X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Dewi Maut Jilid 16

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Episode Dewi Maut Jilid 16 Karya Kho Ping Hoo
Dewi Maut Jilid 16
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
Siang-tok-swa adalah pasir beracun yang hanya patut dipergunakan apabila menghadapi pengeroyokan banyak orang atau bertemu dengan lawan yang tangguh. Akan tetapi sama sekali tidak pantas kalau dipergunakan untuk melukai seorang bocah yang masih begitu kecil dan tentu belum tahu apa-apa!

Rasa penasaran inilah yang membuat hatinya tergerak untuk mengobati anak itu dengan obat penawar Siang-tok-swa yang selalu dibawanya bersama pasir beracun itu sendiri. Akan tetapi dia memang seorang dara yang cerdik, tentu saja dia tidak mau mengobati begitu saja!

Kok Beng Lama dan Yok-mo keduanya terkejut mendengar ini. Kok Beng Lama terkejut bercampur girang, sedangkan Yok-mo terkejut dan marah.

"Bocah sombong engkau! Aku saja baru akan dapat menyembuhkannya dalam waktu dua pekan atau... baiklah, kuperpendek menjadi sepuluh hari!"

"Dan aku tetap dapat menyembuhkannya dalam waktu tiga hari."

"Akan kukeluarkan semua ilmuku... hemm, aku sanggup menyembuhkannya dalam waktu sepekan! Aku akan berbohong kalau mengatakan kurang dari sepekan!" Yok-mo kembali berseru, penasaran bukan main.

"Dan aku ulangi lagi, paling lama tiga hari obatku pasti akan menyembuhkannya, paling lama tiga hari, mungkin kurang dari tiga hari."

Kok Beng Lama menghampiri In Hong. "Nona, benarkah itu? Kau sanggup mengobatinya secepat itu?"

In Hong mengangguk.

"Kalau kau pandai mengobati muridku, kenapa kau sendiri datang minta bantuan kepada Yok-mo?"

"Luka yang diderita oleh... sahabatku dan luka yang diderita muridmu tidak sama, Lama. Dan aku kebetulan mempunyai obat yang paling mujarab untuk mengobati luka muridmu yang terkena racun itu. Racun itu tentu disebabkan oleh Siong-tok-swa, bukan?"

Yok-mo terkejut. Tidak memeriksa sudah mengerti, sungguh hebat dan tepat sekali.

"Benar, luka itu oleh senjata rahasia pasir yang mengandung racun harum," katanya.

"Kalau begitu, nona yang baik, kau obatilah muridku ini maka aku akan berterima kasih sekali kepadamu!" kata Kok Beng Lama.

"Ucapan terima kasih hanya merupakan kata-kata kosong belaka, apa gunanya bagiku, Lama? Sudah sepantasnya kalau orang memberi juga meminta, oleh karena itu, aku mau memberi obat untuk muridmu dengan jaminan bahwa paling lama tiga hari dia pasti sudah sembuh, sebaliknya aku pun ingin meminta sesuatu darimu."

Kok Beng Lama tertawa. "Ha-ha-ha, baru sekali ini aku bertemu dengan bocah secerdik engkau. Baiklah, kau mau minta apa?"

"Karena engkau seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka aku minta diberi ilmu yang dapat mengalahkan semua ilmuku, termasuk ilmu pedangku."

Sepasang mata yang lebar dan besar itu terbelalak. "Wahhh... ilmu silatku banyak sekali macamnya, aku sendiri sampai tidak hafal lagi. Yang mana yang kau minta?"

"Yang mana saja, asal bisa menangkan semua ilmuku. Kau tadi mempergunakan kedua lengan kosong untuk menghadapi pedangku, nah, aku mau kau ajarkan ilmu sinkang itu kepadaku."

"Ha-ha-ha, menggunakan tangan kosong menghadapi senjata hanyalah mampu dilakukan orang yang mempunyai Thian-te Sin-ciang. Kau mau minta sinkang istimewa yang khas hanya dimiliki olehku ini?"

"Tidak peduli apa namanya dan bagaimana macamnya, pokoknya aku hendak menukar obatku dengan Ilmu Thian-te Sin-ciang itu. Kalau kau mau, boleh. Kalau tidak, aku mau pergi sekarang. Sahabatku sudah menunggu dan nyawanya tinggal dua hari lagi." Sambil berkata demikian, dengan lagak ‘jual mahal’ In Hong membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

"Eeiittt... nanti dulu...!" Sekali berkelebat Kok Beng Lama sudah mencelat dan melampaui tubuh In Hong, tahu-tahu sudah berdiri menghadang, membuat dara itu menjadi makin kagum. Pantas gurunya tidak mampu menandingi hwesio Lama ini, memang sangat luar biasa kepandaiannya.

"Kau mau atau tidak?" In Hong berkata.

"Kau kira mudah saja mempelajari Thian-te Sin-ciang? Untuk memperoleh ilmu ini engkau harus berlatih sedikitnya lima tahun!"

"Aku tidak peduli, pendeknya aku ingin memiliki ilmu itu, sekarang juga. Dan jangan kau mencoba untuk menipuku, Lama, karena aku cukup mengerti bahwa menurunkan sinkang kepada seseorang, sang guru dapat pula menyalurkan hawa murni kepada si murid dan dengan cara demikian akan dapatlah ilmu itu dikuasai secara langsung."

"Wah, kau minta yang bukan-bukan!"

"Mengapa yang bukan-bukan? Dengan memberikan ilmu itu kepadaku, engkau tidak akan kehilangan apa-apa dan tenaga yang hilang akibat penyaluran itu pun akan mudah terisi kembali."

"Ha-ha, agaknya engkau cukup tahu akan segala hal ihwal pengoperan tenaga sinkang, nona. Akan tetapi engkau tentu tahu pula bahwa ilmu simpanan seseorang hanya boleh diberikan kepada seorang muridnya."

"Aku tidak akan menjadi muridmu dan engkau bukan guruku. Tak ada hubungan guru dan murid di antara kita, bahkan saling mengenal nama pun tidak. Kita hanya saling menukar sesuatu yang berharga. Bagaimana, mau tidak kau menukar Thian-te Sin-ciang dengan obat untuk muridmu?"

Andai kata Kok Beng Lama masih waras pikirannya, tentu dia akan memikirkan hal ini lebih mendalam dan tidak akan memberikan ilmunya begitu saja. Akan tetapi dia dalam keadaan bingung, karena itu dia lalu menghela nafas. "Baiklah, baiklah... nah, kau obati muridku dan aku akan memberi Thian-te Sin-ciang kepadamu."

"Tidak, engkau serahkan dulu ilmu itu, baru aku obati muridmu."

"Hemm, kenapa begitu?"

"Pendeta Lama, di antara engkau dan aku, sudah jelas bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi. Kalau aku obati dulu muridmu dan engkau ingkar janji, aku tidak akan bisa apa-apa terhadapmu. Sebaliknya, kalau kau berikan dulu ilmu itu, aku tentu tidak mungkin berani ingkar janji terhadapmu sebab dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan aku. Nah, ini sudah sangat adil, bukan? Dan lagi, setelah kau memberikan ilmu Thian-te Sin-ciang kepadaku, aku akan menyerahkan obat kepadamu lalu pergi karena sudah selama satu hari satu malam aku meninggalkan sahabatku yang terluka itu. Nyawanya tinggal dua hari lagi umurnya, maka aku harus cepat pergi."

"Wah-wah, kau memang cerdik dan banyak akal bulusmu. Mana bisa kau mau menipu aku? Bagaimana kalau obat yang kau berikan itu palsu dan ternyata tidak bisa menolong muridku dalam tiga hari?"

"Habis, hadirnya Yok-mo ini untuk apa? Dialah saksi yang paling berharga. Dia akan tahu apakah obatku itu betul mujarab atau tidak setelah kuobatkan kepada muridmu."

Yok-mo yang semenjak tadi mendengarkan perbantahan itu, ingin cepat-cepat terbebas dari dua orang muda dan tua yang sama-sama tidak disenanginya itu. Dia mengangguk. "Benar, kalau obat itu palsu dan tidak mujarab, aku tentu akan segera tahu. Aku pun ingin melihat apakah dia tidak membohongi orang-orang tua."

"Kalau aku bohong, apa sukarnya bagi Lama ini untuk membunuhku?" In Hong langsung membantah.

Kok Beng Lama merasa kalah bicara. Dia mengangguk-angguk lalu duduk bersila. "Kau ke sinilah dan duduk bersila di depanku," dia berkata dengan nada memerintah.

In Hong girang sekali dan cepat dia duduk bersila di hadapan kakek itu. Si kakek menarik napas panjang. Duduk berhadapan demikian dekatnya dengan dara muda yang cantik jelita ini membuat dia teringat akan puterinya dan tiba-tiba dia menangis!

