PENDEKAR RAMBUT EMAS
JILID 28
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
Mayat Wan Cu dikubur. Sien Nio tak dimakamkan karena minta dibakar, kakek inilah yang membakarnya dan menunggu sampai jenasah itu menjadi abu. Salima diam-diam heran dan tertarik memandang kakek ini. Kim-mou-eng juga begitu, sekarang mereka mengenal bahwa kakek ini adalah pelayan Kim-taijin. Bertahun-tahun bekerja di sana tapi jarang memperlihatkan diri, itulah sebabnya Kim-mou-eng maupun sumoinya tak pernah melihat kakek ini meskipun Kim-taijin merupakan sahabat mereka. Dan ketika mereka mau meninggalkan tempat itu dan kakek itu menunggui jenasah Sien Nio di atas api tiba-tiba kakek ini menghampiri mereka.

"Kim-taihiap. boleh aku meminta sesuatu?"

"Apa?"

"Aku ingin ikut kalian keluar tembok besar, taihiap. Aku ingin menjumpai guru kalian si manusia dewa Bu-beng Sian-su!"

"Ah, kau mengenalnya?"

"Dua puluh tahun yang lalu aku ditolongnya taihiap. Kini aku ingin menghadapnya dan mendengar petuah-petuahnya yang manjur."

"Hm!" Kim-mou-eng tertegun. "Suhu kami itu jarang menemui kami, kauwsu. Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Kalau memang ada jodoh baru kita bisa menemuinya. Bagaimana kami menjanjikannya kepadamu?"

"Aku tahu, taihiap. Dan aku bersabar untuk menunggu saat bersejarah itu. Aku ingin mendengar wajangannya sebelum ajalku tiba."

"Baiklah, nanti kita berjumpa lagi, kauwsu. Selamat tinggal!" dan Kim-mou-eng yang turun mengikuti rombongan Bu-ciangkun tiba-tiba berkelebat dan mendahului rombongan ini. Sumoinya menyusul dan menggandeng lengannya, sebentar kemudian hilang di balik pohon-pohon besar di mana orang kagum memandang mereka. Pendekar Rambut Emas dan sumoinya itu memang orang-orang gagah. Orang yang memiliki kepandaian tinggi dan hebat. Dan ketika mereka tiba di istana dan Kim-taijin menyambut mereka ternyata pangeran mahkota muncul pula dengan wajah berseri-seri.

"Taihiap, ayahanda kaisar selamat. Kini beliau menunggu kalian di ruang dalam!"

Kim-mou-eng tertegun. "Siapa yang menyelamatkannya?"

"Yu twako, taihiap. Saudara Yu Bing. Dia memiliki Pek-houw-cu (Mustika Harimau Putih) yang kebetulan dibawa!"

Kim-mou-eng terkesima. Sekarang dia ingat bahwa Yu Bing memang memiliki mustika itu, mustika anti racun yang dulu menyedot lukanya pula ketika dia terkena jarum-jarum Tok-gan Sin-ni. Sekarang dia teringat dan menepuk dahi sendiri bahwa pemuda itu memang dapat menolong kaisar. Agaknya keterburu-buruan dan kegelisahannya tadi membuat dia lupa akan hal ini. Rasa khawatir dan marah membuat semua orang lalai. Salima pun tertegun. Dan ketika pangeran bercerita bahwa Yu Bing telah menyelamatkan kaisar dengan mustikanya itu maka Kim-mou-eng bertanya dengan suara heran,

"Bagaimana dia bisa menolong sri baginda, pangeran? Bukankah dia sendiri terluka?"

"Ini jasa Hek-eng Taihiap, Kim-mou-eng," Kim-taijin tiba-tiba berseru memotong gembira. "Pendekar Garuda Hitam itulah yang teringat mustika sahabatnya ini!" dan Kim-taijin yang lalu menceritakan perbuatan Hek-eng Taihiap yang menolong temannya dan ganti Yu Bing menolong kaisar akhirnya membuat Kim-mou-eng terbelalak dan mengangguk angguk mengerti,

"Ah, pantas. Aku juga kelupaan tentang benda itu."

"Dan sekarang ayahanda mengundang dirimu. Kalian ditunggu di ruang dalam."

"Untuk apa?"

"Ayah ingin mengucapkan terima kasih, taihiap. Dan kami semua memang ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga ini!"

"Ah, kalian terlalu membesar-besarkan, ini memang sudah tugas kewajiban kami. Sebaiknya...."

Kim-mou-eng tiba-tiba berhenti, seorang laki-laki berpakaian emas muncul, dadanya Bersulam naga, ketawa dan menuruni anak tangga, Kim mou-eng terkejut karena itulah kaisar. Dan ketika semua orang cepat memberi hormat dan kaisar merangkul pendekar ini maka kaisar sudah berseru, memotong kata-kata Pendekar Rambut Emas tadi,

"Kim-mou-eng, tak ada kamus tolakan di istana ini. Aku sendiri menyambutmu. Marilah, penuhi permintaan kami dan kalian ke dalam!"

Kim-mou-eng tak dapat menolak. Kaisar sendiri telah memerlukan kakinya, melangkah menyambut mereka. Inilah satu kehormatan besar yang tak boleh di tampik. Menolak berarti menghina dan tak menghargai maksud baik orang. Dan karena Kaisar menyatakan kesungguhannya dan Kim-mou-eng melihat sri baginda betul-betul sehat kembali maka pendekar ini tak dapat menghindar dan sudah memasuki istana.

Kaisar menjamu mereka dengan makan minum yang lezat, anggur dan arak Hang-cou dikeluarkan. Mereka bercakap-cakap dan semua kejadian di ceritakan. Kim-mou-eng, menjawab pertanyaan-pertanyaan kaisar tentang Sien Nio dan para pembantunya. Dan ketika kaisar mengerutkan alis dan berkali-kali menahan marah atas rencana pemberontakan selirnya itu maka kaisar bangkit berdiri membungkuk ketika mendengar kematian Gurba.

"Thian Yang Maha Agung, semoga arwah suhengmu diterima di sisi Tuhan!"

Kim-mou-eng kerepotan. Kaisar ternyata tak membenci suhengnya itu, bahkan dapat mengerti kejahatan suhengnya. Sungguh ini di luar dugaan. Kim-mou-eng melihat betapa kasar ini adalah seorang kaisar yang bijak. Dan ketika malam itu mereka kembali meneruskan percakapan dan rombongan Bu-ciangkun melengkapi berita akhirnya sepuluh peti harta karun yang diambil kembali itu diserahkan pada Kim-mou-eng oleh kaisar.

"Aku tak ingin benda ini di sini lagi, Kim-mou-eng. Kau terimalah dan bawa sebagai tanda penghargaan kami kepada kalian berdua!"

“Ah... untuk apa? Kami tak biasa membawa-bawa harta sri baginda. Sebaiknya biar hamba kembalikan pada paduka karena kami berdua tak mengharap balas jasa!" Kim-mou-eng terkejut.

"Tidak, aku tak suka kau menolaknya, Kim-mou-eng. Kau terimalah dan bawa ini sebagai rasa terima kasih kami. Kalau tidak, kami akan menganggapmu tak mau menghargai perasaan orang lain dan mengecilkan rasa terima kasih kami."

Kim-mou-eng repot. Dia tak menduga harta begitu besar bakal dihadiahkan kaisar kepadanya. Harta yang cukup untuk hidup sampai tujuh turunan dengan cara yang mewah. Bahkan bisa untuk membangun sebuah kerajaan kecil. Tapi Kim-mou-eng yang berpandangan dengan sumoinya dan mendapat isyarat yang sudah dimengerti tiba-tiba tersenyum dan tertawa kepada kaisar.

"Sri baginda, baiklah hamba terima pemberian ini. Kami berdua mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Tapi karena kami repot membawanya dan kami masih mempunyai urusan lain biarlah hamba titipkan dulu sepuluh peti harta itu di sini. Kelak kalau hamba ke mari tentu hamba ambil hadiah ini di lain kesempatan. Harap paduka mengabulkan permintaan ini!"

Kaisar terbelalak. Dia bingung oleh kata-kata ini, tak tahu apakah Kim-mou-eng menghindarinya secara halus. Melihat bahwa Pendekar Rambut Emas bukan seorang rakus yang lahap akan harta, padahal banyak orang ngiler kalau melihat sepuluh peti harta itu. Buktinya telah terjadi banjir darah gara-gara harta karun ini. Tewasnya Coa-ong dan Tok-gan Sin-ni serta yang lain-lain. Tentu saja kaisar semakin kagum dan terheran-heran oleh sikap Kim-mou-eng ini. Tapi mendengar Kim-mou-eng akan mengambilnya di lain kesempatan dan Kim-mon-eng jelas tidak menolak pemberiannya mentah-mentah akhirnya kaisar tertawa bergelak memuji pendekar ini, melihat bahwa pendekar itu memang memiliki watak mengagumkan, di samping kepandaiannya yang mengagumkan pula.

Dan ketika malam itu kaisar menjamu Kim-mou-eng dan menjelang pagi beristirahat karena lelah maka Kim-mou-eng dan sumoinya dipersilahkan beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Kim-mou-eng memulihkan tenaga beberapa saat saja, tak lebih dari dua jam. Sumoinya juga begitu. Dan ketika hari mulai terang tanah dan kaisar serta yang lain-lain tergolek kelelahan maka Kim-mou,eng dan sumoinya sudah berkelebat meninggalkan istana setelah semalam sekalian pamit pada kaisar. Mereka tak mau diganggu segala tata cara, begitulah memang kebanyakan sifat orang-orang kang-ouw. Dan persis mereka keluar dari pintu gerbang tiba-tiba Hok kauwsu telah muncul menghadang mereka.

"Taihiap, aku ikut...!"

Kim-mou-eng terkejut. Dia teringat bahwa dia telah berjanji pada kakek ini, hampir saja kelupaan. Tapi gembira bahwa kakek itu bersungguh-sungguh menepati janjinya sendiri akhirnya Hok-kauwsu di bawa dan Kim-mou-eng melakukan perjalanan bertiga. Di sinilah Kim-mou-eng mendengar cerita tentang Sien Nio. Hok-kavwsu mengisi waktu dengan kisah si selir itu. Betapa Sien Nio mula-mula seorang gadis papa, menjadi anak angkat seorang petani miskin dan hidup sengsara di dusun Pin-loya.

Mulai menipu orang tua angkatnya karena tertarik harta untuk sebuah gelang yang digila-gilainya Sien Nio rela menukar kehormatannya dengan benda itu, menjadi kekasih Hok kauwsu dan akhirnya melayani pula para centeng di rumah Pin-loya. Hok-kauwsu tampak menyesal menceritakan bagian ini. Dialah yang menjadi gara-gara pemula. Dan ketika dia mendengar kabar pula bahwa Goh centeng dan Ban centeng mati terbunuh sementara Sien Nio kabur maka kauwsu ini dapat menduga bahwa itulah tentu hasil pekerjaan Sien Nio.

Kejadian berikut memang dia tak tahu. Hok kauwsu sendiri seperti kita ketahui telah melarikan diri dari dusun Pin loya, membawa harta curian tuan tanah itu dan dikejar tapi lolos. Sien Nio ditipunya dan ganti gadis itu terlunta-lunta. Tapi ketika Sien Niö menjadi selir dan satu persatu kehidupan bekas kekasihnya itu diselidiki dan dia mendengar bahwa Sien Nio telah melakukan keonaran pada pejabat-pejabat pemerintahan hingga terakhir Fang-taijin ditipunya maka kakek ini menarik napas panjang.

"Sien Nio tak hanya tamak akan harta, taihiap. Tapi juga mulai berambisi akan kedudukan dan kekuasaan. Dia memang hebat, berhasil tapi akhirnya hancur oleh sepak terjangnya yang berlebih-lebihan. Aku berdosa kepadanya sejak awal mula kejadian itu!"

Kim-mou-eng mengerutkan kening. Hok-kauwsu lagi-lagi menyatakan penyesalannya, terus mendengarkan sementara Salima diam-diam mencibir. Cerita yang dibawa kakek ini sebenarnya memuakkan. Tapi harus dipuji keberanian kakek ini yang menceritakan semuanya dengan jujur, termasuk keburukannya sendiri bersama Sien Nio. Perbuatan-perbuatan memalukan di masa silam yang dibuat kakek ini.

Dan ketika dalam perjalanan itu Hok-kauwsu membuka semua rahasianya dan kisah selir ambisius itu dibuka tanpa tedeng aling-aling maka tiga hari kemudian mereka bertiga telah tiba di luar tembok besar. Di sini cerita Sien Nio cukup lengkap didengar, Kim-mou-eng berkali-kali menarik napas panjang dan mengerutkan keningnya. Kisah itu memang cukup menyedihkan ditutup dan mereka sudah disambut Siga dan orang-orang Tar-tar yang lain, sejenak beristirahat dan Kim-mou-eng menanyakan makam suhengnya. Dan ketika Siga menunjukkan makam raksasa itu dan Kim-mou-eng duduk bersila maka dia sudah menyuruh pergi orang-orang lain itu kecuali sumoinya dan Hok-kauwsu.

"Aku akan tinggal di sini tiga hari, kauwsu. Betahkah kau duduk bersamadhi bersama kami?"

"Tentu aku sanggup, taihiap. Tapi kalau tidak kuat pun tentu aku bertahan. Aku ingin bertemu gurumu!"

Kim-mou-eng tersenyum. Keinginan kakek ini yang selalu dikatakannya berulang-ulang membuat dia tergerak, betapa besarnya keinginan itu. Dan karena Hok-kauwsu memang benar-benar ingin menjumpai suhunya dan Kim-mou-eng juga ingin melaporkan kematian suhengnya itu maka Kim-mou-eng mengajak sumoinya menyatukan pikiran, menarik getaran-getaran tertentu agar guru mereka itu datang.

Dan begitu Salima bersila dan duduk memusatkan konsentrasi maka Kim-mou-eng dan sumoinya telah menjadi patung manusia yang tidak bergerak-gerak lagi. Hok-kauwsu kagum dan mencoba duduk bersila. Sejenak termangu dan tidak berhasil. Kematian Sien Nio masih mengguncang perasaannya. Tapi ketika dia mengeraskan sikap dan meluruskan batin tiba-tiba dengan bangga dan gembira kakek ini dapat bersamadhi juga di dekat Pendekar Rambut Emas yang sudah lebih dahulu hening dalam alam samadhinya.

Hari itu, hari pertama, tak ada yang istimewa di makam Gurba. Kim-mou-eng dan sumoinya serta Hok-kauwsu masih khusuk dalam samadhi mereka. Bahkan kini tubuh mereka tak bergeming. Napas yang keluar dari hidung Kim-mou-eng dan Salima bahkan seperti tak kedengaran lagi. Suheng dan sumoi ini telah mencapai keadaan hening yang mendekati titik puncaknya. Dalam keadaan begini biar ada gunung meletus pun tak mungkin Kim-mou-eng dan sumoinya terbangun.

Mereka telah memasukan pikiran untuk "tidur", tiga hari sebelum waktu itu tak akan mereka tergugah. Bawah sadar mereka telah melatih mereka sedemikian rupa diguncang maupun dipukul tak mungkin mereka sadar. Keadaan ini telah hampir mencapai titik beku. Dan ketika pada hari kedua Kim-mou-eng dan sumoinya telah mencapai titik puncak dari alam semedhi mereka maka getaran-getaran uap putih muncul di tubuh dua orang ini.

Ada hawa sejuk keluar dari tubuh Kim-mou-eng. Getaran uap putih itu melebar, kian lama kian melebar hingga mulai mendekati sumoinya. Tubuh Salima pun tiba-tiba mengeluarkan uap yang sama, bersatu dan akhirnya membungkus tubuh keduanya tanpa disadari, sinar keagungan muncul di wajah mereka. Segala nafsu kotor tiba-tiba lenyap, yang ada ialah cahaya kesucian yang membuat suheng dan sumoi ini tampak agung dan bersinar. Dan ketika getaran uap itu coba mendekati Hok-kauwsu dan membungkus tubuh kakek ini pula tiba-tiba bayangan tiga orang itu lenyap diselimuti kabut atau uap putih ini.

Hok-kauwsu merasa mimpi. Kakek ini serasa ditarik sebuah tenaga gaib, terangkat dan kini melayang-layang di mega yang indah. Bersama Kim-mou-eng dan Salima tersenyum-senyum di alam yang penuh kebahagian itu. Kim-mou-eng merangkul sumoinya dengan mesra, sementara salima sendiri memeluk pinggang suhengnya dengan manja. Dua kakak beradik seperuruan itu tampak bahagia. Hok kauwsu iri dan menelan ludah. Dan ketika mereka bertiga melayang-layang di mega yang indah itu dengan gerak dan bahasa masing-masing, lewat pandang mata, mendadak segumpal halimun aneh muncul di tengah-tengah mereka tanpa diketahui dari mana datangnya. Seperti iblis!

“Kim-mou-eng, ada apa kalian memanggil manggil aku?"

Hok-kauwsu terkejut. Kim-mou-eng dan sumoinya tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, mereka menyentuh permukaan mega yang lembut. Hok-kauwsu terbelalak karena dia mendengar suara dari dalam halimun itu. Suara tanpa rupa. Dan ketika Kim-mou-eng dan sumoinya menyebut "suhu" pada suara di balik halimun ini mendadak Hok-kauwsu tersentak karena dia sadar bahwa dia telah berhadapan dengan Bu-beng Sian-su, si manusia dewa.

“Sian-su....!" kakek inipun menjatuhkan dirinya berlutut, kaget dan girang tapi juga gentar melihat suara tanpa rupa. Ada suara tanpa ujud. Si manusia dewa datang! Dan ketika Bu-beng Sian-su tersenyum dan mengangguk kepadanya maka kauwsu ini merasakan kejatuhan bintang sementara Kim-mou-eng dan sumoinya sudah berlutut berdampingan menghadapi guru mereka.

Bu-beng Sian-su bertanya apa maksud dua orang muda itu, kenapa mereka memanggil dirinya lewat getaran tenaga gaib. Kim-mou-eng memohon maaf dan kelihatan gentar menghadapi gurunya ini pula. Dan ketika manusia dewa itu bertanya kepada mereka berdua yang datang di tempat itu maka Kim-mou-eng segera memberi tahu kematian Gurba.

"Suheng tewas, suhu. Mohon ampun bahwa makamnya ada di bawah kaki kita."

"Hm...!" manusia dewa itu tak menunjukkan perobahan apa-apa. "Bagaimana itu terjadi? Kenapa begitu?"

