Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 74

“Kenapa tidak dilanjutkan terus?”

“Gila. Kamu kira ada berapa toh dalam tubuh manusia?”

“Kalau tidak banyak, kenapa kita tidak memakai tanda yang lain? Andheng-andheng atau tahi lalat bisa kita samakan dengan toh. Itu sama-sama kulit mati.”

“Mada! Pikiranmu ada gunanya. Bisa kita jajal. Tidak, tidak, kamu tak mengerti.”

“Kalau jumlahnya lebih dari 57…”

“Hebat. Jadi kamu sedikit mengerti mengenai kulit mati. Aha, hari ini kita ciptakan 57 jurus baru, dengan memakai kekuatan toh. Itu bagus. Kita mulai sekarang.”

Halayudha mengambil keris dan menggoreskan di lantai, membentuk tubuh manusia. Kekuatannya begitu kuat, sehingga lantai batu mengilat yang keras seakan tanah liat.

“Ada 57 tempat yang bisa ditumbuhi kulit mati. Ini yang pertama, di bagian kepala.” Ujung keris Halayudha menusuk bagian kanan goresan kepala di lantai.

“Manikhardika.”

“Ya, namanya manikhardika, yang mempunyai arti wadak mudah mencapai kemauannya. Berarti pengerahan tenaga di bagian ini bisa dipersiapkan sebelum menyerang. Lalu ini di sebelah kiri.”

Halayudha menusuk bagian kiri. Jenjem. “Tenaga yang meragukan, karena tak bisa dipaksa keluar seperti kemauan kita.”

Setiap kali menerangkan, Halayudha menusuk bagian tertentu pada goresan di lantai, sementara Mada mengingatkan nama sebutannya. Di bagian belakang kepala, dibarengi dengan sebutan cantuka, di tengah pusaran rambut disebut pulungjati, di ubun-ubun dinamai durjati. Demikian juga bagian kening, pelipis kiri dan kanan, di pelupuk mata, kanan dan kiri, baik atasnya maupun bawahnya, sudut mata kanan dan kiri….

“Mada, kalau kita hanya menghafal seperti ini tak ada gunanya. Akan saya buatkan toh ini di tubuhmu, dan kamu bisa menjajalnya.”

“Dengan senang hati. Bagaimana bila Paduka kalah hebat?”

“Tidak mungkin. Tapi bisa juga. Kamu bisa berdusta. Kamu bilang tidak padahal sebenarnya menyimpan tenaga. Aku tahu kamu bisa mendustaiku.”

Halayudha menggaruk lehernya. “Jabung Krewes, kemari segera. Cari senopati yang sakti. Aku akan mempraktekkan temuan jurus-jurus baru. Jabung Krewes…”

Yang diundang segera menghadap.

Senopati Klangenan
MAHAPATIH JABUNG KREWES merasa tak menentu. Terutama untuk menentukan sikap yang jelas menghadapi Halayudha. Di satu pihak dirinya merasa ngeri dengan keampuhan ilmu Halayudha yang tak terkalahkan, akan tetapi di lain pihak merasa wibawa Keraton dirobek-robek tak menentu. Secara sangat tersamar, Jabung Krewes pernah mengemukakan hal ini kepada Raja. Dengan dalih bahwa Raja mungkin sangat terganggu dengan kehadiran Halayudha yang menempati bagian utama Keraton.

“Anggap saja Halayudha itu senopati klangenan, kesukaan Ingsun untuk yang lucu-lucu, untuk menghibur. Seperti juga binatang buas yang ada, seperti wanita-wanita di kaputren. Seperti yang lainnya. Sedikit mengganggu juga tak apa. Aku bisa mencari tempat lain.”

“Maaf, Sinuwun… Maafkan kalau hamba tak bisa segera menangkap kearifan Ingkang Sinuwun…!’

“Aku merasa masih perlu adanya senopati seperti Halayudha. Ia tak akan mengancammu karena kamu sudah resmi menyandang gelar mahapatih. Malah kamu bisa belajar banyak dari ilmunya. Kamu dan Mada beruntung, karena hanya kalianlah yang diajak bicara. Bagi Keraton, Halayudha lebih baik ada. Apa yang dilakukan Halayudha tak sepenuhnya membawa makna besar, seperti andai Ingsun yang melakukan. Keinginan Ingsun terkabul dari apa yang dilakukannya. Kamu tak akan bisa mengerti. Tapi itulah sabdaku.”

Sabda adalah sabda. Dengan sepenuh hati Jabung Krewes menjalankan. Tak ada pilihan lain. Selain menyalahkan diri sendiri, bahwa dirinya terlalu kecil dan bodoh untuk memahami keluasan daya jangkau wawasan Raja. Walau kadang muncul godaan untuk diam-diam menyingkirkan Halayudha. Dengan cara yang halus. Dengan menyelewengkan ilmu-ilmu yang sekarang dipelajari.

Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Itu berarti tumpuan harapannya kembali ke Mada. Karena prajurit itulah satu-satunya yang diajak bicara Halayudha, selain dirinya. Tidak tepat sekali, akan tetapi agaknya Mada menyadari peranannya yang menentukan.

“Untuk sementara waktu, senopati klangenan masih akan sibuk dengan toh. Usahakan terus ia tenggelam di situ, Mada.”

“Sendika dawuh, Mahapatih.” Mada menyembah hormat.

“Akan tetapi kalau jumlahnya hanya 57, semalam saja sudah selesai.”

“Sesungguhnya begitu, Mahapatih.”

“Mada, biarlah aku yang merencanakan jalan lain. Laksanakan tugasmu dengan baik. Kamu masih muda. Aku sudah tua. Kamu memiliki cahaya yang bersinar, aku mulai redup. Matahari tenggelam ke barat, setiap kali terasa lebih cepat. Aku harus berpacu dengan sisa-sisa usiaku.”

Mahapatih Jabung Krewes menghela napas berat. Setiap kali pikirannya terseret ke masalah itu, setiap kali pula terbangun dari tidurnya. Setiap kali dicoba dilarikan ke dalam doa, setiap kali pula kegelisahan itu mereda untuk sementara. Sering dalam hening tengah malam, Jabung Krewes menengadahkan wajahnya ke langit. Mencoba sepenuhnya memahami peranan yang dijalani.

Dirinya dilahirkan sebagai prajurit. Dan sejak kecil pengabdian kepada Keraton yang selalu menjadi impiannya. Setingkat demi setingkat pengabdiannya diterima. Dirinya termasuk salah seorang senopati. Akan tetapi sangat jauh dari angannya bahwa kemudian dirinya ditarik sebagai mahapatih!

Derajat dan pangkat yang sama sekali jauh dari jangkauannya. Bahkan dalam keadaan paling mabuk pun tak berani dibayangkan. Apakah ini yang dinamakan nasib? Apakah ini yang dinamakan tinggal menjalani apa yang telah dituliskan Dewa?

Jabung Krewes sadar, bahwa masuknya ia ke barisan senopati yang menentukan adalah sejak adanya ketegangan dalam Keraton. Ketegangan yang terutama antara Halayudha dan Tujuh Senopati Utama yang saling ingin menanamkan pengaruh, saling menjaga diri dari kemungkinan yang terburuk. Menjadi lebih parah lagi, karena Raja sendiri ingin turun tangan dalam hal-hal tertentu.

Ketika Senopati Bango Tontong mendapat kekuasaan yang lebih besar untuk menjaga ketertiban dan keamanan dengan membentuk Barisan Kosala, agaknya Halayudha mulai berpikir lain. Apalagi mengingat Senopati Bango Tontong selama ini dikenal sebagai pengikut setia Mahapatih Nambi.

Bukan tidak mungkin akan menggalang kekuatan sendiri, dan selama ini telah terbukti bisa menyembunyikan diri. Halayudha mulai repot, karena tak mungkin melenyapkan atau menyingkirkan begitu saja. Untuk menjaga keseimbangan, untuk mengurangi kekuasaan Senopati Bango Tontong yang tanpa batas, Halayudha menarik dan memberi wewenang kepada Senopati Jabung Krewes.

Strategi semacam itu disadari sepenuhnya. Ketika memperoleh wewenang lebih besar, Senopati Jabung Krewes mengetahui bahwa dirinya naik ke jenjang yang lebih tinggi, terutama bukan karena kemampuannya. Melainkan untuk mengurangi kekuasaan senopati kuat yang lain. Dengan adanya pertarungan tersamar di lapisan kedua, Mahapatih bisa lebih leluasa melihat dan memutuskan.

Akan tetapi dengan sangat cepat terjadi perubahan. Mahapatih Halayudha seperti berubah ingatan. Pada saat yang genting dan menentukan, dirinya berada di dekat Raja. Dan kemudian Raja mengangkatnya sebagai mahapatih! Suatu kedudukan yang membuat gamang. Gamang karena wewenang dan tanggung jawabnya sedemikian besar dibandingkan dengan kemampuannya. Untuk yang terakhir ini, Jabung Krewes bisa melihat dengan jelas pada dirinya.

Itu yang sangat disadari. Itu yang ternyata tak bisa diubah. Dengan kekuasaan seperti sekarang, dirinya bisa mengambil tindakan tegas kepada Tujuh Senopati Utama. Baik untuk menindak, ataupun sebaliknya. Akan tetapi nyatanya, hatinya selalu diliputi keraguan. Semua ini membuatnya pedih. Sedih. Hatinya selalu merintih, saat-saat berdoa kepada Dewa yang Mahadewa.

“Duh, Dewa. Dosa dan kenistaan apa yang hamba tanggung sekarang ini, sehingga hamba harus menentukan nasib banyak manusia? Duh, Dewa. Kalau jelas hamba tak mampu, kenapa harus hamba yang menjalani ini, memangku derajat dan pangkat yang bila disandang orang yang tepat akan lebih bermanfaat bagi Keraton beserta seluruh isinya?”

Rintihan batin Jabung Krewes tergema balik. Sejak memakai kelat bahu di sepasang lengannya, Jabung Krewes makin merasa beban yang disandangnya tak tertanggungkan. Dan pada situasi semacam itu yang bisa dilakukan adalah menunda dan menunda. Menunda malam bergeser ke pagi. Menunda penyelesaian persoalan malam hari ke pagi berikutnya. Akan tetapi ternyata itu juga hanya berarti penundaan yang makin lama makin berat.

