Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 06

“Kakang tidak apa-apa?” Permaisuri Rajapatni mengulangi pertanyaannya, dengan nada lembut yang sarat oleh rasa kuatir.

Upasara menggeleng.

“Benar, Kakang?”

“Benar, Yayi Permaisuri…”

“Bibirmu berdarah, Kakang…”

“Karena dada Kakang terkena tendangan Halayudha.”

“Sakit?”

“Sedikit.”

“Darahnya banyak, Kakang…”

“Tak apa. Darah memang ada di mana-mana, Yayi. Kalau kaki terantuk, juga mengeluarkan darah. Sakit sedikit. Tapi tak apa, karena tak mengganggu tenaga dalam. Tak apa, Yayi…”

“Betul, Kakang?”

Upasara mengangguk lagi. Meskipun diucapkan perlahan, karena suasana sangat sepi, percakapan itu terdengar jelas. Angin pun berhenti, seakan sungkan mengganggu pertemuan sepasang kekasih yang menyimpan segunung kerinduan.

“Tapi Halayudha menendang lagi.”

“Ya, tapi tidak mengenai.”

“Tidak.”

“Rasanya seperti mengenai.”

Upasara menggeleng lembut. “Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Tidak. Kakang jangan mencemaskan saya. Hanya ketika Eyang Putri berteriak tadi, saya merasa sangat sedih tak bisa menguasai diri. Sedih sekali.” Permaisuri Rajapatni menghela napas.

“Bagaimana dengan putri-putri Yayi Ratu?”

“Baik-baik semuanya… Kakang. Dewa memberkati mereka.”

Sunyi sesaat.

“Kakang, benar Kakang tidak terluka parah? Atau Kakang menyembunyikan sesuatu? Atau Kakang sudah mati seperti Kebo Berune, Eyang yang membonceng Nyai Demang?”

Upasara merasa sudut matanya panas. Kekuatiran Permaisuri Rajapatni bagai mencabut sukmanya. Keprihatinan kasih sayang yang mengalahkan semua bentuk perhatian.

“Tendangan Halayudha sangat sakti, memang. Tenaga yang dipakai adalah Suduk Gunting Tatu Loro, sekali menendang dengan dua luka seperti dua mata pisau. Kalau mengenai bisa menghancurkan. Tapi tidak mengenai tubuh saya.”

“Ilmu apa yang Kakang pergunakan?”

“Yang pernah kita baca bersama, Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi. Apakah Yayi Ratu masih ingat?”

Setebah Tanah, Sejari Bumi
PERMAISURI RAJAPATNI bagai ditarik ke masa lalu. Ketika masih Gayatri, yang diajak menemani Upasara menyusup ke Keraton Singasari, di mana Raja Muda Jayakatwang berkuasa setelah menyingkirkan Baginda Raja Sri Kertanegara.

Dalam perjalanan sebagai duta Keraton, bibit-bibit asmara tumbuh di antara keduanya. Bersemi dan mekar dengan indah. Bagi Upasara Wulung dan Dyah Gayatri, itulah kenangan yang paling indah dalam hidup mereka berdua. Karena memang itu satu-satunya kesempatan bisa berdua, dalam waktu yang cukup lama.

Kalau saat itu masih ada ganjalan antara mereka berdua, itu semata-mata karena Upasara Wulung merasa dirinya sebagai orang kebanyakan, sebagai hamba, sementara Gayatri adalah putri Sri Baginda Raja yang agung binatara, raja besar yang dihormati. Kekakuan itu mencair, setelah Gayatri mengisyaratkan bahwa ia tak berkeberatan menerima Upasara.

Betapa indah. Betapa gagah. Betapa agung. Betapa mekar semerbak, segalanya memancarkan bau harum. Saat itu keduanya belum menduga, bahwa kemudian para pendeta Keraton mempunyai ramalan bahwa Gayatri dan Raden Sanggrama Wijaya harus dipersandingkan, harus menurunkan raja yang kelak kemudian hari akan membawa Keraton ke puncak kejayaan yang belum pernah dialami oleh seluruh raja di tanah Jawa.

Saat itu mereka berdua berbicara mengenai apa saja. Mengenai langit, mengenai mata angin, mengenai kuda, laut, bunga-bunga yang tak dimengerti Upasara, mengenai jurus-jurus ilmu silat yang tak dimengerti oleh Gayatri.

“Kalau saya bisa silat, saya tak akan merepotkan dirimu, Kakang…”

“Hamba tidak merasa direpoti…”

“Kenapa Kakang masih selalu menghamba? Tidakkah menyebut dengan Kakang lebih mudah tanpa harus menghamba? Apakah menyebut begitu lebih sulit, Kakang?”

“Entahlah. Suatu hari nanti, hamba bisa menyebut diri secara kurang ajar. Akan tetapi memang hamba tak bisa dengan cepat menguasai kidungan dalam Kitab Bumi.”

“Kalau yang lainnya bisa, kenapa Kakang tidak?”

“Sangat sulit. Ada bagian yang tak bisa ditafsirkan dengan baik. Kidungan tentang Satebah Lemah, Sanyari Bumi… Rasanya setiap kali saya kidungkan, setiap kali hamba berusaha memahami…”

“Coba lagi, Kakang. Saya tak mengerti banyak tentang pengaturan napas atau menggerakkan jari. Tapi rasanya, para empu yang menuliskannya bukannya sekadar mengarang kata-kata…”

“Jangan ditertawakan, Putri…” Upasara mencoba menembangkan kidungan itu.

Mencintai bumi, ialah mencintai diri sendiri
sebab bumi adalah tubuh
bumi adalah kehormatan
bumi adalah kehidupan ksatria
bumi adalah roh
bumi adalah jiwa
pertahankan tanah
walau setebah
hingga rebah
pertahankan bumi
walau sejari
hingga mati
bumi adalah ibu pertiwi
di pusar menjalar
ke semua akar
tanah itu bumi
bumi itu tanah
tanah bumi
bumi
bumi…


Gayatri tertawa mengikik. Untuk pertama kalinya berada di luar tata kesopanan Keraton, Gayatri bisa tertawa bebas.

Wajah Upasara menjadi merah padam. “Hamba tak bisa menembang. Maaf.”

“Aku tertawa karena matamu melirik kian-kemari.”

Wajah Upasara makin merah-hitam.

“Kakang, bukankah segalanya telah jelas? Bumi adalah kehormatan yang tak bisa dikotori. Selama masih ada yang bisa dipertahankan, harus dipertahankan. Biarpun hanya satebah, hanya selebar tangan dengan jari yang rapat. Biarpun hanya sanyari, atau satu jari. Harus tetap dipertahankan. Bukankah semua prajurit, semua ksatria, harus mempertahankan bumi kelahirannya, hingga sejengkal sekalipun?”

“Yang begitu saya… hamba… saya tidak sangsi. Tapi rasanya bukan hanya itu.”

“Tenaga pusar?”

“Saya tahu, Putri… Tenaga yang dipergunakan adalah tenaga yang berasal dari pusar. Yang kita kumpulkan di bagian pusar, bukan di bagian lain.”

“Tapi saya merasa tak bisa leluasa. Justru seperti tertahan.”

“Kakang mau mencoba lagi?”

“Percuma, Yayi… eh, Tuan Putri…”

Memang bagian-bagian itulah yang lebih teringat oleh Permaisuri Rajapatni. Bagian-bagian yang mendekatkan dirinya dengan Upasara. Dan bukan pergulatan Upasara menemukan inti kekuatan lirik Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi.

Yang bagi Halayudha kini mempunyai makna yang bisa ditelusuri. Seperti para senopati lain yang mempelajari Kitab Bumi. Satebah adalah ukuran besar, yang sama dengan telapak tangan dari ibu jari ke kelingking dalam keadaan rapat.

Ini yang dirasakan Halayudha. Samar-samar ia mengetahui bahwa tendangannya, guntingan kakinya, hampir menyentuh tubuh Upasara. Mungkin jaraknya tinggal satebah atau malah sanyari. Tetapi tetap belum mengenai! Inilah hebatnya!

“Apa itu semacam kidungan ilmu hitam?” Baginda bertanya lirih, karena tak bisa menahan diri untuk mengetahui. Sebagai bekas ksatria yang mempelajari ilmu silat, perhatian Baginda pada perkembangan ilmu silat tak terusir begitu saja. Apalagi dengan menyaksikan sendiri kehebatan ilmu Upasara.

Mahapatih Nambi menggeleng setelah menyembah. “Hamba kira bukan, atau hamba belum pernah mendengar ada ilmu hitam seperti itu. Memang tadi hamba dengar, kalau tak salah, Putri Pulangsih dan Kebo Berune menyebut tentang ilmu sesat yang bisa mematikan rasa pada kulit, daging, darah, ataupun kuku. Mohon ampun, Baginda sesembahan seluruh Keraton, hamba tak mengetahui…”

“Aku tahu. Aku tahu ada latihan mengelak dan menangkis yang bisa disebut ilmu Sekilan. Seperti Sardula Sekilan atau juga Lembu Sekilan. Apakah ilmu Upasara bagian dari itu?”

“Baginda sungguh bijak dan mengetahui segalanya.”