Tentu saja In Hong menjadi terkejut dan mengangkat muka. Melihat kakek itu menangis terisak-isak dan air matanya bercucuran, In Hong bergidik dan merasa seram. Tentu ada suatu hal yang luar biasa hebat menimpa diri kakek sakti ini sehingga membuat batinnya terguncang dan membuat kakek setua itu dapat menangis mengguguk seperti ini.

Karena gemblengan paksaan, In Hong menjadi seorang dara yang berhati dingin, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki watak yang lincah, halus dan perasa seperti mendiang ibunya. Maka kini menghadapi keadaan kakek tua renta itu, tanpa dapat dicegah lagi air matanya pun bercucuran!

Ternyata hal ini amat menguntungkan In Hong. Kok Beng Lama yang sudah agak sinting itu merasa seolah-olah kini berhadapan dengan puterinya. Dia merangkul dan mengeluh. "Anakku... ahhh, anakku..."

Dan In Hong balas merangkul. Sejenak mereka saling berpelukan sambil menangis.

“Gila...! Gendeng orang-orang kang-ouw ini..." Yok-mo yang menonton pertunjukan aneh itu menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

"Harap... harap kau berikan ilmu itu kepadaku..." In Hong berbisik, hatinya masih terharu sekali.

Hal ini adalah karena kakek itu tadi menyebutnya ‘anakku’ yang tentu saja mengingatkan dia bahwa dia sudah tidak berayah ibu lagi, bahkan dia belum pernah melihat atau tidak ingat lagi bagaimana wajah ayahnya dan ibunya. Oleh karena itu, saat mendengar kakek ini menganggap dirinya sebagai anaknya, tentu saja langsung mengingatkan dia kepada ayahnya sehingga menimbulkan keharuan.

"Terimalah, anakku... terimalah... kau bukalah seluruh jalan darahmu, buka pusarmu dan jangan melawan aku... aku akan memasukkan Thian-te Sinkang kepadamu yang menjadi dasar Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang..."

In Hong bersila dan ‘membuka’ semua jalan darah dan pusarnya. Tiba-tiba kedua telapak tangan yang amat lebar dari pendeta itu menyentuh ubun-ubun kepalanya dan pusarnya. Terasa olehnya hawa yang hangat dan sangat kuat mamasuki tubuhnya, berputaran di seluruh tubuh untuk kemudian berkumpul di pusar, bercampur dengan hawa sakti miliknya sendiri. Tubuhnya tergetar, kemudian menggigil dan berkelojotan. Hampir dia tidak kuat menahan, kemudian terdengar bisikan suara kakek itu,

"Perlahan-lahan kerahkan tenaga dari pusar, kuasai tenaga yang meliar itu sampai bisa berputaran di pusar, pusatkan kekuatan dan seluruh perhatianmu..."

Dengan membuta In Hong mentaati perintah ini, dan dia terus mendengarkan perintah kakek itu yang merupakan petunjuk dan teori mengendalikan tenaga Thian-te Sinkang. Hampir tiga jam mereka duduk bersila saling berhadapan hingga akhirnya In Hong dapat menguasai tenaga sakti mukjijat yang liar itu.

Keadaan itu hampir sama dengan menaklukkan seekor kuda liar. Pada mulanya kuda itu meronta dan melawan, meloncat dan hendak membedal, akan tetapi sesudah akhirnya dapat dijinakkan, menjadi penurut dan bergerak ke mana saja menurut kemauan yang menguasainya.

Sesudah membuka matanya, dan wajahnya masih pucat sekali, In Hong dengan penuh perhatian mendengarkan petunjuk-petunjuk tentang teori Thian-te Sin-ciang. Cukup ruwet teori ilmu silat ini, akan tetapi sebagai seorang gadis yang cerdas dapat menerima dan menghafal teori itu dalam waktu dua jam. Tentu saja teori itu membutuhkan latihan, akan tetapi dengan dasar tenaga sinkang Thian-te Sinkang yang sudah dikuasainya, dia akan dapat melatih ilmu itu dengan cepat.

Kok Beng Lama bangkit berdiri dengan tubuh agak lemas dan mukanya pucat. Dia telah mempergunakan banyak tenaga, bahkan kehilangan banyak sinkang, tetapi hatinya puas sebab anak perempuan yang seperti anaknya ini bisa menerima ilmu demikian cepatnya.

"Sudah cukup... kau telah menguasai Thian-te Sin-ciang asal kau rajin berlatih..."

Hati In Hong masih diliputi keharuan. Dia tadi merasa betapa kakek itu menurunkan ilmu kepandaiannya dengan penuh kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri. Memang demikianlah keadaannya. Andai kata tidak ada kasih sayang ini, kiranya tak mudah untuk menerima penyaluran tenaga mukjijat seperti Thian-te Sinkang tadi. Maka segera In Hong menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

"Locianpwe, teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada locianpwe."

"Hushhh, ingat. Kita bukan guru dan murid, bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang bahkan tidak saling mengenal. Hayo, cepat kau obati muridku."

In Hong tidak berani bersikap kasar lagi. Dia mengangguk, kemudian mengeluarkan obat penawar Siang-tok-swa, menghampiri Lie Seng dan memeriksa. Diam-diam dia menyesal sekali atas tindakan gurunya yang terlalu kejam. Anak ini terkena Siang-tok-swa di dada, muka dan perutnya! Cepat dia menaruhkan obat bubuk yang dicampur air dan diborehkan ke tempat-tempat yang terluka dan menghitam itu, kemudian dia memasak satu bungkus obat dan meminumkan obat itu kepada Lie Seng.

Diam-diam dara ini pun kagum bukan main karena sejak tadi dia tidak mendengar anak itu mengeluh sedikit pun! Benar-benar seorang bocah yang luar biasa dan sudah patut menjadi murid seorang sakti seperti pendeta Lama itu.

Satu jam kemudian, hari sudah mulai sore dan Yok-mo memeriksa keadaan Lie Seng. Dia mengangguk-angguk. "Lama, kau percayalah. Obat boreh dan obat minum itu betul-betul manjur sekali dan agaknya memang khusus dibuat untuk mengobati luka karena Siang-tok-swa. Muridmu sudah hampir sembuh dan dalam waktu dua hari saja kurasa dia sudah akan terbebas dari pengaruh racun."

Kok Beng Lama tertawa girang sekali. "Ha-ha-ha, kalau memang begitu, tidak percuma aku menyerahkan ilmu kepadamu, nona. Ha-ha-ha!"

In Hong lalu menyerahkan obat untuk Lie Seng kepada Yok-mo, kemudian dia berpamit setelah menjura kepada Yok-mo dengan ucapan terima kasih, kemudian memberi hormat kepada Kok Beng Lama sambil berkata,

"Sungguh pun teecu bukan murid locianpwe, namun teceu berjanji bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang tidak akan teecu pergunakan secara sembarangan dan akan merupakan ilmu simpanan teecu. Sekali lagi teecu menghaturkan terima kasih."

"Ha-ha-ha-ha, apa bila kau pergunakan dengan sembarangan, apa sukarnya bagiku untuk mencarimu dan mencabutnya kembali berikut nyawamu? Ha-ha-ha!"

In Hong menjura kemudian membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dari tempat itu. Yok-mo bengong dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Nona itu dahsyat bukan main, sinar dingin di wajahnya menunjukkan dendam kebencian yang mendalam. Kini ditambah ilmu pemberianmu, Lama, sama dengan memberi sayap kepada seekor harimau."

Akan tetapi Kok Beng Lama tidak memperhatikan ucapan itu. Hatinya terlampau girang melihat Lie Seng tertolong karena dia sudah menganggap bocah itu sebagai muridnya. Memang Kok Beng Lama telah berubah sekali dibandingkan dengan wataknya sebelum dia mengalami pukulan batin yang hebat.

Dulu tidak mudah bagi siapa pun untuk menjadi murid kakek sakti ini. Akan tetapi kini, begitu bertemu dengan Lie Seng, tanpa tanya-tanya dulu apakah bocah itu mau atau tidak menjadi muridnya, tanpa menyelidiki lebih dulu siapa bocah itu dan anak siapa, dia sudah begitu saja menganggap bocah itu sebagai muridnya! Dan tanpa menanyakan nama In Hong, sama sekali tidak mengenal dara itu, dia sudah begitu saja menyerahkan ilmu yang merupakan satu di antara ilmu-ilmunya yang paling rahasia dan ampuh.

********************

“Ah, untung engkau keburu datang, lihiap!" pemuda murid Bu-tong-pai itu berseru dengan suara lega. "Aku khawatir dia sudah dalam sekarat..."

In Hong kaget sekali mendengar sambutan murid Bu-tong-pai itu dan cepat dia mengikuti masuk ke dalam kuil tua itu. Dan benar saja, orang yang tersiksa itu rebah dengan mata tertutup, muka kehitaman dan napas tinggal satu-satu.

