Arya Manggada - Matahari Senja Bagian 03
Karya : Singgih Hadi Mintardja

Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
KI PANDI, Manggada dan Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan berperang tanding itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu” Ki Lemah Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula "Kau ingat, ketika kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena sikap lahir dan batinnya.”

"Setan kau Lemah Teles. Kau masih mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita lupakan itu.”

"Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu.”

"Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?"

"Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus menikmati perempuan lain...”
"Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu mencintai aku. Tidak mencintaimu.” Namun suara Ki Sambi Pitu merendah. "Alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis pada saat rambut kita mulai beruban.”

"Tetapi akibatnya terasa amat pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang anak, tetapi tidak seorangpun yang tinggal hidup. Ketiga anakku meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur empat belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia terbunuh saat anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok. Anakku berdua dengan pedagang itu harus bertempur melawan lebih dari tujuh orang perampok yang garang.” suara Ki Lemah Teles merendah "Sekarang aku hidup sendiri.”

"Bukankah kau mempunyai cucu dari anakmu yang baru saja meninggal itu?" bertanya Ki Sambi Pitu.

“Aku mempunyai dua orang cucu.” jawab Ki Lemah Teles.

"Jika demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu.”

"Aku tidak dapat memiliki kedua cucuku itu.” berkata Ki Lemah Teles.

"Kenapa?" bertanya Ki Sambi Pitu.

"Keduanya berada dirumah kakek dan nenek mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada keduanya hidup bersamaku.”

"Bagaimana dengan isterimu?"

"Jika saja ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti ini.”

"Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada hari kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?"

"Ya. Tetapi letak kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku.”

"Kau sudah gila!" geram Ki Sambi Pitu "Aku juga kehilangan segala-galanya. Aku justru menganggap nasibmu lebih baik dari nasibku. Aku dan isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang kepadamu?"

"Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan dimuka bumi ini.”

"Kau kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan, membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau isteriku. Tetapi semuanya sia-sia...”

"Kau kira keluhanmu itu dapat meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari sisiku ini.”

"Cukup, cukup...!" Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak "Sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling menggigit.”

"Setan kau Sambi Pitulikur. Bersiaplah. Kita akan berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing. Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan menaburkan tanah berpasir ke mata atau apapun caranya.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera bersiap untuk bertempur. Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Tidak seorangpun di antara mereka yang bersenjata. Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi keduanya. Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai.

Keduanya mulai dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat. Namun semakin lama gerak merekapun mulai menjadi semakin cepat, meskipun getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara. Beberapa saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang seimbang.

Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata.

"Ternyata mereka hanya bermain-main..." berkata Manggada dan Laksana didalam hatinya.

Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis demi selapis. Manggada dan Laksanalah yang menjadi tidak telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka sudan saling mengetahui tataran kemampuan masing-masing, sehingga jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu. Keduanya agaknya ingin menjajagi kemampuan mereka sendiri serta menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak lama tidak mereka pergunakan. Namun ketika darah didalam tubuh mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah.

Yang dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu yang tinggi dari keduanya. Hentakan-hentakan yang mengejutkan serta gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan bahwa keduanya memang berilmu tinggi.

Ketika kemudian mulai terjadi benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya. Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masing-masing. Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang sebenarnya telah terjadi itu.

Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya. Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu.

Tetapi dengan cepat Ki Sambi Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak.

Tetapi pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan, maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah lawan.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru ketika mulai bergerak dengan lamban. Namun akhirnya, Ki Pandilah yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan.

"Apa yang terjadi?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hatinya. Tetapi detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti memukul-mukul dada mereka.

Dari kedua orang yang duduk berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah berloncatan kunang-kunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang lain. Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul asap putih tipis.

Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis, "Keduanya mulai bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing”

"Apa yang akan Ki Pandi lakukan?"

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berbisik, "Pertempuran yang gila itu harus dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku”

Manggada dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Iapun mulai duduk dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan meletakkannya dibibirnya. Sejenak kemudian terdengar alunan getar suara seruling Ki Pandi.

Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada suara seruling itupun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang.

Manggada dan Laksana menjadi tegang. Merekapun tahu, bahwa Ki Pandi adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi, namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan Lebdagati.

Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup oleh Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itupun semakin jarang dan memudar.

"Apa yang terjadi?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hati.

Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan ilmupun menjadi semakin menyusut. Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu.

Seperti berjanji, maka kedua orang itupun telah saling memberikan isyarat, menghentikan pertempuran. Kunang-kunang kecil itupun kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala kedua orang yang sedang berperang tanding itu.

Hampir berbareng, keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Ki Sambi Pitupun berteriak lantang, "ki Bongkok. Kenapa kau mengganggu kami? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini. Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami.”

Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles itupun berteriak pula, "He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke tempat ini?"

Suara seruling Ki Pandipun semakin perlahan. Akhirnya berhenti sama sekali. "Marilah, kita mendekat" berkata Ki Pandi kepada Manggada dan Laksana.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang merasa terganggu itu.

"Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu orang, maka aku akan membunuhmu disini” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, "Kau tidak akan dapat melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pitu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

"Iblis kau..." geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Pandi berkata "Tetapi bukankah kita tidak saling membunuh?"

"Ki Pandi" berkata Ki Sambi Pitu "Aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles”

"Kalau yang kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong kalian untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasan-alasan yang lebih masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali."

"Omong kosong.." bentak Ki Lemah Teles "Aku bertempur untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki”

"Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjukkan, bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu.”

"Setan kau Bongkok. Sekarang aku tantang kau..." geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi menjawab dengan keras pula, "Dengar. Jika aku menerima tantanganmu, maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima tantanganmu.”

"Sudahlah..." berkata Ki Sambi Pitu "Aku dapat mengerti niat baik Ki Pandi. Akupun sebenarnya menyadari, untuk apa aku berperang tanding?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, "Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah...” "Kau masih punya kesempatan untuk merenunginya." berkata Ki Pandi. "Mudah-mudahan nalarmu bertambah bening dihari tuamu.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi sangat lemah. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yang membentang dikaki sebuah bukit kecil itu.

"Terima kasih, Ki Bongkok..." desis Ki Sambi Pitu kemudian "Kau telah membebaskan aku dari persoalan yang tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles. Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa. Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki Bongkok.”

"Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan pijakan baru dipadukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang menjadi panutan. Jika saja orang-orang padukuhan mengetahui apa yang kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan? Ketakutan yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa besarnya.”

"Aku mengerti Ki Bongkok..." Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.

"Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan orang yang kehilangan pegangan menjelang hari-hari tuanya.”

Ki Sambi Pitu tersenyum. Katanya "Aku memang harus menatap wajahku dipermukaan air tenang.”

"Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain, tidak merasa kehilangan apa-apa”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian, "Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi sekali-sekali datang melihatku.”

"Tentu" jawab Ki Pandi. "Aku yang masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa diatas bongkokku ini kemana aku pergi”

"Apakah aku boleh mengetahuinya?" bertanya Ki Sambi Pitu.

"Setan yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran...” jawab Ki Pandi.

Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya. "Dengan burung-burung Elangnya?"

"Ya” jawab Ki Pandi.

"Baiklah Ki Pandi..." berkata Ki Sambi Pitu "Jika saja aku mendapat kesempatan untuk mengetahui, sengaja atau tidak sengaja, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu?"

Ki Pandi tertawa. Katanya "Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit”

"Aku mengerti..." desis Ki Sambi.

"Akulah yang akan singgah dirumahmu setiap kali” berkata Ki Pandi.

Demikianlah, maka Ki Pandipun telah minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan arah perjalanannya ia berkata, "Dibelakang hutan Jatimalang itulah aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebdagati justru berkeliaran kemana-mana”

"Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa diriku berarti...” berkata Ki Sambi Pitu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata, "Kalian merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki Bongkok yang menemukan kalian berdua." Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh punggung kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Kemudian memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya "Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut bersamanya”

"Baik Ki Sambi Pitu" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang kerumahnya.

"Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya” berkata Ki Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula, "Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik, kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan keberuntungannya itu”

Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu itupun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan. Dalam perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih. Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak.

"Seperti dikatakan Ki Bongkok." desis Ki Sambi Pitu "Jika perang tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia.”

Sementara itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.

Dengan nada berat Ki Pandipun berkata, "Besok kita melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu.”

"Apakah kita akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan?" bertanya Laksana.

