Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 33 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara

"AMPUN, laporan buruk. Kwi-bo dan pemuda itu melarikan diri, suhu, kami mencegah akan tetapi gagal. Mereka cepat sekali."

Sin Tong Tojin membalikkan tubuh. Inilah laporan muridnya dan kakek itu tentu saja terkejut, semua orang juga terkejut. Akan tetapi ketika Po Kwan berkelebat dan mengeluh, dialah yang bertugas jaga maka Peng Houw tertegun sementara puteranya berkerut kening. Po Kwan lenyap dan sudah mendahului keluar.

"Hm, kita kecolongan, akan tetapi ini peristiwa besar. Muridmu tak dapat disalahkan, taihiap, lagi pula dua orang itu tak seberbahaya Chi Koan."

"Benar, Heng-san-paicu (ketua Heng-san-pai) tidak salah. Muridmu tak perlu ditegur, taihiap, siapapun memang pasti ke sini mendengar pekik dahsyat itu. Siapa tak kaget dan meninggalkan tempat masing-masing kalau ada kejadian seperti ini."

Ko Pek Tojin menyambung kata-kata rekannya dan yang lain mengangguk hingga pendekar itu menarik napas dalam-dalam. Memang muridnya itulah yang bertugas jaga akan tetapi Siauw Lam dan Kwi-bo lolos. Mereka cerdik mempergunakan kesempatan. Geger di tempat itu memang menggemparkan.

Maka mengangguk dan memaklumi perasaan orang-orang ini, lega bahwa muridnya tak disalahkan maka pendekar itu berkelebat dan tiba-tiba iapun ingin ikut mencari. Boen Siong disuruhnya menjaga di situ.

"Baiklah, akan tetapi muridku harus bertanggung jawab juga. Biar kubantu dan kucari mereka itu, totiang, betapapun mereka tak boleh lolos!"

Ko Pek Tojin dan lain-lain mengangguk. Merekapun berlompatan dan akhirnya meninggalkan tempat itu dan Kwi-bo serta Siauw Lam dicari. Inilah kegegeran lain setelah tewasnya si buta. Akan tetapi ketika sampai pagi dua orang itu tak tertangkap juga, rupanya mereka lolos begitu cepat maka Po Kwan menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya.

"Teecu bersalah, teecu siap menerima dosa. Hukum dan perintahlah teecu mempertanggungjawabkan ini, suhu. Teecu tak akan lari dan menyatakan salah."

"Tidak!" Heng-san-paicu lagi-lagi berkelebat dan berseru. "Kau tidak selah apalagi berdosa, Kwan-sicu. Penjagaanlah yang kelewat kendor dan kami turut bertanggung jawab. Pekik itu mengundang siapa saja, gurumu tak boleh menjatuhkan hukuman. Kalau ia menghukum berarti kami juga kena!"

"Benar, murid-murid kami menjaga pula. Kalau lolos adalah kesalahan kami juga, anak muda. Bangun dan jangan begitu karena ini bukan tanggung jawabmu seorang!"

"Omitohud, pinceng setuju kata-kata Hoa-san-paicu. Karena murid Bu-tong juga lengah dan kita semua salah maka gurumu tak boleh menjatuhkan hukuman. Kita semua bertanggung jawab!"

Peng Houw menarik napas dalam, ganti-berganti memandang tiga orang itu dan akhirnya berhenti pada Gu Lai Hwe-sio. Ketua Bu-tong ini dengan gagah melindungi Po Kwan dan tampaknya bersiap-siap bila ia menyerang. Muridnya dilindungi banyak orang gagah. Dan kembali lega bahwa orang-orang itu tak menyalahkan muridnya, pihaknya menjadi ringan maka pendekar ini berkata dan membungkuk.

"Terima kasih, kalian semua rupanya benar-benar tak menyalahkan muridku. Kalau begitu bagaimana sekarang, cuwi-enghiong. Chi Koan telah tewas sementara Beng San terluka di sana."

"Pinto akan kembali saja ke Heng-san. Rasanya tak ada lagi yang perlu di sini taihiap. Pinto akan membawa semua murid dan beristirahat di rumah."

"Tepat, pinto juga begitu. Hoa-san tak ada urusan lagi di sini, Peng-taihiap, dan semua murid akan kubawa pulang!" Ko Pek Tojin berseru.

"Dan pinceng juga mengikuti," ketua Bu-tong menyambung. "Karena hari sudah terang dan tak ada lagi urusan biarlah pinceng kembali dan mohon pamit kepada semua saudara-saudara Selatan!"

Kakek Naga Menara dan lain-lain terkejut. Tiba-tiba saja urusan itu berubah menjadi perpisahan. Heng-san-paicu dan lain-lain pamit pada mereka. Akan tetapi ketika Tong-bun-su-jin berseru dan mengangkat tangan ke atas maka empat bersaudara itu bertanya bagaimana dengan Beng San.

"Tunggu, nanti dulu. Bagaimana dengan pemuda yang terluka itu dan bagaimana pula nasib See-ouw-pang!"

"See-ouw-pang tak perlu dikhawatirkan lagi. Di sini telah muncul Kim-liong yang menggantikan suhengnya, saudara Tong. Sedang anak muda itu kami pikir tetap diserahkan saja pada Peng-taihiap.

"Benar, anak itu diserahkan Gobi. Kita telah tahu bahwa ia mencegah gurunya akan tetapi malah terluka. Biarlah Peng-taihiap mengurusnya dan kalau perlu membebaskan hukumannya. Bukankah ia telah menjadi anak yang baik!"

Semua menoleh dan tertegun akan tetapi mengangguk-angguk memandang Giok Yang Cinjin. Kakek inilah yang berseru dan siapapun memang telah bersimpati kepada Beng San. Di saat-saat terakhir pemuda itu telah berobah sikap, menentang dan bahkan memusuhi gurunya. Akan tetapi Sam-hwesio yang berkerut dan masih tidak percaya begitu saja mengulapkan lengannya. Pengalamannya menunjukkan bahwa penglihatan sepintas bukanlah jaminan.

"Omitohud, terima kasih atas kepercayaan saudara-saudara. Kalau pemuda itu diberikan kepada kami tentu Gobi akan menjaganya baik-baik. Hanya masalah hukuman, hmm... biarlah dipikir baik-baik oleh Naga Gurun Gobi pribadi!"

Peng Houw mengangguk, isyarat paman gurunya ditangkap. Dan ketika ia siap membawa pemuda itu dan biarlah urusan sampai di situ, Chi Koan telah tewas maka pendekar ini mohon diri dan akhirnya keluarga besar Gobi berpamitan semua.

Hari itu orang-orang Selatan berpisah dengan orang-orang Utara dan masing-masing pihak bermaaf-maafan. Memang tak ada lagi yang diurus setelah si buta tewas. Pelajaran telah selesai dan tak perlu lagi Si buta menjalani hukuman. la telah tiada. Dan ketika Beng San diserahkan Gobi dan lenyapnya Kwi-bo serta Siauw Lam tak begitu merisaukan, dua orang itu tak seberbahaya Chi Koan maka mereka saling menjura di tepi telaga itu.

See-ouw-pang masih berkabut biarpun matahari telah naik tinggi. Ada ketemaraman di tempat ini. Kejadian atau peristiwa dahsyat di tempat itu masih terasa. Dengung atau gemanya tak dapat hilang, begitu saja. Dan ketika akhirnya semua tokoh meninggalkan tempat, termasuk tokoh-tokoh Selatan sendiri seperti Naga Menara dan Tong-bun-su-jin, juga Yang-liu Lo-lo dan mereka yang selamat maka telaga ini bersunyi diri dan anehnya kabut di permukaan telaga itu tak hilang juga seminggu lamanya. Heran!

Sesuatu seakan diberitahukan kabut itu. Ada semacam isyarat atau bahasa yang tak dimengerti manusia. Dan karena See-ouw-pang telah mendapatkan ketua barunya si Cambuk Naga Emas, laki-laki atau pria gagah yang memperhatikan keanehan kabut ini akhirnya getaran firasat itu ditangkap juga dan pada hari kesepuluh pria ini berpamit menuju Gobi. Kabut akhirnya hilang dan arahnya menuju partai persilatan itu!

"Aku merasa tak nyaman. Ada keganjilan yang kutangkap. Kalian jaga di sini dan biar kumenuju Gobi. Jaga baik-baik dan tunggu aku sampai kembali!"

Anak murid mengangguk-angguk. Tentu saja mereka tak mengerti dan tak menangkap tanda-tanda alam. Hanya orang seperti si Cambuk Naga Emas itu yang mampu. Pendekar ini telah banyak merantau dan belajar mempertajam batin. Maka ketika getaran batinnya bicara dan itulah yang kini diikuti maka sekali berkelebat sute Ning-pangcu ini lenyap meninggalkan markasnya dan memang sesungguhnya terjadi sesuatu yang menggetarkan. Sesuatu yang tak kalah dengan kematian Chi Koan!

* * * * * * * *

Beng San masih berbaring di tempatnya akan tetapi anak muda ini sudah semakin sehat. Totokan dan bantuan Naga Gurun Gobi membuat lukanya perlahan-lahan pulih dan penyaluran sinkang yang dilakukan kakak beradik Siao Yen den Po Kwan membuat anak muda itu cepat segar.

Kalau saja tak ada kakak beradik atau orang seperti Peng Houw barangkali ia benar-benar tewas. la juga sudah mulai dapat bicara dan menceritakan peristiwa menggemparkan itu, betapa suhunya ingin melarikan diri namun dicegah, gagal dan akhirnya ia diserang dan apa boleh buat dipaksa membela diri.

Dan ketika tiba pada pertanyaan akan potongan besi yang menancap di tubuh gurunya, pemuda itu menunduk maka dengan terbata dan menahan air mata pemuda ini menerangkan bahwa semua itu tak sengaja.

"Waktu itu suhu memadamkan lilin, Ia diam-diam meremas hancur dinding tembok. Dan ketika perlahan dan sedikit demi sedikit menggogos (menusuk) semakin dalam, teecu berusaha mencegah maka keributan ini tak terdengar tertutup oleh gelegar dan kilatan halilintar. Suhu sudah semakin memperlebar lubang pelarian itu ketika tiba-tiba menghantam tee-cu. Memang teecu nekat mencegahnya. Dan ketika ia menjadi marah dan mematahkan besi di lubang udara, teecu kaget sekali maka teecu merampasnya dan terjadilah pergumulan seru. Apa yang selanjutnya terjadi tak teringat lagi. Antara ketakutan dan ingin mencegah sama besar. Dan ketika kami saling serang dan besi itu terampas, kupukulkan kepadanya maka suhu berteriak dan selanjutnya tee-cu terbanting dan luka parah!"

"Hmm, gurumu memang jahat, kematian adalah bagiannya. Akan tetapi sekarang bagaimana dengan kau sendiri, Beng San, maksudku begaimana dengan hukuman yang harus kau jalani."

"Teecu menerimanya, teecu tak macam-macam.”

"Bagaimana kalau kumintakan ampun? Bagaimana kalau kau bebas?"

"Ah!" pemuda itu terkejut, membelalakkan mata. Dan ketika ia menggeleng dan tiba-tiba mengguguk, menubruk dan memeluk tosu ini maka Giok Yang Cinjin berkejap-kejap. Saat itu di ruangan itu ada Siao Yen dan Po Kwan, juga Boen Siong. "Tidak, tidak!" pemuda ini berseru. "Aku sudah cukup berdosa, Cinjin. Aku tak ingin diampuni. Biarlah secara gagah kujalani hukuman ini dan biar kutebus dosa-dosaku. Aku berdosa kepada guruku dan juga dirimu!"

"Hmn, kenapa dengan aku."

"Kaulah yang pertama menarik dan menemukan aku, Cinjin. Tanpa kau tak ada Beng San sekarang ini. Aku sudah mati kelaparan di pinggir jalan!"

"Bangkitlah," tosu itu mengusap mata. "Aku tak punya anak dan kaulah sebenarnya yang kuharap itu, Beng San, akan tetapi kau tak mau mengikuti petunjukku. Kau tak mau tetap di Gobi."

"Aku salah, suhengku Siauw Lam membujuk dan menghasut aku. Tadinya kupikir semuanya betul, Cinjin, akan tetapi, ah... sudahlah. Aku keliru!"

Kakek itu berbasah air mata. Memang dialah yang menarik dan menemukan anak muda ini, tadinya bermaksud mengambilnya sebegai anak angkat dan dibiarkannya dulu belajar pada Naga Gurun Gobi Peng Houw. Kelak kalau sudah lihai dan jadi orang akan dipakainya sebagai pelindung.

Akan tetapi karena semuanya berubah dan kini anak itu menjadi hukuman maka kakek ini menangis dengan air mata bercucuran apalagi ketika pemuda itu memeluknya dan mendekap hangat. Dekapan itu bagai dekapan seorang anak terhadap ayahnya. Dekapan rasa berdosa.

"Ampunkan aku... ampunkan aku, Cinjin. Tapi biarlah kujalani hukumanku!"

Kakek itu hampir tersedu. Siao Yen tiba-tiba melengos dan melompat keluar. Gadis inilah yang selama ini menjaga dan mengawasi Beng San, terutama bila Boen Siong dipanggil ayahnya atau tokoh Gobi untuk bercakap-cakap. Dan ketika tiba-tiba timbul rasa haru dan kasih yang besar, acap kali pandang mata dan sikap pemuda itu mengingatkan gadis ini semasa bersama dulu maka Siao Yen terguncang dan sikap Boen Siong yang agak acuh membuatnya berpaling pada Beng San. Inilah pemuda yang dulu menciumnya pertama kali, biarpun ciuman kurang ajar!

Beng San semakin menarik simpati lagi. Ceritanya yang didengarkan kakak beradik itu dan juga Boen Siong memang mempengaruhi anak-anak muda ini. Jangankan mereka, Giok Yang Cinjin sendiri yang sudah tua termakan. Sama sekali tak tahu bahwa cerita itu bohong. Bahwa sesungguhnya secara licik dan amat berani pemuda ini membokong gurunya dengan jalan menyedot Hok-te Sin-kang.

Dan karena waktu itu petir dan guntur sambung-menyambung, pemuda ini membujuk gurunya untuk menjebol dan menghantam tembok maka saat sama-sama berpegangan tangan itulah pemuda ini menarik dan menghisap sinkang suhunya!

Memang tak ada yang tahu kekejaman pemuda ini. Chi Koan yang sudah percaya dan kembali pulih terhadap muridnya sama sekali tak menduga bahwa dendam di hati muridnya belumlah hilang, yakni ketika ia nyaris membunuh pemuda itu ketika ngotot membawa Siao Yen. Gadis itu telah roboh dan dikuasai Beng San akan tetapi sang guru meminta bunuh, padahal Beng San ingin mempermainkan dan mendapatkan gadis ini.

Pemuda itu kambuh cintanya teringat masa lalu. Birahinya bergetar-getar dan itulah sebabnya betapa sakitnya hati ketika suhunya membentak dan melontarkan tongkat. Kalau ia tak cepat mengelak tentu tongkat itu telah amblas di tubuhnya. Maka ketika sejak itu ia menaruh dendam pribadi akan tetapi semuanya ini tentu saja disimpan baik-baik.

Sampai akhirnya segala akal dan cara dipergunakan untuk mencari kesempatan maka malam itulah Beng San mengumpulkan segenap keberaniannya dan begitu mereka hendak menjebol tembok maka sang guru yang sudah mengerahkan sinkang lalu disambut dan bagai lintah menyedot darah dihisapnya sinkang gurunya.

Chi Koan kaget bukan main. Si buta memekik akan tetapi sayang pekikannya bersamaan dengan menggelegarnya halilintar di angkasa. Pekik pertama si buta yang dahsyat itu tertutup. Akan tetapi ketika ia memekik lagi dan barulah berturut-turut tiga kali pekikannya didengar orang-orang gagah, saat itulah terjadi puncak ketegangan, amat mendebarkan maka Beng San menyambar terali besi dan melontarkannya di tubuh gurunya.

Keadaan gelap-gulita memungkinkan semua itu akan tetapi bersamaan itu sang guru mendorong dan menghantamkan sinkangnya sepenuh tenaga. Pemuda ini terbanting, luka parah. Ia telah menyedot sinkang gurunya akan tetapi yang tak diduga terjadi padanya, yakni ketika gurunya melontarkan dan mendorong Hok-te Sin-kang itu. Jauh lebih baik bagi pemuda ini apabila ia menyedot dan menghisapnya saja, bukan dihantam dan sama saja diserang.

Maka ketika ia terjerembab namun saat itu sang suhu roboh, besi itu menancap sampai tembus maka si buta Chi Koan tewas secara konyol di tangan muridnya yang keji itu, peristiwa yang mengingatkan kekejian si buta itu terhadap mendiang gurunya dulu Beng Kong Hwesio (Baca: Prahara Di Gurun Gobi).

Kini Beng San memiliki Hok-te Sin-kang sepenuhnya. Seperti diketahui bahwa pemuda ini telah mewarisi setengah bagian dari Hok-te Sin-kang gurunya ketika dulu gurunya marah-marah kepada Siauw Lam. Karena waktu itu pemuda ini masih lebih rendah daripada suhengnya maka Chi Koan memberikan sebagian sinkangnya, dengan begitu tak mungkin Siauw Lam menandingi sutenya ini.

Dan karena peristiwa itu memberi pengalaman kepada pemuda ini bagaimana memperoleh Hok-te Sin-kang, itulah sebabnya ia tahu cara dan kelemahannya maka diam-diam dicarinya kesempatan dan malam itu adalah malam neraka bagi si buta. Chi Koan tewas mengerikan. Murid yang cerdas dan mulai dipercayanya ini justeru merupakan bumerang bagi dirinya sendiri.

la pun dijelek-jelekkan Beng San seolah dialah yang ingin kabur, padahal pemuda itulah yang menyuruhnya dan berbisik-bisik, saling menempelkan telapak tangan dan siap menghancurkan tembok tebal tanpa suara. Kebetulan hujanpun datang dan begitu deras, juga petir dan guntur yang sambung-menyambung itu.

Akan tetapi begitu mengerahkan sinkang dan siap bekerja maka secepat itulah pemuda ini menotok pergelangan gurunya hingga tak mungkin Hok-te Sin-kang dihentikan dan selanjutnya bagai lintah jahat pemuda ini menyedot tenaga sakti!

Kemudian terjadilah peristiwa menggemparkan itu. See-ouw-pang geger dan siapapun terguncang. Si buta mandi darah. Dan karena Beng San telah menunjukkan simpati kepada orang-orang gagah itu, Naga Gurun Gobi sendiri terkelabuhi maka orang menolong pemuda ini dan sekarang anak muda yang berbahaya ini berada di Gobi. Beng San tiada ubahnya ular berbisa yang amat ganas, ganas namun cerdik!

Kini Giok Yang Cinjin tersihir. Kakek ini leleh seperti juga Po Kwan dan Siao Yen, begitu pula Boen Siong. Mereka anak-anak muda yang jauh dari pengalaman, tidak seperti Beng San yang kenyang oleh sepak terjang dan kelicikan gurunya. Berdekatan dengan pemuda ini sama saja dengan berdekatan sama setan, Si Setan sewaktu-waktu bisa mendirikan bulu tengkuk!

Dan ketika hari itu Giok Yang Cinjin hendak memintakan ampun akan tetapi tentu saja ia harus pura-pura menolak, di depan Siao Yen dan lain-lain ia harus berlagak sok alim maka tosu 1ni tergerak dan siapapun timbul niatnya untuk membebaskan pemuda itu. Apalagi karena pemuda ini adalah dia yang menemukan!

Giok Yang Cinjin menghadap tokoh-tokoh Gobi. Kebetulan di situ ada pula Kim Cu Cinjin bekas ketua Kun-lun-pai. Kakek ini tinggal karena ingin menemani sumoinya, Li-hujin alias nyonya Peng Houw karena ia merasa kangen dan tak ingin cepat pulang setelah semua ketegangan itu berlalu.

Maka ketika hari itu kakek itu bicara dan mintakan ampun, suaranya tersendat-sendat maka Peng Houw yang lemah lembut dan mudah terbawa mengangguk-angguk. Naga Gurun Gobi ini sebenarnya orang pemurah dan amat baik, terlampau pemaaf.

"Ia perlu dikasihani dan dibebaskan dari segala hukuman. Anak itu telah berubah segala-galanya, Peng-taihiap. Beng San bukan lagi manusia jahat. ia bahkan menentang dan penyebab matinya gurunya. Biarlah pinto membawanya dan pinto mendidiknya sepanjang jalan!"

"Benar, ia memang baik. Dan justeru karena dia maka pertumpahan darah tak berlanjut lagi, totiang. Di See-ouw-pang ia telah menyelamatkan banyak jiwa. Rasanya aku tak keberatan akan tetapi entahlah para susiok di Sini, juga mungkin Kim Cu totiang."

"Hm, pinto tak usah diikut-sertakan. Pinto orang luar, Peng Houw, bukan murid Gobi. Janganlah bertanya kepada pinto karena pinto tak berani memberikan pendapat!" Kim Cu mengelak dan kakek ini memang benar.

"Kalau begitu silahkan jiwi-susiok bicara, bagaimana pendapat jiwi (kalian berdua).”

"Hmh, pinceng rasa tepat. Anak itu memang baik, Peng Houw, paling tidak ia telah menunjukkan sepak terjangnya diakhir kali. Pinceng tak keberatan akan tetapi bagaimana pendapat ji-susiokmu (paman guru kedua)."

Ketua Go-bi-pai mengangguk-angguk dan kakek ini memandang sutenya, Sam-hwesio. Saudara di sebelahnya ini berkerut dalam akan tetapi tiba-tiba menarik napas dalam. Dan ketika jawabannya mengejutkan banyak orang bahwa ia tak setuju,

"Beng San belum memulai hukumannya maka sebaiknya anak itu dilihat dulu tindak-tanduknya di situ.Terlalu dini membebaskannya sekarang. Ia belum menjalani masa hukumannya, suheng. Bagi pinceng biar dilihat dulu. Lagi pula bukankah ia tak menolak."

