X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Dewa Arak - Batu Kematian

Cerita Silat Indonesia Serial Dewa Arak episode Batu Kematian Karya Ajisaka

Dewa Arak - Batu Kematian

Karya : Ajisaka
Cerita Silat Indonesia Serial Dewa Arak Karya Ajisaka
SATU
SEORANG pemuda tampan berwajah jantan, dengan rambut panjang yang dibiarkan meriap, menghentikan langkahnya di depan pintu sebuah kedai. Sesaat pemuda itu termenung di situ. Sepasang matanya yang berkilat tajam, menyapu sekitarnya.

Tak ada seorang pun yang memperhatikan tingkah pemuda ini. Memang, diluar kedai tidak terlihat seorang pun. Rumah-rumah yang ada pun letaknya cukup jauh. Suasana siang yang panas membakar bumi, membuat orang-orang tidak betah berada di luar rumah.

Lain halnya dalam kedai, justru di dalam kedai yang cukup besar ini, keadaan sangat ramai oleh bunyi gaduh suara manusia. Suara yang tidak jelas terdengar, karena banyaknya orang yang bersuara. Entah, siapa yang menjadi pendengar.

Semua kegaduhan di dalam kedai membuat tingkah pemuda berambut panjang itu tidak menarik perhatian sama sekali. Dan seorang pun tidak ada yang tahu kalau dalam benak pemuda tampan itu tengah bergolak perang.

"Benarkah kedai ini yang dimaksudkan oleh orang yang malang itu?! Kalau benar, mengapa demikian ramai?! Bukankah orang itu mengatakan, kalau kedai ini seharusnya sepi?! Kalau bukan, mengapa yang ada hanya kedai ini? Tapi, bagaimana kalau bukan?! Ah, pasti ini!"

Pergolakan batin itu akhirnya dimenangkan oleh keinginan pemuda berambut putih keperakan ini untuk memasuki kedai. Maka segera diikatkannya seutas kain merah yang sejak tadi digenggamnya, pada pangkal lengan kiri.

Pemuda itu terus melangkah, dan tiba di ambang pintu kedai. Sementara, bunyi gaduh terus berlangsung. Namun semua itu tidak dipedulikannya. Mulanya hanya melirik sekilas, kemudian kakinya terayun menuju sebuah meja yang masih kosong.

Seorang lelaki setengah baya bertubuh kurus kering seperti cecak kelaparan, tergopoh-gopoh menyambut, begitu pantat pemuda berambut panjang ini bertemu dengan kursi.

"Nasi, ayam panggang, dan arak," sebut pemuda tampan itu ketika lelaki kurus kering yang ternyata pemilik kedai menanyakan pesanannya. Cukup keras ucapan pemuda itu. Padahal diucapkan seperti tanpa menggerakkan bibir!

Karuan saja pelayan itu bergegas kembali, untuk mengambil pesanan. Lelaki kurus kering ini sadar, pemuda yang baru datang itu mempunyai kepandaian luar biasa! Belum pernah dilihatnya orang yang mampu bicara, tanpa menggerakkan bibir. Bahkan akibat ucapannya demikian menakjubkan.

Tentu saja, karena kalau melihat ciri-cirinya tak lain dan tak bukan kalau pemuda berambut putih keperakan itu adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Dan hanya pemilik kedai itu saja yang terpengaruh. Sementara para pengunjung lain, sama sekali tidak mempedulikan. Mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing.

Mau tidak mau, Dewa Arak terpaksa mengalihkan perhatian pada pemandangan yang memang menarik. Sehingga, tidak aneh kalau perhatian semua pengunjung kedai tercurah ke sebuah meja, di mana terdapat dua orang yang tengah duduk berhadapan.

Di atas meja yang membatasi dua orang itu, tampak sebuah cangkir bambu berisi arak. Hanya itu, tapi justru sangat menarik perhatian para pengunjung kedai. Cangkir bambu itu tidak diam di tempatnya, tapi bergerak-gerak bergeser. Terkadang bergeser ke kanan, tapi tak jarang ke kiri.

Sebuah pemandangan yang aneh sebenarnya, tapi bagi para pengunjung kedai dan Dewa Arak, sepertinya hanya hal biasa. Mereka semua tahu, kalau hal itu tidak terjadi sendiri. Tapi ulah dua orang yang duduk berhadapan sambil memegang pinggir meja dengan kedua tangan. Dari tangan yang memegang pinggiran meja itulah, cangkir bambu itu dikendalikan.

Setelah beberapa saat, cangkir bambu yang berisi arak setengah lebih itu bergeser ke sana kemari. Akhirnya secara perlahan-lahan terus bergeser ke meja sebelah kiri, di mana duduk lelaki bertubuh kekar. Sedangkan wajah lelaki ini tampak telah dipenuhi cucuran peluh yang menetes-netes. Kedua tangannya yang mencekal pinggiran meja tampak menegang, pertanda telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Di lain pihak, lelaki tinggi kurus berwajah kekuningan seperti orang penyakitan yang menjadi lawannya, tampak biasa saja. Tidak tampak adanya peluh, kecuali pada bagian dahinya yang sedikit basah. Cara memegang pinggiran meja pun tidak dengan mencekal.

Memang, dia belum mengerahkan seluruh tenaganya. Dan, ketika cangkir bambu itu semakin mendekati lawannya, baru kekuatannya di tambah secara tiba-tiba. Maka kini sekujur tubuh lelaki kekar jadi menggigil. Dan....

"Huak...!" Darah segar langsung muncrat dari mulutnya ketika laki-laki kekar itu terus memaksakan diri bertahan. Bahkan cangkir bambu itu secara telak dan cukup keras, menghantam dadanya. Tubuh lelaki kekar ini langsung terjerembab ke depan. Dan kepalanya kontan terkulai di meja. Kekerasan hati untuk terus bertahan, mengakibatkannya tewas dengan isi dadanya hancur.

Seketika bunyi tepuk tangan langsung membahana, menyemaraki sekitar tempat itu, untuk menyambut kemenangan lelaki tinggi kurus ini. Agaknya lelaki ini bangga bukan main. Kedua tangannya segera diangkat sambil mengedarkan pandangan berkeliling, memperhatikan wajah-wajah orang yang memuji kemenangannya.

"Ayo! Siapa lagi yang ingin mencoba bertanding denganku. Bertanding seperti ini tidak menakutkan. Bahkan menunjukkan, kalau kemampuan silat tidak hanya dipergunakan secara kasar, berkelahi seperti tukang pukul. Pertarungan seperti ini membutuhkan seni dan kesabaran. Jadi, lebih tinggi daripada pertarungan yang biasa dilakukan oleh jagoan kampungan," lelaki itu mulai sesumbar.

Kata-kata itu dikeluarkan penuh nada tantangan. Sementara mata laki-laki ini menatap wajah-wajah yang berada di sekelilingnya satu persatu. Tiap yang ditatap langsung menunduk. Dan itu membuatnya mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Tidak berani membalas tatapannya, menjadi jawaban kalau orang itu tidak berani menyambuti tantangannya.

"Kalau demikian, mengapa kalian tidak kembali saja?! Meneruskan mencari benda-benda keramat itu, sama saja artinya kalian siap bertarung denganku!" tandas lelaki berwajah kekuningan ini dengan senyum penuh kemenangan.

Tidak ada jawaban sama sekali. Semua kepala tertunduk dalam, seperti tengah menekuri tanah, tapi, sepasang mata masing-masing orang melirik ke sana kemari, mengintai dari balik bulu-bulu mata. Senyum yang menghias wajah lelaki berkulit kuning ini memudar, ketika melihat ada seorang pemuda yang sepertinya tidak mempedulikan semua kata-katanya.

Pemuda berambut putih keperakan itu tetap asyik makan dan minum, seakan-akan tidak peduli sekitarnya. Dan hal ini membuat lelaki berwajah kuning jadi naik darah, karena merasa diremehkan. Seketika dengan langkah lebar sambil menggertakkan gigi, lelaki berwajah kuning ini melangkah; lebar menuju tempat pemuda yang tak lain Dewa Arak. Kedua tangannya sudah terkepal, hingga menimbulkan bunyi berkerotokan seperti tulang-tulang patah.

Semua kepala yang tadi tertunduk kontan mengikuti arah yang dituju lelaki bermuka kuning tadi. Dan ketika itu juga mereka tahu, kalau antara lelaki berkulit kuning dengan Dewa Arak yang tengah asyik menyantap makanan, akan terjadi pertarungan. Setidak-tidaknya ribut mulut.

"Sungguh tidak enak makan minum sendirian. Biar kutemani kau, Anak Muda," tegur lelaki berwajah kuning itu sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Arya. Dan mereka hanya dipisahkan oleh meja berbentuk empat persegi panjang.

Tindakan lelaki berwajah kuning ini langsung mendapat perhatian dari orang-orang di dalam kedai, yang tadi tertunduk ketakutan. Mereka tahu, akan ada pertunjukan yang mungkin menarik. Apalagi, ketika melihat lelaki berwajah kuning itu mulai menempelkan kedua tangan pada pinggir meja.

Dewa Arak yang baru saja mengunyah makanannya hingga halus, mengangkat wajah langsung ditatapnya lelaki berwajah kuning itu. Senyum lebar seketika terhias di bibirnya. Dewa Arak seperti tidak tahu akan adanya ancaman bahaya dari orang yang duduk di depannya.

"Terima kasih, Kisanak. Kalau begitu, jangan malu-malu. Sikat saja yang ada. Lagi pula, aku pun tidak mampu menghabiskannya sendirian," tawar pemuda berambut putih keperakan ini.

Lelaki tinggi kurus itu menyeringai. "Biar bagaimanapun, aku hanya tamumu, Anak Muda. Kalau kau benar-benar hendak menjamuku, tentu tidak keberatan untuk menuangkan cangkir arak padaku."

"Tentu saja tidak, Kisanak," sambut Dewa Arak, masih tetap ramah suaranya. "Kebetulan cangkir ini belum dipergunakan. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau yang menggunakannya."

Sambil berkata demikian, Dewa Arak mengulurkan tangan, menggenggam leher guci untuk menuangkan arak ke dalam cangkir bambu yang belum dipergunakan.

Senyum mengejek terbesit di bibir lelaki berkulit kuning ketika melihat jari-jari tangan Arya telah mencekal leher guci kecil, dan bermaksud mengangkatnya. Sudah terbayang di benaknya, betapa pemuda berambut panjang ini akan terkejut karena guci itu tidak akan terangkat. Walaupun seluruh tenaganya dikerahkan, jelas hasilnya bakal sia-sia. Memang kedua tangan lelaki tinggi kurus yang menempel di pinggir meja telah disaluri tenaga dalam. Sehingga membuat guci itu menempel dengan daun meja.

Tapi nyatanya pemuda berambut panjang itu tidak terkejut sama sekali. Dewa Arak tahu guci itu seharusnya dapat diangkat dengan mudah. Dan kini tidak bergeming sama sekali! Semua pasang mata yang ada di dalam kedai seperti tidak berkedip menatap ke arah guci yang telah dicekal Arya. Memang, mereka tidak tahu pasti akan apa yang terjadi.

Tapi dari percakapan terdengar dan kenyataan yang terjadi mereka bisa memperkirakan kalau guci itu telah dipantek dengan aliran tenaga dalam lelaki tinggi kurus. Buktinya jari-jari tangan pemuda berambut panjang itu mencekal erat leher guci, tapi tidak segera mengangkat dan menuangkannya ke dalam cangkir bambu.

Semua pengunjung kedai yakin, pemuda tampan berambut panjang ini tidak akan mampu mengangkat guci! Kekuatan tenaga dalam lelaki berwajah kuning itu telah mereka saksikan sendiri, ketika mengalahkan lelaki kekar yang menjadi lawannya tadi. Tapi kini mereka merasa kaget ketika melihat wajah lelaki tinggi kurus itu tampak menegang. Jelas, dia telah mengerahkan tenaga besar dalam pertarungan aneh itu.

Sementara, wajah pemuda berambut panjang itu terlihat biasa-biasa saja. Sedikit pun tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau tengah mengerahkan tenaga dalam. Tidak salahkah penglihatan ini? Bukankah tadi, sewaktu melawan lelaki kekar, lelaki berwajah kuning ini tidak memperlihatkan tanda-tanda telah mengerahkan tenaga dalam besar? Mungkinkah pemuda berambut panjang itu memiliki tenaga dalam tinggi? Rasanya tidak mungkin!

Mata para penonton adu tenaga dalam ini baru terbelalak ketika melihat guci itu terangkat dari daun meja. Kemudian, dengan tenangnya pemuda berambut panjang itu menuangkan arak yang berada dalam guci ke dalam gelas bambu. Sementara wajah lelaki tinggi kurus yang dibasahi peluh pada bagian dahi, tampak berubah-ubah. Sebentar merah, sebentar pucat.

Hatinya merasa penasaran bukan kepalang dengan kekalahannya. Dan sepasang matanya yang sipit, seperti terbelalak lebar ketika menatap tingkah pemuda berambut panjang yang menuangkan arak dengan sikap tenang. Dan ini diartikan sebagai penghinaan! Bahkan tidak menganggapnya sebagai lawan berat.

"Jangan besar kepala, Pemuda Sombong!" desis lelaki tinggi kurus itu, kaku dan ketus. "Aku belum kalah! Dan pertandingan itu belum selesai! Perlu kau tahu, Ular Emas tidak pernah dikalahkan orang!"

Dengan sikap kasar, lelaki berwajah kuning yang ternyata berjuluk Ular Emas ini mengambil cangkir yang telah diisi Dewa Arak sampai penuh. Cangkir itu dicekal dengan jari-jari tangan, kemudian dituangkan ke mulutnya.

Berpasang-pasang mata langsung terbelalak ketika melihat pemandangan aneh itu. Cangkir telah miring di depan mulut Ular Emas, tidak membuat arak yang berada di dalamnya mengucur ke dalam mulutnya. Padahal, arak itu sudah keluar dari bibir cangkir. Sepertinya ada kekuatan kasatmata yang menahannya.

"Sayang sekali.... Rupanya arak ini tidak ingin kuminum, Anak Muda. Biarlah aku tidak usah meminumnya. Tapi kau jangan kecil hati. Biar aku yang akan memberi penghormatan kepadamu sebagai balasan atas kebaikanmu, Anak Muda," kata Ular Emas.

Nada kata-katanya mengeluh, seperti orang yang sangat menyesal setelah beberapa saat membiarkan gumpalan arak itu tidak terjatuh ke dalam mulutnya. Benda cair itu seperti telah berubah menjadi gumpalan benda lunak yang menempel erat dengan cangkir bambu!

Sekarang, lelaki tinggi kurus itu memegang cangkir bambunya dengan tangan kiri. Tangan kanannya digunakan untuk mengambil guci arak dan menuangkannya ke dalam gelas! Padahal, arak yang berada di dalam gelas bambu telah penuh!

Currr!

Arak dari dalam guci mengucur keluar dan memasuki cangkir yang telah penuh. Tapi hebatnya, arak itu tidak meluap keluar, meski telah melewati bibir cangkir. Malah arak itu membentuk setengah lingkaran. Ujung permukaannya melengkung, membentuk setengah lingkaran yang melewati bibir cangkir. Permukaan arak itu bergoyang-goyang, tapi tidak tumpah. Ada kekuatan tidak nampak yang membuat arak itu seperti bersatu!

Pemandangan menakjubkan ini membuat berpasang-pasang mata yang sudah terbelalak semakin lebar. Mereka semua tahu pengerahan tenaga dalam Ular Emaslah yang membuat arak itu tidak tumpah!

"Terimalah penghormatanku ini, Anak Muda," kata Ular Emas disertai seringai ejekan, setelah terlebih dulu meletakkan guci ke meja. Ular Emas menyodorkan cangkir yang dipenuhi arak hingga melewati bibirnya, kepada Dewa Arak. Gumpalan arak yang permukaannya membentuk stengah lingkaran itu bergoyang-goyang, ketika lelaki berwajah kuning mengangsurkannya pada Arya.

"Ah! Kau sungguh baik hati, Kisanak," ucap pemuda berambut panjang ini seraya bangkit berdiri. Dia langsung bersiap untuk menerima angsuran cangkir penuh berisi arak itu.

Sudah terbayang di benak para pengunjung kedai dan Ular Emas kalau arak yang berada dalam cangkir itu akan tumpah, dan pasti akan membasahi tangan maupun tubuh pemuda berambut panjang ini. Memang Ular Emas sendiri pun sampai mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan, agar gumpalan arak itu tidak tumpah.

Dapat dibayangkan, betapa kagetnya hati semua orang, tak terkecuali Ular Emas! Bahkan lelaki berwajah kuning inilah orang yang paling terkejut. Ternyata pemuda berambut panjang itu mampu menerima cangkir berisi arak tanpa tumpah!

"Terima kasih...! Terima kasih...!" Sambil berkata demikian, Dewa Arak mulai menuangkan arak ke dalam mulutnya. Tapi sampai mulut cangkir itu menghadap ke bawah, arak itu tetap tidak mau tumpah!

Mulut Ular Emas sampai terbuka lebar-lebar tanpa sadar, saking kagetnya. Untung saja tidak ada lalat iseng. Kalau tidak, binatang yang menjijikkan itu pasti sudah masuk ke dalam mulutnya yang memang besar.

Kenyataan ini saja sebenarnya sudah membuat Ular Emas sadar kalau pemuda berambut panjang itu merupakan seorang lawan tangguh. Tenaga dalam pemuda itu sulit diukur. Tapi, sifat keras kepala dan merasa sebagai tokoh yang tak terkalahkan malah membuat Ular Emas naik darah. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki tinggi kurus yang tengah murka ini melancarkan serangan terhadap Dewa Arak yang tengah sibuk dengan cangkir araknya!

Singngng!

Bunyi mendesing nyaring mengiringi meluncurnya golok Ular Emas ke arah dada Arya. Entah kapan, senjata itu lolos dari sarungnya. Yang jelas, ketika golok itu menyambar Dewa Arak cepat mendoyongkan tubuh ke samping dengan tangan masih memegang cangkir arak. Nyatanya, ujung golok itu hanya menyambar lewat beberapa jari di sisi pinggang. Dan hebatnya, arak yang berada di cangkir tidak tumpah sama sekali, meski bergoyang-goyang seperti hendak keluar!

Ular Emas semakin murka! Dia mengeram keras seperti seekor binatang buas terluka. Dan sekarang, goloknya meluncur lebih dahsyat ke arah Dewa Arak. Bentuk senjatanya sampai lenyap, sehingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan mengurung tubuh pemuda berambut panjang ini.

Untuk yang kesekian kalinya, Dewa Arak mempertunjukkan kelihaiannya. Dengan tangan kanan terus menggenggam cangkir, tubuhnya bergerak ke sana kemari mengelakkan serangan. Meja dan kursi pun jadi porak-poranda. Tapi arak yang berada dalam gelas, tidak tumpah sedikit pun.

"Kau terlalu mendesakku, Kisanak. Apa boleh buat," seru Arya di antara desingan golok yang meluncur mencari-cari sasaran. Suaranya cukup keras, sehingga mampu mengatasi bunyi riuh rendah kelebatan golok Ular Emas.

Trikkk!

Ular Emas merasakan tangan kanannya tergetar hebat ketika Dewa Arak memapak senjatanya dengan jari telunjuknya. Dan sebelum dia sempat berbuat sesuatu, tangan kanan pemuda berambut panjang itu bergerak.

Byurrr!

Arak yang berada di dalam gelas langsung mengguyur sekujur tubuh Ular Emas. Rasa panas pun menyergap bagian tubuh yang terguyur arak.

"Masih ingin dilanjutkan?!" tanya Arya tanpa nada ejekan. Sepasang mata Dewa Arak menatap Ular Emas yang berdiri dengan tubuh agak basah, berjarak beberapa tombak darinya.

Ular Emas sekarang sadar kalau pemuda berambut panjang ini bukan tandingannya. Mungkin kepandaian pemuda itu beberapa kali lipat di atas kepandaiannya. Selagi pemuda tampan itu masih sadar dan tidak menjatuhkan tangan keras, lebih baik dia mundur.

"Kau hebat, Anak Muda, aku mengaku kalah," desah Ular Emas kaku. "Terus terang, belum pernah kutemukan seorang pemuda sehebatmu! Pasti kau seorang tokoh persilatan yang cukup terkenal. Atau, murid seorang sakti yang mengasingkan diri. Boleh kutahu, siapa dirimu atau gurumu, Anak Muda?! Mungkin jawaban yang kau berikan dapat menghapus rasa penasaran."

"Mungkin dia Dewa Arak!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang pengunjung kedai. Rupanya, ada di antara mereka yang pernah mendengar tentang julukan yang menggemparkan dunia persilatan itu.

Sepasang mata Ular Emas kontan terbelalak lebar. Sepasang matanya yang sejak tadi menyipit, menatap pemuda berambut panjang dari ujung tambut sampai ujung kaki dengan sinar menyiratkan ketidak-percayaan.

"Kau..., tokoh yang terkenal itu?!" Agak gagap ucapan yang keluar darimulut Ular Emas. "Ah...! pasti kau dia...! Rambut dan pakaianmu memang sesuai dengan ciri-ciri yang dimiliki Dewa Arak. Benarkah kau, Dewa Arak?"

"Namaku sebenarnya adalah Arya, Kisanak. Tapi dunia persilatan memang memberi julukan seperti itu," jawab Dewa Arak sambil menghela napas berat, berusaha merendah.

"Sama sekali tidak disangka. Ternyata kau yang demikian sakti, ikut tertarik terhadap benda-benda keramat itu. Kalau begitu aku hanya mempunyai kesempatan sedikit sekali untuk mendapatkannya. Tapi aku tidak putus asa, Dewa Arak. Meskipun kau ikut serta dalam perebutan dan pencarian benda-benda ajaib itu, aku pantang mundur!"