Dua orang murid Bu-tong-pai yang sedang menjaga di situ juga kelihatan girang melihat datangnya penolong mereka. Cepat mereka itu membantu In Hong mencari dan memasak air, kemudian dengan paksa mereka membantu In Hong mencekokkan obat yang dibawa oleh In Hong itu ke dalam perut pemuda yang sedang sekarat melalui mulutnya yang dibuka secara paksa.

Mereka berempat menanti dengan hati tegang, ingin menyaksikan bagaimana pengaruh obat yang didapatkan dari Yok-mo yang terkenal itu. Satu jam mereka menunggu penuh ketegangan, karena mereka seakan-akan melihat pemuda itu bergulat melawan elmaut. Detik jantung pemuda itu amat lemah dan napasnya sudah senin kemis, kadang-kadang menggeliat-geliat seperti orang dalam sekarat.

Tiba-tiba saja terdengar suara berkeruyuk dari perut Bun Houw. Empat orang muda itu memperhatikan. Suara berkeruyuk itu sambung-menyambung, sedangkan perut pemuda itu bergerak-gerak, terus bergerak dan kini naik ke dada.

Tiba-tiba pemuda itu muntah dan cepat sekali In Hong melompat lalu membantu pemuda itu duduk sehingga pemuda itu dapat muntah ke pinggir dalam keadaan setengah rebah miring. Lengan In Hong terkena muntahan yang ternyata adalah darah hitam yang berbau busuk!

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu benar-benar merasa kagum sekali melihat betapa tekun dan penuh perhatian In Hong merawat Bun Houw. Padahal wanita sakti penolong mereka itu sama sekali tidak mengenal pemuda itu, seperti juga tidak mengenal mereka. Juga mereka melihat betapa sinar mata yang biasanya dingin itu menjadi berseri ketika melihat bahwa pernapasan Bun Houw kini menjadi lebih tenang dan detik jantungnya lebih kuat, tanda bahwa obat itu memang manjur sekali.

"Dia tertolong, dan kalian bertiga boleh pergi sekarang," kata In Hong setelah melihat Bun Houw tidur nyenyak dengan napas tenang dan muka pemuda itu tidak begitu menghitam lagi.

Dua orang gadis Bu-tong-pai itu memandang dengan mata terharu dan pemuda yang menjadi suheng mereka memandang kagum.

"Lihiap, kami akan kembali ke Bu-tong-pai untuk melapor kepada suhu kami. Sesudah menerima pertolongan lihiap dan berkumpul beberapa lama, mustahil kalau kami tidak memperkenalkan diri. Saya bernama Sim Hoat, ini adalah sumoi Lim Soan Li, dan dia itu adalah sumoi Coa Gin Hwa. Kami bertiga masih tinggal di Bu-tong-san karena belum tamat belajar dari suhu kami, ketua Bu-tong-pai Thian Cin Cu Tojin. Sudilah kiranya lihiap memperkenalkan nama, karena tanpa ada pertolongan lihiap, kami bertiga tentu sudah tidak hidup lagi. Kami berhutang budi dan tentu suhu akan marah kalau kami tidak dapat memberi tahu kepada beliau siapa lihiap yang telah menyelamatkan nyawa kami."

In Hong mengerutkan alisnya. Ia telah berkali-kali mengalami bahwa jika orang mengenal dia sebagai murid ketua Giok-hong-pang, orang akan menggolongkan dia sebagai orang sesat atau golongan hitam. Dia merasa malu untuk digolongkan dengan kaum sesat yang selalu mengumbar nafsu tidak segan-segan melakukan kejahatan. Tidak, dia bukan orang macam itu!

"Terima kasih atas kebaikan sam-wi. Akan tetapi aku tidak punya nama dan peristiwa kecil itu tidak perlu mengikat kita. Sebaiknya kita melupakan saja hal yang telah lalu dan anggaplah aku tidak pernah menolong sam-wi. Baik ikatan budi mau pun ikatan dendam hanya merepotkan hidup saja. Pergilah dan di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu saling pandang dan menarik napas panjang. Banyak terdapat orang sakti yang berwatak aneh di dunia ini, akan tetapi penolong mereka ini masih begini muda, lebih muda dari mereka, akan tetapi berwatak begini dingin dan aneh, seolah-olah tidak suka berhubungan dengan manusia lain, akan tetapi yang jelas sanggup mengorbankan apa saja untuk menolong orang lain yang sama sekali belum dikenalnya. Seorang dara yang luar biasa!

Apa lagi bagi Sim Hoat pemuda Bu-tong-pai ini, dia sekaligus sudah jatuh cinta kepada dara luar biasa yang di samping sakti juga amat cantik jelita ini! Terpaksa mereka lalu berpamit, memberi hormat meninggalkan kuil di dalam hutan lebat itu untuk berangkat ke Bu-tong-pai dan melaporkan kepada suhu mereka tentang kematian suheng mereka di Lembah Bunga Merah dan tentang kegagalan mereka membalas dendam.

Sesudah mereka itu pergi, In Hong merawat Bun Houw seorang diri dengan tekun dan penuh perhatian. Setiap kali dia mencekokkan pil hitam yang dicampur air matang ke dalam perut pemuda itu, Bun Houw muntahkan darah hitam. Sampai dua hari pemuda itu terus muntah setiap habis makan pil, akan tetapi sesudah dicekoki pil yang ketujuh, dia tidak muntah lagi dan mukanya sudah menjadi bersih dari warna hitam!

Pada hari ketiga, mukanya mulai agak kemerahan dan kini napasnya sudah teratur sehat dan detik jantungnya juga sudah menjadi kuat. Tentu saja In Hong menjadi girang sekali. Sudah tiga hari tiga malam lamanya dia tidak tidur, maka kini saking lelahnya, dia tertidur menyandar tembok tidak jauh dari Bun Houw yang masih rebah tidak sadar di atas lantai.

Sehabis memberi minum pil yang kedelapan di siang hari, In Hong tertidur sambil duduk bersandar tembok. Saking lelahnya, dia telah tidur setengah hari dan siang telah terganti senja hampir gelap, namun dia masih juga belum bangun.

Di dalam tidurnya In Hong bermimpi. Dia diajak berjalan-jalan di dalam sebuah taman bunga yang indah, penuh bunga-bunga mekar semerbak harum, tangannya digandeng oleh Bun Houw dan dia mandah saja. Bahkan dia merasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Wajah Bun Houw berseri-seri, demikian tampan, sikapnya begitu gagah dan melindungi. Dia sudah begitu hafal akan wajah Bun Houw yang setiap saat dipandangnya itu, hafal akan garis dan lekak-lekuk wajah itu, dan kini wajah pemuda itu demikian dekat dengan wajahnya, mata yang bersinar-sinar tajam itu menatap mesra, seolah-olah membelainya dengan pandang mata, dan senyum yang menawan itu khusus ditujukan kepadanya. Dia menjadi malu, perasaan malu yang luar biasa, perasaan malu dan jengah yang sangat mengguncang hatinya, mengusap kalbu dan mendatangkan perasaan bahagia yang sulit dituturkan dengan kata-kata. Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu mengeluh.

In Hong terkejut dan... dia pun tersadar, membuka mata, memandang ke kanan, ke arah pemuda yang tadi masih rebah tak sadar. Oleh karena sebelum tidur seluruh perhatiannya tercurah kepada Bun Houw, maka biar pun dia tidur nyenyak sekali, sedikit saja pemuda itu mengeluh sudah cukup untuk menyadarkannya.

"Kenapa kau tidak membunuhku? Bunuh saja aku, tidak ada gunanya kau siksa dan kau bujuk. Kau... perempuan hina dina, perempuan keparat jahanam!" Pemuda itu memaki, pandang matanya penuh kebencian ditujukan ke arah In Hong.

Di dalam ruangan kuil itu sudah mulai gelap. In Hong cepat meloncat bangun, menjenguk keluar jendela butut untuk mengira-ngira waktu. Cuaca sudah mulai gelap, sudah tiba waktunya pemuda itu menelan pil hitam ke sembilan, pil yang terakhir dan dia gembira sekali karena pemuda itu kini sembuh, buktinya sudah sadar dan sudah penuh semangat hidup kembali, sudah dapat marah-marah dan memaki-maki! Dia tahu bahwa pemuda itu mengira dia seorang di antara para musuh-musuh yang menyiksanya, maka makian itu tidak menyakitkan hati, bahkan menggelikan.

Tanpa menjawab In Hong mengambil air matang dari panci butut di sudut ruangan, lalu menuangkan ke dalam mangkok, mengambil obat pil terakhir dan berjalan menghampiri Bun Houw.

Seperti biasanya, tanpa bicara sepatah kata pun dia meletakkan mangkok di atas lantai, menggenggam pil di tangan kanan dan lengan kirinya menyangga punggung pemuda itu dan diangkatnya pemuda itu untuk bangkit setengah duduk. Akan tetapi Bun Houw yang dirangkul itu meronta.