"Benar ia tak menolak. Akan tetapi aku ingin membawanya dan melihatnya bebas. Akulah yang pertama kali menemukan dan membawa anak itu!"

Giok Yang Cinjin berharap, berseru kepada hwesio itu akan tetapi wakil pimpinan Gobi ini berwajah gelap. Sam-hwesio menggeleng dan tetap menolak. Dan ketika tosu itu menjadi mendongkol dan putus asa, juga marah maka Ji-hwesio buru-buru mengebutkan lengan bajunya berseru membujuk.

"Baiklah, semuanya berpulang kepada Peng Houw. Kalau aku setuju sedangkan suteku tak setuju biarlah urusan ini diselesaikan yang berkepentingan. Aku dapat memahami perasaanmu, Giok Yang Cin-jin, sekarang bersabarlah atau dengarkan Peng Houw!"

"Tidak, aku mendukung Sam-lo-suhu. Karena betapapun ia murid Chi Koan biarlah pemuda itu tetap menerima hukuman!"

Li-hujin tiba-tiba muncul dan nyonya ini berkelebat berseru nyaring. la masuk dan menggelapkan wajah Giok Yang Cin-jin dan sejenak tosu itu tergetar. Mata si nyonya berapi-api. Tertegunlah kakek ini teringat masa dulu. Tentu nyonya ini masih sakit hati oleh perbuatan Chi Koan, ia dapat mengerti. Dan ketika wanita itu duduk dan masuklah Boen Siong, pemuda ini bingung maka ayahnya menggapai

"Kebetulan kau datang. Kemarilah puteraku. Bagaimana pendapatmu kalau Giok Yang Cinjin meminta pembebasan Beng San, setujukah kau."

"Aku menyerahkannya kepada ayah," pemuda ini balik mengembalikan persoalan. "Kau lebih tahu dan Penasihat Bengcu, aku ikut saja."

"Tapi kau yang bertanggung jawab. Kau Bengcu dan pemegang segalanya, puteraku. Kau harus bersikap!"

"Lebih baik tidak dan tak usah digubris. Ayahmu seorang lemah, amat pemurah. Kalau kau mendukungnya berarti kau tak mencintai ibu, Boen Siong. Aku tak setuju dan tetap begitu saja. Biarkan pemuda itu di sini!"

"Omitohud, pembicaraan sudah memanas. Kalau begitu beristirahat dulu, totiang. Biarlah dihentikan dulu besok dibicarakan lagi!" Ji-hwesio berseru cepat melihat suasana itu. Masuknya Li-hujin membuat Keadaan tiba-tiba panas. Dan ketika kakek itu mengangguk dan Kim Cu tertawa, tosu itu bangkit dan berkelebat keluar maka kakek itu tak mau mengganggu.

"Sudahlah, diriku tak mau ikut-ikut. Biar pinto di luar dan kalian selesaikan sendiri!"

Persoalan mandeg, tak berlanjut. Tawa Kim Cu Cinjin membuet Giok Yang menyeringai dan tosu itupun tiba-tiba berkelebat, iapun menyusul dan meninggalkan ruangan pula. Dan ketika hari itu tak didapat keputusan akan tetapi diam-diam kakek ini meneruskan, Sayangnya terhadap Beng San tak dapat dibendung lagi maka pembicaraan menjadi hangat akan tetapi masih juga mengambang.

Naga Gurun Gobi tak berani memutuskan kalau puteranya tak menyetujui, padahal Boen Siong tak mungkin mengangguk karena sang ibu mengancam dan mengacungkan tinju di belakang. Lucu! Dan Semua ini terdengar juga oleh Beng San. Akhirnya pemuda itu mendengar dari Siao Yen, gadis yang kini kian dekat dan manis kepadanya.

Dan ketika pemuda itu menarik napas dalam dan suatu hari mereka berdua saja, tak mungkin pemuda melarikan diri selanma masih ada tokoh-tokoh Gobi di situ maka Beng San mendekat dan tiba-tiba menyambar lengan itu, gadis yang menggigil dan terkejut sekejap.

"Untuk apa pergi dan minta dibebaskan. Kalau subomu berkata seperti itu memang benar, Siao Yen, akan tetapi pergipun aku tak mau. Aku... aku sudah terikat sesuatu di sini. Aku tak dapat meninggalkanmu!"

Gadis ini mundur, membelalakkan mata. la mencoba melepaskan diri akan tetapi genggaman Beng San kuat sekali. Diam-diam Beng San menunggu saat seperti ini, sesungguhnya memang mencari kesempatan yang baik saja. Maka ketika gadis itu terkejut dan saat itulah ia mengerahkan kekuatan batin pada pandang matanya, keluarlah suara aneh lembut mendayu-dayu maka pemuda yang sesungguhhya telah menguasai Hok-te Sin-kang sepenuhnya ini berkata, bergetar namun penuh kekuatan mujijat.

"Yen-moi, tak perlu kusangkal lagi. Aku ingin menyatakan cintaku dan terus terang saja. Aku ingin hubungan kita yang lama bersambung lagi dan kau terimalah aku. Aku tak ingin meninggalkan tempat ini!"

"Hm...!" Siao Yen terguncang, daya sihir memasukinya. Kalau saja Beng San tak bertambah Hok-te Sin-kangnya belum tentu pemuda ini mampu melakukan serangan. Sepasang matanya begitu berpengaruh dan bagaikan bola lampu saja. Sorotnya menembus dan langsung menusuk ulu hati. Maka ketika gadis itu tergetar sekaligus menggigil, suara Beng San begitu indah di kedua telinganya maka gadis ini terisak dan tiba-tiba ia roboh di pelukan pemuda itu. Beng San berhasil!

"Aku... akupun bingung dan tak ingin kau pergi. Semua ini kuceritakan untuk melihat reaksimu, Beng San, kalau kau pergi akupun hancur...!"

"Jadi kau menerima cintaku? Kau tak menolaknya?"

"Cinta...?" Gadis ini menangis, memejamkan mata.

"Eh, jawab dulu, Yen-moi. Apakah kau menerima cintaku!"

Gadis itu mengguguk. Tiba-tiba Siao Yen lupa diri begitu Beng San mendekap dan menciumnya. Sapuan pemuda itu menghisap pula air matanya. Dan ketika bibir Beng San menyengat ganas dan barulah gadis ini terkejut, pemuda itu tiba-tiba beringas maka gadis ini berontak dan melepaskan diri. Mendadak ia menjadi ngeri.

"Tidak. jangan!"

Beng San berlutut. Tiba-tiba pemuda ini sadar dan harus cepat membuang nafsu birahinya. Tak dapat disangkal tiba-tiba kebuasannya muncul. Ia teringat kebiasaannya menggauli gadis-gadis secara paksa. Iapun hampir lupa diri. Maka berlutut dan menggigil memeluk lutut itu, menyembunyikan mukanya seperti orang sedih segera pemuda ini memasang aksinya, sandiwaranya memang baik.

"Ampun, maafkan aku. Aku... aku terlampau girang, Yen-moi. Aku terlampau bahagia. Maafkan aku, akan tetapi ceritakanlah bagaimana hubungan kita berlanjut. Apakah perlu kita beritahukan Giok Yang Cinjin dan dia menjadi ayah angkatku!"

Siao Yen lega, mengangkat bangun pemuda ini , Tadi ia sudah ini merasa ngeri dan tegang bahwa tiba-tiba Beng San begitu buas. Wajah dan lehernya diciumi. Pemuda itu seperti gila. Akan tetapi melihat Beng San berlutut dan gemetar menggigil, penuh sesal maka gadis ini tak sampai hati dan sifat kewanitaannya muncul, lembut dan luluh.

"Kau... kau jangan membuatku takut. Akan tetapi katakanlah bahwa cintamu tak main-main!"

"Ah, main-main? Siapa main-main? Aduh, sumpah mati aku tak main-main, Yen- moi, dibunuhpun sekarang mau. Akan tetapi ceritakan bagaimana jalan keluarnya. Masa seorang hukuman menikahi gadis baik-baik. Bagaimana gurumu nanti!"

"Kau sebaiknya menceritakannya kepada Giok Yang locianpwe. Aku wanita, tak mungkin bebas. Karena kakek itu amat sayang kepadamu maka ceritakanlah semuanya ini akan tetapi hati-hati!"

"Baik, kemudian Suhumu? Subomu? Aku khawatir terhadap subomu itu, Yen-moi, ia galak. Juga masih ada kakakmu dan Boen Siong di sana!"

"Kwan-ko tak akan menghalangiku. la sayang padaku, Beng San, sedang suteku Boen Siong, hmm... iapun rasanya tak apa-apa. Yang berbahaya dan berat hanyalah subo, juga Sam-hwesio!"

"Hm, kalau begitu terancam gagal. Ah aku bingung tapi biarkan Giok Yang Cinjin ke mari. la harus menolong kita!"

"Baiklah, besok aku kembali dan lihat ia datang!"

Benar saja, Giok Yang Cinjin berkelebat masuk. Untunglah lewat pintu samping gadis ini dapat menghilang cepat. Kakek ini tertegun. Dan ketika Beng San menyambut dan tak tahu hidung kakek itu mengendus-endus, keharuman tubuh Siao Yen tertangkap kakek ini maka pemuda itu terkejut ditanya mendadak.

"Bau wanita, eh, seperti Siao Yen! Apakah baru saja ia meninggalkan tempat ini, Beng San, di mana dia!"

Pemuda itu menjura, tertawa gugup. Tentu saja Beng San harus bersandiwara baik dan pemuda inipun mengangguk. Tanpa perlu berbohong lagi tiba-tiba ia berlutut. Dan ketika kakek itu terkejut dan ganti membelalakkan mata maka pemuda ini tiba-tiba menangis dan tersedu.

"Cinjin, kau tolonglah kami. Siao Yen memang baru saja ke sini akan tetapi kami menghadapi masalah berat. Kami ingin menikah."

"Heh? Apa kau bilang?!"

"Benar, kami saling mencinta. Aku dan Siao Yen sedang bingung, Cinjin, hubungan kami secara diam-diam. Baiklah kuceritakan terus terang dan kaulah harapan terakhir!"

Beng San diangkat bangun dan pemuda ini tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung ke pokok sasaran dan Giok Yang Cinjin melebarkan matanya. Kakek ini mengangkat alis tinggi-tinggi. Akan tetapi ketika tergelak dan meloncat bangun, pemuda itu didorongnya jatuh maka ia bertepuk tangan. Kakek ini berjingkrak dan girang bukan main.

"Horee, ini berita bagus. Dengan begini tak mungkin lagi Li-hujin menolaknya. Ha-ha, kenapa baru sekarang kau ceritakan, Beng San. Aku setuju sekali, sangat setuju. Ah, biar kubicarakan dengan Peng taihiap dan kau tunggu di sini!"

Beng San menjadi tegang. Kakek itu meloncat pergi dan Naga Gurun Gobi tentu saja terkejut. Datang-datang kakek ini berjingkrak. Dan ketika ia langsung nyeplos bicara, betapa dua muda-mudi itu saling mencinta maka tak ayal lagi pendekar ini memanggil murid wanitanya itu.

Siao Yen merah padam, tak mungkin menyangkal. Dan ketika pendekar ini terkesima tak dapat bicara, semua terasa begitu cepat maka Po Kwan dipanggil dan pemuda inipun terkejut oleh berita itu, akan tetapi akhirnya melirik dan mengangguk-angguk. Beng San sudah dilihatnya sebagai pemuda baik-baik dan iapun tak keberatan.

"Jadi kau menyetujui adikmu menikah dengan Beng San? Kau tak menolaknya?"

"Teecu hanya ingin membahagiakan adik, suhu. Karena Beng San sudah tidak seperti dulu lagi tentu saja teecu tak keberatan. Akan tetapi suhu adalah pengganti orang tua. Suhulah yang merestui atau menolaknya."

"Hm, aku orang luar, dalam hal ini orang luar. Kau adalah pengganti ayah ibumu, Po Kwan, kau orang tua bagi adikmu Siao Yen. Kalau kau setuju akupun merestui."

"Tapi bagaimana subo!"

Siao Yen tiba-tiba berseru, menggigil dan terisak, jelas tak dapat menyembunyikan ketegangan.

"Subomu tak dapat berbuat apa-apa, Siao Yen, kau adalah yang paling berkepentingan. Kalau kalian sudah saling mencinta dan Beng San benar baik-baik tentu siapapun tak dapat menghalangi."

"Kalau begitu terima kasih!" gadis ini menjatuhkan diri berlutut, menangis lalu melompat pergi. Giok Yang tertawa. "Terima kasih, suhu. Teecu tak dapat melupakan semua budi baikmu ini!"

Gobi gempar. Tiba-tiba saja berita ini menyebar cepat dan Li-hujin tentu saja tak dapat berbuat apa-apa. Nyonya itu tertegun dan terhenyak. Kalau sudah begini tentu saja ia tak dapat menghalangi. Itu hak asasi anak-anak muda, siapapun harus minggir.

Maka ketika nyonya itu terguncang sejenak namun tak dapat berbuat apa-apa, Beng San tentu saja segera bebas maka secepat kilat diadakan rapat keluarga bahwa perkawinan dilakukan secepat mungkin. Ini untuk menuntaskan masalah Beng San yang kini hendak menjadi menantu Naga Gurun Gobi. Undangan pernikahanpun segera dikirim, membuat tokoh-tokoh persilatan terhenyak akan tetapi turut gembira. Mereka melihat bahwa Beng San memang sudah menjadi pemuda baik-baik!

Akan tetapi sumber celaka muncul. Beng San yang begitu gembira dan tak dapat menahan nafsunya akhirnya menjebloskan Siao Yen dalam aib hina. Dengan kekuatan dan kelebihannya pemuda ini menyihir gadis itu, suatu malam Siao Yen menyerahkan kehormatannya. Dan ketika gadis itu tersedu-sedu dan menyesal bukan main, Beng San cepat membujuk maka pemuda itu berkata bahwa semua ini adalah tanda cintanya.

"Kita sebentar lagi menikah, bulan depan sudah menikah. Besok atau sekarang sama saja, moi-moi, yang penting aku bertanggung jawab dan mencintaimu. Maafkanlah!"

Siao Yen reda. Mula-mula ia merasa marah dan malu serta sakit hati. Baginya kesucian adalah segala-galanya. Akan tetapi ketika ia dipeluk dan dibelai lagi, bisikan dan kata-kata lembut meninabobokkannya lagi maka gadis ini terbuai dan hal itu tak aneh bagi Beng San yang sudah berpengalaman ini. Pemuda itu cukup tahu kelemahan wanita setelah diajari Siauw Lam. Beng San sungguh bukan bocah ingusan!

Tiba-tiba pintu diketuk. Seorang pelayan manis muncul dan Siao Yen sampai kaget. Mereka terlalu gegabah di kamar itu, berdua! Akan tetapi ketika Lu-lu muncul membawakan minuman, tentu saja juga tertegun dan terkejut melihat Beng San di kamar gadis ini maka gadis itu cepat pergi dan tersipu-sipu, saking gugupnya sampai ujung kainnya robek terkait pegangan pintu, memperlihatkan sebagian pahanya yang tersingkap. Paha seorang gadis mulus berusia limabelasan tahun!

"Ihh!" Yang terguncang dan tergetar tentu Beng San. Harap diketahui bahwa pemuda ini adalah harimau berbahaya. Berahinya terhadap wanita mudah bangkit, apalagi gadis-gadis muda seperti Lu-lu lahap akan barang baru dan sejak itu pemuda ini gelisah. Paha gadis itu selalu terbayang-bayang!

Maka ketika hari itu dan selanjutnya ia tak dapat melupakan ini timbulah watak iblis yang sebenarnya terpendam maka Beng San mencari tahu tentang siapa dan di mana gadis ini tinggal. Ternyata gadis itu adalah pelayan pribadi Li-hujin. Sejak Siao Yen menjalin cinta dengan Beng San maka nyonya ini tentu saja tak enak mempergunakan gadis itu sebagai pelayannya.

Biarpun ia adalah subonya akan tetapi gadis ini sebentar lagi berumah tangga. Siao Yen akan bebas dan karena itu ia mencari pengganti, didapatlah Lu-lu dan disuruhnya gadis remaja ini melayani Siao Yen pula. Keluarga Gurun Gobi memang tahu menghargai orang, meskipun terhadap murid sendiri. Maka ketika hari itu gadis ini mengetuk pintu kamar, Siao Yen terbuai dan mabok cinta maka masing- masing sama terkejut dan saking gugupnya ujung kain gadis ini tercantol pintu, menyingkap paha!

Siao Yen sebagai gadis hijau sama sekali tak tahu buruknya laki-laki, terutama seperti Beng San. Ia tak bakalan menduga bahwa sudah diberi satu minta dua, diberi hati minta jantung. Maka ketika ia melupakan itu dan tentu saja cepat memberi tahu agar Lu-lu tak menceritakan kepada siapapun, betapa Beng San berada di kamarnya adalah gadis itu yang sejak saat itu juga terguncang dan tergetar oleh pandang mata Beng San. Pandang mata yang penuh mujijat dan membuat bulu tubuhnya meremang entah oleh apa!

Dan gadis ini semakin terkejut lagi ketika tahu-tahu di suatu senja pemuda itu muncul. Beng San menepuk lembut pundaknya dan tiba-tiba ia seakan lumpuh. Pandang mata itu menyihirnya lagi. Pandang mata mujijat. Dan ketika ia ah-uh-ah-uh tak dapat melepaskan diri, menggigil tahu-tahu ia telah dipondong dan masuk ke gerumbul semak belukar!

lblis telah menguasai pemuda ini. Dengan kepandaiannya yang tinggi dan tenaga batin yang kuat maka mudah saja bagi Beng San menguasai gadis ini. la sudah tak tahan dan terbakar berhari-hari. Bayangan gadis itu tak kuasa lagi dikendalikan. Maka ketika senja itu ia mencegat gadis ini dan sebelumnya telah merapal mantra-mantra, gurunya pernah memberikan itu maka gadis pelayan ini jatuh ke tangannya dan Beng San menerkam buas.

Celakanya seorang murid Gobi muncul. la adalah Siauw-ceng Hwesio yang ingin buang air besar, masuk ke gerumbul dan tentu saja terkejut. Dilihatnya Beng San bergumul. Maka ketika ia berteriak dan teriakannya mengejutkan seorang penjaga, tentu saja juga Beng San maka pemuda ini mencelos dan tiba-tiba ia mencelat dan tanpa banyak ampun lagi menghantam kepal hwesio itu.

"Prakk!" Siauw-ceng Hwesio roboh. la tewas seketika dan Lu-lu pun menjerit. Jeritannya kembali menggugah kesunyian. Beng San telanjang bulat. Dan ketika pemuda itu kaget dan semakin terkejut saja, juga panik maka nafsu membunuhnya menggila dan tiba-tiba ia pun melepaskan tamparan akan tetapi bersamaan jtu penjaga dan sebuah bayangan berkelebat. Giok Yang Cinjin dan seorang murid Gobi.

"Prakk!" Gadis itupun roboh dan Beng San menyambar pakaiannya. Tiba-tiba ia menyesal bukan main akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Dua orang in berseru tertahan. Dan ketika Giok Yang tertegun akan tetapi pemuda itu sudah menyambar, Beng San menjadi mahluk yang buas sekali maka tosu ini membanting tubuh bergulingan akan tetapi murid Gobi kalah cepat dan memang kalah tinggi dibanding Beng San.

"Dess!" Senja menjadi berdarah. Giok Yang Cinjin bergulingan meloncat bangun dan kakek ini mencabut pedang. seakan tak percaya akan apa yang dilihat. Tiga nyawa roboh berturut-turut, satu di antaranya pelayan Li-hujin dan gadis itupun tewas dengan tubuh telanjang bulat. Apa yang terjadi segera dimaklumi kakek ini. Beng San melakukan perbuatan biadab. Ia memekik dan menusukkan pedangnya, marah segera tosu ini memaki-maki dan bersamaan itu, bayangan-bayangan lain berkelebatan. Beng San pucat sekali.

"Bedebah, terkutuk. Kau manusia iblis yang tak berjantung, Beng San. Kau bocah hina-dina yang tak pantas mendapat kemuliaan. Keparat!"

Beng Sen mandi keringat. la tak banyak cakap lagi dan menangkis serta membentak tosu itu. Sekali pukul pedangpun patah-patah. Hok-te Sin-kangnya dikerahkan. Akan tetapi karena saat itu berkelebat bayangan-bayangan lain dan satu di antaranya adalah Siao Yen, Beng San benar-benar panik maka ia memutar tubuh dan melarikan diri ketika kakek itu terlempar dan terbanting bergulingan. Beng San tentu akan membunuhnya kalau tidak datang Siao Yen dan lain-lain.

"Tutup pintu gerbang! Tutup pintu gerbang! Bocah itu membunuh Lu-lu dan lain-lain. Kejar!"

Kegaduhan terjadi. Siao Yen menjerit dan mendekap mulut tertahan melihat apa yang terjadi. Gadis ini nyaris tak percaya dan membelalakkan matanya melihat tiga mayat itu, terutama Lu-lu yang telanjang bulat dan habis dipermainkan. Akan tetapi melengking dan menjejakkan kakinya kuat-kuat, terbang dan mencelat menyambar pemuda itu maka gadis ini membentak dan kemarahannya tak dapat dibendung lagi. lapun sekaligus sakit hati teringat kesuciannya yang telah diserahkan kepada pemuda itu.

"Beng San, manusia jahanam. Tunggu dan jangan lari!" Ia berkelebat.

Akan tetapi pemuda itu lari dan mempergunakan Lui-thian-to-jitnya (Kilat Menyambar Matahari). Ginkang atau ilmu meringankan tubuh ini memang hebat apalagi setelah Hok-te Sin-kang dikuasai sepenuhnya. Tubuh pemuda itu menyambar dan kemudian sudah berada di atas tembok yang tinggi. Akan tetapi ketika dari depan menyambar bayangan kuning dan itulah Po Kwan, membentak dan menyerangnya maka pemuda ini terpental masuk dan jatuh kembali ke bawah.

