Social Items

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 34

Alasan lain yang dipandang Sidateka membuat ia mengajukan usulan ialah bahwa masih banyak ksatria yang ilmunya sangat tinggi. Setidaknya masih ada Upasara Wulung dan Kiai Sambartaka. Kalau ia tak bisa melumpuhkan mereka sekarang ini, mungkin kesempatan semacam itu tak akan pernah ada lagi. Adalah menjadi tujuan utamanya untuk menaklukkan Keraton Majapahit, sehingga nantinya mengakui kekuasaan utama Keraton Syangka. Tanah Syangka akan menjadi kiblat baru. Menjadi panutan utama. Dan bukan tlatah Hindia.

Maka meskipun dalam keadaan belum sepenuhnya sehat, Senopati Sidateka mengadakan perburuan. Yang menjadi sasaran utama ialah kediaman Halayudha. Diobrak-abrik untuk menemukan bukti-bukti bahwa Senopati Halayudha menyimpan Tirta Parwa. Langkah yang kedua ialah mengumumkan bahwa Upasara Wulung maupun Kiai Sambartaka adalah musuh utama Keraton. Bisa diusahakan pencarian besar-besaran. Siapa yang menghalangi maksud ini dianggap membangkang dan tidak setia kepada Keraton.

Rencana itu dianggap sempurna, dan akan melicinkan jalan yang dicita-citakan. Menguasai Keraton, dan menjadi lelananging jagat. Sidateka boleh merasa dirinya jago dalam mengatur siasat. Akan tetapi Halayudha bukan lawan yang enteng. Kalau Halayudha berada dalam posisi seperti Pendeta Sidateka, apa yang dilakukan jauh lebih menguntungkan. Tapi membuat para senopati bertanya-tanya dalam hati. Tanpa menimbulkan kecemasan yang tak perlu. Dalam hal ini Sidateka menganggap kegelisahan itu tak ada artinya. Karena memang tujuannya tidak akan terpengaruh oleh kegelisahan atau kecemasan para senopati dan prajurit.

Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Halayudha. Menghadapi lawan yang memegang kekuasaan, Halayudha tidak muncul sebagai penantang. Ia meminjam tangan untuk mengedepankan Senopati Agung Brahma. Itu langkah yang pertama. Langkah yang kedua ialah kebalikan dari langkah yang pertama. Yaitu mengadu domba. Mengatakan bahwa para senopati berkomplot menunggangi Senopati Agung Brahma untuk menandingi Permaisuri Indreswari. Dengan cara ini, Halayudha mengadu dua kekuatan utama. Tanpa perlu turun tangan. Tanpa perlu menanggung risiko.

Karena siapa pun yang tersingkir, tak akan mencela Halayudha. Karena siapa pun yang unggul, akan merasa adanya jasa baik Halayudha. Dengan persiapan seperti itu, Halayudha muncul dan masuk ke Keraton. Dengan sekali gebrak, tiga prajurit utama yang menjaga kaputren bisa dibekuk tanpa menimbulkan suara. Kemudian beranjak masuk ke tempat peraduan Permaisuri Indreswari.

“Apakah kamu mau mencari mati berani menyusup kemari?”

“Hukumlah hamba, Permaisuri Utama dan satu-satunya. Ini adalah kebodohan hamba. Namun hamba rela mendapat hukuman potong lidah setelah menghaturkan sesuatu ke hadapan duli Permaisuri Indreswari….”

“Katakan secepatnya.”

“Mudah-mudahan yang hamba dengar salah, akan tetapi telinga ini tak bisa ditutupi…”

Halayudha menyampaikan bahwa ia diajak para senopati untuk membujuk Senopati Agung Brahma agar menghadap Baginda, malam ini juga.

“Urusan apa?”

“Para senopati merasa bahwa Putra Mahkota sangat membatasi gerak-gerik dan keleluasaan para senopati yang memang busuk. Para senopati merasa lebih pantas berlindung di balik kejayaan payung kebesaran Bagus Marmadewa…”

“Yang menjadi putra mahkota itu anakku. Bukan anak kakakku.”

“Duh, Permaisuri Indreswari… Dewa di langit segala langit pun mengetahui hal ini. Juga tetumbuhan di hutan. Akan tetapi para senopati bisa memaksakan kehendaknya. Atau barangkali Senopati Agung Brahma merasa lebih tua dan lebih…”

“Kamu selalu muncul dan mengguncang perasaan. Dosamu tanpa takaran…”

“Bunuhlah hamba sekarang juga, Permaisuri yang mulia. Hamba hanya ingin menyampaikan hal ini sebagai abdi yang pernah merasakan sikap Permaisuri yang maha welas asih…”

“Lepas dari benar-tidaknya kata-katamu, ada baiknya kita bersiaga. Kalau malam nanti Kakang Senopati Agung Brahma menghadap, apa yang kamu katakan adalah benar. Jika tidak, aku sendiri yang akan mencincang tubuhmu…”

“Hamba rela dicincang sekarang ini…”

Permaisuri Indreswari memerintahkan Halayudha untuk menyingkir. Saat itu juga Permaisuri Indreswari memanggil Senopati Sidateka dan mengatakan kemungkinan Senopati Agung Brahma akan menghadap.

“Tanyakan apakah benar ia mau menghadap Baginda. Bila jawabnya ‘ya’. Kamu tak usah menunggu perintah. Ringkus seketika itu juga.”

Air Palsu Air yang Keruh

SIDATEKA menghaturkan sembah. “Nambi akan mengatasi dengan baik…”

“Aku ingin kamu sendiri yang bergerak. Sebab Nambi ada di belakang Kakang Brahma…”

Mendadak terdengar suara nyaring dari luar.

“Aku adalah Senopati Brahma. Kalau menyebut namaku, kenapa di belakangku?”

Permaisuri Indreswari menudingkan telunjuknya. Sidateka serta-merta melangkah ke luar. Di halaman prameswaren, perumahan untuk para permaisuri yang menjadi satu dengan kaputren berdiri gagah seorang lelaki dengan berkacak pinggang.

“Karena kudengar namaku disebut-sebut, aku ingin mendengar apa yang dibicarakan.”

“Kamukah Senopati Brahma?”

Mata Senopati Agung Brahma mendelik saking gusarnya. Jakunnya naik-turun. Belum pernah ia dihina sedemikian rupa. Di dalam Keraton lagi!

“Aku Senopati Agung Brahma.” Kedua tangannya terangkap, bersidekap di depan dada. “Apa pedulimu bertanya tanpa tata krama seperti itu?”

“Aku Senopati Sidateka yang mendapat tugas menjaga ketenteraman Keraton sekarang ini.”

“Bagus kalau begitu. Minggir dari depanku. Karena kakiku tak punya mata, sehingga bisa menendang kepala yang menghalangi.”

Gagah melangkah tanpa peduli. Pendeta Sidateka menggerung. Kedua tangannya bergerak, dan seketika itu pula puluhan prajurit pribadi bersiaga.

“Kalau harus memandikan keris dengan darah Keraton, aku tak akan menyesali.”

Sret, tangan kanan Senopati Agung Brahma mencabut kerisnya. Langsung diacungkan ke atas. Dalam kejap berikutnya, keris itu menuding lurus ke depan. Sabetan yang digerakkan dengan cara yang luar biasa cepat. Mengiris udara.

Pendeta Sidateka mengeluarkan seruan tertahan. Menggeser tubuhnya ke arah kiri, tangannya terulur, mencengkeram pergelangan tangan. Senopati Agung Brahma membalik telapak tangannya, kali ini ujung kerisnya menoreh ke arah nadi. Pendeta Sidateka agak gelagapan karena sama sekali tak mengira serangan lawan yang ganas bisa berubah dalam satu pukulan. Terpaksa uluran tangan kanannya mengeras bagai kepalan dan langsung ke arah lambung.

Tanpa menarik mundur kaki dan tubuhnya, Brahma membalikkan ujung kerisnya..Memapak ke arah jotosan lawan. Gerakan keris Singasari! Yang pernah dimatangkan oleh Upasara Wulung. Tidak mengherankan, karena Brahma memang prajurit Singasari yang mendapatkan ilmu dengan dasar yang sama.

Yang sedikit membuat Sidateka terkesiap ialah bahwa gerakan-gerakan pergelangan tangan Brahma sangat luwes, sangat prigel, sehingga arah ujung keris bisa berubah dalam sekejap. Dari menusuk lurus, ke samping, atas, ataupun mengiris. Sehingga mau tak mau Sidateka mengeluarkan semua ilmu simpanannya.

Bahwa Brahma masih menguasai jurus-jurus silatnya dengan baik, rasanya tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi bahwa tenaga dalamnya tak mendukung kemampuannya, juga bisa dimengerti. Karena praktis sejak menjadi keluarga Keraton yang terhormat tak bisa latihan dengan leluasa. Padahal jago silat di mana pun, kematangan dan kemampuan tenaga dalamnya sangat tergantung dari latihan setiap kali secara berkesinambungan. Maka dalam sepuluh jurus berikutnya, Brahma tak bisa mendesak lebih jauh. Meskipun pada awalnya mampu menyudutkan Sidateka.

“Tangkap pemberontak!”

Mendengar teriakan Sidateka yang adalah senopati utama, para prajurit segera bergerak mengurung. Bahkan Senopati Kuti yang berada di kejauhan segera mendekat. Demikian juga Mahapatih Nambi.

“Kurung pemberontak satu ini!”

“Maaf, Senopati…”

“Apakah kamu membantah perintahku, Nambi?”

Mahapatih Nambi mendongak. Dadanya membusung. “Senopati Sidateka, jangan kelewat kurang ajar. Tata krama juga berlaku di antara tikus sawah. Aku tak bisa diperlakukan seperti ini.”

Begitu Mahapatih Nambi mengambil sikap sempurna, semua prajurit yang tadinya mengurung Senopati Agung Brahma jadi berubah sikap. Sidateka mundur selangkah.

“Mau menghindar ke mana, pencuri ilmu?”

Sidateka berpaling. Pandangan nanar. Hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Halayudha berdiri di belakangnya. Senyumnya dingin. Yang membuat pandangannya nanar, terutama karena kalimat Halayudha yang menyebutnya sebagai pencuri ilmu silat. Sudah jelas bahwa Halayudha yang mencuri ilmu silatnya! Bagaimana mungkin begitu tega menuduh kepada pemiliknya?

“Duh, para senopati linuwih, rasanya tak perlu mengotori tangan untuk menghukum seorang pendeta yang mencuri ilmu. Yang seperti ini tak ada harganya untuk dilayani.”

Sidateka meludah. “Sudah jelas kamu yang mencuri ilmuku.”

“Sejak kapan orang seberang menciptakan Kitab Air? Seekor ikan kecil pun bisa tertawa. Mari kita buktikan di luar, siapa yang menimba air palsu pasti lebih keruh…” Di akhir kalimatnya, tangan kiri Halayudha bergerak. Seolah menenteng anak kecil yang nakal.

Sidateka seperti tertarik pusaran air yang keras, sehingga tubuhnya condong ke depan. Tak ada jalan lain kecuali melompat tinggi untuk membebaskan diri dari terkaman tenaga mengisap. Pada saat yang sama Halayudha melayang ke udara. Sekali lagi kedua tangannya bergerak, bagai gelembung air ditiup angin.

“Itu ilmuku!”

“Inilah yang membuktikan kamu pencurinya.”

Tanpa menunggu tubuh Sidateka menginjak tanah, kedua tangan Halayudha terayun ke depan. Kali ini yang dirasakan Sidateka adalah gelombang yang keras menghantam. Sekejap tubuhnya yang belum sehat sempurna menjadi sempoyongan. Pada waktu akan membuang tenaga ke belakang, saat itu justru Halayudha sudah bersiap. Karena mengetahui reaksi dan gebrakan Sidateka. Punggungnya kena diterkam. Sekali sentak tubuh Sidateka terbanting ke tanah! Satu kaki Halayudha terayun dan menginjak tepat di leher.

“Kalau tidak segera minta maaf kepada Senopati Agung Brahma, hari ini nyawamu pindah ke telapak kakiku.”

Siapa pun yang menyaksikan kehebatan Halayudha menjadi bercekat. Bahwa Halayudha mempunyai ilmu silat yang tangguh, sudah banyak didengar. Akan tetapi bahwa hanya dengan satu gebrakan saja bisa membuat Sidateka tak berdaya sama sekali, masih di luar perhitungan mereka. Tak terkecuali Senopati Agung Brahma. Masih terasakan kehebatan ilmu Sidateka. Bahwa dirinya tak bisa mendesak lebih jauh dan malah mulai keteter. Toh dengan gampang sekali Halayudha bisa menundukkan.

Mahapatih Nambi menggerakkan tangannya. Terlambat. Kaki Halayudha telah turun. Amblas ke tengah leher. Hanya kelojotan sebentar. Sesudah itu tubuh Sidateka tak bergerak lagi. Halayudha memang ingin memusnahkan Sidateka yang di belakang hari bisa membongkar siasatnya yang menerobos masuk ke ruangan Permaisuri Indreswari. Atau mengungkit masalah kidungan dalam kain sutra. Dalam keadaan sekarang ini jelas lebih baik menghentikan napas Sidateka.

Yang membuat Mahapatih Nambi tak berkedip ialah kenyataan bahwa Senopati Utama yang diangkat secara resmi oleh Putra Mahkota dibunuh di halaman Keraton. Di belakang hari bisa menimbulkan masalah. Halayudha mendongak ke langit. Napasnya ditarik keras sekali.

“Dewa yang Mahaasih di langit. Hari ini aku mengulang kesalahan kepada Putra Mahkota. Kalau sekarang ini aku harus menerima hukuman, biarlah aku jalani dengan hati yang lapang. Sebab aku tak ingin mendengar mulutnya yang busuk.”

Suara Halayudha sangat lantang. Ini disengaja karena dengan demikian akan terdengar oleh Permaisuri Indreswari. Seolah ia ingin mengatakan bahwa dibunuhnya Sidateka agar tidak mengumbar cerita apa yang sebenarnya tengah terjadi! Itulah Halayudha. Setiap gerakan mempunyai arti ganda!

Senopati Seleh Gegaman

TINDAKAN Halayudha kelewat cepat. Dan menyelesaikan. Kini semua yang hadir hanya bisa memandangi. Berdiri dan duduk di tempat semula tanpa bisa melakukan sesuatu. Tidak segera memuji atau bisa mencegah. Karena masih terpukau dengan cara Halayudha menyelesaikan masalah. Sudah jelas Senopati Sidateka diangkat resmi oleh Putra Mahkota. Kini diinjak batang lehernya hingga putus. Sudah jelas Halayudha mengaku bersalah, akan tetapi tak segera diketahui siapa yang harus menindak. Kecuali desisan kecil.

“Siapa menyuruh kamu berbuat kurang ajar di depanku?”

Senopati Agung Brahma maju setindak. Dialah yang paling merasa tersinggung dengan tindakan Halayudha. Pada saat ia bertarung, dengan seenak perutnya sendiri Halayudha mencomot lawannya, membanting dan menginjak. Walaupun semua dalam rangkaian menyelesaikan pertempuran, akan tetapi sebagai seorang ksatria Senopati Agung Brahma merasa tersinggung.

“Saya bersedia menerima murka Senopati Agung. Akan tetapi yang saya lakukan semata-mata demi keselamatan Senopati Agung.”

Lebih jelas kata-kata Halayudha. Ia memenangkan pertarungan dan mengatakan bahwa sebenarnya Senopati Agung Brahma tak bisa menyelesaikan urusan. Bahkan jiwanya terancam bahaya. Sehingga Halayudha perlu turun tangan. Kata-kata kasar yang membuat Senopati Agung Brahma naik darahnya. Tangannya mencabut keris yang baru saja disarungkan.

“Mari kita buktikan siapa yang lebih lelaki…” Kaki Senopati Agung melangkah maju.

Halayudha mengerahkan tenaga di kedua tangannya sambil menunggu. Begitu Senopati Agung bergerak, Halayudha memperlihatkan keunggulannya. Sikunya yang tertekuk menyodok ulu hati lawan, dan dengan tangan kiri, membetot keris lawan. Gerakan yang bisa diduga. Senopati Agung bisa mengubah ujung keris ke dalam. Menusuk siku yang berusaha membentur dadanya. Dan kejapan berikutnya bisa diubah lagi untuk menyerang. Perhitungannya meleset. Kaget pun tak sempat.

Karena tenaga sodokan dengan siku berjalan sangat cepat. Yang lebih menakjubkan lagi angin tusukan terasakan sangat tajam, sehingga ulu hati Senopati Agung sangat sakit. Menyentuh pun belum. Kesiuran angin pun belum terasakan. Tapi tenaganya menjadi buyar. Pada saat yang bersamaan, hanya dengan tangan kiri, Halayudha mampu merampas keris. Satu sentakan saja!

Apa yang dipamerkan Halayudha memang permainan tenaga dalam yang lihai. Yang bisa diatur secara sempurna. Kini saatnya Halayudha memperlihatkan siapa dirinya. Kalau selama ini dirinya hanya dipandang sebagai senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda, sekarang mempertunjukkan kebolehannya.

Sudah sekian lama Halayudha merasa terganjal hatinya. Kemampuan ilmu silatnya sebagian sengaja disembunyikan, dan ia lebih dikenal sebagai pelayan Baginda. Untuk ini semua ia menahan sakit hati karena pandangan yang merendahkan dirinya. Di mana ukuran keunggulan ditentukan oleh tebal atau tipisnya kulit. Halayudha tak bisa menahan diri lebih lama. Pada kesempatan yang terbaik seperti sekarang ini, ia memunculkan siapa dirinya.

Yang pada dasarnya lebih unggul. Yang seperti terlupakan bahwa Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh Dodot Bintulu, salah satu dari ksatria utama yang setara dengan Eyang Sepuh! Ini saja sudah menunjukkan dasar-dasar yang jauh lebih kuat dari senopati yang lain. Bagi Halayudha ini masih harus segera ditambahkan, bahwa selama ini ia telah mengisap habis semua ilmu kelas satu di jagat. Ia berhasil menimba tuntas dari Kama Kangkam, ksatria utama dari Jepun. Ia juga berhasil mengakali Raja Segala Naga Tartar. Bahkan terakhir mampu menyerap apa yang termaktub dalam Kitab Air.

Itu pula sebabnya dalam gebrakan yang pendek, Pendeta Sidateka yang masih menderita sakit bisa dilipat habis seketika. Demikian juga halnya dengan Senopati Agung Brahma. Dengan sangat cepat Halayudha bisa membaca arah gerakan lawan, dan dengan sama cepatnya memberikan tangkisan dan mendahului menyerang. Titik terlemah lawan yang menjadi sasaran penyerangan.

Gerakan siku tak begitu berarti banyak kalau tidak disertai tenaga dalam yang kuat menerobos. Yang langsung menghentikan sumber tenaga dalam Senopati Agung. Maka keris pusakanya bisa dirampas dalam sekejap. Halayudha tidak berhenti di situ saja. Dengan gerakan memutar, tubuhnya membentuk lingkaran. Keris yang terampas di tangannya, dilontarkan dari tangan kiri, sementara kakinya menendang mayat Sidateka. Begitu tubuh Sidateka melayang ke arah dinding, tangan kanannya melempar.

Mahapatih Nambi mengeluarkan seruan tertahan. Karena tubuh Pendeta Sidateka melayang ke arah dinding. Disusul tusukan keris. Yang amblas hingga ke dinding, menembus tubuh Sidateka. Tubuh Sidateka terpantek ke dinding! Bisa disaksikan siapa saja yang berada dalam halaman kameswaren dengan jelas. Apalagi kaki Sidateka masih bergoyang-goyang karena gerakan lemparan, dan darahnya basah menetes. Menjijikkan.

Membuat Senopati Agung berpikir tiga kali. Kalau saja Halayudha mau mengarahkan keris itu ke tubuhnya yang mana saja, atau bahkan keningnya, Senopati Agung tak bisa mengelak. Karena inti tenaganya tak bisa dikerahkan, juga untuk menghindar. Yang menimbulkan kesan lebih dahsyat ialah kenyataan tubuh Sidateka yang terpampang di dinding.

“Biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap pemberontak. Kekuasaan Keraton tak boleh dikotori oleh siapa saja. Kalau di antara kalian ada yang ingin membela Sidateka, silakan maju!”

Ganas dan keras. Ucapan Halayudha bisa ditafsirkan bahwa ia menantang siapa saja yang bisa mendengar, walau seperti ditujukan kepada para prajurit. Bisa ditafsirkan sebagai tantangan terbuka untuk menguji ilmu silatnya. Sejenak tak ada suara atau gerakan. Halayudha mendongak, menanti.

“Kalau memang tak becus, lebih baik seleh gegaman.”

Suara yang berat menekan, penuh dengan wibawa. Serentak semua yang berada di halaman bersujud, menghaturkan sembah. Tak berani mendongak atau melepaskan sikap menyembah. Termasuk Halayudha dan Senopati Agung Brahma. Suara berat itu dimiliki oleh Baginda Kertarajasa. Pengertian seleh gegaman, dalam arti harfiahnya, ialah meletakkan senjata, bisa juga menyerah kalah. Mengakui keunggulan lawan dan rela menyerah tanpa syarat.

“Kalau para senopati seleh gegaman, apa lagi yang tersisa? Kenapa untuk menyingkirkan seorang perusuh harus banyak kalimat berbusa-busa?”

“Sembah bekti bagi Baginda….” Jawaban serentak yang terdengar.

“Taman ini tidak untuk pertikaian. Kalian semua saya izinkan untuk bubar…”

Tanpa menunggu reaksi, Baginda meninggalkan tempat. Agak lama baru satu per satu mendongak, menyembah lagi, dengan laku ndodok meninggalkan ruangan. Yang tersisa adalah pertanyaan dalam hati. Kenapa Baginda mendadak muncul? Siapa yang menggugah Baginda untuk berjalan keluar dari kamar peraduannya? Ataukah selama ini Baginda tidak berdiam di Keraton? Sehingga Putra Mahkota bisa memerintah dengan leluasa?

Bahwa kematian Sidateka menimbulkan masalah yang pelik, bisa ditebak. Akan tetapi kehadiran Baginda yang mendadak, menimbulkan pertanyaan lebih pelik lagi. Karena tak mungkin ada jawaban, untuk sementara atau selamanya. Baginda bisa muncul sesaat, dan dengan sabdanya segalanya diselesaikan. Sekurangnya pertemuan saat itu.

