tahu apa apa. Sebaliknya malah suka mendengarkan ucapan beracun dari ular tua itu."


Ho Se Liang bertanya, "Bagaiamana dengan nasib kami, Pangeran? Jangan-jangan Sribaginda akan mempercayai bahwa kami bertigalah yang semalam menghadang Liong Ong-ya?"


"Kalian bertiga jangan khawatir. Semalam bukankah kalian bertiga memang bersamaku sampai hampir pagi? Siapapun yang nekad menuduh kalian, berarti sama dengan menuduh aku sebagai pembohong, sebab aku akan menjadi saksi buat kalian."


"Terima kasih, Pangeran."


Sementara itu, di dalam bangsal Yang-wan-kiong, Liong Ke Toh belum pergi dari situ. Pengawal-pengawalnya sudah disuruhnya pergi lebih dulu, kemudian Liong Ke Toh sendiri terlibat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan Kaisar Yong Ceng.


"Jadi, ketiga perwira berkedok yang menghadang Paman itu mengancam Paman, agar Paman mengatakan tentang rencana kita terhadap Ni Keng Giau?"


"Benar, Tuanku."


"Apakah Paman tidak salah dengar?"


"Tidak, Tuanku. Hamba bersumpah. Para pengawal hamba serta dua pemikul tandu itupun mendengar hal yang sama."


Wajah Kaisar nampak menjadi gelisah. "Aneh. Bukankah kita baru membicarakannya berdua dan belum ada orang ketiga? Bahkan Hong-lik pun tidak kuberi tahu. Bagaimana perwira-perwira di luar istana itu tiba-tiba malah sudah menaruh kecurigaan?"


"Hamba pun heran sekali. Tuanku. Ini berbahaya sekali, pasti ada mata-mata di.... istana ini. Mata-mata Ni Keng Giau yang tanpa kita ketahui telah mencuri dengar pembicaraan kita. Dan kalau sampai ke kuping Ni Keng Giau, dia bisa marah, padahal angkatan perang masih tergenggam di tangannya. Biarpun Kim Seng Pa setia kepada Tuanku, namun kalau Ni Keng Giau sudah nekad, tentu gampang saja Kim Seng Pa akan dipitasnya seperti semut!"


"Paman....." kata Kaisar Yong Ceng tiba-tiba sambil menyeringai bengis sehingga Liong Ke Toh merinding.


"Hamba, Tuanku."


“Sekarang kita perlu mengadakan langkah pengamanan, agar rencana kita berjalan aman. Untuk itu dibutuhkan pengorbananmu, Paman, betul tidak?"


"Maksud Tuanku...." suara Liong Ke Toh agak tercekik. Khawatir kalau tiba-tiba Kaisar menginginkan dirinyalah yang dijadikan tumbal rencana itu.


"Karena itu, Paman. Kedua pemikul tandu jolimu dan ketiga pangawal Paman yang masih hidup itu, harus dilenyapkan. Secepat mungkin, sebelum mulut mereka pun ikut-ikutan bocor. Sebab semalam mereka sudah ikut mendengar kata-kata para perwira berkedok itu.”


"Baik, baik. Segera hamba laksanakan. Tuanku,” sahut Liong Ke Toh agak lega. Demi keselamatannya sendiri, ia tidak sayang lagi kepada orang-orang yang selama ini mengabdi kepadanya. "Tetapi siapakah mata-mata dalam istana ini, yang membocorkan pembicaraan rahasia kita kemarin?”


"Aku punya caraku sendiri. Paman. Pasti pelayan-pelayan dekatku yang tak pernah jauh daripadaku. Karena itu, hari ini juga akupun akan mengadakan pembersihan."


Ringan saja Kaisar Yong Ceng mengucapkannya. Padahal "pembersihan" itu bisa melenyapkan puluhan nyawa kaum pelayan mana yang dicurigai sebagai mata-mata Ni Keng Giau.


"Dan... bagaimana dengan ketiga perwira berkedok itu?"


"Aku sudah punya daftar nama para perwira yang selama ini ada hubungan dekat dengan Ni Keng Giau. Akan kuperintahkan Hap Toh dan Toh Jiat Hong untuk meneliti mereka satu persatu."


Liong Ke Toh mengangguk-angguk, lalu berkata, "Kalau begitu, hamba diperkenankan mengundurkan diri, Tuanku."


"Silahkan, Paman."


Hari itu juga terjadi kegemparan di istana. Dengan dalih "ada komplotan yang mengancam nyawanya", Yong Ceng menyingkirkan seluruh pelayan pribadinya. Ia yakin bahwa mata-mata Ni Keng Giau dalam istana itu ada di antara pelayan-pelayan pribadinya, namun daripada susah-susah "mencari tikus dalam rumah" maka ia lebih suka "membakar rumahnya" sekalian toh tikusnya akan ikut mati. Dengan demikian, puluhan pelayan yang tak bersalah ikut menggelinding batok kepalanya oleh golok algojo.


* * * *


Disalah satu ruangan dari salah satu rumah dari puluhan ribu rumah yang ada di Pak-khia, berlangsung sebuah pertemuan. Ada tujuh orang perwira di tempat itu, mereka saling berbicara dengan wajah amat bersungguh-sungguh, kadang-kadang tegang, tidak jarang ada yang berbicara keras sambil menggebrak meja.


"Pembunuhan para pelayan Kaisar itu membuatku semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Sribaginda! Dan orang kita yang ada di antara pelayan-pelayan itupun ikut terbunuh, dan aku yakin memang dia seoranglah yang sebenarnya diincar. Hanya karena Sribaginda tidak tahu pasti siapa yang telah memberitahu kita, maka Sribaginda membunuh semua pelayannya untuk gampangnya saja!" kata seorang perwira berjenggot panjang, dengan hati yang panas.


"Benar, saudara Oh Bun Kai!" sambut seorang perwira lain yang mukanya gemuk bundar, di rahangnya ada bekas luka yang didapatnya dalam suatu pertempuran. "Kita semua yakin. Alasan adanya komplotan para pelayan yang hendak membunuh Sribaginda itu hanyalah dalih palsu untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya. Aku yakin ada suatu rencana jahat yang sedang ditujukan kepada Goan-swe Ni Keng Giau. Aku yakin. Hanya karena takut rencana itu bocor, maka Sribaginda telah melakukan pembunuhan besar-besaran untuk menyumbat sumber berita kita di dalam istana!"


