Rajawali Merah Jilid 23 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 23
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SWAT LIAN terkejut. Sang nyonya didorong suaminya dan Pendekar Rambut Emas berdiri meloncat bangun. Gerakannya cepat dan tiba-tiba nyonya itu mendengar apa yang didengar suaminya. Jeritan orang! Dan ketika ia terbelalak dan kagum bahwa lagi-lagi ia kalah dulu, suaminya itu lebih tinggi dan lebih tajam pendengarannya maka Pendekar Rambut Emas tampak menggigil, mukanya berubah.

“Kau tahu siapa yang menjerit itu? Suara siapa?”

“Dari Sam-liong-to. Soat Eng!”

“Benar, dan terdengar teriakan lagi, Sekarang Siang Le. Ah, anak dan mantu kita mendapat bahaya. Mari ke sana dan jangan membuang-buang waktu lagi di sini!” dan Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan meluncur ke depan tahu-tahu telah meninggalkan isterinya untuk bergerak di permukaan air laut.

Sang isteri terkejut dan nyonya itupun berteriak, memanggil dan berjungkir balik mengejar suaminya itu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas berhenti dan menyambar lengan isterinya, sang isteri sudah ditarik dan disendal maka mereka ini sudah terbang dan meluncur di riak buih gelombang laut selatan. Persis iblis atau siluman di siang hari bolong!

“Cepat, anak dan mantu kita meminta tolong, niocu. Ada sesuatu di Sam-liong-to!”

“Benar, aku mendengar teriakan mereka, suamiku. Tapi apa yang terjadi. Ada apa di pulau!”

“Siapa yang tahu? Yang jelas tentu kejadian hebat, niocu. Kalau tidak tak mungkin mereka menjerit sampai ke sini. Ah, bahaya selalu saja ada di depan!” dan Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas yang meluncur dan terbang di permukaan laut selatan lalu menyuruh isterinya untuk tidak bertanya-tanya, bergerak dan mempergunakan kesaktiannya dan tampaklah hal mengagumkan yang dilakukan suami isteri ini.

Mereka meluncur dan bergerak-gerak di atas permukaan laut dengan amat cepatnya, sebentar kemudian sudah menjadi titik kecil dan lenyap di kejauhan sana, padahal baru saja mereka itu meninggalkan daratan! Dan ketika suami isteri itu lenyap dan benar-benar tak tampak lagi, buih atau gelombang laut menghalangi pandangan maka di sana di tempat kejadian itu terjadi peristiwa mengejutkan.

Siang Le, seperti diketahui, telah disuruh ayah mertuanya untuk pergi duluan. Pemuda itu mengajak isterinya dan Soat Engpun gembira. Sudah lama Sam-liong-to tak mereka kunjungi dan baru hari itu mereka datang. Dan ketika mereka berperahu dan menyeberang sambil bernyanyi-nyanyi, Siang-hujin atau nyonya Siang ini tampak gembira sekali maka Siang Le yang semula berdebar dan mengerutkan kening akan kembali ke tempat tinggalnya sendiri mendadak terbawa atau terpengaruh oleh keriangan isterinya ini.

“Kenapa tidak harus gembira,” sang isteri menjawab sambil tertawa ketika pemuda itu menegur. “Kita datang untuk kembali ke rumah kita, Le-ko. Dan aku akan melihat serta memeriksa tanaman-tanaman yang ada di sana. Aku ingin melihat bagaimana tanaman anggrekku dulu, juga bunga-bunga ceplok piring yang dulu kutanam di gerbang Istana Hantu. Ah, aku rindu melihat mereka. Aku kangen!”

“Hm, dan kau tak ingin melihat hewan peliharaan kita? Kau tak ingat sepasang gorila jantan dan betina kita?”

“Ah, mereka piaraanmu, Le-ko. Mereka lebih dekat denganmu daripada aku. Aku hanya ingat bunga-bunga anggrek dan ceplok piringku, bukan sepasang gorila sialan itu, yang sering merusak tanamanku!”

“Hm,” Siang Le tersenyum. “Mereka adalah binatang yang tak mengerti perasaan manusia, Eng-moi. Mereka sebenarnya bukan mau merusak melainkan coba mencium atau merasakan bunga-bunga tanamanmu. Mereka baik dan sebenarnya malah ingin membantu.”

“Ih, membantu? Membantu apa? Ya membantu merusak itu. Sudahlah, mereka urusanmu dan aku bunga-bunga anggrekku. Awas, kalau ada yang dicabuti mereka itu akan kuhajar!”

“Ha-ha, mereka tentu akan bersembunyi lebih dulu. Begitu kau datang tentu mereka segera ke lubang perlindungan. Ah, jangan dihajar, Eng-moi. Kasihan binatang peliharaan kita itu. Dan setahun yang lalu gorila betina rupanya hamil!”

“Hamil?” sang nyonya tertegun. “Kau yakin itu?”

“Ya, gorila itu akan mempunyai turunan, Eng-moi. Dan mereka tentu bahagia mendapatkan anaknya!”

“Dan aku.... kita...” sang nyonya tiba-tiba mengeluh ditahan, terisak. “Aku kalah dengan binatang kita, Le-ko. Aku belum juga dapat memberimu keturunan!”

“Hm, sudahlah,” sang suami cepat menyambar dan memeluk isterinya ini. “Kita belum lama menikah, Eng-moi. Sedang sepasang gorila itu sudah bertahun-tahun. Ah, sudahlah. Jangan samakan dirimu dengan gorila betina itu karena ,manusia tetaplah manusia. Kau isteriku, kita dapat berusaha dan kita masih termasuk pengantin baru!” dan ketika Siang Le mencium isterinya dan tertawa menghibur riang maka Soat Eng tersenyum dan dapat menerima hiburan ini. Apalagi ketika sang suami tiba-tiba menuding ke depan. “Lihat, Sam-liong-to sudah di depan kita!”

Benar saja, tiga gundukan tanah memanjang tiba-tiba muncul di permukaa air laut, tiga buah pulau di mana yang paling tengah menonjol atau menggunduk bagai punuk seorang raksasa yang tidur telungkup, masih samar-samar namun akhirnya jelas dan kian menonjol, menggembirakan suami isteri itu karena itulah Sam-liong-to atau Pulau Tiga Naga tempat kediaman mereka. Dan ketika Soat Eng melepaskan diri dan menyambar dayung, perahu digerakkan sampai air laut memuncrat maka Siang Le tertawa melihat tingkah isterinya itu.

“Hei, awas. Jangan kuat-kuat memukul dayung, Eng-moi. Lihat pakaianku basah semua!”

“Hi-hik, biar sajalah. Nanti juga ku cuci!” dan ketika Soat Eng memukul atau menggerakkan dayungnya di permukaan laut yang bergelombang, muncrat dan kembali membasahi baju suaminya maka Siang Le memaki dan balas memukulkan dayung ke dekat isterinya, muncrat dan ganti isterinya itulah yang basah oleh air.

Suami isteri ini tiba-tiba bergurau dan tertawa-tawa dengan air laut selatan, Sam-liong-to sudah dekat dan tiba-tiba Siang Le meloncat berjungkir balik mendahului isterinya, mau lebih dulu tiba di pulau tapi sang isteri terkekeh dan berkelebat meninggalkan perahu, melesat dan lebih dulu menginjakkan kaki di tanah. Dan ketika Siang Le mengumpat namun tertawa bergelak, mereka sudah tiba di rumah maka Soat Eng berseru mengejek suaminya itu.

“Hi-hik, gerakanmu lamban. Lihat, aku lebih dulu!”

“Ah, kau nakal. Kau menjejak punggungku, Eng-moi. Kalau tidak tentu aku dulu.”

“Ih, siapa bilang. Kau yang bodoh terlalu rendah, Le-ko. Aku hanya melewatimu dan hanya ujung bajumu yang kena!”

“Ha-ha, sudahlah, kita sudah sampai. Mari adu cepat ke istana!”

“Hei, jangan curang. Kenapa menyiprati air dan lebih dulu lari...!”

“Ha-ha, kau bodoh kenapa kena, Eng-moi. Siapa suruh kau lengah!”

Suami isteri ini yang tertawa-tawa berlari cepat, Soat Eng memaki karena suaminya tadi menyiprati mukanya lalu balas menyiprati suaminya dan kejar-mengejar mendahului ke tengah. Di sana ada Istana Hantu dan itulah tempat tinggal mereka. Siang Le mencuri kesempatan selagi isterinya diajak bicara tadi, lari dan mendahului namun sang isterinya meloncat dan berkelebat mengejar pemuda ini. Dan ketika keduanya susul-menyusul namun Soat Eng menang cepat, memang selama ini Siang Le masih di bawah isterinya maka Soat Eng bersorak ketika gerbang Istana Hantu terlihat di depan, gagah dan garang.

“Aku menang. Horee... kau kalah!” sepasang suami isteri muda ini seperti kanak-kanak saja. Mereka mengejek dan saling pukul namun jelas keduanya begitu gembira. Siang Le yang tadi berkerut dan menarik kening tiba-tiba terpengaruh isterinya ini dan lupalah kepada firasat jelek. Tapi ketika Soat Eng tiba di gerbang Istana Hantu dan bangunan kuno yang megah namun menyeramkan itu menyambut mereka, dingin dan acuh maka Siang Le tiba-tiba berteriak dan jatuh tersandung sesuatu, benda hitam kecoklatan yang disangka batu gunung.

“Heiii...!”

Soat Eng membalik dan berhenti. Wanita itu terkejut karena seruan suaminya bukan seruan biasa. Ia telah melewati tanjakan di depan dan sama sekali tidak memperhatikan batu gunung itu, maklum, ia berjungkir balik dan jauh di atas batu ini. Dan ketika ia tertegun karena suaminya bergulingan di sana, kaget dan berteriak tertahan maka Soat Eng tiba-tiba terbelalak karena batu gunung yang menyandung suaminya itu tiba-tiba bergerak dan dapat menguik.

“Gorila kita...!”

Sang nyonya tersentak. Batu gunung itu, yang disangka batu, ternyata adalah gorila jantan yang tengkurap dan penuh debu. Kulitnya demikian kotor hingga nyaris berubah ujud, bukan sebagai seekor binatang melainkan sebuah batu besar. Dan ketika nyonya itu terkejut dan berseru tertahan, gorila itu bangkit namun terhuyung roboh maka ia sudah berkelebat dan Siang Le yang tadi terkejut menendang tubuhnya yang lunak empuk tiba-tiba juga sudah berteriak dan merangkul binatang itu, yang dadanya ternyata tertancap oleh tujuh batang anak panah hitam!

“Ah, kau Gosar. Apa yang terjadi!”

“Benar, mana isterimu, Gosar. Apa yang terjadi. Siapa yang melakukan ini kepadamu!” Soat Eng, yang sudah berkelebat dan berlutut di samping suaminya lalu berseru dan menggigil marah. Ia baru tahu bahwa gorila kesayangan mereka ini ternyata luka berat. Tujuh panah hitam yang menancap di dadanya itu bukan main-main. Heran bahwa binatang piaraanya ini masih hidup! Tapi marah dan gusar bahwa seseorang telah membuat binatangnya sekarat, gorila itu menguik dan mengendus-endus lengan Siang Le maka binatang itu coba menerangkan dengan lenguhan-lenguhan kecil.

Siang Le maupun isterinya menangkap dengan perasaan marah. Mereka hapal dan mengerti akan gerak-gerik dan sikap binatang ini dan segera mereka tahu bahwa Sam-liong-to telah ada pendatang haram. Dan ketika tiga kuikan lemah memberi tahu suami isteri itu bahwa gorila ini menanti mereka, tak mau ajal sebelum tuannya datang maka gorila jantan ini tiba-tiba mengejang dan melotot untuk akhirnya ambruk dan mati!

“Gorila kita terbunuh. Ia telah seminggu lebih menentang ajal!”

“Benar, ia menunggu kita, Le-ko, dan hendak memberitahukan bahwa orang yang amat jahat datang mengacau. Ah, siapa itu dan kenapa mengganggu kita!”

“Yang jelas pasti amat lihai. Tujuh batang panah itu menancap dalam padahal gorila kita kebal!”

“Keparat, aku tak perduli. Dia membunuh binatang kesayangan kita, Le-ko, dan ia memasuki pulau. Ah, aku akan membunuhnya dan mana gorila kita yang satu!”

“Ha-ha...!” suara tawa tiba-tiba menggelegar, datang atau menyambut kata-kata nyonya itu, membuat dua suami isteri ini terkejut. “Selamat datang, Soat Eng. Dan selamat bertemu lagi di pulau ini. Ah, Sam-liong-to sungguh pulau yang memberi keberuntungan!”

Soat Eng maupun Siang Le yang meloncat dan membalik ke belakang tiba-tiba dibuat kagat dan merinding karena tak ada siapa-siapa di situ, membentak dan tawa menggelegar itu terdengar lagi, berat dan bergulung-gulung dan Siang Le tiba-tiba berteriak menekan dadanya. Pemuda ini mengeluh dan hampir saja roboh. Bukan main kagetnya Soat Eng, sang isteri. Dan ketika Soat Eng membentak dan serasa mengenal suara tawa itu, menyambar dan menyelamatkan suaminya maka tawa itu terdengar lagi namun orang atau pemiliknya tak tampak, seolah berada di delapan penjuru mata angin. Sam-liong-to diguncang-guncang, persis hantu!

“Ha-ha, kau tak dapat mencariku, Soat Eng. Aku di sini. Ah, kau semakin cantik dan mengagumkan, matang. Kau bagai bunga mekar setelah disentuh lelaki. Ha-ha, selamat datang dan inilah yang kau cari... bluk!” sebuah benda besar melayang ke arah wanita ini, dari samping dan cepat wanita itu mengelak tapi alangkah kagetnya ia ketika mengetahui benda apa yang dilempar itu. Dan ketika wanita ini menjerit atau berseru tertahan, Siang Le juga berteriak dan mengenal itu maka pemuda ini membentak dan memaki,

“Itu gorila kita. Ia Togur!”

Soat Eng ingat. Tiba-tiba ia tersentak karena sekarang ia tahu dan hapal suara siapa itu. Kiranya Togur, si binatang keparat. Dan ketika wanita itu memaki dan membentak lawannya ini, sesosok asap hitam berkelebat dan meledak di depan mereka maka seorang pemuda buntung telah berdiri sambil terkekeh-kekeh.

Siang Le dan Soat Eng terkejut karena tiba-tiba dari tempat lain muncul bayangan-bayangan lain dan tahu-tahu tiga puluhan wanita telah berdiri dan terkekeh-kekeh mengepung mereka. Wanita yang rata-rata berwajah cantik dengan potongan tubuh sintal dan berpakaian seenaknya. Persis rombongan kaum penari atau wanita-wanita penghibur yang sengaja mempertontonkan sebagian tubuh mereka, dada dan pusar.

“Keparat, siapa ini!” Soat Eng melengking dan seketika meradang. Pipi dan mukanya mangar-mangar karena tigapuluhan wanita itu memandang suaminya dengan pandangan birahi dan kurang ajar. Dan karena mereka berpakaian seenaknya dan yang di depan malah hanya mengenakan pakaian dalam, rambutnya awut-awutan dan seakan orang habis bermain cinta maka Soat Eng naik pitam ketika wanita itu merangkul si buntung dan terkekeh berkata kepada suaminya, genit meliuk-liukkan pinggang.

“Hi-hik, ini kiranya menantu Pendek Rambut Emas yang gagah dan tampan itu tu. Ih, apakah aku boleh berkenalan dengannya, siauw-ongya? Kau tak keberatan memberikan pemuda itu untukku?”

“Ha-ha, siapa keberatan? Justeru kau akan kudapatkan untuknya, Ui Kiok. Dan yang wanita itu untukku. Eh, apakah kau dapat menangkapnya dan nanti main-main di depan mataku!”

“Tentu saja, kalau ongya mau....”

Tapi Soat Eng yang membentak dan berkelebat maju tiba-tiba menghantam tak dapat mengendalikan kemarahannya. Dua orang itu bicara kotor. “Tikus betina, kau tak patut bicara begini di tempatku. Pergi, atau kau mampus!”

Namun Togur bergerak. Pukulan dahsyat menghantam teman wanitanya ini dan wanita itu berteriak keras. Ia sudah menghindar namun rupanya kalah cepat. Soat Eng bergerak mengandalkan Jing-sian-engnya dan pukulannyapun bukan pukulan main-main. Itulah Khi-bal-sin-kang yang akan membuat wanita itu tewas. Tapi karena Togur bergerak dan si buntung itulah yang menyelamatkan wanita ini, melempar dan membuang temannya kesamping untuk akhirnya menyambut pukulan itu sendiri maka Soat Eng terjengkang ketika bertemu pukulan si buntung yang juga sama-sama mempergunakan Khi-bal-sin-kang!

“Dess!” Soat Eng memekik dan melempar tubuh bergulingan. Tangkisan lawan bukan seperti dulu melainkan lebih hebat lagi. Ia kalah dan terguling-guling meloncat bangun. Dan ketika wanita ini kaget sementara lawan terbahak-bahak, Siang Le juga kaget karena Togur sekarang lebih hebat daripada dulu maka ia teringat bahwa pemuda ini sudah menjadi murid Poan-jin-poan-kwi, bukan lagi sekedar menerima ilmu dari gurunya saja.

“Keparat!” Soat Eng memekik dan pucat ditolong suaminya. “Kau jahanam keparat, Togur. Tapi apa maumu datang ke sini. Sam-liong-to bukan tempat tinggalmu!”