Hanya diiringkan oleh lima prajurit pribadi, Baginda memasuki Keraton. Ketika tangannya bergerak perlahan, lima prajurit pengiring utama berhenti di gerbang. Baginda melangkah sendiri menuju peraduannya. Tanpa suara. Tanpa gema. Tapi terasa betul keberadaannya memenuhi ruangan seluruhnya. Melewati dinding, halaman, batas sebelah luar. Kehadiran yang tak bisa diganti atau disamai dengan wibawa yang lain. Juga ketika berada dalam kamar peraduan. Menghadapi Permaisuri Rajapatni.

Isyaratkan Kemauanmu, Yayi…

DALAM kamar peraduan yang sunyi, hanya terasakan bau dupa wangi yang pekat. Permaisuri Rajapatni duduk bersimpuh dibawah dengan menundukkan wajah.

“Yayi, masih perlukah kamu membisu seperti batu? Apa sebenarnya yang menjadi kemauanmu?”

Tubuh Permaisuri Rajapatni tetap bergeming.

“Susah menangkap isyarat apa yang terpaku dari kepiluanmu. Hmmm, kalau bukan karena Dewa menjodohkan kita sebagai pasangan yang bakal melahirkan keturunan raja yang berkuasa di seluruh jagat raya, sifatmu yang kekanak-kanakan tak bisa kumaafkan. Kalau yang kamu prihatinkan kedua putrimu, yang adalah putriku juga, pulanglah kembali ke kamarmu. Mereka ada di sana.”

Mendadak kesunyian pecah oleh isak tangis. Tubuh Permaisuri Rajapatni bergerak-gerak, perlahan. Tangannya gemetar ketika menyembah. Dalam cahaya yang tak begitu terang, dengan aroma bau dupa harum dan asap samar-samar, nampak jelas wajah pucat dan mata yang cekung karena kurang tidur dan makan. Namun semburat keayuan yang hanya dimiliki putri Keraton tetap terpancar.

“Cukup puas?”

Tubuh Permaisuri kembali tergetar. “Segala puji syukur bagi kebesaran Baginda, raja Keraton Majapahit yang perkasa.”

Baginda menggerakkan kepalanya. “Kadang aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah kamu ini sebagian dari dayang-dayangku, atau kamu ini yang kutitipi anakku. Yayi Gayatri… wanita seluruh Keraton ini bisa kumiliki dan kubuang seketika tanpa membuatku berpikir dua kali. Hanya kepadamu, kadang kurasakan ada sesuatu yang menahanku. Yang membuatku ragu. Ketika semua wanita seluruh Keraton berusaha bisa menyembah bayanganku dengan segala cara, kamu yang kuajak bicara malah berdiam diri. Aneh. Sungguh aneh. Ataukah semua wanita aneh, atau kamu sendiri yang aneh? Hmmm, Gayatri… Gayatri… Setiap hari kutemukan berbagai persoalan. Baik yang besar maupun yang sangat besar. Tapi tak ada yang seganjil bila bertemu denganmu. Sungguh tidak lucu. Kamu menguatirkan kedua putrimu, yang dijaga Gemet. Kenapa kamu harus begitu prihatin sehingga membisu, bertapa seperti tak punya sukma? Apa kamu kira aku tega kalau ada selembar rambut yang rontok dari putrimu?”

Permaisuri Rajapatni menghaturkan sembah kembali. Khusyuk, hormat, bekti. Tulus, menghormat dari lubuk hati.

“Perjalanan hidup ini banyak ragamnya. Dewa di Atas Dewa yang mengatur langit dan bumi bisa menentukan apa saja. Termasuk sifatmu. Apa kurangnya menjadi permaisuri seorang raja yang berkuasa seperti aku? Apakah masih ada lelaki yang bisa menyamai, bahkan hanya bayanganku? Rasanya di seluruh jengkal tanah wilayah Keraton tak akan pernah ada. Tetapi anehnya, kamu seperti masih menyimpan, masih memberi tempat kepada seorang ksatria yang bernama Upasara Wulung. Kuakui ia senopatiku yang menentukan saat melawan prajurit Tartar. Ia masih muda. Tapi ia tak ada apa-apanya. Upasara tidak membuatku cemburu. Tidak membuatku harus berhitung dengannya. Setiap saat aku bisa menyuruhnya membunuh diri. Setiap saat ia akan menyembah bayanganku. Ia tak akan mungkin bisa menyamai bayangan tubuhku yang telah lenyap. Yayi Gayatri… sudahilah perasaan yang tak perlu itu. Itu hanya akan menyiksamu. Dan menyiksa Upasara…”

Suara Baginda berubah menjadi lebih keras. Nadanya menjadi lebih cepat.

“Kamu harus tahu, Yayi, Upasara bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Ia seorang prajurit tanpa diketahui siapa orangtuanya, dari mana asal-usulnya. Ia tak punya pangkat, tak punya derajat. Sewaktu bertugas menyelidik ke Keraton Singasari, kamu menemaninya. Saat itu tumbuh daya asmara yang luar biasa. Karena dalam bayangannya, dan sesungguhnya begitu, kamulah bidadari yang paling bidadari, dewi yang paling dewi, sehingga kehadiranmu bagaikan sinar bulan purnama. Lebih menyedihkan lagi karena kekonyolan merasa kamu menanggapi perasaannya. Katakan terus terang, apakah itu tidak menyiksanya? Melukai sampai ke tulang sumsumnya? Upasara boleh saja menjadi perkasa. Menjadi ksatria utama, menguasai segala ilmu yang memang diperlukan prajurit, menjadi lelananging jagat, akan tetapi tetap saja merasa jiwanya tak imbang. Merasa sisa-sisa daya asmaramu masih melekat di sana. Itulah beban yang akan ditanggung seumur hidupnya.”

Baginda terbatuk sesaat. Wajahnya memperlihatkan sinar puas. Akan tetapi senyuman yang terpancar terlalu dingin.

“Padahal kalau direnungkan, apalah arti hubungan kalian. Daya asmara apa yang kalian rasakan? Tak ada. Tak akan pernah ada. Tak akan pernah ada selamanya. Hanya impian. Impian keinginan yang melelahkan. Yang membuat Upasara gila. Yayi-lah penyebabnya!”

Kembali terdengar suara. Antara batuk dan terbatuk. Baginda melirik istrinya sekejap. Tak ada perubahan yang bisa ditangkap dari wajah yang tetap menunduk sejak pertama tadi.

“Apa lagi namanya kalau bukan kegilaan yang menjadi beban? Sekian tahun telah berlalu. Kamu tak pernah tahu, tak pernah bertemu bayangannya. Entah hidup atau matinya kamu tak tahu. Dan Upasara masih merasa memiliki daya asmara denganmu. Sehingga Ratu Ayu Bawah Langit yang menjadi istri pendampingnya ditinggal pergi. Tidak pernah jelas. Yang jelas dan nyata adalah merawat daya asmara denganmu. Yayi, katakanlah terus terang, bukankah Yayi sangat jahat padanya? Membuat Upasara edan dalam keadaan waras? Membuat ia cacat dalam keadaan sehat? Ah, betapa dungunya. Betapa tololnya. Di jagat ini ada begitu banyak wanita. Tapi ia masih bernyanyi, masih mengidungkan sesuatu yang tak ada. Dan kamu yang menjadi penyebabnya, diam-diam merasa bahagia. Dan aku, raja yang berkuasa, yang bisa melakukan apa saja, jadi terdorong untuk membicarakannya. Terus terang aku kasihan pada Upasara. Ksatria yang bisa berbakti sebagai abdiku, tenggelam seperti kotoran…”

Permaisuri Rajapatni tetap tertunduk. Tak bergerak. Tak berubah tarikan napasnya yang pelan dan berirama.

“Isyaratkan apa maumu, apa keinginanmu. Aku selalu bisa mewujudkannya..."

Tetap tak ada jawaban. Tak ada perubahan. Seperti tak ada. Seperti dupa. Hati Baginda tergetar tanpa terasa. Selalu begitu setiap kali berhadapan dengan Permaisuri Rajapatni. Selalu ada rasa yang mengintip, mengilik-ngilik setiap kali melihat permaisurinya yang ini, karena selalu terpeleset hubungannya dengan Upasara. Dalam hatinya Baginda merasa bahwa dirinya di atas segala apa. Tetapi juga dalam hatinya, secara tak dipaksa, tersisa tanda tanya, apa yang sebenarnya membuat Gayatri selalu membisu pada saat-saat tertentu?

Apa yang dulu membuat Upasara menolak diberi jabatan mahapatih? Pertanyaan yang bisa dijawab siapa saja. Juga hatinya sendiri. Untuk memuaskan. Tapi kadang tergema lagi. Meminta jawaban baru.

“Sekarang ini, Keraton lagi diguncang kerisauan. Dan aku membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya. Pergilah, Yayi…”

Permaisuri Rajapatni menyembah tulus. Lalu menggeser tubuhnya perlahan sekali. Meninggalkan Baginda yang untuk beberapa saat menghela napas dua-tiga kali, sebelum berusaha menenggelamkan semuanya ke alam impian.

Asmara Bumi dengan Air

SEJAK Baginda meninggalkan halaman prameswaren, suasana masih hening beberapa saat. Baru kemudian terdengar suara Halayudha.

“Baginda baru saja bersabda, kita semuanya seleh gegaman. Tak ada lain yang bisa kita lakukan kecuali menjunjung tinggi sabda Baginda. Maafkan, kalau saya mendahului…”

Halayudha menyembah ke arah di mana Baginda tadi berada, lalu berjongkok, sebelum akhirnya berdiri. Dengan memakai kalimat Baginda, Halayudha menekankan bahwa tak ada gunanya melanjutkan sengketa. Semua yang hadir dianggap tidak becus, sehingga perlu meletakkan senjata. Perlu untuk tidak melakukan suatu apa. Dalam artian yang lebih luas, semua senopati, tanpa kecuali, tidak memegang jabatan apa-apa. Menunggu perintah selanjutnya. Dari semua yang mendengar, hanya Senopati Agung Brahma yang mendehem kecil.

“Kita semua harus mematuhi. Akan tetapi aku tak akan pernah melupakan hal ini. Halayudha, masih ada hari lain untuk bertemu muka.”

Di luar dugaan, Halayudha balas menatap sorot mata Senopati Agung. “Dengan senang hati, Senopati Agung. Sebagai prajurit, saya menjalankan sabda Baginda. Sebagai sesama ksatria, saya siap melayani kapan saja. Di luar batas wewenang Keraton, kita bisa berhadapan sebagai sesama lelaki.”

Gamblang sekali Halayudha menyambut tantangan Senopati Agung. Ditambah lagi:

“Semua yang hadir di sini menjadi saksi. Saya tak akan mundur menunggu sampai keris pusaka Senopati Agung dibersihkan dengan bunga melati.”

Sindiran Halayudha terdengar kasar. Menyinggung masalah keris, seolah Halayudha ingin menekankan bagaimana ia bisa merebut dengan mudah, dan menggunakan untuk menggantung Sidateka di dinding Keraton. Senopati Agung harus mengambil, membersihkan dulu sebelum bisa menghadapi Halayudha.

“Kalau masih ada yang tersinggung dengan kata-kata saya dan yang saya lakukan, silakan menyelesaikan di luar halaman.”

Lebar langkah Halayudha ke arah luar. Menuju kori butulan atau pintu kecil. Akan tetapi pintu itu terbuka lebih dulu. Gendhuk Tri berdiri di samping Singanada. Menunggu. Sejak mereka berdua datang, mereka masih menunggu untuk membaca situasi. Karena begitu banyak prajurit bersiaga. Sewaktu mendengar suara gaduh di bagian dalam, mereka berdua menyerbu masuk. Tak terlalu menimbulkan kesulitan. Di pintu kecil, keduanya menunggu masuk. Saat itu justru Halayudha sedang melangkah ke luar.

“Persoalan kita belum selesai, Halayudha…”

“Apa yang kamu perlukan dariku, anak muda?”

Singanada bertolak pinggang. “Kembalikan kitab pusaka Gendhuk Tri.”

Halayudha mengangkat alisnya. “Kitab pusaka macam apa? Ditulis di daun apa, bagaimana bunyinya?”

Singanada terenyak. Sama sekali tak diduganya bahwa ia akan menghadapi pertanyaan balik seperti yang diucapkan Halayudha. Ia mengetahui bahwa Halayudha menyimpan kitab yang menjadi inti ajaran Gendhuk Tri. Akan tetapi ia sendiri tak tahu kitab apa, dan ditulis di tempat apa, atau bagaimana bentuknya. Demikian juga Gendhuk Tri. Seumur hidup ia belum pernah melihat atau menyentuhnya.

“Kalian bilang aku mencuri atau mengambil kitab kalian. Katakan yang mana. Kalau memang kalian ingin mencari gara-gara, tak perlu menuduh tanpa alasan. Aku sudah siap menghadapi.”

Para senopati yang masih berada di sekitar halaman depan Keraton saling pandang tak mengerti persoalannya.

“Kalau itu yang dikehendaki, bersiaplah.” Singanada mencabut kantar-nya.

“Sebagai prajurit, kamu tidak mematuhi perintah Baginda untuk seleh gegaman. Malah bikin ribut. Singanada, lebih baik aku simpan barang mainanmu itu.”

Sebat sekali Halayudha bergerak maju. Tubuhnya bergerak bagai bayangan yang melesat ke depan. Akan tetapi sesungguhnya kakinya yang lebih dulu menggunting kuda-kuda Singanada. Singanada mengetahui bahwa Halayudha cerdik sekali membaca kekuatannya. Tenaga lipat sembilan yang menjadi andalannya, dengan meloncat ke arah sembilan penjuru, bermula dari loncatan pertama. Bagian itulah yang dimatikan Halayudha.

Singanada tidak mengubah kedudukan kakinya. Rambutnya yang tergulung tiba-tiba saja lepas terurai dan menyampok ke wajah Halayudha. Bagai tusukan seratus jarum seketika. Dengan mengeluarkan suara ejekan dingin, Halayudha merebahkan tubuhnya, dengan kaki tetap menggunting kaki lawan. Singanada merasa tempurung lututnya berdenyut. Getaran tenaga Halayudha terasakan. Secepat ancaman datang, secepat itu pula Singanada mengubah serangan. Tubuhnya kembali tegak, rambut tertarik ke belakang, dan kantar di tangan kanan dan kiri menghantam ke arah dada. Ke arah satu tempat.

Halayudha justru membalik tubuhnya. Menyongsong maju. Menyerahkan dadanya kena totokan kantar. Senopati Agung Brahma menahan napas. Apa yang dipertontonkan Halayudha jarang dilakukan tokoh silat kelas utama. Tenaga yang tadinya ditarik ke belakang dengan menekuk punggung, justru diubah ke depan saat serangan datang. Gendhuk Tri juga heran. Karena gerakan yang pertama tadi, biasanya disusul dengan gerakan menjatuhkan tubuh. Seperti yang selama ini selalu berhasil dilakukan untuk mengecoh lawan. Akan tetapi sekarang justru dibalik.

Singanada memindahkan dua kantar pendek ke satu tangan. Dalam sepersekian tarikan napas, ia merasa bahwa dada lawan yang diarah seperti pusaran air yang menenggelamkan tenaga yang datang. Pada saat yang bersamaan kakinya terancam. Tak ada cara lain kecuali melompat ke atas. Dengan kekuatan satu kaki. Karena kaki yang sebelah, lebih untuk menghindar dengan jalan memutar tubuhnya.

Saat melayang ke atas Singanada sudah bersiap menyambut datangnya serangan beruntun. Yang pasti akan segera datang. Pertarungan di tengah udara. Perhitungan yang tepat. Akan tetapi tetap juga melesat. Karena Halayudha tidak melanjutkan serangan dengan melompat ketengah udara, melainkan memutar tubuhnya, dengan kaki terangkat sempurna ke atas. Tubuh Singanada yang melayang ditendang dari jarak jauh dengan kekuatan berputar, searah dengan putaran tubuh Singanada.

Mahapatih Nambi yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan, menduga-duga bahwa Halayudha secara sengaja membalikkan setiap gerakan yang sudah diduga lawan. Sesuatu yang sebenarnya sangat berbahaya. Karena gerak rangkaiannya terpatah-patah dan sulit diterka kemungkinan yang terjadi. Di samping itu, perlu diperhitungkan juga kekuatan lawan. Yaitu Maha Singanada, yang bukan sembarang jago silat.

Sebagai sesama jago silat, Mahapatih Nambi bisa mengetahui bahwa dengan membalik-balik gerakan, memungkinkan untuk sedikit “bermain-main”, merangsang kepekaan baru. Akan tetapi itu tak bisa dilakukan dengan lawan yang seimbang. Gerakan pembukaan dalam ilmu silat, tersusun langkah demi langkah yang berangkaian. Setiap gerakan awal boleh dikatakan sudah pasti, sekurangnya sampai pada jurus-jurus tertentu. Kecuali kalau memang kekuatan tenaga dalamnya lebih berlipat ganda dari musuhnya.

Ibarat melawan prajurit biasa, walau gerakan lawan rumit dan tersusun, Nambi bisa menyapu keras. Memusnahkan dengan mengadu tenaga dalam. Kalaupun Halayudha lebih unggul setingkat, Singanada bukan lawan yang bisa disapu begitu saja. Akan tetapi toh itu yang dilakukan oleh Halayudha.

“Loncat!”

Teriakan Halayudha begitu keras, dan ternyata Singanada memang berloncatan ke arah sembilan penjuru. Setiap kali bayangan tubuhnya berkelebat ke delapan penjuru, untuk kemudian berada di tengah.

“Ini menarik, akan tetapi membosankan. Gendhuk kecil, bergabunglah. Aku ingin menyaksikan perpaduan bumi dengan air.”

Telapak tangan Halayudha mengincar ke arah dada Gendhuk Tri! Benar-benar kurang ajar!

Asmara Berasal dari Dalam

BENAR-BENAR kurang ajar. Dan hebat. Kurang ajar karena telapak tangan Halayudha mengincar dada Gendhuk Tri. Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan ksatria, apalagi senopati setingkat seperti Halayudha. Akan tetapi Halayudha seperti bisa menebak dengan jitu, bahwa hanya dengan gerakan kasar inilah ia bisa memancing Gendhuk Tri terseret ke dalam medan pertempuran secara seketika. Kalau hanya dipanasi atau diserang, belum tentu Gendhuk Tri mau ikutan terjun mengeroyok.

Hebat, karena di saat menghadapi serangan dari segenap penjuru, Halayudha masih bisa mencuri peluang untuk menyerang Gendhuk Tri yang bersiaga. Padahal dilihat selintasan, medan pertarungan yang dihadapi Halayudha belum sepenuhnya menguntungkan dirinya. Belum ada tanda-tanda ia bisa merebut keunggulan. Akan tetapi sudah mengeduk ke arah lain, membuat medan baru yang membuatnya menghadapi risiko ganda.

Bahkan kalau didengarkan apa yang diucapkan, Halayudha seakan tengah melatih lawan. Bukan sedang berusaha mengalahkan. Diam-diam Senopati Agung Brahma mengakui bahwa Halayudha dua tingkat di atas ilmu yang dimiliki. Terutama sekali dari kecepatan dan ketepatan membaca gerakan lawan. Sewaktu menghadapi Singanada, Halayudha sudah tahu bahwa ia tak bisa merebut kemenangan dalam waktu singkat. Akan tetapi seperti sudah memperkirakan gerakan lawan dan gerakannya sendiri. Pertarungan seperti yang telah direncanakan, telah dihafal, sehingga ia bisa bergerak sangat cepat sekali.

Dengan mengundang Gendhuk Tri, Halayudha seperti menemukan gairah baru untuk menghadapi dua lawan sekaligus. Pancingan mengena. Begitu tangan Halayudha merayap liar di depan dada, secara spontan Gendhuk Tri menyampok keras. Selendangnya yang warna-warni menggulung tangan Halayudha. Tangan kirinya terulur ke depan, menyambut jakun Halayudha. Halayudha menarik tangannya, menekuk, dan sikunya menghantam perut Gendhuk Tri. Dalam gerakan berputar. Sementara kakinya yang lepas, menahan serbuan dari Singanada.

Kali ini Senopati Agung yang menahan napas. Sodokan siku itulah yang menamatkan perlawanannya. Yang membuat kerisnya bisa direbut paksa. Itu yang akan dialami oleh Gendhuk Tri. Karena selendang yang melibat tangan Halayudha ikut tertarik ketika Halayudha menekuk tangannya. Badannya jadi ikut terdorong ke depan karena kerasnya tarikan. Pada saat itu siku Halayudha yang berbisa siap menghancurkan.

Singanada yang melihat bahaya mengancam Gendhuk Tri, menyusup di antara celah kaki Halayudha. Menyusup masuk. Gendhuk Tri sendiri bukan lawan yang enteng. Yang bisa dibekuk dalam satu gebrakan. Dengan sangat cepat Gendhuk Tri memutar tubuhnya bagai gasing, ke arah yang berlawanan dengan libatan selendangnya. Sehingga meskipun tertarik, bisa melepaskan diri. Tanpa tersentuh siku Halayudha.

“Bagus. Jangan terbang terlalu tinggi. Itu kurang bagus. Air tak akan membuat gelombang tinggi kalau tidak berada di laut, kalau tak ada angin kencang.”

Tubuh Gendhuk Tri yang melayang ke atas bergoyang-goyang. Seperti gemetar. Karena pada saat itu Halayudha menggemboskan tenaga dalamnya. Tenaga tarikan Gendhuk Tri jadi punah karenanya. Hal yang juga dirasakan Singanada. Ia seperti amblas ke udara kosong. Sehingga tubuhnya jatuh menderas. Singanada menggerung keras. Dua kantar pendek berada di tangan kanan dan kiri. Pada saat yang sama kedua tangannya membuka dan tubuhnya berputar keras. Menyabet apa saja yang menghalangi. Halayudha mengeluarkan decak kagum.

“Sembilan tenaga, bukan sembilan kali putaran.”

Halayudha masih bisa memberi pengarahan, sambil menghindar ke arah samping. Dengan demikian serangannya ke arah Gendhuk Tri batal. Malah ia terpaksa menarik mundur kakinya. Tiga langkah saja. Langkah keempat sudah kembali masuk ke dalam pertarungan. Dengan kedua tangan terangkat ke atas, terkepal, dan pundak lurus rata dengan tangan sampai siku. Inilah cara menggempur putaran tangan Singanada. Mematahkan di tengah putaran. Dengan tenaga keras.

