Serial Pendekar Mabuk
Hulubalang Iblis
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

SEPASANG mata memandang ke arah kaki bukit cadas tanpa nama. Sesuatu yang dipandang oleh sepasang mata muda itu adalah sebuah pertarungan yang sedang akan dimulai. Pemuda pemilik mata bening itu berwajah tampan dan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala. Ia membawa buntung tuak di pundaknya. Pemuda bercelana putih dengan baju tanpa lengan warna coklat itu tak lain adalah Pendekar Mabuk alias Suto Sinting, murid si Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

Pertarungan yang akan dimulai itu dilakukan oleh seorang gadis cantik berambut pendek diponi depan. Bajunya tanpa lengan berwarna hitam bintik-bintik putih logam. Baju itu berpundak kaku dengan krah tegak, kaku menutup sebagian lehernya. Ia juga kenakan celana hitam dengan bagian sampingnya berbintik-bintik putih logam mirip barisan paku payung. Ikat pinggangnya yang berwarna putih berbintik-bintik hitam itu dipakai selipkan pedang bersarung perunggu ukir.

Gadis itu tampak tenang dengan matanya yang bundar dan hidungnya yang bangir. Ia kenakan kalung hitam cekak berbatu merah delima sebesar biji sawo, sama dengan warna giwangnya yang kecil itu.

Menurut Pendekar Mabuk, gadis itu cukup berani dalam berpenampilan. Sabuknya yang melingkar di luar baju itu membuat bentuk belahan baju agak lebar, sehingga bagian dadanya tampak sedikit mengintip memperlihatkan kemulusan kulit yang berwarna kuning langsat. Agaknya di balik baju tebalnya itu ia tidak mengenakan kutang atau kain penutup dada lainnya, padahal gadis itu masih berusia sekitar dua puluh tahun, tentu saja keranuman yang terbayang di balik baju itu menggoda khayalan si murid sinting Gila Tuak itu.

"Agaknya ia cukup berani. Tak kelihatan gentar sedikit pun menghadapi lawan-lawannya," pikir Pendekar Mabuk dari atas bukit berbatu-batu itu.

Gadis itu berhadapan dengan tiga orang gundul yang masing-masing berbadan kekar dan tinggi. Wajah ketiga orang itu tidak ada yang ramah sedikit pun, semuanya mempunyai wajah angker. Walaupun bentuk tulang rahang maupun bagian wajah berbeda, tapi kesan keji terlihat jelas pada wajah mereka. Mereka mengenakan pakaian yang berbeda.

Yang berpakaian serba hitam mempunyai mata kecil tapi pandangannya bagai memancarkan hawa dingin yang membekukan darah. Ia bersenjata golok lebar yang tak bisa diselipkan di pinggang karena lebarnya. Sedangkan yang berpakaian baju merah celana hitam mempunyai bentuk mata sedang-sedang saja, tapi alisnya tebal dan bibirnya juga tebal. Badannya tampak berotot dan menyeramkan, ia menyelipkan sebilah parang bergagang kepala burung dengan rumbai-rumbai benang hitam.

Yang satu lagi mengenakan rompi biru dan celana hitam, dadanya membusung keras bagai dinding batu, mempunyai mata lebar dan kumis lebat. Sebilah golok bergerigi dipakai sebagai senjata andalannya. Golok itu sudah dicabut dari sarungnya dan kini tergenggam di tangan kanan, siap untuk ditebaskan ke arah si gadis cantik itu.

"Siapa tiga orang gundul yang dihadapi gadis itu? Sepertinya baru sekarang kulihat wajah mereka," ujar Suto membatin. "Sebaiknya kugunakan ilmu 'Sadap Suara'-ku untuk mendengar percakapan mereka. Setidaknya aku dapat mengenali nama-nama mereka."

Ilmu 'Sadap Suara' adalah sebuah ilmu yang dapat menyadap pembicaraan seseorang dari jarak jauh. Pendekar Mabuk memiliki ilmu tersebut, sehingga ia sering mengetahui berbagai persoalan orang dari suatu tempat yang tersembunyi.

Tetapi kali ini sebelum ilmu 'Sadap Suara' digunakan, ternyata orang yang bersenjata golok bergerigi sudah lebih dulu lakukan serangan ke arah si gadis yang sendirian. Gerakan cepat menerjang si gadis membuat golok bergerigi itu nyaris membabat dada gadis tersebut.

Weeesss...! Si gadis cepat bersalto ke belakang dengan gerakan cepat pula. Wuuuttt...! Jleeg...! Begitu ia tapakkan kaki ketanah, ia segera lepaskan pukulan tenaga dalam ke arah si rompi biru dengan cara menyentakkan tangannya ke depan dalam keadaan kedua kaki sedikit merendah.

Weeet...! Claaap...!

Ada kilatan sinar hijau sekilas keluar dari telapak tangan si gadis. Sinar hijau itu cukup kecil dan nyaris tak tertangkap oleh mata siapa pun. Tapi mata tajam si Pendekar Mabuk mengetahui adanya kilatan cahaya hijau dari tangan si gadis. Pendekar Mabuk juga melihat sinar hijau itu menghantam pinggang si rompi biru, sehingga orang itu terpental dalam keadaan sedang melayang di udara.

Wuuuss...! Bruuukk...!

"Bangsaaat...!"

Yang berteriak berang bukan si rompi biru, melainkan temannya yang berbaju merah dan bercelana hitam. Sebab orang itu ditabrak kuat-kuat oleh tubuh besar si rompi biru hingga terbawa terpental dan jatuh telentang dalam keadaan tertindih tubuh si rompi biru. Tubuh temannya yang menindih itu segera didorong kuat-kuat. Wuuut...! Tubuh si rompi biru terlempar lagi dan jatuh dalam keadaan leher terlipat. Brruuuk...!

"Uuahhk...!" terdengar pekiknya bagai keluar dari mulut dengan susah payah.

Sementara si baju merah cepat berdiri kembali dalam satu sentakan pinggul, wuuut...! Jleeeg...! Lalu ia memandangi si gadis dengan mata liar dan berkesan ganas.

Sementara itu, yang mengenakan pakaian serba hitam hanya diam terpaku di tempat dengan mulut melongo dan mata tertuju kepada si rompi biru. Ketika si baju merah mencabut parangnya dan ingin membalas serangan si gadis, tiba-tiba tangan orang berpakaian serba hitam itu merentang, menghadang di dada si baju merah. Akibatnya gerakan si baju merah tertahan dan ia pandangi temannya sendiri dengan mata beringas.

"Ada apa?!" geramnya menyentak penuh luapan amarah.

"Lihat si Kalapuser itu!" jawab si baju hitam.

Kedua orang gundul itu kini sama-sama pandangi keadaan si Kalapuser yang mengenakan rompi biru itu. Si baju merah yang sudah menggenggam parang itu terperanjat melihat tubuh Kalapuser berasap tipis. Tubuh yang besar itu tiba-tiba menjadi susut, makin lama semakin susut sepertinya tubuhnya menguap tersedot angin. Si baju merah jadi terpukau dan terpaku di tempat seperti si baju hitam.

Akhirnya mereka melihat dengan mata telanjang perubahan si Kalapuser yang semula berbadan tegap dan besar itu menjadi kurus kering. Raut wajahnya tampak tua karena berkulit keriput. Tentu saja keadaan si Kalapuser sudah tak bernyawa lagi, karena ia tergolek ditanah tanpa gerak sedikit pun kecuali susutnya tubuh. Kedua orang gundul melangkah mundur satu tindak.

setelah menyadari si Kalapuser menjadi mayat yang tinggal tulang terbungkus kulit, seakan daging dan jeroannya menguap tersedot udara. Keadaannya sangat mengerikan. Kepala gundul si Kalapuser pun jadi mengecil, dan seperti tinggal tengkorak dibungkus kulit keriput.

Dari atas bukit, Pendekar Mabuk yang terkagum-kagum atas kejadian itu juga mendengar percakapan dua orang gundul tersebut.

"Gadis ini lebih gawat dari kakaknya, Kalatunggir," kata si baju hitam.

"Bangsat! Serang dia bersama-sama, Kalabolong!"

Dua orang gundul itu akhirnya maju serempak dengan masing-masing senjata siap mencelakai nyawa si gadis. Wuuurrrss...!

"Heeeeaat...!" Teriakan si Kalatunggir yang berbaju merah itu sangat keras dan memanjang, memekakkan telinga. Agaknya suara teriakan itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dapat mengganggu kesigapan lawannya.

Tetapi si gadis berbaju hitam bintik-bintik putih mirip paku payung itu mampu atasi getaran suara tersebut, sehingga dalam sekejap tubuhnya telah melenting tinggi dan bersalto melintasi kepala dua orang gundul yang menyerangnya. Wuuuuk, wuuuk...! Dua kali gerakan berjungkir balik di udara membuat si gadis tahu-tahu sudah berada di belakang kedua lawannya beradu punggung dalam jarak tiga langkah.

Kedua lawan itu cepat lakukan serangan kembali dengan berbalik badan dan maju serentak. Tapi si gadis tiba-tiba melompat dan kedua kakinya menendang cepat ke belakang bagai seekor kuda menyepak lawan. Wuuuk...! Beeehk, ploook...!

"Ouhhh...!" pekik si Kalatunggir yang tersentak mundur karena wajahnya terkena tendangan kaki si gadis.

Sedangkan si Kalabolong yang berbaju hitam itu hanya terlempar ke belakang tak sempat keluarkan pekikan. Ulu hati yang terkena tendangan bukan saja menyesakkan pernapasan namun juga menyumbat tenggorokan hingga ia tak bisa terpekik sedikit pun. Ia tumbang dalam keadaan telentang dan mata mendelik. Kalatunggir buru-buru sigap kembali setelah itu si Kalabolong mencoba bangkit dengan napas terengah-engah.

"Bocah keparat!" geram Kalatunggir, lalu maju kembali lakukan lompatan menerjang si gadis dengan parangnya. Weeesss...!

Tapi saat itu si gadis sudah berbalik arah dan lepaskan pukulan seperti tadi. Sekilas sinar hijau yang sukar dipandang mata itu terlepas dari tangan si gadis dan menghantam perut Kalatunggir saat masih melambung di udara. Claap...! Deeesss...!

"Aaahk...!" Kalatunggir tiba-tiba berbalik ke arah semula dengan tubuh melayang dan jatuh terbanting cukup menyedihkan.

"Bangun! Gunakan 'Aji Palang Sukma', Kalatunggir!"

kali ini si Kalabolong lontarkan suara keras menandakan kemarahan yang telah memuncak. Ia berseru sambil memainkan golok lebarnya di sekeliling tubuhnya. Wung, wung, wung, wung...! Matanya tertuju tajam kepada si gadis yang tak banyak bicara itu.

"Bangun, Tolol!" serunya lagi tanpa memperhatikan si Kalatunggir.

Gerakan golok lebar terhenti sesaat karena Kalabolong segera terkejut melihat Kalatunggir tak mau berkutik lagi. Tubuh Kalatunggir berasap tipis, makin lama semakin susut dan akhirnya tak bernyawa dalam keadaan seperti mayat si Kalapuser, tinggal tulang terbungkus kulit.

"Ggrrrmmm...!" Kalabolong menggeram penuh murka, matanya yang kecil dilebarkan memandang si gadis bagaikan berapi-api. "Kau telah bunuh dua saudaraku! Sekarang kau harus menebusnya dengan nyawamu, Setan! Heeeaaah...!"

Pendekar Mabuk hanya membatin dari atas bukit, "Hmmm... siapa gadis itu, sehingga mampu kuasai jurus yang cukup dahsyat itu?!"

Golok lebarnya si Kalabolong berkelebat menebas pundak si gadis. Namun tanpa pekik dan suara apa pun, si gadis mampu hindari tebasan golok itu dengan bergerak kesamping, lalu berjungkir balik di tanah menggunakan kedua tangannya. Wuuurs...! Dalam sekejap ia menjadi tegak kembali.

Tapi di luar dugaan, Kalabolong lepaskan pukulan tenaga dalam dari tangan kirinya. Claaap...! Seberkas sinar merah sebesar mata tombak melesat cepat dan menghantam perut si gadis. Duuubs...!

"Uuuhk...!" gadis itu tersentak mundur dengan terhuyung-huyung.

Kalabolong memanfaatkan keadaan demikian dengan lakukan sergapan jurus golok lebarnya yang menebas cepat ke sana-sini. "Heeeaaat...!"

Si gadis yang merasa terdesak itu segera lepaskan jurus bersinar hijau sekelebat tadi. Claaap...! Sinar hijau itu tepat kenai dada Kalabolong sewaktu hendak membabatkan golok lebarnya ke leher si gadis. Deesss...!

"Aaahk...!" ia terpental ke belakang, melayang rendah dan jatuh berjungkir balik. Golok lebarnya terlepas dari genggaman tangan, dan Kalabolong tak mau bergerak lagi. Tubuhnya berasap samar-samar, makin lama semakin susut, akhirnya menjadi mayat seperti kedua saudaranya itu. Kalabolong pun terpaksa menjadi mayat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit yang keriput.

Tapi pada saat itu si gadis sendiri masih sempoyongan mencari tempat untuk berpegangan, ia mendekati sebatang pohon berdaun lebat. Setelah menemukannya, ia mencoba bertahan berdiri dengan berpegangan pada pohon tersebut. Namun agaknya kedua kakinya tak mampu menyangga tubuhnya lagi. Ia turun pelan-pelan dan akhirnya duduk terkulai bersandar pada batang pohon tersebut.

Rupanya serangan bersinar merah dari si Kalabolong tadi telah melukai bagian dalam tubuh si gadis dan membuat kulitnya sedikit demi sedikit menjadi biru memar. Wajah cantiknya berubah pucat kebiru-biruan dan bola matanya mulai tampak semburat merah, ia tampak terkulai lemas tak berdaya lagi. Seandainya datang musuh lain, maka Suto Sinting yakin gadis itu tak akan mampu melakukan perlawanan seperti tadi. Tampak dadanya yang sekal itu naik turun sebagai tanda napasnya terengah-engah dengan berat.

Pendekar Mabuk menenggak tuak dari bumbung bambu yang tadi tergantung di pundaknya itu. Setelah cukup puas menenggak tuaknya, ia mulai berpikir tentang gadis berpakaian hitam itu. "Ia terluka cukup berbahaya! Aku harus cepat lakukan pertolongan sebelum akhirnya gadis itu pun kehilangan nyawa seperti ketiga lawannya itu!"

Tapi sebelum Pendekar Mabuk bergerak turun dari atas bukit cadas itu, tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan yang menuju ke arah si gadis. Pendekar Mabuk hentikan langkah dan tangguhkan niat untuk sesaat. Batinnya bertanya-tanya, "Siapa tokoh yang baru saja datang itu?"

Mata si pemuda tampan itu pandangi sosok perempuan tua berambut putih rata terurai lepas. Nenek bertongkat hitam itu kenakan baju hijau tua dengan jubah lengan panjang. Nenek itu berdiri pandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sana. Bola matanya yang tersembunyi di balik rongga cekung itu segera pandangi si gadis dengan pancaran nafsu amarah.

"Jahanam busuk!" geramnya dengan suara tua yang cukup keras. Nenek berusia sekitar delapan puluh tahun itu segera dekati si gadis. Langkahnya yang terbungkuk-bungkuk tergolong cepat, menandakan nafsu kemarahannya telah membakar darah dan tak bisa ditangguhkan lagi.

"Kau telah membunuh ketiga muridku, Gadis Jahanam! Kau pun harus mati untuk menebus ketiga muridku ini! Hiaaah...!" Tongkat dihantamkan dengan gerakan cepat. Tongkat itu ujungnya mulai memancarkan cahaya merah seperti besi terpanggang api. Weesss...!

Pendekar Mabuk cepat lakukan gerakan secara naluriah. Seberkas sinar ungu sebesar lidi melesat dari kedua tangan yang merapat dan disodokkan ke depan. Claaap...! Weeesss...!

Jurus 'Surya Dewata' yang berwarna ungu itu menghantam ujung tongkat pada saat tongkat digerakkan menyabet si gadis. Kecepatan sinar ungu itu sungguh luar biasa, sehingga dalam sekejap tongkat itu terpental bersama pemiliknya saat terdengar ledakan cukup dahsyat.

Blegaaar...!

Gadis itu terguling-guling karena sentakan gelombang ledak tersebut. Tapi si nenek berjubah hijau itu terpental hingga delapan langkah jauhnya, ia jatuh terbanting di tanah tak berumput. Tulang tuanya bagai diremukkan oleh gelombang ledak tadi. Brruskk...!

Tak ada suara yang terdengar, tapi dari wajahnya tampak jelas si nenek sedang menahan sakit dan menahan kemarahan yang lebih besar lagi. Si nenek berusaha bangkit dengan bantuan tongkatnya yang sudah tidak membara merah lagi itu. Tapi ujung tongkat yang tadi membara merah itu sekarang mengepulkan asap seperti besi panas tersiram air.

Melihat si nenek mau bangkit, Suto Sinting menjadi khawatir akan keselamatan jiwa si gadis cantik itu. Maka ia segera berkelebat turun dari atas bukit dengan gunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...!

Dalam waktu sangat singkat Suto Sinting sudah berada di bawah tempat si gadis tergeletak karena tadi terguling-guling itu. Jurus 'Gerak Siluman' mempunyai kecepatan gerak melebihi anak panah terlepas dari busurnya, hingga tak mengherankan lagi jika Pendekar Mabuk dalam sekejap sudah berdiri menjadi pelindung si gadis yang kulitnya kian membiru itu.

Sang nenek bangkit dan menggeram setelah menarik napas beberapa saat. Matanya yang cekung memandang tajam kepada Suto Sinting, seakan memancarkan kekuatan batin untuk menembus jantung sang pendekar tampan itu. Namun sikap dan penampilan Suto Sinting tetap tenang, bibirnya sunggingkan senyum tipis hingga tak terlihat kesan bermusuhannya.

Sang nenek segera bergerak, weesss...! Dalam sekejap sudah berada di depan Suto, jarak empat langkah. Ini menandakan sang nenek juga mempunyai gerakan cepat hampir sama dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting.

"Bocah ingusan!" geram sang nenek. "Siapa kau hingga berani menggagalkan niatku membunuh si gadis bejat itu, hah!"

"Siapa aku itu tak perlu, tapi yang perlu kau ketahui, aku sekadar melindungi orang yang lemah. Gadis itu sudah tak berdaya, masih saja ingin kau serang. Alangkah kejinya hatimu, Nek?"

"Setan alas, kucing belang, babi bengkak...!" makinya beruntun. "Sekarang aku ingat ciri-cirimu! Kau pasti si Pendekar Mabuk itu!"

"Syukurlah kalau kau sudah mengenaliku sebelum aku memperkenalkan diriku. Nenek!"

"Jangan anggap diriku pikun, Bocah Kurapan! Jurik Wetan biar sudah tua tapi otaknya masih cerdas dan kekuatannya masih mampu tumbangkan dirimu, Kambing Borok!"

Pendekar Mabuk lebarkan senyum geli. Katanya dengan tenang, "Aku tak ingin berselisih denganmu, Nyai Jurik Wetan! Aku hanya mencegah kecerobohanmu."

"Kau tak perlu berlagak satria! Gadis itu telah membunuh tiga muridku, dan aku harus mencabut nyawanya sebagai tebusannya. Jika kau ingin memihaknya, maka hadapilah murkaku sekarang juga, Kutang Kusut! Heeeeah...!"

Weesss...! Nenek itu bergerak cepat sekali. Tahu-tahu tongkatnya sudah melayang ke arah kepala Suto Sinting. Dengan sedikit rendahkan kaki, Suto Sinting sentakkan bumbung tuaknya ke samping kiri menghadang tongkat itu. Maka tongkat pun menghantam bambu tempat tuak dengan telaknya.

Trak...! Duaaarrr...!

Ledakan keras terjadi lagi dan percikan bunga api menghambur dalam seketika. Tenaga dalam yang tersalur pada tongkat itu telah beradu dengan tenaga sakti yang ada pada bumbung tuak Suto, hingga terjadilah ledakan keras tersebut. Ledakan itu membuat si nenek menjadi limbung sesaat. Suto Sinting juga menggeloyor bagai orang mabuk ingin jatuh, namun tiba-tiba punggung tangannya menyodok ke rusuk Nyai Jurik Wetan. Dees ..! Sodokan bertenaga dalam cukup tinggi itu membuat Nyai Jurik Wetan terpental ke belakang dalam jarak tiga langkah.

Wuuut...! Jleeeg...! Si nenek masih mampu berdiri lagi walau sedikit limbung. Tapi ia segera lepaskan sinar merah pecah yang keluar dari telapak tangan kirinya. Sraaap...! Sinar merah pecah itu bagai ingin menyergap tubuh Suto Sinting. Maka dengan cepat Suto Sinting lepaskan jurus penangkisnya yang dinamakan jurus 'Tangan Guntur'. Seberkas sinar biru besar keluar dari tangannya dan menabrak sinar merah pecah itu.

Blegaaarrr...! Dentuman dahsyat membuat bumi berguncang dan pepohonan bergetar. Daun-daun berhamburan dan ranting-ranting patah hingga suara alam sekitar menjadi gaduh.

Tubuh Suto Sinting terlempar dan jatuh terduduk didekat gadis yang sudah tak berdaya lagi itu. Sedangkan Nyai Jurik Wetan pun terlempar cukup jauh dan jatuh dengan tubuh berguling-guling, ia diam untuk beberapa saat karena rasakan sekujur tubuhnya bagai dicabik-cabik dan tulangnya bagai dipatah-patah. Suto Sinting pun rasakan hal yang sama, namun ia segera menenggak tuaknya. Air tuak sakti itu dapat lenyapkan rasa sakit tersebut dalam sekejap.

"Kalau kuteruskan, berbahaya bagi gadis ini! Bisa-bisa ia mati karena terkena pukulan nyasar dari si nenek. Sebaiknya kubawa lari dulu gadis ini untuk kuselamatkan jiwanya! Agaknya luka yang diderita semakin parah dan mengancam nyawanya," Pendekar Mabuk membatin sambil sesekali pandangi si gadis dan sesekali perhatikan si nenek. Weees, zlaaap...!

Dalam sekejap gadis itu sudah ada di pundak Suto Sinting lalu dibawanya lari dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman' itu. Nyai Jurik Wetan melihat gerakan cepat yang mirip menghilang itu. Mata tuanya sangat tajam dan sangat terlatih untuk melihat gerakan angin, sehingga ia tahu lawannya melarikan diri ke arah barat, ia pun berseru dengan suara tuanya yang segera terbatuk-batuk.

"Sampai di mana pun kukejar kalian dan kubantai bersamaaa..., uhuk, uhuk, uhuk...!" Setelah terbatuk-batuk sesaat dan memuntahkan dahak berdarah, Nyai Jurik Wetan segera lakukan pengejaran ke arah barat. Gerakannya pun seperti orang menghilang karena kecepatan yang sukar dilihat oleh mata orang biasa. Weeesss...!

* * *

DUA

DINDING tebing berongga itu menyerupai sebuah gua berlangit-langit tinggi, tapi tidak mempunyai lorong ke mana-mana. Rongga itu memang cukup lebar, namun jarak dari bagian dalam ke bagian luar hanya delapan langkah. Tidak berpintu dan tidak bersemak, sehingga dapat dilihat jelas dari luar gua.

Sekalipun gua itu tidak terlalu aman, tapi sudah cukup membantu Pendekar Mabuk dalam menyembunyikan gadis cantik yang terluka. Setidaknya sampai gadis itu menjadi sembuh karena diberi minum tuak saktinya Suto, ternyata nenek yang mengejarnya belum temukan tempat itu.

"Aneh. Secepat ini tenaga dan kesehatanku pulih kembali?!" ujar si gadis membatin. "Padahal tadi nyawaku sudah hampir lepas dari raga, tapi begitu kurasakan tuak itu masuk ke tenggorokanku dan menghangat di tubuhku, luka pukulan si Kalabolong menjadi sirna. Badanku menjadi segar sekali, seperti tidak pernah terluka sedikit pun, bahkan seperti habis mengalami istirahat panjang. Hmmm... aku tahu sekarang, siapa lagi orang yang memiliki tuak sakti itu kalau bukan si Suto Sinting alias Pendekar Mabuk."

Gadis itu hanya bicara dalam batinnya, tapi mulutnya terkatup rapat. Bibirnya yang mungil ranum itu tak mau ucapkan kata apa pun, walau ia sudah memandangi Suto beberapa saat lamanya. Bahkan senyumnya pun tak ditunjukkan kepada Suto, padahal Suto sejak tadi telah sunggingkan senyum menawan dengan mata teduh memandanginya pula.

"Kau kenal dengan nenek bernama Jurik Wetan?" pancing Suto.

"Kenal," jawabnya singkat. Suto menunggu penjelasan berikutnya, tapi gadis itu bahkan memandang ke arah luar gua, lalu hendak melangkah keluar.

Pendekar Mabuk cepat menyambar lengan gadis itu dan hentikan langkah si gadis. "Jangan keluar dulu. Jurik Wetan sedang mengejar kita. Mungkin ia kehilangan arah sesaat, tapi aku yakin sebentar lagi pasti ia akan melintasi daerah ini."

Gadis itu menurut. Kini ia duduk di atas batu setinggi lutut sambil hembuskan napas panjang-panjang. Wajah cantiknya yang tanpa senyum itu tetap memandang ke arah luar gua, padahal Suto Sinting mendekatinya dan berdiri sekitar dua langkah darinya.

"Benarkah tiga orang gundul tadi adalah murid si Jurik Wetan?"

"Benar," jawabnya, setelah itu diam tanpa suara lagi.

"Mengapa kau bentrok dengan tiga orang murid si Jurik Wetan itu, Nona?" tanya Suto tetap dengan ramah.

"Benci," hanya itu jawabnya.

Suto Sinting sunggingkan senyum sambil membatin, "Gadis ini rupanya gadis pendiam dan tak mau banyak bicara. Melihat dari sikapnya, pasti dia gadis yang keras kepala. Tapi ia cantik dan menarik perhatianku. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa dirinya."

Kejap berikut terdengar lagi suara Suto Sinting memancing percakapan dengan gadis yang kulitnya telah menjadi kuning mulus kembali itu. "Mengapa kau benci dengan mereka?"

"Mereka...," gadis itu diam kembali, seperti ragu untuk jelaskan perkara sebenarnya.

Tapi Suto Sinting segera lakukan desakan agar gadis itu bicara lebih panjang lagi. "Teruskan ucapanmu. Mereka kenapa?"

"Berusaha membunuh."

"Membunuh siapa?"

"Keluargaku."

"O, kau masih punya keluarga rupanya."

"Kakek dan kakakku."

"Hanya merekakah keluargamu?"

Gadis itu menatap Suto Sinting, lalu anggukkan kepala. Setelah itu memandang ke arah luar kembali. Sikapnya seolah-olah acuh tak acuh kepada Suto. Tapi sang Pendekar Mabuk masih tetap sabar menanggapi kesinisan gadis itu. Justru semakin tertarik untuk mendekatinya. "Mengapa tiga murid si Jurik Wetan itu ingin membunuh keluargamu?"

"Disuruh."

"Siapa yang menyuruh?"

"Hulubalang Iblis."

"Oh...?!" Suto Sinting terperanjat karena segera teringat sosok tinggi-besar yang bernama Hulubalang Iblis. Ia pernah bertarung dengan tokoh berwajah ganas itu. Bentrokan itu terjadi karena Suto, membela si Kusir Hantu dan cucunya yang bernama Pematang Hati, (Baca serial Pendekar Mabuk daiam episode Ratu Cendana Sutera).

"Boleh kutahu namamu, Nona?"

Gadis itu membisu, tapi beberapa saat bibirnya mulai tampak bergerak-gerak ingin sebutkan namanya. Sayang sekali kala itu mereka dikejutkan dengan kemunculan Nyai Jurik Wetan yang bagaikan melompat dari atas tebing. Jleeeg...! Tahu-tahu nenek bungkuk itu berdiri menghadap ke arah gua, memandang ke arah mereka dengan mata memancarkan dendam membara. Pendekar Mabuk dan gadis itu tersentak kaget, namun keduanya cepat kuasai diri. Bahkan secara naluri jari tangan Suto Sinting menyentil melepaskan jurus 'Jari Guntur'-nya yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sama seperti tendangan kuda jantan itu.

Teees...! Beeed...!

Nyai Jurik Wetan merasa diserang tenaga dalam tanpa sinar. Telapak tangannya segera menghadang gelombang tenaga itu agar tak kenai ulu hatinya. Tapi kerasnya sentakan tenaga dalam jurus 'Jari Guntur' membuatnya tersentak ke belakang dan jatuh berjungkir balik dua kali.

Wes, wes...! Suto Sinting dan gadis itu cepat keluar dari gua, karena mereka tak mau terdesak serangan lawan dalam keadaan masih berada di dalam gua.

Dalam sekejap saja Nyai Jurik Wetan sudah tegak berdiri dan berhadapan dengan Suto Sinting. Gadis itu ada di samping kanan Suto dengan kaki sedikit merenggang dan siap hadapi serangan si Jurik Wetan. Gadis itu tak punya rasa takut sedikit pun, bahkan sorot pandangan matanya berani menentang tatapan mata Nyai Jurik Wetan.

"Monyet gancet! Makin lama semakin minta dihancurkan tubuhmu, Anak Sapi!" seru Nyai Jurik Wetan kepada Suto Sinting.

Tetapi pemuda tampan itu justru berbisik kepada si gadis cantik, "Menjauhlah, biar kutangani sendiri nenek ini."

Gadis itu tak keluarkan suara apa pun, tapi ia segera melangkah pelan-pelan menjauhi Suto, sementara pandangan matanya tetap tertuju kepada si Jurik Wetan.

"Rupanya kau ingin menggantikan nyawa si gadis dungu itu, Anak Sapi!" lontar Nyai Jurik Wetan sambil mengangkat tongkatnya.

"Aku hanya akan menahan serangan liarmu, Nyai Jurik Wetan! Kau tak berhak mencabut nyawa gadis itu, karena ketiga muridmu itu ternyata bersalah."

"Persetan dengan salah atau benar! Aku sudah telanjur ngidam untuk membunuhmu, Anak Sapi! Hiiiiah...!"

Tongkat dilemparkan ke arah Suto Sinting. Weeesss...! Tongkat itu menyala merah seluruhnya bagaikan sinar panjang yang ingin menghujam dada sang pendekar. Dengan gerakan sempoyongan mirip orang mabuk, Suto Sinting berhasil melayangkan bumbung tuaknya dalam keadaan tali bambu itu masih digenggamnya. Wuuuuk...! Dan tongkat yang berubah menjadi sinar merah itu membentur bumbung tuak Suto dengan keras.

Jegaaarrr...! Terjadi ledakan yang sangat dahsyat, menyebarkan gelombang getaran begitu besar. Empat pohon tumbang karena gelombang getaran tadi. Dinding tebing longsor seakan diguncang gempa. Tanah pun retak di beberapa tempat. Tubuh si gadis yang diam saja itu terpental dan membentur pohon yang sudah tak berdaun akibat ledakan tadi.

Bukan hanya gadis itu saja yang terlempar akibat ledakan, tapi Pendekar Mabuk dan Nyai Jurik Wetan juga sama-sama terlempar sejauh delapan tombak. Tubuh mereka bagaikan remuk, tulang-tulang mereka seakan patah semua akibat sentakan kuat dan bantingan keras yang membuat mereka kehilangan keseimbangan badan. Kepala mereka sama-sama membentur pohon dan pandangan mata jadi berkunang-kunang.

Pendekar Mabuk cepat tenggak tuaknya, sehingga badannya menjadi segar kembali dan tenaganya pulih seperti sediakala. Dalam hati sang pendekar hanya membatin, "Gila! Keras sekali lemparan tadi. Mataku terasa seperti buta dalam sekejap melihat sinar ledakan itu. Uuuhg...! Bagaimana keadaan lawanku, apakah sama seperti keadaanku?!"

Nyai Jurik Wetan ternyata punya cara sendiri untuk atasi rasa sakitnya. Dengan tarikan napas dan menahannya di dada, maka hawa sakti mengalir ke seluruh tubuh dan tenaganya cepat pulih kembali. Beberapa saat kemudian ia telah bangkit dan siap lakukan pertarungan lagi.

Sementara si gadis cantik hanya merasakan pusing sedikit serta pandangannya agak kabur. Dengan mengibaskan kepala beberapa kali, rasa pusing itu pun cepat hilang dan ia buru-buru memandang ke arah Suto Sinting yang telah berdiri tegak itu.

"Oh, syukurlah dia tak mengalami cedera apa-apa," pikirnya dalam kecemasan yang disembunyikan.

Namun ia sempat terkejut dan menjadi tegang manakala melihat Nyai Jurik Wetan tiba-tiba melayang bagaikan terbang dalam kecepatan tinggi. Weess...! Tongkat sang nenek yang telah disambarnya lagi itu masih utuh. Tongkat itu sekarang sedang diarahkan kepada Suto Sinting. Ujung tongkatnya keluarkan pisau sepanjang dua jengkal. Craaak...!

Pendekar Mabuk segera pasang kuda-kuda seperti orang mabuk mau jatuh. Kedua kakinya merapat dan saling berhimpit depan belakang. Tubuhnya melengkung ke kiri dengan tangan pegangi bumbung tuak yang seakan ingin dituangkan ke mulut. Tiba-tiba tubuh Suto Sinting bergerak melesat cepat sekali ke arah lawannya. Zlaaap...! Bumbung tuaknya menghantam ujung tongkat berpisau dua jengkal itu. Traaak...!

Blaarrr...! Terdengar lagi ledakan yang menggelegar mengguncang alam sekelilingnya. Tapi kali ini Suto Sinting berhasil daratkan kakinya dengan tegak di tempat pertemuan mereka, sedangkan Nyai Jurik Wetan terlempar keras membentur pohon kembali.

Duuurrr...! Daun pohon rontok seketika itu juga. Pohon tersebut menjadi tak berdaun selembar pun. Bahkan salah satu dahannya patah. Untung jatuhnya dahan itu tidak kenai kepala si Jurik Wetan.

"Edan betul!" gumam hati gadis itu menyimpan kekaguman terhadap ilmu yang dimiliki Suto Sinting. "Bumbung tuak itu benar-benar berkekuatan dahsyat! Jurik Wetan bisa dibuat terlempar sedemikian rupa, dan kalau bukan si Jurik Wetan mungkin sudah mati saat ini juga!"

Memang kenyataannya si Jurik Wetan masih bisa berdiri tegak dengan satu tarikan napas yang tertahan di dada. Nenek kurus itu bagai tak mengenal jera sedikit pun. Ia masih ingin lakukan serangan kembali ke arah Pendekar Mabuk dengan memutar tongkatnya yang keluarkan bunyi dengung memanjang itu.

Wuuuuung..., wuuuuuung.... Wuuungngng...!

Namun gerakan Nyai Jurik Wetan lambat laun menjadi terhenti karena bunyi aneh yang datang dari arah semak-semak sebelah kirinya.

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Pendekar Mabuk dan gadis itu juga merasa heran mendengar suara aneh tersebut. Mereka sama-sama memandang ke satu arah tempat datangnya bunyi aneh itu. Lalu, mereka sama-sama kerutkan dahi melihat kemunculan seorang tokoh berjubah ungu kusam. Tokoh itu berusia sebaya dengan si Jurik Wetan. Kepalanya botak tengah, sisa rambutnya yang putih dan tipis terurai sepanjang pundak. Tubuhnya yang kurus dibungkus kain modei jubah warna ungu kusam.

"Siapa tokoh tua itu? Baru sekarang aku melihat kemunculannya," pikir Suto Sinting yang merasa asing dengan tokoh tua berjubah ungu kusam itu.

Suara aneh itu timbul dari benda yang dimainkan oleh si tokoh tua berjubah ungu kusam itu. Rupanya benda yang dimainkannya berupa dua bola sebesar jeruk peras yang dihubungkan dengan rantai hitam. Bola dari logam putih berkilauan itu saling berbenturan dalam gerakan ke atas ke bawah sedangkan tangan si tokoh tua itu memegangi pertengahan rantai tersebut.

Nyai Jurik Wetan pandangi tokoh tua yang bermain dua bandul dari logam putih anti karat itu. Sementara orang yang dipandangnya yang cengar-cengir sambil memainkan dengan seenaknya, tanpa melihat gerakan dua bandul yang saling bertemu ke atas ke bawah itu.

"Keparat kau, Bocah Kolok! Minggirlah dari sini sebelum kau terkena sasaran tongkatku! Hentikan mainanmu itu, Bocah Kolok!"

"He, he, he...! Jangan marah pada Wiio, Nyai. Wiio cuma main-main saja. Tidak ganggu Nyai punya kerja. Wiio mau nonton Nyai tarung sama anak muda itu kok!" kata si Bocah Kolok yang lagak-lagunya persis bocah usia lima tahunan. Gerak-gerik dalam bicaranya juga seperti anak kecil. Bahkan ia menyebut dirinya bukan dengan kata 'aku' atau 'saya', melainkan menyebut nama kecilnya sendiri: Wiio. Penampilan yang kekanak-kanakan itu cukup menggelikan hati Pendekar Mabuk, sehingga senyum sang pendekar pun mekar karena tak bisa ditahan lagi.

"Bocah Kolok!" bentak Nyai Jurik Wetan. "Aku tak percaya kau datang kemari hanya untuk menyaksikan pertarunganku dengan si Pendekar Mabuk itu! Kau pasti akan berbuat usil terhadapku!"

"Iiih.... Nyai kok curiga buruk sama Wiio?!" sambil ia bersungut-sungut seperti anak kecil sewot. "Wiio cuma main-main di sini, kok disangka mau usil? Usil itu seperti apa, Nyai?"

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

"Hentikan mainanmu itu, Setan!"

Suara berisik itu berhenti. Lalu terdengar suara Bocah Kolok yang segera sembunyikan mainannya ke belakang. "Nyai jahat! Wiio main-main tidak boleh. Kalau Nyai bentak-bentak dengan suara keras, boleh!"

Gadis cantik yang diam saja di bawah pohon itu sempat terkejut ketika Suto Sinting berbisik di sampingnya, ia tak tahu kalau pemuda tampan itu sudah ada disampingnya.

"Siapa dia? Kau mengenalnya?"

Gadis itu hanya gelengkan kepala sambil memandang ke arah Bocah Kolok dan Nyai Jurik Wetan lagi. Kedua tokoh tua itu sedang perang mulut. Nyai Jurik Wetan merasa yakin akan mendapat gangguan dari Bocah Kolok, sementara Bocah Kolok sendiri bersikeras tak mau pergi dari tempat itu dengan alasan hanya ingin menyaksikan pertarungan si Jurik Wetan.

"Kalau kau tak mau pergi, kau sendiri yang akan kutumbangkan lebih dulu, Bocah Kolok!"

"Jangan, Nyai. Wiio tidak nakal kok!" ujarnya dengan gaya bocah cilik.

"Kau memang keras kepala, sebaiknya.... Uuhk...!" Nyai Jurik Wetan tiba-tiba tersentak dan pegangi dadanya, ia mundur dua langkah dengan tubuh semakin membungkuk. Matanya berusaha memandang Bocah Kolok dan mulutnya berusaha lontarkan kata dengan nada berat. "Setan kau, Bocah Kolok! Rupanya sudah dari tadi kau telah menyerangku dengan suara mainanmu itu, Keparat!"

Nyai Jurik Wetan ingin bergerak lakukan serangan, tapi tubuhnya tiba-tiba menggeloyor ke belakang dengan napas tersentak dan dada didekap lebih kuat. "Uuhhk...! Benar-benar jahanam kau!" suaranya kian memberat, nyaris tak terdengar dari tempat Suto Sinting berdiri.

