TAPAK TANGAN HANTU
JILID 36
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEH-HEH, hi-hikk... terima kasih, uhh, kau... kau baik sekali, Bi Hong... kau... kau memberiku kepuasan. Ah, aku dapat mati meram!”

“Enci Giok!”

Gadis baju merah itu terguling. Su Giok meraih tangan Bi Hong akan tetapi gagal, roboh dan sudah menghembuskan napasnya penghabisan. Mata dan bibir itu tertutup, senyum mengembang jelas di saat akhir hayat gadis baju merah ini. Dan ketika Bi Hong tersedu-sedu sementara Han Han tergetar dan terharu bukan main, maka pria ini menahan mayat gadis itu berkata kepada Bi Hong,

“Ia telah meninggalkan kita, tak guna ditangisi. Kau... hm, kau gadis luar biasa, Bi Hong. Kau melepas sesuatu yang berat sekali. Seharusnya tak perlu melakukan itu.”

“Sudahlah, aku tak ingin bicara ini. Enci Giok telah meninggalkan kita, paman, aku akan mengubur jenasahnya. Tolong kau jaga Sin Gak dan paman Giam Liong dan setelah ini kita cepat-cepat ke Hek-yan-pang!”

“Aku dapat menggali lubang.”

“Tidak, paman jaga Sin Gak dan ayahnya!” lalu ketika gadis ini membalik dan melompat iapun telah membuat lubang dengan sepotong ranting, mencokel dan menusuk sementara kedua matanya masih mencucurkan air mata tiada habis-habisnya. Tangis dan sedu-sedan gadis ini membuat Han Han tak kuat juga, melompat dan membantu dan akhirnya Bi Hong membiarkan. Sebuah lubang telah siap dengan cepat. Dan ketika gadis itu memasukkan jenasah Su Giok maka diiringi air mata bercucuran bibirnya bergumam gemetar.

“Enci Giok, aku tak dapat merawat jenasahmu lebih baik. Semuanya serba seadanya. Kau pergilah dengan tenang dan selamat jalan!” membalik dan menyambar Sin Gak gadis ini berseru, “Paman, harap kau bawa paman Giam Liong. Sekarang kita harus cepat-cepat ke Hek-yan-pang. Marilah dan jangan buang-buang waktu lagi!”

Han Han terharu dan masih tergetar oleh peristiwa itu. Gadis ini masih menangis dan diam-diam ia kagum bukan main. Ia tahu benar arti tangis itu, apalagi kalau bukan persoalan asmara. Dan karena ia juga bingung oleh si sakit yang harus cepat disembuhkan, Sin Gak dan ayahnya harus cepat mendapat pertolongan maka iapun mengangguk dan sudah menyambar tubuh Giam Liong.

Sebelum melompat pendekar ini memberi hormat didepan makam Su Giok, bibirnya bergumam menyatakan sesuatu yang tak jelas. Tapi begitu Bi Hong berkelebat dan ia tak boleh ketinggalan maka Han Han sudah meluncur dan terbang merendengi gadis ini, langsung menuju Hek-yan-pang, tempat di mana Bu-beng Sian-su menunggu.

* * * * * * * *

Tang Siu menyambut suaminya dengan tersedu-sedu. Han Han bersikap dingin namun melunakkan sikapnya melihat tangis sang isteri. Ju-taihiap, ayahnya berdiri di depan kamar Giok Cheng dengan wajah muram. Bu-beng Sian-su tak ada di situ, entah di mana. Dan ketika mau tak mau ia harus menengok puterinya, Giok Cheng pucat dan menggeletak di pembaringan maka ia bertanya kepada ayahnya apa yang terjadi dengan puterinya itu, apakah sudah mendapat pertolongan.

“Sudah, tapi... tapi sesuatu mengguncangkan isterimu. Ada hal yang tak nyaman didengar, Han Han. Giok Cheng, ia... ia tak dapat...”

“Cukup, jangan sebut itu. Aku tak mau dengar itu, gak-hu. Giok Cheng tak boleh tahu. Kalian, eh... Bi Hong ada disini!”

Ju-taihiap rupanya sadar dan cepat menutup mulut. Memang Han Han mengajak gadis ini sampai ke dalam, maksudnya mencari Bu-beng Sian-su dan mencari tahu di mana kakek dewa itu berada. Giam Liong dan Sin Gak masih di pondongan mereka. Dan ketika tiba-tiba Han Han berkerut sang ayah tak jadi meneruskan, sementara sang isteri membalik dan marah menghadapi Bi Hong maka ia cepat menghadang dan menyambar lengan isterinya ini.

“Giok Cheng sudah mendapat pertolongan, bagus. Sekarang kami akan membawa Sin Gak dan ayahnya ke Sian-su. Mana Sian-su, tak usah menyalahkan atau menegur siapapun!”

Dengan kata-kata ini Han Han hendak menyatakan kepada isterinya bahwa jangan marah-marah kepada Bi Hong. Gadis itu telah melakukan sesuatu yang mulia, wajahnya masih pucat dan bekas air mata itupun masih basah. Kalau isterinya marah-marah dan hendak melepaskan emosi salah-salah dia sendiri yang akan marah. Maka mencengkeram dan menyadarkan isterinya pendekar ini melindungi Bi Hong.

“Sian-su di belakang telaga, di atas perahu. Kalian telah ditunggu dan harap cepat ke sana saja.” Ju-taihiap mewakili dan Han Han mendapat kedipan ayahnya ini. Ada sesuatu yang serius dan hendak dibicarakan namun Bi Hong ada di situ, Han Han menangkap. Maka melepaskan isterinya menyambar lengan gadis itu pendekar ini berseru,

“Baik, kalau begitu kita ke sana. Mari, Bi Hong, Sian-su menunggu di belakang!”

Bi Hong menahan tangis dan menggigit bibirnya. Hatinya masih serasa remuk teringat pembicaraannya terhadap Su Giok. Ia tak memperhatikan dan curiga kepada tangis nyonya itu, bahkan acuh dan dingin memandang Giok Cheng yang membujur di pembaringan. Maka ketika Han Han menariknya dan mengajaknya ke luar, kebetulan baginya karena ia pun tak senang berhadapan dengan Ju-hujin itu maka gadis ini meninggalkan kamar dan Han Han berkelebat ke belakang, bagian paling belakang di mana tampak sebuah perahu bergoyang-goyang lembut dengan seorang penumpangnya yang duduk bersila.

“Sian-su!” Han Han meloncat dan berlutut di dalam perahu itu. “Maafkan kami, kami...”

“Aku tahu, duduklah. Tak perlu buru-buru dan cemas berlebihan, anak muda. Semua sudah digariskan dan letakkan Naga Pembunuh itu.”

“Dan ini...”

“Ya, letakkan pula, nona. Aku mengerti. Tinggalkan mereka dan biarkan di sini.” Kakek itu memotong, mengulapkan lengannya kepada Han Han dan Bi Hong dan gadis ini menahan isak tangis berat. Diam-diam ia mencium pinggir telinga Sin Gak. Lalu ketika kakek itu mendorong dan menyuruh pergi, Han Han tertegun maka kakek ini mengulang perintahnya dengan wajah sungguh-sungguh.

“Ya, sekarang kalian pergi. Malam nanti boleh kembali dan beristirahatlah.”

“Tapi... tapi kalau kau butuh pertolongan?”

“Tak ada yang kubutuhkan, nona, pergilah dan tenangkan hatimu. Malam nanti atau besok kalian boleh kembali.”

Bi Hong menahan lagi sedu-sedannya. Akhirnya gadis ini memutar tubuh dan ke luar perahu, Han Han termangu dan sejenak memandang kakek itu lagi. Namun ketika Bu-beng Sian-su mengangguk dan minta sendiri maka kakek itu tak mau di ganggu.

“Pergilah, aku akan menolong ayah dan anak. Kau temui anak isterimu.”

“Baiklah,” Han Han sadar, teringat isteri dan ayahnya, juga Giok Cheng. “Nanti aku kembali, Sian-su. Maaf kalau kami meninggalkanmu sendiri.”

Kakek itu menghela napas, senyumnya berat. Tapi begitu Han Han meninggalkan tempat maka kakek ini mulai melakukan pertolongan dengan memegang tubuh si sakit, menggosok dan tampak berkemak-kemik dan perahu bergoyang sedikit keras. Han Han menengok kemudian berkelebat menuju anak isterinya, namun ketika tiba-tiba ia teringat Bi Hong dan berhenti mencari gadis itu ternyata murid Song-bun-liong ini lenyap entah ke mana.

“Bi Hong!” pendekar itu memanggil. “Di mana kau!”

Akan tetapi gadis ini tak ada. Tiga kali Han Han memanggil namun tiada jawaban. Dan ketika ia mengangkat bahu menganggap gadis itu pasti kembali, betapapun Sin Gak pasti ditengok maka pendekar ini memasuki rumahnya untuk kembali bertemu isteri dan ayahnya. Giok Cheng masih telentang dengan wajah pucat, murid-murid menunduk dan tak berani mengusik.

“Bagaimana keadaannya,” Han Han langsung bertanya kepada ayahnya, sedikit tak mengacuhkan isteri. “Sembuhkah dia, ayah, apa kata Sian-su.”

“Giok Cheng sembuh, tapi dua tiga bulan lagi. Sian-su telah menolongnya, Han Han, dan bagaimana dengan Sin Gak dan ayahnya.”

“Sian-su telah menolongnya, malam nanti boleh dijenguk.” Lalu teringat isyarat ayahnya tadi Han Han bertanya apa yang hendak dikatakan ayahnya tadi. “Sekarang tak ada orang lain, Bi Hong tak di sini. Apa yang hendak ayah katakan dan kenapa Siu-moi menjerit jangan.”

“Tidak, tak usah diceritakan!” nyonya itu mengguguk. “Tak ada apa-apa dengan anak kita, Han-ko. Giok Cheng akan sehat dan tak ada apa-apa!”

“Hm, jangan merahasiakan. Kau boleh menyimpannya namun aku dapat bertanya kepada orang lain, niocu, paling tidak Sian-su. Kenapa kau begitu takut dan pucat. Ada apa dengan Giok Cheng.”

“Tak ada apa-apa, tidak sungguh, anak kita sembuh total tiga bulan lagi!”

“Namun kau tersedu-sedu. Hm, aku bukan anak kecil, Siu-moi, Giok Cheng anak kita berdua. Kau melakukan kesalahan dua kali apabila menyembunyikannya kepadaku. Sebaiknya ayah ceritakan!” Han Han mulai marah dan semakin tak senang kepada isterinya ini. Ia masih tertusuk oleh sikap isterinya yang begitu mementingkan diri sendiri, yakni ketika menyelamatkan Giok Cheng sementara di situ ada Giam Liong dan Sin Gak. Mereka juga sama-sama perlu diselamatkan namun isterinya ini tak mau perduli. Ia merasa malu terhadap Bi Hong dan Su Giok. Ia tertampar oleh sikap isterinya ini.

Tapi ketika ia mulai merah dan sang ayah tahu gelagat, Ju-taihiap bukanlah seorang pengecut maka kakek itu berkata bahwa mereka tak dapat mengharapkan cucu atau keturunan lagi, suaranya gemetar. “Giok Cheng terluka parah, rahimnya terbakar. Kalaupun sembuh seumur hidup tak dapat memberikan anak.”

“Apa?”

“Gak-hu!” Tang Siu memotong pertanyaan suaminya dengan jeritan melengking. Nyonya ini menyesal dan marah akan tetapi tak dapat berbuat apa-apa. Yang berbicara adalah mertuanya, ayah dari suaminya. Maka ketika ia membentak dan meloncat keluar segera wanita ini meninggalkan kamar dengan tangis yang mengguguk.

Han Han terkejut dan pucat sekilas, tampak bahwa kekagetan tak dapat disembunyikannya lagi. Akan tetapi ketika ia batuk-batuk dan cepat sekali menenangkan guncangan batin maka pria ini ternyata telah dapat menguasai dirinya lagi, biarpun gemetar. “Giok Cheng, anakku satu-satunya, ia... ia tak dapat memberikan keturunan, ayah? Maksudnya bahwa ia mandul seumur hidup?”

“Mari kita bicara di luar,” Ju-taihiap tak enak dan memandang gadis yang masih pingsan itu. “Sian-su mengatakannya begitu, Han Han, tapi jangan keras-keras siapa tahu ia bangun. Mari keluar.”

Han Han menggigil. Pria yang sudah matang dan berusia empatpuluhan tahun ini menekan debaran jantungnya yang berdegup kencang. Giok Cheng adalah puteri satu-satunya, ayah atau orang tua mana tak ingin membahagiakan masa depannya. Tapi ngeri bahwa anak perempuannya tak mungkin seperti wanita normal, seumur hidup tak dapat melahirkan maka pendekar ini menekan guncangan batinnya karena ia tahu betul apa artinya itu. Malapetaka bagi seorang wanita!

“Hm, maaf,” Ju-taihiap duduk dan sudah berada di ruang lain. “Aku merasakan apa yang kau rasakan, Han Han, tapi dapat lebih merasakan lagi bagaimana kalau Giok Cheng tahu keadaannya itu. Ini harus dirahasiakan!”

“Ya...” Han Han mengangguk, kosong. “Pukulan itu bakal berat untuknya, ayah, dan...dan pasti ia tak kuat.”

“Benar, tak mungkin kuat. Rumah tangga tak akan bahagia tanpa keturunan, Han Han, dan bagi wanita hal itu adalah aib.”

“Ya, aib, dan Giok Cheng, ah... sungguh tak kuduga!” Han Han yang menunduk dan menitikkan air mata tak terasa lagi menangis teringat nasib puterinya itu, hampir saja tersedak namun ia dapat menguasai diri. Alangkah berat dan tersiksanya kelak anak perempuannya itu. Alangkah malu dan tak tertanggung beban penderitaannya nanti. Dan karena wanita Han menganggap aib, wanita yang tak dapat menjadi ibu dianggap hina dan bodoh, maka Han Han memejamkan mata menggigit bibir kuat-kuat. Padahal Bi Hong telah siap memberikan kebahagiaannya kepada puterinya itu!

Hampir saja pria ini tersedu. Untunglah ayahnya yang batuk-batuk segera menyentuh lengannya mengingatkannya akan sesuatu. Seorang gagah dan jantan akan menerima apa saja dengan tabah, Ju-taihiap membisikkan itu. Dan ketika Han Han mengangguk dan bangkit berdiri akhirnya ia masuk ke kamar puterinya lagi, bersila dan bertahan kuat-kuat dan menghilangkan segala kepedihan batin. Ada Bu-beng Sian-su di situ, ada sesuatu yang pasti dapat dipetik sebagai hikmahnya. Maka ketika ia duduk bersamadhi menemani sang puteri menanti malam, ayahnya masuk dan bersila pula di sebelahnya, maka Ju taihiappun memejamkan mata dan menemani puteranya ini menguatkan batin.

Pukulan itu memang berat bagi keluarga Ju. Giok Cheng adalah satu-satunya anak perempuan mereka, satu-satunya tumpuan di mana kelak menikah dan memberikan tambahan kebahagiaan dengan anak atau cucu. Aib besar bagi wanita Han bila seorang perempuan tak dapat menjadi ibu. Kedudukan itu disamakan dengan seorang pelacur rendahan, hidup hanya untuk memberi kesenangan kepada pria dan melulu mengumbar nafsu berahi belaka.

Wanita yang tak dapat memberikan anak bakal dicampakkan pula oleh suaminya, dianggap bodoh dan pendosa, pembawa sial. Dan karena anggapan ini amat menyakitkan dan merendahkan martabat maka biasanya keluarga si gadis “membuang” anak perempuannya dan tak mau mengakui anak. Kejam!

Tapi mana mungkin bagi suami isteri ini membuang Giok Cheng. Di samping mereka mencintai anak gadisnya itu juga karena Giok Cheng adalah anak semata wayang. Itulah sebabnya tak heran kalau Tang Siu menangis sampai mengguguk tak mau suaminya tahu. Namun karena hal itu tak mungkin dan Han Han akhirnya tahu, maka pendekar inipun termangu dan hari itu dilewatkan dengan bersamadhi di sisi puterinya.

Tak ada sesuatu yang istimewa hari itu. Matahari lewat serasa merayap dan Ju-taihiap maupun puteranya masih bersila tak bergeming. Masing-masing mengerahkan kekuatan batin untuk mohon kepada Yang Maha Kuasa agar tak ada sesuatu yang lebih buruk lagi. Giok Cheng dapat sembuh lebih cepat dan mereka akan menyambut gadis itu dengan lebih gembira, meskipun untuk hal yang satu itu mereka menahan sakit. Ada sesuatu yang menusuk kalau teringat ini. Dan ketika matahari terus bergeser dan akhirnya terbenam ke barat, murid-murid, Hek-yan-pang memasang lampu-lampu maka Tang Siu berkelebat muncul dengan mata sembab.

“Gak-hu!”

Ju-taihiap membuka mata. Kakek ini bangkit dan melihat menantunya siap menangis lagi, menyambar dan menekan lengan wanita itu agar tidak berisik. Giok Cheng masih tak sadar. Dan ketika Ju-taihiap bertanya apa yang hendak dilakukan wanita itu ternyata Tang Siu telah menunggu mereka di meja makan.

“Aku... aku telah menyiapkan makan minum untuk gak-hu dan Han-ko. Kalian tinggalkan dulu kamar ini.”

“Kau sendiri, apakah sudah makan Tang Siu?”

“Aku akan menggantikan kalian di sini, aku belum lapar.”