"Ya” jawab Ki Pandi dengan serta-merta "Aku pernah tinggal bersamanya untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu”

"Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?" bertanya Laksana pula.

"Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal digubugnya itu. Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana” jawab Ki Pandi.

Di dini hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu. Agaknya Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia berkata, "Kita cari makan di kedai saja nanti.”

Ki Pandi tertawa. Katanya "Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu dipadang perdu ini”

"Bukankah kita mempunyai senjata yang baik untuk berburu di kedai”

Manggadapun tertawa pula. Tetapi iapun berkata, "Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau inginkan”

Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun dihutan perdu itu tidak seorangpun akan mendengarnya. Sebelum Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu. Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Langit nampak bersih kebiru-biruan. Jalan-jalan mulai ramai dilalui orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar. Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai. Manggada dan Laksana mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu sebelumnya.

"Belum..." desis Manggada "Kita belum pernah melewati jalan ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Agaknya memang belum.”

Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana bertanya kepada Ki Pandi, "Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita itu? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya "Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika kita berada di hutan perdu itu.”

"Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana.

"Biar sajalah. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak" desis Manggada.

"Jika kita bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat mengekang diriku untuk tidak membunuhnya” berkata Laksana.

"Jangan begitu" berkata Manggada "Kau akan menyesal jika ternyata orang itu bermaksud baik”

"Apakah mungkin orang itu bermaksud baik?"

"Kenapa tidak?"

Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai. Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh.

Ternyata Manggada dan Laksana tertarik untuk melihat-lihat isi pasar itu, sementara Ki Pandi pun tidak berkeberatan. Tetapi mereka tidak terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus yang tidak terdapat ditempat lain. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata, "Jika kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang.”

"Jadi?" bertanya Laksana "Apakah kita akan menempuh jalan lain?"

"Sementara kita dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang pernah kalian lalui”

Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi.

Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis, "Marilah, kita mulai berburu.”

Manggada tertawa menghentak, sementara Ki Pandi tersenyum pula. "Kenapa kau tidak berburu dipasar saja?" bertanya Manggada dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab. Setelah mereka berhenti disebuah kedai, maka merekapun berjalan langsung menuju ke Jatimalang. Disepanjang jalan mereka mecoba mengenali kembali, jalan mereka lalui sebelumnya.

"Memang sudah berubah..." berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali menjadi bingung.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju keseberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah yang seakan-akan terpisah.

Namun Ki Pandi tidak kehilangan pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil.

Ternyata meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau.

Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai kesebuah dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang.

Dalam keremangan senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah kecil itu.

"Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu?" desis Manggada meskipun agak ragu.

"Siapa tahu kalau orang lain yang menempatinya sekarang...” sahut Laksana.

"Tentu tidak. Tempat ini sangat terpencil...”

Keduanya terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan serta merta mengetuk pintu. Namun Ki Pandipun kemudian melangkah mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup itu.

Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati. Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah rumah yang dihuni orang.

Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam. Ki Pandipun kemudian telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam rumah.

Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan kegelapan. Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari sebelah rumah,

"Kau itu Bongkok?”

"Ya Ki Ajar. Ini aku..." sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat.

Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi. Apalagi bersama Manggada dan Laksana. "Marilah. Silahkan. Aku akan membuka pintu...”

Ki Ajar itupun kemudian masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat mendekati pintu disusul suara selarak diangkat. Sejenak kemudian pintu itupun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam.

Setelah duduk disebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian ruang dalam itu, maka Ki Ajarpun telah menanyakan keselamatan perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu. Demikian pula Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia telah mendengar tarikan nafas seseorang dirumah itu. Tetapi Ki Pandi tidak segera menanyakannya.

Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya, "Aku memang tidak sendirian dirumah ini.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia bertanya, "Siapakah orang itu, Ki Ajar?"

"Aku mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana...” jawab Ki Ajar Pangukan "Agaknya kau sudah mengenalnya.”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, "Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang tinggal bersama Ki Ajar disini?"

"Untuk sementara. Ia terluka meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar sembuh...”

"Kenapa orang itu terluka, Ki Ajar?" bertanya Ki Pandi.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Duduklah disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi tamu-tamuku.”

"Tidak usah..." berkata Ki Pandi "Biarlah kami merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk membuat minuman?"

"Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu adalah tamu-tamuku..." berkata Ki Ajar kemudian.

Namun Ki Pandi berkata, "Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh kehadiranku sekarang.”

Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya kemudian, “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang tidak ingin menghargai tamu-tamuku.”

"Kami sama sekali bukan tamu disini..." sahut Ki Pandi.

Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya "Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itupun bertanya, "Kisahnya cukup panjang Ki Ajar...”

"Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan Lebdagati.”

"Mulanya memang begitu Ki Ajar!" desis Ki Pandi "Namun kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka berdua.”

Ki Ajar tertawa. Katanya, "Agaknya tersimpan jiwa pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan, kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu, sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang hidup tidak sewajarnya seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok dan barangkali ada orang-orang yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab, "Kami akan berusaha, Ki Ajar...”

"Bagus!" jawab Ki Ajar "Jika usiamu bertambah, maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah menambah jumlah orang-orang aneh seperti kami.”

Manggada dan Laksana masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia yang hitam.

Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu. Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu leregnya tertutup hampir rapat.

Ki Ajar Pangukan itupun kemudian berkata, "Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari sepekan.”

"Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?" bertanya Ki Pandi.

"Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki kelebihan dari Ki Jagaprana.”

Ki Pandi memang ingin mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki Jagaprana.

Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata, "Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu akhirnya juga mengetahuinya.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata "Ki Jagaprana itu telah dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah Teles.”

Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula. Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya, "Jadi Ki Lemah Teles itu sampai ke tempat ini pula?"

Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, "Kau mengenal Ki Lemah Teles?"

Ki Pandilah yang menyahut "Secara kebetulan keduanya mengenal Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar”

"Kau yang memperkenalkan kedua anak muda ini kepada mereka?" bertanya Ki Ajar Pangukan.

"Dengan tidak sengaja!" jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, "Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan dengan dirinya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana.”

"Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Ki Sambi Pitu memiliki ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi justru karena itu, hampir saja kedua-duanya mengalami kesulitan, sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku ceriterakan.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang buram.”

"Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?" bertanya Ki Pandi.

"Ki Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles. Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana berusaha untuk melerai pertengkarannya dengan keluarga menantunya. Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia yang semakin tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan menganggap Ki Jagapranalah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami luka-luka parah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain.

"Tetapi keadaannya sekarang sudah berangsur baik" berkata Ki Ajar Pangukan ”Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang sekali tidur lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkannya.

Untuk beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut. Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding yang dilakukannya dan keadaannya saat itu. Karena itu, maka Ki Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya.

"Oh..." Ki Ajar beringsut. "Marilah. Nampaknya kau telah terbangun.”

Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu. Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi pengenalannya memang tidak cukup akrab. Meskipun demikian, maka sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben itu pula ia berdesis,

"Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki Sanak bertiga.”

"Terima kasih, Ki Jagaprana...” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat.

"Bukankah kalian sudah saling mengenal?" bertanya Ki Ajar Pangukan.

"Ya" jawab Ki Jagaprana "Setidak-tidaknya mengenal kehadirannya didunia olah kanuragan.”

Ki Pandipun tersenyum. Katanya, "Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku.”

"Ah, jangan begitu...!" Ki Ajar tersenyum "Jika kau saudara seperguruan Panembahan Lebdagati dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu. Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga penilaianku atasmu keliru...”

"Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka memuji..." desis Ki Pandi.

Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itupun mulai duduk berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah Teles.

"Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah terluka didalam. Bahkan terhitung parah...” berkata Ki Jagaprana sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian "Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami. Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya. Berperang tanding sampai tuntas.”

Ki Pandi mendengarkan ceritera itu dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan, "Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan serta pengampunannya dengan ikhlas. Karena itu, aku tidak membunuh diri.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula.

"Sikapnya sangat menarik perhatian..." berkata Ki Pandi yang mempunyai penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan.

Dalam pembicaraan yang berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba saja bertanya. "Ki Ajar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki Ajar tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?"

Ki Ajar Pangukan tersenyum. Katanya, "Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu itu belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam. Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin tinggal disini.”

"Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di belakang Gunung Lawu ini.” berkata Laksana kemudian.

"Ya, anak muda. Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam.”

"Jika demikian, tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini.” desis Laksana pula.

"Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal disebuah padepokan yang termasuk baru dibangun.”

