Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Rase Perak
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

JILATAN lidah api bergoyang pelan dipermainkan hembusan angin lembut. Sesekali terdengar bunyi gemeretak suara ranting terbakar. Nyala api itu memang tidak terlalu besar. Namun, cukup untuk menerangi tempat sekitarnya dari kegelapan malam yang menyelimuti. Bahkan, sanggup mengusir nyamuk-nyamuk yang beterbangan mencari mangsa.

Di sekeliling jilatan api unggun itu tampak empat sosok tubuh duduk bersila. Mereka terdiam menatap kobaran api di depannya. Salah seorang dari mereka menjulurkan ranting, menarik keluar benda berbentuk bulat panjang yang bagian luarnya telah hangus terbakar.

“Hm.... Singkong bakar ini memang nikmat sekali...,” gumam orang itu, yang wajahnya terhias kumis tipis. Lelaki itu tengah mengunyah singkong bakar yang baru saja dikeluarkan dari kobaran api. Terdengar suara berkecipak dari mulutnya. Kendati mulutnya membuat gerakan lucu ke kiri kanan karena kepanasan, namun terlihat jelas betapa ia sangat menikmati kehangatan dan kenikmatan singkong bakar itu.

Kenikmatan yang diperlihatkan lelaki berkumis tipis, mengundang kawan-kawannya untuk ikut mencicipi. Mereka menjulurkan ranting, menarik keluar singkong lainnya. Kemudian mencicipinya setelah membelahnya terlebih dulu. Mereka pun menganggukkan kepala. Agaknya, yang dikatakan lelaki berkumis tipis itu bukan bualan belaka.

“Berapa lama lagi kita akan menempuh perjalanan...?” sambil menikmati makanan sederhana itu, salah satu dari mereka mengeluarkan pertanyaan. Dari tatapan matanya yang tertuju ke wajah lelaki berkumis tipis, jelas pertanyaan itu ditujukan kepada kawan di depannya itu.

“Menurut perkiraanku, kita masih akan berjalan kurang lebih setengah hari lagi. Itu pun kalau kita tidak mendapat halangan di perjalanan...,” sahut lelaki berkumis tipis, yang rupanya pimpinan rombongan kecil itu.

“Hm.... Kelihatannya Kakang Danaya mengkhawatirkan sesuatu...?” gumam lelaki lainnya, yang berwajah kurus dan memiliki sinar mata setajam burung elang. Sikap dan pandangannya menunjukkan ia bukan orang sembarangan. Sinar mata itu menyimpan suatu kekuatan besar yang tersembunyi di dalam dirinya.

“He he he...” Lelaki berkumis tipis bernama Danaya memperdengarkan tawa perlahan. Setelah memperhatikan wajah ketiga orang di sekelilingnya, kemudian ia menjawab.

“Apa kalian kira cuma perkumpulan kita yang mendengar berita itu? Tidak demikian ringan tugas yang kita lakukan kali ini, kawan-kawan. Bahkan, bukan tidak mungkin kita telah kedahuluan orang lain. Itu sebabnya, mengapa aku sering mengingatkan kalian agar selalu waspada! Telinga dan penciuman orang-orang kaum rimba persilatan tidak ubahnya binatang buas. Menurutku, berita ini pasti sudah didengar setengah dari tokoh-tokoh persilatan. Dan bukan mustahil darah akan tumpah. Karena apa yang akan kita cari sangat diidamkan oleh orang-orang persilatan. Baik itu dari golongan putih maupun golongan hitam...,” jelas Danaya seraya memperhatikan wajah kawan-kawannya.

“Wah.... Kalau benar demikian, alangkah beratnya tugas yang kita emban ini, Kakang...,” tukas salah satu dari ketiga lelaki itu. Wajahnya menampakkan ketegangan setelah mendengar penjelasan Danaya. Bahkan, sepasang matanya mengerling ke sekitar tempat itu. Ucapan Danaya telah menimbulkan kecurigaan terhadap sekitarnya.

“Hm..., jangan terlalu tegang, Adi Kumbara. Justru karena tugas kali ini sangat berat, maka guru telah mempersiapkan kita dari jauh-jauh hari. Kita telah dilatih dengan ilmu khusus, yang sangat sulit dan tangguh. Untuk itu, kita tidak boleh merasa kecil hati. Walaupun akan banyak muncul saingan-saingan berat. Dengan ilmu yang telah kita miliki, tidak mudah bagi lawan untuk merobohkan kita”

Danaya yang melihat kecemasan dan ketegangan di wajah kawannya mencoba menghibur. Tapi, bukan berarti yang dikatakannya cuma omong kosong saja. Mereka memang telah dibekali sebuah ilmu tangguh untuk melakukan tugas berat itu.

“Kau benar, Kakang!” sahut Kumbara mulai tenang. Keyakinannya pun timbul setelah mendengar perkataan Danaya. Terdengar tarikan nafasnya yang panjang, pertanda kelegaan hatinya.

Dua orang lainnya ikut menganggukkan kepala. Kelihatannya mereka baru sadar setelah mendengar penjelasan Danaya. Kini mereka merasa tenang. Ilmu yang mereka miliki adalah ilmu tangguh yang baru akan mereka peroleh lima tahun kemudian. Hanya karena tugas berat itulah mereka mendapat keistimewaan untuk mempelajarinya.

“Hhh... Malam sudah semakin larut. Sebaiknya kita beristirahat. Aku akan membangunkan kawan-kawan kita yang lain untuk ganti berjaga,” suara Danaya memecah kebisuan yang hanya beberapa saat. Kemudian, lelaki berkumis tipis itu bergerak bangkit dan menghampiri empat sosok tubuh lainnya yang tengah terlelap dibuai mimpi. Rupanya, mereka bukan cuma berempat. Ada empat orang kawan mereka yang lain.

Kumbara dan dua kawannya segera beranjak bangkit. Mereka merebahkan diri di atas rerumputan dengan berbantalan buntalan pakaian. Karena empat kawan mereka yang lain sudah terbangun dari tidurnya. Siap menggantikan mereka untuk berjaga-jaga.

“Oaaahm...” Salah satu dari keempat lelaki itu menguap lebar sambil menggeliat. Tubuhnya dijatuhkan di depan api unggun. Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua tangannya di dekat jilatan api. Udara menjelang dini hari memang terasa semakin dingin menggigit. Apalagi, mereka bermalam di tempat terbuka di tepi sebuah hutan.

“Sebentar lagi fajar akan terbit...,” gumam lelaki bertubuh kekar dengan sepasang mata besar. Sejenak kepalanya tengadah menatap langit yang dihiasi gemintang dan bulan sabit.

Tiga orang lainnya hanya mengangkat kepala menatap langit. Tak satu pun dari mereka yang memberikan tanggapan. Karena ucapan barusan memang tidak memerlukan jawaban.

Tapi, baru saja ketiga lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan di depan api unggun, tiba-tiba datang tiupan angin besar! Api unggun berkobar cepat dan nyaris padam. Tentu saja hal itu mengejutkan mereka. Keempat orang itu saling melempar pandang satu sama lain. Dan belum lagi salah satu dari mereka sempat berkata, tiba-tiba....

“Hua ha ha...!”

Terdengar tawa berkumandang menggetarkan jantung! Suara tawa itu bagai datang dari delapan penjuru. Sehingga, sulit ditentukan dari mana sebenarnya suara tawa itu datang.

"Tikus-tikus tak berguna! Kalian datang hanya untuk mengantarkan nyawa...!” suara tawa itu tiba-tiba lenyap. Berganti dengan gumaman kasar, namun terdengar jelas. Keempat lelaki itu tersentak bangkit dan meraba gagang pedang!

Danaya dan ketiga kawannya yang baru saja merebahkan diri langsung berlompatan bangkit. Mereka bergabung dengan kawan-kawannya yang masih berada di dekat api unggun. Dan, ikut memperhatikan sekitar tempat itu dengan sikap tegang!

“Hm.... Siapa pun kau, kalau memang bukan seorang pengecut segera tunjukkan dirimu...!” Danaya berseru dengan mengerahkan tenaga dalam. Sehingga, suaranya bergema sampai beberapa tombak ke sekitar tepi hutan. Sepertinya, lelaki berkumis tipis itu ingin menunjukkan bahwa ia dan kawan-kawannya bukan orang sembarangan, dan tidak mudah digertak!

Seruan yang jelas-jelas bernada tantangan itu, membuat suasana menjadi hening. Suara tawa maupun ucapan bernada menghina lenyap. Suasana sepi dan menegangkan. Danaya maupun kawan-kawannya yakin pemilik suara tanpa wujud itu pasti belum pergi dari tempat ini. Namun, mereka tidak tahu di mana dia bersembunyi. Dan mereka hanya bisa menunggu dengan sikap penuh waspada. Tiba-tiba....

Whusss!

Serangkum angin keras berhembus. Danaya dan kawan-kawannya berlompatan mundur dengan tangan menggenggam gagang pedang, meski belum tercabut dari sarungnya. Hembusan angin dingin yang keras membuat mereka semakin tegang. Itu terlihat jelas pada wajah-wajah mereka dalam pantulan cahaya api unggun.

“Hua ha ha...! Dasar, Tikus-tikus Tolol! Coba tengok ke belakang. Aku sudah menunggu kalian!”

Kaget bukan main kedelapan lelaki gagah itu. Danaya segera membalikkan tubuh dengan secepat kilat Pedang di pinggangnya langsung dicabut keluar. Ia sudah siap berhadapan lebih dulu dengan sosok yang ditantangnya.

“Siapa kau, Kisanak...? Apa maksudmu mengganggu kami...?” tegur Danaya. Ditatapnya tajam-tajam sosok bayangan hitam yang bersembunyi di balik bayangan pohon. Danaya tidak bisa melihat wajah sosok tinggi besar itu dengan jelas.

“Kau ingin mengetahui siapa aku...?” tukas sosok tinggi besar menyiratkan ejekan. “Dengar baik-baik. Aku adalah Malaikat Maut yang datang untuk mengambil nyawa tikus-tikus busuk seperti kalian!” lanjutnya dengan suara berat dan parau. Ucapan itu terdengar tidak main-main. Ada nada kesungguhan di dalamnya, membuat Danaya dan kawan-kawannya tersentak kaget.

“Keparat! Berani kau menghina murid-murid Perguruan Bangau Putih!” geram salah seorang kawan Danaya. Kemudian, menyeruak maju dengan senjata terhunus. Dia tidak lain Kumbara. Lelaki itu tampaknya tidak bisa menerima penghinaan sosok tinggi besar.

“Heh he he...! Bagiku kalian tak ubahnya bangau-bangau mau mati!” tandas sosok tinggi besar yang kelihatan sedikit pun tidak merasa gentar mendengar nama Perguruan Bangau Putih. Bahkan, kekurangajarannya semakin menjadi-jadi.

“Keparat...!” gemetar sekujur tubuh Kumbara mendengar hinaan itu. “Kurobek mulutmu...!” bentaknya. Serta-merta pedangnya diputar. Kumbara melesat dengan serangan-serangan yang mematikan!

“Haaat...!”

“Adi Kumbara, hati-hati...!” Danaya yang terkejut melihat tindakan gegabah kawannya segera berseru memperingatkan. Bahkan, ia melesat menyusul Kumbara.

Sosok tinggi besar yang tersembunyi di balik kegelapan bayang pepohonan hanya memperdengarkan dengusan mengejek. Sambaran pedang Kumbara yang datang bertubi-tubi tidak dapat melukainya. Bahkan, menyentuh ujung pakaiannya pun tidak. Jelas, betapa hebat ilmu sosok tinggi besar itu. Bahkan....

“Minggat kau ke neraka...!” Diiringi bentakan yang mengejutkan, sosok tinggi besar melontarkan hantaman telapak tangan dengan mendadak. Serangkum angin keras berhembus mengiringi datangnya serangan itu. Dan....

Desss!

“Aaakh...?!” Kumbara terpekik ngeri! Darah segar termuntah dari mulutnya saat telapak tangan lawan singgah di dada kiri. Tubuh gemuk Kumbara pun terlempar deras dan jatuh ke tanah dengan nyawa putus!

“Iblis...! Kau harus menukarnya dengan nyawamu!” Danaya yang melihat hebatnya pukulan sosok tinggi besar dapat menduga bahwa kawannya tidak bakal selamat. Maka, dengan kemarahan yang meluap, Danaya langsung melancarkan serangkaian bacokan dan tusukan dengan kecepatan penuh!

Whuttt, bettt!

Namun, semua serangan Danaya hanya disambut dengan kelitan tubuh yang indah. Semua serangannya kandas. Ketika ia nekat menyusuli dengan serangan berputar, sosok tinggi besar itu memapakinya dengan tepisan telapak tangan.

Plaggg!

“Uuuh...?!” Kaget bukan main lelaki berkumis tipis itu. Setengah lengannya terasa lumpuh untuk sesaat Kuda-kudanya tergempur dan tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah. Sadarlah Danaya bahwa sosok tinggi besar itu bukan orang sembarangan. Kekuatannya berada jauh di atas dirinya. Kenyataan itu membuat Danaya diliputi kecemasan!

“Seraaang...!” Setelah sadar akan kekuatan dan ketangguhan lawan, Danaya segera memerintahkan kawan-kawannya untuk maju menggempur. Mereka menggunakan ilmu pedang yang baru diturunkan, dan telah mereka sempurnakan dengan baik.

“Yeaaat...!”

“Haaat...!”

Disertai pekikan yang menggegap, Danaya memimpin enam orang kawannya menggempur maju. Cahaya putih keperakan membersit menerangi kegelapan malam. Suara berdesingan membuat suasana yang semula hening berubah hiruk-pikuk. Ditingkahi dengan bentakan dan seruan yang mengejutkan. Tapi, sosok tinggi besar itu ternyata memang tangguh. Ia masih mampu mengimbangi serangan Danaya dan kawan-kawannya. Padahal, orang-orang Perguruan Bangau Putih telah menggunakan ‘Ilmu Pedang Membelah Kabut’, yang ketangguhannya sudah dikenal oleh kalangan persilatan.

“Sekarang giliranku untuk mengambil nyawa tikus kalian...!” Di tengah kilatan cahaya pedang, sosok tinggi besar tiba-tiba berseru perlahan. Suaranya terdengar jelas di telinga ketujuh orang lawannya. Dan....

“Haiiit!”

Dibarengi pekikan menggetarkan jantung, sosok tinggi besar bergerak menyelinap di antara sambaran mata pedang. Kemudian, mengibaskan kedua tangannya ke kiri kanan menyambut serangan dua batang pedang yang mengancam tubuhnya.

Takkk, takkk!

Dua orang kawan Danaya tersentak kaget! Mata pedang mereka bagai bertemu dengan sepotong besi baja. Mereka menjadi kehilangan kewaspadaan. Dan....

Bukkk,desss!

“Aaa...!” Terdengar jerit kematian berkumandang membelah malam. Dua orang murid Perguruan Bangau Putih terjungkal memuntahkan darah segar. Pukulan telapak tangan sosok tinggi besar telah melepaskan nyawa mereka yang hanya satu-satunya.

“Keparat...!” Danaya benar-benar dibuat kalap dengan kematian kawan-kawannya. Tubuhnya melayang ke udara. Danaya berlaku nekat, menerjang maju selagi lawan siap melepaskan pukulan maut!

“Pergilah ke neraka...!” disertai suara mendesis perlahan, sosok tinggi besar mendorong tangan kanannya dengan telapak terbuka. Serangkum angin mencicit keras menyambut datangnya tubuh Danaya. Sehingga....

Bresh! “Aaargh...!” Danaya meraung bagai binatang luka. Tubuhnya terpental keras dan membentur batang pohon di belakangnya. Sudah dapat dipastikan pukulan keras itu menewaskan murid Perguruan Bangau Putih itu. Apa yang kemudian terjadi membuat keempat kawan Danaya terbelalak. Tubuh yang remuk akibat membentur pohon besar itu meregang sesaat. Kemudian diam tak bergerak dengan mata terbelalak dan wajah menyeringai. Lelehan darah mengalir dari mulutnya.

“Heh heh heh...! Tidak usah kaget, Tikus-tikus Tak Berguna! Sebentar lagi kalian akan menyusulnya. Memang tidak pantas orang-orang seperti kalian memperebutkan Rase Perak...!” ujar sosok tinggi besar seraya bergerak menghampiri dengan langkah perlahan. Sepertinya, ia sengaja hendak membuat sisa-sisa lawannya mati ketakutan sebelum disentuh.

“Keparat! Jangan kau kira kami takut menghadapi kematian...!” salah seorang dari empat murid Perguruan Bangau Putih, menggeram marah. Rasa takut dalam hatinya dibuang jauh-jauh. Ia sadar cepat atau lambat sosok tinggi besar itu pasti akan membunuhnya.

“Haaat..!”

Dengan teriakan keras, lelaki itu menerjang maju. Sambaran pedangnya terdengar berdesingan. Tiga kawannya segera berlompatan menyusul. Rupanya, mereka hendak bertarung sampai titik darah penghabisan!

Sosok tinggi besar itu sendiri hanya terkekeh. Tubuhnya sedikit pun tidak bergerak menghindar saat empat senjata itu datang mengancam. Kelihatannya, ia begitu yakin akan kekuatan tenaga dalamnya yang mampu menahan bacokan mata pedang.

Dan saat keempat mata pedang menghujani tubuhnya, sosok tinggi besar hanya mendengus kasar. Apa yang diyakininya memang benar-benar terjadi. Empat batang pedang itu terpental lepas dari genggaman pemiliknya. Kemudian....

Desss, bukkk, prakkk!

Empat sosok tubuh itu terlempar ke kiri kanan. Hantaman telapak tangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat mereka berkelojotan tewas. Satu di antaranya menggeletak tak bernyawa dengan batok kepala remuk. Jelas sudah betapa hebat kekuatan tenaga dalam sosok tinggi besar. Padahal, lawan-lawannya bukanlah orang lemah.

Danaya dan kawan-kawannya merupakan murid-murid utama Perguruan Bangau Putih. Kehebatan perguruan itu pun cukup terkenal di kalangan persilatan. Tapi, bagi sosok tinggi besar itu mereka sedikit pun tidak berarti. Demikian mudahnya ia menghabisi delapan orang murid utama Perguruan Bangau Putih.

“Heh heh heh...! Ketua Perguruan Bangau Putih benar-benar tolol. Ia sama saja dengan bermimpi kalau hendak mendapatkan binatang keramat itu...,” gumam sosok tinggi besar seraya mengawasi mayat korban keganasannya.

Malam mulai berganti fajar saat sosok tinggi besar bergerak meninggalkan tubuh-tubuh korbannya. Kokok ayam hutan mengiringi lenyapnya sosok bayangan hitam berperawakan tinggi besar yang misterius itu.

********************

DUA

“Heaaa... heaaa...!”

Suara bentakan yang diselingi lecutan cambuk mengiringi derap seekor kuda berbulu putih. Sosok berperawakan sedang yang duduk di atas binatang tunggangannya itu memasuki perbatasan sebuah desa. Dan baru memperlambat lari kudanya begitu melintas di atas jalan utama desa.

Suasana desa cukup ramai. Rumah-rumah berjajar di kiri kanan jalan. Tampaknya, kehadiran penunggang kuda itu tidak banyak menarik perhatian. Hanya ada beberapa orang penduduk yang menoleh. Itu pun hanya sekilas. Selanjutnya, mereka kembali disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Kelihatannya mereka tidak aneh dengan para pendatang. Desa itu memang sering dilalui atau pun disinggahi orang-orang luar. Itu sebabnya, kehadiran sosok bertubuh sedang yang menunggang kuda berbulu putih itu tidak diperhatikan.

Penunggang kuda itu sendiri merasa lega melihat ketidak pedulian penduduk desa. Sikap itu membuatnya bisa lebih tenang melintasi jalan utama desa. Dan baru membelokkan kudanya saat melihat sebuah kedai makan di sebelah kiri jalan. Segera ia menambatkan binatang tunggangannya. Dan melangkah lebar memasuki kedai makan itu.

Beberapa pasang mata sempat menoleh dan memperhatikan sosok bertubuh sedang. Tampaknya, pakaian petani yang dikenakan sosok itu tidak membuat mereka tertarik. Sehingga, beberapa pasang mata itu kembali berpaling dan melanjutkan makan serta minum mereka.

Sosok bertubuh sedang yang jelas bukan penduduk setempat itu kelihatan ingin menampilkan sikap wajar. Langkahnya terayun menghampiri sebuah meja kosong. Sambil melangkah, sepasang matanya bergerak meneliti orang-orang yang ada di dalam ruangan. Agaknya, sosok berpakaian petani itu tengah mencari-cari sesuatu.

Saat langkahnya tiba di depan meja kosong, lelaki bertubuh sedang itu berniat menghempaskan tubuhnya di kursi. Sambil berpegangan pada bagian belakang kursi, sepasang matanya kembali mengawasi sekitar. Mendadak. Lelaki bertubuh sedang itu menghentikan gerakannya dalam kedudukan membungkuk. Sepasang matanya membelalak lebar! Terlihat jelas betapa sorot mata itu memancarkan perasaan gembira dan lega. Namun, keraguan membuatnya terpaku beberapa saat, seperti terkena sihir.

“Tidak salahkan penglihatanku...?!” desis lelaki bertubuh sedang. Punggung tangannya digosok-gosokkan ke kedua matanya. Seolah ia belum yakin dengan apa yang dilihatnya.

Entah apa yang menjadi penyebabnya. Tiba-tiba lelaki bertubuh sedang itu kelihatan tegang. Jalan nafasnya mulai tidak beraturan. Hingga akhirnya, dengan menghela napas berat langkahnya terayun perlahan. Sepasang matanya tak lepas memandang ke depan.

Suara langkah terseret dengan detak jantung yang bekerja lebih cepat, rupanya telah membuat sosok berjubah putih di depannya agak terganggu. Sosok itu berpaling dengan gerak perlahan, namun jelas menyiratkan kewaspadaan. Sepasang mata tajam berpengaruh dari seraut wajah tampan itu ternyata merupakan awal kegaduhan yang kemudian terjadi. Karena....

“Pendekar Naga Putih...?!” bagai orang menang lotre, lelaki bertubuh sedang dan berpakaian petani itu berseru mengejutkan seisi kedai. Tarikan wajahnya menunjukkan ia sangat gembira tak terkira.

Setengah dari pengunjung kedai serentak menoleh ke arah sosok sedang berpakaian petani. Sebab, lelaki itulah sumber suara seruan keras barusan. Kemudian, mata mereka mengikuti arah pandang lelaki bertubuh sedang.

“Pendekar Naga Putih?!”

Terdengar desis keheranan di sana-sini. Ulah lelaki berpakaian petani itu membuat pemuda tampan berjubah putih menjadi pusat perhatian dari setengah pengunjung kedai. Tatapan mereka menyiratkan kekaguman dan keheranan. Kagum dengan sorot mata tajam berpengaruh dari pemuda tampan itu. Dan heran melihat kehadiran pendekar ternama itu di antara mereka, tanpa seorang pun yang menyadarinya.

Sadar bahwa dirinya tengah ditatap belasan pasang mata, pemuda tampan berjubah putih itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. Lalu, menoleh ke arah sosok berpakaian serba hijau yang duduk di sebelahnya.

“Dana Ruksa...?!” gumam sosok berpakaian serba hijau ketika mengenali lelaki berpakaian petani. Kerutan pada kening wajah jelita laksana bidadari itu menandakan hati sang Dara tengah diliputi keheranan.

“Kenanga...?!” Lelaki yang dipanggil dengan Dana Ruksa itu berseru gembira. Tampak jelas ia sangat mengharapkan pertemuan itu. Sekarang dapat ditebak mengapa saat memasuki kedai, Dana Ruksa mengedarkan pandangan. Rupanya, pasangan pendekar muda itu yang dicarinya.

Pasangan muda yang memang tidak lain Panji dan Kenanga saling bertukar pandang sesaat. Namun, sebelum mereka sempat mengambil suatu tindakan, tiba-tiba suasana menjadi gaduh! Setengah dari pengunjung kedai berdiri satu persatu. Mereka melangkah ke arah Panji dan Kenanga. Dari sikap dan penampilannya, agaknya mereka kaum rimba persilatan.

Tapi, baik Panji maupun Kenanga tidak kelihatan terkejut. Sepertinya, mereka sudah tahu sebelumnya kalau di dalam kedai itu banyak terdapat kaum rimba persilatan. Pasangan pendekar muda itu segera bangkit dari duduknya. Siap menyambut tokoh-tokoh persilatan yang datang menghampiri.

Panji menyambut salam kaum rimba persilatan itu dengan bibir tersenyum dan sapa ramah penuh persahabatan. Demikian pula yang dilakukan Kenanga. Gadis jelita itu tidak merasa terkucil. Meski ia tahu salam dan sapa tokoh-tokoh persilatan itu kepadanya hanya sekadar basa-basi. Karena mereka lebih memperhatikan Panji. Malah Kenanga merasa bangga. Panji adalah bagian dari dirinya. Baginya, sanjungan untuk Panji sama dengan menyanjung dirinya. Sehingga, Kenanga tidak merasa tersisih oleh sikap tokoh-tokoh persilatan itu.

“Maaf, sahabat-sahabat yang gagah. Aku mohon pamit. Ada sesuatu yang harus segera kuurus...,” pinta Panji setelah berbasa-basi beberapa saat. Pemuda itu kemudian meninggalkan ruangan kedai, setelah meninggalkan beberapa keping uang seharga makanan yang ia pesan.

Para tokoh persilatan itu tidak berani mencegah kepergian Panji. Kelihatannya mereka cukup puas dengan sambutan ramah dari pendekar muda itu. Saat Panji berpamitan, mereka segera menyingkir memberi jalan.

“Terima kasih...,” ucap Panji beberapa kali seraya memberi isyarat kepada Kenanga untuk mengikutinya. Kenanga segera bergerak tanpa banyak tanya. Gadis itu sudah tahu mengenai sesuatu yang hendak diurus kekasihnya.

“Ikuti kami, Dana Ruksa...,” bisik Panji saat melewati lelaki berpakaian petani, yang tidak mendapat kesempatan untuk menghampiri pasangan pendekar muda itu.

Dana Ruksa kelihatan menyadari kesalahannya yang telah membuat gaduh seisi kedai. Dana Ruksa mengangguk meski ia tahu Panji dan Kenanga tidak melihat anggukannya. Lelaki itu bergegas mengikuti. Lalu, melompat ke atas punggung kuda. Dan mengikuti pasangan pendekar muda itu yang nampak melangkah agak cepat keluar desa.

Tinggallah tokoh-tokoh rimba persilatan bergerombol di depan kedai. Mereka menatap sosok Panji dan dara jelita berpakaian serba hijau yang semakin jauh. Beberapa di antara mereka menggeleng-geleng takjub. Meski hanya melangkah, tubuh Panji dan Kenanga cpat sekali menjauh. Padahal, mereka melihat jelas langkah pasangan pendekar muda itu. Yang membuat mereka takjub, hanya dengan melangkah agak cepat sosok pasangan pendekar muda itu sudah jauh meninggalkan kedai. Itu jelas membuktikan kepandaian Panji memang sangat hebat, sebagaimana kabar yang tersiar di kalangan rimba persilatan.

“Hm... Mungkinkah kehadiran Pendekar Naga Putih di desa ini juga tertarik dengan kabar adanya binatang keramat itu...?” gumam seorang tokoh persilatan seraya memegang dagu dengan kening berkerut Terasa ada suatu perasaan tersisih dalam ucapannya.

“Sepanjang yang kudengar, Pendekar Naga Putih bukanlah orang yang tamak. Baik oleh senjata pusaka dan bertuah, maupun binatang keramat yang kini beritanya telah tersebar luas di kalangan persilatan. Jadi, menurutku pendekar muda itu tidak perlu dikhawatirkan...” Tokoh lainnya pun yang pernah mendengar sifat-sifat Panji langsung menukas.

Hampir semua dari tokoh persilatan yang berdiri di tempat itu menganggukkan kepala. Mereka kelihatannya lebih setuju dengan perkataan yang terakhir. Tanpa sadar, mereka menarik napas lega ketika teringat bagaimana sikap Panji. Saat sosok Panji dan Kenanga lenyap, satu persatu kaum persilatan itu memasuki kedai. Hanya ada beberapa dari mereka yang beranjak pergi. Sehingga, sebentar saja bagian depan kedai makan itu kembali sepi.

********************

“Kau mempunyai suatu keperluan yang menyangkut paman dan bibiku, Dana Ruksa...?” Kenanga segera melontarkan pertanyaan kepada lelaki berpakaian petani yang sudah melompat turun dewi punggung kuda. Saat itu mereka sudah berada jauh di luar desa.

Dana Ruksa tidak segera menjawab. Ia membungkuk hormat kepada Panji yang berdiri di samping Kenanga. Kelihatan sekali Dana Ruksa merasa menyesal dengan kejadian di kedai tadi. Ia sungguh tidak menyangka kehadirannya telah membuat sosok Panji menjadi pusat perhatian.

“Tidak ada yang perlu kau sesali, Dana Ruksa...,” ujar Panji tersenyum. Tampaknya, Panji sedikit pun tidak menganggap semua itu merupakan kesalahan. Ucapan Panji membuat Dana Ruksa merasa lega.

“Paman dan bibimu mengharapkan kalian berdua datang ke Kadipaten Tumapel secepatnya. Hanya itu pesan yang kubawa dari beliau. Mengenai kepentingannya, aku tidak bisa menjelaskan...,” Dana Ruksa mengutarakan maksudnya kepada Kenanga dan Panji.

“Hm...” Kenanga hanya bergumam pelan. Gadis jelita itu kemudian berpaling menatap wajah Panji. Sejenak mereka saling bertukar pandang.

“Menempuh perjalanan jauh untuk mencari kami benar-benar perbuatan nekat, Dana Ruksa. Untunglah Tuhan mempertemukan kita. Entah sudah berapa lama waktu kau habiskan untuk mencari kami?” ujar Panji menatap Dana Ruksa penuh kagum.

Karena untuk mencari mereka memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, Dana Ruksa telah melakukannya, meski dalam waktu yang tak pasti. Sebab, Panji dan Kenanga tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Mereka adalah petualang-petualang yang selalu mengamalkan ilmunya untuk kepentingan orang banyak.

“Demi kepentingan Kadipaten Tumapel yang kucintai, tugas seberat apa pun akan kujalankan. Termasuk mencari kalian berdua yang kusadari memang bukanlah pekerjaan mudah. Hingga, aku sampai tidak bisa mengendalikan kegembiraan saat melihat kalian dikedai. Perjalanan panjang yang memakan waktu sebulan lebih, lenyap tanpa rasa lelah tersisa. Apa yang sangat kuharapkan kini menjadi kenyataan...,” sahut Dana Ruksa melebarkan senyumnya. Kelihatan sekali lelaki itu tidak berpura-pura.

“Hm... Jadi kau tidak tahu alasan paman dan bibiku mengharapkan kedatangan kami selekasnya...?” Kenanga bertanya menimpali pembicaraan Panji dan Dana Ruksa. Dara jelita itu tidak percaya kalau Dana Ruksa tidak mengetahui maksud pencarian itu.

“Mmm... Tentu saja aku tahu, Kenanga. Tapi, karena paman maupun bibimu berpesan demikian, kusampaikan apa adanya. Aku tidak berani membantah. Yang jelas, kami sangat membutuhkan kehadiran kalian di Kadipaten Tumapel...,” sahut Dana Ruksa tetap tidak mengatakan kepentingannya.

“Baiklah, Dana Ruksa. Kami pun tidak ingin mendesakmu...,” desah Kenanga. Benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Gadis itu menoleh ke arah Panji. “Bagaimana ini, Kakang...?” tanya dara jelita itu meminta pendapat kekasihnya.

Panji tak segera menjawab. Pemuda itu mengangguk beberapa kali disertai tarikan napas panjang. Ditatapnya Kenanga sesaat. Lalu berpaling kepada Dana Ruksa. Dan kembali pada kekasihnya.

“Perjalanan menuju Kadipaten Tumapel sangat jauh dan memakan waktu cukup lama. Aku khawatir saat kita tiba di kadipaten, darah sudah tumpah di Bukit Ular Emas. Menurut hematku, sebaiknya kita membagi tugas. Itu kalau kau tidak merasa keberatan...,” ujar Panji menanggapi pertanyaan kekasihnya.

Mereka memang hendak menuju ke Bukit Ular Emas, yang kabarnya menjadi tempat binatang langka. Kabar itu sudah tersebar luas di kalangan persilatan. Itu sebabnya, saat di kedai Panji banyak melihattokoh-tokoh rimba persilatan.

“Kakang,” ujar Kenanga. “Aku tidak ingin dianggap mementingkan diri sendiri. Kakang pun pasti tahu jawabanku. Aku sadar kalau kita telah dibebani kewajiban untuk menegakkan keadilan. Jadi, silakan utarakan apa yang menjadi keputusan Kakang. Aku tidak akan membantahnya...”

“Baiklah, Kenanga. Meski ada rasa berat di dalam hati, namun memang sebaiknya kita membagi tugas. Aku akan melanjutkan perjalanan ke Bukit Ular Emas. Sementara kau ikut bersama Dana Ruksa untuk menemui paman dan bibimu. Aku percaya kau bisa melaksanakan apa pun keinginan mereka. Tapi, kalau kau mempunyai pendapat lain, silakan katakan padaku...,” jelas Panji mengutarakan pikirannya setelah mendengar penuturan Kenanga.

“Lalu..., bagaimana kita dapat bertemu lagi, Kakang?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kenanga. Berawal dari rasa cemas berjauhan dengan pemuda pujaannya. Pertanyaan itu jelas menunjukkan betapa Kenanga merasa takut melalui hari-hari tanpa sang Kekasih menyertai. Sehingga, tercetus begitu saja dari mulutnya.

Melihat sikap dan pandang mata pasangan pendekar muda itu, Dana Ruksa tahu diri. Ia tidak ingin mengganggu mereka. “Maaf,” ucap Dana Ruksa pelan. “Sementara kalian berunding, aku hendak mencari rumput untuk kudaku...,” pamit Dana Ruksa yang memutar binatang tunggangannya, hendak menjauhi tempat itu.

Panji dan Kenanga tentu saja merasa akan lebih leluasa jika bicara berdua. Maka, mereka pun tidak mencegah kepergian Dana Ruksa. Keduanya segera mengangguk dan tersenyum kepada lelaki yang penuh pengertian itu. Sepeninggal Dana Ruksa, Panji melingkarkan tangannya ke bahu Kenanga. Mereka melangkah perlahan menuju tepian sungai yang gemericik airnya terdengar dari tempat itu. Kelihatannya, mereka merasa berat untuk berpisah.

“Aku akan rindu sekali kepadamu, Kakang...,” desah Kenanga menyandarkan kepalanya di bahu Panji. Ia tidak menolak saat pemuda itu membawanya menuju tepi sungai.

“Demikian pula denganku, Kenanga. Jangankan untuk berpisah dalam waktu lama. Sehari pun rasanya akan sangat menyiksa. Sulit aku membayangkan hari-hari tanpa senyum dan tatapanmu yang penuh kasih. Rasanya..., saat ini pun aku sudah merasa rindu kepadamu. Tapi, demi kepentingan orang banyak dan demi keadilan aku akan berusaha menekan semua perasaan yang menyiksa itu. Aku akan segera menemuimu di Kadipaten Tumapel setelah persoalan di Bukit Ular Emas tuntas...”

Panji meremas dengan lembut bahu yang hangat dan lunak itu. Hatinya sempat bergetar saat merasa- kan betapa dalam tubuh kekasihnya ada kepasrahan yang dalam. Panji menarik napas panjang dan melepasnya bersama gemuruh yang bergelora di dalam dada. Ditekannya semua perasaan yang bergejolak itu.

Kenanga bukan tidak tahu mengapa kekasihnya menghela napas panjang. Ia pun merasakan hal yang sama. Tetapi, berbeda dengan Panji yang mencoba untuk menekannya. Kenanga malah melepaskan begitu saja semua gejolak yang ada dalam hatinya. Gadis itu menumpahkannya melalui perbuatan.

“Peluklah aku erat-erat, Kakang...,” desah darajelita itu yang sudah menggayutkan kedua lengannya di leher Panji. Sehingga mereka saling berhadapan dan lekat satu sama lain.

“Kenanga...,” desis Panji melingkarkan kedua lengannya ke pinggang dara jelita itu. Diremasnya punggung Kenanga sebagai curahan rasa cintanya yang besar.

Sesaat kemudian, pasangan pendekar muda itu saling berpelukan erat. Dan, menumpahkan rasa kasih mereka melalui kecupan lembut. Terdengar erangan lirih dari kerongkongan dara jelita itu. Pelukan lengannya pun semakin erat. Seolah ia hendak menyatukan tubuh Panji ke dalam tubuhnya. Agar mereka tidak lagi berpisah dan menyatu selamanya.

Saat bermesraan seperti itulah mereka baru merasa lelah dengan petualangan-petualangan yang penuh ancaman maut dan taruhan nyawa. Terbersit pikiran untuk mencari kedamaian dan ketenangan, untuk menyirami cinta kasih mereka yang memang hampir tidak sempat terpikirkan. Sehingga, tidak aneh kalau kemesraan itu membuat mereka berdua terlelap bagai musafir haus di tengah gurun pasir yang luas.

Kenanga yang semakin terhanyut membalas dengan panas ciuman kekasihnya. Bahkan, kemudian menarik tubuh Panji hingga jatuh di atas rerumputan. Kendati demikian, Kenanga tidak melepaskan pelukannya. Sepertinya dara jelita itu tidak pernah merasa puas. Dan kesempatan itu membuatnya ingin mereguk sepuas-puasnya curahan cinta Panji.

Sebagai manusia biasa yang berdarah muda, Panji dapat saja terseret oleh perasaan. Apalagi Kenanga memang gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi dan cintai. Panji pun membalas cumbuan Kenanga dengan tidak kalah hangatnya. Sampai akhirnya, Panji tersentak ketika mendengar desah dara jelita itu.

“Lakukanlah, Kakang.... Aku tidak akan menyesalinya.... Biarlah hari ini menjadi kenangan terindah yang akan menemani hari-hari ku esok...,” desah Kenanga di antara gemuruh dada dan deru nafasnya. Wajah jelita yang kemerahan itu menatap sayu, pasrah akan apa yang dilakukan pemuda itu selanjutnya.

Meski peperangan dalam batinnya demikian hebat, Panji masih bisa berpikir jernih. Cepat ia menarik wajahnya agak menjauh. Walaupun wajahnya telah kemerahan, pemuda itu masih merasa pantang untuk memenuhi permintaan kekasihnya. Setelah menatap tubuh Kenanga yang pakaiannya sudah tidak karuan lagi, Panji menarik tubuhnya. Siap untuk bangkit berdiri. Namun, pemuda itu tidak ingin melepaskan lengan Kenanga dengan kasar. Panji takut dara jelita itu tersinggung. Digenggamnya lengan Kenanga dengan lunak, mencoba untuk melepaskan pegangan pada lehernya.

“Mengapa, Kakang...?” tegur Kenanga dengan mata berkabut. Ditatapnya bola mata pemuda itu lekat-lekat.

“Untuk yang satu ini, ku mohon jangan sampai terjadi pada saat-saat sekarang...,” ujar Panji dengan suara perlahan, berusaha mengingatkan. Karena perjalanan mereka masih panjang dan masih banyak yang harus diselesaikan.

Tapi Kenanga tidak menyahuti. Butir-butir air mata meluncur turun membasahi kedua pipinya yang halus. Panji tentu saja terkejut. Apalagi, ketika Kenanga menarik kedua lengannya dan menutupi wajah. Terdengar isak yang berusaha ditahan. Betapa tersiksanya hati Panji melihat kesedihan kekasihnya.

“Aku tahu sekarang...,” ucap dara jelita itu seraya tersedu-sedu, “Kakang tidak pernah mau melakukannya karena merasa jijik dengan tubuhku...” lanjutnya tetap menutup wajah dengan telapak tangan.

