Pedang Kayu Harum Jilid 29 - Sonny Ogawa

Halaman

    Social Items

Pedang Kayu Harum Jilid 29
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
WAJAH pemuda itu seketika menjadi pucat. Ia merasa betapa kedua pundaknya dimasuki hawa panas yang gatal-gatal, seperti ada ribuan ekor semut yang memasuki tubuhnya dan menggigit dari dalam, dari kepala sampai kaki! Rasa nyeri ini tidak hebat sekali, tidak sampai membuat ia pingsan, akan tetapi rasa gatal-gatal ini membuat dia lebih menderita, merupakan siksaan yang tiada tara. Seluruh tubuhnya berdenyut, semua bulu di tubuhnya bangun satu demi satu, lubang-lubang di kulitnya terbuka dan keringat dingin membasahi tubuhnya.

Keng Hong cepat memejamkan sepasang matanya dan dengan kemauannya yang keras, dapat dia mematikan perasaannya sehingga siksaan itu tidak akan terasa lagi.

"Bocah goblok, aku lebih tahu akan watak Sie Cun Hong! Engkau tahu apa? Dahulu dia sudah mempunyai isteri yang cantik dan mencintanya, akan tetapi karena dia itu hidung belang, kerjanya hanya mengejar-ngejar perempuan, isterinya lalu lari meninggalkannya! Apakah itu bukan bukti yang cukup jelas?"

"Aku tidak tahu dan aku pun tidak berhak tahu mengenai urusan dalam suami isteri, akan tetapi aku merasa yakin bahwa suhu tidak bersalah dalam hal itu!"

"Bocah sombong dan keras kepala!" Nenek itu membentak makin marah. Ia benar-benar merasa tidak berdaya dan ‘mati kutunya’ terhadap Keng Hong. "Rasakan ini!"

Sekarang nenek itu menancapkan kuku lima jari tangan kirinya ke punggung Keng Hong. Pemuda ini tidak mampu melawan karena sekali mengerahkan tenaga melawan berarti dia akan mencelakakan diri sendiri. Maka dia menerima serangan itu.

Lima kuku jari tangan kiri Ang-bin Kwi-bo menancap di punggung Keng Hong dan pemuda itu memejamkan mata, akan tetapi tanpa dapat dia tahan lagi dan seperti tanpa disadari, mulutnya terbuka dan terdengar keluhan berat. Dia terengah-engah dan setelah nenek itu menarik kembali lima kuku jari tangan kirinya, Keng Hong merasa betapa tubuhnya bagai disayat-sayat dari dalam!

"Ban-tok Sin-ciang telah meracuni tubuhmu. Dalam waktu dua puluh empat jam engkau akan tersiksa oleh berbagai macam rasa nyeri yang hebat seakan-akan semua siksaan dari neraka telah masuk ke tubuhmu dan akan kau rasakan dalam waktu sehari semalam sebelum engkau mampus. Akan tetapi bila engkau mau memaki gurumu sebagai manusia sesat dan memberikan Thi-khi I-beng kepadaku, aku akan memberi obat penawar racun."

Keng Hong memejamkan mata dan mulutnya masih terbuka, terengah-engah, akan tetapi dia berhasil berkata, "Suhu manusia mulia!"

Sekali ini Ang-bin Kwi-bo sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Bocah sinting! Engkau memang layak mampus! Dahulu aku amat merindukan tubuh Cun Hong! Selaksa orang pemuda ganteng tidak bisa memuaskan hatiku, akan tetapi Cun Hong yang kuingini terlalu besar kepala dan menolakku. Aku hampir gila karena malu dan sakit hati. Apakah bedanya antara dia dengan aku? Aku suka melayani selaksa orang muda ganteng, dia pun suka melayani selaksa gadis cantik. Dia dan aku sebenarnya cocok, akan tetapi dia memandang rendah, merasa bahwa dia termasuk golongan bersih dan aku dianggapnya golongan kotor. Macam engkau sekarang ini! Engkau jahat, seperti dia, sampai isterinya sendiri yang kabarnya amat cantik jelita dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, puteri seorang bangsawan, pergi meninggalkannya!'

"Kwi-bo, tidak perlu mengoceh lagi. Aku tetap tidak percaya dan aku yakin bahwa suhu adalah manusia baik, tidak seperti engkau!"

Pada saat itu terdengar suara orang menarik napas panjang disusul ucapan yang halus, "Ahhh, betapa untungmu, Sie Cun Hong, memiliki seorang murid yang masih mati-matian membela nama baikmu meski pun engkau sudah mati dan muridmu terancam bahaya maut...!"

Keng Hong melihat munculnya seorang nenek yang sudah amat tua, kiranya tidak kalah tua oleh Ang-bin Kwi-bo, namun masih membayangkan bahwa nenek ini dahulu di waktu mudanya tentu bertubuh tinggi ramping dan berwajah cantik. Di samping nenek ini berdiri seorang gadis yang luar biasa cantiknya, berpakaian kuning. Gadis ini, seperti juga nenek itu, membawa sebuah keranjang obat yang berisikan beberapa helai daun dan beberapa potong akar obat.

Ang-bin Kwi-bo cepat membalikkan tubuh seperti seekor harimau marah. Dia tidak berani sembarangan karena maklum bahwa nenek dan gadis yang bisa sampai di belakangnya tanpa dia dengar sama sekali tentu bukanlah manusia-manusia biasa, tetapi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Engkau siapa?!" bentaknya kepada nenek itu.

Nenek itu tersenyum dan meski pun mulutnya tidak ada giginya, ketika tersenyum tidak kelihatan buruk. "Ang-bin Kwi-bo, baru saja engkau bicara tentang diriku, tapi setelah aku muncul, engkau malah tidak mengenalku. Bukankah ini lucu sekali? Biarlah ini menjadi pelajaran bagimu bahwa tidak baik membicarakan urusan orang lain yang tidak diketahui betul."

"Heh, siapakah engkau?" Kembali Ang-bin Kwi-bo membentak sambil meneliti keadaan nenek yang kelihatannya halus dan ringkih (lemas) itu.

"Namaku Tung Sun Nio..."

Ang-bin Kwi-bo mencelat ke belakang hingga tiga tindak, memandang tajam dan sepuluh buah kuku jarinya terulur, seperti seekor kucing bertemu anjing dan siap mencengkeram.

"Apa...?! Engkau isteri Sie Cun Hong?"

Nenek itu mengangguk dan memandang Keng Hong yang masih duduk dan kini pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak. Saking kaget dan herannya, sejenak Keng Hong melupakan penderitaannya!

"Benar, akulah Tung Sun Nio, dahulu isteri Sie Cun Hong. Murid mendiang suamiku ini benar! Tidak perlu kusembunyikan lagi, dahulu aku adalah isteri Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong. Dia adalah seorang suami yang baik, tidak pernah menyeleweng, juga tak pernah mempedulikan wanita lain. Akan tetapi terjadi perpecahan dan aku kemudian melarikan diri sehingga suamiku itu berubah wataknya, menjadi petualang cinta, hanya berbeda dengan engkau yang senang menculik dan memaksa pemuda-pemuda tampan, suamilku yang amat tampan itu hanya melayani wanita-wanita yang tergila-gila kepadanya, sama sekali tidak pernah memaksa seperti yang kau lakukan!"

Akan tetapi, dicela mengenai perbuatannya, Ang-bin Kwi-bo sama sekali tidak peduli. Dia lalu berkata, "Nah, benar kataku tadi! Sie Cun Hong bukan manusia baik-baik, sehingga engkau yang menjadi isterinya sampai lari meninggalkannya!"

Nenek itu menggeleng-geleng kepala dan sejenak wajahnya kelihatannya suram. "Sama sekali tidak. Kau mau tahu mengapa aku meninggalkan dia? Karena dahulu akulah yang tergila-gila dengan seorang sahabat baiknya! Akulah yang telah berlaku serong, tidak kuat menahan nafsu sewaktu suamiku tidak berada di rumah dan aku melakukan hubungan dengan pria lain. Sie Cun Hong tetap seorang yang mulia, seperti dikatakan muridnya ini. Ang-bin Kwi-bo, engkau tidak tahu betapa puluhan tahun aku menderita tekanan batin karena perbuatanku itu. Aku mengerti bahwa perbuatanku itulah yang membentuk watak suamiku, dan akulah yang berdosa. Namun, aku hanya dapat menyesali diri sendiri, tidak memiliki kesempatan menebus dosa sampai matinya! Tetapi kini kesempatan itu muncul! Engkau telah menganiaya muridnya, juga sudah merampas pusaka peninggalan suamiku. Maka, sekaranglah aku dapat menebus dosaku dengan membela muridnya yang berbakti dan setia, jauh lebih setia dari pada aku yang menjadi isterinya. Hayo serahkan kembali pusaka itu!"

Tiba-tiba Ang-bin Kwi-bo tertawa terkekeh-kekeh dan menudingkan telunjuk kirinya yang berkuku panjang, "Bagus sekali! Dan aku pun belum pernah mendapat kesempatan untuk membalas sakit hatiku pada Sie Cun Hong. Sekarang engkau isterinya muncul, sungguh kebetulan. Aku akan membunuhmu, akan menyiksamu seperti yang kulakukan terhadap muridnya, hi-hi-hik!"

Akan tetapi nenek iblis ini terpaksa menghentikan ketawanya ketika tubuh Tung Sun Nio sudah menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa dan tongkat kecil di tangannya berubah menjadi sinar bergulung menyambar ke arah dada Ang-bin Kwi-bo! Nenek iblis ini terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan tangan, kukunya seperti lima batang pisau itu menangkis tongkat.

"Triiiiikkkkk!"

Ang-bin Kwi-bo meloncat jauh ke belakang, matanya terbelalak merah penuh kemarahan. Ia tadi merasa betapa jari-jari tangannya sakit dan lengannya tergetar hebat. Maklumlah ia bahwa nenek isteri Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan!

Dengan gerengan marah dia lalu meloncat maju, rambutnya menyambar-nyambar seperti pecut dan sepuluh buah jari berkuku runcing itu mencakar-cakar. Serangannya dahsyat bukan main dan Tung Sun Nio, nenek bekas isteri Sie Cun Hong yang bersikap tenang, cepat memutar tongkatnya. Ia harus mengerahkan semua kepandaian untuk menghadapi terjangan dahsyat dari nenek iblis itu.

"Kuatkanlah, aku akan melepaskan kaitan-kaitan ini."

Keng Hong yang sedang memperhatikan jalannya pertandingan, menoleh ke kiri ketika mendengar suara halus itu dan dia melihat betapa gadis baju kuning yang cantik luar biasa itu sudah mendekatinya. Dia mengangguk lalu mengumpulkan sinkang, mematikan perasaan di kedua pundak dan kini yang terasa olehnya hanyalah bekas tusukan kuku beracun di punggungnya.

Seperti kalau dia bertemu dengan pemandangan alam di pegunungan yang indah, seperti kalau dia melihat bunga-bunga mekar dengan indah, seperti dia melihat bintang-bintang gemerlapan di langit atau bulan purnama tersenyum-senyum di angkasa. Salahkah kalau dia menikmati segala keindahan itu dengan matanya, termasuk keindahan wanita cantik?

Mereka bertemu pandang dan agaknya gadis itu dapat melihat pula sinar kagum dan terpesona pada mata Keng Hong, buktinya dia lalu menundukkan muka dengan kening berkerut dan kedua pipi yang sudah kemerahan itu kini menjadi merah sekali!

Keng Hong cepat memalingkan mukanya. Benar-benar dia telah memiliki watak suhu-nya. Tidak tahan melihat wanita cantik, tak dapat menyembunyikan rasa kagum dan terpesona sungguh pun dia sangsi apakah perasaan ini termasuk perasaan yang buruk. Betapa pun juga, memang keterlaluan sekali.

Dia terancam maut. Racun Ban-tok Sin-ciang mengalir di tubuhnya. Akan tetapi dia masih berkesempatan menikmati dan mengagumi wajah cantik! Karena malu kepada diri sendiri, Keng Hong kemudian memejamkan matanya dan mengheningkan cipta, bersiulian untuk mencoba menolong dirinya dengan kekuatan sinkang di tubuhnya. Akan tetapi, makin dia kerahkan hawa sakti, punggungnya makin nyeri seperti ditusuk besi membara, sehingga terpaksa dia menghentikan usahanya itu dan hanya mengumpulkan hawa bersih yang disedotnya untuk menahan rasa nyeri yang menggerogoti seluruh tubuhnya dari dalam.

Entah berapa lama Keng Hong bersemedhi memejamkan mata. Tiba-tiba saja lengannya disentuh oleh sebuah tangan halus dan terdengar suara yang berbisik halus akan tetapi mengandung penuh kekhawatiran.

"Sadarlah... bangunlah... subo terancam... bagaimana baiknya?"

Keng Hong membuka matanya dan yang pertama-tama menarik perhatiannya adalah lima buah jari jemari tangan yang kecil mungil menyentuh lengannya itu. Akan tetapi cepat dia mencela dirinya sendiri kemudian mengalihkan perhatiannya ke depan, ke arah dua orang nenek yang sedang bertanding seru sekali.

Ternyata bahwa nenek yang memegang tongkat itu terdesak hebat oleh Ang-bin Kwi-bo yang menyerang dengan kuku jari dan rambutnya. Ilmu silat yang dimainkan oleh isteri gurunya itu baik sekali dan amat kuat, pikir Keng Hong, juga gerakan nenek itu tidak kalah cepat atau ringan dari lawannya. Pertemuan tongkat dengan jari berkuku panjang yang mengeluarkan bunyi nyaring pun membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, mereka berimbang.

Hanya nenek itu terdesak oleh Ang-bin Kwi-bo, oleh terjangan nenek iblis yang dahsyat sekali dengan rambut dan kuku-kuku jarinya yang berbahaya sekali. Nenek bertongkat itu berkali-kali terpaksa mengelak dan berloncatan ke belakang untuk menghindarkan diri dari pukulan atau cakaran Ban-tok Sin-ciang dari Ang-bin Kwi-bo.

Keng Hong sendiri terluka parah dan tak mungkin dia membantu. Dia mengerling ke arah gadis itu dan berbisik, "Apakah Nona murid dari... ehhh, subo itu?" Dia menyebut subo kepada nenek itu, karena bukankah nenek itu isteri mendiang gurunya sehingga nenek itu boleh dibilang adalah ibu gurunya. Gadis itu mengangguk.

"Sebetulnya Subo tidak kalah lihai, hanya repot menghadapi senjata yang amat banyak itu, rambut dan sepuluh kuku jari. Ban-tok Sin-ciang itu memang berbahaya sekali. Kalau nona maju membantu kurasa subo tidak akan begitu repot."

"Itulah yang menggelisahkan hatiku," Nona itu berbisik dan alis yang hitam kecil menjelirit seperti dilukis itu mengerut. "Tadi aku hendak membantu, tetapi dilarang oleh subo karena diejek iblis itu yang mengatakan subo pengecut hendak mengeroyok."

Keng Hong mengerutkan keningnya. Berabe juga kalau begitu. Dia mengenal kelicikan dan kecurangan Ang-bin Kwi-bo dan agaknya subo-nya ini, kalau dia tidak salah dengar tadi adalah bekas puteri bangsawan, tentu memiliki keangkuhan dan setelah diejek begitu tentu merasa malu bila dibantu muridnya atau orang lain. Sedangkan kalau pertandingan itu dilanjutkan, isteri gurunya itu agaknya akan kalah. Kalau isteri gurunya tewas, gadis ini akan tewas pula, demikian juga dia.

Keng Hong mencari akal, lantas teringat akan Siang-bhok-kiam. Nenek iblis itu memiliki ilmu pukulan beracun yang ganas yaitu Ban-tok Sin-ciang dan untuk menghadapi ilmu dengan kuku-kuku beracun itu, paling tepat hanya menggunakan Siang-bhok-kiam karena pedang pusaka itu justru ‘anti racun’! Akan tetapi pedang pusakanya itu, seperti pusaka lainnya, telah dirampas oleh si nenek iblis. Bahkan pedangnya itu kini terselip di pinggang Ang-bin Kwi-bo!

Setelah memeras otaknya sambil menahan rasa nyeri pada punggungnya, akhirnya Keng Hong berbisik, "Nona, dekatkan telingamu..."

Nona itu mengerti bahwa pemuda ini hendak berbisik sesuatu yang tidak boleh didengar oleh nenek iblis yang tentu memiliki pendengaran amat tajam, maka dia lalu menggeser tubuhnya yang berlutut.

Jantung Keng Hong berdebar keras. Telinga itu begitu indah bentuknya, rambut pelipis yang halus dan melingkar-lingkar itu menyapu mukanya, berbau harum laksana bunga mawar. Muka itu begitu dekat. Ehhh, benar engkau bajul buntung, Keng Hong! Kembali Keng Hong memaki dirinya sendiri dan cepat dia berbisik perlahan sekali.

Gadis itu menggerak-gerakkan sepasang alisnya, kelihatannya terheran. Akan tetapi dia kemudian mengangguk tanda mengerti apa yang diminta oleh Keng Hong.

Setelah Keng Hong membisikkan siasatnya, nona itu kembali menjauhkan tubuhnya lalu berkata, kini suaranya keras, "Subo terdesak oleh nenek iblis itu!"

