X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Dewi Maut Jilid 19

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Episode Dewi Maut Jilid 19 Karya Kho Ping Hoo
Dewi Maut Jilid 19
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
Semenjak sejarah berkembang, tidak peduli di negara mana pun di bagian dari dunia ini, terdapat banyak sekali pembesar-pembesar seperti Ciang-tikoan ini. Terutama sekali di waktu pusat pemerintahan sedang kalut dan pengawasan dari atasan kurang ketat, maka para pembesar setempat lalu mempergunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.

Segala sesuatu kebutuhan rakyat yang harus terlebih dahulu mendapatkan ijin dari para pembesar, pasti dipersulit sedemikian rupa sehingga rakyat yang membutuhkan ijin itu secara terpaksa harus mengeluarkan sebagian miliknya untuk ‘memberi hadiah’ atau istilah umumnya sogokan atau suapan kalau dia menghendaki pekerjaannya dapat lancar dan ijin yang dibutuhkannya dapat diberi oleh pembesar yang berwenang. Tentu saja ada pembesar-pembesar yang betul-betul merupakan pemimpin rakyat, pelindung rakyat yang bijaksana dan menunaikan tugas kewajibannya dengan baik, yang berhati bersih dan tidak menyalah gunakan kekuasaan dan kedudukannya, akan tetapi sayang, pembesar seperti ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja!


Mengapa keadaan di Yen-tai dan di kota-kota lainnya di seluruh Tiongkok yang dikuasai Kerajaan Beng-tiauw seperti itu penuh dengan para pembesar yang menyalah gunakan kedudukannya untuk memenuhi kesenangan diri pribadi saja tanpa menghiraukan nasib rakyatnya? Hal ini adalah karena pengaruh dari keadaan di pemerintahan pusat, yaitu di Kota Raja Peking, di mana pusat pemerintahan di tangan kaisar juga sedang mengalami kekacauan dan kelemahan.

Seperti tercatat dalam sejarah, kota Peking dibangun oleh Kaisar Yung Lo yang gagah perkasa. Bukan saja kaisar ini membangun tembok besar, terutama di bagian timurnya, akan tetapi juga membangun kota raja yang tadinya menjadi kota raja Bangsa Mongol itu, dibongkar dan dirubah secara hebat sehingga merupakan sebuah kota raja yang terbesar dan termegah di dunia.

Kerajaan Beng-tiauw mengalami kejayaannya sewaktu Kaisar Yung Lo yang memegang kendali pemerintahan, yang dilakukannya dengan cara tangan besi dan dengan adil, tidak segan-segan menghukum para pejabat yang bersalah sehingga sebagian besar pejabat melakukan tugasnya dengan baik. Pada masa itu, rakyat dapat mengecap kenikmatan hidup di bawah pemerintahan yang adil.

Pada tahun 1425, di dalam perjalanan pulang dari penyerbuan musuh di Mongolia luar, Kaisar Yung Lo meninggal dunia. Kedudukan kaisar kemudian diwariskan kepada putera mahkota, yaitu Kaisar Hung Shi yang sudah sakit-sakitan dan kaisar ini pun meninggal dunia setelah menjadi kaisar selama sepuluh bulan saja.

Kembali kedudukan kaisar diwariskan kepada salah seorang cucu Yung Lo yang bernama Hian Tek Ong. Kaisar ini mencoba mempertahankan kebesaran kakeknya, akan tetapi Kaisar Hian Tek Ong ini pun hanya memegang kekuasaan selama sebelas tahun saja.

Kini singgasana diserahkan kepada seorang buyut dari Yung Lo, seorang pangeran yang baru berusia delapan tahun, yang menjadi Kaisar Cheng Tung. Penggantian kekuasaan yang berusia pendek ini melemahkan Kerajaan Beng-tiauw, karena dengan perubahan kaisar berarti terjadi pula perubahan politik dan wibawa.

Apa lagi karena kaisar yang terakhir ini, yaitu Cheng Tung, masih kanak-kanak sehingga pemerintah dipegang dalam kekuasaan ibu suri yang tentu saja sebagai seorang wanita kurang pandai mengatur pemerintahan dan seperti biasa, sesungguhnya yang berkuasa di istana adalah para thaikam, yaitu para pembesar yang bertugas di dalam istana dan para petugas pria ini semua dikebiri agar jangan sampai terjadi hal-hal yang melanggar susila antara para petugas ini dengan para wanita istana.

Ketika Kaisar Cheng Tung sudah mulai dewasa, dia sudah terbiasa oleh pengaruh para thaikam ini, karena itu boleh dibilang dia berada dalam cengkeraman yang membius dari seorang thaikam yang paling dipercayainya, yaitu Thaikam Wang Cin, seorang thaikam yang berasal dari kota Huai Lai di utara, di daerah Mongol.

Demikianlah, karena kaisarnya seperti boneka, hanya tahu menanda tangani saja semua hal yang disetujui dan direncanakan oleh Wang Cin, maka pemerintahannya amat lemah. Orang macam Wang Cin mana mungkin mau memikirkan keadaan rakyat? Setiap gerak perbuatannya selalu bersumber kepada kepentingan pribadinya.

Dengan adanya pemerintah pusat seperti ini, tentu saja para pejabat di daerah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat penuh dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Ciang-tikoan di Yen-tai yang tentu saja cukup cerdik untuk ‘menempel’ para pembesar di kota raja, terutama mencari muka terhadap yang dipertuan Wang Cin.

Kini kedua saudara Kwi Eng dan Kwi Beng menjadi korban dari kesewenang-wenangan pembesar lalim ini. Beberapa hari kemudian, dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya, dua orang kakak beradik ini diberangkatkan menuju ke kota raja dengan sebuah kereta milik mereka sendiri yang telah dirampas dan dikawal ketat oleh tiga losin orang prajurit, dipimpin oleh seorang perwira yang membawa surat-surat laporan mengenai ‘dosa-dosa’ dua orang tawanan itu untuk disampaikan kepada pembesar atasan di kota raja yang berwenang mengadili perkara-perkara besar.

Banyak rakyat memandang dengan mata merah bahkan ada yang mengucurkan air mata melihat dua orang muda yang dermawan dan budiman itu menjadi orang-orang pesakitan diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi dari tempat tinggal mereka. Akan tetapi, seperti biasa, rakyat kecil hanya mampu menangis dan mengeluh, paling-paling hanya mampu mengepal tinju dengan diam-diam karena mereka tahu bahwa mereka itu tidak berkuasa atas kehidupan mereka sendiri!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Kwi Beng ketika dalam keadaan terbelenggu kuat dia bersama adiknya diseret ke dalam kereta itu. Mereka duduk saling berhadapan dan saling pandang.

"Moi-moi, kalau saja kita memberontak sejak pertama kali dipanggil..." Kwi Beng segera menyatakan penyesalannya.

"Tenanglah, koko. Belum tentu kita akan celaka, kita bersabar saja sambil melihat semua perkembangannya. Tentu nanti akan ada kesempatan bagi kita, dan lagi... aku percaya bahwa Tio-twako tidak akan tinggal diam saja."

Seorang pengawal menghardik dan melarang mereka bicara. Kereta lalu diberangkatkan dan sebelum tirai kereta ditutup oleh pengawal, Kwi Eng sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang pemuda jangkung berpakaian kuning di antara rakyat yang menonton dan legalah hati gadis ini. Kwi Beng hanya memandang heran mengapa ada senyum di bibir adiknya itu dalam keadaan seperti itu.

********************

Beberapa hari kemudian, pasukan yang mengawal kereta berisi dua orang tawanan itu tiba di kota Cin-an. Di sini para pengawal berganti kuda dan membawa perlengkapan dan bekal makanan baru dari para pembesar di Cin-an. Sesudah bermalam di kota Cin-an, pada keesokan harinya pasukan melanjutkan perjalanan menuju ke utara, ke kota raja.

Pada sorenya, mereka sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho di mana telah tersedia perahu-perahu besar untuk menyeberangkan mereka. Akan tetapi karena hari telah mulai gelap, mereka berhenti dan berkemah di dekat sungai sambil beristirahat. Seperti biasa, kedua orang tawanan itu menerima makanan dan minuman dan mereka diperbolehkan makan minum dengan dua pergelangan tangan dibelenggu di depan tubuh mereka dan dipasangi rantai baja yang panjang dan berat. Demikian pula kedua kaki mereka dibelenggu dengan rantai panjang.

Walau pun kedua orang kakak beradik ini dijaga ketat sekali, akan tetapi di sepanjang perjalanan mereka diperlakukan dengan baik dan sopan. Hal ini adalah karena si perwira yang memimpin pasukan pengawal itu tahu siapa adanya mereka berdua ini, tahu pula bahwa ibu dua orang muda itu adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai, demikian pula ayah mereka adalah seorang asing yang berpengaruh dan dermawan. Akan tetapi dia pun maklum betapa penting dan beratnya perkara yang membuat mereka dikirim ke kota raja, yaitu tuduhan memberontak dan membunuhi banyak nelayan tidak berdosa!

Tentu saja dia pun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan ‘nelayan-nelayan tak berdosa’ itu sebenarnya adalah Tokugawa dan kawanan bajak laut. Akan tetapi sebagai seorang bawahan, dia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani menentang atasannya.