“Hm, aku sendiri juga belum, tapi entah suamimu.” dan ketika kebetulan Han Han membuka mata maka Ju-taihiap berkata bahwa Tang Siu telah menyiapkan makan minum mereka. “Isterimu ingin menggantikan di sini, kau mungkin lapar.”

“Tidak,” Han Han ternyata menggeleng. “Aku tidak lapar, ayah, justeru ingin menengok Giam Liong. Kalau Siu-moi di sini kebetulan, biar gantian menjaga Giok Cheng.”

Ju-taihiap teringat. Tiba-tiba ia menjadi merah karena melupakan itu, puteranya membuat ia tersipu. Maka ketika ia berkata bahwa iapun ingin menengok Giam Liong, juga Sin Gak maka Han Han berkelebat meninggalkan kamar.

“Kami sama-sama belum lapar. Kau jagalah di sini, Tang Siu, kami akan melihat Giam Liong.” Ju- taihiap melompat menyusul puteranya. Ia malu sendiri tak seperti Han Han, sama sekali lupa atau tak teringat yang lain. Maka begitu ia melompat dan meninggalkan kamar segera Ju-taihiap menyusul mengejar puteranya.

Bulan terbit sepotong. Perahu di belakang telaga masih bergoyang lembut dan Han Han berseri, kakek dewa itu masih bersila dan berada di sana. Namun ketika tiba-tiba ia berhenti mengejutkan sang ayah, Han Han menoleh kiri kanan maka Ju-taihiap bertanya apa yang ia cari.

“Bi Hong, gadis itu. Ia tak ada di sini, ayah, belum datang. Aku tadi mencarinya dan seharusnya ia datang.”

“Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja. Lihat Sian-su menunggu kita, Han Han, dan Giam Liong, ah... ia bangun!”

“Benar, dan Sin Gak juga. Ah, mereka lebih cepat daripada Giok Cheng, ayah. Tampaknya sudah sembuh!” Han Han lupa kepada Bi Hong, melompat dan memasuki perahu dan langsung saja memeluk Naga Pembunuh.

Giam Liong baru saja sadar dan kebetulan puteranya juga, Sin Gak membuka mata dan melihat pamannya serta Ju-taihiap ini. Dan ketika dua orang itu mengeluarkan seruan girang dan merangkul mereka, Sin Gak duduk dan bergoyang-goyang di atas perahu maka Han Han telah menangkapnya dan Ju-taihiap pun tampak berseri.

“Kalian sudah sehat, syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ah, kami cemas melihat keadaan kalian, Giam Liong, kini kalian sembuh dan menggembirakan kami. Terima kasih kepada Sian-su yang telah seharian di sini!”

“Hm, heh-heh.” kakek itu tertawa. “Sembuh semuanya belum, Ju-taihiap, masih harus beristirahat sebulan dua bulan lagi. Bagaimana puteri kalian Giok Cheng.”

“Belum sadarkan diri, tapi napasnya membaik. Ibunya menjaga di sana, Sian-su, dan kami memenuhi janji. Kami ingin melihat Giam Liong dan puteranya.”

“Benar, semua butuh perhatian. Aku gembira melihat keadaan mereka, Sian-su, pertolonganmu tak sia-sia!”

“Sudahlah, mereka masih tak boleh banyak bicara. Khusus Naga Pembunuh dadanya melesak dan akan menderita nyeri. Sedangkan anak muda ini, hm... telinga kirinya tuli, pendengarannya kurang sempurna.”

Han Han dan ayahnya terkejut dan memperhatikan dua orang itu. Sin Gak tampak terlongong-longong dan ada kesan setengah tuli sementara Naga Pembunuh membungkuk menekan dada, terbatuk. Dan ketika mereka terbelalak dan berubah sejenak, Giam Liong bangkit berdiri maka Naga Pembunuh ini berkata bahwa dadanya memang sesak, seakan disodok atau ditekan benda berat.

“Aku, uhh... dadaku memang sakit. Tapi bagaimana keadaan puterimu Giok Cheng, Han Han, aku ingin menengok sebentar.”

“Jangan, tidak usah!” Han Han tiba-tiba berseru dan mencengkeram lengan sahabatnya ini. “Isteriku di sana, Giam Liong, hanya membuat sebal saja. Kau masih sakit dan duduk sajalah!”

“Membuat sebal?” Giam Liong terkejut mengerutkan kening, terbatuk lagi. “Apa maksudmu, Han Han, kau memaki isterimu sendiri.”

“Biarlah, aku jengkel. Aku tak senang perbuatannya dan besok saja ke sana. Ia membuat malu aku!”

“Hm!” Ju-taihiap batuk-batuk. “Ada Sian-su dan Sin Gak di sini, Han Han, jangan melepaskan kemarahan secara kasar. Jelek-jelek dia isterimu.”

“Tapi...”

“Sudahlah, tak bijak membawa persoalan itu ke sini. Kita datang bukan untuk mengumpat-caci, kita datang untuk melihat dan menghibur Giam Liong serta puteranya. Duduklah dan tak perlu bicara itu.” lalu ketika Han Han sadar dan tampak semburat, maka Ju-taihiap pun meminta maaf pada kakek dewa itu, yang disambut kekeh geli.

“Semua kejadian tentu ada hikmahnya. Justeru aku gembira mendengar ini, Ju-taihiap, tak usah ditutup-tutupi. Bukankah kita adalah orang sendiri. Giam Liong dan Sin Gak termasuk keluargamu, Naga Pembunuh adalah puteramu pula.”

Ju-taihiap mengerutkan kening. Ia heran sekaligus terkejut melihat sikap kakek dewa ini. Ada kesan bahwa kakek itu senang melihat Han Han dan dirinya bertengkar. Maka ketika ia memandang kakek itu namun mata di balik kabut itu mencorong tajam tiba-tiba jago pedang ini menunduk namun diam-diam tersimpan ketidaksenangannya bahwa Bu-beng Sian-su seakan menyukai pertengkaran!

“Hm, apa yang terjadi,” Giam Liong mulai curiga. “Tidak biasanya kau marah-marah seperti ini, Han Han, apalagi terhadap isteri sendiri. Seharusnya kau beruntung bahwa seorang isteri menemanimu. Lihat aku, duda seumur hidup!”

“Aku tak ingin bicara tentang itu,” Han Han mengelak dan teringat teguran ayahnya. “Sekarang bagaimana kau sendiri, Giam Liong, bagaimana perasaanmu, juga Sin Gak.”

“Aku merasa tertolong, nyaris menghadap Giam-lo-ong (Maut). Kalau ini berkat Sian-su biarlah kunyatakan terima kasih dulu!”

“Benar, akupun begitu. Hanya, ah. telinga kiriku buntu, ayah, rasanya tersumbat. Tapi aku merasa baikan dan terima kasih atas pertolongan Sian-su!” Sin Gak menyusul ayahnya, berlutut dan mengucapkan terima kasih sementara kakek itu tersenyum lebar. Sepasang matanya tertawa geli. Lalu ketika ia mengebut dan ayah serta anak terdorong duduk kakek itu berseru,

“Nasib sudah mengharuskan begitu. Telinga kirimu cacad, anak muda, sementara ayahmu melesak dadanya dan jalan akan sedikit terbungkuk. Sudahlah tak perlu mengucapkan terima kasih karena masing-masing membawa dan menerima hukum sebab dan akibat.”

Han Han menarik napas dalam, terharu juga. “Apakah tak dapat diperbaiki, Sian-su. Maksudku apakah tak dapat disembuhkan total.”

“Sudahlah, aku cukup menerima,” Giam Liong menggeleng dan mendahului. “Bahwa aku masih hidup adalah berkah yang harus kusyukuri, Han Han, tak perlu meminta yang lebih jauh lagi. Aku beruntung bahwa kami berdua masih hidup!”

“Dan mana Bi Hong,” Sin Gak tiba-tiba melepaskan perhatiannya, diam-diam cemas. “Mana pula Su Giok, paman. Bagaimana mereka.”

“Su Giok tewas,” Han Han berkata menahan pedih. “Sedang Bi Hong aku tak tahu, Sin Gak, tentu sebentar lagi ia ke sini. Dialah yang membawamu ke mari.”

“Ah, Su Giok, ia tewas?” Giam Liong terkejut, berubah mukanya. “Dimana makamnya, Han Han, bagaimana mula-mula dengan gadis itu!”

“Ia terluka parah.“

“Benar, ia terluka parah,” Sin Gak berseru, mengangguk pucat, teringat kejadian itu. “Rasanya seperti mimpi, paman. Bagaimana keadaannya dan bagaimana ia tewas, kenapa tak dibawa pula ke sini!”

“Hm, ia membawa ayahmu, gadis itu keras kepala. Kami tak dapat berbuat banyak dengan gadis ini, Sin Gak. Aku sendiri terpaksa mengikuti dan menuruti kehendaknya. Maaf kalau di tengah jalan ia menghembuskan napas terakhirnya.”

Han Han lalu menceritakan kejadian itu, tidak menceritakan apa yang terjadi antara gadis itu dengan Bi Hong dan Sin Gak maupun ayahnya mendengarkan pucat. Lalu ketika Han Han mengakhiri bahwa gadis itu meninggalkan pesan cintanya untuk Naga Pembunuh ini, maka Giam Liong tersedak dan tiba-tiba menitikkan dua butir air mata, mengepal tinju dan memejam.

“Aku... aku tak mungkin dapat menerimanya. Kutuk Golok Maut tak berani membuat aku main-main lagi dengan wanita, Han Han. Lihat isteriku Yu Yin ibunya Sin Gak ini. Aku tak mungkin menerimanya!”

“Tapi Golok Maut telah lenyap bersama pemiliknya,” Han Han berseru, kejadian itu seakan masih di depan mata. “Kalau ia hidup tak ada salahnya menerima gadis itu, Giam Liong. Cintanya tulus dan amat besar kepadamu. Aku terharu!”

“Hm, aku seorang duda, terlalu tua untuknya. Bagaimana dengan anakku Sin Gak, Han Han, memangnya ayah harus bersaing dengan anak. Aku bukan muda lagi, malu kepada Giok Cheng dan lain-lain!”

“Tapi kalau enci Giok masih hidup tak ada salahnya ayah menerima. Aku pribadi tak apa, ayah butuh pendamping.”

“Nah, apa kata anakmu. Usiamu belum setua aku, Giam Liong. Kalau sudah enam puluhan dan kawin lagi maka kesannya seperti mencari daun muda. Yang harus malu kalau seusia aku, kecuali sama-sama umur!” Ju-taihiap menimpali, setengah menggoda dan menyesali sikap Naga Pembunuh ini hingga yang lain mengangguk dan tersenyum.

Akan tetapi ketika Giam Liong tak menyambut gurauan itu dan masih terpukul oleh tewasnya. Su Giok tiba-tiba ia memandang Bu-beng Sian-su dan bertanya lirih, “Maaf, Sian-su agaknya membiarkan gadis itu menerima nasibnya. Apakah ia memang tak dapat ditolong lagi, Sian-su, atau ada sebab lain yang membuatmu membiarkannya begitu.”

“Hm, kematian seseorang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa. Jangan menyalahkan aku dengan pertanyaanmu itu, Naga Pembunuh, yang harus pergi tak mungkin kembali. Aku bukan penentang Alam dan pencegah kematian.”

“Maaf, maksudku ah, sudahlah. Mungkin aku terbawa perasaanku, Sian-su, tapi tentu ada sesuatu yang ingin kau berikan kepada kami. Peristiwa ini pasti membawa pelajaran, bukan kebiasaanmu untuk lewat begitu saja!”

“Heh-heh, kau mulai mengorek keterangan. Memang bukan kebiasaanku untuk berlalu begitu saja, Naga Pembunuh, ada sesuatu yang tentu penting dan berguna untuk kalian. Dan ini berawal dari dirimu dan Han Han!”

“Aku?”

“Ya, kau, dan Han Han.”

“Hm, apa yang kuperbuat.” Han Han terkejut dan membelalakkan mata. “Ada apa dengan aku, Sian-su. Dosa apakah yang telah kulakukan!”

“Ha-ha, bukan dosa, bahkan sebuah pelajaran baik. Tapi bisakah kumulai, anak muda, jangan-jangan ayahmu marah kepadaku!”

Ju-taihiap ganti terkejut, punggung tiba-tiba diangkat tegak. “Apa pula maksudmu, Sian-su, kenapa aku terbawa-bawa.”

“Ha-ha, persoalannya memang begitu, tapi tunggu dulu. Seseorang akan datang!”

Baru saja kata-kata ini selesai diucapkan mendadak berkesiur angin dingin dan seseorang muncul di situ. Perahu bergoyang sedikit dan Han Han serta yang lain menoleh, kaget melihat seorang kakek muncul bagai iblis, berjenggot panjang dan berambut serba putih dengan pakaian putih-putih pula. Tapi begitu Han Han melihat kakek ini dan meloncat bangun tiba-tiba ia berseru,

“Suhu!”

Kakek itu tersenyum. Yang Im Cinjin, tokoh selatan yang sakti ini datang secara tiba-tiba. Inilah guru Han Han yang amat lihai, seorang pertapa namun yang jarang keluar dari pertapaannya. Dan ketika kakek itu mengangguk dan menjura kepada Bu-beng Sian-su, tak menghiraukan muridnya maka pertapa ini berseru, suaranya lembut namun tegas,

“Aku mendengar kejadian hebat di Hutan Iblis, terlambat menyaksikan dan menolong anak-anak muda ini. Sekarang aku datang mendengar panggilanmu, Sian-su, maaf kalau terlambat.”

“Ha-ha, Cinjin terlalu merendah. Aku sengaja menunggumu, totiang, kebetulan anak-anak ini berkumpul di sini. Duduklah, kau benar. Aku mencarimu dan kau begitu tenggelam dalam bertapa. Maaf kalau aku mengganggu.”

“Tidak,” kakek ini mengebutkan lengan baju, duduk berhadapan. “Justeru rupanya sesuatu yang penting ingin kau beritahukan kepadaku, Sian-su. Melihat peristiwa di Hutan Iblis itu aku merasa kecil dan tak berarti apa-apa.”

“Hm, Cinjin tak perlu berkecil hati. Mereka telah pergi dan sesalpun tiada guna, anak-anak ini menjadi korban.”

“Bagaimana dengan puterimu,” kakek itu tiba-tiba memandang Han Han. “Aku tak dapat berbuat apa-apa dan maafkan kalau datang setelah semua itu terjadi.”

“Tak apa, Sian-su telah menolongnya. Giok Cheng ada di kamarnya, suhu, masih belum sadar. Akan tetapi keadaannya sudah membaik dibanding dulu.”

“Bagus, dan kau,” kakek ini memandang Ju-taihiap. “Kudengar ada pertengkaran antara dirimu dan Han Han, Ju-taihiap. Kalau Han Han bersalah biarlah aku sebagai gurunya minta maaf. Mungkin didikanku dulu kurang baik.”

“Tidak, Cinjin tak usah berkata seperti itu. Aku dan Han Han hanya berselisih sedikit, masalah kecil. Dan kau, eh. bagaimana tahu itu!”

“Aku tahu secara kebetulan, kulihat dari jauh. Tapi Sian-su, hmm... rasanya menyebut-nyebut ini. Biarlah kita hadapi yang terhormat Bu-beng Sian-su dan mudah-mudahan semua mendapat petunjuk!” kakek itu tersenyum, kembali memandang Bu-beng Sian-su dan kakek dewa ini terkekeh. Halus sekali tawanya. Dan ketika Giam Liong mengerutkan kening karena persoalan itu tiba-tiba diungkit kembali, ia juga melihat sesuatu yang serius, maka Yang Im Cinjin sudah berhadapan kembali dengan kakek dewa itu.

“Cinjin terlalu memuji, semua kupikir biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa bagiku, kecuali mungkin bagi anak-anak muda ini. Hm, kaulah pembuka kunci utamanya, Cinjin, bukan aku. Harap kau saja yang memberi petunjuk dan jangan merendahkan diri.”

“Heh-heh, aku bukan apa-apa dibanding dirimu. Dulu aku kalah, Sian-su, dan mungkin hari ini kalah juga. Aku tak berani bicara apa-apa kecuali menimpali dan mungkin menyanggah. Kau mulailah dan biarkan kami semua mendengar!”

Bu-beng Sian-su tertawa, perahu bergoyang keras dan tiba-tiba kakek ini membentak. Jarinya menuding Ju-taihiap hingga jago pedang itu terkejut. Dan ketika semua juga terkejut kenapa kakek ini menjadi bengis, maka kakek itu berseru, “Kau membela menantumu Tang Siu. Heh, katakan alasanmu kenapa begitu, Ju-taihiap Ceritakan secara jujur dan terbuka pertengkaranmu dengan Han Han!”

Ju-taihiap terkejut, berdiri dan mengeluarkan seruan tertahan. Ia tiba-tiba menjadi kaget kenapa kakek ini mengungkit pertengkarannya dengan Han Han. Bukankah itu urusan keluarga, tak layak didengarkan orang lain apalagi Giam Liong dan Sin Gak. Tapi ketika ia menggigil dan berubah-ubah, hendak memprotes tiba-tiba Yang Im Cinjin tertawa dan berseru,

“Benar, akupun heran. Ceritakan pertengkaranmu dengan Han Han, Ju-taihiap. Benar salah hendak kuselidiki. Jawab pertanyaan Sian-su dan jangan buat aku penasaran!”

“Kau, kalian eh, apa yang hendak kalian maui, Cinjin. Bukankah ini urusan keluarga dan bersifat pribadi. Aku tak dapat menceritakannya!”

“Kalau begitu Han Han akan kusuruh. Heh, kau!” kakek ini menuding. “Ceritakan persoalanmu dengan ayahmu, Han Han. Bicarakan secara jujur dan blak-blakan agar kami tahu!”

