Istana Hantu Jilid 16 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

ISTANA HANTU
JILID 16
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara

“HEI, keparat jahanam. Bocah ini kiranya bukan Kim-mou-eng!"

"Ya, dan kau terkecoh, Cam-kong. Kau sudah lari terbirit-birit sebelum melihat dengan jelas, ha-ha!"

Bayangan-bayangan di depan itu sudah berkelebatan cepat. Mereka sudah tiba dan tahu-tahu sudah mengurung dua anak muda ini, Cam-kong mendelik dan marah memandang Thai Liong, yang tadi disangka Pendekar Rambut Emas. Dan ketika lima iblis itu datang mengurung sementara pengawal atau pasukan besar itu juga sudah berdatangan sambil berteriak-teriak maka Cam-kong menggeram dan memaki pemuda ini.

"Keparat, kiranya kau. Heh, apa maksudmu datang mengacau, bocah. Mana bapakmu dan bersama siapa saja kau datang?"

"Hm, aku datang sendiri," Thai Liong menjawab, bersikap tenang. "Aku datang berdua dengan temanku ini, Cam-kong. Dan sengaja mencari kalian atau Togura. Mana muridmu itu dan suruh dia keluar!"

"Ha-ha!" Siauw-jin tertawa bergelak, berseru mendahului. "Jangan percaya siluman muda ini, Cam-kong. Dia bilang sendiri tapi tahu-tahu bapak atau ibunya muncul di tempat lain! Heh, kita harus berhati-hati dan sebaiknya cepat tangkap atau bunuh pemuda ini!"

"Dan itu siapa?" nenek Naga melengking, memandang Ituchi. "Siapa bocah berkulit hitam ini? Bukankah dia bukan bangsa Han?"

"Dia Ituchi!" seorang prajurit tiba-tiba berteriak, mengenal pemuda tinggi besar yang gagah ini. "Dia putera mendiang Raja Hu!"

"Benar!" suara lain tiba-tiba menyambung, geram namun juga gentar. "Pemuda itu adalah orang yang kuceritakan pada kalian, nenek Naga. Dia adalah putera Raja Hu yang hendak merebut kekuasaan!"

Ituchi menoleh. Dengan cepat dia melihat raja Cucigawa ada di situ, bersama panglimanya yang gagah namun licik, Ramba dan Horok, dua orang yang katanya sudah menjadi pembantu-pembantu Togura dan Cucigawa sendiri kabarnya juga sudah turun derajatnya, di bawah pimpinan murid lima Iblis Dunia itu dan seketika merahlah muka Ituchi. Pemuda ini marah karena itulah lawan yang membawa suku bangsanya ke dalam kehancuran. Cucigawa tak dapat menjaga diri dan kini menyerah saja dipermainkan orang lain, Togura, murid lima Iblis Dunia itu. Maka begitu melihat raja ini yang sudah turun kedudukannya di bahwa perintah Togura pemuda ini membentak,

"Cucigawa, kau raja yang tak tahu malu. Kau membiarkan bangsamu diperalat orang lain dan mandah menerima perintah! Cih, mana kegagahan dan kewibawaanmu sebagai raja? Bagaimana kau sudah menjadi anjing pesuruh bagi orang lain?"

Hebat kata-kata ini. Cucigawa bagai ditampar dan raja tinggi besar yang kini tidak sedang menjadi raja itu marah. Dia naik pitam dan tiba-tiba menyambar busurnya, terhina bukan main. Dan ketika dia menjepret dan melepas sebuah anak panah besar maka Ituchi cepat menangkis dan meruntuhkan anak panah itu, berkata mengejek,

"Hm, begini kebisaanmu? Tak malu-malu menyerang lawan mumpung terlindung di balik orang-orang yang kau andalkan? Hebat, kau gagah, Cucigawa. Dan pantas sekali kalau kau berkawan dengan anjing-anjing buduk....plak!" panah patah menjadi dua, ditampar pemuda itu dan Cucigawa menggereng.

Raja itu mau menyerang lagi namun Cam-kong membentak. Dan ketika raja itu tak berani bercuit dan mengkeret nyalinya maka Ituchi tertawa dan berkata lagi, hinaan yang lebih pedas,

"Aih, cocok menjadi anjing piaraan. Gagah tampangnya tapi kerdil dan ciut nyalinya. Ah, kau semakin pantas bersahabat dengan kakek atau nenek-nenek iblis ini, Cucigawa. Tapi tak pantas dan semakin tak patut menjadi raja dari bangsa yang besar!"

"Hm, tutup mulutmu!" Cam-kong membentak. "Kau segera kami bunuh, anak muda. Dan jangan bercuap-cuap di sini. Sekarang mana gadis-gadis itu dan serahkan atau kalian mampus!"

Thai Liong tertawa. "Cam-kong," katanya, mendahului Ituchi. "Kau dari dulu selalu melancarkan gertak sambal. Bisakah kau membunuh kami kalau menghadapi Khi-bal-sin-kang atau Jing-sian-eng-ku kau tak dapat menang? Hm, kaulah yang tak perlu bercuap-cuap, kakek busuk. Kami datang karena hendak meminta kembali suku bangsa U-min untuk diserahkan pada sahabatku ini, yang lebih berhak. Dan menghentikan sepak terjang kalian dengan menyetop serbuan besar-besaran ini. Kalian gila, tidak waras. Nah, kalian pergi dan serahkan pasukan ini atau kalian kuhajar dan semua menerima hukuman!"

"Ha-ha!" Siauw-jin tiba-tiba tertawa. "Ayahmu sendiri tak mampu mencegah kami, Thai Liong. Sungguh lucu kalau kau datang untuk maksud yang sama! Heh, ketahuilah. Beberapa waktu yang lalu ayahmu datang tapi melarikan diri. Kami sekarang tak takuti Khi-bal-sin-kang-mu ataupun yang lain karena kami juga punya. Karena itu pulanglah, bocah sombong. Atau kau bergabung bersama kami dan menjadi sahabat Togura!"

"Hm," Thai Liong mengejek, menganggap omongan ini main-main. "Kau selalu membual, Siauw-jin. Dan di mana-mana pun kau rupanya pandai membual. Aku memang ingin bertemu Togura, suruh dia keluar atau kupaksa kalian untuk menunjukkannya!"

"Ha-ha!" suara tawa bergelak tiba-tiba menghantam tempat itu. "Tak perlu banyak bicara, Siauw-jin. Tangkap dua pemuda itu dan bawa ke mari!"

"Togur!" Thai Liong kaget, tergetar. "Awas dia datang, Ituchi. Hati-hatilah dan ingat kata orang bahwa dia sekarang lebih lihai daripada gurunya!"

Benar saja, sesosok bayangan berkelebat. Bagai hantu atau siluman saja tahu-tahu Togur, pemuda yang tinggi besar dan gagah seperti Ituchi muncul, begitu saja tanpa diketahui daari mana dia tadi. Dan ketika Ituchi terkejut sementara Thai Liong tertegun karena serasa mengenal gerakan itu, ilmu luar biasa yang dipergunakan Togura maka pemuda ini tertawa bergelak berkacak pinggang, gagah dan sombong.

"Suhu, dua pemuda ini sudah datang di tempat kita. Tangkap dan bekuk mereka, bunuh!"

"Hm!" Thai Liong waspada. "Kau sudah muncul, Togur? Kau mau menangkap dan membekuk kami? Kebetulah, kamilah yang akan menangkap dan membekuk dirimu!" dan Thai Liong yang berkelebat dan menyerang pemuda ini tiba-tiba mencengkeram dan menyambar pemuda itu, lewat di depan Siauw-jin dan kakek cebol itu kaget, berseru keras dan menggerakkan kedua tangannya namun Thai Liong lenyap, sudah berada di depan Togura dan akan menangkap lawannya itu. Tapi ketika Togura tertawa bergelak dan mencelat ke belakang tiba-tiba pemuda itu lenyap dan menghilang.

"Jing-sian-eng!" Thai Liong berseru tertahan, tersentak. "Ah, kau mempergunakan Jing-sian-eng, togur. Keparat!" dan Thai Liong yang bergerak dan mengejar lawannya lagi tiba-tiba berkelebat dan mempegunakan ilmu meringankan tubuhnya, Jing-sian-eng dan lawan tertawa bergelak. Untuk ketiga kalinya pemuda tinggi besar itu mengejek Thai Liong, berkelebat dan lenyap lagi, menghindar. Namun ketika Thai Liong mengejar dan terus memburu ke manapun dia mengelak akhirnya murid lima Iblis Dunia ini menangkis.

"Dukk!" Dan Thai Liong kaget bukan kepalang. Mereka terpental dan sama-sama terdorong mundur, pukulannya tadi bertemu daya tolak yang besar dan Thai Liong hampir tidak percaya. Maka membentak dan penasaran melepas pukulannya tiba-tiba Thai Liong melengking dan mengejar lawannya itu.

"Dukk!" Thai Liong terpekik. Sekarang dia terhuyung mundur dan membelalakkan matanya, dua kali merasa cukup dan kagetlah pemuda itu ketika mengetahui bahwa lawan mempergunakan Khi-bal-sin-kang, ilmu keluarganya. Maka begitu dia terkejut dan pucat memandang pemuda tinggi besar itu Thai Liong berseru tertahan,

"Khi-bal-sin-kang!"

"Ha-ha!" lawan tertawa mengangguk. "Memang benar, Thai Liong. Dan sekarang kau tahu kenapa guruku tadi bilang bahwa kami semua tak perlu takut lagi kepadamu!"

Dan Thai Liong yang menjublak dan bengong oleh kejadian ini tiba-tiba sadar dan menggigil, teringat kematian engkongnya (kakek). "Jadi... jadi kau....?"

"Benar, aku yang pergi ke Ce-bu itu, Thai Liong. Tapi bukan aku yang membunuh kakekmu!"

"Ah, tapi... tapi kau pencurinya! Kau kiranya yang tak tahu malu mencuri Cermin Naga! Ah, terkutuk kau, Togur. Kau manusia iblis yang hina-dina!" dan Thai Liong yang sadar dan tahu apa yang terjadi tiba-tiba membentak dan menyerang lagi, marah sekali kepada pemuda ini namun Togur tiba-tiba mencelat ke belakang. Pemuda itu berseru pada gurunya agar gurunya itu maju. Maka ketika Thai Liong melengking dan mau menyerangnya lagi mendadak Siauw-jin dan lain-lain menghadang, iblis cebol itu langsung mengeluarkan sabitnya.

"Ha-ha, tunggu dulu, bocah. Di bawah raja masih ada pembantu-pembantunya.... siut-singg!" dan sabit yang bergerak serta menyambar ke depan tiba-tiba menuju ke mata Thai Liong, tentu saja dielak dan pemuda itu semakin marah. Namun ketika dia membentak dan menghantam si cebol ini ternyata Siauw-jin berkelit dan empat temannya yang lain sudah berkelebat maju dan bertubi-tubi menyerangnya dari empat penjuru.

"Hih-heh, Siauw-jin benar, bocah. Kalau masih ada kami di sini kau tak boleh banyak tingkah.... klip-dar!" dan nenek Naga yang mengeluarkan jarumnya dan mencolok namun ditangkis sudah menyerang lagi dibantu Ji-moi maupun Toa-ci.

Kini lima bayangan bergerak silih berganti dan marahlah Thai Liong dikeroyok lima kakek dan nenek-nenek iblis itu. Mereka semua mengeluarkan senjatanya sementara Togura sendiri meloncat mundur, tertawa dan mengamati jalannya pertandingan itu. Dan ketika Thai Liong menangkis dan mengeluarkan Jing-sian-eng atau Khi-bal-sin-kangnya yang luar biasa maka lima kakek dan nenek-nenek iblis itu menjerit.

"Plak-duk-plak!"

Siauw-jin dan lain-lain terpelanting. Memang mereka paling tak tahan terhadap Khi-bal-sin-kang. Pukulan Bola Sakti itu akan mementalkan pukulan-pukulan mereka sendiri seberapa kuat pun adanya. Semakin kuat atau hebat maka akan semakin kuat dan hebat pula mereka tertolak. Bola Sakti atau Khi-bal-sin-kang memang ilmu yang luar biasa. Tapi karena di situ ada murid mereka yang hebat dan mereka tentu saja malu kalau harus mundur dengan cepat maka Siauw-jin dan kawan-kawannya maju kembali, menerjang dan membentak Thai Liong.

Dan pemuda itu berkelebatan membalas lawan. Jing-sian-eng dikerahkan dan pusinglah Siauw-jin dan kawan-kawannya ketika bayangan Thai Liong mendahului, selalu menampar dan mendorong mereka. Dan ketika pertempuran menjadi berat sebelah karena tampak betapa akhirnya lima kakek dan nenek-nenek iblis itu terdesak oleh Thai Liong, yang memang hebat dengan Khi-bal-sin-kang atau Jing-sian-engnya maka Siauw-jin berteriak ketika sabitnya patah, dihantam telapak pemuda itu dan disusul nenek Naga yang menjerit karena jarumnya mencelat, menyambar dan hampir saja mengenai matanya, kalau dia tidak melempar tubuh dan bergulingan menjauhkan diri. Dan ketika Cam-kong maupun Ji-moi atau Toa-ci juga terdesak dan mendapat tamparan di pundak maka lima orang itu bergulingan mengeluh pucat, gentar.

"Togur, bantu kami!"

Togur bersinar-sinar. Pemuda itu menonton tapi akhirnya mengangguk-angguk, tahu bahwa kelima gurunya memang bukan lawan Thai Liong yang lihai. Tapi tertawa dan melirik Ituchi tiba-tiba pemuda ini berseru, pada pasukannya, "Hei, kalian semua jangan mendelong. Serang dan tangkap pemuda satunya itu!"

Cucigawa sudah bergerak mendahului. Begitu mendengar perintah dan aba-aba ini mendadak raja tinggi besar itu menggerakkan busurnya. Panah yang berbahaya kembali menyambar, menjepret ke arah Ituchi. Tapi ketika pemuda itu menangkis dan meruntuhkan panah ini maka Horok dan Ramba serta perajurit yang lain menyerang.

"Wut-wir-wirr!"

Panah dan tombak berdatangan. Thai Liong terkejut tapi lega melihat temannya tidak berdiam diri, membentak dan merobohkan lawan-lawan yang mulai mendekat. Dan ketika Cucigawa berteriak menyeramkan dan menerjang bersama para pembantunya maka Togura tertawa bergelak melihat semuanya ini.

"Bagus, tangkap dan bunuh dia, Cucigawa. Dia adalah musuhmu!" lalu kembali pada pertandingan antara guru-gurunya dengan Thai Liong pemuda ini tiba-tiba berkelebat ke depan. "Suhu, subo, kalian minggirlah. Biar kuhadapi musuhku ini dan kalian menonton... plak-plak-duk!" Togura sudah menangkis pukulan-pukulan Thai Liong, menyelamatkan gurunya karena saat itu Siauw-jin dan lain-lain tunggang-langgang.
Thai Liong terpental namun Togura juga terhuyung. Dan ketika pemuda itu tertawa bergelak dan kelima gurunya mundur maka pemuda ini sudah bergerak dan kembali berkelebat menyerang Thai Liong, melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng atau Bayangan Seribu Dewa dikeluarkan, lenyap mengelilingi Thai Liong dan marahlah putera Pendekar Rambut Emas ini melihat lawan menyerang dengan ilmu-ilmu curiannya. Khi-bal-sin-kang sudah digabung dengan Jing-sian-eng dan hebatnya tentu saja bukan alang-kepalang. Namun karena Thai Liong juga memiliki dua ilmu itu dan cepat serta marah pemuda ini memaki lawannya maka Thai Liong pun lenyap berkelebat mengimbangi lawannya itu.

"Togur, kau tak tahu malu dan busuk. Marilah, mari kita bertanding dan lihat bagaimana aku merobohkanmu!"

"Ha-ha, jangan sombong!" pemuda itu tertawa bergelak. "Kau tak dapat merobohkan aku, Thai Liong. Kita memiliki ilmu yang sama dan paling-paling kita berimbang!"

"Tak mungkin. Aku akan merobohkanmu....plak-dukk!" dan Thai Liong yang kembali melepas pukulannya dan berteriak marah tiba-tiba tergetar dan terhuyung mundur, sama seperti lawan yang juga terpelanting dan terdorong setindak, marah membelalakkan mata namun murid lima Iblis Dunia itu tak takut, membentak dan balas menyerang lawannya. Dan ketika dua pemuda itu sama-sama marah dan Togura mengeluarkan Jing-sian-engnya berkelebatan mengelilingi lawan maka pertandingan dua anak muda ini tak dapat dicegah lagi.

"Plak-dukk!"

Masing-masing tak mau kalah. Akhirnya Thai Liong mengakui bahwa lawan memang benar-benar telah mewarisi Khi-bal-sin-kang maupun Jing-sian-eng. Semakin cepat dia mengerahkan gerakannya semakin cepat pula lawan mengimbangi. Togur mengeluarkan Khi-bal-sin-kangnya pula hingga setiap pukulan-pukulannya mental, membuat Thai Liong merah mukanya dan marah. Dan ketika pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak dan selalu mengejek Thai Liong akhirnya apa boleh buat pemuda berambut keemasan ini mengeluarkan pukulan lainnya.