"Aku tidak sudi...! Lepaskan, kau perempuan hina...!"

Pemuda itu menggerakkan tangannya hendak memukul, akan tetapi dia mengeluh dan dua lengannya tergantung lemas karena luka di kedua pundaknya masih belum sembuh benar sehingga sedikit gerakan saja langsung membuat tulang-tulang pundaknya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Tenanglah, engkau harus menelan pil sebutir lagi dan engkau akan sembuh sama sekali. Buka mulutmu, telah pil ini dan minum air ini."

Akan tetapi Bun Houw menggelengkan kepalanya dan memandang wajah yang cantik itu dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. "Perempuan hina, percuma saja Thian mengaruniai padamu wajah secantik ini, ternyata engkau hanya seorang manusia berhati iblis, seperti ular beracun, hamba dari nafsu yang cabul!" Bun Houw menyangka bahwa gadis yang amat cantik ini tentu saudara seperguruan dari Ai-kwi dan Ai-kiauw.

Wajah In Hong menjadi merah sekali. Kalau saja bukan pemuda ini yang memakinya seperti itu, kalau saja dia tidak tidak tahu benar bahwa pemuda ini salah sangka, kalau saja dia masih seperti In Hong beberapa hari yang lalu, makian itu sudah cukup baginya untuk membunuh laki-laki ini! Huh, laki-laki berani memaki dia secara demikian menghina!

Akan tetapi sekarang dia tahu betul bahwa pemuda ini bukanlah laki-laki perusak wanita, bahkan sebaliknya, dia mempertahankan diri terhadap bujuk rayu wanita-wanita cabul dan hina. Makiannya itu hanya menunjukkan betapa pemuda ini pada saat terakhir pun masih tetap tak sudi melayani bujuk rayu itu, masih tetap teguh mempertahankan kegagahannya dengan menentang maut! Makin kagumlah hati In Hong.

"Orang she Bun, engkau salah kira..." Dia berkata lirih. "Engkau sudah bukan tawanan lagi, dan aku hanya membantumu menelan pil ke sembilan ini yang telah menyelamatkan nyawamu dari ancaman racun kelabang hitam."

Bun Houw mendengarkan suara ini kemudian matanya perlahan-lahan terbuka lebar. Dia memandang wajah itu, yang tidak begitu jelas karena cuaca yang mulai gelap, dan dia memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di sebuah ruangan kuil yang rusak.

"Kau... kau... siapakah...? Kau... bukan... seorang di antara mereka...?"

Ing Hong tersenyum dan giginya yang putih sempat berkilau di dalam gelap. Dia lantas menggeleng kepalanya. "Telanlah dulu pil ini, dan minum air di mangkok ini...," katanya lirih.

Bun Houw masih bingung, akan tetapi sekarang mulailah kesadarannya kembali. Siapa pun adanya wanita ini, jelas bahwa wanita ini tidak berniat buruk terhadap dirinya, bukan meracuni atau pun merayu. Bukan demikian sikap orang merayu, biar pun lengan wanita ini merangkul punggungnya. Kalau wanita ini hendak membunuhnya atau meracuninya, bukan demikian pula sikapnya. Dan lagi, setelah mengalami siksaan seperti itu, apa lagi yang ditakutinya.

Dia lalu membuka bibirnya menerima pil yang dimasukkan ke dalam mulutnya, pil yang berbau sedap dan terasa pahit, kemudian menelan pil itu bersama air dari mangkok yang ditempelkan di bibirnya oleh wanita itu. Kemudian wanita itu merebahkan dia kembali ke atas lantai.

Tanpa bicara In Hong mengembalikan mangkok kosong ke sudut ruangan, lalu membuat api dari kayu-kayu kering di sudut ruangan itu, agak jauh dari Bun Houw. Dengan alat seadanya yang disediakan oleh murid-murid Bu-tong-pai, dia memasak bubur dan semua pekerjaan ini dilakukan dengan mulut tertutup, walau pun dia maklum bahwa sepasang mata selalu mengikuti setiap gerakannya, memandangi dirinya di bawah penerangan api unggun yang kemerahan. Sepasang mata yang memandang penuh keheranan, penuh pertanyaan dan keraguan.

Pada waktu In Hong menyuapkan bubur ke mulut pemuda itu, sepasang mata itu terus memandanginya seperti mata seorang anak kecil memandang orang yang baru pertama kali dijumpainya. Akhirnya sepasang mata itu tertutup kembali, tertidur nyenyak.

In Hong segera makan pula, makan bubur dengan sayur asin sederhana sebagai lauknya, akan tetapi karena hatinya lega dan perutnya lapar, rasanya belum pernah dia makan selezat itu. Kemudian dia pun tidur tidak jauh dari Bun Houw, tidur dengan nyenyak tanpa mimpi semalam suntuk.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali In Hong sudah bangun. Tubuhnya terasa segar dan cepat dia keluar dari kuil, kini berlatih ilmu yang baru saja dipelajarinya dari pendeta Lama raksasa itu. Dia bersila sambil mengumpulkan hawa murni, menggerak-gerakkan sinkang yang sudah terkumpul di dalam pusarnya, melatih perlahan-lahan sehingga ‘kuda liar’ yang amat kuat itu tunduk kepada kemauannya dan dia dapat mengalirkan Thian-te Sinkang itu sampai ke ujung-ujung jari tangannya, akan tetapi belum dapat sepenuhnya.

Setelah merasa cukup berlatih, dia kemudian pergi ke sumber air di tengah hutan, lalu menanggalkan pakaiannya dan mandi sampai bersih. Segar bukan main rasanya, lenyap seluruh sisa kelesuan dan kelelahan tubuhnya. Sambil berdendang In Hong mencuci pula rambutnya yang dianggapnya tentu sudah mulai kotor.

Tiba-tiba saja dia berhenti di tengah-tengah dendangnya dan mukanya terasa panas. Dia menengok ke kanan kiri, menarik napas lega karena tidak ada orang lain yang melihat dan mendengarnya, lalu cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya membersihkan seluruh tubuh dan memakai kembali pakaiannya, duduk memeras air dari rambutnya yang hitam panjang, mengurai rambut itu agar cepat kering sambil melamun.

Baru sadar dia akan keadaan dirinya sendiri. Dia berdendang? Belum pernah dia melihat dirinya sendiri seperti ini! Sejak kecil dia tidak pernah bernyanyi, sungguh pun dia tahu bahwa dia pandai menirukan semua nyanyian yang didengarnya dinyanyikan oleh para anggota Giok-hong-pang dan bahwa suaranya cukup merdu.

Selama hidupnya tidak pernah dia merasa begini gembira, begini bebas, begini lapang dadanya. Belum pernah selama hidupnya dia melihat pagi seindah itu, secerah itu sinar keemasan matahari pagi, semerdu itu suara kicau burung dan gemericik air dari sumber air, secantik itu daun-daun hijau terhias embun pagi dan bunga-bunga beraneka warna, senyaman itu tarikan napasnya, membawa bau sedap pohon-pohonan dan keharuman bunga-bunga.

Mengapa begini? Mengapa setelah melihat pemuda she Bun... dia terkejut dan cepat dia meloncat bangun pada saat teringat kepada pemuda itu. Tentu pemuda itu telah bangun! Seperti orang takut kehilangan sesuatu yang amat berharga, In Hong meloncat dan berlari cepat ke arah kuil, memegangi rambutnya yang masih terurai lepas sehingga terbang melambai-lambai di belakang tubuhnya ketika dia berlari cepat.

Dengan berindap-indap dia memasuki kuil, seolah-olah khawatir kalau-kalau mengejutkan pemuda itu dan dia menarik napas lega ketika melihat betapa Bun Houw masih rebah terlentang di atas lantai. Dia lalu duduk dengan perlahan, menyanggul rambutnya yang menjadi agak kering karena dibawa lari tadi, sambil menatap wajah pemuda itu.

Betapa dia sudah hafal akan wajah yang tampan dan gagah itu, wajah agak kurus dan pucat karena banyak menderita dan hanya makan bubur sedikit setiap hari selama lima hari ini. Akan tetapi warna gelap sudah lenyap sama sekali dan kini wajah itu kelihatan makin tampan, ada warna merah sedikit pada pipi dan bibir itu, tanda bahwa dia sudah sehat benar, hanya tinggal memulihkan tenaga saja.

Hati In Hong dilanda rasa iba melihat pakaian yang kotor itu, rambut yang kusut serta dua pundak yang masih dibalut. Ada bekas-bekas darah di pakaiannya dan keadaan pemuda itu amat mengharukan. Pakaian itu perlu dicuci, pikir In Hong yang sudah membayangkan betapa dia akan dengan senang hati mencucikan pakaian pemuda itu.