Singanada kembali mengaum. Tubuhnya menggeliat, dengan gerakan dahsyat ia berusaha membelit tubuh lawan. Pertarungan keras dengan jarak sangat dekat. Membelit tubuh dengan tubuh adalah gerakan yang cukup berbahaya. Justru karena ilmu yang biasa dimainkan Singanada adalah ilmu Sembilan Penjuru. Mengurung udara dan ruang pertarungan. Berarti pertarungan berjarak.

Akan tetapi Singanada tak bisa memainkan Nawagraha atau Siasat Sembilan Bintang. Bahkan kantar, tombak pendek, yang bisa untuk menjaga lawan berada dalam batas serangan seperti macet. Halayudha bisa menebak gerakan-gerakan yang ada. Dengan tenaga sedikit berlebih, Halayudha seakan siap menandingi benturan keras sama keras. Adu tenaga pada posisi sekarang ini jelas lebih menguntungkan Halayudha.

Menghadapi situasi rumit, Singanada menggerung keras. Mengubah menjadi pertarungan jarak pendek. Nawadwara atau Sembilan Pintu diringkas menjadi pendek. Dengan pemikiran itu, Singanada ingin agar Halayudha tak mampu menebak gerakannya, yang bisa terbaca dengan mudah. Satu-satunya yang masih membuat Singanada was was ialah kemampuan tenaga dalam Halayudha yang sempurna. Pada saat yang sama bisa mengubah antara berisi, kosong, atau tenaga berputar. Seperti yang barusan terjadi.

Tenaga putar demikian keras, lalu berubah menjadi kosong, dan kini berubah menjadi keras. Menjebol kurungan tubuh Singanada yang berputar. Singanada menggeliat ke sisi lain, untuk menghindar adu tenaga keras lawan keras. Akan tetapi dengan begitu, Halayudha mempunyai kesempatan menyapu kaki Gendhuk Tri yang sedang melayang dan bergoyang turun.

“Srimpung habis.”

Singanada mencelos. Tak menduga bahwa Halayudha akan menebas kaki Gendhuk Tri dengan gerakan kaki berputar yang keras. Dengan menyrimpung, diartikan menebas rata. Sekeras apa pun kaku dan kekuatan Gendhuk Tri, pasti bukan lawan Halayudha. Lebih berbahaya lagi karena tak mungkin menghindar. Tubuhnya sedang meluncur turun. Dilihat dari goyangan tubuh, Gendhuk Tri belum menguasai sepenuhnya berat tubuhnya. Gendhuk Tri menyadari bahaya.

“Kamu keliru!”

Justru itu yang diteriakkan. Dengan tubuh terus meluncur. Akan tetapi kedua kakinya ditekuk ke belakang. Sehingga srimpungan kaki dengan kaki yang menebas dengan gaya berputar, menemukan tempat kosong. Gendhuk Tri turun dengan lutut menyentuh tanah. Pada saat yang sama tangannya melepaskan selendang dan menggulung leher Halayudha. Hebat dan jeli Halayudha, akan tetapi terkesiap juga. Sabetan selendang ke leher membuatnya perih. Kalau saja tenaga dalam Gendhuk Tri setanding, Halayudha sudah terbanting seperti Sidateka! Singanada maju ke depan mendampingi Gendhuk Tri. Siap melindungi dan mengambil alih pertarungan. Halayudha berdiri tegak. Dadanya membusung.

“Bagus, bagus sekali. Kalian berdua ingat baik-baik. Inilah perpaduan sifat bumi dan air yang sesungguhnya. Bagai bersatunya daya asmara yang berasal dari dalam. Dari batin. Ingat baik-baik. Selama kalian berdua mencoba main sendiri-sendiri, ingin merebut kemenangan satu dari yang lainnya, hasilnya justru sebaliknya. Tapi justru yang baru saja ini membuktikan kehebatan. Bagus, bagus sekali. Di kelak kemudian hari, kalian berdua akan menjadi pasangan yang luar biasa. Tapi karena sekarang ini masih terlalu ringan, kalian tetap kalah. Hanya mampu menunjukkan kebolehan, tapi tak bisa memenangkan pertarungan.”

Duka dari Dewa

HALAYUDHA menghela napas berat. Wajahnya mendongak ke langit. Guratan duka menggaris tajam. Mengiris suaranya yang menggeletar.

“Dewa yang berada di langit, kenapa kamu begitu murka kepada Guru? Dosa apa yang dilakukan sehingga kamu turunkan duka bertubi-tubi pada guruku, dan harus kusandang? Kalau kamu punya keberanian, turunlah. Aku, Halayudha, murid utama Paman Sepuh Dodot Bintulu, menantangmu.”

Tubuhnya yang kokoh perkasa, kepalan tangannya yang kaku, masih kalah mengerikan dibandingkan tusukan nada suaranya yang menyayat. Seakan disarati dengan beban duka yang tak tertanggungkan. Untuk pertama kalinya, siapa pun yang mengenal Halayudha merasa menemukan sosok yang lain. Bahkan Senopati Agung Brahma yang begitu mendendam, tercerabut perasaan iba untuk sesaat.

Halayudha yang sekarang ini, seperti pertapa tua yang melontarkan dendam dengan rintihan. Selama ini Halayudha selalu bisa menampilkan berbagai wajah. Bisa mengubah raut muka untuk maksud-maksud tertentu. Akan tetapi sekali ini mengesankan sekali.

“Dewa di langit. Kenapa kamu begitu pengecut?"

"Rupanya kamu pun kecewa. Untuk apa penyesalan itu?”

Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Karena serasa mengenali. Dan tidak salah. Yang muncul adalah Nyai Demang yang masih menggendong Kakek Berune. Masih beriapan tak keruan. Terjadilah pemandangan yang aneh.

Halayudha yang baru saja memamerkan semua ilmu yang dimiliki, mendadak sangat berubah perangainya. Mengutuk Dewa. Pada saat berikutnya muncul seorang wanita yang menggendong mayat dan menjawab pertanyaan. Hanya karena semua perhatian sedang tertuju kepada Halayudha, kemunculan Nyai Demang dari persembunyian Halayudha tak begitu terperhatikan. Sekarang semua berusaha mengikuti setiap langkah dan kata pembicaraan yang membingungkan.

“Jadi kamu pun kecewa, Dodot Bintulu? Kamu pun mengutuk Dewa? Sungguh tak tahu malu.”

Meskipun kata-kata itu keluar dari mulut Nyai Demang, akan tetapi nadanya sedikit berbeda. Karena sesungguhnya pengaruh Kakek Berune yang berbicara.

Maha Singanada yang sedikit-banyak mengerti latar belakang persoalan masih tetap mengerutkan kening. Karena tak bisa menebak ke arah mana tanya-jawab yang tengah terjadi. Apalagi pendengar yang lain. Hanya Gendhuk Tri yang secara samar menemukan bentuk kira-kira apa yang tengah berlangsung.

“Kenapa kamu sesali kalau jurus Air sengaja diciptakan untuk mendampingi jurus Bumi? Jurus Bumi yang ada bukan berarti Bejujag. Itu bisa berarti dirimu sendiri.”

Halayudha menggeleng. “Kakek Berune, ketahuilah, aku adalah Halayudha, murid utama Paman Sepuh… Aku menuntut kepada Dewa, karena ia pilih kasih. Karena ia membenci Guru, dan ikut membenciku! Dewa menjadi pengecut karena tak berani muncul menghadapiku. Padahal sudah jelas aku menantangnya.”

“Ah, itu karena kamu kecewa saja. Dari dulu yang namanya Dodot Bintulu selalu iri. Dari dulu kamu tak pernah berubah.”

“Kakek Berune, jangan turut campur.”

“Aha, kamu kira siapa kamu ini? Kamu kira, kamu yang dipilih Pulangsih? Tengok wajahmu yang morat-marit dan nasibmu yang buruk itu.”

Halayudha mengertakkan giginya. “Bapa Guru yang mulia menciptakan Kitab Bumi, meramu ilmu segala ilmu yang ada di tanah Jawa. Untuk diabdikan kepada Keraton, untuk dijadikan pegangan para ksatria. Akan tetapi justru wanita yang disayanginya menganggap itu ciptaan Eyang Sepuh. Justru wanita yang disayangi menciptakan ilmu untuk berpasangan seolah pasangan Eyang Sepuh dengan Putri Pulangsih. Tidakkah itu menyakitkan? Bukankah itu penghinaan Dewa yang hanya mengirimkan duka kepada Rama Guru? Aku tak bisa menerima. Sepanjang hidupnya Bapa Guru begitu banyak menderita. Sampai ke anak muridnya dipaksa menjadi durjana, karena duka yang kelewat berat. Di mana ada keadilan? Kalau tak bisa menunjukkan, biarlah aku yang ganti mengajari para Dewa.”

Walau pembicaraan simpang-siur tidak menentu, Gendhuk Tri bisa menemukan alur yang sesungguhnya. Dari sisi tertentu, Halayudha tetap ksatria. Yang tergila-gila pada ilmu silat, lebih dari segala urusan. Termasuk kepangkatan dan derajat mulia dalam tata pemerintahan Keraton. Betapapun besar nafsu berkuasanya, masih terselip keinginan untuk muncul sebagai ksatria, untuk menjadi lelananging jagat. Itu sebabnya ketika menduduki jabatan yang begitu rapat dengan puncak kekuasaan, Halayudha masih mengejar ilmu silat. Masih menekuni dan mencoba menguasai.

Pangkat dan derajat tinggi di Keraton pada dasarnya hanya untuk memudahkannya mengisap semua pelajaran ilmu silat yang ada. Segala ilmu yang dianggap sakti, tanpa memedulikan apa pun, akan dikuasai. Tindakan itu yang menyeret Halayudha kepada berbagai tokoh penjuru dunia. Sampai pada titik tertentu, menemukan Kitab Air. Tirta Parwa ini pula yang membawa kepada pengertian bahwa sesungguhnya penciptaan Kitab Air untuk melengkapi atau sebagai padanan Kitab Bumi. Untuk melengkapi kekurangan Kitab Bumi yang dikembangkan oleh Eyang Sepuh dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa. Hati Halayudha terluka..Tergores duka. Tersayat hina.

Gabungan antara gerakan Gendhuk Tri, yang secara jelas mewarisi ilmu Putri Pulangsih, dan gerakan dasar Maha Singanada, menunjukkan bukti hubungan daya asmara di belakang penciptaan. Begitu kedua ilmu digabung, yang menyembul ke luar adalah kekuatan baru yang menakjubkan. Kekuatan yang mampu mengalahkan segala mara bahaya. Mampu mengungguli ilmu yang selama ini secara mati-matian memaksa Halayudha berlatih. Kenyataan inilah yang menjungkirbalikkan Halayudha. Jalan pikirannya menjadi kacau.

Justru pada saat itulah tiba-tiba ia teringat Guru. Teringat Paman Sepuh yang hidupnya begitu menderita. Yang dikhianati murid-muridnya sendiri, yang dicelakakan, yang membuatnya menderita dan pedih sepanjang hidup. Loncatan pikiran ke arah penderitaan gurunya, selama ini tak mempunyai arti apa-apa bagi Halayudha. Sebelumnya. Tapi tidak setelah menyaksikan perpaduan gerakan Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa yang ditemui adalah suatu kenyataan baru. Yang walaupun sudah terpikirkan, tetap membuatnya sangat terkejut. Keberhasilan perpaduan antara bumi dan air.

Sekarang ini, Halayudha masih bisa mengalahkan Gendhuk Tri maupun Singanada. Halayudha masih percaya diri mampu menundukkan mereka berdua, walau tidak semudah sebelumnya. Baik karena penguasaan ilmu Gendhuk Tri-Singanada belum menyatu benar, maupun karena Halayudha percaya diri mempunyai siasat untuk merontokkan perpaduan itu. Akan tetapi ini semua tak membantah kekuatan baru. Kekuatan yang bisa menundukkannya, suatu ketika. Kekuatan yang bisa meletup, berbenih dari perpaduan daya asmara.

Sesungguhnya, inilah yang menampar kesadaran Halayudha. Yang merasa akar pijakannya lepas. Pada saat itu, sebersit pikiran ingat gurunya. Pada saat itu pula, Kakek Berune yang kini memakai tubuh Nyai Demang sebagai perantara, menemukan jawaban yang sama. Kakek Berune, Paman Sepuh, Eyang Sepuh, Mpu Raganata, maupun Putri Pulangsih adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup sezaman seperti mereka sekarang ini.

Lebih dari itu mereka ditalikan oleh hubungan yang erat. Baik sebagai sesama prajurit Keraton Singasari dan pemuja Sri Baginda Raja Kertanegara, maupun sebagai sesama ksatria. Ikatan batin yang lebih kuat terjalin karena sama-sama berharap kepada Putri Pulangsih. Maka kemunculan Kakek Berune bisa langsung menyambung pembicaraan.

“Kakek Berune, kalau mau mati, mati saja dengan tenang.”

Duka Itu Masih Menetes

SUARANYA lantang keras, akan tetapi menyentuh.

“Apa kamu bilang? Aku baru mau mati setelah kalian semua melihat bahwa Pukulan Pu-Ni yang terbaik, dan Pulangsih mengakui itu.”

“Apa ada gunanya lagi? Bumi dan Air sudah bersatu. Bukan Pu-Ni dan Air, bukan yang lainnya. Masihkah penasaran dan tak mau menerima? Bukankah Guru yang lebih penasaran karena Bumi yang diciptakan diakui sebagai milik orang lain?”

Sampai di sini Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Jangan asal bicara, Halayudha. Tak nanti Eyang Sepuh mengakui ilmu orang lain.”

Halayudha menggeleng. Berulang. “Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini.”

“Ngawur! Sudah jelas kamu yang mencuri kitab pusaka warisanku.”

Halayudha tersenyum. Bagai seringai kesakitan. Seakan duka abadi masih menetes dari napasnya. “Gendhuk Tri, ambillah Kitab Air yang dibawa Sidateka. Entah kenapa bisa disalin oleh pendeta dari Syangka yang sembrono itu. Bawalah semuanya. Kamu berhak mendapatkannya. Tak ada gunanya lagi bagiku.”

Bahkan Singanada yang biasa berterus terang merasa aneh dengan perubahan sikap Halayudha yang berbalik. Gendhuk Tri sempat bertanya-tanya apakah Halayudha sedang menyusun siasat kotor.

“Ambil kembali. Selama ini kusimpan di tempat pakaian kotor, yang tak bisa diendus Sidateka. Gabungkan agar kalian meneruskan keinginan yang tak terlaksana. Meskipun itu membuat Guru sakit hati selamanya. Juga di tempat Guru bertemu para Dewa.” Halayudha berbalik setelah mengangguk.

“Tunggu!” Nyai Demang maju setindak. “Bintulu, kamu sudah menyerah kalah? Kamu sudah mengundurkan diri? Baik, baik. Kini giliranku.”

“Bapa Guru jauh lebih tenang dan bahagia daripada Kakek yang masih penasaran.”

Tangan Halayudha mengedut dan dua tombak prajurit disampingnya bisa diraup sempurna untuk dilontarkan ke arah Nyai Demang. Yang dengan dingin menangkap. Tombak itu retak. Berkeping-keping. Jatuh ke samping. Dua kali Halayudha menjajal, hasilnya sama saja. Halayudha menoleh ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Itu adalah tugas kalian berdua, kalau ingin memulihkan Kakek Berune. Aku tak ada urusan lagi.”

Halayudha mengibaskan tangannya. Tubuhnya melesat ke arah luar Keraton. Sedemikian cepatnya sehingga Singanada menggerung keras, dan kantar-nya terlontar. Karena menduga Halayudha melakukan gerakan menyerang. Tombak pendek itu meluncur tepat. Halayudha hanya menggerakkan tangannya pendek, dan kantar itu terlontar kembali. Amblas ke kori butulan. Sehingga mengunci. Tenaga kibasan yang luar biasa hebatnya. Tenaga yang sama yang ditujukan kepada Nyai Demang. Yang berhasil dipatahkan dengan gampang.

Singanada memandang ragu ke arah Gendhuk Tri. Keduanya berpandangan. Menghela napas bersamaan. Apa yang baru saja terjadi menyingkap banyak persoalan dalam hati masing-masing. Gendhuk Tri membenarkan semua kalimat Halayudha. Termasuk bagian di mana perpaduan antara jurusnya dan jurus Singanada yang menjadi sakti. Ketika masih menyerang sendiri-sendiri, Halayudha seakan bisa mempermainkan. Bisa membuat seolah latihan di mana Halayudha memberi petunjuk. Namun begitu berubah perasaan hati mereka berdua, serta-merta Halayudha bisa terjerat. Terkena lilitan selendang. Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, tak mungkin Halayudha bisa tersudutkan dalam pertarungan.

Yang membuat Gendhuk Tri menjadi risau dan gamang ialah kenyataan bahwa ia menyadari perasaannya ketika harus sama-sama menggempur tadi. Perasaan kepada Singanada, seperti rasa kuatir, rasa membela, dan rela mengorbankan diri. Hal yang kurang-lebih juga dirasakan oleh Singanada. Hanya pada dirinya hal itu tidak begitu masalah. Karena merasa sejak sebelumnya ia menyukai Gendhuk Tri dan Gendhuk Tri menyukainya. Tak ada pikiran lain. Tak ada kerisauan seperti yang dirasakan Gendhuk Tri.

“Mari kita ambil kitab pusaka itu, dan kita menyingkir dari tempat ini.”

Gendhuk Tri masih berdiri terpaku. Nyai Demang memandang kiri-kanan.

“Di mana kamu, Dodot Bintulu?”

Perlahan-lahan tubuhnya bergerak, melaju ke depan, seakan gerakan yang limbung. Seolah beban di tubuh Nyai Demang begitu berat, atau kakinya tak begitu kuat.

“Kenapa tidak ditolong?” Suara Cebol Jinalaya menjebol perhatian Gendhuk Tri.

“Tidak sekarang ini. Lebih mungkin membahayakan kami dan Nyai…”

Cebol Jinalaya mengangguk-angguk. “Kalau begitu saya saja. Saya biasa mengantarkan orang menjelang ajal…”

Dua langkah kaki Cebol Jinalaya bergerak, Gendhuk Tri menarik kembali dengan selendangnya. Lalu bersama dengan Singanada melangkah ke bagian samping, menuju ke tempat kediaman Halayudha.

“Maaf, Senopati Campa, bolehkah aku yang tua ini mengenalmu?”

Singanada berbalik. “Bukankah sekarang sudah mengenal?”

“Namaku Brahma. Aku dulu utusan Baginda Raja yang sama-sama dengan Senopati Muda ke tanah Campa…”

“Itu kedua orangtua ku. Aku tak mau membicarakan itu. Maaf.”

“Apakah orangtua Senopati bernama Mapanji Wipaksa?”

Jari-jari Singanada saling beradu. Gerahamnya beradu, menimbulkan suara keras. Pandangan matanya tajam menusuk. Gendhuk Tri bergidik karenanya. Tak pernah ia mengetahui bahwa Singanada bisa berubah sama sekali. Selama ini ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana asal-usul Maha Singanada. Yang diketahui hanyalah sepotong kecil: ia salah seorang putra senopati yang diutus ke tanah Campa untuk mengantarkan putri Keraton yang bernama Dyah Ayu Tapasi.

“Jangan paksa aku bertindak kasar.”

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. “Rasanya aku mengenali. Tapi kalau Senopati Muda tak mau membicarakan, aku minta maaf. Maaf…”

Suara Senopati Agung Brahma menjadi sangat berat. Wajahnya menunduk. Kedua bahunya menggunduk. Beberapa kali kepalanya menggeleng lemah. Seakan mengusir bayangan yang ganjil dan tak bisa dilepaskan seketika.

Maha Singanada sendiri berubah sikapnya. Pandangan matanya menatap kosong. Gerahamnya beradu. Tangannya kaku. Langkahnya tak menentu.

“Kenapa kamu begitu kasar kepada orang yang lebih tua?”

“Aku tak mau kamu campur tangan urusanku.”

Gendhuk Tri mundur setindak. Singanada menatap tajam. Mendadak berbalik.

“Senopati Brahma, aku datang untuk membunuhmu. Bersiaplah.”

Singanada ternyata tidak main-main. Ia mengambil sikap sempurna. Kedua tangannya bersiaga, membentuk sembah, lalu berubah dalam keadaan siap menyerang.

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. Disertai helaan napas berat. “Sudah lama aku mengubur semua yang berlalu. Kalau hari ini aku melangkah kemari, aku tak menduga bakal menemukan begitu banyak yang telah kulupakan. Ah, ada sesuatu yang tak bisa mati dan dikubur.”

Melihat gelagat, Mahapatih Nambi memberi isyarat dan semua prajurit serta para senopati bersiaga membela Senopati Agung.

Kidungan Masa Silam

GENDHUK TRI tegak, tak segera bereaksi. Justru pada saat Singanada bersiap menghadapi Senopati Agung yang dikelilingi semua senopati Keraton yang ada, Gendhuk Tri termenung. Beberapa bayangan berkelebat dalam angannya secara tak teratur. Dalam waktu yang singkat beberapa hal terjadi dan berubah dari yang telah dikenalnya. Yang paling mencolok ialah perubahan Halayudha. Senopati licik yang dimusuhi Upasara—lagi-lagi Upasara, yang tak pernah merasa dendam pada seseorang, tiba-tiba saja kelihatan ganjil perangainya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Apa pun penyebabnya, perubahan itu kelewat mengejutkan. Yang juga membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hatinya ialah seolah Halayudha sendiri tak menyadari sepenuhnya. Seakan ada kekuatan lain yang membuatnya berbuat berbeda dari biasanya. Keadaan yang sekarang dialami oleh Singanada. Selama hari-hari terakhir ia mengenalnya, Singanada adalah ksatria yang terbuka, lelaki yang bicara terus terang dan agak sembrono, tidak begitu memedulikan tata krama. Akan tetapi, dengan satu pertanyaan dari Senopati Agung saja, seakan menjadi pribadi yang lain. Ada apa sebenarnya di balik ini semua?

