Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 13

Penghuni Perguruan Awan

MPU SORA makin menyadari bahwa dua penyerang yang menutupi wajahnya dengan klika, atau kulit kayu, bergerak sangat cepat. Tanpa menunggu tarikan napas berikutnya, Mpu Sora menarik kaki sedikit ke belakang, dengan dua tangan bersilang di depan dada. Tubuhnya berputar. Kedua penyerang seperti menunggu serangan. Akan tetapi justru Mpu Sora tidak langsung menyerang.

Karena menyadari bahwa tugas utamanya ialah menjaga Permaisuri Gayatri. Bagi seorang yang menjunjung tinggi pengabdian, tugas adalah nomor pertama dan sekaligus nomor terakhir. Rasa gusar bisa diatasi dengan tetap mencoba bertahan, bukan menggempur. Memang ini agak bertentangan dengan ilmu yang dikembangkan dari tlatah Madura, yang mengandalkan gebrakan pertama sebagai gempuran.

Apalagi Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya atau Lebah Marah. Sekumpulan lebah yang marah selalu berusaha mengejar lawannya sampai ke sudut yang tak memungkinkan lagi. Akan tetapi kali ini, Mpu Sora berputar di tempat. Dua penyerang bergerak bersamaan. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mpu Sora membuka kedua tangannya dengan sangat cepat, dan dengan sangat cepat pula menarik kembali, menutup di depan dada.

Terdengar dua benturan keras. Mpu Sora bisa membandingkan bahwa penyerang di sebelah kiri tak sekuat di sebelah kanan. Sengatan lima kanan dan lima kiri bisa dimentalkan, akan tetapi dengan demikian bisa mengukur tenaga lawan. Sesuatu yang sangat penting untuk membuat serangan berikutnya.

"Hmm. Percuma saja kita hanya disuguhi Bramara Bramantya."

Mpu Sora berusaha menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Pada usia yang bukan muda lagi, Mpu Sora masih tetap memperlihatkan asal-usulnya. Lahir dan dibesarkan di daerah yang keras adat- istiadatnya. Daerah di mana sapi biasa dipacu, bukan digerakkan perlahan untuk menyeret gerobak. Hinaan itu sangat kena, kalau maksudnya membuat gusar. Jurus Lebah Marah diganti seenaknya menjadi Lebah Bingung. Meskipun dalam ucapan hampir mirip, antara bramantya dengan Bramantya, akan tetapi artinya berbeda. Bingung lebih bisa diartikan sebagai tak bisa menguasai diri.

Akan tetapi Mpu Sora justru merasa makin berhati-hati. Lawan yang dihadapi bukan hanya serba tak terduga, akan tetapi juga sekaligus menunjukkan pengetahuan yang luas. Bisa langsung menduga asal-usul ilmu silatnya. Bahkan bisa mengetahui sampai ke nama jurusnya.

Mpu Sora menunggu kesempatan. Begitu penyerang di kanan menarik napas ketika mengucapkan kata-kata hinaan, seketika itu Mpu Sora membuka kedua tangannya. Cepat. Bayangan di samping kanan menghindar dengan gerakan ke arah samping, seperti bergoyang. Akan tetapi sasaran utama Mpu Sora justru kepada penyerang dari kiri. Yang meskipun kelihatannya lebih lemah, akan tetapi posisinya lebih berbahaya. Lebih dekat meraih ke arah Permaisuri!

Tubuh condong ke kanan, akan tetapi kaki menggaet yang kiri. Dan begitu mengenai sasaran, Mpu Sora menarik sekerasnya. Tenaganya dipakai untuk memantulkan tubuhnya ke atas. Sambil mengeluarkan desis nada tinggi. Lawan di sebelah kiri terseret, tertarik, akan tetapi dengan menggelundungkan diri bisa segera berdiri kembali.

Mpu Sora memang tidak bermaksud terus menyerang. Ia lebih mementingkan penjagaan Permaisuri. Serangan yang dilancarkan ialah dengan mendesis mengeluarkan suara seribu lebah secara bersamaan. Kalau ada lebah di sekitar hutan, pasti akan segera berdatangan. Mpu Sora bisa memakai mereka sebagai pembantu untuk menggebrak lawan. Yang kedua, desisan yang berasal dari jurus Bramara Bekasakan atau Lebah Hantu ini bisa mengganggu konsentrasi lawan. Bagi yang tidak biasa, suara berdesis seolah di pinggir telinga bisa menyesatkan pemusatan pikiran. Yang tak diduga oleh Mpu Sora ialah justru Permaisuri Gayatri yang pertama kali terkena!

Permaisuri Gayatri yang tadi mundur, berdiri limbung. Tubuhnya bergoyang. Kedua tangannya berusaha menutupi daun telinga, akan tetapi tubuhnya lebih dulu jatuh ke tanah.

Bagi Mpu Sora memang tak ada pilihan lain. Kalau ia ragu, lawan yang begitu tangguh bisa menjatuhkan dalam waktu sekejap. Dengan mendesiskan Bramara Bekasakan ia melukai Permaisuri Gayatri. Akan tetapi Mpu Sora bisa memperhitungkan bahwa nanti ia dapat menyembuhkan. Lebih baik lawan diselesaikan lebih dulu. Daripada tak ada yang bisa dirampungkan. Lawan tetap tak bisa dikuasai, dan Permaisuri Gayatri malah bisa dikuasai. Dua penyerang mengeluarkan suara dingin. Kemudian maju menerjang.

"Ambil Permaisuri Rajapatni."

Perintah dari penyerang di sisi kanan dituruti oleh penyerang sebelah kiri. Akan tetapi, mana mungkin Mpu Sora melepaskan begitu saja. Justru desisannya meninggi, dibarengi dengan kedua tangan ke arah penyerang kiri. Kaki kiri mengencang ke belakang. Inilah jurus Bramara Braja atau Lebah Topan.

Dalam sekejap Mpu Sora mengeluarkan semua jurus andalannya. Termasuk Lebah Topan yang selama ini jarang diperlihatkan. Karena jurus ini meminta pengerahan tenaga sangat besar. Terutama dari daerah pulung ati, bagian antara perut dan dada. Memang pengerahan kekuatan dalam dari daerah itu sangat memeras, akan tetapi Mpu Sora tak bisa berbuat lain.

Mpu Sora berharap bahwa Mpu Renteng bisa kembali membantu. Atau setidaknya salah satu dari prajurit Dyah Palasir. Mpu Sora mencelos. Sama sekali tak menduga justru penyerang dari sebelah kanan yang menerobos masuk dan langsung membopong Permaisuri Gayatri! Penyerang sebelah kiri meloncat untuk menghindar. Penutup wajahnya teraup dan hancur. Bisa dibayangkan kalau sengatan Mpu Sora sempat menyentuh kulit atau tulang.

"Lain kali kita bertemu lagi. Untuk melihat ilmu Bramara Brakithi."

Mpu Sora sama sekali tak peduli dicaci ilmunya sebagai jurus Lebah Semut. Akan tetapi keselamatan Permaisuri lebih penting. Mpu Sora membalik gerakan tubuhnya dan langsung menerjang ke arah penyerang yang tadi di sebelah kanan. Serangan terbuka yang tak memedulikan kalau-kalau dibokong dari penyerang sebelah kiri yang kini berada di bokongnya, di belakangnya.

Penyerang kanan yang kini membopong Permaisuri Gayatri malah mengangsurkan tubuh yang digendongnya. Mpu Sora menarik serangannya dan saat itu penyerangnya menghilang dalam gelap. Begitu tubuh Mpu Sora melayang, satu bayangan lagi menyerbu ke arahnya. Mpu Sora menangkis dan bayangan itu jatuh ke tanah dengan suara mengaduh yang berat.

Dyah Palasir! Ternyata Dyah Palasir yang muncul dan terkena pukulan Mpu Sora. Ambruk ke tanah dan dalam sekejap bagian yang terkena pukulan melepuh seperti kena sengatan ratusan lebah di satu tempat. Mpu Sora tak mau membuang waktu. Satu tutulan berikutnya, kakinya sudah melayang. Akan tetapi tak ada bayangan di depannya. Hanya daun-daun yang bergerak perlahan. Mpu Sora mencoba menajamkan pendengarannya, akan tetapi tetap tak bisa menangkap suara yang lain. Lenyap seketika. Seperti ketika datang.

Mpu Sora menghela napas. Lalu dengan dua kali menutul tanah, kembali ke pondokan. Mengeluarkan ramuan bunga untuk mengobati Dyah Palasir. Mpu Sora sendiri langsung menemui Mpu Renteng yang masih menggeletak. Mpu Sora menunduk.

"Permaisuri..."

"Kita kejar bersama."

Mpu Sora mengurut bagian leher. Tepat sekali serangan lawan. Ke arah bagian yang paling lemah dan tak terlindungi dalam jurus Bujangga Andrawina. Bagian yang juga sukar ditembus karena saat itu justru Mpu Renteng sedang menerjang. Setelah diurut, Mpu Renteng mengembalikan tenaganya. Mpu Sora memandang ke arah kegelapan.

"Kakang Sora, mari kita jemput Permaisuri ke dalam."

"Saya kira begitu lebih baik daripada kita menunggu."

"Kedua penyerang itu sungguh luar biasa. Saya bisa ditekuk seketika dalam gebrakan pertama. Tapi kalaupun masih bisa memberikan nyawa yang tak berharga ini, saya akan menyertai Kakang."

Dyah Palasir setengah merangkak mendekati. "Hamba bersalah...."

Mpu Sora menggeleng lemah. "Upasara Wulung sudah menguasai ilmu iblis. Semua prajurit seperti kena tenung."

Mpu Renteng memandang Dyah Palasir. Yang dipandang darahnya berdesir. "Upasara?"

"Kalau bukan Upasara yang menguasai ilmu Jalan Iblis, siapa lagi?"

Utusan Tanpa Tuan

MPU SORA kembali menggeleng lembut. Tangannya bergerak perlahan. "Palasir, siagakan semua prajuritmu. Saya akan mencari Permaisuri ke dalam."

Tanpa menunggu jawaban, Mpu Sora melesat ke dalam hutan. Diikuti oleh Mpu Renteng. Sekejap keduanya sudah menyusup sampai ke tengah. Seakan ingin menjelajah, ingin membalik setiap daun, mencabut akar pepohonan.

"Kakang Sora..."

Mpu Sora memperlambat langkahnya.

"Benarkah Upasara yang menculik Permaisuri?"

"Maaf, saya tak sependapat dengan ksatria yang bermulut kotor."

Mpu Renteng bisa menangkap maksud ucapan Mpu Sora. Yang menilai Dyah Palasir bermulut kotor dengan menyebutkan ilmu Jalan Iblis. Karena selama ini yang dikenal sedang dipelajari Upasara Wulung adalah Jalan Budha. Bisa dimengerti kalau Mpu Sora menjadi tersinggung. Akan tetapi tadi tetap bisa menahan diri untuk tidak memarahi atau menunjukkan sikap kurang senang.

"Kakang Sora, saya sependapat dengan Kakang. Kalau Upasara, ia tak perlu memakai topeng klika. Kalau ingin bertemu Permaisuri, tak perlu menculik."

"Itulah yang saya pikirkan. Rasanya bukan Upasara Wulung."

"Akan tetapi ilmunya sungguh luar biasa. Seakan bisa membaca tepat serangan saya. Dan menyerang bagian yang terlemah. Seakan benar-benar ilmu yang bisa menangkis segala serangan."

"Teka-teki yang sulit. Dari mana datangnya dan dengan cara apa masih sulit ditebak. Caranya mengetahui serangan kita—bahkan bisa mengetahui jurus saya—itu pertanyaan yang lain lagi. Teka-teki karena seperti bukan ilmu yang sama sekali tidak kita kenali. Apalagi tadi menyebut nama Permaisuri Rajapatni."

"Kalau begitu berarti orang dalam?"

"Entahlah."

"Kalau orang dalam, apa maksudnya, Kakang? Ingin menjatuhkan nama kita di depan Baginda Raja?"

Mpu Sora mendongak. Memandang daun-daun yang menutupi langit. "Saat ini saat yang subur untuk mencurigai satu sama lain. Saya berharap kita tidak masuk ke dalam perangkap pikiran yang nista, yang menjijikkan."

"Maafkan adikmu yang picik, Kakang."

"Jangan salah terima. Saya hanya tak ingin kita terseret arus pertikaian yang sekarang muncul. Saya percaya sepenuhnya padamu. Kalau tidak, saya akan bertanya-tanya, apakah mungkin seorang Mpu Renteng bisa dikalahkan dalam satu gebrakan? Sungguh tak masuk akal, bukan? Sebaliknya, saya pun bisa dicurigai mengapa sampai gagal menjaga Permaisuri."

"Kakang Sora sungguh bijak."

Mereka berdua meneruskan perjalanan dengan berdiam. Akan tetapi setelah sekian lama berputar-putar, tak menemukan satu bayangan pun. Akhirnya mereka berdua berhenti di tengah. Mpu Sora bersila. Mpu Renteng bersila di sebelahnya.

"Malam ini, kami berdua, Sora dan Renteng, datang mengganggu Perguruan Awan. Kami menyadari kekeliruan ini, tetapi kami tak bisa berbuat lain. Mohon penghuni bersedia meluangkan waktu menerima kami." Perlahan suaranya, namun menggeletar.

Diam-diam Mpu Renteng memuji penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Lama menunggu. Mpu Renteng memuji tata cara Mpu Sora yang tidak mengulangi sapaannya. Sekali saja sudah cukup. Hanya binatang malam yang menyambut gema. Selebihnya sepi. Baru kemudian terlihat sebuah bayangan mendekat.

Mpu Renteng sedikit bercekat, karena melihat bayangan yang aneh. Baru setelah agak dekat, Mpu Renteng mengetahui bahwa yang tadi kelihatan aneh adalah bayangan seorang yang masih kecil, masih pendek tubuhnya, hanya rambutnya yang terurai beriap-riap. Bayangan itu berhenti pada jarak lima tombak.

"Maafkan kami, Putri Ayu Tri."

Bayangan itu memang bayangan Gendhuk Tri. Yang tak banyak berubah semenjak Mpu Sora mengenal dulu. Seorang gadis yang baru tumbuh. Dengan rambut yang kini diurai.

"Huh, siapa menyuruh Paman memanggilku dengan sebutan Putri Ayu Tri? Aku bukan putri, dan aku tidak ayu."

Mpu Sora mendongakkan wajahnya. Tersenyum sebagai seorang bapak kepada anaknya. "Syukur kamu bermurah hati mau datang dan masih mengenali kami."

"Siapa bilang aku bermurah hati? Kebetulan aku lewat dan kalian berteriak seenak perut sendiri, seolah ini bukan rumah orang. Siapa bilang aku mengenali kalian? Bagiku semua orang Majapahit sama saja bentuk wajahnya."

Mpu Sora berdiri. "Sampaikan salamku, salam kami, kepada Anakmas Upasara."

"Baik. Sudah?"

Mpu Renteng tak begitu mengenal Gendhuk Tri. Dalam hati menebak-nebak bagaimana mungkin anak gadis yang masih begini bocah meskipun barangkali usianya sudah dua belas atau tiga belas tahun bisa begitu kurang ajar sikapnya. Akan tetapi Mpu Renteng cukup kenyang pengalaman bahwa dalam dunia silat akan lebih banyak lagi ditemui sifat-sifat yang tidak biasa.

