Sabuk Gempur Jagat - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Serial Pendekar Mabuk
Sabuk Gempur Jagat
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan suara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya.

Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan baju tanpa lengan warna coklat dan celana putih lusuh itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.

Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Bumbung tuak yang disandang melintang di punggung itu menjadi ciri penampilannya sebagai murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang yang dikenal dengan nama Suto Sinting alias si Pendekar Mabuk dari Jurang Lindu.

"Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Mabuk membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpangan mayat terbakar hangus, sebagian masih ada yang tak sampai menjadi arang. Aku hampir tak percaya melihat istana ini menjadi ladang hitam begini. Melihat sisa asap yang masih mengepul, pasti kejadiannya belum berselang lama."

Sekalipun di sana-sini banyak mayat menjijikkan karena luka bakar, namun Pendekar Mabuk tetap menyusuri tempat itu dengan langkah hati-hati. Matanya pandangi tiap mayat karena hatinya mencari berapa wajah yang dikenalinya. Namun wajah-wajah mayat di situ sukar dikenali lagi. Bahkan pakaian mereka pun tak ada yang tersisa hingga tak bisa dijadikan ciri bagi pemakainya. Pendekar Mabuk masih mencoba membedakan mana mayat lelaki dan mana mayat perempuan.

"Selama menjadi pendekar, baru sekarang aku kebingungan memilih mayat lelaki dan mayat perempuan," pikir Suto Sinting. "Ada baiknya kalau kuperiksa saja sekeliling tempat ini, siapa tahu kutemukan korban yang masih hidup atau dalam keadaan sedang sekarat sehingga bisa kudengarkan penjelasannya tentang musibah maut ini."

Bau daging hangus sempat bikin perut mual. Pendekar Mabuk terpaksa meraih bumbung tuaknya dan menenggak tuak beberapa teguk. Tuak itu membuat rasa mual lenyap seketika. Suto hembuskan napas lega, lalu segera menutup bumbung tuaknya. Pada saat itulah tiba-tiba sekelebat benda tampak melayang dari arah samping kanannya. Suto Sinting cepat sentakkan kaki dan tubuhnya melompat dalam gerakan bersalto ke belakang satu kali. Wuuut...! Dan benda yang melesat itu tak jadi kenai tubuhnya.

Weess... Taab!

Benda yang melintas cepat itu menancap pada sebatang pilar kayu yang sudah hangus dan bagian atasnya telah menjadi arang keropos. Pandangan mata Suto Sinting terarah pada benda yang menancap pada bekas pilar itu; ternyata sebatang anak panah dengan panjang sehasta lebih sedikit. Pendekar Mabuk cepat alihkan pandangan matanya ke arah datangnya anak panah tersebut.

"Hmmm...?! Rupanya dia yang menyerangku dengan panahnya?!" gumam si tampan sinting murid Gila Tuak itu.

Di balik reruntuhan arang telah berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Lelaki itu mengenakan celana merah tanpa baju. Tubuhnya sedikit gemuk tapi tidak begitu tinggi. Rambutnya panjang belakang, bagian depannya botak licin. Wajahnya tampak sedikit angker tapi tak seangker kuburan tua. Berkumis tipis namun panjang hingga melengkung sampai ke dagu. Ia masih pegangi busur yang sudah ditarik talinya dengan sebatang anak panah terarah kepada Suto Sinting.

Meski dirinya terancam anak panah yang akan dilepaskan ke dadanya, tapi Suto Sinting tetap diam di tempat dengan sorot pandangan mata tak berkedip. Berdiri tegak, dada sedikit membusung sehingga tampak gagah dan berkesan tak merasa gentar sedikit pun. Ujung panah itu justru ditatapnya tajam-tajam, seakan ditantang untuk lepas dari tali busurnya. Tetapi orang bercelana merah itu tak mau segera lepaskan anak panah tersebut, ia justru berseru dengan nada tak ramah dan berkesan menggertak Pendekar Mabuk.

"Tinggalkan tempat ini atau kau kehilangan nyawa sekarang juga!"

Sehela napas ditarik dan dihembuskan pelan-pelan sebagai penenang keadaan dirinya. Pendekar Mabuk mulai kendurkan ketegangannya dan senyum tampannya mekar seulas dengan tipis sekali.

"Sangkamu siapa diriku ini, Paman?" ujar Suto dengan kalem, ia justru melangkah dekati orang tersebut.

"Berhenti!" sentak orang itu dengan mata melebar. "Selangkah lagi kau maju, dadamu akan ditembus oleh panahku ini!"

"Apakah kau kira tubuhku terbuat dari getuk, sehingga mudah ditembus anak panah? Coba saja lepaskan kalau kau sanggup membidik dadaku, Paman!"

Orang itu tidak main-main, ia benar-benar lepaskan anak panah dari busurnya. Slaaap...! Anak panah meluncur cepat ke dada Suto Sinting. Kaki anak muda itu masih tegak berdiri dengan sedikit merenggang, ia tidak menghindar, melainkan meraih bumbung tuaknya dan menghadangkan di depan dadanya. Anak panah itu akhirnya kenai bumbung tuak yang terbuat dari bambu bukan sembarang bambu itu. Traaang...! Suara anak panah menghantam bumbung tuak seperti anak panah menghantam besi baja berongga.

Orang yang memanah Pendekar Mabuk menjadi terbelalak kaget melihat anak panahnya memantul dan berbalik arah dengan kecepatan lebih tinggi. Hampir saja orang itu celaka dihujam panahnya sendiri kalau saja ia tidak segera gulingkan diri di udara dalam satu lompatan cepat. Wuuut...!

Jrrabb...! Anak panah itu menancap pada puing-puing sisa kebakaran dan membuat puing-puing itu menjadi hancur berantakan bagaikan dipukul dengan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi. Brraaass...! Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut.

Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Mabuk. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat?! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak muda itu? Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."

Pendekar Mabuk semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?"

"Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.

Suto Sinting tidak cepat jawab pertanyaan si pemanah tersebut, melainkan justru pandangi keadaan sekeliling dengan raut wajah kian datar, sepertinya sedang memendam perasaan duka yang tak ingin diketahui siapa pun. Kejap berikut barulah terdengar suaranya tanpa pandangi orang di depannya.

"Tak kusangka Lembah Birawa menjadi seperti ini. Kaukah pelakunya, Paman?"

"Kurobek mulutmu jika bicara selancang itu lagi!" sentak orang bersabuk hitam itu. Ia pun segera maju tiga langkah dan berdiri dengan sikap menantang di depan Suto Sinting. "Justru aku yang curiga padamu sebagai orang yang menghancurkan Istana Lembah Birawa ini! Pasti kau yang melarikan Ratuku; Gusti Ratu Jiwandani!"

"O, kalau begitu kau adalah prajurit dari Lembah Birawa ini. Tapi mengapa kau tidak mengenaliku, Paman? Apakah kau lupa bahwa aku pernah selamatkan Ratu Jiwandani dari ancaman Demit Lanang?"

"Ap... apakah kau yang bernama Suto Sinting; Pendekar Mabuk?" orang itu agak gugup.

"Benar. Agaknya baru sekarang kau melihatku, Paman."

"Mma... maafkan aku, kala itu aku tidak ada di tempat, bertugas menghubungi seorang sahabat Ratu untuk meminta bantuan dalam menghadapi Demit Lanang. Tapi ketika aku berhasil pulang dengan membawa bantuan, ternyata keadaan sudah aman dan aku hanya mendengar cerita tentang dirimu. Maafkan aku yang pikun ini, Pendekar Mabuk."

Suto Sinting sunggingkan senyum sekadarnya. Benaknya masih membayangkan peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika ia terlibat dalam perkara kekejaman si Demit Lanang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Pemusnah Raga).

"Jadi, kau ada di pihak Ratu Jiwandani, Paman?"

"Benar," jawab orang itu yang mulai semakin bersikap lunak. "Aku prajurit sandi; namaku Wirya Tabah."

"Pantas kau tak tampak sedih melihat keadaan seperti ini. Mungkin kau orang paling tabah di dunia, Paman."

"Yang ada dalam hatiku bukan kesedihan tapi kemarahan. Aku ingin membalas dendam kepada orang yang telah membumihanguskan tempat ini. Ia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri."

"Apakah kau tak tahu siapa pelakunya?"

Wirya Tabah gelengkan kepala sambil menarik napas. "Tadi pagi aku baru saja kembali dari Pulau Lintang untuk mencari obat buat sembuhkan adikku yang sakit. Tapi begitu tiba di sini, ternyata adikku sudah tak ada dan mungkin termasuk salah satu dari sekumpulan mayat-mayat hangus ini!"

Mata lebar Wirya Tabah pandangi mayat- mayat yang bergelimpangan di sana-sini. Tulang rahangnya bergerak-gerak tanda sedang menggeletukkan gigi menahan dendam yang belum bisa terlampiaskan.

"Paman Wirya Tabah, apakah kau juga tidak mengetahui bagaimana nasib hidupnya Kinanti?" tanya Suto Sinting yang sejak tadi menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya.

"Jika nasib Gusti Ratu saja tidak kuketahui, tentunya nasib Kinanti pun tidak kuketahui, Suto. Rupanya kau kenal dekat dengan Kinanti. Apakah kau kekasihnya?"

Suto hanya sunggingkan senyum geli. Ia sengaja tak memberi kepastian jawaban kepada Wirya Tabah, karena pada saat itu tiba-tiba pandangan matanya tertarik pada sekelebat bayangan yang melesat dari samping belakang. Kelebatan bayangan itu membuat Pendekar Mabuk cepat palingkan wajah dan ikuti dengan pandangan mata berkerut dahi.

Jleeg...!

Bayangan itu berubah menjadi sesosok tubuh berjubah kuning gading. Suto Sinting makin lebarkan senyum melihat wajah si jubah kuning gading yang cantik dengan rambut panjang disanggul sebagian, ia adalah seorang gadis berpinjung penutup dada warna hijau tua cukup ketat hingga tampak sekali kemontokannya, ia menyandang sebilah pedang di punggungnya dengan gagang pedang diberi hiasan rumbai-rumbai benang sutera warna merah.

"Kinanti...," sapa Pendekar Mabuk dengan suara lembut. "Baru saja kami membicarakan tentang dirimu."

Kinanti, pengawal Ratu Jiwandani itu, tak bisa sunggingkan senyum sedikit pun. Wajahnya tampak murung; antara duka dan benci. Bahkan ketika ia pandangi keadaan sekelilingnya, kian lama kedua matanya kian digenangi air bening. Air mata itu akhirnya meleleh ke pipi berkulit kuning langsat.

Wirya Tabah segera menghadang dengan sedikit bungkukkan badan tanda menghormat. Berarti kedudukan Kinanti lebih tinggi dari Wirya Tabah.

"Ke mana saja kau, Wirya Tabah?!" hardik Kinanti dengan suara parau.

"Maafkan aku yang terlambat datang. Tapi kepergianku mencari obat untuk adikku sudah seizin Gusti Ratu, Kinanti."

Plaaak...!

Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedang-sedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah.

"Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah?! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"

Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Suto Sinting menghentikan gerak tangan tersebut.

"Cukup!" Suto Sinting kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"

Mata gadis cantik itu memandang Suto dengan tajam. Napasnya ditarik dalam-dalam. Tangan yang sudah terangkat diturunkan. Setelah sesaat saling beradu pandang dengan Suto Sinting, Kinanti pandangi arah jauh bagaikan menerawang.

Terdengar Wirya Tabah ajukan tanya dengan suara lirih, "Bagaimana keadaan Gusti Ratu? Apakah beliau selamat? Jika selamat, di mana beliau sekarang?"

"Kuselamatkan ke Puncak Bukit Wangi."

"Maksudmu, Gusti Ratu sekarang bersama Ki Galak Gantung?"

"Benar! Pergilah ke sana dan jaga beliau. Siapa tahu orang itu masih memburu Gusti Ratu."

"Tapi bukankah Ki Galak Gantung cukup mampu mengatasi bahaya yang mengancam sang Ratu?"

"Ki Galak Gantung sedang sakit, kekuatannya berkurang. Muridnya sedang tidak ada di tempat. Pergilah ke sana sekarang juga, Wirya Tabah, lindungi Ratu dari bahaya yang mengancamnya sewaktu-waktu!"

Pendekar Mabuk masih bungkamkan mulut. Tapi hatinya berkecamuk sendiri, ingatannya kembali pada seraut wajah tua milik Galak Gantung yang pernah dikenalnya dalam satu peristiwa pembebasan seorang tabib wanita yang ditawan Ratu Sukma Semimpi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Bernyawa).

Galak Gantung adalah sahabat dari si Gila Tuak, karenanya Suto Sinting merasa aman jika Ratu Jiwandani diungsikan ke pondok Galak Gantung, sebab orang tua itu berilmu tinggi. Sekalipun dalam keadaan sedang sakit, namun kesaktiannya masih mampu melindungi Ratu Jiwandani dari bahaya apa pun. Suto percaya akan hal itu.

Maka ketika Wirya Tabah pergi menjalankan perintah Kinanti; menuju puncak Bukit Wangi yang menjadi tempat kediaman Galak Gantung, kejap berikutnya Suto pun perdengarkan suaranya dari belakang Kinanti.

"Kurasa Ki Galak Gantung cukup mampu lindungi Ratu Jiwandani. Kau tak perlu khawatir lagi jika Gusti Ratu-mu sudah ada dalam lindungan Ki Galak Gantung. Aku kenal betul kesaktian sahabat guruku itu."

Kinanti masih diam saja, seakan ia tak ingin menanggapi kata-kata itu. Pandangan matanya menerawang lurus pada kepergian Wirya Tabah, sehingga Pendekar Mabuk merasa perlu sadarkan lamunan duka Kinanti dengan sebuah teguran lembut dari arah sampingnya.

"Kinanti, jelaskan padaku siapa orang yang telah membumihanguskan Lembah Birawa ini?"

"Aku tak tahu," jawab Kinanti dengan datar. "Orang itu menyerang pada tengah malam, tak terlihat jelas wajahnya. Namun seorang anak buahku yang saat itu belum menjadi korban sempat memberitahukan padaku, bahwa orang yang datang menyerang Istana itu bersenjata Sabuk Gempur Jagat. Ia tahu ciri-ciri sabuk pusaka itu, tapi sayang anak buahku itu sekarang sudah tiada. Jasadnya hancur disabet sabuk pusaka itu di seberang kaki hutan sebelah utara sana."

"Sabuk Gempur Jagat...?!" Suto Sinting menggumam bernada heran dan penuh curiga, sebab ia pernah mendengar nama pusaka tersebut ketika menyelesaikan perkara dengan Pipit Serindu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua). Karenanya gumaman itu pun berkelanjutan dengan nada datar,

"Kalau tak salah, Sabuk Gempur Jagat kala itu sedang diperebutkan antara Resi Pakar Pantun dengan si Tulang Naga."

Tiba-tiba wajah Kinanti berpaling pandangi Suto dengan sorot mata tajamnya. "Siapa itu Tulang Naga?"

"Penguasa Telaga Siluman!"

"Di mana letak Telaga Siluman?!"

"Apa maksudmu bertanya begitu?"

"Aku akan ke sana untuk temui si Tulang Naga dan bikin perhitungan dengannya. Hanya ada dua pilihan; nyawaku atau nyawanya yang harus binasa!" geram Kinanti dengan dendam berkobar dalam hatinya. Wajahnya pun menampakkan kobaran dendam yang tak bisa tertahan lagi.

* * *

DUA

TULANG NAGA adalah tokoh aliran hitam yang ganas dan berbahaya. Senjata andalannya yang bernama Pusaka Nenggala Kubur itu sudah cukup berbahaya bagi lawannya, apalagi jika ditambah dengan senjata pusaka Sabuk Gempur Jagat, tak heran jika Tulang Naga dapat membumihanguskan sebuah negeri dalam waktu singkat.

Sambil melangkah menuju Telaga Siluman mendampingi Kinanti, ingatan Suto masih tertuju pada seraut wajah bermata cekung dan bertubuh kurus; wajah itu adalah wajah si Tulang Naga. Rambutnya yang putih sepanjang pinggang tanpa ikat kepala bertebaran menghiasi bayangan di benak Suto Sinting.

Murid si Gila Tuak itu teringat betul saat ia hampir mati di tangan Tulang Naga dalam mempertahankan mayat bayi anak pertama Ratna Udayani dan Raden Prajita. Bayi yang menjadi cucu Sultan Renggana itu sangat diminati oleh beberapa tokoh aliran hitam sebagai penambah kekuatan kesaktiannya, dan salah satu orang yang bernafsu memiliki mayat bayi tersebut adalah Tulang Naga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bayi Pembawa Petaka).

Pada waktu itu, Pendekar Mabuk berhasil dilumpuhkan oleh senjata Neggala Kubur-nya si Tulang Naga. Namun ketika Penguasa Telaga Siluman itu ingin menghabisi nyawa Suto, tiba-tiba muncul serangan berbahaya dari Hantu Laut yang kenal si Tulang Naga dan membuat si Tulang Naga akhirnya lari tinggalkan mayat bayi tersebut.

"Apakah Ratu Jiwandani punya masalahvdengan si Tulang Naga?" tanya Suto Sinting kepada Kinanti saat mereka berhenti di sebuah lembah yang teduh. Lembah itu tak seberapa jauh dari pantai, sehingga gemuruh suara ombak terdengar samar-samar dari tempat mereka berada.

"Setahuku, kami tidak punya masalah apa-apa dengan tokoh sesat yang bernama Tulang Naga dari Telaga Siluman itu. Yang kutahu, orang tersebut menyerang kami di tengah malam dan dalam sekejap Lembah Birawa dibuat menjadi lautan api yang sukar dipadamkan. Aku segera melarikan Ratu Jiwandani tanpa diketahui oleh prajurit lainnya melalui jalan lorong bawah tanah."

"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?"

"Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga."

"Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."

Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Mabuk. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya. Pendekar Mabuk alihkan perhatian sebentar dengan menenggak tuaknya beberapa teguk. Glek, glek,glek...! Napas terhempas panjang menandakan rasa lega sedang dialami Pendekar Mabuk. Setelah itu ia tatap si cantik Kinanti yang sukar tersenyum itu, lalu terdengar ia berkata bagaikan orang sedang menggumam.

"Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya."

"Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya."

"Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"

Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut."

"Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?"

Kinanti gelengkan kepala lagi. "Repotnya semua saksi mata yang pernah berhadapan dengan orang itu tak ada yang selamat. Semuanya mati hangus seperti apa yang kau lihat di puing reruntuhan istana tadi."

"Kalau begitu, belum tentu si Tulang Naga yang menghanguskan Lembah Birawa. Mungkin musuh lain yang sangat menaruh dendam kesumat kepada Ratu Jiwandani. Atau..."

Kata-kata itu terhenti seketika, karena ekor mata Suto Sinting melihat sekelebat bayangan benda yang meluncur dari belakang Kinanti. Tubuh Kinanti segera ditarik ke samping kirinya hingga gadis itu nyaris tersungkur mencium tanah. Suto Sinting melompat maju, crrab! Sebilah pisau pendek berukuran sejengkal ditangkap dengan mulut Pendekar Mabuk.

Pisau itu kini ada dalam gigitannya, tak sedikit pun menggores bibir maupun lidah Suto. Keadaan itu membuat Kinanti belalakkan mata dan segera bangkit dalam memasang kuda-kuda siap tempur. Pendekar Mabuk segera lakukan lompatan bersalto ke atas. Kepalanya menyentak ke samping dan pisau pada mulutnya itu terlempar ke arah datangnya tadi.

Wuuut...! Sraaab...! Juuub!

"Aaaaahg...!" terdengar suara pekikan orang kesakitan dari balik semak belukar. Rupanya pisau itu kenai tubuh pelemparnya yang masih bersembunyi di baik semak, ia tak menyangka pisau itu akan dilemparkan secepat itu hingga tak sempat hindari senjatanya sendiri. Orang yang memekik kesakitan itu roboh dengan berguling keluar dari kerimbunan semak.

Mata Kinanti dan Suto Sinting pandangi orang tersebut. Ternyata seorang lelaki kurus yang masih meraung kesakitan karena bagian bawah pundak kanannya ditembus pisau kecil. Pisau itu beracun dan membuat lukanya menjadi menghitam, pisau itu sendiri sukar dicabut dari tubuh korban.

"Aauhh...! Tolooong... tolong cabut pisau ini...!" ratap orang kurus itu sambil kelojotan menderita rasa sakit.

Kinanti menggumam kata lirih, "Racun Serap Darah?!"

"Apa maksudmu?"

"Pisau itu mengandung Racun Serap Darah, yang membuatnya tak bisa lepas dari tubuh korban karena menyerap darah korban. Sebelum darah korban habis terserap ia tetap akan menancap dan sukar dicabut."

"Aaahg...! Aaaahg...! Tolooong...," orang itu meratap semakin lirih, gerakannya semakin lemah.

Suto Sinting cepat-cepat menenggak tuak, kemudian menyemburkan tuak dari mulutnya ke arah pisau tersebut. Bruuusss...! Jrooossss...! Luka itu kepulkan asap tebal, seperti besi membara disiram air dingin. Orang itu kian mengerang dengan tubuh mengejang. Pendekar Mabuk segera cabut pisau itu dan ternyata dapat dilepas dengan mudah sekali. Jurus 'Sembur Husada' yang digunakan Suto membuat luka itu terkatup dan menjadi kering, dalam beberapa kejap saja sudah hilang secara ajaib.

Kinanti hanya bisa diam terbengong melihat kesaktian Suto dengan rasa kagum yang menggumpal di dadanya. Karena memang baru sekarang ia melihat kehebatan jurus 'Sembur Husada' diperagakan oleh Suto Sinting walau tidak dengan maksud pamer kesaktian.

"Biasanya kau menyuruh orang yang terluka meminum tuakmu, tapi kali ini mengapa hanya kau sembur saja?"

"Jurus ini dapat membuat orang yang kutolong lupa kepadaku, seperti merasa baru mengenalku. Ingatannya tentang diriku ikut lenyap bersama lukanya. Karena itu, jurus 'Sembur Husada' tak pernah kulakukan untuk mengobati orang yang sudah mengenalku. Jika orang kurus ini lupa tentang diriku, tak jadi soal, karena memang ia belum mengenalku." (Jurus ini pernah digunakan dalam serial Pendekar Mabuk episode Pusaka Tuak Setan).

Orang kurus itu segera bangkit dengan perasaan penuh rasa kagum atas kesembuhan lukanya. Namun ketika ia sadar dirinya berada di depan Pendekar Mabuk dan Kinanti, ia buru-buru bergegas melarikan diri. Namun Kinanti berhasil menyambar lengan si kurus itu. Wuuut...!

"Mau ke mana kau!"

"Aaak... aku hanya... hanya disuruh seseorang, Nona."

"Siapa yang menyuruhmu!" gertak Kinanti.

"Hmmm... eeh...," orang itu kebingungan dan ragu menjawab.

Pendekar Mabuk segera mendesak dengan pertanyaan lain. "Siapa yang ingin kau bunuh? Dia atau aku?"

"Hmmm...hmm... anu .."

"Di sini tidak ada yang bernama 'Anu', jawab yang jelas!" sentak Kinanti bagaikan tak sabar ingin menampar mulut orang kurus itu.

"Aku disuruh membunuhmu, Nona!"

Kinanti beradu pandangan mata sejenak dengan Suto Sinting. Kemudian ia kembali mendesak orang kurus itu dengan pertanyaan yang mendesak sekali.

"Kau murid dari Bukit Kasmaran, bukan?"

"Buk...bukan! Aku..."

"Omong kosong!"

Plaaaak ! Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.

Pendekar Mabuk segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Suto Sinting. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas.

"Dia tewas!" ujar Suto Sinting sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti.

Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang tersebut sudah tidak bernyawa lagi. Gumam Kinanti pun terlontar lirih bernada heran.

"Aneh. Mestinya ia tak sampai kehilangan nyawa. Pukulan dan tendanganku tadi tidak begitu membahayakan nyawa seseorang?!"

Pendekar Mabuk yang sempat menaruh curiga atas kematian orang tersebut segera membalikkan badan si korban, ia terperanjat, demikian pula Kinanti, mereka melihat sebilah pisau kecil seperti tadi menancap di punggung orang tersebut. Rupanya pisau itulah yang membuat nyawa orang kurus itu melayang, lepas dari raganya.

"Ternyata ada pihak lain yang menyerang orang ini hingga tewas."

"Kurasa dilakukan saat orang ini melayang karena terkena tendanganmu tadi, Kinanti," kata Suto Sinting sambil matanya memandang ke alam sekitarnya.

"Sial! Kita terlambat mengorek keterangan dari mulutnya!" geram Suto Sinting yang merasa penasaran karena belum mengetahui dengan pasti siapa orang yang menyuruh si kurus untuk membunuh Kinanti itu.

Namun gadis cantik berdada montok itu berkata, "Aku yakin ia orang Bukit Kasmaran, anak buah si Merak Cabul."

Pendekar Mabuk kerutkan dahi karena merasa pernah mendengar nama Merak Cabul. Hatinya bahkan berkata, "Kalau tak salah Bukit Kasmaran adalah asal perguruannya Dinada atau Milasi?" Dan seraut wajah cantik yang mempunyai jurus maut dalam tiupan serulingnya terbayang dalam ingatan Pendekar Mabuk, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gelang Naga Dewa).

Setelah sama-sama memeriksa keadaan sekeliling mencari pembunuh si kurus itu, mereka kembali bertemu di dekat mayat tersebut. Suto Sinting sempat ajukan tanya kepada Kinanti.

"Dari mana kau yakin kalau orang ini adalah orang si Merak Cabul?"

"Karena hanya Merak Cabul dan beberapa orangnya yang mempunyai Racun Serap Darah pada pisau mereka," jawab Kinanti.

Setelah merenung sejenak, Pendekar Mabuk segera perdengarkan suaranya yang mirip orang menggumam itu, "Apa kira-kira alasan si Merak Cabul, sehingga mengutus orang kurus itu untuk membunuhmu?"

"Entahlah," jawab Kinanti dengan wajah masih kaku karena menahan kemarahan. "Yang jelas, aku tak pernah bentrok dengan si Merak Cabul, walau aku selalu menunjukkan sikap tak suka kepadanya."

"Kepada pihak Ratu Jiwandani apakah ada masalah dengan si Merak Cabul?"

"Pernah terjadi bentrokan kecil antara sang Ratu dengan Merak Cabul gara-gara sebuah kitab pusaka. Bentrokan itu sebenarnya hanya salah paham si Merak Cabul yang menyangka Kitab Jati Mulya ada di tangan sang Ratu. Padahal sang Ratu tidak tahu-menahu tentang kitab tersebut."

"Mengapa Merak Cabul menuduh Ratu Jiwandani memiliki Kitab Jati Mulya? Ada hubungan apa antara Ratu Jiwandani dengan pihak Merak Cabul?"

"Dulu, Ratu Jiwandani bersahabat akrab dengan Nyai Guntur Ayu, ketua perguruan Bukit Kasmaran. Ketika Nyai Guntur Ayu tewas, Kitab Jati Mulya lenyap, entah siapa yang mencurinya. Kecurigaan kuat si Merak Cabul, kitab itu dititipkan kepada Ratu Jiwandani, padahal sama sekali tidak."

Suto menggumam panjang dan pelan sambil angguk-anggukkan kepala. Agaknya ia sedang renungi rangkaian cerita itu. Sampai akhirnya ia temukan satu kesimpulan yang masih meragukan bagi hatinya sendiri. "Apakah... apakah menurutmu ada kemungkinan penyerangan yang membumihanguskan Bukit Birawa itu dilakukan oleh si Merak Cabul?"

"Maksudmu, Merak Cabul yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat itu?"

Suto Sinting angkat bahu, "Mungkin saja!"

"Hmmm... kalau begitu aku harus menyerang Bukit Kasmaran dan bikin perhitungan dengan Merak Cabul!" geram Kinanti dengan kedua tangan menggenggam kuat-kuat.

"Nanti dulu, itu baru sebuah dugaan yang belum pasti. Kita harus punya bukti jika ingin bertindak. Seandainya..."

Kata-kata Suto terhenti karena hembusan angin dari arah belakangnya. Angin yang terasa mendekatinya itu cukup besar sehingga naluri Suto pun segera bekerja. Kakinya menyentak ke tanah dan tubuhnya melayang ke samping dalam gerakan lompat yang sangat cepat. Wuuut!

Jleeg...!

Sesosok tubuh berdiri di depan Kinanti pada saat Suto Sinting mendaratkan kakinya ke tanah. Sosok tubuh itu milik seorang nenek berjubah merah, rambutnya abu-abu dikonde, bertubuh kurus kerempeng, berusia sekitar enam puluh tahun.

Melihat kehadiran nenek kerempeng itu mata Suto Sinting segera terkesiap, sedikit mengecil dengan dahi berkerut, karena ia merasa pernah jumpa dengan nenek itu. Ingatan Suto pun kembali ke sebuah pertarungan yang dilakukan oleh nenek itu dengan seorang berbadan gemuk yang dikenal dengan nama si Jubah Kapur.

"Nyai Songket...!" gumam Suto Sinting bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu begitu ingatannya menemukan sepotong nama tersebut.

Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan gumaman Suto Sinting. Matanya yang cekung tertuju pada Kinanti. Agaknya gadis cantik itu juga sudah mengenal Nyai Songket, sehingga ia segera menyapa dengan sikap tak ramah.

"Rupanya kaulah yang membunuh orang kurus itu, Nyai Songket!"

"Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang untuk bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang aku menuntut balas atas kematian murid kesayanganku itu, Kinanti!"

Suto Sinting sempat membatin, "Bahaya! Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya. Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket."

"Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan diikuti oleh pandangan mata Kinanti. Nenek kurus itu bicara lagi, "Satu nyawa muridku kau binasakan, maka tebusannya adalah seratus nyawamu, Kinanti!"

"Kalau begitu kaulah yang menghancurkan orang-orang itu, Nyai Songket! Keparat kau! Heeeah...!"

Kinanti menyerang lebih dulu dengan satu lompatan cepat menerjang ganas. Tendangan kaki Kinanti ditangkis dengan tangan kanan Nyai Songket, lalu tangan kirinya menghantam pangkal paha Kinanti. Untung tangan Kinanti dengan cepat mampu menahan pukulan tersebut, hingga pangkal pahanya selamat dari hantaman kuat Nyai Songket.

Plak...! Plak, plak, buuhg...!

Nyai Songket terhantam dadanya oleh tangan kiri Kinanti. Pukulan bertenaga dalam itu membuat tubuh kurus itu melayang terpental ke belakang dan jatuh terjungkal di semak-semak berduri. Gusraaak...!

"Bangsat!" pekik Nyai Songket yang segera menghentakkan telapak tangannya ke tanah dan tubuhnya melenting di udara. Dalam kejap berikut ia sudah berdiri dengan kaki merenggang dan kedua tangannya terangkat ke samping kanan kiri. Rupanya pukulan itu telah melukai bagian dalamnya, sehingga wajah Nyai Songket tampak sedikit pucat, hidungnya berdarah walau tak seberapa banyak.

"Haaahhh...!" Nyai Songket mengerang panjang, seluruh tubuhnya mengeras. Lambat laun tampak keajaiban terjadi pada dirinya. Ujung-ujung jari tangannya keluarkan kuku runcing dan tiap kuku memancarkan warna merah bening bagaikan gumpalan lahar panas. Asap mengepul tipis dari tiap kuku yang tumbuh secara ajaib itu.

"Kinanti, mundurlah! Dia berbahaya untuk kau lawan!" ujar Suto Sinting sambil mendekati gadis itu.

"Minggirlah, Suto! Ini saatku membalas dendam atas kekejiannya yang telah membumihanguskan tempatku!"

"Kurasa bukan dia orangnya. Dia tidak pergunakan senjata Sabuk Gempur Jagat!"

Kinanti segera sadar akan hal itu. Ia bermaksud menuruti saran Pendekar Mabuk dan menyerahkan pertarungan itu kepada sang pendekar tampan. Tetapi tiba-tiba mereka berdua dibuat kalang kabut oleh kilatan cahaya merah yang datang beruntun dan berkelok-kelok seperti tali-tali bercahaya merah. Kilatan cahaya merah yang jumlahnya sepuluh bias itu melesat bagai ingin menyergap mereka berdua setelah Nyai Songket gerakkan kedua tangannya secara serabutan dengan teriakan melengking tinggi.

"Heeeaaahh...!"

Clap, clap, clap, clap, clap...!

Gerakan sinar merah itu begitu cepat dan membingungkan sehingga Kinanti sempat dibuat panik oleh keadaan seperti itu. Namun Suto Sinting mencoba menghadangnya dengan mengibaskan bumbung tuaknya di atas kepala. Tali bumbung dipegang dan bumbung bambu itu berputar cepat di atas kepala hingga timbulkan bunyi yang mendengung.

Wuuuung, wuuung, wuung...!

Kibasan bumbung yang berputar itu ternyata menghasilkan gelombang penangkis yang tak terlihat bentuk dan besarnya. Namun ketika sinar-sinar merah itu mendekati bumbung tuak tersebut, gerakan selanjutnya sangat tak diduga- duga oleh Nyai Songket. Cahaya merah itu membalik arah dan kini berdatangan menyergap dirinya sendiri dengan kecepatan tinggi dan bentuk sinarnya berubah lebih besar hingga yang semula menyerupai tali kini menjadi seperti tambang.

"Bangsat kurap, heaaah...!" Nyai Songket terdesak, mau tak mau ia lepaskan pukulan dari dua telapak tangannya. Kedua telapak tangan itu disentakkan ke depan dan keluarlah sinar hijau berukuran besar. Sinar hijau itulah yang dihantam oleh kilatan-kilatan sinar merahnya sendiri.

Blar, blegaaarrr...!

Bumi terguncang, pepohonan nyaris tumbang, hentakan gelombang ledak tadi cukup besar dan kuat. Nyai Songket terlempar jauh dan membentur sebatang pohon besar. Suto Sinting dan Kinanti terlempar tunggang langgang tak bisa kendalikan keseimbangan tubuh. Mereka sama-sama terbanting di semak-semak ilalang. Kejap berikutnya terdengar suara pohon tumbang.

Kraaakk... brrruuk...!

"Aaaauhg...!" terdengar pekik Nyai Songket dalam suara gemuruh gema ledakan yang masih tersisa itu.

Suto dan Kinanti sama-sama belum bisa melihat keadaan Nyai Songket. Mereka masih terkulai lemas dengan dada terasa sesak.

"Gila! Jurus apa yang dipergunakan si dukun teluh itu?!" gumam Kinanti dalam keadaan suara berat karena menahan rasa sakit di dadanya.

Setelah ia diberi minuman tuaknya Suto, rasa sakit itu pun menjadi lenyap, ia bisa berdiri dengan tubuh terasa segar. Suto Sinting sudah lebih dulu mengalami kelegaan seperti itu, sehingga ia bisa menuangkan tuak pelan-pelan ke mulut Kinanti.

Kini keduanya sama-sama terperanjat melihat Nyai Songket tertimpa pohon yang begitu besar. Tubuh kurus kerempeng itu tak bisa bergerak lagi. Mulutnya semburkan darah dalam keadaan badan tengkurap. Hidung dan telinganya pun keluarkan darah segar. Keadaan nenek renta itu sudah tidak bernyawa lagi. Rupanya di samping ia tertimpa pohon besar, lehernya tertusuk tonggak runcing bekas patahan pohon kering. Tonggak itu menghujam dari leher hingga tembus ke tengkuk, sedangkan dari batas punggung sampai kaki tertimpa pohon, tak dapat dilihat lagi karena besarnya batang pohon tersebut.

* * *

TIGA

PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya, orang kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia menyuruh orang kurus itu untuk membunuh Kinanti.

Suto akhirnya mengalah, tak mau berdebat panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu. Sebab menurut Suto, Merak Cabul tidak terlibat dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa itu. Jika benar orang yang menyerang istana Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah orangnya.

"Pihakku tidak ada hubungannya dengan Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang Naga untuk menyerang istana kami! Pasti serangan itu datang dari si Merak Cabul yang masih menyimpan kecurigaan tentang tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"

Kinanti ngotot sekali, sehingga Suto Sinting akhirnya hanya angkat bahu dan mengikuti jejak Kinanti menuju ke Bukit Kasmaran. Untuk mencapai ke Bukit Kasmaran mereka harus melewati beberapa desa. Satu di antaranya adalah desa yang pernah disinggahi Suto saat melakukan perjalanan menuju Bukit Bunting bersama Tembang Selayang. Desa itu bernama desa Panganbumi yang mempunyai kehidupan lebih maju dari desa-desa lainnya.

Banyak keluarga saudagar yang tinggal di desa itu, karena letaknya tak begitu jauh dari kotaraja. Suto Sinting pun mengajak Kinanti untuk singgah di sebuah kedai milik Ki Punjul yang dulu disinggahi Suto dengan Tembang Selayang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kapak Setan Kubur).

Petang belum datang, tapi suasana desa sudah sepi. Kesepian itu menimbulkan rasa curiga di hati Suto Sinting. Maka setelah ia mengisi bumbung tuaknya dengan tuak baru, ia pun segera bertanya kepada Ki Punjul,

"Ki Punjul, malam belum tiba tapi mengapa suasana desa sudah sesepi ini? Dulu ketika aku datang dan bermalam di sini keadaan tidak sesepi ini, bukan?"

"Hmmm... iya. Keadaan dulu dan sekarang berbeda, Pendekar Mabuk."

"Apa yang membuatnya menjadi berbeda?"

"Penduduk desa kami dihantui oleh perasaan takut, yaitu takut mengalami nasib seperti desa Kijangan."

Bukan hanya Suto yang kerutkan dahi, melainkan Kinanti ikut kerutkan dahi pertanda merasa heran mendengar ucapan Ki Punjul.

"Apa yang terjadi terhadap desa Kijangan itu, Ki?" tanya Suto dengan rasa penasaran.

"Desa itu sekarang sudah menjadi arang. Seluruh bangunan dan rumah-rumah penduduk hangus dilalap api. Bahkan penduduknya sebagian lari mengungsi ke desa lain, sebagian lagi mati terbakar di tempat itu. Yang mati terbakar separuh bagian lebih."

Kini sepasang mata Kinanti menatap Pendekar Mabuk. Mata si pendekar tampan itu pun menatap Kinanti, seakan keduanya menampakkan sikap semakin ingin tahu. Kinanti tak sabar dan segera ajukan tanya kepada Ki Punjui,

"Apa yang membuat desa itu terbakar habis, Ki?"

"Seseorang telah mengamuk kepada Lurah Kijangan. Ia menggunakan pusaka bernama Sabuk Gempur Jagat, dan... begitulah akhirnya, desa itu habis terbakar oleh kekuatan sakti Sabuk Gempur Jagat!"

Debar-debar dalam dada Kinanti bagaikan sesuatu yang ingin menjebolkan tulang dada. Napas pun mulai terasa berat, karena dendam Kinanti terhadap si pemegang Sabuk Gempur Jagat mulai meluap-luap.

Pendekar Mabuk mencoba bersikap tenang agar Kinanti ikut terpengaruh oleh ketenangannya. Kejap berikut barulah Suto Sinting ajukan tanya kembali kepada Ki Punjul.

"Siapa orang yang memegang Sabuk Gempur Jagat itu, Ki Punjul? Apakah kau tahu namanya?"


"Tulang Ular?!" Kinanti menggumam heran.

Suto Sinting bertanya, "Tulang Ular atau Tulang Naga?"

"Maksud saya... Tulang Ular Naga. Eh... entahlah, saya kurang jelas soal nama itu. Mungkin yang mereka maksud Tulang Naga, mungkin juga Tulang Ular. Yang jelas mereka sebut-sebut nama yang pakai kata 'tulang', begitu."

"Pasti yang dimaksud adalah Tulang Naga," ujar Pendekar Mabuk kepada Kinanti.

Gadis cantik berpinjung hijau beludru itu diam saja. Kini ia menjadi termenung lama menimbang-nimbang langkahnya. Hatinya sempat dibuat dongkol oleh ketidakpastian antara Tulang Naga dan Merak Cabul. Siapa pemegang Sabuk Gempur Jagat itu sebenarnya? Sukar sekali dipastikan dalam keadaan serba tak jelas begitu.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," kata Kinanti. "Agaknya malam ini kita harus bermalam di sini untuk menentukan langkah kita, Suto."

"Aku tak keberatan," jawab Suto Sinting. "Ki Punjul juga menyediakan kamar untuk penginapan para tamunya."

Ketika hal itu dikemukakan Ki Punjul, orang berusia di atas empat puluhan tahun itu berkata, "Tinggal satu kamar yang masih kosong. Apakah kalian ingin menggunakan kamar itu untuk berdua? Jika mau begitu, silakan saja."

Kinanti menatap Suto Sinting dengan mulut terkatup rapat. Tak ada senyum seulas pun di bibir mungil menggemaskan itu. Suto Sinting yang nyengir sambil garuk-garuk kepala serta berkata dengan gumam lirih,

"Sial. Hanya ada satu kamar."

"Tak usah berlagak mengeluh. Hatimu girang kalau kita tinggal satu kamar, bukan?"

"Dugaanmu mengada-ada," jawab Suto sambil tertawa kecil.