"Biadab dan sungguh tak tahu diri. Apa yang kau lakukan di sini, Beng San. Kau iblis tak berjantung yang tega benar merusak suasana!"

Beng San bingung, lari ke selatan. Ia hendak berlindung di balik kegelapan senja akan tetapi dari mana-mana muncullah orang-orang lainnya, termasuk Naga Gurun Gobi. Dan ketika ia lari ke utara dan barat sampai akhirnya ke belakang gunung, Po Kwan membentak dan masih mengejarnya maka pemuda inipun mendaki bukit keramat di mana dulu mendiang Ji Leng Hwesio bertapa, juga sekaligus tempat hukuman gurunya ketika tertawan.

Pemuda ini panik dan benar-benar kuyup oleh keringat dingin. Namun bayangan putih berkelebat. Boen Siong, yang paling ditakuti tiba-tiba mencegat. Beng San menjadi gentar namun marah membentak pemuda ini. Tanpa banyak cakap lagi ia menerjang. Akan tetapi ketika Boen Siong menangkis dan ia terpental, berteriaklah pemuda itu maka Beng San melempar tubuh bergulingan untuk kemudian melarikan diri dan mempergunakan Lui-thian-to-jitnya itu.

"Keparat, minggir dan jangan halangi aku!"

Akan tetapi Boen Siong memiliki Bu-eng-sut (Elang Cahaya). Dengan gerakan luar biasa pemuda ini menyambar dan berjungkir balik, lawan menjadi pucat. Dan ketika Beng San menangkis dan kembali terpental, šaat itulah yang lain-lain naik bukit maka pemuda ini putus asa dan tiba-tiba berhamburanlah jarum-jarum beracun dari tangannya. Boen Siong dan orang di bawah mendapat bagian, termasuk Siao Yen!

Namun semua memukul runtuh dan Boen Siong mengebut patah-patah. Kini mereka berada di puncak bukit dan tokoh-tokoh Gobi mengepung di situ. Peng Houw terbelalak dan merah padam melihat pemuda itu, jangan ditanya isterinya yang sudah melengking-lengking dan memaki pemuda itu. Beng San tak mungkin melarikan diri, kecuali terbang bersayap. Dan ketika bayangan hijau menyambar dan Siao Yen menerjang di situ, membentak dan memaki-maki maka gadis ini sudah minta agar yang lain mundur dan dia saja yang menghadapi.

Pertandingan tak dapat dihindarkan lagi dan Beng San mengelak maju mundur. Akan tetapi pemuda ini membalas. Dalam gugup dan paniknya melihat begitu banyak orang tiba-tiba ia terpelanting oleh pukulan Siao Yen. Untunglah sinkangnya yang kuat tak sampai membuatnya roboh, pukulan itu mengenai tengkuknya.

Dan ketika pemuda ini bangkit dan mengelak serta membalas, apa boleh buat sudah basah kepalang kuyup maka selanjutnya Naga Gurun Gobi dan Boen Siong dibuat terbelalak. Siao Yen terpental dan akhirnya sering terbanting.

"la memiliki Hok-te Sin-kang sepenuhnya. Pemuda ini, eh... ia bohong!"

Yang lain terkejut. Tentu saja mereka tak mengerti maksud seruan Naga Gurun Gobi itu akan tetapi Beng San semakin gelisah. Harap diketahui saja bahwa pendekar ini adalah pewaris Hok-te Sin-kang. Hanya pendekar itulah satu-satunya yang murni mendapatkan Hok-te Sin-kang. Mendiang Ji Leng Hwesio mewariskan dan menyerahkan langsung tenaga sakti itu.

Maka ketika pendekar ini terbelalak dan sebentar kemudian berkejap-kejap, keanehan dan keganjilan itu segera ditangkap tiba-tiba pendekar ini sadar bahwa semua orang dibohongi. Pemuda itu telah mendapatkan Hok-te Sin-kang sepenuhnya padahal dulu hanya separoh. Kini otaknya yang cerdas bekerja.

Dan karena jelek-jelek pendekar ini adalah orang yang sudah kenyang asam garam kehidupan, juga licik curang orang-orang sesat maka pendekar itu berubah dan segera ia maklum bahwa pemuda itu bohong. Kematian Chi Koan bukan sekedar dibunuh tanpa sengaja melainkan benar-benar sudah dipersiapkan dan pemuda itu menyedot sinkang gurunya!

Gegerlah orang-orang lain ketika diberi tahu ini. Sekejap saja hancurlah simpati orang banyak terhadap Beng San. Pemuda itu kiranya iblis. Dan ketika Beng San tiba-tiba tertawa bergelak dan tak perlu bersembunyi lagi, ia berhadapan dengan orang yang tahu segala-galanya tiba-tiba pemuda itu mendorongkan lengan, pendekar ini telah menyerahkan Hok-te sin-kang kepada Siao Yen kakak beradik dan hanya merupakan singa ompong saja.

"Ha-ha, tak perlu kusangkal. Kau cerdas, Naga Gurun Gobi, semuanya betul. Akan tetapi kalian tak dapat membunuhku dan mampuslah!"

Po Kwan terkejut. Saat itu adiknya terlempar dan terguling-guling dan tiba-tiba pemuda ini menghantam gurunya. Ia membentak dan menangkis akan tetapi saat itu Boen Siong juga melindungi ayahnya. Dua potongan menghimpit Beng San. Dan ketika pemuda itu terpental namun Naga Gurun Gobi terlempar dan roboh, masih juga keserempet pukulan maka Po Kwan tak dapat menahan marahnya dan menerjang pemuda ini. Boen Siong menolong ayahnya.

"Terkutuk, sungguh biadab. Kau kiranya tak pernah melepaskan keinginanmu untuk mendapatkan Hok-te Sin-kang, Beng San, akan tetapi caramu sungguh keji!"

"Ha-ha, tak perlu banyak mulut. Robohlah!" Beng San melepas lagi pukulannya akan tetapi kini disertai jarum-jarum beracun. Ia menghamburkan dan melepas itu termasuk ke tokoh-tokoh lain, ketua Gobi dan juga Giok Yang serta Kim Cu Cin jin.

Namun ketika orang-orang itu mundur dan ia gagal, Po Kwan menerjang lagi maka Siao Yen meloncat bangun dan menyerang sengit. Gadis ini marah dan benci sekali. Kini pemuda itu dikeroyok. Kakak beradik ini tak mengeluarkan lagi ilmu-ilmu Gobi melainkan Hok-te Sin-kang juga. Thai-san-ap-ting maupun lain-lain tak akan mempan menghadapi pemuda ini. Beng San kelewat tangguh. Maka ketika kakak beradik itu menggabung tenaga mereka dan Hok-te Sin-kang bertemu Hok-te Sin-kang maka bukit tergetar dan beberapa batu gunung berguguran. Bintang mulai berkedip-kedip sementara bulan tampak sayu. Sedih!

Kini pimpinan Gobi membuat obor. Ratusan murid mengepung pula namun mereka terpelanting dan terjungkal. Ji-hwesio menyuruh mundur, benturan terlampau hebat. Dan ketika akhirnya hanya para pimpinan dan mereka yang berkepandaian tinggi saja berada di puncak, bulan bersembunyi di balik awan hitam maka angkasa membisu sedih menyaksikan kejadian di atas bumi. Dua pihak bertanding hebat.

Siao Yen dan Po Kwan berkali-kali menangkis pukulan pemuda itu dan akhirnya berhasil. Hanya berkat semangat dan kegigihan luar biasa Beng San mampu mempertahankan diri. Po Kwan terutama Siao Yen begitu hebat menerjang. Gadis ini betul-betul sakit hati dlan marah sekali. la merasa tertipu lahir batin. Dan ketika menjelang tengah malam pemuda ini mulai terdesak, tekanan mental dan grogi menggerogoti batinnya maka tak terasa lagi mereka di balik gunung dan sebuah jurang menganga siap menerima siapa saja yang roboh.

Akan tetapi Beng San benar-benar mengagumkan, Ia memiliki Lui-thian-to-jit yang membuatnya terbang menyambar-nyambar itu. Dia hanya kalah oleh kemurnian Hok-te Sin-kang akan tetapi menang ginkang. kakak beradik ini tak memiliki. Maka ketika pertandingan berjalan seru dan juga alot, masing-masing hendak merobohkan yang lain akhirnya daya tahan dan hawa murnilah yang pegang peranan. Beng San terlalu banyak menghamburkan nafsu birahinya tidak seperti kakak beradik itu.

Pemuda ini sebenarnya sudah terlalu "kotor" dan tak lagi sehat. Hawa murninya jelas kalah dibanding kakak beradik itu. Dan karena sinkangnya juga kalah bersih dibanding Siao Yen maupun Po Kwan, kakak beradik ini mendapatkannya dari guru mereka sementara Naga Gurun Gobi mendapatkannya dari dedengkot Go-bi, Ji Leng Hwesio seorang pertapa maka di sinilah pemuda itu mengakui bahwa tenaga dan hawa murninya kalah kuat. la hanya memiliki kelebihan Lui-thian-to-jit akan tetapi lama-lama terkuras juga, napasnya memburu.

Ayam jantan mulai berkokok. Pertandingan itu mendekati titik akhir setelah pemuda ini terhuyung-huyung. Dua kali Beng San terpelanting. Dan ketika pemuda itu gemetar dan pucat pasi, jarum dan senjata rahasia habis dihambur-hamburkan akhirnya meluncurlah dorongan Po Kwan disusul Siao Yen.

"Dess!" Enam telapak beradu. Tiga orang muda itu berkutat dan saling dorong-mendorong. Beng San bertahan akan tetapi tak kuat, doyong dan menekuk kedua sikunya akan tetapi kakak beradik ini menekan. Yang paling mengerikan adalah pandang mata Siao Yen, gadis ini seakan hangus dan berapi-api, membakar dan melahap wajah Beng San bagai dewi maut tak kenal ampun. Gadis itu mendesis, mendorong dan terus menekan akan tetapi Beng San bertahan.

Pemuda ini berseru keras dan menambah tenaganya akan tetapi tiba-tiba Po Kwan menggencet. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan tertekuk lututnya, uap putih mengepul maka Siao Yen berseru mengimbangi dan.. bless! tertanamlah kaki pemuda itu setinggi pergelangan. Beng San mengeluh dan pucat gemetar akan tetapi pemuda ini bertahan.

Gadis itu tak kenal ampun dan menambah lagi, hampir berbareng menekan bersama kakaknya. Dan ketika kaki itu semakin amblas dan terdesak, hampir mencapai lutut tiba-tiba gadis itu melengking dan tanpa diduga-duga mengibaskan rambutnya melontar tusuk sanggul yang menghias kepala.

"Crep!" Beng San menjerit dan berteriak ngeri. Tanpa ampun lagi tusuk rambut itu menancap di dada kirinya, roboh dan terjengkang. Dan ketika semua terkejut menahan napas, Siao Yen melengking sekali lagi maka kakinya mencuat dan... dess! terlemparlah pemuda itu ke bawah jurang. Tak ada teriakan mengiringi tragedi ini.

Beng San roboh dan terjengkang ditusuk senjata tajam, mencelat dan kini jatuh ke dalam jurang, melayang-layang dan akhirnya lenyap di bawah sana. Terdengar suara berdebuk, lalu hening. Dan ketika semua tertegun dan menahan napas, kejadian itu amatlah mencekam maka Siao Yen terisak dan tiba-tiba menangis pergi, lari turun bukit.

"Yen-moi!"

"Suci!"

Akan tetapi gadis itu meluncur cepat. Ia tak menghiraukan panggilan kakaknya dan Boen Siong, dan otomatis sang kakak berkelebat. Boen Siong tertegun dan hendak meloncat namun sang ibu mencengkeram lengannya, sang ayah juga menahan dengan isyarat mata. Dan ketika ia sadar bahwa sang suheng lebih berhak, tentulah sang kakak hendak menghibur adiknya maka ketua Gobi dan lain-lain merangkapkan tangan di pinggir jurang itu. Giok Yang gemetaran seluruh tubuhnya dan Kim Cu Cinjin menyentuh pundaknya lembut.

"Omitohud, berakhir sudah kisah seorang anak manusia. Sungguh mengejutkan dan mengherankan benar, Cinjin. Pinceng betul-betul tak mengerti sepak terjang anak itu dan ia menghancurkan nasibnya sendiri!"

"Siancai, pintopun tak menduga dan tak menyangkanya sama sekali. Watak manusia sungguh aneh, Ji-lo-suhu. Pinto benar-benar ngeri!"

"Dan aku yang paling tolol. Aku memelihara seekor srigala ganas yang kukira anjing jinak!"

"Hm, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Ada kejadian tentu terkandung pelajaran, Cinjin. Kalau tidak salah justeru kaulah kuncinya. Pinceng menemukan ini dan barangkali jatuh dari saku bajumu."

"Siancai!" tosu itu terkejut. Benar sekali, lo-suhu. Dan ini, ah...tiba-tiba semua terkejut.

Di kala kabut terusik pagi dan matahari yang kemerahan muncul di ufuk timur mendadak terdengar suara yang-khim (kecapi). Tali senarnya berdenting-denting dan mendadak segumpal kabut putih melayang di udara. Tadinya disangka kabut biasa akan tetapi justeru dari balik kabut inilah yang-khim itu terdengar. Dan ketika kabut ini berjalan dan terus menuruni bukit, atau tepatnya menuju ke jurang itu maka Kim Cu Cinjin berseru kaget dan menjatuhkan diri berlutut.

"Sian-su (kakek dewa)!"

Semua tersentak. Di pagi yang dingin dan masih bersuasana mencekam itu tiba-tiba munculah Bu-beng Sian-su. Kakek ini tertawa dan suaranya begitu halus, lembut sekali. Lalu ketika semua berlutut dan menjatuhkan diri, Naga Gurun Gobi juga terkejut berseru girang maka kakek itu berhenti dan kabut yang membungkus tubuhnya bergerak-gerak. Ratusan anak murid tercekam dan kaget. Kakek itu berdiri di atas jurang, di tengah-tengah, tepat di dalam.

"Selamat pagi, kuharap kalian semua tak berada dalam ketegangan lagi. Apa niatmu memanggilku, Cinjin, adakah yang perlu kubantu."

Akan tetapi Giok Yang Cinjin meloncat. Kakek inilah yang justeru menjawab dan ia mendahului Kim Cu. Kakek yang gemetar dan pucat merah berganti-ganti ini begitu gugup. la seakan orang bersalah, atau berdosa. Karena ketika ia menggigil dan berlutut di tepi jurang itu, kakek dewa ini melayang-layang di tengah maka tosu ini berkata,

"Ampun, aku gagal. Aku... aku tak tahu jawabannya, Sian-su. Aku tak berhasil"

"Hm, tak tahu atau tak memperdulikannya. Kau tak perlu bohong, Cinjin, bohong hanya mengotori batin."

"Maaf, aku... , eh, betul. Aku tak memperdulikannya, Sian-su. Syairmu sulit. Lagi pula aku sibuk oleh urusanku. Ampun dan maafkanlah aku dan katakanlah apa yang harus kulakukan!"

"Berikanlah kepada Sam-hwesio. Dialah yang agaknya dapat mengerti, Cinjin, aku pergi dulu dan malam nanti kita bertemu lagi. Selamat tinggal!" kakek itu berseru dan tiba-tiba ia melambaikan tangan dengan tawanya yang halus.

Giok Yang memanggil akan tetapi Bu-beng Sian-su meneruskan langkahnya. Kakek ini menyeberangi jurang, enak saja melayang-layang bagai tak berlubang. Padahal jurang menganga di bawah! Dan ketika tosu itu sia-sia memanggil sementara yang-khim berdenting-denting lagi, lembut dan menyejukkan bagai embun pagi yang segar maka Kim Cu Cinjin bangun dan membungkuk berulang-ulang ke arah kakek itu pergi.

Ketua Gobi dan lain-lain juga melakukan hal yang sama. Hanya Boen Siong yang terbelalak dan tertegun di situ, bengong betapa kakek itu melangkah ringan di atas jurang, melayang-layang. Padahal Boan-eng-sut yang dimiliki tak mungkin dapat seperti itu! Maka ketika pemuda ini terkejut dan kagum bukan main, saat itu murid-murid Gobi juga berdiri dan terbengong-bengong maka Kim Cu Cinjin tiba-tiba memandang Sam-hwesio dan yang dipandang tersenyum.

Dua pasang mata beradu dan seribu pertanyaan dijawab, hwesio ini mengangguk. Lalu ketika tosu itu membelalakkan mata namun berkelebat ke bawah, Sam-hwesio mendahului yang lain maka Giok Yang ditanya akan tetapi kakek ini menyusul dan berkelebat pula.

Kini bergeraklah yang lain-lain. Naga Gurun Gobi memandang ji-susioknya akan tetapi pimpinan Gobi ini mengangguk. Tanpa banyak cakap pula hwesio itu berkelebat ke bawah. Dan ketika semua bergerak dan para murid diperintahkan bubar, lupalah mereka kepada Siao Yen dan kakaknya maka pesanggrahan di ruang dalam menjadi penuh.

Sam-hwesio dan Giok Yang Cinjin berada di situ, mereka telah duduk bersila. Sebuah syair di tangan. Dan ketika semua hening dan terpaku kepada kertas di tangan Giok Yang Cinjin, itulah benda yang tadi terjatuh dan diberikan Sam-hwesio maka semua kening berkerut akan tetapi tak satupun dapat menjawab!

* * * * * * * *

Malam itu dingin menggigit tulang. Tujuh orang di ruangan ini tetap tak bergeming dan tak bergerak. Mereka adalah Naga Gurun Gobi dan anak isterinya serta dua pimpinan Gobi, Ji-hwesio dan Sam-hwesio. Di sebelah kakek ini, di kiri kanan duduk Giok Yang Cinjin dan Kim Cu Cinjin. Semua bekerja keras memeras otak. Syair di tangan Giok Yang berpindah-pindah, syair dari Bu-beng Sian-su. Dan ketika akhirnya kembali ke pemiliknya dan kakek itu membisu bingung, siapapun tak dapat menolongnya maka dingin menusuk tulang dan dentang lonceng menunjukkan jam dua belas malam.

Tiba-tiba terdengar denting halus itu, dua belas kali. Tadinya semua orang gagah ini mengira denting lonceng akan tetapi tiba-tiba terkejut. Lonceng sudah berhenti. Itu auara lain! Dan ketika mereka menengok dan masuklah apa yang ditunggu, denting yang-khim menyadarkan mereka maka Bu-beng Sian-su, kakek itu melayang-layang memasuki ruang Bak seorang siluman atau roh halus yang sedang gentayangan!

"Sian-su!" semua memberi hormat, sadar akan kehadiran kakek dan denting lenyap dan sebagai gantinya terdengarlah tawa lembut itu.

Murid yang tak tahu tentu bakal lintang-pukang, mengira hantu. Akan tetapi karena orang-orang gagah ini mengenal dan Kim Cu Cinjin lagi-lagi mendahului, dialah tokoh tertua di antara semua orang maka kakek ini tahu-tahu sudah berada di tengah dan bersila dengan sikap masih melayang-layang. Boen Siong jerih dan gentar!

"Heh-heh, maafkan aku. Sengaja kutunggu tengah malam ini, cuwi-enghiong. Tentunya kalian lebih dari cukup mendapat kesempatan."

"Kami bodoh," Giok Yang Cinjin tiba-tiba mengeluh, menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dewa ini. "Kesempatan memang cukup, Sisn-su, akan tetapi kami terutama pinto (aku) tetap bodoh juga. Berilah kami petunjuk!"

"Hm, kalian tak menemukan juga inti syair itu?"

"Tidak, Sian-su, otak kami buntu!"

Kakek itu tertawa lembut sekali. Tawanya demikian menyejukkan bagai angin segar di tempet yang gerah. Orang-orang ini memang merasa gerah setelah memeras otak. Bahkan Giok Yang Cinjin berbasah keringat. Akan tetapi ketika kakek ini menghentikan tawanya dan mengangguk-angguk, Boen Siong mencoba menerobos halimun di wajah kakek ini tiba-tiba sepasang mata mencorong balik memandangnya. Bagai lampu sorot yang membuat pemuda itu kaget, terkesiap.

"Kau," jantung pemuda ini serasa dihentak. "Bagaimana dengan kau, anak muda. Tidakkah kau mengerti isinya atau sama sekali tak mau mempelajarinya?"

"Maaf...!" Boen Siong mengerahkan sinkang akan tetapi gagal, gemetaran panas dingin. "Aku tak tahu dan tak mengerti jawabannya, Sian-su. Aku telah mempelajarinya akan tetapi otakku begitu bebal."

"Dan kau?" kakek ini tersenyum, memandang Naga Gurun Gobi. "Apakah juga tak mampu mencari jawabannya? Kau juga bebal?"

Semua tertawa. Tiba-tiba suasana yang begitu serius pecah sejenak, kakek ini lucu juga. Akan tetapi pendekar itu menggeleng dan Boen Siong lega tak bertemu sorot pandang, ia sungguh bergidik dan gentar sekali maka Naga Gurun Gobi ini berkata dan mengakui kelemahan diri sendiri.

"Sama seperti puteraku, akupun bodoh dan tak sanggup menembusnya. Barangkali memang bebal, Sian-su, kami ayah dan anak sama-sama bebal!"

Kakek itu tertawa lagi, geli. Semua juga geli akan tetapi ketika Li-hujin dituding dan berjengit kaget maka kakek ini bertanya lagi. Suaranya sungguh-sungguh dan lenyap tawanya tadi. Dan ketika sang nyonya berkeringat dingin sementara kakek itu tidak main-main lagi maka kakek ini berseru dan gema suaranya mulai memenuhi ruangan. Ada semacem pengaruh mujijat yang tiba-tiba membuat semua orangg tak tertawa lagi.

"Coba kau dan katakan apa yang kau ketahui. Kau tentunya telah membaca dan menyibak isi syair, hujin. Katakanlah dan jangan bilang tidak tahu!"