Dewa Arak jadi melongo. Sama sekali tidak dimengerti, apa yang dimaksud Ular Emas.

DUA

"Apa... maksudmu, Ular Emas?!" Setelah sekian lama berdiam diri, Arya bertanya penuh ketidak-mengertian. Tapi wajahnya tidak menyiratkan perasaan apa-apa, karena memang sudah bisa mengendalikan perasaannya. "Benda ajaib?!" ulang Dewa Arak.

"Tidak usah pura-pura, Dewa Arak!" sergah Ular Emas. "Kalau tidak karena itu, untuk apa kau datang kemari?! Melancong?!"

Arya diam, tidak memberi jawaban sama sekali.

"Selamat tinggal Dewa Arak! Percayalah. Meski aku bukan tandinganmu, tapi niatku untuk mencari dan memperebutkan benda-benda ajaib itu tak pernah pupus!" Tanpa menunggu jawaban lagi, lelaki tinggi kurus itu melesat keluar. Hanya dalam beberapa kali lesatan, tubuhnya telah berada jauh di luar kedai.

Arya hanya mengangkat bahu. Kemudian pandangannya beralih pada para pengunjung kedai yang masih berada di meja masingmasing, menatap ke arahnya. Tapi mereka langsung duduk di meja masing-masing, begitu beradu pandang dengan sepasang mata Arya.

Memang, mereka yakin kalau pendekar muda yang terkenal itu tidak akan melakukan tindakan macam-macam. Tetapi pandangan mata Arya yang tajam berkilat itu membuat mereka gentar bukan main. Dan mata mereka pun dialihkan pada hidangan yang tersedia di atas meja. Dewa Arak pun tidak mempedulikannya. Malah kakinya segera melangkah menghampiri pemilik kedai. Tanpa banyak bicara, segera diberikannya uang pembayaran makanan dan pengganti kerusakan.

"Boleh aku bertanya sesuatu, Ki?!" tanya Arya, setelah lelaki pemilik kedai itu menerima uang pembayaran.

"Tentu saja, Tuan Pendekar! Dan aku akan mencoba untuk menjawab, kalau memang bisa kujawab!" sahut lelaki kurus kering cepat.

"Apakah di tempat ini ada seseorang yang tengah menunggu kawannya?!"

Lelaki kurus kering itu tercenung sejenak. "Tadi pagi memang ada seseorang yang mungkin Tuan Pendekar maksudkan. Tampak gelisah sekali. Dia memesan makan untuk dua orang. Tapi, tidak segera memakannya. Bahkan bersikap seperti ada yang ditunggu. Tak lama kemudian, dia pergi tergesa-gesa. Tapi belum lama perginya, ada sekelompok orang datang kemari mencari-carinya. Mereka pun pergi, setelah melihat orang yang mereka cari tidak berada di sini."

"Terima kasih atas keterangan yang kau berikan, Ki," ucap Arya cukup puas dengan keterangan itu. Dewa Arak mengayunkan kaki meninggalkan kedai. Dia tidak berusaha untuk mengetahui, siapa sebenarnya orang-orang yang sepertinya memburu orang yang tengah mencarinya di kedai ini. Arya tahu, orang seperti lelaki pemilik kedai itu tidak akan tahu tokoh-tokoh persilatan.

Jadi, tidak ada gunanya berusaha bertanya lebih jauh.Di depan pintu kedai, Arya menghentikan langkah. Dia terdiam sejenak sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Baru setelah itu kakinya bergegas meninggalkan tempat itu.

Dewa Arak saat ini merasa bingung, ke mana harus mencari orang yang ingin ditemuinya. Ayunan langkahnya menuruti kakinya saja. Tapi belum lama melangkah, Arya melihat sosok-sosok yang bergerak ke arahnya.

Tempat Arya berada, sejauh mata memandang memang merupakan lapangan tanah luas yang tidak terhalang apa pun. Sehingga, Dewa Arak dapat melihat jauh ke depan. Maka apa yang terlihat di depan sana, membuatnya waspada. Matanya yang luar biasa tajam, segera dapat melihat kalau sosok-sosok kecil jauh di depan sana, adalah manusiamanusia yang tengah berlari.

Namun, Arya tetap bersikap tenang. Langkahnya terus saja dilanjutkan. Dia terus berlari cepat, tanpa berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya. Agar tidak bertubrukan dengan sosok-sosok di depan, pemuda berambut putih keperakan ini berlari agak ke pinggir. Dan hanya dalam waktu sebentar saja, kedua belah pihak telah hampir berpapakan. Sosok-sosok yang dilihat Arya adalah lima orang yang berwajah menggiriskan. Semuanya mengenakan pakaian dari kulit ular.

Dan Arya sudah merasa lega, ketika lima sosok berpakaian dari kulit ular itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan terus melewatinya. Sehingga sekarang mereka telah berlari saling membelakangi. Tapi mendadak....

"Berhenti dulu, Kisanak...!" Seruan keras dari belakang, membuat langkah Dewa Arak terhenti. Arya bukan seorang pengecut. Memang, dia lebih suka kalau tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Tapi apabila hal itu terjadi, Arya pantang mundur. Maka dengan sikap tenang, tubuhnya berbalik.

Tampak lima sosok yang terdiri dari lelaki-lelaki berusia empat puluhan telah berbalik. Sehingga, sekarang mereka saling berdiri berhadapan dalam jarak dua tombak.

"Akulah yang kalian maksudkan?!" tanya Arya, tenang meski lima lelaki berpakaian dari kulit ular Itu menatapnya penuh selidik.

"Tidak salah!" jawab lelaki yang berkulit hitam seperti arang, tegas.

"Dan kau tidak usah berpura-pura lagi, Anak Muda!" sambung lelaki yang memiliki cambang bauk lebat pada wajahnya. "Cepat berikan benda itu pada kami!" timpal yang bertubuh kecil kurus, sambil menudingkan jari telunjuknya pada kain merah yang melilit pangkal lengan Arya.

"Dan kami akan membiarkanmu berlalu dari sini dalam keadaan hidup!" tambah yang berkelapa botak, tidak mau ketinggalan bicara.

"Cepat berikan! Jangan sampai kesabaran kami habis, sehingga terpaksa harus membunuhmu!" ancam laki-laki yang terakhir.

"Sayang sekali," jawab Arya bemada menyesal. "Aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian. Benda yang kalian minta, bukan milikku. Dan ini hanya merupakan amanat seseorang yang telah meninggal, untuk diberikan pada orang yang diinginkan. Dan aku yakin, kalian bukan orang yang dimaksud!"

"Keparat!" Lelaki yang bercambang bauk lebat menggeram. Wajahnya nampak merah padam. Tampak jelas sikapnya yang tidak sabar, begitu mendapat jawaban seperti itu.

"Anak Muda," selak lelaki berkepala botak yang rupanya tidak ingin rekannya cepat-cepat turun tangan. "Kami tidak ingin melukaimu, mengingat kau hanya seorang pemuda yang masih hijau meski rambutmu telah putih. Aku kasihan, kalau kau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Lebih baik, serahkan benda itu secara baik-baik. Dan, beritahukan apa yang dikatakan oleh orang yang memberikan benda itu padamu. Asal kau tahu saja, Anak Muda. Kami ini berjuluk Lima Naga Langit Bumi. Sekali kami bertindak, akan ada darah yang tertumpah! Camkanlah baik-baik!"

"Sudah jelas kukatakan pada kalian, aku tidak akan menyerahkan benda ini karena bukan milikku, sekalipun, kalian bergelar Lima Naga Golok Maut! Tak mungkin aku akan memberikannya, apabila kalian berjuluk Malaikat Maut!" tandas Arya mantap.

"Rupanya, kau sudah ingin mencari kuburan, Pemuda Sombong!" sentak laki-laki bercambang bauk lebat. Sekujur tubuh laki-laki itu sudah menggigil karena tidak kuat menahan amarah. Dia sudah bermaksud untuk menerjang, tapi tangannya lebih dulu dipegangi oleh lelaki kecil kurus yang memberinya isyarat untuk bersabar.

"Baiklah." Sebelum lelaki kecil kurus berbicara, Arya telah lebih dulu membuka mulut. Dewa Arak tentu saja telah mendengar nama besar Lima Naga Golok Maut yang terkenal sebagai tokoh-tokoh golongan putih. Maka, dia tidak ingin memberikan hajaran berat pada mereka.

"Kau bersedia memberikan benda itu pada kami?!" tanya lelaki berkulit hitam laksana arang, cepat-cepat.

Arya mengangguk. "Tapi dengan satu syarat."

Lima lelaki berpakaian dari kulit ular ini saling berpandangan. "Kau jangan bermain gila dengan kami, Anak Muda. Cepat katakan, apa syaratnya?"

"Begini," lanjut Arya, masih tetap bersikap tenang. "Nama besar kalian telah lama kudengar. Begitu pula keahlian kalian masing-masing. Nah! Asal kalian berlima, atau salah satu di antara kalian bisa mengalahkanku, aku bersedia memberikan benda ini. Bagaimana? Setuju?!"

Lima lelaki berpakaian dari kulit ular itu kembali saling berpandangan dengan mata terbelalak lebar. Sudah gilakah pemuda berambut putih keperakan ini?! Berani benar Dewa Arak menantang mereka untuk mengadu kepandaian. Bahkan salah seorang di antara mereka ada yang mengalahkan pemuda itu, sudah dianggap menang, sehingga bisa mendapatkan benda itu. Sungguh sebuah persyaratan yang amat menguntungkan. Maka tanpa banyak pikir panjang lagi, mereka berlima mengangguk.

"Kami terima syarat itu!" jawab lelaki tinggi besar yang sejak tadi diam saja.

"Sekarang, siapa yang lebih dulu ingin melawanku?!" jawab Arya tidak mau membuang-buang waktu.

"Aku...!" ujar lelaki berkulit hitam legam, langsung mengacungkan jari telunjuk sambil melangkah maju. "Aku berjuluk Naga Pedang Kilat! Maka, keluarkan senjatamu untuk melawanku. Tapi sebelumnya perlu kau ingat kalau senjata tidak bermata. Aku khawatir kau akan terluka oleh pedangku. Maka, berhati-hatilah."

"Semua ucapanmu akan kuperhatikan, Kisanak!" sambut Arya bernada sungguh-sungguh. Dalam hati, Dewa Arak membenarkan kabar yang tersiar di dunia persilatan, kalau lima naga ini merupakan tokoh golongan putih yang berwatak sombong dan menganggap diri sendiri sebagai tokoh tidak terkalahkan. Makanya, Arya bermaksud meruntuhkan kesombongan mereka.

Singng!

Sinar menyilaukan mata langsung berpendar ketika lelaki berkulit hitam yang berjuluk Naga Pedang Kilat mencabut pedang yang tersampir dipunggung.

"Keluarkan senjatamu, Anak Muda!" ujar Naga Pedang Kilat kembali memberikan peringatan. Kali ini peringatan itu lebih keras daripada sebelumnya. Bahkan terasa jelas ada kegeraman di dalamnya. Dan itu terjadi karena sikap Arya yang terkesan meremehkan. Padahal, lima naga ini merupakan tokoh-tokoh tinggi hati yang tidak mau mendapat perlakuan kurang hormat dari orang lain!

Arya mengedarkan pandangan ke tanah sebentar. Kemudian dipunggutnya sebatang ranting sebesar ibu jari kaki yang berada di depannya. Kebetulan panjang ranting itu tidak kalah dengan panjang pedang Naga Pedang Kilat.

"Inilah senjataku, Naga Pedang Kilat!" ujar Arya sambil mengunjukkan ranting itu dengan tangan kanannya.

Bukan hanya Naga Pedang Kilat yang merasakan panas pada wajahnya karena amarah yang bergolak. Tapi, juga empat kawannya. Sikap Dewa Arak benar-benar membuat harga diri mereka demikian direndahkan!

"Baik! Kalau itu yang kau inginkan, Anak Muda. Kau yang menolak peringatanku! Jangan salahkan aku kalau lehermu putus oleh pedangku! Lihat serangan!"

Naga Pedang Kilat membuka serangan dengan sebuah tusukan ke arah leher. Bunyi menggemuruh disertai kilatan-kilatan menyilaukan mata mengiringi meluncurnya serangan senjata milik Naga Pedang Kilat.

Di dalam hatinya, Dewa Arak merasa kagum melihat kedahsyatan ilmu pedang Naga Pedang Kilat. Tapi kekagumannya tidak ditunjukkannya. Dan segera disambutnya serangan meskipun hanya bersenjatakan sebatang ranting, tapi ditangan orang berkepandaian tinggi seperti Dewa Arak, ranting itu tidak kalah dibanding sebatang pedang pusaka!

Naga Pedang Kilat dalam kemarahannya yang menggelegak, rupanya bermaksud membunuh Arya. Serangan pedangnya menyambar bagaikan hujan. Tapi, Dewa Arak pun tidak tinggal diam. Laksana bayangan, tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang. Saking cepatnya gerakan kedua tokoh itu, yang terlihat hanya kelebatannya bayangan kuning dan ungu serta gulungan dua sinar yang berkelebatan.

Trakkk!

Setelah bertarung hampir lima jurus, Dewa Arak menangkis kelebatan pedang lawan dengan rantingnya secara keras. Sehingga, tubuh Naga Pedang Kilat terhuyung-huyung ke belakang.

"Kukira sudah cukup, Kisanak," ujar Arya, langsung melempar ranting itu ke sebelah kirinya. Lemparan itu seperti biasa saja, tapi mampu menembus batang pohon hingga amblas setengahnya lebih!

"Aku belum kalah. Dan darah pun belum menilik keluar dari tubuhku. Bagaimana mungkin pertarungan ini sudah harus dihentikan?!" dengus Naga Pedang Kilat.

"Aku tidak ingin bertarung dengan orang yang compang-camping pakaiannya." Jawaban yang dikeluarkan Dewa Arak dengan suara tenang.

Tapi justru membuat Naga Pedang Kilat memperhatikan pakaiannya, karena heran mendengar pernyataan itu. Wajah tokoh Lima Naga Langit Bumi ini pun berubah hebat, ketika melihat pakaiannya. Pada beberapa bagian, tampak bolong-bolong. Padahal, sebelumnya dia tahu betul kalau pakaiannya utuh! Jelas, Dewa Arak yang telah melakukannya.

Naga Pedang Kilat memang memiliki watak sombong, seperti empat rekannya. Tapi kenyataan yang dihadapi ini, telah membuatnya tahu kalau Dewa Arak telah berlaku murah hati! Dia tahu, bila pemuda berambut putih keperakan ini menghendaki, nyawanya telah melayang sejak tadi. Betapa mudahnya bagi pendekar muda itu untuk membunuhnya.

"Aku mengaku kalah," ujar Naga Pedang Kilat, kaku sambil mengundurkan diri setelah merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Dewa Arak tidak memberi sahutan sama sekali. Dan dia memang telah kenyang berhadapan dengan berbagai ragam watak. Sehingga Arya tahu, merendah terhadap Naga Pedang Kilat hanya akan dapat menimbulkan salah paham! Naga Pedang Kilat tengah merasa terpukul oleh kekalahannya, bisa-bisa sikap merendah yang akan dikeluarkan diterima sebagai ejekan.

"Kau hebat, Anak Muda," lelaki tinggi besar yang menjadi orang kedua untuk menghadapi Dewa Arak, melangkah maju mendahului rekan-rekan. "Kemenanganmu terhadap kawan kami, menunjukkan kalau kau memiliki kepandaian tinggi! Dan ini mengingatkanku pada seorang tokoh persilatan yang baru-baru ini menggemparkan dengan kepandaian dan tindakannya. Dewa Arak, julukan tokoh itu. Apakah kau orangnya, Anak Muda?!"

"Benar!" jawab Arya, singkat. Tidak seperti biasanya jawaban Dewa Arak terkesan mantap dan tidak merendah. Karena dia merasakan ada nada merendahkan dalam ucapan lelaki tinggi besar itu. Cara bicaranya mengisyaratkan kalau tokoh yang diceritakannya terlalu dibesar-besarkan oleh dunia persilatan!

"Bagus!" Lelaki tinggi besar itu seperti tengah memuji seorang anak kecil. "Apakah kau akan bertanding melawanku sesuai kemampuanku? Aku dijuluki orang Naga Bertenaga Selaksa Kati. Apakah kau bersedia bertarung denganku sesuai dengan kemampuan yang kumiliki?!"

Dewa Arak mengangguk. Diam-diam hatinya mendongkol sekali terhadap lelaki tinggi besar yang ternyata berjuluk Naga Bertenaga Selaksa Kati yang sombong bukan kepalang. Dewa Arak pun bertekad untuk mengalahkannya secara keras.

"Mengingat julukanmu, kau pasti memiliki tenaga besar. Maka asal kau mampu mengangkat tubuhku, aku mengaku kalah. Dan perjanjian tadi kalian yang menangkan," jawab Arya, tenang.

"Keparat!" Naga Bertenaga Selaksa Kati sampai menggemeretakkan gigi mendengar sambutan Arya. "Kaulah yang telah menentukan, sehingga aku tidak memiliki pilihan lain. Bersiaplah untuk menerima kekalahan, Dewa Sombong!"

"Mulailah, Naga Bertenaga Selaksa Kati. Aku sudah sejak tadi siap!" jawab Arya, masih tetap bersikap tenang. "Atau mungkin kau merasa tidak sanggup? Bila demikian, tidak perlu kau mengangkatku. Asal bisa mendorong tubuhku saja, aku sudah mengaku kalah!"

Naga Bertenaga Selaksa Kati makin menggeram seperti harimau luka mendengar ejekan Dewa Arak. Kemudian sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam, dihampirinya Dewa Arak yang telah berdiri dengan sikap tenang. Malah seperti tidak mengerahkan tenaga sama sekali.

Meski terlihat tenang, Dewa Arak sebenarnya telah mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk memberatkan tubuhnya. Dia tahu, lawannya memiliki tenaga luar amat besar. Tapi Dewa Arak yakin akan mampu mengunggulinya. Makanya, pemuda ini berani mengajukan tantangan seperti itu.

Naga Bertenaga Selaksa Kati memang patut memiliki tenaga besar. Tubuhnya tinggi besar. Sehingga, Dewa Arak jadi terlihat kecil. Tinggi pemuda berambut putih keperakan itu hanya sampai pundak Naga Bertenaga Selaksa Kati.

Dengan otot-otot yang bertonjolan seperti hendak keluar di tubuh Naga Bertenaga Selaksa Kati, membuat Dewa Arak kelihatan lemah dan ringkih. Sekilas pandang, tubuh Arya dengan mudah akan dapat diangkat dan dipermainkan lawan sesuka hatinya.

Naga Bertenaga Selaksa Kati telah memegang kedua bahu Dewa Arak dengan kedua tangannya, bersiap untuk segera mengangkat. Dia yakin dapat mengangkat tubuh pemuda berambut putih keperakan itu. Apalagi, karena dapat memegang dengan kuat! Mengangkat seekor kerbau yang paling besar pun dia mampu! Apalagi, tubuh Dewa Arak yang demikian kecil.

"Heaaa..., ah....!" Tapi, Naga Bertenaga Selaksa Kati kecele ketika telah mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat, tubuh Dewa Arak sama sekali tidak terangkat. Apalagi bergeming. Padahal, sekujur wajah Naga Bertenaga Selaksa Kati telah merah padam. Urat-urat lehernya menggembung besar, saking telah mengerahkan semua kekuatannya. Bahkan sampai terdengar bunyi terengah-engah.

Naga Bertenaga Selaksa Kati akhirnya menyerah, ketika tidak juga berhasil mengangkat tubuh Dewa Arak. Sekarang, dia berganti siasat dengan melakukan dorongan. Tapi, kali ini pun sia-sia. Yang didorong Naga Bertenaga Selaksa Kati seperti bukan Dewa Arak, melainkan tiang kokoh kuat yang berakar di perut bumi!

"Aku mengaku kalah!" desah Naga Bertenaga Selaksa Kati mencoba bersikap jantan. Padahal, hatinya terasa panas. Peluh telah membasahi wajah dan lehernya, namun tidak dihapusnya. Dan tubuhnya langsung berbalik dengan wajah muram.

Kekalahan Naga Bertenaga Selaksa Kati membuat pihak Lima Naga Langit Bumi semakin tidak puas. Perasaan itu membuat tiga orang yang belum mendapat giliran tanpa sadar maju berbareng.

"Biar aku yang sekarang mencoba kelihaianmu, Dewa Arak!" Hampir berbarengan pula ketiga orang Lima Naga Langit Bumi itu mengeluarkan perkataan.

"Kau memang hebat Dewa Arak!" kata lelaki kecil kurus ini, bemada pahit "Kami pun bukan orang-orang tidak tahu diri yang hendak mendapatkan kemenangan secara keroyokan. Kau berjanji, kami pun bisa berjanji. Dan aku berjanji atas nama lima rekanku. Apabila aku dapat kau kalahkan, kami semua akan pergi dan tidak mempedulikan urusan ini lagi! Kau boleh pergi dengan benda itu."

Ucapan lelaki kecil kurus itu mengejutkan dua rekannya. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena dapat merasakan kalau kawan mereka benar. Apabila lelaki kecil kurus itu kalah juga, lebih baik mengundurkan diri. Kalau semua kalah, sama artinya meruntuhkan nama Lima Naga Langit Bumi.

Tapi juga masih ada yang belum dikalahkan, dengan demikian mereka masih bisa berbangga hati. Lagi pula dengan syarat itu sama artinya mereka memberi kemudahan pada Dewa Arak. Sehingga sedikit banyak dapat mengangkat harga diri mereka.