Bocah Kolok pandangi sang nenek dengan dahi berkerut, seolah-olah ia merasa heran melihat keadaan si Jurik Wetan. Kedua tangannya masih dikebelakangkan dan kepalanya miring ke sana-sini penuh keheranan.

"Uuuhoooek...!" Nyai Jurik Wetan tiba-tiba memuntahkan darah segar. Tubuhnya semakin limbung dan bertumpu pada tongkatnya. Pendekar Mabuk dan si gadis cantik sama-sama tertegun dalam keheranan. Hanya saja, dalam hati si Pendekar Mabuk sempat membatin kata,

"Jika benar luka itu diderita karena bunyi tik-tok si Bocah Kolok itu, maka tak salah dugaanku bahwa si Bocah Kolok pasti berilmu tinggi."

Tiba-tiba terdengar suara Nyai Jurik Wetan yang menggeram dengan mata mendelik menyeramkan ke arah si Bocah Kolok. "Awas kau! Awas... tunggu pembalasanku! Pasti kau yang melukaiku! Aku kenal jurusmu yang pernah kurasakan tiga tahun yang lalu! Awas kau, Bocah Kolok!"

Weeeesss...! Nyai Jurik Wetan sentakkan kaki dan melesat pergi bagai menembus semak-semak, ia menghilang dan tak terdengar suaranya sedikit pun. Bocah Kolok tegakkan badan, lalu mainannya dipermainkan lagi dengan pelan. Ia pandangi wajah Pendekar Mabuk, lalu tersenyum bagai bocah kecil sedang nyengir, ia dekati pemuda tampan dan gadis cantik itu dengan kedua bandul putih itu saling sentuh tak secepat tadi.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik...!

"Hik, hik, hik... nenek itu lari ketakutan. Hik, hik, hik...!" ujarnya setelah berada dalam jarak empat langkah dari Suto Sinting.

"Terima kasih atas bantuanmu, Pak Tua!"

"Ini bukan Pak Tua," katanya sambil menepuk dada. "Ini namanya Wiio. Tapi ada yang panggil Wiio dengan julukan Bocah Kolok. Wiio biarkan saja mereka panggil apa, Wiio tidak mau peduli dengan panggilan itu.!"

"Terima kasih, Bocah Kolok. Kalau tak ada kau, mungkin pertarunganku dengan Nyai Jurik Wetan belum selesai sampai sekarang juga. Ia seorang nenek yang sukar ditumbangkan," kata Suto Sinting.

"Kau yang bernama Pendekar Mabuk, ya?"

"Betul, Bocah Kolok," sambil Suto bersikap menghormat.

"Hik, hik, hik... aku tahu kau yang bernama Suto Sinting, bukan?" katanya sambil nyengir dan menuding-nuding seperti anak kecil.

Suto Sinting membalas keramahan dengan senyumnya. Tapi si gadis cantik itu diam saja. Tak ada seulas senyum pun tampak mekar di bibirnya, ia berdiri dan memandangi Bocah Kolok dengan sikap tenang. Sedikit berkesan judes.

"Bocah Kolok, kalau boleh kutahu dari mana kau mengenal namaku?"

"Ah, Wiio sering dengar orang bicara tentang dirimu. Wiio hafal ciri-ciri penampilanmu. Wiio juga tahu kau muridnya Kang Sabawana, yang dikenal dengan nama Gila Tuak itu."

"Oh, kau kenal dengan guruku, Bocah Kolok?"

"Ya, kenal. Wiio bukan orang kurang pergaulan. Wiio dulu sering main-main sama Kang Sabawana. Pernah ikut naik ke puncak Gunung Suralaya bersama Kang Sabawana dan pelayannya; si Gendeng Sekarat itu!"

Pendekar Mabuk seperti mendengarkan celoteh anak kecil yang menyombongkan pengalamannya. Namun wajah Suto tak pernah berhenti dari keramahannya, seulas senyum selalu mekar di bibir si pemuda tampan itu. Sang gadis sebentar-sebentar melirik Suto, sesekali perhatikan si Bocah Kolok. Akibatnya, si Bocah Kolok menuding gadis itu dan berkata kepada Suto,

"Itu kekasihmu, Suto?"

"Oh, hmmm... eeeh... cobalah tanyakan sendiri padanya," jawab Suto Sinting dengan kikuk dan sedikit tersipu.

"Yu, kau kekasihnya Pendekar Mabuk, ya Yu?"

Gadis itu gelengkan kepala.

"O, dia bisu?" ujar si Bocah Kolok kepada Suto. "Hik, hik, hik, hik...!" lalu tertawa menutup mulutnya.

Gadis itu menjadi salah tingkah dan buang pandangan ke arah lain.

"Eh Yu... kau cantik sekali. Pasti hati Pendekar Mabuk berbunga-bunga jika berada di sampingmu, Yu."

Gadis itu semakin malu dan salah tingkah. Suto Sinting hanya tersenyum senyum dan sedikit renggangkan jarak dengan gadis itu.

"Jangan membuatnya tersipu malu, Bocah Kolok. Nanti dia marah kepadaku."

"Gadis cantik kalau sampai marah kepada pemuda setampan dirimu, pasti dia menyimpan kecemburuan. Dan kalau dia simpan kecemburuan, berarti dia punya cinta. Eh, ngomong-ngomong cinta itu seperti apa rasanya, Pendekar Mabuk? Wiio belum pernah jatuh cinta sampai setua ini. Kasihan, ya?"

Pendekar Mabuk justru tertawa dan tak bisa memberi jawaban. Tapi tiba-tiba tawa itu harus lenyap setelah tiba-tiba seberkas sinar kuning sebesar jari telunjuk melesat dan menghantam bawah pundak kiri gadis itu.

Claaap...! Deesss...!

"Aaahk...!" Gadis itu terpekik dan tersentak mundur. Kejap kemudian ia tumbang dalam keadaan tubuh berasap kuning berbau seperti asap belerang. Suto Sinting cepat tangkap tubuh gadis itu hingga kepala si gadis tak sempat terbentur di tanah.

"Racun 'Kembang Mayat'...!" seru si Bocah Kolok dengan nada terkejut juga.

Weeeess...! Ia tiba-tiba lenyap dengan gerakan melompat, seakan menembus alam gaib. Sementara itu, Suto Sinting yang menjadi tegang itu segera merebahkan tubuh gadis itu di rerumputan, ia buru-buru menuangkan tuaknya ke mulut si gadis. Sebagian tuak tertelan, tapi sebagian lagi tumpah ke sekitar mulut.

Weess...! Jleeeg...!

Bocah Kolok kembali lagi dengan wajah menegang. "Percuma. Tidak ada obat bisa sembuhkan racun 'Kembang Mayat', dan tidak ada yang tahu apa obatnya kecuali pemilik racun 'Kembang Mayat' itu, Suto!"

"Celaka! Apa yang akan terjadi pada diri gadis ini, Bocah Kolok?!"

"Tubuhnya akan mengering dan menjadi kaku. Wiio pernah lihat orang kena racun seperti itu. Tak sampai malam tiba, tubuh gadis ini pasti akan menjadi kaku dan kering."

"Siapa pemilik racun itu?"

"Tadi Wiio kejar, tapi orang itu sudah pergi. Wiio tidak menemukan siapa-siapa, Suto!"

"Tapi kau tahu siapa pemiliknya, bukan?!"

"Pemiliknya... hmmm... sebentar, Wiio ingat-ingat dulu nama pemilik racun itu...." Bocah Kolok kerutkan dahi dan berpikir dengan sungguh-sungguh. Beberapa saat lamanya baru suara bocahnya terdengar lagi, "Aduh, Wiio lupa nama pemiliknya. Tapi Wiio tahu siapa orangnya. Kalau ketemu, Wiio bisa kasih tahu dirimu wajah orangnya!"

"Celaka! Lalu apa yang harus kulakukan untuk selamatkan gadis ini?!" ujar Suto Sinting setelah perhatikan beberapa saat, ternyata tak ada tanda-tanda kesembuhan pada diri si gadis, walaupun beberapa tuak sudah masuk ke dalam kerongkongannya. Gadis itu tetap lemas tak sadarkan diri. Bagian dada bawah pundak kiri itu membekas hangus sebesar uang kerokan.

"Apakah kau tak bisa sembuhkan gadis ini dari racun 'Kembang Mayat' itu, Bocah Kolok?"

"Wiio belum pernah coba. Tapi... tapi sebaiknya memang harus Wiio coba dulu, ya? Siapa tahu bisa?!"

* * *

TIGA

TUBUH gadis itu dibaringkan di atas tanah yang dilapisi dedaunan, ia dibawa masuk ke gua semula atas saran Bocah Kolok. Agaknya si Bocah Kolok menaruh iba kepada gadis itu. Maka ia pun mencoba kerahkan tenaga untuk memberi pertolongan gadis tersebut. Suto Sinting tak bisa berbuat apa-apa dan merasa kecewa karena tuak saktinya tak bisa dipakai untuk menawarkan racun 'Kembang Mayat' itu. Ia hanya bisa pandangi si Bocah Kolok lakukan penyembuhan dengan menyalurkan hawa murninya ke tubuh si gadis.

Asap mengepul berulang-ulang dari telapak tangan si Bocah Kolok yang ditempelkan ke bagian yang hangus di tubuh gadis itu. Asap putih itu lama-lama berubah menjadi kebiru-biruan. Bocah Kolok gemetar dan keluarkan keringat di sekujur badannya. Sesaat kemudian ia hembuskan napas sambil melepas telapak tangannya dari luka. Ia pandangi Suto Sinting sambil berdiri.

"Wiio sudah usahakan tawarkan racun itu, tapi sepertinya tak banyak menolong. Racun itu masih kerja keras mengeringkan tubuh gadis itu, Suto. Lihat saja, kulit gadis ini semakin kering dan tampak berbusik-busik. Ih... Wiio jadi ngeri sendiri membayangkan kekasihmu akan jadi kering seperti kayu bakar."

Pendekar Mabuk diam saja dengan napas terhempas menandakan sangat prihatin atas nasib gadis yang belum diketahui namanya itu. Wiio sendiri tampak tak yakin pengobatannya akan berhasil. Tubuh gadis itu diperhatikan baik-baik, kemudian berkata lagi kepada Suto Sinting.

"Sepertinya Wiio kenal dengan gadis ini, Suto!"

"Bukankah kau datang untuk membela gadis ini?"

"Bukan," jawab Bocah Kolok sambil gelengkan kepala. "Wiio kebetulan saja lewat tempat ini."

"Tujuannya mau ke mana?"

"Mau... mau... aduh, mau ke mana, ya?" Wiio bingung sendiri, ia berpikir beberapa saat, tapi belum menemukan jawaban. Wajah tuanya menjadi serupa dengan bocah bingung yang tak ingat alamat rumahnya.

Suto Sinting geleng-geleng kepala pelan sambil membatin, "Rupanya dia sudah pikun. Tapi dia masih bisa mengingat namaku dan ciri-ciriku? Apakah dia pikun untuk hal lain saja, sedangkan untuk mengingat nama dan ciri-ciriku tak termasuk kepikunannya? Hmmm... aneh sekali dia. Dari mana asalnya dan siapa dirinya sebenarnya, aku sama sekali belum mengetahuinya."

"Aduh," keluh si Bocah Kolok dengan jengkel. "Wiio jadi benar-benar lupa harus ke mana dan mau apa lewat tempat ini? Hmmm... seingat Wiio, ada seseorang yang ingin Wiio temui. Tapi siapa orang itu dan mengapa ingin menemuinya, Wiio benar-benar lupa, Suto."

"Dari mana asalmu, apakah kau juga lupa?"

"Hmmm.... Wiio dari... dari...," kakek tua itu diam sebentar, merenungkan tempat asalnya. Kejap kemudian ia berkata sambil menatap Suto Sinting. "Pokoknya Wiio tinggal di Bukit Talang."

"Di mana arah Bukit Talang?"

"Hmmm... di... di...." Bocah Kolok kerutkan dahinya. "Di... di mana, ya? Aduh, Wiio jadi benci sama otak Wiio sendiri ini! Wiio sering lupa. Mungkin karena sering makan pantat ayam jadi mudah lupa begini."

Suto Sinting tertawa tanpa suara. Tawa itu cepat reda dan berganti sikap iba memandangi si gadis cantik. Ternyata nasib si gadis cantik dapat berubah menjadi kering jika tak tertolong sampai malam tiba. "Apakah kau tak punya kekuatan lagi untuk menolong gadis itu, Bocah Kolok?"

Pak tua itu geleng-geleng kepala sambil pandangi si gadis malang. "Wiio lupa, apakah Wiio punya ilmu lebih tinggi dari yang sudah Wiio pakai sembuhkan gadis itu tadi, atau masih ada ilmu simpanan lain yang... ah, Wiio benar-benar lupa, Pendekar Mabuk."

"Tapi kau tidak lupa dengan ciri dan namaku, bukan?"

"O, itu karena Wiio selalu memikirkan dirimu."

"Memikirkan diriku?" Suto Sinting kernyitkan alis. "Mengapa kau selalu memikirkan diriku?"

"Karena Wiio ingin sekali dapat jumpa dengan pendekar muda yang namanya jadi bahan bicaraan pada tokoh di rimba persilatan."

"Untuk apa kau ingin jumpa denganku? Sekadar ingin tahu atau ada keperluan lain?"

"Nah, itu dia yang Wiio tidak ingat lagi. Sepertinya Wiio punya keperluan sendiri padamu, Suto. Tapi... tapi keperluan apa itu? Wiio juga lupa. Mungkin malah Wiio hanya sekadar ingin ketemu pendekar kondang saja, setelah itu puaslah hati Wiio. Ah, tak tahulah apa maksud Wiio ini sebenarnya."

"Payah...," gumam Suto Sinting.

"Memang Wiio belakangan ini jadi orang payah! Jarang punya uang, jarang makan, rumahnya jelek, payah sekali pokoknya."

"Maksudku payah itu, kau benar-benar menyedihkan kalau segala sesuatunya tidak bisa kau ingat!"

"O, begitu?" Wiio manggut-manggut. Ia diam sejenak, kemudian sebelum Suto mengatakan sesuatu, Bocah Kolok itu berkata dengan penuh semangat hingga mengejutkan Suto. "Aaah... Wiio ingat!" serunya seperti anak kecil bersorak. Tubuhnya ikut melonjak kegirangan. Tangannya bertepuk satu kali dan wajahnya sangat ceria.

"Apa yang kau ingat?"

"Wiio punya ilmu buat perpanjang umur."

"Perpanjang umur bagaimana?"

"Namanya ilmu 'Rentang Nyawa'," sambil matanya memandang ke atas sebagai tanda mengingat-ingat nama ilmu 'Rentang Nyawa' itu.

"Maksudmu, umur seseorang bisa berubah menjadi panjang melampaui batas takdir hidupnya?" tanya Suto semakin ingin tahu.

"Bukan, bukan...." Bocah Kolok gelengkan kepala sambil gerakkan tangannya. "Maksud Wiio, ilmu itu bisa untuk menunda kematian tiba. Tapi tak bisa lama. Hanya satu hari saja."

"Apakah berguna untuk gadis itu?" sambil Suto Sinting menuding si gadis malang.

"Hmmm... sepertinya... sepertinya bisa berguna," jawab Wiio seperti anak kecil menyombongkan diri.

"Kalau begitu, coba lakukan untuk gadis itu."

"Tapi umur gadis itu tidak bisa panjang sekali. Ilmu 'Rentang Nyawa' hanya bisa menahan roh seseorang agar tak lekas-lekas tinggalkan jasadnya. Misalnya, gadis ini sebenarnya nanti malam sudah mati, dengan menerima getaran hawa ilmu 'Rentang Nyawa', maka roh gadis itu nanti malam belum pergi keluar dari raga. Roh itu diam di raga karena ditahan getaran gelombang gaib. Esok malam, barulah roh gadis itu akan pergi tinggalkan raganya."

"Hmmm... jika begitu kita punya waktu lebih panjang lagi untuk mencari obat penawar racun 'Kembang Mayat' itu, Wiio."

"Wiio pikir-pikir... memang begitu keuntungannya. Tapi...," ujarnya sambil melirik seperti anak kecil yang sedang melucu.

"Tapi apa lagi?" Suto tampak tak sabar.

"Tapi percuma saja kita tahan rohnya jika kita tidak tahu bagaimana cara menangkal racun 'Kembang Mayat' itu. Kalau kita sudah punya obat penangkal racun, harus diambil di tempat jauh, nah... untuk memperpanjang waktu bisa saja Wiio pakai ilmu 'Rentang Nyawa' itu. Tapi kalau...."

"Sudahlah jangan banyak bicara dulu, gunakan saja ilmu 'Rentang Nyawa'mu itu. Nanti kita pikirkan bagaimana cara mengatasi racun dalam tubuh si gadis malang itu, Wiio."

"Baiklah, baiklah...!" Wiio manggut-manggut sambil mendekati gadis itu.

Kedua tangan Bocah Kolok mulai berasap setelah bergerak maju dalam keadaan mengeras. Gerakan itu dilakukan pelan-pelan sambil napasnya keluar dari mulut berkali-kali. Kemudian tangan yang berasap samar-samar itu mendekati bagian perut si gadis. Ujung jari-jarinya menyala kuning pijar.

Ketika tangan itu menempel di perut si gadis, maka asap yang keluar dari tangan tersebut seperti tersedot oleh tubuh si gadis. Kini bagian perut si gadis mulai tampak keluarkan cahaya kuning pijar samar-samar. Lebih dari sepuluh helaan napas si Bocah Kolok tempelkan tangan ke perut gadis itu. Pendekar Mabuk perhatikan betul cara pengobatan tersebut dengan hati sedikit berdebar-debar.

"Eeeh...!" si gadis mulai mengeluh tipis. Jari-jari tangannya bergerak pelan lebih dulu, kemudian kakinya mulai bergerak lemah. Dadanya yang sekal tampak naik turun pertanda ia mulai siuman. Bagian luka hangus mengepulkan asap tipis, namun warna hitamnya masih belum hilang.

Bocah Kolok segera bangkit dan berkata kepada Suto, "Wiio hanya bisa menghambat kerja racun, tapi tidak bisa memusnahkannya."

"Mengapa tidak kau lakukan berkali-kali, siapa tahu racun itu bisa punah oleh kekuatan ilmu 'Rentang Nyawa'-mu itu?"

Bocah Kolok gelengkan kepala. "Wiio takut, ah!" Lalu ia jauhi gadis yang mulai menggeliat dan membuka matanya. "Nyawanya masih akan ada sampai besok sore. Malamnya ia pasti sudah tidak bernyawa lagi," ujar Wiio, dan keterangan itu hanya membuat Pendekar Mabuk menarik napas panjang-panjang, merasa sangat sedih membayangkan nasib si gadis malang itu.

Tiba-tiba Pendekar Mabuk teringat sebuah genangan air menyerupai kolam yang berwarna hijau bening dalam istana jerami milik Ratu Cumbutari. Kolam itu sebenarnya sebuah sendang alam yang dirawat dan dijadikan sebuah kolam oleh Ratu Cumbutari. Kolam itulah yang dinamakan Sendang Ketuban, yang mampu mengalahkan racun apa pun yang tak bisa dikalahkan oleh obat lain. Sendang Ketuban terletak di negeri Wilwatikta dan negeri itu berada di Gunung Purwa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pembantai Raksasa).

Maka membatinlah hati Suto pada saat diam merenung di depan Wiio, "Haruskah aku lari ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban? Sepenting itukah aku menyempatkan diri pergi ke sana hanya demi selamatkan gadis yang belum kukenal ini?"

Hal itu dibicarakan kepada si Bocah Kolok. Lalu orang tua yang bertingkah seperti anak kecil itu pun keluarkan pendapatnya, "Kalau kau bisa pergi dan pulang membawa air Sendang Ketuban tak lebih dari esok malam. Maka usahamu itu tidak akan sia-sia, Suto. Tapi kalau kau datang lewat dari esok malam, maka percuma saja kau pergi ke Gunung Purwa."

"Kurasa, aku bisa mempercepat langkahku dan tiba di sini pada esok siang."

"Kalau memang bisa begitu, alangkah baiknya kau pergi sekarang juga ke Sendang Ketuban itu. Wiio akan jaga gadis ini, sambil Wiio ingat-ingat siapa gadis ini sebenarnya."

"Bagaimana jika kita tanyakan kepadanya siapa dia sebenarnya?"

"Wiio rasa, gadis itu belum bisa bicara, tenaganya masih lemah sekali, dan mungkin tenggorokannya masih kering, belum bisa dipakai untuk bicara."

Pendekar Mabuk manggut-manggut, kemudian si Bocah Kolok berkata lagi, "Wiio sarankan kalau mau berangkat ke Gunung Purwa, sebaiknya berangkatlah mulai sekarang biar waktumu tidak banyak terbuang."

"Baiklah, aku berangkat sekarang dan jaga dia baik-baik!"

"Hati-hatilah, Pendekar Mabuk!" si Bocah Kolok melepas kepergian Pendekar Mabuk sampai di luar gua.

Lalu, murid sinting si Gila Tuak itu pun melesat ke arah negeri Wilwatikta dengan pergunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya yang mempunyai kecepatan melebihi badai itu. Zlaaap...! Zlaaap...! Zlaaap...! Setiap niat baik selalu saja akan menemui cobaan sebagai perwujudan dari kesungguhan niat itu. Demikian halnya dengan si Pendekar Mabuk, langkahnya terhenti karena sebuah rintangan menghalanginya.

Rintangan itu adalah kemunculan cahaya biru berlarik-larik yang menyebar dan mengarah kepadanya. Pendekar Mabuk tak tahu datangnya cahaya biru itu dari arah samping belakangnya. Zraaab...! Sinar biru berlarik-larik itu akhirnya menghantam Suto Sinting yang membuat si Pendekar Mabuk itu terpental ke arah lain. Weess...! Burrkk...!

"Aahk...!" Suto Sinting terpekik, kemudian berusaha bangkit, tapi segera menyadari bahwa dirinya telah terjerat kekuatan dari sinar biru yang kini mengurungnya dan makin lama sinar-sinar biru itu bergerak semakin rapat dengan tubuh Suto Sinting. "Celaka! Tubuhku bagai ada yang menjeratnya dengan tambang yang sangat kuat. Ouuuh...! Pernapasanku sesak sekali!" Pendekar Mabuk menggeram sambil berusaha lepaskan diri dari jeratan gaib tersebut.

"Uuuh...! Sulit sekali menggerakkan tanganku untuk menenggak tuak?! Kurang ajar betul orang yang menyerangku ini! Hmmm... sepertinya sinar-sinar biru yang menjeratku ini pernah kulihat saat si Kusir Hantu dan Pematang Hati mengalami nasib seperti ini! Kalau tak salah sinar-sinar biru ini kiriman dari si Hulubalang Iblis!" sambil ingatan Suto sempat mengenang peristiwa beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

Beberapa saat kemudian muncullah seraut wajah tua berbaju biru dan celana hitam. Tokoh itu berambut pendek dan tipis warna merah seperti rambut jagung. Di pinggangnya terselip cambuk pusaka yang panjangnya hanya sekitar empat jengkal. Tokoh kurus berambut merah jagung itu tak lain adalah si Kusir Hantu, tokoh ternama dari Bukit Seram.

"Kusir Hantu... aku terkena...."

Kusir Hantu segera menyahut, "Jurus 'Jalasuma' itu namanya. Kau masih ingat jurus tersebut, Suto?! Hmmm... pasti di sekitar sini ada si Hulubalang Iblis. Akan kucari pentolan setan itu! Pepatah mengatakan: 'Kuda lari jangan dikejar, nasib orang... tidak sama seperti nasib kuda'. Memang keparat busuk si Hulubalang Iblis itu!"

"Kusir Hantu, tunggu sebentar...."

Weess...! Kusir Hantu pun mampu lakukan gerakan cepat yang mirip orang menghilang, sehingga sebelum Suto Sinting selesai bicara ia sudah menghilang lebih dulu dari hadapan sang Pendekar Mabuk.

Suto Sinting hanya mengeluh dan menggeram jengkel dalam hati sambil berusaha menahan kekuatan jerat dari sinar-sinar biru tersebut. Sebab menurut keterangan dari si Kusir Hantu yang pernah didengarnya, bahwa sinar biru yang datang dari jurus 'Jalasuma'-nya si Hulubalang Iblis itu dapat memotong tubuh manusia yang dijeratnya jika sampai beberapa saat orang tersebut tak bisa lepaskan diri dari jeratan itu. Pendekar Mabuk pun menjadi mulai tegang ketika si Kusir Hantu tidak muncul-muncul sampai beberapa saat lamanya.

* * *

EMPAT

KETIKA si Kusir Hantu dan cucunya terjerat jurus 'Jalasuma', Pendekar Mabuk yang menolong dengan menghancurkan sinar-sinar biru tersebut. Kini, keadaan Pendekar Mabuk yang tak berkutik itu ganti ditolong oleh si Kusir Hantu dengan cara menghancurkan sinar-sinar biru tersebut. Kusir Hantu muncul kembali setelah beberapa saat kerepotan mencari si pemilik jurus 'Jalasuma' itu.

Seberkas sinar merah kecil dilepaskan oleh si Kusir Hantu dari ujung telunjuknya. Claaap...! Sinar merah kecil itu menghantam kumpulan sinar-sinar biru dan menimbulkan ledakan yang cukup keras.

Blaarrr...!

Pendekar Mabuk terjungkal ke belakang akibat ledakan tersebut. Badannya terasa bagai dibungkus api. Ia buru-buru menenggak tuaknya, maka rasa terbungkus api pun segera lenyap. Kini ia berdiri pandangi si Kusir Hantu yang sedang tersenyum cengar-cengir memperhatikannya.

"Satu sama!" celetuk si Kusir Hantu. "Dulu ketika aku terjerat 'Jalasuma' kau menolongku dengan meledakkan sinar itu dan aku terlempar bersama cucuku. Sekarang kau pun kutolong dan ikut-ikutan terlempar seperti aku dulu. He, he, he...! Pepatah mengatakan: 'Lain lubuk lain belalang', artinya lain cara menolong lain pula belalangnya, he, he, he, he...!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum kelegaan sambil sama-sama maju saling menghampiri. Setelah mencapai jarak satu langkah Kusir Hantu menepuk-nepuk pundak Suto Sinting dengan sikap ramahnya.

"Sudah dua purnama kita tak jumpa, ternyata kau makin hari makin gagah saja, Nak!"

"Kau pun makin tua makin gagah, Pak Tua."

Keduanya tertawa pelan, lalu wajah mereka saling berkerut setelah Pendekar Mabuk ajukan tanya, "Apakah orang yang menyerangku dengan jurus 'Jalasuma' tadi berhasil kau tangkap, Pak Tua?"

"Ya, itulah yang membuatku bingung. Aku tak menemukan si Hulubalang Iblis. Padahal setahuku jurus itu milik si Hulubalang Iblis. Tapi yang kutemukan adalah aroma wangi seorang perempuan."

"Perempuannya sendiri ada?"

Kusir Hantu gelengkan kepala. Tokoh tua berusia sekitar enam puluh tahun itu segera berkata dengan gayanya yang senang menggunakan pepatah walau maksudnya tak pernah jelas. "Perempuan yang beraroma wangi itu tidak kutemukan. Tapi aku mulai bisa mengenali aroma wangi itu, jika suatu saat kujumpa dengan perempuan tersebut. Pepatah mengatakan: 'Jika ada sumur di ladang, boleh saya menumpang mandi....'"

"Maksud pepatah itu bagaimana, Pak Tua?"

"Jika ada umurku panjang, boleh kita mandi bersama. He, he, he...! Maksudku, bersama dengan perempuan yang beraroma wangi itu. He, he, he...!"

Dalam hatinya Suto Sinting hanya membatin, "Tokoh tua yang satu ini memang gemar bercanda. Seakan dirinya merasa selain muda. Menyenangkan sekali jumpa dengannya, hanya sayang aku menjadi penasaran dan ingin mengetahui perempuan mana yang berani menyerangku dengan jurus 'Jalasuma' tadi? Apakah ia ada hubungannya dengan si Hulubalang Iblis?"

Kusir Hantu yang bernama asli Ki Pujasera itu segera ajukan tanya sambil garuk-garuk pantatnya, "Nak, apakah kau melihat cucuku di lain tempat?"

"Maksudmu si Pematang Hati?"

"Benar. Aku mencarinya, juga mencari adiknya yang bernama Mahligai Sukma."

"O, aku tidak jumpa dengan cucumu, Pak Tua," jawab Suto Sinting. "Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau mencari mereka?"

"Sangat penting, dan menurut dugaanku dia sedang mencarimu."

"Mencariku?" Suto Sinting berkerut dahi. "Mengapa ia mencariku?"

"Mungkin rindu," jawab si Kusir Hantu. "Mungkin juga karena ia ingin meminta bantuan padamu. Yang jelas, terakhir kali kubertemu dengan seorang kenalannya yang mengatakan bahwa Pematang Hati pergi mencari Pendekar Mabuk. Kusangka ia sudah kau bawa ke kediaman gurumu, Nak."

"Untuk apa aku membawa cucumu ke sana?"

"Barangkali kalian mau menikah di depan si Gila Tuak?"

Pendekar Mabuk tertawa pelan tapi agak panjang. "Nak, Pematang Hati itu gadis yang baik dan masih perawan ting-ting. Jangan anggap remeh cucuku itu, Nak!"

"Aku tidak memandang remeh cucumu, Pak Tua. Aku hanya menertawakan dugaanmu. Mengapa sampai sejauh itu kau menduga perasaan hati kami? Belum tentu cucumu sendiri mempunyai niat seperti yang terbayang dalam otakmu, Pak Tua."

"Kalau Pematang Hati tidak mempunyai niat seperti dugaanku, berarti aku baru tahu bahwa cucuku itu gadis yang berotak bebal, bodoh dan kolot! Pepatah mengatakan: 'Ringan sama dijinjing, berat sama dipukul....'"

"Dipikul!" Suto membetulkan ucapan tersebut.

"Iya, dipikul. Artinya...."

Belum sempat Kusir Hantu lanjutkan arti peribahasa yang dilontarkannya itu, tiba-tiba mereka sama-sama dikejutkan oleh kemunculan dua orang berpakaian serba hitam. Satu orang berambut ikal pendek dan mengenakan ikat kepala hijau, sedangkan yang satu berambut panjang sepundak agak kurus dan mengenakan ikat kepala kuning. Kemunculan mereka bagaikan jatuh dari langit, karena mereka lakukan lompatan melintas bagian atas semak-semak untuk tiba di tempat itu.

Jleg, jleg....!

Kusir Hantu cepat menyapa kedua orang yang segera menampakkan sikap tak bersahabat itu. "Darah Gunung dan Lintah Saberang! Selamat jumpa lagi, Adik-adikku yang ganteng? Apa kabar kalian, Dik?!"

"Ggrrmmmhh...!" Orang yang berikat kepala hijau itu menggeram menampakkan permusuhannya.

Pendekar Mabuk sempatkan diri berbisik kepada si Kusir Hantu, "Siapa mereka, Pak Tua?"

"Yang pakai ikat kepala hijau bernama Darah Gunung, dan yang pakai ikat kepala kuning berbadan kurus serta bermuka lonjong itu adalah si Lintah Saberang. Mereka anak buah Hulubalang Iblis."

"Kalau begitu, pasti mereka bermaksud tak baik pada kita, Pak Tua,"

"Gelagatnya memang begitu, tapi... tenang saja kau. Tenang saja. Biar kuhadapi sendiri kedua orangnya si Hulubalang Iblis itu!" ujar Kusir Hantu sambil tepuk-tepuk lengan Suto Sinting. Bahkan ia tambahkan kata lagi dalam bisikan, "Mundurlah sedikit, biar gerakanku tak terhalang keadaanmu."

Suto Sinting angkat bahu dan lebarkan tangan pertanda pasrah kepada si Kusir Hantu, lalu ia pun melangkah mundur hingga sampai di bawah pohon. Ia berdiri dengan bumbung tuak menggantung di pundak, kedua tangan bertolak pinggang sebelah kiri, dan tangan kanannya dipakai menopang ke batang pohon tersebut. Matanya memperhatikan kedua orangnya Hulubalang Iblis yang tampak sangar-sangar itu.

"Apa maksudmu datang menemuiku di sini, Darah Gunung dan Lintah Saberang?" tanya si Kusir Hantu dengan sikap tenang, bahkan gerak-geriknya tampak acuh tak acuh, seakan sangat tidak peduli dengan kedua orang didepannya itu.

Sikap seperti itu rupanya membuat si Lintah Saberang menjadi geram dan menahan kedongkolan dalam hatinya. Tulang rahangnya yang sedikit menonjol itu tampak sedang menggeletukkan gigi di dalam mulut dengan pancaran matanya terasa dingin membekukan darah orang yang dipandangnya.

"Kusir Hantu, bersujudlah di depanku sebelum masa hidupmu berakhir bersama cucu-cucumu!" ujar Darah Gunung dengan suaranya yang lantang. Tapi si Kusir Hantu hanya terkekeh memandang remeh terhadap ucapan tadi.

"He, he, he, he.... Aku sudah lupa bagaimana cara bersujud. Jika kau mau, tolong berikan contoh bagaimana cara bersujud itu, Darah Gunung!"

"Bangsat!" sentak Darah Gunung kemudian tangannya berkelebat melepaskan pukulan jarak jauh dari tempatnya berdiri. Wuuut, weess...!

Buhhk...! Pukulan itu mengenai dada si Kusir Hantu dengan telak. Tubuh si Kusir Hantu sampai terjengkang ke belakang dan jatuh terkapar, kepalanya membentur sebatang pohon kering yang telah tumbang beberapa waktu yang lalu. Duuuhk...!

Suto Sinting sempat menampakkan kecemasannya dengan buru-buru dekati si Kusir Hantu dan ingin menolongnya. Tapi Pak Tua itu lebih cepat bangkit sebelum Suto mengulurkan tangannya.

"Pak Tua, bagaimana keadaanmu?"

"Tenang saja! Pepatah mengatakan: 'Sekali merengkuh dayung dua tiga hari capeknya tidak hilang-hilang'. Kau tetap tenang saja di tempatmu. Mereka akan kuselesaikan secara jantan."

Pendekar Mabuk akhirnya mundur dan kembali ke tempatnya semula, membiarkan si Kusir Hantu maju beberapa langkah dekati kedua lawannya. Wajah tua itu masih tampak cengar-cengir menjengkelkan lawan.

"Pukulan seperti itu kau lepaskan untuk diriku, Darah Gunung. Bukankah itu pukulan untuk membunuh nyamuk rawa-rawa?!" ujar si Kusir Hantu dengan nada mengejek.

Darah Gunung semakin dongkol, maka ia pun berseru dengan maju satu langkah lagi. "Kau ingin yang bisa memecahkan kepalamu? Terimalah ini, heeaah...!"

Weeess...! Tubuh si Darah Gunung tiba-tiba melayang dalam gerakan seperti singa menerkam, lalu berubah dalam gerakan salto. Ketika tubuhnya berbalik itulah kedua kaki si Darah Gunung menendang kepala Kusir Hantu secara beruntun. Duhk, duhk, duhk...!

Tendangan terakhir terasa lebih kuat, bagaikan ingin memecahkan tulang tengkorak si Kusir Hantu. Tak heran jika si Kusir Hantu terlempar ke belakang lagi dan jatuh terpelanting dengan dahi membentur ujung kayu kering. Krraakkk...!

"Ha, ha, ha, ha...!" Lintah Saberang tertawa kegirangan melihat Kusir Hantu terpental begitu rupa.

Suto Sinting geregetan melihat Kusir Hantu tidak ada perlawanan sedikit pun. Tangan si Pendekar Mabuk itu sudah menggenggam kuat, ingin lakukan serangan mendadak kearah Darah Gunung. Tetapi niat itu terpaksa dibatalkan. Pendekar Mabuk justru terkejut dan memandang heran kepada Darah Gunung yang tiba-tiba terlempar sendiri dari sikap berdirinya.

Wuuut...! Bruuuk...! Brrrurs...! Buhhk, buhk, bruuusss...!

"Aaauh, oouh, aaaah, uaaah...!"

Lintah Saberang terbelalak dan terheran-heran melihat rekannya jungkir balik, jatuh-bangun dan tersungkur-sungkur sendiri tanpa ada yang menyerang. "Kenapa dia seperti orang kena penyakit ayan begitu?!" pikir si Lintah Saberang. "Padahal si Kusir Hantu sedang bergegas bangun, belum lakukan serangan apa-apa, tapi mengapa Darah Gunung seperti ada yang menyerangnya tanpa kelihatan wujud penyerangnya?!"

"Ouuuuhhh...!" Darah Gunung mengerang panjang sambil wajahnya mencium tanah, ia bangkit pelan-pelan setelah mendengar seruan Lintah Saberang.

"Darah Gunung, kenapa kau?! Siapa yang menyerangmu?!"

Darah Gunung mencoba untuk bangun dengan sempoyongan. Wajahnya yang memandangi si Kusir Hantu itu tampak memar. Banyak luka yang membiru di sekitar wajah. Bahkan tiba-tiba ia tersentak dan memuntahkan darah segar dari mulutnya, ia memegangi dadanya yang terasa sakit bagai habis dihantam pukulan bertenaga dalam cukup besar.

Kusir Hantu hanya cengar-cengir, bagai tak pernah menerima serangan apa pun dari lawannya. Bahkan dahinya yang membentur ujung pohon kering itu tidak mengalami luka sedikit pun. Tetapi dahi Darah Gunung justru berdarah. Lukanya seperti luka bekas benturan. Kepala bagian belakang juga tampak berdarah, seperti bekas benturan benda keras.

Melihat keadaan itu, Pendekar Mabuk pun segera manggut-manggut dengan senyum tipis dan hati membatin, "Ooo, ya, ya, ya... aku ingat sekarang. Kusir Hantu mempunyai ilmu 'Timbal Rasa' yang membuat lawannya babak belur sendiri jika menyerangnya. Pantas Kusir Hantu dari tadi diam saja, tidak menangkis, tidak menghindar dan tidak menyerang. Rupanya ia mengandalkan ilmu 'Timbal Rasa'-nya yang membuat Darah Gunung menderita sakit di bagian dada, karena ia tadi menghantam dada Kusir Hantu. Dahinya dan kepalanya yang luka itu pasti terjadi akibat ia tadi menendang kepala Kusir Hantu hingga Kusir Hantu membentur kayu kering itu. Wah, bisa-bisa semakin parah serangan Darah Gunung yang kenai tubuh Kusir Hantu, semakin parah pula luka yang diderita si Darah Gunung sendiri."

Rupanya kedua orang utusan Hulubalang Iblis itu belum dibekali pengetahuan tentang ilmu 'Timbal Rasa' yang menjadi salah satu kesaktian si Kusir Hantu, sehingga mereka perlakukan si Kusir Hantu seenaknya saja, tanpa memikirkan akibat buruk bagi diri mereka sendiri. Bahkan kali ini Lintah Saberang yang merasa hatinya menjadi makin panas, ganti menyerang Kusir Hantu dengan mencabut goloknya dan berseru,

"Bangsat tengik kau, Tua Bangka! Kubedah perutmu sekarang juga!"

"Hei, Tua Bangka itu kakakku. Namaku si Kusir Hantu, jangan salah sebut, Kawan! He, he, he, he...!"

