Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 46

Dewa Maut kembali membuat gerakan menepuk nyamuk. “Saya ditubruk. Dirayu. Dicumbu.

“Seumur hidup saya belum pernah melihat tubuh wanita. Belum pernah menyentuh. Belum pernah mengalami. Tidak mengetahui apa dan bagaimana. Dewi Renuka tahu. Dan peristiwa itu terjadi. Saya bertanya-tanya, apakah Dewi Renuka memiliki daya asmara terhadap diri saya? Mencintai diri saya? Ataukah ini hanya luapan berahi? Atau luapan balas dendam kepada Kiai Gajah Mahabengis? Dewa Maut, di mana asmara yang murni, di mana berahi, dan di mana dosa yang membedakan?”

“Dalam kitab ada atau tidak? Saya tak bisa tahu. Mungkin tak perlu. Saya pernah mengalami daya asmara. Jatuh asmara kepada seseorang. Yang rasanya orang itu juga iya. Tapi kemudian memutuskan untuk tidak. Begitu saja. Saya kecewa. Saya berada di atas perahu, bersumpah tak mau menyentuh tanah. Karena dendam, karena asmara, karena kangen. Semua yang saya lakukan karena sebenarnya saya masih memendam daya asmara yang sesungguhnya. Sehingga saya merasa menodai jika saya merangkul atau memandang wanita lain lebih lama. Itu saja. Semua saya lakukan untuk menunjukkan bukti kemurnian asmara saya yang sesungguhnya. Begitu.”

“Dan berahi?”

“Dan dendam?”

“Berahi itu lelaki. Tanpa daya asmara ia bisa merasakan berahi. Dan mau. Begitu.”

“Dewi Renuka seorang wanita.”

“Apalagi.”

“Apalagi wanita?”

“Apalagi wanita, apalagi Dewi Renuka.”

“Dewa Maut mengenal Dewi Renuka?”

“Tidak sebelumnya. Tapi kamu yang mengenalkan. Wanita yang bisa jadi kecewa kepada Kiai Gajah, gurumu. Lalu mengajakmu main asmara. Seketika. Sekali. Atau beberapa kali.”

Halayudha menunduk. Menyerah. Takluk.

“Atau beberapa kali…,” ulangnya dengan suara perlahan.

“Apakah ada bedanya?”

“Terserah. Tapi banyak kitab tentang itu. Berawal dari dendam, berawal dari berahi sesaat, itu tak apa. Berakhir dengan asmara. Asmara yang sesungguhnya. Jadi berahi adalah awal asmara dan asmara itu sendiri. Saya justru bisa bertanya balik kepadamu, Halayudha. Kenapa kamu berdiam diri menghadapi Kiai Gajah Mahabengis, gurumu? Kenapa kamu tidak lari, kalau tak bisa melawan? Kenapa kamu mengakui dosamu, salahmu, penyelewenganmu dengan cara seperti itu? Saya bisa balik bertanya, Halayudha. Kenapa Dewi Renuka berdiam diri?”

“Apa jawabannya, Dewa Maut?”

“Jawabannya sama dengan apa yang saya terima, ketika kekasih saya menolak. Seharusnya saya merampas, nekat, menyerang. Tapi saya terdiam. Menerima kekalahan. Seperti yang dilakukan Eyang Putri Pulangsih atau juga Eyang Sepuh. Di saat semuanya mengiya, lalu buyar. Seperti Upasara Wulung dengan Permaisuri Rajapatni. Seperti, seperti, seperti. Ya, seperti, seperti. Berahi itu sumber tenaga. Seperti semua sumber tenaga ia bisa menghancurkan bisa menghidupkan. Kita menerimanya sebagai sesuatu yang lebih suci dari tenaga lain. Tak apa. Itulah yang terjadi pada diri Barisan Api….”

Ganjil, atau justru tidak ganjil, Dewa Maut berbelok berbicara mengenai Barisan Api. Yang mengubah tenaga planangan menjadi kekuatan tenaga luar.

“Kamu juga bisa. Kamu hanya terputus saja. Tapi tenaga itu masih ada. Selama ini buntu, karena kamu sembunyikan.”

“Dewa Maut, bagaimana caranya agar bisa mengubah itu?”

“Ada kitab atau tidak?”

“Mana?”

“Di kitab apa, pupuh berapa, rasanya disinggung tentang itu, tapi entah bagaimana.”

Halayudha menghela napas berat. “Kenapa Dewa Maut tidak melakukan hal itu?”

“Tidak. Saya tak mau mengubah tenaga planangan.”

“Kenapa?”

“Kenapa harus mengubah?”

“Kenapa saya yang harus mengubah?”

“Sebab kamu tak mungkin melakukan lagi. Tapi, Halayudha, bagaimana dengan Dewi Renuka-mu itu? Apakah ia mengandung dan melahirkan anak, dan apakah sekarang menjadi jago silat?”

Serampangan kata-kata Dewa Maut, seolah tak berbeda dengan menerangkan Barisan Api atau menangkap nyamuk yang tak ada. Sama tekanan dan nadanya. Tapi itu menghunjam ke dalam batin Halayudha. Itu memang pertanyaan batinnya. Sejak ia meninggalkan dan berusaha melenyapkan gurunya, Halayudha tak mendengar kabar berita. Sengaja tak mau mendengar, sengaja menghindar.

“Kenapa Dewa Maut bertanya begitu?”

“Tidak usah pakai kenapa. Kamu terlalu sering menanyakan kenapa. Padahal ini untuk menjawab pertanyaanmu. Perbedaan antara berahi dan asmara. Kalau bukan sekadar berahi dan mau membalas dendam, Dewi Renuka akan memelihara benih dalam kandungannya. Ia wanita, dan bersedia mendampingi Kiai Gajah Mahabengis, gurumu. Kalau bukan sekadar dendam, Kiai Gajah Mahabengis akan menerima keadaan diri Dewi Renuka dan memelihara benih itu sebagaimana benihnya sendiri.”

Halayudha mendesis. “Saya tak pernah mendengar itu.”

“Saya juga tidak,” jawab Dewa Maut enteng.

Halayudha menyembah sekali lagi. “Rasanya ini pencucian diri saya, untuk pertama kalinya. Terima kasih, Dewa Maut.”

“Kalau sudah begitu, mestinya saya juga berterima kasih kepada Dewa Maut. Sebab ia begitu baik untuk menjelaskan ini.”

“Dewa Maut, kenapa Dewa Maut tidak mencoba merogoh sukma Dewi Renuka?”

“Saya?”

“Ya.”

“Saya merogoh sukma Dewi Renuka untuk mengetahui isi hatinya? Untuk mengetahui di mana dendam, di mana berahi, dan di mana asmara?”

“Ya.”

“Bisa saja.”

Wajah Halayudha berubah. “Kita coba.”

“Kalau ia tak bersedia?”

“Kamu saja tadi tak bersedia. Bagaimana dengan dia? Jangan memaksa. Barisan Api tak mendendam kepada siapa-siapa. Mereka menjalani saja hidup mereka. Tak menyesali kenapa tak bisa mempunyai berahi. Saya juga tak mau memaksa.”

Pertanyaan Katresnan
HALAYUDHA mengawasi ruang sekitar. Pertama kali sejak mendiami ruangannya, baru sekarang ini Halayudha memperhatikan betapa setiap sudut penuh dengan ukiran yang dalam pembuatannya memerlukan waktu dan ketekunan yang panjang. Termasuk payung yang diwarnai, tempat meletakkan senjata, ujung kaki ranjang.

Setiap harinya diperlukan tenaga dan perhatian khusus untuk mengganti bunga yang diletakkan pada cawan tanah. Juga airnya. Dan setiap kali pula yang bertugas di situ membaca doa, mantra, bersemadi secara khusyuk. Tak ada setitik debu. Tak ada setitik bau. Tak ada yang mengganggu.

Selama ini ia tak pernah memperhatikan. Tak pernah sedikit pun mengamati dan memperhatikan siapa-siapa yang telah melakukan pekerjaan dengan tekun, penuh pengabdian, akan tetapi tak pernah ditegur atau disapa. Bahkan tak pernah mengetahui siapa. Kesadaran yang agak tiba-tiba saja menyelinap dalam diri Halayudha, ketika mengadakan percakapan dengan Dewa Maut.

Siapa Dewa Maut sebenarnya, Halayudha selama ini tak pernah memperhitungkan. Yang ada dalam benaknya hanyalah ada tokoh yang bernama Dewa Maut. Yang karena berada di pihak lawan, perlu diketahui seberapa jauh kekuatannya. Dan dengan sendirinya, sedikit riyawatnya. Akan tetapi tak pernah lebih dari itu. Dan sekarang jadi berbeda.

Dewa Maut bukan hanya sosok manusia yang tanpa makna khusus. Dewa Maut sekarang seperti seorang yang sangat dikenal, sangat dekat, yang membuat Halayudha membuka dirinya. Untuk pertama kalinya.

“Dewa maut, siapa kamu sebenarnya?”

“Bisa siapa saja. Jangan malah bingung dan bertanya-tanya. Kamu biasa hantem kromo, main ugal-ugalan dan serampangan. Tak memedulikan manusia lain sama sekali. Kalau kamu punya perhatian, berarti kamu melihat adanya keuntungan untuk dirimu.”

“Kamu begitu baik membuka dirimu. Menolongku.”

“Memang. Mungkin.”

“Dewa Maut, kenapa kamu melakukan itu?”