Dewa Arak hanya mengangkat bahu pertanda tidak terlalu mempedulikannya. Dan, lelaki kecil kurus yang menganggap tindakan Dewa Arak sebagai tanda setuju, langsung menyambung ucapannya.

"Aku dijuluki Naga Tanpa Bayangan. Dan kebiasaanku yang utama adalah berlari. Maka aku menantangmu untuk berlari! Bagaimana? Apakah kau berani?!"

TIGA

"Sekali aku mengeluarkan ucapan, tidak akan kutarik sampai nyawa lepas dari badan. Demikian tekadku, Naga Tanpa Bayangan!" tandas Dewa Arak agak keras. Sebenarnya Arya tersinggung mendengar tantangan lelaki kecil kurus yang bernada meremehkan.

"Bagus!" Naga Tanpa Bayangan. "Kau memang hebat dan juga berani. Dan memang kuakui, kau pantas bersikap seperti itu karena telah memenangkan dua pertarungan berturut-turut. Nah! Mengenai pertarungan antara kita, apakah kau atau aku yang harus menentukan jenisnya?!"

"Kau saja. Naga Tanpa Bayangan. Kau lebih mengetahui pertarungan dengan cara seperti ini. Dan aku hanya menandingi saja."

"Baiklah kalau demikian." Naga Tanpa Bayangan bersikap seperti agak berat melakukannya. Pandangannya beredar ke sekeliling tempat itu, lalu terarah pada kedua ujung jalan seperti tengah mengira-ngira. Tapi yang terlihat hanya kesunyian.

"Kita akan mengadakan pertarungan untuk mengambil sesuatu. Misalnya..., sebatang ranting yang akan diletakkan di ujung sana," jelas Naga Tanpa Bayangan. Naga Tanpa Bayangan menudingkan jari telunjuk kanannya ke depan. Tanpa disuruh, Dewa Arak mengarahkan pandangan ke sana.

"Setelah mendapatkan ranting yang akan diletakkan di sana, masing-masing harus kembali ke tempat ini secepatnya. Dan karena kita sama-sama lihai, mungkin selisih lari tidak akan berbeda jauh. Dan bisa jadi, hampir tiba berbarengan. Maka untuk lebih jelas terlihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang, di sini akan kurentangkan sehelai kain yang akan menjadi bukti siapa yang menang. Pemenangnya, akan terlihat kenapa kain itu akan menempel dengan perutnya. Bagaimana? Jelas, Dewa Arak?!"

"Jelas!" jawab Dewa Arak, singkat tanpa banyak bicara, dengan gerak isyarat Naga Tanpa Bayangan meminta kedua rekannya yang belum bertarung untuk membantunya mempersiapkan permainan yang akan digelar.

Lelaki berkepala botak disuruhnya meletakkan dua batang ranting secara berjajar dalam jarak agak berjauhan, sekitar satu tombak. Sedangkan lelaki bercambang bauk lebat, diminta untuk mengikatkan sabuknya antara kedua pohon yang berada di sisi jalan. Sekarang, jalan itu menjadi terhalang oleh sabuk yang direntangkan.

"Kau telah siap, Dewa Arak?!" tanya Naga Tanpa Bayangan, setelah melihat dua rekannya menyelesaikan tugasnya.

"Siap!" jawab Arya, mantap sambil mengukur jarak tempat ranting itu berada dengan pandangan matanya. Dewa Arak tahu jarak itu tak kurang dari tiga ribu tombak. Sebuah jarak yang amat dekat bagi orang-orang seperti Dewa Arak dan Naga Tanpa Bayangan untuk dijadikan tempat balap lari.

Begitu lelaki berkepala botak memberi tanda dengan lambaian tangan kanannya, Dewa Arak dan Naga Tanpa Bayangan melesat disertai pengerahan ilmu lari cepat. Tubuh kedua tokoh itu seketika lenyap. Yang terlihat hanya dua bayangan kuning dan ungu yang melesat cepat, menuju tempat ranting-ranting ditancapkan.

Naga Tanpa Bayangan melesat mengerahkan seluruh kemampuannya. Dan dia yakin akan dapat mengalahkan Dewa Arak. Lelaki kecil kurus ini berlari tanpa melihat kanan kiri lagi. Dan begitu menyambar ranting yang ditancapkannya di tanah, tubuhnya kembali melesat cepat. Namun hatinya sempat bergetar ketika melihat ranting yang satu lagi tidak ada, pertanda Dewa Arak telah mengambilnya lebih dulu. Maka sambil menggigit bibir, dia berlari kembali ke tempat semula untuk menyusul Dewa Arak yang telah lebih dulu!

Tapi betapapun Naga Tanpa Bayangan telah menguras seluruh kemampuannya, Dewa Arak tetap tak terkejar. Pemuda berambut putih keperakan itu yang lebih dulu menabrak sabuk yang membentang jalan dengan tubuhnya hingga putus.

"Kau menang, Dewa Arak," ucap Naga Tanpa Bayangan, setelah sampai. Ucapannya agak terengah. Bahkan ada sedikit peluh pada dahinya, pertanda kakek kecil kurus ini telah mengerahkan tenaga sepenuhnya dalam perlombaan yang hanya sebentar itu.

"Terima kasih atas kerendahan hatimu mengalah padaku, Naga Tanpa Bayangan. Dan sekarang, aku mohon diri," jawab Dewa Arak dengan napas dan sikap biasa saja. Tidak terlihat adanya peluh di dahi pemuda berambut putih keperakan ini.

Naga Tanpa Bayangan hanya mengangguk kaku. Kemudian, tubuhnya berbalik. Dan tanpa banyak bicara, kelima orang tokoh golongan putih yang mempunyai sifat sombong ini melangkah meninggalkan tempat ini dengan hati terpukul. Mereka tidak pernah mimpi akan bisa dikalahkan orang lain. Apalagi oleh seorang tokoh muda seperti Dewa Arak.

Arya pun meninggalkan tempat itu. Hanya saja, dia menempuh arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh Lima Naga Langit Bumi itu.

* * *

"Tolong...! Lepaskan aku..., Keparat! Tolooong...!"

Teriakan melengking nyaring membuat Arya yang tengah berlari cepat menuju pantai, memperlambat langkahnya. Kepalanya langsung menoleh ke arah kanan tempat asal suara, yakni sebuah kerimbunan semak dan pepohonan. Tapi pemuda berambut putih keperakan itu tidak bisa melihat apa-apa. Dan menilik dari teriakan itu, Dewa Arak tahu kalau sumber suara berasal cukup jauh dari tempatnya berada.

Arya yang tengah terburu-buru itu jadi bimbang sejenak, antara meneruskan tujuannya dengan memberikan pertolongan. Tapi naluri kependekarannya memutuskan untuk cepat membelokkan arah larinya, ke arah asal jeritan tadi.

Pemuda berambut putih keperakan ini merasa yakin, ada orang yang membutuhkan pertolongan. Maka seluruh ilmu lari cepatnya dikerahkan. Perasan khawatir kalau pertolongan yang diberikan akan terlambat, Dewa Arak menerobos semak-semak yang dipenuhi semak berduri sehingga, terdengar bunyi berkerosokan ketika kaki dan tubuhnya bertabrakan dengan semak-semak.

Berkat tenaga dalam yang dimiliki, Dewa Arak sama sekali tidak merasakan sakit sedikit pun. Dalam aliran tenaganya yang dahsyat, kulitnya memang menjadi kebal.

Srakkk!

Arya langsung menerobos kerimbunan semak-semak lebat yang diyakini menjadi sumber suara minta tolong itu. Agak terkejut hatinya, ketika di belakang kerimbunan semak-semak yang lebat ternyata hamparan tanah cukup luas yang ditumbuhi rumput-rumput pendek. Dan di tengah-tengah hamparan tanah, berdiri sesosok tubuh berpakaian serba hitam. Dia berdiri dengan kedua tangan bersedakep di depan dada, sambil menjerit-jerit minta pertolongan.

Menghadapi kenyataan yang sama sekali tidak disangka-sangka, Dewa Arak terkejut. Dan seketika itu pula langkah kakinya terhenti. Sepasang matanya yang tajam langsung menatap sosok serba hitam berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang mengeluarkan teriakan meminta tolong, namun sama sekali tidak terancam! Bahkan dia bukan seorang wanita seperti yang diduga Arya semula.

Hanya sebentar saja pemuda berambut putih keperakan itu terperanjat. Seketika itu pula, langsung dapat disadari kalau lelaki berpakaian hitam yang pada pangkal tangan kanannya terlilit sehelai kain hitam, telah menjebak, hingga Arya datang. Setelah mendengar teriakan minta pertolongan.

Dewa Arak tidak yakin kalau lelaki berpakaiai hitam itu hanya sendirian di tempat ini. Dan benar saja dugaannya. Tak lama dari dua batang pohon yang berada di depan lelaki berpakaian hitam, melompat turun dua sosok bayangan. Begitu ringannya mereka mendarat di tanah, tepat di depan lelaki berpakaian hitam.

"Nama besarmu ternyata tidak berlebihan, Dewa Arak. Kau memiliki kepandaian cukup hebat. Terbukti, dengan keberhasilanmu memperdaya Lima Naga Langit Bumi. Kemenanganmu terhadap Naga Tanpa Bayangan, telah kami lihat. Meskipun berlari jarak yang jauh dan dari tempat yang cukup tersembunyi. Tapi jangan berbangga diri, Dewa Arak. Kemenanganmu terhadap mereka tidak bisa dijadikan ukuran. Kepandaian mereka terlalu rendah. Tiap-tiap seorang dari kami pun, mampu mengalahkan Lima Naga Langit Bumi!" kata lelaki berpakaian hitam yang memancing Dewa Arak datang dengan teriakan meminta pertolongannya.

Dewa Arak tersenyum pahit, tanpa memberikan tanggapan sama sekali selain memperhatikan mereka penuh selidik. Rata-rata mereka berusia tiga puluh lima tahun dengan wajah dingin menampakkan kekejaman. Tidak ada ciri khas yang ada, sehingga Arya cukup mengalami kesulitan kalau tidak melihat perbedaan yang cukup menyolok. Dua leIaki lainnya yang datang belakangan, memiliki ikat Kain putih di kepala dan dipangkal lengan kanan.

"Terima kasih atas pujian kalian. Tapi, bukan untuk itu aku kemari. Dan karena persoalan yang kumaksud tidak ada, aku tidak bisa menemani kalian lebih lama di sini. Permisi." Setelah berkata demikian, pemuda berambut putih keperakan ini berbalik dan bersiap meninggalkan tempat itu.

"Tidak semudah itu kau dapat pergi dari sini, Dewa Arak! Tidak, sebelum kau berikan apa yang kami inginkan!"

Berbarengan teriakan keras itu, Dewa Arak mendengar adanya gerakan di belakangnya. Namun kepalanya tidak menoleh walau langkahnya terhenti. Sekujur urat saraf dan otot di tubuhnya menegang waspada, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tapi kekhawatiran Dewa Arak tidak terbukti. Tiga lelaki berpakaian hitam sama sekali tidak mengirimkan serangan gelap. Bahkan sekejap kemudian, lelaki yang memiliki kain putih pada pangkal lengan kanan telah melompat melewati kepala Dewa Arak. Tubuhnya berjungkir balik di udara, dan mendarat beberapa tombak di depan pemuda berambut putih keperakan itu.

Dewa Arak tetap bersikap tenang dan tetap di tempat. Hanya sepasang matanya yang melirik ke sana kemari, seperti mengamati gerak-gerik lawan-lawannya. Arya yakin kalau tiga lelaki berpakaian hitam ini tidak akan melepaskannya begitu saja. Apalagi ketika mereka berdiri di tiga penjuru dengan sikap mengancam.

"Apa yang kalian inginkan?!" tanya Arya ingin tahu, meskipun sudah bisa memperkirakannya.

"Tidak banyak," jawab lelaki yang memiliki kain putih di kepala, ringan. "Kami hanya menginginkan kain merah di pangkal lengan kirimu."

"Benar," timpal lelaki lain yang memiliki kain putih di pangkal lengan kanan, mendukung. "Apa bila kau menyerahkannya, kami akan biarkan kau pergi dari sini. Bahkan mungkin kita bisa menjadi sahabat baik, Dewa Arak."

"Sayang sekali, Kisanak semua," jawab Arya, bernada menyesal. "Aku tidak bisa memenuhi permintaan itu. Karena, benda ini hanya titipan. Dan aku tidak berani untuk mengingkari amanat yang dipesankan oleh pemiliknya."

"Rupanya kau sudah pingin mampus, Dewa Arak," geram lelaki yang tangan kanannya terbelit kain putih, penuh amarah. "Kau menjadi besar kepala karena telah berhasil mengalahkan Lima Naga Langit Bumi, heh?! Kau terlalu berlebihan, Dewa Arak. Mungkin perlu kuberitahu sekali lagi, kalau kepandaian mereka tidak begitu tinggi. Bahkan tidak bisa disamakan dengan salah seorang di antara kami!"

Arya tidak membantah pernyataan itu. Bibirnya hanya tersenyum lebar. Dewa Arak tahu kalau lelaki berpakaian hitam itu tidak berbicara besar. Lawan-lawannya memang memiliki kemampuan tinggi. Gerakan mereka yang gesit, dan sepasang mata yang mencorong tajam seperti mata harimau dalam gelap, telah menjadi bukti sesumbar mereka.

Sing, sing!

Bunyi berdesing nyaring langsung terdengar ketika lelaki yang memiliki kain putih di pangkal lengan kanan mencabut sepasang senjata berupa trisula yang tadi terselip di pinggang. Sinar keperakan langsung berkelebatan ketika sepasang trisula itu bergerak!

"Bersiaplah, Dewa Arak. Aku akan segera memulai! Keluarkan ilmu 'Belalang Sakti'-mu agar tidak mati konyol di tanganku!" ujar lelaki berpakaian hitam memberi peringatan seraya menyilangkan sepasang trisula di depan, agak di atas wajah. Sepasang trisula yang berwarna keperakan kelihatan kokoh dan kuat bukan kepalang.

Arya tidak berani bersikap sembarangan. Seperti mematuhi perintah lawannya, guci arak yang semula tersampir di punggung diambil dan dituangkan ke dalam mulut untuk penggunaan ilmu 'Belalang Sakti' yang dahsyat.

"Hiaaattt...!" Lelaki berpakaian hitam berseru keras, seraya meluruk menerjang Dewa Arak dengan serangan sepasang trisulanya. Bunyi angin menderu keras menyambar, sebelum serangan trisula itu tiba.

Dewa Arak tidak berani bertindak gegabah. Disadari betul kedahsyatan serangan lawannya. Dengan langkah terhuyung-huyung, yang merupakan gerakan khas jurus 'Delapan Langkah Belalang', pemuda berambut putih keperakan ini mengelakkan serangan.

Lelaki berpakaian hitam menggeram, ketika melihat serangannya mengenai tempat kosong. Padahal dilihatnya sendiri, kalau pemuda berambut putih keperakan itu tidak mengelakkan serangan dengan gerakan silat. Malah gerakannya seperti orang yang ketakutan, atau orang mabuk!

Perasaan penasaran membuat lelaki berpakaian hitam ini mengeluarkan ilmu andalannya. Sepasang trisulanya berkelebatan cepat, mengurung semua jalan yang sekiranya akan dijadikan tempat mengelak Dewa Arak. Tapi seperti juga sebelumnya, hanya kegagalan yang diperoleh.

Tentu saja, rasa penasaran lelaki berpakaian hitam ini semakin bertumpuk. Dengan kemarahan semakin berkobar, serangan susulan pun dilancarkan. Tapi hasil yang didapat hanya kegagalan lagi. Dewa Arak bagaikan bayangan. Kelihatan begitu dekat dan mudah ditangkap, tapi apabila dilakukan tidak pernah berhasil.

Setelah menyerang selama sepuluh jurus tanpa hasil, lelaki berpakaian hitam ini menghentikan serangan. Suaranya yang bergetar tidak dapat menyembunyikan perasaan geram yang tengah melanda. Karena lawan menghentikan penyerangan, maka Dewa Arak pun tidak melanjutkan gerakan lagi.

"Jadi… bagaimana maumu, Kisanak!" tanya pemuda berambut putih keperakan itu, tenang.

"Balaslah menyerang! Menangkis atau pun..., apa maumu terserah! Jangan mengelak-elak terus seperti perempuan pengecut atau banci! Kau bukan banci, kan?!" seru lelaki berpakaian hitam. Hatinya merasa tersinggung oleh tindakan Dewa Arak yang dianggap merendahkannya.

Lelaki berpakaian hitam tahu kalau ucapannya telah cukup untuk membuat Dewa Arak bertindak lain. Meski, dilihatnya tidak ada perubahan apa pun baik pada wajah maupun sikap pemuda berambut putih keperakan itu. Oleh karena itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki berpakaian hitam ini kembali memulai serangan. Sepasang trisula berkelebatan cepat. Bentuknya lenyap menjadi dua gulungan keperak-an yang meluncur cepat ke arah Dewa Arak.

Beda dengan sebelumnya, kali ini Dewa Arak tidak mengelak sama sekali, tepat seperti yang diperkirakan lelaki berpakaian hitam. Arya diam menunggu datangnya serangan. Dan ketika telah menyambar dekat, baru pemuda berambut putih keperakan ini menggerakkan gucinya.

Klang...! Klangng!

Bunga api berpercikan ke udara, ketika sepasang trisula itu bertemu dengan guci secara keras. Akibatnya, tubuh kedua belah pihak sama-sama terhuyung-huyung ke belakang. Hanya saja, Dewa Arak terhuyung selangkah. Sedangkan lawannya sampai lima langkah!

Kenyataan ini mengejutkan dua rekan lelaki berpakaian hitam lainnya. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berambut putih keperakan itu akan sedemikian kuatnya. Bahkan mampu membuat salah seorang dari mereka terhuyung sampai lima langkah.

Tanpa diminta, dua orang lelaki berpakaian hitam lainnya mencabut senjata, kemudian menyerang Dewa Arak. Pada saat yang bersamaan, lelaki berpakaian hitam yang baru saja dipukul mundur ikut menyerang kembali.

Tak pelak lagi, Dewa Arak, sekarang mendapat pengeroyokan! Dewa Arak tidak berani bertindak main-main lagi Ilmu 'Belalang Sakti' langsung dikeluarkan. Pertarungan satu melawan tiga pun berlangsung. Bunyi dentang senjata beradu, percikan bunga api ke udara, serta teriakan-teriakan kedua pihak yang bertarung.

Tiga lelaki berpakaian hitam itu terkejut dan penasaran bukan kepalang. Pertarungan telah berlangsung lebih dari lima belas jurus. Tapi selama ini mereka belum mampu mendesak Dewa Arak! Padahal, mereka bertiga. Sedangkan Dewa Arak hanya seorang. Mereka telah bekerja sama, sehingga seakan-akan pikiran mereka menjadi satu. Namun kenyataannya, Dewa Arak tidak mampu didesak!

Bukan hanya ketiga orang itu yang merasa penasaran! Dewa Arak pun sedikit banyak dilanda perasaan itu. Ilmu 'Belalang Sakti', terutama sekali jurus 'Belalang Mabuk', merupakan jurus yang diciptakan khusus untuk membongkar pertahanan lawan! Jurus itu penuh gerakan serangan dahsyat, tapi sekarang tidak berhasil dengan baik. Kerjasama tiga lelaki berpakaian hitam ini terlalu rapi, sehingga Arya hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjatuhkan serangan.

Kalau saja tiga orang itu tidak bisa bekerja sama secara baik, tentu Dewa Arak akan mudah merobohkan kendati mereka melakukan keroyokan. Apalagi tingkat kepandaian pemuda berambut putih keperakan ini berada jauh di atas lawan-lawannya. Namun, kenyataan menghendaki lain. Sehingga, pertarungan yang ulet pun terjadi. Bahkan sekarang telah memasuki jurus ketiga puluh lima, namun pertarungan masih belum dapat ditentuka pemenangnya. Tak lama....

"Manusia-manusia Pengecut! Di mana-mana kalian selalu menimbulkan kerusuhan!"

Mendadak terdengar sebuah bentakan keras hingga mampu menggetarkan sekitar tempat itu Jelas, suara itu ditunjang tenaga dalam tinggi. Dan belum hilang gema bentakan itu lenyap, sesosok bayangan merah telah menyambar laksana seekor burung ke dalam kancah pertarungan. Dan bayangan itu langsung menyerang salah seorang di antara tiga lelaki berpakaian hitam.

Tentu saja lelaki berpakaian hitam yang mendapat serangan tidak tinggal diam. Dengan sepasang trisulanya yang saling disilangkan seperti hendak menjepit, dipapak serangan tusukan pedang dari sosok yang baru tiba.

Trakkk!

Sosok bayangan merah yang menyadari keadaan berbahaya bagi senjatanya yang mungkin patah akibat guntingan sepasang trisula lawan, cepat menggerakkan pergelangan tangannya sedemikian rupa. Sehingga, pedang di tangannya tidak terkena guntingan, meskipun terjadi benturan.

Trakkk!

Tubuh sosok bayangan merah itu terpental ke belakang akibat benturan keras itu. Sementara sosok berpakaian hitam terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Lelaki berpakaian hitam yang terhuyung mundur tahu kalau sosok bayangan merah yang datang-datang membantu Dewa Arak, memiliki kepandaian tinggi. Satu orang lawan lagi harus dihadapi. Dan Itu berarti kedudukan Dewa Arak semakin kuat. Padahal pemuda berambut putih keperakan itu saja belum mampu ditanggulangi.