"Mungkin beberapa pengikut Panembahan Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu, karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan ajaran Panembahan Lebdagati.” desis Ki Pandi.

"Memang mungkin sekali." jawab Ki Ajar.

"Menarik sekali...!" desis Laksana.

"Apa yang menarik?" Ki Pandi pun tiba-tiba bertanya.

"Maksudku, perguruan itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk sementara.” jawab Laksana.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, "Apakah kau juga tertarik?"

Laksanapun tersenyum pula. Katanya, "Memang sangat menarik...!”

Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena itu maka katanya, "Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan jika kau ikut bersamaku mengamatinya...”

Selanjutnya,
Matahari Senja Bagian 04

Matahari Senja Bagian 03

Arya Manggada - Matahari Senja Bagian 03
Karya : Singgih Hadi Mintardja

Cerita silat Indonesia Seri Arya Manggada Karya SH Mintardja
KI PANDI, Manggada dan Laksana masih harus menahan diri serta mengatur pernafasan mereka, agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh kedua orang yang akan berperang tanding itu.

Dalam pada itu, Ki Lemah Teles pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau ingin aku menyebut hutangmu” Ki Lemah Teles berhenti sejenak. Lalu katanya pula "Kau ingat, ketika kita sama-sama muda, maka diantara kita berdiri seorang gadis cantik, anak perempuan seseorang yang sama-sama kita hormati, karena sikap lahir dan batinnya.”

"Setan kau Lemah Teles. Kau masih mengungkit persoalan itu? Persoalan yang sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Sekarang rambut kita sudah memutih dan umur kita tinggal sepanjang umur jagung, kau sebut lagi persoalan yang sudah kita lupakan itu.”

"Jangan berkata seperti itu. Baru sekarang kau merasa betapa getirnya akibat dari persoalan yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu.”

"Peristiwa getir yang mana yang kau maksudkan?"

"Ternyata karena gadis itu kau curi dari sisiku, maka aku harus menikmati perempuan lain...”
"Siapa yang mencuri gadis itu? Gadis itu mencintai aku. Tidak mencintaimu.” Namun suara Ki Sambi Pitu merendah. "Alangkah memalukan untuk berbicara tentang seorang gadis pada saat rambut kita mulai beruban.”

"Tetapi akibatnya terasa amat pahit. Karena aku harus menikahi perempuan lain, yang baru kemudian aku ketahui, bahwa menurut perhitungan hari kelahirannya dan hari kelahiranku tidak sesuai, maka meskipun aku mempunyai tiga orang anak, tetapi tidak seorangpun yang tinggal hidup. Ketiga anakku meninggal pada umur yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka meninggal saat dilahirkan. Seorang meninggal ketika berumur empat belas tahun. Hanyut disebuah sungai yang banjir. Sedangkan anakku yang satu lagi, meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia terbunuh saat anakku itu justru melindungi seorang pedagang yang sedang dirampok. Anakku berdua dengan pedagang itu harus bertempur melawan lebih dari tujuh orang perampok yang garang.” suara Ki Lemah Teles merendah "Sekarang aku hidup sendiri.”

"Bukankah kau mempunyai cucu dari anakmu yang baru saja meninggal itu?" bertanya Ki Sambi Pitu.

“Aku mempunyai dua orang cucu.” jawab Ki Lemah Teles.

"Jika demikian, bukankah kau tidak sendiri? Kau dapat hidup dengan kedua orang cucumu yang dapat kau anggap sebagai anakmu.”

"Aku tidak dapat memiliki kedua cucuku itu.” berkata Ki Lemah Teles.

"Kenapa?" bertanya Ki Sambi Pitu.

"Keduanya berada dirumah kakek dan nenek mereka. Maksudku ayah dan ibu menantuku. Mereka orang-orang kaya yang akan dapat menghidupi kedua cucuku itu jauh lebih baik daripada keduanya hidup bersamaku.”

"Bagaimana dengan isterimu?"

"Jika saja ia masih hidup, meskipun hari kelahirannya tidak sesuai dengan hari kelahiranku, namun aku tentu tidak akan menjadi kesepian seperti ini.”

"Jadi kau mencari kesalahan atas kematian anak-anakmu itu pada hari kelahiranmu dan hari kelahiran isterimu?"

"Ya. Tetapi letak kesalahan sebenarnya adalah padamu. Seandainya tidak kau rampas gadis itu. Ia akan menjadi isteriku. Anak-anakku tidak akan mati dan cucu-cucuku tidak akan diambil oleh keluarga menantuku.”

"Kau sudah gila!" geram Ki Sambi Pitu "Aku juga kehilangan segala-galanya. Aku justru menganggap nasibmu lebih baik dari nasibku. Aku dan isteriku, gadis yang pernah kau cintai itu, tidak pernah mempunyai seorang anakpun. Kami belum pernah merasakan kebahagiaan seorang ayah dan ibu yang menimang anaknya. Apalagi kemudian isteriku itu mati muda oleh penyakit yang tidak pernah aku ketahui sampai sekarang. Nah, apakah kau masih akan menyebut aku mempunyai hutang kepadamu?"

"Jika kau tidak mempunyai anak itu karena salahmu. Kaulah yang mandul. Dan perempuan itu mati karena hatinya tersiksa oleh kesepiannya, sementara hidupmu kau habiskan merayapi lereng gunung dan menyusuri sungai-sungai yang panjang. Kau kira dengan caramu kau akan menjadi orang yang tidak terkalahkan dimuka bumi ini.”

"Kau kira aku meninggalkan isteriku untuk sekedar mencari kesenangan, membiarkan ketamakan tumbuh subur didalam hati atau keserakahan yang tidak terkendali? Aku pergi kesegala sudut bumi untuk mencari seorang tabib yang mampu menyisihkan kemandulan kami. Aku atau isteriku. Tetapi semuanya sia-sia...”

"Kau kira keluhanmu itu dapat meruntuhkan belas kasihanku? Aku justru menganggap hutangmu semakin besar karena kau telah menyia-nyiakan gadis yang kau rebut dari sisiku ini.”

"Cukup, cukup...!" Ki Sambi Pitu tiba-tiba saja berteriak "Sekarang kau mau apa? Kau tidak usah mengungkit apapun untuk menantang aku bertempur. Marilah, aku sudah siap. Apakah kau ingin kita bertempur dengan senjata atau tidak atau kita akan saling menggigit.”

"Setan kau Sambi Pitulikur. Bersiaplah. Kita akan berperang tanding dengan cara apapun sekehendak kita masing-masing. Apakah kita akan bersenjata atau tidak atau dengan menaburkan tanah berpasir ke mata atau apapun caranya.” geram Ki Lemah Teles.

Ki Sambi Pitu tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera bersiap untuk bertempur. Demikianlah, maka sejenak kemudian, keduanya telah saling berhadapan. Tidak seorangpun di antara mereka yang bersenjata. Agaknya senjata juga bukan merupakan alat yang paling penting bagi keduanya. Ketika Ki Lemah Teles mulai bergeser sambil mengayunkan tangannya, maka perang tanding itupun segera mulai.

Keduanya mulai dengan gerakan-gerakan lamban. Namun pada setiap gerak, maka terasa seakan-akan getarannya mengguncang udara Bulak Parapat. Namun semakin lama gerak merekapun mulai menjadi semakin cepat, meskipun getar ayunan serangan mereka masih tetap mengguncang udara. Beberapa saat kemudian, keduanya berloncatan saling menyerang, menghindar dan berkisar. Keduanya memiliki ketangkasan dan ketrampilan yang seimbang.

Untuk beberapa saat lamanya, Manggada dan Laksana memperhatikan pertempuran itu. Tidak lebih dari dua orang yang berkelahi dengan mengandalkan tenaga kewadagan mereka semata-mata.

"Ternyata mereka hanya bermain-main..." berkata Manggada dan Laksana didalam hatinya.

Tetapi pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua-duanya mulai meningkatkan kemampuan mereka. Selapis demi selapis. Manggada dan Laksanalah yang menjadi tidak telaten. Kenapa semuanya itu berjalan sangat lamban? Bukankah mereka sudan saling mengetahui tataran kemampuan masing-masing, sehingga jika mereka langsung melepaskan kemampuan puncak mereka, maka sentuhan tangan mereka tidak akan dengan serta-merta membunuh lawannya karena lawannya juga berilmu tinggi.

