Rajawali Merah Jilid 13 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

RAJAWALI MERAH
JILID 13
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
SOAT ENG menghadapi si gila yang tidak waras tapi rupanya hebat sekali, tubuhnya kebal dan pukulan-pukulan Bola Sakti tak dapat menewaskannya sekali pukul maka Soat Eng bekerja keras menghantam lawannya itu, memukul dan menendang tapi lawan hanya terbanting untuk kemudian bangkit berdiri lagi. Betapa kuatnya pemuda ini. Dan ketika Soat Eng marah karena semua pukulan-pukulannya tak mampu merobohkan lawan, pemuda itu hanya mendesis atau menyeringai kesakitan saja.

Maka mulailah wanita ini mengarahkan pukulannya ke tempat-tempat berbahaya, seperti misalnya ulu hati dan tenggorokan, juga mata dan beberapa bagian lain yang lemah, Di situlah biasanya sinkang tak dapat melindungi sepenuhnya, benar saja pemuda itu tampak sibuk dan mengelak atau menghindar sana-sini. Tapi karena Soat Eng terus mendesak dan lawan diteter hebat, nyaris tak dapat membalas maka pemuda itu membentak dan tiba-tiba kedua lengannya mulur panjang seperti karet.

“Sin-re-ciang (Tangan Karet Sakti)!” Soat Eng terkejut, tiba-tiba berseru keras karena tentu saja dia mengenal ilmu silat ini. Kedua lengan si pemuda sudah mulur sepanjang dua meter dan tahu-tahu menangkap lengannya sendiri. Itulah, tak disangka. Dan ketika Soat Eng tertegun karena inilah warisan See-ong, bahkan suaminya juga mempunyai ilmu silat itu maka tubuhnya diangkat dan tahu-tahu dibanting.

“Brukk!” Soat Eng mendengar sorak atau tepuk tangan riuh. Para penonton yang tadi berdebar dan tidak menyoraki jagonya tiba-tiba kini meledak lagi dalam pekik gegap-gempita. Soat Eng terkejut karena sepak terjang pemuda itu sungguh tidak diduganya sekali. Namun ketika ia bergulingan meloncat bangun dan tangan lawan memanjang lagi hampir empat meter, hal yang selama ini belum mampu dilakukan suaminya sendiri maka tubuhnya tahu-tahu sudah ditangkap dan dibanting lagi.

“Bress!” Soat Eng benar-benar kaget. Dua kali dibanting dan diangkat seperti itu membuat nyonya ini merah padam. Pasukan bersorak-sorai dan tentu saja dia gusar sekali. Dan ketika ia bergulingan menjauh tapi tangan itu menyambar lagi, seperti tangan-tangan gurita yang menerkam dan mengerikan sekali maka Soat Eng mencabut pedang dan secepat kilat menetak.

“Crak!” Tangan itu lenyap. Sebagai gantinya api berpijar karena tetakan Soat Eng menghajar batu. Kiranya meskipun gila tapi pemuda itu tahu bahaya dan cerdik, menarik lengan-lengannya yang panjang dan tak berani membiarkan jari tangannya dibabat pedang, karena dengan kemarahan luar biasa tentu tenaga nyonya itu hebat sekali. Dan ketika dia terkekeh sementara Soat Eng melompat bangun, pucat dan terbelalak maka Soat Eng dapat menduga bahwa kiranya pemuda ini adalah murid See-ong, entah kapan dan di mana karena selama ini See-ong memang merahasiakannya.

“Keparat, kau kiranya murid si kakek jahanam See-ong, berarti kau adalah sute suamiku sendiri Siang Le! Bedebah, siapa namamu, pemuda iblis? Mana gurumu dan kenapa hanya kau seorang diri?”

“Ha-ha-heh-heh, aku San Tek. Guru adalah benar See-ong yang lihai dan sakti luar biasa. Eh, mana suhengku Siang Le yang tidak tahu diri itu, bocah? Kenapa kau datang sendiri?”

“Kau.... kau San Tek?” Soat Eng tiba-tiba terbelalak, mendadak ingat bahwa inilah kiranya putera San-ciangkun itu, panglima yang dulu terbunuh oleh Togur. “Kau... kau putera San-ciangkun?”

“Ha-ha-heh-heh, benar... ayahku adalah mendiang San-ciangkun. Hayo tak usah banyak cakap lagi dan kau menyerah.... wut!” dan San Tek yang kembali bergerak dan mengulurkan lengan-lengan karetnya, panjang dan melejit tahu-tahu menyambar dan akan menangkap Soat Eng lagi.

Nyonya ini seketika ingat dan tertegun karena tiba-tiba nama itu diingatnya sebagai nama seorang pemuda yang dulu mendadak hilang dan dinyatakan tewas, kini mendadak ada di situ dan lihai bukan main. Ternyata masih hidup dan menjadi murid See-ong! Dan ketika pemuda itu menyambarnya lagi dan tentu saja dia tak sudi ditangkap, pemuda ini berbahaya dan gila maka Soat Eng mengelak dan berkelebat menampar pemuda itu.

“Plak!” San Tek terhuyung. Pemuda ini marah dan menyerang lagi, tangan karetnya bergerak-gerak dan maju mundur untuk menangkap lawan. Namun karena Soat Eng berkelebatan dan sekarang tahu dengan siapa ia berhadapan, kiranya murid See-ong yang berbahaya tiba-tiba lenyap dengan J ing-sian-engnya dan mendaratlah bertubi-tubi tamparan-tamparan Khi-bal-sin-kangnya.

Sekarang nyonya ini tak ragu-ragu karena San Tek adalah murid See-ong, dulu kawan tapi sekarang lawan. Dan ketika ia mendahului gerakan pemuda itu untuk melayangkan pukulan-pukulannya, perajurit kembali tak berani bersorak karena nyonya itu menyambar-nyambar bagai garuda betina yang mematuk atau menendang maka si pemuda kewalahan dan Soat Eng berhasil memperbaiki posisinya.

Tadi nyonya ini tertangkap karena tak hati-hati. Lagi pula ia tak tahu bahwa lawannya adalah murid See-ong. Pantas begitu lihai. Tapi begitu ia tahu dan tak ragu mengeluarkan semua kepandaiannya, Soat Eng akhirnya mengeluarkan pula pukulan-pukulan Lui-ciang-hoatnya untuk digabung dengan Khi-bal-sin-kang maka lawan terhuyung-huyung dan jatuh bangun karena tamparan wanita itu seolah geledek menyambar di siang bolong.

“Plak-plak!”

Dua kali tamparan ini membuat San Tek terpelanting dan menjerit. Tidak seperti tadi di mana pemuda itu masih dapat menahan dan tertawa-tawa maka sekarang pemuda itu terjengkang dan berteriak. Pukulan Soat Eng memang mulai panas dan ledakannya membuat penonton terdekat menjerit, tersambar hawa panas dan mereka itupun terjatuh. Dan ketika Soat Eng menang angin dan mengelilingi pemuda itu dengan ilmu meringankan tubuhnya Bayangan Seribu Dewa (Jing-sian-eng), San Tek pening dan tak dapat mengikuti dengan mata tiba-tiba pemuda itu terbanting ketika sebuah pukulan mengenai kepalanya.

“Aduh!”

Cucigawa dan pasukannya terkejut. Sekarang San Tek merintih bangun dan tak dapat segera berdiri. Tangan karetnya maju mundur namun sia-sia, Soat Eng selalu menghindari kedua lengannya ini. Dan ketika pemuda itu berteriak karena pukulan atau tendangan berikut kian keras saja, juga gencar, maka Cucigawa dan pasukannya tiba-tiba mundur untuk menyelamatkan diri.

“Jangan takut!” namun San Tek tiba-tiba berseru. “Aku belum kalah, Cucigawa. Tak usah kalian pergi!” dan membentak mirip raungan srigala, San Tek menerima sebuah pukulan lagi hingga mencelat terguling-guling tiba-tiba pemuda itu berkemak-kemik menepuk kedua tangannya sendiri. Dari telapak tangan pemuda itu muncul segulung asap hitam, meledak dan tiba-tiba San Tek menghilang, Dan ketika terdengar suara tawa parau dan Soat Eng tertegun, berhenti menyerang maka tampaklah bayangan aneh meluncur di belakangnya.

“Ha-ha, aku di sini, Soat Eng. Awas.... dukk!”

Soat Eng berteriak. Tiba-tiba dia terpelanting ketika lawan muncul menghantam tengkuknya, tak terdengar karena pemuda itu sudah berobah ujud, bukan lagi badan kasar melainkan badan halus. Dan ketika bayang-bayang pemuda itu mengikuti dan mengejar ke mana dia bergulingan, San Tek berobah menjadi asap hitam seperti siluman maka Cucigawa dan pasukannya kembali berteriak-teriak karena Soat Eng menjadi bulan-bulanan pukulan.

“Duk-dukk!”

Soat Eng mengeluh. Dikejar dan diserang macam ini, lawan menghilang dalam ilmu hitam segera nyonya itu tahu bahwa dia berhadapan dengan Hek-kwi-sut. Soat Eng terkejut karena ilmu hitam andala See-ong itu ternyata sudah diwarisi pemuda ini. Jadi, dia seolah berhadapan dengan See-ong sendiri dan tentu saja nyonya itu tak berdaya. Yang mampu menhadapi Hek-kwi-sut hanya ayahnya, karena ayahnya memiliki tandingan ilmu hitam itu, yakni Pek-sian-sut (Lebur Bersama Dewa).

Dan ketika Soat Eng jatuh bangun diserang lawan dan kejadian ini mirip pertandingan ibunya dulu dengan See-ong, tak dapat membalas kecuali menerima pukulan-pukulan itu sambil melindungi diri dengan Khi-bal-sin-kang maka San Tek sekali dua berteriak juga karena pukulannya tertolak balik. Akibatnya bayangan atau asap hitam itu mental, kembali dan menyerang lagi untuk kemudian mental lagi. Hal ini terjadi berulang-ulang tapi para perajurit yang melihat itu justeru bersorak-sorak.

Mereka menganggap nyonya itu di pihak yang terdesak karena terus menerima pukulan-pukulan, tak tahu bahwa San Tek melotot marah karena setiap kali memukul tentu dia tertolak. Kalau saja dia tak bersembunyi di balik ilmu hitamnya itu tentulah dia yang akan terjengkang dan disoraki penonton, bukan lawannya itu yang hanya terhuyung-huyung maju mundur saja, kuat menerima pukulan karena dilindungi Khi-bal-sin-kangnya yang luar biasa.

Ketika San Tek menjadi kagum dan membenarkan omongan gurunya, bahwa Khi-bal-sin-kang memang ilmu luar biasa yang akan mementalkan setiap pukulan lawan maka pemuda itu melotot sambil memaki-maki sementara Soat Eng merah padam disoraki lawan. Nyonya ini panas dan terbakar, Maka ketika satu saat dia mampu meloncat bangun dan San Tek menghilang entah ke mana, pemuda itu juga jerih karena pukulan-pukulannya membalik maka Soat Eng melengking dan menerjang Cucigawa dan pasukannya yang ratusan orang itu.

“Kalian pengecut, tak berani maju. Hayo hadapi aku dan jangan bersorak-sorak saja!”

Kagetlah Cucigawa dan pasukannya itu. Mereka sedang asyik dan gembira menyoraki wanita ini, tak tahunya sekarang diterjang dan tentu saja mereka mawut. Dan ketika tujuh orang terlempar roboh dan belasan yang lain mencelat dipukul wanita muda itu, Soat Eng ingin menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang ini maka bangsa U-min terpekik dan tunggang-langgang diserbu wanita itu. Soat Eng bergerak bagai seekor banteng kalap, siapa yang ada di depan itulah yang dihantam dan kontan saja pasukan itu cerai-berai.

San Tek yang bersembunyi di balik ilmu hitamnya terkejut, dia jadi kaget dan marah juga melihat amukan wanita muda itu. Namun karena setiap dia mengejar Soat Eng tentu berkelebat dan menyembunyikan diri di tengah-tengah pasukan besar, merepotkan dirinya yang tentu saja tak dapat memukul maka pasukan itulah yang menjadi korban karena pukulan-pukulan San Tek yang dilancarkan jatuh ke tempat pasukan besar ini.

“Heii... jangan seperti harimau kelaparan, mereka bukan lawanmu. Ayo hadapi aku dan jangan cecunguk-cecunguk itu!”

“Keparat, kaupun licik dan pengecut, San Tek. Kau menyembunyikan dirimu di balik Hek-kwi-sut. Ayo, serang aku dan lihat berapa anak buahmu yang bakal roboh binasa.... des-dess!” pukulan Soat Eng bercampur dengan pukulan San Tek, menghajar orang-orang itu dan tentu saja pasukan besar ini terpekik.

Mereka terlempar dan terbanting roboh seperti pohon-pohon pisang ditebang, Soat Eng meneruskan gerakannya sementara San Tek membayangi di belakang. Dan ketika hal itu menggegerkan bangsa U-min karena mereka bisa roboh binasa semua, Cucigawa dan pembantunya berteriak-teriak maka raja itu menyuruh mundur dan pasukanpun lalu cerai-berai.

“Mundur..... mundur.... kembali ke tengah kota!”

Namun Soat Eng mendengus. Dihajar dan dijadikan bahan sorakan ketika tadi dia dihajar San Tek membuat nyonya muda ini kalap dan menyerbu seperti kesetanan. Puluhan tubuh tergelimpang dan mayatpun tiba-tiba sudah menumpuk di sana-sini. Itulah akibat pukulan-pukulal Khi-bal-sin-kang tapi juga San Tek yang selalu luput mengenai wanita muda ini. Dan ketika San Tek juga terkejut karena seratus orang tiba-tiba terkapar mandi darah, nyonya itu terus mengamuk dan menghambur ke tengah-tengah pasukan maka saat itu dari pusat kota terdengar pekik dan jeritan tinggi.

“San Tek, tolong...!”

Pemuda itu terkejut. Bersamaan dengan itu tiba-tiba berkelebat dua bayangan ke arahnya, yang satu berteriak-teriak dan memanggil dirinya sementara yang lain berteriak dan memaki-maki ke belakang. Entah siapa yang dimaki namun San Tek tertegun karena itulah Togur dan gurunya. Dua orang itu terbang ke arahnya dan gurunya pucat bermandikan peluh, Togur juga mandi keringat dan pasukan yang ada di depan tiba-tiba mencelat ke sana ke mari. Mereka dilempar atau diangkat oleh gurunya, juga Togur. Dan ketika dua orang itu berteriak-teriak dan Soat Eng juga terkejut melihat See-ong, karena kakek iblis itu rupanya juga ada di situ maka See-ong menendang seorang perajurit untuk kemudian membentak menyambar muridnya.

“Pergi, ada Thai Liong di belakang!”

Soat Eng berseri. Begitu See-ong menyambar dan menarik muridnya, pucat menoleh ke belakang maka saat itu juga tampak sebuah bayangan merah berkelebat dan meluncur di situ. Bayangan inipun terbang secepat setan dan terlemparlah para perajurit ketika dikibas atau didorong bayangan itu, yang bukan lain memang kakaknya, Thai Liong. Tapi ketika Soat Eng berteriak girang dan membentak See-ong, yang berkelebat dan melarikan diri maka sebuah pukulan Togur tiba-tiba menghantamnya dari samping, hal yang kurang diwaspadai nyonya ini.

“Dess!” Soat Eng mencelat. Kaget dan marah karena diserang secara licik membuat wanita ini sadar bahwa di situ memang ada Togur, yang diam-diam menyerangnya dan menghantam dengan pukulan Khi-bal-sin-kang. Tapi karena nyonya itu juga memiliki pukulan yang sama dan Khi-bal-sin-kang ini tentu saja tak melukainya maka begitu bergulingan meloncat bangun Soat Eng sudah memaki lawannya ini.

“Togur, kau jahanam keparat!”

Namun Togur melarikan diri. Begitu pukulannya tak membawa hasil dan Soat Eng meloncat bangun maka pemuda itu tertawa dingin dan berkelebat menyusul See-ong. Soat Eng tertegun karena pemuda itu ternyata buntung, benar seperti kata bibinya Cao Cun. Dan kaget serta marah bahwa pemuda itu masih hidup, dan kini melarikan diri karena rupanya tak mampu menghadapi kakaknya maka nyonya ini membentak dan menerjang puluhan perajurit yang tiba-tiba dibentak Togur agar mengepung dirinya.

“Jaga perempuan itu, awas, jangan sampai dia mengejar aku!”

Para perajurit kebingungan. Ternyata mereka lebih takut kepada si buntung itu daripada Soat Eng, karena meskipun ragu namun mereka menghadang juga, melihat nyonya ini mengejar Togur. Dan karena Soat Eng sudah marah dan hal itu semakin membuatnya gusar, para perajurit ini dinilainya tak tahu diri maka begitu dia bergerak dan melepas pukulan maka tamparan-tamparan Khi-bal-sin-kang langsung memecahkan kepala orang-orang itu.