Jawabannya adalah masa lampau. Kidungan yang terdengar sebelumnya, yang masing-masing mengalami sebagai sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain. Sekurangnya begitulah jalan pikiran Gendhuk Tri mengenai diri Singanada. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, Gendhuk Tri tak pernah merasa bahwa Singanada mempunyai alasan untuk gusar besar. Apalah artinya disebutkan siapa nama orangtuanya. Yang bahkan Gendhuk Tri pun tetap tak mengenalnya. Selain nama yang disebutkan sebagai senopati sabrang yang dikirim ke negeri Campa. Seperti juga senopati sabrang lainnya.

Dengan duka dan derita yang pasti dialami. Kalaupun sesuatu yang mengerikan, Gendhuk Tri kurang yakin hal ini, tak perlu membuat kalap. Gendhuk Tri tak pernah merasa risau dengan dirinya, ia bahkan tak mengetahui siapa kedua orangtuanya. Yang diketahui hanyalah sejak kecil ia diselamatkan seseorang—bisa saja Jagaddhita, bisa pula Empu Raganata— dari kemungkinan menjadi selir kesekian ratus Sri Baginda Raja. Ia bahkan belajar ilmu silat tanpa mengenai nama ilmu silat yang dipelajari, sebelumnya.

Upasara—tidak adakah contoh lain, Gendhuk Tri? juga tidak mengenai siapa kedua orangtuanya. Selain sedikit petunjuk bahwa ia berasal dari Ksatria Pingitan. Yang sangat mungkin sekali masih mempunyai darah Keraton. Kalaupun tidak, kalaupun mereka ini dilahirkan sebagai kelompok paminggir, kelompok yang asal-usulnya tak diperhitungkan dalam tata masyarakat, apa salahnya? Gendhuk Tri masih berdiri mematung. Pergelutan pikirannya masih belum selesai.

Selain masalah masa lampau, pikiran Gendhuk Tri juga dipenuhi dengan berbagai kemungkinan dari pengaruh ilmu silat. Selama ini ia asal mempelajari saja, dan langsung terjun ke medan pertarungan yang ada. Tanpa peduli apa-apa. Di masa lalu ia pernah memutuskan telinga Mpu Ugrawe yang kesohor, pernah berhadapan dengan saudara seperguruannya yang bernama Halayudha. Pernah kerasukan darah yang sangat beracun. Semua dijalani dengan menggelinding saja.

Akan tetapi kenyataan demi kenyataan baru memaksanya berpikir. Sejak kemunculan Putri Pulangsih yang “antara ada dan tiada” yang bisa manjing ajur ajer dalam pengertian yang tinggi, Gendhuk Tri tergugah hatinya. Bahwa sesungguhnya ilmu silat yang dipelajari bukan hanya membentuk dirinya menjadi bisa berjumpalitan atau mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya yang lebih langsung justru lebih hebat dari itu. Yaitu perubahan dalam diri seseorang. Pembentukan watak. Bukan sesuatu yang sama sekali baru. Namun baru pertama kali Gendhuk Tri menyadari secara dalam.

Pengaruh dalam watak inilah yang dulu menyebabkan Upasara Wulung— aaaah!—memusnahkan ilmu silatnya. Pengaruh Kitab Bumi yang tak akan terpahami sepenuhnya. Hal yang sama, yang mungkin sekali terjadi pada diri Halayudha!nPada satu tingkat tertentu, jalan pikirannya menjadi berbalik. Mendadak saja Halayudha mengetahui kesengsaraan gurunya. Merasakan kepedihannya. Pada satu tingkat tertentu, Kakek Berune masih menitipkan keinginan pada tubuh Nyai Demang. Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak memungkinkan.

Dilihat dari hal ini, Gendhuk Tri bisa menangkap dengan jelas perbedaan apa yang dicapai para pendekar sejati. Eyang Sepuh, seperti juga Putri Pulangsih, telah berada pada tingkat moksa, bisa lenyap seluruh raganya. Meskipun masih tergoda untuk muncul kembali. Sementara Kakek Berune, yang dikatakan melalui jalan agak sesat, menghadirkan dirinya kembali melalui raga orang lain. Lalu kalau benar ini pengaruh ilmu silat, apa yang tengah terjadi dengan Singanada? Lelaki gagah yang membuka mata hatinya sebagai wanita. Gendhuk Tri tak mampu meneruskan pertanyaan karena mendengar suara Senopati Sepuh yang berat.

“Saya minta para senopati yang lain mundur. Ini tantangan seorang ksatria kepada ksatria yang lain. Tak ada hubungannya dengan Keraton atau takhta. Saya minta semua saja mundur…”

Mahapatih Nambi mundur selangkah. Diikuti para senopati yang lain. Senopati Agung menunggu sesaat. Mahapatih Nambi mundur lagi. Lima langkah. Diikuti oleh yang lainnya.

“Aku sudah bersiap, Singanada.”

“Bagus. Aku sudah bersumpah, siapa pun yang menyebut nama orangtua ku harus mati di tanganku.”

“Aku sudah menyebutnya. Bunuhlah kalau bisa. Hanya perlu kamu ketahui, anak muda, aku menyebut bahwa aku mengenalnya. Karena kami sama-sama berangkat pada hari yang sama ketika rembulan masih tersisa. Melalui lautan yang sama, menghirup angin yang sama.”

“Aku tak peduli itu.”

Senopati Agung mengentakkan kakinya. “Aku tahu, bapakmu keras kepala seperti kamu. Tak salah lagi. Aku iri dengan keberaniannya.”

Tubuh Singanada tergetar. Diiringi oleh jeritan mengaum, tubuhnya meloncat ke depan. Kelebatan bayangannya menuju arah depan, tapi seketika berubah di delapan arah yang berbeda, sebelum akhirnya menerjang maju.

Senopati Agung memperdengarkan suara nyaring yang sama. Kakinya menjejak tanah, dan meloncat ke arah bayangan Singanada. Mengikuti gerakan tubuh Singanada. Seakan wilayah udara yang dikuasai dengan cepat direbut kembali. Ke arah mana Singanada berkelebat, ke arah itu pula Senopati Agung memburu. Dalam sekejap keduanya seperti main kejar-kejaran. Diseling dengan berbenturan di tengah, saling mengadu telapak tangan, kaki, yang cukup keras.

“Nawawidha.”

Gendhuk Tri menarik kepalanya sedikit. Teriakan Nawawidha kali ini justru diucapkan oleh Senopati Agung! Bukan oleh Singanada yang sejak pertama dikenal mempunyai cara bernapas melipat gandakan sembilan kali.

Singanada menggerung keras. Tubuhnya menggeliat, memutar, dan menerkam Senopati Agung. Yang terpaksa meloncat ke samping, untuk kemudian membuang diri ke arah dinding. Singanada mengejar. Hinggap di dinding. Keduanya terlempar ke dalam. Kembali ke dalam halaman prameswaren.

Seperti diketahui tadi mereka sudah berada di halaman depan, melewati pintu kecil. Karena pintu itu ditutup paksa, sekarang keduanya melewati bagian atas. Mahapatih Nambi tidak berdiam diri begitu saja. Tubuhnya melayang ke atas, melompat dinding pembatas. Meskipun ia dilarang Senopati Agung turun tangan, tak mungkin berpangku tangan kalau keadaan membahayakan.

Gendhuk Tri mendongak ke atas. Sekejap ia ragu. Menyusul ke balik dinding atau menunggu. Sekejap berikutnya, ia melihat satu bayangan berkelebat datang dari halaman, disusul bayangan berikutnya. Singanada dan Senopati Agung sudah kembali ke tempat semula. Dan melanjutkan pertarungan.

Tubuh Mahapatih Nambi pun melompat kembali. Justru pada saat itu Singanada dan Senopati Agung melompat secara bersamaan ke balik dinding.

Raja Tanpa Takhta

TUBUH Mahapatih berada di halaman prameswaren, ketika Singanada dan Senopati Agung di luar. Begitu juga sebaliknya. Sehingga sekilas seperti permainan petak umpet yang menggelikan. Namun para senopati yang lain menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan hanya permainan yang menggelikan. Bukan hanya Mahapatih yang ternyata tak bisa menebak arah pertarungan. Melainkan pertarungan dua ilmu yang senada. Dua ilmu yang sejak lama tak bisa disaksikan.

Senopati Agung selama ini tenggelam dalam kebesaran para senopati yang lain. Kedudukannya tidak memungkinkan dirinya tampil sebagai ksatria yang memainkan ilmu silatnya. Baru sekarang ini muncul. Itu pun bukan awal yang menguntungkan. Karena sudah langsung menghadapi Pendeta Sidateka, dan kemudian munculnya Halayudha secara meyakinkan. Sehingga tokoh terhormat yang tersembunyi seakan makin tenggelam.

Dengan pemunculan Singanada, baru ketahuan bahwa Senopati Agung tetap ksatria yang berilmu tinggi. Karena para senopati sudah pernah menyaksikan kelebihan Singanada. Dan kini Senopati Agung mampu mengimbangi dengan baik. Malahan beberapa kali mendiktekan jurus-jurus yang dimainkan. Pada usia setinggi itu, kemampuan Senopati Agung menimbulkan kekaguman. Apalagi kalau dilihat bahwa selama ini seperti tak pernah berlatih atau memunculkan ilmunya.

Sementara di halaman terjadi pertarungan, di dalam Keraton terjadi sesuatu yang tak diduga-duga. Halayudha ternyata melesat masuk ke dalam Keraton. Dengan gagah dan bertolak pinggang, tubuhnya melangkah lebar. Prajurit kawal pribadi Raja disingkirkan dengan sekali menggerakkan telapak tangannya. Dengan tetap berdiri gagah, Halayudha berdiri di depan kamar peraduan Baginda.

“Sanggrama Wijaya, raja tanpa takhta, raja tanpa kebesaran matahari, apakah masih melanjutkan mimpi yang indah dalam dekapan wanita-wanita ayu?"

Suaranya betul-betul mengejutkan siapa pun yang mendengarkan. Nada suaranya begitu tinggi.

“Apa yang kamu lakukan, Sanggrama Wijaya? Memerintahkan para istri memijati kakimu yang tak digunakan melangkah? Memerintah dupa wangi mengasapi rambutmu?”

Semua prajurit kawal pribadi Raja berdiri siap. Dengan senjata dan keinginan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan udara yang diisap oleh Halayudha. Sebagian sudah melarikan diri ke depan, untuk melaporkan kepada Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain. Akan tetapi Halayudha seakan tak peduli.

“Ingsun masih tetap raja, memegang tampuk pemerintahan tertinggi. Ingsun masih matahari yang tertinggi. Siapa bermulut lancang membusuk di depan pintu?” Suara Baginda tetap mengguntur. Nada dan wibawanya mengalahkan apa saja yang berada dalam ruangan sekitar.

“Benarkah kamu masih memiliki takhta? Benarkah kamu masih setinggi matahari? Jangan-jangan itu hanya mimpimu yang terindah saat ini. Sanggrama, kamu bukan raja. Kamu tak memiliki takhta kewibawaan. Tak memegang matahari. Kamu tak berbeda dari Nambi, menjadi mahapatih telanjang. Tak beda dari Kala Gemet, putra mahkota yang mengejar gadis lajang. Apa yang akan kamu persembahkan kepada Dewa? Apa yang membuatmu merasa sama gagah dengan takhta yang dikenakan Baginda Raja Sri Kertanegara?”

Mendadak pintu kamar peraduan membuka keras. Dibanting dengan tenaga dalam yang besar. Baginda menapak maju dua tindak. “Ingsun di sini…”

Kegagahan dan kewibawaan masih terserap dengan jelas. Bukan hanya dari penyebutan diri sebagai ingsun, akan tetapi juga memancar dari semua lubang kulit.

“Kamu di situ, Sanggrama. Semua tahu. Kamu menjadi raja. Semua tahu. Tapi apa yang kamu lakukan selama ini? Sibuk dengan permaisurimu yang banyak, membiarkan senopati bertarung tak mematuhi perintahmu. Itukah perbuatan seorang raja, wakil para Dewa?”

Dengan satu tarikan napas atau satu kedipan mata, Baginda bisa membuat seluruh prajurit dan senopati yang ada bergerak serentak. Sakti seperti apa pun, Halayudha akan dibuat repot karenanya. Apalagi para prajurit dan senopati ini, seluruhnya, akan menyerang tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya. Sepuluh prajurit terbunuh tapi bisa melukai Halayudha sudah lebih dari cukup. Karena tugas utama mengawal dan mengamankan Baginda.

“Begitu banyak kitab bagus, tapi kamu bercengkerama. Begitu banyak ilmu sakti mandraguna, tapi kamu membuatnya tak bermakna. Begitu banyak kawicaksanan bisa kamu lakukan, tapi kamu bekukan? Apakah masih berani kamu melihat leluhurmu?”

Wajah Baginda merah seketika. Gerahamnya beradu. Giginya bersentuhan. Pandangannya menyala. “Setan busuk mana yang menelan rohmu, hai, kawula alit?”

Halayudha mendongak. “Setan busuk mana lagi kalau bukan tetesan kawicaksanan, kebijakan, Baginda Raja yang tanpa tanding di seluruh jagat ini? Baginda Raja yang menguasai takhta. Yang mengarungi semua samudra, mendaki semua gunung, mengurung semua lembah yang diciptakan Dewa? Raja segala raja yang pernah ada. Takhta terbesar dari semua takhta yang ada. Wijaya, mimpi apa kamu selama ini? Bertakhta dan menikmati kehidupan seperti prajurit kecil yang memenangkan pertarungan. Mendapat kenaikan pangkat dan hidup bersenang-senang. Alangkah menyedihkan. Alangkah kerdilnya. Bagaimana mungkin yang begini ini mengaku turunan Singasari?”

Dalam telinga semua prajurit, dentuman halilintar di siang hari tak lebih mengerikan dibandingkan apa yang diucapkan Halayudha sekarang ini. Setan paling busuk yang sedang mabuk pun tak akan mengucapkan kalimat sekasar dan sehina ini. Bahwa berdiri di depan Raja saja, merupakan dosa yang tak bisa terampuni selama tujuh turunan. Apalagi dilakukan seorang senopati!

Langit dan bumi serta seluruh isinya tak bisa untuk menebus kesalahan ini. Apalagi bertolak pinggang dan mengeluarkan kata-kata lancang. Dunia seperti dibalik-balik, dengan matahari muncul dari arah barat menuju utara. Yang lebih aneh lagi, Baginda justru terdiam. Jelas terasakan kegusaran yang tinggi, akan tetapi tarikan napas dan suaranya masih tetap menunjukkan kelebihan yang utama.

“Apa yang kamu inginkan, Halayudha?”

“Saya ingin mengabdi raja yang raja. Raja yang menguasai jagat. Raja yang duduk sejajar dengan para Dewa, yang memegang matahari di tangannya tanpa merasa panas.”

“Apa yang dilakukan raja seperti itu?”

“Membuang abu dupa. Mengangkat senjata, membunyikan terompet, mengarungi seluruh jagat. Menaklukkan jagat.”

“Apa itu semuanya?”

“Raja yang dari tarikan napasnya lahir karya-karya terbesar yang pernah ada. Yang mengumpulkan semua kitab yang pernah ditulis manusia. Yang mengajarkan ilmu kanuragan seluruh jagat. Yang melihat ada gunung dan sungai seberang yang bisa dikuasai. Yang tidak memberikan tempat bagi anak-cucu dan keturunannya mengalahkan semua. Yang membuat perahu besar agar cucunya berlayar. Yang membuat gunung tinggi agar cucunya menggenggam matahari.”

“Apa itu pernah dilakukan?”

“Itu yang dipersembahkan kepada para Dewa. Semua tanah, air, batu, rumput, semut menjadi saksi. Kebesaran yang tiada tara di kelak kemudian hari, dibangkitkan mulai hari ini. Itulah takhta yang sesungguhnya. Itulah ajaran hidup.”

“Semua sudah lewat.”

“Tak ada yang lewat!”

“Waktu berubah.”

“Kebesaran tidak berubah bersama waktu.”

“Keadaan hari ini tidak sama dengan kemarin.”

“Kebesaran, keluhuran, kawikcasanan selalu abadi, sampai saat para Dewa menyatu dengan manusia.”

Kidungan Para Raja

BAGINDA menggerakkan jari kanan mengelus alis. Halayudha masih memandang secara langsung.

“Tembangkan kidungan itu. Seberapa jauh kamu mengetahui?”

Halayudha menjulurkan lidahnya. Suara dari hidungnya mendesis.

“Ingsun lebih mengetahui dari kamu yang mencuri baca kitab pusaka, Halayudha. Kamu tak akan pernah memahami.”

“Itu tandanya tak pernah dibaca dengan hati. Itu tandanya tak ada rasa tuntas.”

Tubuh Halayudha tergetar hebat. Seolah kedinginan, menggigil. Bergoyang beberapa saat, lalu menunduk. Lututnya tertekuk. Ambruk. Kepalanya condong ke depan. Perlahan dahinya menyentuh lantai. Seiring dengan itu terdengar kidungan yang lembut, perlahan, seperti desiran angin menggoyang ujung daun yang menguning tanpa merontokkan.

Aku raja dengan takhta
yang mencipta kidungan Dewa
untuk para raja
sebab aku Kertanegara
hanya bisa bicara dengan sesama raja
walau tanpa mahkota

Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kitab Bumi sudah selesai
ia sudah tua, mau mati
tapi matanya tertutup
hatinya redup
aku berkata padanya
untuk apa itu semua
kalau dibawa ke alam baka

Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kidung Paminggir sudah selesai
aku katakan, aku sudah membaca
sebelum kidungan itu ditulis
sebab akulah raja
sebab akulah Dewa
kalau aku murka
karena kidungan itu
tak bisa ditembangkan sembarangan
hanya darah raja yang bisa
sebab hanya Dewa yang punya matahari

ada banyak raja
juga yang tak punya takhta
aku raja, punya takhta
punya semuanya
jagat ini bakal kukuasai
sebelum Dewa menyadari

Singasari ini kayangan
Tempat Dewa
Sebab di sini dituliskan
Kidungan Para Raja
Yang menguasai jagat seluruhnya

raja harus punya selaksa wanita
untuk melayani siang dan malam
raja harus punya lautan
untuk membasuh kakinya, siang dan malam
raja harus punya keris
untuk menggaris
raja harus punya selaksa hutan
untuk memelihara singa aduan
raja harus memiliki matahari
untuk mengalahkan Dewa
raja harus memiliki anak raja
jumlahnya selaksa

kau mengerti apa, Raganata?
kau tak berdarah raja
kau bicara apa, Raganata?
kalau Dewa tak memilihmu
inilah Kidungan Para Raja
raja segala raja
lahir dari Singasari
ke seluruh jagat
tulislah kidungan apa saja
tak akan mengimbangiku
sebab aku raja
dengan takhta seperti Dewa
yang melahirkan raja
yang mengalahkan Dewa…


Suara Halayudha lembut mengalun, akan tetapi dada Baginda naik-turun karenanya. Setiap ujung suara beralun, setiap kali pula Baginda merasa perasaannya diremas-remas. Kidungan Para Raja adalah kitab pusaka Keraton Singasari yang ditulis sendiri oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Menurut cerita yang didengarnya, Baginda Raja masih menuliskan di saat-saat terakhir, ketika prajurit Gelang-Gelang di bawah pimpinan Jayakatwang dan Senopati Ugrawe menyerbu masuk Keraton.

Sudah barang tentu Baginda mengerti dan pernah mendengar serta membaca sendiri kidungan itu. Karena merupakan kitab pusaka Keraton yang tiada tandingannya. Yang dikumpulkan bersama kitab-kitab utama yang ditulis oleh para raja. Dari sekian ratus segala jenis kitab, kumpulan Kidungan Para Raja menempati tempat yang sangat terhormat. Boleh dikatakan tak ada angin yang bisa menjamah selain seorang raja. Maka termasuk langka kalau Halayudha bisa membacanya.

Meskipun kalau dirunut, bukan sesuatu yang mustahil. Sewaktu Baginda belum menduduki takhta, keadaan tidak menentu. Terusirnya prajurit Kediri dan kemudian pertarungan terakhir dengan prajurit dari Tartar serta pemindahan pusat Keraton, sangat memungkinkan tangan lain memegang atau membuka. Akan tetapi barangkali hanya Halayudha yang dengan jail mengintip baca. Dan kemudian menembangkan! Bahwa kitab ilmu silat .saja dirahasiakan begitu rupa, dan masing-masing menganggap suci, bisa dimengerti betapa kaget Baginda mendengar Halayudha membaca Kidungan Para Raja.

Aku telah mengirimkan selaksa perahu
menghitung jumlah air di laut biru
aku telah mengirim selaksa senopati
menikam keris seluruh negeri
aku telah mengirimkan putri-putri
meneruskan keturunan Singasari
aku telah menuliskan Kidungan Para Raja
mengalahkan para Dewa

sebut negeri mana
seberang macam apa
yang tak kudirikan panji kebesaranku
jawabannya: tak ada
aku telah mengalahkan Dewa
sebab aku telah menjadi Dewa
aku telah mengalahkan semua raja
sebab aku melahirkan selaksa raja

akulah raja, akulah takhta
akulah Dewa
akulah bumi dan air dan matahari
dan semuanya
menyatu dalam Singasari
menyatu dari Sri Baginda Raja Kertanegara
yang bersama
semesta
menciptakan semesta!


Di akhir kalimatnya, tubuh Halayudha seperti terangkat dari lantai. Melayang ke atas secara perlahan, hingga tinggal dahinya yang menyentuh lantai.

Dengan napas Baginda mengiringi gerakan perlahan, dan kini sempurnalah Halayudha melayang ke angkasa. Tubuhnya, seluruhnya, tak menyentuh tanah. Menggantung di tengah udara. Beberapa saat. Sebelum akhirnya terbanting kembali. Dengan suara keras. Secepat itu pula, Halayudha meloncat bangkit. Bersamaan dengan itu pula para prajurit kawal pribadi menyerbu karena menduga Halayudha melakukan serangan.

BUKU PERTAMA TAMAT

BUKU PERTAMAPILIH PENGARANGBUKU KEDUA

Senopati Pamungkas Bagian 34

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 34

Alasan lain yang dipandang Sidateka membuat ia mengajukan usulan ialah bahwa masih banyak ksatria yang ilmunya sangat tinggi. Setidaknya masih ada Upasara Wulung dan Kiai Sambartaka. Kalau ia tak bisa melumpuhkan mereka sekarang ini, mungkin kesempatan semacam itu tak akan pernah ada lagi. Adalah menjadi tujuan utamanya untuk menaklukkan Keraton Majapahit, sehingga nantinya mengakui kekuasaan utama Keraton Syangka. Tanah Syangka akan menjadi kiblat baru. Menjadi panutan utama. Dan bukan tlatah Hindia.