“Ha-ha,” pemuda itu tenang-tenang saja, mengerdip dan memainkan mata kepada belasan wanita cantik di sana. “Aku datang untuk menjadi raja di sini, Soa Eng. Dan itulah isteri-isteriku yang cantik. Kau telah datang dan melihat kehadiranku. Nah, kau bergabunglah di sini dan kuangkat dirimu sebagai permaisuri!”

“Keparat, kau... kau tak tahu aku isteri orang?”

“Ha-ha, isteri atau bukan aku tak perduli Soat Eng. Suamimu itu biarlah menjadi penghibur isteri-isteriku yang lain karena di sini kekurangan lelaki. Lihat, isteri-isteriku itu sudah bergairah melihat suamimu. Dan akupun bergairah melihat dirimu. Ha-ha, kita tentu cocok dan satu sama lain dapat melihat bagaimana bermain cinta!”

“Keparat, si mulut kotor!” Soat Eng tak dapat menahan dan berteriak lagi. Wanita itu marah bukan main karena Togur benar-benar merendahkannya. Ia dihina dan dipermainkan di depan begitu banyak orang sementara suaminya juga tak dipandang sebelah mata. Nyonya itu mendelik dan tentu saja kemarahannya naik ke ubun-ubun. Dan ketika ia melengking dan berkelebat maju, tangan menampar dan pukulan dahsyat kembali menyambar, belasan wanita di situ tiba-tiba menjerit dan terlempar oleh angin pukulannya maka Togur bergerak dan menyuruh teman-temannya itu mundur, tahu bahwa puteri Pendekar Rambut Emas ini marah besar.

“Mundur.... semua mundur!”

Pukulan Soat Eng meledak dan menghantam tanah. Nyonya itu berteriak kece wa karena Togur tak mau menangkisnya. Ia ingin pemuda itu menangkis dan suara pukulan mereka tentu bakal membuat wanita-wanita itu terlempar. Ia benci dan marah sekali melihat puluhan wanita yang genit-genit itu, para jalang yang jelas bukan orang baik-baik apalagi dipimpin Togur, si buntung ini. Maka begitu ia gagal namun ia sudah menerjang lagi, para wanita itu tiba-tiba dikibas Togur agar menjauh, pukulan si nyonya sungguh dahsyat maka Soat Eng sudah memekik dan menyambar-nyambar lawannya ini dengan pukulan-pukulan cepat.

“Ha-ha, ingin main-main dulu. Bagus, boleh berkeringat sebelum bermain cinta, Soat Eng. Aku akan memberimu pelajaran bagaimana melayani calon suami yang baru!”

Soat Eng melotot dan merah padam. Ia dilayani dan segera si buntung itu berkelebatan ke kanan kiri menghindari pukulan-pukulannya. Dan ketika Togur menangkis dan ia terpental, si buntung itu tertawa menunjukkan kepandaiannya maka wanita muda ini berseru tertahan karena ia merasa kalah kuat dan akhirnya juga kalah cepat.

“Kau akan kubunuh!” wanita itu memekik dan menerjang lagi. Soat Eng melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang yang digabung Lui-ciang-hoat. Pukulan ini meledak-ledak dan tempat itu tiba-tiba diserang hawa panas yang membakar. Dan ketika Soat Eng juga mengeluarkan Cui-sian Gin-kangnya untuk membantu Jing-sian-eng, tubuhnya menjadi dua kali cepat berkelebatan menyambar-nyambar maka wanita itu benar-benar lenyap dan puluhan wanita yang ada di situ berseru kagum namun juga menjauh dan menjerit kaget kalau disambar atau didorong hawa panas.

“Ih, luar biasa. Puteri Pendekar Rambut Emas itu benar-benar hebat sekali!”

“Benar, ia amat lihai. Tapi siauw-ong ternyata lebih lihai. Lihat, ia mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya (Ilmu Sakti Tak Berwujud)!”

Seruan kagum tiba-tiba berubah menjadi seruan kaget. Tiga puluh wanita yang tadi memuji-muji Soat Eng mendadak berteriak ketika seorang di antaranya berseru menuding Togur. Pemuda itu meledakkan tangannya dan muncullah asap hitam seperti naga. Dan ketika asap itu menyambar dan meledak di depan Soat Eng, nyonya itu mengelak dan memaki lawan maka si buntung tiba-tiba tembus dipukul ketika Soat Eng menghajarnya dari samping.

“Dess!” Nyonya itu ngeri dan berteriak tertahan. Togur, yang mulai kewalahan oleh gabungan Khi-bal-sin-kang dan pukulan Lui-ciang-hoatnya tiba-tiba mempergunakan kesaktian yang diperoleh dari Poan-jin-poan-kwi. Pemuda itu menepuk tangannya dan memerciklah asap hitam seperti naga, meledak dan nyonya itu mengelak sambil melepas pukulan dari samping. Si buntung demikian dekat dan pemuda itu menerima. Tapi ketika tangan si nyonya tembus dan amblas begitu saja, memasuki rongga dada lawannya itu namun lawan tak apa-apa, seperti roh atau badan halus saja maka nyonya ini menjerit dan Siang Le yang terbelalak melihat itu tiba-tiba bergerak dan menerjang ke depan.

“Eng-moi, biar kubantu kau!”

Namun si buntung terkekeh. Ia berseru pada puluhan wanita di situ agar menghadang dan menangkap pemuda ini. Biarkan Soat Eng main-main dengannya dan tak seorangpun boleh menganggu. Dan ketika wanita-wanita itu berkelebatan dan mencegat pemuda ini, mereka bergerak dan tahu-tahu dengan cepat sudah meraih atau menyambar si tampan ini maka Siang Le terkejut dan tentu saja mengibas.

“Jangan ke sini, kalian pergilah... bres-bress!” dua wanita terlempar, jatuh menjerit namun yang lain menubruk dan tetap menangkap pemuda ini. Dan ketika puluhan pasang tangan menarik dan mencengkeram, Siang Le marah dan membentak wanita-wanita itu maka empat di antaranya terlempar lagi namun baju dan sebagian pundak pemuda ini robek dan tersentuh wanita-wanita itu. Siang Le merinding diusap jari-jari genit yang cabul dan menggelitik!

“Hi-hik, kulitnya halus. Pundaknya seperti wanita, namun kokoh!”

“Benar, dan aku berhasil merobek bajunya. Ah, keringat pemuda ini harum, Su-moi. Lihat robekan bajunya ini membawa keringatnya yang memabokkan. Hi-hik aku langsung jatuh cinta!”

Siang Le merah padam dan malu serta marah sekali. Ia sudah dikepung dan dicegat sana-sini, mengelak dan melepaskan pukulan namun wanita-wanita itu amatlah banyak. Dan karena sering ia harus memejamkan mata kalau dada atau bagian-bagian tubuh lain dari wanita-wanita itu bergoyang dan terkuak dari pakaiannya yang minim, Siang Le sungguh jengah maka pemuda ini menjadi gusar dan juga kikuk menghadapi keroyokan wanita-wanita jalang. Robekan bajunya tadi sudah dicium dan diendus-endus, yang membawa itu terkekeh-kekeh!

“Bunuh wanita-wanita itu. Dan cepat bantu aku!”

Siang Le bingung. Ia mendapat teriakan isterinya dan saat itu puluhan wanita yang mengeroyok ini semakin menggila dan merepotkan. Ia mengibas dan membuat beberapa di antaranya terpelanting tapi malah pakaian mereka itu lepas. Tujuh lawannya menjerit tapi mereka terkekeh-kekeh meloncat bangun ketika tahu bahwa pakaian mereka diterbangkan Siang-Le. Dan ketika tujuh wanita itu maju lagi dan tak malu-malu telanjang bulat, Siang Le terkejut dan merah padam maka ia sudah dipeluk dan diterkam dari tujuh arah.

“Hi-hik, Siang-kongcu ini tak sabar membuka pakaian kita. Marilah, kita ajak bergumul dan siapa yang lebih dulu mampu menciumnya!”

Siang Le membentak dan marah sekali. Ia tahu-tahu sudah dililiti tujuh wanita yang menubruk atau memeluk dirinya. Ia tadi terpaksa memejamkan mata karena tak tahan memandang tujuh wanita bugil itu, tertangkap dan inilah celakanya karena tiba-tiba tujuh wanita itu berebut mencium. Dan ketika empat di antaranya berhasil “ngak-ngik-ngok”, wajah dan leher pemuda itu diciumi lawan-lawannya maka Siang Le terkejut dan membuka mata, langsung bergerak dan tujuh tamparan dilepas mengenai tujuh wanita itu, yang tentu saja terjengkang dan menjerit mengaduh.

Gigi mereka rontok dipukul pemuda itu! Dan ketika mereka menangis namun teman-temannya sudah menerjang, lagi-lagi pemuda ini dikeroyok dan hendak ditangkap maka Siang Le berkelebatan dan ia menghindar atau mengelak sana-sini. isterinya melotot karena di depan mata pemuda itu dihujani cium yang bersuara keras. Ngak-ngik-ngok!

"Siang Le, bunuh mereka itu. Atau aku menghajarmu!”

Siang Le terkejut. Isterinya, yang biasa bersikap lembut dan hangat tiba-tiba memanggil namanya begitu saja penuh kemarahan. Ia menengok dan terkejut karena sang isteri terbakar mukanya, mata beringas dan mengeluarkan api yang amat panas. Dan ketika Siang Le sadar bahwa isterinya cemburu dan gusar, ia dicipok begitu banyak wanita maka pemuda itu membentak dan tiba-tiba berkelebat menampar atau menotok wanita-wanita ini, tak perduli pandang matanya harus sering bertemu dengan buah dada atau bagian-bagian tubuh yang minim.

“Kalian benar-benar jalang, tak tahu malu. Nih, terima pukulanku dan keluar dari Sam-liong-to!”

Wanita-wanita itu berteriak. Siang Le tiba-tiba marah dan menghajar mereka dengan tidak sungkan-sungkan lagi. Tujuh bekas kecupan terlihat di leher dan wajah pemuda itu karena wanita-wanita itu memakai gincu yang tebal, kontan membekas dan itulah yang membuat Soat Eng bertambah marah. Namun ketika Siang Le berkelebatan dan tubuhnya menyambar-nyambar dari satu tempat ke tempat lain, pemuda itu harus membantu isterinya yang terdesak oleh lawan maka Soat Eng lega namun nyonya ini dicengkeram Togur yang tiba-tiba membentaknya dan membalas dengan sebuah pukulan. Siang Le tampaknya akan meroboh-robohkan teman-teman wanitanya itu.

“Soat Eng, kau tak dapat ditolong siapa-siapa. Lihat pukulanku dan robohlah lebih dulu!”

Soat Eng terkejut. Ia membalik dan mengelak cengkeraman pemuda itu ketika tahu-tahu sambil tertawa si buntung ini mengulurkan lengannya. Dan ketika Sin-re-ciang atau Tangan Karet terulur panjang, Togur mendapatkan itu dari hasil tukar-menukar dengan mendiang See-ong maka Soat Eng tahu-tahu tertangkap dan wanita itu menjerit melempar tubuh bergulingan.

“Aihhh-brett!”

Baju wanita ini sobek. Soat Eng sampai pucat karena lawan sungguh memiliki ilmu bermacam-macam. Togur memang lihai di samping licik. Dan ketika ia bergulingan namun lawan mengejar terus, tangan itu memanjang dan semakin memanjang saja maka wanita itu mengeluh ketika tahu-tahu pundaknya tertangkap. Togur mempergunakan kelima jarinya yang bagai jepitan besi.

“Siang Le, tolong..!”

Jeritan itu menyentak si pemuda. Siang Le yang sudah merobohkan dan menotok sisa-sisa lawannya mendadak mennjadi tertegun dan berhenti menoleh. Ia sudah merobohkan separuh dari lawan-lawannya itu dan para wanita itu mmerintih-rintih di tanah. Mereka terkejut dan juga gentar oleh kehebatan menantu Pendekar Rambut Emas ini, meskipun rupanya sang isteri lebih hebat dan lihai lagi. Dan ketika pemuda itu menoleh dan sang isteri tertangkap, Soat Eng mengeluh dan dan roboh tertotok maka bayangan hitam tiba-tiba menyambar dan Ui Kiok, si cantik yang tadi di pelukan Togur itu menghantam tengkuknya dengan satu serangan gelap.

“Jangan bunuh!”

Siang Le terkejut dan sadar. Ia tahu ketika angin serangan menghantam tengkuknya, membalik dan menangkis dan bertemulah tenaga sinkangnya dengan sebuah lengan halus yang berwarna merah. Dan ketika bau busuk juga menyambar dan itulah Tui-hun-hiat-jiu (Tangan Berdarah Pemburu Sukma) maka pemuda ini terhuyung sementara lawannyapun terpental.

“Dess!” Ui Kiok, wanita itu, menjerit marah. Ia tadi sudah berusaha mencuri kesempatan dengan menyerang di kala pemuda ini tertegun. Ia marah melihat separuh dari teman-temannya roboh bergelimpangan tertotok atau ditampar pemuda ini hingga tak dapat bangun. Dan ketika ia menyerang namun tetap juga gagal, Siang Le mendengar bentakan Togur dan cepat membalik maka wanita itu melengking dan sisa temannya yang lain disuruh maju untuk mengeroyok pemuda ini, tadi ia tinggal menonton karena mengira pemud a itu dapat ditundukkan teman-temannya.

“Siauw-ong, pemuda ini tak dapat di tundukkan. Biarlah aku membunuhnya dan tak apa ia mampus!”

“Jangan,” si buntung tertawa berseru, tangannya sudah bergerak dan menyambar Soat Eng, yang pingsan. “Di sini tak ada laki-laki lain, Ui Kiok. Robohkan ia dan jadikan kekasih tercintamu. Ia menantu Pendekar Rambut Emas dan dapat menjadi barang berharga kalau tertangkap.”

“Kau tak ingin ia kubunuh?”

“Kau tak dapat membunuhnya, kalau tak kubantu. Sudahlah jangan ia dibunuh dan lepaskan pukulan-pukulanmu ke bagian atas dan aku akan menyerangnya bagian bawah.... ser-ser!”

Jarum-jarum hitam menyambar dan mengejutkan Siang Le, dilepas si buntung ini untuk mengganggunya dan tentu saja Siang Le terkejut dan berseru marah. Dan ketika wanita itu menyerangnya lagi dan ia harus meloncat ke atas tapi dipapak atau disambut wanita itu, Siang Le bingung dan gugup maka Tui-hun-hiat-jiu tiba-tiba mengenai tubuhnya ketika secara cepat sebatang jarum lebih dulu menancap di lutut kanannya.

“Aduh!”

Togur tertawa. Ia tahu kepandaian pemuda itu dan dibuatnya pemuda itu pincang. Siang Le bergulingan dan memaki-maki lawan tapi Togur diam saja di sana, tidak maju. Dan ketika Ui Kiok kembali menyambar dan Siang Le marah meloncat bangun, ia menggeram dan mengeluarkan Sin-re-ciangnya maka tangan karet itu mendahului dan menyelinap di balik Tui-hun-hiat-jiu. Dalam keadaan terpicang pemuda ini masih juga gagah melakukan perlawanan.

“Awas...!”

Ui Kiok terpekik dan menendangkan kakinya. Lengan pemuda itu tahu-tahu mulur panjang dan tiba-tiba sudah di bawah ketiaknya. Siang Le hendak meremas atau mencengkeram ketiak wanita ini, sekali kena tentu lawannya roboh! Tapi karena Togur memberi tahu dan lagi-lagi sebatang jarum menyambar, kaki Ui Kiok menyambut lengan pemuda itu maka Siang Le berseru tertahan ketika jarum dan lutut si cantik mengenai sikunya.

“Krek-augh!”

Pemuda itu pucat. Siang Le dan Sin-re-ciangnya seketika gagal. Jarum hitam itu menancap di jalan darah bawah siku dan itulah yang amat mengejutkan. Ia tiba-tiba lumpuh dan lengan karetnyapun sirna. Dan ketika tendangan itu mengenai lengannya dan Ui Kiok gemas melepas tamparan maka dua pukulan kuat mengenai pipi pemuda ini.

“Plak-plak!”

Siang Le terkejut mengeluh perlahan. Ia terbanting dan bergulingan hendak meloncat bangun ketika sebatang jarum lagi-lagi menyambar, mengenai pundaknya. Dan ketika ia menjerit karena jarum menancap amat dalam, kali ini ia tak dapat mengerahkan tenaga maka bayangan Ui Kiok yang berkelebat dan menendangnya roboh membuat pemuda itu habis daya dan benar-benar tak dapat bergerak lagi. Siang Le jatuh di tangan lawan, menahan nyeri dan marah yang hebat!

“Hi-hik, lumpuh kau sekarang, Siang-kongcu. Berterima kasihlah bahwa kau masih hidup!”

Ui Kiok, yang gemas dan melumpuhkan pemuda ini setelah Siang Le terkena jarum dua kali menyambar dan menangkap pemuda itu. Dia hampir membunuh pemuda ini kalau Togur tidak mencegahnya. Dan ketika ia tertawa melihat pemuda itu melotot, ia menunduk dan mencium pemuda itu maka Siang Le melengos dan membentak gusar.

“Jalang betina, jangan sentuh tubuhku. Bunuhlah aku dan jangan kira aku takut!"

“Hm!” Ui Kiok merah mukanya, ciumannya luput! “Kalau siauw-ong tidak mencegah tentu kau mampus, kongcu. Jangan kira aku tak dapat membunuhmu kalau ada kesempatan!”