“Bedebah, des-des-dess....!”

Orang-orang itu berteriak. Mereka terpelanting dan seketika tewas dengan keadaan mengerikan. Soat Eng timbul ganasnya dan diterjanglah yang lain-lain ketika mereka itu diancam Togur. Dan ketika duapuluh tubuh roboh dengan otak berhamburan, baru kali ini puteri Pendekar Rambut Emas itu melakukan hal yang kejam maka yang lain tiba-tiba menyibak dan bayangan merah bagai rajawali menyambar tahu-tahu menangkap lengan nyonya ini, menyergapnya.

“Eng-moi, jangan menurunkan tangan kejam. Orang-orang yang kita cari melarikan diri!”

Soat Eng mencelat disendal kakaknya Thai Liong yang datang dan berseru menyambar adiknya tahu-tahu telah membawa adiknya ini terbang melewati kepala puluhan orang. Bagai rajawali raksasa pemuda itu bertiup di atas kepala, turun dan tahu-tahu sudah di luar ratusan orang. Gerakannya luar biasa dan tentu saja orang-orang itu ternganga, Thai Liong tahu-tahu sudah di luar kepungan. Dan ketika orang-orang itu pucat dan berseru tertahan, Thai Liong menyentak dan membawa lari adiknya maka pemuda itu terbang mengejar See-ong, benar-benar terbang karena jubahnya mengelepak-ngelepak bagai sayap rajawali sakti!

“Iblis, pemuda itu bukan manusia!”

“Astaga, ia tak menginjak tanah lagi mengejar pemimpin kita!”

Soat Eng juga tertegun. Ditegur dan disambar kakaknya diajak melewati kepala puluhan orang, bahkan mungkin ratusan membuat nyonya ini terbelalak. Dia, dengan ilmunya Cui-sian Gin-kang atau Jing-sian-eng juga dapat melewati kepala orang-orang itu, tapi kalau sudah tiba di luar tentu akan menginjak tanah lagi dan bergerak seperti manusia biasa. Tapi ketika kakaknya ini tidak begitu karena begitu keluar dan meluncur di luar kepungan tahu-tahu tetap seperti itu, terbang dan jubah merahnya mengelepak-ngelepak maka wanita ini takjub dan kagum bukan main, sadar bahwa inilah tentu bagian dari ilmu silat sakti Ang-tiauw Sin-kun (Silat Rajawali Merah).

“Liong-ko, ini.... ini Ang-tiauw Sin-kun?”

“Benar, bagian dari Ang-tiauw Sin-kun, Eng-moi. Sian-su menamakannya Ang-tiauw-ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Rajawali Merah)!”

“Astaga, dan kau tak menginjak tanah. Terbang! Ah, manusia atau dewakah kau ini, Liong-ko? Mampu seperti burung dan membawaku tak menginjak tanah?”

“Diamlah, bukan waktunya kita bicara ini, Eng-moi. Togur dan See-ong melarikan diri dan harus kita tangkap. Aku diajak berputar-putar hingga nyaris kehilangan jejak!”

“Dan See-ong mempunyai murid baru, San Tek namanya, putera mendiang San-ciangkun. Apakah kau juga melihat pemuda itu, Liong-ko? Dia hebat dan seperti gurunya, memiliki Hek-kwi-sut!”

“Hm, aku melihatnya, tapi perhatianku tertuju kepada Togur dan kakek iblis ini. Mereka licik membawa-bawa pasukannya.”

“Aku juga!” Soat Eng gemas. “Cucigawa dan pembantunya mengerahkan perajuritnya itu, Liong-ko. Mereka berlindung dan bersembunyi di balik pasukannya, kuhajar dan akhirnya muncul si San Tek itu!”

“Hm, dan kau ganas,” sang kakak menegur, mengerutkan kening. “Tak seharusnya kau membunuh-bunuhi mereka, Eng-moi. Betapapun musuh kita bukanlah mereka-mereka itu!”

“Benar, tapi cacing-cacing busuk ini menyerangku habis-habisan, Liong-ko. Kalau tidak dibunuh tak mau mundur. Kau jangan menyalahkan aku, merekalah yang tak tahu diri!”

“Hm, baiklah. Kita percepat perjalanan karena mereka masuk hutan. Awas!”

Soat Eng kaget. Kakaknya tiba-tiba menjejak ke atas dan sekonyong-konyong tubuh mereka terbang tinggi di atas puncak-puncak pohon. Jubah di belakang kakaknya berkibar lebih kencang dan mengelepak-ngelepak lebih kuat. Soat Eng terpekik. Tapi ketika dia melihat See-ong dan Togur memasuki hutan, benar seperti kata kakaknya maka dua orang itu tiba-tiba berpisah, yang satu ke kiri yang lain ke kanan.

“Keparat!” Soat Eng berseru marah. “Mereka berpencar, Liong-ko. Togur dan kakek iblis itu memisahkan diri!”

“Tak apa!” kakaknya turun dan menyambar ke bawah. “Kita membagi tugas, Eng-moi. Biarlah kau mengejar pemuda itu sementara aku See-ong dan muridnya. Sanggup?”

“Sanggup!” dan begitu Thai Liong menghentikan gerakan dan mengebutkan jubah, mereka sudah menginjak tanah maka Soat Eng terbengong karena tahu-tahu sudah di tengah hutan, mencegat. Jadi, leluasa untuk membagi tugas ke kiri atau ke kanan!

“Nah, kau ke kiri,” sang kakak mendorong. “Cepat dan berhati-hati, Eng-moi. Pergunakan gabungan Khi-bal -sin-kangmu dengan Lui-ciang-hoat, juga Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang!”

Soat Eng tak dapat dibuat bengong lagi. Mulut hutan yang sudah dilampaui kakaknya membuat dia bekerja tinggal sedikit. Kakaknya sudah membagi tugas dan masing-masing akan mendapatkan seorang. Dan karena Togur lebih ringan baginya, pemuda itu tak sehebat See-ong atau San Tek yang memiliki ilmu hitam Hek-kwi-sut maka Soat Eng mengangguk dan kakaknya berkelebat mendahului, menghilang.

“Hati-hati, Eng-moi. Ingat pesanku!”

Wanita itu bergerak. Setelah kakaknya berkelebat dan mereka harus menghadang musuh maka tak ada kesempatan lagi untuk membuang-buang waktu. Thai Liong sudah lenyap dan Soat Eng pun berkelebat ke kiri. Dan ketika nyonya itu melengking ke kiri dan benar saja dilihatnya bayangan Togur, pemuda itu bergerak mencari tempat persembunyian maka wanita ini membentak dan mengejutkan si buntung itu.

“Togur, kau bedebah jahanam. Jangan lari!”

Togur, pemuda lihai ini, tertegun. Dia tak menyangka bahwa secepat itu dirinya diketemukan. Dia tak tahu bahwa Thai Liong telah bergerak dan terbang di atas pohon-pohon yang tinggi, dari sana dapat melihat bayangan musuh-musuhnya dan karena itu turun di dalam hutan, tidak lagi di mulut hutan. Maka ketika Soat Eng disuruhnya ke kiri dan Thai Liong sendiri ke kanan, Togur dicegat jalannya maka pemuda itu terkejut tapi tiba- tiba menyeringai, tak takut.

“Ha-ha, kau sendiri, Soat Eng? Tidak bersama kakakmu?”

“Jahanam!” Soat Eng berkelebat dan sudah berdiri di depan pemuda ini, bersinar-sinar. “Kau keji dan tak tahu malu, Togur. Di samping membawa-bawa bangsa U-min kau juga masih bersekongkol dengan See-ong si kakek iblis, tidak segera menebus dosa setelah Yang Mahakuasa memberimu umur panjang!”

“Ha-ha, omongan apa ini? Kau mau berkhotbah atau bertempur? Lihat, aku di sini, benar masih hidup. Tapi itu adalah atas usahaku sendiri yang memperjuangkan hidup.... wut!” dan Togur yang mencabut tongkat dan segera menyambar ke depan tiba-tiba telah menotok dan menyerang dada wanita itu. Togur tertawa-tawa tapi mata dan sikapnya sama sekali tidak menunjukkan itu. Bahkan, mata pemuda ini mengancam ganas. Dia melihat Soat Eng memandang kakinya dan justeru kebuntungan kakinya itulah yang membuat pemuda ini naik darah. Maka begitu dia bergerak dan tongkat menyambar ke depan, langsung menotok dada maka tangan kirinyapun juga menghantam dan langsung mengeluarkan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Soat Eng mengelak dan menangkis. Wanita itu melengking dan tangan mereka beradu, keras sama keras karena nyonya muda itu juga mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya. Dan ketika masing-rnasing sama terhuyung dan Soat Eng marah karena Khi-bal-sin-kang yang dipunyai pemuda itu mengingatkan dia akan kematian kakeknya, mendiang Hu Beng Kui yang dicuri kesaktiannya maka Soat Eng memekik dan kali ini menyambar maju, mendahului.

“Kau masih hidup tapi sekarang aku akan membunuhmu.... haiittt!” dan si nyonya yang berkelebat mengerahkan Jing-sian-engnya tiba-tiba menghantam dan membalas lawannya, dikelit dan tongkat menyambar untuk akhirnya mengeluarkan ledakan keras. Togur mempergunakan tenaga saktinya pula untuk menangkis serangan lawannya itu.

Dan ketika masing-masing terpental namun Soat Eng sudah maju kembali, bergerak dan menyambar seperti walet menemukan mangsa maka wanita itu sudah beterbangan melepas pukulan-pukulan maut, tamparan atau tendangan dan si buntung itu tampak kewalahan. Tapi karena Togur juga memiliki ilmu-ilmu kesaktian tinggi dan pernah mempelajari warisan dari Enam Iblis Dunia, seperti pukulan Tee-sin-kang ataupun Cam-kong-kiang (Pembunuh Petir) maka bergeraklah pemuda itu melayani lawan dengan gerakan-gerakan cepat pula. Bayangan Soat Eng yang menyambar-nyambar seperti walet terbang sudah diikutinya dengan gerakan-gerakan yang sama.

Pemuda itupun mengeluarkan Jing-sian-engnya dan dengan pukulan digabung-gabung dia menghadapi amukan puteri Pendekar Rambut Emas itu. Dan karena pada dasarnya pemuda ini memang bukan orang lemah, jauh sebelum memiliki Khi-bal-sin-kang maupun Jing-sian-eng dia sudah merupakan pemuda yang hebat maka Soat Eng mengutuk habis-habisan melihat lawannya itu mempergunakan ilmu-ilmu keluarganya sebagai inti pertahanan, terutama Khi-bal-sin-kang yang dikerahkan dalam pukulan-pukulan Tee-sin-kang (Pukulan Bumi) atau Cam-kong-ciang.

“Terkutuk!” Soat Eng menyumpah serapah. “Jangan pergunakan ilmu-ilmu keluargaku, Togur. Keluarkan ilmu kepandaianmu sendiri yang murni!”

“Ha-ha, orang hidup mencari pandai. Kalau kau takut atau tak tahan melihat ilmu-ilrnuku ini pergi saja, Soat Eng. Jangan ganggu diriku!”

“Pergi'? Membiarkan jahanam terkutuk seperti tampangmu ini bebas? Huh, jangan harap, Togur. Kau telah membunuh Ituchi dan menculik adik-adik perempuannya. Kembalikan mereka itu atau kau kubunuh... blarr!” dan dua letupan kilat yang memuncratkan bunga api tiba-tiba membuat Togur terhuyung karena Soat Eng melepas pula Lui-ciang-hoatnya, menggabungnya dengan Khi-bal-sin-kang dan untuk ini si buntung itu harus mengeluh.

Sekarang Soat Eng tak mau lagi mengandalkan satu ilmunya melainkan semua, yakni gabungan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat. Dan ketika tubuh wanita itu berkelebatan kian cepat karena mengeluarkan pula Cui-sian Gin-kangnya (Ginkang Pengejar Dewa) maka Togur berseru tertahan karena tiba-tiba saja sudah terdesak hebat.

“Buk-plak-dess!”

Togur menjerit kesakitan. Untuk pertama kalinya dia pucat. Memang, untuk Lui-ciang-hoat ataupun Cui-sian Gin-kang tak pernah dia pelajari. Mendiang Hu Beng Kui tak memiliki ilmu-ilmu itu karena ini warisan Pendekar Rambut Emas khusus, ayah mertuanya itu hanya Jian-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika Togur mulai mendapatkan pukulan-pukulan cepat dan tak mampu berkelit lagi, Jing-sian-eng ditambah Cui-sian Gin-kang sungguh bukan ulah-ulah hebatnya maka pemuda itu segera menjadi bulan-bulanan pukulan dan mulailah dia mengeluh atau mengerang.

“Keparat, kau licik dan curang, Soat Eng. Tak malu menyerang orang cacat!”

“Perduli amat! Cacat atau tidak salahmu sendiri, Togur. Kau terlalu banyak dosa dan menumpuk hutang!”

“Kau benar-benar akan membunuhku? Tak malu jika aku menyerah kalah?”

“Apa maksudmu?”

“Hentikan pukulan-pukulanmu, Soat Eng. Aku menyerah dan menyatakan kalah. Aku siap mematuhi perintah-perintahmu!” tapi ketika Soat Eng tertegun dan menghentikan serangannya, lawan tiba-tiba menangis dan beriba mendadak tongkat itu bergerak dan menyambar ke ulu hatinya, bagai senjata terbang.

“Aiihhhh.... ha-ha-ha!”

Soat Eng kaget dan melempar tubuh bergulingan. Apa yang dilakukan pemuda itu sungguh di luar dugaan dan amat curang sekali. Dia tak menyangka dan tahu-tahu diserang, padahal jarak demikian dekat sementara pemuda itu menjatuhkan diri bertutut seperti layaknya orang yang benar-benar hendak menyerah. Maka begitu tongkat menyambar ulu hati dan Soat Eng terkejut bukan main, gugup tak ingat Khi-bal-sin-kangnya yang sudah ditarik lemas maka saat itulah bahaya mengancam keselamatan jiwa nyonya muda ini.

Tongkat menyambar terlalu dekat dan juga dilempar oleh seorang macam Togur, yang mempergunakan kekuatan saktinya untuk membunuh lawannya itu. Dan ketika Soat Eng tampak terlambat dan lawan terbahak-bahak, ujung senjata sudah mendekati ulu hati nyonya ini mendadak terdengar suara bersiut dan sebutir batu hitam menghantam tongkat itu hingga terpental, patah.

“Togur, tak usah melakukan kecurangan. Kalau penasaran bilang penasaran, boleh bertanding lagi. Jangan melakukan perbuatan pengecut dengan cara yang begini hina.... takk!” dan tongkat yang hancur berkeping-keping, menyelamatkan nyonya itu sudah membuat Togur pucat dan kaget menoleh ke kanan, melihat bayangan merah dan teriakan See-ong yang parau.

Tiga bayangan berkelebat dari situ dan tampaklah kakek iblis ini terbirit-birit bersama muridnya, San Tek. Dan ketika kakek itu melengking dan berteriak padanya agar datang menolong, padahal Soat Eng saat itu sudah mendelik dan marah bukan main oleh kecurangan Togur, si buntung ini terbelalak maka saat itulah si nyonya berkelebat dan menghantam Togur.

“Kau benar-benar licik dan jahanam!”

Togur berteriak. Pukulan Soat Eng telak mengenainya dan tentu saja si buntung itu terlempar. Khi-bal-sin-kang, juga Lui-ciang-hoat, menghantamnya bagai petir. Suara berdebum mengiringi pemuda itu yang terlempar dan terbanting. Dan ketika Soat Eng melengking dan mengejar lawannya, si buntung merintih maka saat itu See-ong di dekatnya dan menghantam nyonya ini.

“Dess!” Soat Eng mencelat dan ganti terguling-guling. Wanita itu berteriak karena perbuatan See-ong sungguh di luar dugaannya. Perhatiannya sedang tertuju kepada si buntung itu dan karena itu lengah mendapat pukulan. Tapi karena di belakang See-ong menyusul bayangan merah, Thai Liong mengejar dan membentak kakek ini maka See-ong dipukul dan kakek itu menjerit terguling-guling, ganti terbalas.

“Jangan licik dan curang, hadapi aku.... dess!”

Tiga tubuh sama-sama menderita di tanah. Togur maupun Soat Eng dan See-ong sama-sama mengeluh. Tapi, karena mereka juga sama-sama memiliki kekebalan dan pukulan itu dapat ditahan, meskipun kesakitan maka ketiganya bergulingan meloncat bangun dan See-ong tiba-tiba meledakkan kedua tangannya mengeluarkan Hek-kwi-sut.