"Aku menduga keras, ini pasti pokalnya si mulut busuk Liong Ke Toh. Bukan rahasia lagi buat kita, bahwa dia amat iri kepada kedudukan Goan-swe kita dan tentu tambah iri lagi setelah mendengar tentang kemenangan Goan-swe yang gemilang di Jing-hai. Pasti ulah bangsat tua itu! Coba pikir, saudara-saudara, masuk akalkah kalau kita anggap rentetan kejadian akhir-akhir ini hanya semacam kebetulan saja? Mula-mula Liong Ke Toh sering berbincang-bincang dengan Sribaginda, begitu laporan orang kita di istana sebelum matinya, lalu peristiwa pembunuhan itu. Masuk akalkah kalau ini dianggap kebetulan saja?”


"Benar. Pasti ulah Liong Ke Toh Toh yang iri!"


"Selama ini, angkatan perang telah mengalami kemajuan yang membanggakan berkat pimpinan Goan-swe Ni Keng Giau, mengalami peningkatan disiplin. Tidak ada lagi perajurit yang berjiwa lemah. Semuanya adalah karena pimpinan Goan-swe kita. Kalau sampai Goan-swe kita berhasil disingkirkan, berantakanlah apa yang sudah dicapai selama ini!"


"Ini harus kita cegah dengan pengorbanan apapun!"


Lalu bersahut-sahutanlah perwira-perwira pengikut fanatik Ni Keng Giau di ruangan itu, beradu kerasnya suara, sambil mengacung-acungkan tinju kelangit segala. Mereka bukan cuma mendukung Ni Keng Giau, tetapi juga berang karena semuanya bercuriga bahwa Ni Keng Giau sedang hendak disingkirkan.


Hiruk-pikuk suara-suara emosional itu mereda, ketika seorang perwira ubanan bernama Pui Ciong mengangkat tangannya, meminta agar rekan-rekannya diam. Sesaat kemudian, ruangan itu sudah menjadi sunyi, semuanya siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Pui Ciong yang mereka segani karena umurnya.


“Kita boleh marah, saudara-saudara, tapi jangan sampai kemarahan itu menyeret kita ke dalam tindakan gegabah, sebab ini bukan urusan kecil yang bisa diselesaikan sekedar dengan keberanian dan kekuatan saja," kata Pui Ciong. "Kita harus tetap mewaspadai Liong Ke Toh, tapi kita tak bisa bertindak apapun kalau tidak bisa membuktikan niat jahatnya. Kalau kita bertindak ngawur kita malah akan menjadi bahan tertawaan banyak orang, kehilangan simpati umum, dan berarti juga mempermalukan Goan-swe Ni Keng Giang sendiri!"


Perwira-perwira lain bungkam semua, sementara Pui Ciong meneruskan, "Tidak ada gunanya kita berkumpul kalau hanya untuk saling membakar kemarahan seperti ini. Kita harus menetapkan langkah yang jelas yang akan kita lakukan, dengan kepala dingin dan kecermatan yang tinggi!"


Oh Bun Kai, si perwira berjenggot painjang, tiba-tiba berkata, "Tapi jangan terlalu lambat bertindak. Goan-swe kita sedang terancam intrik jahat. Situasi di istana saat ini persis saat-saat menjelang jatuhnya Menteri Song dan Menteri Tan beberapa bulan yang lalu. Ada kasak-kusuk Liong Ke Toh, ada pembunuhan yang tak jelas latar belakangnya, persis sekarang ini. Itu semacam tanda bahwa Liong Ke Toh sedang ingin menjatuhkan seseorang!"


Pui Ciong mengangguk-angguk, "Aku sependapat, apalagi kita sudah tahu betapa dengkinya Liong Ke Toh kepada Goan-swe, dan tentu berusaha menjatuhkan setiap ada kesempatan. Tapi aku tidak sependapat dengan tindakan kasar yang dilakukan saudara Oh, Ciu dan Koan dua malam yang lalu. Mencegat Liong Ke Toh di jalanan, memaksa dia bicara, dan apa hasilnya? Tidak ada hasil apa-apa. Malahan sekarang pihak istana mungkin akan bertindak semakin hati-hati, dan membabat sumber berita kita dalam istana. Nah, malahan merugikan kita dan menyulitkan tindakan kita selanjutnya bukan?"


"Tetapi kami berhasil melarikan diri, dan bahkan Liong Ke Toh tidak tahu siapa kami, sebab waktu itu kami bertiga memakai kedok," bantah Oh Bun Kai untuk meringankan kesalahannya sendiri.


"Tapi kalau setiap dari kita bertindak sendiri-sendiri, tanpa menyesuaikan langkah atau merundingkan dulu dengan rekan-rekan lain, lama-lama gerakan kitapun akan berantakan dan ditumpas dengan mudah!" suara Pui Ciong meninggi, setengah mendamprat.


Ketiga perwira yang kena damprat itu menundukkan kepala. Suasana jadi, hening untuk beberapa waktu, sampai Pui Ciong memperdengar kan. suaranya yang kali ini sudah menurun kembali. "Kalau saudara-saudara semua mempercayai aku sebagai senior yang usianya paling tua, turuti kata-kataku. Agar kita dapat mengambil langkah bersama yang kompak dan rapi, bukan bertindak menuruti emosi kalian sendiri- sendiri. Bagaimana?”


Ketika beberapa perwira menyatakan setuju, maka sisanyapun ikut mendukung pula. Gerakan itu memang harus ada pimpinannya.


“Bagus. Kawanan tukang copet saja ada pemimpinnya, apalagi kita," kata Pui Ciong puas. "Kepemimpinanku atas saudara-saudara hanya dalam urusan ini, hanya di kalangan kita. Sedangkan di jalur resmi, atau di hadapan banyak orang, kita harus tetap seperti biasa satu sama lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak-pihak lain yang tidak sepaham dengan kita. Bisa diterima?”


Semua perwira mengangguk-anggukkan kepala. "Sekarang ini kita belum tahu langkah apa yang akan dilakukan Liong Ke Toh dalam rencana jahatnya, karena itu, kitapun hanya akan menunggu sambil menyerap keterangan sebanyak-banyaknya. Tiga hari lagi kita berkumpul disini, dan kalian harus sudah membawa keterangan tentang gerak-gerik Liong Ke Toh. Tapi ingat, cara kalian mencari keterangan tidak boleh kasar. Kalau sebelum tiga hari ada perkembangan yang gawat, kalian harus saling berhubungan dan berkumpul di sini. Paham?”


"Paham!” sahut para perwira.


"Pergilah kalian, jangan lupa pesan-pesanku."


Pertemuan rahasia para perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau pun bubarlah. Oh Bun Kai meninggalkan tempat itu dengan kepala agak menunduk, hatinya masih merasa penasaran. Menuruti dorongan hatinya, ingin rasanya menyerbu istana dan meringkus Liong Ke Toh, dan ia yakin Kaisar takkan berani bertindak kalau tahu dia anak-buah Ni Keng Giau. Namun agaknya Pui Ciong ingin menyelesaikannya "secara halus" dan Oh Bun Kai terpaksa harus menurut.