Malam setelah berpesan kepada Mada, Mahapatih Jabung Krewes merasa lebih lega. Kini saatnya membuktikan diri, bahwa ada sesuatu yang bisa ia lakukan. Dirinya tak ingin dianggap klangenan belaka. Untuk sesaat, Jabung Krewes ragu menentukan siapa yang bisa menjadi teman sejati untuk bertukar pikiran. Para senopati di bawahnya hanya akan mengiya saja. Dengan Tujuh Senopati Utama jelas tidak mungkin.

Dengan Upasara Wulung juga tidak mungkin. Apalagi sabda Raja telah dijatuhkan, bahwa sepeninggal Upasara dari Keraton ia akan menjadi lawan. Berarti dengan para ksatria yang berasal dari Perguruan Awan pun tertutup kemungkinan bekerja sama. Keraguan makin meninggi manakala Jabung Krewes mencoba menemukan apa yang seharusnya dilakukan saat ini.

Itulah puncak keraguan yang sangat dibencinya. Yang tak bisa ditanggalkan dan ditinggalkan. Kalau sudah begitu, satu-satunya jalan yang menenteramkan hanyalah kembali ke dalam Keraton. Kembali menemui Mada dan Halayudha.

“Kasihan mahapatih yang satu ini,” kelakar Halayudha menyambut kedatangannya. “Setiap kali aku melihat wajahnya, setiap kali aku merasa makin dekat dengan kematiannya. Benar-benar perlu dikasihani. Manusia tanpa greget, tanpa krenteg, tanpa kemauan. Tanpa kemampuan. Juga misalnya membunuh dirinya sendiri.”

“Duh, Mahapatih. Jangan dengarkan. Paduka Halayudha…”

“Mada, kamu tak perlu menasihati. Semakin banyak yang didengar, semakin bingung mahapatih ini. Semakin tak menentu. Semakin tak berguna. Mada, lupakan dia. Bagaimana tentang tanah air tadi?”

Gua Kencana, Gua Air Laut
APA yang dirasakan Mahapatih Jabung Krewes lebih parah dari apa yang terlihat pada perubahan wajah seketika. Ucapan Mada yang ngeman, yang menyayangkan, terasa lebih menusuk lagi, justru karena setelah mengucapkan itu, Mada tenggelam dalam pembicaraan bersama Halayudha. Tamparan yang menyakitkan. Bahkan Mada seperti bertindak kurang ajar.

Tanpa disadari perasaan kecewa terhadap sikap Mada membekas, dan karena dirinya selalu lebih suka membicarakan dalam batin, bekas itu makin menggurat. Mahapatih Jabung Krewes tidak biasa memperbincangkan persoalan yang dihadapi kepada istrinya. Dirinya memang jauh berbeda dari Senopati Tanca, yang boleh dikatakan selalu mengikutsertakan istrinya.

Kalau ada alasan yang dicari-cari, Mahapatih Jabung Krewes selalu kembali ke asal-mula, sewaktu dirinya masih prajurit biasa. Tak ada yang dibanggakan selain pangkat dan derajatnya sebagai prajurit. Ketika itulah seorang gadis yang sedikit lanjut usia, masih berdarah ningrat, disodorkan kepadanya. Tak ada alasan untuk menerima. Tak ada alasan untuk menolak.

Tapi pernikahan terjadi juga. Dan berkat hubungan dengan orang dalam, perlahan Jabung Krewes mulai dipandang, mulai diperhatikan. Dalam hati kecilnya Jabung Krewes selalu merasa berutang budi, merasa kalah setingkat, dan ini tak bisa dihilangkan setelah ketiga putrinya lahir, setelah mereka dewasa, setelah dirinya memegang wewenang sebagai orang kedua yang menjalankan pemerintahan.

Istrinya bisa menjalankan sendiri berbagai perencanaan. Kini dengan dibantu ketiga menantunya, mereka sudah siap membangun Keraton, memperbarui sitihinggil, menghijaukan kembali alun-alun, menciptakan taman sari yang lebih elok, sampai dengan rencana untuk memberikan persenjataan yang baru.

Jabung Krewes bukannya tidak mengetahui bahwa semua itu bisa berjalan lancar, berkat nama dan pangkat yang disandangnya sekarang ini. Kadang muncul pertanyaan dalam hatinya, apakah hal itu perlu ditangani keluarganya sendiri. Karena sebenarnya dalam keprajuritan sudah ada yang menangani. Akan tetapi setiap kali kandas, jika telah berhadapan dengan istrinya.

“Raka Mahapatih,” sembah istrinya dengan hormat, “telah sekian lama kami menanggung beban yang besar untuk menjaga wibawa Raka. Sekarang ada kesempatan untuk sedikit menjalankan apa yang bisa dilakukan oleh anak Raka sendiri, oleh menantu Raka sendiri. Apakah Raka Mahapatih menyesali?”

“Tidak, Yayi. Dalem kepatihan beserta seluruh isinya ini ada di tangan Yayi. Saya merestui, karena ini demi kebaikan Keraton. Hanya saja, saya mulai mendengar…”

“Raka Mahapatih. Kalau mendengar semua omongan, seratus telinga tak akan sanggup menampung. Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Sekaligus mengangkat nama Raka Mahapatih.”

“Baik, baik, Yayi.”

Hanya itu yang bisa diucapkan. Selebihnya adalah tikaman yang makin dalam. Goresan yang makin kandas ke dasar nuraninya. Suara yang tidak langsung terdengar bahwa istrinya sendiri yang mengatakan, “Raka Mahapatih mungkin tak pernah melakukan apa-apa. Tapi setidaknya bisa berbuat untuk warisan anak-cucu.” Mendengar bahwa rencana perbaikan alun-alun menimbulkan banyak perselisihan. Karena penguasaan alun-alun itu sepenuhnya berada dalam wewenang Senopati Kuti, salah seorang dharmaputra yang memperoleh perlakuan istimewa.

Adalah menyakitkan bahwa dirinya sebagai mahapatih harus berhadapan dengan Senopati Utama hanya karena soal penyediaan rumput untuk mengganti alun-alun. Adalah membuat telinganya merah, karena Senopati Kuti mengatakan hal ini secara terbuka di depannya.

“Mahapatih, izinkanlah saya menghadap untuk menyampaikan sesuatu yang sangat mengganjal perasaan saya sebagai lelaki. Saya sadar bahwa saya tidak berhak meminta kesempatan ini ke hadapan Mahapatih, karena saya tidak memegang jabatan keprajuritan, seperti semua senopati utama. Akan tetapi saya tak bisa menahan diri. Bagi saya lebih baik mengatakan secara terbuka. Itu sifat kasar saya yang buruk.”

“Paman Senopati Utama telah berhadapan sendiri dengan saya. Katakan, jangan sungkan-sungkan.”

Senopati Kuti melanjutkan perkataannya, “Kami para senopati utama mendapat anugerah tanah dari Baginda. Saya juga menerima anugerah. Di antaranya adalah merawat alun-alun, baik di sebelah utara maupun selatan Keraton. Besar atau kecil, itu anugerah dari Baginda. Besar atau kecil, itulah sebagian yang menghidupi keluarga, setelah saya tidak menjabat apa-apa. Anugerah itu memang titipan. Bisa dicabut setiap saat. Akan tetapi, hormatilah saya. Meskipun tua, jelek-jelek saya pernah bertarung melawan barisan Tartar, sebelum Mahapatih memegang umbul-umbul. Mahapatih bisa mengatakan ha atau na sebelum melakukan pengerjaan begitu saja.”

“Paman Senopati…”

“Mahapatih. Saya tak mau mendengar alasan Mahapatih belum mengetahui hal ini.”

Mahapatih Jabung Krewes mendongak. Dadanya tegak. “Senopati Kuti, jangan berkata selancang itu.”

“Saya mengatakan apa adanya.”

“Kamu keliru!” Suara Mahapatih mengguntur.

Senopati Kuti sedikit terperanjat.

“Aku adalah mahapatih. Aku tak bisa, dan tak mau ditekan dengan cara seperti itu. Selama ini aku telah menahan diri untuk tidak menindak kalian para senopati utama. Tetapi kini, alasan untuk menahan diri tak perlu lagi. Aku tak bisa diremehkan. Tidak oleh siapa pun.”

Senopati Kuti mengangguk. “Saya minta maaf yang besar, Mahapatih. Saya berdosa tujuh turunan karena menantang Mahapatih. Akan tetapi saya tak melihat cara lain. Siapa yang meminum air laut akan semakin dahaga. Siapa yang masuk ke Gua Kencana, tak ingin keluar kembali….”

Kalimat pedas itu mengiang di telinga Mahapatih. Dengan mengibaratkan harta sebagai air laut, dengan mengingatkan Gua Kencana Sodagar Galgendu yang dulu penuh dengan tambang emas, Senopati Kuti telah menuding tepat di ujung hidungnya. Meskipun Jabung Krewes mengakui Kuti adalah senopati yang kasar tindak-tanduknya, saat emosinya sedang peka seperti sekarang ini, kata-kata Kuti bagaikan menyulut tumpukan jerami kering.

“Kamu akan membayar mahal untuk kalimat itu.”

“Sekarang pun saya siap menghadapinya.”

“Baik.”

“Saya menghadap justru karena Mahapatih bisa saja khilaf untuk masalah yang hina seperti ini.”

“Aku tahu di balik itu, Kuti! Aku tahu kalian tak akan berhenti mencari peluang untuk kembali memegang pangkat dan derajat.”

“Saya akui, Mahapatih. Tapi bukan karena alasan rumput. Rasa sungkan kami yang tak terhingga kepada Raja, bukan kepada yang lainnya.”

“Akulah bahu kanan kering, bahu kanan dan bahu kiri Raja.” Jabung Krewes berdiri dari kursinya. “Katakan kepada semua senopati utama untuk bersiap-siap. Utusanku akan menjemput mereka setiap waktu. Pulanglah, Kuti!”

Senopati Kuti menyembah dengan hormat. Diiringkan prajurit kepatihan, Senopati Kuti kembali ke tempat tinggalnya. Tahulah ia kini bahwa barisan prajurit kepatihan yang lain telah mengepung kediamannya. Hal yang sama juga terjadi di kediaman Senopati Tanca. Bahkan menurut kabar angin, Senopati Semi sendiri telah diamankan, bersama Senopati Banyak. Berarti, Mahapatih memang sudah bergerak mendahului.