"Ampun...!" Sang nyonya berlutut, menggigil. Aku... aku juga bebal, Sian-Su. Aku tak tahu seperti juga suami dan anakku. Kami bingung!"

"Hm, kalau begitu bacalah syair itu, biar kudengar!"

"Aku takut...!"

"Ah, tak ada harimau di sini, kita semua teman. Bacalah dan biar yang lain mengikuti!"

Sang nyonya gemetaran, melirik dan minta agar suaminya saja akan tetapi Naga Gurun Gobi menggeleng. Pendekar ini tersenyum dan memberanikan isterinya dengan pandangan mata. Li-hujin takut jangan-jangan syair itu memukul dirinya lagi, seperti dulu. Akan tetapi ketika kakek ini tertawa dan berkata bahwa syair itu berkitan dengan Beng San, orang lain maka nyonya ini lega dan tanpa banyak cakap iapun membaca berseru nyaring. Syair itu telah di tangannya diberikan oleh Giok Yang Cinjin:

Buih dan gelobang bergolak mendidih
riak kecipak kuhantam menepi
garang menerjang tak kurasa pedih
badai dan kilat kuanggap sepi!

Gempur kulebur jagad seisi
tamak menghentak membakar hati
lupa segala ku tak ingat lagi
taufan menghempas sadarkan diri!


"Heh-heh-heh-heh!" kakek itu terkekeh, mengangguk-angguk. "Benar sekali, hujin, dan sekarang siapa yang dapat menjawab setelah kuberi tahu bahwa itu berhubungan dengan Beng San. Kunci jawaban sudah kudekatkan!"

"Pinceng kira berhubungan dengan nafsu, ketamakan Ji-hwesio tiba-tiba berseru dan yang lain tiba-tiba mengangguk, keberanian mulai muncul. "Anak muda itu tamak dan bagaikan buih yang mendidih, Pinceng kira inilah jawabannyn dan itulah yang kau maksud."

"Betul, pinto juga mengira begitu. Bait kedua sudah kau sebutkan. Sian-su Pinto mendukung Ji-Lo-suhu!" Giok Yang menyambung dan tiba-tiba kini begitu bersemangat.

"Baik, dan yang lain-lain." Kakek ini tersenyum-senyum, tak membetulkan atau menolak dan tentu saja ketua Gobi dan tosu itu tertegun. Ada kesan jawaban mereka tak benar, paling tidak bahwa tak tepat sasaranya. Maka terbelalak dan diam seketika, lucu dua orang ini maka Naga Gurun Gobi menghela nepas dan berkata, sikapnya arif dan bijak.

"Sian-su, wejanganmu terkenal sukar dan tak mudah ditebak. Kalau hanya begitu saja jawabannya pasti tak akan sulit. Aku tak berani menjawabnya, akan tetapi sudah kutangkap bahwa persolan ini bersumber pada watak."

"Ha-ha..!" kakek itu tiba-tiba tergelak. "Kau betul, Naga Gurun Gobi, lanjutkanlah."

"Aku masih bodoh, belum menangkap yang lain."

"Kalau begitu kau!" kakek ini menunjuk Kim Cu, keadaan tiba-tiba menegang. "Coba kau dan apa kelanjutannya, Cinjin. Katakan dan apa yang kau lihat di sini!"

"Aku seperti Peng Houw, tak berani gegabah. Biarlah kau tuntun kami dulu, Sian-Su. Pinto sebagai pendengar saja."

"Ha-ha, kalau begitu kau, atau kau! Jawab dan coba lanjutkan kata-kata suamimu Peng-hujin. Tentu kalian sudah mendekati dan tinggal menyambung!"

Boen Siong dan ibunya terkejut. Mereka ditunjuk sementara diri belumlah siap. Paling baik adalah seperti Kim Cu Cinjin, pendengar! Maka menggigil dan berseru seperti kakek itu, Bu-beng Sian-su tergelak gembira akhirnya Sam-hwesio ditunjuk dan wakil ketua Gobi ini rupanya lebih siap.

"Jawabanku barangkali salah, akan tetapi mungkin juga benar. Kalau salah maafkan pinceng, Sian-su. Pinceng melihat bahwa Beng San tak tahu diri. Maksud pinceng... wutt!" kakek itu tiba-tiba terkekeh, lenyap dan denting yang-khimnya terdengar lagi.

"Kau telah menuju pokok jawaban, lo-suhu. Aku tak perlu di sini lagi, heh-heh..!"

Semua terkejut dan meloncat bangun dan tiba-tiba kakek itu tak tampak bayangan tubuhnya lagi. Yang-khim berdenting-denting sampai akhirnya sayup-sayup sampai, lenyap meninggalkan keheningan dan rasa kaget yang begitu cepat. Jawaban Sam-hwesio malah membuat kakek itu pergi. Luar biasa!

Akan tetapi ketika semua penasaran dan kini memandang wakil pimpinan Gobi itu, memang hwesio inilah yang paling bijak dan waspada dibanding yang lain maka kakek itu menarik napas dalam dan tiba-tiba duduk kembali, tasbeh dikeluarkan dan dikebut- kebutkannya tiga kali.

"Omitohud, pinceng malah membuat kejutan. Tahu begini tak usah cepat-cepat, suheng. Kakek itu malah pergi. Pinceng menjadi berat."

"Hm, katakan dan jelaskan lebih lanjut. Aku jadi penasaran, lo-suhu, masa untuk begitu saja kakek itu mewejangi kita. Masa begini singkat!"

Giok Yang Cinjin menjadi penasaran dan kakek ini barangkali gemas. Yang dijadikan pokok bahasan adalah Beng San, pemuda yang dulu dicinta dan disayangnya itu. Maka tak puas dan melotot melampiaskan penasaran, memang kakek inilah yang rupanya paling berkepentingan maka hwesio itu mengangguk-angguk dan mau mengerti.

"Pinceng rupanya harus menggantikan kakek itu. Maaf kalau uraian pinceng keliru, Cinjin, jika begitu tentu Sian-su harus kita panggil lagi."

"Katakanlah, aku penasaran!"

"Inti syair itu memang ke situ, watak tak tahu diri. Bahwa Beng San, seperti gurunya Chi Koan memiliki watak buruk. Mereka didorong oleh nafsu-nafsu lain hingga berakibat fatal dan merugikan diri sendiri."

"Dan hanya untuk mengupas anak ini kakek itu memberikan syairnya? Hanya untuk seorang Beng San ia membuat kepalaku pening dan berdenyut-denyut?"

"Salah, inilah pengetahuan berharga yang penting untuk kita. Beng San hanya contoh kecil, Cinjin. Pemuda itu hanya satu di antara yang lain-lain!"

"Maksudmu?"

"Sian-su memberikan contoh yang jelas dan kebetulan di depan mata akan tetapi sesungguhnya banyak Beng San, Beng San yang lain. Maksudku...!"

"Cukup, aku mengerti. Ha-ha, sekarang aku mengerti. Ah, kiranya ke situ kakek itu hendak mengatakan, Lo-suhu. Bahwa dunia ini penuh orang-orang tak tahu diri dan temaha (tamak). Aku sekarang terbuka, dan ini memang betul. Aduh, dunia sudah terisi orang-orang jahat alias manusia-manusia tak tahu diri dan itu memang tepat sekali. Semua orang memang tak tahu diri, ha-ha!"

"Salah, bukan itu. Tidak semua yang dimaksudkannya, Cinjin, hanya sebagian besar!"

"Sebagian besar?"

"Ya, sebagian besar. Karena di antara semua manusia masih ada yang tahu diri, yang bijak. Akan tetapi yang seperti ini tidaklah banyak dan satu di antaranya adalah sahabat kita Kim Cu Totiang!"

Semua terkejut, termasuk bekas ketua Kun-lun itu. Kim Cu Cinjin mengerutkan kening akan tetapi Sam-hwesio mengangguk-angguk. Hwesio ini malah bangkit dan menjura di depan kakek itu. Dan ketika Kim Cu Cinjin tertegun akan tetapi menghela napas, cepat bangkit dan membalas hwesio itu maka tosu ini berkaca-kaca. Kisah masa lalunya dibongkar.

"Sahabat kita Kim Cu Totiang adalah satu di antara orang-orang yang tahu diri ini. Dialah contoh dan teladan kita, Giok Yang Cinjin. Lihatlah betapa ia melepaskan jabatan semata urusan pribadinya yang mencoreng nama partai. Inilah orang gagah yang betul-betul patut kita acungi jempol dan lihat betapa dengan ringan ia melepaskan kedudukannya di Kun lun!"

"Siancai...!" Giok Yang meloncat dan menjura di depan rekannya itu. "Aku salah bicara, Kim Cu Cinjin. Aku lancang menyamaratakan semua orang sebagai tak tahu diri. Sam-lo-suhu benar, kau pengecualian di sini. Akan tetapi berapa banyak orang-orang sepertimu ini karena sebagian besar dari kita memang manusia-manusia tak tahu diri. Ha-ha, maafkan pinto, Cinjin... maafkan!"

Kim Cu Cinjin membungkuk dan menbalas penghormatan itu. Tiba-tiba saja ia menjadi kikuk dan tak enak dirinya dipuji-puji. Entah bagaimana tiba-tiba ia menjadi lawannya Beng San. Maka tertawa dan pura-pura menguap, ingin tidur maka kakek inipun berkelebat dan tiba-tiba menghilang.

"Siancai pinto tak mengerti apa yang kalian bicarakan ini. Aneh bahwa tiba-tiba pinto diberi penghormatan, Cinjin, ini semua gara-gara Sam-lo-suhu. Ah, pinto mengantuk dan biar tidur dulu. Bu-beng Sian-su telah pergi!"

Ji-lo-suhu dan Li Ceng mengangguk-angguk. Mereka dibuat terharu dan kagum akan sikap bekas ketua Kun-lu ini dan memuji seratus persen. Siapa tak tahu kisah memalukan kakek itu di masa mudanya. Siapa tak tahu betapa Kim Cu Cinjin dikejar-kejar dan akhirnya dituntut para wanita yang dulu menjadi kekasihnya.

Dan karena seorang tosu (pendeta) tak mungkin menikah, apalagi yang sudah berkedudukan tinggi sebagai seorang ketua Kun-lun-pai yang amat terkenal maka kakek ini mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepada orang lain. Sikap tahu diri yang patut dipuji!

Giok Yang Cinjin tertawa-tawa. Tiba-tiba ia "mendusin" apa yang dimaksudkan kakek dewa itu. Beng San dan "Beng San, Beng San" lain banyak terdapat di bumi ini, entah murid atau orang dekat. Entah keluarga atau orang luar. Dan karena kenyataan itu segera dilihatnya dan memang banyak, kakek ini terkekeh-kekeh akhirnya iapun berkelebat pergi dan malam itu juga langsung meninggalkan Gobi.

"Pinto kenyang, teramat kenyang. Keterangan Sam-lo-suhu benar-benar bagus dan menyadarkan pinto. Ha-ha, kulihat sekarang orang-orang di sekitarku ini, Sam Lo-suhu, begitu juga orang-orang Selatan yang menyerbu dulu itu. Mereka terbawa oleh sikap pongah dan gejolak nafsu yang tolol. Dan pinto bisa jadi termasuk di antara mereka ini. Ha-ha, pinto akan belajar dan terima kasih atas semua wejangan ini, Kakek dewa itu benar!"

Kakek ini lenyap akan tetapi suara tawanya masih meninggalkan ruangan. Giok Yang tiba-tiba tersipu merah dan kakek itu teringat diri sendiri. Siapa di dunia ini yang tak melakukan kesalahan. Akan tetapi segera memperbaiki dan meluruskan kesalahan adalah bijak, tersesatlah orang-orang seperti Beng San maka kakek ini geleng-geleng kepala betapa Beng San adalah contoh yang jelas dan gamblang.

Betapa pemuda itu tak tahu diri dengan mempermainkan Lu-lu, gadis pelayan yang derajatnya rendah, padahal sebentar lagi akan menjadi menantu Naga Gurun Gobi dan telah dibebaskan dari segala hukuman. Dan tertawa akan tetapi juga menangis teringat semuanya itu, betapapun ada rasa tak rela karena dialah yang menemukan dan membawa anak muda itu pertama kali akhirnya kakek ini terisak-isak dan menghilang di luar tembok Gobi.

Boen Siong dan ayah ibunya saling pandang. Kini di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga karena Sam-hwesio dan Ji-hwesio menyusul beristirahat. Malam telah larut. Dan ketika tiba-tiba sang ibu terisak dan menubruk ayahnya, teringatlah Li Ceng betapa ia pun tak tahu diri dengan memusuhi dan menyia-nyiakan suaminya ini, bahkan nyaris mengadu suaminya dengan puteranya sendiri mendadak wanita itu mengguguk dan Boen Siong berkelebat keluar.

Ibunya tersedu dan berulang-ulang minta maaf pada ayahnya, sementara sang ayah memeluk dan minta maaf pula atas segala sikap dan sepak terjang masa lalu. Dan ketika pendekar itu menuntun isterinya memasuki kamar, tumpahlah segala sesal dan rindu mendadak saja cinta kasih tumbuh begitu besar dan suami isteri ini terbuai semalam suntuk.

Mereka tak ingat apa-apa termasuk Siao Yen dan kakaknya yang belum pulang. Mereka juga bangun kesiangan ketika keesokannya Boen Siong menunggu di luar. Dan ketika sang putera tersipu melihat orang tuanya bergandengan tangan, begitu mesra maka laporan ini membuat suami isteri itu tertegun.

"Mereka tak kembali? Kau telah memeriksa kamarnya?"

"Benar, ayah, suheng dan Suci tak kembali. Mereka tak ada di kamarnya dan sedikitpun tak ada berita."

"Kalau begitu tunggu saja, masa tak kembali."

Akan tetapi ketika sehari dan kemudian seminggu bahkan sebulan kakak beradik itu tak tampak batang hidungnya, cemaslah Naga Gurun Gobi ini maka apa boleh buat puteranya diperintahkan mencari. Sudah enam bulan kakak beradik itu menghilang! Coba keluarlah dan cari mereka. Tentu ada sesuatu yang terjadi, Boen Siong, tak mungkin begini saja."

"Atau jangan-jangan merekapun seperti Beng San, tak tahu diri!"

"Hmh, jangan menuduh, niocu, apa maksudmu?"

"Maksudku adalah mereka pergi setelah mendapatkan segalanya di sini Kau telah memberikan Hok-te Sin-kang dan mereka mencari gara-gara!"

"Tak mungkin!" pendekar ini berkata tegas. "Aku kenal baik watak mereka itu, niocu. Siao Yen dan kakaknya tak mempunyai watak seperti itu. Pasti ada apa-apa!" lalu membalik dan menghadapi puteranya pendekar berkata, "Coba kau selidiki sekali lagi dan setelah itu laporkan. Kami tunggu di sini!"

Boen Siong mengangguk, berkelebat lenyap. Sang ibu meneriaki agar tidak terlampau lama. Lebih baik pulang dan pergi lagi daripada menghilang sekalian. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan lenyap di luar maka pencarian ini diusahakan akan tetapi dua kakak beradik itu lenyap entah ke mana.

Setahun kemudian lewat dengan cepat dan Boen Siong berulang-ulang melapor. la pergi datang belasan kali. Dan ketika untuk terakhir ayahnya memerintahkan dan sang ibu mulai jengkel, Boen Siong juga was-was maka di belakang bukit di mana jurang maut itu menelan Beng San munculah kepala seseorang dan di bawah sinar bulan dan bintang yang berkedip-kedip tampaklah seraut wajah mengerikan.

Wajah ini muncul begitu saja bagai hantu malam. la merayap dan ngesot susah payah. Mulutnya miring dan sebelah matanya buta. Kaki pengkor dan tanganpun terlipat. Sungguh seorang cacad yang mengharukan. Atau mungkin hantu? Akan tetapi ketika mahluk ini merayap dan akhirnya melompati bibir Jurang roboh dan menggeliat sambil meringis maka kata-katanya terdengar menyedihkan didalam gelap itu. Kata-kata tak jelas sebagaimana biasanya orang peyot dan lumpuh bicara.

“Aku berhasil. Aku... Aku, heh- heh... masih hidup, Gobi, akan tetapi aku cacad. Awas kalian, kubalas dendam sakit hatiku nanti. Beng San akan mengguncang dunia, heh-heh...!"

Orang akan terkejut. Beng San? Benarkah ini Beng San? Bukankah ia telah tewas dan tusuk sanggul itu menancap di dadanya. Dijurang tak mungkin ia selamat di bawah tusukan maut itu. Tusuk sanggul itu menembus jantungnya! Akan tetapi ketika orang ini terkekeh dan terseok-seok, mulutnya bergumam dan jelas menyebut namanya sendiri maka tak mungkin orang salah dengar dan mau tak mau harus percaya. Akan tetapi bagaimana pemuda itu masih hidup? Apakah ia jatuh di tempat Iunak? Inipun tak mungkin, karena suara berdebuk itu sampai terdengar jauh ke atas!

Yang benar ialah memang terjadi sesuatu yang di luar dugaan orang, sesuatu yang lain di tubuh pemuda ini karena Beng San memiliki keistimewaan, yakni jantungnya berada di sebelah kanan bukannya kiri. Sesuatu yang ajaib memang menjadi kelainan pemuda ini dan tentu saja tak ada satupun yang menduga.

Bagi mereka pemuda itu telah tewas. Tusuk sanggul Siao Yen mengenai jantung. Dan karena jurang itupun dalam dan hanya berkat Thian Yang Agung saja manusia dapat selamat, inilah yang tak terjangkau akal pikiran manusia maka pemuda itu masih hidup! Akan tetapi Beng San telah rusak. Kaki tangannya patah-patah dan mulutnyapun perot. Sebelah mata pemuda ini tertusuk dahan dan pecah, buta dan tinggallah sebelah matanya yang lain. la pasti tewas kalau saja tak memiliki daya tahan luar biasa.

Kekuatan tubuhnya mengagumkan. Dan karena jelek-jelek iapun pewaris Hok-te Sin-kang, tenaga sakti inilah yang banyak menolong dan menyelamatkannya maka ia masih hidup meskipun terbanting di bawah jurang. Tusuk sanggul itu salah tancap karena bukan mengenai jantungnya. Akan tetapi pemuda ini menderita hebat. Justeru karena daya tahannya yang luar biasa membuat ia merasakan siksaan itu. la sering merintih dan menangis di dasar jurang.

Makanannya lumut, juga ular-ular yang ditangkap dan masih mudah dirobohkannya. Dan ketika ia mengobati luka-lukanya dengan sisa obat yang ada, untunglah masih di kantung baju maka pemuda ini bertahan akan tetapi jangan tanya penderitaan atau kesakitannya yang luar biasa. Berkali-kali pemuda ini roboh pingsan. Berkali-kali sadar dan bangun lagi.

Dan ketika tetes-tetes embun adalah penawar deheganya di kala tenggorokan kering, jatuh bengun pemuda ini mengalami siksaan di bawah jurang maka obat-obatan yang kurang dan tiadanya bantuan membuat ia cacad dan bongkok. Sebelah matanya melotot sementara mulutnya perot. Menyedihkan!

Dan malam itu ia keluar jurang. Sisa ketampanan dan kegagahannya sebagai pemuda lihai lenyap. Beng San malah seperti kakek-kakek buruk. Rambutnya panjang dan riap-riapan pula. Sesungguhnya telah enam bulan ia merayap dan mencoba keluar, berkali-kali berhenti di tengah jurang di ceruk-ceruk dalam. Tentu saja amat berat.

Akan tetapi ketika malam itu ia berhasil dan terkekeh, bintang mengerdip dan bersembunyi di balik awan yang lewat maka bulanpun buru-buru berlindung di balik awan berarak seakan ngeri bahwa pemuda itu akan membuat geger lagi. Bumi bakal menjadi hangus!

Ini benar. Beng San masih memiliki ilmu-ilmu yang tinggi. la mungkin tak dapat menghadapi lawan-lawannya yang lihai akan tetapi ia dapat menurunkan kepandaiannya itu kepada orang lain. Pemuda ini masih tetap berbahaya! Maka ketika malam itu ia merangkak dan terseok meninggalkan jurang, betapapun ia pernah tinggal di Gobi dan tahu lika-liku jalan maka pemuda ini menerobos kegelapan malam untuk menyelamatkan diri.

Gobi sudah lengah sejak si buta dan muridnya ini disangka tewas. Penjagaan tidaklah begitu ketat. Maka terseok dan merayap bagai ular melata, sesekali menggeliat dan meloncat-loncat maka pemuda yang berbahaya ini menjauhkan diri. la membawa dendam setinggi gunung. Ia benci orang-orang Gobi dan penghuninya. Dan ketika malam itu awanpun menjadi gelap, mendung berkumpul dan akhirnya turunlah hujan deras maka di bawah siraman air angkasa pemuda ini meninggalkan Gobi.

Setahun yang lewat hujanpun menjadi awal pertanda buruk. Kini tanda itupun datang lagi, murid si buta lolos. Dan ketika petir dan guntur tak dihiraukan pemuda ini, murid yang berjaga malah lenggut-lenggut dan tidur ayam maka Beng San lolos dan pemuda ini berhasil menyelamatkan diri. Awal bencana memayungi manusia lagi. Gobi pasti akan dibuat geger.

Dan ketika pemuda itu lenyap dan akhirnya menyeberangi gurun, halilintar dan kilat menyambar-nyambar maka mahluk angkasa ini seakan melecut dan menendang-nendang Beng San, tak sudi atau tak ingin melihat pemuda itu dan Beng San memang tak akan di Gobi. la harus menjauh, jauh. Dan ketika pemuda itu benar-benar lenyap memasuki hutan, entah apa yang terjadi maka sebuah misteri bakal mengusik ketenangan tokoh- tokoh Gobi dan satu di antaranye tentu saja Boen Siong!