“Karena kamu merasa dirimu jahat, culas, licik, maka kamu menanyakan hal itu padaku? Kamu keliru, Halayudha. Manusia adalah manusia. Ia akan menjadi mahamanusia. Dengan berusaha atau dengan sendirinya. Sesama manusia, apa bedanya? Apa beda Halayudha dengan Upasara? Di saat Upasara berada dalam gua bawah tanah, aku berbicara dengannya. Di saat sekarang, aku berbicara dengan Halayudha. Apa itu kurang jelas?”

“Dewa Maut, kenapa kamu mau bertimbang rasa dengan saya?”

“Katresnan. Cinta. Bagian dari asmara. Itulah yang akan selalu berada dalam diri manusia. Juga dalam diri binatang, dan tumbuhan, dan bumi serta isinya. Manusia mempunyai katresnan, kepada sesama. Bisa lawan jenis, bisa sejenis. Katresnan yang sesungguhnya bukan sekadar berahi, bukan sekadar daya asmara. Itulah rasa yang juga dimiliki tumbuhan. Sehingga pohon mangga rela buahnya kita ambil, dimakan burung, atau jatuh ke tanah. Sehingga angin selalu bergerak tak habis-habis walau kita isap. Sehingga air laut bergelombang. Sehingga matahari memberi panas. Halayudha, aku tahu apa yang tersimpan di balik wajahmu. Kamu bertanya, apa aku ini waras atau tidak. Iya, kan? Jawabannya sama saja. Aku bisa memusuhimu. Kamu juga bisa. Aku bisa bersahabat denganmu. Kamu tak bisa. Tapi itu biasa. Karena kamu butuh kekuatan untuk membuka nadi planangan yang tertutup, yang terbuntu, dan aku bisa mencoba, ada baiknya kita lakukan. Itulah inti katresnan. Putri Pulangsih tresna kepada Eyang Sepuh. Ia melakukan apa saja, yang bisa dinilai sebagai waras atau tidak. Masuk nalar atau sebaliknya. Itulah sebabnya ombak selalu berdebur di pantai. Kadang membawa ikan, melontarkan. Salahkah ombak, dan mendosai ikan? Itulah sebabnya ombak kembali ke tengah laut. Kadang membawa manusia, menyeret. Salahkah ombak, dan mencelakai manusia? Berbaringlah, Halayudha. Aku ingin tahu seberapa jauh kamu bisa melipatgandakan tenaga dalammu.”

Halayudha berbaring. Tubuhnya hanya ditutupi kain berwarna putih. Di ranjang yang dilapisi kain sutra, yang kiri-kanannya berjuntai kain sutra berwarna. Berbaring dengan telapak kaki menghadap Dewa Maut. Dewa Maut mendekat. Memegang tungkai dengan tangan kiri. Ujung jari tangan kanannya menyodok ke tengah.

“Hmmmmm…” Halayudha berkeringat.

“Tubuhmu sempurna, Halayudha. Anggota badanmu baik. Tenaga dalam, isi perutmu, bagus sekali. Kemampuanmu menahan penderitaan lebih dari siapa pun yang pernah kujajal. Itu bagus.”

Telunjuk Dewa Maut menusuk sedikit di bawah mata kaki. Halayudha mengeluarkan pekikan keras.

“Ini buntu. Nadi planangan kamu tidak membuka. Kekuatan kejantanan kamu membeku, buntu.”

Ketika Dewa Maut menusuk kembali, Halayudha mengertakkan giginya. Kedua tangannya yang memegang tepi ranjang mencengkeram keras. Kayu yang perkasa dan kuat itu somplak. Kain sutra yang menutupi hancur!

“Akan kucoba membuka.”

Kali ini Dewa Maut menggunakan dua jarinya. Menusuk. Tidak segera ditarik, melainkan ditekankan lebih dalam. Tenaganya dikerahkan hingga keringatnya berbintik di dahi.

Halayudha merasakan rasa sakit yang luar biasa. Daya tahannya yang baru saja dipuji Dewa Maut seakan rontok. Tubuhnya menggelinjang, berputar. Kepalan tangannya yang dipukulkan ke ranjang membuat ranjang itu somplak. Kayu yang menjadi tiang penyangga sebesar kaki pecah. Ranjang itu amblas ke bawah. Kepala Halayudha menghantam lantai. Tapi tekanan jari Dewa Maut bergeming.

“Wuaduh!”

Teriakan Halayudha demikian keras dan menyayat, sehingga beberapa prajurit jaga berseru dan meloncat masuk. Bersiaga. Halayudha berusaha duduk sambil menggeleng. Tangannya memberi tanda agar para prajurit segera keluar lagi. Tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat.

“Lega?” Napas Halayudha berangsur-angsur normal kembali. Tangannya masih gemetar.

“Mati rasanya.”

“Guratan di tangan adalah nasib, kodrat. Guratan di telapak kaki adalah pusat berkumpulnya semua nadi yang menghubungkan anggota tubuh. Tapi aku tak cukup kuat menekan. Kalau kamu bisa melatih sendiri, pasti bisa.”

“Dewa Maut, rasanya saya tidak tahan.”

“Aku bisa mengurangi rasa sakitmu, tapi jatuhnya aku yang terkena. Kita coba.” Dewa Maut kembali menusuk dengan jarinya. Menusuk dalam. Menekan. Memutar.

Halayudha kembali merasakan kenyerian yang mencabiki seluruh nadi tubuhnya. Memang tidak semenderita seperti pertama tadi. Akan tetapi baru berlangsung beberapa kejap, Dewa Maut mengeluarkan suara keras. Tubuhnya melengkung! Tak bergerak lagi. Halayudha benar-benar tak mengerti. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Tangannya gemetar, mengangkat tubuh Dewa Maut. Mengangkat dengan rasa hormat, membaringkan di ranjang kain sutra. Wajah Dewa Maut seperti tertidur. Tenteram. Bahagia. Menyunggingkan senyum.

“Dewa Maut…”

Halayudha menunduk. Seolah tak percaya getar tangannya yang didekatkan ke hidung Dewa Maut. Seolah ingin meyakinkan bahwa kalau didengarkan, dengus napas itu masih ada.

Kedamaian Abadi
WAJAH Dewa Maut tak berubah sedikit pun. Tetap tenang. Tak ada beban sedikit pun. Rambutnya putih bagai kapas. Beriapan di sekitar tubuhnya yang tampak kurus kering. Semakin pucat dengan kain putih yang melilit tubuh. Keringat di dahi Dewa Maut terasa dingin ketika Halayudha mengusap hormat.

“Dewa Maut…”

Bisikan tanpa gema. Tanpa rasa. Tanpa jawaban. Perlahan Halayudha merangkapkan tangan Dewa Maut di depan dada. Tangan yang lemas. Tubuh yang lemas, walau tak bisa bergerak lagi. Perlahan Halayudha berjongkok. Bersujud. Wajahnya menekur ke bawah. Rambutnya yang digelung rapi tergerai.

“Dewa….”

Rintihan suara Halayudha lebih mengesankan sebagai pertanyaan kepada Dewa Yang Maha dewa dibandingkan menyebutkan nama. Halayudha berlutut. Tenggelam ke dalam gemuruh tubuh dan batinnya. Sungguh pengalaman yang maha luar biasa. Belum pernah Halayudha tergetar seperti sekarang ini. Belum pernah kesadarannya terguncang hingga ke dasar-dasarnya. Dewa Maut.

Dewa Maut mengempaskan perasaan Halayudha pada suatu tempat yang belum pernah dialami seumur hidupnya. Ia tak mengenal orangtuanya secara sadar. Hanya masih diingatnya ketika ia diambil seorang lelaki, yang kemudian mendidiknya, mengajari ilmu silat, dan menindasnya dengan sangat kejam. Seorang guru yang sangat dihormati, tetapi sekaligus juga sangat dibenci, sehingga ia menjuluki Kiai Gajah Mahakrura.

Ada pertalian naluri, emosi yang tersambung antara dirinya dan gurunya. Akan tetapi semua itu tak membuat Halayudha mempunyai perasaan tertentu ketika harus berpisah. Bahkan sebelumnya ia berani memainkan ilmu andalan gurunya dengan menyabet bambu kurus untuk mengiris tubuh dengan sabetan melintang samping. Untuk mengarahkan dendam semua ksatria kepada gurunya.

Ia setengah mengenal kakak seperguruannya, Ugrawe, yang gagah perkasa dan malang-melintang di dunia persilatan. Akan tetapi juga tak meninggalkan kesan apa-apa. Baik kekejaman mencoba membunuh guru, atau sifat lain. Halayudha tidak menjadi dendam, juga tidak merasa berutang budi. Biasa-biasa saja. Datar.

Tokoh lain yang sempat mengguncang jiwanya adalah Dewi Renuka. Satu-satunya wanita yang pernah diajak main daya asmara. Melampiaskan daya berahi. Akan tetapi ketika kemudian berpisah, Halayudha tak merasa kehilangan, tak berusaha mencari. Meskipun juga tak sepenuhnya menghindar. Perasaannya tetap datar. Kalaupun ada gugatan keras, itu seperti letupan gemuruh yang tak mempunyai pijakan jelas.

Tapi sekarang ini lain. Mayat Dewa Maut, tokoh tua yang tak mempunyai tenaga dalam seperti biasanya para jago silat ini, justru mampu membuatnya tepekur. Dewa Maut. Dewa Maut. Nama yang memberi makna begitu banyak. Membuka cakrawala batinnya yang selama ini tertutup rapat. Ia menghubungi Dewa Maut karena ingin melaksanakan niatnya mencegah pengobatan atas diri Praba Raga Karana. Lalu terjadilah pembicaraan yang lebih akrab, ketika Dewa Maut mencoba menjajal ilmu Ngrogoh Sukma Sejati. Yang mampu menyelam kepada pribadi orang lain.

