X6P58KpuBfdX9YvoDfejjA12jdjgThuq3ef2E1Tb
Sonny Ogawa
Kumpulan Cerita Silat Online Indonesia dan Mandarin

Petualang Asmara Jilid 29

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Episode Petualang Asmara Jilid 29 Karya Kho Ping Hoo
Petualang Asmara Jilid 29
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
TIBA-TIBA saja terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali dari luar istana, suara yang menggetar dan menggema di seluruh puncak. "Apakah di sini tempat tinggalnya Go-bi Sin-kouw? Aku minta agar Sin-kouw suka keluar dan kita bicara tentang Pek Hong Ing..."

Semua orang terkejut. Orang yang bicara itu telah berada di depan istana! Mana mungkin ada orang datang tanpa diketahui oleh para penjaga? Akan tetapi yang paling terkejut adalah Hong Ing. Terkejut dan juga girang mendengar suara itu, suara Kun Liong!

"Kun Liong...!" Dia berseru dan meloncat hendak keluar. Akan tetapi, Acui dan Amoi telah menghadangnya dan dua orang pelayan yang lihai itu sudah menggerakkan tangan untuk menangkapnya.

Hong Ing sudah siap, ketika hendak meloncat tadi, dan karena maklum akan kelihaian dua orang itu, maka dia sudah mendahului, mengirim tendangan kilat sekaligus menotok. Tendangan mengarah pusar Amoi sedangkan totokannya ditujukan ke arah pundak Acui. Gerakannya sungguh tidak terduga dan cepat sekali, maka Amoi hanya dapat miringkan tubuh dan pahanya masih kena tendangan, ada pun jari tangan Hong Ing dapat menotok tepat di pundak Acui.

"Buukkk! Cuussss!"

Tubuh Amoi yang terkena tendangan itu hanya terhuyung sedikit, sedangkan Acui juga hanya melangkah mundur dan sama sekali tak terpengaruh totokan yang hanya membuat tubuhnya tergetar. Tetapi detik ini sudah cukup bagi Hong Ing untuk meloncat dari tempat itu menuju keluar.

"Wuuuiiiit... brusss!"

Tubuh Hong Ing tergelimpang kena disambar oleh angin pukulan dahsyat dari samping yang dilancarkan oleh tangan Kim Seng Siocia! Hong Ing terkejut sekali, akan tetapi pada saat itu, Acui dan Amoi sudah menubruk dan menangkapnya.

"Ikat dia!" Kim Seng Siocia membentak dan Amoi segera mengikat kedua tangan Hong Ing ke belakang, menggunakan tali yang ulet itu, tali yang dapat mulur seperti karet.

"Kun Liong...!" Hong Ing berseru nyaring, akan tetapi hanya satu kali itu karena lehernya sudah ditotok oleh jari tangan Acui yang lihai sehingga dia menjadi gagu!

"Hong Ing...! Di mana kau...?" Kun Liong berteriak girang ketika mendengar suara dara yang dikhawatirkannya itu.

Akan tetapi mendadak tampak berkelebatnya bayangan banyak orang dan tahu-tahu dia telah dikurung oleh puluhan orang gadis yang memegang bermacam-macam senjata! Kun Liong mencari akal, akan tetapi semua gadis itu tidak dikenalnya, bahkan Lauw Kim In yang diduganya tentu akan muncul malah tidak nampak juga. Melihat sikap mereka yang penuh ancaman, dan mereka makin mengurung rapat, Kun Liong berseru,

"Haiiii! Kalian ini mau apa? Aku hendak berjumpa dengan Go-bi Sin-kouw untuk bicara tentang muridnya! Mundurlah kalian!"

Akan tetapi, para gadis itu tidak mundur bahkan kini makin banyak yang datang dan ada pula yang membawa obor sehingga keadaan di situ menjadi terang sekali. Acui dan Amoi muncul pula, diikuti oleh Marcus.

"Di sini tak ada Go-bi Sin-kouw, yang ada hanya Siocia kami yang menantimu di dalam." kata Amoi sambil tersenyum manis. "Hwesio muda yang tampan, kau menyerahlah untuk kami hadapkan kepada Siocia!"

"Amoi, hati-hati! Dia bukan hwesio dan dia lihai sekali!" kata Marcus.

Ketika Kun Liong mengangkat muka memandang, dia mengenal Marcus dan dia tertawa. "Ahh, kiranya Tuan Marcus yang berdiri di balik ini semua. Dahulu engkau menggunakan tentara pemerintah, sekarang engkau mempergunakan tentara wanita. Sungguh kau licik sekali, Marcus. Lebih baik kalian lekas bebaskan nona Pek Hong Ing yang suaranya tadi telah kudengar, dan kami berdua akan pergi dari sini dengan aman karena memang tidak ada permusuhan di antara kita."

"Tangkap dia! Tetapi jangan membunuhnya!" Marcus berseru dan wanita-wanita itu yang maklum bahwa tentu perintah Marcus ini sudah disetujui oleh Siocia, lalu mulai menyerbu ke depan. Apa lagi yang disuruh tangkap adalah seorang pemuda tampan sungguh pun kepalanya gundul, maka mereka sudah menyarungkan senjata masing-masing, kemudian sambil terkekeh genit mereka menyerbu seperti berebut.

Melihat tangan yang berjari-jari halus runcing itu, lengan yang bulat dan padat demikian banyaknya hendak meraihnya, Kun Liong jadi bergidik. Betapa pun bagusnya tangan dan lengan itu, kalau terlalu banyak menimbulkan jijik dan ngeri juga! Dia cepat meloncat ke sana-sini untuk menghindar sambil berteriak-teriak,

"Aku tidak sudi berkelahi dengan kalian! Aku tidak sudi berkelahi dengan wanita!"

Namun tentu saja teriakan-teriakannya tidak dihiraukan, bahkan sekarang para wanita itu semakin penuh gairah mengejarnya ke mana pun juga. Ditubruk sana sini, dirangkul dan dicengkeram sampai akhirnya ada beberapa jari tangan yang berhasil mengait bajunya sehingga baju itu robek di sana-sini.

"Kalian menjemukan! Pergilah!" Kun Liong berseru dan mengisi kedua lengannya dengan tenaga sinkang kemudian mendorong ke kanan kiri, dan... robohlah enam orang wanita, terpelanting seperti dilanda angin badai yang kuat. Mereka menjerit kaget dan kini Acui dan Amoi yang baru percaya akan ucapan Marcus tadi bahwa pemuda gundul ini lihai.

"Aihh, kiranya kau mempunyai juga sedikit kepandaian!" kata Acui dan dara ini meloncat maju, tubuhnya melambung tinggi lantas dari atas tubuhnya menukik ke bawah, kedua tangan dibentuk seperti cakar setan, yang kiri mencengkeram ubun-ubun kepala gundul itu, yang kanan menotok jalan darah di pundak.

"Hemmm, ganas kau!" Kun Liong mencela dan segera dia memutar lengannya ke atas sambil mengerahkan tenaga.

"Bruuukkk...!"

Tubuh Acui terlempar dan hanya berkat keringanan tubuhnya yang lihai saja membuat Acui tidak sampai terbanting. Tentu saja dara ini terkejut bukan main, lalu dia menerjang lagi dibantu oleh Amoi. Melihat dua orang ini maju, maka para anak buah mereka hanya mengurung dengan ketat sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa karena mereka semua kagum dan suka kepada pemuda gundul yang lihai ini.