Pujian Mahapatih Nambi bukan pujian kosong. Jauh dalam hatinya, begitu Upasara mengatakan Satebah Lemah, Sanyari Bumi, sudah terbayang akan ilmu yang jauh lebih kondang, yaitu Sardula Sekilan ataupun Lembu Sekilan. Sekilan adalah ukuran lebar jika jari tangan direntangkan, antara ibu jari dengan kelingking. Jarak itulah yang diusahakan selalu terjaga pada serangan musuh.

Tambahan sebutan sardula yang artinya harimau, lebih menunjukkan penghormatan kepada Sri Baginda Raja yang memakai simbol harimau. Kembangan jurus itu disebut dengan Lembu Sekilan, atau Gerakan Seekor Lembu. Meskipun diakui kelebihannya, jurus itu tidak terlalu digemari dan tidak menonjol. Karena jurus Sekilan lebih bersifat mempertahankan diri, dan bukan menyerang.

Jurus yang mematahkan pertahanan. Kurang cocok dalam suatu pertarungan. Makanya, sungguh luar biasa Upasara mampu memainkan dengan hebat. Justru ketika kedua tangannya tak bisa menyerang atau menangkis karena sedang membopong seseorang! Pas sekali.

Yang lebih menganggumkan ialah Upasara mampu mengembangkan jarak serangan dari sekilan menjadi satebah. Atau bahkan hanya sanyari. Sejarak satu jari! Menakjubkan.

Gugatan Sejarah
SATU jari! Siapa pun yang pernah melatih jurus Sekilan, menyadari betapa gawat dan rumitnya. Sebab harus disertai ketenangan yang sempurna. Membiarkan lawan memukul, menusuk, melukai, dan baru ketika jaraknya sekilan, tenaga lawan dimusnahkan. Meleset sedikit saja, bisa ambruk.

Keliru perhitungan saat yang diambil, bisa hancur. Dan Upasara ternyata mampu mendekatkan lagi jarak serangan lawan menjadi satebah dan akhirnya sanyari.

Baru sekarang Halayudha sadar sepenuhnya bahwa memang kedua kakinya yang saling beradu dengan keras. Karena merasa mengenai tubuh lawan, tenaganya ditumpahkan. Tak tahunya mengenai kakinya sendiri. Saling gempur. Bisa dimengerti kalau mata kakinya hancur luluh!

“Tugasku selesai. Selamat tinggal, jagat dan isinya, aku yang tua tak ada gunanya lagi.” Eyang Putri Pulangsih melebarkan kedua tangannya.

“Tugasku belum selesai!” teriak Cebol Jinalaya.

“Itu bukan urusanku.”

Nyai Demang yang sejak tadi tertegun kini bergerak-gerak. “Mau ke mana, Pulangsih? Aku akan mengikutimu selalu. Perjalanan asmara ini akan selalu bersama. Getaran asmaramu akan selalu menuntunku.”

Eyang Putri Pulangsih justru memalingkan wajahnya. Menatap ke arah Upasara. Lalu ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Tergantung kalian yang muda, yang masih pantas menempati jagat yang ruwet ini.” Dengan satu kibasan, tubuh Eyang Putri Pulangsih lenyap. Seketika. Tak ada bekas. Tak ada jejak yang ditinggalkan.

Nyai Demang celingukan. “Pulangsih… Pulangsih… Tunggu aku…”

Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Kakang Upasara. Hentikan Mbakyu Demang!”

Tapi perhatian Upasara tertuju penuh pada Permaisuri Rajapatni yang berada dalam rangkulannya. Sementara itu seluruh prajurit dan para senopati sudah sepenuhnya bersiaga total. Mahapatih Nambi menggenggam dua senjata di kanan dan di kiri. Di bagian luar benteng, prajurit siap meluncurkan semua anak panah yang tersedia.

Untuk seletikan api, Baginda ragu. Apakah memerintahkan penyerangan, atau menunda. Memerintahkan penyerangan, berarti nyawa Permaisuri Rajapatni bisa cedera. Ratusan anak panah dan tusukan serta bacokan senjata tajam, tak mungkin hanya mengenai tubuh Upasara. Karena Permaisuri Rajapatni berada dalam dekapan.

Menunda serangan, berarti membiarkan Upasara pergi dengan leluasa. Sambil membawa permaisurinya. Ini dilakukan secara terang-terangan. Di depan hidungnya. Di hadapan semua kawula Keraton.

Gendhuk Tri seakan bisa menebak ke arah mana jalan pikiran Baginda. “Kakang, aku di depanmu. Jangan ragu. Dulu Kakang menyelamatkan diri menyabung nyawa untuk membebaskanku, ketika pasukan Kediri menawanku. Sekarang bisa terulang lagi. Jangan kuatir, Kakang. Singanada, ayo kemari. Kita rapatkan barisan.” Tanpa segan-segan, Gendhuk Tri menarik tangan Maha Singanada ke dekatnya.

“Apa kata kamu, Kanyasukla.”

Singanada mengambil sikap bersiaga, memasang kuda-kuda. Tinggal satu perintah. Satu kedipan mata. Dari Baginda. Tapi masih tertahan. Hanya beberapa senopati utama yang mengetahui bahwa kata-kata

Gendhuk Tri mempunyai bisa yang dalam. Yang menggugat kembali ke jantung hati Baginda. Karena kata-kata Gendhuk Tri merobek luka lama, mengingatkan bahwa pada suatu ketika dulu terjadi sesuatu. Saat di mana prajurit Tarik menyerbu masuk ke Keraton yang diduduki Raja Muda Jayakatwang.

Ketika itu Gendhuk Tri dan Gayatri ditawan. Diikat pada tiang di ujung benteng Keraton. Dalam keadaan yang gawat dan menentukan, Baginda yang saat itu masih Raden Sanggrama Wijaya memilih untuk meneruskan pertempuran. Dengan mengabaikan keselamatan Gayatri dan Gendhuk Tri.

Hanya dengan kenekatan yang luar biasa, Upasara Wulung meloncat naik dan bertarung mengadu jiwa. Kejadian yang begitu mengenaskan dan nyaris mengantar Gendhuk Tri ke Hang kubur karena tindakan Baginda, tak akan terlupakan seumur hidup.

Bahwa kemudian Gendhuk Tri tak mempersoalkan dan tidak menggugat, karena merasa tak ada urusan. Apalagi sejarah Keraton yang kemudian didengar lewat berbagai kidung pemujaan, justru menokohkan Baginda. Bahwa serangan dan aba-aba yang diberikan dahulu, karena Baginda lebih mengutamakan kebenaran, lebih mendahulukan kepentingan Keraton, dibandingkan kepentingan pribadinya.

Bahwa kalau perlu keluarga atau dirinya sendiri dikorbankan demi kemenangan kebenaran, daripada surut karena memikirkan keselamatan satu orang keluarganya. Dari peristiwa yang sama, bisa berbagai kidungan yang muncul. Yang menguasai Keraton dan diajarkan adalah kidungan perjuangan Baginda. Keluhuran serta kebesaran jiwanya.

Gendhuk Tri memang tak merasa mempunyai kepentingan. Apakah pemujaan itu dituliskan dengan jujur atau dibuat untuk menokohkan Baginda. Juga tak ada senopati dan pendeta yang meragukan. Bahkan sebaliknya saling menyokong memberikan alasan yang membenarkan. Gendhuk Tri tak peduli. Sampai merasa bahwa kini posisinya terulang kembali.

Sadar bahwa keadaannya yang sekarang ini lebih gawat. Karena menghadapi serbuan begitu banyak. Sakti seperti Dewa sekalipun, belum tentu Upasara bisa lolos dari kepungan. Apalagi tanpa membuat Permaisuri Rajapatni terluka atau cacat. Kalau ini terjadi dalam pelukan Upasara Wulung, pertarungan habis-habisan bakal terjadi. Tak bersisa lagi.

Maka Gendhuk Tri menyentakkan kembali ingatan Baginda. Satu-satunya harapan kecil yang membersit ialah, jika Baginda merasa yakin apa yang diputuskan dahulu murni untuk mendahulukan kepentingan Keraton, pasti tetap memerintahkan penyerangan. Dan berarti ia bersiap diri.

Kalau tidak, Baginda akan tergugat. Dan ragu. Itu yang lebih diharapkan. Dan nyatanya begitu. Baginda masih termangu. Tapi hanya sebentar. Karena kemudian terdengar kumandang nyaring suara seseorang.

“Kalau semua durjana dibiarkan keluar-masuk seenaknya, apa bedanya Keraton dengan pasar? Di mana kalian semua memuja Dewa yang menginjak tanah? Di mana darma bakti kalian ke hadapan duli Raja?”

Itu suara wanita. Yang berada dalam joli, yang dikawal ketat sekali. Suara Permaisuri Indreswari.

“Kalau tak ada yang berani maju, biarlah hamba yang tak berarti ini maju pertama kali. Membersihkan dan menjaga kesucian wanita adalah tugas utama kaum putri Keraton.”

Gendhuk Tri melihat gelagat yang buruk. Karena Permaisuri Indreswari mengaitkan dengan Keraton, kesucian, dan membersihkan wanita yang tidak suci, yang mengotori. Pastilah yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni, yang dianggap tidak pantas berada dalam bopongan Upasara Wulung. Cara menyulut kebencian yang sangat tepat.