“Aaah.... Kenanga..., mengapa kau berprasangka seperti itu...,” keluh Panji melihat kekasihnya menangis sangat sedih.

Padahal, apa yang dilakukannya karena Panji terlalu mencintai gadis jelita itu. Kalau saja tidak ingat akan tugas-tugasnya, Panji pasti tidak akan menolaknya. Bahkan, akan melakukannya tanpa diminta. Sebagai lelaki normal tentu saja ia menginginkan hubungan yang lebih jauh.

Tapi, penolakan itu ternyata ditanggapi lain oleh Kenanga. Gadis itu merasa terhina karena Panji tidak mau melakukannya. Jelas, pemikiran gadis itu terbalik. Tapi juga tidak bisa disalahkan. Kenanga terlalu mencintai Panji dan tidak ingin kehilangan pemuda pujaannya itu. Sedangkan Panji menolak karena begitu menghormati dan menyayanginya dengan tulus.

TIGA

Panji benar-benar kehilangan kata-kata untuk menjelaskan semua itu. Pemuda itu menggeleng berkali-kali. Panji berusaha melepaskan telapak tangan yang menyembunyikan wajah jelita Kenanga. Namun, Kenanga mempertahankannya. Gadis itu tetap menyembunyikan wajahnya yang telah basah oleh air mata. Itu terlihat dari lelehan di sela-sela jari tangannya. Hingga, hati Panji semakin tak karuan.

“Kenanga..., kalau saja kau tahu betapa sangat ingin aku melakukannya. Tapi tidak sekarang, Adikku. Pada saatnya nanti, tanpa kau minta pun aku akan melakukannya. Jangan kau berkata seperti itu, Kenanga. Sadarlah akan kewajiban kita untuk mengamalkan kebajikan bagi orang banyak...,” bujuk Panji seraya membelai rambut dara jelita itu dengan penuh kasih.

“Kalau kau benar-benar mencintai ku dan tidak ingin melihat hatiku hancur, sekaranglah saatnya, Kakang. Tidak perlu menunggu waktu yang tidak pasti...,” tukas Kenanga di sela isaknya.

“Kau tidak akan menyesal...?” karena tidak bisa dibujuk, akhirnya Panji mengalah.

“Aku malah akan sangat berbahagia, Kakang...,” sahut Kenanga dengan sedikit terisak. Kali ini ia melepaskan telapak tangannya dari wajah. Ada binar kebahagiaan dalam sinar mata yang masih basah itu.

Terdorong oleh rasa kasih dan tidak ingin melihat kekasihnya sedih, Panji melucuti pakaian dara jelita itu dengan jari-jari gemetar. Tubuh bagian atas dara jelita itu telah polos, memperlihatkan kulit yang halus tak tercela. Wajah Panji tampak memerah. Iblis semakin mencengkeram erat hati dan pikiran pemuda perkasa itu. Namun, sebelum segalanya terjadi, tiba-tiba Panji menyentakkan tubuhnya dan melenting bangkit

“Tidak, Kenanga...! Aku tidak bisa...!” desis Panji dengan suara gemetar. “Kau membuatku hampir gila...!”

Pemuda perkasa itu merintih dan menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dengan bertelekan kedua lutut. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangan. Panji berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman iblis-iblis yang menggodanya. Panji benar-benar mendapat ujian batin yang sangat berat

Semula Kenanga merasa kaget dan sangat kecewa. Tapi, begitu ia melihat betapa kekasihnya sangat tersiksa, kekecewaan itu pun tersapu lenyap. Berganti dengan rasa iba yang dalam. Kenanga segera merapikan pakaiannya., Kemudian, bergerak menghampiri Panji dengan menyeret kedua lututnya di atas rumput. Dipeluknya tubuh Panji dengan mata yang kembali basah.

“Maafkan aku, Kakang.... Aku sungguh tidak menyangka kau akan tersiksa seperti ini...,” desah dara jelita itu merangkul erat tubuh kekasihnya. Aneh benar sikap gadis itu. Belum lama ia yang dibujuk setengah mati. Tapi sekarang malah balik membujuk dan meminta maaf kepada Panji.

“Kau tidak salah, Adikku. Akulah yang salah dan telah menyiksa perasaanmu selama ini. Padahal, aku ingin selalu membuatmu bahagia. Tapi, yang kuberikan hanya petualangan penuh bahaya dan taruhan nyawa. Tidak seharusnya kau menjalani kehidupan seperti ini. Maafkan aku...,” tukas Panji menatap wajah yang basah oleh air mata. Di kecupnya bibir indah itu dengan penuh rasa cinta.

Kali ini Kenanga yang lebih dulu menarik diri. Kecupan Panji membuatnya tersenyum sangat manis! Sepasang matanya berbinar penuh kekaguman. Sehingga, Panji ganti menjadi heran.

“Sudahlah, Kakang. Kalau dilanjutkan bisa-bisa aku terseret lagi,” ujar Kenanga dengan menggenggam jemari Panji.

Tampaknya, dara jelita itu telah menyadari kekeliruannya yang nyaris mendatangkan penyesalan di hati Panji. Kalau semua itu sampai terjadi, mereka telah melanggar pesan guru-guru mereka. Mereka berdua telah dipesankan agar mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Selain itu, setelah melakukannya sekali, bukan mustahil akan menjadi dua kali, tiga kali dan seterusnya. Semua itu akan membuat tugas mereka terhambat.

“Hhh...” Panji menghela napas lega. Ia benar-benar gembira melihat Kenanga telah sadar dari kekeliruannya. Senyum pemuda itu melebar dan menatap bangga wajahbyang kelihatan semakin jelita itu. Tapi, tindakan Panji selanjutnya membuat Kenanga terpekik kecil. Karena....

“Biarlah kau terseret lagi. Sekarang aku benar-benar ingin melakukannya...,” sambil berkata demikian, Panji melesat menerkam tubuh kekasihnya. Sehingga, keduanya jatuh di atas rerumputan.

Namun Kenanga sudah dapat meraba. Ia tahu kekasihnya tidak bersungguh-sungguh. Sehingga membiarkan saja perlakuan Panji terhadapnya. Bahkan, malah menunjukkan sikap menantang.

“He, mengapa berhenti...?” tegur Kenanga tersenyum tanpa berusaha bangkit Karena Panji yang merasakan tidak adanya perlawanan dari gadis jelita itu segera menghentikan gerakannya.

Panji memang sengaja hendak memancing sambutan Kenanga. Pemuda itu tertawa keras dan bangkit berdiri. Tubuh molek yang masih rebah telentang itu langsung disambarnya. Lalu, dipondongnya dengan kedua tangan.

“Kau benar-benar membuat aku gemas, Kenanga. Untung saja gemblengan batin yang diberikan guruku cukup kuat. Kalau tidak, kau sudah ku lalap habis-habisan!” ujar Panji tertawa sambil menciumi wajah jelita itu.

“Memangnya aku ayam panggang...,” sahut Kenanga tertawa kecil penuh kebahagiaan. Saat seperti itu mereka tidak berbeda dengan orang lain. Kegarangan serta perbawa mereka sedikit pun tidak terlihat. Yang tampak hanyalah dua anak manusia berlainan jenis yang tengah terbuai indahnya cinta.

“Sekarang mari kita temui Dana Ruksa. Kasihan. Mungkin ia sudah tidak sabar mendengar hasil pembicaraan kita...,” ujar Panji, tiba-tiba teringat bahwa ada orang yang tengah menanti keputusan mereka. Tubuh dara jelita dalam pondongannya itu diturunkan. Mereka pun melangkah perlahan menuju tempat semula, di mana Dana Ruksa menunggu dengan sabar.

“Kalau sudah selesai dengan persoalanmu, cepatlah datang menemuiku di kadipaten, Kakang...,” ujar Kenanga dengan tangan yang tak lepas dari jemari kekasihnya.

“Secepatnya aku akan datang setelah segalanya dapat kuselesaikan,” janji Panji mantap.

“Di sana kita akan meminta paman dan bibi untuk...,” Kenanga tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tersenyum malu-malu mengerling ke arah Panji.

“Untuk apa...?” tanya Panji berpaling ketika Kenan- ga tidak menyelesaikan ucapannya.

“Untuk mengawiniku...,” jawab Kenanga yang kali ini menatap wajah kekasihnya penuh harap.

“Kalau hanya untuk itu mengapa harus jauh-jauh ke Kadipaten Tumapel...?” tukas Panji tersenyum membuat Kenanga menaikkan sebelah alisnya yang tebal dan indah. Sepasang mata beningnya menatap Panji tak mengerti.

“Maksud Kakang bagaimana...?” tanya Kenanga ingin tahu. Ia menduga kekasihnya telah mempunyai rencana lain. Gadis itu menunggu dengan hati berdebar.

“Maksudku, kalau hanya sekadar mengawinimu sekarang pun bisa kulakukan...,” sahut Panji yang tentu saja menggoda kekasihnya.

“Iiih.... Kakang jorok...,” sergah Kenanga mengernyit, tapi mata dan wajahnya jelas memancarkan kebahagiaan.

“Mmm.... Barusan kau memaksaku sampai nangis-nangis. Kok sekarang malah mengatakan aku jorok?” kilah Panji tertawa kecil.

“Biarin! Itu kan tadi! Tapi sekarang..., nggak janji deh!” bantah Kenanga tak mau kalah, membuat tawa Panji berkepanjangan.

Sementara beberapa belas tombak di depan pasangan pendekar muda yang tengah bercanda itu, Dana Ruksa mengawasi dengan bibir tersenyum. Nampaknya, ia ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar pada wajah mereka. Dana Ruksa bergegas menyambut sambil menuntun kudanya, saat pasangan pendekar muda itu semakin dekat.

“Kami sudah mengambil keputusan bersama, Dana Ruksa. Berhubung aku masih harus menyelesaikan suatu masalah besar, biarlah nanti aku menyusul. Kau bersama Kenanga berangkatlah lebih dulu ke kadipaten. Sampaikan salam dan maafku kepada paman dan bibi Kenanga,” Panji segera menjelaskan keputusan yang telah diambilnya bersama Kenanga.

“Begitu pun baik, Panji. Kami akan menunggu kedatanganmu...,” ujar Dana Ruksa menyetujui usul Panji.

“Kalau begitu, marilah kita segera berangkat...,” tukas Kenanga melepaskan jemari tangan Panji dari genggamannya. Ditatapnya wajah tampan kekasihnya untuk beberapa saat, “Susullah aku secepatnya, Kakang...,” pinta dara jelita itu memandang penuh kerinduan. Padahal, mereka belum lagi berpisah.

“Segera aku akan menyusulmu untuk...,” Panji tidak melanjutkan kalimatnya, la mengedipkan sebelah matanya kepada dara jelita itu.

Kenanga hanya mencibirkan bibir. Gadis itu melesat menyusul Dana Ruksa yang menjalankan kudanya dengan perlahan. Panji tetap diam di tempatnya menatap sosok gadis pujaannya yang semakin jauh dan samar. Kemudian lenyap di kejauhan.

Setelah bayangan kedua orang itu lenyap dari batas pandangan mata, Panji menghela napas panjang dan berat. Tiba-tiba ia merasa sepi sekali. Kepergian Kenanga seolah telah membawa sebagian dari semangat- nya. Alam sekitar yang semula indah dipandang kini terasa gersang dan tandus. Saat itu ia baru menyadari betapa cintanya sangat besar terhadap dara jelita itu.

“Tunggulah, Kenanga. Aku akan segera menyusulmu...,” janji Panji pada diri sendiri. Kemudian berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

********************

Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna, Panji melakukan perjalanan menuju Bukit Ular Emas. Tempat itu diduganya akan menjadi ajang pertumpahan darah. Karena berita yang telah tersebar luas di kalangan persilatan, sudah pasti akan membuat bukit yang biasanya tidak pernah diinjak manusia itu akan dibanjiri tokoh-tokoh rimba persilatan. Hal itulah yang ingin dicegahnya, meski ia belum tahu dengan cara bagaimana.

Saat itu hari baru menjelang sore. Panji yang semula menempuh perjalanan dengan mengandalkan kecepatan larinya kini mengurangi kecepatan gerak tubuhnya. Sepasang matanya menyorot tajam ke depan. Keningnya berkerut ketika semakin melihat jelas benda-benda yang berserakan di tepi sebuah hutan. Sesaat kemudian, pemuda itu tampak terkejut.

“Hm.... Rupanya korban sudah mulai berjatuhan? Siapa yang melakukan kekejaman ini...?” gumam Panji berdiri tegak memperhatikan delapan sosok mayat yang bergeletakan. Kendati sudah menduga mayat-mayat itu adalah kaum rimba persilatan yang hendak menuju Bukit Ular Emas, Panji ingin tahu lebih jelas siapa dan dari mana orang-orang yang menjadi korban pertama dari berita celaka itu.

Setelah memperhatikan delapan sosok mayat itu satu persatu, Panji menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Ia dapat mengenali kalau mayat-mayat itu berasal dari Perguruan Bangau Putih.

“Gila! Pendekar Bangau Sakti tentu tidak akan tinggal diam bila sampai mengetahui kejadian ini. Ini pasti perbuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Mereka mungkin hendak membuat suasana menjadi rusuh dan panas...,” gumam Panji khawatir jika kemurkaan Pendekar Bangau Sakti akan membuat Bukit Ular Emas menjadi kubangan darah.

Kekhawatiran Panji memang beralasan. Siapa tokoh yang tidak mengenal Pendekar Bangau Sakti. Ketua perguruan yang terkenal berwatak keras dan beringasan itu cukup disegani oleh kawan dan ditakuti lawan. Kematian murid-muridnya tentu akan membuat pendekar itu marah besar. Dan akan melabrak siapa saja tanpa pandang bulu. Kendati dari golongan sendiri. Sudah pasti kalau pendekar itu sampai mengetahui tentang kematian murid-muridnya, ia akan membuat gaduh di Bukit Ular Emas. Dan bisa jadi melabrak penghuni bukit itu tanpa banyak bicara lagi. Sepak- terjang ketua perguruan itulah yang dikhawatirkan Panji.

“Hm.... Tapi bisa saja semua ini perbuatan tokoh segolongan yang tidak ingin mendapat banyak saingan. Jika benar demikian, besar kemungkinan perjalanan tokoh-tokoh persilatan yang lain pun dibayangi bahaya maut. Kalau sudah begini, sulit aku mengatasinya...,” gumam Panji bergerak bangkit dan bermaksud menguburkan mayat-mayat itu.

“Pendekar Naga Putih...?!”

Panji yang baru saja membuat sebuah lubang besar dan telah menurunkan dua dari delapan mayat itu menoleh terkejut ke arah asal suara. Dari nada suaranya Panji tahu ia akan terlibat dalam kesulitan. Tapi, Panji berusaha tetap tenang. Meskipun tiga sosok tubuh yang tengah menghampirinya menyaksikan perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Pendekar Naga Putih...?” tegur salah satu dari ketiga lelaki gagah itu curiga. Bahkan, keningnya berkerut menuntut jawaban.

“Aku hendak memakamkan mereka dengan layak...,” sahut Panji dengan perasaan yang mulai tidak enak. Ia sadar ketiga tokoh itu menaruh curiga terhadap dirinya.

“Hei, lihat baik-baik, Kakang Baswara! Bukankah mereka murid-murid Perguruan Bangau Putih...?!” orang kedua yang berkening lebar berseru kaget. Rupanya, ia mengenali ciri-ciri enam sosok mayat yang belum sempat diturunkan Panji ke dalam lubang.

“Benar! Mereka adalah murid-murid Pendekar Bangau Sakti!” seru lelaki ketiga yang tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang penyakitan. Sepasang matanya yang semula redup terbelalak lebar. Jelas, iapun terkejut ketika mengetahui siapa mayat-mayat itu.

Orang pertama yang bernama Baswara bergegas meneliti enam sosok mayat di dekat kakinya. Kemudian ganti menatap Panji dengan sinar mata minta penjelasan. Kelihatannya, ia semakin bertambah curiga terhadap Panji.

“Siapa yang telah berani membunuh mereka, Pendekar Naga Putih...?” tanya Baswara mengamati wajah Panji. Seolah ia ingin tahu apakah wajah tampan itu akan menggambarkan dusta sewaktu menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak tahu, Baswara. Kalau saja aku sempat menyaksikannya, tentu tidak akan kubiarkan pembunuh itu pergi dari hadapanku dalam keadaan selamat...,” sahut Panji sejujurnya seraya menentang pandang mata lelaki botak berwajah berewok itu. Sehingga, Baswara memalingkan pandangannya. Tak sanggup melawan tatapan tajam penuh perbawa dari seorang pendekar yang memiliki tingkat kedigdayaan tinggi.

“Hm....” Baswara bergumam pelan. Kemudian berpaling ke arah kawan-kawannya. Dan saling bertukar pandang sesaat. Lalu, kembali menatap Panji.

Baswara dan dua orang kawannya bukanlah orang-orang sembarangan. Panji tahu siapa mereka. Ketiga lelaki gagah itu mendapat julukan Tiga Harimau Besi. Nama ketiganya telah bergaung menggetarkan rimba persilatan. Jarang ada orang yang berani mencari perkara dengan tiga tokoh itu. Bahkan, di kalangan golongan hitam nama Tiga Harimau Besi sanggup membuat para perampok tunggang-langgang bila berjumpa dengan ketiga tokoh itu. Nampaknya, mereka pun tertarik dengan kabar yang tersebar di kalangan persila- tan. Dan kini mereka telah ada di hadapan Panji.

“Jadi, maksudmu kau menemukan mereka dalam keadaan sudah tidak bernyawa, begitu...?” Baswara kembali bertanya menegasi setelah terdiam agak lama.

“Tepatnya memang begitu...,” sahut Panji berpura-pura bodoh. Meski ia sadar Baswara telah nyata-nyata menunjukkan sikap curiga.

“Hm.... Aku tidak percaya, Kakang!” tiba-tiba lelaki yang bertubuh kurus dengan wajah pucat dan mata sayu menukas tajam. “Kalau benar demikian, mengapa harus susah-susah menguburkan mayat mereka? Tentu maksudnya hendak menghilangkan jejak. Agar perbuatannya tidak diketahui orang lain...,”

Tajam benar tuduhan yang dilontarkan orang ketiga dari Tiga Harimau Besi. Panji pun sampai menarik napas panjang untuk menekan gemuruh dalam dadanya. Tuduhan itu jelas tanpa dasar yang kuat Dan merupakan fitnah keji yang bisa menyulitkan Panji di kemudian hari.

“Jiranta,” ucap Panji yang memang sudah mengenal nama maupun julukan ketiga tokoh itu. “Untuk apa aku membunuh mereka? Sedangkan di antara aku dan orang-orang Perguruan Bangau Putih tidak ada permusuhan. Jelas tuduhan itu tidak berdasar. Seharusnya kau sadar kalau tuduhan itu bisa menjadi perpecahan di antara sesama golongan..."

Tenang sekali Panji berkata mengingatkan tokoh itu. Sehingga, wajah kurus Jiranta menjadi kemerahan. Rupanya, ia merasa tersinggung dengan jawaban Panji. Panji sendiri tetap tenang dan siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

EMPAT

Jiranta, Baswara, dan Kunda Lawing menatap Panji dengan pandangan tak senang. Kemudian, Baswara orang tertua dari Tiga Harimau Besi, melangkah beberapa tindak mendekati Panji.

“Pendekar Naga Putih...,” ujar Baswara. Ditatapnya wajah pendekar muda di depannya lekat-lekat. “Kepentingan apa yang membuatmu berada di tempat ini?” tanya Baswara dengan sikap yang tidak enak dilihat.

Mendengar pertanyaan itu, Panji malah tersenyum. Seolah pemuda itu menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu. Panji melangkah menjauhi lubang kubur yang dibuatnya.

“Baswara,” sahut Panji dengan tersenyum sabar. “Adakah larangan bagi seseorang untuk berada di tempat ini? Ataukah kalian bertiga telah sedemikian kaya dan membeli seluruh tanah di hutan ini? Jika memang demikian, tentu wajar kalian marah kepadaku yang telah melanggar tempat ini tanpa seizin kalian bertiga. Biarlah sekarang juga aku meminta maaf kepada Tiga Harimau Besi yang gagah perkasa dan berhati bijak...,” lanjut Panji. Perkataannya jelas menunjukkan pemuda itu merasa tersinggung dengan sikap dan pertanyaan-pertanyaan Tiga Harimau Besi.

“Hm.... Jangan main-main, Pendekar Naga Putih! Kendati nama besarmu menjulang tinggi menggetarkan rimba persilatan, tapi kami Tiga Harimau Besi sedikitpun tidak merasa gentar. Kami tidak segan-segan untuk bertindak kasar kepadamu!” Baswara menyahuti gusar. Wajahnya dijalari warna merah. Kelihatan sekali lelaki berewok itu tengah menahan kegeraman hatinya.

“Tiga Harimau Besi, dengarlah baik-baik,” tiba-tiba Panji merubah sikapnya. Kalau tadi ia masih tersenyum dan menjawab sekenanya, kini tidak lagi. Wajahnya mengeras. Sepasang matanya menyorot tajam merayapi wajah ketiga tokoh itu dengan penuh perbawa. “Sebenarnya apa yang kalian kehendaki dari diriku? Jawablah, dan jangan berbelit-belit!” lanjut Panji mengejutkan Tiga Harimau Besi.

Perubahan sikap Panji memang terasa sekali. Mereka tergetar juga melihat kuatnya perbawa yang menyelimuti sosok pemuda tampan berjubah putih itu. Sehingga, tanpa sadar Baswara yang berada paling dekat dengan pemuda itu bergerak mundur. Bahkan, wajahnya terlihat agak pucat. Terasa benar betapa hebatnya pengaruh sosok Panji.

“Kau tidak melihat pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih karena mereka semua tewas di tanganmu, Pendekar Naga Putih! Dan aku yakin kau pun mempunyai tujuan yang sama dengan mereka. Bukit Ular Emas! Nah, salahkah dugaanku?” kali ini yang menyahuti Jiranta. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu kelihatan paling kuat melemparkan tuduhan kepada Panji. Kini kembali menyerang Panji dengan kata-kata tajam dan jelas-jelas merupakan tuduhan berat.

“Hm.... Dugaanmu yang pertama kujawab sejujurnya bahwa itu tidak benar, Jiranta. Tujuanku memang benar hendak ke Bukit Ular Emas. Lalu, apakah ada larangan bagiku untuk pergi ke Bukit Ular Emas?” tukas Panji tegas dan penuh perbawa. Pemuda itu menganggap Tiga Harimau Besi bukan lagi sekadar curiga. Mereka terang-terangan menuduhnya sebagai pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih. Jelas, kalau sampai tersebar di luaran Panji akan menghadapi kesulitan.

“Tidak salah lagi! Maksudmu mendatangi Bukit Ular Emas tentu mempunyai satu kepentingan, bukan?” Kunda Lawing, orang termuda dari Tiga Harimau Besi ikut menimpali. Sama seperti kedua saudaranya, ia pun menuduh Panji sebagai pelaku pembunuhan itu.

“Tiga Harimau Besi! Bukan hanya kalian saja yang berhak datang ke Bukit Ular Emas, dan berniat memiliki Rase Perak yang mukjizat itu! Aku pun memiliki hak yang sama dengan kalian bertiga. Bedanya, aku tidak berniat untuk memiliki Rase Perak. Bukan tidak memerlukannya. Tapi aku bukanlah manusia-manusia tamak yang haus akan kekuatan. Selamat tinggal...!”

Setelah berkata demikian, yang membuat Tiga Harimau Besi tertegun, Panji melesat meninggalkan tempat itu. Karena menurutnya tidak ada gunanya meladeni orang-orang yang tengah dipengaruhi rasa curiga dan iri. Panji tidak menyalahkan ketiga lelaki gagah itu kalau mereka merasa iri pada dirinya.

Kemunculan Panji memang telah membuat nama besar Tiga Harimau Besi tergeser, dan hampir tidak pernah disebut-sebut orang lagi. Sebagai manusia biasa, wajar saja kalau mereka merasa iri. Tapi, Tiga Harimau Besi tidak mau membiarkan Panji pergi begitu saja dari hadapan mereka. Cepat bagai kilat ketiganya melesat. Maksudnya, untuk mencegah kepergian Panji!

“Berhenti...!” Baswara yang melejit paling depan segera mengeluarkan bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, gema suaranya menggeletar ke segenap pelosok hutan. Dari sini dapat dilihat betapa hebat tenaga dalam Baswara.

Panji rupanya tidak mau lagi meladeni mereka. Pemuda itu terus melesat tanpa mempedulikan peringatan Baswara. Sehingga, tokoh pertama dari Tiga Harimau Besi itu kian bertambah gusar. Hingga...

“Haaat..!”

Baswara membentak keras. Kemudian, melepaskan pukulan jarak jauh dengan kedua tangannya bergantian. Lelaki berewok itu melakukannya tanpa menghentikan pengejaran.

Whusss...!

Angin keras menderu mengancam tubuh bagian belakang Pendekar Naga Putih. Tampaknya, Baswara tidak main-main lagi. Ia memang hendak mencelakakan pendekar muda itu. Tapi....

Duarrr!

Panji yang tentu saja sadar akan datangnya bahaya bergegas melambung ke udara menghindarinya. Akibatnya, semak belukar di depan pemuda itu berhamburan disertai ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitarnya. Sedangkan tubuh Panji yang menjadi sasaran meluncur turun beberapa tombak dari semak belukar yang malang itu. Kemudian, kembali melesat tanpa mempedulikan Tiga Harimau Besi yang semakin bertambah dekat.

“Yeaaa!”

Untuk kesekian kalinya Baswara memperdengarkan bentakan mengguntur. Kedua tangannya bergerak susul-menyusul melepaskan pukulan-pukulan jarak jauh.

“Haiiit...!”

Dan kembali pula Pendekar Naga Putih meluncur ke udara. Tapi, kali ini keselamatan Panji tidak bisa dijamin. Saat tubuhnya berputaran di udara terdengar suara angin keras susul-menyusul mengancam tubuhnya.

“Gila...! Mereka benar-benar tidak main-main...?!” gumam Panji yang tahu betul kalau pukulan jarak jauh itu dapat membunuh lawan. Meski belum tentu dapat membuatnya terluka. Maka....

“Haaahhh!”

Sadar bahwa perbuatan Tiga Harimau Besi tidak bisa didiamkan terus-menerus, Panji pun mengambil tindakan. Tubuhnya berputar seiring dengan bentakannya yang mengguntur. Kemudian, dengan mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ yang mukjizat, Panji mengibaskan lengan kanannya menyambut serangan itu. Dan....

Bresh!

Tidak tanggung-tanggung lagi, Panji mengerahkan sepertiga bagian dari kekuatannya untuk menyambut serangan jarak jauh itu. Karena selain penyerangnya bukan orang sembarangan, pukulan jarak jauh itu dilakukan Jiranta dan Kunda Lawing secara serempak. Sehingga, kehebatannya tidak bisa diragukan lagi.

Kedahsyatan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ kembali menunjukkan keunggulannya. Tubuh Jiranta dan Kunda Lawing terjajar mundur. Mereka tampak tidak terlalu kaget. Kehebatan Pendekar Naga Putih memang telah lama terdengar di telinga mereka.

Tapi, kenyataan yang dialami Panji cukup mengejutkan! Benturan tadi membuat lengannya tergetar. Itu merupakan tanda bahwa tenaga dalam lawan memang tidak bisa dibilang rendah. Panji pun cukup maklum. Nama besar Tiga Harimau Besi memang telah tersebar. Dan kehebatan tenaga dalam mereka membuat Panji tertarik. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Keputusan yang diambilnya, membuat Panji tidak lagi berniat melarikan diri. Pemuda itu berdiri tegak menunggu Tiga Harimau Besi tiba.

“Kabar tentang dirimu ternyata bukan sekadar bualan saja, Pendekar Naga Putih! Sayang, tanganmu terlalu ringan untuk mencelakai murid-murid Perguruan Bangau Putih. Untuk itu, kau harus menanggung akibatnya...,” Kunda Lawing yang merasa penasaran berkata memuji sekaligus menekankan kembali tuduhannya.

"Terima kasih atas pujianmu, Kunda Lawing. Sayangnya aku sama sekali tidak melakukan perbuatan yang kau tuduhkan itu. Mau percaya atau tidak, itu terserah kepada kalian...,” tegas Panji seraya menatap tajam Kunda Lawing. Panji benar-benar menyayangkan tindakan orang- orang gagah itu yang main tuduh tanpa mau mendengar penjelasannya. Rupanya, kebaikan Panji yang hendak menguburkan mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih telah ditafsirkan lain oleh ketiga tokoh itu.

“Kami tetap belum bisa percaya! Bukti-bukti telah jelas menunjukkan bahwa kaulah pelaku pembunuhan itu...” Baswara menimpali bantahan Panji.

“Sudah kubilang terserah kepada kalian. Mau percaya atau tidak, yang jelas aku bukanlah pembunuh...,” bantah Panji lagi, tetap tidak bergeming dari pendiriannya. Karena ia memang tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka.

“Hm...” Baswara bergumam tak peduli. Kemudian bergerak maju dari sebelah depan. Kelihatannya, pertarungan memang tidak bisa dihindarkan lagi. Baswara telah mempersiapkan jurusnya untuk menggempur Pende- kar Naga Putih.

Jiranta dan Kunda Lawing bergerak dari kiri dan kanan mengurung Pendekar Naga Putih. Mereka pun telah membuka jurus andalannya masing-masing. Karena sadar bahwa lawan yang kini mereka hadapi bukanlah orang sembarangan. Mereka berdua telah merasakan betapa hebatnya tenaga dalam pendekar muda itu.

“Jangan kau anggap kami pengecut kalau harus melakukan keroyokan terhadapmu, Pendekar Naga Putih. Kami bertiga memang selalu bersama dalam menghadapi setiap pertarungan. Bagi kami, satu atau pun seribu orang sama saja. Kami tetap maju bersama-sama...,” ujar Baswara yang kelihatannya agak risih untuk mengeroyok pendekar muda yang pantas menjadi putranya itu. Tapi, karena ia terbiasa bertarung bertiga, maka Baswara pun mengusir rasa tidak enak itu. Dan siap melancarkan serangan.

Panji menggeser langkahnya saat ketiga lawannya serentak bergerak maju dari tiga jurusan. Sadar kalau lawan yang dihadapinya merupakan tokoh- tokoh tingkat tinggi, Panji langsung membuka jurus ‘Ilmu Silat Naga Sakti’ yang menjadi andalannya.

“Heaaat..!”

Baswara membuka serangan dengan sebuah teriakan keras. Tubuh lelaki kekar itu meluncur dengan disertai sambaran angin keras berkesiutan. Tampaknya, Baswara tidak ingin berlama-lama. Dalam serangan pertama, ia telah menggunakan hampir seluruh tenaganya. Hal itu dapat ditebak Panji dari sambaran angin pukulan yang menderu tajam.

“Yeaaat...!”

Sebelum serangan Baswara tiba, Jiranta sudah meluncur dengan cakar-cakar mautnya. Serangannya tidak kalah hebat dengan Baswara. Bahkan, dari angin pukulannya Panji tahu Jiranta memiliki ilmu tenaga dalam yang lebih tinggi dari dua saudaranya.

Bettt, bettt!

Sepasang tangan kurus itu datang susul-menyusul disertai sambaran angin mencicit tajam. Rupanya, Jiranta pun ingin segera merobohkan Panji. Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Kunda Lawing pun tidak mau ketinggalan. Dibarengi lengkingan panjang menggetarkan jantung tubuh lelaki berkening lebar itu meluruk maju. Gaya serangannya tampak agak kaku dan lebih lambat. Tapi, justru Panji melihat betapa serangan Kunda Lawing-lah yang paling berbahaya. Gerakan sepasang lengan tokoh ketiga dari Tiga Harimau Besi itu lebih rumit dan banyak perubahan yang mengejutkan! Sehingga, Panji lebih memperhitungkan serangan Kunda Lawing daripada Baswara maupun Jiranta.

“Haiiit...!”

Panji berkelit saat serangan Baswara mengancam tubuhnya. Sehingga, tiga buah serangan beruntun yang dilancarkan lelaki berewok itu kandas tanpa hasil. Bahkan, Panji langsung membalas dengan dua buah tamparan yang cepat bukan main.

Bwettt, bwettt..!

Sayang, serangan balasan Panji menemui kegagalan. Baswara sudah bergerak mundur ketika serangan pertamanya gagal. Dan Jiranta-lah yang menggantikan tempatnya. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu mengirimkan cakaran-cakaran maut yang bercuitan tajam.

“Haaah...!”

Kali ini Panji tidak berusaha mengelak. Disambutnya serangan Jiranta dengan dua kali tamparan keras. Sehingga, benturan pun tidak bisa dihindarkan lagi!

Plakkk, plakkk!

“Aaah...!” Tangkisan Panji membuat Jiranta terjajar mundur. Sepasang mata sayu itu sedikit terbelalak. Nampaknya, Jiranta terlalu yakin akan kekuatan tenaganya. Sehingga ketika merasakan lengannya tergetar keras dan kuda-kudanya tergempur mundur, ia tidak bisa menerima begitu saja.

Semula Panji berniat menyusuli tangkisannya dengan sambaran cakar naga yang memang telah dipersiapkannya sejak tadi. Tapi, niat itu segera ditunda ketika melihat serangan Kunda Lawing datang. Cepat Panji berkelit dan mengimbangi serangan yang datang beruntun itu.

Bwettt, bwettt!

Apa yang diduga Panji tentang kehebatan gerak Kunda Lawing memang tidak berlebihan. Kendati dua buah serangan pertama lelaki berkening lebar itu dapat dielakkannya, serangan itu malah berubah arah! Kali ini dengan gerak menyamping membentuk bacokan-bacokan. Bahkan, sepasang lengan itu mampu menggunakan tenaga tangkisan lawan untuk kembali menyerang. Kenyataan itu membuat Panji merasa kagum bukan main kepada orang ketiga dari Tiga Harimau Besi.

“Hebat...!” puji Panji seraya mengelakkan dua buah serangan lawan. Kemudian, melancarkan serangkaian serangan balasan yang membuat Kunda Lawing kelabakan.

“Aiiih...?!”

Whuttt..!

Kunda Lawing mencoba menepis cengkeraman Pendekar Naga Putih dengan bacokan lengan. Namun, tangan itu telah bergerak setengah lingkaran ke dalam. Dan langsung mengincar dada lawan. Karuan saja Kunda Lawing kaget bukan main!

Tapi, nasib baik masih menyertai Kunda Lawing. Saat dirinya terancam bahaya, Baswara dan Jiranta datang membantu. Sehingga, lelaki berkening lebar itu dapat menarik napas lega. Meski keningnya dibasahi titik-titik keringat Dan wajahnya terlihat agak pucat. Ia nyaris celaka di tangan Pendekar Naga Putih.

Pertarungan berjalan semakin seru. Tiga Harimau Besi yang ternyata memiliki kerja sama yang sangat baik, sempat membuat Panji berkali-kali mengeluarkan pujian. Ketiga lawannya dapat saling melindungi dengan baik. Sehingga, kesempatan menyerang bagi Panji mereka tutup sebaik-baiknya.

“Hattt...!”

Setelah lewat enam puluh jurus, tiba-tiba Pendekar Naga Putih mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Tubuhnya melambung ke udara secepat sambaran kilat. Dari atas Panji membagi-bagikan serangannya.

Whuttt, whuttt!

Kali ini mata Tiga Harimau Besi benar-benar dibuka lebar-lebar! Kecepatan yang diperlihatkan Pendekar Naga Putih membuat pandangan mereka menjadi kabur. Dan sulit untuk menangkap ke mana arah serangan yang diincar lawan. Sergapan hawa dingin yang memenuhi arena pertarungan membuat ketiga orang itu gelagapan, hingga gerak mereka terhambat.

“Celaka...?!” desis Baswara menyadari bahaya yang mengancam.

“Kurang ajar...?!” lain halnya dengan Jiranta. Lelaki kurus itu mengeluarkan sumpah serapah. Ia benar-benar tidak berdaya menghadapi balutan hawa dingin menggigit tulang. Dan....

Bukkk, desss!

Tanpa, dapat dicegah lagi, dua buah pukulan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih telak mengenai sasaran. Tubuh Baswara dan Jiranta terlempar dari arena pertarungan. Kerasnya pukulan yang mengenai tubuh mereka membuat kedua tokoh itu terjerembab ke tanah. Darah segar termuntah dari mulut mereka. Agaknya, pukulan itu telah mendatangkan luka dalam.

“Bangsat...!” Kunda Lawing marah besar melihat dua saudaranya dirobohkan Pendekar Naga Putih. Dengan kemarahan yang menggelegak, lelaki berkening lebar itu mendesak maju dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya. Tapi....

“Yeaaah!”

Mempergunakan kelitan manis, tubuh Pendekar Naga Putih berputar melingkar menghindari dua pukulan yang mengancam kepala dan dadanya. Dan langsung mengirimkan tendangan kilat ke tubuh Kunda Lawing yang doyong ke depan.

Desss!

“Huakh!” Darah segar langsung termuntah keluar dari mulut Kunda Lawing. Tubuh lelaki itu terpental kebelakang sejauh satu setengah tombak.

Untunglah pada saat terakhir telapak kakinya menyentuh tubuh lawan, Panji telah mengurangi tenaga tendangannya. Kalau tidak, bukan mustahil Kunda Lawing seketika akan menemui ajalnya. Tapi, bukan itu maksud Panji meladeni mereka. Kunda Lawing terbanting jatuh dan tak sadarkan diri setelah kembali memuntahkan darah segar. Kenyataan itu sangat mengejutkan Baswara dan Jiranta. Mereka menatap penuh dendam kepada Pendekar Bangau Sakti. Panji yang sadar semua ini akan terus berkelanjutan segera membalikkan tubuh. Sebelumnya ia berpamitan dan meminta maaf.

“Aku tidak ingin melanjutkan perkelahian tak berguna ini. Cukuplah pelajaran yang telah kalian berikan padaku. Untuk itu aku minta maaf. Sekali lagi kukatakan aku bukanlah pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih. Nah, selamat tinggal...”

Baswara dan Jiranta hanya bisa menggeram menatap kepergian Pendekar Naga Putih. Mereka tidak mungkin dapat mengejar pemuda itu. Keadaan tubuh mereka tidak mengizinkan. Tapi, belum lagi tubuh Panji bergerak jauh, mendadak berkelebat sesosok bayangan. Terdengar seruannya yang mengguntur mencegah kepergian Pendekar Naga Putih.

“Pendekar Naga Putih, tunggu!”

Seiring dengan suara seruannya, sosok bayangan itu berputaran di udara. Kemudian meluncur turun satu tombak di hadapan Pendekar Naga Putih. Melihat sosok bayangan itu sanggup mengejar Panji, dapat ditebak betapa hebat ilmu lari cepat sosok bayangan itu.

“Perlahan sedikit, Pendekar Naga Putih...!” ujar sosok tinggi besar itu, berdiri tegak menghadang jalan. Sepasang matanya menatap tajam sosok Pendekar Naga Putih di depannya.

Panji bergegas menghentikan langkah. Ditatapnya sosok di hadapannya dengan penuh selidik. Kening pemuda itu berkerut berusaha mengenali sosok tinggi besar itu. “Pertapa Goa Kelelawar...?!” desis Panji terkejut ketika mengenali siapa sosok tinggi besar yang berdiri menghadang jalan.

“Benar. Aku adalah Pertapa Goa Kelelawar...,” sahut sosok tinggi besar yang berusia sekitar enam puluh lima tahun. Kendati usianya terbilang tua, namun air muka Pertapa Goa Kelelawar tampak segar kemerahan. Sepa- sang matanya demikian bening. Seolah Panji melihat lautan yang tidak berdasar dalam bola mata tokoh tingkat tinggi itu. Perbawa yang terpancar dari wajah kakek itu pun demikian kuat, membuat hati Panji bergetar.