TAMAT

Kabut Di Telaga See Ouw Jilid 33

Cerita Silat Mandarin Serial Bu-beng Sian-su Karya Batara

"AMPUN, laporan buruk. Kwi-bo dan pemuda itu melarikan diri, suhu, kami mencegah akan tetapi gagal. Mereka cepat sekali."

Sin Tong Tojin membalikkan tubuh. Inilah laporan muridnya dan kakek itu tentu saja terkejut, semua orang juga terkejut. Akan tetapi ketika Po Kwan berkelebat dan mengeluh, dialah yang bertugas jaga maka Peng Houw tertegun sementara puteranya berkerut kening. Po Kwan lenyap dan sudah mendahului keluar.

"Hm, kita kecolongan, akan tetapi ini peristiwa besar. Muridmu tak dapat disalahkan, taihiap, lagi pula dua orang itu tak seberbahaya Chi Koan."

"Benar, Heng-san-paicu (ketua Heng-san-pai) tidak salah. Muridmu tak perlu ditegur, taihiap, siapapun memang pasti ke sini mendengar pekik dahsyat itu. Siapa tak kaget dan meninggalkan tempat masing-masing kalau ada kejadian seperti ini."

Ko Pek Tojin menyambung kata-kata rekannya dan yang lain mengangguk hingga pendekar itu menarik napas dalam-dalam. Memang muridnya itulah yang bertugas jaga akan tetapi Siauw Lam dan Kwi-bo lolos. Mereka cerdik mempergunakan kesempatan. Geger di tempat itu memang menggemparkan.

Maka mengangguk dan memaklumi perasaan orang-orang ini, lega bahwa muridnya tak disalahkan maka pendekar itu berkelebat dan tiba-tiba iapun ingin ikut mencari. Boen Siong disuruhnya menjaga di situ.

"Baiklah, akan tetapi muridku harus bertanggung jawab juga. Biar kubantu dan kucari mereka itu, totiang, betapapun mereka tak boleh lolos!"

Ko Pek Tojin dan lain-lain mengangguk. Merekapun berlompatan dan akhirnya meninggalkan tempat itu dan Kwi-bo serta Siauw Lam dicari. Inilah kegegeran lain setelah tewasnya si buta. Akan tetapi ketika sampai pagi dua orang itu tak tertangkap juga, rupanya mereka lolos begitu cepat maka Po Kwan menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya.

"Teecu bersalah, teecu siap menerima dosa. Hukum dan perintahlah teecu mempertanggungjawabkan ini, suhu. Teecu tak akan lari dan menyatakan salah."

"Tidak!" Heng-san-paicu lagi-lagi berkelebat dan berseru. "Kau tidak selah apalagi berdosa, Kwan-sicu. Penjagaanlah yang kelewat kendor dan kami turut bertanggung jawab. Pekik itu mengundang siapa saja, gurumu tak boleh menjatuhkan hukuman. Kalau ia menghukum berarti kami juga kena!"

"Benar, murid-murid kami menjaga pula. Kalau lolos adalah kesalahan kami juga, anak muda. Bangun dan jangan begitu karena ini bukan tanggung jawabmu seorang!"

"Omitohud, pinceng setuju kata-kata Hoa-san-paicu. Karena murid Bu-tong juga lengah dan kita semua salah maka gurumu tak boleh menjatuhkan hukuman. Kita semua bertanggung jawab!"

Peng Houw menarik napas dalam, ganti-berganti memandang tiga orang itu dan akhirnya berhenti pada Gu Lai Hwe-sio. Ketua Bu-tong ini dengan gagah melindungi Po Kwan dan tampaknya bersiap-siap bila ia menyerang. Muridnya dilindungi banyak orang gagah. Dan kembali lega bahwa orang-orang itu tak menyalahkan muridnya, pihaknya menjadi ringan maka pendekar ini berkata dan membungkuk.

"Terima kasih, kalian semua rupanya benar-benar tak menyalahkan muridku. Kalau begitu bagaimana sekarang, cuwi-enghiong. Chi Koan telah tewas sementara Beng San terluka di sana."

"Pinto akan kembali saja ke Heng-san. Rasanya tak ada lagi yang perlu di sini taihiap. Pinto akan membawa semua murid dan beristirahat di rumah."

"Tepat, pinto juga begitu. Hoa-san tak ada urusan lagi di sini, Peng-taihiap, dan semua murid akan kubawa pulang!" Ko Pek Tojin berseru.

"Dan pinceng juga mengikuti," ketua Bu-tong menyambung. "Karena hari sudah terang dan tak ada lagi urusan biarlah pinceng kembali dan mohon pamit kepada semua saudara-saudara Selatan!"

Kakek Naga Menara dan lain-lain terkejut. Tiba-tiba saja urusan itu berubah menjadi perpisahan. Heng-san-paicu dan lain-lain pamit pada mereka. Akan tetapi ketika Tong-bun-su-jin berseru dan mengangkat tangan ke atas maka empat bersaudara itu bertanya bagaimana dengan Beng San.

"Tunggu, nanti dulu. Bagaimana dengan pemuda yang terluka itu dan bagaimana pula nasib See-ouw-pang!"

"See-ouw-pang tak perlu dikhawatirkan lagi. Di sini telah muncul Kim-liong yang menggantikan suhengnya, saudara Tong. Sedang anak muda itu kami pikir tetap diserahkan saja pada Peng-taihiap.

"Benar, anak itu diserahkan Gobi. Kita telah tahu bahwa ia mencegah gurunya akan tetapi malah terluka. Biarlah Peng-taihiap mengurusnya dan kalau perlu membebaskan hukumannya. Bukankah ia telah menjadi anak yang baik!"

Semua menoleh dan tertegun akan tetapi mengangguk-angguk memandang Giok Yang Cinjin. Kakek inilah yang berseru dan siapapun memang telah bersimpati kepada Beng San. Di saat-saat terakhir pemuda itu telah berobah sikap, menentang dan bahkan memusuhi gurunya. Akan tetapi Sam-hwesio yang berkerut dan masih tidak percaya begitu saja mengulapkan lengannya. Pengalamannya menunjukkan bahwa penglihatan sepintas bukanlah jaminan.

"Omitohud, terima kasih atas kepercayaan saudara-saudara. Kalau pemuda itu diberikan kepada kami tentu Gobi akan menjaganya baik-baik. Hanya masalah hukuman, hmm... biarlah dipikir baik-baik oleh Naga Gurun Gobi pribadi!"

Peng Houw mengangguk, isyarat paman gurunya ditangkap. Dan ketika ia siap membawa pemuda itu dan biarlah urusan sampai di situ, Chi Koan telah tewas maka pendekar ini mohon diri dan akhirnya keluarga besar Gobi berpamitan semua.

Hari itu orang-orang Selatan berpisah dengan orang-orang Utara dan masing-masing pihak bermaaf-maafan. Memang tak ada lagi yang diurus setelah si buta tewas. Pelajaran telah selesai dan tak perlu lagi Si buta menjalani hukuman. la telah tiada. Dan ketika Beng San diserahkan Gobi dan lenyapnya Kwi-bo serta Siauw Lam tak begitu merisaukan, dua orang itu tak seberbahaya Chi Koan maka mereka saling menjura di tepi telaga itu.

See-ouw-pang masih berkabut biarpun matahari telah naik tinggi. Ada ketemaraman di tempat ini. Kejadian atau peristiwa dahsyat di tempat itu masih terasa. Dengung atau gemanya tak dapat hilang, begitu saja. Dan ketika akhirnya semua tokoh meninggalkan tempat, termasuk tokoh-tokoh Selatan sendiri seperti Naga Menara dan Tong-bun-su-jin, juga Yang-liu Lo-lo dan mereka yang selamat maka telaga ini bersunyi diri dan anehnya kabut di permukaan telaga itu tak hilang juga seminggu lamanya. Heran!

Sesuatu seakan diberitahukan kabut itu. Ada semacam isyarat atau bahasa yang tak dimengerti manusia. Dan karena See-ouw-pang telah mendapatkan ketua barunya si Cambuk Naga Emas, laki-laki atau pria gagah yang memperhatikan keanehan kabut ini akhirnya getaran firasat itu ditangkap juga dan pada hari kesepuluh pria ini berpamit menuju Gobi. Kabut akhirnya hilang dan arahnya menuju partai persilatan itu!

"Aku merasa tak nyaman. Ada keganjilan yang kutangkap. Kalian jaga di sini dan biar kumenuju Gobi. Jaga baik-baik dan tunggu aku sampai kembali!"

Anak murid mengangguk-angguk. Tentu saja mereka tak mengerti dan tak menangkap tanda-tanda alam. Hanya orang seperti si Cambuk Naga Emas itu yang mampu. Pendekar ini telah banyak merantau dan belajar mempertajam batin. Maka ketika getaran batinnya bicara dan itulah yang kini diikuti maka sekali berkelebat sute Ning-pangcu ini lenyap meninggalkan markasnya dan memang sesungguhnya terjadi sesuatu yang menggetarkan. Sesuatu yang tak kalah dengan kematian Chi Koan!

* * * * * * * *

Beng San masih berbaring di tempatnya akan tetapi anak muda ini sudah semakin sehat. Totokan dan bantuan Naga Gurun Gobi membuat lukanya perlahan-lahan pulih dan penyaluran sinkang yang dilakukan kakak beradik Siao Yen den Po Kwan membuat anak muda itu cepat segar.

Kalau saja tak ada kakak beradik atau orang seperti Peng Houw barangkali ia benar-benar tewas. la juga sudah mulai dapat bicara dan menceritakan peristiwa menggemparkan itu, betapa suhunya ingin melarikan diri namun dicegah, gagal dan akhirnya ia diserang dan apa boleh buat dipaksa membela diri.

Dan ketika tiba pada pertanyaan akan potongan besi yang menancap di tubuh gurunya, pemuda itu menunduk maka dengan terbata dan menahan air mata pemuda ini menerangkan bahwa semua itu tak sengaja.

"Waktu itu suhu memadamkan lilin, Ia diam-diam meremas hancur dinding tembok. Dan ketika perlahan dan sedikit demi sedikit menggogos (menusuk) semakin dalam, teecu berusaha mencegah maka keributan ini tak terdengar tertutup oleh gelegar dan kilatan halilintar. Suhu sudah semakin memperlebar lubang pelarian itu ketika tiba-tiba menghantam tee-cu. Memang teecu nekat mencegahnya. Dan ketika ia menjadi marah dan mematahkan besi di lubang udara, teecu kaget sekali maka teecu merampasnya dan terjadilah pergumulan seru. Apa yang selanjutnya terjadi tak teringat lagi. Antara ketakutan dan ingin mencegah sama besar. Dan ketika kami saling serang dan besi itu terampas, kupukulkan kepadanya maka suhu berteriak dan selanjutnya tee-cu terbanting dan luka parah!"

"Hmm, gurumu memang jahat, kematian adalah bagiannya. Akan tetapi sekarang bagaimana dengan kau sendiri, Beng San, maksudku begaimana dengan hukuman yang harus kau jalani."

"Teecu menerimanya, teecu tak macam-macam.”

"Bagaimana kalau kumintakan ampun? Bagaimana kalau kau bebas?"

"Ah!" pemuda itu terkejut, membelalakkan mata. Dan ketika ia menggeleng dan tiba-tiba mengguguk, menubruk dan memeluk tosu ini maka Giok Yang Cinjin berkejap-kejap. Saat itu di ruangan itu ada Siao Yen dan Po Kwan, juga Boen Siong. "Tidak, tidak!" pemuda ini berseru. "Aku sudah cukup berdosa, Cinjin. Aku tak ingin diampuni. Biarlah secara gagah kujalani hukuman ini dan biar kutebus dosa-dosaku. Aku berdosa kepada guruku dan juga dirimu!"

"Hmn, kenapa dengan aku."

"Kaulah yang pertama menarik dan menemukan aku, Cinjin. Tanpa kau tak ada Beng San sekarang ini. Aku sudah mati kelaparan di pinggir jalan!"

"Bangkitlah," tosu itu mengusap mata. "Aku tak punya anak dan kaulah sebenarnya yang kuharap itu, Beng San, akan tetapi kau tak mau mengikuti petunjukku. Kau tak mau tetap di Gobi."

"Aku salah, suhengku Siauw Lam membujuk dan menghasut aku. Tadinya kupikir semuanya betul, Cinjin, akan tetapi, ah... sudahlah. Aku keliru!"

Kakek itu berbasah air mata. Memang dialah yang menarik dan menemukan anak muda ini, tadinya bermaksud mengambilnya sebegai anak angkat dan dibiarkannya dulu belajar pada Naga Gurun Gobi Peng Houw. Kelak kalau sudah lihai dan jadi orang akan dipakainya sebagai pelindung.

Akan tetapi karena semuanya berubah dan kini anak itu menjadi hukuman maka kakek ini menangis dengan air mata bercucuran apalagi ketika pemuda itu memeluknya dan mendekap hangat. Dekapan itu bagai dekapan seorang anak terhadap ayahnya. Dekapan rasa berdosa.

"Ampunkan aku... ampunkan aku, Cinjin. Tapi biarlah kujalani hukumanku!"

Kakek itu hampir tersedu. Siao Yen tiba-tiba melengos dan melompat keluar. Gadis inilah yang selama ini menjaga dan mengawasi Beng San, terutama bila Boen Siong dipanggil ayahnya atau tokoh Gobi untuk bercakap-cakap. Dan ketika tiba-tiba timbul rasa haru dan kasih yang besar, acap kali pandang mata dan sikap pemuda itu mengingatkan gadis ini semasa bersama dulu maka Siao Yen terguncang dan sikap Boen Siong yang agak acuh membuatnya berpaling pada Beng San. Inilah pemuda yang dulu menciumnya pertama kali, biarpun ciuman kurang ajar!

Beng San semakin menarik simpati lagi. Ceritanya yang didengarkan kakak beradik itu dan juga Boen Siong memang mempengaruhi anak-anak muda ini. Jangankan mereka, Giok Yang Cinjin sendiri yang sudah tua termakan. Sama sekali tak tahu bahwa cerita itu bohong. Bahwa sesungguhnya secara licik dan amat berani pemuda ini membokong gurunya dengan jalan menyedot Hok-te Sin-kang.

Dan karena waktu itu petir dan guntur sambung-menyambung, pemuda ini membujuk gurunya untuk menjebol dan menghantam tembok maka saat sama-sama berpegangan tangan itulah pemuda ini menarik dan menghisap sinkang suhunya!

Memang tak ada yang tahu kekejaman pemuda ini. Chi Koan yang sudah percaya dan kembali pulih terhadap muridnya sama sekali tak menduga bahwa dendam di hati muridnya belumlah hilang, yakni ketika ia nyaris membunuh pemuda itu ketika ngotot membawa Siao Yen. Gadis itu telah roboh dan dikuasai Beng San akan tetapi sang guru meminta bunuh, padahal Beng San ingin mempermainkan dan mendapatkan gadis ini.

Pemuda itu kambuh cintanya teringat masa lalu. Birahinya bergetar-getar dan itulah sebabnya betapa sakitnya hati ketika suhunya membentak dan melontarkan tongkat. Kalau ia tak cepat mengelak tentu tongkat itu telah amblas di tubuhnya. Maka ketika sejak itu ia menaruh dendam pribadi akan tetapi semuanya ini tentu saja disimpan baik-baik.

Sampai akhirnya segala akal dan cara dipergunakan untuk mencari kesempatan maka malam itulah Beng San mengumpulkan segenap keberaniannya dan begitu mereka hendak menjebol tembok maka sang guru yang sudah mengerahkan sinkang lalu disambut dan bagai lintah menyedot darah dihisapnya sinkang gurunya.

Chi Koan kaget bukan main. Si buta memekik akan tetapi sayang pekikannya bersamaan dengan menggelegarnya halilintar di angkasa. Pekik pertama si buta yang dahsyat itu tertutup. Akan tetapi ketika ia memekik lagi dan barulah berturut-turut tiga kali pekikannya didengar orang-orang gagah, saat itulah terjadi puncak ketegangan, amat mendebarkan maka Beng San menyambar terali besi dan melontarkannya di tubuh gurunya.

Keadaan gelap-gulita memungkinkan semua itu akan tetapi bersamaan itu sang guru mendorong dan menghantamkan sinkangnya sepenuh tenaga. Pemuda ini terbanting, luka parah. Ia telah menyedot sinkang gurunya akan tetapi yang tak diduga terjadi padanya, yakni ketika gurunya melontarkan dan mendorong Hok-te Sin-kang itu. Jauh lebih baik bagi pemuda ini apabila ia menyedot dan menghisapnya saja, bukan dihantam dan sama saja diserang.

Maka ketika ia terjerembab namun saat itu sang suhu roboh, besi itu menancap sampai tembus maka si buta Chi Koan tewas secara konyol di tangan muridnya yang keji itu, peristiwa yang mengingatkan kekejian si buta itu terhadap mendiang gurunya dulu Beng Kong Hwesio (Baca: Prahara Di Gurun Gobi).

Kini Beng San memiliki Hok-te Sin-kang sepenuhnya. Seperti diketahui bahwa pemuda ini telah mewarisi setengah bagian dari Hok-te Sin-kang gurunya ketika dulu gurunya marah-marah kepada Siauw Lam. Karena waktu itu pemuda ini masih lebih rendah daripada suhengnya maka Chi Koan memberikan sebagian sinkangnya, dengan begitu tak mungkin Siauw Lam menandingi sutenya ini.

Dan karena peristiwa itu memberi pengalaman kepada pemuda ini bagaimana memperoleh Hok-te Sin-kang, itulah sebabnya ia tahu cara dan kelemahannya maka diam-diam dicarinya kesempatan dan malam itu adalah malam neraka bagi si buta. Chi Koan tewas mengerikan. Murid yang cerdas dan mulai dipercayanya ini justeru merupakan bumerang bagi dirinya sendiri.

la pun dijelek-jelekkan Beng San seolah dialah yang ingin kabur, padahal pemuda itulah yang menyuruhnya dan berbisik-bisik, saling menempelkan telapak tangan dan siap menghancurkan tembok tebal tanpa suara. Kebetulan hujanpun datang dan begitu deras, juga petir dan guntur yang sambung-menyambung itu.

Akan tetapi begitu mengerahkan sinkang dan siap bekerja maka secepat itulah pemuda ini menotok pergelangan gurunya hingga tak mungkin Hok-te Sin-kang dihentikan dan selanjutnya bagai lintah jahat pemuda ini menyedot tenaga sakti!

Kemudian terjadilah peristiwa menggemparkan itu. See-ouw-pang geger dan siapapun terguncang. Si buta mandi darah. Dan karena Beng San telah menunjukkan simpati kepada orang-orang gagah itu, Naga Gurun Gobi sendiri terkelabuhi maka orang menolong pemuda ini dan sekarang anak muda yang berbahaya ini berada di Gobi. Beng San tiada ubahnya ular berbisa yang amat ganas, ganas namun cerdik!

Kini Giok Yang Cinjin tersihir. Kakek ini leleh seperti juga Po Kwan dan Siao Yen, begitu pula Boen Siong. Mereka anak-anak muda yang jauh dari pengalaman, tidak seperti Beng San yang kenyang oleh sepak terjang dan kelicikan gurunya. Berdekatan dengan pemuda ini sama saja dengan berdekatan sama setan, Si Setan sewaktu-waktu bisa mendirikan bulu tengkuk!

Dan ketika hari itu Giok Yang Cinjin hendak memintakan ampun akan tetapi tentu saja ia harus pura-pura menolak, di depan Siao Yen dan lain-lain ia harus berlagak sok alim maka tosu 1ni tergerak dan siapapun timbul niatnya untuk membebaskan pemuda itu. Apalagi karena pemuda ini adalah dia yang menemukan!

Giok Yang Cinjin menghadap tokoh-tokoh Gobi. Kebetulan di situ ada pula Kim Cu Cinjin bekas ketua Kun-lun-pai. Kakek ini tinggal karena ingin menemani sumoinya, Li-hujin alias nyonya Peng Houw karena ia merasa kangen dan tak ingin cepat pulang setelah semua ketegangan itu berlalu.

Maka ketika hari itu kakek itu bicara dan mintakan ampun, suaranya tersendat-sendat maka Peng Houw yang lemah lembut dan mudah terbawa mengangguk-angguk. Naga Gurun Gobi ini sebenarnya orang pemurah dan amat baik, terlampau pemaaf.

"Ia perlu dikasihani dan dibebaskan dari segala hukuman. Anak itu telah berubah segala-galanya, Peng-taihiap. Beng San bukan lagi manusia jahat. ia bahkan menentang dan penyebab matinya gurunya. Biarlah pinto membawanya dan pinto mendidiknya sepanjang jalan!"

"Benar, ia memang baik. Dan justeru karena dia maka pertumpahan darah tak berlanjut lagi, totiang. Di See-ouw-pang ia telah menyelamatkan banyak jiwa. Rasanya aku tak keberatan akan tetapi entahlah para susiok di Sini, juga mungkin Kim Cu totiang."

"Hm, pinto tak usah diikut-sertakan. Pinto orang luar, Peng Houw, bukan murid Gobi. Janganlah bertanya kepada pinto karena pinto tak berani memberikan pendapat!" Kim Cu mengelak dan kakek ini memang benar.

"Kalau begitu silahkan jiwi-susiok bicara, bagaimana pendapat jiwi (kalian berdua).”

"Hmh, pinceng rasa tepat. Anak itu memang baik, Peng Houw, paling tidak ia telah menunjukkan sepak terjangnya diakhir kali. Pinceng tak keberatan akan tetapi bagaimana pendapat ji-susiokmu (paman guru kedua)."

Ketua Go-bi-pai mengangguk-angguk dan kakek ini memandang sutenya, Sam-hwesio. Saudara di sebelahnya ini berkerut dalam akan tetapi tiba-tiba menarik napas dalam. Dan ketika jawabannya mengejutkan banyak orang bahwa ia tak setuju,

"Beng San belum memulai hukumannya maka sebaiknya anak itu dilihat dulu tindak-tanduknya di situ.Terlalu dini membebaskannya sekarang. Ia belum menjalani masa hukumannya, suheng. Bagi pinceng biar dilihat dulu. Lagi pula bukankah ia tak menolak."