Pada keesokan harinya, masih pagi-pagi sekali rombongan itu melakukan penyeberangan dengan menggunakan perahu besar yang telah tersedia di pantai sungai yang amat luas itu.

"Sekarang tiba kesempatan bagi kita, koko. Kau bersiaplah. Rantai tangan dan kaki kita ini cukup panjang, memudahkan kita bergerak di air."

"Akan tetapi juga cukup berat untuk membuat kita tenggelam," bisik kembali Kwi Beng.

"Kita harus berani mengambil resiko. Kesempatan ini yang terbaik dengan mengandalkan kepandaian kita di air," bisik lagi Kwi Eng.

Karena perwira pengawal mendekati mereka, keduanya menghentikan bisikan dan hanya saling pandang. Akan tetapi mereka sudah bersepakat untuk menggunakan kesempatan penyeberangan itu untuk melarikan diri.

Ketika perahu besar yang menyeberang itu mulai meluncur ke tengah sungai, nampak sebuah perahu kecil juga meluncur cepat sekali seiring dengan perahu besar itu. Perahu ini ditumpangi dan didayung oleh seorang pemuda berpakaian kuning yang sama sekali tidak mencurigakan. Para pengawal yang melihat pemuda ini mengira bahwa dia adalah seorang nelayan atau seorang pelancong saja. Akan tetapi Kwi Eng menyentuh lengan kakaknya ketika dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun.

Akan tetapi Tio Sun tidak segera turun tangan melainkan terus saja mengikuti perahu itu sampai tiba di dekat pantai sebelah utara. Di pantai selatan dia tidak berani turun tangan karena tempat itu ramai dan dekat dengan kota Cin-an, berbeda dengan pantai sebelah utara yang sunyi.

Setelah perahu besar yang membawa dua orang sahabatnya sebagai tawanan itu berada kurang lebih tiga ratus meter lagi dari pantai, tiba-tiba Tio Sun meloncat ke atas perahu besar kemudian tanpa banyak suara lagi dia meloncat ke arah Kwi Eng dan Kwi Beng yang duduk di atas dek terjaga oleh lima orang pengawal.

"Heii, siapa kau...?!" Seorang pengawal membentak dan suasana menjadi geger.

Para prajurit pengawal segera meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi pada saat itu pula, Kwi Eng dan Kwi Beng sudah bangkit berdiri, dengan kaki tangan mereka yang terbelenggu itu mereka berhasil menampar dan menendang roboh lima orang penjaganya.

Tio Sun menggunakan pedangnya, dengan cepat mematahkan belenggu kaki dan tangan mereka sambil merobohkan setiap orang pengawal yang mencoba untuk menghalanginya.

"Cepatlah menyingkir...!" Tio Sun berkata sambil menyerahkan dua batang pedang yang sengaja dibawanya kepada Kwi Eng dan Kwi Beng.

Perwira pengawal berteriak mengumpulkan anak buahnya dan mulailah mereka itu maju mengepung dan mengeroyok.

"Apakah kalian berani hendak memberontak?!" Perwira muda itu berteriak. "Harap ji-wi jangan menambah dosa ji-wi."

"Kalian mundurlah!" Kwi Beng yang maklum akan kebaikan perwira itu berseru. "Kalian tahu bahwa kami bukanlah pemberontak, melainkan Ciang-tikoan yang bersekutu dengan bajak-bajak laut! Mundurlah!"

"Kami hanya menjalankan tugas, kalau sampai kalian lolos tentu kami dihukum!" sang perwira membantah dan terus mengepung ketat.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun mengamuk dengan pedang mereka.

"Jangan membunuh orang, mereka hanya petugas-petugas biasa," kata Kwi Eng.

Tentu saja hal ini disetujui oleh Tio Sun yang juga segan untuk memusuhi dan membunuh prajurit pemerintah. Karena itu mereka itu hanya mempergunakan pedang mereka untuk menghalau semua serangan senjata lawan, dan hanya merobohkan para pengeroyok itu dengan tendangan kaki atau tamparan tangan kiri saja.

Akan tetapi tiga losin orang prajurit pengawal itu yang tentu saja merasa takut bila sampai tawanan itu lolos, dengan nekatnya mengeroyok terus tanpa mempedulikan keselamatan mereka sendiri dan hal ini membuat tiga orang muda itu merasa repot juga. Andai kata mereka bertiga itu mau membagi-bagi pukulan maut dan merobohkan para pengeroyok itu, agaknya mereka akan berhasil membasmi puluhan orang itu. Tetapi tanpa membunuh para pengeroyok yang nekat itu, tentu saja amat sukar bagi mereka untuk meloloskan diri, bahkan kalau pertandingan itu terus dilanjutkan, tentu mereka akan terancam bahaya oleh hujan serangan itu.

"Tio-twako, kau pergilah dulu dengan perahumu!" teriak Kwi Eng dan mereka kini mulai bergerak ke pinggir perahu besar.

"Tidak, aku takkan meninggalkan kalian!" jawab Tio Sun sambil mengelak dari sambaran dua batang golok dan menggerakkan kakinya menendang roboh seorang pembokong dari belakang.

"Twako, pergilah dulu dengan perahumu, kami akan mengambil jalan dalam air," kata Kwi Beng dan kini mengertilah Tio Sun.

Teringat dia akan penuturan Kwi Eng betapa kedua orang saudara kembar itu pernah belajar ilmu di dalam air dari nelayan yang dulu pernah menyelamatkan ayah ibu mereka, maka dia mengangguk dan mengamuk dengan pedangnya hingga semua pengeroyoknya dipaksa mundur.

Setelah sampai di tepi perahu besar dan melihat perahu kecilnya masih berada di dekat perahu besar itu, dia berseru, "Berhati-hatilah kalian! Aku pergi dulu!" Sekali mengayun tubuhnya Tio Sun sudah meloncat keluar dari perahu besar, tepat di atas perahunya yang segera didayungnya menuju ke seberang sungai.

Kwi Beng dan Kwi Eng juga mencontoh perbuatan Tio Sun tadi, mereka mengamuk dan makin mendekati pinggiran perahu, lalu setelah merobohkan beberapa orang pengeroyok, mereka pun cepat-cepat meloncat keluar dari perahu besar, langsung terjun ke dalam air dengan kedua tangan lebih dulu.

"Cluppp! Cluppp!"

Laksana dua ekor ikan lumba-lumba saja mereka terjun tanpa menimbulkan banyak suara dan air pun tidak muncrat banyak, tanda bahwa keduanya memang ahli bermain di air. Lenyaplah kedua orang muda itu dari permukaan air dan para pengawal yang bergegas menuju ke pinggir perahu sambil membawa anak panah, tidak melihat mereka lagi.

Akan tetapi perwira pasukan pengawal itu bersikap tenang-tenang saja. "Cepat jalankan kembali perahu ke seberang. Mereka tentu sudah ditangkap kembali di sana!"

Semua anak buahnya merasa heran mendengar ucapan ini dan mereka lantas bersicepat meluncurkan perahu besar di tepi sungai sebelah utara. Ketika tiba di tempat itu, benar saja mereka melihat ketiga orang muda tadi sudah dikepung dan dikeroyok oleh kurang lebih lima puluh orang prajurit yang bersenjata lengkap! Tentu saja mereka menjadi girang dan serentak mereka berbondong-bondong mendarat dan membantu mengeroyok pula.

Ternyata siasat dari tiga orang muda itu sia-sia belaka. Mereka tidak memperhitungkan kecerdikan Ciang-tikoan. Pembesar ini tentu saja mengerti betul akan kelihaian dua orang tawanannya, mendengar pula akan keahlian mereka bermain di air, maka diam-diam dia telah mengutus seorang pembantu secara rahasia menghubungi rekannya di Cin-an untuk menjaga di seberang sungai kalau-kalau dua orang tahanannya itu mencoba-coba untuk meloloskan diri ketika diseberangkan, mengingat akan kelihaian mereka bermain di air.

Dan memang dugaannya tepat sekali, maka pembesar di Cin-an sudah mempersiapkan pasukan dari lima puluh orang yang bersembunyi di pantai sungai sebelah utara. Begitu Tio Sun yang sudah mendarat lebih dahulu dengan perahunya itu menyambut dua orang kawannya yang muncul dari dalam air bagaikan dua ekor ikan itu, mereka langsung menyergap sehingga terjadilah pengeroyokan hebat di tepi sungai sebelah utara itu.

Tentu saja mereka bertiga menjadi kaget sekali, dan mereka melawan mati-matian. Akan tetapi, setelah perahu besar pasukan pengawal mendarat pula dan pengeroyokan menjadi makin ketat, mereka benar-benar terdesak hebat dan keadaan mereka amat berbahaya, kalau tidak tertawan kembali tentu akan tewas, atau setidaknya terluka hebat di bawah pengeroyokan lebih dari lima puluh orang itu.

