Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 37

“Rasanya,” Dewa Maut menjawab lirih, “rasanya kamu ini masih Dewa Maut. Yang mencari. Yang sedang melakukan laku. Mencari apakah dirimu itu Dewa. Ternyata bukan. Apakah pohon atau air. Ternyata bukan. Apakah ksatria? Ada benarnya, ada bukannya. Apakah kamu ini pendeta? Apakah kamu wanita? Apakah kamu pria? Apakah kamu raja? Dan akhirnya, kamu menangkap sisik terang. Kamu adalah manusia. Mahamanusia. Itulah jawabannya. Sehingga ketika aku kecemplung di sini, kamu mau mengajak bicara. Mau berusaha sebagai manusia. Dan tidak mendiamkan saja seperti ketika belum menemukan jawaban.”

“Kenapa aku tak mau meninggalkan tempat ini?”

“Omong kosong. Sekarang ini kamu bisa ke mana saja. Arena semuanya adalah bumi. Mahamanusia bisa di bumi mana pun. Bahkan tanpa bumi pun mahamanusia masih bisa ada. Kamu bukan manusia biasa, Dewa Maut.”

Percakapan yang tidak keruan arahnya, perlahan memberi petunjuk dalam batin Upasara. Dengan menjadikan dirinya sebagai Dewa Maut dan Upasara Wulung, pencarian itu lebih cepat. Itulah yang dirasakan oleh Upasara. Itulah yang dicoba kembali oleh Upasara untuk mencari kekuatannya, tenaga dalamnya, melatih ilmunya. Dewa Maut yang mendampingi, sesekali berceloteh mengenai lirik-lirik dari Kitab Bumi, dari Kidungan Pamungkas, maupun Kidungan Paminggir.

Upasara Wulung boleh dikatakan menguasai seluruh tarikan napas dalam Kitab Bumi. Sehingga dengan cepat bisa mengetahui mana bagian yang disebutkan dalam Kitab Bumi yang kadang tercampur, atau sengaja digandengkan dengan lirik yang ada dalam kedua kitab yang lain. Akan tetapi pada kesempatan berikutnya, perlahan-lahan bagian kitab yang satu bercampur dengan bagian kitab yang lain. Dengan demikian Upasara malah lega. Merasa bisa hanyut, bisa terseret, dan bisa berhubungan lebih akrab dengan Dewa Maut. Keduanya bukan hanya sering berganti peran, akan tetapi juga memerankan tokoh lain.

Bagi Upasara, pendekatan seperti ini sesuatu yang baru baginya. Selama ini boleh dikatakan Upasara tak pernah membayangkan dirinya orang lain. Atau bahkan mencoba mengikuti jalan pikiran seperti yang dilakukan Dewa Maut. Makanya ia tertarik sekali. Apalagi setelah bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, Dewa Maut bisa dalam sekejap berubah menjadi tokoh lain.

“Saya Upasara Wulung, ingin bertanya padamu, Permaisuri Rajapatni.”

“Tentang apa?” jawab Dewa Maut cepat sekali. “Siapa yang Permaisuri…”

“Kamu biasa memanggil Yayimas?”

“Siapa yang Yayimas korbankan?”

“Kakangmas sendiri sudah tahu. Untuk apa saya katakan? Kakangmas lupa, bahwa saya melakukan hal itu karena ia pun menghendaki hal itu. Sebagai sarana, sebagai upaya, dan juga kodrat yang digariskan padanya. Saya tak akan mungkin melakukan itu tanpa kesediaan dan permintaan darinya.”

“Apa yang Yayi lakukan?”

“Seperti yang dikatakan. Menebas tangan, kaki, kepala, lalu membungkusnya dengan kain putih, dan memperlihatkan kepada siapa yang ingin melihat sebelum akhirnya dikubur. Dan melarikan Kakangmas ke gua bawah tanah.”

“Siapa yang menjadi korban?”

“Kakangmas sudah tahu tanpa saya menyebutkan nama.”

Upasara tercenung. “Kenapa ia melakukan itu?”

“Karena ia meminta itu. Karena tak ada harapan lagi baginya untuk hidup terus. Karena cara kematian dengan menggantikan Kakangmas merupakan jalan yang terbaik. Saya tak akan berani melakukan itu tanpa permintaannya. Tanpa kesediaannya. Tanpa kenekatannya untuk mencari pedang dan menebas lehernya. Kakangmas kira saya tega melihat itu semua?”

Dewa Maut menggigil. Seolah menyaksikan pemandangan yang mengerikan. “Cukup, Paman.”

Ngrogoh Sukma Sejati
DEWA MAUT menggeleng. Seketika ia kembali ke dirinya lagi.

“Maaf, Paman,” Upasara menyembah dengan hormat. “Maaf kalau saya terlalu memaksa Paman.”

“Tak apa. Kamu bisa membuat aku menjadi mahamanusia yang bisa lebih sempurna. Inilah bagian yang dinamakan ngelmu Ngrogoh Sukma Sejati. Banyak yang menafsirkan, banyak yang mempelajari. Banyak pula kemungkinannya.”

“Bagaimana Paman bisa melakukan?”

“Ini ngelmu, bukan ilmu. Ilmu bisa dipelajari, dilatih, dan dimatangkan. Ngelmu dilakukan dengan rasa”

Beberapa saat Upasara Wulung terdiam lama. Beberapa lama Upasara terdiam. Penjelasan yang sepotong-potong dari Dewa Maut membuka mata rantai batinnya. Menghadirkan kembali gambaran apa yang selama ini dikenalnya, diketahui, akan tetapi belum jelas. Sekarang, meskipun masih belum seluruhnya, menjadi lebih gamblang, lebih jelas mengarah ke terang benderang.

Rasa adalah laku, yang dalam Kitab Bumi berarti penyerahan, berarti kemauan yang ikhlas lahir-batin untuk menjadi korban. Untuk mengorbankan diri tanpa pamrih. Sedangkan pada ajaran mengenai mahamanusia, rasa yang menjadi laku itu adalah… menjadi mahamanusia. Menjadi mahamanusia adalah selalu sifat manusia. Bagaimana mahamanusia yang sejati, yang sesungguhnya, itulah sesungguhnya laku. Yang hanya bisa didekati dengan rasa.

Seperti juga bagaimana bisa memahami ajaran Ngrogoh Sukma Sejati, atau Merogoh Sukma Sejati. Sukma bisa berarti nyawa, bisa berarti hawa kehidupan. Sejati adalah inti yang sesungguh-sungguhnya. Berarti ajaran untuk merogoh sukma yang sejati. Melepaskan sukma dari tubuh. Melepaskan nyawa, bukan sesuatu yang luar biasa bagi Upasara Wulung yang mempelajari Kitab Bumi. Bahkan titik-titik ajaran Kitab Bumi sudah membersitkan ke arah tercapainya moksa, menghilang bersama sukma dan tubuhnya, seperti yang diperlihatkan oleh Eyang Sepuh.

Pada bentuk yang lain, hal itu membentuk dalam ilmu yang diperlihatkan Eyang Kebo Berune. Dalam penguasaan ilmu ini, Eyang Kebo Berune mencapai tingkat di mana tubuhnya, badannya, jasmaninya bisa terus-menerus bertahan. Seolah masih hidup, meskipun sebenarnya sudah “mati”. Sesuatu yang pernah disaksikan sendiri. Apalagi jika Upasara menyaksikan keseluruhan tubuh Eyang Kebo Berune yang kemudian hancur menjadi cairan busuk. Hal yang kurang-lebih sama juga bisa terjadi pada diri Eyang Putri Pulangsih.

Ada perbedaan dalam perkembangan penampilan, akan tetapi intinya sama. Walaupun berasal dari Kitab Bumi yang sama-sama menjadi sumber, penampilannya bisa berbeda. Bahkan dari jurus-jurus yang kemudian bisa dimainkan pun berbeda. Pada Ugrawe yang mewarisi langsung dari Eyang Dodot Bintulu, menjadi tenaga ganas Banjir Bandang Segara Asat. Memindahkan tenaga dalam ke dalam tenaga dalamnya sendiri. Dalam ajaran Kitab Air, itu berarti mengubah diri menjadi tenaga air, yang bisa berubah mengikuti bentuk lingkaran yang ada.

Intinya sama. Bagaimana memindahkan dirinya menjadi kekuatan lain, atau kekuatan lain menjadi dirinya. Seperti ketika Upasara Wulung mulai mengenal ilmu silat. Jurus-jurus yang dimainkan dinamai Banteng Ketaton. Itu hanya merupakan kembangan atau variasi gerak yang disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Jurus-jurus itu sengaja diciptakan oleh Ngabehi Pandu khusus untuknya. Akan tetapi inti kekuatannya adalah ajaran dalam Kitab Bumi juga.

Karena justru pada awalnya, tenaga yang diambil adalah tenaga bumi. Dengan membuka telapak tangan, membentuk lingkaran, tubuh berputar, untuk mengisap tenaga bumi. Sampai di sini, Upasara bisa memahami persamaan kitab-kitab yang menjadi kacau dalam hafalan dan pengertian Dewa Maut. Menjadi kacau akan tetapi sebenarnya tidak. Karena kitab-kitab itu merupakan kelanjutan dan perkembangan dari satu ke yang lainnya. Siapa pun penciptanya yang utama!

Tak jauh berbeda dari asal-muasal Kitab Bumi. Yang berasal dari ajaran pertama Paman Dodot Bintulu, sampai yang dibakukan Eyang Sepuh. Makin lama Upasara makin tenggelam dalam perjalanan lamunan yang bisa ditarik jauh ke depan maupun ke belakang.

“Memang begitu,” tutur Dewa Maut yang seakan bisa membaca tepat yang dipikirkan Upasara. “Lamunan itu bisa menjadi kasunyatan, menjadi kenyataan, kalau kamu sudah menjadi mahamanusia. Kenyataan bukan selalu berarti apa yang bisa dilihat, diraba, dikecap, melainkan apa saja yang bisa dialami. Merogoh nyawa sejati adalah memisahkan nyawa dari badan, tanpa harus melalui mati. Mati dalam pengertian umum, yang ditolak dalam ajaran mahamanusia. Padahal nyawa dan raga selalu satu. Itu kata kitab. Kitab lain bisa mengatakan tetap satu, tapi bisa sendiri-sendiri.”

Upasara melanjutkan lamunannya sendiri, karena jalan pikirannya kini tertuju kepada Eyang Puspamurti. Tokoh ganjil satu ini, sebenarnya melakukan hal yang sama. Mencoba menahan kematian. Dengan cara membuat dirinya selalu muda. Seolah usia tak bergerak dari semula. Ingatan itu bermuara kepada pertanyaan dalam hati Upasara yang dikatakan perlahan.

