Serial Pendekar Mabuk
Gelang Naga Dewa
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Suto Sinting.

Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruling itu terdengar di kejauhan sana, arahnya sebelah barat daya. Suto Sinting tersenyum dengan hati penuh bunga-bunga indah. Suara seruling itu diresapi betul, hingga rohnya bagaikan ikut menari gemulai seirama nada lengking seruling.

"Luar biasa indahnya. Seakan bumi diisi oleh kedamaian semata. Baru sekarang aku merasakan keindahan isi dunia. Ooh... alangkah damai dan bahagianya hatiku siang ini. Biar ada rampok sepuluh pun masih kuanggap damai dan bahagia. Kenapa begini, ya? Mungkinkah karena alunan suara seruling itu?"

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya kembali. Semakin indah saja isi dunia dirasakannya, aroma tuak dan irama seruling bagai suatu paduan yang jarang dinikmati. Ibaratnya, makan ayam panggang sambil diberi uang segepok. Jelas itu hal yang teramat indah bagi siapa saja.

Tak heran jika dalam hati Pendekar Mabuk mempunyai rasa penasaran. Rasa ingin tahu siapa peniup seruling itu membuatnya bangkit, tak jadi hanyut dalam tidurnya. Ia melangkah menuju barat daya sambil wajahnya berseri-seri dihiasi senyum yang menawan. Sampai di salah satu lereng berdinding batu, ia berhenti dengan dahi berkerut. Kepalanya ditelengkan pertanda sedang menyimak suara seruling lembut melenakan itu.

"Kenapa suaranya jadi ada di sebelah utara?! Apakah peniup seruling itu berpindah tempat? Tapi secepat itukah ia berpindah tempat? Ah, jangan-jangan kupingku mulai rusak sebelah?"

Semakin lama suara seruling yang didengarnya semakin melenakan kalbu melayangkan sukma. Alunannya yang meliuk gemulai itu bagaikan menghadirkan sejuta khayalan indah yang memikat hati. Senyum Suto sejak tadi tiada habisnya. Hati pun menjadi semakin panasaran. Maka dengan langkah lebih cepat lagi Pendekar Mabuk pergi ke arah utara. Sasaran utamanya tak lain adalah sumber suara seruling itu.

Namun ketika tiba di utara, hatinya menjadi terheran-heran, karena suara seruling itu ada di selatan. Suto Sinting sempat sangsi dengan pendengarannya, ia segera menyimak baik-baik suara seruling yang melenakan jiwa itu.

"Hmmm... benar juga! Pantulan gema membuat ku salah dengar. Bukan di utara sini, tapi di selatan sanalah si peniup seruling itu berada. Hmm... mungkin di balik pohon besar itu!" pikirnya.

Zlappp...! Suto Sinting tak sabar lagi. Ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman' untuk mempercepat langkahnya. Dalam sekejap ia sudah tiba di sebelah selatan lembah.

"Gila?! Sekarang suara seruling itu ada di timur?!" gumamnya dengan dahi berkerut karena terheran-heran. Ia diam sebentar, menyimak lantun suara seruling itu. Hatinya kembali berbunga-bunga, lalu timbul rasa penasaran lebih besar lagi.

Zlappp...! Jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah itu digunakan kembali untuk menuju ke timur. Sampai di timur, suara seruling itu ternyata ada di barat. Jelas sekali datang dari barat.

"Setan pikun!" gerutu Pendekar Mabuk sambil menghembuskan napas kesal, ia bertolak pinggang seraya geleng-geleng kepala.

"Rupanya ada seseorang yang ingin mempermainkan telingaku!" katanya dalam hati. "Aku yakin bukan telingaku yang salah, tapi si peniup seruling itu menggunakan kekuatan tenaga angin. Menyalurkan suara melalui udara dalam kendalian tenaga dalam sungguh merupakan ilmu langka yang patut mendapat pujian."

Zlapp...! Suto Sinting pindah ke barat dalam sekejap. Suara seruling ada di selatan. Masih melantunkan irama yang melenakan kalbu.

"Kurang ajar! Dia benar-benar ingin menguji ilmuku. Hmmm... siapa dia orangnya? Apa dia belum tahu kalau Pendekar Mabuk tak pernah mau menyerah jika ditantang hal-hal seperti ini?"

Napas ditarik dalam-dalam. Pendekar Mabuk segera bersiul panjang. "Suiiiiit... siuuuut...! Suiiiiut...! siiiiiuuuut... tuituuuuiiit...!"

Wuuurrsss...!

Alam menjadi gaduh. Burung-burung yang sedang bertelur berteriak dengan bahasanya masing-masing, beterbangan lari tunggang langgang. Binatang-binatang yang bersembunyi dalam semak pun lari pontang-panting sambil menyerukan suara tak jelas. Beberapa kera berlarian sambil memekik berteriak-teriak bagai habis dibakar ekornya. Suara seruling itu sendiri juga mengalun tak karuan nadanya. Kadang tersendat, kadang lurus, kadang terdengar sumbang.

Jurus 'Siulan Peri' pemberian dari bibi gurunya; Bidadari Jalang, telah digunakan oleh Pendekar Mabuk untuk membalas si peniup seruling itu. Jurus itu bisa membuat telinga orang maupun hewan menjadi pecah jika disiulkan agak lama sedikit. Karena siulan tersebut dialiri gelombang getaran tenaga dalam cukup tinggi.

Zlapp, zlapp, zlapp...!

Pada saat suara seruling itu menjadi sumbang dan tersendat-sendat, Suto Sinting melesat ke berbagai penjuru dengan kecepatan melebihi anak panah. Siulannya sudah dihentikan, tapi pendengarannya masih dipasang baik-baik. Ilmu 'Lacak Jantung' yang bisa dipakai untuk mendengarkan detak jantung orang lain segera digunakan pula. Dengan ilmu 'Lacak Jantung' itulah Pendekar Mabuk akhirnya menemukan di mana ada orang di sekitar lembah itu.

Wuttt...! Ia berhenti di atas sebuah pohon tanpa menimbulkan suara gemerisik. Ilmu peringan tubuhnya membuat ia mampu hinggap di dahan pohon besar berdaun rindang itu tanpa menggoyangkan satu daun pun.

"Hmm... kena kau sekarang!" ujarnya dalam hati dengan tersenyum bangga.

Ia memandang ke bawah, dan di bawah pohon itulah seorang gadis duduk bersila sambil meniup seruling. Gadis itu bersila di atas sebuah batu datar. Gadis itu tidak tahu kalau di atasnya ada orang yang tadi dipermainkan pendengarannya, ia tetap meniup seruling dengan tenang, mata terbuka, badannya tegak.

Suto Sinting melongok ke bawah sambilsenyum-senyum. Gadis berjubah kuning dengan pakaian dalamnya berwarna merah tua itu tampak cantik dalam keadaan rambutnya digulung dua bagian, kiri dan kanan. Tapi ada sisa rambut yang terjulur melambai bagaikan pita. Lantun serulingnya masih berkumandang hening dan meneduhkan hati. Suto Sinting menikmati alunan seruling itu sambil menggigit-gigit setangkai daun berukuran kecil.

"Dia sangka aku masih kebingungan mencarinya? He, he, he... dia tidak tahu kalau aku sudah ada di atasnya. Mainkan saja serulingmu, Nona manis. Jangan berhenti walau sekejap. Kalau perlu mainkan tanpa napas. He, he, he...!" hati Suto bercanda sendiri.

Tetapi tiba-tiba suara seruling melengking lebih tinggi. Walaupun dimainkan dalam serangkaian nada yang masih enak didengar, tapi makin lama semakin membuat jantung berdebar-debar. Suto Sinting menarik napas untuk meredakan debaran jantungnya.

"Gila! Kenapa jantungku jadi berdetak-detak seperti mau berontak?! Wah, kacau...! Jangan-jangan aku mau mati? Kok badanku jadi lemas dan gemetaran begini? Lho... lho...?! Malah ngantuk segala?! Ada apa ini?!" Suara seruling semakin melengking. Rasa kantuk kian membujuk. Kelopak mata bagaikan tak mau diajak damai untuk memandang keindahan yang ada di bawahnya. Mulut menguap bagai minta disuap. Kepala pun terkantuk-kantuk, nyawa bagaikan melayang.

Leess...! Gusrak...! Kraak ..! Brukkk...!

"Aaauuh...!" Suto Sinting terpekik karena jatuh dari atas pohon. Pinggangnya terganjal sebatang akar yang menggunduk mirip batu. Rusuknya bagaikan mau patah. Seketika itu juga rasa kantuk itu hilang. Yang ada hanyalah rasa sakit, jengkel, dan malu. Tentu saja ia malu karena ia jatuh tepat di depan gadis peniup seruling itu.

Gadis itu hentikan kerjanya, ia tetap duduk bersila, tapi wajahnya memancarkan kemenangan. Senyumnya adalah senyum melecehkan nasib Suto yang jatuh dari atas pohon. "Carilah penginapan kalau mau tidur. Jangan di atas pohon. Nanti seperti binatang codot," katanya dengan suara lembut dan merdu.

Suto Sinting segera menyadari bahwa rasa kantuk adalah kiriman dari gadis berwajah mungil itu. Hawa kantuk dan lemas dikirimkan melalui getaran nada seruling yang melengking tinggi tadi. Pendekar Mabuk segera bangkit dari jatuhnya, ia meringis canggung, antara memberi senyuman dan menahan rasa sakit di bagian pinggang dan tulang rusuknya. Untuk menutupi rasa malunya, Suto segera berkata dengan suara pelan.

"Bagus juga."

"Suara serulingku maksudmu?"

"Caramu menjatuhkan aku dari atas pohon, bagus juga!"

Gadis berbibir mungil itu tertawa kecil. Tawanya begitu manis menyayat hati. Matanya yang bundar berbulu lentik itu memandang Suto dengan berbinar-binar. Seakan di kedua mata itu terdapat genangan telaga berair bening dan sejuk di badan.

"Aku sengaja mengundangmu kemari," kata gadis itu.

"Mengundangku?" Suto berkerut dahi. "Apakah kau sudah tahu siapa aku?"

Gadis berkulit kuning itu menganggukkan kepala. "Kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar Pendekar Mabuk, bukan?"

"Dari mana kau tahu?"

"Dari ciri-ciri pakaianmu, bumbung tuakmu, dan ketampananmu."

"Kapan kau melihatku?"

"Ketika kau berbaring di bawah pohon sebelah timur tadi."

Suto terbungkam membayangkan saat-saat berbaring tadi. Lalu ia memandang gadis itu dengan dahi berkerut. "Aku tidak melihat seorang pun lewat di dekatku."

"Aku tidak lewat di sana, tapi memandangnya dari puncak bukit sebelah utara itu."

Suto pun segera melemparkan pandangannya ke arah utara. Di sana memang ada sebuah bukit agak tinggi. Puncaknya tanpa tanaman apa pun kecuali bongkahan batu-batu yang menjulang. Jaraknya cukup jauh menurut Suto, tapi gadis itu mengatakan,

"Kalau kau kupanggil saat aku di sana, kasihan. Terlalu jauh dan melelahkan bagimu untuk mendatangiku kesana."

"Sejauh itu?! Kau bisa melihatku berbaring dalam jarak sejauh itu?"

Gadis cantik itu mengangguk. Kini ia bangkit dan turun dari tempat duduknya. Seruling dari gading berukir itu diselipkan pada ikat pinggangnya. "Aku terpaksa memanggilmu dengan cara begini, supaya kau tidak menyepelekan panggilanku."

"Aku tak mengerti maksudmu, Nona."

"Nanti kau akan mengerti. Yang penting kau pahami, aku tak pernah memanggil seseorang dengan serulingku. Tapi karena kau bukan orang sembarangan, maka aku terpaksa memanggilmu dengan serulingku."

"Dia pikir aku ini ular kobra, dipanggil pakai seruling?!" gerutu Suto dalam hatinya. Tapi bibirnya mengucapkan kata yang berbeda dengan hatinya. "Apa perlumu memanggilku dengan cara seperti itu?"

"Kau harus menolongku."

"Harus...?! Itu namanya kau memaksaku."

"Mungkin memang memaksamu." Gadis itu memandang Suto dengan sikap tengil tapi tidak menyakitkan hati. Justru berkesan lucu dan menyenangkan. Lagaknya yang seperti gadis angkuh bercampur manja itu membuat Suto Sinting senang memperhatikannya.

"Siapa namamu. Nona?"

"Katakan dulu kesanggupanmu menolongku, baru kukatakan siapa namaku."

"Bagaimana aku bisa menolong orang yang belum kukenal namanya?"

"Jika kau melihat seorang nenek tenggelam di sungai, apakah kau akan membiarkannya?"

"Tentu aku menolongnya." jawab Suto dengan semangat.

"Apakah kau akan menolongnya setelah kau menanyakan namanya?"

Suto tersenyum geli. "Memang tidak mungkin kutanyakan namanya. Karena keadaannya sangat berbahaya, jadi tak perlu tanya nama, langsung saja kutolong. Setelah itu baru kutanyakan namanya."

"Jika begitu, apa bedanya dengan diriku? Mengapa kau tidak menolongku lebih dulu baru menanyakan namaku?"

"Karena kau bukan seorang nenek," jawab Suto mencari kemenangannya.

"Anggap saja aku seorang nenek."

"Tidak ada seorang nenek semuda kamu, secantik kamu, dan senakal kamu!" goda Suto lagi. Gadis itu sunggingkan senyum tak jelas; entah senyum geli atau senyum meremehkan godaan itu.

"Baiklah, aku akan menolongmu," kata Suto akhirnya menyerah daripada berdebat melantur-lantur menghabiskan waktu.

"Jadi, kau bersedia menolongku?"

"Ya, aku bersedia. Sekarang sebutkan namamu."

"Namaku...Dinada."

Suto berkerut heran, tapi menyunggingkan senyum geli. "Namamu aneh sekali. Apakah kau orang dari seberang?"

Dinada gelengkan kepala. "Aku orang dari Bukit Kasmaran. Letaknya di sebelah timur sana."

Pendekar Mabuk manggut-manggut sambil beradu pandang dengan Dinada. Ada getaran halus di hati Pendekar Mabuk saat pandangan mata beradu agak lama. Senyum nakal Dinada sengaja dipamerkan, dan senyuman itulah yang membuat Suto memendam keresahan, lalu segera buang muka. Ia menenggak tuaknya sesaat. Dinada melangkah agak menjauh. Kini ia berdiri dengan pundak kiri bersandar pada dinding, kakinya menyilang santai. Sehelai ilalang dicabutnya sebagai mainan tangan berjari lentik indah itu.

"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" tanya Suto Sinting.

Dinada baru saja mau menjawab, tapi bibirnya yang sudah merekah itu terhenti karena suara derap kaki kuda yang datang dari kejauhan. Suto Sinting menelengkan kepala menyimak suara derap kaki kuda itu.

"Ada yang mau datang kemari," kata Suto pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

Terdengar suara Dinada membuang napas. Suto Sinting menatapnya dan menemukan keresahan di wajah cantik itu. "Kita harus pergi dari sini," kata Dinada. Gadis itu mau bergerak pergi, tapi segera ditahan dengan suara Suto.

"Tunggu...!"

Dinada pun berhenti, tak jadi pergi, ia memandang Suto yang segera bertanya. "Kenapa harus pergi?"

"Apakah kau tak mendengar suara derap kaki kuda itu?"

"Ya, aku memang mendengar. Apakah kau takut melihat kuda?"

"Bukan kudanya yang membuatku takut, tapi penunggangnya."

"Siapa penunggangnya?"

"Si Raja Hantu. Lekaslah pergi dari sini."

"Nanti dulu. Kau tak perlu takut. Siapa Raja Hantu itu?"

"Pamanku," jawaban pendek itu membuat Suto bertambah heran.

"Aneh. Kenapa kau takut pada pamanmu?" Suto tertawa pelan. Dinada menarik napas sebentar, wajah cerianya hilang.

"Pamanku orang gila. Dilawan salah, tidak dilawan salah. Jadi sebaiknya dihindari saja."

"Gila apa? Gila harta, gila jabatan, gila pangkat, gila hormat atau gila betulan?"

"Gila perempuan!" jawab Dinada dengan bibir mungil membentuk kerucut seperti cemberut.

Suto Sinting malah menertawakan. "Bagiku, adalah sebuah kodrat jika lelaki gila perempuan. Itu hal yang wajar."

"Jika seorang Paman ingin memperistri keponakannya apakah juga hal yang wajar?!"

"Lho...?! Kalau itu memang perlu dihajar. Tapi... apakah dia ingin memperistrimu?"

"Bahkan dua kali aku nyaris berhasil diperkosanya."

"Wah, kelewatan!" Suto geleng-geleng kepala. Mulutnya mengeluarkan decak keheranan.

"Makanya kita cepat menyingkir dari sini sebelum ia berhasil melihatku!"

"Mengapa tidak kita hadapi saja?!"

"Ilmunya sangat tinggi! Kau bisa celaka kalau berhadapan dengan Paman Raja Hantu."

"Apakah kau pernah melihat aku mencoba melawannya?"

Gadis cantik berhidung kecil tapi bangir itu kelihatan makin gelisah. Hal itu disebabkan karena suara derap kaki kuda semakin dekat dan kian jelas.

"Jangan takut, aku akan ada di pihakmu. Aku akan melindungimu."

Pendekar Mabuk justru mendekati gadis itu. Sang gadis jadi salah tingkah. Ingin lari, tapi mendapat jaminan dari Pendekar Mabuk demikian. Mau diam saja, khawatir kalau sang pendekar tak mampu mengimbangi ilmu pamannya.

"Sebaiknya aku lari saja tanpa pedulikan pemuda ini!" pikir Dinada. Tapi baru saja otaknya berpikir demikian, derap kaki kuda telah mendekat. Kuda itu dipacu dengan cepat. Arahnya jelas menuju ke tempat mereka berada. Dinada merasa sudah telanjur kepergok, akhirnya tak jadi pergi. Ditambah lagi, Suto mengambil sikap berdiri di depannya, sehingga Dinada merasa dilindungi oleh tubuh kekar yang gagah dan berwajah tampan itu.

"Iieeehhhkk...l" kuda itu meringkik karena tali kekangnya ditarik kuat-kuat. Hewan tersebut berhenti sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Penunggangnya seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahunan. Orang itu selain bertampang angker dengan mata lebar bertepian merah, juga mempunyai codet di pipi kanan, ia berkulit hitam, tebal. Badannya tergolong besar.

Dengan rambut panjang sepunggung tak diikat dan jubah hitam berlengan panjang, ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Celananya merah, tanpa baju. Badannya penuh bulu, kecuali wajahnya justru kelihatan tanpa kumis dan jenggot. Tapi alis matanya sangat tebal, bisa dipelintir seperti kumis. Sebuah cambuk melingkar di pinggang kanannya.

"Dinada...!" sapanya dengan suara keras dan besar, berkesan kasar. Gadis itu tidak menjawab, ia malahan buang muka dengan wajah cemberut bercampur takut.

"Apakah kau tidak sayang dengan kecantikan dan kemulusan tubuhmu, hah?! Kau minta dihajar pakai cambuk?! Jawab, Dinada!" bentaknya.

Dinada masih diam. Tidak menunduk tapi juga tidak memandang pamannya. Sikap berdirinya cenderung memunggungi sang paman. Lelaki berwajah angker mirip kuburan para jin itu tampak semakin gusar, ia segera turun dari kudanya dan melangkah mendekati Dinada tanpa mempedulikan keberadaan Suto disitu.

"Jangan-jangan mata orang ini lamur, tak bisa melihat aku ada di sini?!" pikir Suto Sinting, lalu ia segera bergeser ke kiri menutup langkah orang angker sebelum orang itu lebih dekat lagi. Sikapnya melindungi Dinada ditonjolkan.

Orang itu pun hentikan langkah dan memandang Suto Sinting dengan penuh nafsu menghajarnya. "Minggir kau!" hardiknya.

"Apakah kau pamannya Dinada yang bernama Raja Hantu?!" Suto bahkan bertanya kalem.

"Iya! Sudah tahu pakai bertanya segala! Mau apa kau, hah?!"

"Melindungi Dinada!" jawab Pendekar Mabuk dengan tegas sekali, membuat Raja Hantu terkesiap.

"Anak haram kau! Berani-beraninya bersikap begitu didepanku, Hah?! Apakah kepalamu belum pernah pecah?!"

"Pecah memang belum. Tapi retak sering, Paman," jawab Suto tampak sabar dan tenang sekali. Tentu saja sikap itu membuat Raja Hantu semakin berang.

Dua jari tangannya mengeras lurus, lalu ditusukkan ke depan, seperti menusuk udara. Suttt...!

"Heegh...!" Suto Sinting terpekik tertahan. Ulu hatinya seperti disodok memakai bambu sebesar betis. Mual dan sakit sekali. Tubuh pemuda berbaju coklat tanpa lengan itu sempat terbungkuk karena menahan rasa sakit itu. Rupanya Raja Hantu mengirimkan pukulan tenaga dalamnya berupa sodokan kuat di ulu hati Suto Sinting. Bahkan kali ini dua jari yang mengeras itu ditebaskan dari kiri ke kanan, seperti membabat nyamuk. Wettt...!

"Aauh...!" Suto Sinting mengaduh lagi. Pipinya bagai ditampar memakai kayu balok. Tulang pipi terasa mau pecah. Suto Sinting sempat terpelanting ke kiri. Ada bekas memerah di pipi Suto. Hal itu membuat Dinada menjadi cemas dan salah tingkah.

"Jangan bersikap sekasar itu, Paman!" bentak Dinada.

"Aku akan lebih kasar lagi jika kau tidak mau pulang bersamaku!"

"Tidak! Saya tetap akan di sini!" tegas Dinada.

"Kalau begitu aku berhak menyiksa anak muda itu. Karena anak muda itulah yang membuat kau betah tinggal disini!"

"Jangan, Paman...!" sergah Dinada.

Raja Hantu hendak menyodokkan keempat jarinya, mengirimkan sodokan tenaga dalam dari jarak jauh. Tetapi Pendekar Mabuk lebih dulu menyentilkan jarinya, melepaskan jurus 'Jari Guntur'.

Tess...!

"Huaahhg...!" Raja Hantu terpental ke belakang dan membentur moncong kudanya. Sang kuda meringkik bagaikan perawan tak mau dicium.

Jurus 'Jari Guntur' adalah mengirimkan sentilan bertenaga kuda dari jarak jauh yang membuat lawan seperti disepak kuda jantan. Sentilan itu diarahkan di dada Raja Hantu, sehingga dada orang berwajah angker itu terasa mau pecah, napasnya sedikit sesak. Kalau tak ada moncong kuda ia akan jatuh terkapar karena sentilan bertenaga dalam tinggi itu.

"Jahanam iblis kau!!" geram Raja Hantu sambil menegakkan berdirinya. "Kuhancurkan kepalamu yang masih bau kencur itu, heeeaah ..!" Raja Hantu melompat bagaikan terbang.

Suto Sinting menggeloyor bagaikan orang mabuk hendak jatuh, tapi ternyata tangannya menyentak pada batang pohon, membuat tubuhnya bersalto ke belakang. Wuuttt...! Ia berjungkir balik di atas kepala Raja Hantu. Dengan cepat kakinya menendang dalam satu sentakan yang mengejutkan.

Desss...! Plokk...!

"Aoww...!" Wajah Raja Hantu menjadi sasaran kaki Pendekar Mabuk. Akhirnya ia kehilangan keseimbangan, lalu mendarat di tanah dengan posisi jatuh menyamping.

Brukk...!

"Bangsaaat...!!" teriaknya semakin berang, ia segera bangkit lalu melepaskan pukulan bersinar merah ke arah Suto Sinting. Clapp...! Sinar merah yang keluar dari telapak tangan Raja Hantu ditangkis Suto Sinting menggunakan bumbung tuaknya.

Dubb ..! Slappp...!

Sinar itu membalik arah dalam keadaan lebih besar dan lebih cepat dari aslinya. Raja Hantu terkejut sekali, ia tak dapat menghindar. Namun tangannya segera berkelebat menangkap sinar merah tersebut.

Wuuttt...! Trubb...!

Sinar merah bagaikan mengumpul dalam genggaman. Tangan yang menggenggam itu membara bagai memancarkan sinar merah berasap. Suto Sinting sempat terperanjat melihat sinar tenaga dalam yang cukup besar itu mampu ditangkap oleh tangan Raja Hantu. Namun sesaat kemudian Raja Hantu berteriak kepanasan.

"Heeaaah...!" Genggamannya dilemparkan ke arah Suto Sinting.

Wuuttt...!

Gumpalan asap memancarkan warna merah bara melesat menghantam Suto. Tetapi Pendekar Mabuk segera melepaskan jurus 'Pecah Raga'-nya. Sinar hijau melesat dari telapak tangan, diadu dengan gumpalan asap merah itu. Clapp...!

Blegarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi mengguncang tanah sekeliling. Raja Hantu terpental sambil mengerang kesakitan karena telapak tangannya menjadi hangus akibat menangkap sinar merah tadi. Ia dilemparkan oleh gelombang ledakan hingga tubuhnya terjepit batang pohon besar yang tumbuh bercabang.

"Suto, lekas naik!" seru Dinada. Rupanya gadis itu sudah berada di atas kuda dan siap melarikan diri. Suto masih bingung dan ragu-ragu.

"Lekas naik! Tinggalkan dia!" sentak Dinada dengan tegang. Maka, Suto Sinting pun melompat ke punggung kuda, dan Dinada membawanya lari.

"Hooii...! Jangan lari, Jahanam!" seru Raja Hantu dalam keadaan terjepit.

Dinada tetap berlari memacu kudanya tanpa menghiraukan seruan pamannya. Suto Sinting hampir jatuh dari punggung kuda. Ia segera memeluk pinggang Dinada dengan kikuk.

"Mau ke mana kita?!"

"Ke mana saja. Cari tempat yang aman!"

"Mengapa harus lari?! Aku masih sanggup melawannya!"

"Dia pasti akan menggunakan cambuknya!" seru Dinada mengimbangi derap kaki kuda.

"Aku justru ingin mencoba menghadapi senjata cambuk pamanmu itu! Aku ingin tahu seberapa kekuatan cambuknya!"

"Bisa menyebarkan racun berbahaya. Sekalipun bisa kau hindari tapi racun yang menyebar tak akan bisa kau hindari. Dan lagi kalau kau kena racun cambuknya, nyawamu tidak akan lebih dari lima helaan napas. Dia..."

"Awas...!" teriak Suto karena kuda akan lompat ke jurang di depannya. Dinada berusaha menghentikan kuda, atau membelokkan ke arah lain, tapi kuda tetap berlari lurus bagaikan ingin menceburkan mereka berdua ke sebuah jurang.

"Celaka! Kuda ini tidak mau dikendalikan lagi!" Wajah Dinada semakin tegang ketika tepian jurang tinggal beberapa langkah lagi.

* * *

DUA

DENGAN satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar Mabuk melesat lompat dari atas punggung kuda. Tangannya menyambar gadis di depannya. Wuuttt...! Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam pelukan Suto Sinting. Gadis itu dipeluk erat-erat karena khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang.

"Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya berakhir di dasar jurang.

Jlegg...! Suto Sinting berhasil mendaratkan kakinya di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari pelukan Pendekar Mabuk. Begitu pelukan dilepas oleh Suto, Dinada segera berbalik menghadap Suto. Tersenyum kaku, lalu... plok! Suto ditampar dengan tangan kiri.

"Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau, ya?!" gertak Dinada.

Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup membuat Suto malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap- usap pipinya yang kena tampar.

"Kuda itu dikendalikan dari jarak jauh," kata Suto.

"Iya. Tapi kau tak perlu memelukku sedemikian rupa!"

"Habis bagaimana? Kalau aku tidak menyambarmu dengan cara begitu kau ikut terjun ke jurang bersama kuda itu! Kau akan mati!" Suto agak ngotot.

Gadis itu juga ngotot. "Iya. Memang tak ada cara lain kecuali dengan menyambarku begitu. Tapi jari tanganmu jangan macam-macam! Tak perlu pakai meremas segala."

"Aku... aku meremas karena memegangi kainmu biar peganganku kuat."

"Kuat. Kuat...! Hemm...!" Dinada bersungut-sungut sambil melengos. Wajahnya sempat memerah dadu karena menahan malu akibat remasan Suto yang dianggap kurang ajar itu. Sedangkan Suto Sinting pun ikut melengos sambil nyengir kuda, menahan geli dalam hatinya.

Dalam beberapa waktu mereka sudah tiba di pantai. Dinada sudah tak berang lagi. Ia sengaja menghentikan langkahnya untuk beristirahat di bawah pohon yang masih beberapa langkah jaraknya dari pasir pantai. Di sana ada batang kayu yang tumbang sudah lama. Di batang kayu itulah Dinada duduk melepaskan kelelahannya.

"Mengapa kau tadi tidak menggunakan serulingmu untuk melawan Raja Hantu?" tanya Pendekar Mabuk setelah menenggak tuaknya dua teguk.

"Justru aku menghindari puncak kemarahannya supaya ia tidak menggunakan cambuknya. Kalau aku menggunakan serulingku, pasti dia akan menjadi kian marah dan menggunakan cambuknya untuk menyerang kita."

"Apa kehebatan cambuknya?"

"Sudah kukatakan tadi cambuk itu bisa menyebarkan racun berbahaya yang sulit dihindari. Karena itulah dinamakan Cambuk Bintang Berbisa. Jika ia sudah menggunakan cambuknya, tak pernah ada lawan yang bisa selamat dari maut."

Pendekar Mabuk menggumam pelan, ia ikut duduk dibatang kayu itu. Bumbung tuaknya dipegang tegak lurus, seperti memegang tongkat yang ujungnya menempel tanah. Ombak samudera kelihatan bergulung-gulung di kejauhan sana. Sekitar tiga puluh langkah dari tempat mereka duduk, pasir pantai tampak menghampar putih bagaikan permadani berbulu domba. Sambil memandang ke arah ombak yang memercikkan buih laut, Pendekar Mabuk perdengarkan suaranya.

"Perkara si Raja Hantu itukah yang menjadi masalahmu sehingga kau ingin memintatolong padaku?"

"Bukan soal dia," jawab Dinada. "Ada persoalan yang lebih berat dari masalah pamanku."

"Tunggu dulu," potong Suto. "Sudah lamakah Raja Hantu mengganggumu dan berniat mengawinimu?"

"Sudah lebih dari empat purnama."

"Mengapa kau tidak melawannya mati-matian?"

"Aku takut benar-benar mati. Selain Raja Hantu punya ilmu tinggi, dia juga pengganti orangtuaku. Sejak kecil aku diasuh olehnya. Usia sepuluh tahun aku berguru. Pulang dari berguru, wataknya sudah berubah demikian. Aku jadi serba salah, mau kulawan tapi ingat bahwa dia pengganti kedua orang-tuaku yang telah tiada dan pernah membesarkan diriku. Tidak kulawan, dia mengancam masa depanku. Aku jadi bingung sendiri."

"Mengapa kau tidak kabur saja?"

"Ke mana pun aku pergi dia selalu mengetahui tempat persembunyianku."

"Apakah dia juga tinggal di Bukit Kasmaran?"

Dinada menggeleng. "Bukit Kasmaran adalah tempat perguruanku."

"Kau tidak minta bantuan gurumu?"

"Guruku telah tiada, ia wafat dua tahun yang lalu."

"Jadi sekarang Bukit Kasmaran dikuasai oleh siapa?"

"Pancasurti yang berjuluk Merak Cabul. Dia kakak seperguruanku."

"Kau tidak bergabung lagi dengan Bukit Kasmaran?"

Dinada memandang dengan mata bundarnya yang berbulu lentik itu sambil gelengkan kepala. Bibirnya yang mungil indah menggemaskan itu bergerak-gerak memukau dalam bicaranya.

"Merak Cabul sudah menyimpang dari ajaran perguruan, ia menggunakan perguruan sebagai wadah pemburu cinta, ia mengumpulkan beberapa pemuda dan membebaskan orang-orang perguruan bercinta di dalam pesanggrahan. Perguruan Bukit Kasmaran sudah rusak, hidupnya bagai sebuah perguruan tanpa susila lagi, tempat percabulan tanpa batas. Aku tidak setuju dan keluar dari Bukit Kasmaran."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Gumamnya terdengarlirih. "Apakah tak ada yang bisa mencegah perbuatan si Merak Cabul?"

"Satu-satunya yang bisa melawan dia sebenarnya adalah anak kandung dari mendiang guruku. Tapi... orang yang kuanggap saudara sendiri itu ternyata tingkah lakunya juga kurang beres. Aku terlibat masalah dengannya dan membuatku menjadi muak padanya. Kalau saja..."

Tiba-tiba mulut berbibir mungil itu dibekap oleh Suto Sinting. "Ssst...!" bisik Suto dengan wajah sedikit tegang. Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Suto. Tetapi ketika melihat wajah Suto menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga.

"Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Suto Sinting. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Suto.

"Sial!" gerutu Suto sambil mengibaskan tangannya yang digigit.

Wuttt...! Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Suto terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.

Jrabb...!

Suto makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Suto ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru,

"Jangan sentuh!"

Suto menatap Dinada. Sebelum bertanya apa sebabnya benda itu tak boleh disentuh, Dinada sudah menjawab, "Benda itu mengandung racun yang jika disentuh orang bisa bikin mati penyentuhnya!"

Pendekar Mabuk cepat sentakkan kaki dan tubuhnya pun melesat naik ke atas pohon itu, hinggap di salah satu dahannya. Wutt....! Bekas tempat duduk Suto terlihat dua benda yang sama, yang tak diketahui sejak kapan menancap di batang kayu tempat duduk itu. Hanya Suto Sinting yang bisa merasakan kehadiran benda tersebut. Kejap berikutnya terdengar suara tawa mengikik seperti tawa kuntilanak kesurupan.

"Hi, hi, hi, hi, hi...!"

Tawa itu tidak datang dari satu arah, tapi berkeliling arah, bagai mengitari tempat tersebut. Tentu saja hal itu membuat Dinada dan Suto Sinting memandang berkeliling mencari siapa orang yang tertawa itu.

Wuttt...! Jlegg...!

Dinada langsung menghantamkan pukulannya sambil berbalik arah. Tapi pukulan segera ditahan, tak jadi dilepaskan. Karena orang yang datang di belakangnya itu adalah Suto sendiri yang baru turun dari atas pohon.

"Hampir saja kepalamu pecah!" kata Dinada dengan jengkel karena kecele, menyangka orang lain yang muncul dibelakangnya.

Mereka segera adu punggung. Mata mereka masih memandangi sekeliling karena suara tawa itu terdengar lagi dan berkeliling mengitari tempat itu.

"Jangan-jangan suara burung terbang?" bisik Suto.

"Dugaanku juga begitu. Suara itu ada bagaikan mengeliling dedaunan pohon."

"Hati-hati saja, kalau bukan seekor burung beo, pasti orang itu berilmu tinggi."

"Mungkinkah burung beo bisa melemparkan senjata rahasia?!" bisik Dinada tanpa memandang Pendekar Mabuk.

"Bisa saja, asal burung itu dibawa oleh seseorang. Burungnya tertawa orangnya melemparkan senjata rahasia."

"Jangan bercanda. Kita dalam bahaya!" hardik Dinada yang tampak cukup tegang menghadapi gangguan tersebut.

Tiba-tiba datang angin dari hembusan pelan makin lama semakin kencang. Angin membawa serbuk putih yang bertaburan ke mana-mana. Serbuk putih itu menerpa dedaunan, batang, ranting, dan tentunya juga menghamburi tubuh mereka. Namun sebelumnya Dinada sudah berseru lebih dulu,

"Debu Neraka...!!"

Dinada segera mencabut serulingnya dan buru-buru ditiup. Tiupan seruling berirama aneh itu menghadirkan angin yang bergerak memutar. Angin itu dalam waktu singkat sudah menjadi semacam topan kecil yang mengelilingi tubuh mereka berdua, sehingga debu-debu yang akan hinggap di tubuh mereka terlempar ke arah lain. Bau terbakar mulai menusuk hidung. Pendekar Mabuk terperangah setelah menyadari daun-daun terbakar. Ternyata semua benda yang terkena debu putih itu kini dalam keadaan menghangus karena terbakar. Dahan, ranting, bahkan batang pohon mana pun yang terkena debu putih itu menjadi hangus terbakar.

"Luar biasa! Rupanya debu putih itu mempunyai kekuatan membakar cukup tinggi. Pantas kalau dinamakan 'Debu Neraka'. Untung saja Dinada mampu mengurung diri dengan hembusan angin serulingnya hingga tak satu pun debu yang mengenai tubuhku dan tubuhnya," kata Suto membatin keheranan.

"Hiih, hih, hih, nih, hih...!" suara tawa mengikik terdengar lagi bagaikan terbang mengelilingi pepohonan yang sudah mengering hangus dalam waktu singkat itu. Debu putih itu telah lenyap. Seruling pun dihentikan. Angin topan yang mengelilingi tubuh mereka juga lenyap. Kini yang tinggal hanyalah asap putih samar-samar dari batang-batang pohon yang telah gundul akibat terbakar itu.