"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar Kinanti agak ketus.

"Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar padamu?"

"Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu mengembang makin mekar dengan suara tawa yang mengikik lirih.

Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki berbadan besar baru saja memasuki kedai tersebut dan segera mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu berwajah buas, penuh dengan cambang dan kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.

Orang yang berikat kepala kulit macan tutul itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua tak dikancingkan bagian depannya, sehingga sebilah golok besar yang terselip di sabuk hitamnya terlihat jelas. Sedangkan orang yang tidak memakai ikat kepala itu mengenakan pakaian serba abu-abu, dari baju sampai celananya. Dadanya yang berbulu tampak jelas karena bajunya yang tanpa lengan itu tidak dikancingkan, ia menggenggam sebilah kapak dua mata yang segera diletakkan di atas meja dengan kasar, menimbulkan suara mengagetkan, hingga memancing perhatian orang lain.

"Ki, sediakan kami arak putih dua poci!" seru orang berpakaian abu-abu kepada Ki Punjul dengan keras dan kasar. "Cepat, ya! Jangan lamban. Kalau lamban kuobrak-abrik kedaimu ini!"

"Bba... baik. Akan segera kusediakan, Tuan," Ki Punjul tampak ketakutan.

"Sabrawi," ujar si baju abu-abu kepada temannya setelah ia melirik ke arah Kinanti dengan nakal, ia berkata melanjutkan ucapannya tadi setelah temannya memandangnya. "Agaknya kita malam ini akan pesta kehangatan. Ada mangsa emas di sini, Sabrawi! Ha, ha, ha, ha...!"

Orang berikat kepala kulit macan tutul itu ikut tertawa setelah melirik ke arah Kinanti. Wajah Kinanti lurus ke depan tak mau memperhatikan ke arah kedua orang kasar tersebut, sedangkan Suto tampak tenang dan sesekali sunggingkan senyum sambil berlagak memainkan cangkir tuaknya.

"Kurasa malam ini kita memang bernasib mujur sekali, Polang! Sudah hampir satu purnama aku tidak menikmati kehangatan seorang wanita karena sibuk mengejar pemegang Sabuk Gempur Jagat. Sekaranglah saatnya aku istirahat dan menikmati kehangatan yang kurindukan, sebelum kita menemukan si Jejak Setan dan merebut sabuk pusaka itu!"

Senyum Suto Sinting segera lenyap. Kini ia melirik Kinanti dengan keheranan tersimpan di ujung lirikannya. Kinanti pun sedikit kerutkan dahi pertanda memendam rasa jengkel yang mengusik hatinya. Pendekar Mabuk segera bicara pelan kepada gadis berjubah kuning gading itu.

"Apakah kau tahu, siapa Jejak Setan itu?"

"Murid Nyai Pegat Raga dari Lembah Petang," bisik Kinanti pelan sekali, tapi mengejutkan hati Suto Sinting dan membuat wajah tampan itu berkerut dahi semakin tajam.

"Maksudmu, Jejak Setan itu muridnya si Pelacur Tua?"

"Benar. Apakah kau mengenalnya?"

"Aku telah mengenalnya," bisik Suto Sinting lirih, dan terbayang peristiwa yang terjadi di Bukit Kemenyan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua).

Pendekar Mabuk segera membatin, "Benarkah sabuk pusaka itu ada di tangan Jejak Setan?" Kata batinnya segera dihentikan karena kedua orang kasar yang ternyata bernama Polang dan Sabrawi itu segera unjuk tingkah dengan melemparkan sebutir kacang tanah yang masuk ke cangkir minuman Kinanti. Pluuung...!

"Ha, ha, ha, ha...!" mereka tertawa kegirangan. Kinanti diam saja, sedangkan Suto Sinting mulai waswas terhadap sikap Kinanti yang bisa mengamuk membabi buta karena memang sudah lama menahan kemarahan dalam hati.

"Hei, Nona Cantik...," sapa Polang dengan seringai memuakkan. "Tolong lemparkan kemari kacang itu, aku salah lempar."

Kacang dalam cangkir diambil dengan tenang. Digenggam sesaat, lalu dilemparkan ke arah Polang tanpa memandang kedua orang tersebut. Wuuut...! Lemparan kacang kenal jidat Polang. Deess...!

"Aaauw...!"

Brrruk...! Polang jatuh terjungkal ke belakang membuat Sabrawi terjengkang pula dan jatuh tertindih tubuh Polang hingga terdengar suaranya yang tergencet berat itu.

"Heegh...!"

Gadis cantik tanpa senyum itu tetap diam di tempat tanpa berpaling sedikit pun, sementara semua mata pengunjung kedai tertuju pada Polang dan Sabrawi yang saling berebut untuk segera bangkit. Suto Sinting hanya sunggingkan senyum tipis, sambil membatin dalam hatinya,

"Boleh juga pelajaran dari Kinanti itu. Aku yakin sebelumnya ia telah tanamkan tenaga dalamnya pada kacang tersebut, sehingga ketika kenai kening orang berbaju abu-abu itu mampu membuat kepala orang tersebut bagaikan ditendang kaki kuda. Masih untung kepala itu tak sampai pecah. Hmmm... diam-diam gadis ini punya simpanan yang boleh juga dibanggakan. Oh... sekarang keduanya sudah berdiri, agaknya mereka marah kepada Kinanti dan akan menyerang bersama. Aku harus siaga melindungi Kinanti!"

"Gadis setan!" maki Polang yang keningnya menjadi biru legam dan nyaris tidak dipercaya oleh pandangan para pengunjung kedai.

"Hanya terkena sebutir kacang tanah saja bisa menjadi sememar itu?" ucap salah seorang pengunjung secara bisik-bisik.

Sabrawi tidak sabar, ia segera mendekati Kinanti dan menampar wajah Kinanti seenaknya saja.

Wuuut...! Taaab...!

Tamparan tangan kanan Sabrawi ditangkap oleh Kinanti. Pergelangan tangan itu diremasnya kuat-kuat dengan curahan tenaga dalam, hingga beberapa orang yang ada di dekat mereka mendengar suara tulang diremukkan.

Krraaaak...!

"Aaauh...!" Sabrawi menjerit kesakitan, sedangkan Kinanti segera melepaskan. Wajahnya tetap memandang lurus, seakan tidak melirik ke arah lawannya sedikit pun. Tangan yang meremas tulang pergelangan Sabrawi itu segera menyentak dan tubuh Sabrawi bagaikan didorong oleh tenaga kuda dengan cepat.

Wuuut...! Buuurkk...!

"Heegh...!" Kali ini yang terpekik tertahan adalah Polang, karena tubuhnya tertabrak badan Sabrawi. Ia jatuh terkapar dan tubuh Sabrawi menjatuhinya dengan telak.

"Anjing kurapan!" sentak Sabrawi sambil bangkit sempoyongan. "Heeeaat...!"

Sabrawi hendak menyerang dengan satu tendangan yang disertai lompatan pendek. Tetapi jari tangan Suto Sinting segera melepaskan jurus 'Jari Guntur' berupa sentilan kecil ke arah Sabrawi.

Teees...! Buuhg...!

"Uhhg...!" Sabrawi bagaikan sukar bernapas lagi. Matanya mendelik karena ulu hatinya terkena sentilan bertenaga dalam dari jarak jauh. Tubuh itu terlempar mundur kembali dan jatuh menindih Polang yang baru saja mau bangkit berdiri.

"Heehg ..!" Polang terpekik dengan suara tertahan, matanya mendelik karena perutnya kejatuhan tubuh besarnya Sabrawi.

"Setan binal! Bunuh dia!" teriak Polang dengan wajah kian beringas.

"Tanganku tak bisa dipakai memegang senjata!" kata Sabrawi sambil menyeringai merasakan sakit akibat tulang pergelangan tangannya remuk.

Polang tak sabar, segera sambar kapaknya di meja dan menyerang dengan hantaman kapak dari atas ke bawah. Wuuut...!

Jraaak...!

Kapak menghantam bangku tempat duduk Kinanti. Gadis itu telah lenyap dari tempatnya. Rupanya sebelum kapak menghantamnya, ia sudah lebih dulu melesat dan berpindah ke tempat lain dengan satu sentakan kaki ke lantai. Gerakannya cukup cepat sehingga mirip orang menghilang. Kapak Polang menancap di bangku dengan kuatnya, sukar dicabut kembali dengan cepat. Sementara itu, Suto Sinting masih duduk di bangku tersebut dengan tenangnya, padahal kapak itu menancap dalam jarak empat jengkal dari pahanya.

Melihat ketenangan Suto Sinting, Polang menjadi semakin berang. Maka begitu kapak berhasil dicabut, langsung dihantamkan ke punggung Suto Sinting. Wuuut...! Ternyata kaki Suto Sinting bergerak lebih cepat dari gerakan kapak. Kaki itu menendang ke dada Polang. Dug...!

"Uuhg...!" mulut Polang pun segera semburkan darah segar dalam keadaan tubuh melayang ke belakang dan menabrak Sabrawi hingga keduanya jatuh saling tindih kembali.

"Sekali lagi kalian coba mengganggu kami, akan kubuat patah batang leher kalian!" hardik Suto dalam keadaan tetap duduk di tempat.

Sabrawi segera berkata kepada Polang, "Cepat tinggalkan tempat ini dan laporkan kepada ketua kita, Polang!"

Dengan langkah sempoyongan, akhirnya mereka segera meninggalkan kedai. Tapi di pintu keluar Polang sempat tinggalkan ancaman, "Tunggu pembalasanku!"

* * *

EMPAT

MENURUT Ki Punjul, Sabrawi dan Polang adalah orang Tanah Hitam yang dikuasai oleh seseorang yang berjuluk Maha Syiwa. Tetapi yang jadi pemikiran Suto dan Kinanti bukan nama Maha Syiwa melainkan nama si Jejak Setan. Mereka dalam kebingungan mencari jawaban yang pasti; siapa pemegang Sabuk Gempur Jagat sebenarnya? Tulang Naga atau Merak Cabul, atau pula si Jejak Setan seperti kata kedua anak buah Maha Syiwa itu.

"Ke mana langkah kita pagi ini?" tanya Suto Sinting saat mereka selesai menikmati sarapan pagi; sebungkus nasi jagung dan dua cangkir tuak untuk Suto.

Wajah Kinanti tampak lebih cantik di pagi itu. Suto mengakui dalam hatinya, bahwa kecantikan Kinanti kian tampak jelas jika gadis itu sedikit merapikan diri selesai mandi. Wajah itu kelihatan bersih dan lembut, bibirnya tampak selalu basah walaupun tanpa gincu seoles pun.

Sayang wajah yang semestinya berseri-berseri itu kurang ceria karena kebingungan menentukan langkah selanjutnya. Bahkan pertanyaan Suto tadi dibiarkan saja tanpa jawaban. Kinanti membisu seribu kata dengan pandangan mata menerawang lurus ke arah meja.

Saat matahari mulai meninggi, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun datang dengan terhuyung-huyung memasuki kedai itu. Ia disambut oleh Ki Punjul dengan wajah tegang. Agaknya Ki Punjul sudah mengenali lelaki berpakaian compang-camping dalam keadaan tubuh kotor dan banyak luka. Wajahnya memar membiru dan bibirnya bagian bawah terdapat luka pecah akibat hantaman keras. Sebagian dada serta lengan kanan juga tampak memar kehitaman bagaikan luka bakar yang membuat kulitnya sedikit melepuh.

"Bagor, apa yang terjadi?!" Ki Punjul segera memapah lelaki itu.

"Tolong, tolong aku, Kang Punjul...!" lelaki bernama Bagor itu terengah-engah bagaikam hampir kehabisan napas, ia didudukkan di salah satu bangku oleh Ki Punjul.

"Mengapa kau sampai terluka separah ini, Bagor?! Apa yang terjadi pada dirimu? Ceritakanlah!"

Dengan susah payah Bagor yang terluka parah itu mencoba bicara kepada Ki Punjul. Suto Sinting dan Kinanti mengikuti pembicaraan itu dari tempat duduk mereka. Tak satu pun dari mereka yang bergerak mendekat. Namun wajah mereka sama-sama memancarkan rasa ingin tahu cukup besar.

"Seseorang... seseorang telah mengamuk di perguruanku, ia hanya seorang diri, tapi... tapi ia mampu membuat perguruanku rata dengan tanah. Sebagian besar teman-temanku mati di tangannya. Bahkan... bahkan Eyang Guruku sendiri tak tertolong jiwanya. Beliau tewas dalam keadaan hancur dihantam memakai sabuk... sabuk yang mempunyai kekuatan dahsyat."

Kinanti berbisik kepada Suto, "Kalau orang itu tidak dalam keadaan terluka parah, ia akan mampu menceritakan ciri-ciri orang yang menyerangnya memakai sabuk dahsyat itu."

Suto Sinting paham maksud Kinanti. Gadis itu secara tak langsung menyuruh Suto segera menyembuhkan orang tersebut. Maka tanpa bicara lagi Pendekar Mabuk segera dekati Bagor dan meminumkan tuak dari bumbungnya.

Ki Punjul berkata, "Tidak usah repot-repot, Pendekar Mabuk. Aku masih punya tuak untuknya. Biar kuambilkan tuak dari dapur saja."

"Tuak yang sudah masuk ke bumbungku mempunyai khasiat penyembuhan cukup mujarab, Ki. Berbeda dengan meminum tuak dari cangkirmu. Hmmm... siapa orang ini sebenarnya?"

"Bagor adalah adik sepupuku, Pendekar Mabuk."

"Aku akan menolong adik sepupumu, Ki Punjul. Suruh dia buka mulut dan meneguk tuakku ini."

Kinanti memperhatikan dari tempat duduknya. Saat itu kedai belum terlalu ramai. Hanya ada empat orang pembeli selain Suto dan Kinanti. Keempat orang itu juga memperhatikan keadaan Bagor dengan tegang dan perasaan ngeri. Beberapa saat setelah Bagor meneguk tuaknya Suto, keadaan luka mulai tampak membaik. Napasnya tidak terasa sakit lagi jika dihela, ia mulai bisa bicara dengan lancar menjelaskan apa yang terjadi di perguruannya. Kinanti sendiri ikut nimbrung mendekat dengan sesekali mengajukan pertanyaan kecil kepada Bagor.

"Apa yang dituntut oleh tamu ganas terhadap pihak perguruanmu itu, Bagor?" tanya Pendekar Mabuk.

"Aku tidak tahu dengan pasti, Pendekar Mabuk," jawab Bagor yang tadi sudah diberi tahu oleh Ki Punjul siapa kedua tamu mudanya itu.

"Apakah kau yakin yang dipergunakan oleh tamu itu adalah senjata sabuk? Apakah bukan cambuk atau sejenisnya?"

"Tidak. Aku melihat saat ia melepaskan sabuknya itu dan menghantamkan ke arah tiga pengawal Guru. Sabuknya itu bukan hanya menghancurkan tubuh tiga pengawal Guru, namun juga menyebarkan api yang membakar pondok kami. Beberapa temanku ikut terbakar dan apinya sukar dipadamkan. Aku pun ikut kena hembusan angin sabuk itu. Hembusannya menghadirkan gelombang hawa panas yang mampu melelehkan pedang serta tombak kami."

Kinanti melirik Suto Sinting. Pandangan mata mereka saling beradu sesaat. Kinanti sempat berbisik lirih kepada Suto Sinting, "Apakah benar demikian kedahsyatan sabuk itu?"

"Aku kurang tahu soal kedahsyatannya. Tapi agaknya orang itulah yang memegang Sabuk Gempur Jagat."

Bagor berkata kepada Ki Punjul, "Tanah di sekitar padepokan kami menjadi retak serta sebagian longsor dan beberapa temanku ada yang mati tertimbun longsoran tanah itu, atau terkubur dalam keretakan tanah tersebut, Kang. Aku sendiri hampir terkubur masuk ke dalam retakan tanah kalau tak segera melompat menghindari bahaya itu."

Kinanti ajukan tanya, "Bagaimana ciri-ciri sabuk orang itu?"

"Ak... aku tak begitu jelas. Tapi sempat kulihat sabuk itu sepertinya dari kulit ular berwarna merah kehitaman. Jika disabetkan memancarkan sinar merah."

Kinanti berbisik kembali kepada Suto, "Begitukah ciri-ciri Sabuk Gempur Jagat?"

"Aku belum pernah melihatnya. Tak ada yang menjelaskan padaku tentang ciri-cirinya."

Kinanti menghempaskan napas sedikit kecewa dengan jawaban Suto Sinting. Tetapi kejap berikut Suto segera ajukan tanya kepada Bagor yang sudah tampak lebih sehat lagi itu. "Bagaimana ciri-ciri orang yang mengamuk dengan menggunakan sabuk itu?"

"Ciri-cirinya...?" Bagor merenung membayangkan orang yang dimaksud. "Hmmm... seingatku dia sudah cukup tua. Rambutnya putih, wajahnya angker, badannya kurus, matanya tampak buas."

"Mengenakan jubah apa?"

"Hmmm... jubahnya... jubahnya kalau tidak salah berwarna abu-abu lusuh," jawab Bagor sambil menatap Pendekar Mabuk.

"Tak salah lagi," ucap Suto sambil memandang ke arah luar kedai.

"Tak salah bagaimana maksudmu?" desak Kinanti.

"Itu ciri-ciri si Tulang Naga!"

"Kalau begitu kita segera pergi mengejar orang tersebut!"

Suto Sinting sempatkan diri bertanya kepada Bagor, "Kapan perguruanmu diserang?"

"Tad... tadi malam. Menjelang fajar aku melarikan diri kemari."

"Saat kau lari apakah orang itu masih ngamuk di sana?"

"Masih, ia masih menghancurkan ruang pemujaan."

"Cepat kejar dia, Suto!" seru Kinanti tak sabar lagi. Blaas...!

Suto dan Kinanti akhirnya melesat pergi tinggalkan kedai Ki Punjul. Sebelum mencapai perbatasan desa, mereka terhenti seketika. Pendekar Mabuk yang mengawali hentikan langkah dan menahan lengan Kinanti.

"Ada apa?" Kinanti merasa heran terhadap sikap Suto yang menghentikan langkah.

Suto Sinting nyengir dan garuk-garuk kepala. "Siapa yang bodoh sebenarnya? Kau atau aku?"

"Apa maksudmu bertanya begitu?" Kinanti kerutkan dahi.

"Kita mau ke mana sebenarnya, Kinanti?"

"Ke perguruannya si Bagor."

"Kau tahu di mana letak perguruannya?"

Kinanti diam sesaat, lalu gelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu di mana letak perguruannya berada. Kita lupa menanyakan tempat itu,"

Suto Sinting tertawa geli sendiri. "Kau saja yang kembali ke kedai dan menanyakan kepada Bagor."

"Itu soal mudah. Tapi ada satu persoalan yang harus kau selesaikan sendiri."

"Persoalan apa lagi?" Kinanti agak jengkel.

"Ki Punjul belum kita bayar! Biaya makan, minum, dan bermalam belum kita lunasi. Ki Punjul bisa teriak 'maling' kepada kita, Kinanti."

"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja kau selesaikan urusan itu."

"Mana mungkin bisa kuselesaikan?"

"Apakah kau tak becus menghitung jumlah biaya makan kita?!"

"Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!"

"Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?"

"Tentu saja kau yang harus bayar, karena kau yang mendesak untuk bermalam di situ."

"Kau pikir sekarang aku pegang uang? Sepeser pun aku tak pegang uang, Suto."

"Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki Punjul, dagangan habis, tuak habis, tapi uang tak dapat," Suto Sinting garuk-garuk kepala.

"Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara apa adanya kepada Ki Punjul. Kurasa dia tidak keberatan kalau kita menghutang kepadanya."

Malu tak malu mereka berdua menemui Ki Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya. Untung Ki Punjul orang yang baik hati, sehingga hal itu tidak dipersoalkan. Kinanti sempat pula tanyakan letak perguruan Bagor, lalu mereka segera pergi ke perguruan tersebut mengejar si pemegang Sabuk Gempur Jagat.

Tetapi sampai di tempat tujuan, ternyata keadaan sudah sepi. Tak ada manusia yang hidup satu pun. Tak ada mayat yang utuh tanpa luka bakar. Bangunan-bangunan hancur menjadi rongsokan kayu arang. Wajah-wajah mereka sukar dikenali karena luka bakar yang amat parah. Bahkan di sana-sini terdapat serpihan daging manusia yang sudah menghangus pertanda korban itu mati dalam keadaan hancur.

Keadaan itu membuat wajah Kinanti menahan duka. Ia teringat keadaan di Lembah Birawa yang sama persis dengan keadaan di perguruannya Bagor itu. Melihat ciri-ciri kehancuran tersebut, Kinanti dan Suto Sinting yakin bahwa pelakunya memang orang yang memegang Sabuk Gempur Jagat. Bongkahan tanah retak dan longsor bagaikan sisa-sisa kiamat di tempat itu, sama persis dengan sisa-sisa kiamat di Lembah Birawa.

"Tulang Naga...! Aku yakin pelakunya adalah si Tulang Naga, orang berjubah abu-abu, berbadan kurus, berambut putih, dan berwajah angker itu!" geram Suto Sinting sambil pandangan matanya menerawang jauh.

"Ke mana arah kepergiannya?"

"Sulit dilacak," jawab Suto Sinting tanpa memandang Kinanti. "Tapi melihat beberapa pohon tumbang menjauh ke arah barat, kemungkinan besar Tulang Naga menuju ke arah barat!"

"Kita coba mengejar ke sana saja!" ujar Kinanti tanpa menunggu pendapat Suto, ia langsung berkelebat ke arah barat. Suto Sinting terpaksa mengikutinya.

Mereka semakin yakin arah barat merupakan arah kepergian Tulang Naga, karena di sana tercecer beberapa potongan tubuh manusia, mayat-mayat yang mati hangus dan pepohonan yang rusak terbakar serta mengering sebagai tanda amukan tersebut berlanjut ke arah barat. Namun semakin ke barat, tanda-tanda kehancuran itu semakin menghilang, sampai akhirnya mereka berhenti di kaki sebuah bukit dan merasa kehilangan jejak.

"Kita kehilangan arah, Kinanti."

"Ya, tapi seingatku tempat ini tak jauh dari Bukit Kasmaran."

"Apakah kau masih menduga sabuk itu di tangan Merak Cabul?"

Kinanti diam sejenak, mempertimbangkan pendapatnya tentang si Merak Cabul. Kejap berikut terdengar suaranya berkata pelan bagai orang menggumam. "Merak Cabul mempunyai seorang kakek berbadan kurus dan berambut putih, ia berjuluk: Dewa Putih."

"Dewa Putih? Baru sekarang kudengar nama itu."

"Sudah lama Dewa Putih tidak muncul kedunia persilatan, ia mengasingkan diri dan tak mau ikut campur perkara duniawi lagi. Tapi siapa tahu dia berubah pikiran, atau karena sesuatu hal ia akhirnya turun ke rimba persiiatan lagi dan berhasil kuasai Sabuk Gempur Jagat itu?!"

"Jika ia dari aliran putih, ia tak akan bertindak sekejam itu."

"Barangkali atas dorongan sang cucu, bisa saja ia lakukan kekejaman seperti itu. Sebab menurut cerita yang kudengar dari salah seorang murid Bukit Kasmaran, Dewa Putih sangat sayang kepada cucu-cucunya. Tapi dari sekian cucu yang paling disayang adalah Pancasurti alias si Merak Cabul."

Pendekar Mabuk manggut-manggut merenungkan penjelasan tersebut. Tapi ia belum bisa mengambil sikap harus berbuat apa dalam keadaan serba tidak pasti itu. Setelah saling bungkam beberapa saat lamanya, akhirnya Kinanti mengambil keputusan dengan tegas.

"Aku harus ke Bukit Kasmaran. Sebelum bertemu dengan si Merak Cabul, rasa-rasanya masih belum lega hatiku."

"Aku ikut saja ke mana kau pergi," ujar Suto Sinting setelah meneguk tuaknya. "Bagiku yang penting aku harus selamatkan sabuk pusaka itu agar tidak digunakan untuk kekejaman tanpa batas."

Sambil bergerak mengikuti langkah Kinanti, Suto Sinting sempat mengingatkan gadis itu akan keadaan Ratu Jiwandani. Tapi menurut Kinanti, ia akan menghadap Ratu Jiwandani jika sudah selesaikan urusan tentang si pemegang Sabuk Gempur Jagat.

"Karena tugas utamaku dari beliau adalah menghancurkan si pemegang Sabuk Gempur Jagat sebagai pembalasan kekejamannya yang menghancurkan pihakku itu!"

"Baiklah jika memang begitu tekadmu. Kurasa Ratu-mu dalam keadaan aman bersama Ki Galak Gantung," kata Suto Sinting yang merasa tenang, tak mencemaskan sang Ratu sedikit pun.

Dan tiba-tiba langkah mereka harus terhenti karena Pendekar Mabuk tarik tangan Kinanti hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Kinanti berlagak berang walau sebenarnya dalam hati merasa senang berada dalam pelukan si tampan Suto itu.

"Apa-apaan kau ini?! Mau bertindak kurang ajar padaku, hah?!"

Suto Sinting tidak menjawab selain hanya sunggingkan senyum dan lepaskan pelukan. Tapi tangan kirinya yang menggenggam segera disodorkan. Tangan itu membuka genggamannya, dan mata Kinanti terbelalak melihat sekeping logam bergerigi tajam ada di tangan Suto.

"Senjata rahasia milik siapa itu?!"

Suto Sinting hanya angkat bahu, "Yang jelas jika tidak segera kutangkap dan dirimu kutarik dalam pelukan, benda ini sudah menembus kulit tubuhmu yang mulus itu, Kinanti."

Gadis berjubah kuning gading itu kulit wajahnya berubah merah. Bukan karena malu dipuji kemulusan kulitnya, tapi marah karena ada seseorang yang ingin membunuhnya dengan licik, ia segera pandangi keadaan sekeliling dengan mata tampak berang. Akhirnya ia pun berseru, "Jika kau ingin unjuk kesaktian, keluarlah dari persembunyianmu dan hadapilah aku! Jika kau masih bersembunyi, kuanggap kau seorang pengecut yang masih perlu berguru lagi atau pulanglah dan menyusulah kepada ibumu!"

Ejekan itu sengaja dilakukan untuk memancing kemarahan si penyerang gelap. Rupanya pancingan itu berhasil membangkitkan kemarahan si penyerang gelap, sehingga dari atas pohon berdaun rindang meluncurlah sesosok tubuh berpakaian biru muda. Wuuuttt...!

Zing, zing, zing...!

Orang yang meluncur turun dari atas pohon itu melepaskan senjata rahasianya lagi bertubi-tubi ke arah Kinanti. Dengan cepat Kinanti cabut pedangnya dan kepingan baja putih itu ditangkisnya menggunakan pedang tersebut.

Tring, tring, tring...! Jeb, jeb, jeb...!

Tiga keping logam bergerigi itu menancap pada batang pohon. Pemilik senjata rahasia itu tampak menggeram melihat serangannya dapat ditangkis Kinanti, ia memandang Kinanti dengan mata tajam, demikian pula Kinanti tak mau kalah tajam dalam memandang. Suto Sinting hanya tertegun dengan wajah tampak terperangah kagum, karena orang yang turun dari atas pohon itu berparas cantik dan bertubuh menggiurkan sekali.

"O, jadi kaulah orangnya, Sanjung Rumpi?!" Kinanti manggut-manggut dengan senyum sinisnya.

Gadis cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun itu melangkah dekati Kinanti. Dalam jarak lima langkah ia berhenti dan pandangi wajah Pendekar Mabuk. Kala itu, kekaguman Pendekar Mabuk sudah mampu disembunyikan, sehingga kini sang pendekar tampan itu sunggingkan senyum yang menawan hati.

Kinanti segera menyodokkan sikunya ke pinggang Suto dan menghardik dengan suara bisik, "Tak perlu tersenyum kepadanya!"

Hati Suto menjadi geli, tapi mulutnya berbisik kepada Kinanti dengan mata masih pandangi Sanjung Rumpi. "Siapa gadis itu, Kinanti?"

"Sanjung Rumpi, tangan kanannya si Merak Cabul."

"Ooo...," Suto manggut-manggut kecil.

"Menyingkirlah, biar kuhadapi sendiri orang ini! Kuingatkan jangan sering-sering menatapnya."

"Kenapa begitu?"

"Dia mempunyai kekuatan daya pikat di wajahnya. Kau bisa terjerat cinta jika terlalu lama memandangnya!"

"Ingin kucoba seberapa kekuatan daya pikatnya!"

"Kupenggal sendiri lehermu kalau berani coba-coba terpikat olehnya."

"Eh, galak juga kau jadinya. Baiklah aku akan menyingkir ke bawah pohon sana...," sambil Suto Sinting tertawa kecil tanpa suara, ia menyingkir kebawah pohon, tanpa melirik Sanjung Rumpi walau tahu sedang dipandangi oleh gadis berpakaian seronok warna biru tipis itu. "Kalau tak ingat Dyah Sariningrum sudahku tomplok gadis itu," katanya membatin, lalu terbayang sekilas wajah calon istrinya yang menjadi Ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi dan bergelar Gusti Mahkota Sejati itu. Bayangan wajah Dyah Sariningrum hilang setelah Suto mendengar Kinanti berseru kepada Sanjung Rumpi dengan nada tak bersahabat sama sekali.

"Rupanya kau yang membunuh lelaki kurus yang gagal membunuhku kemarin siang, Sanjung Rumpi!"

Suto Sinting pandangi pinggang Sanjung Rumpi, ternyata memang masih tersisa enam pisau kecil yang melingkar bagaikan sabuk itu. Sanjung Rumpi sendiri hanya tersenyum sinis mendengar tuduhan tersebut.

"Ya, memang aku yang menyuruh Bergala membunuhmu. Sayang ia terlalu bodoh dan layak dimusnahkan nyawanya!"

Dengan pedang masih di tangan Kinanti serukan suara kembali, "Lalu siapa yang menyuruhmu membunuhku?! Jawab!"

"Ketuaku; Merak Cabul!"

"Bagus. Dugaanku tak salah lagi sekarang. Tak perlu kutanyakan apa sebabnya, yang pasti Merak Cabul juga yang menghancurkan Lembah Birawa dengan Sabuk GempurJagat!"

"Yang kutahu kau adalah sisa dari kehancuran itu! Ketua menyuruhku membunuhmu, Kinanti! Tapi ketua juga menyuruhku mengampunimu jika kau mau serahkan Kitab Jati Mulya kepadaku!"

"Persetan dengan Kitab Jati Mulya!" geram Kinanti. "Tak ada kitab apa pun di tempatku, tapi kalian sudah membumihanguskan istana kami, membantai seluruh penghuninya, dan sekarang tinggal membayar hutang nyawa kepadaku. Heeeaat...!"

Kinanti maju dalam satu lompatan, pedang siap ditebaskan ke arah lawan. Namun Sanjung Rumpi tak mau tinggal diam saja. Ia pun bergerak dengan cepat, tangannya tiba-tiba melemparkan dua pisau beracun Serap Darah itu. Wuuut, wuuut...!

Kinanti mengibaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi pula. Trang, trang...! Kedua pisau itu mampu ditangkisnya. Kini ia menebaskan pedang dari atas ke bawah, sasarannya adalah kepala Sanjung Rumpi. Wuuut...!

Sanjung Rumpi menghindar dengan memiringkan tubuh dan membungkuk. Kakinya menyapu kaki Kinanti. Weess...! Tapi Kinanti lompat ke atas dan segera menghujamkan pedang ke punggung Sanjung Rumpi yang membungkuk. Suuut...!

"Heeaat...!" Sanjung Rumpi berguling di tanah. Kakinya berkelebat ke atas dan tubuhnya terpental bangkit dalam satu sentakan manakala pedang itu menancap di tanah. Lalu kaki itu berkelebat menendang rusuk Kinanti dengan cepat. Deeg...!

"Uuhg...!" Kinanti terguling-guling. Pedangnya tertinggal dalam keadaan menancap di tanah.

Sanjung Rumpi bermaksud mencabut pedang itu, tapi tangan Kinanti segera lepaskan pukulan bersinar merah bagaikan besi membara yang memancar lurus ke arah Sanjung Rumpi. Claaap...! Sinar tanpa putus itu kenai tangan Sanjung Rumpi yang ingin memegang gagang pedang.

Cras...!

"Aaauh...!" Sanjung Rumpi memekik kesakitan, lalu melompat mundur dalam keadaan tangannya terluka hangus pada bagian pergelangannya. Ia menyeringai kesakitan sambil pegangi tangan kanannya itu.

Kinanti segera melompat dan menyambar pedangnya. Wuuus...! Kini ia tiba di depan Sanjung Rumpi dalam jarak dua langkah. Pedangnya segera ditebaskan dari atas ke bawah. Namun baru saja tangan Kinanti terangkat, tiba-tiba seberkas sinar hijau kecil melesat dari balik sebuah pohon dan menghantam dada kanan Kinanti.

Claaap...! Dees...!

"Aaaahg...!" Kinanti terpekik panjang, tubuhnya melayang bagai terbuang ke belakang. Lalu tubuh itu roboh dalam keadaan telentang. Bluuk...!

"Aaahg...! Ahhg...! Aaaahg...!" Kinanti kelojotan, tubuhnya tersentak-sentak dengan mata mendelik dan mulut ternganga. Sinar hijau itu menimbulkan luka berbahaya di bagian dalam tubuh Kinanti. Nyawanya mau lepas dari raga. Mulutnya semburkan darah segar beberapa kali.

"Celaka!" gumam Suto Sinting dengan cemas. "Aku harus segera selamatkan Kinanti!"

Zlaaap...! Suto Sinting menyambar tubuh Kinanti yang sekarat, ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah lepas dari busur. Kinanti berhasil dibawa lari bersama pedangnya. Namun sepintas terdengar seruan seorang perempuan yang agaknya ditujukan kepada Sanjung Rumpi.

"Kejar mereka! Jangan biarkan gadis itu lolos!"

* * *

LIMA

KEADAAN Kinanti tak bisa bertahan lagi. Suto Sinting sudah merasakan tubuh gadis itu dingin bagaikan salju. Mau tak mau Suto hentikan pelariannya di perjalanan. "Ia harus meminum tuakku secepatnya. Terlambat sedikit ia akan mati!"

Pendekar Mabuk memaksakan gadis itu meneguk tuaknya. Tuak itu dituangkan ke mulut Kinanti melalui mulut Suto, lalu sedikit ditiup biar tuak bisa masuk ke tenggorokan dan tertelan. Sekalipun hal itu dilakukan di tempat terbuka, mudah diketahui oleh pengejarnya, namun Suto merasa tindakan itu adalah tindakan yang terbaik ketimbang harus membawa lari Kinanti ke tempat yang aman, tapi ternyata sampai di tempat aman nyawa Kinanti sudah melayang.

Usaha tersebut mulai menampakkan hasilnya. Napas Kinanti sudah tidak sesak lagi. Gadis itu mulai mampu bernapas dengan lega. Kelopak matanya bisa berkedip-kedip. Suara erangannya sangat lirih, namun membuat Suto Sinting merasa gembira. Itu merupakan tanda-tanda jiwa Kinanti telah selamat dari maut yang nyaris merenggutnya tadi. Tuak pun kini dituangkan secara langsung, tidak melalui bantuan mulut Suto lagi. Kinanti sempat terbatuk-batuk karena meneguk tuak dalam keadaan berbaring. Suto merasa lega dan sengaja membiarkan Kinanti terbatuk-batuk.

"Ooh... dadaku panas sekali. Panas sekali, Suto...," rintih Kinanti dalam keadaan tergolek di rerumputan. Tepat di bawah pohon teduh.

"Minumlah tuak dari bumbungku ini. Minumlah lagi, Kinanti."

Mau tak mau Kinanti menuruti saran Suto Sinting. Sebentar-sebentar ia meneguk tuak itu sambil keringatnya diusap oleh Suto. Perlakuan Suto yang lembut bak penuh kesetiaan serta kasih sayang itu mulai terasa menyentuh hati Kinanti. Namun gadis itu diam saja dan tak mau menunjukkan rasa hati sebenarnya.

"Sebentar lagi kau sembuh. Percayalah! Mereka tak akan mampu membunuhmu jika aku ada di sampingmu, Kinanti," ucap Suto dengan lembut sekali.

"Mereka... mereka mengejar kita?" tanya Kinanti setelah teringat serangan dari balik pohon yang berarti Sanjung Rumpi tidak sendirian.

"Biarkan mereka mengejar kita. Aku akan menghadapi mereka. Kau istirahatlah dulu jika sampai mereka menemukan kita di sini, Kinanti."

Sambil bicara begitu, Suto Sinting mengusap-usap kening Kinanti sampai ke rambut. Elusan pelan membuat hati Kinanti semakin menemukan kebahagiaan yang samar-samar. Mestinya ia tak ingin menikmati kebahagiaan itu, namun keadaannya yang tergolek lemah membuat setiap sentuhan tangan Pendekar Mabuk terasa jelas di hati Kinanti, seolah-olah elusan itu menjamah hati dengan mesranya.

"Suto, mengapa kau bersikap baik sekali kepadaku?"

"Karena kau pun bersikap baik padaku. Kalau kau musuhku, aku tak akan bersikap seperti ini padamu, Kinanti," jawab Suto dengan suara pelan namun sangat jelas terasa menghadirkan debaran indah di hati Kinanti.

"Tapi... tapi aku tak ingin mempunyai kekasih seperti kau, Suto."

"Aku tidak berpikir ke arah itu, Kinanti. Hanya saja, kalau boleh kutahu, mengapa kau tidak ingin mempunyai kekasih seperti diriku?"

"Karena kau mata keranjang."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum geli. Bahkan tawa kecilnya terlepas lirih bagai orang menggumam. Kinanti menatapnya, dan Suto menjadi salah tingkah, akhirnya lemparkan pandangan ke arah lain. Tepat pada saat pandangan terlempar, saat itu Suto melihat kemunculan Sanjung Rumpi dengan seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Wajahnya cantik, berbentuk lonjong. Hidungnya mancung dan bibirnya sangat menggiurkan. Kulit perempuan itu kuning langsat. Rambutnya disanggul rapi dengan sisa anak rambut terjuntai di smping kanan-kiri.

Namun hal yang membuat Suto Sinting menjadi berdebar-debar adalah pakaian perempuan itu. Ia mengenakan pakaian hijau berbunga-bunga seperti bulu merak. Terbuat dari kain tipis yang dibentuk jubah berlengan panjang. Jubah hijau merak itu tidak dikancingkan bagian depannya, sedangkan bagian dadanya hanya ditutup dengan kain tipis dan kecil. Seakan hanya menutupi bagian yang penting saja. Demikian pula bagian bawahnya, tak ada kain lain kecuali kain penutup tipis dan kecil, menutup bagian penting secukupnya. Tapi tipisnya kain penutup itu membuat apa yang ditutupnya menjadi tampak samar-samar dan mengguncang hati setiap lelaki.

"Mereka datang juga akhirnya," gumam Suto Sinting yang membuat Kinanti akhirnya bangkit dengan perlahan-lahan.

"Celaka! Sanjung Rumpi datang bersama si Merak Cabul!"

"Perempuan berjubah hijau itukah yang bernama si Merak Cabul?"

"Benar. Hati-hati, jangan terlalu lama pandangi matanya. Kekuatan matanya bisa membuat lelaki bertekuk lutut kepadanya dan pasrah diperintahkan apa saja."

Suto kurang begitu menghiraukan kata-kata Kinanti. Namun ia sempat menggumam lirih sambil melepaskan tangannya dari lengan Kinanti yang sejak tadi dipeganginya. "Pantas ia berjuluk Merak Cabul, pakaiannya memang sangat cabul. Tapi... menggairahkan sekali untuk dinikmati dengan mata telanjang seperti ini."

"Suto!" sentak Kinanti menyadarkan pendekar tampan yang agaknya hanyut dalam buaian kecabulan perempuan berjubah hijau itu.

Suto Sinting pun tersentak kaget dan segera sadar. "Kau diam saja di sini, biar kuhadapi mereka!" katanya sambil bangkit berdiri. Kemudian ia maju menyongsong langkah Sanjung Rumpi dan si Merak Cabul yang berusaha dekati Kinanti. Dalam jarak enam langkah mereka sama-sama berhenti. Mata Suto tertuju lurus pada mata si Merak Cabul.

Merak Cabul sunggingkan senyum pemikat. Namun Suto Sinting segera gunakan jurus 'Senyuman iblis' warisan dari bibi gurunya: Bidadari Jalang. Jurus senyuman itu membuat Merak Cabul dan Sanjung Rumpi menjadi berdebar-debar.

"Sial! Mengapa hatiku jadi berdebar-debar sekali. Ooh... hasratku ingin bercumbu dengan si tampan itu menjadi bergejolak, makin lama semakin menyesakkan pernapasan," kata Sanjung Rumpi dalam batinnya. Tangan yang terluka bakar agaknya sudah disembuhkan oleh si Merak Cabul, hingga tampak utuh tanpa bekas luka menghitam seperti tadi.