Setelah itu disambung dengan pembicaraan mengenai berahi. Disusul dengan usaha mencoba mengalihkan tenaga planangan. Halayudha masih tak sadar bahwa ketika mencoba memulihkan tenaga dalamnya yang tersumbat, Dewa Maut kemudian memakai tubuhnya sendiri sebagai korban. Luar biasa. Tanpa kata-kata penjelasan. Selain sekilas mengenai katresnan. Seperti bicara sambil lalu. Akan tetapi itu berarti segalanya bagi Dewa Maut. Napas Halayudha masih terengah-engah. Gerah. Gelisah.

Secara nalar, Halayudha bisa menerangkan, bahwa Dewa Maut berusaha mengubah tenaga dalam yang selama ini terbuntu. Dengan membaca nadi telapak kaki, Dewa Maut menusuk. Ternyata kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Halayudha. Kemudian menyarankan Halayudha berlatih sendiri. Perubahan yang kemudian adalah karena Halayudha merasa tidak kuat menahan sakit, Dewa Maut mengalihkan rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri. Ilmu seperti itu bukan tak dimengerti.

Dalam pengaturan tenaga dalam, orang bisa memakai tenaga dalamnya sendiri untuk membantu orang lain. Juga untuk menahan penderitaan. Halayudha mengenal dengan baik, karena salah satu inti ajaran Banjir Bandang Segara Asat tak jauh berbeda. Akan tetapi karena tenaga Dewa Maut tidak kuat menahan beban, ajalnya datang. Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut melakukan hal itu?

Mustahil Dewa Maut tak mengetahui kemungkinan datangnya maut. Dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas, Dewa Maut bisa membaca dengan baik. Bisa menghindar kalau mau. Sekurangnya tidak mengorbankan diri seperti yang dilakukan. Karena sudah menyarankan kepada Halayudha untuk menjajal sendiri. Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut tetap melakukan hal ini?

Pengorbanan sebagai ksatria? Rada mustahil, mengingat Dewa Maut dalam kesetengahwarasannya mengetahui Halayudha bukan ksatria. Dewa Maut sudah mengatakan bahwa Halayudha culas, jahat, dan licik. Kenapa Dewa Maut harus melakukan pengorbanan ini? Inilah yang membuat Halayudha tepekur. Pendekatan apa pun tak membuatnya lega dan terjawab. Bukan kawan, bahkan musuh. Bahwa Dewa Maut mau menunjukkan cara-cara untuk memperkuat tenaga dalam saja sudah luar biasa. Apalagi dengan mengorbankan diri.

Untuk pertama kalinya getaran itu menggema lama dalam sanubari Halayudha. Entah kenapa, ia tak bisa sekadar menganggapnya sebagai ketololan, kedunguan sikap yang dipilih Dewa Maut. Entah kenapa, ia tak bisa bersorak gembira saat itu, seperti sebelumnya. Tubuh yang lemas, damai, tenteram. Wajah yang meninggalkan senyuman. Seolah Dewa Maut rela, ikhlas, sadar sepenuhnya apa yang dilakukan.

“Dewa Yang Maha dewa. Aku, Halayudha, tak pernah meminta padamu. Sekali ini, aku menyembah dan merendah padamu, untuk memberi kehidupan yang abadi bagi Dewa Maut. Aku tahu, tanpa permintaanku ini, Dewa Yang Maha dewa lebih tahu. Terima kasih, Dewa Maut.”

Halayudha mengusap wajahnya. Baru kemudian berdiri perlahan. Melangkah satu-satu, ke arah pintu. Melaluinya, melangkah ke luar tanpa menutup kembali. Kebimbangan sesaat yang membuat perasaan aneh dalam dirinya. Sesaat. Karena pada tarikan napas berikutnya, Halayudha sudah berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan dalam langkahnya.

Dengan meninggalnya Dewa Maut, besar kemungkinannya Raja menaruh curiga. Atau paling kurang menilai dirinya tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang dibebankan. Berarti soal Praba Raga Karana tetap akan mengganjal. Segera setelah upacara pernikahan dengan dua putri Permaisuri Rajapatni pertanyaan itu akan datang. Itu yang pertama.

Akibat kedua yang bisa datang di kemudian hari sudah terbayang. Para ksatria, terutama yang berasal dari Perguruan Awan, akan muncul menuntut balas. Itu akan merepotkan. Halayudha terus melangkah. Mengikuti tembok bagian dalam dalem kepatihan. Beberapa kali tangannya mengelap tembok yang kukuh berdiri, yang selalu terjaga bersih. Dadanya mengembang-mengempis. Rambutnya tetap terurai. Menggelombang hingga ke pinggang ketika Halayudha mendongak ke arah langit.

Dikesampingkannya wajah Dewa Maut yang senyumannya membuatnya tergetar. Di langit seperti ditemukan jawaban. Kalau ia bisa menyembunyikan mayat Dewa Maut, pastilah tak banyak menimbulkan persoalan. Tak ada yang mengetahui kematian Dewa Maut. Dan tak akan ada yang percaya apa yang sesungguhnya terjadi.

Petirahan Pungkasan
HALAYUDHA merasakan perubahan dalam dirinya. Langkahnya terasa sangat ringan. Telapak kakinya bahkan seakan tak menyentuh tanah ketika digerakkan lebih cepat dari biasanya. Dadanya terasa segar, rongganya seolah menjadi berkembang. Perutnya menyisakan rasa hangat. Halayudha tak berani mengatakan pada dirinya, bahwa ini perubahan yang nyata dari usaha yang dilakukan Dewa Maut. Kini ada perubahan aliran kekuatan yang tadinya membuntu. Halayudha tak ingin berkesimpulan secepat itu.

Akan tetapi sesungguhnya, itulah yang dirasakan. Kesegaran dari ujung rambut hingga ulu hati. Perubahan lain yang disadari adalah kini ada yang menahan keinginannya untuk menguburkan Dewa Maut di tempat dulu Upasara, seorang seperti Upasara, dikuburkan. Bagian belakang kaputren itu tak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun. Apalagi memang merupakan bekas kuburan. Persembunyian yang paling aman. Siapa yang akan menduga bahwa di bekas kuburan akan dimakamkan tubuh lain?

Hanya saja kali ini Halayudha tidak rela. Hati kecilnya ingin memberi penghormatan kepada Dewa Maut. Sesuatu yang tak pernah menyentuh dan berbunyi dalam jiwanya. Kali ini Halayudha ingin memberi petirahan, peristirahatan, terakhir yang layak. Tak ada yang lebih tepat selain gua bawah Keraton. Tempat Dewa Maut menghabiskan waktu terakhir dan memperoleh pencerahan. Halayudha melakukan sendiri.

Berjalan mengikuti jejak yang kira-kira ditempatkan Dewa Maut semasa masih hidup. Melalui lorong-lorong sempit, baik yang muncul di parit depan kaputren, ataupun di dekat perpustakaan. Halayudha mengikuti perjalanan Dewa Maut. Merasakan apa yang kira-kira dirasakan Dewa Maut. Di perpustakaan Raja, Halayudha merenung lama. Di sini Dewa Maut leluasa membaca kitab apa saja. Mempelajari dengan tenang, membaca menekuni, menghayati, dan kemudian mengembalikan kitab ke tempat asalnya. Tanpa niatan mencuri, tanpa keinginan memiliki. Membaca, mengembalikan. Lalu kembali ke dalam terowongan kecil yang sangat pas untuk satu tubuh dengan memiringkan tubuh, menekuk pada beberapa lekukan. Sampai di bawah tanah.

Melihat pohon mangga, pohon sawo, bunga-bunga yang ditanam, yang disemai dengan kasih sayang. Pohon yang bisa bercerita banyak, seperti juga ikan-ikan, kepiting di mata air yang mengalir di dasar. Kehidupan alam. Ketenteraman yang tidak mengganggu dan menyalahi siapa saja. Apa saja.

Betapa Dewa Maut melewati hari-hari dengan bahagia. Menanam buah-buahan, menunggu sampai berbuah. Menikmati sebagaimana kebutuhannya. Bukan hanya pohonan yang berguna seketika, tetapi sekaligus jenis rumput dan tanaman lain dirawat dengan ketekunan yang sama.

Bahkan ikan-ikan itu tidak berlarian ketika Halayudha mencemplungkan kakinya ke dalam air. Tangannya bisa menyentuh, menangkap tanpa menimbulkan kecipak air berlebihan. Di sinilah Dewa Maut menemukan dirinya. Menemukan penyatuan dengan alam. Bisa mendengar dan berbicara dengan lebah, tikus, ikan, air, daun, dan akar. Dengan alam.

Titik letikan yang dipakai menjadi sikap hidup Dewa Maut. Dengan ketenangan alami, hati Dewa Maut terbuka. Sehingga kitab-kitab yang dipelajari, kenyataan akan kehidupan, bisa diserap. Bukan diserap, melainkan menyerap dengan sendirinya. Menyatu. Dewa Maut adalah bagian alam. Barangkali, pikir Halayudha dalam hati, inilah yang mendasari sikap Dewa Maut. Menemukan inti katresnan. Dirinya menjadi bagian buah mangga atau sawo. Yang bisa dipetik siapa saja. Yang tidak memperhitungkan untung-rugi siapa yang akan menelan. Seperti air. Seperti angin.