“Paman Dewa Maut, selama saya berada di luar, untuk pertama kalinya saya mendengar pengertian mahamanusia dari Eyang Puspamurti. Barangkali Eyang Puspamurti satu-satunya yang sejak awal mulai mempelajari.”

“Keliru kalau hanya itu.”

“Apakah kekeliruan itu yang membuat Eyang Puspamurti hanya memainkan satu jurus saja?”

“Tidak betul. Tapi bisa juga. Upasara, kamu lebih tahu karena kamu melihat.”

Upasara berusaha menjelaskan apa yang diketahui. Bahwa Eyang Puspamurti selalu memainkan satu jurus saja dan selalu mengulang dalam pertarungan yang dilakukan, dengan siapa saja.

“Rasanya Eyang Puspamurti mengetahui adanya Kitab Bumi, Paman.”

“Mengetahui saja tidak cukup.”

“Menguasai.”

"Tidak cukup.”

“Menelan. Memiliki.”

“Ya.”

“Menjadikan dirinya.”

“Mengubah ilmu menjadi ngelmu. Sehingga tak kelihatan lagi memainkannya, atau memilikinya.”

“Paman belum menjawab.”

“Tidak selalu harus ada jawaban.”

Kembali percakapan seperti tak menemukan ujung-pangkal. Tapi kembali lagi Upasara menemukan jawaban samar yang kembali akan berwujud sebagai pertanyaan. Jawaban yang juga sekaligus pertanyaan yang selalu terjelma dalam diri Dewa Maut. Dalam sikapnya sehari-hari, dalam omongannya yang melantur. Dalam tindak-tanduknya ketika menanam biji mangga, biji jambu, memakan buahnya, menggiring ikan di kubangan yang dibuatnya, berdiri tegak lurus menjadi pohon, menjadi rumput, berendam dan bercakap dengan penghuni air dalam bahasa yang tak dimengerti Upasara.

Kalau tadinya Upasara mengira Dewa Maut benar-benar kehilangan akal, sekarang muncul pengakuan baru. Dewa Maut tetap Dewa Maut yang kehilangan akal, yang seolah bertindak tidak waras. Akan tetapi ketidakwarasan kali ini mempunyai makna dalam pandangan Upasara. Menjadi ikan, pohon, udara adalah bagian dari laku yang dipilih secara total dalam diri Dewa Maut. Sedemikian menyatu pendekatan itu, sehingga sukma sejati bisa mengikuti apa yang diinginkan.

Yang sedikit menggembirakan hati Upasara ialah kenyataan bahwa pencapaian yang diperoleh Dewa Maut menemukan bentuknya yang padu sewaktu Upasara datang. Kalau selama ini seakan larut tidak keruan ujung-pangkalnya, sekarang lebih bisa diarahkan. Hanya arahan yang dipilih Dewa Maut adalah arahan yang tidak terarah.

Menyadari hal ini Upasara tidak memaksa Dewa Maut berlatih tenaga dalam, atau bermain silat. Upasara melakukan sendiri, sedangkan Dewa Maut memilih apa yang menjadi dorongan batinnya. Datang dan pergi. Bercerita sendiri. Mengidung. Masuk Keraton dan kembali lagi. Menyampaikan kabar yang didengar. Kalau maunya begitu.

Pada Awalnya Krenteg
KALAU saja seketika itu Dewa Maut bercerita, akan berbeda jalan hidup perjalanan Permaisuri Rajapatni. Akan tetapi, Dewa Maut tidak bercerita seketika. Beberapa saat kemudian, barulah Dewa Maut menuturkan bahwa sewaktu ia masuk ke Keraton, ia mendengar bahwa Permaisuri Rajapatni akan melihat kembali kuburan Upasara Wulung. Makanya ia menuliskan ucapan selamat datang, salam pambagya. Tulisan di pohon itu memang terbaca oleh Gendhuk Tri dan Ratu Ayu Bawah Langit, akan tetapi lebih banyak menyisakan pertanyaan tokoh mana dan apa maksudnya menuliskan di kulit pohon serta dedaunan.

“Paman membuat banyak orang bingung. Bagaimana mungkin Paman membiarkan Permaisuri, Gendhuk Tri, Ratu Ayu, Nyai Demang, atau yang lainnya membawa-bawa tulang-tulang saya, padahal Paman mengetahui sendiri saya masih hidup?”

“Dari mana kamu tahu mereka bingung?”

“Mereka berombongan datang untuk meyakinkan itu tulang saya.”

“Dari mana perasaan bingung?”

Upasara mengangguk lembut.

“Kenapa harus bingung? Mati atau tidak, itu tidak membuat bingung. Bingung atau tidak, itu tidak membuat mati. Kenapa kamu tidak ikut keluar gua?”

“Kalau saya tahu dicari, saya akan keluar.”

“Dari mana kamu tahu dicari kalau tidak keluar gua?”

Belum sempat Upasara membenarkan kalimat Dewa Maut, yang berkata sudah mengucapkan kalimat lain.

“Tanpa keluar gua, kamu bisa tahu. Itu yang dinamakan Ngrogoh Sukma Sejati. Biarkan sukma berjalan leluasa, tanpa terikat raga. Raga kita ini tidak mati ditinggalkan nyawa. Nyawa ini tetap ada, tanpa memakai raga. Pada awalnya adalah krenteg. Adalah niat. Adalah keinginan. Adalah ada. Adanya krenteg, atau karep, atau kehendak, karena diadakan. Kenapa kamu tidak mengadakan?”

“Paman, saya tidak mengetahui….”

“Kenapa kamu tidak mengetahui? Tahu itu ada.”

“Kalau Paman tahu, apa yang mereka lalukan?”

“Untuk apa?”

“Untuk mengetahui.”

“Kamu sendiri bisa. Sukma kita ini bisa melakukan segala apa dengan sendirinya. Kenapa meminta aku?”

Lagi-lagi sebelum Upasara mengangguk atau berkata Dewa Maut menyambung,

“Hidup itu adanya di kemauan. Krenteging urip, kemauan untuk hidup. Lalu kemauan untuk merasakan asmara, untuk kangen, untuk menang, untuk kalah, untuk melatih silat seperti kamu. Aku tak ingin bercerita saat itu. Titik.”

“Terima kasih, Paman.”

“Sejak kapan kamu memanggil Paman?” Ucapan Dewa Maut sangat keras, seolah baru pertama kali disebut dengan panggilan yang keliru. Bagaimana kamu memanggil dirimu sendiri, Paman?”

Upasara makin menyadari bahwa latihan pernapasan dengan konsentrasi seperti yang dilakukan Dewa Maut, tidak sepenuhnya dikuasai. Dewa Maut bukan hanya mampu memperlihatkan bagaimana mengatur sukmanya sehingga seakan mengetahui sesuatu di tempat yang berbeda jauh, akan tetapi juga terus menggelutinya. Sementara Upasara, setiap kali berusaha ke arah itu, masih terasa ada jarak. Sehingga seolah memandang atau membayangkan sesuatu. Dan bukannya larut seperti yang dilakukan Dewa Maut.

“Tidak apa. Sukmamu tak mau itu.”

Hanya kemudian sekali Dewa Maut kelihatan gemetar. Telapak tangannya berkeringat. “Kita segera pergi. Raja dalam bahaya.”

Itulah gugahan pertama Upasara meninggalkan gua bawah Keraton. Keduanya melalui lorong yang agaknya dibuat sendiri oleh Dewa Maut yang setiap kali keluar atau masuk gua barangkali membuat jalan baru. Sampai di luar, keduanya melayang bersama. Dalam pengertian sebenarnya. Karena keduanya seperti terbang. Dewa Maut berada di pundak Upasara sampai satu jarak tertentu, lalu disambung dengan Dewa Maut menyunggi Upasara, mendudukkan Upasara di pundaknya.

Yang luar biasa bagi Upasara ialah bahwa seolah keduanya mempunyai tenaga dalam dan tenaga meringankan tubuh yang seimbang. Padahal jelas sekali bahwa semua ini dilakukan dengan kekuatan Upasara. Akan tetapi ketika Dewa Maut menyunggi, yang terlihat adalah bahwa Upasara tengah beristirahat. Begitulah sesungguhnya yang terasakan oleh Upasara.

Kalau saja Upasara mengetahui bagaimana Gendhuk Tri memainkan tenaga dalam yang menggunakan sifat air ketika menarik tubuh Senopati Sina sementara tubuhnya sendiri melayang ke bawah, kesamaan itu makin jelas. Dengan cara ganti-berganti seperti yang dilakukan Dewa Maut dan Upasara Wulung, keduanya tak memerlukan istirahat yang sebenarnya. Itulah yang bisa membuat keduanya datang pada saat yang tepat. Bahwa kemudian Dewa Maut berlarian seperti anak-anak ketika menuju ke arah Gendhuk Tri, dan tak mau dipanggil Dewa Maut, itu seperti kembali ke asal-mula.

“Hati-hati…,” suara lirih Mpu Sina menyadarkan bahwa kini pasukan Jalu mulai membentuk barisan.

“Ya, perlu hati-hati sedikit,” kata Eyang Puspamurti. “Dengar baik-baik, Mada, apa yang kukatakan tadi. Barisan ini luar biasa. Tenaga yang terlihat seperti sepuluh ekor kuda. Yang tak terlihat barangkali lebih kuat lagi. Itu menarik, bagaimana mungkin bisa melatih otot keras begitu?”

Upasara menggeser ke kiri. Dengan cara begitu, ia menutup serangan yang tertuju ke arah Gendhuk Tri, Dewa Maut, maupun Mpu Sina. Hanya Halayudha yang masih menunggu, tanpa menggeser kakinya. Suara halus Mpu Sina maupun penjelasan Eyang Puspamurti sangat tepat sekali. Sebagai jago silat, Halayudha cukup bisa membaca kemampuan lawan. Bahwa mereka terkenal kuat tenaganya dan dasar permainan silatnya menggulat lawan, sudah lama didengar. Bahwa dengan begitu ada latihan tertentu, juga bukan hal baru. Yang menjadi sedikit tanda tanya ialah, seperti yang diutarakan Eyang Puspamurti: Bagaimana cara melatihnya?

Karena otot di seluruh tubuh barisan Jalu mendadak menegang dan mengeluarkan bunyi keras. Dengan gerakan serentak, barisan Jalu mengepung, menubruk, dan menggelut. Eyang Puspamurti mengeluarkan tawa serentak, tangannya terulur ke depan. Maju memapak. Demikian juga Halayudha yang memakai kedua tangan untuk menahan. Sementara Upasara hanya mengubah gerakan kakinya lebih ke kiri lagi. Kedua tangannya bergerak. Satu menolak ke depan, satu lagi berjaga melindungi Dewa Maut.