Walau darahnya mendidih dan kepalanya panas terbakar, akan tetapi Senopati Kuti adalah senopati yang mempunyai pengalaman luas. Pandangannya bisa jauh ke depan, perhitungannya tidak sekasar apa yang keluar dari mulutnya. Justru di saat seperti itu, perhitungannya menjadi matang. Saat untuk bergerak telah tiba. Dengan pengepungan kepada Tujuh Senopati Utama, berarti rakyat mengetahui apa yang terjadi. Ini berarti kesempatan baik untuk memukul balik.

Senopati Kuti mengetahui lekuk-liku keadaan Keraton. Sehingga tak akan ada kesulitan yang berarti untuk menggerayangi. Mahapatih Jabung Krewes pun tidak termasuk halangan yang besar. Tangannya sendiri bisa menyelesaikan.

Menunggu Angin Bertiup
SENOPATI KUTI tinggal mempertajam kegentingan dengan menyebar dan menularkan apa yang selama ini menjadi tanda tanya. Bahwa para senopati utama dilucuti, meskipun resminya telah leren, telah dipensiun, karena membela kepentingan rakyat. Yang dirampas hak-haknya untuk kepentingan keluarga Mahapatih.

Rumput di alun-alun menjadi contoh yang bisa diketahui semua mata. Karena memang merupakan lapangan terbuka yang dilewati semua orang di sisinya. Kegelisahan semacam itu sangat cepat menjalar, dan dari bibir yang satu ke bibir yang lain mendapat tambahan. Kalau kegelisahan ini merata, hanya tinggal menunggu angin. Yang tiupannya akan mengantarkan panas ke Keraton.

Yang lebih membulatkan tekad Senopati Kuti adalah kenyataan bahwa selama ini yang mengadakan pengamanan langsung hanyalah prajurit kepatihan. Yang berada di bawah perintah langsung Mahapatih. Berarti prajurit utama Keraton tidak dilibatkan.

Senopati Kuti merasa makin tidak sabar. Sedikit ditahan niatnya. Disuruhnya prajurit kepercayaannya untuk menghubungi Senopati Tanca. Meskipun berada dalam pengawalan, bukan sesuatu yang sulit untuk bisa menemui. Dengan alasan meminta jamu kepada Nyai Makacaru, bisa mengetahui pendapat Senopati Tanca. Akan tetapi jawaban yang terdengar membuat Senopati Kuti risi.

“Penyakit yang pernah diderita sama dengan yang diderita Tantra….” Kata sandi itu terlalu jelas.

Senopati Tantra adalah senopati muda yang dipersiapkan Tujuh Senopati Utama, yang memilih jalan sendiri. Menerobos masuk ke dalam Keraton, berhasil menguasai. Akan tetapi hanya untuk sementara. Dengan kata lain, Senopati Tanca kurang menyetujui gerakan yang akan dilakukan. Karena melihat kemungkinannya berhasil sangat kecil. Atau tidak pada sasaran yang dimaksud.

Risiko itu bukan tidak mungkin. Akan tetapi Senopati Kuti merasa dirinya berpacu dengan waktu. Kalau harus terus menunggu, akhirnya akan dilucuti tanpa pernah melawan. Tak ada jalan lain kecuali melakukan seorang diri. Tekad Senopati Kuti bulat sudah. Ia memanggil semua prajurit kepercayaannya. Sekaligus juga meminta pemimpin prajurit kepatihan hadir.

“Agar kalian bisa mendengar sendiri apa yang kukatakan. Dan kalian semua bisa melaporkan kepada Mahapatih.”

Tenang sekali Senopati mengumpulkan di pendapa, dan pada saat semua berkumpul, tanpa satu isyarat pun, para prajuritnya bergerak. Gerakan yang sangat singkat. Sebelum prajurit kepatihan menyadari apa yang terjadi, semua bisa diringkus. Tanpa meneteskan setitik darah. Bahkan tidak juga setitik keringat.

“Sumpal mulutnya, ikat semua tangan dan kakinya. Kalau ada yang melawan, bunuh seketika. Kita berangkat sekarang dengan umbul-umbul kepatihan.”

Tanpa menunggu aba-aba, para prajurit bergerak lugas. Perlu diingatkan bahwa sebutan Senopati Utama bukanlah sebutan tempelan. Apalagi Senopati Kuti selama ini membuktikan diri sebagai prajurit sejati yang berada dalam medan peperangan. Prajurit inti yang setia kepadanya, boleh dikatakan selalu dalam keadaan siaga. Sehingga tak terlalu makan waktu untuk menggerakkan.

Kini seluruh rombongan sudah langsung menuju Keraton. Berombongan 35, seperti biasanya dalam pasukan. Tanpa banyak menimbulkan gerak yang mencurigakan. Senopati Kuti berada di barisan depan. Ia memerintahkan barisan memecah diri dalam lima pasukan. Dua menahan para prajurit di gerbang Keraton, tiga pasukan langsung menerobos masuk.

Suasana senja, saat pergantian para prajurit, membuat pasukan Senopati Kuti bergerak tanpa perlawanan sama sekali. Bahkan ketika memasuki ruangan dalam, pertarungan yang terjadi hanya ditandai dengan jeritan kecil. Senopati Kuti memegang tombak panjang, melangkah masuk ke bagian yang paling dalam. Tujuan utamanya adalah tempat peraduan Raja. Sejenak Senopati Kuti ragu di depan pintu. Akhirnya menyembah hormat sebagaimana layaknya prajurit, dan mengetukkan ujung tombak ke pintu.

“Sinuwun…”

Kalimat pembuka untuk menghormat, yang dibarengi dengan loncatan tubuh dan dorongan tenaga luar biasa besar. Senopati Kuti mengerahkan seluruh kemampuannya, sementara para prajuritnya berjaga di kiri dan kanan. Pintu peraduan tertabrak jebol. Membuka. Ujung tombak Senopati Kuti tertuju ke arah ranjang.

“Maaf, Sinuwun….”

Ujung tombak langsung menusuk. Amblas. Dari balik selimut renda keemasan yang menyibak, sesosok tubuh melambung ke atas. Senopati Kuti memutar ujung tombaknya, dengan arah berbalik. Kini bagian yang tumpul menyodok ke arah dada, sementara kedua kakinya menggunting masuk. Serangan berbahaya karena dilakukan dengan sepenuh tenaga. Akan tetapi bayangan yang meloncat dari ranjang hanya mengedutkan selimut sutra yang menutup, memayungi Kuti. Disertai dengan kedutan keras, tubuh Kuti benar-benar tergulung.

Akan tetapi Senopati Kuti memang sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Begitu masuk, dirinya sudah siap menghabisi, atau habis dengan sendirinya. Begitu tersedot tenaga lawan dan pandangannya tertutup, kedua tangannya serentak meraih dua keris dan ditusukkan berkali-kali. Robekan kain sutra menimbulkan suara bagai jeritan, karena berubah menjadi serpihan. Sementara bayangan yang diserang berada di sudut.

“Sudah berani membangunkan dengan memanggil aku Sinuwun, kamu menyerang sungguhan….” Halayudha memandang dengan sorot mata heran. Kini seluruh ruangan terisi para prajurit yang bersiaga untuk mati bersama.

“Aku baru saja bisa mimpi, setelah sekian lama tak bisa memejamkan… Hei, mau ke mana?”

Dengan satu aba-aba kecil, para prajurit tanpa kecuali melangkah balik. Senopati Kuti sendiri mendahului meloncat ke luar. Baginya, sasaran utama adalah Raja. Tak akan memedulikan yang lain. Adalah di luar dugaannya bahwa yang menempati kamar peraduan utama justru Halayudha! Kalaupun dalam hatinya bertanya-tanya, Senopati Kuti tak mau menyisakan waktu sedikit pun. Seratus lima prajurit pilihannya langsung mendobrak semua kamar yang tertutup. Tak ada yang tersisa. Akan tetapi bayangan Raja tak ada.

“Semua berjaga di sini. Bunuh setiap gerakan yang mencurigakan.”

Senopati Kuti langsung menuju kaputren dengan pengawalan para prajurit. Setiap kamar dibuka dengan paksa. Digeledah. Akan tetapi, bayangan Raja tetap tak berbekas. Sementara itu, Halayudha yang masih terheran-heran mencoba memusatkan pikirannya. Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Antara sadar dan tidak, Halayudha menyesali dirinya sendiri. Karena yang membenam dalam pikirannya bukan peristiwa apa yang terjadi, melainkan gerakan Kuti yang menusuk dengan ujung tombak, lalu membalik memukul dengan gagang, serta cabutan dua keris. Yang kesemuanya dilakukan dalam satu gerakan mengalir. Antara sadar dan tidak, Halayudha masih merasa dirinya dipanggil Sinuwun, tetapi juga tak dipedulikan sama sekali. Dengan mencoba memusatkan pikiran, Halayudha keluar dari ruangan.

“Apa yang terjadi? Ada apa ini?” Halayudha terus melangkah, mencowel kiri-kanan dan tidak mendapat jawaban. Di kiri-kanannya semua prajurit seperti bersiaga.

“Di mana Raja bersembunyi?”

Halayudha memandang Senopati Kuti. “Rasanya kukenal kamu.”

“Paman Halayudha, di mana Raja bersembunyi?”

“Akulah Raja Diraja. Aku ini Sinuwun.”

Senopati Kuti tak berani gegabah. Karena selama ini mengetahui bahwa ilmu silat Halayudha sudah maju kelewat pesat. Apalagi baru saja dijajal dengan serangan mendadak dan mematikan, Halayudha masih bisa lolos. Tanpa lecet kulit arinya. Benar-benar luar biasa.

“Ya, kamu Sinuwun. Di mana yang biasa menempati kamar utama?”

“Mada?”

Pengakuan Takhta
Cara berbicara Halayudha memang tak menentu, akan tetapi mengisyaratkan petunjuk tertentu. Dengan menjawab Mada, jelas itu tidak mungkin. Akan tetapi itu merupakan petunjuk bahwa ada nama lain yang bisa dekat dengan Raja. Kalau benar prajurit kepercayaan itu Mada, Kuti tak bisa berdiam diri. Prajurit utama yang menjadi murid langsung Eyang Puspamurti itu memang kelihatan jauh lebih menonjol. Tapi yang lebih perlu diperhitungkan ialah bahwa Mada ditunjuk langsung oleh Mahapatih Jabung Krewes.

Senopati Kuti segera memerintah prajuritnya menuju kepatihan. “Jurang Grawah, aku perintahkan kamu untuk menangkap Mahapatih Jabung Krewes, dengan atau tanpa kekerasan. Kamu menjadi senopati untuk tugas ini.”

