Menjenguk Cakrawala Bagian 07 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SH Mintardja
NAMUN, ternyata ketiga orang itu adalah orang-orang yang berhati tabah. Mereka tidak cepat kehilangan akal atau menjadi putus asa. Kadang-kadang mereka memang hampir tidak berpengharapan. Tetapi karena ketekunan mereka, maka akhirnya mereka menemukan kembali jalur jalan yang harus mereka lalui.

Tetapi dengan demikian, mereka tidak dapat memaksa diri untuk berjalan dengan cepat agar mereka segera keluar dari hutan itu. Mereka telah terlanjur ada di dalam lebatnya hutan, yang seakan-akan seperti jalan kusut dan sulit untuk dicari ujung pangkalnya.

Karena itu, bagaimanapun juga mereka berusaha, mereka tidak dapat mencapai tepi hutan itu sebelum matahari terbenam. Bahkan sebelum matahari itu merendah, terasa keadaan di dalam hutan telah menjadi gelap, sehingga mereka tidak mungkin lagi untuk meneruskan perjalanan. Mereka tidak dapat lagi menemukan jejak yang dapat menuntun mereka menuju ke arah yang benar.

“Kita terjebak di sini untuk semalam,” desis Laksana.

Ki Wiradadi tersenyum. Katanya, “Ya. Satu ujian bagi kita, apakah kita memang dapat melakukannya, bermalam di lebatnya hutan.”

“Ya,” sahut Laksana. “Jika kita gagal menempuh ujian kali ini, maka kita tidak akan pernah dapat mengulanginya lagi.”

“Bukan satu kesulitan bagi kita,” berkata Manggada.

Laksana tertawa. Tetapi mereka memang tidak dapat memilih. Mereka harus bermalam di hutan itu.

Demikianlah, tapi mereka masih mampu mengamati pepohonan yang seakan-akan tumbuh berdesakan itu, dan memilih pohon yang paling baik bagi mereka. Mereka tidak perlu menemukan tiga batang pohon. Tetapi mereka akan berada pada cabang-cabang pohon dari sebatang pohon yang cukup besar. Akhirnya mereka menemukan juga sebatang pohon yang tidak terlalu besar, tetapi juga bukan sekedar sebatang pohon perdu.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Ki Wiradadi. “Memang ada kemungkinan kita terhempas jatuh.”

Demikian mereka memanjat dan menemukan tempat yang mereka anggap baik, maka gelappun telah turun. Meskipun dari celah-celah dedaunan mereka masih melihat cahaya matahari yang lemah di bibir mega, namun cahaya itu sudah tidak mampu lagi menembus dedaunan dan menerangi perut hutan yang lebat itu.

Namun ketiga orang itu menyadari, bahwa malam tentu akan menjadi sangat panjang. Sebenarnyalah bahwa di malam yang sangat panjang itu, mereka bertiga hampir tidak tidur dalam arti yang sebenarnya. Sekali-sekali terasa tubuh merasa bagaikan akan kehilangan keseimbangan. Namun ternyata mereka bertiga cukup terlatih, sehingga mereka tidak terjatuh dari dahan sebatang kayu yang cukup tinggi.

Sementara itu, merekapun selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di samping berjenis-jenis serangga yang beracun, merekapun harus berhati-hati menghadapi ular-ular berbisa yang merayap di pepohonan, seperti ular gadung. Meskipun bisanya tidak setajam bisa ular hitam atau ular bandotan, namun ular gadung akan dapat membunuh juga jika terlambat mendapat penawarnya.

Di samping binatang-binatang berbisa, ada juga binatang buas lainnya seperti Harimau pun akan sangat berbahaya bagi mereka. Jenis harimau hitam yang mempunyai kebiasaan berkeliaran di cabang-cabang pepohonan.

Lewat tengah malam, mereka bertiga memasang anak panah pada busur mereka dan siap dilepaskan ketika mereka mendengar dengus harimau di bawah pohon itu. Bahkan kemudian harimau itu tidak sekedar mendengus, tetapi mengaum keras sekali. Tetapi ketiga orang yang memanjat pohon itu tidak sempat melihat harimau itu di dalam kegelapan.

Ternyata harimau itu tinggal beberapa lama di bawah pohon itu. Agaknya binatang itu telah mencium bau yang lain dari yang pernah diciumnya setiap hari, sehingga agaknya harimau itu ingin mengetahui, jenis makhluk apakah yang ada di atas pohon itu. Tetapi ternyata harimau itu tidak telaten menunggu. Karena harimau itu bukan sejenis harimau hitam yang sering memanjat pepohonan, maka akhirnya harimau itu telah melangkah pergi.

Namun naluri ketiga orang itu meskipun tidak melihat, tetapi dapat mengetahui bahwa di bawah mereka telah berkeliaran beberapa jenis binatang buas. Bulu tengkuk mereka sempat meremang ketika mereka mendengar bagaikan angin yang menderu gemeresak di bawah pepohonan. Ternyata sekelompok anjing hutan berlari-larian sambil sekali-sekali menggonggong dengan garangnya.

Betapapun panjangnya malam, tetapi akhirnya mereka melihat cahaya pagi yang mulai bersinar. Bayangan warna kekuningan memancar di atas pepohonan. Namun kemudian mulai menyusup di antara dedaunan dan jatuh di atas tanah yang lembab.

Ketika Ki Wiradadi mengajak mereka turun, Laksana masih sambil memejamkan matanya berkata, “Aku baru akan mulai tidur.”

“Tidur saja di bawah,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Kami berdua akan menungguimu sampai kau tidak merasa kantuk lagi.”

Laksana menggeliat. Ia tidak berkata apapun lagi ketika Ki Wiradadi dan Manggada sudah mulai turun. Laksanapun kemudian menyilangkan busurnya di punggung. Iapun kemudian telah menelusur pula turun, sebagaimana kedua orang yang lain. Beberapa saat mereka mulai membenahi diri. Perut mereka memang mulai merasa lapar. Tetapi mereka harus bertahan untuk beberapa lama.

Sambil menelusuri jalan keluar dari hutan itu, mereka bertiga sempat pula berburu. Ternyata mereka bertiga telah berlomba untuk mendapatkan seekor binatang buruan dari jenis apapun.

“Kita mempunyai kesempatan beberapa lama. Jika cahaya matahari itu membuat bayangan badan kita sama sepanjang tubuh kita yang sebenarnya, maka kita harus sudah ada di sini. Mendapat atau tidak mendapat buruan,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Jangan tersesat. Kita masing-masing dapat bersuit dengan mulut kita.”

Ketiganya kemudian mencoba untuk bersuit dengan mulut dan jari-jari tangan mereka. Baru kemudian, mereka telah meninggalkan tempat itu untuk berburu, agar mereka tidak menjadi kelaparan. Dengan hati-hati mereka menuju ke tempat yang berbeda. Laksana yang kebetulan mengarah ke sebuah mata air kecil, duduk saja di atas sebuah batu sambil mempersiapkan sebuah anak panah di busurnya. Pagi itu ternyata angin tidak bertiup. Dengan demikian maka Laksana mempunyai banyak harapan.

Beberapa saat lamanya, tidak seekor binatangpun nampak minum di mata air kecil itu. Ketika ia melihat langit, rupa-rupanya hari telah menjadi semakin kering. Sekali ia sempat memandang sorot matahari yang jatuh di sebelah mata air itu. Menilik sudut jatuhnya sinar matahari, maka waktunya tinggal sedikit.

“Biar saja,” berkata Laksana di dalam hatinya. “Tentu salah seorang dari antara Ki Wiradadi dan Manggada akan mendapatkan seekor binatang buruan. Jika tidak, maka kami bertiga akan bersama-sama kelaparan.”

Ketika Laksana hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia melihat seekor kijang yang dengan hati-hati mendekati mata air itu. Dengan sangat berhati-hati pula Laksana mempersiapkan dirinya. Ternyata latihan-latihan yang pernah dilakukan berarti pula saat itu. Laksana berhasil mengurangi suara sentuhan kakinya pada dedaunan kering, sehingga kijang itu tidak terkejut karenanya.

Ternyata kijang itu memang bernasib buruk. Anak panah Laksana telah mengakhiri hidupnya di saat kijang itu sedang minum di mata air kecil di dalam hutan yang lebat itu. Pada saat yang telah disepakati, Laksana kembali ke tempat yang sudah ditentukan dengan seekor binatang buruan.

Ternyata Manggada dan Ki Wiradadi tidak berhasil mendapatkan seekor binatang buruannya. Ketika Laksana menjatuhkan binatang buruannya di hadapan Ki Wiradadi dan Manggada sambil mengangkat dadanya, maka Manggada tersenyum sambil berkata, “Kau memang luar biasa.”

“Aku kekurangan waktu. Aku menemukan seekor rusa. Tetapi aku harus mengikutinya untuk waktu yang lama jika aku ingin mendapatkannya. Karena itu, aku biarkan saja rusa itu pergi,” berkata Ki Wiradadi.

“Aku bertemu dengan seekor harimau,” berkata Manggada. “Rasa-rasanya aku memang tidak ingin makan daging harimau yang panas itu.”

Tetapi sambil mengangkat wajahnya, Laksana berkata, “Apapun alasan kalian, tetapi ternyata akulah yang menang kali ini.”

“Ya,” jawab Ki Wiradadi. “Kita akan mengulitinya dan memanggangnya di luar hutan.”

“Di luar hutan? Apakah hutan ini sudah tidak terlalu panjang lagi?” bertanya Laksana.

“Aku kira tidak,” berkata Ki Wiradadi.

Laksana termangu-mangu. Tetapi Manggada ternyata sependapat. Katanya, “Hutan ini terlalu lebat untuk memanggang binatang buruan. Sepercik api akan dapat mendatangkan bencana.”

“Tetapi bantu aku membawa hasil buruan ini,” berkata Laksana.

Manggadalah yang sambil tertawa berkata, “Marilah. Aku akan membantumu. Aku juga memerlukan daging kijang itu.”

Ternyata hutan itu memang sudah tidak terlalu tebal lagi. Beberapa saat kemudian, mereka mulai melihat cahaya terang, bukan saja dengan menengadahkan wajah mereka dan memandang ke langit, tapi di hadapan mereka, dari celah-celah pepohonan.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian mereka benar-benar telah keluar dari hutan. Demikian mereka berdiri di sebuah padang perdu di pinggir hutan itu, maka rasa-rasanya nafas merekapun menjadi lebih longgar. Pandangan mereka menjadi semakin luas. Namun merekapun melihat bahwa di hadapan mereka berdiri dengan garangnya Gunung Lawu.

Ketiga orang itu menyadari, bahwa perjalanan selanjutnya adalah memanjat Gunung Lawu untuk menemukan sarang dari orang-orang yang berkepercayaan sesat itu. Ki Wiradadi yang memiliki pengalaman paling luas di antara mereka, dengan panggraitanya, seakan-akan telah melihat bahwa bahaya akan datang setiap saat. Karena itu, iapun kemudian memperingatkan kepada anak-anak muda itu agar lebih berhati-hati.

“Tetapi kita akan berhenti di sini untuk memanggang hasil buruan kita,” berkata Laksana.

Ki Wiradadi mengangguk. Mereka tidak akan mendapatkan tempat yang lebih baik untuk memanggang hasil buruan mereka. Karena itu, maka beberapa saat kemudian ketiga orang itu telah menyiapkan perapian. Dengan batu api mereka telah membuat api. Emput dari gelugut aren yang kemudian dihembuskan pada rerumputan kering.

Manggada telah mencari beberapa potong kayu kering, beberapa buah dahan dan ranting yang terjatuh dari pohonnya karena ketuaannya atau karena tiupan angin yang keras, atau di saat hujan yang dibarengi dengan angin prahara.

Beberapa saat kemudian, asappun telah mengepul tinggi. Ketiganya mulai memanasi hasil buruan mereka di atas api. Meskipun Manggada dan Laksana belum pernah benar-benar menjadi seorang pemburu, tetapi mereka pernah melakukan latihan tinggal di dalam hutan.

Mereka telah berlatih untuk hidup tanpa membawa bekal apapun, menyusup ke dalam hutan yang lebat. Namun mereka tetap bertahan hidup. Dan dalam keadaan tertentu, mereka tidak kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka jika harus menghadapi bahaya.

Sebenarnya ketiga orang itu memang telah merasa lapar. Karena itu, demikian hasil buruan mereka masak, merekapun segera telah menikmatinya. Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memperingatkan kedua orang anak muda yang bersamanya itu,

“Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang wajar.”

Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda yang terlatih dengan baik. Meskipun mereka belum merasakan sesuatu, tetapi mereka menyadari bahwa kemungkinan yang tidak mereka kehendaki akan dapat terjadi. Asap dari perapian yang telah mereka buat agaknya memang dapat memancing perhatian orang lain.

Ketika mereka bertiga sudah merasa cukup, maka mereka telah memadamkan api yang mereka buat. Sementara itu, sisa makan mereka masih tetap terpanggang di bekas perapian yang masih hangat itu. Agaknya makanan yang telah mereka makan itu mampu membuat tubuh mereka bertiga menjadi bertambah segar. Darah mereka telah mengalir dengan wajar. Kaki mereka tidak lagi terasa lemah.

Ketika mereka kemudian merasa cukup lama beristirahat, setelah makan dengan kenyang, mereka mulai melangkah lagi ke arah bukit yang berdiri dengan garang di hadapan mereka. Beruntunglah mereka, ketika mereka menemukan sebuah pancuran alam yang meskipun kecil, namun mengalir air jernih sekali, sehingga mereka bertiga tidak segan untuk minum air dari pancuran di antara bebatuan di sebuah lereng yang tidak begitu tinggi.

Gunung Lawu memang masih jauh. Tetapi sudah mulai terasa jalan mendaki. Gumuk-gumuk kecil di antara padang perdu, berserakan di mana-mana. Mereka bertiga menyusuri jalan setapak berbatu padas. Namun mereka yakin bahwa jalan yang mereka lalui adalah jalan yang menghubungkan Hutan Jatimalang dengan lereng Gunung Lawu dari arah barat.

Namun sekali lagi, panggraita Ki Wiradadi telah memperingatkan mereka, bahwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan mereka. “Berhati-hatilah. Medannya sangat asing bagi kita. Banyak hal yang tidak kita ketahui disini,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana memaklumi. Karena itu, mereka mempersiapkan diri. Namun justru karena itu, mereka tidak mempersiapkan busur dan anak panah. Jika mereka terkejut karena sesuatu hal, maka akan dapat terjadi bencana, sebelum mereka pasti dengan siapa mereka berhadapan. Karena mereka yakin, bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan binatang buas.

Beberapa saat mereka menyusuri jalan setapak. Di hadapan mereka terbentang padang perdu agak luas. Namun jauh di seberang padang perdu, masih nampak gerumbul-gerumbul hijau lainnya.

“Apakah itu sebuah padukuhan?” bertanya Laksana.

Manggada menggeleng. Bahkan sambil berpaling kepada Ki Wiradadi, iapun bertanya, “Apakah itu sebuah padukuhan?”

“Memang mungkin,” jawab Ki Wiradadi, “tetapi tentu dengan penghuni yang khusus. Di padukuhan terakhir sebelum kita memasuki Hutan Jatimalang, kita sudah melihat ketidak-wajaran antara para penghuninya. Jika demikian, tentu para penghuni padukuhan itu termasuk orang-orang yang aneh pula.”

Tetapi Manggada yang mengerutkan keningnya berkata, “Rasa-rasanya daerah ini belum dibuka, meskipun kemungkinan untuk itu ada. Di sini banyak terdapat sumber-sumber air yang dapat mengaliri tanah yang memungkinkan untuk dijadikan sawah atau setidak-tidaknya pategalan. Sementara tanah masih belum terlalu miring. Tetapi nampaknya jarak yang panjang antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu itu belum banyak menarik perhatian. Karena itu, nampaknya yang kita lihat bukan sebuah padukuhan. Tetapi sebuah hutan kecil yang memanjang. Tetapi di belakang hutan kecil itu, aku yakin, masih terbentang hutan liar yang lebat. Tetapi berbeda dengan Hutan Jatimalang, hutan di lereng itu adalah hutan pegunungan, dengan jenis-jenis binatang pegunungan pula.”

“Apa bedanya?” bertanya Laksana.

“Jenis binatangnya agaknya tidak banyak berbeda,” jawab Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Sementara perasaan Ki Wiradadi menjadi semakin terganggu oleh kegelisahan yang mendebarkan. Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan kelompok pepohonan hijau yang mereka perbincangkan, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memberi isyarat kepada kedua orang anak muda itu. Dengan serta-merta mereka bertigapun berhenti.

“Hati-hati. Aku melihat seseorang di balik bebatuan,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksanapun telah bersiap. Mereka bertiga berdiri pada jarak yang tidak terlalu dekat. Demikian ketiga orang itu berhenti, beberapa orang telah muncul dari balik bebatuan. Dalam waktu dekat, ketiga orang itu segera mengetahui, bahwa lima orang telah mengepung mereka. Menilik sikap dan ujudnya, mereka tentu orang-orang yang sangat garang.