“Sudahlah,” Togur tertawa, berkelebat dan telah berada di dekat temannya ini, “Kau belai dia dan cumbu di dalam, Ui Kiok. Masa kau tak dapat menundukkan lelaki dan biar tawananku yang satu itu menjadi milikku.”

“Siauw-ong benar-benar menyerahkan pemuda ini untukku?”

“Kau suka atau tidak?”

“Hm, sebenarnya sih suka. Tapi kalau dia sombong dan keras kepala tentu saja rasa sukaku bakal hilang!”

“Ha-ha, jangan bodoh. Pemuda seperti ini tak sukar ditundukkan, Ui Kiok. Dan malam nanti terang bulan. Apakah kau tidak ingin kita bersenang-senang menikmati malam pengantin? Sekarang di pulau ini ada dua lelaki, dan aku akan menyerahkan pemuda itu untukmu atau kalian semua. Aku akan mengambil tawananku sebagai permaisuri dan Sam-liong-to akan menjadi kerajaanku!”

“Ah, benar!” Ui Kiok tiba-tiba bersorak. “Malam nanti bulan purnama, siauw-ong. Dan kita akan mengadakan pesta. Aduh, tentu saja aku senang menikmati malam pengantin dan untuk malam pertama pemuda ini menjadi milikku!”

“Ha-ha, terserah. Dan sekarang bawa dia ke dalam dan lihat teman-temanmu yang lain iri!”

Ui Kiok terkekeh. Tiba-tiba ia menjadi gembira luar biasa begitu teringat bahwa malam nanti adalah malam bulan purnama. Sudah menjadi kebiasaan mereka selama ini bahwa setiap bulan purnama akan mengadakan “pesta pengantin”. Tiga puluh wanita di situ ganti-berganti dijadikan isteri oleh Togur dan sebenarnya malam nanti adalah malam ke tujuh. Togur menggilir “hari pernikahannya” dengan tigapuluhan wanita itu setiap malam bulan purnama.

Dan karena enam di antaranya sudah menjadi isteri si buntung itu namun si buntung belum pernah mengambil permaisuri, bahkan Ui Kiok sendiri baru diselir atau dijadikan isteri sambilan saja maka duapuluh empat yang lain belum mendapat bagian dan tentu saja mereka selalu berdebar-debar dan menunggu dengan penuh kegembiraan datangnya malam bulan purnama itu. Pada malam bulan purnama ini Togur akan mengumpulkan mereka semua dan mengikuti semacam upacara ritual, lalu menciprat-cipratkan air suci untuk akhirnya mengadakan acara bebas.

Dan karena acara bebas inilah yang paling ditunggu-tunggu, mereka akan menari dan berlenggang-lenggok menerima arak pengantin, Togur akan menjatuhkan satu di antara pilihannya untuk dijadikan. isteri maka semua berdebar dan akan girang kalau si buntung itu memilih mereka. Si buntung itu akan memberikan sebagian ilmunya kepada yang dipilih, semalam suntuk dilayani wanita yang dijadikan pilihannya ini dan keesokannya tentu wanita itu akan setingkat lebih lihai. Dan karena kelihaian inilah yang dicari-cari, semua akan berlomba dan merayu si buntung itu maka tiga puluhan wanita yang ada di sini tak jijik atau muak dengan cacadnya tubuh bekas murid Enam Iblis Dunia ini.

Togur memang amat lihai dan kelihaiannya semakin bertambah-tambah saja setelah dia memperoleh ilmu-ilmu dari tokoh-tokoh terkemuka. Mulai dari mendiang Hu Beng Kui sampai kepada Poan-jin-poan-kwi itu. Dan karena ia telah memiliki kesaktian yang amat luar biasa, Ui Kiok dan kawan-kawannya itu ditundukkan begitu mudah maka tiga puluhan wanita ini sebagai gundik sekaligus pembantu-pembantunya.

Togur menguasai Sam-liong-to dan Pulau Tiga Naga yang ditinggalkan penghuninya ini diduduki, berbulan-bulan pemuda itu bersembunyi di sini setelah ia dihajar Thai Liong, hal yang tentu juga tak disangka pemuda itu karena Thai Liong sibuk dengan urusannya mencari penyembuhan bagi adiknya Beng An. Dan ketika Togur menguasai tempat itu dan hari itu datang Siang Le dan isterinya, disambut dan tentu saja mengejutkan suami isteri itu maka hari itu juga dua orang muda ini jatuh ke tangan Togur.

Soat Eng memang tak dapat menandingi lawannya ini. Togur sekarang sudah jauh lebih hebat daripada dulu, memiliki Bu-siang-sin-kang yang mengerikan dan hanya ayah atau kakaknya saja yang mampu menghadapi si buntung itu. Dan ketika hari itu suami isteri ini roboh, si buntung tertawa dan bersiap mengadakan pesta malam pengantin maka Siang Le maupun isterinya berada dalam bahaya yang mengerikan.

Mereka akan dipermainkan si buntung ini dan sekali jatuh tentu aib dan rasa malulah yang menghantui seumur hidup. Togur telah merencanakan mengambil wanita itu sebagai permaisurinya, sedangkan Siang Le akan diserahkan kepada Ui Kiok dan kawan-kawannya. Dan karena malam nanti bulan purnama dan suami isteri itu kebetulan datang, Togur girang merencanakan sesuatu yang keji maka ketika dia menyerahkan Siang Le kepada Ui Kiok maka Soat Eng sendiri disambar dan dibawanya ke dalam kamar, tak tahu bahwa jeritan atau pekikan Soat Eng telah didengar ayah bundanya jauh di seberang Sam-liong-to.

“Ha-ha, sadarlah,” pemuda itu membuka dan membebaskan totokan wanita muda ini, begitu menutup pintu kamar. Kau calon milikku, Soat Eng. Dan malam nanti kita bergembira!”

“Uh...” Soat Eng menggeliat dan sadar nembuka mata, terbelalak melihat si buntung itu, langsung berubah mukanya. “Di mana aku kini, Togur. Dan apa yang akan kau lakukan kepadaku!”

“Ha-ha, tak perlu berteriak. Kita di tempat aman, Soat Eng. Di tempat kamarmu sendiri. Lihat, bunga anggrek dan ceplok piring itu ada di sini. Bunga-bunganya mulai mengembang!”

Soat Eng, yang terkejut dan membelalakkan mata tiba-tiba tertegun melihat pot-pot bunga yang ditunjuk pemuda itu. Dia berada di sebuah kamar bersih yang semuanya dipenuhi bunga. Anggrek berwarna-warni serta bunga-bunga ceplok piring kesayangannya. Dan ketika ia terbentur kepada kelambu biru muda, juga lampu naga yang menempel di dinding maka wanita itu sadar bahwa ia memang berada di kamarnya sendiri. Kamar ia dan suaminya!

“Mana suamiku!” wanita itu membentak, kaget dan tersentak. “Kenapa kau ada di sini, Togur. Mana Siang Le dan mau apa kau di sini!”

“Ha-ha, kau tawananku, kau bakal permaisuriku. Kau akan kujadikan isteri Soat Eng. Dan malam nanti kita meramaikan malam pernikahan kita. Suamimu itu sudah kuserahkan kepada Ui Kiok dan dialah yang akan mengurus.”

“Jahanam, bedebah!” Soat Eng memaki dan merah padam, tiba-tiba saja marah. “Kau tak tahu malu dan hina, Togur. Kau laki-laki binatang. Lepaskan aku dan apa itu malam pengantin segala. Aku isteri orang, tak sudi kau sentuh!”

“Hm, jangan galak-galak,” si buntung itu tertawa dan mendekati serta mengelus pipi nyonya muda ini. “Kau calon milikku, Soat Eng. Dan kaupun tawananku. Aku tak membunuhmu karena ingin bersahabat baik dengan ayah ibumu. Kau akan kujadikan isteri dan kakakmu yang lihai itu akan menjadi kakak iparku, ha-ha!”

Soat Eng menjerit dan mengelak ketika jari-jari nakal pemuda itu mengusap dan menyentuh pipinya secara kurang ajar, mau turun tapi wanita ini menggigit dan ditariklah jari itu sambil tertawa. Dan ketika Soat Eng pucat pasi karena lawan amatlah kurang ajar, dia tak berdaya dan sungguh di bawah kekuasaan si buntung maka Soat Eng menggigil mengancam pemuda ini.

“Togur, jangan menghina atau menyentuh tubuhku. Sekali kau mengganggu maka aku akan bunuh diri di sini!”

“Hm, kau kutotok,” pemuda itu tak takut. “Kau tak dapat berbuat apa-apa selama aku ada di sini, Soat Eng. Jangan main ancam segala karena tak mungkin kau bisa melakukan itu.”

“Aku dapat menggigit putus lidahku!” nyonya itu berseru, marah dan membuat lawan terkejut. “Kau boleh menotokku atau apa saja namun tak mungkin terus-terusan kau menjaga aku, Togur. Dan sekali aku bunuh diri maka selamanya kakak atau ayahku tak akan mengampunimu!”

“Hm,” si buntung keder, nama atau bayangan Thai Liong membuatnya mundur. “Kau tak akan kuganggu, Soat Eng. Tapi aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menyerah sendiri. Lihat malam nanti pernikahan kita disaksikan banyak orang...”

“Kau iblis tak tahu malu. Kau jahanam busuk. Sudah kuberi tahu bahwa aku isteri orang dan tak sudi aku tunduk kepadamu!”

“Ha-ha, itu sekarang, sebelum upacara itu datang. Tapi begitu kita di panggung maka semuanya akan berubah, Soat Eng. Dan kau akan menjadi isteriku paling tercinta. Kau akan merengek dan mendengus-dengus di kakiku!”

Soat Eng memaki-maki. Ia gusar dan marah sekali karena si buntung itu bicara semakin tak tahu malu. Ia ingin menutup telinganya namun sayang ia tertotok. Dan ketika si buntung itu membungkuk dan mencium rambutnya, Soat Eng hampir saja menjerit maka pemuda itu berkata bahwa dia akan keluar sebentar, nanti kembali lagi.

“Aku akan “menunjukkan sesuatu kepadamu. Dan katakanlah bahwa kau tak dapat ku tundukkan!”

Soat Eng tertegun. Ia melihat si buntung menutup pintu dan kilatan matanya amatlah mengerikan. Si buntung itu tertawa dengan aneh dan tawanya itu yang membuat ia merinding. Tapi begitu si buntung lenyap dan pintu kamar itu menutup lagi maka Soat Eng tiba-tiba bergerak dan coba beringsut melepas totokan. Dengan muka berkeringat dan tergesa-gesa ia mengempos semangat untuk membobol jalan darah itu. Tapi ketika usahanya gagal dan ia tak dapat mengerahkan sinkang, Togur sungguh jahanam maka ia gagal dan tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi, si buntung itu masuk, tidak membawa apa-apa.

“Ha-ha, mau melarikan diri? Tak mungkin. Aku menutup aliran sinkangmu, Soat Eng. Dan tanpa kubuka tak mungkin kau mampu membuka totokan itu. Hanya kakak atau ayahmu yang barangkali bisa!”

“Kau pemuda jahanam, terkutuk!” Soat Eng merah dan malu. “Kau bunuh saja aku, Togur. Dan aku akan berterima kasih kepadamu di akherat!”

“Ha-ha, sebelum menikah? Ah, jangan Soat Eng. Aku masih ingin menyatakan cintaku dan kau harus menerimanya dulu. Setelah itu mau apa saja tentu terserah!”

Soat Eng melotot. Ia merasa ngeri melihat sikap dan tingkah laku lawannya ini. Dan ketika ia terbelalak karena usaha melarikan dirinya diketahui, pemuda itu cepat keluar dan kembali maka Togur bertepuk tangan dan tiba-tiba dua wanita cantik muncul, membawa seekor anjing jantan dan kucing betina, yang mengeong-ngeong dan menggonggong gaduh!

“Ha-ha, taruh dan letakkan di situ. Biar kalian keluar dan dua binatang ini kuurus!”

“Baik,” dua wanita itu tertawa genit, yang membawa anjing meletakkan anjingnya dan yang membawa kucing juga meletakkan kucingnya. “Awas hati-hati, siauw-ong. Mereka ini sejak tadi selalu berkelahi!”

“Ha-ha, akan kuurus. Sudahlah kalian keluar dan tutup pintu kembali!” Togur mengebut dan mengusir keluar dua wanita itu, yang sudah meletakkan hewan-hewan itu. Dan begitu anjing serta kucing itu diletakkan maka mereka saling terjang dan gonggong atau meong kucing itu semakin ramai. Gaduh dan berisik!

“Lihat,” si buntung berseru kepada tawanannya. “Anjing dan kucing betina itu tak dapat bersatu, Soat Eng. Tapi aku akan membuat keduanya bercinta!” dan begitu si buntung mengebut dan menyambar anjing jantan, yang menguik dan roboh tertangkap tiba-tiba pemuda itupun menyambar atau menangkap kucing betina. Soat Eng terbelalak dan tak mengerti apa yang akan dilakukan lawannya ini.

“Pus...” si buntung mengusap dan membelai kucing betina, yang mengeong-ngeong dan akan menerjang lawannya. ”Tenang dan diamlah, pus. Jangan gaduh dan membuat berisik di sini. Hayo kalian berdua menurut dan minumlah ini!” si buntung mengeluarkan sebotol arak harum, membuka tutupnya dan tiba-tiba kucing betina tersedak.

Kucing itu mencium bau keras dan mendadak sikapnya yang garang dan mengeong-ngeong tadi lenyap, terganti oleh erangan perlahan seperti orang merintih. Dan ketika anjing jantan itu juga tidak menggonggong-gonggong lagi dan suaranya yang galak terganti dengan dengus atau geram pendek maka Togur menuangkan arak di telapak tangannya dan dua ekor binatang itu tiba tiba berebut untuk saling minum, menjilat-jilat!

“Lihat,” pemuda itu tertawa. “Sebentar lagi dua binatang yang bermusuhan ini akan menjadi suami isteri, Soat Eng, Dan kau akan membuktikan bahwa seberapa ganaspun kucing betina menolak ia akan bertekuk lutut juga!”

“Ah,” nyonya ini masih tak mengerti, heran dan curiga. “Apa yang kau lakukan, Togur? Apa maksud kata-katamu?”

“Ha-ha, lihat dan saksikan saja. Ini Arak Sorgaku dan siapapun yang minum akan segera terbang menikmati mimpi indah!”

Soat Eng merah dan curiga. Ia sedikit menangkap sesuatu namun kesederhanaan dan bersihnya batin tak membuat nyonya itu menduga terlampau jauh. Ia terbelalak dan heran serta menduga-duga apa yang akan dilakukan pemuda itu, apa yang terjadi. Tapi ketika anjing jantan tiba-tiba melenguh dan mendengus mencium kucing betina, kucing betina juga megeong dan menjilat anjing jantan maka anjing itu tiba-tiba melompat dan Soat Eng menutup mata dengan teriakan kecil ketika anjing itu tahu-tahu sudah di atas punggung kucing betina.

“Ah, terkutuk. Manusia cabul!” Soat Eng memekik dan menjadi gusar. Seketika ia mengerti apa yang telah dilakukan lawannya itu.

Togur memberikan arak perangsang dan kucing serta anjing yang bermusuhan hebat itu mendadak dibuat birahi dan satu sama lain ingin melampiaskan hasrat kebinatangannya. Dan ketika Togur tertawa penuh gelak karena dua ekor binatang itu tiba-tiba sudah bercumbu dan bersatu dengan panas, adegan selanjutnya sungguh membuat Soat Eng merah padam maka nyonya itu mengguguk dan kengerian serta ketakutannya muncul dengan hebat. Kiranya ia akan juga dibuat seperti kucing betina itu!

“Togur, kau... kau binatang keparat. Ah, kau bunuhlah aku dan jangan lakukan aku sehina itu. Kau bunuhlah aku!”

“Ha-ha!” si buntung terbahak dan bertepuk tangan. “Lihat dan saksikan itu Soat Eng. Betapa mereka telah memadu cinta dan mengikat janji-janji mesra. Ah, lihatlah. Mereka mulai bergulingan!”

Soat Eng ngeri dan jijik. Akhirnya tahu apa kiranya yang hendak dilakuka si buntung itu kepadanya. Ia akan dibuat seperti kucing betina itu dan menjeritlah Soat Eng oleh takut yang hebat. Dan ketika ia memekik dan memaki-maki lawan, Togur menyeringai dan mendekati dirinya mendadak nyonya ini ingat caranya bunuh diri dan tiba-tiba ia menggigit lidahnya itu.

“Kau bedebah jahanam. Kau laki-lak tak tahu malu. Ah, terkutuk kau, Togur. Tapi jangan harap kau dapat memperlakukan aku seperti itu!” dan Soat Eng yang menggigit dan mengatupkan mulut tiba-tiba sudah berniat menghilangkan nyawa sendiri dengan memotong lidahnya. Ia takk sudi dan tentu saja tak mau dihina seperti itu. Lebih baik ia bunuh diri! Tapi ketika ia menggigit dan mengatupkan mulut, siap memotong lidah mendadak rahangnya kaku karena secepat itu pula Togur telah menotoknya!

“Ha-ha, tak ada kesempatan!” pemuda itu terbahak. “Jangan main-main di depanku, Soat Eng. Kau akan menjadi milikku atau paling tidak sandera yang amat berharga... cup!” dan si buntung yang mencium dan mengecup bibir nyonya itu tiba-tiba membuat Soat Eng mengeluh dan roboh pingsan.