Pengikut setia Senopati Kuti menyembah dan segera bergegas menuju kepatihan. Iringan yang dibawa serta hanya separuh pasukan, itu pun yang berada di luar Keraton. Dengan bersenjata lengkap, Jurang Grawah melangkah masuk ke regol, atau pintu depan. Sambutannya ternyata di luar dugaan.

Jabung Krewes berada di pendapa, dikelilingi prajurit kepatihan yang bersila di sekelilingnya. Yang mengejutkan ialah bahwa seluruh senjata diletakkan di samping tempat bersila. Menyerah sebelum menarik napas. Jurang Grawah merasa heran di samping girang. Heran karena tidak menyangka sama sekali bahwa seorang mahapatih yang gerakan tangannya mampu membuat seluruh prajurit yang ada siap menyabung nyawa, ternyata lebih suka menyambut dengan penyerahan total. Girang karena tanpa perlu mengeluarkan satu gertakan pun, telah berhasil memenangkan pertempuran.

“Apa yang kamu inginkan, Jurang Grawah?”

“Mahapatih masih mengenali saya yang rendah ini? Rasanya saya tak perlu mengatakan apa maksud kedatangan saya. Keraton serta seluruh isinya kini berada dalam tangan dan kekuasaan Senopati Kuti. Sebelum Senopati Kuti yang perkasa menjatuhkan hukuman, masih ada kesempatan mengaku salah.”

“Saya tak tahu di mana Raja.”

“Apakah mungkin seorang mahapatih tak mengetahui di mana rajanya?”

“Itulah yang terjadi. Itulah kenyataan yang sesungguhnya. Saya tidak memohon keringanan hukuman atau sebaliknya dengan mengatakan ini. Saya telah dikalahkan dari dalam rumah ini, sebelum Senopati Kuti memulai.”

Jurang Grawah mendengus. “Atas nama Senopati Kuti yang gagah perkasa, mulai hari ini, apa-apa yang ada di dalem kepatihan tak boleh dipindahkan. Baik harta tak bergerak maupun penghuninya. Siapa yang melanggar akan terkena hukuman tanpa pemeriksaan.”

Jabung Krewes mengangguk.

“Bersiaplah menghadap Senopati Kuti.”

Tanpa perlawanan, tanpa sikap membangkang sedikit pun, Mahapatih Jabung Krewes mengikuti Jurang Grawah menuju Keraton. Bahkan ketika menunggu di balairung, Jabung Krewes sendiri yang melepaskan kelat bahu tanda kebesarannya.

“Apa maksudmu, Mahapatih? Apakah kamu mau mengatakan bahwa kamu tak ada gunanya, sehingga dibunuh pun tak perlu?”

Jabung Krewes menunduk. Seakan seluruh tubuhnya tak bertulang tak berotot. Senopati Kuti tak pernah bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dalam waktu yang belum lama, belum ada sepasar atau lima hari, Jabung Krewes berubah luar biasa. Dari seorang yang masih bisa menggertak, seorang yang mampu menunjukkan kedigdayaan tanpa batas, berubah menjadi seorang yang tak mempunyai semangat hidup sama sekali.

Tapi dengan demikian pula, Senopati Kuti yakin bahwa Jabung Krewes tak mungkin berani menyembunyikan sesuatu. Yang sedikit masih mengganggu adalah Halayudha yang masih mondar-mandir dan sesekali menyela pembicaraan.

“Tak pernah ada gunanya manusia yang satu ini. Baru mengetahui istrinya dikeloni menantunya saja sudah habis dunianya. Sedangkan aku yang dituduh membunuh satu-satunya anak lelakiku, dengan cara yang paling kejam, masih segar bugar. Ah, sudah sajalah. Kuti, kamu tak memerlukan dia. Kamu lebih memerlukan aku. Karena aku bisa memberimu nasihat, petunjuk, di mana Raja.”

Senopati Kuti mengajak Halayudha duduk, setelah memerintahkan para prajurit membawa Jabung Krewes pergi.

“Aku sekarang menghadapi Mada. Ia bisa lepas dari sergapan. Memang sebelumnya aku sudah menduga bahwa kamu atau senopati utama yang lain akan bergerak mendahului. Tapi Mada memang hebat. Ia bisa bergerak lebih dulu. Kehebatannya adalah ketika orang lain baru memikirkan, ia sudah melakukan. Aku ingin menghadapi kecerdikannya. Kuti, kamu jadi saksi bahwa aku bisa mengalahkannya. Ia membawa Raja pergi. Tak ada lagi di Keraton.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Tapi bisa diperhitungkan. Bukan tidak mungkin dibawa ke Daha. Di sana ada Pangeran Muda Wengker yang setia kepada Raja. Terutama Patih Arya Tilam yang sakti-untuk ukuran patih. Patih yang mampu melihat masa depan dengan pertimbangan kekuatan batin. Sayang ilmunya belum menep, belum mengendap. Dan jangan lupa, Daha adalah cikap bakal Keraton, sehingga tempat itu dianggap sangat tepat. Tujuan yang lain adalah membawa ke petilasan Singasari. Di sana ada Pangeran Muda Angon Kertawardhana yang termasuk pemberani dan setia, dan penuh perhitungan. Ia memiliki penasihat yang gagah dan mampu bertapa seratus hari tanpa bergerak, Arya Wangkong. Penasihat rohani pangeran anom ini menurut cerita mampu meramal masa yang akan datang, tapi lebih suka memainkan tenaga kasar. Menurut perhitungan dan perkiraanku, Wangkong masih ada hubungan darah dengan Mpu Raganata. Entah darah yang mengalir dari hidung atau dari gurung, tenggorokan. Tujuan yang lain yang tak bisa kamu duga, adalah membawa ke Perguruan Awan. Di sana paling aman, karena ada Upasara Wulung, ada Jaghana, ada yang lain lagi. Meskipun Raja mati-matian memusuhi Upasara, akan tetapi jika berada di Perguruan Awan, manusia seperti Jaghana akan melindungi lebih mati-matian. Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah Pamalayu, mengingat di sana ada Senopati Agung Brahma. Mengingat Mada mengetahui dengan baik tentang laut, perahu, dan angin. Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah yang tak kita perhitungkan. Bisa di antara semak dan belukar, di antara ulat dan ular.”

Bagi Senopati Kuti, kegendhengan atau kegilaan Halayudha tidak berlaku ketika menerangkan tentang strategi dan peperangan serta ilmu silat. “Terima kasih, Paman Halayudha. Saya akan memerintahkan prajurit untuk melacak sekarang juga.”

“Keliru, Kuti. Aku sudah bilang, aku yang akan menghadapi Mada! Dan aku tak perlu bergerak dari tempat ini. Mada menyimpan kekuatan yang tak dikenali karena mempelajari ajaran mahamanusia. Itu yang menyebabkan darinya bisa tumbuh berbagai pertimbangan dan keputusan yang tak terduga. Tapi aku sudah bilang, aku guru dalam ajaran mahamanusia. Sehingga tak perlu mencari dengan prajurit. Cukup kamu kirimkan lima prajurit ke Singasari, ke Daha, ke wilayah-wilayah terpencil. Minta penguasa setempat, para pangeran anom serta para abdinya, untuk mengakui takhta. Pengakuan takhta Keraton Majapahit menjadi penting, sehingga bila mereka menyembunyikan Raja, jelas melanggar perintahmu. Hukumannya adalah rata dengan tanah. Untuk apa diperangi kalau bisa kamu tundukkan?”

“Lama aku menjadi senopati, akan tetapi…”

“Tentu saja ada akan tetapi. Kamu menjadi senopati, dan berhenti. Aku benar-benar mahapatih dan tidak berhenti. Aku bahkan sudah disembah sebagai ingkang sinuwun, tetapi tak berhenti. Dengan caraku, jelas lebih singkat dan mengena. Mada yang bersembunyi akan kelabakan setengah mati. Seperti ditelanjangi perlahan dan disuruh berdiri di atas sarang semut. Bergerak ketahuan, tidak bergerak kesakitan. Cukup jelas, Kuti?”

“Rasanya….”

“Aku bisa menebak jalan pikiranmu. Pengakuan takhta tidak berarti kamu yang menduduki kursi emas. Masih ada aku. Masih ada keturunan utama Baginda. Putri Tunggadewi, Putri Rajadewi, semuanya lebih pantas menduduki takhta. Atau bahkan Permaisuri Rajapatni misalnya bisa kamu betot dari pertapaannya di Simping. Aku bisa mudah menduga, karena kamu ini pada dasarnya senopati Singasari. Tradisi yang ada di sana adalah kesetiaan, ketaatan tanpa batas. Sri Baginda Raja berhasil menanamkan jiwa keprajuritan pengabdi yang tiada taranya. Kidungan Para Raja menunjukkan itu, penghancuran Kidung Paminggir, sampai penerimaan Kidung Pamungkas memperlihatkan itu semua.” Lalu setelah terdiam lama, “Dengan Ngrogoh Sukma mestinya aku tahu di mana Mada.”

Siasat Mandragini
BUKAN tidak mungkin Halayudha mengetahui di mana Mada. Meskipun ada kemungkinannya tidak bisa tepat benar. Mengingat Mada memiliki kecenderungan mengambil keputusan sesaat. Hal ini sangat disadari Halayudha. Sewaktu Halayudha mengenyahkan Jabung Krewes dan mengajak Mada membicarakan masalah tanah air yang disinggung dalam percakapan Raja dengan Upasara Wulung, Halayudha tak menduga bahwa Mada bisa menerangkan dengan jelas.

“Saya rasa tak terlalu sulit memahami ilmu ciptaan ksatria lelananging jagat yang saat ini tanpa tanding. Paduka mendengar pembicaraannya, melihat contoh dalam ilmu silat ketika menundukkan saya maupun ketika mengecoh Paduka.”

“Apa hubungannya dengan Raja?”

“Menurut Eyang Puspamurti…”

“Aku tak suka kakek genit yang tidak waras itu.”

“Menurut Eyang Puspamurti, ajaran mahamanusia yang disarikan Eyang Agung Raganata adalah pengabdian kepada Keraton. Bahwa mahamanusia tidak sampai kepada takhta. Dan itu yang lebih betul.”

“Tidak. Aku buktinya.”

Mada membisu.

“Baik, baik. Terus, bagaimana hubungannya dengan Raja?”

JILID 73BUKU PERTAMAJILID 75

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 74

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 74

“Kenapa tidak dilanjutkan terus?”