Maka meskipun dalam keadaan belum sepenuhnya sehat, Senopati Sidateka mengadakan perburuan. Yang menjadi sasaran utama ialah kediaman Halayudha. Diobrak-abrik untuk menemukan bukti-bukti bahwa Senopati Halayudha menyimpan Tirta Parwa. Langkah yang kedua ialah mengumumkan bahwa Upasara Wulung maupun Kiai Sambartaka adalah musuh utama Keraton. Bisa diusahakan pencarian besar-besaran. Siapa yang menghalangi maksud ini dianggap membangkang dan tidak setia kepada Keraton.

Rencana itu dianggap sempurna, dan akan melicinkan jalan yang dicita-citakan. Menguasai Keraton, dan menjadi lelananging jagat. Sidateka boleh merasa dirinya jago dalam mengatur siasat. Akan tetapi Halayudha bukan lawan yang enteng. Kalau Halayudha berada dalam posisi seperti Pendeta Sidateka, apa yang dilakukan jauh lebih menguntungkan. Tapi membuat para senopati bertanya-tanya dalam hati. Tanpa menimbulkan kecemasan yang tak perlu. Dalam hal ini Sidateka menganggap kegelisahan itu tak ada artinya. Karena memang tujuannya tidak akan terpengaruh oleh kegelisahan atau kecemasan para senopati dan prajurit.

Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Halayudha. Menghadapi lawan yang memegang kekuasaan, Halayudha tidak muncul sebagai penantang. Ia meminjam tangan untuk mengedepankan Senopati Agung Brahma. Itu langkah yang pertama. Langkah yang kedua ialah kebalikan dari langkah yang pertama. Yaitu mengadu domba. Mengatakan bahwa para senopati berkomplot menunggangi Senopati Agung Brahma untuk menandingi Permaisuri Indreswari. Dengan cara ini, Halayudha mengadu dua kekuatan utama. Tanpa perlu turun tangan. Tanpa perlu menanggung risiko.

Karena siapa pun yang tersingkir, tak akan mencela Halayudha. Karena siapa pun yang unggul, akan merasa adanya jasa baik Halayudha. Dengan persiapan seperti itu, Halayudha muncul dan masuk ke Keraton. Dengan sekali gebrak, tiga prajurit utama yang menjaga kaputren bisa dibekuk tanpa menimbulkan suara. Kemudian beranjak masuk ke tempat peraduan Permaisuri Indreswari.

“Apakah kamu mau mencari mati berani menyusup kemari?”

“Hukumlah hamba, Permaisuri Utama dan satu-satunya. Ini adalah kebodohan hamba. Namun hamba rela mendapat hukuman potong lidah setelah menghaturkan sesuatu ke hadapan duli Permaisuri Indreswari….”

“Katakan secepatnya.”

“Mudah-mudahan yang hamba dengar salah, akan tetapi telinga ini tak bisa ditutupi…”

Halayudha menyampaikan bahwa ia diajak para senopati untuk membujuk Senopati Agung Brahma agar menghadap Baginda, malam ini juga.

“Urusan apa?”

“Para senopati merasa bahwa Putra Mahkota sangat membatasi gerak-gerik dan keleluasaan para senopati yang memang busuk. Para senopati merasa lebih pantas berlindung di balik kejayaan payung kebesaran Bagus Marmadewa…”

“Yang menjadi putra mahkota itu anakku. Bukan anak kakakku.”

“Duh, Permaisuri Indreswari… Dewa di langit segala langit pun mengetahui hal ini. Juga tetumbuhan di hutan. Akan tetapi para senopati bisa memaksakan kehendaknya. Atau barangkali Senopati Agung Brahma merasa lebih tua dan lebih…”

“Kamu selalu muncul dan mengguncang perasaan. Dosamu tanpa takaran…”

“Bunuhlah hamba sekarang juga, Permaisuri yang mulia. Hamba hanya ingin menyampaikan hal ini sebagai abdi yang pernah merasakan sikap Permaisuri yang maha welas asih…”

“Lepas dari benar-tidaknya kata-katamu, ada baiknya kita bersiaga. Kalau malam nanti Kakang Senopati Agung Brahma menghadap, apa yang kamu katakan adalah benar. Jika tidak, aku sendiri yang akan mencincang tubuhmu…”

“Hamba rela dicincang sekarang ini…”

Permaisuri Indreswari memerintahkan Halayudha untuk menyingkir. Saat itu juga Permaisuri Indreswari memanggil Senopati Sidateka dan mengatakan kemungkinan Senopati Agung Brahma akan menghadap.

“Tanyakan apakah benar ia mau menghadap Baginda. Bila jawabnya ‘ya’. Kamu tak usah menunggu perintah. Ringkus seketika itu juga.”

Air Palsu Air yang Keruh

SIDATEKA menghaturkan sembah. “Nambi akan mengatasi dengan baik…”

“Aku ingin kamu sendiri yang bergerak. Sebab Nambi ada di belakang Kakang Brahma…”

Mendadak terdengar suara nyaring dari luar.

“Aku adalah Senopati Brahma. Kalau menyebut namaku, kenapa di belakangku?”

Permaisuri Indreswari menudingkan telunjuknya. Sidateka serta-merta melangkah ke luar. Di halaman prameswaren, perumahan untuk para permaisuri yang menjadi satu dengan kaputren berdiri gagah seorang lelaki dengan berkacak pinggang.

“Karena kudengar namaku disebut-sebut, aku ingin mendengar apa yang dibicarakan.”

“Kamukah Senopati Brahma?”

Mata Senopati Agung Brahma mendelik saking gusarnya. Jakunnya naik-turun. Belum pernah ia dihina sedemikian rupa. Di dalam Keraton lagi!

“Aku Senopati Agung Brahma.” Kedua tangannya terangkap, bersidekap di depan dada. “Apa pedulimu bertanya tanpa tata krama seperti itu?”

“Aku Senopati Sidateka yang mendapat tugas menjaga ketenteraman Keraton sekarang ini.”

“Bagus kalau begitu. Minggir dari depanku. Karena kakiku tak punya mata, sehingga bisa menendang kepala yang menghalangi.”

Gagah melangkah tanpa peduli. Pendeta Sidateka menggerung. Kedua tangannya bergerak, dan seketika itu pula puluhan prajurit pribadi bersiaga.

“Kalau harus memandikan keris dengan darah Keraton, aku tak akan menyesali.”

Sret, tangan kanan Senopati Agung Brahma mencabut kerisnya. Langsung diacungkan ke atas. Dalam kejap berikutnya, keris itu menuding lurus ke depan. Sabetan yang digerakkan dengan cara yang luar biasa cepat. Mengiris udara.

Pendeta Sidateka mengeluarkan seruan tertahan. Menggeser tubuhnya ke arah kiri, tangannya terulur, mencengkeram pergelangan tangan. Senopati Agung Brahma membalik telapak tangannya, kali ini ujung kerisnya menoreh ke arah nadi. Pendeta Sidateka agak gelagapan karena sama sekali tak mengira serangan lawan yang ganas bisa berubah dalam satu pukulan. Terpaksa uluran tangan kanannya mengeras bagai kepalan dan langsung ke arah lambung.

Tanpa menarik mundur kaki dan tubuhnya, Brahma membalikkan ujung kerisnya..Memapak ke arah jotosan lawan. Gerakan keris Singasari! Yang pernah dimatangkan oleh Upasara Wulung. Tidak mengherankan, karena Brahma memang prajurit Singasari yang mendapatkan ilmu dengan dasar yang sama.

Yang sedikit membuat Sidateka terkesiap ialah bahwa gerakan-gerakan pergelangan tangan Brahma sangat luwes, sangat prigel, sehingga arah ujung keris bisa berubah dalam sekejap. Dari menusuk lurus, ke samping, atas, ataupun mengiris. Sehingga mau tak mau Sidateka mengeluarkan semua ilmu simpanannya.

Bahwa Brahma masih menguasai jurus-jurus silatnya dengan baik, rasanya tak perlu diragukan lagi. Akan tetapi bahwa tenaga dalamnya tak mendukung kemampuannya, juga bisa dimengerti. Karena praktis sejak menjadi keluarga Keraton yang terhormat tak bisa latihan dengan leluasa. Padahal jago silat di mana pun, kematangan dan kemampuan tenaga dalamnya sangat tergantung dari latihan setiap kali secara berkesinambungan. Maka dalam sepuluh jurus berikutnya, Brahma tak bisa mendesak lebih jauh. Meskipun pada awalnya mampu menyudutkan Sidateka.

“Tangkap pemberontak!”

Mendengar teriakan Sidateka yang adalah senopati utama, para prajurit segera bergerak mengurung. Bahkan Senopati Kuti yang berada di kejauhan segera mendekat. Demikian juga Mahapatih Nambi.

“Kurung pemberontak satu ini!”

“Maaf, Senopati…”

“Apakah kamu membantah perintahku, Nambi?”

Mahapatih Nambi mendongak. Dadanya membusung. “Senopati Sidateka, jangan kelewat kurang ajar. Tata krama juga berlaku di antara tikus sawah. Aku tak bisa diperlakukan seperti ini.”

Begitu Mahapatih Nambi mengambil sikap sempurna, semua prajurit yang tadinya mengurung Senopati Agung Brahma jadi berubah sikap. Sidateka mundur selangkah.

“Mau menghindar ke mana, pencuri ilmu?”

Sidateka berpaling. Pandangan nanar. Hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Halayudha berdiri di belakangnya. Senyumnya dingin. Yang membuat pandangannya nanar, terutama karena kalimat Halayudha yang menyebutnya sebagai pencuri ilmu silat. Sudah jelas bahwa Halayudha yang mencuri ilmu silatnya! Bagaimana mungkin begitu tega menuduh kepada pemiliknya?

“Duh, para senopati linuwih, rasanya tak perlu mengotori tangan untuk menghukum seorang pendeta yang mencuri ilmu. Yang seperti ini tak ada harganya untuk dilayani.”

Sidateka meludah. “Sudah jelas kamu yang mencuri ilmuku.”

“Sejak kapan orang seberang menciptakan Kitab Air? Seekor ikan kecil pun bisa tertawa. Mari kita buktikan di luar, siapa yang menimba air palsu pasti lebih keruh…” Di akhir kalimatnya, tangan kiri Halayudha bergerak. Seolah menenteng anak kecil yang nakal.

Sidateka seperti tertarik pusaran air yang keras, sehingga tubuhnya condong ke depan. Tak ada jalan lain kecuali melompat tinggi untuk membebaskan diri dari terkaman tenaga mengisap. Pada saat yang sama Halayudha melayang ke udara. Sekali lagi kedua tangannya bergerak, bagai gelembung air ditiup angin.

“Itu ilmuku!”

“Inilah yang membuktikan kamu pencurinya.”

Tanpa menunggu tubuh Sidateka menginjak tanah, kedua tangan Halayudha terayun ke depan. Kali ini yang dirasakan Sidateka adalah gelombang yang keras menghantam. Sekejap tubuhnya yang belum sehat sempurna menjadi sempoyongan. Pada waktu akan membuang tenaga ke belakang, saat itu justru Halayudha sudah bersiap. Karena mengetahui reaksi dan gebrakan Sidateka. Punggungnya kena diterkam. Sekali sentak tubuh Sidateka terbanting ke tanah! Satu kaki Halayudha terayun dan menginjak tepat di leher.

“Kalau tidak segera minta maaf kepada Senopati Agung Brahma, hari ini nyawamu pindah ke telapak kakiku.”

Siapa pun yang menyaksikan kehebatan Halayudha menjadi bercekat. Bahwa Halayudha mempunyai ilmu silat yang tangguh, sudah banyak didengar. Akan tetapi bahwa hanya dengan satu gebrakan saja bisa membuat Sidateka tak berdaya sama sekali, masih di luar perhitungan mereka. Tak terkecuali Senopati Agung Brahma. Masih terasakan kehebatan ilmu Sidateka. Bahwa dirinya tak bisa mendesak lebih jauh dan malah mulai keteter. Toh dengan gampang sekali Halayudha bisa menundukkan.

Mahapatih Nambi menggerakkan tangannya. Terlambat. Kaki Halayudha telah turun. Amblas ke tengah leher. Hanya kelojotan sebentar. Sesudah itu tubuh Sidateka tak bergerak lagi. Halayudha memang ingin memusnahkan Sidateka yang di belakang hari bisa membongkar siasatnya yang menerobos masuk ke ruangan Permaisuri Indreswari. Atau mengungkit masalah kidungan dalam kain sutra. Dalam keadaan sekarang ini jelas lebih baik menghentikan napas Sidateka.

Yang membuat Mahapatih Nambi tak berkedip ialah kenyataan bahwa Senopati Utama yang diangkat secara resmi oleh Putra Mahkota dibunuh di halaman Keraton. Di belakang hari bisa menimbulkan masalah. Halayudha mendongak ke langit. Napasnya ditarik keras sekali.

“Dewa yang Mahaasih di langit. Hari ini aku mengulang kesalahan kepada Putra Mahkota. Kalau sekarang ini aku harus menerima hukuman, biarlah aku jalani dengan hati yang lapang. Sebab aku tak ingin mendengar mulutnya yang busuk.”

Suara Halayudha sangat lantang. Ini disengaja karena dengan demikian akan terdengar oleh Permaisuri Indreswari. Seolah ia ingin mengatakan bahwa dibunuhnya Sidateka agar tidak mengumbar cerita apa yang sebenarnya tengah terjadi! Itulah Halayudha. Setiap gerakan mempunyai arti ganda!

Senopati Seleh Gegaman

TINDAKAN Halayudha kelewat cepat. Dan menyelesaikan. Kini semua yang hadir hanya bisa memandangi. Berdiri dan duduk di tempat semula tanpa bisa melakukan sesuatu. Tidak segera memuji atau bisa mencegah. Karena masih terpukau dengan cara Halayudha menyelesaikan masalah. Sudah jelas Senopati Sidateka diangkat resmi oleh Putra Mahkota. Kini diinjak batang lehernya hingga putus. Sudah jelas Halayudha mengaku bersalah, akan tetapi tak segera diketahui siapa yang harus menindak. Kecuali desisan kecil.

“Siapa menyuruh kamu berbuat kurang ajar di depanku?”

Senopati Agung Brahma maju setindak. Dialah yang paling merasa tersinggung dengan tindakan Halayudha. Pada saat ia bertarung, dengan seenak perutnya sendiri Halayudha mencomot lawannya, membanting dan menginjak. Walaupun semua dalam rangkaian menyelesaikan pertempuran, akan tetapi sebagai seorang ksatria Senopati Agung Brahma merasa tersinggung.

“Saya bersedia menerima murka Senopati Agung. Akan tetapi yang saya lakukan semata-mata demi keselamatan Senopati Agung.”

Lebih jelas kata-kata Halayudha. Ia memenangkan pertarungan dan mengatakan bahwa sebenarnya Senopati Agung Brahma tak bisa menyelesaikan urusan. Bahkan jiwanya terancam bahaya. Sehingga Halayudha perlu turun tangan. Kata-kata kasar yang membuat Senopati Agung Brahma naik darahnya. Tangannya mencabut keris yang baru saja disarungkan.

“Mari kita buktikan siapa yang lebih lelaki…” Kaki Senopati Agung melangkah maju.

Halayudha mengerahkan tenaga di kedua tangannya sambil menunggu. Begitu Senopati Agung bergerak, Halayudha memperlihatkan keunggulannya. Sikunya yang tertekuk menyodok ulu hati lawan, dan dengan tangan kiri, membetot keris lawan. Gerakan yang bisa diduga. Senopati Agung bisa mengubah ujung keris ke dalam. Menusuk siku yang berusaha membentur dadanya. Dan kejapan berikutnya bisa diubah lagi untuk menyerang. Perhitungannya meleset. Kaget pun tak sempat.

Karena tenaga sodokan dengan siku berjalan sangat cepat. Yang lebih menakjubkan lagi angin tusukan terasakan sangat tajam, sehingga ulu hati Senopati Agung sangat sakit. Menyentuh pun belum. Kesiuran angin pun belum terasakan. Tapi tenaganya menjadi buyar. Pada saat yang bersamaan, hanya dengan tangan kiri, Halayudha mampu merampas keris. Satu sentakan saja!

Apa yang dipamerkan Halayudha memang permainan tenaga dalam yang lihai. Yang bisa diatur secara sempurna. Kini saatnya Halayudha memperlihatkan siapa dirinya. Kalau selama ini dirinya hanya dipandang sebagai senopati yang dekat hubungannya dengan Baginda, sekarang mempertunjukkan kebolehannya.

Sudah sekian lama Halayudha merasa terganjal hatinya. Kemampuan ilmu silatnya sebagian sengaja disembunyikan, dan ia lebih dikenal sebagai pelayan Baginda. Untuk ini semua ia menahan sakit hati karena pandangan yang merendahkan dirinya. Di mana ukuran keunggulan ditentukan oleh tebal atau tipisnya kulit. Halayudha tak bisa menahan diri lebih lama. Pada kesempatan yang terbaik seperti sekarang ini, ia memunculkan siapa dirinya.

Yang pada dasarnya lebih unggul. Yang seperti terlupakan bahwa Halayudha adalah murid langsung Paman Sepuh Dodot Bintulu, salah satu dari ksatria utama yang setara dengan Eyang Sepuh! Ini saja sudah menunjukkan dasar-dasar yang jauh lebih kuat dari senopati yang lain. Bagi Halayudha ini masih harus segera ditambahkan, bahwa selama ini ia telah mengisap habis semua ilmu kelas satu di jagat. Ia berhasil menimba tuntas dari Kama Kangkam, ksatria utama dari Jepun. Ia juga berhasil mengakali Raja Segala Naga Tartar. Bahkan terakhir mampu menyerap apa yang termaktub dalam Kitab Air.

Itu pula sebabnya dalam gebrakan yang pendek, Pendeta Sidateka yang masih menderita sakit bisa dilipat habis seketika. Demikian juga halnya dengan Senopati Agung Brahma. Dengan sangat cepat Halayudha bisa membaca arah gerakan lawan, dan dengan sama cepatnya memberikan tangkisan dan mendahului menyerang. Titik terlemah lawan yang menjadi sasaran penyerangan.

Gerakan siku tak begitu berarti banyak kalau tidak disertai tenaga dalam yang kuat menerobos. Yang langsung menghentikan sumber tenaga dalam Senopati Agung. Maka keris pusakanya bisa dirampas dalam sekejap. Halayudha tidak berhenti di situ saja. Dengan gerakan memutar, tubuhnya membentuk lingkaran. Keris yang terampas di tangannya, dilontarkan dari tangan kiri, sementara kakinya menendang mayat Sidateka. Begitu tubuh Sidateka melayang ke arah dinding, tangan kanannya melempar.

Mahapatih Nambi mengeluarkan seruan tertahan. Karena tubuh Pendeta Sidateka melayang ke arah dinding. Disusul tusukan keris. Yang amblas hingga ke dinding, menembus tubuh Sidateka. Tubuh Sidateka terpantek ke dinding! Bisa disaksikan siapa saja yang berada dalam halaman kameswaren dengan jelas. Apalagi kaki Sidateka masih bergoyang-goyang karena gerakan lemparan, dan darahnya basah menetes. Menjijikkan.

Membuat Senopati Agung berpikir tiga kali. Kalau saja Halayudha mau mengarahkan keris itu ke tubuhnya yang mana saja, atau bahkan keningnya, Senopati Agung tak bisa mengelak. Karena inti tenaganya tak bisa dikerahkan, juga untuk menghindar. Yang menimbulkan kesan lebih dahsyat ialah kenyataan tubuh Sidateka yang terpampang di dinding.

“Biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap pemberontak. Kekuasaan Keraton tak boleh dikotori oleh siapa saja. Kalau di antara kalian ada yang ingin membela Sidateka, silakan maju!”

Ganas dan keras. Ucapan Halayudha bisa ditafsirkan bahwa ia menantang siapa saja yang bisa mendengar, walau seperti ditujukan kepada para prajurit. Bisa ditafsirkan sebagai tantangan terbuka untuk menguji ilmu silatnya. Sejenak tak ada suara atau gerakan. Halayudha mendongak, menanti.

“Kalau memang tak becus, lebih baik seleh gegaman.”

Suara yang berat menekan, penuh dengan wibawa. Serentak semua yang berada di halaman bersujud, menghaturkan sembah. Tak berani mendongak atau melepaskan sikap menyembah. Termasuk Halayudha dan Senopati Agung Brahma. Suara berat itu dimiliki oleh Baginda Kertarajasa. Pengertian seleh gegaman, dalam arti harfiahnya, ialah meletakkan senjata, bisa juga menyerah kalah. Mengakui keunggulan lawan dan rela menyerah tanpa syarat.

“Kalau para senopati seleh gegaman, apa lagi yang tersisa? Kenapa untuk menyingkirkan seorang perusuh harus banyak kalimat berbusa-busa?”

“Sembah bekti bagi Baginda….” Jawaban serentak yang terdengar.

“Taman ini tidak untuk pertikaian. Kalian semua saya izinkan untuk bubar…”

Tanpa menunggu reaksi, Baginda meninggalkan tempat. Agak lama baru satu per satu mendongak, menyembah lagi, dengan laku ndodok meninggalkan ruangan. Yang tersisa adalah pertanyaan dalam hati. Kenapa Baginda mendadak muncul? Siapa yang menggugah Baginda untuk berjalan keluar dari kamar peraduannya? Ataukah selama ini Baginda tidak berdiam di Keraton? Sehingga Putra Mahkota bisa memerintah dengan leluasa?

Bahwa kematian Sidateka menimbulkan masalah yang pelik, bisa ditebak. Akan tetapi kehadiran Baginda yang mendadak, menimbulkan pertanyaan lebih pelik lagi. Karena tak mungkin ada jawaban, untuk sementara atau selamanya. Baginda bisa muncul sesaat, dan dengan sabdanya segalanya diselesaikan. Sekurangnya pertemuan saat itu.