Kun Liong menjadi bingung dan gemas juga. Sebenarnya dia tidak senang kalau harus menggunakan kekerasan, apa lagi jika disuruh berkelahi dengan wanita-wanita muda itu! Akan tetapi, melihat betapa pukulan serta cengkeraman kedua orang gadis itu bukanlah serangan yang boleh dipandang ringan dan benar-benar berbahaya sekali, maka terpaksa dia mengelak dan kadang-kadang menangkis, bahkan di waktu menangkis, dia gunakan tenaga sinkang sehingga dua orang gadis itu berkali-kali terdorong mundur dan menjerit kesakitan ketika beradu lengan.

Mereka makin kagum dan juga terkejut. Acui memberi isyarat dan keduanya mencelat ke belakang, Amoi di belakang dan Acui di depan pemuda itu. Keduanya telah mengeluarkan tali hitam yang ulet dan panjang, dan di ujung tali-tali itu terdapat lingkaran lasso. Begitu kedua gadis itu menggerakkan tangan, terdengar bunyi bercuitan dan dua batang lasso itu meluncur seperti ular hidup menuju ke arah kepala Kun Liong!

Kun Liong maklum bahwa dia hendak ditangkap dengan lasso, maka kedua tangannya siap. Ketika merasa betapa angin telah meniup kepalanya, tanda bahwa dua tali itu sudah menyambar turun, secepat kilat kedua tangannya menangkap lasso dan dengan gerakan tiba-tiba dia menarik sambil mengerahkan tenaga.

"Aiihhhh...!" Acui dan Amoi menjerit berbareng karena tubuh mereka sudah terbawa oleh tali yang mereka pegang erat-erat, terbawa oleh tarikan Kun Liong hingga tubuh mereka melayang ke atas dan saling bertubrukan di atas.

Baiknya keduanya lihai sekali. Sambil melepaskan tali, mereka saling berpegang tangan, kemudian dengan meminjam tenaga masing-masing, keduanya sudah melayang turun ke depan Kun Liong. Wajah mereka agak pucat.

Kun Liong tersenyum tenang menghadapi mereka, lalu berkata. "Nona-nona harap sabar. Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan untuk minta kepada siapa pun yang sudah menahan Nona Pek Hong Ing agar supaya membebaskannya."

"Pergunakan senjata!" Acui yang merasa marah dan penasaran membentak.

"Sing-sing-sing! Wuuuttt!"

Di antara sinar obor, tampak kilatan banyak senjata yang tercabut.

"Jangan...! Jangan bunuh dia... tangkap saja...!" Marcus berseru, tapi agaknya seruannya tidak dihiraukan oleh Acui, Amoi, dan anak buah mereka.

Selagi para pengurung itu bergerak dengan senjata di tangan dan mengelilingi Kun Liong yang makin bingung dan siap untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba saja pintu depan istana terbuka dan terdengar seruan halus, "Tahan dan mundur semua!"

Suara ini berpengaruh sekali karena semua wanita itu serentak mundur dan membiarkan Kun Liong menghadapi orang yang baru datang, seorang wanita gemuk yang bermuka ramah dan tersenyum.

Melihat wajah orang, Kun Liong menjadi lega dan cepat dia menjura. "Aku Yap Kun Liong mohon agar dapat bertemu dengan Nona Pek Hong Ing..."

Akan tetapi wanita gemuk itu, yang bukan lain adalah Kim Seng Siocia, tidak menjawab, melainkan tetap tersenyum-senyum, matanya bersinar-sinar dan pandang matanya tajam menjelajahi seluruh tubuh Kun Liong, dari sepatunya yang berdebu sampai kepalanya yang gundul kelimis dan berkeringat. Dipandang seperti itu, Kun Liong merasa malu dan hanya menunduk, akan tetapi matanya diangkat untuk melihat serta mengawasi setiap gerak-gerik orang ini.

"Engkau bukan hwesio?" tiba-tiba Kim Seng Siocia bertanya.

Pertanyaan macam ini sudah terbiasa oleh Kun Liong, maka dia tidak banyak rewel dan menggelengkan kepalanya yang gundul mengkilap terkena sinar obor yang banyak itu.

"Mengapa kepalamu gundul?" kembali Kim Seng Siocia bertanya.

"Terkena penyakit!" jawab Kun Liong tak acuh dan jelas dia mulai kelihatan mendongkol karena kembali kepalanya yang dijadikan persoalan dan bahan percakapan pada saat yang genting itu.

Kim Seng Siocia agaknya merasa pula bahwa pemuda itu marah, maka dia memperlebar senyumnya. "Aku suka kepala gundul, bersih dan lain dari pada yang lain!"

Biar pun ucapan ini dikeluarkan dengan kesungguhan hati, namun tetap saja menambah kemengkalan hati Kun Liong. Apakah tidak ada lain ‘acara’ lagi selain berbicara tentang kepalanya?

"Toanio siapakah?" dia bertanya untuk mengalihkan percakapan.

"Hishhh, jangan menyebutku Toanio (Nyonya Besar). Aku masih perawan..., ehhh…, aku belum menikah, aku masih Siocia (Nona), hi-hik!"

Kun Liong mengkirik. Bulu tengkuknya meremang karena dia melihat sesuatu yang tidak wajar dan aneh dalam sikap dan kata-kata ‘nona’ gemuk itu.

"Baiklah. Siapakah Siocia?"

"Aku? Aku disebut Kim Seng Siocia, dan kalau aku sudah kawin kelak, tentu saja sebutan nona harus diganti dengan nyonya besar."

"Sekali lagi aku berharap agar Siocia tidak salah menduga tentang kedatanganku ke sini, sama sekali bukan untuk berkelahi apa lagi mencari musuh. Aku datang untuk bertemu dengan Nona Pek Hohg Ing."

"Tidak ada Nona Pek Hong Ing di sini, yang ada hanya Pek Nikouw."

Berseri wajah Kun Liong. Kalau begitu tidak salah lagi. Hong Ing berada di sini!

"Benar, dialah yang kumaksudkan!" jawabnya penuh gairah dan penuh harapan.

Akan tetapi dia terkejut melihat betapa wajah gemuk yang tadinya berseri dan ramah itu kini cemberut, sepasang mata yang lebar itu melotot dan suaranya nyaring mengandung kemarahan, "Apamukah dia itu?"

"Bukan apa-apa, hanya sahabat biasa..."

"Apa dia kekasihmu?"

Kun Liong terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba yang seperti serangan mendadak ini, "Tidak... tidak, dia seorang nikouw, tidakkah Siocia sudah tahu?"

"Hemm, dia nikouw atau tidak, apa bedanya? Dia tetap wanita dan kau laki-laki!"

Alis Kun Liong berkerut tak senang. Nona gendut ini sama saja dengan Lauw Kim In, suci dari Hong Ing, pikirannya kotor penuh prasangka buruk!

"Sekali lagi aku menyatakan bahwa Nona Pek Hong Ing atau Pek Nikouw adalah sahabat baikku dan aku ingin bertemu dengannya. Terserah prasangka Siocia, yang penting aku minta bertemu dengan dia."

Kun Liong lalu memandang ke arah dalam istana kemudian berteriak nyaring. "Hong Ing, keluarlah kau menemuiku! Aku Yap Kun Liong, sengaja datang mencarimu!"

Akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam dan Kim Seng Siocia tertawa. "Dia tidak akan menjawab sebelum aku menghendakinya. Ehh, Kun Liong, apakah kau tidak mempunyai kekasih atau tunangan?"

Kun Liong sangat terkejut dan memandang dengan bengong, mukanya berubah merah. Pertanyaan apakah ini? Akan tetapi melihat betapa pertanyaan itu diajukan dengan sikap sungguh-sungguh, dia menjawab juga,

"Tidak!" sambil menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Jadi engkau belum kawin?"

Kun Liong makin bingung. Mengapa Siocia gendut ini demikian ugal-ugalan? Kembali dia menggelengkan kepala dan berkata, "Belum!"