“Gila. Kamu kira ada berapa toh dalam tubuh manusia?”

“Kalau tidak banyak, kenapa kita tidak memakai tanda yang lain? Andheng-andheng atau tahi lalat bisa kita samakan dengan toh. Itu sama-sama kulit mati.”

“Mada! Pikiranmu ada gunanya. Bisa kita jajal. Tidak, tidak, kamu tak mengerti.”

“Kalau jumlahnya lebih dari 57…”

“Hebat. Jadi kamu sedikit mengerti mengenai kulit mati. Aha, hari ini kita ciptakan 57 jurus baru, dengan memakai kekuatan toh. Itu bagus. Kita mulai sekarang.”

Halayudha mengambil keris dan menggoreskan di lantai, membentuk tubuh manusia. Kekuatannya begitu kuat, sehingga lantai batu mengilat yang keras seakan tanah liat.

“Ada 57 tempat yang bisa ditumbuhi kulit mati. Ini yang pertama, di bagian kepala.” Ujung keris Halayudha menusuk bagian kanan goresan kepala di lantai.

“Manikhardika.”

“Ya, namanya manikhardika, yang mempunyai arti wadak mudah mencapai kemauannya. Berarti pengerahan tenaga di bagian ini bisa dipersiapkan sebelum menyerang. Lalu ini di sebelah kiri.”

Halayudha menusuk bagian kiri. Jenjem. “Tenaga yang meragukan, karena tak bisa dipaksa keluar seperti kemauan kita.”

Setiap kali menerangkan, Halayudha menusuk bagian tertentu pada goresan di lantai, sementara Mada mengingatkan nama sebutannya. Di bagian belakang kepala, dibarengi dengan sebutan cantuka, di tengah pusaran rambut disebut pulungjati, di ubun-ubun dinamai durjati. Demikian juga bagian kening, pelipis kiri dan kanan, di pelupuk mata, kanan dan kiri, baik atasnya maupun bawahnya, sudut mata kanan dan kiri….

“Mada, kalau kita hanya menghafal seperti ini tak ada gunanya. Akan saya buatkan toh ini di tubuhmu, dan kamu bisa menjajalnya.”

“Dengan senang hati. Bagaimana bila Paduka kalah hebat?”

“Tidak mungkin. Tapi bisa juga. Kamu bisa berdusta. Kamu bilang tidak padahal sebenarnya menyimpan tenaga. Aku tahu kamu bisa mendustaiku.”

Halayudha menggaruk lehernya. “Jabung Krewes, kemari segera. Cari senopati yang sakti. Aku akan mempraktekkan temuan jurus-jurus baru. Jabung Krewes…”

Yang diundang segera menghadap.

Senopati Klangenan
MAHAPATIH JABUNG KREWES merasa tak menentu. Terutama untuk menentukan sikap yang jelas menghadapi Halayudha. Di satu pihak dirinya merasa ngeri dengan keampuhan ilmu Halayudha yang tak terkalahkan, akan tetapi di lain pihak merasa wibawa Keraton dirobek-robek tak menentu. Secara sangat tersamar, Jabung Krewes pernah mengemukakan hal ini kepada Raja. Dengan dalih bahwa Raja mungkin sangat terganggu dengan kehadiran Halayudha yang menempati bagian utama Keraton.

“Anggap saja Halayudha itu senopati klangenan, kesukaan Ingsun untuk yang lucu-lucu, untuk menghibur. Seperti juga binatang buas yang ada, seperti wanita-wanita di kaputren. Seperti yang lainnya. Sedikit mengganggu juga tak apa. Aku bisa mencari tempat lain.”

“Maaf, Sinuwun… Maafkan kalau hamba tak bisa segera menangkap kearifan Ingkang Sinuwun…!’

“Aku merasa masih perlu adanya senopati seperti Halayudha. Ia tak akan mengancammu karena kamu sudah resmi menyandang gelar mahapatih. Malah kamu bisa belajar banyak dari ilmunya. Kamu dan Mada beruntung, karena hanya kalianlah yang diajak bicara. Bagi Keraton, Halayudha lebih baik ada. Apa yang dilakukan Halayudha tak sepenuhnya membawa makna besar, seperti andai Ingsun yang melakukan. Keinginan Ingsun terkabul dari apa yang dilakukannya. Kamu tak akan bisa mengerti. Tapi itulah sabdaku.”

Sabda adalah sabda. Dengan sepenuh hati Jabung Krewes menjalankan. Tak ada pilihan lain. Selain menyalahkan diri sendiri, bahwa dirinya terlalu kecil dan bodoh untuk memahami keluasan daya jangkau wawasan Raja. Walau kadang muncul godaan untuk diam-diam menyingkirkan Halayudha. Dengan cara yang halus. Dengan menyelewengkan ilmu-ilmu yang sekarang dipelajari.

Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh. Itu berarti tumpuan harapannya kembali ke Mada. Karena prajurit itulah satu-satunya yang diajak bicara Halayudha, selain dirinya. Tidak tepat sekali, akan tetapi agaknya Mada menyadari peranannya yang menentukan.

“Untuk sementara waktu, senopati klangenan masih akan sibuk dengan toh. Usahakan terus ia tenggelam di situ, Mada.”

“Sendika dawuh, Mahapatih.” Mada menyembah hormat.

“Akan tetapi kalau jumlahnya hanya 57, semalam saja sudah selesai.”

“Sesungguhnya begitu, Mahapatih.”

“Mada, biarlah aku yang merencanakan jalan lain. Laksanakan tugasmu dengan baik. Kamu masih muda. Aku sudah tua. Kamu memiliki cahaya yang bersinar, aku mulai redup. Matahari tenggelam ke barat, setiap kali terasa lebih cepat. Aku harus berpacu dengan sisa-sisa usiaku.”

Mahapatih Jabung Krewes menghela napas berat. Setiap kali pikirannya terseret ke masalah itu, setiap kali pula terbangun dari tidurnya. Setiap kali dicoba dilarikan ke dalam doa, setiap kali pula kegelisahan itu mereda untuk sementara. Sering dalam hening tengah malam, Jabung Krewes menengadahkan wajahnya ke langit. Mencoba sepenuhnya memahami peranan yang dijalani.

Dirinya dilahirkan sebagai prajurit. Dan sejak kecil pengabdian kepada Keraton yang selalu menjadi impiannya. Setingkat demi setingkat pengabdiannya diterima. Dirinya termasuk salah seorang senopati. Akan tetapi sangat jauh dari angannya bahwa kemudian dirinya ditarik sebagai mahapatih!

Derajat dan pangkat yang sama sekali jauh dari jangkauannya. Bahkan dalam keadaan paling mabuk pun tak berani dibayangkan. Apakah ini yang dinamakan nasib? Apakah ini yang dinamakan tinggal menjalani apa yang telah dituliskan Dewa?

Jabung Krewes sadar, bahwa masuknya ia ke barisan senopati yang menentukan adalah sejak adanya ketegangan dalam Keraton. Ketegangan yang terutama antara Halayudha dan Tujuh Senopati Utama yang saling ingin menanamkan pengaruh, saling menjaga diri dari kemungkinan yang terburuk. Menjadi lebih parah lagi, karena Raja sendiri ingin turun tangan dalam hal-hal tertentu.

Ketika Senopati Bango Tontong mendapat kekuasaan yang lebih besar untuk menjaga ketertiban dan keamanan dengan membentuk Barisan Kosala, agaknya Halayudha mulai berpikir lain. Apalagi mengingat Senopati Bango Tontong selama ini dikenal sebagai pengikut setia Mahapatih Nambi.

Bukan tidak mungkin akan menggalang kekuatan sendiri, dan selama ini telah terbukti bisa menyembunyikan diri. Halayudha mulai repot, karena tak mungkin melenyapkan atau menyingkirkan begitu saja. Untuk menjaga keseimbangan, untuk mengurangi kekuasaan Senopati Bango Tontong yang tanpa batas, Halayudha menarik dan memberi wewenang kepada Senopati Jabung Krewes.

Strategi semacam itu disadari sepenuhnya. Ketika memperoleh wewenang lebih besar, Senopati Jabung Krewes mengetahui bahwa dirinya naik ke jenjang yang lebih tinggi, terutama bukan karena kemampuannya. Melainkan untuk mengurangi kekuasaan senopati kuat yang lain. Dengan adanya pertarungan tersamar di lapisan kedua, Mahapatih bisa lebih leluasa melihat dan memutuskan.

Akan tetapi dengan sangat cepat terjadi perubahan. Mahapatih Halayudha seperti berubah ingatan. Pada saat yang genting dan menentukan, dirinya berada di dekat Raja. Dan kemudian Raja mengangkatnya sebagai mahapatih! Suatu kedudukan yang membuat gamang. Gamang karena wewenang dan tanggung jawabnya sedemikian besar dibandingkan dengan kemampuannya. Untuk yang terakhir ini, Jabung Krewes bisa melihat dengan jelas pada dirinya.

Itu yang sangat disadari. Itu yang ternyata tak bisa diubah. Dengan kekuasaan seperti sekarang, dirinya bisa mengambil tindakan tegas kepada Tujuh Senopati Utama. Baik untuk menindak, ataupun sebaliknya. Akan tetapi nyatanya, hatinya selalu diliputi keraguan. Semua ini membuatnya pedih. Sedih. Hatinya selalu merintih, saat-saat berdoa kepada Dewa yang Mahadewa.

“Duh, Dewa. Dosa dan kenistaan apa yang hamba tanggung sekarang ini, sehingga hamba harus menentukan nasib banyak manusia? Duh, Dewa. Kalau jelas hamba tak mampu, kenapa harus hamba yang menjalani ini, memangku derajat dan pangkat yang bila disandang orang yang tepat akan lebih bermanfaat bagi Keraton beserta seluruh isinya?”

Rintihan batin Jabung Krewes tergema balik. Sejak memakai kelat bahu di sepasang lengannya, Jabung Krewes makin merasa beban yang disandangnya tak tertanggungkan. Dan pada situasi semacam itu yang bisa dilakukan adalah menunda dan menunda. Menunda malam bergeser ke pagi. Menunda penyelesaian persoalan malam hari ke pagi berikutnya. Akan tetapi ternyata itu juga hanya berarti penundaan yang makin lama makin berat.