Bukan hanya Sanjung Rumpi yang berdebar-debar, ternyata Merak Cabul pun membatin dalam kegelisahannya. "Celaka betul. Kekuatan daya pikatku ternyata kalah dengan senyumannya. Ooh... aku bergairah sekali terhadap pemuda tampan itu. Jiwaku menuntut pelukan dan ciumannya. Aduuuh... keinginanku bercumbu sangat besar. Aku tak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera dipeluk dan dicumbunya. Oooh... bagaimana aku harus bertahan jika begini jadinya?"

Suto Sinting tetap sunggingkan senyum dan pandangi mata kedua perempuan itu secara berganti-gantian. Kekuatan 'Senyuman iblis' semakin membuat mereka berdua sangat gelisah. Bahkan Sanjung Rumpi menjadi salah tingkah, antara takut kepada Merak Cabul dan ingin segera memeluk Suto Sinting. Kedua tangannya mulai meremas-remas sendiri dengan napas mulai memberat, dan sesekali tersengal resah.

Kinanti tidak mengerti apa yang dilakukan Suto Sinting, ia hanya menduga Suto telah terpengaruh kekuatan pelet yang ada pada diri Merak Cabul. Maka dengan hati geram Kinanti lepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah Merak Cabul. Wuuut...! Pukulan itu berupa sinar merah kecil lurus tanpa putus. Arahnya tepat ke dada Merak Cabul.

Melihat kedatangan sinar merah bagaikan kilat, Merak Cabul segera sentakkan tangan kirinya dan dari telapak tangan kiri keluar sinar hijau lurus tanpa putus yang menghantam tepat sinar merah tersebut. Claaap!

Blaaar...! Ledakan yang memercikkan bunga api menyebar itu mempunyai gelombang hentak yang cukup besar. Pendekar Mabuk terjungkal karena hentakan gelombang ledak tersebut. Sanjung Rumpi juga terpelanting jatuh dan berguling-guling di tanah. Merak Cabul terdorong ke belakang hingga tubuhnya membentur sebatang pohon, lalu jatuh terduduk di bawah pohon tersebut. Sedangkan Kinanti hanya tersentak ke belakang tak sampai jatuh karena ia segera berpegangan dahan pohon kecil.

Alam sunyi sejenak. Kemudian mereka yang berjatuhan mulai bangkit dengan pandangan saling bermusuhan. Merak Cabul menatap Kinanti dengan gigi menggeletuk menahan kebencian. Sanjung Rumpi memandang Kinanti, namun segera beralih kepada Suto Sinting karena hatinya masih gundah karena gairahnya yang tergugah oleh senyum pemikat Suto tadi.

Pendekar Mabuk kibaskan kepalanya membuang rasa pusing akibat jatuhnya tadi. Ia segera menenggak tuaknya sambil mengarah kepada Kinanti, ia tahu dirinya didekati Kinanti, karenanya matanya sempat melirik sebentar saat menenggak tuak tiga teguk.

"Kupikir kau ingin lakukan pertarungan dengan mereka. Ternyata kau justru menikmati kecabulan perempuan itu!" sentak Kinanti dengan suara pelan. Wajah cantiknya cemberut hingga mulutnya tampak runcing.

Suto hanya nyengir geli, lalu berkata, "Kau tidak tahu apa yang kulakukan, Kinanti." Wajah Suto mendekat di telinga Kinanti, "Aku menyerang hati mereka. Hampir saja mereka lumpuh bersamaan."

"Hmmm... alasan!" Kinanti mencibir ketus.

Suto Sinting justru makin menertawakan walau tanpa suara tawa yang nyata.

"Merak Cabul!" seru Kinanti kepada perempuan berdandanan seronok itu. "Apa alasanmu membumihanguskan Lembah Birawa dengan Sabuk Gempur Jagat itu?!"

"Hik, hik, hik, hik...!" Merak Cabul tertawa, lalu tawa itu tiba-tiba hilang dan wajahnya berubah ketus. "Kalau aku punya Sabuk Gempur Jagat, sudah kuhancurkan kepalamu saat tadi melawan Sanjung Rumpi!"

"Mengapa tidak kau lakukan! Aku siap melayanimu dengan senjata pusaka apa saja! Keluarkan semua pusaka di Bukti Kasmaran, aku tak akan gentar menghadapimu. Perempuan cabul!"

"Aku hanya menghendaki Kitab Jati Mulya! Kulihat Lembah Birawa sudah hancur, sisanya tinggal dirimu seorang, Kinanti. Tak perlu kau bertahan dan bersikeras sembunyikan Kitab Jati Mulya. Kau tidak akan mampu menandingi kemarahanku, walaupun kau bersahabat dengan si tampan itu! Kalau si tampan itu ikut campur, akan kubuat berlutut dan menjadi pelayan cintaku setiap malam!"

"Aku bersedia!" sahut Suto Sinting.

Kinanti berpaling sambil mendengus jengkel. Suto Sinting agak menggeragap dan segera berkata membetulkan maksud ucapannya tadi. "Maksudku, aku bersedia bertarung melawanmu demi membela Kinanti!"

"Hik, hik, hik, hik...," Merak Cabul perdengarkan tawanya, lalu berhenti mendadak seperti tadi dan berwajah ketus pandangi Suto Sinting.

"Bocah tampan," katanya. "Kau tak akan mendapatkan keindahan jika berada di pihak Kinanti. Gadis itu tidak bisa memberikan surga terindah untukmu. Tapi jika kau ada di pihakku, kau akan mendapatkan surga terindah di antara surga-surga yang ada di dunia ini!"

"Aku sudah melihat pintu surgamu itu, tapi aku tidak tertarik untuk masuk ke dalamnya, Merak Cabul. Aku lebih tertarik pada surganya Kinanti yang masih tertutup rapat, tak dipamerkan pada setiap pria. Berarti surganya masih bersih dan dijamin tak ada penyakit di dalamnya!"

Suto Sinting sengaja bicara sedikit seronok karena ia bermaksud memancing kemarahan Merak Cabul agar dialihkan kepadanya. Pendekar Mabuk punya pertimbangan, bahwa Kinanti tidak akan mampu mengungguli Merak Cabul, sehingga sangat membahayakan jiwa jika Merak Cabul murka kepada Kinanti. Satu-satunya cara untuk mengurangi datangnya bahaya pada diri Kinanti adalah dengan memancing perhatian Merak Cabul dengan meremehkan kemesraan yang menjadi andalan perempuan seronok itu.

"Kau belum tahu siapa aku, Bocah Tampan!" Merak Cabul segera menggeram pertanda kemarahannya mulai datang.

Suto Sinting sunggingkan senyum tipis, melangkah melintasi dengan Kinanti dan berkata dalam bisik, "Mundur, biar kuhadapi!"

Walau ucapan itu tak begitu jelas, tapi Kinanti merasakan kesungguhan Suto yang ingin menghadapi Merak Cabul. Kinanti pun akhirnya mundur pelan-pelan menjauhi Suto Sinting sambil matanya sesekali melirik ke arah Sanjung Rumpi, karena khawatir datang serangan tiba-tiba dari Sanjung Rumpi.

Ternyata Sanjung Rumpi saat itu sedang bersembunyi di balik pohon. Tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri, ia tampak sedang kasmaran dan memburu puncak gairahnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Suto Sinting.

Kinanti kerutkan dahi dan membatin, "Gila orang itu! Kenapa dia justru kasmaran sendiri di pojokan sana?!"

Kinanti tak tahu bahwa Sanjung Rumpi masih terkena pengaruh pelet dari jurus 'Senyuman iblis' yang tadi dilancarkan Suto Sinting. Pengaruh itu membuatnya tak mampu menahan gairah dan ingin melepaskannya bersama Suto. Namun karena Suto berhadapan dengan Ketua-nya, ia tak berani lakukan apa pun kecuali mencari keindahan dengan tangannya sendiri.

"Bocah tampan," ujar Merak Cabul dengan mata mulai tampak liar. "Kuberi kesempatan sekali lagi, kau mau berada di pihakku atau di pihak Kinanti?"

"Tentu saja di pihak Kinanti!" jawab Suto tegas-tegas.

"Kau tak ingin bermesraan denganku?"

Suto tertawa pendek. "Kemesraanmu sudah basi, ibarat sayur sudah sayu dan hambar. Tidak sesegar kemesraan Kinanti."

"Keparat kau! Terimalah jurus 'Racun Teluh Cinta' ini, hiaaaat...!" Claap...! Tiba-tiba dari mata kiri Merak Cabul melesat sinar kuning lurus tanpa putus ke arah Suto Sinting. Gerakan sinar itu sangat cepat, bagaikan anak panah melesat dari busur dalam jarak enam langkah.

Kinanti sampai tak sadar berseru, "Awaass...!"

Tapi Pendekar Mabuk ternyata sudah siaga penuh waspada. Tangannya yang menggenggam tali bumbung berkelebat cepat mengarahkan bumbungnya ke depan. Teeb...! Sinar kuning itu kenai bumbung tuak. Lalu membalik arah sedikit lebih rendah dari ketinggian geraknya tadi. Sinar kuning yang membalik arah ke pemiliknya itu menjadi lebih cepat dan lebih besar, sehingga Merak Cabul tak sempat menghindar lagi. Jurus 'Racun Teluh Cinta' akhirnya menghantam perutnya sendiri. Jrebb...!

"Aahhh...!" Merak Cabul tersentak mundur, suara pekikannya lemah, bukan dalam nada kesakitan, tapi bernada orang terkejut dalam keindahan. Tubuhnya yang molek tersandar di pohon, ia masih berdiri dengan mata mulai sayu. Makin lama tubuhnya semakin menggigil gemetaran. Merak Cabul mulai tersenyum-senyum dengan kepala sedikit mendongak dan lidahnya menjilati bibir sendiri.

Jurus 'Racun Teluh Cinta' telah menguasai naluri dan jiwanya lebih dahsyat dari aslinya. Jurus itu membuat seseorang menjadi tunduk dan patuh kepada perintah Merak Cabul. Tapi karena berubah lebih besar dan mengenai dirinya sendiri, maka Merak Cabul menjadi lupa daratan. Gairahnya menggebu-gebu di luar kewajaran, ia tertawa cekikikan sendiri sambil meraba-raba tubuhnya. Dengan gerakan pelan bagai orang menari jubahnya ditanggalkan. Napasnya mendesah-desah, sesekali keluarkan suara merintih nikmat atau meratap diburu gairah cinta. Tubuhnya meliuk-liuk bagaikan mengikuti irama gairahnya.

"Gawat! Kenapa dia jadi begitu setelah terkena jurusnya sendiri?" pikir Kinanti sambil hatinya berdebar-debar dan merasa kikuk sendiri.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum-senyum nakal, bahkan sesekali melirik Kinanti sambil tertawa pelan.

"Suto, kau apakan dia?"

"Sekadar membalikkan jurus 'Racun Teluh Cinta'-nya."

"Dia menjadi gila! Gila kemesraan!"

Erangan memanjang dari mulut Merak Cabul terdengar mendesirkan hati Kinanti, ia jadi tak enak hati, lalu segera menarik lengan Suto Sinting sambil membentak,

"Palingkan muka dan tinggalkan tempat ini! Jangan kau tonton tingkahnya itu, kau bisa ikut-ikutan gila seperti dia!" Kinanti menarik Suto Sinting mengajaknya pergi.

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil, ia masih sempat berpaling memandangi Merak Cabul yang telah melepas seluruh penutup tubuhnya. Bahkan langkahnya yang gontai telah sampai di tempat Sanjung Rumpi. Mereka bagai tak ingat apa-apa lagi. Sanjung Rumpi dipeluk dan dicumbunya dengan jeritan-jeritan mesra yang membangkitkan gairah siapa saja yang mendengarnya.

"Ayolah, kita pergi dari sini!" Kinanti mendorong pipi Suto agar tidak memandang ke belakang sambil menarik pemuda tampan itu agar cepat tinggalkan tempat. Namun sebelum mereka pergi jauh, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara pekikan melengking tinggi dari balik pohon tempat Merak Cabul bercumbu dengan Sanjung Rumpi.

"Aaaahg...!"

Kali ini suara pekikan itu mengundang perhatian dan bayangan berbeda. Nada pekikan bukan seperti orang sedang menikmati puncak kemesraan, namun seperti orang diterkam kesakitan. Pendekar Mabuk segera palingkan wajah, dan Kinanti pun ikut memandang ke sana.

"Ooh...?!" Kinanti tersentak kaget melihat darah menyembur dari punggung Merak Cabul. Lebih terkejut lagi melihat seseorang sedang berdiri di samping kedua perempuan itu dengan tongkat tergenggam di tangannya.

Tongkat berujung runcing itu berlumur darah, tampak habis dihujamkan ke tubuh Merak Cabul. Sedangkan Sanjung Rumpi tampaknya tak bergerak lagi dalam tindihan tubuh Merak Cabul. Rupanya ia pun terkena hujaman benda runcing yang datang dari punggung Merak Cabul, tembus ke ulu hati dan kenai jantungnya sendiri.

"Mengerikan sekali!" geram Kinanti bersuara lirih.

Mereka tak jadi teruskan langkah. Mata mereka memandang si pemegang tongkat runcing yang masih berdiri pandangi kedua perempuan tersebut.

"Merak Cabul tewas!" gumam Suto Sinting setelah melihat kaki Merak Cabul tersentak yang terakhir kali, kemudian melemas dan tak bergerak lagi. "Siapa orang bertongkat runcing itu?" tanyanya kepada Kinanti.

"Dia yang bernama Dewa Putih."

"Edan! Kenapa ia membunuh cucunya sendiri? Katamu tadi, ia paling sayang kepada Merak Cabul?"

"Aku tak tahu mengapa ia jadi begitu. Sebaiknya kita tinggalkan saja. Jangan berurusan dengannya. Kulihat ia sedang murka dan..."

"Tunggu!" sergah Suto Sinting sambil menarik tangan Kinanti yang ingin pergi. "Kita temui saja dia. Bukankah dia salah satu orang yang kau curigai sebagai pemegang Sabuk Gempur Jagat?"

Wuuut...! Jleeg!

Kinanti dan Suto Sinting sama-sama terkejut. Tahu-tahu si kakek berambut putih sepanjang tengkuk tanpa ikat kepala itu sudah berada di samping mereka. Padahal jarak mereka dengan mayat Merak Cabul cukup jauh. Tapi sang kakek yang berjuluk Dewa Putih itu mampu bergerak cepat, hingga dalam sekejap sudah berada di samping Kinanti. Jika bukan karena ilmunya yang tinggi, tak mungkin ia mampu bergerak secepat jurus 'Gerak Siluman'-nya Pendekar Mabuk.

Dewa Putih yang bertubuh kurus itu memandang dingin kepada Kinanti dan Suto Sinting. Jubahnya yang berwarna putih kusam melambai-lambai ditiup angin kaki bukit. Wajahnya tampak kaku karena tonjolan tulang pipinya terlihat jelas. Pandangan mata yang dingin itulah yang menimbulkan kesan angker walau sebenarnya kesan itu lebih cenderung berwibawa.

"Kaukah yang bernama Dewa Putih, Kek?" tanya Suto sekadar pembuka kata.

Dewa Putih sedikit bungkukkan badan. Kinanti heran melihat tokoh tua yang usianya sudah mencapai seratus tahun itu bersikap menghormat kepada Pendekar Mabuk. Bahkan jawabannya pun menimbulkan keheranan yang lebih dalam lagi bagi Kinanti.

"Benar, akulah yang berjuluk Dewa Putih, Nak Mas Manggala Yudha!"

"Manggala Yudha...?!" gumam hati Kinanti.

Suto Sinting menjadi kikuk sendiri. Sulit menjelaskan kepada Kinanti bahwa dirinya akan dipanggil sebagai Manggala Yudha jika seseorang mengetahui noda merah kecil di keningnya. Noda merah itu adalah tanda penghormatan tinggi yang diberikan oleh Ratu Kartika Wangi, penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib. Ratu itu adalah calon mertuanya, yang berarti ibu dari Dyah Sariningrum yang menjadi penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di alam nyata, tepatnya di Pulau Serindu.

Tanda merah kecil di kening Suto hanya bisa dilihat oleh tokoh-tokoh berilmu tinggi, yang sudah mencapai tingkat pengendalian indera ketujuh. Siapa pun yang mampu melihat noda merah di kening Suto akan menaruh hormat, setidaknya merasa sungkan terhadap murid sinting si Gila Tuak itu. Karena noda merah tersebut merupakan tanda tingkatan tertinggi setelah Ratu Kartika Wangi. Noda merah itu adalah lambang jabatan Suto Sinting sebagai Panglima Perang alias Manggala Yudha Kinasih bagi negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib.

Sedangkan para tokoh sakti mana pun paling sungkan jika berurusan dengan orang-orangnya Ratu Kartika Wangi, karena ilmu mereka jauh lebih tinggi dari para tokoh di rimba persilatan di alam kasatmata, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

"Damai hidupmu, panjanglah umurmu, Ki Dewa Putih." Begitulah sapaan keselamatan dari Suto Sinting jika mendapat hormat dari seseorang yang menganggapnya sebagai Manggala Yudha dari Puri Gerbang Surgawi. Ucapan selamat itu bagai berkah seorang raja kepada hambanya.

"Rupanya aku datang terlambat," ujar Dewa Putih. "Seharusnya aku datang sebelum cucuku termakan oleh tingkahnya sendiri."

"Mengapa kau bunuh cucumu sendiri, Ki Dewa Putih?"

"Terlalu sesat, memalukan nama keluarga. Namaku sendiri menjadi tercoreng karena tingkahnya yang tak tahu susila itu!"

Dewa Putih bicara dengan tegas dan penuh wibawa. Kinanti memandanginya dengan rasa sungkan. Namun akhirnya ia pun mencoba bicara kepada kakek yang usianya sekitar seratus tahun itu, "Apakah kau ingin menghancurkan diriku juga, Dewa Putih?"

Orang berkumis dan berjenggot putih itu pandangi Kinanti tanpa berkedip, ia menggumam lirih dan pendek, kemudian berkata dengan nada pelan, "Aku tahu maksudmu. Aku telah membaca pikiranmu, Nona. Kau anak buah dari Ratu Jiwandani, bukan?"

"Benar! Kaukah yang melakukan bencana itu?"

Dewa Putih diam sebentar, melirik Suto Sinting sekejap, kemudian kembali tatap mata Kinanti sambil ucapkan kata, "Kau menyangka aku mempunyai Sabuk Gempur Jagat. Itu sangkaan yang keliru, Nona. Kalau aku mau hancurkan Lembah Birawa, tak mungkin akan tersisa satu nyawa seperti saat ini. Kau pun pasti ikut hancur bersama mereka, juga ratumu pasti akan hancur dan tidak akan sampai ke pondoknya sahabatku, si Galak Gantung."

"Hebat. Dia tahu kalau Ratu ada di sana?" pikir Kinanti dengan mulut terkatup dan mata memandang tak berkedip.

"Ilmu teropongnya cukup tinggi," ujar Suto dalam hatinya, namun ia sengaja tak mau angkat bicara untuk sesaat, ia ingin dengarkan apa pun ucapan si tokoh tua berkulit hitam itu.

"Sabuk Gempur Jagat memang menjadi bahan rebutan. Tapi percayalah, sabuk pusaka itu tidak ada padaku, Nona. Jangan beranggapan cucuku si Merak Cabul yang memegang sabuk itu. Dia mengejarmu hanya untuk dapatkan Kitab Jati Mulya, karena ia menyangka kitab itu ada pada ratumu, ia tidak tahu sebelum ibunya wafat terlebih dulu menitipkan kitab itu padaku. Jadi, kuharap jangan hubungkan persoalan kitab itu dengan bencana yang melanda Lembah Birawa."

"Maafkan aku," kata Kinanti dengan tegas. "Jika begitu, siapa orang yang telah menghancurkan Lembah Birawa itu?"

Suto Sinting menimpali, "Di tangan siapa sebenarnya Sabuk Gempur Jagat itu berada, Ki Dewa Putih?"

Tokoh tua itu diam sebentar, matanya tidak terpejam, namun menatap ke salah satu arah. Pandangan matanya bagaikan sedang menerawang selama dua helaan napas. Mungkin begitulah caranya meneropong suatu keadaan dengan kekuatan indera ketujuhnya. "Sampai tadi malam sabuk pusaka itu ada di tangan si Tulang Naga," kata Dewa Putih setelah menarik napas satu kali dan melempar pandangan kepada Suto Sinting.

"Ke mana arah kepergian si Tulang Naga itu, Ki Dewa Putih?"

"Selatan!" jawabnya singkat, membuat Kinanti dan Suto Sinting saling berpandang mata.

"Arah selatan adalah arah menuju ke Bukit Wangi," ujar Kinanti kepada Suto dengan suara pelan.

Dewa Putih menyahut, "Dia tidak berhak memegang Sabuk Gempur Jagat. Pusaka itu harus dikembalikan kepada pemiliknya."

"Siapa pemilik sebenarnya, Ki?"

"Begawan Rampak Dalu, dari Tebing Papak."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Lalu, sebelum ia berucap kata, Dewa Putih lebih dulu bicara kepadanya.

"Pakar Pantun tahu persis di mana Begawan Rampak Dalu berada, karena Begawan Rampak Dalu adalah sahabat karib si Pakar Pantun. Nak Mas Manggala Yudha tentunya kenal baik dengan si Pakar Pantun."

"Ya, aku memang kenal baik dengan Resi Pakar Pantun."

"Saat ini ia sedang mencari di mana Tulang Naga berada, karena ia juga bermaksud merampas sabuk itu dan ingin mengembalikan kepada sahabatnya itu. Sabuk Gempur Jagat jika tidak segera diselamatkan dapat menimbulkan bencana di mana-mana dan menghancurkan dunia, kecuali sabuk pusaka itu ada di tangan tokoh aliran putih, seperti guru Nak Mas sendiri, si Gila Tuak."

Pendekar Mabuk agak kaget mendengar nama gurunya disebutkan. Rupanya tokoh tua yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan itu cukup kenal dengan si Gila Tuak. "Ki Dewa Putih agaknya kenal baik dengan guruku?"

"Aku sahabatnya di masa kami sama-sama berusia empat puluh tahun."

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut, hatinya pun membatin, "Kalau begitu usia Dewa Putih itu sama dengan usia Guru?"

"Nak Mas Manggala Yudha, sudah sewajarnya jika menyelamatkan Sabuk Gempur Jagat dari tangan-tangan sesat itu. Tugas Nak Mas sebagai Pendekar Mabuk adalah menyelamatkan dunia dari kehancuran si tangan sesat."

"Mengapa bukan kau sendiri yang merebut Sabuk Gempur Jagat dari tangan si Tulang Naga?" ujar Kinanti menyela pembicaraan.

"Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu. Aku keluar dari pengasinganku, karena tak tahan mendengar sepak terjang cucuku yang kelewat sesat. Aku tak rela jika cucuku dibunuh orang lain. Maka sebelum orang lain membunuhnya, aku lebih dahulu melakukannya. Kukorbankan perasaan kasih sayangku kepada Merak Cabul untuk selamatkan isi dunia dari kecabulannya."

"Aku... aku kagum pada sikapmu, Dewa Putih," ucap Kinanti lirih, namun jelas terdengar oleh yang bersangkutan.

"Tak ada yang perlu dikagumi dariku, Nona. Aku bertindak sebagaimana harusnya manusia bertindak. Kau pun bisa berbuat seperti apa yang kuperbuat jika kau mengerti bagaimana seharusnya manusia berbuat di alam kehidupannya ini."

"Wah, kalau sudah bicara soal begini, puyeng juga kepalaku mengartikannya," pikir Suto Sinting. Pada saat itu ia segera dipandang oleh Dewa Putih.

"Nak Mas tidak perlu puyeng. Kata-kataku ini bukan untuk dipikirkan tapi untuk dicerna dan dipahami."

Pendekar Mabuk tersenyum malu karena jalan pikirannya sempat terbaca oleh Dewa Putih. Kinanti sendiri merasa berhadapan dengan orang yang serba tahu, sehingga ia pergunakan kesempatan itu untuk menanyakan sebab kehancuran Lembah Birawa.

"Tentunya kau tahu apa sebab Tulang Naga menghancurkan Lembah Birawa? Tolong jelaskan padaku agar aku tidak penasaran dalam sepanjang hidupku."

Mata dingin namun tajam itu beralih pandang ke arah Kinanti. "Ratu Jiwandani mempunyai seorang ayah yang berjuluk si Tudung Geni. Dari situlah titik persoalannya."

Kinanti kerutkan dahi sambil menggumam, "Ya, aku pernah dengar nama Tudung Geni. Itu memang nama ayah Ratu Jiwandani. Apakah Tulang Naga bermusuhan dengan si Tudung Geni?"

"Sangat bermusuhan. Tudung Geni yang membunuh ayahnya Tulang Naga yang dikenal dengan nama Panglima Setan Biru. Kematian itu meninggalkan dendam di hati Tulang Naga. Maka ketika ia menemukan tempat kediaman keturunan si Tudung Geni, dendamnya dilampiaskan secara membabi buta."

"Agaknya Tulang Naga manusia yang penuh dengan dendam kesumat. Benarkah penilaianku itu, Ki Dewa Putih?"

"Memang benar, Nak Mas Manggala Yudha. Tulang Naga manusia penuh dendam. Karenanya, begitu ia memegang Sabuk Gempur Jagat, dendam kesumatnya dilampiaskan kepada siapa saja yang pernah bentrok dengannya dan ia mengalami kekalahan. Termasuk seorang Lurah yang menjadi kepala desa di desa Kijangan, serta beberapa orang lainnya. Bahkan tak menutup kemungkinan ia akan memburu dendamnya pada si Galak Gantung yang akhirnya akan sampai pada Guru Nak Mas Manggala Yudha, si Gila Tuak."

Suto terkesiap seketika begitu mendengar nama gurunya akan menjadi tempat pelampiasan dendam si Tulang Naga. ia sedikit heran mendengar kata-kata Dewa Putih. Bahkan ia sempat bertanya kepada sahabat gurunya itu, "Apakah kau tak salah ucap, Ki Dewa Putih? Guruku akan menjadi sasaran dendam kesumatnya si Tulang Naga? Benarkah demikian kejadiannya nanti?"

"Benar, jika Sabuk Gempur Jagat tidak segera diselamatkan dari tangannya. Sabuk pusaka itu memang sukar dicari tandingannya. Tulang Naga akan malang melintang terus jika memegang Sabuk Gempur Jagat, sebab kesaktian sabuk itu sangat dahsyat. Mampu menghancurkan gunung, mampu membelah lapisan tanah, mampu meremukkan baja setebal apa pun, bahkan mampu hadirkan badai panas yang bisa melelehkan logam."

"Hebat sekali?!" gumam Kinanti secara tak sadar.

"Jika sabuk itu diputar dan memancarkan sinar hijau, maka sinar itu akan menjadi perisai bagi pemegangnya. Sinar itu tak bisa ditembus oleh sinar tenaga dalam apa pun juga," tutur Dewa Putih, tanpa diminta ia menjelaskan sendiri kehebatan Sabuk Gempur Jagat itu. Sambungnya lagi, "Repotnya, sabuk itu tak bisa putus oleh senjata apa pun, sukar dihancurkan karena terbuat dari kulit ular Onak Setan. Ular itu sangat jarang dan menurut mendiang guruku, ular Onak Setan hanya ada tujuh yang hidup di permukaan bumi. Salah satunya ada yang pernah hidup di tempat kita ini, ratusan tahun yang lalu. Begawan Rampak Dalu mendapat warisan pusaka itu dari leluhurnya yang diwariskan secara turun temurun."

Rasa tenang Suto Sinting saat mendengar Ratu Jiwandani ada bersama Galak Gantung tiba-tiba berubah menjadi sebuah kecemasan. Kecemasan itu timbul karena Suto baru saja ingat bahwa Galak Gantung adalah musuh utama Tulang Naga. Bahkan si Gila Tuak, guru Suto Sinting itu, juga termasuk musuh si Tulang Naga. Pada saat Suto bertemu dengan Tulang Naga memperebutkan mayat bayi yang mati digantung oleh ayahnya sendiri itu, Tulang Naga sempat melepas ucapan bahwa Gila Tuak termasuk salah satu musuhnya yang akan dibinasakan.

Persoalan itu sebenarnya persoaian lama, tapi masih membekas di hati Tulang Naga. Persoalan itu menyangkut tentang kematian kakaknya Tulang Naga yang dibunuh oleh Galak Gantung. Pada waktu Tulang Naga ingin membalas dendam kepada Galak Gantung, si Gila Tuak datang memihak Galak Gantung. Akibatnya Tulang Naga larikan diri tak sanggup hadapi si Gila Tuak, namun dendamnya semakin membengkak dan nama si Gila Tuak tertera dalam daftar nama orang-orang yang akan dimusnahkan secara cepat atau lambat.

"Ki Dewa Putih, agaknya perjumpaan kita tak bisa lebih lama lagi," kata Suto Sinting yang membuat Kinanti memandangnya. Pendekar Mabuk lanjutkan bicara kepada Dewa Putih yang masih mampu berdiri tegak dan gagahitu. "Seperti katamu tadi, Tulang Naga punya dendam kepada Galak Gantung yang nantinya akan menjalar kepada guruku; si Gila Tuak. Sedangkan sekarang Ratu Jiwandani ada bersama Ki Galak Gantung. Tak bisa kubayangkan apa jadinya jika Tulang Naga sampai ke pondok Ki Galak Gantung dalam keadaan masih bersenjata Sabuk Gempur Jagat itu. Maka sebelum ia tiba di Bukit Wangi, aku harus lebih dulu merampas sabuk pusaka itu!"

"Firasatku mengatakan, Tulang Naga sedang menuju ke Bukit Wangi untuk temui Galak Gantung!" kata Dewa Putih yang membuat Kinanti menjadi berwajah tegang.

* * *

ENAM

JALAN pintas menuju Bukit Wangi yang paling aman dan cepat adalah melalui pantai. Kinanti menjadi pemandu perjalanan itu, karena Pendekar Mabuk belum pernah datang ke Bukit Wangi dan tidak tahu di mana letak bukit tersebut. Namun ketika mereka melalui jalan pantai, tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh suara dentuman yang cukup mengelegar dari arah kedalaman hutan. Pendekar Mabuk yang punya sifat selalu ingin melihat pertarungan itu segera mengajak Kinanti untuk menengok keadaan di dalam hutan.

"Aku hanya ingin tahu, siapa yang bertarung di sana. Siapa tahu Tulang Naga sedang lakukan pertarungan dengan seseorang yang perlu kita tolong," kata Suto Sinting.

Walaupun sebenarnya Kinanti merasa jengkel dengan ajakan itu, namun dalam hati kecilnya sendiri ia terusik oleh rasa ingin tahu dan berharap Tulang Naga ada dalam pertarungan tersebut. Maka mau tak mau ia pun mengikuti langkah Suto Sinting untuk kembali masuk ke hutan. Sasaran mereka adalah tempat datangnya suara dentuman tadi.

"Kita lewat jalan atas saja!" kata Suto, lalu tubuhnya melesat naik dan hinggap di salah satu dahan.

Kinanti ternyata mampu mengikuti gerakan serupa itu. Maka keduanya pun berlari menuju ke satu arah dengan melompati dahan demi dahan, bagaikan sepasang burung besar yang terbang dari pohon kepohon.

"Suto, kulihat gerakan seseorang di sebelah kanan kita!" ujar Kinanti, maka mereka bergerak ke arah yang dimaksud.

Sebidang tanah yang jarang ditumbuhi pohon terhampar didepan mereka. Tanah itu seperti bekas rawa yang sudah mengering dan mengeras. Ada beberapa batu besar yang menjulang setinggi rumah di tanah datar itu. Di antara batu-batu besar itulah mereka melihat dua orang yang sedang bertarung dengan tangan kosong. Masing-masing mengandalkan kekuatan tenaga dalam mereka. Sementara satu orang lagi diam di bawah pohon agak jauh dengan wajah dicekam rasa takut.

Orang yang ketakutan itu berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan baju hijau tua, ikat kepala dari kain putih, rambutnya pendek. Orang tersebut berbadan kurus, pendek, berkulit agak hitam, ia tanpa kumis dan jenggot, namun guratan ketuaan sudah tampak jelas di permukaan wajahnya.

Suto Sinting tak bisa lupa dengan orang tersebut karena ia pernah menggunakan ikat kepala orang itu untuk menutup matanya dalam pertarungannya dengan Pipit Serindu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua). Orang yang ketakutan itu tak lain adalah si Kadal Ginting, pelayan dari Resi Pakar Pantun.

Salah satu dari dua orang yang bertarung tanpa senjata tajam itu tak lain adalah Resi Pakar Pantun; berusia sekitar delapan puluh tahun, mengenakan pakaian model biksu berwarna abu-abu, rambutnya beruban dan tipis hingga berkesan botak. Jenggot dan alisnya juga putih dan tergolong lebat.

Tetapi orang yang melawan Resi Pakar Pantun itu sangat asing bagi Suto Sinting. Baru sekarang si Pendekar Mabuk melihat orang tersebut; berusia sekitar lima puluh tahun, badannya berotot dan tampak kekar. Mengenakan baju tanpa lengan warna hitam dan celananya pun warna hitam. Rambutnya masih hitam, tak begitu panjang dan diikat dengan kain merah kusam. Orang itu tak berkumis dan tak berjenggot. Matanya agak lebar dan memancarkan pandangan yang buas. Dengan ditambah alis yang lebat, ia tampak berwajah bengis dan angker.

Gerakan orang berwajah angker itu cukup gesit dan lincah. Kecepatan geraknya pun bisa dijadikan andalan dalam pertarungan, ia pun tampak tangguh dan tahan pukulan. Terbukti dua kali Resi Pakar Pantun menghantam dada orang itu, ternyata tidak mengakibatkan orang tersebut tumbang atau terluka.

"Siapa orang berbaju hitam itu? Kau mengenalnya, Kinanti?" bisik Suto Sinting dari tempat persembunyiannya.

"Aku belum pernah melihat orang itu sebelum ini. Yang jelas, dia pasti mempunyai lapisan tenaga dalam setebal baja, sehingga pukulan dan tendangan lawannya itu tak membuatnya terluka."

Suto Sinting menjelaskan tentang Resi Pakar Pantun kepada Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu hanya menggumam tipis dengan mata masih memandang ke arah pertarungan tanpa berkedip. Agaknya ia sangat tertarik dengan jurus-jurus si wajah angker itu, hingga tak sadar mulutnya sampai ternganga bengong dengan wajah memancarkan kekaguman.

Suto Sinting hanya tersenyum kecil dan membiarkannya, ia tak mau mengganggu keasyikan Kinanti karena ia sendiri segera hanyut dalam keasyikan menyaksikan pertarungan tersebut. Setiap jurus, setiap gerakan, seakan tercatat dengan sendirinya dalam benak Suto Sinting, sehingga dalam gerakan silatnya Suto Sinting sering pergunakan pengembangan yang diperoleh dari mengingat-ingat jurus orang lain yang dikagumi.

Dua orang yang bertarung itu akhirnya mengadu telapak tangan di udara. Keduanya sama-sama melompat maju bagaikan terbang. Tangan mereka saling menghentak ke depan dan beradu dengan kuatnya.

Duaaar...! Ledakan yang tak seberapa besar itu terjadi akibat perpaduan telapak tangan mereka yang rupanya sama-sama berkekuatan tenaga dalam tinggi. Ledakan itu membuat tubuh Resi Pakar Pantun terpental ke belakang dan jatuh terguling-guling, sedangkan lawannya hanya jatuh terduduk lalu segera bangkit kembali.

"Sudah waktunya kau copot usia, Pakar Pantun! Terimalah kematianmu ini. Hiaaat...!"

Si muka angker menggerakkan tangannya ke samping kanan kiri dengan cepat, lalu kedua tangan menghentak bersamaan dan dari kedua telapak tangan itu keluar dua berkas sinar menyerupai bintang berekor berwarna merah membara. Wuuut, wuuuut...!

Resi Pakar Pantun terperanjat melihat kedatangan dua sinar tersebut, ia segera merentangkan kedua tangannya dalam keadaan masing-masing jari tengah menuding ke depan. Suuut...! Clap, clap...! Dua sinar hijau lurus tanpa putus keluar dari masing-masing jari tengah sang Resi. Sinar hijau itu menghantam masing-masing sinar merah secara telak. Des, des...!

Blegaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi begitu mengagetkan satwa di sekitar tempat itu. Bumi terasa berguncang, beberapa pohon ikut bergetar, bahkan ada yang tumbang dalam keadaan akarnya mencuat keluar dari tanah. Ledakan bergelombang besar itu membuat Resi Pakar Pantun terlempar dan menabrak batu sebesar rumah. Beeehg...!

"Iaauh...!" pekik sang Resi dengan wajah menyeringai kesakitan. Batu itu sampai bergetar dan serpihannya berhamburan karena kerasnya benturan tubuh sang Resi.

Lawan sang Resi terlempar juga dan sempat berguling-guling di udara bagai tak bisa kendalikan keseimbangan tubuh lagi. Akhirnya orang itu terbanting keras di atas sebuah batu yang tingginya sebesar lutut. Beehg...!

"Heeehg...!" ia memekik tertahan dengan mata terbeliak. Napasnya menjadi sesak karena tulang rusuknya bagaikan patah akibat bantingan keras tersebut.

"Hoooek...!" Resi Pakar Pantun memuntahkan darah kental saat berusaha bangkit dengan limbung.

"Dia terluka parah!" bisik Kinanti sambil matanya memperhatikan sang Resi dengan tegang.

"Agaknya memang begitu. Tapi biarkan dulu, aku ingin tahu sampai di mana kekuatan lawan sang Resi itu."

Ternyata lawan sang Resi cukup tangguh. Dalam beberapa kejap saja ia sudah mampu bangkit lagi dengan sehat. Rasa sakitnya bagaikan lenyap setelah ia menarik napas panjang-panjang dan meraba perut sampai dada dengan tangan gemetar. Rupanya ia menyalurkan hawa murni melalui tangannya untuk obati seluruh luka dalam.

Sang Resi berusaha bangkit dengan tegak walau dengan berpegangan dinding batu. Matanya tertuju kepada lawan yang mendekatinya dalam satu lompatan bersalto. "Kurang ajar kau, Jejak Setan!" geram sang Resi.

Suto Sinting dan Kinanti saling berpandangan setelah mendengar nama lawan sang Resi ternyata adalah si Jejak Setan, murid mendiang Pelacur Tua alias Nyai Pegat Raga yang kala itu menyaru nama Pipit Serindu.

Sang Resi terdengar berkata lagi, "Sayur lodeh jamur paku, kecambah goreng dibungkus daun pare. Biarpun tua ragaku, tapi tak kan mundur melawan bayi kemarin sore."

Kinanti berbisik kepada Suto, "Mantra apa yang ia ucapkan itu?"

"Ia bermain pantun, bukan mantra!"

Jejak Setan yang berdiri didepannya dalam jarak empat langkah segera mendenguskan napas. "Sekali lagi kuberi kesempatan padamu, serahkan Sabuk Gempur Jagat yang tempo hari ada padamu itu, Resi Pakar Pantun. Jika kau masih ngotot tak mau berikan, kuhabisi nyawamu sekarang juga!"

"Sudah kubilang, sabuk itu tidak ada padaku, tapi ada pada si Tulang Naga!" bantah sang Resi. "Segalak apa pun kau padaku, tak akan bisa kau dapatkan sabuk pusaka itu, Bocah Bodoh!"

"Baiklah, kalau begitu kau memang memilih mati daripada hidup damai bersamaku, Pakar Pantun!" geram Jejak Setan sambil menggenggam kuat-kuat. Kedua tangannya mulai terangkat dengan genggaman merenggang kaku membentuk cakar.

"Sayur lodeh buat renang bekicot jamu, lompat ke darat berjalan kaku. Biar sampai ngotot pantatmu, cambuk pusaka tetap tak kan kau dapat dariku."

Jejak Setan semakin berang mendengar pantun itu. "Biadab kau!"

"Kau juga biadab!"

"Heeeaah...!"

Wuuut...! Jejak Setan berkelebat sangat cepat menerjang Resi Pakar Pantun dalam sekejap. Ternyata ia berhasil menjejak dada sang Resi hingga tubuh sang Resi membentur dinding batu lagi.

"Uuuhg...!" sang Resi tersentak berdiri. Lalu kedua tangan Jejak Setan menghantam perut dan ulu hati sang Resi dengan telapak tangannya.

Buhk, plak...!

"Huuuoooeek...!" Sang Resi semburkan darah segar cukup banyak. Brruuus...! Ceproot...!

Semburan darah itu mengenai kepala Jejak Setan, hingga wajah si Jejak Setan berlumur darah. Wajah itu menjadi merah menjijikkan sekaligus mengerikan. Padahal yang dalam keadaan mengerikan adalah sang Resi, karena pukulan lawannya nyaris menghancurkan jantung dan hatinya.

"Monyet tua!" maki si Jejak Setan. "Berani-beraninya kau meludahi mukaku, hah! Kurang ajar! Heeeatt...!"

Wuuuuus...!

Tubuh Resi Pakar Pantun dilemparkan kebelakang oleh Jejak Setan. Tangannya dipegang, kaki Jejak Setan masuk ke perut sang Resi lalu mengangkat tubuh sang Resi dan melemparkan dalam satu hentakan kaki. Tubuh tua itu melayang melewati atas kepala Jejak Setan dan jatuh terbanting di tanah. Buuuhg...!