"Yang kedua, kami ingin minta tolong mencari tahu di mana Permaisuri Gayatri berada."

Gendhuk Tri membuang wajah. Sedikit-banyak Mpu Sora tahu bahwa kalimat itu membuat Gendhuk Tri tidak suka. Mpu Sora mengetahui bahwa hubungan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung sangat dekat sekali. Selalu bersama-sama. Hanya tertunda sementara sewaktu Upasara bertemu dengan Gayatri. Sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mau melirik sedikit pun. Mpu Sora mengetahui bahwa ini semua seperti kecemburuan kecil-kecilan, yang biasa terjadi pada gadis seusia Gendhuk Tri. Namun Mpu Sora tak bisa menemukan kata lain.

"Cari saja sendiri. Masa senopati dari Majapahit yang kondang tak bisa?"

"Karena penculiknya lari ke dalam hutan, kami ingin minta izin."

"Tak perlu izin. Karena kalian juga ikut memiliki hutan ini. Aku cuma numpang tidur, bukan memiliki."

Mpu Sora mengangguk. "Terima kasih kami diizinkan...."

"Siapa bilang mengizinkan. Aku bilang tidak perlu izin."

Mpu Renteng mendehem kecil.

"Mau bicara, bicara saja langsung. Tidak usah pakai dehem kecil-kecilan."

"Namaku Mpu Renteng."

"Aku tidak peduli kamu empu atau bukan."

"Aku datang menjalankan tugas Baginda untuk mengantarkan Permaisuri Gayatri menemui Upasara Wulung."

Gendhuk Tri tertawa. Keras. "Lalu, kalian berdua menuduh aku menculik Gayatri? Karena aku tak suka padanya? Kalian jelas keliru. Kalau aku tak suka pada orang, aku sungguh tak peduli. Mau nungging mau jumpalitan, tak ada urusannya denganku. Cukup puas?"

"Cukup," jawab Mpu Sora. "Bagaimana kalau aku menemui Anakmas Upasara?"

"Boleh saja. Cari sendiri. Aku masih banyak urusan."

Gendhuk Tri baru mau membalikkan tubuh ketika terdengar suara-suara di kejauhan. Mpu Sora dan Mpu Renteng memiringkan kepala ke arah datangnya suara.

"Binatang kampungan mana yang bikin ribut ini semua? Ini saat buat tidur. Bukan bikin perkara."

Belum habis suaranya, Gendhuk Tri sudah melesat masuk ke dalam hutan. Selendangnya berkibaran, dan meninggalkan bau yang sangat amis.

"Racun yang mengeram dalam tubuh anak itu betul-betul ganas. Pada jarak yang begini jauh, saya hampir tak tahan."

"Kita tengok ke sana."

Mpu Sora dan Mpu Renteng menuju ke arah datangnya suara. Ke bagian yang dekat alun-alun. Ternyata suara-suara itu berasal dari beberapa prajurit yang mengelilingi seorang lelaki sudah berumur. Berada di tengah lingkaran, lelaki setengah umur itu diikat kedua tangannya.

"Bunuh saja sekarang."

Mpu Sora lebih kaget lagi karena ternyata mengenali Dyah Pamasi ada di antara para prajurit. Ini berarti ada utusan resmi dari Keraton. Karena Dyah Pamasi, seperti juga Dyah Palasir, resminya bertugas di Keraton. Pasti tidak begitu saja meninggalkan Keraton. Tapi siapa yang mengutus dan apa yang terjadi?

Taktik Menjebak Harimau

APA yang disaksikan Mpu Renteng dan Mpu Sora membuat mereka bertanya-tanya dalam hati. Kalau sampai para prajurit pilihan yang merupakan prajurit kawal Baginda keluar dari Keraton, dan ini tanpa diketahui Mpu Sora yang juga ditugaskan ke Perguruan Awan, pasti termasuk tugas yang wigati, sangat penting. Lagi pula prajurit yang dipimpin Dyah Pamasi bergerak secara terang-terangan. Mereka bahkan menyalakan obor dan membuat suara gaduh.

Lelaki yang setengah umur itu dalam pandangan Mpu Renteng adalah penduduk biasa. Bukan seorang ksatria atau jago silat. Cara bergerak ataupun mengatur napas tanpa pengendalian. Akan tetapi, meskipun penduduk biasa, Dyah Pamasi merasa perlu mengawasi dan memberi komando secara langsung.

"Kakang Sora, apakah tidak lebih baik kita meneruskan mencari Permaisuri?"

"Agaknya ada perkembangan lain yang memaksa kita menyaksikan sebentar."

"Saya tidak mengerti, Kakang."

"Saya pun belum mengerti. Tetapi kalau rombongan Pamasi sekarang muncul, pasti sejak lama berada di sekitar tempat ini. Nyatanya mereka sama sekali tidak begitu peduli dengan hilangnya Permaisuri. Tak mungkin Palasir tidak bercerita. Tetapi Pamasi lebih suka mengurusi orang tua yang bisa diselesaikan oleh satu prajurit."

Mpu Renteng mengangguk dalam. Kakinya bergerak maju. "Pamasi..."

Dyah Pamasi memberi sembah hormat.

"Siapa nama lelaki tua ini, dan apa salahnya sehingga seluruh prajuritmu menangkap?"

"Kami sedang melakukan perjalanan keliling melihat suasana keamanan."

Mpu Renteng mengernyitkan alisnya. Tugas pengamanan tentunya tidak sejauh ini meninggalkan Keraton.

"Di desa Karang Asem kami diracuni oleh seorang ini yang mengaku bernama Toikromo. Hukuman bagi pembunuh seorang prajurit adalah..."

Mendadak terdengar pekikan nyaring.

"Apa benar orang itu bernama Toikromo?"

Itu suara Gendhuk Tri. Tubuhnya tetap kecil. Rambutnya terurai, kain kemben sebatas dada nampak lebih jelas dalam cahaya obor. Selendang berkibar, seperti mengisyaratkan bisa disabetkan setiap saat.

Pamasi menggerakkan tangannya, dan seketika itu juga semua prajurit membentuk lingkaran Supit Urang, atau Sepit Udang. Mpu Renteng mundur dua tindak. Ternyata semua prajurit dalam keadaan siap tempur.

"Aku tanya apakah benar ia bernama Toikromo? Apa kalian semua tuli dan bisu sekaligus?"

Dyah Pamasi memberi hormat kepada Mpu Renteng sekilas, lalu berbalik menghadapi Gendhuk Tri.

"Siapa kamu dan apa urusanmu campur tangan?"

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, bagai seorang penari melakukan seblakan. Kibasan yang lembut, enteng. Namun Dyah Pamasi merasakan getaran yang kuat menerpanya. Dan juga bau amis busuk yang menyengat.

"Kamu sudah datang kemari, pasti sudah tahu siapa aku. Prajurit sebodoh kamu untuk apa dipekerjakan?"

Gendhuk Tri tersenyum mengejek sambil melangkah maju. Dua prajurit yang berada di depan berusaha menahan dengan tombaknya. Gendhuk Tri sama sekali tak memperhatikan. Selendangnya mengibas ke arah dua ujung tombak, melibat, dan dengan sentakan lewat pinggang, dua tombak itu melayang. Dua prajurit itu tersungkur. Dyah Pamasi mencabut kerisnya.

"Aku peringatkan kamu, jangan sampai menyentuh kulitku, atau tersentuh kulitku. Malaikat dan segala hantu pun tak bisa menolongmu."

"Jangan memaksa aku bertindak kasar."

Mpu Sora meloncat maju. Tangannya mengibas ke arah Dyah Pamasi. Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng mengetahui bahwa Gendhuk Tri tidak main-main. Apa yang dikatakan bisa terjadi. Menyentuh kulit Gendhuk Tri, apalagi sampai melukai, bisa berarti maut. Karena saat itu pasti Gendhuk Tri sudah bisa melukai. Dan dengan tubuh yang menyimpan segala jenis racun, Pamasi tak akan tertolong jiwanya.

Mpu Sora tahu bahwa Gendhuk Tri memiliki racun dalam tubuhnya. Sedemikian kuat racun itu sehingga sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan. Konon racun itu terserap sendiri ke dalam tubuhnya, dari beberapa tokoh silat yang tadinya menggunakan senjata racun. Termasuk dari Dewa Maut, yang sekarang jadi tidak mempunyai tenaga lagi.

"Pamasi, di hutan ini tak boleh berbuat gegabah. Ini bukan tempat yang baik untuk melaksanakan hukuman. Lebih baik kita mencari tempat lain."

Meskipun dongkol, Pamasi menghaturkan sembah sambil mengangguk.

"Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku. Jawab dulu, apakah benar lelaki itu Toikromo?"

"Kalau iya, kamu mau apa?"

"Aku mau kamu minta maaf padanya, melepaskan sekarang juga, meminta maaf lagi sambil menjilat kakinya. Kalau Pak Toikromo memberimu ampunan, aku cuma mau potong telingamu. Kalau tidak, kamu tinggal pilih. Mati perlahan, atau yang thek-sek, langsung."

"Kamu apanya Toikromo?"

"Aku baru mengenal sekarang."

"Kamu tahu kesalahannya?"

"Apa pun kesalahannya, lepaskan sekarang."

Mpu Sora jadi merasa serbasalah. Ia menyuruh Pamasi menahan diri, akan tetapi ternyata Gendhuk Tri merangsek maju. Kalau ia membiarkan saja, berarti membiarkan Pamasi menanggung malu. Biar bagaimanapun, itu tak boleh terjadi. Pamasi adalah prajurit Keraton, sama dengan dirinya.

Kalau ia melarang Gendhuk Tri, masalahnya akan berkembang ke arah pertarungan. Gendhuk Tri pasti tak akan mundur. Mpu Sora sama sekali tidak gentar menghadapi Gendhuk Tri. Walau tubuhnya dipenuhi racun yang bisa menular, mana mungkin Mpu Sora menjadi jeri? Mendadak terbersit sesuatu dalam pikirannya. Dyah Pamasi agaknya sengaja memamerkan cara menghukum Toikromo. Justru untuk mengundang perhatian penghuni Perguruan Awan. Agar mereka muncul.

Jadi ini seperti taktik memasang "jebakan harimau". Seperti kebiasaan para raja jika ingin berburu harimau. Yang menjadi umpan adalah manusia yang dimasukkan ke dalam sangkar jebakan. Harimau akan datang mendekat, dan saat itulah ditikam beramai-ramai. Memang dengan demikian mengorbankan nyawa manusia—bila terlambat, akan tetapi memang diperlukan umpan yang berarti untuk tangkapan yang lebih berarti. Nah, kalau Toikromo ini sebagai umpan jebakan, tak sulit menduga siapa yang dianggap "harimau". Pasti Upasara Wulung!

Taktik ini sesuai kalau diingat bahwa yang sekarang dikerahkan adalah prajurit pilihan dari Keraton. Dan memang saat ini Baginda Raja ingin memancing Upasara Wulung keluar dari sarangnya! Kalau ini benar, Mpu Sora masih tetap bertanya-tanya. Siapa yang memasang perangkap ini? Bukankah Baginda sudah memerintahkan pendekatan melalui Permaisuri Gayatri?

Apakah Baginda menitahkan dua perintah sekaligus, agar terjamin pelaksanaannya? Masuk akal, walau bisa dipertanyakan. Yang lebih pelik lagi jika rombongan Dyah Pamasi ini tidak mendapat perintah langsung dari Baginda. Akan tetapi dari seseorang yang pastilah mempunyai pengaruh besar terhadap Baginda. Seseorang yang dekat itu sangat mungkin sekali Mpu Nambi, pemimpin prajurit telik sandi. Kalau benar begitu, Mpu Nambi memang luar biasa. Taktiknya memasang umpan Toikromo sangat berhasil! Nyatanya Gendhuk Tri menjadi begitu geram.

Mpu Sora sejauh ini tidak mengetahui apa hubungan lelaki penduduk desa biasa dengan Upasara Wulung. Dan nyatanya Mpu Nambi—kalau benar dia— mempunyai perhitungan yang matang. Mampu memilih umpan yang terbaik. Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri juga tak pernah mengenal Toikromo! Makanya tadi bertanya lebih dulu.

Meskipun tak mengenal, Gendhuk Tri mendengar hubungan antara Toikromo dan Upasara Wulung. Dulu sewaktu Upasara Wulung menyusup ke Keraton Singasari, yang baru saja dikuasai Raja Muda Jayakatwang, ditolong oleh penarik pedati bernama Toikromo. Penduduk desa yang lugu ini tertarik kepada Upasara Wulung, dan berniat mengambil menantu. Toikromo sama sekali tak mengetahui siapa sesungguhnya pemuda yang ikut membonceng pedatinya.

Gendhuk Tri mendengar perkawinan putri Toikromo dengan Upasara Wulung. Malah ketika Upasara Wulung menghilang, Gendhuk Tri menduga jadi menikah. Maka dengan disebutnya nama Toikromo cukup mempunyai arti bagi Gendhuk Tri. Apalagi kini dalam keadaan bahaya.

Tembang Dini Hari

GENDHUK TRI bisa mudah mengenal Toikromo walau Pamasi hanya menyebutkan satu kali. Sepanjang hidupnya, Gendhuk Tri tak banyak mengenal nama orang. Boleh dikatakan ia hanya berhubungan dengan sedikit nama dan sedikit orang. Sejak kecil, bahkan sebelum ingat benar siapa orangtuanya, ia sudah dititipkan di dalam Keraton. Untuk dilatih menjadi penari Keraton.

Ia diculik dari Keraton oleh seseorang yang sama sekali tak dikenalnya, dan baru kemudian menjadi gurunya. Yang baru belakangan diketahuinya sedikit adalah asal-usul gurunya, yaitu Jagaddhita, salah seorang penari Keraton Singasari, kekasih Baginda Raja Sri Kertanegara. Demikian juga hubungannya dengan Mpu Raganata yang perkasa, yang ternyata juga gurunya.

Sejak itu Gendhuk Tri berkelana atau belajar ilmu silat. Sampai akhirnya merasa mempunyai seorang kakak, seorang lelaki yang dikagumi, yaitu Upasara Wulung. Apa yang menjadi perhatian Upasara Wulung, dengan sendirinya menjadi perhatian Gendhuk Tri. Hanya karena adatnya sejak kecil tak banyak mengenal tata krama, sikapnya berbeda dari kebanyakan orang pada usianya.

"Anak Tri," kata Mpu Sora perlahan. "Kita bisa membicarakan dengan tenang. Saya menjamin bahwa Pak Toikromo tak akan menderita sedikit pun tanpa sepengetahuanmu."

"Aku tak peduli. Aku mau ia dilepaskan sekarang juga."

"Sebentar lagi pagi datang. Kita bisa saling bicara dengan tenang."

"Oho, kok enak ya? Bukankah komplotan kalian ini yang bikin perkara malam hari?"

Mpu Renteng pun merasa Gendhuk Tri sangat kurang ajar! Mpu Sora sudah merendahkan diri dan bicara dengan bahasa halus. Akan tetapi ditanggapi dengan sikap seadanya, tanpa sopan santun sedikit juga, nada bicaranya tetap sengit. Kalau Mpu Sora menahan diri, bukan karena semata-mata jiwanya lebih dewasa. Mpu Sora mengetahui bahwa Toikromo adalah umpan yang tak boleh dilepaskan begitu saja. Tetapi menahan dengan membabi buta bisa menimbulkan persoalan baru, yang memperkeruh suasana yang ada. Kalau tidak hati-hati menangani, bisa bubrah semuanya.