“Lari, kita pergi!”

Soat Eng membelalakkan mata. See-ong, kakek hebat itu tiba-tiba menghilang dan lenyap di balik gulungan asap hitam. San Tek muridnya disambar dan Soat Eng selanjutnya tak tahu di mana kakek iblis itu. Tapi ketika Togur merintih di sana dan ia ingat, kemarahannya menggelegak lagi maka wanita itu berseru dan menerjang lawannya ini, yang juga sudah melompat bangun.

“Kau akan kubunuh, harus kubunuh!”

Namun, Togur tiba-tiba juga meledakkan kedua tangannya. Sama seperti See-ong yang memiliki Hek-kwi-sut mendadak pemuda ini mengeluarkan ilmu hitam. Entah kapan dan bagaimana mendadak saja si buntung itupun memiliki Hek-kwi-sut. Soat Eng berteriak ketika lawannya itu tiba-tiba lenyap, berobah menjadi segulung asap hitam. Dan ketika dia mendengar suara terbahak dan si buntung itu menghilang bagai siluman, pukulannva amblas menghantam tempat kosong maka Soat Eng terhuyung dan pucat mukanya.

“Ha-ha, kau tak dapat mencari aku. Selamat tinggal, Soat Eng. lain kali kita bertemu lagi!”

“Iblis!” nyonya muda itu tertegun, “Kau memiliki Hek-kwi-sut, Togur. Kau sekongkol dengan See-ong!”

“Ha-ha, betul. Dan untuk itu See-ong juga memiliki Khi-bal-sin-kang!”

Soat Eng kaget dan pucat. Togur yang lenyap meninggalkan tawanya yang penuh kegembiraan membuat nyonya ini gemetar dan marah. Segera dia teringat kepada kakaknya itu dan tiba-tiba sebuah benda melayang ke arahnya. Soat Eng terkejut tapi itu kiranya sebuah saputangan merah, mau ditangkap tapi tiba-tiba benda ini melejit. Dan ketika bersamaan dengan itu terdengar seruan kakaknya dari jauh bahwa dia diminta mengikuti sapu tangan itu, benda itu tiba-tiba terbang dan membalik ke arah selatan maka Soa Eng terbengong tapi sadar dan girang.

“Togur benar, See-ong memiliki Khi-bal-sin-kang. Tapi ikuti saputanganku ini Eng-moi. Kau nanti akan dapat mengejar mereka bersama-sama aku. Bergeraklah!”

Soat Eng bergerak. Seperti memasuki sebuah mimpi yang aneh ia melihat saputangan merah itu terbang dan meluncur seperti barang bernyawa, diikuti dan akhirnya membawanya keluar hutan. Dan ketika tiba-tiba ia melihat bayangan kakaknya bersama See-ong, juga Togur, maka kakaknya mengebutkan lengan dan sekonyong-konyong asap hitam yang membungkus dua orang itu berantakan.

“See-ong, Togur, tak perlu main-main lagi. Ilmu hitam kalian tak berguna di sini!”

Dua orang itu terpelanting. Soat Eng yang kaget bagaimana See-ong tiba-tiba mendapatkan kembali ilmu hitamnya, padahal dulu ayahnya sudah menghancurkan ilmu hitam kakek itu mendadak dibuat girang karena lawan utamanya, Togur, terguling-guling ke arahnya. Si buntung itu berteriak karena tak kuat menerima kebutan kakaknya, Thai Liong mempergunakan kesaktiannya untuk menghancurkan ilmu hitam orang-orang ini. Dan karena Togur kelihatan lagi dan kebetulan terguling-guling ke arahnya, Soat Eng terbelalak dan melengking tinggi tiba-tiba bergerak dan sudah menyerang pemuda itu.

“Nah, kau datang lagi. Ular mencari gebuk!”

Togur terkejut. Saat itu dia sedang mengeluh oleh kibasan Thai Liong yang membuat dadanya sesak. See-ong juga terpelanting dan terguling-guling di sana, Namun karena kakek itu ada San Tek, yang selalu tak jauh dari gurunya dan membantu gurunya maka See-ong disambar dan diselamatkan muridnya sementara dia harus menerima dan menghadapi Soat Eng sendirian.

“Dess!” Togur menjerit tertahan. Dia hanya mampu mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya dan pukulan Soat Eng di terima tanpa dapat dibalas. Dia terlempar dan terbanting lagi tanpa tongkat. Senjatanya itu sudah hancur diremukkan Thai Liong. Dan ketika Soat Eng mengejar dan melengking marah, si buntung melindungi diri dengar Khi-bal-sin-kang milik keluarganya maka nyonya muda itu sudah menjatuhkan pukulan dan tamparan bertubi-tubi, tak mampu dibalas dan Togur mengeluh bergulingan ke sana-sini. Celaka pemuda itu. Namun ketika mereka menjauhi Thai Liong, yang dikeroyok dan menghadapi See-ong serta muridnya maka tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan lagi Hek-kwi-sutnya.

“Darr!” Soat Eng tertegun. Dia tiba-tiba kehilangan lawan dan lenyaplah si buntung di ilmu hitam. Dan ketika dia menghentikan serangannya dan otomatis melotot, Togur lenyap melarikan diri maka di sana terdengar jeritan See-ong yang roboh terlempar. Soat Eng menoleh dan saat itu kakaknya berkelebat mengejar lawannya, dibentak oleh San Tek yang menyerang Thai Liong. Tapi ketika Thai Liong mengebutkan jubah dan pemuda itu juga terlempar, terbanting seperti gurunya maka See-ong sudah ditangkap dan dicekik kakaknya.

“Berhenti, menyerahlah. Tak guna kau melawan lagi, See-ong. Sudah waktunya kau menebus dosa!”

“Keparat!” kakek itu memaki, gentar. Kau luar biasa, Thai Liong. Kau melebihi ayahmu. Tapi aku tak akan menyerah biarpun kau cekik mampus.... blub!” si kakek tiba-tiba meniupkan mulutnya, hawa busuk menyambar dan Thai Liong terkejut, tentu saja mengelak namun si kakek tiba-tiba meronta, lepas dan menerjangnya. Sungguh nekat! Tapi ketika Thai Liong menampar dan menangkis pukulan kakek itu, See-ong menghantam sambil menyeruduk tiba-tiba kepala kakek itu menancap di perutnya.

“Heii...!” Thai Liong berseru keras. “Kau mencari mati, See-ong. Tarik mundur atau kepalamu meledak!”

Namun si kakek menggeram. Memukulkan kedua tangannya yang ditangkis Thai Liong membuat See-ong nekat melepas serangan dengan kepala. Seluruh kekuatan ditarik ke sini dan kepala kakek itu tiba-tiba seperti sebongkah besi, keras dan atos. Dan ketika uap kehitaman juga muncul di situ dan kepala kakek ini menancap kuat, See-ong mengerahkan semua sinkangnya untuk merusak isi perut perut pemuda itu maka apa boleh buat Thai Liong mengerahkan tenaga saktinya untuk bertahan. Dia telah memperingatkan namun si kakek mendesak. Dan ketika segumpal hawa dingin menyambut hawa panas dari kepala kakek itu, See-ong melotot dan membelalakkan matanya seakan mau pecah maka San Tek yang melihat gurunya dalam bahaya tiba-tiba membentak dan menyerang Thai Liong.

“Dess!” Thai Liong sedang penuh tenaga sakti. Tancapan kepala See-ong yang membawa hawa panas dan sinkang mujijat disambut pemuda ini dengan tenaga saktinya sendiri, akibatnya di tubuh pemuda itu ada dua tenaga sakti yang sedang berlawanan. Maka begitu San Tek menyerangnya dan pemuda itu melepas pukulan ke arah tengkuk. Thai Liong membiarkan maka justeru tenaga sakti inilah yang menerima pemuda itu dan akibatnya San Tek terpekik, terbanting mengeluh tertahan dan seketika itu pingsan.

Pemuda itu mendelik dan dari mulut serta hidungnya keluar darah segar. San Tek terlalu sembrono dengan melakukan serangan itu dan See-ong hampir berteriak kaget. Kakek itu sudah terbuka mulutnya tapi ditelan lagi, dia ingat akan serangannya kepada Thai Liong itu. Tapi karena pukulan San Tek berarti juga memasukkan tenaga ke tubuh Thai Liong, dan ini celakanya, maka begitu pemuda itu terlempar dan roboh pingsan maka See-ong merasa gempuran dari muridnya sendiri.

“Augh!” See-ong muntah darah. Kakek itu salah tingkah dalam saat seperti itu. Tenaga dingin Thai Liong meredam tenaga panasnya, masih ditambah lagi dengan tenaga muridnya yang masuk ke tubuh Thai Liong. Dan karena Thai Liong pandai “mengoperkan” tenaga ini, See-ong mendelik dan kejang-kejang tiba-tiba terdengar suara berkeratak ketika batok kepala kakek itu retak. Thai Liong membelalakkan mata karena kakek ini nekat, sudah terluka namun masih juga mengerahkan tenaganya. Dan ketika dia berseru agar kakek itu cepat-cepat menarik kepala, atau kakek itu akan binasa maka See-ong mendelik dan menggerakkan kedua tangan untuk menusuk atau menancapkan jari ke pinggang lawannya itu.

“Cepp!” Namun kakek ini mengeluh. Thai Lion yang sedang penuh tenaga dingin tiba-tiba membuat jarinya beku. Dan karena kepalanya juga masih menancap dan tak mau ditarik, padahal Thai Liong sudah memberikan peringatan maka begitu kakek itu mengeluh dan terkejut, batok kepalanya berkeratak lagi tiba-tiba dia terkulai dan See-ong tewas. Kakek ini roboh ke tanah berbarengan dengan jari-jarinya yang beku kehitaman. Seluruh tubuhnya hitam kebiruan karena urat-uratnya pecah, kakek ini terialu memaksa diri. Dan begitu See-ong terkulai dan Thai Liong bebas dari serangan maka saat itu juga adiknya tak ada di situ.

Thai Liong tertegun menarik napas dalam-dalam. Dia sedih memandang mayat kakek itu karena See-ong harus tewas di tangannya, mati olehnya. Dan ketika pemuda ini terharu oleh kematian lawan, aneh sekali, maka terdengar lengkingan dan pekik adiknya di luar hutan.

“Togur, kau laki-laki pengecut. Kau manusia tak jantan. Hayo perlihatkan dirimu dan jangan lari. Ini aku!”

Thai Liong berkelebat. Begitu mendengar seruan dan lengking adiknya segera dia meninggalkan mayat lawannya. Bagai siluman tahu-tahu dia lenyap di situ, hanya bayangan merah yang tampak di sana. Dan ketika pemuda itu melihat adiknya berkelebatan mengelilingi hutan, mencari-cari lawannya yang lenyap maka pemuda ini bergerak dan tahu-tahu menangkap adiknya itu.

“Sudahlah,” Soat Eng terkejut. “Musuh sudah melarikan diri, Eng-moi. Kita cari nanti dan kembali dulu ke hutan. See-ong sudah tewas.”

“Tewas? Kau membunuhnya? Bagus bawa mayatnya, Liong-ko. Tunjukkan kepada ibu agar puas dendamnya. Tapi Togur menghilang dengan Hek-kwi-sut!”

“Kita tak usah sedengki ini, mayat orang tak perlu dibawa-bawa. Kalau Togur pergi biarlah nanti kita cari, Mari masuk!” dan Thai Liong yang menarik atau menyendal lengan adiknya tiba-tiba membawanya ke dalam hutan. Di sana dia menunjuk mayat kakek iblis itu dan termangu, Soat Eng berseru girang dan tiba-tiba menendang mayat kakek ini. Dan ketika mayat itu terlempar dan berdebuk, Thai Liong kaget maka Soat Eng berkelebat dan mencekik mayat itu.

“See-ong, kau telah membunuh kong-kong. Rasakan, aku akan menggantung mayatmu dan membiarkannya untuk makanan harimau buas!”

Soat Eng melompat dan menyambar tali. Benar seperti kata-katanya tadi maka mayat itu digantung dan diikat di sebuah dahan, kepala di bawah kaki di atas. Soat Eng melakukannya dengan mata berapi-api, sikapnya buas dan kejam sekali. Dan ketika dia menggebuki mayat itu, mematah-matahkan kaki tangannya maka Thai Liong berkelebat dan menyambar mayat itu, memutuskan tali ikatannya.

“Eng-moi, tak boleh. Orang yang sudah mati tak boteh diganggu. Kau tidak berperikemanusiaan!” dan ketika adiknya terkejut dan terbelalak, mau membantah maka Thai Liong sudah menekan tengkuk adiknya itu menyesapkan hawa dingin, menyadarkan yang bersangkutan. “Ingatlah, kita bukan orang-orang kejam. Kita adalah keturunan pendekar. Tak pantas rasanya menyiksa mayat seperti itu. Nah, kita justeru harus menguburnya baik-baik, Eng-moi, dan bagaimana sekarang dengan pemuda ini!”

Soat Eng tertegun. Kakaknya menunjuk San Tek dan sadarlah dia akan semuanya itu. Tadi dia kehilangan kontrol diri akibat dendam dan kemarahannya dengan kematian kakeknya, mendiang Hu Beng Kui. Tapi begitu kakaknya mengusap tengkuknya dan dia sadar, memandang putera San-ciangkun yang pingsan itu maka wanita ini terisak dan menutup mukanya.

“Maaf, aku lupa, Liong-ko. Aku tak ingat....”

“Sudahlah, tak apa, aku mengerti. Kau periksa pemuda itu dan biar aku membuat lubang untuk jenasah kakek ini!”

Soat Eng mengangguk. Kakaknya sudah bergerak dan menusuk-nusukkan jari ke tanah. Hebat sekali cara pemuda itu mernbuat lubang karena sebentar kemudian tanah sudah dicongkel-congkel keluar. Ketajaman atau kekerasan jarinya bak mata cangkul, tak lama kemudian sudah tersedialah sebuah lubang yang cukup untuk mengubur mayat See-ong. Dan ketika Soat Eng bergerak dan menghampiri tubuh San Tek, pemuda itu pucat dan mulut serta hidungnya mengeluarkan darah maka Soat Eng tahu bahwa pemuda ini menderita luka berat, luka dalam.

“Dia terluka, apakah diobati atau dibiarkan saja...”

“Tidak, kita justeru harus mengobatinya, Eng-moi. Berikan obat ini dan jejalkan ke mulutnya.”

“Tapi dia murid See-ong, sudah jahat!”

“Jahat atau tidak tapi kita wajib menolong yang luka, Eng-moi. Sekarang ini dia merupakan penderita!”

“Baiklah, tapi aku tak mau menolong selanjutnya, biar olehmu!” dan ketika obat itu dijejalkan ke mulut si pemuda, kasar, maka Thai Liong sendiri sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memberi tanda makam kakek itu dengan sebuah batu besar, mengguratkan nama pemiliknya agar mudah dikenal, kalau mau dicari.

“Untuk apa itu? Siapa sudi berkunjung dan sembahyang di sini?”

“Hm, kau mungkin tidak, Eng-moi. Tapi suamimu, Siang Le, pasti akan menanyakan dan mungkin mencarinya!”

Soat Eng tertegun. Tiba-tiba dia teringat dan terisak. Bicara tentang Siang Le mendadak membuat dia ingin menangis. Benar, suaminya itu amat mulia dan tentu menanyakan di mana makam gurunya itu, kalau memang terbunuh. Dan ketika ia benar-benar menangis dan tersedu oleh bayangan suaminya, kakaknya sudah memeluk dan merangkul pundaknya maka Thai Liong berbisik,

“Tak ada yang perlu ditangisi, Eng-moi. Apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Aku sebenarnya tak sengaja membunuhnya, dia menerima pukulan muridnya sendiri yang masuk ke tubuhku. Sudahlah, aku ingin menolong San Tek dan kau diam di sini.” dan Thai Liong yang melepaskan pelukan menuju lawannya, meriksa dan melihat keadaan San Tek segera meletakkan tangannya di punggung si pemuda. San Tek luka dalam dan karena itu dia menyalurkan sinkang, obat telah dijejalkan adiknya ke mulut pemuda itu. Dan ketika tak lama kemudian pemuda itu membuka mata dan melompat bangun, terhuyung dan jatuh maka Thai Liong menekan pundaknya dan berkata,

“Kau harus beristirahat, lukamu belum sembuh benar!”

“Kau?” pemuda itu terkejut, jerih. “Mana guruku? Kau apakan dia?”

“Hm, gurumu tewas, San Tek, secara tidak langsung karena pukulanmu juga. Sadarlah, kau masih dapat memperbaiki diri asal tidak mengikuti jejak gurumu!”