Tiba-tiba In Hong menghentikan lamunannya lalu memandang dengan penuh perhatian. Jantungnya berdebar tegang. Pemuda itu menggeliat, tubuhnya yang kuat seperti tubuh seekor harimau itu menggeliat dan menegang, akan tetapi pada waktu kedua lengannya direnggangkan, dia menahan rintihan dan membuka mata karena kedua pundaknya itu terasa nyeri.

Begitu membuka mata, bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi buruk, Bun Houw bangkit duduk, menggigit bibir ketika merasa pundaknya kembali nyeri. Dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah kaki tangan dan pundaknya, dan kini dia menatap wajah In Hong yang duduk dengan tenang-tenang saja itu dengan mata penuh selidik. Seperti teringat sebuah mimpi, Bun Houw mengenal wajah ini yang pernah dilihatnya secara remang-remang, lalu dia menoleh ke sudut di mana terdapat panci dan mangkok, ke sudut lain di mana terdapat bekas api unggun dan dia teringat.

"Kau... ehh, nona... apakah yang sudah terjadi dengan diriku? Di mana aku sekarang ini berada...?" tanyanya.

Kesadarannya membuat dia bingung melihat betapa dia yang tadinya ditawan dan disiksa oleh dua orang musuh besarnya itu tahu-tahu bisa berada di sini terbebas dari belenggu dan tubuhnya terasa sehat sama sekali, kecuali rasa nyeri pada kedua tulang pundaknya yang masih terbalut.

Dengan sikap dingin, bukan dingin sewajarnya seperti yang sudah menjadi sikapnya sejak kecil menurut gemblengan gurunya, melainkan sekali ini dingin buatan, seperti orang acuh tak acuh, seperti orang memandang rendah, In Hong menjawab lirih, "Di dalam sebuah kuil rusak..." Lalu dia menunduk dan merapikan bajunya, kemudian merapikan rambutnya yang tadi digelung, dan dipasangnya tusuk konde burung hong kumala di rambutnya.

Bun Houw tentu saja melihat betapa cantik jelitanya dara yang duduk di depannya itu, akan tetapi pada saat itu dia lebih memperhatikan keadaan luar kuil dari jendela ruangan itu yang terbuka karena hatinya masih diliputi keheranan besar. Dia melihat pohon-pohon lebat dan tahulah dia bahwa kuil tua ini berada di tengah hutan.

"Hemmm... di dalam sebuah kuil tua di tengah hutan. Dan... bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah tadinya aku berada dalam kamar tahanan di Lembah Bunga Merah?"

In Hong tak menjawab, hanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu, sejenak bertaut dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya. Melihat dara itu tidak menjawab, timbul pula kecurigaan Bun Houw dan dia lantas menduga-duga. Apakah dara ini murid Hui-giakang Ciok Lee Kim? Akan tetapi agaknya tidak mungkin, karena jelas bahwa dara ini memperlakukan dirinya dengan baik, memberi obat dan menyiapkan bubur!

"Ahhh, tentu ada yang menolongku keluar dari tempat itu, betapa pun anehnya hal itu, mengingat bahwa aku tersiksa dan dibelenggu, kedua tulang pundakku dikait dengan besi kaitan..." Tiba-tiba dia teringat akan bayangan rahasia yang memiliki gerakan cepat luar biasa, yang telah menyelamatkan dan membebaskan tiga orang tawanan Lembah Bunga Merah, yaitu tiga murid-murid Bu-tong-pai.

"Nona, apakah engkau yang telah membebaskan tiga orang anak murid Bu-tong-pai dari Lembah Bunga Merah?" Dia memandang tajam penuh selidik.

In Hong mengangkat muka, pada saat pandang matanya bertemu dengan pandang mata penuh selidik itu, dia merasakan sesuatu yang aneh pada jantungnya. Dia berdebar malu, dan... bangga! Sungguh dia hampir tidak mengenal diriya sendiri, perasaannya sendiri, mengapa sekarang menjadi begini aneh? Dia hanya mengangguk dan menunduk lagi.

"Kalau begitu... agaknya engkau pula yang telah menolong aku, nona?" pertanyaan ini diajukan oleh Bun Houw dengan pandang mata penuh keheranan, hampir tidak percaya.

Mana mungkin seorang gadis muda seperti ini, yang begini cantik jelita, begini pendiam dan agaknya pemalu, bisa menolong dia yang telah terbelenggu dan tulang punggungnya dikait dari tangan lima orang sakti dan anak buah Lembah Bunga Merah?

Akan tetapi kembali dara itu mengangguk!

Hening sejenak karena Bun Houw terlalu heran dan terkejut sehingga sampai lama dia hanya bengong saja memandang wajah dara itu. Kalau yang menolongnya itu gurunya, Kok Beng Lama misalnya, atau ayahnya dan ibunya sendiri, masih tidak terlalu aneh. Akan tetapi dara ini!

Dan bukan hanya menolongnya keluar dari tahanan yang berbahaya itu, malah sudah menyembuhkannya, padahal dia masih ingat betul betapa dia tersiksa hebat oleh rasa nyeri dan tahu bahwa dia keracunan, bahkan menurut Hui-giakang Ciok Lee Kim dia hanya dapat bertahan hidup tiga hari saja! Buktinya sekarang dia sudah sembuh! Gadis ini pulakah yang menyembuhkannya? Tiba-tiba dia teringat dan cepat Bun Houw bangkit berdiri ketika dia melihat dara itu yang agaknya merasa tidak enak dipandanginya terus seperti itu telah bangkit berdiri di dekat jendela, memandang keluar, membelakanginya.

"Kalau begitu... aku telah kau tolong, nona. Kau telah menyelamatkan nyawaku...! Betapa hebat dan besar budimu terhadap diriku, nona. Bagaimana aku harus mengatakan terima kasihku?" kata Bun Houw gagap karena hatinya terharu, tahu betul dia betapa bahayanya menolong dia dari lembah maut itu, bahaya yang hanya dapat ditempuh dengan taruhan nyawa.

"Kenapa mesti bingung-bingung?" In Hong menjawab tanpa menoleh. "Sudah saja jangan menyatakan terima kasih, aku tidak membutuhkan itu..."

Bun Houw menjadi makin bingung. Sikap gadis ini sungguh aneh. Melihat budinya yang begitu besar, jelas bahwa dara ini adalah seorang yang berhati mulia, akan tetapi kenapa sikapnya demikian dingin? Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik pertolongannya itu! Akan tetapi, tak mungkin!

"Sudikah engkau menceritakan bagaimana engkau dapat membebaskan aku dari tahanan itu, nona?"

In Hong membalikkan tubuhnya. Karena dia berdiri miring, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela tua itu menimpa separuh mukanya dan kelihatan cantik bukan main. Rambut yang baru saja dicuci itu berkilauan, anak rambut banyak yang bergumpal-gumpal kacau dan awut-awutan di sekitar dahi, pelipis dan leher. Manisnya sukar dilukiskan!

"Apa yang dapat diceritakan? Aku melihat engkau ditawan dan disiksa, kemudian aku menggunakan kesempatan selagi lima orang sakti itu tidak menjagamu, aku merobohkan semua penjaga, anak buah Lembah Bunga Merah, lalu membawamu ke sini." Kata-kata yang keluar dari mulut dara itu begitu bersahaja, seolah-olah menceritakan hal yang biasa saja, demikian penuh kerendahan hati sehingga Bun Houw menjadi makin terheran-heran dan kagum.

"Akan tetapi... apakah tidak ada di antara mereka yang merintangimu?"

In Hong mengangguk. "Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw menghadangku, akan tetapi aku dapat melewati mereka dengan selamat."

Bun Houw terbelalak. Kakek dan nenek pertapa itu lihai bukan main, dan tentu dara ini memanggulnya pada saat melarikan dia, akan tetapi toh sanggup membebaskan diri dari mereka. Bukan main!

Cepat dia menjura dengan penuh hormat yang dibalas oleh In Hong dengan kaku dan sembarangan. "Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang amat lihai! Sungguh beruntung sekali, karena tanpa pertolonganmu aku tentu tewas di tangan mereka. Terimalah ucapan terima kasihku yang sedalam-dalamnya, nona."

Melihat pemuda itu kembali menjura dengan hormat, In Hong membalas dan berkata, "Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan terima kasih."

"Dan aku telah keracunan, Toat-beng-kauw Bu Sit menusukkan jarum mengandung racun kelabang hitam di tengkukku, sakitnya bukan main, seperti ribuan ekor semut menggigit dari dalam tubuhku, sampai aku tidak tahan... dan... aku tidak berdaya, tulang pundakku dikait baja pengait dan Hui-giakang Ciok Lee Kim mengatakan bahwa aku hanya dapat hidup tiga hari lagi saja. Akan tetapi sekarang..." Bun Houw memandang kaki tangan dan pundaknya, "sama sekali tak ada bekas-bekasnya lagi! Agaknya engkau pula yang telah menyembuhkan aku dari ancaman racun kelabang hitam itu, nona?"