"Huuuhgg...!" sang Resi memekik tertahan dengan mata mendelik.

"Habislah riwayatmu, Monyet Tua! Heeaaah...!"

Wuuut...! Brrrus...!

Jejak Setan bermaksud menginjak leher Resi Pakar Pantun. Namun baru saja ia mengangkat kakinya, tiba-tiba ada sesuatu yang berkelebat menerjangnya. Terjangan kuat dan cepat itu membuat Jejak Setan terpental terbang bagaikan seonggok daging dibuang tanpa guna. Dinding batu besar menjadi sasaran telak. Brruuss...! Tubuh itu menghantam dinding batu besar, kepalanya membentur sangat kuat.

Prraaak...!

"Aaahg...!" ia memekik dengan suara lirih karena kelewat sakit. Saat ia jatuh terpuruk di bawah dinding batu besar, kepalanya yang terkena semburan darah itu dipegangi dengan dua tangan. Kepala itu bocor, tapi kelihatannya tidak berdarah sebab wajahnya sudah penuh darah.

"Bangsat!" geramnya sambil berusaha bangkit. Hatinya pun berkata, "Siapa yang ikut campur ini?! Tenaganya luar biasa besarnya. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melemparkan tubuhku sekeras tadi!"

Ternyata terjangan itu dilakukan oleh Pendekar Mabuk yang menggunakan jurus 'Gerak Siluman'. Kecepatan geraknya tak bisa dilihat mata lagi, dan berkekuatan melebihi angin badai. Jika Suto tidak lekas bergerak maka leher Resi Pakar Pantun akan patah dan nyawa sang Resi pun akan melambai-lambai di udara, di luar raganya.

Kinanti ikut tampil menghadang Jejak Setan ketika Suto Sinting meminumkan tuaknya kepada sang Resi. Melihat kecantikan Kinanti, mata Jejak Setan jadi melebar dan berusaha untuk bangkit tegak, seakan ingin tunjukkan keperkasaan dan kegagahannya. Ia mencoba menghardik Kinanti dengan suara serak.

"Siapa kau, Manis?! Apa perlumu ikut campur urusan ini dengan pemuda gelandangan itu, hah?!"

"Aku tidak ikut campur urusanmu," ujar Kinanti dengan ketus. "Aku hanya menyelamatkan orang tua yang sudah tidak berdaya tapi masih kau siksa terus itu."

"Apa hubunganmu dengan si Pakar Pantun itu?!"

"Tak ada hubungan apa pun, kecuali hubungan seorang anak muda dengan orang yang lebih tua."

Jejak Setan menggeram jengkel dengan wajah berlumur darah, hingga ia tampak semakin menyeramkan. Kebocoran kepalanya tidak dihiraukan sesaat karena dalam hatinya ia menyukai kecantikan Kinanti. Matanya berbinar-binar kala memandangi kecantikan Kinanti, terutama jika memandangi di sekitar wilayah dada.

"Kuingatkan, Nona... mundurlah dan jangan coba-coba halangi niatku mendapatkan sesuatu dari Pakar Pantun. Aku bisa murka padamu jika kau masih berdiri di situ bersikap menentangku. Jika aku murka padamu, aku tak berselera lagi memperistri dirimu, Nona!"

"Puih...!" Kinanti hanya meludah, sengaja memancing kemarahan Jejak Setan.

Sementara itu, Suto Sinting sudah selesai meminumkan tuak ke mulut sang Resi. Orang tua itu telah meneguk beberapa kali dan kini sedang menunggu saat-saat kesembuhan. Suto Sinting segera bangkit dan hampiri Kinanti, ia berdiri di samping Kinanti dalam jarak tiga langkah. Matanya memandang ke arah Jejak Setan dengan senyum tipis yang menawan, namun bagi si Jejak Setan senyuman itu memuakkan.

Melihat si Jejak Setan terpikat oleh kecantikan dan kemolekan tubuh Kinanti, Suto Sinting sengaja lebih merapatkan diri kepada Kinanti. Tangan Suto merangkul pundak Kinanti dari samping sambil senyumnya kian dipamerkan di depan si Jejak Setan. Panas hati Jejak Setan kian membara. Rasa iri dan dengki berkobar dalam hatinya, sehingga ia pun segera serukan kata sambil menuding Pendekar Mabuk.

"Siapa kau sebenarnya, hah?! Apa maksudmu pamer kemesraan di depanku?!"

"Mengapa kau jadi berang dengan kemesraan kami?"

Jejak Setan bukan hanya berang, namun juga gusar dan salah tingkah. Rupanya ia punya penyakit cemburu jika melihat sepasang anak manusia bermesraan. Rasa cemburu yang sudah menjadi satu penyakit itu timbul dikarenakan selama ini Jejak Setan selalu dibenci oleh wanita kecuali oleh gurunya sendiri, ia tak sadar bahwa selama ini ada pengaruh dari ilmu yang diturunkan oleh si Pelacur Tua yang membuat menjadi dibenci oleh para wanita. Berulang kali ia mendekati wanita namun selalu dijauhi tanpa alasan yang pasti. Karenanya ia menjadi benci melihat sepasang insan yang bermesraan didepannya.

Suto tidak mengetahui hal itu. Sikapnya bermesraan dengan Kinanti hanya sekadar iseng saja. Namun melihat berangnya Jejak Setan, pendekar tampan itu segera menarik kesimpulan bahwa kemesraan merupakan sesuatu yang membuat jiwa Jejak Setan menjadi guncang. Itulah sebabnya Suto Sinting semakin memamerkan kemesraannya dengan sesekali mengusap-usap pundak atau lengan Kinanti. Sedangkan Kinanti sendiri sempat merasa aneh menerima sikap Suto yang tampak sayang kepadanya. Hatinya berdebar-debar antara percaya dan tidak.

Jejak Setan akhirnya berseru dengan kasar, "Minggat kalian dari hadapanku! Atau kuhancurkan kalian bersama si tua Pakar Pantun itu!"

Resi Pakar Pantun yang sudah sehat kembali itu segera bangkit, ia melangkah mendekati Suto Sinting sambil serukan kata kepada si Jejak Setan. "Jangan coba-coba melawan anak muda ini, Jejak Setan. Kau bisa dibuatnya terbang menuju akhirat tanpa pamit lagi kepada kami!"

"Bangsaaaat...!" teriaknya dengan liar dan buas. "Kuhancurkan mulutmu, Pakar Pantun! Heeeah...!" Jejak Setan yang merasa terhina dan diremehkan menjadi murka luar biasa, ia sentakkan kedua tangannya ke depan dan dari dua tangan itu keluar sinar biru bersama asap yang mengepul tebal. Sinar biru itu berbentuk seperti bintang berekor, besar dan ganas. Sasarannya ke arah Resi Pakar Pantun dan Pendekar Mabuk.

Wuuuus, wuuus...!

Pendekar Mabuk melompat pendek ke depan. Tangan kirinya menghentak maju dan keluarkan sinar hijau melesat dari tangan Suto. Jurus pukulan 'Guntur Perkasa' itu menghantam sinar biru lawan.

Blaaar...!

Sedangkan sinar biru yang satunya dihantam dengan kelebatan bumbung tuak di tangan kanan Suto. Wuuut...! Duuub...! Woooss...! Sinar biru itu membalik arah dan menjadi lebih besar serta lebih cepat gerakannya. Jejak Setan terperanjat kaget dan berusaha melompat ke samping menghindarinya. Tapi ledakan yang terjadi akibat benturan sinar biru dengan sinar hijaunya tadi sempat timbulkan gelombang sentakan cukup kuat, sehingga tubuh Jejak Setan pun terpental terbang cukup jauh, lalu jatuh terkapar di tanah berbatu. Braaak...!

Bleggaar...!

Sinar biru yang berbalik arah itu menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan tangan. Brrruus...! Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang menuju ke tempat Suto, dan hampir kenai kepala Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat terbanting tadi.

"Kau pikir enak dapat hujan batu?!" seru Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia terkekeh-kekeh sendiri.

Jejak Setan mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu. "Iblis dari mana anak muda itu?! Pukulanku bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku mati tanpa hasil jika nekat melawan anak muda itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu, sembuhkan luka dan pulihkan kekuatanku, lalu mengejar Pakar Pantun lagi untuk dapatkan Sabuk Gempur Jagat. Atau... jika benar sabuk pusaka itu ada di tangan si Tulang Naga, aku akan coba temui dia dan melihat apakah sabuk itu ada padanya. Jika benar ada padanya, berarti aku harus mengubah sasaran. Tulang Naga yang harus kuserang habis-habisan untuk dapatkan sabuk itu!" Wuuut...! Jejak Setan tahu-tahu melesat ke dalam semak-semak, setelah itu tak pernah muncul lagi batang hidungnya.

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya dua teguk. Kinanti masih pandangi kepergian Jejak Setan sambil membatin dalam hatinya, "Murid si Gila Tuak itu memang ilmunya edan-edanan. Pantas jika ia dipanggil Suto Sinting, sebab ilmunya memang sinting! Kurasa ia akan berhasil merebut Sabuk Gempur Jagat karena kesaktian ilmunya cukup layak untuk lakukan tugas itu."

Sementara itu, Suto Sinting membiarkan pundaknya ditepuk-tepuk oleh Resi Pakar Pantun. Orang tua itu merasa bangga dan bersyukur dapat bertemu dengan Pendekar Mabuk yang sudah beberapa kali selamatkan nyawanya dari maut, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pisau Tanduk Hantu).

"Sayur lodeh kesayangan dewaku, lebih hangat dicampur param kocok buat ibuku. Sekian kali kau selamatkan nyawaku, namun belum pernah kau selamatkan perutku."

Suto Sinting tertawa kecil mendengar pantun sang Resi. Kala itu, sang pelayan; Kadal Ginting, mendekat dengan wajah berseri menampakkan kelegaannya melihat tuannya selamat dari ancaman mati si Jejak Setan. Kinanti justru kerutkan dahi karena tak paham dengan arti pantun tersebut.

"Apa maksud pantunmu itu, Resi?"

"Perutku lapar, sudah tujuh hari tak kemasukan apa-apa."

"Perut saya juga, Eyang Resi," sahut Kadal Ginting. "Sudah tujuh hari tak kemasukan apa-apa."

Resi Pakar Pantun memungut sebuah batu kecil dan menyodorkannya kepada Kadal Ginting sambil berkata, "Masukkan saja ini kalau kau mau."

Kadal Ginting bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas. Suto Sinting tertawa makin geli, sedangkan Kinanti hanya tersenyum tipis. Batu itu segera dilemparkan oleh Resi Pakar Pantun ke sembarang arah. Ternyata kenai sebatang pohon dan ledakan kecil pun terjadi saat batu menyentuh pohon. Duaaar...! Pohon berguncang, daunnya rontok sebagian, namun tak membuat pohon menjadi tumbang.

Kadal Ginting mencibir. "Jangan pamer ilmu di depan Pendekar Mabuk. Nanti Eyang Resi ditertawakan!"

"Maaf, aku tidak sengaja menyalurkan tenaga dalamku melalui batu ini," katanya kepada Suto Sinting. "Aku hanya jengkel pada perutku yang tak mau diajak damai agar tak mencari makanan dulu."

"Kau lapar sekali, Resi?"

"Sangat lapar, Suto. Kulakukan pengejaran berhari-hari sampai aku lupa makan, namun hasilnya masih nihil."

"Siapa yang kau kejar?" tanya Kinanti dengan rasa ingin tahu.

"Tulang Naga!" jawab sang Resi. "Dialah yang membawa Sabuk Gempur Jagat milik sahabatku; Begawan Rampak Dalu. Jika sabuk itu masih di tangannya, atau di tangan orang sesat seperti si Tulang Naga, maka bumi akan cepat hancur karena kekejiannya."

"Lalu, mengapa Jejak Setan bersikeras mendapatkan sabuk pusaka itu dari tanganmu, Resi?" tanya Suto agak curiga.

"Jejak Setan bernafsu sekali untuk dapatkan Sabuk Gempur Jagat, karena ia ingin membalas kematian gurunya: Nyai Pegat Raga, si Pelacur Tua itu. Menurutnya, orang yang berhasil membunuh gurunya adalah orang berilmu tinggi yang tak mungkin bisa ditandingi jika tidak dengan menggunakan pusaka Sabuk Gempur Jagat, ia tidak tahu kalau pembunuh gurunya adalah kau sendiri, Suto."

Suto Sinting manggut-manggut, tapi Kinanti segera ajukan tanya, "Mengapa ia ngotot sekali menganggap sabuk itu ada padamu, Resi? Bukankah tadi kudengar kau sudah mengatakan bahwa sabuk itu ada di tangan si Tulang Naga?"

"Karena ia pernah melihat aku merebut sabuk itu dari tangan gurunya, ia tidak tahu kalau sabuk itu sudah direbut si Tulang Naga."

"Jika begitu, rasa-rasanya kita tak punya banyak waktu untuk bicarakan hal itu di sini. Kita harus segera ke Bukit Wangi, Resi," ujar Suto Sinting.

Resi Pakar Pantun kerutkan dahi. "Mengapa harus ke Bukit Wangi? Di sana hanya akan kita temui si Galak Gantung. Tulang Naga tinggal di Telaga Siluman, menjadi penguasa telaga itu."

"Benar. Tapi Tulang Naga seorang pendendam dan ia masih punya dendam kesumat kepada Ki Galak Gantung. Bukankah kakaknya dulu dibunuh oleh Ki Galak Gantung?"

"Aha, pikiran yang bagus itu, Suto! Baru sekarang terpikirkan olehku tentang dendam si Tulang Naga kepada Galak Gantung, bahkan bisa jadi ia juga mendendam kepada gurumu; si Gila Tuak."

"Itu yang kucemaskan, Resi. Karena aku harus segera menyusul si Tulang Naga sebelum ia mengamuk di Bukit Wangi"

"Sebab ratuku ada di sana!" sahut Kinanti.

"Kalau begitu...."

"Sayur lodeh buat rebus angkin, mertua gawat berurat kawat. Perut lapar masih bisa disumpal angin, tapi nyawa sahabat tak bisa dibiarkan lewat."

Suto menimpali dengan pantunnya, "Sayur lodeh di dalam mangkuk, ambil garam sekarung tuang semua..."

Suto diam berpikir, lalu sang Resi bertanya, "Apa artinya?"

"Artinya, sayur lodeh itu pasti asin sekali!"

Kinanti tertawa geli hingga terkikik-kikik. Baru sekarang Suto melihat Kinanti tertawa. Padahal ia tidak bermaksud membuat lelucon untuk Kinanti, ia hanya mencoba membuat pantun namun gagal. Gadis itu sembunyikan wajah di belakang punggung Suto, seakan malu dilihat tawanya yang terkikik geli.

Sang Resi berpantun lagi: "Sayur lodeh dibungkus kain batik..."

"Bocor, Eyang ," sahut Kadal Ginting.

"Ini pantun, Goblok!" sentak sang Resi. Lalu ia lanjutkan pantun tadi. "Sayur lodeh dibungkus kain batik, istri satu tak pernah ada yang sewa. Hentikan tawamu Nona Cantik, karena Tulang Naga sedang memburu nyawa."

Kinanti segera hentikan tawanya. Bayangan wajah sang Ratu terancam bahaya mulai tersumbul dalam ingatan. Bayangan Lembah Birawa yang hancur menjadi arang pun timbul di setiap pandangan mata, sehingga dendam dan kemarahannya mulai terbakar dan meletup-letup dalam jiwanya, mendidihkan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya.

* * *

TUJUH

MEREKA berempat bergegas menuju Bukit Wangi. Dalam hati mereka sempat diliputi kecemasan karena menurut perhitungan, jika Tulang Naga pergi menuju Bukit Wangi sejak tadi pagi, maka saat itu Tulang Naga pasti sudah sampai ke pondoknya si Galak Gantung. Itulah sebabnya Suto Sinting mengajukan usul untuk mendahului mereka dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.

"Terlambat sedikit saja, Ki Galak Gantung dan Ratu Jiwandani akan binasa di tangan Tulang Naga," ujar Suto Sinting.

"Kurasa itu hal yang baik," kata Resi Pakar Pantun. "Daripada kita terlambat semua, lebih baik tiga yang terlambat, satu yang menjadi penyelamat!"

Kinanti diam saja tak memberi tanggapan. Dari wajahnya tampak rasa kurang suka jika ia ditinggalkan Suto Sinting. Wajah itu dipandangi Kadal Ginting, dan si pelayan sang Resi itu berkata,

"Nona Kinanti tidak perlu cemas. Tak ada Suto, masih ada saya!"

"Maksudmu, kalau ada bahaya kau bisa melindungi Kinanti?" tanya sang Resi.

"Maksud saya, kalau butuh gendongan, saya sanggup menggendong Nona Kinanti, Eyang," sambil Kadal Ginting nyengir.

"Kenapa tidak aku saja yang kau gendong?"

"Wah, kalau Eyang Resi yang saya gendong, sama saja saya dijepit kepiting. Habis Eyang Resi tulang semua, tak ada dagingnya!"

"Sekali lagi kau menghinaku begitu, kubuang kau ke dasar jurang!" sentak sang Resi dengan dongkol, namun membuat mereka tersenyum geli. Senyum dan langkah mereka terhenti ketika Suto Sinting segera berseru dengan tangan merentang memberi isyarat untuk berhenti.

"Darah...?!"

Semua memandang ke tanah di mana terdapat tetesan darah segar. Daun-daun ilalang pun basah oleh darah yang tampak belum mengering. Kinanti menjadi cemas sekali sebab tempat itu sudah dekat dengan Bukit Wangi.

"Darah siapa itu, Eyang! Hiiii...!" Kadal Ginting bergidik merinding dan mendekati sang Resi. Merapatkan tubuh ke badan sang Resi, membuat sang Resi mendorong kesal pelayannya.

"Kau ini seperti banci saja!"

"Ada darah, Eyang...!"

"Iya, aku pun tahu kalau di sini ada darah. Tapi kamu tak perlu mendesakku sampai menginjak-injak kakiku segala!"

"Jangan ribut sendiri!" sentak Kinanti sebagai pelampiasan rasa cemasnya.

"Bukan soal ribut, ini soal darah, Non...," gerutu Resi Pakar Pantun dalam gumam lirihnya.

"Daun-daun semak di sebelah sana juga dilumuri darah!" ujar Kadal Ginting.

Suto Sinting bergegas mengikuti tetesan darah segar itu. Dalam hatinya juga timbul kekhawatiran, "Jangan-jangan Tulang Naga telah temukan Ki Galak Gantung dan Ratu Jiwandani lalu menyerang mereka, dan mereka lari dalam keadaan terluka berdarah?! Celaka betul kalau hal itu sampai terjadi."

Langkah kaki mereka menyusuri tetesan darah, sampai akhirnya Suto rentangkan tangan memberi isyarat agar mereka berhenti melangkah. Ada sesuatu yang ditemukan oleh si murid sinting Gila Tuak itu. Sebuah benda berujung runcing. Benda itu adalah sepotong gading panjang tiga jengkal, kedua ujungnya runcing tajam. Suto dan Resi Pakar Pantun mengenali benda tersebut.

"Pusaka Nenggala Kubur," ucap sang Resi saat benda itu diambil Suto Sinting.

"Seingatku ini senjatanya Tulang Naga," ujar Suto bagai bicara sendiri.

"Memang senjata Nenggala Kubur adalah senjata si Tulang Naga," sang Resi membenarkan. "Tapi, mengapa bisa ada di sini?"

"Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan darah yang ada di rerumputan. Langkah gadis berjubah kuning gading itu mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut,

"Ada mayat!"

"Hahh... mayat...?! Hiii...!" Kadal Ginting merapatkan tubuh ke badan sang Resi.

"Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk.

"Kasar sekali Eyang padaku."

"Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau pakaianku terkena aroma bangkai seperti keringatmu!" sang Resi menggerutu sambil melangkah dekati Kinanti.

Suto Sinting berdiri di dekat mayat seorang lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka parah bagian punggungnya. Berlubang bagaikan terowongan perut gunung. Sepertinya ia dihantam dari belakang dengan pukulan tenaga dalam yang cukup dahsyat.

Resi Pakar Pantun membelalakkan matanya begitu melihat mayat yang terkapar di rerumputan. "Ooh...?! Tulang Naga?!"

"Seseorang telah membunuh Tulang Naga. Kurasa belum lama pertarungan itu terjadi di sekitar sini," ujar Suto Sinting.

"Lalu, siapa orangnya yang membunuh Tulang Naga, dan ke mana sabuk pusaka itu?!" ucap sang Resi.

Mereka saling pandang dalam ketegangan. Hati mereka saling menduga. Namun dugaan paling kuat tertuju pada Galak Gantung. Mereka bayangkan Tulang Naga menyerang Galak Gantung dan Ratu Jiwandani. Tulang Naga terdesak dan larikan diri sampai di tempat itu. Galak Gantung mengejarnya, kemudian berhasil membunuh Tulang Naga. Sabuk Gempur Jagat pun diambil oleh si Galak Gantung,

"Tapi bagaimana jika dugaan kita itu meleset?" ujar Suto Sinting setelah merenung beberapa saat. "Bagaimana kalau Sabuk Gempur Jagat ada di tangan tokoh lain yang beraliran hitam?"

"Sebaiknya kita temui dulu Gusti Ratu-ku dan Ki Galak Gantung," usul Kinanti. Lalu, mereka pun bergegas teruskan perjalanan menuju Bukit Wangi yang sudah kelihatan dari tempat mereka berada.

Jlegaaarr...!

Tiba-tiba sebuah ledakan menggelegar terdengar begitu dahsyatnya, hingga tanah di sekitar mereka terguncang hebat. Pepohonan pun nyaris tumbang, daun-daun dan ranting kering berguguran. Tapi di sebelah timur, beberapa pohon menjadi tumbang bersusulan. Angin panas berhembus membuat kulit tubuh mereka bagai disengat angin lahar. Suara gemuruh menggema membuat alam bagai terancam kiamat. Warna merah menyebar dari arah timur saat suara ledakan dahsyat tadi terdengar.

"Ini kekuatan dari Sabuk Gempur Jagat!" ujar sang Resi dengan tegang. "Ada orang yang bertarung di timur dan menggunakan sabuk itu!"

Zlaaaap...! Suto Sinting tak banyak bicara lagi, ia melesat dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata manusia biasa. Jurus 'Gerak Siluman' digunakan dan membuat mereka bertiga tertinggal, lalu segera saling susul dengan pergunakan ilmu peringan tubuh masing-masing agar bisa melaju dengan cepat. Kadal Ginting yang tertinggal dan berlari tunggang langgang, karena ia tidak mempunyai ilmu peringan tubuh.

"Eyaaaang... tungguuuu...! Saya takut mayatnya bangkit lagi, Eyaaang...!" serunya dalam nada ketakutan.

Tentu saja Pendekar Mabuk lebih dulu tiba di tempat pertarungan. Sebuah lembah berpohon renggang telah menjadi rusak bagaikan habis dilanda gempa bumi cukup parah. Tanah di sana-sini mengalami keretakan. Pepohonan tumbang, bahkan sebagian menjadi kering dan hangus menjadi arang hitam. Angin panas masih tersisa dan membuat suasana sekitar tempatitu menjadi seperti di tepian kawah gunung berapi.

Sementara itu, seorang lelaki tua berpakaian jubah putih berdiri tegak tanpa gerak. Tokoh tua berambut pendek putih dengan kumis dan jenggotnya yang putih memegang tongkat kayu hitam dengan kepala tongkat berbentuk cakar lima jari. Orang itu bertubuh gemuk, dikenal sebagai Ketua Kelompok Gelandangan. Suto mengenal orang tersebut dengan julukan si Jubah Kapur.

Kehadiran Jubah Kapur di tempat itu memang mengejutkan bagi Suto Sinting, bahkan ketika Resi Pakar Pantun dan Kinanti menyusulnya, mereka juga merasa heran melihat keberadaan Jubah Kapur di tempat tersebut. Namun yang lebih mengherankan mereka adalah lawan yang dihadapi si Jubah Kapur.

Sosok berwajah dingin itu mengenakan kerudung hitam dari kepala sampai kaki. Wajah di balik kerudung hitam itu tampak pucat sekali, bibirnya berwarna biru. Sekalipun kelihatan masih muda dan berhidung bangir, tapi kekejiannya terpancar dari sorot matanya yang bagai ingin membekukan darah tiap manusia yang dijumpainya. Orang berkerudung hitam itu memegang tongkat berujung parang lengkung yang dinamakan pusaka El Maut. Siapa lagi dia kalau bukan Siluman Tujuh Nyawa yang terkenal sebagai tokoh paling sesat dan ditakuti oleh beberapa tokoh di rimba persilatan.

"Siluman Tujuh Nyawa...?!" gumam Resi Pakar Pantun dengan mata mendelik. "Bbba... bagaimana mungkin dia bisa ikut ambil bagian dalam perkara Sabuk Gempur Jagat ini? Dan... dan... dan sabuk itu ternyata sudah tergenggam di tangan kirinya? Gila! Jubah Kapur bisa hancur jika melawan si Durmala Sanca itu?"

Durmala Sanca adalah nama asli Siluman Tujuh Nyawa. Musuh utama tokoh terkeji di seluruh rimba persilatan itu tak lain adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting. Pengembaraan Suto selama ini adalah memburu Siluman Tujuh Nyawa untuk memenggal kepala orang tersebut sebagai maskawin untuk meminang Gusti Mahkota Sejati; Dyah Sariningrum.

Selama ini Suto selalu gagal menumbangkan Siluman Tujuh Nyawa, karena tokoh yang tak pernah punya perubahan air muka itu bukan saja keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut. Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika berhadapan dengan Suto selalu melarikan diri sebelum berhasil ditumbangkan. Dengan Sabuk Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia akan lolos dari incaran Suto Sinting?

"Pantas kalau si Tulang Naga mampus, ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah Siluman Tujuh Nyawa?!" gumam Resi Pakar Pantun tepat di seberang telinga Kinanti.

Gadis itu hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian Siluman Tujuh Nyawa.

"Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan lama sekarang juga!" ujar Siluman Tujuh Nyawa dengan suara datar berkesan dingin. "Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi, dan sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin mencopot nyawamu!"

Sabuk Gempur Jagat yang ada di tangan kiri Siluman Tujuh Nyawa itu mulai diangkat. Sabuk itu ternyata terbuat dari kulit ular berduri dengan tengkorak kepala ular menjadi hiasan ujung sabuk. Agaknya keadaan ular masih utuh, dari kepala sampai ekor. Bagian ekornya bertaji runcing seukuran kelingking. Duri-duri runcing di sekujur tubuh ular yang sudah tak berdaging lagi itu tampak mengering hitam kebiruan bertanda mempunyai racun yang berbahaya bagi orang yang tergores kulitnya.

Jubah Kapur masih diam saja walau Siluman Tujuh Nyawa sudah mengangkat Sabuk Gempur Jagat. Namun ketika sabuk itu disabetkan dengan satu lompatan menyerang, Jubah Kapur bergerak cepat menghindar. Wuuut...! Tapi tongkatnya tersambar ekor sabuk tanpa disengaja.

Duaaarrr...! Ledakan keras terjadi, dan tongkat itu hancur seketika menjadi serpihan kayu tanpa arti. Kini Jubah Kapur sudah tidak bersenjata lagi. Tapi ia tidak melarikan diri dan tetap hadapi lawannya dengan penuh keberanian. Bahkan sekarang ia bergerak menyerang dengan satu gerakan cepat yang tak bisa dilihat mata manusia biasa. Weeess...!

Siluman Tujuh Nyawa juga bergerak cepat menghindari terjangan lawan. Weeeess...! Tahu-tahu mereka sudah berpindah tempat dan saling berhadapan kembali. Siluman Tujuh Nyawa sabetkan sabuk itu ke udara, arahnya ke tubuh Jubah Kapur. Wuuut...! Wooooss...!

Api menyambar Jubah Kapur, untung segera dapat dihindari dengan gerakan mirip orang menghilang itu. Slaaap...! Dan api pun menyambar pepohonan di belakang Jubah Kapur. Lalu hutan di sekitar pohon itu pun terbakar, nyala apinya berkobar-kobar, makin lama semakin melebar. Badai angin panas berhembus ke selatan membuat tanaman menjadi layu dan kering, bahkan ada yang langsung menghangus menjadi arang.

"O, mungkin begitulah cara si Tulang Naga saat membumihanguskan istana Lembah Birawa dan orang-orangnya," pikir Kinanti dari tempat persembunyiannya.

Clap, clap...!

Jubah Kapur keluarkan sinar putih dari kedua telapak tangannya. Tapi kedua sinar putih itu segera dihantam dengan Sabuk Gempur Jagat yang disabetkan dengan cepat. Wut, wut...!

Blegaaarr...! Ledakan besar mengguncangkan bumi, membuat Jubah Kapur terpental jatuh. Pada saat itulah Siluman Tujuh Nyawa menerjang maju dan menghantamkan sabuk yang dipegang bagian ekornya. Kepala sabuk pun menghantam ke tubuh Jubah Kapur. Namun orang gemuk itu mampu bergerak gesit menghindar ke samping, sehingga hantaman sabuk itu kenai tanah.

Jegaaarrr...!

Suara gemuruh menggema. Tanah menjadi retak di beberapa tempat. Asap mengepul dari retakan tanah. Alam pun terguncang bagai diserang gempa secara mendadak. Warna hitam hangus tampak nyata pada tanah yang terkena hantaman kepala sabuk tersebut. Jubah Kapur segera sentakkan tangannya ke tanah dan tubuhnya melayang di udara lalu bersalto satu kali. Wuuut...! Jleeg...! Kakinya menapak kekar di tanah.

"Manusia sesat!" geram Jubah Kapur. "Kini saatnya ajalmu tiba!"

Jubah Kapur gerakkan tangannya ke sana-sini, sementara itu Siluman Tujuh Nyawa memutar-mutar Sabuk Gempur Jagat di atas kepala. Putaran itu memancarkan sinar hijau yang melebar dan menjadi dinding perisai di sekelilingnya. Jubah Kapur lepaskan jurus mautnya; sepuluh larik sinar biru keluar dari tiap ujung jarinya. Zrrrraab...!

Blegaaar...!

Sepuluh larik sinar biru tak mampu menembus cahaya hijau. Justru menghadirkan ledakan dahsyat yang membuat tubuh gemuk Jubah Kapur terpental kuat dan menghantam pohon di kejauhan sana. Duuurrr...! Krrraaak, brrrruuuk...!

Pohon itu tumbang akibat benturan tubuh Jubah Kapur. Darah kental keluar dari mulut, hidung, dan telinga si Jubah Kapur, ia terluka parah pada bagian dalam akibat gelombang ledakan yang begitu kuat itu. Napasnya mulai tersengal-sengal dan tak mampu bangkit lagi.

Melihat keadaan Jubah Kapur separah itu, Suto Sinting segera melesat dari tempat persembunyiannya. Zlaaap...! Tahu-tahu sudah berada di depan Siluman Tujuh Nyawa. Jleeg...! Anehnya tokoh sesat itu tidak merasa terkejut sedikit pun. Wajahnya datar-datar saja, bahkan senyum sinis pun tak mengembang di bibirnya yang biru itu.

"Akulah lawanmu!"

"Kau datang mengantar nyawa, Bocah Ingusan! Barangkali memang sudah saatnya kau menemui ajalmu di sini!" ujar Siluman Tujuh Nyawa sambil masih memutar sabuk pusaka dan tubuhnya dilapisi sinar hijau bening.

"Kaulah yang akan binasa, Durmala Sanca!"

"Lakukan jika kau mampu menyerangku!"

Ingat peristiwa Dyah Sariningrum pernah dilukai oleh Siluman Tujuh Nyawa menggunakan pukulan 'Candra Badar', (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tombak Maut), Suto Sinting tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan 'Pecah Raga' dari telapak tangannya. Sinar hijau keruh menghantam lapisan sinar hijau bening. Claaap...!

Blegaaar...! Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Suto Sinting terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya berguling-guling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya. Napasnya menghadirkan angin kencang yang menyingkapkan rerumputan dan menebarkan tanah di bagian depannya.

"Hiaaat...!" Pendekar Mabuk melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia sentakkan tangannya, lalu sinar perak keluar dari telapak tangannya. Itulah yang dinamakan 'Jurus Yudha' pemberian Ratu Kartika Wangi yang berupa puluhan bintang segi lima kecil-kecil berwarna perak menyala. Sinar perak itu menghantam lapisan sinar hijau yang mengelilingi tubuh Siluman Tujuh Nyawa.

Jegaaarrr...! Sinar itu hancur menyebar lalu padam seketika. Sentakan gelombang ledaknya membuat tubuh Siluman Tujuh Nyawa terjungkal ke belakang berguling-guling. Sabuk Gempur Jagat lepas dan terpental.

Zlaaaap...! Suto Sinting menyambar sabuk itu dan dalam sekejap sudah berada di tangannya. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tak mengalami luka parah kecuali hangus di bagian telapak tangan kirinya. Kalau tak ada sinar hijau bening, tentunya tubuhnya akan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.

Melihat sabuk pusaka itu sudah ada di tangan Suto, dengan gerakan cepat tanpa kalimat, Siluman Tujuh Nyawa melesat pergi masuk ke alam gaib. Zluuub...! Suto Sinting yang ingin lepaskan jurus 'Manggala' terpaksa urung, ia mengejar masuk ke alam gaib dengan meraba noda merah di keningnya. Zluuub...! Kejap berikut ia kembali lagi dengan napas terengah-engah. Pengejarannya melalui alam gaib ditunda karena ia ingat keadaan Jubah Kapur yang butuh pertolongan dengan segera.

Sabuk Gempur Jagat kini telah berhasil diselamatkan dari tangan orang sesat. Jubah Kapur akhirnya tertolong juga oleh tuak saktinya Pendekar Mabuk. Tokoh tua yang menjadi gurunya Inupaksi itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bayi Pembawa Petaka), akhirnya berkata kepada Suto Sinting,

"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku. Hanya saja, sayang sekali iblis sesat itu tak sempat kau cabut nyawanya!"

"Itu bagianku nanti, Ki Jubah Kapur. Tapi... mengapa kau sampai terlibat perkara dengan Siluman Tujuh Nyawa?"

"Dulu aku pernah menggagalkan rencana busuknya, menculik putri seorang raja. Ia masih mendendam padaku. Kebetulan aku ingin bertandang ke pondoknya si Galak Gantung. Aku memergoki dia sedang bertarung dengan Tulang Naga. Setelah ia berhasil membunuh Tulang Naga dan mengambil sabuk pusaka itu, ia ganti menyerangku dan aku tak bisa lari kecuali menghadapinya secara untung-untungan!"

"Ternyata kau benar-benar untung," sela Resi Pakar Pantun. "Kalau tak untung, kepalamu saat ini sudah buntung!"

Mereka tertawa kecil. Kemudian Suto Sinting serahkan Sabuk Gempur Jagat kepada Resi Pakar Pantun. "Tolong kembalikan kepada Begawan Rampak Dalu," katanya dengan bijaksana sekali.

Kinanti sempat menggumam, "Aku heran, Siluman Tujuh Nyawa itu ilmunya sudah cukup tinggi, mengapa masih menghendaki sabuk pusaka itu?"

"Setiap pusaka yang dapat membahayakan jiwanya selalu ingin dikuasai, supaya tak ada orang yang dapat kalahkan dirinya," jawab Jubah Kapur.

Kinanti pun manggut-manggut. Setelah sabuk diterima sang Resi, Suto pun bergegas pergi dan Kinanti mengejarnya.

"Suto, mau ke mana kau?!"

"Mengejar lawanku tadi ke alam gaib!" jawabnya sambil melambaikan tangan dan Kinanti hanya memandang dengan hati sedih.

S E L E S A I

Sabuk Gempur Jagat

Serial Pendekar Mabuk
Sabuk Gempur Jagat
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
SISA-SISA kebakaran membentuk bayangan kerangka hitam menyeramkan. Pilar-pilar istana bagaikan sosok hantu hitam tanpa gerak dan suara. Diwarnai oleh kepulan asap tipis sisa kebakaran dan bau daging hangus di sana-sini, siapa pun yang lewat di hamparan puing-puing hitam itu akan merinding bulu kuduknya.

Begitu pula yang dirasakan oleh pemuda tampan berambut lurus sepundak tanpa ikat kepala. Pemuda yang kenakan baju tanpa lengan warna coklat dan celana putih lusuh itu pandangi tiang-tiang hitam yang menjadi saksi bisu atas kekejian yang telah melanda tempat tersebut.

Pemuda berbadan tegap, kekar, dan gagah itu mempunyai sepasang mata tajam yang kala itu tak mampu berkedip karena terperangah menyaksikan keadaan sekitarnya. Bumbung tuak yang disandang melintang di punggung itu menjadi ciri penampilannya sebagai murid Gila Tuak dan Bidadari Jalang yang dikenal dengan nama Suto Sinting alias si Pendekar Mabuk dari Jurang Lindu.

"Mengapa bisa jadi begini?" Pendekar Mabuk membatin dengan heran. "Siapa orangnya yang telah membumihanguskan istana ini? Apakah tak satu pun ada yang selamat? Oh... menjijikkan sekali. Di sana-sini bergelimpangan mayat terbakar hangus, sebagian masih ada yang tak sampai menjadi arang. Aku hampir tak percaya melihat istana ini menjadi ladang hitam begini. Melihat sisa asap yang masih mengepul, pasti kejadiannya belum berselang lama."

Sekalipun di sana-sini banyak mayat menjijikkan karena luka bakar, namun Pendekar Mabuk tetap menyusuri tempat itu dengan langkah hati-hati. Matanya pandangi tiap mayat karena hatinya mencari berapa wajah yang dikenalinya. Namun wajah-wajah mayat di situ sukar dikenali lagi. Bahkan pakaian mereka pun tak ada yang tersisa hingga tak bisa dijadikan ciri bagi pemakainya. Pendekar Mabuk masih mencoba membedakan mana mayat lelaki dan mana mayat perempuan.

"Selama menjadi pendekar, baru sekarang aku kebingungan memilih mayat lelaki dan mayat perempuan," pikir Suto Sinting. "Ada baiknya kalau kuperiksa saja sekeliling tempat ini, siapa tahu kutemukan korban yang masih hidup atau dalam keadaan sedang sekarat sehingga bisa kudengarkan penjelasannya tentang musibah maut ini."

Bau daging hangus sempat bikin perut mual. Pendekar Mabuk terpaksa meraih bumbung tuaknya dan menenggak tuak beberapa teguk. Tuak itu membuat rasa mual lenyap seketika. Suto hembuskan napas lega, lalu segera menutup bumbung tuaknya. Pada saat itulah tiba-tiba sekelebat benda tampak melayang dari arah samping kanannya. Suto Sinting cepat sentakkan kaki dan tubuhnya melompat dalam gerakan bersalto ke belakang satu kali. Wuuut...! Dan benda yang melesat itu tak jadi kenai tubuhnya.

Weess... Taab!

Benda yang melintas cepat itu menancap pada sebatang pilar kayu yang sudah hangus dan bagian atasnya telah menjadi arang keropos. Pandangan mata Suto Sinting terarah pada benda yang menancap pada bekas pilar itu; ternyata sebatang anak panah dengan panjang sehasta lebih sedikit. Pendekar Mabuk cepat alihkan pandangan matanya ke arah datangnya anak panah tersebut.

"Hmmm...?! Rupanya dia yang menyerangku dengan panahnya?!" gumam si tampan sinting murid Gila Tuak itu.

Di balik reruntuhan arang telah berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Lelaki itu mengenakan celana merah tanpa baju. Tubuhnya sedikit gemuk tapi tidak begitu tinggi. Rambutnya panjang belakang, bagian depannya botak licin. Wajahnya tampak sedikit angker tapi tak seangker kuburan tua. Berkumis tipis namun panjang hingga melengkung sampai ke dagu. Ia masih pegangi busur yang sudah ditarik talinya dengan sebatang anak panah terarah kepada Suto Sinting.

Meski dirinya terancam anak panah yang akan dilepaskan ke dadanya, tapi Suto Sinting tetap diam di tempat dengan sorot pandangan mata tak berkedip. Berdiri tegak, dada sedikit membusung sehingga tampak gagah dan berkesan tak merasa gentar sedikit pun. Ujung panah itu justru ditatapnya tajam-tajam, seakan ditantang untuk lepas dari tali busurnya. Tetapi orang bercelana merah itu tak mau segera lepaskan anak panah tersebut, ia justru berseru dengan nada tak ramah dan berkesan menggertak Pendekar Mabuk.

"Tinggalkan tempat ini atau kau kehilangan nyawa sekarang juga!"

Sehela napas ditarik dan dihembuskan pelan-pelan sebagai penenang keadaan dirinya. Pendekar Mabuk mulai kendurkan ketegangannya dan senyum tampannya mekar seulas dengan tipis sekali.

"Sangkamu siapa diriku ini, Paman?" ujar Suto dengan kalem, ia justru melangkah dekati orang tersebut.