Kim-mou-eng lalu menceritakan segala peristiwa. Dengan urut dan hati-hati dia menerangkan sebab-musababnya, sumoinya ikut satu dua dalam percakapan ini. Hok-kauwsu berdebar dan turut mengangguk-angguk, melihat bahwa manusia dewa itu tetap tenang dan sama sekali tidak marah atau gembira. Jalan cerita itu diikutinya dengan sesekali menghela napas panjang. Kauwsu ini tak tahu apakah artinya helaan napas itu. Wajah yang agung itu masih kelihatan saleh, sabar dan amat bijak.

Sekarang Hok kauwsu dapat melihat wajah secara samar-samar, takjub dan kagum, wajah manusia dewa itu tak dapat digambarkan dengan jelas. Dikatakan kakek tapi kelihatannya begitu muda, dikatakan muda tapi umurnya sudah ratusan tahun. Sukar digambarkan!! Dan ketika cerita itu selesai dan Kim-mou-eng menuturkan kisahnya dengan air mata menitik maka pendekar ini menyentuhkan dahinya di atas permukaan mega yang lembut, begitu menurut pandangan Hok-kauwsu.

"Teecu merasa ikut bersalah suhu. Kalau kematian suheng memang gara-gara teecu (murid) maka teecu siap menerima hukuman!"

"Hm, hanya itu saja?"

"Ya."

"Kalau begitu kau tak perlu menyesal. Hukum sebab dan akibat telah berjalan di sini. Suhengmu menerima kematian dengan wajar. Segala buah dari perbuatannya sendiri telah diterima. Semoga Tuhan Yang Maha Agung mengampuni dosa dan semua kekeliruannya!"

"Suhu tak marah?"

Kakek dewa itu tersenyum lebar. "Kim-mou-eng, untuk apa memarahi dirimu? Nasib dan tingkah laku suhengmu telah kuketahui. Apa yang terjadi di sini telah kuketahui pula sebelumnya. Untuk apa harus marah kepada mu? Tidak, kau memang tak bersalah, muridku. Aku tahu apa yang terjadi dan tahu pula apa yang harus terjadi. Urusanmu dengan suhengmu telah selesai, tapi urusanmu dengan hal-hal lain masih jauh dari selesai. Karena itu waspadalah! Kalian hanya ingin melaporkan ini saja?"

Kim-mon-eng berdetak. Ucapan gurunya yang mengandung kalimat kalimat khusus itu mendadak membuat dia tertegun, tersentak dan sekonyong-konyong sadar akan hal-hal lain itu,.Urusannya dengan sang sumoi. Urusannya dengan Wan Hoa dan Cao Cun. Dan tentu juga dengan "ekor" dari semua perbuatan-perbuatan awal. Kim-mou-eng tiba-tiba sadar dan terkejut bahwa gurunya ini memang bukan orang sembarangan. Manusia dewa yang sakti dan waskita. Agaknya mengetahui pula sepak terjangnya secara diam-diam, dari jauh tapi selalu tepat karena gurunya ini memang manusia dewa! Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan pandang matanya bergerak penuh tanya tiba-tiba suhunya ini tersenyum mengebutkan lengan.

"Muridku, tak ada lagi yang hendak kau bicarakan?"

Kim-mou-eng kelu. Dia menggeleng tanpa sadar, Hok-kauwsu terkejut dan merasa kecewa. Kakek ini merasa perjumpaannya dengan si manusia dewa akan berakhir. Bu-beng Sian-su memandang Salima dan ganti menanya murid perempuannya itu. Salima juga menggeleng karena persoalan dianggapnya tak ada lagi. Suhengnya yang memimpin mereka bicara. Dan ketika kakek itu tertawa dan mengangguk angguk mendadak dia menghadapi Hok-kauwsu.

"Siapa dia ini?"

Hok-kauwsu seperti disengat kalajengking. Entah kenapa ditanya manusia dewa itu kakek ini tiba-tiba gemetar. Sekejap mukanya pias dan seolah kering darah di seluruh tubuhnya. Tapi ketika Kim-mou-eng memberi tahu dan sadar akan hadirnya orang ketiga maka kauwsu ini melipat punggung berseru menggigil. "Aku orang she Hok, Sian-su. Tiga puluh tahun yang lalu kau menolongku dari cengkeraman Srigala Hitam!"

"Hm....manusia dewa ini pun tak menunjukkan perobahan apa-apa. "Kau bangunlah, Hok kauwsu. Kau guru silat yang keracunan senjata Srigala Hitam itu?"

"Benar,“ Hok-kauwsu takjub, kagum akan daya ingat manusia dewa ini. "Itulah aku, Sian-su. Aku yang bodoh dan sial itu. Aku telah merobah cara hidupku setelah kau menolongku dulu!”

“Sudahlah, semuanya sudah lewat, kauwsu. Sekarang tak ada apa-apa lagi di antara kita. Selamat tinggal...!" dan Bu-beng Siau-su yang bergerak lenyap tak tahu kemana perginya. Tiba-tiba membuat kauwsu ini terpekik dan berteriak kecewa lngin bicara tapi tak tahu harus bicara apa. Pekiknya ini tiba-tiba mengguncang Kim-mou-eng.

Pendekar Rambut Emas tiba-tiba teringat akan sesuatu, empat baris kalimat yang pernah diberikan gurunya itu, syair yang ada hubungan dengan semua kejadian ini. Dan ketika Kim-mou-eng sadar dan pekik temannya belum hilang tiba-tiba pendekar ini berkelebat memanggil gurunya. "Suhu, tunggu...!"

Luar biasa sekali. Bu-beng Sian-su tiba-tiba muncul, datang dan sudah berada di situ lagi seperti siluman. Hok kauwsu terhenyak saking kaget dan takjubnya. Kakek dewa ini tidak kelihatan menggerakkan kaki atau tubuhnya. Dan ketika kakek dewa itu bertanya apa yang ingin dikatakan muridnya maka Kim-mou-eng sudah gemetar menjatuhkan diri berlutut.

"Maaf, teccu teringat sesuatu yang kelupaan, suhu. Tentang syair yang pernah suhu berikan itu. Mohon suhu memberi petunjuk dan membuka pikiran teecu!"

"Ah, syair yang pernah kuberikan dulu? Kau sudah tahu jawabannya?"

"Tidak, teecu tak dapat menduganya, suhu. Teccu bodoh dan rupanya terlalu bebal untuk mengupas sebait syair ini!"

Bu-beng Sian-su tertawa. Kakek dewa itu tiba-tiba berseri, Salima tertegun dan Hok-kauwsu pun tertegun. Dua orang ini bengong, mereka tak mengerti apa yang dimaksud temannya. Tapi ketika Kim-mou-eng menuntut jawaban dan kakek dewa ini tersenyum lebar tiba-tiba kakek itu bertanya dengan suara gembira, "Baiklah, sekarang kau tulis lagi syair yang kau maksud, muridku. Biar sumoimu tahu dan Hok kauwsu ini pun mendengar. Marilah, kau hafal di luar kepala, bukan?"

Kim-mou-eng mengangguk. Dia cepat berdiri menuliskan empat baris kalimat itu, sumoinya terbelalak dan Hok-kauwsu pun melebarkan mata. Kim-mou-eng bergerak cepat mengguratkan jari-jarinya. Dan ketika sebait syair muncul di depan mata dan Salima terheran-heran maka gadis ini bersama Hok kauwsu membaca empat baris kalimat yang membuat kening berkerut,

Lalu lalang di depan mata
sering berubah berganti rupa
siapa dapat "menangkap" harganya
dialah manusia berguna ganda

Salima tak mengerti. "Apa ini, suhu?"

"Diam..." suhunya tertawa, "biar suheng mu yang bercakap-cakap denganku, Salima. Kalian dengarkan saja dan mari ikuti tanya jawab ini." dan memandang Kim-mou-eng dengan wajah berseri kakek itu mulai, "Nah, apa yang kau lihat dari syair ini, Kim-mou-eng?"

"Tak ada apa-apa. Teccu tak melihatnya sebagai sesuatu yang istimewa."

"Bagus, sekarang mari kita mundur ke beberapa waktu yang lalu. Kau ingat ada hubungan apa empat baris kalimat ini ku tulis?"

"Hubungannya dengan suheng. Suhu. Ketika suheng ketahuan memfitnah teecu dan pergi dengan marah-marah."

"Hm, ada benarnya, muridku. Tapi kurang luas. Kalimat ini kutulis karena ada hubungannya dengan kehidupan. Artinya, bukan melulu suheng mu saja tapi semua orang yang terlibat. Bisa dirimu dan bisa juga yang lain. Sekarang lihat, apa bunyi kalimat pertama di atas?"

"Lalu lalang di depan mata."

"Benar. Apa yang lalu lalang? Apa yang kau lihat dalam kehidupanmu?"

Kim-mou-eng bingung.

"Ayo, kau katakan saja apa yang kau tangkap, muridku. Jangan bingung dan katakan saja apa yang telah kau lihat dalam hidupmu sehari-hari"

Kim-mou-eng menahan papas. "Teecu tak mengerti, suhu. Tapi mungkin yang suhu maksudkan adalah kejadian demi kejadian yang teecu alami, peristiwa demi peristiwa."

"Bagus, dengan lain kata apa?"

Kim-mou-eng terdiam, lagi-kagi takut salah bicara.

"Ayo, teruskan, muridku. Jawabanmu sudah mulai menginjak kebenaran dengan apa yang kumaksud. Teruskan saja, mulai..."

"Hm!" Kim-mou-eng jadi berdebar tegang. "Teecu rasa kejadian demi kejadian itu adalah cerita teecu suhu, nasib tecu atau apa yang teecu belum mengetahui."

"Sial, kau menyeleweng!" Bu-beng Sian-su menepuk dahinya. "Bukan itu yang kumaksud, muridku. Tetapi yang lebih hakiki lagi dari apa artinya kejadian-kejadian itu. Apa artinya peristiwa-peristiwa itu. Siapa dapat mengartikan pertanyaan ini dengan tepat?" Bu-beng Sian-su tiba -tiba menoleh pada yang lain. Hok kauwsu terkejut dan Salima pun tertegun.

Tapi Salima yang berotak cerdas dan dapat menangkap tutur kata gurunya tiba tiba berseru, "Pengalaman, barangkali itu yang kau maksud, suhu. Pengalaman!"

"Bagus! Cocok sekali, tepat!" dan Bu-beng Sian-su yang tertawa memuji muridnya tiba-tiba kembali pada Kim-mou-eng. "Nah, itu yang kumaksud, muridku. Bahwa kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami siapapun namanya pengalaman. Itulah yang ku artikan. Sekarang kau mengerti apa yang lalu lalang dalam hidup setiap orang?"

Kim-mou-eng mendelong. "Pengalaman, suhu... pengalaman..." suaranya lirih menurun.

"Dan sekarang apa yang kau lihat tentang pengalaman itu sendiri? Dalam hal ini, apa yang kau lihat dalam sepak terjang mendiang suhengmu?"

Kim-mou-eng menggigil. "Kejahatannya, suhu. Keburukan wataknya yang menyebabkan dia diterkam maut!"

"Bagus, sekarang kita mulai menuju pokok sasarannya dengan tepat. Tapi hati-hati, pembicaraan ini harus dilakukan perlahan-lahan agar dapat kau mengerti dengan baik. Sekarang telah kau ketahui bahwa yang lalu lalang itu adalah pengalaman. itu yang kumaksud. Tapi apa yang kau tangkap dari setiap pengalaman itu sendiri? Apa yang berhasil memasuki dirimu?"

Kim-mou-eng bingung. "Tak ada apa-apa, suhu, Teecu merasa kosong dan tak mengerti akan apa yang teecu lihat."

"Itulah ketololanmu." Bu-beng Sian-su tertawa untuk ketololan ini. "Setiap orang bisa membayarnya mahal, muridku. Dan contoh untuk itu adalah perbuatan suhengmu yang berkali-kali hampir mencelakaimu, bahkan nyaris membunuhmu. Tapi karena kau tak mengerti tentang ini maka ketololanmu itu pun berjalan seperti biasa dan membuat kau semakin tolol!"

Kim-mou-eng merah mukanya.

"Sekarang kuulang pertanyaanku. Apa yang kau tangkap dari setiap kejadian kejadian itu? Apa yang kau dapat dari semuanya ini?"

Kim-mou-eng tak menjawab, gugup dan bingung. Dan ketika dia tak memberikan suaranya dan gurunya tertawa tiba-tiba kakek dewa itu memandang sumoinya.

"Kau, bagaimana, Salima? Dapatkah kau memberi jawaban apa yang seharusnya terjadi bila seseorang atau kau sendiri bertemu sebuah pengalaman?"

Salima pun bingung, "Maaf, teecu belum dapat menangkapnya, suhu. Teecu belum mengerti benar apa yang sesungguhnya suhu inginkan."

"Hm, kau bagaimana, kauwsu? Apakah kau pun tak dapat menjawabnya?"

Hok-kauwsu terkejut. Dia menggeleng dan seakan disentak olah kakek dewa itu, belum mengerti benar dan karena itu cepat-cepat menyatakan maafnya. Dan ketika kakek dewa itu menghela napas menyesali orang-orang ini akhirnya kakek itu memandang kim-mou-eng.

"Baiklah, ku tuntun kalian, anak-anak. Sekarang dengarkan baik baik apa yang hendak aku katakan ini, Kau..." kakek itu menunjuk Kim-mou-eng, "berapa kali suhengmu hendak mencelakaimu? Berapa kali dia nyaris membunuhmu?"

Kim-mou-eng mengingat-ingat. "Lebih dari sekali, suhu. Mungkin empat atau lima kali"

"Bagus, dan bagaimana tanggapanmu tentang suhengmu itu? Apa reaksimu melihat rencana suhengmu yang jahat?"

"Teecu marah, suhu. Tapi teecu tak mau membalas perbuatannya dengan sikap yang sama!"

"Benar, tapi ketololanmu ini hampir mencelakaimu lagi. Empat lima kali pengalaman membentur dirimu tapi tetap saja kau tumpul! Heh, perhatikan ini, Kim-mou-eng. Kalau suhengmu itu ku ibaratkan api dan api itu menyengatmu berkali-kali masihkah kau mau dinyonyos (dibakar) sampai kau mati? Masihkah sekali dua sengatan tak cukup bagimu untuk bersikap pintar? Kau lihat ini, Kim-mou-eng. Bagaimana rasanya dan katakan apa reaksimu...blub...!"

Bu-beng Sian-su tiba tiba menyalakan api, bergerak dan tahu-tahu mendekatkan api itu ke lengan muridnya, langsung diselomot dan Kim-mou-eng berteriak. Tentu saja kesakitan. Wajahnya pucat dan merah berganti-ganti, terkejut melompat mundur. Dia tak menyangka dan tak sempat melindungi diri. Gurunya itu telah menyelomotnya dan lengannya luka bakar! Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan Salima serta Hok kauwsu terperanjat oleh perbuatan kakek dewa ini tiba-tiba Kim-mou-eng yang terbelalak dan berseru tertahan mendadak menjatuhkan dirinya berlutut dengan wajah berseri-seri, girang luar biasa!

"Suhu, teecu mengerti. Kini teecu mengerti!"

Hok kaowsu dan Salima melongo. Mereka tak mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan Kim-mou-eng itu. Kenapa Bu-beng Sian-su dan Pendekar Rambut Emas ini bersikap ganjil. Masing-masing sama luar biasa. Sepintas seperti edan edanan dan tidak aturan. Guru menyelomot murid sementara murid berteriak-teriak seperti anak kecil mendapatkan kembang gula! Tapi ketika Kim-mou-eng tertawa bergelak dan menuruk mencium kaki gurunya tiba-tiba Salima dan Hok kauwsu dibuat semakin mendelong lagi.

"Suhu, terima kasih. Sekarang teecu mengerti!“

Salima membuka mata lebar-lebar. Sekarang gurunya itu tertawa. Lembut dan bergetar penuh kegembiraan seperti suhengnya pula. Mata kakek dewa itu berseri-seri. Dan ketika dia menyuruh muridnya bangun dan Kim-mou-eng tampak begitu girang luar biasa akhirnya kakek ini bertanya,

"Baiklah, apa yang kau mengerti, muridku? Pengetahuan apa yang kau dapati?"

Tapi belum Kim-mou-eng menjawab tiba-tiba Salima melompat maju. "Nanti dulu, bolehkah teecu bertanya, suhu? Benarkah suheng sudah mengerti?"

"Ha-ha, kau tanya suhengmu, Salima. Uji, benarkah dia sudah mengerti atau belum!"

Salima menghadapi suhengnya, "Suheng, benarkah kau sudah mengerti akan pertanyaan suhu? Dapatkah kau membuktikannya kepada ku?"

"Tentu," suhengnya tersenyum, berseri-seri. Aku akan membuktikannya kepadamu kalau kau tidak percaya, sumoi. Dan untuk itu biarlah aku mencontoh suhu!" Kim-mou-eng mengambil api yang dipakai suhunya, mendekati sumoinya dan memperlihatkan api itu. Sumoinya tentu saja tertegun dan mengerutkan kening. Dan ketika Salima masih tak mengerti dan bingung oleh gerak-geriknya maka Kim mou-eng bertanya, "Apa ini?"

“Api."

"Bagaimana rasanya?"

"Têntu saja panas"

"Dari mana kau tahu?"

"Eh...." Salima membelalakkan mata. "Semua orang tahu bahwa api adalah panas, suheng. Kenapa kau tanyakan ini?"

"Tidak, aku tahu bahwa api adalah panas, sumoi. Tapi jangan potong pertanyaan itu dengan pertanyaan pula?" Kim-mou-eng menukas. "Kau jawab saja dari mana kau tahu bahwa api ini adalah panas!"

Salima tertegun. "Aku tahu karena aku...."

"Ya...."

"Sadar bahwa api itu panas!"

"Ha ha, itulah, sumoi. Itu yang dimaksud suhu dengan semua pertanyaan ini. Sadar! Ya, itulah. Itu yang diinginkan suhu bahwa kita harus sadar bahwa api adalah panas, bahwa kejahatan adalah buruk dan bahwa perbuatan perbuatan tak baik selamanya merugikan daripada menguntungkan kita! Suhu hendak menerangkan kepada kita bahwa kita harus MEMILIKI KESADARAN akan setiap pengalaman yang kita jumpai. Bahwa kesadaran itu demikian penting karena kesadaran itulah yang akan menyelamatkan kita. Bahwa tanpa kesadaran setiap pengalaman menjadi tidak berarti seperti nasi yang mubazir di atas meja! Ha-ha, kau mengerti, sumoi? Kau dapat menangkap apa yang dimaksudkan suhu?"