Dengan kerelaan seperti ini, bisa dimengerti kalau Dewa Maut sebenarnya telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Bisa melepaskan dirinya, bisa ngrogoh sukma sejati. Halayudha menemukan perjalanan masa lalu Dewa Maut. Ia, kalau mau, bukan tidak mungkin akan menemukan pencerahan yang sama. Akan tetapi Halayudha merasa dirinya tak bisa melakukan hal yang sama. Ada tarikan lain yang masih memesona.

Kekuatan, kekuasaan, pertarungan, kemenangan. Ia tak bisa membebaskan diri dari itu. Bahkan secara sadar terjun ke dalam pertarungan itu. Yang berbeda hanyalah bahwa ia bisa mengagumi jalan hidup yang ditempuh Dewa Maut. Mengagumi, menghormati, dan menyebabkan kepalanya menunduk. Itulah sebabnya Halayudha sendiri yang membopong mayat Dewa Maut, dan membawa ke gua bawah tanah. Menggali sendiri tanah sekitarnya hingga dalam. Dan mengubur dengan penuh hormat.

“Dewa Maut, aku belum pernah melakukan hal seperti ini dalam hidupku. Mungkin juga tak akan pernah. Aku sendiri tak tahu, apakah tubuhku besok ada yang mengubur atau dimakan burung. Mudah-mudahan ini menenteramkanmu. Beristirahatlah dengan segala kedamaian yang kamu ajarkan.”

Halayudha menimbuni tanah dengan tangannya sendiri. Hati-hati dan perlahan. Lalu meratakan. Mencuci tangannya di air. Mengaca ke air. Wajah yang tak pernah dilihat selama ini. Karena ia jarang atau bahkan tak pernah berkaca. Tak pernah mempunyai waktu untuk mengamati dirinya sendiri. Kini bisa melihat. Wajah yang mulai kisut, guratan-guratan tajam di sekitar hidung, di ujung mata. Kulit kering yang membalut, rambut yang kusut dan susah diluruskan dengan jari. Halayudha menyeringai. Bayangan di air itu seperti menakutkan bagi ikan-ikan yang serentak berlarian.

“Bayangan wajahku saja begitu menakutkan. Sungguh berbeda dengan Dewa Maut. Mungkin pohon sawo itu akan menjauhkan tangkai buahnya jika kudekati. Tak apa. Alam ini, yang seperti ini, memang bukan buat diriku. Buat Dewa Maut.”

Halayudha mengikuti perjalanan dalam gua. Melalui semua lorong hingga bermuara ke tempat yang lapang, dipayungi langit. Mulut gua yang menganga ke atas. Puluhan kali Halayudha keluar-masuk gua bawah tanah. Untuk mengubur lawan-lawannya, untuk menawan lawan-lawannya. Baru sekarang ini masuk ke dalam, memperhatikan keadaan sekitar untuk menghormati Dewa Maut.

“Dewa Maut. Biarlah tempat ini tetap seperti yang kamu inginkan. Inilah Perguruan Awan yang sesungguhnya. Aku akan menjaganya.”

Halayudha berdoa. Setelah mengusap wajahnya, ia bergegas kembali. Melalui lorong-lorong yang panjang dan menikung di sana-sini. Sejenak timbul kecemasan dirinya tak akan bisa keluar lagi! Inilah gila kalau terjadi. Bukan sekali-dua Halayudha menyelusup masuk, dan memerintahkan semua jalan keluar ditutup. Kalau sekarang dirinya terkubur hidup-hidup, Halayudha tak sanggup menertawakan dirinya sendiri. Tapi tidak.

Halayudha bisa keluar. Dan kemudian memerintahkan para prajurit untuk menutup semua jalan. Dengan timbunan batu besar, dan batu bata yang direkatkan dengan adonan putih telur. Di atasnya ditimbuni tanah lagi hingga membukit. Tak cukup dengan itu, Halayudha memerintahkan agar tempat itu ditanami dengan pohon yang nantinya tumbuh tinggi. Sekarang semua jalan memang tertutup kuat. Tak ada kemungkinan lagi untuk menerobos ke dalam.

Bahkan kemudian seratus prajurit ditugaskan untuk menutup bagian yang berada jauh di luar Keraton. Yang menganga bagai sumur. Dengan jalan membuat papan-papan serta kayu yang kemudian ditimbun dengan tanah. Halayudha tak mau tahu berapa tenaga yang harus dikerahkan dan berapa biaya yang dikeluarkan.

Pada awalnya Halayudha bahkan mengawasi sendiri dan memberikan petunjuk secara langsung. Ada perasaan lega dalam hati Halayudha. Ada semacam kebahagiaan yang segar, yang menenteramkan. Seperti melakukan suatu bakti, penghormatan tulus kepada Dewa Maut. Sebagai balas jasanya. Kelegaan yang kemudian membawa banyak arti dalam kemajuan melatih diri. Inilah loncatan yang membuat Halayudha sedikit heran.

Kekuatan Mahidhara Mageng
HALAYUDHA sedikit heran, karena ternyata hasilnya di luar perkiraannya! Sewaktu Dewa Maut membuka nadi planangan yang buntu, Halayudha segera merasakan kesegaran yang berbeda dari sebelumnya. Langkahnya menjadi lebih ringan, dadanya seolah berkembang, dan tenaganya bisa lancar mengalir. Apalagi setelah melatih sendiri.

Halayudha memusatkan perhatiannya, dan menusuk tepat seperti yang dilakukan Dewa Maut. Semakin rasa nyeri menyerang, semakin nekat jarinya menekan dengan kekuatan penuh. Semakin menggelinjang tubuhnya, semakin tak mau melepaskan. Hasilnya selalu membuat tubuhnya basah kuyup oleh cairan tubuhnya yang bagai disuntakkan. Semua urat tubuhnya menegang. Akan tetapi setelah itu, terasa lebih segar.

Benar juga. Sewaktu berlatih ilmu silat, Halayudha menyadari bahwa tenaga dalamnya menjadi lebih kuat. Tiang utama di pendopo kadipaten yang tak cukup dipeluk dua orang bisa diguncang! Satu pukulan keras membuat tiang itu tergetar. Kayu-kayu yang melintang di atasnya bergeser. Ketika pukulan diarahkan ke atas, atap kayu sirap dan ijuk yang terikat tebal itu jebol. Menganga. Halayudha bersorak dalam hati.

Makin memperoleh kemajuan, makin garang Halayudha melatih diri. Dan makin cepat kemajuan yang dirasakan. Kini bahkan tembok Keraton bisa diloncati empat kali bolak-balik tanpa menyentuh tanah. Tanpa mencari pijakan! Tenaga dalam tubuhnya bisa mengalir begitu saja, dan dengan sangat leluasa bisa diubah. Seakan tak ada hambatan. Inilah yang membuat Halayudha sedikit heran.

Tubuhnya seakan berisi tenaga dalam yang baru, yang tidak mengalami pergolakan dahsyat untuk bisa menyatu dengan alam pikirannya. Seakan ada magma, ada kekuatan besar yang selama ini tersimpan, menemukan jalan keluar. Pengerahan tenaga bisa menerobos seluruh nadi tubuhnya.

Dewa Maut memang luar biasa. Dengan jitu Dewa Maut melihat pengerahan kekuatan tenaga planangan yang ada pada Barisan Api. Meskipun Barisan Api hanya muncul selintas dan berhasil dipatahkan seketika oleh Upasara Wulung, akan tetapi bagi para jago silat mencerminkan banyak hal yang tidak diketahui. Tetapi Dewa Maut bisa melihat. Mengetahui sumber kekuatan.

Upasara boleh berbangga hati bisa mengalahkan, akan tetapi belum tentu bisa melihat sumber kekuatannya yang bisa berlipat. Dewa Maut menemukan kunci pengerahan kekuatan itu berasal dari nadi planangan, nadi kejantanan. Yang diubah menjadi tenaga. Hal itu yang kini terjadi dengan dirinya sendiri. Kondisi tubuhnya sudah terbentuk sebagaimana persyaratan yang ada. Hanya saja, dulu Halayudha tidak pernah menyadari. Itu yang membuat perbedaan menjadi sangat tajam.

Sekarang kekuatan yang selama ini terpendam bisa dicairkan, bisa dipergunakan. Seolah magma mahidhara, magma gunung yang mageng, yang besar dan terpendam, bisa tersalur sempurna seperti bisa diatur. Tidak berledakan dan menghancurkan. Melainkan bisa diarahkan. Kalau sebelumnya hanya empat batang tombak yang bisa dipatahkan sekaligus, kini Halayudha mampu menekuk patah delapan tombak sekaligus. Bahkan bisa lebih andai genggamannya cukup.

Tanpa disadari, Halayudha menemukan kunci pembuka kekuatan yang sejati. Adalah suatu kebetulan bahwa Dewa Maut pernah hidup tanpa bersinggungan dengan kaum wanita, sehingga mengetahui kekuatan yang tersimpan itu. Halayudha bisa memainkan sesuai keinginannya. Dengan satu tudingan jari, tenaga dalamnya bisa menusuk cepat. Sehingga prajurit jaga di atas benteng bisa terkena. Menjerit keras dan terbanting ke bawah. Tanpa sempat tahu apa penyebabnya.

JILID 45BUKU PERTAMAJILID 47

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 46

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 46

Dewa Maut kembali membuat gerakan menepuk nyamuk. “Saya ditubruk. Dirayu. Dicumbu.