"Cepat kita tinggalkan tempat ini!" kata Dinada. Ia lebih dulu bergerak pergi ke arah pantai. Pendekar Mabuk mengikutinya sambil mengawasi bagian belakang, takut diserang dengan senjata rahasia seperti tadi.

Namun begitu kaki mereka menapak di pasir pantai, tiba-tiba langkah pun terhenti. Sesosok tubuh tua dan bongkok menghadang mereka dengan tongkat hitamnya yang berkepala tombak iblis: seperti garpu dua mata yang masing-masing ujungnya runcing bagai ujung anak panah. Sosok tua bongkok itu mengenakan jubah abu-abu dengan rambutnya yang putih dikonde sebagian, sisanya meriap dipermainkan angin pantai. Tubuhnya kurus, kulitnya keriput, hingga wajahnya bagaikan kain yang sudah setahun tertindih almari. Matanya kecil, tapi tajam. Mulutnya berkerut-kerut dengan bibir masuk ke dalam pertanda giginya sudah habis. Nenek tua bongkok itu tertawa mengikik.

Suto Sinting hanya membatin, "O, rupanya nenek ini yang tadi tertawa berkeliling?"

Dinada menyapa dengan nada sinis. "Rupanya kau yang mengganggu kami tadi, Nini Kutang Katung?!"

"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!"

"Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?"

"Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu menentang kehendakku, dan jangan coba-coba melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"

Pendekar Mabuk berbisik kepada Dinada. "Siapa orang ini?"

"Nini Kutang Katung."

"Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang' aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru mendengarnya sekarang."

"Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku; Raja Hantu."

Pendekar Mabuk pun angguk-anggukkan kepala sambil menggumam lirih.

"Apa maksudmu menemui kami, Nini?!" tanya Dinada.

"Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang saatnya aku meminta pusaka itu, Mila!"

"Aku tidak membawanya!"

"Omong kosong! Mata tuaku belum terlalu rabun, sehingga masih bisa melihat kau menangkap pusaka itu dan membawanya lari. Serahkan pusaka itu atau kubakar habis tubuhmu yang mulus dan menggoda tiap lelaki itu. Hih, hih, hih, hih...!"

"Sstt...!" desis Suto kepada Dinada. "Mengapa dia memanggilmu 'Mila', bukan 'Dinada'?"

"'Mila' hanya ada di dalam 'nada', bukan? Nah, jadi... eh, tunggu! Kita sedang menghadapi lawan bahaya, kenapa harus berdebat soal nama?!"

Dinada segera berkata kepada Nini Kutang Katung, "Apapun yang akan kau lakukan aku siap menghadapimu, karena aku memang tidak membawa pusaka itu, Nini!"

"Bocah gendeng! Itu sama saja kau kepingin mati sekarang juga! Apakah kau tak bayangkan kalau kekasihmu itu akan patah hati jika kau mati?!"

"Dia bukan... bukan...," Dinada tak berani lanjutkan ucapannya, ia melirik pemuda tampan di sampingnya.

Suto Sinting hanya tersenyum tipis dan sedikit angkat bahu, seakan berkata, "Terserah apa katamu!"

"Aku tidak banyak waktu lagi!" sentak Nini Kutang Katung. Serahkan pusaka Gelang Naga Dewa itu jika percintaanmu ingin berlangsung dengan lebih mesra lagi!"

"Gelang Naga Dewa?!" gumam Suto Sinting dengan nada kaget.

"Ya. Gelang Naga Dewa!" sahut Nini Kutang Katung yang walaupun tua tapi kupingnya belum budeg. "Kau pasti melihatnya, Anak muda! Kau tahu di mana Mila menyimpan pusaka itu?!"

"Ak... Aku...," Suto bingung menjawabnya, ia memandang Dinada, tapi yang dipadang berlagak tidak tahu. Tatapan mata Dinada tertuju pada Nini Kutang Katung.

Nenek itu mendekat dua tindak, bicaranya tertuju kepada Suto Sinting. "Pemuda tampan, bujuk gadismu itu agar mau serahkan pusaka Gelang Naga Dewa ketimbang dia mati sebelum kau cumbu. Hih, hih, hih, hih...!"

"Bicaralah yang sopan, Nini!" hardik Dinada yang wajahnya menjadi merah dadu karena malu.

"Mana pusakaku itu!" tegas sang nenek.

"Pusaka itu tidak ada padaku!" bentak Dinada. "Bukan aku yang membawanya."

"Lalu siapa menurutmu?!"

"Anak Petir!"

Jawaban itu bukan saja membuat Nini Kutang Katung terkejut, tapi juga membuat Pendekar Mabuk terperanjat kaget dan memandang Dinada dengan tajam. Karena nama Anak Petir membuat ingatan Suto melayang ke masalah huru-hara di Tanjung Samudera beberapa waktu yang lalu. Gelang Naga Dewa juga ada kaitannya dengan Ratu Dewi Giok, penguasa Negeri Tanjung Samudera itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Mata nenek tua itu kian mengecil ketika Dinada menjelaskan bahwa pusaka Gelang Naga Dewa ada ditangan si Anak Petir. Nini Kutang Katung bagaikan mencari kejujuran melalui sorot pandangan mata Dinada. Beberapa saat kemudian, "Aku tak percaya benda itu ada ditangan si Anak Petir! Kau hanya ingin mengadu domba antara aku dengan si Anak Petir!"

"Terserah kesimpulanmu! Tapi itulah kebenaran yang ada. Kalau kau menghendaki Gelang Naga Dewa dariku, kau hanya akan membuang-buang waktu saja, Nini!"

"Aku jadi tak sabar membujukmu! Sebaiknya terima saja pelajaran baru dariku ini, Gadis bodoh! Heeah...!"

Tongkat ditancapkan di pasir, lalu kedua tangan Nini Kutang Katung menyentak ke depan seperti ingin mencengkram. Dari tiap jarinya melesat sinar bintik- bintik warna hijau. Sepuluh larik sinar itu menyerang Dinada. Werrss...!

Wutt...! Dinada bagaikan terlempar ke atas karena kakinya menyentak ke bumi. Tubuhnya melesat tinggi, sehingga kesepuluh sinar dapat dihindarinya.

Hampir saja Suto terkena sinar itu. Untung ia pun segera melesat ke samping dan berguling ke pasir pantai sambil menggenggam bambu tuaknya. Wuttt...! Dan sepuluh sinar hijau itu menghantam gugusan batu karang jauh di belakang mereka berdua.

Zrrakkk...!

Gugusan batu karang hancur menjadi debu yang menyebar ke mana-mana. Padahal gugusan batu karang itu besarnya melebihi sebuah rumah. Begitu terkena sepuluh sinar hijau menjadi lenyap begitu saja tanpa bunyi ledakan yang menggelegar.

Wess...! Dinada mengibaskan seruling gadingnya. Dari ujung seruling keluar seberkas sinar merah yang berkelebat bagaikan pita yang menyabet kepala Nini Kutang Katung.

"Hi, hi, hi, hi...!" nenek bongkok itu hanya tertawa, tangannya berkelebat bagai menyambar lalat. Ternyata kibasan tangannya itu menghadirkan angin besar yang membuat sinar itu pecah sebelum menyentuh tubuhya.

Duarrr...!

Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.

Clapp...! Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang belum menyadari kedatangan sinar itu.

Pendekar Mabuk tidak mau biarkan gadis itu hancur seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Turangga Laga' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke depan mengeluarkan sinar ungu yang menghantam perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu. Zlapp...!

Blegarrr...!

Ledakan yang menggelegar membahana membuat Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja dicabut.

"Dinada, cari tempat berlindung!" seru Suto Sinting yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang Katung. Bumbung tuaknya siap di tangan kanan dengan tali melilit di telapak tangan kanan.

"Maling kecut! Baru sekarang ada orang bisa membuatku terjungkal! Mau cari liang kubur kau, hah?! Heeah...!"

Nini Kutang Katung menyentakkan tongkatnya. Kedua ujung tongkat yang membentuk anak panah itu terarah ke depan dan mengeluarkan sinar berkelok-kelok warna biru. Gerakan sinar itu melesat ke sana-sini bersimpang siur membingungkan. Suto Sinting tidak berani menangkis dengan bumbung tuaknya karena gerakan sinar tak menentu arah. Ia hanya bersalto cepat ke belakang beberapa kali.

Wes, wes, wess...!

Zlapp...! Tahu-tahu pemuda tampan itu sudah berada di satu gugusan karang yang cukup tinggi.

Clap, clapp...!

Blegarrr...!

Sinar biru tak tentu arah itu tiba-tiba bisa dilumpuhkan oleh datangnya sinar merah yang menyerupai bintang berekor. Akibatnya timbullah ledakan yang cukup dahsyat dan mengguncangkan alam sekitar tempat itu. Suto Sinting nyaris terpelanting jatuh dari atas gugusan batu karang itu.

"Keparat! Rupanya kau belum jera melawanku, Raja Hantu!"

Suto Sinting dan Dinada terkejut, segera memandang ke arah pepohonan yang tadi terbakar hangus itu. Ternyata di sana sudah berdiri seorang lelaki berwajah angker yang tak lain adalah Raja Hantu.

"Kau lawanku, Nini!" sentak Raja Hantu kemudian ia melesat bagaikan terbang sambil mencabut cambuknya.

"Dinada, cepat tinggalkan tempat ini selagi mereka bertarung sendiri!" kata Suto Sinting karena ia khawatir dengan keselamatan gadis cantik itu.

Zlappp...! Dinada disambar Suto dan dibawa lari dengan gunakan jurus 'Gerak Silmuan'.

"Hei, hei... jangan begini! Kau nakal lagi, Suto!" teriak Dinada yang dikempit oleh Suto dengan satu tangan. Tapi suara itu tidak dihiraukan oleh Pendekar Mabuk yang tetap berlari dengan kecepatan melebihi anak panah.

* * *

TIGA

SEBUAH gubuk tak bertuan di dalam hutan menjadi tempat peristirahatan mereka untuk sementara. Di barat langit sudah memerah. Sebentar lagi petang akan datang. Gubuk tak bertuan yang sebagian dindingnya sudah jebol akan dipakai untuk bermalam oleh Pendekar Mabuk.

Gadis cantik yang masih memegangi serulingnya itu sengaja menjauhi Pendekar Mabuk, ia masih jengkel dengan tindakan Suto menyambarnya dan membawa lari. Bukan langkah penyelamatan Suto yang menjengkelkan hatinya, tapi tangan Suto menyentuh dadanya sewaktu menyambar dan membawanya lari.

"Mengapa begitu saja marah? Aku toh tidak sengaja," kata Suto Sinting sambil menahan geli dalam hatinya.

Dinada masih cemberut. Bicaranya bernada ketus. "Tidak sengaja kok sudah dua kali begitu," gerutunya dengan bibir mungilnya meruncing.

"Maafkan aku," kata Pendekar Mabuk. "Aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu. Lupakanlah hal itu."

"Takkan mungkin bisa kulupakan seumur hidupku."

Pendekar Mabuk hanya terkekeh geli, namun tak berani keras-keras. Takut gadis itu semakin berang. "Apa maksudmu tak bisa dilupakan seumur hidup? Terkesan atau..."

"Pikir sendiri!" potongnya menyentak.

"Aku tak bisa berpikir sebelum kau jelaskan tentang si Anak Petir itu."

Kali ini Dinada mengangkat wajah dan menatap Suto Sinting. "Apakah kau kenal dengan si Anak Petir?"

"Dia hampir saja membuat namaku hilang karena dianggap sudah mati. Dia yang membuat negeri Tanjung Samudera diserang para sahabatku, karena Ratu Dewi Giok dituduh telah membunuhku!"

Dahi gadis itu kian berkerut heran. "Jadi, kau juga mengenal Ratu Dewi Giok?"

"Pemilik pusaka Gelang Naga Dewa itu, bukan?!"

Dinada tertegun memandangi murid si Gila Tuak, ia tidak menduga kalau murid si Gila Tuak yang ilmunya sinting itu ternyata mengenal Ratu Dewi Giok.

Bahkan Suto pun bertanya, "Benarkah pusaka Gelang Naga Dewa ada di tangan si Anak Petir?"

Dinada menarik napas. "Itulah persoalanku yang sebenarnya. Karena persoalan itu pula aku memanggilmu dengan seruling dan ingin meminta bantuanmu untuk merebutkan kembali Gelang Naga Dewa dari tangan si Anak Petir."

Kini ganti Suto yang terbengong. "Aku memang sering mendengar nama itu, tapi aku belum pernah bertemu dengan si Anak Petir. Bagaimana aku bisa merebut gelang itu?" pikir Suto dalam bengongnya. "Ini persoalan berat. Menurutku lebih berat dari menangani tingkah laku si Raja Hantu!"

Dinada menceritakan tentang gelang tersebut. "Pamanku, Raja Hantu, berhasil mencuri gelang tersebut dari tangan Ratu Dewi Giok. Akhirnya ia bukan saja dikejar-kejar oleh orang Tanjung Samudera, melainkan juga diburu beberapa orang yang menghendaki gelang tersebut, di antaranya Nini Kutang Katung."

Suto Sinting diam, menyimak cerita tersebut sambil duduk di atas sebuah batu, di depan Dinada yang dari tadi menyendiri di samping gubuk tersebut.

"Aku memergoki pamanku bertarung dengan Nini Kutang Katung. Paman tahu kalau aku ada di sekitar tempat pertarungan tersebut. Ketika Paman terdesak, ia melemparkan sesuatu padaku. Aku segera menangkapnya, dan ternyata Gelang Naga Dewa. Paman menyuruhku agar lari meninggalkan tempat. Aku menurut karena waktu itu dalam keadaan bingung."

"Lalu, bagaimana bisa jatuh ke tangan Anak Petir?"

"Itulah kebodohanku," kata Dinada dengan rasa sesal yang dalam. "Anak Petir sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ketika mendiang Guru masih hidup dan ia masih tinggal di Bukit Kasmaran, Anak Petir sangat sayang kepadaku, dan mengangkatku sebagai saudara kandung. Sebab ia dilahirkan oleh Ibunya sebagai anak tunggal..."

"Ibunya itu yang menjadi gurumu?"

"Benar. Nyai Guntur Ayu adalah nama guruku, ibu dari si Anak Petir itu. Tapi belakangan kudengar jalannya semakin sesat. Aku tak percaya, kupikir hanya sekadar fitnah dari orang-orang yang tidak suka padanya."

Dinada menarik napas, seperti menekan rasa kebencian yang bercampur dengan penyesalan. Bahkan ia bangkit dan melangkah ke bawah pohon. Suto Sinting hanya memperhatikan dari tempat duduknya, telinganya masih menyimak kata-kata gadis cantik itu.

"Aku dihadang oleh perempuan mesum: Untari, dia ingin merebut gelang itu."

"Untari?! Ratu Kelabang Setan itu?!" kata Suto dengan kaget.

"Benar. Dia adalah murid Nini Kutang Katung."

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut sambil mengenang nasibnya ketika terkena pukulan beracun dari Ratu Kelabang Setan," (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

"Sebelum aku sempat melumpuhkan Untari, Anak Petir datang membantuku, ia berhasil membuat Untari kabur. Lalu, ia membujukku agar menyerahkan Gelang Naga Dewa dengan alasan demi keselamatanku. Ia mendesakku agar menitipkan gelang itu sehingga orang-orang yang menghendaki gelang itu akan terkecoh jika menggeledahku, ia berjanji akan menyerahkan gelang itu kepada Paman Raja Hantu. Tapi sampai satu purnama ternyata ia justru menghilang tak tahu di mana rimbanya. Gelang Naga Dewa tak pernah dikembalikan. Paman marah padaku dan mendesakku mengembalikan gelang itu. Jika tidak nyawaku akan dipakai sebagai gantinya. Karena itulah aku ketakutan dan bingung tak mengerti ke mana mencari Anak Petir."

"Jadi rasa takutmu itu bukan karena mau dikawini oleh pamanmu, bukan?"

"Soal itu bisa kuhindari sendiri. Tapi soal gelang itu aku tak bisa mengatasinya, karena itu memang salahku."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Sekejap kemudian terdengar suaranya yang lirih namun cukup jelas didengar oleh Dinada. "Kau merasa bersalah karena kau merasa Gelang Naga Dewa milik pamanmu. Apakah kau tidak menyadari bahwa pamanmu sendiri mendapatkan gelang dari hasil mencuri, dan gelang itu bukan hak miliknya sendiri?"

"Aku menyadari hal itu," kata Dinada sambil melangkah mendekati Suto Sinting. "Aku sudah punya niat untuk pergi ke Tanjung Samudera dan mengembalikan gelang pusaka itu. Tapi ternyata rintangannya cukup banyak dan aku terbujuk oleh si Anak Petir."

"Kau ingin mengembalikan gelang itu? Mengapa kau punya rencana seperti itu?"

"Karena aku kenal baik dan bersahabat dengan salah satu pengawal Ratu Dewi Giok."

"Siapa...?"

"Bulan Sekuntum!"

"Oh, dia...?!" Suto Sinting manggut-manggut. Ia kenal betul dengan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Dalam hati Suto berkata, "Berarti gadis ini sebenarnya berhati mulia. Dia bukan orang jahat seperti pamannya. Kurasa memang sudah sepatutnya aku membantunya. Tapi bagaimana caranya bertemu dengan si Anak Petir?"

Dinada yang bernama asli Milasi itu duduk di batu samping Pendekar Mabuk. Saat itu sang pendekar sedang menenggak tuaknya. "Aku menyesal sekali. Benci pada diriku sendiri," gumamnya bernada sedih.

"Apa kedahsyatan pusaka Gelang Naga Dewa itu? Aku belum pernah mendengarnya."

Dinada pun menjawab dengan jelas, "Siapa pun yang memakai gelang itu, tubuhnya akan kebal terhadap semua senjata dan semua jenis serangan tenaga dalam."

Pendekar Mabuk tersenyum tipis, pertanda tidak terlalu heran dan kagum dengan kesaktian seperti itu. Karena ia sudah sering menjumpai kesaktian seperti itu dan mampu menumbangkannya. Namun senyum itu membuat Dinada terhenti bicaranya, ia memandang seakan menunggu tanggapan dari Suto Sinting.

Murid si Gila Tuak hanya angkat bahu dan berkata, "Teruskan. "

Barulah Dinada meneruskan penjelasannya. "Di samping itu, jika gelang tersebut dipakai dan diusap tiga kali, dapat digunakan untuk memanggil kemunculan seekor naga terbang."

"Naga terbang?!" Suto baru tertarik dan tampak berubah sikapnya, ia memandang Dinada dengan dahi berkerut.

"Naga itu akan muncul dari langit dan menemui pemakai gelang tersebut, ia akan menjadi hamba pemakai gelang tersebut, dan bisa ditunggangi serta membawa terbang pemakai Gelang Naga Dewa."

"Maksudmu, naga itu bisa terbang di langit membawa orang?"

"Ya. Itu naga siluman. Bahkan disuruh bertarung pun sanggup, dan kabarnya belum pernah ada yang bisa mengalahkan naga terbang itu."

"Seperti dongeng saja," gumam Suto Sinting dalam renungannya.

"Memang seperti dongeng. Tapi kalau kau kurang percaya kau bisa tanyakan langsung kepada Ratu Dewi Giok."

"Apakah kau tahu kelemahannya?"

Dinada menggeleng. "Itu pun bisa kau tanyakan kepada Ratu Tanjung Samudera itu."

Dalam lamunannya Suto berkata membatin, "Jika gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."

Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar Mabuk tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang melesat dari balik kerimbunan pohon bambu wulung. Dengan gerakan cepat Suto Sinting mengangkat bumbung tuaknya dan melintangkannya di depan dada Dinada. Gadis itu terkejut dan hampir berang karena menyangka Suto mau berkurang ajar lagi.

"Kau memang..."

Baru berkata demikian, Dinada kaget melihat sinar datang menghantamnya. Untung ada bambu tuaknya Suto. Sinar itu membentur bumbung tuak dan membalik ke arah semula dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Wesss...!

Duarrr...!

Entah berapa pohon bambu yang hancur karena ledakan tersebut. Sinar merah itu membuat rumpun bambu menjadi berkeping-keping. Sesosok bayangan melesat dari semak bambu sebelum terjadi ledakan menggelegar tadi.

Jlegg...!

Bayangan itu menampakkan diri di depan Suto dan Dinada yang sudah sama-sama berdiri penuh siaga. Ternyata yang ingin menghantam Dinada dengan sinar merah tadi adalah seorang perempuan berwajah cantik jalang. Mengenakan jubah jingga yang terbuka lepas bagian depannya. Dada montoknya ditutup dengan kain tipis warna biru muda, sedangkan bagian bawahnya dililit kain tipis biru muda juga secara asal-asalan, sehingga jika tertiup angin akan menyingkap dan menampakkan isinya secara samar-samar. Rambutnya meriap, mengenakan ikat kepala dari logam emas berhias batuan intan. Sebilah pedang lurus runcing tajam dua sisi itu terselip di pinggang kirinya.

"Jahanam kau, Untari!" geram Dinada memaki perempuan itu.

Suto Sinting sempat terkesima sebentar karena ia pernah kenal perempuan tersebut, yang tak lain adalah Untari alias si Ratu Kelabang Setan. Tokoh mesum ini pernah terkena jurus 'Anak Rembulan' dan dilumpuhkan oleh Sumbaruni di pesanggrahannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Mata nakal yang menggoda kejantanan setiap pria itu kini terarah kepada Pendekar Mabuk. Sejak dulu ia memang mengincar Pendekar Mabuk. Hasrat ingin mencumbu pendekar tampan itu sangat besar. Namun Suto Sinting tetap waspada sebab ia pernah terkena pukulan racun 'Siksa Neraka' yang membuatnya nyaris binasa.

"Kita jumpa lagi, Pendekar ganteng," ujarnya dalam senyum yang menggoda hati setiap lelaki.

"Tak kusangka kau bisa lolos dari keampuhan jurusnya Sumbaruni!" kata Suto Sinting bernada kalem.

Dinada menyahut sambil maju di depan Suto dan menghadap Ratu Kelabang Setan. Matanya memandang tajam penuh tantangan. "Kusangka kau sudah mampus terkena racun dari si Anak Petir!"

"Untuk apa aku punya guru sesakti Nini Kutang Katung kalau terkena jurus itu saja tak mampu mengobati?" tawanya terdengar berkesan menyombongkan diri menjagokan gurunya.

"Sekarang apa maksudmu menyerangku? Kau ingin mengambil Gelang Naga Dewa?! Ambillah sendiri di tangan si Anak Petir."

"Aku sudah tahu kalau gelang itu ada padanya." Untari melangkah ke samping bagai mencari kesempatan untuk melepas serangan. "Percakapan kalian dengan Guru di pantai kuikuti terus. Sayang sekali pamanmu ikut campur, kalau tidak kau sudah menjadi debu. Milasi!"

"Gurumu tak akan mampu menyentuhku!" Dinada juga menyombongkan diri untuk membuat hati lawannya panas dan penasaran.

Tapi perempuan berpakaian seronok itu hanya tersenyum sinis. "Lupakan tentang nasib baikmu saat di pantai tadi. Sekarang kau perlu menyambut hari naasmu, Dinada. Kalau kau tak mau menjauhi Pendekar Mabuk, aku akan mengakhiri masa hidupmul" gertak Untari.

Dinada diam. Rupanya ia sempat bingung mengambil keputusan karena agaknya tantangan Untari menyangkut masalah Suto Sinting. Pada saat dia mempertimbangkan langkahnya, Suto mendekati dari belakang dan berbisik,

"Biar kuatasi sendiri perempuan itu!"

"Tidak!" tiba-tiba Dinada berkata tegas. "Aku yang akan melawannya. Aku tak suka kalau tangannya menyentuhmu walau dengan alasan memukul!"

"Kok begitu?"

"Biar!" tegas Dinada dengan nada sewot.

"Uuh, ya sudah. Hadapilah sana," gerutu Suto sambil menjauh.

Dinada berseru kepada lawannya, "Untari, hadapi aku kalau kau ingin mendapatkan Suto Sinting itu!"

Untari tertawa meremehkan. "Pendekar Sinting?! Sembarangan saja kau bicara. Pendekar Mabuk tak boleh dipermainkan namanya seperti itu. Bisa kurobek mulutmu, Milasi!"

"Robeklah kalau kau mampu menjamahku!"

"Berani amat kau bertaruh nyawa demi dia?! Apakah dia kekasihmu?"

"Tergantung!" sentak Dinada menampakkan ketengilannya.

"Kuhabisi masa hidupmu, Milasi! Hiaaah...!"

Wusss...! Untari melompat cepat sambil mencabut pedangnya. Pedang ditebaskan ke leher Dinada dalam keadaan tubuhnya masih melayang di udara. Trrang...! Dinada menangkis pedang itu dengan serulingnya yang dialiri tenaga dalam hingga seperti baja. Gerakan Dinada sangat lincah sehinga Untari berkali-kali gagal menebaskan pedangnya ketubuh Dinada.

Namun pada satu kesempatan, Dinada kecolongan. Ketika ia menghindari sabetan pedang ke arah dadanya, tiba-tiba kaki kiri Untari menendang ke depan. Wuttt...! Meleset dari sasaran, tapi itulah langkah maju Untari sehingga tangan kirinya segera menghentak maju dan tepat kenai rusuk Dinada.

Krakk...! Terdengar seperti ada tulang yang patah. Dinada terlempar jatuh di bawah pohon, badannya tersandar di sana dalam keadaan menyeringai menahan rasa sakit. Rupanya pukulan itu bukan sekadar pukulan biasa. Tenaga dalam yang disalurkan melalui pukulan itu membuat darah meluap naik dan meleleh keluar melalui mulut Dinada. Pendekar Mabuk memandang dengan terperanjat dan cemas, ia ingin bergerak maju menghalangi serangan Untari. Tetapi langkahnya tertahan dengan suara lirih dari belakangnya.

"Biarkan mereka!"

Suto Sinting semakin kaget ketika tahu yang berdiri di belakangnya ternyata adalah Sumbaruni. Dalam usahanya mencari Anak Petir yang pernah menghebohkan dunia persilatan dengan ulahnya itu, Sumbaruni tak sengaja melintasi tempat itu dan mendengar suara pertarungan, ia penasaran dan segera datang ke tempat itu.

"Dinada dalam bahaya!"

"Biarkan. Itu urusan dia!" ujar Sumbaruni dengan ketus dan bernada cemburu, sebab ia menyimpan cinta kepada Suto hanya saja tidak pernah dilayani oleh si pendekar tampan itu.

Untari melepaskan jurus pedang mautnya yang hampir saja menewaskan Dinada. Untung gadis berseruling itu mampu menangkis setiap tebasan pedang, sehingga ia selamat dari ancaman maut jurus pedang yang sulit ditembus itu. Bahkan Dinada berhasil melepaskan pukulan tenaga dalamnya ke arah perut Untari.

Wuttt...! Buhgg...!

Pukulan tanpa sinar itu membuat Untari terpental mundur dan terhuyung-huyung. Kesempatan itu digunakan oleh Dinada untuk meniup serulingnya. Suara seruling ditiup dengan alunan yang melengking tinggi, menghadirkan angin kencang ke arah Ratu Kelabang Setan. Angin itu tak bisa ditembus dengan gerakan sehingga Untari bagai terpaku di tempat. Semakin lama kakinya semakin melesak masuk ke dalam tanah. Rupanya kekuatan tenaga dalam dari tiupan seruling itu membuat tubuh Untari bagaikan dipantek dan ingin ditenggelamkan ke dalam tanah. Ketika kakinya telah mulai masuk ke dalam tanah sebatas betis, Ratu Kelabang Setan memikik keras-keras.

"Hiaaaatt...!"

Pedangnya digunakan untuk bertolak dalam satu sentakan ke tanah, lalu tubuhnya pun melesat ke atas bagai dijebol dari dalam tanah, ia bersalto di udara satu kali, kemudian tangannya melepaskan pukulan jarak jauh yang dinamakan pukulan 'Racun Siksa Kubur' itu.

Clapp...! Sinar biru pun melesat menghantam Dinada yang sedang meniup seruling.

Jrasss...! Sinar tersebut tepat mengenai pinggang Dinada. Di sisi lain, Suto dan Sumbaruni terperanjat melihat hal itu, karena mereka tahu Dinada terkena pukulan beracun yang sangat berbahaya.

"Aahg...!" Tubuh Dinada terkulai lemas. Suto Sinting segera bergerak menghampirinya dengan menggunakan 'Gerak Siluman'-nya.

Zlapp...!

Pada waktu itu Ratu Kelabang Setan ingin melepaskan lagi pukulan yang lebih dahsyat ke arah Dinada. Kemarahannya tak dapat dibendung lagi, sehingga nafsu menghancurkan Dinada sangat besar.

Melihat keadaan seperti itu, Sumbaruni segera bertindak karena takut pukulan berikutnya mengenai tubuh Suto Sinting. Dengan melepaskan pukulan bersinar merah, Sumbaruni sentakkan kaki dan melayang maju ke arah Dinada tapi sasaran pukulannya ke arah Untari.

Clapp...!

Tepat pada waktu itu sinar ungu keluar dari telapak tangan Untari, sehingga kedua sinar itu pun beradu dalam keadaan sangat dekat dengan Untari.

Duarrr...!

"Aaahhg...!" Ratu Kelabang Setan terpekik dengan tubuh terlempar ke belakang dan membentur pohon. Brukk...! Untari jatuh terkulai dengan dada dan tangan menjadi hangus. Namun ia masih berusaha bangkit dan menatap buas kepada Sumbaruni.

"Bangsat! Lagi-lagi kau ikut campur urusanku!"

"Kau memang patut dimusnahkan, Untari! Kaulah yang hampir saja membuat kekasihku mati karena racun 'Siksa Kubur'-mu itu! Kini terimalah pembalasanku!"

"Iblis kau! Heeeaat...!"

Untari melayang bagaikan terbang, pedangnya keluarkan sinar merah membara. Sumbaruni segera mencabut pedangnya dan digenggam dengan dua tangan. Pedang itu pun menyala ungu, seperti pakaian dan jubahnya yang serba ungu.

Trang...! Blegarrr...!

Pedang diadu, ledakan dahsyat terjadi membuat tubuh Untari terpental tinggi. Ketika tubuh itu melayang turun, Sumbaruni menyambutnya dengan tubuh melompat naik dan menyabetkan pedangnya. Wesss...!

Crass...!

"Aaaaahg...!" Ratu Kelabang Setan memekik, lengannya terluka parah. Koyak oleh sabetan pedang Sumbaruni. Ketika ia jatuh dan mengerang kesakitan. Sumbaruni menghampirinya dengan satu serangan pedang sebagai tindakan untuk menghabisi lawannya.

Wuuttt...! Jrrub...!

Tusukan pedang ke bawah, ternyata masih mampu dihindari oleh Untari dengan menggelinding ke sisi lain. Akibatnya pedang Sumbaruni menancap separo bagian ke tanah bekas tempat Untari terkapar tadi.

"Keparat! Masih bisa lolos kau?!" geram Sumbaruni sambil mencabut pedangnya.

Namun ketika ia ingin menyerang Untari lagi, ternyata Ratu Kelabang Setan sudah melarikan diri dalam keadaan terluka parah.

"Hei, tunggu...! Selesaikan sampai tuntas urusan ini!" seru Sumbaruni yang segera berkelebat mengejar Untari.

Wesss...!

Sumbaruni tak pedulikan lagi keselamatan Dinada. Nafsunya lebih besar membunuh Untari yang dianggap sebagai perempuan berbahaya bagi asmara Suto Sinting. Sementara di pihak lain, Suto Sinting berhasil memaksa Dinada untuk meminum tuaknya. Dengan meminum tuak, maka racun 'Siksa Kubur' yang obat penawarnya hanya ada pada Untari itu bisa lenyap dalam sekejap. Bahkan luka patah pada tulang rusuk Dinada tidak terasa sakit lagi. Kesaktian tuak Pendekar Mabuk membuat Dinada diam terbengong dan terheran-heran.

Dinada sadar dari keheranannya setelah Suto Sinting menanyakan, "Masih sakitkah tubuhmu?!"

Gadis berseruling gading itu segera bangkit berdiri, ia merasakan betul perubahan badannya, ternyata justru menjadi lebih segar dari sebelumnya. "Luar biasa tuakmu itu! Pantas kudengar kau disebut oleh sebagian orang dengan julukan Tabib Darah Tuak."

"Syukurlah kalau sudah sehat! Dulu aku hampir mati terkena racun 'Siksa Kubur' itu!"

Dinada menarik napas. Matanya memandang sekeliling, ia baru sadar bahwa Untari sudah tidak ada di tempat, demikian pula Sumbaruni. "Perempuan itu tadi kekasihmu?"

Pendekar Mabuk menggeleng sambil tersenyum. "Dia yang beranggapan begitu padaku."

"Kau pasti melayaninya sebab dia cantik."

"Itu dugaanmu!"

"Ah, kau bisa saja bilang...," ucapannya itu terhenti. Matanya tertuju pada satu arah.

"Ada apa...?!" tanya Suto heran.

"Aku melihat sekelebat bayangan si Anak Petir."

"Hah...?! Di mana dia? Ke mana perginya?!"

"Ikuti aku...!" kata Dinada sambil berkelebat mengejar bayangan yang diyakini sebagai gerakan si Anak Petir itu.

Pendekar Mabuk pun berkelebat mengikuti Dinada karena ia berhasrat untuk bisabertemu dengan si Anak Petir dan bikin perhitungan sendiri. "Ke mana larinya?!"

"Ke timur!"

Zlapp...! Suto mendahului Dinada.

* * *

EMPAT

PENGEJARAN malam membuat suasana menjadi kacau. Kecepatan yang dipakai Pendekar Mabuk pun mengakibatkan Dinada tertinggal. Semakin jauh semakin gelap, sampai pada akhirnya mereka terpisah.

"Dasar bodoh. Mengapa dia tidak berteriak kalau salah arah? Apa dia sengaja memisahkan diri?" Pendekar Mabuk menggerutu sambil berusaha mencari Dinada.

Ketika malam semakin kelam, embun mulai datang. Suto Sinting berhasil menemukan sebuah desa. Lebih beruntung lagi ia dapat melihat sebuah kedai yang masih buka.

"Kebetulan, tuakku hampir habis. Kuharap kedai itu menjual tuak," pikir Suto sambil melangkah mendekati kedai tersebut.

"Maaf, Den. Kedai sudah mau tutup. Sudah terlalu malam," kata pemilik kedai yang berusia sekitar enam puluh tahun. Lelaki kurus berpakain putih lusuh itu berusaha menolak tamu dengan sopan dan sangat hati- hati.

"Aku hanya ingin menambah tuakku, Pak Tua."

"O, kalau hanya mau tambah tuak saya bisa melayani. Mari, saya isi bumbung itu. Tapi saya hanya punya tuak Karangkajen, tidak punya tuak Majalegi."

"Tak apa. Tuak mana saja aku bisa meminumnya."

Pemilik kedai segera mengisi bumbung bambu dengan tuak persediaannya. Suto Sinting memperhatikan dari balik meja makan, ia sempat melirik beberapa makanan yang masih belum terjual habis. Di antaranya pisang goreng, ketan kelapa, jadah goreng, talas rebus, dan beberapa lainnya.

"Sebenarnya perutku lapar, Pak. Kalau Bapak tak keberatan aku ingin makan. Apakah masih ada nasi jagung dan sayurnya?"

"Hmmm..." pemilik kedai itu menimbang-nimbang sebentar, ia kasihan dan tak tega menolak melayani tamu yang satu itu. Akhirnya ia hanya bicara. "Nasi jagungnya sudah dingin, Den. Sayurnya juga dingin."

"Tak apa, Pak Tua. Hidangkan satu piring untukku. Aku bisa memakannya dengan tempe bacam ini."

Di samping tuak dalam bumbung sudah penuh, Suto juga memesan tuak dalam poci sebagai minumannya selesai makan nanti. Pak Tua pemilik kedai menemaninya makan, karena ia terkesan dengan keramahan dan kesopanan Suto dalam bersikap.

"Aden dari mana mau ke mana? Kok malam-malam begini baru mengisi perut?"

"Saya sedang mencari seseorang. Teman saya hilang, terpisah di perjalanan. Apakah Pak Tua melihat gadis berjubah kuning dengan pakaian dalam merah? Ia membawa seruling gading."

"Kebetulan sejak siang saya tidak melihat gadis berciri seperti itu, Den," ujar pemilik kedai. "Di mana Aden terpisah dengan gadis itu?"

"Di hutan sebelah barat sana."

"Wah, jangan-jangan gadis itu menjadi santapan si Loreng."

"Harimau maksudmu, Pak Tua?"

"Bukan. Tapi... hm... perampok ganas yang kerjanya merampok kesucian para gadis. Dia tinggal di hutan sebelah barat sana, Den. Ia dikenal dengan nama: Dewa Loreng."