Hebat serangan Barisan Api ini. Dalam gebrakan pertama mampu membuat lawan terdesak. Halayudha mundur dua tindak, karena benturan pukulannya seakan membalik, sementara gelutan lawan sudah menyepit pinggangnya. Tawa Eyang Puspamurti lenyap dan diganti dengan kekaguman. Tanpa mundur atau maju, jurusnya diulangi lagi. Upasara menekuk tangannya. Sikunya berhasil menyodok ulu hati lawan. Keras. Sehingga salah satu Jalu tertahan. Akan tetapi karena kini hampir semua mengepung ke arahnya, mau tak mau menjadi repot juga.

“Hiak!” Aba-aba Jalugeni membuat barisan mengepung rapat. Merangsek maju. Tanpa memedulikan gerakan lawan. “Hiak!”

Bukan pertarungan yang memuaskan mata. Bukan pameran kelihaian dan keindahan jurus. Bagi yang menyaksikan di pinggir, kesangsian lama menyeruak kembali. Apa yang mereka saksikan tak berbeda dari sebelumnya. Kalau tadinya hanya barisan ular hijau, semut, dan kumbang yang terus merangsek maju, kini adalah barisan manusia. Yang dengan gerak kaku, keras, terus melabrak.

Mengetahui situasi kurang menguntungkan, Halayudha yang lebih dulu mundur. Bukan hanya karena lawan seperti terbuat dari batu dan besi, akan tetapi Halayudha ingin berada dalam ruang yang tidak memungkinkan untuk dikeroyok. Satu lawan satu masih memberinya napas. Eyang Puspamurti yang menghadapi tiga lawan, memutar tubuh mengulang jurusnya.

“Hiak!” Kali ini barisan makin merapat. Dan tak tertahan lagi. Satu kali kena bekuk, nasib yang sama dengan Gendhuk Tri atau Mpu Sina akan terjadi. Padahal jalan untuk mundur dan menghindar tertutup.

“Hiak! Hiak! Hiak!”

Bahkan kini Eyang Puspamurti mulai berkelit tanpa bisa berteriak memberitahu Mada. Tangan Gendhuk Tri terkepal keras ketika Dewa Maut menusuk telapak kakinya. Keras sekali.

“Mati aku.”

Dlamakan Menatap Bumi
KERAS tusukan Dewa Maut, keras juga teriakan Gendhuk Tri. Seumur-umur baru sekarang ini Gendhuk Tri berteriak kesakitan, baik di depan umum maupun kala sendiri. Penderitaan macam apa pun tak akan membuatnya mengeluarkan jeritan. Apalagi mengaduh. Lebih lagi mengeluarkan kata: “Mati aku!”

Selain sengatan rasa sakit yang memilukan, perasaan Gendhuk Tri terutama sekali juga karena tak menduga sama sekali. Selama ini Dewa Maut sangat baik kepadanya. Kelewat amat sangat berlebihan baiknya. Selembar rambut Gendhuk Tri rontok, bisa membuat Dewa Maut berjingkrakan. Segala apa permintaan Gendhuk Tri, atau yang dianggap permintaan, akan dituruti tanpa kecuali. Bahaya apa pun akan ditempuh, dengan cara berlebihan pula menempuhnya.

Maka cukup mengejutkan apa yang dilakukan kali ini. Sesaat tadi masih berteriak Toleee… Toleee dengan suara menyayat karena penuh perasaan. Kemudian mendekat dan menusuk telapak kaki. Meskipun selama ini Dewa Maut menganggap Gendhuk Tri sebagai kekasihnya yang utama, akan tetapi itu semua hanya terbatas dalam tingkah laku serta kata-kata. Dalam pengertian sebenarnya, Dewa Maut tak berani menyentuh kulit tubuh Gendhuk Tri.

Kekagetan Gendhuk Tri lebih tak terduga lagi, karena saat itu seluruh perhatiannya sedang tertuju kepada Upasara.

“Kalau sakit, itu sakti.”

Telunjuk jari Dewa Maut bergerak lagi. Menusuk ke arah telapak kaki bagian pinggir. Tubuh Gendhuk Tri menggeliat, perutnya tertarik ke atas, kejang. Seluruh tubuhnya kaku. Wajahnya pucat pasi. Tangannya mencari pegangan. Memegang tangan Jaghana. Seolah mencari kekuatan yang bisa menjadi pegangan dari rasa sakit yang tak tertahankan. Jeritannya berubah menjadi rintihan memelas. Air mata Gendhuk Tri membasahi wajahnya, bersamaan dengan keringat yang seolah dijebol paksa dari semua permukaan tubuhnya.

“Itu pasti teriakan wanita. Kamu sedang melahirkan, Tole?” Dewa Maut mengangguk-angguk. “Anakmu laki atau wanita?”

Saat itu kekuatan Gendhuk Tri lepas. Tubuhnya lemas. Tangannya yang basah seolah lepas dari pegangan tangan Jaghana. Akan tetapi Jaghana masih menggenggam. Dan aneh. Dari tangan Jaghana mengalir hawa hangat yang menenteramkan, yang membuat napasnya tidak memburu. Jaghana bukannya tidak mengetahui apa yang dilakukan Dewa Maut. Dengan menusuk telapak kaki, sebenarnya Dewa Maut sedang melakukan Tusuk Driji Dlamakan Bumi, atau Tusuk Jari Telapak Bumi. Yaitu yang dikenal sebagai cabang ilmu pengobatan pijat tubuh, yang tengah berkembang.

Tusukan jari ke dlamakan, yang pertama adalah untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang tidak berfungsi sebagaimana adanya. Ilmu pengobatan ini berkembang dari dasar bahwa dlamakan atau telapak kaki adalah bagian yang paling akrab berhubungan dengan bumi. Telapak kaki selalu menghadap ke bumi, selalu menyentuh, selalu bersinggungan. Dengan sendirinya, di situlah selalu kepekaan itu berawal. Anggapan yang sama dengan kenapa buah pepaya selalu lebih manis di bagian ujung yang menghadap ke arah bumi.

Pada telapak kaki itu terdapat berbagai susunan saraf rasa, yang menyalur ke arah semua bagian tubuh. Dari telapak kaki pula diketahui adanya sesuatu yang tidak beres. Dengan menyentuh sedikit saja akan terasakan rasa sakit yang luar biasa. Sebaliknya, jika tidak ada yang sakit tusukan itu tak lebih dari sentuhan jari biasa. Jaghana mengetahui dasar-dasarnya, akan tetapi memang tidak secara khusus mendalami.

Sebab syarat utama dalam mempelajari Tusuk Driji Dlamakan Bumi adalah sifat welas asih. Sifat untuk menolong sesama. Siapa saja yang mempelajari ilmu itu secara mendalam, harus bersedia menolong siapa pun yang menderita. Apalagi kalau orang itu datang dan minta pertolongan darinya. Tidak peduli siapa pun yang datang, lawan utamanya sekalipun. Syarat utama yang lain ialah, dasar ilmu pengobatan itu adalah rila legawa, atau ikhlas sepenuhnya. Tidak boleh meminta pemberian apa pun. Bahkan tidak boleh menerima pemberian yang berhubungan dengan perbuatannya.

Persyaratan itulah yang belum sepenuhnya bisa dijalani oleh Jaghana saat itu. Akan tetapi dasar-dasar yang dilakukan Dewa Maut bisa diketahui. Yang membuat Jaghana heran bukan bagaimana mungkin Dewa Maut mempelajari hal itu, melainkan tusukan sekali itu untuk mengetahui semuanya. Ini termasuk luar biasa. Karena secara sekaligus hampir semua saraf diperiksa. Padahal satu saraf yang berhubungan dengan hati, darah, kalau tubuh sedang kurang sehat, bisa menimbulkan rasa sakit.

Ini sekaligus. Bisa terbayangkan kalau Gendhuk Tri sampai mengejang dan kemudian seperti kehilangan tenaga. Kalimat Dewa Maut yang menyebut tentang “melahirkan”, menyadarkan Jaghana bahwa Dewa Maut memakai pengobatan menyeluruh. Tusukan utama menyeluruh tadi bukannya tanpa perhitungan. Dengan mengibaratkan melahirkan, Dewa Maut memang menyerang semua saraf yang biasanya bekerja lebih saat melahirkan. Itu sebabnya ketika Gendhuk Tri melemas, tangan Jaghana langsung menggenggam. Memberi kekuatan.

Hawa hangat itu pula yang membuat Gendhuk Tri merasa lega, dan dengan sedikit terhuyung ia bisa kembali berdiri. Kembali berdiri! Pada saat yang berlangsung sangat cepat itu, Dewa Maut kembali menghunjamkan dua telunjuknya ke arah dua tepalak kaki Jaghana. Yang membelalak sesaat, mengerang, dan tubuhnya bergerak tertarik ke atas. Bisa duduk.

Di kejauhan, Nyai Demang tak bisa menyaksikan secara jelas. Apalagi kondisi tubuhnya menurun. Namun ini semua tidak menghalangi rasa kagumnya kepada Dewa Maut. Bagi Nyai Demang, Dewa Maut bukan sekadar sesama ksatria, bukan hanya pernah bersama-sama menghabiskan waktu di Perguruan Awan, dan atau juga di gua bawah Keraton. Pada peristiwa yang terakhir inilah Nyai Demang menjadi jengah, malu, dan mengutuk dirinya sendiri.

Saat itu boleh dikatakan dirinya sudah habis, tak mempunyai tenaga dalam, dan susah menemukan kesadarannya kembali. Saat itulah Dewa Maut menunjukkan jalan keluar, membimbing dengan sentuhan tangan. Yang berkelanjutan. Peristiwa itu seperti terjadi dengan sendirinya. Terjadi dalam gelap. Saat itulah perasaan dan penilaian Nyai Demang berubah pada diri Dewa Maut. Tadinya perasaan itu disangka hanya muncul dalam lamunan. Hanya kemungkinan dari khayalnya yang mengembara.

Nyai Demang berusaha bertahan untuk tetap sadar. Akan tetapi perlahan-lahan rasa kantuk menguasai, menyeret, dan menenggelamkan. Tak jauh berbeda dari yang dialami dulu. Bedanya, sekarang Dewa Maut berada di atas perahu yang menjadi ajang pertarungan. Yang membuatnya limbung karena sabetan udara dari berbagai arah.

Untunglah Jaghana mengetahui keadaan Dewa Maut yang sesungguhnya. Walaupun muncul seperti dewa penolong, akan tetapi sebenarnya Dewa Maut tetap Dewa Maut yang kehilangan tenaga dalamnya. Sehingga sabetan angin dari jago silat bisa menyebabkan terhuyung-huyung. Gendhuk Tri juga bisa membaca situasi dengan sangat cepat. Begitu tubuhnya bisa berdiri, sudah langsung bersiaga.