Ia cuma berharap agar Ni Keng Giau dan angkatan perangnya segera tiba di Pak-khia, supaya dapat segera memaksa Kaisar untuk "membersihkan" istana dari Liong Ke Toh dan kaki tangannya. Tengah ia berjalan sambil menunduk, dengan pikiran melayang-layang, tiba-tiba di antara orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan itu ada seorang yang menepuk pundaknya dari belakang, sambil menyapa,


"Berjalan sambil melamun, Oh-heng (saudara Oh)?”


Oh Bun Kai tergagap sambil menoleh ke arah penyapanya, dan dilihatnya Teng Jiau yang dikenalnya sebagai salah satu anggota pengawal istana. Namun kali itu Teng Jiu sendirian saja, pakaiannya pun bukan seragam pengawal, melainkan jubah preman yang sederhana dan berkesan santai.


"Oh, Teng Sam-ko, kenapa sendirian saja? Sedang apa?"


"Sekedar berjalan-jalan, mumpung tidak bertugas. Sumpek rasanya berada dalam istana terus, rasanya ingin juga sekali-kali melihat luar dinding istana."


"Tidak sedang menemani Pangeran Hong-lik?"


"Tidak. Hari ini Pangeran Hong-lik mengatakan ingin beristirahat saja dibangsalnya. Oh, ya, aku hampir saja lupa mengucapkan selamat kepadamu, Oh heng."


Senyuman gembira tiba-tiba merekah di wajah Oh Bun Kai, ketika mendengar ucapan selamat itu. Sebagai manusia biasa, bagaimanapun juga ia senang mendapat perhatian dari orang lain. "Terima kasih, Teng Sam-ko. Yah, beginilah, untuk mendapatkan seorang anak laki-laki aku harus bersabar sebelas tahun lamanya. Enam anak yang kudapatkan terdahulu perempuan semua, baru yang ke tujuh inilah lahir lelaki."


Teng Jiu merasa mendapat angin untuk menggabungkan langkahnya dengan Oh Bun Kai, maka diapun berjalan mendampinginya. Ditimbulkannya simpati dari pihak Oh Bun Kai dengan bertanya lagi, "Apakah isteri Oh-heng dan bayinya dalam keadaan sehat semua?"


"Oh, baik, baik semua. Teng Sam-ko, bagaimana kalau kubagi kegembiraan-ku denganmu? Mari, mari, aku traktir kau di Pek- goat-lau. Di sana ada Bwe-hoa-keh-ting (bunga bwe masak ayam), masakan Soh-ciu yang pasti akan membuatmu rindu kampung halaman. Bukankah Teng Sam-ko berasal dari Heng-san yang jauh di selatan?"


"Sungguh beruntung perutku hari ini, Oh-heng. Mari."


Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah duduk menghadapi hidangan di Pek-goat-lau, salah satu rumah makan terkenal di Pak-khia. Sambil makan minum, yang mereka omongkan tak lain dari soal-soal ringan, jauh dari soal-soal dinas, apalagi politik. Namun, dalam hati Oh Bun Kai sebenarnya punya tujuan juga. Teng Jiu adalah pengawal istana, kalau dibaiki terus, barangkali Teng Jiu bisa dijadikan sumber berita baru tentang apa saja yang terjadi dalam istana. Untuk kepen tingan kelompoknya tentu saja. Kelompok pengikut fanatik Ni Keng Giau.


Tak diketahui oleh Oh Bun Kai, kalau Teng Jiu diam-diam juga punya tujuan sendiri. Hanya saja, kedua pihak masih berhati-haii dan belum mulai merintis pembicaraan untuk mencapai tujuan masing-masing. Keduanya masih saja bicara soal-soal ringan. Mereka berada di lantai atas rumah makan itu, dekat jendela, sehingga bisa melihat orang- orang hilir-mudik di jalan raya.


Tengah mereka makan minum dengan santai, biarpun menyimpan pikirannya sendiri-sendiri, tiba-tiba terdengar tangga loteng itu berdetak-detak keras. Lalu muncullah dua orang lelaki memakai jubah longgar, namun nyata benar tubuh mereka yang berotot kekar. Tatapan mata mereka tajam. Jelaslah mereka itu pesilat-pesilat tangguh. Tetapi muka mereka justru pucat kekuning-kuningan, kelihatan kurang ajar. Juga ada kumis dan jenggot yang bentuknya agak tak karuan.


Begitu kedua orang ini duduk, mereka terus menatap tajam ke arah Teng Jiu. Teng Jiu sendiri sengaja menunjukkan sikap agak tegang, sehingga berhasil memancing Oh Bun Kai untuk bertanya, "Ada apakah, Teng Sam-ko?"


Sambil agak membungkukkan tubuh di atas meja, mendekatkan mulut ke te linga Oh Bun Kai, Teng Jiu berbisik, "Tidak apa-apa, saudara Oh. Teruskan saja acara kita, kalau mereka kurang ajar, itu akan menjadi urusanku."


Karena sudah dipesan begitu, Oh Bun Kai tidak tanya-tanya lagi. Namun memang dasar watak manusia umumnya, semakin dilarang mengetahui sesuatu, malah semakin besar rasa penasaran un tuk mengetahuinya. Begitu pula Oh Bun Kai, biarpun hanya disimpan dalam hati. Sambil makan minum, berkali-kali Oh Bun Kai melirik ke arah dua manusia bertampang aneh itu, dalam hatinya juga menduga-duga. Siapa mereka? Ada urusan apa dengan Teng Jiu si pengawal istana?


Kedua orang bertampang janggal itupun mulai menyantap, daging ayam goreng, tidak menggunakan sumpit melainkan hanya menggunakan jari-jari tangannya. Kemudian mereka mulai seenaknya melempar-lemparkan tulang-tulang ayam ke meja Teng Jiu dan Oh Bun Kai.


Oh Bun Kai yang berangasan itu kontan menggebrak meja sambil berkata (lengan sengit, "Kurang ajar! Agaknya kalian mau cari perkara denganku, ya?"


Oh Bun Kai hampir berdiri untuk menghajar kedua orang, itu, namun Teng Jiu cepat-cepat berdiri pula untuk menekan pundak Oh Bun Kai sambil berkata, "Oh-heng, ini urusanku."


Oh Bun Kai menahan kejengkelannya dan duduk kembali. Sedangkan Teng Jiu meraup tulang-tulang ayam yang bertebaran di mejanya, lalu dengan tenangnya dibawa ke meja kedua orang itu untuk disebarkan kemeja mereka. Salah seorang dari mereka berteriak gusar, tiba-tiba ia berdiri dan langsung mengayunkan jotosannya ke arah hidung Teng Jiu. Namun Teng Jiu berkelit sambil menangkap tangan lawannya, sekaligus juga mengait kakinya. Lawannya terhuyung kehilangan keseimbangan.