Ketiga orang itu berdiri termangu-mangu. Namun mereka memang harus menyesuaikan diri dengan kelima orang itu, sehingga mereka menghadapi ke tiga arah. Orang yang nampaknya memimpin kelima orang itu melangkah lebih dekat di hadapan Ki Wiradadi sambil bertanya,

“Siapakah kalian bertiga, Ki Sanak?”

Ki Wiradadi, orang tertua di antara ketiga orang itu menjawab, “Kami sedang berburu, Ki Sanak.”

“Berburu kemana? Hutan yang lebat telah kalian lampaui?” berkata orang itu.

“Ya,” sahut Ki Wiradadi. “Tiba-tiba saja kami terdorong oleh satu keinginan untuk melihat apa yang terdapat di antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu. Ternyata terbentang tanah, yang menurut pengamatan kami, cukup subur, tetapi tidak mendapat perhatian dari orang-orang di seberang Hutan Jatimalang, sehingga tanah ini belum digarap. Di sini masih terbentang hutan perdu yang luas. Sementara itu, kita melihat banyak aliran air yang nampaknya mengalir di sepanjang tahun.”

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “aku minta Ki Sanak tidak meneruskan perjalanan. Kami masih mempunyai kemauan baik atas Ki Sanak. Karena itu, kami peringatkan agar Ki Sanak kembali saja dan berburu di Hutan Jatimalang.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi. “Lihat, lereng Gunung Lawu itu sangat menarik. Tentu masih banyak binatang buas terdapat di hutan itu. Selain hutan itu sendiri, lereng yang panjang ini juga menarik perhatian. Lereng yang panjang ini akan dapat menjadi daerah pertanian yang subur dan memberikan banyak kemungkinan di hari depan.”

“Sudahlah,” berkata orang itu, “jangan berpikir tentang hal-hal yang tidak berarti. Jangan dikira daerah ini belum disentuh tangan. Karena itu, kami harap kalian meninggalkan tempat ini dan tidak kembali untuk seterusnya.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “tidak ada orang yang dapat keluar dari daerah ini dengan selamat. Tetapi aku masih memberi kesempatan kepadamu untuk hidup.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Ki Wiradadi. “Apakah ada orang yang berhak berbuat sebagaimana kau lakukan?”

“Aku dan kawan-kawanku telah berada di tempat ini sejak waktu yang lama,” berkata orang itu.

“Tetapi tidak untuk berbuat seperti itu,” berkata Ki Wiradadi.

“Cukup,” orang itu telah membentak. “Aku tidak mempunyai banyak waktu. Selagi aku berada di tempat ini, aku minta kau meninggalkan tempat ini. Kau harus merasa beruntung bahwa asap perapianmu telah memanggil kami, sehingga kami datang menemui kalian sebelum kalian sampai ke tempat itu.”

“Ke tempat yang mana yang kau maksud?” bertanya Ki Wiradadi.

“Persetan,” geram orang itu. “Jika kau benar-benar melewati batas, maka hanya gema namamu saja yang akan keluar dari lingkungan ini.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Wiradadi, “sebaiknya kau tidak usah mencampuri persoalan kami. Kami ingin naik ke hutan di lereng Gunung Lawu. Kami tidak akan mengganggu kalian. Dan sebaiknya kalian juga jangan mengganggu kami.”

“Jangan banyak bicara lagi,” potong orang itu. “Turun kembali, atau kalian akan menjadi mayat di sini.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Berkatalah terus terang, Ki Sanak. Jika nalarku dapat menangkap maksudmu, maka aku tentu akan melakukannya. Tetapi jika kau hanya sekedar membentak-bentak, maka kami tidak akan bersedia melakukannya. Kami adalah pemburu-pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, menghadang bahaya dan menempuh lingkungan yang paling rumit, sekalipun menantang maut.”

Orang itu justru menjadi semakin marah. Dengan wajah garang ia berkata, “Apalagi yang harus aku katakan? Pergi dari tempat ini, atau kalian akan mati disini.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk sambil berkata, “Tentu ada sesuatu yang kalian rahasiakan. Tidak boleh ada orang lain mengetahuinya. Justru karena kau menyebut batas, maka kami menjadi ingin tahu tentang batas itu. Karena itu, jangan halangi kami pergi kemanapun, bahkan ke batas yang kau sebutkan itu.”

“Persetan,” geram orang itu. “Agaknya kalian bertiga benar-benar ingin mati. Kalian ternyata telah melakukan satu kesalahan yang berbahaya. Kalian mengira bahwa seorang pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, yang terbiasa menghadang bahaya serta menantang maut, tentu orang-orang yang memiliki kemampuan tidak ada duanya. Kau telah salah menilai kemampuan seseorang sebagaimana liar dan garangnya seekor binatang.”

“Setidak-tidaknya, wadagku telah terlatih,” jawab Ki Wiradadi. “Karena itu dengan dukungan ilmu sekedarnya saja, maka kemampuanku tentu sudah sangat berarti untuk mempertahankan hidupku.”

“Bagus,” geram orang itu. “Jika demikian, kalian memang harus dibunuh. Tidak ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk mencegah niat kalian naik lebih tinggi lagi di kaki Gunung Lawu ini.”

“Kami telah siap mempertahankan hidup kami. Tetapi jika untuk mempertahankan hidup kami harus membunuh orang lain, apa boleh buat,” geram Ki Wiradadi.

Kelima orang itupun bergerak serentak ketika mereka melihat isyarat tangan pemimpin mereka. Mereka mendekati ketiga orang itu dari lima arah yang berbeda. Pemimpin mereka berhadapan dengan Ki Wiradadi, sementara keempat orang yang lain berhadapan dengan dua orang anak muda yang sedang menanjak dewasa.

Ki Wiradadipun segera bersiap. Tetapi ia tidak mau terganggu oleh busur dan anak panah di dalam endong yang berat. Demikian pula Manggada dan Laksana. Mereka berdua meletakkan busur dan anak panah yang memberati gerak mereka.

“Tidak ada pilihan lain bagi kita,” berkata pemimpin kelima orang itu kepada kawan-kawannya. “Mereka harus dimusnahkan. Jika mereka tetap hidup, mereka tentu masih saja berniat melihat daerah ini, dan barangkali mereka akan menjadi bahaya terbesar bagi kita untuk selanjutnya.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka mulai bergerak dan siap untuk bertempur.

Manggada dan Laksana mengambil jarak. Masing-masing harus menghadapi dua orang lawan. Karena anak-anak muda itu belum tahu tataran kemampuan lawan, mereka benar-benar harus mempersiapkan diri menghadapinya.

Ki Wiradadi justru menjadi cemas. Nampaknya kelima orang itu ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Mereka mengira bahwa kedua anak muda itu akan dapat lebih cepat diselesaikan. Kemudian mereka berlima akan dengan mudah membunuh Ki Wiradadi.

Tetapi Ki Wiradadi tidak mendapat kesempatan untuk banyak berpikir. Pemimpin dari kelima orang yang mengepungnya itu tiba-tiba saja meloncat menyerangnya. Ki Wiradadi dengan cepat mengelakkan serangan itu. Namun dengan demikian, Ki Wiradadi dapat menangkap kesan tingkat kemampuan lawannya. Sambaran angin serangannya itu terasa bagaikan menampar kulitnya.

Dengan demikian, Ki Wiradadi mempersiapkan segenap kemampuannya. Ia tidak dapat meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Jika demikian, ia tentu akan terlambat. Apalagi Ki Wiradadi masih harus menjajagi kemampuan lawannya yang sebenarnya. Karena itulah Ki Wiradadipun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi pemimpin dari sekelompok orang yang tidak dikenalnya itu.

Manggada dan Laksanapun telah bersiap sepenuhnya. Kemudian mereka telah memanasi darah yang mengalir di dalam tubuh mereka. Keduanya sama sekali tidak gentar meskipun mereka masing-masing harus berhadapan dengan dua orang. Bahkan Laksana yang tidak sabar, telah meloncat mendahului lawannya. Serangannya datang bagaikan arus banjir bandang. Beruntun terhadap salah seorang lawannya.

Ternyata serangan Laksana itu mengejutkan. Dengan jantung yang berdebaran, lawannya yang mendapat serangan beruntun itu harus berloncatan menghindar. Bahkan nampaknya Laksana tidak ingin melepaskannya. Dengan cepat pula ia memburunya dengan serangan-serangan yang seakan-akan tidak terbendung. Pada serangan pertamanya yang mengejutkan itu, ternyata Laksana dapat langsung mengenai tubuh lawannya beberapa kali, sehingga terdengar keluhan tertahan.

Lawannya yang seorang benar-benar menjadi kesakitan tanpa kesempatan untuk membalas. Namun kawannya dengan segenap kemampuannya berusaha menyusul dan membantunya. Dengan garang, bahkan sambil berteriak keras, lawannya yang seorang telah menyerangnya pula.

Laksana menyadari bahaya yang datang. Karena itu ia terpaksa melepaskan lawannya untuk menghadapi lawan yang baru datang. Tanpa ragu-ragu, Laksana membentur serangan lawannya itu dengan mengerahkan sepenuh kekuatan.

Ternyata lawannya benar-benar telah terkejut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak muda itu dengan serta-merta telah membentur kekuatannya. Apalagi ternyata anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Laksana memang terdorong surut selangkah. Tetapi lawannya yang menyerang dengan sepenuh tenaganya itu, seakan-akan telah membentur batu padas di lereng bukit. Karena itu ia terlempar beberapa langkah surut. Dan bahkan untuk memperbaiki keseimbangannya, orang itu justru telah menjatuhkan diri, berguling sekali dan kemudian melenting berdiri.

Jantungnya memang agak terasa bergetar semakin cepat. Namun ia harus menenangkan dirinya menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu. Sementara kawannya yang seorang lagi, telah berusaha memperbaiki keadaannya.

Tetapi Laksana memang tidak memberinya kesempatan. Demikian lawannya yang seorang sedang berusaha memperbaiki keseimbangannya, Laksana telah menyerang lawannya yang seorang lagi dengan cepatnya.

Ternyata kecepatan gerak dan keputusan yang diambil dengan tiba-tiba oleh Laksana sempat membingungkan kedua lawannya. Ternyata Laksana seakan-akan tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua, untuk pada satu saat, bekerja bersama melawannya.

Sementara itu, Manggada telah mempergunakan cara yang lain untuk melawan kedua orang lawannya. Ia bergerak lebih tenang dari Laksana. Manggada tidak meloncat-loncat menyerang kedua lawannya berganti-ganti, tetapi Manggada lebih banyak menunggu. Ia berdiri tegak dengan kaki renggang, Kemudian lututnya mulai ditekuk sehingga Manggada telah berdiri merendah. Kedua tangannya bersilang di dadanya.

Dengan hati-hati Manggada menghadapi kedua lawannya dengan ketajaman penglihatan serta kemampuannya. Meskipun ia memilih bertempur melawan kedua lawannya bersama-sama, tetapi ternyata bahwa anak muda itu cukup tangkas untuk melakukannya. Dengan cepat ia meloncat menghindar dan sekaligus menyerang. Menggeliat dan kemudian merendah.

Namun ketika tubuhnya berputar, maka kakinya terayun mendatar menyambar ke arah salah seorang lawannya. Ternyata kedua lawannya tidak dengan mudah dapat menundukkannya. Bahkan semakin lama anak muda itu rasa-rasanya menjadi semakin cepat bergerak, dan tenaganyapun menjadi besar.

Karena itu, kedua lawannya menjadi semakin sulit untuk menghadapinya. Anak muda itu bagaikan tidak berjejak di atas tanah. Sekali ia meloncat kesana, kemudian melenting kemari. Menghindari serangan-serangan yang kadang-kadang datang bersamaan, namun kemudian justru Manggadalah yang telah menyerang dengan garangnya.

Selagi kedua anak muda itu bertempur dengan sengitnya, maka Ki Wiradadipun harus mengerahkan kemampuannya pula. Ternyata pemimpin kelompok orang-orang yang mencegatnya itu memiliki kemampuan yang tinggi. Dengan garangnya orang itu menyerangnya dengan tangan dan kakinya berganti-ganti.

Namun Ki Wiradadi tidak kalah garangnya. Ia telah mengerahkan kemampuannya pula, sehingga dengan mantap ia telah mampu mengimbangi ilmu lawannya.

Kedua orang itu bertempur lebih lamban dari anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu. Ki Wiradadi dan lawannya ternyata lebih banyak berusaha menahan diri untuk tidak dengan serta-merta menghabiskan tenaga mereka, meskipun mereka telah sampai pada tataran kemampuan tertinggi mereka.

Namun mereka ternyata bertempur lebih mantap. Keduanya berusaha untuk memperhitungkan segala langkah mereka, karena keduanya memiliki pengalaman yang cukup luas.

Yang bertempur dengan keras adalah justru Laksana. Ia benar-benar tidak memberi kesempatan kepada lawan-lawannya. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaik-baiknya. Laksana lebih senang bertempur melawan kedua lawannya seorang demi seorang. Meskipun pada saat-saat yang gawat, ketika kedua lawannya mendapat kesempatan bersama-sama menyerangnya, Laksana masih juga mampu mengatasinya.

Bahkan Laksana masih sempat berkata kepada diri sendiri, “Untunglah aku telah makan daging cukup banyak. Jika belum, maka aku akan cepat menjadi lemah menghadapi kedua orang gila ini.”

Dalam pada itu, Ki Wiradadi yang semula mencemaskan anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu, ternyata setiap kali sempat mengamati apa yang telah terjadi. Ki Wiradadi tidak lagi merasa terlalu cemas. Ia melihat apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang anak muda itu, sehingga dengan demikian, ia sempat memusatkan perhatiannya kepada lawannya.

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Semua orang yang terlibat dalam pertempuran itupun telah menggenggam senjata. Nampaknya kelima orang itu benar-benar ingin membunuh Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu.

Dengan teriakan-teriakan nyaring lawan Ki Wiradadi itu telah mengacu-acukan senjatanya. Memutar dan menebas mendatar. Namun Ki Wiradadi telah mempergunakan senjata pula untuk mengatasi kegarangan lawannya.

Laksana dan Manggadapun telah mengerahkan kemampuannya pula. Dengan senjata di tangan, maka lawan mereka menjadi semakin garang pula. Dua orang bagi setiap anak muda itu memang merupakan lawan yang berat. Tetapi Laksana dan Manggada tidak menjadi gentar. Bahkan keduanya seakan-akan telah didorong untuk mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi pendadaran yang berat. Pendadaran yang mempertaruhkan bukan saja kemungkinan untuk diakui tataran kemampuannya, tetapi juga mempertaruhkan nyawanya.

Seperti lawan Ki Wiradadi, maka keempat lawan Manggada dan Laksanapun sama sekali tidak mengekang diri. Merekapun benar-benar ingin membunuh kedua anak muda itu. Sehingga karena itu, maka senjata-senjata merekapun telah langsung mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya di tubuh anak-anak muda itu.

Ternyata bahwa senjata kedua lawannya telah sempat membuat Laksana mengalami kesulitan. Ketika kedua orang lawannya menjadi semakin kasar dan semakin garang, maka Laksana memang merasa terdesak.

Kedua lawannya tidak saja bertempur dengan kakinya, dengan tangannya dan senjata di genggamannya, tetapi kedua lawannya juga bertempur dengan mulutnya. Mereka berteriak-teriak kasar dan mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor, sehingga telinga Laksana rasa-rasanya bagaikan dipanggang di atas api.

Dalam kekalutan pemusatan nalar budinya karena teriakan-teriakan yang kotor itu, maka tiba-tiba saja terasa sentuhan di lengan Laksana. Ternyata ia kurang cepat mengelakkan serangan lawannya di saat ia menangkis ujung senjata lawannya yang seorang lagi.

Laksana yang menyadari lengannya terluka, telah meloncat mengambil jarak dari kedua lawannya. Ketika ia meraba lengannya yang menjadi pedih itu, maka iapun telah menggeram. Terasa di telapak tangannya, darahnya yang hangat memang sudah menitik dari lukanya itu.

Anak muda itu menjadi sangat marah. Luka di lengannya membuatnya bagaikan banteng yang terluka. Sejenak kemudian, maka iapun telah meloncat menyerang. Senjatanya berputaran dengan garangnya melibat lawannya berganti-ganti.

Tetapi kedua lawannyapun yang telah melihat Laksana terluka berusaha untuk semakin menekannya. Keduanya telah bergerak semakin cepat. Dengan mengerahkan sisa tenaga yang ada pada mereka, maka mereka ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Laksana yang masih belum banyak berpengalaman itu ternyata memang telah terpancing oleh tatagerak lawannya. Anak muda itu melayani kedua lawannya yang bergerak dengan langkah-langkah panjang. Sementara lengannya masih saja menitikkan darah, bahkan semakin banyak ia bergerak, darah itu seakan-akan bagaikan ditekan dari urat nadinya.