Malam setelah berpesan kepada Mada, Mahapatih Jabung Krewes merasa lebih lega. Kini saatnya membuktikan diri, bahwa ada sesuatu yang bisa ia lakukan. Dirinya tak ingin dianggap klangenan belaka. Untuk sesaat, Jabung Krewes ragu menentukan siapa yang bisa menjadi teman sejati untuk bertukar pikiran. Para senopati di bawahnya hanya akan mengiya saja. Dengan Tujuh Senopati Utama jelas tidak mungkin.

Dengan Upasara Wulung juga tidak mungkin. Apalagi sabda Raja telah dijatuhkan, bahwa sepeninggal Upasara dari Keraton ia akan menjadi lawan. Berarti dengan para ksatria yang berasal dari Perguruan Awan pun tertutup kemungkinan bekerja sama. Keraguan makin meninggi manakala Jabung Krewes mencoba menemukan apa yang seharusnya dilakukan saat ini.

Itulah puncak keraguan yang sangat dibencinya. Yang tak bisa ditanggalkan dan ditinggalkan. Kalau sudah begitu, satu-satunya jalan yang menenteramkan hanyalah kembali ke dalam Keraton. Kembali menemui Mada dan Halayudha.

“Kasihan mahapatih yang satu ini,” kelakar Halayudha menyambut kedatangannya. “Setiap kali aku melihat wajahnya, setiap kali aku merasa makin dekat dengan kematiannya. Benar-benar perlu dikasihani. Manusia tanpa greget, tanpa krenteg, tanpa kemauan. Tanpa kemampuan. Juga misalnya membunuh dirinya sendiri.”

“Duh, Mahapatih. Jangan dengarkan. Paduka Halayudha…”

“Mada, kamu tak perlu menasihati. Semakin banyak yang didengar, semakin bingung mahapatih ini. Semakin tak menentu. Semakin tak berguna. Mada, lupakan dia. Bagaimana tentang tanah air tadi?”

Gua Kencana, Gua Air Laut
APA yang dirasakan Mahapatih Jabung Krewes lebih parah dari apa yang terlihat pada perubahan wajah seketika. Ucapan Mada yang ngeman, yang menyayangkan, terasa lebih menusuk lagi, justru karena setelah mengucapkan itu, Mada tenggelam dalam pembicaraan bersama Halayudha. Tamparan yang menyakitkan. Bahkan Mada seperti bertindak kurang ajar.

Tanpa disadari perasaan kecewa terhadap sikap Mada membekas, dan karena dirinya selalu lebih suka membicarakan dalam batin, bekas itu makin menggurat. Mahapatih Jabung Krewes tidak biasa memperbincangkan persoalan yang dihadapi kepada istrinya. Dirinya memang jauh berbeda dari Senopati Tanca, yang boleh dikatakan selalu mengikutsertakan istrinya.

Kalau ada alasan yang dicari-cari, Mahapatih Jabung Krewes selalu kembali ke asal-mula, sewaktu dirinya masih prajurit biasa. Tak ada yang dibanggakan selain pangkat dan derajatnya sebagai prajurit. Ketika itulah seorang gadis yang sedikit lanjut usia, masih berdarah ningrat, disodorkan kepadanya. Tak ada alasan untuk menerima. Tak ada alasan untuk menolak.

Tapi pernikahan terjadi juga. Dan berkat hubungan dengan orang dalam, perlahan Jabung Krewes mulai dipandang, mulai diperhatikan. Dalam hati kecilnya Jabung Krewes selalu merasa berutang budi, merasa kalah setingkat, dan ini tak bisa dihilangkan setelah ketiga putrinya lahir, setelah mereka dewasa, setelah dirinya memegang wewenang sebagai orang kedua yang menjalankan pemerintahan.

Istrinya bisa menjalankan sendiri berbagai perencanaan. Kini dengan dibantu ketiga menantunya, mereka sudah siap membangun Keraton, memperbarui sitihinggil, menghijaukan kembali alun-alun, menciptakan taman sari yang lebih elok, sampai dengan rencana untuk memberikan persenjataan yang baru.

Jabung Krewes bukannya tidak mengetahui bahwa semua itu bisa berjalan lancar, berkat nama dan pangkat yang disandangnya sekarang ini. Kadang muncul pertanyaan dalam hatinya, apakah hal itu perlu ditangani keluarganya sendiri. Karena sebenarnya dalam keprajuritan sudah ada yang menangani. Akan tetapi setiap kali kandas, jika telah berhadapan dengan istrinya.

“Raka Mahapatih,” sembah istrinya dengan hormat, “telah sekian lama kami menanggung beban yang besar untuk menjaga wibawa Raka. Sekarang ada kesempatan untuk sedikit menjalankan apa yang bisa dilakukan oleh anak Raka sendiri, oleh menantu Raka sendiri. Apakah Raka Mahapatih menyesali?”

“Tidak, Yayi. Dalem kepatihan beserta seluruh isinya ini ada di tangan Yayi. Saya merestui, karena ini demi kebaikan Keraton. Hanya saja, saya mulai mendengar…”

“Raka Mahapatih. Kalau mendengar semua omongan, seratus telinga tak akan sanggup menampung. Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Sekaligus mengangkat nama Raka Mahapatih.”

“Baik, baik, Yayi.”

Hanya itu yang bisa diucapkan. Selebihnya adalah tikaman yang makin dalam. Goresan yang makin kandas ke dasar nuraninya. Suara yang tidak langsung terdengar bahwa istrinya sendiri yang mengatakan, “Raka Mahapatih mungkin tak pernah melakukan apa-apa. Tapi setidaknya bisa berbuat untuk warisan anak-cucu.” Mendengar bahwa rencana perbaikan alun-alun menimbulkan banyak perselisihan. Karena penguasaan alun-alun itu sepenuhnya berada dalam wewenang Senopati Kuti, salah seorang dharmaputra yang memperoleh perlakuan istimewa.

Adalah menyakitkan bahwa dirinya sebagai mahapatih harus berhadapan dengan Senopati Utama hanya karena soal penyediaan rumput untuk mengganti alun-alun. Adalah membuat telinganya merah, karena Senopati Kuti mengatakan hal ini secara terbuka di depannya.

“Mahapatih, izinkanlah saya menghadap untuk menyampaikan sesuatu yang sangat mengganjal perasaan saya sebagai lelaki. Saya sadar bahwa saya tidak berhak meminta kesempatan ini ke hadapan Mahapatih, karena saya tidak memegang jabatan keprajuritan, seperti semua senopati utama. Akan tetapi saya tak bisa menahan diri. Bagi saya lebih baik mengatakan secara terbuka. Itu sifat kasar saya yang buruk.”

“Paman Senopati Utama telah berhadapan sendiri dengan saya. Katakan, jangan sungkan-sungkan.”

Senopati Kuti melanjutkan perkataannya, “Kami para senopati utama mendapat anugerah tanah dari Baginda. Saya juga menerima anugerah. Di antaranya adalah merawat alun-alun, baik di sebelah utara maupun selatan Keraton. Besar atau kecil, itu anugerah dari Baginda. Besar atau kecil, itulah sebagian yang menghidupi keluarga, setelah saya tidak menjabat apa-apa. Anugerah itu memang titipan. Bisa dicabut setiap saat. Akan tetapi, hormatilah saya. Meskipun tua, jelek-jelek saya pernah bertarung melawan barisan Tartar, sebelum Mahapatih memegang umbul-umbul. Mahapatih bisa mengatakan ha atau na sebelum melakukan pengerjaan begitu saja.”

“Paman Senopati…”

“Mahapatih. Saya tak mau mendengar alasan Mahapatih belum mengetahui hal ini.”

Mahapatih Jabung Krewes mendongak. Dadanya tegak. “Senopati Kuti, jangan berkata selancang itu.”

“Saya mengatakan apa adanya.”

“Kamu keliru!” Suara Mahapatih mengguntur.

Senopati Kuti sedikit terperanjat.

“Aku adalah mahapatih. Aku tak bisa, dan tak mau ditekan dengan cara seperti itu. Selama ini aku telah menahan diri untuk tidak menindak kalian para senopati utama. Tetapi kini, alasan untuk menahan diri tak perlu lagi. Aku tak bisa diremehkan. Tidak oleh siapa pun.”

Senopati Kuti mengangguk. “Saya minta maaf yang besar, Mahapatih. Saya berdosa tujuh turunan karena menantang Mahapatih. Akan tetapi saya tak melihat cara lain. Siapa yang meminum air laut akan semakin dahaga. Siapa yang masuk ke Gua Kencana, tak ingin keluar kembali….”

Kalimat pedas itu mengiang di telinga Mahapatih. Dengan mengibaratkan harta sebagai air laut, dengan mengingatkan Gua Kencana Sodagar Galgendu yang dulu penuh dengan tambang emas, Senopati Kuti telah menuding tepat di ujung hidungnya. Meskipun Jabung Krewes mengakui Kuti adalah senopati yang kasar tindak-tanduknya, saat emosinya sedang peka seperti sekarang ini, kata-kata Kuti bagaikan menyulut tumpukan jerami kering.

“Kamu akan membayar mahal untuk kalimat itu.”

“Sekarang pun saya siap menghadapinya.”

“Baik.”

“Saya menghadap justru karena Mahapatih bisa saja khilaf untuk masalah yang hina seperti ini.”

“Aku tahu di balik itu, Kuti! Aku tahu kalian tak akan berhenti mencari peluang untuk kembali memegang pangkat dan derajat.”

“Saya akui, Mahapatih. Tapi bukan karena alasan rumput. Rasa sungkan kami yang tak terhingga kepada Raja, bukan kepada yang lainnya.”

“Akulah bahu kanan kering, bahu kanan dan bahu kiri Raja.” Jabung Krewes berdiri dari kursinya. “Katakan kepada semua senopati utama untuk bersiap-siap. Utusanku akan menjemput mereka setiap waktu. Pulanglah, Kuti!”

Senopati Kuti menyembah dengan hormat. Diiringkan prajurit kepatihan, Senopati Kuti kembali ke tempat tinggalnya. Tahulah ia kini bahwa barisan prajurit kepatihan yang lain telah mengepung kediamannya. Hal yang sama juga terjadi di kediaman Senopati Tanca. Bahkan menurut kabar angin, Senopati Semi sendiri telah diamankan, bersama Senopati Banyak. Berarti, Mahapatih memang sudah bergerak mendahului.