"Benar ia tak menolak. Akan tetapi aku ingin membawanya dan melihatnya bebas. Akulah yang pertama kali menemukan dan membawa anak itu!"

Giok Yang Cinjin berharap, berseru kepada hwesio itu akan tetapi wakil pimpinan Gobi ini berwajah gelap. Sam-hwesio menggeleng dan tetap menolak. Dan ketika tosu itu menjadi mendongkol dan putus asa, juga marah maka Ji-hwesio buru-buru mengebutkan lengan bajunya berseru membujuk.

"Baiklah, semuanya berpulang kepada Peng Houw. Kalau aku setuju sedangkan suteku tak setuju biarlah urusan ini diselesaikan yang berkepentingan. Aku dapat memahami perasaanmu, Giok Yang Cin-jin, sekarang bersabarlah atau dengarkan Peng Houw!"

"Tidak, aku mendukung Sam-lo-suhu. Karena betapapun ia murid Chi Koan biarlah pemuda itu tetap menerima hukuman!"

Li-hujin tiba-tiba muncul dan nyonya ini berkelebat berseru nyaring. la masuk dan menggelapkan wajah Giok Yang Cin-jin dan sejenak tosu itu tergetar. Mata si nyonya berapi-api. Tertegunlah kakek ini teringat masa dulu. Tentu nyonya ini masih sakit hati oleh perbuatan Chi Koan, ia dapat mengerti. Dan ketika wanita itu duduk dan masuklah Boen Siong, pemuda ini bingung maka ayahnya menggapai

"Kebetulan kau datang. Kemarilah puteraku. Bagaimana pendapatmu kalau Giok Yang Cinjin meminta pembebasan Beng San, setujukah kau."

"Aku menyerahkannya kepada ayah," pemuda ini balik mengembalikan persoalan. "Kau lebih tahu dan Penasihat Bengcu, aku ikut saja."

"Tapi kau yang bertanggung jawab. Kau Bengcu dan pemegang segalanya, puteraku. Kau harus bersikap!"

"Lebih baik tidak dan tak usah digubris. Ayahmu seorang lemah, amat pemurah. Kalau kau mendukungnya berarti kau tak mencintai ibu, Boen Siong. Aku tak setuju dan tetap begitu saja. Biarkan pemuda itu di sini!"

"Omitohud, pembicaraan sudah memanas. Kalau begitu beristirahat dulu, totiang. Biarlah dihentikan dulu besok dibicarakan lagi!" Ji-hwesio berseru cepat melihat suasana itu. Masuknya Li-hujin membuat Keadaan tiba-tiba panas. Dan ketika kakek itu mengangguk dan Kim Cu tertawa, tosu itu bangkit dan berkelebat keluar maka kakek itu tak mau mengganggu.

"Sudahlah, diriku tak mau ikut-ikut. Biar pinto di luar dan kalian selesaikan sendiri!"

Persoalan mandeg, tak berlanjut. Tawa Kim Cu Cinjin membuet Giok Yang menyeringai dan tosu itupun tiba-tiba berkelebat, iapun menyusul dan meninggalkan ruangan pula. Dan ketika hari itu tak didapat keputusan akan tetapi diam-diam kakek ini meneruskan, Sayangnya terhadap Beng San tak dapat dibendung lagi maka pembicaraan menjadi hangat akan tetapi masih juga mengambang.

Naga Gurun Gobi tak berani memutuskan kalau puteranya tak menyetujui, padahal Boen Siong tak mungkin mengangguk karena sang ibu mengancam dan mengacungkan tinju di belakang. Lucu! Dan Semua ini terdengar juga oleh Beng San. Akhirnya pemuda itu mendengar dari Siao Yen, gadis yang kini kian dekat dan manis kepadanya.

Dan ketika pemuda itu menarik napas dalam dan suatu hari mereka berdua saja, tak mungkin pemuda melarikan diri selanma masih ada tokoh-tokoh Gobi di situ maka Beng San mendekat dan tiba-tiba menyambar lengan itu, gadis yang menggigil dan terkejut sekejap.

"Untuk apa pergi dan minta dibebaskan. Kalau subomu berkata seperti itu memang benar, Siao Yen, akan tetapi pergipun aku tak mau. Aku... aku sudah terikat sesuatu di sini. Aku tak dapat meninggalkanmu!"

Gadis ini mundur, membelalakkan mata. la mencoba melepaskan diri akan tetapi genggaman Beng San kuat sekali. Diam-diam Beng San menunggu saat seperti ini, sesungguhnya memang mencari kesempatan yang baik saja. Maka ketika gadis itu terkejut dan saat itulah ia mengerahkan kekuatan batin pada pandang matanya, keluarlah suara aneh lembut mendayu-dayu maka pemuda yang sesungguhhya telah menguasai Hok-te Sin-kang sepenuhnya ini berkata, bergetar namun penuh kekuatan mujijat.

"Yen-moi, tak perlu kusangkal lagi. Aku ingin menyatakan cintaku dan terus terang saja. Aku ingin hubungan kita yang lama bersambung lagi dan kau terimalah aku. Aku tak ingin meninggalkan tempat ini!"

"Hm...!" Siao Yen terguncang, daya sihir memasukinya. Kalau saja Beng San tak bertambah Hok-te Sin-kangnya belum tentu pemuda ini mampu melakukan serangan. Sepasang matanya begitu berpengaruh dan bagaikan bola lampu saja. Sorotnya menembus dan langsung menusuk ulu hati. Maka ketika gadis itu tergetar sekaligus menggigil, suara Beng San begitu indah di kedua telinganya maka gadis ini terisak dan tiba-tiba ia roboh di pelukan pemuda itu. Beng San berhasil!

"Aku... akupun bingung dan tak ingin kau pergi. Semua ini kuceritakan untuk melihat reaksimu, Beng San, kalau kau pergi akupun hancur...!"

"Jadi kau menerima cintaku? Kau tak menolaknya?"

"Cinta...?" Gadis ini menangis, memejamkan mata.

"Eh, jawab dulu, Yen-moi. Apakah kau menerima cintaku!"

Gadis itu mengguguk. Tiba-tiba Siao Yen lupa diri begitu Beng San mendekap dan menciumnya. Sapuan pemuda itu menghisap pula air matanya. Dan ketika bibir Beng San menyengat ganas dan barulah gadis ini terkejut, pemuda itu tiba-tiba beringas maka gadis ini berontak dan melepaskan diri. Mendadak ia menjadi ngeri.

"Tidak. jangan!"

Beng San berlutut. Tiba-tiba pemuda ini sadar dan harus cepat membuang nafsu birahinya. Tak dapat disangkal tiba-tiba kebuasannya muncul. Ia teringat kebiasaannya menggauli gadis-gadis secara paksa. Iapun hampir lupa diri. Maka berlutut dan menggigil memeluk lutut itu, menyembunyikan mukanya seperti orang sedih segera pemuda ini memasang aksinya, sandiwaranya memang baik.

"Ampun, maafkan aku. Aku... aku terlampau girang, Yen-moi. Aku terlampau bahagia. Maafkan aku, akan tetapi ceritakanlah bagaimana hubungan kita berlanjut. Apakah perlu kita beritahukan Giok Yang Cinjin dan dia menjadi ayah angkatku!"

Siao Yen lega, mengangkat bangun pemuda ini , Tadi ia sudah ini merasa ngeri dan tegang bahwa tiba-tiba Beng San begitu buas. Wajah dan lehernya diciumi. Pemuda itu seperti gila. Akan tetapi melihat Beng San berlutut dan gemetar menggigil, penuh sesal maka gadis ini tak sampai hati dan sifat kewanitaannya muncul, lembut dan luluh.

"Kau... kau jangan membuatku takut. Akan tetapi katakanlah bahwa cintamu tak main-main!"

"Ah, main-main? Siapa main-main? Aduh, sumpah mati aku tak main-main, Yen- moi, dibunuhpun sekarang mau. Akan tetapi ceritakan bagaimana jalan keluarnya. Masa seorang hukuman menikahi gadis baik-baik. Bagaimana gurumu nanti!"

"Kau sebaiknya menceritakannya kepada Giok Yang locianpwe. Aku wanita, tak mungkin bebas. Karena kakek itu amat sayang kepadamu maka ceritakanlah semuanya ini akan tetapi hati-hati!"

"Baik, kemudian Suhumu? Subomu? Aku khawatir terhadap subomu itu, Yen-moi, ia galak. Juga masih ada kakakmu dan Boen Siong di sana!"

"Kwan-ko tak akan menghalangiku. la sayang padaku, Beng San, sedang suteku Boen Siong, hmm... iapun rasanya tak apa-apa. Yang berbahaya dan berat hanyalah subo, juga Sam-hwesio!"

"Hm, kalau begitu terancam gagal. Ah aku bingung tapi biarkan Giok Yang Cinjin ke mari. la harus menolong kita!"

"Baiklah, besok aku kembali dan lihat ia datang!"

Benar saja, Giok Yang Cinjin berkelebat masuk. Untunglah lewat pintu samping gadis ini dapat menghilang cepat. Kakek ini tertegun. Dan ketika Beng San menyambut dan tak tahu hidung kakek itu mengendus-endus, keharuman tubuh Siao Yen tertangkap kakek ini maka pemuda itu terkejut ditanya mendadak.

"Bau wanita, eh, seperti Siao Yen! Apakah baru saja ia meninggalkan tempat ini, Beng San, di mana dia!"

Pemuda itu menjura, tertawa gugup. Tentu saja Beng San harus bersandiwara baik dan pemuda inipun mengangguk. Tanpa perlu berbohong lagi tiba-tiba ia berlutut. Dan ketika kakek itu terkejut dan ganti membelalakkan mata maka pemuda ini tiba-tiba menangis dan tersedu.

"Cinjin, kau tolonglah kami. Siao Yen memang baru saja ke sini akan tetapi kami menghadapi masalah berat. Kami ingin menikah."

"Heh? Apa kau bilang?!"

"Benar, kami saling mencinta. Aku dan Siao Yen sedang bingung, Cinjin, hubungan kami secara diam-diam. Baiklah kuceritakan terus terang dan kaulah harapan terakhir!"

Beng San diangkat bangun dan pemuda ini tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung ke pokok sasaran dan Giok Yang Cinjin melebarkan matanya. Kakek ini mengangkat alis tinggi-tinggi. Akan tetapi ketika tergelak dan meloncat bangun, pemuda itu didorongnya jatuh maka ia bertepuk tangan. Kakek ini berjingkrak dan girang bukan main.

"Horee, ini berita bagus. Dengan begini tak mungkin lagi Li-hujin menolaknya. Ha-ha, kenapa baru sekarang kau ceritakan, Beng San. Aku setuju sekali, sangat setuju. Ah, biar kubicarakan dengan Peng taihiap dan kau tunggu di sini!"

Beng San menjadi tegang. Kakek itu meloncat pergi dan Naga Gurun Gobi tentu saja terkejut. Datang-datang kakek ini berjingkrak. Dan ketika ia langsung nyeplos bicara, betapa dua muda-mudi itu saling mencinta maka tak ayal lagi pendekar ini memanggil murid wanitanya itu.

Siao Yen merah padam, tak mungkin menyangkal. Dan ketika pendekar ini terkesima tak dapat bicara, semua terasa begitu cepat maka Po Kwan dipanggil dan pemuda inipun terkejut oleh berita itu, akan tetapi akhirnya melirik dan mengangguk-angguk. Beng San sudah dilihatnya sebagai pemuda baik-baik dan iapun tak keberatan.

"Jadi kau menyetujui adikmu menikah dengan Beng San? Kau tak menolaknya?"

"Teecu hanya ingin membahagiakan adik, suhu. Karena Beng San sudah tidak seperti dulu lagi tentu saja teecu tak keberatan. Akan tetapi suhu adalah pengganti orang tua. Suhulah yang merestui atau menolaknya."

"Hm, aku orang luar, dalam hal ini orang luar. Kau adalah pengganti ayah ibumu, Po Kwan, kau orang tua bagi adikmu Siao Yen. Kalau kau setuju akupun merestui."

"Tapi bagaimana subo!"

Siao Yen tiba-tiba berseru, menggigil dan terisak, jelas tak dapat menyembunyikan ketegangan.

"Subomu tak dapat berbuat apa-apa, Siao Yen, kau adalah yang paling berkepentingan. Kalau kalian sudah saling mencinta dan Beng San benar baik-baik tentu siapapun tak dapat menghalangi."

"Kalau begitu terima kasih!" gadis ini menjatuhkan diri berlutut, menangis lalu melompat pergi. Giok Yang tertawa. "Terima kasih, suhu. Teecu tak dapat melupakan semua budi baikmu ini!"

Gobi gempar. Tiba-tiba saja berita ini menyebar cepat dan Li-hujin tentu saja tak dapat berbuat apa-apa. Nyonya itu tertegun dan terhenyak. Kalau sudah begini tentu saja ia tak dapat menghalangi. Itu hak asasi anak-anak muda, siapapun harus minggir.

Maka ketika nyonya itu terguncang sejenak namun tak dapat berbuat apa-apa, Beng San tentu saja segera bebas maka secepat kilat diadakan rapat keluarga bahwa perkawinan dilakukan secepat mungkin. Ini untuk menuntaskan masalah Beng San yang kini hendak menjadi menantu Naga Gurun Gobi. Undangan pernikahanpun segera dikirim, membuat tokoh-tokoh persilatan terhenyak akan tetapi turut gembira. Mereka melihat bahwa Beng San memang sudah menjadi pemuda baik-baik!

Akan tetapi sumber celaka muncul. Beng San yang begitu gembira dan tak dapat menahan nafsunya akhirnya menjebloskan Siao Yen dalam aib hina. Dengan kekuatan dan kelebihannya pemuda ini menyihir gadis itu, suatu malam Siao Yen menyerahkan kehormatannya. Dan ketika gadis itu tersedu-sedu dan menyesal bukan main, Beng San cepat membujuk maka pemuda itu berkata bahwa semua ini adalah tanda cintanya.

"Kita sebentar lagi menikah, bulan depan sudah menikah. Besok atau sekarang sama saja, moi-moi, yang penting aku bertanggung jawab dan mencintaimu. Maafkanlah!"

Siao Yen reda. Mula-mula ia merasa marah dan malu serta sakit hati. Baginya kesucian adalah segala-galanya. Akan tetapi ketika ia dipeluk dan dibelai lagi, bisikan dan kata-kata lembut meninabobokkannya lagi maka gadis ini terbuai dan hal itu tak aneh bagi Beng San yang sudah berpengalaman ini. Pemuda itu cukup tahu kelemahan wanita setelah diajari Siauw Lam. Beng San sungguh bukan bocah ingusan!

Tiba-tiba pintu diketuk. Seorang pelayan manis muncul dan Siao Yen sampai kaget. Mereka terlalu gegabah di kamar itu, berdua! Akan tetapi ketika Lu-lu muncul membawakan minuman, tentu saja juga tertegun dan terkejut melihat Beng San di kamar gadis ini maka gadis itu cepat pergi dan tersipu-sipu, saking gugupnya sampai ujung kainnya robek terkait pegangan pintu, memperlihatkan sebagian pahanya yang tersingkap. Paha seorang gadis mulus berusia limabelasan tahun!

"Ihh!" Yang terguncang dan tergetar tentu Beng San. Harap diketahui bahwa pemuda ini adalah harimau berbahaya. Berahinya terhadap wanita mudah bangkit, apalagi gadis-gadis muda seperti Lu-lu lahap akan barang baru dan sejak itu pemuda ini gelisah. Paha gadis itu selalu terbayang-bayang!

Maka ketika hari itu dan selanjutnya ia tak dapat melupakan ini timbulah watak iblis yang sebenarnya terpendam maka Beng San mencari tahu tentang siapa dan di mana gadis ini tinggal. Ternyata gadis itu adalah pelayan pribadi Li-hujin. Sejak Siao Yen menjalin cinta dengan Beng San maka nyonya ini tentu saja tak enak mempergunakan gadis itu sebagai pelayannya.

Biarpun ia adalah subonya akan tetapi gadis ini sebentar lagi berumah tangga. Siao Yen akan bebas dan karena itu ia mencari pengganti, didapatlah Lu-lu dan disuruhnya gadis remaja ini melayani Siao Yen pula. Keluarga Gurun Gobi memang tahu menghargai orang, meskipun terhadap murid sendiri. Maka ketika hari itu gadis ini mengetuk pintu kamar, Siao Yen terbuai dan mabok cinta maka masing- masing sama terkejut dan saking gugupnya ujung kain gadis ini tercantol pintu, menyingkap paha!

Siao Yen sebagai gadis hijau sama sekali tak tahu buruknya laki-laki, terutama seperti Beng San. Ia tak bakalan menduga bahwa sudah diberi satu minta dua, diberi hati minta jantung. Maka ketika ia melupakan itu dan tentu saja cepat memberi tahu agar Lu-lu tak menceritakan kepada siapapun, betapa Beng San berada di kamarnya adalah gadis itu yang sejak saat itu juga terguncang dan tergetar oleh pandang mata Beng San. Pandang mata yang penuh mujijat dan membuat bulu tubuhnya meremang entah oleh apa!

Dan gadis ini semakin terkejut lagi ketika tahu-tahu di suatu senja pemuda itu muncul. Beng San menepuk lembut pundaknya dan tiba-tiba ia seakan lumpuh. Pandang mata itu menyihirnya lagi. Pandang mata mujijat. Dan ketika ia ah-uh-ah-uh tak dapat melepaskan diri, menggigil tahu-tahu ia telah dipondong dan masuk ke gerumbul semak belukar!

lblis telah menguasai pemuda ini. Dengan kepandaiannya yang tinggi dan tenaga batin yang kuat maka mudah saja bagi Beng San menguasai gadis ini. la sudah tak tahan dan terbakar berhari-hari. Bayangan gadis itu tak kuasa lagi dikendalikan. Maka ketika senja itu ia mencegat gadis ini dan sebelumnya telah merapal mantra-mantra, gurunya pernah memberikan itu maka gadis pelayan ini jatuh ke tangannya dan Beng San menerkam buas.

Celakanya seorang murid Gobi muncul. la adalah Siauw-ceng Hwesio yang ingin buang air besar, masuk ke gerumbul dan tentu saja terkejut. Dilihatnya Beng San bergumul. Maka ketika ia berteriak dan teriakannya mengejutkan seorang penjaga, tentu saja juga Beng San maka pemuda ini mencelos dan tiba-tiba ia mencelat dan tanpa banyak ampun lagi menghantam kepal hwesio itu.

"Prakk!" Siauw-ceng Hwesio roboh. la tewas seketika dan Lu-lu pun menjerit. Jeritannya kembali menggugah kesunyian. Beng San telanjang bulat. Dan ketika pemuda itu kaget dan semakin terkejut saja, juga panik maka nafsu membunuhnya menggila dan tiba-tiba ia pun melepaskan tamparan akan tetapi bersamaan jtu penjaga dan sebuah bayangan berkelebat. Giok Yang Cinjin dan seorang murid Gobi.

"Prakk!" Gadis itupun roboh dan Beng San menyambar pakaiannya. Tiba-tiba ia menyesal bukan main akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Dua orang in berseru tertahan. Dan ketika Giok Yang tertegun akan tetapi pemuda itu sudah menyambar, Beng San menjadi mahluk yang buas sekali maka tosu ini membanting tubuh bergulingan akan tetapi murid Gobi kalah cepat dan memang kalah tinggi dibanding Beng San.

"Dess!" Senja menjadi berdarah. Giok Yang Cinjin bergulingan meloncat bangun dan kakek ini mencabut pedang. seakan tak percaya akan apa yang dilihat. Tiga nyawa roboh berturut-turut, satu di antaranya pelayan Li-hujin dan gadis itupun tewas dengan tubuh telanjang bulat. Apa yang terjadi segera dimaklumi kakek ini. Beng San melakukan perbuatan biadab. Ia memekik dan menusukkan pedangnya, marah segera tosu ini memaki-maki dan bersamaan itu, bayangan-bayangan lain berkelebatan. Beng San pucat sekali.

"Bedebah, terkutuk. Kau manusia iblis yang tak berjantung, Beng San. Kau bocah hina-dina yang tak pantas mendapat kemuliaan. Keparat!"

Beng Sen mandi keringat. la tak banyak cakap lagi dan menangkis serta membentak tosu itu. Sekali pukul pedangpun patah-patah. Hok-te Sin-kangnya dikerahkan. Akan tetapi karena saat itu berkelebat bayangan-bayangan lain dan satu di antaranya adalah Siao Yen, Beng San benar-benar panik maka ia memutar tubuh dan melarikan diri ketika kakek itu terlempar dan terbanting bergulingan. Beng San tentu akan membunuhnya kalau tidak datang Siao Yen dan lain-lain.

"Tutup pintu gerbang! Tutup pintu gerbang! Bocah itu membunuh Lu-lu dan lain-lain. Kejar!"

Kegaduhan terjadi. Siao Yen menjerit dan mendekap mulut tertahan melihat apa yang terjadi. Gadis ini nyaris tak percaya dan membelalakkan matanya melihat tiga mayat itu, terutama Lu-lu yang telanjang bulat dan habis dipermainkan. Akan tetapi melengking dan menjejakkan kakinya kuat-kuat, terbang dan mencelat menyambar pemuda itu maka gadis ini membentak dan kemarahannya tak dapat dibendung lagi. lapun sekaligus sakit hati teringat kesuciannya yang telah diserahkan kepada pemuda itu.

"Beng San, manusia jahanam. Tunggu dan jangan lari!" Ia berkelebat.

Akan tetapi pemuda itu lari dan mempergunakan Lui-thian-to-jitnya (Kilat Menyambar Matahari). Ginkang atau ilmu meringankan tubuh ini memang hebat apalagi setelah Hok-te Sin-kang dikuasai sepenuhnya. Tubuh pemuda itu menyambar dan kemudian sudah berada di atas tembok yang tinggi. Akan tetapi ketika dari depan menyambar bayangan kuning dan itulah Po Kwan, membentak dan menyerangnya maka pemuda ini terpental masuk dan jatuh kembali ke bawah.

