Serial Pendekar Mabuk
Gadis Tanpa Raga
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

ALUN-ALUN kadipaten dikelilingi orang banyak. Pandangan mata mereka tertuju di tengah alun-alun. Bukan karena di tengah alun-alun ada tumpeng raksasa, tapi karena di sana sedang terjadi pertarungan antara tokoh sesat yang mengancam keselamatan warga kadipaten dengan seorang pemuda tampan bercelana putih dan bajunya yang tanpa lengan itu berwarna coklat.

Pemuda yang memiliki rambut lurus sepanjang pundak tanpa ikat kepala itu berwajah tampan menawan menggoda perawan. Pemuda yang menenteng bumbung tuaknya itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, si murid sinting Gila Tuak yang punya nama Suto Sinting. Sedangkan tokoh sesat yang berambut panjang lebat dan berwajah angker itu adalah Malaikat Kabut Gamping.

Pendekar Mabuk diminta bantuannya oleh sang Adipati untuk mengatasi kekacauan di kadipatennya yang ditimbulkan oleh ulah si Malaikat Kabut Gamping. Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya Malaikat Kabut Gamping tumbang di tangan Suto Sinting. Para warga kadipaten bersorak kegirangan, sang Adipati pun merasa lega dan selanjutnya mengikat tali persahabatan dengan Suto Sinting lebih erat lagi.

Dalam perjalanan pulang dari kadipaten itulah, tiba-tiba langkah Suto Sinting terhenti karena seruan seseorang yang berlari-lari mengikutinya dari belakang.

"Kaaang... Kang Suto...! Suto Kang...!"

Seruan itulah yang membuat Pendekar Mabuk akhirnya berhenti dan berpaling ke belakang. "Oh, Panji Klobot...?! Mau apa dia berlari-lari menyusulku? Tampaknya tegang sekali?" pikir Suto Sinting. "Bukankah urusan dengan Malaikat Kabut Gamping sudah selesai? Ada apa lagi Panji Klobot menyusulku?!"

Panji Klobot adalah seorang pemuda yang melayani Suto Sinting selama Suto tinggal di kadipaten. Tubuhnya kurus, rambutnya kucai memakai ikat kepala merah. la suka mengenakan pakaian biru tua, bajunya tanpa lengan dan terikat oleh kain merah yang melilit di pinggangnya. Panji Klobot mengaku berusia dua puluh tahun, tapi cara berpikirnya masih sangat polos dan lugu.

"Kang, berhenti sebentar, Kang...!" Panji Klobot terengah-engah. Keringatnya membanjir di sekujur tubuh pertanda ia terlalu kecapekan karena berlari mengejar Suto yang jaraknya sudah cukup jauh dari kadipaten.

"Ada apa, Panji Klobot?!" tanya Suto dengan kalem. "Bukankah urusanku dengan Malaikat Kabut Gamping sudah selesai?"

"Memang, Kang. Memang urusanmu dengan Malaikat Kabut Gamping itu sudah selesai. Tapi urusanmu dengan Murbiah bagaimana?"

"Lho, bukankah yang naksir Murbiah itu kau sendiri, Panji Klobot."

"Memang aku yang naksir Murbiah, tapi dia sukar dijinakkan, Kang? Padahal kau berjanji kalau urusanmu dengan Kanjeng Adipati sudah selesai, kau akan membantuku menjinakkan Murbiah?" ujar Panji Klobot dengan bersungut-sungut, seakan merasa kecewa dan perlu menagih janji.

Pendekar Mabuk jadi tertawa melihat sikap Panji Klobot yang cemberut mirip perawan tergoda asmaranya. "Bukankah kemarin kau telah memberinya setangkai bunga saat Murbiah membersihkan taman keputrian?"

"Iya. Tapi Murbiah tidak merasa bangga atas pemberian bunga itu, Kang." Panji Klobot berlagak manja.

"Kenapa dia tidak bangga?"

"Katanya, kalau cuma bunga dia sudah sering melihat, soalnya dia kan termasuk perawat taman. Jadi dia sudah tidak merasa aneh lagi dengan bunga, Kang."

"Jadi yang diminta Murbiah apa?"

"Kata Murbiah, kalau aku memang benar-benar cinta padanya, aku harus bisa mengalahkan Pangkar Soma."

"Siapa itu Pangkar Soma?"

"Ketua perampok yang dulu membantai habis keluarganya Murbiah. Waktu itu Murbiah selamat, sebab sedang buang hajat di jamban kebun belakang rumah."

"Jadi gara-gara buang hajat dia selamat?"

"Iya. Tapi sampai sekarang dia masih dendam kepada Pangkar Soma. Dia bersumpah pada dirinya sendiri, sebelum Pangkar Soma mati, dia tidak ingin jatuh cinta pada pria mana pun. Lha, kalau aku kepingin dicintai dia, syaratnya ya harus bisa membunuh Pangkar Soma!"

"Kalau begitu, ya sudah... bunuh saja si Pangkar Soma."

"Bunuh, bunuh, bunuh...," Panji Klobot cemberut kesal. "Apa kau kira Pangkar Soma itu seekor kutu yang mudah digites lalu habis perkara?! Jangankan membunuhnya, baru mendekatinya saja mataku sudah bengkak mendadak, Kang!"

Pendekar Mabuk tertawa geli. Panji Klobot semakin cemberut jengkel.

"Kang, tolong ajari aku jurus-jurus yang kau pakai untuk mengalahkan Malaikat Kabut Gamping itu," bujuk Panji Klobot.

"Itu tidak mudah, Panji Klobot!"

"Ya dibuat mudah gimana caranya, gitu Kang! Kalau terpaksa harus pakai puasa, akan kujalani juga kok, Kang. Asal selama puasa aku boleh makan ubi sama minum wedang jeruk."

"Itu namanya bukan puasa, tapi rakus!" ujar Suto Sinting sambil tertawa.

"Ayolah, Kang... ajari aku jurus-jurus mautmu itu. Dua jurus saja, yang penting bisa dipakai untuk membunuh Pangkar Soma. Jurus lainnya tak perlu kau ajarkan padaku. Cukup dua saja," sambil dua jari si Panji Klobot berdiri tegak di depan hidung Suto Sinting.

"Maaf, Panji... aku tidak berani menurunkan ilmuku kepada siapa pun sebelum mendapat izin dari guruku; si Gila Tuak."

"Kalau begitu, mari kita menghadap gurumu dulu, Kang. Minta izinlah dulu kepada Kang Gila Tuak supaya...."

"Husy! Enak saja kau panggil guruku Kang Gila Tuak."

"Habis bagaimana seharusnya aku memanggil beliau, Kang?"

"Eyang! Eyang Gila Tuak dan Eyang Bidadari Jalang!"

"Iya, iya... aku sanggup memanggil gurumu Eyang Maha Eyang, asal aku mendapat dua ilmu dahsyatmu itu."

"Ilmuku tidak untuk membunuh orang dan membalas dendam."

"Tapi kenapa si Malaikat Kabut Gamping kau bunuh?"

"Karena dia melawan saat kusuruh untuk meninggalkan jalan sesatnya. Jika dia melawan dan mengajak beradu nyawa, yaaah... apa boleh buat, mau tak mau aku rampungkan masa hidupnya ketimbang aku yang kehilangan nyawa?!"

"Jadi...," Panji Klobot semakin murung. "... kau keberatan jika menurunkan ilmumu untukku, Kang?"

"Panji Klobot," Pendekar Mabuk menepuk punggung pemuda itu,"... untuk apa kau menuntut ilmu kalau hanya untuk membalas dendam kepada seseorang. Belajarlah berbagai macam ilmu untuk menjaga kedamaian di dunia, bukan untuk membalas dendam."

"Tapi ini ada hubungannya dengan soal cinta lho, Kang!" Panji Klobot membela diri.

"Iya, aku tahu...," Suto mengangguk-angguk.

"Aku cinta banget sama si Murbiah, Kang. Kalau cintaku tidak kebangetan, aku tidak akan memburu Pangkar Soma. Habis, yang diminta Murbiah adalah mengalahkan Pangkar Soma. Lha nanti kalau Pangkar Soma dikalahkan orang lain, Murbiah bisa jatuh cinta sama orang lain. Kalau Murbiah jatuh cinta sama orang lain, lantas aku jatuh cinta sama siapa, Kang?"

"Murbiah kan punya kambing?"

"Masa aku kau suruh jatuh cinta sama kambing?!" Panji Klobot semakin cemberut, mulutnya menjadi runcing mirip ujung tombak.

"Maksudku, Murbiah kan punya kambing, kau minta kambingnya lalu kau jual, kau pakai uangnya untuk kau jadikan mas kawin buat melamar gadis lain. Begitu...!"

"Ah, kalau tidak sama Murbiah, aku tidak mau kawin."

"Panji Klobot, bukalah mata hatimu dan pikiranmu. Di dunia ini bukan hanya Murbiah sendiri yang jadi perempuan...."

"Lha, ya jelas!" potong Panji Klobot. "Kalau di dunia ini perempuannya cuma Murbiah, nanti Murbiah jadi istrinya orang banyak, Kang! Aku sudah tidak bergairah lagi sama Murbiah."

"Maksudku, jangan kau jatuh cinta secara sempit. Jatuh cintalah secara lebar...."

"Jatuh cinta kok disuruh lebar, apa kau pikir jatuh cinta itu sejenis tikar buat kendurian?" potong Panji Klobot lagi sebagai ciri sifatnya yang suka ngotot jika dinasihati seseorang.

Suto Sinting hanya tersenyum-senyum menahan geli. "Mungkin kau kurang wawasan, sehingga belum tahu bahwa di luar kadipaten, banyak perempuan yang lebih cantik dari Murbiah. Kalau kau gagal dapatkan Murbiah, kau bisa berburu perempuan lain yang sama dengan Murbiah atau lebih tinggi nilai kecantikannya dengan Murbiah."

"Untuk apa dapatkan perempuan yang lebih tinggi dari Murbiah. Tinggi-tinggi nanti malah disambar petir, hangus semua!" ujarnya dengan bersungut-sungut.

Tiba-tiba mereka mendengar suara, "Jangan takut, Panji Klobot. Aku akan mengajarimu beberapa jurus maut!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot sama-sama terkejut. Mereka memandang sekeliling, tapi tak terlihat siapa pun di sana selain mereka berdua. Panji Klobot jadi takut, lalu bergeser mendekati Suto.

"Suara siapa itu tadi, Kang?"

"Entahlah, yang jelas suara itu suara seorang perempuan."

"Wah, jangan-jangan peri penunggu hutan ini, Kang?!" sambil Panji Klobot bergidik merinding.

"Mudah-mudahan neneknya peri," kata Suto Sinting seenaknya sambil masih mencoba mencari si pemilik suara tadi dengan mempertajam pandangan matanya. "Aneh, di mana perempuan itu berada? Coba kugunakan jurus 'Lacak Jantung'-ku untuk mencarinya," ujar Suto membatin. Lalu, ia menggunakan jurus 'Lacak Jantung' yang bisa mendengarkan suara detak jantung orang lain.

"Hmmm... tak ada suara detak jantung orang lain kecuali jantungnya Panji Klobot dan jantungku sendiri?!" Suto kian berkerut dahi pertanda semakin heran. Sementara itu Panji Klobot semakin mendesak Suto karena ketakutan.

"Aduh, celaka!" sentak Suto.

"Ada apa, Kang? Kau melihat peri itu? Di mana dia, Kang?! Di mana...?!"

"Bukan melihat peri! Kakiku kau injak seenaknya! Minggir!"

"Oh, maaf, Kang... maaf...! Anggap saja yang menginjak si peri itu, Kang!"

"Maaf, maaf... kalau sudah lecet begini baru maaf!" Suto Sinting menggerutu.

Panji Klobot ingin tertawa, tapi rasa takut membuatnya menjadi tetap tegang dan berdebar-debar, sehingga sulit tertawa.

Suara perempuan itu terdengar lagi, "Hik, hik, hik, hik... kalian seperti tikus mendengar suara kucing. Kalau saja kalian punya kumis, aku yakin kumis kalian akan melengkung ke bawah, bahkan mungkin pada rontok berjatuhan. Hik, hik, hik...!"

Panji Klobot menyeringai menahan rasa takutnya. la tak berani jauh-jauh dari Suto Sinting, sementara si murid sinting Gila Tuak itu semakin mempertajam indera pendengarannya untuk menentukan di mana letak si pemilik suara itu. Karena suara tersebut kadang terdengar di depan mereka, kadang di belakang, sesekali terdengar di samping kanan atau kiri mereka.

"Kang, cepat kita pergi dari sini saja, Kang!" bisik Panji Klobot.

"Tenang saja. Aku jadi penasaran dengan suara itu. Kita cari sampai ketemu siapa yang bicara dengan pamer ilmu di depanku itu!"

Lalu, suara perempuan itu terdengar kembali, terasa semakin dekat dengan mereka. "Panji Klobot, kalau kau ingin dapatkan ilmu dahsyat dariku, carikan aku setangkai Bunga Kecubung Dadar. Hanya itu syarat yang harus kau penuhi, maka beberapa kesaktianku akan kuturunkan kepadamu, Panji Klobot!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot saling berpandangan dengan dahi berkerut. Suara yang kedengarannya renyah dan merdu itu hilang untuk beberapa saat. Hutan jati mengalami kesunyian yang amat mencekam. Yang ada hanya suara desau angin dan gemerisiknya dedaunan. Setelah menunggu beberapa saat ternyata suara perempuan itu tak terdengar lagi, Pendekar Mabuk segera berkata kepada Panji Klobot dengan berbisik pelan sekali.

"Jangan hiraukan suara itu. Dia sengaja mempermainkan kita, Panji!"

Tetapi suara Suto yang begitu pelan dan membisik itu ternyata dapat didengar oleh perempuan misterius itu. "Kau tak perlu mempengaruhi Panji Klobot, Sahabatku itu, Bocah Sinting!"

Pendekar Mabuk terperanjat, ternyata suaranya yang sepelan itu masih bisa didengar oleh perempuan misterius. Tapi kali ini Pendekar Mabuk mencoba menanggapi kata-kata si pemilik suara tadi. "Tunjukkan dirimu di depan kami jika kau bermaksud baik kepada Panji Klobot!"

"Itu bukan urusanmu. Aku tidak punya urusan denganmu, Bocah Sinting! Aku hanya punya urusan dengan Panji Klobot!" ujar suara aneh itu.

"Aku juga sahabatnya Panji Klobot. Jika kau ingin mencelakakan Panji Klobot, sama halnya kau punya urusan denganku, Nona!" Suto bicara sambil memandang ke sana-sini seakan bingung mengarahkan suaranya.

"Panji Klobot," kata suara perempuan itu. "Jangan hiraukan kata-kata si bocah sinting itu. Pergilah dan cari Bunga Kecubung Dadar secepatnya. Aku ingin segera turunkan ilmuku kepadamu agar kau bisa membunuh Pangkar Soma!"

Tapi Suto Sinting menyahut, "Tidak! Jangan pergi ke mana-mana, Panji Klobot! Kuntilanak itu akan menyesatkan dirimu dan memperdayamu supaya dia memperoleh keuntungan tapi kau sendiri tidak mendapatkan apa-apa kecuali bencana!"

"Bocah sinting!" suara itu bernada keras. "Kuharap kau tidak mencampuri urusanku, karena aku tak ingin marah padamu!"

"Silakan marah padaku, aku ingin tahu seberapa tinggi ilmumu sehingga berani memperdaya sahabatku; si Panji Klobot ini!" tantang Suto dengan sengaja agar sosok perempuan itu menampakkan diri.

Tetapi tiba-tiba punggung Suto Sinting seperti dihantam dengan sebatang balok kayu yang cukup besar. Bhuueek...!

"Uuhk...!" Suto Sinting terpekik dan tubuhnya tersentak ke depan hingga jatuh tersungkur di tanah.

"Kaaang...!" Panji Klobot kaget dan terpekik dengan semakin ketakutan.

Pendekar Mabuk menyeringai menahan rasa sakit yang terasa seperti mematahkan tulang punggungnya. la menggeliat bangkit pelan-pelan. Tetapi tiba-tiba lagi wajahnya bagai ada yang menendang dari depan. Ploook...!

"Aauh...!" Pendekar Mabuk tersentak dan berguling kekiri setelah wajahnya terdongak dengan keras. Sementara si pemilik kaki yang menendang tadi tetap tidak kelihatan. Panji Klobot sendiri dicekam rasa heran dan kebingungan karena ia tidak melihat siapa-siapa di situ kecuali mereka berdua.

"Kang, ada apa? Kenapa kau pura-pura jatuh, Kang?"

"Pura-pura dengkulmu!" gerutu Suto Sinting sambil menyeringai kesakitan. la memegang tulang pipinya yang tadi terasa mendapat tendangan cukup keras. Ternyata tulang pipi itu memar dan terasa bengkak. Disentuh sedikit saja sakitnya bukan main.

"Kang Suto..., mengapa wajahmu jadi biru begitu? Kau bedaki pakai blau pemutih pakaian, ya?!"

Kepala Panji Klobot didorong oleh Suto Sinting dengan sentakan agak keras sebagai tanda kejengkelan Suto mendengar pertanyaan seperti itu. "Aku seperti ada yang menendangnya. Bukan sengaja membedaki wajah pakai blau!" sentak Suto Sinting sambil masih duduk di tanah dan sesekali menyeringai menahan rasa sakit.

la buru-buru menenggak tuaknya. Tuak dari dalam bumbung itu mempunyai khasiat penyembuhan yang sangat mujarab, sehingga dalam beberapa kejap saja rasa sakit Suto menjadi berkurang dan lama-lama hilang. Warna biru memar di wajahnya pun segera lenyap, lalu tubuh Suto Sinting merasa segar kembali.

"Panji, berlindunglah di balik pohon. Agaknya peri edan ini mau main-main denganku!" kata Suto sengaja dikeraskan supaya didengar oleh si pemilik suara perempuan tadi.

Tetapi suara perempuan itu terdengar menertawakan ucapan Suto dengan suara tawa mengikik seakan terbang dari pohon ke pohon, mengelilingi Panji Klobot dan Suto Sinting. "Hik, hik, hik...! Cacing pita mau melawan naga raksasa, uuh... mana mungkiiiin...!"

Suto Sinting semakin penasaran. la segera menyodokkan bumbung tuaknya dengan memainkan jurus mabuknya yang sempoyongan ke sana kemari. Tetapi sodokan bambu tuaknya tidak mengenai apa-apa. Bahkan suara tawa perempuan tanpa wujud itu semakin berderai terkikik-kikik. Panji Klobot sendiri merasa tambah bingung melihat Suto mencak-mencak tanpa lawan.

"Kang, Kang... sadar, Kang! Jangan kumat di sini, Kang. Hoi... sadar, kita dalam bahaya, jangan malah gila sendiri begitu, Kang!"

Plaaak...! Suto jengkel, akhirnya Panji Klobot ditamparnya dengan pelan. "Aku bukan kumat gilaku. Aku mencoba menyerang suara itu. Siapa tahu salah satu jurus seranganku ada yang kenai tubuhnya!" sentak Suto Sinting sambil terengah-engah sedikit.

"Ooo... kukira kau tiba-tiba kumat gilanya dan mencak-mencak sendiri," ujar Panji Klobot pelan.

"Hik, hik, hik, hik...! Dasar bocah sinting, sudah dikasih tahu tak akan bisa melawanku masih ngotot! Sebaiknya biarkan Panji Klobot mencari Bunga Kecubung Dadar untukku. Tak perlu kalian buang-buang waktu dan tenaga. Lekas cari dan aku akan memberinya upah beberapa jurus saktiku untuk si Panji Klobot!"

"Bunga Kecubung Dadar itu seperti apa, Yu?!" tanya Panji Klobot kepada si pemilik suara dengan nada ragu. "Dan lagi, di mana aku bisa mendapatkan bunga itu, Yu?"

"Mana kutahu! Kalau aku tahu sudah kuambil sendiri. Untuk apa menyuruhmu, Tolol!" sentak suara perempuan itu dengan nada jengkel.

Suara itu datang dari arah kiri. Suto Sinting segera melepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh ke arah kiri. Wuuut...! Bruuus...! Pukulan tanpa sinar itu hanya mengenai serumpun semak. Padahal yang diharapkan pukulan tanpa sinar itu dapat mengenai si pemilik suara misterius itu. Namun kenyataannya Suto Sinting justru ditertawakan oleh perempuan tanpa wujud dengan mengikik bagaikan terbang dari pohon ke pohon berkeliling di tempat itu.

"Hik, hik, hik, hik...! Bocah sinting masih penasaran dan ingin coba-coba menyerangku! Terimalah serangan balasanku ini, hiiah...!"

Tiba-tiba pohon di belakang Suto Sinting patah dan tumbang ke arah Suto. Krrrak...! Brruuukk...! Wees, zlaaap...! Suto Sinting lakukan lompatan cepat menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah lepas dari busurnya itu. Tapi ia juga sempat menyambar Panji Klobot, disahut ketiak kirinya dan dibawa pergi bagai menenteng bangkai kucing.

"Ooh...?! Apa yang terjadi, Kang Suto?!" Panji Klobot terbengong dengan wajah tegang sambil memandang pohon yang tumbang itu. Seandainya ia tak disambar Suto, mungkin tubuhnya akan menjadi sele gepeng kejatuhan pohon sebesar itu.

Pendekar Mabuk hanya menarik napas dan membatin, "Perempuan itu agaknya benar-benar menginginkan Panji Klobot mencari bunga tersebut. Hmmm..., tapi siapa dia sebenarnya?! Bagaimana kalau kutengok dengan menggunakan mata gaibku?"

Pendekar Mabuk segera mengusap keningnya dengan tangan kiri. Slaab...! Seharusnya Pendekar Mabuk dapat melihat perempuan tanpa rupa itu jika memang perempuan tersebut berada di alam gaib. Sebab, di kening Suto terdapat noda merah kecil sebiji jagung. Noda merah itu tak dapat dilihat oleh setiap orang, kecuali yang berilmu tinggi dan bisa menggunakan indera ketujuhnya.

Noda merah itu pemberian Ratu Kartika Wangi, yaitu ibu dari Dyah Sariningrum, calon istri Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah). Jika titik merah di kening Suto diusap dengan dengan kiri, maka ia akan dapat melihat kehidupan di alam gaib. Jin, siluman dan tetek bengeknya dapat dilihat dengan mata Suto. Tapi jika diusap dengan tangan kanan, maka Suto akan dapat masuk ke alam gaib, atau berada di negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib yang menjadi kekuasan Gusti Ratu Kartika Wangi, calon mertuanya itu.

Tetapi kali ini ternyata Suto Sinting tidak menemukan sesosok wanita yang menjadi pemilik suara tersebut. Malahan ia melihat beberapa sosok makhluk tinggi-besar, berkulit hitam dengan mata sebesar cangkir dan kepala gundul bertanduk.

"Huaah...!" Suto memekik ketakutan sambil menahan tawa geli sendiri. Lalu ia buru-buru mengusap titik merah di keningnya untuk menutup penglihatan gaibnya.

"Ada apa, Kang?!" tanya Panji Klobot setelah ikut terlonjak kaget.

"Aku melihat beberapa jin di seberang sana. Hiiih...! Ngeri!"

"Jadi yang bersuara itu tadi jin, ya Kang?"

"Bukan. Jin-jin yang ada di sana pada bungkam dan memandangi kita yang kebingungan. Mungkin malah mereka sangka aku ini orang gila, menyerang sendiri, jatuh sendiri, sembuh sendiri..! Sial! Cepat tinggalkan tempat ini, Panji! Kau ikut aku!"

Tiba-tiba suara perempuan itu terdengar lagi, "Hik, hik, hik.... Jangan lupa Bunga Kecubung Dadar ya, Panji?!"

"Diam kau!" bentak Suto yang menjadi semakin jengkel.

"Aku tidak ngomong apa-apa kok, Kang!"

"Bukan kau yang kusuruh diam!" bentak Suto kepada Panji Klobot, dan yang dibentak hanya garuk-garuk kepala dengan wajah cemberut sedih.

* * *

DUA

LUPAKAN tentang suara perempuan itu tadi," kata Suto Sinting kepada Panji Klobot ketika mereka berada di sebuah kedai.

"Ya, Kang," Panji Klobot bersikap patuh kepada Suto Sinting.

"Pesan makanan sesukamu! Aku habis dapat pesangon dari Adipati, jangan takut makananmu tidak kubayar! Berapa pun akan kubayar, asal kau benar-benar melupakan kata-kata dari suara tanpa rupa tadi."

"Suara yang mana, Kang?" Panji Klobot berlagak benar-benar lupa.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum sedikit dongkol, karena ia tahu bahwa Panji Klobot sebenarnya tidak lupa dengan suara perempuan tadi. Karena mendapat izin untuk memesan apa saja, Panji Klobot segera memesan ingkung bakar dan nasi liwet dua piring. Padahal harga ingkung bakar cukup mahal. Hanya para saudagar atau orang-orang kaya yang memesan ingkung bakar untuk santap makan mereka. Bahkan Panji Klobot bukan saja memesan ingkung bakar, melainkan juga beberapa makanan lainnya, sehingga di mejanya penuh dengan berbagai macam makanan yang nyaris tidak punya tempat untuk meletakkan piring tempat nasi.

Pendekar Mabuk yang ada di meja sampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat pesanan Panji Klobot. la segera menggumam dengan suara yang didengar oleh Panji Klobot sendiri. "Kau mau makan apa mau kenduri?!"

Panji Klobot tertawa cengengesan. "Sebelum aku menyusulmu, aku sudah pamit keluar dari pekerjaanku di kadipaten. Jadi, belum tentu di hari-hari mendatang aku dapat menikmati santapan selezat ini, sebab sudah tidak bekerja di kadipaten lagi."

Salah seorang pembeli ada yang menegur Suto sambil ingin membayar biaya makannya kepada si pemilik kedai. "Kang, temanmu itu perutnya terbuat dari apa, kok makanannya sebanyak itu?"

Suto menjawab, "Itu tidak dimakan semua. Makanan yang lainnya hanya sesaji untuk para dewa. Dia sebenarnya termasuk keponakan Dewa Maruk."

"Ooo... keponakan dewa?! Wah, maaf ya... tolong mintakan maaf pada temanmu itu, Kang. Aku takut dikutuk karena disangka menghinanya...." Orang tersebut buru-buru menyerahkan uang kepada si pemilik kedai dan langsung ngacir tak berani menengok ke arah kedai lagi.

Pendekar Mabuk hanya tertawa cekikikan dengan mulut ditutup tangan. Panji Klobot yang mendengar ucapan Suto tadi juga ikut tertawa sambil memperhatikan kepergian orang tersebut.

"Bagus, Kang. Kau melindungi nama baikku, kupikir-pikir... aku ini sepertinya memang keponakan dewa, Kang!"

"Jangan banyak omong! Makan dan habiskan semua pesananmu itu! Kalau tidak habis kujejalkan ke mulutmu!" kata Suto Sinting sambil menghitung berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan untuk jumlah pesanan Panji Klobot itu. Dalam hatinya sang Pendekar Mabuk menggerutu bernada canda. "Kalau begini caranya bisa bangkrut, ludes semua uangku masuk ke perutnya!"

Bumbung tuak ditambah isinya hingga penuh, tapi Suto masih pesan tuak sendiri satu guci kecil. Selain tuak, ia juga memesan makanan untuk mengisi perutnya. Sepotong ketan bakar diambilnya, lalu dimasukkan dalam mulut. Namun sebelum ketan itu masuk ke mulut, tiba-tiba tangan Suto Sinting seperti ada yang menampelnya. Plaaak...! Ketan pun jatuh ke lantai. Pluk!

"Sial!" gerutu Suto Sinting, lalu melirik ke kanan-kiri, pelan-pelan badannya membungkuk tangannya terjulur ke bawah mau mengambil ketan bakar. "Sayang kalau tak diambil. Belum ada lima kedip, masih sah untuk dimakan!" pikir Suto.

Tetapi ketika ketan mau diraih tangan, tiba-tiba pemilik kedai menegur Suto Sinting, "Ada yang bisa kubantu, Nak?"

Suto buru-buru tegak dengan setengah kaget, "Oh, hmmm... anu... tidak ada apa-apa kok, Pak."

"Agaknya ketan bakarmu jatuh, ya?"

"Iya, tapi memang sengaja kujatuhkan, sebab tadi kulihat ada seekor kucing yang berkeliaran di sini. Aku sengaja memberi makan kucing itu."

"O, itu kucing kesayangan anakku. Terima kasih atas kebaikanmu memberi makan kucing kesayangan putriku, Nak."

"Sama-sama, Pak Tua...," sambil Suto anggukkan kepala dan tersenyum ramah. Akhirnya ia urung mengambil ketan bakar itu dengan hati menyimpan rasa malu. Kini ia mencomot ketan bakar lagi. Ketika ketan mau masuk ke mulut tiba-tiba tangannya seperti ada yang menamparnya kembali. Plak...!

Pluk! Ketan pun jatuh kembali ke lantai. Suto Sinting tarik napas dan melirik ke kanan-kiri. "Sial! Jatuh lagi!" gerutunya dalam hati.

Sementara itu, Panji Klobot sibuk menikmati santapannya tanpa mau melirik ke arah Suto sedikit pun. Hal itu membuat Suto semakin dongkol, namun hanya bisa dipendam dalam hati. Kini Suto Sinting mengambil sepotong tempe goreng untuk lauk nasi yang sudah siap di depannya. Tetapi baru saja tempe goreng mau digigitnya, tiba-tiba tempe itu melesat terbang dan jatuh di piring orang lain. Pluk...!

"Bah...? Rezeki dari mana ini? Ah, lumayan! Embat sajalah!" ujar orang itu kepada temannya sambil tertawa lalu memakan tempe goreng itu.

Suto Sinting menarik napas. "Pasti pekerjaan perempuan yang tak mau tunjukkan rupanya itu!" geram Suto Sinting dalam hati. Lalu, tangan yang habis memegang tempe itu dimasukkan ke dalam mulut.

"Hmmm... lumayan, tidak dapat tempenya dapat rasa asinnya," pikir Suto Sinting, kemudian menyuap nasi ke mulutnya.

Tapi baru saja nasi mendekati bibir, tiba-tiba tangan Suto seperti ada yang menyenggolnya. Plok...! Weerrs...! Nasi pun tumpah menyebar di meja, berantakan ke mana-mana. Bahkan sebagian melekat di wajah Suto Sinting.

"Edan!" geram Suto dalam hati dengan sikap diam menahan kejengkelan.

"Lho, Kang...? Kau makan apa mandi nasi?!" tegur Panji Klobot yang kebetulan memandang ke arah Suto.

"Jangan banyak bicara kau, Panji! Makan saja sesuai jatahmu!" ucap Suto dengan nada geram. Pendekar Mabuk yakin perbuatan itu pasti.

keusilan si pemilik suara yang tak mau tunjukkan wajahnya itu. Pendekar Mabuk mencoba melirik kesana-sini mencari perempuan itu. Tapi di kedai tersebut tak ada tamu perempuan. Satu-satunya perempuan adalah gadis anak pemilik kedai. Tapi gadis itu ada di dapur, jauh dari jangkauan Suto. Tak mungkin gadis itu yang melakukannya. Pendekar Mabuk akhirnya hanya menenggak tuak dari guci sebagai obat kecewa. Tetapi tiba-tiba guci itu pun pecah saat dituang ke mulut. Praaak...!

Pyuuur...! Tuak dari dalam guci menyiram wajah Suto Sinting. Suara pecahnya guci menjadi perhatian para tamu di kedai tersebut. Akhirnya Suto Sinting menjadi bahan tertawaan para tamu.

"Hoi, Sobat ... kau mau minum tuak apa mau mandi?!" tegur seorang tamu sambil terbahak-bahak.

Suto berseru dengan berlagak tersenyum girang. "Beginilah caraku meminum tuak. Kalau tidak sekalian mengguyur wajah, rasa-rasanya kurang puas!"

Tapi Suto pun berkata dengan suara geram, "Hei, Perempuan Gila...! Kalau kau menggangguku lagi, aku tak akan mau membantu Panji Klobot mencarikan Bunga Kecubung Dadar!"

Tiba-tiba Suto seperti mendengar suara perempuan berbisik di dekatnya. "Akan kuganggu kau kalau tak mau membantu mencarikan itu!"

"Maksudmu mencarikan bunga itu?!"

"Benar!"

"Baik, akan kubantu mencarikan bunga itu, tapi kumohon kau tidak menggangguku, Nona!"

"Hik, hik, hik...!" suara tawa itu membisik bagai berada di gendang telinga Suto. Suto pun bergidik geli sambil menyeringai. Tanpa sadar ia dipandangi oleh para pembeli yang ada di kedai tersebut. Mereka saling berkasak-kusuk menyangka Suto gila.

"Mengapa kau memanggilku Nona?" tanya suara aneh itu.

"Karena suaramu masih kedengaran seperti suara seorang gadis. Bukan suara seorang nenek," jawab Suto Sinting sambil mengeringkan wajahnya memakai baju.

"Aku memang masih gadis, tapi sudah tidak perawan lagi. Hik, hik, hik...!"

"Kau pelacur, ya?"

Plaaak...! Tiba-tiba kepala Suto tersentak ke samping dan beberapa orang mendengar suara tamparan keras. Pipi kanan Suto pun menjadi merah. Orang-orang yang memandangnya menjadi terkejut dan terheran-heran. Suto Sinting sadar kalau sedang diperhatikan orang banyak. la menjadi malu, dan buru-buru menutup rasa malunya dengan berlagak menampar pipinya yang kiri. Plaaak...!

Lalu ia bicara kepada si pemilik kedai yang juga memperhatikan dengan heran. "Di sini banyak nyamuk! Sudah dua kali aku digigit nyamuk. Dan ternyata nyamuk di sini pandai silat semua. Buktinya dua kali kutampar, ia pandai menghindar, malah wajahku sendiri yang kena tampar!"

"Hah, hah, hah, hah...!" mereka menertawakan kata-kata Suto, menganggap Suto sedang melucu di depan mereka.

"Kau pantas menjadi pelawak, Anak Muda!" ujar seorang lelaki berkumis berusia sekitar lima puluh tahun.

"Terima kasih. Itu memang cita-citaku sejak kecil," jawab Suto Sinting walau hatinya memendam kedongkolan yang ingin dilampiaskan dengan menggebrak meja.

"Cepat tinggalkan kedai ini dan carilah bunga itu!" bisik suara perempuan yang aneh itu.

"Lihat, gara-gara ulahmu aku jadi ditertawakan orang banyak begini! Setan juga kau!"

"Hik, hik, hik...! Aku bukan setan dan juga bukan pelacur, Bocah Sinting. Aku punya nama sendiri."

"Siapa namamu?!" tanya Suto sambil memandang ke arah kiri, karena suara itu datang dari kiri.

Di sebelah kiri ada seorang pemuda yang sedang menikmati nasi pecel. Pemuda berbaju merah itu segera perdengarkan suaranya. "Namaku: Wigata! Mau apa kau tanya-tanya namaku segala?!"

"Aku bukan tanya padamu, Sobat!" kata Suto dengan malu bercampur dongkol.

"Tapi kenapa kau bertanya sambil memandang ku?!"

Pendekar Mabuk sulit menjelaskan. Akhirnya hanya menarik napas dan diam termenung. Sementara itu, Panji Klobot masih giat menyantap hidangannya sambil sesekali memandang kepada Suto Sinting. Panji Klobot mulai mengetahui bahwa saat itu Suto Sinting sedang diganggu oleh suara perempuan yang tak mau menampakkan wajahnya itu. Karenanya, beberapa kejap kemudian Panji Klobot berkata kepada Suto,

"Kang, lupakan suara itu! Jangan diingat-ingat lagi!"

"Kau menyindir anjuranku tadi, ya?!"

"Bukan begitu, Kang. Kalau kau melayani suara perempuan tadi, kau seperti orang gila. Dan mereka akan menganggapmu gila!"

Pendekar Mabuk serba salah. Mau melayani suara aneh itu, dia akan dianggap gila oleh orang-orang di situ. Mau diam saja, tapi suara aneh itu membisik terus di telinganya, seakan gadis itu ikut duduk di samping Suto dan berjarak tak ada satu jengkal.

"Bocah sinting... kalau kau ingin memanggilku, panggillah aku dengan nama Tenda Biru. Panggillah aku dengan nama itu."

"O, kalau begitu kau gadis panggilan, ya?"

Plaaak...! Sekali lagi Suto ditampar hingga wajahnya terbuang ke samping. Orang-orang memandang Suto dengan terperanjat dan terheran-heran. Suto Sinting mencoba mengibaskan tangannya ke samping, seakan menampar balik perempuan yang ada di sampingnya. Wuuus...!

Tapi ia seperti menampar angin dan tidak mengenai apa-apa. Justru kibasan tangannya yang secara tak sadar mengandung kekuatan tenaga dalam itu menghadirkan angin kencang, Weees,..! Angin kencang itu menyapu barang-barang di meja samping, tempat si pemuda berbaju merah itu menikmati makanannya. Barang-barang itu tumpah berantakan, si baju merah sendiri tersentak ke belakang dan jatuh terjengkang. Brrruk...!

"Hei, mau cari gara-gara kau, hah?!" bentak si baju merah.

"Maaf, maaf... aku tidak sengaja. Maafkan aku! ujar Suto Sinting merasa bersalah.

Ploook...! Pemuda berbaju merah itu menghantamkan tinjunya dan wajah Suto menjadi sasaran telak. Suto terlempar ke belakang dan terpelanting jatuh. Kakinya berkelebat mengenai pinggang Panji Klobot. Buuukh...!

"Uukh...!" Panji Klobot mendelik, makanan yang sedang dikunyahnya tersembur keluar. Bruuwws...! Kerasnya semburan membuat makanan dari mulut Panji Klobot menghambur mengenai wajah orang yang ada di depannya. Tentu saja orang itu menjadi berang dan segera menampar Panji Klobot. Ploook...!

"Bocah edan! Wajah orang dianggap lantai kamar mandi, dipakai buat tempat muntahan! Dasar kambing dungu kau, hah?!" bentak orang itu sambil memaki-maki Panji Klobot.

"Wah, kalau begitu caranya bisa kacau dan malu sekali aku!" pikir Suto Sinting. Kemudian ia segera menemui pemilik kedai dan membayar semua biaya makan tersebut.

"Uang ganti guci yang pecah belum, Nak."

"Oh, ya... hmmm... ini uang pengganti guci yang pecah itu!" sambil Suto menambahkan uang kepada si pemilik kedai.

"Panji, lekas tinggalkan tempat ini!" perintah Suto Sinting sambil bergegas pergi, sementara orang-orang memperhatikan dan melontarkan hinaan macam-macam yang membuat wajah Suto menjadi merah menahan marah.

Sampai di luar kedai, Panji Klobot segera ajukan tanya kepada Suto Sinting. "Kang, kenapa buru-buru pergi. Makananku belum habis semua, Kang!"