"Darr!" Togur terpekik. Sinar putih menyambar dari tangan Thai Liong, meledak dan mengenai pundak pemuda itu. Dan ketika Togur terpelanting dan Thai Liong berkelebat lenyap tiba-tiba sebuah pukulan lagi mengenai bahu lawannya.

"Dess!" Pemuda tinggi besar ini menjerit. Sama seperti tadi diapun terpental dan terbanting, sudah mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya namun kali ini tak berhasil melindungi diri. Thai Liong mengeluarkan Lui-ciang-hoatnya dan berkelebat menggabung Jing-sian-eng dengan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan karena untuk dua ilmu terakhir ini Togur tak memilikinya karena itu bukanlah ilmu-ilmu yang dimiliki mendiang Hu-taihiap maka pemuda tinggi besar itu mengaduh dan mendesis, bergulingan menjauhkan diri namun Thai Liong mengejar.

Kini dengan gabungan Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang dia mendahului lawan, memang tak mungkin dikelit karena kecepatan pemuda ini menjadi dua kali lipat dibanding lawan. Togur hanya memiliki ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng itu saja, tidak Cui-sian Gin-kang. Maka begitu Thai Liong mengeluarkan dua ilmu meringankan tubuhnya ini sekaligus sementara pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang digabung pula dengan tamparan atau pukulan-pukulan Lui-ciang-hoat maka Togura terdesak dan untuk pertama kali pemuda itu memaki-maki, tak tertawa lagi.

"Keparat, kau seperti ayahmu, Thai Liong. Licik dan pengecut karena menggabung dua ilmu jahanam itu. Aih, kau pengecut. Kau tak tahu malu menyerang orang yang hanya memiliki sebuah ilmu kepandaian saja. Kau curang, sama seperti mengeroyok!"

"Hm!" Thai Liong marah. "Kaulah yang tak tahu malu dan pengecut, Togur. Kau mencuri ilmu kong-kong untuk dipergunakan menghadapi keluargaku. Kau hina dan curang!"

"Ha-ha, terlalu banyak mulut!" dan Togur yang marah didesak hebat tiba-tiba membentak kelima gurunya agar maju membantu. "Hei, kalian semua ke mari. Bantu aku!"

Siauw-jin terbelalak. Sebenarnya mereka sudah melihat kejadian itu, terdesaknya sang murid karena keluarnya Lui-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, dua ilmu dahsyat lain yang segera digabung dengan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, yang tentu saja lebih hebat bila dimainkan sendiri-sendiri. Dan ketika sang murid berteriak dan menyuruh mereka maju membantu sementara secara perlahan tapi pasti murid mereka itu terdesak dan mundur-mundur maka apa boleh buat iblis cebol ini berkelebat maju.

"Weh, kami akan membantu, Togur. Tapi jangan salahkan kami kalau kami kelima gurumu masih tak dapat merobohkan lawanmu ini!"

"Tak apa. Kalian maju saja dan kita keroyok dia.... des-dess!" Togur mengeluh, menghentikan kata-katanya karena satu pukulan Lui-ciang-hoat menghantam pundaknya, ditahan Khi-bal-sin-kang namun Thai Liong menahan Khi-bal-sin-kang lawannya itu dengan Khi-bal-sin-kang pula, jadi lawan tetap terpental dan terbanting bergulingan. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan memaki-maki namun dapat melompat bangun, berkat perlindungan Khi-bal-sin-kang maka Thai Liong menjadi gemas ketika Siauw-jin dan lain-lain sudah berkelebatan menyerang dari muka belakang.

"Plak-crit-dess!"

Lima orang itu berteriak. Tadi sebelum Thai Liong mengeluarkan gabungan ilmunya maka kakek dan nenek-nenek iblis ini tak sebegitu terkejut. Maklumlah, daya tolak pemuda itu tak sehebat sekarang. Tapi begitu Khi-bal-sin-kang sudah digabung bersama Lui-ciang-hoat dan pukulan bersinar putih itu menghajar dan menolak mereka maka hawa panas luar biasa menyengat mereka bagai petir menyambar tubuh.

"Aduh...!"

"Tobat!"

Nenek dan kakek-kakek iblis itu bergulingan. Mereka menjerit dan berteriak, tak kuat menahan pukulan atau tamparan Lui-ciang-hoat, yang masih ditambah dengan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika mereka pucat atau gentar maka di sana Togura tiba-tiba mencabut senjatanya, tombak bermata dua, nenggala, juga anak panah kuningan yang dulu juga dipunyai mendiang ayahnya.

"Bunuh pemuda ini, maju lagi!" bentakan atau teriakan beringas itu memaksa Siauw-jin dan lain-lain maju. Mereka tak berani membantah karena murid mereka sekarang bukanlah seperti murid mereka yang dulu. Namanya saja murid tapi kelima kakek dan nenek-nenek iblis ini sesungguhnya di bawah kekuasaan pemuda itu, setelah Togura berhasil memiliki ilmu-ilmu dahsyat dari Cermin Naga, yang dicurinya. Dan ketika pemuda itu sudah maju kembali sementara di sana Thai Liong sudah menghadapi serangan-serangan kakek dan nenek-nenek iblis itu maka di tempat lain Ituchi juga menghadapi keroyokan hebat dari Cucigawa dan para pasukannya.

"Bunuh pemuda ini, lenyapkan dia!"

Ituchi mendengus. Raja Cucigawa berteriak sambil menyuruh pembantunya maju, raja atau bekas raja itu sendiri mainkan gendewanya dan berkali-kali anak panah yang berat menuju Ituchi, ditangkis atau disampok runtuh. Dan ketika yang lain maju menyerang sementara Horok atau Ramba juga mencabut senjata masing-masing untuk mengeroyok pemuda ini maka yang membuat Ituchi bingung adalah pasukan atau anak buah raja itu.

Sebagaimana diketahui, bangsa U-min atau pasukan Cucigawa ini adalah bangsa Ituchi juga. Pemuda itu tak sampai hati kalau harus membunuh orang-orang ini, yang sebenarnya tak berdosa apa-apa dan hanya mengikuti perintah. Maka ketika mereka menusuk atau membacok dan Ituchi banyak menangkis atau mementalkan senjata mereka maka berkali-kali putera Raja Hu ini berteriak agar pasukan mundur.

"Kalian tak tahu apa-apa. Mundur, dan jangan serang aku!"

"Ha-ha!" Cucigawa tertawa bergelak. "Mereka adalah pasukanku, Ituchi. Dan mereka adalah orang-orangku. Perintahku lebih manjur daripada perintahmu!"

Benar, Ituchi marah. Pemuda ini bingung karena seruannya berkali-kali tak digubris. Terpental seorang maju lagi dua orang, terbanting sepuluh maju lagi dua puluh! Dan ketika pemuda itu marah namun juga mendongkol maka apa boleh buat pemuda ini terpaksa bersikap keras. "Baiklah," katanya. "Kalian tak dapat dinasehati baik-baik, manusia-manusia bodoh. Agaknya kalian harus dihajar baru tobat!"

Ituchi bergerak, menyelinap dan berkelebatan ke sana ke mari sementara tangan atau kakinya menendang atau menampar mereka. Senjata dan tubuh mulai tersentuh kaki atau tangan pemuda ini, bak-bik-buk dan berteriaklah orang-orang itu ketika lengan atau kaki mereka patah-patah. Namun karena jumlah pasukan amatlah besar dan mereka itu amat banyak jumlahnya maka Ituchi tertegun juga karena seolah-olah dia menghadapi musuh yang tak habis-habisnya.

"Ha-ha, lihat!" Cucigawa berseru di balik jepretan anak panahnya. "Kau tak dapat menghalau mereka, Ituchi. Kau akan tertangkap dan terbunuh oleh pasukanku!"

Ituchi marah. Pemuda ini melihat bahwa orang-orang itu berani maju kembali karena sikapnya yang termasuk lemah, hanya mematahkan kaki atau tangan saja, jadi yang lain tak takut karena itu bukan kematian. Maka melihat bahwa dia agaknya diharuskan bersikap lebih keras dan kejam lagi Ituchi tiba-tiba membentak dan merampas tombak seorang perajurit.

"Baiklah," katanya gusar. "Aku sekarang akan membunuh kalian, orang-orang tolol. Lihat siapa berani maju lagi untuk kubunuh.... crat!" perut seorang prajurit tertusuk luka, menjerit dan roboh mandi darah dan tewaslah prajurit itu oleh kemarahan Ituchi. Sekarang pemuda ini berkelebatan dengan nafsu membunuh, apa boleh buat dipaksa bersikap kejam dan terkejutlah anak buah Cucigawa melihat keberingasan pemuda tinggi besar ini. Ituchi yang marah dan tidak segan-segan lagi membunuh akhirnya membentak dan menangkis semua senjata-senjata musuhnya, tidak perduli panah atau tombak dan tentu saja lawan-lawannya ngeri.

Dan ketika sebuah anak panah kembali mendesing dari busur raja Cucigawa dan bersamaan itu raja membentak agar pasukannya tetap maju maka Horok dan panglima Ramba yang ada di kiri kanan tiba-tiba menggerakkan senjata mereka menusuk cepat.

"Wir-plak-dess!"

Dua orang itu menjerit. Ramba yang bersenjata trisula mencelat, senjatanya bertemu tombak di tangan Ituchi dan terlepas dari tangannya, kaget dan masih mendapat sebuah tendangan pula. Dan ketika anak muda itu terguling-guling sementara Horok juga terlempar dan terbanting oleh tangan kiri Ituchi maka panah yang menyambar dari busur Cucigawa dikibas terpental mengenai pangkal lengan raja tinggi besar itu.

"Crep-augh!" Cucigawa terkejut. Raja tidak menyangka bahwa anak panahnya yang menjepret berbalik arah, ditangkis pemuda itu dan menuju pangkal lengannya. Dan karena dia tidak menyangka dan baru kali ini di sela-sela kesibukannya Ituchi dapat melukai raja maka Cucigawa terhuyung dan pucat mukanya, marah bukan main. "Bunuh pemuda itu, keroyok lagi!"

Namun bentakan atau seruannya ini tak diikuti sepenuhnya. Ituchi yang mengamuk dan meroboh-robohkan prajurit yang ada di depan akhirnya membuat prajurit atau pasukan itu gentar. Tiga puluh orang yang akhirnya roboh binasa membuat orang-orang itu jerih, akhirnya mereka takut juga. Maka ketika bentakan itu dikeluarkan Cucigawa sementara raja sendiri tak berani mendekat maka yang ada di depan tiba-tiba mundur dan melakukan serangan dari jauh.

"Keparat, kalian licik!" Cucigawa marah. "He, lepaskan panah kalian, orang-orang bodoh. Keluarkan jaring dan tangkap pemuda ini seperti dulu!"

Ituchi terkejut. Pasukan tiba-tiba teringat dan mengangguk, semua mundur dan melepas panah dari jauh. Ratusan panah berhamburan dan menyerang pemuda ini. Dan ketika mereka juga mengeluarkan jaring dan mulai berteriak-teriak maka model serangan tempo dulu beraksi kembali.

"Rrt-crat-crat!"

Ituchi marah. Dia sekarang membabat belasan jaring yang menyambar dari atas, di samping masih harus menangkis atau meruntuhkan anak-anak panah yang menyambar bagai hujan. Dan karena gaya serangan itu memang bakal merepotkannya karena tak ada lawan yang berani menyerang dari dekat akhirnya Ituchi geram dan berkelebatan menangkis sana-sini.

"Ha-ha, kau repot, Ituchi. Mampus kau!"

"Keparat!" Ituchi mengutuk, memaki raja yang licik ini. "Kau curang dan pengecut, Cucigawa. Kau tak pantas menjadi seorang raja karena bisamu hanya berbuat curang!"

"Ha-ha, kau banyak mulut. Tak usah cerewet kalau ingin menyelamatkan dirimu, Ituchi. Atau kau bakal menyusul ayahmu di alam baka!"

Ituchi marah bukan main. Akhirnya dia merampas lagi sebuah pedang, mengamuk dengan dua senjata ini di tangan dan menerjang musuh-musuhnya. Tapi karena jumlah musuh terlalu banyak dan betapapun dia masih ragu apakah semua suku bangsanya ini harus dibabat habis maka sebuah panah akhirnya menyambar bahunya.

"Crep!" Itulah panah Cucigawa. Sang raja tertawa bergelak melihat pemuda ini terhuyung, girang tapi diam-diam juga kagum karena anak panah hanya masuk sebatas kepalanya saja. Pemuda itu telah mengerahkan sinkangnya dan dengan tenaga saktinya ini coba bertahan, memang berhasil tapi tidak seluruhnya. Maklumlah, Ituchi telah mengeluarkan banyak tenaga dalam pertempuran tidak berimbang itu, satu dikeroyok ratusan, bahkan mungkin ribuan! Dan ketika pemuda itu terhuyung dan mendelik memaki raja, yang kagum dan bersinar-sinar disana maka lemparan lembing atau tombak berluncuran menyambar tubuhnya.

"Plak-plak!"

Ituchi dapat bertahan. Nyatalah di sini bahwa semua lontaran tombak atau lembing yang dilakukan orang-orang biasa tak dapat melukai pemuda itu, kecuali Cucigawa yang ternyata memiliki tenaga istimewa, lontaran yang kuat dan amat bertenaga. Dan ketika jaring juga kembali menghujani pemuda itu dari ats di mana Ituchi dipaksa berlompatan mengelak maka sebuah anak panah kembali mendesing dan menancap di tubuh pemuda itu.

"Crep!" Ituchi bergoyang. Hanya terhadap panah dari raja tinggi besar ini pemuda itu tak berhasil sepenuhnya bertahan, anak panah menancap sebatas kepalanya. Dan ketika raja kembali merasa kagum tapi menjepretkan anak panahnya lagi maka Ituchi membentak melepas marah.

"Cucigawa, kau jahanam busuk!" pemuda ini berkelebat ke arah lawannya, membiarkan tombak atau anak-anak panah lain untuk menghajar raja yang curang ini. Ituchi marah sekali hingga melupakan sejenak bahayanya jaring, yang meluncur dan tiba-tiba dilepas tak kurang dari tujuh buah banyaknya. Dan ketika pemuda itu mendekati raja namun tujuh jaring melingkup dari atas kepala maka Ituchi baru kaget dan sadar setelah terlambat.

"Rrt-bluk!" Pemuda itu jatuh. Ituchi terlampau mengkonsentrasikan perhatiannya pada Cucigawa, bernafsu dan kehilangan kontrol diri sejenak. Maka begitu tujuh jaring melingkup kepalanya dan menjirat tubuhnya tiba-tiba tanpa dapat dicegah lagi pemuda ini tertangkap seperti harimau yang terjebak pemburu bengis!

"Ha-ha, tarik dia. Jerat semakin keras!"

Pekerjaan itu sudah dilakukan tujuh orang pembantu raja tinggi besar ini. Dua di antaranya adalah panglima Horok dan Ramba, yang tadi marah dan mencelat senjatanya. Maka begitu mereka menarik dan berseru bersama-sama maka Ituchi tercekik dan tak dapat bergerak.

"Ugh!" Pemuda itu dalam bahaya. Sehebat-hebatnya Ituchi kalau dia berada di dalam jaring dan tak dapat menggerakkan kaki tangannya tentu nasib buruk bakal menimpanya. Dan ini rupanya bakal terjadi pada diri pemuda itu. Namun sebelum semuanya terlambat dan Cucigawa serta pasukannya sudah bergerak mengangkat senjata masing-masing mendadak terdengar bentakan dan suara menggeledek.

"Lepaskan pemuda itu!"

Ramba dan lain-lain menjerit. Bayangan kuning emas menyambar, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu jaring yang mencekik Ituchi putus. Dan ketika tujuh orang pemegang jaring terpelanting dan terlempar tak keruan maka Thai Liong sudah menarik pemuda ini dari dalam jaring.

"Ituchi, kita tak dapat membunuh-bunuhi orang-orang ini. Kita rupanya harus pergi....plak-plak-plak!" Thai Liong menangkis hujan golok atau tombak, menghalau mereka dan tertegunlah Ituchi melihat lawan-lawan Thai Liong lenyap. Kiranya di saat pemuda tinggi besar ini menghadapi lawannya maka Togura dan guru-gurunya sudah menghilang, tak tahan oleh gabungan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat, juga kalah cepat setelah Thai Liong mempergunakan dua ilmu meringankan tubuhnya sekaligus, Jing-sian-eng dan Cui-sian Ginkang itu.

Dan karena empat ilmu ini memang hebat sekali dan hanya See-ong seorang yang mampu menghadapi karena kakek iblis itu memiliki Hek-kwi-sut maka Togura dan guru-gurunya tak tahan, akhirnya harus lari setelah dihajar jatuh bangun. Thai Liong mempergunakan tangan kerasnya untuk menghadapi enam orang lawannya yang licik ini, yang tunggang-langgang dan memang akhirnya harus mengakui kehebatannya. Tapi ketika dia mengincar Togura dan menujukan serangan-serangannya kepada lawannya itu tiba-tiba Togura berteriak agar mereka semua melarikan diri, sama seperti dulu ketika menghadapi Pendekar Rambut Emas.

"Kita lari, jangan layani lagi jahanam ini!"