Setelah itu, dia melangkah maju kemudian berkata, "Kim Seng Siocia, kalau kau tidak memperbolehkan Nona Pek Hong Ing keluar menemuiku, biarlah aku mencari sendiri ke dalam!" Dia lalu meloncat ke depan.

"Bresss! Dukkk!"

Tubuh Kun Liong terguling karena kakinya dijegal (dikait) oleh kaki Kim Seng Siocia dan nona itu tertawa bergelak. "Hi-hik, heh-heh-heh, tidak boleh. Kau harus melayaniku lebih dahulu, hendak kuuji sampai di mana tingkat kepandaianmu. Melihat kau dikeroyok tadi, agaknya engkau mempunyai kepandaian yang lumayan. Siapa tahu engkaulah orangnya yang kutunggu-tunggu dan kini datang atas kekuatan doa Pek Nikouw. Hi-hik! Sambutlah ini!" Kim Seng Siocia sudah menyerang Kun Liong dengan dahsyat sekali!

Kun Liong tadi terguling karena dia sama sekali tidak mengira bahwa nona gendut itu mau menjegalnya. Maka dengan penasaran dia sudah meloncat bangun dan kini menghadapi serangan nona itu, dia benar-benar merasa kaget sekali. Nona gendut itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, dan dari kedua lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin pukulan yang amat kuat!

"Plak-plak-plak!" Tiga kali Kun Liong menangkis dan terpaksa dia mengerahkan tenaga sinkang-nya agar tidak terluka oleh hawa pukulan yang dahsyat itu.

"Aihhh... hik-hik-hik, benar saja, kau hebat!" Kim Sim Siocia tertawa ketika tangkisan itu berhasil menggempur kuda-kudanya dan membuat tubuhnya condong ke belakang, tanda bahwa dia masih tidak mampu menandingi kekuatan sinkang pemuda itu!

Akan tetapi dia menyerang terus, sekarang menggunakan ujung kedua lengan bajunya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah di seluruh tubuh Kun Liong dan gerakannya cepat bukan main, ilmu silatnya aneh, kadang-kadang malah kelihatan lamban dan lambat sekali seperti seekor gajah mencoba untuk mencari-nari!

Namun Kun Liong terkejut bukan main. Di luar persangkaannya, nona gemuk ini adalah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa dan memiliki tenaga sinkang sangat kuat, serta gerakannya terlalu cepat dibandingkan dengan tubuhnya yang begitu gendut. Tentu saja Hong Ing bukanlah lawan wanita ini dan dia mulai khawatir karena mengira bahwa tentu Hong Ing menjadi seorang tawanan di tempat ini.

Lagi pula dia kini mulai mengerti bahwa dia telah tersesat, bukan berada di tempat tinggal Go-bi Sin-kouw melainkan di tempat tinggal golongan lain yang dipimpin oleh nona gendut yang lihai ini, sungguh pun kesalahannya ini malah kebetulan karena ternyata Hong Ing juga berada di tempat asing ini!

Dia tentu saja tidak ada niat untuk memukul atau melukai wanita gemuk ini, karena sama sekali tidak ada urusan dan juga tidak ada permusuhan dengannya. Akan tetapi karena serangan-serangan wanita itu benar-benar luar biasa sekali dan amat berbahaya, maka dia terpaksa harus melindungi dirinya. Karena itu dia lalu mainkan Im-yang Sin-kun dan menggunakan pukulan Pek-in-ciang untuk menghadapi serangan dahsyat lawannya.

Melihat cara bersilat pemuda ini dan merasakan betapa lengannya beberapa kali tergetar hebat apa bila bertemu dengan lengan lawan, Kim Seng Siocia berkali-kali mengeluarkan seruan kaget, heran, dan juga gembira sekali!

"Kau hebat... ahh, kau hebat...!" Dia berseru memuji dengan pandang mata penuh kagum dan girang.

Agaknya nona gendut itu masih belum puas dan dia mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan semua ilmu silatnya yang aneh-aneh. Hampir saja Kun Liong kena diakali seperti Hong Ing melawan Amoi dan roboh oleh ilmu silat Amoi yang aneh.

Apa lagi Kim Seng Siocia yang menjadi ‘guru’ Amoi, bukan main aneh dan hebatnya ilmu silatnya. Ada kalanya Kim Seng Siocia mencekik leher sendiri sampai matanya mendelik dan lidahnya keluar, hal ini dilakukan di tengah pertandingan itu.

Tentu saja Kun Liong sangat terkejut dan cepat menubruk maju untuk mencegah nona yang kelihatannya seperti hendak membunuh diri itu! Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba kedua tangan nona itu bergerak menotoknya, menotok dua jalan darahnya yang dapat membuat dia lumpuh!

Namun, dengan hawa sakti yang timbul karena ilmunya Thi-khi I-beng, totokan-totokan yang tepat mengenai jalan darah itu ‘hanyut’ dan tidak membekas sehingga Kim Seng Siocia terkejut sekali.

"Hong Ing...!" Kun Liong memanggil lagi sambil meninggalkan lawan meloncat ke dalam.

"Aduh mati aku...!" Tiba-tiba nona gendut itu berteriak dan terguling!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kun Liong melihat tubuh gendut itu terguling dan dari mulut nona itu menyembur darah segar. Dia tidak merasa memukul, akan tetapi jelas nona itu muntah darah.

"Eihh, kenapa kau, Siocia?" Hatinya yang penuh kelembutan itu merasa tidak tega dan dia meloncat kembali menghampiri Kim Seng Siocia.

Tiba-tiba terdengar nona itu terkekeh dan tubuhnya sudah meloncat dengan sigapnya, mendahului Kun Liong memasuki istananya!

"Ihhh... penipu!" Kun Liong berseru marah dan mengejar dengan khawatir. Tahulah dia bahwa nona gendut itu tadi sengaja menipunya dan entah bagaimana dapat muntahkan darah seperti itu, untuk mencegahnya memasuki istana lebih dulu.

Kekhawatirannya terbukti ketika dia memasuki ruangan yang besar itu. Hong Ing dalam keadaan terikat kedua lengannya ke belakang, berdiri di dekat kursi besar sedangkan Kim Seng Siocia memegangi tali panjang sisa pengikatnya dan memegang tengkuk Hong Ing sambil tersenyum manis memandang Kun Liong yang melangkah masuk.

"Kun Liong...!" Hong Ing berkata lemah sesudah melihat pemuda itu. Totokan yang tadi membuatnya gagu telah dibebaskan akan tetapi dia hanya mampu mengeluarkan suara lemah setelah sekian lamanya gagu.

"Hong Ing...!" Kun Liong berseru penuh kemarahan. Namun hatinya menjadi lega melihat bahwa Hong Ing masih hidup. Dia berpaling kepada Kim Seng Siocia, dan berkata,

"Kim Seng Siocia, kenapa engkau menawan Pek Hong Ing? Apakah kesalahannya maka engkau menawannya?"

"HI-hik, kesalahannya banyak, tapi tidak perlu dibicarakan. Yang penting sekarang adalah membicarakan urusan antara kita! Sahabatmu, Pek Nikouw ini sudah berdoa supaya aku bisa lekas dapat jodoh dan ternyata doanya terkabul hari ini! Engkau datang dan engkau memenuhi semua syarat untuk menjadi suamiku."

Kun Liong melongo, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. "A... apa...?"

"Hi-hik! Aku hanya mau menjadi isteri seorang pemuda tampan dan gagah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan kau ganteng, biar kepalamu gundul tapi kau tampan dan aku suka padamu, aku cinta padamu. Kau adalah calon suamiku!"