Nyonya ini tak kuat lagi menahan derita. Ia terlampau hebat dipukul oleh ketakutan yang sangat. Nyonya itu ngeri! Dan begitu ia roboh dan sempat menerima satu kecupan di bibir, kecupan hangat yang tentu akan berlanjut bila ia tidak pingsan maka Togur kecewa dan mendorong atau melempar nyonya itu ke pembaringan. Si buntung ini marah namun ia menyeringai melihat dua binatang di lantai itu bergulingan. Masing-masing mengeong dan mendengus melepaskan gejolak hasratnya.

Dan karena ia gagal menyuruh tawanannya menonton, si buntung tertawa dan menarik kursi maka iapun menonton sendirian dan adegan demi adegan dinikmatinya dengan mata kelaparan. Tapi ketika ia tak tahan dan dibakar nafsunya pula tiba-tiba si buntung berteriak memanggil pembantunya. Dan begitu seorang wanita cantik muncul dan tertegun melihat tontonan itu, terkekeh, maka si buntung inipun menyambar wanita itu dan bergumullah mereka di dekat Soa Eng yang masih pingsan. Terkutuk!

Bagaimana dengan Siang Le? Hampir sama. Pemuda itupun dilempar ke kamarnya oleh Ui Kiok. Kita tahu siapa wanita ini, bukan lain adalah pimpinan Li-keh-pan yang dulu membunuh-bunuhi penduduk He-chungcu. Dan He Kang, putera He-chungcu yang tak mau menuruti keinginan wanita inipun tewas dibunuh wanita itu.

Dan karena Ui Kiok amat mendendam kepada keluarga Pendekar Rambut Emas terutama Thai Liong karena dulu ia pernah menawan pemuda itu (baca: Istana Hantu) maka tertangkapnya Soat Eng suami isteri membuat wanita itu ingin melampiaskan dendamnya kepada musuh-musuhnya ini. Ia dan Pek Kiok, saudaranya yang terbunuh pernah bertemu Thai Liong dan Ituchi. Dan Pek Kiok terbunuh oleh Ituchi membuat wanita itu mendendam dan memusuhi dua pemuda ini.

Namun Ituchi apalagi Thai Liong bukanlah lawannya. Dulu Thai Liong pernah tertawan karena akal liciknya, karena kecurangannya. Tapi karena putera Pendekar Rambut Emas itu bukanlah orang biasa dan Thai Liong berhasil melepaskan diri, Ituchi marah dan akhirnya membunuh Pek Kiok maka Ui Kiok yang hidup sendirian ini menjadi menderita ia lalu mengumpulkan wanita-wanita untuk dijadikan teman sekaligus pembantunya. Wanita itu berpetualang dan menyamarlah ia di balik nama Li-keh-pan, merampas atau memaksa pemuda-pemuda dusun untuk dijadikan pemuas nafsunya.

Maklumlah, wanita ini memang cabul dan amat tergila-gila kepada birahi. Ia tak pernah mengenal puas dan pemuda-pemuda yang menjadi korbannya selalu dipaksa untuk main dan main lagi. Mereka kehabisan tenaga dan tentu saja payah. Dan ketika mereka mengecewakan dan dibunuh, yang lain ketakutan dan getar maka nama rombongan ini ditakuti banyak orang dan Ui Kiok malang-melintang mencari korbannya. Sampai akhirnya suatu hari wanita itu bertemu Togur, ditundukkan dan tentu saja kelihaian si buntung itu mengejutkan wanita ini. Ui Kiok tak tahu bahwa yang dihadapi itu adalah bekas murid Enam Iblis Dunia, Togur diberitakan tewas ketika dulu bertanding dengan Kim-hujin, begitu juga guru-gurunya.

Maka begitu dia tahu bahwa si buntung ini adalah pemuda luar biasa yang kiranya masih hidup itu, Togur menceritakan bagaimana dia selamat maka wanita itu melonjak dan tertawalah si buntung ketika ia mendapat pelayanan istimewa dari wanita ini, kecupan atau ciuman bertubi-tubi yang merangsang darah mudanya. Togur tentu saja senang dan gembira karena pada dasarnya ia pun membutuhkan wanita-wanita cantik. Ia minta Ui Kiok melayaninya sampai puas dan ternyata wanita itu menghadapi lawan tading yang benar-benar luar biasa.

Dengan sinkangnya yang hebat dan tenaga yang masih berlebih-lebihan ternyata pemuda ini mampu membuat Ui Kiok dan tujuh kawan-kawannya kehabisan napas. Ui Kiok terpana, kagum! Dan ketika yang lain-lain juga mendapat giliran dan Togur “dikeroyok” puluhan wanita-wanita cantik itu maka pemuda ini girang namun akhirnya juga kewalahan oleh serbuan tigapuluh wanita-wanita cantik yang lapar itu.

Si buntung menikmati kesenangannya sampai sebulan lebih. Tapi karena keroyokan itu akhirnya membuatnya jemu, Togur lama-lama bosan maka wanita-wanita itu kecewa ketika si buntung membuat jarak. Togur rupanya merasa ngeri atau mengkirik juga harus melayani sekian wanita, meskipun ia hebat!

“Aku capai, aku perlu beristirahat. Siapa yang ingin boleh mencari lain pemuda saja dan kalian bersenang-senanglah.”

“Tak ada yang mencocoki kami,” Ui Kiok mewakili teman-temannya berkata. “Tak ada yang sehebat dan semengagumkan dirimu, siauw-ong. Kami bawahanmu dan kami hanya ingin melayanimu!”

“Ha-ha, aku lama-lama capai, tahu? Siapa tahan menghadapi sekian banyak wanita dalam waktu berbareng? Eh, aku tak mau dikuras terus-terusan, Ui Kiok. Aku juga ingin memulihkan tenagaku. Kalian cari saja yang lain untuk pengganjal sementara ini.”

“Bagaimana kalau siauw-ong menggilir saja kami satu per satu,” wanita itu masih tak mau menyerah. “Kami tak mendapatkan laki-laki sehebat dirimu, siauw-ong. Sukar mencari tandingannya dan hanya pemuda-pemuda seperti keturunan Pendekar Rambut Emas itu saja yang kiranya mungkin dapat. Selebihnya, nafsu besar tenaga kurang!”

“Hi-hik!” yang lain tiba-tiba terkekeh dan membenarkan. “Apa yang dikata Kiok-cici memang benar, siauw-ong. Pemuda-pemuda lain hanya besar nafsunya saja tapi tak tahan lama. Mereka itu tak memiliki sinkang sekuat dirimu!”

“Hm, kalian memaksa, tapi ini barang enak. Baiklah, kalian boleh kugilir dan satu per satu mendapatkan cintaku!”

“Kalau begitu aku dulu!” seseorang tiba-tiba meloncat dan berseru, kegirangan. Ia sejak tadi rupanya menunggu-nunggu jawaban ini tapi yang lain-lain tiba-tiba berseru dan meloncat susul-menyusul. Mereka ternyata tak mau kalah dan jadilah berebut mendapatkan si buntung itu. Dan ketika Ui Kiok mengerutkan kening karena ia ditinggalkan, anak buahnya itu tak menghargai dia maka tiba-tiba ia membentak dan Togur tertawa bergelak melihat wanita itu marah-marah.

“Sam-moi, jit-moi, minggir dan hargai aku. Siapa berani mendahului aku!” lalu ketika teman-temannya terkejut dan terpelanting kaget, Ui Kiok berapi-api maka ia berkata bahwa ialah yang paling dulu, yang lain-lain menyusul. “Siapa tidak menghormati aku maka ia kubunuh. Aku yang paling dulu dan selanjutnya siauw-ong menentukannya sendiri. Ayo, mundur dan berikan kesempatan kepadaku!”

Togur terbahak-bahak. Ia bangga dan senang sekali menjadi rebutan wanita-wanita itu. Ia memang mempergunakan sinkangnya setiap “bertanding” menghadapi wanita-wanita ini, maklumlah, ia ingin membuat kagum wanita-wanita itu karena pengalamannya selama ini memberitahukan bahwa wanita pada umumnya ingin mengagumi sesuatu yang hebat.

Pria yang hebat dalam hal-hal tertentu mudah menjatuhkan hati wanita dan lengketlah mereka kepada pria macam ini. Dan karena ia telah membuktikan dan kini Ui Kiok dan kawan-kawannya itu berebut, ia bagai kumbang jantan yang dirubungi banyak bunga-bunga harum maka tiba-tiba Togur menyambar dan mencium si cantik ini. Ui Kiok memang pemimpin kawan-kawannya.

“Ha-ha, jangan berebut. Semua akan mendapat bagian, semua akan mendapat giliran. Sekarang aku menetapkan saja siapa-siapa yang akan kupilih. Dan kita adakan pesta untuk setiap kali pilihan ini, pesta malam pengantin!”

“Siauw-ong maksudkan apa?” Ui Kiok tertegun.

“Aku maksudkan pembagian jatah bagi semuanya, Ui Kiok, satu per satu. Aku akan mengadakan pesta pilihan bagi yang mendapat keberuntungan!”

Si buntung lalu menerangkan maksudnya. Ia berkata bahwa pada tiap-tiap malam bulan purnama akan diadakan semacam malam pengantin, dia rajanya dan satu per satu dari puluhan wanita-wanita itu akan dipilihnya untuk dijadikan isteri. Masing-masing akan kebagian semalam nanti semuanya akan diberi tambahan ilmu.

Dan karena si buntung juga berkata bahwa siapa yang paling hebat melayaninya dialah yang akan mendapat ilmu paling banyak, pemuda itu mengadakan semacam perlombaan maka semua tentu saja menjadi girang dan masing-masing bakal berebut untuk melayani dan memberikan “servis” yang paling istimewa bagi si buntung itu.

“Aku akan memilih Sam-liong-to untuk tempat tinggal kita. Dan setiap malam bulan purnama kita adakan acara pengantin di mana aku akan memilih satu di antara kalian untuk mendapat jatah tetap dariku. Nah, jangan dahulu-mendahului karena kelak semuanya akan mendapat gilirannya!”

“Dan bagi yang belum kebagian?”

”Ha-ha, kalian dapat bersenang-senang dahulu, Ui Kiok. Cari pasangan di luar pulau dan bebas sementara menunggu aku!”

Wanita-wanita itupun girang. Mereka akhirnya bersorak dan jadilah pemuda itu mengajak semuanya ke Pulau Tiga Naga, Si buntung telah menjanjikan janji yang menarik dan tentu saja mereka berlomba memikat habis-habisan si buntung yang lihai. Togur juga senang karena ia benar-benar hidup bagai raja. Dan ketika malam pertama tentu saja ia memilih Ui Kiok, mengambil beberapa pemuda tegap di luar pulau untuk menjadi pelayan laki-laki maka pada malam pertama itu Sam-liong-to dibuat riang gembira oleh pesta malam pengantin yang hingar-bingar.

Tiga puluhan pemuda telah disiapkan untuk menghadapi tiga puluhan anak buah Ui Kiok itu. Mula-mula mereka agak ketakutan karena Togur sering lenyap dan muncul begitu saja di depan mereka. Tapi ketika wanita-wanita cantik itu menemani mereka dan malam pertama pesta sungguh menggembirakan sekali, pemuda-pemuda itu diajak bersatu dalam acara panggung maka ketika arak merah disuguhkan kepada mereka dan itulah pertanda puncak acara maka malam gila-gilaan yang ada di pulau ini dipergunakan si buntung itu menyaksikan atraksi menarik. Dia membagi-bagi arak pengantinnya itu kepada semua pria dan wanita yang ada di situ.

Akibatnya dapat diduga karena segera semuanya berjingkrak dan melakukan hal-hal yang di luar batas susila. Dan ketika laki-laki maupun perempuan telah melepas pakaian mereka untuk mengisi malam maksiat, Sam-liong-to ternoda oleh perbuatan si buntung ini maka semalam penuh tiga puluh pasangan itu bergumul tumpang tindih bagai hewan-hewan jalang. Togur menonton dan akhirnya membawa pasangannya sendiri ke dalam kamar, Ui Kiok panas dingin dan berkali-kali mengeluh di dekapan pemuda itu.

Dan ketika semalam itu pemuda-pemuda tetap dibuat puas, baru kali itu mereka merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan seumur hidup maka mereka itu menjadi ketagihan tapi celaka sekali wanita-wanita cantik itu justeru melebihi mereka karena mereka itu seperti srigala-srigala betina yang tak kenal puas. Pagi baru saja tiba ketika tiba-tiba wanita-wanita itu terkekeh dan berloncatan bangun. Mereka hampir tak berpakaian sama sekali karena semalam itu mereka berbugil ria, menubruk dan meminta lagi kepada pemuda-pemuda itu untuk melayani mereka.

Dan ketika para pemuda itu terkejut dan tersentak bangun, menyambut dan tertawa-tawa maka tiba-tiba saja mereka menjadi ngeri dan seram karena kekasih-kekasih mereka itu tak puas-puasnya meminta lagi. Mereka mengajak bercinta dan melakukan apa saja yang kira-kira pemuda-pemuda itu dapat diajak bertanding. Anak buah Ui Kiok ini menganggap para pemuda itu seperti Togur, yang memiliki keperkasaan dan kejantanan yang amat mengagumkan. Maka begitu mereka tahu bahwa pemuda-pemuda ini ternyata cepat lelah, tidak seperti si buntung itu maka tiba-tiba mereka menjadi geram dan pasangan mereka dipukuli seperti orang memukuli anjing.

“Heh, tak kuat? Loyo dan sudah capai? Keparat, jangan main-main, A-siong. Hayo bangun atau nanti kau kubunuh!“

“Tidak... tidak, aku... aku...”

“Plak-plak!” suara tamparan terdengar di sini, disusul oleh jerit dan pekik kesakitan karena di lain tempatpun tiba-tiba keadaan menjadi sama. Di situ wanita-wanita lapar ini memaksa pasangannya untuk bercinta lagi, main pukul atau tampar kalau pasangannya sudah lelah. Dan karena kejadian itu membuat pemuda-pemuda itu terkejut dan ketakutan, tentu saja mereka terguncang jiwanya maka mereka tiba-tiba malah menjadi lemas dan apa yang diharap justeru menjadi sebaliknya.

Tiga puluhan pemuda itu menggigil dan meminta-minta ampun. Mereka tahu bahwa wanita-wanita di situ adalah wanita-wanita lihai yang memiliki ilmu silat, bukan seperti mereka yang hanya pemuda dusun dan bodoh, meskipun mereka berbadan tegap karena sehari-hari bekerja di sawah. Dan ketika mereka ketakutan dan para wanita itu menjadi marah, nafsu mereka tak terlampiaskan maka pedang dicabut dan berteriaklah seorang pemuda ketika tahu-tahu dadanya ditusuk tembus!

Hal ini disusul oleh yang lain-lain dan tiba-tiba saja para wanita itu menjadi pembunuh. Pasangan yang tak dapat melayani mereka tiba-tiba ditikam dan dibunuh. Dan ketika sebentar saja tiga puluhan pemuda itu berteriak mandi darah, roboh dan tewas maka wanita-wanita itu terkekeh-kekeh dan satu sama lain mendadak saling tubruk dan rangkul berciuman!

“Hi-hik, tak dapat dengan lelaki biarlah dengan sesama kita sendiri, Jit-moi. Ayo puaskan aku dan aku akan memuaskanmu!”

Kejadian lebih mengerikan terjadi di sini. Para wanita itu bergumul satu sama lain dan mereka seperti hewan-hewan liar yang hanya dipenuhi nafsu berahi belaka. Moral atau ahlak tak ada di sini. Dan ketika masing-masing agak terpuaskan dan Togur berkelebat melihat ribut-ribut itu, di sampingnya Ui Kiok menyambar dan ikut menyaksikan pula maka si buntung tertegun tapi... tertawa pula.

“Heh-heh, kalian tak mendapat lelaki sekuat aku? Mencari dan memuaskan pasangan dengan cara sendiri? Bagus... bagus, teruskan acara ini, Jit-moi. Dan aku menonton!”

Si buntung itu menonton sambil menyambar dan memangku Ui Kiok. Semalam wanita ini dibuat panas dingin oleh kehebatan si buntung. Biarpun buntung tapi permainan di ranjang sungguh luar biasa. Tak ada pemuda sekuat si buntung ini! Dan ketika Ui Kiok juga terkekeh-kekeh menyaksikan tingkah anak buahnya, mereka itu bergumul dan mendengus-dengus bagai kerbau betina maka Togur mencium dan melumat kekasihnya ini pula, menyambar yang lain dan dipuaskanlah beberapa wanita di situ. Murid Enam Iblis Dunia ini memang sungguh kotor!

Dan ketika pada bulan-bulan berikut mereka mengadakan pesta lagi dan mencari pemuda-pemuda baru, Sam-liong-to kian kotor oleh pemuda bejat dan anak buahnya ini maka hari itu Soat Eng dan suaminya jatuh di tangan si buntung ini. Soat Eng telah melihat kekejian pemuda ini dengan sepasang binatang di dalam kamarnya. Namun ketika nyonya itu pingsan dan si buntung bermain cinta dengan seorang kekasihnya maka di tempat lain Siang Le pemuda gagah menantu Pendekar Rambut Emas itu juga mengalami godaan berat....!