Keng Hong tertawa, suara ketawanya mengejek. "Ahhh, siapa tidak mengenal nenek iblis Ang-bin Kwi-bo? Namanya saja besar, padahal dia seorang yang pengecut dan penakut sehingga kuku-kuku jari tangannya pun diberi racun dan dipanjangkan, masih pula dia menggunakan rambutnya yang kotor dan penuh kutu! Ilmu silatnya sih hanya ilmu silat pasaran saja, dan kepandaiannya pun bolehnya mencuri-curi dan meniru-niru dari orang lain. Biar pun begitu, dia masih tidak malu-malu memakai nama sebagai seorang di antara Bu-tek Su-kwi. Menggelikan dan menjijikkan!"

Terdengar Ang-bin Kwi-bo memekik marah sambil melompat mundur. "Bocah bermulut busuk! Murid Sie Cun Hong mulutnya busuk seperti gurunya! Kau tunggu saja, setelah aku membunuh isterinya, engkau akan kubunuh sedikit demi sedikit, akan kusayat-sayat dagingmu, kuberikan kepada gagak dan anjing...!" Akan tetapi ia berhenti memaki karena nenek itu telah menerjang kembali dengan tongkatnya, marah mendengar caci maki yang kotor dan keji itu.

Melihat keduanya bertanding kembali, nona yang sudah diberi isyarat kedipan mata Keng Hong, berkata lagi dengan suara nyaring, "Akan tetapi, kulihat nenek iblis itu demikian kuat dan cepat, ilmu silatnya aneh sekali! Sungguh mengerikan!"

"Uwaaah! Siapa bilang? Coba kalau gurumu menggunakan senjata Siang-bhok-kiam yang secara tidak tahu malu dia rampas dari tanganku pada saat aku pingsan, hemm... tentu dalam sepuluh jurus lagi dia mampus! Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka guruku yang dianggap suci, tak mungkin dipergunakan terhadap sembarangan manusia, bahkan pantang minum darah manusia. akan tetapi kalau darah iblis seperti nenek itu, guruku tentu tidak ragu-ragu lagi untuk mempergunakan. Dia pengecut, mana berani? Ha-ha-ha!" Keng Hong tertawa, akan tetapi sesungguhnya pada saat dia tertawa itu, punggung dan dadanya rasanya nyeri bukan main sehingga hampir tak dapat dia menahan.

Tiba-tiba Ang-bin Kwi-bo terkekeh. "Heh-heh-heh-hi-hi-hik! Cia Keng Hong, kau kira aku manusia tolol yang dapat kau bakar hatiku? Ha-ha-ha, biar kau mencaci maki aku, tidak nanti aku begitu bodoh menjadi marah dan terkena pancinganmu kemudian memberikan pedang Siang-bhok-kiam kepada isteri gurumu! Kau lihat ini! Sekarang aku malah akan menggunakan pedang pusaka gurumu untuk membunuh isterinya! Heh-heh-heh, bagus sekali! Pedang pusaka suci ini akan minum darah isteri gurumu sendiri!"

Keng Hong membelalakkan matanya sambil mengangkat tangan ke atas, dan mulutnya menyeringai saking sakitnya. "Jangan...! Ahhh, Kwi-bo, jangan sekeji itu...!”

Gadis itu meloncat berdiri lantas menudingkan telunjuknya ke hidung Keng Hong sambil membentak, "Engkau... dengan akal bulusmu yang tolol! Engkau malah mencelakakan subo...!"

Ang-bin Kwi-bo terkekeh, kemudian mencabut Siang-bhok-kiam dari pinggangnya. Melihat Pedang Kayu Harum milik suaminya ini, nenek itu menjadi pucat wajahnya, akan tatapi ia sudah nekat dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menerjang dengan tongkatnya.

Ang-bin Kwi-bo mengerahkan sinkang-nya dengan sangat kuat dan menangkis dengan pedang Siang-bhok-kiam.

"Krekkk!"

Tongkat di tangan nenek itu patah menjadi dua bertemu dengan Siang-bhok-kiam. Nenek itu menjerit dan meloncat mundur.

"Hi-hi-hi-hi-hik!" Ang-bin Kwi-bo terkekeh girang.

"Celaka...!" Gadis itu menjerit dan sekali ini jeritnya bukan lagi pura-pura, melainkan jerit karena khawatir dan ngeri.

Sambaran Siang-bhok-kiam yang berubah menjadi sinar hijau dapat dielakkan oleh Tung Sun Nio, akan tetapi karena hawa pedang itu sangat mukjijat, dia terhuyung dan tiba-tiba sinar hitam dari rambut Ang-bin Kwi-bo sudah meluncur ke depan dan melibat leher dan pundak Tung Sun Nio!

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Ang-bin Kwi-bo melangkah maju, pedang Siang-bhok-kiam diangkat tinggi dan akan dihantamkan ke arah kepala nenek itu.

"Tung Sun Nio, lihat pedang suamimu yang suci akan membelah kepalamu, hi-hi-hi..."

Mendadak nenek iblis itu mengeluarkan suara meraung keras, pedang Siang-bhok-kiam terlepas dari tangan kanannya dan dia menjerit. "Aduhhh... tanganku...tanganku...!"

Ternyata tangan kanannya menjadi lumpuh dan pedang yang terlepas itu cepat disambar oleh Tung Sun Nio lantas sekali pedang tiu berkelebat, rambut yang membelitnya sudah dibabat putus!

"Aihhhh... keparat... pedang celaka...!" Ang-bin Kwi-bo memaki dan tangan kirinya dengan jari-jari berkuku runcing menyambar. Tung Sun Nio memapaki lengan itu dengan Siang-bhok-kiam.

"Srattt... krekkkkk!"

Lengan nenek iblis yang kiri terbabat buntung! Dia memekik keras. Akan tetapi pekik ini dilanjutkan oleh raung yang mendirikan bulu roma ketika pedang Siang-bhok-kiam yang ditusukkan Tung Sun Nio amblas ke dalam perutnya menembus punggung!

Tubuh itu meronta keras sehingga Tung Sun Nio tidak mampu menguasai lagi, terpaksa melepaskan gagang Siang-bhok-kiam dan meloncat ke belakang. Tubuh Ang-bin Kwi-bo terguling lalu roboh, dan tewaslah nenek iblis itu dengan pedang Siang-bhok-kiam masih menancap di perutnya. Buntalan pusaka yang disampirkan di pundak jatuh terlepas dan berserakan di atas rumput.

"Subo...!" Gadis itu berseru girang dan memeluk gurunya.

Nenek ini yang masih pucat mukanya, menghela napas panjang. "Sie Cun Hong, tidak urung engkau juga yang menolongku, melalui pedangmu dan siasat muridmu..."

Mereka berdua menengok dan ternyata Keng Hong juga sudah roboh terguling dalam keadaan pingsan. Dia tadi mempertahankan dirinya untuk menyaksikan siasatnya yang berbahaya. Dia maklum akan kecerdikan iblis wanita itu untuk menjalankan siasatnya.

Nenek iblis itu tentu merasa ditipu dan berlaku cerdik, tidak mau dipancing, padahal justru itulah kehendak Keng Hong. Andai kata nenek itu menyerahkan pedang kepada Tung Sun Nio, belum tentu isteri gurunya itu akan menang menghadapi nenek iblis yang amat lihai ilmunya Ban-tok Sin-ciang itu. Akan tetapi nenek itu berlaku cerdik, dan terpancing oleh pujian Keng Hong akan pedang Siang-bhok-kiam.

Kejahatan dan kekejian nenek iblis itu mendatangkan akal untuk membunuh isteri Sin-jiu Kiam-ong dengan pedangnya sendiri yang oleh muridnya disebut pedang suci. Hal ini memang dikehendaki oleh Keng Hong karena pemuda ini mempunyai keyakinan bahwa Ban-tok Sin-ciang akan luntur dan punah apa bila terkena hawa murni dan mukjijat dari Siang-bhok-kiam.

Dugaannya segera terbukti karena begitu tangan kanan nenek iblis itu memegang Siang-bhok-kiam dan mengerahkan sinkang, otomatis hawa sakti pedang itu menumpas dan memusnahkan hawa Ban-tok Sin-ciang seperti air memadamkan api hingga lengan kanan nenek iblis menjadi lumpuh yang mengakibatkan kematiannya! Setelah melihat siasatnya berhasil dan isteri gurunya tertolong, Keng Hong terguling pingsan!

Keng Hong mengeluh perlahan dan membuka matanya. Ia mendapatkan dirinya terbaring di atas dipan bambu dalam sebuah kamar yang sangat bersih. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan lantainya dari batu putih. Tubuhnya terasa nyeri semua dan amat panas, seakan-akan di dalam dadanya ada api unggun menyala. Akan tetapi perasaan nyeri sejenak lenyap dan terlupa olehnya ketika pandang matanya bertemu dengan wajah cantik dari gadis yang duduk di atas bangku, tak jauh dari pembaringannya.

"Suheng..., bagaimana rasanya...?" tanya gadis itu dengan suaranya yang halus merdu, wajahnya yang cantik memandang serius sekali dan terbayang kegelisahan.

"Suheng...?" Keng Hong mengulang dengan suara terheran.

"Engkau adalah murid Sin-jiu Kiam-ong, yaitu suami subo. Itu berarti kita masih saudara seperguruan." Gadis itu menjelaskan.

"Ahhh... terima kasih, Sumoi. Tentu engkau dan subo yang menolongku dan membawaku ke sini. Budimu dan budi subo amat besar, aku berterima kasih sekali."

"Aihhh, Suheng. Baru sekarang aku tahu setelah subo memberi penjelasan sebenarnya engkaulah yang telah menyelematkan subo. Kalau mau bicara tentang budi, engkau pun sudah berjasa besar. Akan tetapi, Suheng..." Gadis itu berhenti dan memandang wajah Keng Hong penuh keharuan dan kegelisahan. "... lukamu..., subo bilang..."

"Bilang bagaimana? Bahwa luka akibat Ban-tok Sin-ciang di punggungku ini tidak dapat disembuhkan?"

Gadis itu mengangguk dan... menangis, menutupi mukanya. Keng Hong membelalakkan matanya, memandang heran. "Ehh, Sumoi! Kenapa engkau menangis?"

Gadis itu mengangkat mukanya dari balik kedua tangannya, muka yang menjadi merah oleh tangis, sehingga bibirnya menjadi merah sekali, dengan kulit bibir tipis seperti buah apel, seolah-olah mudah sekali pecah.

"Suheng, subo sudah berusaha keras untuk mengobatimu, akan tetapi menurut subo... dia hanya berhasil menghentikan racun itu menjalar, namun tidak berhasil melenyapkan racun itu dan... dan... engkau hanya akan bertahan sampai sehari semalam... Sekarang sudah hampir tengah malam... besok pagi..." Gadis itu tidak mampu melanjutkan karena sudah menangis lagi.

Keng Hong menjadi terharu. Perasaannya bagai lilin terbakar api dan dalam keharuannya dia memegang tangan gadis itu. Gadis itu pun balas memegang sehingga jari-jari tangan mereka saling mencengkeram!

"Kau mau bilang bahwa nyawaku tinggal setengah malam lagi? Kalau begitu mengapa, Sumoi? Kalau sudah semestinya besok pagi aku mati, aku tidak takut. Biarlah, mengapa kau yang baru saja berjumpa denganku menangisi keadaanku?"

Gadis itu menarik kembali tangannya dan mukanya menjadi merah sekali, akan tetapi dia memandang Keng Hong dengan sinar mata penuh kejujuran. "Suheng, selamanya aku tak pernah mempunyai saudara seperguruan. Sekarang, bertemu denganmu dan tiba-tiba mempunyai seorang suheng, hatiku... amat bahagia. Akan tetapi besok pagi... ahhh..." Ia menangis lagi.

Keng Hong mengerti dan dia menyumpahi diri sendiri mengapa hatinya menjadi kecewa mendengar keterangan itu. Tentu saja! Gadis ini menangis karena kasihan kepadanya, kepada suheng-nya! Sama sekali bukan karena... cinta padanya, seperti yang diharapkan oleh hatinya yang lemah apa bila bertemu dengan gadis jelita! Benar-benar memalukan. Laki-laki mata keranjang benar dia!

"Sudahlah, Sumoi. Harap jangan menangis dan tolong kau minta subo agar suka datang ke sini dan membawa Siang-bhok-kiam. Kalau Tuhan menghendaki, aku tidak akan mati besok pagi."

Gadis itu memandang penuh harapan, kemudian mengangguk dan melangkah keluar dari dalam kamar itu. Keng Hong kembali menyumpahi dirinya. Mengapa mata ini tidak mau diam, seperti besi terbetot besi semberani dan memandang tubuh belakang gadis itu ketika berjalan pergi sehingga tampak pemandangan yang amat menggairahkan?

Tak lama kemudian, nenek itu melangkah masuk diikuti gadis itu, langkahnya halus dan biar pun sikapnya tenang dan wajahnya juga tidak membayangkan sesuatu, namun sinar matanya terselimut kegelisahan ketika ia memandang wajah Keng Hong.

"Subo..." Keng Hong mengangkat kedua tangan ke depan dada dan menyeringai karena pundaknya yang terluka terasa sangat nyeri. "Harap Subo maafkan bahwa teecu tidak dapat memberi hormat sebagaimana mestinya. Teecu sudah menerima budi pertolongan Subo, teecu amat berterima kasih..."

"Ssttt, engkau betul-betul persis seperti gurumu, pandai sekali menyenangkan hati orang. Namamu Cia Keng Hong, betulkah? Aku hanya mendengar iblis betina itu memanggilmu."

"Benar, Subo. Teecu Cia Keng Hong."

"Keng Hong, terus terang saja, sungguh pun sudah puluhan tahun aku mempelajari ilmu pengobatan, akan tetapi luka pada punggungmu akibat cengkeraman kuku dengan ilmu beracun Ban-tok Sin-ciang itu aku tidak dapat menyembuhkannya. Maka aku khawatir sekali engkau hanya akan bertahan sampai besok pagi..." Kalimat terakhir terdengar lirih, penuh keharuan.

Mata Keng Hong tak dapat dia kuasai, sudah menyelonong lewat balik pundak subo-nya itu, memandang wajah gadis jelita dan melihat betapa sepasang mata yang indah itu menitikkan air mata. Aihh, sungguh aneh. Dia mempunyai perasaan seolah-olah dia akan girang sekali kalau besok pagi mati, ditangisi oleh sepasang mata seperti itu! Gila! Gila engkau Cia Keng Hong, dia menyumpahi diri sendiri. Mata keranjang yang tiada taranya!

"Subo, dahulu suhu pernah memberi tahu bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah sebuah pedang mustika yang dapat menyembuhkan segala macam racun di dunia ini. Selain itu, juga di dalam tubuh teecu sudah mengeram banyak sekali racun yang disuruh minum oleh suhu sehingga sedikit banyak tubuh teecu sudah agak kebal terhadap racun. Oleh karena itu, betapa pun lihainya Ban-tok Sin-ciang, namun jika benar keterangan suhu, dan kalau Tuhan masih belum menghendaki, maka teecu rasa pedang Siang-bhok-kiam dapat menyelamatkan nyawa teecu."

Seketika berserilah wajah nenek itu dan baru sekarang dapat dilihat bahwa sebetulnya dia tadi berduka sekali. "Benarkah? Dia tidak pernah membohong, Keng Hong. Kalau dia mengatakan demikian, pasti pedang Siang-bhok-kiam ini akan dapat menyembuhkanmu. Akan tetapi... bagaimana caranya...?"

"Harap Subo suka menusukkan Siang-bhok-kiam di punggung teecu, tepat di bagian yang terkena pukulan Ban-tok Sin-ciang. Tentu saja terserah pada kebijaksanaan dan keahlian Subo agar tusukan tidak mengenai jalan darah dan tak merusak bagian yang mematikan, tidak terlalu dalam tetapi jika terlalu dangkal pun berarti racun yang sudah mengeram di bagian agak dalam tidak dapat tersedot keluar." Keng Hong membicarakan hal-hal yang menyangkut bahaya bagi nyawanya ini seenaknya saja, bagai orang yang membicarakan urusan makan minum!

Nenek itu memandang kagum, kemudian berkata dengan suara yang mengandung isak! "Sungguh... engkau... seperti... seperti dia...! Mirip sekali...!"

Keng Hong tersenyum, maklum bahwa yang dimaksudkan oleh subo-nya adalah gurunya. Jelas bahwa subo-nya ini selamanya mencinta suhu-nya. Namun mengapa dahulu bisa menyeleweng? Dia menarik napas panjang. Manusia manakah di dunia ini yang tidak pernah berdosa? Subo-nya ini pun tidak terkecualikan.

Ia dapat membayangkan betapa suhu-nya tentu sedang pergi dan subo-nya yang sedang kesepian itu tergoda nafsunya sendiri, tergoda oleh sahabat suhu-nya sehingga terjadilah pelanggaran. Apakah anehnya dalam peristiwa itu? Kalau direnungkan dengan hati dan pikiran dingin, sebenarnya bukanlah apa-apa!

"Teecu menyerahkan keselamatan teecu dalam tangan Subo. Silakan dan...eh, Sumoi... tolonglah bantu aku membalik dan menelungkup."

Gadis itu cepat melangkah maju dan kedua pipinya masih basah ketika dia membantu Keng Hong rebah menelungkup sehingga punggungnya berada di atas.

"Bukalah bajunya, telanjangi punggungnya!" kata subo-nya.