"Tidak!" Kun Liong berseru marah, mukanya menjadi merah sekali. "Aku tak akan menjadi suami siapa pun juga! Lebih baik kau lepaskan Hong Ing!" katanya pula mengancam.

"Eiiit-eiiittt... jangan bergerak! Kalau kau bergerak, lebih dahulu aku akan membunuh Pek Nikouw!" Jari-jari tangan wanita itu mengancam tengkuk Hong Ing maka lemaslah tubuh Kun Liong karena dia maklum bahwa sekali jari tangan itu bergerak, tentu akan tewaslah Hong Ing!

"Kim Seng Siocia, apakah kehendakmu?"

"Engkau harus menyerah dan menjadi suamiku. Kalau kau menyerah, barulah aku akan membebaskan Pek Nikouw. Betapa pun juga, jika kau menjadi suamiku, berarti dia telah berjasa. Aku tidak akan mengganggunya, hi-hik. Tetapi kalau kau melawan, dia akan mati lebih dulu!"

Kun Liong memutar otaknya. Betapa pun cepat dia bergerak, tidak mungkin dia mampu mendahului tangan yang sudah menempel di tengkuk Hong Ing itu, maka dia sama sekali tidak berdaya.

"Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi kau berjanjilah dulu tidak akan mengganggu dia dan akan membebaskannya."

"Tentu saja, aku berjanji. Acui dan Amoi, ikat dia dulu!"

Sambil tersenyum-senyum dua orang pelayan yang cantik dan lihai itu lalu menghampiri Kun Liong dan mengikat kedua lengan Kun Liong ke belakang tubuhnya.

"Kun Liong! Jangan mau tertipu...!" Tiba-tiba Hong Ing berteriak.

Akan tetapi karena Kun Liong sudah dibelenggu, pemuda itu tidak dapat berbuat sesuatu, apa lagi karena dia memang tidak berani bergerak, takut kalau-kalau Hong Ing dibunuh oleh Kim Seng Siocia yang aneh itu.

"Hi-hi-hik, nikouw lancang. Siapa yang mau menipunya? Aku bahkan mau mengambilnya sebagai suami, dan engkau adalah pendetanya yang akan memberkati dan berdoa untuk kami suami isteri, sepasang pengantin baru. Hi-hi-hik!" Kim Seng Siocia tertawa-tawa dan sudah tidak ‘menodong’ Hong Ing lagi karena melihat bahwa Kun Liong telah terbelenggu erat-erat.

"Kun Liong...!" Hong Ing yang merasa tidak diancam lagi, melihat Kun Liong dibelenggu, lalu berlari menghampiri pemuda itu. "Kun Liong, selagi masih ada kesempatan, larilah. Jangan kau hiraukan aku. Kau terjebak, di sini ada Marcus..."

Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Marcus muncul dari pintu samping. Kim Seng Siocia sudah mencelat dari tempat duduknya, dengan cepatnya dia menggunakan sisa tali pengikat Hong Ing yang masih panjang untuk dilibat-libatkan di tubuh Kun Liong dan Hong Ing hingga kedua orang ini sekarang diikat menjadi satu, saling membelakangi. Keadaan ini membuat mereka tak dapat berkutik lagi!

Kun Liong terkejut pada saat melihat Marcus, akan tetapi dia bersikap tenang saja karena betapa pun juga dia kini harus mengalah untuk menyelamatkan Hong Ing yang tadi sudah terancam. Sekarang, dia berusaha melepaskan diri dari belenggu secara diam-diam, akan tetapi terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa tali yang mengikat mereka itu tak mungkin dapat dipatahkan karena mulur dan ulet seperti karet. Maka dia tenang kembali dan ingin melihat perkembangan keadaan sambil menanti terbukanya kesempatan untuk menolong Hong Ing.

Maka dia lalu berkata lirih dan jari tangannya menyentuh serta memberi isyarat kepada lengan dara itu yang menempel pada lengannya sendiri. "Tenanglah, Hong Ing. Aku yakin bahwa Kim Seng Siocia tidak berniat buruk terhadap kita berdua."

"Tentu saja tidak, Kun Liong. Aku akan mengangkatmu menjadi suamiku, apakah itu niat buruk?" Nona gendut itu berteriak.

"Bagus sekali! Aku mengucapkan selamat, Siocia. Memang dia pantas menjadi suamimu, tampan, gagah dan... berharga sekali! Dan Pek Nikouw itu hanya seorang nikouw palsu, dia gadis cantik dan... biarlah dia untuk aku saja," kata Marcus.

"Marcus, kubunuh kau kalau..." Kun Liong membentak, kemudian menoleh kepada Kim Seng Siocia yang sudah duduk lagi di atas kursi besar itu. "Siocia, kau telah berjanji akan membebaskan Hong Ing! Kalau kau melanggar janji dan berani menyerahkan Nona Pek Hong Ing kepada babi putih itu, sampai mati pun aku tak akan sudi menyerah kepadamu."

"Bocah gundul, kau masih banyak lagak, ya?" Marcus melangkah maju, hendak memukul kepala Kun Liong.

"Marcus, apakah kau sudah bosan hidup, berani hendak memukul calon suamiku? Hayo keluar kau dari sini!" Kim Seng Siocia membentak dan pemuda berkulit putih itu segera meninggalkan ruangan sambil bersungut-sungut tidak puas.

Setelah Marcus pergi, Kim Seng Siocia dengan muka ramah menuding kepada Kun Liong sambil berkata, "Yap Kun Liong, apakah engkau benar-benar telah menyerah kepadaku?"

"Kim Seng Siocia, buktinya aku tidak melakukan perlawanan."

"Bagus, kalau begitu, akan kupersiapkan pesta untuk upacara pernikahan kita dan..."

"Apa?!" Kun Liong bergerak-gerak sehingga Hong Ing turut terbawa. Keduanya terhuyung karena diikat menjadi satu seperti itu membuat kaki-kaki mereka amat sukar bergerak dan sedikit gerakan saja akan membuat mereka kehilangan keseimbangan tubuh.

"Kau bilang... pernikahan?"

"Hemmm, Yap Kun Liong, seorang laki-laki sejati tidak akan menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkannya. Engkau bilang menyerah, tapi..."

"Siocia! Menyerah dan menikah tidaklah sama! Aku hanya menyerah dan tidak melawan seperti kukatakan tadi, dan aku berjanji akan membebaskan Hong Ing."

"Kalau begitu, engkau tidak mau menjadi suamiku?" Mulut lebar yang tadinya tersenyum ramah itu, kini mewek seperti mau menangis.

"Siocia, maafkan aku. Aku tidak ingin menikah, tidak ingin menjadi suami siapa pun juga."

Sepasang mata wanita itu menyinarkan api kemarahan. "Begitukah? Kalau begitu, Pek Nikouw akan kusiksa sampai mati di depan matamu!"

Dia meloncat mendekat, menggunakan tali lain lagi untuk membelenggu kedua kaki Kun Liong, bahkan kini leher pemuda itu juga dikalungi tali dan tubuhnya dibelenggu erat-erat seperti seekor kerbau hendak disembelih, kemudian dibantu oleh Acui dan Amoi mereka bertiga memisahkan Hong Ing dan Kun Liong.

"Ambil cambukku!" bentaknya dengan marah.

Amoi segera berlari masuk, tak lama lagi keluar membawa sebatang cambuk hitam yang panjang. Cambuk itu kecil panjang mengerikan karena ujungnya dipasangi benda-benda kecil tajam meruncing!

"Tar-tar-tarrr…!" Cambuk itu meledak-ledak ketika diayun di atas kepala Kim Seng Siocia.