Rajawali Merah Jilid 23

RAJAWALI MERAH
JILID 23
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Serial Pendekar Rambut Emas Karya Batara
SWAT LIAN terkejut. Sang nyonya didorong suaminya dan Pendekar Rambut Emas berdiri meloncat bangun. Gerakannya cepat dan tiba-tiba nyonya itu mendengar apa yang didengar suaminya. Jeritan orang! Dan ketika ia terbelalak dan kagum bahwa lagi-lagi ia kalah dulu, suaminya itu lebih tinggi dan lebih tajam pendengarannya maka Pendekar Rambut Emas tampak menggigil, mukanya berubah.

“Kau tahu siapa yang menjerit itu? Suara siapa?”

“Dari Sam-liong-to. Soat Eng!”

“Benar, dan terdengar teriakan lagi, Sekarang Siang Le. Ah, anak dan mantu kita mendapat bahaya. Mari ke sana dan jangan membuang-buang waktu lagi di sini!” dan Pendekar Rambut Emas yang berkelebat dan meluncur ke depan tahu-tahu telah meninggalkan isterinya untuk bergerak di permukaan air laut.

Sang isteri terkejut dan nyonya itupun berteriak, memanggil dan berjungkir balik mengejar suaminya itu. Dan ketika Pendekar Rambut Emas berhenti dan menyambar lengan isterinya, sang isteri sudah ditarik dan disendal maka mereka ini sudah terbang dan meluncur di riak buih gelombang laut selatan. Persis iblis atau siluman di siang hari bolong!

“Cepat, anak dan mantu kita meminta tolong, niocu. Ada sesuatu di Sam-liong-to!”

“Benar, aku mendengar teriakan mereka, suamiku. Tapi apa yang terjadi. Ada apa di pulau!”

“Siapa yang tahu? Yang jelas tentu kejadian hebat, niocu. Kalau tidak tak mungkin mereka menjerit sampai ke sini. Ah, bahaya selalu saja ada di depan!” dan Kim-mou-eng atau Pendekar Rambut Emas yang meluncur dan terbang di permukaan laut selatan lalu menyuruh isterinya untuk tidak bertanya-tanya, bergerak dan mempergunakan kesaktiannya dan tampaklah hal mengagumkan yang dilakukan suami isteri ini.

Mereka meluncur dan bergerak-gerak di atas permukaan laut dengan amat cepatnya, sebentar kemudian sudah menjadi titik kecil dan lenyap di kejauhan sana, padahal baru saja mereka itu meninggalkan daratan! Dan ketika suami isteri itu lenyap dan benar-benar tak tampak lagi, buih atau gelombang laut menghalangi pandangan maka di sana di tempat kejadian itu terjadi peristiwa mengejutkan.

Siang Le, seperti diketahui, telah disuruh ayah mertuanya untuk pergi duluan. Pemuda itu mengajak isterinya dan Soat Engpun gembira. Sudah lama Sam-liong-to tak mereka kunjungi dan baru hari itu mereka datang. Dan ketika mereka berperahu dan menyeberang sambil bernyanyi-nyanyi, Siang-hujin atau nyonya Siang ini tampak gembira sekali maka Siang Le yang semula berdebar dan mengerutkan kening akan kembali ke tempat tinggalnya sendiri mendadak terbawa atau terpengaruh oleh keriangan isterinya ini.

“Kenapa tidak harus gembira,” sang isteri menjawab sambil tertawa ketika pemuda itu menegur. “Kita datang untuk kembali ke rumah kita, Le-ko. Dan aku akan melihat serta memeriksa tanaman-tanaman yang ada di sana. Aku ingin melihat bagaimana tanaman anggrekku dulu, juga bunga-bunga ceplok piring yang dulu kutanam di gerbang Istana Hantu. Ah, aku rindu melihat mereka. Aku kangen!”

“Hm, dan kau tak ingin melihat hewan peliharaan kita? Kau tak ingat sepasang gorila jantan dan betina kita?”

“Ah, mereka piaraanmu, Le-ko. Mereka lebih dekat denganmu daripada aku. Aku hanya ingat bunga-bunga anggrek dan ceplok piringku, bukan sepasang gorila sialan itu, yang sering merusak tanamanku!”

“Hm,” Siang Le tersenyum. “Mereka adalah binatang yang tak mengerti perasaan manusia, Eng-moi. Mereka sebenarnya bukan mau merusak melainkan coba mencium atau merasakan bunga-bunga tanamanmu. Mereka baik dan sebenarnya malah ingin membantu.”

“Ih, membantu? Membantu apa? Ya membantu merusak itu. Sudahlah, mereka urusanmu dan aku bunga-bunga anggrekku. Awas, kalau ada yang dicabuti mereka itu akan kuhajar!”

“Ha-ha, mereka tentu akan bersembunyi lebih dulu. Begitu kau datang tentu mereka segera ke lubang perlindungan. Ah, jangan dihajar, Eng-moi. Kasihan binatang peliharaan kita itu. Dan setahun yang lalu gorila betina rupanya hamil!”

“Hamil?” sang nyonya tertegun. “Kau yakin itu?”

“Ya, gorila itu akan mempunyai turunan, Eng-moi. Dan mereka tentu bahagia mendapatkan anaknya!”

“Dan aku.... kita...” sang nyonya tiba-tiba mengeluh ditahan, terisak. “Aku kalah dengan binatang kita, Le-ko. Aku belum juga dapat memberimu keturunan!”

“Hm, sudahlah,” sang suami cepat menyambar dan memeluk isterinya ini. “Kita belum lama menikah, Eng-moi. Sedang sepasang gorila itu sudah bertahun-tahun. Ah, sudahlah. Jangan samakan dirimu dengan gorila betina itu karena ,manusia tetaplah manusia. Kau isteriku, kita dapat berusaha dan kita masih termasuk pengantin baru!” dan ketika Siang Le mencium isterinya dan tertawa menghibur riang maka Soat Eng tersenyum dan dapat menerima hiburan ini. Apalagi ketika sang suami tiba-tiba menuding ke depan. “Lihat, Sam-liong-to sudah di depan kita!”

Benar saja, tiga gundukan tanah memanjang tiba-tiba muncul di permukaa air laut, tiga buah pulau di mana yang paling tengah menonjol atau menggunduk bagai punuk seorang raksasa yang tidur telungkup, masih samar-samar namun akhirnya jelas dan kian menonjol, menggembirakan suami isteri itu karena itulah Sam-liong-to atau Pulau Tiga Naga tempat kediaman mereka. Dan ketika Soat Eng melepaskan diri dan menyambar dayung, perahu digerakkan sampai air laut memuncrat maka Siang Le tertawa melihat tingkah isterinya itu.

“Hei, awas. Jangan kuat-kuat memukul dayung, Eng-moi. Lihat pakaianku basah semua!”

“Hi-hik, biar sajalah. Nanti juga ku cuci!” dan ketika Soat Eng memukul atau menggerakkan dayungnya di permukaan laut yang bergelombang, muncrat dan kembali membasahi baju suaminya maka Siang Le memaki dan balas memukulkan dayung ke dekat isterinya, muncrat dan ganti isterinya itulah yang basah oleh air.

Suami isteri ini tiba-tiba bergurau dan tertawa-tawa dengan air laut selatan, Sam-liong-to sudah dekat dan tiba-tiba Siang Le meloncat berjungkir balik mendahului isterinya, mau lebih dulu tiba di pulau tapi sang isteri terkekeh dan berkelebat meninggalkan perahu, melesat dan lebih dulu menginjakkan kaki di tanah. Dan ketika Siang Le mengumpat namun tertawa bergelak, mereka sudah tiba di rumah maka Soat Eng berseru mengejek suaminya itu.

“Hi-hik, gerakanmu lamban. Lihat, aku lebih dulu!”

“Ah, kau nakal. Kau menjejak punggungku, Eng-moi. Kalau tidak tentu aku dulu.”

“Ih, siapa bilang. Kau yang bodoh terlalu rendah, Le-ko. Aku hanya melewatimu dan hanya ujung bajumu yang kena!”

“Ha-ha, sudahlah, kita sudah sampai. Mari adu cepat ke istana!”

“Hei, jangan curang. Kenapa menyiprati air dan lebih dulu lari...!”

“Ha-ha, kau bodoh kenapa kena, Eng-moi. Siapa suruh kau lengah!”

Suami isteri ini yang tertawa-tawa berlari cepat, Soat Eng memaki karena suaminya tadi menyiprati mukanya lalu balas menyiprati suaminya dan kejar-mengejar mendahului ke tengah. Di sana ada Istana Hantu dan itulah tempat tinggal mereka. Siang Le mencuri kesempatan selagi isterinya diajak bicara tadi, lari dan mendahului namun sang isterinya meloncat dan berkelebat mengejar pemuda ini. Dan ketika keduanya susul-menyusul namun Soat Eng menang cepat, memang selama ini Siang Le masih di bawah isterinya maka Soat Eng bersorak ketika gerbang Istana Hantu terlihat di depan, gagah dan garang.

“Aku menang. Horee... kau kalah!” sepasang suami isteri muda ini seperti kanak-kanak saja. Mereka mengejek dan saling pukul namun jelas keduanya begitu gembira. Siang Le yang tadi berkerut dan menarik kening tiba-tiba terpengaruh isterinya ini dan lupalah kepada firasat jelek. Tapi ketika Soat Eng tiba di gerbang Istana Hantu dan bangunan kuno yang megah namun menyeramkan itu menyambut mereka, dingin dan acuh maka Siang Le tiba-tiba berteriak dan jatuh tersandung sesuatu, benda hitam kecoklatan yang disangka batu gunung.

“Heiii...!”

Soat Eng membalik dan berhenti. Wanita itu terkejut karena seruan suaminya bukan seruan biasa. Ia telah melewati tanjakan di depan dan sama sekali tidak memperhatikan batu gunung itu, maklum, ia berjungkir balik dan jauh di atas batu ini. Dan ketika ia tertegun karena suaminya bergulingan di sana, kaget dan berteriak tertahan maka Soat Eng tiba-tiba terbelalak karena batu gunung yang menyandung suaminya itu tiba-tiba bergerak dan dapat menguik.

“Gorila kita...!”

Sang nyonya tersentak. Batu gunung itu, yang disangka batu, ternyata adalah gorila jantan yang tengkurap dan penuh debu. Kulitnya demikian kotor hingga nyaris berubah ujud, bukan sebagai seekor binatang melainkan sebuah batu besar. Dan ketika nyonya itu terkejut dan berseru tertahan, gorila itu bangkit namun terhuyung roboh maka ia sudah berkelebat dan Siang Le yang tadi terkejut menendang tubuhnya yang lunak empuk tiba-tiba juga sudah berteriak dan merangkul binatang itu, yang dadanya ternyata tertancap oleh tujuh batang anak panah hitam!

“Ah, kau Gosar. Apa yang terjadi!”

“Benar, mana isterimu, Gosar. Apa yang terjadi. Siapa yang melakukan ini kepadamu!” Soat Eng, yang sudah berkelebat dan berlutut di samping suaminya lalu berseru dan menggigil marah. Ia baru tahu bahwa gorila kesayangan mereka ini ternyata luka berat. Tujuh panah hitam yang menancap di dadanya itu bukan main-main. Heran bahwa binatang piaraanya ini masih hidup! Tapi marah dan gusar bahwa seseorang telah membuat binatangnya sekarat, gorila itu menguik dan mengendus-endus lengan Siang Le maka binatang itu coba menerangkan dengan lenguhan-lenguhan kecil.

Siang Le maupun isterinya menangkap dengan perasaan marah. Mereka hapal dan mengerti akan gerak-gerik dan sikap binatang ini dan segera mereka tahu bahwa Sam-liong-to telah ada pendatang haram. Dan ketika tiga kuikan lemah memberi tahu suami isteri itu bahwa gorila ini menanti mereka, tak mau ajal sebelum tuannya datang maka gorila jantan ini tiba-tiba mengejang dan melotot untuk akhirnya ambruk dan mati!

“Gorila kita terbunuh. Ia telah seminggu lebih menentang ajal!”

“Benar, ia menunggu kita, Le-ko, dan hendak memberitahukan bahwa orang yang amat jahat datang mengacau. Ah, siapa itu dan kenapa mengganggu kita!”

“Yang jelas pasti amat lihai. Tujuh batang panah itu menancap dalam padahal gorila kita kebal!”

“Keparat, aku tak perduli. Dia membunuh binatang kesayangan kita, Le-ko, dan ia memasuki pulau. Ah, aku akan membunuhnya dan mana gorila kita yang satu!”

“Ha-ha...!” suara tawa tiba-tiba menggelegar, datang atau menyambut kata-kata nyonya itu, membuat dua suami isteri ini terkejut. “Selamat datang, Soat Eng. Dan selamat bertemu lagi di pulau ini. Ah, Sam-liong-to sungguh pulau yang memberi keberuntungan!”

Soat Eng maupun Siang Le yang meloncat dan membalik ke belakang tiba-tiba dibuat kagat dan merinding karena tak ada siapa-siapa di situ, membentak dan tawa menggelegar itu terdengar lagi, berat dan bergulung-gulung dan Siang Le tiba-tiba berteriak menekan dadanya. Pemuda ini mengeluh dan hampir saja roboh. Bukan main kagetnya Soat Eng, sang isteri. Dan ketika Soat Eng membentak dan serasa mengenal suara tawa itu, menyambar dan menyelamatkan suaminya maka tawa itu terdengar lagi namun orang atau pemiliknya tak tampak, seolah berada di delapan penjuru mata angin. Sam-liong-to diguncang-guncang, persis hantu!

“Ha-ha, kau tak dapat mencariku, Soat Eng. Aku di sini. Ah, kau semakin cantik dan mengagumkan, matang. Kau bagai bunga mekar setelah disentuh lelaki. Ha-ha, selamat datang dan inilah yang kau cari... bluk!” sebuah benda besar melayang ke arah wanita ini, dari samping dan cepat wanita itu mengelak tapi alangkah kagetnya ia ketika mengetahui benda apa yang dilempar itu. Dan ketika wanita ini menjerit atau berseru tertahan, Siang Le juga berteriak dan mengenal itu maka pemuda ini membentak dan memaki,

“Itu gorila kita. Ia Togur!”

Soat Eng ingat. Tiba-tiba ia tersentak karena sekarang ia tahu dan hapal suara siapa itu. Kiranya Togur, si binatang keparat. Dan ketika wanita itu memaki dan membentak lawannya ini, sesosok asap hitam berkelebat dan meledak di depan mereka maka seorang pemuda buntung telah berdiri sambil terkekeh-kekeh.

Siang Le dan Soat Eng terkejut karena tiba-tiba dari tempat lain muncul bayangan-bayangan lain dan tahu-tahu tiga puluhan wanita telah berdiri dan terkekeh-kekeh mengepung mereka. Wanita yang rata-rata berwajah cantik dengan potongan tubuh sintal dan berpakaian seenaknya. Persis rombongan kaum penari atau wanita-wanita penghibur yang sengaja mempertontonkan sebagian tubuh mereka, dada dan pusar.

“Keparat, siapa ini!” Soat Eng melengking dan seketika meradang. Pipi dan mukanya mangar-mangar karena tigapuluhan wanita itu memandang suaminya dengan pandangan birahi dan kurang ajar. Dan karena mereka berpakaian seenaknya dan yang di depan malah hanya mengenakan pakaian dalam, rambutnya awut-awutan dan seakan orang habis bermain cinta maka Soat Eng naik pitam ketika wanita itu merangkul si buntung dan terkekeh berkata kepada suaminya, genit meliuk-liukkan pinggang.

“Hi-hik, ini kiranya menantu Pendek Rambut Emas yang gagah dan tampan itu tu. Ih, apakah aku boleh berkenalan dengannya, siauw-ongya? Kau tak keberatan memberikan pemuda itu untukku?”

“Ha-ha, siapa keberatan? Justeru kau akan kudapatkan untuknya, Ui Kiok. Dan yang wanita itu untukku. Eh, apakah kau dapat menangkapnya dan nanti main-main di depan mataku!”

“Tentu saja, kalau ongya mau....”

Tapi Soat Eng yang membentak dan berkelebat maju tiba-tiba menghantam tak dapat mengendalikan kemarahannya. Dua orang itu bicara kotor. “Tikus betina, kau tak patut bicara begini di tempatku. Pergi, atau kau mampus!”

Namun Togur bergerak. Pukulan dahsyat menghantam teman wanitanya ini dan wanita itu berteriak keras. Ia sudah menghindar namun rupanya kalah cepat. Soat Eng bergerak mengandalkan Jing-sian-engnya dan pukulannyapun bukan pukulan main-main. Itulah Khi-bal-sin-kang yang akan membuat wanita itu tewas. Tapi karena Togur bergerak dan si buntung itulah yang menyelamatkan wanita ini, melempar dan membuang temannya kesamping untuk akhirnya menyambut pukulan itu sendiri maka Soat Eng terjengkang ketika bertemu pukulan si buntung yang juga sama-sama mempergunakan Khi-bal-sin-kang!

“Dess!” Soat Eng memekik dan melempar tubuh bergulingan. Tangkisan lawan bukan seperti dulu melainkan lebih hebat lagi. Ia kalah dan terguling-guling meloncat bangun. Dan ketika wanita ini kaget sementara lawan terbahak-bahak, Siang Le juga kaget karena Togur sekarang lebih hebat daripada dulu maka ia teringat bahwa pemuda ini sudah menjadi murid Poan-jin-poan-kwi, bukan lagi sekedar menerima ilmu dari gurunya saja.

“Keparat!” Soat Eng memekik dan pucat ditolong suaminya. “Kau jahanam keparat, Togur. Tapi apa maumu datang ke sini. Sam-liong-to bukan tempat tinggalmu!”