Salima bengong. Tiba-tiba ia membuka matanya lebar-lebar mendengar kata-kata subengnya ini. Hok-kauwsu juga tertegun dan mengangguk-angguk. Tanpa sadar mereka berdua telah digiring pada kenyataan hidup yang penting ini. Bahwa pengalaman itu diibaratkan api oleh Bu-beng Sian-su, atau apa saja yang lalu lalang di depan kehidupan mata.

Bahwa pengalaman adalah obyek di luar, sementara yang lebih penting, yang ada di dalam, kesadaran itu sendiri, memang harus dimiliki karena kesadaran akan pengalaman itu jauh lebih berharga daripada pengalaman itu sendiri. Ibarat nasi di depan mulut, kalau lagi sakit gigi dan rahang tak dapat digerakkan bukankah nasi atau pengalaman itu sendiri menjadi sia sia? Dan Salima serta Hok-kauwsu yang bengong oleh wejangan ini tiba-tiba meremas jari mengangguk-angguk, mendecak, kagum bukan main.

"Luar biasa, sekarang aku mengerti!" Salima berseru.

"Ya, aku juga mengerti, taihiap," Hok-kauwsu ikut berseru. "Apa yang dimaksud suhumu memang benar!"

Kim-mou-eng seolah mendapat durian runtuh. Dia sendiri gembira dapat menerangkan hal itu pada sumoinya dan Hok kauwsu. Tapi ketika sumoinya bertanya apakah kesadaran itu sendiri cukup tiba-tiba pendekar ini mengerutkan kening. "Apa maksud mu sumoi?"

"Aku maksudkan apakah hanya dengan kesadaran itu seseorang sudah bisa menjadi baik, Suheng. Apakah tidak ada hal-hal lain yang barangkali bisa dikatakan di sini."

Kim-mou-eng bingung. "Aku kira begitu, sumoi. Kesadaran itu sendiri sudah merupakan penangkal paling ampuh untuk merobah kejahatan seseorang."

"Kau dapat memberinya contoh?"

"Wah, kenapa mendesak? Sebaiknya tanya saja pada suhu!" dan Kim-mou-eng yang nyengir tak berani menjawab tiba-tiba kembali pada suhunya. "Suhu, bagaimana ini? Apakah kesadaraan itu masih perlu ditunjang faktor faktor lain?"

"Bagaimana menurut dirimu sendiri?"

"Teecu tak berani menjawabnya, suhu. Tapi kelihatannya kesadaran itu sendiri sudah cukup!"

"Ha-ha, bagaimana menurut pendapatmu, Salima?"

"Teecu, hmm.... teecu rasa ada yang kurang, suhu, tapi apa itu teecu tak dapat memberitahunya. Sepertinya ini masih kurang klop!"

"Bagus, kau cerdik!" dan Bu-beng San-su yang tertawa memandang muridnya tiba-tiba berseru. "Kim-mou-eng, apa yang dikata sumoimu memang benar. Ada sesuatu yang harus ditambahkan di sini, sesuatu sebagai pendukung. Kau tahu apa sebenarnya itu?"

"Mana teecu tahu suhu? Teecu kira kesadaran itu sendiri sudah cukup!"

"Tidak, masih ada yang kurang. Dan untuk itu marilah kita kembali ke persoalan pokak!" Bu-beng Sian-su yang berseri-seri memandang muridnya lalu melanjutkan, "Sekarang kita tahu inti jawaban dari syair itu, anak-anak. Bahwa yang di maksud adalah kesadaran akan pengalaman, bahwa baris pertama yang kumaksud itu adalah pengalaman sendiri, pengalaman yang lalu lalang di depan mata dan karena kita tahu pengalaman dibagi dua kelompok besar maka kita berpijak di antara satu dari mereka dulu. Kalian tahu apa dua kelompok besar pengalaman itu?"

Kim-mou-eng dan temannya ragu-ragu. "Mereka adalah pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain, ini yang kumaksud. Pengalaman terbagi dua kelompok besar itu yang dialami diri sendiri dan yang dialami orang lain. Dan karena kita akan membahas ini biarlah kuambil contoh sebuah gambaran yang nyata, lihat selir kaisar itu. Eh, kalian sudah mengetahui riwayatnya, bukan?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba berhenti, bertanya pada muridnya dan Kim-mou-eng serta Salima mengangguk. Mereka telah mendengar itu dari Hok-kauwsu, meskipun sebenarnya sedikit banyak juga telah mendengar tentang selir itu dari orang lain, Kim-taijin umpamanya. Dan Bu-beng Sian-su yang tersenyum memandang muridnya itu kembali berkata,

"Nah, aku telah mengetahui tentang selir ini sejak masa mudanya. Dia patut dikasihani. Dia korban ketidaksadaran akan pengalaman. Kalian mengerti apa yang kumaksud?”

“Tidak."

"Kalau begitu dengar. Selir ini sebagaimana kalian tahu begitu tergila-gila akan harta benda duniawi. Masa remajanya sangat menyedihkan, rakus akan uang dan tamak akan kesenangan-kesenangan lain. Da terseret oleh hawa nafsunya sendiri hingga terjerumus dalam dosa. Kian lama kian bertumpuk hingga dia pun ambisus akan kekuasaan, jenjang hidupnya meningkat cukup pesat. Dari bekas perawan dusun tiba-tiba menjadi selir kaisar, dalam waktu beberapa tahun saja, di saat umurnya sekitar dua puluh dua tahun. Dan karena ia mengejar-ngejar hidup enak dan tidak peduli akan apa yang baik atau apa yang buruk maka selir ini menghalalkan segala cara untuk mencapai maksud tujuannya. Menina bobok pembesar-pembesar dan menipu mereka itu demi uang dan harta. Kalian tahu itu. Hok-kauwsu mungkin lebih tahu lagi. Dan karena kita lihat tindak-tanduk selir ini yang kian hari kian menggila maka pengetahuan apa yang dapat kalian simpulkan dari kejadian ini, Kim-mou-eng?"

"Teecu melihatnya sebagai wanita yang tamak, suhu. Gila uang dan gila kedudukan!"

"Benar, dengan lain kata apa?"

"Perempuan jahat!"

"Ah, bukan itu yang kumaksud. Jahat atau tidaknya seseorang dimulai dari sini, dari pengalaman itu. Dari MENGHINDARINYA seseorang akan sebuah kenyataan. Selir itu menghindari kenyataan ini, fakta hidup yang tak dapat dielakkan. Dan karena dia menghindari kenyataan itu, pengalaman itu, didukung oleh ketidaksadarannya akan pengalaman itu maka dia terjerumus semakin dalam dan tersesat!"

"Hm..." Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu tidak mengerti."

"Tentu, aku akan membuat kalian mengerti, muridku. Sabar, sekarang kulanjutkan. Tadi telah kukatakan bahwa selir ini menghindari sebuah kenyataan hidup, sadar atau tidak sadar. Dan karena dia menghindari kenyataan itu dan terbawa oleh nafsunya sendiri lalu dia terjebak dan terperangkap di situ. Apa kenyataan hidup yang kumaksudkan di situ?"

Kim-mou-eng menggeleng.

"Bukan lain fakta Im dan Yang, enak dan tidak enak dan apa saja yang berlawanan sifatnya di muka bumi ini."

"Hm,... Yin dan Yang? Enak dan tidak enak?"

"Ya, kau lihat, muridku. Adakah di dunia ini kehidupan yang terus-menerus enak? Adakah peristiwa di dunia ini yang terus menerus menyenangkan? Adakah salah satu sisi saja dari kenyataan ini yang hidup abadi? Tidak, hidup sudah berpasangan seperti itu, muridku. Ada enak dan tidak enak, ada senang dan tidak senang. Ada susah dan bahagia. Dan karena selir itu mencoba mencari dan mendapatkan yang satu saja dan menghindari yang lain, maka dia terperangkap dan akhirnya berakhir dengan cara yang begitu menyedihkan!"

Kim-mou-eng terkejut, mulai menangkap inti sarinya. "Jadi suhu hendak maksudkan bahwa selir ini pemburu kesenangan pengelak ketidaksenangan?"

"Ya, bukankah begitu kita lihat? Selir ini memburu-buru kesenangan, mengejar-ngejar harta dan kedudukan. Dan karena dia tidak memiliki kesadaran akan pengalaman itu, akan enak dan tidak enak, maka dia terperosok dan terbanting hancur di saat ajal menjelang tiba. Padahal pengalaman, kenyataan hidup itu, telah memberi tahu manusia bahwa tak mungkin manusia mendapatkan satu sisinya saja sementara sisi yang lain ditinggalkan! Kau mengerti?"

Kim-mou-eng terbelalak, mengangguk-angguk, ingin mengerti lebih lanjut. "Jadi suhu hendak menyatakan bahwa ketidakenakan harus dirasakan manusia juga? Manusia harus mencari ketidakenakan ini?"

"Ah, aku tidak berkata 'mencari', muridku. Keenakan atau ketidakenakan akan datang secara otomatis kepada manusia, melalui hukum sebab dan akibat. Kita tak perlu mencari, ini harus kau mengerti. Dan karena enak dan tidak enak itu selalu berganti menghampiri manusia dan hal ini tak dapat dihindari maka tak seharusnya manusia menghindar kalau kebetulan yang tidak enak itu datang."

"Maksud suhu?"

"Kita tak perlu lari kalau ketidakenakan ini datang, muridku. Melainkan MENGATASI bagaimana ketidakenakan itu bisa berobah. Ini yang kumaksud, ini yang harus dikerjakan manusia. Jadi, bukan dengan menghindar dan cari yang enak enak saja seperti yang telah dilakukan selir itu!"

"Ah....!" Kim-meu-eng terkejut. "Tapi sudah menjadi watak manusia untuk mencari yang enak enak, suhu. Sudah menjadi kodrat manusia agaknya bahwa ketidakenakan dibenci orang sedunia!"

"Betul, namun kenyataan hidup ini, enak dan tidak enak ini, sudah merupakan 'benda' yang ada di permukaan bumi, muridku. Tak mungkin orang dapat menolaknya agar melulu yang enak-enak saja yang datang. Seperti halnya malam dan siang, gelap dan terang, dapatkah manusia menerima yang satu dan menghindari yang lain? Mungkinkah bumi harus terang sepanjang masa dan dewa gelap dibuang? Mungkinkah itu?"

Dan ketika muridnya tertegun dan Hok-kauwsu serta Salima mengangguk-angguk maka kakek ini melanjutkan lagi, "Karena itu manusia harus menghadapi ketidakenakan ini, muridku. Dia harus mengatasi ketidakenakan itu kalau kebetulan yang datang adalah ketidakenakan, bukan menghindar dan lari seperti yang dilakukan selir itu. Jadi, kita harus menerima kedua-duanya dan bersikap adil terhadap diri sendiri!"

"Adil terhadap diri sendiri?”

"Ya, bukankah ini satu permulaan yang baik? Untuk mencapai hidup yang bahagia diperlukan satu keseimbangan. Manusia harus menerima ketidakenakan pula kalau dia mau menerima apa yang dinamakan enak. Dan kalau dia tidak mau menerima apa yang dirasa tidak enak maka dia harus adil pula untuk menolak yang enak!"

"Hah....!”

"Ya, bukankah begitu? Kalau manusia menolak yang tidak enak dia juga harus menolak yang enak, muridku. Baru kalau begini tercipta keadilan di dalam diri manusia sendiri. Tapi kenyataannya lain, manusia tidak sportif. Manusia tidak gentelmen. Manusia hanya mau yang enak enak saja sementara yang tidak enak disingkiri atau dicampakkan!"

Kim-mou-eng ternganga. Sekarang dia takjub memandang gurunya. Ini bukan main. Gurunya telah menyinggung-nyinggung tentang keadilan pula. Menelanjangi ketidakadilan manusia terhadap pemberian Tuhan. Enak dan tidak enak sudah turun dari 'atas'. Tapi yang mau diterima manusia hanya yang enak-enak saja. Yang tidak enak, yang menyebalkan itu dijauhi dan dihindari seperti orang menghindari penyakit kusta!

Padahal, kalau manusia mau bersikap adil bukankah yang tidak enak itu juga harus diterima? Atau, kalau yang tidak enak itu tidak diterima maka yang enak juga harus ditolak. Tapi fakta mengatakan lain. Manusia tidak begitu. Manusia mau menangnya sendiri. Manusia bersikap tidak adil atas pemberian Tuhan dan manusia terjerumus dalam keserakahannya yang cenderung mau enaknya sendiri. Sungguh sifat begini tidak menunjukkan kedewasaannya. Persis kanak-kanak saja, yang merengek dan mungkin mencak-mencak kalau tidak diberi kembang gula tapi kalau sudah diberi belum tentu berterima kasih. Dan Kim-mou-eng bengong tak dapat berkata-kata, tiba,tiba menggigil meremang seluruh tubuhnya.

“Suhu kau benar. Manusia persis seperti itu...” Kim-mou-eng tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, pucat jangan-jangan dia pun begitu. Sadar atau tidak sadar.

Tapi suhunya tertawa menarik bangun muridnya tiba-tiba berkata. "Pembicaraan belum selesai bangunlah!”

Kim-mou-eng berdiri terhuyung. Entah kenapa dia merasa badannya ringan, kaki bergoyang dan mata pun terbelalak berkejap kejap. Tapi ketika suhunya menepuk pundaknya dengan tenaga yang lembut membangkitkan semangatnya tiba-tiba Kim-mou-eng bersinar sinar memandang gurunya. "Suhu, teecu sekarang mengerti. Tapi teecu penasaran!"

"Tentang apa?"

"Tentang kata-katamu tadi, suhu. Tentang mengatasi ketidakenakan!"

"Ya, bagaimana?"

"Kau tadi mengatakan bahwa manusia tak usah menghindari ketidakenakan bila yang tidak enak itu datang. Bahwa manusia harus mengatasi ketidak enakan itu agar berubah. Tapi bukankah selir itu juga telah mengatasi ketidak enakannya dengan caranya sendiri."

"Maksudmu?"

"Mendiang selir itu terlihat melakukan seperti apa yang kau katakan, suhu. Dia pun mengatasi kesulitannya agar ketidakenakan itu berubah!"

Bu-beng Sian-su mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Bagaimana ini?"

"Begini, suhu. Sebagaimana kita lihat bahwa Sien Nio tergila-gila akan harta. Bahwa dia demikian rakus dan lahap akan kesenangan-kesenangan duniawi. Tentunya kita harus mengetahui apa yang menjadi sebab musababnya hingga dia begitu. Dan kita mendapatkan jawabannya, bukan lain akan ketakutannya menghadapi kesengsaraan hidup. Mendiang selir itu merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang miskin, betapa sengsaranya hidup tanpa kecukupan materi yang membuat dia haus. Dan itu mendorongnya untuk merubah nasib. Dia mulai bergerak, menjual dirinya dan menipu orang-orang lain. Bukankah ini juga salah satu kenyataan bahwa selir itu telah berusaha mengatasi ketidakenakannya, bukan menghindar?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa bergelak. "Kim-mou-eng, kau membunuh dirimu sendiri dengan pertanyaan itu. Kau mempersulit keadaan!"

"Mempersulit bagaimana, suhu? Bukankah ini juga kenyataan yang dilakukan selir itu?"

"Oh, jadi itu kau anggap mengatasi, muridku? Kau anggap apa yang dilakukan selir itu sudah sesuai? Ha-ha, itu bukan mengatasi, muridku. Melainkan meracuni dan mempersulit diri sendiri."

Kim-mou-eng terkejut. "Suhu dapat memberi penjelasan?"

"Tentu, dengarlah. Orang yang mengatasi kesulitannya adalah orang yang berjuang. Orang yang mau bekerja keras. Dia tak segan-segan membanting tulang memeras keringat untuk mengatasi kesulitannya itu. Ini arti mengatasi yang benar. Sedang selir itu, kerja keras macam apa yang dia tunjukkan? Banting tulang yang mana yang dia perlihatkan? Tidak, selir ini bukan kerja keras, muridku, melainkan potong kompas!"

"Potong kompas?"

"Ya, bukankah dia tak mau berpayah-payah? Untuk cari uang dia melacur. Untuk mendapatkan kesenangan tak segan segan dia menjual kehormatannya. Padahal, siapa didunia ini yang tidak membentur kesulitan? Siapa yang belum pernah merasa ketidakenakan? Selir ini bukan mengatasi kesulitannya, muridku, melainkan memperbesar dan menambah kesulitannya. Dia meracuni diri sendiri dan karena itu terjerat kesulitannya sendiri yang akan bertambah!"

Kim-mou-eng tertegun.

"Dengar," gurunya meneruskan. "Jangan halalkan segala cara untuk mengatasi kesulitan, muridku. Pengalaman telah menunjukkan bahwa menanam buah yang jelek akan menghasilkan bibit yang jelek pula. Kita tahu mana buruk dan mana baik. Kesalahan itu seperti kubangan lumpur, semakin dalam kita terperosok maka semakin susah pula kita mencabut kaki kita. Itu kau mengerti. Dan sekarang, kalau kita tahu cara yang jelek akan menghasilkan sesuatu yang jelek pula kenapa diteruskan? Bukankah ini tanda mau cari gampangnya saja? Orang seperti ini lagi-lagi pada hakekatnya menghindari ketidakenakan, dia tak berani menghadapi ketidak enakan itu dan akhirnya potong kompas mencari jalan pendek. Tapi ini tak membawa kebahagiaan, ketidakenakan baru akan muncul lagi dan kita harus kucing kucingan menghindari diri. Padahal, seperti kukatakan tadi seharusnya manusia menghadapi ketidak enakan itu, kalau ketidakenakan itu muncul. Tapi karena manusia memang cenderung untuk mencari yang enak-enak saja dan menjauhi yang tidak enak maka dia mau enaknya sendiri dan hancur menerima kenyataan!"

"Hm...." Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Jadi mengatasi itu sendiri harus dilakukan dengan cara yang baik, suhu?"

"Tentu, bukankah yang baik akan menghasilkan yang baik pula? Pengalaman menunjukkan itu, tapi manusia rupanya tidak mempunyai kesadaran akan pengalaman itu!" dan, ketika muridnya terpesona kakek dewa ini sudah bicara lagi, "Kau lihat, tak ada ketidakenakan yang tidak berakhir, muridku, seperti juga keenakan yang tak mungkin abadi. Baik keenakan maupun ketidakenakan seperti samudra. Sebesar-besar ketidakenakan itu atau keenakan itu, samudra itu, pasti bertemu pantainya juga. Jadi kalau ketidakenakan itu kita anggap samudra maka samudra ini akan berakhir juga karena seluas luas samudra tetap juga dia berpantai, berakhir!"