Pak Tua itu juga mengungkapkan rasa kagumnya atas keberanian Suto Sinting melintasi hutan barat pada malam hari. Menurut Pak Tua, jika matahari telah terbenam, tak seorang pun yang berani melintasi hutan tersebut walaupun hanya melewati bagian tepi hutan saja. Percakapan itu terhenti karena tiba-tiba seorang perempuan datang dan langsung bicara kepada Pak Tua,

"Masih punya sepoci arak?! Aku minta dua poci, Pak Tua."

"Hmm... ehh... tapi kedai ini sudah mau tutup, Den Ayu. Saya sudah mau istirahat."

"Aku hanya mau minum sebentar! Jangan khawatir, berapa pun harga arak itu akan kubayar!"

"Ehmm... bukan soal harga, tapi... tapi...." Karena mata perempuan itu memandang tajam kepada Pak Tua, akhirnya Pak Tua ketakutan sendiri. "Tapi baiklah... saya akan ambilkan pesanan Den Ayu."

Suto Sinting berlagak acuh tak acuh kepada perempuan yang menyandang pedang di punggungnya. Rambutnya digelung sampai ke atas, tepian kanan-kiri dibiarkan terjulur sebagian membentuk spiral. Diam-diam Suto Sinting mengawasi perempuan yang duduknya sejajar dengannya. Tapi jaraknya agak jauh.

"Cantik juga," kata Suto dalam hati. Ia sudah selesai makan dan tinggal menghabiskan tuak dalam poci.

Perempuan itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Kecantikannya sudah matang, tidak seperti gadis belia secantik Dinada. Perempuan itu mengenakan pakaian hitam dengan jubah tanpa lengan warna putih sutera. Pinjung penutup dadanya yang berwarna hitam itu dihiasi dengan benang perak membentuk bordiran tersendiri. Pinjungnya ketat sekali, sehingga kelihatan bentuk dadanya yang montok dan kencang itu. Ia mengenakan pakaian lengkap, dari kalung, gelang, cincin, sampai gelang kaki. Hal itu membuat Suto Sinting dapat menduga bahwa perempuan itu keturunan bangsawan, setidaknya dari keluarga orang berada. Tak heran jika ia tadi menyombongkan soal uang di depan Pak Tua.

Matanya yang sedikit lebar tapi indah itu sesekali melirik Pendekar Mabuk. Bukan berarti Suto tidak tahu, tapi berlagak tidak berminat memperhatikan perempuan tersebut. Dengan tenang dan kalem Suto Sinting menikmati tuak dari poci. Tiba-tiba tanpa disentuh sedikit pun poci keramik itu pecah dengan sendirinya.

Trak...! Prakk...!

Suto Sinting kaget. Pak Tua pun terkejut dan segera mengambil kain untuk membersihkan meja.

"Maaf, Den. Pocinya memang sudah lama sekali, jadi mungkin sudah rapuh."

"Tak apa. Ada yang iseng saja, Pak. Hmmm... o, ya... aku minta disediakan sepoci lagi, Pak Tua."

"Baik, Den. Baik...!" pemilik kedai jadi ketakutan sendiri.

Padahal menurut Suto pecahnya poci bukan karena poci sudah rapuh. Poci itu pecah karena diusik dengan tenaga dalam perempuan berjubah putih itu. Suto Sinting merasakan hawa kuat melintas di depannya dan poci pun pecah. Namun Suto tetap berlagak tidak memperhatikan perempuan itu.

"Pak Tua...," seru perempuan itu. "Apakah kau punya satu kamar kosong untuk kupakai bermalam? Akan kusewa kamarmu itu, Pak Tua. Berapa kau minta dibayar untuk satumalam?" Pak Tua pemilik kedai sedikit gugup saat melayani perempuan yang bernada angkuh itu.

"Hmmm... ehhh... saya memang punya satu kamar kosong untuk anak saya kalau sedang pulang kemari. Hmm... tapi... tapi tempatnya kotor. Tidak pantas dipakai bermalam oleh Den Ayu."

"Bukankah kau bisa merapikan dan membersihkannya? Akan kuberi upah sendiri untuk pekerjaanmu membersihkan kamar itu, Pak Tua!"

"Hmmm... iya. Kalau begitu, baiklah. Saya persiapkan dulu, Den Ayu."

Pak Tua pergi membersihkan kamar tersebut. Di ruang makan itu hanya ada Suto dan perempuan tersebut. Lagi-lagi Suto merasakan hembusan angin melintas di depannya. Suto hanya membatin,

"Hmmm... dia mengirimkan tenaga dalamnya lagi!" Jari tangan Suto segera menyentil pelan. Hembusan hawa bertenaga dalam melesat menghantam hembusan angin tenaga dalam kiriman perempuan itu.

Drakkk...!

Meja terguncang bagaikan ada yang menggebraknya. Padahal meja itu berbentuk papan datar yang memanjang dari depan Suto sampai depan perempuan itu. Akibat getaran meja, poci di depan perempuan itu terguling dan isinya tumpah berantakan, demikian pula arak yang ada di depan si perempuan. Rupanya perempuan itu juga tahu kalau pemuda tampan di sampingnya menggunakan tenaga dalam, ia langsung menegur dengan sikap angkuhnya.

"Mau pamer ilmu? Boleh! Kita adu di luar kedai!"

Suto Sinting sunggingkan senyum tipis. "Aku tidak bisa apa-apa. Untuk apa adu ilmu di luar kedai? Aku akan kalah."

Senyum perempuan itu semakin tampak nakalnya. "Maumu adu ilmu di mana?" ia mendekat.

"Tak perlu adu ilmu. Aku bukan orang berilmu seperti kau yang bisa memecahkan poci dari jarak jauh."

Senyumnya kian melebar, ia duduk di bangku persis sebelah Suto. "Tak perlu merendahkan diri. Aku tahu kau punya segudang ilmu. Semua orang tahu kalau murid si Gila Tuak itu ilmunya tinggi."

Suto Sinting terperanjat, namun hanya dalam hati. "Sial. Rupanya dia tahu siapa diriku."

"Tapi tidak selamanya kebanggaanmu sebagai murid unggulan si Gila Tuak dapat kau sandang. Barangkali aku akan menumbangkannya dalam waktu dekat ini," kata si perempuan angkuh.

Ucapan itu hanya ditanggapi dengan senyum oleh Pendekar Mabuk, murid sinting si Gila Tuak itu. Seteguk tuak dihirupnya dari cangkir kecil. "Siapa kau, Nona? Mengapa nada bicaramu begitu padaku? Apakah aku memusuhimu?"

Perempuan itu menarik napas. Matanya memandang Suto sebentar, kemudian dialihkan ke arah araknya yang tumpah di meja. "Aku mungkin terlalu sombong bagimu. Maafkan aku."

"Kau kemalaman di perjalanan?"

"Ya, dan aku butuh tempat untuk beristirahat."

"Kita punya nasib yang sama. Hanya saja kau lebih beruntung, karena kau lebih dulu memesan kamar kepada Pak Tua itu, sedangkan aku belum tahu mau tidur di mana. Mungkin di atas pohon."

Perempuan cantik berlagak angkuh itu kali ini tertawa berseri. "Kau seperti kelelawar saja. Tidurnya di pohon."

"Kelelawar tidak pernah tidur malam. Jadi aku bukan kelelawar."

"Macan kumbang, maksudmu?" lalu perempuan itu semakin melebarkan senyum memperpanjang tawanya yang bernada sedikit serak.

"Siapa namamu?" tanya Suto dengan suara kalem diiringi senyum yang mendebarkan hati lawan jenisnya.

"Namaku? Hmmm... panggil saja aku: Aswarani."

"Nama yang bagus sekali."

"Murid si Gila Tuak kudengar memang suka memuji wanita."

"Itu hanya kabar bohong. Aku jarang memuji wanita, kecuali memang wanita itu layak dipuji."

"Berapa orang wanita yang menurutmu layak dipuji?"

"Semuanya," jawab Suto sambil tertawa pelan, menandakan jawabannya itu sebagai kelakar belaka.

"Apa benar kau tak punya tempat untuk bermalam?"

"Benar," jawab Suto Sinting, ia sudah tahu apa yang akan dikatakan perempuan bermata nakal itu.

"Kau bisa tidur di kamar yang kusewa."

"Kau sendiri tidur di mana kalau aku tidur di kamar itu?"

"Apa salahnya kalau aku juga tidur di kamar itu?" katanya dengan senyuman memperkuat godaan. Suto Sinting menanggapi dengan kalem, walau hatinya menggerutu karena merasa tak berani berbuat macam- macam kepada perempuan lain.

Jika Suto melakukan perserongan dengan perempuan mana pun, maka calon istrinya yang bergelar Gusti Mahkota Sejati atau Dyah Sariningrum akan mengetahui dari tempatnya yang jauh; Pulau Serindu. Ratu dari negeri Puri Gerbang Surgawi itu dapat memantau tingkah laku Suto Sinting di mana pun berada. Noda merah di dahi pemberian Ratu Kartika Wangi, calon mertuanya itu, juga dapat dipakai sebagai tanda apakah Suto pernah tidur dengan perempuan lain atau tidak sama sekali.

Karena jika Suto pernah tidur dengan perempuan lain, maka noda merah di kening yang hanya bisa dilihat oleh orang berilmu tinggi itu akan berubah warna menjadi merah jambu. Sebab itulah ke mana saja Suto pergi, ia selalu menjaga gairahnya agar tidak terpancing jatuh dalam pelukan perempuan semontok apa pun. Ini merupakan ujian berat bagi Suto. Namun demikian kenyataannya Suto mampu menjaga prilakunya hingga tidak pernah dikecam oleh calon istrinya itu.

"Aku akan tidur di bangku ini saja," kata Suto. "Kurasa Pak Tua pemilik kedai tidak keberatan asal kuberi uang sewa bangku."

"Pak Tua memang tidak keberatan, tapi aku sangat keberatan," kata Aswarani.

"Jangan memancingku untuk berbuat yang bukan-bukan, nanti kau akan menyesal. Sebab aku lelaki yang tidak pernah mau tanggung jawab terhadap perempuan," Suto menakut-nakuti.

"Aku tak akan pernah menyesal terhadap pria yang tidak bertanggung jawab. Sebab upah perbuatannya itu bisa kuambil sendiri berupa nyawanya." Aswarani juga tak mau kalah gertak dengan menunjukkan keberaniannya untuk membunuh pria yang mencoba bermain-main dengannya.

"Sudahlah, tak perlu kita lanjutkan percakapan ini. Nanti membuat hati kita saling panas. Aku ingin beristirahat, karena esok pagi harus melanjutkan perjalanan."

"Ke mana arah perjalananmu?"

"Ke... ke Tanjung Samudera," jawab Suto Sinting. Padahal ia sendiri tak tahu harus ke mana. Jawaban itu hanya sebagai kesimpulan hatinya dari sejak tadi sore. Suto menyimpulkan bahwa si Anak Petir akan menyerang Tanjung Samudera karena sudah mempunyai pusaka Gelang Naga Dewa.

"Untuk apa kau pergi ke sana, Suto?" tanya Aswarani bersikap seperti sudah lama mengenal Pendekar Mabuk.

"Aku ingin bertemu dengan ratu negeri itu."

"Dewi Giok, maksudmu?"

"Oh, kau mengenal Dewi Giok?"

Aswarani mengangguk dengan kalem. "Aku juga mau bertemu dengannya."

"Aku malah belum pernah bertemu. Tapi aku pernah menyelamatkan negerinya."

"Aneh. Sudah pernah menyelamatkan negerinya tapi belum pernah bertemu dengan ratunya?! Apa tidak salah ucap kau, Suto?"

Pendekar Mabuk nyengir. "Seseorang melarangku bertemu dengan Ratu Dewi Giok. Akibatnya, sebelum aku bertemu, aku sudah harus pergi untuk keperluan lain."

Aswarani manggut-manggut dan menggumam lirih. Entah apa yang ada dalam terawang pikirannya, yang jelas ia diam agak lama sampai Pak Tua datang memberitahukan bahwa kamar telah dibersihkan. Suto pun bicara dengan Pak Tua meminta izin tidur di bangku panjang itu. Pak Tua malah mempersilakan Suto menggunakan kamarnya sendiri, sedangkan ia akan tidur di bangku panjang. Tapi Pendekar Mabuk menolak usul pemilik kedai yang sangat hormat padanya itu.

"Suto, bagaimana kalau kita esok berangkat bersama? Kau bersedia?"

"Hmmmm... baiklah! Asal kau jangan menggodaku dengan lirikan mata dan senyummu yang bikin hatiku deg-degan dari tadi."

Aswarani tertawa kecil. Sebelum mereka pergi tidur, tiba-tiba malam yang sunyi dirobek oleh suara teriakan seorang perempuan. Jerit perempuan itu terdengar cukup dekat dengan kedai. Karenanya, Pendekar Mabuk dan Aswarani tersentak kaget, demikian pula Pak Tua. Namun wajah pemilik kedai tampak pucat seketika, ia gemetar dan sangat tegang.

"Jeritan apa itu, Pak Tua?"

"Pasti... pasti Dewa Loreng mencari korban lagi. Mencuri anak perempuan dan... dan...," belum selesai ia bicara, Pendekar Mabuk sudah melesat keluar lebih dulu.

Aswarani juga melesat keluar menyusul Pendekar Mabuk. Mereka segera tiba di sebuah rumah yang gaduh. Dari rumah itu muncul seorang lelaki berpakaian loreng: putih hitam, mirip seekor kuda zebra. Badannya besar dan tampak sedang memanggul seorang gadis. Gadis yang dipanggulnya dalam keadaan diam terkulai pertanda habis kena totok. Sedangkan yang menjerit-jerit di dalam rumah adalah ibu gadis itu dan beberapa keluarga lainnya.

Melihat kemunculan lelaki berpakaian loreng yang tak lain adalah Dewa Loreng, Suto Sinting bergegas untuk menghadangnya. Tetapi pundaknya tiba-tiba dicekal oleh Aswarani. Langkah pun tertahan, dan Suto mendengar perempuan itu berkata dalam geram yang lirih.

"Serahkan padaku!"

Suto Sinting terpaksa memberi jalan untuk Aswarani. Perempuan itu segera maju dan melompat tepat di depan langkah Dewa Loreng. Hal itu membuat langkah Dewa Loreng pun terhenti. Sisa cahaya rembulan yang tinggal sebagian itu masih menampakkan bayangan si Dewa Loreng yang dengan gusar segera melompat menerjang Aswarani dengan tetap memanggul gadis curiannya.

Wuuttt...! Aswarani berkelit ke samping, lalu tubuhnya memutar dan kakinya menendang ke belakang, Wuttt...!

Behgg...! Pinggang Dewa Loreng terkena tendangan telak, hingga tubuh besar itu terhuyung-huyung mundur.

"Bangsat!" geramnya dengan nada gusar, ia segera meletakkan gadis itu di tanah, lalu berdiri dengan penuh nafsu untuk membunuh. Goloknya segera dicabut, matanya mendelik lebar. "Perempuan peri! Mau cari mampus kau, hah?!"

Aswarani diam tanpa bicara, tapi sudah bersiap-siap melepaskan pukulannya. Kedua tangan siap di atas dada, kaki kirinya ke belakang memanjangkan jarak, badannya merendah dan matanya memandang tajam.

Orang-orang berkumpul di kejauhan karena mendengar jeritan ibu sang gadis yang kini tergeletak di tanah itu. Mereka saling berkasak-kusuk mendukung tindakan Aswarani. Sementara itu, Suto Sinting hanya diam saja, tapi matanya bekerja mengawasi seluruh gerak Dewa Loreng.

"Rupanya ada yang ingin jadi pendekar di desa ini!" sindir Dewa Loreng. "Sayang nasibnya tak sampai matahari terbit sudah menjadi mayat! Terimalah jurus 'Golok Emas' ini, Setan betina! Hiaaat...!"

Wut, wut...!

Clapp...!

Aswarani bergerak dua kali, tahu-tahu ujung jarinya keluarkan sinar lurus warna merah. Sinar itu menghantam dada Dewa Loreng. Jrabb...!

Duarrr...!

Ledakan itu sempat membuat beberapa orang yang kaget menjerit panjang. Aswarani berdiri dengan kedua kaki merapat, tapi satu tangannya masih terulur ke depan, sedang tangan yang satunya merapat didada.

Dewa Loreng tidak terdengar suaranya. Nyala api menyambar seluruh pakaiannya. Dadanya berlubang bekas hantaman sinar merah tadi. Rupanya Dewa Loreng tak diberi kesempatan menunjukkan ilmunya di depan Aswarani. Ia bagaikan disambar petir yang membuatnya tersentak kaku, kemudian rubuh dalam keadaan tubuh terbakar dan sudah tak bernyawa.

Suasana malam menjadi terang karena kobaran api yang membakar tubuh Dewa Loreng. Orang-orang sempat menyerukan sorak kemenangan. Rupanya mereka senang melihat kematian Dewa Loreng yang selalu meresahkan hati mereka, terutama yang mempunyai anak perawan.

Suto Sinting geleng-geleng kepala. Hatinya membatin, "Cepat sekali gerakannya, ganas sekali ilmunya. Rupanya ia tidak mau membuang-buang waktu. Bahaya juga perempuan itu. Siapa yang melawannya tidak diberi kesempatan untuk bertobat. Tapi... biarlah, memang ada baiknya Dewa Loreng menemui ajalnya sekarang juga daripada menimbulkan korban lebih banyak lagi."

Suto Sinting sebenarnya ingin menghadapi Dewa Loreng dengan cara tidak seganas Aswarani. Setidaknya ia ingin menanyakan tentang Dinada yang menurut dugaan pemilik kedai tersesat di hutan dan tertangkap Dewa Loreng. Tapi melihat perbuatan Dewa Loreng malam itu yang mencuri anak perawan, berarti Dinada tidak jatuh ke tangan Dewa Loreng. Sebab seandainya Dinada tertangkap Dewa Loreng, tentunya orang berbadan besar itu tidak akan mencari mangsa pada malam itu. Setidaknya ia akan sibuk dengan Dinada.

Suto Sinting melangkah masuk ke kedai lebih dulu. Beberapa saat kemudian Aswarani menyusul masuk didampingi oleh pemilik kedai yang berceloteh memuji kehebatan Aswarani.

"Terlalu ganas kau menghadapi Dewa Loreng," kata Suto Sinting setelah Aswarani berdiri di depannya.

"Tak ada keramahan buat lelaki yang doyan memperkosa. Tak ada keramahan juga buat perempuan yang suka merebut kekasih orang. Aku tak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk memamerkan jurusnya. Muak sekali aku melihat orang- orang seperti itu!"

Suto Sinting tersenyum sambil angkat bahu. Aswarani menambahkan kata, "Demikian juga apabila kau bermaksud mempermainkan hatiku, nasibmu akan sama dengan Dewa Loreng."

Suto Sinting berkerut dahi. "Apa maksudmu bilang begitu?"

Perempuan itu memandang Pendekar Mabuk, kemudian menarik napas panjang. "Tidak apa-apa," ujarnya dengan suara lunak. "Aku hanya memperingatkan kau agar jangan mempermainkan hatiku."

"Apakah kau pikir aku akan mempermainkan hatimu?"

"Kalau aku terpikat olehmu dan kau menolakku, sama saja kau mempermainkan hatiku."

Pendekar Mabuk tertawa pendek. "Apakah hatimu terpikat olehku?"

"Belum. Tapi mungkin nanti akan begitu, atau tidak sama sekali! Tergantung bagaimana sikapmu padaku. Kalau kau memusuhiku, maka kau pun akan seperti Dewa Loreng. Karena itu, kuingatkan sebelumnya padamu agar jangan coba-coba menantangku!"

Hanya tawa kecil yang bisa keluar dari mulut Pendekar Mabuk. Kepalanya sempat geleng-geleng karena heran terhadap sikap perempuan itu. "Apakah aku harus menuruti hatimu kalau hatimu terpikat olehku?"

"Semua orang harus tunduk padaku!"

"Wah, kalau sudah begini lain lagi persoalannya. Bisa-bisa kau berhadapan denganku, Aswarani!"

"Boleh. Kapan kau ingin berhadapan denganku?!" katanya penuh nada menantang.

Suto Sinting buru-buru melunakkan sikap dengan senyum. "Menantang apa dulu? Pertarungan yang bagaimana dulu? Yang hangat atau yang keras?"

Aswarani segera sadar sedang digoda oleh Pendekar Mabuk. Akhirnya ia mengendurkan ketegangannya. Tapi dalam hati Pendekar Mabuk sempat membatin,

"Sepertinya dia tak mau dikalahkan oleh siapa pun. Kalau dia tetap bersikap seperti itu, bisa-bisa dia akan menguasaiku. Jika benar dia bermaksud begitu, maka tak ada jalan lain kecuali melakukan pertarungan berdarah antara dia dan aku! Tapi... apakah aku tega bertarung dengan perempuan secantik dia?"

Aswarani masuk ke kamar, sementara Suto diam di bangku tempatnya makan tadi. Ia ditemani oleh pemilik kedai yang menceritakan tentang kekejaman Dewa Loreng. Beberapa saat kemudian Aswarani keluar dari kamar, ia berseru memanggil Suto dari depan kamar yang bisa terlihat melalui pintu dapur. Suto Sinting membiarkan panggilan itu karena masih belum selesai mendengarkan cerita pemilik kedai. Aswarani jengkel dan menghampirinya sambil memasang wajah galak.

"Aku memanggilmu, apakah kau tuli tak mendengar panggilanku? Atau memang tak mau datang padaku?"

Suto Sinting memandang kalem, ucapannya juga terdengar kalem, namun cukup mengena di hati Aswarani. "Kau pikir aku ini apamu sehingga harus taat dengan panggilanmu? Mengapa kau jadi bersikap begitu padaku?"

Aswarani diam sebentar dan menarik napas. Ketegangannya dikendurkan. Kemudian ia bicara dengan nada pelan. "Maaf, aku belum puas dengan pertarungan tadi! Mestinya Dewa Loreng tidak sendirian. Jadi aku bisa membantai kawanannya hingga hatiku puas! Kalau sudah telanjur marah begini, rasa-rasanya belum puas jika belum membunuh tiga-empat orang lagi."

Suto berkerut dahi dan membatin, "Wah, gawat! Jangan-jangan perempuan ini punya penyakit kejiwaan yang gemar membunuh orang?! Salah-salah aku pun akan dibunuhnya kalau terlalu dekat dengannya. Sebaiknya esok aku pergi sendiri tak perlu bersamanya. Aku yakin, orang seperti dia banyak musuhnya!"

* * *

LIMA

TERNYATA rencana Suto tak bisa terlaksana. Aswarani bangun lebih dahulu pada pagi harinya. Maka ketika Suto pamit kepada Pak Tua pemilik kedai, Aswarani pun ikut pamit juga. Mau tak mau mereka berdua keluar dari kedai bersama. Suto Sinting tak berani melarang Aswarani agar jangan bersamanya, ia takut menyinggung perasaan perempuan itu dan membuat si perempuan menjadi ganas, sehingga bisa menimbulkan korban tak bersalah. Bahkan untuk berbohong dengan mengatakan tak jadi pergi ke Tanjung Samudera pun Suto tak berani, karena ia tahu perasaan perempuan itu cukup peka dan mampu melihat rasa tidak suka Suto kepadanya. Akibatnya Pendekar Mabuk pasrah kepada keadaan dan melangkah bersama Aswarani.

"Mudah-mudahan Dinada juga menuju ke Tanjung Samudera, jadi aku bisa bertemu dengannya di sana," pikir Suto masih ingat kepada gadis peniup seruling itu.

"Dari mana asalmu, Aswarani?!" tanya Suto dalam perjalanan.

"Yang kau maksud kelahiranku atau perguruanku?"

"Perguruanmu!" jawab Suto tegas.

"Aku dari Perguruan Bukit Kasmaran."

Suto Sinting terkejut. Langkahnya terhenti sambil menatap Aswarani. "Kenapa kau terkejut?"

"Kalau begitu kau kenal dengan Dinada?"

"O, ya! Aku sangat kenal."

"Juga kepada ketua perguruan yang sekarang?"

"Siapa?!" Aswarani berkerut dahi.

"Hmmm... kalau tak salah ingatanku Dinada pernah bilang bahwa Ketua Perguruan Bukit Kasmaran adalah Pancasurti yang berjuluk si Merak Cabul."

Aswarani tersenyum, Suto Sinting merasakan senyum itu punya arti tersendiri. "Ya. Aku kenal dengannya. Sebaiknya kau tak perlu bicarakan soal dia."

"Kenapa kau tak suka membicarakan tentang Merak Cabul?"

Pertanyaan itu belum terjawab, tiba-tiba mereka dihadang oleh kemunculan dua orang berambut panjang dengan wajah sama-sama angker. Dua orang berbadan kurus dan bermata kecil menandakan kekejiannya itu, masing-masing menggenggam senjata tombak berujung pedang besar dengan pita merah rumbai-rumbai sebagai hiasan di pangkal pedang. Sikap mereka jelas tak bersahabat, sehingga Suto Sinting langsung menaruh curiga adanya ketidakberesan pada dua penghadang tersebut.

"Siapa kalian ini?!" hardik Aswarani lebih dulu.

"Kami tidak punya urusan denganmu, Perempuan jalang!" kata yang berbaju hitam.

Yang berbaju merah menimpali, "Urusan kami dengan pemuda kacangan itu!" sambil menuding Pendekar Mabuk.

Aswarani memandang Suto Sinting dengan dahi sedikit berkerut. Suto Sinting malah berkerut dahi lebih tajam lagi. "Aku merasa tidak mengenal mereka," ucapnya pelan seakan ditujukan pada diri sendiri. Tapi Aswarani mendengarnya dan langsung berkata,

"Tenang saja. Biar kuurus mereka!"

"Tidak. Biar aku saja!" kata Suto sambil bergegas maju di depan Aswarani. Perempuan itu bergeser ke sisi lain dan berdiri dengan kedua kaki sedikit merenggang, kedua tangan bersidekap di dada. Matanya tertuju tajam pada kedua orang berambut panjang yang rata-rata berusia sekitar empat puluh empat tahun.

"Maaf, aku tidak mengenal siapa kalian, mengapa kalian punya urusan denganku?" kata Suto dengan nada kalem.

"O, jadi kau ingin kenal kami?! Tentunya kau masih ingat Penguasa Teluk Neraka yang kau bunuh demi putri Adipati Jayengrana?!"

"Penguasa Teluk Neraka?!" gumam Suto Sinting yang segera ingat peristiwa itu.

"Aku Gundaraka, adik kedua Penguasa Teluk Neraka, dan ini adikku: Sancawisa."

"Kami menuntut balas atas kematian kakak kami! Kudengar kaulah pembunuhnya; karena bumbung tuak dan ketampanan wajahmu membuat kami yakin bahwa kau adalah Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak itu!"

"Ya, memang benar. Aku yang membunuh Penguasa Teluk Neraka itu, tapi aku punya alasan kuat. Semua kulakukan dengan sangat terpaksa dan..."

"Jangan banyak mulut!" bentak Gundaraka. "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!"

Sancawisa menggeram, "Sudah saatnya dendam kami tercurahkan! Terima saja ajalmu di tangan kami! Hiaaat...!" Sancawisa bergerak dengan senjatanya mulai disabetkan ke tubuh Suto Sinting.

Tetapi tiba-tiba Aswarani bergerak lebih cepat. Wess...! Tahu-tahu sudah ada di depan Suto Sinting, seakan jadi perisai Pendekar Mabuk itu. Senjata tombak berujung pedang lebar itu ditangkap dengan kedua tangan dalam keadaan miring. Zrabb...! Kedua telapak menjepit tangan mata pedang, lalu disentakkan ke bawah.

Trakk...!

Satu kali sentakan mata pedang yang terbuat dari besi baja mengkilat itu patah menjadi dua bagian. Gundaraka tak mau tunggu lama-lama. Saat Aswarani mematahkan mata pedangnya Sancawisa, ia menyabetkan senjata dari arah samping. Wess...! Srett...! Pinggang Aswarani terkena sabetan itu. Tapi ternyata pinggang tersebut tidak mengalami luka sedikit pun. Bahkan kain jubah Aswarani tidak robek selembar benang pun.

Suto Sinting terbelalak kagum. "Oh, tinggi juga ilmu Aswarani itu?! Pantas dia berani tampil menghadapi dua orang ini? O, ya... aku tahu dia ingin unjuk kesaktian di depanku. Hmmm... biarlah dulu dia puas unjuk kesaktian. Mungkin nanti akan dipakai untuk menggertakku. Sebaiknya kutunggu saja dari bawah pohon ini."

Belum selesai hati Pendekar Mabuk berkecamuk, dua orang yang mengaku adik Penguasa Teluk Neraka itu sudah dibuat tak berkutik oleh Aswarani. Satu lompatan ke atas membuat Aswarani menyentakkan kedua tangannya. Dari kedua tangan yang menghentak silih berganti itu melesat sinar merah lurus, masing-masing menghantam tubuh Gundaraka dan Sancawisa.

Slapp... slapp...!

Duarr...! Darrr...!

"Aaaaahh...!" Gundaraka menjerit sambil terpelanting jatuh, sedangkan Sancawisa tidak sempat berteriak karena kepalanya hancur oleh sinar merahnya Aswarani. Gundaraka masih menggelepar di tanah karena dadanya terkena sinar merah tadi, bukan hanya terbakar hangus, tapi juga berlubang besar. Dada itu pecah tepat di bagian sebelah kanan. Kejap berikutnya Gundaraka tidak berkutik lagi. Ia menghembuskan napas terakhir setelah mengejang sampai perutnya naik ke atas. Begitu perut terhempas turun, napas pun lepas bersamanya.

"Gerakannya begitu cepat dan tepat pada sasaran!" pikir Suto Sinting. "Kurasa Penguasa Teluk Neraka sendiri seandainya masih hidup dan melawan Aswarani akan tumbang dalam waktu sekejap."

Wajah perempuan itu menegang. Nafsu membunuhnya masih terlihat membayang melalui pandangan mata dan helaan napasnya, ia seperti merasa belum puas dengan hanya membunuh dua orang. Suto Sinting mulai paham akan hal itu, maka ia pun segera bicara menenangkan Aswarani.

"Hebat! Hebat sekali gerakanmu. Sangat mematikan. Kurasa biar sepuluh orang seperti mereka, akan hancur dalam satu-dua jurus olehmu! Aku sangat kagum dengan gerakan jurusmu, Aswarani!"

Tampak napas perempuan itu dihempaskan panjang-panjang. Raut wajahnya memperlihatkan perasaan lega dan puas. Bahkan senyumnya sempat mekar walau hanya seulas.

"O, dia ingin dipuji?!" pikir Suto.

Dengan wajah ceria, Aswarani menyingkapkan anak rambut yang meriap di keningnya. Gelang perhiasan yang dipakai di kedua tangannya itu gemerincing bagai irama kelegaan hatinya. "Tak kubiarkan siapa pun menantangmu."

Suto mulai menangkap makna kata yang punya tujuan sangat pribadi. Tapi ia berlagak tak mengerti maksud Aswarani, sehingga yang terlontar hanyalah ucapan terimakasihnya. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada kau, mungkin aku mati dihajar mereka berdua. Setidaknya babak belur dan terluka parah oleh serangan mereka."

Suto yakin, dengan kata-kata seperti itu Aswarani akan semakin bangga dan lebih ceria lagi. Terbukti senyumnya mekar dengan sangat manis dan mencerminkan keriangan hatinya. Bandul di kalungnya yang berhias batuan hijau bening itu segera dibetulkan letaknya. Aswarani mendekati Suto Sinting dan berkata dengan mata memandang sedikit sayu.

"Kita lanjutkan perjalanan atau beristirahat di semak-semak sebentar?"

"Hmmm... ehh... terus saja. Aku ingin lekas sampai di Tanjung Samudera," kata Suto Sinting sambil mengawali langkahnya.

Aswarani terpaksa mengikuti langkah itu, walaupun Suto tahu hati perempuan itu memendam rasa kecewa karena Suto memilih meneruskan perjalanan. Belum ada seratus langkah, tiba-tiba seberkas sinar biru bintik-bintik melesat dari arah lereng bukit yang ada di samping mereka.

Clappp...!

"Aswarani, minggir!" teriak Suto Sinting sambil lompat ke arah datangnya sinar biru bintik-bintik itu. Bumbung tuaknya segera dihadangkan untuk menangkis sinar tersebut.

Jrabb...! Wusss...!

Sinar itu memantul balik lebih cepat dan lebih besar dari aslinya setelah menghantam bumbung tuak. Kejap berikutnya terdengar suara ledakan menggelegar.

Jlegarr...!

Tiga batang pohon besar-besar bukan hanya tumbang namun lenyap dan menjadi serbuk halus, tak bisa terlihat oleh mata lagi. Aswarani tampak tertegun memandangi kejadian tersebut. Mereka semakin tegang setelah mendengar suara tawa cekikikan yang berkeliling bagaikan terbang di udara.

"Hih, hih, hih, hih...!"

"Celaka! Dia datang lagi?!" gumam Suto Sinting. Dalam benak Pendekar Mabuk segera terbayang wajah tua keriput dengan bibir masuk ke dalam mulut. Wajah itu tak lain adalah wajah Nini Kutang Katung.

Bayangan Pendekar Mabuk memang terbukti. Kejap berikutnya muncul sesosok tubuh bongkok berjubah abu-abu dengan tongkat hitam yang ujungnya mirip garpu dua mata, runcing seperti ujung anak panah.

"Hmmm...! Rupanya kau yang bikin ulah, Nini Kutang Katung!" kata Aswarani yang ternyata sudah mengenal tokoh tua, gurunya Ratu Kelabang Setan.

"Hi, hi, hi, hi...! Aku senang sekali jumpa kau, Anak muda!" kata Nini Kutang Katung kepada Suto Sinting. Ucapan Aswarani bagai tidak di gubris.

Aswarani bergerak maju. Namun kali ini Suto Sinting yang menahan dengan mencekal pundak perempuan itu. "Biar aku yang menangani! Dia agak berbahaya."

"Tapi dia..."

"Ganti kau yang melihat pertarunganku!" kata Suto sengaja sedikit menyombongkan diri supaya Aswarani tidak berhadapan dengan tokoh sakti itu. Sebab Suto menyangsikan kekuatan Aswarani jika melawan Nini Kutang Katung. Menurut perkiraan Pendekar Mabuk, Aswarani tidak akan bisa menang jika melawan tokoh tua yang satu ini.

"Aku ingin menebus kelancanganmu saat kita di pantai itu, Anak bagus!" kata Nini Kutang Katung kepada Suto Sinting. "Setelah itu aku akan membunuh perempuan lacur itu!" ia menuding Aswarani.

Mendengar hal itu, Aswarani naik pitam dan siap-siap melepaskan pukulan jarak jauhnya. Tapi Suto Sinting berhasil menahannya dengan merentangkan tangan dan berkata penuh ketenangan.

"Jangan terpancing dia! Tenang. Aku akan menyelesaikan secepat mungkin."

Pendekar Mabuk berkata kepada nenek bongkok itu, "Kalau kau masih penasaran padaku, kuharap kau jangan menyesal jika aku sampai bertindak lebih parah dari saat dipantai itu, Nini!"

"Hih, hih, hih, hih...! Tak perlu bicara begitu padaku, Bocah bagus! Gertakanmu tidak akan membuat hatiku goyah dan semangatku lemah. Perlu kau ketahui, bahwa Raja Hantu sudah berhasil kubinasakan dan sekarang tinggal namanya. Kalau kau ingin mencari mayatnya, datanglah ke pantai tempat kita bertemu dulu."

"O, jadi pamannya Dinada sudah tewas di tangannya?!" kata Suto dalam hati. "Kalau begitu perempuan tua ini lebih berbahaya dari dugaanku. Aku harus lebih hati-hati dalam melawannya."

Nini Kutang Katung menggerak-gerakkan mulutnya, seperti sedang mengunyah robekan sarung. Suto berfirasat, lawannya sedang membaca mantra. Maka ia buru-buru menenggak tuaknya satu teguk.

"Bocah bagus, terimalah jurus 'Bumi Lokamurka' ini!" ujar sang Nenek. Kemudian ia menghentakkan tongkatnya ke tanah. Dugg...!

Werrrr...! Bumi bergetar. Tiba-tiba dari ujung tongkat yang dihentakkan ke tanah itu mengeluarkan selarik sinar merah sebesar lidi melesat ke pertengahan kaki Pendekar Mabuk.

Srrapp...!

Sinar yang bagaikan menembus permukaan tanah itu melesat dengan cepat, kemudian tanah tersebut menjadi retak dan terbelah menjadi dua bagian.

Grrak...! Werrrr...!

Tanah berguncang hebat. Belahan tanah itu merenggang lebar, sebagian ada yang longsor ke dalam. Suto Sinting yang tak menduga akan terjadi hal seperti itu akhirnya ikut terjeblos masuk ke dalam belahan tanah.

Bruss...!