Han Han tergetar. Sama seperti ayahnya iapun mula-mula terkejut dan berubah. Sikap Bu-beng Sian-su yang bengis dan seakan hendak mencampuri urusan keluarga diterimanya dengan kening berkerut pula. Tapi ketika gurunya berseru dan minta ia menjawab, berarti ada kesepakatan di antara dua orang ini maka Han Han pun menjadi berdebar dan bingung.

“Ayah... kami...”

“Teruskan, jangan biarkan aku bicara sendiri. Kami bukan hendak melancangi urusan kalian, Han Han, melainkan mengupas sesuatu yang akan diterangkan Sian-su. Jawablah, jangan takut-takut!”

Han Han menelan ludah, melirik ayahnya lalu Giam Liong, juga Sin Gak. Dan ketika dengan berat ia berkata akhirnya meluncurlah pengakuan yang sebenarnya tidak enak untuk didengarkan Giam Liong dan puteranya. “Kami... kami bertengkar masalah Tang Siu. Maksudku aku tak menyetujui sikap isteriku sementara ayah agaknya condong ke sana.”

“Masalah apa,” Giam Liong tiba-tiba bertanya. “Tampaknya begitu serius dan berat kau menjelaskan ini, Han Han. Persoalan apa antara kau dengan isterimu itu!”

“Persoalan kalian berdua, dirimu dan Sin Gak. Maksudku, eh... ketika kalian sama-sama terluka parah dan harus dibawa ke sini.”

“Hm,” Giam Liong heran, memang tak mengetahui ini. “Agaknya ada yang menarik, Han Han. Ada apa dengan aku dan Sin Gak.”

“Aku... Tang Siu...” Han Han ragu.

“Ceritakanlah, tak ada sakit hati di kami berdua. Kalau ini menyangkut sesuatu yang amat penting percayalah tak ada dendam atau semacamnya, Han Han. Sian-su begitu serius dan tentu ada apa-apa yang berguna!”

“Begini, bolehkah kutolong,” kakek dewa itu tiba-tiba berkata. “Waktu itu kalian bertiga sama-sama terluka parah, Naga Pembunuh, tapi aku tak mau menolong kalian di sana. Han Han dan isterinya kuperintahkan membawa kalian ke sini.”

“Benar, isteriku membawa Giok Cheng. Dan aku serta Su Giok membawamu dan Sin Gak.”

“Tidak, Sin Gak dibawa Bi Hong!” Ju-taihiap tiba-tiba berseru dan berubah sikapnya, sudah mulai tenang dan percaya lagi. Pertanyaan itu pasti membawa manfaat. “Kau dibawa Su Giok sementara Bi Hong membawa puteramu, Giam Liong. Kami berdua hanya mengiringi!”

“Benar,” Han Han mengangguk. “Mula-mula memang begitu, Giam Liong, tapi Giok Cheng pun semula dibawa kakeknya ini. Ibunya merampas kemudian lari pergi."

“Nah, itulah!” Ju-taihiap berseru lagi. “Ibu mana tak gelisah dan cemas melihat keadaan puterinya seperti itu, Giam Liong. Tang Siu mendahului dan Han Han marah-marah!”

“Marah-marah?”

“Ya, ia tak senang isterinya mendahului. Maksudnya biarlah bersama-sama karena kaupun dan Sin Gak terluka!”

“Hm,” Giam Liong mengangguk-angguk, mulai mengerti. “Lalu bagaimana, ayah. Apa yang terjadi selanjutnya.”

“Aku menyuruhnya menyusul, tapi ia tak mau.”

“Kemudian?”

“Kami bertengkar sedikit, dan...dan terus terang aku tak menyalahkan Tang Siu!”

“Hm, bukankah Bi Hong dapat membawaku cepat,” Sin Gak bertanya dan agak terheran-heran.

“Itulah celakanya. Gadis itu tak mau mendahului Su Giok, Sin Gak, karena Su Giok membawa ayahmu. Dan karena Su Giok juga luka parah maka perjalanan menjadi lambat!”

“Hm, mengerti aku,” Giam Liong bersinar dan mengangguk-angguk. “Sekarang lebih jelas bagiku, ayah. Kiranya waktu itu aku dibawa Su Giok sementara Bi Hong membawa Sin Gak. Dan karena Su Giok terluka dan Tang Siu tak mau menunggu maka ia membawa Giok Cheng dan kalian menyusul di belakang.”

“Betul, tapi akhirnya aku menyusul Tang Siu. Han Han tak mau menyusul isterinya dan aku sebagai kakek tentu ingin tahu keadaan Giok Cheng.”

“Kalau begitu persoalannya apa. Tak ada yang aneh yang kulihat di sini, ayah. Semuanya wajar dan kenapa Han Han dan kau bertengkar.”

“Ha-ha, inilah yang menarik. Inilah yang hendak dikupas di sini, Naga Pembunuh. Siapakah yang lebih benar antara ayah dan anak!”

“Maksud Sian-su?” Giam Liong terkejut.

“Biar Yang Im Cinjin yang bicara, aku mempersilakannya mengambil alih.”

Pertapa itu batuk-batuk, tersenyum dan berseri. Bu-beng Sian-su memandang kakek ini dan kakek itupun memandang yang lain-lain. Lalu sementara Giam Liong dan puteranya mengerutkan kening, sedikit tak mengerti maka kakek ini tertawa lebar.

“Hm, yang terhormat Bu-beng Sian-su mendorongku maju. Baiklah, kukatakan kepada kalian bahwa selama bertahun-tahun ini sesungguhnya terjadi debat sepihak antara aku dan Sian-su. Dulu sebelum Kim-sim Tojin tewas, debat ini milik kami berdua, namun karena Kim-sim totiang telah meninggal baiklah kupikul sendiri permasalahan ini. Begini, sebuah pertanyaan pernah kulontarkan kepada Sian-su, anak anak. Pertanyaan tentang Kebenaran, tepatnya Kebenaran Sejati. Dapatkah kita mengetahui atau memiliki Kebenaran Sejati ini!”

“Maksud Cinjin?“

“Tunggu, persoalannya sudah muncul. Jangan potong pembicaraanku ini, Giam Liong, aku sedang gembira dan kalian ini obyeknya. Lihat dan dengarkan cerita tadi, siapakah sesungguhnya yang lebih benar antara Han Han dan Ju-taihiap!”

“Hm, aku masih bingung,” Sin Gak tiba-tiba bertanya. “Apa inti persoalan ini, ayah, dapatkah kau menjelaskan sedikit.”

“Inti persoalannya jelas,” Yang Cinjin berseru. “Han Han menyalahkan sikap isterinya sementara sang ayah membelanya, Sin Gak. Pamanmu tak setuju Giok Cheng dibawa lebih dulu karena kau dan ayahmupun sama-sama butuh pertolongan!"

“Benar,” Ju-taihiap mengangguk. “Aku tak menyalahkan sikap bibimu, Sin Gak, sementara pamanmu menentangnya habis-habisan. Tak patut baginya meninggalkan kalian sementara Giok Cheng dibawa lebih dulu. Ini berkesan mementingkan diri pribadi, tak ingat keselamatan orang lain!”

“Hm, begitu kiranya,” pemuda ini mengangguk, mulai mengerti. “Kalau begitu menarik juga, lo-enghiong, tapi paman dan bibi agaknya sama-sama memiliki kebenaran.”

“Sekarang siapa yang lebih benar!” Yang Im Cinjin berseru. “Inti pertanyaannya adalah itu, Sin Gak. Di antara dua kebenaran ini siapa yang lebih benar, pamanmu atau bibimu!”

“Wah,” pemuda ini bingung. “Kalau menurutmu bagaimana, ayah, siapa yang lebih benar.”

“Aku pribadi membela Tang Siu,” Ju-taihiap memotong, mendahului Naga Pembunuh itu. “Sebagai ibu tak salah ia memikirkan keselamatan puterinya, Sin Gak, kalau bibimu disalahkan terus terang aku menolaknya!”

“Hm, aku bingung,” Giam Liong bicara dan menggeleng. “Kalau aku menjadi Han Han rasanya isterikupun kusalahkan, ayah. Tapi kalau kau membela Tang Siu rasanya juga tidak kelewatan.”

“Tentu, ia seorang ibu. Wanita mana tega membiarkan anaknya sekarat, Giam Liong. Kalau ia merampas dan akhirnya membawa Giok Cheng rasanya tak berlebihan.”

“Tapi Giam Liong dan Sin Gak bukan orang lain,” Han Han tiba-tiba memprotes. “Giam Liong adalah saudaraku juga, ayah, sama-sama butuh pertolongan. Kalau Siu-moi meninggalkan kami tetap saja ia kuanggap mementingkan diri sendiri. Ia tak memiliki toleransi!”

“Tapi ia seorang ibu, Giok Cheng puteri satu-satunya!”

“Tapi Giam Liong dan Sin Gak bukan seekor kucing atau ayam, merekapun manusia. Kalau mereka ini bukan manusia agaknya tak apa-apa, ayah, namun mereka manusia, dan saudaraku pula!”

“Sudahlah, sudah!” Yang Im Cinjin terkekeh. “Yang kami kehendaki bukan pertengkaran di sini, Han Han, melainkan siapa lebih benar dari kalian. Nah, lepaskan diri sebagai subyek dan amatilah obyek itu sebagai pengamat. Aku tidak menghendaki kalian bertengkar!”

Han Han merah padam. Teringat isterinya itu lagi-lagi ia geram. Sementara sang ayah, Ju-taihiap yang berkerut kening dan tak dapat menerima puteranya menyalahkan Tang Siu bersikukuh kepada pendapatnya pula. Betapapun Tang Siu benar, meskipun Han Han juga tidak salah. Dan karena puteranya menyalahkan dan itulah yang tidak ia setujui, ia memberontak dan membela maka gerakan lengan baju Yang Im Cinjin menyadarkannya bahwa di situ bukan tempat bertengkar.

“Hm, aku pribadi sebatas tak terima kalau ibu Giok Cheng disalahkan. Aku dapat mengerti perasaan wanita, Cinjin, khususnya seorang Ibu. Karena aku mengerti ini maka tindakannya tak kusalahkan!”

“Jadi menurutmu Han Han salah?”

“Ini, eh... tidak juga. Sudut pandang Han Han kumengerti pula. Hanya kalau ia berkeras dan menyalahkan isteri maka aku menentangnya!”

“Heh-heh, bagaimana menurut kalian,” kakek itu menuding Sin Gak dan ayahnya. “Coba berikan pandangan atau jawaban, anak-anak, aku ingin mendengar.”

“Bagaimana menurut locianpwe sendiri,” Giam Liong tiba-tiba berseru dan disambut anggukan puteranya. “Coba locianpwe beritahukan siapa yang lebih benar!”

“Aku pribadi, hmm...condong kepada Han Han. Aku mendidiknya untuk menjadi seorang gagah dan tidak memikirkan diri sendiri. Kalau ia menegur isterinya maka itu tepat.”

“Kalau begitu akupun begitu. Bukan karena aku tak senang lalu menyalahkan Tang Siu, locianpwe, sebab kalau akupun seperti Han Han maka isterikupun kusalahkan!”

“Nah, tiga lawan satu. Sekarang bagaimana pendapatmu, Sin Gak, siapa yang kau bela!”

“Nanti dulu, perbandingan adalah dua lawan tiga. Di balik Ju-taihiap adalah wanita itu, Cinjin, seperti halnya Han Han yang ada di sini.”

“Ah, maaf, kau benar. Tiga lawan dua Sian-su, sekarang bagaimana Sin Gak!”

Pemuda ini bingung. Mendengar cerita itu iapun berdebar dan menjadi tegang. Karena ia tak merasakan kasih sayang seorang ibu tentu saja tindakan sang bibi menyentuh hatinya. Ia terharu dan tiba-tiba condong kepada wanita ini. Saat itu terbayanglah bagaimana kalau ibunya masih hidup. Kalau ada kejadian seperti ini tentu ia pun akan diperlakukan seperti Giok Cheng. Kasih seorang ibu benar-benar tak terbatas, apapun bisa dikorbankan demi seorang anak. Maka ketika ia menggeleng dan berbasah air mata mendadak iapun berkata bahwa ia terpaksa membela sang bibi.

“Agaknya tindakan bibi Tang Siu tidak salah. Kalau aku didesak untuk membela siapa maka aku berdiri dibelakangnya, locianpwe, maafkan.”

“Kau, eh... apa alasanmu berkata seperti itu?” bukan hanya Yang Im Cinjin, ayahnya dan Han Han pun terkejut mendengar jawaban itu, apalagi mata Sin Gak yang berkaca-kaca. Tapi ketika pemuda itu berkata bahwa ia membayangkan dirinya sendiri, kalau sang ibu masih hidup maka Han Han dan Giam Liong terpukul.

“Sederhana alasanku, kalau ibu masih hidup dan aku terluka parah tentu ia tak akan perduli apa-apa dan menolong aku menerjang segala tata-pergaulan. Dan aku, maaf.... kasih sayang seorang ibu mudah menyentuhku, locianpwe, karena itu... karena itu aku tak menyalahkan bibi Tang Siu. Aku berdiri di belakangnya.”

“Ha-ha-ha...” tawa kakek dewa tiba-tiba meledak. “Sekarang kedudukan sama kuat, Cinjin, tiga lawan tiga!”

“Hm,” kakek itu merah padam. “Tunggu dulu, anak ini masih emosionil. Sin Gak dapat merubah pendapatnya, Sian-su, tunggu dan jangan terburu-buru dulu. Kau.....!” kakek ini menuding Sin Gak. “Pendapatmu barangkali berubah, anak muda, masa kau berhadapan dengan ayahmu sendiri. Lihat, ia bersama kami!”

“Tidak,” Sin Gak menggeleng. “Boleh jadi aku terbawa perasaanku, locianpwe, tapi tegas-tegas aku membela bibi Tang Siu. Kasihnya sebagai ibu tak dapat kusalahkan, dan Giok Cheng beruntung mendapatkan itu. Kalau saja ibuku masih hidup!"

“Ha-ha, nah! Sekarang tak dapat kau bujuk lagi, Cinjin. Kedudukan tetap tiga-tiga, kau di pihakmu dan anak muda itu dipihaknya!”

“Baik,” kakek membalik. “Kalau begitu bagaimana kau sendiri, Sian-su, siapa yang lebih benar. Mereka atau kami!”

“Benar,” Ju-taihiap juga ingin tahu. “Kau sendiri bagaimana, Sian-su. Siapa yang kau bela, kami atau mereka!”

“Ha-ha-ha, heh-heh-heh! Kalian jadi seperti anak kecil yang mencari perlindungan di tubuh orang tuanya, Ju-taihiap. Untuk menjawab ini sudah kuserahkan Yang Im Cinjin. Jawabanku sudah jelas!”

“Hm, tentu yang kau maksudkan adalah ini,” Yang Im Cinjin mengeluarkan sesuatu, sebuah surat. “Dari dulu benda ini membuatku penasaran, Sian-su, sekarang siap kau buka. Baiklah, aku terus terang belum tahu jawabanmu!”

Han Han dan Giam Liong memperhatikan itu, begitu juga Ju-taihiap. Lalu ketika Naga Pembunuh ini mengenal maka Giam Liong berseru pendek. “Surat syair itu!”

“Benar, syair ini,” Yang Im Cinjin mengangguk dan tampak jengkel. “Bertahun-tahun aku menerkanya tak juga ketemu, Naga Pembunuh, sekarang saatnya dan biar pusingku hilang. Kau tentu menghafalnya atau Han Han boleh membaca!”

Han Han sudah lupa-lupa ingat. Yang Im Cinjin membuka ini dan semua matapun memandang. Itulah surat yang dulu terapung-apung di telaga Hek-yan-pang, diambil dan diserahkan Naga Pembunuh ini kepada Kim-sim Tojin. Surat itu untuk Kim-sim Tojin dan Yang Im Cinjin. Namun karena Kim-sim Tojin telah tiada dan Yang Im Cinjin lah yang membawa maka kakek pertapa inilah yang membukanya dan Sin Gak yang tak tahu asal mula surat itu hanya terbelalak saja.

“Baca dan ingat-ingatlah, lalu kita tanya Sian-su.”

Han Han terkejut dan membaca. Surat itu hanya berisi dua bait syair dan ia mengulang-ulang untuk menghafal dan mencari jawabannya. Giam Liong sendiri rupanya sudah ingat dan tidak perlu mengulang-ulang. Ju-taihiap mengerutkan kening dan membaca bersama yang lain, karena Sin Gak menghafal dan membaca surat itu pula. Lalu ketika Ju-taihiap menarik napas dalam dan Han Han mengangguk-angguk maka ayah dan anak memandang kakek dewa itu.

“Kami sudah hafal, sekarang bagaimana jawaban Sian-su tadi. Mohon petunjuk dan wejanganmu, Sian-su, kami masih gelap dan belum mengerti apa-apa.”

“Baik, sekarang kalian duduk berhadapan, aku di tengah, di luar kalian. Sebelum kujawab siapa lebih benar sebaiknya syair itu dibaca. Kau!” kakek ini menuding Sin Gak. “Coba kau baca dan renungkan isinya, Sin Gak, siapa tahu terkupas jawabannya!”

Sin Gak berdehem, tergetar. Tapi karena syair sudah diberikan kepadanya iapun membaca dan tampak hati-hati:

Ketenaran sejati sedang dicari
muncul angka yang penuh misteri
dibanting sini:sama!
dibanting sana:beda!

Sama dan beda silih berganti
beda dan sama bertengkar sendiri
seperti langit yang tiada bertepi
sia-sialah mencari yang sejati!