Kim-mou eng takjub. Sekarang dia mengerti lebih baik lagi, melihat bahwa yang dilakukan selir itu memang pada hakekatnya bukan mengatasi, melainkan hanya taktik menghindar dari ketidak enakan itu. Tak ada kerja keras. Tak ada perjuangan sejati. Padahal yang namanya mengatasi, tentunya terkandung maksud tindak-tanduk yang positip, bukan menghalalkan cara untuk mengatasi kesulitannya. Selir itu tidak memberi contoh yang baik. Dan ketika Kim-mou'eng mengangguk-angguk dengan muka kagum maka gurunya menyambar lagi,

"Sekarang apa yang kau lihat dari sepak terjang selir ini? Dapatkah dia sembuh kalau satu saat dia sadar?"

"Sadar?" Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu kira begitu, suhu. Orang yang sadar akan sesuatu tentunya dapat sembuh kalau kesadaran membuka hatinya!"

"Ha-ha, belum tentu, muridku. Banyak contoh di dunia ini yang tidak seperti katamu. Orang memiliki kesadaran akan sesuatu tapi keburukannya itu terus berlanjut. Lihat selir itu, lihat suhengmu. Kalau toh mereka sadar dapatkah selir ini hidup miskin seperti dulu? Dapatkah mereka berubah dan memperbaiki diri? Tidak, ada satu faktor penunjang di sini, muridku, dan faktor inilah yang sering mengganjal kebabagiaan seseorang untuk menerima perbaikan!"

"Apa itu?"

"Jangan terburu bertanya. Kuberi contoh. Seorang berjudi satu saat bisa saja dia sadar bahwa penjudi memang tidak baik, tapi kelakuannya masih tetap saja berlanjut. Dan seorang pemabok bisa saja satu saat sadar bahwa bermabok pun tidak baik tapi dia juga terus melanjutkan perbuatannya. Begitu juga penipu, pendusta maupun orang-orang yang sering ke rumah bunga (pelacuran). Apa artinya ini? Kenapa bisa begitu?"

Kim-mou-eng berpikir keras. "Mungkin karna kebiasaan, suhu. Barangkali itu yang hendak kau maksud."

"Ha-ha, benar, muridku. Memang benar. Itulah yang kumaksud: KEBIASAAN. Orang tak dapat melepaskan diri kalau kebiasaan itu belum hilang. Orang tak dapat terlepas dari cengkeramannya kalau kebiasaan ini mendarah daging. Lihat penjudi-penjudi itu, lihat pemabok-pemabok itu. Dan lihat orang lain yang terjerumus dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji. Bukankah mereka tenggelam dan semakin terseret oleh kebiasaan kebiasaan buruk itu? Bukankah mereka meneruskan perbuatannya meskipun satu saat sadar? Dan ini faktor yang mengganjal yang kusebutkan tadi, muridku. Bahwa kesadaran masih harus diikuti oleh kebiasaan. Bahwa kebiasaan kebiasaan buruk harus dirobah kalau manusia ingin menjadi baik!"

Dan Bu-beng Sian-su yang terbahak menjelaskan begitu gembira tiba-tiba membuat Kim mou-eng dan teman temannya tertegun, kagum dan semakin takjub. Tapi ketika mereka mengangguk-angguk dan Hok-kauwsu pucat dan merah berganti-ganti karena teringat perbuatannya yang lalu tiba-tiba kakek dewa ini mengebutkan lengannya.

"Nah, sekarang pembicaraan telah selesai. Kalian mengerti apa yang kumaksud. Semuanya tinggal kalian, mau baik atau buruk terserah kalian. Aku telah menjelaskan inti syair itu, pertama tentang kesadaran dan kedua tentang kebiasaan. Pengalaman pengalaman hidup akan membawa kalian lagi pada hal-hal yang baru. Ada pertanyaan?"

Kim-mou-eng dan teman-temannya menggeleng. Mereka masih terpesona oleh uraian panjang lebar ini, tentang pengalaman dan kesadaran akan pengalaman. Tentang kebiasaan dan hubungannya dengan kesadaran akan kebiasaan. Begitu menakjubkan, padahal demikian sederhana. Dan ketika mereka melenggong dan kagum bukan main mendadak guru mereka itu lenyap tertawa lembut, entah di mana.

"Suhu...!"

"Sian-su...!"

Kim-mou-eng dan Hok kauwsu berseru kaget. Mereka hanya melihat segumpal asap berkelebat di depan mereka, begitu saja dan cepat bukan main. Lewat dan mereka hanya disentuh desirannya saja. Dan ketika Salima juga berteriak terkejut tapi sang manusia dewa telah lenyap di situ maka mereka hanya mendengar suara tawa di kejauhan sana,

"Anak-anak, ada perjumpaan harus ada perpisahan. Lain kali kita bertemu lagi...!" dan bayangan si manusia dewa yang tidak nampak ada di mana tiba-tiba membuat Salima dan teman temannya melenggong.

Hok-kauwsu sendiri setelah ditarik dari awang-awang yang tinggi. Sekarang dia merasa anjlog di bumi dan sadar lagi, berkejap-kejap seakan mimpi. Tapi begitu dia membuang napas dengan muka begitu bahagia tiba-tiba lelaki ini mencium tempat di mana Bu-beng Sian-su tadi berdiri. "Sian-su, puji syukur kepada Thian Yang Maha Agung. Terima kasih atas segala wejanganmu...."

Hok-kauwsu kini mengusap air matanya, keharuan besar melanda kakek ini, masih menitik dan diusap lagi. Dan ketika salima juga sadar dan tergungcang akhirnya Kim-mou-eng mengajak temannya pergi.

"Salima, suhu tak ada lagi. Niat kita berhasil, mari kembali," dan Kim-mou-eng yang menggandeng sumoinya dengan mata menangis lalu membawa teman-temannya kembali ke tengah-tengah suku bangsa Tar-tar, disambut dan dihujani pertanyaan-pertanyaan dari Siga dan Bora.

Kim-mou-eng tak banyak bicara dan hanya tersenyum saja. Mereka beristirahat sementara pikiran masih melayang-layang pada wejangan guru mereka. Betapa indahnya. Dan ketika seminggu kemudian Hok-kauwsu ikut dijamu dan puas akan perjumpaannya dengan Bu-beng Sian-su maka kakek buntung ini mohon diri. Kim-mou-eng melihat kebahagiaan besar di wajah kakek itu. Mata yang bersinar sinar tampak begitu hidup dan bercahaya. Pendekar ini mengantar sampai di perbatasan.

Dan ketika dia kembali dan duduk dikamarnya sendiri maka Kim-mou-eng termenung dan masih terngiang-ngiang oleh wejangan gurunya itu. Betapa hebatnya. Gurunya itu betul-betul mengagumkan. Mengupas dan menelanjangi kehidupan manusia. Ketidakadilan manusia sendiri dalam menerima hidup, mau yang enak sementara menolak yang tidak enak. Padahal tak mungkin melakukan itu. Kalau manusia jujur, dan sportif, enak dan tidak enak harus dirasakan bersama. Acapkali yang tidak enak ditolak maka yang enak juga harus disingkiri. Begini baru adil.

Tapi, ah, siapa yang menolak kehidupan enak? Barangkali orang orang tidak waras yang melakukan begitu. Orang begini malah dianggap tidak normal. Yang normal adalah itu menerima yang enak menolak yang tidak enak. Tapi ini pun ternyata keliru. Kehidupan merupakan dua muka. ini fakta, enak dan tidak enak. Jadi betul gurunya itu bahwa manusia tak dapat menghindar dari dua keadaan ini. Jangan menghindar, itu yang penting. Hadapilah. Atasilah.

Dan ketika pikirannya melayang-layang pula pada kebiasaan manusia tentang buruk dan baik tiba-tiba Pendekar Rambut Emas menarik napas panjang. Kebiasaan yang buruk, memang susah dibuang. Ini pun dapat dilihat dalam pengalaman hidup yang dialami diri sendiri dan orang lain. Lihat penjudi-penjudi itu, lihat pemabuk-pemabuk itu dan lihat lagi yang lain di kiri kanan. Penipu, pendusta, pemboros atau apa saja yang dapat di sebut lagi. Berderet dan merupakan anak tangga yang tak habis-habis dihitung.

Luar biasa, manusia merupakan mahluk paling pandai membuat kesalahan. Padahal kesalahan, seperti kata gurunya, seperti kubangan lumpur yang menjerat manusia sendiri. Semakin dalam kubangan ini semakin susah mencabut kaki yang terbenam. Walhasil, semakin banyak kesalahan yang dibuat semakin repot pula membebaskan dirinya. itu fakta.

Lalu, apa artinya? Ini artinya pengalaman. Pengalaman yang terjadi sehari-hari. Tapi kenapa manusia masih banyak yang melakukan Kesalahan juga? Kenapa menerus-neruskan kesalahan? Bukan lain karena kebiasaan, yang buruk tentu saja, karena yang baik harus dipupuk dan ditingkatkan. Tapi karena pengalaman itu sendiri adalah sebuah "obyek" di luar dan yang lebih penting lagi adalah menyadari akan pengalaman itu sendiri ,maka Kim-mou-eng mengangguk-angguk dan merasa sependapat.

Memang benar, orang menjadi pandai bukan karena pengalaman melainkan sadar akan pengalamannya itu. Tapi sadar akan pengalaman sendiri masih tak cukup. Dalam banyak hal juga harus ditunjang faktor kebiasaan, yang buruk dibuang diganti yang baik. Dan dia telah melihat hal ini pada Sien Nio dan suhengnya. Lihat selir itu, bukankah dia tidak memiliki kesadaran akan enak dan tidak enak? Dia pengejar yang enak penghindar yang tidak enak. Pada hal hidup tak mungkin begitu. Pengalaman, yang lalu lalang, telah memperlihatkan itu. Tapi Sien Nio tak memiliki kesadaran akan ini.

Sedang suhengnya, hm, bukankah ini "korban kebiasaan? Dulu suhengnya orang baik-baik. Tapi hegitu mulai menipu dan memfitnah mendadak suhengnya itu menjadi berobah dan kian berobah. Ini karena kebiasaan. Yang kecil lama-lama menjadi besar yang sedikit lama lama menjadi bukit. Suhengnya tak dapat melepaskan diri untuk tidak berdusta dan akan selalu berdusta. Suhunya benar, pengalaman dan kebiasaan tak kalah penting.

Dan ketika Kim-mou-eng kembali mengangguk-angguk dan menghela napas maka dia teringat empat baris kalimat itu. Suhunya tidak menjelaskan semua, tapi dia mengerti. Kalimat pertama yang dimaksud adalah pengalaman. si "benda". Sedang kalimat kedua tentu tentang dari macam ragamnya pengalaman. Bisa bermacam-macam dan berubah-ubah namun namanva tetap si pengalaman juga. Itu yang dimaksud. Sedang yang ketiga dan keempat, hm, bukankah gampang?

Yang dimaksud "menangkap" adalah kesadaran adanya kesadaran akan pengalaman itu. Sedang yang terakhir adalah kegunaan bagi diri sendiri dan orang lain. Sederhana. Memang begitu. Orang yang yang memiliki kesadaran akan sesuatu pengalaman penting. memang seyogianya membagi pengetahuan itu pada orang lain. Hidup tidak diri sendiri, manusia adalah mahluk sosial. Jadi kalau disebut berguna ganda adalah tentang bagi hasil akan pengalaman itu, Cocok!

Kim-mou-eng berseri-seri. Dia begitu bahagia akan wejangan gurunya yang luar biasa ini, kembali tenggelam akan renungannya tentang kebiasaan dan pengalaman. Tapi ketika seseorang datang mengganggu dan sebuah guncangan membuyarkan renungannya mendadak Kim-mou-eng tersentak dan tertegun. Siga dan Bora datang melapor akan hinaan kaisar. Itu, tentang Bi Nio yang diisi sebelum dimiliki Gurba. Bangsa Tar-tar merasa terhina dan tersinggung karena perbuatan kaisar dianggap merendahkan pemimpin mereka, bangsa mereka.

Pada mulanya memang tak setuju kalau Gurba menikah dengan wanita yang bukan bangsa sendiri, jadi perbuatan kaisar dianggap menghina dan merendahkan bangsa Tar-tar. Sudah memberi barang bekas terus juga ditambah"isi" yang ada di tubuh Bi Nio. Mereka tak tahu bahwa laporan Gurba adalah fitnah. Satu bukti lagi bahwa kebiasaan buruk, di sini fitnah, memang amat keji dan tidak dapat ditolerir. Kim-mou-eng sendiri tak tahu kalau itu adalah fitnah, akal-akalan suhengnya karena waktu itu Gurba diharuskan menggerakkan bangsa Tar-tar untuk menuruti kemauan Wan Cu.

Dan ketika Siga dan Bora menyatakan bahwa bangsa mereka minta agar kaisar meminta maaf dan datang ke suku bangsa Tar-tar untuk pernyataan maafnya itu maka Kim-mou-eng terbelalak dan mengerutkan keningnya. Bangsa Tar-tar menghendaki kaisar mengakui kekeliruannya, atau kalau tidak mereka akan menyerbu dan menyerang kaisar. Ini masalah kehormatan. Itulah sebabnya dulu mereka menyerang istana karena Gurba mengatakan terhina.

Baru sekarang Kim-mou-eng tahu dan tertegun. Dan ketika bangsa Tar-tar menghendaki dia mengambil keputusan dan bersiap untuk perang maka Kim-mou-eng terhenyak karena dialah sekarang yang dianggap pemimpin. Berat! Pendekar Rambut Emas ini termangu-mangu. Masalah kehormatan memang masalah yang mahal. Apalagi kalau sudah merupakan kehormatan bangsa. Perbuatan kaisar memang dirasa keterlaluan. Kim-mou-eng merah mukanya dan mulai tersinggung!

Betapa pun, dia masih muda dan gelegak darah mudah mendidih. Urusan perempuan tiba-tiba mengingatkannya akan Cao Cun dan Wan Hoa, juga sumoinya. Tiba-tiba pendekar ini menahan napas karena urusan itu mengingatkan dirinya sendiri akan persoalan pribadi. Sumoinya masih menanti sementara di pihak lain Cao Cun juga menunggu janjinya. Kim-mou-eng tiba-tiba berdetak dan mukapun menjadi muram. Sungguh tidak enak persoalan ini. Tidak enak!

Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan teringat akan wejangan gurunya tentang hidup tiba-tiba pendekar ini mendesis mengepal tinju. Yang tidak enak sekarang datang. Persoalan baru. Dia tak boleh menghindar karena persoalan itu harus dihadapi, begitulah kata gurunya. Dan ketika bangsa Tar-tar menunggu keputusannya dan memberinya waktu satu minggu maka pendekar ini tercenung dan berdebar. Apa yang akan dia lakukan? Keputusan apa yang dia ambil?

Sayang sekali, pembaca yang budiman. Karena ini adalah persoalan baru dan harus pula diselesaikan dengan cara yang "baru" maka kisah ini harus ditutup. Syair Bu-beng Sian-su telah di buka. Tentang pengalaman dan kesadaran akan pengalaman. Materi pokok tentang ini sudah selesai. Persoalan Kim-mou-eng tentang bangsanya itu akan penulis ceritakan dalam kisah yang lain: Pedang Tiga Dimensi.

Dalam cerita itu Anda akan berjumpa dengan sebutir syair baru yang lain, juga tentang kehidupan. Bu-beng Sian-su akan tampil kembali dalam wejangannya yang berikut. Anda suka mendengarnya? Saya akan menyajikannya untuk Anda. Mudah-mudahan Anda tak bosan untuk mengikuti. Pembaca yang budiman, karena bagian ini sudah selesai penulis terpaksa memutuskannya untuk menginjak cerita yang berikut. Syair tentang "pengalaman itu sudah dikupas. Bab ini selesai, Anda boleh merenungkannya untuk melihat salah benarnya.

Pengalaman, hendak saya tegaskan, adalah penting. Pengalaman itu bukan tidak penting. Tidak. Pengalaman adalah tetap penting. Tapi, seperti yang Anda lihat, KESADARAN akan pengalaman itu sesungguhnya lebih penting lagi. Juga tentang kebiasaan, tentu saja yang buruk. Kebiasaan begini meracuni manusia. Karena itu, menariknya dari dua hal ini, tentang pengalaman dan kebiasaan mudah-mudahan kita, manusia, dapat terbebas dan hidup mencapai kebahagiaan. Hidup memang sukar, tantangan dan halangan ada saja di depan mata.

Tapi, seperti kata Bu-beng Siansu, itulah hidup. Yang enak dan tidak enak harus dirasakan juga. Tak mungkin kita menghindar. Jangan menghindar, itulah yang penting. Anda setuju? Ah, setuju atau tidak setuju sebenarnya kurang diperlukan di sini. Yang diperlukan adalah melihat kebenaran itu. Bukan kebenaran pribadi atau seseorang melainkan kebenaran Alam. Ini yang penting.

Pembaca yang budiman, karena saya harus mengakhiri cerita ini maka maaf jika diputus. Ada sesuatu yang hendak saya tambahkan sedikit. Anda masih ingat wejangan Bu-beng Sian-su di cersil Pedang Medali Naga? Di situ disebut-sebut tentang "tumpul" (jilid terakhir). Nah, sekarang ketahuan. Dulu Kun Houw bertanya-tanya tentang ini, kenapa kesadaran bisa "tumpul". Sekarang kita tahu karena tumpulnya itu dibuat oleh kebiasaan yang jelek. Itulah! Anda mengerti? Mudah mudahan begitu.

Pembaca yang budiman, kini saya benar-benar hendak mengakhiri cerita ini. Harapan saya tiada lain ialah mudah-mudahan kisah ini berguna bagi Anda. Mudah-mudahan kita tak perlu diselomot untuk mendapatkan sebuah kesadaran, seperti Kim-mou.eng itu. Dan karena kisah ini sudah berakhir maka penulis mohon diri untuk jumpa di kisah berikutnya. Salam bahagia untuk Anda...!