"Celaka...!" pekiknya dalam hati. Untung ia menemukan gumpalan tanah agak keras. Kakinya menjejak gumpalan tanah agak keras itu, wuttt...! Tubuhnya segera melenting ke udara, keluar dari keretakan tanah. Wukk, wukk...! Ia bersalto dua kali, lalu mendaratkan kakinya di tanah yang masih utuh. Jlegg...!

Pada saat itu Suto melihat Aswarani terjungkal karena goncangan tanah yang merekah itu. Namun keadaan perempuan tersebut masih jauh dari keretakan tanah. Suto Sinting segera bergerak ke arah lain dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.

Nini Kutang Katung kebingungan mencari Suto Sinting, ia menggerutu dengan suara tuanya, "Ke mana si setan ganteng tadi...?!"

"Aku di belakangmu, Nek!" jawab Suto dengan tenang.

Begitu Nini Kutang Katung membalikkan badan menghadap ke arah Suto, tangan Pendekar Mabuk segera menghentak ke depan. Clappp...! Sinar hijau keluar dari tangan Suto Sinting. Jurus 'Pukulan Guntur Perkasa' digunakan menghantam nenek sakti itu. Sang Nenek segera mengibaskan tongkatnya begitu melihat sinar hijau ke arahnya.

Wuttt...!

Duarr...! Tongkat itu patah dihantam sinar hijau. Bahkan sinarnya masih menembus ke arah sasaran dan tangan Nini Kutang Katung menahan dengan cara menghadang memakai telapak tangannya.

Jrabb...! Wuussss...!

Tubuh tua itu terlempar delapan langkah ke belakang, ia seperti daun kering yang dihembus badai. Jatuhnya terjungkal beberapa kali, namun keadaan tubuhnya masih utuh.

"Kuat sekali dia?!" pikir Pendekar Mabuk. Biasanya lawan yang terkena pukulan 'Guntur Perkasa' akan memar membiru pada bagian yang terkena sinar hijau itu. Memar itu akan cepat membusuk, dan akhirnya sekujur tubuh menjadi membusuk. Tetapi kali ini agaknya lawan Suto cukup tangguh.

Tokoh tua itu hanya terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak darah segar. Tangannya masih utuh tanpa memar biru sedikit pun. Ini menandakan kekuatan tenaga dalam yang melapisi tubuh Nini Kutang Katung sangat tinggi.

Pendekar Mabuk tidak cukup menggunakan jurus 'Guntur Perkasa' saja. Harus menggunakan jurus lain untuk menumbangkan nenek bongkok itu. "Sebaiknya kugunakan jurus 'Pecah Raga'. Apakah ia masih mampu menahan jurus yang satu ini?" pikir Pendekar Mabuk sambil melangkah ke sisi samping, matanya memandang setiap gerakan Nini Kutang Katung yang kebingungan melihat tongkatnya patah menjadi dua bagian. Namun bagian yang berujung seperti garpu runcing itu masih tergenggam di tangan kanannya.

"Heaaah...!" Nini Kutang Katung angkat kedua tangan dengan tongkat terbawa ke atas. Kedua tangan itu gemetar. Angin panas mulai terasa samar-samar. Kemudian debu putih mulai turun dari langit.

"Debu Neraka...?!" pikir Suto Sinting, langsung teringat debu-debu putih yang mampu membakar setiap benda yang tertaburi. Pada saat yang sama, sekelebat bayangan melintas di depan Pendekar Mabuk.

Wuttt...! Jlegg...!

"Dinada...?!" seru Suto bagai tak sadar.

Gadis berjubah kuning itu langsung meniup serulingnya. Tiupan seruling mendatangkan angin yang berputar-putar semakin lama semakin cepat. Akibatnya debu-debu putih itu tak jadi turun, melainkan menyebar entah ke mana.

"Keparat kau, Mila...!!" geram Nini Kutang Katung yang merasa jurusnya dikalahkan oleh seruling Dinada. Ia segera menghentakkan sisa tongkatnya itu. Namun sebelum ujung runcing tongkat itu keluarkan sinar biru yang mampu bergerak membingungkan lawan itu, Aswarani segera melesat dan menendang tangan Nini Kutang Katung.

Plakk...! Wuttt...!

Tongkat itu terlepas dari genggaman, melesat terbang dan jatuh di kedalaman semak belukar.

"Rasakan ini, hiih...!" Aswarani menghantamkan telapak tangannya ke wajah Nini Kutang Katung. Tapi telapak tangan sang Nenek juga segera menghantam sehingga mereka beradu telapak tangan.

Blarrr...!

Ledakan terjadi ketika tangan mereka beradu. Ledakan itu membuat Nini Kutang Katung terlempar lagi dan nyaris jatuh ke rongga tanah yang retak itu. Sedangkan Aswarani hanya tersentak mundur tiga tindak.

Tubuh Nini Kutang Katung mengepulkan asap bagai terbakar bagian dalamnya. Napasnya pun mulai sulit dihela. Menyadari keadaan seperti itu, Nini Kutang Katung merasa perlu mundur sesaat untuk sembuhkan luka dalamnya, ia pun segera melarikan diri tanpa pamit. Lompatan cepat Nini Kutang Katung dikejar oleh Aswarani yang bernafsu sekali membunuhnya. Perempuan itu tak bisa merasa lega dan tenang jika nafsu membunuhnya sudah sampai keubun-ubun tapi lawannya belum terbunuh.

"Sampai di mana pun akan kukejar kau, Kutang Katung!!" teriak Aswarani sambil berkelebat cepat.

"Tunggu...!" teriak Dinada, kemudian mengejar Aswarani.

Tapi Suto Sinting bergerak lebih cepat dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya itu. Zlappp...! Tahu-tahu ia sudah ada di depan Dinada, menahan gerakan gadis yang kemarin terpisah darinya itu.

"Tahan. Tak perlu kau kejar, biar diselesaikan oleh Aswarani!"

"Minggir kau!" bentak Dinada. Ia berusaha lolos dari hadangan Suto Sinting, namun hal itu sulit dilakukan karena Suto selalu merintanginya.

"Dinada, tenanglah dulu! Ada berita bagus untuk dirimu tentang pamanmu; si Raja Hantu itu!"

"Aku akan mengejarnya dulu! Minggir, Suto...!"

"Hei, sabar! Nenek itu tak akan lepas dari kejaran Aswarani!"

"Bodoh!" sentak Dinada dengan cemberut. Kemudian ia melemas karena merasa sudah tertinggal jauh, tak mungkin terkejar lagi. Dinada duduk di atas sebuah batu, dibawah pohon teduh. Wajahnya cemberut dan tak mau memandang Suto Sinting.

"Lagak manjanya mulai keluar lagi," gumam Suto dalam hati. Ia hanya tersenyum tipis lalu mendekati Dinada pelan-pelan. "Dari mana saja kau, Dinada?! Mengapa sampai terpisah dariku?!"

Dinada diam saja. Mulutnya masih meruncing. Sesekali ia mendesis dengan tangan mengepal kuat pertanda menahan kejengkelan.

"Aku tak sengaja meninggalkan kau, Dinada. Jangan marah padaku. Aku sudah mencoba mencarimu keluar-masuk hutan itu, tapi kau tidak kutemukan. Bahkan aku memanggilmu berulang-ulang, tapi tak kudengar jawabanmu. Jangan salahkan aku, Dinada."

"Kau memang bodoh!" sentak Dinada lagi mirip gadis manja.

"Baiklah. Kuakui kebodohanku. Aku berjanji lain kali tak akan meninggalkanmu, kecuali aku pamit pergi memisahkan diri."

"Bukan soal itu!"

Pendekar Mabuk berkerut dahi sambil tersenyum. "Maksudmu bagaimana, Nona manis?" bujuk Suto.

"Kau telah melakukan hal yang paling bodoh tentang perempuan itu!"

"Aswarani itu, maksudmu?!"

"Iya!" bentak Dinada dan bibirnya yang mungil menggemaskan meruncing kembali.

Suto Sinting tertawa pelan. "Tentang Aswarani aku tidak punya perasaan apa-apa. Aku bertemu dengannya di kedai. Lalu, kami sama-sama ingin pergi ke Tanjung Samudera. Hubunganku hanya sebatas teman biasa. Kau jangan cemburu dulu, Dinada. Kalau saja..."

"Aku tidak mencemburuimu!" potong Dinada dengan ketus. "Aku hanya menyesali tindakan bodohmu!"

"Di mana letak kebodohanku?"

"Membiarkan dia pergi mengejar Nini Kutang Katung!"

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut. "Jadi mentang-mentang dia orang Perguruan Bukit Kasmaran, lantas kau menganggap aku harus mendampinginya terus sekalipun mengejar Nini Kutang Katung?!"

"Bukan itu maksudkuuu...!!" Dinada tampak gemas sekali.

Pendekar Mabuk kian heran. "Jadi apa maksudmu sebenarnya, Dinada?!"


"Hahh...?!" Suto Sinting terkejut bukan kepalang. "Ja... jadi dialah orang yang bernama Anak Petir?!"

"Iya! Apakah kau tidak melihat Gelang Naga Dewa di tangan kanannya tadi?!"

"Hmmm... eehh... iya, memang aku melihat dia memakai gelang, tapi bukan hanya satu. Tangan kanan dan kiri memakai gelang, cincin, kalung, juga gelang kaki."

"Yang terbuat dari perunggu, berbentuk naga melingkar dua kali, dengan mata naga berwarna merah delima, bukankah itu pusaka Gelang Naga Dewa?!"

"Ya ampuun...! Mana kutahu, aku belum pernah melihat Gelang Naga Dewa dan kau tak pernah menceritakan ciri-ciri bentuk gelang pusaka itu. Ak... aku. Oh, sial!"

Pendekar Mabuk menepuk kepalanya sendiri, ia berjalan mondar-mandir dengan gusar. "Dari dulu yang bernama Anak Petir itu kusangka lelaki! Aku tak pernah menyangka kalau si Anak Petir adalah julukan yang dipakai seorang perempuan. Dan... dan lagi tak pernah ada yang menjelaskan padaku bahwa Anak Petir itu seorang perempuan. Mungkin mereka sangka aku sudah tahu hal itu!"

"Lalu, bagaimana kalau sudah begini?!" sentak Dinada, dan Suto Sinting hanya bisa tertegun bingung sendiri.

* * *

ENAM

ANAK mendiang Nyai Guntur Ayu itu ternyata seorang perempuan, bukan seorang lelaki seperti yang dibayangkan Suto sejak mula pertama mendengar nama Anak Petir. Baik Sumbaruni, Bulan Sekuntum, Untari, dan yang lainnya menyebut-nyebut nama Anak Petir di depan Suto Sinting. Tetapi tidak ada satu pun yang menjelaskan bahwa ia seorang lelaki atau perempuan. Hanya kesimpulan dalam bayangan Suto sendiri yang menganggap Anak Petir adalah seorang lelaki.

Tentu saja Suto tidak menaruh kecurigaan apa pun ketika bertemu dengan Aswarani di kedai. Bahkan ketika melihat Aswarani kebal oleh senjata Sancawisa, Pendekar Mabuk hanya menganggap biasa saja. Tidak mempunyai dugaan bahwa kekebalan tubuh itu dikarenakan Aswarani mengenakan Gelang Naga Dewa. Juga ketika Suto melihat perhiasan yang dikenakan Aswarani, tak sedikit pun punya kecurigaan bahwa salah satu gelang tersebut adalah gelang pusaka yang sedang diperebutkan beberapa orang. Pendekar Mabuk merasa seperti ditipu mentah-mentah oleh Aswarani. Padahal yang menipu adalah anggapannya sendiri. Jika ia tahu bahwa Aswarani adalah orang yang bernama Anak Petir, tentu saja sudah dilumpuhkan sejak pertemuan dikedai.

"Aku yakin Anak Petir tidak bermaksud lari begitu melihatku," kata Dinada dalam perjalanan mengejar Aswarani dan Nini Kutang Katung. Sambungnya lagi, "Untuk apa dia lari karena kedatanganku? Dia tidak akan takut kepadaku, juga kepada siapa saja. Sebab dia sudah punya pusaka andalan di tangannya."

"Dia memang hebat, kulihat sendiri gerakannya dalam melawan Dewa Loreng dan kedua adik Penguasa Teluk Neraka itu. Tapi sempat timbul rasa heranku terhadap mendiang pamanmu yang kini telah terbunuh oleh Nini Kutang Katung itu."

"Mengapa heran?"

"Pada waktu pertarungan pertama; bukankah Raja Hantu sudah memegang Gelang Naga Dewa? Mengapa ia tidak bisa tumbangkan Nini Kutang Katung, bahkan gelang itu dititipkan kepadamu?"

"Tentu saja karena gelang itu baru diperoleh dari pencuriannya. Gelang itu hanya akan berguna jika pemakainya sudah lakukan puasa selama tujuh hari sambil memakai gelang tersebut. Jika belum lakukan puasa selama tujuh hari, gelang itu tidak bedanya dengan gelang biasa bagi pemakainya."

"Apakah gelang itu sudah ada tujuh hari di tangan Anak Petir?"

"Lebih," jawab Dinada cepat. "Tentunya sudah dipuasai oleh Aswarani."

Percakapan demi percakapan dilakukan sambil memandang ke sana kemari, mencari suara pertarungan yang terjadi antara Nini Kutang Katung dan Aswarani. Tetapi suara pertarungan itu tidak mereka dengar, gerak bayangan orang berlari pun tidak mereka lihat. Dinada hampir putus asa. Hatinya kesal membayangkan kebodohan Pendekar Mabuk. Untung pendekar tampan itu pandai menghibur hatinya, sehingga semangat yang nyaris sirna itu mampu terangkat lagi. Sampai pada akhirnya mereka mendengar suara ledakan menggelegar di arah selatan.

"Mungkin itu pertarungan mereka!" kata Dinada dengan semangat penuh.

"Kita harus cepat ke sana sebelum Aswarani menghilang lagi!" Suto mendului bergerak ke arah selatan.

Di bawah kaki bukit itu, sebidang tanah bergunduk- gunduk menjadi tempat pertarungan dua tokoh berilmu cukup tinggi. Namun di sisi lain, Suto Sinting dan Dinada melihat sesosok mayat tergeletak dengan luka di bagian perut. Isi perutnya berhamburan keluar.

Dinada berkerut dahi dan berbisik kepada Suto, "Mayat siapa itu?"

Suto masih ingat sosok lelaki kurus bertampang tengil sok berani. Rambutnya panjang tipis diikat dengan kain warna coklat muda. Lelaki itu memakai pakaian serba hitam yang sekarang basah oleh darah. Orang yang sekarang sudah menjadi mayat itu tak lain adalah Mandor Gangsing, anak buah Ki Lurah Tunggoro. Mandor Gangsing dan Gaung Cablak pernah diperintahkan untuk membawa pulang Bulan Sekuntum, karena Ki Lurah Tunggoro ingin mengawini Bulan Sekuntum.

Tapi pada waktu itu Bulan Sekuntum berhasil melumpuhkan Gaung Cablak yang bertubuh tinggi besar itu, hanya saja Suto Sinting segera menolong Gaung Cablak dengan tuaknya, lalu diperingatkan agar jangan berani-berani mengganggu Bulan Sekuntum lagi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Dan kini yang ada di pertarungan bukan Aswarani melawan Nini Kutang Katung, melainkan Bulan Sekuntum melawan seorang lelaki berkumis lebat berusia sekitar empat puluh lima tahun, mengenakan pakaian rapi warna hijau berkrah leher tegak. Ketika Suto Sinting menjelaskan kepada Dinada tentang mayat itu, Dinada segera terperanjat dan berkata,

"Oh, ya... aku baru ingat. Kalau begitu lelaki yang berpakaian hijau dengan senjata keris itu adalah Ki Lurah Tunggoro."

"Kau kenal dengannya?"

"Aku hanya tahu namanya dan pernah jumpa sekali. Dia adalah adik bungsu dari kesebelas saudara mendiang Guru Nyai Guntur Ayu."

"Jika begitu benar kata Bulan Sekuntum, bahwa Anak Petir adalah keponakan dari Ki Lurah Tunggoro."

"Lalu pertarungan ini apakah karena Gelang Naga Dewa?"

"Kurasa ini pertarungan pribadi. Ki Lurah Tunggoro sakit hati lamarannya ditolak oleh Bulan Sekuntum dan bikin perhitungan sendiri."

"Kita harus membantu Bulan Sekuntum!" kata Dinada penuh semangat.

"Jangan. Biarkan Bulan Sekuntum menunjukkan harga dirinya di depan Lurah Tunggoro. Kecuali jika ia dalam bahaya kita selamatkan dengan segera." kata Suto Sinting sambil bergeser ke tempat yang lebih enak dipakai untuk menyembunyikan diri.

Bulan Sekuntum tampak masih tegar dan lincah. Pedangnya dimainkan ke kanan-kiri sambil maju mendekati Ki Lurah Tunggoro. Sementara itu, Ki Lurah Tunggoro yang bersenjata keris tanpa lengkung itu sedang mencari kesempatan bagus untuk menyerang Bulan Sekuntum. Agaknya ia tidak punya pilihan lain; daripada menanggung malu dan sakit hati karena lamarannya ditolak Bulan Sekuntum, lebih baik mengadu nyawa untuk menebus kegagalannya. Ki Lurah Tunggoro sempat berseru dalam amarahnya,

"Pantang bagiku ditolak oleh perempuan macam kau, Bulan! Kematianmu adalah tebusan yang setimpal untuk kelancanganmu menolak lamaranku. Hiaaah...!" Keris itu disentakkan ke depan dari jarak lima langkah. Lalu seberkas sinar putih lurus melesat dari ujung keris.

Slappp...!

Sinar putih itu mengincar ulu hati Bulan Sekuntum. Dengan menyalurkan tenaga dalam melalui pedangnya, Bulan Sekuntum menghadang sinar putih tersebut. Desss...! Sinar itu menghantam pertengahan pedang. Bulan Sekuntum menahan dengan tubuh bergetar kaki merendah, pandangan lurus ke arah lawan.

Sinar yang belum mau putus itu bagai memancarkan kekuatan lebih besar lagi hingga tubuh Bulan Sekuntum sedikit terdorong ke belakang. Namun tampaknya ia masih mampu menahan desakan sinar putih tersebut. Kejap berikut sinar putih itu warnanya berubah pelan-pelan menjadi kemerah-merahan, dan akhirnya warna merahnya menjadi terang. Pedang yang ditegakkan itu mulai berasap. Bulan Sekuntum terdesak, tubuhnya semakin bergetar kuat. Tiba-tiba ujung pedang Bulan Sekuntum keluarkan sinar merah yang melesat ke arah tangan Ki Lurah Tunggoro.

Clappp...! Trak, duarrr...!

"Auh...! Setan!" Ki Lurah Tunggoro melompat ke belakang sambil mengibaskan tangannya. Sinar merah itu kenai genggaman Ki Lurah Tunggoro hingga pecahkan gagang keris. Tangan itu sendiri segera kepulkan asap tanda terbakar. Sementara kerisnya terlempar jauh tanpa gagang lagi. Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua urat-uratnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya.

Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya. Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum. Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.

Wusss...! Dam...!

Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya.

"Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak."

"Jangan dulu," cegah Suto. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."

Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbuka. Gerakan bertenaga penuh itu ternyata menghasilkan kilatan cahaya petir yang melesat dari langit dan menyambar-nyambar ke arah Bulan Sekuntum.

"Dia gunakan jurus 'Geledek Murak'?!" kata Dinada dengan suara menegang. "Itu tak boleh digunakan kecuali orang Perguruan Bukit Kasmaran!"

"Dari mana dia peroleh jurus itu?"

"Entah. Mungkin dari Anak Petir. Yang jelas Guru tidak pernah mengajarkan jurus itu kepada orang lain, walaupun kepada adiknya sendiri! Kurang ajar! Pasti jurus itu telah dijual oleh Anak Petir kepada pamannya, entah dengan imbalan apa!"

Duarrr...! Blarrr...! Blegarrr...! Duarrr...!

Bulan Sekuntum dihujani puluhan petir, ia melompat ke sana kemari hindari lidah petir yang menyalakan sinar biru berkerilap itu.

Melihat Bulan Sekuntum terdesak, Dinada segera mencabut serulingnya dan meniupnya dengan alunan lembut namun suaranya melengking tinggi. Alunan seruling itu menghadirkan angin kencang, dan angin itu membawa kumpulan mega bergerak di atas mereka. Mega-mega itu bagaikan menyekap kilatan cahaya petir, sehingga serangan hujan petir itu terhenti seketika.

"Bangsat! Ada yang mau ikut campur rupanya!" geram Ki Lurah Tunggoro, sambil teliganya menyimak suara seruling.

Bulan Sekuntum yang terluka dalam itu juga mulai memasang telinga dan memandang ke arah datangnya suara seruling. Hatinya menggumam,

"Kurasakan kehadiran Milasi di sini! Hmm... dia menolongku dengan serulingnya! Kesempatan ini tak boleh disia-siakan."

"Aku tahu kau murid Guntur Ayu! Keluar dari persembunyianmu, Bangsat!" teriak Ki Lurah Tunggoro, lalu ia melepaskan pukulan jarak jauh ke arah kerimbunan semak. Pukulan itu berupa sinar hijau seperti yang dilepaskan untuk Bulan Sekuntum tadi.

Slappp...!

Bulan Sekuntum menjegal cahaya hijau tersebut dengan sentakkan tangannya yang menghadirkan gelombang berasap merah. Hal itu dilakukan setelah melompat dan bersalto cepat menghadang sinar hijau.

Wusss...! Zrabbb...! Blegarr...! Sinar hijau pecah di pertengahan jarak karena dibungkus pukulan berasap. Tapi kejap berikutnya Bulan Sekuntum telah melesat dengan berjungkir balik ke tanah menggunakan satu tangannya.

Tab, tab, tab, tab...!

Begitu cepat gerakan jungkir baliknya itu, tahu-tahu ia sudah ada di depan Ki Lurah Tunggoro, dan pedangnya berkelebat menyabet dari kanan ke kiri. Wuttt...!

Crrassss...!

"Aaahg...!" Ki Lurah Tunggoro tersentak kaku, kepalanya terdongak, lehernya koyak karena sabetan pedang Bulan Sekuntum.

Suara seruling berhenti. Dua orang di persembunyian itu memandang tak berkedip ke arah Ki Lurah Tunggoro yang mulai limbung. Bulan Sekuntum masih pegangi pedangnya dan diam tak bergerak dalam keadaan habis menebaskan pedang.

Brrukk...! Ki Lurah Tunggoro akhirnya tumbang, dan Bulan Sekuntum melepaskan sikap diamnya, ia menghempaskan napas lega sambil menarik pedang dari gerakan semula. Matanya memandang lurus pada lawannya yang sedang meregang nyawa.

"Bukan dia lawanmu, tapi aku...!"

Terdengar seruan dari balik pohon setelah terlihat sekelebat bayangan melintas cepat. Ternyata Aswarani baru saja datang dan ia melihat pamannya terkapar tak berdaya. Bahkan saat Ki Lurah Tunggoro melepaskan napasnya yang terakhir, Anak Petir itu sedang menghampirinya.

"Bedebah kau!" geramnya kepada Bulan Sekuntum, matanya memandang liar dan buas. "Kau telah membunuh pamanku, kini aku yang harus mencabut nyawamu, Bulan!"

"Kusiapkan nyawaku untuk menebus gelang itu!" kata Bulan Sekuntum tak pernah merasa takut kepada siapa pun.

Dinada dan Suto Sinting menjadi lebih tegang lagi. "Itu dia...!" bisik Dinada. "Itu si Anak Petir yang kita cari-cari!"

"Sekarang sudah waktunya kita muncul memihak Bulan Sekuntum!"

"Tapi dia memakai Gelang Naga Dewa!" Dinada menampakkan kecemasannya.

"Aku yang akan menghadapinya!" kata Pendekar Mabuk dengan tegas tapi berkesan tenang, ia meneguk tuaknya sesaat, kemudian melompat keluar dari balik semak bersama-sama Dinada. Suto berseru, "Bulan, mundurlah kau!"

Bulan Sekuntum kaget melihat Suto Sinting ada bersama Dinada. Tapi hatinya menjadi tenang dan keberaniannya bertambah. Sedangkan Aswarani segera memandangi Pendekar Mabuk dengan mata masih tampak buas dan ganas.

"Suto, menjauhlah dari Bulan agar kau tak menjadi korban salah sasaran!"

"Justru aku yang akan menghadapimu, Anak Petir!" kata Suto Sinting membuat Aswarani menyipitkan mata memancarkan permusuhan.

"O, jadi si gadis laknat itu sudah menceritakan padamu tentang siapa aku?!" sambil Aswarani menuding Dinada. Suto Sinting maju dengan tenang dan berkata, "Semuanya sekarang sudah kuketahui, kaulah orang yang kucari dan pernah membuat namaku hampir hilang karena dianggap mati oleh kalangan dunia persilatan! Kau punya urusan pribadi denganku, Anak Petir!"

"Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"

Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Suto!"

"Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"

Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Mabuk?! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pemiliknya, rebutlah dan pertaruhkan dengan nyawamu!"

Sebelum Pendekar Mabuk bergerak, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Aswarani. "Anak Petir, akulah lawanmu!"

Seruan itu ternyata datang dari mulut perempuan berjubah Jingga. Dia adalah Untari, atau si Ratu Kelabang Setan, ia datang sambil memanggul sesosok tubuh yang telah hangus. Sesosok tubuh hangus itu dilemparkan ke depan Aswarani setelah jaraknya mencapai empat langkah.

"Kau yang membunuh guruku ini!" sentak Untari. "Aku tahu persis jurus yang membakar tubuh dengan lubang besar di dada adalah milikmu, Anak Petir!"

"Tak salah dugaanmu. Memang aku yang membunuh gurumu!" kata Aswarani dengan tegas.

Rupanya dalam pelariannya yang dikejar Sumbaruni, Untari sempat bersembunyi dan mengobati lukanya. Kemudian tempat persembunyian itu diketahui Sumbaruni dan ia lakukan pertarungan dengan bekas istri jin itu. Tapi ia terdesak dan lari lagi, Sumbaruni mengejarnya kembali Dalam pelariannya itulah ia temukan mayat gurunya yang dalam keadaan dada berlubang serta hangus sekujur badan, ia tahu hal itu adalah perbuatan Anak Petir, karenanya ia mencari Anak Petir sambil menghindari Sumbaruni.

Ternyata ia temukan si Anak Petir sedang berhadapan dengan Pendekar Mabuk. Kemarahannya semakin meluap, nafsu untuk membunuh Anak Petir kian berkobar karena ia tak ingin Suto Sinting yang ingin dijadikan pasangan bercintanya itu mendapat celaka dari si Anak Petir.

"Sekarang apa maumu, Untari?!" bentak Aswarani.

"Menghancurkan ragamu, Biadab!" geram Untari, kemudian ia kerahkan tenaga dalamnya dengan mengeraskan kedua tangan dan kaki merendah. Tangan yang diangkat ke atas itu tiba-tiba menyentak ke depan dan dua berkas sinar merah melesat menghantam dada Aswarani yang sedang bertolak pinggang.

Wuttt...! Blarrr...!

"Hah, hah, hah, hah...!" Anak Petir tertawa seperti seorang lelaki. Tubuhnya tak terluka sedikit pun. Hanya dibungkus asap sekejap, lalu tampak utuh dan tetap segar. Gelang Naga Dewa membuatnya kebal terhadap pukulan tenaga dalam apa pun.

Hal itu membuat Suto Sinting berpikir mencari cara untuk mengalahkan Aswarani. Sementara Untari lakukan serangan lagi dengan jurus-jurus mautnya, di kejauhan sana tampak seseorang berlari cepat bagai kilatan cahaya ungu. Ternyata orang itu adalah Sumbaruni.

"Sumbaruni...!" seru Bulan Sekuntum. "Jangan campuri dulu urusan mereka. Kita jadi penonton saja!"

"Aku setuju! Hmmm... kulihat gelang pusaka ratumu ada di tangan Anak Petir. Itu pertanda naas telah tiba bagi Untari!" kata Sumbaruni yang kemudian mendekati Suto Sinting dan berbisik,

"Apakah kau ingin melawannya?!"

"Aku harus tumbangkan dia karena dua hal; peristiwa di Tanjung Samudera dan merebut gelang pusaka itu untuk dikembalikan kepada pemiliknya!"

"Lakukan dengan hati-hati. Tapi kalau kau terdesak aku terpaksa ikut campur! Lumpuhkan dulu kekuatan pada gelangnya!" bisik Sumbaruni, setelah itu bergabung dengan Dinada serta Bulan Sekuntum di kejauhan sana.

Ratu Kelabang Setan kewalahan, karena semua jurus andalannya tak bisa menumbangkan Aswarani. Bahkan ia sempat menghadirkan seribu kelabang yang muncul dari tanah dan menyerang kaki Aswarani. Namun dengan sekali hentakkan kaki ke bumi, seluruh kelabang itu musnah berasap meninggalkan bau tak sedap.

"Sudah puaskah kau menyerangku, hah?!" hardik Aswarani.

"Tak akan puas sebelum kau mati menebus nyawa guruku!" jawab Untari sambil bersiap melepaskan pukulannya lagi. "Dasar keparat bodoh kau! Hiaaat...!"

Aswarani berguling ke tanah satu kali, lalu begitu bangkit tangannya keluarkan sinar biru. Clapp...! Sinar biru itu melesat dan menghantam pinggang Untari. Gerakan yang begitu cepat itu tak dapat dihindari oleh Untari, sehingga ia tersentak kaget ketika sinar itu menghantam pinggangnya.

Jrabb...! Blarrr...!

Ledakan itu membuat Untari terbuang jauh, lalu jatuh dalam keadaan berselubung asap. Ketika asap menipis dihembus angin, tubuh Untari sudah tak berbentuk lagi. Pinggangnya pecah, sekujur tubuhnya hangus seperti nasib Nini Kutang Katung. Tentu saja tak ada napas lagi padanya.

"Lihat, Suto...!" kata Aswarani. "Betapa cepatnya gerakanku, dan betapa dahsyatnya jurusku tadi. Maukah kau seperti itu, Sayang?!"

"Kau tak akan bisa melakukan terhadap diriku!"

"Mulut besar! Kubuktikan sekarang juga! Hiaaah...!" Clappp...! Sinar biru melesat menghantam Pendekar Mabuk. Tapi bumbung tuak segera berkelebat ke depan dan menghadang sinar biru itu.

Trabb...! Zlapp...!

Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan bumbung itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu. Blegarrr...! Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu.

"Kau boleh bangga dengan bumbung tuakmu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"

Claappp...! Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Suto Sinting menghadangnya lagi dengan bumbung tuak, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Suto.

Blegarrr...!

Pendekar Mabuk terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Suto terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang dan cemas. Namun kali ini Suto Sinting tak sampai pingsan, ia segera menenggak tuaknya untuk menyembuhkan luka. Sisa tuak masih ditampung di mulut.

Ketika itu, Anak Petir melompat dengan mencabut pedangnya dari punggung. "Sekarang terbukti aku dapat memenggal kepala Pendekar Mabuk! Hiaaah...!"

Suto Sinting sentakkan kaki ke bumi. Wuuttt...! Tubuhnya melenting di udara cukup tinggi. Ketika Aswarani menebaskan pedang di tempat kosong, Suto Sinting semburkan tuak dari mulutnya.

Brrusss...!

Semburan itu tepat kenai Gelang Naga Dewa. Tak ayal lagi, jurus 'Sembur Siluman' membuat gelang itu lenyap dari tangan Anak Petir.

"Celaka...?!" Anak Petir menjadi tegang. Matanya mendelik lebar melihat Gelang Naga Dewa lenyap dari tangannya.

Pada kesempatan itulah Suto Sinting yang sudah mendaratkan kaki ke bumi segera melepaskan jurus pukulan 'Pecah Raga' yang berupa sinar hijau dari telapak tangannya. Clapp...!

Blegarrr...!

Anak Petir tak sempat menghindar lagi. Sinar hijau itu menghantam perutnya dan ledakan menggelegar terdengar begitu dahsyat. Bersamaan dengan itu, tubuh si Anak Petir pun pecah menjadi serpihan kecil-kecil.

Terdengar suara tepuk tangan dari tiga perempuan yang menyaksikan pertarungan tersebut. Wajah mereka berseri-seri dan segera berlarian menghambur diri mendekati Pendekar Mabuk. Mereka tampak ingin memeluk Suto sebagai ungkapan rasa gembira mereka. Suto Sinting kebingungan dan segera sentakkan kakinya ke bumi lalu tubuhnya pun melenting di udara.

Wuuttt...!

Tebb...! Pendekar Mabuk hinggap di atas pohon tanpa timbulkan gerakan sedikit pun pada dedaunan pohon itu. Senyumnya mekar di sana dengan sangat menawan.

"Turunlah! Kenapa kau menghindar!" seru Sumbaruni.

"Aku takut kalian peluk bertiga!"

Mereka tertawa. Bulan Sekuntum yang jarang tertawa kali ini ikut tertawa. Manis sekali, tapi sama nilai kemanisannya dengan Dinada dan Sumbaruni.

"Tak ada yang ingin memelukmu! Jangan besar rasa dulu!" seru Dinada sambil masih memegangi serulingnya.

Suto Sinting pun segera lompat turun ke bawah bagaikan seekor burung garuda menampakkan keperkasaannya. Wuusss...! Jlegg...! Lalu, ketiga perempuan itu mendekat. Ketiganya menyergap Suto dalam pelukan.

"Mati aku kalau begini!" gumamnya dalam tawa. Ketiga perempuan itu buru-buru sadar dengan apa yang dilakukan.

"Terlalu jauh aku mengungkapkan rasa bahagiaku?!" pikir Dinada yang segera mengundurkan diri dengan malu.

"Oh, kenapa aku harus begini? Aku terbawa rasa gembiraku yang berlebihan! Aduh, memalukan sekali!" kata Bulan Sekuntum yang cepat-cepat melepaskan pelukan dan mundur tiga langkah.

Sumbaruni pun berkata, "Ya, ampuun... hangat sekali tubuhnya. Tapi, tidak begini cara menuangkan kebanggaanku. Ah, seperti perempuan murahan saja aku ini," lalu Sumbaruni lepaskan pelukan dan menjauh tiga langkah juga.

Pendekar Mabuk lepaskan napas lega. Ketiga perempuan itu saling menyembunyikan senyum sebagai ungkapan rasa malu.

"Selamat, kau berhasil menumbangkan angkara murka, Suto," kata Dinada dengan suara pelan dan senyum menawan.

"Lalu bagaimana dengan gelang pusaka itu?" tanya Sumbaruni.

"Seperti janjiku, harus dikembalikan kepada pemiliknya; Ratu Dewi Giok!"

"Jelmakan kembali gelang itu," ujar Bulan Sekuntum. "Jangan sampai lupa seperti saat kau menyembur pedangku. Hampir saja kau lupa menjelmakan kembali kalau tidak kutegur sebelum keluar dari kedai!"

Pendekar Mabuk tertawa kecil ingat peristiwa itu. Kemudian ia berkata, "Tidak akan kujelmakan di sini. Kalau ada tokoh jahat lain yang menghendaki bisa jadi bahan rebutan lagi. Sebaiknya antarkan aku menghadap Ratu Dewi Giok, Gelang Naga Dewa akan kujelmakan disana! Langsung kuserahkan kepada beliau!"

"Aku harus ikut!" sergah Sumbaruni.

"Kenapa kau ngotot sekali kelihatannya?"

"Siapa tahu kau main mata dengan sang Ratu!"

Bulan Sekuntum hanya mencibir lalu melengos, Suto Sinting tersenyum kian lebar, ia memaklumi kecemburuan itu, sebab ia tahu Sumbaruni sebenarnya sangat mencintainya. Sekalipun sudah ditolak namun tetap nekat. Suto hanya bisa angkat bahu, kemudian mereka berempat pergi ke Istana Tanjung Samudera.

Dengan jurus yang bernama 'Jelma Siluman', pusaka Gelang Naga Dewa itu diwujudkan kembali oleh Pendekar Mabuk di depan Ratu Dewi Giok, kemudian diserahkan kepada sang Ratu. Mata indah sang Ratu memandangi Pendekar Mabuk dengan penuh rasa kagum. Sumbaruni tampak masam menyembunyikan kecemburuannya. Suto Sinting hanya tersenyum-senyum sambil melengos ke arah lain.

SELESAI

Gelang Naga Dewa

Serial Pendekar Mabuk
Gelang Naga Dewa
Karya Suryadi

Cerita Silat Indonesia Serial Pendekar Mabuk Karya Suryadi
SATU
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan hal yang menyenangkan bagi Suto Sinting.

Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara seruling itu terdengar di kejauhan sana, arahnya sebelah barat daya. Suto Sinting tersenyum dengan hati penuh bunga-bunga indah. Suara seruling itu diresapi betul, hingga rohnya bagaikan ikut menari gemulai seirama nada lengking seruling.

"Luar biasa indahnya. Seakan bumi diisi oleh kedamaian semata. Baru sekarang aku merasakan keindahan isi dunia. Ooh... alangkah damai dan bahagianya hatiku siang ini. Biar ada rampok sepuluh pun masih kuanggap damai dan bahagia. Kenapa begini, ya? Mungkinkah karena alunan suara seruling itu?"