“Atau kau kubunuh!” Soat Eng berkelebat dan mengancam, matanya berapi-api. ”Kau jahat dan tak pantas menjadi putera San-ciangkun, San Tek. Ayahmu pasti malu di alam baka kalau melihat puteranya seperti ini!”

“Sudahlah,” Thai Liong mengibaskan ujung jubahnya. “Kau bukan anak kecil, San Tek. Kau tahu mana buruk mana baik. Kau kulepaskan dan kuberi kesempatan untuk merobah kelakuan. jangan tiru gurumu!”

“Atau kami tak akan memberi ampun lagi!” Soat Eng berseru ulang, masih marah dan geram karena pemuda itu memiliki Hek-kwi-sut, benar-benar seperti See-ong! “Ingat dan camkan kata-kata kakakku, San Tek. Atau kau akan mengalami nasib seperti gurumu dan mati dengan kepala pecah!”

Pemuda ini menggigil. Berhadapan dengan Thai Liong yang luar biasa hebat dan sakti membuat murid See-ong yang satu ini gentar. Betapapun, dia telah merasakan kelihaiannya dan Thai Liong yang mampu mengejar dan menghilang pula dalam ilmu putih, menandingi Hek-kwi-sut membuat pemuda itu ketakutan dan pucat. Dia tak tahu bahwa lawannya memiliki Beng-tau-sin-jin (Manusia Menembus Roh), satu tandingan dari Hek-kwi-sut yang mungkin sejajar atau setingkat lebih tinggi dari Pek-sian-sut, ilmu yang dimiliki Pendekar Rambut Emas Kim-mou-eng.

Dan karena berkali-kali Thai Liong mampu mengejar dan menghentikan perlawanan mereka, karena ketika Soat Eng berhadapan dengan Togur pemuda ini mengeroyok Thai Liong bersama gurunya, kalah dan terdesak maka San Tek yang melihat betapa lawannya ini memiliki ilmu menghilang yang lain yang jauh lebih hebat dari Hek-kwi-sut tiba-tiba menjadi gentar dan takut menghadapi Thai Liong. Namun pemuda ini sama sekali tidak gentar atau takut terhadap Soat Eng!

Melihat Soat Eng mengancam dan berkali-kali mengeluarkan kata-kata pedas, hal yang tidak menyenangkan hatinya diam-diam pemuda ini marah dan sakit hati. Kalau saja tak ada Thai Liong di situ tentu dia sudah menerjang wanita ini, karena Soat Eng akhirnya tunggang-langgang menghadapi Hek-kwi-sutnya yang tak dapat dilihat, meskipun dia juga harus menyeringai berkali-kali karena pukulannya juga ditolak oleh Khi-bal-sin-kang. Dan ketika wanita itu melotot namun dia diam saja, diam tapi matanya diam-diam menahan marah maka Thai Liong yang menggamit dan mencekal lengan adiknya itu memotong agar dia segera pergi.

“Kami tak ada urusan denganmu, pergilah.”

San Tek terhuyung. Diam tak bersuara dan juga tak berterima kasih iapun lalu memutar tubuhnya dan pergi. Soat Eng mengerutkan kening dan tiba-tiba berkelebat, membentak pemuda itu untuk berhenti dulu. Dan ketika San Tek terkejut dan berhenti, Soat Eng berdetak karena mata pemuda itu tiba-tiba mencorong dan berkilat kepadanya, penuh dendan maka dia menjadi marah dan menampar.

“Kau manusia tak tahu sopan santun. Diberi kebebasan tak juga berterima kasih. Hayo ucapkan terima kasih kepada kakakku dulu atau aku terpaksa menghajarmu di sini!”

Thai Liong terkejut. “Tak usah,” katanya, berkelebat dan melindungi pemuda itu dari kemarahan adiknya. “Dia sedang terpukul, Eng-moi, cukup merasakan hukumannya ini. Kalau dia tak berterima kasih akupun tak mengapa. Sudahlah, biarkan ia pergi dan jangan ganggu lagi!”

“Kau tak ingin memberinya adat agar tahu sopan sedikit? Kau mau dihina begini saja?”

“Aku tak merasa terhina,” Thai Liong tersenyum, lembut dan menarik napas dalam-dalam. “Lain orang lain cara berpikirnya, Eng-moi. Karena bertahun-tahun dia sudah hidup dengan See-ong maka sopan santun atau segalanya itu tak pernah diajarkan. Sudahlah, biarkan ia pergi dan kita tak usah mengganggu!”

San Tek tertegun. Sinar matanya yang tadi berkilat berapi-api mendadak padam dan hilang. Mendengar kata-kata Thai Liong ini rupanya ia tercengang juga, heran, tapi juga kagum. Tapi ketika Thai Liong mempersilahkannya pergi dan memberi jalan, Soat Eng melotot tapi tak diperdulikan maka pemuda ini tertawa aneh dan melangkah pergi, menggoyang tubuh.

“Dess!” Soat Eng menendang pantatnya. Gemas dan marah karena pemuda itu melenggang seenaknya, di depan kakaknya tiba-tiba dia tak tahan untuk memberi hadiah tendangan itu. Pemuda itu terjungkal dan terkejut, bangkit terhuyung dan menoleh kepadanya. Tapi ketika San Tek tertawa aneh dan pergi, tidak membalas maka pemuda itu lenyap dan menghilang di luar hutan.

Soat Eng mengepal-ngepal tinju dan kalau saja kakaknya tidak mencegah tentu dia sudah berkelebat dan menendang lagi. Kalau perlu, akan dihajarnya pemuda itu jatuh bangun, mumpung ada kakaknya di situ. Namun karena kakaknya jelas tak setuju dan kakaknya ini amat welas asih, persis ayahnya yang lembut dan pemurah maka Soat Eng melempar kejengkelannya dengan membanting kaki.

“Kalau bertemu lagi tentu kuketok batok kepalanya itu. Dia memandang rendah kita!”

“Hm, kau selalu marah-marah. Satu di antara musuh-musuh kita sudah terbunuh, Eng-moi. Kita harus puas sedikit meskipun aku menyesal dengan membunuh See-ong tadi.”

“Menyesal? Kau ingin kakek itu hidup lagi?”

“Tidak juga begitu. Tapi, ah, sudahlah. Aku tak sanggup menghilangkan nyawa orang lain, Eng-moi. Karena nyawa adalah pemberian Tuhan. Aku rasanya berdosa!”

“Tapi kong-kong dibunuh kakek itu! Kau tidak menyesal?”

“Hm, tentu saja menyesal. Tapi semua sudah terjadi. Sudahlah, tak perlu kita berdebat ini dan apa yang selanjutnya hendak kita lakukan. Apa yang kau maui.”

“Aku ingin mengobrak-abrik Cucigawa dan pasukannya itu, lalu mencari Togur!”

“Datang lagi ke sana? Menghancurkan bangsa U-min?”

“Menghancurkan pemimpin-pemimpinnya yang jahat, Liong-ko. Melenyapkan mereka. Untuk ini biar kau tak usah ikut dan aku sendiri.... wut!” dan Soat Eng yang berkelebat dan tahu kakaknya tak setuju, kakaknya lemah hati dan amat pemurah tiba-tiba sudah terbang dan menuju ke bangsa U-min itu.

Thai Liong terkejut dan tentu saja berseru mencegah, bergerak dan mengejar adiknya itu. Tapi ketika adiknya ditangkap dan disambar lengannya, Soat Eng melepaskan diri dengan mengipatkan lengan kakaknya maka wanita ini berseru bahwa untuk urusan ini biarlah kakaknya tak ikut campur. “Lihat dan rasakan penderitaan bibi Cao Cun. Ingat itu. Aku ingin membunuh Cucigawa dan pengikut-pengikutnya. Atau kau boleh bunuh aku dan kita bertempur di sini!”

Thai Liong tertegun. Adiknya seperti gila dan sudah meluncur lagi keluar hutan, diikuti dan tak lama kemudian sudah sampai di tempat bangsa U-min itu. Tapi ketika Soat Eng berkelebatan dan mencari-cari, tempat itu kosong tiada orangnya ternyata Cucigawa dan pengikutnya bersembunyi entah di mana, melarikan diri.

“Heii, keluar, Cucigawa. Serahkan kepalamu dan jangan bersembunyi. Atau aku akan membakar kemahmu dan rakyatmu kuratakan!”

“Jangan!” Thai Liong bergerak, pucat. Rakyat tak bersalah apa-apa, Eng-moi. Kalau kau mengganggu mereka aku tentu menghalangimu!”

Soat Eng tertegun. Kakaknya menghalang-halangi dan kemah yang hendak dibakar dirampas apinya. Thai Liong mengingatkan bahwa itu bukan tindakan ksatria, kemah itu adalah tempat tinggal penduduk dan tak layaklah Soat Eng membakarnya. Kalaupun hendak membakar, maka boleh kemah di tengah-tengah itu, kemah paling besar dan menjadi tempat tinggal raja. Dan ketika Soat Eng mengangguk dan sadar, bergerak dan menyerbu kemah itu maka dirobohkannya kemah ini, selanjutnya isinya ditendangi dan meja kursi berantakan.

Tiang penyangga roboh dan Soat Eng sudah melepaskan kemarahannya dengan melempar api ke situ, kemah terbakar dan meledaklah kayu-kayu penyangga, tak lama kemudian api membubung tinggi dan berkobarlah jago merah di tempat itu. Dan ketika kemah yang berdekatan juga menjadi korban karena itu adalah tempat tinggal Horok dan Ramba, pembantu-pembantu dekat Cucigawa maka Soat Eng sudah melampiaskan kebenciannya dengan menghancurkan tempat itu.

Sang kakak memandang dengan kening berkerut-kerut tapi Thai Liong tak menghalangi. Betapapun pemuda ini menyadari bahwa kemarahan adiknya harus mendapat jalan keluar, atau adiknya itu bisa nekat dan gila tak mau tahu apa-apa lagi. Dan ketika adiknya membakar dan memaki-maki lawannya. Cucigawa lenyap dan tak berani muncul, akhirnya Thai Liong melihat tiga kemah besar yang hancur dimakan api. Jago merah yang hendak merambat ke tempat-tempat penduduk dikebut pemuda ini, api tak menjalar dan hanya sampai di situlah kebakaran yang terjadi. Dan karena adiknya sudah puas dan dapat melampiaskan kemarahannya, Soat Eng tak bertindak lebih jauh lagi maka pemuda ini bertanya apa lagi yang hendak dilakukan, setelah itu.

“Kita mencari Togur, jahanam itu melarikan diri!”

“Dan tempat ini?”

“Mau diapakan lagi?” Soat Eng tertegun, membelalakkan mata. “Bukankah kau tak memperbolehkan aku membakarnya? Ini tempat tinggal penduduk, Liong-ko. Kau sendiri bilang begitu!”

“Betul, tapi kau rupanya tidak mengerti. Maksudku apakah penduduk yang tak berdosa harus dibiarkan lagi begitu saja, Eng-moi. Apakah mereka harus kehilangan pemimpin dan tak tahu apa yang harus dikerjakan.”

“Aku tak mengerti!”

“Aku akan memberimu mengerti. Maksudku adalah bagaimana jika bangsa ini juga dipimpin oleh pemimpin lain yang cakap dan muda. Cucigawa dan pasukannya tentu tak berani lagi datang ke sini, mereka pasti sudah melarikan diri. Nah, aku hendak kembali ke tempat ayah mengambil seseorang. Kau tentu ingat putera panglima Sudi yang tinggal di sana itu!”

“Oh Lisan?”

“Ya, benar. Bagaimana pendapatmu?”

Soat Eng tertegun. Mendengar kakaknya bicara seperti itu tiba-tiba saja dia kemerah-merahan. Semula, dia akan menghancurkan bangsa ini, tempat ini. Tapi karena kakaknya benar, rakyat atau penduduk tak berdosa tak selayaknya menerima hukuman, yang salah adalah Cucigawa dan para pembantunya itu maka Soat Eng mengangguk melihat kakaknya ini benar-benar memperhatikan rakyat kecil, meskipun itu bukanlah suku bangsanya sendiri.

“Baiklah,” katanya kagum. “Kau dapat membedakan yang jahat dan tidak, Liong-ko. Aku menurut saja apa kata-katamu. Tapi kenapa kau sendiri hendak pulang. Apakah aku kau biarkan sendiri di sini?”

“Hm, kau kuberi kesempatan untuk mencari dan mengumpulkan penduduk, Eng-moi. Betapapun kitalah yang menjadi gara-gara hingga mereka berlarian. Syukur kalau dalam pencarianmu itu Cucigawa ketemu!”

“Ah, baik. Aku akan melaksanakan perintahmu. Kapan kau segera datang!”

“Tentunya tak lama. Satu atau dua jam tentu aku sudah kembali!”

“Apa? Melebihi perjalanan kita semalam?”

“Aku mempergunakan Beng-tau-sin-jin bukan perjalanan biasa. Nah, kau tunggu di sini dan jangan merusak apa-apa lagi!” dan ketika pemuda itu berkelebat dan lenyap, Soat Eng melihat kakaknya berobah sebagai asap merah tiba-tiba terkejut dan kagum karena kakaknya itu tahu-tahu sudah ada di kejauhan sana, hanya sekejap saja karena selanjutnya asap merah itu tak tampak lagi.

Thai Liong mempergunakan perjalanan roh dan bukannya perjalanan biasa, seperti misalnya ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng -atau Cui-sian Gin-kang itu. Dan karena gerakan roh seperti gerakan asap, hilang dan lenyap dalam sekejap maka Soat Eng termangu-mangu tapi kemudian sadar akan pekerjaannya sendiri. Kakaknya memerintahkan agar dia mencari dan mengumpulkan penduduk.

Bangsa U-min memang telah cerai-berai dan berlarian ke sana ke mari. Datang dan mengamuknya nyonya muda itu benar-benar telah membuat kegemparan, apalagi ketika Thai Liong menghajar dan mendesak Togur, juga See-ong yang ternyata ada di tempat itu bersama muridnya, kalah dan melarikan diri keluar hutan. Dan karena Cucigawa akhirnya melihat bahwa orang-orang andalannya dibuat jatuh bangun, tentu saja dia tak mungkin harus tetap di situ maka raja ini melarikan diri bersama pengikutnya. Tempat itu ditinggalkan kosong dan rakyat atau bangsa U-min berlarian, berpencar dan tentu saja ketakutan karena ratusan mayat yang bergelimpangan di situ sungguh mengerikan sekali.

Soat Eng telah mengamuk dan membabat lawan habis-habisan, apa boleh buat karena mereka itu adalah anjing-anjing suruhan Cucigawa, padahal Cucigawa sendiri melarikan diri dan secara licik meninggalkan pertempuran setelah mengetahui keadaan bahaya. Dan ketika Soat Eng bergerak dan mencari orang-orang ini, masuk keluar hutan membujuk untuk kembali maka dua jam kemudian kakaknya kembali bersama Lisan, pemuda gagah putera panglima Sudi itu.

Dibantu pemuda inilah nyonya itu dapat membujuk bangsa yang cerai-berai ini, mengumpulkannya dan akhirnya menyuruh mereka tenang lagi di tempat semula. Dan ketika Lisan tertegun melihat bangsanya, wanita dan anak-anak yang menangis tak keruan maka pemuda itu berkata bahwa semuanya ini adalah berkat kesalahan Cucigawa yang bergaul dengan orang-orang jahat.

“Kalau saja Siang-hujin diterima dan disambut baik-baik tentu tak akan terjadi semuanya ini. Kalian lihat bahwa Cucigawa menjadi boneka Togur, kalian mempunyai raja tapi raja kalian sesungguhnya tak berfungsi. Nah, aku datang untuk memimpin kalian, sahabat-sahabat. Aku akan meneruskan cita-cita ayahku dulu yang tak membiarkan bangsa U-min dikuasai orang-orang jahat. Siapa tak setuju boleh menyatakan pendapat dan aku jamin bahwa Cucigawa tak berani lagi datang ke sini. Ada dua pelindung kita yang gagah perkasa!”

Semua berlutut. Kalau saja tak ada putera panglima Sudi itu barangkali mereka ragu dan akan kurang percaya. Maklumlah, Soat Eng baru saja memusuhi mereka dengan membunuh-bunuhi perajurit. Tapi ketika Lisan memberi tahu bahwa Soat Eng tidak memusuhi mereka, melainkan Cucigawa dan pengikutnya maka mereka percaya dan lega.

Semua setuju bahwa Lisan menjadi pemimpin di situ, dilindungi dan dibayangi kegagahan dua orang kakak beradik ini, yang telah mereka saksikan kehebatannya. Dan ketika hari itu bangsa U-min dirobah nasibnya, dari pemimpin yang buruk ke pemimpin yang dapat dipercaya dan jujur maka seorang kakek maju dan berlutut, berkata....