"Heeeaaaah...!" Lintah Saberang lebih ganas lagi. Ia lakukan lompatan bersalto dengan cepat, tahu-tahu tubuhnya yang turun dari atas itu sudah berada di depan si Kusir Hantu. Goloknya segera berkelebat tepat ketika kakinya menyentuh tanah. Wuuut, craaass...!

Menghadapi sabetan golok dari atas ke bawah, si Kusir Hantu hanya diam saja dan cengar-cengir. Tak heran jika golok itu kenai sasaran; merobek dada hingga perut si Kusir Hantu.

Tetapi tubuh Lintah Saberang sendiri yang terpental mundur dan suaranya memekik dengan keras. "Aaaaakh...!" Ia terhuyung-huyung dalam gerakan mundur dan mata mendelik. Dadanya sendiri yang robek sampai sebatas bawah pusar. Keadaannya sungguh mengerikan. Darah menyembur dari luka robekan itu dan isi perutnya pun mulai berhamburan begitu ia tumbang dalam keadaan telentang.

Darah Gunung mendelik melihat si Lintah Saberang terkapar dalam keadaan sekarat, ia segera dekati si Lintah Saberang bersama wajah memarnya yang kian menegang. Tapi sebelum Darah Gunung mendekat, ternyata Lintah Saberang telah hembuskan napas terakhir dan tubuhnya pun melemas, diam tak berkutik selamanya.

"Bangsat terkutuk kau, Setan Tua!" geram si Darah Gunung sambil pandangi Kusir Hantu penuh dendam membara.

"Pulanglah dan kusarankan tak perlu menyusul temanmu itu, Darah Gunung. Biarkan dia jalan-jalan ke neraka sendiri, kau tak perlu merasa iri!" ujar si Kusir Hantu. "Pepatah mengatakan: 'Sambil menyelam minum tuak'. Artinya..."

Belum habis Kusir Hantu bicara, Darah Gunung telah lepaskan pukulan jurus andalannya. Seberkas sinar merah melesat dari telapak tangannya dalam gerakan seperti kilat menyambar. Clap, clap, clap...! Sinar merah itu menghantam leher Kusir Hantu.

Zeerrb...! Blaaarr...!

Ledakan cukup keras terdengar menggema dan menggetarkan beberapa dedaunan. Pendekar Mabuk sempat tersentak kaget melihat Kusir Hantu dihantam sinar itu dan mendengar ledakannya. Tetapi wajah kaget Pendekar Mabuk berubah bengong melompong dan geleng-geleng kepala setelah melihat keadaan yang sebenarnya. Bukan kepala si Kusir Hantu yang pecah, melainkan kepala si Darah Gunung sendiri yang pecah bagai habis dihantam sinar berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat. Sedangkan si Kusir Hantu hanya cengar-cengir pandangi tubuh Darah Gunung yang melayang-layang limbung tanpa kepala, kemudian tumbang ke tanah tak bergerak-gerak lagi. Pecahan kepalanya menyebar ke berbagai arah dan sukar dikenali.

"Ada orang tua bicara belum selesai kok sudah diputus. Akibatnya ya kesamber geledek begitu. He, he, he...!"

Weeesss...! Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dan tahu-tahu sudah berada di depan Kusir Hantu. Pendekar Mabuk memandang dengan dahi berkerut dan Kusir Hantu hanya cengar-cengir bagai tak terkejut melihat kehadiran tokoh tersebut.

* * *

LIMA

TOKOH yang baru datang itu masih tampak muda. Ia seorang gadis berusia sekitar dua puluh satu tahun, berwajah cantik imut-imut, mengenakan baju hijau muda, rambut dikonde dua dan berkulit kuning langsat. Pendekar Mabuk pernah jumpa dengan gadis itu, sedangkan Kusir Hantu sudah tak merasa asing lagi dengan gadis bermata bundar bening itu. Ia adalah cucu dari si Tua Bangka yang bernama Cawan Pamujan.

"Cawan Pamujan, rupanya ada sesuatu yang penting sehingga kau menemuiku di sini, Anak Manis?" sapa Kusir Hantu.

"Betul, Eyang. Aku disuruh menemui Eyang Kusir Hantu," jawab gadis itu dengan nada manja. Wajah cantiknya kala itu sedang murung, dan kemurungan tersebut menjadi pusat perhatian Suto Sinting.

"Siapa yang menyuruhmu menemuiku, Cawan Pamujan?"

"Siapa lagi kalau bukan saudaraku sendiri, alias cucumu juga, Eyang."

"Pematang Hati maksudmu?"

"Betul. Dia... dia sekarang dalam bahaya, Eyang!" sambil Cawan Pamujan mendekati Kusir Hantu yang merupakan adik dari kakeknya itu.

"Bahaya apa yang kau maksud, Cawan Pamujan?!" tanya Suto Sinting.

Gadis itu semakin menampakkan kegelisahannya, memandang Kusir Hantu dan Pendekar Mabuk berganti-gantian. "Pematang Hati tertangkap oleh orang-orang Tebing Hitam. Waktu itu, aku dan Pematang Hati sedang menuju ke Lembah Tirta untuk temui sahabat si Pematang Hati. Tetapi di perjalanan kami disergap oleh orang-orang Tebing Hitam. Aku bisa meloloskan diri, tapi Pematang Hati tertangkap dan dibawa ke Tebing Hitam, Eyang! Pasti dia disiksa oleh orang-orang Tebing Hitam, setidaknya diperkosa oleh para begundal Tebing Hitam, Eyang! Oh, berbuatlah sesuatu untuk Pematang Hati, Eyang Kusir Hantu! Pergilah ke sana dan bebaskan Pematang Hati!"

Cawan Pamujan mendesak dengan kecemasan dan kemanjaan sikapnya. Tapi Kusir Hantu hanya diam saja, kedua tangannya bersedekap di depan dada. Sesekali ia tampak manggut-manggut dengan pandangan mata menatap tajam kepada Cawan Pamujan.

"Mengapa si Kusir Hantu tak merasa tegang atau cemas?" pikir Pendekar Mabuk. "Mengapa ia tetap tenang-tenang saja? Apakah telinganya sudah budeg, hingga tak mendengar cucunya dalam bahaya?! Aneh juga orang satu ini!"

Gadis berwajah imut-imut itu semakin merajuk dalam kemanjaannya. Ia menarik-narik baju birunya Kusir Hantu yang tanpa lengan itu. "Cepat pergi ke sana, Eyang! Lakukan sesuatu agar Pematang Hati bebas dari tawanan Tebing Hitam! Lakukan, Eyang! Jangan diam saja begitu!"

Tiba-tiba tangan Kusir Hantu berkelebat menyodok dada Cawan Pamujan dengan telapak tangannya. Wuuut, beehk...!

"Uuhk...!" Cawan Pamujan terpental enam langkah dari tempatnya, ia terhempas kuat hingga membentur pohon. Brruuk...! Lalu jatuh tersentak ke depan dan hampir saja wajahnya beradu dengan tonjolan akar pohon yang keras itu.

"Pak Tua, mengapa kau lakukan?! Bukankah dia cucu dari kakakmu sendiri?!" sergah Pendekar Mabuk dengan rasa kurang setuju melihat sikap kasar Kusir Hantu.

Pak Tua itu hanya cengar-cengir tanpa suara. Matanya memandangi Cawan Pamujan beberapa saat, kemudian ia melangkah dengan kalem, seakan merasa tidak berbuat kesalahan apa pun. Pendekar Mabuk buru-buru mendampinginya dengan maksud mencegah tindakan Kusir Hantu yang dapat menyerang Cawan Pamujan lagi sewaktu-waktu.

Gadis itu telah berdiri dengan wajah dicekam rasa takut dan kesedihan. Dari sudut mulutnya keluar darah kental akibat pukulan di dadanya tadi. Darah kental itu hanya meleleh mendekati dagu dan tak dihapusnya. "Mengapa Eyang sejahat itu padaku?! Apa salahku, Eyang?!. Aku hanya mengabarkan bahaya yang dihadapi Pematang Hati...!" sambil si gadis mundur pelan-pelan karena Kusir Hantu maju terus mendekatinya.

Tiba-tiba kaki Kusir Hantu berkelebat menendang wajah si gadis yang imut-imut itu. Wuuut, deesss...!

"Aauh...!" pekik Cawan Pamujan sambil tubuhnya terlempar ke samping dan jatuh berguling-guling. Kusir Hantu melangkah dengan tenang dekati gadis itu dan ingin melepaskan tendangan lagi.

"Eyang, apa salahku sampai kau tega menghajarku, Eyang?!" ratap gadis itu sambil menangis.

Tepat ketika gadis itu bangkit, tangan si Kusir Hantu segera menghajar ke wajah cantik itu. Beeet...! Tapi pukulannya tertahan sebuah telapak tangan yang langsung mencekal genggaman si Kusir Hantu. Teeeb...!

Pendekar Mabuk menahan pukulan itu dengan meremas genggaman Kusir Hantu. Pemuda tampan itu pun berkata setengah menghardik, "Pak Tua, jangan lakukan lagi!"

"Minggir kau!" Kusir Hantu balas menghardik.

"Tidak, Pak Tua. Kau tak boleh menghajarnya tanpa alasan yang kuat!"

Tangan yang digenggam Suto itu berputar cepat dan dalam sekejap pergelangan tangan Suto sudah ganti dicekal oleh Kusir Hantu. Dengan gerakan cepat pula, kaki Kusir Hantu menyodok perut Suto, lalu menyentakkannya ke atas. Weess...! Pendekar Mabuk melambung di udara melintas atas kepala Kusir Hantu. Tubuh si pendekar gagah itu terlempar ke belakang Kusir Hantu dan jatuh tanpa bisa lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Brruuuusk...!

Kusir Hantu cepat-cepat melepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar ke arah Cawan Pamujan dengan kibasan tangan kiri bagai melakukan tamparan. Wuuut...! Buuhk...!

"Aaah...!" Cawan Pamujan terpekik lagi dan jatuh terpelanting ke kiri.

Ketika Kusir Hantu ingin lepaskan pukulan yang diperkirakan dapat membahayakan jiwa gadis cantik itu, Suto Sinting cepat-cepat melepaskan jurus 'Jari Guntur'-nya dari arah belakang Kusir Hantu. Sebuah sentilan yang mempunyai kekuatan bagai tendangan seekor kuda jantan telah dilakukan Suto dan kenai punggung si Kusir Hantu. Teesss...! Bhuuhhk...!

"Heegh...! Kusir Hantu tersentak ke depan, lalu jatuh terguling-guling di tanah. Ia cepat-cepat bangkit, namun menyeringai kesakitan sambil memegangi pinggang beiakang.

"Uuhk... kurang ajar kau, Nak!" geram si Kusir Hantu.

"Maaf, Pak Tua. Terpaksa kulakukan karena tindakanmu keterlaluan! Tak sepantasnya gadis itu mendapat hajaran seberat itu, Pak Tua. Dan lagi, kau belum jelaskan apa kesalahannya, sampai-sampai Cawan Pamujan sendiri tak tahu apa sebabnya kau perlakukan dia seperti itu!"

Kusir Hantu tidak hiraukan kata-kata Suto Sinting, ia segera lakukan lompatan menerjang Cawan Pamujan yang ingin berlari dan berlindung di belakang Suto Sinting. Gerakan menerjang itu membuat Suto Sinting pun cepat-cepat lakukan pencegahan, ia melompat lebih cepat lagi untuk gagalkan terjangan si Kusir Hantu. Namun di luar dugaan, si Kusir Hantu ternyata telah mencabut senjatanya berupa cambuk pendek yang sejak tadi terselip di pinggang kanan. Cambuk itu dilecutkan pada saat ia berada di udara dan arah lecutannya ke tubuh Cawan Pamujan.

Ctaaarrr...! Cambuk yang panjangnya empat jengkal itu dapat terulur lebih panjang tiga kali lipat dari aslinya. Sabetannya yang dilakukan dengan tenaga ringan telah hasilkan lecutan kecil namun memekakkan telinga.

Akibatnya, Pendekar Mabuk buru-buru pejamkan mata karena menahan rasa sakit di telinganya, yang membuat kekuatannya berkurang, sehingga ketika bertabrakan dengan tubuh Kusir Hantu, ia terpental sendiri dan jatuh berguling-guling. Kusir Hantu mampu mendarat dengan kaki tegak, cambuknya yang menjadi panjang itu segera dikibaskan kembali ke arah Cawan Pamujan yang terpelanting jatuh akibat gelombang letupan cambuk yang pertama tadi.

Ctaaarrr...! Kali ini ujung cambuk itu memercikkan warna merah api. Cahaya merah api itu menyambar tangan gadis itu. Serta-merta gadis itu rentangkan telapak tangan dan hentakkan napas. Dari telapak tangan itu keluar sinar biru muda yang segera menghantam cahaya merah api tersebut. Claaap....!

Blegaaarrr...! Dentuman hebat terjadi seketika itu juga. Kusir Hantu terpental, Pendekar Mabuk terlempar dan si Cawan Pamujan sendiri juga ikut terhempas ke semak-semak akibat ledakan dahsyat tadi. Sementara itu beberapa pohon menjadi bergetar, dahan-dahan patah dan daun pun berguguran. Tanah terasa berguncang serta bebatuan saling bergetar, bahkan ada yang rompal sebagian.

"Gila! Tak kusangka si Cawan Pamujan mempunyai kekuatan tenaga dalam yang layak diadu dengan cambuk saktinya si Kusir Hantu," pikir Suto sambil bergegas untuk bangkit berdiri. Kata hatinya lagi, "Kalau Cawan Pamujan sudah berani lakukan begitu, berarti pertarungan mereka tak mungkin bisa dihindari lagi. Pasti Cawan Pamujan juga akan unjuk gigi di depan adik dari kakeknya itu. Bahaya! Cawan Pamujan bisa celaka, bahkan jika si Tua Bangka tahu, maka Kusir Hantu akan bertarung dengan si Tua Bangka! Aku harus lakukan sesuatu demi keselamatan mereka!"

Pendekar Mabuk baru saja mau lakukan serangan yang akan melumpuhkan si Kusir Hantu. Maksudnya agar Kusir Hantu hentikan tindakannya. Tetapi niatnya itu tertahan oleh pandangan matanya yang tertuju pada Cawan Pamujan.

Gadis itu baru saja bangkit dari semak-semak, tiba-tiba tubuhnya bagaikan keluarkan asap putih keruh. Asap itu yang membuat tubuh Cawan Pamujan semakin lama semakin sulit ditembus pandangan mata. Hanya saja, hembusan angin segera menerbangkan asap itu dan membuatnya sirna. Tetapi sosok yang ada di balik asap tersebut ternyata sudah berganti wujud. Bukan Cawan Pamujan lagi yang di semak-semak itu, melainkan seraut wajah cantik lain yang masih asing bagi Pendekar Mabuk.

"Gila! Dia berubah wajah?!" gumam Suto tanpa disadari dan gumaman itu sampai di telinga Kusir Hantu.

Pak Tua tersebut segera mendekati Suto dengan mata tetap memandang ke arah sosok baru itu. "Sudah kuduga, dia bukan Cawan Pamujan," kata Kusir Hantu. "Karena itulah kudesak ia dengan serangan supaya cepat menampakkan wujud aslinya."

Seorang gadis yang tadi menjelma sebagai Cawan Pamujan itu ternyata mempunyai kecantikan yang sama-sama menarik namun berbeda sorot matanya. Gadis yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu mempunyai sorot mata berkesan dingin. Alisnya tebal dan bulu matanya lentik. Hidungnya bangir dan bibirnya mungil.

Gadis itu mengenakan pakaian jubah merah berbunga-bunga kuning terbuat dari kain satin mengkilap. Sementara itu pakaian bawahnya berupa kain sutera tipis membayang warna kuning yang mempunyai dua belahan di kanan kiri sampai ke pangkal paha. Gadis bertubuh sekal dan berdada montok namun tak terlalu besar itu mempunyai rambut yang disanggul kecil, sisanya jatuh tergerai seperti ekor kuda. Ia memakai kalung rantai emas kecil dengan bandul batuan ungu sebesar biji sawo. Di punggungnya tersandang pedang bergagang hiasan ronce-ronce kuning halus seperti jambul seekor burung.

"Siapa dia sebenarnya, Pak Tua?" bisik Suto Sinting kepada si Kusir Hantu.

"Dia yang bernama: Paras Mendayu, murid kepercayaan Nyai Garang Sayu."

"Siapa Nyai Garang Sayu, Pak Tua?"

"Ibu dari Hulubalang Iblis!" jawab Kusir Hantu dengan tegas tanpa cengar-cengir. Namun kejap berikutnya ia kembali cengar-cengir sambil maju dekati si Paras Mendayu karena pada saat itu Paras Mendayu sendiri maju empat langkah dan berhenti setelah dalam jarak sekitar empat tombak dari Kusir Hantu.

"Kau memang jeli, Kusir Hantu! Kusangka kau akan terkecoh dengan permainanku tadi!" ujar Paras Mendayu bernada tegas, bahkan punya kesan angkuh.

"Mata tuaku mungkin memang bisa kau kelabuhi dengan ilmu 'Salin Rupa', tapi penciumanku tak bisa kau kelabuhi, Paras Mendayu! Aroma wangimu sama seperti aroma wangi yang kucium saat aku mencari siapa orang yang menyerang Pendekar Mabuk itu dengan jurus 'Jalasuma'. Ternyata kaulah orangnya, Paras Mendayu!"

"Cukup cerdas juga otak tuamu, Kusir Hantu!" ucap Paras Mendayu dengan mata melirik ke arah Pendekar Mabuk.

Saat itu, Suto Sinting segera maju dan perdengarkan suaranya yang bernada tegas. "Mengapa kau menyerangku, Nona?!"

"Karena Guru menyuruhku melumpuhkan kau juga. Sebab Guru tahu kau akan memihak si Kusir Hantu!"

"Aku akan berada di pihak yang benar! Jika memang Kusir Hantu di pihak yang salah, tak mungkin aku akan memihaknya!" ujar Suto Sinting mempertegas sikap.

Kusir Hantu segera ajukan tanya, "Gurumu memang keparat! Sama dengan anaknya; si Hulubalang Iblis itu! Mereka membuka permusuhan lebih dulu dan pihakku hanya mempertahankan hak untuk tetap hidup. Pepatah mengatakan: 'Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata... mustahil!' Maksudnya...."

"Persetan dengan kumanmu!" sergah Paras Mendayu. "Kurasa yang perlu kau ketahui adalah nasib cucumu; si Pematang Hati! Kalau kau tak datang menghadap guruku sebelum malam tiba, maka cucumu itu akan menjadi bangkai pada esok harinya!"

"Keparat kau! Di mana...."

Weeeeess...! Paras Mendayu lekas sentakkan kaki ke tanah dan tubuhnya melesat menembus semak dan menerabas ilalang di seberangnya.

Kusir Hantu berseru dengan wajah tegang, "Hei...! Tunggu...!" ia segera bergegas mengejar Paras Mendayu. Tapi seruan Pendekar Mabuk membuat gerakannya tertahan kembali.

"Pak Tua... jangan gegabah!"

Kusir Hantu hempaskan napas kemarahannya, ia menoleh ke belakang, memandangi Pendekar Mabuk yang sedang melangkah mendekatinya. Sambil membuka bumbung tuaknya karena ingin meminum tuak, Pendekar Mabuk berkata kepada si Kusir Hantu,

"Jangan buru-buru mengejarnya, karena aku curiga ia punya jebakan halus yang sulit kita duga sebelumnya."

"Cucuku tertangkap dan sekarang berada di Tebing Hitam! Aku harus membebaskannya, Nak!"

"Itu langkah yang benar," sahut Suto Sinting. "Tapi yang perlu kita selidiki adalah kebenaran kabar itu sendiri. Jangan-jangan kau hanya akan dibuat bulan-bulanan oleh kabar seperti itu."

Kusir Hantu kembali hembuskan napas panjang dan berpikir beberapa saat sambil memandang ke arah kepergian si Paras Mendayu.

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya tiga teguk, setelah itu ajukan tanya kepada Kusir Hantu. "Pak Tua, siapakah orang-orang Tebing Hitam?"

* * *

ENAM

KUSIR HANTU ingin menjawab pertanyaan Suto, tapi niatnya tertahan oleh bunyi ledakan yang menggelegar dari arah timur. Suto Sinting paling penasaran jika mendengar suara ledakan seperti itu. Rasa ingin tahunya tumbuh dengan membara, sehingga tanpa pamit pada si Kusir Hantu, ia melesat ke arah timur dengan gerakan cepatnya. Kusir Hantu ikut-ikutan ingin tahu, maka ia pun menyusul gerakan Suto Sinting.

Cambuknya disentakkan dan cambuk panjang itu menjadi pendek kembali. Kemudian kedua kakinya naik sebatas dua jengkal. Dalam keadaan kedua telapak kaki tidak menyentuh tanah, Kusir Hantu melesat menyusul Suto Sinting seperti naik kereta berkuda. Cambuk itu dilecutkan bagai sedang memacu jalannya kuda.

Tar, tar, tar...! Weeess...! Kesaktian Kusir Hantu sungguh mencengangkan para tokoh berilmu sedang. Kecepatan geraknya hampir menyamai Suto Sinting. Dengan mengurangi sedikit gerakan, akhirnya Suto Sinting tersusul dan sejajar dengan Kusir Hantu. Mereka berhenti di sebuah lembah berhutan renggang. Karena di sanalah sumber suara ledakan tadi. Mereka mengintai dari balik pepohonan, mata mereka memandang pada suatu pertarungan yang telah membuat beberapa pohon sekitarnya tumbang dan daun-daun berguguran.

Pertarungan itu dilakukan oleh seorang nenek berjubah hijau melawan seorang wanita yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, berjubah kuning garis-garis merah. Wanita cantik yang berkesan judes itu bersenjata tongkat berkepala bunga, rambutnya disanggul sebagian dan sisanya meriap menutup punggung.

Wanita cantik itu tak lain adalah Nyai Sedap Malam, istri dari Ki Palang Renggo yang pernah menolong Suto Sinting saat terkena racun berbahaya itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pemburu Darah Satria"). Sedangkan nenek berambut putih dan berjubah hijau itu tak lain adalah Nyai Jurik Wetan, yang agaknya sudah berhasil mengatasi lukanya dalam waktu tergolong cukup singkat.

"Jurik Wetan mulai bikin ulah lagi!" gumam Kusir Hantu.

"Kau mengenalnya, Pak Tua?"

Kusir Hantu sunggingkan senyum tipis. "Jurik Wetan bukan saja orang yang kukenal, tapi lawan yang menjengkelkan. Dia termasuk orang yang nyawanya alot. Susah matinya! Pepatah mengatakan: 'Menggunting dalam lipatan', artinya... tukang jahit! Eh, artinya dia sering berlagak sebagai teman, tidak tahunya justru lawan yang berbahaya."

"Kau juga kenal dengan lawannya itu, Pak Tua?"

"Hmmm... Sedap Malam? Oh, jelas aku kenal dia." Kusir Hantu manggut-manggut sebentar, lalu teruskan kata sambil tetap memperhatikan dua perempuan yang bertarung itu. "Sedap Malam dulu anak buah si Cendana Sutera. Tapi sejak terpikat dengan seorang lelaki yang menjadi sahabatku juga; si Palang Renggo itu, ia keluar dari kekuasan Ratu Cendana Sutera dan masuk ke dalam aliran putih. Pepatah mengatakan...."

"Cukup, cukup...! Tak perlu pakai pepatah lagi," potong Suto Sinting, dan wajah Kusir Hantu tampak kecewa. Tapi Suto buru-buru menyambungnya, "Karena kelihatannya pertarungan itu semakin seru dan Sedap Malam terdesak sekali, Pak Tua."

"Hmmm... ya, tentu saja Sedap Malam terdesak, karena ilmunya tak sebanding dengan si Jurik Wetan. Ibarat murid melawan Guru, Sedap Malam pasti tumbang kalau tak ada yang membantunya. Pepatah mengatakan: 'Ketimun menghampiri durian', itu artinya ketimun nekat!"

Pendekar Mabuk sudah tidak hiraukan lagi kata-kata Kusir Hantu selanjutnya, sebab ia menjadi cemas saat Nyai Sedap Malam terbanting oleh pukulan tangan kiri Jurik Wetan yang keluarkan asap tipis itu. Pukulan tersebut kenai pinggang Nyai Sedap Malam dan dalam sekejap tubuh sekal Nyai Sedap Malam terlempar lima tombak jauhnya.

Nyai Jurik Wetan agaknya benar-benar ingin bunuh Nyai Sedap Malam, sehingga ia buru-buru melepaskan jurus mautnya. Seberkas sinar berbentuk bintang warna merah membara melesat dari punggung tangan kanannya yang disodokkan ke depan. Claaap...! Sinar merah berbentuk bintang itu melesat ke arah dada Nyai Sedap Malam.

Melihat keadaan itu, Suto Sinting cepat-cepat lepaskan pukulan 'Guntur Perkasa'-nya, berupa sinar hijau lurus yang mampu menembus sinar lawan. Claaap...! Sinar hijau dari tangan Suto Sinting itu mempunyai kecepatan lebih tinggi dari sinar merahnya Nyai Jurik Wetan. Maka ketika sinar merah berbentuk bintang itu berada di pertengahan jarak antara si Jurik Wetan dengan Nyai Sedap Malam, sinar hijau tersebut menghantam telak dan masih tersisa menembus hingga mengenai sebatang pohon di kejauhan sana.

Blaaarrr...! Ledakan cukup keras terjadi dan menimbulkan hentakan gelombang yang menyebar ke berbagai arah. Nyai Jurik Wetan terlempar akibat ledakan tersebut, sedangkan Nyai Sedap Malam terseret angin ledakan sejauh empat tombak ke belakang.

"Boleh juga jurus mautmu itu, Nak," ujar Kusir Hantu sambil manggut-manggut. "Kukenali jurus itu sebagai jurus mautnya si Bidadari Jalang."

"Beliau adalah bibi guruku, Pak Tua."

"Pantas, sebab Gila Tuak dan Bidadari Jalang termasuk satu perguruan, hanya beda guru. Maksudnya, gurunya Gila Tuak dan gurunya Bidadari Jalang itu suami-istri. Tapi mempunyai satu sumber kesaktian, yaitu kesaktian dari..." Kusir Hantu tidak berani lanjutkan ucapannya.

Suto Sinting memandangnya sebentar, dan Kusir Hantu cengar-cengir serta berkata, "Kalau kusebutkan guru mereka, kita akan disapu badai dahsyat, seolah-olah kiamat akan tiba. Langit bisa runtuh dan tanah bisa terbelah."

"Terima kasih atas kesediaanmu untuk tidak menyebutkan eyang guruku, Pak Tua," ujar Suto Sinting sambil sunggingkan senyum tipis, lalu cepat-cepat memandang ke arah pertarungan lagi.

Rupanya Nyai Jurik Wetan sudah bangkit kembali dan memandang ke arah Suto dan Kusir Hantu. Dari tempatnya berdiri nenek agak bungkuk itu berseru lantang, "Monyet kurap! Datang kemari jika ingin ikut ambil jatah kematianmu!"

Weeesss...! Kusir Hantu bergerak lebih dulu. Suto Sinting melihat si Kusir Hantu melesat sambil lecutkan cambuk pendeknya, seakan menunggang kereta berkuda semberani. Kecepatannya begitu tinggi hingga Nyai Jurik Wetan sempat terperanjat dan lompat ke kiri untuk menghindari terjangan si Kusir Hantu.

Sementara Nyai Jurik Wetan ditanggapi oleh si Kusir Hantu, Suto Sinting cepat-cepat bergerak ke arah Nyai Sedap Malam yang terluka dalam dan mengeluarkan darah dari hidung serta telinganya.

"Nyai, minumlah tuak ini!" sambil Suto sodorkan bumbung tuaknya. Perempuan berdada montok itu pun segera menenggak tuak, sehingga dalam waktu singkat kesehatannya pulih kembali.

"Untung kau datang pada saat nyawaku belum terlepas dari raga, Suto."

"Aku bersama si Kusir Hantu, Nyai."

"Oh, itu lebih kebetulan lagi, karena aku ada keperluan dengannya!" sambil berkata demikian, pandangan mata Nyai Sedap Malam terarah kepada Kusir Hantu yang sedang berhadapan dengan si Jurik Wetan. Kedua tokoh tua itu berada dalam jarak lima langkah.

Pendekar Mabuk bergegas mendekati Kusir Hantu. Tetapi lengannya segera dicekal oleh Nyai Sedap Malam. Perempuan itu segera berkata dalam suara rendah, "Biarkan Kusir Hantu yang hadapi mantan kekasihnya itu."

"Oh, jadi... jadi si Jurik Wetan itu bekas kekasih Kusir Hantu?!" Suto Sinting agak terkejut mendengar pernyataan tersebut.

Nyai Sedap Malam hanya anggukkan kepala dengan mulut terkatup bungkam. Dari tempat Suto berdiri, suara percakapan dua tokoh tua itu terdengar samar-samar. Nyai Jurik Wetan lebih dulu mempertinggi suaranya karena hatinya semakin dibakar kemarahan.

"Sudah kubilang berkali-kali, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, Kusir Hantu! Kau sudah menjadi milik Rahayu, dan aku menjadi milik Bagastirta. Sekalipun istrimu sudah modar dan suamiku sudah wafat, tapi kita tetap tidak punya hubungan masa lalu. Aku muak sekali padamu, Pujasera!"

"Siapa yang menginginkan dirimu, Nenek Peot?! Aku muncul di depanmu karena ingin menegur tindakan iblismu yang dari dulu sampai sekarang masih belum ada redanya, bahkan sikapmu semakin menyerupai biang setan!"

"Peduli apa kau dengan diriku, hah?!" bentak si Jurik Wetan. "Bahkan jika sekarang aku bisa membunuhmu maka aku akan mendapat kedudukan tinggi di Tebing Hitam!"

"Aku pun akan merasa bangga jika bisa melenyapkan ragamu, Jurik Wetan!"

"Keparat! Kalau begitu kita beradu kesaktian sampai salah satu ada yang modar!"

"Jika itu kehendakmu, terpaksa aku harus tega mencabut nyawamu, Sayang. Pepatah mengatakan: 'Besar pasak daripada gajah', artinya jangan sampai kau besar sesumbar dari kenyataan! Buktikan kesaktianmu yang dari dulu selalu kau gembar-gemborkan di depanku itu, Manis!"

"Tutup mulutmu, Monyet Bangkotan! Heeeaaah...!" Weers...! Nyai Jurik Wetan menerjang Kusir Hantu.

Terjangan begitu cepat sengaja tidak ditangkis dan dihindari oleh Kusir Hantu, sebab ia mengandalkan ilmu 'Timbal Rasa'-nya. Kusir Hantu pun terpental bagaikan sehelai daun tua yang terlempar begitu saja. Tetapi Pendekar Mabuk yang berdiri di samping Nyai Sedap Malam menjadi cemas sejak melihat Kusir Hantu keluarkan darah dari hidungnya. Bahkan Pak. Tua itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak darah dari mulutnya. Ketika ia berdiri, ia pun sempoyongan bagai orang mabuk ingin tumbang.

"Celaka!" gumam Nyai Sedap Malam. "Kusir Hantu gagal pergunakan ilmu 'Timbal Rasa'-nya!"

"Benarkah begitu, Nyai?!" tanya Suto Sinting semakin cemas.

"Kalau dia tidak gagal, maka dia tidak akan berdarah. Agaknya si Jurik Wetan sudah menemukan rahasia kelemahan jurus 'Timbal Rasa'nya si Kusir Hantu."

"Gawat!" gumam Suto Sinting dengan suara mendesah tegang.

Kusir Hantu sendiri membatin, "Celaka kalau begini! Dia bisa gagalkan ilmu 'Timbal Rasa'-ku. Rupanya selama ini ia memang pelajari jurus baru yang dapat untuk menembus lapisan gaibku! Aku harus hati-hati melawannya!"

Nyai Jurik Wetan berseru, "Maju kau, Kecoa Peot! Kulumpuhkan seluruh kesaktianmu hari ini juga!"

Kusir Hantu selesai menarik napas, pertanda selesai menyalurkan hawa saktinya untuk menutup luka dalamnya. Tapi wajahnya masih tampak pucat dan gerakannya sedikit limbung, ia berdiri dengan kaki sedikit merenggang dan cambuk sudah sejak tadi terselip di pinggangnya. Nyai Jurik Wetan melangkah ke samping dalam jalur lingkar, seakan ingin mengelilingi Kusir Hantu.

Tiba-tiba Kusir Hantu menjentikkan jarinya seperti memanggil ayam. Klikkk...! Nyai Jurik Wetan terpelanting, bagai ada yang menyampar kakinya. Brruuk...! Nenek tua itu jatuh telentang. Namun dalam satu sentakan pinggul, tubuhnya melayang dan berdiri tegak kembali. Wuuut, jleeg...!

"Rupanya kau membela si Sedap Malam karena kau ingin merebutnya dari pelukan si Palang Renggo!" ujar Nyai Jurik Wetan.

"Jaga mulut kotormu itu, Perempuan Jalang! Kalau sampai Sedap Malam mendengarnya dan dia kasmaran padaku, aku tak berani bertanggung jawab. Sebab kemampuanku sudah tak ada, 'kerisku' sudah karatan!"

"Hik, hik, hik, hik...! Kalau begitu kau pantas dikirim ke neraka saja, Pujasera! Hiaaah...!" Tiba-tiba tangan kanan Nyai Jurik Wetan menyentak bagai menebarkan sesuatu ke arah depan. Dari tangan itu melesat sinar merah berbentuk bintang, namun kali ini berasap merah pula yang membuat sinar itu seperti berekor panjang. Claaap, weeess...!

Kusir Hantu cepat-cepat cabut cambuk pendeknya. Cambuk dilecutkan dan menjadi panjang. Ujung cambuk itu berkelebat menyabet sinar merah tersebut. Taaar...!

Jegaaarrr...! Ledakan terjadi dengan dahsyat, membuat alam sekeliling mereka menjadi seperti kiamat. Bumi berguncang hebat dan pohon-pohon tumbang di sana-sini. Tanah terbelah di beberapa tempat, bahkan ada yang longsor ke dalam dan membentuk lubang besar.

Keadaan alam yang mengerikan itu pun membuat Suto Sinting dan Nyai Sedap Malam sama-sama terlempar. Tanpa sadar mereka saling berpelukan dan berguling-guling di tanah. Bumbung tuak terlepas dari genggaman Suto Sinting. Jika kaki Nyai Sedap Malam tidak mengait pada sebatang akar pohon yang mencuat dari dalam tanah, mungkin mereka akan terguling-guling sampai di tempat jauh.

Begitu keadaan alam menjadi tenang kembali, Suto Sinting segera bangkit. Pertama-tama yang dicari adalah bumbung tuaknya. Zlaaap...! Ia melesat menyambar bumbung tuaknya. Teeeb...! Kini hatinya lega karena tangannya telah menggenggam bumbung sakti tersebut.

Nyai Sedap Malam merasakan sakit pada pinggangnya yang terantuk batu sebesar kepala bayi. Tulang rusuknya terasa ngilu sekali, ia sempat berdiri sambil menyeringai memegangi pinggang, namun matanya segera memandang ke arah Nyai Jurik Wetan dan Kusir Hantu setelah lebih dulu ia melihat Pendekar Mabuk dalam keadaan sehat.

Gelombang ledakan itu menyebarkan udara panas dalam sekejap. Nyai Jurik Wetan terlempar oleh hembusan angin panas tersebut, ia terpuruk di bawah pohon yang tak sempat tumbang. Wajahnya menjadi merah kebiruan, rambutnya yang putih sempat terbakar sebagian, kain jubahnya pun koyak-koyak nyaris seperti gelandangan. Agaknya perempuan tua itu mengalami luka dalam yang cukup parah, sehingga dari sudut matanya tampak beberapa tetes darah yang sedang meleleh ke pipi.

Kusir Hantu terkapar bersandar pada batang pohon yang tumbang. Tubuhnya tak bergerak untuk beberapa saat. Cambuknya masih ada dalam genggaman yang merenggang. Namun napasnya terlihat melemah dan suara erangannya terdengar samar-samar sekali. Pendekar Mabuk buru-buru menghampiri Pak Tua tersebut.

Zlaaap...! Dalam sekejap Pendekar Mabuk sudah tiba di samping Kusir Hantu, kemudian memberinya minum tuak. Berkat tuak sakti si Pendekar Mabuk itulah, maka Kusir Hantu dapat terhindar dari bahaya luka dalam yang cukup parah, ia tampak segar kembali setelah beberapa saat bangkit dan duduk di batang pohon yang tumbang itu. Ia memperhatikan si Jurik Wetan yang sedang berusaha berdiri dengan susah payah.'

"Ilmunya memang bertambah, tapi lukanya juga bertambah," ujar Kusir Hantu.

"Apakah kau akan teruskan pertarungan ini, Pak Tua?"

"Ah, capek! Biar saja dia pergi. Nanti kalau ada waktu dilanjutkan lagi," jawab Kusir Hantu dengan seenaknya saja.

Nyai Jurik Wetan mulai tegak setelah menarik napas beberapa kali dan mengerahkan tenaga intinya untuk menutup luka. Tapi ia masih tampak menyimpan kecemasan. Hanya saja ia paksakan diri untuk berseru lontarkan ancaman kepada mantan kekasihnya. "Sembuhkah dulu lukamu, Kusir Hantu. Kelak aku datang sebagai el maut yang siap mencabut nyawamu!"

Weeess...! Nyai Jurik Wetan melesat pergi tinggalkan tempat. Kusir Hantu hanya geleng-geleng kepala dengan kesan meremehkan si Jurik Wetan. Ia dan Suto segera menghampiri Nyai Sedap Malam yang kala itu ingin mengejar Nyai Jurik Wetan namun segera tertahan oleh seruan Kusir Hantu,

"Tahan...!"

Nyai Sedap Malam memandang kehadiran Suto Sinting dan Kusir Hantu, ia terpaksa membiarkan lawannya larikan diri walau hati masih merasa pertarungannya belum selesai melawan si Jurik Wetan.

"Sedap Malam, mengapa kau sampai terlibat perkara dengan si Jurik Wetan?" tanya Kusir Hantu sambil memandang ke arah kepergian si Jurik Wetan.

"Aku menghalangi orang Tebing Hitam yang mengejar-ngejar cucumu; si Pematang Hati."

"Pematang Hati...?! Cucuku dikejar-kejar orang Tebing Hitam?!" Kusir Hantu mulai tampak gusar.

"Tapi aku sempat melukai dua orang itu. Cucumu lari terus, sementara Jurik Wetan muncul memihak orang Tebing Hitam. Akhirnya, kedua orang Tebing Hitam itu mengejar cucumu kembali dalam keadaan menderita luka dalam karena pukulanku, sementara aku berhadapan dengan Jurik Wetan."

"Keparat!" geram Kusir Hantu menampakkan kemarahannya.

"Kurasa cucumu bisa loloskan diri. Aku yakin dua orang Tebing Hitam itu tak akan mampu menangkap cucumu, sebab luka mereka akan membuat tenaganya terkuras habis jika dipakai untuk mengejar Pematang Hati."

"Kalau begitu kabar tentang Pematang Hati tertangkap dan tertawan di Tebing Hitam itu hanya sebuah tipu muslihat saja, Pak Tua," ujar Suto Sinting.

Kata-kata itu membuat Kusir Hantu merenung dan manggut-manggut. Sebentar kemudian ia menatap Nyai Sedap Malam dan berkata, "Terima kasih atas tindakanmu itu, Sedap Malam. Hanya saja, aku ingin tahu ke mana larinya cucuku itu? Barangkali aku perlu menyusulnya."

"Kulihat ia lari ke arah utara."

"Aku harus segera ke sana! Aku khawatir Pematang Hati temukan rintangan lain."