Tanpa dikomando mereka lalu membela diri dengan cara saling melindungi, berdiri saling membelakangi dan dengan senjata pedang mereka, dibantu oleh joan-pian di tangan kiri Tio Sun, mereka menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan dan sekali ini terpaksa mereka menggunakan senjata untuk merobohkan pengeroyokan, sungguh pun pedang mereka itu hanya ditujukan kepada bagian-bagian tubuh yang tidak berbahaya.

Belasan orang pengeroyok sudah roboh dengan pundak, lengan atau kaki terluka parah akan tetapi pengeroyokan masih cukup ketat dan tiga orang itu mulai menjadi lelah sekali, bahkan Kwi Beng telah terluka pahanya dan Kwi Eng telah terluka pangkal lengan kirinya. Tetapi mereka tak mau menyerah karena ketiganya maklum bahwa urusan telah menjadi semakin berat sehingga jika mereka tertawan kembali, hukuman mereka tentu akan jauh lebih berat lagi, mungkin akan dihukum mati sebagai pemberontak-pemberontak hina.

"Tio-twako, kau larilah...!" Tiba-tiba Kwi Eng berkata kepada Tio Sun.

“Benar, kau pergilah, twako dan jangan mengorbankan diri untuk urusan kami!" Kwi Beng juga berkata.

Hati Tio Sun rasanya bagai ditusuk, dia merasa terharu dan juga kagum akan kegagahan dua orang kakak beradik ini yang dalam keadaan seperti itu masih ingat kepadanya dan tidak mau membawa-bawanya mengalami kecelakaan.

"Tidak! Aku akan membela kalian sampai titik darah terakhir!" bentaknya.

Pedang dan joan-pian di tangannya bergerak cepat maka robohlah tiga orang pengeroyok. Akan tetapi, karena di dalam kemarahannya ini dia mencurahkan seluruh perhatian untuk merobohkan lawan sebanyak mungkin, Tio Sun tak dapat menghindarkan bacokan golok dari samping yang mengenai pundaknya.

"Tio-twako...!" Kwi Eng menjerit ketika melihat darah muncrat dari pundak pemuda itu.

Tio Sun membalikkan pedangnya dan penyerangnya itu menjerit roboh ketika lengannya terbabat pedang hampir putus.

"Tidak apa-apa, nona." Tio Sun tersenyum dan mereka bertiga terus mengamuk biar pun mereka telah terluka semua.

"Bunuh saja tiga pemberontak ini!" tiba-tiba terdengar komandan pasukan Cin-an berteriak marah.

Tadinya perintah atasannya hanyalah untuk membantu para pengawal dari Yen-tai untuk menangkap kembali tawanan itu jika melarikan diri. Akan tetapi kini melihat betapa tiga orang itu memberontak dan merobohkan banyak anak buahnya, dia menjadi khawatir dan marah sekali, maka dia lantas mengeluarkan perintah untuk membunuh mereka. Dengan adanya perintah ini, para prajurit kini mendesak makin ketat dan senjata mereka datang bagaikan hujan menyerang tiga orang muda yang membela diri mati-matian itu.

"Twako, kita pun harus membuka jalan darah!" terdengar Kwi Eng berteriak dan terpaksa Tio Sun tidak membantah. Karena kini para pengeroyok menghendaki nyawa mereka, tentu saja mereka bertiga harus pula menjaga dan menyelamatkan diri, bahkan bila perlu dengan jalan membunuh para pengeroyok.

Tio Sun menggerakkan pedang serta joan-pian-nya secara hebat, demikian pula Kwi Eng dan Kwi Beng mengamuk dengan pedang mereka. Terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika beberapa orang prajurit roboh untuk tidak bangun kembali! Pertandingan menjadi makin seru dan kini merupakan pertempuran mati-matian. Namun karena tiga orang muda itu sudah terluka dan fihak pengeroyok amat banyaknya, mereka semakin terdesak dan makin terkurung sehingga ruang gerak mereka menjadi makin sempit.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya bagi keselamatan tiga orang muda itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring kemudian keadaan para pengeroyok di sebelah luar menjadi kacau-balau. Ketika Tio Sun melirik, dia terkejut dan juga kagum sekali melihat seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk, hanya mempergunakan kedua tangan kosong saja melempar-lemparkan para prajurit seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja, sama sekali tidak mempedulikan hujan senjata tajam yang menyambar ke tubuhnya.

Para prajurit merasa terkejut dan gentar karena pendatang baru ini benar-benar sangat lihai, bacokan-bacokan senjata tajam hanya ditangkis oleh lengan yang kulitnya seperti baja kerasnya dan setiap kali tangan kaki pemuda ini bergerak, mereka terlempar sampai beberapa meter jauhnya!

"Hai, pemberontak dari mana yang berani menentang pasukan pemerintah?" Komandan pasukan menerjang ke depan.

Akan tetapi pedangnya ditangkap oleh tangan kiri pemuda itu dan sekali remas pedang itu sudah patah-patah. Kemudian pemuda itu menangkap komandan ini pada pinggangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Pasukan pemerintah yang hanya menyalah gunakan kedudukannya sama sekali tak ada bedanya dengan penjahat-penjahat! Pergilah kalian!" Pemuda itu melemparkan komandan itu sampai jauh dan jatuh terbanting sampai pingsan. Tentu saja semua prajurit menjadi makin gentar, kurungan mereka melonggar.

"Sam-wi yang terkurung, tidak lekas-lekas lari mau tunggu apa lagi?" Pemuda tampan itu berseru dan mendahului lari, cepat diikuti oleh Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng. Karena mereka berempat mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja para prajurit sudah kehilangan jejak mereka.

Di tengah sebuah hutan, empat orang muda itu berhenti. Pada saat pemuda tampan itu hendak melanjutkan larinya tanpa mempedulikan tiga orang yang sudah ditolongnya, Tio Sun cepat mengejar dan berseru,

"Sahabat yang gagah harap suka berhenti dulu!"

Pemuda tampan itu menoleh dan melihat pandang mereka penuh harapan, terpaksa dia berhenti.

"Sam-wi sudah beruntung dapat terbebas dari kepungan para pasukan itu, ada urusan apa lagikah dengan aku?"

Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng cepat-cepat menghampiri dan kini mereka berhadapan. Sepasang mata pemuda tampan itu terbelalak dan jelas dia kelihatan kaget, heran dan bingung ketika dia memandang kepada Kwi Beng dan Kwi Eng secara bergantian.

"Aihh... kiranya kalian bukan... bukan..." Dia tidak melanjutkan kata-katanya sebab hatinya merasa sangsi. Melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, pemuda tampan dan dara jelita ini jelas adalah orang-orang Han, akan tetapi, mengapa matanya kebiruan dan rambutnya agak pirang?

Souw Kwi Eng adalah seorang gadis peranakan barat yang tak dapat disamakan dengan gadis-gadis pribumi yang biasanya bersikap pendiam dan pemalu. Apa lagi dia bersama kakak kembarnya mewakili pekerjaan ayahnya sehingga dia sudah biasa bergaul dan tak malu-malu lagi, bersikap polos dan jujur di samping juga memiliki kecerdasan sehingga dia sudah segera maklum mengapa pemuda gagah perkasa yang menolong mereka itu kelihatan begitu kaget, heran dan bingung. Cepat dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil tersenyum manis sekali dan berkata,

"Harap saudara yang gagah perkasa dan yang telah menyelamatkan kami tidak menjadi curiga. Sungguh pun mungkin warna mata dan rambut kami kakak beradik kembar agak berbeda, namun kami berdua adalah berdarah Han, kakak kembarku ini bernama Souw Kwi Beng dan aku sendiri bernama Souw Kwi Eng. Sedangkan dia itu adalah Tio-twako bernama Tio Sun. Kami bertiga telah kena fitnah dan hendak dibawa ke kota raja sebagai tawanan pemberontak, maka pertolonganmu tadi merupakan budi yang amat besar bagi kami."

Mendengar ucapan yang lancar dan tidak kaku, pemuda itu merasa lega. Gadis ini luar biasa cantiknya, cantik dan aneh, akan tetapi kata-katanya jelas menunjukkan bahwa dia seorang Han tulen.

Melihat pemuda yang usianya masih amat muda dan sikapnya seperti pemalu itu namun yang telah memiliki kepandaian demikian hebatnya, Tio Sun yang merasa kagum sudah maju dan berkata, "Saudara yang muda memiliki kelihaian yang amat mengagumkan hati kami, dan sudah menyelamatkan kami dari bahaya maut. Bolehkan kami mengetahui she dan namamu yang mulia?"

Pemuda itu kelihatan meragu. Dia tadi menolong karena melihat ketiga orang muda itu sedang terancam bahaya, sama sekali tidak mempunyai keinginan lainnya. Akan tetapi menyaksikan keramahan mereka, terutama sekali keramahan dara jelita yang dengan mata birunya memandangnya dengan sinar mata penuh rasa kagum dan terima kasih, dia merasa tidak enak bila pergi begitu saja setelah mereka memperkenalkan nama masing-masing. Akan tetapi dia pun tidak ingin memperkenalkan namanya, maka dia lalu teringat akan nama yang dulu diperkenalkan kepada gadis aneh bernama ‘Hong’ saja yang baru dijumpainya, maka dia lalu menjura dan berkata,

"Nama saya Houw, she... Bun."