TAMAT

Pendekar Rambut Emas Jilid 28

PENDEKAR RAMBUT EMAS
JILID 28
KARYA BATARA


Cerita Silat Mandarin Karya Batara
Mayat Wan Cu dikubur. Sien Nio tak dimakamkan karena minta dibakar, kakek inilah yang membakarnya dan menunggu sampai jenasah itu menjadi abu. Salima diam-diam heran dan tertarik memandang kakek ini. Kim-mou-eng juga begitu, sekarang mereka mengenal bahwa kakek ini adalah pelayan Kim-taijin. Bertahun-tahun bekerja di sana tapi jarang memperlihatkan diri, itulah sebabnya Kim-mou-eng maupun sumoinya tak pernah melihat kakek ini meskipun Kim-taijin merupakan sahabat mereka. Dan ketika mereka mau meninggalkan tempat itu dan kakek itu menunggui jenasah Sien Nio di atas api tiba-tiba kakek ini menghampiri mereka.

"Kim-taihiap. boleh aku meminta sesuatu?"

"Apa?"

"Aku ingin ikut kalian keluar tembok besar, taihiap. Aku ingin menjumpai guru kalian si manusia dewa Bu-beng Sian-su!"

"Ah, kau mengenalnya?"

"Dua puluh tahun yang lalu aku ditolongnya taihiap. Kini aku ingin menghadapnya dan mendengar petuah-petuahnya yang manjur."

"Hm!" Kim-mou-eng tertegun. "Suhu kami itu jarang menemui kami, kauwsu. Dia datang dan pergi sesuka hatinya. Kalau memang ada jodoh baru kita bisa menemuinya. Bagaimana kami menjanjikannya kepadamu?"

"Aku tahu, taihiap. Dan aku bersabar untuk menunggu saat bersejarah itu. Aku ingin mendengar wajangannya sebelum ajalku tiba."

"Baiklah, nanti kita berjumpa lagi, kauwsu. Selamat tinggal!" dan Kim-mou-eng yang turun mengikuti rombongan Bu-ciangkun tiba-tiba berkelebat dan mendahului rombongan ini. Sumoinya menyusul dan menggandeng lengannya, sebentar kemudian hilang di balik pohon-pohon besar di mana orang kagum memandang mereka. Pendekar Rambut Emas dan sumoinya itu memang orang-orang gagah. Orang yang memiliki kepandaian tinggi dan hebat. Dan ketika mereka tiba di istana dan Kim-taijin menyambut mereka ternyata pangeran mahkota muncul pula dengan wajah berseri-seri.

"Taihiap, ayahanda kaisar selamat. Kini beliau menunggu kalian di ruang dalam!"

Kim-mou-eng tertegun. "Siapa yang menyelamatkannya?"

"Yu twako, taihiap. Saudara Yu Bing. Dia memiliki Pek-houw-cu (Mustika Harimau Putih) yang kebetulan dibawa!"

Kim-mou-eng terkesima. Sekarang dia ingat bahwa Yu Bing memang memiliki mustika itu, mustika anti racun yang dulu menyedot lukanya pula ketika dia terkena jarum-jarum Tok-gan Sin-ni. Sekarang dia teringat dan menepuk dahi sendiri bahwa pemuda itu memang dapat menolong kaisar. Agaknya keterburu-buruan dan kegelisahannya tadi membuat dia lupa akan hal ini. Rasa khawatir dan marah membuat semua orang lalai. Salima pun tertegun. Dan ketika pangeran bercerita bahwa Yu Bing telah menyelamatkan kaisar dengan mustikanya itu maka Kim-mou-eng bertanya dengan suara heran,

"Bagaimana dia bisa menolong sri baginda, pangeran? Bukankah dia sendiri terluka?"

"Ini jasa Hek-eng Taihiap, Kim-mou-eng," Kim-taijin tiba-tiba berseru memotong gembira. "Pendekar Garuda Hitam itulah yang teringat mustika sahabatnya ini!" dan Kim-taijin yang lalu menceritakan perbuatan Hek-eng Taihiap yang menolong temannya dan ganti Yu Bing menolong kaisar akhirnya membuat Kim-mou-eng terbelalak dan mengangguk angguk mengerti,

"Ah, pantas. Aku juga kelupaan tentang benda itu."

"Dan sekarang ayahanda mengundang dirimu. Kalian ditunggu di ruang dalam."

"Untuk apa?"

"Ayah ingin mengucapkan terima kasih, taihiap. Dan kami semua memang ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga ini!"

"Ah, kalian terlalu membesar-besarkan, ini memang sudah tugas kewajiban kami. Sebaiknya...."

Kim-mou-eng tiba-tiba berhenti, seorang laki-laki berpakaian emas muncul, dadanya Bersulam naga, ketawa dan menuruni anak tangga, Kim mou-eng terkejut karena itulah kaisar. Dan ketika semua orang cepat memberi hormat dan kaisar merangkul pendekar ini maka kaisar sudah berseru, memotong kata-kata Pendekar Rambut Emas tadi,

"Kim-mou-eng, tak ada kamus tolakan di istana ini. Aku sendiri menyambutmu. Marilah, penuhi permintaan kami dan kalian ke dalam!"

Kim-mou-eng tak dapat menolak. Kaisar sendiri telah memerlukan kakinya, melangkah menyambut mereka. Inilah satu kehormatan besar yang tak boleh di tampik. Menolak berarti menghina dan tak menghargai maksud baik orang. Dan karena Kaisar menyatakan kesungguhannya dan Kim-mou-eng melihat sri baginda betul-betul sehat kembali maka pendekar ini tak dapat menghindar dan sudah memasuki istana.

Kaisar menjamu mereka dengan makan minum yang lezat, anggur dan arak Hang-cou dikeluarkan. Mereka bercakap-cakap dan semua kejadian di ceritakan. Kim-mou-eng, menjawab pertanyaan-pertanyaan kaisar tentang Sien Nio dan para pembantunya. Dan ketika kaisar mengerutkan alis dan berkali-kali menahan marah atas rencana pemberontakan selirnya itu maka kaisar bangkit berdiri membungkuk ketika mendengar kematian Gurba.

"Thian Yang Maha Agung, semoga arwah suhengmu diterima di sisi Tuhan!"

Kim-mou-eng kerepotan. Kaisar ternyata tak membenci suhengnya itu, bahkan dapat mengerti kejahatan suhengnya. Sungguh ini di luar dugaan. Kim-mou-eng melihat betapa kasar ini adalah seorang kaisar yang bijak. Dan ketika malam itu mereka kembali meneruskan percakapan dan rombongan Bu-ciangkun melengkapi berita akhirnya sepuluh peti harta karun yang diambil kembali itu diserahkan pada Kim-mou-eng oleh kaisar.

"Aku tak ingin benda ini di sini lagi, Kim-mou-eng. Kau terimalah dan bawa sebagai tanda penghargaan kami kepada kalian berdua!"

“Ah... untuk apa? Kami tak biasa membawa-bawa harta sri baginda. Sebaiknya biar hamba kembalikan pada paduka karena kami berdua tak mengharap balas jasa!" Kim-mou-eng terkejut.

"Tidak, aku tak suka kau menolaknya, Kim-mou-eng. Kau terimalah dan bawa ini sebagai rasa terima kasih kami. Kalau tidak, kami akan menganggapmu tak mau menghargai perasaan orang lain dan mengecilkan rasa terima kasih kami."

Kim-mou-eng repot. Dia tak menduga harta begitu besar bakal dihadiahkan kaisar kepadanya. Harta yang cukup untuk hidup sampai tujuh turunan dengan cara yang mewah. Bahkan bisa untuk membangun sebuah kerajaan kecil. Tapi Kim-mou-eng yang berpandangan dengan sumoinya dan mendapat isyarat yang sudah dimengerti tiba-tiba tersenyum dan tertawa kepada kaisar.

"Sri baginda, baiklah hamba terima pemberian ini. Kami berdua mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Tapi karena kami repot membawanya dan kami masih mempunyai urusan lain biarlah hamba titipkan dulu sepuluh peti harta itu di sini. Kelak kalau hamba ke mari tentu hamba ambil hadiah ini di lain kesempatan. Harap paduka mengabulkan permintaan ini!"

Kaisar terbelalak. Dia bingung oleh kata-kata ini, tak tahu apakah Kim-mou-eng menghindarinya secara halus. Melihat bahwa Pendekar Rambut Emas bukan seorang rakus yang lahap akan harta, padahal banyak orang ngiler kalau melihat sepuluh peti harta itu. Buktinya telah terjadi banjir darah gara-gara harta karun ini. Tewasnya Coa-ong dan Tok-gan Sin-ni serta yang lain-lain. Tentu saja kaisar semakin kagum dan terheran-heran oleh sikap Kim-mou-eng ini. Tapi mendengar Kim-mou-eng akan mengambilnya di lain kesempatan dan Kim-mon-eng jelas tidak menolak pemberiannya mentah-mentah akhirnya kaisar tertawa bergelak memuji pendekar ini, melihat bahwa pendekar itu memang memiliki watak mengagumkan, di samping kepandaiannya yang mengagumkan pula.

Dan ketika malam itu kaisar menjamu Kim-mou-eng dan menjelang pagi beristirahat karena lelah maka Kim-mou-eng dan sumoinya dipersilahkan beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Kim-mou-eng memulihkan tenaga beberapa saat saja, tak lebih dari dua jam. Sumoinya juga begitu. Dan ketika hari mulai terang tanah dan kaisar serta yang lain-lain tergolek kelelahan maka Kim-mou,eng dan sumoinya sudah berkelebat meninggalkan istana setelah semalam sekalian pamit pada kaisar. Mereka tak mau diganggu segala tata cara, begitulah memang kebanyakan sifat orang-orang kang-ouw. Dan persis mereka keluar dari pintu gerbang tiba-tiba Hok kauwsu telah muncul menghadang mereka.

"Taihiap, aku ikut...!"

Kim-mou-eng terkejut. Dia teringat bahwa dia telah berjanji pada kakek ini, hampir saja kelupaan. Tapi gembira bahwa kakek itu bersungguh-sungguh menepati janjinya sendiri akhirnya Hok-kauwsu di bawa dan Kim-mou-eng melakukan perjalanan bertiga. Di sinilah Kim-mou-eng mendengar cerita tentang Sien Nio. Hok-kavwsu mengisi waktu dengan kisah si selir itu. Betapa Sien Nio mula-mula seorang gadis papa, menjadi anak angkat seorang petani miskin dan hidup sengsara di dusun Pin-loya.

Mulai menipu orang tua angkatnya karena tertarik harta untuk sebuah gelang yang digila-gilainya Sien Nio rela menukar kehormatannya dengan benda itu, menjadi kekasih Hok kauwsu dan akhirnya melayani pula para centeng di rumah Pin-loya. Hok-kauwsu tampak menyesal menceritakan bagian ini. Dialah yang menjadi gara-gara pemula. Dan ketika dia mendengar kabar pula bahwa Goh centeng dan Ban centeng mati terbunuh sementara Sien Nio kabur maka kauwsu ini dapat menduga bahwa itulah tentu hasil pekerjaan Sien Nio.

Kejadian berikut memang dia tak tahu. Hok kauwsu sendiri seperti kita ketahui telah melarikan diri dari dusun Pin loya, membawa harta curian tuan tanah itu dan dikejar tapi lolos. Sien Nio ditipunya dan ganti gadis itu terlunta-lunta. Tapi ketika Sien Niö menjadi selir dan satu persatu kehidupan bekas kekasihnya itu diselidiki dan dia mendengar bahwa Sien Nio telah melakukan keonaran pada pejabat-pejabat pemerintahan hingga terakhir Fang-taijin ditipunya maka kakek ini menarik napas panjang.

"Sien Nio tak hanya tamak akan harta, taihiap. Tapi juga mulai berambisi akan kedudukan dan kekuasaan. Dia memang hebat, berhasil tapi akhirnya hancur oleh sepak terjangnya yang berlebih-lebihan. Aku berdosa kepadanya sejak awal mula kejadian itu!"

Kim-mou-eng mengerutkan kening. Hok-kauwsu lagi-lagi menyatakan penyesalannya, terus mendengarkan sementara Salima diam-diam mencibir. Cerita yang dibawa kakek ini sebenarnya memuakkan. Tapi harus dipuji keberanian kakek ini yang menceritakan semuanya dengan jujur, termasuk keburukannya sendiri bersama Sien Nio. Perbuatan-perbuatan memalukan di masa silam yang dibuat kakek ini.

Dan ketika dalam perjalanan itu Hok-kauwsu membuka semua rahasianya dan kisah selir ambisius itu dibuka tanpa tedeng aling-aling maka tiga hari kemudian mereka bertiga telah tiba di luar tembok besar. Di sini cerita Sien Nio cukup lengkap didengar, Kim-mou-eng berkali-kali menarik napas panjang dan mengerutkan keningnya. Kisah itu memang cukup menyedihkan ditutup dan mereka sudah disambut Siga dan orang-orang Tar-tar yang lain, sejenak beristirahat dan Kim-mou-eng menanyakan makam suhengnya. Dan ketika Siga menunjukkan makam raksasa itu dan Kim-mou-eng duduk bersila maka dia sudah menyuruh pergi orang-orang lain itu kecuali sumoinya dan Hok-kauwsu.

"Aku akan tinggal di sini tiga hari, kauwsu. Betahkah kau duduk bersamadhi bersama kami?"

"Tentu aku sanggup, taihiap. Tapi kalau tidak kuat pun tentu aku bertahan. Aku ingin bertemu gurumu!"

Kim-mou-eng tersenyum. Keinginan kakek ini yang selalu dikatakannya berulang-ulang membuat dia tergerak, betapa besarnya keinginan itu. Dan karena Hok-kauwsu memang benar-benar ingin menjumpai suhunya dan Kim-mou-eng juga ingin melaporkan kematian suhengnya itu maka Kim-mou-eng mengajak sumoinya menyatukan pikiran, menarik getaran-getaran tertentu agar guru mereka itu datang.

Dan begitu Salima bersila dan duduk memusatkan konsentrasi maka Kim-mou-eng dan sumoinya telah menjadi patung manusia yang tidak bergerak-gerak lagi. Hok-kauwsu kagum dan mencoba duduk bersila. Sejenak termangu dan tidak berhasil. Kematian Sien Nio masih mengguncang perasaannya. Tapi ketika dia mengeraskan sikap dan meluruskan batin tiba-tiba dengan bangga dan gembira kakek ini dapat bersamadhi juga di dekat Pendekar Rambut Emas yang sudah lebih dahulu hening dalam alam samadhinya.

Hari itu, hari pertama, tak ada yang istimewa di makam Gurba. Kim-mou-eng dan sumoinya serta Hok-kauwsu masih khusuk dalam samadhi mereka. Bahkan kini tubuh mereka tak bergeming. Napas yang keluar dari hidung Kim-mou-eng dan Salima bahkan seperti tak kedengaran lagi. Suheng dan sumoi ini telah mencapai keadaan hening yang mendekati titik puncaknya. Dalam keadaan begini biar ada gunung meletus pun tak mungkin Kim-mou-eng dan sumoinya terbangun.

Mereka telah memasukan pikiran untuk "tidur", tiga hari sebelum waktu itu tak akan mereka tergugah. Bawah sadar mereka telah melatih mereka sedemikian rupa diguncang maupun dipukul tak mungkin mereka sadar. Keadaan ini telah hampir mencapai titik beku. Dan ketika pada hari kedua Kim-mou-eng dan sumoinya telah mencapai titik puncak dari alam semedhi mereka maka getaran-getaran uap putih muncul di tubuh dua orang ini.

Ada hawa sejuk keluar dari tubuh Kim-mou-eng. Getaran uap putih itu melebar, kian lama kian melebar hingga mulai mendekati sumoinya. Tubuh Salima pun tiba-tiba mengeluarkan uap yang sama, bersatu dan akhirnya membungkus tubuh keduanya tanpa disadari, sinar keagungan muncul di wajah mereka. Segala nafsu kotor tiba-tiba lenyap, yang ada ialah cahaya kesucian yang membuat suheng dan sumoi ini tampak agung dan bersinar. Dan ketika getaran uap itu coba mendekati Hok-kauwsu dan membungkus tubuh kakek ini pula tiba-tiba bayangan tiga orang itu lenyap diselimuti kabut atau uap putih ini.

Hok-kauwsu merasa mimpi. Kakek ini serasa ditarik sebuah tenaga gaib, terangkat dan kini melayang-layang di mega yang indah. Bersama Kim-mou-eng dan Salima tersenyum-senyum di alam yang penuh kebahagian itu. Kim-mou-eng merangkul sumoinya dengan mesra, sementara salima sendiri memeluk pinggang suhengnya dengan manja. Dua kakak beradik seperuruan itu tampak bahagia. Hok kauwsu iri dan menelan ludah. Dan ketika mereka bertiga melayang-layang di mega yang indah itu dengan gerak dan bahasa masing-masing, lewat pandang mata, mendadak segumpal halimun aneh muncul di tengah-tengah mereka tanpa diketahui dari mana datangnya. Seperti iblis!

“Kim-mou-eng, ada apa kalian memanggil manggil aku?"

Hok-kauwsu terkejut. Kim-mou-eng dan sumoinya tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, mereka menyentuh permukaan mega yang lembut. Hok-kauwsu terbelalak karena dia mendengar suara dari dalam halimun itu. Suara tanpa rupa. Dan ketika Kim-mou-eng dan sumoinya menyebut "suhu" pada suara di balik halimun ini mendadak Hok-kauwsu tersentak karena dia sadar bahwa dia telah berhadapan dengan Bu-beng Sian-su, si manusia dewa.

“Sian-su....!" kakek inipun menjatuhkan dirinya berlutut, kaget dan girang tapi juga gentar melihat suara tanpa rupa. Ada suara tanpa ujud. Si manusia dewa datang! Dan ketika Bu-beng Sian-su tersenyum dan mengangguk kepadanya maka kauwsu ini merasakan kejatuhan bintang sementara Kim-mou-eng dan sumoinya sudah berlutut berdampingan menghadapi guru mereka.

Bu-beng Sian-su bertanya apa maksud dua orang muda itu, kenapa mereka memanggil dirinya lewat getaran tenaga gaib. Kim-mou-eng memohon maaf dan kelihatan gentar menghadapi gurunya ini pula. Dan ketika manusia dewa itu bertanya kepada mereka berdua yang datang di tempat itu maka Kim-mou-eng segera memberi tahu kematian Gurba.

"Suheng tewas, suhu. Mohon ampun bahwa makamnya ada di bawah kaki kita."

"Hm...!" manusia dewa itu tak menunjukkan perobahan apa-apa. "Bagaimana itu terjadi? Kenapa begitu?"