"Silakan saja kalau itu maumu, Kusir Hantu. Aku harus segera pulang, mengabarkan kematian Resi Bisma, sahabat suamiku itu."

"Sampaikan salamku kepada Palang Renggo. Dan kau, Nak...," katanya kepada Suto Sinting. "Apakah kau ingin ikut denganku?"

"Tidak. Aku harus ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban. Ada orang yang perlu kutolong secepatnya, Pak Tua. Kapan-kapan kita bertemu lagi!"

"Kau ingin ke Gunung Purwa? Oh, kalau begitu satu arah denganku. Mengapa tidak bersama-sama saja?"

"O, iya... benar juga. Aku memang harus menuju ke utara, tapi barangkali kita nanti bersimpang jalan, Pak Tua."

"Kurasa tak ada masalah. Jika memang aku sudah bertemu dengan cucuku sebelum kita berpisah, mungkin aku juga akan mengajak cucuku ke Gunung Purwa. Aku punya sahabat di sana; Ratu Cumbutari. Akan kuperkenalkan cucuku kepadanya dan...."

"Aku memang mau bertemu dengan Ratu Cumbutari!" potong Suto dengan semangat. Maka bergegaslah mereka pergi ke arah utara, sementara Nyai Sedap Malam ke arah selatan.

* * *

TUJUH

MATAHARI mulai turun ke barat. Tetapi sang matahari masih bisa melihat gerakan kecil yang lincah sedang menyusuri kaki bukit tak bernama. Langkah lincah itu berlari menyelinap dari pohon ke pohon, menerabas semak ke semak, seakan ia takut oleh bayangan yang mengejarnya.

Langkah kecil yang lincah itu adalah milik seorang gadis cantik berusia dua puluh dua tahun, berbaju hijau garis-garis benang emas di depan. Baju tanpa lengan itu berpundak kaku hingga kelihatan pundak sang gadis tegak dan rata. Panjang baju itu hanya sampai di atas pusar, sehingga kulit perut dan pusarnya yang berwarna kuning langsat itu terlihat mulus menggoda iman lelaki. Dengan celananya yang ketat sebatas betis berwarna hijau bergaris emas di bagian samping, gadis itu bagaikan senantiasa memamerkan keelokan tubuhnya yang sekal dan berdada indah.

Ia mengenakan kalung tali hitam ketat dengan bandul perak berukir dengan hiasan tiga batu merah kecil-kecil. Sepasang antingnya pun berwarna merah delima kecil. Tangan kanannya mengenakan gelang emas berukir bentuk ular melingkar. Sebuah pedang terselip di pinggangnya yang bersabuk hitam berhias manik-manik putih seperti intan. Sarung pedangnya terbuat dari perak ukir, demikian pula gagang pedangnya.

Gadis yang berpenampilan tengil namun penuh daya tarik itu tak lain adalah Pematang Hati, cucu Kusir Hantu yang hanya tinggal mempunyai satu saudara, yaitu seorang kakak bernama Mahligai Sukma. Gadis itu pernah nyaris mati terkena uap racun milik Bunga Ranjang, namun berhasil diselamatkan Suto dengan tuak saktinya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

Pematang Hati menyangka masih dikejar dua orang Tebing Hitam, karenanya ia berlari terus sambil sesekali menengok ke belakang, ia tidak tahu bahwa dua orang Tebing Hitam itu telah berhenti dan tak sanggup lagi mengejarnya karena luka yang mereka derita dari pukulan Nyai Sedap Malam membuat mereka semakin lumpuh. Tenaga mereka terkuras habis, sampai akhirnya mereka tak mampu berdiri dan menunggu ajal entah sampai kapan. Salah seorang nekat mengerahkan tenaga untuk berguling-guling dan lompat ke jurang, bunuh diri.

Seorang lagi masih bertahan menunggu kemujuran, terkapar di semak-semak dengan harapan akan datang bantuan dari pihak mana pun. Rupanya harapan orang tersebut nyaris terkabul. Ada orang lain yang melintasi tempat itu dan mendengar rintihan kecilnya. Orang yang melintasi semak-semak itu tak lain adalah Paras Mendayu yang ingin kembali ke Tebing Hitam setelah memancing Kusir Hantu dengan berita palsunya itu. Paras Mendayu hentikan langkah dan perhatikan orang yang merintih di masa sekarat itu. Ia terperanjat melihat orang tersebut adalah kawannya sendiri.

"Subogo...?!" sentak Paras Mendayu dengan kaget.

Orang yang di ambang sekarat itu ternyata bernama Subogo. Ia berusaha membuka matanya sedikit dan segera mengenali wajah Paras Mendayu dalam bayang-bayang keremangan pandang. Maka, Subogo segera berusaha untuk bicara walau hal itu dilakukan dengan sangat susah payah.

"Tool... toool... tolong ak... aku...."

"Subogo, apa yang terjadi sebenarnya?!"

"Pe... Pematang Ha.... Hari, eh.... Hati, laaa... lari kke... ke utara. Aak... aku terlu... ka..."

Dalam hati Paras Mendayu berkata, "Pematang Hati lari ke utara?! Oh, kalau begitu aku harus segera mengejar dan menangkapnya. Sebaiknya gadis itu kutangkap dan kuserahkan kepada Guru tanpa mengikutsertakan Subogo. Dengan begitu aku akan mendapat penghargaan tinggi dari Guru, karena berhasil menangkap gadis itu tanpa bantuan Subogo atau yang lain!"

Saat itu, Subogo masih terus berucap kata tersendat-sendat dan lirih sekali. "Tolong akk... akku.... Paras Menn.... Mendadak, eh.... Mendaaayu.... Tolonglah.... aakku...."

"Maaf, Subogo. Keadaanmu sangat tidak memungkinkan untuk hidup lagi. Sebaiknya kusempurnakan saja penderitaanmu!" Claaap...! Seberkas sinar hijau dari telunjuk Paras Mendayu melesat menghantam dada Subogo.

"Heeekhh...!" Subogo mendelik dan mengejang dengan mulut ternganga ketika sinar hijau itu menembus dadanya dan dada pun menjadi bolong hangus. Kejap berikutnya, Subogo menghembuskan napas yang penghabisan. Paras Mendayu tersenyum lega sesaat, lalu segera melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi. Weeess...!

Pematang Hati tak tahu kalau pengejarnya sudah berganti rupa. Karena itu ia terkejut ketika tahu-tahu langkahnya harus dihentikan sebab terhadang oleh kemunculan Paras Mendayu yang sudah dikenalnya sebagai orang Tebing Hitam. Pematang Hati menjadi tegang, sebab ia pun tahu bahwa Paras Mendayu berilmu lebih tinggi dari para pengejarnya. Gadis itu buru-buru mencabut pedangnya, berusaha memberikan perlawanan walau hatinya sudah ciut lebih dulu.

Paras Mendayu hanya sunggingkan senyum ketika melihat Pematang Hati mencabut pedang. Senyum sinis itu dibarengi oleh ucapan bernada ketus dan sangat tidak bersahabat. "Untuk apa pedang itu? Menggorok batang lehermu sendiri?! Hmmm..., sebaiknya buang saja pedangmu itu, Pematang Hati. Menurutlah apa kata perintahku, dan kau kubawa ke Tebing Hitam tanpa luka sedikit pun. Itu lebih menguntungkan nyawamu, ketimbang kau pergunakan pedang itu yang akan menggorok batang lehermu sendiri. Buanglah pedang itu sekarang juga, Pematang Hati!"

"Majulah jika kau ingin melihat kehebatan pedangku ini, Paras Mendayu! Aku tak sudi kau bawa ke Tebing Hitam. Lebih baik mati di sini ketimbang harus berhadapan dengan orang-orangmu!"

"Dasar gadis bodoh!" geram Paras Mendayu, lalu ia hentakkan kakinya ke tanah. Duuuhk...! Weeesss...! Gelombang tenaga dalam keluar dari kakinya, menghempas ke depan, menghantam tubuh Pematang Hati dengan kuat.

Wuuut...! Bruuus...! Pematang Hati terlempar dan jatuh ke semak-semak. Gelombang tenaga dalam itu sangat kuat, hingga membuat pedang di tangan Pematang Hati terpental jatuh dari pemiliknya. Napas gadis itu bagaikan tersumbat gumpalan darah sehingga sulit dihela. Pematang Hati mencoba untuk menarik napas dengan berat dan rasa sakit menghujam bagian dadanya, ia mencoba pula untuk bangkit dan hadapi lawannya kembali.

Namun tiba-tiba Paras Mendayu menerjangnya dengan satu lompatan kilat. Wuuuss...! Dua jari tangan kanannya segera menotok bagian bawah leher Pematang Hati. Deess...! Pematang Hati sibuk menangkis pukulan tangan kiri lawan tanpa hiraukan bahwa tangan kanan lawan akan menotoknya.

Akhirnya Pematang Hati jatuh terkulai bagai tak bertulang dan tak berotot lagi. Totokan itu membuatnya lumpuh dan lemas tanpa daya sedikit pun. Paras Mendayu tertawa kegirangan, kemudian menyambar tubuh lunglai itu, memanggulnya di pundak dan membawanya lari ke Tebing Hitam. Weeesss...!

Beberapa saat setelah Paras Mendayu berhasil membawa lari Pematang Hati, dua sosok lelaki beda usia tiba di tempat itu; Kusir Hantu dan Suto Sinting. Keduanya sama-sama berhenti setelah Kusir Hantu berseru, "Tunggu! Ada sesuatu yang mencurigakan hatiku, Nak!"

"Apa maksudmu, Pak Tua?"

Kusir Hantu berbalik arah, ia melangkah dengan jalan kaki. Cambuknya yang sepanjang perjalanan dilecutkan bagai mempercepat lajunya kuda gaib itu kini dilipat dan diselipkan di pinggang. Pendekar Mabuk terpaksa ikut berbalik arah dengan berjalan kaki biasa. Mereka berhenti setelah Kusir Hantu melihat sebilah pedang bergagang perak berukir tergeletak di antara akar pohon.

"Ini pedang milik cucuku!" ujarnya setelah memungut pedang itu dan mengamatinya.

"Maksudmu, pedang itu milik Pematang Hati?"

"Tak salah lagi. Aku sangat mengenali senjata cucu-cucuku. Pepatah mengatakan: 'Air beriak tanda tak sehat.'"

"Apa artinya?"

"Entahlah. Itu tak penting. Yang terpenting adalah di mana si Manis Pematang Hati, cucuku itu?!"

Mereka memandang sekeliling dalam berapa saat, kemudian Pendekar Mabuk kemukakan gagasannya yang tumbuh dari kecemasan hati.

"Jangan-jangan ia tertangkap orang Tebing Hitam yang mengejarnya itu?"

"Hmmm...," Kusir Hantu berpikir sejenak. Kemudian segera berkata, "Rasa-rasanya pengejarnya itu tak akan mampu menangkap cucuku. Sedap Malam tak pernah meleset dalam ucapannya. Pengejar cucuku itu pasti benar-benar kehabisan tenaga karena menderita pukulan Sedap Malam. Tapi...."

"Pak Tua, tiba-tiba firasatku mengatakan, cucumu dalam bahaya!"

"Firasatku pun demikian, Nak. Kita beda keturunan tapi mengapa satu firasat, ya?! Padahal pepatah mengatakan: 'Rambut boleh sama hitam tapi bisul belum tentu sama besarnya'. Hmm... sebaiknya ular pedang ini yang menunjukkan di mana Pematang Hati berada."

Pendekar Mabuk tak jelas maksud Kusir Hantu soal pedang itu. Karenanya ia berkerut dahi dan ingin ajukan tanya. Namun niatnya itu tertunda karena suatu hal yang dilakukan oleh si Kusir Hantu. Pedang itu disangga dengan tangan kiri, kemudian telapak tangan kanan Kusir Hantu terbuka dan bergetar-getar di atas pedang tersebut.

Claaap...! Ada sinar biru kecil sekali sebesar merica melesat dari telapak tangan yang bergetar itu. Sinar biru tersebut menembus gagang pedang. Blees...! Gagang pedang pun menjadi menyala biru pijar. Kemudian tangan yang menyangga melepaskannya. Pedang tersebut mengambang di udara. Kusir Hantu segera berkata,

"Gaibku, bawalah kami ke tempat cucuku berada sekarang juga! Jalan!"

Weesss...! Pedang itu pun melesat terbang ke arah tertentu. Kusir Hantu segera keluarkan cambuknya dan melecutkannya. Taaar...! Kedua kakinya naik, tak berpijak tanah, lalu tubuhnya melesat dalam keadaan tetap berdiri memegangi cambuk bagaikan menunggang kereta berkuda gaib.

"Ikuti pedang itu, Nak!" serunya sebelum melesat pergi.

Pendekar Mabuk sempat tertegun sesaat karena terheran-heran melihat kesaktian si Kusir Hantu. Namun segera sadar dirinya akan tertinggal, maka Pendekar Mabuk pun cepat-cepat gunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya untuk mengikuti perjalanan pedang tersebut. Zlaaap...!

Pedang Pematang Hati menjadi pemandu arah. Gerakan terbangnya semakin cepat, sehingga Kusir Hantu dan Pendekar Mabuk pun mempercepat pelariannya. Mereka melintasi punggung bukit tak bernama, menuruni lereng dan menyusuri tepian hutan, sesuai arah yang dituju pedang terbang itu.

"Dugaanmu benar," seru Kusir Hantu kepada Suto Sinting yang sejajar dengannya. "Kita dibawa ke arah Tebing Hitam! Sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan wilayah Tebing Hitam!"

"Kau belum jelaskan siapa orang-orang Tebing Hitam itu, Pak Tua!"

"Nanti akan kujelaskan!"

"Sekarang saja, Pak Tua!" seru Suto. Mereka memang terpaksa berseru untuk imbangi deru angin yang mereka tembus dalam kecepatan tinggi itu.

"Baiklah kalau kau tak sabar, Nak. Tebing Hitam adalah wilayah kekuasaan Nyai Garang Sayu. Dia adalah ibu dari si Hulubalang Iblis. Di samping itu, Nyai Garang Sayu adalah kakak dari si Jurik Wetan, bekas kekasihku yang murtad dari cintanya. Pepatah mengatakan: 'Asam digunung garam di dapur, bertemu dalam pertarungan'. Begitulah cinta kami kala itu. Jurik Wetan terpikat oleh lawannya sendiri; Bagastirta. Ia melupakan diriku dan minggat bersama Bagastirta. Aku tak berhasil mencarinya. Ketika kutemukan, mereka sudah kawin dan beranak satu. Aku terpaksa...."

"Yang kutanyakan tentang Tebing Hitam saja, Pak Tua!" potong Suto Sinting dengan menahan kedongkolan.

"O, iya! Maaf, kupikir kau butuh penjelasan tentang percintaan masa mudaku," Kusir Hantu nyengir malu.

"Lalu apa yang dilakukan Hulubalang Iblis dan ibunya di Tebing Hitam itu?"

"Menghimpun suatu kekuatan untuk kuasai rimba persilatan! Nyai Garang Sayu menurunkan ilmu kepada para pengikutnya. Mereka disumpah untuk mati demi Tebing Hitam. Pada umumnya yang diturunkan oleh Nyai Garang Sayu adalah ilmu-ilmu hitam dan kekuatan-kekuatan gaib yang berbahaya. Dan... oh, ya... kusarankan padamu, Nak... jika suatu saat kau bertemu dengan Nyai Garang Sayu lebih baik pulang atau bersembunyi saja."

"Apa sebabnya?" sergah Suto Sinting.

"Sebab...," kata-kata Kusir Hantu terhenti, karena pedang terbang itu ternyata telah membawa mereka mendekati sesosok bayangan yang berlari dalam keadaan memanggul seseorang. Kusir Hantu mengenali siapa yang dipanggul dan siapa yang memanggul.

"Hei, lihat... itu si Paras Mendayu. Dan yang dipanggul, di pundaknya itu tak lain adalah cucuku; si Manis Pematang Hati!"

"Pandanganmu benar, Pak Tua! Aku akan memotong jalan dan menghadangnya dari samping kanan!"

Zlaaap...! Suto Sinting mempertinggi tenaganya hingga kecepatan larinya pun lebih tinggi pula. Ia sengaja menyimpang jalan, memutari lembah untuk menghadang Paras Mendayu. Mereka tak sadar bahwa saat itu mereka sudah berada di wilayah Tebing Hitam.

Wuuut, zeeeb...!

Pendekar Mabuk tiba di depan langkah Paras Mendayu. Gadis itu hentikan langkah dengan wajah tegang begitu melihat pemuda tampan yang pernah diserangnya dengan jurus 'Jalasuma' telah berdiri didepan langkahnya. Paras Mendayu berpikir cepat, lalu membelok arah untuk hindari pertemuan dengan pemuda tampan bermata bening itu. Tetapi ia tak tahu bahwa Kusir Hantu sedang mendekati dari arah belakangnya. Cambuk si Kusir Hantu disentakkan dan berubah menjadi panjang, lalu cambuk itu dilecutkan dari samping. Wuuut, taaar...! Ujung cambuk menjerat kaki kiri Paras Mendayu. Seert...!

Brrruk...! Paras Mendayu jatuh tersungkur begitu cambuk ditarik dalam satu sentakan kuat oleh si Kusir Hantu. Tubuh yang dipanggulnya terlempar ke depan dan jatuh terkulai tanpa gerakan.

Zlaaap...! Weesss...!

Suto Sinting segera menyambar tubuh Pematang Hati, sementara Kusir Hantu segera menendang gagang pedang yang menyala biru pijar itu. Dees...! Pedang meluncur melebihi kecepatan anak panah. Weess...!

Paras Mendayu segera bangkit setelah menyadari ia terkurung bahaya. Namun baru saja separuh berdiri, tiba-tiba punggungnya dihujam pedang terbang tanpa ampun lagi. Jruuub...!

"Aaaakh...!" Asap mengepul dari luka hujaman pedang. Luka itu menjadi hitam hangus tanpa darah setetes pun. Bukan keampuhan pedang yang membuatnya begitu, melainkan karena kekuatan tenaga dalam si Kusir Hantu yang menjadikan pedang bagai berkekuatan bakar sangat tinggi.

Rupanya Paras Mendayu bukan gadis yang mudah menyerah, ia kerahkan tenaganya untuk tetap berdiri walau dengan wajah memerah menahan penderitaan. Namun sebelum ia berbalik ke arah Kusir Hantu, Pak Tua itu lebih dulu bergerak menyambar pedang tersebut. Weess...! Sleeb...! Pedang itu dicabut dari punggung Paras Mendayu. Luka bakar tampak bergerak melebar sedikit demi sedikit. Tubuh Paras Mendayu bergetar, ia ingin ucapkan kata namun ternyata telah kehilangan kemampuannya untuk bicara.

"Kau tak akan selamat, Paras Mendayu! Itulah akibatnya jika kau mengganggu cucuku!" ujar Kusir Hantu dengan pandangan mata yang tajam.

Agaknya dalam benak Paras Mendayu mempunyai pertimbangan tersendiri, ia masih bisa gunakan otaknya untuk memikirkan langkah yang terbaik. Sebab itulah ia segera memanfaatkan tenaganya yang penghabisan untuk melarikan diri meninggalkan mereka. Weess...!

"Benar-benar kuat gadis itu!" gumam Kusir Hantu sambil gelengkan kepala pandangi pelarian Paras Mendayu.

Rupanya sejak tadi Suto Sinting telah ambil tindakan cepat, ia tahu bahwa Pematang Hati tertotok jalan darahnya, dan totokan itu pun segera dilepaskan dengan sebuah sentilan pelan di tengkuk si gadis. Pematang Hati sadar, lalu terkejut melihat Suto Sinting sudah ada di depan hidungnya.

"Sutooo...?!" Tangan si gadis ingin merangkul, namun Suto Sinting menangkapnya dan berkata dalam senyum, "Kau kehilangan kekuatan, Pematang Hati. Minumlah tuakku untuk pulihkan kekuatanmu!"

Maka ketika Paras Mendayu melarikan diri, Pematang Hati segera berseru kepada kakeknya, "Kakek, dia melarikan diri!" sambil bergegas hampiri sang kakek.

"Biar saja. Dia pasti mengadu kepada Nyai Garang Sayu. Biarkan saja. Cucuku! Biar Nyai Garang Sayu tahu bahwa kita bukan orang lemah yang mudah ditundukkan!"

"Bagaimana jika Nyai Garang Sayu mengamuk dan menuntut balas pada kita?!"

"Mengapa takut, Cucuku?! Pendekar Mabuk ada di pihak kita!" sambil Kusir Hantu melirik Suto. Kusir Hantu tambahkan kata, "Bagaimanapun juga. Pendekar Mabuk pasti akan melindungimu, sebab ia menaruh hati padamu secara diam-diam. Bukankah begitu, Nak?"

Suto Sinting sempat gelagapan dan tak mengerti harus berkata apa kepada Kusir Hantu dan cucunya yang tengil itu.

* * *

DELAPAN

SEBETULNYA Suto Sinting ingin bergegas ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban. Tetapi perhatiannya lebih tertarik pada percakapan Kusir Hantu dan cucunya, hingga langkah Suto menjadi tertahan untuk sementara waktu.

"Aku pergi bukan mencari Pendekar Mabuk, Kek. Aku mencari adikku; Mahligai Sukma. Sebab kudengar kabar dari seorang teman, Mahligai Sukma sedang diburu-buru oleh orang-orangnya Hulubalang Iblis. Kudengar Mahligai lari ke arah timur, dan aku mengejarnya. Tapi tahu-tahu dua orang Tebing Hitam menghadangku. Mereka juga ingin membunuhku, Kek."

"Rupanya orang Tebing Hitam menghendaki kematian kita," gumam si Kusir Hantu sambil merenung serius. "Ini berarti kita harus berhadapan dengan Nyai Garang Sayu. Kita akan berperang melawan kekuatan sebesar itu. Kita hanya bertiga, dan... oh, ya... lalu kau tak berhasil bertemu dengan adikmu?"

"Tidak, Kek! Aku khawatir Mahligai Sukma telah lebih dulu tertangkap dan entah bagaimana nasibnya di tangan Nyai Garang Sayu!" wajah Pematang Hati tampak membendung duka.

"Apa yang membuat mereka memusuhi keluargamu, Pak Tua?!" tanya Suto Sinting yang merasa iba hati.

"Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, apa pun alasan mereka kami harus menghadapi kekuatan mereka. Jika kau ingin membantuku, aku sangat berterima kasih. Tapi jika tidak, aku pun akan berterima kasih karena kau telah membantu melepaskan Pematang Hati dari ancaman maut tadi."

Pendekar Mabuk tarik napas dalam-dalam, berpikir sejenak sambil memandang matahari yang kian condong ke barat. Kemudian berkata kepada Kusir Hantu dengan suara tegas. "Aku harus mencari air Sendang Ketuban di negeri Wilwatikta. Ada seseorang yang perlu kuselamatkan nyawanya dengan air itu. Bagaimana kalau masalahmu ini kita tangani setelah aku pulang dari Wilwatikta?"

"Aku tak ingin kehilangan cucuku yang satu itu; Mahligai Sukma! Jika kau memang punya kepentingan lain, aku dan Pematang Hati akan menyerang Tebing Hitam hanya berdua saja! Pepatah mengatakan: 'Rawe-rawe rantas malang-malang pulung', artinya maju terus pantang mundur, kecuali kepepet!"

Suto tersenyum sumbang karena hatinya menyimpan kegelisahan. Kusir Hantu bertekad berangkat saat itu juga ke Tebing Hitam untuk bebaskan Mahligai Sukma, adik Pematang Hati. Saat itu pula Suto Sinting diliputi oleh kebimbangan yang meresahkan, antara ikut ke Tebing Hitam atau pergi ke Wilwatikta yang ada di Gunung Purwa.

Namun akhirnya mereka tak jadi bergerak karena melihat kedatangan seberkas cahaya yang menyerupai bintang jatuh dari langit. Gumpalan cahaya itu berwarna merah berasap hingga mirip ekor memanjang. Cahaya tersebut jatuh di depan mereka dalam jarak delapan langkah.

Buuusss...! Asap tebal mengepul tinggi, lalu lenyap disapu angin sore hari. Lenyapnya asap itu membuat mata mereka dapat melihat seraut wajah cantik berdiri dengan mata sayu dan bibir mekar menggoda gairah.

Seorang perempuan berdiri di depan mereka, mengenakan pakaian tipis tembus pandang warna abu-abu, rambutnya lebat terurai lepas, mengenakan mahkota kecil berhias batuan permata putih. Cahaya matahari yang datang dari arah belakangnya membuat bayangan tubuhnya yang elok tampak samar-samar dalam bungkusan kain abu-abu tipis itu. Dadanya pun terlihat menonjol ke depan dengan kencang dan padat. Bahkan perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tampak tidak mengenakan pelapis apa pun kecuali hanya jubah abu-abu dengan dua kancing di bagian perutnya.

"Siapa dia, Pak Tua?" bisik Suto Sinting.

"Dia yang tadi namanya kusebut-sebut: Nyai Garang Sayu."

"Luar biasa sekali!" gumam Suto Sinting bagai tak sadar, matanya sukar berkedip.

"Itulah sebabnya tadi kusarankan kau pergi saja jika bertemu dengannya, sebab dia punya kecantikan yang memancarkan daya pikat luar biasa bagi lelaki muda sepertimu. Dan ia paling gemar menggaet hati pemuda tampan bertubuh kekar sepertimu."

"Taa... tapi dia adalah Ibu dari Hulubalang Iblis? Betulkah begitu, Pak Tua?!"

"Benar. Tentunya kau heran melihatnya masih semuda itu. Ketahuilah, ia berusia lebih tua dariku. Ia sebaya dengan kakakku; si Tua Bangka itu."

"Tutup matamu, Suto!" ujar Pematang Hati ketika Nyai Garang Sayu mendekati mereka.

Suto hanya berkata, "Aku lupa cara menutup mata!"

"Hmmm, dasar mata keranjang!" geram Pematang Hati dengan mencibir ketus.

Terdengar suara Nyai Garang Sayu yang bernada serak-serak menggairahkan itu. "Kau benar-benar memaksaku turun tangan, Kusir Hantu!"

Kusir Hantu tetap tenang dan sunggingkan senyum yang mirip seringai kuda. "Kau mengawali permusuhan ini, Garang Sayu! Orang-orangmu memburu cucu-cucuku, dan itu berarti kau menantangku, Garang Sayu."

"Memang aku ingin membantaimu dan kedua cucumu, karena kalian telah lakukan penghinaan dengan menolak lamaran putraku; si Hulubalang Iblis! Penolakan itu adalah penghinaan besar. Lebih besar lagi setelah putraku kau lukai. Kabarnya si Pendekar Mabuk pun ikut andil dalam penghinaan itu! Maka si Pendekar Mabuk pun harus ikut lenyap dari permukaan bumi!"

Suto Sinting menyahut, "Aku bersedia menghadapi murkamu, Nyai!"

"Oh, jadi kau yang berjuluk Pendekar Mabuk?"

"Benar!" jawab Suto Sinting tegas sambil melangkah maju.

"Sayang sekali," gumam Nyai Garang Sayu dengan nada dingin. "Mengapa harus kau yang menjadi Pendekar Mabuk, padahal gairahku sudah mulai terbakar begitu melihat ketampanan dan kegagahanmu!"

"Dasar perempuan jalang!" seru Pematang Hati dengan lantang.

Nyai Garang Sayu sunggingkan senyum sinis sedingin es. Tapi senyum itu segera lenyap karena kemunculan sekelebat bayangan yang segera berdiri di sampingnya. Bayangan itu ternyata adalah kehadiran seorang lelaki bertubuh tinggi-besar, berotot kekar, berkepala gundul licin dan berwajah menyeramkan. Dia adalah putra kesayangan Nyai Garang Sayu yang bernama: Hulubalang Iblis.

"Ibu, biar aku yang menghadapinya! Jangan Ibu turun tangan sendiri."

Kusir Hantu sempat menyahut, "Benar. Ibumu jangan boleh turun tangan, nanti tangannya sampai ke tanah menjadi seperti orang hutan!"

"Tutup bacotmu, Kusir Penyu!" bentak Hulubalang Iblis.

"Putraku," ujar Nyai Garang Sayu dengan kalem. "Mundurlah, biar Ibu selesaikan penghinaan mereka dengan cara Ibu sendiri. Kau akan menyaksikan seperti apa kematian orang-orang yang menolak lamaranmu, Nak!"

Pendekar Mabuk segera merenggangkan jarak dari Kusir Hantu, karena ia yakin harus bertindak cepat sebelum perempuan cantik memikat hati itu lepaskan serangan mautnya. Tetapi tiba-tiba mereka dibuat heran oleh kemunculan suara aneh dari arah semak-semak di balik pohon.

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Pendekar Mabuk segera ingat suara itu dan segera berkata dalam gumam, "Si Bocah Kolok...?!"

Sosok kurus berambut tipis itu muncul dari semak-semak. Si Bocah Kolok memainkan rantai berbandul dua bola putih.

"Mau apa datang kemari, Keparat Tua!" tegur Nyai Garang Sayu dengan ketus sekali, menandaskan rasa permusuhannya dengan si Bocah Kolok.

"Wiio dengar apa yang kalian bicarakan! Wiio ingat sekarang, dari kemarin Wiio mau jumpa Kusir Hantu, tapi selalu nyasar karena lupa arah. Heh, heh, heh, heh...!"

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Mainan tetap berbunyi karena bergerak naik-turun. Tidak semua orang bisa begitu, membutuhkan ketepatan gerak dan kecepatan tersendiri. Belum lagi jika harus disaluri tenaga dalam, tentu membutuhkan perhatian khusus untuk hal itu. Tapi si Bocah Kolok dapat memainkannya sambil bicara seenaknya.

"Wiio dapat kabar, ada seorang penguasa suatu wilayah yang ingin bantai sebuah keluarga karena lamaran anaknya ditolak. Aduh, aduh... jahat sekali penguasa itu, ya?" ujar si Bocah Kolok kepada Kusir Hantu dengan nada seperti anak kecil.

Hulubalang Iblis menggeram penuh luapan amarah. "Matikan saja dia, Ibu!"

"Tenang, Putraku! Kalau dia memihak Kusir Hantu, terpaksa Ibu bereskan nyawanya!"

Bocah Kolok mendengar ucapan itu dan menyahut dengan cengar-cengir, "Heh, heh, heh, heh.... Kusir Hantu, kau dengar bukan, nyawa Wiio mau dikemasi oleh Garang Sayu. Dia pikir mudah mencabut nyawa tua Wiio ini, heh, heh, heh...!"

Nyai Garang Sayu membentak, "Wiio..!"

"Eh, kaget, kaget, kaget...!" Wiio tersentak kaget dan mengusap dadanya. "Jangan bentak-bentak begitu, Garang Sayu. Wiio kaget!"

"Persetan dengan lagak bocahmu! Kau telah menantangku secara tak langsung! Kau kuanggap memihak kepada si Kusir Hantu!"

"Kalau Wiio memihak si Kusir Hantu itu hal yang wajar, sebab Kusir Hantu sahabat Wiio, Nyai galak!" jawab Bocah Kolok sambil tetap memainkan tiktok-tiktoknya. "Wiio memang mau bertandang ke tempat Kusir Hantu, eeh... malah ketemu Pendekar Mabuk yang tarung dengan adikmu: Jurik Wetan! Aku baru ingat bahwa kaulah orang yang mempunyai racun 'Kembang Mayat'. Tapi aku pun baru ingat kalau aku mempunyai jurus penolak racun seperti itu yang bernama jurus 'Napas Kayangan'. Ternyata jurus 'Napas Kayangan' masih ampuh dan mampu menyelamatkan segenggam nyawa bocah cantik!"

"Banyak cakap kau ini, heaaah...!" Nyai Garang Sayu berwajah ganas, ia kelebat kan tangannya dan serbuk-serbuk putih pun menyebar ke arah Bocah Kolok yang berdiri di dekat Kusir Hantu serta Pematang Hati.

Melihat sebaran serbuk putih seperti tepung itu, Kusir Hantu undurkan diri sambil menarik lengan cucunya dan berseru, "Awas racun 'Ganda Maut', Wiio!"

"Apa kehebatannya racun itu, Pujasera?!" Bocah Kolok seperti anak dungu, ia tetap bermain tiktok-tiktok tanpa hiraukan serbuk yang menyebar ke arahnya. Namun tiba-tiba serbuk-serbuk itu saling meletup dan memercikkan bunga api yang merimbun, indah dipandang mata namun berbahaya jika dihirup manusia.

Tar, tratar, tar, tar, trrrrattar...!

"Biadab! Dia lumpuhkan racun itu, Ibu!" seru Hulubalang Iblis.

Nyai Garang Sayu gerakkan kedua tangannya ke sana-sini, memainkan jurus maut bertenaga dalam cukup tinggi. Dari gerakan tangannya itu keluar uap salju yang menyebar ke sekeliling dan dapat membekukan darah lawan.

Bocah Kolok semakin cepat memainkan tiktok-tiktoknya. Uap salju itu bagai tak bisa bergerak ke mana-mana. Nyai Garang Sayu kerahkan tenaga dengan dua tangan bagai mendorong ke depan. Bocah Kolok makin percepat mainannya.

Tik, tok, tik, tik, tok, tok, tok, tok...!

"Hiaaaahhh...!" Nyai Garang Sayu menguras tenaga untuk mendorong uap salju yang mulai membeku di udara tapi tidak dapat bergerak ke mana-mana. Tubuh perempuan cantik itu bergetar, tanah pun bergetar dan pohon-pohon juga bergetar. Daun-daun rontok karena getaran tubuh Nyai Garang Sayu.

Tooook, tooook, tooook, tooook...!

Semakin tinggi suara mainan si Bocah Kolok, semakin beku uap yang keluar dari pori-pori Nyai Garang Sayu. Si Bocah Kolok sendiri hanya cengar-cengir bagai anak kecil kegirangan melihat kemampuannya bermain dengan cepat. Kusir Hantu dan Pematang Hati hanya pandangi keadaan itu dengan tegang, namun diam-diam Kusir Hantu telah siapkan pukulan mautnya untuk sewaktu-waktu hadapi bahaya. Sedangkan Pendekar Mabuk hanya diam pandangi Hulubalang Iblis yang tampak gusar dan ingin lepaskan pukulan mautnya pula.

"Hhheeeaahhh...!" Nyai Garang Sayu berteriak keras sebagai tanda telah kerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong uap salju. Tapi uap salju semakin sukar bergerak dan kian membeku karena bunyi tiktok-tiktok kian keras dan cepat. Rupanya dari suara itulah si Bocah Kolok salurkan hawa saktinya untuk menahan kekuatan sakti lawannya.

Uap salju itu akhirnya membeku dan membungkus tubuh Nyai Garang Sayu. Tubuh perempuan itu tak bisa bergerak sedikit pun. Tapi suara erangannya masih terdengar samar-samar. Akhirnya si Bocah Kolok melemparkan mainannya itu dengan gerakan cepat.

Weees...! Pletak...!

Buuuummmm...! Gumpalan es yang membungkus Nyai Garang Sayu meledak dengan dahsyat, menyebar ke berbadai arah. Bersamaan dengan pecahnya gumpalan es itu, tubuh Nyai Garang Sayu pun lenyap seketika. Tapi suaranya masih terdengar menggema panjang lalu menghilang bagai ditelan bumi.

"Aaaa...!"

Menyadari ibunya telah hancur bersama serpihan es itu, Hulubalang Iblis menjadi sangat murka. "Bangsaaat...!" ia berteriak sekuat tenaga, sambil melompat menerjang Bocah Kolok saat Bocah Kolok sedang menangkap mainannya yang memutar kembali ke tempat semula setelah menghantam gumpalan es tadi.

Zlaaap...! Bruuus...!

Pendekar Mabuk bertindak menerjang Hulubalang Iblis. Keduanya sama-sama terpental satu arah dan berguling-guling dalam jarak delapan langkah dari Bocah Kolok.

"Ggrrr...!" Hulubalang Iblis menggeram dengan wajah liarnya. "Kuhisap habis darahmu, Manusia Bejat! Heeaahh...!"

Slaaab...! Sinar merah besar keluar dari telapak tangan Hulubalang Iblis. Sinar merah itu menghantam dada Pendekar Mabuk yang baru saja bangkit dengan setengah berdiri. Srruub...!

Pendekar Mabuk tersentak kaku, sinar merah itu tiada kunjung padam. Darah si Pendekar Mabuk tersedot ke telapak tangan Hulubalang Iblis.

"Kakek, Suto tak bisa bergerak! Cepat tolong dia, Kek!" Pematang Hati ribut sendiri.

Tapi sebelum Kusir Hantu lakukan suatu tindakan, tiba-tiba Pendekar Mabuk berubah menjadi besar dan besar sekali. Tubuhnya menjadi tinggi dan besar. Mereka terperangah melihat Suto Sinting menjadi raksasa. Hulubalang Iblis juga terbengong melihat sinar merahnya menjadi seperti lidi yang menggelitik dada raksasa.

Jurus 'Dewatakara' pemberian dari Payung Serambi dipergunakan Suto dalam keadaan sangat terdesak. Dengan sekali sambar, tangannya berhasil meremas kepala Hulubalang Iblis yang gundul itu, lalu melemparkannya tinggi-tinggi. Wuuuusss...! Hulubalang Iblis melayang di udara.

"Aaaaa...!" Jeritan kerasnya segera terhenti ketika tubuhnya jatuh ke tanah dan kaki raksasa Suto itu menginjak dadanya dalam satu hentakan mengerikan. Buuhk...!

"Heeekkh...!" Darah menyembur dari mulut Hulubalang Iblis yang ternganga. Seakan semua darah dalam tubuh orang gundul itu terkuras keluar hingga melumuri kaki raksasa Suto. Maka sejak saat itu, Hulubalang Iblis tak pernah bernapas lagi. Ia mati dalam keadaan gepeng.

Napas mereka terhempas lega. Pendekar Mabuk segera mengubah diri dan menjadi seperti semula. Bertepatan dengan itu, seraut wajah cantik tanpa senyum muncul dari semak-semak. Gadis yang terkena racun 'Kembang Mayat' itu ternyata telah disembuhkan oleh si Bocah Kolok dan menjadi sehat tanpa kesan luka sedikitpun.

Pematang Hati terbelalak girang melihat kemunculan gadis berpakaian hitam bintik-bintik putih bagai paku payung itu. Suaranya terlontar dengan nada ceria, "Mahligai...!"

Suto Sinting terkejut dan memandang Bocah Kolok. "Apakah dia... dia yang bernama Mahligai Sukma, Wiio?!"

"Iya. Waktu itu, Wiio lupa namanya dan lupa siapa dirinya. Tapi sejak kau pergi, Wiio jadi ingat bahwa dia adalah cucu sahabatku dan Wiio ingat dia punya nama Mahligai Sukma. Dia yang menceritakan rencana pembantaian Hulubalang Iblis terhadap Kusir Hantu dan kedua cucunya itu." Wiio tertawa sambil bermain tiktok-tiktoknya. "Heh, heh, heh... maaf, hampir saja Wiio lupa siapa gadis itu."

"Memang sudah lupa. Kalau kau tak pikun, aku tak akan keluyuran sampai ke sini!" gerutu Suto Sinting sambil perhatikan Mahligai Sukma yang sedang dipeluk oleh kakaknya; si Pematang Hati dan kakeknya; si Kusir Hantu.