Thai Liong terkejut. Nenek Naga tiba-tiba menghamburkan belasan jarum-jarum beracunnya, dikebut namun sabit di tangan Siauw-jin melayang menyambar, dilepas pemiliknya. Dan ketika Thai Liong marah menangkis semuanya itu tiba-tiba Togura meledakkan granat tangan yang membuat keadaan menjadi gelap.

"Darr!" Saat itulah Togur dan lain-lain lenyap. Mereka licik melarikan diri, berlindung di balik asap tebal dan ledakan granat. Dan karena Thai Liong tak dapat mengejar lawan-lawannya karena mereka semua menghilang dengan cepat maka saat itulah dia melihat keadaan Ituchi, kaget membelalakkan mata dan tentu saja dia tak akan membiarkan sahabatnya itu celaka. Maka begitu membentak dan berkelebat ke depan tiba-tiba pemuda ini sudah menyelamatkan temannya, menabas putus semua jaring dan Ituchi dibetot keluar.

Thai Liong akhirnya melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan dibabat Ituchi, ngeri dan maklumlah dia bahwa banjir darah bisa terjadi di situ, kalau dia dan Ituchi mengamuk. Dan karena tak ada maksud di hatinya untuk membunuh-bunuhi orang demikian banyak dan lagi Thai Liong termasuk pemuda yang lemah hati maka Ituchi cepat disambar dan diteriaki agar meninggalkan tempat itu, yang tentu saja membuat pemuda tinggi besar ini terbelalak, tak setuju.

"Tidak, kita datang memang bukan untuk membunuh-bunuhi orang-orang ini, Thai Liong. Tapi justeru menundukkan mereka dan membebaskan mereka dari tangan orang-orang jahat!"

"Tapi Togur melarikan diri!"

"Tapi Cucigawa ada di sini! Tidak, aku ingin menangkap atau membunuh musuhku itu dulu, Thai Liong. Kau bantu aku agar jahanam itu dapat kurobohkan!" Ituchi marah, menggebrak tameng seorang prajurit dan robohlah prajurit itu dengan jeritan tinggi. Dia terpelanting dan mandi darah, tamengnya menghantam dada sendiri dan prajurit itu tersungkur. Kemarahan Ituchi tak dapat dibendung lagi. Namun ketika pemuda itu menerjang dan memanggil-manggil Cucigawa ternyata raja tinggi besar itu lenyap!

"Keparat!" Ituchi marah sekali. "Kau pengecut dan licik, Cucigawa. Hayo tampakkan dirimu dan ini aku!"

Namun sang raja keburu gentar. Setelah Thai Liong datang dan menolong Ituchi maka raja itu pucat. Tentu saja dia tahu kelihaian putera Pendekar Rambut Emas ini, tak berani main-main dan melihat Togur dan kelima gurunya melarikan diri, menghilang, sama seperti dulu ketika Kim-mou-eng datang. Maka begitu Ituchi selamat dan pemuda itu kini mencari-cari dirinya maka sebelum repot raja itu buru-buru menyingkir!

Ituchi menggigit jari karena lawan menghilang, mencari yang lain namun Ramba dan Horok juga tak ada. Dua pembantu Cucigawa itu juga cepat-cepat pergi setelah melihat keadaan tak menguntungkan mereka. Dan ketika Ituchi marah dan menghajar siapa saja akhirnya pasukan mawut dan lari lintang-pukang.

"Hei, kalian kembali. Jangan lari!"

Namun tak ada yang kembali. Ituchi berteriak-teriak memanggil mereka, menyuruh pasukan itu kembali namun mereka justeru ketakutan. Raja dan Togura serta guru-gurunya menghilang, masa mereka harus kembali? Maka begitu Ituchi berteriak-teriak dan menyuruh mereka kembali, disangka untuk menerima hukuman maka pasukan justeru lintang-pukang menyelamatkan diri, akhirnya bersih dan tempat itu tak ada seorang pun.

Ituchi membanting-banting kaki dan marah bukan main. Dia merasa suku bangsanya itu tak dapat dididik, semuanya sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan melempar tubuh ke tanah maka Thai Liong berkelebat di sampingnya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, pasukanmu tak mau kembali padamu, Ituchi. Mereka takut dan jerih!"

"Tapi aku bukan mau menghukum mereka! Aku tidak mengapa-apakan mereka! Kenapa takut dan harus lari? Ah, mereka itu sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa, Thai Liong. Mereka.... mereka...."

Pemuda ini menutupi mukanya, menangis dan kecewa karena suku bangsanya sendiri sudah tak dapat diatur. Dia tadi mau mengumpulkan mereka dan menasihati baik-baik, tak tahunya mereka malah lari tunggang-langgang dan kabur. Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dengan muka merah padam mendadak Mei Hoa dan Ting Han muncul.

"Siauw-hiap, adikku.... adikku sudah kau selamatkan?"

Thai Liong tertegun. Tiba-tiba dia teringat bahwa Mei Ling masih dibawa iblis-iblis itu. Cam-kong tadi membawanya dan dia kelupaan karena pertandingan tiba-tiba menjadi sengit. Dia dikeroyok sementara Ituchi juga menghadapi suku bangsanya sendiri, di bawah pimpinan Cucigawa. Maka begitu teringat dan sadar tiba-tiba pemuda ini malah tak dapat bicara.

"Kau... kau belum menyelamatkannya?" "Maaf," Thai Liong akhirnya berkata gemetar. "Aku... aku lupa, Mei Hoa. Aku tadi terlalu sibuk dan mengkonsentrasikan pikiranku pada Togura dan kelima gurunya. Ah, biar kucari adikmu dan kau di sini bersama Ituchi!" dan menyesal melupakan tanggung jawabnya tiba-tiba Thai Liong berkelebat dan lenyap dari tempat itu, disambut keluhan pendek gadis ini yang gemetar membayangkan nasib adiknya. Dan ketika Ting Han di sana juga tertegun dan pucat membelalakkan mata tiba-tiba Ituchi melompat bangun dan berseru,

"Thai Liong, tunggu...!" dan lenyap pula meninggalkan tempat itu pemuda tinggi besar ini sudah mengejar Thai Liong.

"He!" Ting Han jadi terkejut. "Kita kalau begitu ikut mencari, Mei Hoa. Mari kejar dan susul mereka!"

Mei Hoa mengangguk. Memang setelah adiknya belum kembali dan Thai Liong melupakan itu maka gadis ini gelisah. Dia menyayangkan kenapa putera Pendekar Rambut Emas itu melupakan adiknya. Tapi ketika Ting Han juga mengumpat dan memaki-maki Thai Liong, yang dikata bodoh dan tak bertanggung jawab tiba-tiba gadis ini menegur, sadar.

"Ting Han, jangan memaki-maki Kim-siauwhiap. Dia datang menolong kita saja sudah syukur. Bukankah kita selamat dan kini dapat mencari sendiri? Kalau dia lupa hal itu dapat dimaklumi. Yang dihadapi pemuda itu bukan cuma adikku!"

"Eh, kau tak marah?"

"Tadinya begitu. Tapi sekarang tidak, Ting Han. Aku menyadari bahwa pekerjaan pemuda itu bukan hanya mengurus Mei Ling saja!"

Ting Han tertegun.

Kita tak boleh egois," gadis itu melanjutkan. "Bukankah pemuda itu sudah membantu lebih dari cukup? Kalau dia lupa pada Mei Ling tak usah kita marah-marah, Ting Han. Lebih baik kita tahu diri dan coba mencari sendiri!"

"Kalau begitu mari, aku salah!" dan Ting Han yang menyadari kekeliruannya dan tidak memaki-maki Thai Liong lagi lalu berkelebat dan mencari bersama Mei Hoa, khawatir dan cemas karena Mei Ling adalah gadis yang dicintanya. Gadis itu jatuh di tangan iblis-iblis yang berbahaya dan tentu saja dia cemas. Maka begitu mengutuk dan mengumpat iblis-iblis ini segera pemuda itu berkelebat mencari Mei Ling.

* * * * * * * *

"Haram jadah, terkutuk!" begitu Siauw-jin memaki-maki ketika bersama muridnya dia terpaksa melarikan diri. Togur juga menggeram dan mengutuk Thai Liong, yang memaksa mereka kabur dan meninggalkan pertempuran, termasuk pasukan mereka yang mengeroyok Ituchi. Tapi ketika mereka marah-marah dan semua mengutuk atau memaki Thai Liong maka Cam-kong batuk-batuk dan berkata,

"Tak usah marah. Kita masih memiliki sebuah pegangan kalau pemuda itu mengejar. Lihat ini!" kakek itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan seorang gadis yang tak berdaya dan teman-temannya pun tertegun. Dan ketika Siauw-jin menyeringai dan berkelebat maju tiba-tiba iblis cebol ini menyambar gadis di tangan rekannya.

"Heh, kenapa tidak bilang sejak tadi, Bambu Kurus? Bukankah ini dapat membuat kita memaksa pemuda itu? Hayo kembali, kita kesana, Cam-kong. Paksa pemuda itu menyerah pada kita dan suruh berlutut minta ampun!"

"Hih-heh, benar!" nenek Naga juga berseru. "Kenapa tidak bilang sejak tadi, setan kurus? Kalau aku tahu dan ingat itu tentu kita tak perlu terbirit-birit!"

Yang lain mengangguk dan tertawa-tawa. Mereka memandang dan mengamati gadis di tangan Siauw-jin itu, yang sudah berpindah tangan. Tapi ketika Togur bersinar dan berkelebat maju tiba-tiba pemuda ini berkata,

"Tidak, tak perlu kembali. Kalau gadis ini sudah di tangan kita biarlah Thai Liong yang mencari dan kita yang menunggu. Heh, serahkan dia padaku, Siauw-jin. Kalian semua pergi dan biar gadis ini berdua bersamaku... tuk!" Togur membebaskan gadis itu, yang bukan lain Mei Ling adanya dan tentu saja gadis cantik itu menjerit dan berteriak. Dia meronta dan memukul-mukul Togur tapi lawan tertawa menamparnya. Dan ketika dia roboh dan menangis tersedu-sedu maka Togur menjambak rambutnya.

"Heh, kau dengarkan aku, siluman betina. Gara-gara kedatanganmu maka kau mengundang Thai Liong dan putera Raja Hu itu. Kau seharusnya dibunuh. Tapi karena aku sayang padamu dan ingin menjadikanmu sebagai kekasih maka katakan bahwa kau tak akan macam-macam dan siap melayaniku dalam hal apa saja!"

"Tidak... tidak...!" Mei Ling menangis menjerit-jerit. "Kau bunuhlah aku, Togur. Kau bunuhlah aku dan biar aku mati! Aku tak takut mati, kau pemuda busuk dan jahanam!"

"Hm, kenapa begitu?" pemuda ini menyeringai, mengejek. "Kau tak akan kubunuh kalau justeru berteriak-teriak begini, siluman betina. Lebih baik kau ikut aku dan secara baik-baik menyerah dan menjadi kekasihku. Atau, aku akan memaksamu dan kau tak dapat berbuat apa-apa!" Togur tertawa, mencium gadis itu dan Mei Ling tak dapat mengelak. Rambut yang dijambak dan kepala yang dicengkeram keras memang membuat gadis ini tak dapat berbuat apa-apa. Namun ketika pemuda itu mencium mulutnya dan dia menggigit maka Togur berteriak dan menamparnya.

"Keparat, tak tahu diuntung... plak!" Mei Ling terpelanting, disambar lagi dan Togur marah bersinar-sinar. Mulutnya tadi digigit dan Siauw-jin tertawa, membuat pemuda itu membentak dan menghentikan tawa gurunya itu. Dan ketika Mei Ling di sana mengguguk memaki-maki maka pemuda ini membalik, sekali lagi berkata, melihat gurunya tidak segera pergi,

"Kalian mau apalagi? Bukankah kusuruh pergi? Eh, biarkan aku dengan siluman betina ini, suhu. Dan kalian semua berjaga di sekitar kalau-kalau pemuda keparat itu datang!"

"Mau kau apakan gadis ini?" nenek Ji-moi tiba-tiba terkekeh. "Bukankah mau kau permainkan?"

"Benar."

"Nah, permainkan di sini saja, Togur. Biar Siauw-jin yang pergi dan kami berempat menonton!"

"Hi-hik, benar!" nenek Toa-ci menyambung. "Kami masih suka melihat keperkasaanmu, Togur. Kau lakukan saja hal itu sekarang dan kami menonton!"

"Weh-weh!" Siauw-jin mencak-mencak. "Kalian menonton dan aku disuruh pergi? Ha-ha, tak bisa, nenek buruk. Kalianlah yang pergi dan biar kami dua lelaki menonton di sini. Aku juga kepingin lihat!"

"Tidak!" Togur berkata. "Kali ini aku tak ingin ditonton, suhu. Kalian berjaga dan hati-hati terhadap Kim Thai Liong itu. Aku tak ingin kita semua lengah!"

"Tapi aku kepingin...."

"Aku juga..."

"Hm, kalian tak mau dengar omonganku?" Togur tiba-tiba bangkit kemarahannya, berkelebat dan tiga kali menampar suhu dan subonya itu, Siauw-jin dan nenek Ji-moi serta Toa-ci. Dan ketika tiga orang itu menjerit dan terpelanting roboh maka yang lain-lain segera berkelebat dan Cam-kong tertawa, aneh dan serak.

"Nah, rasakan itu, Siauw-jin. Kalau murid kita bilang jangan sebaiknya kita juga tidak memaksa. Atau kau akan dibunuhnya dan bocah she Kim itu benar-benar datang!"

Siauw-jin mengeluh dan mengutuk. Mereka bertiga dihajar dan kakek cebol ini merintih tak berkesudahan. Kalau saja bukan togur yang melakukannya mungkin dia akan mencabut senjatanya dan melawan. Jelek-jelek dia adalah satu di antara enam Iblis Dunia. Tapi karena Togur amatlah lihai dan dikeroyok berlima muridnya itu bukanlah tandingan maka setan cebol ini mendesis dan berkelebat menyusul Cam-kong, diikuti Ji-moi dan Toa-ci yang tadi ditampar pipinya. Dua nenek itu pun tak berani bercuit dihajar muridnya sendiri. Lucu! Dan ketika semua orang pergi meninggalkannya dan Mei Ling terbelalak melihat semuanya itu maka gadis ini terbelalak dan ngeri.

"Iblis, kau benar-benar iblis, Togur. Kau tak tahu malu dan keji. Ah, kau bunuhlah aku!"

Togur tertawa. Kiranya Mei Ling menjadi ngeri dan takut mendengar semua kata-kata gurunya tadi, kata-kata yang memang mendirikan bulu tengkuk. Dia, murid enam Iblis Dunia kiranya juga sering ditonton kalau bermain cinta. Hal yang menunjukkan betapa bejat akhlak atau moral pemuda ini, yang tak malu-malu dan segan-segan ditonton gurunya sendiri, perbuatan yang tentu saja tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh puteri Bu-ciangkun itu. Maka begitu Togur mengusir kelima gurunya dan kali ini tak mau diganggu, karena di belakang ada Thai Liong dan Ituchi yang tentu tak membiarkan mereka maka pemuda ini sudah melepas bajunya dan menyambar gadis cantik itu.

"Ha-ha, bagaimana, Mei Ling? Kau ingin kupaksa atau melayaniku secara baik-baik? Di sini jauh dari siapa pun, takkan ada yang mendengar jeritanmu kalau kau ingin minta tolong. Nah, katakan kau ingin menjadi kekasihku atau aku yang akan memaksamu menjadi kekasihku!"

"Tidak.... oh, jangan!" Mei Ling ngeri. "Jangan... jangan lakukan itu, Togur. Kau bunuhlah aku dan aku akan berterima kasih padamu!"

"Hm, kau cerewet!" dan Togur yang menyambar serta mencengkeram baju gadis ini tiba-tiba tak sabar lagi dan sudah membuat gadis itu menjerit, berteriak karena dengan kasar Togur menanggalkan pakaian atasnya. Dan ketika pundak yang halus bersih tersingkap lebar mengundang berahi maka Togur sudah tertawa dan menubruk korbannya ini, menciumi dan menotok bawah rahang Mei Ling agar gadis itu tidak bisa menggigit lagi. Dan ketika satu demi satu pemuda ini menggerayangi dan melepas pakaian lainnya yang masih menempel maka Mei Ling mengeluh dan meratap tak ada habis-habisnya.

"Tidak, jangan.... oh, jangan....!"

Namun siapa yang mendengar? Puteri Bu-ciangkun ini akhirnya melengking dan menjerit ketika sesuatu menyakitkan bawah tubuhnya. Togur dengan kasar dan tertawa-tawa serta beringas menciumi gadis itu. Sekarang dengan benar dan tidak perlu disangsikan lagi Mei Ling membuktikan kejamnya pemuda ini, berita perkosaan atau sejenisnya lagi yang dilakukan pemuda itu, setelah dia menyerbu dan menyerang dengan pasukannya, menangkap dan mempermainkan wanita-wanita cantik yang menjadi korbannya. Dan ketika Mei Ling mengeluh dan menggeliat-geliat di bawah keperkasaan pemuda itu maka setan dan iblis menjadi saksi akan peristiwa biadab ini.