"Tenda Biru bikin kacau segalanya! Daripada kita menderita malu lebih banyak lagi, mendingan kita cepat-cepat hindari tempat itu!"

"Tenda Biru...?! Aku tidak melihat orang buka tenda biru di situ, Kang!" kata Panji Klobot dengan lugunya karena ia tak tahu maksud Suto.

Si Pendekar Mabuk membiarkan ucapan Panji Klobot, karena tiba-tiba langkahnya terhenti seketika. Seseorang telah menghadang di depannya dengan berdiri tegak dan kakinya sedikit merentang. Orang itu memandang Suto Sinting dengan mata tajam dan bersikap bermusuhan. Panji Klobot sendiri segera hentikan langkah dan memandang orang yang menghadang dengan dahi berkerut.

"Siapa orang itu, Kang?" bisik Panji Klobot.

"Entahlah. Mungkin orang linglung yang mau cari gara-gara kepada kita, Panji! Bersiaplah untuk berlindung agar tak menjadi tempat salah sasaran," bisik Suto Sinting yang membuat Panji Klobot segera menepi secara perlahan-lahan.

Orang yang menghadangnya itu adalah seorang lelaki berusia sebaya dengan Suto Sinting. la tampak kekar dan berotot juga, seperti Suto Sinting. Rambutnya panjang diriap sepunggung, kepalanya mengenakan kain penutup warna merah dengan ikatan sampul di belakang. Pemuda sebaya Suto itu mempunyai kumis tipis dan wajah yang lumayan ganteng dengan pakaian serba hijau cerah.

* * *

TIGA

"MENGAPA kau berdiri menghadangku, Sobat?" tegur Suto dengan tenang. Pemuda berpakaian serba hijau itu menjawab dengan nada dingin.

"Aku ingin menantangmu. Kau yang bernama Suto Sinting; si Pendekar Mabuk itu, bukan?"

"Memang benar. Tetapi mengapa kau ingin menantangku?"

"Aku punya dendam padamu."

"Mengapa kau punya dendam padaku, Kawan?"

"Karena kau telah melenyapkan seluruh ilmu milik adikku."

"Siapa adikmu itu?"

"Naga Langit!" jawab pemuda itu dengan tegas.

Pendekar Mabuk berkerut dahi. Dalam benaknya segera muncul pemuda bernama Naga Langit yang pernah berhadapan dengannya. Pemuda itu mempunyai ilmu 'Lintah Tambak Cumbu' pemberian Nyai Mata Binal. Ilmu itu dapat untuk menyedot seluruh ilmu lawan dengan cara berhubungan mesra bersama lawan jenisnya yang berilmu tinggi. Salah satu korban Naga Langit adalah Gadis Dungu, yang kehilangan seluruh ilmunya setelah kencan dengan Naga Langit.

Pada waktu itu, Suto Sinting berhasil menemukan kelemahan pemilik ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'. Bayangan orang tersebut jika dihantam akan pecah, hilang, dan muncul lagi. Setelah begitu orang tersebut akan kehilangan seluruh ilmunya, termasuk ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'-nya. Dan, Suto Sinting berhasil menghantam bayangan Naga Langit, sehingga Naga Langit menjadi seperti Gadis Dungu atau para korban lainnya, yaitu kehilangan seluruh kekuatan dan ilmunya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perempuan Jahanam).

"Ya, aku ingat tentang Naga Langit," kata Suto Sinting. "Tapi aku belum tahu siapa namamu, Sobat? Mana mungkin aku mau melayanimu karena aku tak percaya kalau kau adalah kakaknya si Naga Langit?!"

"Buka matamu lebar-lebar dan buka telingamu yang congek itu! Akulah yang bernama Taring Naga, juga murid mendiang Begawan Girimaya dari Gunung Pantura!"

"O, ya... kudengar si Naga Langit juga murid Begawan Girimaya dari Gunung Pantura. Tetapi seandainya mendiang guru kalian masih hidup, kurasa guru kalian juga mengecam dan tidak setuju dengan tindakan Naga Langit yang menerjang pranata kesusilaan itu, Taring Naga!"

"Persetan dengan kemungkinanmu! Sekarang aku harus membalas kekalahan Naga Langit, adikku itu! Heeeeat...!" Taring Naga tiba-tiba menerjang Pendekar Mabuk dengan jurus tendangan bertenaga dalam.

Pendekar Mabuk menggeloyor seperti orang kebanyakan minum tuak mau jatuh. Gerakan menggeloyor itu membuat tendangan Taring Naga meleset, tetapi tangan yang mengibas ke samping itu sempat kenai wajah Suto Sinting. Plook...! Pendekar Mabuk terpelanting nyaris jatuh. Untung ada pohon, sehingga tangan Suto Sinting buru-buru berpegangan pada pohon tersebut. Tetapi baru saja Pendekar Mabuk menjadi tegak, tiba-tiba tendangan kaki Taring Naga melesat mengarah ke wajah. Beeet...!

Plak! Suto Sinting menangkisnya. Lalu dengan cepat tubuh Suto berputar dengan kaki berkelebat menendang cepat. Wuut, bet...! Duuukh...! Punggung Taring Naga terkena tendangan tumit Suto Sinting. Pemuda berbaju hijau itu tersentak hingga bungkukkan badan. Panji Klobot ikut-ikutan menyerang. la segera penendang pantat Taring Naga yang sedang terbungkuk itu. Duuukh...!

"Jebol...!" Panji Klobot berseru setelah menendang.

"Aaakh...!" Taring Naga tersentak sambil pegangi pantatnya, lalu tubuhnya terguling ke depan dan jatuh duduk menyeringai. Panji Klobot sendiri cepat lari sembunyi di balik pohon.

"Hati-hati kau...!" hardik Pendekar Mabuk kepada Panji Klobot yang menganggap telah lakukan tindakan dapat membahayakan diri sendiri.

Taring Naga cepat bangkit dan mencabut pedangnya. Sreeet...! "Kubunuh kalian berdua sekarang juga! Tak akan kuberi... aduh?!"

Taring Naga menjadi tegang dan berkerut dahi. la memegangi pantatnya kembali. Wajahnya tampak menyeringai dengan bingung. "Celaka! Kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali?! Aduuuh... ada yang ingin keluar, uuh... uuh... masuk angin apa, ya?"

"Hi, hi, hi...!" Panji Klobot tertawa cekikikan di balik pohon.

Pendekar Mabuk justru berkerut dahi dengan heran melihat Taring Naga kebingungan memegangi pantatnya.

"Aduh, mules sekali rasanya! Sial! Aku... aku... aku tidak kuat kalau begini!" sambil Taring Naga semakin menyeringai menahan sesuatu yang ingin keluar dari pantatnya. "Tunggu!" serunya kepada Suto. "Pertarungan kita tunda dulu! Kita lanjutkan setelah... setelah... aduh, tak kuat lagi aku! Siaaal...!"

Taring Naga terpaksa lari ngibrit dengan mendekap pantatnya memakai kedua tangan setelah pedangnya dimasukkan ke dalam sarung pedang, ia berlari dengan terkekeh-kekeh mencari sungai atau WC untuk melepaskan hajatnya. Sementara itu, Pendekar Mabuk akhirnya ikut tertawa geli setelah Panji Klobot berkata kepadanya sambil tertawa juga.

"Kugunakan satu-satunya jurus pemberian almarhum pamanku. Namanya jurus 'Tendangan Cuci Perut'. Siapa pun tak bisa menahan untuk tetap di tempat jika terkena jurus 'Tendangan Cuci Perut'-ku itu. Pasti akan lari cari WC atau sungai untuk menguras isi perutnya! Heh, he, he, he…!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot mengikuti kepergian Taring Naga. Beberapa penduduk desa yang melihat pertengkaran itu juga ikut-ikutan menyusul Taring Naga. Rupanya pemuda berbaju hijau itu menuju sungai kecil yang sering dipakai untuk memandikan sapi atau kerbau mereka. Dari kejauhan, para pengikut Taring Naga segera mendengar suara histeris.

Brebeeet, breeet, breeettt... treet, teet, te, te, te, tet, breeebet...!

"Huah, hah, hah, hah, hah...!" mereka saling tawa terbahak-bahak, sementara Taring Naga hanya bisa cemberut dengan wajah ngotot. Bukan saja menahan rasa malu, namun juga menahan rasa heran karena 'setorannya' tidak berhenti-berhenti walau sudah banyak yang dikeluarkan.

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot akhirnya meninggalkan desa itu. Perjalanan mereka teruskan untuk menemui si Gila Tuak, guru utama Pendekar Mabuk. Selain sudah lama Pendekar Mabuk tidak menengok keadaan gurunya itu, ia juga berkeperluan ingin menanyakan tentang adanya Bunga Kecubung Dadar itu.

"Sekalian aku ingin menanyakan kepada Guru, bolehkah aku menurunkan ilmuku sejurus dua jurus kepada seseorang, seperti misalnya kepada si Panji Klobot ini," ujar Suto Sinting dalam hatinya.

Tiba-tiba langit mendung datang dan angin berhembus kencang. Rintik hujan turun sebutir demi sebutir. Hujan bagai tak niat turun, sehingga menyangsikan si Pendekar Mabuk. Namun pada saat itu, sebuah suara terdengar lagi bagai berada tepat di depan telinga Suto Sinting.

"Di sebelah barat ada gua. Meneduhlah dulu di sana!"

"Tenda Biru... kau masih mengikutiku rupanya," ucap Suto Sinting yang membuat Panji Klobot berpaling memandangnya, merasa diajak bicara oleh Suto.

"Tentu saja aku masih mengikutimu, Kang. Habis aku benar-benar ingin punya ilmu seperti yang kau punyai itu!"

"Aku tidak bicara padamu, Panji."

"Lalu, bicara kepada siapa? Oh... suara perempuan itu lagi, ya?"

Suara itu terdengar lagi, "Lekas ke gua! Hujan akan deras!"

"Kau tak perlu cemas. Aku akan menolak hujan ini!"

"Kau tak akan bisa menolaknya, Bocah Sinting!"

"Kenapa kau bilang begitu?!"

"Karena hujan ini bukan sembarang hujan."

"Apa maksudmu?"

"Hujan ini adalah hujan kiriman yang mengandung racun pembusuk tulang!"

Pendekar Mabuk terbungkam seketika. Langkahnya pun terhenti bersamaan dengan berhentinya langkah Panji Klobot yang juga mendengar suara si Tenda Biru secara samar-samar. Panji Klobot dan Suto saling berpandangan sejenak.

"Dari mana kau tahu kalau hujan ini adalah hujan yang mengandung racun?" tanya Suto dengan pandangan mata tak mengerti harus menatap ke arah mana.

"Di sebelah utara ada pertarungan. Salah satu tokoh yang bertarung melepaskan jurus mautnya yang menembus mega mengundang mendung. Jurus mautnya itu mengandung racun yang hanya dia pemilik penangkal racunnya. Racun itu akan bersatu dengan gumpalan mendung dan turun sebagai hujan yang dapat membusukkan tulang manusia dalam beberapa saat. Karena itulah, hindari hujan ini sebelum kau dan Panji Klobot kehujanan. Jika kalian kehujanan, berarti kalian keracunan!"

Panji Klobot cepat-cepat bersembunyi di bawah pohon talas yang berdaun lebar, tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Hei, ada apa kau nongkrong di sana?!" seru Suto.

"Aku takut kena hujan beracun, Kang!"

"Kalau mau sembunyi jangan di situ! Lihat, di belakangmu ada ular sedang bertelur!"

Panji Klobot menengok ke belakang. "Huaaaa...!" ia menjerit sambil berlari ketakutan, karena di sana memang ada seekor ular hitam berbelang-belang kuning sedang melingkar dan bertelur.

Mereka segera bergegas ke gua yang ada di sebelah barat. Panji Klobot segera masuk ke dalam gua itu. Tapi Pendekar Mabuk masih memandang ke arah utara. la tertarik dengan berita tentang pertarungan dua tokoh sakti itu. Pendekar Mabuk paling suka melihat suatu pertarungan karena ia dapat pelajari jurus-jurus mereka yang belum pernah dilihatnya.

"Panji, kau tetap di dalam gua dulu, aku mau ke utara sebentar!"

"Kang, apa kau tak dengar suara aneh itu memberitahukan tentang hujan beracun itu? Tulangmu bisa busuk, Kang! Kalau sudah busuk nanti tak bisa dipakai untuk bikin pipa tembakau!"

Pendekar Mabuk segera menenggak tuaknya. la yakin tuaknya dapat menolak kekuatan racun tersebut. la segera melangkah setelah tinggalkan pesan kepada Panji Klobot. "Lindungi dirimu dari air hujan nanti! Jangan keluar ke mana-mana sebelum aku datang kembali."

Namun tiba-tiba tubuh Suto tersentak ke belakang. Sepertinya ada sepasang tangan yang menghentak dadanya dengan kuat. Beeekh...! Brrus...! Tubuh Suto terhempas masuk ke dalam gua dan jatuh terhempas di sana. Ketika itu, hujan pun segera turun. Bresss...!

"Kang, lihat hujannya! Lihat...! Hujannya berwarna merah, Kang!" seru Panji Klobot tanpa pedulikan Suto yang jatuh itu. Matanya memandang tegang dari depan pintu gua tersebut.

Pendekar Mabuk menyeringai sekejap, lalu segera bangkit. la tahu tubuhnya didorong oleh Tenda Biru, karena perempuan itu pasti tak setuju jika Suto pergi ke utara dalam keadaan hujan-hujanan. Kini mata Pendekar Mabuk pun memandang hujan dengan terbelalak kagum. Hujan yang turun benar-benar berwarna merah seperti darah disiramkan ke bumi.

Tenda Biru kirimkan suaranya lagi di samping Suto. "Lihat, aku tak bicara bohong padamu! Hujan beracun itu benar-benar turun. Kalau kau nekat ke utara, kau akan kehujanan dan tulangmu menjadi busuk!"

"Omong kosong!" sentak Suto Sinting. la meneguk tuaknya lagi tak begitu banyak. Kemudian tangannya diulurkan keluar dari pintu gua. Tangan itu menjadi basah oleh air hujan seperti berlumur darah.

"Kau benar-benar sinting!" geram suara Tenda Biru.

Sementara itu, Panji Klobot menjadi tegang melihat tangan Suto basah oleh air hujan darah. "Lihat, aku tidak mengalami luka atau pembusukan tulang apa pun. Aku masih sehat dan tanganku juga tak menjadi cacat!" ujar Suto Sinting, seakan bicara kepada Panji Klobot, tetapi sebenarnya ditujukan kepada Tenda Biru.

Suara perempuan itu terdengar lirih, seperti menggumam. "Mestinya sekarang kulit tanganmu telah melepuh dan kemudian seluruh tulang tanganmu menjadi busuk."

"Buktinya tidak!" sangkal Suto Sinting.

"Kau memang bocah sinting. Sulit aku memahami ilmumu!" ujar suara Tenda Biru.

"Aaaa...!" tiba-tiba mereka mendengar suara jeritan seseorang di kejauhan. Jeritan itu berasal dari arah timur.

"Aaaaow...! Tolooong...!" Jeritan terdengar lagi berasal dari arah selatan.

"Dengar, Bocah Sinting... mereka yang kehujanan menjerit kesakitan. Dalam waktu beberapa kejap mereka akan mati dalam keadaan menjadi busuk seperti bubur!" ujar suara Tenda Biru.

"Panji, aku akan ke utara. Kau jangan sampai terkena tetesan air hujan sedikit pun! Tapi... o, ya... sebaiknya kau minum tuakku dulu sebagai bekal penolak racun jika hujan itu sampai memercik mengenai kulit tubuhmu!"

Setelah Panji Klobot menenggak tuak dari bumbung bambu sakti itu, Pendekar Mabuk pun segera keluar dari gua. Tubuhnya memang basah oleh guyuran air hujan merah yang dikenal dengan hujan berdarah, walaupun hujan itu sebenarnya tidak mengandung bau amis darah. Tetapi keadaan Pendekar Mabuk sama sekali tidak bernasib seperti orang-orang yang tadi menjerit dan sekarang sudah tak bernyawa dalam keadaan busuk dan menjadi lembek menyerupai bubur.

Langit masih tampak hitam. Mendung bergumpal-gumpal. Pendekar Mabuk segera lepaskan jurus 'Pukulan Guntur Perkasa', yaitu seberkas sinar hijau melesat dari tangan Suto Sinting ke arah mendung di langit. Claaap...! Sinar hijau itu langsung kenai gumpalan mega hitam, lalu terjadilah ledakan yang menggetarkan bumi.

BIegaaarrr... ! Mendung itu tiba-tiba pecah dan langit menjadi hijau dalam sekejap. Ketika cahaya hijau yang menyebar luas bagai membakar langit itu lenyap, maka mendung hitam sudah tiada. Langit menjadi cerah dan hujan darah pun berhenti total. Tetapi tanah, pohon, dan alam sekitarnya masih dilumuri oleh cairan merah bagaikan lautan berdarah.

"Benar-benar jurus sinting!" gumam suara Tenda Biru di samping kiri Suto.

"Justru aku ingin bertanya padamu, siapa yang punya jurus dapat mendatangkan hujan darah beracun ganas ini?!"

"Pergilah ke utara! Akan kujelaskan di sana!"

Zlaaap...! Suto Sinting melesat dengan kecepatan sangat tinggi, sukar dilihat dengan mata telanjang. la bagaikan menghilang dari tempatnya karena kecepatan jurus 'Gerak Siluman' memang sukar ditandingi oleh siapa pun.

Tiba di utara, Pendekar Mabuk melihat sebuah pertarungan yang dilakukan oleh dua tokoh berambut putih. Pertarungan itu terjadi di sebuah lembah yang tanah dan alam sekitarnya sudah menjadi merah semua karena diguyur air hujan berdarah.

"Aku kenal dengan salah satu dari mereka!" gumam Suto Sinting sambil memandang tokoh tua berusia sekitar tujuh puluh tahun yang mengenakan jubah dan celana abu-abu.

"Yang mana yang kau kenal?" tanya suara Tenda Biru.

"Yang tubuhnya pendek dan membawa tongkat berujung ketapel itu!"

"Hmmm... siapa dia?"

"la berjuluk si Kapas Mayat. Aku pernah jumpa dengannya ketika kapalnya Ratu Dayang Demit mendarat di Tanah Jawa," jawab Suto pelan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gairah Sang Ratu). Suto pun tambahkan kata, "Dia juga sahabat baik guruku!"

"Kalau begitu, lekas selamatkan si Kapas Mayat. Dia akan kewalahan melawan si Pangkar Soma!"

Pendekar Mabuk agak terkejut. "Oh, jadi... pak tua yang memakai jubah merah dan celana merah berambut abu-abu itu adalah si Pangkar Soma?!"

"Benar! Semakin tua ilmunya semakin tinggi. Apalagi sejak gurunya tewas dan seluruh ilmu diwariskan kepadanya, ia menjadi tokoh yang tak mudah dikalahkan."

Pendekar Mabuk menggumam sambil matanya memandang tokoh tua berusia sekitar enam puluh lima tahun, berwajah dingin dan mempunyai tubuh sedikit gemuk. Rambutnya yang panjang putih itu tidak mengenakan ikat kepala, sehingga jika tertiup angin sering meriap menutupi wajahnya, membuatnya semakin sangar.

"Tak kusangka Pangkar Soma sudah setua itu. Kukira masih sebayaku atau sekitar berusia empat puluh tahun. Rupanya lelaki itu yang membantai seluruh keluarga Murbiah, sehingga Murbiah menyimpan dendam kesumat kepadanya. Tentu saja Panji Klobot tak mungkin bisa mengalahkan Pangkar Soma, karena Panji Klobot tidak memiliki ilmu apa-apa kecuali satu ilmu warisan dari mendiang pamannya itu: 'Tendangan Cuci Perut'," pikir Suto Sinting sambil masih diam di kejauhan jarak.

Kapas Mayat sebenarnya bukan tokoh berilmu rendah. Kemunculannya selalu diawali dengan datangnya angin ribut dan bau wewangian setanggi dari tongkatnya itu. Tetapi, agaknya kali ini Kapas Mayat memang terdesak oleh serangan Pangkar Soma. Walaupun Pangkar Soma telah mampu hadirkan hujan beracun, dan tubuh Kapas Mayat seperti lilin yang tak dapat menjadi basah oleh guyuran hujan, namun Pangkar Soma mempunyai jurus berbahaya lagi yang dapat melenyapkan jiwa Kapas Mayat.

Terdengar Pangkar Soma berseru kepada Kapas Mayat dari jarak delapan langkah. "Sekaranglah saatnya kau tebus kematian guruku akibat racun 'Balsam Tengkorak'-mu itu, Kapas Mayat! Huaaah...!"

Rupanya Pangkar Soma ingin balas dendam atas kematian gurunya. Gurunya mati karena pertarungan dengan si Kapas Mayat. Kapas Mayat berhasil melukai guru Pangkar Soma dengan jurus 'Balsam Tengkorak' yang amat ganas itu. Kali ini Pangkar Soma yang bersenjata cambuk merah itu segera mencabut senjatanya dan melecutkan ke arah atas kepala Kapas Mayat. Ctaaar...! Ujung cambuk itu memancarkan sinar biru lebar bagai menyorot ke bumi. Tubuh Kapas Mayat tersiram sinar biru lebar.

Srraab...! Zlaaap...! Wuuut...!

Andai saja Pendekar Mabuk tidak pergunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya nyaris melebihi kecepatan cahaya, mungkin Kapas Mayat sudah menjadi serbuk lembut seperti seonggok batu yang terkena sinar biru dari cambuk itu. Pendekar Mabuk bergerak cepat dan menyambar tubuh Kapas Mayat. Tetapi batu yang semula berada di samping Kapas Mayat itu berubah menjadi seonggok tumpukan serbuk lembut berwarna hitam.

Tanah tempat berdirinya Kapas Mayat tadi juga berubah menjadi hitam dan berpasir seluas lima langkah sekeliling. Pangkar Soma mengejar lawannya, tapi ia kehilangan arah, sehingga makin lama justru semakin jauh dari si Kapas Mayat.

Kapas Mayat terkejut ketika tahu-tahu dirinya sudah berada di tempat jauh dari pertarungannya. Ia lebih terkejut lagi setelah diturunkan dari gendongan Suto Sinting. "Lho, kalau tak salah dugaanku, kau adalah si Pendekar Mabuk, muridnya Gila Tuak?!"

"Betul, Pak Cilik!" jawab Suto yang selalu memanggil Kapas Mayat dengan sebutan Pak Cilik, karena tinggi tubuh Kapas Mayat hanya sebatas perut Suto.

"Untung kau segera menyambarku. Aku tak sangka kalau cambuk itu akan keluarkan cahaya biru. Kupikir, si Tengkuk Cadas tidak menurunkan jurus 'Cambuk Iblis' kepada muridnya; Pangkar Soma itu! Kalau tak salah dugaanku, ternyata jurus itu diturunkan juga oleh si Tengkuk Cadas kepada muridnya."

Pendekar Mabuk tertawa pendek. "Pak Cilik ini bagaimana, melawan gurunya bisa unggul, masa melawan muridnya nyaris mati?"

"Kalau tak salah dugaanku, aku terlalu mengangap ringan si Pangkar Soma, akhirnya aku terjebak oleh anggapanku sendiri. Tapi... lupakan tentang itu. Anggap saja aku belum pernah bertarung melawan Pangkar Soma."

Kapas Mayat berlagak tenang, seperti tak pernah melakukan pertarungan yang berbahaya. Pendekar Mabuk segera berkerut dahi karena ia mendengar suara Tenda Biru berbisik kepadanya.

"Tanyakan tentang Bunga Kecubung Dadar kepadanya. Siapa tahu dia mengetahui tentang bunga itu."

"Pak Cilik, maukah kau menolongku?"

Kapas Mayat menguap, "Hoooaaam...! Kalau tak salah dugaanku, aku ngantuk," ujarnya. "Dua hari dua malam aku tak tidur."

"Kenapa sampai tak tidur, Pak Cilik?"

"Kalau tak salah dugaanku, aku mencari cucuku si Kelambu Petang. Sudah empat hari dia tak pulang. Entah hilang ke mana."

"Ah, bosan aku mendengarnya. Lagi-lagi kau selalu kebingungan karena kehilangan cucu. Kelambu Petang itu sudah besar, sudah dewasa, Pak Cilik. Kalau dia pergi bukan berarti hilang. Mungkin ada keperluan pribadi yang belum dijelaskan kepadamu. Jangan setiap cucumu pergi selalu dianggap hilang."

Suto bernada gerutu, karena dulu dia pernah membantu Kapas Mayat yang merasa kehilangan cucu. Ternyata sang cucu yang bernama Kelambu Petang hanya sekadar pergi untuk membalas dendam kepada Ratu Dayang Demit, setelah itu tanpa bantuan Suto pun sebenarnya Kelambu Petang akan pulang sendiri. Dulu, Suto merasa ikut cemas mendengar cucunya Kapas Mayat hilang. Tapi sekarang dia tak mau ikut cemas lagi.

"Ikutlah aku ke sana, di sana ada gua dan temanku menunggu di dalamnya. Kau bisa istirahat di dalam gua itu, Pak Cilik! Jangan pikirkan cucumu dulu. Anggap saja si Kelambu Petang itu memang gadis yang gemar minggat! Kalau capek akan pulang sendiri."

"Soalnya... kalau tak salah dugaanku, kitab pusakaku dibawa pergi."

"Kitab pusaka apa?!" Suto Sinting bersungut-sungut.

"Kitab pusaka 'Tanggul Murka' yang dulu kan kau berikan padaku sebagai hadiah itu? Hmmm...! Itu kitab berisi pelajaran membaca bagi yang buta huruf! Biar saja dibawa oleh si Kelambu Petang!"

"Kalau tak salah dugaanku, bukan kitab itu yang dibawanya, tapi kitab 'Kidung Bencana' yanrg dibawa Kelambu Petang."

"Hahhh...?!" Suto Sinting terkejut, karena ia pernah terlibat perkara kitab pusaka 'Kidung Bencana' belum lama ini, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam Episode Hilangnya Kitab Pusaka).

"Setahuku Kitab Kidung Bencana itu milik Ki Perak Porong dan Nyai Tawang Sangit!"

"Siapa bilang? Kalau tak salah dugaanku, kitab itu milikku. Porak Porong dan Tawang Sangit hanyalah sahabatku."

Pendekar Mabuk tertegun, hatinya mulai cemas. Sebab dia tahu Kitab Kidung Bencana itu berisi mantra-mantra gaib yang dapat mendatangkan bencana besar jika diucapkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Tapi benarkah kitab itu milik si Kapas Mayat?! Benarkah yang dibawa Kelambu Petang adalah Kitab Kidung Bencana yang sebenarnya? Jangan-jangan Kelambu Petang salah bawa?!"

* * *

EMPAT

MALAM itu Pendekar Mabuk beristirahat di dalam gua yang tak begitu lebar. Gua itu tidak mempunyai jalan tembus ke mana-mana, dan agaknya sering digunakan bermalam bagi para pengelana yang kemalaman.

Panji Klobot sudah mendengkur sejak tadi. la mudah tertidur karena siangnya terlalu banyak makan di kedai. Tinggal Suto Sinting sendirian yang masih melek mendiang di dekat api unggun buatannya sendiri. Kapas Mayat tak mau diajak bermalam. Tokoh tua yang pendek berambut abu-abu itu tetap pergi mencari cucunya; si Kelambu Petang.

Pendekar Mabuk sengaja tak mau membantu mencarikannya karena sudah tahu watak Kapas Mayat yang selalu membesar-besarkan masalah, padahal ia hanya mengkhawatirkan keselamatan cucunya. la memang sangat sayang kepada Kelambu Petang, sebagai cucu tunggal semata wayang, entah wayang golek atau wayang kulit. Tetapi sebelum Suto berpisah dengan si Kapas Mayat, tokoh tua itu tadi sempat ditanya tentang Bunga Kecubung Dadar oleh Pendekar Mabuk.

"Apakah kau tahu tentang Bunga Kecubung Dadar, Pak Cilik?"

"Kalau tak salah dugaanku," Kapas Mayat selalu mengawali ucapannya dengan kata-kata itu, kemudian menyambungnya lagi. "....Bunga Kecubung Dadar belum pernah kulihat, tapi kalau telur dadar sering kumakan!"

"Aku sedang mencari Bunga Kecubung Dadar, Pak Cilik. Tolong bantu aku."

"Kalau tak salah dugaanku, sebaiknya carilah telur dadar saja. Itu lebih mudah dan aku bisa membantumu."

Suto mendesah jengkel. "Aaah...! Yang kubutuhkan bunga itu, Pak Cilik!"

"Kalau begitu kau harus menemui sahabatku; si Kusir Hantu."

"Apakah dia tahu tentang bunga tersebut?"

"Kalau tak salah dugaanku, Kusir Hantu semasa mudanya pernah menjadi pedagang kembang. Jadi pengetahuannya tentang bunga bisa diandalkan. Di samping itu, kalau tak salah dugaanku... Kusir Hantu semasa mudanya juga sering meminjam uang yang berbunga. Pinjam seratus mengembalikannya seratus sepuluh. Jadi, kalau tak salah dugaanku, soal bunga-berbunga itu memang sudah makanan sehari-hari si Kusir Hantu semasa mudanya."

Di dalam gua yang hangat oleh cahaya api unggun itu, Suto Sinting berkecamuk sendiri di dalam hatinya. la agak ragu dengan penjelasan si Kapas Mayat karena berkesan main-main. Tetapi hati kecil Pendekar Mabuk pun punya pendapat sendiri untuk langkahnya.

"Coba-coba saja. Siapa tahu si Kusir Hantu benar-benar mengetahui tentang bunga itu. Tapi... perlukah aku bersungguh-sungguh dalam mencari bunga tersebut? Mengapa aku harus pusing memikirkannya? Bukankah itu urusan si Tenda Biru?!"

Renungan demi renungan, akhirnya suara Tenda Biru pun hadir di malam yang hening itu. Pendekar Mabuk sempat tersentak kaget ketika telinganya menangkap suara pelan seorang perempuan yang cukup dekat dari tempat duduknya.

"Siapa orang yang berjuluk Kusir Hantu itu, Bocah Sinting?!"

Setelah melepaskan napas mengusir rasa kagetnya, Pendekar Mabuk pun memberi jawaban dengan suara pelan juga. Suara itu sengaja dipelankan supaya Panji Klobot tidak terganggu dari tidurnya. "Kusir Hantu itu juga sahabat guruku, dan sahabatku sendiri. Aku kenal baik dengannya dan pernah membantunya dalam sebuah peristiwa berdarah." (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

"Mengapa kau tak mencobanya untuk temui si Kusir Hantu?"

"Aku takut ucapan si Kapas Mayat hanya kelakar belaka."

"Tak ada buruknya jika mencobanya, Bocah Sinting."

"Mengapa kau bersifat mendesakku?"

"Karena aku sangat membutuhkan bunga itu!" jawab suara Tenda Biru.

"Kau yang membutuhkan, mengapa aku yang kerepotan?!"

Suara perempuan itu tidak terdengar. Hening malam menguasai gua tersebut. Hanya kemertas suara kayu bakar yang menjadi pengisi keheningan itu. Pendekar Mabuk menenggak tuaknya lagi. Tak banyak, namun cukup melegakan hati dan menyegarkan tubuh.

"Bocah sinting..." suara Tenda Biru terdengar lagi bernada pelan. "...aku tak punya sanak saudara lagi di dunia ini. Semuanya telah tiada, tinggal aku seorang diri berkelana di permukaan bumi. Tak ada orang yang bisa kumintai bantuannya untuk mencarikan Bunga Kecubung Dadar itu. Ketika aku melihatmu bertarung dengan Malaikat Kabut Gamping, aku menaruh harapan padamu."

"Harapan apa?"

"Harapan bisa membantuku mendapatkan bunga itu."

"Bukankah kau menyuruh Panji Klobot?"

"Itu hanya sebagai jembatan untuk mendekatimu, Bocah Sinting."

Pendekar Mabuk tertawa pelan dan pendek.

"Aku yakin si Panji Klobot tak mungkin bisa temukan Bunga Kecubung Dadar itu. Tetapi jika ia merengek padamu, tentunya sebagai sahabat kau akan membantunya mencari bunga tersebut."

"Mengapa tak bicara langsung padaku kala itu?"

Hening sejurus, kemudian terdengar suara lirih si Tenda Biru. "Aku... aku malu padamu."

"Mengapa malu?" desak Suto sambil menggoda suara merdu itu.

"Kau... kau pasti akan melecehkan diriku sebagai gadis bodoh dan tak punya kemampuan apa-apa. Aku takut kau mengecamku dan tak mau membantuku jika harus kujelaskan siapa diriku sebenarnya."

Pendekar Mabuk tertawa lagi, tapi kali ini tanpa suara. Hanya saja senyumnya tampak mekar menawan dalam cahaya api unggun. "Jelaskan siapa dirimu sebenarnya, dan mengapa kau sangat membutuhkan Bunga Kecubung Dadar itu."

"Kau janji tidak akan mengecam atau membenciku?"

"Ya, aku berjanji, asal kau tidak mengganggu diriku dan Panji Klobot!"

"Aku tidak akan mengganggu siapa pun. Aku sudah bersumpah dalam hatiku untuk tidak melangkah di jalan yang sesat lagi."

"Jalan sesat bagaimana? Jelaskanlah!"

"Kau pun janji akan menolongku jika sudah kujelaskan segalanya?!"

Pendekar Mabuk ambil napas dan menghembuskannya panjang-panjang. "Baik, aku berjanji akan menolongmu!"

Sreeek...! Tanah berbatu di samping Suto berjarak. Sepertinya Tenda Biru bergeser untuk lebih dekat lagi dengan Suto. Dan ketika suaranya terdengar lagi, ternyata memang lebih dekat dan lebih jelas dari yang tadi.

"Aku adalah salah satu dari murid Nyai Garang Sayu...."

Suto memotong, "Siapa itu Nyai Garang Sayu, sepertinya aku pernah dengar nama itu?!"

"Tentunya kau masih ingat Hulubalang Iblis!"

"Oooh... ya, ya... sekarang aku ingat. Nyai Garang Sayu adalah ibu dari Hulubalang Iblis!"

"Benar...!"

Pendekar Mabuk segera membayangkan pertarungan yang pernah dilakukan dengan Nyai Garang Sayu demi membebaskan Pematang Hati, cucu dari si Kusir Hantu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Hulubalang Iblis).

Suara si Tenda Biru terdengar lagi di samping Suto Sinting. "Aku termasuk orang keempat murid kepercayaan Nyai Garang Sayu. Ketika guruku kau kalahkan bersama si Bocah Kolok, dan Hulubalang Iblis kau bunuh, aku segera melarikan diri dan tak mau terlibat peristiwa itu. Sekalipun pada waktu itu aku tidak melihat sendiri pertarunganmu dengan guruku, tapi aku mendengar cerita tentang kesaktianmu dari teman-teman yang menyaksikan."

"Kau takut padaku?" sambil Suto tersenyun menggoda.

Keheningan terjadi sekejap. Lalu terdengar suara si Tenda Biru menjawab pertanyaan Suto tadi. "Aku tak terlalu takut padamu. Karena ilmuku pun sudah bertambah sejak tewasnya mendiang Nyai Garang Sayu. Aku sempat berguru dengan seorang pertapa dari Gunung Rangkas. Namun belum lama ini beliau meninggal setelah sebagian besar kekuatan tenaga dalam dan mantra kesaktiannya diturunkan padaku dalam waktu singkat. Oleh sebab itu aku berani menantang pertarungan dengan tokoh sakti dari Pulau Siluman yang bernama Nyai Ronggeng Iblis."

"Mengapa kau menantangnya?"

"Pesan dari guruku, si pertapa sakti dari Gunung Rangkas, bahwa aku harus bisa membunuh Nyai Ronggeng Iblis, karena menurut Guru, kekuatan Nyai Ronggeng Iblis kelak akan mengalir ke dalam tubuh Pangkar Soma."

"Mengapa begitu?"

"Sebab Nyai Ronggeng Iblis adalah kekasih dari si Tengkuk Cadas. Cintanya yang diabaikan oleh Tengkuk Cadas membuat Nyai Ronggeng Iblis tak mau kawin dengan lelaki mana pun. Kesetiaan cinta itulah yang kelak akan melebur menjadi satu dengan seluruh ilmu yang dimiliki si Tengkuk Cadas. Sedangkan seluruh ilmu Tengkuk Cadas sekarang ada di dalam diri Pangkar Soma. Maka seluruh kekuatan gaib Nyai Ronggeng Iblis akan menyatu di dalam diri Pangkar Soma. Itu berarti si Pangkar Soma akan menjadi tokoh terkuat di seluruh rimba persilatan."

"Ooo... jadi karena itulah kau mendapat tugas dari pertapa sakti itu untuk membunuh Nyai Ronggeng Iblis?"

"Benar. Sebenarnya guruku bisa saja membunuh Nyai Ronggeng Iblis dengan kesaktiannya."

"Mengapa tidak dilakukan?"

"Karena guruku itu adalah kakak dari Nyai Ronggeng Iblis. la tak tega membunuh adiknya sendiri, walau hati kecilnya bertentangan dengan aliran sesat yang dianut Nyai Ronggeng Iblis. Maka, akulah yang diutus menyelesaikan pekerjaan itu, dan sebagai jaminannya aku mendapatkan warisan kekuatan Guru."

"Lalu, sekarang Nyai Ronggeng Iblis sudah kau bunuh?!"

Terdengar ada napas yang menghembus bersama suara desah kecil. Walau tak terlihat, namun Suto yakin kala itu Tenda Biru sedang menghembuskan napas, seperti membuang kesesakan di dalam dadanya. Karena tak lama kemudian, suara Tenda Biru terdengar lagi dengan nada duka yang amat memprihatinkan.

"Ternyata Nyai Ronggeng Iblis bukan tokoh yang mudah dikalahkan. Aku terkena mantra kutukannya dan menjadi hilang, tak bisa dilihat dan disentuh siapa pun. Aku juga tak bisa menyentuh Nyai Ronggeng Iblis, tapi sewaktu-waktu dia bisa melihatku dan bisa membunuhku."

"Mengapa kau tidak dibunuhnya saja?"

"Karena Nyai Ronggeng Iblis tak berani membunuhku sebab dia tahu bahwa aku adalah murid dari kakaknya. Aku sendiri tak memberi tahu Nyai Ronggeng Iblis bahwa kakaknya itu sudah tewas beberapa waktu yang lalu. Oleh sebab itu aku hanya dikutuk menjadi Gadis Tanpa Raga."

"Apakah itu berarti kau mati?" tanya Suto Sinting.

"Tidak. Aku masih hidup. Namun tak bisa dijamah dan dilihat oleh siapa pun, kecuali oleh Nyai Ronggeng Iblis."

"Sampai kapan kau menjadi Gadis Tanpa Raga begitu?"

"Selamanya, selama Nyai Ronggeng Iblis belum mati, atau selama aku belum memakan Bunga Kecubung Dadar!"