"Berhenti!" sentak orang itu dengan mata melebar. "Selangkah lagi kau maju, dadamu akan ditembus oleh panahku ini!"

"Apakah kau kira tubuhku terbuat dari getuk, sehingga mudah ditembus anak panah? Coba saja lepaskan kalau kau sanggup membidik dadaku, Paman!"

Orang itu tidak main-main, ia benar-benar lepaskan anak panah dari busurnya. Slaaap...! Anak panah meluncur cepat ke dada Suto Sinting. Kaki anak muda itu masih tegak berdiri dengan sedikit merenggang, ia tidak menghindar, melainkan meraih bumbung tuaknya dan menghadangkan di depan dadanya. Anak panah itu akhirnya kenai bumbung tuak yang terbuat dari bambu bukan sembarang bambu itu. Traaang...! Suara anak panah menghantam bumbung tuak seperti anak panah menghantam besi baja berongga.

Orang yang memanah Pendekar Mabuk menjadi terbelalak kaget melihat anak panahnya memantul dan berbalik arah dengan kecepatan lebih tinggi. Hampir saja orang itu celaka dihujam panahnya sendiri kalau saja ia tidak segera gulingkan diri di udara dalam satu lompatan cepat. Wuuut...!

Jrrabb...! Anak panah itu menancap pada puing-puing sisa kebakaran dan membuat puing-puing itu menjadi hancur berantakan bagaikan dipukul dengan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi. Brraaass...! Puing-puing itu menyebar ke segala arah, menimbuni kepala si pemilik panah tersebut.

Orang bermata agak besar itu hanya terperangah bengong pandangi Pendekar Mabuk. Namun hatinya sempat menggumam sendiri, "Hebat sekali dia? Panahku bisa dikembalikan dalam keadaan lebih cepat dan berkekuatan tenaga dalam cukup dahsyat?! Gila! Agaknya aku tak boleh anggap remeh anak muda itu? Hmmm... siapa dia sebenarnya? Aku sepertinya pernah melihatnya secara sepintas, tapi tak sempat mengenalnya lebih dekat lagi. Dilihat dari raut mukanya, agaknya dia bukan orang jahat. Sebaiknya kukurangi kecurigaan jelekku terhadap anak muda itu."

Pendekar Mabuk semakin dekati orang tersebut. Dalam jarak tujuh langkah kurang ia berhenti dan menyapa dengan suaranya yang bernada kalem, mata memandang tanpa kesan permusuhan. "Apa maksudmu menyerangku, Paman? Siapa kau sebenarnya?"

"Justru seharusnya aku yang berkata begitu!" jawab orang itu masih menampakkan sikap permusuhannya.

Suto Sinting tidak cepat jawab pertanyaan si pemanah tersebut, melainkan justru pandangi keadaan sekeliling dengan raut wajah kian datar, sepertinya sedang memendam perasaan duka yang tak ingin diketahui siapa pun. Kejap berikut barulah terdengar suaranya tanpa pandangi orang di depannya.

"Tak kusangka Lembah Birawa menjadi seperti ini. Kaukah pelakunya, Paman?"

"Kurobek mulutmu jika bicara selancang itu lagi!" sentak orang bersabuk hitam itu. Ia pun segera maju tiga langkah dan berdiri dengan sikap menantang di depan Suto Sinting. "Justru aku yang curiga padamu sebagai orang yang menghancurkan Istana Lembah Birawa ini! Pasti kau yang melarikan Ratuku; Gusti Ratu Jiwandani!"

"O, kalau begitu kau adalah prajurit dari Lembah Birawa ini. Tapi mengapa kau tidak mengenaliku, Paman? Apakah kau lupa bahwa aku pernah selamatkan Ratu Jiwandani dari ancaman Demit Lanang?"

"Ap... apakah kau yang bernama Suto Sinting; Pendekar Mabuk?" orang itu agak gugup.

"Benar. Agaknya baru sekarang kau melihatku, Paman."

"Mma... maafkan aku, kala itu aku tidak ada di tempat, bertugas menghubungi seorang sahabat Ratu untuk meminta bantuan dalam menghadapi Demit Lanang. Tapi ketika aku berhasil pulang dengan membawa bantuan, ternyata keadaan sudah aman dan aku hanya mendengar cerita tentang dirimu. Maafkan aku yang pikun ini, Pendekar Mabuk."

Suto Sinting sunggingkan senyum sekadarnya. Benaknya masih membayangkan peristiwa beberapa waktu yang lalu ketika ia terlibat dalam perkara kekejaman si Demit Lanang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Pemusnah Raga).

"Jadi, kau ada di pihak Ratu Jiwandani, Paman?"

"Benar," jawab orang itu yang mulai semakin bersikap lunak. "Aku prajurit sandi; namaku Wirya Tabah."

"Pantas kau tak tampak sedih melihat keadaan seperti ini. Mungkin kau orang paling tabah di dunia, Paman."

"Yang ada dalam hatiku bukan kesedihan tapi kemarahan. Aku ingin membalas dendam kepada orang yang telah membumihanguskan tempat ini. Ia harus menebusnya dengan nyawanya sendiri."

"Apakah kau tak tahu siapa pelakunya?"

Wirya Tabah gelengkan kepala sambil menarik napas. "Tadi pagi aku baru saja kembali dari Pulau Lintang untuk mencari obat buat sembuhkan adikku yang sakit. Tapi begitu tiba di sini, ternyata adikku sudah tak ada dan mungkin termasuk salah satu dari sekumpulan mayat-mayat hangus ini!"

Mata lebar Wirya Tabah pandangi mayat- mayat yang bergelimpangan di sana-sini. Tulang rahangnya bergerak-gerak tanda sedang menggeletukkan gigi menahan dendam yang belum bisa terlampiaskan.

"Paman Wirya Tabah, apakah kau juga tidak mengetahui bagaimana nasib hidupnya Kinanti?" tanya Suto Sinting yang sejak tadi menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya.

"Jika nasib Gusti Ratu saja tidak kuketahui, tentunya nasib Kinanti pun tidak kuketahui, Suto. Rupanya kau kenal dekat dengan Kinanti. Apakah kau kekasihnya?"

Suto hanya sunggingkan senyum geli. Ia sengaja tak memberi kepastian jawaban kepada Wirya Tabah, karena pada saat itu tiba-tiba pandangan matanya tertarik pada sekelebat bayangan yang melesat dari samping belakang. Kelebatan bayangan itu membuat Pendekar Mabuk cepat palingkan wajah dan ikuti dengan pandangan mata berkerut dahi.

Jleeg...!

Bayangan itu berubah menjadi sesosok tubuh berjubah kuning gading. Suto Sinting makin lebarkan senyum melihat wajah si jubah kuning gading yang cantik dengan rambut panjang disanggul sebagian, ia adalah seorang gadis berpinjung penutup dada warna hijau tua cukup ketat hingga tampak sekali kemontokannya, ia menyandang sebilah pedang di punggungnya dengan gagang pedang diberi hiasan rumbai-rumbai benang sutera warna merah.

"Kinanti...," sapa Pendekar Mabuk dengan suara lembut. "Baru saja kami membicarakan tentang dirimu."

Kinanti, pengawal Ratu Jiwandani itu, tak bisa sunggingkan senyum sedikit pun. Wajahnya tampak murung; antara duka dan benci. Bahkan ketika ia pandangi keadaan sekelilingnya, kian lama kedua matanya kian digenangi air bening. Air mata itu akhirnya meleleh ke pipi berkulit kuning langsat.

Wirya Tabah segera menghadang dengan sedikit bungkukkan badan tanda menghormat. Berarti kedudukan Kinanti lebih tinggi dari Wirya Tabah.

"Ke mana saja kau, Wirya Tabah?!" hardik Kinanti dengan suara parau.

"Maafkan aku yang terlambat datang. Tapi kepergianku mencari obat untuk adikku sudah seizin Gusti Ratu, Kinanti."

Plaaak...!

Tiba-tiba Kinanti layangkan tamparan tangannya ke wajah Wirya Tabah tanpa tanggung-tanggung lagi. Lelaki yang usianya lebih banyak dari Kinanti itu terpelanting jatuh bersimpuh akibat tamparan tersebut. Wajah yang ditampar menjadi merah, menandakan tamparan itu disertai hempasan tenaga dalam walau berukuran sedang-sedang saja. Wirya Tabah tak berani melawan atau membalas, ia hanya bangkit dan tetap tundukkan kepala bersikap sebagai orang bersalah.

"Di mana rasa baktimu kepada negeri dan ratumu, Wirya Tabah?! Dalam keadaan diserang bahaya sekeji ini kau pergi tanpa mau menanggung akibatnya. Pengabdian macam apa yang kau miliki itu, Wirya Tabah!"

Kinanti angkat tangan kanannya dan ingin tampar Wirya Tabah lagi, tapi seruan Suto Sinting menghentikan gerak tangan tersebut.

"Cukup!" Suto Sinting kian mendekati Kinanti. "Jangan limpahkan dendam dan kemarahanmu kepada Paman Wirya Tabah, Kinanti. Bukankah ia pergi sudah seizin sang Ratu?"

Mata gadis cantik itu memandang Suto dengan tajam. Napasnya ditarik dalam-dalam. Tangan yang sudah terangkat diturunkan. Setelah sesaat saling beradu pandang dengan Suto Sinting, Kinanti pandangi arah jauh bagaikan menerawang.

Terdengar Wirya Tabah ajukan tanya dengan suara lirih, "Bagaimana keadaan Gusti Ratu? Apakah beliau selamat? Jika selamat, di mana beliau sekarang?"

"Kuselamatkan ke Puncak Bukit Wangi."

"Maksudmu, Gusti Ratu sekarang bersama Ki Galak Gantung?"

"Benar! Pergilah ke sana dan jaga beliau. Siapa tahu orang itu masih memburu Gusti Ratu."

"Tapi bukankah Ki Galak Gantung cukup mampu mengatasi bahaya yang mengancam sang Ratu?"

"Ki Galak Gantung sedang sakit, kekuatannya berkurang. Muridnya sedang tidak ada di tempat. Pergilah ke sana sekarang juga, Wirya Tabah, lindungi Ratu dari bahaya yang mengancamnya sewaktu-waktu!"

Pendekar Mabuk masih bungkamkan mulut. Tapi hatinya berkecamuk sendiri, ingatannya kembali pada seraut wajah tua milik Galak Gantung yang pernah dikenalnya dalam satu peristiwa pembebasan seorang tabib wanita yang ditawan Ratu Sukma Semimpi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Bernyawa).

Galak Gantung adalah sahabat dari si Gila Tuak, karenanya Suto Sinting merasa aman jika Ratu Jiwandani diungsikan ke pondok Galak Gantung, sebab orang tua itu berilmu tinggi. Sekalipun dalam keadaan sedang sakit, namun kesaktiannya masih mampu melindungi Ratu Jiwandani dari bahaya apa pun. Suto percaya akan hal itu.

Maka ketika Wirya Tabah pergi menjalankan perintah Kinanti; menuju puncak Bukit Wangi yang menjadi tempat kediaman Galak Gantung, kejap berikutnya Suto pun perdengarkan suaranya dari belakang Kinanti.

"Kurasa Ki Galak Gantung cukup mampu lindungi Ratu Jiwandani. Kau tak perlu khawatir lagi jika Gusti Ratu-mu sudah ada dalam lindungan Ki Galak Gantung. Aku kenal betul kesaktian sahabat guruku itu."

Kinanti masih diam saja, seakan ia tak ingin menanggapi kata-kata itu. Pandangan matanya menerawang lurus pada kepergian Wirya Tabah, sehingga Pendekar Mabuk merasa perlu sadarkan lamunan duka Kinanti dengan sebuah teguran lembut dari arah sampingnya.

"Kinanti, jelaskan padaku siapa orang yang telah membumihanguskan Lembah Birawa ini?"

"Aku tak tahu," jawab Kinanti dengan datar. "Orang itu menyerang pada tengah malam, tak terlihat jelas wajahnya. Namun seorang anak buahku yang saat itu belum menjadi korban sempat memberitahukan padaku, bahwa orang yang datang menyerang Istana itu bersenjata Sabuk Gempur Jagat. Ia tahu ciri-ciri sabuk pusaka itu, tapi sayang anak buahku itu sekarang sudah tiada. Jasadnya hancur disabet sabuk pusaka itu di seberang kaki hutan sebelah utara sana."

"Sabuk Gempur Jagat...?!" Suto Sinting menggumam bernada heran dan penuh curiga, sebab ia pernah mendengar nama pusaka tersebut ketika menyelesaikan perkara dengan Pipit Serindu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua). Karenanya gumaman itu pun berkelanjutan dengan nada datar,

"Kalau tak salah, Sabuk Gempur Jagat kala itu sedang diperebutkan antara Resi Pakar Pantun dengan si Tulang Naga."

Tiba-tiba wajah Kinanti berpaling pandangi Suto dengan sorot mata tajamnya. "Siapa itu Tulang Naga?"

"Penguasa Telaga Siluman!"

"Di mana letak Telaga Siluman?!"

"Apa maksudmu bertanya begitu?"

"Aku akan ke sana untuk temui si Tulang Naga dan bikin perhitungan dengannya. Hanya ada dua pilihan; nyawaku atau nyawanya yang harus binasa!" geram Kinanti dengan dendam berkobar dalam hatinya. Wajahnya pun menampakkan kobaran dendam yang tak bisa tertahan lagi.

* * *

DUA

TULANG NAGA adalah tokoh aliran hitam yang ganas dan berbahaya. Senjata andalannya yang bernama Pusaka Nenggala Kubur itu sudah cukup berbahaya bagi lawannya, apalagi jika ditambah dengan senjata pusaka Sabuk Gempur Jagat, tak heran jika Tulang Naga dapat membumihanguskan sebuah negeri dalam waktu singkat.

Sambil melangkah menuju Telaga Siluman mendampingi Kinanti, ingatan Suto masih tertuju pada seraut wajah bermata cekung dan bertubuh kurus; wajah itu adalah wajah si Tulang Naga. Rambutnya yang putih sepanjang pinggang tanpa ikat kepala bertebaran menghiasi bayangan di benak Suto Sinting.

Murid si Gila Tuak itu teringat betul saat ia hampir mati di tangan Tulang Naga dalam mempertahankan mayat bayi anak pertama Ratna Udayani dan Raden Prajita. Bayi yang menjadi cucu Sultan Renggana itu sangat diminati oleh beberapa tokoh aliran hitam sebagai penambah kekuatan kesaktiannya, dan salah satu orang yang bernafsu memiliki mayat bayi tersebut adalah Tulang Naga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bayi Pembawa Petaka).

Pada waktu itu, Pendekar Mabuk berhasil dilumpuhkan oleh senjata Neggala Kubur-nya si Tulang Naga. Namun ketika Penguasa Telaga Siluman itu ingin menghabisi nyawa Suto, tiba-tiba muncul serangan berbahaya dari Hantu Laut yang kenal si Tulang Naga dan membuat si Tulang Naga akhirnya lari tinggalkan mayat bayi tersebut.

"Apakah Ratu Jiwandani punya masalahvdengan si Tulang Naga?" tanya Suto Sinting kepada Kinanti saat mereka berhenti di sebuah lembah yang teduh. Lembah itu tak seberapa jauh dari pantai, sehingga gemuruh suara ombak terdengar samar-samar dari tempat mereka berada.

"Setahuku, kami tidak punya masalah apa-apa dengan tokoh sesat yang bernama Tulang Naga dari Telaga Siluman itu. Yang kutahu, orang tersebut menyerang kami di tengah malam dan dalam sekejap Lembah Birawa dibuat menjadi lautan api yang sukar dipadamkan. Aku segera melarikan Ratu Jiwandani tanpa diketahui oleh prajurit lainnya melalui jalan lorong bawah tanah."

"Apakah Ratu Jiwandani tak tahu juga bahwa orang itu adalah si Tulang Naga?"

"Ratu tidak mengenal nama itu, karena ia tidak sebut-sebut nama Tulang Naga."

"Jika Ratu tidak kenal dengan Tulang Naga, berarti orang yang membumihanguskan Lembah Birawa bukan dia."

Kinanti segera berpaling menatap Pendekar Mabuk. Dahinya berkerut, pandangan matanya tajam penuh tanda tanya. Pendekar Mabuk alihkan perhatian sebentar dengan menenggak tuaknya beberapa teguk. Glek, glek,glek...! Napas terhempas panjang menandakan rasa lega sedang dialami Pendekar Mabuk. Setelah itu ia tatap si cantik Kinanti yang sukar tersenyum itu, lalu terdengar ia berkata bagaikan orang sedang menggumam.

"Jika bukan Tulang Naga, lalu siapa orangnya yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat? Setahuku sabuk pusaka itu dipegang olehnya."

"Baru sekarang kudengar ada pusaka Sabuk Gempur Jagat," ujar Kinanti. "Tapi aku belum pernah melihat bentuknya."

"Apakah malam itu kau tidak melihat sabuk pusaka itu digunakan oleh orang tersebut?"

Kinanti gelengkan kepala. "Aku hanya mendengar pengaduan dari anak buahku. Api telah berkobar dan aku segera larikan sang Ratu tanpa sempat berhadapan dengan orang tersebut."

"Jadi kau tidak tahu ciri-ciri si pemegang Sabuk Gempur Jagat?"

Kinanti gelengkan kepala lagi. "Repotnya semua saksi mata yang pernah berhadapan dengan orang itu tak ada yang selamat. Semuanya mati hangus seperti apa yang kau lihat di puing reruntuhan istana tadi."

"Kalau begitu, belum tentu si Tulang Naga yang menghanguskan Lembah Birawa. Mungkin musuh lain yang sangat menaruh dendam kesumat kepada Ratu Jiwandani. Atau..."

Kata-kata itu terhenti seketika, karena ekor mata Suto Sinting melihat sekelebat bayangan benda yang meluncur dari belakang Kinanti. Tubuh Kinanti segera ditarik ke samping kirinya hingga gadis itu nyaris tersungkur mencium tanah. Suto Sinting melompat maju, crrab! Sebilah pisau pendek berukuran sejengkal ditangkap dengan mulut Pendekar Mabuk.

Pisau itu kini ada dalam gigitannya, tak sedikit pun menggores bibir maupun lidah Suto. Keadaan itu membuat Kinanti belalakkan mata dan segera bangkit dalam memasang kuda-kuda siap tempur. Pendekar Mabuk segera lakukan lompatan bersalto ke atas. Kepalanya menyentak ke samping dan pisau pada mulutnya itu terlempar ke arah datangnya tadi.

Wuuut...! Sraaab...! Juuub!

"Aaaaahg...!" terdengar suara pekikan orang kesakitan dari balik semak belukar. Rupanya pisau itu kenai tubuh pelemparnya yang masih bersembunyi di baik semak, ia tak menyangka pisau itu akan dilemparkan secepat itu hingga tak sempat hindari senjatanya sendiri. Orang yang memekik kesakitan itu roboh dengan berguling keluar dari kerimbunan semak.

Mata Kinanti dan Suto Sinting pandangi orang tersebut. Ternyata seorang lelaki kurus yang masih meraung kesakitan karena bagian bawah pundak kanannya ditembus pisau kecil. Pisau itu beracun dan membuat lukanya menjadi menghitam, pisau itu sendiri sukar dicabut dari tubuh korban.

"Aauhh...! Tolooong... tolong cabut pisau ini...!" ratap orang kurus itu sambil kelojotan menderita rasa sakit.

Kinanti menggumam kata lirih, "Racun Serap Darah?!"

"Apa maksudmu?"

"Pisau itu mengandung Racun Serap Darah, yang membuatnya tak bisa lepas dari tubuh korban karena menyerap darah korban. Sebelum darah korban habis terserap ia tetap akan menancap dan sukar dicabut."

"Aaahg...! Aaaahg...! Tolooong...," orang itu meratap semakin lirih, gerakannya semakin lemah.

Suto Sinting cepat-cepat menenggak tuak, kemudian menyemburkan tuak dari mulutnya ke arah pisau tersebut. Bruuusss...! Jrooossss...! Luka itu kepulkan asap tebal, seperti besi membara disiram air dingin. Orang itu kian mengerang dengan tubuh mengejang. Pendekar Mabuk segera cabut pisau itu dan ternyata dapat dilepas dengan mudah sekali. Jurus 'Sembur Husada' yang digunakan Suto membuat luka itu terkatup dan menjadi kering, dalam beberapa kejap saja sudah hilang secara ajaib.

Kinanti hanya bisa diam terbengong melihat kesaktian Suto dengan rasa kagum yang menggumpal di dadanya. Karena memang baru sekarang ia melihat kehebatan jurus 'Sembur Husada' diperagakan oleh Suto Sinting walau tidak dengan maksud pamer kesaktian.

"Biasanya kau menyuruh orang yang terluka meminum tuakmu, tapi kali ini mengapa hanya kau sembur saja?"

"Jurus ini dapat membuat orang yang kutolong lupa kepadaku, seperti merasa baru mengenalku. Ingatannya tentang diriku ikut lenyap bersama lukanya. Karena itu, jurus 'Sembur Husada' tak pernah kulakukan untuk mengobati orang yang sudah mengenalku. Jika orang kurus ini lupa tentang diriku, tak jadi soal, karena memang ia belum mengenalku." (Jurus ini pernah digunakan dalam serial Pendekar Mabuk episode Pusaka Tuak Setan).

Orang kurus itu segera bangkit dengan perasaan penuh rasa kagum atas kesembuhan lukanya. Namun ketika ia sadar dirinya berada di depan Pendekar Mabuk dan Kinanti, ia buru-buru bergegas melarikan diri. Namun Kinanti berhasil menyambar lengan si kurus itu. Wuuut...!

"Mau ke mana kau!"

"Aaak... aku hanya... hanya disuruh seseorang, Nona."

"Siapa yang menyuruhmu!" gertak Kinanti.

"Hmmm... eeh...," orang itu kebingungan dan ragu menjawab.

Pendekar Mabuk segera mendesak dengan pertanyaan lain. "Siapa yang ingin kau bunuh? Dia atau aku?"

"Hmmm...hmm... anu .."

"Di sini tidak ada yang bernama 'Anu', jawab yang jelas!" sentak Kinanti bagaikan tak sabar ingin menampar mulut orang kurus itu.

"Aku disuruh membunuhmu, Nona!"

Kinanti beradu pandangan mata sejenak dengan Suto Sinting. Kemudian ia kembali mendesak orang kurus itu dengan pertanyaan yang mendesak sekali.

"Kau murid dari Bukit Kasmaran, bukan?"

"Buk...bukan! Aku..."

"Omong kosong!"

Plaaaak ! Kinanti menampar keras-keras wajah orang kurus itu hingga orang tersebut terpelanting berputar empat kali dengan cepat. Kejap berikutnya ia roboh akibat tendangan kaki Kinanti yang cukup kuat. Tubuhnya terkapar di bawah pohon dalam keadaan tidak berkutik lagi. Sebuah pekikan kecil sempat didengar oleh mereka sebelum orang itu roboh.

Pendekar Mabuk segera mendekati orang tersebut dengan perasaan heran dan curiga, ia memeriksanya dengan pandangan mata dan dahi berkerut. Kinanti menyusul mendekati Suto Sinting. Wajah orang kurus itu telah memucat, mulutnya ternganga dan matanya terbeliak tak berkedip. Tak satu pun bagian tubuhnya yang bergerak. Bahkan dadanya tidak kelihatan sedang bernapas.

"Dia tewas!" ujar Suto Sinting sambil pegangi urat leher orang itu dan matanya memandang Kinanti.

Gadis berjubah kuning gading itu setengah tidak percaya, kemudian memeriksa pergelangan tangan orang tersebut. Ternyata memang tak ada denyut nadi lagi. Itu tandanya orang tersebut sudah tidak bernyawa lagi. Gumam Kinanti pun terlontar lirih bernada heran.

"Aneh. Mestinya ia tak sampai kehilangan nyawa. Pukulan dan tendanganku tadi tidak begitu membahayakan nyawa seseorang?!"

Pendekar Mabuk yang sempat menaruh curiga atas kematian orang tersebut segera membalikkan badan si korban, ia terperanjat, demikian pula Kinanti, mereka melihat sebilah pisau kecil seperti tadi menancap di punggung orang tersebut. Rupanya pisau itulah yang membuat nyawa orang kurus itu melayang, lepas dari raganya.

"Ternyata ada pihak lain yang menyerang orang ini hingga tewas."

"Kurasa dilakukan saat orang ini melayang karena terkena tendanganmu tadi, Kinanti," kata Suto Sinting sambil matanya memandang ke alam sekitarnya.

"Sial! Kita terlambat mengorek keterangan dari mulutnya!" geram Suto Sinting yang merasa penasaran karena belum mengetahui dengan pasti siapa orang yang menyuruh si kurus untuk membunuh Kinanti itu.

Namun gadis cantik berdada montok itu berkata, "Aku yakin ia orang Bukit Kasmaran, anak buah si Merak Cabul."

Pendekar Mabuk kerutkan dahi karena merasa pernah mendengar nama Merak Cabul. Hatinya bahkan berkata, "Kalau tak salah Bukit Kasmaran adalah asal perguruannya Dinada atau Milasi?" Dan seraut wajah cantik yang mempunyai jurus maut dalam tiupan serulingnya terbayang dalam ingatan Pendekar Mabuk, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Gelang Naga Dewa).

Setelah sama-sama memeriksa keadaan sekeliling mencari pembunuh si kurus itu, mereka kembali bertemu di dekat mayat tersebut. Suto Sinting sempat ajukan tanya kepada Kinanti.

"Dari mana kau yakin kalau orang ini adalah orang si Merak Cabul?"

"Karena hanya Merak Cabul dan beberapa orangnya yang mempunyai Racun Serap Darah pada pisau mereka," jawab Kinanti.

Setelah merenung sejenak, Pendekar Mabuk segera perdengarkan suaranya yang mirip orang menggumam itu, "Apa kira-kira alasan si Merak Cabul, sehingga mengutus orang kurus itu untuk membunuhmu?"

"Entahlah," jawab Kinanti dengan wajah masih kaku karena menahan kemarahan. "Yang jelas, aku tak pernah bentrok dengan si Merak Cabul, walau aku selalu menunjukkan sikap tak suka kepadanya."

"Kepada pihak Ratu Jiwandani apakah ada masalah dengan si Merak Cabul?"

"Pernah terjadi bentrokan kecil antara sang Ratu dengan Merak Cabul gara-gara sebuah kitab pusaka. Bentrokan itu sebenarnya hanya salah paham si Merak Cabul yang menyangka Kitab Jati Mulya ada di tangan sang Ratu. Padahal sang Ratu tidak tahu-menahu tentang kitab tersebut."

"Mengapa Merak Cabul menuduh Ratu Jiwandani memiliki Kitab Jati Mulya? Ada hubungan apa antara Ratu Jiwandani dengan pihak Merak Cabul?"

"Dulu, Ratu Jiwandani bersahabat akrab dengan Nyai Guntur Ayu, ketua perguruan Bukit Kasmaran. Ketika Nyai Guntur Ayu tewas, Kitab Jati Mulya lenyap, entah siapa yang mencurinya. Kecurigaan kuat si Merak Cabul, kitab itu dititipkan kepada Ratu Jiwandani, padahal sama sekali tidak."

Suto menggumam panjang dan pelan sambil angguk-anggukkan kepala. Agaknya ia sedang renungi rangkaian cerita itu. Sampai akhirnya ia temukan satu kesimpulan yang masih meragukan bagi hatinya sendiri. "Apakah... apakah menurutmu ada kemungkinan penyerangan yang membumihanguskan Bukit Birawa itu dilakukan oleh si Merak Cabul?"

"Maksudmu, Merak Cabul yang memegang pusaka Sabuk Gempur Jagat itu?"

Suto Sinting angkat bahu, "Mungkin saja!"

"Hmmm... kalau begitu aku harus menyerang Bukit Kasmaran dan bikin perhitungan dengan Merak Cabul!" geram Kinanti dengan kedua tangan menggenggam kuat-kuat.

"Nanti dulu, itu baru sebuah dugaan yang belum pasti. Kita harus punya bukti jika ingin bertindak. Seandainya..."

Kata-kata Suto terhenti karena hembusan angin dari arah belakangnya. Angin yang terasa mendekatinya itu cukup besar sehingga naluri Suto pun segera bekerja. Kakinya menyentak ke tanah dan tubuhnya melayang ke samping dalam gerakan lompat yang sangat cepat. Wuuut!

Jleeg...!

Sesosok tubuh berdiri di depan Kinanti pada saat Suto Sinting mendaratkan kakinya ke tanah. Sosok tubuh itu milik seorang nenek berjubah merah, rambutnya abu-abu dikonde, bertubuh kurus kerempeng, berusia sekitar enam puluh tahun.

Melihat kehadiran nenek kerempeng itu mata Suto Sinting segera terkesiap, sedikit mengecil dengan dahi berkerut, karena ia merasa pernah jumpa dengan nenek itu. Ingatan Suto pun kembali ke sebuah pertarungan yang dilakukan oleh nenek itu dengan seorang berbadan gemuk yang dikenal dengan nama si Jubah Kapur.

"Nyai Songket...!" gumam Suto Sinting bagaikan tak sadar mulutnya mengucap nama itu begitu ingatannya menemukan sepotong nama tersebut.

Tapi sang nenek bagaikan tak peduli dengan gumaman Suto Sinting. Matanya yang cekung tertuju pada Kinanti. Agaknya gadis cantik itu juga sudah mengenal Nyai Songket, sehingga ia segera menyapa dengan sikap tak ramah.

"Rupanya kaulah yang membunuh orang kurus itu, Nyai Songket!"

"Tutup mulut bodohmu, Kinanti. Aku tidak mengenal mayat orang kurus itu! Aku datang untuk bikin perhitungan sendiri denganmu! Kau telah membunuh muridku; Widowidi. Sekarang aku menuntut balas atas kematian murid kesayanganku itu, Kinanti!"

Suto Sinting sempat membatin, "Bahaya! Nyai Songket ini terkenal dengan ilmu teluhnya. Kinanti tak akan mampu mengimbangi kekuatan Nyai Songket. Agaknya aku harus segera bergerak untuk mematahkan tiap serangan Nyai Songket."

"Hutang nyawa balas nyawa, Kinanti!" ujar Nyai Songket sambil bergeser ke samping dan diikuti oleh pandangan mata Kinanti. Nenek kurus itu bicara lagi, "Satu nyawa muridku kau binasakan, maka tebusannya adalah seratus nyawamu, Kinanti!"

"Kalau begitu kaulah yang menghancurkan orang-orang itu, Nyai Songket! Keparat kau! Heeeah...!"

Kinanti menyerang lebih dulu dengan satu lompatan cepat menerjang ganas. Tendangan kaki Kinanti ditangkis dengan tangan kanan Nyai Songket, lalu tangan kirinya menghantam pangkal paha Kinanti. Untung tangan Kinanti dengan cepat mampu menahan pukulan tersebut, hingga pangkal pahanya selamat dari hantaman kuat Nyai Songket.

Plak...! Plak, plak, buuhg...!

Nyai Songket terhantam dadanya oleh tangan kiri Kinanti. Pukulan bertenaga dalam itu membuat tubuh kurus itu melayang terpental ke belakang dan jatuh terjungkal di semak-semak berduri. Gusraaak...!

"Bangsat!" pekik Nyai Songket yang segera menghentakkan telapak tangannya ke tanah dan tubuhnya melenting di udara. Dalam kejap berikut ia sudah berdiri dengan kaki merenggang dan kedua tangannya terangkat ke samping kanan kiri. Rupanya pukulan itu telah melukai bagian dalamnya, sehingga wajah Nyai Songket tampak sedikit pucat, hidungnya berdarah walau tak seberapa banyak.

"Haaahhh...!" Nyai Songket mengerang panjang, seluruh tubuhnya mengeras. Lambat laun tampak keajaiban terjadi pada dirinya. Ujung-ujung jari tangannya keluarkan kuku runcing dan tiap kuku memancarkan warna merah bening bagaikan gumpalan lahar panas. Asap mengepul tipis dari tiap kuku yang tumbuh secara ajaib itu.

"Kinanti, mundurlah! Dia berbahaya untuk kau lawan!" ujar Suto Sinting sambil mendekati gadis itu.

"Minggirlah, Suto! Ini saatku membalas dendam atas kekejiannya yang telah membumihanguskan tempatku!"

"Kurasa bukan dia orangnya. Dia tidak pergunakan senjata Sabuk Gempur Jagat!"

Kinanti segera sadar akan hal itu. Ia bermaksud menuruti saran Pendekar Mabuk dan menyerahkan pertarungan itu kepada sang pendekar tampan. Tetapi tiba-tiba mereka berdua dibuat kalang kabut oleh kilatan cahaya merah yang datang beruntun dan berkelok-kelok seperti tali-tali bercahaya merah. Kilatan cahaya merah yang jumlahnya sepuluh bias itu melesat bagai ingin menyergap mereka berdua setelah Nyai Songket gerakkan kedua tangannya secara serabutan dengan teriakan melengking tinggi.

"Heeeaaahh...!"

Clap, clap, clap, clap, clap...!

Gerakan sinar merah itu begitu cepat dan membingungkan sehingga Kinanti sempat dibuat panik oleh keadaan seperti itu. Namun Suto Sinting mencoba menghadangnya dengan mengibaskan bumbung tuaknya di atas kepala. Tali bumbung dipegang dan bumbung bambu itu berputar cepat di atas kepala hingga timbulkan bunyi yang mendengung.

Wuuuung, wuuung, wuung...!

Kibasan bumbung yang berputar itu ternyata menghasilkan gelombang penangkis yang tak terlihat bentuk dan besarnya. Namun ketika sinar-sinar merah itu mendekati bumbung tuak tersebut, gerakan selanjutnya sangat tak diduga- duga oleh Nyai Songket. Cahaya merah itu membalik arah dan kini berdatangan menyergap dirinya sendiri dengan kecepatan tinggi dan bentuk sinarnya berubah lebih besar hingga yang semula menyerupai tali kini menjadi seperti tambang.

"Bangsat kurap, heaaah...!" Nyai Songket terdesak, mau tak mau ia lepaskan pukulan dari dua telapak tangannya. Kedua telapak tangan itu disentakkan ke depan dan keluarlah sinar hijau berukuran besar. Sinar hijau itulah yang dihantam oleh kilatan-kilatan sinar merahnya sendiri.

Blar, blegaaarrr...!

Bumi terguncang, pepohonan nyaris tumbang, hentakan gelombang ledak tadi cukup besar dan kuat. Nyai Songket terlempar jauh dan membentur sebatang pohon besar. Suto Sinting dan Kinanti terlempar tunggang langgang tak bisa kendalikan keseimbangan tubuh. Mereka sama-sama terbanting di semak-semak ilalang. Kejap berikutnya terdengar suara pohon tumbang.

Kraaakk... brrruuk...!

"Aaaauhg...!" terdengar pekik Nyai Songket dalam suara gemuruh gema ledakan yang masih tersisa itu.

Suto dan Kinanti sama-sama belum bisa melihat keadaan Nyai Songket. Mereka masih terkulai lemas dengan dada terasa sesak.

"Gila! Jurus apa yang dipergunakan si dukun teluh itu?!" gumam Kinanti dalam keadaan suara berat karena menahan rasa sakit di dadanya.

Setelah ia diberi minuman tuaknya Suto, rasa sakit itu pun menjadi lenyap, ia bisa berdiri dengan tubuh terasa segar. Suto Sinting sudah lebih dulu mengalami kelegaan seperti itu, sehingga ia bisa menuangkan tuak pelan-pelan ke mulut Kinanti.

Kini keduanya sama-sama terperanjat melihat Nyai Songket tertimpa pohon yang begitu besar. Tubuh kurus kerempeng itu tak bisa bergerak lagi. Mulutnya semburkan darah dalam keadaan badan tengkurap. Hidung dan telinganya pun keluarkan darah segar. Keadaan nenek renta itu sudah tidak bernyawa lagi. Rupanya di samping ia tertimpa pohon besar, lehernya tertusuk tonggak runcing bekas patahan pohon kering. Tonggak itu menghujam dari leher hingga tembus ke tengkuk, sedangkan dari batas punggung sampai kaki tertimpa pohon, tak dapat dilihat lagi karena besarnya batang pohon tersebut.

* * *

TIGA

PUSAT perhatian Kinanti tertuju pada Merak Cabul di Bukit Kasmaran. Menurutnya, orang kurus yang menyerangnya dengan pisau beracun itu pasti suruhan Merak Cabul. Besar kemungkinan Merak Cabul tidak kehendaki orang Bukit Birawa ada yang masih hidup, sehingga ia menyuruh orang kurus itu untuk membunuh Kinanti.

Suto akhirnya mengalah, tak mau berdebat panjang lebar tentang perbedaan pendapat itu. Sebab menurut Suto, Merak Cabul tidak terlibat dalam perkara pembakaran istana Lembah Birawa itu. Jika benar orang yang menyerang istana Lembah Birawa adalah orang yang bersenjata Sabuk Gempur Jagat, maka Tulang Naga itulah orangnya.

"Pihakku tidak ada hubungannya dengan Tulang Naga. Kami tidak kenal dengan Penguasa Telaga Siluman itu. Tak ada alasan bagi Tulang Naga untuk menyerang istana kami! Pasti serangan itu datang dari si Merak Cabul yang masih menyimpan kecurigaan tentang tersimpannya Kitab Jati Mulya di tangan ratuku!"

Kinanti ngotot sekali, sehingga Suto Sinting akhirnya hanya angkat bahu dan mengikuti jejak Kinanti menuju ke Bukit Kasmaran. Untuk mencapai ke Bukit Kasmaran mereka harus melewati beberapa desa. Satu di antaranya adalah desa yang pernah disinggahi Suto saat melakukan perjalanan menuju Bukit Bunting bersama Tembang Selayang. Desa itu bernama desa Panganbumi yang mempunyai kehidupan lebih maju dari desa-desa lainnya.

Banyak keluarga saudagar yang tinggal di desa itu, karena letaknya tak begitu jauh dari kotaraja. Suto Sinting pun mengajak Kinanti untuk singgah di sebuah kedai milik Ki Punjul yang dulu disinggahi Suto dengan Tembang Selayang, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kapak Setan Kubur).

Petang belum datang, tapi suasana desa sudah sepi. Kesepian itu menimbulkan rasa curiga di hati Suto Sinting. Maka setelah ia mengisi bumbung tuaknya dengan tuak baru, ia pun segera bertanya kepada Ki Punjul,

"Ki Punjul, malam belum tiba tapi mengapa suasana desa sudah sesepi ini? Dulu ketika aku datang dan bermalam di sini keadaan tidak sesepi ini, bukan?"

"Hmmm... iya. Keadaan dulu dan sekarang berbeda, Pendekar Mabuk."

"Apa yang membuatnya menjadi berbeda?"

"Penduduk desa kami dihantui oleh perasaan takut, yaitu takut mengalami nasib seperti desa Kijangan."

Bukan hanya Suto yang kerutkan dahi, melainkan Kinanti ikut kerutkan dahi pertanda merasa heran mendengar ucapan Ki Punjul.

"Apa yang terjadi terhadap desa Kijangan itu, Ki?" tanya Suto dengan rasa penasaran.

"Desa itu sekarang sudah menjadi arang. Seluruh bangunan dan rumah-rumah penduduk hangus dilalap api. Bahkan penduduknya sebagian lari mengungsi ke desa lain, sebagian lagi mati terbakar di tempat itu. Yang mati terbakar separuh bagian lebih."

Kini sepasang mata Kinanti menatap Pendekar Mabuk. Mata si pendekar tampan itu pun menatap Kinanti, seakan keduanya menampakkan sikap semakin ingin tahu. Kinanti tak sabar dan segera ajukan tanya kepada Ki Punjui,

"Apa yang membuat desa itu terbakar habis, Ki?"

"Seseorang telah mengamuk kepada Lurah Kijangan. Ia menggunakan pusaka bernama Sabuk Gempur Jagat, dan... begitulah akhirnya, desa itu habis terbakar oleh kekuatan sakti Sabuk Gempur Jagat!"

Debar-debar dalam dada Kinanti bagaikan sesuatu yang ingin menjebolkan tulang dada. Napas pun mulai terasa berat, karena dendam Kinanti terhadap si pemegang Sabuk Gempur Jagat mulai meluap-luap.

Pendekar Mabuk mencoba bersikap tenang agar Kinanti ikut terpengaruh oleh ketenangannya. Kejap berikut barulah Suto Sinting ajukan tanya kembali kepada Ki Punjul.

"Siapa orang yang memegang Sabuk Gempur Jagat itu, Ki Punjul? Apakah kau tahu namanya?"


"Tulang Ular?!" Kinanti menggumam heran.

Suto Sinting bertanya, "Tulang Ular atau Tulang Naga?"

"Maksud saya... Tulang Ular Naga. Eh... entahlah, saya kurang jelas soal nama itu. Mungkin yang mereka maksud Tulang Naga, mungkin juga Tulang Ular. Yang jelas mereka sebut-sebut nama yang pakai kata 'tulang', begitu."

"Pasti yang dimaksud adalah Tulang Naga," ujar Pendekar Mabuk kepada Kinanti.