"Keluar!" bentak Teng Jiu. Selagi keseimbangan lawannya belum mantap, tangan Teng Jiu yang satunya lagi telah mencengkeram ke punggung orang itu, lalu dengan dua tangan ia mengangkat dan melemparkan tubuh orang itu keluar jendela. Sedetik kemudian, dari bawah jendela itu'' terdengar suara gedubrakan bercampur jerit kesakitan orang tadi, disusul suara derap langkahnya yang berlari menjauh.


Sementara itu, tamu bertampang aneh yang satu lagi juga telah menyerang dengan lebih ganas dari kawannya, la mengangkat bangku untuk diayunkan mengepruk ke kepala Teng Jiu. Tapi gerakannya terlalu lambat. Selagi ayunan serangannya baru setengah jalan, kaki Teng Jiu sudah menghunjam ke perutnya, dan cukup bertenaga untuk melemparkan tubuh orang itu beberapa langkah ke belakang. Tubuh orang itu langsung menggelundung ke lantai bawah tangga, dan dengan terpincang-pincang langsung ia kabur pula.


Tentu saja si pemilik rumah makan merasa dirugikan, sebab kedua orang itu belum membayar dan tahu-tahu sudah kabur, tak mungkin disusul. Mau menagih ganti rugi kepada Teng Jiu juga takut karena melihat seragam perwira yang masih dikenakan Oh Bun Kai. Maklumlah, di jaman Kaisar Yong Geng itu tentara lebih ditakuti dari macan.

Namun si pemilik rumah makan jadi lega ketika mendengar ucapan Teng Jiu. “Semua kerugian akan aku ganti!"


Teng Jiu dan Oh Bun Kai pun lalu melanjutkan makan minum mereka. Tapi saat itulah Oh Bun Kai tak kuasa lagi menahan rasa ingin tahunya, "Sebenarnya, siapakah kedua orang tadi?"


Dengan berlagak masih jengkel, Teng Jiu menyahut, "Mereka adalah begundal- begundalnya Liong.... Liong Ong-ya...." Lagaknya seolah-olah jengkel, namun tidak berani menyebut nama Liong Ke Toh begitu saja.


Sikap yang seolah-olah benci tapi takut itulah yang di mata Oh Bun Kai kelihatan bersungguh-sungguh. Kebetulan Oh Bun Kai baru saja bubar dari rapat perwira-perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau dan membenci Liong Ke Toh sampai ke tulang sungsum. Maka terhadap Teng Jiu, sedikit banyak timbul kesan "segolongan".


"Anak buah Liong Oh-ya? Kenapa mereka mengganggu Sam-ko?"


"Kurang pasti. Mungkin karena aku sering membantu Pangeran Hong-lik dalam menjegal beberapa rencana Liong Ong-ya, jadi dia sakit hati kepadaku," sahut Teng Jiu agak berani, untuk memancing bagaimana reaksi Oh Bun-kai.


"Emm... begitu?" ternyata cuma sekian reaksi Oh Bun-kai. "Sam-ko, soal mengganti kerugian kepada rumah-makan ini, serahkan saja kepadaku. Bukankah aku yang berjanji mentraktirmu? Tentunya juga termasuk resiko-resiko seperti ini."


Teng Jiu masih pura-pura sungkan. "Oh-heng, mana bisa begitu? Keributan tadi bersumber dari diriku, seharusnya..."


Sambil tertawa dan menggoyangkan tangan, Oh Bun Kai tiba-tiba berkata, "Ah, jangan sungkan, Sam-ko. Kau bermusuhan dengan Liong Ke Toh, berarti tujuan kita satu arah."


Bicara sampai di sini, tiba-tiba perwira itu cepat-cepat menutup mulutnya, karena merasa sudah bicara terlalu terbuka kepada Teng Jiu. Biarpun Teng Jiu adalah kenalan baik secara pribadi, di luar kedinasan, namun tidak termasuk dalam kelompok politik yang sepaham dan sekepentingan. Maka, cepat-cepat Oh Bun Kai mengalihkan pembicaraan kesoal lain, "Ah, masakan di tempat ini benar-benar lezat. Juru masaknya mungkin orang asli dari Soh-ciu."


Dengan berlagak seolah tidak memperhatikan ucapan Oh Bun Kai tentang "tujuan kita satu arah" tadi, Teng Jiu pun kemudian ikut memuji-muji masakannya. Selesai makan minum, Oh Bun Kai benar-benar merogoh kantongnya untuk membayari semua makan minum itu, termasuk ganti rugi atas kerusakan akibat keributan tadi. Teng Jiu mengucapkan terima kasih.


Setelah mereka keluar dari rumah makan itu dan hendak berpisahan, Teng Jiu berkata, "Dalam waktu dekat, aku ingin melihat anak lelakimu yang baru lahir, Oh-heng. Kuharapkan diapun akan menjadi seorang perwira segagah ayahnya."


"Terima kasih, Sam-ko."


Sesaat Teng Jiu memperhatikan ke arah mana Oh Bun Kai berjalan, lalu diapun mengambil arahnya sendiri. Mula mula mengikuti jalan besar, lalu tiba-tiba membelok ke sebuah jalan cabang yang agak kecilan, berbelok beberapa kali, sampai akhirnya memasuki sebuah rumah kecil yang letaknya rapat berhimpitan dengan rumah-rumah kecil lainnya. Teng Jiu masuk tanpa mengetuk pintu, lalu menutup kembali pintunya.


Di dalam rumah itu, ternyata telah menunggu dua orang bertampang aneh yang tadi berkelahi dengan Teng Jiu di rumah makan. Tanpa adanya orang lain di ruangan itu, mereka ternyata tidak menunjukkan sikap bermusuhan, bahkan akrab.


"Bagaimana?" tanya orang yang tadi dilempar lewat jendela, sambil mengusap-usap mukanya. Kumis dan jenggotnya tiba-tiba lepas, menyusul lapisan-lapisan tipis lilin kuning yang tadinya melapisi wajah mereka. Ternyata, kedua orang itu bukan lain adalah kakak-kakak seperguruan Teng Jiu sendiri. Jian-eng-kiam Ho Se liang dan Lam-thai-hong Auyang Kong.


"Sabar, Ji Suheng (kakak seperguruan kedua). Kita semua sudah tahu bahwa kelompok perwira yang fanatik kepada Ni Keng Giau itu amat tertutup, gampang curiga terhadap orang yang tidak termasuk kelompok mereka. Maka untuk mendekati, apalagi mencoba memancing keterangan dari mereka, haruslah hati-hati sekali dan membutuhkan waktu lama."