Sebelum kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung sirna, lelaki berpakaian hitam ini mengeluarkan lengkingan aneh. Belum juga suara itu lenyap tubuhnya sudah berbalik. Langsung dia berlari meninggalkan Dewa Arak dan sosok bayangan merah. Dan tindakannya segera diikuti dua orang kawannya.

EMPAT

"Terima kasih atas pertolonganmu, Nisanak. Kalau kau tidak cepat membantu, mungkin saat ini nyawaku telah pergi ke alam baka," ujar Arya merendah sambil memberi hormat.

"Ah. Kau terlalu memuji, Kisanak. Tanpa pertolonganku pun, kau akan berhasil mengalahkan mereka. Kepandaianmu hebat bukan kepalang. Sehingga, mampu menandingi tiga tokoh jahat itu. Aku yakin, kau bukan tokoh sembarangan," sahut sosok berpakaian merah yang ternyata seorang gadis cantik manis berusia sekitar dua puluh tahun.

Sejenak wajah gadis cantik itu jadi kemerahan ketika mendengar ucapan terima kasih Arya yang diketahuinya sangat berlebihan. Tapi hanya berlangsung sebentar saja. Dan sekarang, sepasang mata yang bening indah itu memperhatikan pemuda berambut putih keperakan yang berdiri di hadapannya dengan penuh selidik.

"Pasti kau tokoh yang berjuluk Dewa Arak. Pakaianmu, rambut, dan juga gucimu menunjukkan kalau kaulah orangnya. Apalagi kepandaianmu memang amat tinggi. Apakah dugaanku ini tidak keliru, Kisanak?!"

"Memang tidak," Arya tidak berusaha mengelak. "Tapi, aku lebih suka dipanggil Arya."

"Baiklah, De... eh! Arya. Dan agar kedudukan kita adil kau juga harus panggil namaku. Aku, Aku, Ambar Wati," gadis berpakaian merah ikut memperkenalkan diri.

Arya tersenyum lebar sebagai balasannya. Tapi senyum itu mendadak lenyap, ketika pemuda berambut putih keperakan itu melihat mata Ambar Wati, terbelalak ke arah lengan kiri Dewa Arak. tanpa perlu memeriksa Arya tahu kalau Ambar Wati tengah menatap kain merah yang melilit pangkal lengan kirinya.

Singng!

Sinar terang kontan mencuat ketika Ambar Wati mencabut pedangnya yang tadi telah dimasukkan ke dalam sarung, ketika tiga lelaki berpakaian hitam tadi telah kabur. Namun Dewa Arak bersikap tenang. Dia tetap berdiri di tempatnya, meski tahu kalau keadaan sewaktu-waktu dapat saja berubah.

Bukan tidak mungkin kalau Ambar Wati tertarik juga dengan kain merah yang membelit pangkal lengannya. Bukankah banyak tokoh persilatan yang ingin mendapatkan kain merah yang dititipkan padanya?

"Keparat! Rupanya kau yang menjadi pembunuh kejinya?! Mampuslah...!" seru Ambar Wati penuh perasaan geram. Seketika pedangnya ditusukkan ke arah dada Dewa Arak. Ucapan Ambar Wati membuat Arya agak heran, sekaligus girang. Meski hanya sedikit saja, tapi bisa diduga kalau Ambar Wati bukannya ingin mendapatkan kain merah di lengannya.

Yang jelas, gadis itu merasa heran mengapa kain merah itu berada pada Dewa Arak. Dan ini berarti, Ambar Wati tahu siapa pemilik kain merah itu. Setelah tahu kalau gadis berpakaian merah ini salah paham, Dewa Arak tidak mau bertindak keras dan membiarkannya berlarut-larut. Tak heran kalau tusukan pedang itu sama sekali tidak dielakkan. Ketika hampir mengenai sasaran, kedua telapak tangan yang saling dirangkapkan dijepitkan padamata pedang.

Tappp!

Kemarahan Ambar Wati semakin menjadi-jadi, ketika melihat serangannya kandas. Malah, pedangnya terperangkap. Seketika seluruh tenaganya dikerahkan dan langsung disalurkan pada tangan yang memegang pedang, agar dapat lepas dari jepitan tangan Dewa Arak.

Tapi usaha Ambar Wati sia-sia belaka. Pedang itu sama sekali tidak bergeming, seperti terjepit jepitan baja yang kokoh kuat. Betapapun gadis berpakaian merah ini berusaha, tetap saja tidak menunjukkan hasil.

"Sabarlah, Ambar," ujar Arya tenang. "Aku yakin ada kesalahpahaman di sini."

"Salah paham dengkulmu!" sentak Ambar Wati sewot, meski dengan napas agak terengah karena tengah berusaha menarik pulang senjatanya.

"Percayalah, Ambar," bujuk Arya masih tetap tenang. Tidak dihiraukannya kemarahan yang melanda gadis berpakaian merah itu. "Aku bukan seorang pembunuh!"

Dewa Arak yakin, keterangannya cukup untuk menenangkan Ambar Wati. Maka usai berkata demikian, jepitannya pada pedang gadis berpakaian merah itu dikendurkan. Tapi, Arya salah duga! Ambar Wati yang masih penasaran dan marah cepat menarik pedangnya. Langsung dikirimkannya serangan yang lebih dahsyat pada pemuda berambut putih keperakan itu. Maka terpaksa Dewa Arak bergerak ke sana kemari, untuk mengelakkannya.

Namun serangan menggebu-gebu Ambar Wati hanya berlangsung beberapa gebrakan saja. Begitu mempunyai satu kesempatan, Dewa Arak cepat mencengkeram mata pedang lawannya. Pemuda ini tidak khawatir kalau tangannya akan terluka, karena telah mengukur kekuatan tenaga dalam Ambar Wati, yang jauh di bawahnya. Dan dengan selisih tenaga dalam yang demikian jauh, Dewa Arak mampu membuat tangannya tidak terluka kendati harus bertemu pedang Ambar Wati.

"Ambar! Bukankah kau mempermasalahkan kain merah ini?!" sentak Arya langsung ke pokok persoalan, karena tidak ingin salah paham ini berlarut-larut "Ketahuilah! Aku tidak mengambilnya secara paksa, apalagi sampai membunuh! Kain merah ini kudapatkan dari pemiliknya sendiri yang tengah sekarat. Dan dia menyuruhku untuk menyampaikan ini pada yang berhak menerimanya. Tapi, orang yang harus kutemui untuk menyerahkan kain merah ini tidak kujumpai. Jadi, tidak ada yang dapat kulakukan lagi!"

"Pemiliknya?!" dengus Ambar Wati, meski sikapnya tidak sekeras sebelumnya. "Mungkin perlu kuberitahukan padamu, Dewa Arak. Pemilik kain merah itu telah lama meninggal dunia! Tewas dibunuh orang!"

Wajah Arya kontan berubah.

"Tapi, aku sekarang telah percaya padamu. Meskipun, hanya sedikit. Dan kuharap kau mau melepaskan pedangku."

"Asal kau mau berjanji untuk tidak menyerangku lagi," Dewa Arak meminta kesediaan Ambar Wati.

"Aku berjanji!" tandas Ambar Wati tegas.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya melepaskan cengkeramannya. Dan memang, Ambar Wati tidak menyerang lagi. Malah, pedang itu dimasukkannya kembali ke dalam warangka.

"Sepertinya kau cukup tahu riwayat kain merah ini, Ambar," Arya memancing. Pemuda berambut putih keperakan ini memang ingin tahu penyebab kain merah itu demikian menarik perhatian tokoh-tokoh persilatan.

"Tentu saja!" sahut Ambar Wati, tersenyum pahit "Karena pemilik kain merah itu berikut kain timpalannya, adalah ayahku sendiri!"

Dewa Arak terkejut juga mendengarnya. Semula dia telah menduga, pasti ada hubungan erat antara Ambar Wati dengan pemilik kain merah ini. Hanya saja pemuda berambut putih keperakan ini tidak menyangka hubungan yang terjalin akan seerat ini.

"Mungkin aku harus menceritakannya padamu agar duduk perkaranya menjadi jelas. Sebenarnya, ini merupakan rahasia keluargaku. Tapi, aku telah percaya padamu, Dewa Arak," desah Ambar Wati disertai helaan napas berat.

"Kalau merupakan rahasia keluarga, lebih baik tidak usah diceritakan, Ambar," sahut Arya, agak tidak enak.

"Tidak mengapa," Ambar Wati menggelengkan kepala. "Nah, sekarang dengarkanlah!"

"Kira-kira lima tahun yang lalu, ayah dan dua Saudara seperguruannya dipanggil guru mereka. Kebetulan, sang Guru adalah Ketua Perkumpulan Tangan Dewa, sebuah perguruan silat golongan putih. Guru dan dua saudara seperguruannya yang lain, sudah tidak tinggal di dalam perguruan. Bahkan dua di antara mereka telah berkeluarga. Saat itu, aku telah berusia sekitar lima belas tahun."

Sepasang mata Ambar Wati tampak berkaca-kaca. Arya dapat menduga, kelanjutan cerita ini merupakan kisah sedih. Tapi sebagai pendengar yang baik, pemuda berambut putih keperakan ini tidak menyelak sama sekali. Dia hanya diam menunggu kelanjutan cerita itu.

"Ayah dan dua saudara seperguruannya tentu saja segera memenuhi panggilan itu. Sesampainya di sana, mereka tahu kalau sang Guru telah sekarat, dan hanya tinggal menunggu saatnya saja. Dan maksud pemanggilan sang Guru itu ternyata untuk menjadikan salah seorang dari mereka sebagai penggantinya. Kebetulan tiga orang itu, termasuk ayah, merupakan murid-murid utama Perguruan Tangan Dewa. Di antara mereka, ayah merupakan murid yang paling pandai dan cerdik serta bijaksana. Tapi kendati demikian, sang Guru yang tidak pilih kasih, tidak ingin bertindak sembrono dalam menjatuhkan pilihan. Maka diadakannya sebuah sayembara untuk menentukan, siapa yang pantas menjadi pimpinan sepeninggal dirinya. Perlombaan itu untuk mencari pusaka perguruan yang telah lebih dulu disembunyikan sang Guru di sebuah tempat. Dia hanya memberi sedikit petunjuk untuk menemukannya. Dan keberhasilannya untuk menemukan tempat itu, disesuaikan dengan ilmu yangi mereka pelajari! Aku juga tidak tahu, bagaimana caranya. Yang jelas, seorang demi seorang diberi giliran. Batas waktu yang ditentukan tiga hari. Selama yang seorang tengah mencari, dua yang lain menunggu di perguruan. Begitu diadakan undian untuk menentukan siapa yang lebih dulu melakukan pencarian, ayahku mendapat giliran belakangan."

Ambar Wati menghentikan ceritanya. Pandangannya beredar ke sekitarnya seperti ada yang tengah dicarinya. Arya meski merasa heran melihat tingkah gadis berpakaian merah ini, tidak mengatakan pertanyaan sama sekali.

Dibiarkan saja Ambar Wati dengan tindakannya yang aneh. Ternyata Ambar Wati hanya mencari tempat yang enak untuk duduk. Dan gadis berpakaian merah ini duduk enak di bawah sebatang pohon yang berdaun rimbun. Tanpa banyak bicara, Arya mengikutinya dan duduk di dekatnya.

"Yang pertama kali dan yang kedua mencoba adalah kedua adik seperguruan ayah. Karena di samping lebih tua, ayah juga lebih lihai. Dan mereka berdua ternyata gagal. Ayah pun mencoba. Dan ternyata beliau berhasil menemukannya. Tapi di tengah perjalanan pulang, ayah dicegat adik seperguruannya yang kedua, bersama belasan anak buah Perguruan Tangan Dewa. Mereka bermaksud merampas pusaka yang berhasil didapatkan ayah. Tentu saja hal itu tidak dibiarkan terjadi. Ayah melawan sedapat-dapatnya. Tapi karena lawan terlalu banyak, tambahan lagi kepandaian adik seperguruanya juga hanya berselisih sedikit dengan ayah, maka beliau terdesak hebat. Dan bahkan banyak menderita luka. Karena tak tahan, akhirnya ayah kabur. Tapi lawan-lawannya tidak membiarkannya. Mereka terus mengejar. Karena khawatir akan keselamatan pusaka yang telah didapatkan, ayah menyembunyikannya di sebuah tempat. Lalu dibuatnya peta pada kain merah dan kain biru untuk menemukannya. Dan kain merah itulah kau dapat. Bukankah di kain merah itu ada tulisannya, Arya?! "

"Benar," Arya menganggukkan kepala. "Dan juga garis-garis yang selalu mengarah ke kanan. Pertama menyerong ke kanan bawah. Selanjutnya, menyerong ke kanan atas. Huruf-huruf itu terletak di atas garis. Meski susah-payah mencari, tetap saja aku tidak menemukan maksudnya."

"Tentu saja, karena kau belum mendapatkan kain biru yang menjadi pasangannya. Pada kain biru, hanya ada tulisan-tulisan saja. Dan garis-garis pada kain merah yang menunjuk ke bawah itu, akan berada tepat di atas huruf-huruf. Dan untuk membacanya secara jelas, kita harus meletakkan kain merah di atas kain biru. Tidak bertumpuk, tapi di atasnya. Dan cara membacanya mengikuti garis yang ada. Jelas?!"

Arya tidak langsung mengerti maksudnya. Sepasang alisnya berkerut untuk mencerna penjelasan-penjelasan yang diberikan Ambar Wati.

"Perlu contoh agar lebih jelas, Dewa Arak?!" tanya Ambar Wati ketika melihat sikap Dewa Arak yang tampak demikian bingung.

"Kalau kau tidak keberatan, Ambar," jawab Arya berputar.

"Tentu saja tidak! Tapi jelas tidaknya, tergantung pada dirimu. Maksudku, bukan kecerdikanmu. Tapi, juga berkat adanya kain merah itu. Tebarkan kain merah itu di tanah. Dan aku akan memberi sedikit contoh."

Tanpa banyak cakap Dewa Arak membuka belitan kain merah itu. Tidak ditebar di tanah, melainkan diberikannya pada Ambar Wati. "Kaulah yang lebih berhak atas kain ini, Ambar. Karena ayahmu pemiliknya. Dan berarti, sekarang kaulah yang menjadi pemiliknya."

"Terima kasih atas kepercayaanmu padaku, Dewa Arak," ucap Ambar Wati. Suaranya serak, seperti merasa terharu dengan kepercayaan yang diberikan Arya.

"Lupakanlah, Ambar," ringan saja Arya mengucapkannya.

Ambar tersenyum manis, kemudian menebarkan kain merah itu di tanah. "Kau lihat, Arya. Huruf pertama adalah b. Dan di bawah huruf b terdapat garis yang menyerong ke kanan bawah. Di bawah ujung garis itu, seharusnya tertulis huruf lain, yang menjadi lanjutan dari huruf b. Dan huruf yang dimaksud itu ada di kain biru. Nah! Sehabis huruf yang berada di kain biru, sesuai garis yang sekarang menuju ke atas dan menyerong ke kanan, kita menemukan huruf n. Kemudian di bawah lagi, untuk mencari lanjutannya. Jelas, Arya?!"

Pemuda berambut putih keperakan itu mengangguk pertanda mengerti. "Simpanlah kain itu, Ambar. Mungkin nanti ada gunanya," ujar Arya, ketika melihat gadis berpakaian merah itu mulai menggulung kain itu kembali.

"Terima kasih, Arya," Ambar Wati menyimpan kain merah itu dalam selipan pinggangnya. "Memang kain ini berguna sekali bagiku. Aku tinggal mencari yang biru, sebagai pasangannya. Dan akhirnya, aku akan mendapatkan pusaka itu. Aku akan melanjutkan cita-cita almarhum ayahku."

"O ya, Ambar. Ceritamu tadi belum selesai," Arya mengingatkan.

"Benar," Ambar mengangguk. Gadis itu berpikir sejenak untuk mengingat-ingat sampai di mana tadi bercerita. Baru setelah teringat kembali, dia melanjutkannya.

"Dalam pelariannya, ayahku tiba di rumah. Lalu diperintahkannya aku dan ibu untuk secepatnya pergi mencari tempat aman. Tak lupa, ayah memberi peta yang berjumlah dua buah itu, pada dua orang pelayan yang menjadi muridnya. Mereka pun disuruhnya pergi. Dengan hati berat, mereka pergi untuk melaksanakan tugas. Sebenarnya, mereka tidak sampai hati untuk meninggalkan ayah. Tapi karena ayah berkeras, tidak ada yang dapat mereka lakukan lagi. Ayah sendiri terpaksa pergi bersama aku dan ibu. Aku dan ibu memang berkeras untuk tetap bersama ayah, apa pun yang terjadi. Dugaan ayah ternyata tepat Adik seperguruannya bersama kelompoknya mengejar, hingga kami tersusul. Maka terjadilah pertarungan tak seimbang. Ayah dan ibu akhirnya tewas di tangan mereka. Sementara aku berhasil selamat karena ada yang menyelamatkanku. Dan orang yang menyelamatkanku, menjadi guruku sampai sekarang."

"Lalu..., apa yang kau lakukan sekarang, Ambar?!" tanya Arya ketika cerita gadis berpakaian merah itu terhenti.

Ambar Wati menundukkan kepala, merasa sedih mengingat kejadian yang menimpa keluarganya "Aku akan melanjutkan keinginan ayah, menemukan pusaka-pusaka itu. Ayah sempat bercerita, kalau tidak semua murid Perguruan Tangan Dewa menjadi pengikut adik seperguruannya. Yang baik, masih banyak sekali. Tapi, mereka tidak mampu menentang. Karena, hanya adik seperguruan ayah yang paling lihai. Dan murid jahanam itu baru akan tersingkir dari kursi kepemimpinannya, apabila pusaka pusaka itu kutemukan. Karena mereka hanya tahu, orang yang membawa pusaka itu yang berhak menjadi ketuanya. Selama pusaka itu tidak diketemukan, adik seperguruan ayah yang akan menjadi ketua. Dan sebenarnya sang Guru sendiri, telah dibunuh secara licik oleh murid murtad itu dengan menggunakan ramuan!"

"Kau membutuhkan bantuan, Ambar?" secara halus Arya menawarkan diri.

"Sayang sekali, Arya. Aku tidak bisa menerima bantuanmu. Aku ingin berusaha sendiri dan berhasil sendiri, agar arwah ayahku yang berada di alam sana bangga," tolak Ambar Wati, halus. "Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, Arya."

Arya hanya menghela napas berat. Tentu saja dengan tolakan Ambar Wati, Arya tidak bisa ikut campur lebih jauh. Hatinya hanya mengkhawatirkan kalau gadis berpakaian merah ini akan gagal. Tapi kekhawatiran itu hanya timbul sebentar saja, ketika teringat akan guru dan penolong Ambar Wati. Dan dia, yakin penolong Ambar Wati tak akan tinggal diam!

"Hampir aku lupa," sentak Arya tiba-tiba ketakutan teringat sesuatu. "Kau sepertinya kenal tiga orang berpakaian hitam yang tadi menyerangku Ambar?!"

"Mereka adalah para pemimpin Perkumpulan Baju Hitam," jelas Ambar Wati. "Di mana-mana mereka selalu menimbulkan keributan. Kau mengenal mereka, Arya? Atau setidak-tidaknya, pernah mendengar nama kelompok itu?!"

Arya mengangguk. Memang, Dewa Arak pernah mendengar Perkumpulan Baju Hitam. Sebuah, perkumpulan rahasia golongan hitam yang tidak ketahuan, di mana tempatnya.

"Apalagi yang ingin ditanyakan, Arya?!"

Arya menggeleng. Dia tahu, Ambar Wati ingin segera pergi.

"Kalau demikian, aku akan pergi, Arya. Dan sekali lagi, terima kasih atas semua bantuan yang kau berikan padaku."

Ucapan gadis berpakaian merah itu masih terdengar jelas, walau tubuhnya sudah cukup jauh. Arya hanya bisa menggeleng. Ambar Wati memang seorang gadis cukup hebat!

* * *

"Ha ha ha...! Akhirnya aku berhasil juga mendapatkan benda-benda keramat ini. Ha ha ha...!" Sebuah suara keras terdengar sehingga membuat sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari bilik dan beratapkan rumbia bagai bergetar hebat.

"Siapa dulu yang berhasil mendapatkan kuncinya. Guru?!" sambut sebuah suara melengking nyaring milik seorang wanita muda.

Sosok laki-laki tua yang tertawa itu mengangguk-angguk seraya menatap gadis berbaju merah berwajah cantik yang barusan berbicara.

"Aku tahu. Tapi andaikata kau tidak berhasil, aku pun tidak sulit merampasnya dari tangan Dewa Arak!" sergah sosok kakek tinggi kurus berpakaian putih itu. Demikian kurusnya, hingga lebih menyerupai tengkorak.

Gadis berpakaian merah itu tidak berkata-kata lagi. Pandangannya dialihkan ke tanah, di mana terdapat dua helai kain merah dan biru yang dirapatkan salah satu sisinya. Tampak huruf-huruf dan garis-garis pada kedua kain itu.

"Baca, Ambar," ujar kakek tinggi kurus sambil menunjuk hamparan kain merah dan biru. "Jangan terlalu keras karena aku tidak yakin keadaan aman.

" "Baik, Guru," gadis berpakaian merah yang tak lain Ambar Wati mengangguk.

"Benda itu berada di patung Dewa Matahari dan Dewa Bulan yang menjadi Dewa Suku Liar di Pulau Mimpi," Ambar Wati membaca huruf-huruf yang tertera turun naik di hamparan kain merah dan biru itu.

"Ha ha ha...!" Kakek kurus kering kembali tertawa bergelak, gembira bukan kepalang. "Aku akan menjadi orang yang paling sakti! Akan kutebus kekalahanku pada Tua Bangka Sombong itu. Ha ha ha...! Aku akan merajai dunia persilatan. Ha ha ha...!"