Keng Hong kembali menyumpahi dirinya dan ingin menempiling kepalanya sendiri ketika jantungnya berdebar dan hatinya merasa senang sekali merasa betapa jari-jari tangan yang halus dan hangat itu membuka bajunya.

"Ehh, Suheng... engkau berdebar-debar! Kalau kau takut...ahh, amat berbahaya...!" Gadis itu berseru sambil meraba iga kiri Keng Hong.

Mampus kau! Keng Hong menyumpahi dirinya. Terbongkar rahasia mata keranjangmu! Ia menoleh dan memaksa diri tersenyum.

"Sumoi, siapa sih yang tidak takut menghadapi detik hidup atau mati ini? Akan tetapi aku cukup tabah, harap engkau jangan khawatir, aku percaya penuh dengan keahlian Subo menggunakan pedang!"

Kalau gadis itu tidak mengerti dan percaya akan keterangan Keng Hong, adalah nenek itu yang tak dapat dibohongi. Orang yang berdebar takut tidak bisa tersenyum seperti itu. Ia menghela napas dan berkata lirih, "Hemmm..., persis dia..! Tiada sedikit pun bedanya... hemmmmm…!"

Keng Hong terkejut sekali. Suara "Hemmm!" yang terakhir itu benar-benar mencurigakan, sebab terdengar jelas subo-nya itu gemas. Tentu subo-nya sudah tahu bahwa jantungnya berdebar karena sentuhan jari-jari tangan mungil! Celaka dua belas! Keng Hong cepat membenamkan muka pada bantal dan berkata dengan suara bindeng karena hidungnya terhimpit di bantal,

"Silakan, Subo!"

Nenek itu memegang Siang-bhok-kiam yang sudah dicuci bersih karena tadi memasuki perut Ang-bin Kwi-bo, kemudian mengheningkan cipta untuk membuat seluruh urat syaraf di tubuhnya menjadi tenang. Akhirnya terdengar dia berkata,

"Cia Keng Hong, semoga Tuhan menitahkan arwah gurumu untuk membimbing tanganku menggerakkan pedang. Lukamu sudah kuperiksa dan racun ini mengeram dekat jantung. Tusukanku harus tepat, kurang atau lebih satu inci saja berarti nyawamu akan melayang. Dan kalau itu sampai terjadi, sampaikan maafku kepada gurumu!"

Sunyi menyeramkan setelah nenek itu mengeluarkan ucapan yang seperti orang berdoa ini, dan terdengarlah isak tertahan dari gadis yang berdiri di sudut kamar dengan kedua kaki menggigil dan muka pucat sekali.

"Teecu mengerti. Silakan!" Suara Keng Hong sedikit pun pun tidak terdengar takut, tenang sekali.

Nenek itu mundur dua langkah, menodongkan pedang, matanya yang tua namun masih awas itu memandang tanpa berkedip pada punggung yang akan ditusuknya, mengukur dengan cermat sekali. Kemudian terdengar dia mengeluarkan suara melengking, sinar hijau berkelebat dan...

"Ceppp…!"

Ujung pedang Siang-bhok-kiam menusuk punggung Keng Hong dibarengi dengan sedu sedan gadis yang menonton pertunjukan mengerikan ini. Terdengar keluhan dari mulut Keng Hong yang didekap. Nenek itu melepaskan gagang pedang.

Seperempat bagian pedang Siang-bhok-kiam menancap pada punggung itu. Keng Hong kelihatan lemas, entah pingsan entah tertidur! Akan tetapi, perlahan-lahan pedang yang putih kehijauan itu berubah hitam, kemudian dari gagangnya menetes-netes cairan warna hitam.

"Ya Tuhan... terima kasih..., terima kasih, Sie Cun Hong...!" Nenek itu menjatuhkan diri di depan pembaringan dan terisak!

Gadis itu pun menangis dan menubruk, terus merangkul gurunya. Kedua orang wanita itu menangis, menangis karena girang, karena sudah merasa yakin bahwa ‘operasi istimewa’ itu berhasil baik!

"Yan Cu... Yan Cu... dengarlah baik-baik. Murid dia inilah yang harus menjadi suamimu. Aku telah menentukan detik ini juga. Engkau harus menjadi isterinya!"

"Subo...!" Gadis yang bernama Gui Yan Cu itu mencela dengan muka merah sekali dan menoleh ke arah dipan. "Dia..."

Nenek yang masih mengucurkan air mata itu tersenyum dan menggeleng kepala. "Dia pingsan, tidak mendengar. Andai kata mendengar sekali pun, mengapa? Dia tentu setuju! Adakah perawan yang lebih hebat dari pada engkau?"

"Ssssttttt... Subo... teecu malu... kalau-kalau dia mendengar..."

Nenek itu bangkit perlahan, sejenak memandang ke arah punggung Keng Hong. Makin banyak kini cairan berwarna hitam menetes turun dari gagang pedang.

"Dia sudah selamat. Kepulihan kesehatannya hanya tergantung dari kekuatan sinkang di tubuhnya. Akan tetapi aku percaya, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong dia telah mempunyai sinkang yang amat kuat dan dalam waktu sepuluh hari tentu dia sudah dapat turun dari pembaringan. Kau jagalah dia baik-baik. Racun yang menetes itu cepat bersihkan dan kalau sudah berhenti cairan hitam dan pedang itu sudah menjadi putih kembali, kau boleh mencabutnya dengan cepat dan obati luka di punggungnya dengan daun obat pembersih luka. Beri minum obat akar penambah darah, engkau sudah tahu." Nenek itu lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan Yan Cu sendirian bersama Keng Hong.

Yan Cu duduk di bangku yang diseretnya ke dekat pembaringan. Sejenak dia termenung seperti patung memandang ke arah punggung dan belakang kepala Keng Hong. Memang yang tampak hanya punggung dan belakang kepala, muka pemuda itu menunduk dan miring ke sebelah dalam. Punggung itu bergerak perlahan naik turun, pernapasannya normal, tanda sehat. Tiba-tiba Yan Cu seperti sadar dan tergopoh-gopoh dia mengambil kain, dicelupkan di air panas, lalu dia membersihkan tetesan-tetesan racun hitam.

Dengan jari telunjuknya ia perlahan-lahan menyentuh kulit punggung dekat luka, hati-hati sekali, seolah-olah khawatir kalau-kalau kulit punggung itu akan rusak oleh sentuhannya, seperti orang menyentuh sebuah perhiasan yang mahal. Kemudian dia memegang urat nadi lengan Keng Hong untuk meneliti denyut darahnya yang juga normal.

Dia bernapas lega, lalu menjaga di situ, mengusap setiap tetes racun, menjaga dengan penuh kesetiaan, penuh ketelitian dan penuh kebahagiaan. Dia suka kepada pemuda ini. Dia tadinya merasa girang sekali mendapatkan seorang suheng yang begini lihai dan begini... ganteng! Sekarang, suheng ini tiba-tiba menjadi calon suaminya!

Sekarang perasaannya benar-benar berbeda sekali. Dia hanya girang, gembira, bahagia. Selanjutnya dia tidak akan berpisah dari pemuda ini kalau sudah menjadi isteri pemuda ini. Cinta? Dia tidak tahu, tidak mengerti. Yang dia tahu hanya bahwa dia suka kepada Keng Hong, suka dan kagum.

Dengan amat telaten dan penuh perhatian Yan Cu merawat Keng Hong, merawat luka di punggungnya yang sekarang sudah tidak hitam lagi setelah semua racun disedot oleh Siang-bhok-kiam yang kini sudah dicabut oleh Yan Cu. Pemuda itu masih berada dalam keadaan tidak sadar dan dalam waktu dua hari dua malam dia selalu dijaga oleh Yan Cu yang tak pernah meninggalkan kamarnya. Bahkan gadis ini hanya tidur sambil duduk di atas bangku, hanya makan bubur setelah dia menyuapi Keng Hong yang masih setengah pingsan itu dengan bubur encer.

Karena kurang tidur dan lelah, tubuh gadis ini menjadi agak kurus, rambutnya kusut dan wajahnya pucat. Akan tetapi mulutnya selalu tersenyum dan sinar matanya berseri-seri melihat betapa Keng Hong semakin sehat.

Pada hari ke tiga, Keng Hong siuman. Pagi itu dia tersadar dan membuka mata, melihat Yan Cu sedang tertidur, duduk di atas bangku, kepalanya menyandar di dinding. Di atas meja terdapat obat-obat dan di sudut kamar terdapat anglo tempat masak bubur dan obat.

Keng Hong kaget, meraba punggungnya dan hatinya terharu sekali. Dia tahu bahwa dia telah selamat dan agaknya gadis ini selalu menjaganya entah berapa lamanya dia tidak tahu. Akan tetapi dia bisa menduga, tentu lama sekali, buktinya gadis itu sampai tertidur kelelahan di atas bangku!

Ia mengamat-amati wajah yang tertidur itu. Rambut yang kusut itu sebagian menutupi pipi. Hatinya terharu sekali. Aiiihhh, gadis yang amat cantik jelita dan telah menjaga serta merawatnya, entah berapa hari lamanya! Budi yang amat besar ini, dan dia membalasnya dengan pandang mata tertarik, dengan gairah yang seperti dikutik-kutik! Benar-benar dia keparat tak tahu malu, tak kenal budi!

Dia lalu bangkit bersila dan bersemedhi. Sinkang-nya dia gerakkan dan ternyata seluruh tubuhnya sudah sehat kembali. Luar biasa sekali, kini sinkang-nya dapat dia gerakkan lebih cepat dari pada biasanya, jauh lebih kuat! Ia teringat, inilah hasilnya menyedot hawa sinkang dari tiga orang kakek iblis!

Terbayanglah semua pengalamannya semenjak dia bertemu dengan Thian-te Sam-lo-mo dan dia bergidik. Dia berhutang budi kepada subo-nya, berhutang nyawa. Juga kepada gadis cantik ini.

"Ehhhhh... Engkau belum boleh duduk, Suheng...!"

Tiba-tiba Keng Hong mendengar suara gadis itu. Betapa merdunya suara itu. Ia membuka mata, tersenyum. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut sebentar dan... gadis itu menundukkan mukanya, kedua pipnya merah sekali, mulutnya tersenyum-senyum penuh rasa jengah! Ehhh, mengapa begini? Apakah pandang matanya kembali membayangkan perasaan terpikat? Membayangkan sifatnya yang mata keranjang? Celaka kalau begitu. Tidak boleh begini!

"Maaf, Sumoi... Mengapa tidak boleh duduk?"

Yan Cu mengangkat muka, sekarang berani memandang. "Subo berpesan agar engkau berbaring dan memulihkan tenaga sampai sepuluh hari. Engkau baru tiga hari..."

"Apa?" Keng Hong memotong, terkejut. "Sudah tiga hari tiga malam aku rebah di sini dan engkau terus-menerus menjaga dan merawatku di sini, Sumoi?"

Sepasang mata yang indah itu memandang Keng Hong, seolah-olah mata itu bertanya apa salahnya dengan itu, akan tetapi bibirnya bergerak, berkata halus. "Ahh, Suheng. Itu sudah menjadi kewajibanku."

"Kewajibanmu? Dan engkau menjaga terus-menerus tanpa beristirahat sehingga engkau kelelahan dan tertidur di bangku. Mukamu pucat, engkau agak kurus, pakaianmu dan rambutmu kusut... Ah, Sumoi aku benar tak tahu diri, membuat Sumoi capek sekali."

Yan Cu bangkit berdiri, meneliti pakaiannya, dan otomatis tangannya meraba rambutnya. "Wah, aku... aku harus berganti pakaian... Harus mandi, rambutku... ahhh…, tentu jelek sekali..."

Keng Hong tak dapat menahan ketawanya. "Bukan begitu, Sumoi. Engkau tetap cantik, ahh, malah lebih cantik dalam keadaan begini. Engkau sudah merawatku, sungguh aku harus berterima kasih!' Keng Hong meloncat turun dan menjura di depan gadis itu.

Yan Cu tersipu-sipu. "Eh-ehh-ehhh, jangan Suheng. Aku... aku harus menjagamu, dan engkau tidak boleh turun. Kesehatanmu belum pulih. Subo bilang, jika sinkang-mu cukup kuat, dalam waktu sepuluh hari barulah Suheng boleh turun."

"Ha-ha-ha! Aku sudah cukup sehat dan kuat berkat perawatanmu, Sumoi. Lihat!" Keng Hong membusungkan dada, menarik napas panjang dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, dan... punggungnya menempel di langit-langit. Kemudian dia melompat turun lagi, demikian ringan tubuhnya. "Nah, bukankah aku sudah pulih kembali?"

Yan Cu memandang kagum. "Engkau... engkau hebat, suheng. Baru malam tadi aku... Engkau makan dengan..." Sukar ia melanjutkan kata-katanya dan ia hanya memandang ke arah bekas mangkok dengan sendoknya.

Keng Hong memandang, terharu. "Engkau masih menyuapi aku, bukan? Terima kasih, Sumoi. Aku tidak akan mungkin mampu membalas budimu, biarlah Thian saja yang akan membalasmu." Kembali Keng Hong menjura. "Di mana subo? Aku harus menghaturkan terima kasih kepadanya."

"Subo telah tiga hari pergi seperti biasa, mencari daun-daun obat... nah itu subo datang!"

Benar saja, nenek itu sudah berdiri di ambang pintu dengan sebuah keranjang penuh daun dan akar obat. Keng Hong cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Subo, terimalah hormat dan terima kasih teecu atas pertolongan Subo. Sungguh teecu tidak akan dapat melupakan budi Subo dan Sumoi yang amat besar terhadap diri teecu!" Keng Hong bersujud sampai delapan kali.

Nenek itu memandang dengan wajah berseri dan penuh kekaguman. "Baru tiga hari dan engkau sudah sehat kebali. Entah berapa hebat sinkang-mu, Keng Hong! Namun engkau benar-benar mengagumkan, agaknya sinkang-mu malah sudah lebih tinggi dari mendiang suhu-mu!"

"Subo, terlalu memuji. Kalau tidak ada Subo dan Sumoi, tentu teecu sekarang hanya tinggal nama saja. Entah bagaimana teecu akan dapat membalas budi Subo dan Sumoi!"

"Keng Hong, orang yang ingat akan budi adalah orang yang baik. Syukurlah kalau engkau suka ingat akan budi orang. Untuk membalasku, engkau harus memenuhi permintaanku dan untuk membalas budi Sumoi-mu, kau harus suka menurut menjadi calon suaminya. Aku menjodohkan engkau dengan muridku." Terbelalak mata Keng Hong dan otomatis dia menengok kepada sumoi-nya. Akan tetapi gadis itu sudah lari keluar dari kamar.

"Akan tetapi, Subo..." Keng Hong sudah bangkit berdiri dan memandang nenek itu dengan bingung.

Kini dia benar-benar tidak dapat menggunakan pikirannya, bingung karena keputusan itu benar-benar sangat mendadak dan sama sekali tidak pernah diduganya. Dia dijodohkan dengan gadis jelita itu!

"Cia Keng Hong, apakah engkau hendak menolak? Tegakah engkau menolak setelah apa yang dilakukan oleh muridku? Dia sudah setuju, dan kulihat kalian memang berjodoh. Engkau murid Sin-jiu Kiam-ong, dia muridku. Engkau tampan gagah, dia pun cantik jelita dan gagah. Adakah gadis yang lebih cantik dari dia? Ehhh, Keng Hong, apakah engkau sudah memiliki calon isteri lainnya?" Nenek itu memandang penuh perhatian dan penuh selidik.

Keng Hong menggelengkan kepalanya. Memang dia belum mempunyai tunangan. Akan tetapi pada saat itu, terbayanglah wajah Biauw Eng di pelupuk matanya. Biauw Eng!

Bagaimana dia dapat memilih gadis lain menjadi calon isterinya apa bila dia sudah yakin benar bahwa Biauw Eng-lah satu-satunya wanita di dunia ini yang dicintanya? Cintanya terhadap Biauw Eng adalah cinta yang murni, yang mendalam bukan hanya cinta birahi atau tertarik oleh kecantikan Biauw Eng saja.

Memang dia suka akan kecantikan, selain tertarik, akan tetapi itu bukanlah cinta! Mana mungkin dia mencinta wanita lain, biar sejelita gadis itu sekali pun? Cinta kasihnya sudah direnggut Biauw Eng. Memang Biauw Eng sekarang membencinya, akibat kebodohannya sendiri, akan tetapi apa pun yang terjadi, andai kata kelak Biauw Eng menjadi isteri orang lain sekali pun, dia akan tetap mencinta Biauw Eng!

"Nah, apa bila engkau belum bertunangan, mengapa ragu-ragu? Engkau harus menjadi suami muridku, karena hanya untuk jodoh muridku inilah aku bertahan hidup selama ini. Kini aku telah mendapatkan jodoh untuknya, yaitu engkau. Kalau engkau menolak, berarti engkau adalah seorang yang tidak kenal budi dan akan kuanggap sebagai musuh. Aku akan membunuhmu!"

"Subo...!" Keng Hong berteriak kaget.