Sejak menginjak Perguruan Awan, terjadi berbagai peristiwa saling susul. Serangan dua pendekar yang menutupi wajahnya karena takut dikenali. Yang ternyata mengetahui situasi dengan baik. Sehingga bisa menculik Permaisuri. Siapa mereka, dan apa maksud mereka, masih tetap gelap.

Hal ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya Dyah Pamasi dan tawanannya yang bernama Toikromo. Pasti bukan kebetulan kalau Dyah Pamasi menemukan Toikromo yang akan meracuni prajurit. Alasan yang kurang masuk akal anak kecil sekalipun! Yang menjadi persoalan, siapa yang mengirim mereka? Kalau tadinya Mpu Sora menduga ini semua dari Mpu Nambi, bisa diragukan sendiri. Kenapa bukan menyuruh senopati yang lebih tangguh? Kenapa Dyah Pamasi? Bukankah Dyah Palasir bisa ditugaskan khusus untuk ini daripada sekadar menemaninya? Makin diurai, makin banyak tanda tanya.

"Di jagat ini ada begitu banyak nama Toikromo. Apakah ini benar-benar Toikromo yang ingin Anak Tri bebaskan?" Cerdik sekali Mpu Sora membuat Gendhuk Tri ragu.

"Mana aku tahu?"

"Kalau begitu..."

"Kalau begitu bebaskan dia lebih dulu." Gendhuk Tri bertolak pinggang. "Kalau ternyata keliru, ya ikat lagi."

Tangan kiri Gendhuk Tri bergerak. Selendangnya mengibas. Dyah Pamasi berdiri menghadang. Kibasan selendang ditangkis, dan ia mencabut keris dalam waktu yang bersamaan. Ujung selendang memang tertangkis, arahnya berubah. Akan tetapi, kembali bergerak maju. Menutupi keris Pamasi. Dengan satu sentakan, Gendhuk Tri berusaha membetot. Tubuhnya melayang ke atas, berputar di udara.

Pamasi tersedot, sehingga tubuhnya ikut melayang ke atas. Karena enggan melepaskan pegangan kerisnya, sambil melayang tangan kirinya menyodok pinggang Gendhuk Tri. Hanya saja karena tubuh Gendhuk Tri berbeda dari wanita dewasa, jadinya tonjokan ke arah dada. Gendhuk Tri menangkis dengan berusaha menggenggam tangan Pamasi. Semua terjadi di tengah udara.

Mpu Renteng menahan napas. Ia secara khusus mempelajari memainkan ujung kain dengan penyaluran tenaga. Tak jauh berbeda dari Gendhuk Tri. Untuk ini memerlukan latihan yang cukup lama. Maka cukup mengherankan bahwa Gendhuk Tri yang masih bocah ini bisa memainkan tenaga yang disalurkan lewat selendang. Kalau Mpu Renteng mengetahui Gendhuk Tri termasuk murid Mpu Raganata, barangkali rasa kagumnya bisa berkurang.

Enteng Gendhuk Tri melayang turun, dengan ujung selendang masih melibat keris Pamasi. Seorang prajurit yang mencoba maju terpelanting kena sabetan tangan Gendhuk Tri. Wajahnya tergores luka. Sebelum matanya bisa membelalak sempurna, ajalnya sudah sampai! Racun dari segala racun! Seakan merambat lebih cepat daripada aliran darah.

Pamasi nggragap juga. Ia mengetahui bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun dalam tubuhnya, akan tetapi di luar dugaannya bahwa racunnya begitu ganas. Sudah barang tentu kalau yang terkena goresan Dyah Pamasi, racun itu tak akan menjalar begitu cepat. Pamasi mempunyai daya tolak dari dalam yang lebih kuat. Tapi ini membuat Pamasi sempat goyah. Mengetahui kekuatan di tangan Pamasi maju-mundur, Gendhuk Tri mengentak sekali lagi.

"Lepas!"

Gendhuk Tri menyendal lagi, dan kali ini ketika tubuhnya mencelat ke atas, keris itu benar-benar terlepas dari tangan Pamasi. Pamasi mengikuti tarikan dan sekali lagi ikut melambung. Keris memang terlepas, akan tetapi ketika turun bisa disambar kembali dengan sentuhan sikunya. Begitu turun di tanah, Pamasi berdiri di depan Toikromo.

"Kamu punya racun sehingga aku tak berani menyentuh. Tapi kamu juga tak berani menyentuhku."

"Kamu kira aku takut maju?"

Mpu Sora menahan napas. Kalau sama-sama nekat, pertumpahan darah tak bisa dicegah. Tapi terlambat untuk bertindak.

"Gendhuk, ke mana saja kamu main?" Terdengar suara yang lembut, dingin, dan enak di telinga. Gendhuk Tri tertawa.

"Ini ada permainan menarik, Pak Gundul. Ayolah kemari, daripada mengeram terus."

Yang dipanggil Pak Gundul memang benar-benar gundul, bertubuh gemuk bulat. Tak sehelai rambut pun tumbuh. Pakaian yang dikenakan juga asal menempel saja.

Mpu Sora dan Mpu Renteng memberi hormat dengan membungkukkan badannya. "Maaf, Kisanak Jaghana...."

"Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu begini banyak. Gendhuk Tri, kemarilah sebentar."

"Tidak mau."

"Kalau aku yang meminta juga tidak mau?"

Sesosok bayangan tinggi besar datang. Gagah dengan rambut yang diikat kain secara serampangan. Di tangannya tergenggam tongkat yang mengilat.

Mpu Sora mengangguk hormat. Berarti dugaannya benar. Toikromo adalah umpan yang tepat untuk menjebak keluarnya harimau. Kini boleh dikatakan sudah kelihatan ekor dan kakinya.

Yang baru muncul adalah Galih Kaliki. Dan jika Galih Kaliki, Jaghana, serta Gendhuk Tri sudah keluar, berarti semua tokoh penting yang mengeram di dalam Perguruan Awan sudah terpancing. Tinggal Upasara Wulung! Yang pasti akan muncul juga kalau suasana makin panas. Meskipun tidak setuju cara Pamasi, diam-diam Mpu Sora mengakui bahwa cara menekan Toikromo menyebabkan isi hutan keluar.

Mpu Renteng menghitung sendiri. Dari yang diketahui, mereka yang masih berada di dalam adalah Wilanda, yang mempunyai ilmu terbang capung. Namun beberapa saat lalu tenaga dalamnya terluka, sehingga tidak terlalu berbahaya. Juga Dewa Maut, yang untuk sementara muncul atau tidak, tak akan mengubah situasi. Juga Nyai Demang yang konon banyak membuat lelaki tergila-gila padanya.

"Di mana Kakang?"

"Sebentar lagi," jawab Jaghana.

"Masih ingin nembang sambil melihat matahari?"

"Gendhuk Tri, jangan bicara sembarangan."

"Sembarangan apanya? Bagi kalian Kakang adalah guru. Tapi bagiku Kakang adalah Kakang. Kalian mau apa?"

Mpu Sora dan Mpu Renteng saling pandang secara tak sengaja. Benar! Upasara Wulung bakal muncul bersama fajar.

Angin Asing, Angin Pesisir

UNTUK sementara keadaan menjadi lega. Mpu Sora menduga bahwa jika fajar datang dan Upasara Wulung muncul, segala persoalan bisa selesai. Namun di saat embun masih mengental, yang muncul bukan Upasara Wulung. Melainkan bayangan yang bergerak sangat cepat. Berupa rombongan berkuda.

Yang berada di depan seorang lelaki gagah, berdiri di atas punggung kuda. Dengan umbul-umbul atau panji-panji berupa bendera kecil hitam bergambar kepala kuda. Siapa lagi kalau bukan Adipati Lawe?

Mpu Sora mengenali panji pengenal keponakannya. Apalagi caranya menunggang kuda hitam legam dengan berdiri tegak di atas punggung. Begitu mendekat ke lapangan, tubuh gagah di atas pelana kuda itu melayang ke atas, dan turun di tanah tidak menimbulkan suara. Tangannya yang kukuh dilingkari gelang hitam diukir kepala kuda bergerak sangat lugas. Menyentak tali pengikat tangan dan kaki Toikromo. Dan kaki kirinya bergerak seperti mengatur langkah, akan tetapi sambil menendang tiang di mana Toikromo terikat.

Kayu yang berasal dari pohon itu mencelat ke atas, dan turun tepat di atas kepala Adipati Lawe. Yang justru mengangkat tangannya. Tidak meninju atau melemparkan ke atas, akan tetapi menyambut bagian di bawah siku. Kayu itu mengeluarkan suara detakan, seakan ranting kering yang terinjak.

Mpu Sora sedikit berubah wajahnya. Adipati Lawe tak pernah berubah. Atau malah bertambah. Sikapnya selalu menggebrak pada pemunculannya pertama. Dibandingkan dengan setengah tahun lalu, Adipati Lawe memperlihatkan kemajuan dalam mengolah tenaga. Batang pohon menjadi retak hanya dengan diterima sebelah tangan. Keretakan batang pohon itu disebabkan oleh derasnya jatuh ke bawah dan membentur benda keras. Bukan karena Adipati Lawe sengaja memecahkan.

"Bagus. Bagus. Ini tontonan yang menarik."

Galih Kaliki berteriak nyaring. Tongkat galih asem dipegang erat-erat, sementara kepalanya mengangguk-angguk. Tangannya menjadi gatal ingin menjajal. Bisa dimengerti kalau Galih Kaliki yang bereaksi pertama. Dalam banyak hal Galih Kaliki mempunyai persamaan. Ia juga berbadan tinggi besar, kukuh, adatnya keras, kurang bisa basa-basi. Lebih dari itu, dasar-dasar ilmu silatnya juga mengandalkan tenaga luar. Makanya seperti menemukan teman yang sangat cocok dan diharapkan.

"Sungguh bukan lelaki jantan kalau berlindung di balik sifat perempuan. Kalau ingin memaksa Upasara keluar dari balik semak, untuk apa menyiksa lelaki tua?"

Tandas bicaranya, keras nadanya. Adipati Lawe tak pernah mengatakan merah kalau yang dimaksudkan merah muda. Tak akan menyebut ular sebagai cacing besar. Juga tak akan memedulikan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memberi sembah hormat lebih dulu kepada pamannya atau kepada Mpu Renteng. Langsung ke pokok persoalan.

"He, orang pesisir yang keringatnya bau asin, jangan buka mulut sembarangan. Sejak kapan kamu meremehkan wanita? Kamu pikir kamu dilahirkan dari kuda jantan?" Gendhuk Tri yang tersinggung dengan perumpamaan sifat perempuan itu.

Adipati Lawe memandang ke arah Gendhuk Tri. Tangan kanannya teracung ke angkasa. "Tongkring!”

Pengikut yang datang bersama kaget. Ucapan tongkring dari Adipati Lawe tidak mempunyai arti apa-apa, pun andai dicari dalam kamus yang paling kuno. Ucapan ini menjadi pertanda bahwa sang adipati dari pesisir sedang meluapkan segala emosinya. Dalam keadaan murka besar, kata itu pula yang terucapkan.

Kalau para pengikutnya menduga junjungannya murka besar, juga masuk akal. Senopati perang yang garang, bagaimana mungkin dicerca oleh seorang bocah dengan sindiran keringatnya bau asin, dan lahir dari seekor kuda jantan.

"Aku tidak bermaksud mengatai kamu, Gendhuk Tri. Maaf."

Mpu Renteng tak menduga bahwa Adipati Lawe bisa mengucapkan maaf secara terbuka. Tapi Gendhuk Tri melengos.

"Mana mungkin kamu berani mengatai aku? Kamu mengatai perempuan, bukan aku. Kalau kamu berani mengatai diriku, aku paksa kamu menggendong kudamu."

"Aha, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara galak. Kamu baik-baik saja selama ini?"

"Aku baik atau buruk, apa hubungannya dengan kamu? Jangan kira dengan membebaskan Toikromo kamu bisa sesongaran seenak perutmu."

Dikatakan sesongaran atau mengobral kesombongan, Adipati Lawe malah tertawa lebih keras. Wajahnya berseri menunjukkan rasa puas. "Kalau begitu, aku ingin bertanya bagaimana kabarnya kakangmu?"

Gendhuk Tri terhibur dan merasa senang karena Upasara Wulung disebut sebagai "kakangmu". Berarti dirinya dianggap sangat dekat. Kakangmu, bisa berarti kakakmu, tetapi juga bisa berarti kakak istimewamu!

"Jauh-jauh dari pesisir kamu datang hanya untuk menanyakan kabar Kakang?"

Pertanyaan itu sebenarnya juga terucapkan Mpu Sora dalam hati. Kenapa keponakannya ini mendadak menyusul ke Perguruan Awan? Angin apa yang mendorongnya? Meskipun Mpu Sora tahu keponakannya ini sering kali bertindak tanpa berpikir panjang, akan tetapi pasti bukannya tanpa alasan kuat kalau sampai ia muncul.

Karena ini berarti ia meninggalkan Kadipaten Tuban. Wilayah pesisir utara yang penguasaannya diserahkan ke dalam tangannya. Adipati Lawe, yang sebenarnya tetap lebih suka menyebut dirinya Ranggalawe, adalah patih amancanegara. Patih yang mewakili Keraton Majapahit untuk satu daerah tertentu.

Kalau sampai menyempatkan diri muncul, ini berarti kabar mengenai Baginda Raja akan mengangkat Upasara Wulung sebagai mahapatih sudah sejak lama menyebar. Karena diperlukan waktu untuk datang ke Perguruan Awan. Diperlukan waktu yang lebih lama daripada kalau berangkat dari Majapahit. Apa sebenarnya maksud kedatangannya?

Mpu Sora sempat agak was was. Putra Aria Wiraraja yang satu ini secara lugas dialiri darah Madura. Kalau ia tidak setuju dengan pengangkatan Upasara, ia akan menyuarakan secara terbuka. Walau itu berarti menentang Baginda Raja. Sungguh suatu sikap yang sangat berbahaya.

"Aku sengaja datang dari pesisir yang anginnya asin untuk menemui kakangmu. Aku bukan datang untuk pelesir. Kalau aku datang untuk menemui kakangmu, aku tidak suka memaksa lewat orang lain. Suruh kakangmu itu keluar atau hutan ini kuratakan jadi sawah."

"Bagus. Tapi bagaimana kalau kita bermain sebentar, Lawe? Rasanya sudah lama juga aku tidak melatih tongkat bobrok ini. Sejak pertempuran dengan orang Tartar itu kita tak pernah bertempur betulan. Selama ini hanya main-main saja."

"Aku terima tantanganmu, Galih."

"Bagus, di mana kamu pilih tempatnya?"

"Di sini juga pantas." Jaghana membungkuk. "Masih banyak waktu untuk gebuk-gebukan. Kita ini jelek-jelek tuan rumah."

Wajah Galih Kaliki berubah kesal. "Jaghana, kamu ini bagaimana. Aku kan tuan rumah yang baik. Ada ksatria datang, aku suguhi ilmu. Lawe, kita cari tempat lain saja."