“Maaf, kalau aku telah bersikap kurang hormat kepada Eyang. Itu karena aku belum tahu siapa Eyang...,” ujar Panji seraya membungkuk hormat. Nada suaranya terdengar demikian halus. Menun- jukkan budi pekerti yang sopan.

“Hm...” Pertapa Goa Kelelawar bergumam. Dan tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang menjuntai hingga ke dada. Kepalanya terangguk-angguk merasa terkesan dengan sikap santun pemuda tampan berjubah putih itu.

“Malaikat Petir benar-benar boleh berbangga hati melihat pewarisnya demikian sopan dan perkasa. Hhh.... Betapa aku merasa iri dengan gurumu, Pendekar Naga Putih...,” ujar Pertapa Goa Kelelawar tersenyum arif. Sikapnya mencerminkan hati yang bijak dan penuh kasih. Gambaran seorang pertapa tulen terlihat jelas dalam sosok kakek itu.

"Terima kasih atas pujian Eyang. Kalau boleh aku bertanya, adakah sesuatu yang Eyang perlukan dariku...?” tanya Panji yang semakin tunduk melihat sikap kakek itu demikian bijak dan mencerminkan sikap penuh kasih.

"Tidak ada sesuatu yang penting, Pendekar Naga Putih. Aku hanya merasa heran melihat kau bertarung dengan Tiga Harimau Besi. Persoalan apa yang membuat kalian saling adu otot?” ujar Pertapa Goa Kelelawar. Tidak terlihat gambaran rasa curiga atau tidak suka pada wajahnya. Malah, kakek itu terkesan menaruh kekaguman yang dalam kepada Panji. Dan pertanyaan itu demikian wajar tanpa kesan buruk.

Panji yang menyadari Pertapa Goa Kelelawar hanya sekadar ingin tahu menghela napas panjang. Ditatapnya sosok kakek itu dengan sorot mata penuh hormat dan segan. Kemudian, diceritakannya persoalannya dengan singkat dan jelas.

“Demikianlah, Eyang. Mereka tetap menuduhku sebagai pembunuhnya...,” Panji menutup ceritanya dengan wajah tenang. Kendati dari helaan nafasnya membersit perasaan sesal atas sikap dan tindakan Tiga Harimau Besi.

Pertapa Goa Kelelawar terdiam sesaat. Pandangannya dilemparkan ke arah dua orang dari Tiga Harimau Besi. Tidak sepatah pun ucapan keluar dari mulutnya. Sehingga, Panji agak gelisah menunggu ucapan kakek itu.

LIMA

Baswara dan Jiranta terlihat agak gelisah ketika ditatap tajam oleh Pertapa Goa Kelelawar. Mereka tentu saja kenal betul siapa kakek bertubuh tinggi besar itu. Kalau tokoh itu sampai berpihak kepada Pendekar Naga Putih, celakalah mereka. Meski belum pernah melihat kakek itu bertarung, namun kebesaran namanya telah bergema ke pelosok-pelosok negeri. Baswara dan Jiranta sadar kalau Pertapa Goa Kelelawar tidak bisa dibuat main-main.

“Sebagai orang-orang gagah yang menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, aku ingin bertanya kepada kalian berdua. Apakah benar yang barusan disampaikan Pendekar Naga Putih kepadaku?” setelah beberapa saat terdiam, pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Pertapa Goa Kelelawar.

Mendengar ucapan kakek itu, Panji merasa lega. Ucapan itu berarti Pertapa Goa Kelelawar tidak memihak kepada siapa pun dan mengutamakan keadilan. Sikap itu semakin membuat Panji kagum. Tidak demikian halnya dengan Baswara dan Jiranta. Orang pertama dan kedua dari Tiga Harimau Besi itu kelihatan agak gelisah. Mereka memang tidak mempunyai bukti yang kuat ketika menuduh Pendekar Naga Putih. Sehingga, mereka mulai meragukan tuduhannya.

“Pertapa Goa Kelelawar,” ucap Baswara setelah memutar otaknya mencari kata-kata yang tepat. “Kami melihat sendiri ia hendak menguburkan mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih. Dan kami menduga ia sengaja hendak menghilangkan jejak dari perbuatannya...,” lanjut Baswara tidak langsung menjawab pertanyaan Pertapa Goa Kelelawar.

“Hm.... Bukan itu yang kutanyakan kepada kalian? Aku hanya bertanya tentang benar tidaknya cerita Pendekar Naga Putih. Bukankah pertanyaan itu jelas dan tidak sulit untuk menjawabnya?” kilah Pertapa Goa Kelelawar yang tampaknya tidak menerima ucapan Baswara. Dan mengulang kembali pertanyaannya.

“Benar. Apa yang diceritakan Pendekar Naga Putih memang tidak berlebihan.” Akhirnya Baswara terpaksa menjawab, walau terasa sangat berat

“Bagus! Itu berarti kalian masih menjunjung tinggi kegagahan dan kejujuran,” tukas Pertapa Goa Kelelawar tersenyum puas atas jawaban Baswara. Kemudian, terdiam sesaat dan berpaling ke arah Panji. Dan, kembali menatap Baswara dan Jiranta bergantian. Pertanyaannya kembali terlontar.

“Jadi, kalian bertiga menuduh secara paksa tanpa mau mendengar penjelasan Pendekar Naga Putih?”

Baswara dan Jiranta saling bertatapan sesaat Keduanya seperti tengah berembuk untuk menjawab pertanyaan itu. Dan Jiranta tetap menyerahkan jawabannya kepada Baswara. Karena lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu tidak berani menjawabnya.

“Kami tetap menuduh Pendekar Naga Putih sebagai pelaku pembunuhan itu!” tegas Baswara bersikeras. Karena sudah telanjur basah. “Kalau kau hendak berpihak kepada pendekar muda yang sombong itu, aku sedikit pun tidak keberatan! Yang jelas, keputusan kami tidak berubah!” tandas Baswara mengejutkan.

“Hm...” Pertapa Goa Kelelawar pun bergumam sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang. Sepasang matanya agak meredup. Sepertinya, kakek itu dapat menduga mengapa Baswara berkata demikian.

“Baswara,” ujar Pertapa Goa Kelelawar dengan lembut penuh kearifan. “Aku tahu kau tidak berkata jujur. Ketahuilah. Sebagai orang-orang yang menjunjung kegagahan, tidak ada kata terlambat untuk mengakui suatu kesalahan. Setiap manusia bisa berbuat khilaf. Karena itu, sebaiknya kau pikirkanlah kembali ucapanmu. Aku percaya Pendekar Naga Putih tidak mungkin melakukan perbuatan tercela itu. Apa pun alasannya!”

"Tapi dia melakukannya karena tidak ingin mendapat saingan untuk memperoleh Rase Perak! Itu sebabnya, Pendekar Naga Putih sampai berbuat sekeji itu!” Jiranta rupanya tidak sabar juga untuk berdiam diri. Sekali berbicara, ucapannya terdengar keras penuh rasa tidak suka. Bahkan, nyata-nyata melemparkan tuduhannya kembali kepada Panji.

“Hm.... Mungkin benar Pendekar Naga Putih tengah menuju Bukit Ular Emas, seperti tujuan banyak tokoh yang saat ini tengah berlomba untuk mencapai tempat itu. Tapi, menurutku tidak semua tokoh datang untuk mendapatkan Rase Perak. Tidak sedikit di antara mereka yang hanya ingin membuktikan kebenaran adanya Rase Perak. Salah satunya adalah aku. Dan mungkin Pendekar Naga Putih pun mempunyai niat sama denganku. Jadi, tuduhan kalian sama sekali tidak berdasar!” tandas Pertapa Goa Kelelawar, kendati suaranya tetap lembut dan tidak menyiratkan kemarahan.

“Pertapa Goa Kelelawar!” Baswara menimpali agak keras. “Kalau kau memang hendak memihak Pendekar Naga Putih, kami tidak merasa keberatan. Tapi, jangan coba-coba menyuruh kami percaya dengan kebersihan pendekar muda itu. Siapa tahu dalam hatinya tersimpan suatu niat busuk yang orang lain tidak tahu. Termasuk kita semua!”

“Hm.... Kelak aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah orang yang tamak dan buta hati. Untuk kali ini kalian boleh berpuas hati dengan menuduhku semaunya. Aku memang tidak mempunyai bukti atau saksi yang dapat membuktikan bahwa aku bukan pembunuh!” tak sabar Panji menyelak. Sikap kedua orang itu dianggapnya sudah keterlaluan dan sangat keras kepala.

Pertapa Goa Kelelawar mengangkat kedua tangannya ketika melihat Baswara dan Jiranta masih hendak membantah. Sehingga, kedua belah pihak terdiam dan tidak lagi mengeluarkan suara.

“Persoalan ini tidak akan pernah selesai jika kalian dikuasai amarah. Untuk itu, biarlah ku putuskan. Tentunya jika kalian masih sudi memandangku sebagai orang tua. Sebaiknya, kita tunda saja persoalan ini. Siapa tahu waktu akan segera mengungkapkannya...” Akhirnya Pertapa Goa Kelelawar memutuskan. Ia tidak melihat adanya sisi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu.

Panji tampak tidak merasa keberatan dengan keputusan Pertapa Goa Kelelawar. Karena ia pun ingin membuktikan bahwa pelaku pembunuhan itu bukanlah dirinya. Untuk itu, ia memerlukan waktu.

“Baiklah. Kami bisa menerima keputusan itu. Tapi kami tidak bisa menjamin kalau Pendekar Bangau Sakti mencarimu, Pendekar Naga Putih!” ujar Baswara yang secara tidak langsung telah mengancam Panji.

Panji hanya tersenyum mendengar ancaman Baswara. Dan menatap kepergian Tiga Harimau Besi yang membawa salah seorang rekannya, Kunda Lawing. Tokoh ketiga itu masih belum sadar dari pingsannya.

Pertapa Goa Kelelawar tidak berusaha mencegahnya. Sepertinya, kakek itu maklum kalau Tiga Harimau Besi merasa malu untuk menarik kembali tuduhannya. Ia pun hanya bisa berharap agar sang Waktu dapat melunakkan kekeraskepalaan ketiga tokoh itu.

“Bagaimana, Pendekar Naga Putih? Apakah kau masih akan melanjutkan perjalananmu ke Bukit Ular Emas?” tanya Pertapa Goa Kelelawar setelah kepergian Tiga Harimau Besi. Mereka berdua masih belum beranjak dari tempat itu.

“Aku tetap akan menuju ke Bukit Ular Emas, Eyang. Karena aku khawatir ada pihak ketiga yang membuat kerusuhan di tempat itu,” sahut Panji tidak mengubah rencananya.

“Jadi, kau tidak tertarik dengan kabar tentang Rase Perak yang langka itu?” tanya Pertapa Goa Kelelawar meminta ketegasan.

Padahal, tadi Pertapa Goa Kelelawar menduga pemuda itu hendak ikut menyaksikan bagaimana rupa Rase Perak. Tapi, dugaannya ternyata meleset. Dan kakek itu semakin kagum akan keluhuran budi Pendekar Naga Putih. Maksud kedatangan pemuda itu ternyata hanya untuk melihat suasana, agar tidak terjadi keributan yang menimbulkan bencana bagi tokoh-tokoh persilatan.

“Tidak, Eyang. Meskipun kabarnya Rase Perak merupakan binatang langka, tapi aku sedikit pun tidak tertarik untuk memperebutkannya...,” jawab Panji sejujurnya. Niatnya memang bukan tertuju pada kabar tentang akan munculnya Rase Perak. Panji hanya ingin agar pertemuan itu tidak menimbulkan pertumpahan darah.

“Hm.... Padahal binatang itu sangat langka. Sulit sekali untuk mencari jejaknya. Kemunculannya sendiri hanya pada waktu-waktu tertentu,” gumam Pertapa Goa Kelelawar yang rupanya tahu banyak tentang Rase Perak yang menghebohkan itu.

“Apakah binatang langka itu tidak ada yang memeliharanya, Eyang?” tanya Panji ingin tahu. Sebab, biasanya benda atau binatang langka adalah peliharaan orang-orang sakti.

“Ada. Tokoh itu berjuluk Pendekar Rase Perak. Tapi, namanya sudah lama menghilang dari dunia persilatan. Itu sebabnya aku merasa tertarik dan meninggalkan tempat pertapaanku. Sebab, kalau benar Rase Perak yang menghebohkan itu binatang peliharaan saha- batku, bisa lain persoalannya. Ia akan murka kalaubbinatang kesayangannya itu diburu tokoh-tokoh persilatan. Binatang langka itu telah berumur seratus tahun lebih. Selain darahnya dapat membuat tubuh kita menjadi kebal terhadap segala jenis racun, juga bisa menambah kekuatan tenaga dalam menjadi berlipat ganda. Kabar tentang binatang itu telah menghebohkan dunia persilatan!” jelas Pertapa Goa Kelelawar.

Kini Panji semakin mengerti tokoh-tokoh persilatan seperti berlomba untuk mendapatkan binatang itu. Kiranya, demikian besar khasiatnya.

“Kalau begitu, siapa yang membawa kabar tentang adanya binatang langka yang sangat berkhasiat itu, Eyang?” tanya Panji kalau-kalau Pertapa Goa Kelelawar mengetahui orang pertama yang membawa kabar menghebohkan itu.

“Aku tidak tahu pasti, Pendekar Naga Putih. Kemungkinan besar pemburu tua yang dahulu sempat bertemu dengan binatang langka itu. Karena tidak ada lagi dugaan lain dalam kepalaku. Mungkin pemburu tua itu menceritakan kepada keturunannya. Yang kemudian menceritakan lagi kepada orang lain, dan terus sampai menyebar luas di kalangan persilatan. Tapi, siapa pun orang itu yang jelas kita harus mencegahnya. Aku khawatir Pendekar Rase Perak tidak dapat menahan diri bila tokoh-tokoh persilatan memburu binatang kesayangannya. Bisa saja pendekar itu tewas di tangan tokoh-tokoh persilatan yang banyak jumlahnya...,” urai Pertapa Goa Kelelawar.

“Hm Kalau begitu, kita harus secepatnya tiba dan mengabarkan kepada Pendekar Rase Perak. Jika sampai terlambat, bisa-bisa tempat itu akan menjadi ajang pertumpahan darah...,” ujar Panji yang terlihat sangat khawatir kalau dugaannya sampai terjadi.

“Aku pun mengkhawatirkan hal itu, Pendekar Naga Putih. Tapi, sebaiknya kita berpisah di sini saja. Kau masih mempunyai kewajiban untuk mencari pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih,” timpal Pertapa Goa Kelelawar mengingatkan Panji akan tudu- han Tiga Harimau Besi.

“Memang sebaiknya begitu, Eyang. Selain hendak menyelidiki pembunuh biadab itu, aku pun ingin mencari apakah masih ada tokoh-tokoh lain yang menjadi korban pembunuhan gelap itu,” ujar Panji menyetujui usul Pertapa Goa Kelelawar. Ia sendiri sebenarnya ingin mengajukan usul itu. Tapi merasa enggan. Takut dituduh sombong. Untung, Pertapa Goa Kelelawar keburu mengajukan usul itu. Sehingga, Panji merasa lega.

“Nah, selamat berpisah, Pendekar Naga Putih. Kita berjumpa di Bukit Ular Emas...,” usai berkata, Pertapa Goa Kelelawar melesat meninggalkan tempat itu. Sebentar saja sosok kakek tinggi besar itu sudah berada jauh dan lenyap ditelan lebatnya dedaunan.

Panji berdiri mematung. Sesaat kemudian, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dihampirinya mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih. Dan menguburkannya menjadi satu dalam sebuah lubang besar. Setelah selesai, Panji segera melesat pergi.

Arah yang diambil Panji berlawanan dengan Pertapa Goa Kelelawar. Panji memang berniat untuk menyelidiki pelaku pembunuhan itu lebih dahulu. Untuk itu, perjalanannya ke Bukit Ular Emas ditunda. Jalan satu-satunya untuk menemukan jejak pembunuh itu adalah dengan mengikuti perjalanan tokoh-tokoh persilatan. Panji yakin kejadian itu masih akan berlanjut.

********************

Dengan langkah tenang, Panji menyusuri jalan utama sebuah desa. Menurutnya, desa itu akan menjadi tempat persinggahan kaum rimba persilatan. Untuk menuju ke Bukit Ular Emas, orang harus melalui desa itu terlebih dulu. Karena, Panji berniat akan menginap di Desa Eretan ini. Dan berharap dapat menemukan tokoh-tokoh persilatan yang akan mengunjungi Bukit Ular Emas. Panji juga berharap agar pembunuh misterius muncul untuk mencari korban berikutnya.

Setelah menemukan beberapa kelompok tokoh-tokoh persilatan yang tengah beristirahat, Panji segera mencari penginapan untuk bermalam. Di dalam kamar tempatnya menginap, Panji bersemadi untuk menghimpun tenaga agar saat bergerak malam nanti tubuhnya terasa segar. Panji tidak keluar dari dalam kamarnya sampai malam datang menyapa persada.

Saat malam semakin larut dalam keheningan dengan ditemani nyanyian satwa, Panji menyelinap keluar melalui jendela kamarnya. Lalu, bergerak meninggalkan penginapan setelah menutup jendela rapat-rapat Pemuda itu melesat berlarian di atas atap rumah-rumah penduduk Desa Eretan. Cahaya bulan redup yang muncul setengah menggantung di langit kelam, menemani gerak Pendekar Naga Putih yang berharap dapat menemukan pembunuh misterius.

Meski di bawah sana peronda-peronda desa berkeliling memeriksa keamanan desa, namun tak seorang pun yang tahu malam itu mereka dibantu oleh seorang pemuda perkasa. Walau kepentingan Panji dan peronda-peronda desa itu berlainan, pada dasarnya tetap sama. Karena secara tidak langsung Panji telah ikut meronda desa. Kendati niatnya hendak memergoki pembunuh misterius yang telah membuatnya dimusuhi Tiga Harimau Besi.

Waktu itu belum lagi tengah malam. Panji yang meronda desa dari atas atap rumah-rumah penduduk melihat sosok-sosok bayangan hitam mengendap-endap. Jumlah mereka kurang lebih tujuh orang. Sosok-sosok itu bergerak hati-hati mendekati sebuah rumah penginapan, yang diketahui Panji sebagai tempat menginap sekelompok tokoh-tokoh persilatan. Karena sebelum mencari tempat untuk menginap, Panji telah mengikuti orang-orang rimba persilatan. Sehingga, ia dapat mengetahui di mana tokoh-tokoh persilatan itu bermalam.

“Hm.... Mungkinkah mereka pembunuh-pembunuh yang telah membantai delapan murid Perguruan Bangau Putih? Tapi, kalau melihat gerakan mereka rasanya tidak mungkin. Kepandaian tujuh orang itu terlalu rendah untuk mencelakakan murid-murid Perguruan Bangau Putih. Aku tahu betul orang-orang yang dikirim Perguruan Bangau Putih telah melalui pilihan yang ketat. Sehingga, baru dipercaya untuk melakukan tugas itu setelah dipersiapkan dengan matang. Aku meragukan kemampuan ketujuh orang itu...,” gumam Panji yang bergerak hati-hati mengikuti sosok-sosok bayangan hitam yang saat itu sudah memasuki rumah penginapan melalui jalan belakang.

Karena percaya akan kemampuan tokoh-tokoh persilatan yang bermalam di dalam rumah penginapan itu, Panji tidak mengikuti ketujuh sosok itu sampai ke dalam, la menunggu kelanjutan perbuatan mereka. Dan hanya mendekam di atas atap rumah salah seorang penduduk yang agak berdekatan dengan penginapan.

“Hm.... Sepertinya ketujuh orang itu tertangkap basah oleh tokoh-tokoh persilatan...,” gumam Panji ketika mendengar suara bentakan dan dentang senjata beradu. Panji dapat memastikan kalau di dalam rumah penginapan telah terjadi perkelahian. Semua itu diketahui dari pendengarannya. Tapi, itu cukup jelas dan sedikit sekali kemungkinannya meleset.

“Hei, jangan lari kau, Pengecut Busuk...!” tiba-tiba terdengar bentakan.

Panji menatap lebih teliti ke arah bagian belakang penginapan. Dari bagian belakang tempat itu tampak lima sosok tubuh bergerak ke luar. Disusul dengan dua orang lainnya yang rupanya bertindak untuk menahan serangan, sementara kawan-kawannya bergerak pergi. Semua dapat dilihat Panji dengan jelas. Karena pada bagian belakang rumah penginapan terdapat obor yang menerangi tempat itu.

“Haaat...!”

Satu dari dua orang yang melindungi kawan-kawannya melarikan diri tiba-tiba memekik keras. Dan, mempergencar putaran pedangnya hingga menimbulkan deruan angin tajam. Empat orang yang semula mendesaknya segera berlompatan mundur. Mereka tidak ingin mendapat luka.

“Cepat pergi...!” teriak sosok tinggi kekar kepada kawan-kawannya. Ia jelas tidak mungkin dapat melakukan hal itu lebih lama lagi. Dan perbuatan itu pun dilakukannya dengan nekat demi keselamatan kawan- kawannya.

Enam sosok tubuh berpakaian serba hitam itu segera melesat tanpa banyak cakap lagi. Kendati ilmu meringankan tubuh mereka tidak terlalu tinggi, namun suasana malam yang gelap membantu usaha mereka untuk melarikan diri.

“Hm.... Kau tidak akan kubiarkan pergi, Keparat Busuk...!” bentak salah satu dari empat lelaki gagah yang marah karena istirahatnya diganggu orang-orang misterius. Wajah mereka ditutup oleh penutup wajah berwarna hitam, sehingga tidak bisa dikenali. Tapi....

Syuttt, syuttt syuttt!

Terdengar sambaran angin berkesiutan. Diterangi sinar obor, terlihat belasan benda berkilau meluncur ke arah arena pertarungan. Tampaknya, serangan itu memberi kesempatan kepada lelaki tinggi kekar untuk melarikan diri. Lelaki kekar berpakaian serba hitam itu rupanya tahu maksud kawan-kawannya. Ia segera melesat ke kanan sambil mengibaskan pedangnya menyambut sambaran pedang salah seorang lawan.

Trangngng!

Seiring dengan benturan keras itu, tubuh lelaki tinggi kekar terdorong beberapa langkah. Dengan sangat liciknya, lelaki itu membantu daya dorong benturan dengan lompatan panjang. Kemudian, melesat pergi meninggalkan penginapan.

“Keparat, jangan harap dapat lepas dari tanganku...!” salah seorang berteriak marah. Ia tidak sempat melakukan pengejaran. Karena saat itu ia dan tiga kawannya disibukkan oleh datangnya pisau-pisau terbang yang mengancam mereka.

Pisau-pisau terbang itu memang dapat dilumpuhkan. Tapi, mereka telah kehilangan buruannya. Tokoh-tokoh persilatan itu tidak berani bertindak gegabah untuk melakukan pengejaran. Dalam kegelapan malam seperti itu sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Sehingga, mereka hanya dapat membanting kaki dengan jengkel. Dan membiarkan musuh-musuhnya bebas meninggalkan tempat itu.

ENAM

Tujuh orang lelaki berpakaian serba hitam yang menutup wajahnya dengan kain hitam itu melesat menerobos kegelapan malam. Wajah mereka dibasahi keringat yang turun membasahi pakaian. Suara deru nafasnya yang memburu menandakan ketujuh orang itu tengah didera rasa lelah. Tiba-tiba langkah mereka terhenti seketika. Di depan mereka, dalam jarak dua tombak lebih, tampak sesosok bayangan putih berdiri tegak menghadang jalan.

“Hah?!” Lelaki terdepan yang memimpin enam orang kawannya terperangah! Sepasang matanya terbelalak lebar. Sosok serba putih di depannya benar-benar membuat hatinya tergetar untuk beberapa saat.

“Sssetankah... itu...?” desis orang kedua yang berdiri pucat dua langkah di belakang lelaki pertama. Jelas terlihat lelaki itu pun dilanda ketakutan. Tak satu pun yang menjawab pertanyaan itu. Mereka semua merasa takut dan tegang. Apalagi, ketika melihat sosok serba putih itu bergerak maju dengan perlahan. Mereka menunggu dengan hati berdebar keras.

“Tidak! Ia pasti manusia seperti kita. Lihat! Ia melangkah tak bedanya dengan manusia. Jelas, sosok serba putih itu bukan hantu atau sebangsanya.” Lelaki tinggi besar yang menjadi pemimpin berkata keras-keras kepada yang lainnya. Ucapan itu sekaligus dimaksudkan untuk mengusir rasa takut dalam dadanya.

“Aku memang bukan sebangsa makhluk halus. Tapi, sama seperti kalian semua...” Sosok serba putih itu menyahuti dengan tenang. Sementara langkahnya terus mendekat

“Siapa kau? Katakan, apa maksudmu menghadang perjalanan kami?” kegarangan lelaki tinggi kekar itu muncul kembali. Rupanya, pengakuan sosok serba putih telah memupus rasa takut di hatinya. Keberanian serta kegalakannya pun kembali muncul.

“Mengenai siapa aku, rasanya tidak begitu penting. Yang jelas, maksud kehadiranku di tempat ini adalah untuk meminta penjelasan tentang perbuatan kalian yang memasuki penginapan. Apa yang akan kalian lakukan sebenarnya? Kulihat kalian telah menemui kegagalan tadi...,” ujar sosok serba putih yang tidak lain Panji. Ia sengaja menghadang ketujuh lelaki berpakaian serba hitam itu untuk mencari keterangan dari mereka.

“Hm... Sama seperti tidak pentingnya namamu bagi kami, apa yang kami lakukan juga tidak penting bagimu! Kami minta kau segera menyingkir dan membiarkan kami lewat,” tukas lelaki tinggi kekar. Sepasang matanya tampak menyiratkan kemarahan dan ancaman. Bahkan, jari-jari tangan kanannya sudah meraba gagang pedang. Agaknya, ia hendak menggertak Panji agar segera meninggalkan tempat itu.

Panji menggeleng dan menghentikan langkahnya dalam jarak satu tombak. Sepasang matanya menatap tajam wajah tujuh lelaki yang sebagian tertutup kain hitam. “Gerak-gerik kalian terlalu mencurigakan. Selain itu, untuk apa kalian menyembunyikan wajah? Hanya orang-orang yang hendak melakukan kejahatan yang tidak berani menampakkan diri. Jadi, jangan harap kalian dapat meninggalkan tempat ini sebelum memberi penjelasan atas pertanyaanku tadi,” tegas Panji tandas. Ia bertekad tidak akan melepaskan ketujuh orang itu, yang mungkin saja dapat membawanya ke hadapan pembunuh yang dicarinya.

“Kurang ajar! Kau benar-benar tidak bisa diberi hati!” geram lelaki tinggi kekar. Digenggamnya gagang pedang, kendati belum tercabut keluar. “Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, Kisanak! Pergilah! Jangan campuri urusan kami. Atau kau akan menyesal seumur hidup!”

"Terima kasih atas peringatanmu, Kisanak yang gagah. Tapi maaf, aku tidak akan pergi sebelum kalian menjawab pertanyaanku,” tandas Panji bersikeras pada pendiriannya.

“Keparat...!” Salah satu dari enam lelaki yang berada agak di belakang terdengar memaki gusar. Kemudian, melangkah lebar mendekati Panji dengan pedang terhunus.

“Kau memang pantas dibunuh!” Usai berkata, lelaki berperawakan gemuk dengan pakaian terbuka di bagian depannya mengangkat pedang tinggi-tinggi. Dan....

“Haaah...!” Sambil membentak geram, lelaki gemuk itu men- gayunkan senjatanya ke batok kepala Pendekar Naga Putih. Agaknya, ia hendak membuat pemuda itu tewas seketika dengan tubuh terbelah. Senjata yang diayunkannya mengincar bagian tengah kepala Panji!

Whukkk!

Terdengar suara berdesing ketika pedang itu terayun deras, siap membelah tubuh Pendekar Naga Putih. Tapi Panji tidak berusaha menghindarinya. Pemuda itu mengerahkan tenaga mukjizatnya yang mem- buat sekujur tubuhnya terbungkus lapisan kabut bersinar putih keperakan.

Krakkk!

“Aaah...?!” Lelaki gemuk itu terpekik kaget! Pedang yang telak membacok bagian tengah kepala pemuda itu patah menjadi dua. Sedangkan kepala pemuda itu tetap utuh tanpa cacat sedikit pun. Bahkan, tubuh lelaki gemuk itu terangkat ke atas. Lalu, jatuh terbanting dengan kerasnya. Ia tidak bisa segera bangkit Karena tangan kanannya teras linu.

“Kurang ajar! Kepung pemuda keparat itu...!” melihat kenyataan yang mengejutkan itu, lelaki tinggi kekar segera memberi perintah pada kawan- kawannya.

Tanpa banyak cakap, enam lelaki berpakaian serba hitam bergerak maju menerjang Pendekar Naga Putih. Suara desingan pedang terdengar susul-menyusul. Kelima batang senjata itu siap mencincang tubuh Panji yang kelihatannya tidak akan memberikan perlawanan. Tapi...

Trakkk, trakkk, krakkk!

Terdengar teriakan-teriakan kaget dari lima lelaki berpakaian serba hitam. Senjata mereka satu pun tidak ada yang utuh. Semua berpatahan ketika bertemu dengan tubuh Pendekar Naga Putih. Padahal, ketajaman pedang-pedang itu sudah tidak diragukan lagi. Tapi, ternyata tidak mampu melukai tubuh Pendekar Naga Putih yang terdiri dari tulang dan daging. Kenyataan itu sangat sukar dipercaya.

Melihat kenyataan itu, lelaki tinggi kekar menjadi kalap dan cemas. Ia baru sadar kalau sosok pemuda tampan berjubah putih itu ternyata bukan orang sembarangan. Tapi, karena belum merasakannya sendiri, ia masih juga belum percaya. Maka, dengan bentakan keras lelaki kekar itu merangsek maju.

“Jaga seranganku...!” seru lelaki kekar menyabetkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

Panji hanya bergumam pelan. Pemuda itu masih tidak bergeser dari tempatnya. Kelihatannya, Panji sengaja hendak melumpuhkan lawan-lawannya dengan mengandalkan kekebalan tubuh.

Trakkk!

Tenaga ‘Sakti Gerhana Bulan’ kembali menunjukkan keampuhannya. Bacokan pedang lelaki berewok tidak membuat Panji terluka. Malah, pedang itu patah tiga. Dan ketika Panji menghentakkan tubuh, lelaki tinggi kekar itu terpekik ngeri! Tubuhnya terlempar deras ke belakang.

Brukkk!

Tubuh tinggi kekar itu jatuh berdebuk di tanah yang mulai dibasahi embun. Sesaat lelaki itu mengerang kesakitan. Dan berusaha merangkak bangkit

“Sekarang katakan sejujurnya! Apa maksud kalian menyatroni penginapan tokoh-tokoh persilatan itu?” tanya Panji dengan berwibawa.

“Kisanak, tahukah kau siapa kami sebenarnya. Sadarkah kau kalau bentrok dengan kami berarti kau telah bosan hidup?” tukas lelaki tinggi kekar yang menggunakan cara lain untuk mengusir pemuda tampan yang ternyata memiliki kepandaian menggetarkan itu.

“Hm.... Kau hendak mengancamku rupanya...?” sahut Panji yang tentu saja tidak takut dengan gertakan lelaki tinggi besar. Malah, sengaja memancing ucapan selanjutnya dari lelaki tinggi kekar itu.

“Kisanak, perlu kau ketahui kami adalah orang-orang Partai Serigala Hitam! Siapa saja yang berani mencampuri urusan kami berarti mati! Dan kau akan menerima kematian itu!” lanjut lelaki tinggi kekar dengan penuh kebanggaan saat menyebutkan nama partainya yang kedengaran seram.

“Partai Serigala Hitam...?!” desis Panji mengulang nama perkumpulan lelaki berpakaian serba hitam.

Bagi kaum rimba persilatan, nama Partai Serigala Hitam bukan merupakan nama baru. Nama itu sudah sangat terkenal dan ditakuti orang. Selain banyak terdapat tokoh tingkat tinggi tergabung di dalamnya, Partai Serigala Hitam tidak mempunyai golongan. Sepak-terjang anggota maupun tokoh-tokoh partai itu tidak bisa dijadikan ukuran. Suatu ketika partai itu seperti memihak golongan putih. Karena suka memberikan pertolongan pada orang-orang lemah dan teraniaya.

Tapi, anehnya mereka meminta bayaran atas pertolongan yang telah diberikan. Juga tidak jarang anggota partai yang besar itu melakukan aksi kejahatan sampai membunuh orang. Kendati orang itu hanya mempunyai perselisihan pendapat dengan Partai Serigala Hitam. Hingga, tak seorang pun yang tahu di golongan mana sebenarnya partai itu berdiri.

“Hm.... Kalau begitu, aku bisa menebak apa yang baru saja kalian perbuat terhadap tokoh-tokoh persilatan di rumah penginapan itu. Kalian hendak melenyapkan mereka agar tidak mendapat banyak saingan dalam melakukan perburuan di Bukit Ular Emas. Nah, kalian tentu tidak bisa membantah lagi sekarang!” ujar Panji setelah terdiam beberapa saat

Lelaki tinggi kekar itu kelihatan agak kaget ketika mendengar ucapan pemuda tampan berjubah putih. Dari ucapan itu ia bisa menebak kalau pemuda itu tidak merasa gentar saat ia menyebutkan nama perkumpulannya. Kenyataan itu tentu saja menimbulkan keheranan besar di hatinya.

“Rupanya kau memang hendak mencari mati, Kisanak! Biasanya, jangankan seorang bocah seusiamu, tokoh-tokoh terkemuka rimba persilatan pun tidak berani bersikap kurang ajar setelah mengetahui siapa kami. Kau benar-benar memiliki nyali naga, Kisanak...,” tukas lelaki tinggi kekar yang kini sadar bahwa ia dan kawan-kawannya tidak mungkin dapat lolos dari pemuda tampan itu. Karena pemuda itu sedikit pun tidak gentar ketika mendengar nama partainya.

“Aku bukan tengah mencari kematian. Tapi hendak mencari pelaku pembunuhan terhadap murid-murid Perguruan Bangau Putih. Dan tuduhanku jatuh kepada kalian semua...,” Panji melanjutkan ucapannya yang sangat mengejutkan lawan-lawannya.

“Kurang ajar! Jangan sembarangan menuduh orang, Kisanak. Rupanya, kau sengajamencari-cari alasan untuk memusuhi orang-orang Partai Serigala Hitam. Itu tidak akan membuat hidupmu tenang. Memusuhi partai kami berarti mati!” geram lelaki tinggi kekar tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan Panji.

“Hm... Sudah tertangkap basah masih juga hendak mengelak. Orang-orang seperti kalian memang semestinya diberi pelajaran...!” tandas Panji. Kemudian melangkah maju dengan sikap mengancam. Sorot mata pemuda itu demikian tajam mengiriskan.

Tujuh lelaki berpakaian serba hitam itu terkejut dan tampak gentar. Mereka bergerak mundur dengan wajah gelisah. Pemuda itu telah membuktikan kehebatannya dengan menerima begitu saja bacokan pedang mereka. Kini ia melangkah maju dengan sikap mengancam. Sadarlah mereka bahaya akan datang dari pemuda tampan berjubah putih.

Ucapan Panji memang bukan sekadar gertakan. Meski lawan-lawannya bergerak mundur dengan hati tegang, tangan pemuda itu tetap terulur menyambar salah seorang yang terdepan. Dan yang menjadi sasaran pertamanya adalah lelaki tinggi kekar!

“Aaakh...?!” Lelaki tinggi kekar itu kaget bukan main. Tangan dengan jari-jari terbuka yang siap menerkam tubuhnya itu sebisa mungkin dielakkan. Kedua tangannya digu- nakan sebagai pelindung. Tampak jelas lelaki itu kalap menghadapi serangan Panji. Dan....

Kreppp!

Meskipun lelaki tinggi kekar berusaha menghindar dan menangkis, leher baju bagian depannya tetap terkena cengkeraman Panji.

“Huppp!”

Dengan sedikit menyentakkan tangan, tubuh lelaki tinggi kekar terangkat naik dari tanah. Kemudian, Panji melemparkannya hingga tubuh itu melambung setinggi tiga tombak!

“Aaa...!”

Rasa takut yang muncul seketika membuat lelaki tinggi besar menjerit ketakutan. Dan seperti orang yang tidak memiliki kepandaian silat, lelaki tinggi besar meluruk turun dengan kepala lebih dulu. Ngeri bukan main hatinya ketika merasakan hal itu. Wajahnya berubah pucat bagai tidak teraliri darah. Butir-butir keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Tapi, perbuatan itu hanya sekadar gertakan. Panji mengulurkan tangannya menyambut tubuh tinggi besar yang siap terbanting ke tanah. Dan....

Apa yang kemudian dilakukan Pendekar Naga Putih benar-benar membuat lawan-lawannya terbelalak takjub. Meskipun tangan pemuda itu belum menyentuh tubuh pimpinan mereka, lelaki tinggi besar itu kembali terlempar ke udara. Rupanya, Panji hendak mempermainkan lelaki itu dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam. Ia melemparkan tubuh itu ke udara setiap kali meluncur turun. Padahal, telapak tangannya tidak menyentuh tubuh lawan. Panji mempergunakan tenaga angin pukulannya.

Tidak bisa dibayangkan lagi betapa takutnya lelaki tinggi kekar. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Teriakan-teriakan ngeri terdengar setiap kali tubuhnya meluncur ke bawah. Untuk kemudian dilambungkan lagi ke udara oleh dorongan angin pukulan Panji. Perbuatan pemuda itu membuat lawannya benar-benar tersiksa.

“Hm.... Jangan pertontonkan permainan anak kecil itu di depan kami, Pendekar Naga Putih!” Ucapan yang perlahan namun menggeletar dan menyusup ke dalam dada itu membuat Panji terkejut. Ada orang yang tengah menghampiri tempat itu!

Panji bergegas menyudahi permainannya. Saat itu, tubuh lelaki tinggi kekar tengah meluncur deras ke bawah. Panji berniat menyambutnya agar tubuh itu tidak sampai terbanting di tanah. Tapi....

Panji sempat tertegun ketika melihat daya luncur tubuh itu tiba-tiba tertahan oleh suatu kekuatan hebat. Sehingga, tubuh tinggi kekar itu bergantung di udara dengan kepala di bawah. Kemudian tubuh itu berputar, dipaksa oleh suatu kekuatan yang tak tampak, sehingga kepalanya berada di atas. Lelaki tinggi kekar itu seperti tengah berdiri mengambang di udara.

Sadar kalau ada orang yang sengaja hendak menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya, Panji merasa tertantang. Sepasang tangannya berputaran sesaat, kemudian terulur ke atas. Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang tinggi, Panji kembali memutar tubuh lelaki yang tergantung di udara itu hingga terbalik seperti semula.

“Hm...” Panji yang sekujur tubuhnya telah dilapisi kabut putih keperakan ‘mengerahkan tenaga dalamnya. Pemuda itu menunjukkan kalau ia pun sanggup memutar tubuh yang mengambang itu menjadi terbalik.

“Hebat...!” Terdengar seruan memuji. Kemudian, lelaki tinggi kekar yang tergantung itu kembali berputar. Ia kembali berdiri di udara dengan kepala di atas. Tapi, Panji segera memutarnya kembali. Sehingga, lelaki tinggi kekar yang tubuhnya dijadikan ajang pertarungan tenaga dalam tingkat tinggi itu tersiksa sekali. Tubuhnya terasa dihimpit dua tangan raksasa yang tak terlihat Dan itu membuatnya sukar bernapas.

TUJUH

Panji yang melihat wajah lelaki tinggi kekar itu telah menjadi merah dengan mata terbelalak bagai hendak melompat keluar dari tempatnya, menjadi tidak tega. Cepat pemuda itu menarik pulang kekuatan tenaga dalamnya. Dan melompat ke belakang satu setengah tombak untuk menghindari kekuatan tersembunyi yang menyerangnya.