Nenek itu lalu menurunkan keranjangnya. "Dengarlah, dahulu aku telah melakukan dosa terhadap gurumu. Karena itu, aku kini melihat jalan untuk menebus dosaku, yaitu untuk membahagiakan muridnya. Karena itulah aku memilihmu untuk menjadi suami muridku, padahal andai kata ada seorang putera kaisar sekali pun yang melamar muridku, belum tentu akan kuterima! Engkau bahagia sekali menjadi calon suami muridku. Kalau engkau menolak, berarti engkau menghancurkan harapanku menebus dosa dan sekaligus engkau menghina aku, engkau menghancurkan perasaan muridku yang juga akan merasa terhina karena ditolak. Nah, aku telah cukup bicara. Kalau kau menerima akan kuatur pernikahan kalian bulan ini juga, atau engkau menolak dan harus mengadu jiwa dengan aku!"

"Subo...!" Keng Hong mengeluh.

Akan tetapi nenek itu sudah menyambar keranjangnya dan pergi dari situ.

********************

Keng Hong bangkit perlahan-lahan, berjalan menghampiri pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di pembaringan itu. Pikirannya tidak karuan, terasa gelap dan ruwet. Hatinya tertekan, membuatnya bingung sekali. Apa yang harus dia lakukan?

Harus dia akui bahwa kalau tidak ada guru dan murid itu, dia tentu sudah mati di tangan Ang-bin Kwi-bo! Dia berhutang budi, malah berhutang nyawa! Hutang benda seperti yang dilakukan gurunya, dapat dibayar, pusaka-pusaka yang ‘dihutang’ gurunya dapat dia cari kembali dan dia kembalikan. Akan tetapi hutang budi? Hanya dapat dibalas dengan budi pula. Kalau dia menolak, berarti dia akan menjadi orang yang paling tidak mengenal budi di dunia ini!

Dia masih jejaka, belum menikah belum bertunangan. Alasan apa yang dapat dia pakai untuk menolak? Yang mengatur perjodohan adalah isteri gurunya sendiri, berarti berhak untuk mewakili gurunya yang sudah tidak ada. Ada pun jodoh yang demikian cantik jelita, berkepandaian tinggi, berbudi mulia, gadis yang telah menjaga dan merawatnya selama tiga hari tiga malam tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Dari sikap itu saja dia sudah bisa menduga bahwa gadis itu tentu suka kepadanya! Bagaimana dia dapat menolak? Keng Hong menjadi pening kepalanya dan dia duduk sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Suheng...!" Halus merdu sekali suara itu, akan tetapi mendengar itu, kepala Keng Hong menjadi makin pening. Ia mengangkat muka memandang dan matanya terbelalak.

Gadis itu sudah mandi, sudah menyisir rambut dengan rapi, sudah bertukar pakaian yang bersih dan indah, pakaian berwarna serba kuning. Rambutnya yang hitam dan gemuk dikelabang dua, diikat dengan pita sutera kuning pula. Segar dan cantik mempesonakan. Akan tetapi, melihat kecantikan gadis ini, kepalanya berdenyut-denyut rasanya sehingga dia memejamkan mata dan menekankan kedua tangannya keras-keras dari kanan kiri.

"Suheng... apakah kepalamu masih terasa pening...?"

Keng Hong mencium bau yang amat sedap harum. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan cepat memejamkannya kembali karena melihat sepasang mata bagaikan dua buah bintang cemerlang menatapnya lekat-lekat di depan mukanya. Ia menggeleng kepalanya dan dengan kedua mata masih terpejam dia bertanya,

"Sumoi, di mana Subo?" Dia heran sendiri mendengar suaranya mendadak menjadi parau dan gemetar, seperti suara orang terserang penyakit demam, suara orang gelisah yang bingung dan kehabisan akal!

"Subo sudah pergi lagi, katanya hendak mencari akar jin-som di puncak paling ujung. Paling cepat lima hari lagi akan kembali. Mengapa. Suheng? Mukamu pucat sekali. Subo sudah bilang, bahwa engkau boleh turun setelah beristirahar sepuluh hari. Baru tiga hari engkau turun. Lebih baik berbaringlah dan mengasolah sampai sembuh, Suheng. Hari ini engkau sudah boleh makan masakan daging. Kutangkapkan kelinci untukmu, ya? Atau engkau lebih senang daging ayam hutan? Ataukah kijang? Aku akan masak yang enak untukmu..."

Keng Hong merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Dia memaksa diri membuka mata, memandang sumoi-nya itu dengan tajam, lalu bertanya,

"Sumoi, apakah engkau... engkau... tadi mendengar...?"

Gadis itu memandangnya, matanya kini terbuka agak lebar. Mati aku, pikir Keng Hong. Sepasang mata itu luar biasa indahnya! Akan tetapi menikah dengannya? Ahhh, bagai mana mungkin? Biauw Eng...!

"Mendengar apa, Suheng?"

Keng Hong mengerutkan keningnya. Kalau gadis berpura-pura tidak tahu berarti gadis ini memiliki watak yang suka mempermainkan! Akan tetapi kedua mata itu memandangnya begitu jujur, sewajarnya dan tidak menyembunyikan sesuatu apa pun, jelas memang tidak mengerti.

"Itu... tuhhh... tentang... ehh, tentang perjodohan..."

Mendadak gadis itu menundukkan mukanya. Sesudah menunduk, nampak sekali betapa lentik panjang bulu matanya, betapa mancung hidungnya dan betapa runcing dagunya. Bukan main! Keng Hong tidak percaya di dunia ini ada yang lebih manis dari pada wajah di depannya ini!

Gadis ini mengangguk, kemudian terdengar suaranya yang keluar dari bibir yang merah basah tanpa gincu, lebih merah sedikit dari sepasang pipinya yang tiba-tiba menjadi amat merah.

"Aku sudah tahu... bahkan Subo sudah memberi tahu tiga hari sebelumnya, setelah Subo berhasil menusukkan Siang-bhok-kiam itu..."

Keng Hong tertegun. "Kalau begitu... ketika engkau menjaga dan merawatku selama tiga hari tiga malam... ehh… engkau sudah tahu akan perjodohan itu?"

Gadis itu mengangguk dan mengerling sambil tersenyum manis, bukan sikap memikat melainkan agaknya merasa geli dan hendak menggoda. Keng Hong merasa betapa hawa pagi di dalam kamar itu tiba-tiba menjadi panas. Ahh, dia harus bicara dari hati ke hati dengan gadis ini. Kalau dia tidak berani nekat sekarang, nanti akan terlambat dan dia tak akan dapat menghindarkan diri lagi dari ikatan jodoh ini. Dia harus dapat menyelesaikan urusan ini sebelum isteri gurunya itu pulang!

"Sumoi, mari kau ikut bersamaku...!"
"Ehh... ehhh... mau ke mana...?" Yan Cu berkata heran ketika pemuda itu menggandeng tangannya dan menganjaknya lari keluar dari dalam pondok.

Keng Hong tidak menjawab melainkan terus menarik tangan gadis itu. Setelah tiba di luar dia berkata, "Kemana saja, asal jangan di dalam pondok. Aku... aku membutuhkan udara segar, dan aku ingin bicara kepadamu, Sumoi. Bicara dari hati ke hati, bicara sejujurnya demi kebaikan kita bersama, demi masa depan penghidupan kita!"

Gadis itu memandang dengan sinar mata heran, akan tetapi ia mengangguk dan berkata. "Marilah. Di puncak sana itu amat indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Aku paling suka duduk melamun sendirian di sana!"

Mereka lalu berlari-lari ke puncak yang tadi ditunjuk gadis itu. Keng Hong sengaja hendak menguji ginkang gadis itu, maka dia pun berlari cepat sekali.

"Wah, larimu cepat bukan main, Suheng!" teriak gadis itu.

Akan tetapi Keng Hong mendapat kenyataan bahwa gadis itu mempunyai ginkang yang hebat juga. Setelah mengetahui hal ini, pemuda ini pun tidak mau mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengimbangi kecepatan gadis itu sampai mereka tiba di puncak.

Keng Hong memandang sekeliling dan dia menjadi kagum. Memang indah bukan main pemandangan dari puncak itu. Di sebelah timur tampak menjulang puncak Pegunungan Phu-niu-san, ada pun di sebelah barat menjulang tinggi puncak Pegunungan Cin-ling-san. Di sebelah bawah tampak jurang-jurang yang curam dan anak sungai yang berlika-liku seperti ular naga. Hawanya pun nyaman sekali. Berdiam di tempat seperti inilah yang membuat manusia merasa kecil, dan merasa lebih dekat dengan alam yang maha besar, merasa bahwa dirinya tidak berarti, hanya menjadi sebagian kecil saja dari alam ini.

Mereka lalu duduk di atas rumput yang hijau tebal laksana permadani. Sejenak mereka berpandangan dan gadis itu bertanya,

"Suheng, pandang matamu aneh. Engkau kau hendak bicara apakah?"

"Sumoi, pertama-tama, siapakah namamu?"

Gadis itu membelalakkan matanya kemudian tertawa geli, menutupi mulut dengan lengan bajunya. Hemmm, bukan main manisnya kalau begini, pikir Keng Hong kagum. Ia dapat mengerti kegelian hati gadis itu. Seorang suheng yang tidak tahu nama sumoi-nya! Atau lebih lagi, seorang calon suami yang tidak tahu nama isterinya! Mana ada keduanya di dunia ini?

"Aihhh, kukira Suheng sudah tahu. Jadi belum tahukah?"

Keng Hong tersenyum. Sikap gadis itu sekarang lebih terbuka, lincah dan tidak malu-malu sesudah mereka berdua berada di tempat sunyi yang amat indah itu. Sikap ini menular kepadanya dan dia pun menjadi gembira. "Kalau aku sudah tahu, masa aku bertanya lagi, Sumoi?"

Gadis itu bangkit berdiri dan menjura sambil bersoja, sikapnya lucu dan manis. "Kalau begitu, perkenalkanlah, nama saya Gui Yan Cu!"

"Saya Cia Keng Hong!" Keng Hong juga sudah bangkit berdiri dan cepat-cepat membalas penghormatan sumoi-nya seolah-olah mereka merupakan dua orang yang baru bertemu dan baru berkenalan.

Keduanya saling pandang lalu tertawa bergelak. Kini Yan Cu bahkan tertawa gembira tanpa malu-malu menutupi mulutnya seperti tadi sehingga Keng Hong terpesona melihat deretan gigi yang putih seperti mutiara dan sekilas pandang dapat melihat rongga mulut dan ujung lidah yang merah.

"Yan Cu sumoi, marilah kita duduk dan bicara. Aku tidak main-main lagi, aku ingin bicara denganmu mengenai diri kita dan kuharap kau suka bicara sejujurnya seperti aku, karena ini demi kebahagiaan masa depan kita sendiri."

Ternyata Yan Cu adalah seorang gadis yang selain lincah dan jujur, juga dapat diajak berunding, karena gadis itu sudah cepat menghapus kegembiraannya dan duduk sambil memandang Keng Hong penuh perhatian. Melihat sikap gadis ini, kedua matanya yang bening, sepasang bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang melambai tertiup angin gunung, diam-diam Keng Hong membayangkan betapa akan bahagia hidupnya menjadi jodoh gadis seperti ini kalau saja di sana tidak ada Biauw Eng!

"Sumoi, engkau tentu sudah tahu bukan bahwa Subo telah menetapkan agar kita menjadi pasangan, menjadi calon suami isteri?"

Gadis itu mengangguk dan kembali sepasang pipinya menjadi merah. Akan tetapi karena maklum bahwa suheng-nya berbicara dengan sungguh-sungguh, dia berani menentang pandang mata suheng-nya, bahkan kini pandang matanya sendiri penuh selidik.

"Bagaimana tanggapanmu mengenai urusan itu, Sumoi? Bagaimana perasaanmu ketika Subo menyatakan urusan penjodohan itu kepadamu?"

"Hemmm, apa maksudmu, Suheng? Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana!"

"Jawab saja, apakah engkau girang mendengar itu? Ataukah engkau terpaksa menerima akan tetapi dalam hatimu sebetulnya tidak suka?"

Gadis itu kelihatan canggung, akan tetapi dia memaksa mulutnya menjawab. "Aku girang dan suka mendengar itu Suheng."

"Sumoi, katakanlah terus terang, apakah engkau... suka padaku? Kenapa engkau merasa girang dan suka mendengar bahwa engkau hendak dijodohkan denganku?"

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali. Diam-diam Keng Hong merasa kasihan dan dia menyumpahi dirinya sendiri yang dia tahu amat kejam mengajukan pertanyaan seperti ini kepada seorang gadis, malah tunangannya sendiri! Akan tetapi dia harus melakukan hal ini, agar urusan yang ruwet itu dapat beres.

"Aku... aku suka padamu, Suheng. Mengapa tidak? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa, yang... eh, amat tampan dan yang baik budi, bahkan engkau murid suami Subo yang terkenal. Apakah engkau tidak suka kepadaku, Suheng?" Kini sepasang mata yang bening dan membayangkan hati yang bersih itu seolah-olah hendak menembus jantung Keng Hong.

Mampus kau sekarang, demikian Keng Hong memaki diri sendiri. Senjata makan tuan! Dia dibalas oleh gadis itu dengan ucapan sederhana, dengan pertanyaan langsung yang menancap di ulu hatinya.

"Aku... aku... Ah, nanti dulu, Sumoi. Sekarang engkau dulu menjawab pertanyaanku, nanti aku yang mendapat giliran menjawab semua pertanyaanmu."

Yan Cu memandang aneh, lalu menghela napas.

"Engkau aneh, Suheng. Akan tetapi baiklah, kau mau bertanya apa lagi?"

"Pada saat engkau merawatku selama tiga hari tiga malam, apakah hal itu kau lakukan karena... engkau memang kasihan kepadaku, apakah karena suka, ataukah karena kau merasa hal itu menjadi kewajibanmu sebagai… ehh, calon isteri?"

Keng Hong menanti jawaban dari gadis itu dengan hati berdebar tanpa berani memandang wajah Yan Cu. Sampai lama gadis itu tidak menjawab, dan selama itu Keng Hong tidak berani memandang wajahnya. Kemudian terdengar suaranya yang halus namun penuh keheranan,

"Aku tidak mengerti mengapa kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti ini, Suheng. Aku merawatmu karena merasa hal itu sudah semestinya, sudah kewajibanku, bukan hanya karena aku menjadi calon isterimu, akan tetapi karena aku kasihan padamu juga suka kepadamu, apa lagi engkau adalah suheng-ku."

Keng Hong menggaruk-garuk kepalanya. Dasar engkau sendiri yang tolol, makinya pada diri sendiri, ingin menjenguk hati gadis yang murni! Mengapa tidak terus terang saja?

“Mengapa tidak terus terang saja, Suheng?"

"Hahhh…?!" Keng Hong terkejut karena pertanyaan yang diajukan Yan Cu begitu tepat dengan suara hatinya sendiri! Siapakah yang bertanya barusan? Benarkah suara Yan Cu, ataukah suaranya sendiri? Dia menjadi bingung sendiri dan memandang kepada Yan Cu dengan mata kosong.

Gadis itu tersenyum geli. "Suheng, jangan-jangan sebagian dari racun Ban-tok Sin-ciang ada yang naik memasuki kepalamu…"

Keng Hong memegangi kepalanya. "Wah... kau menghina...," akan tetapi dia tertawa dan gadis itu pun tertawa geli. Suasana yang tegang membingungkan tadi membuyar.

"Kau terlalu, Sumoi. Apakah kau anggap aku sudah menjadi gila...?"

"Habis, pertanyaan-pertanyaanmu aneh-aneh saja, sih. Bila mana ada sesuatu di hatimu, katakanlah terus terang, Suheng. Bukankah kau tadi mengajak aku untuk bicara dari hati ke hati? Aku tahu bahwa engkau masih terkejut karena keputusan Subo yang tiba-tiba menjodohkan kita. Apakah kau hendak berbicara tentang ini? Ataukah tidak setuju dan terpaksa menerima karena takut kepada Subo?"

Nah, rasakan sekarang! Keng Hong menundukkan mukanya seperti seorang pesakitan mendengarkan tuduhan-tuduhan hakim. Akhirnya dia memberanikan hatinya, mengangkat muka memandang wajah yang jelita itu dan berkata, "Terus terang saja, Sumoi. Memang hal itulah yang membuat hatiku bingung bukan main. Karena berhutang budi kepada Subo yang telah menyelamatkan nyawaku, pula karena mengingat bahwa Subo adalah isteri Suhu yang tentu saja berhak mewakili Suhu, bagaimana aku berani membantahnya?"

"Jadi engkau tidak setuju dan engkau tidak suka kepadaku, Suheng?"

"Wah-wah-wah, nanti dulu, Sumoi. Disaksikan oleh langit dan bumi yang dapat kita lihat sekarang ini, sama sekali tidak demikian. Aku suka sekali kepadamu, Sumoi, dan untuk ke dua kalinya aku bersumpah bahwa belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis secantik, sepandai dan semulia engkau. Aku suka kepadamu, akan tetapi bukan hanya karena suka orang kemudian bisa menjadi suami isteri. Ehh, apakah engkau cin... cinta kepadaku, Sumoi?"