"Dari mana kau tahu kalau wujudmu bisa menjelma kembali jika sudah memakan Bunga Kecubung Dadar?"

"Roh dari guruku pernah menemuiku. Tapi roh Eyang Tapak Lintang tidak memberi tahu di mana bunga itu berada."

"Eyang Tapak Lintang itu pertapa sakti yang menjadi gurumu?"

"Benar. Dan aku tidak bisa menemui roh Guru, sebab aku tidak berada di alam gaib atau alam kematian."

Pendekar Mabuk menenggak tuak lagi. Sebelum ia bicara, suara si Tenda Biru sudah terdengar kembali bagai membisik di telinga kiri Suto Sinting.

"Tolonglah aku, Bocah Sinting. Aku akan mengabdi kepadamu selamanya jika kau mau menolongku mencarikan Bunga Kecubung Dadar itu. Aku bersumpah ingin masuk dalam aliran putih dan ikut memerangi kejahatan para tokoh aliran hitam. Aku sudah bosan menjadi orang sesat, Bocah Sinting!"

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil.

"Biarkan aku menjadi abdimu. Biarkan aku mengabdi sebagai budakmu, asal kau bisa kembalikan wujudku sebagai gadis yang mempunyai raga dan rupa."

"Bukankah lebih baik kau tanpa raga, bisa melayang ke sana-sini dan mencelakai orang tanpa bisa dicelakai?"

"Jiwaku telah berubah sejak aku diangkat sebagai murid Eyang Tapak Lintang. Entah mengapa tiba-tiba aku tidak ingin mengikuti langkah sesat yang diajarkan oleh bekas guruku; Nyai Garang Sayu itu."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum sambil memainkan api dengan sebatang ranting panjang. Tenda Biru perdengarkan suaranya lagi.

"Aku sudah kehilangan segala-galanya; keluarga, saudara, kekasihku pun sudah tiada, guru pun tiada, kini aku kehilangan ragaku... ooh, haruskah aku kehilangan jiwa suciku juga?"

Nada sendu terdengar menggelitik hati Suto Sinting. Pendekar tampan itu merasa terharu dan menjadi kasihan kepada nasib si Tenda Biru. Namun rasa ibanya itu tidak ditonjolkan dalam raut wajahnya. Rasa iba itu hanya dipendam dalam hati, walau wajah tetap tampilkan senyum tipis yang menambah ketampanan si murid sinting Gila Tuak itu.

Tiba-tiba Suto merasakan ada sesuatu yang menempel di pundak kirinya. Sebuah kepala menempel di sana. Terasa hangat dan bergetar. Suto dapat membayangkan, pada saat itu Tenda Biru meletakkan kepalanya di pundak Suto dengan wajah duka. Karena beberapa saat kemudian, Suto pun merasakan tetesan air hangat di lengan kirinya. Air hangat itu pasti air mata kesedihan si Gadis Tanpa Raga. Anehnya, air mata itu bisa dilihat membasahi lengan, tapi wajah yang mencucurkan air mata itu tidak bisa dilihat dan diraba oleh Suto Sinting.

"Aku merasakan sentuhan tanganmu," terdengar suara si Tenda Biru sedikit parau karena tangis. "Kau sedang mengusap pipiku, Bocah Sinting."

"Aku tidak merasa menyentuh apa-apa."

"Memang, tapi... tapi peluklah aku. Aku hampir kehilangan semangat lagi. Peluklah aku, Bocah Sinting...! pinta suara Tenda Biru dengan nada kian mengharukan. Isak tangisnya pun mulai terdengar samar-samar. Kepala yang bersandar di pundak Suto terasa berguncang-guncang. Kepala itu sekarang pindah ke dada.

Suto Sinting mencoba memeluk tubuh Tenda Biru, tapi ia tetap tidak merasakan sedang memeluk sesuatu. Rupanya pengaruh kutukan itu cukup aneh. Kehandak hati orang lain tidak bisa dirasakan oleh orang lain itu namun bisa dirasakan oleh Tenda Biru. Tapi kehendak hati Tenda Biru bisa dirasakan oleh orang lain dan oleh Tenda Biru sendiri.

Kehendak hati Suto ingin memeluk, bisa dirasakan oleh Tenda Biru. Gadis itu merasa sedang dipeluk Suto. Tetapi Suto tidak bisa merasakan sedang memeluk Tenda Biru. Sebaliknya, sekarang kehendak hati Tenda Biru ingin memeluk Suto. Pelukan itu dapat dirasakan oleh Suto dan dapat dirasakan pula oleh Tenda Biru sendiri.

"Aneh sekali kutukan ini," gumam Suto lirih.

"Kalau tak aneh bukan kutukan orang sakti," jawab Tenda Biru di ujung sisa tangisnya.

Pelukan hangat itu terasa menjalar ke leher. Pendekar Mabuk hanya bisa merasakan debar-debar kehangatan yang mengusik gairahnya. Tetapi ia tak bisa memberi balasan yang dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Hanya saja, Gadis Tanpa Raga itu selalu berbisik menuntun gerakan tangan Pendekar Mabuk.

"Oh, indah sekali rabaan tanganmu di punggungku, Bocah Sinting...."

"Apakah aku menyentuh punggungmu?" bisik Suto dengan suara pelan, karena takut membangunkan Panji Klobot.

"Ya, kau merabanya. Ooh... gerakanmu lembut sekali. Uuhmm...!"

Tiba-tiba Pendekar Mabuk merasakan kecupan di lehernya. Kecupan itu merayap semakin lama semakin ke dagu kemudian menyentuh bibirnya. Suto Sinting merasakan bibirnya sedang dipagut dan dilumat lembut oleh seorang gadis. Kehangatan yang mengalir pada saat itu semakin menyulut gairah cintanya. Bahkan Suto pun merasakan usapan tangan Tenda Biru yang merayap di kepala, di punggung, lalu meraba dada, meraba perut, dan tangan tanpa wujud itu semakin nakal, sehingga Suto Sinting mendesis kecil ketika telinganya merasa disusuri oleh mulut Tenda Biru.

Tangan Suto sendiri bergerak-gerak bagai meraba udara kosong. Tapi si Gadis Tanpa Raga mengaku merasakan belaian tangan Suto di bagian dadanya. Bahkan ia sempat meringkik seperti kuda betina pada saat Suto Sinting menyentuh gumpalan peka di bagian dada. Gadis itu berbisik penuh desah kasmaran,

"Remas pelan-pelan... remaslah, karena kau telah menyentuh ujung dadaku, Bocah Sinting.... Ooh, ya... aku bisa merasakannya. Indah sekali, Bocah Sinting...."

Suto semakin terlena, karena gadis itu agaknya semakin berani berbuat. Bahkan ciumannya kian membara di sekujur tubuh Suto, seakan menantang sang pendekar untuk bertarung di ladang kenikmatan.

"Bocah sinting... oh, nakal kau! Jangan hentikan tanganmu. Terus... terus turun ke bawah.... Oooh, Nikmat sekali, Bocah Sinting... Hmmmhh...," rengekan bercampur desah semakin membakar semangat Suto untuk melayang-layang di langit-langit kemesraan.

Sayang sekali saat itu Panji Klobot terbangun karena mendengar suara gaduh di atas kepalanya. Suto tak tahu kalau Panji Klobot terbangun dan memandang ke arahnya. Suto masih menggelinjang bergolek sendirian. Di mata Panji Klobot, Suto bagai sedang menari dalam keadaan setengah berbaring. Kepalanya terdongak ke atas sambil tangannya bergerak-gerak di depan dada.

"Tarian apa yang dilakukan Kang Suto itu?" pikir Panji Klobot dengan terheran-heran. Mata anak muda itu mengerjap-ngerjap karena merasa sangsi dengan penglihatannya.

"Jangan-jangan Kang Suto kesurupan?" kata hati si Panji Klobot.

Ketika mata Suto Sinting sedikit terarah kepada Panji Klobot, ia terkejut dan segera membenahi diri. Panji Klobot yang masih bingung, karena terbangun dari tidurnya segera bertanya dengan suara parau.

"Sedang apa kau sebenarnya, Kang?"

"Hmmm... eeh... anu, sedang menirukan gerakan seorang penari ular yang pernah kulihat dulu...."

"Ooo... kukira kau kesurupan."

"Ah, kau mimpi, ya? Sudah tidur lagi sana!"

Tapi Suto segera berbisik, "Ssst...! Hentikan dulu, si Panji Klobot bangun!"

"Ooh... aku sudah semakin panas, Bocah Sinting"

"Pergilah ke luar gua biar dingin!" bisik Suto Sinting sambil bergerak-gerak bagai menyingkirkan tangan yang ingin menjamahnya.

Panji Klobot justru bangun dan duduk, "Minta tuaknya, Kang. Aku haus sekali."

"Minumlah, tapi habis ini tidur lagi, ya?"

"Kalau sudah bangun begini, biasanya susah tidur lagi, Kang," lalu Panji Klobot menenggak tuak Suto.

Panji Klobot tak tahu bahwa Suto mengeluh dalam hati. Panji Klobot juga tidak tahu kalau Suto masih merasakan ada tangan yang meremas-remas tubuhnya dengan sesekali ciuman hangat terasa di tengkuk dan leher, kadang juga menghangat di dadanya. Tetapi Suto tak berani mendesah karena takut mencurigakan Panji Klobot.

"Suruh dia tidur lagi!" bisik suara Tenda Biru.

"Dia tak mau tidur lagi. Hentikan dulu, lain waktu kita lanjutkan lagi," Suto ganti berbisik.

"Aaah...!" Tenda Biru merengek kesal. "Bagaimana kalau Panji Klobot kubuang ke luar gua saja?"

"Husy...!" Suto tertawa geli walau tanpa suara.

Tapi Panji Klobot segera berkerut dahi dan bertanya, "Kau menertawakan aku, ya Kang?"

"Hmmm... bukan! Eh, iya... eeh... bukan kok, ih... tapi iya..." Suto Sinting jadi salah tingkah dan malu sendiri dalam hatinya.

* * *

LIMA

AKHIRNYA Suto Sinting memutuskan untuk mencoba bertanya kepada si Kusir Hantu, ia pergi ke Lembah Seram, menuju ke sebuah pondok di dalam hutan yang banyak ditumbuhi pohon liar itu. Panji Klobot yang mengikutinya tampak ketakutan memasuki hutan rimbun itu. Karenanya ia berjalan merapat dengan Suto Sinting, agar jika terjadi sesuatu dapat segera berlindung di balik tubuh kekar sang Pendekar Mabuk.

Dalam perjalan itu, Gadis Tanpa Raga sebenarnya ikut bersama mereka. Hanya saja, mereka tidak bisa melihat dengan jelas di mana gadis itu berada. Mungkin disamping mereka, di depan atau di belakang mereka. Namun ketika mereka melewati gugusan tanah cadas yang membentuk bukit kecil, tiba-tiba Suto Sinting mendengar bisikan suara si Tenda Biru.

"Ada yang mengikuti kalian di belakang!"

Langkah Suto Sinting menjadi pelan, ia berlagak tenang walau sebenarnya mulai meningkatkan kepekaan rasanya. Bahkan ketika ia balas berbisik, suaranya diusahakan agar tidak didengar oleh Panji Klobot. "Di mana orang itu?"

"Sekarang sedang mengintai di atas bukit cadas sebelah kananmu itu."

"Berapa orang yang ada di atas sana?"

"Cuma satu orang."

"Kau mengenalinya?"

"Kurasa aku pernah melihatnya ketika kau dan Panji keluar dari kedai."

"Berpakaian hijau?"

"Benar," jawab suara Tenda Biru.

"Hmmm... ya, ya... terima kasih, Tenda Biru!" Kata Suto lirih sekali sambil manggut-manggut. Dalam benaknya segera terbayang wajah si Taring Naga, yang agaknya penasaran sekali kepada Suto dan ingin membalaskan kekalahan adiknya; Naga Langit.

"Panji," kata Suto saat langkahnya dihentikan. "Kau bisa mengambilkan dua buah kelapa muda di atas sana untuk membasuh wajahku?"

"Kelapa muda untuk membasuh wajah?" Panji Klobot heran.

"Jangan banyak tanya dulu. Ambilkan dua buah untukku. Kau bisa memanjatnya, bukan?!"

"Hmmm... tidak. Aku tidak pernah bisa memanjat pohon, Kang!"

"Kalau begitu, biar aku sendiri yang memanjatnya. Sebab aku merasa kita akan dihadang oleh beberapa ekor harimau. Kita perlu wewangian yang dapat membuat binatang-binatang buas itu enggan mendekati kita. Wewangian itu antara lain adalah air kelapa muda. Dengan membasuh muka memakai air kelapa muda, harimau-harimau itu tidak mau mendekati kita."

"Harimau...?!" Panji Klobot mulai tegang. "Apakah... apakah kau mendengar suara harimau, Kang?"

"Kudengar suara itu ada di belakang, agak jauh dari kita. Tapi sebentar lagi akan datang mendekati kita."

"Oh, kalau begitu... kalau begitu biar aku saja yang memanjat pohon kelapa itu, Kang!"

"Katanya kau tak pernah bisa memanjat pohon?"

"Kalau ada harimaunya pasti bisa!" jawab Panji Klobot sambil lari menuju ke pohon kelapa dan memanjatnya.

Pendekar Mabuk hanya tertawa dalam hati, merasa geli mendengar alasan malas si Panji Klobot tadi.

Pada saat Panji Klobot memanjat pohon kelapa, Suto Sinting segera memandang ke arah atas bukit cadas. Pada gugusan batu coklat yang menjulang tinggi itu tampak bayangan dari seseorang yang ada di balik batu itu. Suto Sinting membenarkan bisikan Tenda Biru tadi. Kemudian ia segera melepaskan jurus 'Turangga Laga' yang tidak terlalu berbahaya. Kedua jari Suto dikeraskan, lalu ditempelkan di kening sebentar, setelah itu disentakkan ke depan. Claaap...! Seberkas sinar ungu melesat dari ujung jari. Sinar ungu kecil itu menghantam batu tinggi yang dipakai bersembunyi seseorang.

Blaaar...! Batu itu retak seketika. Sebagian sisinya gompal dan sesosok bayangan segera berkelebat dengan satu lompatan bersalto.

Wuuuuk...! Jleeeg...!

Taring Naga berdiri di depan Suto Sinting dengan wajah memancarkan permusuhan. Pendekar Mabuk tetap tenang, bahkan sempat sunggingkan senyum tipis kepada lawannya.

"Mengapa harus bersembunyi di sana, Taring Naga?!" ujar Suto setengah meledek si Taring Naga.

Pemuda berpakaian serba hijau itu segera menggeram penuh kejengkelan. "Hmmm...! Aku hanya menguji kewaspadaanmu, Sapi Ompong!" ujar Taring Naga dengan mencibir sinis, menutupi rasa malunya. Katanya lagi, "Sekarang keadaanku sudah sehat. Kurasa sudah waktunya kau menerima pembalasan dariku! Aku akan menebus kekalahan adikku; si Naga Langit! Terimalah jurus 'Pedang Sutera'-ku ini! Hiaaaah...!"

Sraaang ...! Pedang dicabut, kemudian ditebaskan kekanan, kiri, dan depan. Gerakan menebasnya cukup lembut, bagai selembar kain sutera melambai dipermainkan angin. Namun rupanya gerakan pedang itu menyebarkan serbuk-serbuk beracun yang menyatu dengan udara.

Pendekar Mabuk melangkah mundur beberapa tindak dan segera tahu bahwa udara di depannya mengandung racun. Karena ketika itu ia melihat rumput ilalang dan daun-daun muda yang tumbuh di batang pohon menjadi layu seketika. Beberapa kejap kemudian daun-daun hijau itu menguning dan berkeriput.

Pendekar Mabuk segera memutar bumbung tuaknya di atas kepala dengan tali bumbung sebagai pegangannya. Gerakan memutar itu dilakukan dengan cepat, hingga menimbulkan suara dengung yang menggelitik gendang telinga. Wuuung, wuung, wuung, wuung, wuung...! Angin berhembus kencang akibat putaran bumbung tuak itu. Akibatnya, serbuk racun yang keluar dari kibasan pedang membalik ke arah Taring Naga sendiri. Hal itu disadari oleh Taring Naga, sehingga ia buru-buru hentikan gerakan pedangnya dan melompat berpindah tempat dengan gerakan berjungkir balik di udara.

Wut, wut, wutt...! Jleeg...!

Suto Sinting pun hentikan gerakan bumbungnya. Kini ia berdiri tegak sambil tersenyum lega. Tapi si Taring Naga semakin menggeletukkan giginya pertanda kian benci kepada Suto Sinting.

"Keparat busuk kau, hiaaah...!"

Baru saja Taring Naga ingin lakukan satu lompatan bersama pedang diarahkan ke dada Suto Sinting, belum-belum ia sudah terpental ke belakang dengan suara pekik tertahan. Karena pada saat itu, jari tangan Suto menyentil dan sentilan itu adalah sentilan bertenaga dalam cukup besar. Jurus 'Jari Guntur' dilepaskan Suto Sinting dengan tidak kentara. Tesss...! Dada si Taring Naga menjadi sasaran telak gumpalan padat tenaga dalam itu. Buukh...!

"Heegh...!" Taring Naga bagaikan ditendang kuda jantan yang sedang mengamuk. Tubuhnya terlempar ke belakang dan berguling-guling di udara, lalu membentur sebatang pohon besar dengan keras. Brruuss...!

"Oouh...!" ia mengerang lagi sambil berusaha bangkit dengan cara merangkak.

Namun pada saat ia merangkak, Panji Klobot muncul di belakangnya dengan membawa dua butir kelapa muda. Melihat pakaian serba hijau si Taring Naga, Panji Klobot ingat tentang orang yang menggadang langkahnya dengan Suto saat keluar dari kedai. Maka, dengan keras kaki Panji Klobot menendang pantat Taring Naga.

Duuuukh...!

"Jebol lagi kau!"

Jurus 'Tendangan Cuci Perut' dilepaskan kembali oleh Panji Klobot. Akibatnya, perut si Taring Naib segera merasa mules dan ingin buang hajat, la menahannya mati-matian, tapi sang hajat tetap mendesak keluar.

"Oouh...! Sial betul! Lagi-lagi perutku jadi mulas begini!"

Panji Klobot segera berlari mendekati Suto dan berlindung di belakang murid sinting si Gila Tuak itu. Ia tertawa-tawa cekikikan di belakang Suto Sinting, membuat Suto menghardiknya.

"Diam kau, Panji! Gara-gara ulahmu dia akan penasaran terus terhadapku!"

Taring Naga menyeringai bukan menahan sakit, tapi menahan sesuatu yang ingin keluar dari belakang. Tangannya meremas pantat sendiri kuat-kuat, kemudian clingak-clinguk ke sana-sini mencari tempat untuk membuang sang hajat. Tapi ia sempat menggeram sambil menuding ke arah Panji Klobot dengan pedang di tangan kirinya.

"Lagi-lagi kau yang bikin ulah! Awas kau, kalau sudah... kalau sudah... aduuuuh, biyuuung... mana tahan kalau begini caranya. Uuuuhhf...!"

Taring Naga berlari tertatih-tatih sambil memegangi pantatnya. la segera melompat di balik semak setinggi pundak manusia dewasa. Tak berapa lama, dari balik semak itu terdengar suara yang mirip petasan berondong. Treeet, tret, tret, tret, brooot...!

Mau tak mau Pendekar Mabuk akhirnya tertawa geli sambil bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Panji Klobot ikut tertawa dan berlari mendahului Suto Sinting karena tak ingin disambar penciumannya oleh udara tak sedap itu. Bahkan suara tawa perempuan pun terdengar mengikik. Suara tawa itu tak lain adalah suara si Gadis Tanpa Raga yang kali ini berada di samping kiri Suto Sinting.

Menjelang sore, mereka tiba di pondok si Kusir Hantu. Kala itu tokoh tua berambut kucai warna merah jagung seperti warna jenggotnya itu sedang melatih kedua cucunya di samping pondok. Dua gadis cantik yang menjadi cucu si Kusir Hantu itu tak lain adalah Pematang Hati dan Mahligai Sukma. Mereka gadis-gadis cantik yang punya potongan tubuh menggiurkan setiap lelaki. Pakaian mereka sungguh menantang gairah, membakar hasrat lelaki, dan membuat Suto Sinting lupa berkedip.

Panji Klobot terbengong melihat kecantikan Pematang Hati dan Mahligai Sukma. Bahkan mulut Panji Klobot seakan mengalami kram, tak bisa ditutup kembali, karena kedua gadis itu mengenakan baju ketat berbelahan dada lebar, sehingga gumpalan daging menonjol di dada mereka tampak tersembul sebagian. Hati Panji Klobot menjadi berdebar-debar, dan lututnya mulai terasa bergetar.

"Kang... Kang... itu apa, Kang?" suara Panji Klobot pelan sekali, karena detak jantungnya yang kuat membuat pernapasannya pun bagaikan tersumbat.

"Husy...!" Suto Sinting meraup wajah Panji Klobot. Jika tidak begitu, Panji Klobot akan melotot terus tanpa bisa berkedip lagi.

Pendekar Mabuk segera berseru memberi salam kepada si Kusir Hantu. Pada waktu itu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma sedang duduk bersila di atas dua batu datar. Kedua tangan mereka saling bergerak pelan penuh curahan tenaga dalam dari dada ke depan. Tubuh mereka pun mulai mengambang di udara walau hanya sedikit sekali, tingginya tak sampai setinggi kelingking mereka.

"Salam sejahtera, Pak Tua...!"

Begitu mendengar salam sapaan dari Suto Sinting, ternyata yang menyambut sapaan itu bukan hanya si Kusir Hantu, melainkan kedua cucu si Kusir Hantu segera membuka mata, tubuh mereka yang mengambang segera terhempas ke tempat duduk semula. Lalu, keduanya sama-sama berseru kegirangan.

"Sutooo...!"

"Tak ada angin tak ada badai, tahu-tahu seorang tamu agung datang padaku. Duhai... perlambang apa ini sebenarnya," ujar si Kusir Hantu lalu terkekeh-kekeh dan segera hampiri Suto Sinting.

Tetapi ternyata gerakannya kalah cepat dengan gerakan kedua cucunya. Pematang Hati dan Mahligai Sukma segera berlari bagai berebut Suto Sinting. Wuuut...! Kemudian kedua gadis itu sama-sama memeluk Suto dalam hamburan tawa keceriaan.

Keakraban kedua gadis itu dengan Suto Sinting membuat keduanya tak canggung-canggung untuk menciumi si pendekar tampan. Keakraban mereka membuat wajah-wajah angkuh dan mahal senyum yang dimiliki mereka menjadi sirna seketika.

Panji Klobot diam saja, terbengong melompong manakala melihat Suto Sinting diciumi dua gadis cantik yang menggiurkan hati itu. Panji Klobot hanya mengusap pipinya sendiri sambil berkata pelan, "Kenapa aku tidak ikut diciumi mereka?! Hmm... mereka pilih kasih! Tidak adil!"

"Tenang saja, Panji!" bisik suara Tenda Biru. "Mereka memang perlu mendapat pelajaran tersendiri."

Panji Klobot berkerut dahi. "Hei, apa yang ingin kau lakukan pada mereka?!"

Tiba-tiba tubuh Pematang Hati dan Mahligai Sukma sama-sama terpental ke belakang dan jatuh berbeda arah. Mereka merasa ada suatu kekuatan yang melemparkan tubuh mereka dengan kasar. Hal itu membuat Pendekar Mabuk menjadi terkejut dan mulai tak enak hati.

"Suto...?! Kenapa kau kasar sekali padaku?!" seru Pematang Hati.

"Apakah kau jijik padaku, Suto?! Mengapa kau melemparkan aku dan kakakku?!" kecam Mahligai Sukma, dan semua itu membuat Suto Sinting menjadi menggeragap.

Tapi si Kusir Hantu justru terkekeh-kekeh tampak kegelian melihat kedua cucunya terlempar begitu saja.

"Kang..., bukan aku yang melakukan lho. Itu... si Tenda Biru!" bisik Panji Klobot ketika kedua gadis itu memandangi Suto dengan sorot pandangan mata penuh kekecewaan.

Pendekar Mabuk segera berkata kepada kedua cucu si Kusir Hantu. "Maaf, maafkan aku.... Aku lupa mengatakan kepada kalian, bahwa sekarang aku punya jurus baru. Sebuah ilmu yang kudapatkan dari guruku belum lama ini, memang sering membuat aku menjadi bingung sendiri."

"Ilmu apa?!" Mahligai Sukma mulai bernada ketus.

"Hmmm... eeh... namanya ilmu 'Raga Sembrani', jika hatiku sedang susah hati, lalu ada seseorang mendekatiku, maka orang itu akan terpental dengan sendirinya. Yah, seperti yang kalian alami tadi," ujar Suto menutupi keadaan yang sebenarnya sambil cengar-cengir.

"Benarkah hatimu sedang susah?" tanya Pematang Hati yang mulai mendekat lagi.

Mahligai Sukma juga mendekat sambil berkata, "Sedang susah kok cengar-cengir?!"

"Hmmm... eeh..., iya. Soalnya aku sebenarnya tak ingin kalian mengetahui kesusahanku. Aku takut kalian ikut-ikutan menjadi susah hati."

Pendekar Mabuk buru-buru bicara dengan suara rendah dan bernada bisik, "Tenda Biru, jangan bikin ulah yang menjengkelkan! Aku akan batalkan niatku menolongmu jika kau bikin ulah yang bukan-bukan!"

"Aku tak suka dengan mereka. Rakus lelaki!" suara Tenda Biru bernada ketus, menandakan ia sedang dibakar oleh rasa cemburu.

"Tenanglah! Mereka adalah sahabatku. Jangan berprasangka yang bukan-bukan!"

"Sahabat jalang!" geram suara Tenda Biru dengan sangat pelan. "Kalau tidak mengingat kau butuh keterangan dari kakek mereka, sudah kuhajar mereka berdua!"

"Kalau kau tak bisa tenang, aku benar-benar tak mau peduli lagi dengan Bunga Kecubung Dadar itu!" ancam Suto Sinting membuat suara Tenda Biru terdengar mendesah kesal dan menjauh.

Setelah memperkenalkan Panji Klobot kepada Kusir Hantu dan kedua cucunya, Suto Sinting segera berkata kepada si Kusir Hantu yang usianya sekitar enam puluh lima tahun itu. "Aku butuh bantuanmu, Pak Tua."

"Heh, heh, heh... pasti kau ingin minta bantuanku berupa pelajaran ilmu 'Timbal Rasa' seperti dulu!" ujar si Kusir Hantu sambil cengengesan.

Kedua cucunya memandang Suto, mengikuti setiap gerakkan bibir si pendekar tampan itu.

"Bukan soal itu, Pak Tua."

"Soal apa lagi kalau bukan soal ilmu yang kau inginkan itu? Seorang pendekar seperti kau memang selalu ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya, pepatah mengatakan: 'Ke mana angin bertiup, ke situ pula baunya'. Artinya, seorang pendekar tidak mungkin mengejar uang, pasti mengejar ilmu."

"Kau salah terka, Pak Tua. Aku hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang di mana tumbuhnya Bunga Kecubung Dadar!"

"Hahh...?!" Kusir Hantu terkejut.

Mahligai Sukma dan Pematang Hati juga tampak terperanjat. Mereka bertiga memandangi Suto Sinting dengan dahi berkerut dan wajah menegang. Pendekar Mabuk menjadi bingung dan terheran-heran.

"Mengapa mereka memandangku dengan cara seperti itu?! Mengapa Kusir Hantu terkejut saat kusebutkan nama Bunga Kecubung Dadar itu?! Ada apa sebenarnya dengan bunga tersebut?"

* * *

ENAM

AGAKNYA Kusir Hantu menganggap pembicaraan yang akan terjadi benar-benar penting, sehingga Pendekar Mabuk dan Panji Klobot dibawa masuk ke pondoknya. Sementara itu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma diperintahkan untuk melakukan latihan jurus peringan tubuh yang mirip jurus 'Layang Raga'-nya Suto Sinting. Tetapi kedua gadis cucu Kusir Hantu itu merasa penasaran, maka diam-diam mereka menguping dari balik dinding.

"Pepatah mengatakan: 'Ikan belum dapat airnya sudah keruh'. Berbahaya sekali!"

"Arti pepatah itu apa, Pak Tua?" tanya Suto.

"Ikan belum dapat airnya sudah keruh, artinya... nelayan kecemplung comberan," jawab Kusir Hantu seenaknya saja jika menerjemahkan arti peribahasa. Tapi ia segera menyambung ucapannya tadi. "Apakah kau tak tahu bahwa belum lama ini para tokoh rimba persilatan sedang geger membicarakan tentang Bunga Kecubung Dadar?"

"Aku tidak tahu. Pak Tua. Apa sebenarnya yang terjadi di rimba persilatan belakangan ini?"

"Beberapa tokoh aliran putih telah dibunuh oleh seseorang yang mencari Bunga Kecubung Dadar."

Pendekar Mabuk terkejut, karena benaknya langsung terbayang tuntutan si Tenda Biru. Batin Suto langsung mengatakan bahwa Tenda Biru sudah memakan korban para tokoh aliran putih untuk dapatkan Bunga Kecubung Dadar.

"Tetapi benarkah Tenda Biru yang lakukan?" pikir Suto, lalu ia bertanya kepada Kusir Mantu.

"Siapa orang yang mencari bunga itu dan membunuh beberapa tokoh aliran putih itu, Pak Tua?"

"Justru pembunuhnya belum diketahui dengan jelas. Empat tokoh aliran putih yang sedang sekarat ditemukan oleh dua orang kenalanku: si Tongkat Papak dan Lembu Serak. Masing-masing menemukan dua tokoh aliran putih yang sedang menjelang ajal. Para korban umumnya terluka karena pukulan beracun yang mematikan. Saat sebelum mereka hembuskan napas terakhir, mereka sempat ceritakan bahwa mereka habis bertarung dengan orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar. Tetapi sebelum mereka sebutkan ciri-cirinya kepada Lembu Serak maupun si Tongkat Papak, nyawa mereka melayang lebih dulu. Lembu Serak dan Tongkat Papak selalu terlambat temui korban, sehingga yang diperoleh mereka hanya keterangan tentang keganasan seseorang yang mencari Bunga Kecubung Dadar."

"Hmmm...," Suto Sinting manggut-manggut sambil menggumam lirih. Panji Klobot hanya diam membisu tapi tampak mendengarkan setiap kata yang dilontarkan oleh si Kusir Hantu. "Siapa saja yang tewas oleh si pencari Bunga Kecubung Dadar itu, Pak Tua?"

"Antara lain: Burik Wetan, Nyai Suling Buntu, Jantur Gundul, Ki Pangguwelas, dan berita terakhir yang kuterima, Dewa Semprong tewas dalam keadaan tubuh beracun."

"Dewa Semprong...?!" Suto Sinting terkejut, karena ia mengenal tokoh sakti yang berjuluk Dewa Semprong itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tapak Siluman).

"Orang yang menemukan keadaan Dewa Semprong sedang sekarat adalah Ki Porak Porong. Tetapi keterangan yang diperoleh dari Porak Porong hanyalah tujuan musuh yang menyerang si Dewa Semprong, yaitu menuduh Dewa Semprong membunyikan letak tumbuhnya Bunga Kecubung Dadar. Tetapi saat ditanyakan ciri-ciri pembunuhnya, Dewa Semprong tergesa-gesa mati, sehingga Porak Porong tidak mau mengajaknya bicara lagi. Pepatah mengatakan: 'Patah tumbuh hilang... nyawanya'. Tak ada yang tahu siapa pembunuh sebenarnya."

Pendekar Mabuk tertegun beberapa saat. Panji Klobot duduk bersila di atas balai-balai bambu, juga ikut termenung sambil bersandar pada dinding kedua tangan bersedekap di dada.

Agaknya kedatangan Suto Sinting sempat menimbulkan keheranan bagi si Kusir Hantu, terlebih setelah Suto terang-terangan mencari Bunga Kecubung Dadar. Jika para korban dari aliran putih itu mati oleh orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar, tak heran jika Suto Sinting menjadi bahan kecurigaan kedua cucu Kusir Hantu yang mendengarkan dari luar pondok itu, sebab pelaku pembunuhan itu adalah orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar dan belum diketahui ciri-cirinya.

Hal itu membuat Suto Sinting menjadi tak enak hati. la terpaksa memikirkan nasib dirinya agar jangan sampai menjadi bahan kecurigaan mereka, dan tidak dituduh sebagai pembunuh Dewa Semprong dan yang lainnya.

"Ke mana saja kau sudah mencari bunga itu, Nak?" tanya Kusir Hantu.

Pertanyaan itu sedikit menyinggung hati Suto Sinting yang merasa dipancing dan sedang diselidiki kebenaran sikapnya. Langsung saja Suto berkata, "Kau tak perlu mencurigaiku sebagai pembunuh mereka, Pak Tua. Memang aku mencari Bunga Kecubung Dadar, tapi baru kepadamu dan kepada Pak Cilik Kapas Mayat aku menanyakannya."

"Heh, heh, heh, heh..., mengapa kau berkata begitu, Nak? Aku tidak mencurigaimu sebagai pembunuh para korban itu, tetapi aku bertanya telah sampai di mana saja kau mencari bunga tersebut?"

"Belum sampai di mana-mana," jawab Suto dengan tegas. "Begitu aku bertanya kepada si Kapas Mayat, dan Kapas Mayat menyarankan agar aku menanyakannya padamu, maka aku datang kemari, Pak Tua."

"Pepatah mengatakan: 'Buruk cermin di muka, lebih buruk kalau muka tak pernah bercermin'. Artinya, aku khawatir jika orang-orang menyangkamu sebagai pembunuh mereka. Lebih baik batalkan saja niatmu mencari bunga itu, Nak."

Panji Klobot berbisik kepada Suto, "Apa hubungannya antara pepatah dengan artinya tadi, Kang?"

"Tidak ada. Memang begitulah si Kusir Hantu jika bicara. Kadang pepatah yang dilontarkan berbeda jauh dengan arti yang dimaksudkan," balas Suto dalam bisikan. Kemudian ia kembali memandang si Kusir Hantu dan ajukan pertanyaan lagi.

"Apakah Bunga Kecubung Dadar itu memang ada, Pak Tua?"

"Memang ada, Nak! Bunga itu tumbuh di danau, seperti bunga teratai tapi kecil, agak empuk dan berwarna kuning, menyerupai telur dadar. Pepatah mengatakan...."

"Bagai telur di ujung tanduk," sahut Suto agak jengkel.

"Artinya apa, Nak?"

"Artinya... telur itu pasti telur dadar. Kalau bukan teIur dadar mana mungkin bisa di ujung tanduk. Pasti menggelinding jatuh, Pak Tua."

"Kok tidak ada hubungannya dengan kata-kataku tadi?"

"Yang jelas ada hubungannya dengan soal dadar tadi, Pak Tua."

"Heh, heh, heh... kau mau balas ikut-ikutan bikin patah ngawur, ya?" Kusir Hantu tertawa pendek, kemudian ajukan tanya kembali kepada Suto Sinting. "Untuk apa kau mencari Bunga Kecubung Dadar itu?"

"Seorang sahabatku terkena kutukan. Raganya lenyap dan tak bisa muncul lagi jika belum memakan Bunga Kecubung Dadar. Aku diminta bantuannya untuk mencarikan bunga itu, Pak Tua."

"Siapa nama sahabatmu itu, Nak?"

"Tenda Biru, bekas muridnya Nyai Garang Sayu...."

"Ooo...," Kusir Hantu manggut-manggut.

"Kau pernah mendengar nama itu?"

"Belum," jawabnya polos sambit menggeleng.

Pendekar Mabuk tarik napas menghilangkan rasa dongkolnya melihat lagak Kusir Hantu yang seolah-olah sudah kenal Tenda Biru.

"Lalu... siapa yang mengutuknya sampai dia kehilangan raganya itu?!"

"Nyai Ronggeng Iblis, Pak Tua!"

"Ronggeng Iblis...?!" Kusir Hantu tampak terkejut, wajahnya sedikit menegang. Lalu dia diam dan termenung sambil berdiri di depan pintu, matanya menatap ke arah luar.

"Kau mengenalnya, Pak Tua?" tanya Suto.

Kusir Hantu masih diam sesaat, setelah menarik napas dan menghempaskannya lepas-lepas, suaranya pun terdengar kembali dengan tanpa senyum dan tanpa kesan santai. "Ronggeng Iblis penguasa Pulau Siluman...."

"Memang benar," sahut Suto Sinting.

"Ternyata dia belum mati. Kupikir dia tak dapat obati lukanya ketika kuserang dengan jurus 'Badai Birahi', ternyata... sekarang namanya masih kudengar sebagai orang yang menyebar kekuatan kutuknya. Agaknya kau harus hati-hati dulu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma!"

Pendekar Mabuk agak kaget. Kusir Hantu bicara dengan cucunya. Padahal Suto tidak melihat kedua cucu Kusir Hantu ada di situ. Tapi rupanya Kusir Hantu sejak tadi tahu bahwa kedua cucunya menguping di balik dinding kayu tersebut. Sang cucu pun saling terperanjat, dan menjadi malu karena diketahui sedang menguping pembicaraan kakeknya.

"Kau bicara dengan cucumu, Pak Tua?"

"Ya. Mereka mendengarkan percakapan kita di samping rumah."

"Hebat! Rupanya ilmu kepekaan rasamu cukup tinggi, Pak Tua, sehingga kau bisa tahu kalau cucumu ada di samping rumah."

"Tentu saja, sebab bayangan mereka kelihatan dari pintu sini!" kata Kusir Hantu, dan Suto segera membuktikan, ternyata memang benar. Bayangan kedua gadis itu tampak dari pintu. Suto akhirnya menertawakan dugaannya tadi. Panji Klobot tidak ikut tertawa. Anak muda itu duduk bersila dengan wajah tertunduk dan napas teratur.

"Uuuh... tidur!" gerutu Suto Sinting dalam hati, tapi ia sengaja membiarkan Panji Klobot tertidur. "

Kurasa, orang yang membunuh beberapa tokoh aliran putih itu adalah Ronggeng Iblis sendiri."

"Dari mana kau tahu kalau dia yang melakukannya, Pak Tua?"

"Mudah saja! Dia telah melepaskan jurus kutukannya yang dinamakan jurus 'Sabda Sirna' itu. Dia tahu kutukannya itu akan lenyap jika korbannya memakan Bunga Kecubung Dadar. Maka dicarinya bunga itu, dan dia harus mendapatkan bunga tersebut sebelum orang yang dikutuknya lebih dulu memperoleh Bunga Kecubung Dadar."

"Pepatah mengatakan...," pancing Suto.

"Tidak pakai pepatah dulu!" sahut Kusir Hantu dengan serius. "Jika si Dewa Semprong sampai tewas karena luka pukulan beracun ganas, maka aku yakin si Ronggeng iblis itu yang melukainya. Sebab si Ronggeng Iblis juga mempunyai pukulan beracun ganas yang dinamakan jurus 'Sapulama'...."