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Bun Houw, putera ketua Cin-ling-pai. Seperti yang telah diceritakan pada baglan depan, Bun Houw berpisah dengan In Hong, atau lebih tepat lagi dara itu yang meninggalkannya karena tidak mau melakukan perjalanan bersama setelah Bun Houw suka mencegahnya membunuh musuh-musuhnya di perjalanan.

Bun Houw merasa kecewa sekali bahwa dara yang telah menjadi penolongnya itu pergi meninggalkannya. Akan tetapi karena teringat akan tugasnya mencari serta menyelidiki musuh-musuh besarnya, yaitu Lima Bayangan Dewa, dia pun melanjutkan perjalanannya dan pada hari itu dia menyeberangi Sungai Huang-ho, dan kebetulan melihat tiga orang muda yang terancam bahaya oleh pengeroyokan para prajurit itu, kemudian turun tangan menolong mereka.

Tio Sun merasa makin kagum dan heran. Pemuda tampan ini sikapnya begitu sederhana, masih amat muda dan agaknya dia belum pernah mendengar nama pemuda ini di dunia kang-ouw, akan tetapi melihat kepandaiannya tadi, walau pun hanya bergebrak dengan para prajurit, dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, tentulah murid seorang yang sakti.

"Bun-enghiong masih begini muda akan tetapi sudah mempunyai kepandaian luar biasa, sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Jika sekiranya tidak menjadikan halangan dan kalau sekiranya kami cukup pantas menjadi sahabatmu, kami ingin sekali bersahabat dengan Bun-enghiong," kata Tio Sun.

Souw Kwi Beng yang sejak tadi diam saja kini pun berkata, "Kami kakak beradik kembar pun akan merasa terhormat sekali kalau bisa menjadi sahabat Bun-taihiap."

Bun Houw merasa kikuk sekali. Tiga orang muda ini jelas merupakan orang-orang gagah yang sopan dan terpelajar, maka akan keterlaluanlah di fihaknya kalau dia tidak melayani uluran tangan mereka. Pula, dara bermata biru itu benar-benar mempesonakan! Selama hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang dara yang begitu jelita, matanya bening lebar kebiru-biruan dan rambutnya agak pirang dan berkilauan halus.

Bun Houw lalu menjura dengan hormat. "Tentu saja saya suka sekali bersahabat dengan sam-wi (kalian bertiga). Mengapakah kalian tadi dikeroyok prajurit di pinggir sungai dan di mana sam-wi tinggal?"

"Mari kita duduk di tempat yang teduh agar leluasa bicara," kata Tio Sun dan mereka lalu memilih tempat di bawah pohon yang rindang, duduk di atas batu-batu di bawah pohon itu.

Secara singkat Kwi Eng yang pandai bicara itu lalu menceritakan urusannya, mula-mula dengan Tokugawa ketika kepala bajak itu menculik kakak kembarnya, kemudian dengan bantuan Tio Sun, dia berhasil menyelamatkan kakaknya. Kemudian betapa dia difitnah oleh pembesar setempat sebagai pemberontak dan pembunuh kaum nelayan yang bukan lain hanya bajak-bajak laut. Sampai akhirnya mereka ditangkap dan akan dikirim ke kota raja, kemudian mereka berusaha meloloskan diri dan dikeroyok di tepi Sungai Huang-ho.

Bun Houw menarik napas panjang. "Sudah kudengar akan kekacauan yang mulai terjadi di mana-mana karena lemahnya pemerintah pusat di kota raja. Jadi ji-wi adalah putera-puteri seorang ayah bangsa barat dan ibu bangsa pribumi? Pantas saja keadaan ji-wi agak lain."

"Biar pun kedua saudara Souw ini putera orang barat, akan tetapi ayahnya bukan orang sembarangan, karena ayahnya adalah Yuan de Gama, seorang tokoh bangsa barat yang disegani dan dihormati. Apa lagi ibunya. Ibunya adalah pendekar wanita terkenal, Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo..."

"Ahhhh...!" Bun Houw kaget bukan main mendengar ini. Tentu saja pemuda ini pun sudah pernah mendengar dari ayah dan ibunya tentang Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang dikabarkan mati tenggelam secara gagah bersama kapalnya.

"Apakah kau pernah mendengar nama ayah dan ibu, Bun-taihiap?" tanya Kwi Eng sambil memandang tajam.

Bun Houw menggelengkan kepala. "Saya terkejut mendengar nama mendiang Panglima Besar The Hoo." Kemudian dia memandang kepada Tio Sun. "Tio-twako agaknya juga bukan keturunan sembarangan dan ternyata engkau adalah seorang pendekar yang suka menolong orang lain yang sedang tertimpa mala petaka seperti yang sudah kau lakukan terhadap kedua orang saudara Souw ini."

Merah wajah Tio Sun menerima pujian ini, dan dia menarik napas panjang. "Persoalan yang kuhadapi tadi benar-benar membuat aku bingung, Bun-hiante. Terus terang saja, ayahku adalah seorang bekas pengawal kepercayaan Panglima Besar The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan..."

"Ban-kin-kwi...?" Bun Houw kelepasan bicara karena tentu saja mengenal baik nama ini, nama seorang sahabat baik ayahnya!

"Kau sudah mendengar pula julukan ayah? Ayah seorang bekas pengawal yang setia, tentu saja aku pun segan untuk melawan prajurit pemerintah. Akan tetapi melihat sikap Ciang-tikoan yang sewenang-wenang, terpaksa aku harus menentangnya. Kini, sesudah terjadi peristiwa ini, kedua orang saudara Souw tak mungkin lagi kembali ke Yen-tai, dan inilah yang membikin aku menyesal sekali."

"Ah, mengapa menyesal, twako? Kami berdua tidak menyesal. Biarlah kami tidak dapat kembali ke Yen-tai dan menanti sampai ayah ibu pulang dari barat. Kami berdua malah sudah mengambil keputusan untuk membantu Tio-twako dalam mencari musuh-musuh Cin-ling-pai itu dan mengerahkan semua kemampuan kami untuk mencari Lima Bayangan Dewa yang menjadi musuh-musuh besar Cin-ling-pai. Ayah dan ibu tentu akan bangga kalau mendengar akan sikap kami ini," kata Kwi Eng.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hati Bun Houw mendengar percakapan mereka itu. Dia sampai bengong memandang mereka tanpa mampu mengeluarkan satu kata pun. Kwi Eng yang kebetulan memandang kepada pemuda itu tiba-tiba saja menjadi merah mukanya dan menunduk karena melihat betapa pemuda tampan itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!

"Bun-taihiap, engkau... mengapakah?" Kwi Eng yang tidak pemalu itu menegur halus.

Bun Houw terkejut, mukanya menjadi merah sekali dan dia memandang kepada mereka bertiga dengan mata bersinar-sinar. "Sungguh mati saya amat terkejut mendengar betapa sam-wi menyebut-nyebut soal Lima Bayangan Dewa dan hendak membela Cin-ling-pai. Kalau boleh saya bertanya, apakah hubungan antara sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Kini Tio Sun dan dua orang saudara kembar itu yang menatap wajah Bun Houw dengan tajam penuh selidik. "Bun-hiante... tahu soal... Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai?" Tio Sun bertanya.

Bun Houw mengangguk. "Tentu saja, dan saya bahkan tersangkut secara langsung. Akan tetapi sebelum aku dapat menceritakan hal itu, harap sam-wi lebih dulu menerangkan apa hubungan sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Tio Sun menghadapi Bun Houw, sejenak memandang dengan sinar mata tajam, lalu dia berkata, "Biar pun baru berjumpa pertama kali dan tidak mengenal benar siapa adanya dirimu, Bun-hiante, akan tetapi aku sudah percaya benar kepadamu, maka biarlah aku mengaku terus terang. Seperti telah kukatakan kepadamu, aku adalah putera dari bekas pengawal Panglima The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah seorang sahabat baik dari Cia Keng Hong locianpwe, ketua Cin-ling-pai. Agaknya tentu engkau juga telah mendengar kegemparan di dunia kang-ouw dengan adanya penyerbuan Lima Bayangan Dewa di Cin-ling-san yang membunuh anak-anak murid Cin-ling-pai, bahkan telah mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Nah, mengingat hubungan persababatan yang amat baik dengan Cin-ling-pai, ayah kemudian mengutus aku untuk mewakili ayah, membantu Cin-ling-pai mencari Lima Bayangan Dewa dan apa bila mungkin merampas kembali pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Maka, demi persahabatan itu, aku melupakan kebodohanku sendiri, melakukan penyelidikan sampai di Yen-tai di mana aku bertemu dan berkenalan dengan kedua orang saudara Souw ini yang ternyata adalah cucu murid sendiri dari mendiang Panglima The Hoo."

"Ada pun kami berdua, setelah terjadi peristiwa di Yen-tai, kami juga telah sepakat untuk membantu Tio-twako mencari Lima Bayangan Dewa, karena ibu kami pernah bercerita kepada kami tentang kegagahan ketua Cin-ling-pai yang patut kami bantu pula," kata Kwi Eng.