SELESAI


Hulubalang Iblis

Serial Pendekar Mabuk
Hulubalang Iblis
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

SEPASANG mata memandang ke arah kaki bukit cadas tanpa nama. Sesuatu yang dipandang oleh sepasang mata muda itu adalah sebuah pertarungan yang sedang akan dimulai. Pemuda pemilik mata bening itu berwajah tampan dan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala. Ia membawa buntung tuak di pundaknya. Pemuda bercelana putih dengan baju tanpa lengan warna coklat itu tak lain adalah Pendekar Mabuk alias Suto Sinting, murid si Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

Pertarungan yang akan dimulai itu dilakukan oleh seorang gadis cantik berambut pendek diponi depan. Bajunya tanpa lengan berwarna hitam bintik-bintik putih logam. Baju itu berpundak kaku dengan krah tegak, kaku menutup sebagian lehernya. Ia juga kenakan celana hitam dengan bagian sampingnya berbintik-bintik putih logam mirip barisan paku payung. Ikat pinggangnya yang berwarna putih berbintik-bintik hitam itu dipakai selipkan pedang bersarung perunggu ukir.

Gadis itu tampak tenang dengan matanya yang bundar dan hidungnya yang bangir. Ia kenakan kalung hitam cekak berbatu merah delima sebesar biji sawo, sama dengan warna giwangnya yang kecil itu.

Menurut Pendekar Mabuk, gadis itu cukup berani dalam berpenampilan. Sabuknya yang melingkar di luar baju itu membuat bentuk belahan baju agak lebar, sehingga bagian dadanya tampak sedikit mengintip memperlihatkan kemulusan kulit yang berwarna kuning langsat. Agaknya di balik baju tebalnya itu ia tidak mengenakan kutang atau kain penutup dada lainnya, padahal gadis itu masih berusia sekitar dua puluh tahun, tentu saja keranuman yang terbayang di balik baju itu menggoda khayalan si murid sinting Gila Tuak itu.

"Agaknya ia cukup berani. Tak kelihatan gentar sedikit pun menghadapi lawan-lawannya," pikir Pendekar Mabuk dari atas bukit berbatu-batu itu.

Gadis itu berhadapan dengan tiga orang gundul yang masing-masing berbadan kekar dan tinggi. Wajah ketiga orang itu tidak ada yang ramah sedikit pun, semuanya mempunyai wajah angker. Walaupun bentuk tulang rahang maupun bagian wajah berbeda, tapi kesan keji terlihat jelas pada wajah mereka. Mereka mengenakan pakaian yang berbeda.

Yang berpakaian serba hitam mempunyai mata kecil tapi pandangannya bagai memancarkan hawa dingin yang membekukan darah. Ia bersenjata golok lebar yang tak bisa diselipkan di pinggang karena lebarnya. Sedangkan yang berpakaian baju merah celana hitam mempunyai bentuk mata sedang-sedang saja, tapi alisnya tebal dan bibirnya juga tebal. Badannya tampak berotot dan menyeramkan, ia menyelipkan sebilah parang bergagang kepala burung dengan rumbai-rumbai benang hitam.

Yang satu lagi mengenakan rompi biru dan celana hitam, dadanya membusung keras bagai dinding batu, mempunyai mata lebar dan kumis lebat. Sebilah golok bergerigi dipakai sebagai senjata andalannya. Golok itu sudah dicabut dari sarungnya dan kini tergenggam di tangan kanan, siap untuk ditebaskan ke arah si gadis cantik itu.

"Siapa tiga orang gundul yang dihadapi gadis itu? Sepertinya baru sekarang kulihat wajah mereka," ujar Suto membatin. "Sebaiknya kugunakan ilmu 'Sadap Suara'-ku untuk mendengar percakapan mereka. Setidaknya aku dapat mengenali nama-nama mereka."

Ilmu 'Sadap Suara' adalah sebuah ilmu yang dapat menyadap pembicaraan seseorang dari jarak jauh. Pendekar Mabuk memiliki ilmu tersebut, sehingga ia sering mengetahui berbagai persoalan orang dari suatu tempat yang tersembunyi.

Tetapi kali ini sebelum ilmu 'Sadap Suara' digunakan, ternyata orang yang bersenjata golok bergerigi sudah lebih dulu lakukan serangan ke arah si gadis yang sendirian. Gerakan cepat menerjang si gadis membuat golok bergerigi itu nyaris membabat dada gadis tersebut.

Weeesss...! Si gadis cepat bersalto ke belakang dengan gerakan cepat pula. Wuuuttt...! Jleeg...! Begitu ia tapakkan kaki ketanah, ia segera lepaskan pukulan tenaga dalam ke arah si rompi biru dengan cara menyentakkan tangannya ke depan dalam keadaan kedua kaki sedikit merendah.

Weeet...! Claaap...!

Ada kilatan sinar hijau sekilas keluar dari telapak tangan si gadis. Sinar hijau itu cukup kecil dan nyaris tak tertangkap oleh mata siapa pun. Tapi mata tajam si Pendekar Mabuk mengetahui adanya kilatan cahaya hijau dari tangan si gadis. Pendekar Mabuk juga melihat sinar hijau itu menghantam pinggang si rompi biru, sehingga orang itu terpental dalam keadaan sedang melayang di udara.

Wuuuss...! Bruuukk...!

"Bangsaaat...!"

Yang berteriak berang bukan si rompi biru, melainkan temannya yang berbaju merah dan bercelana hitam. Sebab orang itu ditabrak kuat-kuat oleh tubuh besar si rompi biru hingga terbawa terpental dan jatuh telentang dalam keadaan tertindih tubuh si rompi biru. Tubuh temannya yang menindih itu segera didorong kuat-kuat. Wuuut...! Tubuh si rompi biru terlempar lagi dan jatuh dalam keadaan leher terlipat. Brruuuk...!

"Uuahhk...!" terdengar pekiknya bagai keluar dari mulut dengan susah payah.

Sementara si baju merah cepat berdiri kembali dalam satu sentakan pinggul, wuuut...! Jleeeg...! Lalu ia memandangi si gadis dengan mata liar dan berkesan ganas.

Sementara itu, yang mengenakan pakaian serba hitam hanya diam terpaku di tempat dengan mulut melongo dan mata tertuju kepada si rompi biru. Ketika si baju merah mencabut parangnya dan ingin membalas serangan si gadis, tiba-tiba tangan orang berpakaian serba hitam itu merentang, menghadang di dada si baju merah. Akibatnya gerakan si baju merah tertahan dan ia pandangi temannya sendiri dengan mata beringas.

"Ada apa?!" geramnya menyentak penuh luapan amarah.

"Lihat si Kalapuser itu!" jawab si baju hitam.

Kedua orang gundul itu kini sama-sama pandangi keadaan si Kalapuser yang mengenakan rompi biru itu. Si baju merah yang sudah menggenggam parang itu terperanjat melihat tubuh Kalapuser berasap tipis. Tubuh yang besar itu tiba-tiba menjadi susut, makin lama semakin susut sepertinya tubuhnya menguap tersedot angin. Si baju merah jadi terpukau dan terpaku di tempat seperti si baju hitam.

Akhirnya mereka melihat dengan mata telanjang perubahan si Kalapuser yang semula berbadan tegap dan besar itu menjadi kurus kering. Raut wajahnya tampak tua karena berkulit keriput. Tentu saja keadaan si Kalapuser sudah tak bernyawa lagi, karena ia tergolek ditanah tanpa gerak sedikit pun kecuali susutnya tubuh. Kedua orang gundul melangkah mundur satu tindak.

setelah menyadari si Kalapuser menjadi mayat yang tinggal tulang terbungkus kulit, seakan daging dan jeroannya menguap tersedot udara. Keadaannya sangat mengerikan. Kepala gundul si Kalapuser pun jadi mengecil, dan seperti tinggal tengkorak dibungkus kulit keriput.

Dari atas bukit, Pendekar Mabuk yang terkagum-kagum atas kejadian itu juga mendengar percakapan dua orang gundul tersebut.

"Gadis ini lebih gawat dari kakaknya, Kalatunggir," kata si baju hitam.

"Bangsat! Serang dia bersama-sama, Kalabolong!"

Dua orang gundul itu akhirnya maju serempak dengan masing-masing senjata siap mencelakai nyawa si gadis. Wuuurrrss...!

"Heeeeaat...!" Teriakan si Kalatunggir yang berbaju merah itu sangat keras dan memanjang, memekakkan telinga. Agaknya suara teriakan itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dapat mengganggu kesigapan lawannya.

Tetapi si gadis berbaju hitam bintik-bintik putih mirip paku payung itu mampu atasi getaran suara tersebut, sehingga dalam sekejap tubuhnya telah melenting tinggi dan bersalto melintasi kepala dua orang gundul yang menyerangnya. Wuuuuk, wuuuk...! Dua kali gerakan berjungkir balik di udara membuat si gadis tahu-tahu sudah berada di belakang kedua lawannya beradu punggung dalam jarak tiga langkah.

Kedua lawan itu cepat lakukan serangan kembali dengan berbalik badan dan maju serentak. Tapi si gadis tiba-tiba melompat dan kedua kakinya menendang cepat ke belakang bagai seekor kuda menyepak lawan. Wuuuk...! Beeehk, ploook...!

"Ouhhh...!" pekik si Kalatunggir yang tersentak mundur karena wajahnya terkena tendangan kaki si gadis.

Sedangkan si Kalabolong yang berbaju hitam itu hanya terlempar ke belakang tak sempat keluarkan pekikan. Ulu hati yang terkena tendangan bukan saja menyesakkan pernapasan namun juga menyumbat tenggorokan hingga ia tak bisa terpekik sedikit pun. Ia tumbang dalam keadaan telentang dan mata mendelik. Kalatunggir buru-buru sigap kembali setelah itu si Kalabolong mencoba bangkit dengan napas terengah-engah.

"Bocah keparat!" geram Kalatunggir, lalu maju kembali lakukan lompatan menerjang si gadis dengan parangnya. Weeesss...!

Tapi saat itu si gadis sudah berbalik arah dan lepaskan pukulan seperti tadi. Sekilas sinar hijau yang sukar dipandang mata itu terlepas dari tangan si gadis dan menghantam perut Kalatunggir saat masih melambung di udara. Claap...! Deeesss...!

"Aaahk...!" Kalatunggir tiba-tiba berbalik ke arah semula dengan tubuh melayang dan jatuh terbanting cukup menyedihkan.

"Bangun! Gunakan 'Aji Palang Sukma', Kalatunggir!"

kali ini si Kalabolong lontarkan suara keras menandakan kemarahan yang telah memuncak. Ia berseru sambil memainkan golok lebarnya di sekeliling tubuhnya. Wung, wung, wung, wung...! Matanya tertuju tajam kepada si gadis yang tak banyak bicara itu.

"Bangun, Tolol!" serunya lagi tanpa memperhatikan si Kalatunggir.

Gerakan golok lebar terhenti sesaat karena Kalabolong segera terkejut melihat Kalatunggir tak mau berkutik lagi. Tubuh Kalatunggir berasap tipis, makin lama semakin susut dan akhirnya tak bernyawa dalam keadaan seperti mayat si Kalapuser, tinggal tulang terbungkus kulit.

"Ggrrrmmm...!" Kalabolong menggeram penuh murka, matanya yang kecil dilebarkan memandang si gadis bagaikan berapi-api. "Kau telah bunuh dua saudaraku! Sekarang kau harus menebusnya dengan nyawamu, Setan! Heeeaaah...!"

Pendekar Mabuk hanya membatin dari atas bukit, "Hmmm... siapa gadis itu, sehingga mampu kuasai jurus yang cukup dahsyat itu?!"

Golok lebarnya si Kalabolong berkelebat menebas pundak si gadis. Namun tanpa pekik dan suara apa pun, si gadis mampu hindari tebasan golok itu dengan bergerak kesamping, lalu berjungkir balik di tanah menggunakan kedua tangannya. Wuuurs...! Dalam sekejap ia menjadi tegak kembali.

Tapi di luar dugaan, Kalabolong lepaskan pukulan tenaga dalam dari tangan kirinya. Claaap...! Seberkas sinar merah sebesar mata tombak melesat cepat dan menghantam perut si gadis. Duuubs...!

"Uuuhk...!" gadis itu tersentak mundur dengan terhuyung-huyung.

Kalabolong memanfaatkan keadaan demikian dengan lakukan sergapan jurus golok lebarnya yang menebas cepat ke sana-sini. "Heeeaaat...!"

Si gadis yang merasa terdesak itu segera lepaskan jurus bersinar hijau sekelebat tadi. Claaap...! Sinar hijau itu tepat kenai dada Kalabolong sewaktu hendak membabatkan golok lebarnya ke leher si gadis. Deesss...!

"Aaahk...!" ia terpental ke belakang, melayang rendah dan jatuh berjungkir balik. Golok lebarnya terlepas dari genggaman tangan, dan Kalabolong tak mau bergerak lagi. Tubuhnya berasap samar-samar, makin lama semakin susut, akhirnya menjadi mayat seperti kedua saudaranya itu. Kalabolong pun terpaksa menjadi mayat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit yang keriput.

Tapi pada saat itu si gadis sendiri masih sempoyongan mencari tempat untuk berpegangan, ia mendekati sebatang pohon berdaun lebat. Setelah menemukannya, ia mencoba bertahan berdiri dengan berpegangan pada pohon tersebut. Namun agaknya kedua kakinya tak mampu menyangga tubuhnya lagi. Ia turun pelan-pelan dan akhirnya duduk terkulai bersandar pada batang pohon tersebut.

Rupanya serangan bersinar merah dari si Kalabolong tadi telah melukai bagian dalam tubuh si gadis dan membuat kulitnya sedikit demi sedikit menjadi biru memar. Wajah cantiknya berubah pucat kebiru-biruan dan bola matanya mulai tampak semburat merah, ia tampak terkulai lemas tak berdaya lagi. Seandainya datang musuh lain, maka Suto Sinting yakin gadis itu tak akan mampu melakukan perlawanan seperti tadi. Tampak dadanya yang sekal itu naik turun sebagai tanda napasnya terengah-engah dengan berat.

Pendekar Mabuk menenggak tuak dari bumbung bambu yang tadi tergantung di pundaknya itu. Setelah cukup puas menenggak tuaknya, ia mulai berpikir tentang gadis berpakaian hitam itu. "Ia terluka cukup berbahaya! Aku harus cepat lakukan pertolongan sebelum akhirnya gadis itu pun kehilangan nyawa seperti ketiga lawannya itu!"

Tapi sebelum Pendekar Mabuk bergerak turun dari atas bukit cadas itu, tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan yang menuju ke arah si gadis. Pendekar Mabuk hentikan langkah dan tangguhkan niat untuk sesaat. Batinnya bertanya-tanya, "Siapa tokoh yang baru saja datang itu?"

Mata si pemuda tampan itu pandangi sosok perempuan tua berambut putih rata terurai lepas. Nenek bertongkat hitam itu kenakan baju hijau tua dengan jubah lengan panjang. Nenek itu berdiri pandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sana. Bola matanya yang tersembunyi di balik rongga cekung itu segera pandangi si gadis dengan pancaran nafsu amarah.

"Jahanam busuk!" geramnya dengan suara tua yang cukup keras. Nenek berusia sekitar delapan puluh tahun itu segera dekati si gadis. Langkahnya yang terbungkuk-bungkuk tergolong cepat, menandakan nafsu kemarahannya telah membakar darah dan tak bisa ditangguhkan lagi.

"Kau telah membunuh ketiga muridku, Gadis Jahanam! Kau pun harus mati untuk menebus ketiga muridku ini! Hiaaah...!" Tongkat dihantamkan dengan gerakan cepat. Tongkat itu ujungnya mulai memancarkan cahaya merah seperti besi terpanggang api. Weesss...!

Pendekar Mabuk cepat lakukan gerakan secara naluriah. Seberkas sinar ungu sebesar lidi melesat dari kedua tangan yang merapat dan disodokkan ke depan. Claaap...! Weeesss...!

Jurus 'Surya Dewata' yang berwarna ungu itu menghantam ujung tongkat pada saat tongkat digerakkan menyabet si gadis. Kecepatan sinar ungu itu sungguh luar biasa, sehingga dalam sekejap tongkat itu terpental bersama pemiliknya saat terdengar ledakan cukup dahsyat.

Blegaaar...!

Gadis itu terguling-guling karena sentakan gelombang ledak tersebut. Tapi si nenek berjubah hijau itu terpental hingga delapan langkah jauhnya, ia jatuh terbanting di tanah tak berumput. Tulang tuanya bagai diremukkan oleh gelombang ledak tadi. Brruskk...!

Tak ada suara yang terdengar, tapi dari wajahnya tampak jelas si nenek sedang menahan sakit dan menahan kemarahan yang lebih besar lagi. Si nenek berusaha bangkit dengan bantuan tongkatnya yang sudah tidak membara merah lagi itu. Tapi ujung tongkat yang tadi membara merah itu sekarang mengepulkan asap seperti besi panas tersiram air.

Melihat si nenek mau bangkit, Suto Sinting menjadi khawatir akan keselamatan jiwa si gadis cantik itu. Maka ia segera berkelebat turun dari atas bukit dengan gunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...!

Dalam waktu sangat singkat Suto Sinting sudah berada di bawah tempat si gadis tergeletak karena tadi terguling-guling itu. Jurus 'Gerak Siluman' mempunyai kecepatan gerak melebihi anak panah terlepas dari busurnya, hingga tak mengherankan lagi jika Pendekar Mabuk dalam sekejap sudah berdiri menjadi pelindung si gadis yang kulitnya kian membiru itu.

Sang nenek bangkit dan menggeram setelah menarik napas beberapa saat. Matanya yang cekung memandang tajam kepada Suto Sinting, seakan memancarkan kekuatan batin untuk menembus jantung sang pendekar tampan itu. Namun sikap dan penampilan Suto Sinting tetap tenang, bibirnya sunggingkan senyum tipis hingga tak terlihat kesan bermusuhannya.

Sang nenek segera bergerak, weesss...! Dalam sekejap sudah berada di depan Suto, jarak empat langkah. Ini menandakan sang nenek juga mempunyai gerakan cepat hampir sama dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting.

"Bocah ingusan!" geram sang nenek. "Siapa kau hingga berani menggagalkan niatku membunuh si gadis bejat itu, hah!"

"Siapa aku itu tak perlu, tapi yang perlu kau ketahui, aku sekadar melindungi orang yang lemah. Gadis itu sudah tak berdaya, masih saja ingin kau serang. Alangkah kejinya hatimu, Nek?"

"Setan alas, kucing belang, babi bengkak...!" makinya beruntun. "Sekarang aku ingat ciri-cirimu! Kau pasti si Pendekar Mabuk itu!"

"Syukurlah kalau kau sudah mengenaliku sebelum aku memperkenalkan diriku. Nenek!"

"Jangan anggap diriku pikun, Bocah Kurapan! Jurik Wetan biar sudah tua tapi otaknya masih cerdas dan kekuatannya masih mampu tumbangkan dirimu, Kambing Borok!"

Pendekar Mabuk lebarkan senyum geli. Katanya dengan tenang, "Aku tak ingin berselisih denganmu, Nyai Jurik Wetan! Aku hanya mencegah kecerobohanmu."

"Kau tak perlu berlagak satria! Gadis itu telah membunuh tiga muridku, dan aku harus mencabut nyawanya sebagai tebusannya. Jika kau ingin memihaknya, maka hadapilah murkaku sekarang juga, Kutang Kusut! Heeeeah...!"

Weesss...! Nenek itu bergerak cepat sekali. Tahu-tahu tongkatnya sudah melayang ke arah kepala Suto Sinting. Dengan sedikit rendahkan kaki, Suto Sinting sentakkan bumbung tuaknya ke samping kiri menghadang tongkat itu. Maka tongkat pun menghantam bambu tempat tuak dengan telaknya.

Trak...! Duaaarrr...!

Ledakan keras terjadi lagi dan percikan bunga api menghambur dalam seketika. Tenaga dalam yang tersalur pada tongkat itu telah beradu dengan tenaga sakti yang ada pada bumbung tuak Suto, hingga terjadilah ledakan keras tersebut. Ledakan itu membuat si nenek menjadi limbung sesaat. Suto Sinting juga menggeloyor bagai orang mabuk ingin jatuh, namun tiba-tiba punggung tangannya menyodok ke rusuk Nyai Jurik Wetan. Dees ..! Sodokan bertenaga dalam cukup tinggi itu membuat Nyai Jurik Wetan terpental ke belakang dalam jarak tiga langkah.

Wuuut...! Jleeeg...! Si nenek masih mampu berdiri lagi walau sedikit limbung. Tapi ia segera lepaskan sinar merah pecah yang keluar dari telapak tangan kirinya. Sraaap...! Sinar merah pecah itu bagai ingin menyergap tubuh Suto Sinting. Maka dengan cepat Suto Sinting lepaskan jurus penangkisnya yang dinamakan jurus 'Tangan Guntur'. Seberkas sinar biru besar keluar dari tangannya dan menabrak sinar merah pecah itu.

Blegaaarrr...! Dentuman dahsyat membuat bumi berguncang dan pepohonan bergetar. Daun-daun berhamburan dan ranting-ranting patah hingga suara alam sekitar menjadi gaduh.

Tubuh Suto Sinting terlempar dan jatuh terduduk didekat gadis yang sudah tak berdaya lagi itu. Sedangkan Nyai Jurik Wetan pun terlempar cukup jauh dan jatuh dengan tubuh berguling-guling, ia diam untuk beberapa saat karena rasakan sekujur tubuhnya bagai dicabik-cabik dan tulangnya bagai dipatah-patah. Suto Sinting pun rasakan hal yang sama, namun ia segera menenggak tuaknya. Air tuak sakti itu dapat lenyapkan rasa sakit tersebut dalam sekejap.

"Kalau kuteruskan, berbahaya bagi gadis ini! Bisa-bisa ia mati karena terkena pukulan nyasar dari si nenek. Sebaiknya kubawa lari dulu gadis ini untuk kuselamatkan jiwanya! Agaknya luka yang diderita semakin parah dan mengancam nyawanya," Pendekar Mabuk membatin sambil sesekali pandangi si gadis dan sesekali perhatikan si nenek. Weees, zlaaap...!

Dalam sekejap gadis itu sudah ada di pundak Suto Sinting lalu dibawanya lari dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman' itu. Nyai Jurik Wetan melihat gerakan cepat yang mirip menghilang itu. Mata tuanya sangat tajam dan sangat terlatih untuk melihat gerakan angin, sehingga ia tahu lawannya melarikan diri ke arah barat, ia pun berseru dengan suara tuanya yang segera terbatuk-batuk.

"Sampai di mana pun kukejar kalian dan kubantai bersamaaa..., uhuk, uhuk, uhuk...!" Setelah terbatuk-batuk sesaat dan memuntahkan dahak berdarah, Nyai Jurik Wetan segera lakukan pengejaran ke arah barat. Gerakannya pun seperti orang menghilang karena kecepatan yang sukar dilihat oleh mata orang biasa. Weeesss...!

* * *

DUA

DINDING tebing berongga itu menyerupai sebuah gua berlangit-langit tinggi, tapi tidak mempunyai lorong ke mana-mana. Rongga itu memang cukup lebar, namun jarak dari bagian dalam ke bagian luar hanya delapan langkah. Tidak berpintu dan tidak bersemak, sehingga dapat dilihat jelas dari luar gua.

Sekalipun gua itu tidak terlalu aman, tapi sudah cukup membantu Pendekar Mabuk dalam menyembunyikan gadis cantik yang terluka. Setidaknya sampai gadis itu menjadi sembuh karena diberi minum tuak saktinya Suto, ternyata nenek yang mengejarnya belum temukan tempat itu.

"Aneh. Secepat ini tenaga dan kesehatanku pulih kembali?!" ujar si gadis membatin. "Padahal tadi nyawaku sudah hampir lepas dari raga, tapi begitu kurasakan tuak itu masuk ke tenggorokanku dan menghangat di tubuhku, luka pukulan si Kalabolong menjadi sirna. Badanku menjadi segar sekali, seperti tidak pernah terluka sedikit pun, bahkan seperti habis mengalami istirahat panjang. Hmmm... aku tahu sekarang, siapa lagi orang yang memiliki tuak sakti itu kalau bukan si Suto Sinting alias Pendekar Mabuk."

Gadis itu hanya bicara dalam batinnya, tapi mulutnya terkatup rapat. Bibirnya yang mungil ranum itu tak mau ucapkan kata apa pun, walau ia sudah memandangi Suto beberapa saat lamanya. Bahkan senyumnya pun tak ditunjukkan kepada Suto, padahal Suto sejak tadi telah sunggingkan senyum menawan dengan mata teduh memandanginya pula.

"Kau kenal dengan nenek bernama Jurik Wetan?" pancing Suto.

"Kenal," jawabnya singkat. Suto menunggu penjelasan berikutnya, tapi gadis itu bahkan memandang ke arah luar gua, lalu hendak melangkah keluar.

Pendekar Mabuk cepat menyambar lengan gadis itu dan hentikan langkah si gadis. "Jangan keluar dulu. Jurik Wetan sedang mengejar kita. Mungkin ia kehilangan arah sesaat, tapi aku yakin sebentar lagi pasti ia akan melintasi daerah ini."

Gadis itu menurut. Kini ia duduk di atas batu setinggi lutut sambil hembuskan napas panjang-panjang. Wajah cantiknya yang tanpa senyum itu tetap memandang ke arah luar gua, padahal Suto Sinting mendekatinya dan berdiri sekitar dua langkah darinya.

"Benarkah tiga orang gundul tadi adalah murid si Jurik Wetan?"

"Benar," jawabnya, setelah itu diam tanpa suara lagi.

"Mengapa kau bentrok dengan tiga orang murid si Jurik Wetan itu, Nona?" tanya Suto tetap dengan ramah.

"Benci," hanya itu jawabnya.

Suto Sinting sunggingkan senyum sambil membatin, "Gadis ini rupanya gadis pendiam dan tak mau banyak bicara. Melihat dari sikapnya, pasti dia gadis yang keras kepala. Tapi ia cantik dan menarik perhatianku. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa dirinya."

Kejap berikut terdengar lagi suara Suto Sinting memancing percakapan dengan gadis yang kulitnya telah menjadi kuning mulus kembali itu. "Mengapa kau benci dengan mereka?"

"Mereka...," gadis itu diam kembali, seperti ragu untuk jelaskan perkara sebenarnya.

Tapi Suto Sinting segera lakukan desakan agar gadis itu bicara lebih panjang lagi. "Teruskan ucapanmu. Mereka kenapa?"

"Berusaha membunuh."

"Membunuh siapa?"

"Keluargaku."

"O, kau masih punya keluarga rupanya."

"Kakek dan kakakku."

"Hanya merekakah keluargamu?"

Gadis itu menatap Suto Sinting, lalu anggukkan kepala. Setelah itu memandang ke arah luar kembali. Sikapnya seolah-olah acuh tak acuh kepada Suto. Tapi sang Pendekar Mabuk masih tetap sabar menanggapi kesinisan gadis itu. Justru semakin tertarik untuk mendekatinya. "Mengapa tiga murid si Jurik Wetan itu ingin membunuh keluargamu?"

"Disuruh."

"Siapa yang menyuruh?"

"Hulubalang Iblis."

"Oh...?!" Suto Sinting terperanjat karena segera teringat sosok tinggi-besar yang bernama Hulubalang Iblis. Ia pernah bertarung dengan tokoh berwajah ganas itu. Bentrokan itu terjadi karena Suto, membela si Kusir Hantu dan cucunya yang bernama Pematang Hati, (Baca serial Pendekar Mabuk daiam episode Ratu Cendana Sutera).

"Boleh kutahu namamu, Nona?"

Gadis itu membisu, tapi beberapa saat bibirnya mulai tampak bergerak-gerak ingin sebutkan namanya. Sayang sekali kala itu mereka dikejutkan dengan kemunculan Nyai Jurik Wetan yang bagaikan melompat dari atas tebing. Jleeeg...! Tahu-tahu nenek bungkuk itu berdiri menghadap ke arah gua, memandang ke arah mereka dengan mata memancarkan dendam membara. Pendekar Mabuk dan gadis itu tersentak kaget, namun keduanya cepat kuasai diri. Bahkan secara naluri jari tangan Suto Sinting menyentil melepaskan jurus 'Jari Guntur'-nya yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sama seperti tendangan kuda jantan itu.

Teees...! Beeed...!

Nyai Jurik Wetan merasa diserang tenaga dalam tanpa sinar. Telapak tangannya segera menghadang gelombang tenaga itu agar tak kenai ulu hatinya. Tapi kerasnya sentakan tenaga dalam jurus 'Jari Guntur' membuatnya tersentak ke belakang dan jatuh berjungkir balik dua kali.

Wes, wes...! Suto Sinting dan gadis itu cepat keluar dari gua, karena mereka tak mau terdesak serangan lawan dalam keadaan masih berada di dalam gua.

Dalam sekejap saja Nyai Jurik Wetan sudah tegak berdiri dan berhadapan dengan Suto Sinting. Gadis itu ada di samping kanan Suto dengan kaki sedikit merenggang dan siap hadapi serangan si Jurik Wetan. Gadis itu tak punya rasa takut sedikit pun, bahkan sorot pandangan matanya berani menentang tatapan mata Nyai Jurik Wetan.

"Monyet gancet! Makin lama semakin minta dihancurkan tubuhmu, Anak Sapi!" seru Nyai Jurik Wetan kepada Suto Sinting.

Tetapi pemuda tampan itu justru berbisik kepada si gadis cantik, "Menjauhlah, biar kutangani sendiri nenek ini."

Gadis itu tak keluarkan suara apa pun, tapi ia segera melangkah pelan-pelan menjauhi Suto, sementara pandangan matanya tetap tertuju kepada si Jurik Wetan.

"Rupanya kau ingin menggantikan nyawa si gadis dungu itu, Anak Sapi!" lontar Nyai Jurik Wetan sambil mengangkat tongkatnya.

"Aku hanya akan menahan serangan liarmu, Nyai Jurik Wetan! Kau tak berhak mencabut nyawa gadis itu, karena ketiga muridmu itu ternyata bersalah."

"Persetan dengan salah atau benar! Aku sudah telanjur ngidam untuk membunuhmu, Anak Sapi! Hiiiiah...!"

Tongkat dilemparkan ke arah Suto Sinting. Weeesss...! Tongkat itu menyala merah seluruhnya bagaikan sinar panjang yang ingin menghujam dada sang pendekar. Dengan gerakan sempoyongan mirip orang mabuk, Suto Sinting berhasil melayangkan bumbung tuaknya dalam keadaan tali bambu itu masih digenggamnya. Wuuuuk...! Dan tongkat yang berubah menjadi sinar merah itu membentur bumbung tuak Suto dengan keras.

Jegaaarrr...! Terjadi ledakan yang sangat dahsyat, menyebarkan gelombang getaran begitu besar. Empat pohon tumbang karena gelombang getaran tadi. Dinding tebing longsor seakan diguncang gempa. Tanah pun retak di beberapa tempat. Tubuh si gadis yang diam saja itu terpental dan membentur pohon yang sudah tak berdaun akibat ledakan tadi.

Bukan hanya gadis itu saja yang terlempar akibat ledakan, tapi Pendekar Mabuk dan Nyai Jurik Wetan juga sama-sama terlempar sejauh delapan tombak. Tubuh mereka bagaikan remuk, tulang-tulang mereka seakan patah semua akibat sentakan kuat dan bantingan keras yang membuat mereka kehilangan keseimbangan badan. Kepala mereka sama-sama membentur pohon dan pandangan mata jadi berkunang-kunang.

Pendekar Mabuk cepat tenggak tuaknya, sehingga badannya menjadi segar kembali dan tenaganya pulih seperti sediakala. Dalam hati sang pendekar hanya membatin, "Gila! Keras sekali lemparan tadi. Mataku terasa seperti buta dalam sekejap melihat sinar ledakan itu. Uuuhg...! Bagaimana keadaan lawanku, apakah sama seperti keadaanku?!"

Nyai Jurik Wetan ternyata punya cara sendiri untuk atasi rasa sakitnya. Dengan tarikan napas dan menahannya di dada, maka hawa sakti mengalir ke seluruh tubuh dan tenaganya cepat pulih kembali. Beberapa saat kemudian ia telah bangkit dan siap lakukan pertarungan lagi.

Sementara si gadis cantik hanya merasakan pusing sedikit serta pandangannya agak kabur. Dengan mengibaskan kepala beberapa kali, rasa pusing itu pun cepat hilang dan ia buru-buru memandang ke arah Suto Sinting yang telah berdiri tegak itu.

"Oh, syukurlah dia tak mengalami cedera apa-apa," pikirnya dalam kecemasan yang disembunyikan.

Namun ia sempat terkejut dan menjadi tegang manakala melihat Nyai Jurik Wetan tiba-tiba melayang bagaikan terbang dalam kecepatan tinggi. Weess...! Tongkat sang nenek yang telah disambarnya lagi itu masih utuh. Tongkat itu sekarang sedang diarahkan kepada Suto Sinting. Ujung tongkatnya keluarkan pisau sepanjang dua jengkal. Craaak...!

Pendekar Mabuk segera pasang kuda-kuda seperti orang mabuk mau jatuh. Kedua kakinya merapat dan saling berhimpit depan belakang. Tubuhnya melengkung ke kiri dengan tangan pegangi bumbung tuak yang seakan ingin dituangkan ke mulut. Tiba-tiba tubuh Suto Sinting bergerak melesat cepat sekali ke arah lawannya. Zlaaap...! Bumbung tuaknya menghantam ujung tongkat berpisau dua jengkal itu. Traaak...!

Blaarrr...! Terdengar lagi ledakan yang menggelegar mengguncang alam sekelilingnya. Tapi kali ini Suto Sinting berhasil daratkan kakinya dengan tegak di tempat pertemuan mereka, sedangkan Nyai Jurik Wetan terlempar keras membentur pohon kembali.

Duuurrr...! Daun pohon rontok seketika itu juga. Pohon tersebut menjadi tak berdaun selembar pun. Bahkan salah satu dahannya patah. Untung jatuhnya dahan itu tidak kenai kepala si Jurik Wetan.

"Edan betul!" gumam hati gadis itu menyimpan kekaguman terhadap ilmu yang dimiliki Suto Sinting. "Bumbung tuak itu benar-benar berkekuatan dahsyat! Jurik Wetan bisa dibuat terlempar sedemikian rupa, dan kalau bukan si Jurik Wetan mungkin sudah mati saat ini juga!"

Memang kenyataannya si Jurik Wetan masih bisa berdiri tegak dengan satu tarikan napas yang tertahan di dada. Nenek kurus itu bagai tak mengenal jera sedikit pun. Ia masih ingin lakukan serangan kembali ke arah Pendekar Mabuk dengan memutar tongkatnya yang keluarkan bunyi dengung memanjang itu.

Wuuuuung..., wuuuuuung.... Wuuungngng...!

Namun gerakan Nyai Jurik Wetan lambat laun menjadi terhenti karena bunyi aneh yang datang dari arah semak-semak sebelah kirinya.

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Pendekar Mabuk dan gadis itu juga merasa heran mendengar suara aneh tersebut. Mereka sama-sama memandang ke satu arah tempat datangnya bunyi aneh itu. Lalu, mereka sama-sama kerutkan dahi melihat kemunculan seorang tokoh berjubah ungu kusam. Tokoh itu berusia sebaya dengan si Jurik Wetan. Kepalanya botak tengah, sisa rambutnya yang putih dan tipis terurai sepanjang pundak. Tubuhnya yang kurus dibungkus kain modei jubah warna ungu kusam.

"Siapa tokoh tua itu? Baru sekarang aku melihat kemunculannya," pikir Suto Sinting yang merasa asing dengan tokoh tua berjubah ungu kusam itu.

Suara aneh itu timbul dari benda yang dimainkan oleh si tokoh tua berjubah ungu kusam itu. Rupanya benda yang dimainkannya berupa dua bola sebesar jeruk peras yang dihubungkan dengan rantai hitam. Bola dari logam putih berkilauan itu saling berbenturan dalam gerakan ke atas ke bawah sedangkan tangan si tokoh tua itu memegangi pertengahan rantai tersebut.

Nyai Jurik Wetan pandangi tokoh tua yang bermain dua bandul dari logam putih anti karat itu. Sementara orang yang dipandangnya yang cengar-cengir sambil memainkan dengan seenaknya, tanpa melihat gerakan dua bandul yang saling bertemu ke atas ke bawah itu.

"Keparat kau, Bocah Kolok! Minggirlah dari sini sebelum kau terkena sasaran tongkatku! Hentikan mainanmu itu, Bocah Kolok!"

"He, he, he...! Jangan marah pada Wiio, Nyai. Wiio cuma main-main saja. Tidak ganggu Nyai punya kerja. Wiio mau nonton Nyai tarung sama anak muda itu kok!" kata si Bocah Kolok yang lagak-lagunya persis bocah usia lima tahunan. Gerak-gerik dalam bicaranya juga seperti anak kecil. Bahkan ia menyebut dirinya bukan dengan kata 'aku' atau 'saya', melainkan menyebut nama kecilnya sendiri: Wiio. Penampilan yang kekanak-kanakan itu cukup menggelikan hati Pendekar Mabuk, sehingga senyum sang pendekar pun mekar karena tak bisa ditahan lagi.

"Bocah Kolok!" bentak Nyai Jurik Wetan. "Aku tak percaya kau datang kemari hanya untuk menyaksikan pertarunganku dengan si Pendekar Mabuk itu! Kau pasti akan berbuat usil terhadapku!"

"Iiih.... Nyai kok curiga buruk sama Wiio?!" sambil ia bersungut-sungut seperti anak kecil sewot. "Wiio cuma main-main di sini, kok disangka mau usil? Usil itu seperti apa, Nyai?"

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

"Hentikan mainanmu itu, Setan!"

Suara berisik itu berhenti. Lalu terdengar suara Bocah Kolok yang segera sembunyikan mainannya ke belakang. "Nyai jahat! Wiio main-main tidak boleh. Kalau Nyai bentak-bentak dengan suara keras, boleh!"

Gadis cantik yang diam saja di bawah pohon itu sempat terkejut ketika Suto Sinting berbisik di sampingnya, ia tak tahu kalau pemuda tampan itu sudah ada disampingnya.

"Siapa dia? Kau mengenalnya?"

Gadis itu hanya gelengkan kepala sambil memandang ke arah Bocah Kolok dan Nyai Jurik Wetan lagi. Kedua tokoh tua itu sedang perang mulut. Nyai Jurik Wetan merasa yakin akan mendapat gangguan dari Bocah Kolok, sementara Bocah Kolok sendiri bersikeras tak mau pergi dari tempat itu dengan alasan hanya ingin menyaksikan pertarungan si Jurik Wetan.

"Kalau kau tak mau pergi, kau sendiri yang akan kutumbangkan lebih dulu, Bocah Kolok!"

"Jangan, Nyai. Wiio tidak nakal kok!" ujarnya dengan gaya bocah cilik.

"Kau memang keras kepala, sebaiknya.... Uuhk...!" Nyai Jurik Wetan tiba-tiba tersentak dan pegangi dadanya, ia mundur dua langkah dengan tubuh semakin membungkuk. Matanya berusaha memandang Bocah Kolok dan mulutnya berusaha lontarkan kata dengan nada berat. "Setan kau, Bocah Kolok! Rupanya sudah dari tadi kau telah menyerangku dengan suara mainanmu itu, Keparat!"

Nyai Jurik Wetan ingin bergerak lakukan serangan, tapi tubuhnya tiba-tiba menggeloyor ke belakang dengan napas tersentak dan dada didekap lebih kuat. "Uuhhk...! Benar-benar jahanam kau!" suaranya kian memberat, nyaris tak terdengar dari tempat Suto Sinting berdiri.