Kalau Galih Kaliki memanggil Jaghana dengan sebutan nama langsung, itu berbeda dengan ketika memanggil Adipati Lawe. Dengan Adipati Lawe, Galih Kaliki kira-kira seumur. Dengan Jaghana jelas kalah tua. Akan tetapi ini tidak menunjukkan kekurangajaran. Ini lebih menunjukkan kesejajaran tingkat. Bagi Mpu Sora, yang sedikit-banyak mendengar keanehan tata cara Perguruan Awan, hal ini tidak aneh.

"Lawe, anakku," kata Mpu Sora lembut. "Kalau Kisanak Jaghana ingin menerima kita, kenapa kita ribut-ribut?"

Adipati Lawe mengangguk hormat. Mundur dua tindak. "Maafkan kekurangajaran anak saya dan seluruh pengiringnya."

Jaghana ganti membalas membungkuk tubuhnya. "Kisanak Mpu Sora, jangan membuat kami merasa makin sungkan. Kamilah sesungguhnya yang lebih pantas meminta maaf."

Gendhuk Tri tertawa mengikik. "Wah ini baru tata cara orang tua. Soal siapa yang bersalah saja rebutan." Lalu membalik ke arah Adipati Lawe. "He, Adipati Pesisir, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu mencari Kakang?"

"Aku mau bilang agar kakangmu mau menjadi mahapatih."

Mpu Sora bernapas lega. Ternyata Adipati Lawe justru mempunyai jalan pikiran yang sama. Tapi Gendhuk Tri malah membanting kakinya ke tanah.

"Kamu tak pantas meminta Kakang mau menerima atau tidak."

Senopati Pamalayu

GANTI Adipati Lawe yang membanting kakinya ke tanah. Telapak kakinya amblas ke dalam sebatas kemiri. Meskipun tanah di bawahnya bukan tanah keras, akan tetapi membuat kaki amblas hingga tungkai memperlihatkan keunggulannya. "Aku tak mau berdebat dengan perempuan.

"Mau atau tidak, aku tetap akan memaksanya."

Gendhuk Tri memandang ke langit. Menganggap enteng tantangan Adipati Lawe.

"Dasar perempuan, cerewetnya tak bisa hilang."

Kedua tangan Gendhuk Tri mendekat ke arah selendang. "Mungkin benar aku cerewet. Tetapi aku tetap lebih jantan daripada kamu. Aku tidak membawa rombongan begitu banyak sehingga Keraton menjadi kosong. Kalianlah yang tak pernah berubah. Prajurit Majapahit ternyata dari dulu suka main keroyokan. Kamu kira kami semua ini gentar? Kalau ingin merasakan cakaranku, silakan maju secara keroyokan."

Mpu Sora sadar bahwa kata-kata Gendhuk Tri ditujukan kepada rombongan yang baru datang. Berbaris secara teratur dan langsung mengambil tempat yang kosong, mengurung pertemuan. Dalam cahaya yang mulai terang oleh alam, Mpu Sora tidak segera mengenali bahwa ternyata rombongan prajurit yang baru datang memang prajurit dari Majapahit. Yang dipimpin langsung oleh Senopati Anabrang!

Mpu Renteng yang mengenali pertama tak bisa menahan rasa herannya. Bibirnya mengeluarkan desis perlahan. Ini benar-benar ganjil. Begitu banyak rombongan dari Keraton. Pertama rombongannya sendiri dengan Permaisuri Gayatri. Kedua rombongan Dyah Pamasi dengan tawanan Toikromo. Kemudian disusul Adipati Lawe dengan prajurit yang datang dari pesisir. Dan kini rombongan yang dipimpin Senopati Anabrang.

Jelas bahwa dirinya, Dyah Pamasi, maupun Senopati Anabrang tak mungkin bergerak tanpa perintah yang datang dari atas. Ini berarti ada tugas. Yang menjadi pertanyaan: Siapa yang menitahkan ini semua? Apakah juga Baginda Raja? Kalau benar begitu, kenapa tidak menyatu sejak semula?

Dugaan Mpu Renteng membuat perasaannya menjadi kebat-kebit. Baru sekarang ini begitu banyak tugas yang sama, akan tetapi ternyata tidak saling mengetahui. Mpu Renteng bisa melihat wajah Senopati Anabrang yang heran dan bertanya-tanya. Berarti ia juga tidak menduga.

Senopati Anabrang bukan sembarang senopati. Begitu banyak senopati pilihan, akan tetapi Senopati Anabrang tetap mempunyai tempat tersendiri. Ia termasuk panglima yang terhormat, dan disegani oleh Baginda Raja. Senopati Anabrang dengan para prajurit pilihan pada masa Baginda Raja Sri Kertanegara sudah menaklukkan tlatah Melayu. Bahkan ketika kembali membawa dua putri ayu sebagai tanda kemenangan.

Senopati Anabrang pula yang kemudian menghaturkan dua putri ayu ke hadapan Baginda Raja Kertanegara, sebagai tanda pengabdiannya. Sekaligus pengakuan bahwa Baginda Raja Kertanegara adalah penerus tradisi besar dari Keraton Singasari. Pengakuan ini membuat kemenangan tersendiri bagi Baginda Raja. Hingga Senopati Anabrang dan para prajuritnya mempunyai beberapa keistimewaan. Senopati Anabrang tidak di bawah senopati atau juga adipati yang lain. Pangkatnya sama dengan para adipati yang lain. Sama seperti patih yang lain. Hierarki kekuasaannya di bawah garis langsung Baginda.

Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau Baginda Raja mengirim beberapa senopati secara sendiri-sendiri. Namun sebenarnya, lebih tidak mungkin lagi Senopati Anabrang bergerak sendiri. Kalau begini bisa berarti rombongan yang lain pun akan muncul. Rombongan lain dari Keraton!

Dalam hati Mpu Renteng mulai curiga. Bibit kecurigaan yang ditepis oleh kebijakan Mpu Sora ternyata tak hilang tuntas. Masih menyelinap dugaan bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur semua ini. Karena hanya Mpu Nambi-lah yang bisa berhubungan langsung dengan Baginda. Karena Mpu Nambi yang mengepalai prajurit telik sandi, sehingga tahu tentang segala liku-liku keamanan dan ketertiban Keraton. Andai benar Mpu Nambi yang mengatur, apa maksudnya? Apa maksud-nya membiarkan Keraton kosong tak terjaga?

Mpu Renteng melirik Mpu Sora yang tegak bergeming.

"Saya utusan dari Keraton Majapahit, Mahisa Anabrang minta izin pemilik Perguruan Awan untuk beristirahat. "Sungkem dan segala puji bagi para sesepuh."

Mpu Sora, Mpu Renteng, Adipati Lawe menjawab dengan membungkukkan tubuh.

Cara Senopati Anabrang membawakan diri sangat tepat. Ia meminta izin kepada Perguruan Awan, akan tetapi juga tidak menanggalkan rasa hormat kepada adipati yang lain, yang secara kepangkatan sejajar dengan dirinya.

"Aku berikan izin membuat pondokan di sini, asal kamu serahkan perempuan yang ayu, yang kulitnya putih, pada Galih Kaliki." Jelas Gendhuk Tri berolok-olok.

Senopati Anabrang sama sekali tidak mengenal Gendhuk Tri. Sewaktu ia berangkat ke Melayu, Gendhuk Tri barangkali masih calon penari. Maka kalimat Gendhuk Tri membuatnya mengertakkan geraham.

Gendhuk Tri malah mendesis. Mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya. Mana mungkin Gendhuk Tri mempertimbangkan bahwa sebagai senopati yang pernah menjelajah ke tanah seberang, adat Senopati Anabrang menjadi lebih keras karena hantaman ombak dan badai.

"Tunggu. Aku tidak mau menerima. Bagiku hanya ada satu wanita. Dan aku sudah, hampir, memiliki."

Senopati Anabrang yang tak mengerti duduk perkaranya jadi merasa menghadapi manusia-manusia yang tak keruan jalan pikirannya. Tak terlalu lama meninggalkan dusun kelahirannya, ternyata terjadi perubahan yang tak terbayangkan! Bukan hanya Keraton yang pindah ke Kediri, pindah lagi ke Singasari, dan kini pindah lagi ke Majapahit. Akan tetapi juga manusia-manusia yang ditemui. Perasaan asing ini wajar mengingat Senopati Anabrang banyak menghabiskan waktunya di tlatah seberang yang jauh berbeda adat budayanya.

Mpu Renteng sendiri merasa bahwa ada dua arah yang bertentangan. Satu pihak adalah pihaknya sendiri. Yang mengemban tugas Keraton sehingga nampak tegang dengan satu urusan utama. Di pihak lain, penghuni Perguruan Awan yang membicarakan masalah pribadi. Ribut tak menentu, atau berdiam diri seperti Jaghana.

"Tak kunyana, Perguruan Awan yang mulia dan agung kini dihuni makhluk yang rendah akal budinya."

"Cocok!" teriak Gendhuk Tri. "Termasuk kamu yang sekarang menjadi penghuninya."

Sret.

Senopati Anabrang mencabut pedang panjang dari pinggang kiri dan kanan. Kilatan yang terpantul membuktikan bahwa itu bukan sembarang pedang, dan terawat dengan sempurna.

Bret.

Gendhuk Tri meloloskan selendangnya. Matanya mengeluarkan sorot tantangan. "Aku mau tahu, prajurit macam apa yang membawa panji Singasari ini."

Berkelebat bayangan selendang Gendhuk Tri, langsung menggulung kedua pedang Senopati Anabrang. Yang dengan tenang dan dingin membiarkan begitu saja. Baru ketika Gendhuk Tri mengerahkan tenaga, Senopati Anabrang menyentak keras. Kedua pedangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi arahnya lurus ke arah dada Gendhuk Tri. Suara serangan yang tiada duanya. Dalam gebrakan pertama sudah menunjukkan kelasnya bahwa Baginda Raja Sri Kertanegara tidak keliru memilihnya sebagai utusan.

Galih Kaliki mendecak. Gendhuk Tri memakai cara lama dengan menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi dengan demikian selendangnya terseret ke belakang karena terdorong oleh ayunan pedang. Dan ketika Gendhuk Tri berusaha menarik, pedang itu membalik. Menusuk dari arah belakang. Semua terjadi dalam kecepatan tarikan selendang. Gendhuk Tri menyadari bahaya dari bagian belakang. Karena tubuhnya berada di tanah, gerakannya menjadi leluasa.

Saat itu Galih Kaliki, kalaupun ingin menolong telah terlambat. Jaghana yang sejak tadi mengawasi, menghela napas berat. Gendhuk Tri menggulung tubuhnya ke arah depan. Mengeluarkan semua kemampuannya untuk menjadikan tubuhnya bagai kapas didera angin. Sehingga bergerak bersama dengan pedang lawan.

Akan tetapi dengan demikian tubuhnya mengarah kepada Senopati Anabrang. Yang dengan mudah bisa menghajar. Dengan pukulan tangan kosong pun, Gendhuk Tri bisa menderita. Tusukan dua pedang dari belakang, dan pukulan dari depan. Gendhuk Tri mengeluarkan tangannya, memeluk. Gawat!

Darah Telah Tumpah

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seakan tindakan nekat. Tetapi siapa pun yang menyadari posisinya, tak bisa berbuat lain. Gawat dijawab dengan gawat. Maut dijawab dengan maut. Dengan memeluk lawan, Gendhuk Tri hanya mempunyai satu pilihan. Luka berat bersama atau bahkan mati bersama!

Karena tusukan pedang yang terayun kencang dari belakang tak mungkin dihindari. Pun dengan memeluk kencang Senopati Anabrang, tidak berarti serangan pedang itu buyar. Hanya ia bisa balas menghancurkan.

Ilmu silat Gendhuk Tri tergolong ilmu silat berbahaya. Walaupun kelihatan lembut elok bagai gerakan penari, namun jurus-jurusnya mengandung keampuhan yang dalam. Bisa dimengerti karena jurus-jurus itu diciptakan langsung oleh Mpu Raganata almarhum. Jawara kelas dunia. Di tangan Gendhuk Tri yang miskin pertimbangan, ilmu itu menjadi sangat telengas.

Ini bisa dimengerti, karena Gendhuk Tri tumbuh langsung dalam berbagai pertempuran yang sama ganasnya. Gendhuk Tri menyaksikan betapa Dewa Maut menjadi kehilangan seluruh tenaga dalamnya dan hidup bagai orang linglung. Gendhuk Tri melihat bagaimana gurunya, Jagaddhita, terkubur hidup-hidup di dalam Gua Lawang Sewu. Dan banyak pertempuran berdarah yang pada saat gebrakan sudah melangkah ke titik antara mati dan hidup.

Ditambah lagi keadaan tubuh Gendhuk Tri yang lain dari para pendekar lainnya. Gendhuk Tri secara tidak sengaja telah mengisap berbagai jenis racun nomor satu. Baik racun dari Dewa Maut, maupun asap tubuh Pu'un dari Banten yang terkubur di bawah tanah Gua Lawang Sewu. Dalam keadaan seperti ini, memang setiap gerakannya berarti maut. Ditambah dalam keadaan yang terdesak, Gendhuk Tri benar-benar mengesankan serangan ganas untuk mati bersama tanpa penyesalan! Inilah yang gawat!

Senopati Anabrang, yang kenyang pengalaman menghadapi saat-saat genting, menyadari bahwa jiwanya terancam. Ibarat kata, nyawanya sudah bertengger di ujung bibir. Satu langkah pendek berarti lenyap dari tubuhnya. Adalah di luar dugaannya bahwa Gendhuk Tri akan menubruknya. Sebab pada saat selendang terdorong ke belakang oleh sepasang pedang, Gendhuk Tri bisa melepaskan saja selendangnya. Atau menahan dengan akibat selendangnya tertembus dan sobek. Bukan menyendal balik.

Tapi itulah justru sifat Gendhuk Tri. Sembrono kata-kata yang keluar dari bibirnya, ganas apa yang digerakkan tangannya, maut tak membuatnya bertekuk lutut. Bagi Gendhuk Tri, lebih baik punggungnya ditembus dua pedang daripada melepaskan selendangnya Atau membiarkan selendangnya tersobek! Itu pantang. Gendhuk Tri tak mengenal istilah kalah atau menyerah. Mati lebih bermakna baginya. Maka begitu keadaan mendesak, Gendhuk Tri menubruk Senopati Anabrang dengan kedua tangan siap mencengkeram.

"Tongkring!”

Teriakan Adipati Lawe menunjukkan bahwa ia pun tak menduga akan berakhir dengan serangan yang langsung meminta korban. Bagi Adipati Lawe soal serangan maut bukan hal yang baru. Tetapi walau ia suka mengumbar tenaga, tetap bukan begini caranya.

Dua gebrakan pertama sudah merupakan serangan akhir. Yang namanya Gendhuk Tri benar-benar keras kepala luar-dalam, pikirnya bingung. Yang segera menggeser kakinya adalah Mpu Sora dan Jaghana. Keduanya siaga untuk bergerak pertama jika ada sesuatu yang masih bisa ditolong keluar dari kemelut...

BAGIAN 12CERSIL LAINNYABAGIAN 14

Senopati Pamungkas Bagian 13

Senopati Pamungkas
Buku Pertama
Karya Arswendo Atmowiloto
Cerita silat Indonesia Karya Arswendo Atmowiloto

BAGIAN 13

Penghuni Perguruan Awan

MPU SORA makin menyadari bahwa dua penyerang yang menutupi wajahnya dengan klika, atau kulit kayu, bergerak sangat cepat. Tanpa menunggu tarikan napas berikutnya, Mpu Sora menarik kaki sedikit ke belakang, dengan dua tangan bersilang di depan dada. Tubuhnya berputar. Kedua penyerang seperti menunggu serangan. Akan tetapi justru Mpu Sora tidak langsung menyerang.