Pendekar Mabuk menenggak tuaknya kembali. Semakin indah saja isi dunia dirasakannya, aroma tuak dan irama seruling bagai suatu paduan yang jarang dinikmati. Ibaratnya, makan ayam panggang sambil diberi uang segepok. Jelas itu hal yang teramat indah bagi siapa saja.

Tak heran jika dalam hati Pendekar Mabuk mempunyai rasa penasaran. Rasa ingin tahu siapa peniup seruling itu membuatnya bangkit, tak jadi hanyut dalam tidurnya. Ia melangkah menuju barat daya sambil wajahnya berseri-seri dihiasi senyum yang menawan. Sampai di salah satu lereng berdinding batu, ia berhenti dengan dahi berkerut. Kepalanya ditelengkan pertanda sedang menyimak suara seruling lembut melenakan itu.

"Kenapa suaranya jadi ada di sebelah utara?! Apakah peniup seruling itu berpindah tempat? Tapi secepat itukah ia berpindah tempat? Ah, jangan-jangan kupingku mulai rusak sebelah?"

Semakin lama suara seruling yang didengarnya semakin melenakan kalbu melayangkan sukma. Alunannya yang meliuk gemulai itu bagaikan menghadirkan sejuta khayalan indah yang memikat hati. Senyum Suto sejak tadi tiada habisnya. Hati pun menjadi semakin panasaran. Maka dengan langkah lebih cepat lagi Pendekar Mabuk pergi ke arah utara. Sasaran utamanya tak lain adalah sumber suara seruling itu.

Namun ketika tiba di utara, hatinya menjadi terheran-heran, karena suara seruling itu ada di selatan. Suto Sinting sempat sangsi dengan pendengarannya, ia segera menyimak baik-baik suara seruling yang melenakan jiwa itu.

"Hmmm... benar juga! Pantulan gema membuat ku salah dengar. Bukan di utara sini, tapi di selatan sanalah si peniup seruling itu berada. Hmm... mungkin di balik pohon besar itu!" pikirnya.

Zlappp...! Suto Sinting tak sabar lagi. Ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman' untuk mempercepat langkahnya. Dalam sekejap ia sudah tiba di sebelah selatan lembah.

"Gila?! Sekarang suara seruling itu ada di timur?!" gumamnya dengan dahi berkerut karena terheran-heran. Ia diam sebentar, menyimak lantun suara seruling itu. Hatinya kembali berbunga-bunga, lalu timbul rasa penasaran lebih besar lagi.

Zlappp...! Jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah itu digunakan kembali untuk menuju ke timur. Sampai di timur, suara seruling itu ternyata ada di barat. Jelas sekali datang dari barat.

"Setan pikun!" gerutu Pendekar Mabuk sambil menghembuskan napas kesal, ia bertolak pinggang seraya geleng-geleng kepala.

"Rupanya ada seseorang yang ingin mempermainkan telingaku!" katanya dalam hati. "Aku yakin bukan telingaku yang salah, tapi si peniup seruling itu menggunakan kekuatan tenaga angin. Menyalurkan suara melalui udara dalam kendalian tenaga dalam sungguh merupakan ilmu langka yang patut mendapat pujian."

Zlapp...! Suto Sinting pindah ke barat dalam sekejap. Suara seruling ada di selatan. Masih melantunkan irama yang melenakan kalbu.

"Kurang ajar! Dia benar-benar ingin menguji ilmuku. Hmmm... siapa dia orangnya? Apa dia belum tahu kalau Pendekar Mabuk tak pernah mau menyerah jika ditantang hal-hal seperti ini?"

Napas ditarik dalam-dalam. Pendekar Mabuk segera bersiul panjang. "Suiiiiit... siuuuut...! Suiiiiut...! siiiiiuuuut... tuituuuuiiit...!"

Wuuurrsss...!

Alam menjadi gaduh. Burung-burung yang sedang bertelur berteriak dengan bahasanya masing-masing, beterbangan lari tunggang langgang. Binatang-binatang yang bersembunyi dalam semak pun lari pontang-panting sambil menyerukan suara tak jelas. Beberapa kera berlarian sambil memekik berteriak-teriak bagai habis dibakar ekornya. Suara seruling itu sendiri juga mengalun tak karuan nadanya. Kadang tersendat, kadang lurus, kadang terdengar sumbang.

Jurus 'Siulan Peri' pemberian dari bibi gurunya; Bidadari Jalang, telah digunakan oleh Pendekar Mabuk untuk membalas si peniup seruling itu. Jurus itu bisa membuat telinga orang maupun hewan menjadi pecah jika disiulkan agak lama sedikit. Karena siulan tersebut dialiri gelombang getaran tenaga dalam cukup tinggi.

Zlapp, zlapp, zlapp...!

Pada saat suara seruling itu menjadi sumbang dan tersendat-sendat, Suto Sinting melesat ke berbagai penjuru dengan kecepatan melebihi anak panah. Siulannya sudah dihentikan, tapi pendengarannya masih dipasang baik-baik. Ilmu 'Lacak Jantung' yang bisa dipakai untuk mendengarkan detak jantung orang lain segera digunakan pula. Dengan ilmu 'Lacak Jantung' itulah Pendekar Mabuk akhirnya menemukan di mana ada orang di sekitar lembah itu.

Wuttt...! Ia berhenti di atas sebuah pohon tanpa menimbulkan suara gemerisik. Ilmu peringan tubuhnya membuat ia mampu hinggap di dahan pohon besar berdaun rindang itu tanpa menggoyangkan satu daun pun.

"Hmm... kena kau sekarang!" ujarnya dalam hati dengan tersenyum bangga.

Ia memandang ke bawah, dan di bawah pohon itulah seorang gadis duduk bersila sambil meniup seruling. Gadis itu bersila di atas sebuah batu datar. Gadis itu tidak tahu kalau di atasnya ada orang yang tadi dipermainkan pendengarannya, ia tetap meniup seruling dengan tenang, mata terbuka, badannya tegak.

Suto Sinting melongok ke bawah sambilsenyum-senyum. Gadis berjubah kuning dengan pakaian dalamnya berwarna merah tua itu tampak cantik dalam keadaan rambutnya digulung dua bagian, kiri dan kanan. Tapi ada sisa rambut yang terjulur melambai bagaikan pita. Lantun serulingnya masih berkumandang hening dan meneduhkan hati. Suto Sinting menikmati alunan seruling itu sambil menggigit-gigit setangkai daun berukuran kecil.

"Dia sangka aku masih kebingungan mencarinya? He, he, he... dia tidak tahu kalau aku sudah ada di atasnya. Mainkan saja serulingmu, Nona manis. Jangan berhenti walau sekejap. Kalau perlu mainkan tanpa napas. He, he, he...!" hati Suto bercanda sendiri.

Tetapi tiba-tiba suara seruling melengking lebih tinggi. Walaupun dimainkan dalam serangkaian nada yang masih enak didengar, tapi makin lama semakin membuat jantung berdebar-debar. Suto Sinting menarik napas untuk meredakan debaran jantungnya.

"Gila! Kenapa jantungku jadi berdetak-detak seperti mau berontak?! Wah, kacau...! Jangan-jangan aku mau mati? Kok badanku jadi lemas dan gemetaran begini? Lho... lho...?! Malah ngantuk segala?! Ada apa ini?!" Suara seruling semakin melengking. Rasa kantuk kian membujuk. Kelopak mata bagaikan tak mau diajak damai untuk memandang keindahan yang ada di bawahnya. Mulut menguap bagai minta disuap. Kepala pun terkantuk-kantuk, nyawa bagaikan melayang.

Leess...! Gusrak...! Kraak ..! Brukkk...!

"Aaauuh...!" Suto Sinting terpekik karena jatuh dari atas pohon. Pinggangnya terganjal sebatang akar yang menggunduk mirip batu. Rusuknya bagaikan mau patah. Seketika itu juga rasa kantuk itu hilang. Yang ada hanyalah rasa sakit, jengkel, dan malu. Tentu saja ia malu karena ia jatuh tepat di depan gadis peniup seruling itu.

Gadis itu hentikan kerjanya, ia tetap duduk bersila, tapi wajahnya memancarkan kemenangan. Senyumnya adalah senyum melecehkan nasib Suto yang jatuh dari atas pohon. "Carilah penginapan kalau mau tidur. Jangan di atas pohon. Nanti seperti binatang codot," katanya dengan suara lembut dan merdu.

Suto Sinting segera menyadari bahwa rasa kantuk adalah kiriman dari gadis berwajah mungil itu. Hawa kantuk dan lemas dikirimkan melalui getaran nada seruling yang melengking tinggi tadi. Pendekar Mabuk segera bangkit dari jatuhnya, ia meringis canggung, antara memberi senyuman dan menahan rasa sakit di bagian pinggang dan tulang rusuknya. Untuk menutupi rasa malunya, Suto segera berkata dengan suara pelan.

"Bagus juga."

"Suara serulingku maksudmu?"

"Caramu menjatuhkan aku dari atas pohon, bagus juga!"

Gadis berbibir mungil itu tertawa kecil. Tawanya begitu manis menyayat hati. Matanya yang bundar berbulu lentik itu memandang Suto dengan berbinar-binar. Seakan di kedua mata itu terdapat genangan telaga berair bening dan sejuk di badan.

"Aku sengaja mengundangmu kemari," kata gadis itu.

"Mengundangku?" Suto berkerut dahi. "Apakah kau sudah tahu siapa aku?"

Gadis berkulit kuning itu menganggukkan kepala. "Kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar Pendekar Mabuk, bukan?"

"Dari mana kau tahu?"

"Dari ciri-ciri pakaianmu, bumbung tuakmu, dan ketampananmu."

"Kapan kau melihatku?"

"Ketika kau berbaring di bawah pohon sebelah timur tadi."

Suto terbungkam membayangkan saat-saat berbaring tadi. Lalu ia memandang gadis itu dengan dahi berkerut. "Aku tidak melihat seorang pun lewat di dekatku."

"Aku tidak lewat di sana, tapi memandangnya dari puncak bukit sebelah utara itu."

Suto pun segera melemparkan pandangannya ke arah utara. Di sana memang ada sebuah bukit agak tinggi. Puncaknya tanpa tanaman apa pun kecuali bongkahan batu-batu yang menjulang. Jaraknya cukup jauh menurut Suto, tapi gadis itu mengatakan,

"Kalau kau kupanggil saat aku di sana, kasihan. Terlalu jauh dan melelahkan bagimu untuk mendatangiku kesana."

"Sejauh itu?! Kau bisa melihatku berbaring dalam jarak sejauh itu?"

Gadis cantik itu mengangguk. Kini ia bangkit dan turun dari tempat duduknya. Seruling dari gading berukir itu diselipkan pada ikat pinggangnya. "Aku terpaksa memanggilmu dengan cara begini, supaya kau tidak menyepelekan panggilanku."

"Aku tak mengerti maksudmu, Nona."

"Nanti kau akan mengerti. Yang penting kau pahami, aku tak pernah memanggil seseorang dengan serulingku. Tapi karena kau bukan orang sembarangan, maka aku terpaksa memanggilmu dengan serulingku."

"Dia pikir aku ini ular kobra, dipanggil pakai seruling?!" gerutu Suto dalam hatinya. Tapi bibirnya mengucapkan kata yang berbeda dengan hatinya. "Apa perlumu memanggilku dengan cara seperti itu?"

"Kau harus menolongku."

"Harus...?! Itu namanya kau memaksaku."

"Mungkin memang memaksamu." Gadis itu memandang Suto dengan sikap tengil tapi tidak menyakitkan hati. Justru berkesan lucu dan menyenangkan. Lagaknya yang seperti gadis angkuh bercampur manja itu membuat Suto Sinting senang memperhatikannya.

"Siapa namamu. Nona?"

"Katakan dulu kesanggupanmu menolongku, baru kukatakan siapa namaku."

"Bagaimana aku bisa menolong orang yang belum kukenal namanya?"

"Jika kau melihat seorang nenek tenggelam di sungai, apakah kau akan membiarkannya?"

"Tentu aku menolongnya." jawab Suto dengan semangat.

"Apakah kau akan menolongnya setelah kau menanyakan namanya?"

Suto tersenyum geli. "Memang tidak mungkin kutanyakan namanya. Karena keadaannya sangat berbahaya, jadi tak perlu tanya nama, langsung saja kutolong. Setelah itu baru kutanyakan namanya."

"Jika begitu, apa bedanya dengan diriku? Mengapa kau tidak menolongku lebih dulu baru menanyakan namaku?"

"Karena kau bukan seorang nenek," jawab Suto mencari kemenangannya.

"Anggap saja aku seorang nenek."

"Tidak ada seorang nenek semuda kamu, secantik kamu, dan senakal kamu!" goda Suto lagi. Gadis itu sunggingkan senyum tak jelas; entah senyum geli atau senyum meremehkan godaan itu.

"Baiklah, aku akan menolongmu," kata Suto akhirnya menyerah daripada berdebat melantur-lantur menghabiskan waktu.

"Jadi, kau bersedia menolongku?"

"Ya, aku bersedia. Sekarang sebutkan namamu."

"Namaku...Dinada."

Suto berkerut heran, tapi menyunggingkan senyum geli. "Namamu aneh sekali. Apakah kau orang dari seberang?"

Dinada gelengkan kepala. "Aku orang dari Bukit Kasmaran. Letaknya di sebelah timur sana."

Pendekar Mabuk manggut-manggut sambil beradu pandang dengan Dinada. Ada getaran halus di hati Pendekar Mabuk saat pandangan mata beradu agak lama. Senyum nakal Dinada sengaja dipamerkan, dan senyuman itulah yang membuat Suto memendam keresahan, lalu segera buang muka. Ia menenggak tuaknya sesaat. Dinada melangkah agak menjauh. Kini ia berdiri dengan pundak kiri bersandar pada dinding, kakinya menyilang santai. Sehelai ilalang dicabutnya sebagai mainan tangan berjari lentik indah itu.

"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" tanya Suto Sinting.

Dinada baru saja mau menjawab, tapi bibirnya yang sudah merekah itu terhenti karena suara derap kaki kuda yang datang dari kejauhan. Suto Sinting menelengkan kepala menyimak suara derap kaki kuda itu.

"Ada yang mau datang kemari," kata Suto pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

Terdengar suara Dinada membuang napas. Suto Sinting menatapnya dan menemukan keresahan di wajah cantik itu. "Kita harus pergi dari sini," kata Dinada. Gadis itu mau bergerak pergi, tapi segera ditahan dengan suara Suto.

"Tunggu...!"

Dinada pun berhenti, tak jadi pergi, ia memandang Suto yang segera bertanya. "Kenapa harus pergi?"

"Apakah kau tak mendengar suara derap kaki kuda itu?"

"Ya, aku memang mendengar. Apakah kau takut melihat kuda?"

"Bukan kudanya yang membuatku takut, tapi penunggangnya."

"Siapa penunggangnya?"

"Si Raja Hantu. Lekaslah pergi dari sini."

"Nanti dulu. Kau tak perlu takut. Siapa Raja Hantu itu?"

"Pamanku," jawaban pendek itu membuat Suto bertambah heran.

"Aneh. Kenapa kau takut pada pamanmu?" Suto tertawa pelan. Dinada menarik napas sebentar, wajah cerianya hilang.

"Pamanku orang gila. Dilawan salah, tidak dilawan salah. Jadi sebaiknya dihindari saja."

"Gila apa? Gila harta, gila jabatan, gila pangkat, gila hormat atau gila betulan?"

"Gila perempuan!" jawab Dinada dengan bibir mungil membentuk kerucut seperti cemberut.

Suto Sinting malah menertawakan. "Bagiku, adalah sebuah kodrat jika lelaki gila perempuan. Itu hal yang wajar."

"Jika seorang Paman ingin memperistri keponakannya apakah juga hal yang wajar?!"

"Lho...?! Kalau itu memang perlu dihajar. Tapi... apakah dia ingin memperistrimu?"

"Bahkan dua kali aku nyaris berhasil diperkosanya."

"Wah, kelewatan!" Suto geleng-geleng kepala. Mulutnya mengeluarkan decak keheranan.

"Makanya kita cepat menyingkir dari sini sebelum ia berhasil melihatku!"

"Mengapa tidak kita hadapi saja?!"

"Ilmunya sangat tinggi! Kau bisa celaka kalau berhadapan dengan Paman Raja Hantu."

"Apakah kau pernah melihat aku mencoba melawannya?"

Gadis cantik berhidung kecil tapi bangir itu kelihatan makin gelisah. Hal itu disebabkan karena suara derap kaki kuda semakin dekat dan kian jelas.

"Jangan takut, aku akan ada di pihakmu. Aku akan melindungimu."

Pendekar Mabuk justru mendekati gadis itu. Sang gadis jadi salah tingkah. Ingin lari, tapi mendapat jaminan dari Pendekar Mabuk demikian. Mau diam saja, khawatir kalau sang pendekar tak mampu mengimbangi ilmu pamannya.

"Sebaiknya aku lari saja tanpa pedulikan pemuda ini!" pikir Dinada. Tapi baru saja otaknya berpikir demikian, derap kaki kuda telah mendekat. Kuda itu dipacu dengan cepat. Arahnya jelas menuju ke tempat mereka berada. Dinada merasa sudah telanjur kepergok, akhirnya tak jadi pergi. Ditambah lagi, Suto mengambil sikap berdiri di depannya, sehingga Dinada merasa dilindungi oleh tubuh kekar yang gagah dan berwajah tampan itu.

"Iieeehhhkk...l" kuda itu meringkik karena tali kekangnya ditarik kuat-kuat. Hewan tersebut berhenti sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Penunggangnya seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahunan. Orang itu selain bertampang angker dengan mata lebar bertepian merah, juga mempunyai codet di pipi kanan, ia berkulit hitam, tebal. Badannya tergolong besar.

Dengan rambut panjang sepunggung tak diikat dan jubah hitam berlengan panjang, ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Celananya merah, tanpa baju. Badannya penuh bulu, kecuali wajahnya justru kelihatan tanpa kumis dan jenggot. Tapi alis matanya sangat tebal, bisa dipelintir seperti kumis. Sebuah cambuk melingkar di pinggang kanannya.

"Dinada...!" sapanya dengan suara keras dan besar, berkesan kasar. Gadis itu tidak menjawab, ia malahan buang muka dengan wajah cemberut bercampur takut.

"Apakah kau tidak sayang dengan kecantikan dan kemulusan tubuhmu, hah?! Kau minta dihajar pakai cambuk?! Jawab, Dinada!" bentaknya.

Dinada masih diam. Tidak menunduk tapi juga tidak memandang pamannya. Sikap berdirinya cenderung memunggungi sang paman. Lelaki berwajah angker mirip kuburan para jin itu tampak semakin gusar, ia segera turun dari kudanya dan melangkah mendekati Dinada tanpa mempedulikan keberadaan Suto disitu.

"Jangan-jangan mata orang ini lamur, tak bisa melihat aku ada di sini?!" pikir Suto Sinting, lalu ia segera bergeser ke kiri menutup langkah orang angker sebelum orang itu lebih dekat lagi. Sikapnya melindungi Dinada ditonjolkan.

Orang itu pun hentikan langkah dan memandang Suto Sinting dengan penuh nafsu menghajarnya. "Minggir kau!" hardiknya.

"Apakah kau pamannya Dinada yang bernama Raja Hantu?!" Suto bahkan bertanya kalem.

"Iya! Sudah tahu pakai bertanya segala! Mau apa kau, hah?!"

"Melindungi Dinada!" jawab Pendekar Mabuk dengan tegas sekali, membuat Raja Hantu terkesiap.

"Anak haram kau! Berani-beraninya bersikap begitu didepanku, Hah?! Apakah kepalamu belum pernah pecah?!"

"Pecah memang belum. Tapi retak sering, Paman," jawab Suto tampak sabar dan tenang sekali. Tentu saja sikap itu membuat Raja Hantu semakin berang.

Dua jari tangannya mengeras lurus, lalu ditusukkan ke depan, seperti menusuk udara. Suttt...!

"Heegh...!" Suto Sinting terpekik tertahan. Ulu hatinya seperti disodok memakai bambu sebesar betis. Mual dan sakit sekali. Tubuh pemuda berbaju coklat tanpa lengan itu sempat terbungkuk karena menahan rasa sakit itu. Rupanya Raja Hantu mengirimkan pukulan tenaga dalamnya berupa sodokan kuat di ulu hati Suto Sinting. Bahkan kali ini dua jari yang mengeras itu ditebaskan dari kiri ke kanan, seperti membabat nyamuk. Wettt...!

"Aauh...!" Suto Sinting mengaduh lagi. Pipinya bagai ditampar memakai kayu balok. Tulang pipi terasa mau pecah. Suto Sinting sempat terpelanting ke kiri. Ada bekas memerah di pipi Suto. Hal itu membuat Dinada menjadi cemas dan salah tingkah.

"Jangan bersikap sekasar itu, Paman!" bentak Dinada.

"Aku akan lebih kasar lagi jika kau tidak mau pulang bersamaku!"

"Tidak! Saya tetap akan di sini!" tegas Dinada.

"Kalau begitu aku berhak menyiksa anak muda itu. Karena anak muda itulah yang membuat kau betah tinggal disini!"

"Jangan, Paman...!" sergah Dinada.

Raja Hantu hendak menyodokkan keempat jarinya, mengirimkan sodokan tenaga dalam dari jarak jauh. Tetapi Pendekar Mabuk lebih dulu menyentilkan jarinya, melepaskan jurus 'Jari Guntur'.

Tess...!

"Huaahhg...!" Raja Hantu terpental ke belakang dan membentur moncong kudanya. Sang kuda meringkik bagaikan perawan tak mau dicium.

Jurus 'Jari Guntur' adalah mengirimkan sentilan bertenaga kuda dari jarak jauh yang membuat lawan seperti disepak kuda jantan. Sentilan itu diarahkan di dada Raja Hantu, sehingga dada orang berwajah angker itu terasa mau pecah, napasnya sedikit sesak. Kalau tak ada moncong kuda ia akan jatuh terkapar karena sentilan bertenaga dalam tinggi itu.

"Jahanam iblis kau!!" geram Raja Hantu sambil menegakkan berdirinya. "Kuhancurkan kepalamu yang masih bau kencur itu, heeeaah ..!" Raja Hantu melompat bagaikan terbang.

Suto Sinting menggeloyor bagaikan orang mabuk hendak jatuh, tapi ternyata tangannya menyentak pada batang pohon, membuat tubuhnya bersalto ke belakang. Wuuttt...! Ia berjungkir balik di atas kepala Raja Hantu. Dengan cepat kakinya menendang dalam satu sentakan yang mengejutkan.

Desss...! Plokk...!

"Aoww...!" Wajah Raja Hantu menjadi sasaran kaki Pendekar Mabuk. Akhirnya ia kehilangan keseimbangan, lalu mendarat di tanah dengan posisi jatuh menyamping.

Brukk...!

"Bangsaaat...!!" teriaknya semakin berang, ia segera bangkit lalu melepaskan pukulan bersinar merah ke arah Suto Sinting. Clapp...! Sinar merah yang keluar dari telapak tangan Raja Hantu ditangkis Suto Sinting menggunakan bumbung tuaknya.

Dubb ..! Slappp...!

Sinar itu membalik arah dalam keadaan lebih besar dan lebih cepat dari aslinya. Raja Hantu terkejut sekali, ia tak dapat menghindar. Namun tangannya segera berkelebat menangkap sinar merah tersebut.

Wuuttt...! Trubb...!

Sinar merah bagaikan mengumpul dalam genggaman. Tangan yang menggenggam itu membara bagai memancarkan sinar merah berasap. Suto Sinting sempat terperanjat melihat sinar tenaga dalam yang cukup besar itu mampu ditangkap oleh tangan Raja Hantu. Namun sesaat kemudian Raja Hantu berteriak kepanasan.

"Heeaaah...!" Genggamannya dilemparkan ke arah Suto Sinting.

Wuuttt...!

Gumpalan asap memancarkan warna merah bara melesat menghantam Suto. Tetapi Pendekar Mabuk segera melepaskan jurus 'Pecah Raga'-nya. Sinar hijau melesat dari telapak tangan, diadu dengan gumpalan asap merah itu. Clapp...!

Blegarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi mengguncang tanah sekeliling. Raja Hantu terpental sambil mengerang kesakitan karena telapak tangannya menjadi hangus akibat menangkap sinar merah tadi. Ia dilemparkan oleh gelombang ledakan hingga tubuhnya terjepit batang pohon besar yang tumbuh bercabang.

"Suto, lekas naik!" seru Dinada. Rupanya gadis itu sudah berada di atas kuda dan siap melarikan diri. Suto masih bingung dan ragu-ragu.

"Lekas naik! Tinggalkan dia!" sentak Dinada dengan tegang. Maka, Suto Sinting pun melompat ke punggung kuda, dan Dinada membawanya lari.

"Hooii...! Jangan lari, Jahanam!" seru Raja Hantu dalam keadaan terjepit.

Dinada tetap berlari memacu kudanya tanpa menghiraukan seruan pamannya. Suto Sinting hampir jatuh dari punggung kuda. Ia segera memeluk pinggang Dinada dengan kikuk.

"Mau ke mana kita?!"

"Ke mana saja. Cari tempat yang aman!"

"Mengapa harus lari?! Aku masih sanggup melawannya!"

"Dia pasti akan menggunakan cambuknya!" seru Dinada mengimbangi derap kaki kuda.

"Aku justru ingin mencoba menghadapi senjata cambuk pamanmu itu! Aku ingin tahu seberapa kekuatan cambuknya!"

"Bisa menyebarkan racun berbahaya. Sekalipun bisa kau hindari tapi racun yang menyebar tak akan bisa kau hindari. Dan lagi kalau kau kena racun cambuknya, nyawamu tidak akan lebih dari lima helaan napas. Dia..."

"Awas...!" teriak Suto karena kuda akan lompat ke jurang di depannya. Dinada berusaha menghentikan kuda, atau membelokkan ke arah lain, tapi kuda tetap berlari lurus bagaikan ingin menceburkan mereka berdua ke sebuah jurang.

"Celaka! Kuda ini tidak mau dikendalikan lagi!" Wajah Dinada semakin tegang ketika tepian jurang tinggal beberapa langkah lagi.

* * *

DUA

DENGAN satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar Mabuk melesat lompat dari atas punggung kuda. Tangannya menyambar gadis di depannya. Wuuttt...! Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam pelukan Suto Sinting. Gadis itu dipeluk erat-erat karena khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang.

"Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya berakhir di dasar jurang.

Jlegg...! Suto Sinting berhasil mendaratkan kakinya di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari pelukan Pendekar Mabuk. Begitu pelukan dilepas oleh Suto, Dinada segera berbalik menghadap Suto. Tersenyum kaku, lalu... plok! Suto ditampar dengan tangan kiri.

"Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam kesempitan kau, ya?!" gertak Dinada.

Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup membuat Suto malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap- usap pipinya yang kena tampar.

"Kuda itu dikendalikan dari jarak jauh," kata Suto.

"Iya. Tapi kau tak perlu memelukku sedemikian rupa!"

"Habis bagaimana? Kalau aku tidak menyambarmu dengan cara begitu kau ikut terjun ke jurang bersama kuda itu! Kau akan mati!" Suto agak ngotot.

Gadis itu juga ngotot. "Iya. Memang tak ada cara lain kecuali dengan menyambarku begitu. Tapi jari tanganmu jangan macam-macam! Tak perlu pakai meremas segala."

"Aku... aku meremas karena memegangi kainmu biar peganganku kuat."

"Kuat. Kuat...! Hemm...!" Dinada bersungut-sungut sambil melengos. Wajahnya sempat memerah dadu karena menahan malu akibat remasan Suto yang dianggap kurang ajar itu. Sedangkan Suto Sinting pun ikut melengos sambil nyengir kuda, menahan geli dalam hatinya.

Dalam beberapa waktu mereka sudah tiba di pantai. Dinada sudah tak berang lagi. Ia sengaja menghentikan langkahnya untuk beristirahat di bawah pohon yang masih beberapa langkah jaraknya dari pasir pantai. Di sana ada batang kayu yang tumbang sudah lama. Di batang kayu itulah Dinada duduk melepaskan kelelahannya.

"Mengapa kau tadi tidak menggunakan serulingmu untuk melawan Raja Hantu?" tanya Pendekar Mabuk setelah menenggak tuaknya dua teguk.

"Justru aku menghindari puncak kemarahannya supaya ia tidak menggunakan cambuknya. Kalau aku menggunakan serulingku, pasti dia akan menjadi kian marah dan menggunakan cambuknya untuk menyerang kita."

"Apa kehebatan cambuknya?"

"Sudah kukatakan tadi cambuk itu bisa menyebarkan racun berbahaya yang sulit dihindari. Karena itulah dinamakan Cambuk Bintang Berbisa. Jika ia sudah menggunakan cambuknya, tak pernah ada lawan yang bisa selamat dari maut."

Pendekar Mabuk menggumam pelan, ia ikut duduk dibatang kayu itu. Bumbung tuaknya dipegang tegak lurus, seperti memegang tongkat yang ujungnya menempel tanah. Ombak samudera kelihatan bergulung-gulung di kejauhan sana. Sekitar tiga puluh langkah dari tempat mereka duduk, pasir pantai tampak menghampar putih bagaikan permadani berbulu domba. Sambil memandang ke arah ombak yang memercikkan buih laut, Pendekar Mabuk perdengarkan suaranya.

"Perkara si Raja Hantu itukah yang menjadi masalahmu sehingga kau ingin memintatolong padaku?"

"Bukan soal dia," jawab Dinada. "Ada persoalan yang lebih berat dari masalah pamanku."

"Tunggu dulu," potong Suto. "Sudah lamakah Raja Hantu mengganggumu dan berniat mengawinimu?"

"Sudah lebih dari empat purnama."

"Mengapa kau tidak melawannya mati-matian?"

"Aku takut benar-benar mati. Selain Raja Hantu punya ilmu tinggi, dia juga pengganti orangtuaku. Sejak kecil aku diasuh olehnya. Usia sepuluh tahun aku berguru. Pulang dari berguru, wataknya sudah berubah demikian. Aku jadi serba salah, mau kulawan tapi ingat bahwa dia pengganti kedua orang-tuaku yang telah tiada dan pernah membesarkan diriku. Tidak kulawan, dia mengancam masa depanku. Aku jadi bingung sendiri."

"Mengapa kau tidak kabur saja?"

"Ke mana pun aku pergi dia selalu mengetahui tempat persembunyianku."

"Apakah dia juga tinggal di Bukit Kasmaran?"

Dinada menggeleng. "Bukit Kasmaran adalah tempat perguruanku."

"Kau tidak minta bantuan gurumu?"

"Guruku telah tiada, ia wafat dua tahun yang lalu."

"Jadi sekarang Bukit Kasmaran dikuasai oleh siapa?"

"Pancasurti yang berjuluk Merak Cabul. Dia kakak seperguruanku."

"Kau tidak bergabung lagi dengan Bukit Kasmaran?"

Dinada memandang dengan mata bundarnya yang berbulu lentik itu sambil gelengkan kepala. Bibirnya yang mungil indah menggemaskan itu bergerak-gerak memukau dalam bicaranya.

"Merak Cabul sudah menyimpang dari ajaran perguruan, ia menggunakan perguruan sebagai wadah pemburu cinta, ia mengumpulkan beberapa pemuda dan membebaskan orang-orang perguruan bercinta di dalam pesanggrahan. Perguruan Bukit Kasmaran sudah rusak, hidupnya bagai sebuah perguruan tanpa susila lagi, tempat percabulan tanpa batas. Aku tidak setuju dan keluar dari Bukit Kasmaran."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Gumamnya terdengarlirih. "Apakah tak ada yang bisa mencegah perbuatan si Merak Cabul?"

"Satu-satunya yang bisa melawan dia sebenarnya adalah anak kandung dari mendiang guruku. Tapi... orang yang kuanggap saudara sendiri itu ternyata tingkah lakunya juga kurang beres. Aku terlibat masalah dengannya dan membuatku menjadi muak padanya. Kalau saja..."

Tiba-tiba mulut berbibir mungil itu dibekap oleh Suto Sinting. "Ssst...!" bisik Suto dengan wajah sedikit tegang. Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya oleh Suto. Tetapi ketika melihat wajah Suto menjadi tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga.

"Aku mendengar suara detak jantung orang lain di sekitar kita," bisik Suto Sinting. Napasnya terasa menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit telapak tangan Suto.

"Sial!" gerutu Suto sambil mengibaskan tangannya yang digigit.

Wuttt...! Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya melayang di udara dan bersalto satu kali. Suto terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah benda menancap di tempat duduk Dinada.

Jrabb...!

Suto makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat. Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan, menandakan senjata itu mengandung racun yang berbahaya. Suto ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru,

"Jangan sentuh!"

Suto menatap Dinada. Sebelum bertanya apa sebabnya benda itu tak boleh disentuh, Dinada sudah menjawab, "Benda itu mengandung racun yang jika disentuh orang bisa bikin mati penyentuhnya!"

Pendekar Mabuk cepat sentakkan kaki dan tubuhnya pun melesat naik ke atas pohon itu, hinggap di salah satu dahannya. Wutt....! Bekas tempat duduk Suto terlihat dua benda yang sama, yang tak diketahui sejak kapan menancap di batang kayu tempat duduk itu. Hanya Suto Sinting yang bisa merasakan kehadiran benda tersebut. Kejap berikutnya terdengar suara tawa mengikik seperti tawa kuntilanak kesurupan.

"Hi, hi, hi, hi, hi...!"

Tawa itu tidak datang dari satu arah, tapi berkeliling arah, bagai mengitari tempat tersebut. Tentu saja hal itu membuat Dinada dan Suto Sinting memandang berkeliling mencari siapa orang yang tertawa itu.

Wuttt...! Jlegg...!

Dinada langsung menghantamkan pukulannya sambil berbalik arah. Tapi pukulan segera ditahan, tak jadi dilepaskan. Karena orang yang datang di belakangnya itu adalah Suto sendiri yang baru turun dari atas pohon.

"Hampir saja kepalamu pecah!" kata Dinada dengan jengkel karena kecele, menyangka orang lain yang muncul dibelakangnya.

Mereka segera adu punggung. Mata mereka masih memandangi sekeliling karena suara tawa itu terdengar lagi dan berkeliling mengitari tempat itu.

"Jangan-jangan suara burung terbang?" bisik Suto.

"Dugaanku juga begitu. Suara itu ada bagaikan mengeliling dedaunan pohon."

"Hati-hati saja, kalau bukan seekor burung beo, pasti orang itu berilmu tinggi."

"Mungkinkah burung beo bisa melemparkan senjata rahasia?!" bisik Dinada tanpa memandang Pendekar Mabuk.

"Bisa saja, asal burung itu dibawa oleh seseorang. Burungnya tertawa orangnya melemparkan senjata rahasia."

"Jangan bercanda. Kita dalam bahaya!" hardik Dinada yang tampak cukup tegang menghadapi gangguan tersebut.

Tiba-tiba datang angin dari hembusan pelan makin lama semakin kencang. Angin membawa serbuk putih yang bertaburan ke mana-mana. Serbuk putih itu menerpa dedaunan, batang, ranting, dan tentunya juga menghamburi tubuh mereka. Namun sebelumnya Dinada sudah berseru lebih dulu,

"Debu Neraka...!!"

Dinada segera mencabut serulingnya dan buru-buru ditiup. Tiupan seruling berirama aneh itu menghadirkan angin yang bergerak memutar. Angin itu dalam waktu singkat sudah menjadi semacam topan kecil yang mengelilingi tubuh mereka berdua, sehingga debu-debu yang akan hinggap di tubuh mereka terlempar ke arah lain. Bau terbakar mulai menusuk hidung. Pendekar Mabuk terperangah setelah menyadari daun-daun terbakar. Ternyata semua benda yang terkena debu putih itu kini dalam keadaan menghangus karena terbakar. Dahan, ranting, bahkan batang pohon mana pun yang terkena debu putih itu menjadi hangus terbakar.

"Luar biasa! Rupanya debu putih itu mempunyai kekuatan membakar cukup tinggi. Pantas kalau dinamakan 'Debu Neraka'. Untung saja Dinada mampu mengurung diri dengan hembusan angin serulingnya hingga tak satu pun debu yang mengenai tubuhku dan tubuhnya," kata Suto membatin keheranan.

"Hiih, hih, hih, nih, hih...!" suara tawa mengikik terdengar lagi bagaikan terbang mengelilingi pepohonan yang sudah mengering hangus dalam waktu singkat itu. Debu putih itu telah lenyap. Seruling pun dihentikan. Angin topan yang mengelilingi tubuh mereka juga lenyap. Kini yang tinggal hanyalah asap putih samar-samar dari batang-batang pohon yang telah gundul akibat terbakar itu.