“Ha-ha,” pemuda itu tenang-tenang saja, mengerdip dan memainkan mata kepada belasan wanita cantik di sana. “Aku datang untuk menjadi raja di sini, Soa Eng. Dan itulah isteri-isteriku yang cantik. Kau telah datang dan melihat kehadiranku. Nah, kau bergabunglah di sini dan kuangkat dirimu sebagai permaisuri!”

“Keparat, kau... kau tak tahu aku isteri orang?”

“Ha-ha, isteri atau bukan aku tak perduli Soat Eng. Suamimu itu biarlah menjadi penghibur isteri-isteriku yang lain karena di sini kekurangan lelaki. Lihat, isteri-isteriku itu sudah bergairah melihat suamimu. Dan akupun bergairah melihat dirimu. Ha-ha, kita tentu cocok dan satu sama lain dapat melihat bagaimana bermain cinta!”

“Keparat, si mulut kotor!” Soat Eng tak dapat menahan dan berteriak lagi. Wanita itu marah bukan main karena Togur benar-benar merendahkannya. Ia dihina dan dipermainkan di depan begitu banyak orang sementara suaminya juga tak dipandang sebelah mata. Nyonya itu mendelik dan tentu saja kemarahannya naik ke ubun-ubun. Dan ketika ia melengking dan berkelebat maju, tangan menampar dan pukulan dahsyat kembali menyambar, belasan wanita di situ tiba-tiba menjerit dan terlempar oleh angin pukulannya maka Togur bergerak dan menyuruh teman-temannya itu mundur, tahu bahwa puteri Pendekar Rambut Emas ini marah besar.

“Mundur.... semua mundur!”

Pukulan Soat Eng meledak dan menghantam tanah. Nyonya itu berteriak kece wa karena Togur tak mau menangkisnya. Ia ingin pemuda itu menangkis dan suara pukulan mereka tentu bakal membuat wanita-wanita itu terlempar. Ia benci dan marah sekali melihat puluhan wanita yang genit-genit itu, para jalang yang jelas bukan orang baik-baik apalagi dipimpin Togur, si buntung ini. Maka begitu ia gagal namun ia sudah menerjang lagi, para wanita itu tiba-tiba dikibas Togur agar menjauh, pukulan si nyonya sungguh dahsyat maka Soat Eng sudah memekik dan menyambar-nyambar lawannya ini dengan pukulan-pukulan cepat.

“Ha-ha, ingin main-main dulu. Bagus, boleh berkeringat sebelum bermain cinta, Soat Eng. Aku akan memberimu pelajaran bagaimana melayani calon suami yang baru!”

Soat Eng melotot dan merah padam. Ia dilayani dan segera si buntung itu berkelebatan ke kanan kiri menghindari pukulan-pukulannya. Dan ketika Togur menangkis dan ia terpental, si buntung itu tertawa menunjukkan kepandaiannya maka wanita muda ini berseru tertahan karena ia merasa kalah kuat dan akhirnya juga kalah cepat.

“Kau akan kubunuh!” wanita itu memekik dan menerjang lagi. Soat Eng melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang yang digabung Lui-ciang-hoat. Pukulan ini meledak-ledak dan tempat itu tiba-tiba diserang hawa panas yang membakar. Dan ketika Soat Eng juga mengeluarkan Cui-sian Gin-kangnya untuk membantu Jing-sian-eng, tubuhnya menjadi dua kali cepat berkelebatan menyambar-nyambar maka wanita itu benar-benar lenyap dan puluhan wanita yang ada di situ berseru kagum namun juga menjauh dan menjerit kaget kalau disambar atau didorong hawa panas.

“Ih, luar biasa. Puteri Pendekar Rambut Emas itu benar-benar hebat sekali!”

“Benar, ia amat lihai. Tapi siauw-ong ternyata lebih lihai. Lihat, ia mengeluarkan Bu-siang-sin-kangnya (Ilmu Sakti Tak Berwujud)!”

Seruan kagum tiba-tiba berubah menjadi seruan kaget. Tiga puluh wanita yang tadi memuji-muji Soat Eng mendadak berteriak ketika seorang di antaranya berseru menuding Togur. Pemuda itu meledakkan tangannya dan muncullah asap hitam seperti naga. Dan ketika asap itu menyambar dan meledak di depan Soat Eng, nyonya itu mengelak dan memaki lawan maka si buntung tiba-tiba tembus dipukul ketika Soat Eng menghajarnya dari samping.

“Dess!” Nyonya itu ngeri dan berteriak tertahan. Togur, yang mulai kewalahan oleh gabungan Khi-bal-sin-kang dan pukulan Lui-ciang-hoatnya tiba-tiba mempergunakan kesaktian yang diperoleh dari Poan-jin-poan-kwi. Pemuda itu menepuk tangannya dan memerciklah asap hitam seperti naga, meledak dan nyonya itu mengelak sambil melepas pukulan dari samping. Si buntung demikian dekat dan pemuda itu menerima. Tapi ketika tangan si nyonya tembus dan amblas begitu saja, memasuki rongga dada lawannya itu namun lawan tak apa-apa, seperti roh atau badan halus saja maka nyonya ini menjerit dan Siang Le yang terbelalak melihat itu tiba-tiba bergerak dan menerjang ke depan.

“Eng-moi, biar kubantu kau!”

Namun si buntung terkekeh. Ia berseru pada puluhan wanita di situ agar menghadang dan menangkap pemuda ini. Biarkan Soat Eng main-main dengannya dan tak seorangpun boleh menganggu. Dan ketika wanita-wanita itu berkelebatan dan mencegat pemuda ini, mereka bergerak dan tahu-tahu dengan cepat sudah meraih atau menyambar si tampan ini maka Siang Le terkejut dan tentu saja mengibas.

“Jangan ke sini, kalian pergilah... bres-bress!” dua wanita terlempar, jatuh menjerit namun yang lain menubruk dan tetap menangkap pemuda ini. Dan ketika puluhan pasang tangan menarik dan mencengkeram, Siang Le marah dan membentak wanita-wanita itu maka empat di antaranya terlempar lagi namun baju dan sebagian pundak pemuda ini robek dan tersentuh wanita-wanita itu. Siang Le merinding diusap jari-jari genit yang cabul dan menggelitik!

“Hi-hik, kulitnya halus. Pundaknya seperti wanita, namun kokoh!”

“Benar, dan aku berhasil merobek bajunya. Ah, keringat pemuda ini harum, Su-moi. Lihat robekan bajunya ini membawa keringatnya yang memabokkan. Hi-hik aku langsung jatuh cinta!”

Siang Le merah padam dan malu serta marah sekali. Ia sudah dikepung dan dicegat sana-sini, mengelak dan melepaskan pukulan namun wanita-wanita itu amatlah banyak. Dan karena sering ia harus memejamkan mata kalau dada atau bagian-bagian tubuh lain dari wanita-wanita itu bergoyang dan terkuak dari pakaiannya yang minim, Siang Le sungguh jengah maka pemuda ini menjadi gusar dan juga kikuk menghadapi keroyokan wanita-wanita jalang. Robekan bajunya tadi sudah dicium dan diendus-endus, yang membawa itu terkekeh-kekeh!

“Bunuh wanita-wanita itu. Dan cepat bantu aku!”

Siang Le bingung. Ia mendapat teriakan isterinya dan saat itu puluhan wanita yang mengeroyok ini semakin menggila dan merepotkan. Ia mengibas dan membuat beberapa di antaranya terpelanting tapi malah pakaian mereka itu lepas. Tujuh lawannya menjerit tapi mereka terkekeh-kekeh meloncat bangun ketika tahu bahwa pakaian mereka diterbangkan Siang-Le. Dan ketika tujuh wanita itu maju lagi dan tak malu-malu telanjang bulat, Siang Le terkejut dan merah padam maka ia sudah dipeluk dan diterkam dari tujuh arah.

“Hi-hik, Siang-kongcu ini tak sabar membuka pakaian kita. Marilah, kita ajak bergumul dan siapa yang lebih dulu mampu menciumnya!”

Siang Le membentak dan marah sekali. Ia tahu-tahu sudah dililiti tujuh wanita yang menubruk atau memeluk dirinya. Ia tadi terpaksa memejamkan mata karena tak tahan memandang tujuh wanita bugil itu, tertangkap dan inilah celakanya karena tiba-tiba tujuh wanita itu berebut mencium. Dan ketika empat di antaranya berhasil “ngak-ngik-ngok”, wajah dan leher pemuda itu diciumi lawan-lawannya maka Siang Le terkejut dan membuka mata, langsung bergerak dan tujuh tamparan dilepas mengenai tujuh wanita itu, yang tentu saja terjengkang dan menjerit mengaduh.

Gigi mereka rontok dipukul pemuda itu! Dan ketika mereka menangis namun teman-temannya sudah menerjang, lagi-lagi pemuda ini dikeroyok dan hendak ditangkap maka Siang Le berkelebatan dan ia menghindar atau mengelak sana-sini. isterinya melotot karena di depan mata pemuda itu dihujani cium yang bersuara keras. Ngak-ngik-ngok!

"Siang Le, bunuh mereka itu. Atau aku menghajarmu!”

Siang Le terkejut. Isterinya, yang biasa bersikap lembut dan hangat tiba-tiba memanggil namanya begitu saja penuh kemarahan. Ia menengok dan terkejut karena sang isteri terbakar mukanya, mata beringas dan mengeluarkan api yang amat panas. Dan ketika Siang Le sadar bahwa isterinya cemburu dan gusar, ia dicipok begitu banyak wanita maka pemuda itu membentak dan tiba-tiba berkelebat menampar atau menotok wanita-wanita ini, tak perduli pandang matanya harus sering bertemu dengan buah dada atau bagian-bagian tubuh yang minim.

“Kalian benar-benar jalang, tak tahu malu. Nih, terima pukulanku dan keluar dari Sam-liong-to!”

Wanita-wanita itu berteriak. Siang Le tiba-tiba marah dan menghajar mereka dengan tidak sungkan-sungkan lagi. Tujuh bekas kecupan terlihat di leher dan wajah pemuda itu karena wanita-wanita itu memakai gincu yang tebal, kontan membekas dan itulah yang membuat Soat Eng bertambah marah. Namun ketika Siang Le berkelebatan dan tubuhnya menyambar-nyambar dari satu tempat ke tempat lain, pemuda itu harus membantu isterinya yang terdesak oleh lawan maka Soat Eng lega namun nyonya ini dicengkeram Togur yang tiba-tiba membentaknya dan membalas dengan sebuah pukulan. Siang Le tampaknya akan meroboh-robohkan teman-teman wanitanya itu.

“Soat Eng, kau tak dapat ditolong siapa-siapa. Lihat pukulanku dan robohlah lebih dulu!”

Soat Eng terkejut. Ia membalik dan mengelak cengkeraman pemuda itu ketika tahu-tahu sambil tertawa si buntung ini mengulurkan lengannya. Dan ketika Sin-re-ciang atau Tangan Karet terulur panjang, Togur mendapatkan itu dari hasil tukar-menukar dengan mendiang See-ong maka Soat Eng tahu-tahu tertangkap dan wanita itu menjerit melempar tubuh bergulingan.

“Aihhh-brett!”

Baju wanita ini sobek. Soat Eng sampai pucat karena lawan sungguh memiliki ilmu bermacam-macam. Togur memang lihai di samping licik. Dan ketika ia bergulingan namun lawan mengejar terus, tangan itu memanjang dan semakin memanjang saja maka wanita itu mengeluh ketika tahu-tahu pundaknya tertangkap. Togur mempergunakan kelima jarinya yang bagai jepitan besi.

“Siang Le, tolong..!”

Jeritan itu menyentak si pemuda. Siang Le yang sudah merobohkan dan menotok sisa-sisa lawannya mendadak mennjadi tertegun dan berhenti menoleh. Ia sudah merobohkan separuh dari lawan-lawannya itu dan para wanita itu mmerintih-rintih di tanah. Mereka terkejut dan juga gentar oleh kehebatan menantu Pendekar Rambut Emas ini, meskipun rupanya sang isteri lebih hebat dan lihai lagi. Dan ketika pemuda itu menoleh dan sang isteri tertangkap, Soat Eng mengeluh dan dan roboh tertotok maka bayangan hitam tiba-tiba menyambar dan Ui Kiok, si cantik yang tadi di pelukan Togur itu menghantam tengkuknya dengan satu serangan gelap.

“Jangan bunuh!”

Siang Le terkejut dan sadar. Ia tahu ketika angin serangan menghantam tengkuknya, membalik dan menangkis dan bertemulah tenaga sinkangnya dengan sebuah lengan halus yang berwarna merah. Dan ketika bau busuk juga menyambar dan itulah Tui-hun-hiat-jiu (Tangan Berdarah Pemburu Sukma) maka pemuda ini terhuyung sementara lawannyapun terpental.

“Dess!” Ui Kiok, wanita itu, menjerit marah. Ia tadi sudah berusaha mencuri kesempatan dengan menyerang di kala pemuda ini tertegun. Ia marah melihat separuh dari teman-temannya roboh bergelimpangan tertotok atau ditampar pemuda ini hingga tak dapat bangun. Dan ketika ia menyerang namun tetap juga gagal, Siang Le mendengar bentakan Togur dan cepat membalik maka wanita itu melengking dan sisa temannya yang lain disuruh maju untuk mengeroyok pemuda ini, tadi ia tinggal menonton karena mengira pemud a itu dapat ditundukkan teman-temannya.

“Siauw-ong, pemuda ini tak dapat di tundukkan. Biarlah aku membunuhnya dan tak apa ia mampus!”

“Jangan,” si buntung tertawa berseru, tangannya sudah bergerak dan menyambar Soat Eng, yang pingsan. “Di sini tak ada laki-laki lain, Ui Kiok. Robohkan ia dan jadikan kekasih tercintamu. Ia menantu Pendekar Rambut Emas dan dapat menjadi barang berharga kalau tertangkap.”

“Kau tak ingin ia kubunuh?”

“Kau tak dapat membunuhnya, kalau tak kubantu. Sudahlah jangan ia dibunuh dan lepaskan pukulan-pukulanmu ke bagian atas dan aku akan menyerangnya bagian bawah.... ser-ser!”

Jarum-jarum hitam menyambar dan mengejutkan Siang Le, dilepas si buntung ini untuk mengganggunya dan tentu saja Siang Le terkejut dan berseru marah. Dan ketika wanita itu menyerangnya lagi dan ia harus meloncat ke atas tapi dipapak atau disambut wanita itu, Siang Le bingung dan gugup maka Tui-hun-hiat-jiu tiba-tiba mengenai tubuhnya ketika secara cepat sebatang jarum lebih dulu menancap di lutut kanannya.

“Aduh!”

Togur tertawa. Ia tahu kepandaian pemuda itu dan dibuatnya pemuda itu pincang. Siang Le bergulingan dan memaki-maki lawan tapi Togur diam saja di sana, tidak maju. Dan ketika Ui Kiok kembali menyambar dan Siang Le marah meloncat bangun, ia menggeram dan mengeluarkan Sin-re-ciangnya maka tangan karet itu mendahului dan menyelinap di balik Tui-hun-hiat-jiu. Dalam keadaan terpicang pemuda ini masih juga gagah melakukan perlawanan.

“Awas...!”

Ui Kiok terpekik dan menendangkan kakinya. Lengan pemuda itu tahu-tahu mulur panjang dan tiba-tiba sudah di bawah ketiaknya. Siang Le hendak meremas atau mencengkeram ketiak wanita ini, sekali kena tentu lawannya roboh! Tapi karena Togur memberi tahu dan lagi-lagi sebatang jarum menyambar, kaki Ui Kiok menyambut lengan pemuda itu maka Siang Le berseru tertahan ketika jarum dan lutut si cantik mengenai sikunya.

“Krek-augh!”

Pemuda itu pucat. Siang Le dan Sin-re-ciangnya seketika gagal. Jarum hitam itu menancap di jalan darah bawah siku dan itulah yang amat mengejutkan. Ia tiba-tiba lumpuh dan lengan karetnyapun sirna. Dan ketika tendangan itu mengenai lengannya dan Ui Kiok gemas melepas tamparan maka dua pukulan kuat mengenai pipi pemuda ini.

“Plak-plak!”

Siang Le terkejut mengeluh perlahan. Ia terbanting dan bergulingan hendak meloncat bangun ketika sebatang jarum lagi-lagi menyambar, mengenai pundaknya. Dan ketika ia menjerit karena jarum menancap amat dalam, kali ini ia tak dapat mengerahkan tenaga maka bayangan Ui Kiok yang berkelebat dan menendangnya roboh membuat pemuda itu habis daya dan benar-benar tak dapat bergerak lagi. Siang Le jatuh di tangan lawan, menahan nyeri dan marah yang hebat!

“Hi-hik, lumpuh kau sekarang, Siang-kongcu. Berterima kasihlah bahwa kau masih hidup!”

Ui Kiok, yang gemas dan melumpuhkan pemuda ini setelah Siang Le terkena jarum dua kali menyambar dan menangkap pemuda itu. Dia hampir membunuh pemuda ini kalau Togur tidak mencegahnya. Dan ketika ia tertawa melihat pemuda itu melotot, ia menunduk dan mencium pemuda itu maka Siang Le melengos dan membentak gusar.

“Jalang betina, jangan sentuh tubuhku. Bunuhlah aku dan jangan kira aku takut!"