Walau darahnya mendidih dan kepalanya panas terbakar, akan tetapi Senopati Kuti adalah senopati yang mempunyai pengalaman luas. Pandangannya bisa jauh ke depan, perhitungannya tidak sekasar apa yang keluar dari mulutnya. Justru di saat seperti itu, perhitungannya menjadi matang. Saat untuk bergerak telah tiba. Dengan pengepungan kepada Tujuh Senopati Utama, berarti rakyat mengetahui apa yang terjadi. Ini berarti kesempatan baik untuk memukul balik.

Senopati Kuti mengetahui lekuk-liku keadaan Keraton. Sehingga tak akan ada kesulitan yang berarti untuk menggerayangi. Mahapatih Jabung Krewes pun tidak termasuk halangan yang besar. Tangannya sendiri bisa menyelesaikan.

Menunggu Angin Bertiup
SENOPATI KUTI tinggal mempertajam kegentingan dengan menyebar dan menularkan apa yang selama ini menjadi tanda tanya. Bahwa para senopati utama dilucuti, meskipun resminya telah leren, telah dipensiun, karena membela kepentingan rakyat. Yang dirampas hak-haknya untuk kepentingan keluarga Mahapatih.

Rumput di alun-alun menjadi contoh yang bisa diketahui semua mata. Karena memang merupakan lapangan terbuka yang dilewati semua orang di sisinya. Kegelisahan semacam itu sangat cepat menjalar, dan dari bibir yang satu ke bibir yang lain mendapat tambahan. Kalau kegelisahan ini merata, hanya tinggal menunggu angin. Yang tiupannya akan mengantarkan panas ke Keraton.

Yang lebih membulatkan tekad Senopati Kuti adalah kenyataan bahwa selama ini yang mengadakan pengamanan langsung hanyalah prajurit kepatihan. Yang berada di bawah perintah langsung Mahapatih. Berarti prajurit utama Keraton tidak dilibatkan.

Senopati Kuti merasa makin tidak sabar. Sedikit ditahan niatnya. Disuruhnya prajurit kepercayaannya untuk menghubungi Senopati Tanca. Meskipun berada dalam pengawalan, bukan sesuatu yang sulit untuk bisa menemui. Dengan alasan meminta jamu kepada Nyai Makacaru, bisa mengetahui pendapat Senopati Tanca. Akan tetapi jawaban yang terdengar membuat Senopati Kuti risi.

“Penyakit yang pernah diderita sama dengan yang diderita Tantra….” Kata sandi itu terlalu jelas.

Senopati Tantra adalah senopati muda yang dipersiapkan Tujuh Senopati Utama, yang memilih jalan sendiri. Menerobos masuk ke dalam Keraton, berhasil menguasai. Akan tetapi hanya untuk sementara. Dengan kata lain, Senopati Tanca kurang menyetujui gerakan yang akan dilakukan. Karena melihat kemungkinannya berhasil sangat kecil. Atau tidak pada sasaran yang dimaksud.

Risiko itu bukan tidak mungkin. Akan tetapi Senopati Kuti merasa dirinya berpacu dengan waktu. Kalau harus terus menunggu, akhirnya akan dilucuti tanpa pernah melawan. Tak ada jalan lain kecuali melakukan seorang diri. Tekad Senopati Kuti bulat sudah. Ia memanggil semua prajurit kepercayaannya. Sekaligus juga meminta pemimpin prajurit kepatihan hadir.

“Agar kalian bisa mendengar sendiri apa yang kukatakan. Dan kalian semua bisa melaporkan kepada Mahapatih.”

Tenang sekali Senopati mengumpulkan di pendapa, dan pada saat semua berkumpul, tanpa satu isyarat pun, para prajuritnya bergerak. Gerakan yang sangat singkat. Sebelum prajurit kepatihan menyadari apa yang terjadi, semua bisa diringkus. Tanpa meneteskan setitik darah. Bahkan tidak juga setitik keringat.

“Sumpal mulutnya, ikat semua tangan dan kakinya. Kalau ada yang melawan, bunuh seketika. Kita berangkat sekarang dengan umbul-umbul kepatihan.”

Tanpa menunggu aba-aba, para prajurit bergerak lugas. Perlu diingatkan bahwa sebutan Senopati Utama bukanlah sebutan tempelan. Apalagi Senopati Kuti selama ini membuktikan diri sebagai prajurit sejati yang berada dalam medan peperangan. Prajurit inti yang setia kepadanya, boleh dikatakan selalu dalam keadaan siaga. Sehingga tak terlalu makan waktu untuk menggerakkan.

Kini seluruh rombongan sudah langsung menuju Keraton. Berombongan 35, seperti biasanya dalam pasukan. Tanpa banyak menimbulkan gerak yang mencurigakan. Senopati Kuti berada di barisan depan. Ia memerintahkan barisan memecah diri dalam lima pasukan. Dua menahan para prajurit di gerbang Keraton, tiga pasukan langsung menerobos masuk.

Suasana senja, saat pergantian para prajurit, membuat pasukan Senopati Kuti bergerak tanpa perlawanan sama sekali. Bahkan ketika memasuki ruangan dalam, pertarungan yang terjadi hanya ditandai dengan jeritan kecil. Senopati Kuti memegang tombak panjang, melangkah masuk ke bagian yang paling dalam. Tujuan utamanya adalah tempat peraduan Raja. Sejenak Senopati Kuti ragu di depan pintu. Akhirnya menyembah hormat sebagaimana layaknya prajurit, dan mengetukkan ujung tombak ke pintu.

“Sinuwun…”

Kalimat pembuka untuk menghormat, yang dibarengi dengan loncatan tubuh dan dorongan tenaga luar biasa besar. Senopati Kuti mengerahkan seluruh kemampuannya, sementara para prajuritnya berjaga di kiri dan kanan. Pintu peraduan tertabrak jebol. Membuka. Ujung tombak Senopati Kuti tertuju ke arah ranjang.

“Maaf, Sinuwun….”

Ujung tombak langsung menusuk. Amblas. Dari balik selimut renda keemasan yang menyibak, sesosok tubuh melambung ke atas. Senopati Kuti memutar ujung tombaknya, dengan arah berbalik. Kini bagian yang tumpul menyodok ke arah dada, sementara kedua kakinya menggunting masuk. Serangan berbahaya karena dilakukan dengan sepenuh tenaga. Akan tetapi bayangan yang meloncat dari ranjang hanya mengedutkan selimut sutra yang menutup, memayungi Kuti. Disertai dengan kedutan keras, tubuh Kuti benar-benar tergulung.

Akan tetapi Senopati Kuti memang sudah memperhitungkan segala kemungkinan. Begitu masuk, dirinya sudah siap menghabisi, atau habis dengan sendirinya. Begitu tersedot tenaga lawan dan pandangannya tertutup, kedua tangannya serentak meraih dua keris dan ditusukkan berkali-kali. Robekan kain sutra menimbulkan suara bagai jeritan, karena berubah menjadi serpihan. Sementara bayangan yang diserang berada di sudut.

“Sudah berani membangunkan dengan memanggil aku Sinuwun, kamu menyerang sungguhan….” Halayudha memandang dengan sorot mata heran. Kini seluruh ruangan terisi para prajurit yang bersiaga untuk mati bersama.

“Aku baru saja bisa mimpi, setelah sekian lama tak bisa memejamkan… Hei, mau ke mana?”

Dengan satu aba-aba kecil, para prajurit tanpa kecuali melangkah balik. Senopati Kuti sendiri mendahului meloncat ke luar. Baginya, sasaran utama adalah Raja. Tak akan memedulikan yang lain. Adalah di luar dugaannya bahwa yang menempati kamar peraduan utama justru Halayudha! Kalaupun dalam hatinya bertanya-tanya, Senopati Kuti tak mau menyisakan waktu sedikit pun. Seratus lima prajurit pilihannya langsung mendobrak semua kamar yang tertutup. Tak ada yang tersisa. Akan tetapi bayangan Raja tak ada.

“Semua berjaga di sini. Bunuh setiap gerakan yang mencurigakan.”

Senopati Kuti langsung menuju kaputren dengan pengawalan para prajurit. Setiap kamar dibuka dengan paksa. Digeledah. Akan tetapi, bayangan Raja tetap tak berbekas. Sementara itu, Halayudha yang masih terheran-heran mencoba memusatkan pikirannya. Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Antara sadar dan tidak, Halayudha menyesali dirinya sendiri. Karena yang membenam dalam pikirannya bukan peristiwa apa yang terjadi, melainkan gerakan Kuti yang menusuk dengan ujung tombak, lalu membalik memukul dengan gagang, serta cabutan dua keris. Yang kesemuanya dilakukan dalam satu gerakan mengalir. Antara sadar dan tidak, Halayudha masih merasa dirinya dipanggil Sinuwun, tetapi juga tak dipedulikan sama sekali. Dengan mencoba memusatkan pikiran, Halayudha keluar dari ruangan.

“Apa yang terjadi? Ada apa ini?” Halayudha terus melangkah, mencowel kiri-kanan dan tidak mendapat jawaban. Di kiri-kanannya semua prajurit seperti bersiaga.

“Di mana Raja bersembunyi?”

Halayudha memandang Senopati Kuti. “Rasanya kukenal kamu.”

“Paman Halayudha, di mana Raja bersembunyi?”

“Akulah Raja Diraja. Aku ini Sinuwun.”

Senopati Kuti tak berani gegabah. Karena selama ini mengetahui bahwa ilmu silat Halayudha sudah maju kelewat pesat. Apalagi baru saja dijajal dengan serangan mendadak dan mematikan, Halayudha masih bisa lolos. Tanpa lecet kulit arinya. Benar-benar luar biasa.

“Ya, kamu Sinuwun. Di mana yang biasa menempati kamar utama?”

“Mada?”

Pengakuan Takhta
Cara berbicara Halayudha memang tak menentu, akan tetapi mengisyaratkan petunjuk tertentu. Dengan menjawab Mada, jelas itu tidak mungkin. Akan tetapi itu merupakan petunjuk bahwa ada nama lain yang bisa dekat dengan Raja. Kalau benar prajurit kepercayaan itu Mada, Kuti tak bisa berdiam diri. Prajurit utama yang menjadi murid langsung Eyang Puspamurti itu memang kelihatan jauh lebih menonjol. Tapi yang lebih perlu diperhitungkan ialah bahwa Mada ditunjuk langsung oleh Mahapatih Jabung Krewes.

Senopati Kuti segera memerintah prajuritnya menuju kepatihan. “Jurang Grawah, aku perintahkan kamu untuk menangkap Mahapatih Jabung Krewes, dengan atau tanpa kekerasan. Kamu menjadi senopati untuk tugas ini.”