Sikap mengalah Panji rupanya disalah tafsirkan lawan. Terdengar suara tawa bergema bernada kemenangan. Sesaat kemudian, suara berat dan parau bergaung disertai hembusan angin keras.

"Ternyata, orang yang di dewa-dewakan kaum rimba persilatan hanya begitu saja kepandaiannya...!”

Panji sedikit pun tidak marah kendati ucapan itu jelas-jelas menghina dan merendahkan dirinya. Pemuda itu merasa belum kalah. Panji hanya tidak merasa perlu untuk meributkan soal itu. Satu keinginannya yang diharapkan segera terwujud, melihat rupa tokoh tersembunyi yang telah bertarung dengannya.

“Sahabat yang gagah! Jika memang wajahmu tidak cacat, mengapa harus malu untuk menunjukkan rupamu? Aku tentu akan senang sekali dapat berjumpa dan berkenalan denganmu...!” ujar Panji mengerahkan tenaga dalam. Sehingga, gema suaranya menyebar ke seluruh pelosok tempat itu. Panji berdiri tegak dengan sikap waspada. Pandangannya beredar ke sekitar tempat itu. Ditunggunya dengan sabar kemunculan tokoh yang belum juga menampakkan diri itu. Tiba-tiba....

“Hua ha ha...!” Suara tawa menggelegar terdengar berkumandang. Angin bertiup keras membuatdahan-dahan pohon berderak ribut. Agaknya, tokoh tersembunyi itu hendak memamerkan kekuatan tenaga dalamnya melalui getaran suara tawa.

Terkejut bukan main hati Panji ketika melihat akibat yang ditimbulkan. Tujuh lelaki berpakaian serba hitam yang kepandaiannya masih terlalu rendah bagi Panji terpaksa harus merasakan akibatnya. Mereka bergulingan sambil mendekap dada dan kedua telinga. Suara tawa itu membuat mereka tersiksa. Kalau saja masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin mereka akan tewas dengan bagian dalam tubuh hancur!

Panji tidak sampai hati melihat penderitaan mereka yang semula menjadi lawan-lawannya. Kendati ia sendiri harus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh suara tawa itu. Panji berniat memberikan perlawanan. Karena tokoh tersembunyi itu seperti sengaja hendak menguji kekuatan tenaga dalamnya yang memang terkenal di kalangan persilatan. Tapi....

“Hia ha ha...!”

Lengkingan panjang yang semula siap meluncur dari kerongkongan Panji segera tertunda. Saat itu terdengar suara tawa lain yang tidak kalah hebatnya. Dan semakin membuat ketujuh lelaki berpakaian hitam meraung menahan sakit yang bagai hendak meledakkan dada mereka. Panji kelihatan sangat terkejut

“Hebat...! Rupanya, berita tentang Rase Perak benar-benar telah memaksa tokoh-tokoh tingkat tinggi keluar dari sarangnya. Tawa itu jelas menunjukkan kalau kepandaian kedua tokoh tersembunyi ini benar-benar luar biasa. Rasanya mereka tidak kalah hebat dengan Pertapa Goa Kelelawar, yang juga terpaksa meninggalkan tempat pertapaannya untuk melihat kebenaran berita mengenai binatang langka yang bernama Rase Perak itu...,” gumam Panji.

Pemuda itu merasa bahwa tugasnya kali ini sangat berat Apalagi, ia belum mengetahui di pihak mana kedua tokoh tersembunyi itu berdiri. Suara tawa dua orang tanpa wujud itu membuat Panji harus menambah kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi isi dada. Kalau tidak, besar kemungkinan Panji akan mengalami luka dalam. Tentu saja hal itu tidak diinginkannya.

“Hm...” Panji berdiri tegak mengatur jalan napas. Wajahnya tampak agak pucat. Tekanan dari dua suara tawa yang terus berkumandang itu membuat dadanya berguncang semakin keras. Panji harus bertindak cepat jika tidak ingin celaka. Maka....

“Yeaaa...!”

Setelah menggabungkan dua kekuatan mukjizatnya, Panji mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Akibatnya sungguh hebat bukan main! Karena Panji mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ dan Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ sekaligus. Sehingga, timbullah badai yang bagaikan hendak merobohkan semua pepohonan di tempat itu.

Suara tawa yang semula berkumandang menggetarkan jantung tertindih lengkingan panjang Pendekar Naga Putih. Sampai akhirnya, suara tawa itu lenyap. Agaknya, kedua orang itu harus memusatkan perhatian untuk melindungi bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat ‘Pekikan Naga Marah’, yang kehebatannya luar biasa karena dikerahkan dengan tenaga gabungan.

Ketika menyadari kedua suara tawa itu telah lenyap, Panji segera menghentikan lengkingannya. Sehingga, angin ribut yang laksana topan prahara itu terhenti seketika. Alam pun kembali tenang. Bekas-bekas kehebatan lengkingan dahsyat Panji terlihat jelas dengan tumbangnya beberapa batang pohon hingga tercabut sampai ke akar-akarnya. Tempat itu seperti baru saja diamuk badai hebat.

Panji kemudian berdiri tegak sambil mengatur napas. Pemuda itu tampak lelah sekali. Ia masih menunggu kemunculan dua tokoh yang bersembunyi itu. Panji memang tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat kemudian, tampak dua sosok tubuh keluar dari semak-semak. Keduanya memiliki perbedaan yang cukup menyolok. Satu bertubuh tinggi besar dengan wajah dipenuhi cambang bauk tak terurus. Sepasang alis mata lebat melindungi mata setajam burung elang.

Sedang sosok yang satunya lagi bertubuh lebih pendek, hanya setinggi pinggang kawannya. Wajah lelaki kerdil itu pun dihiasi cambang bauk lebat Keduanya berusia sekitar lima puluh lima tahun.

Panji memperhatikan kedua sosok tubuh itu dengan penuh selidik. Yang menarik perhatiannya adalah sebuah lingkaran pada kepala mereka, yang berupa ikat kepala berwarna hitam. Sedangkan lingkaran di kening berwarna putih menyolok. Dalam lingkaran putih itu Panji melihat gambar seekor binatang dengan taring dan moncong runcing. Kini, tahulah Panji siapa kedua tokoh berpenampilan ganjil itu.

“Kepandaianmu benar-benar hebat, Pendekar Naga Putih! Tapi jangan sombong dulu. Kami berdua belum mengaku kalah. Permainan tadi baru pemanasan saja...!” terdengar suara parau dan berat mengusik telinga Panji.

Panji merasa heran karena suara parau dan berat itu justru datang dari sosok lelaki kerdil. Bukannya sosok tinggi besar yang menyeramkan. Tampaknya, hal itu merupakan ciri lain dari keanehan mereka.

"Tentu saja kita belum kalah...!” lelaki tinggi besar yang menyeramkan itu menimpali. Suaranya terdengar melengking seperti suara perempuan. Sungguh jauh berbeda dengan penampilannya yang sanggup membuat anak kecil pingsan bila berjumpa dengannya. Panji mengerutkan kening, heran.

“Maaf, saat ini aku tidak bisa meladeni kalian...,” Panji segera berkata. Ia tidak ingin bertarung dengan kedua tokoh itu tanpa alasan yang jelas. Apalagi, saat itu Panji masih mempunyai urusan lain.

“Siapa bertanding melawan siapa? Jangan dulu berkata begitu, Pendekar Naga Putih! Kami berdua belum mengambil keputusan untuk bertarung denganmu...,” kilah sosok kerdil yang kini sudah berada satu tombak di hadapan Panji.

“Kami pun tahu apa yang tengah kau lakukan di desa ini, Pendekar Naga Putih. Ku nasihatkan agar kau lupakan saja persoalan itu. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya di desa ini atau pun disekitarnya. Kecuali tentu saja di Bukit Ular Emas...,” sosok tinggi besar berwajah menyeramkan menimpali dengan suaranya yang melengking kecil.

Kening Panji berkerut ketika mendengar ucapan kedua tokoh aneh itu. Ia tahu kedua orang itu adalah tokoh-tokoh puncak Partai Serigala Hitam. Yang tidak dimengerti Panji, dari mana kedua tokoh itu mengetahui kepentingannya berada di Desa Eretan? Selain itu, mengapa mereka tega membunuh tujuh orang anggotanya? Tentu ada sesuatu yang tersembunyi dan hendak ditutupi. Namun, Panji tidak mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Karena semua itu masih samar. Kalau sudah mendapatkan bukti yang jelas, Panji tidak akan segan-segan lagi untuk menggempur kedua tokoh itu.

"Terima kasih atas nasihat kalian. Kalau memang tidak ada keperluan denganku, aku hendak pamit..,” ujar Panji terpaksa mengalah. Padahal, ia merasa curiga dengan kedua tokoh puncak Partai Serigala Hitam itu. Tapi karena tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan mereka bersalah, Panji tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, berniat untuk meninggalkan tempat itu. Panji hendak melihat tanggapan mereka atas kepergiannya.

"Tunggu dulu, Pendekar Naga Putih...!”

Panji yang sudah berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu terpaksa menahan langkah. Suara berat dan parau yang mencegah kepergiannya membuat Panji kembali berpaling. Pandangannya tertuju kepada sosok kerdil.

“Kau memanggilku, Datuk Serigala Hitam...?” Panji langsung menegur tanpa basa-basi.

Lelaki kerdil yang kulit tubuhnya tampak pucat itu terkekeh parau. Sehingga, tubuhnya terguncang-guncang. Kelihatannya ia sangat senang mendengar Panji menyebut julukannya.

“Hm.... Kupikir kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Pendekar Naga Putih. Ternyata, matamu cukup awas untuk mengenali kami berdua...,” ujar Datuk Serigala Hitam bangga.

"Tentu saja aku mengenali kalian. Aku pun sudah dapat menduga apa yang memaksa kalian meninggalkan perguruan. Kiranya, makhluk yang bernama Rase Perak itu benar-benar luar biasa. Sampai dapat memaksa kalian keluar dari sarang. Nah, Datuk Serigala Putih dan Datuk Serigala Hitam, aku mohon pamit...,” usai berkata, Panji membalikkan tubuh. Ketika kedua tokoh itu tidak didengarnya mencegah, Panji melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Dua tokoh aneh yang menjadi dedengkot Partai Serigala Hitam hanya menatap kepergian Pendekar Naga Putih. Tawa mereka terdengar perlahan mengiringi kepergian pemuda tampan itu. Dan, mereka baru beranjak pergi setelah sosok Pendekar Naga Putih benar-benar lenyap dari pandangan.

“Hm.... Bukit Ular Emas pasti akan ramai sekali...,” gumam lelaki berkulit pucat yang mengenakan pakaian serba hitam sambil melangkah perlahan.

“Itu justru membuatku semakin tertarik, Kakang...,” timpal lelaki berperawakan tinggi besar yang berkulit gelap bagai arang. Mungkin inilah sebabnya yang membuat dirinya dijuluki Datuk Serigala Hitam.

Setelah itu mereka terdiam. Hanya tiupan angin lembut yang terdengar mengiringi langkah mereka berdua. Sebentar kemudian, kedua tokoh mengiriskan dari Partai Serigala Hitam itu lenyap di kejauhan.

********************

Pagi-pagi sekali Panji sudah meninggalkan rumah penginapan. Langkahnya terayun lambat menyusuri jalan utama Desa Eretan. Pemuda itu baru mengerahkan ilmu lari cepatnya setelah melewati batas desa. Sebentar saja, sosoknya telah jauh meninggalkan Desa Eretan.

Kali ini Panji berniat langsung menuju ke Bukit Ular Emas. Pertemuannya dengan dua tokoh Partai Serigala Hitam membuatnya terpaksa harus merubah rencana. Kalau semula ia hendak menyelidiki pembunuh misterius itu, kini rencananya berubah. Munculnya kedua tokoh yang ia tahu memiliki kepandaian mengiriskan itu membuat hati Panji diliputi kekhawatiran.

Niat Panji yang semula hanya ingin mengamankan Bukit Ular Emas dari pertumpahan darah nyaris tak terpikirkan lagi. Sekarang yang lebih penting baginya adalah menyelamatkan binatang langka yang bernama Rase Perak. Sebab, kalau binatang itu sampai jatuh ke tangan tokoh-tokoh sesat, hancurlah dunia persilatan.

Khasiat binatang langka itu pasti akan membuat tokoh sesat yang mendapatkannya bagai harimau yang tumbuh sayap. Sudah pasti rimba persilatan akan geger dengan ulah tokoh itu. Inilah yang sekarang menjadi beban pikiran Panji. Dan hal itu pula yang membuatnya harus melupakan pembunuh misterius untuk sementara waktu.

Rasa khawatir akan keselamatan orang banyak membuat Panji menempuh perjalanan tanpa mengenal lelah. Pemuda itu ingin secepatnya tiba di Bukit Ular Emas. Ia berharap bisa tiba lebih dulu di sana, sebelum tokoh-tokoh persilatan. Kegelapan malam yang hanya diterangi sinar bulan sabit tidak menjadi halangan baginya. Walau perjalanannya agak terhambat, Panji tidak merasa perlu untuk beristirahat. Dan terus bergerak dengan menggunakan ketajaman penglihatannya agar tidak kehilangan arah.

Saat menjelang fajar, Panji tiba di sebuah sungai yang membentang lebar. Melihat arusnya yang tenang, Panji dapat menduga dasar sungai itu lebih dari dua tombak dalamnya. Sedangkan lebarnya kurang lebih tiga sampai empat tombak. Hingga, tidak mungkin dapat dijangkaunya dengan loncatan. Untuk menyeberanginya, Panji memerlukan dua kali lompatan. Itu berarti ia harus menggunakan landasan untuk tiba di seberang sungai.

Sementara itu, di kaki langit sebelah timur tampak cahaya kemerahan menyemburat. Sebentar lagi matahari akan menampakkan kekuasaannya. Pagi akan datang menggantikan tugas sang Malam.

Setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya, Panji melemparkan pandangan lurus ke depan. Tampaklah sebuah gundukan tanah yang menjadi tempat tujuannya. Bukit Ular Emas sudah terbentang di hadapan Panji. Untuk bisa tiba di tempat itu ia harus menyeberangi sungai yang mengalir di depannya. Setelah berpikir sesaat, Panji mematahkan dahan pohon. Kemudian melemparkannya ke tengah sungai. Tapi, baru saja tubuhnya siap melesat, tiba-tiba telinganya menangkap suara-suara orang bertempur. Panji segera menunda gerakannya.

“Hm.... Kedengarannya suara itu berasal dari sebelah timur. Kemungkinan besar bukan dari seberang...,” gumam Panji mengedarkan pandangan seraya mengerahkan indera pendengarannya untuk mencari sumber suara itu.

Setelah termenung sesaat, Panji melesat ke sebelah kiri. Ia merasa pasti suara pertempuran itu berasal dari kiri tempatnya berdiri. Tubuhnya pun melayang dengan kecepatan tinggi. Sebentar kemudian, tibalah Panji di tempat itu. Sayang, kedatangannya agak terlambat Panji melihat sesosok tubuh tinggi besar tengah menghabisi sisa lawannya. Pertempuran telah usai. Dan sosok tubuh tinggi besar yang memenangkan pertarungan siap meninggalkan tempat itu.

“Hei, tunggu...!” Panji segera melesat dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya melayang cepat di udara. Setelah berjumpalitan beberapa kali, Panji meluncur turun di tempat bekas terjadinya pertempuran. Tapi, sosok tinggi besar itu telah melayang pergi.

“Hei...!” Sekali lagi Panji berseru mencegah kepergian sosok tinggi besar. Tapi, orang misterius itu tetap tidak pedu- li. Ia terus melesat pergi tanpa menghiraukan teriakan Panji.

Kembali Panji melayang dengan kecepatan bagai sambaran kilat. Saat itu sebuah pikiran tentang pembunuh yang melibatkannya melintas dalam benak. Dan pikiran itu membuat Panji bersikeras tidak akan membiarkan orang itu pergi.

“Haiiit...!” Dengan bentakan keras tubuh Panji melayang dan berputaran di udara. Lalu, meluncur turun satu tombak dari tubuh buruannya.

“Harap berhenti sebentar, Kisanak...!” pinta Panji sedikit keras, dan berdiri menghadang jalan sosok tinggi besar.

Bukannya mematuhi permintaan Panji, sosok tinggi besar itu malah melesat maju mengirimkan pukulan deras ke tubuh Panji. Tentu saja pemuda itu terkejut bukan main! Apalagi, dari sambaran angin pukulannya terdengar suara mencicit tajam. Jelas, pukulan itu bisa mengakibatkan kematian!

Syuttt...!

Sadar bahwa sosok tinggi besar bermaksud membunuhnya, Panji pun tidak tinggal diam. Disertai geraman lirih tenaga dalamnya dikerahkan untuk menyambut pukulan lawan. Dengan menggeser tubuhnya ke samping kanan, Panji melepaskan tangkisan dengan lengan.

Dukkk!

Kekuatan pukulan lawan ternyata jauh lebih hebat dari perkiraannya. Ketika sepasang lengan mereka bertemu, Panji merasakan tubuhnya bergetar! Bahkan kedua kakinya terseret mundur empat langkah! Padahal sewaktu menangkis, ia telah mengerahkan tiga perempat bagian dari tenaga dalamnya. Kenyataan itu tentu sangat mengejutkan!

Demikian pula dengan sosok tinggi besar, ia mengeluarkan seruan kaget. Dalam keremangan cuaca, sepasang matanya berkilat tajam seperti hendak mengenali siapa orang yang telah menghadangnya. Terlihat jelas pancaran kegeraman dalam bola mata itu.

Panji yang telah menguasai kuda-kudanya berdiri tegak menatap sosok tinggi besar dalam jarak hampir dua tombak. Pemuda itu pun berusaha menembus keremangan untuk mengenali siapa sosok tinggi besar yang memiliki kepandaian hebat itu. Sehingga, sesaat keduanya saling meneliti untuk mengenali lawan masing-masing.

DELAPAN

“Kisanak, harap kau jelaskan mengapa mereka kau bunuh? Apa kesalahan mereka kepadamu...?” tanya Panji yang belum juga bisa melihat jelas raut wajah sosok tinggi besar. Sehingga, ia belum bisa memastikan siapa orang itu.

“Hm Mereka adalah orang-orang tamak yang pantas mampus!” jawab sosok tinggi besar menyiratkan kebencian yang dalam. Dan begitu ucapannya selesai, tubuhnya melayang ke arah Panji dengan serangan dahsyat!

“Haaat..!”

Whusss!

Serangkum angin pukulan berdesingan datang mengancam tubuh Panji. Diam-diam pemuda itu terkejut. Serangan yang mengandalkan bacokan sisi telapak tangan itu dapat menimbulkan suara seperti ayunan pedang. Itu jelas membuktikan bahwa tenaga dalam yang dipergunakan lawan benar-benar berbahaya! Dan serangan itu pasti dapat mematikan!

Berpikir demikian, Panji bergegas mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’. Sebentar saja, terciptalah lapisan kabut bersinar putih keperakan membungkus sekujur tubuhnya. Seiring dengan munculnya lapisan kabut, hawa dingin menggigit pun menyebar memenuhi arena.

Bwettt..!

Satu sambaran sisi telapak tangan sosok tinggi besar datang mengancam batang leher Pendekar Naga Putih. Pemuda itu bergegas menggeser tubuhnya ke kiri. Kemudian, membalas dengan sebuah cengkeraman ke arah tenggorokan lawan.

“Hebat...!”

Terdengar sosok tinggi besar memuji tindakan lawannya. Ia menarik mundur tubuhnya dengan kaki depan menekuk lutut ke dalam. Cengkeraman cakar naga Panji hanya mengenai angin kosong. Dan, saat itu kaki depan sosok tinggi besar melesat naik mengancam dagu.

Plakkk!

Cepat bukan main Panji memutar tangannya dan langsung menekan tendangan itu dengan telapak tangan. Benturan keras pun tak dapat dihindarkan. Keduanya terdorong mundur, membuktikan bahwa ‘kekuatan mereka seimbang.

“Yeaaah...!”

Sosok tinggi besar yang terdorong mundur kembali melesat ke depan dengan serangkaian serangan maut. Tindakan itu membuat Panji semakin kagum. Pemuda itu bertambah yakin lawannya memang bukan orang sembarangan. Sehingga, Panji merasa ragu kalau ia dapat merobohkan lawan dalam seratus jurus. Karena tingkat kepandaian lawan memang sulit diukur.

“Hmmm...!” Sadar kalau ia tidak boleh main-main dalam meng- hadapi serangan lawan, Panji mempersiapkan ‘Ilmu Silat Naga Sakti’. Kemudian menerjang maju menyambut serangan lawan.

“Heaaat..!”

Sebentar kemudian, kedua tokoh itu kembali terlibat perkelahian sengit. Dan Panji semakin kagum ketika mendapat kenyataan kepandaian lawan memang benar-benar hebat! Selain itu, ia pun merasa heran. Ilmu silat lawan tidak memiliki banyak unsur-unsur sesat! Bahkan, lebih condong mengarah pada ilmu putih. Itu terbukti dari cara lawan melancarkan serangan. Kenyataan itu membuat Panji menduga kalau lawannya bukanlah seorang tokoh sesat Kendati demikian, terselip pertanyaan dalam benak Panji. Mengapa tokoh tinggi besar itu melakukan pembunuhan dengan cara yang kejam?

Tapi, Panji tidak bisa berpikir terus sambil menghadapi gempuran lawan yang semakin lama kian bertambah hebat dan berbahaya. Untuk itu, ia harus lebih memusatkan pikiran. Kalau tidak, bukan mustahil lawan dapat menciderainya.

“Yeaaat..!”

Namun, sebelum Panji sempat memusatkan pikirannya, sosok tinggi besar itu tiba-tiba memekik nyaring. Seiring dengan itu, sebuah tusukan jari-jari tangan datang dan menerobos pertahanan Panji. Sehingga...

Tuggg!

“Aaakh...!” Panji terpekik kesakitan. Tusukan jari-jari tangan yang telak itu menghempaskan tubuhnya kebelakang. Dada kanannya yang menjadi sasaran pukulan jari-jari tangan sekeras besi itu terasa nyeri dan panas. Untung, ia memiliki tenaga mukjizat yang selalu melapisi sekujur tubuhnya. Sehingga, meskipun tusukan jari-jari tangan lawan telak mengena hal itu tidak akan sampai membuatnya menderita luka dalam yang parah.

Tapi sosok tinggi besar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang terbentang di depan matanya. Maka, saat tubuh Panji melayang di udara sosok tinggi besar melesat menyusuli lawan. Sepasang tangannya bergerak cepat dengan sambaran angin keras berkesiutan. Panji yang saat itu belum sempat menyiapkan diri kelihatan terkejut. Sadar bahwa serangan lawan kali ini dapat membunuhnya, maka begitu kedua kakinya menyentuh tanah sepasang tangannya bergerak cepat melindungi tubuh.

Plakkk! Plakkk!

Dua kali tusukan jari tangan lawan berhasil dipapaki. Tapi, kedudukannya yang tidak begitu kuat membuat tubuh pemuda itu terjajar mundur. Dan saat itulah lawan mempergunakannya....

Desss, blaggg!

“Huaaakh!”

Dua buah pukulan hebat tidak sempat lagi dihindarkan Panji. Tubuhnya tersentak ke udara dengan keras. Darah segar menyembur keluar dari mulut pemuda itu. Pukulan hebat itu telah mengguncangkan bagian dalam dadanya! Telak dan kerasnya pukulan lawan membuat Panji tidak mampu menguasai keseimbangan tubuh. Pemuda itu terbanting jatuh ke tanah. Tapi, Panji bergegas bangkit secepatnya. Kendati pandangannya masih nanar. Dan....

“Heiii...?!”

Sosok tinggi besar yang semula siap melepaskan pukulan susulannya terpekik kaget. Tubuh lawan tampak berpijar bagai diselimuti kobaran api. Hawa panas pun menyebar membuat sosok tinggi besar bergerak mundur beberapa langkah. Sepasang matanya membelalak tak percaya dengan pemandangan yang terpampang di depan matanya!

Apa yang disaksikan sosok tinggi besar memang bukan khayalan. Pukulan-pukulan telak yang mengguncang bagian dalam tubuh Panji telah membuat ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ bangkit dan menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Dan langsung membakar musnah pengaruh pukulan yang melukai bagian dalam tubuh pemuda itu.

Sebagaimana diketahui, ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ yang merupakan jelmaan Pedang Naga Langit demikian banyak khasiatnya. Selain mampu menolak dan memusnahkan segala macam jenis racun, tenaga mukjizat itu pun akan langsung bereaksi bila ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh majikannya. Karena itu, tenaga mukjizat itu langsung bangkit untuk membakar semua pengaruh pukulan yang telak mengenai tubuh Panji. Sehingga, untuk beberapa saat, ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ tertindih dan membuat sekujur tubuh Panji bagai terjilat kobaran api. Pemandangan itulah yang disaksikan sosok tinggi besar.

“Luar biasa?! Kabar tentang kesaktian Pendekar Naga Putih ternyata bukan hanya omong kosong belaka! Entah ilmu macam apa yang kali ini dipertunjukkannya kepadaku...?!” gumam sosok tinggi besar memandang takjub. Kalau saja tidak melihat sendiri, ia mungkin tidak akan mempercayainya. Tapi, semua itu terpampang jelas di depan matanya. Dan sulit untuk diingkari lagi.

Beberapa saat kemudian, kobaran api yang menyelimuti sekujur tubuh Panji mulai mengecil, sampai akhirnya lenyap sama sekali. Dan digantikan oleh lapisan kabut bersinar putih keperakan. Wajah Panji yang semula pucat telah kembali bersinar cerah. Itu merupakan pertanda kalau luka dalam di tubuhnya telah musnah terbakar kekuatan mukjizat ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’.

Merasakan tubuhnya kembali ringan tanpa rasa nyeri yang mengganggu, Panji kembali menatap sosok tinggi besar di depannya. Sepasang mata pemuda itu mencorong tajam bagai mata naga di kegelapan. Perbawa yang kuat terpancar mengiriskan, membuat lawannya tergetar mundur beberapa langkah. Tampak jelas sosok tinggi besar itu sangat terkejut melihat tatapan tajam Panji yang menggetarkan jantung!

Saat itu, matahari mulai berpijar menampakkan kekuasaannya. Suasana yang semula remang-remang perlahan sirna tersaput kecerahan sinar matahari pagi. Keadaan itu membuat sosok tinggi besar tersentak kaget dan bergerak menjauh. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak sampai dikenali lawan.

Panji sendiri kelihatan lega menyambut kehangatan matahari pagi. Karena dengan begitu ia dapat melihat wajah lawannya. Tapi, untuk itu ternyata tidak mudah. Sosok tinggi besar menjauh dan menutupi wajahnya dengan punggung tangan. Sehingga, yang terlihat hanya sorot mata setajam mata elang.

“Hei, tunggu...?!” Panji tampak terkejut ketika ia mendekat dengan langkah perlahan, sosok tinggi besar itu malah melesat pergi meninggalkan tempat itu. Tentu saja hal itu tidak dibiarkannya. Cepat Panji melesat melakukan pengejaran.

Sadar kalau kepandaian ilmu lari cepat tokoh itu setingkat dengannya, Panji menggunakan cara lain untuk mencegah kepergiannya. Satu-satunya jalan ia harus menghalangi dengan melepaskan pukulan jarak jauh. Dan berharap pukulan itu akan membuat lawannya sibuk.

“Haiiit...!” Disertai bentakan nyaring, Panji mendorongkan telapak tangan kanan.

Whuttt...!

Serangkum angin dingin berhembus keras ke arah sosok tinggi besar yang berada hampir dua tombak didepan. Hembusan angin dingin itu sudah pasti diketahui lawan yang tentunya tidak akan membiarkan dirinya cidera. Tapi....

Sebelum sosok tinggi besar memutar tubuh memapaki pukulan jarak jauh Panji, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang menggetarkan dada. Belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok bayangan berkelebat dan melepaskan pukulan dahsyat memapaki pukulan jarak jauh Pendekar Naga Putih. Akibatnya....

Blarrr!

Ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitar tempat itu terdengar ketika dua kekuatan hebat saling berbenturan. Bahkan, dedaunan berguguran karena hebatnya getaran benturan dua gelombang tenaga maha dahsyat itu.

“Heaaah?!”

Pengaruh benturan keras itu ternyata mendorong balik tubuh Panji. Pemuda itu berseru keras dan memutar tubuhnya tiga kali. Kemudian, meluncur turun dengan kedua kaki lebih dulu. Hal serupa juga dilakukan sosok tinggi kurus yang menyambut pukulan jarak jauh pemuda tampan itu. Dengan sebuah putaran manis, sosok tinggi kurus tu- run dengan selamat di atas tanah.

Panji menatap tajam seraut wajah lelaki tua yang memiliki sorot mata tajam menggetarkan jantung. Wajah itu tampak kelam seperti menyimpan rasa penasaran yang dalam. Dan Panji menjadi terkejut ketika mengenali siapa lelaki tua berperawakan tinggi kurus itu.

“Pendekar Bangau Sakti...?!” desis Panji berusaha menekan debaran dalam dadanya.

Kehadiran pendekar besar yang kosen itu membuat ingatan Panji melayang kepada delapan orang murid Perguruan Bangau Putih yang ditemukannya tewas dipinggir sebuah hutan. Dan sikap pendekar tua itu ke- lihatan memusuhi Panji. Sehingga, Panji menduga-duga kemungkinan tokoh itu telah mendengar kabar tentang kematian murid-muridnya.

“Ah, kiranya Pendekar Bangau Sakti yang datang. Maaf, kalau sambutanku kurang hormat..,” ujar Panji menyapa sosok tinggi kurus. Pemuda itu membungkuk penuh hormat. Pendekar Bangau Sakti adalah salah satu dari sekian banyak tokoh tua golongan putih yang patut dihormati.

“Hm.... Jangan berpura-pura sopan di hadapanku, Pendekar Naga Putih! Aku sudah mendengar tentang kematian murid-muridku. Dan kedatanganku adalah untuk meminta tanggung jawab darimu sebagai pelaku kekejian itu!” tukas lelaki tua itu ketus.

Jawaban Pendekar Bangau Sakti benar-benar mengejutkan Panji. Diam-diam pemuda itu menyesali sikap Tiga Harimau Besi yang tidak memikirkan akibat dari pengaduannya. Hal itu bisa menimbulkan pertikaian di antara sesama golongan. Dan kenyataan itu sama sekali tidak diinginkan Panji.

“Pendekar Bangau Sakti,” ujar Panji berusaha bersikap setenang mungkin. “Semua itu hanyalah kesalahpahaman belaka. Sejujurnya kukatakan aku bukanlah pembunuh seperti yang kau tuduhkan itu,” lanjut Panji menjelaskan.

“Kau masih ingin membantah, Pendekar Naga Putih! Bukti sudah jelas kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Rupanya, kebesaran dan kepandaian yang kau miliki membuatmu menjadi takabur dan tidak mau memandangku sebagai tokoh yang lebih tua. Sekarang tidak usah banyak cakap lagi. Menyerah untuk diadili di hadapan anggota-anggota Perguruan Bangau Putih, atau terpaksa aku menggunakan kekerasan untuk menyeretmu!” tegas Pendekar Bangau Sakti tidak mempedulikan sanggahan Panji.

“Apa maksudmu dengan bukti yang kau lihat dengan mata kepalamu, Pendekar Bangau Sakti?” tanya Panji tidak mengerti. Pemuda itu merasa perlu untuk mengetahuinya.

“Hm.... Tahukah kau siapa orang yang hendak kau bunuh tadi?” Pendekar Bangau Sakti balik bertanya dengan nada menyakitkan.

‘Aku..., tidak melihat wajahnya dengan jelas. Sosok tinggi besar itu seperti tidak ingin dikenali...,” ujar Panji yang memang belum bisa menebak siapa lawannya barusan.

“Hm... Kau hendak berbohong kepadaku, Pendekar Naga Putih?” tukas Pendekar Bangau Sakti menggeram menyimpan kemarahan yang siap meledak.

“Pendekar Bangau Sakti! Seumur hidupku sebisa mungkin kebohongan ku hindari. Lagi pula tidak ada untungnya hal itu kulakukan!” Panji mulai tersinggung oleh ucapan-ucapan lelaki tua itu.

“Baik! Anggaplah kau tidak berdusta. Sekarang dengarlah baik-baik! Orang yang barusan hendak kau binasakan itu adalah.... Pendekar Rase Perak!”

“Tidak mungkin!”

“Nah, kau masih ingin menyangkal juga!” tukas Pendekar Bangau Sakti dengan wajah terbakar. Bantahan Panji semakin menambah amarah tokoh tua itu.

Kesungguhan Pendekar Bangau Sakti membuat tubuh Panji terjajar mundur beberapa langkah. Hatinya benar-benar terpukul mendengar bahwa sosok tinggi besar yang baru saja bertempur mati-matian dengannya ternyata seorang tokoh besar rimba persilatan, yang telah lama menghilang dari dunia ramai. Panji hampir tidak mempercayainya. Namun, ucapan itu keluar dari mulut seorang tokoh besar yang tidak mungkin berdusta!

“Tapi..., lelaki tinggi besar itu baru saja melakukan perbuatan keji dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri!” bantah Panji membela diri.

“Hm.... Tidak perlu membela diri, Pendekar Naga Putih! Rupanya, kau hendak berpaling dari jalan ke- baikan. Perlu kau tahu bahwa orang-orang yang terbunuh itu adalah tokoh-tokoh golongan sesat! Aku tahu pasti akan hal itu!” tegas Pendekar Bangau Sakti membuat Panji semakin terkejut.

“Mereka orang-orang golongan sesat..?!” desis Panji bagai tengah mengalami mimpi buruk. Kenyataan itu membuat jiwa Panji semakin terguncang.

“Tapi..., bukankah Pendekar Rase Perak telah lama tidak menampakkan diri?” cerita yang didengarnya dari Pertapa Goa Kelelawar mengingatkan Panji tentang tokoh itu.

“Memang benar! Dan kalau sekarang ia menampakkan diri, itu karena tidak ingin binatang peliharaannya dimiliki orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Contohnya tokoh-tokoh sesat yang baru saja dibunuhnya itu!”

Bantahan Pendekar Bangau Sakti membuat Panji kehabisan kata-kata. Untuk beberapa saat pemuda itu terdiam. Semua peristiwa yang terjadi belakangan ini oleh Panji dirasakan sebagai ujian terberat selama petualangannya dalam rimba persilatan.

“Hm.... Rasanya, aku belum percaya dengan semua yang telah ku alami belakangan ini? Tapi, biar bagaimanapun aku harus menyelesaikan tugas-tugasku sebagaimana pesan mendiang guruku. Dan untuk mengungkapkan semua kejadian aneh ini, aku harus menghindar dari Pendekar Bangau Sakti. Sebab, kalau sampai aku bertarung dengannya, golongan putih pasti akan terpecah. Sedangkan hal itu sama sekali tidak kuinginkan...,” desah Panji dalam hati memikirkan tindakan apa yang harus diambilnya.

“Menyerahlah secara baik-baik, Pendekar Naga Putih! Kami akan mengadili mu dengan jujur. Sebagai orang gagah kau harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” ujar Pendekar Bangau Sakti membuat Panji tersentak dari lamunannya.

“Maaf, Pendekar Bangau Sakti. Aku merasa semua ini banyak keanehan dan kejanggalan. Sayang, saat ini aku belum bisa mengungkapkannya. Berikanlah kepadaku sedikit waktu. Kelak aku akan datang kepadamu dengan bukti-bukti yang dapat melenyapkan tuduhan itu terhadap diriku...,” Panji berusaha meminta kebijaksanaan Pendekar Bangau Sakti. Karena pemuda itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan, ia harus dapat mengungkapkan ketidakberesan itu.

“Apa lagi yang hendak kau buktikan, Pendekar Naga Putih! Semuanya sudah jelas. Aku akan membawamu ke Perguruan Bangau Putih untuk diadili...,” usai berkata, Pendekar Bangau Sakti bertepuk tangan tiga kali.

Panji bergerak mundur ketika dari sekeliling tempat itu berloncatan sosok-sosok berpakaian serba putih. Mereka adalah murid-murid orang tua itu. Panji tidak tampak terkejut. Tapi..., ada satu sosok tubuh yang belakangan muncul dan membuat dada pemuda itu berdebar keras. Sosok itu adalah....

“Pendekar Rase Perak...?!” desis Panji kaget bukan main. Sosok tinggi besar itu hanya terkekeh perlahan. Dia memang Pendekar Rase Perak. Rupanya, tokoh tua yang telah lama menghilang itu bersahabat dengan Pendekar Bangau Sakti.

Melihat keadaan itu, sadarlah Panji kalau dirinya sangat sulit untuk memperoleh kemenangan. Apalagi, ketika ia melihat munculnya Tiga Harimau Besi di tempat itu. Jelas ia tengah terancam bahaya besar. Karena tidak ingin bertarung dengan sesama golongan, Panji mengambil keputusan untuk secepatnya meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, Panji mengerahkan dua tenaga mukjizat yang ada dalam tubuhnya. Lalu....

“Eaaarkh!” Dengan tenaga gabungan yang maha dahsyat, Panji mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Dan, hasilnya luar biasa sekali!

Tempat itu bagai dilanda angin topan dahsyat. Pepohonan berderak ribut seiring dengan hembusan angin keras yang membuat beberapa pohon sebesar paha bertumbangan tercabut dari akarnya. Beberapa orang yang mengurungnya terlempar bagai ditiup mulut-mulut raksasa.

Pendekar Rase Perak, Pendekar Bangau Sakti, dan Tiga Harimau Besi menancapkan kuda-kudanya hingga kedua kaki mereka terbenam ke tanah sampai mata kaki. Mereka harus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh ‘Pekikan Naga Marah’ itu. Karena lengking panjang yang diperdengarkan Panji telah mengguncangkan bagian dalam dada mereka.

Saat kesibukan itu terjadi, Panji melesat pergi dengan mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya. Agaknya, itu adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus diambil Panji. Pemuda itu merasa masih banyak tugas yang menanti dirinya. Ia tidak ingin menyerah begitu saja sebelum dapat membuktikan kalau dirinya benar-benar tidak bersalah.

“Hm.... Pemuda itu benar-benar hebat! Tapi, biar bagaimanapun kita harus dapat membekuknya. Kurasa ia pasti pergi ke Bukit Ular Emas...,” ujar Pendekar Bangau Sakti yang hanya bisa menyumpah ketika tidak mendapatkan sosok Pendekar Naga Putih di tempat itu.

‘Tapi, kita harus berhati-hati menghadapinya. Selain itu, kita pun harus memperhitungkan campur tangan tokoh lain yang kemungkinan besar berpihak pada Pendekar Naga Putih...,” timpal Pendekar Rase Perak mengingatkan.

Pendekar Bangau Sakti hanya bergumam tak jelas. Kemudian, memberikan isyarat kepada murid-muridnya untuk meninggalkan tempat itu. Sebentar saja keadaan yang semula ramai kembali dicekam kesunyian. Sementara, tiupan angin yang mempermainkan pucuk-pucuk dedaunan menimbulkan gemerisik lembut di telinga.

********************

Bagaimana nasib Pendekar Naga Putih selanjutnya? Sanggupkah ia menghadapi tokoh-tokoh tingkat tinggi yang menuduhnya sebagai pembunuh? Dapatkah Pendekar Naga Putih membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah? Siapa sebenarnya yang membunuh delapan orang murid utusan Perguruan Bangau Putih? Benarkah Pendekar Rase Perak yang melakukannya?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, ikuti episode Pendekar Naga Putih selanjutnya yang merupakan lanjutan dari Rase Perak. Semuanya akan terjawab dalam episode:

Rase Perak

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Rase Perak
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

JILATAN lidah api bergoyang pelan dipermainkan hembusan angin lembut. Sesekali terdengar bunyi gemeretak suara ranting terbakar. Nyala api itu memang tidak terlalu besar. Namun, cukup untuk menerangi tempat sekitarnya dari kegelapan malam yang menyelimuti. Bahkan, sanggup mengusir nyamuk-nyamuk yang beterbangan mencari mangsa.