Bocah Kolok pandangi sang nenek dengan dahi berkerut, seolah-olah ia merasa heran melihat keadaan si Jurik Wetan. Kedua tangannya masih dikebelakangkan dan kepalanya miring ke sana-sini penuh keheranan.

"Uuuhoooek...!" Nyai Jurik Wetan tiba-tiba memuntahkan darah segar. Tubuhnya semakin limbung dan bertumpu pada tongkatnya. Pendekar Mabuk dan si gadis cantik sama-sama tertegun dalam keheranan. Hanya saja, dalam hati si Pendekar Mabuk sempat membatin kata,

"Jika benar luka itu diderita karena bunyi tik-tok si Bocah Kolok itu, maka tak salah dugaanku bahwa si Bocah Kolok pasti berilmu tinggi."

Tiba-tiba terdengar suara Nyai Jurik Wetan yang menggeram dengan mata mendelik menyeramkan ke arah si Bocah Kolok. "Awas kau! Awas... tunggu pembalasanku! Pasti kau yang melukaiku! Aku kenal jurusmu yang pernah kurasakan tiga tahun yang lalu! Awas kau, Bocah Kolok!"

Weeeesss...! Nyai Jurik Wetan sentakkan kaki dan melesat pergi bagai menembus semak-semak, ia menghilang dan tak terdengar suaranya sedikit pun. Bocah Kolok tegakkan badan, lalu mainannya dipermainkan lagi dengan pelan. Ia pandangi wajah Pendekar Mabuk, lalu tersenyum bagai bocah kecil sedang nyengir, ia dekati pemuda tampan dan gadis cantik itu dengan kedua bandul putih itu saling sentuh tak secepat tadi.

Tik, tik, tik, tik, tik, tik...!

"Hik, hik, hik... nenek itu lari ketakutan. Hik, hik, hik...!" ujarnya setelah berada dalam jarak empat langkah dari Suto Sinting.

"Terima kasih atas bantuanmu, Pak Tua!"

"Ini bukan Pak Tua," katanya sambil menepuk dada. "Ini namanya Wiio. Tapi ada yang panggil Wiio dengan julukan Bocah Kolok. Wiio biarkan saja mereka panggil apa, Wiio tidak mau peduli dengan panggilan itu.!"

"Terima kasih, Bocah Kolok. Kalau tak ada kau, mungkin pertarunganku dengan Nyai Jurik Wetan belum selesai sampai sekarang juga. Ia seorang nenek yang sukar ditumbangkan," kata Suto Sinting.

"Kau yang bernama Pendekar Mabuk, ya?"

"Betul, Bocah Kolok," sambil Suto bersikap menghormat.

"Hik, hik, hik... aku tahu kau yang bernama Suto Sinting, bukan?" katanya sambil nyengir dan menuding-nuding seperti anak kecil.

Suto Sinting membalas keramahan dengan senyumnya. Tapi si gadis cantik itu diam saja. Tak ada seulas senyum pun tampak mekar di bibirnya, ia berdiri dan memandangi Bocah Kolok dengan sikap tenang. Sedikit berkesan judes.

"Bocah Kolok, kalau boleh kutahu dari mana kau mengenal namaku?"

"Ah, Wiio sering dengar orang bicara tentang dirimu. Wiio hafal ciri-ciri penampilanmu. Wiio juga tahu kau muridnya Kang Sabawana, yang dikenal dengan nama Gila Tuak itu."

"Oh, kau kenal dengan guruku, Bocah Kolok?"

"Ya, kenal. Wiio bukan orang kurang pergaulan. Wiio dulu sering main-main sama Kang Sabawana. Pernah ikut naik ke puncak Gunung Suralaya bersama Kang Sabawana dan pelayannya; si Gendeng Sekarat itu!"

Pendekar Mabuk seperti mendengarkan celoteh anak kecil yang menyombongkan pengalamannya. Namun wajah Suto tak pernah berhenti dari keramahannya, seulas senyum selalu mekar di bibir si pemuda tampan itu. Sang gadis sebentar-sebentar melirik Suto, sesekali perhatikan si Bocah Kolok. Akibatnya, si Bocah Kolok menuding gadis itu dan berkata kepada Suto,

"Itu kekasihmu, Suto?"

"Oh, hmmm... eeeh... cobalah tanyakan sendiri padanya," jawab Suto Sinting dengan kikuk dan sedikit tersipu.

"Yu, kau kekasihnya Pendekar Mabuk, ya Yu?"

Gadis itu gelengkan kepala.

"O, dia bisu?" ujar si Bocah Kolok kepada Suto. "Hik, hik, hik, hik...!" lalu tertawa menutup mulutnya.

Gadis itu menjadi salah tingkah dan buang pandangan ke arah lain.

"Eh Yu... kau cantik sekali. Pasti hati Pendekar Mabuk berbunga-bunga jika berada di sampingmu, Yu."

Gadis itu semakin malu dan salah tingkah. Suto Sinting hanya tersenyum senyum dan sedikit renggangkan jarak dengan gadis itu.

"Jangan membuatnya tersipu malu, Bocah Kolok. Nanti dia marah kepadaku."

"Gadis cantik kalau sampai marah kepada pemuda setampan dirimu, pasti dia menyimpan kecemburuan. Dan kalau dia simpan kecemburuan, berarti dia punya cinta. Eh, ngomong-ngomong cinta itu seperti apa rasanya, Pendekar Mabuk? Wiio belum pernah jatuh cinta sampai setua ini. Kasihan, ya?"

Pendekar Mabuk justru tertawa dan tak bisa memberi jawaban. Tapi tiba-tiba tawa itu harus lenyap setelah tiba-tiba seberkas sinar kuning sebesar jari telunjuk melesat dan menghantam bawah pundak kiri gadis itu.

Claaap...! Deesss...!

"Aaahk...!" Gadis itu terpekik dan tersentak mundur. Kejap kemudian ia tumbang dalam keadaan tubuh berasap kuning berbau seperti asap belerang. Suto Sinting cepat tangkap tubuh gadis itu hingga kepala si gadis tak sempat terbentur di tanah.

"Racun 'Kembang Mayat'...!" seru si Bocah Kolok dengan nada terkejut juga.

Weeeess...! Ia tiba-tiba lenyap dengan gerakan melompat, seakan menembus alam gaib. Sementara itu, Suto Sinting yang menjadi tegang itu segera merebahkan tubuh gadis itu di rerumputan, ia buru-buru menuangkan tuaknya ke mulut si gadis. Sebagian tuak tertelan, tapi sebagian lagi tumpah ke sekitar mulut.

Weess...! Jleeeg...!

Bocah Kolok kembali lagi dengan wajah menegang. "Percuma. Tidak ada obat bisa sembuhkan racun 'Kembang Mayat', dan tidak ada yang tahu apa obatnya kecuali pemilik racun 'Kembang Mayat' itu, Suto!"

"Celaka! Apa yang akan terjadi pada diri gadis ini, Bocah Kolok?!"

"Tubuhnya akan mengering dan menjadi kaku. Wiio pernah lihat orang kena racun seperti itu. Tak sampai malam tiba, tubuh gadis ini pasti akan menjadi kaku dan kering."

"Siapa pemilik racun itu?"

"Tadi Wiio kejar, tapi orang itu sudah pergi. Wiio tidak menemukan siapa-siapa, Suto!"

"Tapi kau tahu siapa pemiliknya, bukan?!"

"Pemiliknya... hmmm... sebentar, Wiio ingat-ingat dulu nama pemilik racun itu...." Bocah Kolok kerutkan dahi dan berpikir dengan sungguh-sungguh. Beberapa saat lamanya baru suara bocahnya terdengar lagi, "Aduh, Wiio lupa nama pemiliknya. Tapi Wiio tahu siapa orangnya. Kalau ketemu, Wiio bisa kasih tahu dirimu wajah orangnya!"

"Celaka! Lalu apa yang harus kulakukan untuk selamatkan gadis ini?!" ujar Suto Sinting setelah perhatikan beberapa saat, ternyata tak ada tanda-tanda kesembuhan pada diri si gadis, walaupun beberapa tuak sudah masuk ke dalam kerongkongannya. Gadis itu tetap lemas tak sadarkan diri. Bagian dada bawah pundak kiri itu membekas hangus sebesar uang kerokan.

"Apakah kau tak bisa sembuhkan gadis ini dari racun 'Kembang Mayat' itu, Bocah Kolok?"

"Wiio belum pernah coba. Tapi... tapi sebaiknya memang harus Wiio coba dulu, ya? Siapa tahu bisa?!"

* * *

TIGA

TUBUH gadis itu dibaringkan di atas tanah yang dilapisi dedaunan, ia dibawa masuk ke gua semula atas saran Bocah Kolok. Agaknya si Bocah Kolok menaruh iba kepada gadis itu. Maka ia pun mencoba kerahkan tenaga untuk memberi pertolongan gadis tersebut. Suto Sinting tak bisa berbuat apa-apa dan merasa kecewa karena tuak saktinya tak bisa dipakai untuk menawarkan racun 'Kembang Mayat' itu. Ia hanya bisa pandangi si Bocah Kolok lakukan penyembuhan dengan menyalurkan hawa murninya ke tubuh si gadis.

Asap mengepul berulang-ulang dari telapak tangan si Bocah Kolok yang ditempelkan ke bagian yang hangus di tubuh gadis itu. Asap putih itu lama-lama berubah menjadi kebiru-biruan. Bocah Kolok gemetar dan keluarkan keringat di sekujur badannya. Sesaat kemudian ia hembuskan napas sambil melepas telapak tangannya dari luka. Ia pandangi Suto Sinting sambil berdiri.

"Wiio sudah usahakan tawarkan racun itu, tapi sepertinya tak banyak menolong. Racun itu masih kerja keras mengeringkan tubuh gadis itu, Suto. Lihat saja, kulit gadis ini semakin kering dan tampak berbusik-busik. Ih... Wiio jadi ngeri sendiri membayangkan kekasihmu akan jadi kering seperti kayu bakar."

Pendekar Mabuk diam saja dengan napas terhempas menandakan sangat prihatin atas nasib gadis yang belum diketahui namanya itu. Wiio sendiri tampak tak yakin pengobatannya akan berhasil. Tubuh gadis itu diperhatikan baik-baik, kemudian berkata lagi kepada Suto Sinting.

"Sepertinya Wiio kenal dengan gadis ini, Suto!"

"Bukankah kau datang untuk membela gadis ini?"

"Bukan," jawab Bocah Kolok sambil gelengkan kepala. "Wiio kebetulan saja lewat tempat ini."

"Tujuannya mau ke mana?"

"Mau... mau... aduh, mau ke mana, ya?" Wiio bingung sendiri, ia berpikir beberapa saat, tapi belum menemukan jawaban. Wajah tuanya menjadi serupa dengan bocah bingung yang tak ingat alamat rumahnya.

Suto Sinting geleng-geleng kepala pelan sambil membatin, "Rupanya dia sudah pikun. Tapi dia masih bisa mengingat namaku dan ciri-ciriku? Apakah dia pikun untuk hal lain saja, sedangkan untuk mengingat nama dan ciri-ciriku tak termasuk kepikunannya? Hmmm... aneh sekali dia. Dari mana asalnya dan siapa dirinya sebenarnya, aku sama sekali belum mengetahuinya."

"Aduh," keluh si Bocah Kolok dengan jengkel. "Wiio jadi benar-benar lupa harus ke mana dan mau apa lewat tempat ini? Hmmm... seingat Wiio, ada seseorang yang ingin Wiio temui. Tapi siapa orang itu dan mengapa ingin menemuinya, Wiio benar-benar lupa, Suto."

"Dari mana asalmu, apakah kau juga lupa?"

"Hmmm.... Wiio dari... dari...," kakek tua itu diam sebentar, merenungkan tempat asalnya. Kejap kemudian ia berkata sambil menatap Suto Sinting. "Pokoknya Wiio tinggal di Bukit Talang."

"Di mana arah Bukit Talang?"

"Hmmm... di... di...." Bocah Kolok kerutkan dahinya. "Di... di mana, ya? Aduh, Wiio jadi benci sama otak Wiio sendiri ini! Wiio sering lupa. Mungkin karena sering makan pantat ayam jadi mudah lupa begini."

Suto Sinting tertawa tanpa suara. Tawa itu cepat reda dan berganti sikap iba memandangi si gadis cantik. Ternyata nasib si gadis cantik dapat berubah menjadi kering jika tak tertolong sampai malam tiba. "Apakah kau tak punya kekuatan lagi untuk menolong gadis itu, Bocah Kolok?"

Pak tua itu geleng-geleng kepala sambil pandangi si gadis malang. "Wiio lupa, apakah Wiio punya ilmu lebih tinggi dari yang sudah Wiio pakai sembuhkan gadis itu tadi, atau masih ada ilmu simpanan lain yang... ah, Wiio benar-benar lupa, Pendekar Mabuk."

"Tapi kau tidak lupa dengan ciri dan namaku, bukan?"

"O, itu karena Wiio selalu memikirkan dirimu."

"Memikirkan diriku?" Suto Sinting kernyitkan alis. "Mengapa kau selalu memikirkan diriku?"

"Karena Wiio ingin sekali dapat jumpa dengan pendekar muda yang namanya jadi bahan bicaraan pada tokoh di rimba persilatan."

"Untuk apa kau ingin jumpa denganku? Sekadar ingin tahu atau ada keperluan lain?"

"Nah, itu dia yang Wiio tidak ingat lagi. Sepertinya Wiio punya keperluan sendiri padamu, Suto. Tapi... tapi keperluan apa itu? Wiio juga lupa. Mungkin malah Wiio hanya sekadar ingin ketemu pendekar kondang saja, setelah itu puaslah hati Wiio. Ah, tak tahulah apa maksud Wiio ini sebenarnya."

"Payah...," gumam Suto Sinting.

"Memang Wiio belakangan ini jadi orang payah! Jarang punya uang, jarang makan, rumahnya jelek, payah sekali pokoknya."

"Maksudku payah itu, kau benar-benar menyedihkan kalau segala sesuatunya tidak bisa kau ingat!"

"O, begitu?" Wiio manggut-manggut. Ia diam sejenak, kemudian sebelum Suto mengatakan sesuatu, Bocah Kolok itu berkata dengan penuh semangat hingga mengejutkan Suto. "Aaah... Wiio ingat!" serunya seperti anak kecil bersorak. Tubuhnya ikut melonjak kegirangan. Tangannya bertepuk satu kali dan wajahnya sangat ceria.

"Apa yang kau ingat?"

"Wiio punya ilmu buat perpanjang umur."

"Perpanjang umur bagaimana?"

"Namanya ilmu 'Rentang Nyawa'," sambil matanya memandang ke atas sebagai tanda mengingat-ingat nama ilmu 'Rentang Nyawa' itu.

"Maksudmu, umur seseorang bisa berubah menjadi panjang melampaui batas takdir hidupnya?" tanya Suto semakin ingin tahu.

"Bukan, bukan...." Bocah Kolok gelengkan kepala sambil gerakkan tangannya. "Maksud Wiio, ilmu itu bisa untuk menunda kematian tiba. Tapi tak bisa lama. Hanya satu hari saja."

"Apakah berguna untuk gadis itu?" sambil Suto Sinting menuding si gadis malang.

"Hmmm... sepertinya... sepertinya bisa berguna," jawab Wiio seperti anak kecil menyombongkan diri.

"Kalau begitu, coba lakukan untuk gadis itu."

"Tapi umur gadis itu tidak bisa panjang sekali. Ilmu 'Rentang Nyawa' hanya bisa menahan roh seseorang agar tak lekas-lekas tinggalkan jasadnya. Misalnya, gadis ini sebenarnya nanti malam sudah mati, dengan menerima getaran hawa ilmu 'Rentang Nyawa', maka roh gadis itu nanti malam belum pergi keluar dari raga. Roh itu diam di raga karena ditahan getaran gelombang gaib. Esok malam, barulah roh gadis itu akan pergi tinggalkan raganya."

"Hmmm... jika begitu kita punya waktu lebih panjang lagi untuk mencari obat penawar racun 'Kembang Mayat' itu, Wiio."

"Wiio pikir-pikir... memang begitu keuntungannya. Tapi...," ujarnya sambil melirik seperti anak kecil yang sedang melucu.

"Tapi apa lagi?" Suto tampak tak sabar.

"Tapi percuma saja kita tahan rohnya jika kita tidak tahu bagaimana cara menangkal racun 'Kembang Mayat' itu. Kalau kita sudah punya obat penangkal racun, harus diambil di tempat jauh, nah... untuk memperpanjang waktu bisa saja Wiio pakai ilmu 'Rentang Nyawa' itu. Tapi kalau...."

"Sudahlah jangan banyak bicara dulu, gunakan saja ilmu 'Rentang Nyawa'mu itu. Nanti kita pikirkan bagaimana cara mengatasi racun dalam tubuh si gadis malang itu, Wiio."

"Baiklah, baiklah...!" Wiio manggut-manggut sambil mendekati gadis itu.

Kedua tangan Bocah Kolok mulai berasap setelah bergerak maju dalam keadaan mengeras. Gerakan itu dilakukan pelan-pelan sambil napasnya keluar dari mulut berkali-kali. Kemudian tangan yang berasap samar-samar itu mendekati bagian perut si gadis. Ujung jari-jarinya menyala kuning pijar.

Ketika tangan itu menempel di perut si gadis, maka asap yang keluar dari tangan tersebut seperti tersedot oleh tubuh si gadis. Kini bagian perut si gadis mulai tampak keluarkan cahaya kuning pijar samar-samar. Lebih dari sepuluh helaan napas si Bocah Kolok tempelkan tangan ke perut gadis itu. Pendekar Mabuk perhatikan betul cara pengobatan tersebut dengan hati sedikit berdebar-debar.

"Eeeh...!" si gadis mulai mengeluh tipis. Jari-jari tangannya bergerak pelan lebih dulu, kemudian kakinya mulai bergerak lemah. Dadanya yang sekal tampak naik turun pertanda ia mulai siuman. Bagian luka hangus mengepulkan asap tipis, namun warna hitamnya masih belum hilang.

Bocah Kolok segera bangkit dan berkata kepada Suto, "Wiio hanya bisa menghambat kerja racun, tapi tidak bisa memusnahkannya."

"Mengapa tidak kau lakukan berkali-kali, siapa tahu racun itu bisa punah oleh kekuatan ilmu 'Rentang Nyawa'-mu itu?"

Bocah Kolok gelengkan kepala. "Wiio takut, ah!" Lalu ia jauhi gadis yang mulai menggeliat dan membuka matanya. "Nyawanya masih akan ada sampai besok sore. Malamnya ia pasti sudah tidak bernyawa lagi," ujar Wiio, dan keterangan itu hanya membuat Pendekar Mabuk menarik napas panjang-panjang, merasa sangat sedih membayangkan nasib si gadis malang itu.

Tiba-tiba Pendekar Mabuk teringat sebuah genangan air menyerupai kolam yang berwarna hijau bening dalam istana jerami milik Ratu Cumbutari. Kolam itu sebenarnya sebuah sendang alam yang dirawat dan dijadikan sebuah kolam oleh Ratu Cumbutari. Kolam itulah yang dinamakan Sendang Ketuban, yang mampu mengalahkan racun apa pun yang tak bisa dikalahkan oleh obat lain. Sendang Ketuban terletak di negeri Wilwatikta dan negeri itu berada di Gunung Purwa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pembantai Raksasa).

Maka membatinlah hati Suto pada saat diam merenung di depan Wiio, "Haruskah aku lari ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban? Sepenting itukah aku menyempatkan diri pergi ke sana hanya demi selamatkan gadis yang belum kukenal ini?"

Hal itu dibicarakan kepada si Bocah Kolok. Lalu orang tua yang bertingkah seperti anak kecil itu pun keluarkan pendapatnya, "Kalau kau bisa pergi dan pulang membawa air Sendang Ketuban tak lebih dari esok malam. Maka usahamu itu tidak akan sia-sia, Suto. Tapi kalau kau datang lewat dari esok malam, maka percuma saja kau pergi ke Gunung Purwa."

"Kurasa, aku bisa mempercepat langkahku dan tiba di sini pada esok siang."

"Kalau memang bisa begitu, alangkah baiknya kau pergi sekarang juga ke Sendang Ketuban itu. Wiio akan jaga gadis ini, sambil Wiio ingat-ingat siapa gadis ini sebenarnya."

"Bagaimana jika kita tanyakan kepadanya siapa dia sebenarnya?"

"Wiio rasa, gadis itu belum bisa bicara, tenaganya masih lemah sekali, dan mungkin tenggorokannya masih kering, belum bisa dipakai untuk bicara."

Pendekar Mabuk manggut-manggut, kemudian si Bocah Kolok berkata lagi, "Wiio sarankan kalau mau berangkat ke Gunung Purwa, sebaiknya berangkatlah mulai sekarang biar waktumu tidak banyak terbuang."

"Baiklah, aku berangkat sekarang dan jaga dia baik-baik!"

"Hati-hatilah, Pendekar Mabuk!" si Bocah Kolok melepas kepergian Pendekar Mabuk sampai di luar gua.

Lalu, murid sinting si Gila Tuak itu pun melesat ke arah negeri Wilwatikta dengan pergunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya yang mempunyai kecepatan melebihi badai itu. Zlaaap...! Zlaaap...! Zlaaap...! Setiap niat baik selalu saja akan menemui cobaan sebagai perwujudan dari kesungguhan niat itu. Demikian halnya dengan si Pendekar Mabuk, langkahnya terhenti karena sebuah rintangan menghalanginya.

Rintangan itu adalah kemunculan cahaya biru berlarik-larik yang menyebar dan mengarah kepadanya. Pendekar Mabuk tak tahu datangnya cahaya biru itu dari arah samping belakangnya. Zraaab...! Sinar biru berlarik-larik itu akhirnya menghantam Suto Sinting yang membuat si Pendekar Mabuk itu terpental ke arah lain. Weess...! Burrkk...!

"Aahk...!" Suto Sinting terpekik, kemudian berusaha bangkit, tapi segera menyadari bahwa dirinya telah terjerat kekuatan dari sinar biru yang kini mengurungnya dan makin lama sinar-sinar biru itu bergerak semakin rapat dengan tubuh Suto Sinting. "Celaka! Tubuhku bagai ada yang menjeratnya dengan tambang yang sangat kuat. Ouuuh...! Pernapasanku sesak sekali!" Pendekar Mabuk menggeram sambil berusaha lepaskan diri dari jeratan gaib tersebut.

"Uuuh...! Sulit sekali menggerakkan tanganku untuk menenggak tuak?! Kurang ajar betul orang yang menyerangku ini! Hmmm... sepertinya sinar-sinar biru yang menjeratku ini pernah kulihat saat si Kusir Hantu dan Pematang Hati mengalami nasib seperti ini! Kalau tak salah sinar-sinar biru ini kiriman dari si Hulubalang Iblis!" sambil ingatan Suto sempat mengenang peristiwa beberapa waktu yang lalu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

Beberapa saat kemudian muncullah seraut wajah tua berbaju biru dan celana hitam. Tokoh itu berambut pendek dan tipis warna merah seperti rambut jagung. Di pinggangnya terselip cambuk pusaka yang panjangnya hanya sekitar empat jengkal. Tokoh kurus berambut merah jagung itu tak lain adalah si Kusir Hantu, tokoh ternama dari Bukit Seram.

"Kusir Hantu... aku terkena...."

Kusir Hantu segera menyahut, "Jurus 'Jalasuma' itu namanya. Kau masih ingat jurus tersebut, Suto?! Hmmm... pasti di sekitar sini ada si Hulubalang Iblis. Akan kucari pentolan setan itu! Pepatah mengatakan: 'Kuda lari jangan dikejar, nasib orang... tidak sama seperti nasib kuda'. Memang keparat busuk si Hulubalang Iblis itu!"

"Kusir Hantu, tunggu sebentar...."

Weess...! Kusir Hantu pun mampu lakukan gerakan cepat yang mirip orang menghilang, sehingga sebelum Suto Sinting selesai bicara ia sudah menghilang lebih dulu dari hadapan sang Pendekar Mabuk.

Suto Sinting hanya mengeluh dan menggeram jengkel dalam hati sambil berusaha menahan kekuatan jerat dari sinar-sinar biru tersebut. Sebab menurut keterangan dari si Kusir Hantu yang pernah didengarnya, bahwa sinar biru yang datang dari jurus 'Jalasuma'-nya si Hulubalang Iblis itu dapat memotong tubuh manusia yang dijeratnya jika sampai beberapa saat orang tersebut tak bisa lepaskan diri dari jeratan itu. Pendekar Mabuk pun menjadi mulai tegang ketika si Kusir Hantu tidak muncul-muncul sampai beberapa saat lamanya.

* * *

EMPAT

KETIKA si Kusir Hantu dan cucunya terjerat jurus 'Jalasuma', Pendekar Mabuk yang menolong dengan menghancurkan sinar-sinar biru tersebut. Kini, keadaan Pendekar Mabuk yang tak berkutik itu ganti ditolong oleh si Kusir Hantu dengan cara menghancurkan sinar-sinar biru tersebut. Kusir Hantu muncul kembali setelah beberapa saat kerepotan mencari si pemilik jurus 'Jalasuma' itu.

Seberkas sinar merah kecil dilepaskan oleh si Kusir Hantu dari ujung telunjuknya. Claaap...! Sinar merah kecil itu menghantam kumpulan sinar-sinar biru dan menimbulkan ledakan yang cukup keras.

Blaarrr...!

Pendekar Mabuk terjungkal ke belakang akibat ledakan tersebut. Badannya terasa bagai dibungkus api. Ia buru-buru menenggak tuaknya, maka rasa terbungkus api pun segera lenyap. Kini ia berdiri pandangi si Kusir Hantu yang sedang tersenyum cengar-cengir memperhatikannya.

"Satu sama!" celetuk si Kusir Hantu. "Dulu ketika aku terjerat 'Jalasuma' kau menolongku dengan meledakkan sinar itu dan aku terlempar bersama cucuku. Sekarang kau pun kutolong dan ikut-ikutan terlempar seperti aku dulu. He, he, he...! Pepatah mengatakan: 'Lain lubuk lain belalang', artinya lain cara menolong lain pula belalangnya, he, he, he, he...!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum kelegaan sambil sama-sama maju saling menghampiri. Setelah mencapai jarak satu langkah Kusir Hantu menepuk-nepuk pundak Suto Sinting dengan sikap ramahnya.

"Sudah dua purnama kita tak jumpa, ternyata kau makin hari makin gagah saja, Nak!"

"Kau pun makin tua makin gagah, Pak Tua."

Keduanya tertawa pelan, lalu wajah mereka saling berkerut setelah Pendekar Mabuk ajukan tanya, "Apakah orang yang menyerangku dengan jurus 'Jalasuma' tadi berhasil kau tangkap, Pak Tua?"

"Ya, itulah yang membuatku bingung. Aku tak menemukan si Hulubalang Iblis. Padahal setahuku jurus itu milik si Hulubalang Iblis. Tapi yang kutemukan adalah aroma wangi seorang perempuan."

"Perempuannya sendiri ada?"

Kusir Hantu gelengkan kepala. Tokoh tua berusia sekitar enam puluh tahun itu segera berkata dengan gayanya yang senang menggunakan pepatah walau maksudnya tak pernah jelas. "Perempuan yang beraroma wangi itu tidak kutemukan. Tapi aku mulai bisa mengenali aroma wangi itu, jika suatu saat kujumpa dengan perempuan tersebut. Pepatah mengatakan: 'Jika ada sumur di ladang, boleh saya menumpang mandi....'"

"Maksud pepatah itu bagaimana, Pak Tua?"

"Jika ada umurku panjang, boleh kita mandi bersama. He, he, he...! Maksudku, bersama dengan perempuan yang beraroma wangi itu. He, he, he...!"

Dalam hatinya Suto Sinting hanya membatin, "Tokoh tua yang satu ini memang gemar bercanda. Seakan dirinya merasa selain muda. Menyenangkan sekali jumpa dengannya, hanya sayang aku menjadi penasaran dan ingin mengetahui perempuan mana yang berani menyerangku dengan jurus 'Jalasuma' tadi? Apakah ia ada hubungannya dengan si Hulubalang Iblis?"

Kusir Hantu yang bernama asli Ki Pujasera itu segera ajukan tanya sambil garuk-garuk pantatnya, "Nak, apakah kau melihat cucuku di lain tempat?"

"Maksudmu si Pematang Hati?"

"Benar. Aku mencarinya, juga mencari adiknya yang bernama Mahligai Sukma."

"O, aku tidak jumpa dengan cucumu, Pak Tua," jawab Suto Sinting. "Apakah ada sesuatu yang penting sehingga kau mencari mereka?"

"Sangat penting, dan menurut dugaanku dia sedang mencarimu."

"Mencariku?" Suto Sinting berkerut dahi. "Mengapa ia mencariku?"

"Mungkin rindu," jawab si Kusir Hantu. "Mungkin juga karena ia ingin meminta bantuan padamu. Yang jelas, terakhir kali kubertemu dengan seorang kenalannya yang mengatakan bahwa Pematang Hati pergi mencari Pendekar Mabuk. Kusangka ia sudah kau bawa ke kediaman gurumu, Nak."

"Untuk apa aku membawa cucumu ke sana?"

"Barangkali kalian mau menikah di depan si Gila Tuak?"

Pendekar Mabuk tertawa pelan tapi agak panjang. "Nak, Pematang Hati itu gadis yang baik dan masih perawan ting-ting. Jangan anggap remeh cucuku itu, Nak!"

"Aku tidak memandang remeh cucumu, Pak Tua. Aku hanya menertawakan dugaanmu. Mengapa sampai sejauh itu kau menduga perasaan hati kami? Belum tentu cucumu sendiri mempunyai niat seperti yang terbayang dalam otakmu, Pak Tua."

"Kalau Pematang Hati tidak mempunyai niat seperti dugaanku, berarti aku baru tahu bahwa cucuku itu gadis yang berotak bebal, bodoh dan kolot! Pepatah mengatakan: 'Ringan sama dijinjing, berat sama dipukul....'"

"Dipikul!" Suto membetulkan ucapan tersebut.

"Iya, dipikul. Artinya...."

Belum sempat Kusir Hantu lanjutkan arti peribahasa yang dilontarkannya itu, tiba-tiba mereka sama-sama dikejutkan oleh kemunculan dua orang berpakaian serba hitam. Satu orang berambut ikal pendek dan mengenakan ikat kepala hijau, sedangkan yang satu berambut panjang sepundak agak kurus dan mengenakan ikat kepala kuning. Kemunculan mereka bagaikan jatuh dari langit, karena mereka lakukan lompatan melintas bagian atas semak-semak untuk tiba di tempat itu.

Jleg, jleg....!

Kusir Hantu cepat menyapa kedua orang yang segera menampakkan sikap tak bersahabat itu. "Darah Gunung dan Lintah Saberang! Selamat jumpa lagi, Adik-adikku yang ganteng? Apa kabar kalian, Dik?!"

"Ggrrmmmhh...!" Orang yang berikat kepala hijau itu menggeram menampakkan permusuhannya.

Pendekar Mabuk sempatkan diri berbisik kepada si Kusir Hantu, "Siapa mereka, Pak Tua?"

"Yang pakai ikat kepala hijau bernama Darah Gunung, dan yang pakai ikat kepala kuning berbadan kurus serta bermuka lonjong itu adalah si Lintah Saberang. Mereka anak buah Hulubalang Iblis."

"Kalau begitu, pasti mereka bermaksud tak baik pada kita, Pak Tua,"

"Gelagatnya memang begitu, tapi... tenang saja kau. Tenang saja. Biar kuhadapi sendiri kedua orangnya si Hulubalang Iblis itu!" ujar Kusir Hantu sambil tepuk-tepuk lengan Suto Sinting. Bahkan ia tambahkan kata lagi dalam bisikan, "Mundurlah sedikit, biar gerakanku tak terhalang keadaanmu."

Suto Sinting angkat bahu dan lebarkan tangan pertanda pasrah kepada si Kusir Hantu, lalu ia pun melangkah mundur hingga sampai di bawah pohon. Ia berdiri dengan bumbung tuak menggantung di pundak, kedua tangan bertolak pinggang sebelah kiri, dan tangan kanannya dipakai menopang ke batang pohon tersebut. Matanya memperhatikan kedua orangnya Hulubalang Iblis yang tampak sangar-sangar itu.

"Apa maksudmu datang menemuiku di sini, Darah Gunung dan Lintah Saberang?" tanya si Kusir Hantu dengan sikap tenang, bahkan gerak-geriknya tampak acuh tak acuh, seakan sangat tidak peduli dengan kedua orang didepannya itu.

Sikap seperti itu rupanya membuat si Lintah Saberang menjadi geram dan menahan kedongkolan dalam hatinya. Tulang rahangnya yang sedikit menonjol itu tampak sedang menggeletukkan gigi di dalam mulut dengan pancaran matanya terasa dingin membekukan darah orang yang dipandangnya.

"Kusir Hantu, bersujudlah di depanku sebelum masa hidupmu berakhir bersama cucu-cucumu!" ujar Darah Gunung dengan suaranya yang lantang. Tapi si Kusir Hantu hanya terkekeh memandang remeh terhadap ucapan tadi.

"He, he, he, he.... Aku sudah lupa bagaimana cara bersujud. Jika kau mau, tolong berikan contoh bagaimana cara bersujud itu, Darah Gunung!"

"Bangsat!" sentak Darah Gunung kemudian tangannya berkelebat melepaskan pukulan jarak jauh dari tempatnya berdiri. Wuuut, weess...!

Buhhk...! Pukulan itu mengenai dada si Kusir Hantu dengan telak. Tubuh si Kusir Hantu sampai terjengkang ke belakang dan jatuh terkapar, kepalanya membentur sebatang pohon kering yang telah tumbang beberapa waktu yang lalu. Duuuhk...!

Suto Sinting sempat menampakkan kecemasannya dengan buru-buru dekati si Kusir Hantu dan ingin menolongnya. Tapi Pak Tua itu lebih cepat bangkit sebelum Suto mengulurkan tangannya.

"Pak Tua, bagaimana keadaanmu?"

"Tenang saja! Pepatah mengatakan: 'Sekali merengkuh dayung dua tiga hari capeknya tidak hilang-hilang'. Kau tetap tenang saja di tempatmu. Mereka akan kuselesaikan secara jantan."

Pendekar Mabuk akhirnya mundur dan kembali ke tempatnya semula, membiarkan si Kusir Hantu maju beberapa langkah dekati kedua lawannya. Wajah tua itu masih tampak cengar-cengir menjengkelkan lawan.

"Pukulan seperti itu kau lepaskan untuk diriku, Darah Gunung. Bukankah itu pukulan untuk membunuh nyamuk rawa-rawa?!" ujar si Kusir Hantu dengan nada mengejek.

Darah Gunung semakin dongkol, maka ia pun berseru dengan maju satu langkah lagi. "Kau ingin yang bisa memecahkan kepalamu? Terimalah ini, heeaah...!"

Weeess...! Tubuh si Darah Gunung tiba-tiba melayang dalam gerakan seperti singa menerkam, lalu berubah dalam gerakan salto. Ketika tubuhnya berbalik itulah kedua kaki si Darah Gunung menendang kepala Kusir Hantu secara beruntun. Duhk, duhk, duhk...!

Tendangan terakhir terasa lebih kuat, bagaikan ingin memecahkan tulang tengkorak si Kusir Hantu. Tak heran jika si Kusir Hantu terlempar ke belakang lagi dan jatuh terpelanting dengan dahi membentur ujung kayu kering. Krraakkk...!

"Ha, ha, ha, ha...!" Lintah Saberang tertawa kegirangan melihat Kusir Hantu terpental begitu rupa.

Suto Sinting geregetan melihat Kusir Hantu tidak ada perlawanan sedikit pun. Tangan si Pendekar Mabuk itu sudah menggenggam kuat, ingin lakukan serangan mendadak kearah Darah Gunung. Tetapi niat itu terpaksa dibatalkan. Pendekar Mabuk justru terkejut dan memandang heran kepada Darah Gunung yang tiba-tiba terlempar sendiri dari sikap berdirinya.

Wuuut...! Bruuuk...! Brrrurs...! Buhhk, buhk, bruuusss...!

"Aaauh, oouh, aaaah, uaaah...!"

Lintah Saberang terbelalak dan terheran-heran melihat rekannya jungkir balik, jatuh-bangun dan tersungkur-sungkur sendiri tanpa ada yang menyerang. "Kenapa dia seperti orang kena penyakit ayan begitu?!" pikir si Lintah Saberang. "Padahal si Kusir Hantu sedang bergegas bangun, belum lakukan serangan apa-apa, tapi mengapa Darah Gunung seperti ada yang menyerangnya tanpa kelihatan wujud penyerangnya?!"

"Ouuuuhhh...!" Darah Gunung mengerang panjang sambil wajahnya mencium tanah, ia bangkit pelan-pelan setelah mendengar seruan Lintah Saberang.

"Darah Gunung, kenapa kau?! Siapa yang menyerangmu?!"

Darah Gunung mencoba untuk bangun dengan sempoyongan. Wajahnya yang memandangi si Kusir Hantu itu tampak memar. Banyak luka yang membiru di sekitar wajah. Bahkan tiba-tiba ia tersentak dan memuntahkan darah segar dari mulutnya, ia memegangi dadanya yang terasa sakit bagai habis dihantam pukulan bertenaga dalam cukup besar.

Kusir Hantu hanya cengar-cengir, bagai tak pernah menerima serangan apa pun dari lawannya. Bahkan dahinya yang membentur ujung pohon kering itu tidak mengalami luka sedikit pun. Tetapi dahi Darah Gunung justru berdarah. Lukanya seperti luka bekas benturan. Kepala bagian belakang juga tampak berdarah, seperti bekas benturan benda keras.

Melihat keadaan itu, Pendekar Mabuk pun segera manggut-manggut dengan senyum tipis dan hati membatin, "Ooo, ya, ya, ya... aku ingat sekarang. Kusir Hantu mempunyai ilmu 'Timbal Rasa' yang membuat lawannya babak belur sendiri jika menyerangnya. Pantas Kusir Hantu dari tadi diam saja, tidak menangkis, tidak menghindar dan tidak menyerang. Rupanya ia mengandalkan ilmu 'Timbal Rasa'-nya yang membuat Darah Gunung menderita sakit di bagian dada, karena ia tadi menghantam dada Kusir Hantu. Dahinya dan kepalanya yang luka itu pasti terjadi akibat ia tadi menendang kepala Kusir Hantu hingga Kusir Hantu membentur kayu kering itu. Wah, bisa-bisa semakin parah serangan Darah Gunung yang kenai tubuh Kusir Hantu, semakin parah pula luka yang diderita si Darah Gunung sendiri."

Rupanya kedua orang utusan Hulubalang Iblis itu belum dibekali pengetahuan tentang ilmu 'Timbal Rasa' yang menjadi salah satu kesaktian si Kusir Hantu, sehingga mereka perlakukan si Kusir Hantu seenaknya saja, tanpa memikirkan akibat buruk bagi diri mereka sendiri. Bahkan kali ini Lintah Saberang yang merasa hatinya menjadi makin panas, ganti menyerang Kusir Hantu dengan mencabut goloknya dan berseru,

"Bangsat tengik kau, Tua Bangka! Kubedah perutmu sekarang juga!"

"Hei, Tua Bangka itu kakakku. Namaku si Kusir Hantu, jangan salah sebut, Kawan! He, he, he, he...!"

"Heeeaaaah...!" Lintah Saberang lebih ganas lagi. Ia lakukan lompatan bersalto dengan cepat, tahu-tahu tubuhnya yang turun dari atas itu sudah berada di depan si Kusir Hantu. Goloknya segera berkelebat tepat ketika kakinya menyentuh tanah. Wuuut, craaass...!