Kim-mou-eng lalu menceritakan segala peristiwa. Dengan urut dan hati-hati dia menerangkan sebab-musababnya, sumoinya ikut satu dua dalam percakapan ini. Hok-kauwsu berdebar dan turut mengangguk-angguk, melihat bahwa manusia dewa itu tetap tenang dan sama sekali tidak marah atau gembira. Jalan cerita itu diikutinya dengan sesekali menghela napas panjang. Kauwsu ini tak tahu apakah artinya helaan napas itu. Wajah yang agung itu masih kelihatan saleh, sabar dan amat bijak.

Sekarang Hok kauwsu dapat melihat wajah secara samar-samar, takjub dan kagum, wajah manusia dewa itu tak dapat digambarkan dengan jelas. Dikatakan kakek tapi kelihatannya begitu muda, dikatakan muda tapi umurnya sudah ratusan tahun. Sukar digambarkan!! Dan ketika cerita itu selesai dan Kim-mou-eng menuturkan kisahnya dengan air mata menitik maka pendekar ini menyentuhkan dahinya di atas permukaan mega yang lembut, begitu menurut pandangan Hok-kauwsu.

"Teecu merasa ikut bersalah suhu. Kalau kematian suheng memang gara-gara teecu (murid) maka teecu siap menerima hukuman!"

"Hm, hanya itu saja?"

"Ya."

"Kalau begitu kau tak perlu menyesal. Hukum sebab dan akibat telah berjalan di sini. Suhengmu menerima kematian dengan wajar. Segala buah dari perbuatannya sendiri telah diterima. Semoga Tuhan Yang Maha Agung mengampuni dosa dan semua kekeliruannya!"

"Suhu tak marah?"

Kakek dewa itu tersenyum lebar. "Kim-mou-eng, untuk apa memarahi dirimu? Nasib dan tingkah laku suhengmu telah kuketahui. Apa yang terjadi di sini telah kuketahui pula sebelumnya. Untuk apa harus marah kepada mu? Tidak, kau memang tak bersalah, muridku. Aku tahu apa yang terjadi dan tahu pula apa yang harus terjadi. Urusanmu dengan suhengmu telah selesai, tapi urusanmu dengan hal-hal lain masih jauh dari selesai. Karena itu waspadalah! Kalian hanya ingin melaporkan ini saja?"

Kim-mon-eng berdetak. Ucapan gurunya yang mengandung kalimat kalimat khusus itu mendadak membuat dia tertegun, tersentak dan sekonyong-konyong sadar akan hal-hal lain itu,.Urusannya dengan sang sumoi. Urusannya dengan Wan Hoa dan Cao Cun. Dan tentu juga dengan "ekor" dari semua perbuatan-perbuatan awal. Kim-mou-eng tiba-tiba sadar dan terkejut bahwa gurunya ini memang bukan orang sembarangan. Manusia dewa yang sakti dan waskita. Agaknya mengetahui pula sepak terjangnya secara diam-diam, dari jauh tapi selalu tepat karena gurunya ini memang manusia dewa! Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan pandang matanya bergerak penuh tanya tiba-tiba suhunya ini tersenyum mengebutkan lengan.

"Muridku, tak ada lagi yang hendak kau bicarakan?"

Kim-mou-eng kelu. Dia menggeleng tanpa sadar, Hok-kauwsu terkejut dan merasa kecewa. Kakek ini merasa perjumpaannya dengan si manusia dewa akan berakhir. Bu-beng Sian-su memandang Salima dan ganti menanya murid perempuannya itu. Salima juga menggeleng karena persoalan dianggapnya tak ada lagi. Suhengnya yang memimpin mereka bicara. Dan ketika kakek itu tertawa dan mengangguk angguk mendadak dia menghadapi Hok-kauwsu.

"Siapa dia ini?"

Hok-kauwsu seperti disengat kalajengking. Entah kenapa ditanya manusia dewa itu kakek ini tiba-tiba gemetar. Sekejap mukanya pias dan seolah kering darah di seluruh tubuhnya. Tapi ketika Kim-mou-eng memberi tahu dan sadar akan hadirnya orang ketiga maka kauwsu ini melipat punggung berseru menggigil. "Aku orang she Hok, Sian-su. Tiga puluh tahun yang lalu kau menolongku dari cengkeraman Srigala Hitam!"

"Hm....manusia dewa ini pun tak menunjukkan perobahan apa-apa. "Kau bangunlah, Hok kauwsu. Kau guru silat yang keracunan senjata Srigala Hitam itu?"

"Benar,“ Hok-kauwsu takjub, kagum akan daya ingat manusia dewa ini. "Itulah aku, Sian-su. Aku yang bodoh dan sial itu. Aku telah merobah cara hidupku setelah kau menolongku dulu!”

“Sudahlah, semuanya sudah lewat, kauwsu. Sekarang tak ada apa-apa lagi di antara kita. Selamat tinggal...!" dan Bu-beng Siau-su yang bergerak lenyap tak tahu kemana perginya. Tiba-tiba membuat kauwsu ini terpekik dan berteriak kecewa lngin bicara tapi tak tahu harus bicara apa. Pekiknya ini tiba-tiba mengguncang Kim-mou-eng.

Pendekar Rambut Emas tiba-tiba teringat akan sesuatu, empat baris kalimat yang pernah diberikan gurunya itu, syair yang ada hubungan dengan semua kejadian ini. Dan ketika Kim-mou-eng sadar dan pekik temannya belum hilang tiba-tiba pendekar ini berkelebat memanggil gurunya. "Suhu, tunggu...!"

Luar biasa sekali. Bu-beng Sian-su tiba-tiba muncul, datang dan sudah berada di situ lagi seperti siluman. Hok kauwsu terhenyak saking kaget dan takjubnya. Kakek dewa ini tidak kelihatan menggerakkan kaki atau tubuhnya. Dan ketika kakek dewa itu bertanya apa yang ingin dikatakan muridnya maka Kim-mou-eng sudah gemetar menjatuhkan diri berlutut.

"Maaf, teccu teringat sesuatu yang kelupaan, suhu. Tentang syair yang pernah suhu berikan itu. Mohon suhu memberi petunjuk dan membuka pikiran teecu!"

"Ah, syair yang pernah kuberikan dulu? Kau sudah tahu jawabannya?"

"Tidak, teecu tak dapat menduganya, suhu. Teccu bodoh dan rupanya terlalu bebal untuk mengupas sebait syair ini!"

Bu-beng Sian-su tertawa. Kakek dewa itu tiba-tiba berseri, Salima tertegun dan Hok-kauwsu pun tertegun. Dua orang ini bengong, mereka tak mengerti apa yang dimaksud temannya. Tapi ketika Kim-mou-eng menuntut jawaban dan kakek dewa ini tersenyum lebar tiba-tiba kakek itu bertanya dengan suara gembira, "Baiklah, sekarang kau tulis lagi syair yang kau maksud, muridku. Biar sumoimu tahu dan Hok kauwsu ini pun mendengar. Marilah, kau hafal di luar kepala, bukan?"

Kim-mou-eng mengangguk. Dia cepat berdiri menuliskan empat baris kalimat itu, sumoinya terbelalak dan Hok-kauwsu pun melebarkan mata. Kim-mou-eng bergerak cepat mengguratkan jari-jarinya. Dan ketika sebait syair muncul di depan mata dan Salima terheran-heran maka gadis ini bersama Hok kauwsu membaca empat baris kalimat yang membuat kening berkerut,

Lalu lalang di depan mata
sering berubah berganti rupa
siapa dapat "menangkap" harganya
dialah manusia berguna ganda

Salima tak mengerti. "Apa ini, suhu?"

"Diam..." suhunya tertawa, "biar suheng mu yang bercakap-cakap denganku, Salima. Kalian dengarkan saja dan mari ikuti tanya jawab ini." dan memandang Kim-mou-eng dengan wajah berseri kakek itu mulai, "Nah, apa yang kau lihat dari syair ini, Kim-mou-eng?"

"Tak ada apa-apa. Teccu tak melihatnya sebagai sesuatu yang istimewa."

"Bagus, sekarang mari kita mundur ke beberapa waktu yang lalu. Kau ingat ada hubungan apa empat baris kalimat ini ku tulis?"

"Hubungannya dengan suheng. Suhu. Ketika suheng ketahuan memfitnah teecu dan pergi dengan marah-marah."

"Hm, ada benarnya, muridku. Tapi kurang luas. Kalimat ini kutulis karena ada hubungannya dengan kehidupan. Artinya, bukan melulu suheng mu saja tapi semua orang yang terlibat. Bisa dirimu dan bisa juga yang lain. Sekarang lihat, apa bunyi kalimat pertama di atas?"

"Lalu lalang di depan mata."

"Benar. Apa yang lalu lalang? Apa yang kau lihat dalam kehidupanmu?"

Kim-mou-eng bingung.

"Ayo, kau katakan saja apa yang kau tangkap, muridku. Jangan bingung dan katakan saja apa yang telah kau lihat dalam hidupmu sehari-hari"

Kim-mou-eng menahan papas. "Teecu tak mengerti, suhu. Tapi mungkin yang suhu maksudkan adalah kejadian demi kejadian yang teecu alami, peristiwa demi peristiwa."

"Bagus, dengan lain kata apa?"

Kim-mou-eng terdiam, lagi-kagi takut salah bicara.

"Ayo, teruskan, muridku. Jawabanmu sudah mulai menginjak kebenaran dengan apa yang kumaksud. Teruskan saja, mulai..."

"Hm!" Kim-mou-eng jadi berdebar tegang. "Teecu rasa kejadian demi kejadian itu adalah cerita teecu suhu, nasib tecu atau apa yang teecu belum mengetahui."

"Sial, kau menyeleweng!" Bu-beng Sian-su menepuk dahinya. "Bukan itu yang kumaksud, muridku. Tetapi yang lebih hakiki lagi dari apa artinya kejadian-kejadian itu. Apa artinya peristiwa-peristiwa itu. Siapa dapat mengartikan pertanyaan ini dengan tepat?" Bu-beng Sian-su tiba -tiba menoleh pada yang lain. Hok kauwsu terkejut dan Salima pun tertegun.

Tapi Salima yang berotak cerdas dan dapat menangkap tutur kata gurunya tiba tiba berseru, "Pengalaman, barangkali itu yang kau maksud, suhu. Pengalaman!"

"Bagus! Cocok sekali, tepat!" dan Bu-beng Sian-su yang tertawa memuji muridnya tiba-tiba kembali pada Kim-mou-eng. "Nah, itu yang kumaksud, muridku. Bahwa kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang dialami siapapun namanya pengalaman. Itulah yang ku artikan. Sekarang kau mengerti apa yang lalu lalang dalam hidup setiap orang?"

Kim-mou-eng mendelong. "Pengalaman, suhu... pengalaman..." suaranya lirih menurun.

"Dan sekarang apa yang kau lihat tentang pengalaman itu sendiri? Dalam hal ini, apa yang kau lihat dalam sepak terjang mendiang suhengmu?"

Kim-mou-eng menggigil. "Kejahatannya, suhu. Keburukan wataknya yang menyebabkan dia diterkam maut!"

"Bagus, sekarang kita mulai menuju pokok sasarannya dengan tepat. Tapi hati-hati, pembicaraan ini harus dilakukan perlahan-lahan agar dapat kau mengerti dengan baik. Sekarang telah kau ketahui bahwa yang lalu lalang itu adalah pengalaman. itu yang kumaksud. Tapi apa yang kau tangkap dari setiap pengalaman itu sendiri? Apa yang berhasil memasuki dirimu?"

Kim-mou-eng bingung. "Tak ada apa-apa, suhu, Teecu merasa kosong dan tak mengerti akan apa yang teecu lihat."

"Itulah ketololanmu." Bu-beng Sian-su tertawa untuk ketololan ini. "Setiap orang bisa membayarnya mahal, muridku. Dan contoh untuk itu adalah perbuatan suhengmu yang berkali-kali hampir mencelakaimu, bahkan nyaris membunuhmu. Tapi karena kau tak mengerti tentang ini maka ketololanmu itu pun berjalan seperti biasa dan membuat kau semakin tolol!"

Kim-mou-eng merah mukanya.

"Sekarang kuulang pertanyaanku. Apa yang kau tangkap dari setiap kejadian kejadian itu? Apa yang kau dapat dari semuanya ini?"

Kim-mou-eng tak menjawab, gugup dan bingung. Dan ketika dia tak memberikan suaranya dan gurunya tertawa tiba-tiba kakek dewa itu memandang sumoinya.

"Kau, bagaimana, Salima? Dapatkah kau memberi jawaban apa yang seharusnya terjadi bila seseorang atau kau sendiri bertemu sebuah pengalaman?"

Salima pun bingung, "Maaf, teecu belum dapat menangkapnya, suhu. Teecu belum mengerti benar apa yang sesungguhnya suhu inginkan."

"Hm, kau bagaimana, kauwsu? Apakah kau pun tak dapat menjawabnya?"

Hok-kauwsu terkejut. Dia menggeleng dan seakan disentak olah kakek dewa itu, belum mengerti benar dan karena itu cepat-cepat menyatakan maafnya. Dan ketika kakek dewa itu menghela napas menyesali orang-orang ini akhirnya kakek itu memandang kim-mou-eng.

"Baiklah, ku tuntun kalian, anak-anak. Sekarang dengarkan baik baik apa yang hendak aku katakan ini, Kau..." kakek itu menunjuk Kim-mou-eng, "berapa kali suhengmu hendak mencelakaimu? Berapa kali dia nyaris membunuhmu?"

Kim-mou-eng mengingat-ingat. "Lebih dari sekali, suhu. Mungkin empat atau lima kali"

"Bagus, dan bagaimana tanggapanmu tentang suhengmu itu? Apa reaksimu melihat rencana suhengmu yang jahat?"

"Teecu marah, suhu. Tapi teecu tak mau membalas perbuatannya dengan sikap yang sama!"

"Benar, tapi ketololanmu ini hampir mencelakaimu lagi. Empat lima kali pengalaman membentur dirimu tapi tetap saja kau tumpul! Heh, perhatikan ini, Kim-mou-eng. Kalau suhengmu itu ku ibaratkan api dan api itu menyengatmu berkali-kali masihkah kau mau dinyonyos (dibakar) sampai kau mati? Masihkah sekali dua sengatan tak cukup bagimu untuk bersikap pintar? Kau lihat ini, Kim-mou-eng. Bagaimana rasanya dan katakan apa reaksimu...blub...!"

Bu-beng Sian-su tiba tiba menyalakan api, bergerak dan tahu-tahu mendekatkan api itu ke lengan muridnya, langsung diselomot dan Kim-mou-eng berteriak. Tentu saja kesakitan. Wajahnya pucat dan merah berganti-ganti, terkejut melompat mundur. Dia tak menyangka dan tak sempat melindungi diri. Gurunya itu telah menyelomotnya dan lengannya luka bakar! Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan Salima serta Hok kauwsu terperanjat oleh perbuatan kakek dewa ini tiba-tiba Kim-mou-eng yang terbelalak dan berseru tertahan mendadak menjatuhkan dirinya berlutut dengan wajah berseri-seri, girang luar biasa!

"Suhu, teecu mengerti. Kini teecu mengerti!"

Hok kaowsu dan Salima melongo. Mereka tak mengerti apa yang sebenarnya dimaksudkan Kim-mou-eng itu. Kenapa Bu-beng Sian-su dan Pendekar Rambut Emas ini bersikap ganjil. Masing-masing sama luar biasa. Sepintas seperti edan edanan dan tidak aturan. Guru menyelomot murid sementara murid berteriak-teriak seperti anak kecil mendapatkan kembang gula! Tapi ketika Kim-mou-eng tertawa bergelak dan menuruk mencium kaki gurunya tiba-tiba Salima dan Hok kauwsu dibuat semakin mendelong lagi.

"Suhu, terima kasih. Sekarang teecu mengerti!“

Salima membuka mata lebar-lebar. Sekarang gurunya itu tertawa. Lembut dan bergetar penuh kegembiraan seperti suhengnya pula. Mata kakek dewa itu berseri-seri. Dan ketika dia menyuruh muridnya bangun dan Kim-mou-eng tampak begitu girang luar biasa akhirnya kakek ini bertanya,

"Baiklah, apa yang kau mengerti, muridku? Pengetahuan apa yang kau dapati?"

Tapi belum Kim-mou-eng menjawab tiba-tiba Salima melompat maju. "Nanti dulu, bolehkah teecu bertanya, suhu? Benarkah suheng sudah mengerti?"

"Ha-ha, kau tanya suhengmu, Salima. Uji, benarkah dia sudah mengerti atau belum!"

Salima menghadapi suhengnya, "Suheng, benarkah kau sudah mengerti akan pertanyaan suhu? Dapatkah kau membuktikannya kepada ku?"

"Tentu," suhengnya tersenyum, berseri-seri. Aku akan membuktikannya kepadamu kalau kau tidak percaya, sumoi. Dan untuk itu biarlah aku mencontoh suhu!" Kim-mou-eng mengambil api yang dipakai suhunya, mendekati sumoinya dan memperlihatkan api itu. Sumoinya tentu saja tertegun dan mengerutkan kening. Dan ketika Salima masih tak mengerti dan bingung oleh gerak-geriknya maka Kim mou-eng bertanya, "Apa ini?"

“Api."

"Bagaimana rasanya?"

"Têntu saja panas"

"Dari mana kau tahu?"

"Eh...." Salima membelalakkan mata. "Semua orang tahu bahwa api adalah panas, suheng. Kenapa kau tanyakan ini?"

"Tidak, aku tahu bahwa api adalah panas, sumoi. Tapi jangan potong pertanyaan itu dengan pertanyaan pula?" Kim-mou-eng menukas. "Kau jawab saja dari mana kau tahu bahwa api ini adalah panas!"

Salima tertegun. "Aku tahu karena aku...."

"Ya...."

"Sadar bahwa api itu panas!"

"Ha ha, itulah, sumoi. Itu yang dimaksud suhu dengan semua pertanyaan ini. Sadar! Ya, itulah. Itu yang diinginkan suhu bahwa kita harus sadar bahwa api adalah panas, bahwa kejahatan adalah buruk dan bahwa perbuatan perbuatan tak baik selamanya merugikan daripada menguntungkan kita! Suhu hendak menerangkan kepada kita bahwa kita harus MEMILIKI KESADARAN akan setiap pengalaman yang kita jumpai. Bahwa kesadaran itu demikian penting karena kesadaran itulah yang akan menyelamatkan kita. Bahwa tanpa kesadaran setiap pengalaman menjadi tidak berarti seperti nasi yang mubazir di atas meja! Ha-ha, kau mengerti, sumoi? Kau dapat menangkap apa yang dimaksudkan suhu?"