Di sekeliling jilatan api unggun itu tampak empat sosok tubuh duduk bersila. Mereka terdiam menatap kobaran api di depannya. Salah seorang dari mereka menjulurkan ranting, menarik keluar benda berbentuk bulat panjang yang bagian luarnya telah hangus terbakar.

“Hm.... Singkong bakar ini memang nikmat sekali...,” gumam orang itu, yang wajahnya terhias kumis tipis. Lelaki itu tengah mengunyah singkong bakar yang baru saja dikeluarkan dari kobaran api. Terdengar suara berkecipak dari mulutnya. Kendati mulutnya membuat gerakan lucu ke kiri kanan karena kepanasan, namun terlihat jelas betapa ia sangat menikmati kehangatan dan kenikmatan singkong bakar itu.

Kenikmatan yang diperlihatkan lelaki berkumis tipis, mengundang kawan-kawannya untuk ikut mencicipi. Mereka menjulurkan ranting, menarik keluar singkong lainnya. Kemudian mencicipinya setelah membelahnya terlebih dulu. Mereka pun menganggukkan kepala. Agaknya, yang dikatakan lelaki berkumis tipis itu bukan bualan belaka.

“Berapa lama lagi kita akan menempuh perjalanan...?” sambil menikmati makanan sederhana itu, salah satu dari mereka mengeluarkan pertanyaan. Dari tatapan matanya yang tertuju ke wajah lelaki berkumis tipis, jelas pertanyaan itu ditujukan kepada kawan di depannya itu.

“Menurut perkiraanku, kita masih akan berjalan kurang lebih setengah hari lagi. Itu pun kalau kita tidak mendapat halangan di perjalanan...,” sahut lelaki berkumis tipis, yang rupanya pimpinan rombongan kecil itu.

“Hm.... Kelihatannya Kakang Danaya mengkhawatirkan sesuatu...?” gumam lelaki lainnya, yang berwajah kurus dan memiliki sinar mata setajam burung elang. Sikap dan pandangannya menunjukkan ia bukan orang sembarangan. Sinar mata itu menyimpan suatu kekuatan besar yang tersembunyi di dalam dirinya.

“He he he...” Lelaki berkumis tipis bernama Danaya memperdengarkan tawa perlahan. Setelah memperhatikan wajah ketiga orang di sekelilingnya, kemudian ia menjawab.

“Apa kalian kira cuma perkumpulan kita yang mendengar berita itu? Tidak demikian ringan tugas yang kita lakukan kali ini, kawan-kawan. Bahkan, bukan tidak mungkin kita telah kedahuluan orang lain. Itu sebabnya, mengapa aku sering mengingatkan kalian agar selalu waspada! Telinga dan penciuman orang-orang kaum rimba persilatan tidak ubahnya binatang buas. Menurutku, berita ini pasti sudah didengar setengah dari tokoh-tokoh persilatan. Dan bukan mustahil darah akan tumpah. Karena apa yang akan kita cari sangat diidamkan oleh orang-orang persilatan. Baik itu dari golongan putih maupun golongan hitam...,” jelas Danaya seraya memperhatikan wajah kawan-kawannya.

“Wah.... Kalau benar demikian, alangkah beratnya tugas yang kita emban ini, Kakang...,” tukas salah satu dari ketiga lelaki itu. Wajahnya menampakkan ketegangan setelah mendengar penjelasan Danaya. Bahkan, sepasang matanya mengerling ke sekitar tempat itu. Ucapan Danaya telah menimbulkan kecurigaan terhadap sekitarnya.

“Hm..., jangan terlalu tegang, Adi Kumbara. Justru karena tugas kali ini sangat berat, maka guru telah mempersiapkan kita dari jauh-jauh hari. Kita telah dilatih dengan ilmu khusus, yang sangat sulit dan tangguh. Untuk itu, kita tidak boleh merasa kecil hati. Walaupun akan banyak muncul saingan-saingan berat. Dengan ilmu yang telah kita miliki, tidak mudah bagi lawan untuk merobohkan kita”

Danaya yang melihat kecemasan dan ketegangan di wajah kawannya mencoba menghibur. Tapi, bukan berarti yang dikatakannya cuma omong kosong saja. Mereka memang telah dibekali sebuah ilmu tangguh untuk melakukan tugas berat itu.

“Kau benar, Kakang!” sahut Kumbara mulai tenang. Keyakinannya pun timbul setelah mendengar perkataan Danaya. Terdengar tarikan nafasnya yang panjang, pertanda kelegaan hatinya.

Dua orang lainnya ikut menganggukkan kepala. Kelihatannya mereka baru sadar setelah mendengar penjelasan Danaya. Kini mereka merasa tenang. Ilmu yang mereka miliki adalah ilmu tangguh yang baru akan mereka peroleh lima tahun kemudian. Hanya karena tugas berat itulah mereka mendapat keistimewaan untuk mempelajarinya.

“Hhh... Malam sudah semakin larut. Sebaiknya kita beristirahat. Aku akan membangunkan kawan-kawan kita yang lain untuk ganti berjaga,” suara Danaya memecah kebisuan yang hanya beberapa saat. Kemudian, lelaki berkumis tipis itu bergerak bangkit dan menghampiri empat sosok tubuh lainnya yang tengah terlelap dibuai mimpi. Rupanya, mereka bukan cuma berempat. Ada empat orang kawan mereka yang lain.

Kumbara dan dua kawannya segera beranjak bangkit. Mereka merebahkan diri di atas rerumputan dengan berbantalan buntalan pakaian. Karena empat kawan mereka yang lain sudah terbangun dari tidurnya. Siap menggantikan mereka untuk berjaga-jaga.

“Oaaahm...” Salah satu dari keempat lelaki itu menguap lebar sambil menggeliat. Tubuhnya dijatuhkan di depan api unggun. Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua tangannya di dekat jilatan api. Udara menjelang dini hari memang terasa semakin dingin menggigit. Apalagi, mereka bermalam di tempat terbuka di tepi sebuah hutan.

“Sebentar lagi fajar akan terbit...,” gumam lelaki bertubuh kekar dengan sepasang mata besar. Sejenak kepalanya tengadah menatap langit yang dihiasi gemintang dan bulan sabit.

Tiga orang lainnya hanya mengangkat kepala menatap langit. Tak satu pun dari mereka yang memberikan tanggapan. Karena ucapan barusan memang tidak memerlukan jawaban.

Tapi, baru saja ketiga lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan di depan api unggun, tiba-tiba datang tiupan angin besar! Api unggun berkobar cepat dan nyaris padam. Tentu saja hal itu mengejutkan mereka. Keempat orang itu saling melempar pandang satu sama lain. Dan belum lagi salah satu dari mereka sempat berkata, tiba-tiba....

“Hua ha ha...!”

Terdengar tawa berkumandang menggetarkan jantung! Suara tawa itu bagai datang dari delapan penjuru. Sehingga, sulit ditentukan dari mana sebenarnya suara tawa itu datang.

"Tikus-tikus tak berguna! Kalian datang hanya untuk mengantarkan nyawa...!” suara tawa itu tiba-tiba lenyap. Berganti dengan gumaman kasar, namun terdengar jelas. Keempat lelaki itu tersentak bangkit dan meraba gagang pedang!

Danaya dan ketiga kawannya yang baru saja merebahkan diri langsung berlompatan bangkit. Mereka bergabung dengan kawan-kawannya yang masih berada di dekat api unggun. Dan, ikut memperhatikan sekitar tempat itu dengan sikap tegang!

“Hm.... Siapa pun kau, kalau memang bukan seorang pengecut segera tunjukkan dirimu...!” Danaya berseru dengan mengerahkan tenaga dalam. Sehingga, suaranya bergema sampai beberapa tombak ke sekitar tepi hutan. Sepertinya, lelaki berkumis tipis itu ingin menunjukkan bahwa ia dan kawan-kawannya bukan orang sembarangan, dan tidak mudah digertak!

Seruan yang jelas-jelas bernada tantangan itu, membuat suasana menjadi hening. Suara tawa maupun ucapan bernada menghina lenyap. Suasana sepi dan menegangkan. Danaya maupun kawan-kawannya yakin pemilik suara tanpa wujud itu pasti belum pergi dari tempat ini. Namun, mereka tidak tahu di mana dia bersembunyi. Dan mereka hanya bisa menunggu dengan sikap penuh waspada. Tiba-tiba....

Whusss!

Serangkum angin keras berhembus. Danaya dan kawan-kawannya berlompatan mundur dengan tangan menggenggam gagang pedang, meski belum tercabut dari sarungnya. Hembusan angin dingin yang keras membuat mereka semakin tegang. Itu terlihat jelas pada wajah-wajah mereka dalam pantulan cahaya api unggun.

“Hua ha ha...! Dasar, Tikus-tikus Tolol! Coba tengok ke belakang. Aku sudah menunggu kalian!”

Kaget bukan main kedelapan lelaki gagah itu. Danaya segera membalikkan tubuh dengan secepat kilat Pedang di pinggangnya langsung dicabut keluar. Ia sudah siap berhadapan lebih dulu dengan sosok yang ditantangnya.

“Siapa kau, Kisanak...? Apa maksudmu mengganggu kami...?” tegur Danaya. Ditatapnya tajam-tajam sosok bayangan hitam yang bersembunyi di balik bayangan pohon. Danaya tidak bisa melihat wajah sosok tinggi besar itu dengan jelas.

“Kau ingin mengetahui siapa aku...?” tukas sosok tinggi besar menyiratkan ejekan. “Dengar baik-baik. Aku adalah Malaikat Maut yang datang untuk mengambil nyawa tikus-tikus busuk seperti kalian!” lanjutnya dengan suara berat dan parau. Ucapan itu terdengar tidak main-main. Ada nada kesungguhan di dalamnya, membuat Danaya dan kawan-kawannya tersentak kaget.

“Keparat! Berani kau menghina murid-murid Perguruan Bangau Putih!” geram salah seorang kawan Danaya. Kemudian, menyeruak maju dengan senjata terhunus. Dia tidak lain Kumbara. Lelaki itu tampaknya tidak bisa menerima penghinaan sosok tinggi besar.

“Heh he he...! Bagiku kalian tak ubahnya bangau-bangau mau mati!” tandas sosok tinggi besar yang kelihatan sedikit pun tidak merasa gentar mendengar nama Perguruan Bangau Putih. Bahkan, kekurangajarannya semakin menjadi-jadi.

“Keparat...!” gemetar sekujur tubuh Kumbara mendengar hinaan itu. “Kurobek mulutmu...!” bentaknya. Serta-merta pedangnya diputar. Kumbara melesat dengan serangan-serangan yang mematikan!

“Haaat...!”

“Adi Kumbara, hati-hati...!” Danaya yang terkejut melihat tindakan gegabah kawannya segera berseru memperingatkan. Bahkan, ia melesat menyusul Kumbara.

Sosok tinggi besar yang tersembunyi di balik kegelapan bayang pepohonan hanya memperdengarkan dengusan mengejek. Sambaran pedang Kumbara yang datang bertubi-tubi tidak dapat melukainya. Bahkan, menyentuh ujung pakaiannya pun tidak. Jelas, betapa hebat ilmu sosok tinggi besar itu. Bahkan....

“Minggat kau ke neraka...!” Diiringi bentakan yang mengejutkan, sosok tinggi besar melontarkan hantaman telapak tangan dengan mendadak. Serangkum angin keras berhembus mengiringi datangnya serangan itu. Dan....

Desss!

“Aaakh...?!” Kumbara terpekik ngeri! Darah segar termuntah dari mulutnya saat telapak tangan lawan singgah di dada kiri. Tubuh gemuk Kumbara pun terlempar deras dan jatuh ke tanah dengan nyawa putus!

“Iblis...! Kau harus menukarnya dengan nyawamu!” Danaya yang melihat hebatnya pukulan sosok tinggi besar dapat menduga bahwa kawannya tidak bakal selamat. Maka, dengan kemarahan yang meluap, Danaya langsung melancarkan serangkaian bacokan dan tusukan dengan kecepatan penuh!

Whuttt, bettt!

Namun, semua serangan Danaya hanya disambut dengan kelitan tubuh yang indah. Semua serangannya kandas. Ketika ia nekat menyusuli dengan serangan berputar, sosok tinggi besar itu memapakinya dengan tepisan telapak tangan.

Plaggg!

“Uuuh...?!” Kaget bukan main lelaki berkumis tipis itu. Setengah lengannya terasa lumpuh untuk sesaat Kuda-kudanya tergempur dan tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah. Sadarlah Danaya bahwa sosok tinggi besar itu bukan orang sembarangan. Kekuatannya berada jauh di atas dirinya. Kenyataan itu membuat Danaya diliputi kecemasan!

“Seraaang...!” Setelah sadar akan kekuatan dan ketangguhan lawan, Danaya segera memerintahkan kawan-kawannya untuk maju menggempur. Mereka menggunakan ilmu pedang yang baru diturunkan, dan telah mereka sempurnakan dengan baik.

“Yeaaat...!”

“Haaat...!”

Disertai pekikan yang menggegap, Danaya memimpin enam orang kawannya menggempur maju. Cahaya putih keperakan membersit menerangi kegelapan malam. Suara berdesingan membuat suasana yang semula hening berubah hiruk-pikuk. Ditingkahi dengan bentakan dan seruan yang mengejutkan. Tapi, sosok tinggi besar itu ternyata memang tangguh. Ia masih mampu mengimbangi serangan Danaya dan kawan-kawannya. Padahal, orang-orang Perguruan Bangau Putih telah menggunakan ‘Ilmu Pedang Membelah Kabut’, yang ketangguhannya sudah dikenal oleh kalangan persilatan.

“Sekarang giliranku untuk mengambil nyawa tikus kalian...!” Di tengah kilatan cahaya pedang, sosok tinggi besar tiba-tiba berseru perlahan. Suaranya terdengar jelas di telinga ketujuh orang lawannya. Dan....

“Haiiit!”

Dibarengi pekikan menggetarkan jantung, sosok tinggi besar bergerak menyelinap di antara sambaran mata pedang. Kemudian, mengibaskan kedua tangannya ke kiri kanan menyambut serangan dua batang pedang yang mengancam tubuhnya.

Takkk, takkk!

Dua orang kawan Danaya tersentak kaget! Mata pedang mereka bagai bertemu dengan sepotong besi baja. Mereka menjadi kehilangan kewaspadaan. Dan....

Bukkk,desss!

“Aaa...!” Terdengar jerit kematian berkumandang membelah malam. Dua orang murid Perguruan Bangau Putih terjungkal memuntahkan darah segar. Pukulan telapak tangan sosok tinggi besar telah melepaskan nyawa mereka yang hanya satu-satunya.

“Keparat...!” Danaya benar-benar dibuat kalap dengan kematian kawan-kawannya. Tubuhnya melayang ke udara. Danaya berlaku nekat, menerjang maju selagi lawan siap melepaskan pukulan maut!

“Pergilah ke neraka...!” disertai suara mendesis perlahan, sosok tinggi besar mendorong tangan kanannya dengan telapak terbuka. Serangkum angin mencicit keras menyambut datangnya tubuh Danaya. Sehingga....

Bresh! “Aaargh...!” Danaya meraung bagai binatang luka. Tubuhnya terpental keras dan membentur batang pohon di belakangnya. Sudah dapat dipastikan pukulan keras itu menewaskan murid Perguruan Bangau Putih itu. Apa yang kemudian terjadi membuat keempat kawan Danaya terbelalak. Tubuh yang remuk akibat membentur pohon besar itu meregang sesaat. Kemudian diam tak bergerak dengan mata terbelalak dan wajah menyeringai. Lelehan darah mengalir dari mulutnya.

“Heh heh heh...! Tidak usah kaget, Tikus-tikus Tak Berguna! Sebentar lagi kalian akan menyusulnya. Memang tidak pantas orang-orang seperti kalian memperebutkan Rase Perak...!” ujar sosok tinggi besar seraya bergerak menghampiri dengan langkah perlahan. Sepertinya, ia sengaja hendak membuat sisa-sisa lawannya mati ketakutan sebelum disentuh.

“Keparat! Jangan kau kira kami takut menghadapi kematian...!” salah seorang dari empat murid Perguruan Bangau Putih, menggeram marah. Rasa takut dalam hatinya dibuang jauh-jauh. Ia sadar cepat atau lambat sosok tinggi besar itu pasti akan membunuhnya.

“Haaat..!”

Dengan teriakan keras, lelaki itu menerjang maju. Sambaran pedangnya terdengar berdesingan. Tiga kawannya segera berlompatan menyusul. Rupanya, mereka hendak bertarung sampai titik darah penghabisan!

Sosok tinggi besar itu sendiri hanya terkekeh. Tubuhnya sedikit pun tidak bergerak menghindar saat empat senjata itu datang mengancam. Kelihatannya, ia begitu yakin akan kekuatan tenaga dalamnya yang mampu menahan bacokan mata pedang.

Dan saat keempat mata pedang menghujani tubuhnya, sosok tinggi besar hanya mendengus kasar. Apa yang diyakininya memang benar-benar terjadi. Empat batang pedang itu terpental lepas dari genggaman pemiliknya. Kemudian....

Desss, bukkk, prakkk!

Empat sosok tubuh itu terlempar ke kiri kanan. Hantaman telapak tangan yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi itu membuat mereka berkelojotan tewas. Satu di antaranya menggeletak tak bernyawa dengan batok kepala remuk. Jelas sudah betapa hebat kekuatan tenaga dalam sosok tinggi besar. Padahal, lawan-lawannya bukanlah orang lemah.

Danaya dan kawan-kawannya merupakan murid-murid utama Perguruan Bangau Putih. Kehebatan perguruan itu pun cukup terkenal di kalangan persilatan. Tapi, bagi sosok tinggi besar itu mereka sedikit pun tidak berarti. Demikian mudahnya ia menghabisi delapan orang murid utama Perguruan Bangau Putih.

“Heh heh heh...! Ketua Perguruan Bangau Putih benar-benar tolol. Ia sama saja dengan bermimpi kalau hendak mendapatkan binatang keramat itu...,” gumam sosok tinggi besar seraya mengawasi mayat korban keganasannya.

Malam mulai berganti fajar saat sosok tinggi besar bergerak meninggalkan tubuh-tubuh korbannya. Kokok ayam hutan mengiringi lenyapnya sosok bayangan hitam berperawakan tinggi besar yang misterius itu.

********************

DUA

“Heaaa... heaaa...!”

Suara bentakan yang diselingi lecutan cambuk mengiringi derap seekor kuda berbulu putih. Sosok berperawakan sedang yang duduk di atas binatang tunggangannya itu memasuki perbatasan sebuah desa. Dan baru memperlambat lari kudanya begitu melintas di atas jalan utama desa.

Suasana desa cukup ramai. Rumah-rumah berjajar di kiri kanan jalan. Tampaknya, kehadiran penunggang kuda itu tidak banyak menarik perhatian. Hanya ada beberapa orang penduduk yang menoleh. Itu pun hanya sekilas. Selanjutnya, mereka kembali disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Kelihatannya mereka tidak aneh dengan para pendatang. Desa itu memang sering dilalui atau pun disinggahi orang-orang luar. Itu sebabnya, kehadiran sosok bertubuh sedang yang menunggang kuda berbulu putih itu tidak diperhatikan.

Penunggang kuda itu sendiri merasa lega melihat ketidak pedulian penduduk desa. Sikap itu membuatnya bisa lebih tenang melintasi jalan utama desa. Dan baru membelokkan kudanya saat melihat sebuah kedai makan di sebelah kiri jalan. Segera ia menambatkan binatang tunggangannya. Dan melangkah lebar memasuki kedai makan itu.

Beberapa pasang mata sempat menoleh dan memperhatikan sosok bertubuh sedang. Tampaknya, pakaian petani yang dikenakan sosok itu tidak membuat mereka tertarik. Sehingga, beberapa pasang mata itu kembali berpaling dan melanjutkan makan serta minum mereka.

Sosok bertubuh sedang yang jelas bukan penduduk setempat itu kelihatan ingin menampilkan sikap wajar. Langkahnya terayun menghampiri sebuah meja kosong. Sambil melangkah, sepasang matanya bergerak meneliti orang-orang yang ada di dalam ruangan. Agaknya, sosok berpakaian petani itu tengah mencari-cari sesuatu.

Saat langkahnya tiba di depan meja kosong, lelaki bertubuh sedang itu berniat menghempaskan tubuhnya di kursi. Sambil berpegangan pada bagian belakang kursi, sepasang matanya kembali mengawasi sekitar. Mendadak. Lelaki bertubuh sedang itu menghentikan gerakannya dalam kedudukan membungkuk. Sepasang matanya membelalak lebar! Terlihat jelas betapa sorot mata itu memancarkan perasaan gembira dan lega. Namun, keraguan membuatnya terpaku beberapa saat, seperti terkena sihir.

“Tidak salahkan penglihatanku...?!” desis lelaki bertubuh sedang. Punggung tangannya digosok-gosokkan ke kedua matanya. Seolah ia belum yakin dengan apa yang dilihatnya.

Entah apa yang menjadi penyebabnya. Tiba-tiba lelaki bertubuh sedang itu kelihatan tegang. Jalan nafasnya mulai tidak beraturan. Hingga akhirnya, dengan menghela napas berat langkahnya terayun perlahan. Sepasang matanya tak lepas memandang ke depan.

Suara langkah terseret dengan detak jantung yang bekerja lebih cepat, rupanya telah membuat sosok berjubah putih di depannya agak terganggu. Sosok itu berpaling dengan gerak perlahan, namun jelas menyiratkan kewaspadaan. Sepasang mata tajam berpengaruh dari seraut wajah tampan itu ternyata merupakan awal kegaduhan yang kemudian terjadi. Karena....

“Pendekar Naga Putih...?!” bagai orang menang lotre, lelaki bertubuh sedang dan berpakaian petani itu berseru mengejutkan seisi kedai. Tarikan wajahnya menunjukkan ia sangat gembira tak terkira.

Setengah dari pengunjung kedai serentak menoleh ke arah sosok sedang berpakaian petani. Sebab, lelaki itulah sumber suara seruan keras barusan. Kemudian, mata mereka mengikuti arah pandang lelaki bertubuh sedang.

“Pendekar Naga Putih?!”

Terdengar desis keheranan di sana-sini. Ulah lelaki berpakaian petani itu membuat pemuda tampan berjubah putih menjadi pusat perhatian dari setengah pengunjung kedai. Tatapan mereka menyiratkan kekaguman dan keheranan. Kagum dengan sorot mata tajam berpengaruh dari pemuda tampan itu. Dan heran melihat kehadiran pendekar ternama itu di antara mereka, tanpa seorang pun yang menyadarinya.

Sadar bahwa dirinya tengah ditatap belasan pasang mata, pemuda tampan berjubah putih itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. Lalu, menoleh ke arah sosok berpakaian serba hijau yang duduk di sebelahnya.

“Dana Ruksa...?!” gumam sosok berpakaian serba hijau ketika mengenali lelaki berpakaian petani. Kerutan pada kening wajah jelita laksana bidadari itu menandakan hati sang Dara tengah diliputi keheranan.

“Kenanga...?!” Lelaki yang dipanggil dengan Dana Ruksa itu berseru gembira. Tampak jelas ia sangat mengharapkan pertemuan itu. Sekarang dapat ditebak mengapa saat memasuki kedai, Dana Ruksa mengedarkan pandangan. Rupanya, pasangan pendekar muda itu yang dicarinya.

Pasangan muda yang memang tidak lain Panji dan Kenanga saling bertukar pandang sesaat. Namun, sebelum mereka sempat mengambil suatu tindakan, tiba-tiba suasana menjadi gaduh! Setengah dari pengunjung kedai berdiri satu persatu. Mereka melangkah ke arah Panji dan Kenanga. Dari sikap dan penampilannya, agaknya mereka kaum rimba persilatan.

Tapi, baik Panji maupun Kenanga tidak kelihatan terkejut. Sepertinya, mereka sudah tahu sebelumnya kalau di dalam kedai itu banyak terdapat kaum rimba persilatan. Pasangan pendekar muda itu segera bangkit dari duduknya. Siap menyambut tokoh-tokoh persilatan yang datang menghampiri.

Panji menyambut salam kaum rimba persilatan itu dengan bibir tersenyum dan sapa ramah penuh persahabatan. Demikian pula yang dilakukan Kenanga. Gadis jelita itu tidak merasa terkucil. Meski ia tahu salam dan sapa tokoh-tokoh persilatan itu kepadanya hanya sekadar basa-basi. Karena mereka lebih memperhatikan Panji. Malah Kenanga merasa bangga. Panji adalah bagian dari dirinya. Baginya, sanjungan untuk Panji sama dengan menyanjung dirinya. Sehingga, Kenanga tidak merasa tersisih oleh sikap tokoh-tokoh persilatan itu.

“Maaf, sahabat-sahabat yang gagah. Aku mohon pamit. Ada sesuatu yang harus segera kuurus...,” pinta Panji setelah berbasa-basi beberapa saat. Pemuda itu kemudian meninggalkan ruangan kedai, setelah meninggalkan beberapa keping uang seharga makanan yang ia pesan.

Para tokoh persilatan itu tidak berani mencegah kepergian Panji. Kelihatannya mereka cukup puas dengan sambutan ramah dari pendekar muda itu. Saat Panji berpamitan, mereka segera menyingkir memberi jalan.

“Terima kasih...,” ucap Panji beberapa kali seraya memberi isyarat kepada Kenanga untuk mengikutinya. Kenanga segera bergerak tanpa banyak tanya. Gadis itu sudah tahu mengenai sesuatu yang hendak diurus kekasihnya.

“Ikuti kami, Dana Ruksa...,” bisik Panji saat melewati lelaki berpakaian petani, yang tidak mendapat kesempatan untuk menghampiri pasangan pendekar muda itu.

Dana Ruksa kelihatan menyadari kesalahannya yang telah membuat gaduh seisi kedai. Dana Ruksa mengangguk meski ia tahu Panji dan Kenanga tidak melihat anggukannya. Lelaki itu bergegas mengikuti. Lalu, melompat ke atas punggung kuda. Dan mengikuti pasangan pendekar muda itu yang nampak melangkah agak cepat keluar desa.

Tinggallah tokoh-tokoh rimba persilatan bergerombol di depan kedai. Mereka menatap sosok Panji dan dara jelita berpakaian serba hijau yang semakin jauh. Beberapa di antara mereka menggeleng-geleng takjub. Meski hanya melangkah, tubuh Panji dan Kenanga cpat sekali menjauh. Padahal, mereka melihat jelas langkah pasangan pendekar muda itu. Yang membuat mereka takjub, hanya dengan melangkah agak cepat sosok pasangan pendekar muda itu sudah jauh meninggalkan kedai. Itu jelas membuktikan kepandaian Panji memang sangat hebat, sebagaimana kabar yang tersiar di kalangan rimba persilatan.

“Hm... Mungkinkah kehadiran Pendekar Naga Putih di desa ini juga tertarik dengan kabar adanya binatang keramat itu...?” gumam seorang tokoh persilatan seraya memegang dagu dengan kening berkerut Terasa ada suatu perasaan tersisih dalam ucapannya.

“Sepanjang yang kudengar, Pendekar Naga Putih bukanlah orang yang tamak. Baik oleh senjata pusaka dan bertuah, maupun binatang keramat yang kini beritanya telah tersebar luas di kalangan persilatan. Jadi, menurutku pendekar muda itu tidak perlu dikhawatirkan...” Tokoh lainnya pun yang pernah mendengar sifat-sifat Panji langsung menukas.

Hampir semua dari tokoh persilatan yang berdiri di tempat itu menganggukkan kepala. Mereka kelihatannya lebih setuju dengan perkataan yang terakhir. Tanpa sadar, mereka menarik napas lega ketika teringat bagaimana sikap Panji. Saat sosok Panji dan Kenanga lenyap, satu persatu kaum persilatan itu memasuki kedai. Hanya ada beberapa dari mereka yang beranjak pergi. Sehingga, sebentar saja bagian depan kedai makan itu kembali sepi.

********************

“Kau mempunyai suatu keperluan yang menyangkut paman dan bibiku, Dana Ruksa...?” Kenanga segera melontarkan pertanyaan kepada lelaki berpakaian petani yang sudah melompat turun dewi punggung kuda. Saat itu mereka sudah berada jauh di luar desa.

Dana Ruksa tidak segera menjawab. Ia membungkuk hormat kepada Panji yang berdiri di samping Kenanga. Kelihatan sekali Dana Ruksa merasa menyesal dengan kejadian di kedai tadi. Ia sungguh tidak menyangka kehadirannya telah membuat sosok Panji menjadi pusat perhatian.

“Tidak ada yang perlu kau sesali, Dana Ruksa...,” ujar Panji tersenyum. Tampaknya, Panji sedikit pun tidak menganggap semua itu merupakan kesalahan. Ucapan Panji membuat Dana Ruksa merasa lega.

“Paman dan bibimu mengharapkan kalian berdua datang ke Kadipaten Tumapel secepatnya. Hanya itu pesan yang kubawa dari beliau. Mengenai kepentingannya, aku tidak bisa menjelaskan...,” Dana Ruksa mengutarakan maksudnya kepada Kenanga dan Panji.

“Hm...” Kenanga hanya bergumam pelan. Gadis jelita itu kemudian berpaling menatap wajah Panji. Sejenak mereka saling bertukar pandang.

“Menempuh perjalanan jauh untuk mencari kami benar-benar perbuatan nekat, Dana Ruksa. Untunglah Tuhan mempertemukan kita. Entah sudah berapa lama waktu kau habiskan untuk mencari kami?” ujar Panji menatap Dana Ruksa penuh kagum.

Karena untuk mencari mereka memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, Dana Ruksa telah melakukannya, meski dalam waktu yang tak pasti. Sebab, Panji dan Kenanga tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Mereka adalah petualang-petualang yang selalu mengamalkan ilmunya untuk kepentingan orang banyak.

“Demi kepentingan Kadipaten Tumapel yang kucintai, tugas seberat apa pun akan kujalankan. Termasuk mencari kalian berdua yang kusadari memang bukanlah pekerjaan mudah. Hingga, aku sampai tidak bisa mengendalikan kegembiraan saat melihat kalian dikedai. Perjalanan panjang yang memakan waktu sebulan lebih, lenyap tanpa rasa lelah tersisa. Apa yang sangat kuharapkan kini menjadi kenyataan...,” sahut Dana Ruksa melebarkan senyumnya. Kelihatan sekali lelaki itu tidak berpura-pura.

“Hm... Jadi kau tidak tahu alasan paman dan bibiku mengharapkan kedatangan kami selekasnya...?” Kenanga bertanya menimpali pembicaraan Panji dan Dana Ruksa. Dara jelita itu tidak percaya kalau Dana Ruksa tidak mengetahui maksud pencarian itu.

“Mmm... Tentu saja aku tahu, Kenanga. Tapi, karena paman maupun bibimu berpesan demikian, kusampaikan apa adanya. Aku tidak berani membantah. Yang jelas, kami sangat membutuhkan kehadiran kalian di Kadipaten Tumapel...,” sahut Dana Ruksa tetap tidak mengatakan kepentingannya.

“Baiklah, Dana Ruksa. Kami pun tidak ingin mendesakmu...,” desah Kenanga. Benaknya mulai dipenuhi pertanyaan. Gadis itu menoleh ke arah Panji. “Bagaimana ini, Kakang...?” tanya dara jelita itu meminta pendapat kekasihnya.

Panji tak segera menjawab. Pemuda itu mengangguk beberapa kali disertai tarikan napas panjang. Ditatapnya Kenanga sesaat. Lalu berpaling kepada Dana Ruksa. Dan kembali pada kekasihnya.

“Perjalanan menuju Kadipaten Tumapel sangat jauh dan memakan waktu cukup lama. Aku khawatir saat kita tiba di kadipaten, darah sudah tumpah di Bukit Ular Emas. Menurut hematku, sebaiknya kita membagi tugas. Itu kalau kau tidak merasa keberatan...,” ujar Panji menanggapi pertanyaan kekasihnya.

Mereka memang hendak menuju ke Bukit Ular Emas, yang kabarnya menjadi tempat binatang langka. Kabar itu sudah tersebar luas di kalangan persilatan. Itu sebabnya, saat di kedai Panji banyak melihattokoh-tokoh rimba persilatan.

“Kakang,” ujar Kenanga. “Aku tidak ingin dianggap mementingkan diri sendiri. Kakang pun pasti tahu jawabanku. Aku sadar kalau kita telah dibebani kewajiban untuk menegakkan keadilan. Jadi, silakan utarakan apa yang menjadi keputusan Kakang. Aku tidak akan membantahnya...”

“Baiklah, Kenanga. Meski ada rasa berat di dalam hati, namun memang sebaiknya kita membagi tugas. Aku akan melanjutkan perjalanan ke Bukit Ular Emas. Sementara kau ikut bersama Dana Ruksa untuk menemui paman dan bibimu. Aku percaya kau bisa melaksanakan apa pun keinginan mereka. Tapi, kalau kau mempunyai pendapat lain, silakan katakan padaku...,” jelas Panji mengutarakan pikirannya setelah mendengar penuturan Kenanga.

“Lalu..., bagaimana kita dapat bertemu lagi, Kakang?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kenanga. Berawal dari rasa cemas berjauhan dengan pemuda pujaannya. Pertanyaan itu jelas menunjukkan betapa Kenanga merasa takut melalui hari-hari tanpa sang Kekasih menyertai. Sehingga, tercetus begitu saja dari mulutnya.

Melihat sikap dan pandang mata pasangan pendekar muda itu, Dana Ruksa tahu diri. Ia tidak ingin mengganggu mereka. “Maaf,” ucap Dana Ruksa pelan. “Sementara kalian berunding, aku hendak mencari rumput untuk kudaku...,” pamit Dana Ruksa yang memutar binatang tunggangannya, hendak menjauhi tempat itu.

Panji dan Kenanga tentu saja merasa akan lebih leluasa jika bicara berdua. Maka, mereka pun tidak mencegah kepergian Dana Ruksa. Keduanya segera mengangguk dan tersenyum kepada lelaki yang penuh pengertian itu. Sepeninggal Dana Ruksa, Panji melingkarkan tangannya ke bahu Kenanga. Mereka melangkah perlahan menuju tepian sungai yang gemericik airnya terdengar dari tempat itu. Kelihatannya, mereka merasa berat untuk berpisah.

“Aku akan rindu sekali kepadamu, Kakang...,” desah Kenanga menyandarkan kepalanya di bahu Panji. Ia tidak menolak saat pemuda itu membawanya menuju tepi sungai.

“Demikian pula denganku, Kenanga. Jangankan untuk berpisah dalam waktu lama. Sehari pun rasanya akan sangat menyiksa. Sulit aku membayangkan hari-hari tanpa senyum dan tatapanmu yang penuh kasih. Rasanya..., saat ini pun aku sudah merasa rindu kepadamu. Tapi, demi kepentingan orang banyak dan demi keadilan aku akan berusaha menekan semua perasaan yang menyiksa itu. Aku akan segera menemuimu di Kadipaten Tumapel setelah persoalan di Bukit Ular Emas tuntas...”

Panji meremas dengan lembut bahu yang hangat dan lunak itu. Hatinya sempat bergetar saat merasa- kan betapa dalam tubuh kekasihnya ada kepasrahan yang dalam. Panji menarik napas panjang dan melepasnya bersama gemuruh yang bergelora di dalam dada. Ditekannya semua perasaan yang bergejolak itu.

Kenanga bukan tidak tahu mengapa kekasihnya menghela napas panjang. Ia pun merasakan hal yang sama. Tetapi, berbeda dengan Panji yang mencoba untuk menekannya. Kenanga malah melepaskan begitu saja semua gejolak yang ada dalam hatinya. Gadis itu menumpahkannya melalui perbuatan.

“Peluklah aku erat-erat, Kakang...,” desah darajelita itu yang sudah menggayutkan kedua lengannya di leher Panji. Sehingga mereka saling berhadapan dan lekat satu sama lain.

“Kenanga...,” desis Panji melingkarkan kedua lengannya ke pinggang dara jelita itu. Diremasnya punggung Kenanga sebagai curahan rasa cintanya yang besar.

Sesaat kemudian, pasangan pendekar muda itu saling berpelukan erat. Dan, menumpahkan rasa kasih mereka melalui kecupan lembut. Terdengar erangan lirih dari kerongkongan dara jelita itu. Pelukan lengannya pun semakin erat. Seolah ia hendak menyatukan tubuh Panji ke dalam tubuhnya. Agar mereka tidak lagi berpisah dan menyatu selamanya.

Saat bermesraan seperti itulah mereka baru merasa lelah dengan petualangan-petualangan yang penuh ancaman maut dan taruhan nyawa. Terbersit pikiran untuk mencari kedamaian dan ketenangan, untuk menyirami cinta kasih mereka yang memang hampir tidak sempat terpikirkan. Sehingga, tidak aneh kalau kemesraan itu membuat mereka berdua terlelap bagai musafir haus di tengah gurun pasir yang luas.

Kenanga yang semakin terhanyut membalas dengan panas ciuman kekasihnya. Bahkan, kemudian menarik tubuh Panji hingga jatuh di atas rerumputan. Kendati demikian, Kenanga tidak melepaskan pelukannya. Sepertinya dara jelita itu tidak pernah merasa puas. Dan kesempatan itu membuatnya ingin mereguk sepuas-puasnya curahan cinta Panji.

Sebagai manusia biasa yang berdarah muda, Panji dapat saja terseret oleh perasaan. Apalagi Kenanga memang gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi dan cintai. Panji pun membalas cumbuan Kenanga dengan tidak kalah hangatnya. Sampai akhirnya, Panji tersentak ketika mendengar desah dara jelita itu.

“Lakukanlah, Kakang.... Aku tidak akan menyesalinya.... Biarlah hari ini menjadi kenangan terindah yang akan menemani hari-hari ku esok...,” desah Kenanga di antara gemuruh dada dan deru nafasnya. Wajah jelita yang kemerahan itu menatap sayu, pasrah akan apa yang dilakukan pemuda itu selanjutnya.

Meski peperangan dalam batinnya demikian hebat, Panji masih bisa berpikir jernih. Cepat ia menarik wajahnya agak menjauh. Walaupun wajahnya telah kemerahan, pemuda itu masih merasa pantang untuk memenuhi permintaan kekasihnya. Setelah menatap tubuh Kenanga yang pakaiannya sudah tidak karuan lagi, Panji menarik tubuhnya. Siap untuk bangkit berdiri. Namun, pemuda itu tidak ingin melepaskan lengan Kenanga dengan kasar. Panji takut dara jelita itu tersinggung. Digenggamnya lengan Kenanga dengan lunak, mencoba untuk melepaskan pegangan pada lehernya.

“Mengapa, Kakang...?” tegur Kenanga dengan mata berkabut. Ditatapnya bola mata pemuda itu lekat-lekat.

“Untuk yang satu ini, ku mohon jangan sampai terjadi pada saat-saat sekarang...,” ujar Panji dengan suara perlahan, berusaha mengingatkan. Karena perjalanan mereka masih panjang dan masih banyak yang harus diselesaikan.

Tapi Kenanga tidak menyahuti. Butir-butir air mata meluncur turun membasahi kedua pipinya yang halus. Panji tentu saja terkejut. Apalagi, ketika Kenanga menarik kedua lengannya dan menutupi wajah. Terdengar isak yang berusaha ditahan. Betapa tersiksanya hati Panji melihat kesedihan kekasihnya.

“Aku tahu sekarang...,” ucap dara jelita itu seraya tersedu-sedu, “Kakang tidak pernah mau melakukannya karena merasa jijik dengan tubuhku...” lanjutnya tetap menutup wajah dengan telapak tangan.

“Aaah.... Kenanga..., mengapa kau berprasangka seperti itu...,” keluh Panji melihat kekasihnya menangis sangat sedih.