“Ha-ha, betul, itulah jawabanku!” kakek itu terkekeh-kekeh. “Mau apalagi, Yang Im Cinjin, semuanya jelas dan tak ada yang tersembunyi.”

“Tunggu, nanti dulu. Kupikir semua yang di sini belum jelas, Sian-su, bagaimana kami mengerti!”

“Heh-heh, baiklah. Kalau begitu aku akan memberi pengertian. Apa kira-kira yang membuat kalian paling bingung.”

“Bait pertama itu, baris nomor dua. Apa yang kau maksud dengan angka yang penuh misteri, Sian-su. Bertahun-tahun aku merenung gagal juga. Yang lain rasanya mudah dicari. Kalau yang itu terpegang tentu yang lain gampang!”

“Benar,” Giam Liong mengangguk dan sependapat. “Syair ini paling rumit pada baris nomor dua itu, Sian-su, meskipun baris ketiga dan keempat juga tak mudah. Kupikir kuncinya di situ.”

“Hm, akupun berpikir demikian.” Ju-taihiap mengangguk-angguk. “Kalau angka penuh misteri itu terungkap tentu yang lain mudah, Sian-su. Jelaskanlah kepada kami dan apa yang kau maksud.”

“Ha-ha-heh-heh-heh, untuk ini sederhana saja. Tapi sebelum kalian mendapatkan kuncinya harap duduk baik-baik. Kau...,” kakek ini menuding Giam Liong. “Jangan berdekatan dengan puteramu, Naga Pembunuh, posisi kalian berhadapan. Kuminta masing-masing berhadapan dan anggap saja seakan bermusuhan. Nah, begitu. Dan kau...!” Han Han kali ini dituding. “Hadapilah ayahmu secara berdepan, Han Han, kalian harus benar-benar berhadapan dan seolah saling bermusuhan!”

Han Han dan lain-lain berdebar. Suara kakek ini mulai serius dan sekali lagi Sin Gak diminta membaca syair itu. Mereka benar-benar duduk berhadapan dengan kakek ini di luar, menyamping, duduk tepat di tengah tapi tidak berhadap-hadapan dengan mereka. Lalu begitu Sin Gak selesai membaca mendadak sesuatu dicabut kakek ini, dibanting di depan mereka, sebuah kepingan logam dengan angka atau huruf sembilan.

“Baca angka ini!”

“Sembilan!” Han Han dan Giam Liong serentak berseru, kaget dan heran, nyaring.

Akan tetapi karena angka itu justeru “enam” di pihak Ju-taihiap dan Sin Gak maka hampir berbareng dua orang ini menyebut: “Enam!”

“Ha-ha, yang benar,” kakek itu berseru lagi, kali ini mengambil dan membanting dengan posisi berlawanan. “Sebut sekali lagi, Han Han. Berapa menurutmu!”

“Enam.”

“Dan kau, Ju-taihiap.”

“Sembilan!”

“Ha-ha, yang benar. Coba sekali lagi. Hayo berapa ini!” dan ketika kakek itu membalik dan membanting lagi maka Han Han dan ayahnya selalu menyebut berlawanan. Angka 6 dan 9 tak dapat dibedakan lagi kalau sudah ditaruh dalam masing-masing posisi. Enam di pihak Han Han dan sembilan di pihak ayahnya, begitu sebaliknya kalau diputar. Maka ketika ayah dan anak saling berseru menyebut angka masing-masing, tentu saja sama-sama benar dari sudut pandang mereka maka Yang Im Cinjin yang melihat permainan ini tiba-tiba terbeliak dan pucat mencelat bangun.

“Sudah, sudah.... aku mengerti. Ah, ini kiranya yang kau maksudkan, Sian-su. Jadi... jadi semuanya benar!”

“Ha-ha-ha, tidak begitu. Benar yang sini belum tentu benar yang sana, Cinjin. Bacalah bait kedua baris terakhir!”

“Jadi... jadi?!”

“Itulah jawabanku, kau sekarang mengerti. Wuuttt...!” dan ketika tiba-tiba kakek ini melambaikan tangan dan berkelebat menghilang mendadak Bu-beng Sian-su telah meninggalkan tempat itu dengan suara tawanya yang berderai.

Han Han dan ayahnya masih sama-sama tertegun namun tiba-tiba terdengar keluhan si Naga Pembunuh. Giam Liong, yang rupanya sudah mengerti ini mendadak terhuyung roboh. Naga Pembunuh ini bangkit dan hendak memanggil kakek dewa itu. Namun ketika Bu-beng Sian-su menghilang dan lenyap di kegelapan malam, hanya tawa berderainya yang masih memantul-mantul maka Naga Pembunuh ini menggigil dan mengangguk-angguk, sebuah suara sayup-sayup sampai.

“Kau bertapa sampai hampir di ambang ajal. Kaupun sia-sia mencari kebenaran yang sejati. Yang sejati hanya milik Yang Maha Tunggal, Naga Pembunuh, tak ada siapapun yang menemukan dan mendapatkannya. Selamat tinggal dan jagalah dirimu baik-baik!”

Giam Liong roboh dan ditangkap puteranya. Sin Gak sudah menemukan pula dan tergetar serta menggigil. Seumur hidup baru kali itu ia bertemu Bu-beng Sian-su namun sekali pertemuannya ini begitu mengesankan. Maklumlah dia apa yang hendak diberitahukan kakek dewa itu. Yang tersirat dan tersurat begitu jelas. Maka ketika ia menggigil sementara ayahnya juga gemetaran berketruk gigi maka Ju-taihiap dan Han Han saling cengkeram. Yang Im Cinjin melotot dan masih memandang kepergian kakek dewa itu.

“Sian-su, kau memberiku pelajaran sekali lagi. Aku si tua ini benar-benar bodoh sekali. Ah, terima kasih tapi kau benar. Ha-ha, tiada gunanya bertapa kalau masih bodoh juga!” dan ketika kakek ini terhuyung memegangi perahu, ternyata sepasang matanya basah tiba-tiba ia berkata kepada Han Han bahwa ia segera pergi juga. Han Han terkejut.

“Nanti dulu, kau baru saja datang, suhu, belum menengok Giok Cheng pula. Apakah kau tak ingin melihatnya dan membiarkan kami kecewa.”

“Hm, aku malu kepada kakek dewa itu. Demikian gampang ia memberiku pukulan. Ah, sekali lagi aku kalah, Han Han, tapi tidak sakit. Ha-ha, baiklah kutengok anakmu dan setelah itu selamat tinggal!”

Yang Im Cinjin berkelebat dan tiba-tiba telah meninggalkan perahu. Han Han memandang ayahnya namun Ju-taihiap mengangguk, mempersilakannya menyusul pertapa sakti itu. Dan ketika Han Han berkelebat meminta ijin Giam Liong, Naga Pembunuh termangu-mangu maka Ju-taihiap menemani ayah dan anak ini di perahu.

“Hebat, sungguh tak kukira. Kakek itu luar biasa,, Giam Liong, sedikit saja telah mencakup semuanya. Ah, kedua mataku semakin terbuka!”

“Tapi bagaimana dengan kebenaran-kebenaran yang lain. Kalau yang sejati tak didapatkan lalu bagaimana dengan lain-lainnya itu, lo-enghiong, apakah kebenaran itu semu.”

“Hm, bukan begitu. Kebenaran yang kita dapat sifatnya umum Sin Gak, masih dalam batas alam pikiran. Namun kalau sudah ingin keluar dari akal pikiran maka kebenaran bersifat berat. Alam pikiran manusia terbatas, untuk yang lebih dari itu tak mungkin tertangkap. Maka daripada ribut-ribut mencari kebenaran sendiri sebaiknya kita juga menghormati dan menghargai kebenaran orang lain. Yang sejati sia-sia dicari, dan tak ada gunanya. Mungkin hanya para dewa atau mahluk suci yang mampu menemukannya. Kita manusia yang penuh kotor dan dosa tak mungkin menjangkaunya.”

Sin Gak mengangguk-angguk, menarik napas dalam. Jelek-jelek iapun seorang pemuda gemblengan Sian-eng-jin, satu dari Ngo-cia Thian-it yang sakti. Maka ketika ia mengerti dan dapat menerima ini, ayahnya gemetar memejamkan mata maka semalam itu Ju-taihiap menemani dua orang ini di atas perahu.

Bulan menampakkan bentuknya yang bulat. Bintang bertaburan meratna mutu manikam dan langit maha luas tampak begitu teduh dan tenang. Angin semilir sepoi-sepoi basa. Dan ketika masing-masing tenggelam dalam lamunan mereka, tak terasa menunggu datangnya pagi maka ayam jantan berkokok dan warna semburat jingga menyembul di kaki langit sebelah timur.

Giam Liong dan Sin Gak merasa lebih sehat. Ju-taihiap juga membuka matanya mendengar kokok riang ayam jantan. Lalu ketika jago pedang ini mengajak turun perahu, Han Han berkelebat muncul maka pria ini berkata bahwa Giok Cheng telah sadar.

“Ia mencari dirimu. Suhu telah pergi, ayah, Giok Cheng sudah bangun. Harap ayah datang dan mari semua ke sana.”

“Baik, Giam Liong dan Sin Gak semakin sehat. Aku juga akan ke sana, Han Han, semalam kami tepekur dengan sesuatu yang indah sekali.”

“Hm, kami tak mau merepotkan kalian. Karena masing-masing harus beristirahat biarlah kami pergi, Han Han, tentu saja setelah menengok Giok Cheng. Kami tak enak mengganggumu.” Giam Liong yang telah saling memberi isyarat dengan puteranya berkata cukup halus. Ia dan Sin Gak telah sepakat untuk meninggalkan Hek-yan-pang, bukan apa-apa semata menjaga hal-hal tidak enak saja. Bukankah nyonya rumah masih ada ganjalan dengan mereka. Tapi Han Han yang mendengar ini tentu saja terkejut.

“Kalian mau ke mana? Memangnya tempat ini tak dapat dipakai untuk beristirahat? Tidak, jangan. Aku telah menyiapkan tempat pembaringan kita dulu, Giam Liong, isterikupun tak berani berada di situ. Aku telah menyiapkan semua untuk kalian, kalian tak boleh pergi!”

“Terima kasih,” Giam Liong terharu, mencengkeram lengan saudaranya ini. “Dulu, dan sekarang berbeda, Han Han, sekarang ada Sin Gak di sini. Ia akan membawaku ke Sian-thian-san.”

“Benar,” Sin Gak menolong ayahnya. “Aku akan membawa ayah ke Sian-thian-san, paman, sama-sama beristirahat di sana. Suhu telah meninggalkan tempat itu untukku.”

“Ah!” Han Han kecewa. “Apakah cerita semalam membuat kalian tak senang lagi di sini. Kalau begitu menyesal aku berterus terang, Giam Liong, kalian membuat aku kecewa!”

“Kita sudah seperti saudara, bahkan jauh melebihi itu. Jangan berkata seperti itu, Han Han. Kami betapapun punya tempat tinggal sendiri dan harus menengok serta membersihkannya. Kami tak terpengaruh cerita isterimu, bahkan akan kutemui dia dan lihat kami baik-baik kepadanya. Sudahlah jangan kecewakan Sin Gak karena dialah yang ingin membawaku pulang, aku sebenarnya hendak ke Lembah Iblis.”

“Hm, dia benar. Giam Liong telah bertemu dengan keluarganya, Han Han, tentu ingin bercengkerama dan bicara sebebas-bebasnya. Asal berjanji tak lupa ke sini omongannya dapat kuterima, tapi kalau ia tak mau datang maka Giam Liong berpura-pura!”

“Ah, ayah bicara apa, Giam Liong menggeleng kepada jago pedang itu. “Tentu saja aku datang ke mari, setelah kami sama-sama sembuh. Sekarang kami akan melihat Giok Cheng sekaligus berpamit. Dua tiga bulan lagi kami berjanji datang.”

“Sungguh?”

“Benar, Han Han, aku dan Sin Gak akan ke mari. Asal isterimu menerima kami seperti biasa pasti kami datang!”

“Ia akan menerima, kami semua akan menerima, pasti. Baiklah kita ke dalam dan mari tinggalkan perahu.”

Han Han membawa ayah dan anak ini menuju kamar Giok Cheng dan ternyata gadis itu telah dapat duduk bangun. Tang Siu memeluk anak gadisnya dan tampak terisak-isak. Giok Cheng telah mendengar kematian sucinya Su Giok, memeluk dan bertangis-tangisan dengan ibunya pula. Tapi begitu melihat Giam Liong dan Sin Gak tiba-tiba nyonya rumah melepaskan gadisnya, bangkit dan menyambar Naga Pembunuh ini, tersedu-sedu.

“Aku... aku maafkan aku, Giam Liong. Saat itu aku tak ingat apa-apa lagi selain menyelamatkan Giok Cheng. Han Han telah menegurku, dan sekarang setelah semua lewat aku mengaku salah. Aku berdosa kepada Yu Yin mengabaikan pesannya, aku lupa memperhatikanmu!”

“Sudahlah, tak apa. Semua sudah lewat, Tang Siu, aku tak mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Aku tak menyalahkan siapapun, semua membawa hikmah. Bagaimana dengan Giok Cheng dan sudah semakin baikkah dia.”

“Aku merasa lebih sehat,” Giok Cheng bangkit tapi masih terhuyung dibantu kakeknya. “Terima kasih untuk perhatianmu, paman. Dan... dan tentu kalian di sini. Ayah telah menyiapkan pembaringannya dulu.”

“Maaf, Sin Gak hendak membawaku ke Sian-thian-san. Kami tak mau membuat orang lain repot-repot, Giok Cheng, kami ingin beristirahat di sana. Dua tiga bulan lagi kami berkunjung ke sini, mudah-mudahan kita semua sehat wal'afiat. Maaf kami segera pergi.”

Giok Cheng pucat, terbelalak dan tiba-tiba roboh akan tetapi untunglah Ju-taihiap menahan. Gadis itu tiba-tiba merintih menekan perutnya, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia terpukul oleh jawaban itu. Sesungguhnya ia mengharap keluarga ini di sini agar selalu berdekatan dengan Sin Gak.

Maka ketika Giam Liong berkata seperti itu dan ia merasa sakit, batinnya terpukul maka sang ibu meloncat dan sudah memeluk puterinya ini, membaringkannya ke pembaringan namun Han Han dan Giam Liong serta Ju-taihiap sama-sama tersenyum pahit. Mereka bukan orang-orang tua yang dapat dibodohi. Dan karena suasana ini dapat menimbulkan yang tidak enak lagi, Giam Liong menarik napas dalam dan menyambar lengan puteranya maka ia berpamit dan berkata bahwa dua tiga bulan lagi mereka akan berkunjung ke Hek-yan-pang.

Keluarga ini tentu saja tak dapat berbuat apa-apa. Giam Liong telah menemukan puteranya dan berhak mencari kebebasan. Betapapun mereka juga sebuah keluarga. Dan ketika Han Han mengantar sampai di seberang telaga, Giok Cheng mengguguk dan ditemani ibunya maka dua orang itu berpelukan dan masing-masing sama basah kedua matanya oleh haru dan kecewa beraduk-aduk.

“Kau...kau memberiku harapan tentang Sin Gak, Giam Liong? Kau akan datang untuk itu?”

“Entahlah, aku tak tahu, Han Han, nanti kukorek keterangan anak itu dulu. Sebaiknya jangan desak aku untuk urusan ini. Maaf!” lalu ketika bisikan itu ditutup dengan ciuman selamat jalan, masing-masing berpelukan ketat lalu saling melepaskan maka Naga Pembunuh melambaikan tangan dan pergilah ayah dan anak ini meninggalkan Hek-yan-pang.

Tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Giam Liong dan puteranya menaruh curiga akan Bi Hong. Kenapa gadis itu tak datang, kenapa Bi Hong tak muncul. Dan karena Sin Gak ingin mencari dan menemukan gadis ini, itulah sebabnya tak mau berlama-lama di Hek-yan-pang maka Ju-taihiap dan keluarganya bakal gigit jari kalau tahu sebab-sebab kenapa Sin Gak dan ayahnya meninggalkan Hek-yan-pang.

Tapi apakah pemuda ini akan menemukan Bi Hong? Berhasilkah Sin Gak mencari gadis itu? Sin Gak juga akan gigit jari, sebab sejak menyerahkan pemuda itu kepada Bu-beng Sian-su murid Naga Berkabung ini telah meninggalkan Hek-yan-pang dan pergi jauh!

Bi Hong tersedu-sedu melepas pemuda itu. Setelah ia mencium telinga pemuda ini maka gadis itu bersumpah tak akan menemui Sin Gak lagi. Ia telah berjanji kepada mendiang Su Giok untuk memberikan kebahagiaannya kepada Giok Cheng, Biarlah Giok Cheng berbahagia dengan Sin Gak. Tapi karena Sin Gak sendiri lebih cocok dengan gadis ini daripada Giok Cheng maka pertalian benang asmara ini bakal bertambah ruwet.

Bagaimanakah jadinya mereka kelak? Tetapkah rahasia penyakit Giok Cheng tertutup rapat? Nasib bakal membuat perjalanan berliku-liku. Dan untuk mengetahui itu marilah kita ikuti lanjutan kisah ini dalam cerita RAHASIA GENTA BERDARAH. Pembaca akan menemukan mereka lagi, dan sebagai penutup mudah-mudahan cerita ini dapat sekedar memberikan hiburan di samping teman pembuang sepi.