Tetapi Manggada dan Laksana tidak dapat mengatur kedua orang yang sedang bertempur itu. Keduanya agaknya ingin menjajagi kemampuan mereka sendiri serta menilai kembali tataran-tataran kemampuan yang agaknya sudah agak lama tidak mereka pergunakan. Namun ketika darah didalam tubuh mereka mulai memanas, maka pertempuran itu mulai berubah.

Yang dilihat Manggada dan Laksana tidak lagi sekedar dua orang yang berloncatan dengan cepat serta ayunan-ayunan serangan yang kuat dengan tenaga yang besar, tetapi mereka mulai merasa sentuhan ilmu yang tinggi dari keduanya. Hentakan-hentakan yang mengejutkan serta gerak yang tidak terduga, bahkan menjadi semakin rumit, menunjukkan bahwa keduanya memang berilmu tinggi.

Ketika kemudian mulai terjadi benturan-benturan, Manggada dan Laksana mulai menahan nafasnya. Ternyata keduanya mulai merambah kedalam ilmu mereka masing-masing. Manggada dan Laksana kadang-kadang terkejut bahwa sesuatu telah terjadi. Keduanya kadang-kadang terlambat menyadari, apa yang sebenarnya telah terjadi itu.

Bergantian Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu terdorong beberapa langkah surut. Bahkan kemudian salah seorang dari mereka terlempar beberapa langkah. Tetapi dalam sekejap orang itu telah berdiri tegak menunggu serangan berikutnya. Kecepatan gerak kedua orang itu sulit untuk diikuti oleh Manggada dan Laksana. Bahkan tiba-tiba saja tangan Ki Lemah Teles telah mengguncang pertahanan Ki Sambi Pitu.

Tetapi dengan cepat Ki Sambi Pitu telah memperbaiki keadaannya, justru dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh tatapan mata Manggada dan Laksana, Ki Sambi Pitu telah membalas serangan itu dengan serangan-serangan beruntun, sehingga Ki Lemah Teles harus berloncatan mengambil jarak.

Tetapi pertempuran itupun kemudian telah berubah pula. Ketika kedua belah pihak telah semakin sering disentuh oleh serangan-serangan lawan, maka pertempuran itu justru mulai menjadi lamban kembali. Keduanya tidak lagi berloncatan seakan-akan tidak menyentuh tanah. Tetapi keduanya mulai saling menyerang dengan kekuatan ilmu mereka yang memancar meloncat dari dalam diri mereka masing-masing ke arah lawan.

Manggada dan Laksana menjadi semakin berdebar-debar. Ia mulai melihat kebesaran nama kedua orang yang sedang bertempur itu, justru ketika mulai bergerak dengan lamban. Namun akhirnya, Ki Pandilah yang menjadi berdebar-debar ketika ia melihat kedua orang itu justru seakan-akan berhenti bertempur. Tetapi keduanya justru mulai duduk dengan kaki dan tangan bersilang saling berhadapan.

"Apa yang terjadi?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hatinya. Tetapi detak jantung mereka menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian seperti memukul-mukul dada mereka.

Dari kedua orang yang duduk berhadapan itu, Manggada dan Laksana melihat seakan-akan telah berloncatan kunang-kunang kecil dari yang seorang hinggap kepada yang lain. Tetapi semakin lama keduanya nampak menjadi letih. Keduanya mulai goyah ketika dari kepala mereka nampak seakan-akan mengepul asap putih tipis.

Tiba-tiba saja Ki Pandi berdesis, "Keduanya mulai bersungguh-sungguh. Itu sangat membahayakan mereka masing-masing”

"Apa yang akan Ki Pandi lakukan?"

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berbisik, "Pertempuran yang gila itu harus dihentikan, meskipun mungkin akibatnya akan buruk bagiku”

Manggada dan Laksana tidak segera mengerti maksud Ki Pandi. Namun kemudian ternyata Ki Pandi telah mengambil serulingnya. Iapun mulai duduk dengan menyilangkan kakinya, mengangkat serulingnya dan meletakkannya dibibirnya. Sejenak kemudian terdengar alunan getar suara seruling Ki Pandi.

Nada-nada yang mengalir adalah nada-nada yang geram, keras dan menghentak-hentak. Namun semakin lama nada suara seruling itupun berubah. Iramanya juga berubah. Semakin lama menjadi semakin lembut. Namun nadanya meninggi menggeliat menggapai mega-mega yang mengalir diwajah langit yang digayuti beribu bintang.

Manggada dan Laksana menjadi tegang. Merekapun tahu, bahwa Ki Pandi adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Ilmunya setatar dengan ilmu seorang Panembahan yang ditakuti karena ilmunya yang tinggi, namun yang dibumbuinya dengan ilmu hitam. Panembahan Lebdagati.

Ternyata suara seruling itu berpengaruh atas kedua orang yang sedang bertempur. Pemusatan nalar budi mereka ternyata telah mulai terganggu oleh nada-nada dan irama seruling yang ditiup oleh Ki Pandi itu. Karena itu, maka Manggada dan Laksana justru tidak melihat lagi kepulan asap putih yang tipis itu. Bahkan kemudian loncatan-loncatan cahaya seperti kunang-kunang kecil itupun semakin jarang dan memudar.

"Apa yang terjadi?" bertanya Manggada dan Laksana didalam hati.

Sebenarnyalah suara seruling Ki Pandi telah mengoyak pemusatan nalar budi kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan demikian, maka kemampuan mereka melontarkan ilmupun menjadi semakin menyusut. Karena itu, maka kedua orang yang sedang bertempur itu menjadi marah oleh gangguan suara seruling itu.

Seperti berjanji, maka kedua orang itupun telah saling memberikan isyarat, menghentikan pertempuran. Kunang-kunang kecil itupun kemudian berhenti sama sekali, sedangkan asap tipis yang keputih-putihan itupun sudah tidak nampak lagi diseputar kepala kedua orang yang sedang berperang tanding itu.

Hampir berbareng, keduanya telah bangkit berdiri. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian Ki Sambi Pitupun berteriak lantang, "ki Bongkok. Kenapa kau mengganggu kami? Aku sudah mengira bahwa kau akan hadir disini. Tetapi aku tidak mengira bahwa kau telah mencampuri persoalan kami.”

Ki Pandi masih saja meniup serulingnya. Sementara itu Ki Lemah Teles itupun berteriak pula, "He, bongkok buruk. Kenapa kau datang juga ke tempat ini?"

Suara seruling Ki Pandipun semakin perlahan. Akhirnya berhenti sama sekali. "Marilah, kita mendekat" berkata Ki Pandi kepada Manggada dan Laksana.

Manggada dan Laksana tidak menyahut. Tetapi dengan jantung yang berdebaran mereka bangkit dan melangkah mengikuti langkah Ki Pandi mendekati kedua orang yang merasa terganggu itu.

"Bongkok buruk. Jika kau masih suka mengganggu orang, maka aku akan membunuhmu disini” geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi tertawa pendek. Katanya, "Kau tidak akan dapat melakukannya Ki Lemah Teles. Kau sudah menjadi lemah. Tenaga dalammu sudah terhisap habis dalam benturan ilmu dengan Ki Sambi Pitu. Sebagai seorang yang berilmu tinggi kau tentu dapat mengukur betapa tinggi ilmuku. Karena itu, jika kita saling membunuh sekarang, aku tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah. Bahkan sambil meniup serulingku, aku akan dapat membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

"Iblis kau..." geram Ki Lemah Teles.

Namun Ki Pandi berkata "Tetapi bukankah kita tidak saling membunuh?"

"Ki Pandi" berkata Ki Sambi Pitu "Aku tahu bahwa kau tentu akan datang kemari. Tetapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku dengan Ki Lemah Teles”

"Kalau yang kalian persoalkan itu benar-benar persoalan yang mendasar, maka aku tidak akan mencampuri persoalan kalian berdua. Tetapi setelah aku mendengar dari mulut kalian, bahwa ternyata persoalan yang mendorong kalian untuk membunuh diri bersama-sama itu bukan persoalan yang berarti, maka aku berusaha untuk mencegahnya. Sebaiknya Ki Lemah Teles pulang saja dan mencoba menyusun alasan-alasan yang lebih masuk akal untuk menantang seseorang untuk berperang tanding. Atau dalam kenyataan yang hampir saja terjadi, kalian berdua akan mati bersama-sama. Dengar, mati tanpa arti sama sekali."