Padahal, apa yang dilakukannya karena Panji terlalu mencintai gadis jelita itu. Kalau saja tidak ingat akan tugas-tugasnya, Panji pasti tidak akan menolaknya. Bahkan, akan melakukannya tanpa diminta. Sebagai lelaki normal tentu saja ia menginginkan hubungan yang lebih jauh.

Tapi, penolakan itu ternyata ditanggapi lain oleh Kenanga. Gadis itu merasa terhina karena Panji tidak mau melakukannya. Jelas, pemikiran gadis itu terbalik. Tapi juga tidak bisa disalahkan. Kenanga terlalu mencintai Panji dan tidak ingin kehilangan pemuda pujaannya itu. Sedangkan Panji menolak karena begitu menghormati dan menyayanginya dengan tulus.

TIGA

Panji benar-benar kehilangan kata-kata untuk menjelaskan semua itu. Pemuda itu menggeleng berkali-kali. Panji berusaha melepaskan telapak tangan yang menyembunyikan wajah jelita Kenanga. Namun, Kenanga mempertahankannya. Gadis itu tetap menyembunyikan wajahnya yang telah basah oleh air mata. Itu terlihat dari lelehan di sela-sela jari tangannya. Hingga, hati Panji semakin tak karuan.

“Kenanga..., kalau saja kau tahu betapa sangat ingin aku melakukannya. Tapi tidak sekarang, Adikku. Pada saatnya nanti, tanpa kau minta pun aku akan melakukannya. Jangan kau berkata seperti itu, Kenanga. Sadarlah akan kewajiban kita untuk mengamalkan kebajikan bagi orang banyak...,” bujuk Panji seraya membelai rambut dara jelita itu dengan penuh kasih.

“Kalau kau benar-benar mencintai ku dan tidak ingin melihat hatiku hancur, sekaranglah saatnya, Kakang. Tidak perlu menunggu waktu yang tidak pasti...,” tukas Kenanga di sela isaknya.

“Kau tidak akan menyesal...?” karena tidak bisa dibujuk, akhirnya Panji mengalah.

“Aku malah akan sangat berbahagia, Kakang...,” sahut Kenanga dengan sedikit terisak. Kali ini ia melepaskan telapak tangannya dari wajah. Ada binar kebahagiaan dalam sinar mata yang masih basah itu.

Terdorong oleh rasa kasih dan tidak ingin melihat kekasihnya sedih, Panji melucuti pakaian dara jelita itu dengan jari-jari gemetar. Tubuh bagian atas dara jelita itu telah polos, memperlihatkan kulit yang halus tak tercela. Wajah Panji tampak memerah. Iblis semakin mencengkeram erat hati dan pikiran pemuda perkasa itu. Namun, sebelum segalanya terjadi, tiba-tiba Panji menyentakkan tubuhnya dan melenting bangkit

“Tidak, Kenanga...! Aku tidak bisa...!” desis Panji dengan suara gemetar. “Kau membuatku hampir gila...!”

Pemuda perkasa itu merintih dan menjatuhkan tubuhnya di atas rumput dengan bertelekan kedua lutut. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangan. Panji berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman iblis-iblis yang menggodanya. Panji benar-benar mendapat ujian batin yang sangat berat

Semula Kenanga merasa kaget dan sangat kecewa. Tapi, begitu ia melihat betapa kekasihnya sangat tersiksa, kekecewaan itu pun tersapu lenyap. Berganti dengan rasa iba yang dalam. Kenanga segera merapikan pakaiannya., Kemudian, bergerak menghampiri Panji dengan menyeret kedua lututnya di atas rumput. Dipeluknya tubuh Panji dengan mata yang kembali basah.

“Maafkan aku, Kakang.... Aku sungguh tidak menyangka kau akan tersiksa seperti ini...,” desah dara jelita itu merangkul erat tubuh kekasihnya. Aneh benar sikap gadis itu. Belum lama ia yang dibujuk setengah mati. Tapi sekarang malah balik membujuk dan meminta maaf kepada Panji.

“Kau tidak salah, Adikku. Akulah yang salah dan telah menyiksa perasaanmu selama ini. Padahal, aku ingin selalu membuatmu bahagia. Tapi, yang kuberikan hanya petualangan penuh bahaya dan taruhan nyawa. Tidak seharusnya kau menjalani kehidupan seperti ini. Maafkan aku...,” tukas Panji menatap wajah yang basah oleh air mata. Di kecupnya bibir indah itu dengan penuh rasa cinta.

Kali ini Kenanga yang lebih dulu menarik diri. Kecupan Panji membuatnya tersenyum sangat manis! Sepasang matanya berbinar penuh kekaguman. Sehingga, Panji ganti menjadi heran.

“Sudahlah, Kakang. Kalau dilanjutkan bisa-bisa aku terseret lagi,” ujar Kenanga dengan menggenggam jemari Panji.

Tampaknya, dara jelita itu telah menyadari kekeliruannya yang nyaris mendatangkan penyesalan di hati Panji. Kalau semua itu sampai terjadi, mereka telah melanggar pesan guru-guru mereka. Mereka berdua telah dipesankan agar mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi. Selain itu, setelah melakukannya sekali, bukan mustahil akan menjadi dua kali, tiga kali dan seterusnya. Semua itu akan membuat tugas mereka terhambat.

“Hhh...” Panji menghela napas lega. Ia benar-benar gembira melihat Kenanga telah sadar dari kekeliruannya. Senyum pemuda itu melebar dan menatap bangga wajahbyang kelihatan semakin jelita itu. Tapi, tindakan Panji selanjutnya membuat Kenanga terpekik kecil. Karena....

“Biarlah kau terseret lagi. Sekarang aku benar-benar ingin melakukannya...,” sambil berkata demikian, Panji melesat menerkam tubuh kekasihnya. Sehingga, keduanya jatuh di atas rerumputan.

Namun Kenanga sudah dapat meraba. Ia tahu kekasihnya tidak bersungguh-sungguh. Sehingga membiarkan saja perlakuan Panji terhadapnya. Bahkan, malah menunjukkan sikap menantang.

“He, mengapa berhenti...?” tegur Kenanga tersenyum tanpa berusaha bangkit Karena Panji yang merasakan tidak adanya perlawanan dari gadis jelita itu segera menghentikan gerakannya.

Panji memang sengaja hendak memancing sambutan Kenanga. Pemuda itu tertawa keras dan bangkit berdiri. Tubuh molek yang masih rebah telentang itu langsung disambarnya. Lalu, dipondongnya dengan kedua tangan.

“Kau benar-benar membuat aku gemas, Kenanga. Untung saja gemblengan batin yang diberikan guruku cukup kuat. Kalau tidak, kau sudah ku lalap habis-habisan!” ujar Panji tertawa sambil menciumi wajah jelita itu.

“Memangnya aku ayam panggang...,” sahut Kenanga tertawa kecil penuh kebahagiaan. Saat seperti itu mereka tidak berbeda dengan orang lain. Kegarangan serta perbawa mereka sedikit pun tidak terlihat. Yang tampak hanyalah dua anak manusia berlainan jenis yang tengah terbuai indahnya cinta.

“Sekarang mari kita temui Dana Ruksa. Kasihan. Mungkin ia sudah tidak sabar mendengar hasil pembicaraan kita...,” ujar Panji, tiba-tiba teringat bahwa ada orang yang tengah menanti keputusan mereka. Tubuh dara jelita dalam pondongannya itu diturunkan. Mereka pun melangkah perlahan menuju tempat semula, di mana Dana Ruksa menunggu dengan sabar.

“Kalau sudah selesai dengan persoalanmu, cepatlah datang menemuiku di kadipaten, Kakang...,” ujar Kenanga dengan tangan yang tak lepas dari jemari kekasihnya.

“Secepatnya aku akan datang setelah segalanya dapat kuselesaikan,” janji Panji mantap.

“Di sana kita akan meminta paman dan bibi untuk...,” Kenanga tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tersenyum malu-malu mengerling ke arah Panji.

“Untuk apa...?” tanya Panji berpaling ketika Kenan- ga tidak menyelesaikan ucapannya.

“Untuk mengawiniku...,” jawab Kenanga yang kali ini menatap wajah kekasihnya penuh harap.

“Kalau hanya untuk itu mengapa harus jauh-jauh ke Kadipaten Tumapel...?” tukas Panji tersenyum membuat Kenanga menaikkan sebelah alisnya yang tebal dan indah. Sepasang mata beningnya menatap Panji tak mengerti.

“Maksud Kakang bagaimana...?” tanya Kenanga ingin tahu. Ia menduga kekasihnya telah mempunyai rencana lain. Gadis itu menunggu dengan hati berdebar.

“Maksudku, kalau hanya sekadar mengawinimu sekarang pun bisa kulakukan...,” sahut Panji yang tentu saja menggoda kekasihnya.

“Iiih.... Kakang jorok...,” sergah Kenanga mengernyit, tapi mata dan wajahnya jelas memancarkan kebahagiaan.

“Mmm.... Barusan kau memaksaku sampai nangis-nangis. Kok sekarang malah mengatakan aku jorok?” kilah Panji tertawa kecil.

“Biarin! Itu kan tadi! Tapi sekarang..., nggak janji deh!” bantah Kenanga tak mau kalah, membuat tawa Panji berkepanjangan.

Sementara beberapa belas tombak di depan pasangan pendekar muda yang tengah bercanda itu, Dana Ruksa mengawasi dengan bibir tersenyum. Nampaknya, ia ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar pada wajah mereka. Dana Ruksa bergegas menyambut sambil menuntun kudanya, saat pasangan pendekar muda itu semakin dekat.

“Kami sudah mengambil keputusan bersama, Dana Ruksa. Berhubung aku masih harus menyelesaikan suatu masalah besar, biarlah nanti aku menyusul. Kau bersama Kenanga berangkatlah lebih dulu ke kadipaten. Sampaikan salam dan maafku kepada paman dan bibi Kenanga,” Panji segera menjelaskan keputusan yang telah diambilnya bersama Kenanga.

“Begitu pun baik, Panji. Kami akan menunggu kedatanganmu...,” ujar Dana Ruksa menyetujui usul Panji.

“Kalau begitu, marilah kita segera berangkat...,” tukas Kenanga melepaskan jemari tangan Panji dari genggamannya. Ditatapnya wajah tampan kekasihnya untuk beberapa saat, “Susullah aku secepatnya, Kakang...,” pinta dara jelita itu memandang penuh kerinduan. Padahal, mereka belum lagi berpisah.

“Segera aku akan menyusulmu untuk...,” Panji tidak melanjutkan kalimatnya, la mengedipkan sebelah matanya kepada dara jelita itu.

Kenanga hanya mencibirkan bibir. Gadis itu melesat menyusul Dana Ruksa yang menjalankan kudanya dengan perlahan. Panji tetap diam di tempatnya menatap sosok gadis pujaannya yang semakin jauh dan samar. Kemudian lenyap di kejauhan.

Setelah bayangan kedua orang itu lenyap dari batas pandangan mata, Panji menghela napas panjang dan berat. Tiba-tiba ia merasa sepi sekali. Kepergian Kenanga seolah telah membawa sebagian dari semangat- nya. Alam sekitar yang semula indah dipandang kini terasa gersang dan tandus. Saat itu ia baru menyadari betapa cintanya sangat besar terhadap dara jelita itu.

“Tunggulah, Kenanga. Aku akan segera menyusulmu...,” janji Panji pada diri sendiri. Kemudian berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

********************

Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf sempurna, Panji melakukan perjalanan menuju Bukit Ular Emas. Tempat itu diduganya akan menjadi ajang pertumpahan darah. Karena berita yang telah tersebar luas di kalangan persilatan, sudah pasti akan membuat bukit yang biasanya tidak pernah diinjak manusia itu akan dibanjiri tokoh-tokoh rimba persilatan. Hal itulah yang ingin dicegahnya, meski ia belum tahu dengan cara bagaimana.

Saat itu hari baru menjelang sore. Panji yang semula menempuh perjalanan dengan mengandalkan kecepatan larinya kini mengurangi kecepatan gerak tubuhnya. Sepasang matanya menyorot tajam ke depan. Keningnya berkerut ketika semakin melihat jelas benda-benda yang berserakan di tepi sebuah hutan. Sesaat kemudian, pemuda itu tampak terkejut.

“Hm.... Rupanya korban sudah mulai berjatuhan? Siapa yang melakukan kekejaman ini...?” gumam Panji berdiri tegak memperhatikan delapan sosok mayat yang bergeletakan. Kendati sudah menduga mayat-mayat itu adalah kaum rimba persilatan yang hendak menuju Bukit Ular Emas, Panji ingin tahu lebih jelas siapa dan dari mana orang-orang yang menjadi korban pertama dari berita celaka itu.

Setelah memperhatikan delapan sosok mayat itu satu persatu, Panji menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Ia dapat mengenali kalau mayat-mayat itu berasal dari Perguruan Bangau Putih.

“Gila! Pendekar Bangau Sakti tentu tidak akan tinggal diam bila sampai mengetahui kejadian ini. Ini pasti perbuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Mereka mungkin hendak membuat suasana menjadi rusuh dan panas...,” gumam Panji khawatir jika kemurkaan Pendekar Bangau Sakti akan membuat Bukit Ular Emas menjadi kubangan darah.

Kekhawatiran Panji memang beralasan. Siapa tokoh yang tidak mengenal Pendekar Bangau Sakti. Ketua perguruan yang terkenal berwatak keras dan beringasan itu cukup disegani oleh kawan dan ditakuti lawan. Kematian murid-muridnya tentu akan membuat pendekar itu marah besar. Dan akan melabrak siapa saja tanpa pandang bulu. Kendati dari golongan sendiri. Sudah pasti kalau pendekar itu sampai mengetahui tentang kematian murid-muridnya, ia akan membuat gaduh di Bukit Ular Emas. Dan bisa jadi melabrak penghuni bukit itu tanpa banyak bicara lagi. Sepak- terjang ketua perguruan itulah yang dikhawatirkan Panji.

“Hm.... Tapi bisa saja semua ini perbuatan tokoh segolongan yang tidak ingin mendapat banyak saingan. Jika benar demikian, besar kemungkinan perjalanan tokoh-tokoh persilatan yang lain pun dibayangi bahaya maut. Kalau sudah begini, sulit aku mengatasinya...,” gumam Panji bergerak bangkit dan bermaksud menguburkan mayat-mayat itu.

“Pendekar Naga Putih...?!”

Panji yang baru saja membuat sebuah lubang besar dan telah menurunkan dua dari delapan mayat itu menoleh terkejut ke arah asal suara. Dari nada suaranya Panji tahu ia akan terlibat dalam kesulitan. Tapi, Panji berusaha tetap tenang. Meskipun tiga sosok tubuh yang tengah menghampirinya menyaksikan perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Pendekar Naga Putih...?” tegur salah satu dari ketiga lelaki gagah itu curiga. Bahkan, keningnya berkerut menuntut jawaban.

“Aku hendak memakamkan mereka dengan layak...,” sahut Panji dengan perasaan yang mulai tidak enak. Ia sadar ketiga tokoh itu menaruh curiga terhadap dirinya.

“Hei, lihat baik-baik, Kakang Baswara! Bukankah mereka murid-murid Perguruan Bangau Putih...?!” orang kedua yang berkening lebar berseru kaget. Rupanya, ia mengenali ciri-ciri enam sosok mayat yang belum sempat diturunkan Panji ke dalam lubang.

“Benar! Mereka adalah murid-murid Pendekar Bangau Sakti!” seru lelaki ketiga yang tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang penyakitan. Sepasang matanya yang semula redup terbelalak lebar. Jelas, iapun terkejut ketika mengetahui siapa mayat-mayat itu.

Orang pertama yang bernama Baswara bergegas meneliti enam sosok mayat di dekat kakinya. Kemudian ganti menatap Panji dengan sinar mata minta penjelasan. Kelihatannya, ia semakin bertambah curiga terhadap Panji.

“Siapa yang telah berani membunuh mereka, Pendekar Naga Putih...?” tanya Baswara mengamati wajah Panji. Seolah ia ingin tahu apakah wajah tampan itu akan menggambarkan dusta sewaktu menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak tahu, Baswara. Kalau saja aku sempat menyaksikannya, tentu tidak akan kubiarkan pembunuh itu pergi dari hadapanku dalam keadaan selamat...,” sahut Panji sejujurnya seraya menentang pandang mata lelaki botak berwajah berewok itu. Sehingga, Baswara memalingkan pandangannya. Tak sanggup melawan tatapan tajam penuh perbawa dari seorang pendekar yang memiliki tingkat kedigdayaan tinggi.

“Hm....” Baswara bergumam pelan. Kemudian berpaling ke arah kawan-kawannya. Dan saling bertukar pandang sesaat. Lalu, kembali menatap Panji.

Baswara dan dua orang kawannya bukanlah orang-orang sembarangan. Panji tahu siapa mereka. Ketiga lelaki gagah itu mendapat julukan Tiga Harimau Besi. Nama ketiganya telah bergaung menggetarkan rimba persilatan. Jarang ada orang yang berani mencari perkara dengan tiga tokoh itu. Bahkan, di kalangan golongan hitam nama Tiga Harimau Besi sanggup membuat para perampok tunggang-langgang bila berjumpa dengan ketiga tokoh itu. Nampaknya, mereka pun tertarik dengan kabar yang tersebar di kalangan persila- tan. Dan kini mereka telah ada di hadapan Panji.

“Jadi, maksudmu kau menemukan mereka dalam keadaan sudah tidak bernyawa, begitu...?” Baswara kembali bertanya menegasi setelah terdiam agak lama.

“Tepatnya memang begitu...,” sahut Panji berpura-pura bodoh. Meski ia sadar Baswara telah nyata-nyata menunjukkan sikap curiga.

“Hm.... Aku tidak percaya, Kakang!” tiba-tiba lelaki yang bertubuh kurus dengan wajah pucat dan mata sayu menukas tajam. “Kalau benar demikian, mengapa harus susah-susah menguburkan mayat mereka? Tentu maksudnya hendak menghilangkan jejak. Agar perbuatannya tidak diketahui orang lain...,”

Tajam benar tuduhan yang dilontarkan orang ketiga dari Tiga Harimau Besi. Panji pun sampai menarik napas panjang untuk menekan gemuruh dalam dadanya. Tuduhan itu jelas tanpa dasar yang kuat Dan merupakan fitnah keji yang bisa menyulitkan Panji di kemudian hari.

“Jiranta,” ucap Panji yang memang sudah mengenal nama maupun julukan ketiga tokoh itu. “Untuk apa aku membunuh mereka? Sedangkan di antara aku dan orang-orang Perguruan Bangau Putih tidak ada permusuhan. Jelas tuduhan itu tidak berdasar. Seharusnya kau sadar kalau tuduhan itu bisa menjadi perpecahan di antara sesama golongan..."

Tenang sekali Panji berkata mengingatkan tokoh itu. Sehingga, wajah kurus Jiranta menjadi kemerahan. Rupanya, ia merasa tersinggung dengan jawaban Panji. Panji sendiri tetap tenang dan siap menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi.

EMPAT

Jiranta, Baswara, dan Kunda Lawing menatap Panji dengan pandangan tak senang. Kemudian, Baswara orang tertua dari Tiga Harimau Besi, melangkah beberapa tindak mendekati Panji.

“Pendekar Naga Putih...,” ujar Baswara. Ditatapnya wajah pendekar muda di depannya lekat-lekat. “Kepentingan apa yang membuatmu berada di tempat ini?” tanya Baswara dengan sikap yang tidak enak dilihat.

Mendengar pertanyaan itu, Panji malah tersenyum. Seolah pemuda itu menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu. Panji melangkah menjauhi lubang kubur yang dibuatnya.

“Baswara,” sahut Panji dengan tersenyum sabar. “Adakah larangan bagi seseorang untuk berada di tempat ini? Ataukah kalian bertiga telah sedemikian kaya dan membeli seluruh tanah di hutan ini? Jika memang demikian, tentu wajar kalian marah kepadaku yang telah melanggar tempat ini tanpa seizin kalian bertiga. Biarlah sekarang juga aku meminta maaf kepada Tiga Harimau Besi yang gagah perkasa dan berhati bijak...,” lanjut Panji. Perkataannya jelas menunjukkan pemuda itu merasa tersinggung dengan sikap dan pertanyaan-pertanyaan Tiga Harimau Besi.

“Hm.... Jangan main-main, Pendekar Naga Putih! Kendati nama besarmu menjulang tinggi menggetarkan rimba persilatan, tapi kami Tiga Harimau Besi sedikitpun tidak merasa gentar. Kami tidak segan-segan untuk bertindak kasar kepadamu!” Baswara menyahuti gusar. Wajahnya dijalari warna merah. Kelihatan sekali lelaki berewok itu tengah menahan kegeraman hatinya.

“Tiga Harimau Besi, dengarlah baik-baik,” tiba-tiba Panji merubah sikapnya. Kalau tadi ia masih tersenyum dan menjawab sekenanya, kini tidak lagi. Wajahnya mengeras. Sepasang matanya menyorot tajam merayapi wajah ketiga tokoh itu dengan penuh perbawa. “Sebenarnya apa yang kalian kehendaki dari diriku? Jawablah, dan jangan berbelit-belit!” lanjut Panji mengejutkan Tiga Harimau Besi.

Perubahan sikap Panji memang terasa sekali. Mereka tergetar juga melihat kuatnya perbawa yang menyelimuti sosok pemuda tampan berjubah putih itu. Sehingga, tanpa sadar Baswara yang berada paling dekat dengan pemuda itu bergerak mundur. Bahkan, wajahnya terlihat agak pucat. Terasa benar betapa hebatnya pengaruh sosok Panji.

“Kau tidak melihat pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih karena mereka semua tewas di tanganmu, Pendekar Naga Putih! Dan aku yakin kau pun mempunyai tujuan yang sama dengan mereka. Bukit Ular Emas! Nah, salahkah dugaanku?” kali ini yang menyahuti Jiranta. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu kelihatan paling kuat melemparkan tuduhan kepada Panji. Kini kembali menyerang Panji dengan kata-kata tajam dan jelas-jelas merupakan tuduhan berat.

“Hm.... Dugaanmu yang pertama kujawab sejujurnya bahwa itu tidak benar, Jiranta. Tujuanku memang benar hendak ke Bukit Ular Emas. Lalu, apakah ada larangan bagiku untuk pergi ke Bukit Ular Emas?” tukas Panji tegas dan penuh perbawa. Pemuda itu menganggap Tiga Harimau Besi bukan lagi sekadar curiga. Mereka terang-terangan menuduhnya sebagai pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih. Jelas, kalau sampai tersebar di luaran Panji akan menghadapi kesulitan.

“Tidak salah lagi! Maksudmu mendatangi Bukit Ular Emas tentu mempunyai satu kepentingan, bukan?” Kunda Lawing, orang termuda dari Tiga Harimau Besi ikut menimpali. Sama seperti kedua saudaranya, ia pun menuduh Panji sebagai pelaku pembunuhan itu.

“Tiga Harimau Besi! Bukan hanya kalian saja yang berhak datang ke Bukit Ular Emas, dan berniat memiliki Rase Perak yang mukjizat itu! Aku pun memiliki hak yang sama dengan kalian bertiga. Bedanya, aku tidak berniat untuk memiliki Rase Perak. Bukan tidak memerlukannya. Tapi aku bukanlah manusia-manusia tamak yang haus akan kekuatan. Selamat tinggal...!”

Setelah berkata demikian, yang membuat Tiga Harimau Besi tertegun, Panji melesat meninggalkan tempat itu. Karena menurutnya tidak ada gunanya meladeni orang-orang yang tengah dipengaruhi rasa curiga dan iri. Panji tidak menyalahkan ketiga lelaki gagah itu kalau mereka merasa iri pada dirinya.

Kemunculan Panji memang telah membuat nama besar Tiga Harimau Besi tergeser, dan hampir tidak pernah disebut-sebut orang lagi. Sebagai manusia biasa, wajar saja kalau mereka merasa iri. Tapi, Tiga Harimau Besi tidak mau membiarkan Panji pergi begitu saja dari hadapan mereka. Cepat bagai kilat ketiganya melesat. Maksudnya, untuk mencegah kepergian Panji!

“Berhenti...!” Baswara yang melejit paling depan segera mengeluarkan bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, gema suaranya menggeletar ke segenap pelosok hutan. Dari sini dapat dilihat betapa hebat tenaga dalam Baswara.

Panji rupanya tidak mau lagi meladeni mereka. Pemuda itu terus melesat tanpa mempedulikan peringatan Baswara. Sehingga, tokoh pertama dari Tiga Harimau Besi itu kian bertambah gusar. Hingga...

“Haaat..!”

Baswara membentak keras. Kemudian, melepaskan pukulan jarak jauh dengan kedua tangannya bergantian. Lelaki berewok itu melakukannya tanpa menghentikan pengejaran.

Whusss...!

Angin keras menderu mengancam tubuh bagian belakang Pendekar Naga Putih. Tampaknya, Baswara tidak main-main lagi. Ia memang hendak mencelakakan pendekar muda itu. Tapi....

Duarrr!

Panji yang tentu saja sadar akan datangnya bahaya bergegas melambung ke udara menghindarinya. Akibatnya, semak belukar di depan pemuda itu berhamburan disertai ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitarnya. Sedangkan tubuh Panji yang menjadi sasaran meluncur turun beberapa tombak dari semak belukar yang malang itu. Kemudian, kembali melesat tanpa mempedulikan Tiga Harimau Besi yang semakin bertambah dekat.

“Yeaaa!”

Untuk kesekian kalinya Baswara memperdengarkan bentakan mengguntur. Kedua tangannya bergerak susul-menyusul melepaskan pukulan-pukulan jarak jauh.

“Haiiit...!”

Dan kembali pula Pendekar Naga Putih meluncur ke udara. Tapi, kali ini keselamatan Panji tidak bisa dijamin. Saat tubuhnya berputaran di udara terdengar suara angin keras susul-menyusul mengancam tubuhnya.

“Gila...! Mereka benar-benar tidak main-main...?!” gumam Panji yang tahu betul kalau pukulan jarak jauh itu dapat membunuh lawan. Meski belum tentu dapat membuatnya terluka. Maka....

“Haaahhh!”

Sadar bahwa perbuatan Tiga Harimau Besi tidak bisa didiamkan terus-menerus, Panji pun mengambil tindakan. Tubuhnya berputar seiring dengan bentakannya yang mengguntur. Kemudian, dengan mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ yang mukjizat, Panji mengibaskan lengan kanannya menyambut serangan itu. Dan....

Bresh!

Tidak tanggung-tanggung lagi, Panji mengerahkan sepertiga bagian dari kekuatannya untuk menyambut serangan jarak jauh itu. Karena selain penyerangnya bukan orang sembarangan, pukulan jarak jauh itu dilakukan Jiranta dan Kunda Lawing secara serempak. Sehingga, kehebatannya tidak bisa diragukan lagi.

Kedahsyatan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ kembali menunjukkan keunggulannya. Tubuh Jiranta dan Kunda Lawing terjajar mundur. Mereka tampak tidak terlalu kaget. Kehebatan Pendekar Naga Putih memang telah lama terdengar di telinga mereka.

Tapi, kenyataan yang dialami Panji cukup mengejutkan! Benturan tadi membuat lengannya tergetar. Itu merupakan tanda bahwa tenaga dalam lawan memang tidak bisa dibilang rendah. Panji pun cukup maklum. Nama besar Tiga Harimau Besi memang telah tersebar. Dan kehebatan tenaga dalam mereka membuat Panji tertarik. Sebagai seorang ahli silat, tentu saja ia tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Keputusan yang diambilnya, membuat Panji tidak lagi berniat melarikan diri. Pemuda itu berdiri tegak menunggu Tiga Harimau Besi tiba.

“Kabar tentang dirimu ternyata bukan sekadar bualan saja, Pendekar Naga Putih! Sayang, tanganmu terlalu ringan untuk mencelakai murid-murid Perguruan Bangau Putih. Untuk itu, kau harus menanggung akibatnya...,” Kunda Lawing yang merasa penasaran berkata memuji sekaligus menekankan kembali tuduhannya.

"Terima kasih atas pujianmu, Kunda Lawing. Sayangnya aku sama sekali tidak melakukan perbuatan yang kau tuduhkan itu. Mau percaya atau tidak, itu terserah kepada kalian...,” tegas Panji seraya menatap tajam Kunda Lawing. Panji benar-benar menyayangkan tindakan orang- orang gagah itu yang main tuduh tanpa mau mendengar penjelasannya. Rupanya, kebaikan Panji yang hendak menguburkan mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih telah ditafsirkan lain oleh ketiga tokoh itu.

“Kami tetap belum bisa percaya! Bukti-bukti telah jelas menunjukkan bahwa kaulah pelaku pembunuhan itu...” Baswara menimpali bantahan Panji.

“Sudah kubilang terserah kepada kalian. Mau percaya atau tidak, yang jelas aku bukanlah pembunuh...,” bantah Panji lagi, tetap tidak bergeming dari pendiriannya. Karena ia memang tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka.

“Hm...” Baswara bergumam tak peduli. Kemudian bergerak maju dari sebelah depan. Kelihatannya, pertarungan memang tidak bisa dihindarkan lagi. Baswara telah mempersiapkan jurusnya untuk menggempur Pende- kar Naga Putih.

Jiranta dan Kunda Lawing bergerak dari kiri dan kanan mengurung Pendekar Naga Putih. Mereka pun telah membuka jurus andalannya masing-masing. Karena sadar bahwa lawan yang kini mereka hadapi bukanlah orang sembarangan. Mereka berdua telah merasakan betapa hebatnya tenaga dalam pendekar muda itu.

“Jangan kau anggap kami pengecut kalau harus melakukan keroyokan terhadapmu, Pendekar Naga Putih. Kami bertiga memang selalu bersama dalam menghadapi setiap pertarungan. Bagi kami, satu atau pun seribu orang sama saja. Kami tetap maju bersama-sama...,” ujar Baswara yang kelihatannya agak risih untuk mengeroyok pendekar muda yang pantas menjadi putranya itu. Tapi, karena ia terbiasa bertarung bertiga, maka Baswara pun mengusir rasa tidak enak itu. Dan siap melancarkan serangan.

Panji menggeser langkahnya saat ketiga lawannya serentak bergerak maju dari tiga jurusan. Sadar kalau lawan yang dihadapinya merupakan tokoh- tokoh tingkat tinggi, Panji langsung membuka jurus ‘Ilmu Silat Naga Sakti’ yang menjadi andalannya.

“Heaaat..!”

Baswara membuka serangan dengan sebuah teriakan keras. Tubuh lelaki kekar itu meluncur dengan disertai sambaran angin keras berkesiutan. Tampaknya, Baswara tidak ingin berlama-lama. Dalam serangan pertama, ia telah menggunakan hampir seluruh tenaganya. Hal itu dapat ditebak Panji dari sambaran angin pukulan yang menderu tajam.

“Yeaaat...!”

Sebelum serangan Baswara tiba, Jiranta sudah meluncur dengan cakar-cakar mautnya. Serangannya tidak kalah hebat dengan Baswara. Bahkan, dari angin pukulannya Panji tahu Jiranta memiliki ilmu tenaga dalam yang lebih tinggi dari dua saudaranya.

Bettt, bettt!

Sepasang tangan kurus itu datang susul-menyusul disertai sambaran angin mencicit tajam. Rupanya, Jiranta pun ingin segera merobohkan Panji. Ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Kunda Lawing pun tidak mau ketinggalan. Dibarengi lengkingan panjang menggetarkan jantung tubuh lelaki berkening lebar itu meluruk maju. Gaya serangannya tampak agak kaku dan lebih lambat. Tapi, justru Panji melihat betapa serangan Kunda Lawing-lah yang paling berbahaya. Gerakan sepasang lengan tokoh ketiga dari Tiga Harimau Besi itu lebih rumit dan banyak perubahan yang mengejutkan! Sehingga, Panji lebih memperhitungkan serangan Kunda Lawing daripada Baswara maupun Jiranta.

“Haiiit...!”

Panji berkelit saat serangan Baswara mengancam tubuhnya. Sehingga, tiga buah serangan beruntun yang dilancarkan lelaki berewok itu kandas tanpa hasil. Bahkan, Panji langsung membalas dengan dua buah tamparan yang cepat bukan main.

Bwettt, bwettt..!

Sayang, serangan balasan Panji menemui kegagalan. Baswara sudah bergerak mundur ketika serangan pertamanya gagal. Dan Jiranta-lah yang menggantikan tempatnya. Lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu mengirimkan cakaran-cakaran maut yang bercuitan tajam.

“Haaah...!”

Kali ini Panji tidak berusaha mengelak. Disambutnya serangan Jiranta dengan dua kali tamparan keras. Sehingga, benturan pun tidak bisa dihindarkan lagi!

Plakkk, plakkk!

“Aaah...!” Tangkisan Panji membuat Jiranta terjajar mundur. Sepasang mata sayu itu sedikit terbelalak. Nampaknya, Jiranta terlalu yakin akan kekuatan tenaganya. Sehingga ketika merasakan lengannya tergetar keras dan kuda-kudanya tergempur mundur, ia tidak bisa menerima begitu saja.

Semula Panji berniat menyusuli tangkisannya dengan sambaran cakar naga yang memang telah dipersiapkannya sejak tadi. Tapi, niat itu segera ditunda ketika melihat serangan Kunda Lawing datang. Cepat Panji berkelit dan mengimbangi serangan yang datang beruntun itu.

Bwettt, bwettt!

Apa yang diduga Panji tentang kehebatan gerak Kunda Lawing memang tidak berlebihan. Kendati dua buah serangan pertama lelaki berkening lebar itu dapat dielakkannya, serangan itu malah berubah arah! Kali ini dengan gerak menyamping membentuk bacokan-bacokan. Bahkan, sepasang lengan itu mampu menggunakan tenaga tangkisan lawan untuk kembali menyerang. Kenyataan itu membuat Panji merasa kagum bukan main kepada orang ketiga dari Tiga Harimau Besi.

“Hebat...!” puji Panji seraya mengelakkan dua buah serangan lawan. Kemudian, melancarkan serangkaian serangan balasan yang membuat Kunda Lawing kelabakan.

“Aiiih...?!”

Whuttt..!

Kunda Lawing mencoba menepis cengkeraman Pendekar Naga Putih dengan bacokan lengan. Namun, tangan itu telah bergerak setengah lingkaran ke dalam. Dan langsung mengincar dada lawan. Karuan saja Kunda Lawing kaget bukan main!

Tapi, nasib baik masih menyertai Kunda Lawing. Saat dirinya terancam bahaya, Baswara dan Jiranta datang membantu. Sehingga, lelaki berkening lebar itu dapat menarik napas lega. Meski keningnya dibasahi titik-titik keringat Dan wajahnya terlihat agak pucat. Ia nyaris celaka di tangan Pendekar Naga Putih.

Pertarungan berjalan semakin seru. Tiga Harimau Besi yang ternyata memiliki kerja sama yang sangat baik, sempat membuat Panji berkali-kali mengeluarkan pujian. Ketiga lawannya dapat saling melindungi dengan baik. Sehingga, kesempatan menyerang bagi Panji mereka tutup sebaik-baiknya.

“Hattt...!”

Setelah lewat enam puluh jurus, tiba-tiba Pendekar Naga Putih mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Tubuhnya melambung ke udara secepat sambaran kilat. Dari atas Panji membagi-bagikan serangannya.

Whuttt, whuttt!

Kali ini mata Tiga Harimau Besi benar-benar dibuka lebar-lebar! Kecepatan yang diperlihatkan Pendekar Naga Putih membuat pandangan mereka menjadi kabur. Dan sulit untuk menangkap ke mana arah serangan yang diincar lawan. Sergapan hawa dingin yang memenuhi arena pertarungan membuat ketiga orang itu gelagapan, hingga gerak mereka terhambat.

“Celaka...?!” desis Baswara menyadari bahaya yang mengancam.

“Kurang ajar...?!” lain halnya dengan Jiranta. Lelaki kurus itu mengeluarkan sumpah serapah. Ia benar-benar tidak berdaya menghadapi balutan hawa dingin menggigit tulang. Dan....

Bukkk, desss!

Tanpa, dapat dicegah lagi, dua buah pukulan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih telak mengenai sasaran. Tubuh Baswara dan Jiranta terlempar dari arena pertarungan. Kerasnya pukulan yang mengenai tubuh mereka membuat kedua tokoh itu terjerembab ke tanah. Darah segar termuntah dari mulut mereka. Agaknya, pukulan itu telah mendatangkan luka dalam.

“Bangsat...!” Kunda Lawing marah besar melihat dua saudaranya dirobohkan Pendekar Naga Putih. Dengan kemarahan yang menggelegak, lelaki berkening lebar itu mendesak maju dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya. Tapi....

“Yeaaah!”

Mempergunakan kelitan manis, tubuh Pendekar Naga Putih berputar melingkar menghindari dua pukulan yang mengancam kepala dan dadanya. Dan langsung mengirimkan tendangan kilat ke tubuh Kunda Lawing yang doyong ke depan.

Desss!

“Huakh!” Darah segar langsung termuntah keluar dari mulut Kunda Lawing. Tubuh lelaki itu terpental kebelakang sejauh satu setengah tombak.

Untunglah pada saat terakhir telapak kakinya menyentuh tubuh lawan, Panji telah mengurangi tenaga tendangannya. Kalau tidak, bukan mustahil Kunda Lawing seketika akan menemui ajalnya. Tapi, bukan itu maksud Panji meladeni mereka. Kunda Lawing terbanting jatuh dan tak sadarkan diri setelah kembali memuntahkan darah segar. Kenyataan itu sangat mengejutkan Baswara dan Jiranta. Mereka menatap penuh dendam kepada Pendekar Bangau Sakti. Panji yang sadar semua ini akan terus berkelanjutan segera membalikkan tubuh. Sebelumnya ia berpamitan dan meminta maaf.

“Aku tidak ingin melanjutkan perkelahian tak berguna ini. Cukuplah pelajaran yang telah kalian berikan padaku. Untuk itu aku minta maaf. Sekali lagi kukatakan aku bukanlah pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih. Nah, selamat tinggal...”

Baswara dan Jiranta hanya bisa menggeram menatap kepergian Pendekar Naga Putih. Mereka tidak mungkin dapat mengejar pemuda itu. Keadaan tubuh mereka tidak mengizinkan. Tapi, belum lagi tubuh Panji bergerak jauh, mendadak berkelebat sesosok bayangan. Terdengar seruannya yang mengguntur mencegah kepergian Pendekar Naga Putih.

“Pendekar Naga Putih, tunggu!”

Seiring dengan suara seruannya, sosok bayangan itu berputaran di udara. Kemudian meluncur turun satu tombak di hadapan Pendekar Naga Putih. Melihat sosok bayangan itu sanggup mengejar Panji, dapat ditebak betapa hebat ilmu lari cepat sosok bayangan itu.

“Perlahan sedikit, Pendekar Naga Putih...!” ujar sosok tinggi besar itu, berdiri tegak menghadang jalan. Sepasang matanya menatap tajam sosok Pendekar Naga Putih di depannya.

Panji bergegas menghentikan langkah. Ditatapnya sosok di hadapannya dengan penuh selidik. Kening pemuda itu berkerut berusaha mengenali sosok tinggi besar itu. “Pertapa Goa Kelelawar...?!” desis Panji terkejut ketika mengenali siapa sosok tinggi besar yang berdiri menghadang jalan.

“Benar. Aku adalah Pertapa Goa Kelelawar...,” sahut sosok tinggi besar yang berusia sekitar enam puluh lima tahun. Kendati usianya terbilang tua, namun air muka Pertapa Goa Kelelawar tampak segar kemerahan. Sepa- sang matanya demikian bening. Seolah Panji melihat lautan yang tidak berdasar dalam bola mata tokoh tingkat tinggi itu. Perbawa yang terpancar dari wajah kakek itu pun demikian kuat, membuat hati Panji bergetar.

“Maaf, kalau aku telah bersikap kurang hormat kepada Eyang. Itu karena aku belum tahu siapa Eyang...,” ujar Panji seraya membungkuk hormat. Nada suaranya terdengar demikian halus. Menun- jukkan budi pekerti yang sopan.