Rajawali Merah Jilid 13

RAJAWALI MERAH
JILID 13
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
SOAT ENG menghadapi si gila yang tidak waras tapi rupanya hebat sekali, tubuhnya kebal dan pukulan-pukulan Bola Sakti tak dapat menewaskannya sekali pukul maka Soat Eng bekerja keras menghantam lawannya itu, memukul dan menendang tapi lawan hanya terbanting untuk kemudian bangkit berdiri lagi. Betapa kuatnya pemuda ini. Dan ketika Soat Eng marah karena semua pukulan-pukulannya tak mampu merobohkan lawan, pemuda itu hanya mendesis atau menyeringai kesakitan saja.

Maka mulailah wanita ini mengarahkan pukulannya ke tempat-tempat berbahaya, seperti misalnya ulu hati dan tenggorokan, juga mata dan beberapa bagian lain yang lemah, Di situlah biasanya sinkang tak dapat melindungi sepenuhnya, benar saja pemuda itu tampak sibuk dan mengelak atau menghindar sana-sini. Tapi karena Soat Eng terus mendesak dan lawan diteter hebat, nyaris tak dapat membalas maka pemuda itu membentak dan tiba-tiba kedua lengannya mulur panjang seperti karet.

“Sin-re-ciang (Tangan Karet Sakti)!” Soat Eng terkejut, tiba-tiba berseru keras karena tentu saja dia mengenal ilmu silat ini. Kedua lengan si pemuda sudah mulur sepanjang dua meter dan tahu-tahu menangkap lengannya sendiri. Itulah, tak disangka. Dan ketika Soat Eng tertegun karena inilah warisan See-ong, bahkan suaminya juga mempunyai ilmu silat itu maka tubuhnya diangkat dan tahu-tahu dibanting.

“Brukk!” Soat Eng mendengar sorak atau tepuk tangan riuh. Para penonton yang tadi berdebar dan tidak menyoraki jagonya tiba-tiba kini meledak lagi dalam pekik gegap-gempita. Soat Eng terkejut karena sepak terjang pemuda itu sungguh tidak diduganya sekali. Namun ketika ia bergulingan meloncat bangun dan tangan lawan memanjang lagi hampir empat meter, hal yang selama ini belum mampu dilakukan suaminya sendiri maka tubuhnya tahu-tahu sudah ditangkap dan dibanting lagi.

“Bress!” Soat Eng benar-benar kaget. Dua kali dibanting dan diangkat seperti itu membuat nyonya ini merah padam. Pasukan bersorak-sorai dan tentu saja dia gusar sekali. Dan ketika ia bergulingan menjauh tapi tangan itu menyambar lagi, seperti tangan-tangan gurita yang menerkam dan mengerikan sekali maka Soat Eng mencabut pedang dan secepat kilat menetak.

“Crak!” Tangan itu lenyap. Sebagai gantinya api berpijar karena tetakan Soat Eng menghajar batu. Kiranya meskipun gila tapi pemuda itu tahu bahaya dan cerdik, menarik lengan-lengannya yang panjang dan tak berani membiarkan jari tangannya dibabat pedang, karena dengan kemarahan luar biasa tentu tenaga nyonya itu hebat sekali. Dan ketika dia terkekeh sementara Soat Eng melompat bangun, pucat dan terbelalak maka Soat Eng dapat menduga bahwa kiranya pemuda ini adalah murid See-ong, entah kapan dan di mana karena selama ini See-ong memang merahasiakannya.

“Keparat, kau kiranya murid si kakek jahanam See-ong, berarti kau adalah sute suamiku sendiri Siang Le! Bedebah, siapa namamu, pemuda iblis? Mana gurumu dan kenapa hanya kau seorang diri?”

“Ha-ha-heh-heh, aku San Tek. Guru adalah benar See-ong yang lihai dan sakti luar biasa. Eh, mana suhengku Siang Le yang tidak tahu diri itu, bocah? Kenapa kau datang sendiri?”

“Kau.... kau San Tek?” Soat Eng tiba-tiba terbelalak, mendadak ingat bahwa inilah kiranya putera San-ciangkun itu, panglima yang dulu terbunuh oleh Togur. “Kau... kau putera San-ciangkun?”

“Ha-ha-heh-heh, benar... ayahku adalah mendiang San-ciangkun. Hayo tak usah banyak cakap lagi dan kau menyerah.... wut!” dan San Tek yang kembali bergerak dan mengulurkan lengan-lengan karetnya, panjang dan melejit tahu-tahu menyambar dan akan menangkap Soat Eng lagi.

Nyonya ini seketika ingat dan tertegun karena tiba-tiba nama itu diingatnya sebagai nama seorang pemuda yang dulu mendadak hilang dan dinyatakan tewas, kini mendadak ada di situ dan lihai bukan main. Ternyata masih hidup dan menjadi murid See-ong! Dan ketika pemuda itu menyambarnya lagi dan tentu saja dia tak sudi ditangkap, pemuda ini berbahaya dan gila maka Soat Eng mengelak dan berkelebat menampar pemuda itu.

“Plak!” San Tek terhuyung. Pemuda ini marah dan menyerang lagi, tangan karetnya bergerak-gerak dan maju mundur untuk menangkap lawan. Namun karena Soat Eng berkelebatan dan sekarang tahu dengan siapa ia berhadapan, kiranya murid See-ong yang berbahaya tiba-tiba lenyap dengan J ing-sian-engnya dan mendaratlah bertubi-tubi tamparan-tamparan Khi-bal-sin-kangnya.

Sekarang nyonya ini tak ragu-ragu karena San Tek adalah murid See-ong, dulu kawan tapi sekarang lawan. Dan ketika ia mendahului gerakan pemuda itu untuk melayangkan pukulan-pukulannya, perajurit kembali tak berani bersorak karena nyonya itu menyambar-nyambar bagai garuda betina yang mematuk atau menendang maka si pemuda kewalahan dan Soat Eng berhasil memperbaiki posisinya.

Tadi nyonya ini tertangkap karena tak hati-hati. Lagi pula ia tak tahu bahwa lawannya adalah murid See-ong. Pantas begitu lihai. Tapi begitu ia tahu dan tak ragu mengeluarkan semua kepandaiannya, Soat Eng akhirnya mengeluarkan pula pukulan-pukulan Lui-ciang-hoatnya untuk digabung dengan Khi-bal-sin-kang maka lawan terhuyung-huyung dan jatuh bangun karena tamparan wanita itu seolah geledek menyambar di siang bolong.

“Plak-plak!”

Dua kali tamparan ini membuat San Tek terpelanting dan menjerit. Tidak seperti tadi di mana pemuda itu masih dapat menahan dan tertawa-tawa maka sekarang pemuda itu terjengkang dan berteriak. Pukulan Soat Eng memang mulai panas dan ledakannya membuat penonton terdekat menjerit, tersambar hawa panas dan mereka itupun terjatuh. Dan ketika Soat Eng menang angin dan mengelilingi pemuda itu dengan ilmu meringankan tubuhnya Bayangan Seribu Dewa (Jing-sian-eng), San Tek pening dan tak dapat mengikuti dengan mata tiba-tiba pemuda itu terbanting ketika sebuah pukulan mengenai kepalanya.

“Aduh!”

Cucigawa dan pasukannya terkejut. Sekarang San Tek merintih bangun dan tak dapat segera berdiri. Tangan karetnya maju mundur namun sia-sia, Soat Eng selalu menghindari kedua lengannya ini. Dan ketika pemuda itu berteriak karena pukulan atau tendangan berikut kian keras saja, juga gencar, maka Cucigawa dan pasukannya tiba-tiba mundur untuk menyelamatkan diri.

“Jangan takut!” namun San Tek tiba-tiba berseru. “Aku belum kalah, Cucigawa. Tak usah kalian pergi!” dan membentak mirip raungan srigala, San Tek menerima sebuah pukulan lagi hingga mencelat terguling-guling tiba-tiba pemuda itu berkemak-kemik menepuk kedua tangannya sendiri. Dari telapak tangan pemuda itu muncul segulung asap hitam, meledak dan tiba-tiba San Tek menghilang, Dan ketika terdengar suara tawa parau dan Soat Eng tertegun, berhenti menyerang maka tampaklah bayangan aneh meluncur di belakangnya.

“Ha-ha, aku di sini, Soat Eng. Awas.... dukk!”

Soat Eng berteriak. Tiba-tiba dia terpelanting ketika lawan muncul menghantam tengkuknya, tak terdengar karena pemuda itu sudah berobah ujud, bukan lagi badan kasar melainkan badan halus. Dan ketika bayang-bayang pemuda itu mengikuti dan mengejar ke mana dia bergulingan, San Tek berobah menjadi asap hitam seperti siluman maka Cucigawa dan pasukannya kembali berteriak-teriak karena Soat Eng menjadi bulan-bulanan pukulan.

“Duk-dukk!”

Soat Eng mengeluh. Dikejar dan diserang macam ini, lawan menghilang dalam ilmu hitam segera nyonya itu tahu bahwa dia berhadapan dengan Hek-kwi-sut. Soat Eng terkejut karena ilmu hitam andala See-ong itu ternyata sudah diwarisi pemuda ini. Jadi, dia seolah berhadapan dengan See-ong sendiri dan tentu saja nyonya itu tak berdaya. Yang mampu menhadapi Hek-kwi-sut hanya ayahnya, karena ayahnya memiliki tandingan ilmu hitam itu, yakni Pek-sian-sut (Lebur Bersama Dewa).

Dan ketika Soat Eng jatuh bangun diserang lawan dan kejadian ini mirip pertandingan ibunya dulu dengan See-ong, tak dapat membalas kecuali menerima pukulan-pukulan itu sambil melindungi diri dengan Khi-bal-sin-kang maka San Tek sekali dua berteriak juga karena pukulannya tertolak balik. Akibatnya bayangan atau asap hitam itu mental, kembali dan menyerang lagi untuk kemudian mental lagi. Hal ini terjadi berulang-ulang tapi para perajurit yang melihat itu justeru bersorak-sorak.

Mereka menganggap nyonya itu di pihak yang terdesak karena terus menerima pukulan-pukulan, tak tahu bahwa San Tek melotot marah karena setiap kali memukul tentu dia tertolak. Kalau saja dia tak bersembunyi di balik ilmu hitamnya itu tentulah dia yang akan terjengkang dan disoraki penonton, bukan lawannya itu yang hanya terhuyung-huyung maju mundur saja, kuat menerima pukulan karena dilindungi Khi-bal-sin-kangnya yang luar biasa.

Ketika San Tek menjadi kagum dan membenarkan omongan gurunya, bahwa Khi-bal-sin-kang memang ilmu luar biasa yang akan mementalkan setiap pukulan lawan maka pemuda itu melotot sambil memaki-maki sementara Soat Eng merah padam disoraki lawan. Nyonya ini panas dan terbakar, Maka ketika satu saat dia mampu meloncat bangun dan San Tek menghilang entah ke mana, pemuda itu juga jerih karena pukulan-pukulannya membalik maka Soat Eng melengking dan menerjang Cucigawa dan pasukannya yang ratusan orang itu.

“Kalian pengecut, tak berani maju. Hayo hadapi aku dan jangan bersorak-sorak saja!”

Kagetlah Cucigawa dan pasukannya itu. Mereka sedang asyik dan gembira menyoraki wanita ini, tak tahunya sekarang diterjang dan tentu saja mereka mawut. Dan ketika tujuh orang terlempar roboh dan belasan yang lain mencelat dipukul wanita muda itu, Soat Eng ingin menumpahkan kemarahannya kepada orang-orang ini maka bangsa U-min terpekik dan tunggang-langgang diserbu wanita itu. Soat Eng bergerak bagai seekor banteng kalap, siapa yang ada di depan itulah yang dihantam dan kontan saja pasukan itu cerai-berai.

San Tek yang bersembunyi di balik ilmu hitamnya terkejut, dia jadi kaget dan marah juga melihat amukan wanita muda itu. Namun karena setiap dia mengejar Soat Eng tentu berkelebat dan menyembunyikan diri di tengah-tengah pasukan besar, merepotkan dirinya yang tentu saja tak dapat memukul maka pasukan itulah yang menjadi korban karena pukulan-pukulan San Tek yang dilancarkan jatuh ke tempat pasukan besar ini.

“Heii... jangan seperti harimau kelaparan, mereka bukan lawanmu. Ayo hadapi aku dan jangan cecunguk-cecunguk itu!”

“Keparat, kaupun licik dan pengecut, San Tek. Kau menyembunyikan dirimu di balik Hek-kwi-sut. Ayo, serang aku dan lihat berapa anak buahmu yang bakal roboh binasa.... des-dess!” pukulan Soat Eng bercampur dengan pukulan San Tek, menghajar orang-orang itu dan tentu saja pasukan besar ini terpekik.

Mereka terlempar dan terbanting roboh seperti pohon-pohon pisang ditebang, Soat Eng meneruskan gerakannya sementara San Tek membayangi di belakang. Dan ketika hal itu menggegerkan bangsa U-min karena mereka bisa roboh binasa semua, Cucigawa dan pembantunya berteriak-teriak maka raja itu menyuruh mundur dan pasukanpun lalu cerai-berai.

“Mundur..... mundur.... kembali ke tengah kota!”

Namun Soat Eng mendengus. Dihajar dan dijadikan bahan sorakan ketika tadi dia dihajar San Tek membuat nyonya muda ini kalap dan menyerbu seperti kesetanan. Puluhan tubuh tergelimpang dan mayatpun tiba-tiba sudah menumpuk di sana-sini. Itulah akibat pukulan-pukulal Khi-bal-sin-kang tapi juga San Tek yang selalu luput mengenai wanita muda ini. Dan ketika San Tek juga terkejut karena seratus orang tiba-tiba terkapar mandi darah, nyonya itu terus mengamuk dan menghambur ke tengah-tengah pasukan maka saat itu dari pusat kota terdengar pekik dan jeritan tinggi.

“San Tek, tolong...!”

Pemuda itu terkejut. Bersamaan dengan itu tiba-tiba berkelebat dua bayangan ke arahnya, yang satu berteriak-teriak dan memanggil dirinya sementara yang lain berteriak dan memaki-maki ke belakang. Entah siapa yang dimaki namun San Tek tertegun karena itulah Togur dan gurunya. Dua orang itu terbang ke arahnya dan gurunya pucat bermandikan peluh, Togur juga mandi keringat dan pasukan yang ada di depan tiba-tiba mencelat ke sana ke mari. Mereka dilempar atau diangkat oleh gurunya, juga Togur. Dan ketika dua orang itu berteriak-teriak dan Soat Eng juga terkejut melihat See-ong, karena kakek iblis itu rupanya juga ada di situ maka See-ong menendang seorang perajurit untuk kemudian membentak menyambar muridnya.

“Pergi, ada Thai Liong di belakang!”

Soat Eng berseri. Begitu See-ong menyambar dan menarik muridnya, pucat menoleh ke belakang maka saat itu juga tampak sebuah bayangan merah berkelebat dan meluncur di situ. Bayangan inipun terbang secepat setan dan terlemparlah para perajurit ketika dikibas atau didorong bayangan itu, yang bukan lain memang kakaknya, Thai Liong. Tapi ketika Soat Eng berteriak girang dan membentak See-ong, yang berkelebat dan melarikan diri maka sebuah pukulan Togur tiba-tiba menghantamnya dari samping, hal yang kurang diwaspadai nyonya ini.

“Dess!” Soat Eng mencelat. Kaget dan marah karena diserang secara licik membuat wanita ini sadar bahwa di situ memang ada Togur, yang diam-diam menyerangnya dan menghantam dengan pukulan Khi-bal-sin-kang. Tapi karena nyonya itu juga memiliki pukulan yang sama dan Khi-bal-sin-kang ini tentu saja tak melukainya maka begitu bergulingan meloncat bangun Soat Eng sudah memaki lawannya ini.

“Togur, kau jahanam keparat!”

Namun Togur melarikan diri. Begitu pukulannya tak membawa hasil dan Soat Eng meloncat bangun maka pemuda itu tertawa dingin dan berkelebat menyusul See-ong. Soat Eng tertegun karena pemuda itu ternyata buntung, benar seperti kata bibinya Cao Cun. Dan kaget serta marah bahwa pemuda itu masih hidup, dan kini melarikan diri karena rupanya tak mampu menghadapi kakaknya maka nyonya ini membentak dan menerjang puluhan perajurit yang tiba-tiba dibentak Togur agar mengepung dirinya.

“Jaga perempuan itu, awas, jangan sampai dia mengejar aku!”

Para perajurit kebingungan. Ternyata mereka lebih takut kepada si buntung itu daripada Soat Eng, karena meskipun ragu namun mereka menghadang juga, melihat nyonya ini mengejar Togur. Dan karena Soat Eng sudah marah dan hal itu semakin membuatnya gusar, para perajurit ini dinilainya tak tahu diri maka begitu dia bergerak dan melepas pukulan maka tamparan-tamparan Khi-bal-sin-kang langsung memecahkan kepala orang-orang itu.