Mahapatih Nambi mengangkat kedua tangannya. Seluruh prajurit dan senopati merentang busur, menyiagakan pedang, keris, tombak, dan semua persenjataannya. Begitu tangannya turun, atau aba-aba terdengar, tak ada kecualinya. Hujan senjata akan terjadi. Pertarungan habis-habisan dimulai.

Upasara Wulung seakan melayang ke dunianya sendiri. Tak peduli sama sekali. Pandangan tertuju langsung ke Permaisuri Rajapatni.

Pabaratan Asmara
PERMAISURI INDRESWARI menyibakkan joli. Wajahnya masih geram ketika menyembah ke hadapan Baginda, lalu jarinya yang lentik menuding ke arah Upasara.

“Manusia tak berbudi, jangan kotori bumi pusaka ini.” Tudingannya menurun. Serentak dengan itu dari arah dalam muncul rombongan baru.

Gendhuk Tri menghela napas. Rombongan yang baru masuk juga menggunakan songsong atau payung kebesaran. Benar dugaannya, bahwa Putra Mahkota Bagus Kala Gemet yang datang. Diiringi oleh senopati yang siap siaga. Secara bersamaan menyembah ke hadapan Baginda. Putra Mahkota menyembah sampai menyentuh tanah.

“Maaf, Yang Mulia Baginda, sesembahan Keraton. Izinkanlah hamba yang muda usia menyelesaikan bencana. Adalah kehinaan yang sempuma. Mengubah halaman suci. Menjadi pabaratan asmara… Mohon izin Baginda…”

Sejenak wajah Baginda menoleh perlahan. Dipandangnya Putra Mahkota yang masih menunduk. Adalah sangat tepat sekali kemunculan Putra Mahkota sekarang ini. Pada saat yang menentukan, Putra Mahkota muncul untuk menyelesaikan. Cara penampilan yang sempurna. Karena saat itu Baginda sedang kikuk untuk memutuskan. Apakah melepaskan atau menahan Upasara. Sabda seorang raja tak bisa ditarik kembali. Lain masalahnya jika komando dipegang oleh Putra Mahkota. Bisa ditarik atau diubah kembali. Jika Baginda tidak menghendaki.

Akan tetapi sekarang ini masalahnya tidak segampang itu. Dalam soal menyerahkan kepemimpinan sehari-hari, Baginda merasa sejak awal telah menunjuk Bagus Kala Gemet sebagai putra mahkota. Bahkan merestui, secara tidak langsung, ketika Putra Mahkota mengangkat diri dan memakai gelar raja. Baginda berpikir seperti itu karena tidak menginginkan adanya pertarungan di kelak kemudian hari. Siapa yang berhak atas takhta?

Maka sejak dini hari sudah digariskan suatu keputusan. Diakui betapa akan ruwet andai tidak sejak dini disabdakan kehendaknya. Karena soal pengangkatan mahapatih saja boleh dikatakan selesai sepenuhnya dengan enak. Yang membuat Baginda sedikit bimbang ialah kenyataan Putra Mahkota telah menyiapkan diri secara terencana. Kemunculannya, caranya memaksa dengan halus dan menyebutkan pabaratan asmara, menunjukkan cara pemikiran yang sepenuhnya dipompakan oleh Permaisuri Indreswari.

Pabaratan bisa berarti medan perang atau peperangan. Apa yang terjadi sekarang ini boleh dikatakan mengubah halaman Keraton menjadi medan perang. Akan tetapi Putra Mahkota menekankan adanya pabaratan asmara, seakan menekankan masalah dasarnya hanyalah soal asmara. Hubungan antara Baginda dan Permaisuri Rajapatni hanya semata-mata urusan asmara. Yang dengan demikian menjadi lebih gampang mengatasinya.

Di lain pihak dengan menyebutkan sebagai pabaratan asmara, Putra Mahkota menyodok pengertian bahwa urusan Permaisuri Rajapatni dan Upasara Wulung pun semata-mata urusan asmara. Asmara yang kotor. Kalau sekarang ini Baginda memberi izin Putra Mahkota untuk memegang komando, berarti menyetujui sepenuhnya kekuasaan di tangan Putra Mahkota. Berarti melepaskan kekuasaannya.

Halayudha melihat gelagat. Tangannya meraih seorang senopati, dan ia meloncat ke atas pundaknya. Bagian kakinya, terutama lutut ke bawah, memang dimatikan sehingga seperti lumpuh. Akan tetapi, bagian atas tetap sempurna. Dengan begitu Halayudha bisa ikut ambil bagian dalam peristiwa yang menentukan. Gelagat yang ditangkap Halayudha terutama sekali bukan dari kemungkinan Baginda mengiya atau tidak, melainkan bahwa pengiring Putra Mahkota boleh dikatakan lengkap.

Sekilas saja bisa terlihat adanya Maha Singa Marutma dan Pangeran Jenang dengan semua pengikutnya. Serta adanya beberapa tokoh yang sekilas bisa berjalan sangat ringan. Lebih dari itu, Halayudha bisa mencium bahwa Permaisuri Indreswari pasti sudah membuat rencana yang matang. Sejak ada huru-hara, Permaisuri Indreswari sudah menyusun kekuatan, dan masuk tepat pada saat yang menguntungkan. Sekarang ini. Kalau dirinya hanya duduk sebagai penonton, di kelak kemudian hari tak bisa memainkan perannya. Maka Halayudha naik ke punggung seorang senopati.

“Susun Saharsa Bala!”

Teriakan Halayudha segera diikuti oleh semua prajurit. Dari semua prajurit yang ada di halaman hingga di luar Keraton segera bersiap, membentuk barisan yang mengepung. Rapat sesak di bagian depan. Sakti seperti Dewa sekalipun, Upasara belum tentu lolos dari kepungan. Karena Halayudha sudah menyiapkan Barisan Saharsa Bala. Yaitu strategi perang dalam keadaan mendesak.

Saharsa berarti seribu. Akan tetapi juga bisa berarti dilakukan dengan paksa. Jadi Saharsa Bala berbeda dari Bala Sewu atau Bala Srewu, walau secara harfiah artinya sama. Seribu Prajurit. Bedanya dari Bala Srewu ialah dalam taktik serangan Saharsa Bala, prajurit yang berada di depan tak akan minggir atau mundur, apa pun yang terjadi!

Mau atau tidak, harus tetap berada di depan. Inilah maka kata saharsa mempunyai makna ganda. Makna terpaksa. Dengan strategi ini Halayudha mengisyaratkan bahwa apa pun yang terjadi tak nanti Upasara dan Permaisuri ataupun Gendhuk Tri dan Singanada serta Cebol Jinalaya bisa lolos. Kecuali melalui seribu mayat. Siasat Halayudha bersifat mengancam lawan, tetapi juga mendesakkan keinginan secara tersamar agar Baginda memilih jalan untuk tetap menahan Upasara.

Baginda mendongak ke langit. “Putraku… Usahakan jalan terbaik. Ini saat kamu tampil dengan baik.”

Putra Mahkota mendongak, masih dengan sikap menyembah. “Segala kehormatan untuk kebesaran Baginda…” Lalu dengan cepat berbalik. Berdiri gagah.

“Singanada, ini Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, dengan nama gelaran resmi Sri Sundarapandya Adiswara, mengeluarkan sabdanya. Dengar baik-baik! Jika kamu mengundurkan diri secara baik-baik, aku akan mengampuni semua kesalahanmu. Untuk kebesaranku, siapa yang mengikuti langkahmu akan mendapatkan pengampunan yang sama denganmu. Kamu dengar, Singanada?”

“Dengan sangat jelas.”

“Aku yang memberi tempat perlindungan, memberi kehormatan ketika kamu kembali ke tanah Jawa. Seperti Singa Marutma, seperti Pangeran Jenang, seperti semua senopati sabrang. Kamu tak akan melupakan itu.”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu, minggirlah!”

“Sebaiknya mungkin begitu. Tapi aku tak ada ikatan apa-apa dengan siapa-siapa. Aku sudah memutuskan kembali ke perantauan. Ke tanah sabrang, meneruskan tugas mengibarkan umbul-umbul kebesaran Keraton.”

“Bagus, minggirlah!”

“Aku akan minggir, kalau sudah bertemu dengan Senopati Agung untuk menentukan siapa yang berhak hidup.”

Gendhuk Tri tak menduga sama sekali, bahwa Maha Singanada memang hanya memikirkan kepentingan sendiri. Benar-benar lugas, apa adanya. Kejujurannya yang tiada tandingannya.

“Urusan itu bisa diselesaikan di kemudian hari.”

“Tidak bisa,” sahut Singanada cepat. “Apa hak kamu mencampuri urusan pribadiku?” Keras, lantang, dan menantang.

Putra Mahkota terbatuk keras. Kalau ia sengaja memberi pengampunan bagi Singanada, semata-mata bukan karena ingin mengurangi jumlah korban. Juga bukan gentar. Tapi hanya ingin memperlihatkan kebesarannya, keagungannya dalam memberi ampun. Siapa sangka akan mendapat jawaban yang begitu kasar?