Keng Hong ingin menampar mulutnya sendiri untuk keluarnya pertanyaan ini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka dia hanya dapat memandang muka gadis itu yang kini mengerutkan kening dan bibirnya diruncingkan, agaknya berpikir keras...!
Selanjutnya,

Pedang Kayu Harum Jilid 29

Pedang Kayu Harum Jilid 29
Karya : Kho Ping Hoo

Cerita Silat Mandarin Serial Pedang Kayu Harum Karya Kho Ping Hoo
WAJAH pemuda itu seketika menjadi pucat. Ia merasa betapa kedua pundaknya dimasuki hawa panas yang gatal-gatal, seperti ada ribuan ekor semut yang memasuki tubuhnya dan menggigit dari dalam, dari kepala sampai kaki! Rasa nyeri ini tidak hebat sekali, tidak sampai membuat ia pingsan, akan tetapi rasa gatal-gatal ini membuat dia lebih menderita, merupakan siksaan yang tiada tara. Seluruh tubuhnya berdenyut, semua bulu di tubuhnya bangun satu demi satu, lubang-lubang di kulitnya terbuka dan keringat dingin membasahi tubuhnya.

Keng Hong cepat memejamkan sepasang matanya dan dengan kemauannya yang keras, dapat dia mematikan perasaannya sehingga siksaan itu tidak akan terasa lagi.

"Bocah goblok, aku lebih tahu akan watak Sie Cun Hong! Engkau tahu apa? Dahulu dia sudah mempunyai isteri yang cantik dan mencintanya, akan tetapi karena dia itu hidung belang, kerjanya hanya mengejar-ngejar perempuan, isterinya lalu lari meninggalkannya! Apakah itu bukan bukti yang cukup jelas?"

"Aku tidak tahu dan aku pun tidak berhak tahu mengenai urusan dalam suami isteri, akan tetapi aku merasa yakin bahwa suhu tidak bersalah dalam hal itu!"

"Bocah sombong dan keras kepala!" Nenek itu membentak makin marah. Ia benar-benar merasa tidak berdaya dan ‘mati kutunya’ terhadap Keng Hong. "Rasakan ini!"

Sekarang nenek itu menancapkan kuku lima jari tangan kirinya ke punggung Keng Hong. Pemuda ini tidak mampu melawan karena sekali mengerahkan tenaga melawan berarti dia akan mencelakakan diri sendiri. Maka dia menerima serangan itu.

Lima kuku jari tangan kiri Ang-bin Kwi-bo menancap di punggung Keng Hong dan pemuda itu memejamkan mata, akan tetapi tanpa dapat dia tahan lagi dan seperti tanpa disadari, mulutnya terbuka dan terdengar keluhan berat. Dia terengah-engah dan setelah nenek itu menarik kembali lima kuku jari tangan kirinya, Keng Hong merasa betapa tubuhnya bagai disayat-sayat dari dalam!

"Ban-tok Sin-ciang telah meracuni tubuhmu. Dalam waktu dua puluh empat jam engkau akan tersiksa oleh berbagai macam rasa nyeri yang hebat seakan-akan semua siksaan dari neraka telah masuk ke tubuhmu dan akan kau rasakan dalam waktu sehari semalam sebelum engkau mampus. Akan tetapi bila engkau mau memaki gurumu sebagai manusia sesat dan memberikan Thi-khi I-beng kepadaku, aku akan memberi obat penawar racun."

Keng Hong memejamkan mata dan mulutnya masih terbuka, terengah-engah, akan tetapi dia berhasil berkata, "Suhu manusia mulia!"

Sekali ini Ang-bin Kwi-bo sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. "Bocah sinting! Engkau memang layak mampus! Dahulu aku amat merindukan tubuh Cun Hong! Selaksa orang pemuda ganteng tidak bisa memuaskan hatiku, akan tetapi Cun Hong yang kuingini terlalu besar kepala dan menolakku. Aku hampir gila karena malu dan sakit hati. Apakah bedanya antara dia dengan aku? Aku suka melayani selaksa orang muda ganteng, dia pun suka melayani selaksa gadis cantik. Dia dan aku sebenarnya cocok, akan tetapi dia memandang rendah, merasa bahwa dia termasuk golongan bersih dan aku dianggapnya golongan kotor. Macam engkau sekarang ini! Engkau jahat, seperti dia, sampai isterinya sendiri yang kabarnya amat cantik jelita dan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, puteri seorang bangsawan, pergi meninggalkannya!'

"Kwi-bo, tidak perlu mengoceh lagi. Aku tetap tidak percaya dan aku yakin bahwa suhu adalah manusia baik, tidak seperti engkau!"

Pada saat itu terdengar suara orang menarik napas panjang disusul ucapan yang halus, "Ahhh, betapa untungmu, Sie Cun Hong, memiliki seorang murid yang masih mati-matian membela nama baikmu meski pun engkau sudah mati dan muridmu terancam bahaya maut...!"

Keng Hong melihat munculnya seorang nenek yang sudah amat tua, kiranya tidak kalah tua oleh Ang-bin Kwi-bo, namun masih membayangkan bahwa nenek ini dahulu di waktu mudanya tentu bertubuh tinggi ramping dan berwajah cantik. Di samping nenek ini berdiri seorang gadis yang luar biasa cantiknya, berpakaian kuning. Gadis ini, seperti juga nenek itu, membawa sebuah keranjang obat yang berisikan beberapa helai daun dan beberapa potong akar obat.

Ang-bin Kwi-bo cepat membalikkan tubuh seperti seekor harimau marah. Dia tidak berani sembarangan karena maklum bahwa nenek dan gadis yang bisa sampai di belakangnya tanpa dia dengar sama sekali tentu bukanlah manusia-manusia biasa, tetapi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Engkau siapa?!" bentaknya kepada nenek itu.

Nenek itu tersenyum dan meski pun mulutnya tidak ada giginya, ketika tersenyum tidak kelihatan buruk. "Ang-bin Kwi-bo, baru saja engkau bicara tentang diriku, tapi setelah aku muncul, engkau malah tidak mengenalku. Bukankah ini lucu sekali? Biarlah ini menjadi pelajaran bagimu bahwa tidak baik membicarakan urusan orang lain yang tidak diketahui betul."

"Heh, siapakah engkau?" Kembali Ang-bin Kwi-bo membentak sambil meneliti keadaan nenek yang kelihatannya halus dan ringkih (lemas) itu.

"Namaku Tung Sun Nio..."

Ang-bin Kwi-bo mencelat ke belakang hingga tiga tindak, memandang tajam dan sepuluh buah kuku jarinya terulur, seperti seekor kucing bertemu anjing dan siap mencengkeram.

"Apa...?! Engkau isteri Sie Cun Hong?"

Nenek itu mengangguk dan memandang Keng Hong yang masih duduk dan kini pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak. Saking kaget dan herannya, sejenak Keng Hong melupakan penderitaannya!

"Benar, akulah Tung Sun Nio, dahulu isteri Sie Cun Hong. Murid mendiang suamiku ini benar! Tidak perlu kusembunyikan lagi, dahulu aku adalah isteri Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong. Dia adalah seorang suami yang baik, tidak pernah menyeleweng, juga tak pernah mempedulikan wanita lain. Akan tetapi terjadi perpecahan dan aku kemudian melarikan diri sehingga suamiku itu berubah wataknya, menjadi petualang cinta, hanya berbeda dengan engkau yang senang menculik dan memaksa pemuda-pemuda tampan, suamilku yang amat tampan itu hanya melayani wanita-wanita yang tergila-gila kepadanya, sama sekali tidak pernah memaksa seperti yang kau lakukan!"

Akan tetapi, dicela mengenai perbuatannya, Ang-bin Kwi-bo sama sekali tidak peduli. Dia lalu berkata, "Nah, benar kataku tadi! Sie Cun Hong bukan manusia baik-baik, sehingga engkau yang menjadi isterinya sampai lari meninggalkannya!"

Nenek itu menggeleng-geleng kepala dan sejenak wajahnya kelihatannya suram. "Sama sekali tidak. Kau mau tahu mengapa aku meninggalkan dia? Karena dahulu akulah yang tergila-gila dengan seorang sahabat baiknya! Akulah yang telah berlaku serong, tidak kuat menahan nafsu sewaktu suamiku tidak berada di rumah dan aku melakukan hubungan dengan pria lain. Sie Cun Hong tetap seorang yang mulia, seperti dikatakan muridnya ini. Ang-bin Kwi-bo, engkau tidak tahu betapa puluhan tahun aku menderita tekanan batin karena perbuatanku itu. Aku mengerti bahwa perbuatanku itulah yang membentuk watak suamiku, dan akulah yang berdosa. Namun, aku hanya dapat menyesali diri sendiri, tidak memiliki kesempatan menebus dosa sampai matinya! Tetapi kini kesempatan itu muncul! Engkau telah menganiaya muridnya, juga sudah merampas pusaka peninggalan suamiku. Maka, sekaranglah aku dapat menebus dosaku dengan membela muridnya yang berbakti dan setia, jauh lebih setia dari pada aku yang menjadi isterinya. Hayo serahkan kembali pusaka itu!"

Tiba-tiba Ang-bin Kwi-bo tertawa terkekeh-kekeh dan menudingkan telunjuk kirinya yang berkuku panjang, "Bagus sekali! Dan aku pun belum pernah mendapat kesempatan untuk membalas sakit hatiku pada Sie Cun Hong. Sekarang engkau isterinya muncul, sungguh kebetulan. Aku akan membunuhmu, akan menyiksamu seperti yang kulakukan terhadap muridnya, hi-hi-hik!"

Akan tetapi nenek iblis ini terpaksa menghentikan ketawanya ketika tubuh Tung Sun Nio sudah menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa dan tongkat kecil di tangannya berubah menjadi sinar bergulung menyambar ke arah dada Ang-bin Kwi-bo! Nenek iblis ini terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan tangan, kukunya seperti lima batang pisau itu menangkis tongkat.

"Triiiiikkkkk!"

Ang-bin Kwi-bo meloncat jauh ke belakang, matanya terbelalak merah penuh kemarahan. Ia tadi merasa betapa jari-jari tangannya sakit dan lengannya tergetar hebat. Maklumlah ia bahwa nenek isteri Sin-jiu Kiam-ong itu merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan!

Dengan gerengan marah dia lalu meloncat maju, rambutnya menyambar-nyambar seperti pecut dan sepuluh buah jari berkuku runcing itu mencakar-cakar. Serangannya dahsyat bukan main dan Tung Sun Nio, nenek bekas isteri Sie Cun Hong yang bersikap tenang, cepat memutar tongkatnya. Ia harus mengerahkan semua kepandaian untuk menghadapi terjangan dahsyat dari nenek iblis itu.

"Kuatkanlah, aku akan melepaskan kaitan-kaitan ini."

Keng Hong yang sedang memperhatikan jalannya pertandingan, menoleh ke kiri ketika mendengar suara halus itu dan dia melihat betapa gadis baju kuning yang cantik luar biasa itu sudah mendekatinya. Dia mengangguk lalu mengumpulkan sinkang, mematikan perasaan di kedua pundak dan kini yang terasa olehnya hanyalah bekas tusukan kuku beracun di punggungnya.

Seperti kalau dia bertemu dengan pemandangan alam di pegunungan yang indah, seperti kalau dia melihat bunga-bunga mekar dengan indah, seperti dia melihat bintang-bintang gemerlapan di langit atau bulan purnama tersenyum-senyum di angkasa. Salahkah kalau dia menikmati segala keindahan itu dengan matanya, termasuk keindahan wanita cantik?

Mereka bertemu pandang dan agaknya gadis itu dapat melihat pula sinar kagum dan terpesona pada mata Keng Hong, buktinya dia lalu menundukkan muka dengan kening berkerut dan kedua pipi yang sudah kemerahan itu kini menjadi merah sekali!

Keng Hong cepat memalingkan mukanya. Benar-benar dia telah memiliki watak suhu-nya. Tidak tahan melihat wanita cantik, tak dapat menyembunyikan rasa kagum dan terpesona sungguh pun dia sangsi apakah perasaan ini termasuk perasaan yang buruk. Betapa pun juga, memang keterlaluan sekali.

Dia terancam maut. Racun Ban-tok Sin-ciang mengalir di tubuhnya. Akan tetapi dia masih berkesempatan menikmati dan mengagumi wajah cantik! Karena malu kepada diri sendiri, Keng Hong kemudian memejamkan matanya dan mengheningkan cipta, bersiulian untuk mencoba menolong dirinya dengan kekuatan sinkang di tubuhnya. Akan tetapi, makin dia kerahkan hawa sakti, punggungnya makin nyeri seperti ditusuk besi membara, sehingga terpaksa dia menghentikan usahanya itu dan hanya mengumpulkan hawa bersih yang disedotnya untuk menahan rasa nyeri yang menggerogoti seluruh tubuhnya dari dalam.

Entah berapa lama Keng Hong bersemedhi memejamkan mata. Tiba-tiba saja lengannya disentuh oleh sebuah tangan halus dan terdengar suara yang berbisik halus akan tetapi mengandung penuh kekhawatiran.

"Sadarlah... bangunlah... subo terancam... bagaimana baiknya?"

Keng Hong membuka matanya dan yang pertama-tama menarik perhatiannya adalah lima buah jari jemari tangan yang kecil mungil menyentuh lengannya itu. Akan tetapi cepat dia mencela dirinya sendiri kemudian mengalihkan perhatiannya ke depan, ke arah dua orang nenek yang sedang bertanding seru sekali.

Ternyata bahwa nenek yang memegang tongkat itu terdesak hebat oleh Ang-bin Kwi-bo yang menyerang dengan kuku jari dan rambutnya. Ilmu silat yang dimainkan oleh isteri gurunya itu baik sekali dan amat kuat, pikir Keng Hong, juga gerakan nenek itu tidak kalah cepat atau ringan dari lawannya. Pertemuan tongkat dengan jari berkuku panjang yang mengeluarkan bunyi nyaring pun membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, mereka berimbang.

Hanya nenek itu terdesak oleh Ang-bin Kwi-bo, oleh terjangan nenek iblis yang dahsyat sekali dengan rambut dan kuku-kuku jarinya yang berbahaya sekali. Nenek bertongkat itu berkali-kali terpaksa mengelak dan berloncatan ke belakang untuk menghindarkan diri dari pukulan atau cakaran Ban-tok Sin-ciang dari Ang-bin Kwi-bo.

Keng Hong sendiri terluka parah dan tak mungkin dia membantu. Dia mengerling ke arah gadis itu dan berbisik, "Apakah Nona murid dari... ehhh, subo itu?" Dia menyebut subo kepada nenek itu, karena bukankah nenek itu isteri mendiang gurunya sehingga nenek itu boleh dibilang adalah ibu gurunya. Gadis itu mengangguk.

"Sebetulnya Subo tidak kalah lihai, hanya repot menghadapi senjata yang amat banyak itu, rambut dan sepuluh kuku jari. Ban-tok Sin-ciang itu memang berbahaya sekali. Kalau nona maju membantu kurasa subo tidak akan begitu repot."

"Itulah yang menggelisahkan hatiku," Nona itu berbisik dan alis yang hitam kecil menjelirit seperti dilukis itu mengerut. "Tadi aku hendak membantu, tetapi dilarang oleh subo karena diejek iblis itu yang mengatakan subo pengecut hendak mengeroyok."

Keng Hong mengerutkan keningnya. Berabe juga kalau begitu. Dia mengenal kelicikan dan kecurangan Ang-bin Kwi-bo dan agaknya subo-nya ini, kalau dia tidak salah dengar tadi adalah bekas puteri bangsawan, tentu memiliki keangkuhan dan setelah diejek begitu tentu merasa malu bila dibantu muridnya atau orang lain. Sedangkan kalau pertandingan itu dilanjutkan, isteri gurunya itu agaknya akan kalah. Kalau isteri gurunya tewas, gadis ini akan tewas pula, demikian juga dia.

Keng Hong mencari akal, lantas teringat akan Siang-bhok-kiam. Nenek iblis itu memiliki ilmu pukulan beracun yang ganas yaitu Ban-tok Sin-ciang dan untuk menghadapi ilmu dengan kuku-kuku beracun itu, paling tepat hanya menggunakan Siang-bhok-kiam karena pedang pusaka itu justru ‘anti racun’! Akan tetapi pedang pusakanya itu, seperti pusaka lainnya, telah dirampas oleh si nenek iblis. Bahkan pedangnya itu kini terselip di pinggang Ang-bin Kwi-bo!

Setelah memeras otaknya sambil menahan rasa nyeri pada punggungnya, akhirnya Keng Hong berbisik, "Nona, dekatkan telingamu..."

Nona itu mengerti bahwa pemuda ini hendak berbisik sesuatu yang tidak boleh didengar oleh nenek iblis yang tentu memiliki pendengaran amat tajam, maka dia lalu menggeser tubuhnya yang berlutut.

Jantung Keng Hong berdebar keras. Telinga itu begitu indah bentuknya, rambut pelipis yang halus dan melingkar-lingkar itu menyapu mukanya, berbau harum laksana bunga mawar. Muka itu begitu dekat. Ehhh, benar engkau bajul buntung, Keng Hong! Kembali Keng Hong memaki dirinya sendiri dan cepat dia berbisik perlahan sekali.

Gadis itu menggerak-gerakkan sepasang alisnya, kelihatannya terheran. Akan tetapi dia kemudian mengangguk tanda mengerti apa yang diminta oleh Keng Hong.

Setelah Keng Hong membisikkan siasatnya, nona itu kembali menjauhkan tubuhnya lalu berkata, kini suaranya keras, "Subo terdesak oleh nenek iblis itu!"