Laksana yang marah itu ternyata hampir melupakan pesan gurunya. Dalam kemarahan yang tidak terkendali, maka Laksana seakan-akan tidak mempergunakan perhitungan lagi. Ia sama sekali tidak berusaha menghemat tenaganya.

Kedua lawannya meskipun mengakui kemampuan anak muda itu, tetapi ternyata mereka memiliki pengalaman yang lebih luas. Selebihnya mereka sama sekali tidak lagi memperhitungkan harga diri sehingga mereka telah bertempur dengan licik.

Kemarahan dan kemarahan yang tertimbun di dalam dada Laksana telah membuat nalarnya menjadi kabur. Bahkan ia benar-benar tidak lagi mampu menilai unsur-unsur geraknya sendiri.

Manggada yang melihat keadaan Laksana menjadi cemas. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu, karena ia sendiri harus memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan dua orang lawannya yang tidak kalah garang dan kasarnya dari kedua lawan Laksana.

Manggada sendiri telah terloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak, ketika sekali lagi ia melihat ujung senjata lawannya mengenai pundak Laksana. Laksana memang berteriak untuk melontarkan ungkapan kemarahannya. Tetapi teriakannya itu sama sekali tidak menolongnya. Apalagi kedua lawannya juga berteriak-teriak lebih keras dan bahkan lebih kasar dan dengan kata-kata kotor.

Ki Wiradadi yang baru saja mapan, telah merasa terganggu pula perhatiannya oleh keadaan Laksana. Iapun melihat bahwa Laksana telah terluka di lengan dan di pundaknya.

Apalagi lawannya nampaknya dengan sengaja memberinya kesempatan untuk melihat luka Laksana. Bahkan katanya, “Sebentar lagi kawanmu yang muda itu akan mati. Sejenak kemudian yang seorang lagi akan mati juga. Kau memang agaknya akan mati terakhir. Namun justru setelah kau melihat kedua orang kawanmu terbaring menjadi mayat disini.”

Ki Wiradadi menggeram. Iapun telah meningkatkan kemampuannya. Tetapi Ki Wiradadi yang juga cukup berpengalaman itu tidak mau membiarkan dirinya hanyut dalam arus perasaannya. Karena itu, meskipun Ki Wiradadi juga mengerahkan kemampuannya dan berusaha menekan lawannya, namun Ki Wiradadi tidak terlepas dari nalar budinya.

Tetapi memang sulit bagi Ki Wiradadi untuk dapat dengan cepat menghabisi lawannya, meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya. Seakan-akan lawannya memang dipersiapkan untuk melawannya dalam tataran ilmu yang seimbang.

Laksana nampaknya memang menjadi semakin garang oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dadanya. Tetapi kemarahannya itu justru telah menimbulkan kecemasan bagi Manggada dan Ki Wiradadi.

Dalam keadaan yang terdesak, Manggada yang tidak kehilangan akal telah mengambil keputusan yang berat. Bahkan ia memerlukan waktu untuk menentukan, apakah ia akan melakukannya atau tidak. Namun jika ia tidak melakukannya, maka keadaan Laksana akan menjadi semakin parah. Darahnya akan semakin banyak mengalir sehingga tubuhnya akan menjadi semakin lemah, sehingga mungkin ia akan terlambat.

Karena itu, maka Manggada harus segera menjatuhkan pilihan. Agaknya nalarnya masih jauh lebih bening dari Laksana yang terluka itu. “Apa boleh buat. Agaknya Laksana justru telah lupa mempergunakannya,” berkata Manggada.

Dalam keadaan yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain yang dapat dipergunakannya untuk menolong Laksana, maka Manggada telah menarik dua buah pisau kecilnya. Dengan tangkasnya Manggada telah melemparkan kedua pisaunya itu berurutan demikian cepatnya ke arah kedua lawannya yang berdiri di tempat yang berbeda.

Ketika Manggada memindahkan senjata ke tangan kirinya, kedua lawannya memang sudah menjadi curiga. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan. Begitu cepatnya Manggada menarik sebilah pisau dan melemparkannya ke dada seorang lawannya, kemudian berbalik sambil merendahkan diri, pisau kedua telah terlempar pula ke dada lawannya yang lain.

Terdengar kedua orang itu berteriak berurutan. Seorang di antaranya sempat berteriak dengan umpatan kotor. Namun pisau kecil itu telah dilemparkan dengan sekuat tenaga didorong pula dengan kekuatan cadangan di dalam diri Manggada. Karena itu maka pisau-pisau kecil itu telah menghunjam seakan-akan sampai ke tangkainya.

Tidak ada kesempatan untuk mengelak, apalagi kedua orang itu tidak menduga sama sekali. Merekapun tidak sempat menyadari bahwa ujung pisau-pisau kecil itu ternyata telah menggapai jantung mereka dan membunuh mereka.

Manggada tidak sempat mengamati kedua orang lawannya itu. Iapun segera meloncat mendekati arena pertempuran antara Laksana dan kedua orang lawannya. Ternyata Laksana yang terpancing oleh lawannya dengan gerak-gerak yang panjang dan cepat, serta darah yang mengalir dari kedua lukanya, kekuatannya mulai menjadi susut.

Namun kehadiran Manggada telah merubah sama sekali keseimbangan dalam arena pertempuran itu. Dengan cepat Manggada berhasil mengikat seorang di antara lawan Laksana dalam pertempuran melawannya, sehingga dengan demikian maka Laksana tinggal menghadapi seorang lawan saja.

Meskipun kekuatan dan kemampuan Laksana mulai susut, namun menghadapi seorang saja dari kedua lawannya, kekuatan dan kemampuannya masih jauh memadai. Apalagi ketika Manggada sempat memperingatkan, “Pergunakan otakmu.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi senjatanyapun kemudian telah bergetar menghadapi seorang saja dari kedua lawannya.

“Kau telah terluka,” geram lawannya yang menjadi bimbang karena ia harus menghadapinya sendiri.

“Lukaku tidak berarti apa-apa,” jawab Laksana. “Tetapi aku tidak ingin membunuhmu dengan cepat dengan melontarkan pisau-pisau kecilku. Oleh kemarahan yang menghentak di dadaku aku justru terlupa mempergunakannya, karena aku tidak terbiasa membawanya. Sekarang aku ingin membunuhmu dengan senjataku ini.”

Orang itu memang menjadi cemas. Tetapi ia masih berusaha untuk membesarkan hatinya. Bahkan ia tertawa sambil berkata, “Tenagamu sebentar lagi akan habis terhisap sejalan dengan darahmu yang menjadi kering.”

Laksana tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya berputaran dengan cepat sekali. Namun ia sudah mulai mencoba mempergunakan penalarannya kembali. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak lagi menjadi kehilangan langkah. Meskipun demikian, darah yang mengalir dari lukanya memang telah mengganggu perasaannya. Namun ia tidak mau mati di ujung senjata lawannya.

Manggada tidak lagi ingin membunuh lawannya yang diambilnya dari Laksana. Namun demikian, ternyata lawannya itupun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk berusaha membunuhnya.

Laksana yang sudah terluka itu masih mampu menggerakkan senjatanya dengan garang, sehingga lawannya benar-benar tidak mendapat tempat di arena. Tetapi justru karena itu, maka dengan putus asa lawannya telah bertempur membabi buta. Dengan teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kotor, ia menyerang Laksana seperti badai.

Namun dengan demikian geraknya menjadi kacau. Perhitungannya kabur dan kegelisahannya menjadikannya bingung menghadapi kecepatan gerak Laksana. Dan pada suatu saat, senjata Laksana yang marah itu telah menyambar dadanya. Sebuah goresan panjang menyilang di dadanya, sehingga lawan Laksana terlempar beberapa langkah surut.

Ketika ia berusaha berdiri tegak, tubuhnya nampak gemetar. Betapapun ia berusaha untuk tetap menggenggam senjatanya, namun akhirnya senjata itu jatuh. Bahkan perlahan-lahan orang itupun terjatuh pada lututnya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun akhirnya tubuhnya terkulai di tanah. Darah mengalir tanpa terbendung dari lukanya yang dalam.

Laksana berdiri termangu-mangu. Sejenak ia mengawasi lawannya yang terbaring diam. Nampaknya lawan itu memang tidak akan mungkin bangkit lagi untuk melawannya. Bersamaan dengan itu, ia mendengar teriakan Manggada, “Obati lukamu, cepat. Sebelum darahmu semakin banyak mengalir dan mempengaruhi tenagamu.”

Laksana bagaikan terbangun dari sebuah mimpi. Iapun segera mengambil tempat untuk melihat lukanya. Namun karena letak lukanya, maka ia memang agak mengalami kesulitan.

Sementara Manggada tidak memerlukan waktu terlalu lama. Dengan cepat Manggada dapat segera mendesak, dan bahkan menguasai ruang gerak lawannya. Tetapi ketika senjatanya telah menggores kulit lawannya, justru lawannya menjadi kian liar. Seperti seekor harimau terluka, ia berusaha menerkam dengan tanpa memperhitungkan kemungkinan yang dapat dilakukan lawannya.

Semula Manggada masih sempat menghindar dan berusaha menahan lawannya dengan putaran senjatanya. Tetapi lawannya itu seakan-akan benar-benar telah kehilangan nalar budinya. Dengan garangnya ia meloncat menerkam Manggada dengan ujung senjatanya. Manggada ternyata terpengaruh juga oleh sikap lawannya. Bahkan terasa seolah-olah bulu kuduknya meremang. Tetapi di luar sadarnya, ketika lawannya menerkam, Manggada sempat mengelak. Tetapi lawannya telah memburunya. Satu ayunan mendatar yang cepat dan kuat sekali telah menyambar ke arah leher Manggada. Namun Manggada sempat merendah, sekaligus menjulurkan senjatanya menembus langsung ke lambung.

Terdengar orang itu berteriak nyaring. Selangkah ia bergeser mundur. Manggada masih menggenggam tangkai senjatanya yang telah terlepas dari tubuh lawannya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan lawan Manggada. Rasa-rasanya semuanya menjadi gelap. Bahkan iapun kemudian jatuh tertelungkup.

Pada saat yang bersamaan, lawan Ki Wiradadi pun menjadi putus asa. Tetapi ia tidak membunuh dirinya sebagaimana kawan-kawannya. Ia masih sempat berpikir, bahwa ia harus lolos dari maut untuk menyampaikan kepada pemimpinnya, bahwa ada tiga pemburu yang naik ke lereng gunung, setelah menyeberangi Hutan Jatimalang.

Karena itu, selagi perhatian Manggada tertuju kepada lawannya yang jatuh terbaring di tanah, sementara Laksana sedang memperhatikannya pula, lawan Ki Wiradadi berusaha melenting jauh dan dengan serta-merta berusaha melarikan diri dari arena.

Ki Wiradadi tidak mempunyai kesempatan untuk mengejarnya. Orang itu telah mendahuluinya beberapa langkah. Dengan cepat Ki Wiradadi menyadari, bahwa jika salah seorang di antara orang-orang itu terlepas dari pengawasan mereka, maka orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya.

Karena itu, Ki Wiradadi tidak sempat membuat perhitungan yang rumit. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengejar lawannya itu, maka tiba-tiba saja ia telah mencabut sebuah dari pisau-pisau kecilnya dan dengan sepenuh kekuatan dilemparkannya kepada lawannya yang melarikan diri itu.

Terdengar orang itu mengaduh. Dengan langkahnya dan terhuyung-huyung sambil berputar. Dengan suara bergetar ia berkata sambil menunjuk ke arah Ki Wiradadi, “Kau licik. Kau tusuk punggungku selagi aku membelakangimu.”

Ki Wiradadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Kau akan melarikan diri.”

Orang itu memandang Ki Wiradadi dengan mata yang menyala. Tubuhnya yang tidak dapat mempertahankan keseimbangan mulai berguncang-guncang. Namun ia masih berkata, “Panembahan akan menghukummu dengan hukuman yang paling getir.”

“Panembahan siapa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Panembahan Lebdagati. Seorang panembahan yang tuntas ing kawruh. Menguasai segala macam ilmu lahir dan batin.” Suaranya semakin bergetar dan tubuhnya tidak lagi mampu bertahan. Bahkan sejenak kemudian orang itupun telah jatuh tertelungkup dengan sebilah pisau terhunjam di punggungnya.

Ki Wiradadi melangkah perlahan-lahan mendekatinya. Diamatinya orang yang telah tidak bernyawa lagi itu. Tetapi ia sadar, bahwa langkah yang diambilnya itu telah diperhitungkannya sejak semula, bahwa mungkin sekali akan terjadi. Jika ia menyeberangi Hutan Jatimalang untuk melacak anak gadisnya yang hilang, maka ia akan terpaksa memasuki dunia kekerasan. Membunuh atau dibunuh.

Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak berbuat apa-apa, maka pembunuhan-pembunuhan masih akan berlangsung terus. Bahkan gadis-gadis yang dikorbankan untuk sebuah kepercayaan yang sesat akan terus berlanjut.

Manggada yang telah kehilangan lawannya, telah membantu Laksana mengobati luka-lukanya, sehingga darahnya menjadi pampat. Ketika Ki Wiradadi kemudian mendekatinya, Manggada berdesis, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Diamatinya luka Laksana di pundak dan lengannya. “Untunglah luka itu tidak terlalu dalam dan tidak beracun,” desis Ki Wiradadi.

“Ya,” sahut Laksana. “Nampaknya memang tidak begitu berpengaruh.”

“Tetapi kau tidak boleh terlalu banyak bergerak,” berkata Ki Wiradadi kemudian. “Darahmu akan terlalu banyak mengalir. Sementara itu kita masih akan menempuh perjalanan yang lebih berbahaya. Kau dengar, orang itu telah menyebut nama Panembahan Lebdagati, yang katanya seorang panembahan yang berilmu tinggi lahir dan batin?”

Laksana mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa lukanya tentu akan mengganggunya jika luka itu tidak dapat diatasi dengan obat yang dibawanya. Karena itulah, maka Laksana tidak mempunyai pilihan lain kecuali beristirahat untuk beberapa saat.

“Kita masih mempunyai tugas,” berkata Manggada. “Kita harus mengubur mayat-mayat itu agar tidak menjadi makanan burung-burung buas atau binatang liar dari hutan itu.”

Ki Wiradadi kemudian berdesis, “Biarlah Laksana beristirahat lebih dahulu.”

Bertiga mereka kemudian duduk bersandar batu padas di bawah sebatang pohon yang rimbun, setelah mereka memungut kembali busur-busur mereka. Sementara itu Ki Wiradadi berkata, “Kita tidak dapat membayangkan, siapa dan seberapa tinggi kemampuan orang yang disebut Panembahan Lebdagati itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tentu tidak seperti orang-orang yang telah mereka kalahkan itu. Bahkan mungkin panembahan itu akan dapat menghancurkan mereka bertiga sekaligus.

Sambil memandangi dedaunan yang bergerak-gerak digoyang angin, Manggada berkata hampir kepada diri sendiri, “Satu tantangan yang harus diatasi. Tetapi kita tidak dapat membiarkan upacara sesat itu dibiarkan saja.”

“Tetapi bukannya tanpa perhitungan,” berkata Ki Wiradadi. “Aku memang merasa wajib untuk mengambil anakku. Dan jika mungkin, gadis-gadis yang masih ada. Tetapi aku harus memikirkan cara yang terbaik untuk melakukannya. Kalian masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang sangat berat ini. Kemungkinan yang paling pahit dapat terjadi.”

“Mati?” desis Laksana.

“Kalian masih terlalu muda untuk mengalaminya. Masih panjang kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Karena itu aku harus memikirkannya apakah sudah sepantasnya aku membawa kalian menempuh bahaya yang demikian besarnya. Pada langkah pertama ini, aku telah menyesal bahwa kalian terlibat ke dalamnya. Untunglah bahwa kalian memiliki bekal yang cukup tinggi, sehingga kalian dapat lolos dari maut. Bahkan tanpa kalian, akupun tidak akan dapat meninggalkan tempat ini, karena aku tentu sudah terbaring mati. Merekalah yang akan berdiri sambil mengamati mayatku,” berkata Ki Wiradadi.

“Jangan berkata begitu, Ki Wiradadi,” berkata Manggada. “Bukan salah Ki Wiradadi bahwa kami berada di sini. Kami sudah menyatakan kesediaan kami untuk membantu Ki Wiradadi menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi. Tetapi yang lebih penting lagi, menghancurkan kepercayaan yang sesat itu.”

“Seperti yang sudah aku katakan, kita bukannya tidak berperhitungan,” sahut Ki Wiradadi. Namun kemudian dengan serta-merta ia berkata selanjutnya, “Bukan maksudku menolak uluran tangan kalian. Aku merasa sangat berterima kasih. Bahkan seandainya hanya sampai sekian pun, aku sudah merasa berhutang budi kepada kalian. Tetapi yang justru aku pikirkan adalah keselamatan kalian untuk selanjutnya. Jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, atau salah seorang di antara kalian, aku akan merasa bersalah.”