“Kalau itu yang kamu kehendaki, bersiaplah menerima hukuman!” Putra Mahkota masih menunjukkan kelebihannya dengan membusungkan dada. “Upasara, masih ada kesempatan terakhir bagimu untuk meminta maaf. Aku janjikan bukan hukuman mati sekarang ini juga.”

Tak ada jawaban.

Barisan Padatala
UPASARA masih kesengsem. Apalagi saat itu, Permaisuri Rajapatni tersenyum lembut.

“Kakangmas…”

“Kenapa Yayi Ratu memanggil dengan sebutan Kakangmas?”

“Kenapa? Apa ada bedanya Kakang dengan Kakangmas?”

“Saya lebih suka dipanggil Kakang…”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang. “Saya pun lebih suka disebut Yayi, tanpa tambahan Ratu di belakangnya.”

Dada Upasara mengembang. “Kakang, kenapa saya tidak diturunkan saja? Sejak tadi Kakang membopong…”

Kali ini Upasara menjadi kikuk. Hidungnya merah dan berkeringat. “Yayi… Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Sama sekali tidak. Sejak tadi juga tidak.”

Upasara menyadari ketololannya. Memang sejak tadi Permaisuri yang dibopong ini tidak terluka, tidak terganggu. Hanya karena rasa kuatirnya saja yang menyebabkan Upasara ingin melindungi seperti induk ayam. Upasara menurunkan perlahan. Kini Permaisuri Rajapatni berdiri. Sejajar. Berdampingan. Di tengah kepungan rapat.

“Kakang…”

Upasara memandang lembut.

“Saya tidak menyangka Kakang akan datang. Saya kira Kakang sama sekali tak mau menemui. Saya kira Kakang telah mati. Tapi Dewa yang Maha Pencipta mengabulkan doa kita. Kakang datang. Menjemput saya. Bukan membebaskan kala saya berada dalam bahaya. Bukan karena alasan lain yang menyertai. Bukan karena Keraton sedang diserbu musuh. Bukan karena putri-putriku dalam bahaya. Kali ini Kakang datang mligi untuk saya.”

Upasara memalingkan wajahnya. Sekarang ini kedatangannya memang khusus untuk Gayatri yang dirindukan. Bukan ditambahi alasan lain yang membenarkan tindakannya secara tersamar. Kali ini Upasara datang khusus untuk menemui Gayatri. Inilah yang membuat Gayatri yakin bahwa semua doa yang pernah diucapkan siang dan malam terkabul.

“Kakang, kalau ini pertemuan terakhir, saya merasa bahagia.”

“Saya tak tahu, Yayi.”

“Kakang jangan ragu lagi. Jangan mundur lagi. Saya akan sedih sekali.”

“Tidak, Yayi. Kakangmu datang kepadamu. Tanpa ragu. Eyang Putri Pulangsih muncul hanya untuk ini. Untuk pertemuan ini. Pastilah ini dikehendaki Dewa. Kakang tak akan mundur lagi.”

Upasara melangkah gagah. Pandangannya menyapu seluruh halaman Keraton. “Sobat Singanada, terima kasih atas simpati sobat. Akan tetapi biarlah saya menanggung sendiri. Ini urusan pribadi.”

Lalu menatap Gendhuk Tri. Bibir Upasara tersenyum. “Saya banyak mendengar tentang dirimu, kamu sungguh luar biasa. Kakang bangga mempunyai adik manis seperti ini.”

“Kakang juga mau minta saya mundur?”

“Mati dan hidup bukanlah masalah besar bagi kita. Mari kita berjajar, agar merasakan panas dan dingin bersama-sama.”

Gendhuk Tri berbunga-bunga hatinya. Wajahnya cerah. Langkahnya ringan mendekat ke arah Upasara. Seumur hidupnya, inilah pertama kali Upasara bersikap begitu lembut, begitu mesra, dengan perhatian yang hangat. Maha Singanada juga mengingsut langkahnya. Mereka berjajaran berempat.

“Beri tempat kepada Barisan Padatala.”

Perintah Putra Mahkota segera diikuti berkelebatnya beberapa bayangan menuju ke depan. Menjadi inti serangan. Kalau Upasara tak terlalu memperhatikan, sebaliknya Halayudha berpikir keras. Apa yang disebut Barisan Padatala atau Barisan Telapak Kaki, bukan orang sembarangan. Kelihatan dari geraknya yang sangat ringan. Walau jumlahnya hanya tiga orang, akan tetapi Putra Mahkota menyebut sebagai barisan.

Ketiganya bertelanjang kaki, hanya saja kelihatan jelas mengenakan gelang di kaki, yang biasa disebut padahatkala. Sejauh yang diketahui Halayudha, warna gelang kaki yang keemasan itu menunjukkan tingkatan mereka. Dilihat dari gerak-geriknya, sangat dekat sekali dengan apa yang dilakukan Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka! Masuk akal.

Selama ini Putra Mahkota sangat mengagungkan pendeta dari tanah Syangka. Pendeta Sidateka yang berhasil menanamkan pengaruhnya, pastilah tidak sendirian setelah berhasil. Beberapa tokoh lain diminta datang. Sekarang ini, sedikitnya tiga tokoh yang muncul. Kalau dilihat dari tingkat kaki, jelas ketiganya di atas Pendeta Syangka.

Dengan kesimpulan lain, Halayudha mencium bahwa Putra Mahkota, di bawah pengaruh Permaisuri Indreswari, menyiapkan diri secara sempurna. Menggalang semua kekuatan yang ada. Secara tidak tanggung-tanggung. Halayudha menganggap dirinya memperhatikan segala sesuatu yang terjadi dan merencanakan dengan cermat. Sekali ini mengakui bahwa Permaisuri Indreswari justru lebih teliti dan terarah. Terarah pada puncak kekuasaan.

Bahwa pengaruh dan kekuasaannya sebagai permaisuri utama sangat memungkinkan untuk melakukan apa saja, bisa dimengerti. Tetapi bahwa cara-cara memilih orang yang dipercaya bisa tepat, ini membuat Halayudha kagum. Dan tak bisa meremehkan seperti sebelumnya.

“Kami datang bertiga. Sebenarnya tidak biasa dengan pertarungan keroyokan seperti ini. Akan tetapi keadaan menghendaki begini. Maafkan kami, ksatria besar.”

Gendhuk Tri menyibakkan rambutnya. “Aha, masih ada tata krama kecil-kecilan. Kalian tak perlu malu. Mengabdi seseorang memang berarti membunuh harga diri, berarti merendahkan diri dengan telanjang kaki.”

Ketiganya berpandangan. Lalu memandang lurus ke depan. “Apa hubunganmu dengan Pendeta Sidateka?”

“Aku pemilik Kitab Air yang dicuri Sidateka. Kalian juga datang untuk melakukan pencurian?” Gendhuk Tri melihat kesempatan untuk mengulur waktu.

Ketiganya menggeleng bersamaan. “Kami tidak mencuri apa-apa. Kami mempunyai ilmu silat sendiri. Hanya memang Sidateka mengirimkan kepada kami beberapa baris kidungan dari Kitab Air yang mempunyai banyak persamaan. Terima kasih atas penjelasan Kisanak.”

Singanada bertepuk tangan. “Masih ada ksatria, walau dari negara sabrang. Baik, perkenalkan! Namaku Maha Singanada, dan ini calon pasanganku, Gendhuk Tri. Itu yang namanya Upasara Wulung, ksatria lelananging jagat, dan pasangannya… saya tak tahu nama gelarannya. Cukup?”

“Kami bertiga disebut sebagai Resres, Wacak, dan Taletekan.”

Tak ada yang istimewa dari nama yang disebutkan. Resres berarti capung, wacak berarti belalang, sedangkan taletekan berarti daun-daunan. Tidak menunjukkan gelaran atau nama besar. Bahkan boleh dikatakan nama yang sembarangan. Asal jumput nama saja.

Upasara justru mengerutkan keningnya. Karena nama-nama yang biasa, justru mempunyai gema yang besar dalam tradisi Perguruan Awan. Seperti juga Paman Jaghana yang berarti pantat. Seperti Eyang Sepuh pun, hanya sebutan kehormatan belaka. Nama sebenarnya tak pernah diketahui, selain disebut-sebut sebagai Bejujag. Demikian juga Kebo Berune. Hanya Mpu Raganata yang berarti. Tapi pasti itu nama gelaran yang dimiliki karena mengabdi kepada Keraton. Bukankah tokoh utama Eyang Putri juga disebut Pulangsih? Atau malah kenyung. Upasara maju setindak, melindungi Permaisuri Rajapatni.

Bubuk Pagebluk
HANYA Cebol Jinalaya yang tetap tenang. “Ternyata begini banyak kesempatan untuk mati. Kenapa teman-teman di Jinalaya tak kemari?”

Gendhuk Tri menyadari bahwa bahaya bisa terjadi setiap saat, ketika melihat Upasara dengan cepat melepaskan bajunya dan sekaligus juga kain yang dikenakan. Dengan bertelanjang dada, nampak kulitnya yang putih halus jarang terkena matahari.

JILID 05BUKU PERTAMAJILID 07

Senopati Pamungkas Kedua Jilid 06

Senopati Pamungkas
Buku Kedua
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

SENOPATI PAMUNGKAS II JILID 06

“Kakang tidak apa-apa?” Permaisuri Rajapatni mengulangi pertanyaannya, dengan nada lembut yang sarat oleh rasa kuatir.