Salima bengong. Tiba-tiba ia membuka matanya lebar-lebar mendengar kata-kata subengnya ini. Hok-kauwsu juga tertegun dan mengangguk-angguk. Tanpa sadar mereka berdua telah digiring pada kenyataan hidup yang penting ini. Bahwa pengalaman itu diibaratkan api oleh Bu-beng Sian-su, atau apa saja yang lalu lalang di depan kehidupan mata.

Bahwa pengalaman adalah obyek di luar, sementara yang lebih penting, yang ada di dalam, kesadaran itu sendiri, memang harus dimiliki karena kesadaran akan pengalaman itu jauh lebih berharga daripada pengalaman itu sendiri. Ibarat nasi di depan mulut, kalau lagi sakit gigi dan rahang tak dapat digerakkan bukankah nasi atau pengalaman itu sendiri menjadi sia sia? Dan Salima serta Hok-kauwsu yang bengong oleh wejangan ini tiba-tiba meremas jari mengangguk-angguk, mendecak, kagum bukan main.

"Luar biasa, sekarang aku mengerti!" Salima berseru.

"Ya, aku juga mengerti, taihiap," Hok-kauwsu ikut berseru. "Apa yang dimaksud suhumu memang benar!"

Kim-mou-eng seolah mendapat durian runtuh. Dia sendiri gembira dapat menerangkan hal itu pada sumoinya dan Hok kauwsu. Tapi ketika sumoinya bertanya apakah kesadaran itu sendiri cukup tiba-tiba pendekar ini mengerutkan kening. "Apa maksud mu sumoi?"

"Aku maksudkan apakah hanya dengan kesadaran itu seseorang sudah bisa menjadi baik, Suheng. Apakah tidak ada hal-hal lain yang barangkali bisa dikatakan di sini."

Kim-mou-eng bingung. "Aku kira begitu, sumoi. Kesadaran itu sendiri sudah merupakan penangkal paling ampuh untuk merobah kejahatan seseorang."

"Kau dapat memberinya contoh?"

"Wah, kenapa mendesak? Sebaiknya tanya saja pada suhu!" dan Kim-mou-eng yang nyengir tak berani menjawab tiba-tiba kembali pada suhunya. "Suhu, bagaimana ini? Apakah kesadaraan itu masih perlu ditunjang faktor faktor lain?"

"Bagaimana menurut dirimu sendiri?"

"Teecu tak berani menjawabnya, suhu. Tapi kelihatannya kesadaran itu sendiri sudah cukup!"

"Ha-ha, bagaimana menurut pendapatmu, Salima?"

"Teecu, hmm.... teecu rasa ada yang kurang, suhu, tapi apa itu teecu tak dapat memberitahunya. Sepertinya ini masih kurang klop!"

"Bagus, kau cerdik!" dan Bu-beng San-su yang tertawa memandang muridnya tiba-tiba berseru. "Kim-mou-eng, apa yang dikata sumoimu memang benar. Ada sesuatu yang harus ditambahkan di sini, sesuatu sebagai pendukung. Kau tahu apa sebenarnya itu?"

"Mana teecu tahu suhu? Teecu kira kesadaran itu sendiri sudah cukup!"

"Tidak, masih ada yang kurang. Dan untuk itu marilah kita kembali ke persoalan pokak!" Bu-beng Sian-su yang berseri-seri memandang muridnya lalu melanjutkan, "Sekarang kita tahu inti jawaban dari syair itu, anak-anak. Bahwa yang di maksud adalah kesadaran akan pengalaman, bahwa baris pertama yang kumaksud itu adalah pengalaman sendiri, pengalaman yang lalu lalang di depan mata dan karena kita tahu pengalaman dibagi dua kelompok besar maka kita berpijak di antara satu dari mereka dulu. Kalian tahu apa dua kelompok besar pengalaman itu?"

Kim-mou-eng dan temannya ragu-ragu. "Mereka adalah pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain, ini yang kumaksud. Pengalaman terbagi dua kelompok besar itu yang dialami diri sendiri dan yang dialami orang lain. Dan karena kita akan membahas ini biarlah kuambil contoh sebuah gambaran yang nyata, lihat selir kaisar itu. Eh, kalian sudah mengetahui riwayatnya, bukan?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba berhenti, bertanya pada muridnya dan Kim-mou-eng serta Salima mengangguk. Mereka telah mendengar itu dari Hok-kauwsu, meskipun sebenarnya sedikit banyak juga telah mendengar tentang selir itu dari orang lain, Kim-taijin umpamanya. Dan Bu-beng Sian-su yang tersenyum memandang muridnya itu kembali berkata,

"Nah, aku telah mengetahui tentang selir ini sejak masa mudanya. Dia patut dikasihani. Dia korban ketidaksadaran akan pengalaman. Kalian mengerti apa yang kumaksud?”

“Tidak."

"Kalau begitu dengar. Selir ini sebagaimana kalian tahu begitu tergila-gila akan harta benda duniawi. Masa remajanya sangat menyedihkan, rakus akan uang dan tamak akan kesenangan-kesenangan lain. Da terseret oleh hawa nafsunya sendiri hingga terjerumus dalam dosa. Kian lama kian bertumpuk hingga dia pun ambisus akan kekuasaan, jenjang hidupnya meningkat cukup pesat. Dari bekas perawan dusun tiba-tiba menjadi selir kaisar, dalam waktu beberapa tahun saja, di saat umurnya sekitar dua puluh dua tahun. Dan karena ia mengejar-ngejar hidup enak dan tidak peduli akan apa yang baik atau apa yang buruk maka selir ini menghalalkan segala cara untuk mencapai maksud tujuannya. Menina bobok pembesar-pembesar dan menipu mereka itu demi uang dan harta. Kalian tahu itu. Hok-kauwsu mungkin lebih tahu lagi. Dan karena kita lihat tindak-tanduk selir ini yang kian hari kian menggila maka pengetahuan apa yang dapat kalian simpulkan dari kejadian ini, Kim-mou-eng?"

"Teecu melihatnya sebagai wanita yang tamak, suhu. Gila uang dan gila kedudukan!"

"Benar, dengan lain kata apa?"

"Perempuan jahat!"

"Ah, bukan itu yang kumaksud. Jahat atau tidaknya seseorang dimulai dari sini, dari pengalaman itu. Dari MENGHINDARINYA seseorang akan sebuah kenyataan. Selir itu menghindari kenyataan ini, fakta hidup yang tak dapat dielakkan. Dan karena dia menghindari kenyataan itu, pengalaman itu, didukung oleh ketidaksadarannya akan pengalaman itu maka dia terjerumus semakin dalam dan tersesat!"

"Hm..." Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu tidak mengerti."

"Tentu, aku akan membuat kalian mengerti, muridku. Sabar, sekarang kulanjutkan. Tadi telah kukatakan bahwa selir ini menghindari sebuah kenyataan hidup, sadar atau tidak sadar. Dan karena dia menghindari kenyataan itu dan terbawa oleh nafsunya sendiri lalu dia terjebak dan terperangkap di situ. Apa kenyataan hidup yang kumaksudkan di situ?"

Kim-mou-eng menggeleng.

"Bukan lain fakta Im dan Yang, enak dan tidak enak dan apa saja yang berlawanan sifatnya di muka bumi ini."

"Hm,... Yin dan Yang? Enak dan tidak enak?"

"Ya, kau lihat, muridku. Adakah di dunia ini kehidupan yang terus-menerus enak? Adakah peristiwa di dunia ini yang terus menerus menyenangkan? Adakah salah satu sisi saja dari kenyataan ini yang hidup abadi? Tidak, hidup sudah berpasangan seperti itu, muridku. Ada enak dan tidak enak, ada senang dan tidak senang. Ada susah dan bahagia. Dan karena selir itu mencoba mencari dan mendapatkan yang satu saja dan menghindari yang lain, maka dia terperangkap dan akhirnya berakhir dengan cara yang begitu menyedihkan!"

Kim-mou-eng terkejut, mulai menangkap inti sarinya. "Jadi suhu hendak maksudkan bahwa selir ini pemburu kesenangan pengelak ketidaksenangan?"

"Ya, bukankah begitu kita lihat? Selir ini memburu-buru kesenangan, mengejar-ngejar harta dan kedudukan. Dan karena dia tidak memiliki kesadaran akan pengalaman itu, akan enak dan tidak enak, maka dia terperosok dan terbanting hancur di saat ajal menjelang tiba. Padahal pengalaman, kenyataan hidup itu, telah memberi tahu manusia bahwa tak mungkin manusia mendapatkan satu sisinya saja sementara sisi yang lain ditinggalkan! Kau mengerti?"

Kim-mou-eng terbelalak, mengangguk-angguk, ingin mengerti lebih lanjut. "Jadi suhu hendak menyatakan bahwa ketidakenakan harus dirasakan manusia juga? Manusia harus mencari ketidakenakan ini?"

"Ah, aku tidak berkata 'mencari', muridku. Keenakan atau ketidakenakan akan datang secara otomatis kepada manusia, melalui hukum sebab dan akibat. Kita tak perlu mencari, ini harus kau mengerti. Dan karena enak dan tidak enak itu selalu berganti menghampiri manusia dan hal ini tak dapat dihindari maka tak seharusnya manusia menghindar kalau kebetulan yang tidak enak itu datang."

"Maksud suhu?"

"Kita tak perlu lari kalau ketidakenakan ini datang, muridku. Melainkan MENGATASI bagaimana ketidakenakan itu bisa berobah. Ini yang kumaksud, ini yang harus dikerjakan manusia. Jadi, bukan dengan menghindar dan cari yang enak enak saja seperti yang telah dilakukan selir itu!"

"Ah....!" Kim-meu-eng terkejut. "Tapi sudah menjadi watak manusia untuk mencari yang enak enak, suhu. Sudah menjadi kodrat manusia agaknya bahwa ketidakenakan dibenci orang sedunia!"

"Betul, namun kenyataan hidup ini, enak dan tidak enak ini, sudah merupakan 'benda' yang ada di permukaan bumi, muridku. Tak mungkin orang dapat menolaknya agar melulu yang enak-enak saja yang datang. Seperti halnya malam dan siang, gelap dan terang, dapatkah manusia menerima yang satu dan menghindari yang lain? Mungkinkah bumi harus terang sepanjang masa dan dewa gelap dibuang? Mungkinkah itu?"

Dan ketika muridnya tertegun dan Hok-kauwsu serta Salima mengangguk-angguk maka kakek ini melanjutkan lagi, "Karena itu manusia harus menghadapi ketidakenakan ini, muridku. Dia harus mengatasi ketidakenakan itu kalau kebetulan yang datang adalah ketidakenakan, bukan menghindar dan lari seperti yang dilakukan selir itu. Jadi, kita harus menerima kedua-duanya dan bersikap adil terhadap diri sendiri!"

"Adil terhadap diri sendiri?”

"Ya, bukankah ini satu permulaan yang baik? Untuk mencapai hidup yang bahagia diperlukan satu keseimbangan. Manusia harus menerima ketidakenakan pula kalau dia mau menerima apa yang dinamakan enak. Dan kalau dia tidak mau menerima apa yang dirasa tidak enak maka dia harus adil pula untuk menolak yang enak!"

"Hah....!”

"Ya, bukankah begitu? Kalau manusia menolak yang tidak enak dia juga harus menolak yang enak, muridku. Baru kalau begini tercipta keadilan di dalam diri manusia sendiri. Tapi kenyataannya lain, manusia tidak sportif. Manusia tidak gentelmen. Manusia hanya mau yang enak enak saja sementara yang tidak enak disingkiri atau dicampakkan!"

Kim-mou-eng ternganga. Sekarang dia takjub memandang gurunya. Ini bukan main. Gurunya telah menyinggung-nyinggung tentang keadilan pula. Menelanjangi ketidakadilan manusia terhadap pemberian Tuhan. Enak dan tidak enak sudah turun dari 'atas'. Tapi yang mau diterima manusia hanya yang enak-enak saja. Yang tidak enak, yang menyebalkan itu dijauhi dan dihindari seperti orang menghindari penyakit kusta!

Padahal, kalau manusia mau bersikap adil bukankah yang tidak enak itu juga harus diterima? Atau, kalau yang tidak enak itu tidak diterima maka yang enak juga harus ditolak. Tapi fakta mengatakan lain. Manusia tidak begitu. Manusia mau menangnya sendiri. Manusia bersikap tidak adil atas pemberian Tuhan dan manusia terjerumus dalam keserakahannya yang cenderung mau enaknya sendiri. Sungguh sifat begini tidak menunjukkan kedewasaannya. Persis kanak-kanak saja, yang merengek dan mungkin mencak-mencak kalau tidak diberi kembang gula tapi kalau sudah diberi belum tentu berterima kasih. Dan Kim-mou-eng bengong tak dapat berkata-kata, tiba,tiba menggigil meremang seluruh tubuhnya.

“Suhu kau benar. Manusia persis seperti itu...” Kim-mou-eng tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, pucat jangan-jangan dia pun begitu. Sadar atau tidak sadar.

Tapi suhunya tertawa menarik bangun muridnya tiba-tiba berkata. "Pembicaraan belum selesai bangunlah!”

Kim-mou-eng berdiri terhuyung. Entah kenapa dia merasa badannya ringan, kaki bergoyang dan mata pun terbelalak berkejap kejap. Tapi ketika suhunya menepuk pundaknya dengan tenaga yang lembut membangkitkan semangatnya tiba-tiba Kim-mou-eng bersinar sinar memandang gurunya. "Suhu, teecu sekarang mengerti. Tapi teecu penasaran!"

"Tentang apa?"

"Tentang kata-katamu tadi, suhu. Tentang mengatasi ketidakenakan!"

"Ya, bagaimana?"

"Kau tadi mengatakan bahwa manusia tak usah menghindari ketidakenakan bila yang tidak enak itu datang. Bahwa manusia harus mengatasi ketidak enakan itu agar berubah. Tapi bukankah selir itu juga telah mengatasi ketidak enakannya dengan caranya sendiri."

"Maksudmu?"

"Mendiang selir itu terlihat melakukan seperti apa yang kau katakan, suhu. Dia pun mengatasi kesulitannya agar ketidakenakan itu berubah!"

Bu-beng Sian-su mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Bagaimana ini?"

"Begini, suhu. Sebagaimana kita lihat bahwa Sien Nio tergila-gila akan harta. Bahwa dia demikian rakus dan lahap akan kesenangan-kesenangan duniawi. Tentunya kita harus mengetahui apa yang menjadi sebab musababnya hingga dia begitu. Dan kita mendapatkan jawabannya, bukan lain akan ketakutannya menghadapi kesengsaraan hidup. Mendiang selir itu merasakan betapa tidak enaknya menjadi orang miskin, betapa sengsaranya hidup tanpa kecukupan materi yang membuat dia haus. Dan itu mendorongnya untuk merubah nasib. Dia mulai bergerak, menjual dirinya dan menipu orang-orang lain. Bukankah ini juga salah satu kenyataan bahwa selir itu telah berusaha mengatasi ketidakenakannya, bukan menghindar?"

Bu-beng Sian-su tiba-tiba tertawa bergelak. "Kim-mou-eng, kau membunuh dirimu sendiri dengan pertanyaan itu. Kau mempersulit keadaan!"

"Mempersulit bagaimana, suhu? Bukankah ini juga kenyataan yang dilakukan selir itu?"

"Oh, jadi itu kau anggap mengatasi, muridku? Kau anggap apa yang dilakukan selir itu sudah sesuai? Ha-ha, itu bukan mengatasi, muridku. Melainkan meracuni dan mempersulit diri sendiri."

Kim-mou-eng terkejut. "Suhu dapat memberi penjelasan?"

"Tentu, dengarlah. Orang yang mengatasi kesulitannya adalah orang yang berjuang. Orang yang mau bekerja keras. Dia tak segan-segan membanting tulang memeras keringat untuk mengatasi kesulitannya itu. Ini arti mengatasi yang benar. Sedang selir itu, kerja keras macam apa yang dia tunjukkan? Banting tulang yang mana yang dia perlihatkan? Tidak, selir ini bukan kerja keras, muridku, melainkan potong kompas!"

"Potong kompas?"

"Ya, bukankah dia tak mau berpayah-payah? Untuk cari uang dia melacur. Untuk mendapatkan kesenangan tak segan segan dia menjual kehormatannya. Padahal, siapa didunia ini yang tidak membentur kesulitan? Siapa yang belum pernah merasa ketidakenakan? Selir ini bukan mengatasi kesulitannya, muridku, melainkan memperbesar dan menambah kesulitannya. Dia meracuni diri sendiri dan karena itu terjerat kesulitannya sendiri yang akan bertambah!"

Kim-mou-eng tertegun.

"Dengar," gurunya meneruskan. "Jangan halalkan segala cara untuk mengatasi kesulitan, muridku. Pengalaman telah menunjukkan bahwa menanam buah yang jelek akan menghasilkan bibit yang jelek pula. Kita tahu mana buruk dan mana baik. Kesalahan itu seperti kubangan lumpur, semakin dalam kita terperosok maka semakin susah pula kita mencabut kaki kita. Itu kau mengerti. Dan sekarang, kalau kita tahu cara yang jelek akan menghasilkan sesuatu yang jelek pula kenapa diteruskan? Bukankah ini tanda mau cari gampangnya saja? Orang seperti ini lagi-lagi pada hakekatnya menghindari ketidakenakan, dia tak berani menghadapi ketidak enakan itu dan akhirnya potong kompas mencari jalan pendek. Tapi ini tak membawa kebahagiaan, ketidakenakan baru akan muncul lagi dan kita harus kucing kucingan menghindari diri. Padahal, seperti kukatakan tadi seharusnya manusia menghadapi ketidak enakan itu, kalau ketidakenakan itu muncul. Tapi karena manusia memang cenderung untuk mencari yang enak-enak saja dan menjauhi yang tidak enak maka dia mau enaknya sendiri dan hancur menerima kenyataan!"

"Hm...." Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Jadi mengatasi itu sendiri harus dilakukan dengan cara yang baik, suhu?"