Hong Ing sudah memejamkan matanya, berdiri tegak dan siap menerima siksaan, siap pula menerima kematian. Dia tidak mau mendengar Kun Liong menerima menjadi suami wanita gendut itu. Lebih baik dia mati dari pada Kun Liong berkorban seperti itu!

"Siocia, tahan dulu...!" Kun Liong berteriak dengan dua mata terbelalak penuh kengerian membayangkan betapa kulit Hong Ing yang halus akan cabik-cabik digigit ujung cambuk mengerikan itu.

Cambuk yang sudah diputar-putar itu turun dan Kim Seng Siocia memandang Kun Liong dengan senyum simpul. "Kun Liong, tadi ketika aku bertanding denganmu, aku sengaja mengalah. Apa bila aku menggunakan cambukku ini, senjata maut yang kuandalkan, kau tak akan mampu menang. Akan tetapi mana aku tega melukaimu, kau calon suamiku!"

"Kim Seng Siocia, kau bebaskan Hong Ing dan aku menerima permintaanmu."

"Kun Liong, jangan!" Hong Ing menjerit dan mukanya merah sekali, terasa panas karena kemarahannya. "Biar pun aku dia bunuh, jangan kau penuhi permintaannya yang gila itu!"

Sesudah mengeluarkan kata-kata keras ini, diam-diam Hong Ing menjadi terheran-heran sendiri. Mengapa dia peduli amat apakah Kun Liong akan menjadi suami wanita itu atau tidak? Mengapa dia tidak rela melihat Kun Liong menjadi suami Kim Seng Siocia, bahkan dia lebih suka mati?

"Hong Ing, diamlah!" Kun Liong berkata, hatinya gelisah sekali sehingga dia sendiri pun tidak ingat lagi akan keanehan sikap Hong Ing. Satu-satunya yang penting bagi Kun Liong hanya menyelamatkan Hong Ing, dengan tebusan apa pun juga!

"Kau... kau mau menurut? Kau mau menjadi suamiku?"

Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul ditambah kata-kata lirih, "Asal engkau membebaskan Hong Ing."

"Horeee...! Kau mau menjadi suamiku? Ha-ha-ha, yahuuuu...!" Kim Seng Siocia meloncat turun, menari-nari mengelilingi Kun Liong, lalu berhenti di depan pemuda itu, memegangi kepala Kun Liong, menariknya ke depan lalu...

"Cuuuppp...!" Kepala pemuda itu diciumnya sedemikian rupa sehingga Kun Liong merasa seolah-olah kepalanya dicap dengan besi panas!

"Terima kasih, calon suamiku! Acui, Amoi, persiapkan pesta untuk..."

"Siocia, aku menerima hanya dengan satu syarat, kalau tidak, biar kau membunuh kami berdua, aku tidak peduli lagi!"

"Wah-wah-wah, laki-laki kalau muda dan tampan, ada juga rewelnya, minta syarat segala macam. Anak bagus, syaratmu apakah? Tentu akan kupenuhi, jangan khawatir, Kim Seng Siocia adalah ratu di sini. Kau mau selir? Tinggal pilih! Acui ini yang cantik tenang, atau Amoi yang manis panas, atau jika memang kau kehendaki, kau boleh mengambil nikouw ini sebagai selirmu, seperti juga aku akan mengambil selir-selir yang kusukai. Mau harta benda? Sebut saja apa yang kau inginkan, tentu akan kupenuhi! Atau kau punya musuh? Akan kubantu kau sampai musuhmu hancur binasa. Kita suami isteri harus saling bantu membantu, bukan?"

Kun Liong menjadi muak mendengar ini, akan tetapi dia bersikap tenang dan berkata sungguh-sungguh, "Bukan itu semua. Syaratku yang terutama, nona Pek Hong Ing harus dibebaskan, dan ke dua, tidak perlu diadakan pesta dan pernikahan."

Kim Seng Siocia membelalakkan matanya. "Waaah, lha ini... ini bagaimana?"

"Pendeknya, kau terima atau tidak, aku tidak mau tawar-menawar lagi."

Kim Seng Siocia memutar biji matanya, lalu menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya yang besar dan lebar. "Apa boleh buat, asalkan engkau suka menjadi suamiku. Aku pun punya syarat dan kalau engkau adil, engkau harus menerima syarat ini."

"Apa itu?" Kun Liong bertanya, hatinya tidak enak karena dia menduga bahwa di dalam sikapnya yang ketolol-tololan itu, wanita gendut ini agaknya cerdik sekali.

"Terlebih dulu engkau harus membuktikan kesanggupanmu menjadi suamiku, malam ini. Sementara itu, Pek Nikouw akan dijaga ketat oleh Acui dan Amoi. Kalau sedikit saja kau bergerak melawan, sekali aku berteriak, mereka akan membunuh Pek Nikouw dan aku akan menempurmu mati-matian dengan cambukku. Akan tetapi bila engkau benar-benar sudah membuktikan kemauanmu menjadi suamiku yang baik dan yang tercinta, barulah pada besok pagi dia kubebaskan!"

Kun Liong mengerutkan alisnya. Benar saja dugaannya. Perempuan ini cerdik sekali dan agaknya telah mencurigai dirinya. Memang dia tadi mengandung niatan hati bahwa sekali Hong Ing sudah bebas, sampai mati pun dia tidak mau ‘diperkosa’ atau dipaksa menjadi suami wanita ini diluar kehendak hatinya! Sekarang wanita itu telah menggunakan Hong Ing sebagai sandera!

Terpaksa dia mengangguk dan berbisik, "Baiklah, akan tetapi kau harus bersumpah tidak akan membohong bahwa besok pagi pasti akan membebaskan Hong Ing."

Sepasang mata itu melotot. "Yap Kun Liong, kau kira aku orang macam apa? Aku adalah pewaris dari Go-bi Thai-houw, sekali bicara tentu tak akan kulanggar sendiri!"

"Kun Liong, jangan percaya kepadanya!" Kembali Hong Ing berseru, hatinya panas sekali. "Aku tidak takut mati, jangan kau korbankan diri untukku!"

"Cusss!" Tangan Acui bergerak dan Hong Ing sudah menjadi gagu karena tertotok jalan darahnya di leher.

"Hi-hi-hik, bagus, Acui. Nah, Kun Liong, kalau kau banyak rewel, akan kusuruh Acui turun tangan membunuh Pek Nikouw. Aku berjanji akan membebaskannya besok pagi apa bila malam ini kau benar-benar dengan suka rela suka menjadi suamiku!"

Pucat wajah Kun Liong. Di dalam hatinya, tentu saja dia tidak sudi menjadi suami orang dengan paksaan seperti itu. Dia tidak sudi diperkosa wanita! Akan tetapi dia melihat jelas bahwa kalau dia menolak, tentu wanita gemuk yang aneh dan lihai ini tidak segan-segan untuk melaksanakan ancamannya, yaitu membunuh Hong Ing. Karena itu, dengan muka muram dan tubuh lesu dia mengangguk, "Baik, aku menyerah."

"Bawalah dia pergi dan siaplah kalian membunuhnya kalau Kun Liong main gila hendak melawan."

Acui dan Amoi mengangguk, kemudian mereka membawa Hong Ing yang terikat kuat itu pergi meninggalkan ruangan, diikuti oleh suara tawa Kim Sim Siocia yang kemudian turun dari kursinya, langsung dia melepaskan tali yang mengikat tubuh serta kedua lengan Kun Liong.

Pemuda gundul ini sudah tidak berdaya, tidak tahu harus bertindak bagaimana. Dia sudah dibebaskan dari belenggu, namun ada belenggu yang jauh lebih kuat dari pada tali-tali itu, yaitu Hong Ing yang dijadikan sandera dan dia tidak tahu ke mana dara itu dibawa. Tentu saja dia dapat memberontak dan melawan setelah tali itu terlepas dari kedua lengannya, akan tetapi hal itu sama artinya dengan membunuh Hong Ing!