"Oh, tidak... jangan... jangan, Togur. Kau... kau pemuda keji.... ooh!" Keluh atau rintihan itu tak ada yang mendengar. Togur dengan buas dan kasar mempermainkan korbannya ini, Mei Ling menangis dan tak dapat berbuat apa-apa, akhirnya pingsan. Dan ketika gadis itu mengerang dan menjerit lirih tiba-tiba sebuah tendangan menghantam pemuda itu.

"Keparat, kau mempermainkan kekasihku, Togur? Kau menggagahinya? Jahanam.... des-dess!" dan Togur yang mencelat serta kaget menerima tendangan ini tiba-tiba melihat datangnya Ting Han, bergulingan meloncat bangun dan Ting Han, pemuda itu merah padam melihat lawan yang telanjang bulat, terbelalak tapi tiba-tiba tertawa bergelak menyambar pakaiannya.

Togur kaget karena mengira yang datang adalah Thai Liong. Tapi begitu melihat bahwa yang datang adalah pemuda tinggi kurus ini tiba-tiba murid Siauw-jin itu terbahak dan marah tapi juga geli. "Eh, kau kiranya? Ha-ha, kekasihmu cantik sekali, bocah. Dan nikmat tiada tara. Ia masih perawan! Ha-ha, sungguh luar biasa dan menakjubkan!"

Tapi Togur yang berkelebat dan meninggalkan pemuda itu tiba-tiba menggeram karena marah kepada guru-gurunya. Tadi disuruh menjaga tapi bocah ini bisa datang mengganggu, bahkan menendangnya tapi untung tidak apa-apa. Kalau yang melakukan itu adalah Thai Liong tentu lain keadaannya. Maka begitu sadar dan marah kepada guru-gurunya Togur tiba-tiba meninggalkan Ting Han sejenak untuk mencari sekaligus mendamprat kelima gurunya itu. Tapi apa yang terjadi?

Kiranya sebuah permainan lain. Nenek Ji-moi, yang tadi ingin menonton muridnya ternyata mendengus-dengus di sana, di bahwa sebatang pohon. Nenek itu sedang bergumul bersama Siauw-jin dan nenek Naga menonton. Dan ketika nenek Naga terkekeh-kekeh karena hal itu dirasanya lucu maka tak jauh dari situ nenek Toa-ci bergulingan bersama Cam-kong, tua sama tua!

"Hih, heh, terus, Siauw-jin. Terus! Angkat naik kakimu yang pendek dan goyang pinggul sekuat-kuatmu!"

Togur tertegun. Kiranya keempat gurunya itu sudah bermain cinta sendiri sementara nenek Naga menonton. Tentu nanti akan tiba giliran nenek itu kalau teman-temannya sudah selesai. Togur terbelalak tapi juga geli. Pantas, ini kiranya yang membuat dia kecolongan musuh! Tapi membentak dan marah bahwa bagaimanapun juga perbuatan ini membahayakan dirinya tiba-tiba pemuda itu berkelebat ke depan dan....des-des-dess, kelima orang itu pun mencelat dan berteriak kaget terlepas satu sama lain.

"Jahanam bedebah, kalian terkutuk! Eh, apa yang kuperintahkan pada kalian, suhu? Apakah aku menyuruh kalian bercinta? Lihat, seorang musuh datang menyerangku, dan kalian tak tahu karena asyik di sini bercinta-cintaan. Keparat, bedebah!"

Dan Togur yang tegak berdiri memandang dengan mata merah seketika membuat kelima gurunya terkejut berloncatan bangun, tubuh telanjang bulat dan lucu melihat keadaan mereka itu, kakek-kakek tua dan nenek-nenek kempot yang buah dadanya saja sudah bergelantungan kayak kates! Dan ketika semuanya terkesiap dan tertegun, tak jadi marah maka berkelebatlah bayangan Ting Han yang menyusul pemuda ini.

"Togur, kau iblis tak berjantung. Kau pemuda keparat!" dan Ting Han yang langsung menyerang dan membacok dengan pedangnya akhirnya membuat kelima kakek dan nenek-nenek itu terkejut, sadar bahwa kiranya kelengahan mereka menghasilkan datangnya pemuda ini. Tapi melihat pemuda itu bukan Thai Liong dan gerakannya jelas bukan pemuda yang lihai maka Siauw-jin tiba-tiba terkekeh dan berkelebat maju.

"Togur, maafkan kami. Tapi aku dapat menyelesaikan pemuda ini.... plak-pletak!" dan pedang di tangan Ting Han yang seketika patah disusul jerit pemuda itu tahu-tahu sudah membuat pemuda ini terlempar, jauh tinggi di udara dan akhirnya terbantinglah pemuda itu di tanah. Satu keluhan pendek terdengar sebelum tubuh itu jatuh berdebuk. Dan ketika tubuh itu benar-benar menimpa tanah dan Siauw-jin tertawa ternyata pemuda ini telah tewas dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah!

"Ha-ha, lihat, Togur. Kami telah menebus dosa!"

Togur mengerutkan kening. Dia memang melihat bahwa pemuda tinggi kurus ini telah binasa. Dalam sekejap saja gurunya yang cebol itu menghabisi lawan. Tapi ketika terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis melompat dan menyerang si cebol tiba-tiba Mei Hoa telah muncul di situ dengan teriakan kagetnya melihat tewasnya Ting Han.

"Aih, kalian iblis-iblis keji. Terkutuk, mampuslah!" dan pedang yang menyambar serta menusuk tenggorokan Siauw-jin tiba-tiba disambut kekeh kakek itu, menyampok tapi kali ini nenek Naga berkelebat, mendahului Siauw-jin. Nenek itu membentak dan mau mendahului Siauw-jin. Sekali turun tangan dia mau membunuh gadis itu, mencontoh temannya. Tapi ketika Togur menghardik dan menyuruh nenek itu mengurangi tenaganya maka Mei Hoa terpelanting ketika pedangnya ditampar mencelat.

"Tahan.... plak-bluk!"

Mei Hoa menangis. Tadi dia selamat karena nenek Naga tak jadi menampar kepalanya, turun ke pedang dan pedangnya itu pun mencelat, terpukul tamparan nenek iblis itu. Dan ketika dia bergulingan meloncat bangun dan marah serta memaki-maki maka Ji-moi yang tersenyum dan berkelebat ke depan tiba-tiba mendahului nenek Naga berseru perlahan,

"Togur, kau agaknya menginginkan gadis ini. Baiklah, kutangkap dia untukmu dan terimalah!"

Mei Hoa terkejut. Di saat dia marah dan memaki-maki mendadak nenek itu berkelebat ke arahnya, menangkap dan mengulurkan lengannya dan tentu saja gadis ini menangkis. Tapi karena dia bukan lawan si nenek iblis dan gerakan Ji-moi jauh lebih cepat maka dia pun tertangkap dan sudah dilempar ke arah Togura.

"Hi-hik, terimalah, Togur. Ini permintaan maaf dari kami!"

Togur tersenyum. Sebenarnya dia belum berhasrat mempermainkan gadis itu, maklumlah, dia baru saja mengerjain Mei Ling. Tapi ketika dia hendak menangkap dan menerima tubuh yang terlontar di udara itu tiba-tiba berkelebat bayangan kuning emas dan Thai Liong muncul.

"Togur, kalian biadab. Serahkan dan lepaskan gadis itu... duk-plak!"

Togur mencelat, Thai Liong sudah berjungkir balik menyambar tubuh Mei Hoa, gerakannya luar biasa cepat dan pemuda itu masih meneruskan gerakannya dengan tendangan cangkul. Nenek Ji-moi yang terdekat dengannya 'dicangkul', kontan menjerit karena kepalanya terputar. Dan ketika Thai Liong sudah melayang turun dan berdiri dengan muka merah maka di sana Togur terguling-guling dan berteriak dihajar pukulan Thai Liong.

"Keparat, serang pemuda ini. Bunuh dia!"

Namun Thai Liong mendahului. Marah dan melengking melihat Ting Han roboh tak bernyawa putera Pendekar Rambut Emas ini berkelebatan cepat. Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang langsung keluar, digabung dan menyambar-nyambar ke arah lima kakek dan nenek-nenek iblis itu. Dan karena Ji-moi maupun lain-lain memang gentar menghadapi pemuda ini dan masih di bawah Thai Liong maka satu per satu mereka menerima pukulan atau tamparan.

"Des-des-dess!"

Lima orang itu berteriak. Togur terkejut dan membelalakkan mata, memaki kelima gurunya yang dianggap goblok dan tolol! Maka begitu Ji-moi dan lain-lain terpelanting dan mereka mengaduh atau menjerit tak keruan maka Togur menerjang dan berkelebat ke depan.

"Des-plak!"

Pemuda itu terpental. Thai Liong menggabung Khi-bal-sin-kang dengan Lui-ciang-hoatnya, kontan membuat Togur mengeluh dan terbanting bergulingan. Namun karena pemuda itu dilindungi Khi-bal-sin-kangnya pula dan ilmu yang didapat dari Cermin Naga ini memang khusus melindungi pemiliknya maka pemuda itu tak apa-apa dan bangun lagi, menyerang bersama gurunya dan Siauw-jin maupun teman-temannya mencabut senjata, tentu saja yang baru karena senjata mereka yang lama rusak, hancur bertemu Thai Liong ketika masih di benteng itu. Dan ketika semua bergerak cepat dan bertubi-tubi serta susul-menyusul mereka mengeroyok pemuda itu namun Thai Liong mengeluarkan Khi-bal-sin-kang bersama Lui-ciang-hoatnya maka kelima iblis itu tak tahan dan mereka tetap saja terpelanting.

"Aduh.... des-des-dess!"

Togur terbelalak. Pemuda ini marah karena hanya ia seorang yang mampu menerima pukulan Thai Liong. Kelima gurunya jungkir balik karena mereka tak dilindungi Khi-bal-sin-kang, Ilmu Bola Karet yang didapat pemuda ini dari Cermin Naga. Dan ketika semuanya mengaduh dan terlempar bergulingan maka satu pukulan Thai Liong menghantam tengkuk pemuda ini.

"Dess!" Togur terbanting. Pemuda ini nanar, terguling-guling namun dapat meloncat bangun lagi, itulah karena Khi-bal-sin-kangnya. Tapi ketika Thai Liong berkelebat dan menghantamnya lagi maka pemuda itu mengeluh dan terpekik kesakitan, betapapun panas rasanya menerima pukulan-pukulan Lui-cing-hoat atau Khi-bal-sin-kang yang digabung, lama-lama tak tahan juga. Maka ketika Thai Liong membentak dan kini menggerakkan tangan untuk mencengkeram lehernya tiba-tiba Togur melempar granatnya dan berteriak.

"Darr!" Thai Liong waspada. Dia berjungkir balik melihat lawan mengeluarkan sesuatu dari balik kantung baju, dapat menduga dan benar saja Togur mengeluarkan granat tangannya. Dan ketika benda itu meledak namun Thai Liong mengibas ke kiri kanan maka pecahan granat menyambar Siauw-jin dan empat temannya yang lain.

"Aduh.... crat-crat!"

Kelima iblis itu memekik. Pecahan granat yang didorong pukulan jarak jauh Thai Liong tentu saja jauh lebih cepat apabila granat itu pecah dan menyambar secara wajar. Kulit mereka dapat menahan dan tak mungkin terluka, karena mereka telah memiliki sinkang atau tenaga sakti yang kuat. Namun karena pecahan itu didorong oleh pukulan Thai Liong dan jelas pemuda itu memiliki sinkang yang lebih hebat daripada mereka maka tak ayal kakek dan nenek-nenek iblis ini menjerit, terluka dan pecahan granat menancap di seluruh tubuh mereka. Ji-moi bahkan menjerit karena pecahan granat hampir mengenai bola matanya, menancap di kening dan berteriaklah nenek itu melempar tubuh bergulingan.

Dan ketika Togur berteriak agar mereka semua lari maka tanpa diulang lagi lima iblis ini bergulingan meloncat bangun dan langsung memutar tubuhnya, mengikuti Togur. "Lari...!"

Semuanya bersicepat. Siauw-jin dan lain-lain gentar menghadapi Thai Liong, pemuda itu selihai ayahnya dan tentu saja kakek dan nenek-nenek iblis ini pucat. Namun ketika mereka memutar tubuh melarikan diri mendadak sebuah bayangan tinggi besar membentak mereka.

"Kembali!"

Bentakan dan bayangan tinggi besar itu mengejutkan Cam-kong. Kakek tinggi kurus ini kebetulan ada di paling depan dan langsung mendapat serangan. Sebuah pukulan dahsyat menghantamnya tanpa banyak bicara, itulah Ituchi yang membuat kakek ini tertegun. Tapi begitu mendengus dan melihat siapa lawannya ini tiba-tiba kakek itu menangkis.

"Dess!" Ituchi terpental. Memang dibanding seorang di antara lima Iblis Dunia itu pemuda ini masih belum setanding. Dia berteriak keras namun berjungkir balik melayang turun, membuang tenaga tangkisan lawan dan menyerang lagi. Namun karena di situ ada Thai Liong dan Cam-kong tak mau ditahan maka kakek ini menyelinap dan membiarkan serangan pemuda itu menyambar Toa-ci, yang ada di belakangnya.

"Dess!" Ituchi pun terbanting. Pemuda itu mengeluh dan terguling-guling, membentak dan meloncat bangun lagi mau menyerang. Tapi ketika nenek Toa-ci berkelebat dan juga tak mau melayaninya maka pemuda ini berteriak-teriak marah.

"Hei, kalian jangan pengecut, Cam-kong. Hayo layani aku dan kuringkus kalian!"

"Hm, pemuda sombong!" Cam-kong mendengus. "Kalau tak ada bocah she Kim itu tentu kubunuh kau, bocah. Pergilah dan lain kali saja kita bertemu!"

"Tapi kalian membunuh Ting Han! Hei, jangan lari dan hadapi aku!" namun Cam-kong dan lain-lain yang tentu saja tak menghiraukan pemuda ini karena harus segera menjauhi Thai Liong sudah cepat menyusul muridnya, karena Togur saat itu sudah menghilang dengan cepat. Dan ketika Ituchi marah-marah dan berteriak memaki lawan maka sebuah tubuh menabrak dan terhuyung jatuh menumbuk tubuhnya.

"Bluk!" Itulah Mei Hoa. Gadis ini tersedu dan menangis terguncang kengerian itu. Dia telah melihat apa yang dialami adiknya dan tentu saja mengguguk. Adiknya di sana telanjang bulat dan pingsan. Sekali lihat dia tahu apa yang terjadi. Maka tak tahan dan tersedu-sedu oleh kejadian itu gadis ini terjatuh dan kebetulan sekali diterima Ituchi.

"Aduh, keparat kau, Togura. Jahanam bedebah kau! Ah, kubunuh kau kalau bisa. Kau menghina dan menodai adikku!"

Ituchi tertegun. Di sana dia melihat Thai Liong sedang memeriksa Mei Ling, gadis yang telanjang bulat itu sudah ditutupi dengan baju Thai Liong sendiri dan pemuda itu meremang, bergidik. Dan ketika dia melihat bahwa Mei Ling sudah diganggu kesuciannya dan Thai Liong tentu saja marah maka hal pertama yang dilakukan pemuda ini adalah menolong gadis itu, menyadarkannya. Tapi begitu Mei Ling sadar dan membuka matanya tiba-tiba gadis ini menjerit dan menyerang Thai Liong, yang disangka Togura!

"Keparat jahanam! Kubunuh kau, Togur. Kubunuh kau... des-dess!" dan pukulan serta tendangan Mei Ling yang mendarat di tubuh Thai Liong tiba-tiba membuat gadis itu terpelanting, menjerit dan kesakitan karena Thai Liong tidak bergeming. Pemuda ini menerima tapi tentu saja mengerahkan sinkangnya, bertahan dan gadis itu sendirilah yang kesakitan. Dan ketika Mei Ling bergulingan meloncat bangun dan marah serta kaget maka barulah gadis itu tahu bahwa yang diserang bukanlah Togura.

"Oh, kau... kau..."

"Benar, aku bukan Togura, Mei Ling. Aku Thai Liong. Maaf, aku menyakitimu dan membuatmu terkejut."

"Ooh...!" dan Mei Ling yang mengguguk serta menangis lagi tiba-tiba melihat encinya dan mayat Ting Han di situ. "Oh, tidak!" gadis itu menjerit. "Tidak, Ting Han. Bukan kau yang mati!" dan mengguguk serta menubruk mayat itu gadis ini tersedu-sedu, mengguncang dan memanggil-manggil mayat itu, namun tentu saja Ting Han tidak dapat menjawab.

Pemuda itu telah tewas dan Siauw-jinlah yang melakukannya. Dan ketika Mei Ling histeris dan kalap seperti orang gila tiba-tiba gadis itu bangkit berlari dan berteriak-teriak memanggil Togura.

"Togur, kau siluma jahanam. Kau pemuda terkutuk! Kubunuh kau.... kubunuh kau!" namun gadis ini yang tentu saja tak dapat menemukan lawannya akhirnya terguling roboh ketika encinya berkelebat, menyambar adiknya yang hampir gila itu.

"Ling-moi, sadarlah. Pemuda itu tak ada di sini...!"

Istana Hantu Jilid 16

ISTANA HANTU
JILID 16
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara

“HEI, keparat jahanam. Bocah ini kiranya bukan Kim-mou-eng!"