Pengikut setia Senopati Kuti menyembah dan segera bergegas menuju kepatihan. Iringan yang dibawa serta hanya separuh pasukan, itu pun yang berada di luar Keraton. Dengan bersenjata lengkap, Jurang Grawah melangkah masuk ke regol, atau pintu depan. Sambutannya ternyata di luar dugaan.

Jabung Krewes berada di pendapa, dikelilingi prajurit kepatihan yang bersila di sekelilingnya. Yang mengejutkan ialah bahwa seluruh senjata diletakkan di samping tempat bersila. Menyerah sebelum menarik napas. Jurang Grawah merasa heran di samping girang. Heran karena tidak menyangka sama sekali bahwa seorang mahapatih yang gerakan tangannya mampu membuat seluruh prajurit yang ada siap menyabung nyawa, ternyata lebih suka menyambut dengan penyerahan total. Girang karena tanpa perlu mengeluarkan satu gertakan pun, telah berhasil memenangkan pertempuran.

“Apa yang kamu inginkan, Jurang Grawah?”

“Mahapatih masih mengenali saya yang rendah ini? Rasanya saya tak perlu mengatakan apa maksud kedatangan saya. Keraton serta seluruh isinya kini berada dalam tangan dan kekuasaan Senopati Kuti. Sebelum Senopati Kuti yang perkasa menjatuhkan hukuman, masih ada kesempatan mengaku salah.”

“Saya tak tahu di mana Raja.”

“Apakah mungkin seorang mahapatih tak mengetahui di mana rajanya?”

“Itulah yang terjadi. Itulah kenyataan yang sesungguhnya. Saya tidak memohon keringanan hukuman atau sebaliknya dengan mengatakan ini. Saya telah dikalahkan dari dalam rumah ini, sebelum Senopati Kuti memulai.”

Jurang Grawah mendengus. “Atas nama Senopati Kuti yang gagah perkasa, mulai hari ini, apa-apa yang ada di dalem kepatihan tak boleh dipindahkan. Baik harta tak bergerak maupun penghuninya. Siapa yang melanggar akan terkena hukuman tanpa pemeriksaan.”

Jabung Krewes mengangguk.

“Bersiaplah menghadap Senopati Kuti.”

Tanpa perlawanan, tanpa sikap membangkang sedikit pun, Mahapatih Jabung Krewes mengikuti Jurang Grawah menuju Keraton. Bahkan ketika menunggu di balairung, Jabung Krewes sendiri yang melepaskan kelat bahu tanda kebesarannya.

“Apa maksudmu, Mahapatih? Apakah kamu mau mengatakan bahwa kamu tak ada gunanya, sehingga dibunuh pun tak perlu?”

Jabung Krewes menunduk. Seakan seluruh tubuhnya tak bertulang tak berotot. Senopati Kuti tak pernah bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Dalam waktu yang belum lama, belum ada sepasar atau lima hari, Jabung Krewes berubah luar biasa. Dari seorang yang masih bisa menggertak, seorang yang mampu menunjukkan kedigdayaan tanpa batas, berubah menjadi seorang yang tak mempunyai semangat hidup sama sekali.

Tapi dengan demikian pula, Senopati Kuti yakin bahwa Jabung Krewes tak mungkin berani menyembunyikan sesuatu. Yang sedikit masih mengganggu adalah Halayudha yang masih mondar-mandir dan sesekali menyela pembicaraan.

“Tak pernah ada gunanya manusia yang satu ini. Baru mengetahui istrinya dikeloni menantunya saja sudah habis dunianya. Sedangkan aku yang dituduh membunuh satu-satunya anak lelakiku, dengan cara yang paling kejam, masih segar bugar. Ah, sudah sajalah. Kuti, kamu tak memerlukan dia. Kamu lebih memerlukan aku. Karena aku bisa memberimu nasihat, petunjuk, di mana Raja.”

Senopati Kuti mengajak Halayudha duduk, setelah memerintahkan para prajurit membawa Jabung Krewes pergi.

“Aku sekarang menghadapi Mada. Ia bisa lepas dari sergapan. Memang sebelumnya aku sudah menduga bahwa kamu atau senopati utama yang lain akan bergerak mendahului. Tapi Mada memang hebat. Ia bisa bergerak lebih dulu. Kehebatannya adalah ketika orang lain baru memikirkan, ia sudah melakukan. Aku ingin menghadapi kecerdikannya. Kuti, kamu jadi saksi bahwa aku bisa mengalahkannya. Ia membawa Raja pergi. Tak ada lagi di Keraton.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja. Tapi bisa diperhitungkan. Bukan tidak mungkin dibawa ke Daha. Di sana ada Pangeran Muda Wengker yang setia kepada Raja. Terutama Patih Arya Tilam yang sakti-untuk ukuran patih. Patih yang mampu melihat masa depan dengan pertimbangan kekuatan batin. Sayang ilmunya belum menep, belum mengendap. Dan jangan lupa, Daha adalah cikap bakal Keraton, sehingga tempat itu dianggap sangat tepat. Tujuan yang lain adalah membawa ke petilasan Singasari. Di sana ada Pangeran Muda Angon Kertawardhana yang termasuk pemberani dan setia, dan penuh perhitungan. Ia memiliki penasihat yang gagah dan mampu bertapa seratus hari tanpa bergerak, Arya Wangkong. Penasihat rohani pangeran anom ini menurut cerita mampu meramal masa yang akan datang, tapi lebih suka memainkan tenaga kasar. Menurut perhitungan dan perkiraanku, Wangkong masih ada hubungan darah dengan Mpu Raganata. Entah darah yang mengalir dari hidung atau dari gurung, tenggorokan. Tujuan yang lain yang tak bisa kamu duga, adalah membawa ke Perguruan Awan. Di sana paling aman, karena ada Upasara Wulung, ada Jaghana, ada yang lain lagi. Meskipun Raja mati-matian memusuhi Upasara, akan tetapi jika berada di Perguruan Awan, manusia seperti Jaghana akan melindungi lebih mati-matian. Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah Pamalayu, mengingat di sana ada Senopati Agung Brahma. Mengingat Mada mengetahui dengan baik tentang laut, perahu, dan angin. Tujuan yang lain adalah membawa ke wilayah yang tak kita perhitungkan. Bisa di antara semak dan belukar, di antara ulat dan ular.”

Bagi Senopati Kuti, kegendhengan atau kegilaan Halayudha tidak berlaku ketika menerangkan tentang strategi dan peperangan serta ilmu silat. “Terima kasih, Paman Halayudha. Saya akan memerintahkan prajurit untuk melacak sekarang juga.”

“Keliru, Kuti. Aku sudah bilang, aku yang akan menghadapi Mada! Dan aku tak perlu bergerak dari tempat ini. Mada menyimpan kekuatan yang tak dikenali karena mempelajari ajaran mahamanusia. Itu yang menyebabkan darinya bisa tumbuh berbagai pertimbangan dan keputusan yang tak terduga. Tapi aku sudah bilang, aku guru dalam ajaran mahamanusia. Sehingga tak perlu mencari dengan prajurit. Cukup kamu kirimkan lima prajurit ke Singasari, ke Daha, ke wilayah-wilayah terpencil. Minta penguasa setempat, para pangeran anom serta para abdinya, untuk mengakui takhta. Pengakuan takhta Keraton Majapahit menjadi penting, sehingga bila mereka menyembunyikan Raja, jelas melanggar perintahmu. Hukumannya adalah rata dengan tanah. Untuk apa diperangi kalau bisa kamu tundukkan?”

“Lama aku menjadi senopati, akan tetapi…”

“Tentu saja ada akan tetapi. Kamu menjadi senopati, dan berhenti. Aku benar-benar mahapatih dan tidak berhenti. Aku bahkan sudah disembah sebagai ingkang sinuwun, tetapi tak berhenti. Dengan caraku, jelas lebih singkat dan mengena. Mada yang bersembunyi akan kelabakan setengah mati. Seperti ditelanjangi perlahan dan disuruh berdiri di atas sarang semut. Bergerak ketahuan, tidak bergerak kesakitan. Cukup jelas, Kuti?”

“Rasanya….”

“Aku bisa menebak jalan pikiranmu. Pengakuan takhta tidak berarti kamu yang menduduki kursi emas. Masih ada aku. Masih ada keturunan utama Baginda. Putri Tunggadewi, Putri Rajadewi, semuanya lebih pantas menduduki takhta. Atau bahkan Permaisuri Rajapatni misalnya bisa kamu betot dari pertapaannya di Simping. Aku bisa mudah menduga, karena kamu ini pada dasarnya senopati Singasari. Tradisi yang ada di sana adalah kesetiaan, ketaatan tanpa batas. Sri Baginda Raja berhasil menanamkan jiwa keprajuritan pengabdi yang tiada taranya. Kidungan Para Raja menunjukkan itu, penghancuran Kidung Paminggir, sampai penerimaan Kidung Pamungkas memperlihatkan itu semua.” Lalu setelah terdiam lama, “Dengan Ngrogoh Sukma mestinya aku tahu di mana Mada.”

Siasat Mandragini
BUKAN tidak mungkin Halayudha mengetahui di mana Mada. Meskipun ada kemungkinannya tidak bisa tepat benar. Mengingat Mada memiliki kecenderungan mengambil keputusan sesaat. Hal ini sangat disadari Halayudha. Sewaktu Halayudha mengenyahkan Jabung Krewes dan mengajak Mada membicarakan masalah tanah air yang disinggung dalam percakapan Raja dengan Upasara Wulung, Halayudha tak menduga bahwa Mada bisa menerangkan dengan jelas.

“Saya rasa tak terlalu sulit memahami ilmu ciptaan ksatria lelananging jagat yang saat ini tanpa tanding. Paduka mendengar pembicaraannya, melihat contoh dalam ilmu silat ketika menundukkan saya maupun ketika mengecoh Paduka.”

“Apa hubungannya dengan Raja?”

“Menurut Eyang Puspamurti…”

“Aku tak suka kakek genit yang tidak waras itu.”

“Menurut Eyang Puspamurti, ajaran mahamanusia yang disarikan Eyang Agung Raganata adalah pengabdian kepada Keraton. Bahwa mahamanusia tidak sampai kepada takhta. Dan itu yang lebih betul.”

“Tidak. Aku buktinya.”

Mada membisu.

“Baik, baik. Terus, bagaimana hubungannya dengan Raja?”

JILID 73BUKU PERTAMAJILID 75