“Bedebah, des-des-dess....!”

Orang-orang itu berteriak. Mereka terpelanting dan seketika tewas dengan keadaan mengerikan. Soat Eng timbul ganasnya dan diterjanglah yang lain-lain ketika mereka itu diancam Togur. Dan ketika duapuluh tubuh roboh dengan otak berhamburan, baru kali ini puteri Pendekar Rambut Emas itu melakukan hal yang kejam maka yang lain tiba-tiba menyibak dan bayangan merah bagai rajawali menyambar tahu-tahu menangkap lengan nyonya ini, menyergapnya.

“Eng-moi, jangan menurunkan tangan kejam. Orang-orang yang kita cari melarikan diri!”

Soat Eng mencelat disendal kakaknya Thai Liong yang datang dan berseru menyambar adiknya tahu-tahu telah membawa adiknya ini terbang melewati kepala puluhan orang. Bagai rajawali raksasa pemuda itu bertiup di atas kepala, turun dan tahu-tahu sudah di luar ratusan orang. Gerakannya luar biasa dan tentu saja orang-orang itu ternganga, Thai Liong tahu-tahu sudah di luar kepungan. Dan ketika orang-orang itu pucat dan berseru tertahan, Thai Liong menyentak dan membawa lari adiknya maka pemuda itu terbang mengejar See-ong, benar-benar terbang karena jubahnya mengelepak-ngelepak bagai sayap rajawali sakti!

“Iblis, pemuda itu bukan manusia!”

“Astaga, ia tak menginjak tanah lagi mengejar pemimpin kita!”

Soat Eng juga tertegun. Ditegur dan disambar kakaknya diajak melewati kepala puluhan orang, bahkan mungkin ratusan membuat nyonya ini terbelalak. Dia, dengan ilmunya Cui-sian Gin-kang atau Jing-sian-eng juga dapat melewati kepala orang-orang itu, tapi kalau sudah tiba di luar tentu akan menginjak tanah lagi dan bergerak seperti manusia biasa. Tapi ketika kakaknya ini tidak begitu karena begitu keluar dan meluncur di luar kepungan tahu-tahu tetap seperti itu, terbang dan jubah merahnya mengelepak-ngelepak maka wanita ini takjub dan kagum bukan main, sadar bahwa inilah tentu bagian dari ilmu silat sakti Ang-tiauw Sin-kun (Silat Rajawali Merah).

“Liong-ko, ini.... ini Ang-tiauw Sin-kun?”

“Benar, bagian dari Ang-tiauw Sin-kun, Eng-moi. Sian-su menamakannya Ang-tiauw-ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Rajawali Merah)!”

“Astaga, dan kau tak menginjak tanah. Terbang! Ah, manusia atau dewakah kau ini, Liong-ko? Mampu seperti burung dan membawaku tak menginjak tanah?”

“Diamlah, bukan waktunya kita bicara ini, Eng-moi. Togur dan See-ong melarikan diri dan harus kita tangkap. Aku diajak berputar-putar hingga nyaris kehilangan jejak!”

“Dan See-ong mempunyai murid baru, San Tek namanya, putera mendiang San-ciangkun. Apakah kau juga melihat pemuda itu, Liong-ko? Dia hebat dan seperti gurunya, memiliki Hek-kwi-sut!”

“Hm, aku melihatnya, tapi perhatianku tertuju kepada Togur dan kakek iblis ini. Mereka licik membawa-bawa pasukannya.”

“Aku juga!” Soat Eng gemas. “Cucigawa dan pembantunya mengerahkan perajuritnya itu, Liong-ko. Mereka berlindung dan bersembunyi di balik pasukannya, kuhajar dan akhirnya muncul si San Tek itu!”

“Hm, dan kau ganas,” sang kakak menegur, mengerutkan kening. “Tak seharusnya kau membunuh-bunuhi mereka, Eng-moi. Betapapun musuh kita bukanlah mereka-mereka itu!”

“Benar, tapi cacing-cacing busuk ini menyerangku habis-habisan, Liong-ko. Kalau tidak dibunuh tak mau mundur. Kau jangan menyalahkan aku, merekalah yang tak tahu diri!”

“Hm, baiklah. Kita percepat perjalanan karena mereka masuk hutan. Awas!”

Soat Eng kaget. Kakaknya tiba-tiba menjejak ke atas dan sekonyong-konyong tubuh mereka terbang tinggi di atas puncak-puncak pohon. Jubah di belakang kakaknya berkibar lebih kencang dan mengelepak-ngelepak lebih kuat. Soat Eng terpekik. Tapi ketika dia melihat See-ong dan Togur memasuki hutan, benar seperti kata kakaknya maka dua orang itu tiba-tiba berpisah, yang satu ke kiri yang lain ke kanan.

“Keparat!” Soat Eng berseru marah. “Mereka berpencar, Liong-ko. Togur dan kakek iblis itu memisahkan diri!”

“Tak apa!” kakaknya turun dan menyambar ke bawah. “Kita membagi tugas, Eng-moi. Biarlah kau mengejar pemuda itu sementara aku See-ong dan muridnya. Sanggup?”

“Sanggup!” dan begitu Thai Liong menghentikan gerakan dan mengebutkan jubah, mereka sudah menginjak tanah maka Soat Eng terbengong karena tahu-tahu sudah di tengah hutan, mencegat. Jadi, leluasa untuk membagi tugas ke kiri atau ke kanan!

“Nah, kau ke kiri,” sang kakak mendorong. “Cepat dan berhati-hati, Eng-moi. Pergunakan gabungan Khi-bal -sin-kangmu dengan Lui-ciang-hoat, juga Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang!”

Soat Eng tak dapat dibuat bengong lagi. Mulut hutan yang sudah dilampaui kakaknya membuat dia bekerja tinggal sedikit. Kakaknya sudah membagi tugas dan masing-masing akan mendapatkan seorang. Dan karena Togur lebih ringan baginya, pemuda itu tak sehebat See-ong atau San Tek yang memiliki ilmu hitam Hek-kwi-sut maka Soat Eng mengangguk dan kakaknya berkelebat mendahului, menghilang.

“Hati-hati, Eng-moi. Ingat pesanku!”

Wanita itu bergerak. Setelah kakaknya berkelebat dan mereka harus menghadang musuh maka tak ada kesempatan lagi untuk membuang-buang waktu. Thai Liong sudah lenyap dan Soat Eng pun berkelebat ke kiri. Dan ketika nyonya itu melengking ke kiri dan benar saja dilihatnya bayangan Togur, pemuda itu bergerak mencari tempat persembunyian maka wanita ini membentak dan mengejutkan si buntung itu.

“Togur, kau bedebah jahanam. Jangan lari!”

Togur, pemuda lihai ini, tertegun. Dia tak menyangka bahwa secepat itu dirinya diketemukan. Dia tak tahu bahwa Thai Liong telah bergerak dan terbang di atas pohon-pohon yang tinggi, dari sana dapat melihat bayangan musuh-musuhnya dan karena itu turun di dalam hutan, tidak lagi di mulut hutan. Maka ketika Soat Eng disuruhnya ke kiri dan Thai Liong sendiri ke kanan, Togur dicegat jalannya maka pemuda itu terkejut tapi tiba- tiba menyeringai, tak takut.

“Ha-ha, kau sendiri, Soat Eng? Tidak bersama kakakmu?”

“Jahanam!” Soat Eng berkelebat dan sudah berdiri di depan pemuda ini, bersinar-sinar. “Kau keji dan tak tahu malu, Togur. Di samping membawa-bawa bangsa U-min kau juga masih bersekongkol dengan See-ong si kakek iblis, tidak segera menebus dosa setelah Yang Mahakuasa memberimu umur panjang!”

“Ha-ha, omongan apa ini? Kau mau berkhotbah atau bertempur? Lihat, aku di sini, benar masih hidup. Tapi itu adalah atas usahaku sendiri yang memperjuangkan hidup.... wut!” dan Togur yang mencabut tongkat dan segera menyambar ke depan tiba-tiba telah menotok dan menyerang dada wanita itu. Togur tertawa-tawa tapi mata dan sikapnya sama sekali tidak menunjukkan itu. Bahkan, mata pemuda ini mengancam ganas. Dia melihat Soat Eng memandang kakinya dan justeru kebuntungan kakinya itulah yang membuat pemuda ini naik darah. Maka begitu dia bergerak dan tongkat menyambar ke depan, langsung menotok dada maka tangan kirinyapun juga menghantam dan langsung mengeluarkan Khi-bal-sin-kang.

“Dess!” Soat Eng mengelak dan menangkis. Wanita itu melengking dan tangan mereka beradu, keras sama keras karena nyonya muda itu juga mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya. Dan ketika masing-rnasing sama terhuyung dan Soat Eng marah karena Khi-bal-sin-kang yang dipunyai pemuda itu mengingatkan dia akan kematian kakeknya, mendiang Hu Beng Kui yang dicuri kesaktiannya maka Soat Eng memekik dan kali ini menyambar maju, mendahului.

“Kau masih hidup tapi sekarang aku akan membunuhmu.... haiittt!” dan si nyonya yang berkelebat mengerahkan Jing-sian-engnya tiba-tiba menghantam dan membalas lawannya, dikelit dan tongkat menyambar untuk akhirnya mengeluarkan ledakan keras. Togur mempergunakan tenaga saktinya pula untuk menangkis serangan lawannya itu.

Dan ketika masing-masing terpental namun Soat Eng sudah maju kembali, bergerak dan menyambar seperti walet menemukan mangsa maka wanita itu sudah beterbangan melepas pukulan-pukulan maut, tamparan atau tendangan dan si buntung itu tampak kewalahan. Tapi karena Togur juga memiliki ilmu-ilmu kesaktian tinggi dan pernah mempelajari warisan dari Enam Iblis Dunia, seperti pukulan Tee-sin-kang ataupun Cam-kong-kiang (Pembunuh Petir) maka bergeraklah pemuda itu melayani lawan dengan gerakan-gerakan cepat pula. Bayangan Soat Eng yang menyambar-nyambar seperti walet terbang sudah diikutinya dengan gerakan-gerakan yang sama.

Pemuda itupun mengeluarkan Jing-sian-engnya dan dengan pukulan digabung-gabung dia menghadapi amukan puteri Pendekar Rambut Emas itu. Dan karena pada dasarnya pemuda ini memang bukan orang lemah, jauh sebelum memiliki Khi-bal-sin-kang maupun Jing-sian-eng dia sudah merupakan pemuda yang hebat maka Soat Eng mengutuk habis-habisan melihat lawannya itu mempergunakan ilmu-ilmu keluarganya sebagai inti pertahanan, terutama Khi-bal-sin-kang yang dikerahkan dalam pukulan-pukulan Tee-sin-kang (Pukulan Bumi) atau Cam-kong-ciang.

“Terkutuk!” Soat Eng menyumpah serapah. “Jangan pergunakan ilmu-ilmu keluargaku, Togur. Keluarkan ilmu kepandaianmu sendiri yang murni!”

“Ha-ha, orang hidup mencari pandai. Kalau kau takut atau tak tahan melihat ilmu-ilrnuku ini pergi saja, Soat Eng. Jangan ganggu diriku!”

“Pergi'? Membiarkan jahanam terkutuk seperti tampangmu ini bebas? Huh, jangan harap, Togur. Kau telah membunuh Ituchi dan menculik adik-adik perempuannya. Kembalikan mereka itu atau kau kubunuh... blarr!” dan dua letupan kilat yang memuncratkan bunga api tiba-tiba membuat Togur terhuyung karena Soat Eng melepas pula Lui-ciang-hoatnya, menggabungnya dengan Khi-bal-sin-kang dan untuk ini si buntung itu harus mengeluh.

Sekarang Soat Eng tak mau lagi mengandalkan satu ilmunya melainkan semua, yakni gabungan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat. Dan ketika tubuh wanita itu berkelebatan kian cepat karena mengeluarkan pula Cui-sian Gin-kangnya (Ginkang Pengejar Dewa) maka Togur berseru tertahan karena tiba-tiba saja sudah terdesak hebat.

“Buk-plak-dess!”

Togur menjerit kesakitan. Untuk pertama kalinya dia pucat. Memang, untuk Lui-ciang-hoat ataupun Cui-sian Gin-kang tak pernah dia pelajari. Mendiang Hu Beng Kui tak memiliki ilmu-ilmu itu karena ini warisan Pendekar Rambut Emas khusus, ayah mertuanya itu hanya Jian-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika Togur mulai mendapatkan pukulan-pukulan cepat dan tak mampu berkelit lagi, Jing-sian-eng ditambah Cui-sian Gin-kang sungguh bukan ulah-ulah hebatnya maka pemuda itu segera menjadi bulan-bulanan pukulan dan mulailah dia mengeluh atau mengerang.

“Keparat, kau licik dan curang, Soat Eng. Tak malu menyerang orang cacat!”

“Perduli amat! Cacat atau tidak salahmu sendiri, Togur. Kau terlalu banyak dosa dan menumpuk hutang!”

“Kau benar-benar akan membunuhku? Tak malu jika aku menyerah kalah?”

“Apa maksudmu?”

“Hentikan pukulan-pukulanmu, Soat Eng. Aku menyerah dan menyatakan kalah. Aku siap mematuhi perintah-perintahmu!” tapi ketika Soat Eng tertegun dan menghentikan serangannya, lawan tiba-tiba menangis dan beriba mendadak tongkat itu bergerak dan menyambar ke ulu hatinya, bagai senjata terbang.

“Aiihhhh.... ha-ha-ha!”

Soat Eng kaget dan melempar tubuh bergulingan. Apa yang dilakukan pemuda itu sungguh di luar dugaan dan amat curang sekali. Dia tak menyangka dan tahu-tahu diserang, padahal jarak demikian dekat sementara pemuda itu menjatuhkan diri bertutut seperti layaknya orang yang benar-benar hendak menyerah. Maka begitu tongkat menyambar ulu hati dan Soat Eng terkejut bukan main, gugup tak ingat Khi-bal-sin-kangnya yang sudah ditarik lemas maka saat itulah bahaya mengancam keselamatan jiwa nyonya muda ini.

Tongkat menyambar terlalu dekat dan juga dilempar oleh seorang macam Togur, yang mempergunakan kekuatan saktinya untuk membunuh lawannya itu. Dan ketika Soat Eng tampak terlambat dan lawan terbahak-bahak, ujung senjata sudah mendekati ulu hati nyonya ini mendadak terdengar suara bersiut dan sebutir batu hitam menghantam tongkat itu hingga terpental, patah.

“Togur, tak usah melakukan kecurangan. Kalau penasaran bilang penasaran, boleh bertanding lagi. Jangan melakukan perbuatan pengecut dengan cara yang begini hina.... takk!” dan tongkat yang hancur berkeping-keping, menyelamatkan nyonya itu sudah membuat Togur pucat dan kaget menoleh ke kanan, melihat bayangan merah dan teriakan See-ong yang parau.

Tiga bayangan berkelebat dari situ dan tampaklah kakek iblis ini terbirit-birit bersama muridnya, San Tek. Dan ketika kakek itu melengking dan berteriak padanya agar datang menolong, padahal Soat Eng saat itu sudah mendelik dan marah bukan main oleh kecurangan Togur, si buntung ini terbelalak maka saat itulah si nyonya berkelebat dan menghantam Togur.

“Kau benar-benar licik dan jahanam!”

Togur berteriak. Pukulan Soat Eng telak mengenainya dan tentu saja si buntung itu terlempar. Khi-bal-sin-kang, juga Lui-ciang-hoat, menghantamnya bagai petir. Suara berdebum mengiringi pemuda itu yang terlempar dan terbanting. Dan ketika Soat Eng melengking dan mengejar lawannya, si buntung merintih maka saat itu See-ong di dekatnya dan menghantam nyonya ini.

“Dess!” Soat Eng mencelat dan ganti terguling-guling. Wanita itu berteriak karena perbuatan See-ong sungguh di luar dugaannya. Perhatiannya sedang tertuju kepada si buntung itu dan karena itu lengah mendapat pukulan. Tapi karena di belakang See-ong menyusul bayangan merah, Thai Liong mengejar dan membentak kakek ini maka See-ong dipukul dan kakek itu menjerit terguling-guling, ganti terbalas.

“Jangan licik dan curang, hadapi aku.... dess!”

Tiga tubuh sama-sama menderita di tanah. Togur maupun Soat Eng dan See-ong sama-sama mengeluh. Tapi, karena mereka juga sama-sama memiliki kekebalan dan pukulan itu dapat ditahan, meskipun kesakitan maka ketiganya bergulingan meloncat bangun dan See-ong tiba-tiba meledakkan kedua tangannya mengeluarkan Hek-kwi-sut.