"Guru tahu di mana Pulau Mimpi itu?!" tanya Ambar Wati, setelah tawa gurunya mereda.

"Tentu saja! Bahkan tempat di mana Suku Liar itu berada, aku tahu. Aku akan menjadi orang sakti! Ha ha ha...!"

'Sebenarnya..., benda apa sih yang Guru maksudkan? Dan, mengapa guru yakin akan bisa menjadi orang sakti dengan benda-benda itu?!" tanya Ambar Wati yang memang belum merasa jelas oleh benda yang dimaksud gurunya.

Kakek kurus kering terdiam sejenak. "Karena kau telah mendapatkan kuncinya, sebagai hadiah kuberitahukan mengenai benda yang kumaksudkan. Benda itu adalah dua buah intan berbentuk kerucut. Lebih jelas lagi, dua buah ujungnya berbentuk dua kerucut. Intan-intan itu berwarna merah dan biru. Apabila kita benturkan satu sama lain, akan menimbulkan kilatan cahaya mematikan, laksana petir yang dapat menghanguskan apa pun dari jarak bertombak-tombak! Ha ha ha...!"

Ambar Wati menelan ludah untuk membasahi, tenggorakannya yang mendada kering, mendengar pemberitahuan itu. Sama sekali tidak disangka akan demikian dahsyat benda yang dimaksud.

"Sekarang mari kita pergi ke sana. Kita ambil benda-benda ajaib itu! Ha ha ha...!"

LIMA

Trang, tringng, klangng!

Terdengar riuh rendah sebuah pertarungan. Tak kurang dari puluhan orang terlibat di dalam pertarungan. Beberapa di antaranya merupakan orang-orang berpakaian macam tokoh-tokoh persilatan. Sebagian besar sisanya, adalah orang-orang aneh. Pakaian mereka hanya untuk menutupi aurat di depan bagian bawah. Itu pun dari anyaman jerami. Kulit mereka hitam legam, dengan sekujur tubuh penuh coreng-moreng arang hitam!

Orang berpakaian ala kadarnya yang tengah terlibat pertarungan dengan tokoh-tokoh persilatan ini, hampir dua kali lipat dibanding lawan-lawannya dari tokoh persilatan. Kendati demikian, pertarungan berjalan seru dan seimbang.

Memang kepandaian tokoh-tokoh persilatan itu jauh di atas lawan-lawannya. Terutama sekali, lelaki tinggi kurus yang berwajah kekuningan. Dia tak lain adalah Ular Emas. Lelaki ini menghadapi empat orang lawan sekaligus. Tapi, toh tidak terdesak sama sekali. Golok di tangannya berkelebatan cepat, memapaki senjata lawan-lawannya yang menggunakan lembing. Bahkan perlahan-lahan, Ular Emas berhasil mendesak lawan-lawannya.

Bukan hanya orang-orang berkulit hitam legam yang menjadi lawan Ular Emas yang terdesak hebat. Kelompok yang lainnya pun semakin terdesak mundur. Sehingga semakin lama tempat pertarungan semakin jauh bergeser. Dan sekarang, mulai mendekati kelompok rumah kecil berbentuk sederhana yang terbuat dari rumbia dan dedaunan pohon lainnya. Rumah-rumah itu adalah tempat tinggal orang-orang berkulit hitam legam.

"Maju terus...! Robohkan mereka...! Aku yakin, nanti benda-benda ajaib itu akan dapat ditemukan!" seru Ular Emas, sambil mengerahkan kemampuan untuk mendesak lawan-lawannya lebih jauh.

Seruan Ular Emas membuat semangat tokoh-tokoh persilatan yang berjumlah tak kurang dari enam orang itu semakin berkobar. Dan perlawanan yang diberikan pun semakin menjadi-jadi. Enam orang itu memang anak-anak buah Ular Emas, yang telah dikalahkan Ular Emas dan bersedia takluk. Dan dengan dipimpin Ular Emas, mereka menyerbu perkampungan orang-orang berkulit hitam legam yang merupakan Suku Liar.

Semangat Ular Emas dan kawan-kawannya semakin menjadi-jadi, ketika beberapa orang lawan mulai roboh dan tewas di ujung senjata dengan tubuh bersimbah darah! Robohnya beberapa orang berkulit hitam, membuat kedudukan Ular Emas dan anak buahnya semakin kuat. Dan jeritan menyayat hati pun mulai terdengar susul-menyusul mengiringi robohnya orang-orang berkulit hitam lainnya.

Ular Emas dan anak buahnya pun semakin leluasa mendesak lawan-lawannya ke dalam perkampungan. Sementara kelompok orang-orang hitam legam yang kini berjumlah tinggal belasan orang semakin kocar-kacir jadinya.

Apalagi ketika Ular Emas dan anak buahnya yang telah mulai membakari rumah-rumah mungil itu dengan lemparan kayu bernyala ke atap rumbia. Seketika terjadilah kobaran api yang dahsyat melahap rumah-rumah yang ada di dekatnya.

"Cepat katakan, di mana batu ajaib itu! Atau kau ingin kepalamu kuhancurkan?!" ancam Ular Emas, sambil memegang lengan salah seorang wanita dari Suku Liar itu.

Tidak ada jawaban sama sekali yang diberikan wanita Suku Liar itu, kecuali tatapan kebencian dan sentakan tangannya untuk membebaskan diri dari pegangan tangan Ular Emas. Hal ini membuat Ular Emas sewot. Sekali tangannya bergerak menampar pelipis, nyawa wanita Suku Liar itu pun melawat ke akherat. Pembantaian besar-besaran pun dimulai oleh Ular Emas dan anak buahnya. Penghuni perkampungan Suku Liar yang sekarang hanya tinggal wanita dan anak-anak mulai jadi sasaran pembantaian.

"Ular Emas...! Lihat...!" Salah seorang anak buah Ular Emas berseru memanggil tokoh tinggi kurus itu. Jari telunjuk kanannya ditudingkan pada bagian atas dua buah batang kayu.

Ular Emas yang tengah sibuk mengedarkan pandangan ke sana kemari sambil membongkari apa-apa untuk mencari benda dimaksud, mengikuti arah yang ditunjukkan anak buahnya. Di sana, tampak dua batang kayu yang besarnya hampir sepelukan tangan manusia dewasa, berbentuk patung berukir, pada bagian atasnya. Sebuah patung yang hanya menampilkan wajah sayu.

Tapi, bukan bentuk wajah patung itu yang menarik perhatian Ular Emas. Melainkan, sebuah benda bersinar pada bagian dahi tiap-tiap wajah patung. Kilaunya tampak menyilaukan mata, tertimpa sinar matahari. Berarti pada dahi ukiran wajah di batang kayu itu, adalah sebuah benda yang kemungkinan terbuat dari logam.

Ular Emas yang menjadi timbul semangatnya, ketika melihat benda-benda bersinar itu segera melompat untuk mengambilnya. Dengan sekali jejak, tubuhnya melayang ke atas. Sementara tangan kanannya segera terulur untuk mengambil benda bersinar itu.

Singngng!

Bunyi berdesing nyaring yang menyakitkan telinga, membuat Ular Emas terkejut bukan kepalang. Sebagai tokoh berpengalaman, dia tahu ada senjata yang akan menyambar ke arahnya. Maka tanpa berani menunggu lebih lama, uluran tangannya terhadap benda bersinar di dahi wajah patung yang berukir itu, dibatalkan. Dan dengan kecepatan mengagumkan, Ular Emas mencabut goloknya yang tergantung di pinggang. Seketika, goloknya diayunkan untuk memapak senjata berupa sebatang anak panah yang menyambar ke arahnya.

Trakkk!

Dengan tangkisan tepat, Ular Emas membuat anak panah itu meluncur kembali pada seorang lelaki bertubuh pendek yang tadi melepaskan anak panah. Kecepatan luncuran anak panah itu tidak kalah dengan luncurannya yang pertama kali.

"Uhhh...!" Lelaki pendek yang melepaskan anak panah itu terkejut, namun, tidak tinggal diam. Langsung di ambilnya anak panah lain dan dilepaskannya untuk memapak anak panah yang menuju ke arahnya. Maka dua anak panah berbenturan di udara dan berjatuhan ke tanah.

"Keparat! Kiranya kau, Ludiga!" geram Ular Emas, begitu kakinya menjejak tanah dengan golok masih tergenggam di tangan. Lelaki tinggi kurus ini gagal untuk mengambil benda bersinar yang berada di dahi patung.

"Sama sekali tidak kau sangka, bukan?!" Ludiga yang lebih terkenal sebagai Pemanah Sakti tertawa mengejek. Tapi, belum juga tawanya habis, Ular Emas yang merasa geram langsung menerjang dengan goloknya. Seketika terdengar bunyi mengaung keras ketika senjatanya meluncur ke arah Ludiga.

Ular Emas tahu, betapa lihainya Pemanah Sakti ini. Maka dalam sekali serang, seluruh kemampuan yang dimiliki telah dikeluarkan. Baik tenaga kecepatan, maupun jurus yang paling dahsyat. Ludiga atau Pemanah Sakti amat terkenal sebagai tokoh golongan hitam yang jarang menemui tandingan. Kepandaiannya dalam meluncurkan anak panah, telah membuatnya ditakuti dan disegani, baik oleh tokoh golongan putih maupun hitam. Telah banyak orang yang tewas di tangannya. Baik oleh kedua tangannya, maupun anak panahnya.

Kekhawatiran Ular Emas tidak terlalu berlebihan! Belum juga serangan goloknya mencapai sasaran, Pemanah Sakti telah lebih dulu bertindak. Dengan cepat, Ludiga mencabut dua batang anak panah sekaligus yang langsung memasangkannya pada busur. Kemudian, anak-anak panah itu dijepretkannya.

Zingng, zingng!

Diiringi bunyi menyakitkan telinga, anak-anak panah itu meluncur ke arah Ular Emas. Terpaksa laki-laki tinggi kurus itu membatalkan serangan. Goloknya cepat diputar bagaikan kitiran untuk membentengi tubuhnya. Maka semua anak panah itu berpentalan terkena tangkisan golok Ular Emas.

Belum lagi Ular Emas berbuat sesuatu, Pemanah Sakti telah melompat menubruk dan mengirimkan serangan, mempergunakan anak panah! Dalam keadaan seperti ini Ludiga bagai orang yang menggunakan pedang atau golok!

Sementara Ular Emas segera menyambutinya, hingga pertarungan sengit pun berlangsung. Anak buah Ular Emas agak kaget melihat gangguan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Semula disangka, hanya kelompok mereka yang berada di perkampungan Suku Liar ini. Tapi ternyata masih ada pihak lain.

Sesaat kemudian, enam orang anak buah Ular Emas seperti berlomba untuk mengambil benda bersinar yang berada di atas patung. Inilah kesempatan terbuka bagi mereka untuk mendapatkan benda itu, guna kepentingan diri sendiri. Memang dalam lubuk hati mereka terselip harapan untuk mendapatkan benda-benda yang dicari untuk kepentingan sendiri. Tapi....

Sing, singng!

"Akh, akh...!"

Dua di antara enam buah Ular Emas yang hampir saja meraih benda-benda bersinar itu menjerit menyayat. Entah bagaimana, tahu-tahu dua benda berkilat melesat dan menembus punggung mereka sebelum maksud itu kesampaian. Tubuh dua orang malang itu pun ambruk.

Empat anak buah Ular Emas lainnya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menghentikan maksud. Seketika pandangan mereka beralih ke arah benda berkilat itu berasal, ketika kaki-kaki mereka telah menjejak tanah.

“Macan Seratus Kuku...," desis empat orang anak buah Ular Emas, tanpa bisa menyembunyikan rasa gentar. Baik dalam ucapan, maupun tarikan wajah.

Sosok yang disebut empat orang anak buah Ular Emas sebagai Macan Seratus Kuku, ternyata seorang kakek kecil kurus tanpa kumis dan jenggot. Dia hanya mengenakan pakaian macan tutul.

"Tikus-tikus tak berguna seperti kalian ingin mengambil benda-benda ajaib itu?!" dengus Macan Seratus Kuku penuh ejekan.

Kemudian kepala kakek itu menggeleng sedikit seperti memberi isyarat pada laki-laki kasar berjumlah empat orang yang berdiri di belakangnya. Seketika, mereka bergerak menyerbu empat orang anak buah Ular Emas.

Kilatan kegembiraan memancar di mata anak-anak buah Ular Emas, ketika melihat yang menerjang mereka adalah anak buah Macan Seratus Kuku. Menghadapi empat orang itu, anak-anak buah Ular Emas memang tidak merasa gentar! Beda halnya apabila diserang oleh Macan Seratus Kuku.

Macan Seratus Kuku terkenal sakti. Bahkan telah merajai berbagai macan hutan dan pegunungan. Mereka sering merampok rombongan pedagang, pendekar pengelana, atau siapa pun yang kebetulan dilihatnya. Kecelakaan besar bagi orang yang bertemu Macan Seratus Kuku yang menjadi raja kaum perampok di gunung-gunung dan hutan-hutan liar. Kepandaiannya amat tinggi, dan mungkin tidak berada di bawah Ular Emas!

Empat anak buah Ular Emas pun menyambuti terjangan anak buah Macan Seratus Kuku. Maka pertarungan seru pun berlangsung. Golok-golok anak buah Ular Emas saling mendahului dengan cakar-cakar baja yang bertangkai besar di tangan anak buah Macan Seratus Kuku dalam mencari-cari sasaran.

"Cecunguk-cecunguk yang menjemukan! Dari mana mereka tahu tempat ini! Sungguh memualkan perut saja!" Seruan-seruan itu seperti dikeluarkan pelan tapi anehnya mampu mengatasi riuh-rendah bunyi pertempuran yang terjadi.

"Bagaimana kalau mereka kita bereskan saja?!" sambung sebuah suara lain.

"Sebuah usul yang amat bagus, dan patut di laksanakan!" timpal yang lain.

Macan Seratus Kuku, satu-satunya orang yang tidak terlibat dalam pertarungan, menoleh ke belakang dengan wajah beringas. Ucapan-ucapan itu membuatnya terganggu dalam menyaksikan pertarungan yang tengah berjalan. Dan dia sudah bermaksud untuk menerjang dan merobek-robek sekujur tubuh orang-orang yang bercakap-cakap tadi.

Tapi, ketika sepasang mata beringas Macan Seratus Kuku bertemu pandang dengan pemilik ucapan-ucapan itu, keberingasannya lenyap dari sorot sepasang matanya. Bahkan sekarang, berganti ketakutan dan keterkejutan. Suara tiga sosok yang bersuara tadi berdiri sekitar empat tombak dari Macan Seratus Kuku.

Dan mereka terdiri dari tiga lelaki berpakaian hitam dengan kain putih yang membelit tubuh. Yang seorang pada pangkal lengan kanan. Lalu seorang pada pangkal lengan kiri. Dan orang terakhir, pada lingkar kepala!

"Tiga Iblis Baju Hitam...," desis Macan Seratus Kuku dengan suara bergetar, menampakkan kegentaran.

"Rupanya kau kenal kami juga, Kunyuk Buduk! Syukurlah kalau demikian, sehingga tidak mati penasaran," kata lelaki berpakaian hitam yang memiliki kain putih di kepala.

"Tidak usah banyak bicara dan buang waktu percuma! Lebih baik bunuh cecunguk itu secepatnya. Habis perkara!" dengus lelaki berpakaian hitam yang memiliki kain putih di pangkal lengan kiri.

"Benar!" sambut anggota Tiga Iblis Baju Hitam yang memiliki kain putih di pangkal lengan kanan. "Bukankah kita masing-masing mendapat bagian?!"

Macan Seratus Kuku yang menyadari keadaan yang amat berbahaya, langsung bertindak cepat sekali kakinya menjejak, tubuhnya melayang dengan tujuan jelas. Benda bersinar itu.

"Uh...!" Macan Seratus Kuku mengeluarkan seruan tertahan, ketika lompatannya tertahan karena pergelangan kaki kanannya telah tercekal. Lelaki kecil kurus ini menoleh. Dan dia melihat, lelaki berpakaian hitam yang memiliki kain putih di pangkal lengan kanan itu mencekal pergelangan kakinya.

Dan sebelum Macan Seratus Kuku bertindak lebih lanjut, anggota Iblis Baju Hitam itu telah mengayunkan tangannya. Maka tanpa mampu dicegah, tubuh Macan Seratus Kuku melayang ke arah anggota Iblis Baju Hitam yang pada pangkal lengan kiri terbelit kain putih.

Macan Seratus Kuku tidak tinggal diam, dan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan kemampuannya, luncuran tubuhnya mampu dibuat menjadi ancaman bagi lawan. Macan Seratus Kuku mengirimkan cengkeraman. Satu menuju tenggorokan, yang lain mengincar ulu hati.

Tapi dengan sekali mengulurkan tangan, anggota Iblis Baju Hitam itu telah membuat tubuh Macan Seratus Kuku tertahan. Jari-jari tangan Iblis Baju Hitam tepat mendarat di bahu kanan Macan Seratus Kuku, hingga lemas seketika. Sementara serangan Macan Seratus Kuku sebelumnya berhasil dielakkan secara mudah oleh anggota Iblis Baju Hitam itu dengan memiringkan tubuh sedikit.

Tanpa mampu dicegah lagi, tubuh lelaki kecil kurus itu ambruk ke tanah seperti sehelai kain basah. Tubuhnya lemas, akibat jalan darahnya tertotok, sehingga tenaga dalam Macan Seratus Kuku lenyap. Tanpa perasaan apa pun, anggota Iblis Baju Hitam yang pada pangkal lengan kanannya melilit kain putih, menginjak kepala Macan Seratus Kuku yang tak berdaya.

Krakkk! Terdengar bunyi gemeretak keras kepala yang hancur, mengiringi melayangnya nyawa Macan Seratus Kuku ke akherat!

Sementara itu, anggota Iblis Baju Hitam yang pada kepalanya melilit kain putih, melesat ke dalam kancah pertarungan antara anak buah Ular Emas melawan anak buah Macan Seratus Kuku. Dengan enaknya, seolah-olah menghadapi rumput-rumput kering, anggota Iblis Baju Hitam itu menangkap mereka satu persatu dan membantingnya ke tanah. Setiap kali tangan lelaki berpakaian hitam ini menangkap dan membanting, orang yang jadi sasaran langsung melawat ke akherat. Sekujur tulang-tulang mereka kontan hancur berantakan.

Masuknya lawan baru, membuat anak buah Ular Emas dan anak buah Macan Seratus Kuku melupakan pertikaian antara mereka. Bahkan kini mereka bahu-mambahu menghadapi musuh baru. Tapi, usaha mereka bagaikan semut-semut menerjang api. Satu persatu langsung roboh tewas sebelum maju mendekat.

Anggota Iblis Baju Hitam lainnya tidak tinggal diam. Setelah Macan Seratus Kuku tewas, masing-masing langsung bergerak. Yang satu menuju pertarungan antara Ular Emas melawan Pemanah Sakti, sedangkan yang lain menuju patung tempat benda bersinar.

Pemanah Sakti dan Ular Emas yang tahu akan kedatangan lawan tangguh, langsung menghentikan pertarungan. Bahkan langsung menyambuti serangan anggota Iblis Baju Hitam. Ular Emas dengan lemparan jarum-jarumnya. Sedangkan Pemanah Sakti dengan anak-anak panahnya. Memang senjata andalan Ular Emas adalah jarum-jarum rahasia.

"Hmh...!" Anggota Iblis Baju Hitam berikat kepala kain putih tengah berada di udara untuk menyerbu Ular Emas dan Pemanah Sakti, tidak menjadi gugup melihat datangnya serbuan belasan jarum dan beberapa batang anak panah.

Sambil masih tetap meluncur menuju Ular Emas dan Pemanah Sakti, anggota Iblis Baju Hitam ini mendorongkan kedua tangannya ke depan. Maka hembusan angin kuat pun keluar dari kedua telapak tangannya. Dan hebatnya, mampu membuat laju anak-anak panah dan jarum-jarum Ular Emas dan Ludiga terhenti, kemudian jatuh ke tanah.

Sebelum kekagetan Ular Emas dan Ludiga hilang, anggota Iblis Baju Hitam itu telah berada di dekat mereka. Dan dia langsung menyerang, sehingga membuat kedua tokoh sesat yang lihai itu dibuat pontang-panting. Hanya dalam beberapa gebrakan, Ular Emas dan Pemanah Sakti dibuat berada dalam kancah bahaya maut.

Di lain pihak, anggota Iblis Baju Hitam yang pada pangkal lengan kirinya terbelit kalin putih telah mengulurkan tangan untuk menjumput benda bersinar. Pada saat yang sama, melesat sesosok bayangan putih dengan kecepatan luar biasa, menangkap pergelangan tangan Iblis Baju Hitam. Bahkan langsung melemparkannya!

Anggota Iblis Baju Hitam ini terkejut bukan kepalang ketika tahu-tahu tubuhnya terlempar. Memang, sebelumnya dia telah mendengar deru angin. Tapi sungguh tidak disangka akan secepat itu gerakan sosok yang baru datang ini.

Untungnya tanpa menemui kesulitan, anggota Iblis Baju Hitam ini dapat mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya meluncur. Dia berjungkir balik beberapa kali di udara, sebelum akhirnya menjejak tanah. Tapi benak anggota Iblis Baju Hitam ini penasaran bercampur tegang, mengingat demikian mudah tubuhnya dilemparkan! Jelas, lawan yang baru tiba ini adalah lawan tangguh!