"Jadi apa hasilmu hari ini?"


"Hanya mendekatinya dan bicara soal-soal ringan. Tentang anaknya yang baru lahir, tentang masakan dan sebagainya. Cuma satu kali mulutnya kelepasan bicara, katanya aku dan dia "bertujuan satu arah" karena sama-sama bermusuhan dengan Liong Ke Toh, setelah itu ia ganti pembicaraan dan aku tidak berani mendesaknya, khawatir kalau dia merasa sedang diselidiki. Dia benar-benar mengira bahwa Tong suheng dan Ji-su-heng kaki tangan Liong Ke Toh yang memusuhi aku, maka dalam dirinya sudah timbul pandangan setidak-tidaknya aku punya musuh yang sama dengan dia. Untuk langkah pertama, ini sudah cukup."


Auyang Kong menepuk keras-keras jidatnya sendiri, sambil menggerutu, "Astaga, jadi pengorbananku melompat dari jendela lantai dua tadi hanyalah mendapat sekecil ini, Sam-te?"


"Lalu harus bagaimana, Ji-suheng? Haruskah aku langsung bertanya sebanyak-banyaknya, supaya dia segera mencurigai aku dan kitapun takkan mendapatkan keterangan apa-apa? Sabarlah, ini bukan urusan yang bisa dilakukan dengan sekali gebrak."


"Tapi, apakah sudah pasti bahwa pengikut- pengikut Ni Kong Giau itulah yang pernah mencegat Liong Ke Toh di malam hari?"


"Gegabah sekali kalau kujawab sudah pasti, tapi dugaan kerasnya ya kearah itu. Di Pak-khia ini banyak orang membenci Liong Ke Toh si tukang fitnah itu, namun rasanya memang hanya pengikut Ni Keng Giau yang berani bertindak demikian. Lantaran kelompok itu merasa dirinya kuat di bawah pimpinan Ni Keng Giau. Ingat saja peristiwa ketika mereka berani menerobos masuk istana dengan senjata lengkap, lalu memaksa Kaisar agar membubarkan jamuan makan yang sedang diadakan oleh Kim Seng Pa. Itu tanda bahwa mereka berani berbuat apa saja karena merasa kuat."


Sesaat ketiganya bungkam dan merenung, lalu Teng Jiu memecah kesunyian, "Sebenarnya kita begitu bersusah payah seperti ini, kita ini berjuang untuk keuntungan siapa?"


Ho Se Liang sebagai saudara seperguruan yang tertua, lalu menjawab, "Tujuan kita terutama ialah mendepak Ni Keng Giau sebagai tiang utama pemerintahan yang sekarang sehingga agak gampang untuk merobohkannya. Agar kita dapat memaksa teman lama kita Si Liong-cu pensiun dari kedudukannya sekarang, sebab ternyata ia telah ingkar janji dan menipu banyak pendekar sahabatnya."


Si Liong-cu adalah nama samaran Kaisar Yong Ceng semasa belum bertahta, ketika masih berkelana sebagai pendekar di rimba persilatan. "Setelah Ni Keng Giau roboh, menyusul Yong Ceng juga roboh, terus bagaimana?"


"Setelah itu, ada dua pilihan calon Kaisar yang baik, yang akan mensejahterakan rakyat. Yaitu Pangeran Hong-lik dan Pangeran In Te, entah yang mana kelak harus menggantikan Yong Ceng. Kita bertiga masih terikat sumpah setia dengan Pangeran In Te, meskipun saat ini dia tak terdengar kabar beritanya.


"Satu hal yang aku benci, dalam usaha merobohkan Ni Keng Giau ini seolah-olah kita bekerja untuk Liong Ke Toh si bangsat tua itu. Bukankah menurut Pangeran Hong-lik, si tua itu sedang merencanakan untuk merobohkan Ni Keng Giau karena iri?"


"Kita seolah-olah membantu Liong Ke Toh, tapi hanya seolah-olah. Wujudnya, kita dan dia sama-sama ingin merobohkan Ni Keng Giau, tapi latar belakangnya berbeda. Kita bertindak karena menentang kelalimannya, sedangkan Liong Ke Toh didasari ambisi dan kebencian pribadinya," kata Ho Se Liang.


Auyang Kong menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan Teng Jiu mencoba melengkapi penjelasan itu, "Ji-suheng, boleh saja kau membenci Liong Ke Toh, dan akupun demikian. Namun kali ini kita harus memanfaatkan pengaruhnya untuk menyingkirkan Ni Keng Giau, sebab kekuatan kita sendiri jelas tidak cukup untuk menandingi Ni Keng Giau yang berkuasa atas hampir satu juta pe rajurit."


"Kalau kekuatan kita terlalu kecil, apakah tidak kita coba untuk menghubungi dan menghimpun orang-orang yang masih setia kepada Pangeran In Te?" usul Auyang Kong yang masih kurang puas karena harus "satu jalan" dengan Liong Ke Toh.


”Ji-sute, apakah kau pikir masih ada pendukung Pangeran In Te di Pak-khia ini, kecuali kita bertiga, dan mungkin satu dua gelintir lainnya yang kekuatannya tak berarti? Apa kau kira Si Liong-cu bisa hidup setenang sekarang kalau belum menyingkirkan semua pengikut Pangeran In Te dari Pak-khia ini? Ada yang dibunuh diam-diam, ada yang ditugaskan ke pos-pos perbatasan yang saling berjauhan, dan entah bagaimana nasib yang lain-lain. Kita bertiga masih hidup, ini merupakan suatu keberuntungan dan tidak semua pengikut Pangeran In Te seberuntung kita. Ini berkat ilmu bunglon kita. Karena itu, daripada susah-susah menghubungi pengikut-pengikut Pangeran In Te yang masih ada dan saling berjauhan itu, kenapa tidak numpang Liong Ke Toh dalam melucuti Ni Kong Giau? Ji-sute, kita sedang main politik, jadi berpikirlah praktis sedikit.”


"Baiklah. eh, Toa-suheng, rasanya kita sudah terlalu lama meninggalkan istana, kalau tidak segera pulang akan menimbulkan kecurigaan orang lain.”


"Baik. Kita pulang, tapi masuknya ke istana harus mengambil jalan yang berpencaran dan jangan bersama-sama."


"Aku masih harus mampir ke toko lebih dulu, untuk membeli kado," kata Teng Jiu tiba-tiba.


"Kado? Buat siapa?"


"Buat bayinya Oh Bun Kai. Bukankah aku harus terus mendekatinya agar bisa menyadap apa yang akan dilakukan oleh para pendukung Ni Keng Giau?"


"Kapan kau akan berkunjung kerumahnya?"