Gadis cantik berpinjung hijau beludru itu diam saja. Kini ia menjadi termenung lama menimbang-nimbang langkahnya. Hatinya sempat dibuat dongkol oleh ketidakpastian antara Tulang Naga dan Merak Cabul. Siapa pemegang Sabuk Gempur Jagat itu sebenarnya? Sukar sekali dipastikan dalam keadaan serba tak jelas begitu.

"Aku butuh waktu untuk berpikir," kata Kinanti. "Agaknya malam ini kita harus bermalam di sini untuk menentukan langkah kita, Suto."

"Aku tak keberatan," jawab Suto Sinting. "Ki Punjul juga menyediakan kamar untuk penginapan para tamunya."

Ketika hal itu dikemukakan Ki Punjul, orang berusia di atas empat puluhan tahun itu berkata, "Tinggal satu kamar yang masih kosong. Apakah kalian ingin menggunakan kamar itu untuk berdua? Jika mau begitu, silakan saja."

Kinanti menatap Suto Sinting dengan mulut terkatup rapat. Tak ada senyum seulas pun di bibir mungil menggemaskan itu. Suto Sinting yang nyengir sambil garuk-garuk kepala serta berkata dengan gumam lirih,

"Sial. Hanya ada satu kamar."

"Tak usah berlagak mengeluh. Hatimu girang kalau kita tinggal satu kamar, bukan?"

"Dugaanmu mengada-ada," jawab Suto sambil tertawa kecil.

"Biarlah kita satu kamar, tapi kau tidur di lantai dan jangan seranjang denganku!" ujar Kinanti agak ketus.

"Kenapa begitu? Kau takut aku kurang ajar padamu?"

"Kau nakal," jawabnya sambil melengos ke arah lain. Ia biarkan senyum pemuda tampan itu mengembang makin mekar dengan suara tawa yang mengikik lirih.

Tiba-tiba pandangan mata Kinanti tertuju ke arah pintu masuk kedai. Dua orang lelaki berbadan besar baru saja memasuki kedai tersebut dan segera mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Kinanti. Kedua lelaki itu berwajah buas, penuh dengan cambang dan kumis. Dari caranya memandang dapat diketahui sifatnya yang kasar dan urakan. Rambut mereka sama-sama panjang selewat pundak, tapi yang satu diikat dengan ikat kepala dari kulit macan tutul, yang satu lepas tanpa ikat kepala.

Orang yang berikat kepala kulit macan tutul itu mengenakan celana hitam dan baju merah tua tak dikancingkan bagian depannya, sehingga sebilah golok besar yang terselip di sabuk hitamnya terlihat jelas. Sedangkan orang yang tidak memakai ikat kepala itu mengenakan pakaian serba abu-abu, dari baju sampai celananya. Dadanya yang berbulu tampak jelas karena bajunya yang tanpa lengan itu tidak dikancingkan, ia menggenggam sebilah kapak dua mata yang segera diletakkan di atas meja dengan kasar, menimbulkan suara mengagetkan, hingga memancing perhatian orang lain.

"Ki, sediakan kami arak putih dua poci!" seru orang berpakaian abu-abu kepada Ki Punjul dengan keras dan kasar. "Cepat, ya! Jangan lamban. Kalau lamban kuobrak-abrik kedaimu ini!"

"Bba... baik. Akan segera kusediakan, Tuan," Ki Punjul tampak ketakutan.

"Sabrawi," ujar si baju abu-abu kepada temannya setelah ia melirik ke arah Kinanti dengan nakal, ia berkata melanjutkan ucapannya tadi setelah temannya memandangnya. "Agaknya kita malam ini akan pesta kehangatan. Ada mangsa emas di sini, Sabrawi! Ha, ha, ha, ha...!"

Orang berikat kepala kulit macan tutul itu ikut tertawa setelah melirik ke arah Kinanti. Wajah Kinanti lurus ke depan tak mau memperhatikan ke arah kedua orang kasar tersebut, sedangkan Suto tampak tenang dan sesekali sunggingkan senyum sambil berlagak memainkan cangkir tuaknya.

"Kurasa malam ini kita memang bernasib mujur sekali, Polang! Sudah hampir satu purnama aku tidak menikmati kehangatan seorang wanita karena sibuk mengejar pemegang Sabuk Gempur Jagat. Sekaranglah saatnya aku istirahat dan menikmati kehangatan yang kurindukan, sebelum kita menemukan si Jejak Setan dan merebut sabuk pusaka itu!"

Senyum Suto Sinting segera lenyap. Kini ia melirik Kinanti dengan keheranan tersimpan di ujung lirikannya. Kinanti pun sedikit kerutkan dahi pertanda memendam rasa jengkel yang mengusik hatinya. Pendekar Mabuk segera bicara pelan kepada gadis berjubah kuning gading itu.

"Apakah kau tahu, siapa Jejak Setan itu?"

"Murid Nyai Pegat Raga dari Lembah Petang," bisik Kinanti pelan sekali, tapi mengejutkan hati Suto Sinting dan membuat wajah tampan itu berkerut dahi semakin tajam.

"Maksudmu, Jejak Setan itu muridnya si Pelacur Tua?"

"Benar. Apakah kau mengenalnya?"

"Aku telah mengenalnya," bisik Suto Sinting lirih, dan terbayang peristiwa yang terjadi di Bukit Kemenyan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua).

Pendekar Mabuk segera membatin, "Benarkah sabuk pusaka itu ada di tangan Jejak Setan?" Kata batinnya segera dihentikan karena kedua orang kasar yang ternyata bernama Polang dan Sabrawi itu segera unjuk tingkah dengan melemparkan sebutir kacang tanah yang masuk ke cangkir minuman Kinanti. Pluuung...!

"Ha, ha, ha, ha...!" mereka tertawa kegirangan. Kinanti diam saja, sedangkan Suto Sinting mulai waswas terhadap sikap Kinanti yang bisa mengamuk membabi buta karena memang sudah lama menahan kemarahan dalam hati.

"Hei, Nona Cantik...," sapa Polang dengan seringai memuakkan. "Tolong lemparkan kemari kacang itu, aku salah lempar."

Kacang dalam cangkir diambil dengan tenang. Digenggam sesaat, lalu dilemparkan ke arah Polang tanpa memandang kedua orang tersebut. Wuuut...! Lemparan kacang kenal jidat Polang. Deess...!

"Aaauw...!"

Brrruk...! Polang jatuh terjungkal ke belakang membuat Sabrawi terjengkang pula dan jatuh tertindih tubuh Polang hingga terdengar suaranya yang tergencet berat itu.

"Heegh...!"

Gadis cantik tanpa senyum itu tetap diam di tempat tanpa berpaling sedikit pun, sementara semua mata pengunjung kedai tertuju pada Polang dan Sabrawi yang saling berebut untuk segera bangkit. Suto Sinting hanya sunggingkan senyum tipis, sambil membatin dalam hatinya,

"Boleh juga pelajaran dari Kinanti itu. Aku yakin sebelumnya ia telah tanamkan tenaga dalamnya pada kacang tersebut, sehingga ketika kenai kening orang berbaju abu-abu itu mampu membuat kepala orang tersebut bagaikan ditendang kaki kuda. Masih untung kepala itu tak sampai pecah. Hmmm... diam-diam gadis ini punya simpanan yang boleh juga dibanggakan. Oh... sekarang keduanya sudah berdiri, agaknya mereka marah kepada Kinanti dan akan menyerang bersama. Aku harus siaga melindungi Kinanti!"

"Gadis setan!" maki Polang yang keningnya menjadi biru legam dan nyaris tidak dipercaya oleh pandangan para pengunjung kedai.

"Hanya terkena sebutir kacang tanah saja bisa menjadi sememar itu?" ucap salah seorang pengunjung secara bisik-bisik.

Sabrawi tidak sabar, ia segera mendekati Kinanti dan menampar wajah Kinanti seenaknya saja.

Wuuut...! Taaab...!

Tamparan tangan kanan Sabrawi ditangkap oleh Kinanti. Pergelangan tangan itu diremasnya kuat-kuat dengan curahan tenaga dalam, hingga beberapa orang yang ada di dekat mereka mendengar suara tulang diremukkan.

Krraaaak...!

"Aaauh...!" Sabrawi menjerit kesakitan, sedangkan Kinanti segera melepaskan. Wajahnya tetap memandang lurus, seakan tidak melirik ke arah lawannya sedikit pun. Tangan yang meremas tulang pergelangan Sabrawi itu segera menyentak dan tubuh Sabrawi bagaikan didorong oleh tenaga kuda dengan cepat.

Wuuut...! Buuurkk...!

"Heegh...!" Kali ini yang terpekik tertahan adalah Polang, karena tubuhnya tertabrak badan Sabrawi. Ia jatuh terkapar dan tubuh Sabrawi menjatuhinya dengan telak.

"Anjing kurapan!" sentak Sabrawi sambil bangkit sempoyongan. "Heeeaat...!"

Sabrawi hendak menyerang dengan satu tendangan yang disertai lompatan pendek. Tetapi jari tangan Suto Sinting segera melepaskan jurus 'Jari Guntur' berupa sentilan kecil ke arah Sabrawi.

Teees...! Buuhg...!

"Uhhg...!" Sabrawi bagaikan sukar bernapas lagi. Matanya mendelik karena ulu hatinya terkena sentilan bertenaga dalam dari jarak jauh. Tubuh itu terlempar mundur kembali dan jatuh menindih Polang yang baru saja mau bangkit berdiri.

"Heehg ..!" Polang terpekik dengan suara tertahan, matanya mendelik karena perutnya kejatuhan tubuh besarnya Sabrawi.

"Setan binal! Bunuh dia!" teriak Polang dengan wajah kian beringas.

"Tanganku tak bisa dipakai memegang senjata!" kata Sabrawi sambil menyeringai merasakan sakit akibat tulang pergelangan tangannya remuk.

Polang tak sabar, segera sambar kapaknya di meja dan menyerang dengan hantaman kapak dari atas ke bawah. Wuuut...!

Jraaak...!

Kapak menghantam bangku tempat duduk Kinanti. Gadis itu telah lenyap dari tempatnya. Rupanya sebelum kapak menghantamnya, ia sudah lebih dulu melesat dan berpindah ke tempat lain dengan satu sentakan kaki ke lantai. Gerakannya cukup cepat sehingga mirip orang menghilang. Kapak Polang menancap di bangku dengan kuatnya, sukar dicabut kembali dengan cepat. Sementara itu, Suto Sinting masih duduk di bangku tersebut dengan tenangnya, padahal kapak itu menancap dalam jarak empat jengkal dari pahanya.

Melihat ketenangan Suto Sinting, Polang menjadi semakin berang. Maka begitu kapak berhasil dicabut, langsung dihantamkan ke punggung Suto Sinting. Wuuut...! Ternyata kaki Suto Sinting bergerak lebih cepat dari gerakan kapak. Kaki itu menendang ke dada Polang. Dug...!

"Uuhg...!" mulut Polang pun segera semburkan darah segar dalam keadaan tubuh melayang ke belakang dan menabrak Sabrawi hingga keduanya jatuh saling tindih kembali.

"Sekali lagi kalian coba mengganggu kami, akan kubuat patah batang leher kalian!" hardik Suto dalam keadaan tetap duduk di tempat.

Sabrawi segera berkata kepada Polang, "Cepat tinggalkan tempat ini dan laporkan kepada ketua kita, Polang!"

Dengan langkah sempoyongan, akhirnya mereka segera meninggalkan kedai. Tapi di pintu keluar Polang sempat tinggalkan ancaman, "Tunggu pembalasanku!"

* * *

EMPAT

MENURUT Ki Punjul, Sabrawi dan Polang adalah orang Tanah Hitam yang dikuasai oleh seseorang yang berjuluk Maha Syiwa. Tetapi yang jadi pemikiran Suto dan Kinanti bukan nama Maha Syiwa melainkan nama si Jejak Setan. Mereka dalam kebingungan mencari jawaban yang pasti; siapa pemegang Sabuk Gempur Jagat sebenarnya? Tulang Naga atau Merak Cabul, atau pula si Jejak Setan seperti kata kedua anak buah Maha Syiwa itu.

"Ke mana langkah kita pagi ini?" tanya Suto Sinting saat mereka selesai menikmati sarapan pagi; sebungkus nasi jagung dan dua cangkir tuak untuk Suto.

Wajah Kinanti tampak lebih cantik di pagi itu. Suto mengakui dalam hatinya, bahwa kecantikan Kinanti kian tampak jelas jika gadis itu sedikit merapikan diri selesai mandi. Wajah itu kelihatan bersih dan lembut, bibirnya tampak selalu basah walaupun tanpa gincu seoles pun.

Sayang wajah yang semestinya berseri-berseri itu kurang ceria karena kebingungan menentukan langkah selanjutnya. Bahkan pertanyaan Suto tadi dibiarkan saja tanpa jawaban. Kinanti membisu seribu kata dengan pandangan mata menerawang lurus ke arah meja.

Saat matahari mulai meninggi, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun datang dengan terhuyung-huyung memasuki kedai itu. Ia disambut oleh Ki Punjul dengan wajah tegang. Agaknya Ki Punjul sudah mengenali lelaki berpakaian compang-camping dalam keadaan tubuh kotor dan banyak luka. Wajahnya memar membiru dan bibirnya bagian bawah terdapat luka pecah akibat hantaman keras. Sebagian dada serta lengan kanan juga tampak memar kehitaman bagaikan luka bakar yang membuat kulitnya sedikit melepuh.

"Bagor, apa yang terjadi?!" Ki Punjul segera memapah lelaki itu.

"Tolong, tolong aku, Kang Punjul...!" lelaki bernama Bagor itu terengah-engah bagaikam hampir kehabisan napas, ia didudukkan di salah satu bangku oleh Ki Punjul.

"Mengapa kau sampai terluka separah ini, Bagor?! Apa yang terjadi pada dirimu? Ceritakanlah!"

Dengan susah payah Bagor yang terluka parah itu mencoba bicara kepada Ki Punjul. Suto Sinting dan Kinanti mengikuti pembicaraan itu dari tempat duduk mereka. Tak satu pun dari mereka yang bergerak mendekat. Namun wajah mereka sama-sama memancarkan rasa ingin tahu cukup besar.

"Seseorang... seseorang telah mengamuk di perguruanku, ia hanya seorang diri, tapi... tapi ia mampu membuat perguruanku rata dengan tanah. Sebagian besar teman-temanku mati di tangannya. Bahkan... bahkan Eyang Guruku sendiri tak tertolong jiwanya. Beliau tewas dalam keadaan hancur dihantam memakai sabuk... sabuk yang mempunyai kekuatan dahsyat."

Kinanti berbisik kepada Suto, "Kalau orang itu tidak dalam keadaan terluka parah, ia akan mampu menceritakan ciri-ciri orang yang menyerangnya memakai sabuk dahsyat itu."

Suto Sinting paham maksud Kinanti. Gadis itu secara tak langsung menyuruh Suto segera menyembuhkan orang tersebut. Maka tanpa bicara lagi Pendekar Mabuk segera dekati Bagor dan meminumkan tuak dari bumbungnya.

Ki Punjul berkata, "Tidak usah repot-repot, Pendekar Mabuk. Aku masih punya tuak untuknya. Biar kuambilkan tuak dari dapur saja."

"Tuak yang sudah masuk ke bumbungku mempunyai khasiat penyembuhan cukup mujarab, Ki. Berbeda dengan meminum tuak dari cangkirmu. Hmmm... siapa orang ini sebenarnya?"

"Bagor adalah adik sepupuku, Pendekar Mabuk."

"Aku akan menolong adik sepupumu, Ki Punjul. Suruh dia buka mulut dan meneguk tuakku ini."

Kinanti memperhatikan dari tempat duduknya. Saat itu kedai belum terlalu ramai. Hanya ada empat orang pembeli selain Suto dan Kinanti. Keempat orang itu juga memperhatikan keadaan Bagor dengan tegang dan perasaan ngeri. Beberapa saat setelah Bagor meneguk tuaknya Suto, keadaan luka mulai tampak membaik. Napasnya tidak terasa sakit lagi jika dihela, ia mulai bisa bicara dengan lancar menjelaskan apa yang terjadi di perguruannya. Kinanti sendiri ikut nimbrung mendekat dengan sesekali mengajukan pertanyaan kecil kepada Bagor.

"Apa yang dituntut oleh tamu ganas terhadap pihak perguruanmu itu, Bagor?" tanya Pendekar Mabuk.

"Aku tidak tahu dengan pasti, Pendekar Mabuk," jawab Bagor yang tadi sudah diberi tahu oleh Ki Punjul siapa kedua tamu mudanya itu.

"Apakah kau yakin yang dipergunakan oleh tamu itu adalah senjata sabuk? Apakah bukan cambuk atau sejenisnya?"

"Tidak. Aku melihat saat ia melepaskan sabuknya itu dan menghantamkan ke arah tiga pengawal Guru. Sabuknya itu bukan hanya menghancurkan tubuh tiga pengawal Guru, namun juga menyebarkan api yang membakar pondok kami. Beberapa temanku ikut terbakar dan apinya sukar dipadamkan. Aku pun ikut kena hembusan angin sabuk itu. Hembusannya menghadirkan gelombang hawa panas yang mampu melelehkan pedang serta tombak kami."

Kinanti melirik Suto Sinting. Pandangan mata mereka saling beradu sesaat. Kinanti sempat berbisik lirih kepada Suto Sinting, "Apakah benar demikian kedahsyatan sabuk itu?"

"Aku kurang tahu soal kedahsyatannya. Tapi agaknya orang itulah yang memegang Sabuk Gempur Jagat."

Bagor berkata kepada Ki Punjul, "Tanah di sekitar padepokan kami menjadi retak serta sebagian longsor dan beberapa temanku ada yang mati tertimbun longsoran tanah itu, atau terkubur dalam keretakan tanah tersebut, Kang. Aku sendiri hampir terkubur masuk ke dalam retakan tanah kalau tak segera melompat menghindari bahaya itu."

Kinanti ajukan tanya, "Bagaimana ciri-ciri sabuk orang itu?"

"Ak... aku tak begitu jelas. Tapi sempat kulihat sabuk itu sepertinya dari kulit ular berwarna merah kehitaman. Jika disabetkan memancarkan sinar merah."

Kinanti berbisik kembali kepada Suto, "Begitukah ciri-ciri Sabuk Gempur Jagat?"

"Aku belum pernah melihatnya. Tak ada yang menjelaskan padaku tentang ciri-cirinya."

Kinanti menghempaskan napas sedikit kecewa dengan jawaban Suto Sinting. Tetapi kejap berikut Suto segera ajukan tanya kepada Bagor yang sudah tampak lebih sehat lagi itu. "Bagaimana ciri-ciri orang yang mengamuk dengan menggunakan sabuk itu?"

"Ciri-cirinya...?" Bagor merenung membayangkan orang yang dimaksud. "Hmmm... seingatku dia sudah cukup tua. Rambutnya putih, wajahnya angker, badannya kurus, matanya tampak buas."

"Mengenakan jubah apa?"

"Hmmm... jubahnya... jubahnya kalau tidak salah berwarna abu-abu lusuh," jawab Bagor sambil menatap Pendekar Mabuk.

"Tak salah lagi," ucap Suto sambil memandang ke arah luar kedai.

"Tak salah bagaimana maksudmu?" desak Kinanti.

"Itu ciri-ciri si Tulang Naga!"

"Kalau begitu kita segera pergi mengejar orang tersebut!"

Suto Sinting sempatkan diri bertanya kepada Bagor, "Kapan perguruanmu diserang?"

"Tad... tadi malam. Menjelang fajar aku melarikan diri kemari."

"Saat kau lari apakah orang itu masih ngamuk di sana?"

"Masih, ia masih menghancurkan ruang pemujaan."

"Cepat kejar dia, Suto!" seru Kinanti tak sabar lagi. Blaas...!

Suto dan Kinanti akhirnya melesat pergi tinggalkan kedai Ki Punjul. Sebelum mencapai perbatasan desa, mereka terhenti seketika. Pendekar Mabuk yang mengawali hentikan langkah dan menahan lengan Kinanti.

"Ada apa?" Kinanti merasa heran terhadap sikap Suto yang menghentikan langkah.

Suto Sinting nyengir dan garuk-garuk kepala. "Siapa yang bodoh sebenarnya? Kau atau aku?"

"Apa maksudmu bertanya begitu?" Kinanti kerutkan dahi.

"Kita mau ke mana sebenarnya, Kinanti?"

"Ke perguruannya si Bagor."

"Kau tahu di mana letak perguruannya?"

Kinanti diam sesaat, lalu gelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu di mana letak perguruannya berada. Kita lupa menanyakan tempat itu,"

Suto Sinting tertawa geli sendiri. "Kau saja yang kembali ke kedai dan menanyakan kepada Bagor."

"Itu soal mudah. Tapi ada satu persoalan yang harus kau selesaikan sendiri."

"Persoalan apa lagi?" Kinanti agak jengkel.

"Ki Punjul belum kita bayar! Biaya makan, minum, dan bermalam belum kita lunasi. Ki Punjul bisa teriak 'maling' kepada kita, Kinanti."

"Uuuhh...!" Kinanti menghempaskan napas menahan rasa kesal. "Kalau begitu sekalian saja kau selesaikan urusan itu."

"Mana mungkin bisa kuselesaikan?"

"Apakah kau tak becus menghitung jumlah biaya makan kita?!"

"Soal menghitung, becus saja. Tapi apa kau sangka aku sekarang punya uang? Aku sedang tak mempunyai uang sepeser pun, Kinanti!"

"Ya, ampuun... jadi siapa yang mau bayar biaya makan, minum, dan bermalam kita itu?"

"Tentu saja kau yang harus bayar, karena kau yang mendesak untuk bermalam di situ."

"Kau pikir sekarang aku pegang uang? Sepeser pun aku tak pegang uang, Suto."

"Mampuslah kalau begini! Kasihan Ki Punjul, dagangan habis, tuak habis, tapi uang tak dapat," Suto Sinting garuk-garuk kepala.

"Baiklah, kita kembali ke kedai dan bicara apa adanya kepada Ki Punjul. Kurasa dia tidak keberatan kalau kita menghutang kepadanya."

Malu tak malu mereka berdua menemui Ki Punjul lagi dan mengatakan keadaan sebenarnya. Untung Ki Punjul orang yang baik hati, sehingga hal itu tidak dipersoalkan. Kinanti sempat pula tanyakan letak perguruan Bagor, lalu mereka segera pergi ke perguruan tersebut mengejar si pemegang Sabuk Gempur Jagat.

Tetapi sampai di tempat tujuan, ternyata keadaan sudah sepi. Tak ada manusia yang hidup satu pun. Tak ada mayat yang utuh tanpa luka bakar. Bangunan-bangunan hancur menjadi rongsokan kayu arang. Wajah-wajah mereka sukar dikenali karena luka bakar yang amat parah. Bahkan di sana-sini terdapat serpihan daging manusia yang sudah menghangus pertanda korban itu mati dalam keadaan hancur.

Keadaan itu membuat wajah Kinanti menahan duka. Ia teringat keadaan di Lembah Birawa yang sama persis dengan keadaan di perguruannya Bagor itu. Melihat ciri-ciri kehancuran tersebut, Kinanti dan Suto Sinting yakin bahwa pelakunya memang orang yang memegang Sabuk Gempur Jagat. Bongkahan tanah retak dan longsor bagaikan sisa-sisa kiamat di tempat itu, sama persis dengan sisa-sisa kiamat di Lembah Birawa.

"Tulang Naga...! Aku yakin pelakunya adalah si Tulang Naga, orang berjubah abu-abu, berbadan kurus, berambut putih, dan berwajah angker itu!" geram Suto Sinting sambil pandangan matanya menerawang jauh.

"Ke mana arah kepergiannya?"

"Sulit dilacak," jawab Suto Sinting tanpa memandang Kinanti. "Tapi melihat beberapa pohon tumbang menjauh ke arah barat, kemungkinan besar Tulang Naga menuju ke arah barat!"

"Kita coba mengejar ke sana saja!" ujar Kinanti tanpa menunggu pendapat Suto, ia langsung berkelebat ke arah barat. Suto Sinting terpaksa mengikutinya.

Mereka semakin yakin arah barat merupakan arah kepergian Tulang Naga, karena di sana tercecer beberapa potongan tubuh manusia, mayat-mayat yang mati hangus dan pepohonan yang rusak terbakar serta mengering sebagai tanda amukan tersebut berlanjut ke arah barat. Namun semakin ke barat, tanda-tanda kehancuran itu semakin menghilang, sampai akhirnya mereka berhenti di kaki sebuah bukit dan merasa kehilangan jejak.

"Kita kehilangan arah, Kinanti."

"Ya, tapi seingatku tempat ini tak jauh dari Bukit Kasmaran."

"Apakah kau masih menduga sabuk itu di tangan Merak Cabul?"

Kinanti diam sejenak, mempertimbangkan pendapatnya tentang si Merak Cabul. Kejap berikut terdengar suaranya berkata pelan bagai orang menggumam. "Merak Cabul mempunyai seorang kakek berbadan kurus dan berambut putih, ia berjuluk: Dewa Putih."

"Dewa Putih? Baru sekarang kudengar nama itu."

"Sudah lama Dewa Putih tidak muncul kedunia persilatan, ia mengasingkan diri dan tak mau ikut campur perkara duniawi lagi. Tapi siapa tahu dia berubah pikiran, atau karena sesuatu hal ia akhirnya turun ke rimba persiiatan lagi dan berhasil kuasai Sabuk Gempur Jagat itu?!"

"Jika ia dari aliran putih, ia tak akan bertindak sekejam itu."

"Barangkali atas dorongan sang cucu, bisa saja ia lakukan kekejaman seperti itu. Sebab menurut cerita yang kudengar dari salah seorang murid Bukit Kasmaran, Dewa Putih sangat sayang kepada cucu-cucunya. Tapi dari sekian cucu yang paling disayang adalah Pancasurti alias si Merak Cabul."

Pendekar Mabuk manggut-manggut merenungkan penjelasan tersebut. Tapi ia belum bisa mengambil sikap harus berbuat apa dalam keadaan serba tidak pasti itu. Setelah saling bungkam beberapa saat lamanya, akhirnya Kinanti mengambil keputusan dengan tegas.

"Aku harus ke Bukit Kasmaran. Sebelum bertemu dengan si Merak Cabul, rasa-rasanya masih belum lega hatiku."

"Aku ikut saja ke mana kau pergi," ujar Suto Sinting setelah meneguk tuaknya. "Bagiku yang penting aku harus selamatkan sabuk pusaka itu agar tidak digunakan untuk kekejaman tanpa batas."

Sambil bergerak mengikuti langkah Kinanti, Suto Sinting sempat mengingatkan gadis itu akan keadaan Ratu Jiwandani. Tapi menurut Kinanti, ia akan menghadap Ratu Jiwandani jika sudah selesaikan urusan tentang si pemegang Sabuk Gempur Jagat.

"Karena tugas utamaku dari beliau adalah menghancurkan si pemegang Sabuk Gempur Jagat sebagai pembalasan kekejamannya yang menghancurkan pihakku itu!"

"Baiklah jika memang begitu tekadmu. Kurasa Ratu-mu dalam keadaan aman bersama Ki Galak Gantung," kata Suto Sinting yang merasa tenang, tak mencemaskan sang Ratu sedikit pun.

Dan tiba-tiba langkah mereka harus terhenti karena Pendekar Mabuk tarik tangan Kinanti hingga gadis itu jatuh dalam pelukannya. Kinanti berlagak berang walau sebenarnya dalam hati merasa senang berada dalam pelukan si tampan Suto itu.

"Apa-apaan kau ini?! Mau bertindak kurang ajar padaku, hah?!"

Suto Sinting tidak menjawab selain hanya sunggingkan senyum dan lepaskan pelukan. Tapi tangan kirinya yang menggenggam segera disodorkan. Tangan itu membuka genggamannya, dan mata Kinanti terbelalak melihat sekeping logam bergerigi tajam ada di tangan Suto.

"Senjata rahasia milik siapa itu?!"

Suto Sinting hanya angkat bahu, "Yang jelas jika tidak segera kutangkap dan dirimu kutarik dalam pelukan, benda ini sudah menembus kulit tubuhmu yang mulus itu, Kinanti."

Gadis berjubah kuning gading itu kulit wajahnya berubah merah. Bukan karena malu dipuji kemulusan kulitnya, tapi marah karena ada seseorang yang ingin membunuhnya dengan licik, ia segera pandangi keadaan sekeliling dengan mata tampak berang. Akhirnya ia pun berseru, "Jika kau ingin unjuk kesaktian, keluarlah dari persembunyianmu dan hadapilah aku! Jika kau masih bersembunyi, kuanggap kau seorang pengecut yang masih perlu berguru lagi atau pulanglah dan menyusulah kepada ibumu!"

Ejekan itu sengaja dilakukan untuk memancing kemarahan si penyerang gelap. Rupanya pancingan itu berhasil membangkitkan kemarahan si penyerang gelap, sehingga dari atas pohon berdaun rindang meluncurlah sesosok tubuh berpakaian biru muda. Wuuuttt...!

Zing, zing, zing...!

Orang yang meluncur turun dari atas pohon itu melepaskan senjata rahasianya lagi bertubi-tubi ke arah Kinanti. Dengan cepat Kinanti cabut pedangnya dan kepingan baja putih itu ditangkisnya menggunakan pedang tersebut.

Tring, tring, tring...! Jeb, jeb, jeb...!

Tiga keping logam bergerigi itu menancap pada batang pohon. Pemilik senjata rahasia itu tampak menggeram melihat serangannya dapat ditangkis Kinanti, ia memandang Kinanti dengan mata tajam, demikian pula Kinanti tak mau kalah tajam dalam memandang. Suto Sinting hanya tertegun dengan wajah tampak terperangah kagum, karena orang yang turun dari atas pohon itu berparas cantik dan bertubuh menggiurkan sekali.

"O, jadi kaulah orangnya, Sanjung Rumpi?!" Kinanti manggut-manggut dengan senyum sinisnya.

Gadis cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun itu melangkah dekati Kinanti. Dalam jarak lima langkah ia berhenti dan pandangi wajah Pendekar Mabuk. Kala itu, kekaguman Pendekar Mabuk sudah mampu disembunyikan, sehingga kini sang pendekar tampan itu sunggingkan senyum yang menawan hati.

Kinanti segera menyodokkan sikunya ke pinggang Suto dan menghardik dengan suara bisik, "Tak perlu tersenyum kepadanya!"

Hati Suto menjadi geli, tapi mulutnya berbisik kepada Kinanti dengan mata masih pandangi Sanjung Rumpi. "Siapa gadis itu, Kinanti?"

"Sanjung Rumpi, tangan kanannya si Merak Cabul."

"Ooo...," Suto manggut-manggut kecil.

"Menyingkirlah, biar kuhadapi sendiri orang ini! Kuingatkan jangan sering-sering menatapnya."

"Kenapa begitu?"

"Dia mempunyai kekuatan daya pikat di wajahnya. Kau bisa terjerat cinta jika terlalu lama memandangnya!"

"Ingin kucoba seberapa kekuatan daya pikatnya!"

"Kupenggal sendiri lehermu kalau berani coba-coba terpikat olehnya."

"Eh, galak juga kau jadinya. Baiklah aku akan menyingkir ke bawah pohon sana...," sambil Suto Sinting tertawa kecil tanpa suara, ia menyingkir kebawah pohon, tanpa melirik Sanjung Rumpi walau tahu sedang dipandangi oleh gadis berpakaian seronok warna biru tipis itu. "Kalau tak ingat Dyah Sariningrum sudahku tomplok gadis itu," katanya membatin, lalu terbayang sekilas wajah calon istrinya yang menjadi Ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi dan bergelar Gusti Mahkota Sejati itu. Bayangan wajah Dyah Sariningrum hilang setelah Suto mendengar Kinanti berseru kepada Sanjung Rumpi dengan nada tak bersahabat sama sekali.

"Rupanya kau yang membunuh lelaki kurus yang gagal membunuhku kemarin siang, Sanjung Rumpi!"

Suto Sinting pandangi pinggang Sanjung Rumpi, ternyata memang masih tersisa enam pisau kecil yang melingkar bagaikan sabuk itu. Sanjung Rumpi sendiri hanya tersenyum sinis mendengar tuduhan tersebut.

"Ya, memang aku yang menyuruh Bergala membunuhmu. Sayang ia terlalu bodoh dan layak dimusnahkan nyawanya!"

Dengan pedang masih di tangan Kinanti serukan suara kembali, "Lalu siapa yang menyuruhmu membunuhku?! Jawab!"

"Ketuaku; Merak Cabul!"

"Bagus. Dugaanku tak salah lagi sekarang. Tak perlu kutanyakan apa sebabnya, yang pasti Merak Cabul juga yang menghancurkan Lembah Birawa dengan Sabuk GempurJagat!"

"Yang kutahu kau adalah sisa dari kehancuran itu! Ketua menyuruhku membunuhmu, Kinanti! Tapi ketua juga menyuruhku mengampunimu jika kau mau serahkan Kitab Jati Mulya kepadaku!"

"Persetan dengan Kitab Jati Mulya!" geram Kinanti. "Tak ada kitab apa pun di tempatku, tapi kalian sudah membumihanguskan istana kami, membantai seluruh penghuninya, dan sekarang tinggal membayar hutang nyawa kepadaku. Heeeaat...!"

Kinanti maju dalam satu lompatan, pedang siap ditebaskan ke arah lawan. Namun Sanjung Rumpi tak mau tinggal diam saja. Ia pun bergerak dengan cepat, tangannya tiba-tiba melemparkan dua pisau beracun Serap Darah itu. Wuuut, wuuut...!

Kinanti mengibaskan pedangnya dengan kecepatan tinggi pula. Trang, trang...! Kedua pisau itu mampu ditangkisnya. Kini ia menebaskan pedang dari atas ke bawah, sasarannya adalah kepala Sanjung Rumpi. Wuuut...!

Sanjung Rumpi menghindar dengan memiringkan tubuh dan membungkuk. Kakinya menyapu kaki Kinanti. Weess...! Tapi Kinanti lompat ke atas dan segera menghujamkan pedang ke punggung Sanjung Rumpi yang membungkuk. Suuut...!

"Heeaat...!" Sanjung Rumpi berguling di tanah. Kakinya berkelebat ke atas dan tubuhnya terpental bangkit dalam satu sentakan manakala pedang itu menancap di tanah. Lalu kaki itu berkelebat menendang rusuk Kinanti dengan cepat. Deeg...!

"Uuhg...!" Kinanti terguling-guling. Pedangnya tertinggal dalam keadaan menancap di tanah.

Sanjung Rumpi bermaksud mencabut pedang itu, tapi tangan Kinanti segera lepaskan pukulan bersinar merah bagaikan besi membara yang memancar lurus ke arah Sanjung Rumpi. Claaap...! Sinar tanpa putus itu kenai tangan Sanjung Rumpi yang ingin memegang gagang pedang.

Cras...!

"Aaauh...!" Sanjung Rumpi memekik kesakitan, lalu melompat mundur dalam keadaan tangannya terluka hangus pada bagian pergelangannya. Ia menyeringai kesakitan sambil pegangi tangan kanannya itu.

Kinanti segera melompat dan menyambar pedangnya. Wuuus...! Kini ia tiba di depan Sanjung Rumpi dalam jarak dua langkah. Pedangnya segera ditebaskan dari atas ke bawah. Namun baru saja tangan Kinanti terangkat, tiba-tiba seberkas sinar hijau kecil melesat dari balik sebuah pohon dan menghantam dada kanan Kinanti.

Claaap...! Dees...!

"Aaaahg...!" Kinanti terpekik panjang, tubuhnya melayang bagai terbuang ke belakang. Lalu tubuh itu roboh dalam keadaan telentang. Bluuk...!

"Aaahg...! Ahhg...! Aaaahg...!" Kinanti kelojotan, tubuhnya tersentak-sentak dengan mata mendelik dan mulut ternganga. Sinar hijau itu menimbulkan luka berbahaya di bagian dalam tubuh Kinanti. Nyawanya mau lepas dari raga. Mulutnya semburkan darah segar beberapa kali.

"Celaka!" gumam Suto Sinting dengan cemas. "Aku harus segera selamatkan Kinanti!"

Zlaaap...! Suto Sinting menyambar tubuh Kinanti yang sekarat, ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah lepas dari busur. Kinanti berhasil dibawa lari bersama pedangnya. Namun sepintas terdengar seruan seorang perempuan yang agaknya ditujukan kepada Sanjung Rumpi.

"Kejar mereka! Jangan biarkan gadis itu lolos!"

* * *

LIMA

KEADAAN Kinanti tak bisa bertahan lagi. Suto Sinting sudah merasakan tubuh gadis itu dingin bagaikan salju. Mau tak mau Suto hentikan pelariannya di perjalanan. "Ia harus meminum tuakku secepatnya. Terlambat sedikit ia akan mati!"

Pendekar Mabuk memaksakan gadis itu meneguk tuaknya. Tuak itu dituangkan ke mulut Kinanti melalui mulut Suto, lalu sedikit ditiup biar tuak bisa masuk ke tenggorokan dan tertelan. Sekalipun hal itu dilakukan di tempat terbuka, mudah diketahui oleh pengejarnya, namun Suto merasa tindakan itu adalah tindakan yang terbaik ketimbang harus membawa lari Kinanti ke tempat yang aman, tapi ternyata sampai di tempat aman nyawa Kinanti sudah melayang.

Usaha tersebut mulai menampakkan hasilnya. Napas Kinanti sudah tidak sesak lagi. Gadis itu mulai mampu bernapas dengan lega. Kelopak matanya bisa berkedip-kedip. Suara erangannya sangat lirih, namun membuat Suto Sinting merasa gembira. Itu merupakan tanda-tanda jiwa Kinanti telah selamat dari maut yang nyaris merenggutnya tadi. Tuak pun kini dituangkan secara langsung, tidak melalui bantuan mulut Suto lagi. Kinanti sempat terbatuk-batuk karena meneguk tuak dalam keadaan berbaring. Suto merasa lega dan sengaja membiarkan Kinanti terbatuk-batuk.

"Ooh... dadaku panas sekali. Panas sekali, Suto...," rintih Kinanti dalam keadaan tergolek di rerumputan. Tepat di bawah pohon teduh.

"Minumlah tuak dari bumbungku ini. Minumlah lagi, Kinanti."

Mau tak mau Kinanti menuruti saran Suto Sinting. Sebentar-sebentar ia meneguk tuak itu sambil keringatnya diusap oleh Suto. Perlakuan Suto yang lembut bak penuh kesetiaan serta kasih sayang itu mulai terasa menyentuh hati Kinanti. Namun gadis itu diam saja dan tak mau menunjukkan rasa hati sebenarnya.

"Sebentar lagi kau sembuh. Percayalah! Mereka tak akan mampu membunuhmu jika aku ada di sampingmu, Kinanti," ucap Suto dengan lembut sekali.

"Mereka... mereka mengejar kita?" tanya Kinanti setelah teringat serangan dari balik pohon yang berarti Sanjung Rumpi tidak sendirian.

"Biarkan mereka mengejar kita. Aku akan menghadapi mereka. Kau istirahatlah dulu jika sampai mereka menemukan kita di sini, Kinanti."

Sambil bicara begitu, Suto Sinting mengusap-usap kening Kinanti sampai ke rambut. Elusan pelan membuat hati Kinanti semakin menemukan kebahagiaan yang samar-samar. Mestinya ia tak ingin menikmati kebahagiaan itu, namun keadaannya yang tergolek lemah membuat setiap sentuhan tangan Pendekar Mabuk terasa jelas di hati Kinanti, seolah-olah elusan itu menjamah hati dengan mesranya.

"Suto, mengapa kau bersikap baik sekali kepadaku?"

"Karena kau pun bersikap baik padaku. Kalau kau musuhku, aku tak akan bersikap seperti ini padamu, Kinanti," jawab Suto dengan suara pelan namun sangat jelas terasa menghadirkan debaran indah di hati Kinanti.

"Tapi... tapi aku tak ingin mempunyai kekasih seperti kau, Suto."

"Aku tidak berpikir ke arah itu, Kinanti. Hanya saja, kalau boleh kutahu, mengapa kau tidak ingin mempunyai kekasih seperti diriku?"

"Karena kau mata keranjang."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum geli. Bahkan tawa kecilnya terlepas lirih bagai orang menggumam. Kinanti menatapnya, dan Suto menjadi salah tingkah, akhirnya lemparkan pandangan ke arah lain. Tepat pada saat pandangan terlempar, saat itu Suto melihat kemunculan Sanjung Rumpi dengan seorang perempuan yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Wajahnya cantik, berbentuk lonjong. Hidungnya mancung dan bibirnya sangat menggiurkan. Kulit perempuan itu kuning langsat. Rambutnya disanggul rapi dengan sisa anak rambut terjuntai di smping kanan-kiri.

Namun hal yang membuat Suto Sinting menjadi berdebar-debar adalah pakaian perempuan itu. Ia mengenakan pakaian hijau berbunga-bunga seperti bulu merak. Terbuat dari kain tipis yang dibentuk jubah berlengan panjang. Jubah hijau merak itu tidak dikancingkan bagian depannya, sedangkan bagian dadanya hanya ditutup dengan kain tipis dan kecil. Seakan hanya menutupi bagian yang penting saja. Demikian pula bagian bawahnya, tak ada kain lain kecuali kain penutup tipis dan kecil, menutup bagian penting secukupnya. Tapi tipisnya kain penutup itu membuat apa yang ditutupnya menjadi tampak samar-samar dan mengguncang hati setiap lelaki.