Mendengar ini, Bun Houw segera bangkit dari atas batu. Dia lalu memberi hormat kepada tiga orang itu dengan menjura. Hal ini mengejutkan serta mengherankan mereka yang segera bangkit pula untuk membalas penghormatan itu. Dengan suara terharu Bun Houw lalu berkata,

"Atas nama Cin-ling-pai, saya menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan sam-wi yang demikian budiman."

"Eh, siapakah sesungguhnya Bun-taihiap?" tanya Tio Sun yang kembali menyebut taihiap karena dia menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan orang sembarangan.

"Maafkan kalau saya tadi kurang berterus terang. Sebetulnya saya she Cia dan bernama Bun Houw..."

“Aihhhh...! Kiranya Cia-taihiap, putera dari ketua Cin-ling-pai?" Tio Sun berteriak girang. "Pantas saja demikian lihainya, kiranya Cia-taihiap sendiri orangnya! Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat."

"Putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong...?" Kwi Eng berseru sambil memandang dengan wajah bersinar penuh kekaguman. Juga Kwi Beng memandang penuh kagum dan hal ini membuat Bun Houw menjadi makin sungkan dan malu.

"Harap sam-wi jangan berlebihan. Marilah kita duduk kembali dan bicara dengan leluasa."

Mereka duduk kembali dan Bun Houw lalu memandang mereka dengan bergantian. "Tak kusangka bahwa ayah mempunyai demikian banyak sahabat yang diam-diam membela Cin-ling-pai sehingga hal ini sangat mengharukan hatiku. Akan tetapi sebelum kita bicara, di antara kita adalah orang satu golongan, apa lagi sam-wi adalah penolong-penolong Cin-ling-pai, maka harap tinggalkan saja sebutan taihiap yang tidak pada tempatnya itu. Tio-twako, harap kau suka menyebutku adik saja, dan kedua adik Souw juga hendaknya menyebutku kakak saja. Bukankah sebagai orang-orang satu golongan kita boleh dibilang bersaudara atau bersahabat baik?"

Tiga orang gagah itu menjadi girang melihat sikap putera ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi akan tetapi bersikap sederhana dan tidak tinggi hati itu.

"Baiklah, Houw-te (adik Houw)," kata Tio Sun.

"Terima kasih, Houw-ko," kata Kwi Eng dan Kwi Bun hampir berbareng.

Bun Houw menghela napas. "Niat kalian untuk membantu kami amat baik dan tentu saja saya merasa sangat bersyukur. Akan tetapi apakah kalian tahu di mana tinggalnya Lima Bayangan Dewa dan ke mana kalian hendak mencari mereka?"

"Tadinya kami mendengar bahwa seorang di antara mereka yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It tinggal di pantai Laut Timur, akan tetapi setelah kami selidiki, ternyata dia sudah pergi ke pedalaman dan kami hendak mencari jejaknya di pedalaman."

"Pedalaman Tiongkok berarti merupakan daerah yang luasnya puluhan ribu mil, lalu bagai mana kita dapat menyelidiki mereka? Pula, tingkat kepandaian Lima Bayangan Dewa itu sangat tinggi sehingga kalau sam-wi membantu kami, besar bahayanya sam-wi akan menghadapi mala petaka. Bukan aku tidak tahu berterima kasih, akan tetapi ayahku yang telah menugaskan aku untuk menghadapi mereka tentu akan marah kepadaku kalau aku membiarkan orang lain menjadi korban kejahatan Lima Bayangan Dewa. Maka, kuharap sam-wi suka kembali saja," Bun Houw berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Adik Cia Bun Houw, mengapa berkata demikian?" Tio Sun membantah dengan suara keras. "Walau pun kepandaianku masih amat rendah, akan tetapi aku bukan orang yang takut menghadapi bahaya. Ayah sudah menugaskan kepadaku, bagaimana bisa pulang sebelum lecet kulitku, sebelum patah tulangku? Demi melaksanakan tugas yang sudah diperintah ayah, selembar nyawaku menjadi taruhan!"

"Kami berdua pun tidak mempunyai tempat tinggal lagi sebelum orang tua kami pulang, maka harap Houw-ko tidak menolak bantuan kami yang juga tidak takut bahaya dalam menentang kejahatan!" Kwi Eng berkata, sikapnya gagah sekali dan Bun Houw menjadi makin kagum saja.

"Kalau begitu besar tekad sam-wi, saya tidak berani mencegah dan saya makin berterima kasih. Ketahuilah bahwa saya sendiri telah memperoleh jejak mereka, bahkan juga telah bertemu dengan dua orang di antara mereka. Sayang pada saat itu saya tidak berhasil merobohkan mereka dan sekarang mereka sudah melarikan diri. Menurut penyelidikan saya, Lima Bayangan Dewa itu kini agaknya berkumpul di Ngo-sian-chung, tidak jauh dari sini, di lembah muara Huang-ho."

"Bagus! Kalau begitu mari kita berempat menyerbu ke sana, Houw-te!" Tio Sun berseru penuh semangat.

"Mereka itu selain lihai juga amat curang, maka kita harus berlaku hati-hati sekali!" Bun Houw menerangkan. "Belum lama ini aku sendiri terjebak dan hampir tewas oleh mereka, kalau tidak tertolong oleh seorang sahabat. Dan saya minta kepada sam-wi agar nama saya dirahasiakan sebagai putera ketua Cin-ling-pai sebab selama ini saya hanya dikenal sebagai seorang she Bun bernama Houw. Sebelum berhasil meringkus atau membasmi mereka, saya tak akan menggunakan nama sendiri, dan hanya kepada sam-wi saja yang saya tahu adalah putera-puteri sahabat dari ayah maka saya memperkenalkan diri secara sesungguhnya."

Empat orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan sepanjang Sungai Huang-ho menuju ke timur. Kwi Eng yang memiliki watak terbuka dan tidak pemalu, dengan terang-terangan mengatakan sikap kagumnya terhadap putera ketua Cin-ling-pai ini, selalu berjalan di dekat Bun Houw dan ada saja hal yang dibicarakan, nampaknya begitu akrab dan sedikit pun Kwi Eng tidak menyembunyikan rasa tertarik dan sukanya.

Di lain fihak, karena memang Kwi Eng amat cantik jelita, memiliki daya tarik yang keras, tentu saja Bun Houw juga senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan gadis ini. Kwi Beng sebagai saudara kembar memilki hubungan jiwa yang amat dekat dengan adiknya, maka tentu saja dia pun segera dapat merasakan debaran jantung adiknya yang mulai disentuh asmara itu. Sambil berjalan di dekat Tio Sun, Kwi Beng berbisik kepada pendekar muda itu tentang adiknya, menunjuk dengan gerakan mukanya ke depan,

"Tio-twako, lihat betapa cocoknya mereka berdua... aihhh…, betapa akan senang hatiku kalau saja adikku bisa menjadi jodohnya kelak..."

Kwi Beng sama sekali tidak mengira bahwa bisikannya itu sebenarnya merupakan ujung pisau berkarat yang menghujam di ulu hati Tio Sun! Kwi Beng sama sekali tidak pernah menduga bahwa sebetulnya Tio Sun inilah yang sudah bertekuk lutut, jatuh hati kepada adiknya semenjak saat mereka saling jumpa.

Tio Sun sudah jatuh cinta kepada Kwi Eng, dara jelita yang bermata lebar kebiruan dan berambut hitam agak pirang keemasan itu! Hanya karena Tio Sun orangnya pendiam dan pemalu, maka perasaan cinta itu sedikit pun tidak pernah nampak, baik pada pandang matanya, kata-katanya mau pun gerak-geriknya.

“Hemmm..." Hanya begitulah Tio Sun menjawab sambil menundukkan mukanya, karena tidak tahan melihat betapa Kwi Eng sambil tersenyum-senyum bicara kepada Bun Houw yang jalan berendeng sedemikian dekatnya sehingga seakan-akan lengan mereka saling bersentuhan.

Dan Bun Houw demikian gagahnya, demikian tampannya, juga mempunyai kepandaian demikian tingginya. Putera ketua Cin-ling-pai pula. Seorang pemuda yang gagah perkasa, putera pendekar sakti yang dijunjung tinggi dan dihormati oleh semua orang kang-ouw. Sedangkan dia? Hanya putera dari seorang bekas pengawal miskin dan tak terkenal. Tio Sun semakin menunduk, berusaha mengusir rasa tidak enak dan sakit yang berada di rongga dadanya.

Malam itu mereka melewatkan malam dalam sebuah hutan di tepi sungai karena menurut nasehat Tio Sun, lebih baik berhati-hati menyelidiki tempat Lima Bayangan Dewa yang di samping lihai tentu juga mempunyai banyak anak buah itu. Dia sendiri lalu membuat api unggun, dan dua orang saudara Souw pergi menangkap beberapa ekor kelinci dan ayam hutan.