"Omong kosong.." bentak Ki Lemah Teles "Aku bertempur untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki”

"Kau sudah terlambat puluhan tahun, Ki Lemah Teles. Yang mendorong kau sekarang datang menantang Ki Sambi Pitu sama sekali bukan harga dirimu sebagai seorang laki-laki. Tetapi hari-hari tuamu yang sepi. Kau merasa bahwa di hari tuamu kau sudah tidak berarti lagi, sehingga kau telah berusaha menunjukkan, bahwa kau masih Ki Lemah Teles yang dahulu.”

"Setan kau Bongkok. Sekarang aku tantang kau..." geram Ki Lemah Teles.

Tetapi Ki Pandi menjawab dengan keras pula, "Dengar. Jika aku menerima tantanganmu, maka kau akan mati. Sementara itu tidak akan ada orang yang menyalahkan aku, karena aku membunuhmu dalam perang tanding. Karena itu, maka jika kau masih ingin melawan hari tuamu dengan cara yang aneh-aneh dan tidak masuk akal, datanglah kepadaku. Aku akan menerima tantanganmu.”

"Sudahlah..." berkata Ki Sambi Pitu "Aku dapat mengerti niat baik Ki Pandi. Akupun sebenarnya menyadari, untuk apa aku berperang tanding?”

Ki Lemah Teles termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, "Kata-katamu membuat jiwaku menjadi lemah...” "Kau masih punya kesempatan untuk merenunginya." berkata Ki Pandi. "Mudah-mudahan nalarmu bertambah bening dihari tuamu.”

Ki Lemah Teles tidak menjawab. Dengan kaki yang terasa berat, ia berjalan menuju ke kudanya. Namun Ki Lemah Teles harus mengakui, bahwa ia sudah terlalu banyak memeras tenaganya, sehingga tubuhnya memang terasa menjadi sangat lemah. Sejenak kemudian terdengar derap kaki kudanya mengumandang menggetarkan udara Bulak Parapatan yang membentang dikaki sebuah bukit kecil itu.

"Terima kasih, Ki Bongkok..." desis Ki Sambi Pitu kemudian "Kau telah membebaskan aku dari persoalan yang tidak lebih dari kegilaan yang mencengkam jantung Ki Lemah Teles. Jiwanya yang sakit telah menyeret aku kedalam keadaan yang serupa. Untunglah bahwa aku segera menyadari hal ini karena kehadiranmu Ki Bongkok.”

"Aku sekedar mengingatkanmu. Sementara kau sudah menemukan pijakan baru dipadukuhan yang ramah itu. Kau dianggap orang tua yang menjadi panutan. Jika saja orang-orang padukuhan mengetahui apa yang kau lakukan malam ini, maka mereka tentu akan ikut melibatkan dirinya dan berdatangan kemari tanpa mengetahui bahaya sebenarnya ada disini. Bukankah untuk beberapa lama padukuhan itu dicengkam oleh ketegangan dan bahkan ketakutan karena pokal Ki Lemah Teles yang setiap kali berkeliaran dengan kudanya di padukuhan? Ketakutan yang amat sangat dapat meledak menjadi tenaga yang luar biasa besarnya.”

"Aku mengerti Ki Bongkok..." Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk.

"Tetapi apa pula kata orang-orang padukuhan jika mereka juga tahu, bahwa yang terjadi adalah sekedar gejolak perasaan orang yang kehilangan pegangan menjelang hari-hari tuanya.”

Ki Sambi Pitu tersenyum. Katanya "Aku memang harus menatap wajahku dipermukaan air tenang.”

"Kau dapat melihat bahwa orang-orang tua padukuhan, yang tidak pernah hidup dalam gejolak dunia yang lain, tidak merasa kehilangan apa-apa”

Ki Sambi Pitu mengangguk-angguk pula. Katanya kemudian, "Baiklah. Aku akan berusaha meyakinkan diri pada pijakanku sekarang ini. Meskipun demikian, aku minta Ki Pandi sekali-sekali datang melihatku.”

"Tentu" jawab Ki Pandi. "Aku yang masih saja berkeliaran ini mempunyai kesempatan lebih banyak untuk berkunjung. Tetapi aku masih mengemban beban yang tidak dapat aku letakkan, meskipun aku sendiri yang memungut beban itu dan membawa diatas bongkokku ini kemana aku pergi”

"Apakah aku boleh mengetahuinya?" bertanya Ki Sambi Pitu.

"Setan yang menyebut dirinya Panembahan Lebdagati itu masih berkeliaran...” jawab Ki Pandi.

Ki Sambi menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara serak ia bertanya. "Dengan burung-burung Elangnya?"

"Ya” jawab Ki Pandi.

"Baiklah Ki Pandi..." berkata Ki Sambi Pitu "Jika saja aku mendapat kesempatan untuk mengetahui, sengaja atau tidak sengaja, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi dimana aku dapat menemuimu?"

Ki Pandi tertawa. Katanya "Rumahku terbentang seluas atapnya. Langit”

"Aku mengerti..." desis Ki Sambi.

"Akulah yang akan singgah dirumahmu setiap kali” berkata Ki Pandi.

Demikianlah, maka Ki Pandipun telah minta diri. Ia akan melanjutkan perjalanannya. Tanpa menyembunyikan arah perjalanannya ia berkata, "Dibelakang hutan Jatimalang itulah aku pernah menemukan sebuah padepokan yang dibangun oleh Panembahan Lebdagati. Tetapi setelah padepokan itu hancur, Ki Lebdagati justru berkeliaran kemana-mana”

"Hubungi aku jika kau memerlukan. Setiap saat aku bersedia membantumu. Justru kesempatan untuk tetap merasa diriku berarti...” berkata Ki Sambi Pitu.

Dalam pada itu, Manggada dan Laksanapun telah minta diri pula kepada Ki Sambi Pitu. Sambil menepuk kedua orang anak muda itu, Ki Sambi Pitu berkata, "Kalian merupakan harapan masa depan bagi Ki Bongkok. Tetapi beruntunglah Ki Bongkok yang menemukan kalian berdua." Ki Sambi Pitu berhenti sejenak. Dengan ujung kelima jari tangan kanannya Ki Sambi menyentuh punggung kedua orang anak muda itu berganti-ganti. Kemudian memijit-mijit pundak mereka dan menyentuh lambung. Kemudian katanya "Jika Ki Bongkok datang kemari, aku harap kalian juga ikut bersamanya”

"Baik Ki Sambi Pitu" jawab Manggada dan Laksana hampir berbareng.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Pandi dan kedua anak muda yang menyertainya itu telah melangkah meninggalkan Ki Sambi Pitu yang berdiri termangu-mangu seorang diri. Namun Ki Sambi Pitu itupun segera melangkah pergi, kembali pulang kerumahnya.

"Nampaknya orang bongkok itu masih saja tidak membuat tempat tinggal yang tetap menjelang hari-hari tuanya” berkata Ki Sambi Pitu kepada dirinya sendiri. Tetapi kemudian ia berkata pula, "Meskipun demikian, ia dapat meletakkan masa depannya pada kedua anak muda yang dibawanya. Nampaknya keduanya adalah anak-anak baik, kokoh dan cerdas. Tetapi aku tidak dapat merasa iri akan keberuntungannya itu”

Sambil menundukkan kepalanya, Ki Sambi Pitu itupun melangkah menyusuri Bulak Parapat kembali ke padukuhan. Dalam perjalanan itu ia merasakan bahwa tubuhnya menjadi sangat letih. Kekuatan dan tenaganya memang serasa terkuras dalam perang tanding melawan Ki Lemah Teles. Perang tanding yang tidak ada artinya sama sekali. Baik bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang banyak.

"Seperti dikatakan Ki Bongkok." desis Ki Sambi Pitu "Jika perang tanding itu diteruskan, dan kami berdua atau salah seorang diantara kami mati, maka kematian itu adalah sia-sia.”

Sementara itu, Ki Pandi, Manggada dan Laksana telah berjalan meninggalkan Bulak Parapat. Tetapi merekapun kemudian telah berhenti ditepi hutan perdu itu untuk beristirahat. Meskipun mereka tidak terlibat sama sekali dalam perang tanding itu, tetapi ketegangan selama mereka mengikuti peristiwa di Bulak Parapat itu membuat mereka menjadi letih.

Dengan nada berat Ki Pandipun berkata, "Besok kita melanjutkan perjalanan menuju ke hutan Jatimalang untuk melihat perkembangan lingkungan di kaki Gunung Lawu, dibelakang hutan itu.”

"Apakah kita akan singgah dirumah Ki Ajar Pangukan?" bertanya Laksana.