"Mereka datang juga akhirnya," gumam Suto Sinting yang membuat Kinanti akhirnya bangkit dengan perlahan-lahan.

"Celaka! Sanjung Rumpi datang bersama si Merak Cabul!"

"Perempuan berjubah hijau itukah yang bernama si Merak Cabul?"

"Benar. Hati-hati, jangan terlalu lama pandangi matanya. Kekuatan matanya bisa membuat lelaki bertekuk lutut kepadanya dan pasrah diperintahkan apa saja."

Suto kurang begitu menghiraukan kata-kata Kinanti. Namun ia sempat menggumam lirih sambil melepaskan tangannya dari lengan Kinanti yang sejak tadi dipeganginya. "Pantas ia berjuluk Merak Cabul, pakaiannya memang sangat cabul. Tapi... menggairahkan sekali untuk dinikmati dengan mata telanjang seperti ini."

"Suto!" sentak Kinanti menyadarkan pendekar tampan yang agaknya hanyut dalam buaian kecabulan perempuan berjubah hijau itu.

Suto Sinting pun tersentak kaget dan segera sadar. "Kau diam saja di sini, biar kuhadapi mereka!" katanya sambil bangkit berdiri. Kemudian ia maju menyongsong langkah Sanjung Rumpi dan si Merak Cabul yang berusaha dekati Kinanti. Dalam jarak enam langkah mereka sama-sama berhenti. Mata Suto tertuju lurus pada mata si Merak Cabul.

Merak Cabul sunggingkan senyum pemikat. Namun Suto Sinting segera gunakan jurus 'Senyuman iblis' warisan dari bibi gurunya: Bidadari Jalang. Jurus senyuman itu membuat Merak Cabul dan Sanjung Rumpi menjadi berdebar-debar.

"Sial! Mengapa hatiku jadi berdebar-debar sekali. Ooh... hasratku ingin bercumbu dengan si tampan itu menjadi bergejolak, makin lama semakin menyesakkan pernapasan," kata Sanjung Rumpi dalam batinnya. Tangan yang terluka bakar agaknya sudah disembuhkan oleh si Merak Cabul, hingga tampak utuh tanpa bekas luka menghitam seperti tadi.

Bukan hanya Sanjung Rumpi yang berdebar-debar, ternyata Merak Cabul pun membatin dalam kegelisahannya. "Celaka betul. Kekuatan daya pikatku ternyata kalah dengan senyumannya. Ooh... aku bergairah sekali terhadap pemuda tampan itu. Jiwaku menuntut pelukan dan ciumannya. Aduuuh... keinginanku bercumbu sangat besar. Aku tak sabar menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera dipeluk dan dicumbunya. Oooh... bagaimana aku harus bertahan jika begini jadinya?"

Suto Sinting tetap sunggingkan senyum dan pandangi mata kedua perempuan itu secara berganti-gantian. Kekuatan 'Senyuman iblis' semakin membuat mereka berdua sangat gelisah. Bahkan Sanjung Rumpi menjadi salah tingkah, antara takut kepada Merak Cabul dan ingin segera memeluk Suto Sinting. Kedua tangannya mulai meremas-remas sendiri dengan napas mulai memberat, dan sesekali tersengal resah.

Kinanti tidak mengerti apa yang dilakukan Suto Sinting, ia hanya menduga Suto telah terpengaruh kekuatan pelet yang ada pada diri Merak Cabul. Maka dengan hati geram Kinanti lepaskan pukulan jarak jauhnya ke arah Merak Cabul. Wuuut...! Pukulan itu berupa sinar merah kecil lurus tanpa putus. Arahnya tepat ke dada Merak Cabul.

Melihat kedatangan sinar merah bagaikan kilat, Merak Cabul segera sentakkan tangan kirinya dan dari telapak tangan kiri keluar sinar hijau lurus tanpa putus yang menghantam tepat sinar merah tersebut. Claaap!

Blaaar...! Ledakan yang memercikkan bunga api menyebar itu mempunyai gelombang hentak yang cukup besar. Pendekar Mabuk terjungkal karena hentakan gelombang ledak tersebut. Sanjung Rumpi juga terpelanting jatuh dan berguling-guling di tanah. Merak Cabul terdorong ke belakang hingga tubuhnya membentur sebatang pohon, lalu jatuh terduduk di bawah pohon tersebut. Sedangkan Kinanti hanya tersentak ke belakang tak sampai jatuh karena ia segera berpegangan dahan pohon kecil.

Alam sunyi sejenak. Kemudian mereka yang berjatuhan mulai bangkit dengan pandangan saling bermusuhan. Merak Cabul menatap Kinanti dengan gigi menggeletuk menahan kebencian. Sanjung Rumpi memandang Kinanti, namun segera beralih kepada Suto Sinting karena hatinya masih gundah karena gairahnya yang tergugah oleh senyum pemikat Suto tadi.

Pendekar Mabuk kibaskan kepalanya membuang rasa pusing akibat jatuhnya tadi. Ia segera menenggak tuaknya sambil mengarah kepada Kinanti, ia tahu dirinya didekati Kinanti, karenanya matanya sempat melirik sebentar saat menenggak tuak tiga teguk.

"Kupikir kau ingin lakukan pertarungan dengan mereka. Ternyata kau justru menikmati kecabulan perempuan itu!" sentak Kinanti dengan suara pelan. Wajah cantiknya cemberut hingga mulutnya tampak runcing.

Suto hanya nyengir geli, lalu berkata, "Kau tidak tahu apa yang kulakukan, Kinanti." Wajah Suto mendekat di telinga Kinanti, "Aku menyerang hati mereka. Hampir saja mereka lumpuh bersamaan."

"Hmmm... alasan!" Kinanti mencibir ketus.

Suto Sinting justru makin menertawakan walau tanpa suara tawa yang nyata.

"Merak Cabul!" seru Kinanti kepada perempuan berdandanan seronok itu. "Apa alasanmu membumihanguskan Lembah Birawa dengan Sabuk Gempur Jagat itu?!"

"Hik, hik, hik, hik...!" Merak Cabul tertawa, lalu tawa itu tiba-tiba hilang dan wajahnya berubah ketus. "Kalau aku punya Sabuk Gempur Jagat, sudah kuhancurkan kepalamu saat tadi melawan Sanjung Rumpi!"

"Mengapa tidak kau lakukan! Aku siap melayanimu dengan senjata pusaka apa saja! Keluarkan semua pusaka di Bukti Kasmaran, aku tak akan gentar menghadapimu. Perempuan cabul!"

"Aku hanya menghendaki Kitab Jati Mulya! Kulihat Lembah Birawa sudah hancur, sisanya tinggal dirimu seorang, Kinanti. Tak perlu kau bertahan dan bersikeras sembunyikan Kitab Jati Mulya. Kau tidak akan mampu menandingi kemarahanku, walaupun kau bersahabat dengan si tampan itu! Kalau si tampan itu ikut campur, akan kubuat berlutut dan menjadi pelayan cintaku setiap malam!"

"Aku bersedia!" sahut Suto Sinting.

Kinanti berpaling sambil mendengus jengkel. Suto Sinting agak menggeragap dan segera berkata membetulkan maksud ucapannya tadi. "Maksudku, aku bersedia bertarung melawanmu demi membela Kinanti!"

"Hik, hik, hik, hik...," Merak Cabul perdengarkan tawanya, lalu berhenti mendadak seperti tadi dan berwajah ketus pandangi Suto Sinting.

"Bocah tampan," katanya. "Kau tak akan mendapatkan keindahan jika berada di pihak Kinanti. Gadis itu tidak bisa memberikan surga terindah untukmu. Tapi jika kau ada di pihakku, kau akan mendapatkan surga terindah di antara surga-surga yang ada di dunia ini!"

"Aku sudah melihat pintu surgamu itu, tapi aku tidak tertarik untuk masuk ke dalamnya, Merak Cabul. Aku lebih tertarik pada surganya Kinanti yang masih tertutup rapat, tak dipamerkan pada setiap pria. Berarti surganya masih bersih dan dijamin tak ada penyakit di dalamnya!"

Suto Sinting sengaja bicara sedikit seronok karena ia bermaksud memancing kemarahan Merak Cabul agar dialihkan kepadanya. Pendekar Mabuk punya pertimbangan, bahwa Kinanti tidak akan mampu mengungguli Merak Cabul, sehingga sangat membahayakan jiwa jika Merak Cabul murka kepada Kinanti. Satu-satunya cara untuk mengurangi datangnya bahaya pada diri Kinanti adalah dengan memancing perhatian Merak Cabul dengan meremehkan kemesraan yang menjadi andalan perempuan seronok itu.

"Kau belum tahu siapa aku, Bocah Tampan!" Merak Cabul segera menggeram pertanda kemarahannya mulai datang.

Suto Sinting sunggingkan senyum tipis, melangkah melintasi dengan Kinanti dan berkata dalam bisik, "Mundur, biar kuhadapi!"

Walau ucapan itu tak begitu jelas, tapi Kinanti merasakan kesungguhan Suto yang ingin menghadapi Merak Cabul. Kinanti pun akhirnya mundur pelan-pelan menjauhi Suto Sinting sambil matanya sesekali melirik ke arah Sanjung Rumpi, karena khawatir datang serangan tiba-tiba dari Sanjung Rumpi.

Ternyata Sanjung Rumpi saat itu sedang bersembunyi di balik pohon. Tangannya meraba-raba tubuhnya sendiri, ia tampak sedang kasmaran dan memburu puncak gairahnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Suto Sinting.

Kinanti kerutkan dahi dan membatin, "Gila orang itu! Kenapa dia justru kasmaran sendiri di pojokan sana?!"

Kinanti tak tahu bahwa Sanjung Rumpi masih terkena pengaruh pelet dari jurus 'Senyuman iblis' yang tadi dilancarkan Suto Sinting. Pengaruh itu membuatnya tak mampu menahan gairah dan ingin melepaskannya bersama Suto. Namun karena Suto berhadapan dengan Ketua-nya, ia tak berani lakukan apa pun kecuali mencari keindahan dengan tangannya sendiri.

"Bocah tampan," ujar Merak Cabul dengan mata mulai tampak liar. "Kuberi kesempatan sekali lagi, kau mau berada di pihakku atau di pihak Kinanti?"

"Tentu saja di pihak Kinanti!" jawab Suto tegas-tegas.

"Kau tak ingin bermesraan denganku?"

Suto tertawa pendek. "Kemesraanmu sudah basi, ibarat sayur sudah sayu dan hambar. Tidak sesegar kemesraan Kinanti."

"Keparat kau! Terimalah jurus 'Racun Teluh Cinta' ini, hiaaaat...!" Claap...! Tiba-tiba dari mata kiri Merak Cabul melesat sinar kuning lurus tanpa putus ke arah Suto Sinting. Gerakan sinar itu sangat cepat, bagaikan anak panah melesat dari busur dalam jarak enam langkah.

Kinanti sampai tak sadar berseru, "Awaass...!"

Tapi Pendekar Mabuk ternyata sudah siaga penuh waspada. Tangannya yang menggenggam tali bumbung berkelebat cepat mengarahkan bumbungnya ke depan. Teeb...! Sinar kuning itu kenai bumbung tuak. Lalu membalik arah sedikit lebih rendah dari ketinggian geraknya tadi. Sinar kuning yang membalik arah ke pemiliknya itu menjadi lebih cepat dan lebih besar, sehingga Merak Cabul tak sempat menghindar lagi. Jurus 'Racun Teluh Cinta' akhirnya menghantam perutnya sendiri. Jrebb...!

"Aahhh...!" Merak Cabul tersentak mundur, suara pekikannya lemah, bukan dalam nada kesakitan, tapi bernada orang terkejut dalam keindahan. Tubuhnya yang molek tersandar di pohon, ia masih berdiri dengan mata mulai sayu. Makin lama tubuhnya semakin menggigil gemetaran. Merak Cabul mulai tersenyum-senyum dengan kepala sedikit mendongak dan lidahnya menjilati bibir sendiri.

Jurus 'Racun Teluh Cinta' telah menguasai naluri dan jiwanya lebih dahsyat dari aslinya. Jurus itu membuat seseorang menjadi tunduk dan patuh kepada perintah Merak Cabul. Tapi karena berubah lebih besar dan mengenai dirinya sendiri, maka Merak Cabul menjadi lupa daratan. Gairahnya menggebu-gebu di luar kewajaran, ia tertawa cekikikan sendiri sambil meraba-raba tubuhnya. Dengan gerakan pelan bagai orang menari jubahnya ditanggalkan. Napasnya mendesah-desah, sesekali keluarkan suara merintih nikmat atau meratap diburu gairah cinta. Tubuhnya meliuk-liuk bagaikan mengikuti irama gairahnya.

"Gawat! Kenapa dia jadi begitu setelah terkena jurusnya sendiri?" pikir Kinanti sambil hatinya berdebar-debar dan merasa kikuk sendiri.

Pendekar Mabuk hanya tersenyum-senyum nakal, bahkan sesekali melirik Kinanti sambil tertawa pelan.

"Suto, kau apakan dia?"

"Sekadar membalikkan jurus 'Racun Teluh Cinta'-nya."

"Dia menjadi gila! Gila kemesraan!"

Erangan memanjang dari mulut Merak Cabul terdengar mendesirkan hati Kinanti, ia jadi tak enak hati, lalu segera menarik lengan Suto Sinting sambil membentak,

"Palingkan muka dan tinggalkan tempat ini! Jangan kau tonton tingkahnya itu, kau bisa ikut-ikutan gila seperti dia!" Kinanti menarik Suto Sinting mengajaknya pergi.

Pendekar Mabuk hanya tertawa kecil, ia masih sempat berpaling memandangi Merak Cabul yang telah melepas seluruh penutup tubuhnya. Bahkan langkahnya yang gontai telah sampai di tempat Sanjung Rumpi. Mereka bagai tak ingat apa-apa lagi. Sanjung Rumpi dipeluk dan dicumbunya dengan jeritan-jeritan mesra yang membangkitkan gairah siapa saja yang mendengarnya.

"Ayolah, kita pergi dari sini!" Kinanti mendorong pipi Suto agar tidak memandang ke belakang sambil menarik pemuda tampan itu agar cepat tinggalkan tempat. Namun sebelum mereka pergi jauh, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara pekikan melengking tinggi dari balik pohon tempat Merak Cabul bercumbu dengan Sanjung Rumpi.

"Aaaahg...!"

Kali ini suara pekikan itu mengundang perhatian dan bayangan berbeda. Nada pekikan bukan seperti orang sedang menikmati puncak kemesraan, namun seperti orang diterkam kesakitan. Pendekar Mabuk segera palingkan wajah, dan Kinanti pun ikut memandang ke sana.

"Ooh...?!" Kinanti tersentak kaget melihat darah menyembur dari punggung Merak Cabul. Lebih terkejut lagi melihat seseorang sedang berdiri di samping kedua perempuan itu dengan tongkat tergenggam di tangannya.

Tongkat berujung runcing itu berlumur darah, tampak habis dihujamkan ke tubuh Merak Cabul. Sedangkan Sanjung Rumpi tampaknya tak bergerak lagi dalam tindihan tubuh Merak Cabul. Rupanya ia pun terkena hujaman benda runcing yang datang dari punggung Merak Cabul, tembus ke ulu hati dan kenai jantungnya sendiri.

"Mengerikan sekali!" geram Kinanti bersuara lirih.

Mereka tak jadi teruskan langkah. Mata mereka memandang si pemegang tongkat runcing yang masih berdiri pandangi kedua perempuan tersebut.

"Merak Cabul tewas!" gumam Suto Sinting setelah melihat kaki Merak Cabul tersentak yang terakhir kali, kemudian melemas dan tak bergerak lagi. "Siapa orang bertongkat runcing itu?" tanyanya kepada Kinanti.

"Dia yang bernama Dewa Putih."

"Edan! Kenapa ia membunuh cucunya sendiri? Katamu tadi, ia paling sayang kepada Merak Cabul?"

"Aku tak tahu mengapa ia jadi begitu. Sebaiknya kita tinggalkan saja. Jangan berurusan dengannya. Kulihat ia sedang murka dan..."

"Tunggu!" sergah Suto Sinting sambil menarik tangan Kinanti yang ingin pergi. "Kita temui saja dia. Bukankah dia salah satu orang yang kau curigai sebagai pemegang Sabuk Gempur Jagat?"

Wuuut...! Jleeg!

Kinanti dan Suto Sinting sama-sama terkejut. Tahu-tahu si kakek berambut putih sepanjang tengkuk tanpa ikat kepala itu sudah berada di samping mereka. Padahal jarak mereka dengan mayat Merak Cabul cukup jauh. Tapi sang kakek yang berjuluk Dewa Putih itu mampu bergerak cepat, hingga dalam sekejap sudah berada di samping Kinanti. Jika bukan karena ilmunya yang tinggi, tak mungkin ia mampu bergerak secepat jurus 'Gerak Siluman'-nya Pendekar Mabuk.

Dewa Putih yang bertubuh kurus itu memandang dingin kepada Kinanti dan Suto Sinting. Jubahnya yang berwarna putih kusam melambai-lambai ditiup angin kaki bukit. Wajahnya tampak kaku karena tonjolan tulang pipinya terlihat jelas. Pandangan mata yang dingin itulah yang menimbulkan kesan angker walau sebenarnya kesan itu lebih cenderung berwibawa.

"Kaukah yang bernama Dewa Putih, Kek?" tanya Suto sekadar pembuka kata.

Dewa Putih sedikit bungkukkan badan. Kinanti heran melihat tokoh tua yang usianya sudah mencapai seratus tahun itu bersikap menghormat kepada Pendekar Mabuk. Bahkan jawabannya pun menimbulkan keheranan yang lebih dalam lagi bagi Kinanti.

"Benar, akulah yang berjuluk Dewa Putih, Nak Mas Manggala Yudha!"

"Manggala Yudha...?!" gumam hati Kinanti.

Suto Sinting menjadi kikuk sendiri. Sulit menjelaskan kepada Kinanti bahwa dirinya akan dipanggil sebagai Manggala Yudha jika seseorang mengetahui noda merah kecil di keningnya. Noda merah itu adalah tanda penghormatan tinggi yang diberikan oleh Ratu Kartika Wangi, penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib. Ratu itu adalah calon mertuanya, yang berarti ibu dari Dyah Sariningrum yang menjadi penguasa negeri Puri Gerbang Surgawi di alam nyata, tepatnya di Pulau Serindu.

Tanda merah kecil di kening Suto hanya bisa dilihat oleh tokoh-tokoh berilmu tinggi, yang sudah mencapai tingkat pengendalian indera ketujuh. Siapa pun yang mampu melihat noda merah di kening Suto akan menaruh hormat, setidaknya merasa sungkan terhadap murid sinting si Gila Tuak itu. Karena noda merah tersebut merupakan tanda tingkatan tertinggi setelah Ratu Kartika Wangi. Noda merah itu adalah lambang jabatan Suto Sinting sebagai Panglima Perang alias Manggala Yudha Kinasih bagi negeri Puri Gerbang Surgawi di alam gaib.

Sedangkan para tokoh sakti mana pun paling sungkan jika berurusan dengan orang-orangnya Ratu Kartika Wangi, karena ilmu mereka jauh lebih tinggi dari para tokoh di rimba persilatan di alam kasatmata, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Manusia Seribu Wajah).

"Damai hidupmu, panjanglah umurmu, Ki Dewa Putih." Begitulah sapaan keselamatan dari Suto Sinting jika mendapat hormat dari seseorang yang menganggapnya sebagai Manggala Yudha dari Puri Gerbang Surgawi. Ucapan selamat itu bagai berkah seorang raja kepada hambanya.

"Rupanya aku datang terlambat," ujar Dewa Putih. "Seharusnya aku datang sebelum cucuku termakan oleh tingkahnya sendiri."

"Mengapa kau bunuh cucumu sendiri, Ki Dewa Putih?"

"Terlalu sesat, memalukan nama keluarga. Namaku sendiri menjadi tercoreng karena tingkahnya yang tak tahu susila itu!"

Dewa Putih bicara dengan tegas dan penuh wibawa. Kinanti memandanginya dengan rasa sungkan. Namun akhirnya ia pun mencoba bicara kepada kakek yang usianya sekitar seratus tahun itu, "Apakah kau ingin menghancurkan diriku juga, Dewa Putih?"

Orang berkumis dan berjenggot putih itu pandangi Kinanti tanpa berkedip, ia menggumam lirih dan pendek, kemudian berkata dengan nada pelan, "Aku tahu maksudmu. Aku telah membaca pikiranmu, Nona. Kau anak buah dari Ratu Jiwandani, bukan?"

"Benar! Kaukah yang melakukan bencana itu?"

Dewa Putih diam sebentar, melirik Suto Sinting sekejap, kemudian kembali tatap mata Kinanti sambil ucapkan kata, "Kau menyangka aku mempunyai Sabuk Gempur Jagat. Itu sangkaan yang keliru, Nona. Kalau aku mau hancurkan Lembah Birawa, tak mungkin akan tersisa satu nyawa seperti saat ini. Kau pun pasti ikut hancur bersama mereka, juga ratumu pasti akan hancur dan tidak akan sampai ke pondoknya sahabatku, si Galak Gantung."

"Hebat. Dia tahu kalau Ratu ada di sana?" pikir Kinanti dengan mulut terkatup dan mata memandang tak berkedip.

"Ilmu teropongnya cukup tinggi," ujar Suto dalam hatinya, namun ia sengaja tak mau angkat bicara untuk sesaat, ia ingin dengarkan apa pun ucapan si tokoh tua berkulit hitam itu.

"Sabuk Gempur Jagat memang menjadi bahan rebutan. Tapi percayalah, sabuk pusaka itu tidak ada padaku, Nona. Jangan beranggapan cucuku si Merak Cabul yang memegang sabuk itu. Dia mengejarmu hanya untuk dapatkan Kitab Jati Mulya, karena ia menyangka kitab itu ada pada ratumu, ia tidak tahu sebelum ibunya wafat terlebih dulu menitipkan kitab itu padaku. Jadi, kuharap jangan hubungkan persoalan kitab itu dengan bencana yang melanda Lembah Birawa."

"Maafkan aku," kata Kinanti dengan tegas. "Jika begitu, siapa orang yang telah menghancurkan Lembah Birawa itu?"

Suto Sinting menimpali, "Di tangan siapa sebenarnya Sabuk Gempur Jagat itu berada, Ki Dewa Putih?"

Tokoh tua itu diam sebentar, matanya tidak terpejam, namun menatap ke salah satu arah. Pandangan matanya bagaikan sedang menerawang selama dua helaan napas. Mungkin begitulah caranya meneropong suatu keadaan dengan kekuatan indera ketujuhnya. "Sampai tadi malam sabuk pusaka itu ada di tangan si Tulang Naga," kata Dewa Putih setelah menarik napas satu kali dan melempar pandangan kepada Suto Sinting.

"Ke mana arah kepergian si Tulang Naga itu, Ki Dewa Putih?"

"Selatan!" jawabnya singkat, membuat Kinanti dan Suto Sinting saling berpandang mata.

"Arah selatan adalah arah menuju ke Bukit Wangi," ujar Kinanti kepada Suto dengan suara pelan.

Dewa Putih menyahut, "Dia tidak berhak memegang Sabuk Gempur Jagat. Pusaka itu harus dikembalikan kepada pemiliknya."

"Siapa pemilik sebenarnya, Ki?"

"Begawan Rampak Dalu, dari Tebing Papak."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Lalu, sebelum ia berucap kata, Dewa Putih lebih dulu bicara kepadanya.

"Pakar Pantun tahu persis di mana Begawan Rampak Dalu berada, karena Begawan Rampak Dalu adalah sahabat karib si Pakar Pantun. Nak Mas Manggala Yudha tentunya kenal baik dengan si Pakar Pantun."

"Ya, aku memang kenal baik dengan Resi Pakar Pantun."

"Saat ini ia sedang mencari di mana Tulang Naga berada, karena ia juga bermaksud merampas sabuk itu dan ingin mengembalikan kepada sahabatnya itu. Sabuk Gempur Jagat jika tidak segera diselamatkan dapat menimbulkan bencana di mana-mana dan menghancurkan dunia, kecuali sabuk pusaka itu ada di tangan tokoh aliran putih, seperti guru Nak Mas sendiri, si Gila Tuak."

Pendekar Mabuk agak kaget mendengar nama gurunya disebutkan. Rupanya tokoh tua yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan itu cukup kenal dengan si Gila Tuak. "Ki Dewa Putih agaknya kenal baik dengan guruku?"

"Aku sahabatnya di masa kami sama-sama berusia empat puluh tahun."

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut, hatinya pun membatin, "Kalau begitu usia Dewa Putih itu sama dengan usia Guru?"

"Nak Mas Manggala Yudha, sudah sewajarnya jika menyelamatkan Sabuk Gempur Jagat dari tangan-tangan sesat itu. Tugas Nak Mas sebagai Pendekar Mabuk adalah menyelamatkan dunia dari kehancuran si tangan sesat."

"Mengapa bukan kau sendiri yang merebut Sabuk Gempur Jagat dari tangan si Tulang Naga?" ujar Kinanti menyela pembicaraan.

"Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan hal-hal seperti itu. Aku keluar dari pengasinganku, karena tak tahan mendengar sepak terjang cucuku yang kelewat sesat. Aku tak rela jika cucuku dibunuh orang lain. Maka sebelum orang lain membunuhnya, aku lebih dahulu melakukannya. Kukorbankan perasaan kasih sayangku kepada Merak Cabul untuk selamatkan isi dunia dari kecabulannya."

"Aku... aku kagum pada sikapmu, Dewa Putih," ucap Kinanti lirih, namun jelas terdengar oleh yang bersangkutan.

"Tak ada yang perlu dikagumi dariku, Nona. Aku bertindak sebagaimana harusnya manusia bertindak. Kau pun bisa berbuat seperti apa yang kuperbuat jika kau mengerti bagaimana seharusnya manusia berbuat di alam kehidupannya ini."

"Wah, kalau sudah bicara soal begini, puyeng juga kepalaku mengartikannya," pikir Suto Sinting. Pada saat itu ia segera dipandang oleh Dewa Putih.

"Nak Mas tidak perlu puyeng. Kata-kataku ini bukan untuk dipikirkan tapi untuk dicerna dan dipahami."

Pendekar Mabuk tersenyum malu karena jalan pikirannya sempat terbaca oleh Dewa Putih. Kinanti sendiri merasa berhadapan dengan orang yang serba tahu, sehingga ia pergunakan kesempatan itu untuk menanyakan sebab kehancuran Lembah Birawa.

"Tentunya kau tahu apa sebab Tulang Naga menghancurkan Lembah Birawa? Tolong jelaskan padaku agar aku tidak penasaran dalam sepanjang hidupku."

Mata dingin namun tajam itu beralih pandang ke arah Kinanti. "Ratu Jiwandani mempunyai seorang ayah yang berjuluk si Tudung Geni. Dari situlah titik persoalannya."

Kinanti kerutkan dahi sambil menggumam, "Ya, aku pernah dengar nama Tudung Geni. Itu memang nama ayah Ratu Jiwandani. Apakah Tulang Naga bermusuhan dengan si Tudung Geni?"

"Sangat bermusuhan. Tudung Geni yang membunuh ayahnya Tulang Naga yang dikenal dengan nama Panglima Setan Biru. Kematian itu meninggalkan dendam di hati Tulang Naga. Maka ketika ia menemukan tempat kediaman keturunan si Tudung Geni, dendamnya dilampiaskan secara membabi buta."

"Agaknya Tulang Naga manusia yang penuh dengan dendam kesumat. Benarkah penilaianku itu, Ki Dewa Putih?"

"Memang benar, Nak Mas Manggala Yudha. Tulang Naga manusia penuh dendam. Karenanya, begitu ia memegang Sabuk Gempur Jagat, dendam kesumatnya dilampiaskan kepada siapa saja yang pernah bentrok dengannya dan ia mengalami kekalahan. Termasuk seorang Lurah yang menjadi kepala desa di desa Kijangan, serta beberapa orang lainnya. Bahkan tak menutup kemungkinan ia akan memburu dendamnya pada si Galak Gantung yang akhirnya akan sampai pada Guru Nak Mas Manggala Yudha, si Gila Tuak."

Suto terkesiap seketika begitu mendengar nama gurunya akan menjadi tempat pelampiasan dendam si Tulang Naga. ia sedikit heran mendengar kata-kata Dewa Putih. Bahkan ia sempat bertanya kepada sahabat gurunya itu, "Apakah kau tak salah ucap, Ki Dewa Putih? Guruku akan menjadi sasaran dendam kesumatnya si Tulang Naga? Benarkah demikian kejadiannya nanti?"

"Benar, jika Sabuk Gempur Jagat tidak segera diselamatkan dari tangannya. Sabuk pusaka itu memang sukar dicari tandingannya. Tulang Naga akan malang melintang terus jika memegang Sabuk Gempur Jagat, sebab kesaktian sabuk itu sangat dahsyat. Mampu menghancurkan gunung, mampu membelah lapisan tanah, mampu meremukkan baja setebal apa pun, bahkan mampu hadirkan badai panas yang bisa melelehkan logam."

"Hebat sekali?!" gumam Kinanti secara tak sadar.

"Jika sabuk itu diputar dan memancarkan sinar hijau, maka sinar itu akan menjadi perisai bagi pemegangnya. Sinar itu tak bisa ditembus oleh sinar tenaga dalam apa pun juga," tutur Dewa Putih, tanpa diminta ia menjelaskan sendiri kehebatan Sabuk Gempur Jagat itu. Sambungnya lagi, "Repotnya, sabuk itu tak bisa putus oleh senjata apa pun, sukar dihancurkan karena terbuat dari kulit ular Onak Setan. Ular itu sangat jarang dan menurut mendiang guruku, ular Onak Setan hanya ada tujuh yang hidup di permukaan bumi. Salah satunya ada yang pernah hidup di tempat kita ini, ratusan tahun yang lalu. Begawan Rampak Dalu mendapat warisan pusaka itu dari leluhurnya yang diwariskan secara turun temurun."

Rasa tenang Suto Sinting saat mendengar Ratu Jiwandani ada bersama Galak Gantung tiba-tiba berubah menjadi sebuah kecemasan. Kecemasan itu timbul karena Suto baru saja ingat bahwa Galak Gantung adalah musuh utama Tulang Naga. Bahkan si Gila Tuak, guru Suto Sinting itu, juga termasuk musuh si Tulang Naga. Pada saat Suto bertemu dengan Tulang Naga memperebutkan mayat bayi yang mati digantung oleh ayahnya sendiri itu, Tulang Naga sempat melepas ucapan bahwa Gila Tuak termasuk salah satu musuhnya yang akan dibinasakan.

Persoalan itu sebenarnya persoaian lama, tapi masih membekas di hati Tulang Naga. Persoalan itu menyangkut tentang kematian kakaknya Tulang Naga yang dibunuh oleh Galak Gantung. Pada waktu Tulang Naga ingin membalas dendam kepada Galak Gantung, si Gila Tuak datang memihak Galak Gantung. Akibatnya Tulang Naga larikan diri tak sanggup hadapi si Gila Tuak, namun dendamnya semakin membengkak dan nama si Gila Tuak tertera dalam daftar nama orang-orang yang akan dimusnahkan secara cepat atau lambat.

"Ki Dewa Putih, agaknya perjumpaan kita tak bisa lebih lama lagi," kata Suto Sinting yang membuat Kinanti memandangnya. Pendekar Mabuk lanjutkan bicara kepada Dewa Putih yang masih mampu berdiri tegak dan gagahitu. "Seperti katamu tadi, Tulang Naga punya dendam kepada Galak Gantung yang nantinya akan menjalar kepada guruku; si Gila Tuak. Sedangkan sekarang Ratu Jiwandani ada bersama Ki Galak Gantung. Tak bisa kubayangkan apa jadinya jika Tulang Naga sampai ke pondok Ki Galak Gantung dalam keadaan masih bersenjata Sabuk Gempur Jagat itu. Maka sebelum ia tiba di Bukit Wangi, aku harus lebih dulu merampas sabuk pusaka itu!"

"Firasatku mengatakan, Tulang Naga sedang menuju ke Bukit Wangi untuk temui Galak Gantung!" kata Dewa Putih yang membuat Kinanti menjadi berwajah tegang.

* * *

ENAM

JALAN pintas menuju Bukit Wangi yang paling aman dan cepat adalah melalui pantai. Kinanti menjadi pemandu perjalanan itu, karena Pendekar Mabuk belum pernah datang ke Bukit Wangi dan tidak tahu di mana letak bukit tersebut. Namun ketika mereka melalui jalan pantai, tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh suara dentuman yang cukup mengelegar dari arah kedalaman hutan. Pendekar Mabuk yang punya sifat selalu ingin melihat pertarungan itu segera mengajak Kinanti untuk menengok keadaan di dalam hutan.

"Aku hanya ingin tahu, siapa yang bertarung di sana. Siapa tahu Tulang Naga sedang lakukan pertarungan dengan seseorang yang perlu kita tolong," kata Suto Sinting.

Walaupun sebenarnya Kinanti merasa jengkel dengan ajakan itu, namun dalam hati kecilnya sendiri ia terusik oleh rasa ingin tahu dan berharap Tulang Naga ada dalam pertarungan tersebut. Maka mau tak mau ia pun mengikuti langkah Suto Sinting untuk kembali masuk ke hutan. Sasaran mereka adalah tempat datangnya suara dentuman tadi.

"Kita lewat jalan atas saja!" kata Suto, lalu tubuhnya melesat naik dan hinggap di salah satu dahan.

Kinanti ternyata mampu mengikuti gerakan serupa itu. Maka keduanya pun berlari menuju ke satu arah dengan melompati dahan demi dahan, bagaikan sepasang burung besar yang terbang dari pohon kepohon.

"Suto, kulihat gerakan seseorang di sebelah kanan kita!" ujar Kinanti, maka mereka bergerak ke arah yang dimaksud.

Sebidang tanah yang jarang ditumbuhi pohon terhampar didepan mereka. Tanah itu seperti bekas rawa yang sudah mengering dan mengeras. Ada beberapa batu besar yang menjulang setinggi rumah di tanah datar itu. Di antara batu-batu besar itulah mereka melihat dua orang yang sedang bertarung dengan tangan kosong. Masing-masing mengandalkan kekuatan tenaga dalam mereka. Sementara satu orang lagi diam di bawah pohon agak jauh dengan wajah dicekam rasa takut.

Orang yang ketakutan itu berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan baju hijau tua, ikat kepala dari kain putih, rambutnya pendek. Orang tersebut berbadan kurus, pendek, berkulit agak hitam, ia tanpa kumis dan jenggot, namun guratan ketuaan sudah tampak jelas di permukaan wajahnya.

Suto Sinting tak bisa lupa dengan orang tersebut karena ia pernah menggunakan ikat kepala orang itu untuk menutup matanya dalam pertarungannya dengan Pipit Serindu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Kutukan Pelacur Tua). Orang yang ketakutan itu tak lain adalah si Kadal Ginting, pelayan dari Resi Pakar Pantun.

Salah satu dari dua orang yang bertarung tanpa senjata tajam itu tak lain adalah Resi Pakar Pantun; berusia sekitar delapan puluh tahun, mengenakan pakaian model biksu berwarna abu-abu, rambutnya beruban dan tipis hingga berkesan botak. Jenggot dan alisnya juga putih dan tergolong lebat.

Tetapi orang yang melawan Resi Pakar Pantun itu sangat asing bagi Suto Sinting. Baru sekarang si Pendekar Mabuk melihat orang tersebut; berusia sekitar lima puluh tahun, badannya berotot dan tampak kekar. Mengenakan baju tanpa lengan warna hitam dan celananya pun warna hitam. Rambutnya masih hitam, tak begitu panjang dan diikat dengan kain merah kusam. Orang itu tak berkumis dan tak berjenggot. Matanya agak lebar dan memancarkan pandangan yang buas. Dengan ditambah alis yang lebat, ia tampak berwajah bengis dan angker.

Gerakan orang berwajah angker itu cukup gesit dan lincah. Kecepatan geraknya pun bisa dijadikan andalan dalam pertarungan, ia pun tampak tangguh dan tahan pukulan. Terbukti dua kali Resi Pakar Pantun menghantam dada orang itu, ternyata tidak mengakibatkan orang tersebut tumbang atau terluka.

"Siapa orang berbaju hitam itu? Kau mengenalnya, Kinanti?" bisik Suto Sinting dari tempat persembunyiannya.

"Aku belum pernah melihat orang itu sebelum ini. Yang jelas, dia pasti mempunyai lapisan tenaga dalam setebal baja, sehingga pukulan dan tendangan lawannya itu tak membuatnya terluka."

Suto Sinting menjelaskan tentang Resi Pakar Pantun kepada Kinanti. Gadis berjubah kuning gading itu hanya menggumam tipis dengan mata masih memandang ke arah pertarungan tanpa berkedip. Agaknya ia sangat tertarik dengan jurus-jurus si wajah angker itu, hingga tak sadar mulutnya sampai ternganga bengong dengan wajah memancarkan kekaguman.

Suto Sinting hanya tersenyum kecil dan membiarkannya, ia tak mau mengganggu keasyikan Kinanti karena ia sendiri segera hanyut dalam keasyikan menyaksikan pertarungan tersebut. Setiap jurus, setiap gerakan, seakan tercatat dengan sendirinya dalam benak Suto Sinting, sehingga dalam gerakan silatnya Suto Sinting sering pergunakan pengembangan yang diperoleh dari mengingat-ingat jurus orang lain yang dikagumi.

Dua orang yang bertarung itu akhirnya mengadu telapak tangan di udara. Keduanya sama-sama melompat maju bagaikan terbang. Tangan mereka saling menghentak ke depan dan beradu dengan kuatnya.

Duaaar...! Ledakan yang tak seberapa besar itu terjadi akibat perpaduan telapak tangan mereka yang rupanya sama-sama berkekuatan tenaga dalam tinggi. Ledakan itu membuat tubuh Resi Pakar Pantun terpental ke belakang dan jatuh terguling-guling, sedangkan lawannya hanya jatuh terduduk lalu segera bangkit kembali.

"Sudah waktunya kau copot usia, Pakar Pantun! Terimalah kematianmu ini. Hiaaat...!"

Si muka angker menggerakkan tangannya ke samping kanan kiri dengan cepat, lalu kedua tangan menghentak bersamaan dan dari kedua telapak tangan itu keluar dua berkas sinar menyerupai bintang berekor berwarna merah membara. Wuuut, wuuuut...!

Resi Pakar Pantun terperanjat melihat kedatangan dua sinar tersebut, ia segera merentangkan kedua tangannya dalam keadaan masing-masing jari tengah menuding ke depan. Suuut...! Clap, clap...! Dua sinar hijau lurus tanpa putus keluar dari masing-masing jari tengah sang Resi. Sinar hijau itu menghantam masing-masing sinar merah secara telak. Des, des...!

Blegaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi begitu mengagetkan satwa di sekitar tempat itu. Bumi terasa berguncang, beberapa pohon ikut bergetar, bahkan ada yang tumbang dalam keadaan akarnya mencuat keluar dari tanah. Ledakan bergelombang besar itu membuat Resi Pakar Pantun terlempar dan menabrak batu sebesar rumah. Beeehg...!

"Iaauh...!" pekik sang Resi dengan wajah menyeringai kesakitan. Batu itu sampai bergetar dan serpihannya berhamburan karena kerasnya benturan tubuh sang Resi.

Lawan sang Resi terlempar juga dan sempat berguling-guling di udara bagai tak bisa kendalikan keseimbangan tubuh lagi. Akhirnya orang itu terbanting keras di atas sebuah batu yang tingginya sebesar lutut. Beehg...!

"Heeehg...!" ia memekik tertahan dengan mata terbeliak. Napasnya menjadi sesak karena tulang rusuknya bagaikan patah akibat bantingan keras tersebut.

"Hoooek...!" Resi Pakar Pantun memuntahkan darah kental saat berusaha bangkit dengan limbung.

"Dia terluka parah!" bisik Kinanti sambil matanya memperhatikan sang Resi dengan tegang.

"Agaknya memang begitu. Tapi biarkan dulu, aku ingin tahu sampai di mana kekuatan lawan sang Resi itu."

Ternyata lawan sang Resi cukup tangguh. Dalam beberapa kejap saja ia sudah mampu bangkit lagi dengan sehat. Rasa sakitnya bagaikan lenyap setelah ia menarik napas panjang-panjang dan meraba perut sampai dada dengan tangan gemetar. Rupanya ia menyalurkan hawa murni melalui tangannya untuk obati seluruh luka dalam.

Sang Resi berusaha bangkit dengan tegak walau dengan berpegangan dinding batu. Matanya tertuju kepada lawan yang mendekatinya dalam satu lompatan bersalto. "Kurang ajar kau, Jejak Setan!" geram sang Resi.

Suto Sinting dan Kinanti saling berpandangan setelah mendengar nama lawan sang Resi ternyata adalah si Jejak Setan, murid mendiang Pelacur Tua alias Nyai Pegat Raga yang kala itu menyaru nama Pipit Serindu.