T A M A T

Tapak Tangan Hantu Jilid 36

TAPAK TANGAN HANTU
JILID 36
KARYA BATARA

Cerita Silat Mandarin Serial Golok Maut Karya Batara
“HEH-HEH, hi-hikk... terima kasih, uhh, kau... kau baik sekali, Bi Hong... kau... kau memberiku kepuasan. Ah, aku dapat mati meram!”

“Enci Giok!”

Gadis baju merah itu terguling. Su Giok meraih tangan Bi Hong akan tetapi gagal, roboh dan sudah menghembuskan napasnya penghabisan. Mata dan bibir itu tertutup, senyum mengembang jelas di saat akhir hayat gadis baju merah ini. Dan ketika Bi Hong tersedu-sedu sementara Han Han tergetar dan terharu bukan main, maka pria ini menahan mayat gadis itu berkata kepada Bi Hong,

“Ia telah meninggalkan kita, tak guna ditangisi. Kau... hm, kau gadis luar biasa, Bi Hong. Kau melepas sesuatu yang berat sekali. Seharusnya tak perlu melakukan itu.”

“Sudahlah, aku tak ingin bicara ini. Enci Giok telah meninggalkan kita, paman, aku akan mengubur jenasahnya. Tolong kau jaga Sin Gak dan paman Giam Liong dan setelah ini kita cepat-cepat ke Hek-yan-pang!”

“Aku dapat menggali lubang.”

“Tidak, paman jaga Sin Gak dan ayahnya!” lalu ketika gadis ini membalik dan melompat iapun telah membuat lubang dengan sepotong ranting, mencokel dan menusuk sementara kedua matanya masih mencucurkan air mata tiada habis-habisnya. Tangis dan sedu-sedan gadis ini membuat Han Han tak kuat juga, melompat dan membantu dan akhirnya Bi Hong membiarkan. Sebuah lubang telah siap dengan cepat. Dan ketika gadis itu memasukkan jenasah Su Giok maka diiringi air mata bercucuran bibirnya bergumam gemetar.

“Enci Giok, aku tak dapat merawat jenasahmu lebih baik. Semuanya serba seadanya. Kau pergilah dengan tenang dan selamat jalan!” membalik dan menyambar Sin Gak gadis ini berseru, “Paman, harap kau bawa paman Giam Liong. Sekarang kita harus cepat-cepat ke Hek-yan-pang. Marilah dan jangan buang-buang waktu lagi!”

Han Han terharu dan masih tergetar oleh peristiwa itu. Gadis ini masih menangis dan diam-diam ia kagum bukan main. Ia tahu benar arti tangis itu, apalagi kalau bukan persoalan asmara. Dan karena ia juga bingung oleh si sakit yang harus cepat disembuhkan, Sin Gak dan ayahnya harus cepat mendapat pertolongan maka iapun mengangguk dan sudah menyambar tubuh Giam Liong.

Sebelum melompat pendekar ini memberi hormat didepan makam Su Giok, bibirnya bergumam menyatakan sesuatu yang tak jelas. Tapi begitu Bi Hong berkelebat dan ia tak boleh ketinggalan maka Han Han sudah meluncur dan terbang merendengi gadis ini, langsung menuju Hek-yan-pang, tempat di mana Bu-beng Sian-su menunggu.

* * * * * * * *

Tang Siu menyambut suaminya dengan tersedu-sedu. Han Han bersikap dingin namun melunakkan sikapnya melihat tangis sang isteri. Ju-taihiap, ayahnya berdiri di depan kamar Giok Cheng dengan wajah muram. Bu-beng Sian-su tak ada di situ, entah di mana. Dan ketika mau tak mau ia harus menengok puterinya, Giok Cheng pucat dan menggeletak di pembaringan maka ia bertanya kepada ayahnya apa yang terjadi dengan puterinya itu, apakah sudah mendapat pertolongan.

“Sudah, tapi... tapi sesuatu mengguncangkan isterimu. Ada hal yang tak nyaman didengar, Han Han. Giok Cheng, ia... ia tak dapat...”

“Cukup, jangan sebut itu. Aku tak mau dengar itu, gak-hu. Giok Cheng tak boleh tahu. Kalian, eh... Bi Hong ada disini!”

Ju-taihiap rupanya sadar dan cepat menutup mulut. Memang Han Han mengajak gadis ini sampai ke dalam, maksudnya mencari Bu-beng Sian-su dan mencari tahu di mana kakek dewa itu berada. Giam Liong dan Sin Gak masih di pondongan mereka. Dan ketika tiba-tiba Han Han berkerut sang ayah tak jadi meneruskan, sementara sang isteri membalik dan marah menghadapi Bi Hong maka ia cepat menghadang dan menyambar lengan isterinya ini.

“Giok Cheng sudah mendapat pertolongan, bagus. Sekarang kami akan membawa Sin Gak dan ayahnya ke Sian-su. Mana Sian-su, tak usah menyalahkan atau menegur siapapun!”

Dengan kata-kata ini Han Han hendak menyatakan kepada isterinya bahwa jangan marah-marah kepada Bi Hong. Gadis itu telah melakukan sesuatu yang mulia, wajahnya masih pucat dan bekas air mata itupun masih basah. Kalau isterinya marah-marah dan hendak melepaskan emosi salah-salah dia sendiri yang akan marah. Maka mencengkeram dan menyadarkan isterinya pendekar ini melindungi Bi Hong.

“Sian-su di belakang telaga, di atas perahu. Kalian telah ditunggu dan harap cepat ke sana saja.” Ju-taihiap mewakili dan Han Han mendapat kedipan ayahnya ini. Ada sesuatu yang serius dan hendak dibicarakan namun Bi Hong ada di situ, Han Han menangkap. Maka melepaskan isterinya menyambar lengan gadis itu pendekar ini berseru,

“Baik, kalau begitu kita ke sana. Mari, Bi Hong, Sian-su menunggu di belakang!”

Bi Hong menahan tangis dan menggigit bibirnya. Hatinya masih serasa remuk teringat pembicaraannya terhadap Su Giok. Ia tak memperhatikan dan curiga kepada tangis nyonya itu, bahkan acuh dan dingin memandang Giok Cheng yang membujur di pembaringan. Maka ketika Han Han menariknya dan mengajaknya ke luar, kebetulan baginya karena ia pun tak senang berhadapan dengan Ju-hujin itu maka gadis ini meninggalkan kamar dan Han Han berkelebat ke belakang, bagian paling belakang di mana tampak sebuah perahu bergoyang-goyang lembut dengan seorang penumpangnya yang duduk bersila.

“Sian-su!” Han Han meloncat dan berlutut di dalam perahu itu. “Maafkan kami, kami...”

“Aku tahu, duduklah. Tak perlu buru-buru dan cemas berlebihan, anak muda. Semua sudah digariskan dan letakkan Naga Pembunuh itu.”

“Dan ini...”

“Ya, letakkan pula, nona. Aku mengerti. Tinggalkan mereka dan biarkan di sini.” Kakek itu memotong, mengulapkan lengannya kepada Han Han dan Bi Hong dan gadis ini menahan isak tangis berat. Diam-diam ia mencium pinggir telinga Sin Gak. Lalu ketika kakek itu mendorong dan menyuruh pergi, Han Han tertegun maka kakek ini mengulang perintahnya dengan wajah sungguh-sungguh.

“Ya, sekarang kalian pergi. Malam nanti boleh kembali dan beristirahatlah.”

“Tapi... tapi kalau kau butuh pertolongan?”

“Tak ada yang kubutuhkan, nona, pergilah dan tenangkan hatimu. Malam nanti atau besok kalian boleh kembali.”

Bi Hong menahan lagi sedu-sedannya. Akhirnya gadis ini memutar tubuh dan ke luar perahu, Han Han termangu dan sejenak memandang kakek itu lagi. Namun ketika Bu-beng Sian-su mengangguk dan minta sendiri maka kakek itu tak mau di ganggu.

“Pergilah, aku akan menolong ayah dan anak. Kau temui anak isterimu.”

“Baiklah,” Han Han sadar, teringat isteri dan ayahnya, juga Giok Cheng. “Nanti aku kembali, Sian-su. Maaf kalau kami meninggalkanmu sendiri.”

Kakek itu menghela napas, senyumnya berat. Tapi begitu Han Han meninggalkan tempat maka kakek ini mulai melakukan pertolongan dengan memegang tubuh si sakit, menggosok dan tampak berkemak-kemik dan perahu bergoyang sedikit keras. Han Han menengok kemudian berkelebat menuju anak isterinya, namun ketika tiba-tiba ia teringat Bi Hong dan berhenti mencari gadis itu ternyata murid Song-bun-liong ini lenyap entah ke mana.

“Bi Hong!” pendekar itu memanggil. “Di mana kau!”

Akan tetapi gadis ini tak ada. Tiga kali Han Han memanggil namun tiada jawaban. Dan ketika ia mengangkat bahu menganggap gadis itu pasti kembali, betapapun Sin Gak pasti ditengok maka pendekar ini memasuki rumahnya untuk kembali bertemu isteri dan ayahnya. Giok Cheng masih telentang dengan wajah pucat, murid-murid menunduk dan tak berani mengusik.

“Bagaimana keadaannya,” Han Han langsung bertanya kepada ayahnya, sedikit tak mengacuhkan isteri. “Sembuhkah dia, ayah, apa kata Sian-su.”

“Giok Cheng sembuh, tapi dua tiga bulan lagi. Sian-su telah menolongnya, Han Han, dan bagaimana dengan Sin Gak dan ayahnya.”

“Sian-su telah menolongnya, malam nanti boleh dijenguk.” Lalu teringat isyarat ayahnya tadi Han Han bertanya apa yang hendak dikatakan ayahnya tadi. “Sekarang tak ada orang lain, Bi Hong tak di sini. Apa yang hendak ayah katakan dan kenapa Siu-moi menjerit jangan.”

“Tidak, tak usah diceritakan!” nyonya itu mengguguk. “Tak ada apa-apa dengan anak kita, Han-ko. Giok Cheng akan sehat dan tak ada apa-apa!”

“Hm, jangan merahasiakan. Kau boleh menyimpannya namun aku dapat bertanya kepada orang lain, niocu, paling tidak Sian-su. Kenapa kau begitu takut dan pucat. Ada apa dengan Giok Cheng.”

“Tak ada apa-apa, tidak sungguh, anak kita sembuh total tiga bulan lagi!”

“Namun kau tersedu-sedu. Hm, aku bukan anak kecil, Siu-moi, Giok Cheng anak kita berdua. Kau melakukan kesalahan dua kali apabila menyembunyikannya kepadaku. Sebaiknya ayah ceritakan!” Han Han mulai marah dan semakin tak senang kepada isterinya ini. Ia masih tertusuk oleh sikap isterinya yang begitu mementingkan diri sendiri, yakni ketika menyelamatkan Giok Cheng sementara di situ ada Giam Liong dan Sin Gak. Mereka juga sama-sama perlu diselamatkan namun isterinya ini tak mau perduli. Ia merasa malu terhadap Bi Hong dan Su Giok. Ia tertampar oleh sikap isterinya ini.

Tapi ketika ia mulai merah dan sang ayah tahu gelagat, Ju-taihiap bukanlah seorang pengecut maka kakek itu berkata bahwa mereka tak dapat mengharapkan cucu atau keturunan lagi, suaranya gemetar. “Giok Cheng terluka parah, rahimnya terbakar. Kalaupun sembuh seumur hidup tak dapat memberikan anak.”

“Apa?”

“Gak-hu!” Tang Siu memotong pertanyaan suaminya dengan jeritan melengking. Nyonya ini menyesal dan marah akan tetapi tak dapat berbuat apa-apa. Yang berbicara adalah mertuanya, ayah dari suaminya. Maka ketika ia membentak dan meloncat keluar segera wanita ini meninggalkan kamar dengan tangis yang mengguguk.

Han Han terkejut dan pucat sekilas, tampak bahwa kekagetan tak dapat disembunyikannya lagi. Akan tetapi ketika ia batuk-batuk dan cepat sekali menenangkan guncangan batin maka pria ini ternyata telah dapat menguasai dirinya lagi, biarpun gemetar. “Giok Cheng, anakku satu-satunya, ia... ia tak dapat memberikan keturunan, ayah? Maksudnya bahwa ia mandul seumur hidup?”

“Mari kita bicara di luar,” Ju-taihiap tak enak dan memandang gadis yang masih pingsan itu. “Sian-su mengatakannya begitu, Han Han, tapi jangan keras-keras siapa tahu ia bangun. Mari keluar.”

Han Han menggigil. Pria yang sudah matang dan berusia empatpuluhan tahun ini menekan debaran jantungnya yang berdegup kencang. Giok Cheng adalah puteri satu-satunya, ayah atau orang tua mana tak ingin membahagiakan masa depannya. Tapi ngeri bahwa anak perempuannya tak mungkin seperti wanita normal, seumur hidup tak dapat melahirkan maka pendekar ini menekan guncangan batinnya karena ia tahu betul apa artinya itu. Malapetaka bagi seorang wanita!

“Hm, maaf,” Ju-taihiap duduk dan sudah berada di ruang lain. “Aku merasakan apa yang kau rasakan, Han Han, tapi dapat lebih merasakan lagi bagaimana kalau Giok Cheng tahu keadaannya itu. Ini harus dirahasiakan!”

“Ya...” Han Han mengangguk, kosong. “Pukulan itu bakal berat untuknya, ayah, dan...dan pasti ia tak kuat.”

“Benar, tak mungkin kuat. Rumah tangga tak akan bahagia tanpa keturunan, Han Han, dan bagi wanita hal itu adalah aib.”

“Ya, aib, dan Giok Cheng, ah... sungguh tak kuduga!” Han Han yang menunduk dan menitikkan air mata tak terasa lagi menangis teringat nasib puterinya itu, hampir saja tersedak namun ia dapat menguasai diri. Alangkah berat dan tersiksanya kelak anak perempuannya itu. Alangkah malu dan tak tertanggung beban penderitaannya nanti. Dan karena wanita Han menganggap aib, wanita yang tak dapat menjadi ibu dianggap hina dan bodoh, maka Han Han memejamkan mata menggigit bibir kuat-kuat. Padahal Bi Hong telah siap memberikan kebahagiaannya kepada puterinya itu!

Hampir saja pria ini tersedu. Untunglah ayahnya yang batuk-batuk segera menyentuh lengannya mengingatkannya akan sesuatu. Seorang gagah dan jantan akan menerima apa saja dengan tabah, Ju-taihiap membisikkan itu. Dan ketika Han Han mengangguk dan bangkit berdiri akhirnya ia masuk ke kamar puterinya lagi, bersila dan bertahan kuat-kuat dan menghilangkan segala kepedihan batin. Ada Bu-beng Sian-su di situ, ada sesuatu yang pasti dapat dipetik sebagai hikmahnya. Maka ketika ia duduk bersamadhi menemani sang puteri menanti malam, ayahnya masuk dan bersila pula di sebelahnya, maka Ju taihiappun memejamkan mata dan menemani puteranya ini menguatkan batin.

Pukulan itu memang berat bagi keluarga Ju. Giok Cheng adalah satu-satunya anak perempuan mereka, satu-satunya tumpuan di mana kelak menikah dan memberikan tambahan kebahagiaan dengan anak atau cucu. Aib besar bagi wanita Han bila seorang perempuan tak dapat menjadi ibu. Kedudukan itu disamakan dengan seorang pelacur rendahan, hidup hanya untuk memberi kesenangan kepada pria dan melulu mengumbar nafsu berahi belaka.

Wanita yang tak dapat memberikan anak bakal dicampakkan pula oleh suaminya, dianggap bodoh dan pendosa, pembawa sial. Dan karena anggapan ini amat menyakitkan dan merendahkan martabat maka biasanya keluarga si gadis “membuang” anak perempuannya dan tak mau mengakui anak. Kejam!

Tapi mana mungkin bagi suami isteri ini membuang Giok Cheng. Di samping mereka mencintai anak gadisnya itu juga karena Giok Cheng adalah anak semata wayang. Itulah sebabnya tak heran kalau Tang Siu menangis sampai mengguguk tak mau suaminya tahu. Namun karena hal itu tak mungkin dan Han Han akhirnya tahu, maka pendekar inipun termangu dan hari itu dilewatkan dengan bersamadhi di sisi puterinya.

Tak ada sesuatu yang istimewa hari itu. Matahari lewat serasa merayap dan Ju-taihiap maupun puteranya masih bersila tak bergeming. Masing-masing mengerahkan kekuatan batin untuk mohon kepada Yang Maha Kuasa agar tak ada sesuatu yang lebih buruk lagi. Giok Cheng dapat sembuh lebih cepat dan mereka akan menyambut gadis itu dengan lebih gembira, meskipun untuk hal yang satu itu mereka menahan sakit. Ada sesuatu yang menusuk kalau teringat ini. Dan ketika matahari terus bergeser dan akhirnya terbenam ke barat, murid-murid, Hek-yan-pang memasang lampu-lampu maka Tang Siu berkelebat muncul dengan mata sembab.

“Gak-hu!”

Ju-taihiap membuka mata. Kakek ini bangkit dan melihat menantunya siap menangis lagi, menyambar dan menekan lengan wanita itu agar tidak berisik. Giok Cheng masih tak sadar. Dan ketika Ju-taihiap bertanya apa yang hendak dilakukan wanita itu ternyata Tang Siu telah menunggu mereka di meja makan.

“Aku... aku telah menyiapkan makan minum untuk gak-hu dan Han-ko. Kalian tinggalkan dulu kamar ini.”

“Kau sendiri, apakah sudah makan Tang Siu?”

“Aku akan menggantikan kalian di sini, aku belum lapar.”