“Hm...” Pertapa Goa Kelelawar bergumam. Dan tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang menjuntai hingga ke dada. Kepalanya terangguk-angguk merasa terkesan dengan sikap santun pemuda tampan berjubah putih itu.

“Malaikat Petir benar-benar boleh berbangga hati melihat pewarisnya demikian sopan dan perkasa. Hhh.... Betapa aku merasa iri dengan gurumu, Pendekar Naga Putih...,” ujar Pertapa Goa Kelelawar tersenyum arif. Sikapnya mencerminkan hati yang bijak dan penuh kasih. Gambaran seorang pertapa tulen terlihat jelas dalam sosok kakek itu.

"Terima kasih atas pujian Eyang. Kalau boleh aku bertanya, adakah sesuatu yang Eyang perlukan dariku...?” tanya Panji yang semakin tunduk melihat sikap kakek itu demikian bijak dan mencerminkan sikap penuh kasih.

"Tidak ada sesuatu yang penting, Pendekar Naga Putih. Aku hanya merasa heran melihat kau bertarung dengan Tiga Harimau Besi. Persoalan apa yang membuat kalian saling adu otot?” ujar Pertapa Goa Kelelawar. Tidak terlihat gambaran rasa curiga atau tidak suka pada wajahnya. Malah, kakek itu terkesan menaruh kekaguman yang dalam kepada Panji. Dan pertanyaan itu demikian wajar tanpa kesan buruk.

Panji yang menyadari Pertapa Goa Kelelawar hanya sekadar ingin tahu menghela napas panjang. Ditatapnya sosok kakek itu dengan sorot mata penuh hormat dan segan. Kemudian, diceritakannya persoalannya dengan singkat dan jelas.

“Demikianlah, Eyang. Mereka tetap menuduhku sebagai pembunuhnya...,” Panji menutup ceritanya dengan wajah tenang. Kendati dari helaan nafasnya membersit perasaan sesal atas sikap dan tindakan Tiga Harimau Besi.

Pertapa Goa Kelelawar terdiam sesaat. Pandangannya dilemparkan ke arah dua orang dari Tiga Harimau Besi. Tidak sepatah pun ucapan keluar dari mulutnya. Sehingga, Panji agak gelisah menunggu ucapan kakek itu.

LIMA

Baswara dan Jiranta terlihat agak gelisah ketika ditatap tajam oleh Pertapa Goa Kelelawar. Mereka tentu saja kenal betul siapa kakek bertubuh tinggi besar itu. Kalau tokoh itu sampai berpihak kepada Pendekar Naga Putih, celakalah mereka. Meski belum pernah melihat kakek itu bertarung, namun kebesaran namanya telah bergema ke pelosok-pelosok negeri. Baswara dan Jiranta sadar kalau Pertapa Goa Kelelawar tidak bisa dibuat main-main.

“Sebagai orang-orang gagah yang menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan, aku ingin bertanya kepada kalian berdua. Apakah benar yang barusan disampaikan Pendekar Naga Putih kepadaku?” setelah beberapa saat terdiam, pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Pertapa Goa Kelelawar.

Mendengar ucapan kakek itu, Panji merasa lega. Ucapan itu berarti Pertapa Goa Kelelawar tidak memihak kepada siapa pun dan mengutamakan keadilan. Sikap itu semakin membuat Panji kagum. Tidak demikian halnya dengan Baswara dan Jiranta. Orang pertama dan kedua dari Tiga Harimau Besi itu kelihatan agak gelisah. Mereka memang tidak mempunyai bukti yang kuat ketika menuduh Pendekar Naga Putih. Sehingga, mereka mulai meragukan tuduhannya.

“Pertapa Goa Kelelawar,” ucap Baswara setelah memutar otaknya mencari kata-kata yang tepat. “Kami melihat sendiri ia hendak menguburkan mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih. Dan kami menduga ia sengaja hendak menghilangkan jejak dari perbuatannya...,” lanjut Baswara tidak langsung menjawab pertanyaan Pertapa Goa Kelelawar.

“Hm.... Bukan itu yang kutanyakan kepada kalian? Aku hanya bertanya tentang benar tidaknya cerita Pendekar Naga Putih. Bukankah pertanyaan itu jelas dan tidak sulit untuk menjawabnya?” kilah Pertapa Goa Kelelawar yang tampaknya tidak menerima ucapan Baswara. Dan mengulang kembali pertanyaannya.

“Benar. Apa yang diceritakan Pendekar Naga Putih memang tidak berlebihan.” Akhirnya Baswara terpaksa menjawab, walau terasa sangat berat

“Bagus! Itu berarti kalian masih menjunjung tinggi kegagahan dan kejujuran,” tukas Pertapa Goa Kelelawar tersenyum puas atas jawaban Baswara. Kemudian, terdiam sesaat dan berpaling ke arah Panji. Dan, kembali menatap Baswara dan Jiranta bergantian. Pertanyaannya kembali terlontar.

“Jadi, kalian bertiga menuduh secara paksa tanpa mau mendengar penjelasan Pendekar Naga Putih?”

Baswara dan Jiranta saling bertatapan sesaat Keduanya seperti tengah berembuk untuk menjawab pertanyaan itu. Dan Jiranta tetap menyerahkan jawabannya kepada Baswara. Karena lelaki tinggi kurus berwajah pucat itu tidak berani menjawabnya.

“Kami tetap menuduh Pendekar Naga Putih sebagai pelaku pembunuhan itu!” tegas Baswara bersikeras. Karena sudah telanjur basah. “Kalau kau hendak berpihak kepada pendekar muda yang sombong itu, aku sedikit pun tidak keberatan! Yang jelas, keputusan kami tidak berubah!” tandas Baswara mengejutkan.

“Hm...” Pertapa Goa Kelelawar pun bergumam sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang. Sepasang matanya agak meredup. Sepertinya, kakek itu dapat menduga mengapa Baswara berkata demikian.

“Baswara,” ujar Pertapa Goa Kelelawar dengan lembut penuh kearifan. “Aku tahu kau tidak berkata jujur. Ketahuilah. Sebagai orang-orang yang menjunjung kegagahan, tidak ada kata terlambat untuk mengakui suatu kesalahan. Setiap manusia bisa berbuat khilaf. Karena itu, sebaiknya kau pikirkanlah kembali ucapanmu. Aku percaya Pendekar Naga Putih tidak mungkin melakukan perbuatan tercela itu. Apa pun alasannya!”

"Tapi dia melakukannya karena tidak ingin mendapat saingan untuk memperoleh Rase Perak! Itu sebabnya, Pendekar Naga Putih sampai berbuat sekeji itu!” Jiranta rupanya tidak sabar juga untuk berdiam diri. Sekali berbicara, ucapannya terdengar keras penuh rasa tidak suka. Bahkan, nyata-nyata melemparkan tuduhannya kembali kepada Panji.

“Hm.... Mungkin benar Pendekar Naga Putih tengah menuju Bukit Ular Emas, seperti tujuan banyak tokoh yang saat ini tengah berlomba untuk mencapai tempat itu. Tapi, menurutku tidak semua tokoh datang untuk mendapatkan Rase Perak. Tidak sedikit di antara mereka yang hanya ingin membuktikan kebenaran adanya Rase Perak. Salah satunya adalah aku. Dan mungkin Pendekar Naga Putih pun mempunyai niat sama denganku. Jadi, tuduhan kalian sama sekali tidak berdasar!” tandas Pertapa Goa Kelelawar, kendati suaranya tetap lembut dan tidak menyiratkan kemarahan.

“Pertapa Goa Kelelawar!” Baswara menimpali agak keras. “Kalau kau memang hendak memihak Pendekar Naga Putih, kami tidak merasa keberatan. Tapi, jangan coba-coba menyuruh kami percaya dengan kebersihan pendekar muda itu. Siapa tahu dalam hatinya tersimpan suatu niat busuk yang orang lain tidak tahu. Termasuk kita semua!”

“Hm.... Kelak aku akan membuktikan bahwa aku bukanlah orang yang tamak dan buta hati. Untuk kali ini kalian boleh berpuas hati dengan menuduhku semaunya. Aku memang tidak mempunyai bukti atau saksi yang dapat membuktikan bahwa aku bukan pembunuh!” tak sabar Panji menyelak. Sikap kedua orang itu dianggapnya sudah keterlaluan dan sangat keras kepala.

Pertapa Goa Kelelawar mengangkat kedua tangannya ketika melihat Baswara dan Jiranta masih hendak membantah. Sehingga, kedua belah pihak terdiam dan tidak lagi mengeluarkan suara.

“Persoalan ini tidak akan pernah selesai jika kalian dikuasai amarah. Untuk itu, biarlah ku putuskan. Tentunya jika kalian masih sudi memandangku sebagai orang tua. Sebaiknya, kita tunda saja persoalan ini. Siapa tahu waktu akan segera mengungkapkannya...” Akhirnya Pertapa Goa Kelelawar memutuskan. Ia tidak melihat adanya sisi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu.

Panji tampak tidak merasa keberatan dengan keputusan Pertapa Goa Kelelawar. Karena ia pun ingin membuktikan bahwa pelaku pembunuhan itu bukanlah dirinya. Untuk itu, ia memerlukan waktu.

“Baiklah. Kami bisa menerima keputusan itu. Tapi kami tidak bisa menjamin kalau Pendekar Bangau Sakti mencarimu, Pendekar Naga Putih!” ujar Baswara yang secara tidak langsung telah mengancam Panji.

Panji hanya tersenyum mendengar ancaman Baswara. Dan menatap kepergian Tiga Harimau Besi yang membawa salah seorang rekannya, Kunda Lawing. Tokoh ketiga itu masih belum sadar dari pingsannya.

Pertapa Goa Kelelawar tidak berusaha mencegahnya. Sepertinya, kakek itu maklum kalau Tiga Harimau Besi merasa malu untuk menarik kembali tuduhannya. Ia pun hanya bisa berharap agar sang Waktu dapat melunakkan kekeraskepalaan ketiga tokoh itu.

“Bagaimana, Pendekar Naga Putih? Apakah kau masih akan melanjutkan perjalananmu ke Bukit Ular Emas?” tanya Pertapa Goa Kelelawar setelah kepergian Tiga Harimau Besi. Mereka berdua masih belum beranjak dari tempat itu.

“Aku tetap akan menuju ke Bukit Ular Emas, Eyang. Karena aku khawatir ada pihak ketiga yang membuat kerusuhan di tempat itu,” sahut Panji tidak mengubah rencananya.

“Jadi, kau tidak tertarik dengan kabar tentang Rase Perak yang langka itu?” tanya Pertapa Goa Kelelawar meminta ketegasan.

Padahal, tadi Pertapa Goa Kelelawar menduga pemuda itu hendak ikut menyaksikan bagaimana rupa Rase Perak. Tapi, dugaannya ternyata meleset. Dan kakek itu semakin kagum akan keluhuran budi Pendekar Naga Putih. Maksud kedatangan pemuda itu ternyata hanya untuk melihat suasana, agar tidak terjadi keributan yang menimbulkan bencana bagi tokoh-tokoh persilatan.

“Tidak, Eyang. Meskipun kabarnya Rase Perak merupakan binatang langka, tapi aku sedikit pun tidak tertarik untuk memperebutkannya...,” jawab Panji sejujurnya. Niatnya memang bukan tertuju pada kabar tentang akan munculnya Rase Perak. Panji hanya ingin agar pertemuan itu tidak menimbulkan pertumpahan darah.

“Hm.... Padahal binatang itu sangat langka. Sulit sekali untuk mencari jejaknya. Kemunculannya sendiri hanya pada waktu-waktu tertentu,” gumam Pertapa Goa Kelelawar yang rupanya tahu banyak tentang Rase Perak yang menghebohkan itu.

“Apakah binatang langka itu tidak ada yang memeliharanya, Eyang?” tanya Panji ingin tahu. Sebab, biasanya benda atau binatang langka adalah peliharaan orang-orang sakti.

“Ada. Tokoh itu berjuluk Pendekar Rase Perak. Tapi, namanya sudah lama menghilang dari dunia persilatan. Itu sebabnya aku merasa tertarik dan meninggalkan tempat pertapaanku. Sebab, kalau benar Rase Perak yang menghebohkan itu binatang peliharaan saha- batku, bisa lain persoalannya. Ia akan murka kalaubbinatang kesayangannya itu diburu tokoh-tokoh persilatan. Binatang langka itu telah berumur seratus tahun lebih. Selain darahnya dapat membuat tubuh kita menjadi kebal terhadap segala jenis racun, juga bisa menambah kekuatan tenaga dalam menjadi berlipat ganda. Kabar tentang binatang itu telah menghebohkan dunia persilatan!” jelas Pertapa Goa Kelelawar.

Kini Panji semakin mengerti tokoh-tokoh persilatan seperti berlomba untuk mendapatkan binatang itu. Kiranya, demikian besar khasiatnya.

“Kalau begitu, siapa yang membawa kabar tentang adanya binatang langka yang sangat berkhasiat itu, Eyang?” tanya Panji kalau-kalau Pertapa Goa Kelelawar mengetahui orang pertama yang membawa kabar menghebohkan itu.

“Aku tidak tahu pasti, Pendekar Naga Putih. Kemungkinan besar pemburu tua yang dahulu sempat bertemu dengan binatang langka itu. Karena tidak ada lagi dugaan lain dalam kepalaku. Mungkin pemburu tua itu menceritakan kepada keturunannya. Yang kemudian menceritakan lagi kepada orang lain, dan terus sampai menyebar luas di kalangan persilatan. Tapi, siapa pun orang itu yang jelas kita harus mencegahnya. Aku khawatir Pendekar Rase Perak tidak dapat menahan diri bila tokoh-tokoh persilatan memburu binatang kesayangannya. Bisa saja pendekar itu tewas di tangan tokoh-tokoh persilatan yang banyak jumlahnya...,” urai Pertapa Goa Kelelawar.

“Hm Kalau begitu, kita harus secepatnya tiba dan mengabarkan kepada Pendekar Rase Perak. Jika sampai terlambat, bisa-bisa tempat itu akan menjadi ajang pertumpahan darah...,” ujar Panji yang terlihat sangat khawatir kalau dugaannya sampai terjadi.

“Aku pun mengkhawatirkan hal itu, Pendekar Naga Putih. Tapi, sebaiknya kita berpisah di sini saja. Kau masih mempunyai kewajiban untuk mencari pembunuh murid-murid Perguruan Bangau Putih,” timpal Pertapa Goa Kelelawar mengingatkan Panji akan tudu- han Tiga Harimau Besi.

“Memang sebaiknya begitu, Eyang. Selain hendak menyelidiki pembunuh biadab itu, aku pun ingin mencari apakah masih ada tokoh-tokoh lain yang menjadi korban pembunuhan gelap itu,” ujar Panji menyetujui usul Pertapa Goa Kelelawar. Ia sendiri sebenarnya ingin mengajukan usul itu. Tapi merasa enggan. Takut dituduh sombong. Untung, Pertapa Goa Kelelawar keburu mengajukan usul itu. Sehingga, Panji merasa lega.

“Nah, selamat berpisah, Pendekar Naga Putih. Kita berjumpa di Bukit Ular Emas...,” usai berkata, Pertapa Goa Kelelawar melesat meninggalkan tempat itu. Sebentar saja sosok kakek tinggi besar itu sudah berada jauh dan lenyap ditelan lebatnya dedaunan.

Panji berdiri mematung. Sesaat kemudian, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dihampirinya mayat-mayat murid Perguruan Bangau Putih. Dan menguburkannya menjadi satu dalam sebuah lubang besar. Setelah selesai, Panji segera melesat pergi.

Arah yang diambil Panji berlawanan dengan Pertapa Goa Kelelawar. Panji memang berniat untuk menyelidiki pelaku pembunuhan itu lebih dahulu. Untuk itu, perjalanannya ke Bukit Ular Emas ditunda. Jalan satu-satunya untuk menemukan jejak pembunuh itu adalah dengan mengikuti perjalanan tokoh-tokoh persilatan. Panji yakin kejadian itu masih akan berlanjut.

********************

Dengan langkah tenang, Panji menyusuri jalan utama sebuah desa. Menurutnya, desa itu akan menjadi tempat persinggahan kaum rimba persilatan. Untuk menuju ke Bukit Ular Emas, orang harus melalui desa itu terlebih dulu. Karena, Panji berniat akan menginap di Desa Eretan ini. Dan berharap dapat menemukan tokoh-tokoh persilatan yang akan mengunjungi Bukit Ular Emas. Panji juga berharap agar pembunuh misterius muncul untuk mencari korban berikutnya.

Setelah menemukan beberapa kelompok tokoh-tokoh persilatan yang tengah beristirahat, Panji segera mencari penginapan untuk bermalam. Di dalam kamar tempatnya menginap, Panji bersemadi untuk menghimpun tenaga agar saat bergerak malam nanti tubuhnya terasa segar. Panji tidak keluar dari dalam kamarnya sampai malam datang menyapa persada.

Saat malam semakin larut dalam keheningan dengan ditemani nyanyian satwa, Panji menyelinap keluar melalui jendela kamarnya. Lalu, bergerak meninggalkan penginapan setelah menutup jendela rapat-rapat Pemuda itu melesat berlarian di atas atap rumah-rumah penduduk Desa Eretan. Cahaya bulan redup yang muncul setengah menggantung di langit kelam, menemani gerak Pendekar Naga Putih yang berharap dapat menemukan pembunuh misterius.

Meski di bawah sana peronda-peronda desa berkeliling memeriksa keamanan desa, namun tak seorang pun yang tahu malam itu mereka dibantu oleh seorang pemuda perkasa. Walau kepentingan Panji dan peronda-peronda desa itu berlainan, pada dasarnya tetap sama. Karena secara tidak langsung Panji telah ikut meronda desa. Kendati niatnya hendak memergoki pembunuh misterius yang telah membuatnya dimusuhi Tiga Harimau Besi.

Waktu itu belum lagi tengah malam. Panji yang meronda desa dari atas atap rumah-rumah penduduk melihat sosok-sosok bayangan hitam mengendap-endap. Jumlah mereka kurang lebih tujuh orang. Sosok-sosok itu bergerak hati-hati mendekati sebuah rumah penginapan, yang diketahui Panji sebagai tempat menginap sekelompok tokoh-tokoh persilatan. Karena sebelum mencari tempat untuk menginap, Panji telah mengikuti orang-orang rimba persilatan. Sehingga, ia dapat mengetahui di mana tokoh-tokoh persilatan itu bermalam.

“Hm.... Mungkinkah mereka pembunuh-pembunuh yang telah membantai delapan murid Perguruan Bangau Putih? Tapi, kalau melihat gerakan mereka rasanya tidak mungkin. Kepandaian tujuh orang itu terlalu rendah untuk mencelakakan murid-murid Perguruan Bangau Putih. Aku tahu betul orang-orang yang dikirim Perguruan Bangau Putih telah melalui pilihan yang ketat. Sehingga, baru dipercaya untuk melakukan tugas itu setelah dipersiapkan dengan matang. Aku meragukan kemampuan ketujuh orang itu...,” gumam Panji yang bergerak hati-hati mengikuti sosok-sosok bayangan hitam yang saat itu sudah memasuki rumah penginapan melalui jalan belakang.

Karena percaya akan kemampuan tokoh-tokoh persilatan yang bermalam di dalam rumah penginapan itu, Panji tidak mengikuti ketujuh sosok itu sampai ke dalam, la menunggu kelanjutan perbuatan mereka. Dan hanya mendekam di atas atap rumah salah seorang penduduk yang agak berdekatan dengan penginapan.

“Hm.... Sepertinya ketujuh orang itu tertangkap basah oleh tokoh-tokoh persilatan...,” gumam Panji ketika mendengar suara bentakan dan dentang senjata beradu. Panji dapat memastikan kalau di dalam rumah penginapan telah terjadi perkelahian. Semua itu diketahui dari pendengarannya. Tapi, itu cukup jelas dan sedikit sekali kemungkinannya meleset.

“Hei, jangan lari kau, Pengecut Busuk...!” tiba-tiba terdengar bentakan.

Panji menatap lebih teliti ke arah bagian belakang penginapan. Dari bagian belakang tempat itu tampak lima sosok tubuh bergerak ke luar. Disusul dengan dua orang lainnya yang rupanya bertindak untuk menahan serangan, sementara kawan-kawannya bergerak pergi. Semua dapat dilihat Panji dengan jelas. Karena pada bagian belakang rumah penginapan terdapat obor yang menerangi tempat itu.

“Haaat...!”

Satu dari dua orang yang melindungi kawan-kawannya melarikan diri tiba-tiba memekik keras. Dan, mempergencar putaran pedangnya hingga menimbulkan deruan angin tajam. Empat orang yang semula mendesaknya segera berlompatan mundur. Mereka tidak ingin mendapat luka.

“Cepat pergi...!” teriak sosok tinggi kekar kepada kawan-kawannya. Ia jelas tidak mungkin dapat melakukan hal itu lebih lama lagi. Dan perbuatan itu pun dilakukannya dengan nekat demi keselamatan kawan- kawannya.

Enam sosok tubuh berpakaian serba hitam itu segera melesat tanpa banyak cakap lagi. Kendati ilmu meringankan tubuh mereka tidak terlalu tinggi, namun suasana malam yang gelap membantu usaha mereka untuk melarikan diri.

“Hm.... Kau tidak akan kubiarkan pergi, Keparat Busuk...!” bentak salah satu dari empat lelaki gagah yang marah karena istirahatnya diganggu orang-orang misterius. Wajah mereka ditutup oleh penutup wajah berwarna hitam, sehingga tidak bisa dikenali. Tapi....

Syuttt, syuttt syuttt!

Terdengar sambaran angin berkesiutan. Diterangi sinar obor, terlihat belasan benda berkilau meluncur ke arah arena pertarungan. Tampaknya, serangan itu memberi kesempatan kepada lelaki tinggi kekar untuk melarikan diri. Lelaki kekar berpakaian serba hitam itu rupanya tahu maksud kawan-kawannya. Ia segera melesat ke kanan sambil mengibaskan pedangnya menyambut sambaran pedang salah seorang lawan.

Trangngng!

Seiring dengan benturan keras itu, tubuh lelaki tinggi kekar terdorong beberapa langkah. Dengan sangat liciknya, lelaki itu membantu daya dorong benturan dengan lompatan panjang. Kemudian, melesat pergi meninggalkan penginapan.

“Keparat, jangan harap dapat lepas dari tanganku...!” salah seorang berteriak marah. Ia tidak sempat melakukan pengejaran. Karena saat itu ia dan tiga kawannya disibukkan oleh datangnya pisau-pisau terbang yang mengancam mereka.

Pisau-pisau terbang itu memang dapat dilumpuhkan. Tapi, mereka telah kehilangan buruannya. Tokoh-tokoh persilatan itu tidak berani bertindak gegabah untuk melakukan pengejaran. Dalam kegelapan malam seperti itu sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Sehingga, mereka hanya dapat membanting kaki dengan jengkel. Dan membiarkan musuh-musuhnya bebas meninggalkan tempat itu.

ENAM

Tujuh orang lelaki berpakaian serba hitam yang menutup wajahnya dengan kain hitam itu melesat menerobos kegelapan malam. Wajah mereka dibasahi keringat yang turun membasahi pakaian. Suara deru nafasnya yang memburu menandakan ketujuh orang itu tengah didera rasa lelah. Tiba-tiba langkah mereka terhenti seketika. Di depan mereka, dalam jarak dua tombak lebih, tampak sesosok bayangan putih berdiri tegak menghadang jalan.

“Hah?!” Lelaki terdepan yang memimpin enam orang kawannya terperangah! Sepasang matanya terbelalak lebar. Sosok serba putih di depannya benar-benar membuat hatinya tergetar untuk beberapa saat.

“Sssetankah... itu...?” desis orang kedua yang berdiri pucat dua langkah di belakang lelaki pertama. Jelas terlihat lelaki itu pun dilanda ketakutan. Tak satu pun yang menjawab pertanyaan itu. Mereka semua merasa takut dan tegang. Apalagi, ketika melihat sosok serba putih itu bergerak maju dengan perlahan. Mereka menunggu dengan hati berdebar keras.

“Tidak! Ia pasti manusia seperti kita. Lihat! Ia melangkah tak bedanya dengan manusia. Jelas, sosok serba putih itu bukan hantu atau sebangsanya.” Lelaki tinggi besar yang menjadi pemimpin berkata keras-keras kepada yang lainnya. Ucapan itu sekaligus dimaksudkan untuk mengusir rasa takut dalam dadanya.

“Aku memang bukan sebangsa makhluk halus. Tapi, sama seperti kalian semua...” Sosok serba putih itu menyahuti dengan tenang. Sementara langkahnya terus mendekat

“Siapa kau? Katakan, apa maksudmu menghadang perjalanan kami?” kegarangan lelaki tinggi kekar itu muncul kembali. Rupanya, pengakuan sosok serba putih telah memupus rasa takut di hatinya. Keberanian serta kegalakannya pun kembali muncul.

“Mengenai siapa aku, rasanya tidak begitu penting. Yang jelas, maksud kehadiranku di tempat ini adalah untuk meminta penjelasan tentang perbuatan kalian yang memasuki penginapan. Apa yang akan kalian lakukan sebenarnya? Kulihat kalian telah menemui kegagalan tadi...,” ujar sosok serba putih yang tidak lain Panji. Ia sengaja menghadang ketujuh lelaki berpakaian serba hitam itu untuk mencari keterangan dari mereka.

“Hm... Sama seperti tidak pentingnya namamu bagi kami, apa yang kami lakukan juga tidak penting bagimu! Kami minta kau segera menyingkir dan membiarkan kami lewat,” tukas lelaki tinggi kekar. Sepasang matanya tampak menyiratkan kemarahan dan ancaman. Bahkan, jari-jari tangan kanannya sudah meraba gagang pedang. Agaknya, ia hendak menggertak Panji agar segera meninggalkan tempat itu.

Panji menggeleng dan menghentikan langkahnya dalam jarak satu tombak. Sepasang matanya menatap tajam wajah tujuh lelaki yang sebagian tertutup kain hitam. “Gerak-gerik kalian terlalu mencurigakan. Selain itu, untuk apa kalian menyembunyikan wajah? Hanya orang-orang yang hendak melakukan kejahatan yang tidak berani menampakkan diri. Jadi, jangan harap kalian dapat meninggalkan tempat ini sebelum memberi penjelasan atas pertanyaanku tadi,” tegas Panji tandas. Ia bertekad tidak akan melepaskan ketujuh orang itu, yang mungkin saja dapat membawanya ke hadapan pembunuh yang dicarinya.

“Kurang ajar! Kau benar-benar tidak bisa diberi hati!” geram lelaki tinggi kekar. Digenggamnya gagang pedang, kendati belum tercabut keluar. “Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, Kisanak! Pergilah! Jangan campuri urusan kami. Atau kau akan menyesal seumur hidup!”

"Terima kasih atas peringatanmu, Kisanak yang gagah. Tapi maaf, aku tidak akan pergi sebelum kalian menjawab pertanyaanku,” tandas Panji bersikeras pada pendiriannya.

“Keparat...!” Salah satu dari enam lelaki yang berada agak di belakang terdengar memaki gusar. Kemudian, melangkah lebar mendekati Panji dengan pedang terhunus.

“Kau memang pantas dibunuh!” Usai berkata, lelaki berperawakan gemuk dengan pakaian terbuka di bagian depannya mengangkat pedang tinggi-tinggi. Dan....

“Haaah...!” Sambil membentak geram, lelaki gemuk itu men- gayunkan senjatanya ke batok kepala Pendekar Naga Putih. Agaknya, ia hendak membuat pemuda itu tewas seketika dengan tubuh terbelah. Senjata yang diayunkannya mengincar bagian tengah kepala Panji!

Whukkk!

Terdengar suara berdesing ketika pedang itu terayun deras, siap membelah tubuh Pendekar Naga Putih. Tapi Panji tidak berusaha menghindarinya. Pemuda itu mengerahkan tenaga mukjizatnya yang mem- buat sekujur tubuhnya terbungkus lapisan kabut bersinar putih keperakan.

Krakkk!

“Aaah...?!” Lelaki gemuk itu terpekik kaget! Pedang yang telak membacok bagian tengah kepala pemuda itu patah menjadi dua. Sedangkan kepala pemuda itu tetap utuh tanpa cacat sedikit pun. Bahkan, tubuh lelaki gemuk itu terangkat ke atas. Lalu, jatuh terbanting dengan kerasnya. Ia tidak bisa segera bangkit Karena tangan kanannya teras linu.

“Kurang ajar! Kepung pemuda keparat itu...!” melihat kenyataan yang mengejutkan itu, lelaki tinggi kekar segera memberi perintah pada kawan- kawannya.

Tanpa banyak cakap, enam lelaki berpakaian serba hitam bergerak maju menerjang Pendekar Naga Putih. Suara desingan pedang terdengar susul-menyusul. Kelima batang senjata itu siap mencincang tubuh Panji yang kelihatannya tidak akan memberikan perlawanan. Tapi...

Trakkk, trakkk, krakkk!

Terdengar teriakan-teriakan kaget dari lima lelaki berpakaian serba hitam. Senjata mereka satu pun tidak ada yang utuh. Semua berpatahan ketika bertemu dengan tubuh Pendekar Naga Putih. Padahal, ketajaman pedang-pedang itu sudah tidak diragukan lagi. Tapi, ternyata tidak mampu melukai tubuh Pendekar Naga Putih yang terdiri dari tulang dan daging. Kenyataan itu sangat sukar dipercaya.

Melihat kenyataan itu, lelaki tinggi kekar menjadi kalap dan cemas. Ia baru sadar kalau sosok pemuda tampan berjubah putih itu ternyata bukan orang sembarangan. Tapi, karena belum merasakannya sendiri, ia masih juga belum percaya. Maka, dengan bentakan keras lelaki kekar itu merangsek maju.

“Jaga seranganku...!” seru lelaki kekar menyabetkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

Panji hanya bergumam pelan. Pemuda itu masih tidak bergeser dari tempatnya. Kelihatannya, Panji sengaja hendak melumpuhkan lawan-lawannya dengan mengandalkan kekebalan tubuh.

Trakkk!

Tenaga ‘Sakti Gerhana Bulan’ kembali menunjukkan keampuhannya. Bacokan pedang lelaki berewok tidak membuat Panji terluka. Malah, pedang itu patah tiga. Dan ketika Panji menghentakkan tubuh, lelaki tinggi kekar itu terpekik ngeri! Tubuhnya terlempar deras ke belakang.

Brukkk!

Tubuh tinggi kekar itu jatuh berdebuk di tanah yang mulai dibasahi embun. Sesaat lelaki itu mengerang kesakitan. Dan berusaha merangkak bangkit

“Sekarang katakan sejujurnya! Apa maksud kalian menyatroni penginapan tokoh-tokoh persilatan itu?” tanya Panji dengan berwibawa.

“Kisanak, tahukah kau siapa kami sebenarnya. Sadarkah kau kalau bentrok dengan kami berarti kau telah bosan hidup?” tukas lelaki tinggi kekar yang menggunakan cara lain untuk mengusir pemuda tampan yang ternyata memiliki kepandaian menggetarkan itu.

“Hm.... Kau hendak mengancamku rupanya...?” sahut Panji yang tentu saja tidak takut dengan gertakan lelaki tinggi besar. Malah, sengaja memancing ucapan selanjutnya dari lelaki tinggi kekar itu.

“Kisanak, perlu kau ketahui kami adalah orang-orang Partai Serigala Hitam! Siapa saja yang berani mencampuri urusan kami berarti mati! Dan kau akan menerima kematian itu!” lanjut lelaki tinggi kekar dengan penuh kebanggaan saat menyebutkan nama partainya yang kedengaran seram.

“Partai Serigala Hitam...?!” desis Panji mengulang nama perkumpulan lelaki berpakaian serba hitam.

Bagi kaum rimba persilatan, nama Partai Serigala Hitam bukan merupakan nama baru. Nama itu sudah sangat terkenal dan ditakuti orang. Selain banyak terdapat tokoh tingkat tinggi tergabung di dalamnya, Partai Serigala Hitam tidak mempunyai golongan. Sepak-terjang anggota maupun tokoh-tokoh partai itu tidak bisa dijadikan ukuran. Suatu ketika partai itu seperti memihak golongan putih. Karena suka memberikan pertolongan pada orang-orang lemah dan teraniaya.

Tapi, anehnya mereka meminta bayaran atas pertolongan yang telah diberikan. Juga tidak jarang anggota partai yang besar itu melakukan aksi kejahatan sampai membunuh orang. Kendati orang itu hanya mempunyai perselisihan pendapat dengan Partai Serigala Hitam. Hingga, tak seorang pun yang tahu di golongan mana sebenarnya partai itu berdiri.

“Hm.... Kalau begitu, aku bisa menebak apa yang baru saja kalian perbuat terhadap tokoh-tokoh persilatan di rumah penginapan itu. Kalian hendak melenyapkan mereka agar tidak mendapat banyak saingan dalam melakukan perburuan di Bukit Ular Emas. Nah, kalian tentu tidak bisa membantah lagi sekarang!” ujar Panji setelah terdiam beberapa saat

Lelaki tinggi kekar itu kelihatan agak kaget ketika mendengar ucapan pemuda tampan berjubah putih. Dari ucapan itu ia bisa menebak kalau pemuda itu tidak merasa gentar saat ia menyebutkan nama perkumpulannya. Kenyataan itu tentu saja menimbulkan keheranan besar di hatinya.

“Rupanya kau memang hendak mencari mati, Kisanak! Biasanya, jangankan seorang bocah seusiamu, tokoh-tokoh terkemuka rimba persilatan pun tidak berani bersikap kurang ajar setelah mengetahui siapa kami. Kau benar-benar memiliki nyali naga, Kisanak...,” tukas lelaki tinggi kekar yang kini sadar bahwa ia dan kawan-kawannya tidak mungkin dapat lolos dari pemuda tampan itu. Karena pemuda itu sedikit pun tidak gentar ketika mendengar nama partainya.

“Aku bukan tengah mencari kematian. Tapi hendak mencari pelaku pembunuhan terhadap murid-murid Perguruan Bangau Putih. Dan tuduhanku jatuh kepada kalian semua...,” Panji melanjutkan ucapannya yang sangat mengejutkan lawan-lawannya.

“Kurang ajar! Jangan sembarangan menuduh orang, Kisanak. Rupanya, kau sengajamencari-cari alasan untuk memusuhi orang-orang Partai Serigala Hitam. Itu tidak akan membuat hidupmu tenang. Memusuhi partai kami berarti mati!” geram lelaki tinggi kekar tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan Panji.

“Hm... Sudah tertangkap basah masih juga hendak mengelak. Orang-orang seperti kalian memang semestinya diberi pelajaran...!” tandas Panji. Kemudian melangkah maju dengan sikap mengancam. Sorot mata pemuda itu demikian tajam mengiriskan.

Tujuh lelaki berpakaian serba hitam itu terkejut dan tampak gentar. Mereka bergerak mundur dengan wajah gelisah. Pemuda itu telah membuktikan kehebatannya dengan menerima begitu saja bacokan pedang mereka. Kini ia melangkah maju dengan sikap mengancam. Sadarlah mereka bahaya akan datang dari pemuda tampan berjubah putih.

Ucapan Panji memang bukan sekadar gertakan. Meski lawan-lawannya bergerak mundur dengan hati tegang, tangan pemuda itu tetap terulur menyambar salah seorang yang terdepan. Dan yang menjadi sasaran pertamanya adalah lelaki tinggi kekar!

“Aaakh...?!” Lelaki tinggi kekar itu kaget bukan main. Tangan dengan jari-jari terbuka yang siap menerkam tubuhnya itu sebisa mungkin dielakkan. Kedua tangannya digu- nakan sebagai pelindung. Tampak jelas lelaki itu kalap menghadapi serangan Panji. Dan....

Kreppp!

Meskipun lelaki tinggi kekar berusaha menghindar dan menangkis, leher baju bagian depannya tetap terkena cengkeraman Panji.

“Huppp!”

Dengan sedikit menyentakkan tangan, tubuh lelaki tinggi kekar terangkat naik dari tanah. Kemudian, Panji melemparkannya hingga tubuh itu melambung setinggi tiga tombak!

“Aaa...!”

Rasa takut yang muncul seketika membuat lelaki tinggi besar menjerit ketakutan. Dan seperti orang yang tidak memiliki kepandaian silat, lelaki tinggi besar meluruk turun dengan kepala lebih dulu. Ngeri bukan main hatinya ketika merasakan hal itu. Wajahnya berubah pucat bagai tidak teraliri darah. Butir-butir keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya. Tapi, perbuatan itu hanya sekadar gertakan. Panji mengulurkan tangannya menyambut tubuh tinggi besar yang siap terbanting ke tanah. Dan....

Apa yang kemudian dilakukan Pendekar Naga Putih benar-benar membuat lawan-lawannya terbelalak takjub. Meskipun tangan pemuda itu belum menyentuh tubuh pimpinan mereka, lelaki tinggi besar itu kembali terlempar ke udara. Rupanya, Panji hendak mempermainkan lelaki itu dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam. Ia melemparkan tubuh itu ke udara setiap kali meluncur turun. Padahal, telapak tangannya tidak menyentuh tubuh lawan. Panji mempergunakan tenaga angin pukulannya.

Tidak bisa dibayangkan lagi betapa takutnya lelaki tinggi kekar. Sekujur tubuhnya bermandikan keringat. Teriakan-teriakan ngeri terdengar setiap kali tubuhnya meluncur ke bawah. Untuk kemudian dilambungkan lagi ke udara oleh dorongan angin pukulan Panji. Perbuatan pemuda itu membuat lawannya benar-benar tersiksa.

“Hm.... Jangan pertontonkan permainan anak kecil itu di depan kami, Pendekar Naga Putih!” Ucapan yang perlahan namun menggeletar dan menyusup ke dalam dada itu membuat Panji terkejut. Ada orang yang tengah menghampiri tempat itu!

Panji bergegas menyudahi permainannya. Saat itu, tubuh lelaki tinggi kekar tengah meluncur deras ke bawah. Panji berniat menyambutnya agar tubuh itu tidak sampai terbanting di tanah. Tapi....

Panji sempat tertegun ketika melihat daya luncur tubuh itu tiba-tiba tertahan oleh suatu kekuatan hebat. Sehingga, tubuh tinggi kekar itu bergantung di udara dengan kepala di bawah. Kemudian tubuh itu berputar, dipaksa oleh suatu kekuatan yang tak tampak, sehingga kepalanya berada di atas. Lelaki tinggi kekar itu seperti tengah berdiri mengambang di udara.

Sadar kalau ada orang yang sengaja hendak menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya, Panji merasa tertantang. Sepasang tangannya berputaran sesaat, kemudian terulur ke atas. Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang tinggi, Panji kembali memutar tubuh lelaki yang tergantung di udara itu hingga terbalik seperti semula.

“Hm...” Panji yang sekujur tubuhnya telah dilapisi kabut putih keperakan ‘mengerahkan tenaga dalamnya. Pemuda itu menunjukkan kalau ia pun sanggup memutar tubuh yang mengambang itu menjadi terbalik.

“Hebat...!” Terdengar seruan memuji. Kemudian, lelaki tinggi kekar yang tergantung itu kembali berputar. Ia kembali berdiri di udara dengan kepala di atas. Tapi, Panji segera memutarnya kembali. Sehingga, lelaki tinggi kekar yang tubuhnya dijadikan ajang pertarungan tenaga dalam tingkat tinggi itu tersiksa sekali. Tubuhnya terasa dihimpit dua tangan raksasa yang tak terlihat Dan itu membuatnya sukar bernapas.

TUJUH

Panji yang melihat wajah lelaki tinggi kekar itu telah menjadi merah dengan mata terbelalak bagai hendak melompat keluar dari tempatnya, menjadi tidak tega. Cepat pemuda itu menarik pulang kekuatan tenaga dalamnya. Dan melompat ke belakang satu setengah tombak untuk menghindari kekuatan tersembunyi yang menyerangnya.