Sang Resi terdengar berkata lagi, "Sayur lodeh jamur paku, kecambah goreng dibungkus daun pare. Biarpun tua ragaku, tapi tak kan mundur melawan bayi kemarin sore."

Kinanti berbisik kepada Suto, "Mantra apa yang ia ucapkan itu?"

"Ia bermain pantun, bukan mantra!"

Jejak Setan yang berdiri didepannya dalam jarak empat langkah segera mendenguskan napas. "Sekali lagi kuberi kesempatan padamu, serahkan Sabuk Gempur Jagat yang tempo hari ada padamu itu, Resi Pakar Pantun. Jika kau masih ngotot tak mau berikan, kuhabisi nyawamu sekarang juga!"

"Sudah kubilang, sabuk itu tidak ada padaku, tapi ada pada si Tulang Naga!" bantah sang Resi. "Segalak apa pun kau padaku, tak akan bisa kau dapatkan sabuk pusaka itu, Bocah Bodoh!"

"Baiklah, kalau begitu kau memang memilih mati daripada hidup damai bersamaku, Pakar Pantun!" geram Jejak Setan sambil menggenggam kuat-kuat. Kedua tangannya mulai terangkat dengan genggaman merenggang kaku membentuk cakar.

"Sayur lodeh buat renang bekicot jamu, lompat ke darat berjalan kaku. Biar sampai ngotot pantatmu, cambuk pusaka tetap tak kan kau dapat dariku."

Jejak Setan semakin berang mendengar pantun itu. "Biadab kau!"

"Kau juga biadab!"

"Heeeaah...!"

Wuuut...! Jejak Setan berkelebat sangat cepat menerjang Resi Pakar Pantun dalam sekejap. Ternyata ia berhasil menjejak dada sang Resi hingga tubuh sang Resi membentur dinding batu lagi.

"Uuuhg...!" sang Resi tersentak berdiri. Lalu kedua tangan Jejak Setan menghantam perut dan ulu hati sang Resi dengan telapak tangannya.

Buhk, plak...!

"Huuuoooeek...!" Sang Resi semburkan darah segar cukup banyak. Brruuus...! Ceproot...!

Semburan darah itu mengenai kepala Jejak Setan, hingga wajah si Jejak Setan berlumur darah. Wajah itu menjadi merah menjijikkan sekaligus mengerikan. Padahal yang dalam keadaan mengerikan adalah sang Resi, karena pukulan lawannya nyaris menghancurkan jantung dan hatinya.

"Monyet tua!" maki si Jejak Setan. "Berani-beraninya kau meludahi mukaku, hah! Kurang ajar! Heeeatt...!"

Wuuuuus...!

Tubuh Resi Pakar Pantun dilemparkan kebelakang oleh Jejak Setan. Tangannya dipegang, kaki Jejak Setan masuk ke perut sang Resi lalu mengangkat tubuh sang Resi dan melemparkan dalam satu hentakan kaki. Tubuh tua itu melayang melewati atas kepala Jejak Setan dan jatuh terbanting di tanah. Buuuhg...!

"Huuuhgg...!" sang Resi memekik tertahan dengan mata mendelik.

"Habislah riwayatmu, Monyet Tua! Heeaaah...!"

Wuuut...! Brrrus...!

Jejak Setan bermaksud menginjak leher Resi Pakar Pantun. Namun baru saja ia mengangkat kakinya, tiba-tiba ada sesuatu yang berkelebat menerjangnya. Terjangan kuat dan cepat itu membuat Jejak Setan terpental terbang bagaikan seonggok daging dibuang tanpa guna. Dinding batu besar menjadi sasaran telak. Brruuss...! Tubuh itu menghantam dinding batu besar, kepalanya membentur sangat kuat.

Prraaak...!

"Aaahg...!" ia memekik dengan suara lirih karena kelewat sakit. Saat ia jatuh terpuruk di bawah dinding batu besar, kepalanya yang terkena semburan darah itu dipegangi dengan dua tangan. Kepala itu bocor, tapi kelihatannya tidak berdarah sebab wajahnya sudah penuh darah.

"Bangsat!" geramnya sambil berusaha bangkit. Hatinya pun berkata, "Siapa yang ikut campur ini?! Tenaganya luar biasa besarnya. Kalau bukan orang berilmu tinggi tak mungkin bisa melemparkan tubuhku sekeras tadi!"

Ternyata terjangan itu dilakukan oleh Pendekar Mabuk yang menggunakan jurus 'Gerak Siluman'. Kecepatan geraknya tak bisa dilihat mata lagi, dan berkekuatan melebihi angin badai. Jika Suto tidak lekas bergerak maka leher Resi Pakar Pantun akan patah dan nyawa sang Resi pun akan melambai-lambai di udara, di luar raganya.

Kinanti ikut tampil menghadang Jejak Setan ketika Suto Sinting meminumkan tuaknya kepada sang Resi. Melihat kecantikan Kinanti, mata Jejak Setan jadi melebar dan berusaha untuk bangkit tegak, seakan ingin tunjukkan keperkasaan dan kegagahannya. Ia mencoba menghardik Kinanti dengan suara serak.

"Siapa kau, Manis?! Apa perlumu ikut campur urusan ini dengan pemuda gelandangan itu, hah?!"

"Aku tidak ikut campur urusanmu," ujar Kinanti dengan ketus. "Aku hanya menyelamatkan orang tua yang sudah tidak berdaya tapi masih kau siksa terus itu."

"Apa hubunganmu dengan si Pakar Pantun itu?!"

"Tak ada hubungan apa pun, kecuali hubungan seorang anak muda dengan orang yang lebih tua."

Jejak Setan menggeram jengkel dengan wajah berlumur darah, hingga ia tampak semakin menyeramkan. Kebocoran kepalanya tidak dihiraukan sesaat karena dalam hatinya ia menyukai kecantikan Kinanti. Matanya berbinar-binar kala memandangi kecantikan Kinanti, terutama jika memandangi di sekitar wilayah dada.

"Kuingatkan, Nona... mundurlah dan jangan coba-coba halangi niatku mendapatkan sesuatu dari Pakar Pantun. Aku bisa murka padamu jika kau masih berdiri di situ bersikap menentangku. Jika aku murka padamu, aku tak berselera lagi memperistri dirimu, Nona!"

"Puih...!" Kinanti hanya meludah, sengaja memancing kemarahan Jejak Setan.

Sementara itu, Suto Sinting sudah selesai meminumkan tuak ke mulut sang Resi. Orang tua itu telah meneguk beberapa kali dan kini sedang menunggu saat-saat kesembuhan. Suto Sinting segera bangkit dan hampiri Kinanti, ia berdiri di samping Kinanti dalam jarak tiga langkah. Matanya memandang ke arah Jejak Setan dengan senyum tipis yang menawan, namun bagi si Jejak Setan senyuman itu memuakkan.

Melihat si Jejak Setan terpikat oleh kecantikan dan kemolekan tubuh Kinanti, Suto Sinting sengaja lebih merapatkan diri kepada Kinanti. Tangan Suto merangkul pundak Kinanti dari samping sambil senyumnya kian dipamerkan di depan si Jejak Setan. Panas hati Jejak Setan kian membara. Rasa iri dan dengki berkobar dalam hatinya, sehingga ia pun segera serukan kata sambil menuding Pendekar Mabuk.

"Siapa kau sebenarnya, hah?! Apa maksudmu pamer kemesraan di depanku?!"

"Mengapa kau jadi berang dengan kemesraan kami?"

Jejak Setan bukan hanya berang, namun juga gusar dan salah tingkah. Rupanya ia punya penyakit cemburu jika melihat sepasang anak manusia bermesraan. Rasa cemburu yang sudah menjadi satu penyakit itu timbul dikarenakan selama ini Jejak Setan selalu dibenci oleh wanita kecuali oleh gurunya sendiri, ia tak sadar bahwa selama ini ada pengaruh dari ilmu yang diturunkan oleh si Pelacur Tua yang membuat menjadi dibenci oleh para wanita. Berulang kali ia mendekati wanita namun selalu dijauhi tanpa alasan yang pasti. Karenanya ia menjadi benci melihat sepasang insan yang bermesraan didepannya.

Suto tidak mengetahui hal itu. Sikapnya bermesraan dengan Kinanti hanya sekadar iseng saja. Namun melihat berangnya Jejak Setan, pendekar tampan itu segera menarik kesimpulan bahwa kemesraan merupakan sesuatu yang membuat jiwa Jejak Setan menjadi guncang. Itulah sebabnya Suto Sinting semakin memamerkan kemesraannya dengan sesekali mengusap-usap pundak atau lengan Kinanti. Sedangkan Kinanti sendiri sempat merasa aneh menerima sikap Suto yang tampak sayang kepadanya. Hatinya berdebar-debar antara percaya dan tidak.

Jejak Setan akhirnya berseru dengan kasar, "Minggat kalian dari hadapanku! Atau kuhancurkan kalian bersama si tua Pakar Pantun itu!"

Resi Pakar Pantun yang sudah sehat kembali itu segera bangkit, ia melangkah mendekati Suto Sinting sambil serukan kata kepada si Jejak Setan. "Jangan coba-coba melawan anak muda ini, Jejak Setan. Kau bisa dibuatnya terbang menuju akhirat tanpa pamit lagi kepada kami!"

"Bangsaaaat...!" teriaknya dengan liar dan buas. "Kuhancurkan mulutmu, Pakar Pantun! Heeeah...!" Jejak Setan yang merasa terhina dan diremehkan menjadi murka luar biasa, ia sentakkan kedua tangannya ke depan dan dari dua tangan itu keluar sinar biru bersama asap yang mengepul tebal. Sinar biru itu berbentuk seperti bintang berekor, besar dan ganas. Sasarannya ke arah Resi Pakar Pantun dan Pendekar Mabuk.

Wuuuus, wuuus...!

Pendekar Mabuk melompat pendek ke depan. Tangan kirinya menghentak maju dan keluarkan sinar hijau melesat dari tangan Suto. Jurus pukulan 'Guntur Perkasa' itu menghantam sinar biru lawan.

Blaaar...!

Sedangkan sinar biru yang satunya dihantam dengan kelebatan bumbung tuak di tangan kanan Suto. Wuuut...! Duuub...! Woooss...! Sinar biru itu membalik arah dan menjadi lebih besar serta lebih cepat gerakannya. Jejak Setan terperanjat kaget dan berusaha melompat ke samping menghindarinya. Tapi ledakan yang terjadi akibat benturan sinar biru dengan sinar hijaunya tadi sempat timbulkan gelombang sentakan cukup kuat, sehingga tubuh Jejak Setan pun terpental terbang cukup jauh, lalu jatuh terkapar di tanah berbatu. Braaak...!

Bleggaar...!

Sinar biru yang berbalik arah itu menghantam dinding batu besar. Batu itu meledak dan hancur menjadi bongkahan sebesar kepalan tangan. Brrruus...! Pecahan batu besar itu menjatuhi tubuh Jejak Setan. Sebagian pecahan itu ada yang menuju ke tempat Suto, dan hampir kenai kepala Kinanti. Namun sebagian besar pecahan batu itu menghambur ke arah tubuh Jejak Setan. Tak ayal lagi Jejak Setan berteriak kesakitan karena dihujani batu dalam keadaan terkapar akibat terbanting tadi.

"Kau pikir enak dapat hujan batu?!" seru Resi Pakar Pantun dengan wajah ceria, lalu ia terkekeh-kekeh sendiri.

Jejak Setan mengerang kesakitan dan berusaha untuk bangkit. Tapi hatinya sempat berkecamuk sendiri bernada penuh gerutu. "Iblis dari mana anak muda itu?! Pukulanku bisa dibuat seperti ini! Bangsat! Pakar Pantun mendapat dukungan setangguh ini, bisa-bisa aku mati tanpa hasil jika nekat melawan anak muda itu! Sebaiknya aku melarikan diri dulu, sembuhkan luka dan pulihkan kekuatanku, lalu mengejar Pakar Pantun lagi untuk dapatkan Sabuk Gempur Jagat. Atau... jika benar sabuk pusaka itu ada di tangan si Tulang Naga, aku akan coba temui dia dan melihat apakah sabuk itu ada padanya. Jika benar ada padanya, berarti aku harus mengubah sasaran. Tulang Naga yang harus kuserang habis-habisan untuk dapatkan sabuk itu!" Wuuut...! Jejak Setan tahu-tahu melesat ke dalam semak-semak, setelah itu tak pernah muncul lagi batang hidungnya.

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya dua teguk. Kinanti masih pandangi kepergian Jejak Setan sambil membatin dalam hatinya, "Murid si Gila Tuak itu memang ilmunya edan-edanan. Pantas jika ia dipanggil Suto Sinting, sebab ilmunya memang sinting! Kurasa ia akan berhasil merebut Sabuk Gempur Jagat karena kesaktian ilmunya cukup layak untuk lakukan tugas itu."

Sementara itu, Suto Sinting membiarkan pundaknya ditepuk-tepuk oleh Resi Pakar Pantun. Orang tua itu merasa bangga dan bersyukur dapat bertemu dengan Pendekar Mabuk yang sudah beberapa kali selamatkan nyawanya dari maut, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pisau Tanduk Hantu).

"Sayur lodeh kesayangan dewaku, lebih hangat dicampur param kocok buat ibuku. Sekian kali kau selamatkan nyawaku, namun belum pernah kau selamatkan perutku."

Suto Sinting tertawa kecil mendengar pantun sang Resi. Kala itu, sang pelayan; Kadal Ginting, mendekat dengan wajah berseri menampakkan kelegaannya melihat tuannya selamat dari ancaman mati si Jejak Setan. Kinanti justru kerutkan dahi karena tak paham dengan arti pantun tersebut.

"Apa maksud pantunmu itu, Resi?"

"Perutku lapar, sudah tujuh hari tak kemasukan apa-apa."

"Perut saya juga, Eyang Resi," sahut Kadal Ginting. "Sudah tujuh hari tak kemasukan apa-apa."

Resi Pakar Pantun memungut sebuah batu kecil dan menyodorkannya kepada Kadal Ginting sambil berkata, "Masukkan saja ini kalau kau mau."

Kadal Ginting bersungut-sungut dengan gerutu tak jelas. Suto Sinting tertawa makin geli, sedangkan Kinanti hanya tersenyum tipis. Batu itu segera dilemparkan oleh Resi Pakar Pantun ke sembarang arah. Ternyata kenai sebatang pohon dan ledakan kecil pun terjadi saat batu menyentuh pohon. Duaaar...! Pohon berguncang, daunnya rontok sebagian, namun tak membuat pohon menjadi tumbang.

Kadal Ginting mencibir. "Jangan pamer ilmu di depan Pendekar Mabuk. Nanti Eyang Resi ditertawakan!"

"Maaf, aku tidak sengaja menyalurkan tenaga dalamku melalui batu ini," katanya kepada Suto Sinting. "Aku hanya jengkel pada perutku yang tak mau diajak damai agar tak mencari makanan dulu."

"Kau lapar sekali, Resi?"

"Sangat lapar, Suto. Kulakukan pengejaran berhari-hari sampai aku lupa makan, namun hasilnya masih nihil."

"Siapa yang kau kejar?" tanya Kinanti dengan rasa ingin tahu.

"Tulang Naga!" jawab sang Resi. "Dialah yang membawa Sabuk Gempur Jagat milik sahabatku; Begawan Rampak Dalu. Jika sabuk itu masih di tangannya, atau di tangan orang sesat seperti si Tulang Naga, maka bumi akan cepat hancur karena kekejiannya."

"Lalu, mengapa Jejak Setan bersikeras mendapatkan sabuk pusaka itu dari tanganmu, Resi?" tanya Suto agak curiga.

"Jejak Setan bernafsu sekali untuk dapatkan Sabuk Gempur Jagat, karena ia ingin membalas kematian gurunya: Nyai Pegat Raga, si Pelacur Tua itu. Menurutnya, orang yang berhasil membunuh gurunya adalah orang berilmu tinggi yang tak mungkin bisa ditandingi jika tidak dengan menggunakan pusaka Sabuk Gempur Jagat, ia tidak tahu kalau pembunuh gurunya adalah kau sendiri, Suto."

Suto Sinting manggut-manggut, tapi Kinanti segera ajukan tanya, "Mengapa ia ngotot sekali menganggap sabuk itu ada padamu, Resi? Bukankah tadi kudengar kau sudah mengatakan bahwa sabuk itu ada di tangan si Tulang Naga?"

"Karena ia pernah melihat aku merebut sabuk itu dari tangan gurunya, ia tidak tahu kalau sabuk itu sudah direbut si Tulang Naga."

"Jika begitu, rasa-rasanya kita tak punya banyak waktu untuk bicarakan hal itu di sini. Kita harus segera ke Bukit Wangi, Resi," ujar Suto Sinting.

Resi Pakar Pantun kerutkan dahi. "Mengapa harus ke Bukit Wangi? Di sana hanya akan kita temui si Galak Gantung. Tulang Naga tinggal di Telaga Siluman, menjadi penguasa telaga itu."

"Benar. Tapi Tulang Naga seorang pendendam dan ia masih punya dendam kesumat kepada Ki Galak Gantung. Bukankah kakaknya dulu dibunuh oleh Ki Galak Gantung?"

"Aha, pikiran yang bagus itu, Suto! Baru sekarang terpikirkan olehku tentang dendam si Tulang Naga kepada Galak Gantung, bahkan bisa jadi ia juga mendendam kepada gurumu; si Gila Tuak."

"Itu yang kucemaskan, Resi. Karena aku harus segera menyusul si Tulang Naga sebelum ia mengamuk di Bukit Wangi"

"Sebab ratuku ada di sana!" sahut Kinanti.

"Kalau begitu...."

"Sayur lodeh buat rebus angkin, mertua gawat berurat kawat. Perut lapar masih bisa disumpal angin, tapi nyawa sahabat tak bisa dibiarkan lewat."

Suto menimpali dengan pantunnya, "Sayur lodeh di dalam mangkuk, ambil garam sekarung tuang semua..."

Suto diam berpikir, lalu sang Resi bertanya, "Apa artinya?"

"Artinya, sayur lodeh itu pasti asin sekali!"

Kinanti tertawa geli hingga terkikik-kikik. Baru sekarang Suto melihat Kinanti tertawa. Padahal ia tidak bermaksud membuat lelucon untuk Kinanti, ia hanya mencoba membuat pantun namun gagal. Gadis itu sembunyikan wajah di belakang punggung Suto, seakan malu dilihat tawanya yang terkikik geli.

Sang Resi berpantun lagi: "Sayur lodeh dibungkus kain batik..."

"Bocor, Eyang ," sahut Kadal Ginting.

"Ini pantun, Goblok!" sentak sang Resi. Lalu ia lanjutkan pantun tadi. "Sayur lodeh dibungkus kain batik, istri satu tak pernah ada yang sewa. Hentikan tawamu Nona Cantik, karena Tulang Naga sedang memburu nyawa."

Kinanti segera hentikan tawanya. Bayangan wajah sang Ratu terancam bahaya mulai tersumbul dalam ingatan. Bayangan Lembah Birawa yang hancur menjadi arang pun timbul di setiap pandangan mata, sehingga dendam dan kemarahannya mulai terbakar dan meletup-letup dalam jiwanya, mendidihkan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya.

* * *

TUJUH

MEREKA berempat bergegas menuju Bukit Wangi. Dalam hati mereka sempat diliputi kecemasan karena menurut perhitungan, jika Tulang Naga pergi menuju Bukit Wangi sejak tadi pagi, maka saat itu Tulang Naga pasti sudah sampai ke pondoknya si Galak Gantung. Itulah sebabnya Suto Sinting mengajukan usul untuk mendahului mereka dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.

"Terlambat sedikit saja, Ki Galak Gantung dan Ratu Jiwandani akan binasa di tangan Tulang Naga," ujar Suto Sinting.

"Kurasa itu hal yang baik," kata Resi Pakar Pantun. "Daripada kita terlambat semua, lebih baik tiga yang terlambat, satu yang menjadi penyelamat!"

Kinanti diam saja tak memberi tanggapan. Dari wajahnya tampak rasa kurang suka jika ia ditinggalkan Suto Sinting. Wajah itu dipandangi Kadal Ginting, dan si pelayan sang Resi itu berkata,

"Nona Kinanti tidak perlu cemas. Tak ada Suto, masih ada saya!"

"Maksudmu, kalau ada bahaya kau bisa melindungi Kinanti?" tanya sang Resi.

"Maksud saya, kalau butuh gendongan, saya sanggup menggendong Nona Kinanti, Eyang," sambil Kadal Ginting nyengir.

"Kenapa tidak aku saja yang kau gendong?"

"Wah, kalau Eyang Resi yang saya gendong, sama saja saya dijepit kepiting. Habis Eyang Resi tulang semua, tak ada dagingnya!"

"Sekali lagi kau menghinaku begitu, kubuang kau ke dasar jurang!" sentak sang Resi dengan dongkol, namun membuat mereka tersenyum geli. Senyum dan langkah mereka terhenti ketika Suto Sinting segera berseru dengan tangan merentang memberi isyarat untuk berhenti.

"Darah...?!"

Semua memandang ke tanah di mana terdapat tetesan darah segar. Daun-daun ilalang pun basah oleh darah yang tampak belum mengering. Kinanti menjadi cemas sekali sebab tempat itu sudah dekat dengan Bukit Wangi.

"Darah siapa itu, Eyang! Hiiii...!" Kadal Ginting bergidik merinding dan mendekati sang Resi. Merapatkan tubuh ke badan sang Resi, membuat sang Resi mendorong kesal pelayannya.

"Kau ini seperti banci saja!"

"Ada darah, Eyang...!"

"Iya, aku pun tahu kalau di sini ada darah. Tapi kamu tak perlu mendesakku sampai menginjak-injak kakiku segala!"

"Jangan ribut sendiri!" sentak Kinanti sebagai pelampiasan rasa cemasnya.

"Bukan soal ribut, ini soal darah, Non...," gerutu Resi Pakar Pantun dalam gumam lirihnya.

"Daun-daun semak di sebelah sana juga dilumuri darah!" ujar Kadal Ginting.

Suto Sinting bergegas mengikuti tetesan darah segar itu. Dalam hatinya juga timbul kekhawatiran, "Jangan-jangan Tulang Naga telah temukan Ki Galak Gantung dan Ratu Jiwandani lalu menyerang mereka, dan mereka lari dalam keadaan terluka berdarah?! Celaka betul kalau hal itu sampai terjadi."

Langkah kaki mereka menyusuri tetesan darah, sampai akhirnya Suto rentangkan tangan memberi isyarat agar mereka berhenti melangkah. Ada sesuatu yang ditemukan oleh si murid sinting Gila Tuak itu. Sebuah benda berujung runcing. Benda itu adalah sepotong gading panjang tiga jengkal, kedua ujungnya runcing tajam. Suto dan Resi Pakar Pantun mengenali benda tersebut.

"Pusaka Nenggala Kubur," ucap sang Resi saat benda itu diambil Suto Sinting.

"Seingatku ini senjatanya Tulang Naga," ujar Suto bagai bicara sendiri.

"Memang senjata Nenggala Kubur adalah senjata si Tulang Naga," sang Resi membenarkan. "Tapi, mengapa bisa ada di sini?"

"Jangan-jangan dibuang oleh si Tulang Naga karena ia sudah tidak membutuhkan senjata itu lagi. Sabuk Gempur Jagat lebih dahsyat dari senjata itu," ucap Kinanti sambil pandangi tetesan darah dan mulai melangkah lagi mengikuti tetesan darah yang ada di rerumputan. Langkah gadis berjubah kuning gading itu mendahului mereka sejauh lima tindak. Lalu terdengar suaranya berseru dengan nada terkejut,

"Ada mayat!"

"Hahh... mayat...?! Hiii...!" Kadal Ginting merapatkan tubuh ke badan sang Resi.

"Apa-apaan kau ini!" sang Resi mendorong tubuh Kadal Ginting hingga jatuh terduduk.

"Kasar sekali Eyang padaku."

"Keringatmu bau bangkai. Aku tak mau pakaianku terkena aroma bangkai seperti keringatmu!" sang Resi menggerutu sambil melangkah dekati Kinanti.

Suto Sinting berdiri di dekat mayat seorang lelaki berbadan kurus, berjubah abu-abu, rambut putih panjang tanpa ikat kepala. Orang itu terluka parah bagian punggungnya. Berlubang bagaikan terowongan perut gunung. Sepertinya ia dihantam dari belakang dengan pukulan tenaga dalam yang cukup dahsyat.

Resi Pakar Pantun membelalakkan matanya begitu melihat mayat yang terkapar di rerumputan. "Ooh...?! Tulang Naga?!"

"Seseorang telah membunuh Tulang Naga. Kurasa belum lama pertarungan itu terjadi di sekitar sini," ujar Suto Sinting.

"Lalu, siapa orangnya yang membunuh Tulang Naga, dan ke mana sabuk pusaka itu?!" ucap sang Resi.

Mereka saling pandang dalam ketegangan. Hati mereka saling menduga. Namun dugaan paling kuat tertuju pada Galak Gantung. Mereka bayangkan Tulang Naga menyerang Galak Gantung dan Ratu Jiwandani. Tulang Naga terdesak dan larikan diri sampai di tempat itu. Galak Gantung mengejarnya, kemudian berhasil membunuh Tulang Naga. Sabuk Gempur Jagat pun diambil oleh si Galak Gantung,

"Tapi bagaimana jika dugaan kita itu meleset?" ujar Suto Sinting setelah merenung beberapa saat. "Bagaimana kalau Sabuk Gempur Jagat ada di tangan tokoh lain yang beraliran hitam?"

"Sebaiknya kita temui dulu Gusti Ratu-ku dan Ki Galak Gantung," usul Kinanti. Lalu, mereka pun bergegas teruskan perjalanan menuju Bukit Wangi yang sudah kelihatan dari tempat mereka berada.

Jlegaaarr...!

Tiba-tiba sebuah ledakan menggelegar terdengar begitu dahsyatnya, hingga tanah di sekitar mereka terguncang hebat. Pepohonan pun nyaris tumbang, daun-daun dan ranting kering berguguran. Tapi di sebelah timur, beberapa pohon menjadi tumbang bersusulan. Angin panas berhembus membuat kulit tubuh mereka bagai disengat angin lahar. Suara gemuruh menggema membuat alam bagai terancam kiamat. Warna merah menyebar dari arah timur saat suara ledakan dahsyat tadi terdengar.

"Ini kekuatan dari Sabuk Gempur Jagat!" ujar sang Resi dengan tegang. "Ada orang yang bertarung di timur dan menggunakan sabuk itu!"

Zlaaaap...! Suto Sinting tak banyak bicara lagi, ia melesat dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata manusia biasa. Jurus 'Gerak Siluman' digunakan dan membuat mereka bertiga tertinggal, lalu segera saling susul dengan pergunakan ilmu peringan tubuh masing-masing agar bisa melaju dengan cepat. Kadal Ginting yang tertinggal dan berlari tunggang langgang, karena ia tidak mempunyai ilmu peringan tubuh.

"Eyaaaang... tungguuuu...! Saya takut mayatnya bangkit lagi, Eyaaang...!" serunya dalam nada ketakutan.

Tentu saja Pendekar Mabuk lebih dulu tiba di tempat pertarungan. Sebuah lembah berpohon renggang telah menjadi rusak bagaikan habis dilanda gempa bumi cukup parah. Tanah di sana-sini mengalami keretakan. Pepohonan tumbang, bahkan sebagian menjadi kering dan hangus menjadi arang hitam. Angin panas masih tersisa dan membuat suasana sekitar tempatitu menjadi seperti di tepian kawah gunung berapi.

Sementara itu, seorang lelaki tua berpakaian jubah putih berdiri tegak tanpa gerak. Tokoh tua berambut pendek putih dengan kumis dan jenggotnya yang putih memegang tongkat kayu hitam dengan kepala tongkat berbentuk cakar lima jari. Orang itu bertubuh gemuk, dikenal sebagai Ketua Kelompok Gelandangan. Suto mengenal orang tersebut dengan julukan si Jubah Kapur.

Kehadiran Jubah Kapur di tempat itu memang mengejutkan bagi Suto Sinting, bahkan ketika Resi Pakar Pantun dan Kinanti menyusulnya, mereka juga merasa heran melihat keberadaan Jubah Kapur di tempat tersebut. Namun yang lebih mengherankan mereka adalah lawan yang dihadapi si Jubah Kapur.

Sosok berwajah dingin itu mengenakan kerudung hitam dari kepala sampai kaki. Wajah di balik kerudung hitam itu tampak pucat sekali, bibirnya berwarna biru. Sekalipun kelihatan masih muda dan berhidung bangir, tapi kekejiannya terpancar dari sorot matanya yang bagai ingin membekukan darah tiap manusia yang dijumpainya. Orang berkerudung hitam itu memegang tongkat berujung parang lengkung yang dinamakan pusaka El Maut. Siapa lagi dia kalau bukan Siluman Tujuh Nyawa yang terkenal sebagai tokoh paling sesat dan ditakuti oleh beberapa tokoh di rimba persilatan.

"Siluman Tujuh Nyawa...?!" gumam Resi Pakar Pantun dengan mata mendelik. "Bbba... bagaimana mungkin dia bisa ikut ambil bagian dalam perkara Sabuk Gempur Jagat ini? Dan... dan... dan sabuk itu ternyata sudah tergenggam di tangan kirinya? Gila! Jubah Kapur bisa hancur jika melawan si Durmala Sanca itu?"

Durmala Sanca adalah nama asli Siluman Tujuh Nyawa. Musuh utama tokoh terkeji di seluruh rimba persilatan itu tak lain adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting. Pengembaraan Suto selama ini adalah memburu Siluman Tujuh Nyawa untuk memenggal kepala orang tersebut sebagai maskawin untuk meminang Gusti Mahkota Sejati; Dyah Sariningrum.

Selama ini Suto selalu gagal menumbangkan Siluman Tujuh Nyawa, karena tokoh yang tak pernah punya perubahan air muka itu bukan saja keji tapi juga licik dan licin bagaikan belut. Kesaktiannya sangat tinggi, namun jika berhadapan dengan Suto selalu melarikan diri sebelum berhasil ditumbangkan. Dengan Sabuk Gempur Jagat di tangan kirinya, apakah kali ini ia akan lolos dari incaran Suto Sinting?

"Pantas kalau si Tulang Naga mampus, ternyata orang yang merebut sabuk itu adalah Siluman Tujuh Nyawa?!" gumam Resi Pakar Pantun tepat di seberang telinga Kinanti.

Gadis itu hanya diam dan tak berani berbuat banyak karena ia pernah mendengar kekejaman dan kesaktian Siluman Tujuh Nyawa.

"Jubah Kapur, kita selesaikan persoalan lama sekarang juga!" ujar Siluman Tujuh Nyawa dengan suara datar berkesan dingin. "Kelancanganmu tak bisa kuampuni lagi, dan sekarang kau harus menebusnya! Jika tadi aku hanya menguji kesaktianmu, sekarang aku ingin mencopot nyawamu!"

Sabuk Gempur Jagat yang ada di tangan kiri Siluman Tujuh Nyawa itu mulai diangkat. Sabuk itu ternyata terbuat dari kulit ular berduri dengan tengkorak kepala ular menjadi hiasan ujung sabuk. Agaknya keadaan ular masih utuh, dari kepala sampai ekor. Bagian ekornya bertaji runcing seukuran kelingking. Duri-duri runcing di sekujur tubuh ular yang sudah tak berdaging lagi itu tampak mengering hitam kebiruan bertanda mempunyai racun yang berbahaya bagi orang yang tergores kulitnya.

Jubah Kapur masih diam saja walau Siluman Tujuh Nyawa sudah mengangkat Sabuk Gempur Jagat. Namun ketika sabuk itu disabetkan dengan satu lompatan menyerang, Jubah Kapur bergerak cepat menghindar. Wuuut...! Tapi tongkatnya tersambar ekor sabuk tanpa disengaja.

Duaaarrr...! Ledakan keras terjadi, dan tongkat itu hancur seketika menjadi serpihan kayu tanpa arti. Kini Jubah Kapur sudah tidak bersenjata lagi. Tapi ia tidak melarikan diri dan tetap hadapi lawannya dengan penuh keberanian. Bahkan sekarang ia bergerak menyerang dengan satu gerakan cepat yang tak bisa dilihat mata manusia biasa. Weeess...!

Siluman Tujuh Nyawa juga bergerak cepat menghindari terjangan lawan. Weeeess...! Tahu-tahu mereka sudah berpindah tempat dan saling berhadapan kembali. Siluman Tujuh Nyawa sabetkan sabuk itu ke udara, arahnya ke tubuh Jubah Kapur. Wuuut...! Wooooss...!

Api menyambar Jubah Kapur, untung segera dapat dihindari dengan gerakan mirip orang menghilang itu. Slaaap...! Dan api pun menyambar pepohonan di belakang Jubah Kapur. Lalu hutan di sekitar pohon itu pun terbakar, nyala apinya berkobar-kobar, makin lama semakin melebar. Badai angin panas berhembus ke selatan membuat tanaman menjadi layu dan kering, bahkan ada yang langsung menghangus menjadi arang.

"O, mungkin begitulah cara si Tulang Naga saat membumihanguskan istana Lembah Birawa dan orang-orangnya," pikir Kinanti dari tempat persembunyiannya.

Clap, clap...!

Jubah Kapur keluarkan sinar putih dari kedua telapak tangannya. Tapi kedua sinar putih itu segera dihantam dengan Sabuk Gempur Jagat yang disabetkan dengan cepat. Wut, wut...!

Blegaaarr...! Ledakan besar mengguncangkan bumi, membuat Jubah Kapur terpental jatuh. Pada saat itulah Siluman Tujuh Nyawa menerjang maju dan menghantamkan sabuk yang dipegang bagian ekornya. Kepala sabuk pun menghantam ke tubuh Jubah Kapur. Namun orang gemuk itu mampu bergerak gesit menghindar ke samping, sehingga hantaman sabuk itu kenai tanah.

Jegaaarrr...!

Suara gemuruh menggema. Tanah menjadi retak di beberapa tempat. Asap mengepul dari retakan tanah. Alam pun terguncang bagai diserang gempa secara mendadak. Warna hitam hangus tampak nyata pada tanah yang terkena hantaman kepala sabuk tersebut. Jubah Kapur segera sentakkan tangannya ke tanah dan tubuhnya melayang di udara lalu bersalto satu kali. Wuuut...! Jleeg...! Kakinya menapak kekar di tanah.

"Manusia sesat!" geram Jubah Kapur. "Kini saatnya ajalmu tiba!"

Jubah Kapur gerakkan tangannya ke sana-sini, sementara itu Siluman Tujuh Nyawa memutar-mutar Sabuk Gempur Jagat di atas kepala. Putaran itu memancarkan sinar hijau yang melebar dan menjadi dinding perisai di sekelilingnya. Jubah Kapur lepaskan jurus mautnya; sepuluh larik sinar biru keluar dari tiap ujung jarinya. Zrrrraab...!

Blegaaar...!

Sepuluh larik sinar biru tak mampu menembus cahaya hijau. Justru menghadirkan ledakan dahsyat yang membuat tubuh gemuk Jubah Kapur terpental kuat dan menghantam pohon di kejauhan sana. Duuurrr...! Krrraaak, brrrruuuk...!

Pohon itu tumbang akibat benturan tubuh Jubah Kapur. Darah kental keluar dari mulut, hidung, dan telinga si Jubah Kapur, ia terluka parah pada bagian dalam akibat gelombang ledakan yang begitu kuat itu. Napasnya mulai tersengal-sengal dan tak mampu bangkit lagi.

Melihat keadaan Jubah Kapur separah itu, Suto Sinting segera melesat dari tempat persembunyiannya. Zlaaap...! Tahu-tahu sudah berada di depan Siluman Tujuh Nyawa. Jleeg...! Anehnya tokoh sesat itu tidak merasa terkejut sedikit pun. Wajahnya datar-datar saja, bahkan senyum sinis pun tak mengembang di bibirnya yang biru itu.

"Akulah lawanmu!"

"Kau datang mengantar nyawa, Bocah Ingusan! Barangkali memang sudah saatnya kau menemui ajalmu di sini!" ujar Siluman Tujuh Nyawa sambil masih memutar sabuk pusaka dan tubuhnya dilapisi sinar hijau bening.

"Kaulah yang akan binasa, Durmala Sanca!"

"Lakukan jika kau mampu menyerangku!"

Ingat peristiwa Dyah Sariningrum pernah dilukai oleh Siluman Tujuh Nyawa menggunakan pukulan 'Candra Badar', (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Pusaka Tombak Maut), Suto Sinting tak mau buang-buang waktu lagi. Ia segera lepaskan pukulan 'Pecah Raga' dari telapak tangannya. Sinar hijau keruh menghantam lapisan sinar hijau bening. Claaap...!

Blegaaar...! Ledakan dahsyat terjadi lagi, bukan saja mengguncang bumi namun membuat langit menjadi mendung seakan ingin runtuh. Suto Sinting terlempar dalam satu sentakan gelombang ledak yang maha dahsyat. Tubuhnya berguling-guling dan hidung serta telinganya melelehkan darah kental. Ia segera bangkit bersama murkanya. Napasnya menghadirkan angin kencang yang menyingkapkan rerumputan dan menebarkan tanah di bagian depannya.

"Hiaaat...!" Pendekar Mabuk melompat ke udara dan bersalto dua kali tanpa hiraukan darah dari hidung dan telinganya. Saat di udara ia sentakkan tangannya, lalu sinar perak keluar dari telapak tangannya. Itulah yang dinamakan 'Jurus Yudha' pemberian Ratu Kartika Wangi yang berupa puluhan bintang segi lima kecil-kecil berwarna perak menyala. Sinar perak itu menghantam lapisan sinar hijau yang mengelilingi tubuh Siluman Tujuh Nyawa.

Jegaaarrr...! Sinar itu hancur menyebar lalu padam seketika. Sentakan gelombang ledaknya membuat tubuh Siluman Tujuh Nyawa terjungkal ke belakang berguling-guling. Sabuk Gempur Jagat lepas dan terpental.

Zlaaaap...! Suto Sinting menyambar sabuk itu dan dalam sekejap sudah berada di tangannya. Tapi Siluman Tujuh Nyawa tak mengalami luka parah kecuali hangus di bagian telapak tangan kirinya. Kalau tak ada sinar hijau bening, tentunya tubuhnya akan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.

Melihat sabuk pusaka itu sudah ada di tangan Suto, dengan gerakan cepat tanpa kalimat, Siluman Tujuh Nyawa melesat pergi masuk ke alam gaib. Zluuub...! Suto Sinting yang ingin lepaskan jurus 'Manggala' terpaksa urung, ia mengejar masuk ke alam gaib dengan meraba noda merah di keningnya. Zluuub...! Kejap berikut ia kembali lagi dengan napas terengah-engah. Pengejarannya melalui alam gaib ditunda karena ia ingat keadaan Jubah Kapur yang butuh pertolongan dengan segera.

Sabuk Gempur Jagat kini telah berhasil diselamatkan dari tangan orang sesat. Jubah Kapur akhirnya tertolong juga oleh tuak saktinya Pendekar Mabuk. Tokoh tua yang menjadi gurunya Inupaksi itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Bayi Pembawa Petaka), akhirnya berkata kepada Suto Sinting,

"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku. Hanya saja, sayang sekali iblis sesat itu tak sempat kau cabut nyawanya!"

"Itu bagianku nanti, Ki Jubah Kapur. Tapi... mengapa kau sampai terlibat perkara dengan Siluman Tujuh Nyawa?"

"Dulu aku pernah menggagalkan rencana busuknya, menculik putri seorang raja. Ia masih mendendam padaku. Kebetulan aku ingin bertandang ke pondoknya si Galak Gantung. Aku memergoki dia sedang bertarung dengan Tulang Naga. Setelah ia berhasil membunuh Tulang Naga dan mengambil sabuk pusaka itu, ia ganti menyerangku dan aku tak bisa lari kecuali menghadapinya secara untung-untungan!"

"Ternyata kau benar-benar untung," sela Resi Pakar Pantun. "Kalau tak untung, kepalamu saat ini sudah buntung!"

Mereka tertawa kecil. Kemudian Suto Sinting serahkan Sabuk Gempur Jagat kepada Resi Pakar Pantun. "Tolong kembalikan kepada Begawan Rampak Dalu," katanya dengan bijaksana sekali.

Kinanti sempat menggumam, "Aku heran, Siluman Tujuh Nyawa itu ilmunya sudah cukup tinggi, mengapa masih menghendaki sabuk pusaka itu?"

"Setiap pusaka yang dapat membahayakan jiwanya selalu ingin dikuasai, supaya tak ada orang yang dapat kalahkan dirinya," jawab Jubah Kapur.

Kinanti pun manggut-manggut. Setelah sabuk diterima sang Resi, Suto pun bergegas pergi dan Kinanti mengejarnya.

"Suto, mau ke mana kau?!"

"Mengejar lawanku tadi ke alam gaib!" jawabnya sambil melambaikan tangan dan Kinanti hanya memandang dengan hati sedih.

S E L E S A I