"Jurus apa itu? Namanya kok aneh?" sahut Suto dalam tanya.

"Jurus 'Sapulama', artinya sekali pukul lawan mati, disingkat menjadi 'Sapulama'."

"Kalau sapu baru bagaimana?"

"Dijual," jawab Kusir Hantu seenaknya, tapi ia tidak tersenyum sedikit pun dan justru tampak bersungguh-sungguh dalam tiap katanya.

Pendekar Mabuk menjadi ikut-ikutan serius dan tak berani bercanda lagi. "Pak Tua, bagaimana caranya agar aku bisa dapatkan Bunga Kecubung Dadar itu?"

"Cari sebuah danau yang berair kuning. Biasanya danau atau telaga yang berair kuning ditumbuhi tanaman liar yang mengapung. Tanaman liar itu mempunyai bunga kuning, mirip teratai. Itulah yang dinamakan Bunga Kecubung Dadar. Pepatah mengatakan: 'Lain lubuk lain belalang'...."

"Artinya apa, Pak Tua?"

"Lubuk dan belalang memang lain jenis! Tak ada artinya!" jawab Kusir Hantu sambil bersungut-sungut. Kemudian ia mendekati Suto Sinting dan bicara dengan pelan. "Telaga berair kuning pernah kulihat di lereng Bukit Ketapang. Letaknya di sebelah selatan dari sini!"

"Bukit Ketapang itu seperti apa?"

"Ya, seperti bukit!" Kusir Hantu menjawab agak jengkel.

"Maksudku, apa ciri-cirinya untuk menandai bahwa bukit itu adalah Bukit Ketapang?!"

"Di puncak bukit itu ada batu bersusun tiga. Cukup tinggi dan dapat dilihat dari kaki bukit. Pepatah mengatakan: 'Tak ada bukit yang retak'. Artinya, tak ada bukit yang tak tampak."

"Kalau begitu, Pak Tua...," Suto berbisik, "Aku titip sahabatku si Panji Klobot ini. Biar dia di sini dulu sementara aku mau ke Bukit Ketapang mencari bunga itu."

Kusir Hantu manggut-manggut sambil memperhatikan Panji Klobot yang sedang tidur sambil duduk itu. "Boleh saja, tapi... bagaimana cara memberi makan anak itu?"

"Dia termasuk manusia aneh. Dia jarang makan. Kalau dia bilang 'lapar' artinya dia masih kenyang. Tapi kalau dia bilang 'kenyang', artinya dia merasa sangat lapar. Dia kalau bicara penuh sindiran yang arti ucapannya selalu bertentangan dengan isi hati sebenarnya."

"Hmmm...," Kusir Hantu manggut-manggut lagi. "Baiklah! Berangkatlah sekarang juga ke Bukit Ketapang dan hati-hati, siapa tahu Ronggeng Iblis mendahuluimu atau menghadangmu di tengah jalan. Pertahankan bunga itu agar jangan sampai jatuh ke tangannya. Kasihan sahabatmu yang bernama Tenda Biru-itu."

"Benar. Aku pun kasihan padanya. Sebab dia sekarang sudah menjadi muridnya Eyang Tapak Lintang dan ingin masuk dalam aliran putih."

"O, apalagi dia muridnya Tapak Lintang. Aku kenal betul dengan Kakang Tapak Lintang itu," ujar Kusir Hantu menampakkan sikapnya sebagai orang yang lebih muda dari Eyang Tapak Lintang. "Pergilah dan jangan pikirkan sahabatmu yang tidur itu. Aku akan menjaganya dan memberinya makan sesuai keteranganmu itu!"

"Terima kasih, Pak Tua," ujar Suto sambil menyembunyikan senyum. Karena ia membayangkan betapa jengkelnya Panji Klobot nanti jika perutnya lapar, pasti Kusir Hantu tak akan memberinya makan karena menganggap Panji Klobot masih kenyang.

Pendekar Mabuk segera tinggalkan Lembah Seram. Namun, sebelumnya kedua cucu si Kusir Hantu saling ribut untuk ikut mendampingi Suto Sinting. Akhirnya, Kusir Hantu membentak sang cucu. "Tidak ada satu pun yang ikut Suto!"

"Tapi kalau Suto dalam bahaya bagaimana, Kek?!" Pematang Hati agak ngotot.

"Dia bisa kuasai dirinya walau dalam bahaya apa pun! Pepatah mengatakan..."

"Cukup, Kek. Kalau tak boleh ya sudah, bilang saja tak boleh. Tak perlu pakai pepatah segala!" sahut Mahligai Sukma dengan cemberut.

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil. Kusir Hantu memarahi kedua cucunya. Sang cucu tak ada yang berani nekat pergi walau secara diam-diam. Karena Kusir Hantu menceritakan tentang Nyai Ronggeng Iblis yang berilmu tinggi dan pernah menjadi lawannya itu. Pematang Hati maupun Mahligai Sukma merasa perlu mematuhi larangan kakeknya, sebab jika kakeknya saja tak berhasil mengalahkan Nyai Ronggeng Iblis, apalagi diri mereka, pasti lebih tak mampu lagi.

Dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya hampir menyamai kecepatan cahaya itu, Suto Sinting melesat menuju ke arah selatan untuk menemukan telaga berair kuning di Bukit Ketapang. Setiap bukit selalu dipandangi puncaknya. Tapi tak satu pun dari sekian bukit yang sudah dilaluinya mempunyai puncak berbatu susun tiga.

"Jangan-jangan Kusir Hantu salah memberi arah?!" pikir Suto dengan cemas.

Zlaaap...! Suto segera berkelebat ke balik pohon besar, ia bersembunyi di sana, karena melihat dua orang berlari-lari menuju ke arahnya. Untung di situ ada dua pohon besar yang tumbuh bersebelahan nyaris berdempet, sehingga Suto dapat segera sembunyikan diri. Tetapi ia menjadi cemas, karena dua orang itu agaknya juga sedang menuju ke pohon tersebut. Mau tak mau Pendekar Mabuk segera pindah ke tempat lain.

"Sial! Tak ada tempat yang lebih rapi lagi untuk bersembunyi selain kedua pohon ini. Hmmm...! Sebaiknya aku haik ke atas pohon saja!"

Zlaaap...! Suto tahu-tahu melesat ke atas tanpa suara, dan hinggap di salah satu dahan dengan menapakkan kakinya tanpa suara juga. Bahkan getaran sedikit pun tak dialami oleh dahan tersebut, menunjukkan bahwa Suto Sinting saat itu menggunakan Ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi.

Daun-daun pohon yang rindang membentuk semak cukup rapi. Dengan bersembunyi di balik daun-daun pohon rindang itu, Pendekar Mabuk tak mudah dilihat dari bawah pohon. Di sana ia dapat nongkrong dengan santai sambil memperhatikan kedua orang yang memang benar-benar mendekati pohon tersebut.

Pendekar Mabuk sempat terbelalak ketika mengetahui bahwa kedua orang yang mendekati pohon itu ternyata sepasang muda-mudi berusia sebaya dengan Suto sendiri. Lebih terkejut lagi setelah Suto mengenali si pemuda itu berambut panjang digulung ke atas, pada gulungan rambutnya terdapat hiasan perak bermanik-manik warna-warni. Pemuda itu mengenakan rompi biru bersisik perak, demikian juga celananya, ia pemuda yang tinggi, gagah, berbadan kekar dan berwajah cukup tampan, walau tak setampan Suto. Kulitnya sawo matang, tangannya berbulu lembut, juga dadanya banyak ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.

Suto mengenalnya sebagai murid mendiang Begawan Girimaya, yang pernah mengabdi kepada Nyai Mata Binal dan menerima ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'. Pemuda itu tak lain adalah si Naga Langit, yang telah kehilangan seluruh ilmunya karena bayangannya dihantam oleh Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perempuan Jahanam).

"Lalu, siapa si gadis berjubah kuning sutera itu?!" Suto Sinting bertanya pada dirinya sendiri, sebab ia masih merasa asing dengan gadis berbadan sekal dan berdada montok sekali itu.

Jubah kuning suteranya itu tak dikancingkan bagian depannya, sehingga dadanya yang besar dan tampak sekali hanya ditutup dengan kutang tipis tembus pandang warna ungu. Ketipisan kainnya telah membuat benda yang ditutupi tampak jelas bentuk ujungnya yang mancung meruncing indah. Sementara pakaian bawahnya juga dari kain tipis warna ungu muda yang mempunyai belahan tengah dari bawah sampai batas pusar.

Gadis itu berambut panjang digulung sebagian, sisanya meriap ke samping kanan-kiri. Wajahnya cantik, hidungnya mancung, matanya agak besar serta sayu, bibirnya sedikit tebal tapi membentuk kesan menggairahkan. Siapa pun memandangnya akan gemas dan berkhayal ingin memagutnya berhari-hari.

"Oh, rupanya mereka datang ke sini karena mau kencan?! Sialan!" gerutu Suto Sinting sambil bersungut-sungut, namun matanya tetap memandang ke bawah.

Terdengar pula suara Naga Langit berkata kepada gadis yang tampak sudah matang dalam bercinta itu. "Aku akan menuruti keinginanmu, Nyai. Tapi kumohon kau jangan menipuku. Kau harus mau carikan Bunga Kecubung Dadar itu untuk mengembalikan ilmuku yang telah dilenyapkan oleh si Pendekar Mabuk itu!"

"Percayalah padaku. Tak ada sejarahnya yang namanya Nyai Ronggeng Manis menipu seseorang. Setiap orang yang berbuat baik padaku, pantang kutipu dan kusakiti, Naga Langit."

Sambil berkata demikian, Nyai Ronggeng Manis merayapkan tangannya ke dada Naga Langit. Dada berbulu itu diusap-usapnya dengan mata semakin sayu. Wajah cantik berbibir ranum itu semakin dekat dengan wajah Naga Langit. Mereka saling pandang sejenak, lalu Nyai Ronggeng Manis pejamkan mata pelan-pelan setelah tangan Naga Langit menelusup ke dadanya.

Begitu mata Nyai Ronggeng Manis terpejam, bibir setengah disodorkan dalam keadaan merekah, Naga Langit pun segera memagut bibir itu dengan hangat. Sang Nyai membalas pagutan tersebut tak kalah hangat, sehingga bibir Naga Langit dilumatnya habis-habisan. Gadis itu agaknya bergairah tinggi, sehingga Naga Langit sedikit kewalahan menghadapi cumbuannya yang bersifat mencecar lawan jenis itu.

"Nyai Ronggeng Manis itu siapa?" pikir Suto Sinting. "Ah, sebaiknya tak usah dipikirkan dulu siapa perempuan itu. Tapi dinikmati saja tontonan gratis ini mumpung ada kesempatan emas," pikir Suto Sinting sambil tetap memperhatikan ke bawah, walau jantungnya berdebar-debar dan badannya sedikit gemetar karena terpancing dengan adegan mesra yang begitu panas.

Nyai Ronggeng Manis membiarkan jubahnya dilepas oleh Naga Langit. la bahkan bersandar di batang pohon itu sambil mengerang dan mendesis-desis karena merasakan nikmatnya kenakalan mulut Naga Langit yang menyerang dadanya. Kain penutup dada itu pun telah terlepas dan jatuh terkulai di atas rerumputan.

"Naga Langit, oooh... pintar sekali kau membuatku melayang-layang. Hik, hik, hik...!"

Naga Langit merayapkan ciumannya sampai ke bawah. Nyai Ronggeng Manis semakin mengerang dan membuka diri, sehingga Naga Langit lebih leluasa dalam bergerak. Kepalanya diremas-remas oleh kedua tangan Nyai Ronggeng Manis, kadang ditekan bersama jeritan kecil yang melambangkan kenikmatan tiada tara.

Akhirnya, Nyai Ronggeng Manis tak mampu bertahan menerima kecupan-kecupan mesra itu. la melepaskan rompi yang dipakai Naga Langit. Bahkan pemuda itu kini disentakkan agar bersandar ke pohon, lalu Nyai Ronggeng Manis menciumi sekujur tubuh pemuda itu dari atas sampai bawah. Naga Langit yang telah menjadi seperti bayi baru lahir itu dilahap habis oleh keganasan cinta sang Nyai. Pemuda itu memekik-mekik dengan mata terpejam kuat, menikmati sentuhan cinta sang Nyai yang tiada bandingnya itu.

"Oh, Naga Langit... aku tak sanggup lagi bertahan. Lakukanlah... lakukanlah sekarang juga, Sayang... Aku.ingin segera mencapai puncak keindahan cinta kita, Naga Langit...!" pinta sang Nyai dengan suara terengah-engah dan berkemas merebahkan diri di rerumputan. Hanya beralaskan kain jubahnya, sang Nyai segera memeluk Naga Langit yang menikamnya dengan segumpal kehangatan yang dibutuhkan gadis itu.

"Ooh...!" Nyai Ronggeng Manis memekik panjang ketika menerima kehangatan tubuh Naga Langit. Gerakannya menjadi ganas, suaranya menjadi liar, seakan ia mengamuk memburu puncak keindahannya. Bahkan Naga Langit sempat digulingkan ke kanan, sehingga kini sang Nyai yang menguasai pelayaran cinta mereka.

Suto Sinting tiba-tiba terkejut ketika tengkuk kepalanya seperti ada yang mencium, lalu dadanya ada yang meremas- remas dari belakang, la buru-buru berpaling, ternyata tak ada orang. Tetapi ia segera mendengar bisikan suara lembut yang dikenalinya.

"Bocah sinting... ooh, gairahku terbakar pemandangan di bawah itu, Sayang...."

"Tenda Biru," bisik Suto bernada desah. Suto Sinting menengadahkan kepalanya. Dari belakang seperti ada yang mengecup bibirnya, lalu bibir itu terasa dilumat dengan hangat. Darah mengulir deras karena gairah semakin terbakar oleh kecupan si Gadis Tanpa Raga itu. Namun tiba-tiba cumbuan Suto Sinting dan Gadis Tanpa Raga terhenti bersama sentakan mengejutkan. Karena tiba-tiba mereka mendengar suara orang memekik bagai di ambang ajal.

"Aaaakh...!"

Mereka sama-sama memandang ke bawah pohon. "Ooh...?! Pemuda itu... pemuda itu dibunuhnya?!" bisik suara Tenda Biru terdengar menegang di telinga Suto Sinting.

Mata Pendekar Mabuk sendiri terbelalak tak berkedip melihat Naga Langit mengejang dalam keadaan tanpa busana. Dadanya menjadi bolong dan terbakar hangus. Pada saat itu, selarik sinar merah dari ujung jari tengah sang Nyai baru saja padam. Mata Suto pun tahu bahwa Naga Langit dibunuh oleh Nyai Ronggeng Manis dengan sinar merah dari jari tengahnya,

Luka di dada Naga Langit merambah menjadi besar. Itu menandakan luka tersebut sangat beracun. Naga Langit tak bisa berbuat apa-apa kecuali terkapar dengan mulut ternganga seperti ingin ucapkan sesuatu. Namun beberapa kejap kemudian, mata Naga Langit yang mendelik itu menjadi sayu, lama-lama terkatup rapat bersama hembusan napas yang penghabisan.

"Hih, hih, hih, hih...!" Nyai Ronggeng Manis tertawa kegirangan sambil mengenakan pakaiannya kembali. "Kau benar-benar pemuda bodoh, Naga Langit! Mana mungkin aku akan serahkan Bunga Kecubung Dadar kepadamu, jika aku sendiri membutuhkan bunga itu untuk kutanam di taman istanaku! Hih, hih, hih, hih...! Rupanya kau tidak tahu, Naga Langit, bahwa aku sengaja ingin menghancurkan tanaman itu agar tak tumbuh di tempat lain, dan hanya aku yang memilikinya, karena aku tak ingin seseorang memakan bunga itu untuk pulihkan keadaan dirinya!"

"Kejam..,!" geram Suto Sinting nyaris tanpa suara.

"Hih, hih, hih...! Selamat tinggal, Naga Langit. Aku sudah puas menghisap madu kehangatanmu, sekarang nikmatilah masa perjalananmu menuju akhirat. Bergabunglah dengan Dewa Semprong dan orang-orang yang mati di tanganku karena berlagak tidak tahu menahu tentang Bunga Kecubung Dadar! Hih, hih, hih, hih...!"

Weess,..! Nyai Ronggeng Manis melesat pergi meninggalkan pemuda yang telah memberinya kepuasan batin itu. Sementara, si Gadis Tanpa Raga segera berkata kepada Suto Sinting dengan suara lebih tegang lagi.

"Ikuti dia! Bila perlu cegah dia agar jangan sampai temukan Bunga Kecubung Dadar!"

"Ha... haruskah... haruskah aku menghiraukannya?"

"Tentu saja, sebab dia itulah yang bernama Nyai Ronggeng Iblis!"

* * *

TUJUH

PENGEJARAN dilakukan oleh Suto Sinting walau senja mulai berangsur-angsur menjadi petang. Agaknya Nyai Ronggeng Iblis mempunyai gerakan yang kecepatannya menyamai dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting, sehingga perempuan yang sebenarnya berusia lebih dari enam puluh tahun itu sukar disusulnya.

"Tenda Biru...! Tenda Biru, di mana kau?!" Suto Sinting memanggil dengan suara tak seberapa keras. la sengaja hentikan langkah karena alam telah menjadi gelap dan arah pelariannya mulai tak jelas. "Tenda Biru...!" panggilnya lagi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Tenda Biru menjawab, "Aku di sini...!"

Pendekar Mabuk menoleh ke arah samping kanannya..Ternyata di sana ada sebuah gubuk yang menyalakan api kecil di bagian depannya. Pendekar Mabuk kerutkan dahi, merasa ragu dengan penglihatannya sendiri.

"Bocah sinting, aku menemukan gubuk persinggahan para pencari kayu bakar," ujar suara Tenda Biru. "Kau melihat nyala api kecil itu, Bocah Sinting?"

"Ya, aku melihatnya!"

"Aku yang menyalakannya."

"Apa maksudmu?"

"Istirahatlah dulu, hemat tenagamu untuk lanjutkan pencarian besok. Kurasa, Nyai Ronggeng Iblis tidak mungkin lanjutkan perjalanan malam seperti sekarang ini."

"Aku tahu kau ingin mencumbuku lagi, bukan?"

"Jangan beranggapan begitu. Aku merasa sudah dekat dengan kemenanganku. Aku tak terlalu berpikir tentang kemesraan. Tadi kalau tak terpancing oleh percumbuan Naga Langit dan Nyai Ronggeng Iblis, aku tak mengganggu ketenanganmu."

"Maaf kalau begitu," ujar Suto Sinting sambil melangkah dekati gubuk tersebut.

"Sementara kau beristirahat, aku akan mencari di mana Nyai Ronggeng Iblis beristirahat."

"Kau tidak ikut beristirahat pula?"

"Aku tanpa raga. Tak punya rasa lelah dan kantuk. Aku melayang dengan ringan, sejauh mana pun akan kutempuh tanpa harus beristirahat."

Pendekar Mabuk segera menenggak tuaknya, kemudian duduk di balai bambu yang sudah reot tanpa tikar atau alas lainnya. "Pergilah kalau kau ingin mencari tempat sang Nyai. Beri tahu padaku jika kau sudah menemukannya!" ujar Pendekar Mabuk kepada si Gadis Tanpa Raga yang tak diketahui kala itu ada di sebelah kanannya.

Perjalanan terhenti sepanjang malam. Pendekar Mabuk tertidur di atas balai bambu itu. Bumbung tuak yang masih berisi separuh lebih itu berada di sampingnya, bagaikan seorang istri yang setia. Lelapnya tidur membuat Suto Sinting tak sadar jika hari sudah pagi. Matahari kian menampakkan cahayanya menjauhi cakrawala timur.

Pendekar Mabuk hanya merasakan sesuatu telah menyentuh keningnya. Sesuatu yang hangat itu merayap di pipi, sesekali mengecup bibirnya. Kecupan dan sentuhan hangat itulah yang membuat Pendekar Mabuk terbangun dari tidurnya. Namun ia tidak melihat siapa-siapa di sampingnya.

"Hmmm... kau, Tenda Biru?!" gumam Suto Sinting.

"Bangun, Sayang... hari sudah pagi," bisik Gadis Tanpa Raga di samping Suto. la masih menciumi telinga Suto, leher, dagu, dan dada. Caranya membangunkan sungguh mesra dah menyentuh hati Suto, menciptakan debar-debar keharuan kecil.

"Kutemukan Nyai Ronggeng Iblis di atas pohon sebelah selatan tempat ini."

"Jauhkah tempatnya?"

"Agak jauh, tapi yang penting, Bukit Ketapang sudah kutemukan juga. Tak seberapa jauh dari tempat istirahatnya Nyai Ronggeng Iblis ada bukit yang puncaknya terdapat tiga batu bersusun tinggi."

"Ya, itulah Bukit Ketapang."

"Sebaiknya kau segera temukan telaga dan bunga itu sebelum Nyai Ronggeng Iblis terbangun dan menemukannya lebih dulu!"

"Gagasanmu cukup bagus, tapi... sebentar, aku meneguk tuakku dulu biar badanku segar."

Sementara Suto menenggak tuaknya, Tenda Biru berkata, "Kutaburkan kabut pembius di sekitar pohon tempat beristirahatnya Nyai Ronggeng Iblis. Kurasa ia sekarang masih tertidur nyenyak karena pengaruh kabut pembiusku itu."

Pendekar Mabuk tersenyum. "Kau benar-benar gadis yang cerdik, Tenda Biru!"

Setelah berkata begitu, Suto segera berkelebat pergi ke arah selatan. Jurus 'Gerak Siluman' membuat Suto cepat tiba di kaki Bukit Ketapang. la pun segera memasuki hutan di lereng bukit itu yang ditumbuhi pepohonan tak begitu padat.

"Aku melihatnya!" seru sebuah suara tanpa rupa di depan Suto. Suara itu adalah suara Tenda Biru yang berjalan mendahului Suto Sinting. "Ke arah sini, Bocah Sinting...!"

Pendekar Mabuk segera mengikuti arah suara tersebut. Zlaaap...! Dalam sekejap ia sudah tiba di tepi sebuah telaga berair kuning. Telaga itu cukup lebar, garis tengahnya sekitar dua puluh lima langkah kaki orang dewasa. Bentuknya tidak bulat rapi, tapi mempunyai tepian yang berliku-liku.

"Kita sudah temukan telaga berair kuning, Tenda Biru."

"Iya, tapi... tapi tak ada bunga yang mengapung dipermukaan airnya, Bocah Sinting!" kata suara Tenda Biru dengan nada sedih.

"Lihat tanaman yang tumbuh di tepian sebelah sana!" sambil Suto menuding ke arah seberang. Ia pun bergegas menggelilingi telaga untuk mencari tepian seberang sana.

"Tanaman ini mengambang di air, tapi tak ada bunganya, Bocah Sinting!" seru suara Tenda Biru yang sudah lebih dulu tiba di seberang sana.

Pendekar Mabuk sempat kecewa melihat tanaman berdaun lebar seperti daun bunga teratai. Tanaman itu selain merambat di tepian telaga juga mengambang di permukaan air telaga kuning. Daun itu cukup rimbun, hingga tumbuhnya berdempetan, Suto mencari-cari bunga yang tumbuh pada tanaman itu, karena hanya tanaman itu yang sebagian mengambang di permukaan air telaga.

Sekalipun mereka yakin tanaman itu adalah tanaman Bunga Kecubung Dadar, namun mereka tidak menemukan sekuntum bunga tumbuh di sana. Pendekar Mabuk mengawasinya dengan teliti, dan tetap tidak mendapatkan sekuntum bunga pada tanaman tersebut.

"Jangan-jangan sekarang belum musim bunga, sehingga tanaman ini tidak berbunga!" ujar suara Tenda Biru.

"Berarti kita harus menunggu sampai tanaman ini berbunga."

"Uuh...! Berapa lama menunggunya, Bocah Sinting?!" suara Tenda Biru terdengar merengek manja seakan ingin menangis karena sedih dan kecewa.

Seekor nyamuk hinggap di kening Suto. Tanpa sadar Suto Sinting mengusap keningnya dengan tangan kiri. Pada saat itulah penglihatannya menjadi berubah, ia telah mengusap titik merah di keningnya, dengan begitu ia dapat melihat alam gaib disekelilingnya.

"Hahh...?!" Suto Sinting terkejut. Matanya terbelalak lebar, karena sekarang ia dapat melihat bahwa tanaman berdaun lebar itu mempunyai bunga-bunga berwarna kuning. "Ternyata banyak bunga yang tumbuh pada tanaman ini?. Mengapa aku tadi tidak melihatnya?" pikir Suto Sinting. "Ooh... ya, ya, sekarang aku tahu, aku telah mengusap keningku dengan tangan kiri, sehingga penglihatanku dapat menembus alam gaib. Berarti bunga ini hanya bisa dilihat oleh seseorang yang berada di alam gaib atau mampu menembus kehidupan alam gaib. Sungguh ajaib bunga ini! Pasti bunga-bunga yang tumbuh subur inilah yang dinamakan Bunga Kecubung Dadar!"

Rupanya walaupun Tenda Biru tanpa raga, namun ia tetap tidak bisa melihat bunga berwarna kuning lebar tengahnya berbintik-bintik ungu itu. Karenanya, gadis itu tetap ribut melontarkan kekecewaannya.

Pendekar Mabuk tidak hiraukan kata-kata Tenda Biru. la memetik setangkai bunga tersebut. Tesss....! "Hahh...?!" Suto terkejut begitu melihat bunga-bunga lainnya menjadi layu, kian lama kian mengering dan daun-daunnya pun menjadi membusuk. Ternyata bunga aneh itu mempunyai keajaiban terdiri.

Jika salah satu bunga dipetik, maka seluruh tanaman itu menjadi layu dan membusuk. Tetapi bunga yang sudah ada di tangan seseorang itu tetap tumbuh segar dan dapat dilihat oleh mata siapa saja. Saat Pendekar Mabuk mengusap kembali keningnya dengan tangan kiri, maka penglihatannya kembali kepada penglihatan semula yang tidak bisa melihat alam gaib. Dalam keadaan seperti itu, ternyata Suto masih tetap bisa melihat setangkai bunga kuning di tangannya.

"Yaaah... tanaman ini bahkan menjadi busuk, Bocah Sinting! Aduuuh... bagaimana ini kalau...," rengekan Tenda Biru terhenti. la pun segera bersuara dengan nada kaget. "Hei, kau dapatkan dari mana bunga itu?! Buk... buk... bukankah itu Bunga Kecubung Dadar?!"

"Kurasa memang inilah bunga yang kau cari," ujar Suto Sinting dengan senyum bangga.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan melintas dan menerjang Suto Sinting. Wuuuut...! Bruuuss...! Suto Sinting terpental terbang, bunga itu terlepas dari tangannya. Bunga Kecubung Dadar melayang-layang di udara. Pada saat itu Suto Sinting segera sadar bahwa Nyai Ronggeng Iblis telah datang dan ingin merampas bunga tersebut. Tubuh sang Nyai segera melayang mengejar bunga kuning itu. Tetapi, Suto Sinting segera lepaskan sentilan mautnya ke arah pinggang sang Nyai.

Dees...! Buukh...!

"Uukh...!" Nyai Ronggeng Iblis terkena jurus 'Jari Guntur' dan tubuhnya melayang ke arah lain. Brruk...! la pun jatuh nyaris masuk ke telaga kuning itu.

Bunga Kecubung Dadar tiba-tiba berhenti di udara. Suto Sinting segera ingin menangkapnya dengan satu lompatan. Tetapi Nyai Ronggeng Iblis segera melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar merah lurus dari jari tengahnya yang dipakai membunuh Naga Langit itu. Claaap...!

Suto Sinting melihat datangnya bahaya tersebut, kemudian segera mengibaskan bumbung tuaknya untuk menangkis sinar merah itu. Deeb...! Sinar merah menghantam bumbung tuak dan berbalik arah menjadi lebih besar serta lebih cepat dari gerakan semula. Wees...! Sasaran sinar merah itu ke arah dada Nyai Ronggeng Iblis. Akibatnya perempuan berjubah kuning itu segera lakukan lompatan pindah tempat dengan terburu-buru.

"Monyet...!" makinya, lalu ia melesat ke arah kiri dan mendarat di balik pohon.

Suto Sinting segera melakukan lompatan untuk menangkap bunga yang tadi berhenti di udara itu. Tapi ternyata bunga tersebut telah lenyap entah ke mana. Pendekar Mabuk kebingungan mencari bunga itu dengan pandangan mata tampak panik. Pada saat itulah, Nyai Ronggeng Iblis menghantam punggung Suto Sinting menggunakan pukulan sinar hijau patah-patah.

"Kuhancurkan kau kalau berani menyentuh bunga itu, Keparat!"

Weeers...! Telapak tangannya keluarkan sinar hijau patah-patah. Suto cepat balikkan badan. Sinar itu sudah ada di depannya. Bumbung tuak kembali berkelebat menangkis sinar hijau patah-patah itu. Trrraap...!

Ledakan dahsyat yang terjadi sungguh mengerikan. Air telaga bergolak hebat bagai ingin dituangkan dari tempatnya. Tanah pun bergetar seakan dilanda gempa mendadak. Pohon-pohon tumbang tak tentu arah. Gelombang ledakan dahsyat itu juga menerbangkan Suto Sinting hingga menghantam sebatang pohon yang belum tumbang.

Bruuuk...! Krraaak...! Bruuuss...!

Pohon yang ditabrak tubuh Pendekar Mabuk menjadi patah dan tumbang beberapa kejap berikutnya. Hal itu menandakan betapa kerasnya lemparan tubuh Suto akibat gelombang ledakan itu, Tetapi bumbung tuak yang dipakai menangkis sinar hijau lawan masih tetap utuh tanpa lecet sedikit pun.

"Hooeek...!" Suto Sinting memuntahkan darah kental dari mulutnya. la terluka dalam akibat gelombang ledakan tadi. Wajahnya menjadi pucat pasi, tenaganya menjadi berkurang, tubuh terasa lemas sekali.

Tetapi Nyai Ronggeng Iblis masih tampak segar dan segera berkelebat menghampiri Suto Sinting. Wuuut...! "Serahkan bunga itu!" bentaknya di depan Suto yang masih belum bisa berdiri itu.

Wajah Suto mendongak dengan mata memandang sayu kepada sang Nyai. Pandangan matanya ternyata menjadi buram, namun ia masih bisa menangkap samar-samar bayangan kuning dari jubah sang Nyai.

"Kuhitung tiga kali kalau bunga itu tak kau serahkan padaku, kuhancurkan kepalamu!" hardik sang Nyai dengan wajah cantik memancarkan kebengisan.

Pendekar Mabuk berdiri dengan bantuan sebatang pohon. Bumbung tuaknya masih tetap ada di tangan kanan.

"Satu...!" seru sang Nyai yang menyangka bunga itu ada di tangan Suto. "Dua...!"

Tubuh Nyai Ronggeng Iblis berubah menjadi merah membara. Kedua tangannya telah terangkat ke atas, dari ujung jari-jarinya keluar kuku-kuku runcing berwarna hitam.

"Tigaaa...! Hiaaahh...!"

Suto Sinting segera lepaskan bumbung tuaknya. Lalu tangan kanan itu menyentak dalam keadaan telapak tangan melebar rapat. Suuut...! Maka dari tangan itu keluar sinar-sinar emas berbentuk pisau-pisau kecil.

Clap, clap, clap, clap....!

Sinar-sinar kuning berbentuk pisau melesat secara beruntun. Kecepatannya sungguh luar biasa, tak bisa dihindari maupun ditangkis lagi. Maka, dada sang Nyai yang juga telah memancarkan cahaya merah bara itu dihantam beberapa sinar berbentuk pisau emas. Jrruub...! Pisau-pisau emas itu bagai menyergap dada secara berebutan. Akibatnya, Nyai Ronggeng Iblis diam bagaikan patung tak mau bergerak-gerak lagi. Tubuh yang memancarkan cahaya merah bara itu lama-lama redup menjadi pucat keabu-abuan.

Jurus 'Manggala' yang menjadi salah satu jurus andalan Pendekar Mabuk telah membuat Nyai Ronggeng Iblis tetap mengangkat kedua tangannya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Tiga helaan napas lamanya ia masih diam tanpa gerakan apa-apa. Pendekar Mabuk membiarkannya dan justru segera menenggak tuak untuk mengobati luka dalamnya.

Glek, glek, glek, glek...!

Napas terhempas dari mulut, menandakan Suto merasakan kelegaan dalam tubuhnya. Tuak itu telah membuat tubuh menjadi segar dan rasa sakitnya hilang. Kejap kemudian, ketika Suto memperhatikan Nyai Ronggeng Iblis, angin berhembus agak kencang. Hembusan angin itu membuat tubuh Nyai Ronggeng Iblis menjadi beterbangan. Rupanya perempuan itu sejak tadi sudah menjadi debu-debu halus yang begitu lembutnya sampai-sampai masih membentuk sosok tubuh perempuan cantik dalam beberapa helaan napas.

Angin yang berhembus agak kencang itu kini membuat debu itu berhamburan dan sosok Nyai Ronggeng Iblis pun hilang dari pandangan mata. Yang tinggal hanya debu-debu lembut yang semakin berhamburan ke mana-mana. Pendekar Mabuk menghempaskan napas dengan perasaan lega. Tetapi tiba-tiba ia tersentak kaget ketika mendengar suara orang bertepuk tangan pelan di belakangnya.

Plok, plok, plok, plok...!

"Ooh ...?!" Suto Sinting semakin terkejut ketika melihat seraut wajah cantik sudah berdiri di belakangnya dalam jarak empat langkah.

Raut wajah cantik itu milik seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Matanya membelalak indah, hidungnya mancung, bibirnya ranum menyegarkan. Rambut depan gadis itu pendek, tapi rambut belakangnya panjang selewat tengkuk. la menyunggingkan senyum dan senyuman itu mempunyai lesung pipit yang selalu membuat jantung Suto berdebar-debar jika melihat gadis berlesung pipit.

Mata Suto masih belum bisa berkedip pandangi gadis yang mengenakan jubah tanpa lengan warna biru tua, pinjung penutup dadanya dari kain tipis berwarna biru muda, sama dengan warna kain penutup bagian bawahnya yang mempunyai dua belahan kanan dan kiri. Penutup dadanya yang tipis itu memuat gumpalan daging yang ditutupi tampak menonjol kencang penuh tantangan. Gadis itu memang bertubuh sekal, padat berisi, dan sangat menggiurkan gairah seorang lelaki. Pendekar Mabuk kini berkerut dahi ketika mendengar gadis itu berkata sambil melangkah mendekatinya.

"Ilmu yang gila-gilaan! Kasihan Nyai Ronggeng Iblis, belum sempat mengeluarkan jurus-jurus andalannya, belum sempat keluarkan jurus 'Sabda Sirna' ataupun jurus 'Sapulama'-nya, terpaksa sudah harus menjadi abu yang tak bisa dikenali lagi sebagai bangkainya."

"Siapa kau...?!" ucap Suto Sinting sambil pandangi gadis itu dengan mata tajam dan wajah terheran-heran.

Gadis itu sunggingkan senyum, lesung pipitnya membuat jantung Suto tersentak cepat. Gadis itu berhenti dalam jarak satu langkah, mata indahnya menatap Suto Sinting dengan kelembutan yang punya arti tersendiri. "Kau memang luar biasa, Bocah Sinting...."

"Tenda Biru...?!" Suto Sinting kian berdebar dan merinding begitu mendengar dirinya dipanggil 'Bocah Sinting', karena hanya Tenda Biru, si Gadis Tanpa Raga itulah yang memanggilnya dengan sebutan 'Bocah Sinting'. "Benarkah kau... kau Tenda Biru?!"

Gadis itu sunggingkan senyum kian lebar. "Kutangkap bunga itu saat melayang, dan kumakan semuanya sampai ke tangkai-tangkainya segala. Lalu... tahu-tahu aku bisa memandang tubuhku sendiri, dan... ternyata aku sudah terbebas dari kutukan Nyai Ronggeng Iblis sebelum perempuan jahat itu kau hancurkan menjadi debu!"

"Oooh... jadi... jadi kau yang selama ini mengikutiku dan...."

"Dan menciummu," bisik Tenda Biru dengan mata berkerling nakal dan senyum semakin mendebarkan hati Suto. Gadis itu segera melingkarkan tangannya ke leher Suto Sinting, kemudian Suto segera memeluknya dengan hati bahagia. Mereka saling berciuman beberapa saat. Kecupan bibir Tenda Biru dirasakan merayap di sekujur tubuh Suto, walau kenyataannya hanya saling melekat di batas bibir.

"Kau memang Tenda Biru. Aku hafal sekali dengan caramu melumat bibirku," bisik Suto Sinting dengan senyum menawan.

Gadis itu masih melingkarkan kedua tangannya di leher Suto dan pandangi Suto dengan mata sedikit sayu. "Seperti janjiku, sekarang aku menjadi abdimu. Aku akan setia mengikuti perintahmu, Pangeranku!"

Suto Sinting tersenyum malu. Tenda Biru tambahkan kata lagi bernada membisik. "Apa yang harus kulakukan, Tuanku tersayang...? Hamba siap melayani Tuanku kapan saja tuan inginkan."

"Aku hanya ingin kau mengantarku pulang ke rumah Kusir Hantu, karena kau harus menepati janjimu untuk mengajarkan beberapa jurus ilmu kepada Panji Klobot!"

"Hanya itu?" sambil pandangan dan senyum Tenda Biru semakin menantang.

Suto mengangguk. "Ya, hanya itu, Sayang...."

Cup, sebuah ciuman menempel cepat di pipi Suto. Tenda Biru pun segera melangkah mengiringi sang Pendekar Mabuk untuk temui Kusir Hantu dan Panji Klobot. Di sana mereka merayakan pesta kemenangan Suto dengan membakar beberapa jagung sebagai hidangan malam. Hadir pula di situ, si Kelambu Petang dan kakeknya; Kapas Mayat, yang ikut mendengarkan cerita pertarungan Suto dengan Nyai Ronggeng Iblis.

"Kau mencuri Kitab Kidung Bencana milik kakekmu itu, ya?" bisik Suto kepada Kelambu Petang.

"Jangan percaya dengan omongan Kakek. Dia suka bikin kejutan. Kitab itu milik Ki Porak Porong, Kakek hanya mendengar nama kitab itu. Dan aku pergi hanya membawa kitab ramalan nasib, karena sahabatku minta diramal nasibnya!" jawab Kelambu Petang yang didengar oleh mereka, lalu mereka pun menertawakan si Kapas Mayat. Pak Tua itu hanya bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas.