“Seumur hidup saya belum pernah melihat tubuh wanita. Belum pernah menyentuh. Belum pernah mengalami. Tidak mengetahui apa dan bagaimana. Dewi Renuka tahu. Dan peristiwa itu terjadi. Saya bertanya-tanya, apakah Dewi Renuka memiliki daya asmara terhadap diri saya? Mencintai diri saya? Ataukah ini hanya luapan berahi? Atau luapan balas dendam kepada Kiai Gajah Mahabengis? Dewa Maut, di mana asmara yang murni, di mana berahi, dan di mana dosa yang membedakan?”

“Dalam kitab ada atau tidak? Saya tak bisa tahu. Mungkin tak perlu. Saya pernah mengalami daya asmara. Jatuh asmara kepada seseorang. Yang rasanya orang itu juga iya. Tapi kemudian memutuskan untuk tidak. Begitu saja. Saya kecewa. Saya berada di atas perahu, bersumpah tak mau menyentuh tanah. Karena dendam, karena asmara, karena kangen. Semua yang saya lakukan karena sebenarnya saya masih memendam daya asmara yang sesungguhnya. Sehingga saya merasa menodai jika saya merangkul atau memandang wanita lain lebih lama. Itu saja. Semua saya lakukan untuk menunjukkan bukti kemurnian asmara saya yang sesungguhnya. Begitu.”

“Dan berahi?”

“Dan dendam?”

“Berahi itu lelaki. Tanpa daya asmara ia bisa merasakan berahi. Dan mau. Begitu.”

“Dewi Renuka seorang wanita.”

“Apalagi.”

“Apalagi wanita?”

“Apalagi wanita, apalagi Dewi Renuka.”

“Dewa Maut mengenal Dewi Renuka?”

“Tidak sebelumnya. Tapi kamu yang mengenalkan. Wanita yang bisa jadi kecewa kepada Kiai Gajah, gurumu. Lalu mengajakmu main asmara. Seketika. Sekali. Atau beberapa kali.”

Halayudha menunduk. Menyerah. Takluk.

“Atau beberapa kali…,” ulangnya dengan suara perlahan.

“Apakah ada bedanya?”

“Terserah. Tapi banyak kitab tentang itu. Berawal dari dendam, berawal dari berahi sesaat, itu tak apa. Berakhir dengan asmara. Asmara yang sesungguhnya. Jadi berahi adalah awal asmara dan asmara itu sendiri. Saya justru bisa bertanya balik kepadamu, Halayudha. Kenapa kamu berdiam diri menghadapi Kiai Gajah Mahabengis, gurumu? Kenapa kamu tidak lari, kalau tak bisa melawan? Kenapa kamu mengakui dosamu, salahmu, penyelewenganmu dengan cara seperti itu? Saya bisa balik bertanya, Halayudha. Kenapa Dewi Renuka berdiam diri?”

“Apa jawabannya, Dewa Maut?”

“Jawabannya sama dengan apa yang saya terima, ketika kekasih saya menolak. Seharusnya saya merampas, nekat, menyerang. Tapi saya terdiam. Menerima kekalahan. Seperti yang dilakukan Eyang Putri Pulangsih atau juga Eyang Sepuh. Di saat semuanya mengiya, lalu buyar. Seperti Upasara Wulung dengan Permaisuri Rajapatni. Seperti, seperti, seperti. Ya, seperti, seperti. Berahi itu sumber tenaga. Seperti semua sumber tenaga ia bisa menghancurkan bisa menghidupkan. Kita menerimanya sebagai sesuatu yang lebih suci dari tenaga lain. Tak apa. Itulah yang terjadi pada diri Barisan Api….”

Ganjil, atau justru tidak ganjil, Dewa Maut berbelok berbicara mengenai Barisan Api. Yang mengubah tenaga planangan menjadi kekuatan tenaga luar.

“Kamu juga bisa. Kamu hanya terputus saja. Tapi tenaga itu masih ada. Selama ini buntu, karena kamu sembunyikan.”

“Dewa Maut, bagaimana caranya agar bisa mengubah itu?”

“Ada kitab atau tidak?”

“Mana?”

“Di kitab apa, pupuh berapa, rasanya disinggung tentang itu, tapi entah bagaimana.”

Halayudha menghela napas berat. “Kenapa Dewa Maut tidak melakukan hal itu?”

“Tidak. Saya tak mau mengubah tenaga planangan.”

“Kenapa?”

“Kenapa harus mengubah?”

“Kenapa saya yang harus mengubah?”

“Sebab kamu tak mungkin melakukan lagi. Tapi, Halayudha, bagaimana dengan Dewi Renuka-mu itu? Apakah ia mengandung dan melahirkan anak, dan apakah sekarang menjadi jago silat?”

Serampangan kata-kata Dewa Maut, seolah tak berbeda dengan menerangkan Barisan Api atau menangkap nyamuk yang tak ada. Sama tekanan dan nadanya. Tapi itu menghunjam ke dalam batin Halayudha. Itu memang pertanyaan batinnya. Sejak ia meninggalkan dan berusaha melenyapkan gurunya, Halayudha tak mendengar kabar berita. Sengaja tak mau mendengar, sengaja menghindar.

“Kenapa Dewa Maut bertanya begitu?”

“Tidak usah pakai kenapa. Kamu terlalu sering menanyakan kenapa. Padahal ini untuk menjawab pertanyaanmu. Perbedaan antara berahi dan asmara. Kalau bukan sekadar berahi dan mau membalas dendam, Dewi Renuka akan memelihara benih dalam kandungannya. Ia wanita, dan bersedia mendampingi Kiai Gajah Mahabengis, gurumu. Kalau bukan sekadar dendam, Kiai Gajah Mahabengis akan menerima keadaan diri Dewi Renuka dan memelihara benih itu sebagaimana benihnya sendiri.”

Halayudha mendesis. “Saya tak pernah mendengar itu.”

“Saya juga tidak,” jawab Dewa Maut enteng.

Halayudha menyembah sekali lagi. “Rasanya ini pencucian diri saya, untuk pertama kalinya. Terima kasih, Dewa Maut.”

“Kalau sudah begitu, mestinya saya juga berterima kasih kepada Dewa Maut. Sebab ia begitu baik untuk menjelaskan ini.”

“Dewa Maut, kenapa Dewa Maut tidak mencoba merogoh sukma Dewi Renuka?”

“Saya?”

“Ya.”

“Saya merogoh sukma Dewi Renuka untuk mengetahui isi hatinya? Untuk mengetahui di mana dendam, di mana berahi, dan di mana asmara?”

“Ya.”

“Bisa saja.”

Wajah Halayudha berubah. “Kita coba.”

“Kalau ia tak bersedia?”

“Kamu saja tadi tak bersedia. Bagaimana dengan dia? Jangan memaksa. Barisan Api tak mendendam kepada siapa-siapa. Mereka menjalani saja hidup mereka. Tak menyesali kenapa tak bisa mempunyai berahi. Saya juga tak mau memaksa.”

Pertanyaan Katresnan
HALAYUDHA mengawasi ruang sekitar. Pertama kali sejak mendiami ruangannya, baru sekarang ini Halayudha memperhatikan betapa setiap sudut penuh dengan ukiran yang dalam pembuatannya memerlukan waktu dan ketekunan yang panjang. Termasuk payung yang diwarnai, tempat meletakkan senjata, ujung kaki ranjang.

Setiap harinya diperlukan tenaga dan perhatian khusus untuk mengganti bunga yang diletakkan pada cawan tanah. Juga airnya. Dan setiap kali pula yang bertugas di situ membaca doa, mantra, bersemadi secara khusyuk. Tak ada setitik debu. Tak ada setitik bau. Tak ada yang mengganggu.

Selama ini ia tak pernah memperhatikan. Tak pernah sedikit pun mengamati dan memperhatikan siapa-siapa yang telah melakukan pekerjaan dengan tekun, penuh pengabdian, akan tetapi tak pernah ditegur atau disapa. Bahkan tak pernah mengetahui siapa. Kesadaran yang agak tiba-tiba saja menyelinap dalam diri Halayudha, ketika mengadakan percakapan dengan Dewa Maut.

Siapa Dewa Maut sebenarnya, Halayudha selama ini tak pernah memperhitungkan. Yang ada dalam benaknya hanyalah ada tokoh yang bernama Dewa Maut. Yang karena berada di pihak lawan, perlu diketahui seberapa jauh kekuatannya. Dan dengan sendirinya, sedikit riyawatnya. Akan tetapi tak pernah lebih dari itu. Dan sekarang jadi berbeda.

Dewa Maut bukan hanya sosok manusia yang tanpa makna khusus. Dewa Maut sekarang seperti seorang yang sangat dikenal, sangat dekat, yang membuat Halayudha membuka dirinya. Untuk pertama kalinya.

“Dewa maut, siapa kamu sebenarnya?”

“Bisa siapa saja. Jangan malah bingung dan bertanya-tanya. Kamu biasa hantem kromo, main ugal-ugalan dan serampangan. Tak memedulikan manusia lain sama sekali. Kalau kamu punya perhatian, berarti kamu melihat adanya keuntungan untuk dirimu.”

“Kamu begitu baik membuka dirimu. Menolongku.”

“Memang. Mungkin.”

“Dewa Maut, kenapa kamu melakukan itu?”