“Hm!” Ui Kiok merah mukanya, ciumannya luput! “Kalau siauw-ong tidak mencegah tentu kau mampus, kongcu. Jangan kira aku tak dapat membunuhmu kalau ada kesempatan!”

“Sudahlah,” Togur tertawa, berkelebat dan telah berada di dekat temannya ini, “Kau belai dia dan cumbu di dalam, Ui Kiok. Masa kau tak dapat menundukkan lelaki dan biar tawananku yang satu itu menjadi milikku.”

“Siauw-ong benar-benar menyerahkan pemuda ini untukku?”

“Kau suka atau tidak?”

“Hm, sebenarnya sih suka. Tapi kalau dia sombong dan keras kepala tentu saja rasa sukaku bakal hilang!”

“Ha-ha, jangan bodoh. Pemuda seperti ini tak sukar ditundukkan, Ui Kiok. Dan malam nanti terang bulan. Apakah kau tidak ingin kita bersenang-senang menikmati malam pengantin? Sekarang di pulau ini ada dua lelaki, dan aku akan menyerahkan pemuda itu untukmu atau kalian semua. Aku akan mengambil tawananku sebagai permaisuri dan Sam-liong-to akan menjadi kerajaanku!”

“Ah, benar!” Ui Kiok tiba-tiba bersorak. “Malam nanti bulan purnama, siauw-ong. Dan kita akan mengadakan pesta. Aduh, tentu saja aku senang menikmati malam pengantin dan untuk malam pertama pemuda ini menjadi milikku!”

“Ha-ha, terserah. Dan sekarang bawa dia ke dalam dan lihat teman-temanmu yang lain iri!”

Ui Kiok terkekeh. Tiba-tiba ia menjadi gembira luar biasa begitu teringat bahwa malam nanti adalah malam bulan purnama. Sudah menjadi kebiasaan mereka selama ini bahwa setiap bulan purnama akan mengadakan “pesta pengantin”. Tiga puluh wanita di situ ganti-berganti dijadikan isteri oleh Togur dan sebenarnya malam nanti adalah malam ke tujuh. Togur menggilir “hari pernikahannya” dengan tigapuluhan wanita itu setiap malam bulan purnama.

Dan karena enam di antaranya sudah menjadi isteri si buntung itu namun si buntung belum pernah mengambil permaisuri, bahkan Ui Kiok sendiri baru diselir atau dijadikan isteri sambilan saja maka duapuluh empat yang lain belum mendapat bagian dan tentu saja mereka selalu berdebar-debar dan menunggu dengan penuh kegembiraan datangnya malam bulan purnama itu. Pada malam bulan purnama ini Togur akan mengumpulkan mereka semua dan mengikuti semacam upacara ritual, lalu menciprat-cipratkan air suci untuk akhirnya mengadakan acara bebas.

Dan karena acara bebas inilah yang paling ditunggu-tunggu, mereka akan menari dan berlenggang-lenggok menerima arak pengantin, Togur akan menjatuhkan satu di antara pilihannya untuk dijadikan. isteri maka semua berdebar dan akan girang kalau si buntung itu memilih mereka. Si buntung itu akan memberikan sebagian ilmunya kepada yang dipilih, semalam suntuk dilayani wanita yang dijadikan pilihannya ini dan keesokannya tentu wanita itu akan setingkat lebih lihai. Dan karena kelihaian inilah yang dicari-cari, semua akan berlomba dan merayu si buntung itu maka tiga puluhan wanita yang ada di sini tak jijik atau muak dengan cacadnya tubuh bekas murid Enam Iblis Dunia ini.

Togur memang amat lihai dan kelihaiannya semakin bertambah-tambah saja setelah dia memperoleh ilmu-ilmu dari tokoh-tokoh terkemuka. Mulai dari mendiang Hu Beng Kui sampai kepada Poan-jin-poan-kwi itu. Dan karena ia telah memiliki kesaktian yang amat luar biasa, Ui Kiok dan kawan-kawannya itu ditundukkan begitu mudah maka tiga puluhan wanita ini sebagai gundik sekaligus pembantu-pembantunya.

Togur menguasai Sam-liong-to dan Pulau Tiga Naga yang ditinggalkan penghuninya ini diduduki, berbulan-bulan pemuda itu bersembunyi di sini setelah ia dihajar Thai Liong, hal yang tentu juga tak disangka pemuda itu karena Thai Liong sibuk dengan urusannya mencari penyembuhan bagi adiknya Beng An. Dan ketika Togur menguasai tempat itu dan hari itu datang Siang Le dan isterinya, disambut dan tentu saja mengejutkan suami isteri itu maka hari itu juga dua orang muda ini jatuh ke tangan Togur.

Soat Eng memang tak dapat menandingi lawannya ini. Togur sekarang sudah jauh lebih hebat daripada dulu, memiliki Bu-siang-sin-kang yang mengerikan dan hanya ayah atau kakaknya saja yang mampu menghadapi si buntung itu. Dan ketika hari itu suami isteri ini roboh, si buntung tertawa dan bersiap mengadakan pesta malam pengantin maka Siang Le maupun isterinya berada dalam bahaya yang mengerikan.

Mereka akan dipermainkan si buntung ini dan sekali jatuh tentu aib dan rasa malulah yang menghantui seumur hidup. Togur telah merencanakan mengambil wanita itu sebagai permaisurinya, sedangkan Siang Le akan diserahkan kepada Ui Kiok dan kawan-kawannya. Dan karena malam nanti bulan purnama dan suami isteri itu kebetulan datang, Togur girang merencanakan sesuatu yang keji maka ketika dia menyerahkan Siang Le kepada Ui Kiok maka Soat Eng sendiri disambar dan dibawanya ke dalam kamar, tak tahu bahwa jeritan atau pekikan Soat Eng telah didengar ayah bundanya jauh di seberang Sam-liong-to.

“Ha-ha, sadarlah,” pemuda itu membuka dan membebaskan totokan wanita muda ini, begitu menutup pintu kamar. Kau calon milikku, Soat Eng. Dan malam nanti kita bergembira!”

“Uh...” Soat Eng menggeliat dan sadar nembuka mata, terbelalak melihat si buntung itu, langsung berubah mukanya. “Di mana aku kini, Togur. Dan apa yang akan kau lakukan kepadaku!”

“Ha-ha, tak perlu berteriak. Kita di tempat aman, Soat Eng. Di tempat kamarmu sendiri. Lihat, bunga anggrek dan ceplok piring itu ada di sini. Bunga-bunganya mulai mengembang!”

Soat Eng, yang terkejut dan membelalakkan mata tiba-tiba tertegun melihat pot-pot bunga yang ditunjuk pemuda itu. Dia berada di sebuah kamar bersih yang semuanya dipenuhi bunga. Anggrek berwarna-warni serta bunga-bunga ceplok piring kesayangannya. Dan ketika ia terbentur kepada kelambu biru muda, juga lampu naga yang menempel di dinding maka wanita itu sadar bahwa ia memang berada di kamarnya sendiri. Kamar ia dan suaminya!

“Mana suamiku!” wanita itu membentak, kaget dan tersentak. “Kenapa kau ada di sini, Togur. Mana Siang Le dan mau apa kau di sini!”

“Ha-ha, kau tawananku, kau bakal permaisuriku. Kau akan kujadikan isteri Soat Eng. Dan malam nanti kita meramaikan malam pernikahan kita. Suamimu itu sudah kuserahkan kepada Ui Kiok dan dialah yang akan mengurus.”

“Jahanam, bedebah!” Soat Eng memaki dan merah padam, tiba-tiba saja marah. “Kau tak tahu malu dan hina, Togur. Kau laki-laki binatang. Lepaskan aku dan apa itu malam pengantin segala. Aku isteri orang, tak sudi kau sentuh!”

“Hm, jangan galak-galak,” si buntung itu tertawa dan mendekati serta mengelus pipi nyonya muda ini. “Kau calon milikku, Soat Eng. Dan kaupun tawananku. Aku tak membunuhmu karena ingin bersahabat baik dengan ayah ibumu. Kau akan kujadikan isteri dan kakakmu yang lihai itu akan menjadi kakak iparku, ha-ha!”

Soat Eng menjerit dan mengelak ketika jari-jari nakal pemuda itu mengusap dan menyentuh pipinya secara kurang ajar, mau turun tapi wanita ini menggigit dan ditariklah jari itu sambil tertawa. Dan ketika Soat Eng pucat pasi karena lawan amatlah kurang ajar, dia tak berdaya dan sungguh di bawah kekuasaan si buntung maka Soat Eng menggigil mengancam pemuda ini.

“Togur, jangan menghina atau menyentuh tubuhku. Sekali kau mengganggu maka aku akan bunuh diri di sini!”

“Hm, kau kutotok,” pemuda itu tak takut. “Kau tak dapat berbuat apa-apa selama aku ada di sini, Soat Eng. Jangan main ancam segala karena tak mungkin kau bisa melakukan itu.”

“Aku dapat menggigit putus lidahku!” nyonya itu berseru, marah dan membuat lawan terkejut. “Kau boleh menotokku atau apa saja namun tak mungkin terus-terusan kau menjaga aku, Togur. Dan sekali aku bunuh diri maka selamanya kakak atau ayahku tak akan mengampunimu!”

“Hm,” si buntung keder, nama atau bayangan Thai Liong membuatnya mundur. “Kau tak akan kuganggu, Soat Eng. Tapi aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menyerah sendiri. Lihat malam nanti pernikahan kita disaksikan banyak orang...”

“Kau iblis tak tahu malu. Kau jahanam busuk. Sudah kuberi tahu bahwa aku isteri orang dan tak sudi aku tunduk kepadamu!”

“Ha-ha, itu sekarang, sebelum upacara itu datang. Tapi begitu kita di panggung maka semuanya akan berubah, Soat Eng. Dan kau akan menjadi isteriku paling tercinta. Kau akan merengek dan mendengus-dengus di kakiku!”

Soat Eng memaki-maki. Ia gusar dan marah sekali karena si buntung itu bicara semakin tak tahu malu. Ia ingin menutup telinganya namun sayang ia tertotok. Dan ketika si buntung itu membungkuk dan mencium rambutnya, Soat Eng hampir saja menjerit maka pemuda itu berkata bahwa dia akan keluar sebentar, nanti kembali lagi.

“Aku akan “menunjukkan sesuatu kepadamu. Dan katakanlah bahwa kau tak dapat ku tundukkan!”

Soat Eng tertegun. Ia melihat si buntung menutup pintu dan kilatan matanya amatlah mengerikan. Si buntung itu tertawa dengan aneh dan tawanya itu yang membuat ia merinding. Tapi begitu si buntung lenyap dan pintu kamar itu menutup lagi maka Soat Eng tiba-tiba bergerak dan coba beringsut melepas totokan. Dengan muka berkeringat dan tergesa-gesa ia mengempos semangat untuk membobol jalan darah itu. Tapi ketika usahanya gagal dan ia tak dapat mengerahkan sinkang, Togur sungguh jahanam maka ia gagal dan tiba-tiba pintu kamar terbuka lagi, si buntung itu masuk, tidak membawa apa-apa.

“Ha-ha, mau melarikan diri? Tak mungkin. Aku menutup aliran sinkangmu, Soat Eng. Dan tanpa kubuka tak mungkin kau mampu membuka totokan itu. Hanya kakak atau ayahmu yang barangkali bisa!”

“Kau pemuda jahanam, terkutuk!” Soat Eng merah dan malu. “Kau bunuh saja aku, Togur. Dan aku akan berterima kasih kepadamu di akherat!”

“Ha-ha, sebelum menikah? Ah, jangan Soat Eng. Aku masih ingin menyatakan cintaku dan kau harus menerimanya dulu. Setelah itu mau apa saja tentu terserah!”

Soat Eng melotot. Ia merasa ngeri melihat sikap dan tingkah laku lawannya ini. Dan ketika ia terbelalak karena usaha melarikan dirinya diketahui, pemuda itu cepat keluar dan kembali maka Togur bertepuk tangan dan tiba-tiba dua wanita cantik muncul, membawa seekor anjing jantan dan kucing betina, yang mengeong-ngeong dan menggonggong gaduh!

“Ha-ha, taruh dan letakkan di situ. Biar kalian keluar dan dua binatang ini kuurus!”

“Baik,” dua wanita itu tertawa genit, yang membawa anjing meletakkan anjingnya dan yang membawa kucing juga meletakkan kucingnya. “Awas hati-hati, siauw-ong. Mereka ini sejak tadi selalu berkelahi!”

“Ha-ha, akan kuurus. Sudahlah kalian keluar dan tutup pintu kembali!” Togur mengebut dan mengusir keluar dua wanita itu, yang sudah meletakkan hewan-hewan itu. Dan begitu anjing serta kucing itu diletakkan maka mereka saling terjang dan gonggong atau meong kucing itu semakin ramai. Gaduh dan berisik!

“Lihat,” si buntung berseru kepada tawanannya. “Anjing dan kucing betina itu tak dapat bersatu, Soat Eng. Tapi aku akan membuat keduanya bercinta!” dan begitu si buntung mengebut dan menyambar anjing jantan, yang menguik dan roboh tertangkap tiba-tiba pemuda itupun menyambar atau menangkap kucing betina. Soat Eng terbelalak dan tak mengerti apa yang akan dilakukan lawannya ini.

“Pus...” si buntung mengusap dan membelai kucing betina, yang mengeong-ngeong dan akan menerjang lawannya. ”Tenang dan diamlah, pus. Jangan gaduh dan membuat berisik di sini. Hayo kalian berdua menurut dan minumlah ini!” si buntung mengeluarkan sebotol arak harum, membuka tutupnya dan tiba-tiba kucing betina tersedak.

Kucing itu mencium bau keras dan mendadak sikapnya yang garang dan mengeong-ngeong tadi lenyap, terganti oleh erangan perlahan seperti orang merintih. Dan ketika anjing jantan itu juga tidak menggonggong-gonggong lagi dan suaranya yang galak terganti dengan dengus atau geram pendek maka Togur menuangkan arak di telapak tangannya dan dua ekor binatang itu tiba tiba berebut untuk saling minum, menjilat-jilat!

“Lihat,” pemuda itu tertawa. “Sebentar lagi dua binatang yang bermusuhan ini akan menjadi suami isteri, Soat Eng, Dan kau akan membuktikan bahwa seberapa ganaspun kucing betina menolak ia akan bertekuk lutut juga!”

“Ah,” nyonya ini masih tak mengerti, heran dan curiga. “Apa yang kau lakukan, Togur? Apa maksud kata-katamu?”

“Ha-ha, lihat dan saksikan saja. Ini Arak Sorgaku dan siapapun yang minum akan segera terbang menikmati mimpi indah!”

Soat Eng merah dan curiga. Ia sedikit menangkap sesuatu namun kesederhanaan dan bersihnya batin tak membuat nyonya itu menduga terlampau jauh. Ia terbelalak dan heran serta menduga-duga apa yang akan dilakukan pemuda itu, apa yang terjadi. Tapi ketika anjing jantan tiba-tiba melenguh dan mendengus mencium kucing betina, kucing betina juga megeong dan menjilat anjing jantan maka anjing itu tiba-tiba melompat dan Soat Eng menutup mata dengan teriakan kecil ketika anjing itu tahu-tahu sudah di atas punggung kucing betina.

“Ah, terkutuk. Manusia cabul!” Soat Eng memekik dan menjadi gusar. Seketika ia mengerti apa yang telah dilakukan lawannya itu.

Togur memberikan arak perangsang dan kucing serta anjing yang bermusuhan hebat itu mendadak dibuat birahi dan satu sama lain ingin melampiaskan hasrat kebinatangannya. Dan ketika Togur tertawa penuh gelak karena dua ekor binatang itu tiba-tiba sudah bercumbu dan bersatu dengan panas, adegan selanjutnya sungguh membuat Soat Eng merah padam maka nyonya itu mengguguk dan kengerian serta ketakutannya muncul dengan hebat. Kiranya ia akan juga dibuat seperti kucing betina itu!

“Togur, kau... kau binatang keparat. Ah, kau bunuhlah aku dan jangan lakukan aku sehina itu. Kau bunuhlah aku!”

“Ha-ha!” si buntung terbahak dan bertepuk tangan. “Lihat dan saksikan itu Soat Eng. Betapa mereka telah memadu cinta dan mengikat janji-janji mesra. Ah, lihatlah. Mereka mulai bergulingan!”

Soat Eng ngeri dan jijik. Akhirnya tahu apa kiranya yang hendak dilakuka si buntung itu kepadanya. Ia akan dibuat seperti kucing betina itu dan menjeritlah Soat Eng oleh takut yang hebat. Dan ketika ia memekik dan memaki-maki lawan, Togur menyeringai dan mendekati dirinya mendadak nyonya ini ingat caranya bunuh diri dan tiba-tiba ia menggigit lidahnya itu.

“Kau bedebah jahanam. Kau laki-lak tak tahu malu. Ah, terkutuk kau, Togur. Tapi jangan harap kau dapat memperlakukan aku seperti itu!” dan Soat Eng yang menggigit dan mengatupkan mulut tiba-tiba sudah berniat menghilangkan nyawa sendiri dengan memotong lidahnya. Ia takk sudi dan tentu saja tak mau dihina seperti itu. Lebih baik ia bunuh diri! Tapi ketika ia menggigit dan mengatupkan mulut, siap memotong lidah mendadak rahangnya kaku karena secepat itu pula Togur telah menotoknya!