“Hm, aku sendiri juga belum, tapi entah suamimu.” dan ketika kebetulan Han Han membuka mata maka Ju-taihiap berkata bahwa Tang Siu telah menyiapkan makan minum mereka. “Isterimu ingin menggantikan di sini, kau mungkin lapar.”

“Tidak,” Han Han ternyata menggeleng. “Aku tidak lapar, ayah, justeru ingin menengok Giam Liong. Kalau Siu-moi di sini kebetulan, biar gantian menjaga Giok Cheng.”

Ju-taihiap teringat. Tiba-tiba ia menjadi merah karena melupakan itu, puteranya membuat ia tersipu. Maka ketika ia berkata bahwa iapun ingin menengok Giam Liong, juga Sin Gak maka Han Han berkelebat meninggalkan kamar.

“Kami sama-sama belum lapar. Kau jagalah di sini, Tang Siu, kami akan melihat Giam Liong.” Ju- taihiap melompat menyusul puteranya. Ia malu sendiri tak seperti Han Han, sama sekali lupa atau tak teringat yang lain. Maka begitu ia melompat dan meninggalkan kamar segera Ju-taihiap menyusul mengejar puteranya.

Bulan terbit sepotong. Perahu di belakang telaga masih bergoyang lembut dan Han Han berseri, kakek dewa itu masih bersila dan berada di sana. Namun ketika tiba-tiba ia berhenti mengejutkan sang ayah, Han Han menoleh kiri kanan maka Ju-taihiap bertanya apa yang ia cari.

“Bi Hong, gadis itu. Ia tak ada di sini, ayah, belum datang. Aku tadi mencarinya dan seharusnya ia datang.”

“Mungkin sebentar lagi, kita tunggu saja. Lihat Sian-su menunggu kita, Han Han, dan Giam Liong, ah... ia bangun!”

“Benar, dan Sin Gak juga. Ah, mereka lebih cepat daripada Giok Cheng, ayah. Tampaknya sudah sembuh!” Han Han lupa kepada Bi Hong, melompat dan memasuki perahu dan langsung saja memeluk Naga Pembunuh.

Giam Liong baru saja sadar dan kebetulan puteranya juga, Sin Gak membuka mata dan melihat pamannya serta Ju-taihiap ini. Dan ketika dua orang itu mengeluarkan seruan girang dan merangkul mereka, Sin Gak duduk dan bergoyang-goyang di atas perahu maka Han Han telah menangkapnya dan Ju-taihiap pun tampak berseri.

“Kalian sudah sehat, syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ah, kami cemas melihat keadaan kalian, Giam Liong, kini kalian sembuh dan menggembirakan kami. Terima kasih kepada Sian-su yang telah seharian di sini!”

“Hm, heh-heh.” kakek itu tertawa. “Sembuh semuanya belum, Ju-taihiap, masih harus beristirahat sebulan dua bulan lagi. Bagaimana puteri kalian Giok Cheng.”

“Belum sadarkan diri, tapi napasnya membaik. Ibunya menjaga di sana, Sian-su, dan kami memenuhi janji. Kami ingin melihat Giam Liong dan puteranya.”

“Benar, semua butuh perhatian. Aku gembira melihat keadaan mereka, Sian-su, pertolonganmu tak sia-sia!”

“Sudahlah, mereka masih tak boleh banyak bicara. Khusus Naga Pembunuh dadanya melesak dan akan menderita nyeri. Sedangkan anak muda ini, hm... telinga kirinya tuli, pendengarannya kurang sempurna.”

Han Han dan ayahnya terkejut dan memperhatikan dua orang itu. Sin Gak tampak terlongong-longong dan ada kesan setengah tuli sementara Naga Pembunuh membungkuk menekan dada, terbatuk. Dan ketika mereka terbelalak dan berubah sejenak, Giam Liong bangkit berdiri maka Naga Pembunuh ini berkata bahwa dadanya memang sesak, seakan disodok atau ditekan benda berat.

“Aku, uhh... dadaku memang sakit. Tapi bagaimana keadaan puterimu Giok Cheng, Han Han, aku ingin menengok sebentar.”

“Jangan, tidak usah!” Han Han tiba-tiba berseru dan mencengkeram lengan sahabatnya ini. “Isteriku di sana, Giam Liong, hanya membuat sebal saja. Kau masih sakit dan duduk sajalah!”

“Membuat sebal?” Giam Liong terkejut mengerutkan kening, terbatuk lagi. “Apa maksudmu, Han Han, kau memaki isterimu sendiri.”

“Biarlah, aku jengkel. Aku tak senang perbuatannya dan besok saja ke sana. Ia membuat malu aku!”

“Hm!” Ju-taihiap batuk-batuk. “Ada Sian-su dan Sin Gak di sini, Han Han, jangan melepaskan kemarahan secara kasar. Jelek-jelek dia isterimu.”

“Tapi...”

“Sudahlah, tak bijak membawa persoalan itu ke sini. Kita datang bukan untuk mengumpat-caci, kita datang untuk melihat dan menghibur Giam Liong serta puteranya. Duduklah dan tak perlu bicara itu.” lalu ketika Han Han sadar dan tampak semburat, maka Ju-taihiap pun meminta maaf pada kakek dewa itu, yang disambut kekeh geli.

“Semua kejadian tentu ada hikmahnya. Justeru aku gembira mendengar ini, Ju-taihiap, tak usah ditutup-tutupi. Bukankah kita adalah orang sendiri. Giam Liong dan Sin Gak termasuk keluargamu, Naga Pembunuh adalah puteramu pula.”

Ju-taihiap mengerutkan kening. Ia heran sekaligus terkejut melihat sikap kakek dewa ini. Ada kesan bahwa kakek itu senang melihat Han Han dan dirinya bertengkar. Maka ketika ia memandang kakek itu namun mata di balik kabut itu mencorong tajam tiba-tiba jago pedang ini menunduk namun diam-diam tersimpan ketidaksenangannya bahwa Bu-beng Sian-su seakan menyukai pertengkaran!

“Hm, apa yang terjadi,” Giam Liong mulai curiga. “Tidak biasanya kau marah-marah seperti ini, Han Han, apalagi terhadap isteri sendiri. Seharusnya kau beruntung bahwa seorang isteri menemanimu. Lihat aku, duda seumur hidup!”

“Aku tak ingin bicara tentang itu,” Han Han mengelak dan teringat teguran ayahnya. “Sekarang bagaimana kau sendiri, Giam Liong, bagaimana perasaanmu, juga Sin Gak.”

“Aku merasa tertolong, nyaris menghadap Giam-lo-ong (Maut). Kalau ini berkat Sian-su biarlah kunyatakan terima kasih dulu!”

“Benar, akupun begitu. Hanya, ah. telinga kiriku buntu, ayah, rasanya tersumbat. Tapi aku merasa baikan dan terima kasih atas pertolongan Sian-su!” Sin Gak menyusul ayahnya, berlutut dan mengucapkan terima kasih sementara kakek itu tersenyum lebar. Sepasang matanya tertawa geli. Lalu ketika ia mengebut dan ayah serta anak terdorong duduk kakek itu berseru,

“Nasib sudah mengharuskan begitu. Telinga kirimu cacad, anak muda, sementara ayahmu melesak dadanya dan jalan akan sedikit terbungkuk. Sudahlah tak perlu mengucapkan terima kasih karena masing-masing membawa dan menerima hukum sebab dan akibat.”

Han Han menarik napas dalam, terharu juga. “Apakah tak dapat diperbaiki, Sian-su. Maksudku apakah tak dapat disembuhkan total.”

“Sudahlah, aku cukup menerima,” Giam Liong menggeleng dan mendahului. “Bahwa aku masih hidup adalah berkah yang harus kusyukuri, Han Han, tak perlu meminta yang lebih jauh lagi. Aku beruntung bahwa kami berdua masih hidup!”

“Dan mana Bi Hong,” Sin Gak tiba-tiba melepaskan perhatiannya, diam-diam cemas. “Mana pula Su Giok, paman. Bagaimana mereka.”

“Su Giok tewas,” Han Han berkata menahan pedih. “Sedang Bi Hong aku tak tahu, Sin Gak, tentu sebentar lagi ia ke sini. Dialah yang membawamu ke mari.”

“Ah, Su Giok, ia tewas?” Giam Liong terkejut, berubah mukanya. “Dimana makamnya, Han Han, bagaimana mula-mula dengan gadis itu!”

“Ia terluka parah.“

“Benar, ia terluka parah,” Sin Gak berseru, mengangguk pucat, teringat kejadian itu. “Rasanya seperti mimpi, paman. Bagaimana keadaannya dan bagaimana ia tewas, kenapa tak dibawa pula ke sini!”

“Hm, ia membawa ayahmu, gadis itu keras kepala. Kami tak dapat berbuat banyak dengan gadis ini, Sin Gak. Aku sendiri terpaksa mengikuti dan menuruti kehendaknya. Maaf kalau di tengah jalan ia menghembuskan napas terakhirnya.”

Han Han lalu menceritakan kejadian itu, tidak menceritakan apa yang terjadi antara gadis itu dengan Bi Hong dan Sin Gak maupun ayahnya mendengarkan pucat. Lalu ketika Han Han mengakhiri bahwa gadis itu meninggalkan pesan cintanya untuk Naga Pembunuh ini, maka Giam Liong tersedak dan tiba-tiba menitikkan dua butir air mata, mengepal tinju dan memejam.

“Aku... aku tak mungkin dapat menerimanya. Kutuk Golok Maut tak berani membuat aku main-main lagi dengan wanita, Han Han. Lihat isteriku Yu Yin ibunya Sin Gak ini. Aku tak mungkin menerimanya!”

“Tapi Golok Maut telah lenyap bersama pemiliknya,” Han Han berseru, kejadian itu seakan masih di depan mata. “Kalau ia hidup tak ada salahnya menerima gadis itu, Giam Liong. Cintanya tulus dan amat besar kepadamu. Aku terharu!”

“Hm, aku seorang duda, terlalu tua untuknya. Bagaimana dengan anakku Sin Gak, Han Han, memangnya ayah harus bersaing dengan anak. Aku bukan muda lagi, malu kepada Giok Cheng dan lain-lain!”

“Tapi kalau enci Giok masih hidup tak ada salahnya ayah menerima. Aku pribadi tak apa, ayah butuh pendamping.”

“Nah, apa kata anakmu. Usiamu belum setua aku, Giam Liong. Kalau sudah enam puluhan dan kawin lagi maka kesannya seperti mencari daun muda. Yang harus malu kalau seusia aku, kecuali sama-sama umur!” Ju-taihiap menimpali, setengah menggoda dan menyesali sikap Naga Pembunuh ini hingga yang lain mengangguk dan tersenyum.

Akan tetapi ketika Giam Liong tak menyambut gurauan itu dan masih terpukul oleh tewasnya. Su Giok tiba-tiba ia memandang Bu-beng Sian-su dan bertanya lirih, “Maaf, Sian-su agaknya membiarkan gadis itu menerima nasibnya. Apakah ia memang tak dapat ditolong lagi, Sian-su, atau ada sebab lain yang membuatmu membiarkannya begitu.”

“Hm, kematian seseorang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa. Jangan menyalahkan aku dengan pertanyaanmu itu, Naga Pembunuh, yang harus pergi tak mungkin kembali. Aku bukan penentang Alam dan pencegah kematian.”

“Maaf, maksudku ah, sudahlah. Mungkin aku terbawa perasaanku, Sian-su, tapi tentu ada sesuatu yang ingin kau berikan kepada kami. Peristiwa ini pasti membawa pelajaran, bukan kebiasaanmu untuk lewat begitu saja!”

“Heh-heh, kau mulai mengorek keterangan. Memang bukan kebiasaanku untuk berlalu begitu saja, Naga Pembunuh, ada sesuatu yang tentu penting dan berguna untuk kalian. Dan ini berawal dari dirimu dan Han Han!”

“Aku?”

“Ya, kau, dan Han Han.”

“Hm, apa yang kuperbuat.” Han Han terkejut dan membelalakkan mata. “Ada apa dengan aku, Sian-su. Dosa apakah yang telah kulakukan!”

“Ha-ha, bukan dosa, bahkan sebuah pelajaran baik. Tapi bisakah kumulai, anak muda, jangan-jangan ayahmu marah kepadaku!”

Ju-taihiap ganti terkejut, punggung tiba-tiba diangkat tegak. “Apa pula maksudmu, Sian-su, kenapa aku terbawa-bawa.”

“Ha-ha, persoalannya memang begitu, tapi tunggu dulu. Seseorang akan datang!”

Baru saja kata-kata ini selesai diucapkan mendadak berkesiur angin dingin dan seseorang muncul di situ. Perahu bergoyang sedikit dan Han Han serta yang lain menoleh, kaget melihat seorang kakek muncul bagai iblis, berjenggot panjang dan berambut serba putih dengan pakaian putih-putih pula. Tapi begitu Han Han melihat kakek ini dan meloncat bangun tiba-tiba ia berseru,

“Suhu!”

Kakek itu tersenyum. Yang Im Cinjin, tokoh selatan yang sakti ini datang secara tiba-tiba. Inilah guru Han Han yang amat lihai, seorang pertapa namun yang jarang keluar dari pertapaannya. Dan ketika kakek itu mengangguk dan menjura kepada Bu-beng Sian-su, tak menghiraukan muridnya maka pertapa ini berseru, suaranya lembut namun tegas,

“Aku mendengar kejadian hebat di Hutan Iblis, terlambat menyaksikan dan menolong anak-anak muda ini. Sekarang aku datang mendengar panggilanmu, Sian-su, maaf kalau terlambat.”

“Ha-ha, Cinjin terlalu merendah. Aku sengaja menunggumu, totiang, kebetulan anak-anak ini berkumpul di sini. Duduklah, kau benar. Aku mencarimu dan kau begitu tenggelam dalam bertapa. Maaf kalau aku mengganggu.”

“Tidak,” kakek ini mengebutkan lengan baju, duduk berhadapan. “Justeru rupanya sesuatu yang penting ingin kau beritahukan kepadaku, Sian-su. Melihat peristiwa di Hutan Iblis itu aku merasa kecil dan tak berarti apa-apa.”

“Hm, Cinjin tak perlu berkecil hati. Mereka telah pergi dan sesalpun tiada guna, anak-anak ini menjadi korban.”

“Bagaimana dengan puterimu,” kakek itu tiba-tiba memandang Han Han. “Aku tak dapat berbuat apa-apa dan maafkan kalau datang setelah semua itu terjadi.”

“Tak apa, Sian-su telah menolongnya. Giok Cheng ada di kamarnya, suhu, masih belum sadar. Akan tetapi keadaannya sudah membaik dibanding dulu.”

“Bagus, dan kau,” kakek ini memandang Ju-taihiap. “Kudengar ada pertengkaran antara dirimu dan Han Han, Ju-taihiap. Kalau Han Han bersalah biarlah aku sebagai gurunya minta maaf. Mungkin didikanku dulu kurang baik.”

“Tidak, Cinjin tak usah berkata seperti itu. Aku dan Han Han hanya berselisih sedikit, masalah kecil. Dan kau, eh. bagaimana tahu itu!”

“Aku tahu secara kebetulan, kulihat dari jauh. Tapi Sian-su, hmm... rasanya menyebut-nyebut ini. Biarlah kita hadapi yang terhormat Bu-beng Sian-su dan mudah-mudahan semua mendapat petunjuk!” kakek itu tersenyum, kembali memandang Bu-beng Sian-su dan kakek dewa ini terkekeh. Halus sekali tawanya. Dan ketika Giam Liong mengerutkan kening karena persoalan itu tiba-tiba diungkit kembali, ia juga melihat sesuatu yang serius, maka Yang Im Cinjin sudah berhadapan kembali dengan kakek dewa itu.

“Cinjin terlalu memuji, semua kupikir biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa bagiku, kecuali mungkin bagi anak-anak muda ini. Hm, kaulah pembuka kunci utamanya, Cinjin, bukan aku. Harap kau saja yang memberi petunjuk dan jangan merendahkan diri.”

“Heh-heh, aku bukan apa-apa dibanding dirimu. Dulu aku kalah, Sian-su, dan mungkin hari ini kalah juga. Aku tak berani bicara apa-apa kecuali menimpali dan mungkin menyanggah. Kau mulailah dan biarkan kami semua mendengar!”

Bu-beng Sian-su tertawa, perahu bergoyang keras dan tiba-tiba kakek ini membentak. Jarinya menuding Ju-taihiap hingga jago pedang itu terkejut. Dan ketika semua juga terkejut kenapa kakek ini menjadi bengis, maka kakek itu berseru, “Kau membela menantumu Tang Siu. Heh, katakan alasanmu kenapa begitu, Ju-taihiap Ceritakan secara jujur dan terbuka pertengkaranmu dengan Han Han!”

Ju-taihiap terkejut, berdiri dan mengeluarkan seruan tertahan. Ia tiba-tiba menjadi kaget kenapa kakek ini mengungkit pertengkarannya dengan Han Han. Bukankah itu urusan keluarga, tak layak didengarkan orang lain apalagi Giam Liong dan Sin Gak. Tapi ketika ia menggigil dan berubah-ubah, hendak memprotes tiba-tiba Yang Im Cinjin tertawa dan berseru,

“Benar, akupun heran. Ceritakan pertengkaranmu dengan Han Han, Ju-taihiap. Benar salah hendak kuselidiki. Jawab pertanyaan Sian-su dan jangan buat aku penasaran!”

“Kau, kalian eh, apa yang hendak kalian maui, Cinjin. Bukankah ini urusan keluarga dan bersifat pribadi. Aku tak dapat menceritakannya!”