“Dewa Maut, masih ada satu lagi. Mpu Sina.”

“Aku tahu, Tole. Tapi di mana jariku?”

Gendhuk Tri tak sempat tersenyum. Bahkan tarikan bibirnya belum membentuk karena Jaluagni sudah menyapu dengan guntingan kaki keras sekali. Jaghana bersiaga, dan mendadak tubuhnya menggulung di lantai. Menggelinding ke arah lawan. Satu gebrakan yang menerobos ke arah lawan. Kalau sebelumnya Barisan Jalu selalu merangsek maju dan menutup jalan, kini kena terobos. Bahwa dengan itu berarti Jaghana membahayakan dirinya sendiri, itu dengan sendirinya.

“Haik! Haik! Haik!”

“Haik apa? Itu bagus. Bukan haik. Mada, lihat dan dengar apa yang kukatakan sebelumnya….”

Eyang Puspamurti menepukkan kedua tangan. Tanpa ragu melangkah maju, memapak serangan Jaluagni dengan jurus yang sama. Belitan ke arah tubuhnya tak dipedulikan lagi.

“Haik!” Jaluagni justru melangkah mundur.

“Haik!” Sekarang Eyang Puspamurti yang berteriak. Maju.

Kobaran Api Mengganas
MAHAPATIH NAMBI, meskipun berada di luar medan pertarungan, mengikuti jalannya pertempuran dengan saksama. Kecemasan dan rasa tenang silih berganti, tanpa lena sedikit pun untuk mempersiapkan barisan yang bisa menyerbu sewaktu-waktu. Untuk membebaskan Raja dan para permaisuri. Akan tetapi yang disaksikan masih terus berubah.

Sesaat sebelumnya Barisan Api terlalu tangguh untuk dilawan para pendekar utama Keraton. Bahkan dibuat tak bergerak. Dalam titik berikutnya sewaktu Jaghana, Mpu Sina, dan Gendhuk Tri bisa terbebaskan, situasinya langsung berubah. Gelundungan tubuh Jaghana yang tidak memperhitungkan keselamatan dirinya berhasil memecah arah serangan. Kini mulai terlihat bahwa Barisan Api tersurut mundur.

Yang sedikit masih tersisa adalah kecemasan bahwa situasi masih bisa berubah lagi. Kalau diingat bahwa Barisan Api mempunyai senjata rahasia yang serba mencengangkan. Baik berupa barisan binatang berbisa maupun senjata lain. Hal kedua yang juga mencemaskan ialah bagaimana cara yang paling aman buat menyelamatkan Baginda yang entah berada di bagian mana. Sementara itu bahaya utama masih terlihat di depan mata. Kalau dua belas Barisan Api saja sudah sedemikian sulit, bagaimana menghadapi Pangeran Hiang dan Putri Koreyea?

Pertarungan perhitungan membuat Mahapatih Nambi serba kikuk. Memerintahkan menyerang, belum tentu menguntungkan. Menunggu, rasanya seperti berpangku tangan saja. Sebenarnya keraguan Mahapatih sedikit-banyak menguntungkan. Karena justru sesaat kemudian apa yang terlihat di perahu seperti terbalik. Kini justru Barisan Api yang merangsek maju. Bahkan terdengar teriakan keras. Bersamaan dengan itu tiga tubuh melayang ke dalam sungai. Mahapatih Nambi tak perlu memberi isyarat, karena prajurit yang berjaga selama ini segera menolong.

Yang terlempar pertama kali adalah Mpu Sina. Senopati tua yang gagah perkasa ini memang belum berada dalam kondisinya semula. Akan tetapi bahwa dalam sekejap bisa terlempar sambil memuntahkan darah, bisa sebagai bukti ganasnya pertarungan. Tubuh kedua adalah Gendhuk Tri yang seakan dibanting keras, bersamaan dengan Dewa Maut yang mengeluarkan seruan tak bisa diartikan.

Jaghana yang pertama menyadari kekuatan lawan berubah seketika. Sewaktu didesak mundur, barisan dengan teriakan haik memang menyudut. Apalagi ketika Eyang Puspamurti mendahului menyerang. Akan tetapi ternyata hanya dalam satu putaran, Barisan Api ini maju kembali. Lebih tegar, lebih gagah, dengan kekuatan berlipat ganda. Sehingga pukulan Eyang Puspamurti yang bisa membuat lawan surut, kini berbalik. Eyang Puspamurti-lah yang meloncat dua langkah. Mundur.

Seakan tak percaya apa yang terjadi. Benturan tenaganya membalik keras, menghantam dirinya. Bisa dimengerti kalau dalam kondisi yang masih sulit, Mpu Sina terlempar lebih dulu. Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri dan Dewa Maut. Barisan Api tidak berhenti di situ. Seakan ingin membuktikan tak ada yang hidup lagi setelah menginjak kapal. Dua Jalu melayang ke atas. Dan menakjubkan.

Kalau tadi hanya dikenal dengan tenaga kasat dan kuat, gerakan kaki yang menyapu keras, ternyata cara mereka mengentengkan tubuh tidak main-main. Bagai dilepas dari busur, dua Jalu terlempar ke atas. Meraup ke arah tubuh yang loyo di tengah udara. Upasara menggenjot kakinya. Tubuhnya melayang gesit di udara. Satu tangan terentang mendorong Mpu Sina, Gendhuk Tri, dan Dewa Maut, satu tangan lain menjajal tekanan yang datang.

Sesaat Upasara merasa dadanya ditekan lempengan besi dari dua sisi. Upasara mengurung dirinya dengan menarik tangannya ke dalam, dan sekali lagi sikunya terangkat ke depan. Salah satu Jalu mengerang hebat. Tubuhnya amblas ke sungai. Akan tetapi Jalu yang kedua berhasil menjotos pinggang Upasara, sehingga tanpa ampun lagi tubuhnya ikut terbenam. Eyang Puspamurti bahkan berteriak karena kagetnya. Jaghana yang cemas menjadi terpecah perhatiannya. Satu pukulan keras mengenai pundaknya. Tubuhnya yang bundar licin seakan kempes tanpa tenaga.

Kekagetan Eyang Puspamurti terutama karena Upasara berhasil dijotos oleh lawan. Kena telak bagian pinggang. Upasara sendiri sudah mengira pukulan Jalu kedua akan mengenai tubuhnya. Tak bisa lain, karena lebih baik menyelamatkan Gendhuk Tri serta Dewa Maut dan Mpu Sina. Daripada jatuh korban lebih banyak lagi. Satu sodokan sikunya yang keras merupakan bukti keunggulannya.

Akan tetapi Halayudha sendiri bisa menghitung. Jika satu mengenai satu tapi harus berkorban, jumlah lawan lebih besar. Dan yang mengherankan ialah kekuatan lawan bisa mendadak berlipat. Kalau tadinya sudah diperhitungkan sangat kuat, ternyata masih berlipat lagi. Inilah yang tak bisa dimengerti Halayudha.

Dalam beberapa jurus permulaan, Halayudha bisa memperkirakan kekuatan lawan. Seberapa jauh tenaga dalam dan jenis permainan silatnya. Caranya mengukur lawan tak terlalu meleset. Meskipun Barisan Api ini kuat menggeliat, sebenarnya gerakan mereka sangat kaku. Lebih banyak mengandalkan jotosan keras dan terus merangsek maju untuk bisa melibat habis.

Halayudha melihat celah-celah, bahwa jika dirinya cukup gesit dan memainkan ilmunya dengan baik, masih bisa balas menyerang atau sekurangnya bertahan. Satu-dua pukulan yang mengancam akan membuat mereka mundur sendiri. Ternyata dugaannya meleset. Sewaktu Barisan Api bisa digempur memang mundur. Tapi ketika maju kembali, tenaganya berlipat ganda. Seolah berubah sama sekali. Bahkan gerakannya lebih lincah, lebih memperlihatkan kembangan untuk menyerang kanan-kiri, atas-bawah, dan tidak hanya searah.

Ini yang tak bisa dimengerti. Meskipun Halayudha bukannya tidak mengetahui bahwa sejak mereka meneriakkan haik keras, Barisan Api ini saling mengadukan kepalan tangan, dan seketika maju dengan lebih yakin. Ilmu macam apa lagi? Bahwa mereka mempergunakan cara merambatkan tenaga dalam seperti merambatnya api, bisa diperhitungkan. Baik dari penamaan, maupun gerakan yang diperlihatkan. Dan sebagaimana api, yang padam akan menyala kembali begitu bersinggungan dengan api yang menyala. Yang mengherankan ialah kekuatan mereka menjadi lebih.

Sifat ilmu silatnya pun berubah. Itu sebabnya sejak pertama Halayudha tidak menerobos maju atau membiarkan dirinya dikepung. Halayudha memilih satu Jalu, dan berusaha terus mengimbangi. Tidak mendesak mundur, agar tak bisa memperoleh tenaga tambahan, tetapi juga tidak segera menghabisi. Karena ini berarti membuka dirinya untuk lawan yang baru. Apa yang dilakukan hanya mengulur waktu untuk melihat situasi.

Maka bisa diperkirakan apa yang ada di dalam benaknya sewaktu melihat Upasara Wulung kena jotos pinggangnya. Selama ini, terasa atau tidak, diakui atau tidak, pemunculan Upasara membangkitkan semangat. Kemampuan dan ketangguhan ksatria lelananging jagat ini tak diragukan lagi. Akan tetapi bahwa pada gempuran kedua yang belum memakan sepuluh jurus sudah jatuh, betul-betul di luar dugaannya. Berarti Barisan Api yang dihadapi lebih ganas dari perhitungan. Terutama dari segi merembetkan kekuatan!

Itu sebabnya Halayudha menepi dan dengan satu putaran meloncat ke sungai. Gerakan tubuhnya memperlihatkan seolah ia pun bisa dipecundangi lawan. Siapa pun yang menyaksikan tak bisa menebak tipu muslihat Halayudha. Mahapatih Nambi tak sempat menangkap gerakan-gerakan yang dimainkan Halayudha. Karena tingkat permainan Halayudha sudah mendekati kesempurnaan.

Sementara Eyang Puspamurti tak mempunyai pikiran sedikit pun untuk menduga tingkah laku Halayudha. Dan kalau Mahapatih Nambi tidak mampu menangkap akal bulus Halayudha, apalagi para prajurit. Yang sedikit heran adalah Jalu yang menjadi lawannya. Karena tak menduga akan ditinggal begitu saja. Sebagai gantinya, sasarannya adalah Eyang Puspamurti. Yang mendadak mengerahkan tenaganya melayang ke atas. Hinggap pada tiang.