"Secepatnya."


* * * *


Di dunia persilatan sering terdengar omongan gagah macam ini, "Aku baru puas kalau bisa membunuh dengan tangan ku sendiri!"


Namun omongan macam ini tidak laku di arena intrik di seputar tahta. Kenapa harus dengan tangan sendiri? Kalau bisa memakai tangan orang lain, ya pakailah tangan orang lain untuk me nyingkirkan lawan politik, kemudian dengan tangan yang "bersih" dia akan mengunjungi si korban sambil menyatakan "ikut belasungkawa".


Sepersepuluh kegiatan politik dilakukan untuk disorot rakyat dan diberi tepuk tangan. Sembilan persepuluhnya dilakukan di belakang layar untuk saling terkam dengan sengit, dalam rangka memperjuangkan tempat yang senyaman-nyamannya bagi diri sendiri.


Berkat (istilah yang sebenarnya tidak tepat) hubungan baik antara Teng Jiu dan Oh Bun Kai, akhirnya Teng Jiu berhasil mengetahui tempat dan waktunya pendukung-pendukung Ni Keng Giau akan berkumpul lagi untuk merundingkan langkah-langkah rahasia. Tidak diberitahu terang-terangan oleh Oh Bun Kai, namun dengan mengambil kesimpulan setelah memperhatikan ucapan-ucapan dan sepak terjang Oh Bun Kai.


Dan sambil minta maaf sebesar-besarnya kepada Oh Bun Kai, dalam hati, Teng Jiu membisikkan keterangan itu ke pihak Liong Ke Toh. Oh Bun Kai memang sahabat secara pribadi, sayangnya Oh Bun Kai terlalu setia kepada Ni Keng Giau, padahal Teng Jiu ingin Ni Keng Giau jatuh. Maka ya begitulah.


Malam itu di rumah Pui Ciong, perwira pendukung Ni Keng Giau yang usianya paling tua, dan oleh teman-teman sepahamnya diangkat sebagai pimpinan “operasi penyelamatan Ni Keng Giau” itu, para perwira pendukung Ni Keng Giau sudah kumpul semua.


“Jadi sudah jelas, saudara-saudara!” kata Pui Ciong berusaha tetap tenang, agar kawan-kawannya jangan kehilangan kendali diri. “Dari keterangan-keterangan kalian, dan juga yang aku peroleh lewat beberapa sumber dalam istana, dapat kita pastikan kalau memang ada sebuah rencana licik yang ditujukan kepada Goan-swe, didalangi oleh Liong Ke Toh. Sayangnya, Sribaginda nampaknya malah merestui rencana Liong Ke Toh itu.”


Wajah para perwira menjadi tegang namun semuanya berusaha tetap bersikap disipling menunggu kelanjutan kata-kata Pui Ciong. Inilah kelanjutannya,


“Saudara-saudara, inikah balas jasa yang harus diterima oleh Panglima Tertinggi kita, setelah beliau berjasa besar menaklukkan pemberontakan di Jing-hai? Inikah? Dia hendak disingkirkan lewat sebuah penghianatan! Dan bisakah saudara-saudara bayangkan, kalau sampai kedudukan Panglima Tertinggi itu diduduki orang lain kecuali Goan-we Ni Keng Giau?”


Para perwira masih diam, tapi mata mereka mulai menyala, api fanatisme mulai menyala lebih hebat.


“Disiplin baja yang selama ini dibina dengan susah payah oleh Goan-swe kita akan hancur! Pembangkang-pembangkang akan bermunculan kembali! Dan itu juga berarti negeri ini menuju ke jurang kehancuran!”


Warna merah di wajah Pui Ciong kini sudah mulai menjalar ke wajah perwira-perwira lainnya. "Saudara-saudara, bisakah hal itu dibiarkan saja?" kata Pui Ciong mulai membakar.


Para perwira serempak berdiri tegap, hasil didikan keras Ni Keng Giau selama ini.


"Malam ini kita kerahkan pasukan menyerbu istana!" seru seorang perwira. "Kita tuntut Sribaginda agar menyerahkan Liong Ke Toh untuk kita hukum dengan cara kita sendiri! Lalu kita telanjangi di depan umur, biar semua orang tahu!"


"Benar! Kita tunjukkan kesetiaan kita kepada Goan-swe!"


"Kita tunjukkan kekuatan kita!"


"Istana harus dibersihkan dari tikus tua macam Liong Ke Toh!"


Kalau orang lain tentu menghindari kata-kata "menyerbu istana" atau "menuntut Sribaginda", maka bagi perwira-perwira Ni Keng Giau ini justru berani mengucapkannya dengan ringan saja. Maklum, mereka pernah menyerbu istana dan ternyata keluar kembali dengan selamat. Sampai saat itu tidak ada hukuman, dan itu mereka anggap karena wibawa Ni Keng Giau. Sejak itu mereka jadi bangga, bahkan rada besar kepala, menganggap bahwa “Kaisar pun takut ke pada kita".


Tapi kali ini ada yang mengejutkan. Mendadak dari bagian belakang rumah Pui Ciong itu terdengar suara jeritan, lalu disusul suara perempuan menangis ketakutan. Pui Ciong yang sedang berpidato mengobarkan semangat rekan-rekannya itupun terkejut, wajahnya berubah hebat, sebab ia kenal suara itu adalah suara isterinya dan pembantu-pembantu rumahnya. Seperti seekor kijang yang dikejutkan, Pui Ciong melompat ke pintu. Perwira-perwira yang lain bangkit untuk mengikutinya, tetapi Pui Ciong mencegah,


’Tetap di sini! Kalau terjadi apapun yang tidak kita kehendaki, jangan mengadakan perlawanan yang sia-sia, tapi lebih baik langsung bubar berpencaran. Siapapun yang berhasil lolos haruslah langsung berusaha memberitahu Goan-swe kalau di Pak-khia ini ada renrana licik, cepat!"


Segalanya memang berlangsung serba cepat dan mengejutkan, tapi perwira perwira didikan Ni Keng Giau itu tidak menjadi panik. Pui Ciong sendiri hendak menuju ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. Namun tiba-tiba dari ambang pintu itu melayang masuk sebuah kantong kulit yang menggelembung dengan mulut kantongnya menghadap ke bawah.


Apabila orang mendongak, terlihat di bagian dalam kantong itu ada kerangka besi tipis dan ringan, serta pisau-pisau kecil dilingkaran dalam mulut kantong yang sekilas nampak seperti geraham seekor ikan hiu. Kantong itu melayang cepat, dan langsung turun menungkrup ke kepala Pui Ciong.


Pui Ciong kaget, tak bisa menghindar. Namun sebelum kepalanya lenyap ke dalam kantong, masih terdengar teriakannya yang gagah, "Selamatkan Goan-swe!"