“Kalau begitu Han Han akan kusuruh. Heh, kau!” kakek ini menuding. “Ceritakan persoalanmu dengan ayahmu, Han Han. Bicarakan secara jujur dan blak-blakan agar kami tahu!”

Han Han tergetar. Sama seperti ayahnya iapun mula-mula terkejut dan berubah. Sikap Bu-beng Sian-su yang bengis dan seakan hendak mencampuri urusan keluarga diterimanya dengan kening berkerut pula. Tapi ketika gurunya berseru dan minta ia menjawab, berarti ada kesepakatan di antara dua orang ini maka Han Han pun menjadi berdebar dan bingung.

“Ayah... kami...”

“Teruskan, jangan biarkan aku bicara sendiri. Kami bukan hendak melancangi urusan kalian, Han Han, melainkan mengupas sesuatu yang akan diterangkan Sian-su. Jawablah, jangan takut-takut!”

Han Han menelan ludah, melirik ayahnya lalu Giam Liong, juga Sin Gak. Dan ketika dengan berat ia berkata akhirnya meluncurlah pengakuan yang sebenarnya tidak enak untuk didengarkan Giam Liong dan puteranya. “Kami... kami bertengkar masalah Tang Siu. Maksudku aku tak menyetujui sikap isteriku sementara ayah agaknya condong ke sana.”

“Masalah apa,” Giam Liong tiba-tiba bertanya. “Tampaknya begitu serius dan berat kau menjelaskan ini, Han Han. Persoalan apa antara kau dengan isterimu itu!”

“Persoalan kalian berdua, dirimu dan Sin Gak. Maksudku, eh... ketika kalian sama-sama terluka parah dan harus dibawa ke sini.”

“Hm,” Giam Liong heran, memang tak mengetahui ini. “Agaknya ada yang menarik, Han Han. Ada apa dengan aku dan Sin Gak.”

“Aku... Tang Siu...” Han Han ragu.

“Ceritakanlah, tak ada sakit hati di kami berdua. Kalau ini menyangkut sesuatu yang amat penting percayalah tak ada dendam atau semacamnya, Han Han. Sian-su begitu serius dan tentu ada apa-apa yang berguna!”

“Begini, bolehkah kutolong,” kakek dewa itu tiba-tiba berkata. “Waktu itu kalian bertiga sama-sama terluka parah, Naga Pembunuh, tapi aku tak mau menolong kalian di sana. Han Han dan isterinya kuperintahkan membawa kalian ke sini.”

“Benar, isteriku membawa Giok Cheng. Dan aku serta Su Giok membawamu dan Sin Gak.”

“Tidak, Sin Gak dibawa Bi Hong!” Ju-taihiap tiba-tiba berseru dan berubah sikapnya, sudah mulai tenang dan percaya lagi. Pertanyaan itu pasti membawa manfaat. “Kau dibawa Su Giok sementara Bi Hong membawa puteramu, Giam Liong. Kami berdua hanya mengiringi!”

“Benar,” Han Han mengangguk. “Mula-mula memang begitu, Giam Liong, tapi Giok Cheng pun semula dibawa kakeknya ini. Ibunya merampas kemudian lari pergi."

“Nah, itulah!” Ju-taihiap berseru lagi. “Ibu mana tak gelisah dan cemas melihat keadaan puterinya seperti itu, Giam Liong. Tang Siu mendahului dan Han Han marah-marah!”

“Marah-marah?”

“Ya, ia tak senang isterinya mendahului. Maksudnya biarlah bersama-sama karena kaupun dan Sin Gak terluka!”

“Hm,” Giam Liong mengangguk-angguk, mulai mengerti. “Lalu bagaimana, ayah. Apa yang terjadi selanjutnya.”

“Aku menyuruhnya menyusul, tapi ia tak mau.”

“Kemudian?”

“Kami bertengkar sedikit, dan...dan terus terang aku tak menyalahkan Tang Siu!”

“Hm, bukankah Bi Hong dapat membawaku cepat,” Sin Gak bertanya dan agak terheran-heran.

“Itulah celakanya. Gadis itu tak mau mendahului Su Giok, Sin Gak, karena Su Giok membawa ayahmu. Dan karena Su Giok juga luka parah maka perjalanan menjadi lambat!”

“Hm, mengerti aku,” Giam Liong bersinar dan mengangguk-angguk. “Sekarang lebih jelas bagiku, ayah. Kiranya waktu itu aku dibawa Su Giok sementara Bi Hong membawa Sin Gak. Dan karena Su Giok terluka dan Tang Siu tak mau menunggu maka ia membawa Giok Cheng dan kalian menyusul di belakang.”

“Betul, tapi akhirnya aku menyusul Tang Siu. Han Han tak mau menyusul isterinya dan aku sebagai kakek tentu ingin tahu keadaan Giok Cheng.”

“Kalau begitu persoalannya apa. Tak ada yang aneh yang kulihat di sini, ayah. Semuanya wajar dan kenapa Han Han dan kau bertengkar.”

“Ha-ha, inilah yang menarik. Inilah yang hendak dikupas di sini, Naga Pembunuh. Siapakah yang lebih benar antara ayah dan anak!”

“Maksud Sian-su?” Giam Liong terkejut.

“Biar Yang Im Cinjin yang bicara, aku mempersilakannya mengambil alih.”

Pertapa itu batuk-batuk, tersenyum dan berseri. Bu-beng Sian-su memandang kakek ini dan kakek itupun memandang yang lain-lain. Lalu sementara Giam Liong dan puteranya mengerutkan kening, sedikit tak mengerti maka kakek ini tertawa lebar.

“Hm, yang terhormat Bu-beng Sian-su mendorongku maju. Baiklah, kukatakan kepada kalian bahwa selama bertahun-tahun ini sesungguhnya terjadi debat sepihak antara aku dan Sian-su. Dulu sebelum Kim-sim Tojin tewas, debat ini milik kami berdua, namun karena Kim-sim totiang telah meninggal baiklah kupikul sendiri permasalahan ini. Begini, sebuah pertanyaan pernah kulontarkan kepada Sian-su, anak anak. Pertanyaan tentang Kebenaran, tepatnya Kebenaran Sejati. Dapatkah kita mengetahui atau memiliki Kebenaran Sejati ini!”

“Maksud Cinjin?“

“Tunggu, persoalannya sudah muncul. Jangan potong pembicaraanku ini, Giam Liong, aku sedang gembira dan kalian ini obyeknya. Lihat dan dengarkan cerita tadi, siapakah sesungguhnya yang lebih benar antara Han Han dan Ju-taihiap!”

“Hm, aku masih bingung,” Sin Gak tiba-tiba bertanya. “Apa inti persoalan ini, ayah, dapatkah kau menjelaskan sedikit.”

“Inti persoalannya jelas,” Yang Cinjin berseru. “Han Han menyalahkan sikap isterinya sementara sang ayah membelanya, Sin Gak. Pamanmu tak setuju Giok Cheng dibawa lebih dulu karena kau dan ayahmupun sama-sama butuh pertolongan!"

“Benar,” Ju-taihiap mengangguk. “Aku tak menyalahkan sikap bibimu, Sin Gak, sementara pamanmu menentangnya habis-habisan. Tak patut baginya meninggalkan kalian sementara Giok Cheng dibawa lebih dulu. Ini berkesan mementingkan diri pribadi, tak ingat keselamatan orang lain!”

“Hm, begitu kiranya,” pemuda ini mengangguk, mulai mengerti. “Kalau begitu menarik juga, lo-enghiong, tapi paman dan bibi agaknya sama-sama memiliki kebenaran.”

“Sekarang siapa yang lebih benar!” Yang Im Cinjin berseru. “Inti pertanyaannya adalah itu, Sin Gak. Di antara dua kebenaran ini siapa yang lebih benar, pamanmu atau bibimu!”

“Wah,” pemuda ini bingung. “Kalau menurutmu bagaimana, ayah, siapa yang lebih benar.”

“Aku pribadi membela Tang Siu,” Ju-taihiap memotong, mendahului Naga Pembunuh itu. “Sebagai ibu tak salah ia memikirkan keselamatan puterinya, Sin Gak, kalau bibimu disalahkan terus terang aku menolaknya!”

“Hm, aku bingung,” Giam Liong bicara dan menggeleng. “Kalau aku menjadi Han Han rasanya isterikupun kusalahkan, ayah. Tapi kalau kau membela Tang Siu rasanya juga tidak kelewatan.”

“Tentu, ia seorang ibu. Wanita mana tega membiarkan anaknya sekarat, Giam Liong. Kalau ia merampas dan akhirnya membawa Giok Cheng rasanya tak berlebihan.”

“Tapi Giam Liong dan Sin Gak bukan orang lain,” Han Han tiba-tiba memprotes. “Giam Liong adalah saudaraku juga, ayah, sama-sama butuh pertolongan. Kalau Siu-moi meninggalkan kami tetap saja ia kuanggap mementingkan diri sendiri. Ia tak memiliki toleransi!”

“Tapi ia seorang ibu, Giok Cheng puteri satu-satunya!”

“Tapi Giam Liong dan Sin Gak bukan seekor kucing atau ayam, merekapun manusia. Kalau mereka ini bukan manusia agaknya tak apa-apa, ayah, namun mereka manusia, dan saudaraku pula!”

“Sudahlah, sudah!” Yang Im Cinjin terkekeh. “Yang kami kehendaki bukan pertengkaran di sini, Han Han, melainkan siapa lebih benar dari kalian. Nah, lepaskan diri sebagai subyek dan amatilah obyek itu sebagai pengamat. Aku tidak menghendaki kalian bertengkar!”

Han Han merah padam. Teringat isterinya itu lagi-lagi ia geram. Sementara sang ayah, Ju-taihiap yang berkerut kening dan tak dapat menerima puteranya menyalahkan Tang Siu bersikukuh kepada pendapatnya pula. Betapapun Tang Siu benar, meskipun Han Han juga tidak salah. Dan karena puteranya menyalahkan dan itulah yang tidak ia setujui, ia memberontak dan membela maka gerakan lengan baju Yang Im Cinjin menyadarkannya bahwa di situ bukan tempat bertengkar.

“Hm, aku pribadi sebatas tak terima kalau ibu Giok Cheng disalahkan. Aku dapat mengerti perasaan wanita, Cinjin, khususnya seorang Ibu. Karena aku mengerti ini maka tindakannya tak kusalahkan!”

“Jadi menurutmu Han Han salah?”

“Ini, eh... tidak juga. Sudut pandang Han Han kumengerti pula. Hanya kalau ia berkeras dan menyalahkan isteri maka aku menentangnya!”

“Heh-heh, bagaimana menurut kalian,” kakek itu menuding Sin Gak dan ayahnya. “Coba berikan pandangan atau jawaban, anak-anak, aku ingin mendengar.”

“Bagaimana menurut locianpwe sendiri,” Giam Liong tiba-tiba berseru dan disambut anggukan puteranya. “Coba locianpwe beritahukan siapa yang lebih benar!”

“Aku pribadi, hmm...condong kepada Han Han. Aku mendidiknya untuk menjadi seorang gagah dan tidak memikirkan diri sendiri. Kalau ia menegur isterinya maka itu tepat.”

“Kalau begitu akupun begitu. Bukan karena aku tak senang lalu menyalahkan Tang Siu, locianpwe, sebab kalau akupun seperti Han Han maka isterikupun kusalahkan!”

“Nah, tiga lawan satu. Sekarang bagaimana pendapatmu, Sin Gak, siapa yang kau bela!”

“Nanti dulu, perbandingan adalah dua lawan tiga. Di balik Ju-taihiap adalah wanita itu, Cinjin, seperti halnya Han Han yang ada di sini.”

“Ah, maaf, kau benar. Tiga lawan dua Sian-su, sekarang bagaimana Sin Gak!”

Pemuda ini bingung. Mendengar cerita itu iapun berdebar dan menjadi tegang. Karena ia tak merasakan kasih sayang seorang ibu tentu saja tindakan sang bibi menyentuh hatinya. Ia terharu dan tiba-tiba condong kepada wanita ini. Saat itu terbayanglah bagaimana kalau ibunya masih hidup. Kalau ada kejadian seperti ini tentu ia pun akan diperlakukan seperti Giok Cheng. Kasih seorang ibu benar-benar tak terbatas, apapun bisa dikorbankan demi seorang anak. Maka ketika ia menggeleng dan berbasah air mata mendadak iapun berkata bahwa ia terpaksa membela sang bibi.

“Agaknya tindakan bibi Tang Siu tidak salah. Kalau aku didesak untuk membela siapa maka aku berdiri dibelakangnya, locianpwe, maafkan.”

“Kau, eh... apa alasanmu berkata seperti itu?” bukan hanya Yang Im Cinjin, ayahnya dan Han Han pun terkejut mendengar jawaban itu, apalagi mata Sin Gak yang berkaca-kaca. Tapi ketika pemuda itu berkata bahwa ia membayangkan dirinya sendiri, kalau sang ibu masih hidup maka Han Han dan Giam Liong terpukul.

“Sederhana alasanku, kalau ibu masih hidup dan aku terluka parah tentu ia tak akan perduli apa-apa dan menolong aku menerjang segala tata-pergaulan. Dan aku, maaf.... kasih sayang seorang ibu mudah menyentuhku, locianpwe, karena itu... karena itu aku tak menyalahkan bibi Tang Siu. Aku berdiri di belakangnya.”

“Ha-ha-ha...” tawa kakek dewa tiba-tiba meledak. “Sekarang kedudukan sama kuat, Cinjin, tiga lawan tiga!”

“Hm,” kakek itu merah padam. “Tunggu dulu, anak ini masih emosionil. Sin Gak dapat merubah pendapatnya, Sian-su, tunggu dan jangan terburu-buru dulu. Kau.....!” kakek ini menuding Sin Gak. “Pendapatmu barangkali berubah, anak muda, masa kau berhadapan dengan ayahmu sendiri. Lihat, ia bersama kami!”

“Tidak,” Sin Gak menggeleng. “Boleh jadi aku terbawa perasaanku, locianpwe, tapi tegas-tegas aku membela bibi Tang Siu. Kasihnya sebagai ibu tak dapat kusalahkan, dan Giok Cheng beruntung mendapatkan itu. Kalau saja ibuku masih hidup!"

“Ha-ha, nah! Sekarang tak dapat kau bujuk lagi, Cinjin. Kedudukan tetap tiga-tiga, kau di pihakmu dan anak muda itu dipihaknya!”

“Baik,” kakek membalik. “Kalau begitu bagaimana kau sendiri, Sian-su, siapa yang lebih benar. Mereka atau kami!”

“Benar,” Ju-taihiap juga ingin tahu. “Kau sendiri bagaimana, Sian-su. Siapa yang kau bela, kami atau mereka!”

“Ha-ha-ha, heh-heh-heh! Kalian jadi seperti anak kecil yang mencari perlindungan di tubuh orang tuanya, Ju-taihiap. Untuk menjawab ini sudah kuserahkan Yang Im Cinjin. Jawabanku sudah jelas!”

“Hm, tentu yang kau maksudkan adalah ini,” Yang Im Cinjin mengeluarkan sesuatu, sebuah surat. “Dari dulu benda ini membuatku penasaran, Sian-su, sekarang siap kau buka. Baiklah, aku terus terang belum tahu jawabanmu!”

Han Han dan Giam Liong memperhatikan itu, begitu juga Ju-taihiap. Lalu ketika Naga Pembunuh ini mengenal maka Giam Liong berseru pendek. “Surat syair itu!”

“Benar, syair ini,” Yang Im Cinjin mengangguk dan tampak jengkel. “Bertahun-tahun aku menerkanya tak juga ketemu, Naga Pembunuh, sekarang saatnya dan biar pusingku hilang. Kau tentu menghafalnya atau Han Han boleh membaca!”

Han Han sudah lupa-lupa ingat. Yang Im Cinjin membuka ini dan semua matapun memandang. Itulah surat yang dulu terapung-apung di telaga Hek-yan-pang, diambil dan diserahkan Naga Pembunuh ini kepada Kim-sim Tojin. Surat itu untuk Kim-sim Tojin dan Yang Im Cinjin. Namun karena Kim-sim Tojin telah tiada dan Yang Im Cinjin lah yang membawa maka kakek pertapa inilah yang membukanya dan Sin Gak yang tak tahu asal mula surat itu hanya terbelalak saja.

“Baca dan ingat-ingatlah, lalu kita tanya Sian-su.”

Han Han terkejut dan membaca. Surat itu hanya berisi dua bait syair dan ia mengulang-ulang untuk menghafal dan mencari jawabannya. Giam Liong sendiri rupanya sudah ingat dan tidak perlu mengulang-ulang. Ju-taihiap mengerutkan kening dan membaca bersama yang lain, karena Sin Gak menghafal dan membaca surat itu pula. Lalu ketika Ju-taihiap menarik napas dalam dan Han Han mengangguk-angguk maka ayah dan anak memandang kakek dewa itu.

“Kami sudah hafal, sekarang bagaimana jawaban Sian-su tadi. Mohon petunjuk dan wejanganmu, Sian-su, kami masih gelap dan belum mengerti apa-apa.”

“Baik, sekarang kalian duduk berhadapan, aku di tengah, di luar kalian. Sebelum kujawab siapa lebih benar sebaiknya syair itu dibaca. Kau!” kakek ini menuding Sin Gak. “Coba kau baca dan renungkan isinya, Sin Gak, siapa tahu terkupas jawabannya!”

Sin Gak berdehem, tergetar. Tapi karena syair sudah diberikan kepadanya iapun membaca dan tampak hati-hati:

Ketenaran sejati sedang dicari
muncul angka yang penuh misteri
dibanting sini:sama!
dibanting sana:beda!