"Ya” jawab Ki Pandi dengan serta-merta "Aku pernah tinggal bersamanya untuk ikut membayangi padepokan Panembahan Lebdagati itu”

"Tetapi apakah Ki Ajar masih berada ditempat yang dahulu?" bertanya Laksana pula.

"Mudah-mudahan Ki Ajar Pangukan masih tinggal digubugnya itu. Nampaknya ia sudah kerasan tinggal disana” jawab Ki Pandi.

Di dini hari ketiga orang itu sudah bersiap. Mereka mencuci muka di sebuah sungai kecil yang mengalir dipinggir hutan perdu itu. Agaknya Laksana merasa malas untuk berburu binatang. Dengan nada berat ia berkata, "Kita cari makan di kedai saja nanti.”

Ki Pandi tertawa. Katanya "Berburu dikedai agaknya lebih mudah dari berburu dipadang perdu ini”

"Bukankah kita mempunyai senjata yang baik untuk berburu di kedai”

Manggadapun tertawa pula. Tetapi iapun berkata, "Baiklah. Kami akan mengikuti saja apa yang kau inginkan”

Laksana ternyata tertawa paling keras. Namun dihutan perdu itu tidak seorangpun akan mendengarnya. Sebelum Matahari terbit, mereka sudah melanjutkan perjalanan mereka ke hutan Jatimalang. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju kehutan itu. Ketika Matahari terbit, mereka sudah semakin jauh dari Bulak Parapat. Mereka melintasi padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Langit nampak bersih kebiru-biruan. Jalan-jalan mulai ramai dilalui orang yang akan pergi ke pasar dan yang akan pergi ke sawah.

Ki Pandi, Manggada dan Laksana yang berjalan diantara orang yang mengalir itu menduga, bahwa mereka akan segera sampai ke pasar. Ternyata dugaan mereka benar. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki lingkungan yang terasa semakin ramai. Manggada dan Laksana mencoba mengingat-ingat, apakah mereka pernah melewati pasar itu sebelumnya.

"Belum..." desis Manggada "Kita belum pernah melewati jalan ini.”

Laksana mengangguk-angguk. Katanya "Ya. Agaknya memang belum.”

Namun ketika mereka sampai didepan pasar itu, tiba-tiba saja Laksana bertanya kepada Ki Pandi, "Bagaimana dengan orang yang mengikuti kita itu? Apakah Ki Pandi tidak melihatnya lagi?”

Ki Pandi menggeleng. Katanya "Ya. Agaknya orang itu kehilangan jejak kita. Mungkin ketika kita berada di hutan perdu itu.”

"Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan orang itu lagi” geram Laksana.

"Biar sajalah. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak" desis Manggada.

"Jika kita bertemu lagi dengan orang itu, aku ragu-ragu apakah aku dapat mengekang diriku untuk tidak membunuhnya” berkata Laksana.

"Jangan begitu" berkata Manggada "Kau akan menyesal jika ternyata orang itu bermaksud baik”

"Apakah mungkin orang itu bermaksud baik?"

"Kenapa tidak?"

Laksana mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. Demikianlah mereka berjalan terus. Pasar yang berada di tempat yang cukup luas dipinggir jalan itu adalah pasar yang cukup ramai. Disebelah pasar itu terdapat pemberhentian pedati dan disebelahnya lagi sebuah tempat yang terbiasa untuk menginap para pedagang dan sais pedati yang datang dari tempat yang agak jauh.

Ternyata Manggada dan Laksana tertarik untuk melihat-lihat isi pasar itu, sementara Ki Pandi pun tidak berkeberatan. Tetapi mereka tidak terlalu lama berada dipasar itu. Tidak ada benda-benda yang khusus yang tidak terdapat ditempat lain. Karena itu, maka ketiga orang itupun segera keluar lagi dari pasar itu untuk melanjutkan perjalanan.

Jalan yang kemudian mereka lalui, adalah jalan yang lurus menuju ke lereng Gunung Lawu. Tetapi Ki Pandi berkata, "Jika kita menempuh jalan ini, maka kita tidak akan mendekati lereng Gunung Lawu lewat hutan Jatimalang.”

"Jadi?" bertanya Laksana "Apakah kita akan menempuh jalan lain?"

"Sementara kita dapat mengikuti jalan lain. Tetapi kita akan berbelok ke kiri dan menyusuri jalan yang lebih kecil yang menuju ke Jatimalang, meskipun kita masih harus beberapa kali berbelok untuk sampai ke jalan yang pernah kalian lalui”

Manggada dan Lakasana mengangguk-angguk. Ki Pandi tentu mengenal jalan di sekitar hutan Jatimalang dengan baik. Demikianlah, maka ketiga orang itu berjalan menyusuri jalan yang panjang. Mereka melangkah semakin jauh dari pasar yang bertambah-tambah ramai ketika Matahari menjadi semakin tinggi.

Ketika Matahari naik semakin tinggi, maka ternyata Laksana berdesis, "Marilah, kita mulai berburu.”

Manggada tertawa menghentak, sementara Ki Pandi tersenyum pula. "Kenapa kau tidak berburu dipasar saja?" bertanya Manggada dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

Laksanalah yang tertawa berderai. Tetapi ia tidak menjawab. Setelah mereka berhenti disebuah kedai, maka merekapun berjalan langsung menuju ke Jatimalang. Disepanjang jalan mereka mecoba mengenali kembali, jalan mereka lalui sebelumnya.

"Memang sudah berubah..." berkata Ki Pandi ketika melihat Manggada dan Laksana sekali-sekali menjadi bingung.

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Nampaknya Pajang telah memerintahkan untuk membuka jalan menuju keseberang hutan Jatimalang, agar daerah itu tidak menjadi daerah yang seakan-akan terpisah.

Namun Ki Pandi tidak kehilangan pengenalannya atas lingkungan yang dikenalnya dengan baik. Karena itu, maka dengan pasti Ki Pandi membawa Manggada dan Laksana menuju kerumah Ki Ajar Pangukan yang terletak di daerah terpencil.

Ternyata meskipun Pajang telah mengusahakan agar lingkungan diseberang hutan Jatimalang tidak terpisah oleh hutan yang padat, namun tempat tinggal Ki Ajar Pangukan masih tetap rumit untuk dijangkau.

Perjalanan yang melelahkan itu akhirnya berakhir. Menjelang senja mereka telah mendekati tujuan. Manggada dan Laksana ingat benar gerojogan air yang meluncur dari tebing. Beberapa kali mereka harus memanjat lereng yang terjal. Baru kemudian mereka sampai kesebuah dataran dengan bangunan kecil beratap ilalang.

Dalam keremangan senja mereka melihat rumah itu masih berdiri ditempatnya. Pintu sudah tertutup. Namun ketiganya menarik nafas panjang ketika mereka melihat sinar lampu minyak yang memancar dari ruang dalam rumah kecil itu.

"Ki Ajar Pangukan masih tinggal dirumah itu?" desis Manggada meskipun agak ragu.

"Siapa tahu kalau orang lain yang menempatinya sekarang...” sahut Laksana.

"Tentu tidak. Tempat ini sangat terpencil...”

Keduanya terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Pandipun nampak sedikit ragu untuk dengan serta merta mengetuk pintu. Namun Ki Pandipun kemudian melangkah mendekat. Perlahan-lahan Ki Pandi mengetuk pintu yang sudah tertutup itu.

Tidak segera terdengar jawaban. Ki Pandi, Manggada dan Laksana menyadari, bahwa penghuni rumah itu harus sangat berhati-hati. Jarang orang yang mengetahui, bahwa ditempat itu terdapat sebuah rumah yang dihuni orang.

Sejenak ketika orang menunggu. Tetapi tidak terdengar jawaban atau langkah kaki atau tanda-tanda bahwa rumah itu dihuni kecuali nyala lampu minyak didalam. Ki Pandipun kemudian telah mengetuk pintu itu sekali lagi. Tetapi Ki Pandi itu tiba-tiba telah berbalik. Ia mendengar langkah lembut. Tetapi tidak didalam rumah.

Manggada dan Laksana terkejut melihat sikap Ki Pandi, karena mereka tidak mendengar desir kaki justru disebelah rumah, dibayangan kegelapan. Sejenak suasana menjadi hening. Namun tiba-tiba saja terdengar suara dari sebelah rumah,

"Kau itu Bongkok?”

"Ya Ki Ajar. Ini aku..." sahut Ki Pandi yang bongkok itu sambil melangkah mendekat.