SELESAI


Gadis Tanpa Raga

Serial Pendekar Mabuk
Gadis Tanpa Raga
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU

ALUN-ALUN kadipaten dikelilingi orang banyak. Pandangan mata mereka tertuju di tengah alun-alun. Bukan karena di tengah alun-alun ada tumpeng raksasa, tapi karena di sana sedang terjadi pertarungan antara tokoh sesat yang mengancam keselamatan warga kadipaten dengan seorang pemuda tampan bercelana putih dan bajunya yang tanpa lengan itu berwarna coklat.

Pemuda yang memiliki rambut lurus sepanjang pundak tanpa ikat kepala itu berwajah tampan menawan menggoda perawan. Pemuda yang menenteng bumbung tuaknya itu tak lain adalah Pendekar Mabuk, si murid sinting Gila Tuak yang punya nama Suto Sinting. Sedangkan tokoh sesat yang berambut panjang lebat dan berwajah angker itu adalah Malaikat Kabut Gamping.

Pendekar Mabuk diminta bantuannya oleh sang Adipati untuk mengatasi kekacauan di kadipatennya yang ditimbulkan oleh ulah si Malaikat Kabut Gamping. Setelah melalui pertarungan sengit, akhirnya Malaikat Kabut Gamping tumbang di tangan Suto Sinting. Para warga kadipaten bersorak kegirangan, sang Adipati pun merasa lega dan selanjutnya mengikat tali persahabatan dengan Suto Sinting lebih erat lagi.

Dalam perjalanan pulang dari kadipaten itulah, tiba-tiba langkah Suto Sinting terhenti karena seruan seseorang yang berlari-lari mengikutinya dari belakang.

"Kaaang... Kang Suto...! Suto Kang...!"

Seruan itulah yang membuat Pendekar Mabuk akhirnya berhenti dan berpaling ke belakang. "Oh, Panji Klobot...?! Mau apa dia berlari-lari menyusulku? Tampaknya tegang sekali?" pikir Suto Sinting. "Bukankah urusan dengan Malaikat Kabut Gamping sudah selesai? Ada apa lagi Panji Klobot menyusulku?!"

Panji Klobot adalah seorang pemuda yang melayani Suto Sinting selama Suto tinggal di kadipaten. Tubuhnya kurus, rambutnya kucai memakai ikat kepala merah. la suka mengenakan pakaian biru tua, bajunya tanpa lengan dan terikat oleh kain merah yang melilit di pinggangnya. Panji Klobot mengaku berusia dua puluh tahun, tapi cara berpikirnya masih sangat polos dan lugu.

"Kang, berhenti sebentar, Kang...!" Panji Klobot terengah-engah. Keringatnya membanjir di sekujur tubuh pertanda ia terlalu kecapekan karena berlari mengejar Suto yang jaraknya sudah cukup jauh dari kadipaten.

"Ada apa, Panji Klobot?!" tanya Suto dengan kalem. "Bukankah urusanku dengan Malaikat Kabut Gamping sudah selesai?"

"Memang, Kang. Memang urusanmu dengan Malaikat Kabut Gamping itu sudah selesai. Tapi urusanmu dengan Murbiah bagaimana?"

"Lho, bukankah yang naksir Murbiah itu kau sendiri, Panji Klobot."

"Memang aku yang naksir Murbiah, tapi dia sukar dijinakkan, Kang? Padahal kau berjanji kalau urusanmu dengan Kanjeng Adipati sudah selesai, kau akan membantuku menjinakkan Murbiah?" ujar Panji Klobot dengan bersungut-sungut, seakan merasa kecewa dan perlu menagih janji.

Pendekar Mabuk jadi tertawa melihat sikap Panji Klobot yang cemberut mirip perawan tergoda asmaranya. "Bukankah kemarin kau telah memberinya setangkai bunga saat Murbiah membersihkan taman keputrian?"

"Iya. Tapi Murbiah tidak merasa bangga atas pemberian bunga itu, Kang." Panji Klobot berlagak manja.

"Kenapa dia tidak bangga?"

"Katanya, kalau cuma bunga dia sudah sering melihat, soalnya dia kan termasuk perawat taman. Jadi dia sudah tidak merasa aneh lagi dengan bunga, Kang."

"Jadi yang diminta Murbiah apa?"

"Kata Murbiah, kalau aku memang benar-benar cinta padanya, aku harus bisa mengalahkan Pangkar Soma."

"Siapa itu Pangkar Soma?"

"Ketua perampok yang dulu membantai habis keluarganya Murbiah. Waktu itu Murbiah selamat, sebab sedang buang hajat di jamban kebun belakang rumah."

"Jadi gara-gara buang hajat dia selamat?"

"Iya. Tapi sampai sekarang dia masih dendam kepada Pangkar Soma. Dia bersumpah pada dirinya sendiri, sebelum Pangkar Soma mati, dia tidak ingin jatuh cinta pada pria mana pun. Lha, kalau aku kepingin dicintai dia, syaratnya ya harus bisa membunuh Pangkar Soma!"

"Kalau begitu, ya sudah... bunuh saja si Pangkar Soma."

"Bunuh, bunuh, bunuh...," Panji Klobot cemberut kesal. "Apa kau kira Pangkar Soma itu seekor kutu yang mudah digites lalu habis perkara?! Jangankan membunuhnya, baru mendekatinya saja mataku sudah bengkak mendadak, Kang!"

Pendekar Mabuk tertawa geli. Panji Klobot semakin cemberut jengkel.

"Kang, tolong ajari aku jurus-jurus yang kau pakai untuk mengalahkan Malaikat Kabut Gamping itu," bujuk Panji Klobot.

"Itu tidak mudah, Panji Klobot!"

"Ya dibuat mudah gimana caranya, gitu Kang! Kalau terpaksa harus pakai puasa, akan kujalani juga kok, Kang. Asal selama puasa aku boleh makan ubi sama minum wedang jeruk."

"Itu namanya bukan puasa, tapi rakus!" ujar Suto Sinting sambil tertawa.

"Ayolah, Kang... ajari aku jurus-jurus mautmu itu. Dua jurus saja, yang penting bisa dipakai untuk membunuh Pangkar Soma. Jurus lainnya tak perlu kau ajarkan padaku. Cukup dua saja," sambil dua jari si Panji Klobot berdiri tegak di depan hidung Suto Sinting.

"Maaf, Panji... aku tidak berani menurunkan ilmuku kepada siapa pun sebelum mendapat izin dari guruku; si Gila Tuak."

"Kalau begitu, mari kita menghadap gurumu dulu, Kang. Minta izinlah dulu kepada Kang Gila Tuak supaya...."

"Husy! Enak saja kau panggil guruku Kang Gila Tuak."

"Habis bagaimana seharusnya aku memanggil beliau, Kang?"

"Eyang! Eyang Gila Tuak dan Eyang Bidadari Jalang!"

"Iya, iya... aku sanggup memanggil gurumu Eyang Maha Eyang, asal aku mendapat dua ilmu dahsyatmu itu."

"Ilmuku tidak untuk membunuh orang dan membalas dendam."

"Tapi kenapa si Malaikat Kabut Gamping kau bunuh?"

"Karena dia melawan saat kusuruh untuk meninggalkan jalan sesatnya. Jika dia melawan dan mengajak beradu nyawa, yaaah... apa boleh buat, mau tak mau aku rampungkan masa hidupnya ketimbang aku yang kehilangan nyawa?!"

"Jadi...," Panji Klobot semakin murung. "... kau keberatan jika menurunkan ilmumu untukku, Kang?"

"Panji Klobot," Pendekar Mabuk menepuk punggung pemuda itu,"... untuk apa kau menuntut ilmu kalau hanya untuk membalas dendam kepada seseorang. Belajarlah berbagai macam ilmu untuk menjaga kedamaian di dunia, bukan untuk membalas dendam."

"Tapi ini ada hubungannya dengan soal cinta lho, Kang!" Panji Klobot membela diri.

"Iya, aku tahu...," Suto mengangguk-angguk.

"Aku cinta banget sama si Murbiah, Kang. Kalau cintaku tidak kebangetan, aku tidak akan memburu Pangkar Soma. Habis, yang diminta Murbiah adalah mengalahkan Pangkar Soma. Lha nanti kalau Pangkar Soma dikalahkan orang lain, Murbiah bisa jatuh cinta sama orang lain. Kalau Murbiah jatuh cinta sama orang lain, lantas aku jatuh cinta sama siapa, Kang?"

"Murbiah kan punya kambing?"

"Masa aku kau suruh jatuh cinta sama kambing?!" Panji Klobot semakin cemberut, mulutnya menjadi runcing mirip ujung tombak.

"Maksudku, Murbiah kan punya kambing, kau minta kambingnya lalu kau jual, kau pakai uangnya untuk kau jadikan mas kawin buat melamar gadis lain. Begitu...!"

"Ah, kalau tidak sama Murbiah, aku tidak mau kawin."

"Panji Klobot, bukalah mata hatimu dan pikiranmu. Di dunia ini bukan hanya Murbiah sendiri yang jadi perempuan...."

"Lha, ya jelas!" potong Panji Klobot. "Kalau di dunia ini perempuannya cuma Murbiah, nanti Murbiah jadi istrinya orang banyak, Kang! Aku sudah tidak bergairah lagi sama Murbiah."

"Maksudku, jangan kau jatuh cinta secara sempit. Jatuh cintalah secara lebar...."

"Jatuh cinta kok disuruh lebar, apa kau pikir jatuh cinta itu sejenis tikar buat kendurian?" potong Panji Klobot lagi sebagai ciri sifatnya yang suka ngotot jika dinasihati seseorang.

Suto Sinting hanya tersenyum-senyum menahan geli. "Mungkin kau kurang wawasan, sehingga belum tahu bahwa di luar kadipaten, banyak perempuan yang lebih cantik dari Murbiah. Kalau kau gagal dapatkan Murbiah, kau bisa berburu perempuan lain yang sama dengan Murbiah atau lebih tinggi nilai kecantikannya dengan Murbiah."

"Untuk apa dapatkan perempuan yang lebih tinggi dari Murbiah. Tinggi-tinggi nanti malah disambar petir, hangus semua!" ujarnya dengan bersungut-sungut.

Tiba-tiba mereka mendengar suara, "Jangan takut, Panji Klobot. Aku akan mengajarimu beberapa jurus maut!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot sama-sama terkejut. Mereka memandang sekeliling, tapi tak terlihat siapa pun di sana selain mereka berdua. Panji Klobot jadi takut, lalu bergeser mendekati Suto.

"Suara siapa itu tadi, Kang?"

"Entahlah, yang jelas suara itu suara seorang perempuan."

"Wah, jangan-jangan peri penunggu hutan ini, Kang?!" sambil Panji Klobot bergidik merinding.

"Mudah-mudahan neneknya peri," kata Suto Sinting seenaknya sambil masih mencoba mencari si pemilik suara tadi dengan mempertajam pandangan matanya. "Aneh, di mana perempuan itu berada? Coba kugunakan jurus 'Lacak Jantung'-ku untuk mencarinya," ujar Suto membatin. Lalu, ia menggunakan jurus 'Lacak Jantung' yang bisa mendengarkan suara detak jantung orang lain.

"Hmmm... tak ada suara detak jantung orang lain kecuali jantungnya Panji Klobot dan jantungku sendiri?!" Suto kian berkerut dahi pertanda semakin heran. Sementara itu Panji Klobot semakin mendesak Suto karena ketakutan.

"Aduh, celaka!" sentak Suto.

"Ada apa, Kang? Kau melihat peri itu? Di mana dia, Kang?! Di mana...?!"

"Bukan melihat peri! Kakiku kau injak seenaknya! Minggir!"

"Oh, maaf, Kang... maaf...! Anggap saja yang menginjak si peri itu, Kang!"

"Maaf, maaf... kalau sudah lecet begini baru maaf!" Suto Sinting menggerutu.

Panji Klobot ingin tertawa, tapi rasa takut membuatnya menjadi tetap tegang dan berdebar-debar, sehingga sulit tertawa.

Suara perempuan itu terdengar lagi, "Hik, hik, hik, hik... kalian seperti tikus mendengar suara kucing. Kalau saja kalian punya kumis, aku yakin kumis kalian akan melengkung ke bawah, bahkan mungkin pada rontok berjatuhan. Hik, hik, hik...!"

Panji Klobot menyeringai menahan rasa takutnya. la tak berani jauh-jauh dari Suto Sinting, sementara si murid sinting Gila Tuak itu semakin mempertajam indera pendengarannya untuk menentukan di mana letak si pemilik suara itu. Karena suara tersebut kadang terdengar di depan mereka, kadang di belakang, sesekali terdengar di samping kanan atau kiri mereka.

"Kang, cepat kita pergi dari sini saja, Kang!" bisik Panji Klobot.

"Tenang saja. Aku jadi penasaran dengan suara itu. Kita cari sampai ketemu siapa yang bicara dengan pamer ilmu di depanku itu!"

Lalu, suara perempuan itu terdengar kembali, terasa semakin dekat dengan mereka. "Panji Klobot, kalau kau ingin dapatkan ilmu dahsyat dariku, carikan aku setangkai Bunga Kecubung Dadar. Hanya itu syarat yang harus kau penuhi, maka beberapa kesaktianku akan kuturunkan kepadamu, Panji Klobot!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot saling berpandangan dengan dahi berkerut. Suara yang kedengarannya renyah dan merdu itu hilang untuk beberapa saat. Hutan jati mengalami kesunyian yang amat mencekam. Yang ada hanya suara desau angin dan gemerisiknya dedaunan. Setelah menunggu beberapa saat ternyata suara perempuan itu tak terdengar lagi, Pendekar Mabuk segera berkata kepada Panji Klobot dengan berbisik pelan sekali.

"Jangan hiraukan suara itu. Dia sengaja mempermainkan kita, Panji!"

Tetapi suara Suto yang begitu pelan dan membisik itu ternyata dapat didengar oleh perempuan misterius itu. "Kau tak perlu mempengaruhi Panji Klobot, Sahabatku itu, Bocah Sinting!"

Pendekar Mabuk terperanjat, ternyata suaranya yang sepelan itu masih bisa didengar oleh perempuan misterius. Tapi kali ini Pendekar Mabuk mencoba menanggapi kata-kata si pemilik suara tadi. "Tunjukkan dirimu di depan kami jika kau bermaksud baik kepada Panji Klobot!"

"Itu bukan urusanmu. Aku tidak punya urusan denganmu, Bocah Sinting! Aku hanya punya urusan dengan Panji Klobot!" ujar suara aneh itu.

"Aku juga sahabatnya Panji Klobot. Jika kau ingin mencelakakan Panji Klobot, sama halnya kau punya urusan denganku, Nona!" Suto bicara sambil memandang ke sana-sini seakan bingung mengarahkan suaranya.

"Panji Klobot," kata suara perempuan itu. "Jangan hiraukan kata-kata si bocah sinting itu. Pergilah dan cari Bunga Kecubung Dadar secepatnya. Aku ingin segera turunkan ilmuku kepadamu agar kau bisa membunuh Pangkar Soma!"

Tapi Suto Sinting menyahut, "Tidak! Jangan pergi ke mana-mana, Panji Klobot! Kuntilanak itu akan menyesatkan dirimu dan memperdayamu supaya dia memperoleh keuntungan tapi kau sendiri tidak mendapatkan apa-apa kecuali bencana!"

"Bocah sinting!" suara itu bernada keras. "Kuharap kau tidak mencampuri urusanku, karena aku tak ingin marah padamu!"

"Silakan marah padaku, aku ingin tahu seberapa tinggi ilmumu sehingga berani memperdaya sahabatku; si Panji Klobot ini!" tantang Suto dengan sengaja agar sosok perempuan itu menampakkan diri.

Tetapi tiba-tiba punggung Suto Sinting seperti dihantam dengan sebatang balok kayu yang cukup besar. Bhuueek...!

"Uuhk...!" Suto Sinting terpekik dan tubuhnya tersentak ke depan hingga jatuh tersungkur di tanah.

"Kaaang...!" Panji Klobot kaget dan terpekik dengan semakin ketakutan.

Pendekar Mabuk menyeringai menahan rasa sakit yang terasa seperti mematahkan tulang punggungnya. la menggeliat bangkit pelan-pelan. Tetapi tiba-tiba lagi wajahnya bagai ada yang menendang dari depan. Ploook...!

"Aauh...!" Pendekar Mabuk tersentak dan berguling kekiri setelah wajahnya terdongak dengan keras. Sementara si pemilik kaki yang menendang tadi tetap tidak kelihatan. Panji Klobot sendiri dicekam rasa heran dan kebingungan karena ia tidak melihat siapa-siapa di situ kecuali mereka berdua.

"Kang, ada apa? Kenapa kau pura-pura jatuh, Kang?"

"Pura-pura dengkulmu!" gerutu Suto Sinting sambil menyeringai kesakitan. la memegang tulang pipinya yang tadi terasa mendapat tendangan cukup keras. Ternyata tulang pipi itu memar dan terasa bengkak. Disentuh sedikit saja sakitnya bukan main.

"Kang Suto..., mengapa wajahmu jadi biru begitu? Kau bedaki pakai blau pemutih pakaian, ya?!"

Kepala Panji Klobot didorong oleh Suto Sinting dengan sentakan agak keras sebagai tanda kejengkelan Suto mendengar pertanyaan seperti itu. "Aku seperti ada yang menendangnya. Bukan sengaja membedaki wajah pakai blau!" sentak Suto Sinting sambil masih duduk di tanah dan sesekali menyeringai menahan rasa sakit.

la buru-buru menenggak tuaknya. Tuak dari dalam bumbung itu mempunyai khasiat penyembuhan yang sangat mujarab, sehingga dalam beberapa kejap saja rasa sakit Suto menjadi berkurang dan lama-lama hilang. Warna biru memar di wajahnya pun segera lenyap, lalu tubuh Suto Sinting merasa segar kembali.

"Panji, berlindunglah di balik pohon. Agaknya peri edan ini mau main-main denganku!" kata Suto sengaja dikeraskan supaya didengar oleh si pemilik suara perempuan tadi.

Tetapi suara perempuan itu terdengar menertawakan ucapan Suto dengan suara tawa mengikik seakan terbang dari pohon ke pohon, mengelilingi Panji Klobot dan Suto Sinting. "Hik, hik, hik...! Cacing pita mau melawan naga raksasa, uuh... mana mungkiiiin...!"

Suto Sinting semakin penasaran. la segera menyodokkan bumbung tuaknya dengan memainkan jurus mabuknya yang sempoyongan ke sana kemari. Tetapi sodokan bambu tuaknya tidak mengenai apa-apa. Bahkan suara tawa perempuan tanpa wujud itu semakin berderai terkikik-kikik. Panji Klobot sendiri merasa tambah bingung melihat Suto mencak-mencak tanpa lawan.

"Kang, Kang... sadar, Kang! Jangan kumat di sini, Kang. Hoi... sadar, kita dalam bahaya, jangan malah gila sendiri begitu, Kang!"

Plaaak...! Suto jengkel, akhirnya Panji Klobot ditamparnya dengan pelan. "Aku bukan kumat gilaku. Aku mencoba menyerang suara itu. Siapa tahu salah satu jurus seranganku ada yang kenai tubuhnya!" sentak Suto Sinting sambil terengah-engah sedikit.

"Ooo... kukira kau tiba-tiba kumat gilanya dan mencak-mencak sendiri," ujar Panji Klobot pelan.

"Hik, hik, hik, hik...! Dasar bocah sinting, sudah dikasih tahu tak akan bisa melawanku masih ngotot! Sebaiknya biarkan Panji Klobot mencari Bunga Kecubung Dadar untukku. Tak perlu kalian buang-buang waktu dan tenaga. Lekas cari dan aku akan memberinya upah beberapa jurus saktiku untuk si Panji Klobot!"

"Bunga Kecubung Dadar itu seperti apa, Yu?!" tanya Panji Klobot kepada si pemilik suara dengan nada ragu. "Dan lagi, di mana aku bisa mendapatkan bunga itu, Yu?"

"Mana kutahu! Kalau aku tahu sudah kuambil sendiri. Untuk apa menyuruhmu, Tolol!" sentak suara perempuan itu dengan nada jengkel.

Suara itu datang dari arah kiri. Suto Sinting segera melepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh ke arah kiri. Wuuut...! Bruuus...! Pukulan tanpa sinar itu hanya mengenai serumpun semak. Padahal yang diharapkan pukulan tanpa sinar itu dapat mengenai si pemilik suara misterius itu. Namun kenyataannya Suto Sinting justru ditertawakan oleh perempuan tanpa wujud dengan mengikik bagaikan terbang dari pohon ke pohon berkeliling di tempat itu.

"Hik, hik, hik, hik...! Bocah sinting masih penasaran dan ingin coba-coba menyerangku! Terimalah serangan balasanku ini, hiiah...!"

Tiba-tiba pohon di belakang Suto Sinting patah dan tumbang ke arah Suto. Krrrak...! Brruuukk...! Wees, zlaaap...! Suto Sinting lakukan lompatan cepat menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah lepas dari busurnya itu. Tapi ia juga sempat menyambar Panji Klobot, disahut ketiak kirinya dan dibawa pergi bagai menenteng bangkai kucing.

"Ooh...?! Apa yang terjadi, Kang Suto?!" Panji Klobot terbengong dengan wajah tegang sambil memandang pohon yang tumbang itu. Seandainya ia tak disambar Suto, mungkin tubuhnya akan menjadi sele gepeng kejatuhan pohon sebesar itu.

Pendekar Mabuk hanya menarik napas dan membatin, "Perempuan itu agaknya benar-benar menginginkan Panji Klobot mencari bunga tersebut. Hmmm..., tapi siapa dia sebenarnya?! Bagaimana kalau kutengok dengan menggunakan mata gaibku?"

Pendekar Mabuk segera mengusap keningnya dengan tangan kiri. Slaab...! Seharusnya Pendekar Mabuk dapat melihat perempuan tanpa rupa itu jika memang perempuan tersebut berada di alam gaib. Sebab, di kening Suto terdapat noda merah kecil sebiji jagung. Noda merah itu tak dapat dilihat oleh setiap orang, kecuali yang berilmu tinggi dan bisa menggunakan indera ketujuhnya.

Noda merah itu pemberian Ratu Kartika Wangi, yaitu ibu dari Dyah Sariningrum, calon istri Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah). Jika titik merah di kening Suto diusap dengan dengan kiri, maka ia akan dapat melihat kehidupan di alam gaib. Jin, siluman dan tetek bengeknya dapat dilihat dengan mata Suto. Tapi jika diusap dengan tangan kanan, maka Suto akan dapat masuk ke alam gaib, atau berada di negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib yang menjadi kekuasan Gusti Ratu Kartika Wangi, calon mertuanya itu.

Tetapi kali ini ternyata Suto Sinting tidak menemukan sesosok wanita yang menjadi pemilik suara tersebut. Malahan ia melihat beberapa sosok makhluk tinggi-besar, berkulit hitam dengan mata sebesar cangkir dan kepala gundul bertanduk.

"Huaah...!" Suto memekik ketakutan sambil menahan tawa geli sendiri. Lalu ia buru-buru mengusap titik merah di keningnya untuk menutup penglihatan gaibnya.

"Ada apa, Kang?!" tanya Panji Klobot setelah ikut terlonjak kaget.

"Aku melihat beberapa jin di seberang sana. Hiiih...! Ngeri!"

"Jadi yang bersuara itu tadi jin, ya Kang?"

"Bukan. Jin-jin yang ada di sana pada bungkam dan memandangi kita yang kebingungan. Mungkin malah mereka sangka aku ini orang gila, menyerang sendiri, jatuh sendiri, sembuh sendiri..! Sial! Cepat tinggalkan tempat ini, Panji! Kau ikut aku!"

Tiba-tiba suara perempuan itu terdengar lagi, "Hik, hik, hik.... Jangan lupa Bunga Kecubung Dadar ya, Panji?!"

"Diam kau!" bentak Suto yang menjadi semakin jengkel.

"Aku tidak ngomong apa-apa kok, Kang!"

"Bukan kau yang kusuruh diam!" bentak Suto kepada Panji Klobot, dan yang dibentak hanya garuk-garuk kepala dengan wajah cemberut sedih.

* * *

DUA

LUPAKAN tentang suara perempuan itu tadi," kata Suto Sinting kepada Panji Klobot ketika mereka berada di sebuah kedai.

"Ya, Kang," Panji Klobot bersikap patuh kepada Suto Sinting.

"Pesan makanan sesukamu! Aku habis dapat pesangon dari Adipati, jangan takut makananmu tidak kubayar! Berapa pun akan kubayar, asal kau benar-benar melupakan kata-kata dari suara tanpa rupa tadi."

"Suara yang mana, Kang?" Panji Klobot berlagak benar-benar lupa.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum sedikit dongkol, karena ia tahu bahwa Panji Klobot sebenarnya tidak lupa dengan suara perempuan tadi. Karena mendapat izin untuk memesan apa saja, Panji Klobot segera memesan ingkung bakar dan nasi liwet dua piring. Padahal harga ingkung bakar cukup mahal. Hanya para saudagar atau orang-orang kaya yang memesan ingkung bakar untuk santap makan mereka. Bahkan Panji Klobot bukan saja memesan ingkung bakar, melainkan juga beberapa makanan lainnya, sehingga di mejanya penuh dengan berbagai macam makanan yang nyaris tidak punya tempat untuk meletakkan piring tempat nasi.

Pendekar Mabuk yang ada di meja sampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat pesanan Panji Klobot. la segera menggumam dengan suara yang didengar oleh Panji Klobot sendiri. "Kau mau makan apa mau kenduri?!"

Panji Klobot tertawa cengengesan. "Sebelum aku menyusulmu, aku sudah pamit keluar dari pekerjaanku di kadipaten. Jadi, belum tentu di hari-hari mendatang aku dapat menikmati santapan selezat ini, sebab sudah tidak bekerja di kadipaten lagi."

Salah seorang pembeli ada yang menegur Suto sambil ingin membayar biaya makannya kepada si pemilik kedai. "Kang, temanmu itu perutnya terbuat dari apa, kok makanannya sebanyak itu?"

Suto menjawab, "Itu tidak dimakan semua. Makanan yang lainnya hanya sesaji untuk para dewa. Dia sebenarnya termasuk keponakan Dewa Maruk."

"Ooo... keponakan dewa?! Wah, maaf ya... tolong mintakan maaf pada temanmu itu, Kang. Aku takut dikutuk karena disangka menghinanya...." Orang tersebut buru-buru menyerahkan uang kepada si pemilik kedai dan langsung ngacir tak berani menengok ke arah kedai lagi.

Pendekar Mabuk hanya tertawa cekikikan dengan mulut ditutup tangan. Panji Klobot yang mendengar ucapan Suto tadi juga ikut tertawa sambil memperhatikan kepergian orang tersebut.

"Bagus, Kang. Kau melindungi nama baikku, kupikir-pikir... aku ini sepertinya memang keponakan dewa, Kang!"

"Jangan banyak omong! Makan dan habiskan semua pesananmu itu! Kalau tidak habis kujejalkan ke mulutmu!" kata Suto Sinting sambil menghitung berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan untuk jumlah pesanan Panji Klobot itu. Dalam hatinya sang Pendekar Mabuk menggerutu bernada canda. "Kalau begini caranya bisa bangkrut, ludes semua uangku masuk ke perutnya!"

Bumbung tuak ditambah isinya hingga penuh, tapi Suto masih pesan tuak sendiri satu guci kecil. Selain tuak, ia juga memesan makanan untuk mengisi perutnya. Sepotong ketan bakar diambilnya, lalu dimasukkan dalam mulut. Namun sebelum ketan itu masuk ke mulut, tiba-tiba tangan Suto Sinting seperti ada yang menampelnya. Plaaak...! Ketan pun jatuh ke lantai. Pluk!

"Sial!" gerutu Suto Sinting, lalu melirik ke kanan-kiri, pelan-pelan badannya membungkuk tangannya terjulur ke bawah mau mengambil ketan bakar. "Sayang kalau tak diambil. Belum ada lima kedip, masih sah untuk dimakan!" pikir Suto.

Tetapi ketika ketan mau diraih tangan, tiba-tiba pemilik kedai menegur Suto Sinting, "Ada yang bisa kubantu, Nak?"

Suto buru-buru tegak dengan setengah kaget, "Oh, hmmm... anu... tidak ada apa-apa kok, Pak."

"Agaknya ketan bakarmu jatuh, ya?"

"Iya, tapi memang sengaja kujatuhkan, sebab tadi kulihat ada seekor kucing yang berkeliaran di sini. Aku sengaja memberi makan kucing itu."

"O, itu kucing kesayangan anakku. Terima kasih atas kebaikanmu memberi makan kucing kesayangan putriku, Nak."

"Sama-sama, Pak Tua...," sambil Suto anggukkan kepala dan tersenyum ramah. Akhirnya ia urung mengambil ketan bakar itu dengan hati menyimpan rasa malu. Kini ia mencomot ketan bakar lagi. Ketika ketan mau masuk ke mulut tiba-tiba tangannya seperti ada yang menamparnya kembali. Plak...!

Pluk! Ketan pun jatuh kembali ke lantai. Suto Sinting tarik napas dan melirik ke kanan-kiri. "Sial! Jatuh lagi!" gerutunya dalam hati.

Sementara itu, Panji Klobot sibuk menikmati santapannya tanpa mau melirik ke arah Suto sedikit pun. Hal itu membuat Suto semakin dongkol, namun hanya bisa dipendam dalam hati. Kini Suto Sinting mengambil sepotong tempe goreng untuk lauk nasi yang sudah siap di depannya. Tetapi baru saja tempe goreng mau digigitnya, tiba-tiba tempe itu melesat terbang dan jatuh di piring orang lain. Pluk...!

"Bah...? Rezeki dari mana ini? Ah, lumayan! Embat sajalah!" ujar orang itu kepada temannya sambil tertawa lalu memakan tempe goreng itu.

Suto Sinting menarik napas. "Pasti pekerjaan perempuan yang tak mau tunjukkan rupanya itu!" geram Suto Sinting dalam hati. Lalu, tangan yang habis memegang tempe itu dimasukkan ke dalam mulut.

"Hmmm... lumayan, tidak dapat tempenya dapat rasa asinnya," pikir Suto Sinting, kemudian menyuap nasi ke mulutnya.

Tapi baru saja nasi mendekati bibir, tiba-tiba tangan Suto seperti ada yang menyenggolnya. Plok...! Weerrs...! Nasi pun tumpah menyebar di meja, berantakan ke mana-mana. Bahkan sebagian melekat di wajah Suto Sinting.

"Edan!" geram Suto dalam hati dengan sikap diam menahan kejengkelan.

"Lho, Kang...? Kau makan apa mandi nasi?!" tegur Panji Klobot yang kebetulan memandang ke arah Suto.

"Jangan banyak bicara kau, Panji! Makan saja sesuai jatahmu!" ucap Suto dengan nada geram. Pendekar Mabuk yakin perbuatan itu pasti.

keusilan si pemilik suara yang tak mau tunjukkan wajahnya itu. Pendekar Mabuk mencoba melirik kesana-sini mencari perempuan itu. Tapi di kedai tersebut tak ada tamu perempuan. Satu-satunya perempuan adalah gadis anak pemilik kedai. Tapi gadis itu ada di dapur, jauh dari jangkauan Suto. Tak mungkin gadis itu yang melakukannya. Pendekar Mabuk akhirnya hanya menenggak tuak dari guci sebagai obat kecewa. Tetapi tiba-tiba guci itu pun pecah saat dituang ke mulut. Praaak...!

Pyuuur...! Tuak dari dalam guci menyiram wajah Suto Sinting. Suara pecahnya guci menjadi perhatian para tamu di kedai tersebut. Akhirnya Suto Sinting menjadi bahan tertawaan para tamu.

"Hoi, Sobat ... kau mau minum tuak apa mau mandi?!" tegur seorang tamu sambil terbahak-bahak.

Suto berseru dengan berlagak tersenyum girang. "Beginilah caraku meminum tuak. Kalau tidak sekalian mengguyur wajah, rasa-rasanya kurang puas!"

Tapi Suto pun berkata dengan suara geram, "Hei, Perempuan Gila...! Kalau kau menggangguku lagi, aku tak akan mau membantu Panji Klobot mencarikan Bunga Kecubung Dadar!"

Tiba-tiba Suto seperti mendengar suara perempuan berbisik di dekatnya. "Akan kuganggu kau kalau tak mau membantu mencarikan itu!"

"Maksudmu mencarikan bunga itu?!"

"Benar!"

"Baik, akan kubantu mencarikan bunga itu, tapi kumohon kau tidak menggangguku, Nona!"

"Hik, hik, hik...!" suara tawa itu membisik bagai berada di gendang telinga Suto. Suto pun bergidik geli sambil menyeringai. Tanpa sadar ia dipandangi oleh para pembeli yang ada di kedai tersebut. Mereka saling berkasak-kusuk menyangka Suto gila.

"Mengapa kau memanggilku Nona?" tanya suara aneh itu.

"Karena suaramu masih kedengaran seperti suara seorang gadis. Bukan suara seorang nenek," jawab Suto Sinting sambil mengeringkan wajahnya memakai baju.

"Aku memang masih gadis, tapi sudah tidak perawan lagi. Hik, hik, hik...!"

"Kau pelacur, ya?"

Plaaak...! Tiba-tiba kepala Suto tersentak ke samping dan beberapa orang mendengar suara tamparan keras. Pipi kanan Suto pun menjadi merah. Orang-orang yang memandangnya menjadi terkejut dan terheran-heran. Suto Sinting sadar kalau sedang diperhatikan orang banyak. la menjadi malu, dan buru-buru menutup rasa malunya dengan berlagak menampar pipinya yang kiri. Plaaak...!

Lalu ia bicara kepada si pemilik kedai yang juga memperhatikan dengan heran. "Di sini banyak nyamuk! Sudah dua kali aku digigit nyamuk. Dan ternyata nyamuk di sini pandai silat semua. Buktinya dua kali kutampar, ia pandai menghindar, malah wajahku sendiri yang kena tampar!"

"Hah, hah, hah, hah...!" mereka menertawakan kata-kata Suto, menganggap Suto sedang melucu di depan mereka.

"Kau pantas menjadi pelawak, Anak Muda!" ujar seorang lelaki berkumis berusia sekitar lima puluh tahun.

"Terima kasih. Itu memang cita-citaku sejak kecil," jawab Suto Sinting walau hatinya memendam kedongkolan yang ingin dilampiaskan dengan menggebrak meja.

"Cepat tinggalkan kedai ini dan carilah bunga itu!" bisik suara perempuan yang aneh itu.

"Lihat, gara-gara ulahmu aku jadi ditertawakan orang banyak begini! Setan juga kau!"

"Hik, hik, hik...! Aku bukan setan dan juga bukan pelacur, Bocah Sinting. Aku punya nama sendiri."

"Siapa namamu?!" tanya Suto sambil memandang ke arah kiri, karena suara itu datang dari kiri.

Di sebelah kiri ada seorang pemuda yang sedang menikmati nasi pecel. Pemuda berbaju merah itu segera perdengarkan suaranya. "Namaku: Wigata! Mau apa kau tanya-tanya namaku segala?!"

"Aku bukan tanya padamu, Sobat!" kata Suto dengan malu bercampur dongkol.

"Tapi kenapa kau bertanya sambil memandang ku?!"

Pendekar Mabuk sulit menjelaskan. Akhirnya hanya menarik napas dan diam termenung. Sementara itu, Panji Klobot masih giat menyantap hidangannya sambil sesekali memandang kepada Suto Sinting. Panji Klobot mulai mengetahui bahwa saat itu Suto Sinting sedang diganggu oleh suara perempuan yang tak mau menampakkan wajahnya itu. Karenanya, beberapa kejap kemudian Panji Klobot berkata kepada Suto,

"Kang, lupakan suara itu! Jangan diingat-ingat lagi!"

"Kau menyindir anjuranku tadi, ya?!"

"Bukan begitu, Kang. Kalau kau melayani suara perempuan tadi, kau seperti orang gila. Dan mereka akan menganggapmu gila!"

Pendekar Mabuk serba salah. Mau melayani suara aneh itu, dia akan dianggap gila oleh orang-orang di situ. Mau diam saja, tapi suara aneh itu membisik terus di telinganya, seakan gadis itu ikut duduk di samping Suto dan berjarak tak ada satu jengkal.

"Bocah sinting... kalau kau ingin memanggilku, panggillah aku dengan nama Tenda Biru. Panggillah aku dengan nama itu."

"O, kalau begitu kau gadis panggilan, ya?"

Plaaak...! Sekali lagi Suto ditampar hingga wajahnya terbuang ke samping. Orang-orang memandang Suto dengan terperanjat dan terheran-heran. Suto Sinting mencoba mengibaskan tangannya ke samping, seakan menampar balik perempuan yang ada di sampingnya. Wuuus...!

Tapi ia seperti menampar angin dan tidak mengenai apa-apa. Justru kibasan tangannya yang secara tak sadar mengandung kekuatan tenaga dalam itu menghadirkan angin kencang, Weees,..! Angin kencang itu menyapu barang-barang di meja samping, tempat si pemuda berbaju merah itu menikmati makanannya. Barang-barang itu tumpah berantakan, si baju merah sendiri tersentak ke belakang dan jatuh terjengkang. Brrruk...!

"Hei, mau cari gara-gara kau, hah?!" bentak si baju merah.

"Maaf, maaf... aku tidak sengaja. Maafkan aku! ujar Suto Sinting merasa bersalah.

Ploook...! Pemuda berbaju merah itu menghantamkan tinjunya dan wajah Suto menjadi sasaran telak. Suto terlempar ke belakang dan terpelanting jatuh. Kakinya berkelebat mengenai pinggang Panji Klobot. Buuukh...!

"Uukh...!" Panji Klobot mendelik, makanan yang sedang dikunyahnya tersembur keluar. Bruuwws...! Kerasnya semburan membuat makanan dari mulut Panji Klobot menghambur mengenai wajah orang yang ada di depannya. Tentu saja orang itu menjadi berang dan segera menampar Panji Klobot. Ploook...!

"Bocah edan! Wajah orang dianggap lantai kamar mandi, dipakai buat tempat muntahan! Dasar kambing dungu kau, hah?!" bentak orang itu sambil memaki-maki Panji Klobot.

"Wah, kalau begitu caranya bisa kacau dan malu sekali aku!" pikir Suto Sinting. Kemudian ia segera menemui pemilik kedai dan membayar semua biaya makan tersebut.

"Uang ganti guci yang pecah belum, Nak."

"Oh, ya... hmmm... ini uang pengganti guci yang pecah itu!" sambil Suto menambahkan uang kepada si pemilik kedai.

"Panji, lekas tinggalkan tempat ini!" perintah Suto Sinting sambil bergegas pergi, sementara orang-orang memperhatikan dan melontarkan hinaan macam-macam yang membuat wajah Suto menjadi merah menahan marah.

Sampai di luar kedai, Panji Klobot segera ajukan tanya kepada Suto Sinting. "Kang, kenapa buru-buru pergi. Makananku belum habis semua, Kang!"

"Tenda Biru bikin kacau segalanya! Daripada kita menderita malu lebih banyak lagi, mendingan kita cepat-cepat hindari tempat itu!"