Upasara menggeleng.

“Benar, Kakang?”

“Benar, Yayi Permaisuri…”

“Bibirmu berdarah, Kakang…”

“Karena dada Kakang terkena tendangan Halayudha.”

“Sakit?”

“Sedikit.”

“Darahnya banyak, Kakang…”

“Tak apa. Darah memang ada di mana-mana, Yayi. Kalau kaki terantuk, juga mengeluarkan darah. Sakit sedikit. Tapi tak apa, karena tak mengganggu tenaga dalam. Tak apa, Yayi…”

“Betul, Kakang?”

Upasara mengangguk lagi. Meskipun diucapkan perlahan, karena suasana sangat sepi, percakapan itu terdengar jelas. Angin pun berhenti, seakan sungkan mengganggu pertemuan sepasang kekasih yang menyimpan segunung kerinduan.

“Tapi Halayudha menendang lagi.”

“Ya, tapi tidak mengenai.”

“Tidak.”

“Rasanya seperti mengenai.”

Upasara menggeleng lembut. “Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Tidak. Kakang jangan mencemaskan saya. Hanya ketika Eyang Putri berteriak tadi, saya merasa sangat sedih tak bisa menguasai diri. Sedih sekali.” Permaisuri Rajapatni menghela napas.

“Bagaimana dengan putri-putri Yayi Ratu?”

“Baik-baik semuanya… Kakang. Dewa memberkati mereka.”

Sunyi sesaat.

“Kakang, benar Kakang tidak terluka parah? Atau Kakang menyembunyikan sesuatu? Atau Kakang sudah mati seperti Kebo Berune, Eyang yang membonceng Nyai Demang?”

Upasara merasa sudut matanya panas. Kekuatiran Permaisuri Rajapatni bagai mencabut sukmanya. Keprihatinan kasih sayang yang mengalahkan semua bentuk perhatian.

“Tendangan Halayudha sangat sakti, memang. Tenaga yang dipakai adalah Suduk Gunting Tatu Loro, sekali menendang dengan dua luka seperti dua mata pisau. Kalau mengenai bisa menghancurkan. Tapi tidak mengenai tubuh saya.”

“Ilmu apa yang Kakang pergunakan?”

“Yang pernah kita baca bersama, Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi. Apakah Yayi Ratu masih ingat?”

Setebah Tanah, Sejari Bumi
PERMAISURI RAJAPATNI bagai ditarik ke masa lalu. Ketika masih Gayatri, yang diajak menemani Upasara menyusup ke Keraton Singasari, di mana Raja Muda Jayakatwang berkuasa setelah menyingkirkan Baginda Raja Sri Kertanegara.

Dalam perjalanan sebagai duta Keraton, bibit-bibit asmara tumbuh di antara keduanya. Bersemi dan mekar dengan indah. Bagi Upasara Wulung dan Dyah Gayatri, itulah kenangan yang paling indah dalam hidup mereka berdua. Karena memang itu satu-satunya kesempatan bisa berdua, dalam waktu yang cukup lama.

Kalau saat itu masih ada ganjalan antara mereka berdua, itu semata-mata karena Upasara Wulung merasa dirinya sebagai orang kebanyakan, sebagai hamba, sementara Gayatri adalah putri Sri Baginda Raja yang agung binatara, raja besar yang dihormati. Kekakuan itu mencair, setelah Gayatri mengisyaratkan bahwa ia tak berkeberatan menerima Upasara.

Betapa indah. Betapa gagah. Betapa agung. Betapa mekar semerbak, segalanya memancarkan bau harum. Saat itu keduanya belum menduga, bahwa kemudian para pendeta Keraton mempunyai ramalan bahwa Gayatri dan Raden Sanggrama Wijaya harus dipersandingkan, harus menurunkan raja yang kelak kemudian hari akan membawa Keraton ke puncak kejayaan yang belum pernah dialami oleh seluruh raja di tanah Jawa.

Saat itu mereka berdua berbicara mengenai apa saja. Mengenai langit, mengenai mata angin, mengenai kuda, laut, bunga-bunga yang tak dimengerti Upasara, mengenai jurus-jurus ilmu silat yang tak dimengerti oleh Gayatri.

“Kalau saya bisa silat, saya tak akan merepotkan dirimu, Kakang…”

“Hamba tidak merasa direpoti…”

“Kenapa Kakang masih selalu menghamba? Tidakkah menyebut dengan Kakang lebih mudah tanpa harus menghamba? Apakah menyebut begitu lebih sulit, Kakang?”

“Entahlah. Suatu hari nanti, hamba bisa menyebut diri secara kurang ajar. Akan tetapi memang hamba tak bisa dengan cepat menguasai kidungan dalam Kitab Bumi.”

“Kalau yang lainnya bisa, kenapa Kakang tidak?”

“Sangat sulit. Ada bagian yang tak bisa ditafsirkan dengan baik. Kidungan tentang Satebah Lemah, Sanyari Bumi… Rasanya setiap kali saya kidungkan, setiap kali hamba berusaha memahami…”

“Coba lagi, Kakang. Saya tak mengerti banyak tentang pengaturan napas atau menggerakkan jari. Tapi rasanya, para empu yang menuliskannya bukannya sekadar mengarang kata-kata…”

“Jangan ditertawakan, Putri…” Upasara mencoba menembangkan kidungan itu.

Mencintai bumi, ialah mencintai diri sendiri
sebab bumi adalah tubuh
bumi adalah kehormatan
bumi adalah kehidupan ksatria
bumi adalah roh
bumi adalah jiwa
pertahankan tanah
walau setebah
hingga rebah
pertahankan bumi
walau sejari
hingga mati
bumi adalah ibu pertiwi
di pusar menjalar
ke semua akar
tanah itu bumi
bumi itu tanah
tanah bumi
bumi
bumi…


Gayatri tertawa mengikik. Untuk pertama kalinya berada di luar tata kesopanan Keraton, Gayatri bisa tertawa bebas.

Wajah Upasara menjadi merah padam. “Hamba tak bisa menembang. Maaf.”

“Aku tertawa karena matamu melirik kian-kemari.”

Wajah Upasara makin merah-hitam.

“Kakang, bukankah segalanya telah jelas? Bumi adalah kehormatan yang tak bisa dikotori. Selama masih ada yang bisa dipertahankan, harus dipertahankan. Biarpun hanya satebah, hanya selebar tangan dengan jari yang rapat. Biarpun hanya sanyari, atau satu jari. Harus tetap dipertahankan. Bukankah semua prajurit, semua ksatria, harus mempertahankan bumi kelahirannya, hingga sejengkal sekalipun?”

“Yang begitu saya… hamba… saya tidak sangsi. Tapi rasanya bukan hanya itu.”

“Tenaga pusar?”

“Saya tahu, Putri… Tenaga yang dipergunakan adalah tenaga yang berasal dari pusar. Yang kita kumpulkan di bagian pusar, bukan di bagian lain.”

“Tapi saya merasa tak bisa leluasa. Justru seperti tertahan.”

“Kakang mau mencoba lagi?”

“Percuma, Yayi… eh, Tuan Putri…”

Memang bagian-bagian itulah yang lebih teringat oleh Permaisuri Rajapatni. Bagian-bagian yang mendekatkan dirinya dengan Upasara. Dan bukan pergulatan Upasara menemukan inti kekuatan lirik Kidungan Satebah Lemah, Sanyari Bumi.

Yang bagi Halayudha kini mempunyai makna yang bisa ditelusuri. Seperti para senopati lain yang mempelajari Kitab Bumi. Satebah adalah ukuran besar, yang sama dengan telapak tangan dari ibu jari ke kelingking dalam keadaan rapat.

Ini yang dirasakan Halayudha. Samar-samar ia mengetahui bahwa tendangannya, guntingan kakinya, hampir menyentuh tubuh Upasara. Mungkin jaraknya tinggal satebah atau malah sanyari. Tetapi tetap belum mengenai! Inilah hebatnya!

“Apa itu semacam kidungan ilmu hitam?” Baginda bertanya lirih, karena tak bisa menahan diri untuk mengetahui. Sebagai bekas ksatria yang mempelajari ilmu silat, perhatian Baginda pada perkembangan ilmu silat tak terusir begitu saja. Apalagi dengan menyaksikan sendiri kehebatan ilmu Upasara.

Mahapatih Nambi menggeleng setelah menyembah. “Hamba kira bukan, atau hamba belum pernah mendengar ada ilmu hitam seperti itu. Memang tadi hamba dengar, kalau tak salah, Putri Pulangsih dan Kebo Berune menyebut tentang ilmu sesat yang bisa mematikan rasa pada kulit, daging, darah, ataupun kuku. Mohon ampun, Baginda sesembahan seluruh Keraton, hamba tak mengetahui…”

“Aku tahu. Aku tahu ada latihan mengelak dan menangkis yang bisa disebut ilmu Sekilan. Seperti Sardula Sekilan atau juga Lembu Sekilan. Apakah ilmu Upasara bagian dari itu?”

“Baginda sungguh bijak dan mengetahui segalanya.”