Karena menyadari bahwa tugas utamanya ialah menjaga Permaisuri Gayatri. Bagi seorang yang menjunjung tinggi pengabdian, tugas adalah nomor pertama dan sekaligus nomor terakhir. Rasa gusar bisa diatasi dengan tetap mencoba bertahan, bukan menggempur. Memang ini agak bertentangan dengan ilmu yang dikembangkan dari tlatah Madura, yang mengandalkan gebrakan pertama sebagai gempuran.

Apalagi Mpu Sora mengeluarkan jurus Bramara Bramantya atau Lebah Marah. Sekumpulan lebah yang marah selalu berusaha mengejar lawannya sampai ke sudut yang tak memungkinkan lagi. Akan tetapi kali ini, Mpu Sora berputar di tempat. Dua penyerang bergerak bersamaan. Dari sisi kiri dan sisi kanan. Mpu Sora membuka kedua tangannya dengan sangat cepat, dan dengan sangat cepat pula menarik kembali, menutup di depan dada.

Terdengar dua benturan keras. Mpu Sora bisa membandingkan bahwa penyerang di sebelah kiri tak sekuat di sebelah kanan. Sengatan lima kanan dan lima kiri bisa dimentalkan, akan tetapi dengan demikian bisa mengukur tenaga lawan. Sesuatu yang sangat penting untuk membuat serangan berikutnya.

"Hmm. Percuma saja kita hanya disuguhi Bramara Bramantya."

Mpu Sora berusaha menahan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Pada usia yang bukan muda lagi, Mpu Sora masih tetap memperlihatkan asal-usulnya. Lahir dan dibesarkan di daerah yang keras adat- istiadatnya. Daerah di mana sapi biasa dipacu, bukan digerakkan perlahan untuk menyeret gerobak. Hinaan itu sangat kena, kalau maksudnya membuat gusar. Jurus Lebah Marah diganti seenaknya menjadi Lebah Bingung. Meskipun dalam ucapan hampir mirip, antara bramantya dengan Bramantya, akan tetapi artinya berbeda. Bingung lebih bisa diartikan sebagai tak bisa menguasai diri.

Akan tetapi Mpu Sora justru merasa makin berhati-hati. Lawan yang dihadapi bukan hanya serba tak terduga, akan tetapi juga sekaligus menunjukkan pengetahuan yang luas. Bisa langsung menduga asal-usul ilmu silatnya. Bahkan bisa mengetahui sampai ke nama jurusnya.

Mpu Sora menunggu kesempatan. Begitu penyerang di kanan menarik napas ketika mengucapkan kata-kata hinaan, seketika itu Mpu Sora membuka kedua tangannya. Cepat. Bayangan di samping kanan menghindar dengan gerakan ke arah samping, seperti bergoyang. Akan tetapi sasaran utama Mpu Sora justru kepada penyerang dari kiri. Yang meskipun kelihatannya lebih lemah, akan tetapi posisinya lebih berbahaya. Lebih dekat meraih ke arah Permaisuri!

Tubuh condong ke kanan, akan tetapi kaki menggaet yang kiri. Dan begitu mengenai sasaran, Mpu Sora menarik sekerasnya. Tenaganya dipakai untuk memantulkan tubuhnya ke atas. Sambil mengeluarkan desis nada tinggi. Lawan di sebelah kiri terseret, tertarik, akan tetapi dengan menggelundungkan diri bisa segera berdiri kembali.

Mpu Sora memang tidak bermaksud terus menyerang. Ia lebih mementingkan penjagaan Permaisuri. Serangan yang dilancarkan ialah dengan mendesis mengeluarkan suara seribu lebah secara bersamaan. Kalau ada lebah di sekitar hutan, pasti akan segera berdatangan. Mpu Sora bisa memakai mereka sebagai pembantu untuk menggebrak lawan. Yang kedua, desisan yang berasal dari jurus Bramara Bekasakan atau Lebah Hantu ini bisa mengganggu konsentrasi lawan. Bagi yang tidak biasa, suara berdesis seolah di pinggir telinga bisa menyesatkan pemusatan pikiran. Yang tak diduga oleh Mpu Sora ialah justru Permaisuri Gayatri yang pertama kali terkena!

Permaisuri Gayatri yang tadi mundur, berdiri limbung. Tubuhnya bergoyang. Kedua tangannya berusaha menutupi daun telinga, akan tetapi tubuhnya lebih dulu jatuh ke tanah.

Bagi Mpu Sora memang tak ada pilihan lain. Kalau ia ragu, lawan yang begitu tangguh bisa menjatuhkan dalam waktu sekejap. Dengan mendesiskan Bramara Bekasakan ia melukai Permaisuri Gayatri. Akan tetapi Mpu Sora bisa memperhitungkan bahwa nanti ia dapat menyembuhkan. Lebih baik lawan diselesaikan lebih dulu. Daripada tak ada yang bisa dirampungkan. Lawan tetap tak bisa dikuasai, dan Permaisuri Gayatri malah bisa dikuasai. Dua penyerang mengeluarkan suara dingin. Kemudian maju menerjang.

"Ambil Permaisuri Rajapatni."

Perintah dari penyerang di sisi kanan dituruti oleh penyerang sebelah kiri. Akan tetapi, mana mungkin Mpu Sora melepaskan begitu saja. Justru desisannya meninggi, dibarengi dengan kedua tangan ke arah penyerang kiri. Kaki kiri mengencang ke belakang. Inilah jurus Bramara Braja atau Lebah Topan.

Dalam sekejap Mpu Sora mengeluarkan semua jurus andalannya. Termasuk Lebah Topan yang selama ini jarang diperlihatkan. Karena jurus ini meminta pengerahan tenaga sangat besar. Terutama dari daerah pulung ati, bagian antara perut dan dada. Memang pengerahan kekuatan dalam dari daerah itu sangat memeras, akan tetapi Mpu Sora tak bisa berbuat lain.

Mpu Sora berharap bahwa Mpu Renteng bisa kembali membantu. Atau setidaknya salah satu dari prajurit Dyah Palasir. Mpu Sora mencelos. Sama sekali tak menduga justru penyerang dari sebelah kanan yang menerobos masuk dan langsung membopong Permaisuri Gayatri! Penyerang sebelah kiri meloncat untuk menghindar. Penutup wajahnya teraup dan hancur. Bisa dibayangkan kalau sengatan Mpu Sora sempat menyentuh kulit atau tulang.

"Lain kali kita bertemu lagi. Untuk melihat ilmu Bramara Brakithi."

Mpu Sora sama sekali tak peduli dicaci ilmunya sebagai jurus Lebah Semut. Akan tetapi keselamatan Permaisuri lebih penting. Mpu Sora membalik gerakan tubuhnya dan langsung menerjang ke arah penyerang yang tadi di sebelah kanan. Serangan terbuka yang tak memedulikan kalau-kalau dibokong dari penyerang sebelah kiri yang kini berada di bokongnya, di belakangnya.

Penyerang kanan yang kini membopong Permaisuri Gayatri malah mengangsurkan tubuh yang digendongnya. Mpu Sora menarik serangannya dan saat itu penyerangnya menghilang dalam gelap. Begitu tubuh Mpu Sora melayang, satu bayangan lagi menyerbu ke arahnya. Mpu Sora menangkis dan bayangan itu jatuh ke tanah dengan suara mengaduh yang berat.

Dyah Palasir! Ternyata Dyah Palasir yang muncul dan terkena pukulan Mpu Sora. Ambruk ke tanah dan dalam sekejap bagian yang terkena pukulan melepuh seperti kena sengatan ratusan lebah di satu tempat. Mpu Sora tak mau membuang waktu. Satu tutulan berikutnya, kakinya sudah melayang. Akan tetapi tak ada bayangan di depannya. Hanya daun-daun yang bergerak perlahan. Mpu Sora mencoba menajamkan pendengarannya, akan tetapi tetap tak bisa menangkap suara yang lain. Lenyap seketika. Seperti ketika datang.

Mpu Sora menghela napas. Lalu dengan dua kali menutul tanah, kembali ke pondokan. Mengeluarkan ramuan bunga untuk mengobati Dyah Palasir. Mpu Sora sendiri langsung menemui Mpu Renteng yang masih menggeletak. Mpu Sora menunduk.

"Permaisuri..."

"Kita kejar bersama."

Mpu Sora mengurut bagian leher. Tepat sekali serangan lawan. Ke arah bagian yang paling lemah dan tak terlindungi dalam jurus Bujangga Andrawina. Bagian yang juga sukar ditembus karena saat itu justru Mpu Renteng sedang menerjang. Setelah diurut, Mpu Renteng mengembalikan tenaganya. Mpu Sora memandang ke arah kegelapan.

"Kakang Sora, mari kita jemput Permaisuri ke dalam."

"Saya kira begitu lebih baik daripada kita menunggu."

"Kedua penyerang itu sungguh luar biasa. Saya bisa ditekuk seketika dalam gebrakan pertama. Tapi kalaupun masih bisa memberikan nyawa yang tak berharga ini, saya akan menyertai Kakang."

Dyah Palasir setengah merangkak mendekati. "Hamba bersalah...."

Mpu Sora menggeleng lemah. "Upasara Wulung sudah menguasai ilmu iblis. Semua prajurit seperti kena tenung."

Mpu Renteng memandang Dyah Palasir. Yang dipandang darahnya berdesir. "Upasara?"

"Kalau bukan Upasara yang menguasai ilmu Jalan Iblis, siapa lagi?"

Utusan Tanpa Tuan

MPU SORA kembali menggeleng lembut. Tangannya bergerak perlahan. "Palasir, siagakan semua prajuritmu. Saya akan mencari Permaisuri ke dalam."

Tanpa menunggu jawaban, Mpu Sora melesat ke dalam hutan. Diikuti oleh Mpu Renteng. Sekejap keduanya sudah menyusup sampai ke tengah. Seakan ingin menjelajah, ingin membalik setiap daun, mencabut akar pepohonan.

"Kakang Sora..."

Mpu Sora memperlambat langkahnya.

"Benarkah Upasara yang menculik Permaisuri?"

"Maaf, saya tak sependapat dengan ksatria yang bermulut kotor."

Mpu Renteng bisa menangkap maksud ucapan Mpu Sora. Yang menilai Dyah Palasir bermulut kotor dengan menyebutkan ilmu Jalan Iblis. Karena selama ini yang dikenal sedang dipelajari Upasara Wulung adalah Jalan Budha. Bisa dimengerti kalau Mpu Sora menjadi tersinggung. Akan tetapi tadi tetap bisa menahan diri untuk tidak memarahi atau menunjukkan sikap kurang senang.

"Kakang Sora, saya sependapat dengan Kakang. Kalau Upasara, ia tak perlu memakai topeng klika. Kalau ingin bertemu Permaisuri, tak perlu menculik."

"Itulah yang saya pikirkan. Rasanya bukan Upasara Wulung."

"Akan tetapi ilmunya sungguh luar biasa. Seakan bisa membaca tepat serangan saya. Dan menyerang bagian yang terlemah. Seakan benar-benar ilmu yang bisa menangkis segala serangan."

"Teka-teki yang sulit. Dari mana datangnya dan dengan cara apa masih sulit ditebak. Caranya mengetahui serangan kita—bahkan bisa mengetahui jurus saya—itu pertanyaan yang lain lagi. Teka-teki karena seperti bukan ilmu yang sama sekali tidak kita kenali. Apalagi tadi menyebut nama Permaisuri Rajapatni."

"Kalau begitu berarti orang dalam?"

"Entahlah."

"Kalau orang dalam, apa maksudnya, Kakang? Ingin menjatuhkan nama kita di depan Baginda Raja?"

Mpu Sora mendongak. Memandang daun-daun yang menutupi langit. "Saat ini saat yang subur untuk mencurigai satu sama lain. Saya berharap kita tidak masuk ke dalam perangkap pikiran yang nista, yang menjijikkan."

"Maafkan adikmu yang picik, Kakang."

"Jangan salah terima. Saya hanya tak ingin kita terseret arus pertikaian yang sekarang muncul. Saya percaya sepenuhnya padamu. Kalau tidak, saya akan bertanya-tanya, apakah mungkin seorang Mpu Renteng bisa dikalahkan dalam satu gebrakan? Sungguh tak masuk akal, bukan? Sebaliknya, saya pun bisa dicurigai mengapa sampai gagal menjaga Permaisuri."

"Kakang Sora sungguh bijak."

Mereka berdua meneruskan perjalanan dengan berdiam. Akan tetapi setelah sekian lama berputar-putar, tak menemukan satu bayangan pun. Akhirnya mereka berdua berhenti di tengah. Mpu Sora bersila. Mpu Renteng bersila di sebelahnya.

"Malam ini, kami berdua, Sora dan Renteng, datang mengganggu Perguruan Awan. Kami menyadari kekeliruan ini, tetapi kami tak bisa berbuat lain. Mohon penghuni bersedia meluangkan waktu menerima kami." Perlahan suaranya, namun menggeletar.

Diam-diam Mpu Renteng memuji penguasaan tenaga dalam yang sempurna. Lama menunggu. Mpu Renteng memuji tata cara Mpu Sora yang tidak mengulangi sapaannya. Sekali saja sudah cukup. Hanya binatang malam yang menyambut gema. Selebihnya sepi. Baru kemudian terlihat sebuah bayangan mendekat.

Mpu Renteng sedikit bercekat, karena melihat bayangan yang aneh. Baru setelah agak dekat, Mpu Renteng mengetahui bahwa yang tadi kelihatan aneh adalah bayangan seorang yang masih kecil, masih pendek tubuhnya, hanya rambutnya yang terurai beriap-riap. Bayangan itu berhenti pada jarak lima tombak.

"Maafkan kami, Putri Ayu Tri."

Bayangan itu memang bayangan Gendhuk Tri. Yang tak banyak berubah semenjak Mpu Sora mengenal dulu. Seorang gadis yang baru tumbuh. Dengan rambut yang kini diurai.

"Huh, siapa menyuruh Paman memanggilku dengan sebutan Putri Ayu Tri? Aku bukan putri, dan aku tidak ayu."

Mpu Sora mendongakkan wajahnya. Tersenyum sebagai seorang bapak kepada anaknya. "Syukur kamu bermurah hati mau datang dan masih mengenali kami."

"Siapa bilang aku bermurah hati? Kebetulan aku lewat dan kalian berteriak seenak perut sendiri, seolah ini bukan rumah orang. Siapa bilang aku mengenali kalian? Bagiku semua orang Majapahit sama saja bentuk wajahnya."

Mpu Sora berdiri. "Sampaikan salamku, salam kami, kepada Anakmas Upasara."

"Baik. Sudah?"

Mpu Renteng tak begitu mengenal Gendhuk Tri. Dalam hati menebak-nebak bagaimana mungkin anak gadis yang masih begini bocah meskipun barangkali usianya sudah dua belas atau tiga belas tahun bisa begitu kurang ajar sikapnya. Akan tetapi Mpu Renteng cukup kenyang pengalaman bahwa dalam dunia silat akan lebih banyak lagi ditemui sifat-sifat yang tidak biasa.

"Yang kedua, kami ingin minta tolong mencari tahu di mana Permaisuri Gayatri berada."