“Ha-ha, tak ada kesempatan!” pemuda itu terbahak. “Jangan main-main di depanku, Soat Eng. Kau akan menjadi milikku atau paling tidak sandera yang amat berharga... cup!” dan si buntung yang mencium dan mengecup bibir nyonya itu tiba-tiba membuat Soat Eng mengeluh dan roboh pingsan.

Nyonya ini tak kuat lagi menahan derita. Ia terlampau hebat dipukul oleh ketakutan yang sangat. Nyonya itu ngeri! Dan begitu ia roboh dan sempat menerima satu kecupan di bibir, kecupan hangat yang tentu akan berlanjut bila ia tidak pingsan maka Togur kecewa dan mendorong atau melempar nyonya itu ke pembaringan. Si buntung ini marah namun ia menyeringai melihat dua binatang di lantai itu bergulingan. Masing-masing mengeong dan mendengus melepaskan gejolak hasratnya.

Dan karena ia gagal menyuruh tawanannya menonton, si buntung tertawa dan menarik kursi maka iapun menonton sendirian dan adegan demi adegan dinikmatinya dengan mata kelaparan. Tapi ketika ia tak tahan dan dibakar nafsunya pula tiba-tiba si buntung berteriak memanggil pembantunya. Dan begitu seorang wanita cantik muncul dan tertegun melihat tontonan itu, terkekeh, maka si buntung inipun menyambar wanita itu dan bergumullah mereka di dekat Soa Eng yang masih pingsan. Terkutuk!

Bagaimana dengan Siang Le? Hampir sama. Pemuda itupun dilempar ke kamarnya oleh Ui Kiok. Kita tahu siapa wanita ini, bukan lain adalah pimpinan Li-keh-pan yang dulu membunuh-bunuhi penduduk He-chungcu. Dan He Kang, putera He-chungcu yang tak mau menuruti keinginan wanita inipun tewas dibunuh wanita itu.

Dan karena Ui Kiok amat mendendam kepada keluarga Pendekar Rambut Emas terutama Thai Liong karena dulu ia pernah menawan pemuda itu (baca: Istana Hantu) maka tertangkapnya Soat Eng suami isteri membuat wanita itu ingin melampiaskan dendamnya kepada musuh-musuhnya ini. Ia dan Pek Kiok, saudaranya yang terbunuh pernah bertemu Thai Liong dan Ituchi. Dan Pek Kiok terbunuh oleh Ituchi membuat wanita itu mendendam dan memusuhi dua pemuda ini.

Namun Ituchi apalagi Thai Liong bukanlah lawannya. Dulu Thai Liong pernah tertawan karena akal liciknya, karena kecurangannya. Tapi karena putera Pendekar Rambut Emas itu bukanlah orang biasa dan Thai Liong berhasil melepaskan diri, Ituchi marah dan akhirnya membunuh Pek Kiok maka Ui Kiok yang hidup sendirian ini menjadi menderita ia lalu mengumpulkan wanita-wanita untuk dijadikan teman sekaligus pembantunya. Wanita itu berpetualang dan menyamarlah ia di balik nama Li-keh-pan, merampas atau memaksa pemuda-pemuda dusun untuk dijadikan pemuas nafsunya.

Maklumlah, wanita ini memang cabul dan amat tergila-gila kepada birahi. Ia tak pernah mengenal puas dan pemuda-pemuda yang menjadi korbannya selalu dipaksa untuk main dan main lagi. Mereka kehabisan tenaga dan tentu saja payah. Dan ketika mereka mengecewakan dan dibunuh, yang lain ketakutan dan getar maka nama rombongan ini ditakuti banyak orang dan Ui Kiok malang-melintang mencari korbannya. Sampai akhirnya suatu hari wanita itu bertemu Togur, ditundukkan dan tentu saja kelihaian si buntung itu mengejutkan wanita ini. Ui Kiok tak tahu bahwa yang dihadapi itu adalah bekas murid Enam Iblis Dunia, Togur diberitakan tewas ketika dulu bertanding dengan Kim-hujin, begitu juga guru-gurunya.

Maka begitu dia tahu bahwa si buntung ini adalah pemuda luar biasa yang kiranya masih hidup itu, Togur menceritakan bagaimana dia selamat maka wanita itu melonjak dan tertawalah si buntung ketika ia mendapat pelayanan istimewa dari wanita ini, kecupan atau ciuman bertubi-tubi yang merangsang darah mudanya. Togur tentu saja senang dan gembira karena pada dasarnya ia pun membutuhkan wanita-wanita cantik. Ia minta Ui Kiok melayaninya sampai puas dan ternyata wanita itu menghadapi lawan tading yang benar-benar luar biasa.

Dengan sinkangnya yang hebat dan tenaga yang masih berlebih-lebihan ternyata pemuda ini mampu membuat Ui Kiok dan tujuh kawan-kawannya kehabisan napas. Ui Kiok terpana, kagum! Dan ketika yang lain-lain juga mendapat giliran dan Togur “dikeroyok” puluhan wanita-wanita cantik itu maka pemuda ini girang namun akhirnya juga kewalahan oleh serbuan tigapuluh wanita-wanita cantik yang lapar itu.

Si buntung menikmati kesenangannya sampai sebulan lebih. Tapi karena keroyokan itu akhirnya membuatnya jemu, Togur lama-lama bosan maka wanita-wanita itu kecewa ketika si buntung membuat jarak. Togur rupanya merasa ngeri atau mengkirik juga harus melayani sekian wanita, meskipun ia hebat!

“Aku capai, aku perlu beristirahat. Siapa yang ingin boleh mencari lain pemuda saja dan kalian bersenang-senanglah.”

“Tak ada yang mencocoki kami,” Ui Kiok mewakili teman-temannya berkata. “Tak ada yang sehebat dan semengagumkan dirimu, siauw-ong. Kami bawahanmu dan kami hanya ingin melayanimu!”

“Ha-ha, aku lama-lama capai, tahu? Siapa tahan menghadapi sekian banyak wanita dalam waktu berbareng? Eh, aku tak mau dikuras terus-terusan, Ui Kiok. Aku juga ingin memulihkan tenagaku. Kalian cari saja yang lain untuk pengganjal sementara ini.”

“Bagaimana kalau siauw-ong menggilir saja kami satu per satu,” wanita itu masih tak mau menyerah. “Kami tak mendapatkan laki-laki sehebat dirimu, siauw-ong. Sukar mencari tandingannya dan hanya pemuda-pemuda seperti keturunan Pendekar Rambut Emas itu saja yang kiranya mungkin dapat. Selebihnya, nafsu besar tenaga kurang!”

“Hi-hik!” yang lain tiba-tiba terkekeh dan membenarkan. “Apa yang dikata Kiok-cici memang benar, siauw-ong. Pemuda-pemuda lain hanya besar nafsunya saja tapi tak tahan lama. Mereka itu tak memiliki sinkang sekuat dirimu!”

“Hm, kalian memaksa, tapi ini barang enak. Baiklah, kalian boleh kugilir dan satu per satu mendapatkan cintaku!”

“Kalau begitu aku dulu!” seseorang tiba-tiba meloncat dan berseru, kegirangan. Ia sejak tadi rupanya menunggu-nunggu jawaban ini tapi yang lain-lain tiba-tiba berseru dan meloncat susul-menyusul. Mereka ternyata tak mau kalah dan jadilah berebut mendapatkan si buntung itu. Dan ketika Ui Kiok mengerutkan kening karena ia ditinggalkan, anak buahnya itu tak menghargai dia maka tiba-tiba ia membentak dan Togur tertawa bergelak melihat wanita itu marah-marah.

“Sam-moi, jit-moi, minggir dan hargai aku. Siapa berani mendahului aku!” lalu ketika teman-temannya terkejut dan terpelanting kaget, Ui Kiok berapi-api maka ia berkata bahwa ialah yang paling dulu, yang lain-lain menyusul. “Siapa tidak menghormati aku maka ia kubunuh. Aku yang paling dulu dan selanjutnya siauw-ong menentukannya sendiri. Ayo, mundur dan berikan kesempatan kepadaku!”

Togur terbahak-bahak. Ia bangga dan senang sekali menjadi rebutan wanita-wanita itu. Ia memang mempergunakan sinkangnya setiap “bertanding” menghadapi wanita-wanita ini, maklumlah, ia ingin membuat kagum wanita-wanita itu karena pengalamannya selama ini memberitahukan bahwa wanita pada umumnya ingin mengagumi sesuatu yang hebat.

Pria yang hebat dalam hal-hal tertentu mudah menjatuhkan hati wanita dan lengketlah mereka kepada pria macam ini. Dan karena ia telah membuktikan dan kini Ui Kiok dan kawan-kawannya itu berebut, ia bagai kumbang jantan yang dirubungi banyak bunga-bunga harum maka tiba-tiba Togur menyambar dan mencium si cantik ini. Ui Kiok memang pemimpin kawan-kawannya.

“Ha-ha, jangan berebut. Semua akan mendapat bagian, semua akan mendapat giliran. Sekarang aku menetapkan saja siapa-siapa yang akan kupilih. Dan kita adakan pesta untuk setiap kali pilihan ini, pesta malam pengantin!”

“Siauw-ong maksudkan apa?” Ui Kiok tertegun.

“Aku maksudkan pembagian jatah bagi semuanya, Ui Kiok, satu per satu. Aku akan mengadakan pesta pilihan bagi yang mendapat keberuntungan!”

Si buntung lalu menerangkan maksudnya. Ia berkata bahwa pada tiap-tiap malam bulan purnama akan diadakan semacam malam pengantin, dia rajanya dan satu per satu dari puluhan wanita-wanita itu akan dipilihnya untuk dijadikan isteri. Masing-masing akan kebagian semalam nanti semuanya akan diberi tambahan ilmu.

Dan karena si buntung juga berkata bahwa siapa yang paling hebat melayaninya dialah yang akan mendapat ilmu paling banyak, pemuda itu mengadakan semacam perlombaan maka semua tentu saja menjadi girang dan masing-masing bakal berebut untuk melayani dan memberikan “servis” yang paling istimewa bagi si buntung itu.

“Aku akan memilih Sam-liong-to untuk tempat tinggal kita. Dan setiap malam bulan purnama kita adakan acara pengantin di mana aku akan memilih satu di antara kalian untuk mendapat jatah tetap dariku. Nah, jangan dahulu-mendahului karena kelak semuanya akan mendapat gilirannya!”

“Dan bagi yang belum kebagian?”

”Ha-ha, kalian dapat bersenang-senang dahulu, Ui Kiok. Cari pasangan di luar pulau dan bebas sementara menunggu aku!”

Wanita-wanita itupun girang. Mereka akhirnya bersorak dan jadilah pemuda itu mengajak semuanya ke Pulau Tiga Naga, Si buntung telah menjanjikan janji yang menarik dan tentu saja mereka berlomba memikat habis-habisan si buntung yang lihai. Togur juga senang karena ia benar-benar hidup bagai raja. Dan ketika malam pertama tentu saja ia memilih Ui Kiok, mengambil beberapa pemuda tegap di luar pulau untuk menjadi pelayan laki-laki maka pada malam pertama itu Sam-liong-to dibuat riang gembira oleh pesta malam pengantin yang hingar-bingar.

Tiga puluhan pemuda telah disiapkan untuk menghadapi tiga puluhan anak buah Ui Kiok itu. Mula-mula mereka agak ketakutan karena Togur sering lenyap dan muncul begitu saja di depan mereka. Tapi ketika wanita-wanita cantik itu menemani mereka dan malam pertama pesta sungguh menggembirakan sekali, pemuda-pemuda itu diajak bersatu dalam acara panggung maka ketika arak merah disuguhkan kepada mereka dan itulah pertanda puncak acara maka malam gila-gilaan yang ada di pulau ini dipergunakan si buntung itu menyaksikan atraksi menarik. Dia membagi-bagi arak pengantinnya itu kepada semua pria dan wanita yang ada di situ.

Akibatnya dapat diduga karena segera semuanya berjingkrak dan melakukan hal-hal yang di luar batas susila. Dan ketika laki-laki maupun perempuan telah melepas pakaian mereka untuk mengisi malam maksiat, Sam-liong-to ternoda oleh perbuatan si buntung ini maka semalam penuh tiga puluh pasangan itu bergumul tumpang tindih bagai hewan-hewan jalang. Togur menonton dan akhirnya membawa pasangannya sendiri ke dalam kamar, Ui Kiok panas dingin dan berkali-kali mengeluh di dekapan pemuda itu.

Dan ketika semalam itu pemuda-pemuda tetap dibuat puas, baru kali itu mereka merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan seumur hidup maka mereka itu menjadi ketagihan tapi celaka sekali wanita-wanita cantik itu justeru melebihi mereka karena mereka itu seperti srigala-srigala betina yang tak kenal puas. Pagi baru saja tiba ketika tiba-tiba wanita-wanita itu terkekeh dan berloncatan bangun. Mereka hampir tak berpakaian sama sekali karena semalam itu mereka berbugil ria, menubruk dan meminta lagi kepada pemuda-pemuda itu untuk melayani mereka.

Dan ketika para pemuda itu terkejut dan tersentak bangun, menyambut dan tertawa-tawa maka tiba-tiba saja mereka menjadi ngeri dan seram karena kekasih-kekasih mereka itu tak puas-puasnya meminta lagi. Mereka mengajak bercinta dan melakukan apa saja yang kira-kira pemuda-pemuda itu dapat diajak bertanding. Anak buah Ui Kiok ini menganggap para pemuda itu seperti Togur, yang memiliki keperkasaan dan kejantanan yang amat mengagumkan. Maka begitu mereka tahu bahwa pemuda-pemuda ini ternyata cepat lelah, tidak seperti si buntung itu maka tiba-tiba mereka menjadi geram dan pasangan mereka dipukuli seperti orang memukuli anjing.

“Heh, tak kuat? Loyo dan sudah capai? Keparat, jangan main-main, A-siong. Hayo bangun atau nanti kau kubunuh!“

“Tidak... tidak, aku... aku...”

“Plak-plak!” suara tamparan terdengar di sini, disusul oleh jerit dan pekik kesakitan karena di lain tempatpun tiba-tiba keadaan menjadi sama. Di situ wanita-wanita lapar ini memaksa pasangannya untuk bercinta lagi, main pukul atau tampar kalau pasangannya sudah lelah. Dan karena kejadian itu membuat pemuda-pemuda itu terkejut dan ketakutan, tentu saja mereka terguncang jiwanya maka mereka tiba-tiba malah menjadi lemas dan apa yang diharap justeru menjadi sebaliknya.

Tiga puluhan pemuda itu menggigil dan meminta-minta ampun. Mereka tahu bahwa wanita-wanita di situ adalah wanita-wanita lihai yang memiliki ilmu silat, bukan seperti mereka yang hanya pemuda dusun dan bodoh, meskipun mereka berbadan tegap karena sehari-hari bekerja di sawah. Dan ketika mereka ketakutan dan para wanita itu menjadi marah, nafsu mereka tak terlampiaskan maka pedang dicabut dan berteriaklah seorang pemuda ketika tahu-tahu dadanya ditusuk tembus!

Hal ini disusul oleh yang lain-lain dan tiba-tiba saja para wanita itu menjadi pembunuh. Pasangan yang tak dapat melayani mereka tiba-tiba ditikam dan dibunuh. Dan ketika sebentar saja tiga puluhan pemuda itu berteriak mandi darah, roboh dan tewas maka wanita-wanita itu terkekeh-kekeh dan satu sama lain mendadak saling tubruk dan rangkul berciuman!

“Hi-hik, tak dapat dengan lelaki biarlah dengan sesama kita sendiri, Jit-moi. Ayo puaskan aku dan aku akan memuaskanmu!”

Kejadian lebih mengerikan terjadi di sini. Para wanita itu bergumul satu sama lain dan mereka seperti hewan-hewan liar yang hanya dipenuhi nafsu berahi belaka. Moral atau ahlak tak ada di sini. Dan ketika masing-masing agak terpuaskan dan Togur berkelebat melihat ribut-ribut itu, di sampingnya Ui Kiok menyambar dan ikut menyaksikan pula maka si buntung tertegun tapi... tertawa pula.

“Heh-heh, kalian tak mendapat lelaki sekuat aku? Mencari dan memuaskan pasangan dengan cara sendiri? Bagus... bagus, teruskan acara ini, Jit-moi. Dan aku menonton!”

Si buntung itu menonton sambil menyambar dan memangku Ui Kiok. Semalam wanita ini dibuat panas dingin oleh kehebatan si buntung. Biarpun buntung tapi permainan di ranjang sungguh luar biasa. Tak ada pemuda sekuat si buntung ini! Dan ketika Ui Kiok juga terkekeh-kekeh menyaksikan tingkah anak buahnya, mereka itu bergumul dan mendengus-dengus bagai kerbau betina maka Togur mencium dan melumat kekasihnya ini pula, menyambar yang lain dan dipuaskanlah beberapa wanita di situ. Murid Enam Iblis Dunia ini memang sungguh kotor!

Dan ketika pada bulan-bulan berikut mereka mengadakan pesta lagi dan mencari pemuda-pemuda baru, Sam-liong-to kian kotor oleh pemuda bejat dan anak buahnya ini maka hari itu Soat Eng dan suaminya jatuh di tangan si buntung ini. Soat Eng telah melihat kekejian pemuda ini dengan sepasang binatang di dalam kamarnya. Namun ketika nyonya itu pingsan dan si buntung bermain cinta dengan seorang kekasihnya maka di tempat lain Siang Le pemuda gagah menantu Pendekar Rambut Emas itu juga mengalami godaan berat....!