Pujian Mahapatih Nambi bukan pujian kosong. Jauh dalam hatinya, begitu Upasara mengatakan Satebah Lemah, Sanyari Bumi, sudah terbayang akan ilmu yang jauh lebih kondang, yaitu Sardula Sekilan ataupun Lembu Sekilan. Sekilan adalah ukuran lebar jika jari tangan direntangkan, antara ibu jari dengan kelingking. Jarak itulah yang diusahakan selalu terjaga pada serangan musuh.

Tambahan sebutan sardula yang artinya harimau, lebih menunjukkan penghormatan kepada Sri Baginda Raja yang memakai simbol harimau. Kembangan jurus itu disebut dengan Lembu Sekilan, atau Gerakan Seekor Lembu. Meskipun diakui kelebihannya, jurus itu tidak terlalu digemari dan tidak menonjol. Karena jurus Sekilan lebih bersifat mempertahankan diri, dan bukan menyerang.

Jurus yang mematahkan pertahanan. Kurang cocok dalam suatu pertarungan. Makanya, sungguh luar biasa Upasara mampu memainkan dengan hebat. Justru ketika kedua tangannya tak bisa menyerang atau menangkis karena sedang membopong seseorang! Pas sekali.

Yang lebih menganggumkan ialah Upasara mampu mengembangkan jarak serangan dari sekilan menjadi satebah. Atau bahkan hanya sanyari. Sejarak satu jari! Menakjubkan.

Gugatan Sejarah
SATU jari! Siapa pun yang pernah melatih jurus Sekilan, menyadari betapa gawat dan rumitnya. Sebab harus disertai ketenangan yang sempurna. Membiarkan lawan memukul, menusuk, melukai, dan baru ketika jaraknya sekilan, tenaga lawan dimusnahkan. Meleset sedikit saja, bisa ambruk.

Keliru perhitungan saat yang diambil, bisa hancur. Dan Upasara ternyata mampu mendekatkan lagi jarak serangan lawan menjadi satebah dan akhirnya sanyari.

Baru sekarang Halayudha sadar sepenuhnya bahwa memang kedua kakinya yang saling beradu dengan keras. Karena merasa mengenai tubuh lawan, tenaganya ditumpahkan. Tak tahunya mengenai kakinya sendiri. Saling gempur. Bisa dimengerti kalau mata kakinya hancur luluh!

“Tugasku selesai. Selamat tinggal, jagat dan isinya, aku yang tua tak ada gunanya lagi.” Eyang Putri Pulangsih melebarkan kedua tangannya.

“Tugasku belum selesai!” teriak Cebol Jinalaya.

“Itu bukan urusanku.”

Nyai Demang yang sejak tadi tertegun kini bergerak-gerak. “Mau ke mana, Pulangsih? Aku akan mengikutimu selalu. Perjalanan asmara ini akan selalu bersama. Getaran asmaramu akan selalu menuntunku.”

Eyang Putri Pulangsih justru memalingkan wajahnya. Menatap ke arah Upasara. Lalu ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Tergantung kalian yang muda, yang masih pantas menempati jagat yang ruwet ini.” Dengan satu kibasan, tubuh Eyang Putri Pulangsih lenyap. Seketika. Tak ada bekas. Tak ada jejak yang ditinggalkan.

Nyai Demang celingukan. “Pulangsih… Pulangsih… Tunggu aku…”

Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Kakang Upasara. Hentikan Mbakyu Demang!”

Tapi perhatian Upasara tertuju penuh pada Permaisuri Rajapatni yang berada dalam rangkulannya. Sementara itu seluruh prajurit dan para senopati sudah sepenuhnya bersiaga total. Mahapatih Nambi menggenggam dua senjata di kanan dan di kiri. Di bagian luar benteng, prajurit siap meluncurkan semua anak panah yang tersedia.

Untuk seletikan api, Baginda ragu. Apakah memerintahkan penyerangan, atau menunda. Memerintahkan penyerangan, berarti nyawa Permaisuri Rajapatni bisa cedera. Ratusan anak panah dan tusukan serta bacokan senjata tajam, tak mungkin hanya mengenai tubuh Upasara. Karena Permaisuri Rajapatni berada dalam dekapan.

Menunda serangan, berarti membiarkan Upasara pergi dengan leluasa. Sambil membawa permaisurinya. Ini dilakukan secara terang-terangan. Di depan hidungnya. Di hadapan semua kawula Keraton.

Gendhuk Tri seakan bisa menebak ke arah mana jalan pikiran Baginda. “Kakang, aku di depanmu. Jangan ragu. Dulu Kakang menyelamatkan diri menyabung nyawa untuk membebaskanku, ketika pasukan Kediri menawanku. Sekarang bisa terulang lagi. Jangan kuatir, Kakang. Singanada, ayo kemari. Kita rapatkan barisan.” Tanpa segan-segan, Gendhuk Tri menarik tangan Maha Singanada ke dekatnya.

“Apa kata kamu, Kanyasukla.”

Singanada mengambil sikap bersiaga, memasang kuda-kuda. Tinggal satu perintah. Satu kedipan mata. Dari Baginda. Tapi masih tertahan. Hanya beberapa senopati utama yang mengetahui bahwa kata-kata

Gendhuk Tri mempunyai bisa yang dalam. Yang menggugat kembali ke jantung hati Baginda. Karena kata-kata Gendhuk Tri merobek luka lama, mengingatkan bahwa pada suatu ketika dulu terjadi sesuatu. Saat di mana prajurit Tarik menyerbu masuk ke Keraton yang diduduki Raja Muda Jayakatwang.

Ketika itu Gendhuk Tri dan Gayatri ditawan. Diikat pada tiang di ujung benteng Keraton. Dalam keadaan yang gawat dan menentukan, Baginda yang saat itu masih Raden Sanggrama Wijaya memilih untuk meneruskan pertempuran. Dengan mengabaikan keselamatan Gayatri dan Gendhuk Tri.

Hanya dengan kenekatan yang luar biasa, Upasara Wulung meloncat naik dan bertarung mengadu jiwa. Kejadian yang begitu mengenaskan dan nyaris mengantar Gendhuk Tri ke Hang kubur karena tindakan Baginda, tak akan terlupakan seumur hidup.

Bahwa kemudian Gendhuk Tri tak mempersoalkan dan tidak menggugat, karena merasa tak ada urusan. Apalagi sejarah Keraton yang kemudian didengar lewat berbagai kidung pemujaan, justru menokohkan Baginda. Bahwa serangan dan aba-aba yang diberikan dahulu, karena Baginda lebih mengutamakan kebenaran, lebih mendahulukan kepentingan Keraton, dibandingkan kepentingan pribadinya.

Bahwa kalau perlu keluarga atau dirinya sendiri dikorbankan demi kemenangan kebenaran, daripada surut karena memikirkan keselamatan satu orang keluarganya. Dari peristiwa yang sama, bisa berbagai kidungan yang muncul. Yang menguasai Keraton dan diajarkan adalah kidungan perjuangan Baginda. Keluhuran serta kebesaran jiwanya.

Gendhuk Tri memang tak merasa mempunyai kepentingan. Apakah pemujaan itu dituliskan dengan jujur atau dibuat untuk menokohkan Baginda. Juga tak ada senopati dan pendeta yang meragukan. Bahkan sebaliknya saling menyokong memberikan alasan yang membenarkan. Gendhuk Tri tak peduli. Sampai merasa bahwa kini posisinya terulang kembali.

Sadar bahwa keadaannya yang sekarang ini lebih gawat. Karena menghadapi serbuan begitu banyak. Sakti seperti Dewa sekalipun, belum tentu Upasara bisa lolos dari kepungan. Apalagi tanpa membuat Permaisuri Rajapatni terluka atau cacat. Kalau ini terjadi dalam pelukan Upasara Wulung, pertarungan habis-habisan bakal terjadi. Tak bersisa lagi.

Maka Gendhuk Tri menyentakkan kembali ingatan Baginda. Satu-satunya harapan kecil yang membersit ialah, jika Baginda merasa yakin apa yang diputuskan dahulu murni untuk mendahulukan kepentingan Keraton, pasti tetap memerintahkan penyerangan. Dan berarti ia bersiap diri.

Kalau tidak, Baginda akan tergugat. Dan ragu. Itu yang lebih diharapkan. Dan nyatanya begitu. Baginda masih termangu. Tapi hanya sebentar. Karena kemudian terdengar kumandang nyaring suara seseorang.

“Kalau semua durjana dibiarkan keluar-masuk seenaknya, apa bedanya Keraton dengan pasar? Di mana kalian semua memuja Dewa yang menginjak tanah? Di mana darma bakti kalian ke hadapan duli Raja?”

Itu suara wanita. Yang berada dalam joli, yang dikawal ketat sekali. Suara Permaisuri Indreswari.

“Kalau tak ada yang berani maju, biarlah hamba yang tak berarti ini maju pertama kali. Membersihkan dan menjaga kesucian wanita adalah tugas utama kaum putri Keraton.”

Gendhuk Tri melihat gelagat yang buruk. Karena Permaisuri Indreswari mengaitkan dengan Keraton, kesucian, dan membersihkan wanita yang tidak suci, yang mengotori. Pastilah yang dimaksudkan Permaisuri Rajapatni, yang dianggap tidak pantas berada dalam bopongan Upasara Wulung. Cara menyulut kebencian yang sangat tepat.