“Lari, kita pergi!”

Soat Eng membelalakkan mata. See-ong, kakek hebat itu tiba-tiba menghilang dan lenyap di balik gulungan asap hitam. San Tek muridnya disambar dan Soat Eng selanjutnya tak tahu di mana kakek iblis itu. Tapi ketika Togur merintih di sana dan ia ingat, kemarahannya menggelegak lagi maka wanita itu berseru dan menerjang lawannya ini, yang juga sudah melompat bangun.

“Kau akan kubunuh, harus kubunuh!”

Namun, Togur tiba-tiba juga meledakkan kedua tangannya. Sama seperti See-ong yang memiliki Hek-kwi-sut mendadak pemuda ini mengeluarkan ilmu hitam. Entah kapan dan bagaimana mendadak saja si buntung itupun memiliki Hek-kwi-sut. Soat Eng berteriak ketika lawannya itu tiba-tiba lenyap, berobah menjadi segulung asap hitam. Dan ketika dia mendengar suara terbahak dan si buntung itu menghilang bagai siluman, pukulannva amblas menghantam tempat kosong maka Soat Eng terhuyung dan pucat mukanya.

“Ha-ha, kau tak dapat mencari aku. Selamat tinggal, Soat Eng. lain kali kita bertemu lagi!”

“Iblis!” nyonya muda itu tertegun, “Kau memiliki Hek-kwi-sut, Togur. Kau sekongkol dengan See-ong!”

“Ha-ha, betul. Dan untuk itu See-ong juga memiliki Khi-bal-sin-kang!”

Soat Eng kaget dan pucat. Togur yang lenyap meninggalkan tawanya yang penuh kegembiraan membuat nyonya ini gemetar dan marah. Segera dia teringat kepada kakaknya itu dan tiba-tiba sebuah benda melayang ke arahnya. Soat Eng terkejut tapi itu kiranya sebuah saputangan merah, mau ditangkap tapi tiba-tiba benda ini melejit. Dan ketika bersamaan dengan itu terdengar seruan kakaknya dari jauh bahwa dia diminta mengikuti sapu tangan itu, benda itu tiba-tiba terbang dan membalik ke arah selatan maka Soa Eng terbengong tapi sadar dan girang.

“Togur benar, See-ong memiliki Khi-bal-sin-kang. Tapi ikuti saputanganku ini Eng-moi. Kau nanti akan dapat mengejar mereka bersama-sama aku. Bergeraklah!”

Soat Eng bergerak. Seperti memasuki sebuah mimpi yang aneh ia melihat saputangan merah itu terbang dan meluncur seperti barang bernyawa, diikuti dan akhirnya membawanya keluar hutan. Dan ketika tiba-tiba ia melihat bayangan kakaknya bersama See-ong, juga Togur, maka kakaknya mengebutkan lengan dan sekonyong-konyong asap hitam yang membungkus dua orang itu berantakan.

“See-ong, Togur, tak perlu main-main lagi. Ilmu hitam kalian tak berguna di sini!”

Dua orang itu terpelanting. Soat Eng yang kaget bagaimana See-ong tiba-tiba mendapatkan kembali ilmu hitamnya, padahal dulu ayahnya sudah menghancurkan ilmu hitam kakek itu mendadak dibuat girang karena lawan utamanya, Togur, terguling-guling ke arahnya. Si buntung itu berteriak karena tak kuat menerima kebutan kakaknya, Thai Liong mempergunakan kesaktiannya untuk menghancurkan ilmu hitam orang-orang ini. Dan karena Togur kelihatan lagi dan kebetulan terguling-guling ke arahnya, Soat Eng terbelalak dan melengking tinggi tiba-tiba bergerak dan sudah menyerang pemuda itu.

“Nah, kau datang lagi. Ular mencari gebuk!”

Togur terkejut. Saat itu dia sedang mengeluh oleh kibasan Thai Liong yang membuat dadanya sesak. See-ong juga terpelanting dan terguling-guling di sana, Namun karena kakek itu ada San Tek, yang selalu tak jauh dari gurunya dan membantu gurunya maka See-ong disambar dan diselamatkan muridnya sementara dia harus menerima dan menghadapi Soat Eng sendirian.

“Dess!” Togur menjerit tertahan. Dia hanya mampu mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya dan pukulan Soat Eng di terima tanpa dapat dibalas. Dia terlempar dan terbanting lagi tanpa tongkat. Senjatanya itu sudah hancur diremukkan Thai Liong. Dan ketika Soat Eng mengejar dan melengking marah, si buntung melindungi diri dengar Khi-bal-sin-kang milik keluarganya maka nyonya muda itu sudah menjatuhkan pukulan dan tamparan bertubi-tubi, tak mampu dibalas dan Togur mengeluh bergulingan ke sana-sini. Celaka pemuda itu. Namun ketika mereka menjauhi Thai Liong, yang dikeroyok dan menghadapi See-ong serta muridnya maka tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan lagi Hek-kwi-sutnya.

“Darr!” Soat Eng tertegun. Dia tiba-tiba kehilangan lawan dan lenyaplah si buntung di ilmu hitam. Dan ketika dia menghentikan serangannya dan otomatis melotot, Togur lenyap melarikan diri maka di sana terdengar jeritan See-ong yang roboh terlempar. Soat Eng menoleh dan saat itu kakaknya berkelebat mengejar lawannya, dibentak oleh San Tek yang menyerang Thai Liong. Tapi ketika Thai Liong mengebutkan jubah dan pemuda itu juga terlempar, terbanting seperti gurunya maka See-ong sudah ditangkap dan dicekik kakaknya.

“Berhenti, menyerahlah. Tak guna kau melawan lagi, See-ong. Sudah waktunya kau menebus dosa!”

“Keparat!” kakek itu memaki, gentar. Kau luar biasa, Thai Liong. Kau melebihi ayahmu. Tapi aku tak akan menyerah biarpun kau cekik mampus.... blub!” si kakek tiba-tiba meniupkan mulutnya, hawa busuk menyambar dan Thai Liong terkejut, tentu saja mengelak namun si kakek tiba-tiba meronta, lepas dan menerjangnya. Sungguh nekat! Tapi ketika Thai Liong menampar dan menangkis pukulan kakek itu, See-ong menghantam sambil menyeruduk tiba-tiba kepala kakek itu menancap di perutnya.

“Heii...!” Thai Liong berseru keras. “Kau mencari mati, See-ong. Tarik mundur atau kepalamu meledak!”

Namun si kakek menggeram. Memukulkan kedua tangannya yang ditangkis Thai Liong membuat See-ong nekat melepas serangan dengan kepala. Seluruh kekuatan ditarik ke sini dan kepala kakek itu tiba-tiba seperti sebongkah besi, keras dan atos. Dan ketika uap kehitaman juga muncul di situ dan kepala kakek ini menancap kuat, See-ong mengerahkan semua sinkangnya untuk merusak isi perut perut pemuda itu maka apa boleh buat Thai Liong mengerahkan tenaga saktinya untuk bertahan. Dia telah memperingatkan namun si kakek mendesak. Dan ketika segumpal hawa dingin menyambut hawa panas dari kepala kakek itu, See-ong melotot dan membelalakkan matanya seakan mau pecah maka San Tek yang melihat gurunya dalam bahaya tiba-tiba membentak dan menyerang Thai Liong.

“Dess!” Thai Liong sedang penuh tenaga sakti. Tancapan kepala See-ong yang membawa hawa panas dan sinkang mujijat disambut pemuda ini dengan tenaga saktinya sendiri, akibatnya di tubuh pemuda itu ada dua tenaga sakti yang sedang berlawanan. Maka begitu San Tek menyerangnya dan pemuda itu melepas pukulan ke arah tengkuk. Thai Liong membiarkan maka justeru tenaga sakti inilah yang menerima pemuda itu dan akibatnya San Tek terpekik, terbanting mengeluh tertahan dan seketika itu pingsan.

Pemuda itu mendelik dan dari mulut serta hidungnya keluar darah segar. San Tek terlalu sembrono dengan melakukan serangan itu dan See-ong hampir berteriak kaget. Kakek itu sudah terbuka mulutnya tapi ditelan lagi, dia ingat akan serangannya kepada Thai Liong itu. Tapi karena pukulan San Tek berarti juga memasukkan tenaga ke tubuh Thai Liong, dan ini celakanya, maka begitu pemuda itu terlempar dan roboh pingsan maka See-ong merasa gempuran dari muridnya sendiri.

“Augh!” See-ong muntah darah. Kakek itu salah tingkah dalam saat seperti itu. Tenaga dingin Thai Liong meredam tenaga panasnya, masih ditambah lagi dengan tenaga muridnya yang masuk ke tubuh Thai Liong. Dan karena Thai Liong pandai “mengoperkan” tenaga ini, See-ong mendelik dan kejang-kejang tiba-tiba terdengar suara berkeratak ketika batok kepala kakek itu retak. Thai Liong membelalakkan mata karena kakek ini nekat, sudah terluka namun masih juga mengerahkan tenaganya. Dan ketika dia berseru agar kakek itu cepat-cepat menarik kepala, atau kakek itu akan binasa maka See-ong mendelik dan menggerakkan kedua tangan untuk menusuk atau menancapkan jari ke pinggang lawannya itu.

“Cepp!” Namun kakek ini mengeluh. Thai Lion yang sedang penuh tenaga dingin tiba-tiba membuat jarinya beku. Dan karena kepalanya juga masih menancap dan tak mau ditarik, padahal Thai Liong sudah memberikan peringatan maka begitu kakek itu mengeluh dan terkejut, batok kepalanya berkeratak lagi tiba-tiba dia terkulai dan See-ong tewas. Kakek ini roboh ke tanah berbarengan dengan jari-jarinya yang beku kehitaman. Seluruh tubuhnya hitam kebiruan karena urat-uratnya pecah, kakek ini terialu memaksa diri. Dan begitu See-ong terkulai dan Thai Liong bebas dari serangan maka saat itu juga adiknya tak ada di situ.

Thai Liong tertegun menarik napas dalam-dalam. Dia sedih memandang mayat kakek itu karena See-ong harus tewas di tangannya, mati olehnya. Dan ketika pemuda ini terharu oleh kematian lawan, aneh sekali, maka terdengar lengkingan dan pekik adiknya di luar hutan.

“Togur, kau laki-laki pengecut. Kau manusia tak jantan. Hayo perlihatkan dirimu dan jangan lari. Ini aku!”

Thai Liong berkelebat. Begitu mendengar seruan dan lengking adiknya segera dia meninggalkan mayat lawannya. Bagai siluman tahu-tahu dia lenyap di situ, hanya bayangan merah yang tampak di sana. Dan ketika pemuda itu melihat adiknya berkelebatan mengelilingi hutan, mencari-cari lawannya yang lenyap maka pemuda ini bergerak dan tahu-tahu menangkap adiknya itu.

“Sudahlah,” Soat Eng terkejut. “Musuh sudah melarikan diri, Eng-moi. Kita cari nanti dan kembali dulu ke hutan. See-ong sudah tewas.”

“Tewas? Kau membunuhnya? Bagus bawa mayatnya, Liong-ko. Tunjukkan kepada ibu agar puas dendamnya. Tapi Togur menghilang dengan Hek-kwi-sut!”

“Kita tak usah sedengki ini, mayat orang tak perlu dibawa-bawa. Kalau Togur pergi biarlah nanti kita cari, Mari masuk!” dan Thai Liong yang menarik atau menyendal lengan adiknya tiba-tiba membawanya ke dalam hutan. Di sana dia menunjuk mayat kakek iblis itu dan termangu, Soat Eng berseru girang dan tiba-tiba menendang mayat kakek ini. Dan ketika mayat itu terlempar dan berdebuk, Thai Liong kaget maka Soat Eng berkelebat dan mencekik mayat itu.

“See-ong, kau telah membunuh kong-kong. Rasakan, aku akan menggantung mayatmu dan membiarkannya untuk makanan harimau buas!”

Soat Eng melompat dan menyambar tali. Benar seperti kata-katanya tadi maka mayat itu digantung dan diikat di sebuah dahan, kepala di bawah kaki di atas. Soat Eng melakukannya dengan mata berapi-api, sikapnya buas dan kejam sekali. Dan ketika dia menggebuki mayat itu, mematah-matahkan kaki tangannya maka Thai Liong berkelebat dan menyambar mayat itu, memutuskan tali ikatannya.

“Eng-moi, tak boleh. Orang yang sudah mati tak boteh diganggu. Kau tidak berperikemanusiaan!” dan ketika adiknya terkejut dan terbelalak, mau membantah maka Thai Liong sudah menekan tengkuk adiknya itu menyesapkan hawa dingin, menyadarkan yang bersangkutan. “Ingatlah, kita bukan orang-orang kejam. Kita adalah keturunan pendekar. Tak pantas rasanya menyiksa mayat seperti itu. Nah, kita justeru harus menguburnya baik-baik, Eng-moi, dan bagaimana sekarang dengan pemuda ini!”

Soat Eng tertegun. Kakaknya menunjuk San Tek dan sadarlah dia akan semuanya itu. Tadi dia kehilangan kontrol diri akibat dendam dan kemarahannya dengan kematian kakeknya, mendiang Hu Beng Kui. Tapi begitu kakaknya mengusap tengkuknya dan dia sadar, memandang putera San-ciangkun yang pingsan itu maka wanita ini terisak dan menutup mukanya.

“Maaf, aku lupa, Liong-ko. Aku tak ingat....”

“Sudahlah, tak apa, aku mengerti. Kau periksa pemuda itu dan biar aku membuat lubang untuk jenasah kakek ini!”

Soat Eng mengangguk. Kakaknya sudah bergerak dan menusuk-nusukkan jari ke tanah. Hebat sekali cara pemuda itu mernbuat lubang karena sebentar kemudian tanah sudah dicongkel-congkel keluar. Ketajaman atau kekerasan jarinya bak mata cangkul, tak lama kemudian sudah tersedialah sebuah lubang yang cukup untuk mengubur mayat See-ong. Dan ketika Soat Eng bergerak dan menghampiri tubuh San Tek, pemuda itu pucat dan mulut serta hidungnya mengeluarkan darah maka Soat Eng tahu bahwa pemuda ini menderita luka berat, luka dalam.

“Dia terluka, apakah diobati atau dibiarkan saja...”

“Tidak, kita justeru harus mengobatinya, Eng-moi. Berikan obat ini dan jejalkan ke mulutnya.”

“Tapi dia murid See-ong, sudah jahat!”

“Jahat atau tidak tapi kita wajib menolong yang luka, Eng-moi. Sekarang ini dia merupakan penderita!”

“Baiklah, tapi aku tak mau menolong selanjutnya, biar olehmu!” dan ketika obat itu dijejalkan ke mulut si pemuda, kasar, maka Thai Liong sendiri sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memberi tanda makam kakek itu dengan sebuah batu besar, mengguratkan nama pemiliknya agar mudah dikenal, kalau mau dicari.

“Untuk apa itu? Siapa sudi berkunjung dan sembahyang di sini?”

“Hm, kau mungkin tidak, Eng-moi. Tapi suamimu, Siang Le, pasti akan menanyakan dan mungkin mencarinya!”

Soat Eng tertegun. Tiba-tiba dia teringat dan terisak. Bicara tentang Siang Le mendadak membuat dia ingin menangis. Benar, suaminya itu amat mulia dan tentu menanyakan di mana makam gurunya itu, kalau memang terbunuh. Dan ketika ia benar-benar menangis dan tersedu oleh bayangan suaminya, kakaknya sudah memeluk dan merangkul pundaknya maka Thai Liong berbisik,

“Tak ada yang perlu ditangisi, Eng-moi. Apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Aku sebenarnya tak sengaja membunuhnya, dia menerima pukulan muridnya sendiri yang masuk ke tubuhku. Sudahlah, aku ingin menolong San Tek dan kau diam di sini.” dan Thai Liong yang melepaskan pelukan menuju lawannya, meriksa dan melihat keadaan San Tek segera meletakkan tangannya di punggung si pemuda. San Tek luka dalam dan karena itu dia menyalurkan sinkang, obat telah dijejalkan adiknya ke mulut pemuda itu. Dan ketika tak lama kemudian pemuda itu membuka mata dan melompat bangun, terhuyung dan jatuh maka Thai Liong menekan pundaknya dan berkata,

“Kau harus beristirahat, lukamu belum sembuh benar!”

“Kau?” pemuda itu terkejut, jerih. “Mana guruku? Kau apakan dia?”

“Hm, gurumu tewas, San Tek, secara tidak langsung karena pukulanmu juga. Sadarlah, kau masih dapat memperbaiki diri asal tidak mengikuti jejak gurumu!”