Ki Ajar nampak sangat gembira sekali melihat kedatangan Ki Pandi. Apalagi bersama Manggada dan Laksana. "Marilah. Silahkan. Aku akan membuka pintu...”

Ki Ajar itupun kemudian masuk kembali kedalam rumahnya lewat pintu butulan. Langkah kakinya terdengar cepat mendekati pintu disusul suara selarak diangkat. Sejenak kemudian pintu itupun terbuka. Ki Ajar Pangukan mempersilahkan Ki Pandi, Manggada dan Laksana untuk masuk keruang dalam.

Setelah duduk disebuah amben bambu yang agak besar, yang hampir memenuhi sebagian ruang dalam itu, maka Ki Ajarpun telah menanyakan keselamatan perjalanan Ki Pandi serta kedua orang anak muda itu. Demikian pula Ki Pandi. Namun dalam pada itu, Ki Pandi nampak agak gelisah. Ia telah mendengar tarikan nafas seseorang dirumah itu. Tetapi Ki Pandi tidak segera menanyakannya.

Namun agaknya Ki Ajar Pangukan dapat membaca perasaan Ki Pandi. Karena itu, maka katanya, "Aku memang tidak sendirian dirumah ini.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia bertanya, "Siapakah orang itu, Ki Ajar?"

"Aku mengenalnya dengan sebutan Ki Jagaprana...” jawab Ki Ajar Pangukan "Agaknya kau sudah mengenalnya.”

Ki Pandi mengangguk kecil. Katanya, "Nama itu sudah pernah aku dengar Ki Ajar. Apakah ia sekarang tinggal bersama Ki Ajar disini?"

"Untuk sementara. Ia terluka meskipun tidak terlalu parah. Lukanya sudah berangsur baik. Mudah-mudahan dalam beberapa hari lagi, ia sudah benar-benar sembuh...”

"Kenapa orang itu terluka, Ki Ajar?" bertanya Ki Pandi.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian "Duduklah disini sebentar. Aku akan membuat minuman panas bagi tamu-tamuku.”

"Tidak usah..." berkata Ki Pandi "Biarlah kami merebus sendiri minuman kami. Bukankah sudah terbiasa bagiku untuk membuat minuman?"

"Tetapi sekarang kau dan kedua anak muda itu adalah tamu-tamuku..." berkata Ki Ajar kemudian.

Namun Ki Pandi berkata, "Sudahlah Ki Ajar. Ki Ajar jangan menjadi terganggu oleh kehadiranku sekarang.”

Ki Ajar Pangaukan tidak memaksa. Katanya kemudian, “Baiklah jika itu yang kalian kehendaki. Bukan aku yang tidak ingin menghargai tamu-tamuku.”

"Kami sama sekali bukan tamu disini..." sahut Ki Pandi.

Ki Ajar tersenyum. Kepada kedua orang anak muda yang datang bersama Ki Pandi, Ki Ajar Pangukan bertanya "Bagaimana awalnya, sehingga kalian datang bersama dengan Ki Bongkok itu?”

Manggada dan Laksana saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Manggada itupun bertanya, "Kisahnya cukup panjang Ki Ajar...”

"Tentu dalam rangka perjalanan Ki Bongkok memburu Panembahan Lebdagati.”

"Mulanya memang begitu Ki Ajar!" desis Ki Pandi "Namun kemudian keduanya ingin menyertai pengembaraanku untuk menambah pengalamannya yang masih terlalu sempit menurut pengakuan mereka berdua.”

Ki Ajar tertawa. Katanya, "Agaknya tersimpan jiwa pengembara dihati kalian berdua. Tetapi aku ingin menasehatkan, kalian harus dapat mengendalikan jiwa pengembaraan kalian itu, sehingga pada suatu saat kalian tidak akan menjadi orang-orang yang hidup tidak sewajarnya seperti kami. Maksudku, aku, Ki Bongkok dan barangkali ada orang-orang yang lain.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Manggada menjawab, "Kami akan berusaha, Ki Ajar...”

"Bagus!" jawab Ki Ajar "Jika usiamu bertambah, maka kau harus menetap, berumah tangga, mempunyai keturunan dan menumbuhkan keturunan dengan baik sesuai dengan tuntunan Yang Maha Agung. Kalian jangan hidup di tempat terpencil atau pengembara tanpa akhir seperti Ki Bongkok, apapun alasannya. Kalian tidak usah menambah jumlah orang-orang aneh seperti kami.”

Manggada dan Laksana masih mengangguk-angguk. Namun yang terbayang di angan-angan justru orang-orang yang hidup tidak sewajarnya itu tentu mengikuti panggilan hatinya untuk melakukan pengabdian. Namun kepada siapa mereka mengabdi, itulah yang penting diketahui. Panggilan untuk mengabdikan diri bagi Ki Pandi tentu berbeda dengan panggilan untuk mengabdi bagi Panembahan Lebdagati, yang mengabdikan diri pada dunia yang hitam.

Namun dalam pada itu, nampaknya perhatian Ki Pandi masih tertuju kepada orang yang disebut bernama Ki Jagaprana itu. Sekali-sekali bahkan ia berpaling ke sentong sebelah kiri yang pintu leregnya tertutup hampir rapat.

Ki Ajar Pangukan itupun kemudian berkata, "Ki Jagaprana itu sudah berada dirumah ini selama lebih dari sepekan.”

"Bukankah Ki Jagaprana termasuk orang berilmu tinggi?" bertanya Ki Pandi.

"Ya. Tetapi lawan bertandingnya memiliki kelebihan dari Ki Jagaprana.”

Ki Pandi memang ingin mengetahuinya. Tetapi pertanyaannya yang sudah diucapkannya tidak langsung dijawab oleh Ki Ajar Pangukan sehingga Ki Pandi merasa kurang pantas untuk mengulangi pertanyaannya. Mungkin Ki Ajar memang mempunyai keberatan untuk menyebut siapakah yang telah melukai Ki Jagaprana.

Namun ternyata bahwa Ki Ajar itu sendirilah yang berkata, "Ki Bongkok. Seandainya aku tidak mengatakannya sekarang, kau tentu akhirnya juga mengetahuinya.”

Ki Pandi menarik nafas panjang. Sementara Ki Ajar Pangukan itu berkata "Ki Jagaprana itu telah dilukai oleh seorang pengembara berkuda yang bernama Ki Lemah Teles.”

Ki Pandi terkejut. Manggada dan Laksanapun terkejut pula. Bahkan hampir diluar sadarnya. Laksana bertanya, "Jadi Ki Lemah Teles itu sampai ke tempat ini pula?"

Ki Ajar Pangukanlah yang terkejut. Dengan dahi yang berkerut ia bertanya, "Kau mengenal Ki Lemah Teles?"

Ki Pandilah yang menyahut "Secara kebetulan keduanya mengenal Ki Lemah Teles dan Ki Sambi Pitu, Ki Ajar”

"Kau yang memperkenalkan kedua anak muda ini kepada mereka?" bertanya Ki Ajar Pangukan.

"Dengan tidak sengaja!" jawab Ki Pandi yang kemudian menceriterakan apa yang pernah mereka lihat di Bulak Parapat.

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, "Jika demikian, Ki Lemah Teles itu sudah dihinggapi penyakit yang sangat berbahaya. Bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain yang pernah mempunyai persoalan dengan dirinya.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya "Apakah Ki Lemah Teles juga mengungkit persoalan yang sudah lama lalu sehingga ia harus bertanding dengan Ki Jagaprana.”

"Ya. Persoalan yang sebenarnya tidak perlu diungkit lagi sekarang ini, setelah cukup lama berlalu. Apalagi persoalannya bukan persoalan yang pantas untuk diselesaikan dengan perang tanding.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, "Ki Sambi Pitu memiliki ilmu yang setidak-tidaknya seimbang dengan Ki Lemah Teles. Tetapi justru karena itu, hampir saja kedua-duanya mengalami kesulitan, sedangkan persoalannya juga bukan persoalan yang mendasar yang pantas diselesaikan dengan perang tanding sebagaimana aku ceriterakan.”

Ki Ajar Pangukan mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya Ki Lemah Teles memerlukan perhatian khusus dari orang-orang sebaya kita. Agaknya ia melihat hari-hari tuanya dengan tatapan mata yang buram.”

"Persoalan apakah yang dipergunakan Ki Lemah Teles untuk memancing pertengkaran dengan Ki Jagaprana?" bertanya Ki Pandi.