"Tenda Biru...?! Aku tidak melihat orang buka tenda biru di situ, Kang!" kata Panji Klobot dengan lugunya karena ia tak tahu maksud Suto.

Si Pendekar Mabuk membiarkan ucapan Panji Klobot, karena tiba-tiba langkahnya terhenti seketika. Seseorang telah menghadang di depannya dengan berdiri tegak dan kakinya sedikit merentang. Orang itu memandang Suto Sinting dengan mata tajam dan bersikap bermusuhan. Panji Klobot sendiri segera hentikan langkah dan memandang orang yang menghadang dengan dahi berkerut.

"Siapa orang itu, Kang?" bisik Panji Klobot.

"Entahlah. Mungkin orang linglung yang mau cari gara-gara kepada kita, Panji! Bersiaplah untuk berlindung agar tak menjadi tempat salah sasaran," bisik Suto Sinting yang membuat Panji Klobot segera menepi secara perlahan-lahan.

Orang yang menghadangnya itu adalah seorang lelaki berusia sebaya dengan Suto Sinting. la tampak kekar dan berotot juga, seperti Suto Sinting. Rambutnya panjang diriap sepunggung, kepalanya mengenakan kain penutup warna merah dengan ikatan sampul di belakang. Pemuda sebaya Suto itu mempunyai kumis tipis dan wajah yang lumayan ganteng dengan pakaian serba hijau cerah.

* * *

TIGA

"MENGAPA kau berdiri menghadangku, Sobat?" tegur Suto dengan tenang. Pemuda berpakaian serba hijau itu menjawab dengan nada dingin.

"Aku ingin menantangmu. Kau yang bernama Suto Sinting; si Pendekar Mabuk itu, bukan?"

"Memang benar. Tetapi mengapa kau ingin menantangku?"

"Aku punya dendam padamu."

"Mengapa kau punya dendam padaku, Kawan?"

"Karena kau telah melenyapkan seluruh ilmu milik adikku."

"Siapa adikmu itu?"

"Naga Langit!" jawab pemuda itu dengan tegas.

Pendekar Mabuk berkerut dahi. Dalam benaknya segera muncul pemuda bernama Naga Langit yang pernah berhadapan dengannya. Pemuda itu mempunyai ilmu 'Lintah Tambak Cumbu' pemberian Nyai Mata Binal. Ilmu itu dapat untuk menyedot seluruh ilmu lawan dengan cara berhubungan mesra bersama lawan jenisnya yang berilmu tinggi. Salah satu korban Naga Langit adalah Gadis Dungu, yang kehilangan seluruh ilmunya setelah kencan dengan Naga Langit.

Pada waktu itu, Suto Sinting berhasil menemukan kelemahan pemilik ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'. Bayangan orang tersebut jika dihantam akan pecah, hilang, dan muncul lagi. Setelah begitu orang tersebut akan kehilangan seluruh ilmunya, termasuk ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'-nya. Dan, Suto Sinting berhasil menghantam bayangan Naga Langit, sehingga Naga Langit menjadi seperti Gadis Dungu atau para korban lainnya, yaitu kehilangan seluruh kekuatan dan ilmunya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perempuan Jahanam).

"Ya, aku ingat tentang Naga Langit," kata Suto Sinting. "Tapi aku belum tahu siapa namamu, Sobat? Mana mungkin aku mau melayanimu karena aku tak percaya kalau kau adalah kakaknya si Naga Langit?!"

"Buka matamu lebar-lebar dan buka telingamu yang congek itu! Akulah yang bernama Taring Naga, juga murid mendiang Begawan Girimaya dari Gunung Pantura!"

"O, ya... kudengar si Naga Langit juga murid Begawan Girimaya dari Gunung Pantura. Tetapi seandainya mendiang guru kalian masih hidup, kurasa guru kalian juga mengecam dan tidak setuju dengan tindakan Naga Langit yang menerjang pranata kesusilaan itu, Taring Naga!"

"Persetan dengan kemungkinanmu! Sekarang aku harus membalas kekalahan Naga Langit, adikku itu! Heeeeat...!" Taring Naga tiba-tiba menerjang Pendekar Mabuk dengan jurus tendangan bertenaga dalam.

Pendekar Mabuk menggeloyor seperti orang kebanyakan minum tuak mau jatuh. Gerakan menggeloyor itu membuat tendangan Taring Naga meleset, tetapi tangan yang mengibas ke samping itu sempat kenai wajah Suto Sinting. Plook...! Pendekar Mabuk terpelanting nyaris jatuh. Untung ada pohon, sehingga tangan Suto Sinting buru-buru berpegangan pada pohon tersebut. Tetapi baru saja Pendekar Mabuk menjadi tegak, tiba-tiba tendangan kaki Taring Naga melesat mengarah ke wajah. Beeet...!

Plak! Suto Sinting menangkisnya. Lalu dengan cepat tubuh Suto berputar dengan kaki berkelebat menendang cepat. Wuut, bet...! Duuukh...! Punggung Taring Naga terkena tendangan tumit Suto Sinting. Pemuda berbaju hijau itu tersentak hingga bungkukkan badan. Panji Klobot ikut-ikutan menyerang. la segera penendang pantat Taring Naga yang sedang terbungkuk itu. Duuukh...!

"Jebol...!" Panji Klobot berseru setelah menendang.

"Aaakh...!" Taring Naga tersentak sambil pegangi pantatnya, lalu tubuhnya terguling ke depan dan jatuh duduk menyeringai. Panji Klobot sendiri cepat lari sembunyi di balik pohon.

"Hati-hati kau...!" hardik Pendekar Mabuk kepada Panji Klobot yang menganggap telah lakukan tindakan dapat membahayakan diri sendiri.

Taring Naga cepat bangkit dan mencabut pedangnya. Sreeet...! "Kubunuh kalian berdua sekarang juga! Tak akan kuberi... aduh?!"

Taring Naga menjadi tegang dan berkerut dahi. la memegangi pantatnya kembali. Wajahnya tampak menyeringai dengan bingung. "Celaka! Kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali?! Aduuuh... ada yang ingin keluar, uuh... uuh... masuk angin apa, ya?"

"Hi, hi, hi...!" Panji Klobot tertawa cekikikan di balik pohon.

Pendekar Mabuk justru berkerut dahi dengan heran melihat Taring Naga kebingungan memegangi pantatnya.

"Aduh, mules sekali rasanya! Sial! Aku... aku... aku tidak kuat kalau begini!" sambil Taring Naga semakin menyeringai menahan sesuatu yang ingin keluar dari pantatnya. "Tunggu!" serunya kepada Suto. "Pertarungan kita tunda dulu! Kita lanjutkan setelah... setelah... aduh, tak kuat lagi aku! Siaaal...!"

Taring Naga terpaksa lari ngibrit dengan mendekap pantatnya memakai kedua tangan setelah pedangnya dimasukkan ke dalam sarung pedang, ia berlari dengan terkekeh-kekeh mencari sungai atau WC untuk melepaskan hajatnya. Sementara itu, Pendekar Mabuk akhirnya ikut tertawa geli setelah Panji Klobot berkata kepadanya sambil tertawa juga.

"Kugunakan satu-satunya jurus pemberian almarhum pamanku. Namanya jurus 'Tendangan Cuci Perut'. Siapa pun tak bisa menahan untuk tetap di tempat jika terkena jurus 'Tendangan Cuci Perut'-ku itu. Pasti akan lari cari WC atau sungai untuk menguras isi perutnya! Heh, he, he, he…!"

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot mengikuti kepergian Taring Naga. Beberapa penduduk desa yang melihat pertengkaran itu juga ikut-ikutan menyusul Taring Naga. Rupanya pemuda berbaju hijau itu menuju sungai kecil yang sering dipakai untuk memandikan sapi atau kerbau mereka. Dari kejauhan, para pengikut Taring Naga segera mendengar suara histeris.

Brebeeet, breeet, breeettt... treet, teet, te, te, te, tet, breeebet...!

"Huah, hah, hah, hah, hah...!" mereka saling tawa terbahak-bahak, sementara Taring Naga hanya bisa cemberut dengan wajah ngotot. Bukan saja menahan rasa malu, namun juga menahan rasa heran karena 'setorannya' tidak berhenti-berhenti walau sudah banyak yang dikeluarkan.

Pendekar Mabuk dan Panji Klobot akhirnya meninggalkan desa itu. Perjalanan mereka teruskan untuk menemui si Gila Tuak, guru utama Pendekar Mabuk. Selain sudah lama Pendekar Mabuk tidak menengok keadaan gurunya itu, ia juga berkeperluan ingin menanyakan tentang adanya Bunga Kecubung Dadar itu.

"Sekalian aku ingin menanyakan kepada Guru, bolehkah aku menurunkan ilmuku sejurus dua jurus kepada seseorang, seperti misalnya kepada si Panji Klobot ini," ujar Suto Sinting dalam hatinya.

Tiba-tiba langit mendung datang dan angin berhembus kencang. Rintik hujan turun sebutir demi sebutir. Hujan bagai tak niat turun, sehingga menyangsikan si Pendekar Mabuk. Namun pada saat itu, sebuah suara terdengar lagi bagai berada tepat di depan telinga Suto Sinting.

"Di sebelah barat ada gua. Meneduhlah dulu di sana!"

"Tenda Biru... kau masih mengikutiku rupanya," ucap Suto Sinting yang membuat Panji Klobot berpaling memandangnya, merasa diajak bicara oleh Suto.

"Tentu saja aku masih mengikutimu, Kang. Habis aku benar-benar ingin punya ilmu seperti yang kau punyai itu!"

"Aku tidak bicara padamu, Panji."

"Lalu, bicara kepada siapa? Oh... suara perempuan itu lagi, ya?"

Suara itu terdengar lagi, "Lekas ke gua! Hujan akan deras!"

"Kau tak perlu cemas. Aku akan menolak hujan ini!"

"Kau tak akan bisa menolaknya, Bocah Sinting!"

"Kenapa kau bilang begitu?!"

"Karena hujan ini bukan sembarang hujan."

"Apa maksudmu?"

"Hujan ini adalah hujan kiriman yang mengandung racun pembusuk tulang!"

Pendekar Mabuk terbungkam seketika. Langkahnya pun terhenti bersamaan dengan berhentinya langkah Panji Klobot yang juga mendengar suara si Tenda Biru secara samar-samar. Panji Klobot dan Suto saling berpandangan sejenak.

"Dari mana kau tahu kalau hujan ini adalah hujan yang mengandung racun?" tanya Suto dengan pandangan mata tak mengerti harus menatap ke arah mana.

"Di sebelah utara ada pertarungan. Salah satu tokoh yang bertarung melepaskan jurus mautnya yang menembus mega mengundang mendung. Jurus mautnya itu mengandung racun yang hanya dia pemilik penangkal racunnya. Racun itu akan bersatu dengan gumpalan mendung dan turun sebagai hujan yang dapat membusukkan tulang manusia dalam beberapa saat. Karena itulah, hindari hujan ini sebelum kau dan Panji Klobot kehujanan. Jika kalian kehujanan, berarti kalian keracunan!"

Panji Klobot cepat-cepat bersembunyi di bawah pohon talas yang berdaun lebar, tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Hei, ada apa kau nongkrong di sana?!" seru Suto.

"Aku takut kena hujan beracun, Kang!"

"Kalau mau sembunyi jangan di situ! Lihat, di belakangmu ada ular sedang bertelur!"

Panji Klobot menengok ke belakang. "Huaaaa...!" ia menjerit sambil berlari ketakutan, karena di sana memang ada seekor ular hitam berbelang-belang kuning sedang melingkar dan bertelur.

Mereka segera bergegas ke gua yang ada di sebelah barat. Panji Klobot segera masuk ke dalam gua itu. Tapi Pendekar Mabuk masih memandang ke arah utara. la tertarik dengan berita tentang pertarungan dua tokoh sakti itu. Pendekar Mabuk paling suka melihat suatu pertarungan karena ia dapat pelajari jurus-jurus mereka yang belum pernah dilihatnya.

"Panji, kau tetap di dalam gua dulu, aku mau ke utara sebentar!"

"Kang, apa kau tak dengar suara aneh itu memberitahukan tentang hujan beracun itu? Tulangmu bisa busuk, Kang! Kalau sudah busuk nanti tak bisa dipakai untuk bikin pipa tembakau!"

Pendekar Mabuk segera menenggak tuaknya. la yakin tuaknya dapat menolak kekuatan racun tersebut. la segera melangkah setelah tinggalkan pesan kepada Panji Klobot. "Lindungi dirimu dari air hujan nanti! Jangan keluar ke mana-mana sebelum aku datang kembali."

Namun tiba-tiba tubuh Suto tersentak ke belakang. Sepertinya ada sepasang tangan yang menghentak dadanya dengan kuat. Beeekh...! Brrus...! Tubuh Suto terhempas masuk ke dalam gua dan jatuh terhempas di sana. Ketika itu, hujan pun segera turun. Bresss...!

"Kang, lihat hujannya! Lihat...! Hujannya berwarna merah, Kang!" seru Panji Klobot tanpa pedulikan Suto yang jatuh itu. Matanya memandang tegang dari depan pintu gua tersebut.

Pendekar Mabuk menyeringai sekejap, lalu segera bangkit. la tahu tubuhnya didorong oleh Tenda Biru, karena perempuan itu pasti tak setuju jika Suto pergi ke utara dalam keadaan hujan-hujanan. Kini mata Pendekar Mabuk pun memandang hujan dengan terbelalak kagum. Hujan yang turun benar-benar berwarna merah seperti darah disiramkan ke bumi.

Tenda Biru kirimkan suaranya lagi di samping Suto. "Lihat, aku tak bicara bohong padamu! Hujan beracun itu benar-benar turun. Kalau kau nekat ke utara, kau akan kehujanan dan tulangmu menjadi busuk!"

"Omong kosong!" sentak Suto Sinting. la meneguk tuaknya lagi tak begitu banyak. Kemudian tangannya diulurkan keluar dari pintu gua. Tangan itu menjadi basah oleh air hujan seperti berlumur darah.

"Kau benar-benar sinting!" geram suara Tenda Biru.

Sementara itu, Panji Klobot menjadi tegang melihat tangan Suto basah oleh air hujan darah. "Lihat, aku tidak mengalami luka atau pembusukan tulang apa pun. Aku masih sehat dan tanganku juga tak menjadi cacat!" ujar Suto Sinting, seakan bicara kepada Panji Klobot, tetapi sebenarnya ditujukan kepada Tenda Biru.

Suara perempuan itu terdengar lirih, seperti menggumam. "Mestinya sekarang kulit tanganmu telah melepuh dan kemudian seluruh tulang tanganmu menjadi busuk."

"Buktinya tidak!" sangkal Suto Sinting.

"Kau memang bocah sinting. Sulit aku memahami ilmumu!" ujar suara Tenda Biru.

"Aaaa...!" tiba-tiba mereka mendengar suara jeritan seseorang di kejauhan. Jeritan itu berasal dari arah timur.

"Aaaaow...! Tolooong...!" Jeritan terdengar lagi berasal dari arah selatan.

"Dengar, Bocah Sinting... mereka yang kehujanan menjerit kesakitan. Dalam waktu beberapa kejap mereka akan mati dalam keadaan menjadi busuk seperti bubur!" ujar suara Tenda Biru.

"Panji, aku akan ke utara. Kau jangan sampai terkena tetesan air hujan sedikit pun! Tapi... o, ya... sebaiknya kau minum tuakku dulu sebagai bekal penolak racun jika hujan itu sampai memercik mengenai kulit tubuhmu!"

Setelah Panji Klobot menenggak tuak dari bumbung bambu sakti itu, Pendekar Mabuk pun segera keluar dari gua. Tubuhnya memang basah oleh guyuran air hujan merah yang dikenal dengan hujan berdarah, walaupun hujan itu sebenarnya tidak mengandung bau amis darah. Tetapi keadaan Pendekar Mabuk sama sekali tidak bernasib seperti orang-orang yang tadi menjerit dan sekarang sudah tak bernyawa dalam keadaan busuk dan menjadi lembek menyerupai bubur.

Langit masih tampak hitam. Mendung bergumpal-gumpal. Pendekar Mabuk segera lepaskan jurus 'Pukulan Guntur Perkasa', yaitu seberkas sinar hijau melesat dari tangan Suto Sinting ke arah mendung di langit. Claaap...! Sinar hijau itu langsung kenai gumpalan mega hitam, lalu terjadilah ledakan yang menggetarkan bumi.

BIegaaarrr... ! Mendung itu tiba-tiba pecah dan langit menjadi hijau dalam sekejap. Ketika cahaya hijau yang menyebar luas bagai membakar langit itu lenyap, maka mendung hitam sudah tiada. Langit menjadi cerah dan hujan darah pun berhenti total. Tetapi tanah, pohon, dan alam sekitarnya masih dilumuri oleh cairan merah bagaikan lautan berdarah.

"Benar-benar jurus sinting!" gumam suara Tenda Biru di samping kiri Suto.

"Justru aku ingin bertanya padamu, siapa yang punya jurus dapat mendatangkan hujan darah beracun ganas ini?!"

"Pergilah ke utara! Akan kujelaskan di sana!"

Zlaaap...! Suto Sinting melesat dengan kecepatan sangat tinggi, sukar dilihat dengan mata telanjang. la bagaikan menghilang dari tempatnya karena kecepatan jurus 'Gerak Siluman' memang sukar ditandingi oleh siapa pun.

Tiba di utara, Pendekar Mabuk melihat sebuah pertarungan yang dilakukan oleh dua tokoh berambut putih. Pertarungan itu terjadi di sebuah lembah yang tanah dan alam sekitarnya sudah menjadi merah semua karena diguyur air hujan berdarah.

"Aku kenal dengan salah satu dari mereka!" gumam Suto Sinting sambil memandang tokoh tua berusia sekitar tujuh puluh tahun yang mengenakan jubah dan celana abu-abu.

"Yang mana yang kau kenal?" tanya suara Tenda Biru.

"Yang tubuhnya pendek dan membawa tongkat berujung ketapel itu!"

"Hmmm... siapa dia?"

"la berjuluk si Kapas Mayat. Aku pernah jumpa dengannya ketika kapalnya Ratu Dayang Demit mendarat di Tanah Jawa," jawab Suto pelan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gairah Sang Ratu). Suto pun tambahkan kata, "Dia juga sahabat baik guruku!"

"Kalau begitu, lekas selamatkan si Kapas Mayat. Dia akan kewalahan melawan si Pangkar Soma!"

Pendekar Mabuk agak terkejut. "Oh, jadi... pak tua yang memakai jubah merah dan celana merah berambut abu-abu itu adalah si Pangkar Soma?!"

"Benar! Semakin tua ilmunya semakin tinggi. Apalagi sejak gurunya tewas dan seluruh ilmu diwariskan kepadanya, ia menjadi tokoh yang tak mudah dikalahkan."

Pendekar Mabuk menggumam sambil matanya memandang tokoh tua berusia sekitar enam puluh lima tahun, berwajah dingin dan mempunyai tubuh sedikit gemuk. Rambutnya yang panjang putih itu tidak mengenakan ikat kepala, sehingga jika tertiup angin sering meriap menutupi wajahnya, membuatnya semakin sangar.

"Tak kusangka Pangkar Soma sudah setua itu. Kukira masih sebayaku atau sekitar berusia empat puluh tahun. Rupanya lelaki itu yang membantai seluruh keluarga Murbiah, sehingga Murbiah menyimpan dendam kesumat kepadanya. Tentu saja Panji Klobot tak mungkin bisa mengalahkan Pangkar Soma, karena Panji Klobot tidak memiliki ilmu apa-apa kecuali satu ilmu warisan dari mendiang pamannya itu: 'Tendangan Cuci Perut'," pikir Suto Sinting sambil masih diam di kejauhan jarak.

Kapas Mayat sebenarnya bukan tokoh berilmu rendah. Kemunculannya selalu diawali dengan datangnya angin ribut dan bau wewangian setanggi dari tongkatnya itu. Tetapi, agaknya kali ini Kapas Mayat memang terdesak oleh serangan Pangkar Soma. Walaupun Pangkar Soma telah mampu hadirkan hujan beracun, dan tubuh Kapas Mayat seperti lilin yang tak dapat menjadi basah oleh guyuran hujan, namun Pangkar Soma mempunyai jurus berbahaya lagi yang dapat melenyapkan jiwa Kapas Mayat.

Terdengar Pangkar Soma berseru kepada Kapas Mayat dari jarak delapan langkah. "Sekaranglah saatnya kau tebus kematian guruku akibat racun 'Balsam Tengkorak'-mu itu, Kapas Mayat! Huaaah...!"

Rupanya Pangkar Soma ingin balas dendam atas kematian gurunya. Gurunya mati karena pertarungan dengan si Kapas Mayat. Kapas Mayat berhasil melukai guru Pangkar Soma dengan jurus 'Balsam Tengkorak' yang amat ganas itu. Kali ini Pangkar Soma yang bersenjata cambuk merah itu segera mencabut senjatanya dan melecutkan ke arah atas kepala Kapas Mayat. Ctaaar...! Ujung cambuk itu memancarkan sinar biru lebar bagai menyorot ke bumi. Tubuh Kapas Mayat tersiram sinar biru lebar.

Srraab...! Zlaaap...! Wuuut...!

Andai saja Pendekar Mabuk tidak pergunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya nyaris melebihi kecepatan cahaya, mungkin Kapas Mayat sudah menjadi serbuk lembut seperti seonggok batu yang terkena sinar biru dari cambuk itu. Pendekar Mabuk bergerak cepat dan menyambar tubuh Kapas Mayat. Tetapi batu yang semula berada di samping Kapas Mayat itu berubah menjadi seonggok tumpukan serbuk lembut berwarna hitam.

Tanah tempat berdirinya Kapas Mayat tadi juga berubah menjadi hitam dan berpasir seluas lima langkah sekeliling. Pangkar Soma mengejar lawannya, tapi ia kehilangan arah, sehingga makin lama justru semakin jauh dari si Kapas Mayat.

Kapas Mayat terkejut ketika tahu-tahu dirinya sudah berada di tempat jauh dari pertarungannya. Ia lebih terkejut lagi setelah diturunkan dari gendongan Suto Sinting. "Lho, kalau tak salah dugaanku, kau adalah si Pendekar Mabuk, muridnya Gila Tuak?!"

"Betul, Pak Cilik!" jawab Suto yang selalu memanggil Kapas Mayat dengan sebutan Pak Cilik, karena tinggi tubuh Kapas Mayat hanya sebatas perut Suto.

"Untung kau segera menyambarku. Aku tak sangka kalau cambuk itu akan keluarkan cahaya biru. Kupikir, si Tengkuk Cadas tidak menurunkan jurus 'Cambuk Iblis' kepada muridnya; Pangkar Soma itu! Kalau tak salah dugaanku, ternyata jurus itu diturunkan juga oleh si Tengkuk Cadas kepada muridnya."

Pendekar Mabuk tertawa pendek. "Pak Cilik ini bagaimana, melawan gurunya bisa unggul, masa melawan muridnya nyaris mati?"

"Kalau tak salah dugaanku, aku terlalu mengangap ringan si Pangkar Soma, akhirnya aku terjebak oleh anggapanku sendiri. Tapi... lupakan tentang itu. Anggap saja aku belum pernah bertarung melawan Pangkar Soma."

Kapas Mayat berlagak tenang, seperti tak pernah melakukan pertarungan yang berbahaya. Pendekar Mabuk segera berkerut dahi karena ia mendengar suara Tenda Biru berbisik kepadanya.

"Tanyakan tentang Bunga Kecubung Dadar kepadanya. Siapa tahu dia mengetahui tentang bunga itu."

"Pak Cilik, maukah kau menolongku?"

Kapas Mayat menguap, "Hoooaaam...! Kalau tak salah dugaanku, aku ngantuk," ujarnya. "Dua hari dua malam aku tak tidur."

"Kenapa sampai tak tidur, Pak Cilik?"

"Kalau tak salah dugaanku, aku mencari cucuku si Kelambu Petang. Sudah empat hari dia tak pulang. Entah hilang ke mana."

"Ah, bosan aku mendengarnya. Lagi-lagi kau selalu kebingungan karena kehilangan cucu. Kelambu Petang itu sudah besar, sudah dewasa, Pak Cilik. Kalau dia pergi bukan berarti hilang. Mungkin ada keperluan pribadi yang belum dijelaskan kepadamu. Jangan setiap cucumu pergi selalu dianggap hilang."

Suto bernada gerutu, karena dulu dia pernah membantu Kapas Mayat yang merasa kehilangan cucu. Ternyata sang cucu yang bernama Kelambu Petang hanya sekadar pergi untuk membalas dendam kepada Ratu Dayang Demit, setelah itu tanpa bantuan Suto pun sebenarnya Kelambu Petang akan pulang sendiri. Dulu, Suto merasa ikut cemas mendengar cucunya Kapas Mayat hilang. Tapi sekarang dia tak mau ikut cemas lagi.

"Ikutlah aku ke sana, di sana ada gua dan temanku menunggu di dalamnya. Kau bisa istirahat di dalam gua itu, Pak Cilik! Jangan pikirkan cucumu dulu. Anggap saja si Kelambu Petang itu memang gadis yang gemar minggat! Kalau capek akan pulang sendiri."

"Soalnya... kalau tak salah dugaanku, kitab pusakaku dibawa pergi."

"Kitab pusaka apa?!" Suto Sinting bersungut-sungut.

"Kitab pusaka 'Tanggul Murka' yang dulu kan kau berikan padaku sebagai hadiah itu? Hmmm...! Itu kitab berisi pelajaran membaca bagi yang buta huruf! Biar saja dibawa oleh si Kelambu Petang!"

"Kalau tak salah dugaanku, bukan kitab itu yang dibawanya, tapi kitab 'Kidung Bencana' yanrg dibawa Kelambu Petang."

"Hahhh...?!" Suto Sinting terkejut, karena ia pernah terlibat perkara kitab pusaka 'Kidung Bencana' belum lama ini, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam Episode Hilangnya Kitab Pusaka).

"Setahuku Kitab Kidung Bencana itu milik Ki Perak Porong dan Nyai Tawang Sangit!"

"Siapa bilang? Kalau tak salah dugaanku, kitab itu milikku. Porak Porong dan Tawang Sangit hanyalah sahabatku."

Pendekar Mabuk tertegun, hatinya mulai cemas. Sebab dia tahu Kitab Kidung Bencana itu berisi mantra-mantra gaib yang dapat mendatangkan bencana besar jika diucapkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Tapi benarkah kitab itu milik si Kapas Mayat?! Benarkah yang dibawa Kelambu Petang adalah Kitab Kidung Bencana yang sebenarnya? Jangan-jangan Kelambu Petang salah bawa?!"

* * *

EMPAT

MALAM itu Pendekar Mabuk beristirahat di dalam gua yang tak begitu lebar. Gua itu tidak mempunyai jalan tembus ke mana-mana, dan agaknya sering digunakan bermalam bagi para pengelana yang kemalaman.

Panji Klobot sudah mendengkur sejak tadi. la mudah tertidur karena siangnya terlalu banyak makan di kedai. Tinggal Suto Sinting sendirian yang masih melek mendiang di dekat api unggun buatannya sendiri. Kapas Mayat tak mau diajak bermalam. Tokoh tua yang pendek berambut abu-abu itu tetap pergi mencari cucunya; si Kelambu Petang.

Pendekar Mabuk sengaja tak mau membantu mencarikannya karena sudah tahu watak Kapas Mayat yang selalu membesar-besarkan masalah, padahal ia hanya mengkhawatirkan keselamatan cucunya. la memang sangat sayang kepada Kelambu Petang, sebagai cucu tunggal semata wayang, entah wayang golek atau wayang kulit. Tetapi sebelum Suto berpisah dengan si Kapas Mayat, tokoh tua itu tadi sempat ditanya tentang Bunga Kecubung Dadar oleh Pendekar Mabuk.

"Apakah kau tahu tentang Bunga Kecubung Dadar, Pak Cilik?"

"Kalau tak salah dugaanku," Kapas Mayat selalu mengawali ucapannya dengan kata-kata itu, kemudian menyambungnya lagi. "....Bunga Kecubung Dadar belum pernah kulihat, tapi kalau telur dadar sering kumakan!"

"Aku sedang mencari Bunga Kecubung Dadar, Pak Cilik. Tolong bantu aku."

"Kalau tak salah dugaanku, sebaiknya carilah telur dadar saja. Itu lebih mudah dan aku bisa membantumu."

Suto mendesah jengkel. "Aaah...! Yang kubutuhkan bunga itu, Pak Cilik!"

"Kalau begitu kau harus menemui sahabatku; si Kusir Hantu."

"Apakah dia tahu tentang bunga tersebut?"

"Kalau tak salah dugaanku, Kusir Hantu semasa mudanya pernah menjadi pedagang kembang. Jadi pengetahuannya tentang bunga bisa diandalkan. Di samping itu, kalau tak salah dugaanku... Kusir Hantu semasa mudanya juga sering meminjam uang yang berbunga. Pinjam seratus mengembalikannya seratus sepuluh. Jadi, kalau tak salah dugaanku, soal bunga-berbunga itu memang sudah makanan sehari-hari si Kusir Hantu semasa mudanya."

Di dalam gua yang hangat oleh cahaya api unggun itu, Suto Sinting berkecamuk sendiri di dalam hatinya. la agak ragu dengan penjelasan si Kapas Mayat karena berkesan main-main. Tetapi hati kecil Pendekar Mabuk pun punya pendapat sendiri untuk langkahnya.

"Coba-coba saja. Siapa tahu si Kusir Hantu benar-benar mengetahui tentang bunga itu. Tapi... perlukah aku bersungguh-sungguh dalam mencari bunga tersebut? Mengapa aku harus pusing memikirkannya? Bukankah itu urusan si Tenda Biru?!"

Renungan demi renungan, akhirnya suara Tenda Biru pun hadir di malam yang hening itu. Pendekar Mabuk sempat tersentak kaget ketika telinganya menangkap suara pelan seorang perempuan yang cukup dekat dari tempat duduknya.

"Siapa orang yang berjuluk Kusir Hantu itu, Bocah Sinting?!"

Setelah melepaskan napas mengusir rasa kagetnya, Pendekar Mabuk pun memberi jawaban dengan suara pelan juga. Suara itu sengaja dipelankan supaya Panji Klobot tidak terganggu dari tidurnya. "Kusir Hantu itu juga sahabat guruku, dan sahabatku sendiri. Aku kenal baik dengannya dan pernah membantunya dalam sebuah peristiwa berdarah." (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Ratu Cendana Sutera).

"Mengapa kau tak mencobanya untuk temui si Kusir Hantu?"

"Aku takut ucapan si Kapas Mayat hanya kelakar belaka."

"Tak ada buruknya jika mencobanya, Bocah Sinting."

"Mengapa kau bersifat mendesakku?"

"Karena aku sangat membutuhkan bunga itu!" jawab suara Tenda Biru.

"Kau yang membutuhkan, mengapa aku yang kerepotan?!"

Suara perempuan itu tidak terdengar. Hening malam menguasai gua tersebut. Hanya kemertas suara kayu bakar yang menjadi pengisi keheningan itu. Pendekar Mabuk menenggak tuaknya lagi. Tak banyak, namun cukup melegakan hati dan menyegarkan tubuh.

"Bocah sinting..." suara Tenda Biru terdengar lagi bernada pelan. "...aku tak punya sanak saudara lagi di dunia ini. Semuanya telah tiada, tinggal aku seorang diri berkelana di permukaan bumi. Tak ada orang yang bisa kumintai bantuannya untuk mencarikan Bunga Kecubung Dadar itu. Ketika aku melihatmu bertarung dengan Malaikat Kabut Gamping, aku menaruh harapan padamu."

"Harapan apa?"

"Harapan bisa membantuku mendapatkan bunga itu."

"Bukankah kau menyuruh Panji Klobot?"

"Itu hanya sebagai jembatan untuk mendekatimu, Bocah Sinting."

Pendekar Mabuk tertawa pelan dan pendek.

"Aku yakin si Panji Klobot tak mungkin bisa temukan Bunga Kecubung Dadar itu. Tetapi jika ia merengek padamu, tentunya sebagai sahabat kau akan membantunya mencari bunga tersebut."

"Mengapa tak bicara langsung padaku kala itu?"

Hening sejurus, kemudian terdengar suara lirih si Tenda Biru. "Aku... aku malu padamu."

"Mengapa malu?" desak Suto sambil menggoda suara merdu itu.

"Kau... kau pasti akan melecehkan diriku sebagai gadis bodoh dan tak punya kemampuan apa-apa. Aku takut kau mengecamku dan tak mau membantuku jika harus kujelaskan siapa diriku sebenarnya."

Pendekar Mabuk tertawa lagi, tapi kali ini tanpa suara. Hanya saja senyumnya tampak mekar menawan dalam cahaya api unggun. "Jelaskan siapa dirimu sebenarnya, dan mengapa kau sangat membutuhkan Bunga Kecubung Dadar itu."

"Kau janji tidak akan mengecam atau membenciku?"

"Ya, aku berjanji, asal kau tidak mengganggu diriku dan Panji Klobot!"

"Aku tidak akan mengganggu siapa pun. Aku sudah bersumpah dalam hatiku untuk tidak melangkah di jalan yang sesat lagi."

"Jalan sesat bagaimana? Jelaskanlah!"

"Kau pun janji akan menolongku jika sudah kujelaskan segalanya?!"

Pendekar Mabuk ambil napas dan menghembuskannya panjang-panjang. "Baik, aku berjanji akan menolongmu!"

Sreeek...! Tanah berbatu di samping Suto berjarak. Sepertinya Tenda Biru bergeser untuk lebih dekat lagi dengan Suto. Dan ketika suaranya terdengar lagi, ternyata memang lebih dekat dan lebih jelas dari yang tadi.

"Aku adalah salah satu dari murid Nyai Garang Sayu...."

Suto memotong, "Siapa itu Nyai Garang Sayu, sepertinya aku pernah dengar nama itu?!"

"Tentunya kau masih ingat Hulubalang Iblis!"

"Oooh... ya, ya... sekarang aku ingat. Nyai Garang Sayu adalah ibu dari Hulubalang Iblis!"

"Benar...!"

Pendekar Mabuk segera membayangkan pertarungan yang pernah dilakukan dengan Nyai Garang Sayu demi membebaskan Pematang Hati, cucu dari si Kusir Hantu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Hulubalang Iblis).

Suara si Tenda Biru terdengar lagi di samping Suto Sinting. "Aku termasuk orang keempat murid kepercayaan Nyai Garang Sayu. Ketika guruku kau kalahkan bersama si Bocah Kolok, dan Hulubalang Iblis kau bunuh, aku segera melarikan diri dan tak mau terlibat peristiwa itu. Sekalipun pada waktu itu aku tidak melihat sendiri pertarunganmu dengan guruku, tapi aku mendengar cerita tentang kesaktianmu dari teman-teman yang menyaksikan."

"Kau takut padaku?" sambil Suto tersenyun menggoda.

Keheningan terjadi sekejap. Lalu terdengar suara si Tenda Biru menjawab pertanyaan Suto tadi. "Aku tak terlalu takut padamu. Karena ilmuku pun sudah bertambah sejak tewasnya mendiang Nyai Garang Sayu. Aku sempat berguru dengan seorang pertapa dari Gunung Rangkas. Namun belum lama ini beliau meninggal setelah sebagian besar kekuatan tenaga dalam dan mantra kesaktiannya diturunkan padaku dalam waktu singkat. Oleh sebab itu aku berani menantang pertarungan dengan tokoh sakti dari Pulau Siluman yang bernama Nyai Ronggeng Iblis."

"Mengapa kau menantangnya?"

"Pesan dari guruku, si pertapa sakti dari Gunung Rangkas, bahwa aku harus bisa membunuh Nyai Ronggeng Iblis, karena menurut Guru, kekuatan Nyai Ronggeng Iblis kelak akan mengalir ke dalam tubuh Pangkar Soma."

"Mengapa begitu?"

"Sebab Nyai Ronggeng Iblis adalah kekasih dari si Tengkuk Cadas. Cintanya yang diabaikan oleh Tengkuk Cadas membuat Nyai Ronggeng Iblis tak mau kawin dengan lelaki mana pun. Kesetiaan cinta itulah yang kelak akan melebur menjadi satu dengan seluruh ilmu yang dimiliki si Tengkuk Cadas. Sedangkan seluruh ilmu Tengkuk Cadas sekarang ada di dalam diri Pangkar Soma. Maka seluruh kekuatan gaib Nyai Ronggeng Iblis akan menyatu di dalam diri Pangkar Soma. Itu berarti si Pangkar Soma akan menjadi tokoh terkuat di seluruh rimba persilatan."

"Ooo... jadi karena itulah kau mendapat tugas dari pertapa sakti itu untuk membunuh Nyai Ronggeng Iblis?"

"Benar. Sebenarnya guruku bisa saja membunuh Nyai Ronggeng Iblis dengan kesaktiannya."

"Mengapa tidak dilakukan?"

"Karena guruku itu adalah kakak dari Nyai Ronggeng Iblis. la tak tega membunuh adiknya sendiri, walau hati kecilnya bertentangan dengan aliran sesat yang dianut Nyai Ronggeng Iblis. Maka, akulah yang diutus menyelesaikan pekerjaan itu, dan sebagai jaminannya aku mendapatkan warisan kekuatan Guru."

"Lalu, sekarang Nyai Ronggeng Iblis sudah kau bunuh?!"

Terdengar ada napas yang menghembus bersama suara desah kecil. Walau tak terlihat, namun Suto yakin kala itu Tenda Biru sedang menghembuskan napas, seperti membuang kesesakan di dalam dadanya. Karena tak lama kemudian, suara Tenda Biru terdengar lagi dengan nada duka yang amat memprihatinkan.

"Ternyata Nyai Ronggeng Iblis bukan tokoh yang mudah dikalahkan. Aku terkena mantra kutukannya dan menjadi hilang, tak bisa dilihat dan disentuh siapa pun. Aku juga tak bisa menyentuh Nyai Ronggeng Iblis, tapi sewaktu-waktu dia bisa melihatku dan bisa membunuhku."

"Mengapa kau tidak dibunuhnya saja?"

"Karena Nyai Ronggeng Iblis tak berani membunuhku sebab dia tahu bahwa aku adalah murid dari kakaknya. Aku sendiri tak memberi tahu Nyai Ronggeng Iblis bahwa kakaknya itu sudah tewas beberapa waktu yang lalu. Oleh sebab itu aku hanya dikutuk menjadi Gadis Tanpa Raga."

"Apakah itu berarti kau mati?" tanya Suto Sinting.

"Tidak. Aku masih hidup. Namun tak bisa dijamah dan dilihat oleh siapa pun, kecuali oleh Nyai Ronggeng Iblis."

"Sampai kapan kau menjadi Gadis Tanpa Raga begitu?"

"Selamanya, selama Nyai Ronggeng Iblis belum mati, atau selama aku belum memakan Bunga Kecubung Dadar!"