Hanya diiringkan oleh lima prajurit pribadi, Baginda memasuki Keraton. Ketika tangannya bergerak perlahan, lima prajurit pengiring utama berhenti di gerbang. Baginda melangkah sendiri menuju peraduannya. Tanpa suara. Tanpa gema. Tapi terasa betul keberadaannya memenuhi ruangan seluruhnya. Melewati dinding, halaman, batas sebelah luar. Kehadiran yang tak bisa diganti atau disamai dengan wibawa yang lain. Juga ketika berada dalam kamar peraduan. Menghadapi Permaisuri Rajapatni.

Isyaratkan Kemauanmu, Yayi…

DALAM kamar peraduan yang sunyi, hanya terasakan bau dupa wangi yang pekat. Permaisuri Rajapatni duduk bersimpuh dibawah dengan menundukkan wajah.

“Yayi, masih perlukah kamu membisu seperti batu? Apa sebenarnya yang menjadi kemauanmu?”

Tubuh Permaisuri Rajapatni tetap bergeming.

“Susah menangkap isyarat apa yang terpaku dari kepiluanmu. Hmmm, kalau bukan karena Dewa menjodohkan kita sebagai pasangan yang bakal melahirkan keturunan raja yang berkuasa di seluruh jagat raya, sifatmu yang kekanak-kanakan tak bisa kumaafkan. Kalau yang kamu prihatinkan kedua putrimu, yang adalah putriku juga, pulanglah kembali ke kamarmu. Mereka ada di sana.”

Mendadak kesunyian pecah oleh isak tangis. Tubuh Permaisuri Rajapatni bergerak-gerak, perlahan. Tangannya gemetar ketika menyembah. Dalam cahaya yang tak begitu terang, dengan aroma bau dupa harum dan asap samar-samar, nampak jelas wajah pucat dan mata yang cekung karena kurang tidur dan makan. Namun semburat keayuan yang hanya dimiliki putri Keraton tetap terpancar.

“Cukup puas?”

Tubuh Permaisuri kembali tergetar. “Segala puji syukur bagi kebesaran Baginda, raja Keraton Majapahit yang perkasa.”

Baginda menggerakkan kepalanya. “Kadang aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah kamu ini sebagian dari dayang-dayangku, atau kamu ini yang kutitipi anakku. Yayi Gayatri… wanita seluruh Keraton ini bisa kumiliki dan kubuang seketika tanpa membuatku berpikir dua kali. Hanya kepadamu, kadang kurasakan ada sesuatu yang menahanku. Yang membuatku ragu. Ketika semua wanita seluruh Keraton berusaha bisa menyembah bayanganku dengan segala cara, kamu yang kuajak bicara malah berdiam diri. Aneh. Sungguh aneh. Ataukah semua wanita aneh, atau kamu sendiri yang aneh? Hmmm, Gayatri… Gayatri… Setiap hari kutemukan berbagai persoalan. Baik yang besar maupun yang sangat besar. Tapi tak ada yang seganjil bila bertemu denganmu. Sungguh tidak lucu. Kamu menguatirkan kedua putrimu, yang dijaga Gemet. Kenapa kamu harus begitu prihatin sehingga membisu, bertapa seperti tak punya sukma? Apa kamu kira aku tega kalau ada selembar rambut yang rontok dari putrimu?”

Permaisuri Rajapatni menghaturkan sembah kembali. Khusyuk, hormat, bekti. Tulus, menghormat dari lubuk hati.

“Perjalanan hidup ini banyak ragamnya. Dewa di Atas Dewa yang mengatur langit dan bumi bisa menentukan apa saja. Termasuk sifatmu. Apa kurangnya menjadi permaisuri seorang raja yang berkuasa seperti aku? Apakah masih ada lelaki yang bisa menyamai, bahkan hanya bayanganku? Rasanya di seluruh jengkal tanah wilayah Keraton tak akan pernah ada. Tetapi anehnya, kamu seperti masih menyimpan, masih memberi tempat kepada seorang ksatria yang bernama Upasara Wulung. Kuakui ia senopatiku yang menentukan saat melawan prajurit Tartar. Ia masih muda. Tapi ia tak ada apa-apanya. Upasara tidak membuatku cemburu. Tidak membuatku harus berhitung dengannya. Setiap saat aku bisa menyuruhnya membunuh diri. Setiap saat ia akan menyembah bayanganku. Ia tak akan mungkin bisa menyamai bayangan tubuhku yang telah lenyap. Yayi Gayatri… sudahilah perasaan yang tak perlu itu. Itu hanya akan menyiksamu. Dan menyiksa Upasara…”

Suara Baginda berubah menjadi lebih keras. Nadanya menjadi lebih cepat.

“Kamu harus tahu, Yayi, Upasara bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Ia seorang prajurit tanpa diketahui siapa orangtuanya, dari mana asal-usulnya. Ia tak punya pangkat, tak punya derajat. Sewaktu bertugas menyelidik ke Keraton Singasari, kamu menemaninya. Saat itu tumbuh daya asmara yang luar biasa. Karena dalam bayangannya, dan sesungguhnya begitu, kamulah bidadari yang paling bidadari, dewi yang paling dewi, sehingga kehadiranmu bagaikan sinar bulan purnama. Lebih menyedihkan lagi karena kekonyolan merasa kamu menanggapi perasaannya. Katakan terus terang, apakah itu tidak menyiksanya? Melukai sampai ke tulang sumsumnya? Upasara boleh saja menjadi perkasa. Menjadi ksatria utama, menguasai segala ilmu yang memang diperlukan prajurit, menjadi lelananging jagat, akan tetapi tetap saja merasa jiwanya tak imbang. Merasa sisa-sisa daya asmaramu masih melekat di sana. Itulah beban yang akan ditanggung seumur hidupnya.”

Baginda terbatuk sesaat. Wajahnya memperlihatkan sinar puas. Akan tetapi senyuman yang terpancar terlalu dingin.

“Padahal kalau direnungkan, apalah arti hubungan kalian. Daya asmara apa yang kalian rasakan? Tak ada. Tak akan pernah ada. Tak akan pernah ada selamanya. Hanya impian. Impian keinginan yang melelahkan. Yang membuat Upasara gila. Yayi-lah penyebabnya!”

Kembali terdengar suara. Antara batuk dan terbatuk. Baginda melirik istrinya sekejap. Tak ada perubahan yang bisa ditangkap dari wajah yang tetap menunduk sejak pertama tadi.

“Apa lagi namanya kalau bukan kegilaan yang menjadi beban? Sekian tahun telah berlalu. Kamu tak pernah tahu, tak pernah bertemu bayangannya. Entah hidup atau matinya kamu tak tahu. Dan Upasara masih merasa memiliki daya asmara denganmu. Sehingga Ratu Ayu Bawah Langit yang menjadi istri pendampingnya ditinggal pergi. Tidak pernah jelas. Yang jelas dan nyata adalah merawat daya asmara denganmu. Yayi, katakanlah terus terang, bukankah Yayi sangat jahat padanya? Membuat Upasara edan dalam keadaan waras? Membuat ia cacat dalam keadaan sehat? Ah, betapa dungunya. Betapa tololnya. Di jagat ini ada begitu banyak wanita. Tapi ia masih bernyanyi, masih mengidungkan sesuatu yang tak ada. Dan kamu yang menjadi penyebabnya, diam-diam merasa bahagia. Dan aku, raja yang berkuasa, yang bisa melakukan apa saja, jadi terdorong untuk membicarakannya. Terus terang aku kasihan pada Upasara. Ksatria yang bisa berbakti sebagai abdiku, tenggelam seperti kotoran…”

Permaisuri Rajapatni tetap tertunduk. Tak bergerak. Tak berubah tarikan napasnya yang pelan dan berirama.

“Isyaratkan apa maumu, apa keinginanmu. Aku selalu bisa mewujudkannya..."

Tetap tak ada jawaban. Tak ada perubahan. Seperti tak ada. Seperti dupa. Hati Baginda tergetar tanpa terasa. Selalu begitu setiap kali berhadapan dengan Permaisuri Rajapatni. Selalu ada rasa yang mengintip, mengilik-ngilik setiap kali melihat permaisurinya yang ini, karena selalu terpeleset hubungannya dengan Upasara. Dalam hatinya Baginda merasa bahwa dirinya di atas segala apa. Tetapi juga dalam hatinya, secara tak dipaksa, tersisa tanda tanya, apa yang sebenarnya membuat Gayatri selalu membisu pada saat-saat tertentu?

Apa yang dulu membuat Upasara menolak diberi jabatan mahapatih? Pertanyaan yang bisa dijawab siapa saja. Juga hatinya sendiri. Untuk memuaskan. Tapi kadang tergema lagi. Meminta jawaban baru.

“Sekarang ini, Keraton lagi diguncang kerisauan. Dan aku membicarakan sesuatu yang tak ada gunanya. Pergilah, Yayi…”

Permaisuri Rajapatni menyembah tulus. Lalu menggeser tubuhnya perlahan sekali. Meninggalkan Baginda yang untuk beberapa saat menghela napas dua-tiga kali, sebelum berusaha menenggelamkan semuanya ke alam impian.

Asmara Bumi dengan Air

SEJAK Baginda meninggalkan halaman prameswaren, suasana masih hening beberapa saat. Baru kemudian terdengar suara Halayudha.

“Baginda baru saja bersabda, kita semuanya seleh gegaman. Tak ada lain yang bisa kita lakukan kecuali menjunjung tinggi sabda Baginda. Maafkan, kalau saya mendahului…”

Halayudha menyembah ke arah di mana Baginda tadi berada, lalu berjongkok, sebelum akhirnya berdiri. Dengan memakai kalimat Baginda, Halayudha menekankan bahwa tak ada gunanya melanjutkan sengketa. Semua yang hadir dianggap tidak becus, sehingga perlu meletakkan senjata. Perlu untuk tidak melakukan suatu apa. Dalam artian yang lebih luas, semua senopati, tanpa kecuali, tidak memegang jabatan apa-apa. Menunggu perintah selanjutnya. Dari semua yang mendengar, hanya Senopati Agung Brahma yang mendehem kecil.

“Kita semua harus mematuhi. Akan tetapi aku tak akan pernah melupakan hal ini. Halayudha, masih ada hari lain untuk bertemu muka.”

Di luar dugaan, Halayudha balas menatap sorot mata Senopati Agung. “Dengan senang hati, Senopati Agung. Sebagai prajurit, saya menjalankan sabda Baginda. Sebagai sesama ksatria, saya siap melayani kapan saja. Di luar batas wewenang Keraton, kita bisa berhadapan sebagai sesama lelaki.”

Gamblang sekali Halayudha menyambut tantangan Senopati Agung. Ditambah lagi:

“Semua yang hadir di sini menjadi saksi. Saya tak akan mundur menunggu sampai keris pusaka Senopati Agung dibersihkan dengan bunga melati.”

Sindiran Halayudha terdengar kasar. Menyinggung masalah keris, seolah Halayudha ingin menekankan bagaimana ia bisa merebut dengan mudah, dan menggunakan untuk menggantung Sidateka di dinding Keraton. Senopati Agung harus mengambil, membersihkan dulu sebelum bisa menghadapi Halayudha.

“Kalau masih ada yang tersinggung dengan kata-kata saya dan yang saya lakukan, silakan menyelesaikan di luar halaman.”

Lebar langkah Halayudha ke arah luar. Menuju kori butulan atau pintu kecil. Akan tetapi pintu itu terbuka lebih dulu. Gendhuk Tri berdiri di samping Singanada. Menunggu. Sejak mereka berdua datang, mereka masih menunggu untuk membaca situasi. Karena begitu banyak prajurit bersiaga. Sewaktu mendengar suara gaduh di bagian dalam, mereka berdua menyerbu masuk. Tak terlalu menimbulkan kesulitan. Di pintu kecil, keduanya menunggu masuk. Saat itu justru Halayudha sedang melangkah ke luar.

“Persoalan kita belum selesai, Halayudha…”

“Apa yang kamu perlukan dariku, anak muda?”

Singanada bertolak pinggang. “Kembalikan kitab pusaka Gendhuk Tri.”

Halayudha mengangkat alisnya. “Kitab pusaka macam apa? Ditulis di daun apa, bagaimana bunyinya?”

Singanada terenyak. Sama sekali tak diduganya bahwa ia akan menghadapi pertanyaan balik seperti yang diucapkan Halayudha. Ia mengetahui bahwa Halayudha menyimpan kitab yang menjadi inti ajaran Gendhuk Tri. Akan tetapi ia sendiri tak tahu kitab apa, dan ditulis di tempat apa, atau bagaimana bentuknya. Demikian juga Gendhuk Tri. Seumur hidup ia belum pernah melihat atau menyentuhnya.

“Kalian bilang aku mencuri atau mengambil kitab kalian. Katakan yang mana. Kalau memang kalian ingin mencari gara-gara, tak perlu menuduh tanpa alasan. Aku sudah siap menghadapi.”

Para senopati yang masih berada di sekitar halaman depan Keraton saling pandang tak mengerti persoalannya.

“Kalau itu yang dikehendaki, bersiaplah.” Singanada mencabut kantar-nya.

“Sebagai prajurit, kamu tidak mematuhi perintah Baginda untuk seleh gegaman. Malah bikin ribut. Singanada, lebih baik aku simpan barang mainanmu itu.”

Sebat sekali Halayudha bergerak maju. Tubuhnya bergerak bagai bayangan yang melesat ke depan. Akan tetapi sesungguhnya kakinya yang lebih dulu menggunting kuda-kuda Singanada. Singanada mengetahui bahwa Halayudha cerdik sekali membaca kekuatannya. Tenaga lipat sembilan yang menjadi andalannya, dengan meloncat ke arah sembilan penjuru, bermula dari loncatan pertama. Bagian itulah yang dimatikan Halayudha.

Singanada tidak mengubah kedudukan kakinya. Rambutnya yang tergulung tiba-tiba saja lepas terurai dan menyampok ke wajah Halayudha. Bagai tusukan seratus jarum seketika. Dengan mengeluarkan suara ejekan dingin, Halayudha merebahkan tubuhnya, dengan kaki tetap menggunting kaki lawan. Singanada merasa tempurung lututnya berdenyut. Getaran tenaga Halayudha terasakan. Secepat ancaman datang, secepat itu pula Singanada mengubah serangan. Tubuhnya kembali tegak, rambut tertarik ke belakang, dan kantar di tangan kanan dan kiri menghantam ke arah dada. Ke arah satu tempat.

Halayudha justru membalik tubuhnya. Menyongsong maju. Menyerahkan dadanya kena totokan kantar. Senopati Agung Brahma menahan napas. Apa yang dipertontonkan Halayudha jarang dilakukan tokoh silat kelas utama. Tenaga yang tadinya ditarik ke belakang dengan menekuk punggung, justru diubah ke depan saat serangan datang. Gendhuk Tri juga heran. Karena gerakan yang pertama tadi, biasanya disusul dengan gerakan menjatuhkan tubuh. Seperti yang selama ini selalu berhasil dilakukan untuk mengecoh lawan. Akan tetapi sekarang justru dibalik.

Singanada memindahkan dua kantar pendek ke satu tangan. Dalam sepersekian tarikan napas, ia merasa bahwa dada lawan yang diarah seperti pusaran air yang menenggelamkan tenaga yang datang. Pada saat yang bersamaan kakinya terancam. Tak ada cara lain kecuali melompat ke atas. Dengan kekuatan satu kaki. Karena kaki yang sebelah, lebih untuk menghindar dengan jalan memutar tubuhnya.

Saat melayang ke atas Singanada sudah bersiap menyambut datangnya serangan beruntun. Yang pasti akan segera datang. Pertarungan di tengah udara. Perhitungan yang tepat. Akan tetapi tetap juga melesat. Karena Halayudha tidak melanjutkan serangan dengan melompat ketengah udara, melainkan memutar tubuhnya, dengan kaki terangkat sempurna ke atas. Tubuh Singanada yang melayang ditendang dari jarak jauh dengan kekuatan berputar, searah dengan putaran tubuh Singanada.

Mahapatih Nambi yang sejak tadi memperhatikan setiap gerakan, menduga-duga bahwa Halayudha secara sengaja membalikkan setiap gerakan yang sudah diduga lawan. Sesuatu yang sebenarnya sangat berbahaya. Karena gerak rangkaiannya terpatah-patah dan sulit diterka kemungkinan yang terjadi. Di samping itu, perlu diperhitungkan juga kekuatan lawan. Yaitu Maha Singanada, yang bukan sembarang jago silat.

Sebagai sesama jago silat, Mahapatih Nambi bisa mengetahui bahwa dengan membalik-balik gerakan, memungkinkan untuk sedikit “bermain-main”, merangsang kepekaan baru. Akan tetapi itu tak bisa dilakukan dengan lawan yang seimbang. Gerakan pembukaan dalam ilmu silat, tersusun langkah demi langkah yang berangkaian. Setiap gerakan awal boleh dikatakan sudah pasti, sekurangnya sampai pada jurus-jurus tertentu. Kecuali kalau memang kekuatan tenaga dalamnya lebih berlipat ganda dari musuhnya.

Ibarat melawan prajurit biasa, walau gerakan lawan rumit dan tersusun, Nambi bisa menyapu keras. Memusnahkan dengan mengadu tenaga dalam. Kalaupun Halayudha lebih unggul setingkat, Singanada bukan lawan yang bisa disapu begitu saja. Akan tetapi toh itu yang dilakukan oleh Halayudha.

“Loncat!”

Teriakan Halayudha begitu keras, dan ternyata Singanada memang berloncatan ke arah sembilan penjuru. Setiap kali bayangan tubuhnya berkelebat ke delapan penjuru, untuk kemudian berada di tengah.

“Ini menarik, akan tetapi membosankan. Gendhuk kecil, bergabunglah. Aku ingin menyaksikan perpaduan bumi dengan air.”

Telapak tangan Halayudha mengincar ke arah dada Gendhuk Tri! Benar-benar kurang ajar!

Asmara Berasal dari Dalam

BENAR-BENAR kurang ajar. Dan hebat. Kurang ajar karena telapak tangan Halayudha mengincar dada Gendhuk Tri. Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan ksatria, apalagi senopati setingkat seperti Halayudha. Akan tetapi Halayudha seperti bisa menebak dengan jitu, bahwa hanya dengan gerakan kasar inilah ia bisa memancing Gendhuk Tri terseret ke dalam medan pertempuran secara seketika. Kalau hanya dipanasi atau diserang, belum tentu Gendhuk Tri mau ikutan terjun mengeroyok.

Hebat, karena di saat menghadapi serangan dari segenap penjuru, Halayudha masih bisa mencuri peluang untuk menyerang Gendhuk Tri yang bersiaga. Padahal dilihat selintasan, medan pertarungan yang dihadapi Halayudha belum sepenuhnya menguntungkan dirinya. Belum ada tanda-tanda ia bisa merebut keunggulan. Akan tetapi sudah mengeduk ke arah lain, membuat medan baru yang membuatnya menghadapi risiko ganda.

Bahkan kalau didengarkan apa yang diucapkan, Halayudha seakan tengah melatih lawan. Bukan sedang berusaha mengalahkan. Diam-diam Senopati Agung Brahma mengakui bahwa Halayudha dua tingkat di atas ilmu yang dimiliki. Terutama sekali dari kecepatan dan ketepatan membaca gerakan lawan. Sewaktu menghadapi Singanada, Halayudha sudah tahu bahwa ia tak bisa merebut kemenangan dalam waktu singkat. Akan tetapi seperti sudah memperkirakan gerakan lawan dan gerakannya sendiri. Pertarungan seperti yang telah direncanakan, telah dihafal, sehingga ia bisa bergerak sangat cepat sekali.

Dengan mengundang Gendhuk Tri, Halayudha seperti menemukan gairah baru untuk menghadapi dua lawan sekaligus. Pancingan mengena. Begitu tangan Halayudha merayap liar di depan dada, secara spontan Gendhuk Tri menyampok keras. Selendangnya yang warna-warni menggulung tangan Halayudha. Tangan kirinya terulur ke depan, menyambut jakun Halayudha. Halayudha menarik tangannya, menekuk, dan sikunya menghantam perut Gendhuk Tri. Dalam gerakan berputar. Sementara kakinya yang lepas, menahan serbuan dari Singanada.

Kali ini Senopati Agung yang menahan napas. Sodokan siku itulah yang menamatkan perlawanannya. Yang membuat kerisnya bisa direbut paksa. Itu yang akan dialami oleh Gendhuk Tri. Karena selendang yang melibat tangan Halayudha ikut tertarik ketika Halayudha menekuk tangannya. Badannya jadi ikut terdorong ke depan karena kerasnya tarikan. Pada saat itu siku Halayudha yang berbisa siap menghancurkan.

Singanada yang melihat bahaya mengancam Gendhuk Tri, menyusup di antara celah kaki Halayudha. Menyusup masuk. Gendhuk Tri sendiri bukan lawan yang enteng. Yang bisa dibekuk dalam satu gebrakan. Dengan sangat cepat Gendhuk Tri memutar tubuhnya bagai gasing, ke arah yang berlawanan dengan libatan selendangnya. Sehingga meskipun tertarik, bisa melepaskan diri. Tanpa tersentuh siku Halayudha.

“Bagus. Jangan terbang terlalu tinggi. Itu kurang bagus. Air tak akan membuat gelombang tinggi kalau tidak berada di laut, kalau tak ada angin kencang.”

Tubuh Gendhuk Tri yang melayang ke atas bergoyang-goyang. Seperti gemetar. Karena pada saat itu Halayudha menggemboskan tenaga dalamnya. Tenaga tarikan Gendhuk Tri jadi punah karenanya. Hal yang juga dirasakan Singanada. Ia seperti amblas ke udara kosong. Sehingga tubuhnya jatuh menderas. Singanada menggerung keras. Dua kantar pendek berada di tangan kanan dan kiri. Pada saat yang sama kedua tangannya membuka dan tubuhnya berputar keras. Menyabet apa saja yang menghalangi. Halayudha mengeluarkan decak kagum.

“Sembilan tenaga, bukan sembilan kali putaran.”

Halayudha masih bisa memberi pengarahan, sambil menghindar ke arah samping. Dengan demikian serangannya ke arah Gendhuk Tri batal. Malah ia terpaksa menarik mundur kakinya. Tiga langkah saja. Langkah keempat sudah kembali masuk ke dalam pertarungan. Dengan kedua tangan terangkat ke atas, terkepal, dan pundak lurus rata dengan tangan sampai siku. Inilah cara menggempur putaran tangan Singanada. Mematahkan di tengah putaran. Dengan tenaga keras.