Tetapi Manggada menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ini adalah pilihan kami sendiri, Ki Wiradadi. Jangan menyalahkan diri jika terjadi sesuatu atas kami. Hanya dengan mengabdikan diri pada kemanusiaan, maka ilmu yang selama ini kami pelajari akan berarti.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berusaha memberikan peringatan kepada anak-anak muda itu. Tetapi kedua orang anak muda itu nampaknya sudah bertekad bulat untuk meneruskan perjalanan, apapun yang akan terjadi kemudian.

Namun bagaimanapun juga, kehadiran kedua orang anak muda itu telah menjadi beban bagi Ki Wiradadi, meskipun ia sangat memerlukannya. Setelah menyeberangi Hutan Jatimalang, bersama kedua anak muda itu, Ki Wiradadi baru melihat ancaman yang sebenarnya.

Meskipun mereka dapat mengalahkan hambatan pertama, tapi menurut perhitungan Ki Wiradadi, hambatan demi hambatan akan mereka hadapi lagi. Bahkan akhirnya mereka akan sampai pada orang yang bernama Lebdagati.

Karena itu, bagaimanapun juga ia wajib mengatakannya. “Anak-anak muda, puncak dari perjalanan ini tentu akan membawa kita kepada orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Tentu orang yang mumpuni segala macam kawruh lahir dan batin, meskipun agaknya ia berpijak pada ilmu sesat.”

“Ya. Tetapi apa boleh buat,” desis Manggada.

“Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas kalian,” desis Ki Wiradadi.

Namun sebelum anak-anak muda itu menjawab, tiba-tiba terdengar suara, “Kau benar, Ki Sanak. Ilmunya sangat tinggi, seakan-akan menjangkau langit.”

Ketiganya terkejut. Ketika mereka berpaling ke arah suara itu, dilihatnya seorang tua berjanggut putih melangkah terbungkuk-bungkuk dari balik sebongkah batu besar. Kemudian dengan tenangnya duduk di atas batu di hadapan batu besar itu. Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Apakah orang tua itu yang disebut Panembahan Lebdagati?

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun rasa-rasanya jantung mereka berdenyut semakin cepat. Baru sejenak kemudian Ki Wiradadi melangkah maju sambil bertanya, “Siapakah kau, Ki Sanak? Apakah kau orang yang disebut Panembahan Lebdagati?”

Orang itu seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Ki Wiradadi. Bahkan iapun berkata, “Aku melihat bagaimana kalian bertiga membunuh orang-orang dari Padepokan Lebdagati.”

“Kami membunuh bukannya tanpa sebab,” jawab Ki Wiradadi.

“Aku mengerti. Kalian membunuh karena kalian tidak mau diusir begitu saja dari lingkungan yang menurut Panembahan Lebdagati adalah lingkungan kekuasaannya. Hutan Jatimalang, lereng Gunung Lawu adalah daerah yang dikuasai panembahan itu.”

“Daerah yang begitu luas?” bertanya Ki Wiradadi. “Jarak antara Jatimalang dan puncak Gunung Lawu adalah terlalu luas untuk satu padepokan.”

“Tetapi daerah yang sudah digarap belum terlalu banyak. Daerah seluas ini terdiri dari padang rumput, hutan perdu dan hutan pegunungan yang lebat. Daerah berbatu-batu dan padang ilalang. Hanya beberapa bagian dari daerah seluas ini dapat dijadikan tanah persawahan dan pategalan,” jawab orang tua itu.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi iapun bertanya, “Ki Sanak belum memberikan jawaban, siapakah Ki Sanak sebenarnya.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian berkata, “Kalian, apalagi anak-anak muda itu, telah memasuki daerah yang sangat berbahaya. Yang terjadi barulah sebuah perkenalan. Kalian akan segera menjumpai kesulitan yang lebih besar.”

“Katakan, apakah kau yang disebut Panembahan Lebdagati?” desak Manggada.

Orang itu masih belum langsung menjawab. Tetapi ia berkata, “Jalan ini adalah jalan induk menuju ke padepokan itu. Padepokan itu sendiri masih jauh. Tetapi di beberapa tempat, cantrik mereka menggarap sawah yang tersebar. Beternak dan membuat kolam ikan. Jarang sekali orang-orang padepokan ini keluar lingkungan mereka. Maksudku, jarang sekali orang-orang dari daerah ini melintasi Hutan Jatimalang dan berhubungan dengan orang luar.”

“Kecuali saat mereka mengambil gadis-gadis,” potong Laksana.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sementara Laksana berkata selanjutnya, “Ki Wiradadi telah kehilangan anak gadisnya. Ia datang kemari bersama kami berdua untuk mengambil gadisnya itu kembali. Menurut pendengaran kami, gadis-gadis itu akan dikorbankan di saat bulan purnama penuh. Nah, sebelum purnama penuh itu datang beberapa hari lagi, kembalikan gadis itu.”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi kalian datang untuk mengambil seorang gadis?”

“Ya. Anak Ki Wiradadi ini. Sebagai seorang ayah, maka ia akan menempuh bahaya yang bagaimanapun besarnya. Sedangkan kami berdua, yang mengetahui persoalannya, tidak dapat tinggal diam. Kami berdua sudah bertekad untuk membantunya.”

Tetapi orang tua itu menggeleng. Katanya, “Sulit bagi kalian untuk dapat membebaskan gadis yang sudah ada di tangan Panembahan Lebdagati, sebab Panembahan Lebdagati mempunyai banyak pengikut. Meskipun beberapa orang di antara mereka tidak lebih dari orang-orang yang telah terbunuh, tetapi jumlahnya terlalu banyak, dan beberapa orang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Apalagi Panembahan Lebdagati itu sendiri.”

“Ada yang kau lupa, Ki Sanak,” berkata Manggada. “Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun ia masih tetap di bawah kuasa Yang Maha Agung. Jika orang berilmu tinggi itu telah menempuh jalan sesat, maka akan datang murka Yang Maha Agung itu atasnya. Karena itu, kami tidak gentar. Jika kami terbunuh di tempat orang-orang berilmu sesat, maka kematian kami bukannya sia-sia. Kami telah menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa kepercayaannya mendapat tantangan, sehingga akhirnya pada suatu saat orang itu akan langsung berhadapan dengan lantaran kuasa Yang Maha Agung sendiri.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya kau mempunyai lambaran kepercayaan yang kokoh.”

“Aku yakin akan sumber hidupku. Aku percaya akan tanganNya yang adil dan kuasa tanpa batas,” sahut Manggada. “Meskipun kami bukan orang-orang berilmu, tetapi kuasaNya akan mungkin mempergunakan ujung panahku untuk menyelesaikan kegiatannya yang sesat.” Manggada berhenti sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya menghentak, “Kaukah Panembahan Lebdagati yang sesat itu?”

Akhirnya orang itu menggeleng. Katanya, “Bukan. Bukan akulah orang yang kau cari.”

“Jadi siapakah kau?” bertanya Manggada mendesak.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya puncak Gunung Lawu yang kebiruan. Masih jauh, meskipun mereka sudah berada di lereng.

“Sebut namamu atau gelarmu, Ki Sanak,” Ki Wiradadipun telah mendesaknya pula.

Orang itu akhirnya berkata, “Orang memanggilku Ki Ajar Pangukan.”

“Pangukan?” ulang Laksana.

Orang itu mengangguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata, “Jadi kau adalah orang Panembahan Lebdagati yang mendapat tugas untuk mengamati jalan menuju ke padepokannya?”

“Kenapa kau menganggap begitu?” bertanya orang tua itu.

“Namamu Pangukan. Orang yang sering mengamati sesuatu,” jawab Laksana.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ketika aku menggantikan kedudukan guruku, aku disebut Ajar Pangukan. Aku tidak berpikir begitu jauh mengenai arti namaku itu dengan baik.” Orang itu berhenti sejenak, namun tiba-tiba iapun berkata, “Tetapi mungkin kau benar, anak muda. Tugasku memang mengamati, melihat-lihat sebagaimana aku lakukan sekarang.”

“Jadi kau mengakui bahwa kau salah seorang murid Panembahan Lebdagati?” bertanya Laksana.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kau masih terlalu muda. Hati-hatilah. Kau harus mencoba mengendalikan diri menghadapi persoalan-persoalan yang berat.”

“Kau belum menjawab,” desak Laksana.

“Sudah berkali-kali aku katakan. Aku bukan Panembahan Lebdagati, juga bukan muridnya, atau orangnya, atau orang yang pernah berhubungan dengan panembahan itu,” jawab Ki Ajar Pangukan. “Aku justru sedang mengamati tingkah laku orang-orang dari daerah ini. Sudah beberapa bulan aku berada di sini.”

“O,” Ki Wiradadilah yang bergeser. Nada suaranya berubah. “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Aku berkata sebenarnya,” jawab orang itu. “Jika aku pengikut Panembahan Lebdagati, atau bahkan Lebdagati itu sendiri, maka aku tentu akan dengan serta-merta membunuh kalian.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Laksana yang tersinggung berkata, “Kau kira kami adalah kelinci-kelinci yang tidak berarti apa-apa? Kau lihat, kami telah membunuh orang-orang Panembahan Lebdagati.”

“Sudahlah, anak muda,” berkata orang itu. “Kita jangan terlalu lama di sini. Kita tidak boleh ketahuan orang-orang Panembahan Lebdagati. Setelah beberapa bulan aku disini, aku menjadi semakin mengenali lingkungan ini. Termasuk Panembahan Lebdagati itu sendiri. Namun aku tidak boleh diketahui oleh mereka. Jika demikian, maka usahaku akan sia-sia.”

“Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Ki Wiradadi.

“Ikuti aku setelah kalian mengubur orang-orang yang terbunuh itu,” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kau ingin menjebak kami?” berkata Laksana.

Ki Ajar itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu curiga, anak muda. Tetapi baiklah, aku mengerti. Karena itu, biarlah aku tunjukkan kepadamu, bahwa aku tidak akan mencelakakanmu. Jika aku ingin melakukannya, aku dapat melakukannya dengan mudah.”

Laksana termangu-mangu. Namun iapun kemudian melihat orang tua itu bangkit berdiri, dan seperti terbang, ia meloncat mundur ke atas sebuah batu yang besar.

“Perhatikanlah. Aku akan membantu kalian mengubur orang-orang yang telah kau bunuh itu,” berkata orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu.

Ketiga orang itupun termangu-mangu. Namun mereka memang bergeser surut ketika mereka melihat orang tua yang berdiri di atas batu itu bersikap. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menggerakkan tangannya. Dengan satu hentakan, dari telapak tangannya terlontar kekuatan yang sangat besar.

Tanah beberapa langkah di depannya tiba-tiba saja bagaikan meledak. Demikian terjadi setiap orang itu menggerakkan tangannya sampai lima kali. Baru kemudian orang itu berhenti setelah di hadapannya berjajar lima buah lubang yang cukup lebar dan dalam.

“Nah,” berkata orang itu kemudian, “kau dapat menguburkan kelima sosok mayat itu tanpa mengalami kesulitan menggali lubang. Cepat lakukan sebelum orang-orang dari Padepokan Lebdagati melihat kita.”

Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu bagaikan dicengkam oleh pesona yang tidak disadari. Merekapun dengan cepat telah mengangkat sosok-sosok mayat yang berserakan, dan memasukannya ke dalam lubang.

“Tetapi kalianlah yang harus menimbuninya,” berkata orang tua itu. “Aku sudah menggalinya.”

Keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Sementara itu Laksana bukan saja menitikkan keringat, tetapi menitikkan darah pula.

Namun orang tua itu kemudian berkata, “Nanti aku akan mengobati lukamu.”

“Tetapi di manakah rumah Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradadi.

“Mari. Ikut sajalah. Kau akan tahu,” berkata orang itu.

Ketiga orang itu tidak membantah lagi. Mereka menyadari, seandainya orang itu ingin membunuh mereka bertiga, maka orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu memang tidak akan banyak mengalami kesulitan.

Beberapa saat kemudian mereka telah meninggalkan jalur jalan menuju ke padepokan yang dihuni orang-orang yang berilmu sesat. Mereka meniti jalan-jalan setapak. Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan di antara batu-batu padas. Menyusup batang-batang perdu dan melingkari lereng-lereng rendah. Ketika mereka sampai ke sebuah sungai, mereka mengikuti arusnya beberapa ratus tonggak. Baru kemudian mereka menyeberang dan naik di lereng sebelah.

“Kita kemana?” bertanya Manggada.

“Aku mempersilahkan kalian singgah di padepokanku,” berkata orang itu.

“Padepokanmu juga di kaki Gunung ini?” bertanya Laksana.

“Ya. Tetapi letaknya memang agak jauh,” jawab orang itu. Lalu iapun bertanya kepada Laksana, “Nampaknya kau sudah terlalu letih. Aku mengerti, luka-lukamu masih saja berdarah.”

“Tidak,” jawab Laksana. “Tetapi lukaku memang berdarah lagi.”

“Kita dapat beristirahat sebentar. Kita sudah berada di tempat yang agak jauh dari daerah pengawasan Panembahan Lebdagati,” berkata Ki Ajar Pangukan itu.

“Aku tidak ingin beristirahat,” berkata Laksana.

“Aku hanya ingin memampatkan darahmu saja,” jawab Ki Ajar.

“Baiklah,” akhirnya Ki Wiradadi yang menyahut. “Agaknya lukamu memang perlu diobati lagi.”

“Bukankah aku masih mempunyai obat yang cukup?” berkata Laksana.

“Karena itu, sebaiknya obat itu dipergunakan,” sahut Ki Ajar.

Laksana tidak membantah lagi. Mereka kemudian beristirahat di bawah rimbunnya sebatang pohon. Sementara itu di hadapan mereka terbentang lereng pegunungan yang tidak pernah digarap tangan. Padang perdu yang liar. Beberapa buah batu besar yang berserakan. Namun agak jauh di hadapan mereka, terdapat hutan pegunungan yang hijau.

“Tanah ini belum sempat disentuh,” berkata Ki Ajar Pangukan. “Berbeda dengan daerah di sekitar padepokan dan anak-anak padepokan Panembahan Lebdagati. Di sana air sudah dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga di beberapa bagian nampak sawah yang subur.”

Namun tiba-tiba Manggada teringat akan kepentingan mereka datang ke tempat itu. Karena itu ia berkata, “Ki Ajar, kedatangan kami ke tempat ini bukannya sekedar bertamasya di lereng pegunungan. Kami telah bertekad untuk mengambil anak perempuan Ki Wiradadi yang telah diserahkan kepada orang-orang berilmu sesat itu.”

“Aku mengerti,” jawab Ki Ajar.

“Jadi bagaimana? Kau sengaja membelokkan arah perjalanan kami?” bertanya Laksana.

“Ya. Aku memang sengaja membawa kalian keluar dari jalan kematian. Jika kalian aku biarkan menempuh perjalanan yang kalian rencanakan, maka sebelum kalian tahu apakah anak perempuan itu benar-benar ada di sini, kalian sudah akan mati lebih dahulu,” berkata Ki Ajar.

“Tetapi bagaimana dengan anak itu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kita memang harus berbuat sesuatu sebelum bulan purnama beberapa hari lagi. Tetapi tidak dengan membunuh diri,” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Tetapi dengan cara apa?” desak Laksana.

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau mengingatkan aku kepada seorang pahlawan yang gugur beberapa bulan lalu di lereng gunung ini pula. Ia datang untuk mencari anaknya. Bahkan ia sendiri saja dengan membawa segerobag senjata. Seperti kalian. Pedang, busur dan anak panah, pisau-pisau belati dan tombak, bindi, trisula, nanggala dan barangkali bajra.” Orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi semua itu tidak akan berarti apa-apa. Jumlah pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak...”

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 08

Menjenguk Cakrawala Bagian 07

Cerita silat Indonesia Serial Arya Manggada Karya SH Mintardja
NAMUN, ternyata ketiga orang itu adalah orang-orang yang berhati tabah. Mereka tidak cepat kehilangan akal atau menjadi putus asa. Kadang-kadang mereka memang hampir tidak berpengharapan. Tetapi karena ketekunan mereka, maka akhirnya mereka menemukan kembali jalur jalan yang harus mereka lalui.

Tetapi dengan demikian, mereka tidak dapat memaksa diri untuk berjalan dengan cepat agar mereka segera keluar dari hutan itu. Mereka telah terlanjur ada di dalam lebatnya hutan, yang seakan-akan seperti jalan kusut dan sulit untuk dicari ujung pangkalnya.

Karena itu, bagaimanapun juga mereka berusaha, mereka tidak dapat mencapai tepi hutan itu sebelum matahari terbenam. Bahkan sebelum matahari itu merendah, terasa keadaan di dalam hutan telah menjadi gelap, sehingga mereka tidak mungkin lagi untuk meneruskan perjalanan. Mereka tidak dapat lagi menemukan jejak yang dapat menuntun mereka menuju ke arah yang benar.