"Cepat kita tinggalkan tempat ini!" kata Dinada. Ia lebih dulu bergerak pergi ke arah pantai. Pendekar Mabuk mengikutinya sambil mengawasi bagian belakang, takut diserang dengan senjata rahasia seperti tadi.

Namun begitu kaki mereka menapak di pasir pantai, tiba-tiba langkah pun terhenti. Sesosok tubuh tua dan bongkok menghadang mereka dengan tongkat hitamnya yang berkepala tombak iblis: seperti garpu dua mata yang masing-masing ujungnya runcing bagai ujung anak panah. Sosok tua bongkok itu mengenakan jubah abu-abu dengan rambutnya yang putih dikonde sebagian, sisanya meriap dipermainkan angin pantai. Tubuhnya kurus, kulitnya keriput, hingga wajahnya bagaikan kain yang sudah setahun tertindih almari. Matanya kecil, tapi tajam. Mulutnya berkerut-kerut dengan bibir masuk ke dalam pertanda giginya sudah habis. Nenek tua bongkok itu tertawa mengikik.

Suto Sinting hanya membatin, "O, rupanya nenek ini yang tadi tertawa berkeliling?"

Dinada menyapa dengan nada sinis. "Rupanya kau yang mengganggu kami tadi, Nini Kutang Katung?!"

"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!"

"Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?"

"Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu menentang kehendakku, dan jangan coba-coba melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"

Pendekar Mabuk berbisik kepada Dinada. "Siapa orang ini?"

"Nini Kutang Katung."

"Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang' aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru mendengarnya sekarang."

"Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku; Raja Hantu."

Pendekar Mabuk pun angguk-anggukkan kepala sambil menggumam lirih.

"Apa maksudmu menemui kami, Nini?!" tanya Dinada.

"Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang saatnya aku meminta pusaka itu, Mila!"

"Aku tidak membawanya!"

"Omong kosong! Mata tuaku belum terlalu rabun, sehingga masih bisa melihat kau menangkap pusaka itu dan membawanya lari. Serahkan pusaka itu atau kubakar habis tubuhmu yang mulus dan menggoda tiap lelaki itu. Hih, hih, hih, hih...!"

"Sstt...!" desis Suto kepada Dinada. "Mengapa dia memanggilmu 'Mila', bukan 'Dinada'?"

"'Mila' hanya ada di dalam 'nada', bukan? Nah, jadi... eh, tunggu! Kita sedang menghadapi lawan bahaya, kenapa harus berdebat soal nama?!"

Dinada segera berkata kepada Nini Kutang Katung, "Apapun yang akan kau lakukan aku siap menghadapimu, karena aku memang tidak membawa pusaka itu, Nini!"

"Bocah gendeng! Itu sama saja kau kepingin mati sekarang juga! Apakah kau tak bayangkan kalau kekasihmu itu akan patah hati jika kau mati?!"

"Dia bukan... bukan...," Dinada tak berani lanjutkan ucapannya, ia melirik pemuda tampan di sampingnya.

Suto Sinting hanya tersenyum tipis dan sedikit angkat bahu, seakan berkata, "Terserah apa katamu!"

"Aku tidak banyak waktu lagi!" sentak Nini Kutang Katung. Serahkan pusaka Gelang Naga Dewa itu jika percintaanmu ingin berlangsung dengan lebih mesra lagi!"

"Gelang Naga Dewa?!" gumam Suto Sinting dengan nada kaget.

"Ya. Gelang Naga Dewa!" sahut Nini Kutang Katung yang walaupun tua tapi kupingnya belum budeg. "Kau pasti melihatnya, Anak muda! Kau tahu di mana Mila menyimpan pusaka itu?!"

"Ak... Aku...," Suto bingung menjawabnya, ia memandang Dinada, tapi yang dipadang berlagak tidak tahu. Tatapan mata Dinada tertuju pada Nini Kutang Katung.

Nenek itu mendekat dua tindak, bicaranya tertuju kepada Suto Sinting. "Pemuda tampan, bujuk gadismu itu agar mau serahkan pusaka Gelang Naga Dewa ketimbang dia mati sebelum kau cumbu. Hih, hih, hih, hih...!"

"Bicaralah yang sopan, Nini!" hardik Dinada yang wajahnya menjadi merah dadu karena malu.

"Mana pusakaku itu!" tegas sang nenek.

"Pusaka itu tidak ada padaku!" bentak Dinada. "Bukan aku yang membawanya."

"Lalu siapa menurutmu?!"

"Anak Petir!"

Jawaban itu bukan saja membuat Nini Kutang Katung terkejut, tapi juga membuat Pendekar Mabuk terperanjat kaget dan memandang Dinada dengan tajam. Karena nama Anak Petir membuat ingatan Suto melayang ke masalah huru-hara di Tanjung Samudera beberapa waktu yang lalu. Gelang Naga Dewa juga ada kaitannya dengan Ratu Dewi Giok, penguasa Negeri Tanjung Samudera itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Mata nenek tua itu kian mengecil ketika Dinada menjelaskan bahwa pusaka Gelang Naga Dewa ada ditangan si Anak Petir. Nini Kutang Katung bagaikan mencari kejujuran melalui sorot pandangan mata Dinada. Beberapa saat kemudian, "Aku tak percaya benda itu ada ditangan si Anak Petir! Kau hanya ingin mengadu domba antara aku dengan si Anak Petir!"

"Terserah kesimpulanmu! Tapi itulah kebenaran yang ada. Kalau kau menghendaki Gelang Naga Dewa dariku, kau hanya akan membuang-buang waktu saja, Nini!"

"Aku jadi tak sabar membujukmu! Sebaiknya terima saja pelajaran baru dariku ini, Gadis bodoh! Heeah...!"

Tongkat ditancapkan di pasir, lalu kedua tangan Nini Kutang Katung menyentak ke depan seperti ingin mencengkram. Dari tiap jarinya melesat sinar bintik- bintik warna hijau. Sepuluh larik sinar itu menyerang Dinada. Werrss...!

Wutt...! Dinada bagaikan terlempar ke atas karena kakinya menyentak ke bumi. Tubuhnya melesat tinggi, sehingga kesepuluh sinar dapat dihindarinya.

Hampir saja Suto terkena sinar itu. Untung ia pun segera melesat ke samping dan berguling ke pasir pantai sambil menggenggam bambu tuaknya. Wuttt...! Dan sepuluh sinar hijau itu menghantam gugusan batu karang jauh di belakang mereka berdua.

Zrrakkk...!

Gugusan batu karang hancur menjadi debu yang menyebar ke mana-mana. Padahal gugusan batu karang itu besarnya melebihi sebuah rumah. Begitu terkena sepuluh sinar hijau menjadi lenyap begitu saja tanpa bunyi ledakan yang menggelegar.

Wess...! Dinada mengibaskan seruling gadingnya. Dari ujung seruling keluar seberkas sinar merah yang berkelebat bagaikan pita yang menyabet kepala Nini Kutang Katung.

"Hi, hi, hi, hi...!" nenek bongkok itu hanya tertawa, tangannya berkelebat bagai menyambar lalat. Ternyata kibasan tangannya itu menghadirkan angin besar yang membuat sinar itu pecah sebelum menyentuh tubuhya.

Duarrr...!

Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.

Clapp...! Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang belum menyadari kedatangan sinar itu.

Pendekar Mabuk tidak mau biarkan gadis itu hancur seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Turangga Laga' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke depan mengeluarkan sinar ungu yang menghantam perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu. Zlapp...!

Blegarrr...!

Ledakan yang menggelegar membahana membuat Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja dicabut.

"Dinada, cari tempat berlindung!" seru Suto Sinting yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang Katung. Bumbung tuaknya siap di tangan kanan dengan tali melilit di telapak tangan kanan.

"Maling kecut! Baru sekarang ada orang bisa membuatku terjungkal! Mau cari liang kubur kau, hah?! Heeah...!"

Nini Kutang Katung menyentakkan tongkatnya. Kedua ujung tongkat yang membentuk anak panah itu terarah ke depan dan mengeluarkan sinar berkelok-kelok warna biru. Gerakan sinar itu melesat ke sana-sini bersimpang siur membingungkan. Suto Sinting tidak berani menangkis dengan bumbung tuaknya karena gerakan sinar tak menentu arah. Ia hanya bersalto cepat ke belakang beberapa kali.

Wes, wes, wess...!

Zlapp...! Tahu-tahu pemuda tampan itu sudah berada di satu gugusan karang yang cukup tinggi.

Clap, clapp...!

Blegarrr...!

Sinar biru tak tentu arah itu tiba-tiba bisa dilumpuhkan oleh datangnya sinar merah yang menyerupai bintang berekor. Akibatnya timbullah ledakan yang cukup dahsyat dan mengguncangkan alam sekitar tempat itu. Suto Sinting nyaris terpelanting jatuh dari atas gugusan batu karang itu.

"Keparat! Rupanya kau belum jera melawanku, Raja Hantu!"

Suto Sinting dan Dinada terkejut, segera memandang ke arah pepohonan yang tadi terbakar hangus itu. Ternyata di sana sudah berdiri seorang lelaki berwajah angker yang tak lain adalah Raja Hantu.

"Kau lawanku, Nini!" sentak Raja Hantu kemudian ia melesat bagaikan terbang sambil mencabut cambuknya.

"Dinada, cepat tinggalkan tempat ini selagi mereka bertarung sendiri!" kata Suto Sinting karena ia khawatir dengan keselamatan gadis cantik itu.

Zlappp...! Dinada disambar Suto dan dibawa lari dengan gunakan jurus 'Gerak Silmuan'.

"Hei, hei... jangan begini! Kau nakal lagi, Suto!" teriak Dinada yang dikempit oleh Suto dengan satu tangan. Tapi suara itu tidak dihiraukan oleh Pendekar Mabuk yang tetap berlari dengan kecepatan melebihi anak panah.

* * *

TIGA

SEBUAH gubuk tak bertuan di dalam hutan menjadi tempat peristirahatan mereka untuk sementara. Di barat langit sudah memerah. Sebentar lagi petang akan datang. Gubuk tak bertuan yang sebagian dindingnya sudah jebol akan dipakai untuk bermalam oleh Pendekar Mabuk.

Gadis cantik yang masih memegangi serulingnya itu sengaja menjauhi Pendekar Mabuk, ia masih jengkel dengan tindakan Suto menyambarnya dan membawa lari. Bukan langkah penyelamatan Suto yang menjengkelkan hatinya, tapi tangan Suto menyentuh dadanya sewaktu menyambar dan membawanya lari.

"Mengapa begitu saja marah? Aku toh tidak sengaja," kata Suto Sinting sambil menahan geli dalam hatinya.

Dinada masih cemberut. Bicaranya bernada ketus. "Tidak sengaja kok sudah dua kali begitu," gerutunya dengan bibir mungilnya meruncing.

"Maafkan aku," kata Pendekar Mabuk. "Aku tidak bermaksud kurang ajar kepadamu. Lupakanlah hal itu."

"Takkan mungkin bisa kulupakan seumur hidupku."

Pendekar Mabuk hanya terkekeh geli, namun tak berani keras-keras. Takut gadis itu semakin berang. "Apa maksudmu tak bisa dilupakan seumur hidup? Terkesan atau..."

"Pikir sendiri!" potongnya menyentak.

"Aku tak bisa berpikir sebelum kau jelaskan tentang si Anak Petir itu."

Kali ini Dinada mengangkat wajah dan menatap Suto Sinting. "Apakah kau kenal dengan si Anak Petir?"

"Dia hampir saja membuat namaku hilang karena dianggap sudah mati. Dia yang membuat negeri Tanjung Samudera diserang para sahabatku, karena Ratu Dewi Giok dituduh telah membunuhku!"

Dahi gadis itu kian berkerut heran. "Jadi, kau juga mengenal Ratu Dewi Giok?"

"Pemilik pusaka Gelang Naga Dewa itu, bukan?!"

Dinada tertegun memandangi murid si Gila Tuak, ia tidak menduga kalau murid si Gila Tuak yang ilmunya sinting itu ternyata mengenal Ratu Dewi Giok.

Bahkan Suto pun bertanya, "Benarkah pusaka Gelang Naga Dewa ada di tangan si Anak Petir?"

Dinada menarik napas. "Itulah persoalanku yang sebenarnya. Karena persoalan itu pula aku memanggilmu dengan seruling dan ingin meminta bantuanmu untuk merebutkan kembali Gelang Naga Dewa dari tangan si Anak Petir."

Kini ganti Suto yang terbengong. "Aku memang sering mendengar nama itu, tapi aku belum pernah bertemu dengan si Anak Petir. Bagaimana aku bisa merebut gelang itu?" pikir Suto dalam bengongnya. "Ini persoalan berat. Menurutku lebih berat dari menangani tingkah laku si Raja Hantu!"

Dinada menceritakan tentang gelang tersebut. "Pamanku, Raja Hantu, berhasil mencuri gelang tersebut dari tangan Ratu Dewi Giok. Akhirnya ia bukan saja dikejar-kejar oleh orang Tanjung Samudera, melainkan juga diburu beberapa orang yang menghendaki gelang tersebut, di antaranya Nini Kutang Katung."

Suto Sinting diam, menyimak cerita tersebut sambil duduk di atas sebuah batu, di depan Dinada yang dari tadi menyendiri di samping gubuk tersebut.

"Aku memergoki pamanku bertarung dengan Nini Kutang Katung. Paman tahu kalau aku ada di sekitar tempat pertarungan tersebut. Ketika Paman terdesak, ia melemparkan sesuatu padaku. Aku segera menangkapnya, dan ternyata Gelang Naga Dewa. Paman menyuruhku agar lari meninggalkan tempat. Aku menurut karena waktu itu dalam keadaan bingung."

"Lalu, bagaimana bisa jatuh ke tangan Anak Petir?"

"Itulah kebodohanku," kata Dinada dengan rasa sesal yang dalam. "Anak Petir sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ketika mendiang Guru masih hidup dan ia masih tinggal di Bukit Kasmaran, Anak Petir sangat sayang kepadaku, dan mengangkatku sebagai saudara kandung. Sebab ia dilahirkan oleh Ibunya sebagai anak tunggal..."

"Ibunya itu yang menjadi gurumu?"

"Benar. Nyai Guntur Ayu adalah nama guruku, ibu dari si Anak Petir itu. Tapi belakangan kudengar jalannya semakin sesat. Aku tak percaya, kupikir hanya sekadar fitnah dari orang-orang yang tidak suka padanya."

Dinada menarik napas, seperti menekan rasa kebencian yang bercampur dengan penyesalan. Bahkan ia bangkit dan melangkah ke bawah pohon. Suto Sinting hanya memperhatikan dari tempat duduknya, telinganya masih menyimak kata-kata gadis cantik itu.

"Aku dihadang oleh perempuan mesum: Untari, dia ingin merebut gelang itu."

"Untari?! Ratu Kelabang Setan itu?!" kata Suto dengan kaget.

"Benar. Dia adalah murid Nini Kutang Katung."

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut sambil mengenang nasibnya ketika terkena pukulan beracun dari Ratu Kelabang Setan," (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

"Sebelum aku sempat melumpuhkan Untari, Anak Petir datang membantuku, ia berhasil membuat Untari kabur. Lalu, ia membujukku agar menyerahkan Gelang Naga Dewa dengan alasan demi keselamatanku. Ia mendesakku agar menitipkan gelang itu sehingga orang-orang yang menghendaki gelang itu akan terkecoh jika menggeledahku, ia berjanji akan menyerahkan gelang itu kepada Paman Raja Hantu. Tapi sampai satu purnama ternyata ia justru menghilang tak tahu di mana rimbanya. Gelang Naga Dewa tak pernah dikembalikan. Paman marah padaku dan mendesakku mengembalikan gelang itu. Jika tidak nyawaku akan dipakai sebagai gantinya. Karena itulah aku ketakutan dan bingung tak mengerti ke mana mencari Anak Petir."

"Jadi rasa takutmu itu bukan karena mau dikawini oleh pamanmu, bukan?"

"Soal itu bisa kuhindari sendiri. Tapi soal gelang itu aku tak bisa mengatasinya, karena itu memang salahku."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Sekejap kemudian terdengar suaranya yang lirih namun cukup jelas didengar oleh Dinada. "Kau merasa bersalah karena kau merasa Gelang Naga Dewa milik pamanmu. Apakah kau tidak menyadari bahwa pamanmu sendiri mendapatkan gelang dari hasil mencuri, dan gelang itu bukan hak miliknya sendiri?"

"Aku menyadari hal itu," kata Dinada sambil melangkah mendekati Suto Sinting. "Aku sudah punya niat untuk pergi ke Tanjung Samudera dan mengembalikan gelang pusaka itu. Tapi ternyata rintangannya cukup banyak dan aku terbujuk oleh si Anak Petir."

"Kau ingin mengembalikan gelang itu? Mengapa kau punya rencana seperti itu?"

"Karena aku kenal baik dan bersahabat dengan salah satu pengawal Ratu Dewi Giok."

"Siapa...?"

"Bulan Sekuntum!"

"Oh, dia...?!" Suto Sinting manggut-manggut. Ia kenal betul dengan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Dalam hati Suto berkata, "Berarti gadis ini sebenarnya berhati mulia. Dia bukan orang jahat seperti pamannya. Kurasa memang sudah sepatutnya aku membantunya. Tapi bagaimana caranya bertemu dengan si Anak Petir?"

Dinada yang bernama asli Milasi itu duduk di batu samping Pendekar Mabuk. Saat itu sang pendekar sedang menenggak tuaknya. "Aku menyesal sekali. Benci pada diriku sendiri," gumamnya bernada sedih.

"Apa kedahsyatan pusaka Gelang Naga Dewa itu? Aku belum pernah mendengarnya."

Dinada pun menjawab dengan jelas, "Siapa pun yang memakai gelang itu, tubuhnya akan kebal terhadap semua senjata dan semua jenis serangan tenaga dalam."

Pendekar Mabuk tersenyum tipis, pertanda tidak terlalu heran dan kagum dengan kesaktian seperti itu. Karena ia sudah sering menjumpai kesaktian seperti itu dan mampu menumbangkannya. Namun senyum itu membuat Dinada terhenti bicaranya, ia memandang seakan menunggu tanggapan dari Suto Sinting.

Murid si Gila Tuak hanya angkat bahu dan berkata, "Teruskan. "

Barulah Dinada meneruskan penjelasannya. "Di samping itu, jika gelang tersebut dipakai dan diusap tiga kali, dapat digunakan untuk memanggil kemunculan seekor naga terbang."

"Naga terbang?!" Suto baru tertarik dan tampak berubah sikapnya, ia memandang Dinada dengan dahi berkerut.

"Naga itu akan muncul dari langit dan menemui pemakai gelang tersebut, ia akan menjadi hamba pemakai gelang tersebut, dan bisa ditunggangi serta membawa terbang pemakai Gelang Naga Dewa."

"Maksudmu, naga itu bisa terbang di langit membawa orang?"

"Ya. Itu naga siluman. Bahkan disuruh bertarung pun sanggup, dan kabarnya belum pernah ada yang bisa mengalahkan naga terbang itu."

"Seperti dongeng saja," gumam Suto Sinting dalam renungannya.

"Memang seperti dongeng. Tapi kalau kau kurang percaya kau bisa tanyakan langsung kepada Ratu Dewi Giok."

"Apakah kau tahu kelemahannya?"

Dinada menggeleng. "Itu pun bisa kau tanyakan kepada Ratu Tanjung Samudera itu."

Dalam lamunannya Suto berkata membatin, "Jika gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."

Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar Mabuk tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang melesat dari balik kerimbunan pohon bambu wulung. Dengan gerakan cepat Suto Sinting mengangkat bumbung tuaknya dan melintangkannya di depan dada Dinada. Gadis itu terkejut dan hampir berang karena menyangka Suto mau berkurang ajar lagi.

"Kau memang..."

Baru berkata demikian, Dinada kaget melihat sinar datang menghantamnya. Untung ada bambu tuaknya Suto. Sinar itu membentur bumbung tuak dan membalik ke arah semula dengan lebih cepat dan lebih besar lagi. Wesss...!

Duarrr...!

Entah berapa pohon bambu yang hancur karena ledakan tersebut. Sinar merah itu membuat rumpun bambu menjadi berkeping-keping. Sesosok bayangan melesat dari semak bambu sebelum terjadi ledakan menggelegar tadi.

Jlegg...!

Bayangan itu menampakkan diri di depan Suto dan Dinada yang sudah sama-sama berdiri penuh siaga. Ternyata yang ingin menghantam Dinada dengan sinar merah tadi adalah seorang perempuan berwajah cantik jalang. Mengenakan jubah jingga yang terbuka lepas bagian depannya. Dada montoknya ditutup dengan kain tipis warna biru muda, sedangkan bagian bawahnya dililit kain tipis biru muda juga secara asal-asalan, sehingga jika tertiup angin akan menyingkap dan menampakkan isinya secara samar-samar. Rambutnya meriap, mengenakan ikat kepala dari logam emas berhias batuan intan. Sebilah pedang lurus runcing tajam dua sisi itu terselip di pinggang kirinya.

"Jahanam kau, Untari!" geram Dinada memaki perempuan itu.

Suto Sinting sempat terkesima sebentar karena ia pernah kenal perempuan tersebut, yang tak lain adalah Untari alias si Ratu Kelabang Setan. Tokoh mesum ini pernah terkena jurus 'Anak Rembulan' dan dilumpuhkan oleh Sumbaruni di pesanggrahannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Mata nakal yang menggoda kejantanan setiap pria itu kini terarah kepada Pendekar Mabuk. Sejak dulu ia memang mengincar Pendekar Mabuk. Hasrat ingin mencumbu pendekar tampan itu sangat besar. Namun Suto Sinting tetap waspada sebab ia pernah terkena pukulan racun 'Siksa Neraka' yang membuatnya nyaris binasa.

"Kita jumpa lagi, Pendekar ganteng," ujarnya dalam senyum yang menggoda hati setiap lelaki.

"Tak kusangka kau bisa lolos dari keampuhan jurusnya Sumbaruni!" kata Suto Sinting bernada kalem.

Dinada menyahut sambil maju di depan Suto dan menghadap Ratu Kelabang Setan. Matanya memandang tajam penuh tantangan. "Kusangka kau sudah mampus terkena racun dari si Anak Petir!"

"Untuk apa aku punya guru sesakti Nini Kutang Katung kalau terkena jurus itu saja tak mampu mengobati?" tawanya terdengar berkesan menyombongkan diri menjagokan gurunya.

"Sekarang apa maksudmu menyerangku? Kau ingin mengambil Gelang Naga Dewa?! Ambillah sendiri di tangan si Anak Petir."

"Aku sudah tahu kalau gelang itu ada padanya." Untari melangkah ke samping bagai mencari kesempatan untuk melepas serangan. "Percakapan kalian dengan Guru di pantai kuikuti terus. Sayang sekali pamanmu ikut campur, kalau tidak kau sudah menjadi debu. Milasi!"

"Gurumu tak akan mampu menyentuhku!" Dinada juga menyombongkan diri untuk membuat hati lawannya panas dan penasaran.

Tapi perempuan berpakaian seronok itu hanya tersenyum sinis. "Lupakan tentang nasib baikmu saat di pantai tadi. Sekarang kau perlu menyambut hari naasmu, Dinada. Kalau kau tak mau menjauhi Pendekar Mabuk, aku akan mengakhiri masa hidupmul" gertak Untari.

Dinada diam. Rupanya ia sempat bingung mengambil keputusan karena agaknya tantangan Untari menyangkut masalah Suto Sinting. Pada saat dia mempertimbangkan langkahnya, Suto mendekati dari belakang dan berbisik,

"Biar kuatasi sendiri perempuan itu!"

"Tidak!" tiba-tiba Dinada berkata tegas. "Aku yang akan melawannya. Aku tak suka kalau tangannya menyentuhmu walau dengan alasan memukul!"

"Kok begitu?"

"Biar!" tegas Dinada dengan nada sewot.

"Uuh, ya sudah. Hadapilah sana," gerutu Suto sambil menjauh.

Dinada berseru kepada lawannya, "Untari, hadapi aku kalau kau ingin mendapatkan Suto Sinting itu!"

Untari tertawa meremehkan. "Pendekar Sinting?! Sembarangan saja kau bicara. Pendekar Mabuk tak boleh dipermainkan namanya seperti itu. Bisa kurobek mulutmu, Milasi!"

"Robeklah kalau kau mampu menjamahku!"

"Berani amat kau bertaruh nyawa demi dia?! Apakah dia kekasihmu?"

"Tergantung!" sentak Dinada menampakkan ketengilannya.

"Kuhabisi masa hidupmu, Milasi! Hiaaah...!"

Wusss...! Untari melompat cepat sambil mencabut pedangnya. Pedang ditebaskan ke leher Dinada dalam keadaan tubuhnya masih melayang di udara. Trrang...! Dinada menangkis pedang itu dengan serulingnya yang dialiri tenaga dalam hingga seperti baja. Gerakan Dinada sangat lincah sehinga Untari berkali-kali gagal menebaskan pedangnya ketubuh Dinada.

Namun pada satu kesempatan, Dinada kecolongan. Ketika ia menghindari sabetan pedang ke arah dadanya, tiba-tiba kaki kiri Untari menendang ke depan. Wuttt...! Meleset dari sasaran, tapi itulah langkah maju Untari sehingga tangan kirinya segera menghentak maju dan tepat kenai rusuk Dinada.

Krakk...! Terdengar seperti ada tulang yang patah. Dinada terlempar jatuh di bawah pohon, badannya tersandar di sana dalam keadaan menyeringai menahan rasa sakit. Rupanya pukulan itu bukan sekadar pukulan biasa. Tenaga dalam yang disalurkan melalui pukulan itu membuat darah meluap naik dan meleleh keluar melalui mulut Dinada. Pendekar Mabuk memandang dengan terperanjat dan cemas, ia ingin bergerak maju menghalangi serangan Untari. Tetapi langkahnya tertahan dengan suara lirih dari belakangnya.

"Biarkan mereka!"

Suto Sinting semakin kaget ketika tahu yang berdiri di belakangnya ternyata adalah Sumbaruni. Dalam usahanya mencari Anak Petir yang pernah menghebohkan dunia persilatan dengan ulahnya itu, Sumbaruni tak sengaja melintasi tempat itu dan mendengar suara pertarungan, ia penasaran dan segera datang ke tempat itu.

"Dinada dalam bahaya!"

"Biarkan. Itu urusan dia!" ujar Sumbaruni dengan ketus dan bernada cemburu, sebab ia menyimpan cinta kepada Suto hanya saja tidak pernah dilayani oleh si pendekar tampan itu.

Untari melepaskan jurus pedang mautnya yang hampir saja menewaskan Dinada. Untung gadis berseruling itu mampu menangkis setiap tebasan pedang, sehingga ia selamat dari ancaman maut jurus pedang yang sulit ditembus itu. Bahkan Dinada berhasil melepaskan pukulan tenaga dalamnya ke arah perut Untari.

Wuttt...! Buhgg...!

Pukulan tanpa sinar itu membuat Untari terpental mundur dan terhuyung-huyung. Kesempatan itu digunakan oleh Dinada untuk meniup serulingnya. Suara seruling ditiup dengan alunan yang melengking tinggi, menghadirkan angin kencang ke arah Ratu Kelabang Setan. Angin itu tak bisa ditembus dengan gerakan sehingga Untari bagai terpaku di tempat. Semakin lama kakinya semakin melesak masuk ke dalam tanah. Rupanya kekuatan tenaga dalam dari tiupan seruling itu membuat tubuh Untari bagaikan dipantek dan ingin ditenggelamkan ke dalam tanah. Ketika kakinya telah mulai masuk ke dalam tanah sebatas betis, Ratu Kelabang Setan memikik keras-keras.

"Hiaaaatt...!"

Pedangnya digunakan untuk bertolak dalam satu sentakan ke tanah, lalu tubuhnya pun melesat ke atas bagai dijebol dari dalam tanah, ia bersalto di udara satu kali, kemudian tangannya melepaskan pukulan jarak jauh yang dinamakan pukulan 'Racun Siksa Kubur' itu.

Clapp...! Sinar biru pun melesat menghantam Dinada yang sedang meniup seruling.

Jrasss...! Sinar tersebut tepat mengenai pinggang Dinada. Di sisi lain, Suto dan Sumbaruni terperanjat melihat hal itu, karena mereka tahu Dinada terkena pukulan beracun yang sangat berbahaya.

"Aahg...!" Tubuh Dinada terkulai lemas. Suto Sinting segera bergerak menghampirinya dengan menggunakan 'Gerak Siluman'-nya.

Zlapp...!

Pada waktu itu Ratu Kelabang Setan ingin melepaskan lagi pukulan yang lebih dahsyat ke arah Dinada. Kemarahannya tak dapat dibendung lagi, sehingga nafsu menghancurkan Dinada sangat besar.

Melihat keadaan seperti itu, Sumbaruni segera bertindak karena takut pukulan berikutnya mengenai tubuh Suto Sinting. Dengan melepaskan pukulan bersinar merah, Sumbaruni sentakkan kaki dan melayang maju ke arah Dinada tapi sasaran pukulannya ke arah Untari.

Clapp...!

Tepat pada waktu itu sinar ungu keluar dari telapak tangan Untari, sehingga kedua sinar itu pun beradu dalam keadaan sangat dekat dengan Untari.

Duarrr...!

"Aaahhg...!" Ratu Kelabang Setan terpekik dengan tubuh terlempar ke belakang dan membentur pohon. Brukk...! Untari jatuh terkulai dengan dada dan tangan menjadi hangus. Namun ia masih berusaha bangkit dan menatap buas kepada Sumbaruni.

"Bangsat! Lagi-lagi kau ikut campur urusanku!"

"Kau memang patut dimusnahkan, Untari! Kaulah yang hampir saja membuat kekasihku mati karena racun 'Siksa Kubur'-mu itu! Kini terimalah pembalasanku!"

"Iblis kau! Heeeaat...!"

Untari melayang bagaikan terbang, pedangnya keluarkan sinar merah membara. Sumbaruni segera mencabut pedangnya dan digenggam dengan dua tangan. Pedang itu pun menyala ungu, seperti pakaian dan jubahnya yang serba ungu.

Trang...! Blegarrr...!

Pedang diadu, ledakan dahsyat terjadi membuat tubuh Untari terpental tinggi. Ketika tubuh itu melayang turun, Sumbaruni menyambutnya dengan tubuh melompat naik dan menyabetkan pedangnya. Wesss...!

Crass...!

"Aaaaahg...!" Ratu Kelabang Setan memekik, lengannya terluka parah. Koyak oleh sabetan pedang Sumbaruni. Ketika ia jatuh dan mengerang kesakitan. Sumbaruni menghampirinya dengan satu serangan pedang sebagai tindakan untuk menghabisi lawannya.

Wuuttt...! Jrrub...!

Tusukan pedang ke bawah, ternyata masih mampu dihindari oleh Untari dengan menggelinding ke sisi lain. Akibatnya pedang Sumbaruni menancap separo bagian ke tanah bekas tempat Untari terkapar tadi.

"Keparat! Masih bisa lolos kau?!" geram Sumbaruni sambil mencabut pedangnya.

Namun ketika ia ingin menyerang Untari lagi, ternyata Ratu Kelabang Setan sudah melarikan diri dalam keadaan terluka parah.

"Hei, tunggu...! Selesaikan sampai tuntas urusan ini!" seru Sumbaruni yang segera berkelebat mengejar Untari.

Wesss...!

Sumbaruni tak pedulikan lagi keselamatan Dinada. Nafsunya lebih besar membunuh Untari yang dianggap sebagai perempuan berbahaya bagi asmara Suto Sinting. Sementara di pihak lain, Suto Sinting berhasil memaksa Dinada untuk meminum tuaknya. Dengan meminum tuak, maka racun 'Siksa Kubur' yang obat penawarnya hanya ada pada Untari itu bisa lenyap dalam sekejap. Bahkan luka patah pada tulang rusuk Dinada tidak terasa sakit lagi. Kesaktian tuak Pendekar Mabuk membuat Dinada diam terbengong dan terheran-heran.

Dinada sadar dari keheranannya setelah Suto Sinting menanyakan, "Masih sakitkah tubuhmu?!"

Gadis berseruling gading itu segera bangkit berdiri, ia merasakan betul perubahan badannya, ternyata justru menjadi lebih segar dari sebelumnya. "Luar biasa tuakmu itu! Pantas kudengar kau disebut oleh sebagian orang dengan julukan Tabib Darah Tuak."

"Syukurlah kalau sudah sehat! Dulu aku hampir mati terkena racun 'Siksa Kubur' itu!"

Dinada menarik napas. Matanya memandang sekeliling, ia baru sadar bahwa Untari sudah tidak ada di tempat, demikian pula Sumbaruni. "Perempuan itu tadi kekasihmu?"

Pendekar Mabuk menggeleng sambil tersenyum. "Dia yang beranggapan begitu padaku."

"Kau pasti melayaninya sebab dia cantik."

"Itu dugaanmu!"

"Ah, kau bisa saja bilang...," ucapannya itu terhenti. Matanya tertuju pada satu arah.

"Ada apa...?!" tanya Suto heran.

"Aku melihat sekelebat bayangan si Anak Petir."

"Hah...?! Di mana dia? Ke mana perginya?!"

"Ikuti aku...!" kata Dinada sambil berkelebat mengejar bayangan yang diyakini sebagai gerakan si Anak Petir itu.

Pendekar Mabuk pun berkelebat mengikuti Dinada karena ia berhasrat untuk bisabertemu dengan si Anak Petir dan bikin perhitungan sendiri. "Ke mana larinya?!"

"Ke timur!"

Zlapp...! Suto mendahului Dinada.

* * *

EMPAT

PENGEJARAN malam membuat suasana menjadi kacau. Kecepatan yang dipakai Pendekar Mabuk pun mengakibatkan Dinada tertinggal. Semakin jauh semakin gelap, sampai pada akhirnya mereka terpisah.

"Dasar bodoh. Mengapa dia tidak berteriak kalau salah arah? Apa dia sengaja memisahkan diri?" Pendekar Mabuk menggerutu sambil berusaha mencari Dinada.

Ketika malam semakin kelam, embun mulai datang. Suto Sinting berhasil menemukan sebuah desa. Lebih beruntung lagi ia dapat melihat sebuah kedai yang masih buka.

"Kebetulan, tuakku hampir habis. Kuharap kedai itu menjual tuak," pikir Suto sambil melangkah mendekati kedai tersebut.

"Maaf, Den. Kedai sudah mau tutup. Sudah terlalu malam," kata pemilik kedai yang berusia sekitar enam puluh tahun. Lelaki kurus berpakain putih lusuh itu berusaha menolak tamu dengan sopan dan sangat hati- hati.

"Aku hanya ingin menambah tuakku, Pak Tua."

"O, kalau hanya mau tambah tuak saya bisa melayani. Mari, saya isi bumbung itu. Tapi saya hanya punya tuak Karangkajen, tidak punya tuak Majalegi."

"Tak apa. Tuak mana saja aku bisa meminumnya."

Pemilik kedai segera mengisi bumbung bambu dengan tuak persediaannya. Suto Sinting memperhatikan dari balik meja makan, ia sempat melirik beberapa makanan yang masih belum terjual habis. Di antaranya pisang goreng, ketan kelapa, jadah goreng, talas rebus, dan beberapa lainnya.

"Sebenarnya perutku lapar, Pak. Kalau Bapak tak keberatan aku ingin makan. Apakah masih ada nasi jagung dan sayurnya?"

"Hmmm..." pemilik kedai itu menimbang-nimbang sebentar, ia kasihan dan tak tega menolak melayani tamu yang satu itu. Akhirnya ia hanya bicara. "Nasi jagungnya sudah dingin, Den. Sayurnya juga dingin."

"Tak apa, Pak Tua. Hidangkan satu piring untukku. Aku bisa memakannya dengan tempe bacam ini."

Di samping tuak dalam bumbung sudah penuh, Suto juga memesan tuak dalam poci sebagai minumannya selesai makan nanti. Pak Tua pemilik kedai menemaninya makan, karena ia terkesan dengan keramahan dan kesopanan Suto dalam bersikap.

"Aden dari mana mau ke mana? Kok malam-malam begini baru mengisi perut?"

"Saya sedang mencari seseorang. Teman saya hilang, terpisah di perjalanan. Apakah Pak Tua melihat gadis berjubah kuning dengan pakaian dalam merah? Ia membawa seruling gading."

"Kebetulan sejak siang saya tidak melihat gadis berciri seperti itu, Den," ujar pemilik kedai. "Di mana Aden terpisah dengan gadis itu?"

"Di hutan sebelah barat sana."

"Wah, jangan-jangan gadis itu menjadi santapan si Loreng."

"Harimau maksudmu, Pak Tua?"

"Bukan. Tapi... hm... perampok ganas yang kerjanya merampok kesucian para gadis. Dia tinggal di hutan sebelah barat sana, Den. Ia dikenal dengan nama: Dewa Loreng."