“Karena kamu merasa dirimu jahat, culas, licik, maka kamu menanyakan hal itu padaku? Kamu keliru, Halayudha. Manusia adalah manusia. Ia akan menjadi mahamanusia. Dengan berusaha atau dengan sendirinya. Sesama manusia, apa bedanya? Apa beda Halayudha dengan Upasara? Di saat Upasara berada dalam gua bawah tanah, aku berbicara dengannya. Di saat sekarang, aku berbicara dengan Halayudha. Apa itu kurang jelas?”

“Dewa Maut, kenapa kamu mau bertimbang rasa dengan saya?”

“Katresnan. Cinta. Bagian dari asmara. Itulah yang akan selalu berada dalam diri manusia. Juga dalam diri binatang, dan tumbuhan, dan bumi serta isinya. Manusia mempunyai katresnan, kepada sesama. Bisa lawan jenis, bisa sejenis. Katresnan yang sesungguhnya bukan sekadar berahi, bukan sekadar daya asmara. Itulah rasa yang juga dimiliki tumbuhan. Sehingga pohon mangga rela buahnya kita ambil, dimakan burung, atau jatuh ke tanah. Sehingga angin selalu bergerak tak habis-habis walau kita isap. Sehingga air laut bergelombang. Sehingga matahari memberi panas. Halayudha, aku tahu apa yang tersimpan di balik wajahmu. Kamu bertanya, apa aku ini waras atau tidak. Iya, kan? Jawabannya sama saja. Aku bisa memusuhimu. Kamu juga bisa. Aku bisa bersahabat denganmu. Kamu tak bisa. Tapi itu biasa. Karena kamu butuh kekuatan untuk membuka nadi planangan yang tertutup, yang terbuntu, dan aku bisa mencoba, ada baiknya kita lakukan. Itulah inti katresnan. Putri Pulangsih tresna kepada Eyang Sepuh. Ia melakukan apa saja, yang bisa dinilai sebagai waras atau tidak. Masuk nalar atau sebaliknya. Itulah sebabnya ombak selalu berdebur di pantai. Kadang membawa ikan, melontarkan. Salahkah ombak, dan mendosai ikan? Itulah sebabnya ombak kembali ke tengah laut. Kadang membawa manusia, menyeret. Salahkah ombak, dan mencelakai manusia? Berbaringlah, Halayudha. Aku ingin tahu seberapa jauh kamu bisa melipatgandakan tenaga dalammu.”

Halayudha berbaring. Tubuhnya hanya ditutupi kain berwarna putih. Di ranjang yang dilapisi kain sutra, yang kiri-kanannya berjuntai kain sutra berwarna. Berbaring dengan telapak kaki menghadap Dewa Maut. Dewa Maut mendekat. Memegang tungkai dengan tangan kiri. Ujung jari tangan kanannya menyodok ke tengah.

“Hmmmmm…” Halayudha berkeringat.

“Tubuhmu sempurna, Halayudha. Anggota badanmu baik. Tenaga dalam, isi perutmu, bagus sekali. Kemampuanmu menahan penderitaan lebih dari siapa pun yang pernah kujajal. Itu bagus.”

Telunjuk Dewa Maut menusuk sedikit di bawah mata kaki. Halayudha mengeluarkan pekikan keras.

“Ini buntu. Nadi planangan kamu tidak membuka. Kekuatan kejantanan kamu membeku, buntu.”

Ketika Dewa Maut menusuk kembali, Halayudha mengertakkan giginya. Kedua tangannya yang memegang tepi ranjang mencengkeram keras. Kayu yang perkasa dan kuat itu somplak. Kain sutra yang menutupi hancur!

“Akan kucoba membuka.”

Kali ini Dewa Maut menggunakan dua jarinya. Menusuk. Tidak segera ditarik, melainkan ditekankan lebih dalam. Tenaganya dikerahkan hingga keringatnya berbintik di dahi.

Halayudha merasakan rasa sakit yang luar biasa. Daya tahannya yang baru saja dipuji Dewa Maut seakan rontok. Tubuhnya menggelinjang, berputar. Kepalan tangannya yang dipukulkan ke ranjang membuat ranjang itu somplak. Kayu yang menjadi tiang penyangga sebesar kaki pecah. Ranjang itu amblas ke bawah. Kepala Halayudha menghantam lantai. Tapi tekanan jari Dewa Maut bergeming.

“Wuaduh!”

Teriakan Halayudha demikian keras dan menyayat, sehingga beberapa prajurit jaga berseru dan meloncat masuk. Bersiaga. Halayudha berusaha duduk sambil menggeleng. Tangannya memberi tanda agar para prajurit segera keluar lagi. Tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat.

“Lega?” Napas Halayudha berangsur-angsur normal kembali. Tangannya masih gemetar.

“Mati rasanya.”

“Guratan di tangan adalah nasib, kodrat. Guratan di telapak kaki adalah pusat berkumpulnya semua nadi yang menghubungkan anggota tubuh. Tapi aku tak cukup kuat menekan. Kalau kamu bisa melatih sendiri, pasti bisa.”

“Dewa Maut, rasanya saya tidak tahan.”

“Aku bisa mengurangi rasa sakitmu, tapi jatuhnya aku yang terkena. Kita coba.” Dewa Maut kembali menusuk dengan jarinya. Menusuk dalam. Menekan. Memutar.

Halayudha kembali merasakan kenyerian yang mencabiki seluruh nadi tubuhnya. Memang tidak semenderita seperti pertama tadi. Akan tetapi baru berlangsung beberapa kejap, Dewa Maut mengeluarkan suara keras. Tubuhnya melengkung! Tak bergerak lagi. Halayudha benar-benar tak mengerti. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Tangannya gemetar, mengangkat tubuh Dewa Maut. Mengangkat dengan rasa hormat, membaringkan di ranjang kain sutra. Wajah Dewa Maut seperti tertidur. Tenteram. Bahagia. Menyunggingkan senyum.

“Dewa Maut…”

Halayudha menunduk. Seolah tak percaya getar tangannya yang didekatkan ke hidung Dewa Maut. Seolah ingin meyakinkan bahwa kalau didengarkan, dengus napas itu masih ada.

Kedamaian Abadi
WAJAH Dewa Maut tak berubah sedikit pun. Tetap tenang. Tak ada beban sedikit pun. Rambutnya putih bagai kapas. Beriapan di sekitar tubuhnya yang tampak kurus kering. Semakin pucat dengan kain putih yang melilit tubuh. Keringat di dahi Dewa Maut terasa dingin ketika Halayudha mengusap hormat.

“Dewa Maut…”

Bisikan tanpa gema. Tanpa rasa. Tanpa jawaban. Perlahan Halayudha merangkapkan tangan Dewa Maut di depan dada. Tangan yang lemas. Tubuh yang lemas, walau tak bisa bergerak lagi. Perlahan Halayudha berjongkok. Bersujud. Wajahnya menekur ke bawah. Rambutnya yang digelung rapi tergerai.

“Dewa….”

Rintihan suara Halayudha lebih mengesankan sebagai pertanyaan kepada Dewa Yang Maha dewa dibandingkan menyebutkan nama. Halayudha berlutut. Tenggelam ke dalam gemuruh tubuh dan batinnya. Sungguh pengalaman yang maha luar biasa. Belum pernah Halayudha tergetar seperti sekarang ini. Belum pernah kesadarannya terguncang hingga ke dasar-dasarnya. Dewa Maut.

Dewa Maut mengempaskan perasaan Halayudha pada suatu tempat yang belum pernah dialami seumur hidupnya. Ia tak mengenal orangtuanya secara sadar. Hanya masih diingatnya ketika ia diambil seorang lelaki, yang kemudian mendidiknya, mengajari ilmu silat, dan menindasnya dengan sangat kejam. Seorang guru yang sangat dihormati, tetapi sekaligus juga sangat dibenci, sehingga ia menjuluki Kiai Gajah Mahakrura.

Ada pertalian naluri, emosi yang tersambung antara dirinya dan gurunya. Akan tetapi semua itu tak membuat Halayudha mempunyai perasaan tertentu ketika harus berpisah. Bahkan sebelumnya ia berani memainkan ilmu andalan gurunya dengan menyabet bambu kurus untuk mengiris tubuh dengan sabetan melintang samping. Untuk mengarahkan dendam semua ksatria kepada gurunya.

Ia setengah mengenal kakak seperguruannya, Ugrawe, yang gagah perkasa dan malang-melintang di dunia persilatan. Akan tetapi juga tak meninggalkan kesan apa-apa. Baik kekejaman mencoba membunuh guru, atau sifat lain. Halayudha tidak menjadi dendam, juga tidak merasa berutang budi. Biasa-biasa saja. Datar.

Tokoh lain yang sempat mengguncang jiwanya adalah Dewi Renuka. Satu-satunya wanita yang pernah diajak main daya asmara. Melampiaskan daya berahi. Akan tetapi ketika kemudian berpisah, Halayudha tak merasa kehilangan, tak berusaha mencari. Meskipun juga tak sepenuhnya menghindar. Perasaannya tetap datar. Kalaupun ada gugatan keras, itu seperti letupan gemuruh yang tak mempunyai pijakan jelas.

Tapi sekarang ini lain. Mayat Dewa Maut, tokoh tua yang tak mempunyai tenaga dalam seperti biasanya para jago silat ini, justru mampu membuatnya tepekur. Dewa Maut. Dewa Maut. Nama yang memberi makna begitu banyak. Membuka cakrawala batinnya yang selama ini tertutup rapat. Ia menghubungi Dewa Maut karena ingin melaksanakan niatnya mencegah pengobatan atas diri Praba Raga Karana. Lalu terjadilah pembicaraan yang lebih akrab, ketika Dewa Maut mencoba menjajal ilmu Ngrogoh Sukma Sejati. Yang mampu menyelam kepada pribadi orang lain.