Mahapatih Nambi mengangkat kedua tangannya. Seluruh prajurit dan senopati merentang busur, menyiagakan pedang, keris, tombak, dan semua persenjataannya. Begitu tangannya turun, atau aba-aba terdengar, tak ada kecualinya. Hujan senjata akan terjadi. Pertarungan habis-habisan dimulai.

Upasara Wulung seakan melayang ke dunianya sendiri. Tak peduli sama sekali. Pandangan tertuju langsung ke Permaisuri Rajapatni.

Pabaratan Asmara
PERMAISURI INDRESWARI menyibakkan joli. Wajahnya masih geram ketika menyembah ke hadapan Baginda, lalu jarinya yang lentik menuding ke arah Upasara.

“Manusia tak berbudi, jangan kotori bumi pusaka ini.” Tudingannya menurun. Serentak dengan itu dari arah dalam muncul rombongan baru.

Gendhuk Tri menghela napas. Rombongan yang baru masuk juga menggunakan songsong atau payung kebesaran. Benar dugaannya, bahwa Putra Mahkota Bagus Kala Gemet yang datang. Diiringi oleh senopati yang siap siaga. Secara bersamaan menyembah ke hadapan Baginda. Putra Mahkota menyembah sampai menyentuh tanah.

“Maaf, Yang Mulia Baginda, sesembahan Keraton. Izinkanlah hamba yang muda usia menyelesaikan bencana. Adalah kehinaan yang sempuma. Mengubah halaman suci. Menjadi pabaratan asmara… Mohon izin Baginda…”

Sejenak wajah Baginda menoleh perlahan. Dipandangnya Putra Mahkota yang masih menunduk. Adalah sangat tepat sekali kemunculan Putra Mahkota sekarang ini. Pada saat yang menentukan, Putra Mahkota muncul untuk menyelesaikan. Cara penampilan yang sempurna. Karena saat itu Baginda sedang kikuk untuk memutuskan. Apakah melepaskan atau menahan Upasara. Sabda seorang raja tak bisa ditarik kembali. Lain masalahnya jika komando dipegang oleh Putra Mahkota. Bisa ditarik atau diubah kembali. Jika Baginda tidak menghendaki.

Akan tetapi sekarang ini masalahnya tidak segampang itu. Dalam soal menyerahkan kepemimpinan sehari-hari, Baginda merasa sejak awal telah menunjuk Bagus Kala Gemet sebagai putra mahkota. Bahkan merestui, secara tidak langsung, ketika Putra Mahkota mengangkat diri dan memakai gelar raja. Baginda berpikir seperti itu karena tidak menginginkan adanya pertarungan di kelak kemudian hari. Siapa yang berhak atas takhta?

Maka sejak dini hari sudah digariskan suatu keputusan. Diakui betapa akan ruwet andai tidak sejak dini disabdakan kehendaknya. Karena soal pengangkatan mahapatih saja boleh dikatakan selesai sepenuhnya dengan enak. Yang membuat Baginda sedikit bimbang ialah kenyataan Putra Mahkota telah menyiapkan diri secara terencana. Kemunculannya, caranya memaksa dengan halus dan menyebutkan pabaratan asmara, menunjukkan cara pemikiran yang sepenuhnya dipompakan oleh Permaisuri Indreswari.

Pabaratan bisa berarti medan perang atau peperangan. Apa yang terjadi sekarang ini boleh dikatakan mengubah halaman Keraton menjadi medan perang. Akan tetapi Putra Mahkota menekankan adanya pabaratan asmara, seakan menekankan masalah dasarnya hanyalah soal asmara. Hubungan antara Baginda dan Permaisuri Rajapatni hanya semata-mata urusan asmara. Yang dengan demikian menjadi lebih gampang mengatasinya.

Di lain pihak dengan menyebutkan sebagai pabaratan asmara, Putra Mahkota menyodok pengertian bahwa urusan Permaisuri Rajapatni dan Upasara Wulung pun semata-mata urusan asmara. Asmara yang kotor. Kalau sekarang ini Baginda memberi izin Putra Mahkota untuk memegang komando, berarti menyetujui sepenuhnya kekuasaan di tangan Putra Mahkota. Berarti melepaskan kekuasaannya.

Halayudha melihat gelagat. Tangannya meraih seorang senopati, dan ia meloncat ke atas pundaknya. Bagian kakinya, terutama lutut ke bawah, memang dimatikan sehingga seperti lumpuh. Akan tetapi, bagian atas tetap sempurna. Dengan begitu Halayudha bisa ikut ambil bagian dalam peristiwa yang menentukan. Gelagat yang ditangkap Halayudha terutama sekali bukan dari kemungkinan Baginda mengiya atau tidak, melainkan bahwa pengiring Putra Mahkota boleh dikatakan lengkap.

Sekilas saja bisa terlihat adanya Maha Singa Marutma dan Pangeran Jenang dengan semua pengikutnya. Serta adanya beberapa tokoh yang sekilas bisa berjalan sangat ringan. Lebih dari itu, Halayudha bisa mencium bahwa Permaisuri Indreswari pasti sudah membuat rencana yang matang. Sejak ada huru-hara, Permaisuri Indreswari sudah menyusun kekuatan, dan masuk tepat pada saat yang menguntungkan. Sekarang ini. Kalau dirinya hanya duduk sebagai penonton, di kelak kemudian hari tak bisa memainkan perannya. Maka Halayudha naik ke punggung seorang senopati.

“Susun Saharsa Bala!”

Teriakan Halayudha segera diikuti oleh semua prajurit. Dari semua prajurit yang ada di halaman hingga di luar Keraton segera bersiap, membentuk barisan yang mengepung. Rapat sesak di bagian depan. Sakti seperti Dewa sekalipun, Upasara belum tentu lolos dari kepungan. Karena Halayudha sudah menyiapkan Barisan Saharsa Bala. Yaitu strategi perang dalam keadaan mendesak.

Saharsa berarti seribu. Akan tetapi juga bisa berarti dilakukan dengan paksa. Jadi Saharsa Bala berbeda dari Bala Sewu atau Bala Srewu, walau secara harfiah artinya sama. Seribu Prajurit. Bedanya dari Bala Srewu ialah dalam taktik serangan Saharsa Bala, prajurit yang berada di depan tak akan minggir atau mundur, apa pun yang terjadi!

Mau atau tidak, harus tetap berada di depan. Inilah maka kata saharsa mempunyai makna ganda. Makna terpaksa. Dengan strategi ini Halayudha mengisyaratkan bahwa apa pun yang terjadi tak nanti Upasara dan Permaisuri ataupun Gendhuk Tri dan Singanada serta Cebol Jinalaya bisa lolos. Kecuali melalui seribu mayat. Siasat Halayudha bersifat mengancam lawan, tetapi juga mendesakkan keinginan secara tersamar agar Baginda memilih jalan untuk tetap menahan Upasara.

Baginda mendongak ke langit. “Putraku… Usahakan jalan terbaik. Ini saat kamu tampil dengan baik.”

Putra Mahkota mendongak, masih dengan sikap menyembah. “Segala kehormatan untuk kebesaran Baginda…” Lalu dengan cepat berbalik. Berdiri gagah.

“Singanada, ini Putra Mahkota Bagus Kala Gemet, dengan nama gelaran resmi Sri Sundarapandya Adiswara, mengeluarkan sabdanya. Dengar baik-baik! Jika kamu mengundurkan diri secara baik-baik, aku akan mengampuni semua kesalahanmu. Untuk kebesaranku, siapa yang mengikuti langkahmu akan mendapatkan pengampunan yang sama denganmu. Kamu dengar, Singanada?”

“Dengan sangat jelas.”

“Aku yang memberi tempat perlindungan, memberi kehormatan ketika kamu kembali ke tanah Jawa. Seperti Singa Marutma, seperti Pangeran Jenang, seperti semua senopati sabrang. Kamu tak akan melupakan itu.”

“Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu, minggirlah!”

“Sebaiknya mungkin begitu. Tapi aku tak ada ikatan apa-apa dengan siapa-siapa. Aku sudah memutuskan kembali ke perantauan. Ke tanah sabrang, meneruskan tugas mengibarkan umbul-umbul kebesaran Keraton.”

“Bagus, minggirlah!”

“Aku akan minggir, kalau sudah bertemu dengan Senopati Agung untuk menentukan siapa yang berhak hidup.”

Gendhuk Tri tak menduga sama sekali, bahwa Maha Singanada memang hanya memikirkan kepentingan sendiri. Benar-benar lugas, apa adanya. Kejujurannya yang tiada tandingannya.

“Urusan itu bisa diselesaikan di kemudian hari.”

“Tidak bisa,” sahut Singanada cepat. “Apa hak kamu mencampuri urusan pribadiku?” Keras, lantang, dan menantang.

Putra Mahkota terbatuk keras. Kalau ia sengaja memberi pengampunan bagi Singanada, semata-mata bukan karena ingin mengurangi jumlah korban. Juga bukan gentar. Tapi hanya ingin memperlihatkan kebesarannya, keagungannya dalam memberi ampun. Siapa sangka akan mendapat jawaban yang begitu kasar?