Pak Tua itu juga mengungkapkan rasa kagumnya atas keberanian Suto Sinting melintasi hutan barat pada malam hari. Menurut Pak Tua, jika matahari telah terbenam, tak seorang pun yang berani melintasi hutan tersebut walaupun hanya melewati bagian tepi hutan saja. Percakapan itu terhenti karena tiba-tiba seorang perempuan datang dan langsung bicara kepada Pak Tua,

"Masih punya sepoci arak?! Aku minta dua poci, Pak Tua."

"Hmm... ehh... tapi kedai ini sudah mau tutup, Den Ayu. Saya sudah mau istirahat."

"Aku hanya mau minum sebentar! Jangan khawatir, berapa pun harga arak itu akan kubayar!"

"Ehmm... bukan soal harga, tapi... tapi...." Karena mata perempuan itu memandang tajam kepada Pak Tua, akhirnya Pak Tua ketakutan sendiri. "Tapi baiklah... saya akan ambilkan pesanan Den Ayu."

Suto Sinting berlagak acuh tak acuh kepada perempuan yang menyandang pedang di punggungnya. Rambutnya digelung sampai ke atas, tepian kanan-kiri dibiarkan terjulur sebagian membentuk spiral. Diam-diam Suto Sinting mengawasi perempuan yang duduknya sejajar dengannya. Tapi jaraknya agak jauh.

"Cantik juga," kata Suto dalam hati. Ia sudah selesai makan dan tinggal menghabiskan tuak dalam poci.

Perempuan itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Kecantikannya sudah matang, tidak seperti gadis belia secantik Dinada. Perempuan itu mengenakan pakaian hitam dengan jubah tanpa lengan warna putih sutera. Pinjung penutup dadanya yang berwarna hitam itu dihiasi dengan benang perak membentuk bordiran tersendiri. Pinjungnya ketat sekali, sehingga kelihatan bentuk dadanya yang montok dan kencang itu. Ia mengenakan pakaian lengkap, dari kalung, gelang, cincin, sampai gelang kaki. Hal itu membuat Suto Sinting dapat menduga bahwa perempuan itu keturunan bangsawan, setidaknya dari keluarga orang berada. Tak heran jika ia tadi menyombongkan soal uang di depan Pak Tua.

Matanya yang sedikit lebar tapi indah itu sesekali melirik Pendekar Mabuk. Bukan berarti Suto tidak tahu, tapi berlagak tidak berminat memperhatikan perempuan tersebut. Dengan tenang dan kalem Suto Sinting menikmati tuak dari poci. Tiba-tiba tanpa disentuh sedikit pun poci keramik itu pecah dengan sendirinya.

Trak...! Prakk...!

Suto Sinting kaget. Pak Tua pun terkejut dan segera mengambil kain untuk membersihkan meja.

"Maaf, Den. Pocinya memang sudah lama sekali, jadi mungkin sudah rapuh."

"Tak apa. Ada yang iseng saja, Pak. Hmmm... o, ya... aku minta disediakan sepoci lagi, Pak Tua."

"Baik, Den. Baik...!" pemilik kedai jadi ketakutan sendiri.

Padahal menurut Suto pecahnya poci bukan karena poci sudah rapuh. Poci itu pecah karena diusik dengan tenaga dalam perempuan berjubah putih itu. Suto Sinting merasakan hawa kuat melintas di depannya dan poci pun pecah. Namun Suto tetap berlagak tidak memperhatikan perempuan itu.

"Pak Tua...," seru perempuan itu. "Apakah kau punya satu kamar kosong untuk kupakai bermalam? Akan kusewa kamarmu itu, Pak Tua. Berapa kau minta dibayar untuk satumalam?" Pak Tua pemilik kedai sedikit gugup saat melayani perempuan yang bernada angkuh itu.

"Hmmm... ehhh... saya memang punya satu kamar kosong untuk anak saya kalau sedang pulang kemari. Hmm... tapi... tapi tempatnya kotor. Tidak pantas dipakai bermalam oleh Den Ayu."

"Bukankah kau bisa merapikan dan membersihkannya? Akan kuberi upah sendiri untuk pekerjaanmu membersihkan kamar itu, Pak Tua!"

"Hmmm... iya. Kalau begitu, baiklah. Saya persiapkan dulu, Den Ayu."

Pak Tua pergi membersihkan kamar tersebut. Di ruang makan itu hanya ada Suto dan perempuan tersebut. Lagi-lagi Suto merasakan hembusan angin melintas di depannya. Suto hanya membatin,

"Hmmm... dia mengirimkan tenaga dalamnya lagi!" Jari tangan Suto segera menyentil pelan. Hembusan hawa bertenaga dalam melesat menghantam hembusan angin tenaga dalam kiriman perempuan itu.

Drakkk...!

Meja terguncang bagaikan ada yang menggebraknya. Padahal meja itu berbentuk papan datar yang memanjang dari depan Suto sampai depan perempuan itu. Akibat getaran meja, poci di depan perempuan itu terguling dan isinya tumpah berantakan, demikian pula arak yang ada di depan si perempuan. Rupanya perempuan itu juga tahu kalau pemuda tampan di sampingnya menggunakan tenaga dalam, ia langsung menegur dengan sikap angkuhnya.

"Mau pamer ilmu? Boleh! Kita adu di luar kedai!"

Suto Sinting sunggingkan senyum tipis. "Aku tidak bisa apa-apa. Untuk apa adu ilmu di luar kedai? Aku akan kalah."

Senyum perempuan itu semakin tampak nakalnya. "Maumu adu ilmu di mana?" ia mendekat.

"Tak perlu adu ilmu. Aku bukan orang berilmu seperti kau yang bisa memecahkan poci dari jarak jauh."

Senyumnya kian melebar, ia duduk di bangku persis sebelah Suto. "Tak perlu merendahkan diri. Aku tahu kau punya segudang ilmu. Semua orang tahu kalau murid si Gila Tuak itu ilmunya tinggi."

Suto Sinting terperanjat, namun hanya dalam hati. "Sial. Rupanya dia tahu siapa diriku."

"Tapi tidak selamanya kebanggaanmu sebagai murid unggulan si Gila Tuak dapat kau sandang. Barangkali aku akan menumbangkannya dalam waktu dekat ini," kata si perempuan angkuh.

Ucapan itu hanya ditanggapi dengan senyum oleh Pendekar Mabuk, murid sinting si Gila Tuak itu. Seteguk tuak dihirupnya dari cangkir kecil. "Siapa kau, Nona? Mengapa nada bicaramu begitu padaku? Apakah aku memusuhimu?"

Perempuan itu menarik napas. Matanya memandang Suto sebentar, kemudian dialihkan ke arah araknya yang tumpah di meja. "Aku mungkin terlalu sombong bagimu. Maafkan aku."

"Kau kemalaman di perjalanan?"

"Ya, dan aku butuh tempat untuk beristirahat."

"Kita punya nasib yang sama. Hanya saja kau lebih beruntung, karena kau lebih dulu memesan kamar kepada Pak Tua itu, sedangkan aku belum tahu mau tidur di mana. Mungkin di atas pohon."

Perempuan cantik berlagak angkuh itu kali ini tertawa berseri. "Kau seperti kelelawar saja. Tidurnya di pohon."

"Kelelawar tidak pernah tidur malam. Jadi aku bukan kelelawar."

"Macan kumbang, maksudmu?" lalu perempuan itu semakin melebarkan senyum memperpanjang tawanya yang bernada sedikit serak.

"Siapa namamu?" tanya Suto dengan suara kalem diiringi senyum yang mendebarkan hati lawan jenisnya.

"Namaku? Hmmm... panggil saja aku: Aswarani."

"Nama yang bagus sekali."

"Murid si Gila Tuak kudengar memang suka memuji wanita."

"Itu hanya kabar bohong. Aku jarang memuji wanita, kecuali memang wanita itu layak dipuji."

"Berapa orang wanita yang menurutmu layak dipuji?"

"Semuanya," jawab Suto sambil tertawa pelan, menandakan jawabannya itu sebagai kelakar belaka.

"Apa benar kau tak punya tempat untuk bermalam?"

"Benar," jawab Suto Sinting, ia sudah tahu apa yang akan dikatakan perempuan bermata nakal itu.

"Kau bisa tidur di kamar yang kusewa."

"Kau sendiri tidur di mana kalau aku tidur di kamar itu?"

"Apa salahnya kalau aku juga tidur di kamar itu?" katanya dengan senyuman memperkuat godaan. Suto Sinting menanggapi dengan kalem, walau hatinya menggerutu karena merasa tak berani berbuat macam- macam kepada perempuan lain.

Jika Suto melakukan perserongan dengan perempuan mana pun, maka calon istrinya yang bergelar Gusti Mahkota Sejati atau Dyah Sariningrum akan mengetahui dari tempatnya yang jauh; Pulau Serindu. Ratu dari negeri Puri Gerbang Surgawi itu dapat memantau tingkah laku Suto Sinting di mana pun berada. Noda merah di dahi pemberian Ratu Kartika Wangi, calon mertuanya itu, juga dapat dipakai sebagai tanda apakah Suto pernah tidur dengan perempuan lain atau tidak sama sekali.

Karena jika Suto pernah tidur dengan perempuan lain, maka noda merah di kening yang hanya bisa dilihat oleh orang berilmu tinggi itu akan berubah warna menjadi merah jambu. Sebab itulah ke mana saja Suto pergi, ia selalu menjaga gairahnya agar tidak terpancing jatuh dalam pelukan perempuan semontok apa pun. Ini merupakan ujian berat bagi Suto. Namun demikian kenyataannya Suto mampu menjaga prilakunya hingga tidak pernah dikecam oleh calon istrinya itu.

"Aku akan tidur di bangku ini saja," kata Suto. "Kurasa Pak Tua pemilik kedai tidak keberatan asal kuberi uang sewa bangku."

"Pak Tua memang tidak keberatan, tapi aku sangat keberatan," kata Aswarani.

"Jangan memancingku untuk berbuat yang bukan-bukan, nanti kau akan menyesal. Sebab aku lelaki yang tidak pernah mau tanggung jawab terhadap perempuan," Suto menakut-nakuti.

"Aku tak akan pernah menyesal terhadap pria yang tidak bertanggung jawab. Sebab upah perbuatannya itu bisa kuambil sendiri berupa nyawanya." Aswarani juga tak mau kalah gertak dengan menunjukkan keberaniannya untuk membunuh pria yang mencoba bermain-main dengannya.

"Sudahlah, tak perlu kita lanjutkan percakapan ini. Nanti membuat hati kita saling panas. Aku ingin beristirahat, karena esok pagi harus melanjutkan perjalanan."

"Ke mana arah perjalananmu?"

"Ke... ke Tanjung Samudera," jawab Suto Sinting. Padahal ia sendiri tak tahu harus ke mana. Jawaban itu hanya sebagai kesimpulan hatinya dari sejak tadi sore. Suto menyimpulkan bahwa si Anak Petir akan menyerang Tanjung Samudera karena sudah mempunyai pusaka Gelang Naga Dewa.

"Untuk apa kau pergi ke sana, Suto?" tanya Aswarani bersikap seperti sudah lama mengenal Pendekar Mabuk.

"Aku ingin bertemu dengan ratu negeri itu."

"Dewi Giok, maksudmu?"

"Oh, kau mengenal Dewi Giok?"

Aswarani mengangguk dengan kalem. "Aku juga mau bertemu dengannya."

"Aku malah belum pernah bertemu. Tapi aku pernah menyelamatkan negerinya."

"Aneh. Sudah pernah menyelamatkan negerinya tapi belum pernah bertemu dengan ratunya?! Apa tidak salah ucap kau, Suto?"

Pendekar Mabuk nyengir. "Seseorang melarangku bertemu dengan Ratu Dewi Giok. Akibatnya, sebelum aku bertemu, aku sudah harus pergi untuk keperluan lain."

Aswarani manggut-manggut dan menggumam lirih. Entah apa yang ada dalam terawang pikirannya, yang jelas ia diam agak lama sampai Pak Tua datang memberitahukan bahwa kamar telah dibersihkan. Suto pun bicara dengan Pak Tua meminta izin tidur di bangku panjang itu. Pak Tua malah mempersilakan Suto menggunakan kamarnya sendiri, sedangkan ia akan tidur di bangku panjang. Tapi Pendekar Mabuk menolak usul pemilik kedai yang sangat hormat padanya itu.

"Suto, bagaimana kalau kita esok berangkat bersama? Kau bersedia?"

"Hmmmm... baiklah! Asal kau jangan menggodaku dengan lirikan mata dan senyummu yang bikin hatiku deg-degan dari tadi."

Aswarani tertawa kecil. Sebelum mereka pergi tidur, tiba-tiba malam yang sunyi dirobek oleh suara teriakan seorang perempuan. Jerit perempuan itu terdengar cukup dekat dengan kedai. Karenanya, Pendekar Mabuk dan Aswarani tersentak kaget, demikian pula Pak Tua. Namun wajah pemilik kedai tampak pucat seketika, ia gemetar dan sangat tegang.

"Jeritan apa itu, Pak Tua?"

"Pasti... pasti Dewa Loreng mencari korban lagi. Mencuri anak perempuan dan... dan...," belum selesai ia bicara, Pendekar Mabuk sudah melesat keluar lebih dulu.

Aswarani juga melesat keluar menyusul Pendekar Mabuk. Mereka segera tiba di sebuah rumah yang gaduh. Dari rumah itu muncul seorang lelaki berpakaian loreng: putih hitam, mirip seekor kuda zebra. Badannya besar dan tampak sedang memanggul seorang gadis. Gadis yang dipanggulnya dalam keadaan diam terkulai pertanda habis kena totok. Sedangkan yang menjerit-jerit di dalam rumah adalah ibu gadis itu dan beberapa keluarga lainnya.

Melihat kemunculan lelaki berpakaian loreng yang tak lain adalah Dewa Loreng, Suto Sinting bergegas untuk menghadangnya. Tetapi pundaknya tiba-tiba dicekal oleh Aswarani. Langkah pun tertahan, dan Suto mendengar perempuan itu berkata dalam geram yang lirih.

"Serahkan padaku!"

Suto Sinting terpaksa memberi jalan untuk Aswarani. Perempuan itu segera maju dan melompat tepat di depan langkah Dewa Loreng. Hal itu membuat langkah Dewa Loreng pun terhenti. Sisa cahaya rembulan yang tinggal sebagian itu masih menampakkan bayangan si Dewa Loreng yang dengan gusar segera melompat menerjang Aswarani dengan tetap memanggul gadis curiannya.

Wuuttt...! Aswarani berkelit ke samping, lalu tubuhnya memutar dan kakinya menendang ke belakang, Wuttt...!

Behgg...! Pinggang Dewa Loreng terkena tendangan telak, hingga tubuh besar itu terhuyung-huyung mundur.

"Bangsat!" geramnya dengan nada gusar, ia segera meletakkan gadis itu di tanah, lalu berdiri dengan penuh nafsu untuk membunuh. Goloknya segera dicabut, matanya mendelik lebar. "Perempuan peri! Mau cari mampus kau, hah?!"

Aswarani diam tanpa bicara, tapi sudah bersiap-siap melepaskan pukulannya. Kedua tangan siap di atas dada, kaki kirinya ke belakang memanjangkan jarak, badannya merendah dan matanya memandang tajam.

Orang-orang berkumpul di kejauhan karena mendengar jeritan ibu sang gadis yang kini tergeletak di tanah itu. Mereka saling berkasak-kusuk mendukung tindakan Aswarani. Sementara itu, Suto Sinting hanya diam saja, tapi matanya bekerja mengawasi seluruh gerak Dewa Loreng.

"Rupanya ada yang ingin jadi pendekar di desa ini!" sindir Dewa Loreng. "Sayang nasibnya tak sampai matahari terbit sudah menjadi mayat! Terimalah jurus 'Golok Emas' ini, Setan betina! Hiaaat...!"

Wut, wut...!

Clapp...!

Aswarani bergerak dua kali, tahu-tahu ujung jarinya keluarkan sinar lurus warna merah. Sinar itu menghantam dada Dewa Loreng. Jrabb...!

Duarrr...!

Ledakan itu sempat membuat beberapa orang yang kaget menjerit panjang. Aswarani berdiri dengan kedua kaki merapat, tapi satu tangannya masih terulur ke depan, sedang tangan yang satunya merapat didada.

Dewa Loreng tidak terdengar suaranya. Nyala api menyambar seluruh pakaiannya. Dadanya berlubang bekas hantaman sinar merah tadi. Rupanya Dewa Loreng tak diberi kesempatan menunjukkan ilmunya di depan Aswarani. Ia bagaikan disambar petir yang membuatnya tersentak kaku, kemudian rubuh dalam keadaan tubuh terbakar dan sudah tak bernyawa.

Suasana malam menjadi terang karena kobaran api yang membakar tubuh Dewa Loreng. Orang-orang sempat menyerukan sorak kemenangan. Rupanya mereka senang melihat kematian Dewa Loreng yang selalu meresahkan hati mereka, terutama yang mempunyai anak perawan.

Suto Sinting geleng-geleng kepala. Hatinya membatin, "Cepat sekali gerakannya, ganas sekali ilmunya. Rupanya ia tidak mau membuang-buang waktu. Bahaya juga perempuan itu. Siapa yang melawannya tidak diberi kesempatan untuk bertobat. Tapi... biarlah, memang ada baiknya Dewa Loreng menemui ajalnya sekarang juga daripada menimbulkan korban lebih banyak lagi."

Suto Sinting sebenarnya ingin menghadapi Dewa Loreng dengan cara tidak seganas Aswarani. Setidaknya ia ingin menanyakan tentang Dinada yang menurut dugaan pemilik kedai tersesat di hutan dan tertangkap Dewa Loreng. Tapi melihat perbuatan Dewa Loreng malam itu yang mencuri anak perawan, berarti Dinada tidak jatuh ke tangan Dewa Loreng. Sebab seandainya Dinada tertangkap Dewa Loreng, tentunya orang berbadan besar itu tidak akan mencari mangsa pada malam itu. Setidaknya ia akan sibuk dengan Dinada.

Suto Sinting melangkah masuk ke kedai lebih dulu. Beberapa saat kemudian Aswarani menyusul masuk didampingi oleh pemilik kedai yang berceloteh memuji kehebatan Aswarani.

"Terlalu ganas kau menghadapi Dewa Loreng," kata Suto Sinting setelah Aswarani berdiri di depannya.

"Tak ada keramahan buat lelaki yang doyan memperkosa. Tak ada keramahan juga buat perempuan yang suka merebut kekasih orang. Aku tak pernah memberi kesempatan kepada mereka untuk memamerkan jurusnya. Muak sekali aku melihat orang- orang seperti itu!"

Suto Sinting tersenyum sambil angkat bahu. Aswarani menambahkan kata, "Demikian juga apabila kau bermaksud mempermainkan hatiku, nasibmu akan sama dengan Dewa Loreng."

Suto Sinting berkerut dahi. "Apa maksudmu bilang begitu?"

Perempuan itu memandang Pendekar Mabuk, kemudian menarik napas panjang. "Tidak apa-apa," ujarnya dengan suara lunak. "Aku hanya memperingatkan kau agar jangan mempermainkan hatiku."

"Apakah kau pikir aku akan mempermainkan hatimu?"

"Kalau aku terpikat olehmu dan kau menolakku, sama saja kau mempermainkan hatiku."

Pendekar Mabuk tertawa pendek. "Apakah hatimu terpikat olehku?"

"Belum. Tapi mungkin nanti akan begitu, atau tidak sama sekali! Tergantung bagaimana sikapmu padaku. Kalau kau memusuhiku, maka kau pun akan seperti Dewa Loreng. Karena itu, kuingatkan sebelumnya padamu agar jangan coba-coba menantangku!"

Hanya tawa kecil yang bisa keluar dari mulut Pendekar Mabuk. Kepalanya sempat geleng-geleng karena heran terhadap sikap perempuan itu. "Apakah aku harus menuruti hatimu kalau hatimu terpikat olehku?"

"Semua orang harus tunduk padaku!"

"Wah, kalau sudah begini lain lagi persoalannya. Bisa-bisa kau berhadapan denganku, Aswarani!"

"Boleh. Kapan kau ingin berhadapan denganku?!" katanya penuh nada menantang.

Suto Sinting buru-buru melunakkan sikap dengan senyum. "Menantang apa dulu? Pertarungan yang bagaimana dulu? Yang hangat atau yang keras?"

Aswarani segera sadar sedang digoda oleh Pendekar Mabuk. Akhirnya ia mengendurkan ketegangannya. Tapi dalam hati Pendekar Mabuk sempat membatin,

"Sepertinya dia tak mau dikalahkan oleh siapa pun. Kalau dia tetap bersikap seperti itu, bisa-bisa dia akan menguasaiku. Jika benar dia bermaksud begitu, maka tak ada jalan lain kecuali melakukan pertarungan berdarah antara dia dan aku! Tapi... apakah aku tega bertarung dengan perempuan secantik dia?"

Aswarani masuk ke kamar, sementara Suto diam di bangku tempatnya makan tadi. Ia ditemani oleh pemilik kedai yang menceritakan tentang kekejaman Dewa Loreng. Beberapa saat kemudian Aswarani keluar dari kamar, ia berseru memanggil Suto dari depan kamar yang bisa terlihat melalui pintu dapur. Suto Sinting membiarkan panggilan itu karena masih belum selesai mendengarkan cerita pemilik kedai. Aswarani jengkel dan menghampirinya sambil memasang wajah galak.

"Aku memanggilmu, apakah kau tuli tak mendengar panggilanku? Atau memang tak mau datang padaku?"

Suto Sinting memandang kalem, ucapannya juga terdengar kalem, namun cukup mengena di hati Aswarani. "Kau pikir aku ini apamu sehingga harus taat dengan panggilanmu? Mengapa kau jadi bersikap begitu padaku?"

Aswarani diam sebentar dan menarik napas. Ketegangannya dikendurkan. Kemudian ia bicara dengan nada pelan. "Maaf, aku belum puas dengan pertarungan tadi! Mestinya Dewa Loreng tidak sendirian. Jadi aku bisa membantai kawanannya hingga hatiku puas! Kalau sudah telanjur marah begini, rasa-rasanya belum puas jika belum membunuh tiga-empat orang lagi."

Suto berkerut dahi dan membatin, "Wah, gawat! Jangan-jangan perempuan ini punya penyakit kejiwaan yang gemar membunuh orang?! Salah-salah aku pun akan dibunuhnya kalau terlalu dekat dengannya. Sebaiknya esok aku pergi sendiri tak perlu bersamanya. Aku yakin, orang seperti dia banyak musuhnya!"

* * *

LIMA

TERNYATA rencana Suto tak bisa terlaksana. Aswarani bangun lebih dahulu pada pagi harinya. Maka ketika Suto pamit kepada Pak Tua pemilik kedai, Aswarani pun ikut pamit juga. Mau tak mau mereka berdua keluar dari kedai bersama. Suto Sinting tak berani melarang Aswarani agar jangan bersamanya, ia takut menyinggung perasaan perempuan itu dan membuat si perempuan menjadi ganas, sehingga bisa menimbulkan korban tak bersalah. Bahkan untuk berbohong dengan mengatakan tak jadi pergi ke Tanjung Samudera pun Suto tak berani, karena ia tahu perasaan perempuan itu cukup peka dan mampu melihat rasa tidak suka Suto kepadanya. Akibatnya Pendekar Mabuk pasrah kepada keadaan dan melangkah bersama Aswarani.

"Mudah-mudahan Dinada juga menuju ke Tanjung Samudera, jadi aku bisa bertemu dengannya di sana," pikir Suto masih ingat kepada gadis peniup seruling itu.

"Dari mana asalmu, Aswarani?!" tanya Suto dalam perjalanan.

"Yang kau maksud kelahiranku atau perguruanku?"

"Perguruanmu!" jawab Suto tegas.

"Aku dari Perguruan Bukit Kasmaran."

Suto Sinting terkejut. Langkahnya terhenti sambil menatap Aswarani. "Kenapa kau terkejut?"

"Kalau begitu kau kenal dengan Dinada?"

"O, ya! Aku sangat kenal."

"Juga kepada ketua perguruan yang sekarang?"

"Siapa?!" Aswarani berkerut dahi.

"Hmmm... kalau tak salah ingatanku Dinada pernah bilang bahwa Ketua Perguruan Bukit Kasmaran adalah Pancasurti yang berjuluk si Merak Cabul."

Aswarani tersenyum, Suto Sinting merasakan senyum itu punya arti tersendiri. "Ya. Aku kenal dengannya. Sebaiknya kau tak perlu bicarakan soal dia."

"Kenapa kau tak suka membicarakan tentang Merak Cabul?"

Pertanyaan itu belum terjawab, tiba-tiba mereka dihadang oleh kemunculan dua orang berambut panjang dengan wajah sama-sama angker. Dua orang berbadan kurus dan bermata kecil menandakan kekejiannya itu, masing-masing menggenggam senjata tombak berujung pedang besar dengan pita merah rumbai-rumbai sebagai hiasan di pangkal pedang. Sikap mereka jelas tak bersahabat, sehingga Suto Sinting langsung menaruh curiga adanya ketidakberesan pada dua penghadang tersebut.

"Siapa kalian ini?!" hardik Aswarani lebih dulu.

"Kami tidak punya urusan denganmu, Perempuan jalang!" kata yang berbaju hitam.

Yang berbaju merah menimpali, "Urusan kami dengan pemuda kacangan itu!" sambil menuding Pendekar Mabuk.

Aswarani memandang Suto Sinting dengan dahi sedikit berkerut. Suto Sinting malah berkerut dahi lebih tajam lagi. "Aku merasa tidak mengenal mereka," ucapnya pelan seakan ditujukan pada diri sendiri. Tapi Aswarani mendengarnya dan langsung berkata,

"Tenang saja. Biar kuurus mereka!"

"Tidak. Biar aku saja!" kata Suto sambil bergegas maju di depan Aswarani. Perempuan itu bergeser ke sisi lain dan berdiri dengan kedua kaki sedikit merenggang, kedua tangan bersidekap di dada. Matanya tertuju tajam pada kedua orang berambut panjang yang rata-rata berusia sekitar empat puluh empat tahun.

"Maaf, aku tidak mengenal siapa kalian, mengapa kalian punya urusan denganku?" kata Suto dengan nada kalem.

"O, jadi kau ingin kenal kami?! Tentunya kau masih ingat Penguasa Teluk Neraka yang kau bunuh demi putri Adipati Jayengrana?!"

"Penguasa Teluk Neraka?!" gumam Suto Sinting yang segera ingat peristiwa itu.

"Aku Gundaraka, adik kedua Penguasa Teluk Neraka, dan ini adikku: Sancawisa."

"Kami menuntut balas atas kematian kakak kami! Kudengar kaulah pembunuhnya; karena bumbung tuak dan ketampanan wajahmu membuat kami yakin bahwa kau adalah Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak itu!"

"Ya, memang benar. Aku yang membunuh Penguasa Teluk Neraka itu, tapi aku punya alasan kuat. Semua kulakukan dengan sangat terpaksa dan..."

"Jangan banyak mulut!" bentak Gundaraka. "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!"

Sancawisa menggeram, "Sudah saatnya dendam kami tercurahkan! Terima saja ajalmu di tangan kami! Hiaaat...!" Sancawisa bergerak dengan senjatanya mulai disabetkan ke tubuh Suto Sinting.

Tetapi tiba-tiba Aswarani bergerak lebih cepat. Wess...! Tahu-tahu sudah ada di depan Suto Sinting, seakan jadi perisai Pendekar Mabuk itu. Senjata tombak berujung pedang lebar itu ditangkap dengan kedua tangan dalam keadaan miring. Zrabb...! Kedua telapak menjepit tangan mata pedang, lalu disentakkan ke bawah.

Trakk...!

Satu kali sentakan mata pedang yang terbuat dari besi baja mengkilat itu patah menjadi dua bagian. Gundaraka tak mau tunggu lama-lama. Saat Aswarani mematahkan mata pedangnya Sancawisa, ia menyabetkan senjata dari arah samping. Wess...! Srett...! Pinggang Aswarani terkena sabetan itu. Tapi ternyata pinggang tersebut tidak mengalami luka sedikit pun. Bahkan kain jubah Aswarani tidak robek selembar benang pun.

Suto Sinting terbelalak kagum. "Oh, tinggi juga ilmu Aswarani itu?! Pantas dia berani tampil menghadapi dua orang ini? O, ya... aku tahu dia ingin unjuk kesaktian di depanku. Hmmm... biarlah dulu dia puas unjuk kesaktian. Mungkin nanti akan dipakai untuk menggertakku. Sebaiknya kutunggu saja dari bawah pohon ini."

Belum selesai hati Pendekar Mabuk berkecamuk, dua orang yang mengaku adik Penguasa Teluk Neraka itu sudah dibuat tak berkutik oleh Aswarani. Satu lompatan ke atas membuat Aswarani menyentakkan kedua tangannya. Dari kedua tangan yang menghentak silih berganti itu melesat sinar merah lurus, masing-masing menghantam tubuh Gundaraka dan Sancawisa.

Slapp... slapp...!

Duarr...! Darrr...!

"Aaaaahh...!" Gundaraka menjerit sambil terpelanting jatuh, sedangkan Sancawisa tidak sempat berteriak karena kepalanya hancur oleh sinar merahnya Aswarani. Gundaraka masih menggelepar di tanah karena dadanya terkena sinar merah tadi, bukan hanya terbakar hangus, tapi juga berlubang besar. Dada itu pecah tepat di bagian sebelah kanan. Kejap berikutnya Gundaraka tidak berkutik lagi. Ia menghembuskan napas terakhir setelah mengejang sampai perutnya naik ke atas. Begitu perut terhempas turun, napas pun lepas bersamanya.

"Gerakannya begitu cepat dan tepat pada sasaran!" pikir Suto Sinting. "Kurasa Penguasa Teluk Neraka sendiri seandainya masih hidup dan melawan Aswarani akan tumbang dalam waktu sekejap."

Wajah perempuan itu menegang. Nafsu membunuhnya masih terlihat membayang melalui pandangan mata dan helaan napasnya, ia seperti merasa belum puas dengan hanya membunuh dua orang. Suto Sinting mulai paham akan hal itu, maka ia pun segera bicara menenangkan Aswarani.

"Hebat! Hebat sekali gerakanmu. Sangat mematikan. Kurasa biar sepuluh orang seperti mereka, akan hancur dalam satu-dua jurus olehmu! Aku sangat kagum dengan gerakan jurusmu, Aswarani!"

Tampak napas perempuan itu dihempaskan panjang-panjang. Raut wajahnya memperlihatkan perasaan lega dan puas. Bahkan senyumnya sempat mekar walau hanya seulas.

"O, dia ingin dipuji?!" pikir Suto.

Dengan wajah ceria, Aswarani menyingkapkan anak rambut yang meriap di keningnya. Gelang perhiasan yang dipakai di kedua tangannya itu gemerincing bagai irama kelegaan hatinya. "Tak kubiarkan siapa pun menantangmu."

Suto mulai menangkap makna kata yang punya tujuan sangat pribadi. Tapi ia berlagak tak mengerti maksud Aswarani, sehingga yang terlontar hanyalah ucapan terimakasihnya. "Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak ada kau, mungkin aku mati dihajar mereka berdua. Setidaknya babak belur dan terluka parah oleh serangan mereka."

Suto yakin, dengan kata-kata seperti itu Aswarani akan semakin bangga dan lebih ceria lagi. Terbukti senyumnya mekar dengan sangat manis dan mencerminkan keriangan hatinya. Bandul di kalungnya yang berhias batuan hijau bening itu segera dibetulkan letaknya. Aswarani mendekati Suto Sinting dan berkata dengan mata memandang sedikit sayu.

"Kita lanjutkan perjalanan atau beristirahat di semak-semak sebentar?"

"Hmmm... ehh... terus saja. Aku ingin lekas sampai di Tanjung Samudera," kata Suto Sinting sambil mengawali langkahnya.

Aswarani terpaksa mengikuti langkah itu, walaupun Suto tahu hati perempuan itu memendam rasa kecewa karena Suto memilih meneruskan perjalanan. Belum ada seratus langkah, tiba-tiba seberkas sinar biru bintik-bintik melesat dari arah lereng bukit yang ada di samping mereka.

Clappp...!

"Aswarani, minggir!" teriak Suto Sinting sambil lompat ke arah datangnya sinar biru bintik-bintik itu. Bumbung tuaknya segera dihadangkan untuk menangkis sinar tersebut.

Jrabb...! Wusss...!

Sinar itu memantul balik lebih cepat dan lebih besar dari aslinya setelah menghantam bumbung tuak. Kejap berikutnya terdengar suara ledakan menggelegar.

Jlegarr...!

Tiga batang pohon besar-besar bukan hanya tumbang namun lenyap dan menjadi serbuk halus, tak bisa terlihat oleh mata lagi. Aswarani tampak tertegun memandangi kejadian tersebut. Mereka semakin tegang setelah mendengar suara tawa cekikikan yang berkeliling bagaikan terbang di udara.

"Hih, hih, hih, hih...!"

"Celaka! Dia datang lagi?!" gumam Suto Sinting. Dalam benak Pendekar Mabuk segera terbayang wajah tua keriput dengan bibir masuk ke dalam mulut. Wajah itu tak lain adalah wajah Nini Kutang Katung.

Bayangan Pendekar Mabuk memang terbukti. Kejap berikutnya muncul sesosok tubuh bongkok berjubah abu-abu dengan tongkat hitam yang ujungnya mirip garpu dua mata, runcing seperti ujung anak panah.

"Hmmm...! Rupanya kau yang bikin ulah, Nini Kutang Katung!" kata Aswarani yang ternyata sudah mengenal tokoh tua, gurunya Ratu Kelabang Setan.

"Hi, hi, hi, hi...! Aku senang sekali jumpa kau, Anak muda!" kata Nini Kutang Katung kepada Suto Sinting. Ucapan Aswarani bagai tidak di gubris.

Aswarani bergerak maju. Namun kali ini Suto Sinting yang menahan dengan mencekal pundak perempuan itu. "Biar aku yang menangani! Dia agak berbahaya."

"Tapi dia..."

"Ganti kau yang melihat pertarunganku!" kata Suto sengaja sedikit menyombongkan diri supaya Aswarani tidak berhadapan dengan tokoh sakti itu. Sebab Suto menyangsikan kekuatan Aswarani jika melawan Nini Kutang Katung. Menurut perkiraan Pendekar Mabuk, Aswarani tidak akan bisa menang jika melawan tokoh tua yang satu ini.

"Aku ingin menebus kelancanganmu saat kita di pantai itu, Anak bagus!" kata Nini Kutang Katung kepada Suto Sinting. "Setelah itu aku akan membunuh perempuan lacur itu!" ia menuding Aswarani.

Mendengar hal itu, Aswarani naik pitam dan siap-siap melepaskan pukulan jarak jauhnya. Tapi Suto Sinting berhasil menahannya dengan merentangkan tangan dan berkata penuh ketenangan.

"Jangan terpancing dia! Tenang. Aku akan menyelesaikan secepat mungkin."

Pendekar Mabuk berkata kepada nenek bongkok itu, "Kalau kau masih penasaran padaku, kuharap kau jangan menyesal jika aku sampai bertindak lebih parah dari saat dipantai itu, Nini!"

"Hih, hih, hih, hih...! Tak perlu bicara begitu padaku, Bocah bagus! Gertakanmu tidak akan membuat hatiku goyah dan semangatku lemah. Perlu kau ketahui, bahwa Raja Hantu sudah berhasil kubinasakan dan sekarang tinggal namanya. Kalau kau ingin mencari mayatnya, datanglah ke pantai tempat kita bertemu dulu."

"O, jadi pamannya Dinada sudah tewas di tangannya?!" kata Suto dalam hati. "Kalau begitu perempuan tua ini lebih berbahaya dari dugaanku. Aku harus lebih hati-hati dalam melawannya."

Nini Kutang Katung menggerak-gerakkan mulutnya, seperti sedang mengunyah robekan sarung. Suto berfirasat, lawannya sedang membaca mantra. Maka ia buru-buru menenggak tuaknya satu teguk.

"Bocah bagus, terimalah jurus 'Bumi Lokamurka' ini!" ujar sang Nenek. Kemudian ia menghentakkan tongkatnya ke tanah. Dugg...!

Werrrr...! Bumi bergetar. Tiba-tiba dari ujung tongkat yang dihentakkan ke tanah itu mengeluarkan selarik sinar merah sebesar lidi melesat ke pertengahan kaki Pendekar Mabuk.

Srrapp...!

Sinar yang bagaikan menembus permukaan tanah itu melesat dengan cepat, kemudian tanah tersebut menjadi retak dan terbelah menjadi dua bagian.

Grrak...! Werrrr...!

Tanah berguncang hebat. Belahan tanah itu merenggang lebar, sebagian ada yang longsor ke dalam. Suto Sinting yang tak menduga akan terjadi hal seperti itu akhirnya ikut terjeblos masuk ke dalam belahan tanah.

Bruss...!

"Celaka...!" pekiknya dalam hati. Untung ia menemukan gumpalan tanah agak keras. Kakinya menjejak gumpalan tanah agak keras itu, wuttt...! Tubuhnya segera melenting ke udara, keluar dari keretakan tanah. Wukk, wukk...! Ia bersalto dua kali, lalu mendaratkan kakinya di tanah yang masih utuh. Jlegg...!