Menghadapi sabetan golok dari atas ke bawah, si Kusir Hantu hanya diam saja dan cengar-cengir. Tak heran jika golok itu kenai sasaran; merobek dada hingga perut si Kusir Hantu.

Tetapi tubuh Lintah Saberang sendiri yang terpental mundur dan suaranya memekik dengan keras. "Aaaaakh...!" Ia terhuyung-huyung dalam gerakan mundur dan mata mendelik. Dadanya sendiri yang robek sampai sebatas bawah pusar. Keadaannya sungguh mengerikan. Darah menyembur dari luka robekan itu dan isi perutnya pun mulai berhamburan begitu ia tumbang dalam keadaan telentang.

Darah Gunung mendelik melihat si Lintah Saberang terkapar dalam keadaan sekarat, ia segera dekati si Lintah Saberang bersama wajah memarnya yang kian menegang. Tapi sebelum Darah Gunung mendekat, ternyata Lintah Saberang telah hembuskan napas terakhir dan tubuhnya pun melemas, diam tak berkutik selamanya.

"Bangsat terkutuk kau, Setan Tua!" geram si Darah Gunung sambil pandangi Kusir Hantu penuh dendam membara.

"Pulanglah dan kusarankan tak perlu menyusul temanmu itu, Darah Gunung. Biarkan dia jalan-jalan ke neraka sendiri, kau tak perlu merasa iri!" ujar si Kusir Hantu. "Pepatah mengatakan: 'Sambil menyelam minum tuak'. Artinya..."

Belum habis Kusir Hantu bicara, Darah Gunung telah lepaskan pukulan jurus andalannya. Seberkas sinar merah melesat dari telapak tangannya dalam gerakan seperti kilat menyambar. Clap, clap, clap...! Sinar merah itu menghantam leher Kusir Hantu.

Zeerrb...! Blaaarr...!

Ledakan cukup keras terdengar menggema dan menggetarkan beberapa dedaunan. Pendekar Mabuk sempat tersentak kaget melihat Kusir Hantu dihantam sinar itu dan mendengar ledakannya. Tetapi wajah kaget Pendekar Mabuk berubah bengong melompong dan geleng-geleng kepala setelah melihat keadaan yang sebenarnya. Bukan kepala si Kusir Hantu yang pecah, melainkan kepala si Darah Gunung sendiri yang pecah bagai habis dihantam sinar berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat. Sedangkan si Kusir Hantu hanya cengar-cengir pandangi tubuh Darah Gunung yang melayang-layang limbung tanpa kepala, kemudian tumbang ke tanah tak bergerak-gerak lagi. Pecahan kepalanya menyebar ke berbagai arah dan sukar dikenali.

"Ada orang tua bicara belum selesai kok sudah diputus. Akibatnya ya kesamber geledek begitu. He, he, he...!"

Weeesss...! Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dan tahu-tahu sudah berada di depan Kusir Hantu. Pendekar Mabuk memandang dengan dahi berkerut dan Kusir Hantu hanya cengar-cengir bagai tak terkejut melihat kehadiran tokoh tersebut.

* * *

LIMA

TOKOH yang baru datang itu masih tampak muda. Ia seorang gadis berusia sekitar dua puluh satu tahun, berwajah cantik imut-imut, mengenakan baju hijau muda, rambut dikonde dua dan berkulit kuning langsat. Pendekar Mabuk pernah jumpa dengan gadis itu, sedangkan Kusir Hantu sudah tak merasa asing lagi dengan gadis bermata bundar bening itu. Ia adalah cucu dari si Tua Bangka yang bernama Cawan Pamujan.

"Cawan Pamujan, rupanya ada sesuatu yang penting sehingga kau menemuiku di sini, Anak Manis?" sapa Kusir Hantu.

"Betul, Eyang. Aku disuruh menemui Eyang Kusir Hantu," jawab gadis itu dengan nada manja. Wajah cantiknya kala itu sedang murung, dan kemurungan tersebut menjadi pusat perhatian Suto Sinting.

"Siapa yang menyuruhmu menemuiku, Cawan Pamujan?"

"Siapa lagi kalau bukan saudaraku sendiri, alias cucumu juga, Eyang."

"Pematang Hati maksudmu?"

"Betul. Dia... dia sekarang dalam bahaya, Eyang!" sambil Cawan Pamujan mendekati Kusir Hantu yang merupakan adik dari kakeknya itu.

"Bahaya apa yang kau maksud, Cawan Pamujan?!" tanya Suto Sinting.

Gadis itu semakin menampakkan kegelisahannya, memandang Kusir Hantu dan Pendekar Mabuk berganti-gantian. "Pematang Hati tertangkap oleh orang-orang Tebing Hitam. Waktu itu, aku dan Pematang Hati sedang menuju ke Lembah Tirta untuk temui sahabat si Pematang Hati. Tetapi di perjalanan kami disergap oleh orang-orang Tebing Hitam. Aku bisa meloloskan diri, tapi Pematang Hati tertangkap dan dibawa ke Tebing Hitam, Eyang! Pasti dia disiksa oleh orang-orang Tebing Hitam, setidaknya diperkosa oleh para begundal Tebing Hitam, Eyang! Oh, berbuatlah sesuatu untuk Pematang Hati, Eyang Kusir Hantu! Pergilah ke sana dan bebaskan Pematang Hati!"

Cawan Pamujan mendesak dengan kecemasan dan kemanjaan sikapnya. Tapi Kusir Hantu hanya diam saja, kedua tangannya bersedekap di depan dada. Sesekali ia tampak manggut-manggut dengan pandangan mata menatap tajam kepada Cawan Pamujan.

"Mengapa si Kusir Hantu tak merasa tegang atau cemas?" pikir Pendekar Mabuk. "Mengapa ia tetap tenang-tenang saja? Apakah telinganya sudah budeg, hingga tak mendengar cucunya dalam bahaya?! Aneh juga orang satu ini!"

Gadis berwajah imut-imut itu semakin merajuk dalam kemanjaannya. Ia menarik-narik baju birunya Kusir Hantu yang tanpa lengan itu. "Cepat pergi ke sana, Eyang! Lakukan sesuatu agar Pematang Hati bebas dari tawanan Tebing Hitam! Lakukan, Eyang! Jangan diam saja begitu!"

Tiba-tiba tangan Kusir Hantu berkelebat menyodok dada Cawan Pamujan dengan telapak tangannya. Wuuut, beehk...!

"Uuhk...!" Cawan Pamujan terpental enam langkah dari tempatnya, ia terhempas kuat hingga membentur pohon. Brruuk...! Lalu jatuh tersentak ke depan dan hampir saja wajahnya beradu dengan tonjolan akar pohon yang keras itu.

"Pak Tua, mengapa kau lakukan?! Bukankah dia cucu dari kakakmu sendiri?!" sergah Pendekar Mabuk dengan rasa kurang setuju melihat sikap kasar Kusir Hantu.

Pak Tua itu hanya cengar-cengir tanpa suara. Matanya memandangi Cawan Pamujan beberapa saat, kemudian ia melangkah dengan kalem, seakan merasa tidak berbuat kesalahan apa pun. Pendekar Mabuk buru-buru mendampinginya dengan maksud mencegah tindakan Kusir Hantu yang dapat menyerang Cawan Pamujan lagi sewaktu-waktu.

Gadis itu telah berdiri dengan wajah dicekam rasa takut dan kesedihan. Dari sudut mulutnya keluar darah kental akibat pukulan di dadanya tadi. Darah kental itu hanya meleleh mendekati dagu dan tak dihapusnya. "Mengapa Eyang sejahat itu padaku?! Apa salahku, Eyang?!. Aku hanya mengabarkan bahaya yang dihadapi Pematang Hati...!" sambil si gadis mundur pelan-pelan karena Kusir Hantu maju terus mendekatinya.

Tiba-tiba kaki Kusir Hantu berkelebat menendang wajah si gadis yang imut-imut itu. Wuuut, deesss...!

"Aauh...!" pekik Cawan Pamujan sambil tubuhnya terlempar ke samping dan jatuh berguling-guling. Kusir Hantu melangkah dengan tenang dekati gadis itu dan ingin melepaskan tendangan lagi.

"Eyang, apa salahku sampai kau tega menghajarku, Eyang?!" ratap gadis itu sambil menangis.

Tepat ketika gadis itu bangkit, tangan si Kusir Hantu segera menghajar ke wajah cantik itu. Beeet...! Tapi pukulannya tertahan sebuah telapak tangan yang langsung mencekal genggaman si Kusir Hantu. Teeeb...!

Pendekar Mabuk menahan pukulan itu dengan meremas genggaman Kusir Hantu. Pemuda tampan itu pun berkata setengah menghardik, "Pak Tua, jangan lakukan lagi!"

"Minggir kau!" Kusir Hantu balas menghardik.

"Tidak, Pak Tua. Kau tak boleh menghajarnya tanpa alasan yang kuat!"

Tangan yang digenggam Suto itu berputar cepat dan dalam sekejap pergelangan tangan Suto sudah ganti dicekal oleh Kusir Hantu. Dengan gerakan cepat pula, kaki Kusir Hantu menyodok perut Suto, lalu menyentakkannya ke atas. Weess...! Pendekar Mabuk melambung di udara melintas atas kepala Kusir Hantu. Tubuh si pendekar gagah itu terlempar ke belakang Kusir Hantu dan jatuh tanpa bisa lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Brruuuusk...!

Kusir Hantu cepat-cepat melepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar ke arah Cawan Pamujan dengan kibasan tangan kiri bagai melakukan tamparan. Wuuut...! Buuhk...!

"Aaah...!" Cawan Pamujan terpekik lagi dan jatuh terpelanting ke kiri.

Ketika Kusir Hantu ingin lepaskan pukulan yang diperkirakan dapat membahayakan jiwa gadis cantik itu, Suto Sinting cepat-cepat melepaskan jurus 'Jari Guntur'-nya dari arah belakang Kusir Hantu. Sebuah sentilan yang mempunyai kekuatan bagai tendangan seekor kuda jantan telah dilakukan Suto dan kenai punggung si Kusir Hantu. Teesss...! Bhuuhhk...!

"Heegh...! Kusir Hantu tersentak ke depan, lalu jatuh terguling-guling di tanah. Ia cepat-cepat bangkit, namun menyeringai kesakitan sambil memegangi pinggang beiakang.

"Uuhk... kurang ajar kau, Nak!" geram si Kusir Hantu.

"Maaf, Pak Tua. Terpaksa kulakukan karena tindakanmu keterlaluan! Tak sepantasnya gadis itu mendapat hajaran seberat itu, Pak Tua. Dan lagi, kau belum jelaskan apa kesalahannya, sampai-sampai Cawan Pamujan sendiri tak tahu apa sebabnya kau perlakukan dia seperti itu!"

Kusir Hantu tidak hiraukan kata-kata Suto Sinting, ia segera lakukan lompatan menerjang Cawan Pamujan yang ingin berlari dan berlindung di belakang Suto Sinting. Gerakan menerjang itu membuat Suto Sinting pun cepat-cepat lakukan pencegahan, ia melompat lebih cepat lagi untuk gagalkan terjangan si Kusir Hantu. Namun di luar dugaan, si Kusir Hantu ternyata telah mencabut senjatanya berupa cambuk pendek yang sejak tadi terselip di pinggang kanan. Cambuk itu dilecutkan pada saat ia berada di udara dan arah lecutannya ke tubuh Cawan Pamujan.

Ctaaarrr...! Cambuk yang panjangnya empat jengkal itu dapat terulur lebih panjang tiga kali lipat dari aslinya. Sabetannya yang dilakukan dengan tenaga ringan telah hasilkan lecutan kecil namun memekakkan telinga.

Akibatnya, Pendekar Mabuk buru-buru pejamkan mata karena menahan rasa sakit di telinganya, yang membuat kekuatannya berkurang, sehingga ketika bertabrakan dengan tubuh Kusir Hantu, ia terpental sendiri dan jatuh berguling-guling. Kusir Hantu mampu mendarat dengan kaki tegak, cambuknya yang menjadi panjang itu segera dikibaskan kembali ke arah Cawan Pamujan yang terpelanting jatuh akibat gelombang letupan cambuk yang pertama tadi.

Ctaaarrr...! Kali ini ujung cambuk itu memercikkan warna merah api. Cahaya merah api itu menyambar tangan gadis itu. Serta-merta gadis itu rentangkan telapak tangan dan hentakkan napas. Dari telapak tangan itu keluar sinar biru muda yang segera menghantam cahaya merah api tersebut. Claaap....!

Blegaaarrr...! Dentuman hebat terjadi seketika itu juga. Kusir Hantu terpental, Pendekar Mabuk terlempar dan si Cawan Pamujan sendiri juga ikut terhempas ke semak-semak akibat ledakan dahsyat tadi. Sementara itu beberapa pohon menjadi bergetar, dahan-dahan patah dan daun pun berguguran. Tanah terasa berguncang serta bebatuan saling bergetar, bahkan ada yang rompal sebagian.

"Gila! Tak kusangka si Cawan Pamujan mempunyai kekuatan tenaga dalam yang layak diadu dengan cambuk saktinya si Kusir Hantu," pikir Suto sambil bergegas untuk bangkit berdiri. Kata hatinya lagi, "Kalau Cawan Pamujan sudah berani lakukan begitu, berarti pertarungan mereka tak mungkin bisa dihindari lagi. Pasti Cawan Pamujan juga akan unjuk gigi di depan adik dari kakeknya itu. Bahaya! Cawan Pamujan bisa celaka, bahkan jika si Tua Bangka tahu, maka Kusir Hantu akan bertarung dengan si Tua Bangka! Aku harus lakukan sesuatu demi keselamatan mereka!"

Pendekar Mabuk baru saja mau lakukan serangan yang akan melumpuhkan si Kusir Hantu. Maksudnya agar Kusir Hantu hentikan tindakannya. Tetapi niatnya itu tertahan oleh pandangan matanya yang tertuju pada Cawan Pamujan.

Gadis itu baru saja bangkit dari semak-semak, tiba-tiba tubuhnya bagaikan keluarkan asap putih keruh. Asap itu yang membuat tubuh Cawan Pamujan semakin lama semakin sulit ditembus pandangan mata. Hanya saja, hembusan angin segera menerbangkan asap itu dan membuatnya sirna. Tetapi sosok yang ada di balik asap tersebut ternyata sudah berganti wujud. Bukan Cawan Pamujan lagi yang di semak-semak itu, melainkan seraut wajah cantik lain yang masih asing bagi Pendekar Mabuk.

"Gila! Dia berubah wajah?!" gumam Suto tanpa disadari dan gumaman itu sampai di telinga Kusir Hantu.

Pak Tua tersebut segera mendekati Suto dengan mata tetap memandang ke arah sosok baru itu. "Sudah kuduga, dia bukan Cawan Pamujan," kata Kusir Hantu. "Karena itulah kudesak ia dengan serangan supaya cepat menampakkan wujud aslinya."

Seorang gadis yang tadi menjelma sebagai Cawan Pamujan itu ternyata mempunyai kecantikan yang sama-sama menarik namun berbeda sorot matanya. Gadis yang berusia sekitar dua puluh empat tahun itu mempunyai sorot mata berkesan dingin. Alisnya tebal dan bulu matanya lentik. Hidungnya bangir dan bibirnya mungil.

Gadis itu mengenakan pakaian jubah merah berbunga-bunga kuning terbuat dari kain satin mengkilap. Sementara itu pakaian bawahnya berupa kain sutera tipis membayang warna kuning yang mempunyai dua belahan di kanan kiri sampai ke pangkal paha. Gadis bertubuh sekal dan berdada montok namun tak terlalu besar itu mempunyai rambut yang disanggul kecil, sisanya jatuh tergerai seperti ekor kuda. Ia memakai kalung rantai emas kecil dengan bandul batuan ungu sebesar biji sawo. Di punggungnya tersandang pedang bergagang hiasan ronce-ronce kuning halus seperti jambul seekor burung.

"Siapa dia sebenarnya, Pak Tua?" bisik Suto Sinting kepada si Kusir Hantu.

"Dia yang bernama: Paras Mendayu, murid kepercayaan Nyai Garang Sayu."

"Siapa Nyai Garang Sayu, Pak Tua?"

"Ibu dari Hulubalang Iblis!" jawab Kusir Hantu dengan tegas tanpa cengar-cengir. Namun kejap berikutnya ia kembali cengar-cengir sambil maju dekati si Paras Mendayu karena pada saat itu Paras Mendayu sendiri maju empat langkah dan berhenti setelah dalam jarak sekitar empat tombak dari Kusir Hantu.

"Kau memang jeli, Kusir Hantu! Kusangka kau akan terkecoh dengan permainanku tadi!" ujar Paras Mendayu bernada tegas, bahkan punya kesan angkuh.

"Mata tuaku mungkin memang bisa kau kelabuhi dengan ilmu 'Salin Rupa', tapi penciumanku tak bisa kau kelabuhi, Paras Mendayu! Aroma wangimu sama seperti aroma wangi yang kucium saat aku mencari siapa orang yang menyerang Pendekar Mabuk itu dengan jurus 'Jalasuma'. Ternyata kaulah orangnya, Paras Mendayu!"

"Cukup cerdas juga otak tuamu, Kusir Hantu!" ucap Paras Mendayu dengan mata melirik ke arah Pendekar Mabuk.

Saat itu, Suto Sinting segera maju dan perdengarkan suaranya yang bernada tegas. "Mengapa kau menyerangku, Nona?!"

"Karena Guru menyuruhku melumpuhkan kau juga. Sebab Guru tahu kau akan memihak si Kusir Hantu!"

"Aku akan berada di pihak yang benar! Jika memang Kusir Hantu di pihak yang salah, tak mungkin aku akan memihaknya!" ujar Suto Sinting mempertegas sikap.

Kusir Hantu segera ajukan tanya, "Gurumu memang keparat! Sama dengan anaknya; si Hulubalang Iblis itu! Mereka membuka permusuhan lebih dulu dan pihakku hanya mempertahankan hak untuk tetap hidup. Pepatah mengatakan: 'Kuman di seberang lautan tampak, tapi gajah di pelupuk mata... mustahil!' Maksudnya...."

"Persetan dengan kumanmu!" sergah Paras Mendayu. "Kurasa yang perlu kau ketahui adalah nasib cucumu; si Pematang Hati! Kalau kau tak datang menghadap guruku sebelum malam tiba, maka cucumu itu akan menjadi bangkai pada esok harinya!"

"Keparat kau! Di mana...."

Weeeeess...! Paras Mendayu lekas sentakkan kaki ke tanah dan tubuhnya melesat menembus semak dan menerabas ilalang di seberangnya.

Kusir Hantu berseru dengan wajah tegang, "Hei...! Tunggu...!" ia segera bergegas mengejar Paras Mendayu. Tapi seruan Pendekar Mabuk membuat gerakannya tertahan kembali.

"Pak Tua... jangan gegabah!"

Kusir Hantu hempaskan napas kemarahannya, ia menoleh ke belakang, memandangi Pendekar Mabuk yang sedang melangkah mendekatinya. Sambil membuka bumbung tuaknya karena ingin meminum tuak, Pendekar Mabuk berkata kepada si Kusir Hantu,

"Jangan buru-buru mengejarnya, karena aku curiga ia punya jebakan halus yang sulit kita duga sebelumnya."

"Cucuku tertangkap dan sekarang berada di Tebing Hitam! Aku harus membebaskannya, Nak!"

"Itu langkah yang benar," sahut Suto Sinting. "Tapi yang perlu kita selidiki adalah kebenaran kabar itu sendiri. Jangan-jangan kau hanya akan dibuat bulan-bulanan oleh kabar seperti itu."

Kusir Hantu kembali hembuskan napas panjang dan berpikir beberapa saat sambil memandang ke arah kepergian si Paras Mendayu.

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya tiga teguk, setelah itu ajukan tanya kepada Kusir Hantu. "Pak Tua, siapakah orang-orang Tebing Hitam?"

* * *

ENAM

KUSIR HANTU ingin menjawab pertanyaan Suto, tapi niatnya tertahan oleh bunyi ledakan yang menggelegar dari arah timur. Suto Sinting paling penasaran jika mendengar suara ledakan seperti itu. Rasa ingin tahunya tumbuh dengan membara, sehingga tanpa pamit pada si Kusir Hantu, ia melesat ke arah timur dengan gerakan cepatnya. Kusir Hantu ikut-ikutan ingin tahu, maka ia pun menyusul gerakan Suto Sinting.

Cambuknya disentakkan dan cambuk panjang itu menjadi pendek kembali. Kemudian kedua kakinya naik sebatas dua jengkal. Dalam keadaan kedua telapak kaki tidak menyentuh tanah, Kusir Hantu melesat menyusul Suto Sinting seperti naik kereta berkuda. Cambuk itu dilecutkan bagai sedang memacu jalannya kuda.

Tar, tar, tar...! Weeess...! Kesaktian Kusir Hantu sungguh mencengangkan para tokoh berilmu sedang. Kecepatan geraknya hampir menyamai Suto Sinting. Dengan mengurangi sedikit gerakan, akhirnya Suto Sinting tersusul dan sejajar dengan Kusir Hantu. Mereka berhenti di sebuah lembah berhutan renggang. Karena di sanalah sumber suara ledakan tadi. Mereka mengintai dari balik pepohonan, mata mereka memandang pada suatu pertarungan yang telah membuat beberapa pohon sekitarnya tumbang dan daun-daun berguguran.

Pertarungan itu dilakukan oleh seorang nenek berjubah hijau melawan seorang wanita yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, berjubah kuning garis-garis merah. Wanita cantik yang berkesan judes itu bersenjata tongkat berkepala bunga, rambutnya disanggul sebagian dan sisanya meriap menutup punggung.

Wanita cantik itu tak lain adalah Nyai Sedap Malam, istri dari Ki Palang Renggo yang pernah menolong Suto Sinting saat terkena racun berbahaya itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pemburu Darah Satria"). Sedangkan nenek berambut putih dan berjubah hijau itu tak lain adalah Nyai Jurik Wetan, yang agaknya sudah berhasil mengatasi lukanya dalam waktu tergolong cukup singkat.

"Jurik Wetan mulai bikin ulah lagi!" gumam Kusir Hantu.

"Kau mengenalnya, Pak Tua?"

Kusir Hantu sunggingkan senyum tipis. "Jurik Wetan bukan saja orang yang kukenal, tapi lawan yang menjengkelkan. Dia termasuk orang yang nyawanya alot. Susah matinya! Pepatah mengatakan: 'Menggunting dalam lipatan', artinya... tukang jahit! Eh, artinya dia sering berlagak sebagai teman, tidak tahunya justru lawan yang berbahaya."

"Kau juga kenal dengan lawannya itu, Pak Tua?"

"Hmmm... Sedap Malam? Oh, jelas aku kenal dia." Kusir Hantu manggut-manggut sebentar, lalu teruskan kata sambil tetap memperhatikan dua perempuan yang bertarung itu. "Sedap Malam dulu anak buah si Cendana Sutera. Tapi sejak terpikat dengan seorang lelaki yang menjadi sahabatku juga; si Palang Renggo itu, ia keluar dari kekuasan Ratu Cendana Sutera dan masuk ke dalam aliran putih. Pepatah mengatakan...."

"Cukup, cukup...! Tak perlu pakai pepatah lagi," potong Suto Sinting, dan wajah Kusir Hantu tampak kecewa. Tapi Suto buru-buru menyambungnya, "Karena kelihatannya pertarungan itu semakin seru dan Sedap Malam terdesak sekali, Pak Tua."

"Hmmm... ya, tentu saja Sedap Malam terdesak, karena ilmunya tak sebanding dengan si Jurik Wetan. Ibarat murid melawan Guru, Sedap Malam pasti tumbang kalau tak ada yang membantunya. Pepatah mengatakan: 'Ketimun menghampiri durian', itu artinya ketimun nekat!"

Pendekar Mabuk sudah tidak hiraukan lagi kata-kata Kusir Hantu selanjutnya, sebab ia menjadi cemas saat Nyai Sedap Malam terbanting oleh pukulan tangan kiri Jurik Wetan yang keluarkan asap tipis itu. Pukulan tersebut kenai pinggang Nyai Sedap Malam dan dalam sekejap tubuh sekal Nyai Sedap Malam terlempar lima tombak jauhnya.

Nyai Jurik Wetan agaknya benar-benar ingin bunuh Nyai Sedap Malam, sehingga ia buru-buru melepaskan jurus mautnya. Seberkas sinar berbentuk bintang warna merah membara melesat dari punggung tangan kanannya yang disodokkan ke depan. Claaap...! Sinar merah berbentuk bintang itu melesat ke arah dada Nyai Sedap Malam.

Melihat keadaan itu, Suto Sinting cepat-cepat lepaskan pukulan 'Guntur Perkasa'-nya, berupa sinar hijau lurus yang mampu menembus sinar lawan. Claaap...! Sinar hijau dari tangan Suto Sinting itu mempunyai kecepatan lebih tinggi dari sinar merahnya Nyai Jurik Wetan. Maka ketika sinar merah berbentuk bintang itu berada di pertengahan jarak antara si Jurik Wetan dengan Nyai Sedap Malam, sinar hijau tersebut menghantam telak dan masih tersisa menembus hingga mengenai sebatang pohon di kejauhan sana.

Blaaarrr...! Ledakan cukup keras terjadi dan menimbulkan hentakan gelombang yang menyebar ke berbagai arah. Nyai Jurik Wetan terlempar akibat ledakan tersebut, sedangkan Nyai Sedap Malam terseret angin ledakan sejauh empat tombak ke belakang.

"Boleh juga jurus mautmu itu, Nak," ujar Kusir Hantu sambil manggut-manggut. "Kukenali jurus itu sebagai jurus mautnya si Bidadari Jalang."

"Beliau adalah bibi guruku, Pak Tua."

"Pantas, sebab Gila Tuak dan Bidadari Jalang termasuk satu perguruan, hanya beda guru. Maksudnya, gurunya Gila Tuak dan gurunya Bidadari Jalang itu suami-istri. Tapi mempunyai satu sumber kesaktian, yaitu kesaktian dari..." Kusir Hantu tidak berani lanjutkan ucapannya.

Suto Sinting memandangnya sebentar, dan Kusir Hantu cengar-cengir serta berkata, "Kalau kusebutkan guru mereka, kita akan disapu badai dahsyat, seolah-olah kiamat akan tiba. Langit bisa runtuh dan tanah bisa terbelah."

"Terima kasih atas kesediaanmu untuk tidak menyebutkan eyang guruku, Pak Tua," ujar Suto Sinting sambil sunggingkan senyum tipis, lalu cepat-cepat memandang ke arah pertarungan lagi.

Rupanya Nyai Jurik Wetan sudah bangkit kembali dan memandang ke arah Suto dan Kusir Hantu. Dari tempatnya berdiri nenek agak bungkuk itu berseru lantang, "Monyet kurap! Datang kemari jika ingin ikut ambil jatah kematianmu!"

Weeesss...! Kusir Hantu bergerak lebih dulu. Suto Sinting melihat si Kusir Hantu melesat sambil lecutkan cambuk pendeknya, seakan menunggang kereta berkuda semberani. Kecepatannya begitu tinggi hingga Nyai Jurik Wetan sempat terperanjat dan lompat ke kiri untuk menghindari terjangan si Kusir Hantu.

Sementara Nyai Jurik Wetan ditanggapi oleh si Kusir Hantu, Suto Sinting cepat-cepat bergerak ke arah Nyai Sedap Malam yang terluka dalam dan mengeluarkan darah dari hidung serta telinganya.

"Nyai, minumlah tuak ini!" sambil Suto sodorkan bumbung tuaknya. Perempuan berdada montok itu pun segera menenggak tuak, sehingga dalam waktu singkat kesehatannya pulih kembali.

"Untung kau datang pada saat nyawaku belum terlepas dari raga, Suto."

"Aku bersama si Kusir Hantu, Nyai."

"Oh, itu lebih kebetulan lagi, karena aku ada keperluan dengannya!" sambil berkata demikian, pandangan mata Nyai Sedap Malam terarah kepada Kusir Hantu yang sedang berhadapan dengan si Jurik Wetan. Kedua tokoh tua itu berada dalam jarak lima langkah.

Pendekar Mabuk bergegas mendekati Kusir Hantu. Tetapi lengannya segera dicekal oleh Nyai Sedap Malam. Perempuan itu segera berkata dalam suara rendah, "Biarkan Kusir Hantu yang hadapi mantan kekasihnya itu."

"Oh, jadi... jadi si Jurik Wetan itu bekas kekasih Kusir Hantu?!" Suto Sinting agak terkejut mendengar pernyataan tersebut.

Nyai Sedap Malam hanya anggukkan kepala dengan mulut terkatup bungkam. Dari tempat Suto berdiri, suara percakapan dua tokoh tua itu terdengar samar-samar. Nyai Jurik Wetan lebih dulu mempertinggi suaranya karena hatinya semakin dibakar kemarahan.

"Sudah kubilang berkali-kali, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, Kusir Hantu! Kau sudah menjadi milik Rahayu, dan aku menjadi milik Bagastirta. Sekalipun istrimu sudah modar dan suamiku sudah wafat, tapi kita tetap tidak punya hubungan masa lalu. Aku muak sekali padamu, Pujasera!"

"Siapa yang menginginkan dirimu, Nenek Peot?! Aku muncul di depanmu karena ingin menegur tindakan iblismu yang dari dulu sampai sekarang masih belum ada redanya, bahkan sikapmu semakin menyerupai biang setan!"

"Peduli apa kau dengan diriku, hah?!" bentak si Jurik Wetan. "Bahkan jika sekarang aku bisa membunuhmu maka aku akan mendapat kedudukan tinggi di Tebing Hitam!"

"Aku pun akan merasa bangga jika bisa melenyapkan ragamu, Jurik Wetan!"

"Keparat! Kalau begitu kita beradu kesaktian sampai salah satu ada yang modar!"

"Jika itu kehendakmu, terpaksa aku harus tega mencabut nyawamu, Sayang. Pepatah mengatakan: 'Besar pasak daripada gajah', artinya jangan sampai kau besar sesumbar dari kenyataan! Buktikan kesaktianmu yang dari dulu selalu kau gembar-gemborkan di depanku itu, Manis!"

"Tutup mulutmu, Monyet Bangkotan! Heeeaaah...!" Weers...! Nyai Jurik Wetan menerjang Kusir Hantu.

Terjangan begitu cepat sengaja tidak ditangkis dan dihindari oleh Kusir Hantu, sebab ia mengandalkan ilmu 'Timbal Rasa'-nya. Kusir Hantu pun terpental bagaikan sehelai daun tua yang terlempar begitu saja. Tetapi Pendekar Mabuk yang berdiri di samping Nyai Sedap Malam menjadi cemas sejak melihat Kusir Hantu keluarkan darah dari hidungnya. Bahkan Pak. Tua itu terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak darah dari mulutnya. Ketika ia berdiri, ia pun sempoyongan bagai orang mabuk ingin tumbang.

"Celaka!" gumam Nyai Sedap Malam. "Kusir Hantu gagal pergunakan ilmu 'Timbal Rasa'-nya!"

"Benarkah begitu, Nyai?!" tanya Suto Sinting semakin cemas.

"Kalau dia tidak gagal, maka dia tidak akan berdarah. Agaknya si Jurik Wetan sudah menemukan rahasia kelemahan jurus 'Timbal Rasa'nya si Kusir Hantu."

"Gawat!" gumam Suto Sinting dengan suara mendesah tegang.

Kusir Hantu sendiri membatin, "Celaka kalau begini! Dia bisa gagalkan ilmu 'Timbal Rasa'-ku. Rupanya selama ini ia memang pelajari jurus baru yang dapat untuk menembus lapisan gaibku! Aku harus hati-hati melawannya!"

Nyai Jurik Wetan berseru, "Maju kau, Kecoa Peot! Kulumpuhkan seluruh kesaktianmu hari ini juga!"

Kusir Hantu selesai menarik napas, pertanda selesai menyalurkan hawa saktinya untuk menutup luka dalamnya. Tapi wajahnya masih tampak pucat dan gerakannya sedikit limbung, ia berdiri dengan kaki sedikit merenggang dan cambuk sudah sejak tadi terselip di pinggangnya. Nyai Jurik Wetan melangkah ke samping dalam jalur lingkar, seakan ingin mengelilingi Kusir Hantu.

Tiba-tiba Kusir Hantu menjentikkan jarinya seperti memanggil ayam. Klikkk...! Nyai Jurik Wetan terpelanting, bagai ada yang menyampar kakinya. Brruuk...! Nenek tua itu jatuh telentang. Namun dalam satu sentakan pinggul, tubuhnya melayang dan berdiri tegak kembali. Wuuut, jleeg...!

"Rupanya kau membela si Sedap Malam karena kau ingin merebutnya dari pelukan si Palang Renggo!" ujar Nyai Jurik Wetan.

"Jaga mulut kotormu itu, Perempuan Jalang! Kalau sampai Sedap Malam mendengarnya dan dia kasmaran padaku, aku tak berani bertanggung jawab. Sebab kemampuanku sudah tak ada, 'kerisku' sudah karatan!"

"Hik, hik, hik, hik...! Kalau begitu kau pantas dikirim ke neraka saja, Pujasera! Hiaaah...!" Tiba-tiba tangan kanan Nyai Jurik Wetan menyentak bagai menebarkan sesuatu ke arah depan. Dari tangan itu melesat sinar merah berbentuk bintang, namun kali ini berasap merah pula yang membuat sinar itu seperti berekor panjang. Claaap, weeess...!

Kusir Hantu cepat-cepat cabut cambuk pendeknya. Cambuk dilecutkan dan menjadi panjang. Ujung cambuk itu berkelebat menyabet sinar merah tersebut. Taaar...!

Jegaaarrr...! Ledakan terjadi dengan dahsyat, membuat alam sekeliling mereka menjadi seperti kiamat. Bumi berguncang hebat dan pohon-pohon tumbang di sana-sini. Tanah terbelah di beberapa tempat, bahkan ada yang longsor ke dalam dan membentuk lubang besar.

Keadaan alam yang mengerikan itu pun membuat Suto Sinting dan Nyai Sedap Malam sama-sama terlempar. Tanpa sadar mereka saling berpelukan dan berguling-guling di tanah. Bumbung tuak terlepas dari genggaman Suto Sinting. Jika kaki Nyai Sedap Malam tidak mengait pada sebatang akar pohon yang mencuat dari dalam tanah, mungkin mereka akan terguling-guling sampai di tempat jauh.

Begitu keadaan alam menjadi tenang kembali, Suto Sinting segera bangkit. Pertama-tama yang dicari adalah bumbung tuaknya. Zlaaap...! Ia melesat menyambar bumbung tuaknya. Teeeb...! Kini hatinya lega karena tangannya telah menggenggam bumbung sakti tersebut.

Nyai Sedap Malam merasakan sakit pada pinggangnya yang terantuk batu sebesar kepala bayi. Tulang rusuknya terasa ngilu sekali, ia sempat berdiri sambil menyeringai memegangi pinggang, namun matanya segera memandang ke arah Nyai Jurik Wetan dan Kusir Hantu setelah lebih dulu ia melihat Pendekar Mabuk dalam keadaan sehat.

Gelombang ledakan itu menyebarkan udara panas dalam sekejap. Nyai Jurik Wetan terlempar oleh hembusan angin panas tersebut, ia terpuruk di bawah pohon yang tak sempat tumbang. Wajahnya menjadi merah kebiruan, rambutnya yang putih sempat terbakar sebagian, kain jubahnya pun koyak-koyak nyaris seperti gelandangan. Agaknya perempuan tua itu mengalami luka dalam yang cukup parah, sehingga dari sudut matanya tampak beberapa tetes darah yang sedang meleleh ke pipi.

Kusir Hantu terkapar bersandar pada batang pohon yang tumbang. Tubuhnya tak bergerak untuk beberapa saat. Cambuknya masih ada dalam genggaman yang merenggang. Namun napasnya terlihat melemah dan suara erangannya terdengar samar-samar sekali. Pendekar Mabuk buru-buru menghampiri Pak Tua tersebut.

Zlaaap...! Dalam sekejap Pendekar Mabuk sudah tiba di samping Kusir Hantu, kemudian memberinya minum tuak. Berkat tuak sakti si Pendekar Mabuk itulah, maka Kusir Hantu dapat terhindar dari bahaya luka dalam yang cukup parah, ia tampak segar kembali setelah beberapa saat bangkit dan duduk di batang pohon yang tumbang itu. Ia memperhatikan si Jurik Wetan yang sedang berusaha berdiri dengan susah payah.'

"Ilmunya memang bertambah, tapi lukanya juga bertambah," ujar Kusir Hantu.

"Apakah kau akan teruskan pertarungan ini, Pak Tua?"

"Ah, capek! Biar saja dia pergi. Nanti kalau ada waktu dilanjutkan lagi," jawab Kusir Hantu dengan seenaknya saja.

Nyai Jurik Wetan mulai tegak setelah menarik napas beberapa kali dan mengerahkan tenaga intinya untuk menutup luka. Tapi ia masih tampak menyimpan kecemasan. Hanya saja ia paksakan diri untuk berseru lontarkan ancaman kepada mantan kekasihnya. "Sembuhkah dulu lukamu, Kusir Hantu. Kelak aku datang sebagai el maut yang siap mencabut nyawamu!"

Weeess...! Nyai Jurik Wetan melesat pergi tinggalkan tempat. Kusir Hantu hanya geleng-geleng kepala dengan kesan meremehkan si Jurik Wetan. Ia dan Suto segera menghampiri Nyai Sedap Malam yang kala itu ingin mengejar Nyai Jurik Wetan namun segera tertahan oleh seruan Kusir Hantu,

"Tahan...!"

Nyai Sedap Malam memandang kehadiran Suto Sinting dan Kusir Hantu, ia terpaksa membiarkan lawannya larikan diri walau hati masih merasa pertarungannya belum selesai melawan si Jurik Wetan.

"Sedap Malam, mengapa kau sampai terlibat perkara dengan si Jurik Wetan?" tanya Kusir Hantu sambil memandang ke arah kepergian si Jurik Wetan.

"Aku menghalangi orang Tebing Hitam yang mengejar-ngejar cucumu; si Pematang Hati."

"Pematang Hati...?! Cucuku dikejar-kejar orang Tebing Hitam?!" Kusir Hantu mulai tampak gusar.

"Tapi aku sempat melukai dua orang itu. Cucumu lari terus, sementara Jurik Wetan muncul memihak orang Tebing Hitam. Akhirnya, kedua orang Tebing Hitam itu mengejar cucumu kembali dalam keadaan menderita luka dalam karena pukulanku, sementara aku berhadapan dengan Jurik Wetan."

"Keparat!" geram Kusir Hantu menampakkan kemarahannya.

"Kurasa cucumu bisa loloskan diri. Aku yakin dua orang Tebing Hitam itu tak akan mampu menangkap cucumu, sebab luka mereka akan membuat tenaganya terkuras habis jika dipakai untuk mengejar Pematang Hati."

"Kalau begitu kabar tentang Pematang Hati tertangkap dan tertawan di Tebing Hitam itu hanya sebuah tipu muslihat saja, Pak Tua," ujar Suto Sinting.

Kata-kata itu membuat Kusir Hantu merenung dan manggut-manggut. Sebentar kemudian ia menatap Nyai Sedap Malam dan berkata, "Terima kasih atas tindakanmu itu, Sedap Malam. Hanya saja, aku ingin tahu ke mana larinya cucuku itu? Barangkali aku perlu menyusulnya."

"Kulihat ia lari ke arah utara."