"Ya, dan kau terkecoh, Cam-kong. Kau sudah lari terbirit-birit sebelum melihat dengan jelas, ha-ha!"

Bayangan-bayangan di depan itu sudah berkelebatan cepat. Mereka sudah tiba dan tahu-tahu sudah mengurung dua anak muda ini, Cam-kong mendelik dan marah memandang Thai Liong, yang tadi disangka Pendekar Rambut Emas. Dan ketika lima iblis itu datang mengurung sementara pengawal atau pasukan besar itu juga sudah berdatangan sambil berteriak-teriak maka Cam-kong menggeram dan memaki pemuda ini.

"Keparat, kiranya kau. Heh, apa maksudmu datang mengacau, bocah. Mana bapakmu dan bersama siapa saja kau datang?"

"Hm, aku datang sendiri," Thai Liong menjawab, bersikap tenang. "Aku datang berdua dengan temanku ini, Cam-kong. Dan sengaja mencari kalian atau Togura. Mana muridmu itu dan suruh dia keluar!"

"Ha-ha!" Siauw-jin tertawa bergelak, berseru mendahului. "Jangan percaya siluman muda ini, Cam-kong. Dia bilang sendiri tapi tahu-tahu bapak atau ibunya muncul di tempat lain! Heh, kita harus berhati-hati dan sebaiknya cepat tangkap atau bunuh pemuda ini!"

"Dan itu siapa?" nenek Naga melengking, memandang Ituchi. "Siapa bocah berkulit hitam ini? Bukankah dia bukan bangsa Han?"

"Dia Ituchi!" seorang prajurit tiba-tiba berteriak, mengenal pemuda tinggi besar yang gagah ini. "Dia putera mendiang Raja Hu!"

"Benar!" suara lain tiba-tiba menyambung, geram namun juga gentar. "Pemuda itu adalah orang yang kuceritakan pada kalian, nenek Naga. Dia adalah putera Raja Hu yang hendak merebut kekuasaan!"

Ituchi menoleh. Dengan cepat dia melihat raja Cucigawa ada di situ, bersama panglimanya yang gagah namun licik, Ramba dan Horok, dua orang yang katanya sudah menjadi pembantu-pembantu Togura dan Cucigawa sendiri kabarnya juga sudah turun derajatnya, di bawah pimpinan murid lima Iblis Dunia itu dan seketika merahlah muka Ituchi. Pemuda ini marah karena itulah lawan yang membawa suku bangsanya ke dalam kehancuran. Cucigawa tak dapat menjaga diri dan kini menyerah saja dipermainkan orang lain, Togura, murid lima Iblis Dunia itu. Maka begitu melihat raja ini yang sudah turun kedudukannya di bahwa perintah Togura pemuda ini membentak,

"Cucigawa, kau raja yang tak tahu malu. Kau membiarkan bangsamu diperalat orang lain dan mandah menerima perintah! Cih, mana kegagahan dan kewibawaanmu sebagai raja? Bagaimana kau sudah menjadi anjing pesuruh bagi orang lain?"

Hebat kata-kata ini. Cucigawa bagai ditampar dan raja tinggi besar yang kini tidak sedang menjadi raja itu marah. Dia naik pitam dan tiba-tiba menyambar busurnya, terhina bukan main. Dan ketika dia menjepret dan melepas sebuah anak panah besar maka Ituchi cepat menangkis dan meruntuhkan anak panah itu, berkata mengejek,

"Hm, begini kebisaanmu? Tak malu-malu menyerang lawan mumpung terlindung di balik orang-orang yang kau andalkan? Hebat, kau gagah, Cucigawa. Dan pantas sekali kalau kau berkawan dengan anjing-anjing buduk....plak!" panah patah menjadi dua, ditampar pemuda itu dan Cucigawa menggereng.

Raja itu mau menyerang lagi namun Cam-kong membentak. Dan ketika raja itu tak berani bercuit dan mengkeret nyalinya maka Ituchi tertawa dan berkata lagi, hinaan yang lebih pedas,

"Aih, cocok menjadi anjing piaraan. Gagah tampangnya tapi kerdil dan ciut nyalinya. Ah, kau semakin pantas bersahabat dengan kakek atau nenek-nenek iblis ini, Cucigawa. Tapi tak pantas dan semakin tak patut menjadi raja dari bangsa yang besar!"

"Hm, tutup mulutmu!" Cam-kong membentak. "Kau segera kami bunuh, anak muda. Dan jangan bercuap-cuap di sini. Sekarang mana gadis-gadis itu dan serahkan atau kalian mampus!"

Thai Liong tertawa. "Cam-kong," katanya, mendahului Ituchi. "Kau dari dulu selalu melancarkan gertak sambal. Bisakah kau membunuh kami kalau menghadapi Khi-bal-sin-kang atau Jing-sian-eng-ku kau tak dapat menang? Hm, kaulah yang tak perlu bercuap-cuap, kakek busuk. Kami datang karena hendak meminta kembali suku bangsa U-min untuk diserahkan pada sahabatku ini, yang lebih berhak. Dan menghentikan sepak terjang kalian dengan menyetop serbuan besar-besaran ini. Kalian gila, tidak waras. Nah, kalian pergi dan serahkan pasukan ini atau kalian kuhajar dan semua menerima hukuman!"

"Ha-ha!" Siauw-jin tiba-tiba tertawa. "Ayahmu sendiri tak mampu mencegah kami, Thai Liong. Sungguh lucu kalau kau datang untuk maksud yang sama! Heh, ketahuilah. Beberapa waktu yang lalu ayahmu datang tapi melarikan diri. Kami sekarang tak takuti Khi-bal-sin-kang-mu ataupun yang lain karena kami juga punya. Karena itu pulanglah, bocah sombong. Atau kau bergabung bersama kami dan menjadi sahabat Togura!"

"Hm," Thai Liong mengejek, menganggap omongan ini main-main. "Kau selalu membual, Siauw-jin. Dan di mana-mana pun kau rupanya pandai membual. Aku memang ingin bertemu Togura, suruh dia keluar atau kupaksa kalian untuk menunjukkannya!"

"Ha-ha!" suara tawa bergelak tiba-tiba menghantam tempat itu. "Tak perlu banyak bicara, Siauw-jin. Tangkap dua pemuda itu dan bawa ke mari!"

"Togur!" Thai Liong kaget, tergetar. "Awas dia datang, Ituchi. Hati-hatilah dan ingat kata orang bahwa dia sekarang lebih lihai daripada gurunya!"

Benar saja, sesosok bayangan berkelebat. Bagai hantu atau siluman saja tahu-tahu Togur, pemuda yang tinggi besar dan gagah seperti Ituchi muncul, begitu saja tanpa diketahui daari mana dia tadi. Dan ketika Ituchi terkejut sementara Thai Liong tertegun karena serasa mengenal gerakan itu, ilmu luar biasa yang dipergunakan Togura maka pemuda ini tertawa bergelak berkacak pinggang, gagah dan sombong.

"Suhu, dua pemuda ini sudah datang di tempat kita. Tangkap dan bekuk mereka, bunuh!"

"Hm!" Thai Liong waspada. "Kau sudah muncul, Togur? Kau mau menangkap dan membekuk kami? Kebetulah, kamilah yang akan menangkap dan membekuk dirimu!" dan Thai Liong yang berkelebat dan menyerang pemuda ini tiba-tiba mencengkeram dan menyambar pemuda itu, lewat di depan Siauw-jin dan kakek cebol itu kaget, berseru keras dan menggerakkan kedua tangannya namun Thai Liong lenyap, sudah berada di depan Togura dan akan menangkap lawannya itu. Tapi ketika Togura tertawa bergelak dan mencelat ke belakang tiba-tiba pemuda itu lenyap dan menghilang.

"Jing-sian-eng!" Thai Liong berseru tertahan, tersentak. "Ah, kau mempergunakan Jing-sian-eng, togur. Keparat!" dan Thai Liong yang bergerak dan mengejar lawannya lagi tiba-tiba berkelebat dan mempegunakan ilmu meringankan tubuhnya, Jing-sian-eng dan lawan tertawa bergelak. Untuk ketiga kalinya pemuda tinggi besar itu mengejek Thai Liong, berkelebat dan lenyap lagi, menghindar. Namun ketika Thai Liong mengejar dan terus memburu ke manapun dia mengelak akhirnya murid lima Iblis Dunia ini menangkis.

"Dukk!" Dan Thai Liong kaget bukan kepalang. Mereka terpental dan sama-sama terdorong mundur, pukulannya tadi bertemu daya tolak yang besar dan Thai Liong hampir tidak percaya. Maka membentak dan penasaran melepas pukulannya tiba-tiba Thai Liong melengking dan mengejar lawannya itu.

"Dukk!" Thai Liong terpekik. Sekarang dia terhuyung mundur dan membelalakkan matanya, dua kali merasa cukup dan kagetlah pemuda itu ketika mengetahui bahwa lawan mempergunakan Khi-bal-sin-kang, ilmu keluarganya. Maka begitu dia terkejut dan pucat memandang pemuda tinggi besar itu Thai Liong berseru tertahan,

"Khi-bal-sin-kang!"

"Ha-ha!" lawan tertawa mengangguk. "Memang benar, Thai Liong. Dan sekarang kau tahu kenapa guruku tadi bilang bahwa kami semua tak perlu takut lagi kepadamu!"

Dan Thai Liong yang menjublak dan bengong oleh kejadian ini tiba-tiba sadar dan menggigil, teringat kematian engkongnya (kakek). "Jadi... jadi kau....?"

"Benar, aku yang pergi ke Ce-bu itu, Thai Liong. Tapi bukan aku yang membunuh kakekmu!"

"Ah, tapi... tapi kau pencurinya! Kau kiranya yang tak tahu malu mencuri Cermin Naga! Ah, terkutuk kau, Togur. Kau manusia iblis yang hina-dina!" dan Thai Liong yang sadar dan tahu apa yang terjadi tiba-tiba membentak dan menyerang lagi, marah sekali kepada pemuda ini namun Togur tiba-tiba mencelat ke belakang. Pemuda itu berseru pada gurunya agar gurunya itu maju. Maka ketika Thai Liong melengking dan mau menyerangnya lagi mendadak Siauw-jin dan lain-lain menghadang, iblis cebol itu langsung mengeluarkan sabitnya.

"Ha-ha, tunggu dulu, bocah. Di bawah raja masih ada pembantu-pembantunya.... siut-singg!" dan sabit yang bergerak serta menyambar ke depan tiba-tiba menuju ke mata Thai Liong, tentu saja dielak dan pemuda itu semakin marah. Namun ketika dia membentak dan menghantam si cebol ini ternyata Siauw-jin berkelit dan empat temannya yang lain sudah berkelebat maju dan bertubi-tubi menyerangnya dari empat penjuru.

"Hih-heh, Siauw-jin benar, bocah. Kalau masih ada kami di sini kau tak boleh banyak tingkah.... klip-dar!" dan nenek Naga yang mengeluarkan jarumnya dan mencolok namun ditangkis sudah menyerang lagi dibantu Ji-moi maupun Toa-ci.

Kini lima bayangan bergerak silih berganti dan marahlah Thai Liong dikeroyok lima kakek dan nenek-nenek iblis itu. Mereka semua mengeluarkan senjatanya sementara Togura sendiri meloncat mundur, tertawa dan mengamati jalannya pertandingan itu. Dan ketika Thai Liong menangkis dan mengeluarkan Jing-sian-eng atau Khi-bal-sin-kangnya yang luar biasa maka lima kakek dan nenek-nenek iblis itu menjerit.

"Plak-duk-plak!"

Siauw-jin dan lain-lain terpelanting. Memang mereka paling tak tahan terhadap Khi-bal-sin-kang. Pukulan Bola Sakti itu akan mementalkan pukulan-pukulan mereka sendiri seberapa kuat pun adanya. Semakin kuat atau hebat maka akan semakin kuat dan hebat pula mereka tertolak. Bola Sakti atau Khi-bal-sin-kang memang ilmu yang luar biasa. Tapi karena di situ ada murid mereka yang hebat dan mereka tentu saja malu kalau harus mundur dengan cepat maka Siauw-jin dan kawan-kawannya maju kembali, menerjang dan membentak Thai Liong.

Dan pemuda itu berkelebatan membalas lawan. Jing-sian-eng dikerahkan dan pusinglah Siauw-jin dan kawan-kawannya ketika bayangan Thai Liong mendahului, selalu menampar dan mendorong mereka. Dan ketika pertempuran menjadi berat sebelah karena tampak betapa akhirnya lima kakek dan nenek-nenek iblis itu terdesak oleh Thai Liong, yang memang hebat dengan Khi-bal-sin-kang atau Jing-sian-engnya maka Siauw-jin berteriak ketika sabitnya patah, dihantam telapak pemuda itu dan disusul nenek Naga yang menjerit karena jarumnya mencelat, menyambar dan hampir saja mengenai matanya, kalau dia tidak melempar tubuh dan bergulingan menjauhkan diri. Dan ketika Cam-kong maupun Ji-moi atau Toa-ci juga terdesak dan mendapat tamparan di pundak maka lima orang itu bergulingan mengeluh pucat, gentar.

"Togur, bantu kami!"

Togur bersinar-sinar. Pemuda itu menonton tapi akhirnya mengangguk-angguk, tahu bahwa kelima gurunya memang bukan lawan Thai Liong yang lihai. Tapi tertawa dan melirik Ituchi tiba-tiba pemuda ini berseru, pada pasukannya, "Hei, kalian semua jangan mendelong. Serang dan tangkap pemuda satunya itu!"

Cucigawa sudah bergerak mendahului. Begitu mendengar perintah dan aba-aba ini mendadak raja tinggi besar itu menggerakkan busurnya. Panah yang berbahaya kembali menyambar, menjepret ke arah Ituchi. Tapi ketika pemuda itu menangkis dan meruntuhkan panah ini maka Horok dan Ramba serta perajurit yang lain menyerang.

"Wut-wir-wirr!"

Panah dan tombak berdatangan. Thai Liong terkejut tapi lega melihat temannya tidak berdiam diri, membentak dan merobohkan lawan-lawan yang mulai mendekat. Dan ketika Cucigawa berteriak menyeramkan dan menerjang bersama para pembantunya maka Togura tertawa bergelak melihat semuanya ini.

"Bagus, tangkap dan bunuh dia, Cucigawa. Dia adalah musuhmu!" lalu kembali pada pertandingan antara guru-gurunya dengan Thai Liong pemuda ini tiba-tiba berkelebat ke depan. "Suhu, subo, kalian minggirlah. Biar kuhadapi musuhku ini dan kalian menonton... plak-plak-duk!" Togura sudah menangkis pukulan-pukulan Thai Liong, menyelamatkan gurunya karena saat itu Siauw-jin dan lain-lain tunggang-langgang.
Thai Liong terpental namun Togura juga terhuyung. Dan ketika pemuda itu tertawa bergelak dan kelima gurunya mundur maka pemuda ini sudah bergerak dan kembali berkelebat menyerang Thai Liong, melepas pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng atau Bayangan Seribu Dewa dikeluarkan, lenyap mengelilingi Thai Liong dan marahlah putera Pendekar Rambut Emas ini melihat lawan menyerang dengan ilmu-ilmu curiannya. Khi-bal-sin-kang sudah digabung dengan Jing-sian-eng dan hebatnya tentu saja bukan alang-kepalang. Namun karena Thai Liong juga memiliki dua ilmu itu dan cepat serta marah pemuda ini memaki lawannya maka Thai Liong pun lenyap berkelebat mengimbangi lawannya itu.

"Togur, kau tak tahu malu dan busuk. Marilah, mari kita bertanding dan lihat bagaimana aku merobohkanmu!"

"Ha-ha, jangan sombong!" pemuda itu tertawa bergelak. "Kau tak dapat merobohkan aku, Thai Liong. Kita memiliki ilmu yang sama dan paling-paling kita berimbang!"

"Tak mungkin. Aku akan merobohkanmu....plak-dukk!" dan Thai Liong yang kembali melepas pukulannya dan berteriak marah tiba-tiba tergetar dan terhuyung mundur, sama seperti lawan yang juga terpelanting dan terdorong setindak, marah membelalakkan mata namun murid lima Iblis Dunia itu tak takut, membentak dan balas menyerang lawannya. Dan ketika dua pemuda itu sama-sama marah dan Togura mengeluarkan Jing-sian-engnya berkelebatan mengelilingi lawan maka pertandingan dua anak muda ini tak dapat dicegah lagi.

"Plak-dukk!"

Masing-masing tak mau kalah. Akhirnya Thai Liong mengakui bahwa lawan memang benar-benar telah mewarisi Khi-bal-sin-kang maupun Jing-sian-eng. Semakin cepat dia mengerahkan gerakannya semakin cepat pula lawan mengimbangi. Togur mengeluarkan Khi-bal-sin-kangnya pula hingga setiap pukulan-pukulannya mental, membuat Thai Liong merah mukanya dan marah. Dan ketika pemuda tinggi besar itu tertawa bergelak dan selalu mengejek Thai Liong akhirnya apa boleh buat pemuda berambut keemasan ini mengeluarkan pukulan lainnya.

"Darr!" Togur terpekik. Sinar putih menyambar dari tangan Thai Liong, meledak dan mengenai pundak pemuda itu. Dan ketika Togur terpelanting dan Thai Liong berkelebat lenyap tiba-tiba sebuah pukulan lagi mengenai bahu lawannya.