Di bagian pantar kantong kulit itu ada seutas rantai tipis. Ketika rantai itu ditarik dari luar, maka batok kepala Pui Ciong pun ikut terbawa dalam kantong maut itu, meninggalkan tubuhnya. Tubuhnya masih sesaat berdiri di ambang pintu, menabrak-nabrak dengan tangan menggapai-gapai sejenak, lalu ambruk. Dari bekas irisan di lehernya, ternyata hanya sedikit darah yang mengalir. Tepat seperti nama kantong maut terbang itu, Hiat-ti-cu yang artinya "setitik darah", sama dengan nama kelompok algojo yang diperintah sendiri oleh Kaisar Yong Ceng.


"Selamatkan Goan-swe!" ucapan terakhir Pui Ciong tadi diulang oleh para perwira dengan tak gentar. Dengan pedang-pedang terhunus, para perwira itu siap menerjang keluar dari ruangan itu.


Namun dari luar pintu terdengarlah bentakan menggeledek, "Hukuman mati buat semua penentang rencana Sribaginda!"


Di ambang pintu itu munculah Hap To, komandan kelompok Hiat-ti-cu. Tangannya menjinjing kantong kulit yang rantainya sudah digulung di tangan. Ketika ia guncang-guncangkan kantong itu, jatuhlah batok kepala Pui Ciong dari dalamnnya. Dan sambil tertawa dingin, Hap To mengulangi kata-katanya tadi, "Mati buat semua penentang Sribaginda!"


Dan dari halaman luarpun terdengar sahutan yang sama, "Mati buat semua penentang Sribaginda!!" Jelaslah bahwa Hap To tidak datang sendirian, melainkan membawa regu algojonya.


Belum hilang gema suara itu, jendela-jendela dan pintu-pintu didobrak dari luar, dan berlompatan masuklah anggota-anggota Hiat-ti- cu, dengan pakaian mereka yang khas. Ringkas hitam. Jumlah mereka hanya sepuluh orang, separuh dari jumlah para perwira yang berkumpul di ruangan itu. Namun para anggota Hiat-ti-cu itu menunjukkan sikap yakin akan bisa melaksanakan tugas secara tuntas.


Para perwira pun nampak tegang, menyadari betapa berat lawan-lawan mereka kali ini. Namun salah seorang perwira masih coba menggertak, ''Kami adalah perwira perwira yang langsung dibawah perintah Goan-swe Ni Keng Giau! Siapapun tidak berhak menghukum kami, kecuali Goan-swe Ni Keng Giau sendiri. Kaisar pun tidak. Bahkan Sribaginda amat mengasihi Goan-swe Ni Keng Giau yang menjadi adik seperguruannya!"


Hap To tertawa terbahak-bahak, "Ni Keng Giau benar-benar berhasil membentuk kalian meniadi boneka-boneka wayangnya yang setia. Tapi urusan malam ini tak ada hubungannya dengan berhak atau tidak berhak, yang perlu kalian ketahui hanya satu ini, biarpun kami tidak berhak tetapi kami mampu menghukum kalian, dan kami mampu melaksanakannya!"


Dan kepada orang-orangnya, Hap To memerintah dengan suara bengis, "Sikat habis para pembangkang ini!"


Para perwira menjadi gusar, namun mereka sadar, sudah tiba saatnya bahwa pedang akan berbicara lebih nyaring dari mulut. Sudah tentu mereka takkan menyerah mentah-mentah. Seorang perwira senior lalu mengambil pimpinan dan menyerukan aba-abanya. "Arus ke muara! Siapapun yang lolos, langsung melaksanakan rencana tadi!”


Arus ke muara. Istilah itu dalam latihan pertempuran maupun pertempuran yang sebenarnya, dimaksudkan sebagai gerakan yang memusatkan seluruh kekuatan untuk mendobrak ke satu arah. Daya gempur dipusatkan ke satu sisi, sedang sisi-sisi lainnya hanya bertahan dan menjaga agar pasukan tidak pecah. Di ruangan sempit itu, para perwira tahu bahwa yang dimaksud "muara” tentunya adalah pintu keluar.


Para perwira segera membentuk barisan kecil untuk menembus penjagaan musuh dipintu depan. Benar dalam hal ilmu silat perorangan para perwira itu tak setangguh anggota-anggota Hiat-ti-cu, tetapi mereka juga bukan orang-orang lemah atau bernyali kecil. Dalam suanana pertempuran, para perwira tidak luput dari keharusan untuk bertempur langsung, sehingga. para perwira itu sedikit banyak melatih ilmu silatnya juga.


Begitu para perwira bergerak ke pintu, para Hiat-ti-cu juga bergerak untuk berusaha mencegah. Di ruangan terbatas itu, para Hiat-ti- cu merasa tidak leluasa menggunakan kantong-kantong maut mereka yang berantai panjang, maka mereka menggunakan senjata-senjata biasa. Pintu keluar dijaga Tam-tai Liong, tokoh nomor dua dalam kelompok Hiat-ti-cu yang kepandaiannya hanya dibawah Hap To seorang. Ia bersenjata sebuah tiat-koai, tongkat besi yang ujungnya melengkung dan lancip.


Seorang perwira menerjangnya dengan golok, Tam-tai Liong menangkis sambil berusaha mengait golok lawannya. Si perwira itu terhuyung ke depan dan hampir saja melepaskan goloknya, namun seorang perwira lain yang bersenjata pedang telah maju ke depan untuk membantu temannya. Karena menyadari kalau secara perorangan kalah dari para anggaota Hiat-ti-cu.


Maka para perwira berusaha bertempur kompak dalam satu barisan, tidak mau terpancing bertempur sendiri-sendiri. Mereka juga membagi tugas. Yang menghadap kepintu keluar berusaha untuk mencari jalan, sedangkan yang lain mengambil sikap bertahan yang rapi.


Akibatnya, Tam Tai Liong dan beberapa Hiat-ti-cu yang menghalangi pintu itulah yang paling berat menahan arus serbuan yang hendak menjebol pintu. Biarpun Tam Tai Liong pesilat tangguh, agak repot juga dia menghadapi ujung-ujung senjata musuh yang bergantian menyelonong dari berbagai arah. Lebih repot lagi karena ia tidak boleh meninggalkan ambang pintu, harus menjaga agar para perwira jangan sampai ada satupun yang berhasil kabur. Perintah yang didengarnya sudah jelas, semua manusia di rumah itu harus ditumpas habis.