Gendhuk Tri membuang wajah. Sedikit-banyak Mpu Sora tahu bahwa kalimat itu membuat Gendhuk Tri tidak suka. Mpu Sora mengetahui bahwa hubungan Gendhuk Tri dan Upasara Wulung sangat dekat sekali. Selalu bersama-sama. Hanya tertunda sementara sewaktu Upasara bertemu dengan Gayatri. Sejak itu Gendhuk Tri tak pernah mau melirik sedikit pun. Mpu Sora mengetahui bahwa ini semua seperti kecemburuan kecil-kecilan, yang biasa terjadi pada gadis seusia Gendhuk Tri. Namun Mpu Sora tak bisa menemukan kata lain.

"Cari saja sendiri. Masa senopati dari Majapahit yang kondang tak bisa?"

"Karena penculiknya lari ke dalam hutan, kami ingin minta izin."

"Tak perlu izin. Karena kalian juga ikut memiliki hutan ini. Aku cuma numpang tidur, bukan memiliki."

Mpu Sora mengangguk. "Terima kasih kami diizinkan...."

"Siapa bilang mengizinkan. Aku bilang tidak perlu izin."

Mpu Renteng mendehem kecil.

"Mau bicara, bicara saja langsung. Tidak usah pakai dehem kecil-kecilan."

"Namaku Mpu Renteng."

"Aku tidak peduli kamu empu atau bukan."

"Aku datang menjalankan tugas Baginda untuk mengantarkan Permaisuri Gayatri menemui Upasara Wulung."

Gendhuk Tri tertawa. Keras. "Lalu, kalian berdua menuduh aku menculik Gayatri? Karena aku tak suka padanya? Kalian jelas keliru. Kalau aku tak suka pada orang, aku sungguh tak peduli. Mau nungging mau jumpalitan, tak ada urusannya denganku. Cukup puas?"

"Cukup," jawab Mpu Sora. "Bagaimana kalau aku menemui Anakmas Upasara?"

"Boleh saja. Cari sendiri. Aku masih banyak urusan."

Gendhuk Tri baru mau membalikkan tubuh ketika terdengar suara-suara di kejauhan. Mpu Sora dan Mpu Renteng memiringkan kepala ke arah datangnya suara.

"Binatang kampungan mana yang bikin ribut ini semua? Ini saat buat tidur. Bukan bikin perkara."

Belum habis suaranya, Gendhuk Tri sudah melesat masuk ke dalam hutan. Selendangnya berkibaran, dan meninggalkan bau yang sangat amis.

"Racun yang mengeram dalam tubuh anak itu betul-betul ganas. Pada jarak yang begini jauh, saya hampir tak tahan."

"Kita tengok ke sana."

Mpu Sora dan Mpu Renteng menuju ke arah datangnya suara. Ke bagian yang dekat alun-alun. Ternyata suara-suara itu berasal dari beberapa prajurit yang mengelilingi seorang lelaki sudah berumur. Berada di tengah lingkaran, lelaki setengah umur itu diikat kedua tangannya.

"Bunuh saja sekarang."

Mpu Sora lebih kaget lagi karena ternyata mengenali Dyah Pamasi ada di antara para prajurit. Ini berarti ada utusan resmi dari Keraton. Karena Dyah Pamasi, seperti juga Dyah Palasir, resminya bertugas di Keraton. Pasti tidak begitu saja meninggalkan Keraton. Tapi siapa yang mengutus dan apa yang terjadi?

Taktik Menjebak Harimau

APA yang disaksikan Mpu Renteng dan Mpu Sora membuat mereka bertanya-tanya dalam hati. Kalau sampai para prajurit pilihan yang merupakan prajurit kawal Baginda keluar dari Keraton, dan ini tanpa diketahui Mpu Sora yang juga ditugaskan ke Perguruan Awan, pasti termasuk tugas yang wigati, sangat penting. Lagi pula prajurit yang dipimpin Dyah Pamasi bergerak secara terang-terangan. Mereka bahkan menyalakan obor dan membuat suara gaduh.

Lelaki yang setengah umur itu dalam pandangan Mpu Renteng adalah penduduk biasa. Bukan seorang ksatria atau jago silat. Cara bergerak ataupun mengatur napas tanpa pengendalian. Akan tetapi, meskipun penduduk biasa, Dyah Pamasi merasa perlu mengawasi dan memberi komando secara langsung.

"Kakang Sora, apakah tidak lebih baik kita meneruskan mencari Permaisuri?"

"Agaknya ada perkembangan lain yang memaksa kita menyaksikan sebentar."

"Saya tidak mengerti, Kakang."

"Saya pun belum mengerti. Tetapi kalau rombongan Pamasi sekarang muncul, pasti sejak lama berada di sekitar tempat ini. Nyatanya mereka sama sekali tidak begitu peduli dengan hilangnya Permaisuri. Tak mungkin Palasir tidak bercerita. Tetapi Pamasi lebih suka mengurusi orang tua yang bisa diselesaikan oleh satu prajurit."

Mpu Renteng mengangguk dalam. Kakinya bergerak maju. "Pamasi..."

Dyah Pamasi memberi sembah hormat.

"Siapa nama lelaki tua ini, dan apa salahnya sehingga seluruh prajuritmu menangkap?"

"Kami sedang melakukan perjalanan keliling melihat suasana keamanan."

Mpu Renteng mengernyitkan alisnya. Tugas pengamanan tentunya tidak sejauh ini meninggalkan Keraton.

"Di desa Karang Asem kami diracuni oleh seorang ini yang mengaku bernama Toikromo. Hukuman bagi pembunuh seorang prajurit adalah..."

Mendadak terdengar pekikan nyaring.

"Apa benar orang itu bernama Toikromo?"

Itu suara Gendhuk Tri. Tubuhnya tetap kecil. Rambutnya terurai, kain kemben sebatas dada nampak lebih jelas dalam cahaya obor. Selendang berkibar, seperti mengisyaratkan bisa disabetkan setiap saat.

Pamasi menggerakkan tangannya, dan seketika itu juga semua prajurit membentuk lingkaran Supit Urang, atau Sepit Udang. Mpu Renteng mundur dua tindak. Ternyata semua prajurit dalam keadaan siap tempur.

"Aku tanya apakah benar ia bernama Toikromo? Apa kalian semua tuli dan bisu sekaligus?"

Dyah Pamasi memberi hormat kepada Mpu Renteng sekilas, lalu berbalik menghadapi Gendhuk Tri.

"Siapa kamu dan apa urusanmu campur tangan?"

Gendhuk Tri mengibaskan selendangnya, bagai seorang penari melakukan seblakan. Kibasan yang lembut, enteng. Namun Dyah Pamasi merasakan getaran yang kuat menerpanya. Dan juga bau amis busuk yang menyengat.

"Kamu sudah datang kemari, pasti sudah tahu siapa aku. Prajurit sebodoh kamu untuk apa dipekerjakan?"

Gendhuk Tri tersenyum mengejek sambil melangkah maju. Dua prajurit yang berada di depan berusaha menahan dengan tombaknya. Gendhuk Tri sama sekali tak memperhatikan. Selendangnya mengibas ke arah dua ujung tombak, melibat, dan dengan sentakan lewat pinggang, dua tombak itu melayang. Dua prajurit itu tersungkur. Dyah Pamasi mencabut kerisnya.

"Aku peringatkan kamu, jangan sampai menyentuh kulitku, atau tersentuh kulitku. Malaikat dan segala hantu pun tak bisa menolongmu."

"Jangan memaksa aku bertindak kasar."

Mpu Sora meloncat maju. Tangannya mengibas ke arah Dyah Pamasi. Baik Mpu Sora maupun Mpu Renteng mengetahui bahwa Gendhuk Tri tidak main-main. Apa yang dikatakan bisa terjadi. Menyentuh kulit Gendhuk Tri, apalagi sampai melukai, bisa berarti maut. Karena saat itu pasti Gendhuk Tri sudah bisa melukai. Dan dengan tubuh yang menyimpan segala jenis racun, Pamasi tak akan tertolong jiwanya.

Mpu Sora tahu bahwa Gendhuk Tri memiliki racun dalam tubuhnya. Sedemikian kuat racun itu sehingga sampai sekarang belum ada yang bisa menyembuhkan. Konon racun itu terserap sendiri ke dalam tubuhnya, dari beberapa tokoh silat yang tadinya menggunakan senjata racun. Termasuk dari Dewa Maut, yang sekarang jadi tidak mempunyai tenaga lagi.

"Pamasi, di hutan ini tak boleh berbuat gegabah. Ini bukan tempat yang baik untuk melaksanakan hukuman. Lebih baik kita mencari tempat lain."

Meskipun dongkol, Pamasi menghaturkan sembah sambil mengangguk.

"Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku. Jawab dulu, apakah benar lelaki itu Toikromo?"

"Kalau iya, kamu mau apa?"

"Aku mau kamu minta maaf padanya, melepaskan sekarang juga, meminta maaf lagi sambil menjilat kakinya. Kalau Pak Toikromo memberimu ampunan, aku cuma mau potong telingamu. Kalau tidak, kamu tinggal pilih. Mati perlahan, atau yang thek-sek, langsung."

"Kamu apanya Toikromo?"

"Aku baru mengenal sekarang."

"Kamu tahu kesalahannya?"

"Apa pun kesalahannya, lepaskan sekarang."

Mpu Sora jadi merasa serbasalah. Ia menyuruh Pamasi menahan diri, akan tetapi ternyata Gendhuk Tri merangsek maju. Kalau ia membiarkan saja, berarti membiarkan Pamasi menanggung malu. Biar bagaimanapun, itu tak boleh terjadi. Pamasi adalah prajurit Keraton, sama dengan dirinya.

Kalau ia melarang Gendhuk Tri, masalahnya akan berkembang ke arah pertarungan. Gendhuk Tri pasti tak akan mundur. Mpu Sora sama sekali tidak gentar menghadapi Gendhuk Tri. Walau tubuhnya dipenuhi racun yang bisa menular, mana mungkin Mpu Sora menjadi jeri? Mendadak terbersit sesuatu dalam pikirannya. Dyah Pamasi agaknya sengaja memamerkan cara menghukum Toikromo. Justru untuk mengundang perhatian penghuni Perguruan Awan. Agar mereka muncul.

Jadi ini seperti taktik memasang "jebakan harimau". Seperti kebiasaan para raja jika ingin berburu harimau. Yang menjadi umpan adalah manusia yang dimasukkan ke dalam sangkar jebakan. Harimau akan datang mendekat, dan saat itulah ditikam beramai-ramai. Memang dengan demikian mengorbankan nyawa manusia—bila terlambat, akan tetapi memang diperlukan umpan yang berarti untuk tangkapan yang lebih berarti. Nah, kalau Toikromo ini sebagai umpan jebakan, tak sulit menduga siapa yang dianggap "harimau". Pasti Upasara Wulung!

Taktik ini sesuai kalau diingat bahwa yang sekarang dikerahkan adalah prajurit pilihan dari Keraton. Dan memang saat ini Baginda Raja ingin memancing Upasara Wulung keluar dari sarangnya! Kalau ini benar, Mpu Sora masih tetap bertanya-tanya. Siapa yang memasang perangkap ini? Bukankah Baginda sudah memerintahkan pendekatan melalui Permaisuri Gayatri?

Apakah Baginda menitahkan dua perintah sekaligus, agar terjamin pelaksanaannya? Masuk akal, walau bisa dipertanyakan. Yang lebih pelik lagi jika rombongan Dyah Pamasi ini tidak mendapat perintah langsung dari Baginda. Akan tetapi dari seseorang yang pastilah mempunyai pengaruh besar terhadap Baginda. Seseorang yang dekat itu sangat mungkin sekali Mpu Nambi, pemimpin prajurit telik sandi. Kalau benar begitu, Mpu Nambi memang luar biasa. Taktiknya memasang umpan Toikromo sangat berhasil! Nyatanya Gendhuk Tri menjadi begitu geram.

Mpu Sora sejauh ini tidak mengetahui apa hubungan lelaki penduduk desa biasa dengan Upasara Wulung. Dan nyatanya Mpu Nambi—kalau benar dia— mempunyai perhitungan yang matang. Mampu memilih umpan yang terbaik. Yang tak diketahui oleh Mpu Sora ialah bahwa sesungguhnya Gendhuk Tri juga tak pernah mengenal Toikromo! Makanya tadi bertanya lebih dulu.

Meskipun tak mengenal, Gendhuk Tri mendengar hubungan antara Toikromo dan Upasara Wulung. Dulu sewaktu Upasara Wulung menyusup ke Keraton Singasari, yang baru saja dikuasai Raja Muda Jayakatwang, ditolong oleh penarik pedati bernama Toikromo. Penduduk desa yang lugu ini tertarik kepada Upasara Wulung, dan berniat mengambil menantu. Toikromo sama sekali tak mengetahui siapa sesungguhnya pemuda yang ikut membonceng pedatinya.

Gendhuk Tri mendengar perkawinan putri Toikromo dengan Upasara Wulung. Malah ketika Upasara Wulung menghilang, Gendhuk Tri menduga jadi menikah. Maka dengan disebutnya nama Toikromo cukup mempunyai arti bagi Gendhuk Tri. Apalagi kini dalam keadaan bahaya.

Tembang Dini Hari

GENDHUK TRI bisa mudah mengenal Toikromo walau Pamasi hanya menyebutkan satu kali. Sepanjang hidupnya, Gendhuk Tri tak banyak mengenal nama orang. Boleh dikatakan ia hanya berhubungan dengan sedikit nama dan sedikit orang. Sejak kecil, bahkan sebelum ingat benar siapa orangtuanya, ia sudah dititipkan di dalam Keraton. Untuk dilatih menjadi penari Keraton.

Ia diculik dari Keraton oleh seseorang yang sama sekali tak dikenalnya, dan baru kemudian menjadi gurunya. Yang baru belakangan diketahuinya sedikit adalah asal-usul gurunya, yaitu Jagaddhita, salah seorang penari Keraton Singasari, kekasih Baginda Raja Sri Kertanegara. Demikian juga hubungannya dengan Mpu Raganata yang perkasa, yang ternyata juga gurunya.

Sejak itu Gendhuk Tri berkelana atau belajar ilmu silat. Sampai akhirnya merasa mempunyai seorang kakak, seorang lelaki yang dikagumi, yaitu Upasara Wulung. Apa yang menjadi perhatian Upasara Wulung, dengan sendirinya menjadi perhatian Gendhuk Tri. Hanya karena adatnya sejak kecil tak banyak mengenal tata krama, sikapnya berbeda dari kebanyakan orang pada usianya.

"Anak Tri," kata Mpu Sora perlahan. "Kita bisa membicarakan dengan tenang. Saya menjamin bahwa Pak Toikromo tak akan menderita sedikit pun tanpa sepengetahuanmu."

"Aku tak peduli. Aku mau ia dilepaskan sekarang juga."

"Sebentar lagi pagi datang. Kita bisa saling bicara dengan tenang."

"Oho, kok enak ya? Bukankah komplotan kalian ini yang bikin perkara malam hari?"

Mpu Renteng pun merasa Gendhuk Tri sangat kurang ajar! Mpu Sora sudah merendahkan diri dan bicara dengan bahasa halus. Akan tetapi ditanggapi dengan sikap seadanya, tanpa sopan santun sedikit juga, nada bicaranya tetap sengit. Kalau Mpu Sora menahan diri, bukan karena semata-mata jiwanya lebih dewasa. Mpu Sora mengetahui bahwa Toikromo adalah umpan yang tak boleh dilepaskan begitu saja. Tetapi menahan dengan membabi buta bisa menimbulkan persoalan baru, yang memperkeruh suasana yang ada. Kalau tidak hati-hati menangani, bisa bubrah semuanya.