"Dess!" Pemuda tinggi besar ini menjerit. Sama seperti tadi diapun terpental dan terbanting, sudah mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya namun kali ini tak berhasil melindungi diri. Thai Liong mengeluarkan Lui-ciang-hoatnya dan berkelebat menggabung Jing-sian-eng dengan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). Dan karena untuk dua ilmu terakhir ini Togur tak memilikinya karena itu bukanlah ilmu-ilmu yang dimiliki mendiang Hu-taihiap maka pemuda tinggi besar itu mengaduh dan mendesis, bergulingan menjauhkan diri namun Thai Liong mengejar.

Kini dengan gabungan Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang dia mendahului lawan, memang tak mungkin dikelit karena kecepatan pemuda ini menjadi dua kali lipat dibanding lawan. Togur hanya memiliki ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng itu saja, tidak Cui-sian Gin-kang. Maka begitu Thai Liong mengeluarkan dua ilmu meringankan tubuhnya ini sekaligus sementara pukulan-pukulan Khi-bal-sin-kang digabung pula dengan tamparan atau pukulan-pukulan Lui-ciang-hoat maka Togura terdesak dan untuk pertama kali pemuda itu memaki-maki, tak tertawa lagi.

"Keparat, kau seperti ayahmu, Thai Liong. Licik dan pengecut karena menggabung dua ilmu jahanam itu. Aih, kau pengecut. Kau tak tahu malu menyerang orang yang hanya memiliki sebuah ilmu kepandaian saja. Kau curang, sama seperti mengeroyok!"

"Hm!" Thai Liong marah. "Kaulah yang tak tahu malu dan pengecut, Togur. Kau mencuri ilmu kong-kong untuk dipergunakan menghadapi keluargaku. Kau hina dan curang!"

"Ha-ha, terlalu banyak mulut!" dan Togur yang marah didesak hebat tiba-tiba membentak kelima gurunya agar maju membantu. "Hei, kalian semua ke mari. Bantu aku!"

Siauw-jin terbelalak. Sebenarnya mereka sudah melihat kejadian itu, terdesaknya sang murid karena keluarnya Lui-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang, dua ilmu dahsyat lain yang segera digabung dengan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, yang tentu saja lebih hebat bila dimainkan sendiri-sendiri. Dan ketika sang murid berteriak dan menyuruh mereka maju membantu sementara secara perlahan tapi pasti murid mereka itu terdesak dan mundur-mundur maka apa boleh buat iblis cebol ini berkelebat maju.

"Weh, kami akan membantu, Togur. Tapi jangan salahkan kami kalau kami kelima gurumu masih tak dapat merobohkan lawanmu ini!"

"Tak apa. Kalian maju saja dan kita keroyok dia.... des-dess!" Togur mengeluh, menghentikan kata-katanya karena satu pukulan Lui-ciang-hoat menghantam pundaknya, ditahan Khi-bal-sin-kang namun Thai Liong menahan Khi-bal-sin-kang lawannya itu dengan Khi-bal-sin-kang pula, jadi lawan tetap terpental dan terbanting bergulingan. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan memaki-maki namun dapat melompat bangun, berkat perlindungan Khi-bal-sin-kang maka Thai Liong menjadi gemas ketika Siauw-jin dan lain-lain sudah berkelebatan menyerang dari muka belakang.

"Plak-crit-dess!"

Lima orang itu berteriak. Tadi sebelum Thai Liong mengeluarkan gabungan ilmunya maka kakek dan nenek-nenek iblis ini tak sebegitu terkejut. Maklumlah, daya tolak pemuda itu tak sehebat sekarang. Tapi begitu Khi-bal-sin-kang sudah digabung bersama Lui-ciang-hoat dan pukulan bersinar putih itu menghajar dan menolak mereka maka hawa panas luar biasa menyengat mereka bagai petir menyambar tubuh.

"Aduh...!"

"Tobat!"

Nenek dan kakek-kakek iblis itu bergulingan. Mereka menjerit dan berteriak, tak kuat menahan pukulan atau tamparan Lui-ciang-hoat, yang masih ditambah dengan Khi-bal-sin-kang. Dan ketika mereka pucat atau gentar maka di sana Togura tiba-tiba mencabut senjatanya, tombak bermata dua, nenggala, juga anak panah kuningan yang dulu juga dipunyai mendiang ayahnya.

"Bunuh pemuda ini, maju lagi!" bentakan atau teriakan beringas itu memaksa Siauw-jin dan lain-lain maju. Mereka tak berani membantah karena murid mereka sekarang bukanlah seperti murid mereka yang dulu. Namanya saja murid tapi kelima kakek dan nenek-nenek iblis ini sesungguhnya di bawah kekuasaan pemuda itu, setelah Togura berhasil memiliki ilmu-ilmu dahsyat dari Cermin Naga, yang dicurinya. Dan ketika pemuda itu sudah maju kembali sementara di sana Thai Liong sudah menghadapi serangan-serangan kakek dan nenek-nenek iblis itu maka di tempat lain Ituchi juga menghadapi keroyokan hebat dari Cucigawa dan para pasukannya.

"Bunuh pemuda ini, lenyapkan dia!"

Ituchi mendengus. Raja Cucigawa berteriak sambil menyuruh pembantunya maju, raja atau bekas raja itu sendiri mainkan gendewanya dan berkali-kali anak panah yang berat menuju Ituchi, ditangkis atau disampok runtuh. Dan ketika yang lain maju menyerang sementara Horok atau Ramba juga mencabut senjata masing-masing untuk mengeroyok pemuda ini maka yang membuat Ituchi bingung adalah pasukan atau anak buah raja itu.

Sebagaimana diketahui, bangsa U-min atau pasukan Cucigawa ini adalah bangsa Ituchi juga. Pemuda itu tak sampai hati kalau harus membunuh orang-orang ini, yang sebenarnya tak berdosa apa-apa dan hanya mengikuti perintah. Maka ketika mereka menusuk atau membacok dan Ituchi banyak menangkis atau mementalkan senjata mereka maka berkali-kali putera Raja Hu ini berteriak agar pasukan mundur.

"Kalian tak tahu apa-apa. Mundur, dan jangan serang aku!"

"Ha-ha!" Cucigawa tertawa bergelak. "Mereka adalah pasukanku, Ituchi. Dan mereka adalah orang-orangku. Perintahku lebih manjur daripada perintahmu!"

Benar, Ituchi marah. Pemuda ini bingung karena seruannya berkali-kali tak digubris. Terpental seorang maju lagi dua orang, terbanting sepuluh maju lagi dua puluh! Dan ketika pemuda itu marah namun juga mendongkol maka apa boleh buat pemuda ini terpaksa bersikap keras. "Baiklah," katanya. "Kalian tak dapat dinasehati baik-baik, manusia-manusia bodoh. Agaknya kalian harus dihajar baru tobat!"

Ituchi bergerak, menyelinap dan berkelebatan ke sana ke mari sementara tangan atau kakinya menendang atau menampar mereka. Senjata dan tubuh mulai tersentuh kaki atau tangan pemuda ini, bak-bik-buk dan berteriaklah orang-orang itu ketika lengan atau kaki mereka patah-patah. Namun karena jumlah pasukan amatlah besar dan mereka itu amat banyak jumlahnya maka Ituchi tertegun juga karena seolah-olah dia menghadapi musuh yang tak habis-habisnya.

"Ha-ha, lihat!" Cucigawa berseru di balik jepretan anak panahnya. "Kau tak dapat menghalau mereka, Ituchi. Kau akan tertangkap dan terbunuh oleh pasukanku!"

Ituchi marah. Pemuda ini melihat bahwa orang-orang itu berani maju kembali karena sikapnya yang termasuk lemah, hanya mematahkan kaki atau tangan saja, jadi yang lain tak takut karena itu bukan kematian. Maka melihat bahwa dia agaknya diharuskan bersikap lebih keras dan kejam lagi Ituchi tiba-tiba membentak dan merampas tombak seorang perajurit.

"Baiklah," katanya gusar. "Aku sekarang akan membunuh kalian, orang-orang tolol. Lihat siapa berani maju lagi untuk kubunuh.... crat!" perut seorang prajurit tertusuk luka, menjerit dan roboh mandi darah dan tewaslah prajurit itu oleh kemarahan Ituchi. Sekarang pemuda ini berkelebatan dengan nafsu membunuh, apa boleh buat dipaksa bersikap kejam dan terkejutlah anak buah Cucigawa melihat keberingasan pemuda tinggi besar ini. Ituchi yang marah dan tidak segan-segan lagi membunuh akhirnya membentak dan menangkis semua senjata-senjata musuhnya, tidak perduli panah atau tombak dan tentu saja lawan-lawannya ngeri.

Dan ketika sebuah anak panah kembali mendesing dari busur raja Cucigawa dan bersamaan itu raja membentak agar pasukannya tetap maju maka Horok dan panglima Ramba yang ada di kiri kanan tiba-tiba menggerakkan senjata mereka menusuk cepat.

"Wir-plak-dess!"

Dua orang itu menjerit. Ramba yang bersenjata trisula mencelat, senjatanya bertemu tombak di tangan Ituchi dan terlepas dari tangannya, kaget dan masih mendapat sebuah tendangan pula. Dan ketika anak muda itu terguling-guling sementara Horok juga terlempar dan terbanting oleh tangan kiri Ituchi maka panah yang menyambar dari busur Cucigawa dikibas terpental mengenai pangkal lengan raja tinggi besar itu.

"Crep-augh!" Cucigawa terkejut. Raja tidak menyangka bahwa anak panahnya yang menjepret berbalik arah, ditangkis pemuda itu dan menuju pangkal lengannya. Dan karena dia tidak menyangka dan baru kali ini di sela-sela kesibukannya Ituchi dapat melukai raja maka Cucigawa terhuyung dan pucat mukanya, marah bukan main. "Bunuh pemuda itu, keroyok lagi!"

Namun bentakan atau seruannya ini tak diikuti sepenuhnya. Ituchi yang mengamuk dan meroboh-robohkan prajurit yang ada di depan akhirnya membuat prajurit atau pasukan itu gentar. Tiga puluh orang yang akhirnya roboh binasa membuat orang-orang itu jerih, akhirnya mereka takut juga. Maka ketika bentakan itu dikeluarkan Cucigawa sementara raja sendiri tak berani mendekat maka yang ada di depan tiba-tiba mundur dan melakukan serangan dari jauh.

"Keparat, kalian licik!" Cucigawa marah. "He, lepaskan panah kalian, orang-orang bodoh. Keluarkan jaring dan tangkap pemuda ini seperti dulu!"

Ituchi terkejut. Pasukan tiba-tiba teringat dan mengangguk, semua mundur dan melepas panah dari jauh. Ratusan panah berhamburan dan menyerang pemuda ini. Dan ketika mereka juga mengeluarkan jaring dan mulai berteriak-teriak maka model serangan tempo dulu beraksi kembali.

"Rrt-crat-crat!"

Ituchi marah. Dia sekarang membabat belasan jaring yang menyambar dari atas, di samping masih harus menangkis atau meruntuhkan anak-anak panah yang menyambar bagai hujan. Dan karena gaya serangan itu memang bakal merepotkannya karena tak ada lawan yang berani menyerang dari dekat akhirnya Ituchi geram dan berkelebatan menangkis sana-sini.

"Ha-ha, kau repot, Ituchi. Mampus kau!"

"Keparat!" Ituchi mengutuk, memaki raja yang licik ini. "Kau curang dan pengecut, Cucigawa. Kau tak pantas menjadi seorang raja karena bisamu hanya berbuat curang!"

"Ha-ha, kau banyak mulut. Tak usah cerewet kalau ingin menyelamatkan dirimu, Ituchi. Atau kau bakal menyusul ayahmu di alam baka!"

Ituchi marah bukan main. Akhirnya dia merampas lagi sebuah pedang, mengamuk dengan dua senjata ini di tangan dan menerjang musuh-musuhnya. Tapi karena jumlah musuh terlalu banyak dan betapapun dia masih ragu apakah semua suku bangsanya ini harus dibabat habis maka sebuah panah akhirnya menyambar bahunya.

"Crep!" Itulah panah Cucigawa. Sang raja tertawa bergelak melihat pemuda ini terhuyung, girang tapi diam-diam juga kagum karena anak panah hanya masuk sebatas kepalanya saja. Pemuda itu telah mengerahkan sinkangnya dan dengan tenaga saktinya ini coba bertahan, memang berhasil tapi tidak seluruhnya. Maklumlah, Ituchi telah mengeluarkan banyak tenaga dalam pertempuran tidak berimbang itu, satu dikeroyok ratusan, bahkan mungkin ribuan! Dan ketika pemuda itu terhuyung dan mendelik memaki raja, yang kagum dan bersinar-sinar disana maka lemparan lembing atau tombak berluncuran menyambar tubuhnya.

"Plak-plak!"

Ituchi dapat bertahan. Nyatalah di sini bahwa semua lontaran tombak atau lembing yang dilakukan orang-orang biasa tak dapat melukai pemuda itu, kecuali Cucigawa yang ternyata memiliki tenaga istimewa, lontaran yang kuat dan amat bertenaga. Dan ketika jaring juga kembali menghujani pemuda itu dari ats di mana Ituchi dipaksa berlompatan mengelak maka sebuah anak panah kembali mendesing dan menancap di tubuh pemuda itu.

"Crep!" Ituchi bergoyang. Hanya terhadap panah dari raja tinggi besar ini pemuda itu tak berhasil sepenuhnya bertahan, anak panah menancap sebatas kepalanya. Dan ketika raja kembali merasa kagum tapi menjepretkan anak panahnya lagi maka Ituchi membentak melepas marah.

"Cucigawa, kau jahanam busuk!" pemuda ini berkelebat ke arah lawannya, membiarkan tombak atau anak-anak panah lain untuk menghajar raja yang curang ini. Ituchi marah sekali hingga melupakan sejenak bahayanya jaring, yang meluncur dan tiba-tiba dilepas tak kurang dari tujuh buah banyaknya. Dan ketika pemuda itu mendekati raja namun tujuh jaring melingkup dari atas kepala maka Ituchi baru kaget dan sadar setelah terlambat.

"Rrt-bluk!" Pemuda itu jatuh. Ituchi terlampau mengkonsentrasikan perhatiannya pada Cucigawa, bernafsu dan kehilangan kontrol diri sejenak. Maka begitu tujuh jaring melingkup kepalanya dan menjirat tubuhnya tiba-tiba tanpa dapat dicegah lagi pemuda ini tertangkap seperti harimau yang terjebak pemburu bengis!

"Ha-ha, tarik dia. Jerat semakin keras!"

Pekerjaan itu sudah dilakukan tujuh orang pembantu raja tinggi besar ini. Dua di antaranya adalah panglima Horok dan Ramba, yang tadi marah dan mencelat senjatanya. Maka begitu mereka menarik dan berseru bersama-sama maka Ituchi tercekik dan tak dapat bergerak.

"Ugh!" Pemuda itu dalam bahaya. Sehebat-hebatnya Ituchi kalau dia berada di dalam jaring dan tak dapat menggerakkan kaki tangannya tentu nasib buruk bakal menimpanya. Dan ini rupanya bakal terjadi pada diri pemuda itu. Namun sebelum semuanya terlambat dan Cucigawa serta pasukannya sudah bergerak mengangkat senjata masing-masing mendadak terdengar bentakan dan suara menggeledek.

"Lepaskan pemuda itu!"

Ramba dan lain-lain menjerit. Bayangan kuning emas menyambar, cepat dan luar biasa dan tahu-tahu jaring yang mencekik Ituchi putus. Dan ketika tujuh orang pemegang jaring terpelanting dan terlempar tak keruan maka Thai Liong sudah menarik pemuda ini dari dalam jaring.

"Ituchi, kita tak dapat membunuh-bunuhi orang-orang ini. Kita rupanya harus pergi....plak-plak-plak!" Thai Liong menangkis hujan golok atau tombak, menghalau mereka dan tertegunlah Ituchi melihat lawan-lawan Thai Liong lenyap. Kiranya di saat pemuda tinggi besar ini menghadapi lawannya maka Togura dan guru-gurunya sudah menghilang, tak tahan oleh gabungan Khi-bal-sin-kang dan Lui-ciang-hoat, juga kalah cepat setelah Thai Liong mempergunakan dua ilmu meringankan tubuhnya sekaligus, Jing-sian-eng dan Cui-sian Ginkang itu.

Dan karena empat ilmu ini memang hebat sekali dan hanya See-ong seorang yang mampu menghadapi karena kakek iblis itu memiliki Hek-kwi-sut maka Togura dan guru-gurunya tak tahan, akhirnya harus lari setelah dihajar jatuh bangun. Thai Liong mempergunakan tangan kerasnya untuk menghadapi enam orang lawannya yang licik ini, yang tunggang-langgang dan memang akhirnya harus mengakui kehebatannya. Tapi ketika dia mengincar Togura dan menujukan serangan-serangannya kepada lawannya itu tiba-tiba Togura berteriak agar mereka semua melarikan diri, sama seperti dulu ketika menghadapi Pendekar Rambut Emas.

"Kita lari, jangan layani lagi jahanam ini!"