"Kau...!" Seruan anggota Iblis Baju Hitam yang pada pangkal lengan kanannya terbelit kain putih, terdengar agak terbata-bata. Pandangan wajahnya seperti seorang anak kecil melihat hantu penuh kengerian!

Sosok bayangan putih yang ternyata kakek kurus kering berpakaian putih, itu sekarang berdiri di dekat patung, di mana benda bersinar terdapat. Bibirnya menyeringai penuh ancaman. Sedangkan di sebelah kakek kurus kering laksana tengkorak ini, berdiri angkuh seorang gadis cantik jelita berpakaian merah. Ambar Wati!

"Ya, aku. Kenapa? Kaget?! Tidak menyangka kalau aku masih hidup?!" Semakin sinis ucapan kakek kurus kering. "Dan perlu kalian tahu, aku telah tahu tindak-tanduk kalian. Dan sekarang, aku telah memutuskan untuk menghukum kalian!"

ENAM

Wajah anggota Iblis Baju Hitam yang pada pangkal lengan kanannya terbelit kain putih, semakin pucat. Seakan-akan pada wajahnya tidak mengalir darah! Dengan sepasang mata yang memancarkan ketakutan dan keterkejutan, kakinya melangkah mundur-mundur.

"Dan aku telah menemukan sebuah cara untuk menghukum pengkhianat-pengkhianat keji seperti kalian!" desis kakek kurus kering lagi, penuh dengan ancaman maut.

Tidak ada tindakan berarti dari anggota Iblis Baju Hitam yang tengah berhadapan dengan kakek kurus kering ini, selain langkah mundur-mundur dengan sikap amat takut.

Pada saat yang sama, kakek kurus kering langsung menjulurkan kedua tangannya ke atas, ke arah wajah patung kayu. Tingkahnya menunjukkan, kalau kakek berpakaian putih ini hendak mengambil benda bersinar yang terdapat pada dahi patung. Padahal, jelas terlihat kalau letaknya terlalu jauh untuk dijangkau tangan manusia biasa.

Tapi kakek kurus kering itu memang tidak bermaksud mengada-ada. Ketika uluran tangannya sudah seharusnya habis, tiba-tiba terdengar bunyi berkerotokan keras seperti ada tulang-tulang patah. Dan..., tangan-tangan itu bertambah panjang, sehingga, jari-jari tangan itu berhasil mencekal benda-benda bersinar yang ada pada dahi patung!

Di saat kakek kurus kering tengah berusaha mengambil benda-benda bersinar di dahi patung, kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh anggota Iblis Baju Hitam yang masih berusaha mundur. Kedua tangannya bergerak cepat. Dan seketika terdengar bunyi berkesiutan nyaring, saat belasan benda hitam yang tak lain paku-paku hitam; beracun ganas, meluruk ke arah dada, perut, dari ulu hati kakek kurus kering itu.

"Keparat!" Terdengar makian melengking nyaring. Menilik bunyinya, suara itu keluar dari mulut seorang wanita muda! Dan sekejap kemudian, sesosok bayangan merah berkelebat sambil menggerakkan tangannya.

Tring! Tring!

Terdengar bunyi berdenting nyaring berkali-kali, ketika gadis itu memapak serangan paku-paku beracun dengan pedangnya. Begitu bunyi itu lenyap, di depan kakek kurus kering telah berdiri Ambar Wati dengan sikap menantang. Pedangnya sudah terhunus di tangan kanan. Pada saat hilangnya bunyi benturan antara paku-paku dengan pedang di tangan Ambar Wati, kakek kurus kering itu tertawa bergelak.

Sepasang matanya bersinar-sinar, ketika menatap benda-benda bersinar sebesar buah salak, di kedua tangannya. Bentuk kedua ujungnya kerucut, seperti salak. Hanya saja, memiliki warna aneh. Kelihatan bening dan kemilau. Tapi, ternyata masing-masing memancarkan sinar berlainan. Yang satu biru, sedangkan yang lain merah!

Tawa kakek kurus kering yang keras dan menggema ke sekitar tempat itu, membuat dua anggota Iblis Baju Hitam lain yang masih sibuk bertarung, tahu akan adanya pendatang baru yang tangguh! Hampir berbareng keduanya menoleh. Dan wajah keduanya langsung berubah, ketika melihat sosok yang mengeluarkan tawa itu.

Sosok yang amat mereka kenal. Dengan kecepatan kilat, keduanya melesat dan berdiri di sebelah anggota Iblis Baju Hitam yang sudah sejak tadi menjauhi kakek kurus kering dengan langkah satu-satu.

"Ha ha ha...!" Kakek kurus kering tertawa bergelak sambil melangkah satu-satu. Dan langkah itu langsung diikuti tiga Iblis Baju Hitam. Hanya saja, langkah mereka mundur. Terlihat jelas, kalau tiga Iblis Baju Hitam ini gentar bukan kepalang menghadapi lawan kakek kurus kering ini.

"Kalian telah berani mengkhianatiku. Maka, sekarang aku akan menghukum kalian!" kakek kurus kering menggeram.

"Kami tidak mengkhianatimu, Ketua!" sergah salah seorang dari tiga Iblis Baju Hitam yang memiliki kain putih di kepala. Tidak keras suaranya.

"Kalau tidak, mengapa kalian tidak membalas dendam terhadap orang-orang dari Perguruan Baju Putih itu?! Mengapa selama ini kalian diam saja?! Dengan kemampuan kalian yang didapat dariku, tidak sulit untuk melakukan pembalasan!" balas kakek kurus kering dengan suara seperti menjerit.

"Bagaimana kami dapat melakukannya, Ketua?!" sahut anggota Iblis Baju Hitam yang mempunyai kain putih di pangkal lengan. "Mereka berjumlah banyak. Dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Kami akan tewas!"

"Alasan!" dengus kakek kurus kering, semakin beringas. "Aku tahu, hanya beberapa gelintir dari Pergurun Baju Putih yang memiliki kepandaian di atas kalian. Sisanya, sebagian besar hanya keroco-keroco! Kalau kalian benar sakit hati dan hendak membalas dendam, setidak-tidaknya merekalah yang dibinasakan! Gunakan siasat penyerangan pukul dan lari. Kucing-kucingan! Buat kekacauan. Buat mereka tidak tenang! Tapi, apa yang kulihat?! Kalian enak-enakan saja! Dan atas sikap kalian yang berani mengkhianatiku, dan juga berani membantahku, aku akan menghukum. Dan kalian boleh lihat, hukuman yang akan diterima!"

Kakek kurus kering yang ternyata pimpinan Tiga Iblis Baju Hitam, mengarahkan pandangan ke arah kelompok anak buah Macan Seratus Kuku, dan anak buah Ular Emas yang saat itu juga sedang mengarahkan pandangan pada mereka. Sementara, yang lain juga telah menghentikan pertarungan. Pemanah Sakti dan Ular Emas pun tidak berkelahi lagi.

"Seperti inilah hukuman yang akan kalian terima!" Kakek kurus kering menutup ucapannya yang setengah berteriak dengan membenturkan dua buah benda bersinar di tangannya. Seketika terdengar bunyi berdetak pelan, disusul kejadian yang membuat semua pasang mata yang berada di situ terbelalak lebar.

Dari ujung-ujung batu bersinar yang saling beradu, muncul seberkas cahaya berkilau laksana halilintar! Dan kilatan cahaya itu cepat meluncur ke arah Ular Emas!

"Akh...!” Ular Emas kontan menjerit menyayat hati ketika kilatan cahaya mirip halilintar itu mengenai tubuhnya. Api berkobar membungkus tubuhnya yang tinggi kurus! Meluncurnya cahaya seperti halilintar itu demikian cepat, sehingga Ular Emas tidak memiliki kesempatan mengelak.

"Ha ha ha...!" Kakek kurus kering tertawa bergelak mengiringi jeritan menyayat dari mulut Ular Emas. Kelihatan sekali kalau kakek berpakaian putih ini merasa gembira. Sementara berpasang-pasang mata yang lain menatap penuh kengerian. Sama sekali tidak disangka akan demikian dahsyatnya benda-benda bersinar itu.

"Bagaimana, Ambar?! Bagus bukan?! Ha ha ha...!"

"Bagus sekali, Guru," jawab gadis berpakaian merah ini setelah terlebih dulu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering dan seperti tercekik.

"Memang hebat sekali! Ha ha ha...!" Kakek kurus kering tertawa bergelak. "Dan untuk memperingati keberhasilanku mendapatkan benda ini aku akan membantai semua orang yang berada di sini. Ha ha ha...!"

Masih dengan tawa yang belum terputus, kakek kurus kering itu segera membentur-benturkan benda-benda bersinar yang ada di kedua tangannya. Maka kilatan-kilatan cahaya menyilaukan mata pun meluruk ke arah orang-orang yang berada di situ.

Tentu saja Pemanah Sakti, anak buah Ular Emas, dan anak buah Macan Seratus Kuku yang masih tersisa tidak tinggal diam. Kalau tidak ingin mati secara sia-sia mereka harus mengelak. Tapi entah mengapa, ada sebuah pengaruh aneh yang membuat sekujur otot tubuh mereka kaku. Tenaga mereka langsung lenyap begitu benda-benda bersilnar itu dibenturkan satu sama lain.

Maka, api pun seketika membungkus tubuh orang-orang yang malang itu. Sehingga dalam sekejapan mata, di tempati itu telah terdapat belasan gumpalan api. Di saat kakek kurus kering membantai tokoh-tokoh persilatan kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Tiga Iblis Baju Hitam untuk melesat kabur meninggalkan tempat ini.

"Jangan harap kalian akan dapat pergi dari sini dengan selamat!"

Belum lenyap gema suara tadi, tahu-tahu dengan ilmu meringankan tubuhnya yang jauh di atas Tiga Iblis Baju Hitam itu, kakek kurus kering itu melesat. Tubuhnya berjungkir balik melewati atas kepala, kemudian menjejak tanah di depan tiga orang bekas anak buahnya.

Tiga Iblis Baju Hitam terkejut bukan kepalang. Mereka pun sadar kalau melarikan diri tidak ada gunanya lagi. Jalan yang paling baik adalah melakukan perlawanan.

"Sebelum Ketua menjatuhkan hukuman pada kami bertiga, boleh kami mengajukan sebuah pertanyaan?!" Anggota Iblis Baju Hitam yang pada kepalanya terbelit kain putih, membuka suara.

"Katakan cepat, sebelum pikiranku berubah!" sentak kakek berpakaian putih, tidak sabar.

"Apakah Guru tidak ingin membalas dendam dan sakit hati pada Perguruan Baju Putih?!"

"Tentu saja!" sentak kakek kurus kering. "Tapi jangan harap kalian dapat membujukku untuk memberi ampun! Bagiku kalian tidak berguna lagi! Aku tahu, kau akan menawarkan bantuan! Bagiku, tidak ada artinya! Sekali berkhianat padaku, tidak ada kesempatan kedua untuk mengabdi! Jelas?! Aku akan pergi ke sana seorang diri, dan membasmi perguruan itu sampai musnah!"

Anggota Tiga Iblis Baju Hitam yang pada kepalanya terlilit kain putih langsung terdiam. Sama sekali tidak disangka kalau bekas ketua mereka itu telah lebih dulu mengetahui, ke mana arah pertanyaannya.

"Hih!" Dengan gerakan tidak terduga-duga, lelaki yang mempunyai ikat kepala kain putih ini melempar tubuh ke belakang. Dan di udara tubuhnya berjungkir balik, lalu meluncur ke arah Ambar Wati yang tengah melesat menuju tempat gurunya berada.

Ambar Wati terkejut mendapat serangan tidak terduga-duga. Namun, kelihaiannya membuatnya tidak menjadi gugup. Dengan kecepatan mengagumkan, pedang yang tadi sudah dimasukkan kembali ke sarungnya dicabut. Kemudian, cepat ditusukkannya ke arah leher anggota Iblis Baju Hitam.

Tapi, sambutan seperti ini sudah diperhitungkan anggota Iblis Baju Hitam yang mengenakan kain putih di kepala. Langsung dipapaknya tusukan pedang itu pada batangnya dengan mempergunakan lengan bajunya. Dan dengan mengandalkan tenaga lecutan ujung pergelangan tangan pada batang pedang, anggota Iblis Baju Hitam yang cerdik ini jungkir balik di udara lagi.

Tubuhnya cepat melewati kepala Ambar Wati, kemudian mendarat di belakangnya. Dan seketika jari-jari tangan lelaki berpakaian hitam ini telah menempel, sekaligus mengancam ubun-ubun gadis itu. Sedikit saja gerakan yang dilakukan Ambar Wati, nyawanya pasti bakal melayang ke alam baka.

"Lihat, Bandawasa...!" seru anggota Iblis Baju Hitam yang pada kepalanya melilit kain putih ini dengan nada menang karena berhasil menyandera Ambar Wati. "Sekali saja kau manampakkan gerakan mencurigakan, nasib muridmu hanya berakhir sampai di sini!"

Dua anggota Iblis Baju Hitam lain, sekarang mengerti maksud rekannya. Mereka pun menatap kakek kurus kering yang ternyata bernama Bandawasa, dengan sinar mata kemenangan. Mereka yakin kalau siasat ini akan berhasil gemilang.

Di luar dugaan, Bandawasa malah tertawa bergelak. Tiga Iblis Baju Hitam yang semula menyangka kalau Bandawasa akan kebingungan, karuan saja menjadi heran bercampur khawatir. Mereka mulai membaui adanya gelagat tidak baik.

"Kalian kira bisa mengancam Bandawasa?! Ha ha ha...! Kalian keliru! Keliru sekali! Apa pun yang kalian lakukan terhadap Ambar Wati muridku, aku tidak peduli. Yang penting, kalian, pengkhianat-pengkhianat busuk harus mampus di tanganku. Ha ha ha...!"

"Kau kira gertakan kami main-main, Bandawasa?!" ancam anggota Iblis Baju Hitam yang memiliki kain putih di kepalanya. "Kami tidak main-main! Justru kami gembira, sekalipun harus mati di tanganmu. Toh, ada orang yang menemani kami pergi ke alam baka. Seorang gadis cantik jelita yang menjadi muridmu!"

"Benar!" sambung Bandawasa, tidak peduli. "Kematian kalian akan cukup menyenangkan. Ha ha ha...!"

Anggota Iblis Baju Hitam mengarahkan pandangan pada dua rekannya yang sekarang telah berada di dekatnya. Sebagai tokoh golongan hitam yang kenyang pengalaman, mereka tahu kalau Bandawasa tidak berbohong. Laki-laki tua kurus kering ini tidak main-main dengan ucapannya. Bahkan tidak khawatir akan keselamatan muridnya.

"Guru...!" seru Ambar Wati, kaget melihat ketidak-pedulian sikap kakek kurus kering terhadap dirinya. Sejak tadi Ambar Wati hanya mendengarkan perdebatan antara gurunya dengan Tiga Iblis Baju Hitam. Semula gadis berpakaian merah ini mengira Bandawasa bersiasat. Tapi ketika keadaan mulai memanas dan sikap Bandawasa tidak berubah, baru disadari kalau sikap gurunya memang tidak main-main!

"Ngiiiing...!"

Di saat-saat menentukan bagi keselamatan Ambar Wati, terdengar bunyi mendenging. Kecil dan tinggi, namun semakin lama kian menjadi-jadi. Bahkan sampai menyakitkan telinga. Dan hal itu tidak hanya dirasakan Ambar Wati, tapi juga oleh Tiga Iblis Baju Hitam dan Bandawasa! Hanya saja tingkat, pengaruh pada mereka berbeda-beda.

Ambar Wati yang memiliki tingkat kepandaian paling rendah, sangat terpengaruh oleh suara itu. Bahkan kedua kakinya langsung terasa lemas. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya ambruk bagaikan sehelai kain basah.

Tiga Iblis Baju Hitam, tak terkecuali yang menyandera Ambar Wati, terpengaruh pula. Hanya saja, mereka tidak sampai ambruk ke tanah, walaupun terasa kalau tenaga mereka lenyap mendadak. Dengan sendirinya, jari-jari yang berada di ubun-ubun Ambar Wati agak bergeser jauh dari tempatnya.

Saat itulah, laksana hantu sesosok bayangan ungu berkelebat ke arah tempat di mana Ambar Wati berada. Dengan kecepatan mengejutkan hingga tidak terlihat jelas bentuknya, sosok bayangan itu menyambar tubuh murid Bandawasa, dan membawanya melesat menjauhi tempat ini.

Begitu bayangan ungu yang menyambar Ambar Wati pergi, Tiga Iblis Baju Hitam berhasil menguasai keadaan. Bagi orang yang memiliki tenaga dalam seperti mereka, pengaruh lengkingan tinggi yang disertai tenaga dalam tinggi itu, tidak berpengaruh terlalu lama. Hanya sebentar saja, kelumpuhan mereka dapat terbebaskan. Meskipun demikian, waktu yang sebentar itu telah cukup bagi orang yang mengeluarkan lengkingan untuk menyelamatkan Ambar Wati.

Bagai diberi perintah, Bandawasa dan Tiga Iblis Baju Hitam menoleh ke arah sosok bayangan ungu yang membawa lari Ambar Wati itu meluncur. Dan beberapa tombak dari tempat mereka, sosok bayangan ungu itu berdiri dengan sinar mata tajam menatap ke arah Bandawasa dan tiga orang bekas muridnya. Ambar Wati yang hanya lemas, digeletakkan sosok bayangan ungu di tempat yang cukup aman.

"Dewa Arak...!"

Hampir berbareng, seruan itu keluar dari mulut Bandawasa dan tiga Iblis Baju Hitam ketika mengenali sosok yang berdiri dengan sikap tenang. Semula keempat orang ini merasa heran terhadap sosok bayangan ungu. Karena, mereka tahu kalau pemilik lengkingan itu adalah orang yang memiliki tenaga dalam amat tinggi. Dan sudah pasti memiliki kepandaian luar biasa. Dan begitu melihat Dewa Arak, mereka tidak merasa heran lagi. Dewa Arak memang memiliki kepandaian luar biasa.

Sosok bayangan ungu yang memang Dewa Arak menatap keempat orang yang berdiri di depannya, sekilas. Kemudian perhatian dialihkan pada onggokan mayat yang telah menjadi daging hangus, sejenak. Pemuda berambut putih keperakan ini mengernyitkan alis, karena merasa heran melihat keadaan mayat-mayat itu. Sebagai pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, Arya tahu kalau mayat-mayat itu tewas karena hantaman sebuah pukulan jarak jauh yang mengandung hawa panas amat tinggi.

Arya telah bertarung melawan Tiga Iblis Baju Hitam. Dan tingkat kepandaian mereka telah bisa diukurnya. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu, tiga tokoh golongan hitam itu tidak akan mampu melakukan hal demikian. Tingkat tenaga dalam Tiga Iblis Baju Hitam tidak setinggi itu! Maka, pemuda berpakaian ungu ini menduga kalau pelakunya pasti Bandawasa.

"Ha ha ha...! Dewa Arak...!" Bandawasa tertawa bergelak setelah tercenung sejenak, tidak menyangka kalau pemuda berambut putih keperakan yang terkenal ini bisa berada di tempat ini. "Syukur kau bisa datang ke tempat ini! Dan memang, aku bermaksud untuk menjumpaimu. Sudah lama aku ingin merasakan kelihaianmu! Meskipun, berita yang kudengar tentang dirimu menakjubkan! Benarkah kau memiliki kepandaian seperti yang digembar-gemborkan dunia persilatan?! Tapi, sebelum itu kau hendak kuberikan sebuah suguhan menarik! Lihatlah baik-baik, Dewa Arak...!"

Trakkk!

Bunyi berdetak pelan terdengar, ketika Bandawasa membenturkan benda-benda bersinar pada kedua tangannya. Tiga kali berturut-turut, dengan sasaran tertuju pada Tiga Iblis Baju Hitam.

Tiga Iblis Baju Hitam yang memang sudah bersiap untuk menghadapi serangan mengerikan itu, terperanjat bukan kepalang. Bunyi beradunya dua benda bersinar itu di telinga mereka, bagaikan guntur menggelegar yang menyambar! Dan lagi, ada pengaruh aneh yang membuat tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali. Kaku seperti tertotok!

Dan Tiga Iblis Baju Hitam langsung dapat mengetahui akan adanya pengaruh aneh dan tidak wajar itu. Dan di saat, kilatan cahaya laksana halilintar menyambar, mereka mengerahkan kekuatan batin untuk melawan pengaruh tidak wajar. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkan tenaga dalam.

"Akh!" Dua dari Tiga Iblis Baju Hitam mengeluarkan lolongan menyayat hati, ketika kilatan cahaya laksana halilintar itu mengenai tubuh mereka. Kedua orang ini memang berhasil membebaskan diri dari pengaruh tidak wajar, dan langsung bertindak mengelak.

Tapi kilatan cahaya laksana halilintar itu telah lebih dulu menerjang! Iblis Baju Hitam yang pada kepalanya terlilit kain putih yang mendapat giliran serangan lebih dulu, terkena telak pada dadanya! Sedangkan rekannya, hanya terkena pahanya. Kendati demikian, akibat yang diperoleh tidak berbeda. Sekujur tubuh mereka hangus! Bau sangit daging terbakar pun memenuhi sekitarnya.

Sepasang mata Dewa Arak sampai terbelalak saking kagetnya melihat pemandangan yang terpampang di depan. Dia tidak pernah mengira ada sepasang benda yang demikian mengerikan akibatnya. Sekarang langsung dimengerti, penyebab banyaknya onggokan mayat dalam keadaan terbakar memenuhi sekitar tempat ini.

Sementara itu, sisa anggota Tiga Iblis Baju Hitam hanya sebentar saja terkesima melihat kejadian yang menimpa rekan-rekannya. Karena kemudian, dengan kecepatan menakjubkan, dia melompat menerjang Bandawasa, laksana seekor harimau menerkam mangsa.