"Dari mana kau tahu kalau wujudmu bisa menjelma kembali jika sudah memakan Bunga Kecubung Dadar?"

"Roh dari guruku pernah menemuiku. Tapi roh Eyang Tapak Lintang tidak memberi tahu di mana bunga itu berada."

"Eyang Tapak Lintang itu pertapa sakti yang menjadi gurumu?"

"Benar. Dan aku tidak bisa menemui roh Guru, sebab aku tidak berada di alam gaib atau alam kematian."

Pendekar Mabuk menenggak tuak lagi. Sebelum ia bicara, suara si Tenda Biru sudah terdengar kembali bagai membisik di telinga kiri Suto Sinting.

"Tolonglah aku, Bocah Sinting. Aku akan mengabdi kepadamu selamanya jika kau mau menolongku mencarikan Bunga Kecubung Dadar itu. Aku bersumpah ingin masuk dalam aliran putih dan ikut memerangi kejahatan para tokoh aliran hitam. Aku sudah bosan menjadi orang sesat, Bocah Sinting!"

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil.

"Biarkan aku menjadi abdimu. Biarkan aku mengabdi sebagai budakmu, asal kau bisa kembalikan wujudku sebagai gadis yang mempunyai raga dan rupa."

"Bukankah lebih baik kau tanpa raga, bisa melayang ke sana-sini dan mencelakai orang tanpa bisa dicelakai?"

"Jiwaku telah berubah sejak aku diangkat sebagai murid Eyang Tapak Lintang. Entah mengapa tiba-tiba aku tidak ingin mengikuti langkah sesat yang diajarkan oleh bekas guruku; Nyai Garang Sayu itu."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum sambil memainkan api dengan sebatang ranting panjang. Tenda Biru perdengarkan suaranya lagi.

"Aku sudah kehilangan segala-galanya; keluarga, saudara, kekasihku pun sudah tiada, guru pun tiada, kini aku kehilangan ragaku... ooh, haruskah aku kehilangan jiwa suciku juga?"

Nada sendu terdengar menggelitik hati Suto Sinting. Pendekar tampan itu merasa terharu dan menjadi kasihan kepada nasib si Tenda Biru. Namun rasa ibanya itu tidak ditonjolkan dalam raut wajahnya. Rasa iba itu hanya dipendam dalam hati, walau wajah tetap tampilkan senyum tipis yang menambah ketampanan si murid sinting Gila Tuak itu.

Tiba-tiba Suto merasakan ada sesuatu yang menempel di pundak kirinya. Sebuah kepala menempel di sana. Terasa hangat dan bergetar. Suto dapat membayangkan, pada saat itu Tenda Biru meletakkan kepalanya di pundak Suto dengan wajah duka. Karena beberapa saat kemudian, Suto pun merasakan tetesan air hangat di lengan kirinya. Air hangat itu pasti air mata kesedihan si Gadis Tanpa Raga. Anehnya, air mata itu bisa dilihat membasahi lengan, tapi wajah yang mencucurkan air mata itu tidak bisa dilihat dan diraba oleh Suto Sinting.

"Aku merasakan sentuhan tanganmu," terdengar suara si Tenda Biru sedikit parau karena tangis. "Kau sedang mengusap pipiku, Bocah Sinting."

"Aku tidak merasa menyentuh apa-apa."

"Memang, tapi... tapi peluklah aku. Aku hampir kehilangan semangat lagi. Peluklah aku, Bocah Sinting...! pinta suara Tenda Biru dengan nada kian mengharukan. Isak tangisnya pun mulai terdengar samar-samar. Kepala yang bersandar di pundak Suto terasa berguncang-guncang. Kepala itu sekarang pindah ke dada.

Suto Sinting mencoba memeluk tubuh Tenda Biru, tapi ia tetap tidak merasakan sedang memeluk sesuatu. Rupanya pengaruh kutukan itu cukup aneh. Kehandak hati orang lain tidak bisa dirasakan oleh orang lain itu namun bisa dirasakan oleh Tenda Biru. Tapi kehendak hati Tenda Biru bisa dirasakan oleh orang lain dan oleh Tenda Biru sendiri.

Kehendak hati Suto ingin memeluk, bisa dirasakan oleh Tenda Biru. Gadis itu merasa sedang dipeluk Suto. Tetapi Suto tidak bisa merasakan sedang memeluk Tenda Biru. Sebaliknya, sekarang kehendak hati Tenda Biru ingin memeluk Suto. Pelukan itu dapat dirasakan oleh Suto dan dapat dirasakan pula oleh Tenda Biru sendiri.

"Aneh sekali kutukan ini," gumam Suto lirih.

"Kalau tak aneh bukan kutukan orang sakti," jawab Tenda Biru di ujung sisa tangisnya.

Pelukan hangat itu terasa menjalar ke leher. Pendekar Mabuk hanya bisa merasakan debar-debar kehangatan yang mengusik gairahnya. Tetapi ia tak bisa memberi balasan yang dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Hanya saja, Gadis Tanpa Raga itu selalu berbisik menuntun gerakan tangan Pendekar Mabuk.

"Oh, indah sekali rabaan tanganmu di punggungku, Bocah Sinting...."

"Apakah aku menyentuh punggungmu?" bisik Suto dengan suara pelan, karena takut membangunkan Panji Klobot.

"Ya, kau merabanya. Ooh... gerakanmu lembut sekali. Uuhmm...!"

Tiba-tiba Pendekar Mabuk merasakan kecupan di lehernya. Kecupan itu merayap semakin lama semakin ke dagu kemudian menyentuh bibirnya. Suto Sinting merasakan bibirnya sedang dipagut dan dilumat lembut oleh seorang gadis. Kehangatan yang mengalir pada saat itu semakin menyulut gairah cintanya. Bahkan Suto pun merasakan usapan tangan Tenda Biru yang merayap di kepala, di punggung, lalu meraba dada, meraba perut, dan tangan tanpa wujud itu semakin nakal, sehingga Suto Sinting mendesis kecil ketika telinganya merasa disusuri oleh mulut Tenda Biru.

Tangan Suto sendiri bergerak-gerak bagai meraba udara kosong. Tapi si Gadis Tanpa Raga mengaku merasakan belaian tangan Suto di bagian dadanya. Bahkan ia sempat meringkik seperti kuda betina pada saat Suto Sinting menyentuh gumpalan peka di bagian dada. Gadis itu berbisik penuh desah kasmaran,

"Remas pelan-pelan... remaslah, karena kau telah menyentuh ujung dadaku, Bocah Sinting.... Ooh, ya... aku bisa merasakannya. Indah sekali, Bocah Sinting...."

Suto semakin terlena, karena gadis itu agaknya semakin berani berbuat. Bahkan ciumannya kian membara di sekujur tubuh Suto, seakan menantang sang pendekar untuk bertarung di ladang kenikmatan.

"Bocah sinting... oh, nakal kau! Jangan hentikan tanganmu. Terus... terus turun ke bawah.... Oooh, Nikmat sekali, Bocah Sinting... Hmmmhh...," rengekan bercampur desah semakin membakar semangat Suto untuk melayang-layang di langit-langit kemesraan.

Sayang sekali saat itu Panji Klobot terbangun karena mendengar suara gaduh di atas kepalanya. Suto tak tahu kalau Panji Klobot terbangun dan memandang ke arahnya. Suto masih menggelinjang bergolek sendirian. Di mata Panji Klobot, Suto bagai sedang menari dalam keadaan setengah berbaring. Kepalanya terdongak ke atas sambil tangannya bergerak-gerak di depan dada.

"Tarian apa yang dilakukan Kang Suto itu?" pikir Panji Klobot dengan terheran-heran. Mata anak muda itu mengerjap-ngerjap karena merasa sangsi dengan penglihatannya.

"Jangan-jangan Kang Suto kesurupan?" kata hati si Panji Klobot.

Ketika mata Suto Sinting sedikit terarah kepada Panji Klobot, ia terkejut dan segera membenahi diri. Panji Klobot yang masih bingung, karena terbangun dari tidurnya segera bertanya dengan suara parau.

"Sedang apa kau sebenarnya, Kang?"

"Hmmm... eeh... anu, sedang menirukan gerakan seorang penari ular yang pernah kulihat dulu...."

"Ooo... kukira kau kesurupan."

"Ah, kau mimpi, ya? Sudah tidur lagi sana!"

Tapi Suto segera berbisik, "Ssst...! Hentikan dulu, si Panji Klobot bangun!"

"Ooh... aku sudah semakin panas, Bocah Sinting"

"Pergilah ke luar gua biar dingin!" bisik Suto Sinting sambil bergerak-gerak bagai menyingkirkan tangan yang ingin menjamahnya.

Panji Klobot justru bangun dan duduk, "Minta tuaknya, Kang. Aku haus sekali."

"Minumlah, tapi habis ini tidur lagi, ya?"

"Kalau sudah bangun begini, biasanya susah tidur lagi, Kang," lalu Panji Klobot menenggak tuak Suto.

Panji Klobot tak tahu bahwa Suto mengeluh dalam hati. Panji Klobot juga tidak tahu kalau Suto masih merasakan ada tangan yang meremas-remas tubuhnya dengan sesekali ciuman hangat terasa di tengkuk dan leher, kadang juga menghangat di dadanya. Tetapi Suto tak berani mendesah karena takut mencurigakan Panji Klobot.

"Suruh dia tidur lagi!" bisik suara Tenda Biru.

"Dia tak mau tidur lagi. Hentikan dulu, lain waktu kita lanjutkan lagi," Suto ganti berbisik.

"Aaah...!" Tenda Biru merengek kesal. "Bagaimana kalau Panji Klobot kubuang ke luar gua saja?"

"Husy...!" Suto tertawa geli walau tanpa suara.

Tapi Panji Klobot segera berkerut dahi dan bertanya, "Kau menertawakan aku, ya Kang?"

"Hmmm... bukan! Eh, iya... eeh... bukan kok, ih... tapi iya..." Suto Sinting jadi salah tingkah dan malu sendiri dalam hatinya.

* * *

LIMA

AKHIRNYA Suto Sinting memutuskan untuk mencoba bertanya kepada si Kusir Hantu, ia pergi ke Lembah Seram, menuju ke sebuah pondok di dalam hutan yang banyak ditumbuhi pohon liar itu. Panji Klobot yang mengikutinya tampak ketakutan memasuki hutan rimbun itu. Karenanya ia berjalan merapat dengan Suto Sinting, agar jika terjadi sesuatu dapat segera berlindung di balik tubuh kekar sang Pendekar Mabuk.

Dalam perjalan itu, Gadis Tanpa Raga sebenarnya ikut bersama mereka. Hanya saja, mereka tidak bisa melihat dengan jelas di mana gadis itu berada. Mungkin disamping mereka, di depan atau di belakang mereka. Namun ketika mereka melewati gugusan tanah cadas yang membentuk bukit kecil, tiba-tiba Suto Sinting mendengar bisikan suara si Tenda Biru.

"Ada yang mengikuti kalian di belakang!"

Langkah Suto Sinting menjadi pelan, ia berlagak tenang walau sebenarnya mulai meningkatkan kepekaan rasanya. Bahkan ketika ia balas berbisik, suaranya diusahakan agar tidak didengar oleh Panji Klobot. "Di mana orang itu?"

"Sekarang sedang mengintai di atas bukit cadas sebelah kananmu itu."

"Berapa orang yang ada di atas sana?"

"Cuma satu orang."

"Kau mengenalinya?"

"Kurasa aku pernah melihatnya ketika kau dan Panji keluar dari kedai."

"Berpakaian hijau?"

"Benar," jawab suara Tenda Biru.

"Hmmm... ya, ya... terima kasih, Tenda Biru!" Kata Suto lirih sekali sambil manggut-manggut. Dalam benaknya segera terbayang wajah si Taring Naga, yang agaknya penasaran sekali kepada Suto dan ingin membalaskan kekalahan adiknya; Naga Langit.

"Panji," kata Suto saat langkahnya dihentikan. "Kau bisa mengambilkan dua buah kelapa muda di atas sana untuk membasuh wajahku?"

"Kelapa muda untuk membasuh wajah?" Panji Klobot heran.

"Jangan banyak tanya dulu. Ambilkan dua buah untukku. Kau bisa memanjatnya, bukan?!"

"Hmmm... tidak. Aku tidak pernah bisa memanjat pohon, Kang!"

"Kalau begitu, biar aku sendiri yang memanjatnya. Sebab aku merasa kita akan dihadang oleh beberapa ekor harimau. Kita perlu wewangian yang dapat membuat binatang-binatang buas itu enggan mendekati kita. Wewangian itu antara lain adalah air kelapa muda. Dengan membasuh muka memakai air kelapa muda, harimau-harimau itu tidak mau mendekati kita."

"Harimau...?!" Panji Klobot mulai tegang. "Apakah... apakah kau mendengar suara harimau, Kang?"

"Kudengar suara itu ada di belakang, agak jauh dari kita. Tapi sebentar lagi akan datang mendekati kita."

"Oh, kalau begitu... kalau begitu biar aku saja yang memanjat pohon kelapa itu, Kang!"

"Katanya kau tak pernah bisa memanjat pohon?"

"Kalau ada harimaunya pasti bisa!" jawab Panji Klobot sambil lari menuju ke pohon kelapa dan memanjatnya.

Pendekar Mabuk hanya tertawa dalam hati, merasa geli mendengar alasan malas si Panji Klobot tadi.

Pada saat Panji Klobot memanjat pohon kelapa, Suto Sinting segera memandang ke arah atas bukit cadas. Pada gugusan batu coklat yang menjulang tinggi itu tampak bayangan dari seseorang yang ada di balik batu itu. Suto Sinting membenarkan bisikan Tenda Biru tadi. Kemudian ia segera melepaskan jurus 'Turangga Laga' yang tidak terlalu berbahaya. Kedua jari Suto dikeraskan, lalu ditempelkan di kening sebentar, setelah itu disentakkan ke depan. Claaap...! Seberkas sinar ungu melesat dari ujung jari. Sinar ungu kecil itu menghantam batu tinggi yang dipakai bersembunyi seseorang.

Blaaar...! Batu itu retak seketika. Sebagian sisinya gompal dan sesosok bayangan segera berkelebat dengan satu lompatan bersalto.

Wuuuuk...! Jleeeg...!

Taring Naga berdiri di depan Suto Sinting dengan wajah memancarkan permusuhan. Pendekar Mabuk tetap tenang, bahkan sempat sunggingkan senyum tipis kepada lawannya.

"Mengapa harus bersembunyi di sana, Taring Naga?!" ujar Suto setengah meledek si Taring Naga.

Pemuda berpakaian serba hijau itu segera menggeram penuh kejengkelan. "Hmmm...! Aku hanya menguji kewaspadaanmu, Sapi Ompong!" ujar Taring Naga dengan mencibir sinis, menutupi rasa malunya. Katanya lagi, "Sekarang keadaanku sudah sehat. Kurasa sudah waktunya kau menerima pembalasan dariku! Aku akan menebus kekalahan adikku; si Naga Langit! Terimalah jurus 'Pedang Sutera'-ku ini! Hiaaaah...!"

Sraaang ...! Pedang dicabut, kemudian ditebaskan kekanan, kiri, dan depan. Gerakan menebasnya cukup lembut, bagai selembar kain sutera melambai dipermainkan angin. Namun rupanya gerakan pedang itu menyebarkan serbuk-serbuk beracun yang menyatu dengan udara.

Pendekar Mabuk melangkah mundur beberapa tindak dan segera tahu bahwa udara di depannya mengandung racun. Karena ketika itu ia melihat rumput ilalang dan daun-daun muda yang tumbuh di batang pohon menjadi layu seketika. Beberapa kejap kemudian daun-daun hijau itu menguning dan berkeriput.

Pendekar Mabuk segera memutar bumbung tuaknya di atas kepala dengan tali bumbung sebagai pegangannya. Gerakan memutar itu dilakukan dengan cepat, hingga menimbulkan suara dengung yang menggelitik gendang telinga. Wuuung, wuung, wuung, wuung, wuung...! Angin berhembus kencang akibat putaran bumbung tuak itu. Akibatnya, serbuk racun yang keluar dari kibasan pedang membalik ke arah Taring Naga sendiri. Hal itu disadari oleh Taring Naga, sehingga ia buru-buru hentikan gerakan pedangnya dan melompat berpindah tempat dengan gerakan berjungkir balik di udara.

Wut, wut, wutt...! Jleeg...!

Suto Sinting pun hentikan gerakan bumbungnya. Kini ia berdiri tegak sambil tersenyum lega. Tapi si Taring Naga semakin menggeletukkan giginya pertanda kian benci kepada Suto Sinting.

"Keparat busuk kau, hiaaah...!"

Baru saja Taring Naga ingin lakukan satu lompatan bersama pedang diarahkan ke dada Suto Sinting, belum-belum ia sudah terpental ke belakang dengan suara pekik tertahan. Karena pada saat itu, jari tangan Suto menyentil dan sentilan itu adalah sentilan bertenaga dalam cukup besar. Jurus 'Jari Guntur' dilepaskan Suto Sinting dengan tidak kentara. Tesss...! Dada si Taring Naga menjadi sasaran telak gumpalan padat tenaga dalam itu. Buukh...!

"Heegh...!" Taring Naga bagaikan ditendang kuda jantan yang sedang mengamuk. Tubuhnya terlempar ke belakang dan berguling-guling di udara, lalu membentur sebatang pohon besar dengan keras. Brruuss...!

"Oouh...!" ia mengerang lagi sambil berusaha bangkit dengan cara merangkak.

Namun pada saat ia merangkak, Panji Klobot muncul di belakangnya dengan membawa dua butir kelapa muda. Melihat pakaian serba hijau si Taring Naga, Panji Klobot ingat tentang orang yang menggadang langkahnya dengan Suto saat keluar dari kedai. Maka, dengan keras kaki Panji Klobot menendang pantat Taring Naga.

Duuuukh...!

"Jebol lagi kau!"

Jurus 'Tendangan Cuci Perut' dilepaskan kembali oleh Panji Klobot. Akibatnya, perut si Taring Naib segera merasa mules dan ingin buang hajat, la menahannya mati-matian, tapi sang hajat tetap mendesak keluar.

"Oouh...! Sial betul! Lagi-lagi perutku jadi mulas begini!"

Panji Klobot segera berlari mendekati Suto dan berlindung di belakang murid sinting si Gila Tuak itu. Ia tertawa-tawa cekikikan di belakang Suto Sinting, membuat Suto menghardiknya.

"Diam kau, Panji! Gara-gara ulahmu dia akan penasaran terus terhadapku!"

Taring Naga menyeringai bukan menahan sakit, tapi menahan sesuatu yang ingin keluar dari belakang. Tangannya meremas pantat sendiri kuat-kuat, kemudian clingak-clinguk ke sana-sini mencari tempat untuk membuang sang hajat. Tapi ia sempat menggeram sambil menuding ke arah Panji Klobot dengan pedang di tangan kirinya.

"Lagi-lagi kau yang bikin ulah! Awas kau, kalau sudah... kalau sudah... aduuuuh, biyuuung... mana tahan kalau begini caranya. Uuuuhhf...!"

Taring Naga berlari tertatih-tatih sambil memegangi pantatnya. la segera melompat di balik semak setinggi pundak manusia dewasa. Tak berapa lama, dari balik semak itu terdengar suara yang mirip petasan berondong. Treeet, tret, tret, tret, brooot...!

Mau tak mau Pendekar Mabuk akhirnya tertawa geli sambil bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Panji Klobot ikut tertawa dan berlari mendahului Suto Sinting karena tak ingin disambar penciumannya oleh udara tak sedap itu. Bahkan suara tawa perempuan pun terdengar mengikik. Suara tawa itu tak lain adalah suara si Gadis Tanpa Raga yang kali ini berada di samping kiri Suto Sinting.

Menjelang sore, mereka tiba di pondok si Kusir Hantu. Kala itu tokoh tua berambut kucai warna merah jagung seperti warna jenggotnya itu sedang melatih kedua cucunya di samping pondok. Dua gadis cantik yang menjadi cucu si Kusir Hantu itu tak lain adalah Pematang Hati dan Mahligai Sukma. Mereka gadis-gadis cantik yang punya potongan tubuh menggiurkan setiap lelaki. Pakaian mereka sungguh menantang gairah, membakar hasrat lelaki, dan membuat Suto Sinting lupa berkedip.

Panji Klobot terbengong melihat kecantikan Pematang Hati dan Mahligai Sukma. Bahkan mulut Panji Klobot seakan mengalami kram, tak bisa ditutup kembali, karena kedua gadis itu mengenakan baju ketat berbelahan dada lebar, sehingga gumpalan daging menonjol di dada mereka tampak tersembul sebagian. Hati Panji Klobot menjadi berdebar-debar, dan lututnya mulai terasa bergetar.

"Kang... Kang... itu apa, Kang?" suara Panji Klobot pelan sekali, karena detak jantungnya yang kuat membuat pernapasannya pun bagaikan tersumbat.

"Husy...!" Suto Sinting meraup wajah Panji Klobot. Jika tidak begitu, Panji Klobot akan melotot terus tanpa bisa berkedip lagi.

Pendekar Mabuk segera berseru memberi salam kepada si Kusir Hantu. Pada waktu itu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma sedang duduk bersila di atas dua batu datar. Kedua tangan mereka saling bergerak pelan penuh curahan tenaga dalam dari dada ke depan. Tubuh mereka pun mulai mengambang di udara walau hanya sedikit sekali, tingginya tak sampai setinggi kelingking mereka.

"Salam sejahtera, Pak Tua...!"

Begitu mendengar salam sapaan dari Suto Sinting, ternyata yang menyambut sapaan itu bukan hanya si Kusir Hantu, melainkan kedua cucu si Kusir Hantu segera membuka mata, tubuh mereka yang mengambang segera terhempas ke tempat duduk semula. Lalu, keduanya sama-sama berseru kegirangan.

"Sutooo...!"

"Tak ada angin tak ada badai, tahu-tahu seorang tamu agung datang padaku. Duhai... perlambang apa ini sebenarnya," ujar si Kusir Hantu lalu terkekeh-kekeh dan segera hampiri Suto Sinting.

Tetapi ternyata gerakannya kalah cepat dengan gerakan kedua cucunya. Pematang Hati dan Mahligai Sukma segera berlari bagai berebut Suto Sinting. Wuuut...! Kemudian kedua gadis itu sama-sama memeluk Suto dalam hamburan tawa keceriaan.

Keakraban kedua gadis itu dengan Suto Sinting membuat keduanya tak canggung-canggung untuk menciumi si pendekar tampan. Keakraban mereka membuat wajah-wajah angkuh dan mahal senyum yang dimiliki mereka menjadi sirna seketika.

Panji Klobot diam saja, terbengong melompong manakala melihat Suto Sinting diciumi dua gadis cantik yang menggiurkan hati itu. Panji Klobot hanya mengusap pipinya sendiri sambil berkata pelan, "Kenapa aku tidak ikut diciumi mereka?! Hmm... mereka pilih kasih! Tidak adil!"

"Tenang saja, Panji!" bisik suara Tenda Biru. "Mereka memang perlu mendapat pelajaran tersendiri."

Panji Klobot berkerut dahi. "Hei, apa yang ingin kau lakukan pada mereka?!"

Tiba-tiba tubuh Pematang Hati dan Mahligai Sukma sama-sama terpental ke belakang dan jatuh berbeda arah. Mereka merasa ada suatu kekuatan yang melemparkan tubuh mereka dengan kasar. Hal itu membuat Pendekar Mabuk menjadi terkejut dan mulai tak enak hati.

"Suto...?! Kenapa kau kasar sekali padaku?!" seru Pematang Hati.

"Apakah kau jijik padaku, Suto?! Mengapa kau melemparkan aku dan kakakku?!" kecam Mahligai Sukma, dan semua itu membuat Suto Sinting menjadi menggeragap.

Tapi si Kusir Hantu justru terkekeh-kekeh tampak kegelian melihat kedua cucunya terlempar begitu saja.

"Kang..., bukan aku yang melakukan lho. Itu... si Tenda Biru!" bisik Panji Klobot ketika kedua gadis itu memandangi Suto dengan sorot pandangan mata penuh kekecewaan.

Pendekar Mabuk segera berkata kepada kedua cucu si Kusir Hantu. "Maaf, maafkan aku.... Aku lupa mengatakan kepada kalian, bahwa sekarang aku punya jurus baru. Sebuah ilmu yang kudapatkan dari guruku belum lama ini, memang sering membuat aku menjadi bingung sendiri."

"Ilmu apa?!" Mahligai Sukma mulai bernada ketus.

"Hmmm... eeh... namanya ilmu 'Raga Sembrani', jika hatiku sedang susah hati, lalu ada seseorang mendekatiku, maka orang itu akan terpental dengan sendirinya. Yah, seperti yang kalian alami tadi," ujar Suto menutupi keadaan yang sebenarnya sambil cengar-cengir.

"Benarkah hatimu sedang susah?" tanya Pematang Hati yang mulai mendekat lagi.

Mahligai Sukma juga mendekat sambil berkata, "Sedang susah kok cengar-cengir?!"

"Hmmm... eeh..., iya. Soalnya aku sebenarnya tak ingin kalian mengetahui kesusahanku. Aku takut kalian ikut-ikutan menjadi susah hati."

Pendekar Mabuk buru-buru bicara dengan suara rendah dan bernada bisik, "Tenda Biru, jangan bikin ulah yang menjengkelkan! Aku akan batalkan niatku menolongmu jika kau bikin ulah yang bukan-bukan!"

"Aku tak suka dengan mereka. Rakus lelaki!" suara Tenda Biru bernada ketus, menandakan ia sedang dibakar oleh rasa cemburu.

"Tenanglah! Mereka adalah sahabatku. Jangan berprasangka yang bukan-bukan!"

"Sahabat jalang!" geram suara Tenda Biru dengan sangat pelan. "Kalau tidak mengingat kau butuh keterangan dari kakek mereka, sudah kuhajar mereka berdua!"

"Kalau kau tak bisa tenang, aku benar-benar tak mau peduli lagi dengan Bunga Kecubung Dadar itu!" ancam Suto Sinting membuat suara Tenda Biru terdengar mendesah kesal dan menjauh.

Setelah memperkenalkan Panji Klobot kepada Kusir Hantu dan kedua cucunya, Suto Sinting segera berkata kepada si Kusir Hantu yang usianya sekitar enam puluh lima tahun itu. "Aku butuh bantuanmu, Pak Tua."

"Heh, heh, heh... pasti kau ingin minta bantuanku berupa pelajaran ilmu 'Timbal Rasa' seperti dulu!" ujar si Kusir Hantu sambil cengengesan.

Kedua cucunya memandang Suto, mengikuti setiap gerakkan bibir si pendekar tampan itu.

"Bukan soal itu, Pak Tua."

"Soal apa lagi kalau bukan soal ilmu yang kau inginkan itu? Seorang pendekar seperti kau memang selalu ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya, pepatah mengatakan: 'Ke mana angin bertiup, ke situ pula baunya'. Artinya, seorang pendekar tidak mungkin mengejar uang, pasti mengejar ilmu."

"Kau salah terka, Pak Tua. Aku hanya ingin mendapat keterangan darimu tentang di mana tumbuhnya Bunga Kecubung Dadar!"

"Hahh...?!" Kusir Hantu terkejut.

Mahligai Sukma dan Pematang Hati juga tampak terperanjat. Mereka bertiga memandangi Suto Sinting dengan dahi berkerut dan wajah menegang. Pendekar Mabuk menjadi bingung dan terheran-heran.

"Mengapa mereka memandangku dengan cara seperti itu?! Mengapa Kusir Hantu terkejut saat kusebutkan nama Bunga Kecubung Dadar itu?! Ada apa sebenarnya dengan bunga tersebut?"

* * *

ENAM

AGAKNYA Kusir Hantu menganggap pembicaraan yang akan terjadi benar-benar penting, sehingga Pendekar Mabuk dan Panji Klobot dibawa masuk ke pondoknya. Sementara itu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma diperintahkan untuk melakukan latihan jurus peringan tubuh yang mirip jurus 'Layang Raga'-nya Suto Sinting. Tetapi kedua gadis cucu Kusir Hantu itu merasa penasaran, maka diam-diam mereka menguping dari balik dinding.

"Pepatah mengatakan: 'Ikan belum dapat airnya sudah keruh'. Berbahaya sekali!"

"Arti pepatah itu apa, Pak Tua?" tanya Suto.

"Ikan belum dapat airnya sudah keruh, artinya... nelayan kecemplung comberan," jawab Kusir Hantu seenaknya saja jika menerjemahkan arti peribahasa. Tapi ia segera menyambung ucapannya tadi. "Apakah kau tak tahu bahwa belum lama ini para tokoh rimba persilatan sedang geger membicarakan tentang Bunga Kecubung Dadar?"

"Aku tidak tahu. Pak Tua. Apa sebenarnya yang terjadi di rimba persilatan belakangan ini?"

"Beberapa tokoh aliran putih telah dibunuh oleh seseorang yang mencari Bunga Kecubung Dadar."

Pendekar Mabuk terkejut, karena benaknya langsung terbayang tuntutan si Tenda Biru. Batin Suto langsung mengatakan bahwa Tenda Biru sudah memakan korban para tokoh aliran putih untuk dapatkan Bunga Kecubung Dadar.

"Tetapi benarkah Tenda Biru yang lakukan?" pikir Suto, lalu ia bertanya kepada Kusir Mantu.

"Siapa orang yang mencari bunga itu dan membunuh beberapa tokoh aliran putih itu, Pak Tua?"

"Justru pembunuhnya belum diketahui dengan jelas. Empat tokoh aliran putih yang sedang sekarat ditemukan oleh dua orang kenalanku: si Tongkat Papak dan Lembu Serak. Masing-masing menemukan dua tokoh aliran putih yang sedang menjelang ajal. Para korban umumnya terluka karena pukulan beracun yang mematikan. Saat sebelum mereka hembuskan napas terakhir, mereka sempat ceritakan bahwa mereka habis bertarung dengan orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar. Tetapi sebelum mereka sebutkan ciri-cirinya kepada Lembu Serak maupun si Tongkat Papak, nyawa mereka melayang lebih dulu. Lembu Serak dan Tongkat Papak selalu terlambat temui korban, sehingga yang diperoleh mereka hanya keterangan tentang keganasan seseorang yang mencari Bunga Kecubung Dadar."

"Hmmm...," Suto Sinting manggut-manggut sambil menggumam lirih. Panji Klobot hanya diam membisu tapi tampak mendengarkan setiap kata yang dilontarkan oleh si Kusir Hantu. "Siapa saja yang tewas oleh si pencari Bunga Kecubung Dadar itu, Pak Tua?"

"Antara lain: Burik Wetan, Nyai Suling Buntu, Jantur Gundul, Ki Pangguwelas, dan berita terakhir yang kuterima, Dewa Semprong tewas dalam keadaan tubuh beracun."

"Dewa Semprong...?!" Suto Sinting terkejut, karena ia mengenal tokoh sakti yang berjuluk Dewa Semprong itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Tapak Siluman).

"Orang yang menemukan keadaan Dewa Semprong sedang sekarat adalah Ki Porak Porong. Tetapi keterangan yang diperoleh dari Porak Porong hanyalah tujuan musuh yang menyerang si Dewa Semprong, yaitu menuduh Dewa Semprong membunyikan letak tumbuhnya Bunga Kecubung Dadar. Tetapi saat ditanyakan ciri-ciri pembunuhnya, Dewa Semprong tergesa-gesa mati, sehingga Porak Porong tidak mau mengajaknya bicara lagi. Pepatah mengatakan: 'Patah tumbuh hilang... nyawanya'. Tak ada yang tahu siapa pembunuh sebenarnya."

Pendekar Mabuk tertegun beberapa saat. Panji Klobot duduk bersila di atas balai-balai bambu, juga ikut termenung sambil bersandar pada dinding kedua tangan bersedekap di dada.

Agaknya kedatangan Suto Sinting sempat menimbulkan keheranan bagi si Kusir Hantu, terlebih setelah Suto terang-terangan mencari Bunga Kecubung Dadar. Jika para korban dari aliran putih itu mati oleh orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar, tak heran jika Suto Sinting menjadi bahan kecurigaan kedua cucu Kusir Hantu yang mendengarkan dari luar pondok itu, sebab pelaku pembunuhan itu adalah orang yang mencari Bunga Kecubung Dadar dan belum diketahui ciri-cirinya.

Hal itu membuat Suto Sinting menjadi tak enak hati. la terpaksa memikirkan nasib dirinya agar jangan sampai menjadi bahan kecurigaan mereka, dan tidak dituduh sebagai pembunuh Dewa Semprong dan yang lainnya.

"Ke mana saja kau sudah mencari bunga itu, Nak?" tanya Kusir Hantu.

Pertanyaan itu sedikit menyinggung hati Suto Sinting yang merasa dipancing dan sedang diselidiki kebenaran sikapnya. Langsung saja Suto berkata, "Kau tak perlu mencurigaiku sebagai pembunuh mereka, Pak Tua. Memang aku mencari Bunga Kecubung Dadar, tapi baru kepadamu dan kepada Pak Cilik Kapas Mayat aku menanyakannya."

"Heh, heh, heh, heh..., mengapa kau berkata begitu, Nak? Aku tidak mencurigaimu sebagai pembunuh para korban itu, tetapi aku bertanya telah sampai di mana saja kau mencari bunga tersebut?"

"Belum sampai di mana-mana," jawab Suto dengan tegas. "Begitu aku bertanya kepada si Kapas Mayat, dan Kapas Mayat menyarankan agar aku menanyakannya padamu, maka aku datang kemari, Pak Tua."

"Pepatah mengatakan: 'Buruk cermin di muka, lebih buruk kalau muka tak pernah bercermin'. Artinya, aku khawatir jika orang-orang menyangkamu sebagai pembunuh mereka. Lebih baik batalkan saja niatmu mencari bunga itu, Nak."

Panji Klobot berbisik kepada Suto, "Apa hubungannya antara pepatah dengan artinya tadi, Kang?"

"Tidak ada. Memang begitulah si Kusir Hantu jika bicara. Kadang pepatah yang dilontarkan berbeda jauh dengan arti yang dimaksudkan," balas Suto dalam bisikan. Kemudian ia kembali memandang si Kusir Hantu dan ajukan pertanyaan lagi.

"Apakah Bunga Kecubung Dadar itu memang ada, Pak Tua?"

"Memang ada, Nak! Bunga itu tumbuh di danau, seperti bunga teratai tapi kecil, agak empuk dan berwarna kuning, menyerupai telur dadar. Pepatah mengatakan...."

"Bagai telur di ujung tanduk," sahut Suto agak jengkel.

"Artinya apa, Nak?"

"Artinya... telur itu pasti telur dadar. Kalau bukan teIur dadar mana mungkin bisa di ujung tanduk. Pasti menggelinding jatuh, Pak Tua."

"Kok tidak ada hubungannya dengan kata-kataku tadi?"

"Yang jelas ada hubungannya dengan soal dadar tadi, Pak Tua."

"Heh, heh, heh... kau mau balas ikut-ikutan bikin patah ngawur, ya?" Kusir Hantu tertawa pendek, kemudian ajukan tanya kembali kepada Suto Sinting. "Untuk apa kau mencari Bunga Kecubung Dadar itu?"

"Seorang sahabatku terkena kutukan. Raganya lenyap dan tak bisa muncul lagi jika belum memakan Bunga Kecubung Dadar. Aku diminta bantuannya untuk mencarikan bunga itu, Pak Tua."

"Siapa nama sahabatmu itu, Nak?"

"Tenda Biru, bekas muridnya Nyai Garang Sayu...."

"Ooo...," Kusir Hantu manggut-manggut.

"Kau pernah mendengar nama itu?"

"Belum," jawabnya polos sambit menggeleng.

Pendekar Mabuk tarik napas menghilangkan rasa dongkolnya melihat lagak Kusir Hantu yang seolah-olah sudah kenal Tenda Biru.

"Lalu... siapa yang mengutuknya sampai dia kehilangan raganya itu?!"

"Nyai Ronggeng Iblis, Pak Tua!"

"Ronggeng Iblis...?!" Kusir Hantu tampak terkejut, wajahnya sedikit menegang. Lalu dia diam dan termenung sambil berdiri di depan pintu, matanya menatap ke arah luar.

"Kau mengenalnya, Pak Tua?" tanya Suto.

Kusir Hantu masih diam sesaat, setelah menarik napas dan menghempaskannya lepas-lepas, suaranya pun terdengar kembali dengan tanpa senyum dan tanpa kesan santai. "Ronggeng Iblis penguasa Pulau Siluman...."

"Memang benar," sahut Suto Sinting.

"Ternyata dia belum mati. Kupikir dia tak dapat obati lukanya ketika kuserang dengan jurus 'Badai Birahi', ternyata... sekarang namanya masih kudengar sebagai orang yang menyebar kekuatan kutuknya. Agaknya kau harus hati-hati dulu, Pematang Hati dan Mahligai Sukma!"

Pendekar Mabuk agak kaget. Kusir Hantu bicara dengan cucunya. Padahal Suto tidak melihat kedua cucu Kusir Hantu ada di situ. Tapi rupanya Kusir Hantu sejak tadi tahu bahwa kedua cucunya menguping di balik dinding kayu tersebut. Sang cucu pun saling terperanjat, dan menjadi malu karena diketahui sedang menguping pembicaraan kakeknya.

"Kau bicara dengan cucumu, Pak Tua?"

"Ya. Mereka mendengarkan percakapan kita di samping rumah."

"Hebat! Rupanya ilmu kepekaan rasamu cukup tinggi, Pak Tua, sehingga kau bisa tahu kalau cucumu ada di samping rumah."

"Tentu saja, sebab bayangan mereka kelihatan dari pintu sini!" kata Kusir Hantu, dan Suto segera membuktikan, ternyata memang benar. Bayangan kedua gadis itu tampak dari pintu. Suto akhirnya menertawakan dugaannya tadi. Panji Klobot tidak ikut tertawa. Anak muda itu duduk bersila dengan wajah tertunduk dan napas teratur.

"Uuuh... tidur!" gerutu Suto Sinting dalam hati, tapi ia sengaja membiarkan Panji Klobot tertidur. "

Kurasa, orang yang membunuh beberapa tokoh aliran putih itu adalah Ronggeng Iblis sendiri."

"Dari mana kau tahu kalau dia yang melakukannya, Pak Tua?"

"Mudah saja! Dia telah melepaskan jurus kutukannya yang dinamakan jurus 'Sabda Sirna' itu. Dia tahu kutukannya itu akan lenyap jika korbannya memakan Bunga Kecubung Dadar. Maka dicarinya bunga itu, dan dia harus mendapatkan bunga tersebut sebelum orang yang dikutuknya lebih dulu memperoleh Bunga Kecubung Dadar."

"Pepatah mengatakan...," pancing Suto.