“Kita terjebak di sini untuk semalam,” desis Laksana.

Ki Wiradadi tersenyum. Katanya, “Ya. Satu ujian bagi kita, apakah kita memang dapat melakukannya, bermalam di lebatnya hutan.”

“Ya,” sahut Laksana. “Jika kita gagal menempuh ujian kali ini, maka kita tidak akan pernah dapat mengulanginya lagi.”

“Bukan satu kesulitan bagi kita,” berkata Manggada.

Laksana tertawa. Tetapi mereka memang tidak dapat memilih. Mereka harus bermalam di hutan itu.

Demikianlah, tapi mereka masih mampu mengamati pepohonan yang seakan-akan tumbuh berdesakan itu, dan memilih pohon yang paling baik bagi mereka. Mereka tidak perlu menemukan tiga batang pohon. Tetapi mereka akan berada pada cabang-cabang pohon dari sebatang pohon yang cukup besar. Akhirnya mereka menemukan juga sebatang pohon yang tidak terlalu besar, tetapi juga bukan sekedar sebatang pohon perdu.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Ki Wiradadi. “Memang ada kemungkinan kita terhempas jatuh.”

Demikian mereka memanjat dan menemukan tempat yang mereka anggap baik, maka gelappun telah turun. Meskipun dari celah-celah dedaunan mereka masih melihat cahaya matahari yang lemah di bibir mega, namun cahaya itu sudah tidak mampu lagi menembus dedaunan dan menerangi perut hutan yang lebat itu.

Namun ketiga orang itu menyadari, bahwa malam tentu akan menjadi sangat panjang. Sebenarnyalah bahwa di malam yang sangat panjang itu, mereka bertiga hampir tidak tidur dalam arti yang sebenarnya. Sekali-sekali terasa tubuh merasa bagaikan akan kehilangan keseimbangan. Namun ternyata mereka bertiga cukup terlatih, sehingga mereka tidak terjatuh dari dahan sebatang kayu yang cukup tinggi.

Sementara itu, merekapun selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Di samping berjenis-jenis serangga yang beracun, merekapun harus berhati-hati menghadapi ular-ular berbisa yang merayap di pepohonan, seperti ular gadung. Meskipun bisanya tidak setajam bisa ular hitam atau ular bandotan, namun ular gadung akan dapat membunuh juga jika terlambat mendapat penawarnya.

Di samping binatang-binatang berbisa, ada juga binatang buas lainnya seperti Harimau pun akan sangat berbahaya bagi mereka. Jenis harimau hitam yang mempunyai kebiasaan berkeliaran di cabang-cabang pepohonan.

Lewat tengah malam, mereka bertiga memasang anak panah pada busur mereka dan siap dilepaskan ketika mereka mendengar dengus harimau di bawah pohon itu. Bahkan kemudian harimau itu tidak sekedar mendengus, tetapi mengaum keras sekali. Tetapi ketiga orang yang memanjat pohon itu tidak sempat melihat harimau itu di dalam kegelapan.

Ternyata harimau itu tinggal beberapa lama di bawah pohon itu. Agaknya binatang itu telah mencium bau yang lain dari yang pernah diciumnya setiap hari, sehingga agaknya harimau itu ingin mengetahui, jenis makhluk apakah yang ada di atas pohon itu. Tetapi ternyata harimau itu tidak telaten menunggu. Karena harimau itu bukan sejenis harimau hitam yang sering memanjat pepohonan, maka akhirnya harimau itu telah melangkah pergi.

Namun naluri ketiga orang itu meskipun tidak melihat, tetapi dapat mengetahui bahwa di bawah mereka telah berkeliaran beberapa jenis binatang buas. Bulu tengkuk mereka sempat meremang ketika mereka mendengar bagaikan angin yang menderu gemeresak di bawah pepohonan. Ternyata sekelompok anjing hutan berlari-larian sambil sekali-sekali menggonggong dengan garangnya.

Betapapun panjangnya malam, tetapi akhirnya mereka melihat cahaya pagi yang mulai bersinar. Bayangan warna kekuningan memancar di atas pepohonan. Namun kemudian mulai menyusup di antara dedaunan dan jatuh di atas tanah yang lembab.

Ketika Ki Wiradadi mengajak mereka turun, Laksana masih sambil memejamkan matanya berkata, “Aku baru akan mulai tidur.”

“Tidur saja di bawah,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Kami berdua akan menungguimu sampai kau tidak merasa kantuk lagi.”

Laksana menggeliat. Ia tidak berkata apapun lagi ketika Ki Wiradadi dan Manggada sudah mulai turun. Laksanapun kemudian menyilangkan busurnya di punggung. Iapun kemudian telah menelusur pula turun, sebagaimana kedua orang yang lain. Beberapa saat mereka mulai membenahi diri. Perut mereka memang mulai merasa lapar. Tetapi mereka harus bertahan untuk beberapa lama.

Sambil menelusuri jalan keluar dari hutan itu, mereka bertiga sempat pula berburu. Ternyata mereka bertiga telah berlomba untuk mendapatkan seekor binatang buruan dari jenis apapun.

“Kita mempunyai kesempatan beberapa lama. Jika cahaya matahari itu membuat bayangan badan kita sama sepanjang tubuh kita yang sebenarnya, maka kita harus sudah ada di sini. Mendapat atau tidak mendapat buruan,” berkata Ki Wiradadi. Lalu katanya, “Jangan tersesat. Kita masing-masing dapat bersuit dengan mulut kita.”

Ketiganya kemudian mencoba untuk bersuit dengan mulut dan jari-jari tangan mereka. Baru kemudian, mereka telah meninggalkan tempat itu untuk berburu, agar mereka tidak menjadi kelaparan. Dengan hati-hati mereka menuju ke tempat yang berbeda. Laksana yang kebetulan mengarah ke sebuah mata air kecil, duduk saja di atas sebuah batu sambil mempersiapkan sebuah anak panah di busurnya. Pagi itu ternyata angin tidak bertiup. Dengan demikian maka Laksana mempunyai banyak harapan.

Beberapa saat lamanya, tidak seekor binatangpun nampak minum di mata air kecil itu. Ketika ia melihat langit, rupa-rupanya hari telah menjadi semakin kering. Sekali ia sempat memandang sorot matahari yang jatuh di sebelah mata air itu. Menilik sudut jatuhnya sinar matahari, maka waktunya tinggal sedikit.

“Biar saja,” berkata Laksana di dalam hatinya. “Tentu salah seorang dari antara Ki Wiradadi dan Manggada akan mendapatkan seekor binatang buruan. Jika tidak, maka kami bertiga akan bersama-sama kelaparan.”

Ketika Laksana hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia melihat seekor kijang yang dengan hati-hati mendekati mata air itu. Dengan sangat berhati-hati pula Laksana mempersiapkan dirinya. Ternyata latihan-latihan yang pernah dilakukan berarti pula saat itu. Laksana berhasil mengurangi suara sentuhan kakinya pada dedaunan kering, sehingga kijang itu tidak terkejut karenanya.

Ternyata kijang itu memang bernasib buruk. Anak panah Laksana telah mengakhiri hidupnya di saat kijang itu sedang minum di mata air kecil di dalam hutan yang lebat itu. Pada saat yang telah disepakati, Laksana kembali ke tempat yang sudah ditentukan dengan seekor binatang buruan.

Ternyata Manggada dan Ki Wiradadi tidak berhasil mendapatkan seekor binatang buruannya. Ketika Laksana menjatuhkan binatang buruannya di hadapan Ki Wiradadi dan Manggada sambil mengangkat dadanya, maka Manggada tersenyum sambil berkata, “Kau memang luar biasa.”

“Aku kekurangan waktu. Aku menemukan seekor rusa. Tetapi aku harus mengikutinya untuk waktu yang lama jika aku ingin mendapatkannya. Karena itu, aku biarkan saja rusa itu pergi,” berkata Ki Wiradadi.

“Aku bertemu dengan seekor harimau,” berkata Manggada. “Rasa-rasanya aku memang tidak ingin makan daging harimau yang panas itu.”

Tetapi sambil mengangkat wajahnya, Laksana berkata, “Apapun alasan kalian, tetapi ternyata akulah yang menang kali ini.”

“Ya,” jawab Ki Wiradadi. “Kita akan mengulitinya dan memanggangnya di luar hutan.”

“Di luar hutan? Apakah hutan ini sudah tidak terlalu panjang lagi?” bertanya Laksana.

“Aku kira tidak,” berkata Ki Wiradadi.

Laksana termangu-mangu. Tetapi Manggada ternyata sependapat. Katanya, “Hutan ini terlalu lebat untuk memanggang binatang buruan. Sepercik api akan dapat mendatangkan bencana.”

“Tetapi bantu aku membawa hasil buruan ini,” berkata Laksana.

Manggadalah yang sambil tertawa berkata, “Marilah. Aku akan membantumu. Aku juga memerlukan daging kijang itu.”

Ternyata hutan itu memang sudah tidak terlalu tebal lagi. Beberapa saat kemudian, mereka mulai melihat cahaya terang, bukan saja dengan menengadahkan wajah mereka dan memandang ke langit, tapi di hadapan mereka, dari celah-celah pepohonan.

Sebenarnyalah, beberapa saat kemudian mereka benar-benar telah keluar dari hutan. Demikian mereka berdiri di sebuah padang perdu di pinggir hutan itu, maka rasa-rasanya nafas merekapun menjadi lebih longgar. Pandangan mereka menjadi semakin luas. Namun merekapun melihat bahwa di hadapan mereka berdiri dengan garangnya Gunung Lawu.

Ketiga orang itu menyadari, bahwa perjalanan selanjutnya adalah memanjat Gunung Lawu untuk menemukan sarang dari orang-orang yang berkepercayaan sesat itu. Ki Wiradadi yang memiliki pengalaman paling luas di antara mereka, dengan panggraitanya, seakan-akan telah melihat bahwa bahaya akan datang setiap saat. Karena itu, iapun kemudian memperingatkan kepada anak-anak muda itu agar lebih berhati-hati.

“Tetapi kita akan berhenti di sini untuk memanggang hasil buruan kita,” berkata Laksana.

Ki Wiradadi mengangguk. Mereka tidak akan mendapatkan tempat yang lebih baik untuk memanggang hasil buruan mereka. Karena itu, maka beberapa saat kemudian ketiga orang itu telah menyiapkan perapian. Dengan batu api mereka telah membuat api. Emput dari gelugut aren yang kemudian dihembuskan pada rerumputan kering.

Manggada telah mencari beberapa potong kayu kering, beberapa buah dahan dan ranting yang terjatuh dari pohonnya karena ketuaannya atau karena tiupan angin yang keras, atau di saat hujan yang dibarengi dengan angin prahara.

Beberapa saat kemudian, asappun telah mengepul tinggi. Ketiganya mulai memanasi hasil buruan mereka di atas api. Meskipun Manggada dan Laksana belum pernah benar-benar menjadi seorang pemburu, tetapi mereka pernah melakukan latihan tinggal di dalam hutan.

Mereka telah berlatih untuk hidup tanpa membawa bekal apapun, menyusup ke dalam hutan yang lebat. Namun mereka tetap bertahan hidup. Dan dalam keadaan tertentu, mereka tidak kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka jika harus menghadapi bahaya.

Sebenarnya ketiga orang itu memang telah merasa lapar. Karena itu, demikian hasil buruan mereka masak, merekapun segera telah menikmatinya. Namun dalam pada itu, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memperingatkan kedua orang anak muda yang bersamanya itu,

“Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang wajar.”

Manggada dan Laksana adalah anak-anak muda yang terlatih dengan baik. Meskipun mereka belum merasakan sesuatu, tetapi mereka menyadari bahwa kemungkinan yang tidak mereka kehendaki akan dapat terjadi. Asap dari perapian yang telah mereka buat agaknya memang dapat memancing perhatian orang lain.

Ketika mereka bertiga sudah merasa cukup, maka mereka telah memadamkan api yang mereka buat. Sementara itu, sisa makan mereka masih tetap terpanggang di bekas perapian yang masih hangat itu. Agaknya makanan yang telah mereka makan itu mampu membuat tubuh mereka bertiga menjadi bertambah segar. Darah mereka telah mengalir dengan wajar. Kaki mereka tidak lagi terasa lemah.

Ketika mereka kemudian merasa cukup lama beristirahat, setelah makan dengan kenyang, mereka mulai melangkah lagi ke arah bukit yang berdiri dengan garang di hadapan mereka. Beruntunglah mereka, ketika mereka menemukan sebuah pancuran alam yang meskipun kecil, namun mengalir air jernih sekali, sehingga mereka bertiga tidak segan untuk minum air dari pancuran di antara bebatuan di sebuah lereng yang tidak begitu tinggi.

Gunung Lawu memang masih jauh. Tetapi sudah mulai terasa jalan mendaki. Gumuk-gumuk kecil di antara padang perdu, berserakan di mana-mana. Mereka bertiga menyusuri jalan setapak berbatu padas. Namun mereka yakin bahwa jalan yang mereka lalui adalah jalan yang menghubungkan Hutan Jatimalang dengan lereng Gunung Lawu dari arah barat.

Namun sekali lagi, panggraita Ki Wiradadi telah memperingatkan mereka, bahwa sesuatu dapat terjadi di luar dugaan mereka. “Berhati-hatilah. Medannya sangat asing bagi kita. Banyak hal yang tidak kita ketahui disini,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksana memaklumi. Karena itu, mereka mempersiapkan diri. Namun justru karena itu, mereka tidak mempersiapkan busur dan anak panah. Jika mereka terkejut karena sesuatu hal, maka akan dapat terjadi bencana, sebelum mereka pasti dengan siapa mereka berhadapan. Karena mereka yakin, bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan binatang buas.

Beberapa saat mereka menyusuri jalan setapak. Di hadapan mereka terbentang padang perdu agak luas. Namun jauh di seberang padang perdu, masih nampak gerumbul-gerumbul hijau lainnya.

“Apakah itu sebuah padukuhan?” bertanya Laksana.

Manggada menggeleng. Bahkan sambil berpaling kepada Ki Wiradadi, iapun bertanya, “Apakah itu sebuah padukuhan?”

“Memang mungkin,” jawab Ki Wiradadi, “tetapi tentu dengan penghuni yang khusus. Di padukuhan terakhir sebelum kita memasuki Hutan Jatimalang, kita sudah melihat ketidak-wajaran antara para penghuninya. Jika demikian, tentu para penghuni padukuhan itu termasuk orang-orang yang aneh pula.”

Tetapi Manggada yang mengerutkan keningnya berkata, “Rasa-rasanya daerah ini belum dibuka, meskipun kemungkinan untuk itu ada. Di sini banyak terdapat sumber-sumber air yang dapat mengaliri tanah yang memungkinkan untuk dijadikan sawah atau setidak-tidaknya pategalan. Sementara tanah masih belum terlalu miring. Tetapi nampaknya jarak yang panjang antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu itu belum banyak menarik perhatian. Karena itu, nampaknya yang kita lihat bukan sebuah padukuhan. Tetapi sebuah hutan kecil yang memanjang. Tetapi di belakang hutan kecil itu, aku yakin, masih terbentang hutan liar yang lebat. Tetapi berbeda dengan Hutan Jatimalang, hutan di lereng itu adalah hutan pegunungan, dengan jenis-jenis binatang pegunungan pula.”

“Apa bedanya?” bertanya Laksana.

“Jenis binatangnya agaknya tidak banyak berbeda,” jawab Manggada.

Laksana mengangguk-angguk. Sementara perasaan Ki Wiradadi menjadi semakin terganggu oleh kegelisahan yang mendebarkan. Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan kelompok pepohonan hijau yang mereka perbincangkan, Ki Wiradadi tiba-tiba saja memberi isyarat kepada kedua orang anak muda itu. Dengan serta-merta mereka bertigapun berhenti.

“Hati-hati. Aku melihat seseorang di balik bebatuan,” berkata Ki Wiradadi.

Manggada dan Laksanapun telah bersiap. Mereka bertiga berdiri pada jarak yang tidak terlalu dekat. Demikian ketiga orang itu berhenti, beberapa orang telah muncul dari balik bebatuan. Dalam waktu dekat, ketiga orang itu segera mengetahui, bahwa lima orang telah mengepung mereka. Menilik sikap dan ujudnya, mereka tentu orang-orang yang sangat garang.

Ketiga orang itu berdiri termangu-mangu. Namun mereka memang harus menyesuaikan diri dengan kelima orang itu, sehingga mereka menghadapi ke tiga arah. Orang yang nampaknya memimpin kelima orang itu melangkah lebih dekat di hadapan Ki Wiradadi sambil bertanya,

“Siapakah kalian bertiga, Ki Sanak?”

Ki Wiradadi, orang tertua di antara ketiga orang itu menjawab, “Kami sedang berburu, Ki Sanak.”