"Suamiku yang baik, marilah kita berbincang di dalam kamarku, supaya kita dapat saling mengenal lebih baik lagi." Kim Seng Siocia tersenyum, menggandeng tangan Kun Liong dengan sikap mesra dan setengah menarik pemuda itu memasuki kamarnya yang megah dan mewah serta berbau harum. Kun Liong tidak berani membantah dan kedua kakinya menggigil karena dia merasa seakan-akan dia sudah menjadi seekor domba yang digiring memasuki tempat jagal di mana dia akan disembelih!

"Duduklah, Koko..." Kim Seng Siocia mempersilakan Kun Liong dengan suara merdu dan mengandung kemanjaan yang membuat Kun Liong merasa bulu tengkuknya meremang. Begitu mesranya wanita ini menyebutnya koko (kakanda)!

Dia tidak menjawab, hanya mengangguk dan duduk di atas sebuah bangku menghadapi meja yang terukir indah. Kim Seng Siocia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi pintu kamarnya, bertepuk tangan tiga kali. Muncullah dua orang wanita muda yang cantik, dua orang pelayan yang menggantikan Acui dan Amoi karena kedua orang pelayan kepala itu sedang membawa pergi Hong Ing.

"Sediakan makan minum yang paling istimewa untuk kami berdua. Cepat!"

Dua orang pelayan itu memberi hormat, meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintu kamar perlahan-lahan dari luar.

"He-he-he, hatiku riang gembira bukan main, Koko. Inilah saat yang kunanti-nanti selama hidupku. Aku benar-benar bahagia sekali." Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah bangku dekat Kun Liong dan pemuda ini dengan hati ngeri mendengar suara bangku itu menjerit saking beratnya beban yang menghimpitnya.

"Koko yang baik, engkau dari manakah dan siapa kedua orang tuamu? Kelak aku tentu ingin sekali bertemu dan menyampaikan hormatku kepada ayah dan ibu mertua."

Kun Liong bergidik. Aih, bagaimana akan sikap ayah bundanya andai kata mereka masih hidup dan melihat ‘anak mantunya’ ini? Mukanya menjadi merah sekali dan dia berkata, "Aku tidak mempunyai tempat tinggal dan ayah bundaku sudah meninggal dunia, Siocia."

"Emmm...!" Kim Seng Siocia membanting-banting kedua kaki di lantai dan menggoyang-goyang tubuhnya dengan sikap kemanjaan seorang anak kecil yang sedang ‘ngambek’. "Tidak mau ahh kalau begitu! Aku sudah menyebutmu Koko, mengapa kau masih terus menyebutku Siocia? Suami isteri harus lebih mesra sebutannya!"

Aduh manjanya! Kun Liong bengong dan ingin sekali menampar kepala gundulnya sendiri mengapa dia terpaksa harus melayani wanita seperti ini. Sudah tubuhnya seperti gajah, usianya tentu sudah tiga puluhan tahun, masih manja seperti seorang kanak-kanak, atau seperti seorang wanita cantik yang dipuja-puja seorang pria yang tergila-gila kepadanya! Bukan main!

Akan tetapi karena khawatir kalau-kalau wanita ini menjadi marah benar-benar, dia cepat berkata, "Baiklah, aku akan menurut, akan tetapi aku tidak tahu sebutan apa yang harus kupakai."

"Ihhh... hi-hik, suamiku masih bodoh! Ehh, kau tentu mesih perjaka tulen, ya? Hi-hik, kau sebut aku Moi-moi!"

Ampun! Demikian jerit hati Kun Liong. Pantas menjadi bibinya dan dia disuruh menyebut moi-moi (adinda)!

"Baiklah, Moi-moi!" Kun Liong mengucapkan sebutan ini dengan suara sumbang karena baru pertama kali itulah dia menyebut wanita dengan sebutan adinda!

Tiba-tiba Kim Seng Siocia menangis! Menangis terisak-isak dan memegang kedua tangan Kun Liong. Pemuda ini makin kaget dan heran, mengira bahwa dia tentu telah melakukan kesalahan lagi diluar pengetahuannya.

"Hu-huu-huuk... sungguh kasihan engkau, Koko... hu-huuk, dan sungguh sial sekali aku... belum apa-apa sudah kematian ayah dan ibu mertuaku..."

Disinggung mengenai kematian ayah bundanya, kalau dalam keadaan biasa tentu paling sedikit hati Kun Liong akan merasa terharu juga. Akan tetapi sikap wanita ini keterlaluan, pakai menangis segala! Hanya anehnya, wanita ini menangis sungguh-sungguh dan air matanya bercucuran, bukan dibuat-buat. Diam-diam Kun Liong merasa makin ngeri sebab menduga bahwa tentu ada gejala-gejala tidak beres pada otak wanita ini.

Oleh karena Kun Liong memang tidak mau berbicara banyak, akhirnya Kim Seng Siocia menceritakan semua riwayatnya sendiri kepada Kun Liong yang didengarkan oleh pemuda ini dengan penuh perhatian. Penuturan wanita itu begitu menarik hatinya sehingga dia tak mempedulikan dan tidak merasa lagi betapa telapak tangan Kim Seng Siocia yang besar itu kadang-kadang membelai tangannya dengan mesra, bahkan kadang kala tangan yang berjari besar itu merayap naik dan mengelus kepalanya yang gundul!

Memang cerita wanita itu amat menarik hatinya. Dia sudah pernah mendengar penuturan ibunya tentang seorang datuk wanita yang berjuluk Go-bi Thai-houw dan menurut ibunya memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa, akan tetapi datuk ini adalah seorang yang miring otaknya.

Ibunya bercerita betapa datuk wanita gila itu telah menimbulkan kekacauan besar, bahkan hampir saja berhasil merusak kehidupan ayah bundanya sendiri dan kehidupan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, yaitu Sie Biauw Eng. Kemudian, berkat kesaktian Cia Keng Hong, akhirnya datuk wanita yang merupakan nenek iblis itu berhasil dibinasakan oleh Cia Keng Hong.

Dan sekarang Kim Seng Siocia mengaku bahwa dia merupakan bekas pelayan kecil dari Go-bi Thai-houw yang tersayang dan yang dijadikan ahli waris oleh nenek iblis itu!

"Thai-houw amat sayang kepadaku, Koko. Semua pusaka warisannya disimpan di sebuah tempat rahasia dan hanya aku yang diberi tahu. Oleh karena itu, hanya akulah yang dapat mewarisi kepandaiannya dan aku menjadi pemimpin di bekas istananya ini. Akan tetapi... u-hu-huuu... dia dibunuh mati orang, Koko!" Kembali Kim Seng Siocia menangis.

Kun Liong makin tertarik. "Jadi... apa yang kau kehendaki, Sio... ehh, Moi-moi?"

"Apa lagi? Tentu membalas dendam atas kematian Thai-houw! Aku mendapatkan semua ini dari Thai-houw dan dia dibunuh orang!"

"Kalau begitu, dengan kepandaianmu yang tinggi, kenapa kau tidak sejak dulu membalas dendam, Moi-moi"
"Aku... aku takut..."

"Ehh...?" Kun Liong benar-benar terheran mengapa wanita aneh ini mempunyai rasa takut juga, karena itu dia pun melanjutkan pancingannya, "Begitu lihaikah musuhmu yang telah membunuh Go-bi Thai-houw?"