“Atau kau kubunuh!” Soat Eng berkelebat dan mengancam, matanya berapi-api. ”Kau jahat dan tak pantas menjadi putera San-ciangkun, San Tek. Ayahmu pasti malu di alam baka kalau melihat puteranya seperti ini!”

“Sudahlah,” Thai Liong mengibaskan ujung jubahnya. “Kau bukan anak kecil, San Tek. Kau tahu mana buruk mana baik. Kau kulepaskan dan kuberi kesempatan untuk merobah kelakuan. jangan tiru gurumu!”

“Atau kami tak akan memberi ampun lagi!” Soat Eng berseru ulang, masih marah dan geram karena pemuda itu memiliki Hek-kwi-sut, benar-benar seperti See-ong! “Ingat dan camkan kata-kata kakakku, San Tek. Atau kau akan mengalami nasib seperti gurumu dan mati dengan kepala pecah!”

Pemuda ini menggigil. Berhadapan dengan Thai Liong yang luar biasa hebat dan sakti membuat murid See-ong yang satu ini gentar. Betapapun, dia telah merasakan kelihaiannya dan Thai Liong yang mampu mengejar dan menghilang pula dalam ilmu putih, menandingi Hek-kwi-sut membuat pemuda itu ketakutan dan pucat. Dia tak tahu bahwa lawannya memiliki Beng-tau-sin-jin (Manusia Menembus Roh), satu tandingan dari Hek-kwi-sut yang mungkin sejajar atau setingkat lebih tinggi dari Pek-sian-sut, ilmu yang dimiliki Pendekar Rambut Emas Kim-mou-eng.

Dan karena berkali-kali Thai Liong mampu mengejar dan menghentikan perlawanan mereka, karena ketika Soat Eng berhadapan dengan Togur pemuda ini mengeroyok Thai Liong bersama gurunya, kalah dan terdesak maka San Tek yang melihat betapa lawannya ini memiliki ilmu menghilang yang lain yang jauh lebih hebat dari Hek-kwi-sut tiba-tiba menjadi gentar dan takut menghadapi Thai Liong. Namun pemuda ini sama sekali tidak gentar atau takut terhadap Soat Eng!

Melihat Soat Eng mengancam dan berkali-kali mengeluarkan kata-kata pedas, hal yang tidak menyenangkan hatinya diam-diam pemuda ini marah dan sakit hati. Kalau saja tak ada Thai Liong di situ tentu dia sudah menerjang wanita ini, karena Soat Eng akhirnya tunggang-langgang menghadapi Hek-kwi-sutnya yang tak dapat dilihat, meskipun dia juga harus menyeringai berkali-kali karena pukulannya juga ditolak oleh Khi-bal-sin-kang. Dan ketika wanita itu melotot namun dia diam saja, diam tapi matanya diam-diam menahan marah maka Thai Liong yang menggamit dan mencekal lengan adiknya itu memotong agar dia segera pergi.

“Kami tak ada urusan denganmu, pergilah.”

San Tek terhuyung. Diam tak bersuara dan juga tak berterima kasih iapun lalu memutar tubuhnya dan pergi. Soat Eng mengerutkan kening dan tiba-tiba berkelebat, membentak pemuda itu untuk berhenti dulu. Dan ketika San Tek terkejut dan berhenti, Soat Eng berdetak karena mata pemuda itu tiba-tiba mencorong dan berkilat kepadanya, penuh dendan maka dia menjadi marah dan menampar.

“Kau manusia tak tahu sopan santun. Diberi kebebasan tak juga berterima kasih. Hayo ucapkan terima kasih kepada kakakku dulu atau aku terpaksa menghajarmu di sini!”

Thai Liong terkejut. “Tak usah,” katanya, berkelebat dan melindungi pemuda itu dari kemarahan adiknya. “Dia sedang terpukul, Eng-moi, cukup merasakan hukumannya ini. Kalau dia tak berterima kasih akupun tak mengapa. Sudahlah, biarkan ia pergi dan jangan ganggu lagi!”

“Kau tak ingin memberinya adat agar tahu sopan sedikit? Kau mau dihina begini saja?”

“Aku tak merasa terhina,” Thai Liong tersenyum, lembut dan menarik napas dalam-dalam. “Lain orang lain cara berpikirnya, Eng-moi. Karena bertahun-tahun dia sudah hidup dengan See-ong maka sopan santun atau segalanya itu tak pernah diajarkan. Sudahlah, biarkan ia pergi dan kita tak usah mengganggu!”

San Tek tertegun. Sinar matanya yang tadi berkilat berapi-api mendadak padam dan hilang. Mendengar kata-kata Thai Liong ini rupanya ia tercengang juga, heran, tapi juga kagum. Tapi ketika Thai Liong mempersilahkannya pergi dan memberi jalan, Soat Eng melotot tapi tak diperdulikan maka pemuda ini tertawa aneh dan melangkah pergi, menggoyang tubuh.

“Dess!” Soat Eng menendang pantatnya. Gemas dan marah karena pemuda itu melenggang seenaknya, di depan kakaknya tiba-tiba dia tak tahan untuk memberi hadiah tendangan itu. Pemuda itu terjungkal dan terkejut, bangkit terhuyung dan menoleh kepadanya. Tapi ketika San Tek tertawa aneh dan pergi, tidak membalas maka pemuda itu lenyap dan menghilang di luar hutan.

Soat Eng mengepal-ngepal tinju dan kalau saja kakaknya tidak mencegah tentu dia sudah berkelebat dan menendang lagi. Kalau perlu, akan dihajarnya pemuda itu jatuh bangun, mumpung ada kakaknya di situ. Namun karena kakaknya jelas tak setuju dan kakaknya ini amat welas asih, persis ayahnya yang lembut dan pemurah maka Soat Eng melempar kejengkelannya dengan membanting kaki.

“Kalau bertemu lagi tentu kuketok batok kepalanya itu. Dia memandang rendah kita!”

“Hm, kau selalu marah-marah. Satu di antara musuh-musuh kita sudah terbunuh, Eng-moi. Kita harus puas sedikit meskipun aku menyesal dengan membunuh See-ong tadi.”

“Menyesal? Kau ingin kakek itu hidup lagi?”

“Tidak juga begitu. Tapi, ah, sudahlah. Aku tak sanggup menghilangkan nyawa orang lain, Eng-moi. Karena nyawa adalah pemberian Tuhan. Aku rasanya berdosa!”

“Tapi kong-kong dibunuh kakek itu! Kau tidak menyesal?”

“Hm, tentu saja menyesal. Tapi semua sudah terjadi. Sudahlah, tak perlu kita berdebat ini dan apa yang selanjutnya hendak kita lakukan. Apa yang kau maui.”

“Aku ingin mengobrak-abrik Cucigawa dan pasukannya itu, lalu mencari Togur!”

“Datang lagi ke sana? Menghancurkan bangsa U-min?”

“Menghancurkan pemimpin-pemimpinnya yang jahat, Liong-ko. Melenyapkan mereka. Untuk ini biar kau tak usah ikut dan aku sendiri.... wut!” dan Soat Eng yang berkelebat dan tahu kakaknya tak setuju, kakaknya lemah hati dan amat pemurah tiba-tiba sudah terbang dan menuju ke bangsa U-min itu.

Thai Liong terkejut dan tentu saja berseru mencegah, bergerak dan mengejar adiknya itu. Tapi ketika adiknya ditangkap dan disambar lengannya, Soat Eng melepaskan diri dengan mengipatkan lengan kakaknya maka wanita ini berseru bahwa untuk urusan ini biarlah kakaknya tak ikut campur. “Lihat dan rasakan penderitaan bibi Cao Cun. Ingat itu. Aku ingin membunuh Cucigawa dan pengikut-pengikutnya. Atau kau boleh bunuh aku dan kita bertempur di sini!”

Thai Liong tertegun. Adiknya seperti gila dan sudah meluncur lagi keluar hutan, diikuti dan tak lama kemudian sudah sampai di tempat bangsa U-min itu. Tapi ketika Soat Eng berkelebatan dan mencari-cari, tempat itu kosong tiada orangnya ternyata Cucigawa dan pengikutnya bersembunyi entah di mana, melarikan diri.

“Heii, keluar, Cucigawa. Serahkan kepalamu dan jangan bersembunyi. Atau aku akan membakar kemahmu dan rakyatmu kuratakan!”

“Jangan!” Thai Liong bergerak, pucat. Rakyat tak bersalah apa-apa, Eng-moi. Kalau kau mengganggu mereka aku tentu menghalangimu!”

Soat Eng tertegun. Kakaknya menghalang-halangi dan kemah yang hendak dibakar dirampas apinya. Thai Liong mengingatkan bahwa itu bukan tindakan ksatria, kemah itu adalah tempat tinggal penduduk dan tak layaklah Soat Eng membakarnya. Kalaupun hendak membakar, maka boleh kemah di tengah-tengah itu, kemah paling besar dan menjadi tempat tinggal raja. Dan ketika Soat Eng mengangguk dan sadar, bergerak dan menyerbu kemah itu maka dirobohkannya kemah ini, selanjutnya isinya ditendangi dan meja kursi berantakan.

Tiang penyangga roboh dan Soat Eng sudah melepaskan kemarahannya dengan melempar api ke situ, kemah terbakar dan meledaklah kayu-kayu penyangga, tak lama kemudian api membubung tinggi dan berkobarlah jago merah di tempat itu. Dan ketika kemah yang berdekatan juga menjadi korban karena itu adalah tempat tinggal Horok dan Ramba, pembantu-pembantu dekat Cucigawa maka Soat Eng sudah melampiaskan kebenciannya dengan menghancurkan tempat itu.

Sang kakak memandang dengan kening berkerut-kerut tapi Thai Liong tak menghalangi. Betapapun pemuda ini menyadari bahwa kemarahan adiknya harus mendapat jalan keluar, atau adiknya itu bisa nekat dan gila tak mau tahu apa-apa lagi. Dan ketika adiknya membakar dan memaki-maki lawannya. Cucigawa lenyap dan tak berani muncul, akhirnya Thai Liong melihat tiga kemah besar yang hancur dimakan api. Jago merah yang hendak merambat ke tempat-tempat penduduk dikebut pemuda ini, api tak menjalar dan hanya sampai di situlah kebakaran yang terjadi. Dan karena adiknya sudah puas dan dapat melampiaskan kemarahannya, Soat Eng tak bertindak lebih jauh lagi maka pemuda ini bertanya apa lagi yang hendak dilakukan, setelah itu.

“Kita mencari Togur, jahanam itu melarikan diri!”

“Dan tempat ini?”

“Mau diapakan lagi?” Soat Eng tertegun, membelalakkan mata. “Bukankah kau tak memperbolehkan aku membakarnya? Ini tempat tinggal penduduk, Liong-ko. Kau sendiri bilang begitu!”

“Betul, tapi kau rupanya tidak mengerti. Maksudku apakah penduduk yang tak berdosa harus dibiarkan lagi begitu saja, Eng-moi. Apakah mereka harus kehilangan pemimpin dan tak tahu apa yang harus dikerjakan.”

“Aku tak mengerti!”

“Aku akan memberimu mengerti. Maksudku adalah bagaimana jika bangsa ini juga dipimpin oleh pemimpin lain yang cakap dan muda. Cucigawa dan pasukannya tentu tak berani lagi datang ke sini, mereka pasti sudah melarikan diri. Nah, aku hendak kembali ke tempat ayah mengambil seseorang. Kau tentu ingat putera panglima Sudi yang tinggal di sana itu!”

“Oh Lisan?”

“Ya, benar. Bagaimana pendapatmu?”

Soat Eng tertegun. Mendengar kakaknya bicara seperti itu tiba-tiba saja dia kemerah-merahan. Semula, dia akan menghancurkan bangsa ini, tempat ini. Tapi karena kakaknya benar, rakyat atau penduduk tak berdosa tak selayaknya menerima hukuman, yang salah adalah Cucigawa dan para pembantunya itu maka Soat Eng mengangguk melihat kakaknya ini benar-benar memperhatikan rakyat kecil, meskipun itu bukanlah suku bangsanya sendiri.

“Baiklah,” katanya kagum. “Kau dapat membedakan yang jahat dan tidak, Liong-ko. Aku menurut saja apa kata-katamu. Tapi kenapa kau sendiri hendak pulang. Apakah aku kau biarkan sendiri di sini?”

“Hm, kau kuberi kesempatan untuk mencari dan mengumpulkan penduduk, Eng-moi. Betapapun kitalah yang menjadi gara-gara hingga mereka berlarian. Syukur kalau dalam pencarianmu itu Cucigawa ketemu!”

“Ah, baik. Aku akan melaksanakan perintahmu. Kapan kau segera datang!”

“Tentunya tak lama. Satu atau dua jam tentu aku sudah kembali!”

“Apa? Melebihi perjalanan kita semalam?”

“Aku mempergunakan Beng-tau-sin-jin bukan perjalanan biasa. Nah, kau tunggu di sini dan jangan merusak apa-apa lagi!” dan ketika pemuda itu berkelebat dan lenyap, Soat Eng melihat kakaknya berobah sebagai asap merah tiba-tiba terkejut dan kagum karena kakaknya itu tahu-tahu sudah ada di kejauhan sana, hanya sekejap saja karena selanjutnya asap merah itu tak tampak lagi.

Thai Liong mempergunakan perjalanan roh dan bukannya perjalanan biasa, seperti misalnya ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng -atau Cui-sian Gin-kang itu. Dan karena gerakan roh seperti gerakan asap, hilang dan lenyap dalam sekejap maka Soat Eng termangu-mangu tapi kemudian sadar akan pekerjaannya sendiri. Kakaknya memerintahkan agar dia mencari dan mengumpulkan penduduk.

Bangsa U-min memang telah cerai-berai dan berlarian ke sana ke mari. Datang dan mengamuknya nyonya muda itu benar-benar telah membuat kegemparan, apalagi ketika Thai Liong menghajar dan mendesak Togur, juga See-ong yang ternyata ada di tempat itu bersama muridnya, kalah dan melarikan diri keluar hutan. Dan karena Cucigawa akhirnya melihat bahwa orang-orang andalannya dibuat jatuh bangun, tentu saja dia tak mungkin harus tetap di situ maka raja ini melarikan diri bersama pengikutnya. Tempat itu ditinggalkan kosong dan rakyat atau bangsa U-min berlarian, berpencar dan tentu saja ketakutan karena ratusan mayat yang bergelimpangan di situ sungguh mengerikan sekali.

Soat Eng telah mengamuk dan membabat lawan habis-habisan, apa boleh buat karena mereka itu adalah anjing-anjing suruhan Cucigawa, padahal Cucigawa sendiri melarikan diri dan secara licik meninggalkan pertempuran setelah mengetahui keadaan bahaya. Dan ketika Soat Eng bergerak dan mencari orang-orang ini, masuk keluar hutan membujuk untuk kembali maka dua jam kemudian kakaknya kembali bersama Lisan, pemuda gagah putera panglima Sudi itu.

Dibantu pemuda inilah nyonya itu dapat membujuk bangsa yang cerai-berai ini, mengumpulkannya dan akhirnya menyuruh mereka tenang lagi di tempat semula. Dan ketika Lisan tertegun melihat bangsanya, wanita dan anak-anak yang menangis tak keruan maka pemuda itu berkata bahwa semuanya ini adalah berkat kesalahan Cucigawa yang bergaul dengan orang-orang jahat.

“Kalau saja Siang-hujin diterima dan disambut baik-baik tentu tak akan terjadi semuanya ini. Kalian lihat bahwa Cucigawa menjadi boneka Togur, kalian mempunyai raja tapi raja kalian sesungguhnya tak berfungsi. Nah, aku datang untuk memimpin kalian, sahabat-sahabat. Aku akan meneruskan cita-cita ayahku dulu yang tak membiarkan bangsa U-min dikuasai orang-orang jahat. Siapa tak setuju boleh menyatakan pendapat dan aku jamin bahwa Cucigawa tak berani lagi datang ke sini. Ada dua pelindung kita yang gagah perkasa!”

Semua berlutut. Kalau saja tak ada putera panglima Sudi itu barangkali mereka ragu dan akan kurang percaya. Maklumlah, Soat Eng baru saja memusuhi mereka dengan membunuh-bunuhi perajurit. Tapi ketika Lisan memberi tahu bahwa Soat Eng tidak memusuhi mereka, melainkan Cucigawa dan pengikutnya maka mereka percaya dan lega.

Semua setuju bahwa Lisan menjadi pemimpin di situ, dilindungi dan dibayangi kegagahan dua orang kakak beradik ini, yang telah mereka saksikan kehebatannya. Dan ketika hari itu bangsa U-min dirobah nasibnya, dari pemimpin yang buruk ke pemimpin yang dapat dipercaya dan jujur maka seorang kakek maju dan berlutut, berkata....