Sama dan beda silih berganti
beda dan sama bertengkar sendiri
seperti langit yang tiada bertepi
sia-sialah mencari yang sejati!


“Ha-ha, betul, itulah jawabanku!” kakek itu terkekeh-kekeh. “Mau apalagi, Yang Im Cinjin, semuanya jelas dan tak ada yang tersembunyi.”

“Tunggu, nanti dulu. Kupikir semua yang di sini belum jelas, Sian-su, bagaimana kami mengerti!”

“Heh-heh, baiklah. Kalau begitu aku akan memberi pengertian. Apa kira-kira yang membuat kalian paling bingung.”

“Bait pertama itu, baris nomor dua. Apa yang kau maksud dengan angka yang penuh misteri, Sian-su. Bertahun-tahun aku merenung gagal juga. Yang lain rasanya mudah dicari. Kalau yang itu terpegang tentu yang lain gampang!”

“Benar,” Giam Liong mengangguk dan sependapat. “Syair ini paling rumit pada baris nomor dua itu, Sian-su, meskipun baris ketiga dan keempat juga tak mudah. Kupikir kuncinya di situ.”

“Hm, akupun berpikir demikian.” Ju-taihiap mengangguk-angguk. “Kalau angka penuh misteri itu terungkap tentu yang lain mudah, Sian-su. Jelaskanlah kepada kami dan apa yang kau maksud.”

“Ha-ha-heh-heh-heh, untuk ini sederhana saja. Tapi sebelum kalian mendapatkan kuncinya harap duduk baik-baik. Kau...,” kakek ini menuding Giam Liong. “Jangan berdekatan dengan puteramu, Naga Pembunuh, posisi kalian berhadapan. Kuminta masing-masing berhadapan dan anggap saja seakan bermusuhan. Nah, begitu. Dan kau...!” Han Han kali ini dituding. “Hadapilah ayahmu secara berdepan, Han Han, kalian harus benar-benar berhadapan dan seolah saling bermusuhan!”

Han Han dan lain-lain berdebar. Suara kakek ini mulai serius dan sekali lagi Sin Gak diminta membaca syair itu. Mereka benar-benar duduk berhadapan dengan kakek ini di luar, menyamping, duduk tepat di tengah tapi tidak berhadap-hadapan dengan mereka. Lalu begitu Sin Gak selesai membaca mendadak sesuatu dicabut kakek ini, dibanting di depan mereka, sebuah kepingan logam dengan angka atau huruf sembilan.

“Baca angka ini!”

“Sembilan!” Han Han dan Giam Liong serentak berseru, kaget dan heran, nyaring.

Akan tetapi karena angka itu justeru “enam” di pihak Ju-taihiap dan Sin Gak maka hampir berbareng dua orang ini menyebut: “Enam!”

“Ha-ha, yang benar,” kakek itu berseru lagi, kali ini mengambil dan membanting dengan posisi berlawanan. “Sebut sekali lagi, Han Han. Berapa menurutmu!”

“Enam.”

“Dan kau, Ju-taihiap.”

“Sembilan!”

“Ha-ha, yang benar. Coba sekali lagi. Hayo berapa ini!” dan ketika kakek itu membalik dan membanting lagi maka Han Han dan ayahnya selalu menyebut berlawanan. Angka 6 dan 9 tak dapat dibedakan lagi kalau sudah ditaruh dalam masing-masing posisi. Enam di pihak Han Han dan sembilan di pihak ayahnya, begitu sebaliknya kalau diputar. Maka ketika ayah dan anak saling berseru menyebut angka masing-masing, tentu saja sama-sama benar dari sudut pandang mereka maka Yang Im Cinjin yang melihat permainan ini tiba-tiba terbeliak dan pucat mencelat bangun.

“Sudah, sudah.... aku mengerti. Ah, ini kiranya yang kau maksudkan, Sian-su. Jadi... jadi semuanya benar!”

“Ha-ha-ha, tidak begitu. Benar yang sini belum tentu benar yang sana, Cinjin. Bacalah bait kedua baris terakhir!”

“Jadi... jadi?!”

“Itulah jawabanku, kau sekarang mengerti. Wuuttt...!” dan ketika tiba-tiba kakek ini melambaikan tangan dan berkelebat menghilang mendadak Bu-beng Sian-su telah meninggalkan tempat itu dengan suara tawanya yang berderai.

Han Han dan ayahnya masih sama-sama tertegun namun tiba-tiba terdengar keluhan si Naga Pembunuh. Giam Liong, yang rupanya sudah mengerti ini mendadak terhuyung roboh. Naga Pembunuh ini bangkit dan hendak memanggil kakek dewa itu. Namun ketika Bu-beng Sian-su menghilang dan lenyap di kegelapan malam, hanya tawa berderainya yang masih memantul-mantul maka Naga Pembunuh ini menggigil dan mengangguk-angguk, sebuah suara sayup-sayup sampai.

“Kau bertapa sampai hampir di ambang ajal. Kaupun sia-sia mencari kebenaran yang sejati. Yang sejati hanya milik Yang Maha Tunggal, Naga Pembunuh, tak ada siapapun yang menemukan dan mendapatkannya. Selamat tinggal dan jagalah dirimu baik-baik!”

Giam Liong roboh dan ditangkap puteranya. Sin Gak sudah menemukan pula dan tergetar serta menggigil. Seumur hidup baru kali itu ia bertemu Bu-beng Sian-su namun sekali pertemuannya ini begitu mengesankan. Maklumlah dia apa yang hendak diberitahukan kakek dewa itu. Yang tersirat dan tersurat begitu jelas. Maka ketika ia menggigil sementara ayahnya juga gemetaran berketruk gigi maka Ju-taihiap dan Han Han saling cengkeram. Yang Im Cinjin melotot dan masih memandang kepergian kakek dewa itu.

“Sian-su, kau memberiku pelajaran sekali lagi. Aku si tua ini benar-benar bodoh sekali. Ah, terima kasih tapi kau benar. Ha-ha, tiada gunanya bertapa kalau masih bodoh juga!” dan ketika kakek ini terhuyung memegangi perahu, ternyata sepasang matanya basah tiba-tiba ia berkata kepada Han Han bahwa ia segera pergi juga. Han Han terkejut.

“Nanti dulu, kau baru saja datang, suhu, belum menengok Giok Cheng pula. Apakah kau tak ingin melihatnya dan membiarkan kami kecewa.”

“Hm, aku malu kepada kakek dewa itu. Demikian gampang ia memberiku pukulan. Ah, sekali lagi aku kalah, Han Han, tapi tidak sakit. Ha-ha, baiklah kutengok anakmu dan setelah itu selamat tinggal!”

Yang Im Cinjin berkelebat dan tiba-tiba telah meninggalkan perahu. Han Han memandang ayahnya namun Ju-taihiap mengangguk, mempersilakannya menyusul pertapa sakti itu. Dan ketika Han Han berkelebat meminta ijin Giam Liong, Naga Pembunuh termangu-mangu maka Ju-taihiap menemani ayah dan anak ini di perahu.

“Hebat, sungguh tak kukira. Kakek itu luar biasa,, Giam Liong, sedikit saja telah mencakup semuanya. Ah, kedua mataku semakin terbuka!”

“Tapi bagaimana dengan kebenaran-kebenaran yang lain. Kalau yang sejati tak didapatkan lalu bagaimana dengan lain-lainnya itu, lo-enghiong, apakah kebenaran itu semu.”

“Hm, bukan begitu. Kebenaran yang kita dapat sifatnya umum Sin Gak, masih dalam batas alam pikiran. Namun kalau sudah ingin keluar dari akal pikiran maka kebenaran bersifat berat. Alam pikiran manusia terbatas, untuk yang lebih dari itu tak mungkin tertangkap. Maka daripada ribut-ribut mencari kebenaran sendiri sebaiknya kita juga menghormati dan menghargai kebenaran orang lain. Yang sejati sia-sia dicari, dan tak ada gunanya. Mungkin hanya para dewa atau mahluk suci yang mampu menemukannya. Kita manusia yang penuh kotor dan dosa tak mungkin menjangkaunya.”

Sin Gak mengangguk-angguk, menarik napas dalam. Jelek-jelek iapun seorang pemuda gemblengan Sian-eng-jin, satu dari Ngo-cia Thian-it yang sakti. Maka ketika ia mengerti dan dapat menerima ini, ayahnya gemetar memejamkan mata maka semalam itu Ju-taihiap menemani dua orang ini di atas perahu.

Bulan menampakkan bentuknya yang bulat. Bintang bertaburan meratna mutu manikam dan langit maha luas tampak begitu teduh dan tenang. Angin semilir sepoi-sepoi basa. Dan ketika masing-masing tenggelam dalam lamunan mereka, tak terasa menunggu datangnya pagi maka ayam jantan berkokok dan warna semburat jingga menyembul di kaki langit sebelah timur.

Giam Liong dan Sin Gak merasa lebih sehat. Ju-taihiap juga membuka matanya mendengar kokok riang ayam jantan. Lalu ketika jago pedang ini mengajak turun perahu, Han Han berkelebat muncul maka pria ini berkata bahwa Giok Cheng telah sadar.

“Ia mencari dirimu. Suhu telah pergi, ayah, Giok Cheng sudah bangun. Harap ayah datang dan mari semua ke sana.”

“Baik, Giam Liong dan Sin Gak semakin sehat. Aku juga akan ke sana, Han Han, semalam kami tepekur dengan sesuatu yang indah sekali.”

“Hm, kami tak mau merepotkan kalian. Karena masing-masing harus beristirahat biarlah kami pergi, Han Han, tentu saja setelah menengok Giok Cheng. Kami tak enak mengganggumu.” Giam Liong yang telah saling memberi isyarat dengan puteranya berkata cukup halus. Ia dan Sin Gak telah sepakat untuk meninggalkan Hek-yan-pang, bukan apa-apa semata menjaga hal-hal tidak enak saja. Bukankah nyonya rumah masih ada ganjalan dengan mereka. Tapi Han Han yang mendengar ini tentu saja terkejut.

“Kalian mau ke mana? Memangnya tempat ini tak dapat dipakai untuk beristirahat? Tidak, jangan. Aku telah menyiapkan tempat pembaringan kita dulu, Giam Liong, isterikupun tak berani berada di situ. Aku telah menyiapkan semua untuk kalian, kalian tak boleh pergi!”

“Terima kasih,” Giam Liong terharu, mencengkeram lengan saudaranya ini. “Dulu, dan sekarang berbeda, Han Han, sekarang ada Sin Gak di sini. Ia akan membawaku ke Sian-thian-san.”

“Benar,” Sin Gak menolong ayahnya. “Aku akan membawa ayah ke Sian-thian-san, paman, sama-sama beristirahat di sana. Suhu telah meninggalkan tempat itu untukku.”

“Ah!” Han Han kecewa. “Apakah cerita semalam membuat kalian tak senang lagi di sini. Kalau begitu menyesal aku berterus terang, Giam Liong, kalian membuat aku kecewa!”

“Kita sudah seperti saudara, bahkan jauh melebihi itu. Jangan berkata seperti itu, Han Han. Kami betapapun punya tempat tinggal sendiri dan harus menengok serta membersihkannya. Kami tak terpengaruh cerita isterimu, bahkan akan kutemui dia dan lihat kami baik-baik kepadanya. Sudahlah jangan kecewakan Sin Gak karena dialah yang ingin membawaku pulang, aku sebenarnya hendak ke Lembah Iblis.”

“Hm, dia benar. Giam Liong telah bertemu dengan keluarganya, Han Han, tentu ingin bercengkerama dan bicara sebebas-bebasnya. Asal berjanji tak lupa ke sini omongannya dapat kuterima, tapi kalau ia tak mau datang maka Giam Liong berpura-pura!”

“Ah, ayah bicara apa, Giam Liong menggeleng kepada jago pedang itu. “Tentu saja aku datang ke mari, setelah kami sama-sama sembuh. Sekarang kami akan melihat Giok Cheng sekaligus berpamit. Dua tiga bulan lagi kami berjanji datang.”

“Sungguh?”

“Benar, Han Han, aku dan Sin Gak akan ke mari. Asal isterimu menerima kami seperti biasa pasti kami datang!”

“Ia akan menerima, kami semua akan menerima, pasti. Baiklah kita ke dalam dan mari tinggalkan perahu.”

Han Han membawa ayah dan anak ini menuju kamar Giok Cheng dan ternyata gadis itu telah dapat duduk bangun. Tang Siu memeluk anak gadisnya dan tampak terisak-isak. Giok Cheng telah mendengar kematian sucinya Su Giok, memeluk dan bertangis-tangisan dengan ibunya pula. Tapi begitu melihat Giam Liong dan Sin Gak tiba-tiba nyonya rumah melepaskan gadisnya, bangkit dan menyambar Naga Pembunuh ini, tersedu-sedu.

“Aku... aku maafkan aku, Giam Liong. Saat itu aku tak ingat apa-apa lagi selain menyelamatkan Giok Cheng. Han Han telah menegurku, dan sekarang setelah semua lewat aku mengaku salah. Aku berdosa kepada Yu Yin mengabaikan pesannya, aku lupa memperhatikanmu!”

“Sudahlah, tak apa. Semua sudah lewat, Tang Siu, aku tak mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Aku tak menyalahkan siapapun, semua membawa hikmah. Bagaimana dengan Giok Cheng dan sudah semakin baikkah dia.”

“Aku merasa lebih sehat,” Giok Cheng bangkit tapi masih terhuyung dibantu kakeknya. “Terima kasih untuk perhatianmu, paman. Dan... dan tentu kalian di sini. Ayah telah menyiapkan pembaringannya dulu.”

“Maaf, Sin Gak hendak membawaku ke Sian-thian-san. Kami tak mau membuat orang lain repot-repot, Giok Cheng, kami ingin beristirahat di sana. Dua tiga bulan lagi kami berkunjung ke sini, mudah-mudahan kita semua sehat wal'afiat. Maaf kami segera pergi.”

Giok Cheng pucat, terbelalak dan tiba-tiba roboh akan tetapi untunglah Ju-taihiap menahan. Gadis itu tiba-tiba merintih menekan perutnya, tak ada yang tahu bahwa sebenarnya ia terpukul oleh jawaban itu. Sesungguhnya ia mengharap keluarga ini di sini agar selalu berdekatan dengan Sin Gak.

Maka ketika Giam Liong berkata seperti itu dan ia merasa sakit, batinnya terpukul maka sang ibu meloncat dan sudah memeluk puterinya ini, membaringkannya ke pembaringan namun Han Han dan Giam Liong serta Ju-taihiap sama-sama tersenyum pahit. Mereka bukan orang-orang tua yang dapat dibodohi. Dan karena suasana ini dapat menimbulkan yang tidak enak lagi, Giam Liong menarik napas dalam dan menyambar lengan puteranya maka ia berpamit dan berkata bahwa dua tiga bulan lagi mereka akan berkunjung ke Hek-yan-pang.

Keluarga ini tentu saja tak dapat berbuat apa-apa. Giam Liong telah menemukan puteranya dan berhak mencari kebebasan. Betapapun mereka juga sebuah keluarga. Dan ketika Han Han mengantar sampai di seberang telaga, Giok Cheng mengguguk dan ditemani ibunya maka dua orang itu berpelukan dan masing-masing sama basah kedua matanya oleh haru dan kecewa beraduk-aduk.

“Kau...kau memberiku harapan tentang Sin Gak, Giam Liong? Kau akan datang untuk itu?”

“Entahlah, aku tak tahu, Han Han, nanti kukorek keterangan anak itu dulu. Sebaiknya jangan desak aku untuk urusan ini. Maaf!” lalu ketika bisikan itu ditutup dengan ciuman selamat jalan, masing-masing berpelukan ketat lalu saling melepaskan maka Naga Pembunuh melambaikan tangan dan pergilah ayah dan anak ini meninggalkan Hek-yan-pang.

Tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya Giam Liong dan puteranya menaruh curiga akan Bi Hong. Kenapa gadis itu tak datang, kenapa Bi Hong tak muncul. Dan karena Sin Gak ingin mencari dan menemukan gadis ini, itulah sebabnya tak mau berlama-lama di Hek-yan-pang maka Ju-taihiap dan keluarganya bakal gigit jari kalau tahu sebab-sebab kenapa Sin Gak dan ayahnya meninggalkan Hek-yan-pang.

Tapi apakah pemuda ini akan menemukan Bi Hong? Berhasilkah Sin Gak mencari gadis itu? Sin Gak juga akan gigit jari, sebab sejak menyerahkan pemuda itu kepada Bu-beng Sian-su murid Naga Berkabung ini telah meninggalkan Hek-yan-pang dan pergi jauh!

Bi Hong tersedu-sedu melepas pemuda itu. Setelah ia mencium telinga pemuda ini maka gadis itu bersumpah tak akan menemui Sin Gak lagi. Ia telah berjanji kepada mendiang Su Giok untuk memberikan kebahagiaannya kepada Giok Cheng, Biarlah Giok Cheng berbahagia dengan Sin Gak. Tapi karena Sin Gak sendiri lebih cocok dengan gadis ini daripada Giok Cheng maka pertalian benang asmara ini bakal bertambah ruwet.

Bagaimanakah jadinya mereka kelak? Tetapkah rahasia penyakit Giok Cheng tertutup rapat? Nasib bakal membuat perjalanan berliku-liku. Dan untuk mengetahui itu marilah kita ikuti lanjutan kisah ini dalam cerita RAHASIA GENTA BERDARAH. Pembaca akan menemukan mereka lagi, dan sebagai penutup mudah-mudahan cerita ini dapat sekedar memberikan hiburan di samping teman pembuang sepi.

T A M A T