"Biadab dan sungguh tak tahu diri. Apa yang kau lakukan di sini, Beng San. Kau iblis tak berjantung yang tega benar merusak suasana!"

Beng San bingung, lari ke selatan. Ia hendak berlindung di balik kegelapan senja akan tetapi dari mana-mana muncullah orang-orang lainnya, termasuk Naga Gurun Gobi. Dan ketika ia lari ke utara dan barat sampai akhirnya ke belakang gunung, Po Kwan membentak dan masih mengejarnya maka pemuda inipun mendaki bukit keramat di mana dulu mendiang Ji Leng Hwesio bertapa, juga sekaligus tempat hukuman gurunya ketika tertawan.

Pemuda ini panik dan benar-benar kuyup oleh keringat dingin. Namun bayangan putih berkelebat. Boen Siong, yang paling ditakuti tiba-tiba mencegat. Beng San menjadi gentar namun marah membentak pemuda ini. Tanpa banyak cakap lagi ia menerjang. Akan tetapi ketika Boen Siong menangkis dan ia terpental, berteriaklah pemuda itu maka Beng San melempar tubuh bergulingan untuk kemudian melarikan diri dan mempergunakan Lui-thian-to-jitnya itu.

"Keparat, minggir dan jangan halangi aku!"

Akan tetapi Boen Siong memiliki Bu-eng-sut (Elang Cahaya). Dengan gerakan luar biasa pemuda ini menyambar dan berjungkir balik, lawan menjadi pucat. Dan ketika Beng San menangkis dan kembali terpental, šaat itulah yang lain-lain naik bukit maka pemuda ini putus asa dan tiba-tiba berhamburanlah jarum-jarum beracun dari tangannya. Boen Siong dan orang di bawah mendapat bagian, termasuk Siao Yen!

Namun semua memukul runtuh dan Boen Siong mengebut patah-patah. Kini mereka berada di puncak bukit dan tokoh-tokoh Gobi mengepung di situ. Peng Houw terbelalak dan merah padam melihat pemuda itu, jangan ditanya isterinya yang sudah melengking-lengking dan memaki pemuda itu. Beng San tak mungkin melarikan diri, kecuali terbang bersayap. Dan ketika bayangan hijau menyambar dan Siao Yen menerjang di situ, membentak dan memaki-maki maka gadis ini sudah minta agar yang lain mundur dan dia saja yang menghadapi.

Pertandingan tak dapat dihindarkan lagi dan Beng San mengelak maju mundur. Akan tetapi pemuda ini membalas. Dalam gugup dan paniknya melihat begitu banyak orang tiba-tiba ia terpelanting oleh pukulan Siao Yen. Untunglah sinkangnya yang kuat tak sampai membuatnya roboh, pukulan itu mengenai tengkuknya.

Dan ketika pemuda ini bangkit dan mengelak serta membalas, apa boleh buat sudah basah kepalang kuyup maka selanjutnya Naga Gurun Gobi dan Boen Siong dibuat terbelalak. Siao Yen terpental dan akhirnya sering terbanting.

"la memiliki Hok-te Sin-kang sepenuhnya. Pemuda ini, eh... ia bohong!"

Yang lain terkejut. Tentu saja mereka tak mengerti maksud seruan Naga Gurun Gobi itu akan tetapi Beng San semakin gelisah. Harap diketahui saja bahwa pendekar ini adalah pewaris Hok-te Sin-kang. Hanya pendekar itulah satu-satunya yang murni mendapatkan Hok-te Sin-kang. Mendiang Ji Leng Hwesio mewariskan dan menyerahkan langsung tenaga sakti itu.

Maka ketika pendekar ini terbelalak dan sebentar kemudian berkejap-kejap, keanehan dan keganjilan itu segera ditangkap tiba-tiba pendekar ini sadar bahwa semua orang dibohongi. Pemuda itu telah mendapatkan Hok-te Sin-kang sepenuhnya padahal dulu hanya separoh. Kini otaknya yang cerdas bekerja.

Dan karena jelek-jelek pendekar ini adalah orang yang sudah kenyang asam garam kehidupan, juga licik curang orang-orang sesat maka pendekar itu berubah dan segera ia maklum bahwa pemuda itu bohong. Kematian Chi Koan bukan sekedar dibunuh tanpa sengaja melainkan benar-benar sudah dipersiapkan dan pemuda itu menyedot sinkang gurunya!

Gegerlah orang-orang lain ketika diberi tahu ini. Sekejap saja hancurlah simpati orang banyak terhadap Beng San. Pemuda itu kiranya iblis. Dan ketika Beng San tiba-tiba tertawa bergelak dan tak perlu bersembunyi lagi, ia berhadapan dengan orang yang tahu segala-galanya tiba-tiba pemuda itu mendorongkan lengan, pendekar ini telah menyerahkan Hok-te sin-kang kepada Siao Yen kakak beradik dan hanya merupakan singa ompong saja.

"Ha-ha, tak perlu kusangkal. Kau cerdas, Naga Gurun Gobi, semuanya betul. Akan tetapi kalian tak dapat membunuhku dan mampuslah!"

Po Kwan terkejut. Saat itu adiknya terlempar dan terguling-guling dan tiba-tiba pemuda ini menghantam gurunya. Ia membentak dan menangkis akan tetapi saat itu Boen Siong juga melindungi ayahnya. Dua potongan menghimpit Beng San. Dan ketika pemuda itu terpental namun Naga Gurun Gobi terlempar dan roboh, masih juga keserempet pukulan maka Po Kwan tak dapat menahan marahnya dan menerjang pemuda ini. Boen Siong menolong ayahnya.

"Terkutuk, sungguh biadab. Kau kiranya tak pernah melepaskan keinginanmu untuk mendapatkan Hok-te Sin-kang, Beng San, akan tetapi caramu sungguh keji!"

"Ha-ha, tak perlu banyak mulut. Robohlah!" Beng San melepas lagi pukulannya akan tetapi kini disertai jarum-jarum beracun. Ia menghamburkan dan melepas itu termasuk ke tokoh-tokoh lain, ketua Gobi dan juga Giok Yang serta Kim Cu Cin jin.

Namun ketika orang-orang itu mundur dan ia gagal, Po Kwan menerjang lagi maka Siao Yen meloncat bangun dan menyerang sengit. Gadis ini marah dan benci sekali. Kini pemuda itu dikeroyok. Kakak beradik ini tak mengeluarkan lagi ilmu-ilmu Gobi melainkan Hok-te Sin-kang juga. Thai-san-ap-ting maupun lain-lain tak akan mempan menghadapi pemuda ini. Beng San kelewat tangguh. Maka ketika kakak beradik itu menggabung tenaga mereka dan Hok-te Sin-kang bertemu Hok-te Sin-kang maka bukit tergetar dan beberapa batu gunung berguguran. Bintang mulai berkedip-kedip sementara bulan tampak sayu. Sedih!

Kini pimpinan Gobi membuat obor. Ratusan murid mengepung pula namun mereka terpelanting dan terjungkal. Ji-hwesio menyuruh mundur, benturan terlampau hebat. Dan ketika akhirnya hanya para pimpinan dan mereka yang berkepandaian tinggi saja berada di puncak, bulan bersembunyi di balik awan hitam maka angkasa membisu sedih menyaksikan kejadian di atas bumi. Dua pihak bertanding hebat.

Siao Yen dan Po Kwan berkali-kali menangkis pukulan pemuda itu dan akhirnya berhasil. Hanya berkat semangat dan kegigihan luar biasa Beng San mampu mempertahankan diri. Po Kwan terutama Siao Yen begitu hebat menerjang. Gadis ini betul-betul sakit hati dlan marah sekali. la merasa tertipu lahir batin. Dan ketika menjelang tengah malam pemuda ini mulai terdesak, tekanan mental dan grogi menggerogoti batinnya maka tak terasa lagi mereka di balik gunung dan sebuah jurang menganga siap menerima siapa saja yang roboh.

Akan tetapi Beng San benar-benar mengagumkan, Ia memiliki Lui-thian-to-jit yang membuatnya terbang menyambar-nyambar itu. Dia hanya kalah oleh kemurnian Hok-te Sin-kang akan tetapi menang ginkang. kakak beradik ini tak memiliki. Maka ketika pertandingan berjalan seru dan juga alot, masing-masing hendak merobohkan yang lain akhirnya daya tahan dan hawa murnilah yang pegang peranan. Beng San terlalu banyak menghamburkan nafsu birahinya tidak seperti kakak beradik itu.

Pemuda ini sebenarnya sudah terlalu "kotor" dan tak lagi sehat. Hawa murninya jelas kalah dibanding kakak beradik itu. Dan karena sinkangnya juga kalah bersih dibanding Siao Yen maupun Po Kwan, kakak beradik ini mendapatkannya dari guru mereka sementara Naga Gurun Gobi mendapatkannya dari dedengkot Go-bi, Ji Leng Hwesio seorang pertapa maka di sinilah pemuda itu mengakui bahwa tenaga dan hawa murninya kalah kuat. la hanya memiliki kelebihan Lui-thian-to-jit akan tetapi lama-lama terkuras juga, napasnya memburu.

Ayam jantan mulai berkokok. Pertandingan itu mendekati titik akhir setelah pemuda ini terhuyung-huyung. Dua kali Beng San terpelanting. Dan ketika pemuda itu gemetar dan pucat pasi, jarum dan senjata rahasia habis dihambur-hamburkan akhirnya meluncurlah dorongan Po Kwan disusul Siao Yen.

"Dess!" Enam telapak beradu. Tiga orang muda itu berkutat dan saling dorong-mendorong. Beng San bertahan akan tetapi tak kuat, doyong dan menekuk kedua sikunya akan tetapi kakak beradik ini menekan. Yang paling mengerikan adalah pandang mata Siao Yen, gadis ini seakan hangus dan berapi-api, membakar dan melahap wajah Beng San bagai dewi maut tak kenal ampun. Gadis itu mendesis, mendorong dan terus menekan akan tetapi Beng San bertahan.

Pemuda ini berseru keras dan menambah tenaganya akan tetapi tiba-tiba Po Kwan menggencet. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan tertekuk lututnya, uap putih mengepul maka Siao Yen berseru mengimbangi dan.. bless! tertanamlah kaki pemuda itu setinggi pergelangan. Beng San mengeluh dan pucat gemetar akan tetapi pemuda ini bertahan.

Gadis itu tak kenal ampun dan menambah lagi, hampir berbareng menekan bersama kakaknya. Dan ketika kaki itu semakin amblas dan terdesak, hampir mencapai lutut tiba-tiba gadis itu melengking dan tanpa diduga-duga mengibaskan rambutnya melontar tusuk sanggul yang menghias kepala.

"Crep!" Beng San menjerit dan berteriak ngeri. Tanpa ampun lagi tusuk rambut itu menancap di dada kirinya, roboh dan terjengkang. Dan ketika semua terkejut menahan napas, Siao Yen melengking sekali lagi maka kakinya mencuat dan... dess! terlemparlah pemuda itu ke bawah jurang. Tak ada teriakan mengiringi tragedi ini.

Beng San roboh dan terjengkang ditusuk senjata tajam, mencelat dan kini jatuh ke dalam jurang, melayang-layang dan akhirnya lenyap di bawah sana. Terdengar suara berdebuk, lalu hening. Dan ketika semua tertegun dan menahan napas, kejadian itu amatlah mencekam maka Siao Yen terisak dan tiba-tiba menangis pergi, lari turun bukit.

"Yen-moi!"

"Suci!"

Akan tetapi gadis itu meluncur cepat. Ia tak menghiraukan panggilan kakaknya dan Boen Siong, dan otomatis sang kakak berkelebat. Boen Siong tertegun dan hendak meloncat namun sang ibu mencengkeram lengannya, sang ayah juga menahan dengan isyarat mata. Dan ketika ia sadar bahwa sang suheng lebih berhak, tentulah sang kakak hendak menghibur adiknya maka ketua Gobi dan lain-lain merangkapkan tangan di pinggir jurang itu. Giok Yang gemetaran seluruh tubuhnya dan Kim Cu Cinjin menyentuh pundaknya lembut.

"Omitohud, berakhir sudah kisah seorang anak manusia. Sungguh mengejutkan dan mengherankan benar, Cinjin. Pinceng betul-betul tak mengerti sepak terjang anak itu dan ia menghancurkan nasibnya sendiri!"

"Siancai, pintopun tak menduga dan tak menyangkanya sama sekali. Watak manusia sungguh aneh, Ji-lo-suhu. Pinto benar-benar ngeri!"

"Dan aku yang paling tolol. Aku memelihara seekor srigala ganas yang kukira anjing jinak!"

"Hm, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Ada kejadian tentu terkandung pelajaran, Cinjin. Kalau tidak salah justeru kaulah kuncinya. Pinceng menemukan ini dan barangkali jatuh dari saku bajumu."

"Siancai!" tosu itu terkejut. Benar sekali, lo-suhu. Dan ini, ah...tiba-tiba semua terkejut.

Di kala kabut terusik pagi dan matahari yang kemerahan muncul di ufuk timur mendadak terdengar suara yang-khim (kecapi). Tali senarnya berdenting-denting dan mendadak segumpal kabut putih melayang di udara. Tadinya disangka kabut biasa akan tetapi justeru dari balik kabut inilah yang-khim itu terdengar. Dan ketika kabut ini berjalan dan terus menuruni bukit, atau tepatnya menuju ke jurang itu maka Kim Cu Cinjin berseru kaget dan menjatuhkan diri berlutut.

"Sian-su (kakek dewa)!"

Semua tersentak. Di pagi yang dingin dan masih bersuasana mencekam itu tiba-tiba munculah Bu-beng Sian-su. Kakek ini tertawa dan suaranya begitu halus, lembut sekali. Lalu ketika semua berlutut dan menjatuhkan diri, Naga Gurun Gobi juga terkejut berseru girang maka kakek itu berhenti dan kabut yang membungkus tubuhnya bergerak-gerak. Ratusan anak murid tercekam dan kaget. Kakek itu berdiri di atas jurang, di tengah-tengah, tepat di dalam.

"Selamat pagi, kuharap kalian semua tak berada dalam ketegangan lagi. Apa niatmu memanggilku, Cinjin, adakah yang perlu kubantu."

Akan tetapi Giok Yang Cinjin meloncat. Kakek inilah yang justeru menjawab dan ia mendahului Kim Cu. Kakek yang gemetar dan pucat merah berganti-ganti ini begitu gugup. la seakan orang bersalah, atau berdosa. Karena ketika ia menggigil dan berlutut di tepi jurang itu, kakek dewa ini melayang-layang di tengah maka tosu ini berkata,

"Ampun, aku gagal. Aku... aku tak tahu jawabannya, Sian-su. Aku tak berhasil"

"Hm, tak tahu atau tak memperdulikannya. Kau tak perlu bohong, Cinjin, bohong hanya mengotori batin."

"Maaf, aku... , eh, betul. Aku tak memperdulikannya, Sian-su. Syairmu sulit. Lagi pula aku sibuk oleh urusanku. Ampun dan maafkanlah aku dan katakanlah apa yang harus kulakukan!"

"Berikanlah kepada Sam-hwesio. Dialah yang agaknya dapat mengerti, Cinjin, aku pergi dulu dan malam nanti kita bertemu lagi. Selamat tinggal!" kakek itu berseru dan tiba-tiba ia melambaikan tangan dengan tawanya yang halus.

Giok Yang memanggil akan tetapi Bu-beng Sian-su meneruskan langkahnya. Kakek ini menyeberangi jurang, enak saja melayang-layang bagai tak berlubang. Padahal jurang menganga di bawah! Dan ketika tosu itu sia-sia memanggil sementara yang-khim berdenting-denting lagi, lembut dan menyejukkan bagai embun pagi yang segar maka Kim Cu Cinjin bangun dan membungkuk berulang-ulang ke arah kakek itu pergi.

Ketua Gobi dan lain-lain juga melakukan hal yang sama. Hanya Boen Siong yang terbelalak dan tertegun di situ, bengong betapa kakek itu melangkah ringan di atas jurang, melayang-layang. Padahal Boan-eng-sut yang dimiliki tak mungkin dapat seperti itu! Maka ketika pemuda ini terkejut dan kagum bukan main, saat itu murid-murid Gobi juga berdiri dan terbengong-bengong maka Kim Cu Cinjin tiba-tiba memandang Sam-hwesio dan yang dipandang tersenyum.

Dua pasang mata beradu dan seribu pertanyaan dijawab, hwesio ini mengangguk. Lalu ketika tosu itu membelalakkan mata namun berkelebat ke bawah, Sam-hwesio mendahului yang lain maka Giok Yang ditanya akan tetapi kakek ini menyusul dan berkelebat pula.

Kini bergeraklah yang lain-lain. Naga Gurun Gobi memandang ji-susioknya akan tetapi pimpinan Gobi ini mengangguk. Tanpa banyak cakap pula hwesio itu berkelebat ke bawah. Dan ketika semua bergerak dan para murid diperintahkan bubar, lupalah mereka kepada Siao Yen dan kakaknya maka pesanggrahan di ruang dalam menjadi penuh.

Sam-hwesio dan Giok Yang Cinjin berada di situ, mereka telah duduk bersila. Sebuah syair di tangan. Dan ketika semua hening dan terpaku kepada kertas di tangan Giok Yang Cinjin, itulah benda yang tadi terjatuh dan diberikan Sam-hwesio maka semua kening berkerut akan tetapi tak satupun dapat menjawab!

* * * * * * * *

Malam itu dingin menggigit tulang. Tujuh orang di ruangan ini tetap tak bergeming dan tak bergerak. Mereka adalah Naga Gurun Gobi dan anak isterinya serta dua pimpinan Gobi, Ji-hwesio dan Sam-hwesio. Di sebelah kakek ini, di kiri kanan duduk Giok Yang Cinjin dan Kim Cu Cinjin. Semua bekerja keras memeras otak. Syair di tangan Giok Yang berpindah-pindah, syair dari Bu-beng Sian-su. Dan ketika akhirnya kembali ke pemiliknya dan kakek itu membisu bingung, siapapun tak dapat menolongnya maka dingin menusuk tulang dan dentang lonceng menunjukkan jam dua belas malam.

Tiba-tiba terdengar denting halus itu, dua belas kali. Tadinya semua orang gagah ini mengira denting lonceng akan tetapi tiba-tiba terkejut. Lonceng sudah berhenti. Itu auara lain! Dan ketika mereka menengok dan masuklah apa yang ditunggu, denting yang-khim menyadarkan mereka maka Bu-beng Sian-su, kakek itu melayang-layang memasuki ruang Bak seorang siluman atau roh halus yang sedang gentayangan!

"Sian-su!" semua memberi hormat, sadar akan kehadiran kakek dan denting lenyap dan sebagai gantinya terdengarlah tawa lembut itu.

Murid yang tak tahu tentu bakal lintang-pukang, mengira hantu. Akan tetapi karena orang-orang gagah ini mengenal dan Kim Cu Cinjin lagi-lagi mendahului, dialah tokoh tertua di antara semua orang maka kakek ini tahu-tahu sudah berada di tengah dan bersila dengan sikap masih melayang-layang. Boen Siong jerih dan gentar!

"Heh-heh, maafkan aku. Sengaja kutunggu tengah malam ini, cuwi-enghiong. Tentunya kalian lebih dari cukup mendapat kesempatan."

"Kami bodoh," Giok Yang Cinjin tiba-tiba mengeluh, menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dewa ini. "Kesempatan memang cukup, Sisn-su, akan tetapi kami terutama pinto (aku) tetap bodoh juga. Berilah kami petunjuk!"

"Hm, kalian tak menemukan juga inti syair itu?"

"Tidak, Sian-su, otak kami buntu!"

Kakek itu tertawa lembut sekali. Tawanya demikian menyejukkan bagai angin segar di tempet yang gerah. Orang-orang ini memang merasa gerah setelah memeras otak. Bahkan Giok Yang Cinjin berbasah keringat. Akan tetapi ketika kakek ini menghentikan tawanya dan mengangguk-angguk, Boen Siong mencoba menerobos halimun di wajah kakek ini tiba-tiba sepasang mata mencorong balik memandangnya. Bagai lampu sorot yang membuat pemuda itu kaget, terkesiap.

"Kau," jantung pemuda ini serasa dihentak. "Bagaimana dengan kau, anak muda. Tidakkah kau mengerti isinya atau sama sekali tak mau mempelajarinya?"

"Maaf...!" Boen Siong mengerahkan sinkang akan tetapi gagal, gemetaran panas dingin. "Aku tak tahu dan tak mengerti jawabannya, Sian-su. Aku telah mempelajarinya akan tetapi otakku begitu bebal."

"Dan kau?" kakek ini tersenyum, memandang Naga Gurun Gobi. "Apakah juga tak mampu mencari jawabannya? Kau juga bebal?"

Semua tertawa. Tiba-tiba suasana yang begitu serius pecah sejenak, kakek ini lucu juga. Akan tetapi pendekar itu menggeleng dan Boen Siong lega tak bertemu sorot pandang, ia sungguh bergidik dan gentar sekali maka Naga Gurun Gobi ini berkata dan mengakui kelemahan diri sendiri.

"Sama seperti puteraku, akupun bodoh dan tak sanggup menembusnya. Barangkali memang bebal, Sian-su, kami ayah dan anak sama-sama bebal!"

Kakek itu tertawa lagi, geli. Semua juga geli akan tetapi ketika Li-hujin dituding dan berjengit kaget maka kakek ini bertanya lagi. Suaranya sungguh-sungguh dan lenyap tawanya tadi. Dan ketika sang nyonya berkeringat dingin sementara kakek itu tidak main-main lagi maka kakek ini berseru dan gema suaranya mulai memenuhi ruangan. Ada semacem pengaruh mujijat yang tiba-tiba membuat semua orangg tak tertawa lagi.