“Kalau itu yang kamu kehendaki, bersiaplah menerima hukuman!” Putra Mahkota masih menunjukkan kelebihannya dengan membusungkan dada. “Upasara, masih ada kesempatan terakhir bagimu untuk meminta maaf. Aku janjikan bukan hukuman mati sekarang ini juga.”

Tak ada jawaban.

Barisan Padatala
UPASARA masih kesengsem. Apalagi saat itu, Permaisuri Rajapatni tersenyum lembut.

“Kakangmas…”

“Kenapa Yayi Ratu memanggil dengan sebutan Kakangmas?”

“Kenapa? Apa ada bedanya Kakang dengan Kakangmas?”

“Saya lebih suka dipanggil Kakang…”

Senyum Permaisuri Rajapatni terkembang. “Saya pun lebih suka disebut Yayi, tanpa tambahan Ratu di belakangnya.”

Dada Upasara mengembang. “Kakang, kenapa saya tidak diturunkan saja? Sejak tadi Kakang membopong…”

Kali ini Upasara menjadi kikuk. Hidungnya merah dan berkeringat. “Yayi… Yayi Ratu tak apa-apa?”

“Sama sekali tidak. Sejak tadi juga tidak.”

Upasara menyadari ketololannya. Memang sejak tadi Permaisuri yang dibopong ini tidak terluka, tidak terganggu. Hanya karena rasa kuatirnya saja yang menyebabkan Upasara ingin melindungi seperti induk ayam. Upasara menurunkan perlahan. Kini Permaisuri Rajapatni berdiri. Sejajar. Berdampingan. Di tengah kepungan rapat.

“Kakang…”

Upasara memandang lembut.

“Saya tidak menyangka Kakang akan datang. Saya kira Kakang sama sekali tak mau menemui. Saya kira Kakang telah mati. Tapi Dewa yang Maha Pencipta mengabulkan doa kita. Kakang datang. Menjemput saya. Bukan membebaskan kala saya berada dalam bahaya. Bukan karena alasan lain yang menyertai. Bukan karena Keraton sedang diserbu musuh. Bukan karena putri-putriku dalam bahaya. Kali ini Kakang datang mligi untuk saya.”

Upasara memalingkan wajahnya. Sekarang ini kedatangannya memang khusus untuk Gayatri yang dirindukan. Bukan ditambahi alasan lain yang membenarkan tindakannya secara tersamar. Kali ini Upasara datang khusus untuk menemui Gayatri. Inilah yang membuat Gayatri yakin bahwa semua doa yang pernah diucapkan siang dan malam terkabul.

“Kakang, kalau ini pertemuan terakhir, saya merasa bahagia.”

“Saya tak tahu, Yayi.”

“Kakang jangan ragu lagi. Jangan mundur lagi. Saya akan sedih sekali.”

“Tidak, Yayi. Kakangmu datang kepadamu. Tanpa ragu. Eyang Putri Pulangsih muncul hanya untuk ini. Untuk pertemuan ini. Pastilah ini dikehendaki Dewa. Kakang tak akan mundur lagi.”

Upasara melangkah gagah. Pandangannya menyapu seluruh halaman Keraton. “Sobat Singanada, terima kasih atas simpati sobat. Akan tetapi biarlah saya menanggung sendiri. Ini urusan pribadi.”

Lalu menatap Gendhuk Tri. Bibir Upasara tersenyum. “Saya banyak mendengar tentang dirimu, kamu sungguh luar biasa. Kakang bangga mempunyai adik manis seperti ini.”

“Kakang juga mau minta saya mundur?”

“Mati dan hidup bukanlah masalah besar bagi kita. Mari kita berjajar, agar merasakan panas dan dingin bersama-sama.”

Gendhuk Tri berbunga-bunga hatinya. Wajahnya cerah. Langkahnya ringan mendekat ke arah Upasara. Seumur hidupnya, inilah pertama kali Upasara bersikap begitu lembut, begitu mesra, dengan perhatian yang hangat. Maha Singanada juga mengingsut langkahnya. Mereka berjajaran berempat.

“Beri tempat kepada Barisan Padatala.”

Perintah Putra Mahkota segera diikuti berkelebatnya beberapa bayangan menuju ke depan. Menjadi inti serangan. Kalau Upasara tak terlalu memperhatikan, sebaliknya Halayudha berpikir keras. Apa yang disebut Barisan Padatala atau Barisan Telapak Kaki, bukan orang sembarangan. Kelihatan dari geraknya yang sangat ringan. Walau jumlahnya hanya tiga orang, akan tetapi Putra Mahkota menyebut sebagai barisan.

Ketiganya bertelanjang kaki, hanya saja kelihatan jelas mengenakan gelang di kaki, yang biasa disebut padahatkala. Sejauh yang diketahui Halayudha, warna gelang kaki yang keemasan itu menunjukkan tingkatan mereka. Dilihat dari gerak-geriknya, sangat dekat sekali dengan apa yang dilakukan Pendeta Syangka. Pendeta Sidateka! Masuk akal.

Selama ini Putra Mahkota sangat mengagungkan pendeta dari tanah Syangka. Pendeta Sidateka yang berhasil menanamkan pengaruhnya, pastilah tidak sendirian setelah berhasil. Beberapa tokoh lain diminta datang. Sekarang ini, sedikitnya tiga tokoh yang muncul. Kalau dilihat dari tingkat kaki, jelas ketiganya di atas Pendeta Syangka.

Dengan kesimpulan lain, Halayudha mencium bahwa Putra Mahkota, di bawah pengaruh Permaisuri Indreswari, menyiapkan diri secara sempurna. Menggalang semua kekuatan yang ada. Secara tidak tanggung-tanggung. Halayudha menganggap dirinya memperhatikan segala sesuatu yang terjadi dan merencanakan dengan cermat. Sekali ini mengakui bahwa Permaisuri Indreswari justru lebih teliti dan terarah. Terarah pada puncak kekuasaan.

Bahwa pengaruh dan kekuasaannya sebagai permaisuri utama sangat memungkinkan untuk melakukan apa saja, bisa dimengerti. Tetapi bahwa cara-cara memilih orang yang dipercaya bisa tepat, ini membuat Halayudha kagum. Dan tak bisa meremehkan seperti sebelumnya.

“Kami datang bertiga. Sebenarnya tidak biasa dengan pertarungan keroyokan seperti ini. Akan tetapi keadaan menghendaki begini. Maafkan kami, ksatria besar.”

Gendhuk Tri menyibakkan rambutnya. “Aha, masih ada tata krama kecil-kecilan. Kalian tak perlu malu. Mengabdi seseorang memang berarti membunuh harga diri, berarti merendahkan diri dengan telanjang kaki.”

Ketiganya berpandangan. Lalu memandang lurus ke depan. “Apa hubunganmu dengan Pendeta Sidateka?”

“Aku pemilik Kitab Air yang dicuri Sidateka. Kalian juga datang untuk melakukan pencurian?” Gendhuk Tri melihat kesempatan untuk mengulur waktu.

Ketiganya menggeleng bersamaan. “Kami tidak mencuri apa-apa. Kami mempunyai ilmu silat sendiri. Hanya memang Sidateka mengirimkan kepada kami beberapa baris kidungan dari Kitab Air yang mempunyai banyak persamaan. Terima kasih atas penjelasan Kisanak.”

Singanada bertepuk tangan. “Masih ada ksatria, walau dari negara sabrang. Baik, perkenalkan! Namaku Maha Singanada, dan ini calon pasanganku, Gendhuk Tri. Itu yang namanya Upasara Wulung, ksatria lelananging jagat, dan pasangannya… saya tak tahu nama gelarannya. Cukup?”

“Kami bertiga disebut sebagai Resres, Wacak, dan Taletekan.”

Tak ada yang istimewa dari nama yang disebutkan. Resres berarti capung, wacak berarti belalang, sedangkan taletekan berarti daun-daunan. Tidak menunjukkan gelaran atau nama besar. Bahkan boleh dikatakan nama yang sembarangan. Asal jumput nama saja.

Upasara justru mengerutkan keningnya. Karena nama-nama yang biasa, justru mempunyai gema yang besar dalam tradisi Perguruan Awan. Seperti juga Paman Jaghana yang berarti pantat. Seperti Eyang Sepuh pun, hanya sebutan kehormatan belaka. Nama sebenarnya tak pernah diketahui, selain disebut-sebut sebagai Bejujag. Demikian juga Kebo Berune. Hanya Mpu Raganata yang berarti. Tapi pasti itu nama gelaran yang dimiliki karena mengabdi kepada Keraton. Bukankah tokoh utama Eyang Putri juga disebut Pulangsih? Atau malah kenyung. Upasara maju setindak, melindungi Permaisuri Rajapatni.

Bubuk Pagebluk
HANYA Cebol Jinalaya yang tetap tenang. “Ternyata begini banyak kesempatan untuk mati. Kenapa teman-teman di Jinalaya tak kemari?”

Gendhuk Tri menyadari bahwa bahaya bisa terjadi setiap saat, ketika melihat Upasara dengan cepat melepaskan bajunya dan sekaligus juga kain yang dikenakan. Dengan bertelanjang dada, nampak kulitnya yang putih halus jarang terkena matahari.

JILID 05BUKU PERTAMAJILID 07