Keng Hong tertawa, suara ketawanya mengejek. "Ahhh, siapa tidak mengenal nenek iblis Ang-bin Kwi-bo? Namanya saja besar, padahal dia seorang yang pengecut dan penakut sehingga kuku-kuku jari tangannya pun diberi racun dan dipanjangkan, masih pula dia menggunakan rambutnya yang kotor dan penuh kutu! Ilmu silatnya sih hanya ilmu silat pasaran saja, dan kepandaiannya pun bolehnya mencuri-curi dan meniru-niru dari orang lain. Biar pun begitu, dia masih tidak malu-malu memakai nama sebagai seorang di antara Bu-tek Su-kwi. Menggelikan dan menjijikkan!"

Terdengar Ang-bin Kwi-bo memekik marah sambil melompat mundur. "Bocah bermulut busuk! Murid Sie Cun Hong mulutnya busuk seperti gurunya! Kau tunggu saja, setelah aku membunuh isterinya, engkau akan kubunuh sedikit demi sedikit, akan kusayat-sayat dagingmu, kuberikan kepada gagak dan anjing...!" Akan tetapi ia berhenti memaki karena nenek itu telah menerjang kembali dengan tongkatnya, marah mendengar caci maki yang kotor dan keji itu.

Melihat keduanya bertanding kembali, nona yang sudah diberi isyarat kedipan mata Keng Hong, berkata lagi dengan suara nyaring, "Akan tetapi, kulihat nenek iblis itu demikian kuat dan cepat, ilmu silatnya aneh sekali! Sungguh mengerikan!"

"Uwaaah! Siapa bilang? Coba kalau gurumu menggunakan senjata Siang-bhok-kiam yang secara tidak tahu malu dia rampas dari tanganku pada saat aku pingsan, hemm... tentu dalam sepuluh jurus lagi dia mampus! Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka guruku yang dianggap suci, tak mungkin dipergunakan terhadap sembarangan manusia, bahkan pantang minum darah manusia. akan tetapi kalau darah iblis seperti nenek itu, guruku tentu tidak ragu-ragu lagi untuk mempergunakan. Dia pengecut, mana berani? Ha-ha-ha!" Keng Hong tertawa, akan tetapi sesungguhnya pada saat dia tertawa itu, punggung dan dadanya rasanya nyeri bukan main sehingga hampir tak dapat dia menahan.

Tiba-tiba Ang-bin Kwi-bo terkekeh. "Heh-heh-heh-hi-hi-hik! Cia Keng Hong, kau kira aku manusia tolol yang dapat kau bakar hatiku? Ha-ha-ha, biar kau mencaci maki aku, tidak nanti aku begitu bodoh menjadi marah dan terkena pancinganmu kemudian memberikan pedang Siang-bhok-kiam kepada isteri gurumu! Kau lihat ini! Sekarang aku malah akan menggunakan pedang pusaka gurumu untuk membunuh isterinya! Heh-heh-heh, bagus sekali! Pedang pusaka suci ini akan minum darah isteri gurumu sendiri!"

Keng Hong membelalakkan matanya sambil mengangkat tangan ke atas, dan mulutnya menyeringai saking sakitnya. "Jangan...! Ahhh, Kwi-bo, jangan sekeji itu...!”

Gadis itu meloncat berdiri lantas menudingkan telunjuknya ke hidung Keng Hong sambil membentak, "Engkau... dengan akal bulusmu yang tolol! Engkau malah mencelakakan subo...!"

Ang-bin Kwi-bo terkekeh, kemudian mencabut Siang-bhok-kiam dari pinggangnya. Melihat Pedang Kayu Harum milik suaminya ini, nenek itu menjadi pucat wajahnya, akan tatapi ia sudah nekat dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menerjang dengan tongkatnya.

Ang-bin Kwi-bo mengerahkan sinkang-nya dengan sangat kuat dan menangkis dengan pedang Siang-bhok-kiam.

"Krekkk!"

Tongkat di tangan nenek itu patah menjadi dua bertemu dengan Siang-bhok-kiam. Nenek itu menjerit dan meloncat mundur.

"Hi-hi-hi-hi-hik!" Ang-bin Kwi-bo terkekeh girang.

"Celaka...!" Gadis itu menjerit dan sekali ini jeritnya bukan lagi pura-pura, melainkan jerit karena khawatir dan ngeri.

Sambaran Siang-bhok-kiam yang berubah menjadi sinar hijau dapat dielakkan oleh Tung Sun Nio, akan tetapi karena hawa pedang itu sangat mukjijat, dia terhuyung dan tiba-tiba sinar hitam dari rambut Ang-bin Kwi-bo sudah meluncur ke depan dan melibat leher dan pundak Tung Sun Nio!

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Ang-bin Kwi-bo melangkah maju, pedang Siang-bhok-kiam diangkat tinggi dan akan dihantamkan ke arah kepala nenek itu.

"Tung Sun Nio, lihat pedang suamimu yang suci akan membelah kepalamu, hi-hi-hi..."

Mendadak nenek iblis itu mengeluarkan suara meraung keras, pedang Siang-bhok-kiam terlepas dari tangan kanannya dan dia menjerit. "Aduhhh... tanganku...tanganku...!"

Ternyata tangan kanannya menjadi lumpuh dan pedang yang terlepas itu cepat disambar oleh Tung Sun Nio lantas sekali pedang tiu berkelebat, rambut yang membelitnya sudah dibabat putus!

"Aihhhh... keparat... pedang celaka...!" Ang-bin Kwi-bo memaki dan tangan kirinya dengan jari-jari berkuku runcing menyambar. Tung Sun Nio memapaki lengan itu dengan Siang-bhok-kiam.

"Srattt... krekkkkk!"

Lengan nenek iblis yang kiri terbabat buntung! Dia memekik keras. Akan tetapi pekik ini dilanjutkan oleh raung yang mendirikan bulu roma ketika pedang Siang-bhok-kiam yang ditusukkan Tung Sun Nio amblas ke dalam perutnya menembus punggung!

Tubuh itu meronta keras sehingga Tung Sun Nio tidak mampu menguasai lagi, terpaksa melepaskan gagang Siang-bhok-kiam dan meloncat ke belakang. Tubuh Ang-bin Kwi-bo terguling lalu roboh, dan tewaslah nenek iblis itu dengan pedang Siang-bhok-kiam masih menancap di perutnya. Buntalan pusaka yang disampirkan di pundak jatuh terlepas dan berserakan di atas rumput.

"Subo...!" Gadis itu berseru girang dan memeluk gurunya.

Nenek ini yang masih pucat mukanya, menghela napas panjang. "Sie Cun Hong, tidak urung engkau juga yang menolongku, melalui pedangmu dan siasat muridmu..."

Mereka berdua menengok dan ternyata Keng Hong juga sudah roboh terguling dalam keadaan pingsan. Dia tadi mempertahankan dirinya untuk menyaksikan siasatnya yang berbahaya. Dia maklum akan kecerdikan iblis wanita itu untuk menjalankan siasatnya.

Nenek iblis itu tentu merasa ditipu dan berlaku cerdik, tidak mau dipancing, padahal justru itulah kehendak Keng Hong. Andai kata nenek itu menyerahkan pedang kepada Tung Sun Nio, belum tentu isteri gurunya itu akan menang menghadapi nenek iblis yang amat lihai ilmunya Ban-tok Sin-ciang itu. Akan tetapi nenek itu berlaku cerdik, dan terpancing oleh pujian Keng Hong akan pedang Siang-bhok-kiam.

Kejahatan dan kekejian nenek iblis itu mendatangkan akal untuk membunuh isteri Sin-jiu Kiam-ong dengan pedangnya sendiri yang oleh muridnya disebut pedang suci. Hal ini memang dikehendaki oleh Keng Hong karena pemuda ini mempunyai keyakinan bahwa Ban-tok Sin-ciang akan luntur dan punah apa bila terkena hawa murni dan mukjijat dari Siang-bhok-kiam.

Dugaannya segera terbukti karena begitu tangan kanan nenek iblis itu memegang Siang-bhok-kiam dan mengerahkan sinkang, otomatis hawa sakti pedang itu menumpas dan memusnahkan hawa Ban-tok Sin-ciang seperti air memadamkan api hingga lengan kanan nenek iblis menjadi lumpuh yang mengakibatkan kematiannya! Setelah melihat siasatnya berhasil dan isteri gurunya tertolong, Keng Hong terguling pingsan!

Keng Hong mengeluh perlahan dan membuka matanya. Ia mendapatkan dirinya terbaring di atas dipan bambu dalam sebuah kamar yang sangat bersih. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan lantainya dari batu putih. Tubuhnya terasa nyeri semua dan amat panas, seakan-akan di dalam dadanya ada api unggun menyala. Akan tetapi perasaan nyeri sejenak lenyap dan terlupa olehnya ketika pandang matanya bertemu dengan wajah cantik dari gadis yang duduk di atas bangku, tak jauh dari pembaringannya.

"Suheng..., bagaimana rasanya...?" tanya gadis itu dengan suaranya yang halus merdu, wajahnya yang cantik memandang serius sekali dan terbayang kegelisahan.

"Suheng...?" Keng Hong mengulang dengan suara terheran.

"Engkau adalah murid Sin-jiu Kiam-ong, yaitu suami subo. Itu berarti kita masih saudara seperguruan." Gadis itu menjelaskan.

"Ahhh... terima kasih, Sumoi. Tentu engkau dan subo yang menolongku dan membawaku ke sini. Budimu dan budi subo amat besar, aku berterima kasih sekali."

"Aihhh, Suheng. Baru sekarang aku tahu setelah subo memberi penjelasan sebenarnya engkaulah yang telah menyelematkan subo. Kalau mau bicara tentang budi, engkau pun sudah berjasa besar. Akan tetapi, Suheng..." Gadis itu berhenti dan memandang wajah Keng Hong penuh keharuan dan kegelisahan. "... lukamu..., subo bilang..."

"Bilang bagaimana? Bahwa luka akibat Ban-tok Sin-ciang di punggungku ini tidak dapat disembuhkan?"

Gadis itu mengangguk dan... menangis, menutupi mukanya. Keng Hong membelalakkan matanya, memandang heran. "Ehh, Sumoi! Kenapa engkau menangis?"

Gadis itu mengangkat mukanya dari balik kedua tangannya, muka yang menjadi merah oleh tangis, sehingga bibirnya menjadi merah sekali, dengan kulit bibir tipis seperti buah apel, seolah-olah mudah sekali pecah.

"Suheng, subo sudah berusaha keras untuk mengobatimu, akan tetapi menurut subo... dia hanya berhasil menghentikan racun itu menjalar, namun tidak berhasil melenyapkan racun itu dan... dan... engkau hanya akan bertahan sampai sehari semalam... Sekarang sudah hampir tengah malam... besok pagi..." Gadis itu tidak mampu melanjutkan karena sudah menangis lagi.

Keng Hong menjadi terharu. Perasaannya bagai lilin terbakar api dan dalam keharuannya dia memegang tangan gadis itu. Gadis itu pun balas memegang sehingga jari-jari tangan mereka saling mencengkeram!

"Kau mau bilang bahwa nyawaku tinggal setengah malam lagi? Kalau begitu mengapa, Sumoi? Kalau sudah semestinya besok pagi aku mati, aku tidak takut. Biarlah, mengapa kau yang baru saja berjumpa denganku menangisi keadaanku?"

Gadis itu menarik kembali tangannya dan mukanya menjadi merah sekali, akan tetapi dia memandang Keng Hong dengan sinar mata penuh kejujuran. "Suheng, selamanya aku tak pernah mempunyai saudara seperguruan. Sekarang, bertemu denganmu dan tiba-tiba mempunyai seorang suheng, hatiku... amat bahagia. Akan tetapi besok pagi... ahhh..." Ia menangis lagi.

Keng Hong mengerti dan dia menyumpahi diri sendiri mengapa hatinya menjadi kecewa mendengar keterangan itu. Tentu saja! Gadis ini menangis karena kasihan kepadanya, kepada suheng-nya! Sama sekali bukan karena... cinta padanya, seperti yang diharapkan oleh hatinya yang lemah apa bila bertemu dengan gadis jelita! Benar-benar memalukan. Laki-laki mata keranjang benar dia!

"Sudahlah, Sumoi. Harap jangan menangis dan tolong kau minta subo agar suka datang ke sini dan membawa Siang-bhok-kiam. Kalau Tuhan menghendaki, aku tidak akan mati besok pagi."

Gadis itu memandang penuh harapan, kemudian mengangguk dan melangkah keluar dari dalam kamar itu. Keng Hong kembali menyumpahi dirinya. Mengapa mata ini tidak mau diam, seperti besi terbetot besi semberani dan memandang tubuh belakang gadis itu ketika berjalan pergi sehingga tampak pemandangan yang amat menggairahkan?

Tak lama kemudian, nenek itu melangkah masuk diikuti gadis itu, langkahnya halus dan biar pun sikapnya tenang dan wajahnya juga tidak membayangkan sesuatu, namun sinar matanya terselimut kegelisahan ketika ia memandang wajah Keng Hong.

"Subo..." Keng Hong mengangkat kedua tangan ke depan dada dan menyeringai karena pundaknya yang terluka terasa sangat nyeri. "Harap Subo maafkan bahwa teecu tidak dapat memberi hormat sebagaimana mestinya. Teecu sudah menerima budi pertolongan Subo, teecu amat berterima kasih..."

"Ssttt, engkau betul-betul persis seperti gurumu, pandai sekali menyenangkan hati orang. Namamu Cia Keng Hong, betulkah? Aku hanya mendengar iblis betina itu memanggilmu."

"Benar, Subo. Teecu Cia Keng Hong."

"Keng Hong, terus terang saja, sungguh pun sudah puluhan tahun aku mempelajari ilmu pengobatan, akan tetapi luka pada punggungmu akibat cengkeraman kuku dengan ilmu beracun Ban-tok Sin-ciang itu aku tidak dapat menyembuhkannya. Maka aku khawatir sekali engkau hanya akan bertahan sampai besok pagi..." Kalimat terakhir terdengar lirih, penuh keharuan.

Mata Keng Hong tak dapat dia kuasai, sudah menyelonong lewat balik pundak subo-nya itu, memandang wajah gadis jelita dan melihat betapa sepasang mata yang indah itu menitikkan air mata. Aihh, sungguh aneh. Dia mempunyai perasaan seolah-olah dia akan girang sekali kalau besok pagi mati, ditangisi oleh sepasang mata seperti itu! Gila! Gila engkau Cia Keng Hong, dia menyumpahi diri sendiri. Mata keranjang yang tiada taranya!

"Subo, dahulu suhu pernah memberi tahu bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah sebuah pedang mustika yang dapat menyembuhkan segala macam racun di dunia ini. Selain itu, juga di dalam tubuh teecu sudah mengeram banyak sekali racun yang disuruh minum oleh suhu sehingga sedikit banyak tubuh teecu sudah agak kebal terhadap racun. Oleh karena itu, betapa pun lihainya Ban-tok Sin-ciang, namun jika benar keterangan suhu, dan kalau Tuhan masih belum menghendaki, maka teecu rasa pedang Siang-bhok-kiam dapat menyelamatkan nyawa teecu."

Seketika berserilah wajah nenek itu dan baru sekarang dapat dilihat bahwa sebetulnya dia tadi berduka sekali. "Benarkah? Dia tidak pernah membohong, Keng Hong. Kalau dia mengatakan demikian, pasti pedang Siang-bhok-kiam ini akan dapat menyembuhkanmu. Akan tetapi... bagaimana caranya...?"

"Harap Subo suka menusukkan Siang-bhok-kiam di punggung teecu, tepat di bagian yang terkena pukulan Ban-tok Sin-ciang. Tentu saja terserah pada kebijaksanaan dan keahlian Subo agar tusukan tidak mengenai jalan darah dan tak merusak bagian yang mematikan, tidak terlalu dalam tetapi jika terlalu dangkal pun berarti racun yang sudah mengeram di bagian agak dalam tidak dapat tersedot keluar." Keng Hong membicarakan hal-hal yang menyangkut bahaya bagi nyawanya ini seenaknya saja, bagai orang yang membicarakan urusan makan minum!

Nenek itu memandang kagum, kemudian berkata dengan suara yang mengandung isak! "Sungguh... engkau... seperti... seperti dia...! Mirip sekali...!"

Keng Hong tersenyum, maklum bahwa yang dimaksudkan oleh subo-nya adalah gurunya. Jelas bahwa subo-nya ini selamanya mencinta suhu-nya. Namun mengapa dahulu bisa menyeleweng? Dia menarik napas panjang. Manusia manakah di dunia ini yang tidak pernah berdosa? Subo-nya ini pun tidak terkecualikan.

Ia dapat membayangkan betapa suhu-nya tentu sedang pergi dan subo-nya yang sedang kesepian itu tergoda nafsunya sendiri, tergoda oleh sahabat suhu-nya sehingga terjadilah pelanggaran. Apakah anehnya dalam peristiwa itu? Kalau direnungkan dengan hati dan pikiran dingin, sebenarnya bukanlah apa-apa!

"Teecu menyerahkan keselamatan teecu dalam tangan Subo. Silakan dan...eh, Sumoi... tolonglah bantu aku membalik dan menelungkup."

Gadis itu cepat melangkah maju dan kedua pipinya masih basah ketika dia membantu Keng Hong rebah menelungkup sehingga punggungnya berada di atas.

"Bukalah bajunya, telanjangi punggungnya!" kata subo-nya.