“Berburu kemana? Hutan yang lebat telah kalian lampaui?” berkata orang itu.

“Ya,” sahut Ki Wiradadi. “Tiba-tiba saja kami terdorong oleh satu keinginan untuk melihat apa yang terdapat di antara Hutan Jatimalang dan Gunung Lawu. Ternyata terbentang tanah, yang menurut pengamatan kami, cukup subur, tetapi tidak mendapat perhatian dari orang-orang di seberang Hutan Jatimalang, sehingga tanah ini belum digarap. Di sini masih terbentang hutan perdu yang luas. Sementara itu, kita melihat banyak aliran air yang nampaknya mengalir di sepanjang tahun.”

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “aku minta Ki Sanak tidak meneruskan perjalanan. Kami masih mempunyai kemauan baik atas Ki Sanak. Karena itu, kami peringatkan agar Ki Sanak kembali saja dan berburu di Hutan Jatimalang.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi. “Lihat, lereng Gunung Lawu itu sangat menarik. Tentu masih banyak binatang buas terdapat di hutan itu. Selain hutan itu sendiri, lereng yang panjang ini juga menarik perhatian. Lereng yang panjang ini akan dapat menjadi daerah pertanian yang subur dan memberikan banyak kemungkinan di hari depan.”

“Sudahlah,” berkata orang itu, “jangan berpikir tentang hal-hal yang tidak berarti. Jangan dikira daerah ini belum disentuh tangan. Karena itu, kami harap kalian meninggalkan tempat ini dan tidak kembali untuk seterusnya.”

“Kenapa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Ki Sanak,” berkata orang itu, “tidak ada orang yang dapat keluar dari daerah ini dengan selamat. Tetapi aku masih memberi kesempatan kepadamu untuk hidup.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Ki Wiradadi. “Apakah ada orang yang berhak berbuat sebagaimana kau lakukan?”

“Aku dan kawan-kawanku telah berada di tempat ini sejak waktu yang lama,” berkata orang itu.

“Tetapi tidak untuk berbuat seperti itu,” berkata Ki Wiradadi.

“Cukup,” orang itu telah membentak. “Aku tidak mempunyai banyak waktu. Selagi aku berada di tempat ini, aku minta kau meninggalkan tempat ini. Kau harus merasa beruntung bahwa asap perapianmu telah memanggil kami, sehingga kami datang menemui kalian sebelum kalian sampai ke tempat itu.”

“Ke tempat yang mana yang kau maksud?” bertanya Ki Wiradadi.

“Persetan,” geram orang itu. “Jika kau benar-benar melewati batas, maka hanya gema namamu saja yang akan keluar dari lingkungan ini.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Wiradadi, “sebaiknya kau tidak usah mencampuri persoalan kami. Kami ingin naik ke hutan di lereng Gunung Lawu. Kami tidak akan mengganggu kalian. Dan sebaiknya kalian juga jangan mengganggu kami.”

“Jangan banyak bicara lagi,” potong orang itu. “Turun kembali, atau kalian akan menjadi mayat di sini.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Berkatalah terus terang, Ki Sanak. Jika nalarku dapat menangkap maksudmu, maka aku tentu akan melakukannya. Tetapi jika kau hanya sekedar membentak-bentak, maka kami tidak akan bersedia melakukannya. Kami adalah pemburu-pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, menghadang bahaya dan menempuh lingkungan yang paling rumit, sekalipun menantang maut.”

Orang itu justru menjadi semakin marah. Dengan wajah garang ia berkata, “Apalagi yang harus aku katakan? Pergi dari tempat ini, atau kalian akan mati disini.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk sambil berkata, “Tentu ada sesuatu yang kalian rahasiakan. Tidak boleh ada orang lain mengetahuinya. Justru karena kau menyebut batas, maka kami menjadi ingin tahu tentang batas itu. Karena itu, jangan halangi kami pergi kemanapun, bahkan ke batas yang kau sebutkan itu.”

“Persetan,” geram orang itu. “Agaknya kalian bertiga benar-benar ingin mati. Kalian ternyata telah melakukan satu kesalahan yang berbahaya. Kalian mengira bahwa seorang pemburu yang terbiasa masuk keluar hutan, yang terbiasa menghadang bahaya serta menantang maut, tentu orang-orang yang memiliki kemampuan tidak ada duanya. Kau telah salah menilai kemampuan seseorang sebagaimana liar dan garangnya seekor binatang.”

“Setidak-tidaknya, wadagku telah terlatih,” jawab Ki Wiradadi. “Karena itu dengan dukungan ilmu sekedarnya saja, maka kemampuanku tentu sudah sangat berarti untuk mempertahankan hidupku.”

“Bagus,” geram orang itu. “Jika demikian, kalian memang harus dibunuh. Tidak ada cara lain yang dapat kami lakukan untuk mencegah niat kalian naik lebih tinggi lagi di kaki Gunung Lawu ini.”

“Kami telah siap mempertahankan hidup kami. Tetapi jika untuk mempertahankan hidup kami harus membunuh orang lain, apa boleh buat,” geram Ki Wiradadi.

Kelima orang itupun bergerak serentak ketika mereka melihat isyarat tangan pemimpin mereka. Mereka mendekati ketiga orang itu dari lima arah yang berbeda. Pemimpin mereka berhadapan dengan Ki Wiradadi, sementara keempat orang yang lain berhadapan dengan dua orang anak muda yang sedang menanjak dewasa.

Ki Wiradadipun segera bersiap. Tetapi ia tidak mau terganggu oleh busur dan anak panah di dalam endong yang berat. Demikian pula Manggada dan Laksana. Mereka berdua meletakkan busur dan anak panah yang memberati gerak mereka.

“Tidak ada pilihan lain bagi kita,” berkata pemimpin kelima orang itu kepada kawan-kawannya. “Mereka harus dimusnahkan. Jika mereka tetap hidup, mereka tentu masih saja berniat melihat daerah ini, dan barangkali mereka akan menjadi bahaya terbesar bagi kita untuk selanjutnya.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka mulai bergerak dan siap untuk bertempur.

Manggada dan Laksana mengambil jarak. Masing-masing harus menghadapi dua orang lawan. Karena anak-anak muda itu belum tahu tataran kemampuan lawan, mereka benar-benar harus mempersiapkan diri menghadapinya.

Ki Wiradadi justru menjadi cemas. Nampaknya kelima orang itu ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Mereka mengira bahwa kedua anak muda itu akan dapat lebih cepat diselesaikan. Kemudian mereka berlima akan dengan mudah membunuh Ki Wiradadi.

Tetapi Ki Wiradadi tidak mendapat kesempatan untuk banyak berpikir. Pemimpin dari kelima orang yang mengepungnya itu tiba-tiba saja meloncat menyerangnya. Ki Wiradadi dengan cepat mengelakkan serangan itu. Namun dengan demikian, Ki Wiradadi dapat menangkap kesan tingkat kemampuan lawannya. Sambaran angin serangannya itu terasa bagaikan menampar kulitnya.

Dengan demikian, Ki Wiradadi mempersiapkan segenap kemampuannya. Ia tidak dapat meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Jika demikian, ia tentu akan terlambat. Apalagi Ki Wiradadi masih harus menjajagi kemampuan lawannya yang sebenarnya. Karena itulah Ki Wiradadipun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi pemimpin dari sekelompok orang yang tidak dikenalnya itu.

Manggada dan Laksanapun telah bersiap sepenuhnya. Kemudian mereka telah memanasi darah yang mengalir di dalam tubuh mereka. Keduanya sama sekali tidak gentar meskipun mereka masing-masing harus berhadapan dengan dua orang. Bahkan Laksana yang tidak sabar, telah meloncat mendahului lawannya. Serangannya datang bagaikan arus banjir bandang. Beruntun terhadap salah seorang lawannya.

Ternyata serangan Laksana itu mengejutkan. Dengan jantung yang berdebaran, lawannya yang mendapat serangan beruntun itu harus berloncatan menghindar. Bahkan nampaknya Laksana tidak ingin melepaskannya. Dengan cepat pula ia memburunya dengan serangan-serangan yang seakan-akan tidak terbendung. Pada serangan pertamanya yang mengejutkan itu, ternyata Laksana dapat langsung mengenai tubuh lawannya beberapa kali, sehingga terdengar keluhan tertahan.

Lawannya yang seorang benar-benar menjadi kesakitan tanpa kesempatan untuk membalas. Namun kawannya dengan segenap kemampuannya berusaha menyusul dan membantunya. Dengan garang, bahkan sambil berteriak keras, lawannya yang seorang telah menyerangnya pula.

Laksana menyadari bahaya yang datang. Karena itu ia terpaksa melepaskan lawannya untuk menghadapi lawan yang baru datang. Tanpa ragu-ragu, Laksana membentur serangan lawannya itu dengan mengerahkan sepenuh kekuatan.

Ternyata lawannya benar-benar telah terkejut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak muda itu dengan serta-merta telah membentur kekuatannya. Apalagi ternyata anak muda itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Laksana memang terdorong surut selangkah. Tetapi lawannya yang menyerang dengan sepenuh tenaganya itu, seakan-akan telah membentur batu padas di lereng bukit. Karena itu ia terlempar beberapa langkah surut. Dan bahkan untuk memperbaiki keseimbangannya, orang itu justru telah menjatuhkan diri, berguling sekali dan kemudian melenting berdiri.

Jantungnya memang agak terasa bergetar semakin cepat. Namun ia harus menenangkan dirinya menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu. Sementara kawannya yang seorang lagi, telah berusaha memperbaiki keadaannya.

Tetapi Laksana memang tidak memberinya kesempatan. Demikian lawannya yang seorang sedang berusaha memperbaiki keseimbangannya, Laksana telah menyerang lawannya yang seorang lagi dengan cepatnya.

Ternyata kecepatan gerak dan keputusan yang diambil dengan tiba-tiba oleh Laksana sempat membingungkan kedua lawannya. Ternyata Laksana seakan-akan tidak memberi kesempatan kepada mereka berdua, untuk pada satu saat, bekerja bersama melawannya.

Sementara itu, Manggada telah mempergunakan cara yang lain untuk melawan kedua orang lawannya. Ia bergerak lebih tenang dari Laksana. Manggada tidak meloncat-loncat menyerang kedua lawannya berganti-ganti, tetapi Manggada lebih banyak menunggu. Ia berdiri tegak dengan kaki renggang, Kemudian lututnya mulai ditekuk sehingga Manggada telah berdiri merendah. Kedua tangannya bersilang di dadanya.

Dengan hati-hati Manggada menghadapi kedua lawannya dengan ketajaman penglihatan serta kemampuannya. Meskipun ia memilih bertempur melawan kedua lawannya bersama-sama, tetapi ternyata bahwa anak muda itu cukup tangkas untuk melakukannya. Dengan cepat ia meloncat menghindar dan sekaligus menyerang. Menggeliat dan kemudian merendah.

Namun ketika tubuhnya berputar, maka kakinya terayun mendatar menyambar ke arah salah seorang lawannya. Ternyata kedua lawannya tidak dengan mudah dapat menundukkannya. Bahkan semakin lama anak muda itu rasa-rasanya menjadi semakin cepat bergerak, dan tenaganyapun menjadi besar.

Karena itu, kedua lawannya menjadi semakin sulit untuk menghadapinya. Anak muda itu bagaikan tidak berjejak di atas tanah. Sekali ia meloncat kesana, kemudian melenting kemari. Menghindari serangan-serangan yang kadang-kadang datang bersamaan, namun kemudian justru Manggadalah yang telah menyerang dengan garangnya.

Selagi kedua anak muda itu bertempur dengan sengitnya, maka Ki Wiradadipun harus mengerahkan kemampuannya pula. Ternyata pemimpin kelompok orang-orang yang mencegatnya itu memiliki kemampuan yang tinggi. Dengan garangnya orang itu menyerangnya dengan tangan dan kakinya berganti-ganti.

Namun Ki Wiradadi tidak kalah garangnya. Ia telah mengerahkan kemampuannya pula, sehingga dengan mantap ia telah mampu mengimbangi ilmu lawannya.

Kedua orang itu bertempur lebih lamban dari anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu. Ki Wiradadi dan lawannya ternyata lebih banyak berusaha menahan diri untuk tidak dengan serta-merta menghabiskan tenaga mereka, meskipun mereka telah sampai pada tataran kemampuan tertinggi mereka.

Namun mereka ternyata bertempur lebih mantap. Keduanya berusaha untuk memperhitungkan segala langkah mereka, karena keduanya memiliki pengalaman yang cukup luas.

Yang bertempur dengan keras adalah justru Laksana. Ia benar-benar tidak memberi kesempatan kepada lawan-lawannya. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaik-baiknya. Laksana lebih senang bertempur melawan kedua lawannya seorang demi seorang. Meskipun pada saat-saat yang gawat, ketika kedua lawannya mendapat kesempatan bersama-sama menyerangnya, Laksana masih juga mampu mengatasinya.

Bahkan Laksana masih sempat berkata kepada diri sendiri, “Untunglah aku telah makan daging cukup banyak. Jika belum, maka aku akan cepat menjadi lemah menghadapi kedua orang gila ini.”

Dalam pada itu, Ki Wiradadi yang semula mencemaskan anak-anak muda yang harus melawan masing-masing dua orang itu, ternyata setiap kali sempat mengamati apa yang telah terjadi. Ki Wiradadi tidak lagi merasa terlalu cemas. Ia melihat apa yang dapat dilakukan oleh kedua orang anak muda itu, sehingga dengan demikian, ia sempat memusatkan perhatiannya kepada lawannya.

Dengan demikian maka pertempuranpun menjadi semakin sengit. Semua orang yang terlibat dalam pertempuran itupun telah menggenggam senjata. Nampaknya kelima orang itu benar-benar ingin membunuh Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu.

Dengan teriakan-teriakan nyaring lawan Ki Wiradadi itu telah mengacu-acukan senjatanya. Memutar dan menebas mendatar. Namun Ki Wiradadi telah mempergunakan senjata pula untuk mengatasi kegarangan lawannya.

Laksana dan Manggadapun telah mengerahkan kemampuannya pula. Dengan senjata di tangan, maka lawan mereka menjadi semakin garang pula. Dua orang bagi setiap anak muda itu memang merupakan lawan yang berat. Tetapi Laksana dan Manggada tidak menjadi gentar. Bahkan keduanya seakan-akan telah didorong untuk mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi pendadaran yang berat. Pendadaran yang mempertaruhkan bukan saja kemungkinan untuk diakui tataran kemampuannya, tetapi juga mempertaruhkan nyawanya.

Seperti lawan Ki Wiradadi, maka keempat lawan Manggada dan Laksanapun sama sekali tidak mengekang diri. Merekapun benar-benar ingin membunuh kedua anak muda itu. Sehingga karena itu, maka senjata-senjata merekapun telah langsung mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya di tubuh anak-anak muda itu.

Ternyata bahwa senjata kedua lawannya telah sempat membuat Laksana mengalami kesulitan. Ketika kedua orang lawannya menjadi semakin kasar dan semakin garang, maka Laksana memang merasa terdesak.

Kedua lawannya tidak saja bertempur dengan kakinya, dengan tangannya dan senjata di genggamannya, tetapi kedua lawannya juga bertempur dengan mulutnya. Mereka berteriak-teriak kasar dan mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor, sehingga telinga Laksana rasa-rasanya bagaikan dipanggang di atas api.

Dalam kekalutan pemusatan nalar budinya karena teriakan-teriakan yang kotor itu, maka tiba-tiba saja terasa sentuhan di lengan Laksana. Ternyata ia kurang cepat mengelakkan serangan lawannya di saat ia menangkis ujung senjata lawannya yang seorang lagi.

Laksana yang menyadari lengannya terluka, telah meloncat mengambil jarak dari kedua lawannya. Ketika ia meraba lengannya yang menjadi pedih itu, maka iapun telah menggeram. Terasa di telapak tangannya, darahnya yang hangat memang sudah menitik dari lukanya itu.

Anak muda itu menjadi sangat marah. Luka di lengannya membuatnya bagaikan banteng yang terluka. Sejenak kemudian, maka iapun telah meloncat menyerang. Senjatanya berputaran dengan garangnya melibat lawannya berganti-ganti.

Tetapi kedua lawannyapun yang telah melihat Laksana terluka berusaha untuk semakin menekannya. Keduanya telah bergerak semakin cepat. Dengan mengerahkan sisa tenaga yang ada pada mereka, maka mereka ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Laksana yang masih belum banyak berpengalaman itu ternyata memang telah terpancing oleh tatagerak lawannya. Anak muda itu melayani kedua lawannya yang bergerak dengan langkah-langkah panjang. Sementara lengannya masih saja menitikkan darah, bahkan semakin banyak ia bergerak, darah itu seakan-akan bagaikan ditekan dari urat nadinya.

Laksana yang marah itu ternyata hampir melupakan pesan gurunya. Dalam kemarahan yang tidak terkendali, maka Laksana seakan-akan tidak mempergunakan perhitungan lagi. Ia sama sekali tidak berusaha menghemat tenaganya.