"Aku tidak takut kepadanya! Hemm, biar dia memiliki Thi-khi I-beng sekali pun! Dahulunya memang aku tak berani mengingat akan ilmunya itu, akan tetapi setelah aku mempelajari kitab peninggalan Thai-houw, dengan mempergunakan cambuk ini, aku dapat membuat Thi-khi I-beng tidak ada artinya! Kau lihatlah, Koko!" Setelah berkata demikian, wanita ini meloncat dari bangkunya, menyambar cambuknya dan menuding ke atas, ke arah dinding di mana terdapat dua ekor cecak yang sedang bercumbuan dan saling berkejaran.

"Lihat dua ekor cecak itu!" katanya pula.

Tiba-tiba terdengar suara meledak-ledak beberapa kali bersama sinar hitam menyambar-nyambar dan ketika Kun Liong memandang, ternyata dua ekor cecak itu tubuhnya sudah terpotong-potong menjadi empat dan jatuh ke atas meja, sedangkan pada dinding itu tidak nampak sedikit pun darah! Diam-diam Kun Liong terkejut.

Ternyata tadi wanita ini tidak menyombong kosong pada saat mengatakan bahwa dengan cambuknya dia amat lihai. Kalau dalam pertempuran tadi Kim Seng Siocia menggunakan cambuk seperti itu, dia tentu akan repot menghadapinya! Dan dia harus mengakui bahwa dengan senjata cambuk seperti itu, Thi-khi I-beng tidak akan dapat dipergunakan karena tak mungkin untuk menempel ujung cambuk dan menyedot sinkang lawan lewat cambuk lemas yang panjang itu!

"Wah, kau hebat sekali, Moi-moi..." Kun Liong cepat menekan hatinya karena dia bergidik melihat bangkai dua ekor cecak yang kini masing-masing telah menjadi empat potong dan tergeletak di atas meja itu. "Dengan kepandaianmu itu, tentu engkau akan dapat menang melawan musuhmu, akan tetapi mengapa tidak juga kau lakukan?"

"Sudah kukatakan tadi, aku takut, aku takut gagal. Aku ingin yakin akan kemenanganku, oleh karena itu... bertahun-tahun aku berdoa kepada Thian agar bisa mendapatkan jodoh seorang yang lihai dan yang akan dapat membantuku menghadapi musuhku yang sakti. Dan hari ini aku telah mendapatkan jodoh yang kutunggu-tunggu itu, Koko yang tampan!"

Wanita itu hendak merangkulnya. Cepat-cepat Kun Liong mundur dan berkata, "Moi-moi, semenjak tadi belum kau katakan siapakah musuhmu itu, dia yang sanggup membunuh seorang lihai seperti Go-bi Thai-houw?"

"Dia? Dia adalah si keparat Cia Keng Hong, yang kabarnya sekarang telah menjadi Ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san! Kau tunggulah, keparat Cia Keng Hong! Tunggulah saat-saat kematianmu kalau Kim Seng Siocia bersama suaminya Yap Kun Liong datang membalas dendam! Koko, dengan bantuanmu, aku merasa yakin bahwa kita akan dapat membunuh Cia Keng Hong. Aku melihat gerakan-gerakanmu tadi hebat sekali. Orang seperti engkau inilah yang kutunggu-tunggu!"

Kembali Kim Seng Siocia hendak merangkul dan Kun Liong sudah bingung. Tiba-tiba saja datang pertolongan ketika pintu kamar terbuka dan dua orang pelayan tadi datang sambil membawa hidangan yang masih panas, yang serba mewah dan lezat. Dengan senyum manis dua orang pelayan itu menurunkan piring mangkok dan panci ke atas meja, juga seguci arak wangi.

"Harap singkirkan bangkai cecak ini...," kata Kun Liong kepada dua orang pelayan itu.

"Eihhh, mengapa? Dua ekor cecak itu merupakan lalap yang sedaaap…!" kata Kim Seng Siocia yang mengusir kedua orang pelayannya dengan gerakan tangan. Mereka pergi dan kembali menutupkan pintu kamar.

Kun Liong hampir muntah. Bangkai cecak dipakai lalap? Biasanya orang melalap dengan sayur segar dan mentah! Akan tetapi dia tidak mencela karena dia mulai bersikap hati-hati sekali terhadap wanita ini sesudah diketahuinya bahwa wanita ini adalah musuh besar Cia Keng Hong dan berniat mempergunakan dia sebagai teman untuk membunuh pendekar sakti yang masih terhitung supek-nya sendiri, bahkan yang sudah mengajarkan Thi-khi I-beng kepadanya itu!

Dengan menekan perasaannya, dia menemani wanita itu makan minum. Hanya dengan kekuatan luar biasa saja dia dapat bertahan ketika Kim Seng Siocia menggunakan sumpit menjepit bangkai cecak dan melalapnya dengan bunyi "kriuk! kriuk!" ketika giginya yang kuat mengunyah bangkai itu berikut tulang-tulangnya. Yang lebih menjijikkan lagi adalah ketika Kim Seng Siocia menyumpit ekor cecak yang masih bergerak-gerak menggeliat itu, memasukkan benda yang masih hidup itu ke dalam mulut lalu mengunyahnya!

Tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar tidak waras otaknya! Namun Kun Liong makan sampai kenyang tanpa berbicara, hanya diam-diam dia mengasah otaknya mencari jalan keluar dari bahaya ini, terutama sekali bagaimana caranya dia akan bisa menolong Hong Ing yang keselamatannya sedang terancam bahaya maut. Bukan hanya dari Kim Seng Siocia datangnya bahaya mengancam yang sewaktu-waktu dapat membunuh Hong Ing, melainkan juga dari Marcus yang jelas adalah seorang laki-laki yang tidak baik.

Sesudah selesai makan minum yang bagi Kim Seng Siocia sangat menggembirakan itu, wanita ini bertepuk tangan dan dua orang pelayan itu cepat-cepat muncul. Mereka disuruh membersihkan meja dan pada waktu itu, hari telah mulai menjadi petang. Salah seorang di antara mereka menyalakan lampu untuk menerangi kamar yang sudah mulai gelap.

Sesudah kedua orang pelayan itu selesai membersihkan meja, menyalakan lampu serta membereskan pembaringan, menyapu lantai kamar, sambil tersenyum-senyum Kim Seng Siocia berkata kepada mereka,

"Sekarang panggil Acui dan Amoi ke sini, sementara itu, Pek Nikouw harus dijaga oleh selosin orang penjaga yang siap turun tangan membunuhnya begitu ada tanda rahasia dariku."

Dua orang pelayan itu mengangguk, kemudian mengundurkan diri setelah mengerling dan tersenyum geli ke arah Kun Liong yang duduk bagai arca di atas bangku. Kim Seng Siocia duduk kembali.

"Koko, hanya Acui dan Amoi itulah pelayan-pelayanku yang paling boleh kuandalkan dan kupercaya. Mereka menjadi pembantu dan juga muridku. Mereka yang memandikan aku, menggantikan pakaian, pendeknya, hanya mereka yang bisa kupercaya. Karena itu, pada malam pengantin ini... hi-hi-hik, aku pun hanya mau dilayani oleh mereka..."

Kun Liong hanya mengangguk-angguk, padahal dia tidak mengerti apa yang dikehendaki dan dimaksudkan oleh ‘isterinya’ itu, isteri paksaan. Sementara itu, pada bagian lain dari istana itu, Marcus sedang membujuk-bujuk kepada Acui dan Amoi.

"Mengapa kalian hendak melindunginya? Serahkan dia kepadaku sebentar saja, dan aku akan bersikap manis kepadamu, Acui dan Amoi."

"Hushh! Cepat pergilah! Kalau ketahuan Siocia, apakah kau masih dapat menyelamatkan kepalamu yang berambut kuning itu?" Acui membentak, ada pun Amoi hanya tersenyum-senyum genit kepada pemuda asing yang tampan itu.