Pada saat itu Suto melihat Aswarani terjungkal karena goncangan tanah yang merekah itu. Namun keadaan perempuan tersebut masih jauh dari keretakan tanah. Suto Sinting segera bergerak ke arah lain dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.

Nini Kutang Katung kebingungan mencari Suto Sinting, ia menggerutu dengan suara tuanya, "Ke mana si setan ganteng tadi...?!"

"Aku di belakangmu, Nek!" jawab Suto dengan tenang.

Begitu Nini Kutang Katung membalikkan badan menghadap ke arah Suto, tangan Pendekar Mabuk segera menghentak ke depan. Clappp...! Sinar hijau keluar dari tangan Suto Sinting. Jurus 'Pukulan Guntur Perkasa' digunakan menghantam nenek sakti itu. Sang Nenek segera mengibaskan tongkatnya begitu melihat sinar hijau ke arahnya.

Wuttt...!

Duarr...! Tongkat itu patah dihantam sinar hijau. Bahkan sinarnya masih menembus ke arah sasaran dan tangan Nini Kutang Katung menahan dengan cara menghadang memakai telapak tangannya.

Jrabb...! Wuussss...!

Tubuh tua itu terlempar delapan langkah ke belakang, ia seperti daun kering yang dihembus badai. Jatuhnya terjungkal beberapa kali, namun keadaan tubuhnya masih utuh.

"Kuat sekali dia?!" pikir Pendekar Mabuk. Biasanya lawan yang terkena pukulan 'Guntur Perkasa' akan memar membiru pada bagian yang terkena sinar hijau itu. Memar itu akan cepat membusuk, dan akhirnya sekujur tubuh menjadi membusuk. Tetapi kali ini agaknya lawan Suto cukup tangguh.

Tokoh tua itu hanya terbatuk-batuk dan mengeluarkan dahak darah segar. Tangannya masih utuh tanpa memar biru sedikit pun. Ini menandakan kekuatan tenaga dalam yang melapisi tubuh Nini Kutang Katung sangat tinggi.

Pendekar Mabuk tidak cukup menggunakan jurus 'Guntur Perkasa' saja. Harus menggunakan jurus lain untuk menumbangkan nenek bongkok itu. "Sebaiknya kugunakan jurus 'Pecah Raga'. Apakah ia masih mampu menahan jurus yang satu ini?" pikir Pendekar Mabuk sambil melangkah ke sisi samping, matanya memandang setiap gerakan Nini Kutang Katung yang kebingungan melihat tongkatnya patah menjadi dua bagian. Namun bagian yang berujung seperti garpu runcing itu masih tergenggam di tangan kanannya.

"Heaaah...!" Nini Kutang Katung angkat kedua tangan dengan tongkat terbawa ke atas. Kedua tangan itu gemetar. Angin panas mulai terasa samar-samar. Kemudian debu putih mulai turun dari langit.

"Debu Neraka...?!" pikir Suto Sinting, langsung teringat debu-debu putih yang mampu membakar setiap benda yang tertaburi. Pada saat yang sama, sekelebat bayangan melintas di depan Pendekar Mabuk.

Wuttt...! Jlegg...!

"Dinada...?!" seru Suto bagai tak sadar.

Gadis berjubah kuning itu langsung meniup serulingnya. Tiupan seruling mendatangkan angin yang berputar-putar semakin lama semakin cepat. Akibatnya debu-debu putih itu tak jadi turun, melainkan menyebar entah ke mana.

"Keparat kau, Mila...!!" geram Nini Kutang Katung yang merasa jurusnya dikalahkan oleh seruling Dinada. Ia segera menghentakkan sisa tongkatnya itu. Namun sebelum ujung runcing tongkat itu keluarkan sinar biru yang mampu bergerak membingungkan lawan itu, Aswarani segera melesat dan menendang tangan Nini Kutang Katung.

Plakk...! Wuttt...!

Tongkat itu terlepas dari genggaman, melesat terbang dan jatuh di kedalaman semak belukar.

"Rasakan ini, hiih...!" Aswarani menghantamkan telapak tangannya ke wajah Nini Kutang Katung. Tapi telapak tangan sang Nenek juga segera menghantam sehingga mereka beradu telapak tangan.

Blarrr...!

Ledakan terjadi ketika tangan mereka beradu. Ledakan itu membuat Nini Kutang Katung terlempar lagi dan nyaris jatuh ke rongga tanah yang retak itu. Sedangkan Aswarani hanya tersentak mundur tiga tindak.

Tubuh Nini Kutang Katung mengepulkan asap bagai terbakar bagian dalamnya. Napasnya pun mulai sulit dihela. Menyadari keadaan seperti itu, Nini Kutang Katung merasa perlu mundur sesaat untuk sembuhkan luka dalamnya, ia pun segera melarikan diri tanpa pamit. Lompatan cepat Nini Kutang Katung dikejar oleh Aswarani yang bernafsu sekali membunuhnya. Perempuan itu tak bisa merasa lega dan tenang jika nafsu membunuhnya sudah sampai keubun-ubun tapi lawannya belum terbunuh.

"Sampai di mana pun akan kukejar kau, Kutang Katung!!" teriak Aswarani sambil berkelebat cepat.

"Tunggu...!" teriak Dinada, kemudian mengejar Aswarani.

Tapi Suto Sinting bergerak lebih cepat dengan jurus 'Gerak Siluman'-nya itu. Zlappp...! Tahu-tahu ia sudah ada di depan Dinada, menahan gerakan gadis yang kemarin terpisah darinya itu.

"Tahan. Tak perlu kau kejar, biar diselesaikan oleh Aswarani!"

"Minggir kau!" bentak Dinada. Ia berusaha lolos dari hadangan Suto Sinting, namun hal itu sulit dilakukan karena Suto selalu merintanginya.

"Dinada, tenanglah dulu! Ada berita bagus untuk dirimu tentang pamanmu; si Raja Hantu itu!"

"Aku akan mengejarnya dulu! Minggir, Suto...!"

"Hei, sabar! Nenek itu tak akan lepas dari kejaran Aswarani!"

"Bodoh!" sentak Dinada dengan cemberut. Kemudian ia melemas karena merasa sudah tertinggal jauh, tak mungkin terkejar lagi. Dinada duduk di atas sebuah batu, dibawah pohon teduh. Wajahnya cemberut dan tak mau memandang Suto Sinting.

"Lagak manjanya mulai keluar lagi," gumam Suto dalam hati. Ia hanya tersenyum tipis lalu mendekati Dinada pelan-pelan. "Dari mana saja kau, Dinada?! Mengapa sampai terpisah dariku?!"

Dinada diam saja. Mulutnya masih meruncing. Sesekali ia mendesis dengan tangan mengepal kuat pertanda menahan kejengkelan.

"Aku tak sengaja meninggalkan kau, Dinada. Jangan marah padaku. Aku sudah mencoba mencarimu keluar-masuk hutan itu, tapi kau tidak kutemukan. Bahkan aku memanggilmu berulang-ulang, tapi tak kudengar jawabanmu. Jangan salahkan aku, Dinada."

"Kau memang bodoh!" sentak Dinada lagi mirip gadis manja.

"Baiklah. Kuakui kebodohanku. Aku berjanji lain kali tak akan meninggalkanmu, kecuali aku pamit pergi memisahkan diri."

"Bukan soal itu!"

Pendekar Mabuk berkerut dahi sambil tersenyum. "Maksudmu bagaimana, Nona manis?" bujuk Suto.

"Kau telah melakukan hal yang paling bodoh tentang perempuan itu!"

"Aswarani itu, maksudmu?!"

"Iya!" bentak Dinada dan bibirnya yang mungil menggemaskan meruncing kembali.

Suto Sinting tertawa pelan. "Tentang Aswarani aku tidak punya perasaan apa-apa. Aku bertemu dengannya di kedai. Lalu, kami sama-sama ingin pergi ke Tanjung Samudera. Hubunganku hanya sebatas teman biasa. Kau jangan cemburu dulu, Dinada. Kalau saja..."

"Aku tidak mencemburuimu!" potong Dinada dengan ketus. "Aku hanya menyesali tindakan bodohmu!"

"Di mana letak kebodohanku?"

"Membiarkan dia pergi mengejar Nini Kutang Katung!"

"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut. "Jadi mentang-mentang dia orang Perguruan Bukit Kasmaran, lantas kau menganggap aku harus mendampinginya terus sekalipun mengejar Nini Kutang Katung?!"

"Bukan itu maksudkuuu...!!" Dinada tampak gemas sekali.

Pendekar Mabuk kian heran. "Jadi apa maksudmu sebenarnya, Dinada?!"


"Hahh...?!" Suto Sinting terkejut bukan kepalang. "Ja... jadi dialah orang yang bernama Anak Petir?!"

"Iya! Apakah kau tidak melihat Gelang Naga Dewa di tangan kanannya tadi?!"

"Hmmm... eehh... iya, memang aku melihat dia memakai gelang, tapi bukan hanya satu. Tangan kanan dan kiri memakai gelang, cincin, kalung, juga gelang kaki."

"Yang terbuat dari perunggu, berbentuk naga melingkar dua kali, dengan mata naga berwarna merah delima, bukankah itu pusaka Gelang Naga Dewa?!"

"Ya ampuun...! Mana kutahu, aku belum pernah melihat Gelang Naga Dewa dan kau tak pernah menceritakan ciri-ciri bentuk gelang pusaka itu. Ak... aku. Oh, sial!"

Pendekar Mabuk menepuk kepalanya sendiri, ia berjalan mondar-mandir dengan gusar. "Dari dulu yang bernama Anak Petir itu kusangka lelaki! Aku tak pernah menyangka kalau si Anak Petir adalah julukan yang dipakai seorang perempuan. Dan... dan lagi tak pernah ada yang menjelaskan padaku bahwa Anak Petir itu seorang perempuan. Mungkin mereka sangka aku sudah tahu hal itu!"

"Lalu, bagaimana kalau sudah begini?!" sentak Dinada, dan Suto Sinting hanya bisa tertegun bingung sendiri.

* * *

ENAM

ANAK mendiang Nyai Guntur Ayu itu ternyata seorang perempuan, bukan seorang lelaki seperti yang dibayangkan Suto sejak mula pertama mendengar nama Anak Petir. Baik Sumbaruni, Bulan Sekuntum, Untari, dan yang lainnya menyebut-nyebut nama Anak Petir di depan Suto Sinting. Tetapi tidak ada satu pun yang menjelaskan bahwa ia seorang lelaki atau perempuan. Hanya kesimpulan dalam bayangan Suto sendiri yang menganggap Anak Petir adalah seorang lelaki.

Tentu saja Suto tidak menaruh kecurigaan apa pun ketika bertemu dengan Aswarani di kedai. Bahkan ketika melihat Aswarani kebal oleh senjata Sancawisa, Pendekar Mabuk hanya menganggap biasa saja. Tidak mempunyai dugaan bahwa kekebalan tubuh itu dikarenakan Aswarani mengenakan Gelang Naga Dewa. Juga ketika Suto melihat perhiasan yang dikenakan Aswarani, tak sedikit pun punya kecurigaan bahwa salah satu gelang tersebut adalah gelang pusaka yang sedang diperebutkan beberapa orang. Pendekar Mabuk merasa seperti ditipu mentah-mentah oleh Aswarani. Padahal yang menipu adalah anggapannya sendiri. Jika ia tahu bahwa Aswarani adalah orang yang bernama Anak Petir, tentu saja sudah dilumpuhkan sejak pertemuan dikedai.

"Aku yakin Anak Petir tidak bermaksud lari begitu melihatku," kata Dinada dalam perjalanan mengejar Aswarani dan Nini Kutang Katung. Sambungnya lagi, "Untuk apa dia lari karena kedatanganku? Dia tidak akan takut kepadaku, juga kepada siapa saja. Sebab dia sudah punya pusaka andalan di tangannya."

"Dia memang hebat, kulihat sendiri gerakannya dalam melawan Dewa Loreng dan kedua adik Penguasa Teluk Neraka itu. Tapi sempat timbul rasa heranku terhadap mendiang pamanmu yang kini telah terbunuh oleh Nini Kutang Katung itu."

"Mengapa heran?"

"Pada waktu pertarungan pertama; bukankah Raja Hantu sudah memegang Gelang Naga Dewa? Mengapa ia tidak bisa tumbangkan Nini Kutang Katung, bahkan gelang itu dititipkan kepadamu?"

"Tentu saja karena gelang itu baru diperoleh dari pencuriannya. Gelang itu hanya akan berguna jika pemakainya sudah lakukan puasa selama tujuh hari sambil memakai gelang tersebut. Jika belum lakukan puasa selama tujuh hari, gelang itu tidak bedanya dengan gelang biasa bagi pemakainya."

"Apakah gelang itu sudah ada tujuh hari di tangan Anak Petir?"

"Lebih," jawab Dinada cepat. "Tentunya sudah dipuasai oleh Aswarani."

Percakapan demi percakapan dilakukan sambil memandang ke sana kemari, mencari suara pertarungan yang terjadi antara Nini Kutang Katung dan Aswarani. Tetapi suara pertarungan itu tidak mereka dengar, gerak bayangan orang berlari pun tidak mereka lihat. Dinada hampir putus asa. Hatinya kesal membayangkan kebodohan Pendekar Mabuk. Untung pendekar tampan itu pandai menghibur hatinya, sehingga semangat yang nyaris sirna itu mampu terangkat lagi. Sampai pada akhirnya mereka mendengar suara ledakan menggelegar di arah selatan.

"Mungkin itu pertarungan mereka!" kata Dinada dengan semangat penuh.

"Kita harus cepat ke sana sebelum Aswarani menghilang lagi!" Suto mendului bergerak ke arah selatan.

Di bawah kaki bukit itu, sebidang tanah bergunduk- gunduk menjadi tempat pertarungan dua tokoh berilmu cukup tinggi. Namun di sisi lain, Suto Sinting dan Dinada melihat sesosok mayat tergeletak dengan luka di bagian perut. Isi perutnya berhamburan keluar.

Dinada berkerut dahi dan berbisik kepada Suto, "Mayat siapa itu?"

Suto masih ingat sosok lelaki kurus bertampang tengil sok berani. Rambutnya panjang tipis diikat dengan kain warna coklat muda. Lelaki itu memakai pakaian serba hitam yang sekarang basah oleh darah. Orang yang sekarang sudah menjadi mayat itu tak lain adalah Mandor Gangsing, anak buah Ki Lurah Tunggoro. Mandor Gangsing dan Gaung Cablak pernah diperintahkan untuk membawa pulang Bulan Sekuntum, karena Ki Lurah Tunggoro ingin mengawini Bulan Sekuntum.

Tapi pada waktu itu Bulan Sekuntum berhasil melumpuhkan Gaung Cablak yang bertubuh tinggi besar itu, hanya saja Suto Sinting segera menolong Gaung Cablak dengan tuaknya, lalu diperingatkan agar jangan berani-berani mengganggu Bulan Sekuntum lagi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode Keranda Hitam).

Dan kini yang ada di pertarungan bukan Aswarani melawan Nini Kutang Katung, melainkan Bulan Sekuntum melawan seorang lelaki berkumis lebat berusia sekitar empat puluh lima tahun, mengenakan pakaian rapi warna hijau berkrah leher tegak. Ketika Suto Sinting menjelaskan kepada Dinada tentang mayat itu, Dinada segera terperanjat dan berkata,

"Oh, ya... aku baru ingat. Kalau begitu lelaki yang berpakaian hijau dengan senjata keris itu adalah Ki Lurah Tunggoro."

"Kau kenal dengannya?"

"Aku hanya tahu namanya dan pernah jumpa sekali. Dia adalah adik bungsu dari kesebelas saudara mendiang Guru Nyai Guntur Ayu."

"Jika begitu benar kata Bulan Sekuntum, bahwa Anak Petir adalah keponakan dari Ki Lurah Tunggoro."

"Lalu pertarungan ini apakah karena Gelang Naga Dewa?"

"Kurasa ini pertarungan pribadi. Ki Lurah Tunggoro sakit hati lamarannya ditolak oleh Bulan Sekuntum dan bikin perhitungan sendiri."

"Kita harus membantu Bulan Sekuntum!" kata Dinada penuh semangat.

"Jangan. Biarkan Bulan Sekuntum menunjukkan harga dirinya di depan Lurah Tunggoro. Kecuali jika ia dalam bahaya kita selamatkan dengan segera." kata Suto Sinting sambil bergeser ke tempat yang lebih enak dipakai untuk menyembunyikan diri.

Bulan Sekuntum tampak masih tegar dan lincah. Pedangnya dimainkan ke kanan-kiri sambil maju mendekati Ki Lurah Tunggoro. Sementara itu, Ki Lurah Tunggoro yang bersenjata keris tanpa lengkung itu sedang mencari kesempatan bagus untuk menyerang Bulan Sekuntum. Agaknya ia tidak punya pilihan lain; daripada menanggung malu dan sakit hati karena lamarannya ditolak Bulan Sekuntum, lebih baik mengadu nyawa untuk menebus kegagalannya. Ki Lurah Tunggoro sempat berseru dalam amarahnya,

"Pantang bagiku ditolak oleh perempuan macam kau, Bulan! Kematianmu adalah tebusan yang setimpal untuk kelancanganmu menolak lamaranku. Hiaaah...!" Keris itu disentakkan ke depan dari jarak lima langkah. Lalu seberkas sinar putih lurus melesat dari ujung keris.

Slappp...!

Sinar putih itu mengincar ulu hati Bulan Sekuntum. Dengan menyalurkan tenaga dalam melalui pedangnya, Bulan Sekuntum menghadang sinar putih tersebut. Desss...! Sinar itu menghantam pertengahan pedang. Bulan Sekuntum menahan dengan tubuh bergetar kaki merendah, pandangan lurus ke arah lawan.

Sinar yang belum mau putus itu bagai memancarkan kekuatan lebih besar lagi hingga tubuh Bulan Sekuntum sedikit terdorong ke belakang. Namun tampaknya ia masih mampu menahan desakan sinar putih tersebut. Kejap berikut sinar putih itu warnanya berubah pelan-pelan menjadi kemerah-merahan, dan akhirnya warna merahnya menjadi terang. Pedang yang ditegakkan itu mulai berasap. Bulan Sekuntum terdesak, tubuhnya semakin bergetar kuat. Tiba-tiba ujung pedang Bulan Sekuntum keluarkan sinar merah yang melesat ke arah tangan Ki Lurah Tunggoro.

Clappp...! Trak, duarrr...!

"Auh...! Setan!" Ki Lurah Tunggoro melompat ke belakang sambil mengibaskan tangannya. Sinar merah itu kenai genggaman Ki Lurah Tunggoro hingga pecahkan gagang keris. Tangan itu sendiri segera kepulkan asap tanda terbakar. Sementara kerisnya terlempar jauh tanpa gagang lagi. Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua urat-uratnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas yang membakar tangannya.

Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya. Wuuttt...! Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum. Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga dalam berbentuk sinar hijau itu.

Wusss...! Dam...!

Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari tempatnya.

"Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat, wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus segera bertindak."

"Jangan dulu," cegah Suto. "Bulan masih mampu bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."

Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan terbuka. Gerakan bertenaga penuh itu ternyata menghasilkan kilatan cahaya petir yang melesat dari langit dan menyambar-nyambar ke arah Bulan Sekuntum.

"Dia gunakan jurus 'Geledek Murak'?!" kata Dinada dengan suara menegang. "Itu tak boleh digunakan kecuali orang Perguruan Bukit Kasmaran!"

"Dari mana dia peroleh jurus itu?"

"Entah. Mungkin dari Anak Petir. Yang jelas Guru tidak pernah mengajarkan jurus itu kepada orang lain, walaupun kepada adiknya sendiri! Kurang ajar! Pasti jurus itu telah dijual oleh Anak Petir kepada pamannya, entah dengan imbalan apa!"

Duarrr...! Blarrr...! Blegarrr...! Duarrr...!

Bulan Sekuntum dihujani puluhan petir, ia melompat ke sana kemari hindari lidah petir yang menyalakan sinar biru berkerilap itu.

Melihat Bulan Sekuntum terdesak, Dinada segera mencabut serulingnya dan meniupnya dengan alunan lembut namun suaranya melengking tinggi. Alunan seruling itu menghadirkan angin kencang, dan angin itu membawa kumpulan mega bergerak di atas mereka. Mega-mega itu bagaikan menyekap kilatan cahaya petir, sehingga serangan hujan petir itu terhenti seketika.

"Bangsat! Ada yang mau ikut campur rupanya!" geram Ki Lurah Tunggoro, sambil teliganya menyimak suara seruling.

Bulan Sekuntum yang terluka dalam itu juga mulai memasang telinga dan memandang ke arah datangnya suara seruling. Hatinya menggumam,

"Kurasakan kehadiran Milasi di sini! Hmm... dia menolongku dengan serulingnya! Kesempatan ini tak boleh disia-siakan."

"Aku tahu kau murid Guntur Ayu! Keluar dari persembunyianmu, Bangsat!" teriak Ki Lurah Tunggoro, lalu ia melepaskan pukulan jarak jauh ke arah kerimbunan semak. Pukulan itu berupa sinar hijau seperti yang dilepaskan untuk Bulan Sekuntum tadi.

Slappp...!

Bulan Sekuntum menjegal cahaya hijau tersebut dengan sentakkan tangannya yang menghadirkan gelombang berasap merah. Hal itu dilakukan setelah melompat dan bersalto cepat menghadang sinar hijau.

Wusss...! Zrabbb...! Blegarr...! Sinar hijau pecah di pertengahan jarak karena dibungkus pukulan berasap. Tapi kejap berikutnya Bulan Sekuntum telah melesat dengan berjungkir balik ke tanah menggunakan satu tangannya.

Tab, tab, tab, tab...!

Begitu cepat gerakan jungkir baliknya itu, tahu-tahu ia sudah ada di depan Ki Lurah Tunggoro, dan pedangnya berkelebat menyabet dari kanan ke kiri. Wuttt...!

Crrassss...!

"Aaahg...!" Ki Lurah Tunggoro tersentak kaku, kepalanya terdongak, lehernya koyak karena sabetan pedang Bulan Sekuntum.

Suara seruling berhenti. Dua orang di persembunyian itu memandang tak berkedip ke arah Ki Lurah Tunggoro yang mulai limbung. Bulan Sekuntum masih pegangi pedangnya dan diam tak bergerak dalam keadaan habis menebaskan pedang.

Brrukk...! Ki Lurah Tunggoro akhirnya tumbang, dan Bulan Sekuntum melepaskan sikap diamnya, ia menghempaskan napas lega sambil menarik pedang dari gerakan semula. Matanya memandang lurus pada lawannya yang sedang meregang nyawa.

"Bukan dia lawanmu, tapi aku...!"

Terdengar seruan dari balik pohon setelah terlihat sekelebat bayangan melintas cepat. Ternyata Aswarani baru saja datang dan ia melihat pamannya terkapar tak berdaya. Bahkan saat Ki Lurah Tunggoro melepaskan napasnya yang terakhir, Anak Petir itu sedang menghampirinya.

"Bedebah kau!" geramnya kepada Bulan Sekuntum, matanya memandang liar dan buas. "Kau telah membunuh pamanku, kini aku yang harus mencabut nyawamu, Bulan!"

"Kusiapkan nyawaku untuk menebus gelang itu!" kata Bulan Sekuntum tak pernah merasa takut kepada siapa pun.

Dinada dan Suto Sinting menjadi lebih tegang lagi. "Itu dia...!" bisik Dinada. "Itu si Anak Petir yang kita cari-cari!"

"Sekarang sudah waktunya kita muncul memihak Bulan Sekuntum!"

"Tapi dia memakai Gelang Naga Dewa!" Dinada menampakkan kecemasannya.

"Aku yang akan menghadapinya!" kata Pendekar Mabuk dengan tegas tapi berkesan tenang, ia meneguk tuaknya sesaat, kemudian melompat keluar dari balik semak bersama-sama Dinada. Suto berseru, "Bulan, mundurlah kau!"

Bulan Sekuntum kaget melihat Suto Sinting ada bersama Dinada. Tapi hatinya menjadi tenang dan keberaniannya bertambah. Sedangkan Aswarani segera memandangi Pendekar Mabuk dengan mata masih tampak buas dan ganas.

"Suto, menjauhlah dari Bulan agar kau tak menjadi korban salah sasaran!"

"Justru aku yang akan menghadapimu, Anak Petir!" kata Suto Sinting membuat Aswarani menyipitkan mata memancarkan permusuhan.

"O, jadi si gadis laknat itu sudah menceritakan padamu tentang siapa aku?!" sambil Aswarani menuding Dinada. Suto Sinting maju dengan tenang dan berkata, "Semuanya sekarang sudah kuketahui, kaulah orang yang kucari dan pernah membuat namaku hampir hilang karena dianggap mati oleh kalangan dunia persilatan! Kau punya urusan pribadi denganku, Anak Petir!"

"Baik! Kudengar kau pun juga menantang pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan. Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"

Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung kata, "Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini masih ada di tanganku, Suto!"

"Kusarankan, kembalikan gelang itu pada pemiliknya!"

Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau coba-coba memerintahku, Pendekar Mabuk?! Oh, jangan harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang kau inginkan gelang ini kembali kepada pemiliknya, rebutlah dan pertaruhkan dengan nyawamu!"

Sebelum Pendekar Mabuk bergerak, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang Aswarani. "Anak Petir, akulah lawanmu!"

Seruan itu ternyata datang dari mulut perempuan berjubah Jingga. Dia adalah Untari, atau si Ratu Kelabang Setan, ia datang sambil memanggul sesosok tubuh yang telah hangus. Sesosok tubuh hangus itu dilemparkan ke depan Aswarani setelah jaraknya mencapai empat langkah.

"Kau yang membunuh guruku ini!" sentak Untari. "Aku tahu persis jurus yang membakar tubuh dengan lubang besar di dada adalah milikmu, Anak Petir!"

"Tak salah dugaanmu. Memang aku yang membunuh gurumu!" kata Aswarani dengan tegas.

Rupanya dalam pelariannya yang dikejar Sumbaruni, Untari sempat bersembunyi dan mengobati lukanya. Kemudian tempat persembunyian itu diketahui Sumbaruni dan ia lakukan pertarungan dengan bekas istri jin itu. Tapi ia terdesak dan lari lagi, Sumbaruni mengejarnya kembali Dalam pelariannya itulah ia temukan mayat gurunya yang dalam keadaan dada berlubang serta hangus sekujur badan, ia tahu hal itu adalah perbuatan Anak Petir, karenanya ia mencari Anak Petir sambil menghindari Sumbaruni.

Ternyata ia temukan si Anak Petir sedang berhadapan dengan Pendekar Mabuk. Kemarahannya semakin meluap, nafsu untuk membunuh Anak Petir kian berkobar karena ia tak ingin Suto Sinting yang ingin dijadikan pasangan bercintanya itu mendapat celaka dari si Anak Petir.

"Sekarang apa maumu, Untari?!" bentak Aswarani.

"Menghancurkan ragamu, Biadab!" geram Untari, kemudian ia kerahkan tenaga dalamnya dengan mengeraskan kedua tangan dan kaki merendah. Tangan yang diangkat ke atas itu tiba-tiba menyentak ke depan dan dua berkas sinar merah melesat menghantam dada Aswarani yang sedang bertolak pinggang.

Wuttt...! Blarrr...!

"Hah, hah, hah, hah...!" Anak Petir tertawa seperti seorang lelaki. Tubuhnya tak terluka sedikit pun. Hanya dibungkus asap sekejap, lalu tampak utuh dan tetap segar. Gelang Naga Dewa membuatnya kebal terhadap pukulan tenaga dalam apa pun.

Hal itu membuat Suto Sinting berpikir mencari cara untuk mengalahkan Aswarani. Sementara Untari lakukan serangan lagi dengan jurus-jurus mautnya, di kejauhan sana tampak seseorang berlari cepat bagai kilatan cahaya ungu. Ternyata orang itu adalah Sumbaruni.

"Sumbaruni...!" seru Bulan Sekuntum. "Jangan campuri dulu urusan mereka. Kita jadi penonton saja!"

"Aku setuju! Hmmm... kulihat gelang pusaka ratumu ada di tangan Anak Petir. Itu pertanda naas telah tiba bagi Untari!" kata Sumbaruni yang kemudian mendekati Suto Sinting dan berbisik,

"Apakah kau ingin melawannya?!"

"Aku harus tumbangkan dia karena dua hal; peristiwa di Tanjung Samudera dan merebut gelang pusaka itu untuk dikembalikan kepada pemiliknya!"

"Lakukan dengan hati-hati. Tapi kalau kau terdesak aku terpaksa ikut campur! Lumpuhkan dulu kekuatan pada gelangnya!" bisik Sumbaruni, setelah itu bergabung dengan Dinada serta Bulan Sekuntum di kejauhan sana.

Ratu Kelabang Setan kewalahan, karena semua jurus andalannya tak bisa menumbangkan Aswarani. Bahkan ia sempat menghadirkan seribu kelabang yang muncul dari tanah dan menyerang kaki Aswarani. Namun dengan sekali hentakkan kaki ke bumi, seluruh kelabang itu musnah berasap meninggalkan bau tak sedap.

"Sudah puaskah kau menyerangku, hah?!" hardik Aswarani.

"Tak akan puas sebelum kau mati menebus nyawa guruku!" jawab Untari sambil bersiap melepaskan pukulannya lagi. "Dasar keparat bodoh kau! Hiaaat...!"

Aswarani berguling ke tanah satu kali, lalu begitu bangkit tangannya keluarkan sinar biru. Clapp...! Sinar biru itu melesat dan menghantam pinggang Untari. Gerakan yang begitu cepat itu tak dapat dihindari oleh Untari, sehingga ia tersentak kaget ketika sinar itu menghantam pinggangnya.

Jrabb...! Blarrr...!

Ledakan itu membuat Untari terbuang jauh, lalu jatuh dalam keadaan berselubung asap. Ketika asap menipis dihembus angin, tubuh Untari sudah tak berbentuk lagi. Pinggangnya pecah, sekujur tubuhnya hangus seperti nasib Nini Kutang Katung. Tentu saja tak ada napas lagi padanya.

"Lihat, Suto...!" kata Aswarani. "Betapa cepatnya gerakanku, dan betapa dahsyatnya jurusku tadi. Maukah kau seperti itu, Sayang?!"

"Kau tak akan bisa melakukan terhadap diriku!"

"Mulut besar! Kubuktikan sekarang juga! Hiaaah...!" Clappp...! Sinar biru melesat menghantam Pendekar Mabuk. Tapi bumbung tuak segera berkelebat ke depan dan menghadang sinar biru itu.

Trabb...! Zlapp...!

Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat kehebatan bumbung itu, sehingga ia sudah menduga akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu. Blegarrr...! Sinar itu menghantam pohon besar. Dua pohon lenyap berubah menjadi debu.

"Kau boleh bangga dengan bumbung tuakmu, tapi tak akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"

Claappp...! Sinar merah besar terlepas dari tangan Aswarani. Suto Sinting menghadangnya lagi dengan bumbung tuak, namun kali ini sinar tidak membalik arah melainkan meledak di depan Suto.

Blegarrr...!

Pendekar Mabuk terbang melambung ke udara. Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Suto terkapar dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi tegang dan cemas. Namun kali ini Suto Sinting tak sampai pingsan, ia segera menenggak tuaknya untuk menyembuhkan luka. Sisa tuak masih ditampung di mulut.

Ketika itu, Anak Petir melompat dengan mencabut pedangnya dari punggung. "Sekarang terbukti aku dapat memenggal kepala Pendekar Mabuk! Hiaaah...!"

Suto Sinting sentakkan kaki ke bumi. Wuuttt...! Tubuhnya melenting di udara cukup tinggi. Ketika Aswarani menebaskan pedang di tempat kosong, Suto Sinting semburkan tuak dari mulutnya.

Brrusss...!

Semburan itu tepat kenai Gelang Naga Dewa. Tak ayal lagi, jurus 'Sembur Siluman' membuat gelang itu lenyap dari tangan Anak Petir.

"Celaka...?!" Anak Petir menjadi tegang. Matanya mendelik lebar melihat Gelang Naga Dewa lenyap dari tangannya.

Pada kesempatan itulah Suto Sinting yang sudah mendaratkan kaki ke bumi segera melepaskan jurus pukulan 'Pecah Raga' yang berupa sinar hijau dari telapak tangannya. Clapp...!

Blegarrr...!

Anak Petir tak sempat menghindar lagi. Sinar hijau itu menghantam perutnya dan ledakan menggelegar terdengar begitu dahsyat. Bersamaan dengan itu, tubuh si Anak Petir pun pecah menjadi serpihan kecil-kecil.

Terdengar suara tepuk tangan dari tiga perempuan yang menyaksikan pertarungan tersebut. Wajah mereka berseri-seri dan segera berlarian menghambur diri mendekati Pendekar Mabuk. Mereka tampak ingin memeluk Suto sebagai ungkapan rasa gembira mereka. Suto Sinting kebingungan dan segera sentakkan kakinya ke bumi lalu tubuhnya pun melenting di udara.

Wuuttt...!

Tebb...! Pendekar Mabuk hinggap di atas pohon tanpa timbulkan gerakan sedikit pun pada dedaunan pohon itu. Senyumnya mekar di sana dengan sangat menawan.

"Turunlah! Kenapa kau menghindar!" seru Sumbaruni.

"Aku takut kalian peluk bertiga!"

Mereka tertawa. Bulan Sekuntum yang jarang tertawa kali ini ikut tertawa. Manis sekali, tapi sama nilai kemanisannya dengan Dinada dan Sumbaruni.

"Tak ada yang ingin memelukmu! Jangan besar rasa dulu!" seru Dinada sambil masih memegangi serulingnya.

Suto Sinting pun segera lompat turun ke bawah bagaikan seekor burung garuda menampakkan keperkasaannya. Wuusss...! Jlegg...! Lalu, ketiga perempuan itu mendekat. Ketiganya menyergap Suto dalam pelukan.

"Mati aku kalau begini!" gumamnya dalam tawa. Ketiga perempuan itu buru-buru sadar dengan apa yang dilakukan.

"Terlalu jauh aku mengungkapkan rasa bahagiaku?!" pikir Dinada yang segera mengundurkan diri dengan malu.

"Oh, kenapa aku harus begini? Aku terbawa rasa gembiraku yang berlebihan! Aduh, memalukan sekali!" kata Bulan Sekuntum yang cepat-cepat melepaskan pelukan dan mundur tiga langkah.

Sumbaruni pun berkata, "Ya, ampuun... hangat sekali tubuhnya. Tapi, tidak begini cara menuangkan kebanggaanku. Ah, seperti perempuan murahan saja aku ini," lalu Sumbaruni lepaskan pelukan dan menjauh tiga langkah juga.

Pendekar Mabuk lepaskan napas lega. Ketiga perempuan itu saling menyembunyikan senyum sebagai ungkapan rasa malu.

"Selamat, kau berhasil menumbangkan angkara murka, Suto," kata Dinada dengan suara pelan dan senyum menawan.

"Lalu bagaimana dengan gelang pusaka itu?" tanya Sumbaruni.

"Seperti janjiku, harus dikembalikan kepada pemiliknya; Ratu Dewi Giok!"

"Jelmakan kembali gelang itu," ujar Bulan Sekuntum. "Jangan sampai lupa seperti saat kau menyembur pedangku. Hampir saja kau lupa menjelmakan kembali kalau tidak kutegur sebelum keluar dari kedai!"

Pendekar Mabuk tertawa kecil ingat peristiwa itu. Kemudian ia berkata, "Tidak akan kujelmakan di sini. Kalau ada tokoh jahat lain yang menghendaki bisa jadi bahan rebutan lagi. Sebaiknya antarkan aku menghadap Ratu Dewi Giok, Gelang Naga Dewa akan kujelmakan disana! Langsung kuserahkan kepada beliau!"

"Aku harus ikut!" sergah Sumbaruni.

"Kenapa kau ngotot sekali kelihatannya?"

"Siapa tahu kau main mata dengan sang Ratu!"

Bulan Sekuntum hanya mencibir lalu melengos, Suto Sinting tersenyum kian lebar, ia memaklumi kecemburuan itu, sebab ia tahu Sumbaruni sebenarnya sangat mencintainya. Sekalipun sudah ditolak namun tetap nekat. Suto hanya bisa angkat bahu, kemudian mereka berempat pergi ke Istana Tanjung Samudera.

Dengan jurus yang bernama 'Jelma Siluman', pusaka Gelang Naga Dewa itu diwujudkan kembali oleh Pendekar Mabuk di depan Ratu Dewi Giok, kemudian diserahkan kepada sang Ratu. Mata indah sang Ratu memandangi Pendekar Mabuk dengan penuh rasa kagum. Sumbaruni tampak masam menyembunyikan kecemburuannya. Suto Sinting hanya tersenyum-senyum sambil melengos ke arah lain.

SELESAI