"Terimalah kematianmu, Pengkhianat Busuk!"

Trakkk!

Anggota Tiga Iblis Baju Hitam yang terakhir pun menemui ajalnya seperti yang diterima kedua rekannya. Di saat tubuhnya melayang di udara, kilatan cahaya halilintar menyambutnya. Dan, tokoh sesat yang malang itu tewas sebelum mencium tanah.

"Ha ha ha...!" Bandawasa tertawa bergelak sambil memandang Arya dengan sinar mata penuh kebanggaan. "Bagaimana, Dewa Arak?! Apakah senjataku ini tidak hebat?!"

Walaupun jantung dalam dada berdetak jauh lebih cepat, Dewa Arak tetap bersikap tenang. "Sebuah senjata yang mengerikan!"

Terdengar tenang jawaban pemuda berambut putih keperakan itu, kendati di benaknya bergayut pertanyaan yang bergumpal-gumpal. Dewa Arak merasa heran, mengapa Tiga Iblis Baju Hitam sepertinya tidak berusaha mengelakkan serangan itu. Padahal diyakini, apabila Tiga Iblis Baju Hitam itu bertindak cepat, kilatan cahaya laksana halilintar itu tidak akan mengenainya!

Tapi, Dewa Arak tidak terlalu lama tenggelam dalam alun pertanyaan itu. Dia adalah pemuda yang telah kenyang pengalaman, tak terkecuali yang aneh-aneh. Oleh karena itu, cepat dapat diduga akan adanya hal yang tidak beres di sini. Ada sesuatu yang membuat Tiga Iblis Baju Hitam tidak bisa bertindak tanggap.

TUJUH

Bandawasa tertawa. "Istilah yang kau gunakan memang tepat, Dewa Arak. Tapi tidak usah khawatir. Aku tidak akan menggunakan benda-benda ini terhadapmu. Mengapa? Karena kau tidak bisa disamakan dengan keroco seperti mayat-mayat yang kau lihat bergeletakan di sekitar tempat ini. Mereka tong-tong kosong yang tidak ada artinya. Dan aku tidak ingin mengotori tanganku untuk bersentuhan langsung dengan keroco-keroco seperti, itu! Dan lagi, aku ingin menguji kepandaianmu, Dewa Arak. Aku ingin bukti, benarkah kabar yang kudengar di dunia persilatan?! Memang, aku sudah bisa memperkirakannya. Karena, kudengar kau mampu menahan tiga orang muridku itu. Mereka telah mewarisi sebagian besar kepandaianku. Bila mereka bertiga tidak mampu mengalahkanmu, telah menjadi pertanda kalau pantas menjadi lawanku! Cukup berharga!"

Meski agak kaget karena tidak menyangka kalau Tiga Iblis Baju Hitam adalah murid Bandawasa, Arya tidak menampakkan keterkejutannya.

"Tapi, asal kau tahu saja, Dewa Arak. Aku suka bermain-main dulu, sebelum bertarung sungguh-sungguh. Apalagi, bila lawan yang akan kuhadapi tokoh terkenal seperti kau! Aku jadi lebih bersemangat lagi untuk bermain-main. Dan mungkin, kita akan bermain lebih lama daripada pertarungan yang sesungguhnya."

Seperti tidak sedang menghadapi lawan tarung yang tangguh, Bandawasa mengedarkan pandangan berkeliling. Sepasang matanya berseri, ketika melihat dua buah batu sebesar gajah tak jauh dari tempat itu.

"Kau lihat itu, Dewa Arak. Batu-batu kecil itu?!" kata Bandawasa, enak saja menyebutkan batu yang besarnya mungkin dua puluh kali orang, sebagai batu kecil. "Kita akan bermainmain mempergunakan kerikil-kerikil itu."

"Aku masih belum jelas dengan permainan yang kau maksudkan, Kisanak. Dan lagi, aku tidak ingin bermain-main. Keberadaanku di sini bukan untuk bertarung atau bermain-bermain denganmu. Tapi karena mendengar akan adanya keramaian di tempat ini."

"Tapi, kau telah berani mencampuri urusanku!" sentak Bandawasa, langsung menutup senyum yang terkembang di bibirnya.

"Aku hanya menolong seorang gadis yang tidak berdaya dan tengah terancam maut," bantah Arya.

"Gadis itu muridku, Dewa Arak!" semakin meninggi nada suara Bandawasa. "Begitu juga, tiga orang yang tewas oleh senjataku yang mukjizat. Dan kau telah berani-beraninya mencampuri urusan perguruan orang lain. Kemudian dengan seenaknya mengundurkan diri! Ataukah, kau takut untuk bertarung atau bermain-main denganku?! Kalau demikian, tentu saja aku tidak memaksa. Tapi sebelum pergi, harap kau mengangguk tanda menyerah dan takluk padaku! Delapan kali kau harus melakukannya, disertai ucapan minta maaf!"

"Aku sama sekali tidak takut!" tegas Dewa Arak, dengan wajah merah padam. Hatinya benar-benar tersinggung mendapat makian seperti itu.

"Ah...! Kau seorang yang berjiwa gagah rupanya? Tidak takut?! Kalau begitu, buktikan ucapanmu! Jangan hanya bersesumbar saja, tanpa bukti nyata!" ujar Bandawasa semakin memanas-manasi.

"Baiklah kalau demikian, Kisanak. Kaulah yang memaksaku. Dan...."

"Namaku Bandawasa, Dewa Arak. Panggillah aku dengan namaku. Dan kuharap, kau tidak usah banyak berbasa-basi lagi, seperti nenek-nenek bawel kehilangan sirih! Kalau memang bukan seorang pengecut, bersiaplah untuk memulai permainan di antara kita!"

"Kau yang mengajukan tantangan, Bandawasa! Jadi, silakan atur permainan yang kau inginkan! Aku akan mencoba menghadapinya!" tandas Dewa Arak, mantap.

"Bagus!" seru Bandawasa gembira. "Aku akan memberi kerikil-kerikil itu satu persatu kepadamu. Dan kau harus memberikan padaku, sebelum kerikil yang kedua kulemparkan. Jadi, kita saling mendahului memberikan kerikil. Dari permainan ini, bisa kulihat kekuatan tenaga dalam dan kelincahanmu. Pantaskah untuk bertarung denganku?!"

"Aku sudah mengerti. Mulailah, Bandawasa!"

"Baik! Terima ini, Dewa Arak!"

Bandawasa memperingatkan, setelah berada di dekat batu-batu sebesar gajah. Dan dengan ujung kaki, dicungkilnya salah satu. Perlahan saja kelihatannya, bagai tidak mengerahkan tenaga sama sekali. Tapi hebatnya, batu sebesar gajah itu seperti bagai kerikil melayang ke atas, langsung diterima kedua tangan Bandawasa. Dan seketika itu pula, dilemparkannya pada Dewa Arak.

Tappp!

Batu sebesar gajah itu saja sudah berat bukan kepalang. Apalagi ditambah tenaga lontaran Bandawasa yang disertai pengerahan tenaga dalam. Tapi, toh Dewa Arak mampu menangkapnya dengan kedua tangan tanpa terhuyung. Bahkan kedudukan kakinya tidak goyah sama sekali. Hanya saja pemuda berambut putih keperakan itu merasakan kedua tangannya bergetar hebat.

Dewa Arak tidak peduli sama sekali. Begitu batu sebesar gajah itu telah berhasil ditangkap, langsung dilemparkan kembali pada Bandawasa. Dan pada saat yang bersamaan, Bandawasa pun melemparkan batu besar yang satu lagi. Hampir berbareng, Arya dan Bandawasa menerima. Dan kemudian, masing-masing melemparkannya lagi.

Mula-mula batu-batu besar itu bergerak ke arah Dewa Arak dan Bandawasa sama gencarnya. Masing-masing pihak menerima batu dan melemparkannya tanpa menemui kesulitan sama sekali. Dan ini berlangsung sampai cukup lama, sehingga membuat Bandawasa kagum bukan kepalang. Biasanya setiap kali menguji lawannya, hanya dalam belasan kali lontaran batu, Bandawasa sudah unggul. Batu-batu yang dilemparkan lebih gencar tertuju pada lawannya.

Bandawasa baru satu batu diterima, batu lain telah menyusul untuk lawannya. Tapi kali ini tidak! Telah puluhan kali batu besar itu dilontarkan Bandawasa, tapi mampu ditanggulangi Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu mampu mematahkan serbuan batu yang dikirimkan Bandawasa, malah mampu melancarkan serbuan yang tidak kalah gencarnya.

Bandawasa bukan orang bodoh! Setelah hampir seratus kali batu itu terlempar, namun Dewa Arak tidak terlihat terdesak. Dan kini kakek kurus kering ini mulai membaui adanya gelagat yang tidak menguntungkan. Ternyata Dewa Arak memiliki tenaga dalam dan kelincahan tidak berada di bawahnya. Malah mungkin satu tingkat di atasnya.

Jadi, yang menentukan dalam kemenangan adu lempar-lemparan batu ini adalah kekuatan napas dan kekuatan tubuh! Dan tentu saja dalam hal ini Dewa Arak yang memiliki tubuh lebih kokoh dan masih muda, mempunyai kekuatan lebih baik ketimbang Bandawasa yang telah berusia amat lanjut.

Maka ketika Dewa Arak melempar batu untuk yang kesekian ratus kalinya, Bandawasa tidak langsung melemparkan batu yang baru diterimanya. Batu itu ditahannya sejenak, dan langsung dilemparkannya ketika batu dari Dewa Arak meluncur!

Blarrr!

Batu-batu sebesar gajah itu hancur berantakan, ketika berbenturan di udara. Keras bukan kepalang, karena Bandawasa memang sengaja mengadunya. Pecahan-pecahan kecil-kecil berpentalan ke sana kemari. Bahkan beberapa di antaranya meluncur ke arah dua pihak yang bertarung. Bandawasa yang memang sudah menduga, dengan mudah memunahkan luncuran batu-batu kecil yang menuju ke arahnya. Beberapa bagian tubuh yang tidak berbahaya, dibiarkan saja dihantam kepingan-kepingan batu.

Sementara bagian yang berbahaya dihalau dengan hantaman kedua tangan. Dewa Arak yang tidak menduga, agak kerepotan karena pecahan-pecahan batu itu terlalu banyak. Malah sebagian besar menuju ke arahnya. Dan memang, ini sudah diperhitungkan masak-masak oleh Bandawasa! Tapi seperti juga Bandawasa, ternyata Dewa Arak memiliki kemampuan tinggi. Sehingga dia tidak mengalami kejadian tak diharapkan.

"Ternyata kau cukup berharga untuk menjadi lawanku, Dewa Arak!"

Belum hilang gema ucapan itu, Bandawasa telah menerjang Dewa Arak. Kakek kurus ini mulai melakukan serangan yang diiringi bunyi bercicitan. Bandawasa membuka serangannya dengan sebuah totokan satu jari yang bertub-itubi ke arah berbagai bagian berbahaya di tubuh Dewa Arak.

Arya tidak berani memandang remeh meski serangan lawan hanya dilakukan satu jari. Dia tahu, pada seorang tokoh yang memiliki tenaga dalam sekuat Bandawasa, serangan satu jari tidak kalah berbahaya dengan pukulan atau tendangan. Bahkan serangan itu lebih berbahaya, karena angin serangannya saja mampu melukai kulit, laksana bacokan pedang.

Tahu kalau lawan menggunakan ilmu andalan, Dewa Arak tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan ilmu 'Belalang Sakti'. Hanya dalam sekejapan, kedua tokoh sakti ini telah terlibat pertarungan. Bandawasa mulai merasa tidak sabaran ketika pertarungan telah menginjak jurus kelima puluh, tapi belum mampu mendesak Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu terlalu gesit dan lincah. Betapapun Bandawasa telah berusaha keras, namun tetap tidak bisa menjatuhkan serangan.

Memang, lewat jurus 'Delapan Langkah Belalang', dengan gerak terhuyung-huyung dan lemas seperti orang mabuk, Dewa Arak selalu dapat mementahkan serangan. Sebaliknya, serangan Arya sendiri yang mempergunakan jurus 'Belalang Mabuk' terlihat bagaikan gelombang laut yang berusaha menggulung Bandawasa.

Plak, plakkk!

Untuk kesekian kalinya, dua buah tendangan bertubi-tubi Bandawasa berbenturan dengan tangkisan Dewa Arak. Kali ini, tidak seperti sebelumnya, tapi Bandawasa terlihat agak terpelanting dan hampir terjengkang.

Pertarungan berhenti sejenak. Kedua belah pihak sama menatap dalam jarak sekitar tiga tombak. Dan Dewa Arak tampak dibasahi peluh. Tapi napasnya biasa saja. Tidak demikian halnya Bandawasa! Di samping dahinya, leher, dan wajahnya pun dibasahi peluh. Bahkan napasnya agak memburu menandakan kalau kakek kurus kering ini telah agak lelah.

"Sebetulnya, aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri, Dewa Arak. Tapi..., sayang sekali. Saat ini aku tengah terburu-buru. Ada tugas lain yang hendak kulakukan. Aku tidak mempunyai waktu lebih lama lagi denganmu."

Bandawasa kemudian mengambil benda-benda bersinar yang tadi telah diselipkan di pinggang. Tentu saja Dewa Arak jadi tercekat. Telah dilihatnya sendiri, akibat kilatan cahaya yang keluar dari benda bersinar itu pada Tiga Iblis Baju Hitam. Maka pemuda berambut putih keperakan ini bersikap waspada. Dia bersiap-siap, apabila Bandawasa mulai mengadu benda-benda bersinar itu.

Trakkk!

Dewa Arak baru tahu, mengapa Tiga Iblis Baju Hitam bersikap kurang tanggap untuk mengelak. Begitu benda-benda bersinar itu dibenturkan satu sama lain, terdengar bunyi laksana guntur! Begitu keras, sehingga Dewa Arak khawatir kalau-kalau telinganya menjadi tuli. Di samping itu, ada sebuah kekuatan aneh yang membuat tubuhnya sulit digerakkan. Otot-otot tubuhnya seperti lumpuh. Bahkan tenaga dalamnya lenyap entah ke mana.

Tapi, Dewa Arak bukan pendekar kemarin sore. Telah ratusan kali dia bertarung menghadapi Iawan, yang memiliki ilmu-ilmu aneh. Maka menghadapi serangan seperti ini, Dewa Arak langsung dapat merasakan adanya hal tidak wajar. Seketika kekuatan batinnya dikerahkan. Dan segera tenaga dalamnya dibangkitkan kembali, lalu disalurkan ke seluruh tubuh. Kemudian, pemuda berambut putih keperakan ini melompat untuk menjauh.

Glarrr!

Sebatang pohon besar yang berada cukup jauh di belakang Dewa Arak, kontan menjadi sasaran serangan nyasar itu. Seketika, batang pohon itu berikut daun, cabang, dan rantingnya hangus terbakar. Kepulan asap langsung membumbung tinggii ke udara. Asap tipis.

"Kau hebat, Dewa Arak!" puji Bandawasa gembira. Dia melihat pemuda berambut putih keperakan itu berhasil meloloskan diri dari kilatan cahaya maut yang berasal dari benturan benda-benda bersinar yang ada di kedua tangannya.

"Tapi, jangan berbesar hati dulu. Sekarang, kau terima ini!"

Tanpa memberi kesempatan pada Arya untuk memperbaiki kedudukan, Bandawasa membenturkan benda-benda bersinar yang ada pada kedua tangannya berkali-kali, saat melihat pemuda berambut putih keperakan itu baru saja menjejak tanah.

Sekali benturan, benda-benda bersinar itu saja sudah menimbulkan akibat demikian dahsyat. Apalagi, dibenturkan berkali-kali. Dewa Arak seperti mendengar ada persaingan bunyi halilintar. Getaran demi getaran melanda dada, setiap kali benda-benda bersinar itu dibenturkan. Dan cekaman kekuatan kasat mata menyerang, yang melumpuhkan otot-otot tubuh Dewa Arak semakin bertumpuk.

Namun, Dewa Arak telah memusatkan perhatian untuk membutakan mata hatinya. Maka pengaruh yang mencekam itu bagai tidak terasa. Pemuda berambut putih keperakan ini berlompatan ke sana kemari, untuk mengelakkan serangan-serangan kilatan cahaya laksana halilintar itu! Hasilnya, terjadi sebuah pertandingan menarik. Arya berlompatan ke sana kemari dan dikejar-kejar kilatan-kilatan cahaya halilintar.

Dewa Arak yang kenyang pengalaman tahu, jika keadaan seperti itu terus berlangsung, akan menderita kerugian. Tenaganya akan habis terkuras. Dan dia akan kelelahan! Maka meski mengelak, dicarinya bersiasat. Pada saat mengelak, didekatinya Bandawasa. Paling tidak agar dapat melancarkan serangan. Dewa Arak tahu dalam jarak dekat, benda-benda bersinar itu kurang bisa menunjukkan kegunaannya.

Tapi, Bandawasa tidak kalah cerdik. Begitu melihat Dewa Arak mendekati tempatnya, dia malah menjauh. Sehingga jarak antara dia dan Dewa Arak tetap tidak berubah. Tindakan dua tokoh yang bertarung ini, menyebabkan tempat pertarungan bergeser!

Trakkk!

"Ah!" Dewa Arak terperanjat bukan kepalang. Saat tubuhnya melayang, kilatan-kilatan cahaya mirip halilintar itu meluncur ke arahnya. Semuanya tertuju ke arah tempat yang akan dijadikan elakan atau meloloskan diri bagi Dewa Arak. Jelas jalan keluar untuk lolos telah terkepung.

Namun Dewa Arak benar-benar menakjubkan. Ilmu 'Belalang Sakti' memang membuatnya seperti dapat terbang. Laksana seekor ikan, tubuhnya melenting. Tapi, toh tetap saja kilatan cahaya itu memburu meski yang tertuju bukan bagian berbahaya. Hanya betis kanan.

Meski demikian, Dewa Arak tidak berani bertindak gegabah. Dia tahu, biar bagaimana akibatnya akan sama. Telah disaksikan sendiri oleh Dewa Arak, nasib yang menimpa salah seorang dari Tiga Iblis Baju Hitam.

Di saat-saat gawat di mana maut telah berada di ujung hidung, Dewa Arak masih sempat berpikir jernih. Tangannya segera dijulurkan, untuk menjemput guci yang tersampir di punggung. Kemudian dengan senjata andalannya kilatan cahaya yang tidak mungkin dapat dielakkan lagi dipapaknya.

Blarrr!

Tubuh Dewa Arak terpental jauh ke belakang, begitu kilatan cahaya itu berbenturan dengan guci. Seketika guci terbuat dari perak itu pun terlepas dari pegangan, dan terpental terpisah dari Arya.

"Ha ha ha...!" Bandawasa tertawa bergelak ketika melihat tubuh Dewa Arak terpental, seperti daun kering dihempas angin. Tubuhnya melayang-layang sejauh belasan tombak, kemudian jatuh di kerimbunan semak-semak yang lebat. Kakek kurus kering ini yakin, Dewa Arak yang tangguh telah tewas.

Dengan tawa masih keluar dari mulutnya, Bandawasa melesat meninggalkan tempat itu. Kegembiraan hatinya melihat Dewa Arak yang menurutnya sudah tewas, membuat Bandawasa lupa akan muridnya. Ambar Wati yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan, masih tetap bertiarap. Gadis itu khawatir, tersambar kilatan cahaya halilintar yang-nyasar tadi.

DELAPAN

Ambar Wati tetap tidak berani bangkit dari telungkupnya, kendati suara tawa Bandawasa sudah tidak terdengar lagi. Gadis itu tetap menunggu beberapa saat, dengan sikap seperti itu. Baru setelah dirasakan keadaan sudah aman, dia bangkit. Itu pun dengan takut-takut. Kepala gadis berpakaian merah ini menoleh ke sana kemari.

Setelah yakin kalau Bandawasa tidak berada di situ lagi, dan mungkin sudah jauh, Ambar Wati baru berlari-lari kecil menuju tempat tubuh Dewa Arak terjatuh.

Srakkk!

Dengan perasaan tidak sabar, Ambar Wati menguak kerimbunan semak-semak tempat tubuh Dewa Arak jatuh. Dan tangannya tetap menguak semak. Sepasang matanya terbelalak lebar ketika melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya.

Sekitar satu tombak dari tempat Ambar Wati berada, tergolek sesosok tubuh. Dan yang membuat gadis berpakaian merah ini terbelalak, karena yang tergolek adalah Dewa Arak!

Padahal, biasanya setiap orang yang terkena kilatan cahaya yang keluar dari benda-benda bersinar itu tak ketahuan lagi bentuknya. Yang tinggal hanya onggokan daging berbentuk manusia.

Keanehan ini membuat Ambar Wati untuk beberapa saat berdiri terpaku bagai orang tersihir! Keadaan Dewa Arak membuat gadis berpakaian merah ini mempunyai dugaan, kalau pemuda berambut putih keperakan ini belum mati!

Setelah sadar dari cekaman perasaan kaget, Ambar Wati melangkah hati-hati mendekati Dewa Arak. Dia lalu berjongkok dan memeriksa keadaan pemuda berambut putih keperakan itu. Dan Ambar Wati jadi takjub ketika mendapat kenyataan kalau pemuda itu benar-benar tidak tewas. Hanya pingsan saja.

Dengan tangan agak menggigil karena cekaman perasaan tegang, Ambar Wati mengambil sebuah guci kecil yang masih tersumbat dari balik pinggang. Dibukanya sumbat guci, dan didekatkan guci yang telah terbuka sumbatnya pada hidung Dewa Arak.