Kedua lawannya meskipun mengakui kemampuan anak muda itu, tetapi ternyata mereka memiliki pengalaman yang lebih luas. Selebihnya mereka sama sekali tidak lagi memperhitungkan harga diri sehingga mereka telah bertempur dengan licik.

Kemarahan dan kemarahan yang tertimbun di dalam dada Laksana telah membuat nalarnya menjadi kabur. Bahkan ia benar-benar tidak lagi mampu menilai unsur-unsur geraknya sendiri.

Manggada yang melihat keadaan Laksana menjadi cemas. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu, karena ia sendiri harus memusatkan segenap kemampuannya untuk melawan dua orang lawannya yang tidak kalah garang dan kasarnya dari kedua lawan Laksana.

Manggada sendiri telah terloncat surut beberapa langkah untuk mengambil jarak, ketika sekali lagi ia melihat ujung senjata lawannya mengenai pundak Laksana. Laksana memang berteriak untuk melontarkan ungkapan kemarahannya. Tetapi teriakannya itu sama sekali tidak menolongnya. Apalagi kedua lawannya juga berteriak-teriak lebih keras dan bahkan lebih kasar dan dengan kata-kata kotor.

Ki Wiradadi yang baru saja mapan, telah merasa terganggu pula perhatiannya oleh keadaan Laksana. Iapun melihat bahwa Laksana telah terluka di lengan dan di pundaknya.

Apalagi lawannya nampaknya dengan sengaja memberinya kesempatan untuk melihat luka Laksana. Bahkan katanya, “Sebentar lagi kawanmu yang muda itu akan mati. Sejenak kemudian yang seorang lagi akan mati juga. Kau memang agaknya akan mati terakhir. Namun justru setelah kau melihat kedua orang kawanmu terbaring menjadi mayat disini.”

Ki Wiradadi menggeram. Iapun telah meningkatkan kemampuannya. Tetapi Ki Wiradadi yang juga cukup berpengalaman itu tidak mau membiarkan dirinya hanyut dalam arus perasaannya. Karena itu, meskipun Ki Wiradadi juga mengerahkan kemampuannya dan berusaha menekan lawannya, namun Ki Wiradadi tidak terlepas dari nalar budinya.

Tetapi memang sulit bagi Ki Wiradadi untuk dapat dengan cepat menghabisi lawannya, meskipun ia sudah menghentakkan kemampuannya. Seakan-akan lawannya memang dipersiapkan untuk melawannya dalam tataran ilmu yang seimbang.

Laksana nampaknya memang menjadi semakin garang oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dalam dadanya. Tetapi kemarahannya itu justru telah menimbulkan kecemasan bagi Manggada dan Ki Wiradadi.

Dalam keadaan yang terdesak, Manggada yang tidak kehilangan akal telah mengambil keputusan yang berat. Bahkan ia memerlukan waktu untuk menentukan, apakah ia akan melakukannya atau tidak. Namun jika ia tidak melakukannya, maka keadaan Laksana akan menjadi semakin parah. Darahnya akan semakin banyak mengalir sehingga tubuhnya akan menjadi semakin lemah, sehingga mungkin ia akan terlambat.

Karena itu, maka Manggada harus segera menjatuhkan pilihan. Agaknya nalarnya masih jauh lebih bening dari Laksana yang terluka itu. “Apa boleh buat. Agaknya Laksana justru telah lupa mempergunakannya,” berkata Manggada.

Dalam keadaan yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain yang dapat dipergunakannya untuk menolong Laksana, maka Manggada telah menarik dua buah pisau kecilnya. Dengan tangkasnya Manggada telah melemparkan kedua pisaunya itu berurutan demikian cepatnya ke arah kedua lawannya yang berdiri di tempat yang berbeda.

Ketika Manggada memindahkan senjata ke tangan kirinya, kedua lawannya memang sudah menjadi curiga. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan. Begitu cepatnya Manggada menarik sebilah pisau dan melemparkannya ke dada seorang lawannya, kemudian berbalik sambil merendahkan diri, pisau kedua telah terlempar pula ke dada lawannya yang lain.

Terdengar kedua orang itu berteriak berurutan. Seorang di antaranya sempat berteriak dengan umpatan kotor. Namun pisau kecil itu telah dilemparkan dengan sekuat tenaga didorong pula dengan kekuatan cadangan di dalam diri Manggada. Karena itu maka pisau-pisau kecil itu telah menghunjam seakan-akan sampai ke tangkainya.

Tidak ada kesempatan untuk mengelak, apalagi kedua orang itu tidak menduga sama sekali. Merekapun tidak sempat menyadari bahwa ujung pisau-pisau kecil itu ternyata telah menggapai jantung mereka dan membunuh mereka.

Manggada tidak sempat mengamati kedua orang lawannya itu. Iapun segera meloncat mendekati arena pertempuran antara Laksana dan kedua orang lawannya. Ternyata Laksana yang terpancing oleh lawannya dengan gerak-gerak yang panjang dan cepat, serta darah yang mengalir dari kedua lukanya, kekuatannya mulai menjadi susut.

Namun kehadiran Manggada telah merubah sama sekali keseimbangan dalam arena pertempuran itu. Dengan cepat Manggada berhasil mengikat seorang di antara lawan Laksana dalam pertempuran melawannya, sehingga dengan demikian maka Laksana tinggal menghadapi seorang lawan saja.

Meskipun kekuatan dan kemampuan Laksana mulai susut, namun menghadapi seorang saja dari kedua lawannya, kekuatan dan kemampuannya masih jauh memadai. Apalagi ketika Manggada sempat memperingatkan, “Pergunakan otakmu.”

Laksana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi senjatanyapun kemudian telah bergetar menghadapi seorang saja dari kedua lawannya.

“Kau telah terluka,” geram lawannya yang menjadi bimbang karena ia harus menghadapinya sendiri.

“Lukaku tidak berarti apa-apa,” jawab Laksana. “Tetapi aku tidak ingin membunuhmu dengan cepat dengan melontarkan pisau-pisau kecilku. Oleh kemarahan yang menghentak di dadaku aku justru terlupa mempergunakannya, karena aku tidak terbiasa membawanya. Sekarang aku ingin membunuhmu dengan senjataku ini.”

Orang itu memang menjadi cemas. Tetapi ia masih berusaha untuk membesarkan hatinya. Bahkan ia tertawa sambil berkata, “Tenagamu sebentar lagi akan habis terhisap sejalan dengan darahmu yang menjadi kering.”

Laksana tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Senjatanya berputaran dengan cepat sekali. Namun ia sudah mulai mencoba mempergunakan penalarannya kembali. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak lagi menjadi kehilangan langkah. Meskipun demikian, darah yang mengalir dari lukanya memang telah mengganggu perasaannya. Namun ia tidak mau mati di ujung senjata lawannya.

Manggada tidak lagi ingin membunuh lawannya yang diambilnya dari Laksana. Namun demikian, ternyata lawannya itupun telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk berusaha membunuhnya.

Laksana yang sudah terluka itu masih mampu menggerakkan senjatanya dengan garang, sehingga lawannya benar-benar tidak mendapat tempat di arena. Tetapi justru karena itu, maka dengan putus asa lawannya telah bertempur membabi buta. Dengan teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kotor, ia menyerang Laksana seperti badai.

Namun dengan demikian geraknya menjadi kacau. Perhitungannya kabur dan kegelisahannya menjadikannya bingung menghadapi kecepatan gerak Laksana. Dan pada suatu saat, senjata Laksana yang marah itu telah menyambar dadanya. Sebuah goresan panjang menyilang di dadanya, sehingga lawan Laksana terlempar beberapa langkah surut.

Ketika ia berusaha berdiri tegak, tubuhnya nampak gemetar. Betapapun ia berusaha untuk tetap menggenggam senjatanya, namun akhirnya senjata itu jatuh. Bahkan perlahan-lahan orang itupun terjatuh pada lututnya. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun akhirnya tubuhnya terkulai di tanah. Darah mengalir tanpa terbendung dari lukanya yang dalam.

Laksana berdiri termangu-mangu. Sejenak ia mengawasi lawannya yang terbaring diam. Nampaknya lawan itu memang tidak akan mungkin bangkit lagi untuk melawannya. Bersamaan dengan itu, ia mendengar teriakan Manggada, “Obati lukamu, cepat. Sebelum darahmu semakin banyak mengalir dan mempengaruhi tenagamu.”

Laksana bagaikan terbangun dari sebuah mimpi. Iapun segera mengambil tempat untuk melihat lukanya. Namun karena letak lukanya, maka ia memang agak mengalami kesulitan.

Sementara Manggada tidak memerlukan waktu terlalu lama. Dengan cepat Manggada dapat segera mendesak, dan bahkan menguasai ruang gerak lawannya. Tetapi ketika senjatanya telah menggores kulit lawannya, justru lawannya menjadi kian liar. Seperti seekor harimau terluka, ia berusaha menerkam dengan tanpa memperhitungkan kemungkinan yang dapat dilakukan lawannya.

Semula Manggada masih sempat menghindar dan berusaha menahan lawannya dengan putaran senjatanya. Tetapi lawannya itu seakan-akan benar-benar telah kehilangan nalar budinya. Dengan garangnya ia meloncat menerkam Manggada dengan ujung senjatanya. Manggada ternyata terpengaruh juga oleh sikap lawannya. Bahkan terasa seolah-olah bulu kuduknya meremang. Tetapi di luar sadarnya, ketika lawannya menerkam, Manggada sempat mengelak. Tetapi lawannya telah memburunya. Satu ayunan mendatar yang cepat dan kuat sekali telah menyambar ke arah leher Manggada. Namun Manggada sempat merendah, sekaligus menjulurkan senjatanya menembus langsung ke lambung.

Terdengar orang itu berteriak nyaring. Selangkah ia bergeser mundur. Manggada masih menggenggam tangkai senjatanya yang telah terlepas dari tubuh lawannya. Tidak ada lagi yang dapat dilakukan lawan Manggada. Rasa-rasanya semuanya menjadi gelap. Bahkan iapun kemudian jatuh tertelungkup.

Pada saat yang bersamaan, lawan Ki Wiradadi pun menjadi putus asa. Tetapi ia tidak membunuh dirinya sebagaimana kawan-kawannya. Ia masih sempat berpikir, bahwa ia harus lolos dari maut untuk menyampaikan kepada pemimpinnya, bahwa ada tiga pemburu yang naik ke lereng gunung, setelah menyeberangi Hutan Jatimalang.

Karena itu, selagi perhatian Manggada tertuju kepada lawannya yang jatuh terbaring di tanah, sementara Laksana sedang memperhatikannya pula, lawan Ki Wiradadi berusaha melenting jauh dan dengan serta-merta berusaha melarikan diri dari arena.

Ki Wiradadi tidak mempunyai kesempatan untuk mengejarnya. Orang itu telah mendahuluinya beberapa langkah. Dengan cepat Ki Wiradadi menyadari, bahwa jika salah seorang di antara orang-orang itu terlepas dari pengawasan mereka, maka orang itu tentu akan menjadi sangat berbahaya.

Karena itu, Ki Wiradadi tidak sempat membuat perhitungan yang rumit. Ketika ia menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengejar lawannya itu, maka tiba-tiba saja ia telah mencabut sebuah dari pisau-pisau kecilnya dan dengan sepenuh kekuatan dilemparkannya kepada lawannya yang melarikan diri itu.

Terdengar orang itu mengaduh. Dengan langkahnya dan terhuyung-huyung sambil berputar. Dengan suara bergetar ia berkata sambil menunjuk ke arah Ki Wiradadi, “Kau licik. Kau tusuk punggungku selagi aku membelakangimu.”

Ki Wiradadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Kau akan melarikan diri.”

Orang itu memandang Ki Wiradadi dengan mata yang menyala. Tubuhnya yang tidak dapat mempertahankan keseimbangan mulai berguncang-guncang. Namun ia masih berkata, “Panembahan akan menghukummu dengan hukuman yang paling getir.”

“Panembahan siapa?” bertanya Ki Wiradadi.

“Panembahan Lebdagati. Seorang panembahan yang tuntas ing kawruh. Menguasai segala macam ilmu lahir dan batin.” Suaranya semakin bergetar dan tubuhnya tidak lagi mampu bertahan. Bahkan sejenak kemudian orang itupun telah jatuh tertelungkup dengan sebilah pisau terhunjam di punggungnya.

Ki Wiradadi melangkah perlahan-lahan mendekatinya. Diamatinya orang yang telah tidak bernyawa lagi itu. Tetapi ia sadar, bahwa langkah yang diambilnya itu telah diperhitungkannya sejak semula, bahwa mungkin sekali akan terjadi. Jika ia menyeberangi Hutan Jatimalang untuk melacak anak gadisnya yang hilang, maka ia akan terpaksa memasuki dunia kekerasan. Membunuh atau dibunuh.

Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak berbuat apa-apa, maka pembunuhan-pembunuhan masih akan berlangsung terus. Bahkan gadis-gadis yang dikorbankan untuk sebuah kepercayaan yang sesat akan terus berlanjut.

Manggada yang telah kehilangan lawannya, telah membantu Laksana mengobati luka-lukanya, sehingga darahnya menjadi pampat. Ketika Ki Wiradadi kemudian mendekatinya, Manggada berdesis, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Diamatinya luka Laksana di pundak dan lengannya. “Untunglah luka itu tidak terlalu dalam dan tidak beracun,” desis Ki Wiradadi.

“Ya,” sahut Laksana. “Nampaknya memang tidak begitu berpengaruh.”

“Tetapi kau tidak boleh terlalu banyak bergerak,” berkata Ki Wiradadi kemudian. “Darahmu akan terlalu banyak mengalir. Sementara itu kita masih akan menempuh perjalanan yang lebih berbahaya. Kau dengar, orang itu telah menyebut nama Panembahan Lebdagati, yang katanya seorang panembahan yang berilmu tinggi lahir dan batin?”

Laksana mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa lukanya tentu akan mengganggunya jika luka itu tidak dapat diatasi dengan obat yang dibawanya. Karena itulah, maka Laksana tidak mempunyai pilihan lain kecuali beristirahat untuk beberapa saat.

“Kita masih mempunyai tugas,” berkata Manggada. “Kita harus mengubur mayat-mayat itu agar tidak menjadi makanan burung-burung buas atau binatang liar dari hutan itu.”

Ki Wiradadi kemudian berdesis, “Biarlah Laksana beristirahat lebih dahulu.”

Bertiga mereka kemudian duduk bersandar batu padas di bawah sebatang pohon yang rimbun, setelah mereka memungut kembali busur-busur mereka. Sementara itu Ki Wiradadi berkata, “Kita tidak dapat membayangkan, siapa dan seberapa tinggi kemampuan orang yang disebut Panembahan Lebdagati itu.”

Manggada dan Laksana mengangguk-angguk. Tentu tidak seperti orang-orang yang telah mereka kalahkan itu. Bahkan mungkin panembahan itu akan dapat menghancurkan mereka bertiga sekaligus.

Sambil memandangi dedaunan yang bergerak-gerak digoyang angin, Manggada berkata hampir kepada diri sendiri, “Satu tantangan yang harus diatasi. Tetapi kita tidak dapat membiarkan upacara sesat itu dibiarkan saja.”

“Tetapi bukannya tanpa perhitungan,” berkata Ki Wiradadi. “Aku memang merasa wajib untuk mengambil anakku. Dan jika mungkin, gadis-gadis yang masih ada. Tetapi aku harus memikirkan cara yang terbaik untuk melakukannya. Kalian masih terlalu muda untuk melakukan tugas yang sangat berat ini. Kemungkinan yang paling pahit dapat terjadi.”

“Mati?” desis Laksana.

“Kalian masih terlalu muda untuk mengalaminya. Masih panjang kemungkinan yang dapat terjadi atas kalian. Karena itu aku harus memikirkannya apakah sudah sepantasnya aku membawa kalian menempuh bahaya yang demikian besarnya. Pada langkah pertama ini, aku telah menyesal bahwa kalian terlibat ke dalamnya. Untunglah bahwa kalian memiliki bekal yang cukup tinggi, sehingga kalian dapat lolos dari maut. Bahkan tanpa kalian, akupun tidak akan dapat meninggalkan tempat ini, karena aku tentu sudah terbaring mati. Merekalah yang akan berdiri sambil mengamati mayatku,” berkata Ki Wiradadi.

“Jangan berkata begitu, Ki Wiradadi,” berkata Manggada. “Bukan salah Ki Wiradadi bahwa kami berada di sini. Kami sudah menyatakan kesediaan kami untuk membantu Ki Wiradadi menyelamatkan anak gadis Ki Wiradadi. Tetapi yang lebih penting lagi, menghancurkan kepercayaan yang sesat itu.”