JILID 36BUKU PERTAMAJILID 38

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 37

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 37

“Rasanya,” Dewa Maut menjawab lirih, “rasanya kamu ini masih Dewa Maut. Yang mencari. Yang sedang melakukan laku. Mencari apakah dirimu itu Dewa. Ternyata bukan. Apakah pohon atau air. Ternyata bukan. Apakah ksatria? Ada benarnya, ada bukannya. Apakah kamu ini pendeta? Apakah kamu wanita? Apakah kamu pria? Apakah kamu raja? Dan akhirnya, kamu menangkap sisik terang. Kamu adalah manusia. Mahamanusia. Itulah jawabannya. Sehingga ketika aku kecemplung di sini, kamu mau mengajak bicara. Mau berusaha sebagai manusia. Dan tidak mendiamkan saja seperti ketika belum menemukan jawaban.”

“Kenapa aku tak mau meninggalkan tempat ini?”

“Omong kosong. Sekarang ini kamu bisa ke mana saja. Arena semuanya adalah bumi. Mahamanusia bisa di bumi mana pun. Bahkan tanpa bumi pun mahamanusia masih bisa ada. Kamu bukan manusia biasa, Dewa Maut.”

Percakapan yang tidak keruan arahnya, perlahan memberi petunjuk dalam batin Upasara. Dengan menjadikan dirinya sebagai Dewa Maut dan Upasara Wulung, pencarian itu lebih cepat. Itulah yang dirasakan oleh Upasara. Itulah yang dicoba kembali oleh Upasara untuk mencari kekuatannya, tenaga dalamnya, melatih ilmunya. Dewa Maut yang mendampingi, sesekali berceloteh mengenai lirik-lirik dari Kitab Bumi, dari Kidungan Pamungkas, maupun Kidungan Paminggir.

Upasara Wulung boleh dikatakan menguasai seluruh tarikan napas dalam Kitab Bumi. Sehingga dengan cepat bisa mengetahui mana bagian yang disebutkan dalam Kitab Bumi yang kadang tercampur, atau sengaja digandengkan dengan lirik yang ada dalam kedua kitab yang lain. Akan tetapi pada kesempatan berikutnya, perlahan-lahan bagian kitab yang satu bercampur dengan bagian kitab yang lain. Dengan demikian Upasara malah lega. Merasa bisa hanyut, bisa terseret, dan bisa berhubungan lebih akrab dengan Dewa Maut. Keduanya bukan hanya sering berganti peran, akan tetapi juga memerankan tokoh lain.

Bagi Upasara, pendekatan seperti ini sesuatu yang baru baginya. Selama ini boleh dikatakan Upasara tak pernah membayangkan dirinya orang lain. Atau bahkan mencoba mengikuti jalan pikiran seperti yang dilakukan Dewa Maut. Makanya ia tertarik sekali. Apalagi setelah bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, Dewa Maut bisa dalam sekejap berubah menjadi tokoh lain.

“Saya Upasara Wulung, ingin bertanya padamu, Permaisuri Rajapatni.”

“Tentang apa?” jawab Dewa Maut cepat sekali. “Siapa yang Permaisuri…”

“Kamu biasa memanggil Yayimas?”

“Siapa yang Yayimas korbankan?”

“Kakangmas sendiri sudah tahu. Untuk apa saya katakan? Kakangmas lupa, bahwa saya melakukan hal itu karena ia pun menghendaki hal itu. Sebagai sarana, sebagai upaya, dan juga kodrat yang digariskan padanya. Saya tak akan mungkin melakukan itu tanpa kesediaan dan permintaan darinya.”

“Apa yang Yayi lakukan?”

“Seperti yang dikatakan. Menebas tangan, kaki, kepala, lalu membungkusnya dengan kain putih, dan memperlihatkan kepada siapa yang ingin melihat sebelum akhirnya dikubur. Dan melarikan Kakangmas ke gua bawah tanah.”

“Siapa yang menjadi korban?”

“Kakangmas sudah tahu tanpa saya menyebutkan nama.”

Upasara tercenung. “Kenapa ia melakukan itu?”

“Karena ia meminta itu. Karena tak ada harapan lagi baginya untuk hidup terus. Karena cara kematian dengan menggantikan Kakangmas merupakan jalan yang terbaik. Saya tak akan berani melakukan itu tanpa permintaannya. Tanpa kesediaannya. Tanpa kenekatannya untuk mencari pedang dan menebas lehernya. Kakangmas kira saya tega melihat itu semua?”

Dewa Maut menggigil. Seolah menyaksikan pemandangan yang mengerikan. “Cukup, Paman.”

Ngrogoh Sukma Sejati
DEWA MAUT menggeleng. Seketika ia kembali ke dirinya lagi.

“Maaf, Paman,” Upasara menyembah dengan hormat. “Maaf kalau saya terlalu memaksa Paman.”

“Tak apa. Kamu bisa membuat aku menjadi mahamanusia yang bisa lebih sempurna. Inilah bagian yang dinamakan ngelmu Ngrogoh Sukma Sejati. Banyak yang menafsirkan, banyak yang mempelajari. Banyak pula kemungkinannya.”

“Bagaimana Paman bisa melakukan?”

“Ini ngelmu, bukan ilmu. Ilmu bisa dipelajari, dilatih, dan dimatangkan. Ngelmu dilakukan dengan rasa”

Beberapa saat Upasara Wulung terdiam lama. Beberapa lama Upasara terdiam. Penjelasan yang sepotong-potong dari Dewa Maut membuka mata rantai batinnya. Menghadirkan kembali gambaran apa yang selama ini dikenalnya, diketahui, akan tetapi belum jelas. Sekarang, meskipun masih belum seluruhnya, menjadi lebih gamblang, lebih jelas mengarah ke terang benderang.

Rasa adalah laku, yang dalam Kitab Bumi berarti penyerahan, berarti kemauan yang ikhlas lahir-batin untuk menjadi korban. Untuk mengorbankan diri tanpa pamrih. Sedangkan pada ajaran mengenai mahamanusia, rasa yang menjadi laku itu adalah… menjadi mahamanusia. Menjadi mahamanusia adalah selalu sifat manusia. Bagaimana mahamanusia yang sejati, yang sesungguhnya, itulah sesungguhnya laku. Yang hanya bisa didekati dengan rasa.

Seperti juga bagaimana bisa memahami ajaran Ngrogoh Sukma Sejati, atau Merogoh Sukma Sejati. Sukma bisa berarti nyawa, bisa berarti hawa kehidupan. Sejati adalah inti yang sesungguh-sungguhnya. Berarti ajaran untuk merogoh sukma yang sejati. Melepaskan sukma dari tubuh. Melepaskan nyawa, bukan sesuatu yang luar biasa bagi Upasara Wulung yang mempelajari Kitab Bumi. Bahkan titik-titik ajaran Kitab Bumi sudah membersitkan ke arah tercapainya moksa, menghilang bersama sukma dan tubuhnya, seperti yang diperlihatkan oleh Eyang Sepuh.

Pada bentuk yang lain, hal itu membentuk dalam ilmu yang diperlihatkan Eyang Kebo Berune. Dalam penguasaan ilmu ini, Eyang Kebo Berune mencapai tingkat di mana tubuhnya, badannya, jasmaninya bisa terus-menerus bertahan. Seolah masih hidup, meskipun sebenarnya sudah “mati”. Sesuatu yang pernah disaksikan sendiri. Apalagi jika Upasara menyaksikan keseluruhan tubuh Eyang Kebo Berune yang kemudian hancur menjadi cairan busuk. Hal yang kurang-lebih sama juga bisa terjadi pada diri Eyang Putri Pulangsih.

Ada perbedaan dalam perkembangan penampilan, akan tetapi intinya sama. Walaupun berasal dari Kitab Bumi yang sama-sama menjadi sumber, penampilannya bisa berbeda. Bahkan dari jurus-jurus yang kemudian bisa dimainkan pun berbeda. Pada Ugrawe yang mewarisi langsung dari Eyang Dodot Bintulu, menjadi tenaga ganas Banjir Bandang Segara Asat. Memindahkan tenaga dalam ke dalam tenaga dalamnya sendiri. Dalam ajaran Kitab Air, itu berarti mengubah diri menjadi tenaga air, yang bisa berubah mengikuti bentuk lingkaran yang ada.

Intinya sama. Bagaimana memindahkan dirinya menjadi kekuatan lain, atau kekuatan lain menjadi dirinya. Seperti ketika Upasara Wulung mulai mengenal ilmu silat. Jurus-jurus yang dimainkan dinamai Banteng Ketaton. Itu hanya merupakan kembangan atau variasi gerak yang disesuaikan dengan kemampuannya saat itu. Jurus-jurus itu sengaja diciptakan oleh Ngabehi Pandu khusus untuknya. Akan tetapi inti kekuatannya adalah ajaran dalam Kitab Bumi juga.

Karena justru pada awalnya, tenaga yang diambil adalah tenaga bumi. Dengan membuka telapak tangan, membentuk lingkaran, tubuh berputar, untuk mengisap tenaga bumi. Sampai di sini, Upasara bisa memahami persamaan kitab-kitab yang menjadi kacau dalam hafalan dan pengertian Dewa Maut. Menjadi kacau akan tetapi sebenarnya tidak. Karena kitab-kitab itu merupakan kelanjutan dan perkembangan dari satu ke yang lainnya. Siapa pun penciptanya yang utama!

Tak jauh berbeda dari asal-muasal Kitab Bumi. Yang berasal dari ajaran pertama Paman Dodot Bintulu, sampai yang dibakukan Eyang Sepuh. Makin lama Upasara makin tenggelam dalam perjalanan lamunan yang bisa ditarik jauh ke depan maupun ke belakang.

“Memang begitu,” tutur Dewa Maut yang seakan bisa membaca tepat yang dipikirkan Upasara. “Lamunan itu bisa menjadi kasunyatan, menjadi kenyataan, kalau kamu sudah menjadi mahamanusia. Kenyataan bukan selalu berarti apa yang bisa dilihat, diraba, dikecap, melainkan apa saja yang bisa dialami. Merogoh nyawa sejati adalah memisahkan nyawa dari badan, tanpa harus melalui mati. Mati dalam pengertian umum, yang ditolak dalam ajaran mahamanusia. Padahal nyawa dan raga selalu satu. Itu kata kitab. Kitab lain bisa mengatakan tetap satu, tapi bisa sendiri-sendiri.”

Upasara melanjutkan lamunannya sendiri, karena jalan pikirannya kini tertuju kepada Eyang Puspamurti. Tokoh ganjil satu ini, sebenarnya melakukan hal yang sama. Mencoba menahan kematian. Dengan cara membuat dirinya selalu muda. Seolah usia tak bergerak dari semula. Ingatan itu bermuara kepada pertanyaan dalam hati Upasara yang dikatakan perlahan.