Setelah itu disambung dengan pembicaraan mengenai berahi. Disusul dengan usaha mencoba mengalihkan tenaga planangan. Halayudha masih tak sadar bahwa ketika mencoba memulihkan tenaga dalamnya yang tersumbat, Dewa Maut kemudian memakai tubuhnya sendiri sebagai korban. Luar biasa. Tanpa kata-kata penjelasan. Selain sekilas mengenai katresnan. Seperti bicara sambil lalu. Akan tetapi itu berarti segalanya bagi Dewa Maut. Napas Halayudha masih terengah-engah. Gerah. Gelisah.

Secara nalar, Halayudha bisa menerangkan, bahwa Dewa Maut berusaha mengubah tenaga dalam yang selama ini terbuntu. Dengan membaca nadi telapak kaki, Dewa Maut menusuk. Ternyata kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Halayudha. Kemudian menyarankan Halayudha berlatih sendiri. Perubahan yang kemudian adalah karena Halayudha merasa tidak kuat menahan sakit, Dewa Maut mengalihkan rasa sakit itu ke dalam tubuhnya sendiri. Ilmu seperti itu bukan tak dimengerti.

Dalam pengaturan tenaga dalam, orang bisa memakai tenaga dalamnya sendiri untuk membantu orang lain. Juga untuk menahan penderitaan. Halayudha mengenal dengan baik, karena salah satu inti ajaran Banjir Bandang Segara Asat tak jauh berbeda. Akan tetapi karena tenaga Dewa Maut tidak kuat menahan beban, ajalnya datang. Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut melakukan hal itu?

Mustahil Dewa Maut tak mengetahui kemungkinan datangnya maut. Dengan pengetahuan dan pengalamannya yang luas, Dewa Maut bisa membaca dengan baik. Bisa menghindar kalau mau. Sekurangnya tidak mengorbankan diri seperti yang dilakukan. Karena sudah menyarankan kepada Halayudha untuk menjajal sendiri. Pertanyaan Halayudha adalah: Kenapa Dewa Maut tetap melakukan hal ini?

Pengorbanan sebagai ksatria? Rada mustahil, mengingat Dewa Maut dalam kesetengahwarasannya mengetahui Halayudha bukan ksatria. Dewa Maut sudah mengatakan bahwa Halayudha culas, jahat, dan licik. Kenapa Dewa Maut harus melakukan pengorbanan ini? Inilah yang membuat Halayudha tepekur. Pendekatan apa pun tak membuatnya lega dan terjawab. Bukan kawan, bahkan musuh. Bahwa Dewa Maut mau menunjukkan cara-cara untuk memperkuat tenaga dalam saja sudah luar biasa. Apalagi dengan mengorbankan diri.

Untuk pertama kalinya getaran itu menggema lama dalam sanubari Halayudha. Entah kenapa, ia tak bisa sekadar menganggapnya sebagai ketololan, kedunguan sikap yang dipilih Dewa Maut. Entah kenapa, ia tak bisa bersorak gembira saat itu, seperti sebelumnya. Tubuh yang lemas, damai, tenteram. Wajah yang meninggalkan senyuman. Seolah Dewa Maut rela, ikhlas, sadar sepenuhnya apa yang dilakukan.

“Dewa Yang Maha dewa. Aku, Halayudha, tak pernah meminta padamu. Sekali ini, aku menyembah dan merendah padamu, untuk memberi kehidupan yang abadi bagi Dewa Maut. Aku tahu, tanpa permintaanku ini, Dewa Yang Maha dewa lebih tahu. Terima kasih, Dewa Maut.”

Halayudha mengusap wajahnya. Baru kemudian berdiri perlahan. Melangkah satu-satu, ke arah pintu. Melaluinya, melangkah ke luar tanpa menutup kembali. Kebimbangan sesaat yang membuat perasaan aneh dalam dirinya. Sesaat. Karena pada tarikan napas berikutnya, Halayudha sudah berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan dalam langkahnya.

Dengan meninggalnya Dewa Maut, besar kemungkinannya Raja menaruh curiga. Atau paling kurang menilai dirinya tidak bisa memenuhi tanggung jawab yang dibebankan. Berarti soal Praba Raga Karana tetap akan mengganjal. Segera setelah upacara pernikahan dengan dua putri Permaisuri Rajapatni pertanyaan itu akan datang. Itu yang pertama.

Akibat kedua yang bisa datang di kemudian hari sudah terbayang. Para ksatria, terutama yang berasal dari Perguruan Awan, akan muncul menuntut balas. Itu akan merepotkan. Halayudha terus melangkah. Mengikuti tembok bagian dalam dalem kepatihan. Beberapa kali tangannya mengelap tembok yang kukuh berdiri, yang selalu terjaga bersih. Dadanya mengembang-mengempis. Rambutnya tetap terurai. Menggelombang hingga ke pinggang ketika Halayudha mendongak ke arah langit.

Dikesampingkannya wajah Dewa Maut yang senyumannya membuatnya tergetar. Di langit seperti ditemukan jawaban. Kalau ia bisa menyembunyikan mayat Dewa Maut, pastilah tak banyak menimbulkan persoalan. Tak ada yang mengetahui kematian Dewa Maut. Dan tak akan ada yang percaya apa yang sesungguhnya terjadi.

Petirahan Pungkasan
HALAYUDHA merasakan perubahan dalam dirinya. Langkahnya terasa sangat ringan. Telapak kakinya bahkan seakan tak menyentuh tanah ketika digerakkan lebih cepat dari biasanya. Dadanya terasa segar, rongganya seolah menjadi berkembang. Perutnya menyisakan rasa hangat. Halayudha tak berani mengatakan pada dirinya, bahwa ini perubahan yang nyata dari usaha yang dilakukan Dewa Maut. Kini ada perubahan aliran kekuatan yang tadinya membuntu. Halayudha tak ingin berkesimpulan secepat itu.

Akan tetapi sesungguhnya, itulah yang dirasakan. Kesegaran dari ujung rambut hingga ulu hati. Perubahan lain yang disadari adalah kini ada yang menahan keinginannya untuk menguburkan Dewa Maut di tempat dulu Upasara, seorang seperti Upasara, dikuburkan. Bagian belakang kaputren itu tak akan menimbulkan kecurigaan siapa pun. Apalagi memang merupakan bekas kuburan. Persembunyian yang paling aman. Siapa yang akan menduga bahwa di bekas kuburan akan dimakamkan tubuh lain?

Hanya saja kali ini Halayudha tidak rela. Hati kecilnya ingin memberi penghormatan kepada Dewa Maut. Sesuatu yang tak pernah menyentuh dan berbunyi dalam jiwanya. Kali ini Halayudha ingin memberi petirahan, peristirahatan, terakhir yang layak. Tak ada yang lebih tepat selain gua bawah Keraton. Tempat Dewa Maut menghabiskan waktu terakhir dan memperoleh pencerahan. Halayudha melakukan sendiri.

Berjalan mengikuti jejak yang kira-kira ditempatkan Dewa Maut semasa masih hidup. Melalui lorong-lorong sempit, baik yang muncul di parit depan kaputren, ataupun di dekat perpustakaan. Halayudha mengikuti perjalanan Dewa Maut. Merasakan apa yang kira-kira dirasakan Dewa Maut. Di perpustakaan Raja, Halayudha merenung lama. Di sini Dewa Maut leluasa membaca kitab apa saja. Mempelajari dengan tenang, membaca menekuni, menghayati, dan kemudian mengembalikan kitab ke tempat asalnya. Tanpa niatan mencuri, tanpa keinginan memiliki. Membaca, mengembalikan. Lalu kembali ke dalam terowongan kecil yang sangat pas untuk satu tubuh dengan memiringkan tubuh, menekuk pada beberapa lekukan. Sampai di bawah tanah.

Melihat pohon mangga, pohon sawo, bunga-bunga yang ditanam, yang disemai dengan kasih sayang. Pohon yang bisa bercerita banyak, seperti juga ikan-ikan, kepiting di mata air yang mengalir di dasar. Kehidupan alam. Ketenteraman yang tidak mengganggu dan menyalahi siapa saja. Apa saja.

Betapa Dewa Maut melewati hari-hari dengan bahagia. Menanam buah-buahan, menunggu sampai berbuah. Menikmati sebagaimana kebutuhannya. Bukan hanya pohonan yang berguna seketika, tetapi sekaligus jenis rumput dan tanaman lain dirawat dengan ketekunan yang sama.

Bahkan ikan-ikan itu tidak berlarian ketika Halayudha mencemplungkan kakinya ke dalam air. Tangannya bisa menyentuh, menangkap tanpa menimbulkan kecipak air berlebihan. Di sinilah Dewa Maut menemukan dirinya. Menemukan penyatuan dengan alam. Bisa mendengar dan berbicara dengan lebah, tikus, ikan, air, daun, dan akar. Dengan alam.

Titik letikan yang dipakai menjadi sikap hidup Dewa Maut. Dengan ketenangan alami, hati Dewa Maut terbuka. Sehingga kitab-kitab yang dipelajari, kenyataan akan kehidupan, bisa diserap. Bukan diserap, melainkan menyerap dengan sendirinya. Menyatu. Dewa Maut adalah bagian alam. Barangkali, pikir Halayudha dalam hati, inilah yang mendasari sikap Dewa Maut. Menemukan inti katresnan. Dirinya menjadi bagian buah mangga atau sawo. Yang bisa dipetik siapa saja. Yang tidak memperhitungkan untung-rugi siapa yang akan menelan. Seperti air. Seperti angin.