"Aku harus segera ke sana! Aku khawatir Pematang Hati temukan rintangan lain."

"Silakan saja kalau itu maumu, Kusir Hantu. Aku harus segera pulang, mengabarkan kematian Resi Bisma, sahabat suamiku itu."

"Sampaikan salamku kepada Palang Renggo. Dan kau, Nak...," katanya kepada Suto Sinting. "Apakah kau ingin ikut denganku?"

"Tidak. Aku harus ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban. Ada orang yang perlu kutolong secepatnya, Pak Tua. Kapan-kapan kita bertemu lagi!"

"Kau ingin ke Gunung Purwa? Oh, kalau begitu satu arah denganku. Mengapa tidak bersama-sama saja?"

"O, iya... benar juga. Aku memang harus menuju ke utara, tapi barangkali kita nanti bersimpang jalan, Pak Tua."

"Kurasa tak ada masalah. Jika memang aku sudah bertemu dengan cucuku sebelum kita berpisah, mungkin aku juga akan mengajak cucuku ke Gunung Purwa. Aku punya sahabat di sana; Ratu Cumbutari. Akan kuperkenalkan cucuku kepadanya dan...."

"Aku memang mau bertemu dengan Ratu Cumbutari!" potong Suto dengan semangat. Maka bergegaslah mereka pergi ke arah utara, sementara Nyai Sedap Malam ke arah selatan.

* * *

TUJUH

MATAHARI mulai turun ke barat. Tetapi sang matahari masih bisa melihat gerakan kecil yang lincah sedang menyusuri kaki bukit tak bernama. Langkah lincah itu berlari menyelinap dari pohon ke pohon, menerabas semak ke semak, seakan ia takut oleh bayangan yang mengejarnya.

Langkah kecil yang lincah itu adalah milik seorang gadis cantik berusia dua puluh dua tahun, berbaju hijau garis-garis benang emas di depan. Baju tanpa lengan itu berpundak kaku hingga kelihatan pundak sang gadis tegak dan rata. Panjang baju itu hanya sampai di atas pusar, sehingga kulit perut dan pusarnya yang berwarna kuning langsat itu terlihat mulus menggoda iman lelaki. Dengan celananya yang ketat sebatas betis berwarna hijau bergaris emas di bagian samping, gadis itu bagaikan senantiasa memamerkan keelokan tubuhnya yang sekal dan berdada indah.

Ia mengenakan kalung tali hitam ketat dengan bandul perak berukir dengan hiasan tiga batu merah kecil-kecil. Sepasang antingnya pun berwarna merah delima kecil. Tangan kanannya mengenakan gelang emas berukir bentuk ular melingkar. Sebuah pedang terselip di pinggangnya yang bersabuk hitam berhias manik-manik putih seperti intan. Sarung pedangnya terbuat dari perak ukir, demikian pula gagang pedangnya.

Gadis yang berpenampilan tengil namun penuh daya tarik itu tak lain adalah Pematang Hati, cucu Kusir Hantu yang hanya tinggal mempunyai satu saudara, yaitu seorang kakak bernama Mahligai Sukma. Gadis itu pernah nyaris mati terkena uap racun milik Bunga Ranjang, namun berhasil diselamatkan Suto dengan tuak saktinya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

Pematang Hati menyangka masih dikejar dua orang Tebing Hitam, karenanya ia berlari terus sambil sesekali menengok ke belakang, ia tidak tahu bahwa dua orang Tebing Hitam itu telah berhenti dan tak sanggup lagi mengejarnya karena luka yang mereka derita dari pukulan Nyai Sedap Malam membuat mereka semakin lumpuh. Tenaga mereka terkuras habis, sampai akhirnya mereka tak mampu berdiri dan menunggu ajal entah sampai kapan. Salah seorang nekat mengerahkan tenaga untuk berguling-guling dan lompat ke jurang, bunuh diri.

Seorang lagi masih bertahan menunggu kemujuran, terkapar di semak-semak dengan harapan akan datang bantuan dari pihak mana pun. Rupanya harapan orang tersebut nyaris terkabul. Ada orang lain yang melintasi tempat itu dan mendengar rintihan kecilnya. Orang yang melintasi semak-semak itu tak lain adalah Paras Mendayu yang ingin kembali ke Tebing Hitam setelah memancing Kusir Hantu dengan berita palsunya itu. Paras Mendayu hentikan langkah dan perhatikan orang yang merintih di masa sekarat itu. Ia terperanjat melihat orang tersebut adalah kawannya sendiri.

"Subogo...?!" sentak Paras Mendayu dengan kaget.

Orang yang di ambang sekarat itu ternyata bernama Subogo. Ia berusaha membuka matanya sedikit dan segera mengenali wajah Paras Mendayu dalam bayang-bayang keremangan pandang. Maka, Subogo segera berusaha untuk bicara walau hal itu dilakukan dengan sangat susah payah.

"Tool... toool... tolong ak... aku...."

"Subogo, apa yang terjadi sebenarnya?!"

"Pe... Pematang Ha.... Hari, eh.... Hati, laaa... lari kke... ke utara. Aak... aku terlu... ka..."

Dalam hati Paras Mendayu berkata, "Pematang Hati lari ke utara?! Oh, kalau begitu aku harus segera mengejar dan menangkapnya. Sebaiknya gadis itu kutangkap dan kuserahkan kepada Guru tanpa mengikutsertakan Subogo. Dengan begitu aku akan mendapat penghargaan tinggi dari Guru, karena berhasil menangkap gadis itu tanpa bantuan Subogo atau yang lain!"

Saat itu, Subogo masih terus berucap kata tersendat-sendat dan lirih sekali. "Tolong akk... akku.... Paras Menn.... Mendadak, eh.... Mendaaayu.... Tolonglah.... aakku...."

"Maaf, Subogo. Keadaanmu sangat tidak memungkinkan untuk hidup lagi. Sebaiknya kusempurnakan saja penderitaanmu!" Claaap...! Seberkas sinar hijau dari telunjuk Paras Mendayu melesat menghantam dada Subogo.

"Heeekhh...!" Subogo mendelik dan mengejang dengan mulut ternganga ketika sinar hijau itu menembus dadanya dan dada pun menjadi bolong hangus. Kejap berikutnya, Subogo menghembuskan napas yang penghabisan. Paras Mendayu tersenyum lega sesaat, lalu segera melesat ke arah utara dengan kecepatan tinggi. Weeess...!

Pematang Hati tak tahu kalau pengejarnya sudah berganti rupa. Karena itu ia terkejut ketika tahu-tahu langkahnya harus dihentikan sebab terhadang oleh kemunculan Paras Mendayu yang sudah dikenalnya sebagai orang Tebing Hitam. Pematang Hati menjadi tegang, sebab ia pun tahu bahwa Paras Mendayu berilmu lebih tinggi dari para pengejarnya. Gadis itu buru-buru mencabut pedangnya, berusaha memberikan perlawanan walau hatinya sudah ciut lebih dulu.

Paras Mendayu hanya sunggingkan senyum ketika melihat Pematang Hati mencabut pedang. Senyum sinis itu dibarengi oleh ucapan bernada ketus dan sangat tidak bersahabat. "Untuk apa pedang itu? Menggorok batang lehermu sendiri?! Hmmm..., sebaiknya buang saja pedangmu itu, Pematang Hati. Menurutlah apa kata perintahku, dan kau kubawa ke Tebing Hitam tanpa luka sedikit pun. Itu lebih menguntungkan nyawamu, ketimbang kau pergunakan pedang itu yang akan menggorok batang lehermu sendiri. Buanglah pedang itu sekarang juga, Pematang Hati!"

"Majulah jika kau ingin melihat kehebatan pedangku ini, Paras Mendayu! Aku tak sudi kau bawa ke Tebing Hitam. Lebih baik mati di sini ketimbang harus berhadapan dengan orang-orangmu!"

"Dasar gadis bodoh!" geram Paras Mendayu, lalu ia hentakkan kakinya ke tanah. Duuuhk...! Weeesss...! Gelombang tenaga dalam keluar dari kakinya, menghempas ke depan, menghantam tubuh Pematang Hati dengan kuat.

Wuuut...! Bruuus...! Pematang Hati terlempar dan jatuh ke semak-semak. Gelombang tenaga dalam itu sangat kuat, hingga membuat pedang di tangan Pematang Hati terpental jatuh dari pemiliknya. Napas gadis itu bagaikan tersumbat gumpalan darah sehingga sulit dihela. Pematang Hati mencoba untuk menarik napas dengan berat dan rasa sakit menghujam bagian dadanya, ia mencoba pula untuk bangkit dan hadapi lawannya kembali.

Namun tiba-tiba Paras Mendayu menerjangnya dengan satu lompatan kilat. Wuuuss...! Dua jari tangan kanannya segera menotok bagian bawah leher Pematang Hati. Deess...! Pematang Hati sibuk menangkis pukulan tangan kiri lawan tanpa hiraukan bahwa tangan kanan lawan akan menotoknya.

Akhirnya Pematang Hati jatuh terkulai bagai tak bertulang dan tak berotot lagi. Totokan itu membuatnya lumpuh dan lemas tanpa daya sedikit pun. Paras Mendayu tertawa kegirangan, kemudian menyambar tubuh lunglai itu, memanggulnya di pundak dan membawanya lari ke Tebing Hitam. Weeesss...!

Beberapa saat setelah Paras Mendayu berhasil membawa lari Pematang Hati, dua sosok lelaki beda usia tiba di tempat itu; Kusir Hantu dan Suto Sinting. Keduanya sama-sama berhenti setelah Kusir Hantu berseru, "Tunggu! Ada sesuatu yang mencurigakan hatiku, Nak!"

"Apa maksudmu, Pak Tua?"

Kusir Hantu berbalik arah, ia melangkah dengan jalan kaki. Cambuknya yang sepanjang perjalanan dilecutkan bagai mempercepat lajunya kuda gaib itu kini dilipat dan diselipkan di pinggang. Pendekar Mabuk terpaksa ikut berbalik arah dengan berjalan kaki biasa. Mereka berhenti setelah Kusir Hantu melihat sebilah pedang bergagang perak berukir tergeletak di antara akar pohon.

"Ini pedang milik cucuku!" ujarnya setelah memungut pedang itu dan mengamatinya.

"Maksudmu, pedang itu milik Pematang Hati?"

"Tak salah lagi. Aku sangat mengenali senjata cucu-cucuku. Pepatah mengatakan: 'Air beriak tanda tak sehat.'"

"Apa artinya?"

"Entahlah. Itu tak penting. Yang terpenting adalah di mana si Manis Pematang Hati, cucuku itu?!"

Mereka memandang sekeliling dalam berapa saat, kemudian Pendekar Mabuk kemukakan gagasannya yang tumbuh dari kecemasan hati.

"Jangan-jangan ia tertangkap orang Tebing Hitam yang mengejarnya itu?"

"Hmmm...," Kusir Hantu berpikir sejenak. Kemudian segera berkata, "Rasa-rasanya pengejarnya itu tak akan mampu menangkap cucuku. Sedap Malam tak pernah meleset dalam ucapannya. Pengejar cucuku itu pasti benar-benar kehabisan tenaga karena menderita pukulan Sedap Malam. Tapi...."

"Pak Tua, tiba-tiba firasatku mengatakan, cucumu dalam bahaya!"

"Firasatku pun demikian, Nak. Kita beda keturunan tapi mengapa satu firasat, ya?! Padahal pepatah mengatakan: 'Rambut boleh sama hitam tapi bisul belum tentu sama besarnya'. Hmm... sebaiknya ular pedang ini yang menunjukkan di mana Pematang Hati berada."

Pendekar Mabuk tak jelas maksud Kusir Hantu soal pedang itu. Karenanya ia berkerut dahi dan ingin ajukan tanya. Namun niatnya itu tertunda karena suatu hal yang dilakukan oleh si Kusir Hantu. Pedang itu disangga dengan tangan kiri, kemudian telapak tangan kanan Kusir Hantu terbuka dan bergetar-getar di atas pedang tersebut.

Claaap...! Ada sinar biru kecil sekali sebesar merica melesat dari telapak tangan yang bergetar itu. Sinar biru tersebut menembus gagang pedang. Blees...! Gagang pedang pun menjadi menyala biru pijar. Kemudian tangan yang menyangga melepaskannya. Pedang tersebut mengambang di udara. Kusir Hantu segera berkata,

"Gaibku, bawalah kami ke tempat cucuku berada sekarang juga! Jalan!"

Weesss...! Pedang itu pun melesat terbang ke arah tertentu. Kusir Hantu segera keluarkan cambuknya dan melecutkannya. Taaar...! Kedua kakinya naik, tak berpijak tanah, lalu tubuhnya melesat dalam keadaan tetap berdiri memegangi cambuk bagaikan menunggang kereta berkuda gaib.

"Ikuti pedang itu, Nak!" serunya sebelum melesat pergi.

Pendekar Mabuk sempat tertegun sesaat karena terheran-heran melihat kesaktian si Kusir Hantu. Namun segera sadar dirinya akan tertinggal, maka Pendekar Mabuk pun cepat-cepat gunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya untuk mengikuti perjalanan pedang tersebut. Zlaaap...!

Pedang Pematang Hati menjadi pemandu arah. Gerakan terbangnya semakin cepat, sehingga Kusir Hantu dan Pendekar Mabuk pun mempercepat pelariannya. Mereka melintasi punggung bukit tak bernama, menuruni lereng dan menyusuri tepian hutan, sesuai arah yang dituju pedang terbang itu.

"Dugaanmu benar," seru Kusir Hantu kepada Suto Sinting yang sejajar dengannya. "Kita dibawa ke arah Tebing Hitam! Sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan wilayah Tebing Hitam!"

"Kau belum jelaskan siapa orang-orang Tebing Hitam itu, Pak Tua!"

"Nanti akan kujelaskan!"

"Sekarang saja, Pak Tua!" seru Suto. Mereka memang terpaksa berseru untuk imbangi deru angin yang mereka tembus dalam kecepatan tinggi itu.

"Baiklah kalau kau tak sabar, Nak. Tebing Hitam adalah wilayah kekuasaan Nyai Garang Sayu. Dia adalah ibu dari si Hulubalang Iblis. Di samping itu, Nyai Garang Sayu adalah kakak dari si Jurik Wetan, bekas kekasihku yang murtad dari cintanya. Pepatah mengatakan: 'Asam digunung garam di dapur, bertemu dalam pertarungan'. Begitulah cinta kami kala itu. Jurik Wetan terpikat oleh lawannya sendiri; Bagastirta. Ia melupakan diriku dan minggat bersama Bagastirta. Aku tak berhasil mencarinya. Ketika kutemukan, mereka sudah kawin dan beranak satu. Aku terpaksa...."

"Yang kutanyakan tentang Tebing Hitam saja, Pak Tua!" potong Suto Sinting dengan menahan kedongkolan.

"O, iya! Maaf, kupikir kau butuh penjelasan tentang percintaan masa mudaku," Kusir Hantu nyengir malu.

"Lalu apa yang dilakukan Hulubalang Iblis dan ibunya di Tebing Hitam itu?"

"Menghimpun suatu kekuatan untuk kuasai rimba persilatan! Nyai Garang Sayu menurunkan ilmu kepada para pengikutnya. Mereka disumpah untuk mati demi Tebing Hitam. Pada umumnya yang diturunkan oleh Nyai Garang Sayu adalah ilmu-ilmu hitam dan kekuatan-kekuatan gaib yang berbahaya. Dan... oh, ya... kusarankan padamu, Nak... jika suatu saat kau bertemu dengan Nyai Garang Sayu lebih baik pulang atau bersembunyi saja."

"Apa sebabnya?" sergah Suto Sinting.

"Sebab...," kata-kata Kusir Hantu terhenti, karena pedang terbang itu ternyata telah membawa mereka mendekati sesosok bayangan yang berlari dalam keadaan memanggul seseorang. Kusir Hantu mengenali siapa yang dipanggul dan siapa yang memanggul.

"Hei, lihat... itu si Paras Mendayu. Dan yang dipanggul, di pundaknya itu tak lain adalah cucuku; si Manis Pematang Hati!"

"Pandanganmu benar, Pak Tua! Aku akan memotong jalan dan menghadangnya dari samping kanan!"

Zlaaap...! Suto Sinting mempertinggi tenaganya hingga kecepatan larinya pun lebih tinggi pula. Ia sengaja menyimpang jalan, memutari lembah untuk menghadang Paras Mendayu. Mereka tak sadar bahwa saat itu mereka sudah berada di wilayah Tebing Hitam.

Wuuut, zeeeb...!

Pendekar Mabuk tiba di depan langkah Paras Mendayu. Gadis itu hentikan langkah dengan wajah tegang begitu melihat pemuda tampan yang pernah diserangnya dengan jurus 'Jalasuma' telah berdiri didepan langkahnya. Paras Mendayu berpikir cepat, lalu membelok arah untuk hindari pertemuan dengan pemuda tampan bermata bening itu. Tetapi ia tak tahu bahwa Kusir Hantu sedang mendekati dari arah belakangnya. Cambuk si Kusir Hantu disentakkan dan berubah menjadi panjang, lalu cambuk itu dilecutkan dari samping. Wuuut, taaar...! Ujung cambuk menjerat kaki kiri Paras Mendayu. Seert...!

Brrruk...! Paras Mendayu jatuh tersungkur begitu cambuk ditarik dalam satu sentakan kuat oleh si Kusir Hantu. Tubuh yang dipanggulnya terlempar ke depan dan jatuh terkulai tanpa gerakan.

Zlaaap...! Weesss...!

Suto Sinting segera menyambar tubuh Pematang Hati, sementara Kusir Hantu segera menendang gagang pedang yang menyala biru pijar itu. Dees...! Pedang meluncur melebihi kecepatan anak panah. Weess...!

Paras Mendayu segera bangkit setelah menyadari ia terkurung bahaya. Namun baru saja separuh berdiri, tiba-tiba punggungnya dihujam pedang terbang tanpa ampun lagi. Jruuub...!

"Aaaakh...!" Asap mengepul dari luka hujaman pedang. Luka itu menjadi hitam hangus tanpa darah setetes pun. Bukan keampuhan pedang yang membuatnya begitu, melainkan karena kekuatan tenaga dalam si Kusir Hantu yang menjadikan pedang bagai berkekuatan bakar sangat tinggi.

Rupanya Paras Mendayu bukan gadis yang mudah menyerah, ia kerahkan tenaganya untuk tetap berdiri walau dengan wajah memerah menahan penderitaan. Namun sebelum ia berbalik ke arah Kusir Hantu, Pak Tua itu lebih dulu bergerak menyambar pedang tersebut. Weess...! Sleeb...! Pedang itu dicabut dari punggung Paras Mendayu. Luka bakar tampak bergerak melebar sedikit demi sedikit. Tubuh Paras Mendayu bergetar, ia ingin ucapkan kata namun ternyata telah kehilangan kemampuannya untuk bicara.

"Kau tak akan selamat, Paras Mendayu! Itulah akibatnya jika kau mengganggu cucuku!" ujar Kusir Hantu dengan pandangan mata yang tajam.

Agaknya dalam benak Paras Mendayu mempunyai pertimbangan tersendiri, ia masih bisa gunakan otaknya untuk memikirkan langkah yang terbaik. Sebab itulah ia segera memanfaatkan tenaganya yang penghabisan untuk melarikan diri meninggalkan mereka. Weess...!

"Benar-benar kuat gadis itu!" gumam Kusir Hantu sambil gelengkan kepala pandangi pelarian Paras Mendayu.

Rupanya sejak tadi Suto Sinting telah ambil tindakan cepat, ia tahu bahwa Pematang Hati tertotok jalan darahnya, dan totokan itu pun segera dilepaskan dengan sebuah sentilan pelan di tengkuk si gadis. Pematang Hati sadar, lalu terkejut melihat Suto Sinting sudah ada di depan hidungnya.

"Sutooo...?!" Tangan si gadis ingin merangkul, namun Suto Sinting menangkapnya dan berkata dalam senyum, "Kau kehilangan kekuatan, Pematang Hati. Minumlah tuakku untuk pulihkan kekuatanmu!"

Maka ketika Paras Mendayu melarikan diri, Pematang Hati segera berseru kepada kakeknya, "Kakek, dia melarikan diri!" sambil bergegas hampiri sang kakek.

"Biar saja. Dia pasti mengadu kepada Nyai Garang Sayu. Biarkan saja. Cucuku! Biar Nyai Garang Sayu tahu bahwa kita bukan orang lemah yang mudah ditundukkan!"

"Bagaimana jika Nyai Garang Sayu mengamuk dan menuntut balas pada kita?!"

"Mengapa takut, Cucuku?! Pendekar Mabuk ada di pihak kita!" sambil Kusir Hantu melirik Suto. Kusir Hantu tambahkan kata, "Bagaimanapun juga. Pendekar Mabuk pasti akan melindungimu, sebab ia menaruh hati padamu secara diam-diam. Bukankah begitu, Nak?"

Suto Sinting sempat gelagapan dan tak mengerti harus berkata apa kepada Kusir Hantu dan cucunya yang tengil itu.

* * *

DELAPAN

SEBETULNYA Suto Sinting ingin bergegas ke Gunung Purwa untuk mengambil air Sendang Ketuban. Tetapi perhatiannya lebih tertarik pada percakapan Kusir Hantu dan cucunya, hingga langkah Suto menjadi tertahan untuk sementara waktu.

"Aku pergi bukan mencari Pendekar Mabuk, Kek. Aku mencari adikku; Mahligai Sukma. Sebab kudengar kabar dari seorang teman, Mahligai Sukma sedang diburu-buru oleh orang-orangnya Hulubalang Iblis. Kudengar Mahligai lari ke arah timur, dan aku mengejarnya. Tapi tahu-tahu dua orang Tebing Hitam menghadangku. Mereka juga ingin membunuhku, Kek."

"Rupanya orang Tebing Hitam menghendaki kematian kita," gumam si Kusir Hantu sambil merenung serius. "Ini berarti kita harus berhadapan dengan Nyai Garang Sayu. Kita akan berperang melawan kekuatan sebesar itu. Kita hanya bertiga, dan... oh, ya... lalu kau tak berhasil bertemu dengan adikmu?"

"Tidak, Kek! Aku khawatir Mahligai Sukma telah lebih dulu tertangkap dan entah bagaimana nasibnya di tangan Nyai Garang Sayu!" wajah Pematang Hati tampak membendung duka.

"Apa yang membuat mereka memusuhi keluargamu, Pak Tua?!" tanya Suto Sinting yang merasa iba hati.

"Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, apa pun alasan mereka kami harus menghadapi kekuatan mereka. Jika kau ingin membantuku, aku sangat berterima kasih. Tapi jika tidak, aku pun akan berterima kasih karena kau telah membantu melepaskan Pematang Hati dari ancaman maut tadi."

Pendekar Mabuk tarik napas dalam-dalam, berpikir sejenak sambil memandang matahari yang kian condong ke barat. Kemudian berkata kepada Kusir Hantu dengan suara tegas. "Aku harus mencari air Sendang Ketuban di negeri Wilwatikta. Ada seseorang yang perlu kuselamatkan nyawanya dengan air itu. Bagaimana kalau masalahmu ini kita tangani setelah aku pulang dari Wilwatikta?"

"Aku tak ingin kehilangan cucuku yang satu itu; Mahligai Sukma! Jika kau memang punya kepentingan lain, aku dan Pematang Hati akan menyerang Tebing Hitam hanya berdua saja! Pepatah mengatakan: 'Rawe-rawe rantas malang-malang pulung', artinya maju terus pantang mundur, kecuali kepepet!"

Suto tersenyum sumbang karena hatinya menyimpan kegelisahan. Kusir Hantu bertekad berangkat saat itu juga ke Tebing Hitam untuk bebaskan Mahligai Sukma, adik Pematang Hati. Saat itu pula Suto Sinting diliputi oleh kebimbangan yang meresahkan, antara ikut ke Tebing Hitam atau pergi ke Wilwatikta yang ada di Gunung Purwa.

Namun akhirnya mereka tak jadi bergerak karena melihat kedatangan seberkas cahaya yang menyerupai bintang jatuh dari langit. Gumpalan cahaya itu berwarna merah berasap hingga mirip ekor memanjang. Cahaya tersebut jatuh di depan mereka dalam jarak delapan langkah.

Buuusss...! Asap tebal mengepul tinggi, lalu lenyap disapu angin sore hari. Lenyapnya asap itu membuat mata mereka dapat melihat seraut wajah cantik berdiri dengan mata sayu dan bibir mekar menggoda gairah.

Seorang perempuan berdiri di depan mereka, mengenakan pakaian tipis tembus pandang warna abu-abu, rambutnya lebat terurai lepas, mengenakan mahkota kecil berhias batuan permata putih. Cahaya matahari yang datang dari arah belakangnya membuat bayangan tubuhnya yang elok tampak samar-samar dalam bungkusan kain abu-abu tipis itu. Dadanya pun terlihat menonjol ke depan dengan kencang dan padat. Bahkan perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tampak tidak mengenakan pelapis apa pun kecuali hanya jubah abu-abu dengan dua kancing di bagian perutnya.

"Siapa dia, Pak Tua?" bisik Suto Sinting.

"Dia yang tadi namanya kusebut-sebut: Nyai Garang Sayu."

"Luar biasa sekali!" gumam Suto Sinting bagai tak sadar, matanya sukar berkedip.

"Itulah sebabnya tadi kusarankan kau pergi saja jika bertemu dengannya, sebab dia punya kecantikan yang memancarkan daya pikat luar biasa bagi lelaki muda sepertimu. Dan ia paling gemar menggaet hati pemuda tampan bertubuh kekar sepertimu."

"Taa... tapi dia adalah Ibu dari Hulubalang Iblis? Betulkah begitu, Pak Tua?!"

"Benar. Tentunya kau heran melihatnya masih semuda itu. Ketahuilah, ia berusia lebih tua dariku. Ia sebaya dengan kakakku; si Tua Bangka itu."

"Tutup matamu, Suto!" ujar Pematang Hati ketika Nyai Garang Sayu mendekati mereka.

Suto hanya berkata, "Aku lupa cara menutup mata!"

"Hmmm, dasar mata keranjang!" geram Pematang Hati dengan mencibir ketus.

Terdengar suara Nyai Garang Sayu yang bernada serak-serak menggairahkan itu. "Kau benar-benar memaksaku turun tangan, Kusir Hantu!"

Kusir Hantu tetap tenang dan sunggingkan senyum yang mirip seringai kuda. "Kau mengawali permusuhan ini, Garang Sayu! Orang-orangmu memburu cucu-cucuku, dan itu berarti kau menantangku, Garang Sayu."

"Memang aku ingin membantaimu dan kedua cucumu, karena kalian telah lakukan penghinaan dengan menolak lamaran putraku; si Hulubalang Iblis! Penolakan itu adalah penghinaan besar. Lebih besar lagi setelah putraku kau lukai. Kabarnya si Pendekar Mabuk pun ikut andil dalam penghinaan itu! Maka si Pendekar Mabuk pun harus ikut lenyap dari permukaan bumi!"

Suto Sinting menyahut, "Aku bersedia menghadapi murkamu, Nyai!"

"Oh, jadi kau yang berjuluk Pendekar Mabuk?"

"Benar!" jawab Suto Sinting tegas sambil melangkah maju.

"Sayang sekali," gumam Nyai Garang Sayu dengan nada dingin. "Mengapa harus kau yang menjadi Pendekar Mabuk, padahal gairahku sudah mulai terbakar begitu melihat ketampanan dan kegagahanmu!"

"Dasar perempuan jalang!" seru Pematang Hati dengan lantang.

Nyai Garang Sayu sunggingkan senyum sinis sedingin es. Tapi senyum itu segera lenyap karena kemunculan sekelebat bayangan yang segera berdiri di sampingnya. Bayangan itu ternyata adalah kehadiran seorang lelaki bertubuh tinggi-besar, berotot kekar, berkepala gundul licin dan berwajah menyeramkan. Dia adalah putra kesayangan Nyai Garang Sayu yang bernama: Hulubalang Iblis.

"Ibu, biar aku yang menghadapinya! Jangan Ibu turun tangan sendiri."

Kusir Hantu sempat menyahut, "Benar. Ibumu jangan boleh turun tangan, nanti tangannya sampai ke tanah menjadi seperti orang hutan!"

"Tutup bacotmu, Kusir Penyu!" bentak Hulubalang Iblis.

"Putraku," ujar Nyai Garang Sayu dengan kalem. "Mundurlah, biar Ibu selesaikan penghinaan mereka dengan cara Ibu sendiri. Kau akan menyaksikan seperti apa kematian orang-orang yang menolak lamaranmu, Nak!"

Pendekar Mabuk segera merenggangkan jarak dari Kusir Hantu, karena ia yakin harus bertindak cepat sebelum perempuan cantik memikat hati itu lepaskan serangan mautnya. Tetapi tiba-tiba mereka dibuat heran oleh kemunculan suara aneh dari arah semak-semak di balik pohon.

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Pendekar Mabuk segera ingat suara itu dan segera berkata dalam gumam, "Si Bocah Kolok...?!"

Sosok kurus berambut tipis itu muncul dari semak-semak. Si Bocah Kolok memainkan rantai berbandul dua bola putih.

"Mau apa datang kemari, Keparat Tua!" tegur Nyai Garang Sayu dengan ketus sekali, menandaskan rasa permusuhannya dengan si Bocah Kolok.

"Wiio dengar apa yang kalian bicarakan! Wiio ingat sekarang, dari kemarin Wiio mau jumpa Kusir Hantu, tapi selalu nyasar karena lupa arah. Heh, heh, heh, heh...!"

Tik, tok, tik, tok, tik, tok...!

Mainan tetap berbunyi karena bergerak naik-turun. Tidak semua orang bisa begitu, membutuhkan ketepatan gerak dan kecepatan tersendiri. Belum lagi jika harus disaluri tenaga dalam, tentu membutuhkan perhatian khusus untuk hal itu. Tapi si Bocah Kolok dapat memainkannya sambil bicara seenaknya.

"Wiio dapat kabar, ada seorang penguasa suatu wilayah yang ingin bantai sebuah keluarga karena lamaran anaknya ditolak. Aduh, aduh... jahat sekali penguasa itu, ya?" ujar si Bocah Kolok kepada Kusir Hantu dengan nada seperti anak kecil.

Hulubalang Iblis menggeram penuh luapan amarah. "Matikan saja dia, Ibu!"

"Tenang, Putraku! Kalau dia memihak Kusir Hantu, terpaksa Ibu bereskan nyawanya!"

Bocah Kolok mendengar ucapan itu dan menyahut dengan cengar-cengir, "Heh, heh, heh, heh.... Kusir Hantu, kau dengar bukan, nyawa Wiio mau dikemasi oleh Garang Sayu. Dia pikir mudah mencabut nyawa tua Wiio ini, heh, heh, heh...!"

Nyai Garang Sayu membentak, "Wiio..!"

"Eh, kaget, kaget, kaget...!" Wiio tersentak kaget dan mengusap dadanya. "Jangan bentak-bentak begitu, Garang Sayu. Wiio kaget!"

"Persetan dengan lagak bocahmu! Kau telah menantangku secara tak langsung! Kau kuanggap memihak kepada si Kusir Hantu!"

"Kalau Wiio memihak si Kusir Hantu itu hal yang wajar, sebab Kusir Hantu sahabat Wiio, Nyai galak!" jawab Bocah Kolok sambil tetap memainkan tiktok-tiktoknya. "Wiio memang mau bertandang ke tempat Kusir Hantu, eeh... malah ketemu Pendekar Mabuk yang tarung dengan adikmu: Jurik Wetan! Aku baru ingat bahwa kaulah orang yang mempunyai racun 'Kembang Mayat'. Tapi aku pun baru ingat kalau aku mempunyai jurus penolak racun seperti itu yang bernama jurus 'Napas Kayangan'. Ternyata jurus 'Napas Kayangan' masih ampuh dan mampu menyelamatkan segenggam nyawa bocah cantik!"

"Banyak cakap kau ini, heaaah...!" Nyai Garang Sayu berwajah ganas, ia kelebat kan tangannya dan serbuk-serbuk putih pun menyebar ke arah Bocah Kolok yang berdiri di dekat Kusir Hantu serta Pematang Hati.

Melihat sebaran serbuk putih seperti tepung itu, Kusir Hantu undurkan diri sambil menarik lengan cucunya dan berseru, "Awas racun 'Ganda Maut', Wiio!"

"Apa kehebatannya racun itu, Pujasera?!" Bocah Kolok seperti anak dungu, ia tetap bermain tiktok-tiktok tanpa hiraukan serbuk yang menyebar ke arahnya. Namun tiba-tiba serbuk-serbuk itu saling meletup dan memercikkan bunga api yang merimbun, indah dipandang mata namun berbahaya jika dihirup manusia.

Tar, tratar, tar, tar, trrrrattar...!

"Biadab! Dia lumpuhkan racun itu, Ibu!" seru Hulubalang Iblis.

Nyai Garang Sayu gerakkan kedua tangannya ke sana-sini, memainkan jurus maut bertenaga dalam cukup tinggi. Dari gerakan tangannya itu keluar uap salju yang menyebar ke sekeliling dan dapat membekukan darah lawan.

Bocah Kolok semakin cepat memainkan tiktok-tiktoknya. Uap salju itu bagai tak bisa bergerak ke mana-mana. Nyai Garang Sayu kerahkan tenaga dengan dua tangan bagai mendorong ke depan. Bocah Kolok makin percepat mainannya.

Tik, tok, tik, tik, tok, tok, tok, tok...!

"Hiaaaahhh...!" Nyai Garang Sayu menguras tenaga untuk mendorong uap salju yang mulai membeku di udara tapi tidak dapat bergerak ke mana-mana. Tubuh perempuan cantik itu bergetar, tanah pun bergetar dan pohon-pohon juga bergetar. Daun-daun rontok karena getaran tubuh Nyai Garang Sayu.

Tooook, tooook, tooook, tooook...!

Semakin tinggi suara mainan si Bocah Kolok, semakin beku uap yang keluar dari pori-pori Nyai Garang Sayu. Si Bocah Kolok sendiri hanya cengar-cengir bagai anak kecil kegirangan melihat kemampuannya bermain dengan cepat. Kusir Hantu dan Pematang Hati hanya pandangi keadaan itu dengan tegang, namun diam-diam Kusir Hantu telah siapkan pukulan mautnya untuk sewaktu-waktu hadapi bahaya. Sedangkan Pendekar Mabuk hanya diam pandangi Hulubalang Iblis yang tampak gusar dan ingin lepaskan pukulan mautnya pula.

"Hhheeeaahhh...!" Nyai Garang Sayu berteriak keras sebagai tanda telah kerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong uap salju. Tapi uap salju semakin sukar bergerak dan kian membeku karena bunyi tiktok-tiktok kian keras dan cepat. Rupanya dari suara itulah si Bocah Kolok salurkan hawa saktinya untuk menahan kekuatan sakti lawannya.

Uap salju itu akhirnya membeku dan membungkus tubuh Nyai Garang Sayu. Tubuh perempuan itu tak bisa bergerak sedikit pun. Tapi suara erangannya masih terdengar samar-samar. Akhirnya si Bocah Kolok melemparkan mainannya itu dengan gerakan cepat.

Weees...! Pletak...!

Buuuummmm...! Gumpalan es yang membungkus Nyai Garang Sayu meledak dengan dahsyat, menyebar ke berbadai arah. Bersamaan dengan pecahnya gumpalan es itu, tubuh Nyai Garang Sayu pun lenyap seketika. Tapi suaranya masih terdengar menggema panjang lalu menghilang bagai ditelan bumi.

"Aaaa...!"

Menyadari ibunya telah hancur bersama serpihan es itu, Hulubalang Iblis menjadi sangat murka. "Bangsaaat...!" ia berteriak sekuat tenaga, sambil melompat menerjang Bocah Kolok saat Bocah Kolok sedang menangkap mainannya yang memutar kembali ke tempat semula setelah menghantam gumpalan es tadi.

Zlaaap...! Bruuus...!

Pendekar Mabuk bertindak menerjang Hulubalang Iblis. Keduanya sama-sama terpental satu arah dan berguling-guling dalam jarak delapan langkah dari Bocah Kolok.

"Ggrrr...!" Hulubalang Iblis menggeram dengan wajah liarnya. "Kuhisap habis darahmu, Manusia Bejat! Heeaahh...!"

Slaaab...! Sinar merah besar keluar dari telapak tangan Hulubalang Iblis. Sinar merah itu menghantam dada Pendekar Mabuk yang baru saja bangkit dengan setengah berdiri. Srruub...!

Pendekar Mabuk tersentak kaku, sinar merah itu tiada kunjung padam. Darah si Pendekar Mabuk tersedot ke telapak tangan Hulubalang Iblis.

"Kakek, Suto tak bisa bergerak! Cepat tolong dia, Kek!" Pematang Hati ribut sendiri.

Tapi sebelum Kusir Hantu lakukan suatu tindakan, tiba-tiba Pendekar Mabuk berubah menjadi besar dan besar sekali. Tubuhnya menjadi tinggi dan besar. Mereka terperangah melihat Suto Sinting menjadi raksasa. Hulubalang Iblis juga terbengong melihat sinar merahnya menjadi seperti lidi yang menggelitik dada raksasa.

Jurus 'Dewatakara' pemberian dari Payung Serambi dipergunakan Suto dalam keadaan sangat terdesak. Dengan sekali sambar, tangannya berhasil meremas kepala Hulubalang Iblis yang gundul itu, lalu melemparkannya tinggi-tinggi. Wuuuusss...! Hulubalang Iblis melayang di udara.

"Aaaaa...!" Jeritan kerasnya segera terhenti ketika tubuhnya jatuh ke tanah dan kaki raksasa Suto itu menginjak dadanya dalam satu hentakan mengerikan. Buuhk...!

"Heeekkh...!" Darah menyembur dari mulut Hulubalang Iblis yang ternganga. Seakan semua darah dalam tubuh orang gundul itu terkuras keluar hingga melumuri kaki raksasa Suto. Maka sejak saat itu, Hulubalang Iblis tak pernah bernapas lagi. Ia mati dalam keadaan gepeng.

Napas mereka terhempas lega. Pendekar Mabuk segera mengubah diri dan menjadi seperti semula. Bertepatan dengan itu, seraut wajah cantik tanpa senyum muncul dari semak-semak. Gadis yang terkena racun 'Kembang Mayat' itu ternyata telah disembuhkan oleh si Bocah Kolok dan menjadi sehat tanpa kesan luka sedikitpun.

Pematang Hati terbelalak girang melihat kemunculan gadis berpakaian hitam bintik-bintik putih bagai paku payung itu. Suaranya terlontar dengan nada ceria, "Mahligai...!"

Suto Sinting terkejut dan memandang Bocah Kolok. "Apakah dia... dia yang bernama Mahligai Sukma, Wiio?!"

"Iya. Waktu itu, Wiio lupa namanya dan lupa siapa dirinya. Tapi sejak kau pergi, Wiio jadi ingat bahwa dia adalah cucu sahabatku dan Wiio ingat dia punya nama Mahligai Sukma. Dia yang menceritakan rencana pembantaian Hulubalang Iblis terhadap Kusir Hantu dan kedua cucunya itu." Wiio tertawa sambil bermain tiktok-tiktoknya. "Heh, heh, heh... maaf, hampir saja Wiio lupa siapa gadis itu."

"Memang sudah lupa. Kalau kau tak pikun, aku tak akan keluyuran sampai ke sini!" gerutu Suto Sinting sambil perhatikan Mahligai Sukma yang sedang dipeluk oleh kakaknya; si Pematang Hati dan kakeknya; si Kusir Hantu.

SELESAI