“Paman Dewa Maut, selama saya berada di luar, untuk pertama kalinya saya mendengar pengertian mahamanusia dari Eyang Puspamurti. Barangkali Eyang Puspamurti satu-satunya yang sejak awal mulai mempelajari.”

“Keliru kalau hanya itu.”

“Apakah kekeliruan itu yang membuat Eyang Puspamurti hanya memainkan satu jurus saja?”

“Tidak betul. Tapi bisa juga. Upasara, kamu lebih tahu karena kamu melihat.”

Upasara berusaha menjelaskan apa yang diketahui. Bahwa Eyang Puspamurti selalu memainkan satu jurus saja dan selalu mengulang dalam pertarungan yang dilakukan, dengan siapa saja.

“Rasanya Eyang Puspamurti mengetahui adanya Kitab Bumi, Paman.”

“Mengetahui saja tidak cukup.”

“Menguasai.”

"Tidak cukup.”

“Menelan. Memiliki.”

“Ya.”

“Menjadikan dirinya.”

“Mengubah ilmu menjadi ngelmu. Sehingga tak kelihatan lagi memainkannya, atau memilikinya.”

“Paman belum menjawab.”

“Tidak selalu harus ada jawaban.”

Kembali percakapan seperti tak menemukan ujung-pangkal. Tapi kembali lagi Upasara menemukan jawaban samar yang kembali akan berwujud sebagai pertanyaan. Jawaban yang juga sekaligus pertanyaan yang selalu terjelma dalam diri Dewa Maut. Dalam sikapnya sehari-hari, dalam omongannya yang melantur. Dalam tindak-tanduknya ketika menanam biji mangga, biji jambu, memakan buahnya, menggiring ikan di kubangan yang dibuatnya, berdiri tegak lurus menjadi pohon, menjadi rumput, berendam dan bercakap dengan penghuni air dalam bahasa yang tak dimengerti Upasara.

Kalau tadinya Upasara mengira Dewa Maut benar-benar kehilangan akal, sekarang muncul pengakuan baru. Dewa Maut tetap Dewa Maut yang kehilangan akal, yang seolah bertindak tidak waras. Akan tetapi ketidakwarasan kali ini mempunyai makna dalam pandangan Upasara. Menjadi ikan, pohon, udara adalah bagian dari laku yang dipilih secara total dalam diri Dewa Maut. Sedemikian menyatu pendekatan itu, sehingga sukma sejati bisa mengikuti apa yang diinginkan.

Yang sedikit menggembirakan hati Upasara ialah kenyataan bahwa pencapaian yang diperoleh Dewa Maut menemukan bentuknya yang padu sewaktu Upasara datang. Kalau selama ini seakan larut tidak keruan ujung-pangkalnya, sekarang lebih bisa diarahkan. Hanya arahan yang dipilih Dewa Maut adalah arahan yang tidak terarah.

Menyadari hal ini Upasara tidak memaksa Dewa Maut berlatih tenaga dalam, atau bermain silat. Upasara melakukan sendiri, sedangkan Dewa Maut memilih apa yang menjadi dorongan batinnya. Datang dan pergi. Bercerita sendiri. Mengidung. Masuk Keraton dan kembali lagi. Menyampaikan kabar yang didengar. Kalau maunya begitu.

Pada Awalnya Krenteg
KALAU saja seketika itu Dewa Maut bercerita, akan berbeda jalan hidup perjalanan Permaisuri Rajapatni. Akan tetapi, Dewa Maut tidak bercerita seketika. Beberapa saat kemudian, barulah Dewa Maut menuturkan bahwa sewaktu ia masuk ke Keraton, ia mendengar bahwa Permaisuri Rajapatni akan melihat kembali kuburan Upasara Wulung. Makanya ia menuliskan ucapan selamat datang, salam pambagya. Tulisan di pohon itu memang terbaca oleh Gendhuk Tri dan Ratu Ayu Bawah Langit, akan tetapi lebih banyak menyisakan pertanyaan tokoh mana dan apa maksudnya menuliskan di kulit pohon serta dedaunan.

“Paman membuat banyak orang bingung. Bagaimana mungkin Paman membiarkan Permaisuri, Gendhuk Tri, Ratu Ayu, Nyai Demang, atau yang lainnya membawa-bawa tulang-tulang saya, padahal Paman mengetahui sendiri saya masih hidup?”

“Dari mana kamu tahu mereka bingung?”

“Mereka berombongan datang untuk meyakinkan itu tulang saya.”

“Dari mana perasaan bingung?”

Upasara mengangguk lembut.

“Kenapa harus bingung? Mati atau tidak, itu tidak membuat bingung. Bingung atau tidak, itu tidak membuat mati. Kenapa kamu tidak ikut keluar gua?”

“Kalau saya tahu dicari, saya akan keluar.”

“Dari mana kamu tahu dicari kalau tidak keluar gua?”

Belum sempat Upasara membenarkan kalimat Dewa Maut, yang berkata sudah mengucapkan kalimat lain.

“Tanpa keluar gua, kamu bisa tahu. Itu yang dinamakan Ngrogoh Sukma Sejati. Biarkan sukma berjalan leluasa, tanpa terikat raga. Raga kita ini tidak mati ditinggalkan nyawa. Nyawa ini tetap ada, tanpa memakai raga. Pada awalnya adalah krenteg. Adalah niat. Adalah keinginan. Adalah ada. Adanya krenteg, atau karep, atau kehendak, karena diadakan. Kenapa kamu tidak mengadakan?”

“Paman, saya tidak mengetahui….”

“Kenapa kamu tidak mengetahui? Tahu itu ada.”

“Kalau Paman tahu, apa yang mereka lalukan?”

“Untuk apa?”

“Untuk mengetahui.”

“Kamu sendiri bisa. Sukma kita ini bisa melakukan segala apa dengan sendirinya. Kenapa meminta aku?”

Lagi-lagi sebelum Upasara mengangguk atau berkata Dewa Maut menyambung,

“Hidup itu adanya di kemauan. Krenteging urip, kemauan untuk hidup. Lalu kemauan untuk merasakan asmara, untuk kangen, untuk menang, untuk kalah, untuk melatih silat seperti kamu. Aku tak ingin bercerita saat itu. Titik.”

“Terima kasih, Paman.”

“Sejak kapan kamu memanggil Paman?” Ucapan Dewa Maut sangat keras, seolah baru pertama kali disebut dengan panggilan yang keliru. Bagaimana kamu memanggil dirimu sendiri, Paman?”

Upasara makin menyadari bahwa latihan pernapasan dengan konsentrasi seperti yang dilakukan Dewa Maut, tidak sepenuhnya dikuasai. Dewa Maut bukan hanya mampu memperlihatkan bagaimana mengatur sukmanya sehingga seakan mengetahui sesuatu di tempat yang berbeda jauh, akan tetapi juga terus menggelutinya. Sementara Upasara, setiap kali berusaha ke arah itu, masih terasa ada jarak. Sehingga seolah memandang atau membayangkan sesuatu. Dan bukannya larut seperti yang dilakukan Dewa Maut.

“Tidak apa. Sukmamu tak mau itu.”

Hanya kemudian sekali Dewa Maut kelihatan gemetar. Telapak tangannya berkeringat. “Kita segera pergi. Raja dalam bahaya.”

Itulah gugahan pertama Upasara meninggalkan gua bawah Keraton. Keduanya melalui lorong yang agaknya dibuat sendiri oleh Dewa Maut yang setiap kali keluar atau masuk gua barangkali membuat jalan baru. Sampai di luar, keduanya melayang bersama. Dalam pengertian sebenarnya. Karena keduanya seperti terbang. Dewa Maut berada di pundak Upasara sampai satu jarak tertentu, lalu disambung dengan Dewa Maut menyunggi Upasara, mendudukkan Upasara di pundaknya.

Yang luar biasa bagi Upasara ialah bahwa seolah keduanya mempunyai tenaga dalam dan tenaga meringankan tubuh yang seimbang. Padahal jelas sekali bahwa semua ini dilakukan dengan kekuatan Upasara. Akan tetapi ketika Dewa Maut menyunggi, yang terlihat adalah bahwa Upasara tengah beristirahat. Begitulah sesungguhnya yang terasakan oleh Upasara.

Kalau saja Upasara mengetahui bagaimana Gendhuk Tri memainkan tenaga dalam yang menggunakan sifat air ketika menarik tubuh Senopati Sina sementara tubuhnya sendiri melayang ke bawah, kesamaan itu makin jelas. Dengan cara ganti-berganti seperti yang dilakukan Dewa Maut dan Upasara Wulung, keduanya tak memerlukan istirahat yang sebenarnya. Itulah yang bisa membuat keduanya datang pada saat yang tepat. Bahwa kemudian Dewa Maut berlarian seperti anak-anak ketika menuju ke arah Gendhuk Tri, dan tak mau dipanggil Dewa Maut, itu seperti kembali ke asal-mula.

“Hati-hati…,” suara lirih Mpu Sina menyadarkan bahwa kini pasukan Jalu mulai membentuk barisan.

“Ya, perlu hati-hati sedikit,” kata Eyang Puspamurti. “Dengar baik-baik, Mada, apa yang kukatakan tadi. Barisan ini luar biasa. Tenaga yang terlihat seperti sepuluh ekor kuda. Yang tak terlihat barangkali lebih kuat lagi. Itu menarik, bagaimana mungkin bisa melatih otot keras begitu?”

Upasara menggeser ke kiri. Dengan cara begitu, ia menutup serangan yang tertuju ke arah Gendhuk Tri, Dewa Maut, maupun Mpu Sina. Hanya Halayudha yang masih menunggu, tanpa menggeser kakinya. Suara halus Mpu Sina maupun penjelasan Eyang Puspamurti sangat tepat sekali. Sebagai jago silat, Halayudha cukup bisa membaca kemampuan lawan. Bahwa mereka terkenal kuat tenaganya dan dasar permainan silatnya menggulat lawan, sudah lama didengar. Bahwa dengan begitu ada latihan tertentu, juga bukan hal baru. Yang menjadi sedikit tanda tanya ialah, seperti yang diutarakan Eyang Puspamurti: Bagaimana cara melatihnya?

Karena otot di seluruh tubuh barisan Jalu mendadak menegang dan mengeluarkan bunyi keras. Dengan gerakan serentak, barisan Jalu mengepung, menubruk, dan menggelut. Eyang Puspamurti mengeluarkan tawa serentak, tangannya terulur ke depan. Maju memapak. Demikian juga Halayudha yang memakai kedua tangan untuk menahan. Sementara Upasara hanya mengubah gerakan kakinya lebih ke kiri lagi. Kedua tangannya bergerak. Satu menolak ke depan, satu lagi berjaga melindungi Dewa Maut.