Thai Liong terkejut. Nenek Naga tiba-tiba menghamburkan belasan jarum-jarum beracunnya, dikebut namun sabit di tangan Siauw-jin melayang menyambar, dilepas pemiliknya. Dan ketika Thai Liong marah menangkis semuanya itu tiba-tiba Togura meledakkan granat tangan yang membuat keadaan menjadi gelap.

"Darr!" Saat itulah Togur dan lain-lain lenyap. Mereka licik melarikan diri, berlindung di balik asap tebal dan ledakan granat. Dan karena Thai Liong tak dapat mengejar lawan-lawannya karena mereka semua menghilang dengan cepat maka saat itulah dia melihat keadaan Ituchi, kaget membelalakkan mata dan tentu saja dia tak akan membiarkan sahabatnya itu celaka. Maka begitu membentak dan berkelebat ke depan tiba-tiba pemuda ini sudah menyelamatkan temannya, menabas putus semua jaring dan Ituchi dibetot keluar.

Thai Liong akhirnya melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan dibabat Ituchi, ngeri dan maklumlah dia bahwa banjir darah bisa terjadi di situ, kalau dia dan Ituchi mengamuk. Dan karena tak ada maksud di hatinya untuk membunuh-bunuhi orang demikian banyak dan lagi Thai Liong termasuk pemuda yang lemah hati maka Ituchi cepat disambar dan diteriaki agar meninggalkan tempat itu, yang tentu saja membuat pemuda tinggi besar ini terbelalak, tak setuju.

"Tidak, kita datang memang bukan untuk membunuh-bunuhi orang-orang ini, Thai Liong. Tapi justeru menundukkan mereka dan membebaskan mereka dari tangan orang-orang jahat!"

"Tapi Togur melarikan diri!"

"Tapi Cucigawa ada di sini! Tidak, aku ingin menangkap atau membunuh musuhku itu dulu, Thai Liong. Kau bantu aku agar jahanam itu dapat kurobohkan!" Ituchi marah, menggebrak tameng seorang prajurit dan robohlah prajurit itu dengan jeritan tinggi. Dia terpelanting dan mandi darah, tamengnya menghantam dada sendiri dan prajurit itu tersungkur. Kemarahan Ituchi tak dapat dibendung lagi. Namun ketika pemuda itu menerjang dan memanggil-manggil Cucigawa ternyata raja tinggi besar itu lenyap!

"Keparat!" Ituchi marah sekali. "Kau pengecut dan licik, Cucigawa. Hayo tampakkan dirimu dan ini aku!"

Namun sang raja keburu gentar. Setelah Thai Liong datang dan menolong Ituchi maka raja itu pucat. Tentu saja dia tahu kelihaian putera Pendekar Rambut Emas ini, tak berani main-main dan melihat Togur dan kelima gurunya melarikan diri, menghilang, sama seperti dulu ketika Kim-mou-eng datang. Maka begitu Ituchi selamat dan pemuda itu kini mencari-cari dirinya maka sebelum repot raja itu buru-buru menyingkir!

Ituchi menggigit jari karena lawan menghilang, mencari yang lain namun Ramba dan Horok juga tak ada. Dua pembantu Cucigawa itu juga cepat-cepat pergi setelah melihat keadaan tak menguntungkan mereka. Dan ketika Ituchi marah dan menghajar siapa saja akhirnya pasukan mawut dan lari lintang-pukang.

"Hei, kalian kembali. Jangan lari!"

Namun tak ada yang kembali. Ituchi berteriak-teriak memanggil mereka, menyuruh pasukan itu kembali namun mereka justeru ketakutan. Raja dan Togura serta guru-gurunya menghilang, masa mereka harus kembali? Maka begitu Ituchi berteriak-teriak dan menyuruh mereka kembali, disangka untuk menerima hukuman maka pasukan justeru lintang-pukang menyelamatkan diri, akhirnya bersih dan tempat itu tak ada seorang pun.

Ituchi membanting-banting kaki dan marah bukan main. Dia merasa suku bangsanya itu tak dapat dididik, semuanya sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa. Dan ketika pemuda itu mengeluh dan melempar tubuh ke tanah maka Thai Liong berkelebat di sampingnya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, pasukanmu tak mau kembali padamu, Ituchi. Mereka takut dan jerih!"

"Tapi aku bukan mau menghukum mereka! Aku tidak mengapa-apakan mereka! Kenapa takut dan harus lari? Ah, mereka itu sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa, Thai Liong. Mereka.... mereka...."

Pemuda ini menutupi mukanya, menangis dan kecewa karena suku bangsanya sendiri sudah tak dapat diatur. Dia tadi mau mengumpulkan mereka dan menasihati baik-baik, tak tahunya mereka malah lari tunggang-langgang dan kabur. Dan ketika pemuda itu mengepal tinju dengan muka merah padam mendadak Mei Hoa dan Ting Han muncul.

"Siauw-hiap, adikku.... adikku sudah kau selamatkan?"

Thai Liong tertegun. Tiba-tiba dia teringat bahwa Mei Ling masih dibawa iblis-iblis itu. Cam-kong tadi membawanya dan dia kelupaan karena pertandingan tiba-tiba menjadi sengit. Dia dikeroyok sementara Ituchi juga menghadapi suku bangsanya sendiri, di bawah pimpinan Cucigawa. Maka begitu teringat dan sadar tiba-tiba pemuda ini malah tak dapat bicara.

"Kau... kau belum menyelamatkannya?" "Maaf," Thai Liong akhirnya berkata gemetar. "Aku... aku lupa, Mei Hoa. Aku tadi terlalu sibuk dan mengkonsentrasikan pikiranku pada Togura dan kelima gurunya. Ah, biar kucari adikmu dan kau di sini bersama Ituchi!" dan menyesal melupakan tanggung jawabnya tiba-tiba Thai Liong berkelebat dan lenyap dari tempat itu, disambut keluhan pendek gadis ini yang gemetar membayangkan nasib adiknya. Dan ketika Ting Han di sana juga tertegun dan pucat membelalakkan mata tiba-tiba Ituchi melompat bangun dan berseru,

"Thai Liong, tunggu...!" dan lenyap pula meninggalkan tempat itu pemuda tinggi besar ini sudah mengejar Thai Liong.

"He!" Ting Han jadi terkejut. "Kita kalau begitu ikut mencari, Mei Hoa. Mari kejar dan susul mereka!"

Mei Hoa mengangguk. Memang setelah adiknya belum kembali dan Thai Liong melupakan itu maka gadis ini gelisah. Dia menyayangkan kenapa putera Pendekar Rambut Emas itu melupakan adiknya. Tapi ketika Ting Han juga mengumpat dan memaki-maki Thai Liong, yang dikata bodoh dan tak bertanggung jawab tiba-tiba gadis ini menegur, sadar.

"Ting Han, jangan memaki-maki Kim-siauwhiap. Dia datang menolong kita saja sudah syukur. Bukankah kita selamat dan kini dapat mencari sendiri? Kalau dia lupa hal itu dapat dimaklumi. Yang dihadapi pemuda itu bukan cuma adikku!"

"Eh, kau tak marah?"

"Tadinya begitu. Tapi sekarang tidak, Ting Han. Aku menyadari bahwa pekerjaan pemuda itu bukan hanya mengurus Mei Ling saja!"

Ting Han tertegun.

Kita tak boleh egois," gadis itu melanjutkan. "Bukankah pemuda itu sudah membantu lebih dari cukup? Kalau dia lupa pada Mei Ling tak usah kita marah-marah, Ting Han. Lebih baik kita tahu diri dan coba mencari sendiri!"

"Kalau begitu mari, aku salah!" dan Ting Han yang menyadari kekeliruannya dan tidak memaki-maki Thai Liong lagi lalu berkelebat dan mencari bersama Mei Hoa, khawatir dan cemas karena Mei Ling adalah gadis yang dicintanya. Gadis itu jatuh di tangan iblis-iblis yang berbahaya dan tentu saja dia cemas. Maka begitu mengutuk dan mengumpat iblis-iblis ini segera pemuda itu berkelebat mencari Mei Ling.

* * * * * * * *

"Haram jadah, terkutuk!" begitu Siauw-jin memaki-maki ketika bersama muridnya dia terpaksa melarikan diri. Togur juga menggeram dan mengutuk Thai Liong, yang memaksa mereka kabur dan meninggalkan pertempuran, termasuk pasukan mereka yang mengeroyok Ituchi. Tapi ketika mereka marah-marah dan semua mengutuk atau memaki Thai Liong maka Cam-kong batuk-batuk dan berkata,

"Tak usah marah. Kita masih memiliki sebuah pegangan kalau pemuda itu mengejar. Lihat ini!" kakek itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan seorang gadis yang tak berdaya dan teman-temannya pun tertegun. Dan ketika Siauw-jin menyeringai dan berkelebat maju tiba-tiba iblis cebol ini menyambar gadis di tangan rekannya.

"Heh, kenapa tidak bilang sejak tadi, Bambu Kurus? Bukankah ini dapat membuat kita memaksa pemuda itu? Hayo kembali, kita kesana, Cam-kong. Paksa pemuda itu menyerah pada kita dan suruh berlutut minta ampun!"

"Hih-heh, benar!" nenek Naga juga berseru. "Kenapa tidak bilang sejak tadi, setan kurus? Kalau aku tahu dan ingat itu tentu kita tak perlu terbirit-birit!"

Yang lain mengangguk dan tertawa-tawa. Mereka memandang dan mengamati gadis di tangan Siauw-jin itu, yang sudah berpindah tangan. Tapi ketika Togur bersinar dan berkelebat maju tiba-tiba pemuda ini berkata,

"Tidak, tak perlu kembali. Kalau gadis ini sudah di tangan kita biarlah Thai Liong yang mencari dan kita yang menunggu. Heh, serahkan dia padaku, Siauw-jin. Kalian semua pergi dan biar gadis ini berdua bersamaku... tuk!" Togur membebaskan gadis itu, yang bukan lain Mei Ling adanya dan tentu saja gadis cantik itu menjerit dan berteriak. Dia meronta dan memukul-mukul Togur tapi lawan tertawa menamparnya. Dan ketika dia roboh dan menangis tersedu-sedu maka Togur menjambak rambutnya.

"Heh, kau dengarkan aku, siluman betina. Gara-gara kedatanganmu maka kau mengundang Thai Liong dan putera Raja Hu itu. Kau seharusnya dibunuh. Tapi karena aku sayang padamu dan ingin menjadikanmu sebagai kekasih maka katakan bahwa kau tak akan macam-macam dan siap melayaniku dalam hal apa saja!"

"Tidak... tidak...!" Mei Ling menangis menjerit-jerit. "Kau bunuhlah aku, Togur. Kau bunuhlah aku dan biar aku mati! Aku tak takut mati, kau pemuda busuk dan jahanam!"

"Hm, kenapa begitu?" pemuda ini menyeringai, mengejek. "Kau tak akan kubunuh kalau justeru berteriak-teriak begini, siluman betina. Lebih baik kau ikut aku dan secara baik-baik menyerah dan menjadi kekasihku. Atau, aku akan memaksamu dan kau tak dapat berbuat apa-apa!" Togur tertawa, mencium gadis itu dan Mei Ling tak dapat mengelak. Rambut yang dijambak dan kepala yang dicengkeram keras memang membuat gadis ini tak dapat berbuat apa-apa. Namun ketika pemuda itu mencium mulutnya dan dia menggigit maka Togur berteriak dan menamparnya.

"Keparat, tak tahu diuntung... plak!" Mei Ling terpelanting, disambar lagi dan Togur marah bersinar-sinar. Mulutnya tadi digigit dan Siauw-jin tertawa, membuat pemuda itu membentak dan menghentikan tawa gurunya itu. Dan ketika Mei Ling di sana mengguguk memaki-maki maka pemuda ini membalik, sekali lagi berkata, melihat gurunya tidak segera pergi,

"Kalian mau apalagi? Bukankah kusuruh pergi? Eh, biarkan aku dengan siluman betina ini, suhu. Dan kalian semua berjaga di sekitar kalau-kalau pemuda keparat itu datang!"

"Mau kau apakan gadis ini?" nenek Ji-moi tiba-tiba terkekeh. "Bukankah mau kau permainkan?"

"Benar."

"Nah, permainkan di sini saja, Togur. Biar Siauw-jin yang pergi dan kami berempat menonton!"

"Hi-hik, benar!" nenek Toa-ci menyambung. "Kami masih suka melihat keperkasaanmu, Togur. Kau lakukan saja hal itu sekarang dan kami menonton!"

"Weh-weh!" Siauw-jin mencak-mencak. "Kalian menonton dan aku disuruh pergi? Ha-ha, tak bisa, nenek buruk. Kalianlah yang pergi dan biar kami dua lelaki menonton di sini. Aku juga kepingin lihat!"

"Tidak!" Togur berkata. "Kali ini aku tak ingin ditonton, suhu. Kalian berjaga dan hati-hati terhadap Kim Thai Liong itu. Aku tak ingin kita semua lengah!"

"Tapi aku kepingin...."

"Aku juga..."

"Hm, kalian tak mau dengar omonganku?" Togur tiba-tiba bangkit kemarahannya, berkelebat dan tiga kali menampar suhu dan subonya itu, Siauw-jin dan nenek Ji-moi serta Toa-ci. Dan ketika tiga orang itu menjerit dan terpelanting roboh maka yang lain-lain segera berkelebat dan Cam-kong tertawa, aneh dan serak.

"Nah, rasakan itu, Siauw-jin. Kalau murid kita bilang jangan sebaiknya kita juga tidak memaksa. Atau kau akan dibunuhnya dan bocah she Kim itu benar-benar datang!"

Siauw-jin mengeluh dan mengutuk. Mereka bertiga dihajar dan kakek cebol ini merintih tak berkesudahan. Kalau saja bukan togur yang melakukannya mungkin dia akan mencabut senjatanya dan melawan. Jelek-jelek dia adalah satu di antara enam Iblis Dunia. Tapi karena Togur amatlah lihai dan dikeroyok berlima muridnya itu bukanlah tandingan maka setan cebol ini mendesis dan berkelebat menyusul Cam-kong, diikuti Ji-moi dan Toa-ci yang tadi ditampar pipinya. Dua nenek itu pun tak berani bercuit dihajar muridnya sendiri. Lucu! Dan ketika semua orang pergi meninggalkannya dan Mei Ling terbelalak melihat semuanya itu maka gadis ini terbelalak dan ngeri.

"Iblis, kau benar-benar iblis, Togur. Kau tak tahu malu dan keji. Ah, kau bunuhlah aku!"

Togur tertawa. Kiranya Mei Ling menjadi ngeri dan takut mendengar semua kata-kata gurunya tadi, kata-kata yang memang mendirikan bulu tengkuk. Dia, murid enam Iblis Dunia kiranya juga sering ditonton kalau bermain cinta. Hal yang menunjukkan betapa bejat akhlak atau moral pemuda ini, yang tak malu-malu dan segan-segan ditonton gurunya sendiri, perbuatan yang tentu saja tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh puteri Bu-ciangkun itu. Maka begitu Togur mengusir kelima gurunya dan kali ini tak mau diganggu, karena di belakang ada Thai Liong dan Ituchi yang tentu tak membiarkan mereka maka pemuda ini sudah melepas bajunya dan menyambar gadis cantik itu.

"Ha-ha, bagaimana, Mei Ling? Kau ingin kupaksa atau melayaniku secara baik-baik? Di sini jauh dari siapa pun, takkan ada yang mendengar jeritanmu kalau kau ingin minta tolong. Nah, katakan kau ingin menjadi kekasihku atau aku yang akan memaksamu menjadi kekasihku!"

"Tidak.... oh, jangan!" Mei Ling ngeri. "Jangan... jangan lakukan itu, Togur. Kau bunuhlah aku dan aku akan berterima kasih padamu!"

"Hm, kau cerewet!" dan Togur yang menyambar serta mencengkeram baju gadis ini tiba-tiba tak sabar lagi dan sudah membuat gadis itu menjerit, berteriak karena dengan kasar Togur menanggalkan pakaian atasnya. Dan ketika pundak yang halus bersih tersingkap lebar mengundang berahi maka Togur sudah tertawa dan menubruk korbannya ini, menciumi dan menotok bawah rahang Mei Ling agar gadis itu tidak bisa menggigit lagi. Dan ketika satu demi satu pemuda ini menggerayangi dan melepas pakaian lainnya yang masih menempel maka Mei Ling mengeluh dan meratap tak ada habis-habisnya.

"Tidak, jangan.... oh, jangan....!"

Namun siapa yang mendengar? Puteri Bu-ciangkun ini akhirnya melengking dan menjerit ketika sesuatu menyakitkan bawah tubuhnya. Togur dengan kasar dan tertawa-tawa serta beringas menciumi gadis itu. Sekarang dengan benar dan tidak perlu disangsikan lagi Mei Ling membuktikan kejamnya pemuda ini, berita perkosaan atau sejenisnya lagi yang dilakukan pemuda itu, setelah dia menyerbu dan menyerang dengan pasukannya, menangkap dan mempermainkan wanita-wanita cantik yang menjadi korbannya. Dan ketika Mei Ling mengeluh dan menggeliat-geliat di bawah keperkasaan pemuda itu maka setan dan iblis menjadi saksi akan peristiwa biadab ini.