Seketika bau yang keras pun tercium dari dalamnya. Ambar Wati berusaha merangsang kesadaran Arya dengan bau-bauan keras. Tindakan gadis berpakaian merah ini tidak berhenti sampai di situ. Sementara tangan kiri memegangi guci, tangan kanan sibuk memijit-mijit tengkuk Arya. Ini dilakukan untuk lebih mempercepat timbulnya kesadaran pemuda berambut putih keperakan itu.

"Uuhhh...!" Hanya dalam waktu sebentar saja, terdengar keluhan dari mulut Arya. Sepasang mata pemuda ini pun terbuka, dan langsung terbelalak ketika melihat seraut wajah yang berada di dekatnya. Agak terburu-buru pemuda berambut putih keperakan ini bangkit dari berbaringnya.

"Apa yang terjadi...?! Mana dia...?!" tanya Arya, ketika telah duduk. Sedangkan sepasang matanya mengedar ke sekeliling mencari-cari.

"Dia telah pergi. Mungkin dikira kau sudah mati," jawab Ambar Wati. Meski Arya belum mengatakannya secara jelas, tapi bisa diperkirakan kalau yang dimaksud adalah Bandawasa.

Jawaban Ambar Wati membuat Arya tercenung sejenak. Dia berusaha mengingat-ingat. Hanya sesaat saja pemuda ini telah langsung teringat kejadian yang dialaminya.

"Kau.... Kau luar biasa sekali, Dewa Arak," ujar Ambar Wati tanpa menyembunyikan perasaan heran dan kagumnya. "Dari sekian banyaknya orang yang kulihat, hanya kau yang tidak tewas terkena kilatan cahaya dari benda-benda bersinar itu.

"Bukan akunya yang luar biasa, Ambar. Tapi yang jelas, yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati. Mungkin..., karena guci arakku," Arya melemparkan dugaan, sekenanya. Tapi pernyataan itu memang ada benarnya. Guci arak yang terbuat dari perak pemberian gurunya, Ki Gering Langit, memang bukan guci sembarangan.

"Jadi..., guci itu merupakan guci pusaka?!" Ambar Watimeminta penegasan.

"Begitulah kira-kira," jawab Arya tidak pasti. "Mungkin guci itu telah membuat kedahsyatan kilatan cahaya halilintar itu punah. Atau, hanya berkurang separonya. Dan akibatnya, aku tidak mati. Melainkan, pingsan saja. Kendati demikian, aku tidak akan berani mencoba kedahsyatan kilatan cahaya itu dengan guciku lagi. Aku tidak berani mempertaruhkan nyawaku."

Ambar Wati terdiam. Kini dia tahu, Arya berhasil selamat dari kilatan cahaya itu karena guci araknya.

"O, ya. Di mana guciku itu?!" tanya Arya sambil mengedarkan pandangan berkeliling ketika tidak melihat keberadaan guci itu di dekatnya.

"Kulihat guci itu terlempar ke sana," tunjuk Ambar Wati sambil menudingkan jari ke satu arah.

Tanpa membuang-buang waktu, Arya segera bangkit dan berjalan menuju ke arah yang ditunjuk Ambar Wati.

"Aku ingin minta maaf padamu, Dewa Arak. Eh..., Arya," ujar Ambar Wati ketika pemuda berambut putih keperakan itu telah berhasil mendapatkan gucinya.

"Minta maaf, Ambar?! Untuk apa?! Sepengetahuanku, kau tidak mempunyai salah apa-apa padaku?" tanya Arya, sambil mengernyitkan kening.

Dewa Arak jadi heran mendengar ucapan gadis berpakaian merah itu. Ditatapnya wajah Ambar Wati untuk melihat, apa yang dimaksud gadis berpakaian merah itu. Tapi karena Ambar Wati menundukkan wajah, Arya jadi tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Sebenarnya, Arya sudah merasa heran ketika mengetahui kalau Ambar Wati mempunyai guru orang seperti Bandawasa. Sepengetahuan dan sepanjang yang dialaminya, kakek kurus kering itu bukan orang baik-baik. Dan keheranannya bertambah ketika mengetahui Tiga Iblis Baju Hitam mempunyai hubungan perguruan dengan Ambar Wati. Tapi, Arya belum mau menanyakannya. Dan dia menunggu saat yang tepat.

"Aku telah membohongimu. Aku telah mengarang sebuah cerita dusta untuk mengelabuimu," jelas Ambar Wati dengan suara semakin pelan dan kepala kian menunduk dalam-dalam.

"Jadi..., cerita yang pemah kau utarakan padaku itu cerita dusta belaka?!" kata Arya setelah tercenung sejenak. "Bisa kau ceritakan padaku kisah yang sebenarnya?!"

"Dengan senang hati," jawab Ambar Wati. "Tapi, aku khawatir kau akan membenciku setelah kuceritakan hal yang sebenarnya."

"Percayalah. Aku bukan orang seperti itu," Arya berusaha menenangkan hati Ambar Wati.

"Tapi aku orang jahat, Arya. Aku yakin, kau akan membenciku apabila telah mendengar apa yang kuceritakan," Ambar Wati tetap masih merasa khawatir.

"Andaikata benar demikian, ucapanmu yang sekarang telah membuktikan kalau kau telah menyadari ketidak-benaran sikapmu yang lalu. Mana mungkin aku bisa membenci orang yang telah menyadari kesalahannya. Ceritakanlah, Ambar. Tidak usah merasa ragu-ragu lagi."

Ambar Wati tidak langsung bicara. Dia tercenung sebentar seperti ada yang dipikirkannya. "Guruku bernama Bandawasa, ketua sebuah perkumpulan yang bernama Perkumpulan Baju Hitam. Tiga orang yang kau kenal sebagai Tiga Iblis Baju Hitam, adalah murid-murid utamanya. Dan sesuai pakaiannya, Perkumpulan Baju Hitam merupakan perkumpulan yang terdiri dari orang-orang golongan hitam. Murid-murid perkumpulan itu sering melakukan kejahatan. Karenanya, banyak tokoh golongan putih yang tidak senang dan menentang. Di antaranya, Perguruan Baju Putih. Dalam sebuah pertikaian, tiga murid utama Perguruan Baju Hitam menewaskan putra Ketua Perguruan Baju Putih yang membuat sang Ketua murka. Bersama seluruh anak buahnya, dia memimpin penyerbuan ke Perguruan Baju Hitam. Maka pertempuran sengit terjadi. Dan hasilnya Perguruan Baju Hitam musnah! Apalagi pada saat itu, tiga murid utama yang diandalkan tidak berada di tempat. Guru sendiri terluka parah, dan berhasil melarikan diri melalui pintu rahasia bersamaku. Lima tahun guru mengasingkan diri bersamaku untuk mengobati luka dan mempertinggi kepandaian yang dimiliki. Memang, kejadian yang kuceritakan itu berlangsung lebih dari lima tahun lalu. Hampir enam tahun."

Ambar Wati menghentikan cerita. Dipergunakannya kesempatan itu untuk melihat tanggapan Arya. Tapi pemuda berambut putih keperakan itu sama sekali tidak bersuara seperti menunggu kelanjutan cerita.

"Meski telah sembuh dari luka-lukanya dan menambah kepandaian, guru mempunyai sebuah rencana untuk membalas dendam. Sementara itu, semua tokoh persilatan tahu kalau di sebuah puncak bukit yang bernama puncak Kabut Putih, terdapat sebuah bangunan kuno tempat tinggal para Brahmana. Menurut cerita, belasan tahun lalu para Brahmana-brahmana yang seperti membentuk sebuah perkumpulan, mempunyai seorang ketua yang telah mendapat anugerah dewa. Dalam sebuah penyepiannya, pimpinan Brahmana yang telah meninggal beberapa tahun lalu, mendapat dua buah benda sakti yang berupa batu intan permata yang berwarna biru dan merah. Intan itu dianugerahkan dewa, agar Brahmana yang baik hati ini mempergunakannya untuk mencegah terjadinya bencana. Dan memang, menurut cerita belasan tahun lalu, banjir besar melanda. Air sungai meluap, menghancurkan desa-desa yang berada di bawahnya. Dengan menggunakan benda-benda itu berdasarkan wangsit yang didapatkan, Brahmana itu berhasil mencegah terjadinya banjir, dengan cara meruntuhkan tebing-tebing gunung."

"Pasti benda-benda bersinar yang kau maksud sebagai intan biru dan merah itu yang berada di tangan Bandawasa sekarang," duga Arya, mulai paham jalan ceritanya.

"Benar."

"Hanya demikian cerita yang hendak kau sampaikan, Ambar?! Dan kau menganggap dirimu jahat?! Aku sama sekali tidak melihat kejahatanmu!" celetuk Arya heran.

"Ceritaku belum selesai, Dewa Arak!" sahut Ambar Wati, buru-buru.

"Maaf."

"Karena keinginan untuk membalas dendam itulah, guru berniat mencari benda-benda itu. Padahal menurut kabar yang tersiar, benda itu telah lama hilang. Tapi, guru berkeras untuk mendapatkannya. Dan dengan sebuah siasat, melukaiku. Dan aku setuju saja. Kemudian guru meletakkan tubuhku yang terluka parah di tempat yang bisa dilalui para Brahmana itu ketika mereka mencari sayuran ataĆ¹ buah-buahan. Siasat Guru berhasil. Tubuhku ditemukan salah seorang Brahmana, yang langsung membawaku untuk menyembuhkan luka-luka. Karena sikapku yang pandai membawa diri, mereka tidak keberatan aku tinggal setelah sembuh. Dan ketika aku mulai akrab, secara tak kentara aku berusaha mencari tahu, dimana benda-benda bersinar itu. Tapi, usahaku sia-sia. Mereka semua menjawab tidak tahu. Dan bahkan, selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya. Kegagalan ini membuatku haru, lalu melakukan rencana lain."

Sampai di sini Ambar Wati menghentikan cerita. Dan gadis itu tampak ragu-ragu untuk meneruskan. Arya pun tahu, dalam lanjutan cerita itu Ambar Wati merasa dirinya sebagai orang jahat. Dan diam-diam, Dewa Arak mulai merasakan hatinya tidak enak. Kalau rencana itu disusun Bandawasa, tentu perbuatan apa pun dihalalkan. Asalkan, tujuan tercapai. Dewa Arak mulai mengkhawatirkan nasib Brahmana-brahmana itu.

"Rencana itu adalah, menaruh racun dalam makanan dan minuman mereka. Racun yang tidak berwarna, berbau, dan berasa. Tapi, memiliki daya kerja cepat dan mematikan. Dan hasilnya, memang langsung terbukti. Para Brahamana yang jumlahnya belasan orang langsung keracunan, sehabis menyantap makanan yang kububuhkan racun. Saat itulah, guru datang dan meminta agar diberitahukan di mana letaknya benda-benda bersinar itu. Kalau bisa diserahkan padanya saat itu juga, maka imbalannya para Brahmana berjanji akan diberi pemunah racun. Dan mereka juga harus berjanji untuk tidak mencampuri urusan guru lagi."

Arya mengeluh dalam hati, mengutuk perbuatan Ambar Wati yang keji. Tapi, tanpa keluar dari mulut. Bahkan pada wajahnya yang tampan, tidak terlihat gambaran perasaan apa-apa. Arya berusaha menguasai perasaan sedapat mungkin.

"Mereka semua menolak. Bahkan salah satu Brahmana yang tidak sabar, malah menyerang guru. Tapi begitu mengerahkan tenaga dalam, dan serangan belum dilancarkan, Brahmana tewas. Memang racun yang kami bubuhkan itu mempunyai pantangan berat. Jangan mengerahkan tenaga dalam, karena akan membuat racun itu bekerja lebih cepat! Kejadian ini membuat Brahmana-brahmana yang lain tidak berani melakukannya. Meskipun demikian, mereka tetap tidak mau memberitahukannya. Guru menjadi geram melihat kebandelan mereka, langsung bertindak keji. Semua Brahmana itu segera dibantai satu persatu. Dan rupanya, tanpa sepengetahuan guru, dua orang pelayan para Brahmana yang memang diperintahkan untuk menjaga dua intan itu, telah melarikan diri. Yang seorang, berhasil dikejar guru. Dia adalah si Pemegang Kain Biru. Sedangkan pelayan yang satu lagi berhasil membawa lari kain merah. Seperti kau ketahui, kedua kain itu adalah peta untuk menunjukkan tempat benda-benda bersinar yang dicari.

Dewa Arak teringat pertemuannya dengan laki-laki yang membawa kain merah, yang saat itu sedang sekarat. Rupanya rencana kabar tentang peta itu telah tersiar luas. Pelayan Brahmana itu menemui nasib naas. Dia dihadang sekelompok orang yang menginginkan kain merah itu. Dewa Arak cepat datang dan menolong. Sayang orang itu mengalami luka parah.

Dia hanya menitipkan pesan, agar kain itu diserahkan pada kawannya di sebuah kedai. Dewa Arak memang tidak tahu kalau kawan yang dimaksud oleh pelayan Brahmana adalah pelayan yang memegang kain warna biru.

Mereka waktu itu memang lari secara berpisah. Hanya saja, Bandawasa berhasil mengejar pelayan yang membawa kain biru dan membunuhnya. Padahal, kedua pelayan itu telah berjanji bertemu di kedai, yang didatangi Dewa Arak waktu itu.

Sementara itu Ambar Wati membasahi tenggorokannya yang kering. Arya tercenung ketika Ambar Wati telah menyelesaikan ceritanya. Sekarang bisa dimaklumi, mengapa Ambar Wati menganggap dirinya jahat.

Tindakannya memang keji! Arya pun tahu kalau benda-benda mukjizat yang dimaksud Ular Emas adalah intan biru dan intan merah! Hanya yang masih jadi ganjalan, bagaimana tokoh-tokoh persilatan sudah bisa cepat tiba di Perkampungan Suku Liar tanpa kain-kain itu?

Tapi itu bisa saja terjadi, karena hampir semua orang tahu kalau Brahmana yang mencegah bencana menetap di Pulau Mimpi, tempat Perkampungan Suku Liar. Dan berbekal dugaan itu, bisa saja mereka mencari-cari intan-intan itu di sana.

"Aku yakin, dia akan membalas dendam atas musnahnya Perguruan Baju Hitam. Dan dia pasti menuju Perguruan Baju Putih," jelas Ambar Wati, ketika mereka telah berjalan bersama.

Jawaban ini memuaskan Arya. Karena pemuda berambut putih keperakan ini pun menduga demikian.

"Kalau begitu, aku akan pergi ke sana!" tandas Arya, mantap.

"Jangan, Arya!" cegah Ambar Wati lantang.

Karuan saja seruan itu membuat Arya menoleh, kaget. "Apa maksudmu, Ambar?!"

"Tidak ada maksud apa-apa, Arya. Hanya kuminta, lebih baik urungkan niatmu. Karena, hanya akan membuang nyawa sia-sia. Intan biru dan merah itu amat ganas. Dan aku yakin, kau telah membuktikan sendiri kedahsyatannya."

"Benar! Tapi aku tidak gentar! Lebih suka mati daripada membiarkan banyak nyawa terbuang di tangan Bandawasa!"

"Tapi..." Ambar Wati tampak masih ragu.

Dan Arya melihat sikap gadis berpakaian merah ini, apalagi melihat wajah dan sinar matanya, jadi mengeluh dalam hati. Sinar mata Ambar Wati tampak penuh perasaan yang sukar digambarkan padanya. Tampak jelas kalau Ambar Wati mengkhawatirkan keselamatannya. Dan Arya tak menginginkan Ambar Wati jatuh cinta padanya.

"Apa pun yang terjadi, aku tetap akan berangkat, Ambar! Sekalipun harus mati! Aku pergi!"

Arya berbalik dan melesat cepat ke depan. Tapi tubuhnya langsung dilempar ke belakang, karena hampir saja menubruk sesosok tubuh yang tahu-tahu berdiri di depannya.

"Seorang pendekar yang mengagumkan hati!" Sosok yang hampir ditubruk Arya, membuka pembicaraan tanpa menggerakkan bibir. Tapi, suaranya terdengar nyaring bagai orang berteriak. "Tapi, tanpa bekal yang berarti, kau akan mati percuma. Terimalah ini, Anak Muda. Dan kau tidak usah khawatir, terhadap intan biru dan intan merah!" ujar sosok itu.

Tanpa ragu-ragu, dan bagai orang terkesima, Arya menangkap benda sebesar buah salak yang dilemparkan sosok yang tak lain rupanya seorang kakek berkulit hitam legam. Dia mengenakan kalung, anting, dan gelang tangan serta kaki dari anyaman rotan. Belum juga Dewa Arak bicara, kakek hitam legam itu menjulurkan tangan kanan ke atas. Dilakukannya gerakan seperti menarik ke bawah. Dan..., tubuhnya tahu-tahu sudah tidak terlihat lagi. Lenyap bagai ditelan bumi.

"Kek, siapa kau...?!" tanya Arya, karena tidak tahu harus berbuat apa.

"Aku pemilik benda-benda itu. Aku dukun Suku Liar...!" Terdengar suara sayup-sayup memberi jawaban.

Arya mengarahkan pandangan ke arah asal suara. "Terima kasih atas bekal yang kau berikan, Kek!" seru Arya sebelum melesat cepat meninggalkan tempat itu.

Sementara itu Ambar Wati tidak tinggal diam. Dia tahu, Arya akan celaka di tangan Bandawasa. Dan hal ini tidak diinginkannya. Maka gadis ini berusaha keras untuk mencegah.

* * *

"Tak lama lagi kau akan mampus di tanganku, Saka Manjing! Ha ha ha...!"

Seruan keras itu menggema dari dalam sebuah halaman luas, dikelilingi pagar kayu bulat tinggi. Di depan halaman berjejer bangunan-bangunan dari kayu kokoh. Pemilik seruan itu tak lain dari Bandawasa.

Sambil tertawa-tawa penuh kegembiraan, kakek kurus kering ini membenturkan batu-batu permatanya yang menyebarkan kilatan-kilatan cahaya mematikan, ke arah sosok tubuh berpakaian putih yang berlompatan ke sana kemari untuk mengelak.

Di sekeliling tempat pertarungan, tampak tergolek sosok-sosok yang telah menjadi arang hitam mengepulkan asap tipis putih. Mereka berjumlah belasan, semuanya menjadi korban intan biru dan merah. Bau sangit pun melingkupi sekitar tempat itu.

Sementara di tempat yang agak berjauhan dari kancah pertarungan, berdiri beberapa sosok. Rata-rata wajah mereka gagah, dan mengenakan pakaian putih. Memang, mereka adalah murid-murid Perguruan Baju Putih. Tokoh yang tengah terlibat dalam pertarungan tentu saja ketuanya, Saka Manjing.

"Kaulah yang harus menghentikan semua kekejian itu, Bandawasa...!" Belum lenyap gema seruan itu, sesosok bayangan ungu berkelebat menyambar ke arah Bandawasa.

Bandawasa benar-benar memiliki naluri tajam dan mengagumkan. Secepat kilat pandangannya diarahkan pada asal suara. Lalu benda-benda bersinarnya dibenturkan.

Trakkk!

"Akh!" Sosok bayangan ungu langsung menjerit tertahan, ketika melihat cahaya kilat menyambar ke arahnya. Dalam keadaan tubuh tengah berada di udara, membuat sosok ungu tidak mampu berbuat banyak. Maka sebisa-bisanya dia berusaha mengelak. Tapi, toh cahaya menyilaukan itu tetap meluncur ke arahnya. Sosok bayangan ungu yang tak lain Dewa Arak tidak memiliki waktu lagi untuk mencabut gucinya. Dan....

Blusss!

Tak terjadi sesuatu yang mengerikan terhadap Dewa Arak! Padahal jelas-jelas terlihat kalau cahaya kilat itu menghantam tubuhnya. Hanya saja, langsung lenyap begitu saja. Bukan hanya Bandawasa, Saka Manjing, dan murid-murid Perguruan Baju Putih yang merasa kaget. Arya pun demikian.

Tapi Dewa Arak ini cepat teringat. Pasti hal itu karena benda bersinar dari kakek Suku Liar yang memiliki sinar kuning. Benda sebesar buah salak itulah yang menyebabkan Dewa Arak tidak mengalami kejadian buruk, ketika tertimpa kilatan cahaya dari intan merah dan biru.

"Papak kilatan cahaya dari intan merah dan biru. Dan, arahkan pada tubuh lawanmu!" Terdengar bisikan di telinga Dewa Arak. Jelas, terdengar seperti dekat di telinga Arya.

Dan Dewa Arak tahu, suara itu milik dukun Suku Liar. Maka tanpa ragu-ragu lagi, segera dikeluarkannya intan kuning tanpa setahu Bandawasa. Dan ketika kakek kurus kering yang penasaran pada Dewa Arak, cepat meluncurkan cahaya kilatnya. Dewa Arak segera menghadang cahaya itu dengan intan kuningnya.

"Aaakh...!" Tiba-tiba saja Bandawasa mengeluarkan lengkingan menyayat ketika kilatan cahaya laksana halilintar itu justru berbalik menghantam tubuhnya. Tapi hanya sebentar saja, karena saat itu pula tubuhnya ambruk dengan nyawa melayang ke alam baka. Hangus bagai terpanggang.

Tanpa menghiraukan pandang orang terhadap kejadian yang terpampang di depan mata, Dewa Arak menghampiri mayat Bandawasa. Kemudian diambilnya intan merah dan biru. Dan dia bermaksud mengembalikan benda-benda mukjizat yang berbahaya itu pada Suku Liar. Karena hanya dialah yang masih hidup, dan kebetulan yang mendapat tugas untuk menjaganya.

SELESAI
Selanjutnya,