Hebat serangan Barisan Api ini. Dalam gebrakan pertama mampu membuat lawan terdesak. Halayudha mundur dua tindak, karena benturan pukulannya seakan membalik, sementara gelutan lawan sudah menyepit pinggangnya. Tawa Eyang Puspamurti lenyap dan diganti dengan kekaguman. Tanpa mundur atau maju, jurusnya diulangi lagi. Upasara menekuk tangannya. Sikunya berhasil menyodok ulu hati lawan. Keras. Sehingga salah satu Jalu tertahan. Akan tetapi karena kini hampir semua mengepung ke arahnya, mau tak mau menjadi repot juga.

“Hiak!” Aba-aba Jalugeni membuat barisan mengepung rapat. Merangsek maju. Tanpa memedulikan gerakan lawan. “Hiak!”

Bukan pertarungan yang memuaskan mata. Bukan pameran kelihaian dan keindahan jurus. Bagi yang menyaksikan di pinggir, kesangsian lama menyeruak kembali. Apa yang mereka saksikan tak berbeda dari sebelumnya. Kalau tadinya hanya barisan ular hijau, semut, dan kumbang yang terus merangsek maju, kini adalah barisan manusia. Yang dengan gerak kaku, keras, terus melabrak.

Mengetahui situasi kurang menguntungkan, Halayudha yang lebih dulu mundur. Bukan hanya karena lawan seperti terbuat dari batu dan besi, akan tetapi Halayudha ingin berada dalam ruang yang tidak memungkinkan untuk dikeroyok. Satu lawan satu masih memberinya napas. Eyang Puspamurti yang menghadapi tiga lawan, memutar tubuh mengulang jurusnya.

“Hiak!” Kali ini barisan makin merapat. Dan tak tertahan lagi. Satu kali kena bekuk, nasib yang sama dengan Gendhuk Tri atau Mpu Sina akan terjadi. Padahal jalan untuk mundur dan menghindar tertutup.

“Hiak! Hiak! Hiak!”

Bahkan kini Eyang Puspamurti mulai berkelit tanpa bisa berteriak memberitahu Mada. Tangan Gendhuk Tri terkepal keras ketika Dewa Maut menusuk telapak kakinya. Keras sekali.

“Mati aku.”

Dlamakan Menatap Bumi
KERAS tusukan Dewa Maut, keras juga teriakan Gendhuk Tri. Seumur-umur baru sekarang ini Gendhuk Tri berteriak kesakitan, baik di depan umum maupun kala sendiri. Penderitaan macam apa pun tak akan membuatnya mengeluarkan jeritan. Apalagi mengaduh. Lebih lagi mengeluarkan kata: “Mati aku!”

Selain sengatan rasa sakit yang memilukan, perasaan Gendhuk Tri terutama sekali juga karena tak menduga sama sekali. Selama ini Dewa Maut sangat baik kepadanya. Kelewat amat sangat berlebihan baiknya. Selembar rambut Gendhuk Tri rontok, bisa membuat Dewa Maut berjingkrakan. Segala apa permintaan Gendhuk Tri, atau yang dianggap permintaan, akan dituruti tanpa kecuali. Bahaya apa pun akan ditempuh, dengan cara berlebihan pula menempuhnya.

Maka cukup mengejutkan apa yang dilakukan kali ini. Sesaat tadi masih berteriak Toleee… Toleee dengan suara menyayat karena penuh perasaan. Kemudian mendekat dan menusuk telapak kaki. Meskipun selama ini Dewa Maut menganggap Gendhuk Tri sebagai kekasihnya yang utama, akan tetapi itu semua hanya terbatas dalam tingkah laku serta kata-kata. Dalam pengertian sebenarnya, Dewa Maut tak berani menyentuh kulit tubuh Gendhuk Tri.

Kekagetan Gendhuk Tri lebih tak terduga lagi, karena saat itu seluruh perhatiannya sedang tertuju kepada Upasara.

“Kalau sakit, itu sakti.”

Telunjuk jari Dewa Maut bergerak lagi. Menusuk ke arah telapak kaki bagian pinggir. Tubuh Gendhuk Tri menggeliat, perutnya tertarik ke atas, kejang. Seluruh tubuhnya kaku. Wajahnya pucat pasi. Tangannya mencari pegangan. Memegang tangan Jaghana. Seolah mencari kekuatan yang bisa menjadi pegangan dari rasa sakit yang tak tertahankan. Jeritannya berubah menjadi rintihan memelas. Air mata Gendhuk Tri membasahi wajahnya, bersamaan dengan keringat yang seolah dijebol paksa dari semua permukaan tubuhnya.

“Itu pasti teriakan wanita. Kamu sedang melahirkan, Tole?” Dewa Maut mengangguk-angguk. “Anakmu laki atau wanita?”

Saat itu kekuatan Gendhuk Tri lepas. Tubuhnya lemas. Tangannya yang basah seolah lepas dari pegangan tangan Jaghana. Akan tetapi Jaghana masih menggenggam. Dan aneh. Dari tangan Jaghana mengalir hawa hangat yang menenteramkan, yang membuat napasnya tidak memburu. Jaghana bukannya tidak mengetahui apa yang dilakukan Dewa Maut. Dengan menusuk telapak kaki, sebenarnya Dewa Maut sedang melakukan Tusuk Driji Dlamakan Bumi, atau Tusuk Jari Telapak Bumi. Yaitu yang dikenal sebagai cabang ilmu pengobatan pijat tubuh, yang tengah berkembang.

Tusukan jari ke dlamakan, yang pertama adalah untuk mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang tidak berfungsi sebagaimana adanya. Ilmu pengobatan ini berkembang dari dasar bahwa dlamakan atau telapak kaki adalah bagian yang paling akrab berhubungan dengan bumi. Telapak kaki selalu menghadap ke bumi, selalu menyentuh, selalu bersinggungan. Dengan sendirinya, di situlah selalu kepekaan itu berawal. Anggapan yang sama dengan kenapa buah pepaya selalu lebih manis di bagian ujung yang menghadap ke arah bumi.

Pada telapak kaki itu terdapat berbagai susunan saraf rasa, yang menyalur ke arah semua bagian tubuh. Dari telapak kaki pula diketahui adanya sesuatu yang tidak beres. Dengan menyentuh sedikit saja akan terasakan rasa sakit yang luar biasa. Sebaliknya, jika tidak ada yang sakit tusukan itu tak lebih dari sentuhan jari biasa. Jaghana mengetahui dasar-dasarnya, akan tetapi memang tidak secara khusus mendalami.

Sebab syarat utama dalam mempelajari Tusuk Driji Dlamakan Bumi adalah sifat welas asih. Sifat untuk menolong sesama. Siapa saja yang mempelajari ilmu itu secara mendalam, harus bersedia menolong siapa pun yang menderita. Apalagi kalau orang itu datang dan minta pertolongan darinya. Tidak peduli siapa pun yang datang, lawan utamanya sekalipun. Syarat utama yang lain ialah, dasar ilmu pengobatan itu adalah rila legawa, atau ikhlas sepenuhnya. Tidak boleh meminta pemberian apa pun. Bahkan tidak boleh menerima pemberian yang berhubungan dengan perbuatannya.

Persyaratan itulah yang belum sepenuhnya bisa dijalani oleh Jaghana saat itu. Akan tetapi dasar-dasar yang dilakukan Dewa Maut bisa diketahui. Yang membuat Jaghana heran bukan bagaimana mungkin Dewa Maut mempelajari hal itu, melainkan tusukan sekali itu untuk mengetahui semuanya. Ini termasuk luar biasa. Karena secara sekaligus hampir semua saraf diperiksa. Padahal satu saraf yang berhubungan dengan hati, darah, kalau tubuh sedang kurang sehat, bisa menimbulkan rasa sakit.

Ini sekaligus. Bisa terbayangkan kalau Gendhuk Tri sampai mengejang dan kemudian seperti kehilangan tenaga. Kalimat Dewa Maut yang menyebut tentang “melahirkan”, menyadarkan Jaghana bahwa Dewa Maut memakai pengobatan menyeluruh. Tusukan utama menyeluruh tadi bukannya tanpa perhitungan. Dengan mengibaratkan melahirkan, Dewa Maut memang menyerang semua saraf yang biasanya bekerja lebih saat melahirkan. Itu sebabnya ketika Gendhuk Tri melemas, tangan Jaghana langsung menggenggam. Memberi kekuatan.

Hawa hangat itu pula yang membuat Gendhuk Tri merasa lega, dan dengan sedikit terhuyung ia bisa kembali berdiri. Kembali berdiri! Pada saat yang berlangsung sangat cepat itu, Dewa Maut kembali menghunjamkan dua telunjuknya ke arah dua tepalak kaki Jaghana. Yang membelalak sesaat, mengerang, dan tubuhnya bergerak tertarik ke atas. Bisa duduk.

Di kejauhan, Nyai Demang tak bisa menyaksikan secara jelas. Apalagi kondisi tubuhnya menurun. Namun ini semua tidak menghalangi rasa kagumnya kepada Dewa Maut. Bagi Nyai Demang, Dewa Maut bukan sekadar sesama ksatria, bukan hanya pernah bersama-sama menghabiskan waktu di Perguruan Awan, dan atau juga di gua bawah Keraton. Pada peristiwa yang terakhir inilah Nyai Demang menjadi jengah, malu, dan mengutuk dirinya sendiri.

Saat itu boleh dikatakan dirinya sudah habis, tak mempunyai tenaga dalam, dan susah menemukan kesadarannya kembali. Saat itulah Dewa Maut menunjukkan jalan keluar, membimbing dengan sentuhan tangan. Yang berkelanjutan. Peristiwa itu seperti terjadi dengan sendirinya. Terjadi dalam gelap. Saat itulah perasaan dan penilaian Nyai Demang berubah pada diri Dewa Maut. Tadinya perasaan itu disangka hanya muncul dalam lamunan. Hanya kemungkinan dari khayalnya yang mengembara.

Nyai Demang berusaha bertahan untuk tetap sadar. Akan tetapi perlahan-lahan rasa kantuk menguasai, menyeret, dan menenggelamkan. Tak jauh berbeda dari yang dialami dulu. Bedanya, sekarang Dewa Maut berada di atas perahu yang menjadi ajang pertarungan. Yang membuatnya limbung karena sabetan udara dari berbagai arah.

Untunglah Jaghana mengetahui keadaan Dewa Maut yang sesungguhnya. Walaupun muncul seperti dewa penolong, akan tetapi sebenarnya Dewa Maut tetap Dewa Maut yang kehilangan tenaga dalamnya. Sehingga sabetan angin dari jago silat bisa menyebabkan terhuyung-huyung. Gendhuk Tri juga bisa membaca situasi dengan sangat cepat. Begitu tubuhnya bisa berdiri, sudah langsung bersiaga.