Sejak menginjak Perguruan Awan, terjadi berbagai peristiwa saling susul. Serangan dua pendekar yang menutupi wajahnya karena takut dikenali. Yang ternyata mengetahui situasi dengan baik. Sehingga bisa menculik Permaisuri. Siapa mereka, dan apa maksud mereka, masih tetap gelap.

Hal ini juga bisa dikaitkan dengan munculnya Dyah Pamasi dan tawanannya yang bernama Toikromo. Pasti bukan kebetulan kalau Dyah Pamasi menemukan Toikromo yang akan meracuni prajurit. Alasan yang kurang masuk akal anak kecil sekalipun! Yang menjadi persoalan, siapa yang mengirim mereka? Kalau tadinya Mpu Sora menduga ini semua dari Mpu Nambi, bisa diragukan sendiri. Kenapa bukan menyuruh senopati yang lebih tangguh? Kenapa Dyah Pamasi? Bukankah Dyah Palasir bisa ditugaskan khusus untuk ini daripada sekadar menemaninya? Makin diurai, makin banyak tanda tanya.

"Di jagat ini ada begitu banyak nama Toikromo. Apakah ini benar-benar Toikromo yang ingin Anak Tri bebaskan?" Cerdik sekali Mpu Sora membuat Gendhuk Tri ragu.

"Mana aku tahu?"

"Kalau begitu..."

"Kalau begitu bebaskan dia lebih dulu." Gendhuk Tri bertolak pinggang. "Kalau ternyata keliru, ya ikat lagi."

Tangan kiri Gendhuk Tri bergerak. Selendangnya mengibas. Dyah Pamasi berdiri menghadang. Kibasan selendang ditangkis, dan ia mencabut keris dalam waktu yang bersamaan. Ujung selendang memang tertangkis, arahnya berubah. Akan tetapi, kembali bergerak maju. Menutupi keris Pamasi. Dengan satu sentakan, Gendhuk Tri berusaha membetot. Tubuhnya melayang ke atas, berputar di udara.

Pamasi tersedot, sehingga tubuhnya ikut melayang ke atas. Karena enggan melepaskan pegangan kerisnya, sambil melayang tangan kirinya menyodok pinggang Gendhuk Tri. Hanya saja karena tubuh Gendhuk Tri berbeda dari wanita dewasa, jadinya tonjokan ke arah dada. Gendhuk Tri menangkis dengan berusaha menggenggam tangan Pamasi. Semua terjadi di tengah udara.

Mpu Renteng menahan napas. Ia secara khusus mempelajari memainkan ujung kain dengan penyaluran tenaga. Tak jauh berbeda dari Gendhuk Tri. Untuk ini memerlukan latihan yang cukup lama. Maka cukup mengherankan bahwa Gendhuk Tri yang masih bocah ini bisa memainkan tenaga yang disalurkan lewat selendang. Kalau Mpu Renteng mengetahui Gendhuk Tri termasuk murid Mpu Raganata, barangkali rasa kagumnya bisa berkurang.

Enteng Gendhuk Tri melayang turun, dengan ujung selendang masih melibat keris Pamasi. Seorang prajurit yang mencoba maju terpelanting kena sabetan tangan Gendhuk Tri. Wajahnya tergores luka. Sebelum matanya bisa membelalak sempurna, ajalnya sudah sampai! Racun dari segala racun! Seakan merambat lebih cepat daripada aliran darah.

Pamasi nggragap juga. Ia mengetahui bahwa Gendhuk Tri menyimpan racun dalam tubuhnya, akan tetapi di luar dugaannya bahwa racunnya begitu ganas. Sudah barang tentu kalau yang terkena goresan Dyah Pamasi, racun itu tak akan menjalar begitu cepat. Pamasi mempunyai daya tolak dari dalam yang lebih kuat. Tapi ini membuat Pamasi sempat goyah. Mengetahui kekuatan di tangan Pamasi maju-mundur, Gendhuk Tri mengentak sekali lagi.

"Lepas!"

Gendhuk Tri menyendal lagi, dan kali ini ketika tubuhnya mencelat ke atas, keris itu benar-benar terlepas dari tangan Pamasi. Pamasi mengikuti tarikan dan sekali lagi ikut melambung. Keris memang terlepas, akan tetapi ketika turun bisa disambar kembali dengan sentuhan sikunya. Begitu turun di tanah, Pamasi berdiri di depan Toikromo.

"Kamu punya racun sehingga aku tak berani menyentuh. Tapi kamu juga tak berani menyentuhku."

"Kamu kira aku takut maju?"

Mpu Sora menahan napas. Kalau sama-sama nekat, pertumpahan darah tak bisa dicegah. Tapi terlambat untuk bertindak.

"Gendhuk, ke mana saja kamu main?" Terdengar suara yang lembut, dingin, dan enak di telinga. Gendhuk Tri tertawa.

"Ini ada permainan menarik, Pak Gundul. Ayolah kemari, daripada mengeram terus."

Yang dipanggil Pak Gundul memang benar-benar gundul, bertubuh gemuk bulat. Tak sehelai rambut pun tumbuh. Pakaian yang dikenakan juga asal menempel saja.

Mpu Sora dan Mpu Renteng memberi hormat dengan membungkukkan badannya. "Maaf, Kisanak Jaghana...."

"Saya yang seharusnya minta maaf. Maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu begini banyak. Gendhuk Tri, kemarilah sebentar."

"Tidak mau."

"Kalau aku yang meminta juga tidak mau?"

Sesosok bayangan tinggi besar datang. Gagah dengan rambut yang diikat kain secara serampangan. Di tangannya tergenggam tongkat yang mengilat.

Mpu Sora mengangguk hormat. Berarti dugaannya benar. Toikromo adalah umpan yang tepat untuk menjebak keluarnya harimau. Kini boleh dikatakan sudah kelihatan ekor dan kakinya.

Yang baru muncul adalah Galih Kaliki. Dan jika Galih Kaliki, Jaghana, serta Gendhuk Tri sudah keluar, berarti semua tokoh penting yang mengeram di dalam Perguruan Awan sudah terpancing. Tinggal Upasara Wulung! Yang pasti akan muncul juga kalau suasana makin panas. Meskipun tidak setuju cara Pamasi, diam-diam Mpu Sora mengakui bahwa cara menekan Toikromo menyebabkan isi hutan keluar.

Mpu Renteng menghitung sendiri. Dari yang diketahui, mereka yang masih berada di dalam adalah Wilanda, yang mempunyai ilmu terbang capung. Namun beberapa saat lalu tenaga dalamnya terluka, sehingga tidak terlalu berbahaya. Juga Dewa Maut, yang untuk sementara muncul atau tidak, tak akan mengubah situasi. Juga Nyai Demang yang konon banyak membuat lelaki tergila-gila padanya.

"Di mana Kakang?"

"Sebentar lagi," jawab Jaghana.

"Masih ingin nembang sambil melihat matahari?"

"Gendhuk Tri, jangan bicara sembarangan."

"Sembarangan apanya? Bagi kalian Kakang adalah guru. Tapi bagiku Kakang adalah Kakang. Kalian mau apa?"

Mpu Sora dan Mpu Renteng saling pandang secara tak sengaja. Benar! Upasara Wulung bakal muncul bersama fajar.

Angin Asing, Angin Pesisir

UNTUK sementara keadaan menjadi lega. Mpu Sora menduga bahwa jika fajar datang dan Upasara Wulung muncul, segala persoalan bisa selesai. Namun di saat embun masih mengental, yang muncul bukan Upasara Wulung. Melainkan bayangan yang bergerak sangat cepat. Berupa rombongan berkuda.

Yang berada di depan seorang lelaki gagah, berdiri di atas punggung kuda. Dengan umbul-umbul atau panji-panji berupa bendera kecil hitam bergambar kepala kuda. Siapa lagi kalau bukan Adipati Lawe?

Mpu Sora mengenali panji pengenal keponakannya. Apalagi caranya menunggang kuda hitam legam dengan berdiri tegak di atas punggung. Begitu mendekat ke lapangan, tubuh gagah di atas pelana kuda itu melayang ke atas, dan turun di tanah tidak menimbulkan suara. Tangannya yang kukuh dilingkari gelang hitam diukir kepala kuda bergerak sangat lugas. Menyentak tali pengikat tangan dan kaki Toikromo. Dan kaki kirinya bergerak seperti mengatur langkah, akan tetapi sambil menendang tiang di mana Toikromo terikat.

Kayu yang berasal dari pohon itu mencelat ke atas, dan turun tepat di atas kepala Adipati Lawe. Yang justru mengangkat tangannya. Tidak meninju atau melemparkan ke atas, akan tetapi menyambut bagian di bawah siku. Kayu itu mengeluarkan suara detakan, seakan ranting kering yang terinjak.

Mpu Sora sedikit berubah wajahnya. Adipati Lawe tak pernah berubah. Atau malah bertambah. Sikapnya selalu menggebrak pada pemunculannya pertama. Dibandingkan dengan setengah tahun lalu, Adipati Lawe memperlihatkan kemajuan dalam mengolah tenaga. Batang pohon menjadi retak hanya dengan diterima sebelah tangan. Keretakan batang pohon itu disebabkan oleh derasnya jatuh ke bawah dan membentur benda keras. Bukan karena Adipati Lawe sengaja memecahkan.

"Bagus. Bagus. Ini tontonan yang menarik."

Galih Kaliki berteriak nyaring. Tongkat galih asem dipegang erat-erat, sementara kepalanya mengangguk-angguk. Tangannya menjadi gatal ingin menjajal. Bisa dimengerti kalau Galih Kaliki yang bereaksi pertama. Dalam banyak hal Galih Kaliki mempunyai persamaan. Ia juga berbadan tinggi besar, kukuh, adatnya keras, kurang bisa basa-basi. Lebih dari itu, dasar-dasar ilmu silatnya juga mengandalkan tenaga luar. Makanya seperti menemukan teman yang sangat cocok dan diharapkan.

"Sungguh bukan lelaki jantan kalau berlindung di balik sifat perempuan. Kalau ingin memaksa Upasara keluar dari balik semak, untuk apa menyiksa lelaki tua?"

Tandas bicaranya, keras nadanya. Adipati Lawe tak pernah mengatakan merah kalau yang dimaksudkan merah muda. Tak akan menyebut ular sebagai cacing besar. Juga tak akan memedulikan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memberi sembah hormat lebih dulu kepada pamannya atau kepada Mpu Renteng. Langsung ke pokok persoalan.

"He, orang pesisir yang keringatnya bau asin, jangan buka mulut sembarangan. Sejak kapan kamu meremehkan wanita? Kamu pikir kamu dilahirkan dari kuda jantan?" Gendhuk Tri yang tersinggung dengan perumpamaan sifat perempuan itu.

Adipati Lawe memandang ke arah Gendhuk Tri. Tangan kanannya teracung ke angkasa. "Tongkring!”

Pengikut yang datang bersama kaget. Ucapan tongkring dari Adipati Lawe tidak mempunyai arti apa-apa, pun andai dicari dalam kamus yang paling kuno. Ucapan ini menjadi pertanda bahwa sang adipati dari pesisir sedang meluapkan segala emosinya. Dalam keadaan murka besar, kata itu pula yang terucapkan.

Kalau para pengikutnya menduga junjungannya murka besar, juga masuk akal. Senopati perang yang garang, bagaimana mungkin dicerca oleh seorang bocah dengan sindiran keringatnya bau asin, dan lahir dari seekor kuda jantan.

"Aku tidak bermaksud mengatai kamu, Gendhuk Tri. Maaf."

Mpu Renteng tak menduga bahwa Adipati Lawe bisa mengucapkan maaf secara terbuka. Tapi Gendhuk Tri melengos.

"Mana mungkin kamu berani mengatai aku? Kamu mengatai perempuan, bukan aku. Kalau kamu berani mengatai diriku, aku paksa kamu menggendong kudamu."

"Aha, rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara galak. Kamu baik-baik saja selama ini?"

"Aku baik atau buruk, apa hubungannya dengan kamu? Jangan kira dengan membebaskan Toikromo kamu bisa sesongaran seenak perutmu."

Dikatakan sesongaran atau mengobral kesombongan, Adipati Lawe malah tertawa lebih keras. Wajahnya berseri menunjukkan rasa puas. "Kalau begitu, aku ingin bertanya bagaimana kabarnya kakangmu?"

Gendhuk Tri terhibur dan merasa senang karena Upasara Wulung disebut sebagai "kakangmu". Berarti dirinya dianggap sangat dekat. Kakangmu, bisa berarti kakakmu, tetapi juga bisa berarti kakak istimewamu!

"Jauh-jauh dari pesisir kamu datang hanya untuk menanyakan kabar Kakang?"

Pertanyaan itu sebenarnya juga terucapkan Mpu Sora dalam hati. Kenapa keponakannya ini mendadak menyusul ke Perguruan Awan? Angin apa yang mendorongnya? Meskipun Mpu Sora tahu keponakannya ini sering kali bertindak tanpa berpikir panjang, akan tetapi pasti bukannya tanpa alasan kuat kalau sampai ia muncul.

Karena ini berarti ia meninggalkan Kadipaten Tuban. Wilayah pesisir utara yang penguasaannya diserahkan ke dalam tangannya. Adipati Lawe, yang sebenarnya tetap lebih suka menyebut dirinya Ranggalawe, adalah patih amancanegara. Patih yang mewakili Keraton Majapahit untuk satu daerah tertentu.

Kalau sampai menyempatkan diri muncul, ini berarti kabar mengenai Baginda Raja akan mengangkat Upasara Wulung sebagai mahapatih sudah sejak lama menyebar. Karena diperlukan waktu untuk datang ke Perguruan Awan. Diperlukan waktu yang lebih lama daripada kalau berangkat dari Majapahit. Apa sebenarnya maksud kedatangannya?

Mpu Sora sempat agak was was. Putra Aria Wiraraja yang satu ini secara lugas dialiri darah Madura. Kalau ia tidak setuju dengan pengangkatan Upasara, ia akan menyuarakan secara terbuka. Walau itu berarti menentang Baginda Raja. Sungguh suatu sikap yang sangat berbahaya.

"Aku sengaja datang dari pesisir yang anginnya asin untuk menemui kakangmu. Aku bukan datang untuk pelesir. Kalau aku datang untuk menemui kakangmu, aku tidak suka memaksa lewat orang lain. Suruh kakangmu itu keluar atau hutan ini kuratakan jadi sawah."

"Bagus. Tapi bagaimana kalau kita bermain sebentar, Lawe? Rasanya sudah lama juga aku tidak melatih tongkat bobrok ini. Sejak pertempuran dengan orang Tartar itu kita tak pernah bertempur betulan. Selama ini hanya main-main saja."

"Aku terima tantanganmu, Galih."

"Bagus, di mana kamu pilih tempatnya?"

"Di sini juga pantas." Jaghana membungkuk. "Masih banyak waktu untuk gebuk-gebukan. Kita ini jelek-jelek tuan rumah."

Wajah Galih Kaliki berubah kesal. "Jaghana, kamu ini bagaimana. Aku kan tuan rumah yang baik. Ada ksatria datang, aku suguhi ilmu. Lawe, kita cari tempat lain saja."