“Seperti yang sudah aku katakan, kita bukannya tidak berperhitungan,” sahut Ki Wiradadi. Namun kemudian dengan serta-merta ia berkata selanjutnya, “Bukan maksudku menolak uluran tangan kalian. Aku merasa sangat berterima kasih. Bahkan seandainya hanya sampai sekian pun, aku sudah merasa berhutang budi kepada kalian. Tetapi yang justru aku pikirkan adalah keselamatan kalian untuk selanjutnya. Jika terjadi sesuatu atas kalian berdua, atau salah seorang di antara kalian, aku akan merasa bersalah.”

Tetapi Manggada menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ini adalah pilihan kami sendiri, Ki Wiradadi. Jangan menyalahkan diri jika terjadi sesuatu atas kami. Hanya dengan mengabdikan diri pada kemanusiaan, maka ilmu yang selama ini kami pelajari akan berarti.”

Ki Wiradadi menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berusaha memberikan peringatan kepada anak-anak muda itu. Tetapi kedua orang anak muda itu nampaknya sudah bertekad bulat untuk meneruskan perjalanan, apapun yang akan terjadi kemudian.

Namun bagaimanapun juga, kehadiran kedua orang anak muda itu telah menjadi beban bagi Ki Wiradadi, meskipun ia sangat memerlukannya. Setelah menyeberangi Hutan Jatimalang, bersama kedua anak muda itu, Ki Wiradadi baru melihat ancaman yang sebenarnya.

Meskipun mereka dapat mengalahkan hambatan pertama, tapi menurut perhitungan Ki Wiradadi, hambatan demi hambatan akan mereka hadapi lagi. Bahkan akhirnya mereka akan sampai pada orang yang bernama Lebdagati.

Karena itu, bagaimanapun juga ia wajib mengatakannya. “Anak-anak muda, puncak dari perjalanan ini tentu akan membawa kita kepada orang yang bernama Panembahan Lebdagati. Tentu orang yang mumpuni segala macam kawruh lahir dan batin, meskipun agaknya ia berpijak pada ilmu sesat.”

“Ya. Tetapi apa boleh buat,” desis Manggada.

“Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atas kalian,” desis Ki Wiradadi.

Namun sebelum anak-anak muda itu menjawab, tiba-tiba terdengar suara, “Kau benar, Ki Sanak. Ilmunya sangat tinggi, seakan-akan menjangkau langit.”

Ketiganya terkejut. Ketika mereka berpaling ke arah suara itu, dilihatnya seorang tua berjanggut putih melangkah terbungkuk-bungkuk dari balik sebongkah batu besar. Kemudian dengan tenangnya duduk di atas batu di hadapan batu besar itu. Ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Apakah orang tua itu yang disebut Panembahan Lebdagati?

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun rasa-rasanya jantung mereka berdenyut semakin cepat. Baru sejenak kemudian Ki Wiradadi melangkah maju sambil bertanya, “Siapakah kau, Ki Sanak? Apakah kau orang yang disebut Panembahan Lebdagati?”

Orang itu seakan-akan tidak mendengar pertanyaan Ki Wiradadi. Bahkan iapun berkata, “Aku melihat bagaimana kalian bertiga membunuh orang-orang dari Padepokan Lebdagati.”

“Kami membunuh bukannya tanpa sebab,” jawab Ki Wiradadi.

“Aku mengerti. Kalian membunuh karena kalian tidak mau diusir begitu saja dari lingkungan yang menurut Panembahan Lebdagati adalah lingkungan kekuasaannya. Hutan Jatimalang, lereng Gunung Lawu adalah daerah yang dikuasai panembahan itu.”

“Daerah yang begitu luas?” bertanya Ki Wiradadi. “Jarak antara Jatimalang dan puncak Gunung Lawu adalah terlalu luas untuk satu padepokan.”

“Tetapi daerah yang sudah digarap belum terlalu banyak. Daerah seluas ini terdiri dari padang rumput, hutan perdu dan hutan pegunungan yang lebat. Daerah berbatu-batu dan padang ilalang. Hanya beberapa bagian dari daerah seluas ini dapat dijadikan tanah persawahan dan pategalan,” jawab orang tua itu.

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Tetapi iapun bertanya, “Ki Sanak belum memberikan jawaban, siapakah Ki Sanak sebenarnya.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kemudian berkata, “Kalian, apalagi anak-anak muda itu, telah memasuki daerah yang sangat berbahaya. Yang terjadi barulah sebuah perkenalan. Kalian akan segera menjumpai kesulitan yang lebih besar.”

“Katakan, apakah kau yang disebut Panembahan Lebdagati?” desak Manggada.

Orang itu masih belum langsung menjawab. Tetapi ia berkata, “Jalan ini adalah jalan induk menuju ke padepokan itu. Padepokan itu sendiri masih jauh. Tetapi di beberapa tempat, cantrik mereka menggarap sawah yang tersebar. Beternak dan membuat kolam ikan. Jarang sekali orang-orang padepokan ini keluar lingkungan mereka. Maksudku, jarang sekali orang-orang dari daerah ini melintasi Hutan Jatimalang dan berhubungan dengan orang luar.”

“Kecuali saat mereka mengambil gadis-gadis,” potong Laksana.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Sementara Laksana berkata selanjutnya, “Ki Wiradadi telah kehilangan anak gadisnya. Ia datang kemari bersama kami berdua untuk mengambil gadisnya itu kembali. Menurut pendengaran kami, gadis-gadis itu akan dikorbankan di saat bulan purnama penuh. Nah, sebelum purnama penuh itu datang beberapa hari lagi, kembalikan gadis itu.”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Jadi kalian datang untuk mengambil seorang gadis?”

“Ya. Anak Ki Wiradadi ini. Sebagai seorang ayah, maka ia akan menempuh bahaya yang bagaimanapun besarnya. Sedangkan kami berdua, yang mengetahui persoalannya, tidak dapat tinggal diam. Kami berdua sudah bertekad untuk membantunya.”

Tetapi orang tua itu menggeleng. Katanya, “Sulit bagi kalian untuk dapat membebaskan gadis yang sudah ada di tangan Panembahan Lebdagati, sebab Panembahan Lebdagati mempunyai banyak pengikut. Meskipun beberapa orang di antara mereka tidak lebih dari orang-orang yang telah terbunuh, tetapi jumlahnya terlalu banyak, dan beberapa orang mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Apalagi Panembahan Lebdagati itu sendiri.”

“Ada yang kau lupa, Ki Sanak,” berkata Manggada. “Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun ia masih tetap di bawah kuasa Yang Maha Agung. Jika orang berilmu tinggi itu telah menempuh jalan sesat, maka akan datang murka Yang Maha Agung itu atasnya. Karena itu, kami tidak gentar. Jika kami terbunuh di tempat orang-orang berilmu sesat, maka kematian kami bukannya sia-sia. Kami telah menunjukkan kepada orang-orang itu bahwa kepercayaannya mendapat tantangan, sehingga akhirnya pada suatu saat orang itu akan langsung berhadapan dengan lantaran kuasa Yang Maha Agung sendiri.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Agaknya kau mempunyai lambaran kepercayaan yang kokoh.”

“Aku yakin akan sumber hidupku. Aku percaya akan tanganNya yang adil dan kuasa tanpa batas,” sahut Manggada. “Meskipun kami bukan orang-orang berilmu, tetapi kuasaNya akan mungkin mempergunakan ujung panahku untuk menyelesaikan kegiatannya yang sesat.” Manggada berhenti sejenak, namun tiba-tiba ia bertanya menghentak, “Kaukah Panembahan Lebdagati yang sesat itu?”

Akhirnya orang itu menggeleng. Katanya, “Bukan. Bukan akulah orang yang kau cari.”

“Jadi siapakah kau?” bertanya Manggada mendesak.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya puncak Gunung Lawu yang kebiruan. Masih jauh, meskipun mereka sudah berada di lereng.

“Sebut namamu atau gelarmu, Ki Sanak,” Ki Wiradadipun telah mendesaknya pula.

Orang itu akhirnya berkata, “Orang memanggilku Ki Ajar Pangukan.”

“Pangukan?” ulang Laksana.

Orang itu mengangguk. Namun tiba-tiba Laksana berkata, “Jadi kau adalah orang Panembahan Lebdagati yang mendapat tugas untuk mengamati jalan menuju ke padepokannya?”

“Kenapa kau menganggap begitu?” bertanya orang tua itu.

“Namamu Pangukan. Orang yang sering mengamati sesuatu,” jawab Laksana.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ketika aku menggantikan kedudukan guruku, aku disebut Ajar Pangukan. Aku tidak berpikir begitu jauh mengenai arti namaku itu dengan baik.” Orang itu berhenti sejenak, namun tiba-tiba iapun berkata, “Tetapi mungkin kau benar, anak muda. Tugasku memang mengamati, melihat-lihat sebagaimana aku lakukan sekarang.”

“Jadi kau mengakui bahwa kau salah seorang murid Panembahan Lebdagati?” bertanya Laksana.

Orang itu tersenyum. Katanya, “Kau masih terlalu muda. Hati-hatilah. Kau harus mencoba mengendalikan diri menghadapi persoalan-persoalan yang berat.”

“Kau belum menjawab,” desak Laksana.

“Sudah berkali-kali aku katakan. Aku bukan Panembahan Lebdagati, juga bukan muridnya, atau orangnya, atau orang yang pernah berhubungan dengan panembahan itu,” jawab Ki Ajar Pangukan. “Aku justru sedang mengamati tingkah laku orang-orang dari daerah ini. Sudah beberapa bulan aku berada di sini.”

“O,” Ki Wiradadilah yang bergeser. Nada suaranya berubah. “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Aku berkata sebenarnya,” jawab orang itu. “Jika aku pengikut Panembahan Lebdagati, atau bahkan Lebdagati itu sendiri, maka aku tentu akan dengan serta-merta membunuh kalian.”

Ki Wiradadi mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Laksana yang tersinggung berkata, “Kau kira kami adalah kelinci-kelinci yang tidak berarti apa-apa? Kau lihat, kami telah membunuh orang-orang Panembahan Lebdagati.”

“Sudahlah, anak muda,” berkata orang itu. “Kita jangan terlalu lama di sini. Kita tidak boleh ketahuan orang-orang Panembahan Lebdagati. Setelah beberapa bulan aku disini, aku menjadi semakin mengenali lingkungan ini. Termasuk Panembahan Lebdagati itu sendiri. Namun aku tidak boleh diketahui oleh mereka. Jika demikian, maka usahaku akan sia-sia.”

“Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya Ki Wiradadi.

“Ikuti aku setelah kalian mengubur orang-orang yang terbunuh itu,” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Kau ingin menjebak kami?” berkata Laksana.

Ki Ajar itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu curiga, anak muda. Tetapi baiklah, aku mengerti. Karena itu, biarlah aku tunjukkan kepadamu, bahwa aku tidak akan mencelakakanmu. Jika aku ingin melakukannya, aku dapat melakukannya dengan mudah.”

Laksana termangu-mangu. Namun iapun kemudian melihat orang tua itu bangkit berdiri, dan seperti terbang, ia meloncat mundur ke atas sebuah batu yang besar.

“Perhatikanlah. Aku akan membantu kalian mengubur orang-orang yang telah kau bunuh itu,” berkata orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu.

Ketiga orang itupun termangu-mangu. Namun mereka memang bergeser surut ketika mereka melihat orang tua yang berdiri di atas batu itu bersikap. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menggerakkan tangannya. Dengan satu hentakan, dari telapak tangannya terlontar kekuatan yang sangat besar.

Tanah beberapa langkah di depannya tiba-tiba saja bagaikan meledak. Demikian terjadi setiap orang itu menggerakkan tangannya sampai lima kali. Baru kemudian orang itu berhenti setelah di hadapannya berjajar lima buah lubang yang cukup lebar dan dalam.

“Nah,” berkata orang itu kemudian, “kau dapat menguburkan kelima sosok mayat itu tanpa mengalami kesulitan menggali lubang. Cepat lakukan sebelum orang-orang dari Padepokan Lebdagati melihat kita.”

Ki Wiradadi dan kedua orang anak muda itu bagaikan dicengkam oleh pesona yang tidak disadari. Merekapun dengan cepat telah mengangkat sosok-sosok mayat yang berserakan, dan memasukannya ke dalam lubang.

“Tetapi kalianlah yang harus menimbuninya,” berkata orang tua itu. “Aku sudah menggalinya.”

Keringat membasahi seluruh tubuh mereka. Sementara itu Laksana bukan saja menitikkan keringat, tetapi menitikkan darah pula.

Namun orang tua itu kemudian berkata, “Nanti aku akan mengobati lukamu.”

“Tetapi di manakah rumah Ki Sanak?” bertanya Ki Wiradadi.

“Mari. Ikut sajalah. Kau akan tahu,” berkata orang itu.

Ketiga orang itu tidak membantah lagi. Mereka menyadari, seandainya orang itu ingin membunuh mereka bertiga, maka orang yang menyebut dirinya Ki Ajar Pangukan itu memang tidak akan banyak mengalami kesulitan.

Beberapa saat kemudian mereka telah meninggalkan jalur jalan menuju ke padepokan yang dihuni orang-orang yang berilmu sesat. Mereka meniti jalan-jalan setapak. Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan di antara batu-batu padas. Menyusup batang-batang perdu dan melingkari lereng-lereng rendah. Ketika mereka sampai ke sebuah sungai, mereka mengikuti arusnya beberapa ratus tonggak. Baru kemudian mereka menyeberang dan naik di lereng sebelah.

“Kita kemana?” bertanya Manggada.

“Aku mempersilahkan kalian singgah di padepokanku,” berkata orang itu.

“Padepokanmu juga di kaki Gunung ini?” bertanya Laksana.

“Ya. Tetapi letaknya memang agak jauh,” jawab orang itu. Lalu iapun bertanya kepada Laksana, “Nampaknya kau sudah terlalu letih. Aku mengerti, luka-lukamu masih saja berdarah.”

“Tidak,” jawab Laksana. “Tetapi lukaku memang berdarah lagi.”

“Kita dapat beristirahat sebentar. Kita sudah berada di tempat yang agak jauh dari daerah pengawasan Panembahan Lebdagati,” berkata Ki Ajar Pangukan itu.

“Aku tidak ingin beristirahat,” berkata Laksana.

“Aku hanya ingin memampatkan darahmu saja,” jawab Ki Ajar.

“Baiklah,” akhirnya Ki Wiradadi yang menyahut. “Agaknya lukamu memang perlu diobati lagi.”

“Bukankah aku masih mempunyai obat yang cukup?” berkata Laksana.

“Karena itu, sebaiknya obat itu dipergunakan,” sahut Ki Ajar.

Laksana tidak membantah lagi. Mereka kemudian beristirahat di bawah rimbunnya sebatang pohon. Sementara itu di hadapan mereka terbentang lereng pegunungan yang tidak pernah digarap tangan. Padang perdu yang liar. Beberapa buah batu besar yang berserakan. Namun agak jauh di hadapan mereka, terdapat hutan pegunungan yang hijau.

“Tanah ini belum sempat disentuh,” berkata Ki Ajar Pangukan. “Berbeda dengan daerah di sekitar padepokan dan anak-anak padepokan Panembahan Lebdagati. Di sana air sudah dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga di beberapa bagian nampak sawah yang subur.”

Namun tiba-tiba Manggada teringat akan kepentingan mereka datang ke tempat itu. Karena itu ia berkata, “Ki Ajar, kedatangan kami ke tempat ini bukannya sekedar bertamasya di lereng pegunungan. Kami telah bertekad untuk mengambil anak perempuan Ki Wiradadi yang telah diserahkan kepada orang-orang berilmu sesat itu.”

“Aku mengerti,” jawab Ki Ajar.

“Jadi bagaimana? Kau sengaja membelokkan arah perjalanan kami?” bertanya Laksana.

“Ya. Aku memang sengaja membawa kalian keluar dari jalan kematian. Jika kalian aku biarkan menempuh perjalanan yang kalian rencanakan, maka sebelum kalian tahu apakah anak perempuan itu benar-benar ada di sini, kalian sudah akan mati lebih dahulu,” berkata Ki Ajar.

“Tetapi bagaimana dengan anak itu?” bertanya Ki Wiradadi.

“Kita memang harus berbuat sesuatu sebelum bulan purnama beberapa hari lagi. Tetapi tidak dengan membunuh diri,” berkata Ki Ajar Pangukan.

“Tetapi dengan cara apa?” desak Laksana.

Ki Ajar tertawa. Katanya, “Kau mengingatkan aku kepada seorang pahlawan yang gugur beberapa bulan lalu di lereng gunung ini pula. Ia datang untuk mencari anaknya. Bahkan ia sendiri saja dengan membawa segerobag senjata. Seperti kalian. Pedang, busur dan anak panah, pisau-pisau belati dan tombak, bindi, trisula, nanggala dan barangkali bajra.” Orang itu berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi semua itu tidak akan berarti apa-apa. Jumlah pengikut Panembahan Lebdagati cukup banyak...”

Selanjutnya,
Menjenguk Cakrawala Bagian 08