"Ki Jagaprana justru orang yang terhitung dekat dengan Ki Lemah Teles. Ketika anak laki-laki yang tinggal satu-satunya meninggal, justru ketika ia sedang berusaha menyelamatkan seseorang, Ki Jagaprana berusaha untuk melerai pertengkarannya dengan keluarga menantunya. Agaknya mereka memperebutkan dua orang cucu. Saat itu, Ki Lemah Teles mau mendengarkan pendapat Ki Jagaprana untuk melepaskan cucunya dan menyerahkan kepada keluarga menantunya. Namun ternyata kemudian ia menyesal. Ia merasa kehilangan segala-galanya. Pada usia yang semakin tua, Ki Lemah Teles menyesali keputusan itu, dan menganggap Ki Jagapranalah yang bersalah. Ia menantang sahabatnya itu untuk berperang tanding, sehingga Ki Jagaprana mengalami luka-luka parah.”

Ki Pandi menarik nafas dalam-dalam. Ia sependapat dengan Ki Ajar, bahwa Ki Lemah Teles telah dihinggapi sejenis penyakit aneh yang dapat berbahaya bagi orang lain.

"Tetapi keadaannya sekarang sudah berangsur baik" berkata Ki Ajar Pangukan ”Setelah makan, Ki Jagaprana telah tertidur nyenyak. Biasanya ia akan terbangun menjelang tengah malam. Setelah itu, Ki Jagaprana jarang sekali tidur lagi.”

Ki Pandi mengangguk-angguk. Namun agaknya malam itu Ki Jagaprana tidak dapat tidur nyenyak sampai menjelang tengah malam. Pembicaraan di dalam rumah itu telah membangunkannya.

Untuk beberapa saat Ki Jagaprana mencoba mendengarkan pembicaraan diruang dalam. Ki Jagaprana itu mendengar namanya beberapa kali disebut. Bahkan kemudian ceritera Ki Ajar tentang dirinya. Perang tanding yang dilakukannya dan keadaannya saat itu. Karena itu, maka Ki Jagaprana itupun segera bangkit dan melangkah keluar dari biliknya.

"Oh..." Ki Ajar beringsut. "Marilah. Nampaknya kau telah terbangun.”

Sejenak Ki Jagaprana memandang Ki Pandi dengan tajamnya. Kemudian beralih kepada kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itu. Ki Jagaprana memang sudah mengenal orang bongkok yang juga pernah disebut-sebut oleh Ki Ajar Pangukan itu. Tetapi pengenalannya memang tidak cukup akrab. Meskipun demikian, maka sejenak kemudian Ki Jagaprana itu tersenyum. Sambil duduk diamben itu pula ia berdesis,

"Selamat datang ketempat yang terpencil ini Ki Sanak bertiga.”

"Terima kasih, Ki Jagaprana...” jawab Ki Pandi sambil membungkuk hormat.

"Bukankah kalian sudah saling mengenal?" bertanya Ki Ajar Pangukan.

"Ya" jawab Ki Jagaprana "Setidak-tidaknya mengenal kehadirannya didunia olah kanuragan.”

Ki Pandipun tersenyum. Katanya, "Aku lebih banyak dikenal bukan karena kemampuanku dalam olah kanuragan, tetapi karena kekhususan ujudku.”

"Ah, jangan begitu...!" Ki Ajar tersenyum "Jika kau saudara seperguruan Panembahan Lebdagati dan yang membebani dirimu dengan janji untuk membayangi dan bahkan melenyapkan wajah hitam yang melekat pada Panembahan itu, maka orang-orang setua kita akan dapat menilai tataran kemampuanmu. Meskipun aku sendiri pernah merasa penglihatanku kabur sehingga penilaianku atasmu keliru...”

"Ki Ajar sejak dahulu masih saja suka memuji..." desis Ki Pandi.

Demikianlah, maka mereka bertiga serta kedua orang anak muda yang menyertai Ki Pandi itupun mulai duduk berbincang tentang Ki Lemah Teles. Ki Jagaprana telah menceriterakan apa yang dialaminya saat ia harus berperang tanding melawan Ki Lemah Teles.

"Aku, yang merasa mengenalnya dengan akrab, tidak menduga, bahwa ia memang bersungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka aku terlambat untuk mengimbangi kemampuannya, sehingga aku telah terluka didalam. Bahkan terhitung parah...” berkata Ki Jagaprana sambil mengingat apa yang telah terjadi. Namun katanya kemudian "Tetapi ternyata masih juga tersisa nilai-nilai persahabatan kami. Ketika aku menjadi semakin tidak berdaya, maka ia telah meninggalkan aku begitu saja. Ia tidak membunuh aku sebagaimana tantangannya. Berperang tanding sampai tuntas.”

Ki Pandi mendengarkan ceritera itu dengan dahi yang berkerut, sementara Ki Jagaprana melanjutkan, "Tetapi aku tidak merasa terhina karenanya. Aku menerima kekalahan serta pengampunannya dengan ikhlas. Karena itu, aku tidak membunuh diri.”

Ki Pandi termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Ki Ajar dan Ki Jagaprana sendiri tertawa, iapun ikut tertawa pula.

"Sikapnya sangat menarik perhatian..." berkata Ki Pandi yang mempunyai penilaian yang sama dengan Ki Ajar Pangaukan.

Dalam pembicaraan yang berkepanjangan kemudian. Laksana yang lebih terbuka itu tiba-tiba saja bertanya. "Ki Ajar. Apakah untuk seterusnya Ki Ajar akan tetap tinggal disini? Apakah sepeninggal Panembahan Lebdagati, Ki Ajar tidak ingin tinggal ditempat yang lebih dekat dengan lingkungan kehidupan yang wajar sebagaimana Ki Sambi Pitu?"

Ki Ajar Pangukan tersenyum. Katanya, "Tentu aku ingin anak muda. Tetapi banyak hal yang mempengaruhi keputusan yang akan aku ambil. Aku kira tidak ada salahnya jika aku memberitahukan kepada kalian, termasuk Ki Jagaprana, bahwa tempat yang telah dibuka dilereng Gunung Lawu itu belum sepenuhnya tenang dan bersih dari kepercayaan hitam. Hal ini merupakan salah satu sebab, kenapa aku masih tetap ingin tinggal disini.”

"Tetapi bukankah kehidupan di lereng Gunung Lawu itu sudah dialiri arus kehidupan sebagaimana nampak di lingkungan yang lain? Hutan yang sudah ditembus dengan jalan yang cukup baik itu, telah memungkinkan para pedagang keluar masuk lingkungan di belakang Gunung Lawu ini.” berkata Laksana kemudian.

"Ya, anak muda. Tetapi ketahuilah, bahwa di tempat yang sedikit lebih tinggi, pada arah yang lain, masih terdapat sebuah perguruan yang menyadap ilmu hitam. Perguruan itu timbul setelah Panembahan Lebdagati meninggalkan lereng Gunung Lawu. Aku masih belum tahu pasti, apakah di perguruan itu tinggal bekas pengikut Panembahan Lebdagati atau orang lain yang juga berpijak pada ilmu hitam.”

"Jika demikian, tempat itu tentu agak jauh dari tempat tinggal Ki Ajar ini.” desis Laksana pula.

"Ya. Tetapi juga tidak terlalu jauh. Aku mencoba mengamati perguruan itu. Perguruan yang tinggal disebuah padepokan yang termasuk baru dibangun.”

"Mungkin beberapa pengikut Panembahan Lebdagati yang lepas dari ikatan ada yang memasuki perguruan itu, karena perguruan yang baru itu mempunyai pijakan yang sama dengan ajaran Panembahan Lebdagati.” desis Ki Pandi.

"Memang mungkin sekali." jawab Ki Ajar.

"Menarik sekali...!" desis Laksana.

"Apa yang menarik?" Ki Pandi pun tiba-tiba bertanya.

"Maksudku, perguruan itu memang menarik perhatian. Karena itu, maka Ki Ajar Pangukan tidak ingin pindah dari tempat ini. Setidak-tidaknya untuk sementara.” jawab Laksana.

Ki Pandi tersenyum. Katanya, "Apakah kau juga tertarik?"

Laksanapun tersenyum pula. Katanya, "Memang sangat menarik...!”

Ki Ajar Pangukan mengetahui arah bicara Laksana. Karena itu maka katanya, "Jika kau memang tertarik, aku tidak berkeberatan jika kau ikut bersamaku mengamatinya...”

Selanjutnya,
Matahari Senja Bagian 04