Kalau Galih Kaliki memanggil Jaghana dengan sebutan nama langsung, itu berbeda dengan ketika memanggil Adipati Lawe. Dengan Adipati Lawe, Galih Kaliki kira-kira seumur. Dengan Jaghana jelas kalah tua. Akan tetapi ini tidak menunjukkan kekurangajaran. Ini lebih menunjukkan kesejajaran tingkat. Bagi Mpu Sora, yang sedikit-banyak mendengar keanehan tata cara Perguruan Awan, hal ini tidak aneh.

"Lawe, anakku," kata Mpu Sora lembut. "Kalau Kisanak Jaghana ingin menerima kita, kenapa kita ribut-ribut?"

Adipati Lawe mengangguk hormat. Mundur dua tindak. "Maafkan kekurangajaran anak saya dan seluruh pengiringnya."

Jaghana ganti membalas membungkuk tubuhnya. "Kisanak Mpu Sora, jangan membuat kami merasa makin sungkan. Kamilah sesungguhnya yang lebih pantas meminta maaf."

Gendhuk Tri tertawa mengikik. "Wah ini baru tata cara orang tua. Soal siapa yang bersalah saja rebutan." Lalu membalik ke arah Adipati Lawe. "He, Adipati Pesisir, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu mencari Kakang?"

"Aku mau bilang agar kakangmu mau menjadi mahapatih."

Mpu Sora bernapas lega. Ternyata Adipati Lawe justru mempunyai jalan pikiran yang sama. Tapi Gendhuk Tri malah membanting kakinya ke tanah.

"Kamu tak pantas meminta Kakang mau menerima atau tidak."

Senopati Pamalayu

GANTI Adipati Lawe yang membanting kakinya ke tanah. Telapak kakinya amblas ke dalam sebatas kemiri. Meskipun tanah di bawahnya bukan tanah keras, akan tetapi membuat kaki amblas hingga tungkai memperlihatkan keunggulannya. "Aku tak mau berdebat dengan perempuan.

"Mau atau tidak, aku tetap akan memaksanya."

Gendhuk Tri memandang ke langit. Menganggap enteng tantangan Adipati Lawe.

"Dasar perempuan, cerewetnya tak bisa hilang."

Kedua tangan Gendhuk Tri mendekat ke arah selendang. "Mungkin benar aku cerewet. Tetapi aku tetap lebih jantan daripada kamu. Aku tidak membawa rombongan begitu banyak sehingga Keraton menjadi kosong. Kalianlah yang tak pernah berubah. Prajurit Majapahit ternyata dari dulu suka main keroyokan. Kamu kira kami semua ini gentar? Kalau ingin merasakan cakaranku, silakan maju secara keroyokan."

Mpu Sora sadar bahwa kata-kata Gendhuk Tri ditujukan kepada rombongan yang baru datang. Berbaris secara teratur dan langsung mengambil tempat yang kosong, mengurung pertemuan. Dalam cahaya yang mulai terang oleh alam, Mpu Sora tidak segera mengenali bahwa ternyata rombongan prajurit yang baru datang memang prajurit dari Majapahit. Yang dipimpin langsung oleh Senopati Anabrang!

Mpu Renteng yang mengenali pertama tak bisa menahan rasa herannya. Bibirnya mengeluarkan desis perlahan. Ini benar-benar ganjil. Begitu banyak rombongan dari Keraton. Pertama rombongannya sendiri dengan Permaisuri Gayatri. Kedua rombongan Dyah Pamasi dengan tawanan Toikromo. Kemudian disusul Adipati Lawe dengan prajurit yang datang dari pesisir. Dan kini rombongan yang dipimpin Senopati Anabrang.

Jelas bahwa dirinya, Dyah Pamasi, maupun Senopati Anabrang tak mungkin bergerak tanpa perintah yang datang dari atas. Ini berarti ada tugas. Yang menjadi pertanyaan: Siapa yang menitahkan ini semua? Apakah juga Baginda Raja? Kalau benar begitu, kenapa tidak menyatu sejak semula?

Dugaan Mpu Renteng membuat perasaannya menjadi kebat-kebit. Baru sekarang ini begitu banyak tugas yang sama, akan tetapi ternyata tidak saling mengetahui. Mpu Renteng bisa melihat wajah Senopati Anabrang yang heran dan bertanya-tanya. Berarti ia juga tidak menduga.

Senopati Anabrang bukan sembarang senopati. Begitu banyak senopati pilihan, akan tetapi Senopati Anabrang tetap mempunyai tempat tersendiri. Ia termasuk panglima yang terhormat, dan disegani oleh Baginda Raja. Senopati Anabrang dengan para prajurit pilihan pada masa Baginda Raja Sri Kertanegara sudah menaklukkan tlatah Melayu. Bahkan ketika kembali membawa dua putri ayu sebagai tanda kemenangan.

Senopati Anabrang pula yang kemudian menghaturkan dua putri ayu ke hadapan Baginda Raja Kertanegara, sebagai tanda pengabdiannya. Sekaligus pengakuan bahwa Baginda Raja Kertanegara adalah penerus tradisi besar dari Keraton Singasari. Pengakuan ini membuat kemenangan tersendiri bagi Baginda Raja. Hingga Senopati Anabrang dan para prajuritnya mempunyai beberapa keistimewaan. Senopati Anabrang tidak di bawah senopati atau juga adipati yang lain. Pangkatnya sama dengan para adipati yang lain. Sama seperti patih yang lain. Hierarki kekuasaannya di bawah garis langsung Baginda.

Akan tetapi, rasanya tidak mungkin kalau Baginda Raja mengirim beberapa senopati secara sendiri-sendiri. Namun sebenarnya, lebih tidak mungkin lagi Senopati Anabrang bergerak sendiri. Kalau begini bisa berarti rombongan yang lain pun akan muncul. Rombongan lain dari Keraton!

Dalam hati Mpu Renteng mulai curiga. Bibit kecurigaan yang ditepis oleh kebijakan Mpu Sora ternyata tak hilang tuntas. Masih menyelinap dugaan bahwa Mpu Nambi-lah yang mengatur semua ini. Karena hanya Mpu Nambi-lah yang bisa berhubungan langsung dengan Baginda. Karena Mpu Nambi yang mengepalai prajurit telik sandi, sehingga tahu tentang segala liku-liku keamanan dan ketertiban Keraton. Andai benar Mpu Nambi yang mengatur, apa maksudnya? Apa maksud-nya membiarkan Keraton kosong tak terjaga?

Mpu Renteng melirik Mpu Sora yang tegak bergeming.

"Saya utusan dari Keraton Majapahit, Mahisa Anabrang minta izin pemilik Perguruan Awan untuk beristirahat. "Sungkem dan segala puji bagi para sesepuh."

Mpu Sora, Mpu Renteng, Adipati Lawe menjawab dengan membungkukkan tubuh.

Cara Senopati Anabrang membawakan diri sangat tepat. Ia meminta izin kepada Perguruan Awan, akan tetapi juga tidak menanggalkan rasa hormat kepada adipati yang lain, yang secara kepangkatan sejajar dengan dirinya.

"Aku berikan izin membuat pondokan di sini, asal kamu serahkan perempuan yang ayu, yang kulitnya putih, pada Galih Kaliki." Jelas Gendhuk Tri berolok-olok.

Senopati Anabrang sama sekali tidak mengenal Gendhuk Tri. Sewaktu ia berangkat ke Melayu, Gendhuk Tri barangkali masih calon penari. Maka kalimat Gendhuk Tri membuatnya mengertakkan geraham.

Gendhuk Tri malah mendesis. Mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya. Mana mungkin Gendhuk Tri mempertimbangkan bahwa sebagai senopati yang pernah menjelajah ke tanah seberang, adat Senopati Anabrang menjadi lebih keras karena hantaman ombak dan badai.

"Tunggu. Aku tidak mau menerima. Bagiku hanya ada satu wanita. Dan aku sudah, hampir, memiliki."

Senopati Anabrang yang tak mengerti duduk perkaranya jadi merasa menghadapi manusia-manusia yang tak keruan jalan pikirannya. Tak terlalu lama meninggalkan dusun kelahirannya, ternyata terjadi perubahan yang tak terbayangkan! Bukan hanya Keraton yang pindah ke Kediri, pindah lagi ke Singasari, dan kini pindah lagi ke Majapahit. Akan tetapi juga manusia-manusia yang ditemui. Perasaan asing ini wajar mengingat Senopati Anabrang banyak menghabiskan waktunya di tlatah seberang yang jauh berbeda adat budayanya.

Mpu Renteng sendiri merasa bahwa ada dua arah yang bertentangan. Satu pihak adalah pihaknya sendiri. Yang mengemban tugas Keraton sehingga nampak tegang dengan satu urusan utama. Di pihak lain, penghuni Perguruan Awan yang membicarakan masalah pribadi. Ribut tak menentu, atau berdiam diri seperti Jaghana.

"Tak kunyana, Perguruan Awan yang mulia dan agung kini dihuni makhluk yang rendah akal budinya."

"Cocok!" teriak Gendhuk Tri. "Termasuk kamu yang sekarang menjadi penghuninya."

Sret.

Senopati Anabrang mencabut pedang panjang dari pinggang kiri dan kanan. Kilatan yang terpantul membuktikan bahwa itu bukan sembarang pedang, dan terawat dengan sempurna.

Bret.

Gendhuk Tri meloloskan selendangnya. Matanya mengeluarkan sorot tantangan. "Aku mau tahu, prajurit macam apa yang membawa panji Singasari ini."

Berkelebat bayangan selendang Gendhuk Tri, langsung menggulung kedua pedang Senopati Anabrang. Yang dengan tenang dan dingin membiarkan begitu saja. Baru ketika Gendhuk Tri mengerahkan tenaga, Senopati Anabrang menyentak keras. Kedua pedangnya terlepas dari genggamannya. Akan tetapi arahnya lurus ke arah dada Gendhuk Tri. Suara serangan yang tiada duanya. Dalam gebrakan pertama sudah menunjukkan kelasnya bahwa Baginda Raja Sri Kertanegara tidak keliru memilihnya sebagai utusan.

Galih Kaliki mendecak. Gendhuk Tri memakai cara lama dengan menjatuhkan tubuhnya. Akan tetapi dengan demikian selendangnya terseret ke belakang karena terdorong oleh ayunan pedang. Dan ketika Gendhuk Tri berusaha menarik, pedang itu membalik. Menusuk dari arah belakang. Semua terjadi dalam kecepatan tarikan selendang. Gendhuk Tri menyadari bahaya dari bagian belakang. Karena tubuhnya berada di tanah, gerakannya menjadi leluasa.

Saat itu Galih Kaliki, kalaupun ingin menolong telah terlambat. Jaghana yang sejak tadi mengawasi, menghela napas berat. Gendhuk Tri menggulung tubuhnya ke arah depan. Mengeluarkan semua kemampuannya untuk menjadikan tubuhnya bagai kapas didera angin. Sehingga bergerak bersama dengan pedang lawan.

Akan tetapi dengan demikian tubuhnya mengarah kepada Senopati Anabrang. Yang dengan mudah bisa menghajar. Dengan pukulan tangan kosong pun, Gendhuk Tri bisa menderita. Tusukan dua pedang dari belakang, dan pukulan dari depan. Gendhuk Tri mengeluarkan tangannya, memeluk. Gawat!

Darah Telah Tumpah

APA yang dilakukan Gendhuk Tri seakan tindakan nekat. Tetapi siapa pun yang menyadari posisinya, tak bisa berbuat lain. Gawat dijawab dengan gawat. Maut dijawab dengan maut. Dengan memeluk lawan, Gendhuk Tri hanya mempunyai satu pilihan. Luka berat bersama atau bahkan mati bersama!

Karena tusukan pedang yang terayun kencang dari belakang tak mungkin dihindari. Pun dengan memeluk kencang Senopati Anabrang, tidak berarti serangan pedang itu buyar. Hanya ia bisa balas menghancurkan.

Ilmu silat Gendhuk Tri tergolong ilmu silat berbahaya. Walaupun kelihatan lembut elok bagai gerakan penari, namun jurus-jurusnya mengandung keampuhan yang dalam. Bisa dimengerti karena jurus-jurus itu diciptakan langsung oleh Mpu Raganata almarhum. Jawara kelas dunia. Di tangan Gendhuk Tri yang miskin pertimbangan, ilmu itu menjadi sangat telengas.

Ini bisa dimengerti, karena Gendhuk Tri tumbuh langsung dalam berbagai pertempuran yang sama ganasnya. Gendhuk Tri menyaksikan betapa Dewa Maut menjadi kehilangan seluruh tenaga dalamnya dan hidup bagai orang linglung. Gendhuk Tri melihat bagaimana gurunya, Jagaddhita, terkubur hidup-hidup di dalam Gua Lawang Sewu. Dan banyak pertempuran berdarah yang pada saat gebrakan sudah melangkah ke titik antara mati dan hidup.

Ditambah lagi keadaan tubuh Gendhuk Tri yang lain dari para pendekar lainnya. Gendhuk Tri secara tidak sengaja telah mengisap berbagai jenis racun nomor satu. Baik racun dari Dewa Maut, maupun asap tubuh Pu'un dari Banten yang terkubur di bawah tanah Gua Lawang Sewu. Dalam keadaan seperti ini, memang setiap gerakannya berarti maut. Ditambah dalam keadaan yang terdesak, Gendhuk Tri benar-benar mengesankan serangan ganas untuk mati bersama tanpa penyesalan! Inilah yang gawat!

Senopati Anabrang, yang kenyang pengalaman menghadapi saat-saat genting, menyadari bahwa jiwanya terancam. Ibarat kata, nyawanya sudah bertengger di ujung bibir. Satu langkah pendek berarti lenyap dari tubuhnya. Adalah di luar dugaannya bahwa Gendhuk Tri akan menubruknya. Sebab pada saat selendang terdorong ke belakang oleh sepasang pedang, Gendhuk Tri bisa melepaskan saja selendangnya. Atau menahan dengan akibat selendangnya tertembus dan sobek. Bukan menyendal balik.

Tapi itulah justru sifat Gendhuk Tri. Sembrono kata-kata yang keluar dari bibirnya, ganas apa yang digerakkan tangannya, maut tak membuatnya bertekuk lutut. Bagi Gendhuk Tri, lebih baik punggungnya ditembus dua pedang daripada melepaskan selendangnya Atau membiarkan selendangnya tersobek! Itu pantang. Gendhuk Tri tak mengenal istilah kalah atau menyerah. Mati lebih bermakna baginya. Maka begitu keadaan mendesak, Gendhuk Tri menubruk Senopati Anabrang dengan kedua tangan siap mencengkeram.

"Tongkring!”

Teriakan Adipati Lawe menunjukkan bahwa ia pun tak menduga akan berakhir dengan serangan yang langsung meminta korban. Bagi Adipati Lawe soal serangan maut bukan hal yang baru. Tetapi walau ia suka mengumbar tenaga, tetap bukan begini caranya.

Dua gebrakan pertama sudah merupakan serangan akhir. Yang namanya Gendhuk Tri benar-benar keras kepala luar-dalam, pikirnya bingung. Yang segera menggeser kakinya adalah Mpu Sora dan Jaghana. Keduanya siaga untuk bergerak pertama jika ada sesuatu yang masih bisa ditolong keluar dari kemelut...

BAGIAN 12CERSIL LAINNYABAGIAN 14