Singanada kembali mengaum. Tubuhnya menggeliat, dengan gerakan dahsyat ia berusaha membelit tubuh lawan. Pertarungan keras dengan jarak sangat dekat. Membelit tubuh dengan tubuh adalah gerakan yang cukup berbahaya. Justru karena ilmu yang biasa dimainkan Singanada adalah ilmu Sembilan Penjuru. Mengurung udara dan ruang pertarungan. Berarti pertarungan berjarak.

Akan tetapi Singanada tak bisa memainkan Nawagraha atau Siasat Sembilan Bintang. Bahkan kantar, tombak pendek, yang bisa untuk menjaga lawan berada dalam batas serangan seperti macet. Halayudha bisa menebak gerakan-gerakan yang ada. Dengan tenaga sedikit berlebih, Halayudha seakan siap menandingi benturan keras sama keras. Adu tenaga pada posisi sekarang ini jelas lebih menguntungkan Halayudha.

Menghadapi situasi rumit, Singanada menggerung keras. Mengubah menjadi pertarungan jarak pendek. Nawadwara atau Sembilan Pintu diringkas menjadi pendek. Dengan pemikiran itu, Singanada ingin agar Halayudha tak mampu menebak gerakannya, yang bisa terbaca dengan mudah. Satu-satunya yang masih membuat Singanada was was ialah kemampuan tenaga dalam Halayudha yang sempurna. Pada saat yang sama bisa mengubah antara berisi, kosong, atau tenaga berputar. Seperti yang barusan terjadi.

Tenaga putar demikian keras, lalu berubah menjadi kosong, dan kini berubah menjadi keras. Menjebol kurungan tubuh Singanada yang berputar. Singanada menggeliat ke sisi lain, untuk menghindar adu tenaga keras lawan keras. Akan tetapi dengan begitu, Halayudha mempunyai kesempatan menyapu kaki Gendhuk Tri yang sedang melayang dan bergoyang turun.

“Srimpung habis.”

Singanada mencelos. Tak menduga bahwa Halayudha akan menebas kaki Gendhuk Tri dengan gerakan kaki berputar yang keras. Dengan menyrimpung, diartikan menebas rata. Sekeras apa pun kaku dan kekuatan Gendhuk Tri, pasti bukan lawan Halayudha. Lebih berbahaya lagi karena tak mungkin menghindar. Tubuhnya sedang meluncur turun. Dilihat dari goyangan tubuh, Gendhuk Tri belum menguasai sepenuhnya berat tubuhnya. Gendhuk Tri menyadari bahaya.

“Kamu keliru!”

Justru itu yang diteriakkan. Dengan tubuh terus meluncur. Akan tetapi kedua kakinya ditekuk ke belakang. Sehingga srimpungan kaki dengan kaki yang menebas dengan gaya berputar, menemukan tempat kosong. Gendhuk Tri turun dengan lutut menyentuh tanah. Pada saat yang sama tangannya melepaskan selendang dan menggulung leher Halayudha. Hebat dan jeli Halayudha, akan tetapi terkesiap juga. Sabetan selendang ke leher membuatnya perih. Kalau saja tenaga dalam Gendhuk Tri setanding, Halayudha sudah terbanting seperti Sidateka! Singanada maju ke depan mendampingi Gendhuk Tri. Siap melindungi dan mengambil alih pertarungan. Halayudha berdiri tegak. Dadanya membusung.

“Bagus, bagus sekali. Kalian berdua ingat baik-baik. Inilah perpaduan sifat bumi dan air yang sesungguhnya. Bagai bersatunya daya asmara yang berasal dari dalam. Dari batin. Ingat baik-baik. Selama kalian berdua mencoba main sendiri-sendiri, ingin merebut kemenangan satu dari yang lainnya, hasilnya justru sebaliknya. Tapi justru yang baru saja ini membuktikan kehebatan. Bagus, bagus sekali. Di kelak kemudian hari, kalian berdua akan menjadi pasangan yang luar biasa. Tapi karena sekarang ini masih terlalu ringan, kalian tetap kalah. Hanya mampu menunjukkan kebolehan, tapi tak bisa memenangkan pertarungan.”

Duka dari Dewa

HALAYUDHA menghela napas berat. Wajahnya mendongak ke langit. Guratan duka menggaris tajam. Mengiris suaranya yang menggeletar.

“Dewa yang berada di langit, kenapa kamu begitu murka kepada Guru? Dosa apa yang dilakukan sehingga kamu turunkan duka bertubi-tubi pada guruku, dan harus kusandang? Kalau kamu punya keberanian, turunlah. Aku, Halayudha, murid utama Paman Sepuh Dodot Bintulu, menantangmu.”

Tubuhnya yang kokoh perkasa, kepalan tangannya yang kaku, masih kalah mengerikan dibandingkan tusukan nada suaranya yang menyayat. Seakan disarati dengan beban duka yang tak tertanggungkan. Untuk pertama kalinya, siapa pun yang mengenal Halayudha merasa menemukan sosok yang lain. Bahkan Senopati Agung Brahma yang begitu mendendam, tercerabut perasaan iba untuk sesaat.

Halayudha yang sekarang ini, seperti pertapa tua yang melontarkan dendam dengan rintihan. Selama ini Halayudha selalu bisa menampilkan berbagai wajah. Bisa mengubah raut muka untuk maksud-maksud tertentu. Akan tetapi sekali ini mengesankan sekali.

“Dewa di langit. Kenapa kamu begitu pengecut?"

"Rupanya kamu pun kecewa. Untuk apa penyesalan itu?”

Gendhuk Tri menoleh ke arah datangnya suara. Karena serasa mengenali. Dan tidak salah. Yang muncul adalah Nyai Demang yang masih menggendong Kakek Berune. Masih beriapan tak keruan. Terjadilah pemandangan yang aneh.

Halayudha yang baru saja memamerkan semua ilmu yang dimiliki, mendadak sangat berubah perangainya. Mengutuk Dewa. Pada saat berikutnya muncul seorang wanita yang menggendong mayat dan menjawab pertanyaan. Hanya karena semua perhatian sedang tertuju kepada Halayudha, kemunculan Nyai Demang dari persembunyian Halayudha tak begitu terperhatikan. Sekarang semua berusaha mengikuti setiap langkah dan kata pembicaraan yang membingungkan.

“Jadi kamu pun kecewa, Dodot Bintulu? Kamu pun mengutuk Dewa? Sungguh tak tahu malu.”

Meskipun kata-kata itu keluar dari mulut Nyai Demang, akan tetapi nadanya sedikit berbeda. Karena sesungguhnya pengaruh Kakek Berune yang berbicara.

Maha Singanada yang sedikit-banyak mengerti latar belakang persoalan masih tetap mengerutkan kening. Karena tak bisa menebak ke arah mana tanya-jawab yang tengah terjadi. Apalagi pendengar yang lain. Hanya Gendhuk Tri yang secara samar menemukan bentuk kira-kira apa yang tengah berlangsung.

“Kenapa kamu sesali kalau jurus Air sengaja diciptakan untuk mendampingi jurus Bumi? Jurus Bumi yang ada bukan berarti Bejujag. Itu bisa berarti dirimu sendiri.”

Halayudha menggeleng. “Kakek Berune, ketahuilah, aku adalah Halayudha, murid utama Paman Sepuh… Aku menuntut kepada Dewa, karena ia pilih kasih. Karena ia membenci Guru, dan ikut membenciku! Dewa menjadi pengecut karena tak berani muncul menghadapiku. Padahal sudah jelas aku menantangnya.”

“Ah, itu karena kamu kecewa saja. Dari dulu yang namanya Dodot Bintulu selalu iri. Dari dulu kamu tak pernah berubah.”

“Kakek Berune, jangan turut campur.”

“Aha, kamu kira siapa kamu ini? Kamu kira, kamu yang dipilih Pulangsih? Tengok wajahmu yang morat-marit dan nasibmu yang buruk itu.”

Halayudha mengertakkan giginya. “Bapa Guru yang mulia menciptakan Kitab Bumi, meramu ilmu segala ilmu yang ada di tanah Jawa. Untuk diabdikan kepada Keraton, untuk dijadikan pegangan para ksatria. Akan tetapi justru wanita yang disayanginya menganggap itu ciptaan Eyang Sepuh. Justru wanita yang disayangi menciptakan ilmu untuk berpasangan seolah pasangan Eyang Sepuh dengan Putri Pulangsih. Tidakkah itu menyakitkan? Bukankah itu penghinaan Dewa yang hanya mengirimkan duka kepada Rama Guru? Aku tak bisa menerima. Sepanjang hidupnya Bapa Guru begitu banyak menderita. Sampai ke anak muridnya dipaksa menjadi durjana, karena duka yang kelewat berat. Di mana ada keadilan? Kalau tak bisa menunjukkan, biarlah aku yang ganti mengajari para Dewa.”

Walau pembicaraan simpang-siur tidak menentu, Gendhuk Tri bisa menemukan alur yang sesungguhnya. Dari sisi tertentu, Halayudha tetap ksatria. Yang tergila-gila pada ilmu silat, lebih dari segala urusan. Termasuk kepangkatan dan derajat mulia dalam tata pemerintahan Keraton. Betapapun besar nafsu berkuasanya, masih terselip keinginan untuk muncul sebagai ksatria, untuk menjadi lelananging jagat. Itu sebabnya ketika menduduki jabatan yang begitu rapat dengan puncak kekuasaan, Halayudha masih mengejar ilmu silat. Masih menekuni dan mencoba menguasai.

Pangkat dan derajat tinggi di Keraton pada dasarnya hanya untuk memudahkannya mengisap semua pelajaran ilmu silat yang ada. Segala ilmu yang dianggap sakti, tanpa memedulikan apa pun, akan dikuasai. Tindakan itu yang menyeret Halayudha kepada berbagai tokoh penjuru dunia. Sampai pada titik tertentu, menemukan Kitab Air. Tirta Parwa ini pula yang membawa kepada pengertian bahwa sesungguhnya penciptaan Kitab Air untuk melengkapi atau sebagai padanan Kitab Bumi. Untuk melengkapi kekurangan Kitab Bumi yang dikembangkan oleh Eyang Sepuh dengan jurus-jurus Tumbal Bantala Parwa. Hati Halayudha terluka..Tergores duka. Tersayat hina.

Gabungan antara gerakan Gendhuk Tri, yang secara jelas mewarisi ilmu Putri Pulangsih, dan gerakan dasar Maha Singanada, menunjukkan bukti hubungan daya asmara di belakang penciptaan. Begitu kedua ilmu digabung, yang menyembul ke luar adalah kekuatan baru yang menakjubkan. Kekuatan yang mampu mengalahkan segala mara bahaya. Mampu mengungguli ilmu yang selama ini secara mati-matian memaksa Halayudha berlatih. Kenyataan inilah yang menjungkirbalikkan Halayudha. Jalan pikirannya menjadi kacau.

Justru pada saat itulah tiba-tiba ia teringat Guru. Teringat Paman Sepuh yang hidupnya begitu menderita. Yang dikhianati murid-muridnya sendiri, yang dicelakakan, yang membuatnya menderita dan pedih sepanjang hidup. Loncatan pikiran ke arah penderitaan gurunya, selama ini tak mempunyai arti apa-apa bagi Halayudha. Sebelumnya. Tapi tidak setelah menyaksikan perpaduan gerakan Gendhuk Tri dan Maha Singanada. Apa yang ditemui adalah suatu kenyataan baru. Yang walaupun sudah terpikirkan, tetap membuatnya sangat terkejut. Keberhasilan perpaduan antara bumi dan air.

Sekarang ini, Halayudha masih bisa mengalahkan Gendhuk Tri maupun Singanada. Halayudha masih percaya diri mampu menundukkan mereka berdua, walau tidak semudah sebelumnya. Baik karena penguasaan ilmu Gendhuk Tri-Singanada belum menyatu benar, maupun karena Halayudha percaya diri mempunyai siasat untuk merontokkan perpaduan itu. Akan tetapi ini semua tak membantah kekuatan baru. Kekuatan yang bisa menundukkannya, suatu ketika. Kekuatan yang bisa meletup, berbenih dari perpaduan daya asmara.

Sesungguhnya, inilah yang menampar kesadaran Halayudha. Yang merasa akar pijakannya lepas. Pada saat itu, sebersit pikiran ingat gurunya. Pada saat itu pula, Kakek Berune yang kini memakai tubuh Nyai Demang sebagai perantara, menemukan jawaban yang sama. Kakek Berune, Paman Sepuh, Eyang Sepuh, Mpu Raganata, maupun Putri Pulangsih adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup sezaman seperti mereka sekarang ini.

Lebih dari itu mereka ditalikan oleh hubungan yang erat. Baik sebagai sesama prajurit Keraton Singasari dan pemuja Sri Baginda Raja Kertanegara, maupun sebagai sesama ksatria. Ikatan batin yang lebih kuat terjalin karena sama-sama berharap kepada Putri Pulangsih. Maka kemunculan Kakek Berune bisa langsung menyambung pembicaraan.

“Kakek Berune, kalau mau mati, mati saja dengan tenang.”

Duka Itu Masih Menetes

SUARANYA lantang keras, akan tetapi menyentuh.

“Apa kamu bilang? Aku baru mau mati setelah kalian semua melihat bahwa Pukulan Pu-Ni yang terbaik, dan Pulangsih mengakui itu.”

“Apa ada gunanya lagi? Bumi dan Air sudah bersatu. Bukan Pu-Ni dan Air, bukan yang lainnya. Masihkah penasaran dan tak mau menerima? Bukankah Guru yang lebih penasaran karena Bumi yang diciptakan diakui sebagai milik orang lain?”

Sampai di sini Gendhuk Tri mengentakkan kakinya. “Jangan asal bicara, Halayudha. Tak nanti Eyang Sepuh mengakui ilmu orang lain.”

Halayudha menggeleng. Berulang. “Kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui semua ini.”

“Ngawur! Sudah jelas kamu yang mencuri kitab pusaka warisanku.”

Halayudha tersenyum. Bagai seringai kesakitan. Seakan duka abadi masih menetes dari napasnya. “Gendhuk Tri, ambillah Kitab Air yang dibawa Sidateka. Entah kenapa bisa disalin oleh pendeta dari Syangka yang sembrono itu. Bawalah semuanya. Kamu berhak mendapatkannya. Tak ada gunanya lagi bagiku.”

Bahkan Singanada yang biasa berterus terang merasa aneh dengan perubahan sikap Halayudha yang berbalik. Gendhuk Tri sempat bertanya-tanya apakah Halayudha sedang menyusun siasat kotor.

“Ambil kembali. Selama ini kusimpan di tempat pakaian kotor, yang tak bisa diendus Sidateka. Gabungkan agar kalian meneruskan keinginan yang tak terlaksana. Meskipun itu membuat Guru sakit hati selamanya. Juga di tempat Guru bertemu para Dewa.” Halayudha berbalik setelah mengangguk.

“Tunggu!” Nyai Demang maju setindak. “Bintulu, kamu sudah menyerah kalah? Kamu sudah mengundurkan diri? Baik, baik. Kini giliranku.”

“Bapa Guru jauh lebih tenang dan bahagia daripada Kakek yang masih penasaran.”

Tangan Halayudha mengedut dan dua tombak prajurit disampingnya bisa diraup sempurna untuk dilontarkan ke arah Nyai Demang. Yang dengan dingin menangkap. Tombak itu retak. Berkeping-keping. Jatuh ke samping. Dua kali Halayudha menjajal, hasilnya sama saja. Halayudha menoleh ke arah Gendhuk Tri dan Maha Singanada.

“Itu adalah tugas kalian berdua, kalau ingin memulihkan Kakek Berune. Aku tak ada urusan lagi.”

Halayudha mengibaskan tangannya. Tubuhnya melesat ke arah luar Keraton. Sedemikian cepatnya sehingga Singanada menggerung keras, dan kantar-nya terlontar. Karena menduga Halayudha melakukan gerakan menyerang. Tombak pendek itu meluncur tepat. Halayudha hanya menggerakkan tangannya pendek, dan kantar itu terlontar kembali. Amblas ke kori butulan. Sehingga mengunci. Tenaga kibasan yang luar biasa hebatnya. Tenaga yang sama yang ditujukan kepada Nyai Demang. Yang berhasil dipatahkan dengan gampang.

Singanada memandang ragu ke arah Gendhuk Tri. Keduanya berpandangan. Menghela napas bersamaan. Apa yang baru saja terjadi menyingkap banyak persoalan dalam hati masing-masing. Gendhuk Tri membenarkan semua kalimat Halayudha. Termasuk bagian di mana perpaduan antara jurusnya dan jurus Singanada yang menjadi sakti. Ketika masih menyerang sendiri-sendiri, Halayudha seakan bisa mempermainkan. Bisa membuat seolah latihan di mana Halayudha memberi petunjuk. Namun begitu berubah perasaan hati mereka berdua, serta-merta Halayudha bisa terjerat. Terkena lilitan selendang. Padahal kalau dilihat dari kemampuannya, tak mungkin Halayudha bisa tersudutkan dalam pertarungan.

Yang membuat Gendhuk Tri menjadi risau dan gamang ialah kenyataan bahwa ia menyadari perasaannya ketika harus sama-sama menggempur tadi. Perasaan kepada Singanada, seperti rasa kuatir, rasa membela, dan rela mengorbankan diri. Hal yang kurang-lebih juga dirasakan oleh Singanada. Hanya pada dirinya hal itu tidak begitu masalah. Karena merasa sejak sebelumnya ia menyukai Gendhuk Tri dan Gendhuk Tri menyukainya. Tak ada pikiran lain. Tak ada kerisauan seperti yang dirasakan Gendhuk Tri.

“Mari kita ambil kitab pusaka itu, dan kita menyingkir dari tempat ini.”

Gendhuk Tri masih berdiri terpaku. Nyai Demang memandang kiri-kanan.

“Di mana kamu, Dodot Bintulu?”

Perlahan-lahan tubuhnya bergerak, melaju ke depan, seakan gerakan yang limbung. Seolah beban di tubuh Nyai Demang begitu berat, atau kakinya tak begitu kuat.

“Kenapa tidak ditolong?” Suara Cebol Jinalaya menjebol perhatian Gendhuk Tri.

“Tidak sekarang ini. Lebih mungkin membahayakan kami dan Nyai…”

Cebol Jinalaya mengangguk-angguk. “Kalau begitu saya saja. Saya biasa mengantarkan orang menjelang ajal…”

Dua langkah kaki Cebol Jinalaya bergerak, Gendhuk Tri menarik kembali dengan selendangnya. Lalu bersama dengan Singanada melangkah ke bagian samping, menuju ke tempat kediaman Halayudha.

“Maaf, Senopati Campa, bolehkah aku yang tua ini mengenalmu?”

Singanada berbalik. “Bukankah sekarang sudah mengenal?”

“Namaku Brahma. Aku dulu utusan Baginda Raja yang sama-sama dengan Senopati Muda ke tanah Campa…”

“Itu kedua orangtua ku. Aku tak mau membicarakan itu. Maaf.”

“Apakah orangtua Senopati bernama Mapanji Wipaksa?”

Jari-jari Singanada saling beradu. Gerahamnya beradu, menimbulkan suara keras. Pandangan matanya tajam menusuk. Gendhuk Tri bergidik karenanya. Tak pernah ia mengetahui bahwa Singanada bisa berubah sama sekali. Selama ini ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana asal-usul Maha Singanada. Yang diketahui hanyalah sepotong kecil: ia salah seorang putra senopati yang diutus ke tanah Campa untuk mengantarkan putri Keraton yang bernama Dyah Ayu Tapasi.

“Jangan paksa aku bertindak kasar.”

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. “Rasanya aku mengenali. Tapi kalau Senopati Muda tak mau membicarakan, aku minta maaf. Maaf…”

Suara Senopati Agung Brahma menjadi sangat berat. Wajahnya menunduk. Kedua bahunya menggunduk. Beberapa kali kepalanya menggeleng lemah. Seakan mengusir bayangan yang ganjil dan tak bisa dilepaskan seketika.

Maha Singanada sendiri berubah sikapnya. Pandangan matanya menatap kosong. Gerahamnya beradu. Tangannya kaku. Langkahnya tak menentu.

“Kenapa kamu begitu kasar kepada orang yang lebih tua?”

“Aku tak mau kamu campur tangan urusanku.”

Gendhuk Tri mundur setindak. Singanada menatap tajam. Mendadak berbalik.

“Senopati Brahma, aku datang untuk membunuhmu. Bersiaplah.”

Singanada ternyata tidak main-main. Ia mengambil sikap sempurna. Kedua tangannya bersiaga, membentuk sembah, lalu berubah dalam keadaan siap menyerang.

Senopati Agung Brahma menggelengkan kepalanya. Disertai helaan napas berat. “Sudah lama aku mengubur semua yang berlalu. Kalau hari ini aku melangkah kemari, aku tak menduga bakal menemukan begitu banyak yang telah kulupakan. Ah, ada sesuatu yang tak bisa mati dan dikubur.”

Melihat gelagat, Mahapatih Nambi memberi isyarat dan semua prajurit serta para senopati bersiaga membela Senopati Agung.

Kidungan Masa Silam

GENDHUK TRI tegak, tak segera bereaksi. Justru pada saat Singanada bersiap menghadapi Senopati Agung yang dikelilingi semua senopati Keraton yang ada, Gendhuk Tri termenung. Beberapa bayangan berkelebat dalam angannya secara tak teratur. Dalam waktu yang singkat beberapa hal terjadi dan berubah dari yang telah dikenalnya. Yang paling mencolok ialah perubahan Halayudha. Senopati licik yang dimusuhi Upasara—lagi-lagi Upasara, yang tak pernah merasa dendam pada seseorang, tiba-tiba saja kelihatan ganjil perangainya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Apa pun penyebabnya, perubahan itu kelewat mengejutkan. Yang juga membuat Gendhuk Tri bertanya-tanya dalam hatinya ialah seolah Halayudha sendiri tak menyadari sepenuhnya. Seakan ada kekuatan lain yang membuatnya berbuat berbeda dari biasanya. Keadaan yang sekarang dialami oleh Singanada. Selama hari-hari terakhir ia mengenalnya, Singanada adalah ksatria yang terbuka, lelaki yang bicara terus terang dan agak sembrono, tidak begitu memedulikan tata krama. Akan tetapi, dengan satu pertanyaan dari Senopati Agung saja, seakan menjadi pribadi yang lain. Ada apa sebenarnya di balik ini semua?