"Tidak pakai pepatah dulu!" sahut Kusir Hantu dengan serius. "Jika si Dewa Semprong sampai tewas karena luka pukulan beracun ganas, maka aku yakin si Ronggeng iblis itu yang melukainya. Sebab si Ronggeng Iblis juga mempunyai pukulan beracun ganas yang dinamakan jurus 'Sapulama'...."

"Jurus apa itu? Namanya kok aneh?" sahut Suto dalam tanya.

"Jurus 'Sapulama', artinya sekali pukul lawan mati, disingkat menjadi 'Sapulama'."

"Kalau sapu baru bagaimana?"

"Dijual," jawab Kusir Hantu seenaknya, tapi ia tidak tersenyum sedikit pun dan justru tampak bersungguh-sungguh dalam tiap katanya.

Pendekar Mabuk menjadi ikut-ikutan serius dan tak berani bercanda lagi. "Pak Tua, bagaimana caranya agar aku bisa dapatkan Bunga Kecubung Dadar itu?"

"Cari sebuah danau yang berair kuning. Biasanya danau atau telaga yang berair kuning ditumbuhi tanaman liar yang mengapung. Tanaman liar itu mempunyai bunga kuning, mirip teratai. Itulah yang dinamakan Bunga Kecubung Dadar. Pepatah mengatakan: 'Lain lubuk lain belalang'...."

"Artinya apa, Pak Tua?"

"Lubuk dan belalang memang lain jenis! Tak ada artinya!" jawab Kusir Hantu sambil bersungut-sungut. Kemudian ia mendekati Suto Sinting dan bicara dengan pelan. "Telaga berair kuning pernah kulihat di lereng Bukit Ketapang. Letaknya di sebelah selatan dari sini!"

"Bukit Ketapang itu seperti apa?"

"Ya, seperti bukit!" Kusir Hantu menjawab agak jengkel.

"Maksudku, apa ciri-cirinya untuk menandai bahwa bukit itu adalah Bukit Ketapang?!"

"Di puncak bukit itu ada batu bersusun tiga. Cukup tinggi dan dapat dilihat dari kaki bukit. Pepatah mengatakan: 'Tak ada bukit yang retak'. Artinya, tak ada bukit yang tak tampak."

"Kalau begitu, Pak Tua...," Suto berbisik, "Aku titip sahabatku si Panji Klobot ini. Biar dia di sini dulu sementara aku mau ke Bukit Ketapang mencari bunga itu."

Kusir Hantu manggut-manggut sambil memperhatikan Panji Klobot yang sedang tidur sambil duduk itu. "Boleh saja, tapi... bagaimana cara memberi makan anak itu?"

"Dia termasuk manusia aneh. Dia jarang makan. Kalau dia bilang 'lapar' artinya dia masih kenyang. Tapi kalau dia bilang 'kenyang', artinya dia merasa sangat lapar. Dia kalau bicara penuh sindiran yang arti ucapannya selalu bertentangan dengan isi hati sebenarnya."

"Hmmm...," Kusir Hantu manggut-manggut lagi. "Baiklah! Berangkatlah sekarang juga ke Bukit Ketapang dan hati-hati, siapa tahu Ronggeng Iblis mendahuluimu atau menghadangmu di tengah jalan. Pertahankan bunga itu agar jangan sampai jatuh ke tangannya. Kasihan sahabatmu yang bernama Tenda Biru-itu."

"Benar. Aku pun kasihan padanya. Sebab dia sekarang sudah menjadi muridnya Eyang Tapak Lintang dan ingin masuk dalam aliran putih."

"O, apalagi dia muridnya Tapak Lintang. Aku kenal betul dengan Kakang Tapak Lintang itu," ujar Kusir Hantu menampakkan sikapnya sebagai orang yang lebih muda dari Eyang Tapak Lintang. "Pergilah dan jangan pikirkan sahabatmu yang tidur itu. Aku akan menjaganya dan memberinya makan sesuai keteranganmu itu!"

"Terima kasih, Pak Tua," ujar Suto sambil menyembunyikan senyum. Karena ia membayangkan betapa jengkelnya Panji Klobot nanti jika perutnya lapar, pasti Kusir Hantu tak akan memberinya makan karena menganggap Panji Klobot masih kenyang.

Pendekar Mabuk segera tinggalkan Lembah Seram. Namun, sebelumnya kedua cucu si Kusir Hantu saling ribut untuk ikut mendampingi Suto Sinting. Akhirnya, Kusir Hantu membentak sang cucu. "Tidak ada satu pun yang ikut Suto!"

"Tapi kalau Suto dalam bahaya bagaimana, Kek?!" Pematang Hati agak ngotot.

"Dia bisa kuasai dirinya walau dalam bahaya apa pun! Pepatah mengatakan..."

"Cukup, Kek. Kalau tak boleh ya sudah, bilang saja tak boleh. Tak perlu pakai pepatah segala!" sahut Mahligai Sukma dengan cemberut.

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil. Kusir Hantu memarahi kedua cucunya. Sang cucu tak ada yang berani nekat pergi walau secara diam-diam. Karena Kusir Hantu menceritakan tentang Nyai Ronggeng Iblis yang berilmu tinggi dan pernah menjadi lawannya itu. Pematang Hati maupun Mahligai Sukma merasa perlu mematuhi larangan kakeknya, sebab jika kakeknya saja tak berhasil mengalahkan Nyai Ronggeng Iblis, apalagi diri mereka, pasti lebih tak mampu lagi.

Dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya hampir menyamai kecepatan cahaya itu, Suto Sinting melesat menuju ke arah selatan untuk menemukan telaga berair kuning di Bukit Ketapang. Setiap bukit selalu dipandangi puncaknya. Tapi tak satu pun dari sekian bukit yang sudah dilaluinya mempunyai puncak berbatu susun tiga.

"Jangan-jangan Kusir Hantu salah memberi arah?!" pikir Suto dengan cemas.

Zlaaap...! Suto segera berkelebat ke balik pohon besar, ia bersembunyi di sana, karena melihat dua orang berlari-lari menuju ke arahnya. Untung di situ ada dua pohon besar yang tumbuh bersebelahan nyaris berdempet, sehingga Suto dapat segera sembunyikan diri. Tetapi ia menjadi cemas, karena dua orang itu agaknya juga sedang menuju ke pohon tersebut. Mau tak mau Pendekar Mabuk segera pindah ke tempat lain.

"Sial! Tak ada tempat yang lebih rapi lagi untuk bersembunyi selain kedua pohon ini. Hmmm...! Sebaiknya aku haik ke atas pohon saja!"

Zlaaap...! Suto tahu-tahu melesat ke atas tanpa suara, dan hinggap di salah satu dahan dengan menapakkan kakinya tanpa suara juga. Bahkan getaran sedikit pun tak dialami oleh dahan tersebut, menunjukkan bahwa Suto Sinting saat itu menggunakan Ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi.

Daun-daun pohon yang rindang membentuk semak cukup rapi. Dengan bersembunyi di balik daun-daun pohon rindang itu, Pendekar Mabuk tak mudah dilihat dari bawah pohon. Di sana ia dapat nongkrong dengan santai sambil memperhatikan kedua orang yang memang benar-benar mendekati pohon tersebut.

Pendekar Mabuk sempat terbelalak ketika mengetahui bahwa kedua orang yang mendekati pohon itu ternyata sepasang muda-mudi berusia sebaya dengan Suto sendiri. Lebih terkejut lagi setelah Suto mengenali si pemuda itu berambut panjang digulung ke atas, pada gulungan rambutnya terdapat hiasan perak bermanik-manik warna-warni. Pemuda itu mengenakan rompi biru bersisik perak, demikian juga celananya, ia pemuda yang tinggi, gagah, berbadan kekar dan berwajah cukup tampan, walau tak setampan Suto. Kulitnya sawo matang, tangannya berbulu lembut, juga dadanya banyak ditumbuhi dengan bulu-bulu halus.

Suto mengenalnya sebagai murid mendiang Begawan Girimaya, yang pernah mengabdi kepada Nyai Mata Binal dan menerima ilmu 'Lintah Tambak Cumbu'. Pemuda itu tak lain adalah si Naga Langit, yang telah kehilangan seluruh ilmunya karena bayangannya dihantam oleh Suto, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Perempuan Jahanam).

"Lalu, siapa si gadis berjubah kuning sutera itu?!" Suto Sinting bertanya pada dirinya sendiri, sebab ia masih merasa asing dengan gadis berbadan sekal dan berdada montok sekali itu.

Jubah kuning suteranya itu tak dikancingkan bagian depannya, sehingga dadanya yang besar dan tampak sekali hanya ditutup dengan kutang tipis tembus pandang warna ungu. Ketipisan kainnya telah membuat benda yang ditutupi tampak jelas bentuk ujungnya yang mancung meruncing indah. Sementara pakaian bawahnya juga dari kain tipis warna ungu muda yang mempunyai belahan tengah dari bawah sampai batas pusar.

Gadis itu berambut panjang digulung sebagian, sisanya meriap ke samping kanan-kiri. Wajahnya cantik, hidungnya mancung, matanya agak besar serta sayu, bibirnya sedikit tebal tapi membentuk kesan menggairahkan. Siapa pun memandangnya akan gemas dan berkhayal ingin memagutnya berhari-hari.

"Oh, rupanya mereka datang ke sini karena mau kencan?! Sialan!" gerutu Suto Sinting sambil bersungut-sungut, namun matanya tetap memandang ke bawah.

Terdengar pula suara Naga Langit berkata kepada gadis yang tampak sudah matang dalam bercinta itu. "Aku akan menuruti keinginanmu, Nyai. Tapi kumohon kau jangan menipuku. Kau harus mau carikan Bunga Kecubung Dadar itu untuk mengembalikan ilmuku yang telah dilenyapkan oleh si Pendekar Mabuk itu!"

"Percayalah padaku. Tak ada sejarahnya yang namanya Nyai Ronggeng Manis menipu seseorang. Setiap orang yang berbuat baik padaku, pantang kutipu dan kusakiti, Naga Langit."

Sambil berkata demikian, Nyai Ronggeng Manis merayapkan tangannya ke dada Naga Langit. Dada berbulu itu diusap-usapnya dengan mata semakin sayu. Wajah cantik berbibir ranum itu semakin dekat dengan wajah Naga Langit. Mereka saling pandang sejenak, lalu Nyai Ronggeng Manis pejamkan mata pelan-pelan setelah tangan Naga Langit menelusup ke dadanya.

Begitu mata Nyai Ronggeng Manis terpejam, bibir setengah disodorkan dalam keadaan merekah, Naga Langit pun segera memagut bibir itu dengan hangat. Sang Nyai membalas pagutan tersebut tak kalah hangat, sehingga bibir Naga Langit dilumatnya habis-habisan. Gadis itu agaknya bergairah tinggi, sehingga Naga Langit sedikit kewalahan menghadapi cumbuannya yang bersifat mencecar lawan jenis itu.

"Nyai Ronggeng Manis itu siapa?" pikir Suto Sinting. "Ah, sebaiknya tak usah dipikirkan dulu siapa perempuan itu. Tapi dinikmati saja tontonan gratis ini mumpung ada kesempatan emas," pikir Suto Sinting sambil tetap memperhatikan ke bawah, walau jantungnya berdebar-debar dan badannya sedikit gemetar karena terpancing dengan adegan mesra yang begitu panas.

Nyai Ronggeng Manis membiarkan jubahnya dilepas oleh Naga Langit. la bahkan bersandar di batang pohon itu sambil mengerang dan mendesis-desis karena merasakan nikmatnya kenakalan mulut Naga Langit yang menyerang dadanya. Kain penutup dada itu pun telah terlepas dan jatuh terkulai di atas rerumputan.

"Naga Langit, oooh... pintar sekali kau membuatku melayang-layang. Hik, hik, hik...!"

Naga Langit merayapkan ciumannya sampai ke bawah. Nyai Ronggeng Manis semakin mengerang dan membuka diri, sehingga Naga Langit lebih leluasa dalam bergerak. Kepalanya diremas-remas oleh kedua tangan Nyai Ronggeng Manis, kadang ditekan bersama jeritan kecil yang melambangkan kenikmatan tiada tara.

Akhirnya, Nyai Ronggeng Manis tak mampu bertahan menerima kecupan-kecupan mesra itu. la melepaskan rompi yang dipakai Naga Langit. Bahkan pemuda itu kini disentakkan agar bersandar ke pohon, lalu Nyai Ronggeng Manis menciumi sekujur tubuh pemuda itu dari atas sampai bawah. Naga Langit yang telah menjadi seperti bayi baru lahir itu dilahap habis oleh keganasan cinta sang Nyai. Pemuda itu memekik-mekik dengan mata terpejam kuat, menikmati sentuhan cinta sang Nyai yang tiada bandingnya itu.

"Oh, Naga Langit... aku tak sanggup lagi bertahan. Lakukanlah... lakukanlah sekarang juga, Sayang... Aku.ingin segera mencapai puncak keindahan cinta kita, Naga Langit...!" pinta sang Nyai dengan suara terengah-engah dan berkemas merebahkan diri di rerumputan. Hanya beralaskan kain jubahnya, sang Nyai segera memeluk Naga Langit yang menikamnya dengan segumpal kehangatan yang dibutuhkan gadis itu.

"Ooh...!" Nyai Ronggeng Manis memekik panjang ketika menerima kehangatan tubuh Naga Langit. Gerakannya menjadi ganas, suaranya menjadi liar, seakan ia mengamuk memburu puncak keindahannya. Bahkan Naga Langit sempat digulingkan ke kanan, sehingga kini sang Nyai yang menguasai pelayaran cinta mereka.

Suto Sinting tiba-tiba terkejut ketika tengkuk kepalanya seperti ada yang mencium, lalu dadanya ada yang meremas- remas dari belakang, la buru-buru berpaling, ternyata tak ada orang. Tetapi ia segera mendengar bisikan suara lembut yang dikenalinya.

"Bocah sinting... ooh, gairahku terbakar pemandangan di bawah itu, Sayang...."

"Tenda Biru," bisik Suto bernada desah. Suto Sinting menengadahkan kepalanya. Dari belakang seperti ada yang mengecup bibirnya, lalu bibir itu terasa dilumat dengan hangat. Darah mengulir deras karena gairah semakin terbakar oleh kecupan si Gadis Tanpa Raga itu. Namun tiba-tiba cumbuan Suto Sinting dan Gadis Tanpa Raga terhenti bersama sentakan mengejutkan. Karena tiba-tiba mereka mendengar suara orang memekik bagai di ambang ajal.

"Aaaakh...!"

Mereka sama-sama memandang ke bawah pohon. "Ooh...?! Pemuda itu... pemuda itu dibunuhnya?!" bisik suara Tenda Biru terdengar menegang di telinga Suto Sinting.

Mata Pendekar Mabuk sendiri terbelalak tak berkedip melihat Naga Langit mengejang dalam keadaan tanpa busana. Dadanya menjadi bolong dan terbakar hangus. Pada saat itu, selarik sinar merah dari ujung jari tengah sang Nyai baru saja padam. Mata Suto pun tahu bahwa Naga Langit dibunuh oleh Nyai Ronggeng Manis dengan sinar merah dari jari tengahnya,

Luka di dada Naga Langit merambah menjadi besar. Itu menandakan luka tersebut sangat beracun. Naga Langit tak bisa berbuat apa-apa kecuali terkapar dengan mulut ternganga seperti ingin ucapkan sesuatu. Namun beberapa kejap kemudian, mata Naga Langit yang mendelik itu menjadi sayu, lama-lama terkatup rapat bersama hembusan napas yang penghabisan.

"Hih, hih, hih, hih...!" Nyai Ronggeng Manis tertawa kegirangan sambil mengenakan pakaiannya kembali. "Kau benar-benar pemuda bodoh, Naga Langit! Mana mungkin aku akan serahkan Bunga Kecubung Dadar kepadamu, jika aku sendiri membutuhkan bunga itu untuk kutanam di taman istanaku! Hih, hih, hih, hih...! Rupanya kau tidak tahu, Naga Langit, bahwa aku sengaja ingin menghancurkan tanaman itu agar tak tumbuh di tempat lain, dan hanya aku yang memilikinya, karena aku tak ingin seseorang memakan bunga itu untuk pulihkan keadaan dirinya!"

"Kejam..,!" geram Suto Sinting nyaris tanpa suara.

"Hih, hih, hih...! Selamat tinggal, Naga Langit. Aku sudah puas menghisap madu kehangatanmu, sekarang nikmatilah masa perjalananmu menuju akhirat. Bergabunglah dengan Dewa Semprong dan orang-orang yang mati di tanganku karena berlagak tidak tahu menahu tentang Bunga Kecubung Dadar! Hih, hih, hih, hih...!"

Weess,..! Nyai Ronggeng Manis melesat pergi meninggalkan pemuda yang telah memberinya kepuasan batin itu. Sementara, si Gadis Tanpa Raga segera berkata kepada Suto Sinting dengan suara lebih tegang lagi.

"Ikuti dia! Bila perlu cegah dia agar jangan sampai temukan Bunga Kecubung Dadar!"

"Ha... haruskah... haruskah aku menghiraukannya?"

"Tentu saja, sebab dia itulah yang bernama Nyai Ronggeng Iblis!"

* * *

TUJUH

PENGEJARAN dilakukan oleh Suto Sinting walau senja mulai berangsur-angsur menjadi petang. Agaknya Nyai Ronggeng Iblis mempunyai gerakan yang kecepatannya menyamai dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya Suto Sinting, sehingga perempuan yang sebenarnya berusia lebih dari enam puluh tahun itu sukar disusulnya.

"Tenda Biru...! Tenda Biru, di mana kau?!" Suto Sinting memanggil dengan suara tak seberapa keras. la sengaja hentikan langkah karena alam telah menjadi gelap dan arah pelariannya mulai tak jelas. "Tenda Biru...!" panggilnya lagi.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Tenda Biru menjawab, "Aku di sini...!"

Pendekar Mabuk menoleh ke arah samping kanannya..Ternyata di sana ada sebuah gubuk yang menyalakan api kecil di bagian depannya. Pendekar Mabuk kerutkan dahi, merasa ragu dengan penglihatannya sendiri.

"Bocah sinting, aku menemukan gubuk persinggahan para pencari kayu bakar," ujar suara Tenda Biru. "Kau melihat nyala api kecil itu, Bocah Sinting?"

"Ya, aku melihatnya!"

"Aku yang menyalakannya."

"Apa maksudmu?"

"Istirahatlah dulu, hemat tenagamu untuk lanjutkan pencarian besok. Kurasa, Nyai Ronggeng Iblis tidak mungkin lanjutkan perjalanan malam seperti sekarang ini."

"Aku tahu kau ingin mencumbuku lagi, bukan?"

"Jangan beranggapan begitu. Aku merasa sudah dekat dengan kemenanganku. Aku tak terlalu berpikir tentang kemesraan. Tadi kalau tak terpancing oleh percumbuan Naga Langit dan Nyai Ronggeng Iblis, aku tak mengganggu ketenanganmu."

"Maaf kalau begitu," ujar Suto Sinting sambil melangkah dekati gubuk tersebut.

"Sementara kau beristirahat, aku akan mencari di mana Nyai Ronggeng Iblis beristirahat."

"Kau tidak ikut beristirahat pula?"

"Aku tanpa raga. Tak punya rasa lelah dan kantuk. Aku melayang dengan ringan, sejauh mana pun akan kutempuh tanpa harus beristirahat."

Pendekar Mabuk segera menenggak tuaknya, kemudian duduk di balai bambu yang sudah reot tanpa tikar atau alas lainnya. "Pergilah kalau kau ingin mencari tempat sang Nyai. Beri tahu padaku jika kau sudah menemukannya!" ujar Pendekar Mabuk kepada si Gadis Tanpa Raga yang tak diketahui kala itu ada di sebelah kanannya.

Perjalanan terhenti sepanjang malam. Pendekar Mabuk tertidur di atas balai bambu itu. Bumbung tuak yang masih berisi separuh lebih itu berada di sampingnya, bagaikan seorang istri yang setia. Lelapnya tidur membuat Suto Sinting tak sadar jika hari sudah pagi. Matahari kian menampakkan cahayanya menjauhi cakrawala timur.

Pendekar Mabuk hanya merasakan sesuatu telah menyentuh keningnya. Sesuatu yang hangat itu merayap di pipi, sesekali mengecup bibirnya. Kecupan dan sentuhan hangat itulah yang membuat Pendekar Mabuk terbangun dari tidurnya. Namun ia tidak melihat siapa-siapa di sampingnya.

"Hmmm... kau, Tenda Biru?!" gumam Suto Sinting.

"Bangun, Sayang... hari sudah pagi," bisik Gadis Tanpa Raga di samping Suto. la masih menciumi telinga Suto, leher, dagu, dan dada. Caranya membangunkan sungguh mesra dah menyentuh hati Suto, menciptakan debar-debar keharuan kecil.

"Kutemukan Nyai Ronggeng Iblis di atas pohon sebelah selatan tempat ini."

"Jauhkah tempatnya?"

"Agak jauh, tapi yang penting, Bukit Ketapang sudah kutemukan juga. Tak seberapa jauh dari tempat istirahatnya Nyai Ronggeng Iblis ada bukit yang puncaknya terdapat tiga batu bersusun tinggi."

"Ya, itulah Bukit Ketapang."

"Sebaiknya kau segera temukan telaga dan bunga itu sebelum Nyai Ronggeng Iblis terbangun dan menemukannya lebih dulu!"

"Gagasanmu cukup bagus, tapi... sebentar, aku meneguk tuakku dulu biar badanku segar."

Sementara Suto menenggak tuaknya, Tenda Biru berkata, "Kutaburkan kabut pembius di sekitar pohon tempat beristirahatnya Nyai Ronggeng Iblis. Kurasa ia sekarang masih tertidur nyenyak karena pengaruh kabut pembiusku itu."

Pendekar Mabuk tersenyum. "Kau benar-benar gadis yang cerdik, Tenda Biru!"

Setelah berkata begitu, Suto segera berkelebat pergi ke arah selatan. Jurus 'Gerak Siluman' membuat Suto cepat tiba di kaki Bukit Ketapang. la pun segera memasuki hutan di lereng bukit itu yang ditumbuhi pepohonan tak begitu padat.

"Aku melihatnya!" seru sebuah suara tanpa rupa di depan Suto. Suara itu adalah suara Tenda Biru yang berjalan mendahului Suto Sinting. "Ke arah sini, Bocah Sinting...!"

Pendekar Mabuk segera mengikuti arah suara tersebut. Zlaaap...! Dalam sekejap ia sudah tiba di tepi sebuah telaga berair kuning. Telaga itu cukup lebar, garis tengahnya sekitar dua puluh lima langkah kaki orang dewasa. Bentuknya tidak bulat rapi, tapi mempunyai tepian yang berliku-liku.

"Kita sudah temukan telaga berair kuning, Tenda Biru."

"Iya, tapi... tapi tak ada bunga yang mengapung dipermukaan airnya, Bocah Sinting!" kata suara Tenda Biru dengan nada sedih.

"Lihat tanaman yang tumbuh di tepian sebelah sana!" sambil Suto menuding ke arah seberang. Ia pun bergegas menggelilingi telaga untuk mencari tepian seberang sana.

"Tanaman ini mengambang di air, tapi tak ada bunganya, Bocah Sinting!" seru suara Tenda Biru yang sudah lebih dulu tiba di seberang sana.

Pendekar Mabuk sempat kecewa melihat tanaman berdaun lebar seperti daun bunga teratai. Tanaman itu selain merambat di tepian telaga juga mengambang di permukaan air telaga kuning. Daun itu cukup rimbun, hingga tumbuhnya berdempetan, Suto mencari-cari bunga yang tumbuh pada tanaman itu, karena hanya tanaman itu yang sebagian mengambang di permukaan air telaga.

Sekalipun mereka yakin tanaman itu adalah tanaman Bunga Kecubung Dadar, namun mereka tidak menemukan sekuntum bunga tumbuh di sana. Pendekar Mabuk mengawasinya dengan teliti, dan tetap tidak mendapatkan sekuntum bunga pada tanaman tersebut.

"Jangan-jangan sekarang belum musim bunga, sehingga tanaman ini tidak berbunga!" ujar suara Tenda Biru.

"Berarti kita harus menunggu sampai tanaman ini berbunga."

"Uuh...! Berapa lama menunggunya, Bocah Sinting?!" suara Tenda Biru terdengar merengek manja seakan ingin menangis karena sedih dan kecewa.

Seekor nyamuk hinggap di kening Suto. Tanpa sadar Suto Sinting mengusap keningnya dengan tangan kiri. Pada saat itulah penglihatannya menjadi berubah, ia telah mengusap titik merah di keningnya, dengan begitu ia dapat melihat alam gaib disekelilingnya.

"Hahh...?!" Suto Sinting terkejut. Matanya terbelalak lebar, karena sekarang ia dapat melihat bahwa tanaman berdaun lebar itu mempunyai bunga-bunga berwarna kuning. "Ternyata banyak bunga yang tumbuh pada tanaman ini?. Mengapa aku tadi tidak melihatnya?" pikir Suto Sinting. "Ooh... ya, ya, sekarang aku tahu, aku telah mengusap keningku dengan tangan kiri, sehingga penglihatanku dapat menembus alam gaib. Berarti bunga ini hanya bisa dilihat oleh seseorang yang berada di alam gaib atau mampu menembus kehidupan alam gaib. Sungguh ajaib bunga ini! Pasti bunga-bunga yang tumbuh subur inilah yang dinamakan Bunga Kecubung Dadar!"

Rupanya walaupun Tenda Biru tanpa raga, namun ia tetap tidak bisa melihat bunga berwarna kuning lebar tengahnya berbintik-bintik ungu itu. Karenanya, gadis itu tetap ribut melontarkan kekecewaannya.

Pendekar Mabuk tidak hiraukan kata-kata Tenda Biru. la memetik setangkai bunga tersebut. Tesss....! "Hahh...?!" Suto terkejut begitu melihat bunga-bunga lainnya menjadi layu, kian lama kian mengering dan daun-daunnya pun menjadi membusuk. Ternyata bunga aneh itu mempunyai keajaiban terdiri.

Jika salah satu bunga dipetik, maka seluruh tanaman itu menjadi layu dan membusuk. Tetapi bunga yang sudah ada di tangan seseorang itu tetap tumbuh segar dan dapat dilihat oleh mata siapa saja. Saat Pendekar Mabuk mengusap kembali keningnya dengan tangan kiri, maka penglihatannya kembali kepada penglihatan semula yang tidak bisa melihat alam gaib. Dalam keadaan seperti itu, ternyata Suto masih tetap bisa melihat setangkai bunga kuning di tangannya.

"Yaaah... tanaman ini bahkan menjadi busuk, Bocah Sinting! Aduuuh... bagaimana ini kalau...," rengekan Tenda Biru terhenti. la pun segera bersuara dengan nada kaget. "Hei, kau dapatkan dari mana bunga itu?! Buk... buk... bukankah itu Bunga Kecubung Dadar?!"

"Kurasa memang inilah bunga yang kau cari," ujar Suto Sinting dengan senyum bangga.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan melintas dan menerjang Suto Sinting. Wuuuut...! Bruuuss...! Suto Sinting terpental terbang, bunga itu terlepas dari tangannya. Bunga Kecubung Dadar melayang-layang di udara. Pada saat itu Suto Sinting segera sadar bahwa Nyai Ronggeng Iblis telah datang dan ingin merampas bunga tersebut. Tubuh sang Nyai segera melayang mengejar bunga kuning itu. Tetapi, Suto Sinting segera lepaskan sentilan mautnya ke arah pinggang sang Nyai.

Dees...! Buukh...!

"Uukh...!" Nyai Ronggeng Iblis terkena jurus 'Jari Guntur' dan tubuhnya melayang ke arah lain. Brruk...! la pun jatuh nyaris masuk ke telaga kuning itu.

Bunga Kecubung Dadar tiba-tiba berhenti di udara. Suto Sinting segera ingin menangkapnya dengan satu lompatan. Tetapi Nyai Ronggeng Iblis segera melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar merah lurus dari jari tengahnya yang dipakai membunuh Naga Langit itu. Claaap...!

Suto Sinting melihat datangnya bahaya tersebut, kemudian segera mengibaskan bumbung tuaknya untuk menangkis sinar merah itu. Deeb...! Sinar merah menghantam bumbung tuak dan berbalik arah menjadi lebih besar serta lebih cepat dari gerakan semula. Wees...! Sasaran sinar merah itu ke arah dada Nyai Ronggeng Iblis. Akibatnya perempuan berjubah kuning itu segera lakukan lompatan pindah tempat dengan terburu-buru.

"Monyet...!" makinya, lalu ia melesat ke arah kiri dan mendarat di balik pohon.

Suto Sinting segera melakukan lompatan untuk menangkap bunga yang tadi berhenti di udara itu. Tapi ternyata bunga tersebut telah lenyap entah ke mana. Pendekar Mabuk kebingungan mencari bunga itu dengan pandangan mata tampak panik. Pada saat itulah, Nyai Ronggeng Iblis menghantam punggung Suto Sinting menggunakan pukulan sinar hijau patah-patah.

"Kuhancurkan kau kalau berani menyentuh bunga itu, Keparat!"

Weeers...! Telapak tangannya keluarkan sinar hijau patah-patah. Suto cepat balikkan badan. Sinar itu sudah ada di depannya. Bumbung tuak kembali berkelebat menangkis sinar hijau patah-patah itu. Trrraap...!

Ledakan dahsyat yang terjadi sungguh mengerikan. Air telaga bergolak hebat bagai ingin dituangkan dari tempatnya. Tanah pun bergetar seakan dilanda gempa mendadak. Pohon-pohon tumbang tak tentu arah. Gelombang ledakan dahsyat itu juga menerbangkan Suto Sinting hingga menghantam sebatang pohon yang belum tumbang.

Bruuuk...! Krraaak...! Bruuuss...!

Pohon yang ditabrak tubuh Pendekar Mabuk menjadi patah dan tumbang beberapa kejap berikutnya. Hal itu menandakan betapa kerasnya lemparan tubuh Suto akibat gelombang ledakan itu, Tetapi bumbung tuak yang dipakai menangkis sinar hijau lawan masih tetap utuh tanpa lecet sedikit pun.

"Hooeek...!" Suto Sinting memuntahkan darah kental dari mulutnya. la terluka dalam akibat gelombang ledakan tadi. Wajahnya menjadi pucat pasi, tenaganya menjadi berkurang, tubuh terasa lemas sekali.

Tetapi Nyai Ronggeng Iblis masih tampak segar dan segera berkelebat menghampiri Suto Sinting. Wuuut...! "Serahkan bunga itu!" bentaknya di depan Suto yang masih belum bisa berdiri itu.

Wajah Suto mendongak dengan mata memandang sayu kepada sang Nyai. Pandangan matanya ternyata menjadi buram, namun ia masih bisa menangkap samar-samar bayangan kuning dari jubah sang Nyai.

"Kuhitung tiga kali kalau bunga itu tak kau serahkan padaku, kuhancurkan kepalamu!" hardik sang Nyai dengan wajah cantik memancarkan kebengisan.

Pendekar Mabuk berdiri dengan bantuan sebatang pohon. Bumbung tuaknya masih tetap ada di tangan kanan.

"Satu...!" seru sang Nyai yang menyangka bunga itu ada di tangan Suto. "Dua...!"

Tubuh Nyai Ronggeng Iblis berubah menjadi merah membara. Kedua tangannya telah terangkat ke atas, dari ujung jari-jarinya keluar kuku-kuku runcing berwarna hitam.

"Tigaaa...! Hiaaahh...!"

Suto Sinting segera lepaskan bumbung tuaknya. Lalu tangan kanan itu menyentak dalam keadaan telapak tangan melebar rapat. Suuut...! Maka dari tangan itu keluar sinar-sinar emas berbentuk pisau-pisau kecil.

Clap, clap, clap, clap....!

Sinar-sinar kuning berbentuk pisau melesat secara beruntun. Kecepatannya sungguh luar biasa, tak bisa dihindari maupun ditangkis lagi. Maka, dada sang Nyai yang juga telah memancarkan cahaya merah bara itu dihantam beberapa sinar berbentuk pisau emas. Jrruub...! Pisau-pisau emas itu bagai menyergap dada secara berebutan. Akibatnya, Nyai Ronggeng Iblis diam bagaikan patung tak mau bergerak-gerak lagi. Tubuh yang memancarkan cahaya merah bara itu lama-lama redup menjadi pucat keabu-abuan.

Jurus 'Manggala' yang menjadi salah satu jurus andalan Pendekar Mabuk telah membuat Nyai Ronggeng Iblis tetap mengangkat kedua tangannya dan membuka mulutnya lebar-lebar. Tiga helaan napas lamanya ia masih diam tanpa gerakan apa-apa. Pendekar Mabuk membiarkannya dan justru segera menenggak tuak untuk mengobati luka dalamnya.

Glek, glek, glek, glek...!

Napas terhempas dari mulut, menandakan Suto merasakan kelegaan dalam tubuhnya. Tuak itu telah membuat tubuh menjadi segar dan rasa sakitnya hilang. Kejap kemudian, ketika Suto memperhatikan Nyai Ronggeng Iblis, angin berhembus agak kencang. Hembusan angin itu membuat tubuh Nyai Ronggeng Iblis menjadi beterbangan. Rupanya perempuan itu sejak tadi sudah menjadi debu-debu halus yang begitu lembutnya sampai-sampai masih membentuk sosok tubuh perempuan cantik dalam beberapa helaan napas.

Angin yang berhembus agak kencang itu kini membuat debu itu berhamburan dan sosok Nyai Ronggeng Iblis pun hilang dari pandangan mata. Yang tinggal hanya debu-debu lembut yang semakin berhamburan ke mana-mana. Pendekar Mabuk menghempaskan napas dengan perasaan lega. Tetapi tiba-tiba ia tersentak kaget ketika mendengar suara orang bertepuk tangan pelan di belakangnya.

Plok, plok, plok, plok...!

"Ooh ...?!" Suto Sinting semakin terkejut ketika melihat seraut wajah cantik sudah berdiri di belakangnya dalam jarak empat langkah.

Raut wajah cantik itu milik seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Matanya membelalak indah, hidungnya mancung, bibirnya ranum menyegarkan. Rambut depan gadis itu pendek, tapi rambut belakangnya panjang selewat tengkuk. la menyunggingkan senyum dan senyuman itu mempunyai lesung pipit yang selalu membuat jantung Suto berdebar-debar jika melihat gadis berlesung pipit.

Mata Suto masih belum bisa berkedip pandangi gadis yang mengenakan jubah tanpa lengan warna biru tua, pinjung penutup dadanya dari kain tipis berwarna biru muda, sama dengan warna kain penutup bagian bawahnya yang mempunyai dua belahan kanan dan kiri. Penutup dadanya yang tipis itu memuat gumpalan daging yang ditutupi tampak menonjol kencang penuh tantangan. Gadis itu memang bertubuh sekal, padat berisi, dan sangat menggiurkan gairah seorang lelaki. Pendekar Mabuk kini berkerut dahi ketika mendengar gadis itu berkata sambil melangkah mendekatinya.

"Ilmu yang gila-gilaan! Kasihan Nyai Ronggeng Iblis, belum sempat mengeluarkan jurus-jurus andalannya, belum sempat keluarkan jurus 'Sabda Sirna' ataupun jurus 'Sapulama'-nya, terpaksa sudah harus menjadi abu yang tak bisa dikenali lagi sebagai bangkainya."

"Siapa kau...?!" ucap Suto Sinting sambil pandangi gadis itu dengan mata tajam dan wajah terheran-heran.

Gadis itu sunggingkan senyum, lesung pipitnya membuat jantung Suto tersentak cepat. Gadis itu berhenti dalam jarak satu langkah, mata indahnya menatap Suto Sinting dengan kelembutan yang punya arti tersendiri. "Kau memang luar biasa, Bocah Sinting...."

"Tenda Biru...?!" Suto Sinting kian berdebar dan merinding begitu mendengar dirinya dipanggil 'Bocah Sinting', karena hanya Tenda Biru, si Gadis Tanpa Raga itulah yang memanggilnya dengan sebutan 'Bocah Sinting'. "Benarkah kau... kau Tenda Biru?!"

Gadis itu sunggingkan senyum kian lebar. "Kutangkap bunga itu saat melayang, dan kumakan semuanya sampai ke tangkai-tangkainya segala. Lalu... tahu-tahu aku bisa memandang tubuhku sendiri, dan... ternyata aku sudah terbebas dari kutukan Nyai Ronggeng Iblis sebelum perempuan jahat itu kau hancurkan menjadi debu!"

"Oooh... jadi... jadi kau yang selama ini mengikutiku dan...."

"Dan menciummu," bisik Tenda Biru dengan mata berkerling nakal dan senyum semakin mendebarkan hati Suto. Gadis itu segera melingkarkan tangannya ke leher Suto Sinting, kemudian Suto segera memeluknya dengan hati bahagia. Mereka saling berciuman beberapa saat. Kecupan bibir Tenda Biru dirasakan merayap di sekujur tubuh Suto, walau kenyataannya hanya saling melekat di batas bibir.

"Kau memang Tenda Biru. Aku hafal sekali dengan caramu melumat bibirku," bisik Suto Sinting dengan senyum menawan.

Gadis itu masih melingkarkan kedua tangannya di leher Suto dan pandangi Suto dengan mata sedikit sayu. "Seperti janjiku, sekarang aku menjadi abdimu. Aku akan setia mengikuti perintahmu, Pangeranku!"

Suto Sinting tersenyum malu. Tenda Biru tambahkan kata lagi bernada membisik. "Apa yang harus kulakukan, Tuanku tersayang...? Hamba siap melayani Tuanku kapan saja tuan inginkan."

"Aku hanya ingin kau mengantarku pulang ke rumah Kusir Hantu, karena kau harus menepati janjimu untuk mengajarkan beberapa jurus ilmu kepada Panji Klobot!"

"Hanya itu?" sambil pandangan dan senyum Tenda Biru semakin menantang.

Suto mengangguk. "Ya, hanya itu, Sayang...."

Cup, sebuah ciuman menempel cepat di pipi Suto. Tenda Biru pun segera melangkah mengiringi sang Pendekar Mabuk untuk temui Kusir Hantu dan Panji Klobot. Di sana mereka merayakan pesta kemenangan Suto dengan membakar beberapa jagung sebagai hidangan malam. Hadir pula di situ, si Kelambu Petang dan kakeknya; Kapas Mayat, yang ikut mendengarkan cerita pertarungan Suto dengan Nyai Ronggeng Iblis.

"Kau mencuri Kitab Kidung Bencana milik kakekmu itu, ya?" bisik Suto kepada Kelambu Petang.

"Jangan percaya dengan omongan Kakek. Dia suka bikin kejutan. Kitab itu milik Ki Porak Porong, Kakek hanya mendengar nama kitab itu. Dan aku pergi hanya membawa kitab ramalan nasib, karena sahabatku minta diramal nasibnya!" jawab Kelambu Petang yang didengar oleh mereka, lalu mereka pun menertawakan si Kapas Mayat. Pak Tua itu hanya bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas.

SELESAI