"Bukan aku, melainkan Yok-mo. Aku pergi ke puncak Gunung Cemara di mana tinggal Yok-mo, ahli obat gila. Aku memaksa dia memberikan obat untukmu dan ternyata kau sembuh."

"Dan nona meninggalkan aku di sini ketika pergi mencari obat?"

"Tidak, tiga anak murid Bu-tong-pai menjagamu di sini. Sesudah aku kembali membawa obat, baru mereka pulang ke Bu-tong-pai."

"Aihhhh... dua kali engkau menyelamatkan nyawaku, nona!" Kembali Bun Houw menjura dengan terheran-heran dan kagum sekali.

"Sudahlah, capek aku kalau terus menerus harus membalas penghormatanmu!" In Hong mengomel dan cemberut, akan tetapi sesungguhnya belum pernah dia merasa demikian girang hatinya.

"Sungguh hebat... sungguh mengherankan sekali... engkau yang masih begini muda... bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia dan terhormat, nona?"

"Hemmm, pertemuan antara kita hanya kebetulan saja. Aku hanya tahu engkau seorang she Bun, dari percakapan mereka di Lembah Bunga Merah. Biarlah aku mengenalmu sebagai orang she Bun, dan engkau tidak perlu mengetahui namaku..."

"Aihh, mengapa begitu, nona?" Bun Houw bertanya dengan heran lagi.

Diam-diam dia pun tidak ingin memperkenalkan namanya. Dia tahu betapa bahayanya kalau namanya dikenal orang, apa lagi kalau sampai dikenal oleh Lima Bayangan Dewa, sedangkan nona jelita ini begini aneh dan penuh rahasia.

"Habis, bagaimana aku harus mengingatmu, harus memanggilmu, kalau aku tidak tahu namamu, nona?"

In Hong tereenyum. "Jangan mengingat, jangan memanggil..."

Melihat sikap yang dingin, kata-kata yang singkat ini, Bun Houw menjadi khawatir sekali kalau-kalau penolongnya itu marah. Maka dia segera membelokkan percakapan dan dia bertanya, "Aku sudah tidak memiliki harapan ketika ditusuk jarum beracun itu, akan tetapi buktinya aku sembuh, sungguh hebat obat itu, bagaimana macamnya dan bagaimana pula cara kerjanya ketika engkau mengobatiku, nona?"

"Aku menerima sembilan butir pil hitam dari Yok-mo. Ketika engkau menelan pil pertama sampai ke enam, setiap kali menelan pil hitam itu kau muntah darah hitam yang berbau busuk, akan tetapi mulai dengan pil ke tujuh engkau tidak muntah lagi."

"Aihh... sungguh menjijikkan... akan tetapi mengapa lantai ini bersih?"

"Aku sudah membersihkannya setiap kali kau muntah..."

"Ahh...! Dan nona merawatku, menjagaku, memberi obat, menyuapkan bubur selama tiga hari tiga malam... dan..."

Serasa hampir meledak jantung di dalam dada In Hong melihat pemuda itu menatapnya dengan mata terbelalak penuh keharuan, penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Sudahlan, pakaianmu kotor, mari... mari... kucucikan... dan kau dapat mandi di sumber air di dalam hutan..."

Mata yang sudah terbelalak itu semakin terbelalak berisi penuh dengan sinar keharuan, kekaguman dan kini bahkan bercampur dengan keheranan. "Apa? Nona... nona hendak... mencucikan pakaianku...? Ahh, tidak..."

"Mengapa tidak?" Sikap In Hong biasa saja. "Aku seorang wanita, sudah biasa mencuci pakaian..."

"Tidak, tidak boleh nona begitu merendahkan diri. Di mana sumber air itu? Aku akan membersihkan tubuh dan pakaian ini..."

In Hong menudingkan telunjuknya dan Bun Houw cepat bangkit lalu melangkah lebar ke dalam hutan. Pundaknya masih terasa nyeri sedikit kalau dia terlalu keras menggerakkan kedua tengannya.

Setelah tiba di sumber air, dia menanggalkan pakaiannya, membersihkan tubuhnya dan tubuhnya terasa segar kembali. Dia merendam tubuh di dalam air, lalu mengumpulkan hawa murni, mempergunakan sinkang-nya untuk melancarkan jalan darah dan dengan kekuatan sinkang-nya ini dia dapat melindungi tulang-tulang pundaknya.

Untung bahwa di dalam sakunya masih terdapat obat lukanya yang mujarab pemberian ayahnya. Maka dia segera membuka balutan pundaknya, lalu memberi obat luka setelah mencucinya bersih, membalutnya kembali setelah dia mandi sampai bersih.

Kemudian dia baru mencuci pakaiannya, memeras air dengan kekuatan besar sehingga sebentar saja pakaian itu hampir kering karena semua air dapat diperasnya keluar. Dia menjemur pakaian ini di atas batu dan sambil menanti keringnya pakaian itu, dia kembali bersemedhi mengumpulkan hawa murni. Tidak lama kemudian, tenaganya pulih kembali dan ketika dia menggerakkan kedua lengan, rasa nyeri di pundak hanya tinggal sedikit. Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main.

Kurang lebih dua jam kemudian, dia kembali ke kuil dengan baju dan pakaian bersih, juga sudah kering. Baru saja nampak dinding kuil itu, hidungnya sudah mencium bau sedap yang membuat perutnya terasa semakin lapar.

Dia mempercepat langkahnya dan... di depan kuil itu, di bawah pohon, nampak dara itu sedang memanggang seekor ayam hutan yang gemuk sekali, ada pun dari panci bekas tempat air itu kelihatan nasi mengepul panas. Bun Houw berdiri memandang, menelan ludahnya dua kali.

"Kau sudah selesai?" In Hong menengok dan sejenak pandang mata mereka bertemu. Gadis itu menunduk dan di lehernya menjalar warna merah terus ke kepalanya, kemudian terdengar suaranya tanpa dia mengangkat muka. "Tadi aku berhasil menangkap seekor ayam..."

Bun Houw tidak menjawab, hanya memandang dara itu, hatinya diliputi keheranan besar. Sungguh amat sulit untuk mengerti watak dan sifat wanita cantik ini pikirnya. Masih begitu muda, tentu lebih muda darinya, namun sudah memiliki kepandaian yang sangat hebat, sungguh pun dia belum menyaksikan sendiri, tapi dari caranya menolong dia dari Lembah Bunga Merah saja sudah dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu hebat sekali.

Kadang-kadang wanita ini demikian dingin dan tak acuh, sehingga agaknya sama sekali tak mau saling berkenalan, tidak mau memperkenalkan nama dan tidak pula menanyakan namanya, padahal wanita ini sudah mempertaruhkan nyawa untuk monolongnya, bahkan selama tiga hari tiga malam merawatnya sedemikian rupa! Akan tetapi ada pula saat-saat tertentu wanita itu kelihatan begitu lemah lembut, seperti sekarang ini, sama sekali tidak patut menjadi seorang wanita kang-ouw yang perkasa dan aneh sekali.

"Kau tentu lapar sekali..."

Bun Houw sadar dari lamunannya, sadar betapa semenjak tadi dia hanya berdiri bengong memandang dara itu yang sedang memanggang daging ayam.

"Ohh, lapar...? Lapar sekali...! Dan panggang ayam itu begitu sedap!"

"Kalau begitu, mari kita makan. Ayam ini lebih enak dimakan panas-panas sebagai teman nasi. Sayang tidak ada arak..."

"Ahh, itu sudah cukup, nona. Air pun sudah cukup menyegarkan," jawab Bun Houw yang lalu duduk di dekat dara itu.

Mereka lalu makan nasi dan panggang daging ayam, tidak menggunakan sumpit karena memang tidak ada, hanya menggunakan lima batang sumpit alam alias lima jari tangan kanan. Nasinya mengepul panas, daging ayam panggang juga masih mengepul panas, empuk dan gurih, ditambah kesunyian di pagi indah itu, hadirnya mereka berdua, perut lapar, semua ini membuat nasi dan daging ayam menjadi lezat bukan main.

Dalam waktu pendek saja habislah semua nasi beserta daging ayam memasuki perut mereka, tidak ada ketinggalan sebutir pun nasi dan secuil pun daging. Bun Houw menjilati jari-jari tangannya yang terbalut gajih panggang ayam dan In Hong memandang sambil menabur senyum.

Satu di antara kelemahan wanita adalah, selain senang dipuji-puji tentang kecantikannya, juga senang dipuji-puji mengenai kelezatan hasil masakannya! Sekarang, ketika melihat Bun Houw menjilati jari-jari tangannya, In Hong merasa mendapat pujian yang jauh lebih mengesankan dari pada kata-kata.