"Ehh, Marcus, apakah kau sudah lupa kepada lima orang teman-temanmu? Apakah kau ingin pula dilempar kepada anak buah yang merupakan serigala-serigala kelaparan itu?" kata Amoi mengejek, akan tetapi di balik ejekannya itu, sinar matanya memandang ke arah tubuh yang tegap dan kuat itu dengan penuh gairah.

Marcus merasa ngeri kalau mengingat kepada lima orang itu. Mereka telah mati konyol, mati dengan tubuh mengering akibat kehabisan darah, bagai matinya lima ekor lalat yang semua darahnya telah habis dihisap oleh laba-laba yang banyak itu! Akan tetapi dia amat cerdik dan tidak memperlihatkan kengeriannya, bahkan dia tertawa,

"Ahh, seperti kalian tidak tahu saja! Siocia suka kepadaku dan memang kemarin aku tidak berani main gila dengan wanita lain, betapa pun rindu dan inginku kepada kalian berdua yang cantik jelita ini! Akan tetapi sekarang, Siocia sudah mendapatkan seorang kekasih baru, tentunya aku menjadi bebas pula untuk bermain cinta dengan siapa juga. Acui dan Amoi, nikouw ini tidak urung akan dibunuh juga, maka apa salahnya kalau membiarkan aku mempermainkannya sebentar?"

Amoi melangkah maju. "Hemm, apa sih menariknya perempuan gundul ini? Ehh Marcus, apakah kami berdua kalah cantik oleh nikouw gundul ini?"

Marcus tersenyum lebar. "Tentu saja tidak, dan aku berjanji, jika kalian suka memberikan nikouw itu kepadaku sebentar, setelah aku selesai dengan dia, aku akan menemui kalian berdua bersenang-senang. Bagaimana?"

"Huh! Kau temani kami dulu, baru kami berikan dia kepadamu."

"Baiklah, aku memang sudah lama rindu kepada kalian. Mari!"

"Enci Acui, kau bersenanglah dulu, biar aku yang menjaganya," kata Amoi.

Acui yang masih khawatir kalau-kalau Siocia-nya akan marah, mengerutkan alisnya akan tetapi hatinya pun tertarik sekali. Sudah terlalu lama bagi dia dan Amoi tak pernah dirayu oleh seorang pria, apa lagi pria semuda dan setampan Marcus yang memiliki ketampanan khas pula sebagai seorang berkulit putih.

"Engkau saja dulu, Amoi, biar aku yang menjaganya."

Amoi tersenyum genit dan mengangguk kepada Marcus yang tertawa-tawa girang lantas merangkulnya dan hendak menariknya pergi dari tempat penjagaan rahasia itu. Tapi pada saat itu muncullah dua belas orang penjaga yang bersenjata lengkap, dipimpin oleh dua orang pelayan yang diperintah oleh Kim Seng Siocia tadi. Mereka berkata dengan suara nyaring bahwa Acui dan Amoi dipanggil oleh Kim Seng Siocia dan bahwa dua belas orang itu ditugaskan untuk menggantikan dua orang pelayan kepercayaan itu supaya menjaga tawanan.

Amoi kelihatan kecewa, akan tetapi dia melepaskan Marcus sambil berkata, "Kau tidak boleh di sini. Keluarlah dulu dan menunggu kami. Awas, sebelum kami kembali, kau tidak boleh menyentuhnya. Hai, para penjaga! Selama kami berdua pergi, kalian jaga tawanan baik-baik dan jangan membolehkan siapa pun juga, termasuk dia ini, menyentuh tawanan. Mengerti?"

Para penjaga itu menyatakan taat kepada Amoi yang menjadi orang kepercayaan majikan mereka dan Marcus yang kecewa juga tidak berani membantah lalu pergi keluar. Dia akan sabar menanti.

Acui dan Amoi memasuki kamar majikan mereka dan keduanya langsung terkekeh genit saat melihat Kun Liong duduk seperti arca di atas bangkunya, sedangkan Siocia kelihatan begitu gembira, mukanya kemerahan tanda bahwa dia sudah banyak minum arak wangi.

"Acui... Amoi..., aihhh, aku menjadi gugup di malam pengantin ini. Kalian bantulah aku...," kata Kim Seng Siocia sambil tersenyum. "Bagaimana sih baiknya? Sin-liang (pengantin pria) kelihatan malu-malu... ihhh, dia memang masih perjaka tulen..."

Acui dan Amoi cekikikan. "Benarkah, Siocia? Ah, kalau begitu kau bahagia sekali, Siocia. Kionghi (selamat)!" kata Amoi. Keduanya lalu menghampiri Kun Liong dan berkata,

"Kongcu (Tuan Muda), mengapa Kongcu belum juga menanggalkan pakaian luar? Sudah waktunya sepasang pengantin tidur, maka harap Kongcu tidak malu-malu lagi, karena hal itu dapat mendatangkan kesalah pahaman bagi pengantin wanita, dapat dianggap bahwa pengantin pria menolak dan ini merupakan penghinaan besar," kata Acui.

"Benar itu, Kongcu. Mari kami membantumu menanggalkan pakaian...," kata Amoi genit dan keduanya lalu menyerbu, menanggalkan pakaian luar Kun Liong sehingga pemuda ini menjadi bingung dan malu. Untuk melawan tentu saja dia dapat, akan tetapi teringat akan keselamatan Hong Ing, dia diam saja.

Akhirnya semua pakaian luarnya termasuk sepatunya telah ditanggalkan dan dia dituntun setengah paksa duduk di tepi tempat tidur yang lebar panjang dan berbau harum itu. Kaki dan tubuh atasnya menjadi segundul kepalanya, dan hanya tersisa sebuah celana dalam panjang yang tipis saja yang masih menutup tubuhnya.

Kini matanya terbelalak memandang ke depan di mana Kim Seng Siocia sedang dibantu oleh dua orang pelayannya itu menanggalkan pakaian luar. Agak sukar juga bagi wanita gendut itu untuk menanggalkan pakaian luarnya dan pekerjaan ini mereka lakukan bertiga sambil tertawa cekikikan.

Sesudah banyak sekali kancing yang ketat itu dilepaskan, maka mulailah pakaian luar itu diperosotkan dari atas hingga mulai tampaklah tubuh yang kini hanya dibungkus pakaian dalam yang tipis sekali itu. Dengan pakaian luar menutupi tubuhnya, bentuk tubuh Kim Seng Siocia masih tertolong, masih terlindung oleh pakaian luar yang lebar, akan tetapi setelah kini pakaian luar itu sedikit demi sedikit merosot dari atas, mata Kun Liong juga menjadi makin besar dan makin lebar, tubuhnya menggigil seperti orang diserang demam malaria, sampai kedua bibirnya pun ikut bergerak-gerak seperti orang kedinginan.

Mulailah tampak tubuh Kim Seng Siocia. Mula-mula lehernya, lalu tampak pundaknya di balik pakaian dalam yang amat tipis sehingga tembus pandangan itu, kemudian mulailah tampak tonjolan dadanya yang... aduhai! Dua onggok daging yang bergumpal besar luar biasa, sebuah saja sudah sebesar dua kali kepala Kun Liong! Makin merosot ke bawah pakaian luar itu, semakin ngerilah hati Kun Liong, matanya terbelalak, mulutnya celangap dan semua jari tangannya menahan bibirnya yang gemetaran keras. Akhirnya atas isyarat majikan mereka, sambil cekikikan Acui dan Amoi meninggalkan kamar dan menutupkan pintu kamar rapat-rapat.
Selanjutnya,