"Oh, tidak... jangan... jangan, Togur. Kau... kau pemuda keji.... ooh!" Keluh atau rintihan itu tak ada yang mendengar. Togur dengan buas dan kasar mempermainkan korbannya ini, Mei Ling menangis dan tak dapat berbuat apa-apa, akhirnya pingsan. Dan ketika gadis itu mengerang dan menjerit lirih tiba-tiba sebuah tendangan menghantam pemuda itu.

"Keparat, kau mempermainkan kekasihku, Togur? Kau menggagahinya? Jahanam.... des-dess!" dan Togur yang mencelat serta kaget menerima tendangan ini tiba-tiba melihat datangnya Ting Han, bergulingan meloncat bangun dan Ting Han, pemuda itu merah padam melihat lawan yang telanjang bulat, terbelalak tapi tiba-tiba tertawa bergelak menyambar pakaiannya.

Togur kaget karena mengira yang datang adalah Thai Liong. Tapi begitu melihat bahwa yang datang adalah pemuda tinggi kurus ini tiba-tiba murid Siauw-jin itu terbahak dan marah tapi juga geli. "Eh, kau kiranya? Ha-ha, kekasihmu cantik sekali, bocah. Dan nikmat tiada tara. Ia masih perawan! Ha-ha, sungguh luar biasa dan menakjubkan!"

Tapi Togur yang berkelebat dan meninggalkan pemuda itu tiba-tiba menggeram karena marah kepada guru-gurunya. Tadi disuruh menjaga tapi bocah ini bisa datang mengganggu, bahkan menendangnya tapi untung tidak apa-apa. Kalau yang melakukan itu adalah Thai Liong tentu lain keadaannya. Maka begitu sadar dan marah kepada guru-gurunya Togur tiba-tiba meninggalkan Ting Han sejenak untuk mencari sekaligus mendamprat kelima gurunya itu. Tapi apa yang terjadi?

Kiranya sebuah permainan lain. Nenek Ji-moi, yang tadi ingin menonton muridnya ternyata mendengus-dengus di sana, di bahwa sebatang pohon. Nenek itu sedang bergumul bersama Siauw-jin dan nenek Naga menonton. Dan ketika nenek Naga terkekeh-kekeh karena hal itu dirasanya lucu maka tak jauh dari situ nenek Toa-ci bergulingan bersama Cam-kong, tua sama tua!

"Hih, heh, terus, Siauw-jin. Terus! Angkat naik kakimu yang pendek dan goyang pinggul sekuat-kuatmu!"

Togur tertegun. Kiranya keempat gurunya itu sudah bermain cinta sendiri sementara nenek Naga menonton. Tentu nanti akan tiba giliran nenek itu kalau teman-temannya sudah selesai. Togur terbelalak tapi juga geli. Pantas, ini kiranya yang membuat dia kecolongan musuh! Tapi membentak dan marah bahwa bagaimanapun juga perbuatan ini membahayakan dirinya tiba-tiba pemuda itu berkelebat ke depan dan....des-des-dess, kelima orang itu pun mencelat dan berteriak kaget terlepas satu sama lain.

"Jahanam bedebah, kalian terkutuk! Eh, apa yang kuperintahkan pada kalian, suhu? Apakah aku menyuruh kalian bercinta? Lihat, seorang musuh datang menyerangku, dan kalian tak tahu karena asyik di sini bercinta-cintaan. Keparat, bedebah!"

Dan Togur yang tegak berdiri memandang dengan mata merah seketika membuat kelima gurunya terkejut berloncatan bangun, tubuh telanjang bulat dan lucu melihat keadaan mereka itu, kakek-kakek tua dan nenek-nenek kempot yang buah dadanya saja sudah bergelantungan kayak kates! Dan ketika semuanya terkesiap dan tertegun, tak jadi marah maka berkelebatlah bayangan Ting Han yang menyusul pemuda ini.

"Togur, kau iblis tak berjantung. Kau pemuda keparat!" dan Ting Han yang langsung menyerang dan membacok dengan pedangnya akhirnya membuat kelima kakek dan nenek-nenek itu terkejut, sadar bahwa kiranya kelengahan mereka menghasilkan datangnya pemuda ini. Tapi melihat pemuda itu bukan Thai Liong dan gerakannya jelas bukan pemuda yang lihai maka Siauw-jin tiba-tiba terkekeh dan berkelebat maju.

"Togur, maafkan kami. Tapi aku dapat menyelesaikan pemuda ini.... plak-pletak!" dan pedang di tangan Ting Han yang seketika patah disusul jerit pemuda itu tahu-tahu sudah membuat pemuda ini terlempar, jauh tinggi di udara dan akhirnya terbantinglah pemuda itu di tanah. Satu keluhan pendek terdengar sebelum tubuh itu jatuh berdebuk. Dan ketika tubuh itu benar-benar menimpa tanah dan Siauw-jin tertawa ternyata pemuda ini telah tewas dengan hidung dan telinga mengeluarkan darah!

"Ha-ha, lihat, Togur. Kami telah menebus dosa!"

Togur mengerutkan kening. Dia memang melihat bahwa pemuda tinggi kurus ini telah binasa. Dalam sekejap saja gurunya yang cebol itu menghabisi lawan. Tapi ketika terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis melompat dan menyerang si cebol tiba-tiba Mei Hoa telah muncul di situ dengan teriakan kagetnya melihat tewasnya Ting Han.

"Aih, kalian iblis-iblis keji. Terkutuk, mampuslah!" dan pedang yang menyambar serta menusuk tenggorokan Siauw-jin tiba-tiba disambut kekeh kakek itu, menyampok tapi kali ini nenek Naga berkelebat, mendahului Siauw-jin. Nenek itu membentak dan mau mendahului Siauw-jin. Sekali turun tangan dia mau membunuh gadis itu, mencontoh temannya. Tapi ketika Togur menghardik dan menyuruh nenek itu mengurangi tenaganya maka Mei Hoa terpelanting ketika pedangnya ditampar mencelat.

"Tahan.... plak-bluk!"

Mei Hoa menangis. Tadi dia selamat karena nenek Naga tak jadi menampar kepalanya, turun ke pedang dan pedangnya itu pun mencelat, terpukul tamparan nenek iblis itu. Dan ketika dia bergulingan meloncat bangun dan marah serta memaki-maki maka Ji-moi yang tersenyum dan berkelebat ke depan tiba-tiba mendahului nenek Naga berseru perlahan,

"Togur, kau agaknya menginginkan gadis ini. Baiklah, kutangkap dia untukmu dan terimalah!"

Mei Hoa terkejut. Di saat dia marah dan memaki-maki mendadak nenek itu berkelebat ke arahnya, menangkap dan mengulurkan lengannya dan tentu saja gadis ini menangkis. Tapi karena dia bukan lawan si nenek iblis dan gerakan Ji-moi jauh lebih cepat maka dia pun tertangkap dan sudah dilempar ke arah Togura.

"Hi-hik, terimalah, Togur. Ini permintaan maaf dari kami!"

Togur tersenyum. Sebenarnya dia belum berhasrat mempermainkan gadis itu, maklumlah, dia baru saja mengerjain Mei Ling. Tapi ketika dia hendak menangkap dan menerima tubuh yang terlontar di udara itu tiba-tiba berkelebat bayangan kuning emas dan Thai Liong muncul.

"Togur, kalian biadab. Serahkan dan lepaskan gadis itu... duk-plak!"

Togur mencelat, Thai Liong sudah berjungkir balik menyambar tubuh Mei Hoa, gerakannya luar biasa cepat dan pemuda itu masih meneruskan gerakannya dengan tendangan cangkul. Nenek Ji-moi yang terdekat dengannya 'dicangkul', kontan menjerit karena kepalanya terputar. Dan ketika Thai Liong sudah melayang turun dan berdiri dengan muka merah maka di sana Togur terguling-guling dan berteriak dihajar pukulan Thai Liong.

"Keparat, serang pemuda ini. Bunuh dia!"

Namun Thai Liong mendahului. Marah dan melengking melihat Ting Han roboh tak bernyawa putera Pendekar Rambut Emas ini berkelebatan cepat. Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang langsung keluar, digabung dan menyambar-nyambar ke arah lima kakek dan nenek-nenek iblis itu. Dan karena Ji-moi maupun lain-lain memang gentar menghadapi pemuda ini dan masih di bawah Thai Liong maka satu per satu mereka menerima pukulan atau tamparan.

"Des-des-dess!"

Lima orang itu berteriak. Togur terkejut dan membelalakkan mata, memaki kelima gurunya yang dianggap goblok dan tolol! Maka begitu Ji-moi dan lain-lain terpelanting dan mereka mengaduh atau menjerit tak keruan maka Togur menerjang dan berkelebat ke depan.

"Des-plak!"

Pemuda itu terpental. Thai Liong menggabung Khi-bal-sin-kang dengan Lui-ciang-hoatnya, kontan membuat Togur mengeluh dan terbanting bergulingan. Namun karena pemuda itu dilindungi Khi-bal-sin-kangnya pula dan ilmu yang didapat dari Cermin Naga ini memang khusus melindungi pemiliknya maka pemuda itu tak apa-apa dan bangun lagi, menyerang bersama gurunya dan Siauw-jin maupun teman-temannya mencabut senjata, tentu saja yang baru karena senjata mereka yang lama rusak, hancur bertemu Thai Liong ketika masih di benteng itu. Dan ketika semua bergerak cepat dan bertubi-tubi serta susul-menyusul mereka mengeroyok pemuda itu namun Thai Liong mengeluarkan Khi-bal-sin-kang bersama Lui-ciang-hoatnya maka kelima iblis itu tak tahan dan mereka tetap saja terpelanting.

"Aduh.... des-des-dess!"

Togur terbelalak. Pemuda ini marah karena hanya ia seorang yang mampu menerima pukulan Thai Liong. Kelima gurunya jungkir balik karena mereka tak dilindungi Khi-bal-sin-kang, Ilmu Bola Karet yang didapat pemuda ini dari Cermin Naga. Dan ketika semuanya mengaduh dan terlempar bergulingan maka satu pukulan Thai Liong menghantam tengkuk pemuda ini.

"Dess!" Togur terbanting. Pemuda ini nanar, terguling-guling namun dapat meloncat bangun lagi, itulah karena Khi-bal-sin-kangnya. Tapi ketika Thai Liong berkelebat dan menghantamnya lagi maka pemuda itu mengeluh dan terpekik kesakitan, betapapun panas rasanya menerima pukulan-pukulan Lui-cing-hoat atau Khi-bal-sin-kang yang digabung, lama-lama tak tahan juga. Maka ketika Thai Liong membentak dan kini menggerakkan tangan untuk mencengkeram lehernya tiba-tiba Togur melempar granatnya dan berteriak.

"Darr!" Thai Liong waspada. Dia berjungkir balik melihat lawan mengeluarkan sesuatu dari balik kantung baju, dapat menduga dan benar saja Togur mengeluarkan granat tangannya. Dan ketika benda itu meledak namun Thai Liong mengibas ke kiri kanan maka pecahan granat menyambar Siauw-jin dan empat temannya yang lain.

"Aduh.... crat-crat!"

Kelima iblis itu memekik. Pecahan granat yang didorong pukulan jarak jauh Thai Liong tentu saja jauh lebih cepat apabila granat itu pecah dan menyambar secara wajar. Kulit mereka dapat menahan dan tak mungkin terluka, karena mereka telah memiliki sinkang atau tenaga sakti yang kuat. Namun karena pecahan itu didorong oleh pukulan Thai Liong dan jelas pemuda itu memiliki sinkang yang lebih hebat daripada mereka maka tak ayal kakek dan nenek-nenek iblis ini menjerit, terluka dan pecahan granat menancap di seluruh tubuh mereka. Ji-moi bahkan menjerit karena pecahan granat hampir mengenai bola matanya, menancap di kening dan berteriaklah nenek itu melempar tubuh bergulingan.

Dan ketika Togur berteriak agar mereka semua lari maka tanpa diulang lagi lima iblis ini bergulingan meloncat bangun dan langsung memutar tubuhnya, mengikuti Togur. "Lari...!"

Semuanya bersicepat. Siauw-jin dan lain-lain gentar menghadapi Thai Liong, pemuda itu selihai ayahnya dan tentu saja kakek dan nenek-nenek iblis ini pucat. Namun ketika mereka memutar tubuh melarikan diri mendadak sebuah bayangan tinggi besar membentak mereka.

"Kembali!"

Bentakan dan bayangan tinggi besar itu mengejutkan Cam-kong. Kakek tinggi kurus ini kebetulan ada di paling depan dan langsung mendapat serangan. Sebuah pukulan dahsyat menghantamnya tanpa banyak bicara, itulah Ituchi yang membuat kakek ini tertegun. Tapi begitu mendengus dan melihat siapa lawannya ini tiba-tiba kakek itu menangkis.

"Dess!" Ituchi terpental. Memang dibanding seorang di antara lima Iblis Dunia itu pemuda ini masih belum setanding. Dia berteriak keras namun berjungkir balik melayang turun, membuang tenaga tangkisan lawan dan menyerang lagi. Namun karena di situ ada Thai Liong dan Cam-kong tak mau ditahan maka kakek ini menyelinap dan membiarkan serangan pemuda itu menyambar Toa-ci, yang ada di belakangnya.

"Dess!" Ituchi pun terbanting. Pemuda itu mengeluh dan terguling-guling, membentak dan meloncat bangun lagi mau menyerang. Tapi ketika nenek Toa-ci berkelebat dan juga tak mau melayaninya maka pemuda ini berteriak-teriak marah.

"Hei, kalian jangan pengecut, Cam-kong. Hayo layani aku dan kuringkus kalian!"

"Hm, pemuda sombong!" Cam-kong mendengus. "Kalau tak ada bocah she Kim itu tentu kubunuh kau, bocah. Pergilah dan lain kali saja kita bertemu!"

"Tapi kalian membunuh Ting Han! Hei, jangan lari dan hadapi aku!" namun Cam-kong dan lain-lain yang tentu saja tak menghiraukan pemuda ini karena harus segera menjauhi Thai Liong sudah cepat menyusul muridnya, karena Togur saat itu sudah menghilang dengan cepat. Dan ketika Ituchi marah-marah dan berteriak memaki lawan maka sebuah tubuh menabrak dan terhuyung jatuh menumbuk tubuhnya.

"Bluk!" Itulah Mei Hoa. Gadis ini tersedu dan menangis terguncang kengerian itu. Dia telah melihat apa yang dialami adiknya dan tentu saja mengguguk. Adiknya di sana telanjang bulat dan pingsan. Sekali lihat dia tahu apa yang terjadi. Maka tak tahan dan tersedu-sedu oleh kejadian itu gadis ini terjatuh dan kebetulan sekali diterima Ituchi.

"Aduh, keparat kau, Togura. Jahanam bedebah kau! Ah, kubunuh kau kalau bisa. Kau menghina dan menodai adikku!"

Ituchi tertegun. Di sana dia melihat Thai Liong sedang memeriksa Mei Ling, gadis yang telanjang bulat itu sudah ditutupi dengan baju Thai Liong sendiri dan pemuda itu meremang, bergidik. Dan ketika dia melihat bahwa Mei Ling sudah diganggu kesuciannya dan Thai Liong tentu saja marah maka hal pertama yang dilakukan pemuda ini adalah menolong gadis itu, menyadarkannya. Tapi begitu Mei Ling sadar dan membuka matanya tiba-tiba gadis ini menjerit dan menyerang Thai Liong, yang disangka Togura!

"Keparat jahanam! Kubunuh kau, Togur. Kubunuh kau... des-dess!" dan pukulan serta tendangan Mei Ling yang mendarat di tubuh Thai Liong tiba-tiba membuat gadis itu terpelanting, menjerit dan kesakitan karena Thai Liong tidak bergeming. Pemuda ini menerima tapi tentu saja mengerahkan sinkangnya, bertahan dan gadis itu sendirilah yang kesakitan. Dan ketika Mei Ling bergulingan meloncat bangun dan marah serta kaget maka barulah gadis itu tahu bahwa yang diserang bukanlah Togura.

"Oh, kau... kau..."

"Benar, aku bukan Togura, Mei Ling. Aku Thai Liong. Maaf, aku menyakitimu dan membuatmu terkejut."

"Ooh...!" dan Mei Ling yang mengguguk serta menangis lagi tiba-tiba melihat encinya dan mayat Ting Han di situ. "Oh, tidak!" gadis itu menjerit. "Tidak, Ting Han. Bukan kau yang mati!" dan mengguguk serta menubruk mayat itu gadis ini tersedu-sedu, mengguncang dan memanggil-manggil mayat itu, namun tentu saja Ting Han tidak dapat menjawab.

Pemuda itu telah tewas dan Siauw-jinlah yang melakukannya. Dan ketika Mei Ling histeris dan kalap seperti orang gila tiba-tiba gadis itu bangkit berlari dan berteriak-teriak memanggil Togura.

"Togur, kau siluma jahanam. Kau pemuda terkutuk! Kubunuh kau.... kubunuh kau!" namun gadis ini yang tentu saja tak dapat menemukan lawannya akhirnya terguling roboh ketika encinya berkelebat, menyambar adiknya yang hampir gila itu.

"Ling-moi, sadarlah. Pemuda itu tak ada di sini...!"