"Kau belum kenyang? Masih kurang?" tanyanya lirih, tersenyum dan tampak deretan gigi mutiara.

Bun Houw tertawa. "Makan sesedap ini, agaknya aku tak akan mengenal kenyang. Akan tetapi sementara ini cukuplah, dan terima kasih." Dia kemudian minum air tawar dengan segarnya.

"Beras yang ditinggalkan oleh para murid Bu-tong-pai tinggal itu, aku belum sempat pergi membeli ke dusun."

Kembali Bun Houw tersenyum. Percakapan di antara mereka itu seolah-olah percakapan dua orang sahabat lama yang hidup bersama di suatu tempat. Setelah mencuci tangan dan mulut, dia lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Nona, setelah semua yang kau lakukan untukku, setelah kau menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri..."

"Cukup, aku tidak mau bicara tentang itu...," In Hong memotong.

Bun Houw menunduk. Melihat wajah nona ini ketika itu, dia menduga bahwa di samping semua keanehannya, gadis ini mempunyai kekerasan hati yang luar biasa. Sebaliknya, melihat pemuda itu menunduk dan tidak berani bicara lagi, In Hong merasa kasihan dan sadar bahwa dia terlalu keras.

Betapa pun juga, tidak aneh kalau pemuda ini amat berterima kasih kepadanya dan ingin membicarakan tentang pertolongan itu. Akan tetapi justru dia tidak mau membicarakan urusan itu, karena pertolongannya itu memang terasa aneh olehnya sendiri, mengapa dia mau begitu bersusah payah untuk pemuda ini. Kejanggalan ini membuat dia merasa malu sendiri sehingga dia tidak ingin lagi membicarakannya. Akan tetapi, melihat pemuda itu bingung dan kecewa, dia lalu ingin membicarakan lain dari pada pertolongan itu sendiri.

"Kenapa engkau begitu nekat, menentang lima orang yang mempunyai kepandaian tinggi itu sehingga engkau ditawan dan disiksa?" tiba-tiba In Hong bertanya.

Bun Houw memandang dan hatinya merasa gembira lagi. Kiranya dara ini bukan marah atau bersikap dingin, hanya agaknya tidak mau menyinggung mengenai pertolongan itu, Betapa rendah hati, tidak ingin menonjolkan jasa, pikirnya.

Dia belum mengenal dara ini, sungguh pun dia sudah percaya sepenuhnya, namun tidak baik kalau dia memperkenalkan diri dan menceritakan urusan pribadinya. Maka dia lalu menarik napas panjang dan menjawab, "Yang menjadi gara-gara adalah lenyapnya tiga orang murid Bu-tong-pai yang kau tolong itu. Ketika mereka ditawan dan hendak dibunuh, Liok-twako mencegah dan memperingatkan mereka supaya tidak menanam permusuhan dengan Bu-tong-pai..."
"Siapa itu Liok-twako?"

"Dia adalah Kiam-mo Liok Sun, dia... ehh, majikanku..."

"Yang datang bersamamu? Aku hanya mendengar bahwa engkau orang she Bun adalah pengawal pribadinya."

"Karena mencegah itulah, setelah tiga orang murid Bu-tong-pai melarikan diri, Liok-twako dicurigai dan akhirnya dibunuh. Sebagai... ehh, pengawalnya, tentu aku melawan dan aku lalu ditawan dan disiksa."

"Orang she Liok itu dibunuh, akan tetapi mengapa engkau ditawan dan disiksa pula? Apa yang mereka kehendaki?"

"Mereka memaksa aku mengaku siapa yang membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai dan apa maksud kedatangan Liok-twako di Lembah Bunga Merah."

"Ataukah karena perempuan-perempuan hina itu hendak memaksamu melayani semua bujuk rayu mereka?"

Bun Houw memandang dengah mata terbelalak, "Kau... kau tahu pula akan hal itu?"

"Aku tahu penolakanmu terhadap murid-murid Ciok Lee Kim yang tak tahu malu itu, juga terhadap nenek cabul itu sendiri, dan mungkin karena itulah aku membebaskanmu dari tahanan."

"Dua orang wanita murid Ciok Lee Kim itu telah tewas di tanganku, sayang bahwa aku tak sempat membunuh gurunya. Akan tetapi, aku akan mencari mereka! Aku akan mencari Ciok Lee Kim serta teman-temannya, terutama sekali dia sendiri dan Bu Sit, dua orang yang menyiksaku. Kalau bertemu, mereka harus tewas di tanganku!"

Bun Houw teringat akan penyiksaan itu dan timbul kemarahannya, otomatis tangannya meraba pinggang dan tampaklah sinar kilat berkelebat ketika dia tahu-tahu telah melolos pedangnya, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Pedang ini dia dapatkan dari gurunya, sebatang pedang pusaka yang terbuat dari baja murni, tipis sekali sehingga dapat digulung dan dibuat menjadi sabuk pinggang, maka senjata ini tidak ketahuan dan tidak terampas oleh musuh-musuhnya.

"Aihhh, pedang yang bagus!" In Hong berseru memuji. "Boleh aku melihatnya?"

Bun Houw menyerahkan pedangnya. In Hong menerima kemudian menggerak-gerakkan pedang sampai berbunyi berdesing dan berubah menjadi kilat. Dia kembali memuji, lalu menimang-nimang pedang dan memeriksanya. Pada waktu melihat ukiran gambar burung hong di dekat gagang pedang, dia memuji lagi.

"Sama benar dengan ini...!" Dia meloloskan hiasan rambutnya yang berupa burung hong kumala, lalu membandingkan burung hong kumala itu dengan lukisan burung hong pada pedang Hong-cu-kiam.

"Apanya yang sama, nona?" Bun Houw tentu saja merasa bingung dan tidak mengerti. Bagaimana sebatang pedang dipersamakan dengan sebuah hiasan rambut wanita?

"Burung hong-nya yang sama. Indah bukan main pedangmu ini...!" In Hong menggerakkan pedang itu dan Bun Houw menjadi kagum.

Memang sungguh tepat dugaannya. Dara ini bukan sembarang ahli silat. Dari cara dia menggerakkan pedang saja sudah dapat dikenal sebagai seorang ahli pedang yang lihai.

"Sing-sing-wirrrrr... crakk!"

Sebatang pohon sebesar paha manusia yang berdiri dalam jarak jauh langsung roboh hanya tersambar hawa pedang yang digerakkan dengan sinkang yang amat kuat.

"Bukan main...! Engkau lihai sekali, nona...!" Bun Houw memuji karena dia maklum bahwa hanya seorang yang memiliki sinkang amat kuat saja mampu merobohkan pohon hanya dengan sinar pedang.

In Hong menimang-nimang pedang itu, juga meraba-raba mata pedang yang amat tajam. "Hemmm... pedang ini yang lihai..."

Saking kagumnya dan senang hatinya, lantas terloncat saja ucapan dari mulut Bun Houw. "Kalau nona suka, biarlah pedang Hong-cu-kiam ini kupersembahkan kepadamu, nona."

In Hong terkejut dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. "Apa?"

"Nona telah..." Dia teringat dan tidak mau mengulangi tentang pertolongan itu, maka dia melanjutkan, "...kita telah menjadi kenalan, bukan? Karena itu, dengan hormat aku ingin menyerahkan pedang Hong-cu-kiam itu padamu. Pedang itu ringan dan lemas, memang lebih tepat dipergunakan oleh wanita, pula dapat dipakai sebagai ikat pinggang..."

Wajah In Hong berseri dan tangannya masih membelai pedang itu dengan rasa sayang, akan tetapi pandangan matanya kepada Bun Houw masih ragu-ragu dan penuh selidik. Melihat wajah pemuda itu yang terbuka dan polos, dengan pandang mata yang tajam dan membayangkan kejujuran, dia lalu berkata, "Apakah dengan tulus ikhlas...?"

"Tentu saja nona, dengan sepenuh hatiku yang tulus ikhlas."

"Terima kasih...!" In Hong kelihatan girang sekali.

Dia lalu memakai pedang Hong-cu-kiam itu sebagai ikat pinggangnya, kemudian ditutupi jubahnya sehingga tidak nampak dari luar. Dia lalu meraba-raba pedangnya, akan tetapi tidak jadi diambil dan dia pun berkata,

"Pedangku ini hanya pedang biasa, sama sekali tak pantas untuk ditukar dengan pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam, akan tetapi ini... Giok-hong-cu (burung hong kumala) ini tak pernah terpisah dari aku semenjak aku kecil sehingga bagiku merupakan benda pusaka. Biarlah kuberikan ini kepadamu, Bun-twako (kakak Bun)." Dia menyerahkan burung hong kumala itu kepada Bun Houw.

Bun Houw terkejut dan seketika mukanya menjadi merah sekali, jantungnya berdebar. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang amat aneh dalam tukar-menukar benda pusaka ini! Akan tetapi karena maklum akan keanehan watak wanita ini yang agaknya pasti akan merasa tersinggung dan terhina apa bila dia menolaknya, dia segera menerimanya dan memandangi perhiasan rambut itu dengan kagum.