Kwi Eng segera sibuk menguliti dan memanggang kelinci dan ayam hutan, sedangkan Bun Houw sudah duduk bersama Kwi Beng dan Tio Sun bercakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing di dekat api unggun. Pada waktu Tio Sun bercerita tentang pengalamannya menolong seorang gadis cilik kemudian bertemu dengan Bun Hwat Tosu, Bun Houw dan Kwi Beng merasa kagum sekali. Terutama Bun Houw yang sudah sering mendengar dari ayahnya bahwa pada jaman itu, Bun Hwat Tosu merupakan seorang di antara tokoh-tokoh sakti yang jarang muncul di dunia persilatan, yang merupakan seorang manusia setengah dewa. Tentu saja Bun Houw sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cilik yang diselamatkan kawannya itu sebetulnya adalah Yap Mei Lan, anak dari Yap Kun Liong yang masih terhitung suheng-nya itu!

"Aku mendengar dari ayah bahwa ilmu kepandaian bekas ketua Hoa-san-pai itu seperti dewa. Dan Yap Kun Liong suheng juga menerima sebagian dari ilmu-ilmunya dari kakek dewa itu," kata Bun Houw kagum. "Untung sekali engkau dapat bertemu dengan beliau, Tio-twako."

"Akan tetapi engkau sendiri adalah murid seorang manusia dewa, Houw-te. Aku pernah mendengar dari ayah yang mengenal baik keadaan Cin-ling-pai bahwa engkau sejak kecil telah menjadi murid Kok Beng Lama di Tibet yang kepandaiannya sulit dibicarakan saking tingginya."

"Ahhh, engkau terlalu memuji, twako. Memang, suhu Kok Beng Lama seorang sakti luar biasa, akan tetapi aku yang muda dan bodoh mana bisa mewarisi seluruh kepandaian Suhu? Sayang bahwa begitu pulang ke Cin-ling-pai, terdapat mala petaka itu sehingga aku terus saja berangkat menyelidiki Lima Bayangan Dewa, tidak sempat mengunjungi enci-ku yang tinggal di Sin-yang dan mengunjungi Yap-suheng yang tinggal di Leng-kok. Sungguh menggemaskan sekali Lima Bayangan Dewa itu."

"Mereka itu pengecut kalau berani bergerak selagi ayahmu tidak berada di Cin-ling-san, Houw-ko," Kwi Beng ikut pula bicara.

"Aiiiihhhhh...!"
Tiga orang pemuda itu terkejut sekali. Bun Houw sudah mencelat dan diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng. Yang menjerit adalah Kwi Eng dan kini dara itu sudah tidak kelihatan lagi, hanya kelihatan bayangan orang berkelebat ke barat.

Bun Houw yang memiliki gerakan paling ringan dan cepat sudah meloncat seperti terbang cepatnya, disusul oleh Tio Sun dan Kwi Beng lari paling akhir karena pemuda peranakan ini biar pun juga memiliki kepandaian cukup tinggi, masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Bun Houw dan kalah setingkat oleh Tio Sun.

"Aihhh... apa kau gila...?!" Kwi Eng menjerit dan kelihatan terdesak hebat oleh serangan sesosok bayangan yang bertubuh ramping. Bayangan wanita!

Ketika Bun Houw sampai di tempat itu, dia melihat Kwi Eng terancam bahaya maut maka cepat dia menerjang dan sempat menangkis pukulan maut yang telah mengancam kepala Kwi Eng.

"Dukkkk...!”

“Aihhhh...!" Bayangan wanita itu terkejut ketika pukulannya tertangkis dan dia terhuyung ke belakang, lalu dia meloncat sambil terkekeh dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Bun Houw tidak dapat melihat wajahnya, akan tetapi melihat bentuk tubuh wanita itu dan melihat caranya bergerak dan menyerang, jantungnya berdebar tegang karena dia yakin siapa adanya wanita yang menyerang Kwi Eng tadi. Melihat Kwi Eng terhuyung, cepat dia menyambar, mendukungnya dan membawanya kembali ke tempat tadi, diikuti oleh Tio Sun dan Kwi Beng yang menjadi khawatir sekali.

Bun Houw dengan hati-hati merebahkan Kwi Eng di dekat api unggun. Hatinya lega ketika memeriksa dan ternyata Kwi Eng tidak menderita luka parah, hanya mengalami tamparan yang membuat pipi dan lehernya terdapat tanda jari tangan yang merah, tanda bahwa tamparan itu keras sekali. Kwi Eng masih nanar, akan tetapi dia dapat bangkit duduk dan mukanya merah sekali.

"Keparat, dia entah orang gila entah setan!" dia memaki sambil meraba leher dan pipinya yang terasa panas.

"Eng-moi, apakah yang terjadi?" Kakaknya bertanya, kelihatan marah bukan main melihat adiknya dipukuli orang.

"Aku sendiri tidak tahu dengan jelas. Seperti kalian tahu, aku baru memanggang daging dan aku hendak membuang isi perut kelinci dan ayam hutan agak jauh dari sini agar tidak mendatangkan bau tidak enak. Kulihat kalian masih sibuk bercakap-cakap. Ketika aku tiba di sana..." Dia menuding ke arah gerombolan pohon tidak jauh dan yang gelap, "…aku membuang isi perut itu dan tiba-tiba saja lenganku disambar orang lalu aku dibawa lari seperti terbang cepatnya!"

“Siapa dia? Bagaimana orangnya?" Tio Sun bertanya.

Bun Houw hanya mendengarkan, bahkan menundukkan mukanya karena dia sudah mulai menduga siapa orang yang mengganggu Kwi Eng itu dan sedang menduga-duga kenapa terjadi hal itu.

"Aku tidak dapat melihat mukanya karena gelap sekali, akan tetapi yang jelas dia adalah seorang wanita, agaknya masih muda dan cantik karena cahaya api unggun sebentar menimpa pipinya. Dia kuat sekali karena betapa pun aku meronta, aku tetap tidak dapat melepaskan diri, bahkan dia lalu menampariku dan berbisik penuh ancaman. Tentu saja aku melawan, namun gerakannya lihai bukan main sehingga betapa pun aku mengelak dan menangkis, tetap saja aku kena ditampar beberapa kali," Kwi Eng kembali meraba leher dan pipinya. "Dan... kalau saja Houw-koko tidak keburu datang, aku... aku agaknya sudah terpukul mati, aku merasa betul bahwa iblis itu menghendaki kematianku dan ilmu kepandaiannya begitu hebat!" Kwi Eng bergidik.

"Bagaimana kau tahu kepandaiannya amat hebat?" kakaknya mendesak.

"Kau tahu, koko, ketika dia menarikku, aku sudah mengerahkan tenaga, aku diam-diam mencabut tusuk kondeku. Kau tahu tusuk kondeku itu adalah pemberian ibu, terbuat dari baja tulen seperti pedang, luarnya diselaputi emas. Aku sempat menusuknya di tempat gelap, tepat pada lambungnya, tetapi kau lihatlah ini..." Dara itu mengeluarkan sebatang tusuk konde yang telah patah menjadi dua!

"Ihhh...!" Kwi Beng berteriak dengan hati ngeri. Membayangkan lawan yang lambungnya ditusuk dengan senjata itu malah senjatanya yang patah, benar-benar mengerikan sekali.

"Adik Kwi Eng, engkau tadi mengatakan bahwa iblis itu berbisik penuh ancaman. Bisikan apakah yang dikatakan kepadamu?" Tiba-tiba Tio Sun bertanya.

Kwi Beng dan Bun Houw juga memandang sementara Kwi Eng kelihatan gugup, bahkan lalu mengerling dan menatap wajah Bun Houw sampai lama. Pemuda ini mengerutkan alisnya, hatinya menjadi tidak enak dan akhirnya dia menunduk.

"Aku sendiri pun merasa heran sekali memikirkan apa yang dibisikkan oleh iblis betina itu." Kwi Eng akhirnya berkata lirih. "Suaranya halus namun bisikannya jelas terdengar olehku kelika dia menampariku. Dia berkata, berani kau mendekati dia? Kubunuh kau kalau kau berani jatuh cinta padanya!"

"Ehhhh...! Gila!" Kwi Beng berkata marah dan memandang ke kanan kiri.

"Hemmm, siapakah yang dimaksudkannya itu?" Tio Sun juga berkata sambil mengerling ke arah Bun Houw yang makin menundukkan mukanya.

Mendengar penuturan ini, Bun Houw makin yakin siapa wanita yang telah menyerang Kwi Eng itu dan dia merasa heran, terkejut, bingung serta penasaran. Tentu dara bernama Hong itu! Akan tetapi mengapa demikian? Kenapa Hong bersikap seperti itu? Apa artinya semua itu? Cemburu? Ahhh, mengapa cemburu?

"Houw-koko, apakah engkau mengenal iblis itu?" Tiba-tiba Kwi Eng bertanya kepada Bun Houw dan pemuda ini terkejut, tersentak dari lamunannya.

"Aku tidak tahu..." dia menggeleng ragu. "Aku tidak melihat suatu sebab yang membuat orang dapat bersikap seperti itu kepadamu. Mungkin dia seorang gila, atau siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Lima Bayangan Dewa..."

"Atau mungkin juga dia salah melihat orang, kau disangka orang lain, adik Kwi Eng," kata pula Tio Sun yang merasa tidak enak melihat Bun Houw kelihatan bingung. "Sudahlah, karena tidak ada akibat yang terlalu hebat, mari kita makan dan beristirahat. Malam ini kita harus berjaga-jaga, siapa tahu kalau-kalau dia muncul kembali."