“Dewa Maut, masih ada satu lagi. Mpu Sina.”

“Aku tahu, Tole. Tapi di mana jariku?”

Gendhuk Tri tak sempat tersenyum. Bahkan tarikan bibirnya belum membentuk karena Jaluagni sudah menyapu dengan guntingan kaki keras sekali. Jaghana bersiaga, dan mendadak tubuhnya menggulung di lantai. Menggelinding ke arah lawan. Satu gebrakan yang menerobos ke arah lawan. Kalau sebelumnya Barisan Jalu selalu merangsek maju dan menutup jalan, kini kena terobos. Bahwa dengan itu berarti Jaghana membahayakan dirinya sendiri, itu dengan sendirinya.

“Haik! Haik! Haik!”

“Haik apa? Itu bagus. Bukan haik. Mada, lihat dan dengar apa yang kukatakan sebelumnya….”

Eyang Puspamurti menepukkan kedua tangan. Tanpa ragu melangkah maju, memapak serangan Jaluagni dengan jurus yang sama. Belitan ke arah tubuhnya tak dipedulikan lagi.

“Haik!” Jaluagni justru melangkah mundur.

“Haik!” Sekarang Eyang Puspamurti yang berteriak. Maju.

Kobaran Api Mengganas
MAHAPATIH NAMBI, meskipun berada di luar medan pertarungan, mengikuti jalannya pertempuran dengan saksama. Kecemasan dan rasa tenang silih berganti, tanpa lena sedikit pun untuk mempersiapkan barisan yang bisa menyerbu sewaktu-waktu. Untuk membebaskan Raja dan para permaisuri. Akan tetapi yang disaksikan masih terus berubah.

Sesaat sebelumnya Barisan Api terlalu tangguh untuk dilawan para pendekar utama Keraton. Bahkan dibuat tak bergerak. Dalam titik berikutnya sewaktu Jaghana, Mpu Sina, dan Gendhuk Tri bisa terbebaskan, situasinya langsung berubah. Gelundungan tubuh Jaghana yang tidak memperhitungkan keselamatan dirinya berhasil memecah arah serangan. Kini mulai terlihat bahwa Barisan Api tersurut mundur.

Yang sedikit masih tersisa adalah kecemasan bahwa situasi masih bisa berubah lagi. Kalau diingat bahwa Barisan Api mempunyai senjata rahasia yang serba mencengangkan. Baik berupa barisan binatang berbisa maupun senjata lain. Hal kedua yang juga mencemaskan ialah bagaimana cara yang paling aman buat menyelamatkan Baginda yang entah berada di bagian mana. Sementara itu bahaya utama masih terlihat di depan mata. Kalau dua belas Barisan Api saja sudah sedemikian sulit, bagaimana menghadapi Pangeran Hiang dan Putri Koreyea?

Pertarungan perhitungan membuat Mahapatih Nambi serba kikuk. Memerintahkan menyerang, belum tentu menguntungkan. Menunggu, rasanya seperti berpangku tangan saja. Sebenarnya keraguan Mahapatih sedikit-banyak menguntungkan. Karena justru sesaat kemudian apa yang terlihat di perahu seperti terbalik. Kini justru Barisan Api yang merangsek maju. Bahkan terdengar teriakan keras. Bersamaan dengan itu tiga tubuh melayang ke dalam sungai. Mahapatih Nambi tak perlu memberi isyarat, karena prajurit yang berjaga selama ini segera menolong.

Yang terlempar pertama kali adalah Mpu Sina. Senopati tua yang gagah perkasa ini memang belum berada dalam kondisinya semula. Akan tetapi bahwa dalam sekejap bisa terlempar sambil memuntahkan darah, bisa sebagai bukti ganasnya pertarungan. Tubuh kedua adalah Gendhuk Tri yang seakan dibanting keras, bersamaan dengan Dewa Maut yang mengeluarkan seruan tak bisa diartikan.

Jaghana yang pertama menyadari kekuatan lawan berubah seketika. Sewaktu didesak mundur, barisan dengan teriakan haik memang menyudut. Apalagi ketika Eyang Puspamurti mendahului menyerang. Akan tetapi ternyata hanya dalam satu putaran, Barisan Api ini maju kembali. Lebih tegar, lebih gagah, dengan kekuatan berlipat ganda. Sehingga pukulan Eyang Puspamurti yang bisa membuat lawan surut, kini berbalik. Eyang Puspamurti-lah yang meloncat dua langkah. Mundur.

Seakan tak percaya apa yang terjadi. Benturan tenaganya membalik keras, menghantam dirinya. Bisa dimengerti kalau dalam kondisi yang masih sulit, Mpu Sina terlempar lebih dulu. Demikian juga halnya dengan Gendhuk Tri dan Dewa Maut. Barisan Api tidak berhenti di situ. Seakan ingin membuktikan tak ada yang hidup lagi setelah menginjak kapal. Dua Jalu melayang ke atas. Dan menakjubkan.

Kalau tadi hanya dikenal dengan tenaga kasat dan kuat, gerakan kaki yang menyapu keras, ternyata cara mereka mengentengkan tubuh tidak main-main. Bagai dilepas dari busur, dua Jalu terlempar ke atas. Meraup ke arah tubuh yang loyo di tengah udara. Upasara menggenjot kakinya. Tubuhnya melayang gesit di udara. Satu tangan terentang mendorong Mpu Sina, Gendhuk Tri, dan Dewa Maut, satu tangan lain menjajal tekanan yang datang.

Sesaat Upasara merasa dadanya ditekan lempengan besi dari dua sisi. Upasara mengurung dirinya dengan menarik tangannya ke dalam, dan sekali lagi sikunya terangkat ke depan. Salah satu Jalu mengerang hebat. Tubuhnya amblas ke sungai. Akan tetapi Jalu yang kedua berhasil menjotos pinggang Upasara, sehingga tanpa ampun lagi tubuhnya ikut terbenam. Eyang Puspamurti bahkan berteriak karena kagetnya. Jaghana yang cemas menjadi terpecah perhatiannya. Satu pukulan keras mengenai pundaknya. Tubuhnya yang bundar licin seakan kempes tanpa tenaga.

Kekagetan Eyang Puspamurti terutama karena Upasara berhasil dijotos oleh lawan. Kena telak bagian pinggang. Upasara sendiri sudah mengira pukulan Jalu kedua akan mengenai tubuhnya. Tak bisa lain, karena lebih baik menyelamatkan Gendhuk Tri serta Dewa Maut dan Mpu Sina. Daripada jatuh korban lebih banyak lagi. Satu sodokan sikunya yang keras merupakan bukti keunggulannya.

Akan tetapi Halayudha sendiri bisa menghitung. Jika satu mengenai satu tapi harus berkorban, jumlah lawan lebih besar. Dan yang mengherankan ialah kekuatan lawan bisa mendadak berlipat. Kalau tadinya sudah diperhitungkan sangat kuat, ternyata masih berlipat lagi. Inilah yang tak bisa dimengerti Halayudha.

Dalam beberapa jurus permulaan, Halayudha bisa memperkirakan kekuatan lawan. Seberapa jauh tenaga dalam dan jenis permainan silatnya. Caranya mengukur lawan tak terlalu meleset. Meskipun Barisan Api ini kuat menggeliat, sebenarnya gerakan mereka sangat kaku. Lebih banyak mengandalkan jotosan keras dan terus merangsek maju untuk bisa melibat habis.

Halayudha melihat celah-celah, bahwa jika dirinya cukup gesit dan memainkan ilmunya dengan baik, masih bisa balas menyerang atau sekurangnya bertahan. Satu-dua pukulan yang mengancam akan membuat mereka mundur sendiri. Ternyata dugaannya meleset. Sewaktu Barisan Api bisa digempur memang mundur. Tapi ketika maju kembali, tenaganya berlipat ganda. Seolah berubah sama sekali. Bahkan gerakannya lebih lincah, lebih memperlihatkan kembangan untuk menyerang kanan-kiri, atas-bawah, dan tidak hanya searah.

Ini yang tak bisa dimengerti. Meskipun Halayudha bukannya tidak mengetahui bahwa sejak mereka meneriakkan haik keras, Barisan Api ini saling mengadukan kepalan tangan, dan seketika maju dengan lebih yakin. Ilmu macam apa lagi? Bahwa mereka mempergunakan cara merambatkan tenaga dalam seperti merambatnya api, bisa diperhitungkan. Baik dari penamaan, maupun gerakan yang diperlihatkan. Dan sebagaimana api, yang padam akan menyala kembali begitu bersinggungan dengan api yang menyala. Yang mengherankan ialah kekuatan mereka menjadi lebih.

Sifat ilmu silatnya pun berubah. Itu sebabnya sejak pertama Halayudha tidak menerobos maju atau membiarkan dirinya dikepung. Halayudha memilih satu Jalu, dan berusaha terus mengimbangi. Tidak mendesak mundur, agar tak bisa memperoleh tenaga tambahan, tetapi juga tidak segera menghabisi. Karena ini berarti membuka dirinya untuk lawan yang baru. Apa yang dilakukan hanya mengulur waktu untuk melihat situasi.

Maka bisa diperkirakan apa yang ada di dalam benaknya sewaktu melihat Upasara Wulung kena jotos pinggangnya. Selama ini, terasa atau tidak, diakui atau tidak, pemunculan Upasara membangkitkan semangat. Kemampuan dan ketangguhan ksatria lelananging jagat ini tak diragukan lagi. Akan tetapi bahwa pada gempuran kedua yang belum memakan sepuluh jurus sudah jatuh, betul-betul di luar dugaannya. Berarti Barisan Api yang dihadapi lebih ganas dari perhitungan. Terutama dari segi merembetkan kekuatan!

Itu sebabnya Halayudha menepi dan dengan satu putaran meloncat ke sungai. Gerakan tubuhnya memperlihatkan seolah ia pun bisa dipecundangi lawan. Siapa pun yang menyaksikan tak bisa menebak tipu muslihat Halayudha. Mahapatih Nambi tak sempat menangkap gerakan-gerakan yang dimainkan Halayudha. Karena tingkat permainan Halayudha sudah mendekati kesempurnaan.

Sementara Eyang Puspamurti tak mempunyai pikiran sedikit pun untuk menduga tingkah laku Halayudha. Dan kalau Mahapatih Nambi tidak mampu menangkap akal bulus Halayudha, apalagi para prajurit. Yang sedikit heran adalah Jalu yang menjadi lawannya. Karena tak menduga akan ditinggal begitu saja. Sebagai gantinya, sasarannya adalah Eyang Puspamurti. Yang mendadak mengerahkan tenaganya melayang ke atas. Hinggap pada tiang.

JILID 36BUKU PERTAMAJILID 38