"Tentu, bukankah yang baik akan menghasilkan yang baik pula? Pengalaman menunjukkan itu, tapi manusia rupanya tidak mempunyai kesadaran akan pengalaman itu!" dan, ketika muridnya terpesona kakek dewa ini sudah bicara lagi, "Kau lihat, tak ada ketidakenakan yang tidak berakhir, muridku, seperti juga keenakan yang tak mungkin abadi. Baik keenakan maupun ketidakenakan seperti samudra. Sebesar-besar ketidakenakan itu atau keenakan itu, samudra itu, pasti bertemu pantainya juga. Jadi kalau ketidakenakan itu kita anggap samudra maka samudra ini akan berakhir juga karena seluas luas samudra tetap juga dia berpantai, berakhir!"

Kim-mou eng takjub. Sekarang dia mengerti lebih baik lagi, melihat bahwa yang dilakukan selir itu memang pada hakekatnya bukan mengatasi, melainkan hanya taktik menghindar dari ketidak enakan itu. Tak ada kerja keras. Tak ada perjuangan sejati. Padahal yang namanya mengatasi, tentunya terkandung maksud tindak-tanduk yang positip, bukan menghalalkan cara untuk mengatasi kesulitannya. Selir itu tidak memberi contoh yang baik. Dan ketika Kim-mou'eng mengangguk-angguk dengan muka kagum maka gurunya menyambar lagi,

"Sekarang apa yang kau lihat dari sepak terjang selir ini? Dapatkah dia sembuh kalau satu saat dia sadar?"

"Sadar?" Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Teecu kira begitu, suhu. Orang yang sadar akan sesuatu tentunya dapat sembuh kalau kesadaran membuka hatinya!"

"Ha-ha, belum tentu, muridku. Banyak contoh di dunia ini yang tidak seperti katamu. Orang memiliki kesadaran akan sesuatu tapi keburukannya itu terus berlanjut. Lihat selir itu, lihat suhengmu. Kalau toh mereka sadar dapatkah selir ini hidup miskin seperti dulu? Dapatkah mereka berubah dan memperbaiki diri? Tidak, ada satu faktor penunjang di sini, muridku, dan faktor inilah yang sering mengganjal kebabagiaan seseorang untuk menerima perbaikan!"

"Apa itu?"

"Jangan terburu bertanya. Kuberi contoh. Seorang berjudi satu saat bisa saja dia sadar bahwa penjudi memang tidak baik, tapi kelakuannya masih tetap saja berlanjut. Dan seorang pemabok bisa saja satu saat sadar bahwa bermabok pun tidak baik tapi dia juga terus melanjutkan perbuatannya. Begitu juga penipu, pendusta maupun orang-orang yang sering ke rumah bunga (pelacuran). Apa artinya ini? Kenapa bisa begitu?"

Kim-mou-eng berpikir keras. "Mungkin karna kebiasaan, suhu. Barangkali itu yang hendak kau maksud."

"Ha-ha, benar, muridku. Memang benar. Itulah yang kumaksud: KEBIASAAN. Orang tak dapat melepaskan diri kalau kebiasaan itu belum hilang. Orang tak dapat terlepas dari cengkeramannya kalau kebiasaan ini mendarah daging. Lihat penjudi-penjudi itu, lihat pemabok-pemabok itu. Dan lihat orang lain yang terjerumus dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji. Bukankah mereka tenggelam dan semakin terseret oleh kebiasaan kebiasaan buruk itu? Bukankah mereka meneruskan perbuatannya meskipun satu saat sadar? Dan ini faktor yang mengganjal yang kusebutkan tadi, muridku. Bahwa kesadaran masih harus diikuti oleh kebiasaan. Bahwa kebiasaan kebiasaan buruk harus dirobah kalau manusia ingin menjadi baik!"

Dan Bu-beng Sian-su yang terbahak menjelaskan begitu gembira tiba-tiba membuat Kim mou-eng dan teman temannya tertegun, kagum dan semakin takjub. Tapi ketika mereka mengangguk-angguk dan Hok-kauwsu pucat dan merah berganti-ganti karena teringat perbuatannya yang lalu tiba-tiba kakek dewa ini mengebutkan lengannya.

"Nah, sekarang pembicaraan telah selesai. Kalian mengerti apa yang kumaksud. Semuanya tinggal kalian, mau baik atau buruk terserah kalian. Aku telah menjelaskan inti syair itu, pertama tentang kesadaran dan kedua tentang kebiasaan. Pengalaman pengalaman hidup akan membawa kalian lagi pada hal-hal yang baru. Ada pertanyaan?"

Kim-mou-eng dan teman-temannya menggeleng. Mereka masih terpesona oleh uraian panjang lebar ini, tentang pengalaman dan kesadaran akan pengalaman. Tentang kebiasaan dan hubungannya dengan kesadaran akan kebiasaan. Begitu menakjubkan, padahal demikian sederhana. Dan ketika mereka melenggong dan kagum bukan main mendadak guru mereka itu lenyap tertawa lembut, entah di mana.

"Suhu...!"

"Sian-su...!"

Kim-mou-eng dan Hok kauwsu berseru kaget. Mereka hanya melihat segumpal asap berkelebat di depan mereka, begitu saja dan cepat bukan main. Lewat dan mereka hanya disentuh desirannya saja. Dan ketika Salima juga berteriak terkejut tapi sang manusia dewa telah lenyap di situ maka mereka hanya mendengar suara tawa di kejauhan sana,

"Anak-anak, ada perjumpaan harus ada perpisahan. Lain kali kita bertemu lagi...!" dan bayangan si manusia dewa yang tidak nampak ada di mana tiba-tiba membuat Salima dan teman temannya melenggong.

Hok-kauwsu sendiri setelah ditarik dari awang-awang yang tinggi. Sekarang dia merasa anjlog di bumi dan sadar lagi, berkejap-kejap seakan mimpi. Tapi begitu dia membuang napas dengan muka begitu bahagia tiba-tiba lelaki ini mencium tempat di mana Bu-beng Sian-su tadi berdiri. "Sian-su, puji syukur kepada Thian Yang Maha Agung. Terima kasih atas segala wejanganmu...."

Hok-kauwsu kini mengusap air matanya, keharuan besar melanda kakek ini, masih menitik dan diusap lagi. Dan ketika salima juga sadar dan tergungcang akhirnya Kim-mou-eng mengajak temannya pergi.

"Salima, suhu tak ada lagi. Niat kita berhasil, mari kembali," dan Kim-mou-eng yang menggandeng sumoinya dengan mata menangis lalu membawa teman-temannya kembali ke tengah-tengah suku bangsa Tar-tar, disambut dan dihujani pertanyaan-pertanyaan dari Siga dan Bora.

Kim-mou-eng tak banyak bicara dan hanya tersenyum saja. Mereka beristirahat sementara pikiran masih melayang-layang pada wejangan guru mereka. Betapa indahnya. Dan ketika seminggu kemudian Hok-kauwsu ikut dijamu dan puas akan perjumpaannya dengan Bu-beng Sian-su maka kakek buntung ini mohon diri. Kim-mou-eng melihat kebahagiaan besar di wajah kakek itu. Mata yang bersinar sinar tampak begitu hidup dan bercahaya. Pendekar ini mengantar sampai di perbatasan.

Dan ketika dia kembali dan duduk dikamarnya sendiri maka Kim-mou-eng termenung dan masih terngiang-ngiang oleh wejangan gurunya itu. Betapa hebatnya. Gurunya itu betul-betul mengagumkan. Mengupas dan menelanjangi kehidupan manusia. Ketidakadilan manusia sendiri dalam menerima hidup, mau yang enak sementara menolak yang tidak enak. Padahal tak mungkin melakukan itu. Kalau manusia jujur, dan sportif, enak dan tidak enak harus dirasakan bersama. Acapkali yang tidak enak ditolak maka yang enak juga harus disingkiri. Begini baru adil.

Tapi, ah, siapa yang menolak kehidupan enak? Barangkali orang orang tidak waras yang melakukan begitu. Orang begini malah dianggap tidak normal. Yang normal adalah itu menerima yang enak menolak yang tidak enak. Tapi ini pun ternyata keliru. Kehidupan merupakan dua muka. ini fakta, enak dan tidak enak. Jadi betul gurunya itu bahwa manusia tak dapat menghindar dari dua keadaan ini. Jangan menghindar, itu yang penting. Hadapilah. Atasilah.

Dan ketika pikirannya melayang-layang pula pada kebiasaan manusia tentang buruk dan baik tiba-tiba Pendekar Rambut Emas menarik napas panjang. Kebiasaan yang buruk, memang susah dibuang. Ini pun dapat dilihat dalam pengalaman hidup yang dialami diri sendiri dan orang lain. Lihat penjudi-penjudi itu, lihat pemabuk-pemabuk itu dan lihat lagi yang lain di kiri kanan. Penipu, pendusta, pemboros atau apa saja yang dapat di sebut lagi. Berderet dan merupakan anak tangga yang tak habis-habis dihitung.

Luar biasa, manusia merupakan mahluk paling pandai membuat kesalahan. Padahal kesalahan, seperti kata gurunya, seperti kubangan lumpur yang menjerat manusia sendiri. Semakin dalam kubangan ini semakin susah mencabut kaki yang terbenam. Walhasil, semakin banyak kesalahan yang dibuat semakin repot pula membebaskan dirinya. itu fakta.

Lalu, apa artinya? Ini artinya pengalaman. Pengalaman yang terjadi sehari-hari. Tapi kenapa manusia masih banyak yang melakukan Kesalahan juga? Kenapa menerus-neruskan kesalahan? Bukan lain karena kebiasaan, yang buruk tentu saja, karena yang baik harus dipupuk dan ditingkatkan. Tapi karena pengalaman itu sendiri adalah sebuah "obyek" di luar dan yang lebih penting lagi adalah menyadari akan pengalaman itu sendiri ,maka Kim-mou-eng mengangguk-angguk dan merasa sependapat.

Memang benar, orang menjadi pandai bukan karena pengalaman melainkan sadar akan pengalamannya itu. Tapi sadar akan pengalaman sendiri masih tak cukup. Dalam banyak hal juga harus ditunjang faktor kebiasaan, yang buruk dibuang diganti yang baik. Dan dia telah melihat hal ini pada Sien Nio dan suhengnya. Lihat selir itu, bukankah dia tidak memiliki kesadaran akan enak dan tidak enak? Dia pengejar yang enak penghindar yang tidak enak. Pada hal hidup tak mungkin begitu. Pengalaman, yang lalu lalang, telah memperlihatkan itu. Tapi Sien Nio tak memiliki kesadaran akan ini.

Sedang suhengnya, hm, bukankah ini "korban kebiasaan? Dulu suhengnya orang baik-baik. Tapi hegitu mulai menipu dan memfitnah mendadak suhengnya itu menjadi berobah dan kian berobah. Ini karena kebiasaan. Yang kecil lama-lama menjadi besar yang sedikit lama lama menjadi bukit. Suhengnya tak dapat melepaskan diri untuk tidak berdusta dan akan selalu berdusta. Suhunya benar, pengalaman dan kebiasaan tak kalah penting.

Dan ketika Kim-mou-eng kembali mengangguk-angguk dan menghela napas maka dia teringat empat baris kalimat itu. Suhunya tidak menjelaskan semua, tapi dia mengerti. Kalimat pertama yang dimaksud adalah pengalaman. si "benda". Sedang kalimat kedua tentu tentang dari macam ragamnya pengalaman. Bisa bermacam-macam dan berubah-ubah namun namanva tetap si pengalaman juga. Itu yang dimaksud. Sedang yang ketiga dan keempat, hm, bukankah gampang?

Yang dimaksud "menangkap" adalah kesadaran adanya kesadaran akan pengalaman itu. Sedang yang terakhir adalah kegunaan bagi diri sendiri dan orang lain. Sederhana. Memang begitu. Orang yang yang memiliki kesadaran akan sesuatu pengalaman penting. memang seyogianya membagi pengetahuan itu pada orang lain. Hidup tidak diri sendiri, manusia adalah mahluk sosial. Jadi kalau disebut berguna ganda adalah tentang bagi hasil akan pengalaman itu, Cocok!

Kim-mou-eng berseri-seri. Dia begitu bahagia akan wejangan gurunya yang luar biasa ini, kembali tenggelam akan renungannya tentang kebiasaan dan pengalaman. Tapi ketika seseorang datang mengganggu dan sebuah guncangan membuyarkan renungannya mendadak Kim-mou-eng tersentak dan tertegun. Siga dan Bora datang melapor akan hinaan kaisar. Itu, tentang Bi Nio yang diisi sebelum dimiliki Gurba. Bangsa Tar-tar merasa terhina dan tersinggung karena perbuatan kaisar dianggap merendahkan pemimpin mereka, bangsa mereka.

Pada mulanya memang tak setuju kalau Gurba menikah dengan wanita yang bukan bangsa sendiri, jadi perbuatan kaisar dianggap menghina dan merendahkan bangsa Tar-tar. Sudah memberi barang bekas terus juga ditambah"isi" yang ada di tubuh Bi Nio. Mereka tak tahu bahwa laporan Gurba adalah fitnah. Satu bukti lagi bahwa kebiasaan buruk, di sini fitnah, memang amat keji dan tidak dapat ditolerir. Kim-mou-eng sendiri tak tahu kalau itu adalah fitnah, akal-akalan suhengnya karena waktu itu Gurba diharuskan menggerakkan bangsa Tar-tar untuk menuruti kemauan Wan Cu.

Dan ketika Siga dan Bora menyatakan bahwa bangsa mereka minta agar kaisar meminta maaf dan datang ke suku bangsa Tar-tar untuk pernyataan maafnya itu maka Kim-mou-eng terbelalak dan mengerutkan keningnya. Bangsa Tar-tar menghendaki kaisar mengakui kekeliruannya, atau kalau tidak mereka akan menyerbu dan menyerang kaisar. Ini masalah kehormatan. Itulah sebabnya dulu mereka menyerang istana karena Gurba mengatakan terhina.

Baru sekarang Kim-mou-eng tahu dan tertegun. Dan ketika bangsa Tar-tar menghendaki dia mengambil keputusan dan bersiap untuk perang maka Kim-mou-eng terhenyak karena dialah sekarang yang dianggap pemimpin. Berat! Pendekar Rambut Emas ini termangu-mangu. Masalah kehormatan memang masalah yang mahal. Apalagi kalau sudah merupakan kehormatan bangsa. Perbuatan kaisar memang dirasa keterlaluan. Kim-mou-eng merah mukanya dan mulai tersinggung!

Betapa pun, dia masih muda dan gelegak darah mudah mendidih. Urusan perempuan tiba-tiba mengingatkannya akan Cao Cun dan Wan Hoa, juga sumoinya. Tiba-tiba pendekar ini menahan napas karena urusan itu mengingatkan dirinya sendiri akan persoalan pribadi. Sumoinya masih menanti sementara di pihak lain Cao Cun juga menunggu janjinya. Kim-mou-eng tiba-tiba berdetak dan mukapun menjadi muram. Sungguh tidak enak persoalan ini. Tidak enak!

Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan teringat akan wejangan gurunya tentang hidup tiba-tiba pendekar ini mendesis mengepal tinju. Yang tidak enak sekarang datang. Persoalan baru. Dia tak boleh menghindar karena persoalan itu harus dihadapi, begitulah kata gurunya. Dan ketika bangsa Tar-tar menunggu keputusannya dan memberinya waktu satu minggu maka pendekar ini tercenung dan berdebar. Apa yang akan dia lakukan? Keputusan apa yang dia ambil?

Sayang sekali, pembaca yang budiman. Karena ini adalah persoalan baru dan harus pula diselesaikan dengan cara yang "baru" maka kisah ini harus ditutup. Syair Bu-beng Sian-su telah di buka. Tentang pengalaman dan kesadaran akan pengalaman. Materi pokok tentang ini sudah selesai. Persoalan Kim-mou-eng tentang bangsanya itu akan penulis ceritakan dalam kisah yang lain: Pedang Tiga Dimensi.

Dalam cerita itu Anda akan berjumpa dengan sebutir syair baru yang lain, juga tentang kehidupan. Bu-beng Sian-su akan tampil kembali dalam wejangannya yang berikut. Anda suka mendengarnya? Saya akan menyajikannya untuk Anda. Mudah-mudahan Anda tak bosan untuk mengikuti. Pembaca yang budiman, karena bagian ini sudah selesai penulis terpaksa memutuskannya untuk menginjak cerita yang berikut. Syair tentang "pengalaman itu sudah dikupas. Bab ini selesai, Anda boleh merenungkannya untuk melihat salah benarnya.

Pengalaman, hendak saya tegaskan, adalah penting. Pengalaman itu bukan tidak penting. Tidak. Pengalaman adalah tetap penting. Tapi, seperti yang Anda lihat, KESADARAN akan pengalaman itu sesungguhnya lebih penting lagi. Juga tentang kebiasaan, tentu saja yang buruk. Kebiasaan begini meracuni manusia. Karena itu, menariknya dari dua hal ini, tentang pengalaman dan kebiasaan mudah-mudahan kita, manusia, dapat terbebas dan hidup mencapai kebahagiaan. Hidup memang sukar, tantangan dan halangan ada saja di depan mata.

Tapi, seperti kata Bu-beng Siansu, itulah hidup. Yang enak dan tidak enak harus dirasakan juga. Tak mungkin kita menghindar. Jangan menghindar, itulah yang penting. Anda setuju? Ah, setuju atau tidak setuju sebenarnya kurang diperlukan di sini. Yang diperlukan adalah melihat kebenaran itu. Bukan kebenaran pribadi atau seseorang melainkan kebenaran Alam. Ini yang penting.

Pembaca yang budiman, karena saya harus mengakhiri cerita ini maka maaf jika diputus. Ada sesuatu yang hendak saya tambahkan sedikit. Anda masih ingat wejangan Bu-beng Sian-su di cersil Pedang Medali Naga? Di situ disebut-sebut tentang "tumpul" (jilid terakhir). Nah, sekarang ketahuan. Dulu Kun Houw bertanya-tanya tentang ini, kenapa kesadaran bisa "tumpul". Sekarang kita tahu karena tumpulnya itu dibuat oleh kebiasaan yang jelek. Itulah! Anda mengerti? Mudah mudahan begitu.

Pembaca yang budiman, kini saya benar-benar hendak mengakhiri cerita ini. Harapan saya tiada lain ialah mudah-mudahan kisah ini berguna bagi Anda. Mudah-mudahan kita tak perlu diselomot untuk mendapatkan sebuah kesadaran, seperti Kim-mou.eng itu. Dan karena kisah ini sudah berakhir maka penulis mohon diri untuk jumpa di kisah berikutnya. Salam bahagia untuk Anda...!

TAMAT