Kwi Eng melanjutkan pekerjaannya memanggang daging, kini tak berani terlalu jauh dari teman-temannya. Sesudah mereka makan daging dan cukup kenyang, Bun Houw yang masih merasa tidak enak dan menduga bahwa boleh jadi dara bernama Hong itu yang melakukan perbuatan kasar terhadap Kwi Eng karena orang aneh seperti dia sulit diduga sebelumnya apa yang akan dilakukannya, mengusulkan supaya mencari penginapan di dalam dusun di luar hutan saja.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan keluar dari hutan sambil membawa obor. Maksud Bun Houw mencari penginapan di dusun adalah untuk menghindari gangguan dari ‘iblis’ tadi, karena hatinya masih khawatir akan keselamatan Kwi Eng. Ketika dia menangkis pukulan iblis tadi, dia memperoleh kenyataan alangkah kuatnya tenaga lengan iblis betina itu dan kalau mereka tetap tinggal di dalam hutan yang terbuka, sukarlah baginya untuk terus melindungi Kwi Eng.

Benar saja, tepat di luar hutan, mereka mendapatkan sebuah dusun kecil yang dihuni oleh puluhan keluarga petani. Tentu saja di dusun yang kecil seperti itu tidak terdapat rumah penginapan, akan tetapi Kwi Eng yang pandai bicara ramah dan juga mempunyai banyak uaug bekal itu berhasil mendapatkan sebuah rumah besar tempat tinggal seorang petani yang agak kaya untuk menampung dan memberi kamar kepada mereka berempat untuk satu malam itu. Petani yang kecukupan ini she Ma dan hidup bersama seorang istri, dua orang anak gadis yang sudah dewasa dan dua orang pelayan.

Keluarga she Ma ini ternyata ramah sekali. Dengan gembira mereka menyambut empat orang tamu mereka, bahkan menjamu mereka dengan nasi, lauk pauk serta minuman, memaksa mereka berempat makan walau pun mereka menyatakan bahwa mereka sudah makan di hutan.

Memang kehidupan di dusun jauh bedanya dengan di dalam kota. Biasanya orang-orang kota terlampau mementingkan diri sendiri, masing-masing hidup memisahkan diri dan tak saling mengacuhkan keadaan orang lain, jarang sekali nampak keakraban dan kegotong royongan. Berbeda dengan kehidupan di pedesaan di mana mereka lebih saling bergaul dengan akrabnya, senasib sependeritaan dan selalu bersikap ramah apa bila kedatangan tamu.

Demikian pula keluarga she Ma ini. Ketika mendengar permintaan Kwi Eng untuk dapat bermalam di situ malam itu, mereka gembira sekali, apa lagi ketika melihat bahwa Kwi Eng adalah seorang dara yang demikian cantik jelita dan mempunyai kecantikan yang khas, sedangkan tiga orang pemuda itu begitu gagah-gagah dan tampan, terutama sekali Bun Houw dan Kwi Beng.

Diam-diam timbullah keinginan besar di dalam hati suami isteri Ma. Sudah lama mereka itu ingin sekali memperoleh mantu-mantu yang sesuai dengan keadaan mereka. Sebagai petani yang paling kaya di dusun itu, tentu saja mereka menganggap pemuda-pemuda dusun itu kurang memenuhi syarat untuk menjadi mantu-mantu mereka.

Dan kini muncul pemuda-pemuda kota yang demikian gagah dan tampan, maka tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka. Sang ibu segera memberi nasehat kepada dua orang puterinya untuk keluar dan turut pula melayani para tamu makan minum sambil bersikap ramah dan manis kepada para tamunya. Tentu saja mereka itu tak lupa berhias diri untuk menarik perhatian para pemuda kota itu, terutama Kwi Beng dan Bun Houw.

Kwi Eng yang dapat mengerti sikap ibu dan dua orang anak gadisnya itu merasa geli dan juga kasihan. Sikap mereka begitu polos dan kaku sehingga amat menyolok mata ketika perawan pertama dengan manisnya melayani Bun Houw, sedangkan adiknya dengan sikap memikat melayani Kwi Beng. Beberapa kali Kwi Eng menutup mulutnya menahan ketawa melihat betapa Kwi Beng dan Bun Houw menjadi merah mukanya dilayani oleh perawan-perawan dusun yang berbedak tebal dan memakai minyak wangi semerbak itu.

Karena keramahan fihak tuan rumah sekeluarga, mereka berempat merasa tidak enak untuk menolak dan walau pun mereka sudah kenyang makan daging kelinci dan ayam hutan tadi, kini mereka makan dan minum lagi sekedarnya hanya untuk menyenangkan hati keluarga tuan rumah.

Begitu pula setelah mereka makan, keluarga itu mengajak para tamunya bercakap-cakap di ruangan depan, dan kembali dalam kesempatan ini dua orang anak gadis keluarga itu memperlihatkan sikap manis dan tertarik sekali kepada Bun Houw dan Kwi Beng. Tentu saja dua orang pemuda ini menjadi sungkan dan malu-malu, dan baru mereka merasa terbebas ketika Tio Sun akhirnya minta perkenan dari keluarga itu untuk mengaso.

Kwi Eng memperoleh kamar sendiri, sedangkan tiga orang pemuda itu tidur menjadi satu di dalam sebuah kamar besar sederhana di bagian belakang rumah itu. Menjelang tengah malam, semua orang terkejut ketika mendengar jerit melengking yang amat mengerikan.

Sebagai orang-orang berkepandaian tinggi, tentu saja tiga orang pemuda itu cepat-cepat meloncat keluar dari kamar mereka, kemudian bertemu dengan Kwi Eng yang juga telah meloncat keluar kamarnya. Lalu mereka mendengar suara tangis dari kamar dua orang gadis puteri tuan rumah.

Tentu saja mereka terkejut dan cepat mendatangi kamar itu. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa gadis pertama she Ma telah rebah tak bernyawa lagi di atas pembaringannya, sedangkan di dahinya terdapat tanda tiga buah jari tangan menghitam. Jelas bahwa gadis ini tewas terbunuh orang yang memiliki kepandaian tinggi! Ketika melihat empat orang itu, suami isteri Ma dan anaknya yang kedua menangis makin riuh rendah.

Tanpa diminta lagi, Tio Sun dan ketiga orang temannya sudah menggunakan kepandaian mereka untuk meloncat dan melakukan pengejaran, mencari di luar belakang dan di atas genteng rumah, namun tidak nampak bayangan orang lagi. Mereka kembali ke kamar itu di mana semua keluarga masih menangis.

"Apakah sebenarnya yang telah terjadi?" Tio Sun bertanya kepada tuan rumah. "Mengapa puteri ji-wi tahu-tahu meninggal seperti ini?"

Sambil menangis orang she Ma itu menjawab bahwa mereka suami isteri juga tidak tahu, akan tetapi menurut penuturan gadis mereka yang kedua, anak pertama mereka itu telah dibunuh oleh seorang wanita!

"Seorang wanita?" Bun Houw bertanya dengan suara kaget sekali. Jantungnya berdebar tegang dan dia langsung bertanya kepada gadis she Ma yang muda dan yang masih menangis itu, "Nona, harap ceritakan, apa yang telah terjadi dan siapa yang membunuh enci-mu?"

"Saya... saya terbangun oleh suara dalam kamar kami...," gadis itu bercerita dengan air mata bercucuran. "Lampu kami bernyala amat kecil... dan... dan saya melihat bayangan seorang wanita di kamar... ada bau harum bunga... dan saya mendengar suara wanita itu berkata kepada enci..." Dia melihat lagi terisak-isak.

Ibunya memeluknya dan berkata, "Kau tenanglah dan ceritakan dengan jelas..."

"Saya... saya mendengar jelas, wanita itu... bayangan itu berkata, ‘Kau berani menggoda pemuda itu, kau harus mati!’ Enci menjerit dan bayangan itu berkelebat lenyap... seperti iblis... melalui jendela. Saya lalu menghampiri enci dan... dan..." gadis itu menangis lagi sesenggukan.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun saling pandang dengan mata terbelalak, sedangkan Bun Houw yang merasa jantungnya berdebar-debar dan tengkuknya meremang menundukkan mukanya sambil mengepal tinju tangannya. Benarkah? Benarkah wanita iblis itu adalah wanita yang telah mengancam Kwi Eng dan sekarang membunuh puteri tuan rumah ini? Benarkah nona Hong yang cantik jelita, gagah perkasa, penolong dan penyelamatnya itu, dia itukah iblis betina ini?

Agaknya tidak mungkin salah lagi! Siapa lagi kalau bukan dia yang berkepandaian begitu tinggi sehingga Kwi Eng sendiri pun tidak berdaya? Akan tetapi mengapa dia melakukan hal itu? Mengapa? Karena cinta kepadanya dan karena cemburu melihat sikap puteri tuan rumah manis kepadanya? Cemburu? Begitu kejamnya? Dia bergidik.

Tio Sun menyentuh lengannya dan pemuda itu memberi isyarat kepadanya. Bun Houw mengangkat muka, melihat betapa tiga orang temannya itu sedang memandang padanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Dia menghela napas dan keluar dari kamar itu bersama tiga orang temannya.