"Coba kau dan katakan apa yang kau ketahui. Kau tentunya telah membaca dan menyibak isi syair, hujin. Katakanlah dan jangan bilang tidak tahu!"

"Ampun...!" Sang nyonya berlutut, menggigil. Aku... aku juga bebal, Sian-Su. Aku tak tahu seperti juga suami dan anakku. Kami bingung!"

"Hm, kalau begitu bacalah syair itu, biar kudengar!"

"Aku takut...!"

"Ah, tak ada harimau di sini, kita semua teman. Bacalah dan biar yang lain mengikuti!"

Sang nyonya gemetaran, melirik dan minta agar suaminya saja akan tetapi Naga Gurun Gobi menggeleng. Pendekar ini tersenyum dan memberanikan isterinya dengan pandangan mata. Li-hujin takut jangan-jangan syair itu memukul dirinya lagi, seperti dulu. Akan tetapi ketika kakek ini tertawa dan berkata bahwa syair itu berkitan dengan Beng San, orang lain maka nyonya ini lega dan tanpa banyak cakap iapun membaca berseru nyaring. Syair itu telah di tangannya diberikan oleh Giok Yang Cinjin:

Buih dan gelobang bergolak mendidih
riak kecipak kuhantam menepi
garang menerjang tak kurasa pedih
badai dan kilat kuanggap sepi!

Gempur kulebur jagad seisi
tamak menghentak membakar hati
lupa segala ku tak ingat lagi
taufan menghempas sadarkan diri!


"Heh-heh-heh-heh!" kakek itu terkekeh, mengangguk-angguk. "Benar sekali, hujin, dan sekarang siapa yang dapat menjawab setelah kuberi tahu bahwa itu berhubungan dengan Beng San. Kunci jawaban sudah kudekatkan!"

"Pinceng kira berhubungan dengan nafsu, ketamakan Ji-hwesio tiba-tiba berseru dan yang lain tiba-tiba mengangguk, keberanian mulai muncul. "Anak muda itu tamak dan bagaikan buih yang mendidih, Pinceng kira inilah jawabannyn dan itulah yang kau maksud."

"Betul, pinto juga mengira begitu. Bait kedua sudah kau sebutkan. Sian-su Pinto mendukung Ji-Lo-suhu!" Giok Yang menyambung dan tiba-tiba kini begitu bersemangat.

"Baik, dan yang lain-lain." Kakek ini tersenyum-senyum, tak membetulkan atau menolak dan tentu saja ketua Gobi dan tosu itu tertegun. Ada kesan jawaban mereka tak benar, paling tidak bahwa tak tepat sasaranya. Maka terbelalak dan diam seketika, lucu dua orang ini maka Naga Gurun Gobi menghela nepas dan berkata, sikapnya arif dan bijak.

"Sian-su, wejanganmu terkenal sukar dan tak mudah ditebak. Kalau hanya begitu saja jawabannya pasti tak akan sulit. Aku tak berani menjawabnya, akan tetapi sudah kutangkap bahwa persolan ini bersumber pada watak."

"Ha-ha..!" kakek itu tiba-tiba tergelak. "Kau betul, Naga Gurun Gobi, lanjutkanlah."

"Aku masih bodoh, belum menangkap yang lain."

"Kalau begitu kau!" kakek ini menunjuk Kim Cu, keadaan tiba-tiba menegang. "Coba kau dan apa kelanjutannya, Cinjin. Katakan dan apa yang kau lihat di sini!"

"Aku seperti Peng Houw, tak berani gegabah. Biarlah kau tuntun kami dulu, Sian-Su. Pinto sebagai pendengar saja."

"Ha-ha, kalau begitu kau, atau kau! Jawab dan coba lanjutkan kata-kata suamimu Peng-hujin. Tentu kalian sudah mendekati dan tinggal menyambung!"

Boen Siong dan ibunya terkejut. Mereka ditunjuk sementara diri belumlah siap. Paling baik adalah seperti Kim Cu Cinjin, pendengar! Maka menggigil dan berseru seperti kakek itu, Bu-beng Sian-su tergelak gembira akhirnya Sam-hwesio ditunjuk dan wakil ketua Gobi ini rupanya lebih siap.

"Jawabanku barangkali salah, akan tetapi mungkin juga benar. Kalau salah maafkan pinceng, Sian-su. Pinceng melihat bahwa Beng San tak tahu diri. Maksud pinceng... wutt!" kakek itu tiba-tiba terkekeh, lenyap dan denting yang-khimnya terdengar lagi.

"Kau telah menuju pokok jawaban, lo-suhu. Aku tak perlu di sini lagi, heh-heh..!"

Semua terkejut dan meloncat bangun dan tiba-tiba kakek itu tak tampak bayangan tubuhnya lagi. Yang-khim berdenting-denting sampai akhirnya sayup-sayup sampai, lenyap meninggalkan keheningan dan rasa kaget yang begitu cepat. Jawaban Sam-hwesio malah membuat kakek itu pergi. Luar biasa!

Akan tetapi ketika semua penasaran dan kini memandang wakil pimpinan Gobi itu, memang hwesio inilah yang paling bijak dan waspada dibanding yang lain maka kakek itu menarik napas dalam dan tiba-tiba duduk kembali, tasbeh dikeluarkan dan dikebut- kebutkannya tiga kali.

"Omitohud, pinceng malah membuat kejutan. Tahu begini tak usah cepat-cepat, suheng. Kakek itu malah pergi. Pinceng menjadi berat."

"Hm, katakan dan jelaskan lebih lanjut. Aku jadi penasaran, lo-suhu, masa untuk begitu saja kakek itu mewejangi kita. Masa begini singkat!"

Giok Yang Cinjin menjadi penasaran dan kakek ini barangkali gemas. Yang dijadikan pokok bahasan adalah Beng San, pemuda yang dulu dicinta dan disayangnya itu. Maka tak puas dan melotot melampiaskan penasaran, memang kakek inilah yang rupanya paling berkepentingan maka hwesio itu mengangguk-angguk dan mau mengerti.

"Pinceng rupanya harus menggantikan kakek itu. Maaf kalau uraian pinceng keliru, Cinjin, jika begitu tentu Sian-su harus kita panggil lagi."

"Katakanlah, aku penasaran!"

"Inti syair itu memang ke situ, watak tak tahu diri. Bahwa Beng San, seperti gurunya Chi Koan memiliki watak buruk. Mereka didorong oleh nafsu-nafsu lain hingga berakibat fatal dan merugikan diri sendiri."

"Dan hanya untuk mengupas anak ini kakek itu memberikan syairnya? Hanya untuk seorang Beng San ia membuat kepalaku pening dan berdenyut-denyut?"

"Salah, inilah pengetahuan berharga yang penting untuk kita. Beng San hanya contoh kecil, Cinjin. Pemuda itu hanya satu di antara yang lain-lain!"

"Maksudmu?"

"Sian-su memberikan contoh yang jelas dan kebetulan di depan mata akan tetapi sesungguhnya banyak Beng San, Beng San yang lain. Maksudku...!"

"Cukup, aku mengerti. Ha-ha, sekarang aku mengerti. Ah, kiranya ke situ kakek itu hendak mengatakan, Lo-suhu. Bahwa dunia ini penuh orang-orang tak tahu diri dan temaha (tamak). Aku sekarang terbuka, dan ini memang betul. Aduh, dunia sudah terisi orang-orang jahat alias manusia-manusia tak tahu diri dan itu memang tepat sekali. Semua orang memang tak tahu diri, ha-ha!"

"Salah, bukan itu. Tidak semua yang dimaksudkannya, Cinjin, hanya sebagian besar!"

"Sebagian besar?"

"Ya, sebagian besar. Karena di antara semua manusia masih ada yang tahu diri, yang bijak. Akan tetapi yang seperti ini tidaklah banyak dan satu di antaranya adalah sahabat kita Kim Cu Totiang!"

Semua terkejut, termasuk bekas ketua Kun-lun itu. Kim Cu Cinjin mengerutkan kening akan tetapi Sam-hwesio mengangguk-angguk. Hwesio ini malah bangkit dan menjura di depan kakek itu. Dan ketika Kim Cu Cinjin tertegun akan tetapi menghela napas, cepat bangkit dan membalas hwesio itu maka tosu ini berkaca-kaca. Kisah masa lalunya dibongkar.

"Sahabat kita Kim Cu Totiang adalah satu di antara orang-orang yang tahu diri ini. Dialah contoh dan teladan kita, Giok Yang Cinjin. Lihatlah betapa ia melepaskan jabatan semata urusan pribadinya yang mencoreng nama partai. Inilah orang gagah yang betul-betul patut kita acungi jempol dan lihat betapa dengan ringan ia melepaskan kedudukannya di Kun lun!"

"Siancai...!" Giok Yang meloncat dan menjura di depan rekannya itu. "Aku salah bicara, Kim Cu Cinjin. Aku lancang menyamaratakan semua orang sebagai tak tahu diri. Sam-lo-suhu benar, kau pengecualian di sini. Akan tetapi berapa banyak orang-orang sepertimu ini karena sebagian besar dari kita memang manusia-manusia tak tahu diri. Ha-ha, maafkan pinto, Cinjin... maafkan!"

Kim Cu Cinjin membungkuk dan menbalas penghormatan itu. Tiba-tiba saja ia menjadi kikuk dan tak enak dirinya dipuji-puji. Entah bagaimana tiba-tiba ia menjadi lawannya Beng San. Maka tertawa dan pura-pura menguap, ingin tidur maka kakek inipun berkelebat dan tiba-tiba menghilang.

"Siancai pinto tak mengerti apa yang kalian bicarakan ini. Aneh bahwa tiba-tiba pinto diberi penghormatan, Cinjin, ini semua gara-gara Sam-lo-suhu. Ah, pinto mengantuk dan biar tidur dulu. Bu-beng Sian-su telah pergi!"

Ji-lo-suhu dan Li Ceng mengangguk-angguk. Mereka dibuat terharu dan kagum akan sikap bekas ketua Kun-lu ini dan memuji seratus persen. Siapa tak tahu kisah memalukan kakek itu di masa mudanya. Siapa tak tahu betapa Kim Cu Cinjin dikejar-kejar dan akhirnya dituntut para wanita yang dulu menjadi kekasihnya.

Dan karena seorang tosu (pendeta) tak mungkin menikah, apalagi yang sudah berkedudukan tinggi sebagai seorang ketua Kun-lun-pai yang amat terkenal maka kakek ini mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan kepada orang lain. Sikap tahu diri yang patut dipuji!

Giok Yang Cinjin tertawa-tawa. Tiba-tiba ia "mendusin" apa yang dimaksudkan kakek dewa itu. Beng San dan "Beng San, Beng San" lain banyak terdapat di bumi ini, entah murid atau orang dekat. Entah keluarga atau orang luar. Dan karena kenyataan itu segera dilihatnya dan memang banyak, kakek ini terkekeh-kekeh akhirnya iapun berkelebat pergi dan malam itu juga langsung meninggalkan Gobi.

"Pinto kenyang, teramat kenyang. Keterangan Sam-lo-suhu benar-benar bagus dan menyadarkan pinto. Ha-ha, kulihat sekarang orang-orang di sekitarku ini, Sam Lo-suhu, begitu juga orang-orang Selatan yang menyerbu dulu itu. Mereka terbawa oleh sikap pongah dan gejolak nafsu yang tolol. Dan pinto bisa jadi termasuk di antara mereka ini. Ha-ha, pinto akan belajar dan terima kasih atas semua wejangan ini, Kakek dewa itu benar!"

Kakek ini lenyap akan tetapi suara tawanya masih meninggalkan ruangan. Giok Yang tiba-tiba tersipu merah dan kakek itu teringat diri sendiri. Siapa di dunia ini yang tak melakukan kesalahan. Akan tetapi segera memperbaiki dan meluruskan kesalahan adalah bijak, tersesatlah orang-orang seperti Beng San maka kakek ini geleng-geleng kepala betapa Beng San adalah contoh yang jelas dan gamblang.

Betapa pemuda itu tak tahu diri dengan mempermainkan Lu-lu, gadis pelayan yang derajatnya rendah, padahal sebentar lagi akan menjadi menantu Naga Gurun Gobi dan telah dibebaskan dari segala hukuman. Dan tertawa akan tetapi juga menangis teringat semuanya itu, betapapun ada rasa tak rela karena dialah yang menemukan dan membawa anak muda itu pertama kali akhirnya kakek ini terisak-isak dan menghilang di luar tembok Gobi.

Boen Siong dan ayah ibunya saling pandang. Kini di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga karena Sam-hwesio dan Ji-hwesio menyusul beristirahat. Malam telah larut. Dan ketika tiba-tiba sang ibu terisak dan menubruk ayahnya, teringatlah Li Ceng betapa ia pun tak tahu diri dengan memusuhi dan menyia-nyiakan suaminya ini, bahkan nyaris mengadu suaminya dengan puteranya sendiri mendadak wanita itu mengguguk dan Boen Siong berkelebat keluar.

Ibunya tersedu dan berulang-ulang minta maaf pada ayahnya, sementara sang ayah memeluk dan minta maaf pula atas segala sikap dan sepak terjang masa lalu. Dan ketika pendekar itu menuntun isterinya memasuki kamar, tumpahlah segala sesal dan rindu mendadak saja cinta kasih tumbuh begitu besar dan suami isteri ini terbuai semalam suntuk.

Mereka tak ingat apa-apa termasuk Siao Yen dan kakaknya yang belum pulang. Mereka juga bangun kesiangan ketika keesokannya Boen Siong menunggu di luar. Dan ketika sang putera tersipu melihat orang tuanya bergandengan tangan, begitu mesra maka laporan ini membuat suami isteri itu tertegun.

"Mereka tak kembali? Kau telah memeriksa kamarnya?"

"Benar, ayah, suheng dan Suci tak kembali. Mereka tak ada di kamarnya dan sedikitpun tak ada berita."

"Kalau begitu tunggu saja, masa tak kembali."

Akan tetapi ketika sehari dan kemudian seminggu bahkan sebulan kakak beradik itu tak tampak batang hidungnya, cemaslah Naga Gurun Gobi ini maka apa boleh buat puteranya diperintahkan mencari. Sudah enam bulan kakak beradik itu menghilang! Coba keluarlah dan cari mereka. Tentu ada sesuatu yang terjadi, Boen Siong, tak mungkin begini saja."

"Atau jangan-jangan merekapun seperti Beng San, tak tahu diri!"

"Hmh, jangan menuduh, niocu, apa maksudmu?"

"Maksudku adalah mereka pergi setelah mendapatkan segalanya di sini Kau telah memberikan Hok-te Sin-kang dan mereka mencari gara-gara!"

"Tak mungkin!" pendekar ini berkata tegas. "Aku kenal baik watak mereka itu, niocu. Siao Yen dan kakaknya tak mempunyai watak seperti itu. Pasti ada apa-apa!" lalu membalik dan menghadapi puteranya pendekar berkata, "Coba kau selidiki sekali lagi dan setelah itu laporkan. Kami tunggu di sini!"

Boen Siong mengangguk, berkelebat lenyap. Sang ibu meneriaki agar tidak terlampau lama. Lebih baik pulang dan pergi lagi daripada menghilang sekalian. Dan ketika pemuda itu mengangguk dan lenyap di luar maka pencarian ini diusahakan akan tetapi dua kakak beradik itu lenyap entah ke mana.

Setahun kemudian lewat dengan cepat dan Boen Siong berulang-ulang melapor. la pergi datang belasan kali. Dan ketika untuk terakhir ayahnya memerintahkan dan sang ibu mulai jengkel, Boen Siong juga was-was maka di belakang bukit di mana jurang maut itu menelan Beng San munculah kepala seseorang dan di bawah sinar bulan dan bintang yang berkedip-kedip tampaklah seraut wajah mengerikan.

Wajah ini muncul begitu saja bagai hantu malam. la merayap dan ngesot susah payah. Mulutnya miring dan sebelah matanya buta. Kaki pengkor dan tanganpun terlipat. Sungguh seorang cacad yang mengharukan. Atau mungkin hantu? Akan tetapi ketika mahluk ini merayap dan akhirnya melompati bibir Jurang roboh dan menggeliat sambil meringis maka kata-katanya terdengar menyedihkan didalam gelap itu. Kata-kata tak jelas sebagaimana biasanya orang peyot dan lumpuh bicara.

“Aku berhasil. Aku... Aku, heh- heh... masih hidup, Gobi, akan tetapi aku cacad. Awas kalian, kubalas dendam sakit hatiku nanti. Beng San akan mengguncang dunia, heh-heh...!"

Orang akan terkejut. Beng San? Benarkah ini Beng San? Bukankah ia telah tewas dan tusuk sanggul itu menancap di dadanya. Dijurang tak mungkin ia selamat di bawah tusukan maut itu. Tusuk sanggul itu menembus jantungnya! Akan tetapi ketika orang ini terkekeh dan terseok-seok, mulutnya bergumam dan jelas menyebut namanya sendiri maka tak mungkin orang salah dengar dan mau tak mau harus percaya. Akan tetapi bagaimana pemuda itu masih hidup? Apakah ia jatuh di tempat Iunak? Inipun tak mungkin, karena suara berdebuk itu sampai terdengar jauh ke atas!

Yang benar ialah memang terjadi sesuatu yang di luar dugaan orang, sesuatu yang lain di tubuh pemuda ini karena Beng San memiliki keistimewaan, yakni jantungnya berada di sebelah kanan bukannya kiri. Sesuatu yang ajaib memang menjadi kelainan pemuda ini dan tentu saja tak ada satupun yang menduga.

Bagi mereka pemuda itu telah tewas. Tusuk sanggul Siao Yen mengenai jantung. Dan karena jurang itupun dalam dan hanya berkat Thian Yang Agung saja manusia dapat selamat, inilah yang tak terjangkau akal pikiran manusia maka pemuda itu masih hidup! Akan tetapi Beng San telah rusak. Kaki tangannya patah-patah dan mulutnyapun perot. Sebelah mata pemuda ini tertusuk dahan dan pecah, buta dan tinggallah sebelah matanya yang lain. la pasti tewas kalau saja tak memiliki daya tahan luar biasa.

Kekuatan tubuhnya mengagumkan. Dan karena jelek-jelek iapun pewaris Hok-te Sin-kang, tenaga sakti inilah yang banyak menolong dan menyelamatkannya maka ia masih hidup meskipun terbanting di bawah jurang. Tusuk sanggul itu salah tancap karena bukan mengenai jantungnya. Akan tetapi pemuda ini menderita hebat. Justeru karena daya tahannya yang luar biasa membuat ia merasakan siksaan itu. la sering merintih dan menangis di dasar jurang.

Makanannya lumut, juga ular-ular yang ditangkap dan masih mudah dirobohkannya. Dan ketika ia mengobati luka-lukanya dengan sisa obat yang ada, untunglah masih di kantung baju maka pemuda ini bertahan akan tetapi jangan tanya penderitaan atau kesakitannya yang luar biasa. Berkali-kali pemuda ini roboh pingsan. Berkali-kali sadar dan bangun lagi.

Dan ketika tetes-tetes embun adalah penawar deheganya di kala tenggorokan kering, jatuh bengun pemuda ini mengalami siksaan di bawah jurang maka obat-obatan yang kurang dan tiadanya bantuan membuat ia cacad dan bongkok. Sebelah matanya melotot sementara mulutnya perot. Menyedihkan!

Dan malam itu ia keluar jurang. Sisa ketampanan dan kegagahannya sebagai pemuda lihai lenyap. Beng San malah seperti kakek-kakek buruk. Rambutnya panjang dan riap-riapan pula. Sesungguhnya telah enam bulan ia merayap dan mencoba keluar, berkali-kali berhenti di tengah jurang di ceruk-ceruk dalam. Tentu saja amat berat.

Akan tetapi ketika malam itu ia berhasil dan terkekeh, bintang mengerdip dan bersembunyi di balik awan yang lewat maka bulanpun buru-buru berlindung di balik awan berarak seakan ngeri bahwa pemuda itu akan membuat geger lagi. Bumi bakal menjadi hangus!

Ini benar. Beng San masih memiliki ilmu-ilmu yang tinggi. la mungkin tak dapat menghadapi lawan-lawannya yang lihai akan tetapi ia dapat menurunkan kepandaiannya itu kepada orang lain. Pemuda ini masih tetap berbahaya! Maka ketika malam itu ia merangkak dan terseok meninggalkan jurang, betapapun ia pernah tinggal di Gobi dan tahu lika-liku jalan maka pemuda ini menerobos kegelapan malam untuk menyelamatkan diri.

Gobi sudah lengah sejak si buta dan muridnya ini disangka tewas. Penjagaan tidaklah begitu ketat. Maka terseok dan merayap bagai ular melata, sesekali menggeliat dan meloncat-loncat maka pemuda yang berbahaya ini menjauhkan diri. la membawa dendam setinggi gunung. Ia benci orang-orang Gobi dan penghuninya. Dan ketika malam itu awanpun menjadi gelap, mendung berkumpul dan akhirnya turunlah hujan deras maka di bawah siraman air angkasa pemuda ini meninggalkan Gobi.

Setahun yang lewat hujanpun menjadi awal pertanda buruk. Kini tanda itupun datang lagi, murid si buta lolos. Dan ketika petir dan guntur tak dihiraukan pemuda ini, murid yang berjaga malah lenggut-lenggut dan tidur ayam maka Beng San lolos dan pemuda ini berhasil menyelamatkan diri. Awal bencana memayungi manusia lagi. Gobi pasti akan dibuat geger.

Dan ketika pemuda itu lenyap dan akhirnya menyeberangi gurun, halilintar dan kilat menyambar-nyambar maka mahluk angkasa ini seakan melecut dan menendang-nendang Beng San, tak sudi atau tak ingin melihat pemuda itu dan Beng San memang tak akan di Gobi. la harus menjauh, jauh. Dan ketika pemuda itu benar-benar lenyap memasuki hutan, entah apa yang terjadi maka sebuah misteri bakal mengusik ketenangan tokoh- tokoh Gobi dan satu di antaranye tentu saja Boen Siong!

TAMAT