"Sebuah perhiasan yang indah sekali... terima kasih, nona. Sekarang kita benar-benar sudah menjadi sahabat, bukan?" Bun Houw bertanya sambil menatap wajah yang cantik jelita dan gagah itu.

In Hong balas memandang, tersenyum dan mengangguk. Sejak pertama kali melihat Bun Houw marah-marah serta menolak bujuk rayu kedua orang murid wanita yang genit itu, hatinya sudah kagum dan tertarik sekali. Kini, setelah pemuda itu siuman dari pingsannya dan sembuh, dia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini benar-benar tidak sama seperti kaum lelaki seperti yang disangkanya semula, yaitu seperti yang sering kali dibicarakan oleh gurunya dan para anggota Giok-hong-pang, yaitu mata keranjang, cabul, pengganggu wanita dan pengrusak kehidupan wanita. Pemuda ini tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar, mata keranjang dan sama sekali tidak pernah mengganggunya.

"Setelah kita menjadi sahabat, apakah engkau masih juga tidak percaya kepadaku dan tidak mau memperkenalkan namamu kepadaku?"

In Hong meraba pedang Hong-cu-kiam di pinggangnya lalu memandang perhiasan burung hong kumala di tangan pemuda itu, kemudian berkata "Pedang Hong-cu-kiam kau berikan kepadaku dan perhiasan Giok-hong-cu sudah kuberikan kepadamu, keduanya merupakan lambang burung hong. Karena itu, biarlah aku mengenalmu sebagai Bun-twako dan kau mengenalku sebagai Hong."

"Hong saja? Apakah namamu Hong?"

In Hong mengangguk.

Bun Houw tidak berani mendesak lagi. "Baiklah, Hong-moi (adik Hong), memang apakah artinya nama? Persahabatan adalah antara pribadi, bukan antara nama! Tentu tidak perlu pula aku menceritakan riwayatku atau mendengar riwayatmu, bukan?"

In Hong mengangguk dan Bun Houw menarik napas panjang. Dia mulai tertarik sekali akan pribadi nona ini yang sangat aneh, seakan-akan hendak merahasiakan dirinya dan seolah-olah tidak suka berurusan dengan orang-orang lain. Bagaimana pun juga, di balik sikap dingin dan tidak pedulian itu, dia tahu bahwa pada dasarnya dara ini mempunyai kegagahan luar biasa dan memiliki jiwa pendekar penentang kejahatan, juga mempunyai sifat-sifat yang budiman dan mulia.

"Kalau begitu, agaknya engkau tidak keberatan untuk mengatakan ke mana tujuanmu sekarang? Kau hendak pergi ke mana, Hong-moi?"

In Hong termenung. Pertanyaan itu dengan tepat mengenai hatinya sehingga dia menjadi bingung. Hendak ke manakah dia pergi? Apakah tujuan hidupnya? Tidak ada! Tidak ada ketentuan!

"Aku seperti seekor burung di udara," katanya sambil memandang seekor burung dada kuning yang beterbangan dari dahan ke dahan, mencari-cari ulat di antara daun-daun hijau. "Entah ke mana aku hendak pergi, aku sendiri pun tidak tahu, Bun-ko."

Bun Houw termenung juga, heran mendengar jawaban yang sangat aneh ini. "Apakah engkau tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Hong-moi?"

Dara itu menggelengkan kepala.

"Tidak mempunyai keluarga?"

Kembali gelengan kepala.

"Tidak mempunyai orang tua?"

In Hong menggeleng lagi, pandang matanya masih mengikuti burung dada kuning yang telah mendapatkan seekor ulat gemuk yang kini dipatuknya dan dibanting-bantingnya ke atas ranting pohon.

"Ahhhh...!" Bun Houw berseru penuh perasaan haru.

"Kenapa?" In Hong menoleh dan memandangnya, memandang tajam.

"Kasihan kau, Hong-moi."

"Mengapa kasihan? Kasihankah engkau kepada burung itu?" In Hong membuang muka. "Sudahlah, aku tidak mempunyai tujuan tertentu, akan tetapi engkau sendiri hendak ke manakah, Bun-ko?"

"Yang jelas, aku akan pergi ke Lembah Bunga Merah!"

"Hemm... kau hendak membalas dendam kepada mereka? Berbahaya sekali, Bun-koko, mereka itu lihai."

"Aku tidak peduli, aku harus membalas penghinaan dan penyiksaan mereka itu, terutama kepada dua Bayangan Dewa itu."

"Dua Bayangan Dewa? Kau tahu itu?"

"Aku mendengar dari Liok-twako bahwa Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit adalah dua orang di antara Lima Bayangan Dewa yang tersohor itu."

"Hemm... aku pun akan ke sana, twako."

"Apa? Apakah hubunganmu dengan mereka?"

"Aku pun ingin mencari Lima Bayangan Dewa."

Bun Houw terkejut sekali. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku pernah mendengar bahwa mereka sudah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai."

"Hemmm... aku pun mendengar itu. Lalu bagaimana kalau begitu?"

"Aku ingin merampas pedang itu, aku mendengar bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka yang amat hebat dan dahulu pernah diperebutkan oleh para datuk dunia persilatan. Aku ingin merampasnya..."

"Untuk apa, moi-moi?"

"Untuk apa? Mungkin kelak kukembalikan kepada ketua Cin-ling-pai." In Hong kemudian teringat akan kunjungannya ke Cin-ling-pai. "Aku... sekali waktu aku pasti akan pergi ke Cin-ling-san dan aku akan mengembalikan pedang itu kepada Cin-ling-pai kalau ternyata aku berhasil merampasnya."

"Engkau aneh sekali, Hong-moi. Tanpa alasan engkau hendak merampas pedang itu dari tangan Lima Bayangan Dewa. Apakah itu tidak amat berbahaya?"

"Justru karena berbahaya aku menempuhnya. Lima Bayangan Dewa itu, apa bila melihat yang dua ini, pastilah orang-orang jahat. Kalau aku tidak merampas kembali pedang itu, mereka akan menjadi sombong, mengira bahwa tidak ada orang berani terhadap mereka setelah mereka menggegerkan dunia kang-ouw dengan serbuan mereka ke Cin-ling-pai."

"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi ke Lembah Bunga Merah, Hong-moi."

In Hong mengangguk, maka berangkatlah pasangan muda-mudi ini meninggalkan kuil itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba In Hong berhenti.

"Bun-ko, bagaimana dengan kedua pundakmu?"

Bun Houw menggerakkan kedua tangannya, mengayun-ayunkan kedua lengannya. Tidak terasa nyeri lagi.

"Sudah sembuh sama sekali, Hong-moi," katanya.

"Akan tetapi masih berbahaya kalau bertemu dengan lawan tangguh, dan mereka itu amat lihai. Karena itu, kalau tiba di sana, biarkan aku yang turun tangan, kau boleh lihat saja, twako."

Bun Houw tersenyum dan mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan In Hong menggunakan ilmunya berlari cepat. Bun Houw tak ingin menonjolkan diri sehingga menimbulkan kecurigaan kepada dara itu. Bukankah dia hanya dikenal sebagai seorang pengawal pribadi Liok Sun yang tentunya hanya mempunyai kepandaian silat biasa saja? Karena itu dia pura-pura mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan dara itu, akan tetapi dengan terengah-engah dia tertinggal jauh.

"Aihhh... Hong-moi, harap jangan berlari terlalu cepat...!"

In Hong yang memang hanya ingin mengukur kepandaian pemuda itu lalu memperlambat larinya dan diam-diam dia tahu bahwa pemuda yang bernyali besar ini sama dengan mengantar kematian bila ingin mencari lima orang di Lembah Bunga Merah yang berilmu tinggi itu.

Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk melindungi pemuda ini, yang di samping tenaganya belum pulih serta pundaknya baru saja sembuh, juga tingkat kepandaiannya masih terlampau rendah untuk menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Lima Bayangan Dewa dan sekutu-sekutunya.

"Pedangku ini biar pun bukan pedang pusaka, akan tetapi terbuat dari baja yang cukup baik. Kau bawalah pedangku ini untuk menjaga diri, Bun-ko!" In Hong berkata kemudian menyerahkan pedangnya. "Aku sendiri sudah mempunyai Hong-cu-kiam."

Bun Houw tidak mau membantah sungguh pun sebetulnya untuk menghadapi lawan yang betapa tangguh pun, dia tidak begitu membutuhkan senjata. Kalau tempo hari dia sampai bisa dirobohkan dan ditawan, hal itu adalah akibat kenekatan Ai-kiauw. Dia mengucapkan terima kasih dan menggantungkan pedang itu dipinggangnya...
Selanjutnya,