Dengan kerelaan seperti ini, bisa dimengerti kalau Dewa Maut sebenarnya telah menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Bisa melepaskan dirinya, bisa ngrogoh sukma sejati. Halayudha menemukan perjalanan masa lalu Dewa Maut. Ia, kalau mau, bukan tidak mungkin akan menemukan pencerahan yang sama. Akan tetapi Halayudha merasa dirinya tak bisa melakukan hal yang sama. Ada tarikan lain yang masih memesona.

Kekuatan, kekuasaan, pertarungan, kemenangan. Ia tak bisa membebaskan diri dari itu. Bahkan secara sadar terjun ke dalam pertarungan itu. Yang berbeda hanyalah bahwa ia bisa mengagumi jalan hidup yang ditempuh Dewa Maut. Mengagumi, menghormati, dan menyebabkan kepalanya menunduk. Itulah sebabnya Halayudha sendiri yang membopong mayat Dewa Maut, dan membawa ke gua bawah tanah. Menggali sendiri tanah sekitarnya hingga dalam. Dan mengubur dengan penuh hormat.

“Dewa Maut, aku belum pernah melakukan hal seperti ini dalam hidupku. Mungkin juga tak akan pernah. Aku sendiri tak tahu, apakah tubuhku besok ada yang mengubur atau dimakan burung. Mudah-mudahan ini menenteramkanmu. Beristirahatlah dengan segala kedamaian yang kamu ajarkan.”

Halayudha menimbuni tanah dengan tangannya sendiri. Hati-hati dan perlahan. Lalu meratakan. Mencuci tangannya di air. Mengaca ke air. Wajah yang tak pernah dilihat selama ini. Karena ia jarang atau bahkan tak pernah berkaca. Tak pernah mempunyai waktu untuk mengamati dirinya sendiri. Kini bisa melihat. Wajah yang mulai kisut, guratan-guratan tajam di sekitar hidung, di ujung mata. Kulit kering yang membalut, rambut yang kusut dan susah diluruskan dengan jari. Halayudha menyeringai. Bayangan di air itu seperti menakutkan bagi ikan-ikan yang serentak berlarian.

“Bayangan wajahku saja begitu menakutkan. Sungguh berbeda dengan Dewa Maut. Mungkin pohon sawo itu akan menjauhkan tangkai buahnya jika kudekati. Tak apa. Alam ini, yang seperti ini, memang bukan buat diriku. Buat Dewa Maut.”

Halayudha mengikuti perjalanan dalam gua. Melalui semua lorong hingga bermuara ke tempat yang lapang, dipayungi langit. Mulut gua yang menganga ke atas. Puluhan kali Halayudha keluar-masuk gua bawah tanah. Untuk mengubur lawan-lawannya, untuk menawan lawan-lawannya. Baru sekarang ini masuk ke dalam, memperhatikan keadaan sekitar untuk menghormati Dewa Maut.

“Dewa Maut. Biarlah tempat ini tetap seperti yang kamu inginkan. Inilah Perguruan Awan yang sesungguhnya. Aku akan menjaganya.”

Halayudha berdoa. Setelah mengusap wajahnya, ia bergegas kembali. Melalui lorong-lorong yang panjang dan menikung di sana-sini. Sejenak timbul kecemasan dirinya tak akan bisa keluar lagi! Inilah gila kalau terjadi. Bukan sekali-dua Halayudha menyelusup masuk, dan memerintahkan semua jalan keluar ditutup. Kalau sekarang dirinya terkubur hidup-hidup, Halayudha tak sanggup menertawakan dirinya sendiri. Tapi tidak.

Halayudha bisa keluar. Dan kemudian memerintahkan para prajurit untuk menutup semua jalan. Dengan timbunan batu besar, dan batu bata yang direkatkan dengan adonan putih telur. Di atasnya ditimbuni tanah lagi hingga membukit. Tak cukup dengan itu, Halayudha memerintahkan agar tempat itu ditanami dengan pohon yang nantinya tumbuh tinggi. Sekarang semua jalan memang tertutup kuat. Tak ada kemungkinan lagi untuk menerobos ke dalam.

Bahkan kemudian seratus prajurit ditugaskan untuk menutup bagian yang berada jauh di luar Keraton. Yang menganga bagai sumur. Dengan jalan membuat papan-papan serta kayu yang kemudian ditimbun dengan tanah. Halayudha tak mau tahu berapa tenaga yang harus dikerahkan dan berapa biaya yang dikeluarkan.

Pada awalnya Halayudha bahkan mengawasi sendiri dan memberikan petunjuk secara langsung. Ada perasaan lega dalam hati Halayudha. Ada semacam kebahagiaan yang segar, yang menenteramkan. Seperti melakukan suatu bakti, penghormatan tulus kepada Dewa Maut. Sebagai balas jasanya. Kelegaan yang kemudian membawa banyak arti dalam kemajuan melatih diri. Inilah loncatan yang membuat Halayudha sedikit heran.

Kekuatan Mahidhara Mageng
HALAYUDHA sedikit heran, karena ternyata hasilnya di luar perkiraannya! Sewaktu Dewa Maut membuka nadi planangan yang buntu, Halayudha segera merasakan kesegaran yang berbeda dari sebelumnya. Langkahnya menjadi lebih ringan, dadanya seolah berkembang, dan tenaganya bisa lancar mengalir. Apalagi setelah melatih sendiri.

Halayudha memusatkan perhatiannya, dan menusuk tepat seperti yang dilakukan Dewa Maut. Semakin rasa nyeri menyerang, semakin nekat jarinya menekan dengan kekuatan penuh. Semakin menggelinjang tubuhnya, semakin tak mau melepaskan. Hasilnya selalu membuat tubuhnya basah kuyup oleh cairan tubuhnya yang bagai disuntakkan. Semua urat tubuhnya menegang. Akan tetapi setelah itu, terasa lebih segar.

Benar juga. Sewaktu berlatih ilmu silat, Halayudha menyadari bahwa tenaga dalamnya menjadi lebih kuat. Tiang utama di pendopo kadipaten yang tak cukup dipeluk dua orang bisa diguncang! Satu pukulan keras membuat tiang itu tergetar. Kayu-kayu yang melintang di atasnya bergeser. Ketika pukulan diarahkan ke atas, atap kayu sirap dan ijuk yang terikat tebal itu jebol. Menganga. Halayudha bersorak dalam hati.

Makin memperoleh kemajuan, makin garang Halayudha melatih diri. Dan makin cepat kemajuan yang dirasakan. Kini bahkan tembok Keraton bisa diloncati empat kali bolak-balik tanpa menyentuh tanah. Tanpa mencari pijakan! Tenaga dalam tubuhnya bisa mengalir begitu saja, dan dengan sangat leluasa bisa diubah. Seakan tak ada hambatan. Inilah yang membuat Halayudha sedikit heran.

Tubuhnya seakan berisi tenaga dalam yang baru, yang tidak mengalami pergolakan dahsyat untuk bisa menyatu dengan alam pikirannya. Seakan ada magma, ada kekuatan besar yang selama ini tersimpan, menemukan jalan keluar. Pengerahan tenaga bisa menerobos seluruh nadi tubuhnya.

Dewa Maut memang luar biasa. Dengan jitu Dewa Maut melihat pengerahan kekuatan tenaga planangan yang ada pada Barisan Api. Meskipun Barisan Api hanya muncul selintas dan berhasil dipatahkan seketika oleh Upasara Wulung, akan tetapi bagi para jago silat mencerminkan banyak hal yang tidak diketahui. Tetapi Dewa Maut bisa melihat. Mengetahui sumber kekuatan.

Upasara boleh berbangga hati bisa mengalahkan, akan tetapi belum tentu bisa melihat sumber kekuatannya yang bisa berlipat. Dewa Maut menemukan kunci pengerahan kekuatan itu berasal dari nadi planangan, nadi kejantanan. Yang diubah menjadi tenaga. Hal itu yang kini terjadi dengan dirinya sendiri. Kondisi tubuhnya sudah terbentuk sebagaimana persyaratan yang ada. Hanya saja, dulu Halayudha tidak pernah menyadari. Itu yang membuat perbedaan menjadi sangat tajam.

Sekarang kekuatan yang selama ini terpendam bisa dicairkan, bisa dipergunakan. Seolah magma mahidhara, magma gunung yang mageng, yang besar dan terpendam, bisa tersalur sempurna seperti bisa diatur. Tidak berledakan dan menghancurkan. Melainkan bisa diarahkan. Kalau sebelumnya hanya empat batang tombak yang bisa dipatahkan sekaligus, kini Halayudha mampu menekuk patah delapan tombak sekaligus. Bahkan bisa lebih andai genggamannya cukup.

Tanpa disadari, Halayudha menemukan kunci pembuka kekuatan yang sejati. Adalah suatu kebetulan bahwa Dewa Maut pernah hidup tanpa bersinggungan dengan kaum wanita, sehingga mengetahui kekuatan yang tersimpan itu. Halayudha bisa memainkan sesuai keinginannya. Dengan satu tudingan jari, tenaga dalamnya bisa menusuk cepat. Sehingga prajurit jaga di atas benteng bisa terkena. Menjerit keras dan terbanting ke bawah. Tanpa sempat tahu apa penyebabnya.

JILID 45BUKU PERTAMAJILID 47