Keng Hong kembali menyumpahi dirinya dan ingin menempiling kepalanya sendiri ketika jantungnya berdebar dan hatinya merasa senang sekali merasa betapa jari-jari tangan yang halus dan hangat itu membuka bajunya.

"Ehh, Suheng... engkau berdebar-debar! Kalau kau takut...ahh, amat berbahaya...!" Gadis itu berseru sambil meraba iga kiri Keng Hong.

Mampus kau! Keng Hong menyumpahi dirinya. Terbongkar rahasia mata keranjangmu! Ia menoleh dan memaksa diri tersenyum.

"Sumoi, siapa sih yang tidak takut menghadapi detik hidup atau mati ini? Akan tetapi aku cukup tabah, harap engkau jangan khawatir, aku percaya penuh dengan keahlian Subo menggunakan pedang!"

Kalau gadis itu tidak mengerti dan percaya akan keterangan Keng Hong, adalah nenek itu yang tak dapat dibohongi. Orang yang berdebar takut tidak bisa tersenyum seperti itu. Ia menghela napas dan berkata lirih, "Hemmm..., persis dia..! Tiada sedikit pun bedanya... hemmmmm…!"

Keng Hong terkejut sekali. Suara "Hemmm!" yang terakhir itu benar-benar mencurigakan, sebab terdengar jelas subo-nya itu gemas. Tentu subo-nya sudah tahu bahwa jantungnya berdebar karena sentuhan jari-jari tangan mungil! Celaka dua belas! Keng Hong cepat membenamkan muka pada bantal dan berkata dengan suara bindeng karena hidungnya terhimpit di bantal,

"Silakan, Subo!"

Nenek itu memegang Siang-bhok-kiam yang sudah dicuci bersih karena tadi memasuki perut Ang-bin Kwi-bo, kemudian mengheningkan cipta untuk membuat seluruh urat syaraf di tubuhnya menjadi tenang. Akhirnya terdengar dia berkata,

"Cia Keng Hong, semoga Tuhan menitahkan arwah gurumu untuk membimbing tanganku menggerakkan pedang. Lukamu sudah kuperiksa dan racun ini mengeram dekat jantung. Tusukanku harus tepat, kurang atau lebih satu inci saja berarti nyawamu akan melayang. Dan kalau itu sampai terjadi, sampaikan maafku kepada gurumu!"

Sunyi menyeramkan setelah nenek itu mengeluarkan ucapan yang seperti orang berdoa ini, dan terdengarlah isak tertahan dari gadis yang berdiri di sudut kamar dengan kedua kaki menggigil dan muka pucat sekali.

"Teecu mengerti. Silakan!" Suara Keng Hong sedikit pun pun tidak terdengar takut, tenang sekali.

Nenek itu mundur dua langkah, menodongkan pedang, matanya yang tua namun masih awas itu memandang tanpa berkedip pada punggung yang akan ditusuknya, mengukur dengan cermat sekali. Kemudian terdengar dia mengeluarkan suara melengking, sinar hijau berkelebat dan...

"Ceppp…!"

Ujung pedang Siang-bhok-kiam menusuk punggung Keng Hong dibarengi dengan sedu sedan gadis yang menonton pertunjukan mengerikan ini. Terdengar keluhan dari mulut Keng Hong yang didekap. Nenek itu melepaskan gagang pedang.

Seperempat bagian pedang Siang-bhok-kiam menancap pada punggung itu. Keng Hong kelihatan lemas, entah pingsan entah tertidur! Akan tetapi, perlahan-lahan pedang yang putih kehijauan itu berubah hitam, kemudian dari gagangnya menetes-netes cairan warna hitam.

"Ya Tuhan... terima kasih..., terima kasih, Sie Cun Hong...!" Nenek itu menjatuhkan diri di depan pembaringan dan terisak!

Gadis itu pun menangis dan menubruk, terus merangkul gurunya. Kedua orang wanita itu menangis, menangis karena girang, karena sudah merasa yakin bahwa ‘operasi istimewa’ itu berhasil baik!

"Yan Cu... Yan Cu... dengarlah baik-baik. Murid dia inilah yang harus menjadi suamimu. Aku telah menentukan detik ini juga. Engkau harus menjadi isterinya!"

"Subo...!" Gadis yang bernama Gui Yan Cu itu mencela dengan muka merah sekali dan menoleh ke arah dipan. "Dia..."

Nenek yang masih mengucurkan air mata itu tersenyum dan menggeleng kepala. "Dia pingsan, tidak mendengar. Andai kata mendengar sekali pun, mengapa? Dia tentu setuju! Adakah perawan yang lebih hebat dari pada engkau?"

"Ssssttttt... Subo... teecu malu... kalau-kalau dia mendengar..."

Nenek itu bangkit perlahan, sejenak memandang ke arah punggung Keng Hong. Makin banyak kini cairan berwarna hitam menetes turun dari gagang pedang.

"Dia sudah selamat. Kepulihan kesehatannya hanya tergantung dari kekuatan sinkang di tubuhnya. Akan tetapi aku percaya, sebagai murid Sin-jiu Kiam-ong dia telah mempunyai sinkang yang amat kuat dan dalam waktu sepuluh hari tentu dia sudah dapat turun dari pembaringan. Kau jagalah dia baik-baik. Racun yang menetes itu cepat bersihkan dan kalau sudah berhenti cairan hitam dan pedang itu sudah menjadi putih kembali, kau boleh mencabutnya dengan cepat dan obati luka di punggungnya dengan daun obat pembersih luka. Beri minum obat akar penambah darah, engkau sudah tahu." Nenek itu lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan Yan Cu sendirian bersama Keng Hong.

Yan Cu duduk di bangku yang diseretnya ke dekat pembaringan. Sejenak dia termenung seperti patung memandang ke arah punggung dan belakang kepala Keng Hong. Memang yang tampak hanya punggung dan belakang kepala, muka pemuda itu menunduk dan miring ke sebelah dalam. Punggung itu bergerak perlahan naik turun, pernapasannya normal, tanda sehat. Tiba-tiba Yan Cu seperti sadar dan tergopoh-gopoh dia mengambil kain, dicelupkan di air panas, lalu dia membersihkan tetesan-tetesan racun hitam.

Dengan jari telunjuknya ia perlahan-lahan menyentuh kulit punggung dekat luka, hati-hati sekali, seolah-olah khawatir kalau-kalau kulit punggung itu akan rusak oleh sentuhannya, seperti orang menyentuh sebuah perhiasan yang mahal. Kemudian dia memegang urat nadi lengan Keng Hong untuk meneliti denyut darahnya yang juga normal.

Dia bernapas lega, lalu menjaga di situ, mengusap setiap tetes racun, menjaga dengan penuh kesetiaan, penuh ketelitian dan penuh kebahagiaan. Dia suka kepada pemuda ini. Dia tadinya merasa girang sekali mendapatkan seorang suheng yang begini lihai dan begini... ganteng! Sekarang, suheng ini tiba-tiba menjadi calon suaminya!

Sekarang perasaannya benar-benar berbeda sekali. Dia hanya girang, gembira, bahagia. Selanjutnya dia tidak akan berpisah dari pemuda ini kalau sudah menjadi isteri pemuda ini. Cinta? Dia tidak tahu, tidak mengerti. Yang dia tahu hanya bahwa dia suka kepada Keng Hong, suka dan kagum.

Dengan amat telaten dan penuh perhatian Yan Cu merawat Keng Hong, merawat luka di punggungnya yang sekarang sudah tidak hitam lagi setelah semua racun disedot oleh Siang-bhok-kiam yang kini sudah dicabut oleh Yan Cu. Pemuda itu masih berada dalam keadaan tidak sadar dan dalam waktu dua hari dua malam dia selalu dijaga oleh Yan Cu yang tak pernah meninggalkan kamarnya. Bahkan gadis ini hanya tidur sambil duduk di atas bangku, hanya makan bubur setelah dia menyuapi Keng Hong yang masih setengah pingsan itu dengan bubur encer.

Karena kurang tidur dan lelah, tubuh gadis ini menjadi agak kurus, rambutnya kusut dan wajahnya pucat. Akan tetapi mulutnya selalu tersenyum dan sinar matanya berseri-seri melihat betapa Keng Hong semakin sehat.

Pada hari ke tiga, Keng Hong siuman. Pagi itu dia tersadar dan membuka mata, melihat Yan Cu sedang tertidur, duduk di atas bangku, kepalanya menyandar di dinding. Di atas meja terdapat obat-obat dan di sudut kamar terdapat anglo tempat masak bubur dan obat.

Keng Hong kaget, meraba punggungnya dan hatinya terharu sekali. Dia tahu bahwa dia telah selamat dan agaknya gadis ini selalu menjaganya entah berapa lamanya dia tidak tahu. Akan tetapi dia bisa menduga, tentu lama sekali, buktinya gadis itu sampai tertidur kelelahan di atas bangku!

Ia mengamat-amati wajah yang tertidur itu. Rambut yang kusut itu sebagian menutupi pipi. Hatinya terharu sekali. Aiiihhh, gadis yang amat cantik jelita dan telah menjaga serta merawatnya, entah berapa hari lamanya! Budi yang amat besar ini, dan dia membalasnya dengan pandang mata tertarik, dengan gairah yang seperti dikutik-kutik! Benar-benar dia keparat tak tahu malu, tak kenal budi!

Dia lalu bangkit bersila dan bersemedhi. Sinkang-nya dia gerakkan dan ternyata seluruh tubuhnya sudah sehat kembali. Luar biasa sekali, kini sinkang-nya dapat dia gerakkan lebih cepat dari pada biasanya, jauh lebih kuat! Ia teringat, inilah hasilnya menyedot hawa sinkang dari tiga orang kakek iblis!

Terbayanglah semua pengalamannya semenjak dia bertemu dengan Thian-te Sam-lo-mo dan dia bergidik. Dia berhutang budi kepada subo-nya, berhutang nyawa. Juga kepada gadis cantik ini.

"Ehhhhh... Engkau belum boleh duduk, Suheng...!"

Tiba-tiba Keng Hong mendengar suara gadis itu. Betapa merdunya suara itu. Ia membuka mata, tersenyum. Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut sebentar dan... gadis itu menundukkan mukanya, kedua pipnya merah sekali, mulutnya tersenyum-senyum penuh rasa jengah! Ehhh, mengapa begini? Apakah pandang matanya kembali membayangkan perasaan terpikat? Membayangkan sifatnya yang mata keranjang? Celaka kalau begitu. Tidak boleh begini!

"Maaf, Sumoi... Mengapa tidak boleh duduk?"

Yan Cu mengangkat muka, sekarang berani memandang. "Subo berpesan agar engkau berbaring dan memulihkan tenaga sampai sepuluh hari. Engkau baru tiga hari..."

"Apa?" Keng Hong memotong, terkejut. "Sudah tiga hari tiga malam aku rebah di sini dan engkau terus-menerus menjaga dan merawatku di sini, Sumoi?"

Sepasang mata yang indah itu memandang Keng Hong, seolah-olah mata itu bertanya apa salahnya dengan itu, akan tetapi bibirnya bergerak, berkata halus. "Ahh, Suheng. Itu sudah menjadi kewajibanku."

"Kewajibanmu? Dan engkau menjaga terus-menerus tanpa beristirahat sehingga engkau kelelahan dan tertidur di bangku. Mukamu pucat, engkau agak kurus, pakaianmu dan rambutmu kusut... Ah, Sumoi aku benar tak tahu diri, membuat Sumoi capek sekali."

Yan Cu bangkit berdiri, meneliti pakaiannya, dan otomatis tangannya meraba rambutnya. "Wah, aku... aku harus berganti pakaian... Harus mandi, rambutku... ahhh…, tentu jelek sekali..."

Keng Hong tak dapat menahan ketawanya. "Bukan begitu, Sumoi. Engkau tetap cantik, ahh, malah lebih cantik dalam keadaan begini. Engkau sudah merawatku, sungguh aku harus berterima kasih!' Keng Hong meloncat turun dan menjura di depan gadis itu.

Yan Cu tersipu-sipu. "Eh-ehh-ehhh, jangan Suheng. Aku... aku harus menjagamu, dan engkau tidak boleh turun. Kesehatanmu belum pulih. Subo bilang, jika sinkang-mu cukup kuat, dalam waktu sepuluh hari barulah Suheng boleh turun."

"Ha-ha-ha! Aku sudah cukup sehat dan kuat berkat perawatanmu, Sumoi. Lihat!" Keng Hong membusungkan dada, menarik napas panjang dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, dan... punggungnya menempel di langit-langit. Kemudian dia melompat turun lagi, demikian ringan tubuhnya. "Nah, bukankah aku sudah pulih kembali?"

Yan Cu memandang kagum. "Engkau... engkau hebat, suheng. Baru malam tadi aku... Engkau makan dengan..." Sukar ia melanjutkan kata-katanya dan ia hanya memandang ke arah bekas mangkok dengan sendoknya.

Keng Hong memandang, terharu. "Engkau masih menyuapi aku, bukan? Terima kasih, Sumoi. Aku tidak akan mungkin mampu membalas budimu, biarlah Thian saja yang akan membalasmu." Kembali Keng Hong menjura. "Di mana subo? Aku harus menghaturkan terima kasih kepadanya."

"Subo telah tiga hari pergi seperti biasa, mencari daun-daun obat... nah itu subo datang!"

Benar saja, nenek itu sudah berdiri di ambang pintu dengan sebuah keranjang penuh daun dan akar obat. Keng Hong cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Subo, terimalah hormat dan terima kasih teecu atas pertolongan Subo. Sungguh teecu tidak akan dapat melupakan budi Subo dan Sumoi yang amat besar terhadap diri teecu!" Keng Hong bersujud sampai delapan kali.

Nenek itu memandang dengan wajah berseri dan penuh kekaguman. "Baru tiga hari dan engkau sudah sehat kebali. Entah berapa hebat sinkang-mu, Keng Hong! Namun engkau benar-benar mengagumkan, agaknya sinkang-mu malah sudah lebih tinggi dari mendiang suhu-mu!"

"Subo, terlalu memuji. Kalau tidak ada Subo dan Sumoi, tentu teecu sekarang hanya tinggal nama saja. Entah bagaimana teecu akan dapat membalas budi Subo dan Sumoi!"

"Keng Hong, orang yang ingat akan budi adalah orang yang baik. Syukurlah kalau engkau suka ingat akan budi orang. Untuk membalasku, engkau harus memenuhi permintaanku dan untuk membalas budi Sumoi-mu, kau harus suka menurut menjadi calon suaminya. Aku menjodohkan engkau dengan muridku." Terbelalak mata Keng Hong dan otomatis dia menengok kepada sumoi-nya. Akan tetapi gadis itu sudah lari keluar dari kamar.

"Akan tetapi, Subo..." Keng Hong sudah bangkit berdiri dan memandang nenek itu dengan bingung.

Kini dia benar-benar tidak dapat menggunakan pikirannya, bingung karena keputusan itu benar-benar sangat mendadak dan sama sekali tidak pernah diduganya. Dia dijodohkan dengan gadis jelita itu!

"Cia Keng Hong, apakah engkau hendak menolak? Tegakah engkau menolak setelah apa yang dilakukan oleh muridku? Dia sudah setuju, dan kulihat kalian memang berjodoh. Engkau murid Sin-jiu Kiam-ong, dia muridku. Engkau tampan gagah, dia pun cantik jelita dan gagah. Adakah gadis yang lebih cantik dari dia? Ehhh, Keng Hong, apakah engkau sudah memiliki calon isteri lainnya?" Nenek itu memandang penuh perhatian dan penuh selidik.

Keng Hong menggelengkan kepalanya. Memang dia belum mempunyai tunangan. Akan tetapi pada saat itu, terbayanglah wajah Biauw Eng di pelupuk matanya. Biauw Eng!

Bagaimana dia dapat memilih gadis lain menjadi calon isterinya apa bila dia sudah yakin benar bahwa Biauw Eng-lah satu-satunya wanita di dunia ini yang dicintanya? Cintanya terhadap Biauw Eng adalah cinta yang murni, yang mendalam bukan hanya cinta birahi atau tertarik oleh kecantikan Biauw Eng saja.

Memang dia suka akan kecantikan, selain tertarik, akan tetapi itu bukanlah cinta! Mana mungkin dia mencinta wanita lain, biar sejelita gadis itu sekali pun? Cinta kasihnya sudah direnggut Biauw Eng. Memang Biauw Eng sekarang membencinya, akibat kebodohannya sendiri, akan tetapi apa pun yang terjadi, andai kata kelak Biauw Eng menjadi isteri orang lain sekali pun, dia akan tetap mencinta Biauw Eng!

"Nah, apa bila engkau belum bertunangan, mengapa ragu-ragu? Engkau harus menjadi suami muridku, karena hanya untuk jodoh muridku inilah aku bertahan hidup selama ini. Kini aku telah mendapatkan jodoh untuknya, yaitu engkau. Kalau engkau menolak, berarti engkau adalah seorang yang tidak kenal budi dan akan kuanggap sebagai musuh. Aku akan membunuhmu!"

"Subo...!" Keng Hong berteriak kaget.