Jawabannya adalah masa lampau. Kidungan yang terdengar sebelumnya, yang masing-masing mengalami sebagai sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain. Sekurangnya begitulah jalan pikiran Gendhuk Tri mengenai diri Singanada. Dibandingkan dengan dirinya sendiri, Gendhuk Tri tak pernah merasa bahwa Singanada mempunyai alasan untuk gusar besar. Apalah artinya disebutkan siapa nama orangtuanya. Yang bahkan Gendhuk Tri pun tetap tak mengenalnya. Selain nama yang disebutkan sebagai senopati sabrang yang dikirim ke negeri Campa. Seperti juga senopati sabrang lainnya.

Dengan duka dan derita yang pasti dialami. Kalaupun sesuatu yang mengerikan, Gendhuk Tri kurang yakin hal ini, tak perlu membuat kalap. Gendhuk Tri tak pernah merasa risau dengan dirinya, ia bahkan tak mengetahui siapa kedua orangtuanya. Yang diketahui hanyalah sejak kecil ia diselamatkan seseorang—bisa saja Jagaddhita, bisa pula Empu Raganata— dari kemungkinan menjadi selir kesekian ratus Sri Baginda Raja. Ia bahkan belajar ilmu silat tanpa mengenai nama ilmu silat yang dipelajari, sebelumnya.

Upasara—tidak adakah contoh lain, Gendhuk Tri? juga tidak mengenai siapa kedua orangtuanya. Selain sedikit petunjuk bahwa ia berasal dari Ksatria Pingitan. Yang sangat mungkin sekali masih mempunyai darah Keraton. Kalaupun tidak, kalaupun mereka ini dilahirkan sebagai kelompok paminggir, kelompok yang asal-usulnya tak diperhitungkan dalam tata masyarakat, apa salahnya? Gendhuk Tri masih berdiri mematung. Pergelutan pikirannya masih belum selesai.

Selain masalah masa lampau, pikiran Gendhuk Tri juga dipenuhi dengan berbagai kemungkinan dari pengaruh ilmu silat. Selama ini ia asal mempelajari saja, dan langsung terjun ke medan pertarungan yang ada. Tanpa peduli apa-apa. Di masa lalu ia pernah memutuskan telinga Mpu Ugrawe yang kesohor, pernah berhadapan dengan saudara seperguruannya yang bernama Halayudha. Pernah kerasukan darah yang sangat beracun. Semua dijalani dengan menggelinding saja.

Akan tetapi kenyataan demi kenyataan baru memaksanya berpikir. Sejak kemunculan Putri Pulangsih yang “antara ada dan tiada” yang bisa manjing ajur ajer dalam pengertian yang tinggi, Gendhuk Tri tergugah hatinya. Bahwa sesungguhnya ilmu silat yang dipelajari bukan hanya membentuk dirinya menjadi bisa berjumpalitan atau mengerahkan tenaga dalam. Akibatnya yang lebih langsung justru lebih hebat dari itu. Yaitu perubahan dalam diri seseorang. Pembentukan watak. Bukan sesuatu yang sama sekali baru. Namun baru pertama kali Gendhuk Tri menyadari secara dalam.

Pengaruh dalam watak inilah yang dulu menyebabkan Upasara Wulung— aaaah!—memusnahkan ilmu silatnya. Pengaruh Kitab Bumi yang tak akan terpahami sepenuhnya. Hal yang sama, yang mungkin sekali terjadi pada diri Halayudha!nPada satu tingkat tertentu, jalan pikirannya menjadi berbalik. Mendadak saja Halayudha mengetahui kesengsaraan gurunya. Merasakan kepedihannya. Pada satu tingkat tertentu, Kakek Berune masih menitipkan keinginan pada tubuh Nyai Demang. Sementara tubuhnya sendiri sudah tidak memungkinkan.

Dilihat dari hal ini, Gendhuk Tri bisa menangkap dengan jelas perbedaan apa yang dicapai para pendekar sejati. Eyang Sepuh, seperti juga Putri Pulangsih, telah berada pada tingkat moksa, bisa lenyap seluruh raganya. Meskipun masih tergoda untuk muncul kembali. Sementara Kakek Berune, yang dikatakan melalui jalan agak sesat, menghadirkan dirinya kembali melalui raga orang lain. Lalu kalau benar ini pengaruh ilmu silat, apa yang tengah terjadi dengan Singanada? Lelaki gagah yang membuka mata hatinya sebagai wanita. Gendhuk Tri tak mampu meneruskan pertanyaan karena mendengar suara Senopati Sepuh yang berat.

“Saya minta para senopati yang lain mundur. Ini tantangan seorang ksatria kepada ksatria yang lain. Tak ada hubungannya dengan Keraton atau takhta. Saya minta semua saja mundur…”

Mahapatih Nambi mundur selangkah. Diikuti para senopati yang lain. Senopati Agung menunggu sesaat. Mahapatih Nambi mundur lagi. Lima langkah. Diikuti oleh yang lainnya.

“Aku sudah bersiap, Singanada.”

“Bagus. Aku sudah bersumpah, siapa pun yang menyebut nama orangtua ku harus mati di tanganku.”

“Aku sudah menyebutnya. Bunuhlah kalau bisa. Hanya perlu kamu ketahui, anak muda, aku menyebut bahwa aku mengenalnya. Karena kami sama-sama berangkat pada hari yang sama ketika rembulan masih tersisa. Melalui lautan yang sama, menghirup angin yang sama.”

“Aku tak peduli itu.”

Senopati Agung mengentakkan kakinya. “Aku tahu, bapakmu keras kepala seperti kamu. Tak salah lagi. Aku iri dengan keberaniannya.”

Tubuh Singanada tergetar. Diiringi oleh jeritan mengaum, tubuhnya meloncat ke depan. Kelebatan bayangannya menuju arah depan, tapi seketika berubah di delapan arah yang berbeda, sebelum akhirnya menerjang maju.

Senopati Agung memperdengarkan suara nyaring yang sama. Kakinya menjejak tanah, dan meloncat ke arah bayangan Singanada. Mengikuti gerakan tubuh Singanada. Seakan wilayah udara yang dikuasai dengan cepat direbut kembali. Ke arah mana Singanada berkelebat, ke arah itu pula Senopati Agung memburu. Dalam sekejap keduanya seperti main kejar-kejaran. Diseling dengan berbenturan di tengah, saling mengadu telapak tangan, kaki, yang cukup keras.

“Nawawidha.”

Gendhuk Tri menarik kepalanya sedikit. Teriakan Nawawidha kali ini justru diucapkan oleh Senopati Agung! Bukan oleh Singanada yang sejak pertama dikenal mempunyai cara bernapas melipat gandakan sembilan kali.

Singanada menggerung keras. Tubuhnya menggeliat, memutar, dan menerkam Senopati Agung. Yang terpaksa meloncat ke samping, untuk kemudian membuang diri ke arah dinding. Singanada mengejar. Hinggap di dinding. Keduanya terlempar ke dalam. Kembali ke dalam halaman prameswaren.

Seperti diketahui tadi mereka sudah berada di halaman depan, melewati pintu kecil. Karena pintu itu ditutup paksa, sekarang keduanya melewati bagian atas. Mahapatih Nambi tidak berdiam diri begitu saja. Tubuhnya melayang ke atas, melompat dinding pembatas. Meskipun ia dilarang Senopati Agung turun tangan, tak mungkin berpangku tangan kalau keadaan membahayakan.

Gendhuk Tri mendongak ke atas. Sekejap ia ragu. Menyusul ke balik dinding atau menunggu. Sekejap berikutnya, ia melihat satu bayangan berkelebat datang dari halaman, disusul bayangan berikutnya. Singanada dan Senopati Agung sudah kembali ke tempat semula. Dan melanjutkan pertarungan.

Tubuh Mahapatih Nambi pun melompat kembali. Justru pada saat itu Singanada dan Senopati Agung melompat secara bersamaan ke balik dinding.

Raja Tanpa Takhta

TUBUH Mahapatih berada di halaman prameswaren, ketika Singanada dan Senopati Agung di luar. Begitu juga sebaliknya. Sehingga sekilas seperti permainan petak umpet yang menggelikan. Namun para senopati yang lain menyadari bahwa yang sedang terjadi bukan hanya permainan yang menggelikan. Bukan hanya Mahapatih yang ternyata tak bisa menebak arah pertarungan. Melainkan pertarungan dua ilmu yang senada. Dua ilmu yang sejak lama tak bisa disaksikan.

Senopati Agung selama ini tenggelam dalam kebesaran para senopati yang lain. Kedudukannya tidak memungkinkan dirinya tampil sebagai ksatria yang memainkan ilmu silatnya. Baru sekarang ini muncul. Itu pun bukan awal yang menguntungkan. Karena sudah langsung menghadapi Pendeta Sidateka, dan kemudian munculnya Halayudha secara meyakinkan. Sehingga tokoh terhormat yang tersembunyi seakan makin tenggelam.

Dengan pemunculan Singanada, baru ketahuan bahwa Senopati Agung tetap ksatria yang berilmu tinggi. Karena para senopati sudah pernah menyaksikan kelebihan Singanada. Dan kini Senopati Agung mampu mengimbangi dengan baik. Malahan beberapa kali mendiktekan jurus-jurus yang dimainkan. Pada usia setinggi itu, kemampuan Senopati Agung menimbulkan kekaguman. Apalagi kalau dilihat bahwa selama ini seperti tak pernah berlatih atau memunculkan ilmunya.

Sementara di halaman terjadi pertarungan, di dalam Keraton terjadi sesuatu yang tak diduga-duga. Halayudha ternyata melesat masuk ke dalam Keraton. Dengan gagah dan bertolak pinggang, tubuhnya melangkah lebar. Prajurit kawal pribadi Raja disingkirkan dengan sekali menggerakkan telapak tangannya. Dengan tetap berdiri gagah, Halayudha berdiri di depan kamar peraduan Baginda.

“Sanggrama Wijaya, raja tanpa takhta, raja tanpa kebesaran matahari, apakah masih melanjutkan mimpi yang indah dalam dekapan wanita-wanita ayu?"

Suaranya betul-betul mengejutkan siapa pun yang mendengarkan. Nada suaranya begitu tinggi.

“Apa yang kamu lakukan, Sanggrama Wijaya? Memerintahkan para istri memijati kakimu yang tak digunakan melangkah? Memerintah dupa wangi mengasapi rambutmu?”

Semua prajurit kawal pribadi Raja berdiri siap. Dengan senjata dan keinginan untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dan udara yang diisap oleh Halayudha. Sebagian sudah melarikan diri ke depan, untuk melaporkan kepada Mahapatih Nambi dan para senopati yang lain. Akan tetapi Halayudha seakan tak peduli.

“Ingsun masih tetap raja, memegang tampuk pemerintahan tertinggi. Ingsun masih matahari yang tertinggi. Siapa bermulut lancang membusuk di depan pintu?” Suara Baginda tetap mengguntur. Nada dan wibawanya mengalahkan apa saja yang berada dalam ruangan sekitar.

“Benarkah kamu masih memiliki takhta? Benarkah kamu masih setinggi matahari? Jangan-jangan itu hanya mimpimu yang terindah saat ini. Sanggrama, kamu bukan raja. Kamu tak memiliki takhta kewibawaan. Tak memegang matahari. Kamu tak berbeda dari Nambi, menjadi mahapatih telanjang. Tak beda dari Kala Gemet, putra mahkota yang mengejar gadis lajang. Apa yang akan kamu persembahkan kepada Dewa? Apa yang membuatmu merasa sama gagah dengan takhta yang dikenakan Baginda Raja Sri Kertanegara?”

Mendadak pintu kamar peraduan membuka keras. Dibanting dengan tenaga dalam yang besar. Baginda menapak maju dua tindak. “Ingsun di sini…”

Kegagahan dan kewibawaan masih terserap dengan jelas. Bukan hanya dari penyebutan diri sebagai ingsun, akan tetapi juga memancar dari semua lubang kulit.

“Kamu di situ, Sanggrama. Semua tahu. Kamu menjadi raja. Semua tahu. Tapi apa yang kamu lakukan selama ini? Sibuk dengan permaisurimu yang banyak, membiarkan senopati bertarung tak mematuhi perintahmu. Itukah perbuatan seorang raja, wakil para Dewa?”

Dengan satu tarikan napas atau satu kedipan mata, Baginda bisa membuat seluruh prajurit dan senopati yang ada bergerak serentak. Sakti seperti apa pun, Halayudha akan dibuat repot karenanya. Apalagi para prajurit dan senopati ini, seluruhnya, akan menyerang tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya. Sepuluh prajurit terbunuh tapi bisa melukai Halayudha sudah lebih dari cukup. Karena tugas utama mengawal dan mengamankan Baginda.

“Begitu banyak kitab bagus, tapi kamu bercengkerama. Begitu banyak ilmu sakti mandraguna, tapi kamu membuatnya tak bermakna. Begitu banyak kawicaksanan bisa kamu lakukan, tapi kamu bekukan? Apakah masih berani kamu melihat leluhurmu?”

Wajah Baginda merah seketika. Gerahamnya beradu. Giginya bersentuhan. Pandangannya menyala. “Setan busuk mana yang menelan rohmu, hai, kawula alit?”

Halayudha mendongak. “Setan busuk mana lagi kalau bukan tetesan kawicaksanan, kebijakan, Baginda Raja yang tanpa tanding di seluruh jagat ini? Baginda Raja yang menguasai takhta. Yang mengarungi semua samudra, mendaki semua gunung, mengurung semua lembah yang diciptakan Dewa? Raja segala raja yang pernah ada. Takhta terbesar dari semua takhta yang ada. Wijaya, mimpi apa kamu selama ini? Bertakhta dan menikmati kehidupan seperti prajurit kecil yang memenangkan pertarungan. Mendapat kenaikan pangkat dan hidup bersenang-senang. Alangkah menyedihkan. Alangkah kerdilnya. Bagaimana mungkin yang begini ini mengaku turunan Singasari?”

Dalam telinga semua prajurit, dentuman halilintar di siang hari tak lebih mengerikan dibandingkan apa yang diucapkan Halayudha sekarang ini. Setan paling busuk yang sedang mabuk pun tak akan mengucapkan kalimat sekasar dan sehina ini. Bahwa berdiri di depan Raja saja, merupakan dosa yang tak bisa terampuni selama tujuh turunan. Apalagi dilakukan seorang senopati!

Langit dan bumi serta seluruh isinya tak bisa untuk menebus kesalahan ini. Apalagi bertolak pinggang dan mengeluarkan kata-kata lancang. Dunia seperti dibalik-balik, dengan matahari muncul dari arah barat menuju utara. Yang lebih aneh lagi, Baginda justru terdiam. Jelas terasakan kegusaran yang tinggi, akan tetapi tarikan napas dan suaranya masih tetap menunjukkan kelebihan yang utama.

“Apa yang kamu inginkan, Halayudha?”

“Saya ingin mengabdi raja yang raja. Raja yang menguasai jagat. Raja yang duduk sejajar dengan para Dewa, yang memegang matahari di tangannya tanpa merasa panas.”

“Apa yang dilakukan raja seperti itu?”

“Membuang abu dupa. Mengangkat senjata, membunyikan terompet, mengarungi seluruh jagat. Menaklukkan jagat.”

“Apa itu semuanya?”

“Raja yang dari tarikan napasnya lahir karya-karya terbesar yang pernah ada. Yang mengumpulkan semua kitab yang pernah ditulis manusia. Yang mengajarkan ilmu kanuragan seluruh jagat. Yang melihat ada gunung dan sungai seberang yang bisa dikuasai. Yang tidak memberikan tempat bagi anak-cucu dan keturunannya mengalahkan semua. Yang membuat perahu besar agar cucunya berlayar. Yang membuat gunung tinggi agar cucunya menggenggam matahari.”

“Apa itu pernah dilakukan?”

“Itu yang dipersembahkan kepada para Dewa. Semua tanah, air, batu, rumput, semut menjadi saksi. Kebesaran yang tiada tara di kelak kemudian hari, dibangkitkan mulai hari ini. Itulah takhta yang sesungguhnya. Itulah ajaran hidup.”

“Semua sudah lewat.”

“Tak ada yang lewat!”

“Waktu berubah.”

“Kebesaran tidak berubah bersama waktu.”

“Keadaan hari ini tidak sama dengan kemarin.”

“Kebesaran, keluhuran, kawikcasanan selalu abadi, sampai saat para Dewa menyatu dengan manusia.”

Kidungan Para Raja

BAGINDA menggerakkan jari kanan mengelus alis. Halayudha masih memandang secara langsung.

“Tembangkan kidungan itu. Seberapa jauh kamu mengetahui?”

Halayudha menjulurkan lidahnya. Suara dari hidungnya mendesis.

“Ingsun lebih mengetahui dari kamu yang mencuri baca kitab pusaka, Halayudha. Kamu tak akan pernah memahami.”

“Itu tandanya tak pernah dibaca dengan hati. Itu tandanya tak ada rasa tuntas.”

Tubuh Halayudha tergetar hebat. Seolah kedinginan, menggigil. Bergoyang beberapa saat, lalu menunduk. Lututnya tertekuk. Ambruk. Kepalanya condong ke depan. Perlahan dahinya menyentuh lantai. Seiring dengan itu terdengar kidungan yang lembut, perlahan, seperti desiran angin menggoyang ujung daun yang menguning tanpa merontokkan.

Aku raja dengan takhta
yang mencipta kidungan Dewa
untuk para raja
sebab aku Kertanegara
hanya bisa bicara dengan sesama raja
walau tanpa mahkota

Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kitab Bumi sudah selesai
ia sudah tua, mau mati
tapi matanya tertutup
hatinya redup
aku berkata padanya
untuk apa itu semua
kalau dibawa ke alam baka

Raganata menyembah ujung kakiku
melaporkan Kidung Paminggir sudah selesai
aku katakan, aku sudah membaca
sebelum kidungan itu ditulis
sebab akulah raja
sebab akulah Dewa
kalau aku murka
karena kidungan itu
tak bisa ditembangkan sembarangan
hanya darah raja yang bisa
sebab hanya Dewa yang punya matahari

ada banyak raja
juga yang tak punya takhta
aku raja, punya takhta
punya semuanya
jagat ini bakal kukuasai
sebelum Dewa menyadari

Singasari ini kayangan
Tempat Dewa
Sebab di sini dituliskan
Kidungan Para Raja
Yang menguasai jagat seluruhnya

raja harus punya selaksa wanita
untuk melayani siang dan malam
raja harus punya lautan
untuk membasuh kakinya, siang dan malam
raja harus punya keris
untuk menggaris
raja harus punya selaksa hutan
untuk memelihara singa aduan
raja harus memiliki matahari
untuk mengalahkan Dewa
raja harus memiliki anak raja
jumlahnya selaksa

kau mengerti apa, Raganata?
kau tak berdarah raja
kau bicara apa, Raganata?
kalau Dewa tak memilihmu
inilah Kidungan Para Raja
raja segala raja
lahir dari Singasari
ke seluruh jagat
tulislah kidungan apa saja
tak akan mengimbangiku
sebab aku raja
dengan takhta seperti Dewa
yang melahirkan raja
yang mengalahkan Dewa…


Suara Halayudha lembut mengalun, akan tetapi dada Baginda naik-turun karenanya. Setiap ujung suara beralun, setiap kali pula Baginda merasa perasaannya diremas-remas. Kidungan Para Raja adalah kitab pusaka Keraton Singasari yang ditulis sendiri oleh Baginda Raja Sri Kertanegara. Menurut cerita yang didengarnya, Baginda Raja masih menuliskan di saat-saat terakhir, ketika prajurit Gelang-Gelang di bawah pimpinan Jayakatwang dan Senopati Ugrawe menyerbu masuk Keraton.

Sudah barang tentu Baginda mengerti dan pernah mendengar serta membaca sendiri kidungan itu. Karena merupakan kitab pusaka Keraton yang tiada tandingannya. Yang dikumpulkan bersama kitab-kitab utama yang ditulis oleh para raja. Dari sekian ratus segala jenis kitab, kumpulan Kidungan Para Raja menempati tempat yang sangat terhormat. Boleh dikatakan tak ada angin yang bisa menjamah selain seorang raja. Maka termasuk langka kalau Halayudha bisa membacanya.

Meskipun kalau dirunut, bukan sesuatu yang mustahil. Sewaktu Baginda belum menduduki takhta, keadaan tidak menentu. Terusirnya prajurit Kediri dan kemudian pertarungan terakhir dengan prajurit dari Tartar serta pemindahan pusat Keraton, sangat memungkinkan tangan lain memegang atau membuka. Akan tetapi barangkali hanya Halayudha yang dengan jail mengintip baca. Dan kemudian menembangkan! Bahwa kitab ilmu silat .saja dirahasiakan begitu rupa, dan masing-masing menganggap suci, bisa dimengerti betapa kaget Baginda mendengar Halayudha membaca Kidungan Para Raja.

Aku telah mengirimkan selaksa perahu
menghitung jumlah air di laut biru
aku telah mengirim selaksa senopati
menikam keris seluruh negeri
aku telah mengirimkan putri-putri
meneruskan keturunan Singasari
aku telah menuliskan Kidungan Para Raja
mengalahkan para Dewa

sebut negeri mana
seberang macam apa
yang tak kudirikan panji kebesaranku
jawabannya: tak ada
aku telah mengalahkan Dewa
sebab aku telah menjadi Dewa
aku telah mengalahkan semua raja
sebab aku melahirkan selaksa raja

akulah raja, akulah takhta
akulah Dewa
akulah bumi dan air dan matahari
dan semuanya
menyatu dalam Singasari
menyatu dari Sri Baginda Raja Kertanegara
yang bersama
semesta
menciptakan semesta!


Di akhir kalimatnya, tubuh Halayudha seperti terangkat dari lantai. Melayang ke atas secara perlahan, hingga tinggal dahinya yang menyentuh lantai.

Dengan napas Baginda mengiringi gerakan perlahan, dan kini sempurnalah Halayudha melayang ke angkasa. Tubuhnya, seluruhnya, tak menyentuh tanah. Menggantung di tengah udara. Beberapa saat. Sebelum akhirnya terbanting kembali. Dengan suara keras. Secepat itu pula, Halayudha meloncat bangkit. Bersamaan dengan itu pula para prajurit kawal pribadi menyerbu karena menduga Halayudha melakukan serangan.

BUKU PERTAMA TAMAT

BUKU PERTAMAPILIH PENGARANGBUKU KEDUA