Setelah tiba di ruangan depan rumah itu, Tio Sun memandang kepada Bun Houw dengan tajam kemudian berkata, "Houw-te, agaknya pembunuhan ini ada hubungannya dengan penyerangan atas diri adik Kwi Eng. Apakah engkau bisa menduga siapa yang melakukan perbuatan ini?"

Melihat mereka bertiga memandangnya penuh selidik, Bun Houw menghela napas dan menjawab, "Sungguh, aku sendiri menjadi bingung. Ada seorang pendekar wanita yang kukenal, akan tetapi agaknya tidak mungkin dia berubah menjadi iblis betina. Aku tidak dapat percaya. Tidak, tentu ada apa-apa yang aneh di balik semua ini."

Bun Houw tetap tidak mau mengaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan tentang nona Hong yang sangat dikagumi dan yang telah menyelamatkan nyawanya itu? Terus terang saja, di sudut hatinya memang ada dugaan bahwa nona itulah yang melakukan ancaman terhadap Kwi Eng dan pembunuhan malam ini, karena betapa pun juga, dia tahu bahwa nona perkasa itu memiliki watak aneh dan hati yang keras, tidak dapat memberi ampun kepada musuhnya.

Akan tetapi kenapa menyatakan cemburu secara begini ganas? Dan benarkah perbuatan itu dilakukan karena cemburu? Apakah nona Hong yang penuh rahasia itu jatuh cinta kepadanya? Semua pertanyaan ini mengaduk otaknya, akan tetapi karena belum terdapat bukti-bukti nyata, meski pun dia mulai menduga demikian, dia tidak mau merusak nama gadis penolongnya itu.

Bagaimana pun juga dia masih tidak mau percaya bahwa dara yang cantik jelita itu telah membunuh gadis she Me yang sama sekali tidak berdosa itu. Dia bergidik. Bagaimana kalau benar nona Hong yang membunuhnya? Betapa kejamnya. Seperti iblis betina saja!

Dia menjadi makin penasaran sehingga ingin sekali dia bertemu dengan gadis itu untuk ditanyainya. Teringat dia betapa ganasnya nona itu ketika hendak membasmi anak buah Lembah Bunga Merah. Seorang gadis yang cantik jelita, berilmu tinggi dan sangat ganas menghadapi musuh-musuhnya. Akan tetapi membunuh gadis she Ma yang tidak berdosa dengan darah dingin begitu saja? Sungguh keterlaluan!

Bun Houw merasa tersiksa batinnya di antara keraguan dan rasa penasaran. Benarkah nona Hong yang membunuhnya? Seorang dara laksana bidadari, laksana seorang dari kahyangan! Tapi mengapa begitu kejam? Seperti Dewi Maut saja, bidadari yang bertugas mencabut nyawa sebagai pembantu Giam-lo-ong!

Dapat dibayangkan betapa bingungnya hati pemuda itu. Dia amat kagum kepada In Hong dan merasa berhutang budi karena harus diakuinya bahwa kalau bukan nona itu yang menyelamatkannya dari tangan musuh-musuhnya, tentu dia sekarang sudah mati. Akan tetapi peristiwa penyerangan terhadap diri Kwi Eng dan pembunuhan terhadap gadis she Ma itu menunjukkan seolah-olah gadis yang dikaguminya itu adalah seorang ibils betina yang kejam.

Tangannya sudah merogoh kantong, menyentuh burung hong kumala yang diterimanya dari nona itu. Saking gemas dan bencinya hampir saja dia meremas benda itu, akan tetapi dia segera ingat bahwa belum ada bukti nyata bahwa nona itulah yang melakukan semua kekejian ini. Kelak dia pasti akan menyelidiki dan membongkar rahasia ini!

Karena hatinya amat terganggu oleh peristiwa itu, dan juga karena tiga orang temannya agaknya mencurigainya, maka dengan dalih mencari dan mengejar pembunuh itu, Bun Houw mengajak tiga orang temannya meninggalkan rumah keluarga Ma dan malam itu juga mereka meninggalkan dusun itu dan berusaha mencari jejak pembunuh, akan tetapi semua usaha mereka sia-sia belaka.

********************

Ngo-sian-chung (Kampung Lima Dewa) ialah sebuah dusun kuno yang terletak di lembah muara sungai Huang-ho. Di dusun itu, di dekat sungai, terdapat bukit kecil di mana orang dapat melihat adanya lima buah batu gunung besar yang berjajar dan kalau dilihat dari kejauhan mirip lima orang sedang duduk bercakap-cakap. Mungkin karena itulah maka dusun itu disebut Dusun Lima Dewa.

Akan tetapi, belasan tahun yang lalu ketika ada seorang datuk kaum sesat datang dan menetap di dusun itu, lambat-laun para penghuni dusun lalu pindah ke lain tempat dan akhirnya dusun itu seolah-olah menjadi ‘milik pribadi’ datuk kaum sesat itu yang bukan lain adalah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok.

Sebetulnya dia ini adalah seorang peranakan Mongol yang memiliki ilmu tinggi. Ayahnya seorang bangsa Han akan tetapi ibunya seorang wanita Mongol. Ayahnya adalah seorang petualang yang berkepandaian tinggi dan ketika bertualang di daerah Mongol ayahnya itu menikah dengan puteri kepala Suku Bangsa Mongol.

Oleh karena itu, biar pun dia memakai nama keturunan ayahnya dan mempunyai nama Han, akan tetapi wajahnya yang tampan itu mirip orang Mongol dari seperti juga orang Mongol, dia tak begitu suka kepada Bangsa Han, bangsa ayahnya sendiri, dan lebih setia kepada Bangsa Mongol yang dianggapnya bangsa paling besar dan mulia di dunia.

Phang Tui Lok menerima ilmunya dari seorang sakti, dan dia adalah sute dari mendiang Ban-tok Coa-ong, seorang datuk kaum sesat yang pada puluhan tahun yang lalu sangat terkenal di dunia persilatan. Seperti yang kita ketahui, di dalam cerita Petualang Asmara, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok tewas di tangan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, dan oleh karena ini maka Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok menaruh dendam terhadap Cin-ling-pai dan semenjak dia tinggal di Ngo-sian-chung, dia selalu mencari kesempatan uatuk membalas sakit hatinya itu. Namun, dia bukanlah seorang bodoh dan ceroboh. Dia maklum betapa lihainya ketua Cin-ling-pai, maka dia selalu mencari dan menanti kesempatan yang baik sambil menyusun kekuatan.

Setelah dia dapat mengumpulkan harta dan menjadi ‘majikan’ dusun Ngo-sian-chung itu, mulailah dia mengumpulkan teman-teman yang dia tahu juga merupakan musuh-musuh dari ketua Cin-ling-pai sehingga akhirnya dia berhasil menarik empat orang lihai lainnya dan bahkan mengangkat saudara dengan mereka ini dan mereka menggunakan julukan Lima Bayangan Dewa, sesuai dengan Ngo-sian-chung yang menjadi sarang atau pusat pertemuan mereka.

Setelah merasa kuat, maka Pat-pi Lo-sian mengajak empat orang saudara angkatnya itu untuk menyerbu Cin-ling-pai. Seperti sudah dituturkan di bagian depan cerita ini, mereka berhasil membunuh Cap-it Ho-han murid-murid kepala Cin-ling-pai sedangkan Phang Tui Lok sendiri sebagai saudara tertua dan yang terpandai, berhasil pula merampas pedang Siang-bhok-kiam.

Setelah berhasil menggegerkan dunia kang-ouw dengan serbuan mereka ke Cin-ling-pai itu, Lima Bayangan Dewa maklum bahwa tentu fihak Cin-ling-pai tidak akan tinggal diam, maka mereka pun kemudian mengumpulkan teman-teman segolongan untuk bersiap-siap menghadapi musuh besar mereka. Bahkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok sendiri lantas membujuk dua di antara Lima Bayangan Dewa, yaitu Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang tadinya tinggal di pantai timur, dan Toat-beng-kauw Bu Sit yang tadinya di selatan untuk tinggal di Ngo-sian-chung.

Selain mengumpulkan tokoh-tokoh besar kaum sesat yang juga memusuhi Cin-ling-pai, juga Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang masih terhitung keluarga para bangsawan Mongol, diam-diam menghubungi seorang pembesar istana yang pada waktu itu sedang berkuasa besar, yaitu seorang pembesar thaikam (pembesar kebiri) yang berpengaruh di istana kaisar.

Kini dusun Ngo-sian-chung tidaklah seramai dahulu lagi, sebagian besar penghuni asli dusun itu, yang sudah tinggal di situ selama beberapa keturunan, telah pergi dari situ dan pindah ke dusun lain semenjak Lima Bayangan Dewa menguasai dusun itu. Mereka ini, orang-orang dusun yang lemah, tidak mau terlibat dengan urusan orang-orang kang-ouw yang mengandalkan kepandaian serta kekerasan untuk melewati hidup. Mereka yang masih tinggal di sana adalah orang-orang yang memperoleh keuntungan dengan adanya Lima Bayangan Dewa dan bekerja menjadi kaki tangan mereka...
Selanjutnya,