Nenek itu lalu menurunkan keranjangnya. "Dengarlah, dahulu aku telah melakukan dosa terhadap gurumu. Karena itu, aku kini melihat jalan untuk menebus dosaku, yaitu untuk membahagiakan muridnya. Karena itulah aku memilihmu untuk menjadi suami muridku, padahal andai kata ada seorang putera kaisar sekali pun yang melamar muridku, belum tentu akan kuterima! Engkau bahagia sekali menjadi calon suami muridku. Kalau engkau menolak, berarti engkau menghancurkan harapanku menebus dosa dan sekaligus engkau menghina aku, engkau menghancurkan perasaan muridku yang juga akan merasa terhina karena ditolak. Nah, aku telah cukup bicara. Kalau kau menerima akan kuatur pernikahan kalian bulan ini juga, atau engkau menolak dan harus mengadu jiwa dengan aku!"

"Subo...!" Keng Hong mengeluh.

Akan tetapi nenek itu sudah menyambar keranjangnya dan pergi dari situ.

********************

Keng Hong bangkit perlahan-lahan, berjalan menghampiri pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di pembaringan itu. Pikirannya tidak karuan, terasa gelap dan ruwet. Hatinya tertekan, membuatnya bingung sekali. Apa yang harus dia lakukan?

Harus dia akui bahwa kalau tidak ada guru dan murid itu, dia tentu sudah mati di tangan Ang-bin Kwi-bo! Dia berhutang budi, malah berhutang nyawa! Hutang benda seperti yang dilakukan gurunya, dapat dibayar, pusaka-pusaka yang ‘dihutang’ gurunya dapat dia cari kembali dan dia kembalikan. Akan tetapi hutang budi? Hanya dapat dibalas dengan budi pula. Kalau dia menolak, berarti dia akan menjadi orang yang paling tidak mengenal budi di dunia ini!

Dia masih jejaka, belum menikah belum bertunangan. Alasan apa yang dapat dia pakai untuk menolak? Yang mengatur perjodohan adalah isteri gurunya sendiri, berarti berhak untuk mewakili gurunya yang sudah tidak ada. Ada pun jodoh yang demikian cantik jelita, berkepandaian tinggi, berbudi mulia, gadis yang telah menjaga dan merawatnya selama tiga hari tiga malam tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Dari sikap itu saja dia sudah bisa menduga bahwa gadis itu tentu suka kepadanya! Bagaimana dia dapat menolak? Keng Hong menjadi pening kepalanya dan dia duduk sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Suheng...!" Halus merdu sekali suara itu, akan tetapi mendengar itu, kepala Keng Hong menjadi makin pening. Ia mengangkat muka memandang dan matanya terbelalak.

Gadis itu sudah mandi, sudah menyisir rambut dengan rapi, sudah bertukar pakaian yang bersih dan indah, pakaian berwarna serba kuning. Rambutnya yang hitam dan gemuk dikelabang dua, diikat dengan pita sutera kuning pula. Segar dan cantik mempesonakan. Akan tetapi, melihat kecantikan gadis ini, kepalanya berdenyut-denyut rasanya sehingga dia memejamkan mata dan menekankan kedua tangannya keras-keras dari kanan kiri.

"Suheng... apakah kepalamu masih terasa pening...?"

Keng Hong mencium bau yang amat sedap harum. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan cepat memejamkannya kembali karena melihat sepasang mata bagaikan dua buah bintang cemerlang menatapnya lekat-lekat di depan mukanya. Ia menggeleng kepalanya dan dengan kedua mata masih terpejam dia bertanya,

"Sumoi, di mana Subo?" Dia heran sendiri mendengar suaranya mendadak menjadi parau dan gemetar, seperti suara orang terserang penyakit demam, suara orang gelisah yang bingung dan kehabisan akal!

"Subo sudah pergi lagi, katanya hendak mencari akar jin-som di puncak paling ujung. Paling cepat lima hari lagi akan kembali. Mengapa. Suheng? Mukamu pucat sekali. Subo sudah bilang, bahwa engkau boleh turun setelah beristirahar sepuluh hari. Baru tiga hari engkau turun. Lebih baik berbaringlah dan mengasolah sampai sembuh, Suheng. Hari ini engkau sudah boleh makan masakan daging. Kutangkapkan kelinci untukmu, ya? Atau engkau lebih senang daging ayam hutan? Ataukah kijang? Aku akan masak yang enak untukmu..."

Keng Hong merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Dia memaksa diri membuka mata, memandang sumoi-nya itu dengan tajam, lalu bertanya,

"Sumoi, apakah engkau... engkau... tadi mendengar...?"

Gadis itu memandangnya, matanya kini terbuka agak lebar. Mati aku, pikir Keng Hong. Sepasang mata itu luar biasa indahnya! Akan tetapi menikah dengannya? Ahhh, bagai mana mungkin? Biauw Eng...!

"Mendengar apa, Suheng?"

Keng Hong mengerutkan keningnya. Kalau gadis berpura-pura tidak tahu berarti gadis ini memiliki watak yang suka mempermainkan! Akan tetapi kedua mata itu memandangnya begitu jujur, sewajarnya dan tidak menyembunyikan sesuatu apa pun, jelas memang tidak mengerti.

"Itu... tuhhh... tentang... ehh, tentang perjodohan..."

Mendadak gadis itu menundukkan mukanya. Sesudah menunduk, nampak sekali betapa lentik panjang bulu matanya, betapa mancung hidungnya dan betapa runcing dagunya. Bukan main! Keng Hong tidak percaya di dunia ini ada yang lebih manis dari pada wajah di depannya ini!

Gadis ini mengangguk, kemudian terdengar suaranya yang keluar dari bibir yang merah basah tanpa gincu, lebih merah sedikit dari sepasang pipinya yang tiba-tiba menjadi amat merah.

"Aku sudah tahu... bahkan Subo sudah memberi tahu tiga hari sebelumnya, setelah Subo berhasil menusukkan Siang-bhok-kiam itu..."

Keng Hong tertegun. "Kalau begitu... ketika engkau menjaga dan merawatku selama tiga hari tiga malam... ehh… engkau sudah tahu akan perjodohan itu?"

Gadis itu mengangguk dan mengerling sambil tersenyum manis, bukan sikap memikat melainkan agaknya merasa geli dan hendak menggoda. Keng Hong merasa betapa hawa pagi di dalam kamar itu tiba-tiba menjadi panas. Ahh, dia harus bicara dari hati ke hati dengan gadis ini. Kalau dia tidak berani nekat sekarang, nanti akan terlambat dan dia tak akan dapat menghindarkan diri lagi dari ikatan jodoh ini. Dia harus dapat menyelesaikan urusan ini sebelum isteri gurunya itu pulang!

"Sumoi, mari kau ikut bersamaku...!"
"Ehh... ehhh... mau ke mana...?" Yan Cu berkata heran ketika pemuda itu menggandeng tangannya dan menganjaknya lari keluar dari dalam pondok.

Keng Hong tidak menjawab melainkan terus menarik tangan gadis itu. Setelah tiba di luar dia berkata, "Kemana saja, asal jangan di dalam pondok. Aku... aku membutuhkan udara segar, dan aku ingin bicara kepadamu, Sumoi. Bicara dari hati ke hati, bicara sejujurnya demi kebaikan kita bersama, demi masa depan penghidupan kita!"

Gadis itu memandang dengan sinar mata heran, akan tetapi ia mengangguk dan berkata. "Marilah. Di puncak sana itu amat indah pemandangannya dan sejuk hawanya. Aku paling suka duduk melamun sendirian di sana!"

Mereka lalu berlari-lari ke puncak yang tadi ditunjuk gadis itu. Keng Hong sengaja hendak menguji ginkang gadis itu, maka dia pun berlari cepat sekali.

"Wah, larimu cepat bukan main, Suheng!" teriak gadis itu.

Akan tetapi Keng Hong mendapat kenyataan bahwa gadis itu mempunyai ginkang yang hebat juga. Setelah mengetahui hal ini, pemuda ini pun tidak mau mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengimbangi kecepatan gadis itu sampai mereka tiba di puncak.

Keng Hong memandang sekeliling dan dia menjadi kagum. Memang indah bukan main pemandangan dari puncak itu. Di sebelah timur tampak menjulang puncak Pegunungan Phu-niu-san, ada pun di sebelah barat menjulang tinggi puncak Pegunungan Cin-ling-san. Di sebelah bawah tampak jurang-jurang yang curam dan anak sungai yang berlika-liku seperti ular naga. Hawanya pun nyaman sekali. Berdiam di tempat seperti inilah yang membuat manusia merasa kecil, dan merasa lebih dekat dengan alam yang maha besar, merasa bahwa dirinya tidak berarti, hanya menjadi sebagian kecil saja dari alam ini.

Mereka lalu duduk di atas rumput yang hijau tebal laksana permadani. Sejenak mereka berpandangan dan gadis itu bertanya,

"Suheng, pandang matamu aneh. Engkau kau hendak bicara apakah?"

"Sumoi, pertama-tama, siapakah namamu?"

Gadis itu membelalakkan matanya kemudian tertawa geli, menutupi mulut dengan lengan bajunya. Hemmm, bukan main manisnya kalau begini, pikir Keng Hong kagum. Ia dapat mengerti kegelian hati gadis itu. Seorang suheng yang tidak tahu nama sumoi-nya! Atau lebih lagi, seorang calon suami yang tidak tahu nama isterinya! Mana ada keduanya di dunia ini?

"Aihhh, kukira Suheng sudah tahu. Jadi belum tahukah?"

Keng Hong tersenyum. Sikap gadis itu sekarang lebih terbuka, lincah dan tidak malu-malu sesudah mereka berdua berada di tempat sunyi yang amat indah itu. Sikap ini menular kepadanya dan dia pun menjadi gembira. "Kalau aku sudah tahu, masa aku bertanya lagi, Sumoi?"

Gadis itu bangkit berdiri dan menjura sambil bersoja, sikapnya lucu dan manis. "Kalau begitu, perkenalkanlah, nama saya Gui Yan Cu!"

"Saya Cia Keng Hong!" Keng Hong juga sudah bangkit berdiri dan cepat-cepat membalas penghormatan sumoi-nya seolah-olah mereka merupakan dua orang yang baru bertemu dan baru berkenalan.

Keduanya saling pandang lalu tertawa bergelak. Kini Yan Cu bahkan tertawa gembira tanpa malu-malu menutupi mulutnya seperti tadi sehingga Keng Hong terpesona melihat deretan gigi yang putih seperti mutiara dan sekilas pandang dapat melihat rongga mulut dan ujung lidah yang merah.

"Yan Cu sumoi, marilah kita duduk dan bicara. Aku tidak main-main lagi, aku ingin bicara denganmu mengenai diri kita dan kuharap kau suka bicara sejujurnya seperti aku, karena ini demi kebahagiaan masa depan kita sendiri."

Ternyata Yan Cu adalah seorang gadis yang selain lincah dan jujur, juga dapat diajak berunding, karena gadis itu sudah cepat menghapus kegembiraannya dan duduk sambil memandang Keng Hong penuh perhatian. Melihat sikap gadis ini, kedua matanya yang bening, sepasang bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang melambai tertiup angin gunung, diam-diam Keng Hong membayangkan betapa akan bahagia hidupnya menjadi jodoh gadis seperti ini kalau saja di sana tidak ada Biauw Eng!

"Sumoi, engkau tentu sudah tahu bukan bahwa Subo telah menetapkan agar kita menjadi pasangan, menjadi calon suami isteri?"

Gadis itu mengangguk dan kembali sepasang pipinya menjadi merah. Akan tetapi karena maklum bahwa suheng-nya berbicara dengan sungguh-sungguh, dia berani menentang pandang mata suheng-nya, bahkan kini pandang matanya sendiri penuh selidik.

"Bagaimana tanggapanmu mengenai urusan itu, Sumoi? Bagaimana perasaanmu ketika Subo menyatakan urusan penjodohan itu kepadamu?"

"Hemmm, apa maksudmu, Suheng? Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana!"

"Jawab saja, apakah engkau girang mendengar itu? Ataukah engkau terpaksa menerima akan tetapi dalam hatimu sebetulnya tidak suka?"

Gadis itu kelihatan canggung, akan tetapi dia memaksa mulutnya menjawab. "Aku girang dan suka mendengar itu Suheng."

"Sumoi, katakanlah terus terang, apakah engkau... suka padaku? Kenapa engkau merasa girang dan suka mendengar bahwa engkau hendak dijodohkan denganku?"

Wajah yang manis itu menjadi merah sekali. Diam-diam Keng Hong merasa kasihan dan dia menyumpahi dirinya sendiri yang dia tahu amat kejam mengajukan pertanyaan seperti ini kepada seorang gadis, malah tunangannya sendiri! Akan tetapi dia harus melakukan hal ini, agar urusan yang ruwet itu dapat beres.

"Aku... aku suka padamu, Suheng. Mengapa tidak? Engkau seorang pemuda yang gagah perkasa, yang... eh, amat tampan dan yang baik budi, bahkan engkau murid suami Subo yang terkenal. Apakah engkau tidak suka kepadaku, Suheng?" Kini sepasang mata yang bening dan membayangkan hati yang bersih itu seolah-olah hendak menembus jantung Keng Hong.

Mampus kau sekarang, demikian Keng Hong memaki diri sendiri. Senjata makan tuan! Dia dibalas oleh gadis itu dengan ucapan sederhana, dengan pertanyaan langsung yang menancap di ulu hatinya.

"Aku... aku... Ah, nanti dulu, Sumoi. Sekarang engkau dulu menjawab pertanyaanku, nanti aku yang mendapat giliran menjawab semua pertanyaanmu."

Yan Cu memandang aneh, lalu menghela napas.

"Engkau aneh, Suheng. Akan tetapi baiklah, kau mau bertanya apa lagi?"

"Pada saat engkau merawatku selama tiga hari tiga malam, apakah hal itu kau lakukan karena... engkau memang kasihan kepadaku, apakah karena suka, ataukah karena kau merasa hal itu menjadi kewajibanmu sebagai… ehh, calon isteri?"

Keng Hong menanti jawaban dari gadis itu dengan hati berdebar tanpa berani memandang wajah Yan Cu. Sampai lama gadis itu tidak menjawab, dan selama itu Keng Hong tidak berani memandang wajahnya. Kemudian terdengar suaranya yang halus namun penuh keheranan,

"Aku tidak mengerti mengapa kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti ini, Suheng. Aku merawatmu karena merasa hal itu sudah semestinya, sudah kewajibanku, bukan hanya karena aku menjadi calon isterimu, akan tetapi karena aku kasihan padamu juga suka kepadamu, apa lagi engkau adalah suheng-ku."

Keng Hong menggaruk-garuk kepalanya. Dasar engkau sendiri yang tolol, makinya pada diri sendiri, ingin menjenguk hati gadis yang murni! Mengapa tidak terus terang saja?

“Mengapa tidak terus terang saja, Suheng?"

"Hahhh…?!" Keng Hong terkejut karena pertanyaan yang diajukan Yan Cu begitu tepat dengan suara hatinya sendiri! Siapakah yang bertanya barusan? Benarkah suara Yan Cu, ataukah suaranya sendiri? Dia menjadi bingung sendiri dan memandang kepada Yan Cu dengan mata kosong.

Gadis itu tersenyum geli. "Suheng, jangan-jangan sebagian dari racun Ban-tok Sin-ciang ada yang naik memasuki kepalamu…"

Keng Hong memegangi kepalanya. "Wah... kau menghina...," akan tetapi dia tertawa dan gadis itu pun tertawa geli. Suasana yang tegang membingungkan tadi membuyar.

"Kau terlalu, Sumoi. Apakah kau anggap aku sudah menjadi gila...?"

"Habis, pertanyaan-pertanyaanmu aneh-aneh saja, sih. Bila mana ada sesuatu di hatimu, katakanlah terus terang, Suheng. Bukankah kau tadi mengajak aku untuk bicara dari hati ke hati? Aku tahu bahwa engkau masih terkejut karena keputusan Subo yang tiba-tiba menjodohkan kita. Apakah kau hendak berbicara tentang ini? Ataukah tidak setuju dan terpaksa menerima karena takut kepada Subo?"

Nah, rasakan sekarang! Keng Hong menundukkan mukanya seperti seorang pesakitan mendengarkan tuduhan-tuduhan hakim. Akhirnya dia memberanikan hatinya, mengangkat muka memandang wajah yang jelita itu dan berkata, "Terus terang saja, Sumoi. Memang hal itulah yang membuat hatiku bingung bukan main. Karena berhutang budi kepada Subo yang telah menyelamatkan nyawaku, pula karena mengingat bahwa Subo adalah isteri Suhu yang tentu saja berhak mewakili Suhu, bagaimana aku berani membantahnya?"

"Jadi engkau tidak setuju dan engkau tidak suka kepadaku, Suheng?"

"Wah-wah-wah, nanti dulu, Sumoi. Disaksikan oleh langit dan bumi yang dapat kita lihat sekarang ini, sama sekali tidak demikian. Aku suka sekali kepadamu, Sumoi, dan untuk ke dua kalinya aku bersumpah bahwa belum pernah aku bertemu dengan seorang gadis secantik, sepandai dan semulia engkau. Aku suka kepadamu, akan tetapi bukan hanya karena suka orang kemudian bisa menjadi suami isteri. Ehh, apakah engkau cin... cinta kepadaku, Sumoi?"

Keng Hong ingin menampar mulutnya sendiri untuk keluarnya pertanyaan ini. Akan tetapi karena sudah terlanjur, maka dia hanya dapat memandang muka gadis itu yang kini mengerutkan kening dan bibirnya diruncingkan, agaknya berpikir keras...!
Selanjutnya,