Melihat cara bertempur perwira-perwira itu, Hap To diam-diam kagum juga. Ia melihat betapa beratnya beban Tam Tai Liong, mungkin takkan bisa bertahan lama. Karena itulah Hap To siap-siap untuk turun tangan. Dilingkungan istana, memang ilmunya tak setinggi Kim Seng Pa atau Biau Beng Lama, pemimpin kawanan pendeta-pendeta Ang-ih-kau dari Tibet, namun Hap To hanya selapis di bawah mereka. Setidaknya ia sejajar dengan To Jiat Hong, orang nomor dua bawahan Kim Seng Pa. Maka diapun memasuki gelanggang dengan tangan kosong, sikapnya memandang rendah para perwira itu.


Begitu dia turun tangan, para pengikut fanatik Ni Keng Giau itupun seperti helai-helai ilalang dilewati angin kencang. Disertai bentakannya yang mirip singa meraung, sekali gebrak Hap To berhasil menjotos ringsek dada seorang perwira. Namun para perwira lainnya bukan saja bernyali baja dan fanatik, hasil ajaran Ni Keng Giau, juga dengan cerdik berusaha menerapkan taktik-taktik pertempuran.


Tempat yang menjadi lemah karena gugurnya salah seorang teman mereka, segera "ditambali” oleh Perwira lain agar barisan tidak rusak. Ketika dua orang terasa belum cukup untuk menahan amukan Hap To yang membadai, maka dua orang lagi membantu sehingga jadi empat orang. Begitulah, kerjasama para perwira itu begitu ulet. Pihak Hiat-ti-cu yang tadinya mengira akan dapat membantai mereka dengan mudah, terpaksa kini harus memeras keringat entah sampai kapan.


Hap To terdengar meraung sekali lagi. Seorang perwira berhasil dicengkeramnya, ditarik keluar dari barisan, lalu tubuhnya ditendang mencelat sampai membentur langit-langit. Ketika tubuh itu turun kembali ke lantai, dia sudah jadi mayat. Di satu pihak Hap To berhasil mengurangi jumlah lawan, di lain pihak Tam Tai Liong gagal mempertahakan "pos"nya, karena tekanan para perwira yang menggunakan siasat "satu arus" itu.


Tam Tai Liong tidak berilmu setinggi Hap To, biarpun ia berhasil merobohkan satu musuh, namun seorang musuh lain berhasil melukai lengannya. Sambil berdesis pedih, ia melompat mundur dua langkah, dengan demikian terbukalah ambang pintu yang seharusnya dia jaga. Seorang perwira berhasil menerobos keluar, disusul dua orang lagi lalu dua orang lagi.


"Tahan mereka, Tam Tai Liong goblok!" dari sebelah lain Hap To berseru marah.


Tam Tai Liortg dengan gigih mencoba "menambal kebocoran" itu. Dengan sebuah jurus yang ganas, perwira yang keluar paling dulu telah berhasil dibabatnya roboh. Tapi masih ada empat orang lagi yang sudah melewati ambang pintu. Padahal Tam Tai Liong yang sudah terluka lengannya itu cuma mampu menahan dua dari empat orang, itu, yang bertempur bagaikan kesetanan.


Sedangkan yang dua lainnya sudah lolos dan langsung berlari ke pintu halaman depan. Lari bukan karena takut mati, tapi justru untuk memikul tugas berat, yaitu memberitahu Ni Keng Giau tentang adanya rencannya pengkhianatan di Pak-khia.


Perwira-perwira lain yang masih bertempur dalam ruangan, gembira ketika mengetahui ada dua rekan mereka berhasil lolos. Itu sudah cukup. Supaya jangan sampai para Hiat-ti-cu berhasil mengejar mereka, seorang perwira yang paling senior meneriakkan aba-ba lagi buat teman-temannya, "Arus berputar!”


Perintah itu berarti, sisa perwira yang masih bertahan di tempat itu harus melibat para Hiat-ti-cu dalam pertempuran campur-aduk agar tak bisa meninggalkan ruangan itu. "Arus berputar" pun dilaksanakan. Semua perwira tanpa rasa takut segera berpencaran, mengamuk, tanpa memberi kesempatan para Hiat-ti-cu pergi dari ruangan itu. Mereka bahkan siap mati demi tujuan mereka.


Bukan kepalang murkanya Hap To. Kalau sampai satu perwira saja yang berhasil lolos, berarti bocorlah rencana untuk menjatuhkan Ni Keng Giau, dan kalau sampai Ni Keng Giau mendengarnya, sudah pasti Ni Keng Giau takkan mentah-mentah menjulurkan lehernya untuk dikalungi borgol. Sedangkan Hap To sendiri pasti harus mempertanggung-jawabkan kegagalan itu dihadapan Kaisar Yong Ceng, mungkin dengan batang lehernya pula.


Karena itulah teriakannya menggelegar, "Jangan lolos seorangpun!" Lalu ditambahkannya perintah lagi untuk anak-buahnya. "Siapapun yang sempat keluar dari sini, kejar dan tumpas dua pembangkang yang melarikan diri tadi!”


Seorang Hiat-ti-cu yang bertempur dekat jendela, bertubi-tubi menyabet-nyabetkan ruyungnya untuk memaksa mundur seorang perwira yang menjadi lawannya. Ketika lawannya terdesak mundur, secepat kilat ia membalik tubuh, hendak melompat keluar jendela untuk mengejar perwira-perwira yang kabur tadi.


Namun diluar dugaan, perwira yang terdesak mundur tadi tiba-tiba melompat masuk ke jendela dan menikam punggung Hiat ti-cu itu. Si Hiat-ti-cu meraung kesakitan karena punggungnya tertembus pedang. Namun perwira yang membunuhnya itu pun terbunuh oleh seorang Hiat-ti-cu lainnya.


Pertarungan jadi sengit dan habis-habisan. Para Hiat-ti-cu sekuat tenaga berusaha mencari jalan keluar, sementara para perwira menghalanginya. Semuanya sudah lupa kalau mereka masing-masing cuma punya satu nyawa.


Seorang anggota Hiat-ti-cu lagi dengan susah-payah berhasil mendesak mendekati jendela, asal mendapat kesempatan satu detik saja, dia pasti akan berhasil keluar. Tapi yang satu detik itu tidak diberikan begitu saja oleh lawannya, seorang perwira bersenjata sepasang tiat-pi (trisula bertangkai pendek), yang berkelahi dengan kalap macam anjing gila.


Seorang anggota Hiat-ti-cu lain yang sudah kehilangan senjata, tapi agaknya ahli dalam Sut-kau (gulat), berusaha menolong temannya yang dekat jendela itu. Ia menubruk dan memeluk perwira bersenjata sepasang tiat-pi itu dari belakang, sambil berteriak kepada kawannya,


"Cepat keluar dan kejar pembakang yang lolos tadi! Biar yang ini kutahan di sini..."

Selanjutnya,