Sikap mengalah Panji rupanya disalah tafsirkan lawan. Terdengar suara tawa bergema bernada kemenangan. Sesaat kemudian, suara berat dan parau bergaung disertai hembusan angin keras.

"Ternyata, orang yang di dewa-dewakan kaum rimba persilatan hanya begitu saja kepandaiannya...!”

Panji sedikit pun tidak marah kendati ucapan itu jelas-jelas menghina dan merendahkan dirinya. Pemuda itu merasa belum kalah. Panji hanya tidak merasa perlu untuk meributkan soal itu. Satu keinginannya yang diharapkan segera terwujud, melihat rupa tokoh tersembunyi yang telah bertarung dengannya.

“Sahabat yang gagah! Jika memang wajahmu tidak cacat, mengapa harus malu untuk menunjukkan rupamu? Aku tentu akan senang sekali dapat berjumpa dan berkenalan denganmu...!” ujar Panji mengerahkan tenaga dalam. Sehingga, gema suaranya menyebar ke seluruh pelosok tempat itu. Panji berdiri tegak dengan sikap waspada. Pandangannya beredar ke sekitar tempat itu. Ditunggunya dengan sabar kemunculan tokoh yang belum juga menampakkan diri itu. Tiba-tiba....

“Hua ha ha...!” Suara tawa menggelegar terdengar berkumandang. Angin bertiup keras membuatdahan-dahan pohon berderak ribut. Agaknya, tokoh tersembunyi itu hendak memamerkan kekuatan tenaga dalamnya melalui getaran suara tawa.

Terkejut bukan main hati Panji ketika melihat akibat yang ditimbulkan. Tujuh lelaki berpakaian serba hitam yang kepandaiannya masih terlalu rendah bagi Panji terpaksa harus merasakan akibatnya. Mereka bergulingan sambil mendekap dada dan kedua telinga. Suara tawa itu membuat mereka tersiksa. Kalau saja masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin mereka akan tewas dengan bagian dalam tubuh hancur!

Panji tidak sampai hati melihat penderitaan mereka yang semula menjadi lawan-lawannya. Kendati ia sendiri harus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh suara tawa itu. Panji berniat memberikan perlawanan. Karena tokoh tersembunyi itu seperti sengaja hendak menguji kekuatan tenaga dalamnya yang memang terkenal di kalangan persilatan. Tapi....

“Hia ha ha...!”

Lengkingan panjang yang semula siap meluncur dari kerongkongan Panji segera tertunda. Saat itu terdengar suara tawa lain yang tidak kalah hebatnya. Dan semakin membuat ketujuh lelaki berpakaian hitam meraung menahan sakit yang bagai hendak meledakkan dada mereka. Panji kelihatan sangat terkejut

“Hebat...! Rupanya, berita tentang Rase Perak benar-benar telah memaksa tokoh-tokoh tingkat tinggi keluar dari sarangnya. Tawa itu jelas menunjukkan kalau kepandaian kedua tokoh tersembunyi ini benar-benar luar biasa. Rasanya mereka tidak kalah hebat dengan Pertapa Goa Kelelawar, yang juga terpaksa meninggalkan tempat pertapaannya untuk melihat kebenaran berita mengenai binatang langka yang bernama Rase Perak itu...,” gumam Panji.

Pemuda itu merasa bahwa tugasnya kali ini sangat berat Apalagi, ia belum mengetahui di pihak mana kedua tokoh tersembunyi itu berdiri. Suara tawa dua orang tanpa wujud itu membuat Panji harus menambah kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi isi dada. Kalau tidak, besar kemungkinan Panji akan mengalami luka dalam. Tentu saja hal itu tidak diinginkannya.

“Hm...” Panji berdiri tegak mengatur jalan napas. Wajahnya tampak agak pucat. Tekanan dari dua suara tawa yang terus berkumandang itu membuat dadanya berguncang semakin keras. Panji harus bertindak cepat jika tidak ingin celaka. Maka....

“Yeaaa...!”

Setelah menggabungkan dua kekuatan mukjizatnya, Panji mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Akibatnya sungguh hebat bukan main! Karena Panji mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ dan Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ sekaligus. Sehingga, timbullah badai yang bagaikan hendak merobohkan semua pepohonan di tempat itu.

Suara tawa yang semula berkumandang menggetarkan jantung tertindih lengkingan panjang Pendekar Naga Putih. Sampai akhirnya, suara tawa itu lenyap. Agaknya, kedua orang itu harus memusatkan perhatian untuk melindungi bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat ‘Pekikan Naga Marah’, yang kehebatannya luar biasa karena dikerahkan dengan tenaga gabungan.

Ketika menyadari kedua suara tawa itu telah lenyap, Panji segera menghentikan lengkingannya. Sehingga, angin ribut yang laksana topan prahara itu terhenti seketika. Alam pun kembali tenang. Bekas-bekas kehebatan lengkingan dahsyat Panji terlihat jelas dengan tumbangnya beberapa batang pohon hingga tercabut sampai ke akar-akarnya. Tempat itu seperti baru saja diamuk badai hebat.

Panji kemudian berdiri tegak sambil mengatur napas. Pemuda itu tampak lelah sekali. Ia masih menunggu kemunculan dua tokoh yang bersembunyi itu. Panji memang tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat kemudian, tampak dua sosok tubuh keluar dari semak-semak. Keduanya memiliki perbedaan yang cukup menyolok. Satu bertubuh tinggi besar dengan wajah dipenuhi cambang bauk tak terurus. Sepasang alis mata lebat melindungi mata setajam burung elang.

Sedang sosok yang satunya lagi bertubuh lebih pendek, hanya setinggi pinggang kawannya. Wajah lelaki kerdil itu pun dihiasi cambang bauk lebat Keduanya berusia sekitar lima puluh lima tahun.

Panji memperhatikan kedua sosok tubuh itu dengan penuh selidik. Yang menarik perhatiannya adalah sebuah lingkaran pada kepala mereka, yang berupa ikat kepala berwarna hitam. Sedangkan lingkaran di kening berwarna putih menyolok. Dalam lingkaran putih itu Panji melihat gambar seekor binatang dengan taring dan moncong runcing. Kini, tahulah Panji siapa kedua tokoh berpenampilan ganjil itu.

“Kepandaianmu benar-benar hebat, Pendekar Naga Putih! Tapi jangan sombong dulu. Kami berdua belum mengaku kalah. Permainan tadi baru pemanasan saja...!” terdengar suara parau dan berat mengusik telinga Panji.

Panji merasa heran karena suara parau dan berat itu justru datang dari sosok lelaki kerdil. Bukannya sosok tinggi besar yang menyeramkan. Tampaknya, hal itu merupakan ciri lain dari keanehan mereka.

"Tentu saja kita belum kalah...!” lelaki tinggi besar yang menyeramkan itu menimpali. Suaranya terdengar melengking seperti suara perempuan. Sungguh jauh berbeda dengan penampilannya yang sanggup membuat anak kecil pingsan bila berjumpa dengannya. Panji mengerutkan kening, heran.

“Maaf, saat ini aku tidak bisa meladeni kalian...,” Panji segera berkata. Ia tidak ingin bertarung dengan kedua tokoh itu tanpa alasan yang jelas. Apalagi, saat itu Panji masih mempunyai urusan lain.

“Siapa bertanding melawan siapa? Jangan dulu berkata begitu, Pendekar Naga Putih! Kami berdua belum mengambil keputusan untuk bertarung denganmu...,” kilah sosok kerdil yang kini sudah berada satu tombak di hadapan Panji.

“Kami pun tahu apa yang tengah kau lakukan di desa ini, Pendekar Naga Putih. Ku nasihatkan agar kau lupakan saja persoalan itu. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya di desa ini atau pun disekitarnya. Kecuali tentu saja di Bukit Ular Emas...,” sosok tinggi besar berwajah menyeramkan menimpali dengan suaranya yang melengking kecil.

Kening Panji berkerut ketika mendengar ucapan kedua tokoh aneh itu. Ia tahu kedua orang itu adalah tokoh-tokoh puncak Partai Serigala Hitam. Yang tidak dimengerti Panji, dari mana kedua tokoh itu mengetahui kepentingannya berada di Desa Eretan? Selain itu, mengapa mereka tega membunuh tujuh orang anggotanya? Tentu ada sesuatu yang tersembunyi dan hendak ditutupi. Namun, Panji tidak mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Karena semua itu masih samar. Kalau sudah mendapatkan bukti yang jelas, Panji tidak akan segan-segan lagi untuk menggempur kedua tokoh itu.

"Terima kasih atas nasihat kalian. Kalau memang tidak ada keperluan denganku, aku hendak pamit..,” ujar Panji terpaksa mengalah. Padahal, ia merasa curiga dengan kedua tokoh puncak Partai Serigala Hitam itu. Tapi karena tidak ada bukti-bukti yang menunjukkan mereka bersalah, Panji tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, berniat untuk meninggalkan tempat itu. Panji hendak melihat tanggapan mereka atas kepergiannya.

"Tunggu dulu, Pendekar Naga Putih...!”

Panji yang sudah berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu terpaksa menahan langkah. Suara berat dan parau yang mencegah kepergiannya membuat Panji kembali berpaling. Pandangannya tertuju kepada sosok kerdil.

“Kau memanggilku, Datuk Serigala Hitam...?” Panji langsung menegur tanpa basa-basi.

Lelaki kerdil yang kulit tubuhnya tampak pucat itu terkekeh parau. Sehingga, tubuhnya terguncang-guncang. Kelihatannya ia sangat senang mendengar Panji menyebut julukannya.

“Hm.... Kupikir kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Pendekar Naga Putih. Ternyata, matamu cukup awas untuk mengenali kami berdua...,” ujar Datuk Serigala Hitam bangga.

"Tentu saja aku mengenali kalian. Aku pun sudah dapat menduga apa yang memaksa kalian meninggalkan perguruan. Kiranya, makhluk yang bernama Rase Perak itu benar-benar luar biasa. Sampai dapat memaksa kalian keluar dari sarang. Nah, Datuk Serigala Putih dan Datuk Serigala Hitam, aku mohon pamit...,” usai berkata, Panji membalikkan tubuh. Ketika kedua tokoh itu tidak didengarnya mencegah, Panji melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Dua tokoh aneh yang menjadi dedengkot Partai Serigala Hitam hanya menatap kepergian Pendekar Naga Putih. Tawa mereka terdengar perlahan mengiringi kepergian pemuda tampan itu. Dan, mereka baru beranjak pergi setelah sosok Pendekar Naga Putih benar-benar lenyap dari pandangan.

“Hm.... Bukit Ular Emas pasti akan ramai sekali...,” gumam lelaki berkulit pucat yang mengenakan pakaian serba hitam sambil melangkah perlahan.

“Itu justru membuatku semakin tertarik, Kakang...,” timpal lelaki berperawakan tinggi besar yang berkulit gelap bagai arang. Mungkin inilah sebabnya yang membuat dirinya dijuluki Datuk Serigala Hitam.

Setelah itu mereka terdiam. Hanya tiupan angin lembut yang terdengar mengiringi langkah mereka berdua. Sebentar kemudian, kedua tokoh mengiriskan dari Partai Serigala Hitam itu lenyap di kejauhan.

********************

Pagi-pagi sekali Panji sudah meninggalkan rumah penginapan. Langkahnya terayun lambat menyusuri jalan utama Desa Eretan. Pemuda itu baru mengerahkan ilmu lari cepatnya setelah melewati batas desa. Sebentar saja, sosoknya telah jauh meninggalkan Desa Eretan.

Kali ini Panji berniat langsung menuju ke Bukit Ular Emas. Pertemuannya dengan dua tokoh Partai Serigala Hitam membuatnya terpaksa harus merubah rencana. Kalau semula ia hendak menyelidiki pembunuh misterius itu, kini rencananya berubah. Munculnya kedua tokoh yang ia tahu memiliki kepandaian mengiriskan itu membuat hati Panji diliputi kekhawatiran.

Niat Panji yang semula hanya ingin mengamankan Bukit Ular Emas dari pertumpahan darah nyaris tak terpikirkan lagi. Sekarang yang lebih penting baginya adalah menyelamatkan binatang langka yang bernama Rase Perak. Sebab, kalau binatang itu sampai jatuh ke tangan tokoh-tokoh sesat, hancurlah dunia persilatan.

Khasiat binatang langka itu pasti akan membuat tokoh sesat yang mendapatkannya bagai harimau yang tumbuh sayap. Sudah pasti rimba persilatan akan geger dengan ulah tokoh itu. Inilah yang sekarang menjadi beban pikiran Panji. Dan hal itu pula yang membuatnya harus melupakan pembunuh misterius untuk sementara waktu.

Rasa khawatir akan keselamatan orang banyak membuat Panji menempuh perjalanan tanpa mengenal lelah. Pemuda itu ingin secepatnya tiba di Bukit Ular Emas. Ia berharap bisa tiba lebih dulu di sana, sebelum tokoh-tokoh persilatan. Kegelapan malam yang hanya diterangi sinar bulan sabit tidak menjadi halangan baginya. Walau perjalanannya agak terhambat, Panji tidak merasa perlu untuk beristirahat. Dan terus bergerak dengan menggunakan ketajaman penglihatannya agar tidak kehilangan arah.

Saat menjelang fajar, Panji tiba di sebuah sungai yang membentang lebar. Melihat arusnya yang tenang, Panji dapat menduga dasar sungai itu lebih dari dua tombak dalamnya. Sedangkan lebarnya kurang lebih tiga sampai empat tombak. Hingga, tidak mungkin dapat dijangkaunya dengan loncatan. Untuk menyeberanginya, Panji memerlukan dua kali lompatan. Itu berarti ia harus menggunakan landasan untuk tiba di seberang sungai.

Sementara itu, di kaki langit sebelah timur tampak cahaya kemerahan menyemburat. Sebentar lagi matahari akan menampakkan kekuasaannya. Pagi akan datang menggantikan tugas sang Malam.

Setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya, Panji melemparkan pandangan lurus ke depan. Tampaklah sebuah gundukan tanah yang menjadi tempat tujuannya. Bukit Ular Emas sudah terbentang di hadapan Panji. Untuk bisa tiba di tempat itu ia harus menyeberangi sungai yang mengalir di depannya. Setelah berpikir sesaat, Panji mematahkan dahan pohon. Kemudian melemparkannya ke tengah sungai. Tapi, baru saja tubuhnya siap melesat, tiba-tiba telinganya menangkap suara-suara orang bertempur. Panji segera menunda gerakannya.

“Hm.... Kedengarannya suara itu berasal dari sebelah timur. Kemungkinan besar bukan dari seberang...,” gumam Panji mengedarkan pandangan seraya mengerahkan indera pendengarannya untuk mencari sumber suara itu.

Setelah termenung sesaat, Panji melesat ke sebelah kiri. Ia merasa pasti suara pertempuran itu berasal dari kiri tempatnya berdiri. Tubuhnya pun melayang dengan kecepatan tinggi. Sebentar kemudian, tibalah Panji di tempat itu. Sayang, kedatangannya agak terlambat Panji melihat sesosok tubuh tinggi besar tengah menghabisi sisa lawannya. Pertempuran telah usai. Dan sosok tubuh tinggi besar yang memenangkan pertarungan siap meninggalkan tempat itu.

“Hei, tunggu...!” Panji segera melesat dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya melayang cepat di udara. Setelah berjumpalitan beberapa kali, Panji meluncur turun di tempat bekas terjadinya pertempuran. Tapi, sosok tinggi besar itu telah melayang pergi.

“Hei...!” Sekali lagi Panji berseru mencegah kepergian sosok tinggi besar. Tapi, orang misterius itu tetap tidak pedu- li. Ia terus melesat pergi tanpa menghiraukan teriakan Panji.

Kembali Panji melayang dengan kecepatan bagai sambaran kilat. Saat itu sebuah pikiran tentang pembunuh yang melibatkannya melintas dalam benak. Dan pikiran itu membuat Panji bersikeras tidak akan membiarkan orang itu pergi.

“Haiiit...!” Dengan bentakan keras tubuh Panji melayang dan berputaran di udara. Lalu, meluncur turun satu tombak dari tubuh buruannya.

“Harap berhenti sebentar, Kisanak...!” pinta Panji sedikit keras, dan berdiri menghadang jalan sosok tinggi besar.

Bukannya mematuhi permintaan Panji, sosok tinggi besar itu malah melesat maju mengirimkan pukulan deras ke tubuh Panji. Tentu saja pemuda itu terkejut bukan main! Apalagi, dari sambaran angin pukulannya terdengar suara mencicit tajam. Jelas, pukulan itu bisa mengakibatkan kematian!

Syuttt...!

Sadar bahwa sosok tinggi besar bermaksud membunuhnya, Panji pun tidak tinggal diam. Disertai geraman lirih tenaga dalamnya dikerahkan untuk menyambut pukulan lawan. Dengan menggeser tubuhnya ke samping kanan, Panji melepaskan tangkisan dengan lengan.

Dukkk!

Kekuatan pukulan lawan ternyata jauh lebih hebat dari perkiraannya. Ketika sepasang lengan mereka bertemu, Panji merasakan tubuhnya bergetar! Bahkan kedua kakinya terseret mundur empat langkah! Padahal sewaktu menangkis, ia telah mengerahkan tiga perempat bagian dari tenaga dalamnya. Kenyataan itu tentu sangat mengejutkan!

Demikian pula dengan sosok tinggi besar, ia mengeluarkan seruan kaget. Dalam keremangan cuaca, sepasang matanya berkilat tajam seperti hendak mengenali siapa orang yang telah menghadangnya. Terlihat jelas pancaran kegeraman dalam bola mata itu.

Panji yang telah menguasai kuda-kudanya berdiri tegak menatap sosok tinggi besar dalam jarak hampir dua tombak. Pemuda itu pun berusaha menembus keremangan untuk mengenali siapa sosok tinggi besar yang memiliki kepandaian hebat itu. Sehingga, sesaat keduanya saling meneliti untuk mengenali lawan masing-masing.

DELAPAN

“Kisanak, harap kau jelaskan mengapa mereka kau bunuh? Apa kesalahan mereka kepadamu...?” tanya Panji yang belum juga bisa melihat jelas raut wajah sosok tinggi besar. Sehingga, ia belum bisa memastikan siapa orang itu.

“Hm Mereka adalah orang-orang tamak yang pantas mampus!” jawab sosok tinggi besar menyiratkan kebencian yang dalam. Dan begitu ucapannya selesai, tubuhnya melayang ke arah Panji dengan serangan dahsyat!

“Haaat..!”

Whusss!

Serangkum angin pukulan berdesingan datang mengancam tubuh Panji. Diam-diam pemuda itu terkejut. Serangan yang mengandalkan bacokan sisi telapak tangan itu dapat menimbulkan suara seperti ayunan pedang. Itu jelas membuktikan bahwa tenaga dalam yang dipergunakan lawan benar-benar berbahaya! Dan serangan itu pasti dapat mematikan!

Berpikir demikian, Panji bergegas mengerahkan ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’. Sebentar saja, terciptalah lapisan kabut bersinar putih keperakan membungkus sekujur tubuhnya. Seiring dengan munculnya lapisan kabut, hawa dingin menggigit pun menyebar memenuhi arena.

Bwettt..!

Satu sambaran sisi telapak tangan sosok tinggi besar datang mengancam batang leher Pendekar Naga Putih. Pemuda itu bergegas menggeser tubuhnya ke kiri. Kemudian, membalas dengan sebuah cengkeraman ke arah tenggorokan lawan.

“Hebat...!”

Terdengar sosok tinggi besar memuji tindakan lawannya. Ia menarik mundur tubuhnya dengan kaki depan menekuk lutut ke dalam. Cengkeraman cakar naga Panji hanya mengenai angin kosong. Dan, saat itu kaki depan sosok tinggi besar melesat naik mengancam dagu.

Plakkk!

Cepat bukan main Panji memutar tangannya dan langsung menekan tendangan itu dengan telapak tangan. Benturan keras pun tak dapat dihindarkan. Keduanya terdorong mundur, membuktikan bahwa ‘kekuatan mereka seimbang.

“Yeaaah...!”

Sosok tinggi besar yang terdorong mundur kembali melesat ke depan dengan serangkaian serangan maut. Tindakan itu membuat Panji semakin kagum. Pemuda itu bertambah yakin lawannya memang bukan orang sembarangan. Sehingga, Panji merasa ragu kalau ia dapat merobohkan lawan dalam seratus jurus. Karena tingkat kepandaian lawan memang sulit diukur.

“Hmmm...!” Sadar kalau ia tidak boleh main-main dalam meng- hadapi serangan lawan, Panji mempersiapkan ‘Ilmu Silat Naga Sakti’. Kemudian menerjang maju menyambut serangan lawan.

“Heaaat..!”

Sebentar kemudian, kedua tokoh itu kembali terlibat perkelahian sengit. Dan Panji semakin kagum ketika mendapat kenyataan kepandaian lawan memang benar-benar hebat! Selain itu, ia pun merasa heran. Ilmu silat lawan tidak memiliki banyak unsur-unsur sesat! Bahkan, lebih condong mengarah pada ilmu putih. Itu terbukti dari cara lawan melancarkan serangan. Kenyataan itu membuat Panji menduga kalau lawannya bukanlah seorang tokoh sesat Kendati demikian, terselip pertanyaan dalam benak Panji. Mengapa tokoh tinggi besar itu melakukan pembunuhan dengan cara yang kejam?

Tapi, Panji tidak bisa berpikir terus sambil menghadapi gempuran lawan yang semakin lama kian bertambah hebat dan berbahaya. Untuk itu, ia harus lebih memusatkan pikiran. Kalau tidak, bukan mustahil lawan dapat menciderainya.

“Yeaaat..!”

Namun, sebelum Panji sempat memusatkan pikirannya, sosok tinggi besar itu tiba-tiba memekik nyaring. Seiring dengan itu, sebuah tusukan jari-jari tangan datang dan menerobos pertahanan Panji. Sehingga...

Tuggg!

“Aaakh...!” Panji terpekik kesakitan. Tusukan jari-jari tangan yang telak itu menghempaskan tubuhnya kebelakang. Dada kanannya yang menjadi sasaran pukulan jari-jari tangan sekeras besi itu terasa nyeri dan panas. Untung, ia memiliki tenaga mukjizat yang selalu melapisi sekujur tubuhnya. Sehingga, meskipun tusukan jari-jari tangan lawan telak mengena hal itu tidak akan sampai membuatnya menderita luka dalam yang parah.

Tapi sosok tinggi besar tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang terbentang di depan matanya. Maka, saat tubuh Panji melayang di udara sosok tinggi besar melesat menyusuli lawan. Sepasang tangannya bergerak cepat dengan sambaran angin keras berkesiutan. Panji yang saat itu belum sempat menyiapkan diri kelihatan terkejut. Sadar bahwa serangan lawan kali ini dapat membunuhnya, maka begitu kedua kakinya menyentuh tanah sepasang tangannya bergerak cepat melindungi tubuh.

Plakkk! Plakkk!

Dua kali tusukan jari tangan lawan berhasil dipapaki. Tapi, kedudukannya yang tidak begitu kuat membuat tubuh pemuda itu terjajar mundur. Dan saat itulah lawan mempergunakannya....

Desss, blaggg!

“Huaaakh!”

Dua buah pukulan hebat tidak sempat lagi dihindarkan Panji. Tubuhnya tersentak ke udara dengan keras. Darah segar menyembur keluar dari mulut pemuda itu. Pukulan hebat itu telah mengguncangkan bagian dalam dadanya! Telak dan kerasnya pukulan lawan membuat Panji tidak mampu menguasai keseimbangan tubuh. Pemuda itu terbanting jatuh ke tanah. Tapi, Panji bergegas bangkit secepatnya. Kendati pandangannya masih nanar. Dan....

“Heiii...?!”

Sosok tinggi besar yang semula siap melepaskan pukulan susulannya terpekik kaget. Tubuh lawan tampak berpijar bagai diselimuti kobaran api. Hawa panas pun menyebar membuat sosok tinggi besar bergerak mundur beberapa langkah. Sepasang matanya membelalak tak percaya dengan pemandangan yang terpampang di depan matanya!

Apa yang disaksikan sosok tinggi besar memang bukan khayalan. Pukulan-pukulan telak yang mengguncang bagian dalam tubuh Panji telah membuat ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ bangkit dan menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Dan langsung membakar musnah pengaruh pukulan yang melukai bagian dalam tubuh pemuda itu.

Sebagaimana diketahui, ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ yang merupakan jelmaan Pedang Naga Langit demikian banyak khasiatnya. Selain mampu menolak dan memusnahkan segala macam jenis racun, tenaga mukjizat itu pun akan langsung bereaksi bila ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh majikannya. Karena itu, tenaga mukjizat itu langsung bangkit untuk membakar semua pengaruh pukulan yang telak mengenai tubuh Panji. Sehingga, untuk beberapa saat, ‘Tenaga Sakti Gerhana Bulan’ tertindih dan membuat sekujur tubuh Panji bagai terjilat kobaran api. Pemandangan itulah yang disaksikan sosok tinggi besar.

“Luar biasa?! Kabar tentang kesaktian Pendekar Naga Putih ternyata bukan hanya omong kosong belaka! Entah ilmu macam apa yang kali ini dipertunjukkannya kepadaku...?!” gumam sosok tinggi besar memandang takjub. Kalau saja tidak melihat sendiri, ia mungkin tidak akan mempercayainya. Tapi, semua itu terpampang jelas di depan matanya. Dan sulit untuk diingkari lagi.

Beberapa saat kemudian, kobaran api yang menyelimuti sekujur tubuh Panji mulai mengecil, sampai akhirnya lenyap sama sekali. Dan digantikan oleh lapisan kabut bersinar putih keperakan. Wajah Panji yang semula pucat telah kembali bersinar cerah. Itu merupakan pertanda kalau luka dalam di tubuhnya telah musnah terbakar kekuatan mukjizat ‘Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’.

Merasakan tubuhnya kembali ringan tanpa rasa nyeri yang mengganggu, Panji kembali menatap sosok tinggi besar di depannya. Sepasang mata pemuda itu mencorong tajam bagai mata naga di kegelapan. Perbawa yang kuat terpancar mengiriskan, membuat lawannya tergetar mundur beberapa langkah. Tampak jelas sosok tinggi besar itu sangat terkejut melihat tatapan tajam Panji yang menggetarkan jantung!

Saat itu, matahari mulai berpijar menampakkan kekuasaannya. Suasana yang semula remang-remang perlahan sirna tersaput kecerahan sinar matahari pagi. Keadaan itu membuat sosok tinggi besar tersentak kaget dan bergerak menjauh. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak sampai dikenali lawan.

Panji sendiri kelihatan lega menyambut kehangatan matahari pagi. Karena dengan begitu ia dapat melihat wajah lawannya. Tapi, untuk itu ternyata tidak mudah. Sosok tinggi besar menjauh dan menutupi wajahnya dengan punggung tangan. Sehingga, yang terlihat hanya sorot mata setajam mata elang.

“Hei, tunggu...?!” Panji tampak terkejut ketika ia mendekat dengan langkah perlahan, sosok tinggi besar itu malah melesat pergi meninggalkan tempat itu. Tentu saja hal itu tidak dibiarkannya. Cepat Panji melesat melakukan pengejaran.

Sadar kalau kepandaian ilmu lari cepat tokoh itu setingkat dengannya, Panji menggunakan cara lain untuk mencegah kepergiannya. Satu-satunya jalan ia harus menghalangi dengan melepaskan pukulan jarak jauh. Dan berharap pukulan itu akan membuat lawannya sibuk.

“Haiiit...!” Disertai bentakan nyaring, Panji mendorongkan telapak tangan kanan.

Whuttt...!

Serangkum angin dingin berhembus keras ke arah sosok tinggi besar yang berada hampir dua tombak didepan. Hembusan angin dingin itu sudah pasti diketahui lawan yang tentunya tidak akan membiarkan dirinya cidera. Tapi....

Sebelum sosok tinggi besar memutar tubuh memapaki pukulan jarak jauh Panji, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang menggetarkan dada. Belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok bayangan berkelebat dan melepaskan pukulan dahsyat memapaki pukulan jarak jauh Pendekar Naga Putih. Akibatnya....

Blarrr!

Ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitar tempat itu terdengar ketika dua kekuatan hebat saling berbenturan. Bahkan, dedaunan berguguran karena hebatnya getaran benturan dua gelombang tenaga maha dahsyat itu.

“Heaaah?!”

Pengaruh benturan keras itu ternyata mendorong balik tubuh Panji. Pemuda itu berseru keras dan memutar tubuhnya tiga kali. Kemudian, meluncur turun dengan kedua kaki lebih dulu. Hal serupa juga dilakukan sosok tinggi kurus yang menyambut pukulan jarak jauh pemuda tampan itu. Dengan sebuah putaran manis, sosok tinggi kurus tu- run dengan selamat di atas tanah.

Panji menatap tajam seraut wajah lelaki tua yang memiliki sorot mata tajam menggetarkan jantung. Wajah itu tampak kelam seperti menyimpan rasa penasaran yang dalam. Dan Panji menjadi terkejut ketika mengenali siapa lelaki tua berperawakan tinggi kurus itu.

“Pendekar Bangau Sakti...?!” desis Panji berusaha menekan debaran dalam dadanya.

Kehadiran pendekar besar yang kosen itu membuat ingatan Panji melayang kepada delapan orang murid Perguruan Bangau Putih yang ditemukannya tewas dipinggir sebuah hutan. Dan sikap pendekar tua itu ke- lihatan memusuhi Panji. Sehingga, Panji menduga-duga kemungkinan tokoh itu telah mendengar kabar tentang kematian murid-muridnya.

“Ah, kiranya Pendekar Bangau Sakti yang datang. Maaf, kalau sambutanku kurang hormat..,” ujar Panji menyapa sosok tinggi kurus. Pemuda itu membungkuk penuh hormat. Pendekar Bangau Sakti adalah salah satu dari sekian banyak tokoh tua golongan putih yang patut dihormati.

“Hm.... Jangan berpura-pura sopan di hadapanku, Pendekar Naga Putih! Aku sudah mendengar tentang kematian murid-muridku. Dan kedatanganku adalah untuk meminta tanggung jawab darimu sebagai pelaku kekejian itu!” tukas lelaki tua itu ketus.

Jawaban Pendekar Bangau Sakti benar-benar mengejutkan Panji. Diam-diam pemuda itu menyesali sikap Tiga Harimau Besi yang tidak memikirkan akibat dari pengaduannya. Hal itu bisa menimbulkan pertikaian di antara sesama golongan. Dan kenyataan itu sama sekali tidak diinginkan Panji.

“Pendekar Bangau Sakti,” ujar Panji berusaha bersikap setenang mungkin. “Semua itu hanyalah kesalahpahaman belaka. Sejujurnya kukatakan aku bukanlah pembunuh seperti yang kau tuduhkan itu,” lanjut Panji menjelaskan.

“Kau masih ingin membantah, Pendekar Naga Putih! Bukti sudah jelas kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Rupanya, kebesaran dan kepandaian yang kau miliki membuatmu menjadi takabur dan tidak mau memandangku sebagai tokoh yang lebih tua. Sekarang tidak usah banyak cakap lagi. Menyerah untuk diadili di hadapan anggota-anggota Perguruan Bangau Putih, atau terpaksa aku menggunakan kekerasan untuk menyeretmu!” tegas Pendekar Bangau Sakti tidak mempedulikan sanggahan Panji.

“Apa maksudmu dengan bukti yang kau lihat dengan mata kepalamu, Pendekar Bangau Sakti?” tanya Panji tidak mengerti. Pemuda itu merasa perlu untuk mengetahuinya.

“Hm.... Tahukah kau siapa orang yang hendak kau bunuh tadi?” Pendekar Bangau Sakti balik bertanya dengan nada menyakitkan.

‘Aku..., tidak melihat wajahnya dengan jelas. Sosok tinggi besar itu seperti tidak ingin dikenali...,” ujar Panji yang memang belum bisa menebak siapa lawannya barusan.

“Hm... Kau hendak berbohong kepadaku, Pendekar Naga Putih?” tukas Pendekar Bangau Sakti menggeram menyimpan kemarahan yang siap meledak.

“Pendekar Bangau Sakti! Seumur hidupku sebisa mungkin kebohongan ku hindari. Lagi pula tidak ada untungnya hal itu kulakukan!” Panji mulai tersinggung oleh ucapan-ucapan lelaki tua itu.

“Baik! Anggaplah kau tidak berdusta. Sekarang dengarlah baik-baik! Orang yang barusan hendak kau binasakan itu adalah.... Pendekar Rase Perak!”

“Tidak mungkin!”

“Nah, kau masih ingin menyangkal juga!” tukas Pendekar Bangau Sakti dengan wajah terbakar. Bantahan Panji semakin menambah amarah tokoh tua itu.

Kesungguhan Pendekar Bangau Sakti membuat tubuh Panji terjajar mundur beberapa langkah. Hatinya benar-benar terpukul mendengar bahwa sosok tinggi besar yang baru saja bertempur mati-matian dengannya ternyata seorang tokoh besar rimba persilatan, yang telah lama menghilang dari dunia ramai. Panji hampir tidak mempercayainya. Namun, ucapan itu keluar dari mulut seorang tokoh besar yang tidak mungkin berdusta!

“Tapi..., lelaki tinggi besar itu baru saja melakukan perbuatan keji dengan membunuh orang-orang tak berdosa. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri!” bantah Panji membela diri.

“Hm.... Tidak perlu membela diri, Pendekar Naga Putih! Rupanya, kau hendak berpaling dari jalan ke- baikan. Perlu kau tahu bahwa orang-orang yang terbunuh itu adalah tokoh-tokoh golongan sesat! Aku tahu pasti akan hal itu!” tegas Pendekar Bangau Sakti membuat Panji semakin terkejut.

“Mereka orang-orang golongan sesat..?!” desis Panji bagai tengah mengalami mimpi buruk. Kenyataan itu membuat jiwa Panji semakin terguncang.

“Tapi..., bukankah Pendekar Rase Perak telah lama tidak menampakkan diri?” cerita yang didengarnya dari Pertapa Goa Kelelawar mengingatkan Panji tentang tokoh itu.

“Memang benar! Dan kalau sekarang ia menampakkan diri, itu karena tidak ingin binatang peliharaannya dimiliki orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Contohnya tokoh-tokoh sesat yang baru saja dibunuhnya itu!”

Bantahan Pendekar Bangau Sakti membuat Panji kehabisan kata-kata. Untuk beberapa saat pemuda itu terdiam. Semua peristiwa yang terjadi belakangan ini oleh Panji dirasakan sebagai ujian terberat selama petualangannya dalam rimba persilatan.

“Hm.... Rasanya, aku belum percaya dengan semua yang telah ku alami belakangan ini? Tapi, biar bagaimanapun aku harus menyelesaikan tugas-tugasku sebagaimana pesan mendiang guruku. Dan untuk mengungkapkan semua kejadian aneh ini, aku harus menghindar dari Pendekar Bangau Sakti. Sebab, kalau sampai aku bertarung dengannya, golongan putih pasti akan terpecah. Sedangkan hal itu sama sekali tidak kuinginkan...,” desah Panji dalam hati memikirkan tindakan apa yang harus diambilnya.

“Menyerahlah secara baik-baik, Pendekar Naga Putih! Kami akan mengadili mu dengan jujur. Sebagai orang gagah kau harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” ujar Pendekar Bangau Sakti membuat Panji tersentak dari lamunannya.

“Maaf, Pendekar Bangau Sakti. Aku merasa semua ini banyak keanehan dan kejanggalan. Sayang, saat ini aku belum bisa mengungkapkannya. Berikanlah kepadaku sedikit waktu. Kelak aku akan datang kepadamu dengan bukti-bukti yang dapat melenyapkan tuduhan itu terhadap diriku...,” Panji berusaha meminta kebijaksanaan Pendekar Bangau Sakti. Karena pemuda itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan, ia harus dapat mengungkapkan ketidakberesan itu.

“Apa lagi yang hendak kau buktikan, Pendekar Naga Putih! Semuanya sudah jelas. Aku akan membawamu ke Perguruan Bangau Putih untuk diadili...,” usai berkata, Pendekar Bangau Sakti bertepuk tangan tiga kali.

Panji bergerak mundur ketika dari sekeliling tempat itu berloncatan sosok-sosok berpakaian serba putih. Mereka adalah murid-murid orang tua itu. Panji tidak tampak terkejut. Tapi..., ada satu sosok tubuh yang belakangan muncul dan membuat dada pemuda itu berdebar keras. Sosok itu adalah....

“Pendekar Rase Perak...?!” desis Panji kaget bukan main. Sosok tinggi besar itu hanya terkekeh perlahan. Dia memang Pendekar Rase Perak. Rupanya, tokoh tua yang telah lama menghilang itu bersahabat dengan Pendekar Bangau Sakti.

Melihat keadaan itu, sadarlah Panji kalau dirinya sangat sulit untuk memperoleh kemenangan. Apalagi, ketika ia melihat munculnya Tiga Harimau Besi di tempat itu. Jelas ia tengah terancam bahaya besar. Karena tidak ingin bertarung dengan sesama golongan, Panji mengambil keputusan untuk secepatnya meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, Panji mengerahkan dua tenaga mukjizat yang ada dalam tubuhnya. Lalu....

“Eaaarkh!” Dengan tenaga gabungan yang maha dahsyat, Panji mengeluarkan ‘Pekikan Naga Marah’! Dan, hasilnya luar biasa sekali!

Tempat itu bagai dilanda angin topan dahsyat. Pepohonan berderak ribut seiring dengan hembusan angin keras yang membuat beberapa pohon sebesar paha bertumbangan tercabut dari akarnya. Beberapa orang yang mengurungnya terlempar bagai ditiup mulut-mulut raksasa.

Pendekar Rase Perak, Pendekar Bangau Sakti, dan Tiga Harimau Besi menancapkan kuda-kudanya hingga kedua kaki mereka terbenam ke tanah sampai mata kaki. Mereka harus mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh ‘Pekikan Naga Marah’ itu. Karena lengking panjang yang diperdengarkan Panji telah mengguncangkan bagian dalam dada mereka.

Saat kesibukan itu terjadi, Panji melesat pergi dengan mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya. Agaknya, itu adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus diambil Panji. Pemuda itu merasa masih banyak tugas yang menanti dirinya. Ia tidak ingin menyerah begitu saja sebelum dapat membuktikan kalau dirinya benar-benar tidak bersalah.

“Hm.... Pemuda itu benar-benar hebat! Tapi, biar bagaimanapun kita harus dapat membekuknya. Kurasa ia pasti pergi ke Bukit Ular Emas...,” ujar Pendekar Bangau Sakti yang hanya bisa menyumpah ketika tidak mendapatkan sosok Pendekar Naga Putih di tempat itu.

‘Tapi, kita harus berhati-hati menghadapinya. Selain itu, kita pun harus memperhitungkan campur tangan tokoh lain yang kemungkinan besar berpihak pada Pendekar Naga Putih...,” timpal Pendekar Rase Perak mengingatkan.

Pendekar Bangau Sakti hanya bergumam tak jelas. Kemudian, memberikan isyarat kepada murid-muridnya untuk meninggalkan tempat itu. Sebentar saja keadaan yang semula ramai kembali dicekam kesunyian. Sementara, tiupan angin yang mempermainkan pucuk-pucuk dedaunan menimbulkan gemerisik lembut di telinga.

********************

Bagaimana nasib Pendekar Naga Putih selanjutnya? Sanggupkah ia menghadapi tokoh-tokoh tingkat tinggi yang menuduhnya sebagai pembunuh? Dapatkah Pendekar Naga Putih membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah? Siapa sebenarnya yang membunuh delapan orang murid utusan Perguruan Bangau Putih? Benarkah Pendekar Rase Perak yang melakukannya?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas, ikuti episode Pendekar Naga Putih selanjutnya yang merupakan lanjutan dari Rase Perak. Semuanya akan terjawab dalam episode: