Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pewaris Dendam Sesat
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

SUARA roda pedati berderak ribut ketika melintasi jalan berbatu. Sesekali terdengar suara ringkikan kuda, ditingkahi ledakan cambuk yang melecut punggung binatang itu.

"Hahhh...!" Ctarrr!

Dengan susah-payah kuda jantan berbulu hitam itu bergerak maju. Sengatan ujung cambuk di punggungnya semakin kerap terdengar, membuat binatang itu menyentek-nyentak. Enam orang berpakaian serba hitam termasuk kusir pedati, nampaknya menyadari medan berat yang harus dilewati. Terbukti, empat orang dari mereka berlompatan turun untuk mengurangi beban yang harus ditarik kuda pedati.

Perjalanan baru terasa agak lancar setelah keempat lelaki itu mendorong pedati dari belakang. Sehingga beberapa saat kemudian, mereka sudah keluar dari jalan berbatu, dan kini menyusuri jalan tanah merah yang rata.

"Cepat kalian naik! Kita harus segera tiba di Desa Babakan...!" teriak kusir pedati ketika mereka sudah melewati jalan berbatu yang sulit dilalui itu.

"Tidak usah, Kakang Punjalu! Biar kami jalan kaki saja...," sahut seorang di antara mereka. Dia bertubuh tegap dengan kulit wajah kemerahan, pertanda kesehatannya sangat diperhatikan.

"Terserah kalianlah...," sahut kusir pedati berusia kira-kira empat puluh lima tahun, yang dipanggil Punjalu.

Wajah laki-laki itu ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar dagu dan kedua sisi wajah, membuatnya terlihat cukup berwibawa. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang tajam dengan alis mata tebal berbentuk golok. Sehingga, penampilannya membuat orang menaruh hormat. Pedati pun bergerak cepat melintasi jalanan tanah merah, hingga tak berapa lama kemudian, mereka memasuki mulut Desa Babakan.

Setelah menitipkan pedati di sebuah muka kedai, keenam lelaki itu pun membaur dengan orang-orang desa yang tampak ramai hilir-mudik. Rupanya di Desa Babakan saat itu tengah diadakan pasar, yang hanya sekali dalam satu pekan. Usai membeli segala keperluan, Ki Punjalu mengajak kawan-kawannya singgah di kedai tempat mereka menitipkan pedati.

"Semua keperluan sudah kita dapatkan. Sekarang lebih baik kita beristirahat untuk melepas lelah. Menjelang siang nanti, baru kita kembali," ujar Ki Punjalu saat mengumpulkan kawan-kawannya. Kemudian, baru mereka masuk ke dalam kedai.

Belasan pasang mata menoleh saat Ki Punjalu dan kawan-kawannya memasuki kedai. Beberapa di antaranya tampak memancarkan sinar mata mengejek. Tapi, semua itu tidak dipedulikan. Ki Punjalu terus saja melangkah menuju dua buah meja kosong, lalu memesan makanan dan minuman. Tidak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun tiba. Tapi, Ki Punjalu mengerutkan kening saat melihat makanan yang mulai diatur pelayan di atas meja.

"Paman, bukankah kami tidak memesan ayam panggang?" tegur Ki Punjalu menyembunyikan keheranan. "Mungkin Paman salah melihat orang."

"Lelaki di sebelah sana itu yang memesankannya untuk Tuan-tuan sekalian. Katanya, sebagai tanda persahabatan...," sahut pelayan kedai seraya menoleh ke bagian sudut kanan ruangan itu, di sana terlihat empat orang pengunjung yang menoleh dan mengangguk ke arah Ki Punjalu dan kawan-kawannya.

"Hm... Katakan padanya, kami menerima uluran persahabatannya dengan tangan terbuka. Tapi, katakan juga bahwa kami tidak bisa menerima pemberiannya," ujar Ki Punjalu yang membalas anggukan persahabatan orang itu. "Baik, akan kusampaikan padanya...," sahut pelayan kedai dan segera membawa dua ekor ayam panggang itu meninggalkan meja Ki Punjalu.

"Hmh..." Lelaki berkumis lebat yang memesankan ayam panggang sebagai tanda persahabatan untuk Ki Punjalu tampak menggeram gusar. Kelihatan sekali dia merasa tersinggung atas penolakan itu.

"Sombong sekali mereka tidak mau menerima pemberian kita! Jelas ini merupakan suatu penghinaan...!" geram yang lainnya sambil mengepalkan tinju kuat-kuat. Rupanya penolakan Ki Punjalu membuat mereka tak senang. Setelah saling bertukar pandang sejenak, lelaki berkumis lebat itu melambaikan tangannya memanggil pelayan yang sudah kembali ke tempatnya. Bergegas pelayan itu datang menghampiri.

"Tolong sediakan sayur-mayur mentah untuk keledai kami. ," pinta lelaki berkumis lebat itu dengan suara lantang hingga terdengar oleh semua pengunjung kedai. Pelayan kedai itu tertegun sejenak. Sepertinya dia merasa heran mendengar pesanan yang aneh itu.

"Tapi..."

"Cepat sediakan! Keledai-keledai kami belum makan sejak kemarin malam!" sergah lelaki berkumis lebat itu ketika melihat keraguan di wajah pelayan kedai.

"Baik..., Tuan...," sahut pelayan kedai itu takut jika lelaki berkumis lebat itu menjadi marah. Cepat dia berlalu untuk menyiapkan pesanan itu.

"Kurang ajar! Mereka jelas telah menghina kita, Kakang! Agaknya orang-orang itu tahu pasti tentang peraturan yang berlaku di perguruan kita. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengirimkan ayam panggang! Kemudian berteriak-teriak memesan sayur-mayur mentah! Kurasa kitalah yang dimaksudkannya sebagai keledai-keledai itu!" geram rekan Ki Punjalu, merasa tersinggung dengan tingkah dan ucapan lelaki berkumis lebat itu.

"Tidak perlu diladeni, Bolang. Sebaiknya, cepat selesaikan makanmu. Setelah itu kita tinggalkan tempat ini. ," ujar Ki Punjalu pada lelaki bernama Bolang.

Semula Bolang hendak membantah. Tapi ketika melihat sinar mata Ki Punjalu, lelaki tegap berusa sekitar tiga puluh tujuh tahun itu merunduk, dan bergegas menyelesaikan makannya. Ki Punjalu melambaikan tangan memanggil pelayan kedai untuk menghitung harga pesananannya. Setelah itu dia bergegas mengajak kawan-kawannya meninggalkan kedai.

"Kakang, apakah kau sudah mengikat keledai kita kuat-kuat? Sepertinya aku mendengar suara langkah mereka yang hendak melarikan diri. Hhh… keledai-keledai pengecut! Jelas binatang-binatang itu takut mendengar auman harimau...," ucapan lelaki gemuk itu terdengar lantang. Kemudian dilanjutkan dengan suara tawa berderai. Agaknya, keempat orang itu memang sengaja hendak mencari keributan dengan kelompok Ki Punjalu.

"Bedebah! Aku tidak suka dihina sebagai keledai-ketedai pengecut!" Bolang yang sejak tadi berusaha keras menahan amarahnya, menggeram murka. Tanpa menoleh ke arah Ki Punjalu, lelaki tegap itu langsung bergerak menghampiri meja lelaki berkumis lebat yang saat itu tengah tergelak bersama kawan-kawannya.

Ki Punjalu menghela napas panjang. Dia tidak dapat lagi mencegah tindakan Bolang. Apalagi keempat kawannya yang lain kelihatan mendukung tindakan lelaki tegap itu.

Brakkk!

Dengan kemarahan yang meluap-luap, Bolang menggebrak meja tempat keempat orang itu berada. Tentu saja kejadian itu membuat seisi kedai kaget. Terutama keempat lelaki yang tadi tertawa tergelak-gelak itu.

"Aku paling pantang dihina sebagai pengecut! Kalian rupanya sengaja hendak mencari keributan dengan kami, bukan? Nah. Kalau begitu, hadapi aku dengan sikap jantan! Jangan seperti perempuan nyinyir yang hanya bisa mengomel di balik dinding!" bentak Bolang setelah menghancurkan meja dengan hantaman telapak tangannya.

"Kisanak! Apa yang membuatmu datang tanpa kami undang dan marah-marah tanpa sebab? Kalau memang hendak menantang berkelahi, mengapa harus mencari alasan segala? Kami tentu akan menerima baik tantanganmu...," ujar lelaki berkumis lebat yang bertubuh tegap. Sepasang matanya mencorong tajam meneliti wajah Bolang yang merah.

"Hem.... Sudah jelas kau yang sengaja mencari perkara. Mengapa sekarang hendak memutarbalikkan kenyataan? Apa kau takut merasakan pukulanku...?" sahut Bolang semakin jengkel melihat lelaki berkumis lebat itu menyalahkannya.

"Heh?! Dari mana kau menduga kami hendak mencari perkara dengan badut sepertimu? Semua pengunjung kedai melihat dengan mata kepala sendiri, kau datang dan langsung marah-marah serta menghancurkan meja kami. Apakah tidak boleh kami berbicara di antara kawan sendiri?" kilah lelaki berkumis lebat itu.

Ucapan itu tentu saja membuat Bolang kaget. Apalagi ketika pandangannya diedarkan ke sekeliling. Tampak semua pengujung terlihat mengangguk-angguk membenarkan ucapan lelaki berkumis lebat itu. Karena mereka memang tidak tahu mengapa Bolang begitu datang langsung marah-marah. Sehingga, mereka ikut mendukung ucapan lelaki berkumis lebat itu. Akibatnya, Bolang menjadi tersudut.

"Bangsat licik! Kau memang pantas diberi pelajaran..!" bentak Bolang yang merasa kalah dalam berdebat. Maka, dia langsung menerjang maju dengan tamparan bertubi-tubi.

"Hmh...!" Lelaki berkumis lebat itu menarik mundur kursinya ketika melihat serangan Bolang. Dan terus melompat menjauhi lawan.

"Kisanak! Orang-orang di dalam kedai ini menjadi saksi kalau kau yang memulai perkelahian! Jadi, jangan salahkan aku kalau akan membalas bila kau tak mau pergi...!" ujar lelaki berkumis lebat itu mengancam. Seolah memang dirinyalah yang benar dalam persoalan itu. Dan, para pengunjung kedai pun seperti berpihak kepadanya.

"Adi Bolang, tahan...!" Ki Punjalu yang melihat sikap para pengujung kedai memihak lelaki berkumis lebat itu, segera melayang ke arah kawannya. Maksudnya hendak membawa Bolang pergi dari tempat itu.

"Hei, rupanya kalian hendak mengeroyokku!" teriak lelaki berkumis tebat, seolah ingin memperlihatkan pada para pengunjung kedai bahwa tindakan Ki Punjalu bukan untuk memisahkan perkelahian. Sebaliknya malah hendak membantu kawannya. Tentu saja para pengunjung semakin memihak lelaki berkumis lebat itu, ketika melihat seorang lelaki gagah melayang maju ke arah perkelahian.

"Hajar saja mereka, Kakang Bardewa...!" seru salah seorang kawan lelaki berkumis lebat, membuat para pengunjung kedai meneriakkan kata yang sama.

"Haaat..!" Lelaki berkumis lebat bernama Bardewa yang sadar mendapat banyak dukungan bahwa dirinya berada di pihak yang benar, langsung bergerak maju menerjang Ki Punjalu yang saat itu masih melayang di udara.

"Licik...!" geram Ki Punjalu melihat Bardewa sudah melancarkan serangan yang berbahaya. Kenyataan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Haaat..!" Ki Punjalu segera mengangkat kedua tangannya memapaki serangan Bardewa. Dan....

Plak! Plak!

"Aihhh...!" Terkejut bukan main hati Ki Punjalu. Sebab, tenaga lawan ternyata sangat kuat. Sehingga tubuhnya terdorong balik dan terhuyung beberapa langkah, membuat dua meja terlanggar jatuh. Menyaksikan hal itu, kawan-kawan Ki Punjalu pun kaget! Serentak mereka maju untuk menolong lelaki gagah itu bangkit.

Lagi-lagi Bardewa melontarkan kata-kata liciknya. Kemudian mengajak kawan-kawannya untuk menyambut kedatangan kawan-kawan Ki Punjalu yang sesungguhnya tidak bermaksud ingin berkelahi.

"Celaka! Mereka hendak mengeroyok! Ayo, Kawan-kawan! Kita sambut mereka...!" teriak Bardewa seraya memasang wajah kaget. Sedang dia sendiri sudah bergerak maju dengan serangan yang lebih hebat dari semula.

Ki Punjalu dan kawan-kawannya semakin kaget. Sadar kalau perkelahian sudah tidak mungkin bisa dihindari lagi, mereka pun bergegas menyambut serangan lawan- lawannya. Sehingga sebentar saja pecahlah perkelahian itu. Bolang yang kemarahannya sudah mencapai puncak, langsung menghunus senjata. Kemudian merangsek maju dengan kelebatan pedang yang menimbulkan suara berdesingan.

Brakkk! Brakkk!

Beberapa buah meja dan kursi yang berada di dekat Bardewa, langsung beterbangan patah terkena sabetan pedang Bolang. Bardewa kelihatan sangat kaget dengan kejadian itu. Cepat kawan-kawannya diperintahkan mundur, kemudian meneriakkan kata-kata liciknya.

"Celaka! Mereka mau membunuh kita...?!" serunya dan memerintahkan kawan-kawannya untuk mencabut senjata.

Ki Punjalu pun kaget melihat tindakan Bolang. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena saat itu Bardewa dan kawan-kawannya sudah menghunus senjata. Demikian pula dengan keempat orang kawan Ki Punjalu. Mereka sudah menggenggam senjata telanjang.

"Kalian orang-orang Perguruan Pedang Baja benar-benar tidak tahu diri dan sangat kejam! Hanya karena persoalan sepele saja, kalian hendak mencabut nyawa kami! Tapi, jangan harap kami akan mundur...!" seru Bardewa, kembali melontarkan kesalahan pada Ki Punjalu dan kawan-kawannya yang ternyata murid-murid Perguruan Pedang Baja.

Dan sebelum Ki Punjalu menjawab ucapan itu. Bardewa sudah memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerbu. Tidak ada jalan lain bagi lelaki itu untuk menghindari pertempuran. Satu-satunya jalan adalah menghadapi serangan lawan, kalau tidak mau mati konyol!

"Haaat..!"

Bardewa menerjang maju mendahului kawan-kawannya. Pedang di tangannya berkelebatan cepat membawa desingan angin tajam. Sebentar kemudian, pertempuran pun sudah berlangsung sengit. Kedua belah pihak saling terjang dengan hebatnya. Bahkan kali ini dengan senjata di tangan yang siap merenggut korban.

"Yeaaat...!"

"Haiitt..!"

Ki Punjalu yang berhadapan dengan Bardewa semakin kaget ketika merasakan kehebatan lelaki berkumis lebat itu. Dalam jurus-jurus awal Ki Punjalu kelihatan masih bisa mengimbangi permainan lawan. Tapi, setelah lewat tiga puluh jurus, barulah Ki Punjalu sadar Bardewa bukan tandingannya. Dia pun mulai terdesak hebat.

Apa yang dirasakan Ki Punjalu juga dirasakan oleh murid-murid Perguruan Pedang Baja lainnya. Meskipun lawan mereka hanya berjumlah tiga orang, tapi mereka memiliki kemampuan tinggi. Sehingga, Bolang dan kawan-kawannya terpaksa harus memperkuat benteng pertahanan. Meskipun begitu, mereka masih juga dapat didesak mundur. Sehingga, pertempuran semakin bergeser ke luar ruangan kedai.

"Haaat..!"

"Ahhh...?!"

Salah seorang murid Perguruan Pedang Baja yang terakhir keluar dari ruangan kedai, terkejut bukan main, melihat seorang lawannya datang dengan tusukan pedang yang sulit dihindari. Sehingga....

Crab!

"Aaa.!"

Darah segar menyembur keluar ketika ujung pedang yang runcing itu amblas hampir separuhnya. Belum lagi murid Perguruan Pedang Baja itu menyadari apa yang terjadi, lawan telah menarik keluar senjatanya. Sehingga, tubuh orang itu langsung melorot jatuh dan tewas seketika.

Melihat kenyataan itu, Ki Punjalu menjadi kaget. Hatinya benar-benar sedih sekali. Bagaimana dia harus melaporkan kejadian itu kepada gurunya bila kembali ke perguruan nanti? Apalagi perkelahian itu mempunyai banyak saksi yang terdiri dari penduduk Desa Babakan. Dan, penduduk desa itu tahu bahwa merekalah yang memulai perkelahian lebih dulu. Dengan demikian, mereka berada di pihak yang salah. Kelengahan karena memikirkan pertanggungjawaban di hadapan gurunya, membuat Ki Punjalu harus menerima akibatnya. Sebuah tendangan lawan pada tubuhnya, membuat lelaki itu terjungkal melanggar dinding ruangan kedai.

Brakkk!

Dinding kedai yang terbuat dari kayu langsung jebol terlanggar tubuh Ki Punjalu yang terlempar ke luar. Sedangkan Bardewa tampaknya tidak ingin membiarkan lawannya lolos. Lelaki berkumis lebat itu sudah mengejar dengan putaran pedangnya, yang membuat Ki Punjalu berusaha mati-matian menyelamatkan diri dari incaran senjata lawan.

Desss...!

Lagi-lagi lelaki itu tidak dapat menghindarkan sebuah tendangan keras saat tubuhnya melenting bangkit. Akibatnya, tubuh Ki Punjalu kembali terlempar dan jatuh berguling-guling. Darah segar tampak meleleh keluar dari sela bibirnya.

"Aaa...!"

Kembali terdengar jerit kematian dari pertempuran lainnya. Ki Punjalu semakin pucat ketika melihat Bolang tersungkur mandi darah. Sedangkan kawan-kawannya yang lain sudah bergeletakan tewas! Jelas, Bolang merupakan orang terakhir yang dibantai lawan-lawannya. Sehingga, hanya Ki Punjalu-lah yang masih selamat sampai detik itu, kecuali hanya luka memar yang tidak begitu mengkhawatirkan.

Bardewa tidak melanjutkan serangannya. Lelaki berkumis lebat itu seperti hendak memamerkan kalau dirinya orang gagah yang tidak ingin menyerang lawan yang tak berdaya. Maka, dibiarkannya Ki Punjalu bangkit berdiri.

"Hm.... Kulihat kau lebih sabar dan bijaksana dari kawan-kawanmu yang lain. Untuk itu aku memberi kelonggaran padamu. Biarlah kelima orang kawanmu saja yang menebus kesalahan kalian. Kau sendiri akan kubebaskan...," ujar Bardewa.

Para penduduk yang berada di dalam kedai mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan itu. Mereka memuji kebesaran hati dan kegagahan Bardewa yang mau mengampuni Ki Punjalu.

"Keparat! Mengapa kau tidak bunuh aku sekalian...!" geram Ki Punjalu marah mendengar ucapan lawannya. Sayang, dia tidak bisa mengejar ketika Bardewa dan ketiga kawannya bergerak meninggalkan tempat itu. Ki Punjalu hanya bisa menggertakkan giginya kuat-kuat. Hatinya benar-benar terpukul dengan kejadian itu, karena hanya dirinya yang selamat

Sudah pasti, dirinyalah yang harus mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan gurunya. Ki Punjalu menghela napas panjang. Sekilas kepalanya menoleh ke arah kerumunan penduduk dan pengunjung kedai yang menatapnya dengan wajah sinis. Ketika melihat pelayan kedai ada di antara para penonton, bergegas dihampirinya.

"Kau tahu dari mana asal mereka...?" tanya Ki Punjalu tanpa basa-basi. Karena disadari kalau pelayan kedai itu juga menyalahkan dirinya atas kejadian itu.

"Orang-orang Perguruan Merak Emas adalah laki-laki gagah yang berbudi. Mereka mengganti kerusakan yang diderita kedai ini. Seharusnya kau berterima kasih karena tidak dibunuhnya, Orang Tua...," ujar pelayan kedai yang tidak lagi menyebut tuan pada Ki Punjalu.

Sikapnya pun terlihat meremehkan dan menyalahkan lelaki itu, membuat Ki Punjalu menahan kejengkelan hatinya. Karena dia tentu akan semakin dipersalahkan bila menghajar pelayan kedai itu. Dengan diiringi pandang mata mencemooh dari penduduk Desa Babakan, Ki Punjalu menghela kudanya meninggalkan desa itu. Kelima kawannya dimasukkan ke dalam pedati. Tidak dipedulikannya lagi darah kawan-kawannya telah mengotori dan merusak segala keperluan yang dibelinya dari pasar di desa itu.

DUA

Kedatangan Ki Punjalu dengan membawa luka-luka dan lima sosok mayat, membuat murid-murid perguruan itu marah. Agaknya, mereka sudah dapat menduga kalau Ki Punjalu dan kawan-kawannya telah bertarung dengan orang luar. Tak heran, jika di antara murid-murid yang menyambut kedatangan lelaki itu, melontarkan pertanyaan sebagai ungkapan rasa penasaran mereka.

"Apa yang terjadi, Kakang...?"

"Siapa yang melakukan perbuatan ini, Kakang...?"

Ki Punjalu tidak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang memberondong dirinya. Dia hanya melemparkan pandang dengan wajah berduka tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

"Aku akan menghadap guru...," ujar Ki Punjalu setelah menghentikan pedati dan melompat turun dari tempat duduknya. Setelah memerintahkan kawan-kawannya untuk menurunkan mayat di dalam pedati, Ki Punjalu melangkah lunglai menuju bangunan utama Perguruan Pedang Baja. Meskipun hati mereka masih penasaran, murid-murid perguruan segera mematuhi perintah Ki Punjalu. Mereka mengiringi langkah lelaki setengah baya itu sambil membawa mayat-mayat kawan mereka.

Ki Genawang, Ketua Perguruan Pedang Baja yang mendengar ribut-ribut itu sudah menanti di ruang pertemuan. Wajah lelaki tua bertubuh tinggi besar dengan kumis lebat itu, tampak menggambarkan beribu pertanyaan ketika melihat Ki Punjalu datang menghadap. Di kiri dan kanan Ki Genawang berdiri dua orang lelaki gagah bermata tajam. Wajah keduanya juga memancarkan rasa penasaran yang dalam.

"Ceritakan apa yang sudah terjadi, Punjalu...?" Begitu Ki Punjalu duduk bersimpuh di dekatnya, Ki Genawang langsung melemparkan pertanyaan yang sejak tadi sudah berada di ujung lidahnya. Jelas, lelaki tua itu sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kejadian yang dialami Ki Punjalu serta lima orang murid lainnya.

"Kami..., diserang oleh murid-murid Perguruan Merak Emas, Guru...," jawab Ki Punjalu segera menceritakan kejadiannya. Sehingga, semua orang yang mendengarkannya menggeram marah. Jelas sekali terlihat pancaran dendam dan penasaran di wajah mereka.

"Hm.... Tidak mungkin mereka berani melontarkan hinaan-hinaan itu tanpa sesuatu sebab. Jawab sejujurnya, apakah kalian yang memulai keributan itu...?" tanya Ki Genawang lagi, ingin mengetahui secara jelas sebab kejadian itu.

"Kami sungguh tidak menginginkan keributan itu, Guru. Bahkan kami berusaha menghindarinya. Tapi, mereka malah mengejek kami sebagai keledai pengecut. Sehingga, Adi Bolang tidak dapat menahan kemarahannya. Selanjutnya..., keributan tidak bisa dihindarkan lagi...," sahut Ki Punjalu dengan suara perlahan namun terdengar jelas oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.

"Lalu..., kau biarkan kawan-kawanmu bertarung sedang kau hanya menyaksikan dari jauh, begitu...?" ujar Ki Genawang membuat Ki Punjalu serta murid-murid lainnya terkejut. Sebab, guru mereka ternyata malah menyalahkan Ki Punjalu. Tentu saja mereka menjadi penasaran meskipun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ampun, Guru...," salah seorang murid utama yang berdiri di sebelah kanan Ki Genawang berkata perlahan sambil membungkukkan tubuhnya. "Tidak seharusnya Ki Punjalu disalahkan dalam masalah ini. Rasanya pukulan batin yang dideritanya sudah terlalu berat. Dan, bukan tidak mungkin murid-murid Perguruan Merak Emas memang sengaja membebaskannya. Dengan demikian, Ki Punjalu akan dipersalahkan, karena hanya dia sendiri yang selamat, sedang yang lainnya terbunuh. Untuk itu, kami memohon kebijaksanaan Guru agar tidak menjatuhkan kesalahan pada Ki Punjalu."

Ucapan murid utama Perguruan Pedang Baja yang bernama Gumarta itu ternyata mendapat dukungan murid-murid lainnya. Sehingga, Ki Genawang terdiam beberapa saat lamanya. Seolah lelaki tua itu tengah memikirkan tindakan selanjutnya sehubungan dengan kejadian itu.

"Baiklah. Aku tidak akan memberikan hukuman yang akan memberatkan Punjalu dan membuat penasaran kalian semua," ujar Ki Genawang setelah menarik napas panjang sejenak. "Meskipun demikian, aku melarang Punjalu untuk meninggalkan perguruan sampai ada keputusan berikutnya. Sedangkan mengenai perbuatan murid-murid Perguruan Merak Emas aku akan meminta pertanggungjawaban ketuanya. Keputusan ini sudah menjadi ketetapan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi..."

"Terima kasih atas kebijaksanaan Guru. Hukuman itu akan kuterima dengan hati lapang..," ujar Ki Punjalu bersujud di hadapan gurunya.

"Bagus...," gumam Ki Genawang puas melihat sikap menerima Ki Punjalu. Kemudian lelaki tua itu membubarkan pertemuan, dan memerintahkan untuk mengubur kelima mayat itu.

"Apa yang akan kita lakukan atas tindakan murid-murid Perguruan Merak Emas yang telah melampaui batas itu. Guru...?" tanya Gumarta setelah semua murid-murid pergi, hingga hanya tinggal Ki Genawang serta dua orang murid utamanya termasuk Gumarta.

"Hm.... Aku akan mendatangi Perguruan Merak Emas bersama kakak seperguruanmu. Kau sendiri kuberi tugas untuk mengawasi perguruan selama aku pergi. Apakah kau sanggup, Gumarta?" ujar Ki Genawang seraya menatap Gumarta lekat-lekat.

"Sanggup, Guru. Mudah-mudahan persoalan ini dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah...," sahut Gumarta tanpa keraguan sedikit pun. Meski tugas yang diterimanya sangat berat.

"Bagus. ," puji Ki Genawang tersenyum tipis. Kemudian, lelaki tua itu memerintahkan Ki Randita untuk menyiapkan perbekalan selama perjalanan menuju Perguruan Merak Emas. Karena perjalanan itu memakan waktu dua hari untuk tiba di tempat tujuan mereka.

********************

Matahari sudah tinggi saat dua orang lelaki gagah bergerak memasuki mulut Desa Babakan. Dari langkah mereka yang ringan dan mantap, dapat ditebak kalau kedua orang itu bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah Ki Genawang, Ketua Perguruan Pedang Baja, dan Ki Randita murid utama dari lelaki gagah di sebelahnya. Rupanya, mereka baru tiba di Desa Babakan setelah menempuh perjalanan selama setengah hari penuh tanpa beristirahat.

"Menurut penuturan Ki Punjalu, di desa inilah mereka berselisih dengan murid-murid Perguruan Merak Emas, Guru...," ujar Ki Randita yang berusia sekitar lima puluh tahun. Ucapan itu dilontarkan saat mereka sudah memasuki mulut desa.

"Hm..." Ki Genawang hanya bergumam sebagai jawaban atas ucapan muridnya. Sepasang matanya yang tajam menusuk bergerak meneliti rumah-rumah penduduk yang terlihat agak jarang. Sepertinya, Ki Genawang tengah mencari kedai tempat terjadinya peristiwa yang membuat murid-muridnya menjadi korban.

"Ingat Randita. Kita tidak perlu bertanya mengenai kejadian itu. Karena menurut dugaan Punjalu, orang-orang desa ini lebih berpihak pada murid-murid Perguruan Merak Emas. Kalau sampai penduduk desa ini tahu kita orang-orang Perguruan Pedang Baja, mungkin mereka akan bersikap memusuhi kita. Untuk itu, lebih baik kita mengambil sikap diam dan mendengarkan bila ada pembicaraan yang menyinggung peristiwa itu," ujar Ki Genawang sambil mengayunkan langkah menyusuri jalan utama Desa Babakan. Mereka kemudian berbelok ke sebuah kedai makan yang juga menyediakan penginapan bagi pendatang-pendatang yang kemalaman dijalan.

Dengan sikap tenang dan langkah dilambatkan, mereka memasuki kedai makan itu. Kemudian memesan makanan, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang hanya terdapat enam orang pengunjung. Mengingat saat itu hari sudah menjelang malam, kedua orang itu pun menduga mereka orang-orang asing di Desa Babakan seperti halnya mereka berdua.

"Kisanak, apakah masih ada kamar kosong untuk kami berdua menginap?" tanya Ki Genawang ketika pelayan kedai datang dan mengatur hidangan di atas meja.

"Masih, Tuan. Tapi, hanya ada satu kamar. Maklumlah, penginapan ini memang tidak menyediakan banyak kamar. Karena desa ini jarang didatangi orang-orang dari luar. Kebetulan malam ini ada enam orang pedagang yang hendak bermalam. Jadi hanya tinggal satu kamar saja yang masih kosong," sahut pelayan kedai itu menjelaskan.

"Hm.... Ada berapa tempat tidur dalam kamar itu...?" tanya Ki Genawang lagi. "Satu, Tuan. Tapi, kalau Tuan berdua tidak keberatan menginap dalam satu kamar, kami akan menyediakan satu tempat tidur lagi," jawab pelayan kedai, membuat Ki Genawang dan muridnya saling berpandangan sesaat.

"Baiklah. Tolong kau rapikan kamar itu untuk kami...," ujar Ki Genawang setelah mendapat kata sepakat untuk bermalam dalam satu kamar dengan muridnya.

Setelah memberi hormat pelayan kedai itu pun bergerak meninggalkan meja Ki Genawang untuk membereskan kamar yang akan digunakan kedua orang tamunya itu. Beberapa saat sepeninggal pelayan kedai, tampak empat orang lelaki berpakaian serba hitam melangkah masuk. Salah seorang yang berkumis lebat mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, dan berhenti pada sosok Ki Genawang dan Ki Randita. Tatapan sepasang mata lelaki berkumis lebat itu terhenti agak lama. Terlihat keningnya berkerut ketika melihat hidangan di atas meja guru dan murid itu yang hanya terdiri dari sayur-sayuran. Orang-orang Perguruan Pedang Baja memang pantang memakan barang bernyawa.

"Hm...," lelaki berkumis lebat bergumam sambil menyunggingkan senyum mengejek.

Ki Genawang dan muridnya yang kebetulan menoleh saat keempat orang itu masuk, juga menatap dengan kening berkerut. Karena sosok lelaki berkumis lebat itu sangat cocok dengan penjelasan Ki Panjalu, tentang ciri-ciri orang yang menyerang murid-muridnya. Tapi Ki Genawang segera memalingkan wajahnya. Dan kembali menikmati hidangan tanpa mempedulikan kehadiran keempat orang itu.

"Hm.... Kiranya Ketua Perguruan Pedang Baja sendiri yang datang hendak menuntut balas!" desis lelaki berkumis lebat yang tak lain Bardewa, orang yang telah membunuh lima orang murid Ki Genawang.

Ucapan itu tentu saja membuat Ki Genawang kembali menoleh. Sepasang mata lelaki tua itu tampak berkilat menyembunyikan kemarahan hatinya. Dia memang sudah berusaha menghindari pandang mata lelaki berkumis lebat, karena siapa tahu hanya ciri-cirinya saja yang mirip. Tapi, begitu mendengar ucapan bernada menyindir dari lelaki berkumis lebat itu, tahulah Ki Genawang bahwa pelaku pembunuhan murid-muridnya adalah empat orang yang baru datang itu.

Kenyataan ini membuat amarah Ketua Perguruan Pedang Baja bangkit. Andaikata benar muridnya yang memulai perkelahian itu, tetap saja dia tidak senang, dan lebih suka memberi hukuman sendiri daripada dibunuh oleh orang lain. Karena itu merupakan penghinaan bagi kehormatannya sebagai Ketua Perguruan Pedang Baja.

Setelah mendengar perkataan itu, Ki Genawang langsung bangkit dari duduknya. Ditatapnya sosok lelaki berkumis itu dan ketiga orang kawannya, yang juga menentang pandang mata Ki Genawang tanpa rasa gentar sedikit pun. Perbuatan itu saja sudah menyinggung kehormatan Ki Genawang. Sehingga, kemarahan orang tua itu semakin menjadi-jadi.

"Rupanya kalian yang telah membantai murid-muridku secara kejam! Katakan, siapa kalian sebenarnya? Dan mengapa begitu memusuhi orang-orang Perguruan Pedang Baja? Padahal, seingatku kami tidak pernah mencari permusuhan dengan partai mana pun!" desis Ki Genawang masih menekan kemarahannya ketika teringat yang dihadapinya murid-murid biasa, yang menurutnya tidak terlalu pantas untuk berhadapan dengannya.

"Mengenai siapa kami sebenarnya, aku yakin kau sudah tahu, Ki Genawang. Jadi tidak usah berpura-pura lagi! Kalian orang-orang Perguruan Pedang Baja memang angkuh dan terlalu memandang rendah orang lain! Selain itu, kau sebagai ketua perguruan sepertinya tidak pantas untuk menduduki jabatan yang terhormat itu. Karena kau tidak becus mendidik tata krama pada murid-muridmu yang pemberang itu!" jawab Bardewa memutar balikkan ucapan Ki Genawang.

"Hm.... Siapa kau, Kisanak? Sepanjang ingatanku, Ki Gawung tidak mempunyai murid sepertimu. Karena kalau kau bisa mengalahkan Ki Punjalu, muridku, berarti kau cukup menonjol di antara murid-murid Ki Gawung. Tapi aku tidak mengenalmu seperti halnya aku mengenal murid-murid utama Perguruan Merak Emas. Mungkin kau orang dari partai lain yang hendak memancing perselisihan antara aku dan Ki Gawung?!" ujar Ki Genawang setelah memperhatikan dengan teliti sosok lelaki bertubuh kokoh dan berkumis lebat itu. Kenyataan itu membuatnya ragu kalau keempat orang itu adalah murid-murid Perguruan Merak Emas yang telah cukup lama dikenalnya.

"Boleh jadi kau belum mengenalku, Ki Genawang. Aku memang belum lama bergabung dengan Perguruan Merak Emas. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak dikenal di antara murid-murid Perguruan Merak Emas. Bahkan, aku terhitung murid utama Ki Gawung. Beliau adalah seorang gagah yang bijaksana dan pandai mendidik muridnya. Tidak seperti kau yang mendidik murid-muridmu dengan kemanjaan dan menjejali mereka dengan kesombongan. Sehingga mereka tumbuh menjadi orang-orang berjiwa angkuh dan memandang rendah orang lain!"

Sahut Bardewa dengan suara lantang, membuat enam orang pedagang yang berada di ruangan itu bergegas meninggalkan meja mereka menuju kamar masing-masing. Agaknya, mereka tidak ingin terlibat dalam keributan yang sebentar lagi pasti akan terjadi. Sedangkan pemilik dan pelayan kedai tampak meringkuk di sudut ruangan. Wajah mereka kelihatan pucat, karena sudah dapat membayangkan kedai mereka pasti akan mengalami kerusakan lagi.

"Kurahg ajar! Entah bagaimana cara Ki Gawung mendidikmu sehingga kau berani berkata demikian di hadapanku! Melihat sikapmu yang sombong itu, aku dapat menduga kaulah yang lebih dulu mencari gara-gara dengan muridku. Kau pantas mendapatkan pelajaran atas kekurangajaranmu itu...!" geram Ki Genawang tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Guru, tahan...!" Ki Randita yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan itu, bergegas mencegah gurunya. Lelaki bertubuh gagah itu sudah bergerak maju mendekati Ki Genawang yang menoleh ke arah muridnya dengan tatapan penuh teguran. Jelas,orang tua itu tidak senang mendengar seruan muridnya.

"Guru..., biar aku saja yang menghadapi mereka. Rasanya tidak pantas kalau Guru sendiri yang harus turun tangan memberi pelajaran pada orang-orang itu. Mereka hanya murid-murid rendahan yang tidak patut melawan Guru...," jelas Ki Randita dengan suara agak perlahan. Sehingga, Ki Genawang pun menyadari kedudukannya. Dan, memang sudah sepantasnyalah jika Ki Randita yang turun tangan menghadapi Bardewa dan kawan-kawannya.

"Hm.... Semakin nyata sudah kesombongan orang-orang Perguruan Pedang Baja! Kalian jelas-jelas meremehkan kami. Dan itu merupakan penghinaan terhadap perguruan kami!" geram Bardewa membuat Ki Randita agak tersentak kaget.

"Kisanak. Mulutmu sungguh tajam sekali. Sekarang, aku semakin yakin kaulah yang memulai perselisihan dengan murid-murid perguruan kami. Kau pun telah mempergunakan kelicikanmu untuk mempengaruhi orang-orang desa ini agar mereka berpihak kepadamu. Benar-benar sangat berbahaya jika Perguruan Merak Emas mempunyai murid sepertimu. Aku yakin tidak lama lagi Perguruan Merak Emas akan runtuh, bila orang licik sepertimu masih bercokol didalamnya...," ujar Ki Randita berusaha tetap tenang, meskipun hatinya terbakar oleh ucapan-ucapan Bardewa yang sangat licik dan pandai bicara itu.

"Satu lagi penghinaan telah kau lontarkan terhadap ketua perguruan kami, Kisanak! Dengan menghinaku sebagai orang yang berwatak licik itu sama artinya dengan menghina guruku sebagai orang yang tidak mampu mendidik murid-muridnya. Aku tidak bisa menerima penghinaan itu!" geram Bardewa kembali menunjukkan kelicikannya dengan memutarbalikkan ucapan Ki Randita. Padahal, dia sendiri yang telah menghina Ki Genawang dengan mengatakan kalau Ketua Perguruan Pedang Baja tidak mampu mendidik murid-muridnya dengan baik.

"Keparat licik..!" desis Ki Randita tak dapat lagi menahan kemarahannya demi mendengar ucapan itu. Sadar kalau tidak akan menang dalam bersilat lidah, maka Ki Randita segera mempersiapkan jurusnya untuk memberi pelajaran pada Bardewa dan kawan-kawannya.

"Biar aku saja yang menghadapi orang tua sombong itu, Kakang," ujar salah seorang kawan Bardewa yang sejak tadi hanya diam saja. Tapi ketika melihat Ki Randita telah siap menyerang, dia langsung mengajukan diri untuk menghadapi murid utama Perguruan Pedang Baja itu.

"Jangan gegabah, Adi Sungkana. Orang ini tidak bisa kau samakan dengan yang lainnya. Biar aku saja yang menghadapinya," bantah Bardewa yang rupanya sadar akan kepandaian Ki Randita setelah melihat gerakan yang ditunjukkan orang tua itu.

"Heaaah...!"

Bettt!

Bardewa langsung melompat ke luar kedai, dan ketika telah bersiap siaga, Ki Randita segera melontarkan serangan ke arahnya. Tendangan dan pukulan murid utama Ki Genawang itu datang bertubi-tubi. Tapi, Bardewa masih dapat menyelamatkan diri dari ancaman pukulan-pukulan yang kuat dan cepat itu.

"Yeaaat..!"

Bahkan Bardewa mampu melakukan serangkaian serangan balasan dengan pukulan-pukulan dan tendangan yang tidak kalah kuatnya. Sehingga, Ki Genawang yang menyaksikan perkelahian itu keningnya berkerut dalam. Lelaki tua itu merasa heran melihat ketangkasan lelaki berkumis lebat yang bisa menandingi murid utamanya. Sekarang, baru lelaki tua itu yakin Bardewa pasti bukan murid sembarangan. Paling tidak, dia mendapat didikan langsung dari Ketua Perguruan Merak Emas. Melihat kenyataan itu, maklumlah Ki Genawang kalau Ki Punjalu dan murid-muridnya sampai tidak sanggup menghadapi Bardewa dan ketiga kawannya. Karena meski tanpa dibantu sekalipun, dia yakin kalau lelaki berkumis lebat itu akan merobohkan Ki Punjalu serta kelima orang muridnya yang lain.

"Hm... Melihat permainan Bardewa, jelas Ki Gawung telah menciptakan jurus-jurus baru yang hebat. Pantas saja kalau Bardewa demikian sombong dan berani mencari perkara dengan perguruan yang kupimpin. Mungkin ini memang dikehendaki Ki Gawung sendiri, yang hendak menjajal ilmu ciptaannya...," gumam Ki Genawang, menduga-duga penyebab perselisihan antara perguruannya dengan Perguruan Merak Emas.

Sementara itu pertarungan masih berjalan seimbang. Baik Ki Randita maupun Bardewa sama-sama tangguh dalam jurus-jurus awal. Sampai dua puluh jurus lebih, belum terlihat tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Memasuki jurus ketiga puluh satu, terlihat Ki Randita mulai dapat menguasai arena. Serangan-serangan orang tua gagah itu tampak semakin gencar. Sedangkan Bardewa mulai menitik beratkan pada pertahanan. Karena untuk balas menyerang, dia sudah tidak memiliki kesempatan, karena gencarnya serangan-serangan yang dilontarkan Ki Randita.

"Haaat..!"

Pada jurus ketiga puluh lima, Ki Randita mengeluarkan pekikan nyaring! Seiring dengan itu, tubuhnya bergerak cepat melontarkan sebuah hantaman ke dada lawan yang terbuka. Akibatnya....

Bukkk!

"Huakkkh!" Tanpa ampun lagi, tubuh Bardewa terjengkang ke belakang. Darah segar termuntah dari mulutnya. Jelas, hantaman keras itu membuat isi dada Bardewa terguncang keras.

Melihat kejadian itu, ketiga kawan Bardewa bergegas melompat dengan senjata terhunus. Mereka berdiri menghadang di depan lelaki berkumis lebat itu untuk melindunginya dari serangan Ki Randita selanjutnya.

"Setan...!" Bardewa merangkak bangkit sambil mengumpat kasar. Kali ini gagang pedang di pinggangnya diraba, dan langsung dicabut keluar dari sarungnya.

Srattt..!

Dengan gerakan kepalanya, Bardewa memerintahkan kawan-kawannya untuk mengeroyok Ki Randita. Sebentar kemudian, lelaki gagah murid utama Perguruan Pedang Baja itu telah terkurung dari empat penjuru.

"Haaat…"

Seiring dengan pekikan itu, tubuh Ki Randita bergerak cepat melontarkan sebuah hantaman ke dada lawan. Akibatnya....

"Huakkkh…!" Tanpa ampun lagi, tubuh Bardewa terjengkang ke belakang. Darah segar termuntah dari mulutnya!

TIGA

"Heaaat..!"

Diawali sebuah teriakan nyaring, Bardewa dan kawan-kawannya menerjang maju. Sambaran pedang keempat lelaki berpakaian serba hitam itu berdesingan mengancam tubuh Ki Randita.

"Haiiit..!"

Ki Randita sendiri masih belum menggunakan senjatanya yang tergantung di punggung. Dia masih mengandalkan kegesitannya untuk menghadapi serbuan empat batang pedang lawan. Dalam lima jurus awal memang Ki Randita masih sanggup menyelamatkan diri dari incaran pedang lawan. Bahkan sesekali masih sempat mengirimkan serangan balasan yang berbahaya. Tapi, pada jurus-jurus selanjutnya, lelaki tua itu baru merasakan betapa beratnya menghadapi empat pengeroyoknya yang memiliki permainan pedang yang cepat dan kuat. Maka, Ki Randita mulai terdesak dan tidak mampu lagi melancarkan serangan balasan. Bahkan, beberapa kali sambaran pedang lawan nyaris melukai tubuhnya.

Plakkk!

Sebuah sambaran pedang yang mengancam lehernya berhasil ditepiskan Ki Randita. Tapi serangan selanjutnya dari lawan yang lain, memaksa lelaki itu untuk melompat jauh kebelakang.

Bettt..!

Sambaran pedang yang dilancarkan Bardewa mengenai angin kosong. Karena lawan telah berjumpalitan menjauhkan diri dari mata pedangnya.

"Haaat..!"

Rasa dendam dan penasaran membuat Bardewa tidak ingin memberi kesempatan pada lawannya untuk bernapas lega. Lelaki itu langsung melesat dengan tusukan pedangnya selagi tubuh Ki Randita berada di udara.

Ki Genawang yang menyaksikan kenyataan itu terperanjat kaget. Lelaki tua itu sadar kalau keadaan muridnya tengah terancam maut. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, tubuhnya langsung melayang dengan tujuan menyelamatkan nyawa muridnya dari ancaman ujung pedang Bardewa.

"Hiaaaah...!"

Plakkk!

"Aihhh...?!" Tamparan yang dilancarkan Ki Genawang sangat kuat. Sehingga, tubuh Bardewa terpental ke samping! Untung lelaki bertubuh tegap itu masih sempat menyelamatkan tubuhnya agar tidak terbanting ke tanah, dan dapat mendaratkan kedua kakinya dengan selamat

"Hm... Sudah kuduga kau tidak akan tinggal diam melihat muridmu terancam maut! Tapi, jangan kira kami akan gentar meskipun harus menghadapimu, Ki Genawang...!" geram Bardewa menggertakkan giginya sambil memutar pedang dengan sekuat tenaga.

Demikian pula dengan tiga orang kawan Bardewa. Mereka sama sekali tidak kelihatan gentar, meskipun yang harus mereka hadapi ini Guru Besar Perguruan Pedang Baja. Bahkan, mereka kembali membentuk kepungan dari empat penjuru.

"Sebenarnya aku merasa malu menghadapi kalian, mengingat kalian hanya murid-murid rendahan Perguruan Merak Emas. Tapi, kekurangajaran dan kesombongan kalian membuat aku terpaksa harus melupakan hal itu. Sebab, kalau tidak diberi pelajaran, kalian pasti akan semakin sombong dan bertindak semena-mena...," ujar Ki Genawang segera menyiapkan jurusnya untuk menghadapi keroyokan murid-murid Perguruan Merak Emas.

"Keparat tua sombong! Rasakan tajamnya pedangku...!" bentak Bardewa marah mendengar ucapan Ki Genawang yang jelas menghina mereka. Maka, dia pun langsung mendahului kawan-kawannya menerjang Ketua Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang hanya perlu menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindari tusukan pedang yang mengancam jantungnya. Kemudian, langsung membalas dengan sebuah tamparan yang mendatangkan sambaran angin kuat membuat Bardewa terhuyung. Sehingga, tubuh lelaki itu terjajar mundur dan kehilangan keseimbangan. Untung saat itu Sungkana dan dua orang lainnya datang membantu, kalau tidak, bukan mustahil Ki Genawang akan menyusuli serangannya dan membuat Bardewa roboh. Ketua Perguruan Pedang Baja terpaksa menunda serangan susulannya, ketika melihat datangnya sambaran pedang ketiga pengeroyoknya itu.

"Haaah...!"

Dengan membungkukkan tubuhnya, ketiga sambaran mata pedang lawan lewat di atasnya. Kemudian lelaki tua itu membentak sambil mengembangkan kedua lengannya ke kiri dan kanan.

Desss! Desss!

Dua orang penyerang di kiri dan kanannya terjungkal tanpa ampun. Nyawa mereka langsung putus akibat kuatnya tenaga yang terkandung di dalam gebrakan Ki Genawang. Sehingga, kejadian itu sempat membuat Bardewa dan Sungkana terbelalak gentar. Mereka tidak menduga kalau Ketua Perguruan Pedang Baja ternyata memiliki kepandaian yang hebat, dan mampu merobohkan dua orang kawan mereka hanya dengan sekali gebrak.

"Sungkana, lari...!" Setelah melihat kenyataan itu, Bardewa sadar kalau Ki Genawang tidak mungkin dapat mereka hadapi berdua saja. Maka, lelaki itu pun segera mengajak Sungkana melarikan diri menerobos kegelapan malam.

"Mengapa tidak dikejar, Guru...?" tanya Ki Randita heran melihat gurunya hanya berdiri memandang kepergian lawan-lawannya. Tidak sedikit pun terlihat tanda-tanda kalau lelaki gagah itu hendak mengejar.

"Tidak perlu, Randita. Persoalan ini sudah berkembang terlalu jauh. Biarlah kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya...," gumam Ki Genawang pelan, menyembunyikan kekecewaan hatinya.

Ki Randita pun tahu akan kegundahan hati gurunya. Maka dia tidak berkata-kata lagi, dan mendiamkan saja lelaki tua itu terpaku menatap tempat di mana kedua lawannya lenyap. Ki Genawang benar-benar menyesali kejadian yang tidak diharapkannya itu. Semula dia meninggalkan perguruan dengan maksud untuk menegur Ki Gawung, agar menghukum murid-muridnya. Tapi, harapan untuk dapat menyelesaikan persoalan dengan jalan damai musnah sudah. Kejadian barusan jelas akan semakin memperuncing permusuhan di antara mereka. Hal itu membuat hati Ki Genawang gundah dan termenung beberapa saat lamanya.

"Kita tunggu saja tanggapan Ki Gawung, Guru. Kalau jalan damai memang tidak dapat ditempuh, kita layani saja kemauan mereka," ujar Ki Randita dengan nada perlahan, seperti takut mengejutkan hati gurunya.

"Hhh..." Terdengar helaan napas berat Ki Genawang yang menandakan keresahan hatinya. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, orang tua itu membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah kedai tempat mereka melewatkan malam.

********************

Ki Genawang dan Ki Randita yang tengah sarapan pagi di kedai tempat mereka menginap, terkejut bukan main melihat kedatangan Gumarta yang dalam keadaan luka-luka. Serentak keduanya melompat bangkit menyambut kedatangan lelaki tegap itu.

"Ada apa, Gumarta? Apa yang sudah terjadi...?" tanya Ki Genawang memapah tubuh Gumarta yang kelihatannya sangat lelah. Rupanya, Gumarta telah melakukan perjalanan dengan terburu-buru.

Gumarta tidak segera menjawab pertanyaan gurunya. Napasnya masih tersengal-sengal. Sehingga, Ki Genawang segera mendudukkan tubuh muridnya di kursi. Lalu memberinya segelas air putih, agar Gumarta jadi lebih tenang dan bisa menceritakan kejadian yang menimpa Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang telah membatalkan niatnya untuk mendatangi Perguruan Merak Emas. Kejadian semalam membuat orang tua itu merubah keputusannya. Karena tidak ada gunanya lagi dia datang setelah membunuh dua orang murid Ki Gawung. Ketua perguruan itu pasti tidak akan menerima mereka dengan baik. Bahkan, kemungkinan besar kedatangan Ki Genawang ke Perguruan Merak Emas akan disambut dengan ujung pedang. Itu sebabnya, mengapa Ki Genawang membatalkan niatnya semula.

Kini Ki Genawang dihadapkan lagi pada suatu masalah yang masih belum jelas. Kedatangan muridnya dengan tubuh penuh luka, membuat hati lelaki itu berdebar tegang. Sebab, Gumarta telah diberi amanat untuk menjaga perguruan selama dia pergi. Dan, kalau sampai Gumarta berani meninggalkan tugas yang diembannya, sudah pasti ada sesuatu yang hebat menimpa perguruan. Ki Genawang ingin segera mendengar dari mulut Gumarta tentang keadaan perguruannya.

"Menjelang pagi tadi, saat fajar baru saja terbit, datang serombongan murid-murid Perguruan Merak Emas yang dipimpin langsung oleh ketuanya sendiri. Mereka langsung mengamuk dan membunuhi murid-murid kita. Aku berusaha melawan sekuat tenaga, tapi mereka terlalu kuat. Sehingga, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan pertarungan dan menyusul Guru serta Kakang Randita," jelas Gumarta dengan suara terputus-putus, membuat wajah kedua orang itu jadi merah bagai terbakar api.

"Seharusnya kau tetap memimpin murid-murid untuk menghadapi mereka, Gumarta. Bukannya melarikan diri seperti pengecut!" geram Ki Genawang tidak setuju dengan tindakan muridnya.

"Keadaan perguruan sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Guru. Kalau aku tidak meninggalkan perguruan, lalu siapa yang akan melaporkan kejadian itu? Guru dan Kakang Randita tentu tidak akan tahu siapa yang telah menghancurkan perguruan kita. Alasan itulah yang membuatku memberanikan diri meninggalkan perguruan dan menyusul kemari." Setelah berkata begitu, Gumarta terbatuk dan memuntahkan darah segar, membuat Ki Genawang dan Ki Randita terkejut. Mereka baru menyadari betapa parahnya luka yang diderita Gumarta.

"Gumarta...?!"Ki Genawang dan Ki Randita berteriak kaget melihat lelaki tegap itu terpelanting roboh dari kursi. Cepat keduanya berusaha untuk menangkapnya agar tidak terbanting ke tanah. Tapi, betapa kaget dan murkanya hati mereka ketika mendapati Gumarta sudah tak bernyawa!

"Keparat! Rupanya jahanam itu telah lebih dulu mendatangi perguruan kita! Bahkan langsung membunuhi orang-orang kita tanpa menanyakan lebih dulu persoalan yang sebenarnya! Hm..., mereka benar-benar tidak bisa didiamkan! Kita harus menuntut balas atas kejadian ini!" geram Ki Genawang murka bukan main setelah mendengar penuturan Gumarta yang tewas di depan matanya.

"Mereka pasti mengambil jalan lain, Guru. Kalau tidak, mana mungkin mereka dapat tiba demikian cepat? Sekarang mereka pasti belum kembali. Kita harus mencegatnya!" usul Ki Randita dengan wajah merah. Hatinya sungguh tidak bisa menerima perbuatan orang-orang Perguruan Merak Emas yang menurutnya sudah melewati batas.

"Tidak. Sebaiknya kita langsung saja menuju Perguruan Merak Emas. Kalau mereka belum kembali, kita langsung menyerbu dan membasmi murid-murid yang masih tinggal di dalam perguruan! Dengan begitu, sedikit banyak kita telah membalas perbuatan kejam yang telah mereka lakukan..!" ujar Ki Genawang.

Setelah meminta penduduk desa agar menguburkan mayat Gumarta dengan baik, Ki Genawang melesat bersama muridnya menuju Perguruan Merak Emas. Diam-diam hati mereka diliputi keheranan besar. Bagaimana mungkin Ki Gawung dan murid-muridnya dapat tiba demikian cepat di Perguruan Pedang Baja?

Sedangkan semalam empat orang murid perguruan itu telah bertarung dengan mereka. Dugaan pun jatuh, Ki Gawung sengaja mengirimkan empat orang muridnya untuk memancing keributan dengan Ki Genawang dan Ki Randita. Sehingga, kedua tokoh Perguruan Pedang Baja itu tidak akan menduga kalau pada saat itu Ki Gawung tengah bergerak menuju Perguruan Pedang Baja.

"Bedebah!" Ki Genawang memaki geram sambil berlari mengerahkan seluruh tenaganya agar dapat segera tiba di tempat tujuan. Seolah dia hendak berlomba dengan rombongan Ki Gawung yang diduganya tengah dalam perjalanan pulang.

Setelah berlari tanpa henti, lewat tengah hari, kedua tokoh itu pun tiba di Perguruan Merak Emas. Tanpa merasa lelah sedikit pun, Ki Genawang dan Ki Randita segera mendekati bangunan yang di sekelilingnya dipagari kayu-kayu bulat setinggi satu setengah tombak. Sebelum penjaga gerbang sempat menyadari kehadiran kedua orang itu, Ki Genawang langsung mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendobrak pintu gerbang.

Brakkk..!

Pukulan yang dilandasi kekuatan hebat dan kemarahan menggelegak, membuat pintu gerbang Perguruan Merak Emas berderak roboh berkeping-keping!

Tanpa menunggu serpihan kayu berjatuhan ke tanah, Ki Genawang dan Ki Randita langsung menerobos masuk ke dalam bangunan. Tapi, langkah keduanya tertahan oleh puluhan murid Perguruan Merak Emas yang menghadang dengan senjata terhunus. Rupanya, ledakan di pintu gerbang itu membuat mereka langsung bersiap dengan pedang di tangan. Sebab, hanya pengacaulah yang datang dengan menjebol pintu gerbang. Tanpa banyak bicara lagi, Ki Genawang dan Ki Randita segera meloloskan senjata masing-masing! Kemudian menerjang maju dengan hebatnya.

"Haaat..!"

Meskipun telah bersiap sebelumnya, tetap saja murid-murid Perguruan Merak Emas terkejut. Apalagi kedua tamu tak diundang itu langsung menerjang ganas, dan merobohkan siapa saja yang menghalangi mereka. Tentu saja keadaan menjadi gaduh. Jeritan kematian terdengar susul-menyusul! Darah segar memercik membasahi tanah. Dan, tubuh-tubuh bersimbah darah berjatuhan satu persatu dengan napas putus. Pedang di tangan Ki Genawang dan Ki Randita tak ubahnya tangan-tangan malaikat maut, membuat murid-murid Perguruan Merak Emas menjadi gentar.

"Tahan...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar yang mengatasi suara jeritan dan dentingan senjata. Bersamaan dengan teriakan itu sesosok tubuh gagah melayang turun ke tengah arena, membuat murid-murid Perguruan Merak Emas berlompatan mundur. Rupanya mereka telah mengenal baik suara bentakan itu. Sehingga, mereka langsung memberi tempat bagi sosok yang baru tiba.

"Hm.... Bagus kau cepat datang, Ki Gawung!" geram Ki Genawang dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian. Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, pedangnya langsung diputar dengan sekuat tenaga. Sehingga menciptakan putaran angin tajam.

"Tunggu dulu, Ki Genawang! Apa yang membuatmu seperti kesetanan dan hendak membantai murid-muridku...?" cegah Ki Gawung bergeser mundur setelah melihat jurus yang hendak digunakan lawannya. Sebab, jurus itu dikenalinya sebagai jurus andalan Ketua Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang tidak mempedulikan teriakan lawannya. Dibarengi pekikan marah, tubuhnya segera melayang dengan sambaran pedang yang berdesingan.

Bettt! Whuttt!

"Hei..?!" Ki Gawung yang masih belum mengerti alasan kemarahan Ketua Perguruan Pedang Baja, segera melompat ke belakang untuk menghindari serangan maut itu.

"Haaat…!"

Tapi Ki Genawang memang sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Begitu serangan pertama gagal, langsung disusuli dengan serangan berikutnya. Sehingga dengan terpaksa Ki Gawung mencabut senjatanya karena tahu serangan lawan memang tidak main-main.

Trang! Trang!

Begitu senjata tercabut dari sarungnya, terdengar benturan keras dua kali yang menulikan telinga. Akibatnya, tubuh Ki Genawang maupun Ki Gawung, terjajar mundur sejauh enam langkah.

"Coba jelaskan, apa yang membuatmu seperti kesetanan dan datang-datang membuat keributan, Ki Genawang?" Kembali Ki Gawung berusaha mencari keterangan penyebab kemarahan Ki Genawang yang memang telah dikenalnya dengan baik.

Lagi-lagi Ki Genawang tidak mempedulikan pertanyaan Ketua Perguruan Merak Emas itu. Serangannya kembali datang, membuat Ki Gawung terpaksa harus meladeninya dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, sudah pasti dirinya akan celaka di tangan lawan yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi. Sehingga pertempuran sengit kembali pecah. Kedua tokoh tingkat tinggi itu saling gempur dengan hebatnya laksana dua ekor harimau kelaparan yang memperebutkan mangsa.

Di bagian lain, Ki Randita pun telah bertarung sengit dengan dua orang lelaki gagah, yang merupakan murid-murid utama Ki Gawung. Berbeda dengan gurunya yang mendapat lawan seimbang, Ki Randita harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi permainan dua pengeroyoknya. Meski demikian, lelaki itu tetap tidak mampu mendesak mereka. Karena lawan-lawannya memiliki kepandaian yang tinggi atau mungkin setingkat dengannya. Untuk menghadapi keroyokan murid-murid utama Perguruan Merak Emas, Ki Randita harus menguras tenaga dan kecepatannya.

"Heaaah...!

Berkali-kali Ki Randita berusaha mendesak mereka. Namun, selalu saja serangannya kandas dan dapat diatasi lawan dengan baik. Bahkan ketika pertempuran memasuki jurus kedua puluh, terlihat Ki Randita mulai terkurung oleh serangan pedang lawan. Sehingga, orang kedua dalam Perguruan Pedang Baja itu hanya mampu bertahan, tanpa bisa membalas serangan lawan-lawannya.

"Haaat..!"

Brettt..!

"Akh...!"

Suatu saat, Ki Randita tidak sempat lagi menyelamatkan tubuhnya dari incaran pedang lawan. Karena pada saat yang bersamaan tubuhnya harus dilindungi dari serangan lawan yang satunya lagi. Akibatnya, tubuh lelaki tua yang masih gagah itu terhuyung limbung! Pangkal lengannya tampak berdarah dan terdapat luka yang cukup panjang.

"Yeaaat...!"

Kedua lawannya kembali meluncur datang dengan tusukan pedang yang mengancam tenggorokan dan lambung lelaki tua itu. Sedangkan saat itu Ki Randita belum sempat memperbaiki kedudukan kuda-kudanya. Sehingga, dia hanya dapat berusaha menghindari kematian dengan semampunya.

"Haaaat...!"

Pada saat yang sangat gawat itu, tiba-tiba terdengar pekikan merdu yang melengking tinggi. Disusul dengan berkelebatnya sosok bayangan hijau yang langsung memapaki tusukan pedang dua murid Ki Gawung.

Trang! Trang!

Sinar putih keperakan yang berkelebat cepat itu langsung membentur pedang dua lawan Ki Randita, hingga kedua pedang itu terlepas dari tangan pemegangnya. Sedangkan tubuh mereka terpelanting roboh tanpa dapat dicegah lagi. Sesosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau berdiri tegak membelakangi Ki Randita!

EMPAT

Sementara itu, pertarungan yang berlangsung antara Ki Genawang dan Ki Gawung sudah semakin meningkat. Serangan-serangan yang dilancarkan Ki Genawang memang benar-benar hebat! Sehingga, Ketua Perguruan Merak Emas itu harus mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengimbangi serangan lawan.

"Heaaat..!"

Lagi-lagi Ki Genawang memekik keras seraya melepaskan sebuah bacokan dari atas ke bawah! Andai saja sampai terkena tubuh lawan, pastilah tubuh itu akan terbelah menjadi dua.

Tapi, Ki Gawung pun bukan lawan yang mudah untuk ditundukkan. Melihat dahsyatnya serangan lawan, lelaki itu memutar senjatanya dengan mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian bersiap menyambutnya. Namun, sesaat sebelum kedua tokoh itu saling beradu, mendadak berkelebat sesosok bayangan putih yang langsung meluncur turun di antara keduanya. Dan...

"Heaaah...!"

Seiring dengan bentakan keras, sosok berpakaian serba putih itu mengibaskan lengannya ke kiridan kanan.

Plak! Plak!

"Aaah...?!"

"Hei…?!"

Terkejut bukan main hati kedua tokoh itu ketika merasakan lengan mereka bagai terbentur sebuah logam keras yang sangat dingin. Akibatnya, tubuh Ki Genawang dan Ki Gawung terdorong ke belakang hingga jatuh bergulingan. Dapat dibayangkan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki sosok bayangan putih itu!

"Hentikan pertempuran...!"

Setelah merobohkan Ki Genawang dan Ki Gawung, sosok berjubah putih mengeluarkan teriakan keras yang menggelegar. Akibatnya, pertarungan yang berlangsung di tempat itu pun terhenti, karena bentakan itu telah merobohkan mereka. Kecuali, sosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau.

"Pendekar Naga Putih...?!"

Hampir berbarengan, Ki Genawang dan Ki Gawung berseru ketika melihat tubuh sosok berjubah putih itu terbungkus lapisan kabut bersinar putih keperakan yang memancarkan hawa dingin menggigit itulah ciri-ciri Pendekar Naga Putih! Dugaan kedua orang ketua perguruan itu tidak salah! Sosok itu memang Pendekar Naga Putih yang muncul bersama kekasihnya, Kenanga.

"Sepengetahuanku, Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas adalah tempat orang-orang gagah. Persoalan apa yang telah membuat kalian harus saling gempur?" tegur Panji seraya menghampiri Ki Genawang dan Ki Gawung. Sepasang mata pendekar muda itu menyorot tajam membuat hati kedua tokoh tingkat tinggi itu berdebar.

"Sebenarnya Perguruan Merak Emas tidak mempunyai persoalan dengan orang-orang Perguruan Pedang Baja. Tapi, bila ada orang yang hendak mengacau tempat ini, kami akan melindungi dengan taruhan nyawa," jawab Ki Gawung seraya melirik ke arah Ki Genawang dengan sinar mata mengejek.

"Keparat! Enak saja kau bilang tidak mempunyai persoalan! Kemarin lima orang muridku tewas terbunuh di tangan murid-muridmu. Tapi, rupanya kau masih belum puas hanya dengan lima nyawa saja. Lalu, kau datang membasmi seluruh murid-murid perguruanku selagi aku hendak mencari jalan damai dari persoalan ini, yang mungkin hanya sebuah kekeliruan! Nah, masihkah semua itu kau anggap bukan persoalan?" geram Ki Genawang. Kemarahan ketua Perguruan Pedang Baja itu kembali bangkit ketika mendengar ucapan Ki Gawung yang mengatakan kalau di antara mereka tidak ada persoalan.

Merah wajah Ki Gawung mendengar perkataan Ki Genawang. Selain ucapan itu suatu fitnah keji. Juga dikeluarkan di hadapan murid-muridnya. Tentu saja Ketua Perguruan Merak Emas tidak dapat berdiam diri mendengar hinaan itu. Bukan hanya ketuanya saja yang merasa terhina. Tapi, hampir semua murid Perguruan Merak Emas terdengar memaki dan menyumpah-nyumpah. Sehingga suasana kembali menjadi ribut dan kedua belah pihak pun sudah siap bertempur.

"Jangan kau kira aku akan diam saja mendengar fitnah dan hinaanmu itu, Ki Genawang! Kalau memang aku melakukan perbuatan yang kau tuduhkan itu, tentu aku akan bertanggung jawab! Tapi, karena aku tidak melakukannya, dugaanku kau hanya mencari-cari persoalan denganku. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak akan mundur meskipun harus bertarung sampai seribu jurus!" Ki Gawung tampaknya tidak kalah berang dengan Ki Genawang. Bahkan, lelaki tua bertubuh tegap itu sudah melintangkan senjatanya di depan dada, siap bertarung habis-habisan.

"Tahan...!" Panji yang melihat ketegangan di antara kedua belah pihak kembali memuncak dan tampaknya akan terjadi pertarungan lagi, segera bertindak menengahi. Pemuda itu melangkah dan berdiri di antara tokoh puncak dua perguruan itu.

Tinggallah Ki Genawang dan Ki Gawung saring pandang dengan mata memancarkan dendam dan kebencian. Kalau saja Panji tidak berada di antara mereka, bukan mustahil mereka akan kembali saling gebrak! Tapi, karena melihat siapa Pendekar Naga Putih, mereka hanya bisa saling pandang dengan urat-urat tubuh menegang.

"Hm… Kalian berdua tidak ubahnya anak kecil! Kalau kalian tetap menuruti hawa nafsu dan hati panas, mana mungkin persoalan ini bisa selesai? Sebagai ketua dari partai yang terhormat, seharusnya sikap kalian harus lebih bijaksana. Setiap persoalan bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Baru kemudian kita bisa menemukan jalan keluarnya!" tandas Panji yang mau tak mau terpaksa harus memberi nasihat dan pengarahan pada Ki Ge nawang dan Ki Gawung, yang usianya hampir tiga kali lipat dari usianya sendiri. Tapi, yang dilihatnya bukan usia. Melainkan cara berpikir dan pandangan yang luas.

Ki Genawang dan Ki Gawung pun terdiam dan mengendurkan urat-uratnya. Apa yang dikatakan Pendekar Naga Putih adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah.

"Hm. Kalau begitu, coba kau jawab pertanyaanku," gumam Ki Genawang dengan wajah yang masih gelap, meskipun suaranya tidak lagi bernada tinggi. Agaknya, ucapan Pendekar Naga Putih membuatnya merasa malu dan berusaha menekan dendam dan penasaran di hatinya.

"Tanyakanlah! Aku akan menjawab seadanya berdasarkan apa yang kuketahui," tukas Ki Gawung, juga dengan nada rendah. Hanya sepasang matanya saja yang masih menggambarkan kejengkelan hatinya.

"Apa kesalahan murid-muridku hingga kau demikian kejam membantai mereka tanpa ampun?" tanya Ki Genawang seraya menatap tajam wajah Ketua Perguruan Merak Emas.

"Sudah kukatakan sejak semula kalau aku tidak pernah membantai murid- muridmu! Jangankan sampai puluhan orang. Satu orang muridmu pun tidak pernah kuganggu. Kau hanya mencari-cari persoalan dengan fitnah busukmu itu!" jawab Ki Gawung kembali merasa geram, karena Ketua Perguruan Pedang Baja masih tetap menyalahkannya.

"Dengar, Ki Gawung! Aku tidak mencari-cari perkara denganmu. Tapi, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat dan berjumpa dengan muridmu di Desa Babakan. Dengan sangat kurang ajar muridmu menantangku dan melontarkan kata-kata hinaan yang membuat darahku mendidih! Nah, apakah kau masih menyalahkanku dan mengatakan aku hanya menuduh tanpa bukti?" Ki Genawang tidak mau kalah, karena mengalami sendiri semua kejadian itu. Sehingga tetap bersikeras dengan tuduhannya.

"Kurang ajar! Aku tidak pernah mendidik muridku untuk bersikap sombong. Apalagi sampai berani menghina seorang ketua perguruan. Jelas tuduhanmu tidak masuk akal. Nah, sekarang coba kau tunjukkan, siapa muridku yang telah berani berbuat kurang ajar dan menghinamu itu?" bantah Ki Gawung seraya membalikkan tubuhnya dan mengedarkan pandang matanya merayapi wajah-wajah muridnya.

"He he he...! Kau anggap aku anak kecil yang bisa dibodohi! Mana mungkin orang itu berada di antara murid-muridmu sekarang. Dia pasti sudah kau sembunyikan dari mataku,'' Ki Genawang malah tertawa mengejek ketika Ki Gawung memintanya agar menunjukkan orang yang telah menghinanya.

Gusar bukan main hati Ki Gawung mendengar suara tertawa bernada mengejek itu. Namun, lagi-lagi dia tidak bisa bertindak lebih jauh. Karena di antara mereka berdua berdiri Pendekar Naga Putih yang sampai sejauh itu masih bertindak sebagai pendengar. Mungkin pemuda itu ingin mendengar lebih dulu persoalan yang sebenarnya. Baru kemudian mengambil tindakan setelah semuanya menjadi jelas.

"Baiklah. Sekarang, aku akan menceritakan persoalan yang kedua," ujar Ki Genawang setelah terdiam beberapa saat lamanya sambil merayapi wajah murid-murid Perguruan Merak Emas, dan tidak menemukan sosok yang dicarinya. "Pagi tadi, Gumarta, salah seorang murid utama yang ku tugaskan untuk mengurus perguruan selama aku pergi, datang menemuiku di Desa Babakan dengan sekujur tubuh penuh luka. Setelah menceritakan bahwa kau memimpin orang-orangmu untuk membantai murid-muridku, Gumarta menghembuskan napas terakhir di hadapanku. Muridku itu orang yang jujur dan kata-katanya bisa dipercaya. Kalau tidak, mana mungkin aku akan memberikan tugas untuk mengurus perguruan. Nah, apa jawabmu sekarang, Ki Gawung? Apa kau masih ingin membantah tuduhan itu lagi?"

"Dusta! Itu fitnah keji! Aku belum pernah meninggalkan perguruan selama lebih dari sepuluh tahun, termasuk pagi tadi! Jadi, jelas tuduhan itu tidak betul!" bantah Ki Gawung berang bukan main. Sebab Ki Genawang masih tetap bersikeras menuduhnya. Sehingga darahnya kembali mendidih.

"Tidak! Itu bukan fitnah! Kau iri dengan kemajuan perguruan yang kupimpin! Hingga membuatmu mata gelap dan melakukan perbuatan-perbuatan keji yang sepatutnya tidak dilakukan oleh orang-orang gagah!" bentak Ki Genawang keras, karena merasa yakin sepenuhnya bahwa orang yang melakukan semua perbuatan itu adalah Ki Gawung dan murid-muridnya.

"Keparat!" Ki Gawung sudah kehilangan kesabaran. Pedang di tangannya berputar, siap menerjang Ki Genawang.

"Tunggu..!" Panji mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Suara bentakannya yang menggelegar dan berpengaruh, membuat suasana bising hening seketika. Suasana pun sunyi untuk beberapa saat lamanya. "Dengar...!" seru Panji keras.

Ucapan Pendekar Naga Putih yang disertai pengerahan tenaga dalam itu berkumandang jelas, hingga terdengar oleh semua orang yang berada di tempat itu. "Sekarang aku sudah mengerti persoalan yang kalian ributkan ini! Menurutku, kalian telah diadu domba oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas! Melihat ketegasan dan keteguhan Ki Gawung yang tetap mempertahankan pendiriannya tidak mengakui perbuatan itu, jelas sudah, ada orang lain yang melakukannya. Kita harus mencari manusia licik itu sampai dapat!"

Mendengar ucapan Pendekar Naga Putih yang lagi-lagi sukar untuk dibantah, semua yang ada di tempat itu, terdiam. Murid-murid Perguruan Merak Emas saling berpandangan dan beberapa di antaranya saling berbisik membicarakan kemungkinan yang disebutkan Pendekar Naga Putih. Banyak di antara mereka yang mulai percaya akan dugaan pemuda tampan berjubah putih itu. Ki Genawang pun sepertinya ikut terpengaruh oleh ucapan Panji barusan. Terbukti, lekaki gagah itu termenung beberapa saat seperti tengah memikirkan sesuatu untuk mencari jawaban permasalahan itu.

"Ki Gawung...!" Beberapa saat kemudian, Ki Genawang memanggil nama Ketua Perguruan Merak Emas yang sejak tadi memandang wajah Ki Genawang yang tertunduk.

"Kau masih tetap menuduhku...?" tanya Ki Gawung yang masih saja belum hilang rasa jengkelnya. Ditatapnya wajah Ketua Perguruan Pedang Baja itu lekat-lekat seolah ingin membaca pikiran di dalam kepala Ki Genawang.

"Apakah kau mempunyai seorang murid bernama Bardewa yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat..?" tanya Ki Genawang meminta ketegasan Ketua Perguruan Merak Emas.

"Hm..., ya. Bardewa adalah muridku. Apa maksudmu menanyakan tentang dia...?" Ki Gawung balik bertanya setelah memberikan jawaban yang membuat wajah Ki Genawang berseri-seri. Rupanya, lelaki gagah itu yakin kalau kali ini Ki Gawung tidak akan bisa berkelit lagi.

"Nah! Kau sudah mengakuinya, bukan? Muridmu yang bernama Bardewa itulah yang membunuh lima orang muridku. Bahkan, dia berani menantangku bertarung...," ujar Ki Genawang lagi sambil melemparkan senyum mengejek, membuat hati Ki Gawung menjadi tidak enak.

"Kau tidak keliru...?" Tapi, Ki Gawung terlihat tidak merasa terkejut apalagi ketakutan setelah mendengar nama Bardewa disebut yang menurut Ki Genawang adalah pelaku semua peristiwa itu.

"Tentu saja aku yakin! Nah, sekarang coba kau tunjukkan mana muridmu yang bernama Bardewa itu...?"

"Hm..., Ketahuilah, Ki Genawang. Orang yang kau cari itu sudah cukup lama meninggal. Dia tewas terbunuh tanpa kami tahu siapa pelakunya. Kami telah berusaha menyelidiki dengan diam-diam. Karena tidak juga membawa hasil, maka penyelidikan kami hentikan. Itu terjadi setahun yang lalu. Bukan tidak mungkin kalau pelakunya adalah murid-muridmu. Lalu, arwah Bardewa yang penasaran muncul membalas dendam dan membantai murid-muridmu!"

Kali ini giliran Ki Gawung yang menyunggingkan senyum mengejek. Puas hati lelaki gagah itu dapat membalas hinaan dan fitnahan Ki Genawang dengan tidak kalah menyakitkan.

Ganti Ki Genawang dan Ki Randita yang menjadi merah wajahnya. Mereka benar-benar terkejut, tidak menyangka jika pertanyaan Ki Genawang akan mengakibatkan pukulan yang cukup telak bagi Ketua Perguruan Pedang Baja. Panji yang melihat ketegangan mulai terasa, segera mengangkat kedua tangannya. Dan berujar lantang.

"Orang yang sudah mati tidak mungkin dapat bangkit kembali, apalagi sampai membalas dendam dan membunuh orang yang telah menganiayanya semasa hidup. Kalau itu benar terjadi, maka semua murid-murid Perguruan Pedang Baja yang tewas terbantai akan bangkit dan bergentayangan mencari pembunuhnya! Nah, coba kalian pikirkan baik-baik Apakah hal itu mungkin terjadi...?"

Suasana tegang dan bising itu pun mereda. Banyak di antaranya merasa ngeri jika apa yang dikatakan Pendekar Naga Putih benar-benar terjadi. Tentu saja tak seorang pun yang percaya serta menginginkan peristiwa itu terjadi, termasuk Ki Gawung yang barusan memulai ucapan takhayul itu.

"Kalau begitu, persoalan kita selesai sampai di sini. Mari sama-sama kita selidiki siapa sebenarnya orang yang menyamar sebagai Bardewa maupun Ki Gawung. Aku yakin manusia licik itu masih akan melanjutkan aksinya...," Panji kembali melanjutkan ucapannya saat suasana masih tenang.

"Baiklah. Aku akan mencoba menyelidikinya...," ujar Ki Genawang akhirnya menerima keputusan Pendekar Naga Putih. Demikian juga dengan Ki Gawung. Sehingga, perselisihan mereda untuk sementara.

Melihat semuanya telah dapat diselesaikan dengan baik. Panji mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu. Mereka pun berpamitan dan berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan yang menimpa Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas. Ki Genawang pun mengajak Ki Randita meninggalkan Perguruan Merak Emas. Guru dan murid itu tidak kembali ke perguruannya, tapi merantau untuk mencari orang ketiga yang diduga Pendekar Naga Putih sebagai penyebab timbulnya persoalan itu.

LIMA

"Hampir saja terjadi pertumpahan darah...," desah dara jelita berpakaian serba hijau dengan helaan napas panjang tanda kelegaan hatinya.

"Yahhh... Untunglah kita tidak terlambat dan dapat membuat mereka mengerti...," timpal pemuda tampan berjubah putih, juga dengan desahan panjang.

Langkah keduanya terus terayun menyusuri jalan yang dipenuhi batu-batu kecil. Semakin lama jalan yang mereka lalui kian melebar. Di kiri dan kanan jalan terlihat perkebunan milik penduduk. Tampak beberapa orang petani tengah sibuk mengerjakan ladangnya.

"Ke mana kita, Kakang?" tanya dara jelita yang tidak lain Kenanga. Dan, siapa lagi pemuda tampan berjubah putih di sebelahnya kalau bukan Panji atau yang berjuluk Pendekar Naga Putih.

Keduanya tampak tengah terlibat pembicaraan mengenai pertengkaran antara Perguruan Pedang Baja dengan Perguruan Merak Emas. Mereka merasa lega karena persoalan yang semula rumit dan hampir menyebabkan pertumpahan darah dapat dicegah. Kedua belah pihak sama-sama bisa mengerti, membuat pasangan pendekar muda itu merasa bersyukur. Dan, berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan itu semampumereka.

Panji tidak segera menjawab pertanyaan kekasihnya. Matanya berputar mengawasi sekelilingnya yang kira dipenuhi hamparan sawah dengan padi yang menguning segar. Baru kemudian menoleh menatap wajah jelita itu dari samping.

"Mengingat kejadian berawal dari Desa Babakan, maka sebaiknya kita memulai penyelidikan dari sana," jawab Panji, mengalihkan perhatiannya menatap jalan di sebelah depannya yang kini berupa tanah lembab dan tidak rata.

"Hm...," Kenanga hanya bergumam menanggapi jawaban kekasihnya. Kemudian terdiam, seolah tengah memikirkan tempat yang bernama Desa Babakan.

Cukup lama keduanya dicekam kebisuan. Sehingga, tanpa disadari mereka mulai merasakan betapa sejuknya hembusan angin siang menjelang sore. Suara gemerisik dedaunan terasa indah terdengar di telinga. Kebisuan untuk beberapa lama itu membuat dua pendekar muda itu kembali merasakan keindahan alam.

"Kakang..."

Suara Kenanga memecah kebisuan di antara mereka. Panji yang menangkap panggilan lembut itu sejenak terpana. Seolah merasakan suara itu merupakan bagian dari keindahan alam. Hati Panji tergetar, dan mengulurkan tangannya yang segera memeluk pinggang ramping dara jelita itu.

"Hm...," setelah beberapa saat kemudian, baru terdengar jawaban Panji yang hanya berupa gumaman pelan.

Kenanga yang merasakan lengan kekasihnya melingkar di pinggangnya, menggenggam telapak tangan pemuda yang dicintainya itu dengan penuh kehangatan. Sejenak mereka menoleh dan tersenyum dengan pandangan penuh kasih.

"Apa Kakang percaya orang yang bernama Bardewa itu benar-benar telah tewas seperti yang dikatakan Ki Gawung?" tanya Kenanga kembali mengalihkan perhatiannya ke ujung jalan yang masih cukup panjang.

"Mengapa kau berkata demikian? Apa kau tidak memperhatikan betapa bersungguh-sungguhnya wajah Ki Gawung saat mengucapkan perkataan itu. Aku percaya ucapannya benar," jawab Panji sambil mengetatkan pelukannya pada pinggang dara jelita itu.

"Bukan aku tidak percaya, Kakang. Tapi, kedengarannya agak aneh...," tukas Kenanga menoleh sejenak dan kembali memandang ke depan.

"Maksudmu...?"

"Ya, aneh. Mengapa justru setelah setahun Bardewa tewas peristiwa ini baru terjadi? Dan, mengapa pelakunya orang yang mirip Bardewa, bahkan memiliki ciri-ciri yang serupa dengan Bardewa asli. Nah, apakah itu tidak aneh...?" ujar Kenanga mengemukakan rasa herannya ketika mengingat semua ucapan Ki Genawang dan Ki Gawung. Meskipun tidak ikut mencampuri pertengkaran kedua tokoh itu, tapi Kenanga memperhatikan semua ucapan mereka dan mengingatnya dengan baik.

"Kau ini aneh, Kenanga. Justru di situlah letak persoalannya. Dan, kita harus menyelidiki siapa sebenarnya orang yang diduga sebagai Bardewa oleh Ki Genawang dan Ki Randita...," tukas Panji yang tiba-tiba menjadi genit dan mencubit pipi kekasihnya dengan gemas. Kenanga tertawa renyah penuh kemanjaan merasakan kemesraan yang memang jarang mereka lakukan. Bahkan gadis itu menangkap tangan kekasihnya dan meletakkan di wajahnya erat-erat. Bahagia sekali hati dara jelita itu membuat Panji terharu.

"Seharusnya gadis sejelita dirimu tidak berkeliaran mengembara seperti ini. Kau lebih pantas tinggal di istana bermandikan kemewahan dan kebahagiaan di sekelilingmu...," gumam Panji yang memang sadar kalau kekasihnya lebih pantas menjadi putri keraton.

"Mulai lagi,..," rengek Kenanga, pura-pura marah. Ucapan itu memang sering dikeluarkan Panji pada saat-saat seperti itu.

"Apa kau ingin bebas pergi ke mana-mana sendirian, dan dapat memikat setiap gadis yang jatuh hati padamu. Enak saja mengatakan orang berkeliaran! Memangnya aku binatang...?" Kenanga semakin merajuk, bahkan melepaskan pelukan tangan Panji dari pinggangnya. Dan melangkah mendahului.

"Wah, ngambek..," cetus Panji tertawa perlahan. Kemudian tangannya terulur menangkap tubuh dara jelita itu, dan diangkatnya ke atas bahu.

"Iiih! Kakang apa-apaan sih...?" Kenanga memekik kecil dan pura-pura memberontak dari gendongan Panji. Namun pemuda itu hanya terbahak dan berlari cepat sambil menggendong tubuh kekasihnya.

Kenanga terkekeh perlahan ketika tangan kekasihnya menggelitik tubuhnya. Saat-saat seperti itu membuat mereka lupa bahwa mereka tokoh-tokoh besar yang dihormati dan dipuja banyak orang. Tidak aneh, sebab mereka pun manusia biasa yang tidak berbeda dengan manusia lainnya.

Kenanga meskipun seorang gadis pendekar yang mendapat gemblengan orang-orang pandai, namun tidak melenyapkan sifat-sifat kewanitaannya, sebagaimana wanita-wanita pada umumnya yang kadang membutuhkan perhatian lebih dan ingin bermanja- manja dengan kekasihnya. Tapi, semua itu tertutup oleh kerasnya kehidupan yang mereka jalani Karena, sebagai seorang pendekar dia harus selalu berhadapan dengan maut Dan, sifat-sifat itu baru terlihat saat mereka berada di alam lepas yang penuh dengan keindahan.

Demikian pula dengan Panji. Sejak kecil pemuda itu telah kehilangan orangtua, dan hidup di tempat terpencil bersama gurunya. Segala kepahitan hidup telah dirasakan pemuda itu hingga akhirnya berjumpa dengan Kenanga, gadis jelita yang telah merebut hatinya. Semangat hidupnya pun semakin bertambah tinggi. Kekosongan jiwanya telah terisi oleh sosok jelita yang juga mencintainya dengan setulus hati. Hingga di saat-saaat tertentu, rasa ingin memanjakan sang kekasih pun muncul dan tercetus begitu saja. Tapi, tentu saja kemesraan sepasang pendekar itu mempunyai batas-batas tertentu yang mereka jaga berdua dengan teguh. Meski demikian, kemesraan itu terasa lebih indah dan nikmat bagi mereka.

Ketika sang Mentari sudah semakin bergeser ke arah barat, Kenanga dan Panji sudah menapakkan kakinya di Desa Babakan. Keduanya langsung menuju sebuah kedai yang berada tak jauh dari mulut desa. Seorang pelayan bertubuh kurus tinggi, menyambut kedatangan Panji dan Kenanga dengan sikap ramah. Dan mengantarkan pasangan pendekar muda itu ke sebuah meja yang masih kosong. Segera saja keduanya memesan makanan.

"Sebentar, Paman."

Langkah pelayan itu terhenti, dan menoleh ke arah dara jelita berpakaian hijau yang memanggilnya. "Ada apa, Nisanak..?" tanya pelayan bertubuh tinggi kurus, membungkukkan tubuh dengan sikap hormat.

"Mmm.... Apakah kedai ini juga menyediakan kamar untuk menginap?" tanya Kenanga yang rupanya telah bersepakat dengan kekasihnya untuk melewatkan malam di desa itu Karena saat itu hari sudah gelap.

"Betul, Nisanak..," sahut pelayan kedai cepat. Dan mengatakan akan merapikan kamar yang akan digunakan Panji dan Kenanga yang memesan dua kamar.

Baru saja pelayan itu berbalik hendak meninggalkan meja pasangan pendekar muda itu, tiba-tiba terdengar suara ribut. Lalu muncullah sosok-sosok tubuh yang tampak gagah dengan pakaian merah bergaris-garis hitam yang memanjang ke bawah. Suara ribut barusan ternyata berasal dari mereka, yang berbicara satu sama lain sambil memasuki kedai. Tentu saja kedatangan delapan orang itu membuat para pengunjung kedai menoleh dengan kening berkerut.

Kepala rombongan yang berjalan paling depan, menghentikan langkahnya sejenak dan mengedarkan pandang matanya dengan tatapan tajam menusuk. Melihat raut wajahnya yang gelap, jelas lelaki bertubuh tegap bercambang bauk itu tengah dilanda kemarahan. Sehingga pengunjung kedai yang kebetulan bentrok dengan mata lelaki itu, langsung menunduk atau mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan lelaki tegap itu.

Dengan langkah lebar lelaki tegap itu menghampiri dua buah meja kosong. Dan, bersama dengan rombongannya mereka menempati meja itu. Kemudian melambaikan tangannya memanggil pelayan kedai yang cepat-cepat mengangguk hormat.

Tapi, karena saat itu pelayan kedai sedang sibuk menyiapkan pesanan tamu-tamu lainnya termasuk Panji dan Kenanga, pelayan kedai itu pun tidak bisa menyambut kedatangan rombongan itu sebagaimana biasanya. Merasa panggilannya tidak dipedulikan, wajah lelaki tegap itu tampak semakin kelam. Sepasang matanya mencorong tajam bagai hendak menelan tubuh pelayan itu bulat-bulat!

"Hel, Pelayan! Apa kau tuli...?!" teriak lelaki tegap itu sambil menggebrak meja di depannya.

Tentu saja pengunjung kedai terkejut dengan suara ribut itu. Beberapa di antaranya mengerling tak senang karena merasa terganggu oleh perbuatan lelaki tegap itu. Tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menelan kedongkolan hatinya. Sedangkan pelayan kedai tampak sangat terkejut. Wajahnya mendadak pucat karena bentakan lelaki tegap berwajah brewok itu. Maka, pelayan itu segera menghampiri setelah didesak pemilik kedai yang tidak ingin ada keributan di dalam kedainya. Apalagi karena kesalahan pelayannya yang tidak bisa melayani tamu.

"Ada apa..., Tuan...?" tanya pelayan kedai seraya membungkukkan tubuh berkali- kali, sebagai permintaan maafnya. Karena dia tidak ingin dipecat dari pekerjaan hanya karena gara-gara tidak bisa melayani tamu dengan baik.

"Hm..., mengapa ketika kupanggil tadi kau tidak segera datang? Apa kau kira kami tidak punya uang untuk membayar harga makanan yang akan kami pesan? Kau benar- benar membuat aku marah!" geram lelaki berwajah brewok langsung mengulurkan tangan mencengkeram leher baju pelayan itu dan menariknya ke bawah.

"Ampun..., Tuan...," pinta pelayan itu mengiba. Hampir saja tubuhnya tersungkur mencium tanah. Untung lelaki brewok itu tidak melepaskan cengkeraman pada leher bajunya. Sehingga, tubuh pelayan sial itu tertahan dan tidak sampai tersungkur ke tanah.

"Mengapa kau berbuat demikian pada kami, hah! Ayo, jawab?!" bentak lelaki gagah berwajah brewok yang seperti mendapatkan tempat untuk menyalurkan kemarahan yang terpendam di dadanya.

"Aku..., sedang sibuk menyiapkan pesanan untuk tamu-tamu lainnya, Tuan. Jadi..., maaf kalau aku belum bisa melayani Tuan dengan baik. Maklumlah tanganku cuma ada dua...," tukas pelayan itu membela diri.

"Keparat! Kau mau mempermainkan aku rupanya. Siapa yang bilang tanganmu ada sepuluh, heh...?!" jawaban itu rupanya dianggap main-main, sehingga kemarahan lelaki brewok itu semakin berkobar. Tangannya pun melayang melengkapi bentakan- bentakannya yang menggelegar.

Plakkk!

"Ahhh...?!" Tubuh pelayan tinggi kurus itu langsung terpelanting mencium tanah. Tampak tanda merah berupa garis-garis jari tangan pada pipi kiri pelayan kedai yang bergerak bangkit sambil merintih kesakitan. Pada sudut bibirnya terlihat ada cairan merah.

Melihat ketidakadilan berlangsung di depan mata, Panji dan Kenanga bergerak bangkit bersamaan ingin mencegah kejadian selanjutnya. Tapi, kedua pendekar muda itu menahan langkahnya ketika tiba-tiba....

"Manusia kurang ajar dari mana yang berani mengacau di tempat ini?"

Bersamaan dengan ucapan itu, seorang lelaki tinggi besar yang hanya mengenakan rompi, memperlihatkan dada yang bidang dan berbulu lebat, bergerak maju menghampiri rombongan lelaki berpakaian merah dengan garis-garis hitam memanjang ke bawah itu.

Bentakan keras itu membuat kepala rombongan dan anggotanya menolehkan kepala ke arah asal suara. Mereka mengerutkan kening ketika melihat seorang lelaki tinggi besar tengah bergerak menghampiri meja mereka. Rupanya mereka sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan lelaki tinggi besar itu.

Melihat ada sasaran lain untuk tempat menumpahkan kemarahannya, lelaki tegap berwajah brewok bergerak bangkit dari kursinya. Kemudian melangkah menyambut kedatangan lelaki tinggi besar yang masih lebih kekar dan lebih tinggi dari tubuhnya. Bahkan, wajah lelaki tinggi besar yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun itu ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat. Sehingga, penampilannya tampak jantan dan kuat. Kedua lelaki kekar itu saling berhadapan dalam jarak enam langkah. Dan, dua pasang mata mereka saling tatap dengan sorot mata tajam menikam jantung. Agaknya, keributan tidak bisa dihindari lagi.

"Hm.... Apa maumu, Kerbau Dungu...?!" desis lelaki berwajah brewok kepala rombongan orang berpakaian merah. Kepalanya agak sedikit terangkat, karena tubuh lawan lebih tinggi sedikit

"Hm.... Seharusnya akulah yang bertanya padamu, Orang Gila! Apa maksudmu membuat keributan dengan menyiksa pelayan kedai yang tidak bersalah apa-apa itu? Kau pikir dirimu siapa, sehingga minta dilayani lebih dulu? Sedangkan tamu-tamu lain banyak yang masih menunggu pesanannya datang!" sergah lelaki tinggi besar yang sosoknya laksana harimau muda jantan. Sepasang matanya menatap tak berkedip, menentang pandang mata lawannya.

"Kurang ajar! Berani kau menghinaku seperti itu! Rupanya kau belum mengenali siapa aku, heh!" geram kepala rombongan yang sudah mengepalkan tinjunya erat-erat. Tanpa peringatan lebih dulu, kepalannya langsung melayang menuju dada lawan.

Lelaki tinggi besar yang agaknya penduduk desa itu tampak tidak berusaha untuk mengelak. Rupanya, dia merasa yakin akan kekuatan daya tahan tubuhnya yang akan mampu meredam pukulan keras itu. Dan...

Bukkk!

"Uhhh.?!" Lelaki tinggi besar yang wajahnya tertutup cambang bauk itu mengeluh kaget. Tubuhnya terhuyung saat pukulan lawan menghajar dadanya. Dia kelihatan sangat terkejut dan tidak mempercayai apa yang baru saja dialaminya. Karena tubuh yang biasanya kebal terhadap pukulan, ternyata terasa sakit. Dan kulit dadanya yang terpukul meninggalkan tanda merah yang nyata.

"Grrr...!" Lelaki tinggi besar itu menggereng gusar. Sepasang matanya memerah sebagai tanda kalau dia sangat marah. Maka, seiring dengan teriakannya yang parau, kepalannya datang menyambar tubuh lawan bertubi-tubi.

Bettt, bettt, bettt..!

Sayang, tak satu pun kepalan sebesar kepala bayi itu mengenai sasaran. Karena kepala rombongan itu sudah mengelak ke kiri dengan mengandalkan kegesitannya. Sehingga, lelaki besar itu semakin bertambah murka.

"Hm...," kepala rombongan orang-orang berpakaian merah dengan garis-garis hitam memanjang ke bawah menggeram perlahan ketika lawannya kembali melanjutkan serangan. Kelihatan jelas betapa lelaki tinggi besar itu tidak memiliki kepandaian silat dan hanya mengandalkan kekuatan otot-otot tubuhnya secara alami. Akibatnya, lelaki tinggi besar itu tidak dapat berbuat banyak. Karena melihat dari caranya mengelak, kepala rombongan itu jelas merupakan pesilat yang pandai.

"Heaaah.!" Ketika kepalan-kepalan yang besar itu kembali datang menyambar, lelaki tegap itu hanya perlu memiringkan tubuhnya dan menangkap pergelangan tangan lawan.

"Hiaaah...!" Sambil membentak keras, diputarnya tangan lelaki tinggi besar itu hingga menjerit kesakitan. Kemudian kaki kanannya mencelat naik ke dagu lawan.

Desss!

"Aaargh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki tinggi besar itu terjengkang ke belakang menimpa meja yang langsung berderak patah. Sedangkan tubuh yang besar dan berat itu terbanting ke lantai dengan kerasnya.

"Uuuh...!" Terdengar lelaki tinggi besar itu mengeluh sambil memegangi dagu yang tulang-tulangnya terasa patah. Barulah dia sadar bahwa lelaki tegap yang berangasan itu bukan lawan yang sebanding dengannya. Karena dia hanya orang kasar yang bekerja sebagai penebang kayu di hutan. Dan kekuatan tabunnya tidak mampu melawan lelaki tegap berpakaian merah bergaris-garis hitam, yang ternyata memiliki ilmu silat tinggi.

"Bangun...!" bentak lelaki tegap yang rupanya masih belum puas melampiaskan kemarahannya. Sosoknya telah berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang. Dan kedua tangannya terkepal, siap memberikan hajaran selanjutnya.

"Tahan...!"

Baru saja kepala rombongan itu hendak mengayunkan kepalannya ke kepala lawan yang tengah bergerak bangkit, terdengar bentakan nyaring yang membuat gerakan lelaki tegap itu tertunda. Ada bias keheranan pada wajahnya. Karena bentakan yang membuatnya menahan gerakan adalah suara wanita. Lelaki itu dapat membedakannya, sebab suara itu bening dan halus.

Sepasang mata lelaki tegap itu terbelalak melihat dugaannya ternyata tidak meleset. Ditatapnya sosok ramping terbungkus pakaian serba hijau yang berdiri tegak, di belakangnya. Kemudian terus naik meneliti raut wajah sosok ramping yang ternyata sangat cantik laksana bidadari. Tentu saja lelaki tegap itu semakin bertambahheran.

"Siapa kau, Nisanak..?" tanya sosok tegap itu tanpa melewatkan kesempatan menatap wajah wanita di depannya. Rupanya, lelaki itu merasa sayang jika harus melewatkan begitu saja wajah yang demikian mempesona. Meski begitu, tidak terlihat kekurangajaran dalam pandang matanya, yang terbatas hanya sekadar mengagumi kejelitaan sosok dara berpakaian serba hijau itu.

Melihat tatapan mata lelaki tegap itu yang sedikit pun tidak menyiratkan maksud- maksud kotor selain hanya mengagumi, Kenanga jadi agak ragu dan menduga kalau lelaki tegap itu sebenarnya bukan orang jahat.

"Mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga dia jadi cepat naik darah...?" gumam batin dara jelita itu menduga-duga. Tapi, meskipun begitu Kenanga tidak bisa membiarkan lelaki itu mengumbar kemarahannya pada setiap orang. Dia harus menghentikannya.

"Aku sama sepertimu, pengunjung kedai ini yang juga belum dilayani. Bedanya aku tidak marah-marah, karena aku sadar bukan aku seorang yang harus dilayani...," ujar Kenanga dengan sorot mata tajam menikam jantung lelaki tegap itu.

"Pelayan itu terlalu kurang ajar, dan tidak memandangku sedikit pun. Buktinya, panggilanku tidak diperhatikan. Jadi, wajar saja jika aku memberi sedikit pelajaran kepadanya agar lain kali bisa melayani orang lebih baik...," tandas lelaki tegap itu masih tidak mau disalahkan. Jelas dia merasa tindakannya sudah benar. Tentu saja kebenaran menurut dirinya sendiri, dan bukan menurut pandangan umum.

"Kau terlalu sombong dan keras kepala, Kisanak. Jelas perbuatanmu itu salah, tapi kau belum juga mau mengakuinya. Apa sebenarnya yang kau inginkan...?" tukas Kenanga dengan sikap menantang. Dia memang ingin memberi pelajaran pada lelaki tegap itu, agar lain kali tidak berbuat sesuka hatinya.

"Hm.... Aku tidak sudi melawan seorang wanita, itu merupakan pantangan bagiku...!" tegas lelaki tegap itu ingin mengungkapkan bahwa Kenanga tidak pantas menghadapinya.

"Hhh.... Semula kuduga yang akan kuhadapi harimau garang. Nyatanya, hanya seorang pengecut yang tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya...," gumam Kenanga yang meskipun pelan tapi telak menusuk jantung, membuat wajah lelaki tegap itu merah.

"Jangan memancing kemarahanku, Nisanak!" geram lelaki tegap berpakaian garis-garis hitam dengan nada mengancam.

"Hm.... Justru itulah yang kuinginkan. Cepatlah kau tunjukkan kebiasaanmu di hadapanku...," tantang Kenanga lagi tanpa mempedulikan peringatan calon lawannya.

"Kurang ajar! Kalau dibiarkan, kau pasti akan semakin bertambah kurang ajar...!" Lelaki tegap itu rupanya sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi, sepasang matanya mencorong tajam. Telapak tangannya langsung bergerak ingin memberi tamparan ke wajah Kenanga agar gadis itu jera. Tapi....

Whuuut..!

"Eh...?!" Bukan main kagetnya hati lelaki tegap itu melihat tubuh gadis itu lenyap seperti asap terbawa angin! Sehingga, tamparannya mengenai tempat kosong!

"Hi hi hi... Apa yang kau cari, Manusia Pikun...?!" ejek Kenanga ketika melihat lelaki tegap itu menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah bodoh. Rupanya dia merasa kehilangan lawan.

Mendengar suara tawa mengejek dari belakangnya, lelaki tegap itu langsung menoleh. Dilihatnya dara jelita itu tengah menutupi mulutnya. Sadarlah lelaki tegap itu kalau lawannya ternyata bukan wanita sembarangan. "Hm.... Pantas kau berani menantangku! Rupanya kau mempunyai sedikit kepandaian! Tapi, jangan harap kau bisa melepaskan diri dari si Tapak Maut!" geram lelaki tegap itu membanggakan julukannya. Setelah berkata demikian, lelaki itu pun lalu mempersiapkan jurusnya untuk menyerang.

Kenanga sendiri tetap tenang tanpa mempersiapkan kuda-kuda. Sehingga Tapak Maut menjadi semakin geram karena merasa dipandang remeh.

"Heaaat..!" Disertai sebuah teriakan nyaring, tubuh Tapak Maut bergerak maju dengan langkah-langkah cepat. Sepasang tangannya bergerak menyambar-nyambar dengan cepat dan kuat

Bettt! Bettt!

Kenanga menarik mundur langkahnya dengan tubuh doyong ke belakang. Begitu sambaran telapak tangan lawan lewat, kakinya langsung mencuat naik melakukan tendangan kilat dalam kedudukan lurus ke depan.

Plakkk!

"Uhhh...?!" Begitu melihat gadis itu melontarkan tendangan. Tapak Maut langsung memapakinya dengan hantaman telapak tangan. Maksudnya jelas hendak membuat kaki dara itu cidera dengan tamparannya. Tapi, apa yang dirasakannya membuat lelaki tegap itu hampir tidak percaya.

"Gila.!" desis Tapak Maut ketika merasa telapak tangannya nyeri akibat menahan tendangan dara jelita itu. Lelaki tegap itu semakin sadar kalau lawannya bukan gadis sembarangan. Selain memiliki kecepatan yang mengagumkan dan sukar diikuti mata, tenaga dalam gadis itu pun masih beberapa tingkat diatasnya.

"Mengapa berhenti, Kisanak? Apa kau sudah menyerah?" ejek Kenanga membuat wajah Tapak Maut berubah gelap. Ucapan gadis jelita itu membuatnya sangat malu. Kenanga sendiri tidak peduli. Niatnya memang hendak memberi pelajaran pada lelaki tegap itu, agar lain kali tidak sembarangan mengumbar kemarahan.

ENAM

"Haaat..!" Tapak Maut kembali membuka serangan dengan menggunakan 'Ilmu Tapak Maut'nya. Nampaknya kali ini lelaki itu benar-benar hendak merobohkan lawan, tanpa ingat lagi akan perkataannya bahwa dirinya pantang bertarung dengan wanita. Bahkan kelihatan sekali Tapak Maut sangat bernafsu.

Whuttt... whuttt..!

Sepasang telapak tangan lelaki tegap itu berkelebatan cepat disertai sambaran angin kuat, membuat meja dan kursi terlempar ke kiri dan kanan terkena sambaran tangannya. Tapi, meskipun serangan yang dilancarkan Tapak Maut demikian gencar, Kenanga tetap tidak kelihatan repot. Hanya dengan mengandalkan kelincahannya, dara jelita itu dapat menghindari setiap sambaran telapak tangan lawan. Bahkan sesekali membalas dengan pukulan satu dua untuk menghambat gempuran yang semakin gencar.

"Heaaah...!"

Ketika pertarungan telah melewati jurus ketiga puluh, Kenanga tiba-tiba mengeluarkan bentakan yang mengejutkan. Pukulan kanan lawan yang mengancam pelipisnya dielakkan gadis itu dengan memiringkan tubuh. Kemudian, langsung melepaskan sebuah pukulan dari bawah ke atas dengan kecepatan kilat.

Bukkk!

"Hukkkh...!" Terlambat bagi Tapak Maut untuk mengelak. Dadanya terkena hantaman kepalan mungil yang mengandung tenaga dalam kuat. Membuat tubuh lelaki tegap itu terjengkang ke belakang dan menimpa meja hingga pecah berantakan.

"Uhhh..." Tapak Maut berusaha bangkit menyingkirkan pecahan meja di sekeliling tubuhnya. Wajahnya tampak agak pucat. Karena pukulan yang mengenai dada itu sempat membuatnya sulit bernapas. Cairan merah yang menetes di sudut bibir, menandakan lelaki tegap itu mengalami luka dalam yang cukup mengganggu.

Sementara itu, ketujuh orang kawan Tapak Maut sudah bangkit dari kursi. Mereka langsung menghunus senjata dan berloncatan mengepung Kenanga.

"Perempuan liar! Kau akan menyesali perbuatanmu......!" geram seorang kawan Tapak Maut yang bertubuh pendek kekar. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan deraan angin tajam.

Panji yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan jalannya pertarungan, ikut bergerak bangkit dari kursi. Kemudian menggerakkan kepala ketika Kenanga menoleh ke arahnya. Gerakan itu merupakan isyarat agar dara jelita itu keluar dari ruangan kedai yang belum seluruhnya berantakan. Melihat isyarat kekasihnya, Kenanga langsung melesat meninggalkan ruangan kedai. Sekali menyentakkan kaki ke tanah, tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau itu melayang keluar bagaikan seekor burung walet.

"Hei! Hendak lari ke mana kau, Perempuan Liar...?!" bentak lelaki pendek kekar yang mengira gadis jelita itu hendak melarikan diri. Cepat tubuhnya bergerak menyusul, diikuti keenam orang kawannya.

Tapak Maut pun tidak mau ketinggalan. Meski dadanya dirasakan masih agak nyeri, lelaki tegap itu memaksakan diri untuk mengejar gadis jelita yang telah merobohkannya.

Panji yang lebih dulu tiba di luar kedai, segera mengisyaratkan agar Kenanga mundur. Menurutnya, Kenanga sudah cukup memberi pelajaran pada lelaki tegap yang berjuluk Tapak Maut. Dan sekarang pemuda itu hendak menyelesaikan persoalan ini sendiri. Kenanga tidak membantah. Gadis itu merasa sudah cukup puas menghajar Tapak Maut yang berangasan. Tanpa banyak cakap lagi, dara jelita itu melangkah mundur dan berdiri di tepi jalan.

"Tunggu...!" Panji berteriak mencegah ketika lelaki pendek kekar bersama enam orang kawannya hendak mengejar Kenanga. Sehingga ketujuh orang itu menahan langkahnya, dan memandang pemuda tampan berjubah putih di depannya dengan sinar mata mengancam.

"Minggir! Aku tidak mempunyai urusan denganmu...!" bentak lelaki pendek kekar sambil mengacung-acungkan pedangnya, menakut-nakuti. Tapak Maut yang tiba belakangan, tampak menatap sosok pemuda tampan berjubah putih itu dengan kening berkerut. Dia sempat mengenali kalau pemuda itu sebagai kawan gadis berpakaian serba hijau yang barusan bertarung dengannya. Maka, kakinya melangkah menghampiri pemuda tampan berjubah putih itu.

"Kisanak, siapa kau sebenarnya? Dan dari mana asalmu...?" tanya Tapak Maut yang rupanya menduga kalau pemuda itu pasti bukan orang sembarangan. Jika gadis jelita itu sudah demikian tinggi kepandaiannya, tentu pemuda tampan itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi lagi.

"Tapak Maut aku bernama Panji. Sedangkan kawanku itu Kenanga. Kami berdua perantau-perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Karena di antara kita tidak ada permusuhan sebelumnya, aku minta agar perselisihan ini kita sudahi sampai di sini," jawab Panji memperkenalkan diri.

"Tidak bisa!" bentak Tapak Maut keras. "Setelah melukaiku, berarti di antara kita telah ada persoalan! Dan, aku ingin menyelesaikannya sampai tuntas!"

"Dengar, Tapak Maut!" tegas Panji dengan sinar mata mencorong tajam, membuat lelaki itu bergidik memandangnya. "Keributan di dalam kedai tadi karena ulahmu yang sombong dan mau menang sendiri! Seharusnya kau bisa menahan sabar dan tidak mengumbar kemarahanmu pada setiap orang yang kau temui. Itu jelas tidak benar! Jadi, wajar jika kawanku terpaksa menghentikan kelakuanmu yang tidak pantas itu. Kalau kau mempunyai persoalan yang membuat kepalamu pusing, tidak sepantasnya kau tumpahkan pada orang lain. Itu tidak adil namanya."

"Biarpun begitu, tidak seharusnya kawan wanitamu itu mempermalukan aku di depan orang banyak" bentak Tapak Maut terpaksa mengajukan alasan yang kurang tepat. Karena lelaki tegap itu tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar ucapan pemuda tampan berjubah putih. Panji tersenyum mendengar bantahan Tapak Maut Pendekar Naga Putih tahu kalau alasan itu hanya dicari-cari dan tidak kuat.

"Tapak Maut. Kami berdua bukanlah orang-orang yang suka mencari keributan. Bahkan, kami seringkali berusaha menghindarinya dengan mencari jalan damai. Sekarang aku menawarkan jalan damai itu kepadamu. Terserah apa jawabanmu, kami siap menerimanya," ujar Panji menyembunyikan tantangan, dan menyatakan secara tidak langsung bahwa dia dan Kenanga tidak takut bertarung.

Mendengar tantangan tersembunyi itu. Tapak Maut kelihatan ragu. Sebab, jika mendengar ucapan serta melihat sikap pemuda itu, jelas Panji bukan orang sembarangan.

"Hhh..." Terdengar lelaki tegap itu menghela napas panjang sebagai tanda keresahan hatinya. Rupanya dia merasa gentar juga dengan sikap tenang yang ditunjukkan Panji. Karena dia mulai dapat menduga-duga siapa pemuda tampan berjubah putih itu.

Tapak Maut bukanlah orang asing dalam kalangan persilatan. Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh golongan putih maupun golongan hitam cukup luas. Itu tidak aneh, karena Tapak Maut beserta rombongannya adalah pengantar barang yang sering bepergian sampai ke tempat yang jauh sekali. Dan, dari pekerjaannya itu, dia banyak mendapat pengetahuan. Baik mengenai tokoh-tokoh puncak sampai yang baru muncul. Selain itu, Tapak Maut beserta anggotanya tidak pernah ketinggalan mengikuti perkembangan yang terjadi di kalangan persilatan. Itu sebabnya mengapa dia dapat menduga-duga siapa pemuda tampan berjubah putih yang berdiri di hadapannya.

Melihat Tapak Maut termenung mengikuti arus pikirannya yang melayang-layang, Panji merasa lega. Karena menurutnya itu merupakan pertanda baik. Mungkin lelaki itu tengah memikirkan jawaban apa yang akan diberikan atas tawaran Panji. Kalau tidak, mana mungkin dia sampai termenung demikian lama?

"Kisanak, sebutkan julukanniu! Karena sepertinya aku sudah bisa menebak siapa dirimu sebenarnya," ujar Tapak Maut tiba-tiba, begitu terbebas dari lamunannya itu.

"Terkalah olehmu. Tapak Maut…," tukas Panji tanpa menjawab pertanyaan tokoh itu.

"Hm… Kalau aku tidak salah lihat. Kau pasti Pendekar Naga Putih. Apakah dugaanku keliru...?" ujar Tapak Maut yang rupanya dapat menebak dengan tepat. Sebab, lelaki itu sebelumnya telah mendengar ciri-ciri tokoh muda berjuluk Pendekar Naga Putih.

"Matamu ternyata sangat tajam, Tapak Maut" puji Panji tulus. "Sekarang kita kembali pada tawaranku tadi"

"Dengan memandang nama besarmu, aku bersedia mengakhiri persoalan ini sampai di sini...," jawab Tapak Maut memilih berdamai setelah mengetahui siapa pemuda berjubah putih itu sebenarnya.

"Syukurlah. Aku merasa lega dengan jawabanmu..," ucap Panji menghembuskan napas panjang sebagal tanda kelegaan hatinya. Kemudian menyalami lelaki tegap itu yang langsung memeluk tubuh Panji. Rupanya, Tapak Maut pun sangat mengagumi pendekar muda itu. Sehingga, lelaki itu segera mempergunakan kesempatan selagi pemuda itu menyalaminya.

"Terima kasih, Pendekar Naga Putih...," desah lelaki tegap itu terharu sekaligus bertambah kagum.

Pendekar muda yang terkenal itu ternyata memiliki hati yang bijaksana dan pandangan yang luas serta pemaaf. Tentu saja Tapak Maut merasa bangga dapat berkenalan lebih dekat dengan Panji.

Suasana yang semula tegang berubah gembira. Tidak ada lagi rasa permusuhan atau dendam di hati Tapak Maut maupun kawan-kawannya. Kegembiraan semakin lengkap ketika lelaki tegap itu mengajak Panji dan Kenanga merayakan perdamaian itu di kedai tempat mereka semula bertarung.

"Apa sebenarnya yang membuatmu tampak menahan marah ketika datang ke kedai ini?" tanya Panji saat mereka telah berada di dalam kedai.

"Hhh.... Sebenarnya masalah itu memang tidak seharusnya membuatku lupa diri, dan menumpahkannya pada orang lain," sesal Tapak Maut seraya menghela napas panjang. Wajah lelaki tegap itu kelihatan murung dan menyimpan dendam serta kedukaan yang dalam.

Melihat perubahan wajah lelaki tegap itu. Panji jadi semakin ingin tahu apa sebenarnya yang telah menimpanya. Setelah menunggu cukup lama namun tak juga ada kata yang terucap dari bibir Tapak Maut, akhirnya terlontar pertanyaan dari mulut Panji.

"Boleh aku tahu, apa yang telah kau alami,..?" tanya Panji memandang wajah di depannya.

"Peristiwa ini benar-benar membuat hatiku penasaran!" ujar Tapak Maut, setelah terdiam beberapa saat lamanya. "Beberapa waktu yang lalu empat orang kawanku melakukan perjalanan untuk mengantarkan barang pesanan salah seorang pelanggan kami. Ketika pada hari yang telah kuperhitungkan mereka sudah harus kembali, ternyata tak seorang pun yang muncul. Karena keterlambatan itu sebelumnya tidak pernah terjadi, timbul kecurigaanku. Dengan tujuh orang anggota yang tersisa, kami pun melakukan penyelidikan. Apa yang kemudian kami temukan benar-benar membuat penasaran! Keempat kawan kami menggeletak tewas di tepi sebuah hutan. Kereta yang seharusnya berisi barang pesanan, lenyap tanpa bekas. Jelasnya, kemungkinan besar mereka telah dihadang perampok. Anehnya, sepanjang pengetahuan kami, di daerah sekitar tempat itu tidak terdapat komplotan perampok. Sehingga, meskipun kami telah menelusuri seluruh wilayah hutan hingga beberapa desa, tidak ada tanda-tanda adanya gerombolan perampok Nah, itulah yang membuatku pening dan mudah tersinggung."

Tapak Maut termenung setelah menceritakan persoalannya pada Panji. Sehingga pemuda itu mulai mengerti mengapa lelaki tegap itu bersikap aneh ketika datang ke Desa Babakan. Tapi, keributan itu tidak sampai membawa korban. Bahkan memberi hikmah yang membuat mereka bersyukur, kejadian itu telah memperkenalkan mereka satu sama lain.

"Hm.... Jika demikian, kemungkinan besar mereka bukan perampok-perampok biasa...," gumam Panji setelah terdiam beberapa saat dan mengkaji cerita Tapak Maut.

"Maksudmu...?" tanya Tapak Maut menegasi. Lelaki itu belum bisa menangkap ke mana arah pembicaraan Panji.

"Begini. Kalau benar yang telah membunuh kawan-kawanmu gerombolan perampok, pasti mereka mempunyai markas. Dan markas itu tentu sudah ditemukan, mengingat seluruh daerah itu telah kau jelajahi. Tapi, ternyata mereka lenyap tanpa jejak itu hanya berarti satu. Mereka bukan perampok yang sesungguhnya. Jelasnya, mereka bukan perampok tapi tahu tentang barang yang tengah kalian kawal," ujar Panji menjelaskan maksud perkataannya.

"Hm..., ya. Kemungkinan itu memang bisa terjadi. Tapi, siapa kira-kira yang melakukan perbuatan biadab itu? Sebab, selama ini kami tidak mempunyai musuh dan selalu mengikat tali persahabatan dengan tokoh-tokoh persilatan...?" ujar Tapak Maut semakin bertambah bingung setelah mendengar ucapan Panji.

"Sebaiknya kita lihat saja nanti. Karena saat ini aku tengah mencari seorang lelaki berkumis lebat yang bernama Bardewa," tukas Panji membuat Tapak Maut menoleh dan memandang wajah pemuda itu, yang juga kebetulan tengah memandangnya.

"Apa hubungannya orang yang bernama Bardewa dengan terbunuhnya kawan-kawanku...?" tanya Tapak Maut tidak mengerti ketika Panji menghubungkan pembunuhan itu dengan orang yang dicarinya.

"Kemungkinan besar ada hubungannya. Karena Bardewa seorang manusia licik yang sangat pandai menyamar. Beberapa hari yang lalu Bardewa telah mengelabui tokoh- tokoh Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas. Sehingga, kedua perguruan itu bentrok dan membawa korban nyawa yang tidak sedikit," jelas Panji membuat Tapak Maut mengangguk-anggukkan kepala.

"Iblis Wajah Seribu...?!" desis Tapak Maut dengan wajah berubah. Sehingga membuat Panji mengerutkan kening saat mendengar disebutnya nama tokoh sesat yang menggetarkan itu.

"Iblis Wajah Seribu...?!" Panji menggumamkan julukan itu, karena sebelumnya memang pernah mendengarnya.

"Ya. Hanya tokoh sesat yang berjuluk Iblis Wajah Seribu satu-satunya manusia yang bisa menirukan wajah siapa saja," tegas Tapak Maut dengan nada suara agak kering. Jelas, lelaki tegap itu merasa gentar dengan tokoh sesat itu.

"Hm... Aku pun pernah mendengar nama tokoh sesat itu. Tapi.... Apa mungkin orang itu yang melakukan semua ini? Setahuku tokoh itu telah lama menghilang di dunia ramai. Kalaupun muncul kembali, mungkin usianya telah mencapai seratus tahun lebih...!" ujar Pendekar Naga Putih teringat akan cerita gurunya mengenai tokoh sesat yang pernah menggetarkan rimba persilatan dengan berbagai ulahnya.

Tapak Maut pun mengetahui hal itu. Sehingga, ikut-ikutan termenung memikirkan kemungkinan yang sangat mustahil itu. Nama Iblis Seribu Wajah memang muncul pada puluhan tahun yang lalu, dan saat itu dia telah berumur sekitar tujuh puluh tahun. Jadi, bagaimana mungkin tokoh itu kini muncul dan membuat kekacauan?

"Yahhh..., memang sulit untuk dipastikan. Tapi, siapa tahu diam-diam tokoh sesat itu telah mendapatkan seorang murid yang berbakat, dan mewarisi seluruh ilmu- ilmunya...," ujar Panji menduga-duga, membuat Tapak Maut tercenung memikirkan kemungkinan itu.

"Kemungkinan besar Bardewa murid tokoh sesat itu, Kakang," Kenanga yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba ikut menimpali. Rupanya dara jelita itu tertarik mendengar tokoh sesat yang berjuluk Iblis Wajah Seribu.

"Ya. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi, aku lebih suka berharap Bardewa bukan murid Iblis Wajah Seribu. Sebab bila hal itu benar, celakalah dunia persilatan. Ulahnya pasti akan membuat gempar!" ujar Panji.

"Demikian pula aku...." tukas Tapak Maut yang juga mengharapkan hal serupa dengan Panji.

"Biarpun demikian, kita harus segera bertindak, Kakang. Aku khawatir Bardewa akan membuat ulah lagi...," ujar Kenanga yang merasa khawatir Bardewa akan kembali membuat ulah dengan mengadu domba tokoh-tokoh persilatan.

"Benar. Kita harus mencari orang yang bernama Bardewa...," Tapak Maut juga mengajukan usul serupa dengan Kenanga.

"Memang. Itu seharusnya kita lakukan secepat mungkin. Tapi kita belum menemukan petunjuk yang pasti, di mana kira-kira Bardewa sekarang berada. Karena kemungkinan besar dia sudah melarikan diri dari tempat ini, mengingat Ki Genawang dan Ki Gawung telah mengenali wajahnya," ujar Panji membuat Kenanga dan Tapak Maut bingung sesaat.

"Hm... Mudah-mudahan orang itu belum lari jauh, dan ingin melihat lebih dulu hasil perbuatannya...," harap Kenanga dengan suara perlahan.

Suasana pun berubah hening. Ketiga orang itu termenung mengikuti arus pikiran masing-masing.

********************

TUJUH

Matahari baru saja muncul di kaki langit sebelah timur. Serombongan penunggang kuda tampak bergerak melewati mulut Desa Babakan. Suara derap dan ringkikan kuda serta bentakan-bentakan penunggangnya, membuat penduduk setempat mengerutkan kening tak senang. Namun, mereka hanya bisa memandang dengan hati jengkel tanpa mampu berbuat apa-apa.

Rombongan penunggang kuda yang kurang lebih berjumlah dua belas orang itu berlompatan turun dan menambatkan kudanya di muka kedai. Salah seorang yang bertindak sebagai pimpinan, langsung menuju pintu kedai dengan langkah lebar, dan menyeruak masuk ke dalam.

"Hei! Coba tunjukkan di mana Ki Kuntala! Aku dengar orang itu menginap di kedai ini semalam...?!" teriak lelaki pendek gemuk berkepala botak sambil bertolak pinggang. Sepasang matanya beredar ke sekeliling, ruangan, menyapu wajah-wajah pengunjung kedai.

Tapak Maut yang saat itu tengah menikmati hidangan, segera berdiri dari kursinya. Dengan wajah tenang, lelaki itu melangkah menghampiri lelaki gemuk berkepala botak. Panji, Kenanga, dan tujuh orang kawan Tapak Maut hanya diam melihat kelanjutan tindakan lelaki gemuk berkepala botak.

"Siapa kau, Kisanak? Ada apa mencariku...?" tegur Tapak Maut yang bernama Ki Kuntala dengan sikap jumawa. Sepasang matanya meneliti sosok lelaki gemuk pendek dari bawah ke atas.

"Hm.... Kaukah Ki Kuntala yang mengepalai rombongan pengawal barang...?" tanya lelaki gemuk itu lagi sambil meneliti wajah Tapak Maut. Menilik sikapnya, jelas lelaki gemuk pendek itu belum pernah berjumpa dengan Ki Kuntala dan hanya tahu namanya saja.

"Ada apa mencariku...?!" tukas Ki Kuntala setengah membentak. Rupanya dia sudah tidak sabar melihat tongkah lelaki botak itu yang seperti tengah memeriksa pesakitan.

"Hm. Beberapa hari yang lalu majikan kami menitipkan barang kepadamu. Lalu, mengapa sampai hari ini barang itu belum tiba pada yang berhak menerimanya?" ujar lelaki gemuk pendek itu seraya memperlihatkan pandangan mengejek.

Merah wajah Ki Kuntala, karena tatapan itu demikian menghina. Seakan-akan menuduh dirinya telah menyalahgunakan kepercayaan majikan lelaki gemuk itu, dan mempergunakan barang kiriman itu untuk kepentingannya sendiri.

"Dengar, Kisanak! Sebenarnya barang itu sudah kukirim dengan dikawal empat orang anggotaku. Malang, mereka kutemukan tewas dan harta itu lenyap tanpa jejak di tepi Hutan Ngarai. Itu sebabnya, mengapa sekarang aku berada di Desa Babakan ini. Karena sampai saat ini aku masih menyelidiki siapa orang yang telah melakukan perampokan itu. Kelak, bila barang-barang itu sudah kutemukan, akan kukembalikan pada majikanmu, dan memberikan ganti rugi sepantasnya," jawab Ki Kuntala menahan kegeraman hati. Karena itu merupakan kesalahannya, maka dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ha ha ha...!" lelaki pendek gemuk itu tertawa terbahak-bahak diikuti sebelas orang kawannya. Rupanya, dia tidak percaya akan keterangan Ki Kuntala yang berjuluk Tapak Maut.

"Diam!" bentak Ki Kuntala yang merasa tersinggung karena suara tawa itu demikian menyakitkan.

Bentakan yang keras dan mengejutkan itu membuat suara tawa lelaki gemuk terhenti. Sementara, sebelas orang lelaki di belakangnya sudah menghunus senjata. Agaknya, mereka marah terhadap Ki Kuntala yang telah membuat mereka terkejut. Melihat kenyataan itu, tujuh orang kawan Ki Kuntala langsung berlompatan bangkit dari kursi. Mereka segera mencabut senjata dan siap membela pimpinan mereka. Ki Kuntala segera menahan orang-orangnya. Persoalan ini ingin diselesaikannya sendiri karena menjadi tanggung jawabnya. Maka, dihadapinya lelaki pendek gemuk itu dengan sikap tenang.

"Katakan pada majikanmu, dalam beberapa hari ini aku akan datang untuk mengganti barangnya yang hilang. Sekarang, sebaiknya kau pulang dan jaga majikanmu baik-baik..," ujar Ki Kuntala menatap tajam wajah lelaki gemuk itu lekat-lekat. Sikapnya terlihat tegas dan tidak bisa ditawar lagi.

"Enak saja kau bicara! Kalau memang kau mampu mengganti barang majikanku, ayo berikan sekarang juga! Aku tidak ingin kembali dengan tangan kosong!" tukas lelaki gemuk itu memaksakan kehendaknya.

"Hm. Sudah kukatakan aku akan datang sendiri mengantarkan pada majikanmu, dan bukan kepadamu yang hanya seekor anjing penjaga...!" geram Ki Kuntala terpaksa harus menahan kemarahannya. Meskipun dadanya saat itu hampir meledak.

"Kalau begitu aku akan memaksamu!" tandas lelaki gemuk yang sepertinya akan segera bertindak membuktikan ucapannya.

Tapak Maut sebenarnya memiliki sikap berangasan dan mudah tersinggung. Tapi, kali ini lelaki itu mengambil sikap mengalah, itu karena dia tahu kalau dirinya berada di pihak yang salah. Sehingga, dia hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan lelaki gemuk itu.

"Hm..." Lelaki pendek gemuk itu terlihat mempermainkan dua kepalan tangannya hingga menimbulkan suara berkerotokan. Jelas, maksudnya hendak menakut-nakuti Ki Kuntala.

"Untuk apa kau tunjukkan permainan anak kecil, Kisanak. Kalau memang kau tidak bisa menerima usulku, aku siap menghadapi keinginanmu..." tantang Ki Kuntala.

"Kurang ajar...!" Setelah mendesis marah, lelaki gemuk itu segera melepaskan sebuah tamparan ke pelipis Ki Kuntala. Maksudnya hendak memberi peringatan pada lelaki tinggi tegap itu agar tidak menyepelekan dirinya.

Whuuut..!

Ki Kuntala menggeser langkahnya dua tindak, kemudian mendoyongkan tubuh. Hingga serangan lelaki gemuk itu tidak mencapai sasaran.

"Jangan terlalu memaksa, Kisanak..!" ujar Ki Kuntala seakan mengingatkan untuk tidak melanjutkan serangan.

Tapi lelaki gemuk itu tidak mau berhenti. Begitu serangan pertamanya gagal, langsung disusul dengan serangan-serangan berikutnya yang lebih hebat lagi. Sehingga, Ki Kuntala harus menggunakan kelincahannya untuk menghindar. Setelah menghindar terus-menerus selama kurang lebih lima jurus, Ki Kuntala merasa tidak bisa berdiam diri lagi. Maka, ketika pukulan lawan kembali datang mengancam dada, lelaki tegap itu segera mengangkat tangan kanan memapaki serangan. Sekaligus mengirimkan sebuah hantaman dengan telapak tangan ke tubuh lawan.

Dukkk! Desss!

Gerakan Ki Kuntala yang kelihatan masih jauh lebih cepat dari lawan, membuat lelaki gemuk tidak dapat menghindari hantaman telapak tangan Ki Kuntala. Akibatnya, tubuh gemuk itu langsung terpental ke belakang dan terbanting ke luar kedai.

Sebelas orang kawan lelaki gemuk itu segera berlompatan ke luar. Kemudian, mengepung Ki Kuntala yang saat itu telah melesat keluar ruangan kedai. Ketujuh orang anggota Tapak Maut ikut melesat ke luar dengan senjata di tangan. Rupanya mereka khawatir jika pimpinan mereka sampai celaka di tangan kedua belas orang itu.

"Katakan pada majikanmu apa yang tadi kukatakan..!" ujar Ki Kuntala kembali mengingatkan agar lelaki gemuk itu segera meninggalkan Desa Babakan dan melaporkan pada majikannya tentang janji lelaki tegap itu.

"Hm...!" Namun, lelaki gemuk itu tidak mempedulikan ucapan Ki Kuntala. Bahkan, saat itu senjata yang tergantung di pinggangnya telah dicabut. Dan memerintahkan sebelas orang kawannya untuk mengeroyok lelaki tegap itu.

Ki Kuntala tetap bersikap tenang, tanpa mencabut senjatanya. Namun, ketujuh orang anggotanya tidak bisa berdiam diri. Mereka sudah berlompatan dan menerjang sebelas orang kawan lelaki gemuk itu.

"Tahan.!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang membuat orang-orang itu menghentikan gerakan. Mereka menoleh ke arah suara bentakan yang membuat hati mereka berdebar keras. Bahkan, wajah mereka pun kelihatan agak pucat. Jelas, bentakan itu telah mempengaruhi ketegaran hati mereka. Panji yang mengeluarkan bentakan keras itu melangkah maju ke tengah arena. Ditatapnya wajah lelaki gemuk pimpinan sebelas orang itu yang hendak bertarung dengan Ki Kuntala dan kawan-kawannya.

"Kisanak," ujar Panji seraya menatap tajam sosok lelaki gemuk pendek itu. "Apa yang dikatakan Ki Kuntala adalah hal yang sebenarnya. Dan janjinya bisa dipercaya. Untuk itu, kuharap kau mau melaporkan semua ini pada majikanmu."

"Tidak bisa! Majikanku telah memerintahkan agar jika aku kembali harus membawa barang miliknya. Jika tidak, aku akan diusir pergi dari tempatku bekerja selama ini...," lelaki gemuk itu tetap bersikeras meminta kembali barang yang dititipkan majikannya pada Ki Kuntala. Dan, rupanya hal itu tidak bisa ditawar lagi.

"Hm.... Katakan pada majikanmu, Pendekar Naga Putih yang akan datang mengantarkan barang titipannya...," karena sulit mencari alasan lain, akhirnya Panji mempertaruhkan nama besarnya sebagai jaminan.

"Pendekar..., Naga Putih. ?!" desis lelaki gemuk itu dengan wajah pucat ketika Panji menyebutkan julukannya.

Dan, sebelas orang lainnya pun tidak kalah terkejutnya dengan lelaki pendek gemuk itu. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain dengan wajah tegang. Karena nama pendekar besar itu bukan suatu yang asing di telinga mereka. Bahkan, mereka sangat kagum dan bangga akan kegagahan Pendekar Naga Putih.

"Pendekar Naga Putih. Mengingat nama besarmu, biarlah kami akan menanggung semua akibatnya nanti di hadapan majikan kami. Dan kuharap kau mau memaafkan tindakan kami tadi...," ujar lelaki gemuk itu, mengalah setelah mendengar Pendekar Naga Putih yang kelak akan datang mengantarkan barang milik majikannya.

"Terima kasih atas pengertian kalian semua...," ujar Panji merasa lega meskipun untuk itu nama besarnya harus dipertaruhkan sebagai jaminan.

Sepeninggal lelaki gemuk bersama sebelas orang kawannya. Panji dan Kenanga minta diri pada Ki Kuntala dan anggotanya. Pemuda itu berjanji akan ikut mencari para perampok yang tengah dicari Ki Kuntala. Lelaki tegap itu hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah didapatnya dari pemuda tampan berjubah putih itu.

Ki Kuntala dan tujuh orang kawannya masih tetap berdiri sampai bayangan Pendekar Naga Putih dan Kenanga lenyap dari pandangan. Setelah itu mereka meninggalkan Desa Babakan mengambil arah yang berlawanan dengan Panji dan Kenanga.

********************

Panji dan kekasihnya melangkah mengambil jalan ke utara Desa Babakan. Sengaja mereka mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Karena selain sulit, arah sebelah utara Desa Babakan banyak ditumbuhi pepohonan lebat itu salah satu sebab mengapa jalan itu jarang dilalui orang.

"Kakang,.., kau dengar suara itu. ?" ujar Kenanga saat mereka sudah menapakkan kaki memasuki sebuah mulut hutan lebat. Sebenarnya Kenanga tidak perlu menanyakan Panji, karena pemuda itu telah mendengarnya lebih dulu. Hanya saja Panji hendak memastikan betul suara yang didengarnya itu.

"Suara orang bertempur. Mari kita lihat..!"

Baru saja ucapan itu selesai, Pendekar Naga Putih langsung melesat ke arah asal suara dentang senjata dan bentakan-bentakan yang didengarnya. Sebentar saja, tubuh sepasang pendekar muda itu sudah saling berkejaran menerobos semak belukar. Jalan- jalan yang sebenarnya sangat sulit untuk dilalui orang, tidak membuat lari keduanya terganggu, meskipun tidak jarang mereka harus berloncatan dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh.

Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka pada sebuah lapangan berumput yang cukup luas dan dikelilingi pepohonan besar. Tapi, suasana di tempat itu terlihat sunyi. Sehingga, begitu Panji dan Kenanga tiba, mereka hanya mendapatkan enam sosok tubuh yang bergeletakan dengan sekujur tubuh bermandikan darah segar.

"Celaka! Kita terlambat, Kakang...!" sesal Kenanga, karena pertempuran ternyata telah usai.

Panji tidak menjawab. Pemuda itu memeriksa sosok-sosok tubuh yang bergeletakan di atas rumput dengan harapan dapat menemukan sosok yang masih bernapas di antara mayat-mayat itu. Harapan Panji terkabul. Salah satu dari keenam sosok itu tampak masih bernapas, meskipun satu-satu. Cepat pemuda itu menotok beberapa bagian tubuh sosok itu. Sehingga, lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu membuka matanya perlahan.

"Katakan, siapa yang melakukan semua ini, Paman...?" tanya Panji begitu melihat mata lelaki itu terbuka dan menatapnya dengan sayu.

"Iblis... Wajah... Se... ribu...!" ucap lelaki itu dengan susah payah.

"Iblis Wajah Seribu..?" gumam Panji seolah tak mempercayai pendengarannya. "Lalu..., kalian ini siapa? Dan mengapa berada di dalam hutan ini...?"

"Kami., murid-murid Perguruan Merak Emas yang merasa penasaran dan ingin mencari Kakang Bardewa...," sosok lelaki tua itu menjilati bibirnya yang terasa kering. Sehingga, jawabannya terhenti sampai di situ.

"Jadi, Bardewa yang melakukan semua ini..?" desak Panji, karena diketahuinya kalau lelaki itu tidak akan dapat bertahan lama. Untuk itu dia harus mencari keterangan sebanyak-banyaknya.

"Bukan... tapi... tapi... Murid Perguruan Pedang Ba... ja... aaah...!" Setelah menjawab pertanyaan Panji, lelaki itu menghembuskan napasnya yang penghabisan, diawali dengan suara mengorok panjang.

"Murid Perguruan Pedang Baja...?" desis Panji seperti tidak mempercayai ucapan terakhir orang itu. Tapi, mana mungkin orang yang sudah sekarat masih hendak berdusta? Mungkin orang itu berkata benar, pikir pemuda itu tercenung sesaat.

"Kakang. Bukankah menurut Ki Genawang semua murid-muridnya telah tewas dibantai Iblis Wajah Seribu yang menyamar sebagai Ki Gawung? Jadi.., bagaimana mungkin ini bisa terjadi..?" tanya Kenanga penasaran mendengar keterangan orang itu.

"Benar. Dan kemungkinan besar yang melakukan semua ini adalah Iblis Wajah Seribu yang menyamar sebagai murid Ki Genawang," tukas Panji perlahan sambil merenung.

"Atau bisa juga Ki Genawang berbohong sewaktu mengatakan semua muridnya telah tewas terbantai...," sergah Kenanga, membuat Panji mengerutkan kening.

"Hhh.... Persoalan ini semakin bertambah rumit..," gumam Panji dengan helaan napas panjang. "Kalau begitu, sebaiknya kita mendatangi Perguruan Merak Emas. Aku khawatir Iblis Wajah Seribu akan mendatangi perguruan itu..."

"Mengapa Kakang berpikiran demikian...?" tanya Kenanga heran dengan usul kekasihnya.

"Kita lihat saja nanti. Tapi menurut dugaanku, iblis keji itu akan mendatangi Perguruan Merak Emas. Kemungkinan besar mereka pun akan dibantai seperti murid-murid Perguruan Pedang Baja...," jawab Panji membuat Kenanga terkejut. Gadis itu tidak sampai berpikir ke arah itu.

"Kalau begitu tunggu apa lagi, Kakang. Ayo, kita segera menuju Perguruan Merak Emas. !" sergah Kenanga yang langsung berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Tanpa banyak cakap lagi. Panji pun segera menjejakkan kakinya ke tanah. Sehingga tubuhnya melayang di udara dan jatuh tepat di sisi kekasihnya yang sedang berlari. Kemudian menjajari langkah dara jelita itu menuju Perguruan Merak Emas.

********************

DELAPAN

Serombongan penunggang kuda bergerak melintasi jalan berdebu. Suara derapnya bagai hendak mengguncang bumi. Itu tidak terlalu aneh, karena jumlah penunggang kuda itu sangat besar, kira-kira enam puluh orang lebih. Sehingga, kepulan debu yangditinggalkannya terlihat bagai letusan gunung berapi yang membentuk bulatan di angkasa. Dengan diiringi derap yang menggetarkan bumi, rombongan itu terus bergerak mendekati sebuah bangunan perguruan yang berada di depannya.

Penjaga-penjaga yang berada di atas gerbang bangunan perguruan tentu saja kaget melihat kedatangan serombongan orang berkuda dalam jumlah yang cukup besar. Merasa gelagat tidak baik, penjaga itu langsung melompat turun dan berlari tergesa-gesa menuju bangunan utama perguruan.

"Guru...! Guru..!"

Sambil berlarian penjaga itu berteriak-teriak, membuat murid-murid yang lainnya menatap heran. Belum lagi penjaga itu tiba di depan pintu bangunan utama perguruan, tiba-tiba seorang lelaki gagah telah berdiri tegak di ambang pintu. Lelaki itu tidak lain Ki Gawung yang diapit dua orang murid utamanya.

"Ada apa...?" tegur Ki Gawung dengan suara tegas dan mengandung perbawa kuat.

"Ampun, Guru." Penjaga itu langsung menjatuhkan tubuhnya dan berlutut. Kemudian menceritakan apa yang dilihatnya di luar bangunan. Meskipun dengan napas tersengal-sengal, namun semua terdengar jelas oleh Ki Gawung. Sehingga, lelaki gagah itu mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Hm... Ada apa lagi ini? Siapa mereka, dan apa maksud kedatangannya ke sini.?" gumam Ki Gawung segera melangkah diikuti dua orang murid utamanya.

Baru saja lelaki gagah itu bergerak hendak mendekati pintu gerbang, tiba-tiba terdengar suara berderak ribut. Dan..., pintu gerbang yang baru saja diganti itu hancur berantakan! Bersamaan dengan itu, belasan sosok tubuh yang menunggang kuda bergerak masuk menerobos kepingan kayu yang beterbangan.

Penunggang kuda terdepan yang ternyata seorang lelaki gagah berusia lima puluh tahun, langsung melompat turun setelah melemparkan bungkusan besar ke tanah, tepat di depan kaki Ki Gawung, Ketua Perguruan Merak Emas. Langsung saja lelaki gagah itu melompat mundur dan menghunus pedang. Ki Gawung mengira orang yang baru datang itu telah melakukan serangan gelap.

"Ha ha ha...! Bukalah bingkisan itu yang kuhadiahkan padamu, Ki Gawung..!" ujar lelaki berwajah brewok seraya memperdengarkan tawanya yang parau dan besar.

Terkejut bukan main hati Ki Gawung merasakan adanya getaran tenaga dalam yang kuat dalam suara tawa lelaki brewok itu. Ditelitinya wajah di depannya itu dengan sorot mata tajam. Kemudian memerintahkan dua orang muridnya untuk membuka bungkusan besar yang tergeletak di atas tanah.

"Hahhh...?!"

Kedua murid utama Ki Gawung melompat mundur dengan wajah pucat! Betapa tidak? Bungkusan besar itu ternyata berisi tiga buah kepala yang telah dipisahkan dari badan. Tentu saja mereka kaget bukan main.

"Biadab...!" Ki Gawung mendesis pucat ketika melihat tiga kepala yang masih berdarah pada bagian batang lehernya. Melihat darah itu masih menetes segar, Ki Gawung pun tahu kalau kepala-kepala itu belum lama dipisahkan dari lehernya.

"Guru.... Itu... itu kepala Ketua Perguruan Pedang Baja...?!" desis salah seorang murid utama Ki Gawung sambil menunjuk sebuah kepala.

Sebenarnya, tanpa diberi tahu pun Ki Gawung telah tahu. Bukan hanya kepala Ki Genawang saja yang dikenalinya. Bahkan, dua buah kepala lainnya pun telah dapat dikenali dengan baik. Dua kepala itu adalah kepala Ki Randita, murid utama Ki Genawang, serta kepala Ki Kuntala atau Tapak Maut yang dikenal Ki Gawung sebagai pengawal pengantar barang. Dan, Tapak Maut merupakan salah seorang sahabatnya. Lelaki gagah itu tampak semakin bertambah pucat!

"Apa maksudmu dengan semua kebiadaban ini...?" desis Ki Gawung sambil meneliti wajah di depannya. Dia merasa pernah melihat wajah lelaki brewok itu. Sayang Ki Gawung tidak begitu ingat di mana pernah melihatnya.

"He he he...!"

Tiba-tiba terdengar kekeh serak yang membuat Ki Gawung mengalihkan perhatiannya, dan rupa akan pertanyaannya yang belum terjawab. Dan..., wajah lelaki tua itu kian memucat ketika pemilik tawa serak itu menghentikan langkahnya di samping lelaki berwajah brewok yang merupakan pimpinan rombongan penunggang kuda.

"Bardewa...?! Tidak salahkah penglihatanku...?!" desis Ki Gawung serak dengan tubuh menggigil seperti orang terserang demam. Karena pemilik suara tawa serak itu adalah Bardewa, muridnya yang ditemukan tewas sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, dia sendiri ikut menguburkan jenazah muridnya itu.

Lelaki kekar berkumis lebat itu memang Bardewa. Sedangkan lelaki berwajah brewok di sebelahnya adalah Ki Punjalu, murid Perguruan Pedang Baja, yang menjadi kepala bagian dapur di perguruan milik Ki Genawang itu. Bardewa tetap memperdengarkan tawanya yang serak. Tanpa mempedulikan wajah-wajah heran dan terkejut dihadapannya, lelaki kekar berkumis lebat itu enak saja menarik kulit wajahnya. Dan...

"Ahhh...?!" Ki Gawung dan dua orang murid utamanya kembali tersurut mundur ketika Bardewa menunjukkan wajah aslinya. Kiranya lelaki kekar berkumis lebat itu mengenakan sebuah topeng karet yang sangat tipis, hingga tidak berbeda dengan kulit asli.

Di samping terkejut, Ki Gawung pun merasa lega. Sebab, orang itu bukan Bardewa yang sesungguhnya. Dengan begitu, rasa bersalah di dalam hatinya lenyap bersama dengan terbukanya wajah asli lelaki kekar berkumis lebat, yang ternyata cukup tampan dan menarik, meskipun pada pipi kirinya terdapat luka memanjang.

"Kami berdua adalah murid-murid langsung Iblis Wajah Seribu yang tewas di tangan para pendekar. Guru-guru kalian semualah yang telah mengeroyoknya secara licik. Untuk membalas sakit hati itu aku dan adik seperguruanku, Galiang, menyelundup masuk ke dalam perguruanmu dan perguruan Ki Genawang," jelas lelaki berwajah brewok, membuat Ki Gawung segera teringat siapa sebenarnya lelaki brewok yang tadi tak dapat diingatnya itu.

"Kau..., Ki Punjalu...?!" desis Ki Gawung mulai dapat mengenali lelaki brewok itu ketika mengatakan dirinya menyelundup ke dalam Perguruan Pedang Baja. "Hm. Kiranya kalian berdua telah mengadu domba kami dengan menyamar sebagai Bardewa!"

"He he he ! Berteriaklah sepuas hatimu, Ki Gawung. Sebab, sebentar lagi kau akan menemani ketiga kepala tanpa tubuh itu. Dan, aku akan menguasai perguruan-perguruan besar di negeri ini. Ha ha ha...!" Ki Punjalu tertawa bergelak seraya menengadahkan kepalanya ke angkasa yang mulai diwarnai cahaya matahari pagi.

"Keparat! Jangan kau kira aku takut menghadapi kematian...!" geram Ki Gawung segera menyilangkan pedangnya di depan dada dan siap bertarung mati-matian. Demikian pula dengan dua orang murid utama di kiri dan kanan lelaki gagah itu. Mereka pun telah menghunus senjata. Dan siap mempertaruhkan nyawa demi kehormatan perguruan mereka.

"Hm..." Ki Punjalu hanya bergumam melihat lawan-lawannya telah siap bertarung. Setelah terdiam sesaat, tangannya segera terangkat ke atas dan mengibas ke depan sebagai isyarat bagi pengikut-pengikutnya untuk menyerbu.

"Heaaat..!"

"Haaat..!"

Dibarengi teriakan-teriakan ribut, puluhan pengikut Ki Punjalu bergerak menyerbu murid-murid Perguruan Merak Emas yang juga telah siap dengan senjata terhunus.

"Heaaa...!"

Tanpa rasa gentar sedikit pun, murid-murid Perguruan Merak Emas yang berjumlah sekitar tiga puluh orang itu langsung bergerak maju menyambut kedatangan lawan. Sebentar kemudian, pertempuran punberkobar. Dentang senjata terdengar memecah keheningan pagi. Jeritan kematian yang disusul tubuh-tubuh bersimbah darah, yang roboh termakan senjata lawan, mewarnai pertempuran seru itu.

Ki Gawung yang melihat murid-muridnya bertempur mati-matian, segera memutar pedangnya dengan sepenuh tenaga. Sebab, sebagai murid Iblis Wajah Seribu, Ki Punjalu pasti memiliki kepandaian yang tinggi dan belum tentu dirinya dapat menandingi tokoh itu. Sehingga, lelaki itu langsung mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menggempur lawan.

"Haaat..!"

Dengan sebuah pekikan nyaring, tubuh Ki Gawung meluncur ke arah lawan. Pedang di tangannya bergerak cepat membentuk gulungan sinar berpendar laksana ular bermain-main diangkasa.

Cwittt, cwittt cwittt..!

Sekali bergerak, Ki Gawung telah melontarkan tiga buah serangan sekaligus. Ujung senjatanya bergerak menusuk dan membacok dengan kecepatan yang mengagumkan.

Ki Punjalu yang telah bersiap menghadapi Ketua Perguruan Merak Emas, hanya bergumam pelan ketika melihat datangnya serangan lawan. Tubuh lelaki itu bergerak ke kiri dan kanan dengan lincahnya, menghindari incaran mata pedang lawan. Kemudian langsung membalas dengan tamparan dan tendangan yang cepat bukan main! Sehingga, Ki Gawung yang selama ini hanya mengenal Ki Punjalu sebagai kepala bagian dapur kaget dibuatnya.

Whuttt...!

"Ahhh...?!" Sebuah hantaman telapak tangan kanan lawan meluncur datang dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Untunglah pada saat terakhir pukulan itu tiba, lelaki gagah itu sempat memiringkan tubuhnya. Sehingga telapak tangan yang mengandung kekuatan hebat itu lewat di sampingnya. Tapi perubahan gerak yang dilakukan Ki Punjalu sama sekali di luar dugaan lawan. Telapak tangan yang berputar itu langsung menggedor dada Ki Gawung.

Desss!

"Hugkhhh...!" Ki Gawung terhuyung mundur terkena hantaman keras pada dadanya. Meskipun demikian, lelaki gagah itu ternyata dapat mempertahankan kuda-kudanya. Sehingga tidak sampai terjatuh.

"Haiiit..!"

Ki Punjalu kelihatannya ingin segera menyelesaikan pertarungan. Terbukti, lelaki itu tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi lawannya untuk memperbaiki kedudukan Saat lawan masih terhuyung, Ki Punjalu langsung menyusuli serangannya dengan dorongan dua telapak tangannya yang menerbitkan suara menderu keras.

Whuuut..! Bresssh!

"Hei...?!"

Pada saat yang berbahaya bagi keselamatan Ki Gawung, sesosok bayangan putih melesat dengan kecepatan tinggi, dan langsung menyambut dorongan dua telapak tangan Ki Punjalu. Akibatnya, tubuh lelaki berwajah brewok itu terdorong enam langkah ke belakang.

"Gila...?!" umpat lelaki itu segera menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Sehingga daya dorong itu terhenti dan Ki Punjalu dapat memperbaiki kuda-kudanya. "Pendekar Naga Putih...?!" desis Ki Punjalu kaget ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih, yang sekeliling tubuhnya terlapisi kabut bersinar putih keperakan, telah berdiri di depan Ki Gawung. Jelas, pemuda itulah yang telah menggagalkan pukulannya.

Di bagian lain pun telah terjadi perubahan besar. Galiang, murid kedua Iblis Wajah Seribu yang berhadapan dengan dua orang murid utama Ki Gawung, juga dilanda keterkejutan hebat. Lelaki itu baru saja hendak menghabisi kedua lawannya, ketika mendadak terpukul mundur oleh seorang dara jelita yang memasuki arena pertempuran.

"Keparat'" maki Galiang dengan wajah dilanda kemarahan hebat. Tanpa peduli siapa lawannya, lelaki kekar itu segera menyerbu dengan jurus-jurus andalannya yang sangat hebat dan mengerikan.

"Bagus...!" puji dara jelita berpakaian serba hijau yang tidak lain Kenanga. Setelah berkata demikian, tubuh rampingnya bergerak ke depan menyambut terjangan lawan. Sebentar, saja keduanya telah terlibat dalam pertarungan sengit.

Sedangkan kedua murid utama Ki Gawung segera menggabungkan diri dengan murid-murid lainnya. Keduanya mengamuk merobohkan para pengikut Ki Punjalu dengan sambaran pedangnya. Sehingga, murid-murid Perguruan Merak Emas yang semula terdesak kini ganti mendesak lawan. Kehadiran dua murid utama guru mereka membuat semangat yang semula pudar kembali menyala. Dan, menggempur musuh dengan semangat berapi-api.

Sementara itu, sosok berjubah putih yang tidak lain Panji telah bertarung melawan Ki Punjalu. Sedangkan Ki Gawung ikut menggabungkan diri dengan murid-muridnya untuk menggempur musuh. Ki Punjalu kelihatan sangat dendam sekali pada Pendekar Naga Putih. Hal itu terlihat dari gempuran-gempurannya yang datang laksana air bah. Sambaran angin pukulannya bersuitan menerbitkan putaran angin laksana badai topan. Ternyata kepandaian bekas kepala bagian dapur itu sangat hebat. Rupanya, kali ini lelaki itu menunjukkan siapa dirinya. Sebagai murid Iblis Wajah Seribu tentu Ki Punjalu telah mewarisi ilmu-ilmu tinggi yang sangat hebat.

"Haiiit...!" Untuk kesekian kalinya, pada jurus kedelapan puluh Ki Punjalu kembali mengeluarkan pekikan yang menggetarkan tempat itu. Pukulan-pukulannya meluncur datang dengan kecepatan kilat.

Dukkk, plak...!

"Uhhh...?!"

Tapi, yang harus dihadapi Ki Punjalu adalah seorang pendekar muda yang sangat hebat kepandaiannya. Bahkan, pengalaman bertarungnya tidak kalah oleh Ki Punjalu. Malah Pendekar Naga Putih telah menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya. Sehingga, sehebat apa pun lawan melancarkan serangan, selalu dapat dihindari dan ditepiskannya. Saat tubuh Ki Punjalu terjajar mundur. Panji langsung melayang ke depan dengan serangkaian serangan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti.'

"Yeaaat..!"

Bagaikan seekor naga sakti yang sedang murka, tubuh Panji bergerak cepat dan meliuk di udara. Kemudian meluncur turun dengan kecepatan laksana sambaran kilat di angkasa. Dan...

Desss!

"Aaakh...!" Ki Punjahi tidak sempat lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terlempar seperti selembar daun kering diterbangkan angin. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Jelas, gempuran telapak tangan Panji telah membuat tokoh itu terluka dalam.

Brakkk!

Luncuran tubuh Ki Punjalu masih terus menghantam sebatang pohon yang cukup besar, yang langsung berderak tumbang bersama tubuh lelaki tegap itu.

Panji sendiri sudah melayang menyusuli tubuh Ki Punjalu. Pendekar Naga Putih tidak ingin kehilangan lawan, yang bisa saja langsung melarikan diri. Karena terlempar keluar dari dalam perguruan. Ketika tiba di dekat tubuh Ki Punjalu, Panji hanya memperhatikan lawannya yang tengah berusaha berdiri tegak.

"Uhhh..." Ki Punjalu mengeluh dan terhuyung limbung. Rupanya, pukulan yang mengenai tubuhnya demikian hebat. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya lelaki itu masih belum bisa meredakan rasa sakit yang dideritanya. Tapi...

"Heaaah...!"

Mendadak tubuh Ki Punjalu yang terhuyung-huyung itu meluncur ke depan disertai dorongan kedua telapak tangannya. Benar-benar licik sekali serangan itu!

Sayangnya Panji telah memiliki pengalaman yang cukup dengan berbagai macam kelicikan lawan. Sehingga, saat serangan mendadak itu datang Panji sudah siap dengan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang tersalur ke kedua lengannya. Dan...

Bresssh.! Desss!

"Aaakh…!" Ki Panjalu tidak sempat lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terlempar deras kebalakang.

Brakkk!

Luncuran tubuh Ki Panjalu baru terhenti setelah menghantam sebatang pohon besar. Hebat sekali gempuran yang dilakukan Panji kali ini. Tanah di sekitar tempat itu bergetar! Bahkan pepohonan berderak ribut bagai dilanda angin topan! Sedangkan tubuh Ki Punjalu terlempar sejauh dua tombak, dan terbanting ke tanah tanpa bisa bergerak lagi. Tulang-tulang tubuh lelaki itu remuk terkena hantaman keras Pendekar Naga Putih.

Pada saat yang hampir bersamaan, Kenanga pun telah menyelesaikan pertarungannya. Kedua orang itu telah bertarung dengan menggunakan senjata, hingga Galiang terpaksa harus merelakan nyawanya terbang. Sambaran pedang dara jelita itu membuat perutnya robek dan ususnya berhamburan keluar. Galiang pun tersungkur tewas dengan tubuh bermandikan darah.

"Hentikan pertempuran...!" Setelah kedua gembong penjahat itu tewas, Panji berteriak menghentikan pertarungan antara Perguruan Merak Emas dengan para pengikut Ki Punjalu dan Galiang.

"Pemimpin kalian telah tewas! Sebaiknya kalian menyerah daripada kami bunuh...!" kembali Panji berteriak lantang ketika pertempuran terhenti dan kedua belah pihak bergerak mundur.

Tanpa banyak cakap lagi, para pengikut Ki Punjalu dan Galiang langsung melemparkan senjatanya ke tanah. Kemudian mereka duduk bersimpuh mohon ampunan pendekar muda itu

"Bagaimana, Ki Gawung...?" tanya Panji meminta pendapat Ketua Perguruan Merak Emas. Pemuda itu tidak ingin mengambil keputusan sendiri selagi masih ada orang yang lebih tua darinya.

"Hm...," Ki Gawung bergumam sambil mengelus jenggotnya yang berwarna dua. "Jika mereka bersedia menjadi muridku, aku akan memberi ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan"

"Nah! Kalian dengar sendiri, bukan! Ketua Perguruan Merak Emas berkenan menerima kalian sebagai murid-murid perguruan ini seandainya kalian bertobat dan meninggalkan jalan sesat!" seru Panji setelah mendengar keputusan Ki Gawung.

Tanpa berpikir panjang lagi, para pengikut Ki Gawung langsung menyatakan kesediaannya. Sehingga, Panji dan yang lainnya menjadi lega. Kemudian pemuda itu memanggil salah seorang pengikut Ki Punjalu, dan menanyakan tentang perampokan di Hutan Ngarai. Panji menduga pelaku perampokan itu pastilah Ki Punjalu dan Galiang beserta kawan-kawannya. Dugaan Panji ternyata tidak meleset. Orang itu langsung mengakui bahwa perampokan itu memang perbuatan mereka. Lalu, menunjukkan di mana harta rampokan itu disimpan.

"Ki Gawung. Karena kami berdua masih ada kepentingan lain, harap kau sudi memaafkan bila kami tidak bisa lebih lama," pamit Panji dan Kenanga kepada Ki Gawung, setelah mendapatkan keterangan jelas dari anak buah Ki Punjalu.

Ketua Perguruan Merak Emas tidak bisa berbuat lain. Lelaki tua itu melepas kepergian pasangan pendekar muda itu dengan tatapan mata penuh haru. Karena berkat jasa merekalah perguruannya tidak sampai musnah. Setelah bayangan Panji dan Kenanga hilang dari pandangan, Ki Gawung memerintahkan murid-muridnya untuk membereskan tempat itu. Ketua Perguruan Merak Emas pun melangkah masuk ke dalam bangunan utama.

S E L E S A I

Pewaris Dendam Sesat

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pewaris Dendam Sesat
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

SUARA roda pedati berderak ribut ketika melintasi jalan berbatu. Sesekali terdengar suara ringkikan kuda, ditingkahi ledakan cambuk yang melecut punggung binatang itu.

"Hahhh...!" Ctarrr!

Dengan susah-payah kuda jantan berbulu hitam itu bergerak maju. Sengatan ujung cambuk di punggungnya semakin kerap terdengar, membuat binatang itu menyentek-nyentak. Enam orang berpakaian serba hitam termasuk kusir pedati, nampaknya menyadari medan berat yang harus dilewati. Terbukti, empat orang dari mereka berlompatan turun untuk mengurangi beban yang harus ditarik kuda pedati.

Perjalanan baru terasa agak lancar setelah keempat lelaki itu mendorong pedati dari belakang. Sehingga beberapa saat kemudian, mereka sudah keluar dari jalan berbatu, dan kini menyusuri jalan tanah merah yang rata.

"Cepat kalian naik! Kita harus segera tiba di Desa Babakan...!" teriak kusir pedati ketika mereka sudah melewati jalan berbatu yang sulit dilalui itu.

"Tidak usah, Kakang Punjalu! Biar kami jalan kaki saja...," sahut seorang di antara mereka. Dia bertubuh tegap dengan kulit wajah kemerahan, pertanda kesehatannya sangat diperhatikan.

"Terserah kalianlah...," sahut kusir pedati berusia kira-kira empat puluh lima tahun, yang dipanggil Punjalu.

Wajah laki-laki itu ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar dagu dan kedua sisi wajah, membuatnya terlihat cukup berwibawa. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang tajam dengan alis mata tebal berbentuk golok. Sehingga, penampilannya membuat orang menaruh hormat. Pedati pun bergerak cepat melintasi jalanan tanah merah, hingga tak berapa lama kemudian, mereka memasuki mulut Desa Babakan.

Setelah menitipkan pedati di sebuah muka kedai, keenam lelaki itu pun membaur dengan orang-orang desa yang tampak ramai hilir-mudik. Rupanya di Desa Babakan saat itu tengah diadakan pasar, yang hanya sekali dalam satu pekan. Usai membeli segala keperluan, Ki Punjalu mengajak kawan-kawannya singgah di kedai tempat mereka menitipkan pedati.

"Semua keperluan sudah kita dapatkan. Sekarang lebih baik kita beristirahat untuk melepas lelah. Menjelang siang nanti, baru kita kembali," ujar Ki Punjalu saat mengumpulkan kawan-kawannya. Kemudian, baru mereka masuk ke dalam kedai.

Belasan pasang mata menoleh saat Ki Punjalu dan kawan-kawannya memasuki kedai. Beberapa di antaranya tampak memancarkan sinar mata mengejek. Tapi, semua itu tidak dipedulikan. Ki Punjalu terus saja melangkah menuju dua buah meja kosong, lalu memesan makanan dan minuman. Tidak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun tiba. Tapi, Ki Punjalu mengerutkan kening saat melihat makanan yang mulai diatur pelayan di atas meja.

"Paman, bukankah kami tidak memesan ayam panggang?" tegur Ki Punjalu menyembunyikan keheranan. "Mungkin Paman salah melihat orang."

"Lelaki di sebelah sana itu yang memesankannya untuk Tuan-tuan sekalian. Katanya, sebagai tanda persahabatan...," sahut pelayan kedai seraya menoleh ke bagian sudut kanan ruangan itu, di sana terlihat empat orang pengunjung yang menoleh dan mengangguk ke arah Ki Punjalu dan kawan-kawannya.

"Hm... Katakan padanya, kami menerima uluran persahabatannya dengan tangan terbuka. Tapi, katakan juga bahwa kami tidak bisa menerima pemberiannya," ujar Ki Punjalu yang membalas anggukan persahabatan orang itu. "Baik, akan kusampaikan padanya...," sahut pelayan kedai dan segera membawa dua ekor ayam panggang itu meninggalkan meja Ki Punjalu.

"Hmh..." Lelaki berkumis lebat yang memesankan ayam panggang sebagai tanda persahabatan untuk Ki Punjalu tampak menggeram gusar. Kelihatan sekali dia merasa tersinggung atas penolakan itu.

"Sombong sekali mereka tidak mau menerima pemberian kita! Jelas ini merupakan suatu penghinaan...!" geram yang lainnya sambil mengepalkan tinju kuat-kuat. Rupanya penolakan Ki Punjalu membuat mereka tak senang. Setelah saling bertukar pandang sejenak, lelaki berkumis lebat itu melambaikan tangannya memanggil pelayan yang sudah kembali ke tempatnya. Bergegas pelayan itu datang menghampiri.

"Tolong sediakan sayur-mayur mentah untuk keledai kami. ," pinta lelaki berkumis lebat itu dengan suara lantang hingga terdengar oleh semua pengunjung kedai. Pelayan kedai itu tertegun sejenak. Sepertinya dia merasa heran mendengar pesanan yang aneh itu.

"Tapi..."

"Cepat sediakan! Keledai-keledai kami belum makan sejak kemarin malam!" sergah lelaki berkumis lebat itu ketika melihat keraguan di wajah pelayan kedai.

"Baik..., Tuan...," sahut pelayan kedai itu takut jika lelaki berkumis lebat itu menjadi marah. Cepat dia berlalu untuk menyiapkan pesanan itu.

"Kurang ajar! Mereka jelas telah menghina kita, Kakang! Agaknya orang-orang itu tahu pasti tentang peraturan yang berlaku di perguruan kita. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengirimkan ayam panggang! Kemudian berteriak-teriak memesan sayur-mayur mentah! Kurasa kitalah yang dimaksudkannya sebagai keledai-keledai itu!" geram rekan Ki Punjalu, merasa tersinggung dengan tingkah dan ucapan lelaki berkumis lebat itu.

"Tidak perlu diladeni, Bolang. Sebaiknya, cepat selesaikan makanmu. Setelah itu kita tinggalkan tempat ini. ," ujar Ki Punjalu pada lelaki bernama Bolang.

Semula Bolang hendak membantah. Tapi ketika melihat sinar mata Ki Punjalu, lelaki tegap berusa sekitar tiga puluh tujuh tahun itu merunduk, dan bergegas menyelesaikan makannya. Ki Punjalu melambaikan tangan memanggil pelayan kedai untuk menghitung harga pesananannya. Setelah itu dia bergegas mengajak kawan-kawannya meninggalkan kedai.

"Kakang, apakah kau sudah mengikat keledai kita kuat-kuat? Sepertinya aku mendengar suara langkah mereka yang hendak melarikan diri. Hhh… keledai-keledai pengecut! Jelas binatang-binatang itu takut mendengar auman harimau...," ucapan lelaki gemuk itu terdengar lantang. Kemudian dilanjutkan dengan suara tawa berderai. Agaknya, keempat orang itu memang sengaja hendak mencari keributan dengan kelompok Ki Punjalu.

"Bedebah! Aku tidak suka dihina sebagai keledai-ketedai pengecut!" Bolang yang sejak tadi berusaha keras menahan amarahnya, menggeram murka. Tanpa menoleh ke arah Ki Punjalu, lelaki tegap itu langsung bergerak menghampiri meja lelaki berkumis lebat yang saat itu tengah tergelak bersama kawan-kawannya.

Ki Punjalu menghela napas panjang. Dia tidak dapat lagi mencegah tindakan Bolang. Apalagi keempat kawannya yang lain kelihatan mendukung tindakan lelaki tegap itu.

Brakkk!

Dengan kemarahan yang meluap-luap, Bolang menggebrak meja tempat keempat orang itu berada. Tentu saja kejadian itu membuat seisi kedai kaget. Terutama keempat lelaki yang tadi tertawa tergelak-gelak itu.

"Aku paling pantang dihina sebagai pengecut! Kalian rupanya sengaja hendak mencari keributan dengan kami, bukan? Nah. Kalau begitu, hadapi aku dengan sikap jantan! Jangan seperti perempuan nyinyir yang hanya bisa mengomel di balik dinding!" bentak Bolang setelah menghancurkan meja dengan hantaman telapak tangannya.

"Kisanak! Apa yang membuatmu datang tanpa kami undang dan marah-marah tanpa sebab? Kalau memang hendak menantang berkelahi, mengapa harus mencari alasan segala? Kami tentu akan menerima baik tantanganmu...," ujar lelaki berkumis lebat yang bertubuh tegap. Sepasang matanya mencorong tajam meneliti wajah Bolang yang merah.

"Hem.... Sudah jelas kau yang sengaja mencari perkara. Mengapa sekarang hendak memutarbalikkan kenyataan? Apa kau takut merasakan pukulanku...?" sahut Bolang semakin jengkel melihat lelaki berkumis lebat itu menyalahkannya.

"Heh?! Dari mana kau menduga kami hendak mencari perkara dengan badut sepertimu? Semua pengunjung kedai melihat dengan mata kepala sendiri, kau datang dan langsung marah-marah serta menghancurkan meja kami. Apakah tidak boleh kami berbicara di antara kawan sendiri?" kilah lelaki berkumis lebat itu.

Ucapan itu tentu saja membuat Bolang kaget. Apalagi ketika pandangannya diedarkan ke sekeliling. Tampak semua pengujung terlihat mengangguk-angguk membenarkan ucapan lelaki berkumis lebat itu. Karena mereka memang tidak tahu mengapa Bolang begitu datang langsung marah-marah. Sehingga, mereka ikut mendukung ucapan lelaki berkumis lebat itu. Akibatnya, Bolang menjadi tersudut.

"Bangsat licik! Kau memang pantas diberi pelajaran..!" bentak Bolang yang merasa kalah dalam berdebat. Maka, dia langsung menerjang maju dengan tamparan bertubi-tubi.

"Hmh...!" Lelaki berkumis lebat itu menarik mundur kursinya ketika melihat serangan Bolang. Dan terus melompat menjauhi lawan.

"Kisanak! Orang-orang di dalam kedai ini menjadi saksi kalau kau yang memulai perkelahian! Jadi, jangan salahkan aku kalau akan membalas bila kau tak mau pergi...!" ujar lelaki berkumis lebat itu mengancam. Seolah memang dirinyalah yang benar dalam persoalan itu. Dan, para pengunjung kedai pun seperti berpihak kepadanya.

"Adi Bolang, tahan...!" Ki Punjalu yang melihat sikap para pengujung kedai memihak lelaki berkumis lebat itu, segera melayang ke arah kawannya. Maksudnya hendak membawa Bolang pergi dari tempat itu.

"Hei, rupanya kalian hendak mengeroyokku!" teriak lelaki berkumis tebat, seolah ingin memperlihatkan pada para pengunjung kedai bahwa tindakan Ki Punjalu bukan untuk memisahkan perkelahian. Sebaliknya malah hendak membantu kawannya. Tentu saja para pengunjung semakin memihak lelaki berkumis lebat itu, ketika melihat seorang lelaki gagah melayang maju ke arah perkelahian.

"Hajar saja mereka, Kakang Bardewa...!" seru salah seorang kawan lelaki berkumis lebat, membuat para pengunjung kedai meneriakkan kata yang sama.

"Haaat..!" Lelaki berkumis lebat bernama Bardewa yang sadar mendapat banyak dukungan bahwa dirinya berada di pihak yang benar, langsung bergerak maju menerjang Ki Punjalu yang saat itu masih melayang di udara.

"Licik...!" geram Ki Punjalu melihat Bardewa sudah melancarkan serangan yang berbahaya. Kenyataan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Haaat..!" Ki Punjalu segera mengangkat kedua tangannya memapaki serangan Bardewa. Dan....

Plak! Plak!

"Aihhh...!" Terkejut bukan main hati Ki Punjalu. Sebab, tenaga lawan ternyata sangat kuat. Sehingga tubuhnya terdorong balik dan terhuyung beberapa langkah, membuat dua meja terlanggar jatuh. Menyaksikan hal itu, kawan-kawan Ki Punjalu pun kaget! Serentak mereka maju untuk menolong lelaki gagah itu bangkit.

Lagi-lagi Bardewa melontarkan kata-kata liciknya. Kemudian mengajak kawan-kawannya untuk menyambut kedatangan kawan-kawan Ki Punjalu yang sesungguhnya tidak bermaksud ingin berkelahi.

"Celaka! Mereka hendak mengeroyok! Ayo, Kawan-kawan! Kita sambut mereka...!" teriak Bardewa seraya memasang wajah kaget. Sedang dia sendiri sudah bergerak maju dengan serangan yang lebih hebat dari semula.

Ki Punjalu dan kawan-kawannya semakin kaget. Sadar kalau perkelahian sudah tidak mungkin bisa dihindari lagi, mereka pun bergegas menyambut serangan lawan- lawannya. Sehingga sebentar saja pecahlah perkelahian itu. Bolang yang kemarahannya sudah mencapai puncak, langsung menghunus senjata. Kemudian merangsek maju dengan kelebatan pedang yang menimbulkan suara berdesingan.

Brakkk! Brakkk!

Beberapa buah meja dan kursi yang berada di dekat Bardewa, langsung beterbangan patah terkena sabetan pedang Bolang. Bardewa kelihatan sangat kaget dengan kejadian itu. Cepat kawan-kawannya diperintahkan mundur, kemudian meneriakkan kata-kata liciknya.

"Celaka! Mereka mau membunuh kita...?!" serunya dan memerintahkan kawan-kawannya untuk mencabut senjata.

Ki Punjalu pun kaget melihat tindakan Bolang. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena saat itu Bardewa dan kawan-kawannya sudah menghunus senjata. Demikian pula dengan keempat orang kawan Ki Punjalu. Mereka sudah menggenggam senjata telanjang.

"Kalian orang-orang Perguruan Pedang Baja benar-benar tidak tahu diri dan sangat kejam! Hanya karena persoalan sepele saja, kalian hendak mencabut nyawa kami! Tapi, jangan harap kami akan mundur...!" seru Bardewa, kembali melontarkan kesalahan pada Ki Punjalu dan kawan-kawannya yang ternyata murid-murid Perguruan Pedang Baja.

Dan sebelum Ki Punjalu menjawab ucapan itu. Bardewa sudah memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerbu. Tidak ada jalan lain bagi lelaki itu untuk menghindari pertempuran. Satu-satunya jalan adalah menghadapi serangan lawan, kalau tidak mau mati konyol!

"Haaat..!"

Bardewa menerjang maju mendahului kawan-kawannya. Pedang di tangannya berkelebatan cepat membawa desingan angin tajam. Sebentar kemudian, pertempuran pun sudah berlangsung sengit. Kedua belah pihak saling terjang dengan hebatnya. Bahkan kali ini dengan senjata di tangan yang siap merenggut korban.

"Yeaaat...!"

"Haiitt..!"

Ki Punjalu yang berhadapan dengan Bardewa semakin kaget ketika merasakan kehebatan lelaki berkumis lebat itu. Dalam jurus-jurus awal Ki Punjalu kelihatan masih bisa mengimbangi permainan lawan. Tapi, setelah lewat tiga puluh jurus, barulah Ki Punjalu sadar Bardewa bukan tandingannya. Dia pun mulai terdesak hebat.

Apa yang dirasakan Ki Punjalu juga dirasakan oleh murid-murid Perguruan Pedang Baja lainnya. Meskipun lawan mereka hanya berjumlah tiga orang, tapi mereka memiliki kemampuan tinggi. Sehingga, Bolang dan kawan-kawannya terpaksa harus memperkuat benteng pertahanan. Meskipun begitu, mereka masih juga dapat didesak mundur. Sehingga, pertempuran semakin bergeser ke luar ruangan kedai.

"Haaat..!"

"Ahhh...?!"

Salah seorang murid Perguruan Pedang Baja yang terakhir keluar dari ruangan kedai, terkejut bukan main, melihat seorang lawannya datang dengan tusukan pedang yang sulit dihindari. Sehingga....

Crab!

"Aaa.!"

Darah segar menyembur keluar ketika ujung pedang yang runcing itu amblas hampir separuhnya. Belum lagi murid Perguruan Pedang Baja itu menyadari apa yang terjadi, lawan telah menarik keluar senjatanya. Sehingga, tubuh orang itu langsung melorot jatuh dan tewas seketika.

Melihat kenyataan itu, Ki Punjalu menjadi kaget. Hatinya benar-benar sedih sekali. Bagaimana dia harus melaporkan kejadian itu kepada gurunya bila kembali ke perguruan nanti? Apalagi perkelahian itu mempunyai banyak saksi yang terdiri dari penduduk Desa Babakan. Dan, penduduk desa itu tahu bahwa merekalah yang memulai perkelahian lebih dulu. Dengan demikian, mereka berada di pihak yang salah. Kelengahan karena memikirkan pertanggungjawaban di hadapan gurunya, membuat Ki Punjalu harus menerima akibatnya. Sebuah tendangan lawan pada tubuhnya, membuat lelaki itu terjungkal melanggar dinding ruangan kedai.

Brakkk!

Dinding kedai yang terbuat dari kayu langsung jebol terlanggar tubuh Ki Punjalu yang terlempar ke luar. Sedangkan Bardewa tampaknya tidak ingin membiarkan lawannya lolos. Lelaki berkumis lebat itu sudah mengejar dengan putaran pedangnya, yang membuat Ki Punjalu berusaha mati-matian menyelamatkan diri dari incaran senjata lawan.

Desss...!

Lagi-lagi lelaki itu tidak dapat menghindarkan sebuah tendangan keras saat tubuhnya melenting bangkit. Akibatnya, tubuh Ki Punjalu kembali terlempar dan jatuh berguling-guling. Darah segar tampak meleleh keluar dari sela bibirnya.

"Aaa...!"

Kembali terdengar jerit kematian dari pertempuran lainnya. Ki Punjalu semakin pucat ketika melihat Bolang tersungkur mandi darah. Sedangkan kawan-kawannya yang lain sudah bergeletakan tewas! Jelas, Bolang merupakan orang terakhir yang dibantai lawan-lawannya. Sehingga, hanya Ki Punjalu-lah yang masih selamat sampai detik itu, kecuali hanya luka memar yang tidak begitu mengkhawatirkan.

Bardewa tidak melanjutkan serangannya. Lelaki berkumis lebat itu seperti hendak memamerkan kalau dirinya orang gagah yang tidak ingin menyerang lawan yang tak berdaya. Maka, dibiarkannya Ki Punjalu bangkit berdiri.

"Hm.... Kulihat kau lebih sabar dan bijaksana dari kawan-kawanmu yang lain. Untuk itu aku memberi kelonggaran padamu. Biarlah kelima orang kawanmu saja yang menebus kesalahan kalian. Kau sendiri akan kubebaskan...," ujar Bardewa.

Para penduduk yang berada di dalam kedai mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan itu. Mereka memuji kebesaran hati dan kegagahan Bardewa yang mau mengampuni Ki Punjalu.

"Keparat! Mengapa kau tidak bunuh aku sekalian...!" geram Ki Punjalu marah mendengar ucapan lawannya. Sayang, dia tidak bisa mengejar ketika Bardewa dan ketiga kawannya bergerak meninggalkan tempat itu. Ki Punjalu hanya bisa menggertakkan giginya kuat-kuat. Hatinya benar-benar terpukul dengan kejadian itu, karena hanya dirinya yang selamat

Sudah pasti, dirinyalah yang harus mempertanggungjawabkan semua ini di hadapan gurunya. Ki Punjalu menghela napas panjang. Sekilas kepalanya menoleh ke arah kerumunan penduduk dan pengunjung kedai yang menatapnya dengan wajah sinis. Ketika melihat pelayan kedai ada di antara para penonton, bergegas dihampirinya.

"Kau tahu dari mana asal mereka...?" tanya Ki Punjalu tanpa basa-basi. Karena disadari kalau pelayan kedai itu juga menyalahkan dirinya atas kejadian itu.

"Orang-orang Perguruan Merak Emas adalah laki-laki gagah yang berbudi. Mereka mengganti kerusakan yang diderita kedai ini. Seharusnya kau berterima kasih karena tidak dibunuhnya, Orang Tua...," ujar pelayan kedai yang tidak lagi menyebut tuan pada Ki Punjalu.

Sikapnya pun terlihat meremehkan dan menyalahkan lelaki itu, membuat Ki Punjalu menahan kejengkelan hatinya. Karena dia tentu akan semakin dipersalahkan bila menghajar pelayan kedai itu. Dengan diiringi pandang mata mencemooh dari penduduk Desa Babakan, Ki Punjalu menghela kudanya meninggalkan desa itu. Kelima kawannya dimasukkan ke dalam pedati. Tidak dipedulikannya lagi darah kawan-kawannya telah mengotori dan merusak segala keperluan yang dibelinya dari pasar di desa itu.

DUA

Kedatangan Ki Punjalu dengan membawa luka-luka dan lima sosok mayat, membuat murid-murid perguruan itu marah. Agaknya, mereka sudah dapat menduga kalau Ki Punjalu dan kawan-kawannya telah bertarung dengan orang luar. Tak heran, jika di antara murid-murid yang menyambut kedatangan lelaki itu, melontarkan pertanyaan sebagai ungkapan rasa penasaran mereka.

"Apa yang terjadi, Kakang...?"

"Siapa yang melakukan perbuatan ini, Kakang...?"

Ki Punjalu tidak mempedulikan pertanyaan-pertanyaan yang memberondong dirinya. Dia hanya melemparkan pandang dengan wajah berduka tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

"Aku akan menghadap guru...," ujar Ki Punjalu setelah menghentikan pedati dan melompat turun dari tempat duduknya. Setelah memerintahkan kawan-kawannya untuk menurunkan mayat di dalam pedati, Ki Punjalu melangkah lunglai menuju bangunan utama Perguruan Pedang Baja. Meskipun hati mereka masih penasaran, murid-murid perguruan segera mematuhi perintah Ki Punjalu. Mereka mengiringi langkah lelaki setengah baya itu sambil membawa mayat-mayat kawan mereka.

Ki Genawang, Ketua Perguruan Pedang Baja yang mendengar ribut-ribut itu sudah menanti di ruang pertemuan. Wajah lelaki tua bertubuh tinggi besar dengan kumis lebat itu, tampak menggambarkan beribu pertanyaan ketika melihat Ki Punjalu datang menghadap. Di kiri dan kanan Ki Genawang berdiri dua orang lelaki gagah bermata tajam. Wajah keduanya juga memancarkan rasa penasaran yang dalam.

"Ceritakan apa yang sudah terjadi, Punjalu...?" Begitu Ki Punjalu duduk bersimpuh di dekatnya, Ki Genawang langsung melemparkan pertanyaan yang sejak tadi sudah berada di ujung lidahnya. Jelas, lelaki tua itu sudah tidak sabar ingin segera mengetahui kejadian yang dialami Ki Punjalu serta lima orang murid lainnya.

"Kami..., diserang oleh murid-murid Perguruan Merak Emas, Guru...," jawab Ki Punjalu segera menceritakan kejadiannya. Sehingga, semua orang yang mendengarkannya menggeram marah. Jelas sekali terlihat pancaran dendam dan penasaran di wajah mereka.

"Hm.... Tidak mungkin mereka berani melontarkan hinaan-hinaan itu tanpa sesuatu sebab. Jawab sejujurnya, apakah kalian yang memulai keributan itu...?" tanya Ki Genawang lagi, ingin mengetahui secara jelas sebab kejadian itu.

"Kami sungguh tidak menginginkan keributan itu, Guru. Bahkan kami berusaha menghindarinya. Tapi, mereka malah mengejek kami sebagai keledai pengecut. Sehingga, Adi Bolang tidak dapat menahan kemarahannya. Selanjutnya..., keributan tidak bisa dihindarkan lagi...," sahut Ki Punjalu dengan suara perlahan namun terdengar jelas oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.

"Lalu..., kau biarkan kawan-kawanmu bertarung sedang kau hanya menyaksikan dari jauh, begitu...?" ujar Ki Genawang membuat Ki Punjalu serta murid-murid lainnya terkejut. Sebab, guru mereka ternyata malah menyalahkan Ki Punjalu. Tentu saja mereka menjadi penasaran meskipun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ampun, Guru...," salah seorang murid utama yang berdiri di sebelah kanan Ki Genawang berkata perlahan sambil membungkukkan tubuhnya. "Tidak seharusnya Ki Punjalu disalahkan dalam masalah ini. Rasanya pukulan batin yang dideritanya sudah terlalu berat. Dan, bukan tidak mungkin murid-murid Perguruan Merak Emas memang sengaja membebaskannya. Dengan demikian, Ki Punjalu akan dipersalahkan, karena hanya dia sendiri yang selamat, sedang yang lainnya terbunuh. Untuk itu, kami memohon kebijaksanaan Guru agar tidak menjatuhkan kesalahan pada Ki Punjalu."

Ucapan murid utama Perguruan Pedang Baja yang bernama Gumarta itu ternyata mendapat dukungan murid-murid lainnya. Sehingga, Ki Genawang terdiam beberapa saat lamanya. Seolah lelaki tua itu tengah memikirkan tindakan selanjutnya sehubungan dengan kejadian itu.

"Baiklah. Aku tidak akan memberikan hukuman yang akan memberatkan Punjalu dan membuat penasaran kalian semua," ujar Ki Genawang setelah menarik napas panjang sejenak. "Meskipun demikian, aku melarang Punjalu untuk meninggalkan perguruan sampai ada keputusan berikutnya. Sedangkan mengenai perbuatan murid-murid Perguruan Merak Emas aku akan meminta pertanggungjawaban ketuanya. Keputusan ini sudah menjadi ketetapan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat lagi..."

"Terima kasih atas kebijaksanaan Guru. Hukuman itu akan kuterima dengan hati lapang..," ujar Ki Punjalu bersujud di hadapan gurunya.

"Bagus...," gumam Ki Genawang puas melihat sikap menerima Ki Punjalu. Kemudian lelaki tua itu membubarkan pertemuan, dan memerintahkan untuk mengubur kelima mayat itu.

"Apa yang akan kita lakukan atas tindakan murid-murid Perguruan Merak Emas yang telah melampaui batas itu. Guru...?" tanya Gumarta setelah semua murid-murid pergi, hingga hanya tinggal Ki Genawang serta dua orang murid utamanya termasuk Gumarta.

"Hm.... Aku akan mendatangi Perguruan Merak Emas bersama kakak seperguruanmu. Kau sendiri kuberi tugas untuk mengawasi perguruan selama aku pergi. Apakah kau sanggup, Gumarta?" ujar Ki Genawang seraya menatap Gumarta lekat-lekat.

"Sanggup, Guru. Mudah-mudahan persoalan ini dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah...," sahut Gumarta tanpa keraguan sedikit pun. Meski tugas yang diterimanya sangat berat.

"Bagus. ," puji Ki Genawang tersenyum tipis. Kemudian, lelaki tua itu memerintahkan Ki Randita untuk menyiapkan perbekalan selama perjalanan menuju Perguruan Merak Emas. Karena perjalanan itu memakan waktu dua hari untuk tiba di tempat tujuan mereka.

********************

Matahari sudah tinggi saat dua orang lelaki gagah bergerak memasuki mulut Desa Babakan. Dari langkah mereka yang ringan dan mantap, dapat ditebak kalau kedua orang itu bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah Ki Genawang, Ketua Perguruan Pedang Baja, dan Ki Randita murid utama dari lelaki gagah di sebelahnya. Rupanya, mereka baru tiba di Desa Babakan setelah menempuh perjalanan selama setengah hari penuh tanpa beristirahat.

"Menurut penuturan Ki Punjalu, di desa inilah mereka berselisih dengan murid-murid Perguruan Merak Emas, Guru...," ujar Ki Randita yang berusia sekitar lima puluh tahun. Ucapan itu dilontarkan saat mereka sudah memasuki mulut desa.

"Hm..." Ki Genawang hanya bergumam sebagai jawaban atas ucapan muridnya. Sepasang matanya yang tajam menusuk bergerak meneliti rumah-rumah penduduk yang terlihat agak jarang. Sepertinya, Ki Genawang tengah mencari kedai tempat terjadinya peristiwa yang membuat murid-muridnya menjadi korban.

"Ingat Randita. Kita tidak perlu bertanya mengenai kejadian itu. Karena menurut dugaan Punjalu, orang-orang desa ini lebih berpihak pada murid-murid Perguruan Merak Emas. Kalau sampai penduduk desa ini tahu kita orang-orang Perguruan Pedang Baja, mungkin mereka akan bersikap memusuhi kita. Untuk itu, lebih baik kita mengambil sikap diam dan mendengarkan bila ada pembicaraan yang menyinggung peristiwa itu," ujar Ki Genawang sambil mengayunkan langkah menyusuri jalan utama Desa Babakan. Mereka kemudian berbelok ke sebuah kedai makan yang juga menyediakan penginapan bagi pendatang-pendatang yang kemalaman dijalan.

Dengan sikap tenang dan langkah dilambatkan, mereka memasuki kedai makan itu. Kemudian memesan makanan, setelah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang hanya terdapat enam orang pengunjung. Mengingat saat itu hari sudah menjelang malam, kedua orang itu pun menduga mereka orang-orang asing di Desa Babakan seperti halnya mereka berdua.

"Kisanak, apakah masih ada kamar kosong untuk kami berdua menginap?" tanya Ki Genawang ketika pelayan kedai datang dan mengatur hidangan di atas meja.

"Masih, Tuan. Tapi, hanya ada satu kamar. Maklumlah, penginapan ini memang tidak menyediakan banyak kamar. Karena desa ini jarang didatangi orang-orang dari luar. Kebetulan malam ini ada enam orang pedagang yang hendak bermalam. Jadi hanya tinggal satu kamar saja yang masih kosong," sahut pelayan kedai itu menjelaskan.

"Hm.... Ada berapa tempat tidur dalam kamar itu...?" tanya Ki Genawang lagi. "Satu, Tuan. Tapi, kalau Tuan berdua tidak keberatan menginap dalam satu kamar, kami akan menyediakan satu tempat tidur lagi," jawab pelayan kedai, membuat Ki Genawang dan muridnya saling berpandangan sesaat.

"Baiklah. Tolong kau rapikan kamar itu untuk kami...," ujar Ki Genawang setelah mendapat kata sepakat untuk bermalam dalam satu kamar dengan muridnya.

Setelah memberi hormat pelayan kedai itu pun bergerak meninggalkan meja Ki Genawang untuk membereskan kamar yang akan digunakan kedua orang tamunya itu. Beberapa saat sepeninggal pelayan kedai, tampak empat orang lelaki berpakaian serba hitam melangkah masuk. Salah seorang yang berkumis lebat mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, dan berhenti pada sosok Ki Genawang dan Ki Randita. Tatapan sepasang mata lelaki berkumis lebat itu terhenti agak lama. Terlihat keningnya berkerut ketika melihat hidangan di atas meja guru dan murid itu yang hanya terdiri dari sayur-sayuran. Orang-orang Perguruan Pedang Baja memang pantang memakan barang bernyawa.

"Hm...," lelaki berkumis lebat bergumam sambil menyunggingkan senyum mengejek.

Ki Genawang dan muridnya yang kebetulan menoleh saat keempat orang itu masuk, juga menatap dengan kening berkerut. Karena sosok lelaki berkumis lebat itu sangat cocok dengan penjelasan Ki Panjalu, tentang ciri-ciri orang yang menyerang murid-muridnya. Tapi Ki Genawang segera memalingkan wajahnya. Dan kembali menikmati hidangan tanpa mempedulikan kehadiran keempat orang itu.

"Hm.... Kiranya Ketua Perguruan Pedang Baja sendiri yang datang hendak menuntut balas!" desis lelaki berkumis lebat yang tak lain Bardewa, orang yang telah membunuh lima orang murid Ki Genawang.

Ucapan itu tentu saja membuat Ki Genawang kembali menoleh. Sepasang mata lelaki tua itu tampak berkilat menyembunyikan kemarahan hatinya. Dia memang sudah berusaha menghindari pandang mata lelaki berkumis lebat, karena siapa tahu hanya ciri-cirinya saja yang mirip. Tapi, begitu mendengar ucapan bernada menyindir dari lelaki berkumis lebat itu, tahulah Ki Genawang bahwa pelaku pembunuhan murid-muridnya adalah empat orang yang baru datang itu.

Kenyataan ini membuat amarah Ketua Perguruan Pedang Baja bangkit. Andaikata benar muridnya yang memulai perkelahian itu, tetap saja dia tidak senang, dan lebih suka memberi hukuman sendiri daripada dibunuh oleh orang lain. Karena itu merupakan penghinaan bagi kehormatannya sebagai Ketua Perguruan Pedang Baja.

Setelah mendengar perkataan itu, Ki Genawang langsung bangkit dari duduknya. Ditatapnya sosok lelaki berkumis itu dan ketiga orang kawannya, yang juga menentang pandang mata Ki Genawang tanpa rasa gentar sedikit pun. Perbuatan itu saja sudah menyinggung kehormatan Ki Genawang. Sehingga, kemarahan orang tua itu semakin menjadi-jadi.

"Rupanya kalian yang telah membantai murid-muridku secara kejam! Katakan, siapa kalian sebenarnya? Dan mengapa begitu memusuhi orang-orang Perguruan Pedang Baja? Padahal, seingatku kami tidak pernah mencari permusuhan dengan partai mana pun!" desis Ki Genawang masih menekan kemarahannya ketika teringat yang dihadapinya murid-murid biasa, yang menurutnya tidak terlalu pantas untuk berhadapan dengannya.

"Mengenai siapa kami sebenarnya, aku yakin kau sudah tahu, Ki Genawang. Jadi tidak usah berpura-pura lagi! Kalian orang-orang Perguruan Pedang Baja memang angkuh dan terlalu memandang rendah orang lain! Selain itu, kau sebagai ketua perguruan sepertinya tidak pantas untuk menduduki jabatan yang terhormat itu. Karena kau tidak becus mendidik tata krama pada murid-muridmu yang pemberang itu!" jawab Bardewa memutar balikkan ucapan Ki Genawang.

"Hm.... Siapa kau, Kisanak? Sepanjang ingatanku, Ki Gawung tidak mempunyai murid sepertimu. Karena kalau kau bisa mengalahkan Ki Punjalu, muridku, berarti kau cukup menonjol di antara murid-murid Ki Gawung. Tapi aku tidak mengenalmu seperti halnya aku mengenal murid-murid utama Perguruan Merak Emas. Mungkin kau orang dari partai lain yang hendak memancing perselisihan antara aku dan Ki Gawung?!" ujar Ki Genawang setelah memperhatikan dengan teliti sosok lelaki bertubuh kokoh dan berkumis lebat itu. Kenyataan itu membuatnya ragu kalau keempat orang itu adalah murid-murid Perguruan Merak Emas yang telah cukup lama dikenalnya.

"Boleh jadi kau belum mengenalku, Ki Genawang. Aku memang belum lama bergabung dengan Perguruan Merak Emas. Meskipun begitu, bukan berarti aku tidak dikenal di antara murid-murid Perguruan Merak Emas. Bahkan, aku terhitung murid utama Ki Gawung. Beliau adalah seorang gagah yang bijaksana dan pandai mendidik muridnya. Tidak seperti kau yang mendidik murid-muridmu dengan kemanjaan dan menjejali mereka dengan kesombongan. Sehingga mereka tumbuh menjadi orang-orang berjiwa angkuh dan memandang rendah orang lain!"

Sahut Bardewa dengan suara lantang, membuat enam orang pedagang yang berada di ruangan itu bergegas meninggalkan meja mereka menuju kamar masing-masing. Agaknya, mereka tidak ingin terlibat dalam keributan yang sebentar lagi pasti akan terjadi. Sedangkan pemilik dan pelayan kedai tampak meringkuk di sudut ruangan. Wajah mereka kelihatan pucat, karena sudah dapat membayangkan kedai mereka pasti akan mengalami kerusakan lagi.

"Kurahg ajar! Entah bagaimana cara Ki Gawung mendidikmu sehingga kau berani berkata demikian di hadapanku! Melihat sikapmu yang sombong itu, aku dapat menduga kaulah yang lebih dulu mencari gara-gara dengan muridku. Kau pantas mendapatkan pelajaran atas kekurangajaranmu itu...!" geram Ki Genawang tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Guru, tahan...!" Ki Randita yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan itu, bergegas mencegah gurunya. Lelaki bertubuh gagah itu sudah bergerak maju mendekati Ki Genawang yang menoleh ke arah muridnya dengan tatapan penuh teguran. Jelas,orang tua itu tidak senang mendengar seruan muridnya.

"Guru..., biar aku saja yang menghadapi mereka. Rasanya tidak pantas kalau Guru sendiri yang harus turun tangan memberi pelajaran pada orang-orang itu. Mereka hanya murid-murid rendahan yang tidak patut melawan Guru...," jelas Ki Randita dengan suara agak perlahan. Sehingga, Ki Genawang pun menyadari kedudukannya. Dan, memang sudah sepantasnyalah jika Ki Randita yang turun tangan menghadapi Bardewa dan kawan-kawannya.

"Hm.... Semakin nyata sudah kesombongan orang-orang Perguruan Pedang Baja! Kalian jelas-jelas meremehkan kami. Dan itu merupakan penghinaan terhadap perguruan kami!" geram Bardewa membuat Ki Randita agak tersentak kaget.

"Kisanak. Mulutmu sungguh tajam sekali. Sekarang, aku semakin yakin kaulah yang memulai perselisihan dengan murid-murid perguruan kami. Kau pun telah mempergunakan kelicikanmu untuk mempengaruhi orang-orang desa ini agar mereka berpihak kepadamu. Benar-benar sangat berbahaya jika Perguruan Merak Emas mempunyai murid sepertimu. Aku yakin tidak lama lagi Perguruan Merak Emas akan runtuh, bila orang licik sepertimu masih bercokol didalamnya...," ujar Ki Randita berusaha tetap tenang, meskipun hatinya terbakar oleh ucapan-ucapan Bardewa yang sangat licik dan pandai bicara itu.

"Satu lagi penghinaan telah kau lontarkan terhadap ketua perguruan kami, Kisanak! Dengan menghinaku sebagai orang yang berwatak licik itu sama artinya dengan menghina guruku sebagai orang yang tidak mampu mendidik murid-muridnya. Aku tidak bisa menerima penghinaan itu!" geram Bardewa kembali menunjukkan kelicikannya dengan memutarbalikkan ucapan Ki Randita. Padahal, dia sendiri yang telah menghina Ki Genawang dengan mengatakan kalau Ketua Perguruan Pedang Baja tidak mampu mendidik murid-muridnya dengan baik.

"Keparat licik..!" desis Ki Randita tak dapat lagi menahan kemarahannya demi mendengar ucapan itu. Sadar kalau tidak akan menang dalam bersilat lidah, maka Ki Randita segera mempersiapkan jurusnya untuk memberi pelajaran pada Bardewa dan kawan-kawannya.

"Biar aku saja yang menghadapi orang tua sombong itu, Kakang," ujar salah seorang kawan Bardewa yang sejak tadi hanya diam saja. Tapi ketika melihat Ki Randita telah siap menyerang, dia langsung mengajukan diri untuk menghadapi murid utama Perguruan Pedang Baja itu.

"Jangan gegabah, Adi Sungkana. Orang ini tidak bisa kau samakan dengan yang lainnya. Biar aku saja yang menghadapinya," bantah Bardewa yang rupanya sadar akan kepandaian Ki Randita setelah melihat gerakan yang ditunjukkan orang tua itu.

"Heaaah...!"

Bettt!

Bardewa langsung melompat ke luar kedai, dan ketika telah bersiap siaga, Ki Randita segera melontarkan serangan ke arahnya. Tendangan dan pukulan murid utama Ki Genawang itu datang bertubi-tubi. Tapi, Bardewa masih dapat menyelamatkan diri dari ancaman pukulan-pukulan yang kuat dan cepat itu.

"Yeaaat..!"

Bahkan Bardewa mampu melakukan serangkaian serangan balasan dengan pukulan-pukulan dan tendangan yang tidak kalah kuatnya. Sehingga, Ki Genawang yang menyaksikan perkelahian itu keningnya berkerut dalam. Lelaki tua itu merasa heran melihat ketangkasan lelaki berkumis lebat yang bisa menandingi murid utamanya. Sekarang, baru lelaki tua itu yakin Bardewa pasti bukan murid sembarangan. Paling tidak, dia mendapat didikan langsung dari Ketua Perguruan Merak Emas. Melihat kenyataan itu, maklumlah Ki Genawang kalau Ki Punjalu dan murid-muridnya sampai tidak sanggup menghadapi Bardewa dan ketiga kawannya. Karena meski tanpa dibantu sekalipun, dia yakin kalau lelaki berkumis lebat itu akan merobohkan Ki Punjalu serta kelima orang muridnya yang lain.

"Hm... Melihat permainan Bardewa, jelas Ki Gawung telah menciptakan jurus-jurus baru yang hebat. Pantas saja kalau Bardewa demikian sombong dan berani mencari perkara dengan perguruan yang kupimpin. Mungkin ini memang dikehendaki Ki Gawung sendiri, yang hendak menjajal ilmu ciptaannya...," gumam Ki Genawang, menduga-duga penyebab perselisihan antara perguruannya dengan Perguruan Merak Emas.

Sementara itu pertarungan masih berjalan seimbang. Baik Ki Randita maupun Bardewa sama-sama tangguh dalam jurus-jurus awal. Sampai dua puluh jurus lebih, belum terlihat tanda-tanda siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Memasuki jurus ketiga puluh satu, terlihat Ki Randita mulai dapat menguasai arena. Serangan-serangan orang tua gagah itu tampak semakin gencar. Sedangkan Bardewa mulai menitik beratkan pada pertahanan. Karena untuk balas menyerang, dia sudah tidak memiliki kesempatan, karena gencarnya serangan-serangan yang dilontarkan Ki Randita.

"Haaat..!"

Pada jurus ketiga puluh lima, Ki Randita mengeluarkan pekikan nyaring! Seiring dengan itu, tubuhnya bergerak cepat melontarkan sebuah hantaman ke dada lawan yang terbuka. Akibatnya....

Bukkk!

"Huakkkh!" Tanpa ampun lagi, tubuh Bardewa terjengkang ke belakang. Darah segar termuntah dari mulutnya. Jelas, hantaman keras itu membuat isi dada Bardewa terguncang keras.

Melihat kejadian itu, ketiga kawan Bardewa bergegas melompat dengan senjata terhunus. Mereka berdiri menghadang di depan lelaki berkumis lebat itu untuk melindunginya dari serangan Ki Randita selanjutnya.

"Setan...!" Bardewa merangkak bangkit sambil mengumpat kasar. Kali ini gagang pedang di pinggangnya diraba, dan langsung dicabut keluar dari sarungnya.

Srattt..!

Dengan gerakan kepalanya, Bardewa memerintahkan kawan-kawannya untuk mengeroyok Ki Randita. Sebentar kemudian, lelaki gagah murid utama Perguruan Pedang Baja itu telah terkurung dari empat penjuru.

"Haaat…"

Seiring dengan pekikan itu, tubuh Ki Randita bergerak cepat melontarkan sebuah hantaman ke dada lawan. Akibatnya....

"Huakkkh…!" Tanpa ampun lagi, tubuh Bardewa terjengkang ke belakang. Darah segar termuntah dari mulutnya!

TIGA

"Heaaat..!"

Diawali sebuah teriakan nyaring, Bardewa dan kawan-kawannya menerjang maju. Sambaran pedang keempat lelaki berpakaian serba hitam itu berdesingan mengancam tubuh Ki Randita.

"Haiiit..!"

Ki Randita sendiri masih belum menggunakan senjatanya yang tergantung di punggung. Dia masih mengandalkan kegesitannya untuk menghadapi serbuan empat batang pedang lawan. Dalam lima jurus awal memang Ki Randita masih sanggup menyelamatkan diri dari incaran pedang lawan. Bahkan sesekali masih sempat mengirimkan serangan balasan yang berbahaya. Tapi, pada jurus-jurus selanjutnya, lelaki tua itu baru merasakan betapa beratnya menghadapi empat pengeroyoknya yang memiliki permainan pedang yang cepat dan kuat. Maka, Ki Randita mulai terdesak dan tidak mampu lagi melancarkan serangan balasan. Bahkan, beberapa kali sambaran pedang lawan nyaris melukai tubuhnya.

Plakkk!

Sebuah sambaran pedang yang mengancam lehernya berhasil ditepiskan Ki Randita. Tapi serangan selanjutnya dari lawan yang lain, memaksa lelaki itu untuk melompat jauh kebelakang.

Bettt..!

Sambaran pedang yang dilancarkan Bardewa mengenai angin kosong. Karena lawan telah berjumpalitan menjauhkan diri dari mata pedangnya.

"Haaat..!"

Rasa dendam dan penasaran membuat Bardewa tidak ingin memberi kesempatan pada lawannya untuk bernapas lega. Lelaki itu langsung melesat dengan tusukan pedangnya selagi tubuh Ki Randita berada di udara.

Ki Genawang yang menyaksikan kenyataan itu terperanjat kaget. Lelaki tua itu sadar kalau keadaan muridnya tengah terancam maut. Maka, tanpa berpikir panjang lagi, tubuhnya langsung melayang dengan tujuan menyelamatkan nyawa muridnya dari ancaman ujung pedang Bardewa.

"Hiaaaah...!"

Plakkk!

"Aihhh...?!" Tamparan yang dilancarkan Ki Genawang sangat kuat. Sehingga, tubuh Bardewa terpental ke samping! Untung lelaki bertubuh tegap itu masih sempat menyelamatkan tubuhnya agar tidak terbanting ke tanah, dan dapat mendaratkan kedua kakinya dengan selamat

"Hm... Sudah kuduga kau tidak akan tinggal diam melihat muridmu terancam maut! Tapi, jangan kira kami akan gentar meskipun harus menghadapimu, Ki Genawang...!" geram Bardewa menggertakkan giginya sambil memutar pedang dengan sekuat tenaga.

Demikian pula dengan tiga orang kawan Bardewa. Mereka sama sekali tidak kelihatan gentar, meskipun yang harus mereka hadapi ini Guru Besar Perguruan Pedang Baja. Bahkan, mereka kembali membentuk kepungan dari empat penjuru.

"Sebenarnya aku merasa malu menghadapi kalian, mengingat kalian hanya murid-murid rendahan Perguruan Merak Emas. Tapi, kekurangajaran dan kesombongan kalian membuat aku terpaksa harus melupakan hal itu. Sebab, kalau tidak diberi pelajaran, kalian pasti akan semakin sombong dan bertindak semena-mena...," ujar Ki Genawang segera menyiapkan jurusnya untuk menghadapi keroyokan murid-murid Perguruan Merak Emas.

"Keparat tua sombong! Rasakan tajamnya pedangku...!" bentak Bardewa marah mendengar ucapan Ki Genawang yang jelas menghina mereka. Maka, dia pun langsung mendahului kawan-kawannya menerjang Ketua Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang hanya perlu menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindari tusukan pedang yang mengancam jantungnya. Kemudian, langsung membalas dengan sebuah tamparan yang mendatangkan sambaran angin kuat membuat Bardewa terhuyung. Sehingga, tubuh lelaki itu terjajar mundur dan kehilangan keseimbangan. Untung saat itu Sungkana dan dua orang lainnya datang membantu, kalau tidak, bukan mustahil Ki Genawang akan menyusuli serangannya dan membuat Bardewa roboh. Ketua Perguruan Pedang Baja terpaksa menunda serangan susulannya, ketika melihat datangnya sambaran pedang ketiga pengeroyoknya itu.

"Haaah...!"

Dengan membungkukkan tubuhnya, ketiga sambaran mata pedang lawan lewat di atasnya. Kemudian lelaki tua itu membentak sambil mengembangkan kedua lengannya ke kiri dan kanan.

Desss! Desss!

Dua orang penyerang di kiri dan kanannya terjungkal tanpa ampun. Nyawa mereka langsung putus akibat kuatnya tenaga yang terkandung di dalam gebrakan Ki Genawang. Sehingga, kejadian itu sempat membuat Bardewa dan Sungkana terbelalak gentar. Mereka tidak menduga kalau Ketua Perguruan Pedang Baja ternyata memiliki kepandaian yang hebat, dan mampu merobohkan dua orang kawan mereka hanya dengan sekali gebrak.

"Sungkana, lari...!" Setelah melihat kenyataan itu, Bardewa sadar kalau Ki Genawang tidak mungkin dapat mereka hadapi berdua saja. Maka, lelaki itu pun segera mengajak Sungkana melarikan diri menerobos kegelapan malam.

"Mengapa tidak dikejar, Guru...?" tanya Ki Randita heran melihat gurunya hanya berdiri memandang kepergian lawan-lawannya. Tidak sedikit pun terlihat tanda-tanda kalau lelaki gagah itu hendak mengejar.

"Tidak perlu, Randita. Persoalan ini sudah berkembang terlalu jauh. Biarlah kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya...," gumam Ki Genawang pelan, menyembunyikan kekecewaan hatinya.

Ki Randita pun tahu akan kegundahan hati gurunya. Maka dia tidak berkata-kata lagi, dan mendiamkan saja lelaki tua itu terpaku menatap tempat di mana kedua lawannya lenyap. Ki Genawang benar-benar menyesali kejadian yang tidak diharapkannya itu. Semula dia meninggalkan perguruan dengan maksud untuk menegur Ki Gawung, agar menghukum murid-muridnya. Tapi, harapan untuk dapat menyelesaikan persoalan dengan jalan damai musnah sudah. Kejadian barusan jelas akan semakin memperuncing permusuhan di antara mereka. Hal itu membuat hati Ki Genawang gundah dan termenung beberapa saat lamanya.

"Kita tunggu saja tanggapan Ki Gawung, Guru. Kalau jalan damai memang tidak dapat ditempuh, kita layani saja kemauan mereka," ujar Ki Randita dengan nada perlahan, seperti takut mengejutkan hati gurunya.

"Hhh..." Terdengar helaan napas berat Ki Genawang yang menandakan keresahan hatinya. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, orang tua itu membalikkan tubuhnya dan melangkah ke arah kedai tempat mereka melewatkan malam.

********************

Ki Genawang dan Ki Randita yang tengah sarapan pagi di kedai tempat mereka menginap, terkejut bukan main melihat kedatangan Gumarta yang dalam keadaan luka-luka. Serentak keduanya melompat bangkit menyambut kedatangan lelaki tegap itu.

"Ada apa, Gumarta? Apa yang sudah terjadi...?" tanya Ki Genawang memapah tubuh Gumarta yang kelihatannya sangat lelah. Rupanya, Gumarta telah melakukan perjalanan dengan terburu-buru.

Gumarta tidak segera menjawab pertanyaan gurunya. Napasnya masih tersengal-sengal. Sehingga, Ki Genawang segera mendudukkan tubuh muridnya di kursi. Lalu memberinya segelas air putih, agar Gumarta jadi lebih tenang dan bisa menceritakan kejadian yang menimpa Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang telah membatalkan niatnya untuk mendatangi Perguruan Merak Emas. Kejadian semalam membuat orang tua itu merubah keputusannya. Karena tidak ada gunanya lagi dia datang setelah membunuh dua orang murid Ki Gawung. Ketua perguruan itu pasti tidak akan menerima mereka dengan baik. Bahkan, kemungkinan besar kedatangan Ki Genawang ke Perguruan Merak Emas akan disambut dengan ujung pedang. Itu sebabnya, mengapa Ki Genawang membatalkan niatnya semula.

Kini Ki Genawang dihadapkan lagi pada suatu masalah yang masih belum jelas. Kedatangan muridnya dengan tubuh penuh luka, membuat hati lelaki itu berdebar tegang. Sebab, Gumarta telah diberi amanat untuk menjaga perguruan selama dia pergi. Dan, kalau sampai Gumarta berani meninggalkan tugas yang diembannya, sudah pasti ada sesuatu yang hebat menimpa perguruan. Ki Genawang ingin segera mendengar dari mulut Gumarta tentang keadaan perguruannya.

"Menjelang pagi tadi, saat fajar baru saja terbit, datang serombongan murid-murid Perguruan Merak Emas yang dipimpin langsung oleh ketuanya sendiri. Mereka langsung mengamuk dan membunuhi murid-murid kita. Aku berusaha melawan sekuat tenaga, tapi mereka terlalu kuat. Sehingga, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan pertarungan dan menyusul Guru serta Kakang Randita," jelas Gumarta dengan suara terputus-putus, membuat wajah kedua orang itu jadi merah bagai terbakar api.

"Seharusnya kau tetap memimpin murid-murid untuk menghadapi mereka, Gumarta. Bukannya melarikan diri seperti pengecut!" geram Ki Genawang tidak setuju dengan tindakan muridnya.

"Keadaan perguruan sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Guru. Kalau aku tidak meninggalkan perguruan, lalu siapa yang akan melaporkan kejadian itu? Guru dan Kakang Randita tentu tidak akan tahu siapa yang telah menghancurkan perguruan kita. Alasan itulah yang membuatku memberanikan diri meninggalkan perguruan dan menyusul kemari." Setelah berkata begitu, Gumarta terbatuk dan memuntahkan darah segar, membuat Ki Genawang dan Ki Randita terkejut. Mereka baru menyadari betapa parahnya luka yang diderita Gumarta.

"Gumarta...?!"Ki Genawang dan Ki Randita berteriak kaget melihat lelaki tegap itu terpelanting roboh dari kursi. Cepat keduanya berusaha untuk menangkapnya agar tidak terbanting ke tanah. Tapi, betapa kaget dan murkanya hati mereka ketika mendapati Gumarta sudah tak bernyawa!

"Keparat! Rupanya jahanam itu telah lebih dulu mendatangi perguruan kita! Bahkan langsung membunuhi orang-orang kita tanpa menanyakan lebih dulu persoalan yang sebenarnya! Hm..., mereka benar-benar tidak bisa didiamkan! Kita harus menuntut balas atas kejadian ini!" geram Ki Genawang murka bukan main setelah mendengar penuturan Gumarta yang tewas di depan matanya.

"Mereka pasti mengambil jalan lain, Guru. Kalau tidak, mana mungkin mereka dapat tiba demikian cepat? Sekarang mereka pasti belum kembali. Kita harus mencegatnya!" usul Ki Randita dengan wajah merah. Hatinya sungguh tidak bisa menerima perbuatan orang-orang Perguruan Merak Emas yang menurutnya sudah melewati batas.

"Tidak. Sebaiknya kita langsung saja menuju Perguruan Merak Emas. Kalau mereka belum kembali, kita langsung menyerbu dan membasmi murid-murid yang masih tinggal di dalam perguruan! Dengan begitu, sedikit banyak kita telah membalas perbuatan kejam yang telah mereka lakukan..!" ujar Ki Genawang.

Setelah meminta penduduk desa agar menguburkan mayat Gumarta dengan baik, Ki Genawang melesat bersama muridnya menuju Perguruan Merak Emas. Diam-diam hati mereka diliputi keheranan besar. Bagaimana mungkin Ki Gawung dan murid-muridnya dapat tiba demikian cepat di Perguruan Pedang Baja?

Sedangkan semalam empat orang murid perguruan itu telah bertarung dengan mereka. Dugaan pun jatuh, Ki Gawung sengaja mengirimkan empat orang muridnya untuk memancing keributan dengan Ki Genawang dan Ki Randita. Sehingga, kedua tokoh Perguruan Pedang Baja itu tidak akan menduga kalau pada saat itu Ki Gawung tengah bergerak menuju Perguruan Pedang Baja.

"Bedebah!" Ki Genawang memaki geram sambil berlari mengerahkan seluruh tenaganya agar dapat segera tiba di tempat tujuan. Seolah dia hendak berlomba dengan rombongan Ki Gawung yang diduganya tengah dalam perjalanan pulang.

Setelah berlari tanpa henti, lewat tengah hari, kedua tokoh itu pun tiba di Perguruan Merak Emas. Tanpa merasa lelah sedikit pun, Ki Genawang dan Ki Randita segera mendekati bangunan yang di sekelilingnya dipagari kayu-kayu bulat setinggi satu setengah tombak. Sebelum penjaga gerbang sempat menyadari kehadiran kedua orang itu, Ki Genawang langsung mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendobrak pintu gerbang.

Brakkk..!

Pukulan yang dilandasi kekuatan hebat dan kemarahan menggelegak, membuat pintu gerbang Perguruan Merak Emas berderak roboh berkeping-keping!

Tanpa menunggu serpihan kayu berjatuhan ke tanah, Ki Genawang dan Ki Randita langsung menerobos masuk ke dalam bangunan. Tapi, langkah keduanya tertahan oleh puluhan murid Perguruan Merak Emas yang menghadang dengan senjata terhunus. Rupanya, ledakan di pintu gerbang itu membuat mereka langsung bersiap dengan pedang di tangan. Sebab, hanya pengacaulah yang datang dengan menjebol pintu gerbang. Tanpa banyak bicara lagi, Ki Genawang dan Ki Randita segera meloloskan senjata masing-masing! Kemudian menerjang maju dengan hebatnya.

"Haaat..!"

Meskipun telah bersiap sebelumnya, tetap saja murid-murid Perguruan Merak Emas terkejut. Apalagi kedua tamu tak diundang itu langsung menerjang ganas, dan merobohkan siapa saja yang menghalangi mereka. Tentu saja keadaan menjadi gaduh. Jeritan kematian terdengar susul-menyusul! Darah segar memercik membasahi tanah. Dan, tubuh-tubuh bersimbah darah berjatuhan satu persatu dengan napas putus. Pedang di tangan Ki Genawang dan Ki Randita tak ubahnya tangan-tangan malaikat maut, membuat murid-murid Perguruan Merak Emas menjadi gentar.

"Tahan...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar yang mengatasi suara jeritan dan dentingan senjata. Bersamaan dengan teriakan itu sesosok tubuh gagah melayang turun ke tengah arena, membuat murid-murid Perguruan Merak Emas berlompatan mundur. Rupanya mereka telah mengenal baik suara bentakan itu. Sehingga, mereka langsung memberi tempat bagi sosok yang baru tiba.

"Hm.... Bagus kau cepat datang, Ki Gawung!" geram Ki Genawang dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian. Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, pedangnya langsung diputar dengan sekuat tenaga. Sehingga menciptakan putaran angin tajam.

"Tunggu dulu, Ki Genawang! Apa yang membuatmu seperti kesetanan dan hendak membantai murid-muridku...?" cegah Ki Gawung bergeser mundur setelah melihat jurus yang hendak digunakan lawannya. Sebab, jurus itu dikenalinya sebagai jurus andalan Ketua Perguruan Pedang Baja.

Ki Genawang tidak mempedulikan teriakan lawannya. Dibarengi pekikan marah, tubuhnya segera melayang dengan sambaran pedang yang berdesingan.

Bettt! Whuttt!

"Hei..?!" Ki Gawung yang masih belum mengerti alasan kemarahan Ketua Perguruan Pedang Baja, segera melompat ke belakang untuk menghindari serangan maut itu.

"Haaat…!"

Tapi Ki Genawang memang sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Begitu serangan pertama gagal, langsung disusuli dengan serangan berikutnya. Sehingga dengan terpaksa Ki Gawung mencabut senjatanya karena tahu serangan lawan memang tidak main-main.

Trang! Trang!

Begitu senjata tercabut dari sarungnya, terdengar benturan keras dua kali yang menulikan telinga. Akibatnya, tubuh Ki Genawang maupun Ki Gawung, terjajar mundur sejauh enam langkah.

"Coba jelaskan, apa yang membuatmu seperti kesetanan dan datang-datang membuat keributan, Ki Genawang?" Kembali Ki Gawung berusaha mencari keterangan penyebab kemarahan Ki Genawang yang memang telah dikenalnya dengan baik.

Lagi-lagi Ki Genawang tidak mempedulikan pertanyaan Ketua Perguruan Merak Emas itu. Serangannya kembali datang, membuat Ki Gawung terpaksa harus meladeninya dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, sudah pasti dirinya akan celaka di tangan lawan yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi. Sehingga pertempuran sengit kembali pecah. Kedua tokoh tingkat tinggi itu saling gempur dengan hebatnya laksana dua ekor harimau kelaparan yang memperebutkan mangsa.

Di bagian lain, Ki Randita pun telah bertarung sengit dengan dua orang lelaki gagah, yang merupakan murid-murid utama Ki Gawung. Berbeda dengan gurunya yang mendapat lawan seimbang, Ki Randita harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi permainan dua pengeroyoknya. Meski demikian, lelaki itu tetap tidak mampu mendesak mereka. Karena lawan-lawannya memiliki kepandaian yang tinggi atau mungkin setingkat dengannya. Untuk menghadapi keroyokan murid-murid utama Perguruan Merak Emas, Ki Randita harus menguras tenaga dan kecepatannya.

"Heaaah...!

Berkali-kali Ki Randita berusaha mendesak mereka. Namun, selalu saja serangannya kandas dan dapat diatasi lawan dengan baik. Bahkan ketika pertempuran memasuki jurus kedua puluh, terlihat Ki Randita mulai terkurung oleh serangan pedang lawan. Sehingga, orang kedua dalam Perguruan Pedang Baja itu hanya mampu bertahan, tanpa bisa membalas serangan lawan-lawannya.

"Haaat..!"

Brettt..!

"Akh...!"

Suatu saat, Ki Randita tidak sempat lagi menyelamatkan tubuhnya dari incaran pedang lawan. Karena pada saat yang bersamaan tubuhnya harus dilindungi dari serangan lawan yang satunya lagi. Akibatnya, tubuh lelaki tua yang masih gagah itu terhuyung limbung! Pangkal lengannya tampak berdarah dan terdapat luka yang cukup panjang.

"Yeaaat...!"

Kedua lawannya kembali meluncur datang dengan tusukan pedang yang mengancam tenggorokan dan lambung lelaki tua itu. Sedangkan saat itu Ki Randita belum sempat memperbaiki kedudukan kuda-kudanya. Sehingga, dia hanya dapat berusaha menghindari kematian dengan semampunya.

"Haaaat...!"

Pada saat yang sangat gawat itu, tiba-tiba terdengar pekikan merdu yang melengking tinggi. Disusul dengan berkelebatnya sosok bayangan hijau yang langsung memapaki tusukan pedang dua murid Ki Gawung.

Trang! Trang!

Sinar putih keperakan yang berkelebat cepat itu langsung membentur pedang dua lawan Ki Randita, hingga kedua pedang itu terlepas dari tangan pemegangnya. Sedangkan tubuh mereka terpelanting roboh tanpa dapat dicegah lagi. Sesosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau berdiri tegak membelakangi Ki Randita!

EMPAT

Sementara itu, pertarungan yang berlangsung antara Ki Genawang dan Ki Gawung sudah semakin meningkat. Serangan-serangan yang dilancarkan Ki Genawang memang benar-benar hebat! Sehingga, Ketua Perguruan Merak Emas itu harus mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mengimbangi serangan lawan.

"Heaaat..!"

Lagi-lagi Ki Genawang memekik keras seraya melepaskan sebuah bacokan dari atas ke bawah! Andai saja sampai terkena tubuh lawan, pastilah tubuh itu akan terbelah menjadi dua.

Tapi, Ki Gawung pun bukan lawan yang mudah untuk ditundukkan. Melihat dahsyatnya serangan lawan, lelaki itu memutar senjatanya dengan mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian bersiap menyambutnya. Namun, sesaat sebelum kedua tokoh itu saling beradu, mendadak berkelebat sesosok bayangan putih yang langsung meluncur turun di antara keduanya. Dan...

"Heaaah...!"

Seiring dengan bentakan keras, sosok berpakaian serba putih itu mengibaskan lengannya ke kiridan kanan.

Plak! Plak!

"Aaah...?!"

"Hei…?!"

Terkejut bukan main hati kedua tokoh itu ketika merasakan lengan mereka bagai terbentur sebuah logam keras yang sangat dingin. Akibatnya, tubuh Ki Genawang dan Ki Gawung terdorong ke belakang hingga jatuh bergulingan. Dapat dibayangkan betapa hebatnya kekuatan yang dimiliki sosok bayangan putih itu!

"Hentikan pertempuran...!"

Setelah merobohkan Ki Genawang dan Ki Gawung, sosok berjubah putih mengeluarkan teriakan keras yang menggelegar. Akibatnya, pertarungan yang berlangsung di tempat itu pun terhenti, karena bentakan itu telah merobohkan mereka. Kecuali, sosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau.

"Pendekar Naga Putih...?!"

Hampir berbarengan, Ki Genawang dan Ki Gawung berseru ketika melihat tubuh sosok berjubah putih itu terbungkus lapisan kabut bersinar putih keperakan yang memancarkan hawa dingin menggigit itulah ciri-ciri Pendekar Naga Putih! Dugaan kedua orang ketua perguruan itu tidak salah! Sosok itu memang Pendekar Naga Putih yang muncul bersama kekasihnya, Kenanga.

"Sepengetahuanku, Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas adalah tempat orang-orang gagah. Persoalan apa yang telah membuat kalian harus saling gempur?" tegur Panji seraya menghampiri Ki Genawang dan Ki Gawung. Sepasang mata pendekar muda itu menyorot tajam membuat hati kedua tokoh tingkat tinggi itu berdebar.

"Sebenarnya Perguruan Merak Emas tidak mempunyai persoalan dengan orang-orang Perguruan Pedang Baja. Tapi, bila ada orang yang hendak mengacau tempat ini, kami akan melindungi dengan taruhan nyawa," jawab Ki Gawung seraya melirik ke arah Ki Genawang dengan sinar mata mengejek.

"Keparat! Enak saja kau bilang tidak mempunyai persoalan! Kemarin lima orang muridku tewas terbunuh di tangan murid-muridmu. Tapi, rupanya kau masih belum puas hanya dengan lima nyawa saja. Lalu, kau datang membasmi seluruh murid-murid perguruanku selagi aku hendak mencari jalan damai dari persoalan ini, yang mungkin hanya sebuah kekeliruan! Nah, masihkah semua itu kau anggap bukan persoalan?" geram Ki Genawang. Kemarahan ketua Perguruan Pedang Baja itu kembali bangkit ketika mendengar ucapan Ki Gawung yang mengatakan kalau di antara mereka tidak ada persoalan.

Merah wajah Ki Gawung mendengar perkataan Ki Genawang. Selain ucapan itu suatu fitnah keji. Juga dikeluarkan di hadapan murid-muridnya. Tentu saja Ketua Perguruan Merak Emas tidak dapat berdiam diri mendengar hinaan itu. Bukan hanya ketuanya saja yang merasa terhina. Tapi, hampir semua murid Perguruan Merak Emas terdengar memaki dan menyumpah-nyumpah. Sehingga suasana kembali menjadi ribut dan kedua belah pihak pun sudah siap bertempur.

"Jangan kau kira aku akan diam saja mendengar fitnah dan hinaanmu itu, Ki Genawang! Kalau memang aku melakukan perbuatan yang kau tuduhkan itu, tentu aku akan bertanggung jawab! Tapi, karena aku tidak melakukannya, dugaanku kau hanya mencari-cari persoalan denganku. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak akan mundur meskipun harus bertarung sampai seribu jurus!" Ki Gawung tampaknya tidak kalah berang dengan Ki Genawang. Bahkan, lelaki tua bertubuh tegap itu sudah melintangkan senjatanya di depan dada, siap bertarung habis-habisan.

"Tahan...!" Panji yang melihat ketegangan di antara kedua belah pihak kembali memuncak dan tampaknya akan terjadi pertarungan lagi, segera bertindak menengahi. Pemuda itu melangkah dan berdiri di antara tokoh puncak dua perguruan itu.

Tinggallah Ki Genawang dan Ki Gawung saring pandang dengan mata memancarkan dendam dan kebencian. Kalau saja Panji tidak berada di antara mereka, bukan mustahil mereka akan kembali saling gebrak! Tapi, karena melihat siapa Pendekar Naga Putih, mereka hanya bisa saling pandang dengan urat-urat tubuh menegang.

"Hm… Kalian berdua tidak ubahnya anak kecil! Kalau kalian tetap menuruti hawa nafsu dan hati panas, mana mungkin persoalan ini bisa selesai? Sebagai ketua dari partai yang terhormat, seharusnya sikap kalian harus lebih bijaksana. Setiap persoalan bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Baru kemudian kita bisa menemukan jalan keluarnya!" tandas Panji yang mau tak mau terpaksa harus memberi nasihat dan pengarahan pada Ki Ge nawang dan Ki Gawung, yang usianya hampir tiga kali lipat dari usianya sendiri. Tapi, yang dilihatnya bukan usia. Melainkan cara berpikir dan pandangan yang luas.

Ki Genawang dan Ki Gawung pun terdiam dan mengendurkan urat-uratnya. Apa yang dikatakan Pendekar Naga Putih adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah.

"Hm. Kalau begitu, coba kau jawab pertanyaanku," gumam Ki Genawang dengan wajah yang masih gelap, meskipun suaranya tidak lagi bernada tinggi. Agaknya, ucapan Pendekar Naga Putih membuatnya merasa malu dan berusaha menekan dendam dan penasaran di hatinya.

"Tanyakanlah! Aku akan menjawab seadanya berdasarkan apa yang kuketahui," tukas Ki Gawung, juga dengan nada rendah. Hanya sepasang matanya saja yang masih menggambarkan kejengkelan hatinya.

"Apa kesalahan murid-muridku hingga kau demikian kejam membantai mereka tanpa ampun?" tanya Ki Genawang seraya menatap tajam wajah Ketua Perguruan Merak Emas.

"Sudah kukatakan sejak semula kalau aku tidak pernah membantai murid- muridmu! Jangankan sampai puluhan orang. Satu orang muridmu pun tidak pernah kuganggu. Kau hanya mencari-cari persoalan dengan fitnah busukmu itu!" jawab Ki Gawung kembali merasa geram, karena Ketua Perguruan Pedang Baja masih tetap menyalahkannya.

"Dengar, Ki Gawung! Aku tidak mencari-cari perkara denganmu. Tapi, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat dan berjumpa dengan muridmu di Desa Babakan. Dengan sangat kurang ajar muridmu menantangku dan melontarkan kata-kata hinaan yang membuat darahku mendidih! Nah, apakah kau masih menyalahkanku dan mengatakan aku hanya menuduh tanpa bukti?" Ki Genawang tidak mau kalah, karena mengalami sendiri semua kejadian itu. Sehingga tetap bersikeras dengan tuduhannya.

"Kurang ajar! Aku tidak pernah mendidik muridku untuk bersikap sombong. Apalagi sampai berani menghina seorang ketua perguruan. Jelas tuduhanmu tidak masuk akal. Nah, sekarang coba kau tunjukkan, siapa muridku yang telah berani berbuat kurang ajar dan menghinamu itu?" bantah Ki Gawung seraya membalikkan tubuhnya dan mengedarkan pandang matanya merayapi wajah-wajah muridnya.

"He he he...! Kau anggap aku anak kecil yang bisa dibodohi! Mana mungkin orang itu berada di antara murid-muridmu sekarang. Dia pasti sudah kau sembunyikan dari mataku,'' Ki Genawang malah tertawa mengejek ketika Ki Gawung memintanya agar menunjukkan orang yang telah menghinanya.

Gusar bukan main hati Ki Gawung mendengar suara tertawa bernada mengejek itu. Namun, lagi-lagi dia tidak bisa bertindak lebih jauh. Karena di antara mereka berdua berdiri Pendekar Naga Putih yang sampai sejauh itu masih bertindak sebagai pendengar. Mungkin pemuda itu ingin mendengar lebih dulu persoalan yang sebenarnya. Baru kemudian mengambil tindakan setelah semuanya menjadi jelas.

"Baiklah. Sekarang, aku akan menceritakan persoalan yang kedua," ujar Ki Genawang setelah terdiam beberapa saat lamanya sambil merayapi wajah murid-murid Perguruan Merak Emas, dan tidak menemukan sosok yang dicarinya. "Pagi tadi, Gumarta, salah seorang murid utama yang ku tugaskan untuk mengurus perguruan selama aku pergi, datang menemuiku di Desa Babakan dengan sekujur tubuh penuh luka. Setelah menceritakan bahwa kau memimpin orang-orangmu untuk membantai murid-muridku, Gumarta menghembuskan napas terakhir di hadapanku. Muridku itu orang yang jujur dan kata-katanya bisa dipercaya. Kalau tidak, mana mungkin aku akan memberikan tugas untuk mengurus perguruan. Nah, apa jawabmu sekarang, Ki Gawung? Apa kau masih ingin membantah tuduhan itu lagi?"

"Dusta! Itu fitnah keji! Aku belum pernah meninggalkan perguruan selama lebih dari sepuluh tahun, termasuk pagi tadi! Jadi, jelas tuduhan itu tidak betul!" bantah Ki Gawung berang bukan main. Sebab Ki Genawang masih tetap bersikeras menuduhnya. Sehingga darahnya kembali mendidih.

"Tidak! Itu bukan fitnah! Kau iri dengan kemajuan perguruan yang kupimpin! Hingga membuatmu mata gelap dan melakukan perbuatan-perbuatan keji yang sepatutnya tidak dilakukan oleh orang-orang gagah!" bentak Ki Genawang keras, karena merasa yakin sepenuhnya bahwa orang yang melakukan semua perbuatan itu adalah Ki Gawung dan murid-muridnya.

"Keparat!" Ki Gawung sudah kehilangan kesabaran. Pedang di tangannya berputar, siap menerjang Ki Genawang.

"Tunggu..!" Panji mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Suara bentakannya yang menggelegar dan berpengaruh, membuat suasana bising hening seketika. Suasana pun sunyi untuk beberapa saat lamanya. "Dengar...!" seru Panji keras.

Ucapan Pendekar Naga Putih yang disertai pengerahan tenaga dalam itu berkumandang jelas, hingga terdengar oleh semua orang yang berada di tempat itu. "Sekarang aku sudah mengerti persoalan yang kalian ributkan ini! Menurutku, kalian telah diadu domba oleh orang-orang yang ingin menghancurkan Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas! Melihat ketegasan dan keteguhan Ki Gawung yang tetap mempertahankan pendiriannya tidak mengakui perbuatan itu, jelas sudah, ada orang lain yang melakukannya. Kita harus mencari manusia licik itu sampai dapat!"

Mendengar ucapan Pendekar Naga Putih yang lagi-lagi sukar untuk dibantah, semua yang ada di tempat itu, terdiam. Murid-murid Perguruan Merak Emas saling berpandangan dan beberapa di antaranya saling berbisik membicarakan kemungkinan yang disebutkan Pendekar Naga Putih. Banyak di antara mereka yang mulai percaya akan dugaan pemuda tampan berjubah putih itu. Ki Genawang pun sepertinya ikut terpengaruh oleh ucapan Panji barusan. Terbukti, lekaki gagah itu termenung beberapa saat seperti tengah memikirkan sesuatu untuk mencari jawaban permasalahan itu.

"Ki Gawung...!" Beberapa saat kemudian, Ki Genawang memanggil nama Ketua Perguruan Merak Emas yang sejak tadi memandang wajah Ki Genawang yang tertunduk.

"Kau masih tetap menuduhku...?" tanya Ki Gawung yang masih saja belum hilang rasa jengkelnya. Ditatapnya wajah Ketua Perguruan Pedang Baja itu lekat-lekat seolah ingin membaca pikiran di dalam kepala Ki Genawang.

"Apakah kau mempunyai seorang murid bernama Bardewa yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat..?" tanya Ki Genawang meminta ketegasan Ketua Perguruan Merak Emas.

"Hm..., ya. Bardewa adalah muridku. Apa maksudmu menanyakan tentang dia...?" Ki Gawung balik bertanya setelah memberikan jawaban yang membuat wajah Ki Genawang berseri-seri. Rupanya, lelaki gagah itu yakin kalau kali ini Ki Gawung tidak akan bisa berkelit lagi.

"Nah! Kau sudah mengakuinya, bukan? Muridmu yang bernama Bardewa itulah yang membunuh lima orang muridku. Bahkan, dia berani menantangku bertarung...," ujar Ki Genawang lagi sambil melemparkan senyum mengejek, membuat hati Ki Gawung menjadi tidak enak.

"Kau tidak keliru...?" Tapi, Ki Gawung terlihat tidak merasa terkejut apalagi ketakutan setelah mendengar nama Bardewa disebut yang menurut Ki Genawang adalah pelaku semua peristiwa itu.

"Tentu saja aku yakin! Nah, sekarang coba kau tunjukkan mana muridmu yang bernama Bardewa itu...?"

"Hm..., Ketahuilah, Ki Genawang. Orang yang kau cari itu sudah cukup lama meninggal. Dia tewas terbunuh tanpa kami tahu siapa pelakunya. Kami telah berusaha menyelidiki dengan diam-diam. Karena tidak juga membawa hasil, maka penyelidikan kami hentikan. Itu terjadi setahun yang lalu. Bukan tidak mungkin kalau pelakunya adalah murid-muridmu. Lalu, arwah Bardewa yang penasaran muncul membalas dendam dan membantai murid-muridmu!"

Kali ini giliran Ki Gawung yang menyunggingkan senyum mengejek. Puas hati lelaki gagah itu dapat membalas hinaan dan fitnahan Ki Genawang dengan tidak kalah menyakitkan.

Ganti Ki Genawang dan Ki Randita yang menjadi merah wajahnya. Mereka benar-benar terkejut, tidak menyangka jika pertanyaan Ki Genawang akan mengakibatkan pukulan yang cukup telak bagi Ketua Perguruan Pedang Baja. Panji yang melihat ketegangan mulai terasa, segera mengangkat kedua tangannya. Dan berujar lantang.

"Orang yang sudah mati tidak mungkin dapat bangkit kembali, apalagi sampai membalas dendam dan membunuh orang yang telah menganiayanya semasa hidup. Kalau itu benar terjadi, maka semua murid-murid Perguruan Pedang Baja yang tewas terbantai akan bangkit dan bergentayangan mencari pembunuhnya! Nah, coba kalian pikirkan baik-baik Apakah hal itu mungkin terjadi...?"

Suasana tegang dan bising itu pun mereda. Banyak di antaranya merasa ngeri jika apa yang dikatakan Pendekar Naga Putih benar-benar terjadi. Tentu saja tak seorang pun yang percaya serta menginginkan peristiwa itu terjadi, termasuk Ki Gawung yang barusan memulai ucapan takhayul itu.

"Kalau begitu, persoalan kita selesai sampai di sini. Mari sama-sama kita selidiki siapa sebenarnya orang yang menyamar sebagai Bardewa maupun Ki Gawung. Aku yakin manusia licik itu masih akan melanjutkan aksinya...," Panji kembali melanjutkan ucapannya saat suasana masih tenang.

"Baiklah. Aku akan mencoba menyelidikinya...," ujar Ki Genawang akhirnya menerima keputusan Pendekar Naga Putih. Demikian juga dengan Ki Gawung. Sehingga, perselisihan mereda untuk sementara.

Melihat semuanya telah dapat diselesaikan dengan baik. Panji mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu. Mereka pun berpamitan dan berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan yang menimpa Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas. Ki Genawang pun mengajak Ki Randita meninggalkan Perguruan Merak Emas. Guru dan murid itu tidak kembali ke perguruannya, tapi merantau untuk mencari orang ketiga yang diduga Pendekar Naga Putih sebagai penyebab timbulnya persoalan itu.

LIMA

"Hampir saja terjadi pertumpahan darah...," desah dara jelita berpakaian serba hijau dengan helaan napas panjang tanda kelegaan hatinya.

"Yahhh... Untunglah kita tidak terlambat dan dapat membuat mereka mengerti...," timpal pemuda tampan berjubah putih, juga dengan desahan panjang.

Langkah keduanya terus terayun menyusuri jalan yang dipenuhi batu-batu kecil. Semakin lama jalan yang mereka lalui kian melebar. Di kiri dan kanan jalan terlihat perkebunan milik penduduk. Tampak beberapa orang petani tengah sibuk mengerjakan ladangnya.

"Ke mana kita, Kakang?" tanya dara jelita yang tidak lain Kenanga. Dan, siapa lagi pemuda tampan berjubah putih di sebelahnya kalau bukan Panji atau yang berjuluk Pendekar Naga Putih.

Keduanya tampak tengah terlibat pembicaraan mengenai pertengkaran antara Perguruan Pedang Baja dengan Perguruan Merak Emas. Mereka merasa lega karena persoalan yang semula rumit dan hampir menyebabkan pertumpahan darah dapat dicegah. Kedua belah pihak sama-sama bisa mengerti, membuat pasangan pendekar muda itu merasa bersyukur. Dan, berjanji akan membantu menyelesaikan persoalan itu semampumereka.

Panji tidak segera menjawab pertanyaan kekasihnya. Matanya berputar mengawasi sekelilingnya yang kira dipenuhi hamparan sawah dengan padi yang menguning segar. Baru kemudian menoleh menatap wajah jelita itu dari samping.

"Mengingat kejadian berawal dari Desa Babakan, maka sebaiknya kita memulai penyelidikan dari sana," jawab Panji, mengalihkan perhatiannya menatap jalan di sebelah depannya yang kini berupa tanah lembab dan tidak rata.

"Hm...," Kenanga hanya bergumam menanggapi jawaban kekasihnya. Kemudian terdiam, seolah tengah memikirkan tempat yang bernama Desa Babakan.

Cukup lama keduanya dicekam kebisuan. Sehingga, tanpa disadari mereka mulai merasakan betapa sejuknya hembusan angin siang menjelang sore. Suara gemerisik dedaunan terasa indah terdengar di telinga. Kebisuan untuk beberapa lama itu membuat dua pendekar muda itu kembali merasakan keindahan alam.

"Kakang..."

Suara Kenanga memecah kebisuan di antara mereka. Panji yang menangkap panggilan lembut itu sejenak terpana. Seolah merasakan suara itu merupakan bagian dari keindahan alam. Hati Panji tergetar, dan mengulurkan tangannya yang segera memeluk pinggang ramping dara jelita itu.

"Hm...," setelah beberapa saat kemudian, baru terdengar jawaban Panji yang hanya berupa gumaman pelan.

Kenanga yang merasakan lengan kekasihnya melingkar di pinggangnya, menggenggam telapak tangan pemuda yang dicintainya itu dengan penuh kehangatan. Sejenak mereka menoleh dan tersenyum dengan pandangan penuh kasih.

"Apa Kakang percaya orang yang bernama Bardewa itu benar-benar telah tewas seperti yang dikatakan Ki Gawung?" tanya Kenanga kembali mengalihkan perhatiannya ke ujung jalan yang masih cukup panjang.

"Mengapa kau berkata demikian? Apa kau tidak memperhatikan betapa bersungguh-sungguhnya wajah Ki Gawung saat mengucapkan perkataan itu. Aku percaya ucapannya benar," jawab Panji sambil mengetatkan pelukannya pada pinggang dara jelita itu.

"Bukan aku tidak percaya, Kakang. Tapi, kedengarannya agak aneh...," tukas Kenanga menoleh sejenak dan kembali memandang ke depan.

"Maksudmu...?"

"Ya, aneh. Mengapa justru setelah setahun Bardewa tewas peristiwa ini baru terjadi? Dan, mengapa pelakunya orang yang mirip Bardewa, bahkan memiliki ciri-ciri yang serupa dengan Bardewa asli. Nah, apakah itu tidak aneh...?" ujar Kenanga mengemukakan rasa herannya ketika mengingat semua ucapan Ki Genawang dan Ki Gawung. Meskipun tidak ikut mencampuri pertengkaran kedua tokoh itu, tapi Kenanga memperhatikan semua ucapan mereka dan mengingatnya dengan baik.

"Kau ini aneh, Kenanga. Justru di situlah letak persoalannya. Dan, kita harus menyelidiki siapa sebenarnya orang yang diduga sebagai Bardewa oleh Ki Genawang dan Ki Randita...," tukas Panji yang tiba-tiba menjadi genit dan mencubit pipi kekasihnya dengan gemas. Kenanga tertawa renyah penuh kemanjaan merasakan kemesraan yang memang jarang mereka lakukan. Bahkan gadis itu menangkap tangan kekasihnya dan meletakkan di wajahnya erat-erat. Bahagia sekali hati dara jelita itu membuat Panji terharu.

"Seharusnya gadis sejelita dirimu tidak berkeliaran mengembara seperti ini. Kau lebih pantas tinggal di istana bermandikan kemewahan dan kebahagiaan di sekelilingmu...," gumam Panji yang memang sadar kalau kekasihnya lebih pantas menjadi putri keraton.

"Mulai lagi,..," rengek Kenanga, pura-pura marah. Ucapan itu memang sering dikeluarkan Panji pada saat-saat seperti itu.

"Apa kau ingin bebas pergi ke mana-mana sendirian, dan dapat memikat setiap gadis yang jatuh hati padamu. Enak saja mengatakan orang berkeliaran! Memangnya aku binatang...?" Kenanga semakin merajuk, bahkan melepaskan pelukan tangan Panji dari pinggangnya. Dan melangkah mendahului.

"Wah, ngambek..," cetus Panji tertawa perlahan. Kemudian tangannya terulur menangkap tubuh dara jelita itu, dan diangkatnya ke atas bahu.

"Iiih! Kakang apa-apaan sih...?" Kenanga memekik kecil dan pura-pura memberontak dari gendongan Panji. Namun pemuda itu hanya terbahak dan berlari cepat sambil menggendong tubuh kekasihnya.

Kenanga terkekeh perlahan ketika tangan kekasihnya menggelitik tubuhnya. Saat-saat seperti itu membuat mereka lupa bahwa mereka tokoh-tokoh besar yang dihormati dan dipuja banyak orang. Tidak aneh, sebab mereka pun manusia biasa yang tidak berbeda dengan manusia lainnya.

Kenanga meskipun seorang gadis pendekar yang mendapat gemblengan orang-orang pandai, namun tidak melenyapkan sifat-sifat kewanitaannya, sebagaimana wanita-wanita pada umumnya yang kadang membutuhkan perhatian lebih dan ingin bermanja- manja dengan kekasihnya. Tapi, semua itu tertutup oleh kerasnya kehidupan yang mereka jalani Karena, sebagai seorang pendekar dia harus selalu berhadapan dengan maut Dan, sifat-sifat itu baru terlihat saat mereka berada di alam lepas yang penuh dengan keindahan.

Demikian pula dengan Panji. Sejak kecil pemuda itu telah kehilangan orangtua, dan hidup di tempat terpencil bersama gurunya. Segala kepahitan hidup telah dirasakan pemuda itu hingga akhirnya berjumpa dengan Kenanga, gadis jelita yang telah merebut hatinya. Semangat hidupnya pun semakin bertambah tinggi. Kekosongan jiwanya telah terisi oleh sosok jelita yang juga mencintainya dengan setulus hati. Hingga di saat-saaat tertentu, rasa ingin memanjakan sang kekasih pun muncul dan tercetus begitu saja. Tapi, tentu saja kemesraan sepasang pendekar itu mempunyai batas-batas tertentu yang mereka jaga berdua dengan teguh. Meski demikian, kemesraan itu terasa lebih indah dan nikmat bagi mereka.

Ketika sang Mentari sudah semakin bergeser ke arah barat, Kenanga dan Panji sudah menapakkan kakinya di Desa Babakan. Keduanya langsung menuju sebuah kedai yang berada tak jauh dari mulut desa. Seorang pelayan bertubuh kurus tinggi, menyambut kedatangan Panji dan Kenanga dengan sikap ramah. Dan mengantarkan pasangan pendekar muda itu ke sebuah meja yang masih kosong. Segera saja keduanya memesan makanan.

"Sebentar, Paman."

Langkah pelayan itu terhenti, dan menoleh ke arah dara jelita berpakaian hijau yang memanggilnya. "Ada apa, Nisanak..?" tanya pelayan bertubuh tinggi kurus, membungkukkan tubuh dengan sikap hormat.

"Mmm.... Apakah kedai ini juga menyediakan kamar untuk menginap?" tanya Kenanga yang rupanya telah bersepakat dengan kekasihnya untuk melewatkan malam di desa itu Karena saat itu hari sudah gelap.

"Betul, Nisanak..," sahut pelayan kedai cepat. Dan mengatakan akan merapikan kamar yang akan digunakan Panji dan Kenanga yang memesan dua kamar.

Baru saja pelayan itu berbalik hendak meninggalkan meja pasangan pendekar muda itu, tiba-tiba terdengar suara ribut. Lalu muncullah sosok-sosok tubuh yang tampak gagah dengan pakaian merah bergaris-garis hitam yang memanjang ke bawah. Suara ribut barusan ternyata berasal dari mereka, yang berbicara satu sama lain sambil memasuki kedai. Tentu saja kedatangan delapan orang itu membuat para pengunjung kedai menoleh dengan kening berkerut.

Kepala rombongan yang berjalan paling depan, menghentikan langkahnya sejenak dan mengedarkan pandang matanya dengan tatapan tajam menusuk. Melihat raut wajahnya yang gelap, jelas lelaki bertubuh tegap bercambang bauk itu tengah dilanda kemarahan. Sehingga pengunjung kedai yang kebetulan bentrok dengan mata lelaki itu, langsung menunduk atau mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan lelaki tegap itu.

Dengan langkah lebar lelaki tegap itu menghampiri dua buah meja kosong. Dan, bersama dengan rombongannya mereka menempati meja itu. Kemudian melambaikan tangannya memanggil pelayan kedai yang cepat-cepat mengangguk hormat.

Tapi, karena saat itu pelayan kedai sedang sibuk menyiapkan pesanan tamu-tamu lainnya termasuk Panji dan Kenanga, pelayan kedai itu pun tidak bisa menyambut kedatangan rombongan itu sebagaimana biasanya. Merasa panggilannya tidak dipedulikan, wajah lelaki tegap itu tampak semakin kelam. Sepasang matanya mencorong tajam bagai hendak menelan tubuh pelayan itu bulat-bulat!

"Hel, Pelayan! Apa kau tuli...?!" teriak lelaki tegap itu sambil menggebrak meja di depannya.

Tentu saja pengunjung kedai terkejut dengan suara ribut itu. Beberapa di antaranya mengerling tak senang karena merasa terganggu oleh perbuatan lelaki tegap itu. Tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menelan kedongkolan hatinya. Sedangkan pelayan kedai tampak sangat terkejut. Wajahnya mendadak pucat karena bentakan lelaki tegap berwajah brewok itu. Maka, pelayan itu segera menghampiri setelah didesak pemilik kedai yang tidak ingin ada keributan di dalam kedainya. Apalagi karena kesalahan pelayannya yang tidak bisa melayani tamu.

"Ada apa..., Tuan...?" tanya pelayan kedai seraya membungkukkan tubuh berkali- kali, sebagai permintaan maafnya. Karena dia tidak ingin dipecat dari pekerjaan hanya karena gara-gara tidak bisa melayani tamu dengan baik.

"Hm..., mengapa ketika kupanggil tadi kau tidak segera datang? Apa kau kira kami tidak punya uang untuk membayar harga makanan yang akan kami pesan? Kau benar- benar membuat aku marah!" geram lelaki berwajah brewok langsung mengulurkan tangan mencengkeram leher baju pelayan itu dan menariknya ke bawah.

"Ampun..., Tuan...," pinta pelayan itu mengiba. Hampir saja tubuhnya tersungkur mencium tanah. Untung lelaki brewok itu tidak melepaskan cengkeraman pada leher bajunya. Sehingga, tubuh pelayan sial itu tertahan dan tidak sampai tersungkur ke tanah.

"Mengapa kau berbuat demikian pada kami, hah! Ayo, jawab?!" bentak lelaki gagah berwajah brewok yang seperti mendapatkan tempat untuk menyalurkan kemarahan yang terpendam di dadanya.

"Aku..., sedang sibuk menyiapkan pesanan untuk tamu-tamu lainnya, Tuan. Jadi..., maaf kalau aku belum bisa melayani Tuan dengan baik. Maklumlah tanganku cuma ada dua...," tukas pelayan itu membela diri.

"Keparat! Kau mau mempermainkan aku rupanya. Siapa yang bilang tanganmu ada sepuluh, heh...?!" jawaban itu rupanya dianggap main-main, sehingga kemarahan lelaki brewok itu semakin berkobar. Tangannya pun melayang melengkapi bentakan- bentakannya yang menggelegar.

Plakkk!

"Ahhh...?!" Tubuh pelayan tinggi kurus itu langsung terpelanting mencium tanah. Tampak tanda merah berupa garis-garis jari tangan pada pipi kiri pelayan kedai yang bergerak bangkit sambil merintih kesakitan. Pada sudut bibirnya terlihat ada cairan merah.

Melihat ketidakadilan berlangsung di depan mata, Panji dan Kenanga bergerak bangkit bersamaan ingin mencegah kejadian selanjutnya. Tapi, kedua pendekar muda itu menahan langkahnya ketika tiba-tiba....

"Manusia kurang ajar dari mana yang berani mengacau di tempat ini?"

Bersamaan dengan ucapan itu, seorang lelaki tinggi besar yang hanya mengenakan rompi, memperlihatkan dada yang bidang dan berbulu lebat, bergerak maju menghampiri rombongan lelaki berpakaian merah dengan garis-garis hitam memanjang ke bawah itu.

Bentakan keras itu membuat kepala rombongan dan anggotanya menolehkan kepala ke arah asal suara. Mereka mengerutkan kening ketika melihat seorang lelaki tinggi besar tengah bergerak menghampiri meja mereka. Rupanya mereka sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan lelaki tinggi besar itu.

Melihat ada sasaran lain untuk tempat menumpahkan kemarahannya, lelaki tegap berwajah brewok bergerak bangkit dari kursinya. Kemudian melangkah menyambut kedatangan lelaki tinggi besar yang masih lebih kekar dan lebih tinggi dari tubuhnya. Bahkan, wajah lelaki tinggi besar yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun itu ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat. Sehingga, penampilannya tampak jantan dan kuat. Kedua lelaki kekar itu saling berhadapan dalam jarak enam langkah. Dan, dua pasang mata mereka saling tatap dengan sorot mata tajam menikam jantung. Agaknya, keributan tidak bisa dihindari lagi.

"Hm.... Apa maumu, Kerbau Dungu...?!" desis lelaki berwajah brewok kepala rombongan orang berpakaian merah. Kepalanya agak sedikit terangkat, karena tubuh lawan lebih tinggi sedikit

"Hm.... Seharusnya akulah yang bertanya padamu, Orang Gila! Apa maksudmu membuat keributan dengan menyiksa pelayan kedai yang tidak bersalah apa-apa itu? Kau pikir dirimu siapa, sehingga minta dilayani lebih dulu? Sedangkan tamu-tamu lain banyak yang masih menunggu pesanannya datang!" sergah lelaki tinggi besar yang sosoknya laksana harimau muda jantan. Sepasang matanya menatap tak berkedip, menentang pandang mata lawannya.

"Kurang ajar! Berani kau menghinaku seperti itu! Rupanya kau belum mengenali siapa aku, heh!" geram kepala rombongan yang sudah mengepalkan tinjunya erat-erat. Tanpa peringatan lebih dulu, kepalannya langsung melayang menuju dada lawan.

Lelaki tinggi besar yang agaknya penduduk desa itu tampak tidak berusaha untuk mengelak. Rupanya, dia merasa yakin akan kekuatan daya tahan tubuhnya yang akan mampu meredam pukulan keras itu. Dan...

Bukkk!

"Uhhh.?!" Lelaki tinggi besar yang wajahnya tertutup cambang bauk itu mengeluh kaget. Tubuhnya terhuyung saat pukulan lawan menghajar dadanya. Dia kelihatan sangat terkejut dan tidak mempercayai apa yang baru saja dialaminya. Karena tubuh yang biasanya kebal terhadap pukulan, ternyata terasa sakit. Dan kulit dadanya yang terpukul meninggalkan tanda merah yang nyata.

"Grrr...!" Lelaki tinggi besar itu menggereng gusar. Sepasang matanya memerah sebagai tanda kalau dia sangat marah. Maka, seiring dengan teriakannya yang parau, kepalannya datang menyambar tubuh lawan bertubi-tubi.

Bettt, bettt, bettt..!

Sayang, tak satu pun kepalan sebesar kepala bayi itu mengenai sasaran. Karena kepala rombongan itu sudah mengelak ke kiri dengan mengandalkan kegesitannya. Sehingga, lelaki besar itu semakin bertambah murka.

"Hm...," kepala rombongan orang-orang berpakaian merah dengan garis-garis hitam memanjang ke bawah menggeram perlahan ketika lawannya kembali melanjutkan serangan. Kelihatan jelas betapa lelaki tinggi besar itu tidak memiliki kepandaian silat dan hanya mengandalkan kekuatan otot-otot tubuhnya secara alami. Akibatnya, lelaki tinggi besar itu tidak dapat berbuat banyak. Karena melihat dari caranya mengelak, kepala rombongan itu jelas merupakan pesilat yang pandai.

"Heaaah.!" Ketika kepalan-kepalan yang besar itu kembali datang menyambar, lelaki tegap itu hanya perlu memiringkan tubuhnya dan menangkap pergelangan tangan lawan.

"Hiaaah...!" Sambil membentak keras, diputarnya tangan lelaki tinggi besar itu hingga menjerit kesakitan. Kemudian kaki kanannya mencelat naik ke dagu lawan.

Desss!

"Aaargh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki tinggi besar itu terjengkang ke belakang menimpa meja yang langsung berderak patah. Sedangkan tubuh yang besar dan berat itu terbanting ke lantai dengan kerasnya.

"Uuuh...!" Terdengar lelaki tinggi besar itu mengeluh sambil memegangi dagu yang tulang-tulangnya terasa patah. Barulah dia sadar bahwa lelaki tegap yang berangasan itu bukan lawan yang sebanding dengannya. Karena dia hanya orang kasar yang bekerja sebagai penebang kayu di hutan. Dan kekuatan tabunnya tidak mampu melawan lelaki tegap berpakaian merah bergaris-garis hitam, yang ternyata memiliki ilmu silat tinggi.

"Bangun...!" bentak lelaki tegap yang rupanya masih belum puas melampiaskan kemarahannya. Sosoknya telah berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang. Dan kedua tangannya terkepal, siap memberikan hajaran selanjutnya.

"Tahan...!"

Baru saja kepala rombongan itu hendak mengayunkan kepalannya ke kepala lawan yang tengah bergerak bangkit, terdengar bentakan nyaring yang membuat gerakan lelaki tegap itu tertunda. Ada bias keheranan pada wajahnya. Karena bentakan yang membuatnya menahan gerakan adalah suara wanita. Lelaki itu dapat membedakannya, sebab suara itu bening dan halus.

Sepasang mata lelaki tegap itu terbelalak melihat dugaannya ternyata tidak meleset. Ditatapnya sosok ramping terbungkus pakaian serba hijau yang berdiri tegak, di belakangnya. Kemudian terus naik meneliti raut wajah sosok ramping yang ternyata sangat cantik laksana bidadari. Tentu saja lelaki tegap itu semakin bertambahheran.

"Siapa kau, Nisanak..?" tanya sosok tegap itu tanpa melewatkan kesempatan menatap wajah wanita di depannya. Rupanya, lelaki itu merasa sayang jika harus melewatkan begitu saja wajah yang demikian mempesona. Meski begitu, tidak terlihat kekurangajaran dalam pandang matanya, yang terbatas hanya sekadar mengagumi kejelitaan sosok dara berpakaian serba hijau itu.

Melihat tatapan mata lelaki tegap itu yang sedikit pun tidak menyiratkan maksud- maksud kotor selain hanya mengagumi, Kenanga jadi agak ragu dan menduga kalau lelaki tegap itu sebenarnya bukan orang jahat.

"Mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga dia jadi cepat naik darah...?" gumam batin dara jelita itu menduga-duga. Tapi, meskipun begitu Kenanga tidak bisa membiarkan lelaki itu mengumbar kemarahannya pada setiap orang. Dia harus menghentikannya.

"Aku sama sepertimu, pengunjung kedai ini yang juga belum dilayani. Bedanya aku tidak marah-marah, karena aku sadar bukan aku seorang yang harus dilayani...," ujar Kenanga dengan sorot mata tajam menikam jantung lelaki tegap itu.

"Pelayan itu terlalu kurang ajar, dan tidak memandangku sedikit pun. Buktinya, panggilanku tidak diperhatikan. Jadi, wajar saja jika aku memberi sedikit pelajaran kepadanya agar lain kali bisa melayani orang lebih baik...," tandas lelaki tegap itu masih tidak mau disalahkan. Jelas dia merasa tindakannya sudah benar. Tentu saja kebenaran menurut dirinya sendiri, dan bukan menurut pandangan umum.

"Kau terlalu sombong dan keras kepala, Kisanak. Jelas perbuatanmu itu salah, tapi kau belum juga mau mengakuinya. Apa sebenarnya yang kau inginkan...?" tukas Kenanga dengan sikap menantang. Dia memang ingin memberi pelajaran pada lelaki tegap itu, agar lain kali tidak berbuat sesuka hatinya.

"Hm.... Aku tidak sudi melawan seorang wanita, itu merupakan pantangan bagiku...!" tegas lelaki tegap itu ingin mengungkapkan bahwa Kenanga tidak pantas menghadapinya.

"Hhh.... Semula kuduga yang akan kuhadapi harimau garang. Nyatanya, hanya seorang pengecut yang tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya...," gumam Kenanga yang meskipun pelan tapi telak menusuk jantung, membuat wajah lelaki tegap itu merah.

"Jangan memancing kemarahanku, Nisanak!" geram lelaki tegap berpakaian garis-garis hitam dengan nada mengancam.

"Hm.... Justru itulah yang kuinginkan. Cepatlah kau tunjukkan kebiasaanmu di hadapanku...," tantang Kenanga lagi tanpa mempedulikan peringatan calon lawannya.

"Kurang ajar! Kalau dibiarkan, kau pasti akan semakin bertambah kurang ajar...!" Lelaki tegap itu rupanya sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi, sepasang matanya mencorong tajam. Telapak tangannya langsung bergerak ingin memberi tamparan ke wajah Kenanga agar gadis itu jera. Tapi....

Whuuut..!

"Eh...?!" Bukan main kagetnya hati lelaki tegap itu melihat tubuh gadis itu lenyap seperti asap terbawa angin! Sehingga, tamparannya mengenai tempat kosong!

"Hi hi hi... Apa yang kau cari, Manusia Pikun...?!" ejek Kenanga ketika melihat lelaki tegap itu menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah bodoh. Rupanya dia merasa kehilangan lawan.

Mendengar suara tawa mengejek dari belakangnya, lelaki tegap itu langsung menoleh. Dilihatnya dara jelita itu tengah menutupi mulutnya. Sadarlah lelaki tegap itu kalau lawannya ternyata bukan wanita sembarangan. "Hm.... Pantas kau berani menantangku! Rupanya kau mempunyai sedikit kepandaian! Tapi, jangan harap kau bisa melepaskan diri dari si Tapak Maut!" geram lelaki tegap itu membanggakan julukannya. Setelah berkata demikian, lelaki itu pun lalu mempersiapkan jurusnya untuk menyerang.

Kenanga sendiri tetap tenang tanpa mempersiapkan kuda-kuda. Sehingga Tapak Maut menjadi semakin geram karena merasa dipandang remeh.

"Heaaat..!" Disertai sebuah teriakan nyaring, tubuh Tapak Maut bergerak maju dengan langkah-langkah cepat. Sepasang tangannya bergerak menyambar-nyambar dengan cepat dan kuat

Bettt! Bettt!

Kenanga menarik mundur langkahnya dengan tubuh doyong ke belakang. Begitu sambaran telapak tangan lawan lewat, kakinya langsung mencuat naik melakukan tendangan kilat dalam kedudukan lurus ke depan.

Plakkk!

"Uhhh...?!" Begitu melihat gadis itu melontarkan tendangan. Tapak Maut langsung memapakinya dengan hantaman telapak tangan. Maksudnya jelas hendak membuat kaki dara itu cidera dengan tamparannya. Tapi, apa yang dirasakannya membuat lelaki tegap itu hampir tidak percaya.

"Gila.!" desis Tapak Maut ketika merasa telapak tangannya nyeri akibat menahan tendangan dara jelita itu. Lelaki tegap itu semakin sadar kalau lawannya bukan gadis sembarangan. Selain memiliki kecepatan yang mengagumkan dan sukar diikuti mata, tenaga dalam gadis itu pun masih beberapa tingkat diatasnya.

"Mengapa berhenti, Kisanak? Apa kau sudah menyerah?" ejek Kenanga membuat wajah Tapak Maut berubah gelap. Ucapan gadis jelita itu membuatnya sangat malu. Kenanga sendiri tidak peduli. Niatnya memang hendak memberi pelajaran pada lelaki tegap itu, agar lain kali tidak sembarangan mengumbar kemarahan.

ENAM

"Haaat..!" Tapak Maut kembali membuka serangan dengan menggunakan 'Ilmu Tapak Maut'nya. Nampaknya kali ini lelaki itu benar-benar hendak merobohkan lawan, tanpa ingat lagi akan perkataannya bahwa dirinya pantang bertarung dengan wanita. Bahkan kelihatan sekali Tapak Maut sangat bernafsu.

Whuttt... whuttt..!

Sepasang telapak tangan lelaki tegap itu berkelebatan cepat disertai sambaran angin kuat, membuat meja dan kursi terlempar ke kiri dan kanan terkena sambaran tangannya. Tapi, meskipun serangan yang dilancarkan Tapak Maut demikian gencar, Kenanga tetap tidak kelihatan repot. Hanya dengan mengandalkan kelincahannya, dara jelita itu dapat menghindari setiap sambaran telapak tangan lawan. Bahkan sesekali membalas dengan pukulan satu dua untuk menghambat gempuran yang semakin gencar.

"Heaaah...!"

Ketika pertarungan telah melewati jurus ketiga puluh, Kenanga tiba-tiba mengeluarkan bentakan yang mengejutkan. Pukulan kanan lawan yang mengancam pelipisnya dielakkan gadis itu dengan memiringkan tubuh. Kemudian, langsung melepaskan sebuah pukulan dari bawah ke atas dengan kecepatan kilat.

Bukkk!

"Hukkkh...!" Terlambat bagi Tapak Maut untuk mengelak. Dadanya terkena hantaman kepalan mungil yang mengandung tenaga dalam kuat. Membuat tubuh lelaki tegap itu terjengkang ke belakang dan menimpa meja hingga pecah berantakan.

"Uhhh..." Tapak Maut berusaha bangkit menyingkirkan pecahan meja di sekeliling tubuhnya. Wajahnya tampak agak pucat. Karena pukulan yang mengenai dada itu sempat membuatnya sulit bernapas. Cairan merah yang menetes di sudut bibir, menandakan lelaki tegap itu mengalami luka dalam yang cukup mengganggu.

Sementara itu, ketujuh orang kawan Tapak Maut sudah bangkit dari kursi. Mereka langsung menghunus senjata dan berloncatan mengepung Kenanga.

"Perempuan liar! Kau akan menyesali perbuatanmu......!" geram seorang kawan Tapak Maut yang bertubuh pendek kekar. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan deraan angin tajam.

Panji yang sejak tadi hanya duduk memperhatikan jalannya pertarungan, ikut bergerak bangkit dari kursi. Kemudian menggerakkan kepala ketika Kenanga menoleh ke arahnya. Gerakan itu merupakan isyarat agar dara jelita itu keluar dari ruangan kedai yang belum seluruhnya berantakan. Melihat isyarat kekasihnya, Kenanga langsung melesat meninggalkan ruangan kedai. Sekali menyentakkan kaki ke tanah, tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau itu melayang keluar bagaikan seekor burung walet.

"Hei! Hendak lari ke mana kau, Perempuan Liar...?!" bentak lelaki pendek kekar yang mengira gadis jelita itu hendak melarikan diri. Cepat tubuhnya bergerak menyusul, diikuti keenam orang kawannya.

Tapak Maut pun tidak mau ketinggalan. Meski dadanya dirasakan masih agak nyeri, lelaki tegap itu memaksakan diri untuk mengejar gadis jelita yang telah merobohkannya.

Panji yang lebih dulu tiba di luar kedai, segera mengisyaratkan agar Kenanga mundur. Menurutnya, Kenanga sudah cukup memberi pelajaran pada lelaki tegap yang berjuluk Tapak Maut. Dan sekarang pemuda itu hendak menyelesaikan persoalan ini sendiri. Kenanga tidak membantah. Gadis itu merasa sudah cukup puas menghajar Tapak Maut yang berangasan. Tanpa banyak cakap lagi, dara jelita itu melangkah mundur dan berdiri di tepi jalan.

"Tunggu...!" Panji berteriak mencegah ketika lelaki pendek kekar bersama enam orang kawannya hendak mengejar Kenanga. Sehingga ketujuh orang itu menahan langkahnya, dan memandang pemuda tampan berjubah putih di depannya dengan sinar mata mengancam.

"Minggir! Aku tidak mempunyai urusan denganmu...!" bentak lelaki pendek kekar sambil mengacung-acungkan pedangnya, menakut-nakuti. Tapak Maut yang tiba belakangan, tampak menatap sosok pemuda tampan berjubah putih itu dengan kening berkerut. Dia sempat mengenali kalau pemuda itu sebagai kawan gadis berpakaian serba hijau yang barusan bertarung dengannya. Maka, kakinya melangkah menghampiri pemuda tampan berjubah putih itu.

"Kisanak, siapa kau sebenarnya? Dan dari mana asalmu...?" tanya Tapak Maut yang rupanya menduga kalau pemuda itu pasti bukan orang sembarangan. Jika gadis jelita itu sudah demikian tinggi kepandaiannya, tentu pemuda tampan itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi lagi.

"Tapak Maut aku bernama Panji. Sedangkan kawanku itu Kenanga. Kami berdua perantau-perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Karena di antara kita tidak ada permusuhan sebelumnya, aku minta agar perselisihan ini kita sudahi sampai di sini," jawab Panji memperkenalkan diri.

"Tidak bisa!" bentak Tapak Maut keras. "Setelah melukaiku, berarti di antara kita telah ada persoalan! Dan, aku ingin menyelesaikannya sampai tuntas!"

"Dengar, Tapak Maut!" tegas Panji dengan sinar mata mencorong tajam, membuat lelaki itu bergidik memandangnya. "Keributan di dalam kedai tadi karena ulahmu yang sombong dan mau menang sendiri! Seharusnya kau bisa menahan sabar dan tidak mengumbar kemarahanmu pada setiap orang yang kau temui. Itu jelas tidak benar! Jadi, wajar jika kawanku terpaksa menghentikan kelakuanmu yang tidak pantas itu. Kalau kau mempunyai persoalan yang membuat kepalamu pusing, tidak sepantasnya kau tumpahkan pada orang lain. Itu tidak adil namanya."

"Biarpun begitu, tidak seharusnya kawan wanitamu itu mempermalukan aku di depan orang banyak" bentak Tapak Maut terpaksa mengajukan alasan yang kurang tepat. Karena lelaki tegap itu tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar ucapan pemuda tampan berjubah putih. Panji tersenyum mendengar bantahan Tapak Maut Pendekar Naga Putih tahu kalau alasan itu hanya dicari-cari dan tidak kuat.

"Tapak Maut. Kami berdua bukanlah orang-orang yang suka mencari keributan. Bahkan, kami seringkali berusaha menghindarinya dengan mencari jalan damai. Sekarang aku menawarkan jalan damai itu kepadamu. Terserah apa jawabanmu, kami siap menerimanya," ujar Panji menyembunyikan tantangan, dan menyatakan secara tidak langsung bahwa dia dan Kenanga tidak takut bertarung.

Mendengar tantangan tersembunyi itu. Tapak Maut kelihatan ragu. Sebab, jika mendengar ucapan serta melihat sikap pemuda itu, jelas Panji bukan orang sembarangan.

"Hhh..." Terdengar lelaki tegap itu menghela napas panjang sebagai tanda keresahan hatinya. Rupanya dia merasa gentar juga dengan sikap tenang yang ditunjukkan Panji. Karena dia mulai dapat menduga-duga siapa pemuda tampan berjubah putih itu.

Tapak Maut bukanlah orang asing dalam kalangan persilatan. Pengetahuannya tentang tokoh-tokoh golongan putih maupun golongan hitam cukup luas. Itu tidak aneh, karena Tapak Maut beserta rombongannya adalah pengantar barang yang sering bepergian sampai ke tempat yang jauh sekali. Dan, dari pekerjaannya itu, dia banyak mendapat pengetahuan. Baik mengenai tokoh-tokoh puncak sampai yang baru muncul. Selain itu, Tapak Maut beserta anggotanya tidak pernah ketinggalan mengikuti perkembangan yang terjadi di kalangan persilatan. Itu sebabnya mengapa dia dapat menduga-duga siapa pemuda tampan berjubah putih yang berdiri di hadapannya.

Melihat Tapak Maut termenung mengikuti arus pikirannya yang melayang-layang, Panji merasa lega. Karena menurutnya itu merupakan pertanda baik. Mungkin lelaki itu tengah memikirkan jawaban apa yang akan diberikan atas tawaran Panji. Kalau tidak, mana mungkin dia sampai termenung demikian lama?

"Kisanak, sebutkan julukanniu! Karena sepertinya aku sudah bisa menebak siapa dirimu sebenarnya," ujar Tapak Maut tiba-tiba, begitu terbebas dari lamunannya itu.

"Terkalah olehmu. Tapak Maut…," tukas Panji tanpa menjawab pertanyaan tokoh itu.

"Hm… Kalau aku tidak salah lihat. Kau pasti Pendekar Naga Putih. Apakah dugaanku keliru...?" ujar Tapak Maut yang rupanya dapat menebak dengan tepat. Sebab, lelaki itu sebelumnya telah mendengar ciri-ciri tokoh muda berjuluk Pendekar Naga Putih.

"Matamu ternyata sangat tajam, Tapak Maut" puji Panji tulus. "Sekarang kita kembali pada tawaranku tadi"

"Dengan memandang nama besarmu, aku bersedia mengakhiri persoalan ini sampai di sini...," jawab Tapak Maut memilih berdamai setelah mengetahui siapa pemuda berjubah putih itu sebenarnya.

"Syukurlah. Aku merasa lega dengan jawabanmu..," ucap Panji menghembuskan napas panjang sebagal tanda kelegaan hatinya. Kemudian menyalami lelaki tegap itu yang langsung memeluk tubuh Panji. Rupanya, Tapak Maut pun sangat mengagumi pendekar muda itu. Sehingga, lelaki itu segera mempergunakan kesempatan selagi pemuda itu menyalaminya.

"Terima kasih, Pendekar Naga Putih...," desah lelaki tegap itu terharu sekaligus bertambah kagum.

Pendekar muda yang terkenal itu ternyata memiliki hati yang bijaksana dan pandangan yang luas serta pemaaf. Tentu saja Tapak Maut merasa bangga dapat berkenalan lebih dekat dengan Panji.

Suasana yang semula tegang berubah gembira. Tidak ada lagi rasa permusuhan atau dendam di hati Tapak Maut maupun kawan-kawannya. Kegembiraan semakin lengkap ketika lelaki tegap itu mengajak Panji dan Kenanga merayakan perdamaian itu di kedai tempat mereka semula bertarung.

"Apa sebenarnya yang membuatmu tampak menahan marah ketika datang ke kedai ini?" tanya Panji saat mereka telah berada di dalam kedai.

"Hhh.... Sebenarnya masalah itu memang tidak seharusnya membuatku lupa diri, dan menumpahkannya pada orang lain," sesal Tapak Maut seraya menghela napas panjang. Wajah lelaki tegap itu kelihatan murung dan menyimpan dendam serta kedukaan yang dalam.

Melihat perubahan wajah lelaki tegap itu. Panji jadi semakin ingin tahu apa sebenarnya yang telah menimpanya. Setelah menunggu cukup lama namun tak juga ada kata yang terucap dari bibir Tapak Maut, akhirnya terlontar pertanyaan dari mulut Panji.

"Boleh aku tahu, apa yang telah kau alami,..?" tanya Panji memandang wajah di depannya.

"Peristiwa ini benar-benar membuat hatiku penasaran!" ujar Tapak Maut, setelah terdiam beberapa saat lamanya. "Beberapa waktu yang lalu empat orang kawanku melakukan perjalanan untuk mengantarkan barang pesanan salah seorang pelanggan kami. Ketika pada hari yang telah kuperhitungkan mereka sudah harus kembali, ternyata tak seorang pun yang muncul. Karena keterlambatan itu sebelumnya tidak pernah terjadi, timbul kecurigaanku. Dengan tujuh orang anggota yang tersisa, kami pun melakukan penyelidikan. Apa yang kemudian kami temukan benar-benar membuat penasaran! Keempat kawan kami menggeletak tewas di tepi sebuah hutan. Kereta yang seharusnya berisi barang pesanan, lenyap tanpa bekas. Jelasnya, kemungkinan besar mereka telah dihadang perampok. Anehnya, sepanjang pengetahuan kami, di daerah sekitar tempat itu tidak terdapat komplotan perampok. Sehingga, meskipun kami telah menelusuri seluruh wilayah hutan hingga beberapa desa, tidak ada tanda-tanda adanya gerombolan perampok Nah, itulah yang membuatku pening dan mudah tersinggung."

Tapak Maut termenung setelah menceritakan persoalannya pada Panji. Sehingga pemuda itu mulai mengerti mengapa lelaki tegap itu bersikap aneh ketika datang ke Desa Babakan. Tapi, keributan itu tidak sampai membawa korban. Bahkan memberi hikmah yang membuat mereka bersyukur, kejadian itu telah memperkenalkan mereka satu sama lain.

"Hm.... Jika demikian, kemungkinan besar mereka bukan perampok-perampok biasa...," gumam Panji setelah terdiam beberapa saat dan mengkaji cerita Tapak Maut.

"Maksudmu...?" tanya Tapak Maut menegasi. Lelaki itu belum bisa menangkap ke mana arah pembicaraan Panji.

"Begini. Kalau benar yang telah membunuh kawan-kawanmu gerombolan perampok, pasti mereka mempunyai markas. Dan markas itu tentu sudah ditemukan, mengingat seluruh daerah itu telah kau jelajahi. Tapi, ternyata mereka lenyap tanpa jejak itu hanya berarti satu. Mereka bukan perampok yang sesungguhnya. Jelasnya, mereka bukan perampok tapi tahu tentang barang yang tengah kalian kawal," ujar Panji menjelaskan maksud perkataannya.

"Hm..., ya. Kemungkinan itu memang bisa terjadi. Tapi, siapa kira-kira yang melakukan perbuatan biadab itu? Sebab, selama ini kami tidak mempunyai musuh dan selalu mengikat tali persahabatan dengan tokoh-tokoh persilatan...?" ujar Tapak Maut semakin bertambah bingung setelah mendengar ucapan Panji.

"Sebaiknya kita lihat saja nanti. Karena saat ini aku tengah mencari seorang lelaki berkumis lebat yang bernama Bardewa," tukas Panji membuat Tapak Maut menoleh dan memandang wajah pemuda itu, yang juga kebetulan tengah memandangnya.

"Apa hubungannya orang yang bernama Bardewa dengan terbunuhnya kawan-kawanku...?" tanya Tapak Maut tidak mengerti ketika Panji menghubungkan pembunuhan itu dengan orang yang dicarinya.

"Kemungkinan besar ada hubungannya. Karena Bardewa seorang manusia licik yang sangat pandai menyamar. Beberapa hari yang lalu Bardewa telah mengelabui tokoh- tokoh Perguruan Pedang Baja dan Perguruan Merak Emas. Sehingga, kedua perguruan itu bentrok dan membawa korban nyawa yang tidak sedikit," jelas Panji membuat Tapak Maut mengangguk-anggukkan kepala.

"Iblis Wajah Seribu...?!" desis Tapak Maut dengan wajah berubah. Sehingga membuat Panji mengerutkan kening saat mendengar disebutnya nama tokoh sesat yang menggetarkan itu.

"Iblis Wajah Seribu...?!" Panji menggumamkan julukan itu, karena sebelumnya memang pernah mendengarnya.

"Ya. Hanya tokoh sesat yang berjuluk Iblis Wajah Seribu satu-satunya manusia yang bisa menirukan wajah siapa saja," tegas Tapak Maut dengan nada suara agak kering. Jelas, lelaki tegap itu merasa gentar dengan tokoh sesat itu.

"Hm... Aku pun pernah mendengar nama tokoh sesat itu. Tapi.... Apa mungkin orang itu yang melakukan semua ini? Setahuku tokoh itu telah lama menghilang di dunia ramai. Kalaupun muncul kembali, mungkin usianya telah mencapai seratus tahun lebih...!" ujar Pendekar Naga Putih teringat akan cerita gurunya mengenai tokoh sesat yang pernah menggetarkan rimba persilatan dengan berbagai ulahnya.

Tapak Maut pun mengetahui hal itu. Sehingga, ikut-ikutan termenung memikirkan kemungkinan yang sangat mustahil itu. Nama Iblis Seribu Wajah memang muncul pada puluhan tahun yang lalu, dan saat itu dia telah berumur sekitar tujuh puluh tahun. Jadi, bagaimana mungkin tokoh itu kini muncul dan membuat kekacauan?

"Yahhh..., memang sulit untuk dipastikan. Tapi, siapa tahu diam-diam tokoh sesat itu telah mendapatkan seorang murid yang berbakat, dan mewarisi seluruh ilmu- ilmunya...," ujar Panji menduga-duga, membuat Tapak Maut tercenung memikirkan kemungkinan itu.

"Kemungkinan besar Bardewa murid tokoh sesat itu, Kakang," Kenanga yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba ikut menimpali. Rupanya dara jelita itu tertarik mendengar tokoh sesat yang berjuluk Iblis Wajah Seribu.

"Ya. Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi, aku lebih suka berharap Bardewa bukan murid Iblis Wajah Seribu. Sebab bila hal itu benar, celakalah dunia persilatan. Ulahnya pasti akan membuat gempar!" ujar Panji.

"Demikian pula aku...." tukas Tapak Maut yang juga mengharapkan hal serupa dengan Panji.

"Biarpun demikian, kita harus segera bertindak, Kakang. Aku khawatir Bardewa akan membuat ulah lagi...," ujar Kenanga yang merasa khawatir Bardewa akan kembali membuat ulah dengan mengadu domba tokoh-tokoh persilatan.

"Benar. Kita harus mencari orang yang bernama Bardewa...," Tapak Maut juga mengajukan usul serupa dengan Kenanga.

"Memang. Itu seharusnya kita lakukan secepat mungkin. Tapi kita belum menemukan petunjuk yang pasti, di mana kira-kira Bardewa sekarang berada. Karena kemungkinan besar dia sudah melarikan diri dari tempat ini, mengingat Ki Genawang dan Ki Gawung telah mengenali wajahnya," ujar Panji membuat Kenanga dan Tapak Maut bingung sesaat.

"Hm... Mudah-mudahan orang itu belum lari jauh, dan ingin melihat lebih dulu hasil perbuatannya...," harap Kenanga dengan suara perlahan.

Suasana pun berubah hening. Ketiga orang itu termenung mengikuti arus pikiran masing-masing.

********************

TUJUH

Matahari baru saja muncul di kaki langit sebelah timur. Serombongan penunggang kuda tampak bergerak melewati mulut Desa Babakan. Suara derap dan ringkikan kuda serta bentakan-bentakan penunggangnya, membuat penduduk setempat mengerutkan kening tak senang. Namun, mereka hanya bisa memandang dengan hati jengkel tanpa mampu berbuat apa-apa.

Rombongan penunggang kuda yang kurang lebih berjumlah dua belas orang itu berlompatan turun dan menambatkan kudanya di muka kedai. Salah seorang yang bertindak sebagai pimpinan, langsung menuju pintu kedai dengan langkah lebar, dan menyeruak masuk ke dalam.

"Hei! Coba tunjukkan di mana Ki Kuntala! Aku dengar orang itu menginap di kedai ini semalam...?!" teriak lelaki pendek gemuk berkepala botak sambil bertolak pinggang. Sepasang matanya beredar ke sekeliling, ruangan, menyapu wajah-wajah pengunjung kedai.

Tapak Maut yang saat itu tengah menikmati hidangan, segera berdiri dari kursinya. Dengan wajah tenang, lelaki itu melangkah menghampiri lelaki gemuk berkepala botak. Panji, Kenanga, dan tujuh orang kawan Tapak Maut hanya diam melihat kelanjutan tindakan lelaki gemuk berkepala botak.

"Siapa kau, Kisanak? Ada apa mencariku...?" tegur Tapak Maut yang bernama Ki Kuntala dengan sikap jumawa. Sepasang matanya meneliti sosok lelaki gemuk pendek dari bawah ke atas.

"Hm.... Kaukah Ki Kuntala yang mengepalai rombongan pengawal barang...?" tanya lelaki gemuk itu lagi sambil meneliti wajah Tapak Maut. Menilik sikapnya, jelas lelaki gemuk pendek itu belum pernah berjumpa dengan Ki Kuntala dan hanya tahu namanya saja.

"Ada apa mencariku...?!" tukas Ki Kuntala setengah membentak. Rupanya dia sudah tidak sabar melihat tongkah lelaki botak itu yang seperti tengah memeriksa pesakitan.

"Hm. Beberapa hari yang lalu majikan kami menitipkan barang kepadamu. Lalu, mengapa sampai hari ini barang itu belum tiba pada yang berhak menerimanya?" ujar lelaki gemuk pendek itu seraya memperlihatkan pandangan mengejek.

Merah wajah Ki Kuntala, karena tatapan itu demikian menghina. Seakan-akan menuduh dirinya telah menyalahgunakan kepercayaan majikan lelaki gemuk itu, dan mempergunakan barang kiriman itu untuk kepentingannya sendiri.

"Dengar, Kisanak! Sebenarnya barang itu sudah kukirim dengan dikawal empat orang anggotaku. Malang, mereka kutemukan tewas dan harta itu lenyap tanpa jejak di tepi Hutan Ngarai. Itu sebabnya, mengapa sekarang aku berada di Desa Babakan ini. Karena sampai saat ini aku masih menyelidiki siapa orang yang telah melakukan perampokan itu. Kelak, bila barang-barang itu sudah kutemukan, akan kukembalikan pada majikanmu, dan memberikan ganti rugi sepantasnya," jawab Ki Kuntala menahan kegeraman hati. Karena itu merupakan kesalahannya, maka dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ha ha ha...!" lelaki pendek gemuk itu tertawa terbahak-bahak diikuti sebelas orang kawannya. Rupanya, dia tidak percaya akan keterangan Ki Kuntala yang berjuluk Tapak Maut.

"Diam!" bentak Ki Kuntala yang merasa tersinggung karena suara tawa itu demikian menyakitkan.

Bentakan yang keras dan mengejutkan itu membuat suara tawa lelaki gemuk terhenti. Sementara, sebelas orang lelaki di belakangnya sudah menghunus senjata. Agaknya, mereka marah terhadap Ki Kuntala yang telah membuat mereka terkejut. Melihat kenyataan itu, tujuh orang kawan Ki Kuntala langsung berlompatan bangkit dari kursi. Mereka segera mencabut senjata dan siap membela pimpinan mereka. Ki Kuntala segera menahan orang-orangnya. Persoalan ini ingin diselesaikannya sendiri karena menjadi tanggung jawabnya. Maka, dihadapinya lelaki pendek gemuk itu dengan sikap tenang.

"Katakan pada majikanmu, dalam beberapa hari ini aku akan datang untuk mengganti barangnya yang hilang. Sekarang, sebaiknya kau pulang dan jaga majikanmu baik-baik..," ujar Ki Kuntala menatap tajam wajah lelaki gemuk itu lekat-lekat. Sikapnya terlihat tegas dan tidak bisa ditawar lagi.

"Enak saja kau bicara! Kalau memang kau mampu mengganti barang majikanku, ayo berikan sekarang juga! Aku tidak ingin kembali dengan tangan kosong!" tukas lelaki gemuk itu memaksakan kehendaknya.

"Hm. Sudah kukatakan aku akan datang sendiri mengantarkan pada majikanmu, dan bukan kepadamu yang hanya seekor anjing penjaga...!" geram Ki Kuntala terpaksa harus menahan kemarahannya. Meskipun dadanya saat itu hampir meledak.

"Kalau begitu aku akan memaksamu!" tandas lelaki gemuk yang sepertinya akan segera bertindak membuktikan ucapannya.

Tapak Maut sebenarnya memiliki sikap berangasan dan mudah tersinggung. Tapi, kali ini lelaki itu mengambil sikap mengalah, itu karena dia tahu kalau dirinya berada di pihak yang salah. Sehingga, dia hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan lelaki gemuk itu.

"Hm..." Lelaki pendek gemuk itu terlihat mempermainkan dua kepalan tangannya hingga menimbulkan suara berkerotokan. Jelas, maksudnya hendak menakut-nakuti Ki Kuntala.

"Untuk apa kau tunjukkan permainan anak kecil, Kisanak. Kalau memang kau tidak bisa menerima usulku, aku siap menghadapi keinginanmu..." tantang Ki Kuntala.

"Kurang ajar...!" Setelah mendesis marah, lelaki gemuk itu segera melepaskan sebuah tamparan ke pelipis Ki Kuntala. Maksudnya hendak memberi peringatan pada lelaki tinggi tegap itu agar tidak menyepelekan dirinya.

Whuuut..!

Ki Kuntala menggeser langkahnya dua tindak, kemudian mendoyongkan tubuh. Hingga serangan lelaki gemuk itu tidak mencapai sasaran.

"Jangan terlalu memaksa, Kisanak..!" ujar Ki Kuntala seakan mengingatkan untuk tidak melanjutkan serangan.

Tapi lelaki gemuk itu tidak mau berhenti. Begitu serangan pertamanya gagal, langsung disusul dengan serangan-serangan berikutnya yang lebih hebat lagi. Sehingga, Ki Kuntala harus menggunakan kelincahannya untuk menghindar. Setelah menghindar terus-menerus selama kurang lebih lima jurus, Ki Kuntala merasa tidak bisa berdiam diri lagi. Maka, ketika pukulan lawan kembali datang mengancam dada, lelaki tegap itu segera mengangkat tangan kanan memapaki serangan. Sekaligus mengirimkan sebuah hantaman dengan telapak tangan ke tubuh lawan.

Dukkk! Desss!

Gerakan Ki Kuntala yang kelihatan masih jauh lebih cepat dari lawan, membuat lelaki gemuk tidak dapat menghindari hantaman telapak tangan Ki Kuntala. Akibatnya, tubuh gemuk itu langsung terpental ke belakang dan terbanting ke luar kedai.

Sebelas orang kawan lelaki gemuk itu segera berlompatan ke luar. Kemudian, mengepung Ki Kuntala yang saat itu telah melesat keluar ruangan kedai. Ketujuh orang anggota Tapak Maut ikut melesat ke luar dengan senjata di tangan. Rupanya mereka khawatir jika pimpinan mereka sampai celaka di tangan kedua belas orang itu.

"Katakan pada majikanmu apa yang tadi kukatakan..!" ujar Ki Kuntala kembali mengingatkan agar lelaki gemuk itu segera meninggalkan Desa Babakan dan melaporkan pada majikannya tentang janji lelaki tegap itu.

"Hm...!" Namun, lelaki gemuk itu tidak mempedulikan ucapan Ki Kuntala. Bahkan, saat itu senjata yang tergantung di pinggangnya telah dicabut. Dan memerintahkan sebelas orang kawannya untuk mengeroyok lelaki tegap itu.

Ki Kuntala tetap bersikap tenang, tanpa mencabut senjatanya. Namun, ketujuh orang anggotanya tidak bisa berdiam diri. Mereka sudah berlompatan dan menerjang sebelas orang kawan lelaki gemuk itu.

"Tahan.!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang membuat orang-orang itu menghentikan gerakan. Mereka menoleh ke arah suara bentakan yang membuat hati mereka berdebar keras. Bahkan, wajah mereka pun kelihatan agak pucat. Jelas, bentakan itu telah mempengaruhi ketegaran hati mereka. Panji yang mengeluarkan bentakan keras itu melangkah maju ke tengah arena. Ditatapnya wajah lelaki gemuk pimpinan sebelas orang itu yang hendak bertarung dengan Ki Kuntala dan kawan-kawannya.

"Kisanak," ujar Panji seraya menatap tajam sosok lelaki gemuk pendek itu. "Apa yang dikatakan Ki Kuntala adalah hal yang sebenarnya. Dan janjinya bisa dipercaya. Untuk itu, kuharap kau mau melaporkan semua ini pada majikanmu."

"Tidak bisa! Majikanku telah memerintahkan agar jika aku kembali harus membawa barang miliknya. Jika tidak, aku akan diusir pergi dari tempatku bekerja selama ini...," lelaki gemuk itu tetap bersikeras meminta kembali barang yang dititipkan majikannya pada Ki Kuntala. Dan, rupanya hal itu tidak bisa ditawar lagi.

"Hm.... Katakan pada majikanmu, Pendekar Naga Putih yang akan datang mengantarkan barang titipannya...," karena sulit mencari alasan lain, akhirnya Panji mempertaruhkan nama besarnya sebagai jaminan.

"Pendekar..., Naga Putih. ?!" desis lelaki gemuk itu dengan wajah pucat ketika Panji menyebutkan julukannya.

Dan, sebelas orang lainnya pun tidak kalah terkejutnya dengan lelaki pendek gemuk itu. Mereka saling bertukar pandang satu sama lain dengan wajah tegang. Karena nama pendekar besar itu bukan suatu yang asing di telinga mereka. Bahkan, mereka sangat kagum dan bangga akan kegagahan Pendekar Naga Putih.

"Pendekar Naga Putih. Mengingat nama besarmu, biarlah kami akan menanggung semua akibatnya nanti di hadapan majikan kami. Dan kuharap kau mau memaafkan tindakan kami tadi...," ujar lelaki gemuk itu, mengalah setelah mendengar Pendekar Naga Putih yang kelak akan datang mengantarkan barang milik majikannya.

"Terima kasih atas pengertian kalian semua...," ujar Panji merasa lega meskipun untuk itu nama besarnya harus dipertaruhkan sebagai jaminan.

Sepeninggal lelaki gemuk bersama sebelas orang kawannya. Panji dan Kenanga minta diri pada Ki Kuntala dan anggotanya. Pemuda itu berjanji akan ikut mencari para perampok yang tengah dicari Ki Kuntala. Lelaki tegap itu hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah didapatnya dari pemuda tampan berjubah putih itu.

Ki Kuntala dan tujuh orang kawannya masih tetap berdiri sampai bayangan Pendekar Naga Putih dan Kenanga lenyap dari pandangan. Setelah itu mereka meninggalkan Desa Babakan mengambil arah yang berlawanan dengan Panji dan Kenanga.

********************

Panji dan kekasihnya melangkah mengambil jalan ke utara Desa Babakan. Sengaja mereka mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Karena selain sulit, arah sebelah utara Desa Babakan banyak ditumbuhi pepohonan lebat itu salah satu sebab mengapa jalan itu jarang dilalui orang.

"Kakang,.., kau dengar suara itu. ?" ujar Kenanga saat mereka sudah menapakkan kaki memasuki sebuah mulut hutan lebat. Sebenarnya Kenanga tidak perlu menanyakan Panji, karena pemuda itu telah mendengarnya lebih dulu. Hanya saja Panji hendak memastikan betul suara yang didengarnya itu.

"Suara orang bertempur. Mari kita lihat..!"

Baru saja ucapan itu selesai, Pendekar Naga Putih langsung melesat ke arah asal suara dentang senjata dan bentakan-bentakan yang didengarnya. Sebentar saja, tubuh sepasang pendekar muda itu sudah saling berkejaran menerobos semak belukar. Jalan- jalan yang sebenarnya sangat sulit untuk dilalui orang, tidak membuat lari keduanya terganggu, meskipun tidak jarang mereka harus berloncatan dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh.

Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka pada sebuah lapangan berumput yang cukup luas dan dikelilingi pepohonan besar. Tapi, suasana di tempat itu terlihat sunyi. Sehingga, begitu Panji dan Kenanga tiba, mereka hanya mendapatkan enam sosok tubuh yang bergeletakan dengan sekujur tubuh bermandikan darah segar.

"Celaka! Kita terlambat, Kakang...!" sesal Kenanga, karena pertempuran ternyata telah usai.

Panji tidak menjawab. Pemuda itu memeriksa sosok-sosok tubuh yang bergeletakan di atas rumput dengan harapan dapat menemukan sosok yang masih bernapas di antara mayat-mayat itu. Harapan Panji terkabul. Salah satu dari keenam sosok itu tampak masih bernapas, meskipun satu-satu. Cepat pemuda itu menotok beberapa bagian tubuh sosok itu. Sehingga, lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu membuka matanya perlahan.

"Katakan, siapa yang melakukan semua ini, Paman...?" tanya Panji begitu melihat mata lelaki itu terbuka dan menatapnya dengan sayu.

"Iblis... Wajah... Se... ribu...!" ucap lelaki itu dengan susah payah.

"Iblis Wajah Seribu..?" gumam Panji seolah tak mempercayai pendengarannya. "Lalu..., kalian ini siapa? Dan mengapa berada di dalam hutan ini...?"

"Kami., murid-murid Perguruan Merak Emas yang merasa penasaran dan ingin mencari Kakang Bardewa...," sosok lelaki tua itu menjilati bibirnya yang terasa kering. Sehingga, jawabannya terhenti sampai di situ.

"Jadi, Bardewa yang melakukan semua ini..?" desak Panji, karena diketahuinya kalau lelaki itu tidak akan dapat bertahan lama. Untuk itu dia harus mencari keterangan sebanyak-banyaknya.

"Bukan... tapi... tapi... Murid Perguruan Pedang Ba... ja... aaah...!" Setelah menjawab pertanyaan Panji, lelaki itu menghembuskan napasnya yang penghabisan, diawali dengan suara mengorok panjang.

"Murid Perguruan Pedang Baja...?" desis Panji seperti tidak mempercayai ucapan terakhir orang itu. Tapi, mana mungkin orang yang sudah sekarat masih hendak berdusta? Mungkin orang itu berkata benar, pikir pemuda itu tercenung sesaat.

"Kakang. Bukankah menurut Ki Genawang semua murid-muridnya telah tewas dibantai Iblis Wajah Seribu yang menyamar sebagai Ki Gawung? Jadi.., bagaimana mungkin ini bisa terjadi..?" tanya Kenanga penasaran mendengar keterangan orang itu.

"Benar. Dan kemungkinan besar yang melakukan semua ini adalah Iblis Wajah Seribu yang menyamar sebagai murid Ki Genawang," tukas Panji perlahan sambil merenung.

"Atau bisa juga Ki Genawang berbohong sewaktu mengatakan semua muridnya telah tewas terbantai...," sergah Kenanga, membuat Panji mengerutkan kening.

"Hhh.... Persoalan ini semakin bertambah rumit..," gumam Panji dengan helaan napas panjang. "Kalau begitu, sebaiknya kita mendatangi Perguruan Merak Emas. Aku khawatir Iblis Wajah Seribu akan mendatangi perguruan itu..."

"Mengapa Kakang berpikiran demikian...?" tanya Kenanga heran dengan usul kekasihnya.

"Kita lihat saja nanti. Tapi menurut dugaanku, iblis keji itu akan mendatangi Perguruan Merak Emas. Kemungkinan besar mereka pun akan dibantai seperti murid-murid Perguruan Pedang Baja...," jawab Panji membuat Kenanga terkejut. Gadis itu tidak sampai berpikir ke arah itu.

"Kalau begitu tunggu apa lagi, Kakang. Ayo, kita segera menuju Perguruan Merak Emas. !" sergah Kenanga yang langsung berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Tanpa banyak cakap lagi. Panji pun segera menjejakkan kakinya ke tanah. Sehingga tubuhnya melayang di udara dan jatuh tepat di sisi kekasihnya yang sedang berlari. Kemudian menjajari langkah dara jelita itu menuju Perguruan Merak Emas.

********************

DELAPAN

Serombongan penunggang kuda bergerak melintasi jalan berdebu. Suara derapnya bagai hendak mengguncang bumi. Itu tidak terlalu aneh, karena jumlah penunggang kuda itu sangat besar, kira-kira enam puluh orang lebih. Sehingga, kepulan debu yangditinggalkannya terlihat bagai letusan gunung berapi yang membentuk bulatan di angkasa. Dengan diiringi derap yang menggetarkan bumi, rombongan itu terus bergerak mendekati sebuah bangunan perguruan yang berada di depannya.

Penjaga-penjaga yang berada di atas gerbang bangunan perguruan tentu saja kaget melihat kedatangan serombongan orang berkuda dalam jumlah yang cukup besar. Merasa gelagat tidak baik, penjaga itu langsung melompat turun dan berlari tergesa-gesa menuju bangunan utama perguruan.

"Guru...! Guru..!"

Sambil berlarian penjaga itu berteriak-teriak, membuat murid-murid yang lainnya menatap heran. Belum lagi penjaga itu tiba di depan pintu bangunan utama perguruan, tiba-tiba seorang lelaki gagah telah berdiri tegak di ambang pintu. Lelaki itu tidak lain Ki Gawung yang diapit dua orang murid utamanya.

"Ada apa...?" tegur Ki Gawung dengan suara tegas dan mengandung perbawa kuat.

"Ampun, Guru." Penjaga itu langsung menjatuhkan tubuhnya dan berlutut. Kemudian menceritakan apa yang dilihatnya di luar bangunan. Meskipun dengan napas tersengal-sengal, namun semua terdengar jelas oleh Ki Gawung. Sehingga, lelaki gagah itu mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Hm... Ada apa lagi ini? Siapa mereka, dan apa maksud kedatangannya ke sini.?" gumam Ki Gawung segera melangkah diikuti dua orang murid utamanya.

Baru saja lelaki gagah itu bergerak hendak mendekati pintu gerbang, tiba-tiba terdengar suara berderak ribut. Dan..., pintu gerbang yang baru saja diganti itu hancur berantakan! Bersamaan dengan itu, belasan sosok tubuh yang menunggang kuda bergerak masuk menerobos kepingan kayu yang beterbangan.

Penunggang kuda terdepan yang ternyata seorang lelaki gagah berusia lima puluh tahun, langsung melompat turun setelah melemparkan bungkusan besar ke tanah, tepat di depan kaki Ki Gawung, Ketua Perguruan Merak Emas. Langsung saja lelaki gagah itu melompat mundur dan menghunus pedang. Ki Gawung mengira orang yang baru datang itu telah melakukan serangan gelap.

"Ha ha ha...! Bukalah bingkisan itu yang kuhadiahkan padamu, Ki Gawung..!" ujar lelaki berwajah brewok seraya memperdengarkan tawanya yang parau dan besar.

Terkejut bukan main hati Ki Gawung merasakan adanya getaran tenaga dalam yang kuat dalam suara tawa lelaki brewok itu. Ditelitinya wajah di depannya itu dengan sorot mata tajam. Kemudian memerintahkan dua orang muridnya untuk membuka bungkusan besar yang tergeletak di atas tanah.

"Hahhh...?!"

Kedua murid utama Ki Gawung melompat mundur dengan wajah pucat! Betapa tidak? Bungkusan besar itu ternyata berisi tiga buah kepala yang telah dipisahkan dari badan. Tentu saja mereka kaget bukan main.

"Biadab...!" Ki Gawung mendesis pucat ketika melihat tiga kepala yang masih berdarah pada bagian batang lehernya. Melihat darah itu masih menetes segar, Ki Gawung pun tahu kalau kepala-kepala itu belum lama dipisahkan dari lehernya.

"Guru.... Itu... itu kepala Ketua Perguruan Pedang Baja...?!" desis salah seorang murid utama Ki Gawung sambil menunjuk sebuah kepala.

Sebenarnya, tanpa diberi tahu pun Ki Gawung telah tahu. Bukan hanya kepala Ki Genawang saja yang dikenalinya. Bahkan, dua buah kepala lainnya pun telah dapat dikenali dengan baik. Dua kepala itu adalah kepala Ki Randita, murid utama Ki Genawang, serta kepala Ki Kuntala atau Tapak Maut yang dikenal Ki Gawung sebagai pengawal pengantar barang. Dan, Tapak Maut merupakan salah seorang sahabatnya. Lelaki gagah itu tampak semakin bertambah pucat!

"Apa maksudmu dengan semua kebiadaban ini...?" desis Ki Gawung sambil meneliti wajah di depannya. Dia merasa pernah melihat wajah lelaki brewok itu. Sayang Ki Gawung tidak begitu ingat di mana pernah melihatnya.

"He he he...!"

Tiba-tiba terdengar kekeh serak yang membuat Ki Gawung mengalihkan perhatiannya, dan rupa akan pertanyaannya yang belum terjawab. Dan..., wajah lelaki tua itu kian memucat ketika pemilik tawa serak itu menghentikan langkahnya di samping lelaki berwajah brewok yang merupakan pimpinan rombongan penunggang kuda.

"Bardewa...?! Tidak salahkah penglihatanku...?!" desis Ki Gawung serak dengan tubuh menggigil seperti orang terserang demam. Karena pemilik suara tawa serak itu adalah Bardewa, muridnya yang ditemukan tewas sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, dia sendiri ikut menguburkan jenazah muridnya itu.

Lelaki kekar berkumis lebat itu memang Bardewa. Sedangkan lelaki berwajah brewok di sebelahnya adalah Ki Punjalu, murid Perguruan Pedang Baja, yang menjadi kepala bagian dapur di perguruan milik Ki Genawang itu. Bardewa tetap memperdengarkan tawanya yang serak. Tanpa mempedulikan wajah-wajah heran dan terkejut dihadapannya, lelaki kekar berkumis lebat itu enak saja menarik kulit wajahnya. Dan...

"Ahhh...?!" Ki Gawung dan dua orang murid utamanya kembali tersurut mundur ketika Bardewa menunjukkan wajah aslinya. Kiranya lelaki kekar berkumis lebat itu mengenakan sebuah topeng karet yang sangat tipis, hingga tidak berbeda dengan kulit asli.

Di samping terkejut, Ki Gawung pun merasa lega. Sebab, orang itu bukan Bardewa yang sesungguhnya. Dengan begitu, rasa bersalah di dalam hatinya lenyap bersama dengan terbukanya wajah asli lelaki kekar berkumis lebat, yang ternyata cukup tampan dan menarik, meskipun pada pipi kirinya terdapat luka memanjang.

"Kami berdua adalah murid-murid langsung Iblis Wajah Seribu yang tewas di tangan para pendekar. Guru-guru kalian semualah yang telah mengeroyoknya secara licik. Untuk membalas sakit hati itu aku dan adik seperguruanku, Galiang, menyelundup masuk ke dalam perguruanmu dan perguruan Ki Genawang," jelas lelaki berwajah brewok, membuat Ki Gawung segera teringat siapa sebenarnya lelaki brewok yang tadi tak dapat diingatnya itu.

"Kau..., Ki Punjalu...?!" desis Ki Gawung mulai dapat mengenali lelaki brewok itu ketika mengatakan dirinya menyelundup ke dalam Perguruan Pedang Baja. "Hm. Kiranya kalian berdua telah mengadu domba kami dengan menyamar sebagai Bardewa!"

"He he he ! Berteriaklah sepuas hatimu, Ki Gawung. Sebab, sebentar lagi kau akan menemani ketiga kepala tanpa tubuh itu. Dan, aku akan menguasai perguruan-perguruan besar di negeri ini. Ha ha ha...!" Ki Punjalu tertawa bergelak seraya menengadahkan kepalanya ke angkasa yang mulai diwarnai cahaya matahari pagi.

"Keparat! Jangan kau kira aku takut menghadapi kematian...!" geram Ki Gawung segera menyilangkan pedangnya di depan dada dan siap bertarung mati-matian. Demikian pula dengan dua orang murid utama di kiri dan kanan lelaki gagah itu. Mereka pun telah menghunus senjata. Dan siap mempertaruhkan nyawa demi kehormatan perguruan mereka.

"Hm..." Ki Punjalu hanya bergumam melihat lawan-lawannya telah siap bertarung. Setelah terdiam sesaat, tangannya segera terangkat ke atas dan mengibas ke depan sebagai isyarat bagi pengikut-pengikutnya untuk menyerbu.

"Heaaat..!"

"Haaat..!"

Dibarengi teriakan-teriakan ribut, puluhan pengikut Ki Punjalu bergerak menyerbu murid-murid Perguruan Merak Emas yang juga telah siap dengan senjata terhunus.

"Heaaa...!"

Tanpa rasa gentar sedikit pun, murid-murid Perguruan Merak Emas yang berjumlah sekitar tiga puluh orang itu langsung bergerak maju menyambut kedatangan lawan. Sebentar kemudian, pertempuran punberkobar. Dentang senjata terdengar memecah keheningan pagi. Jeritan kematian yang disusul tubuh-tubuh bersimbah darah, yang roboh termakan senjata lawan, mewarnai pertempuran seru itu.

Ki Gawung yang melihat murid-muridnya bertempur mati-matian, segera memutar pedangnya dengan sepenuh tenaga. Sebab, sebagai murid Iblis Wajah Seribu, Ki Punjalu pasti memiliki kepandaian yang tinggi dan belum tentu dirinya dapat menandingi tokoh itu. Sehingga, lelaki itu langsung mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menggempur lawan.

"Haaat..!"

Dengan sebuah pekikan nyaring, tubuh Ki Gawung meluncur ke arah lawan. Pedang di tangannya bergerak cepat membentuk gulungan sinar berpendar laksana ular bermain-main diangkasa.

Cwittt, cwittt cwittt..!

Sekali bergerak, Ki Gawung telah melontarkan tiga buah serangan sekaligus. Ujung senjatanya bergerak menusuk dan membacok dengan kecepatan yang mengagumkan.

Ki Punjalu yang telah bersiap menghadapi Ketua Perguruan Merak Emas, hanya bergumam pelan ketika melihat datangnya serangan lawan. Tubuh lelaki itu bergerak ke kiri dan kanan dengan lincahnya, menghindari incaran mata pedang lawan. Kemudian langsung membalas dengan tamparan dan tendangan yang cepat bukan main! Sehingga, Ki Gawung yang selama ini hanya mengenal Ki Punjalu sebagai kepala bagian dapur kaget dibuatnya.

Whuttt...!

"Ahhh...?!" Sebuah hantaman telapak tangan kanan lawan meluncur datang dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata. Untunglah pada saat terakhir pukulan itu tiba, lelaki gagah itu sempat memiringkan tubuhnya. Sehingga telapak tangan yang mengandung kekuatan hebat itu lewat di sampingnya. Tapi perubahan gerak yang dilakukan Ki Punjalu sama sekali di luar dugaan lawan. Telapak tangan yang berputar itu langsung menggedor dada Ki Gawung.

Desss!

"Hugkhhh...!" Ki Gawung terhuyung mundur terkena hantaman keras pada dadanya. Meskipun demikian, lelaki gagah itu ternyata dapat mempertahankan kuda-kudanya. Sehingga tidak sampai terjatuh.

"Haiiit..!"

Ki Punjalu kelihatannya ingin segera menyelesaikan pertarungan. Terbukti, lelaki itu tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi lawannya untuk memperbaiki kedudukan Saat lawan masih terhuyung, Ki Punjalu langsung menyusuli serangannya dengan dorongan dua telapak tangannya yang menerbitkan suara menderu keras.

Whuuut..! Bresssh!

"Hei...?!"

Pada saat yang berbahaya bagi keselamatan Ki Gawung, sesosok bayangan putih melesat dengan kecepatan tinggi, dan langsung menyambut dorongan dua telapak tangan Ki Punjalu. Akibatnya, tubuh lelaki berwajah brewok itu terdorong enam langkah ke belakang.

"Gila...?!" umpat lelaki itu segera menjejakkan kakinya ke tanah kuat-kuat. Sehingga daya dorong itu terhenti dan Ki Punjalu dapat memperbaiki kuda-kudanya. "Pendekar Naga Putih...?!" desis Ki Punjalu kaget ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih, yang sekeliling tubuhnya terlapisi kabut bersinar putih keperakan, telah berdiri di depan Ki Gawung. Jelas, pemuda itulah yang telah menggagalkan pukulannya.

Di bagian lain pun telah terjadi perubahan besar. Galiang, murid kedua Iblis Wajah Seribu yang berhadapan dengan dua orang murid utama Ki Gawung, juga dilanda keterkejutan hebat. Lelaki itu baru saja hendak menghabisi kedua lawannya, ketika mendadak terpukul mundur oleh seorang dara jelita yang memasuki arena pertempuran.

"Keparat'" maki Galiang dengan wajah dilanda kemarahan hebat. Tanpa peduli siapa lawannya, lelaki kekar itu segera menyerbu dengan jurus-jurus andalannya yang sangat hebat dan mengerikan.

"Bagus...!" puji dara jelita berpakaian serba hijau yang tidak lain Kenanga. Setelah berkata demikian, tubuh rampingnya bergerak ke depan menyambut terjangan lawan. Sebentar, saja keduanya telah terlibat dalam pertarungan sengit.

Sedangkan kedua murid utama Ki Gawung segera menggabungkan diri dengan murid-murid lainnya. Keduanya mengamuk merobohkan para pengikut Ki Punjalu dengan sambaran pedangnya. Sehingga, murid-murid Perguruan Merak Emas yang semula terdesak kini ganti mendesak lawan. Kehadiran dua murid utama guru mereka membuat semangat yang semula pudar kembali menyala. Dan, menggempur musuh dengan semangat berapi-api.

Sementara itu, sosok berjubah putih yang tidak lain Panji telah bertarung melawan Ki Punjalu. Sedangkan Ki Gawung ikut menggabungkan diri dengan murid-muridnya untuk menggempur musuh. Ki Punjalu kelihatan sangat dendam sekali pada Pendekar Naga Putih. Hal itu terlihat dari gempuran-gempurannya yang datang laksana air bah. Sambaran angin pukulannya bersuitan menerbitkan putaran angin laksana badai topan. Ternyata kepandaian bekas kepala bagian dapur itu sangat hebat. Rupanya, kali ini lelaki itu menunjukkan siapa dirinya. Sebagai murid Iblis Wajah Seribu tentu Ki Punjalu telah mewarisi ilmu-ilmu tinggi yang sangat hebat.

"Haiiit...!" Untuk kesekian kalinya, pada jurus kedelapan puluh Ki Punjalu kembali mengeluarkan pekikan yang menggetarkan tempat itu. Pukulan-pukulannya meluncur datang dengan kecepatan kilat.

Dukkk, plak...!

"Uhhh...?!"

Tapi, yang harus dihadapi Ki Punjalu adalah seorang pendekar muda yang sangat hebat kepandaiannya. Bahkan, pengalaman bertarungnya tidak kalah oleh Ki Punjalu. Malah Pendekar Naga Putih telah menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih tinggi ilmu silatnya. Sehingga, sehebat apa pun lawan melancarkan serangan, selalu dapat dihindari dan ditepiskannya. Saat tubuh Ki Punjalu terjajar mundur. Panji langsung melayang ke depan dengan serangkaian serangan jurus 'Ilmu Silat Naga Sakti.'

"Yeaaat..!"

Bagaikan seekor naga sakti yang sedang murka, tubuh Panji bergerak cepat dan meliuk di udara. Kemudian meluncur turun dengan kecepatan laksana sambaran kilat di angkasa. Dan...

Desss!

"Aaakh...!" Ki Punjahi tidak sempat lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terlempar seperti selembar daun kering diterbangkan angin. Darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Jelas, gempuran telapak tangan Panji telah membuat tokoh itu terluka dalam.

Brakkk!

Luncuran tubuh Ki Punjalu masih terus menghantam sebatang pohon yang cukup besar, yang langsung berderak tumbang bersama tubuh lelaki tegap itu.

Panji sendiri sudah melayang menyusuli tubuh Ki Punjalu. Pendekar Naga Putih tidak ingin kehilangan lawan, yang bisa saja langsung melarikan diri. Karena terlempar keluar dari dalam perguruan. Ketika tiba di dekat tubuh Ki Punjalu, Panji hanya memperhatikan lawannya yang tengah berusaha berdiri tegak.

"Uhhh..." Ki Punjalu mengeluh dan terhuyung limbung. Rupanya, pukulan yang mengenai tubuhnya demikian hebat. Sehingga, untuk beberapa saat lamanya lelaki itu masih belum bisa meredakan rasa sakit yang dideritanya. Tapi...

"Heaaah...!"

Mendadak tubuh Ki Punjalu yang terhuyung-huyung itu meluncur ke depan disertai dorongan kedua telapak tangannya. Benar-benar licik sekali serangan itu!

Sayangnya Panji telah memiliki pengalaman yang cukup dengan berbagai macam kelicikan lawan. Sehingga, saat serangan mendadak itu datang Panji sudah siap dengan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang tersalur ke kedua lengannya. Dan...

Bresssh.! Desss!

"Aaakh…!" Ki Panjalu tidak sempat lagi menghindari serangan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terlempar deras kebalakang.

Brakkk!

Luncuran tubuh Ki Panjalu baru terhenti setelah menghantam sebatang pohon besar. Hebat sekali gempuran yang dilakukan Panji kali ini. Tanah di sekitar tempat itu bergetar! Bahkan pepohonan berderak ribut bagai dilanda angin topan! Sedangkan tubuh Ki Punjalu terlempar sejauh dua tombak, dan terbanting ke tanah tanpa bisa bergerak lagi. Tulang-tulang tubuh lelaki itu remuk terkena hantaman keras Pendekar Naga Putih.

Pada saat yang hampir bersamaan, Kenanga pun telah menyelesaikan pertarungannya. Kedua orang itu telah bertarung dengan menggunakan senjata, hingga Galiang terpaksa harus merelakan nyawanya terbang. Sambaran pedang dara jelita itu membuat perutnya robek dan ususnya berhamburan keluar. Galiang pun tersungkur tewas dengan tubuh bermandikan darah.

"Hentikan pertempuran...!" Setelah kedua gembong penjahat itu tewas, Panji berteriak menghentikan pertarungan antara Perguruan Merak Emas dengan para pengikut Ki Punjalu dan Galiang.

"Pemimpin kalian telah tewas! Sebaiknya kalian menyerah daripada kami bunuh...!" kembali Panji berteriak lantang ketika pertempuran terhenti dan kedua belah pihak bergerak mundur.

Tanpa banyak cakap lagi, para pengikut Ki Punjalu dan Galiang langsung melemparkan senjatanya ke tanah. Kemudian mereka duduk bersimpuh mohon ampunan pendekar muda itu

"Bagaimana, Ki Gawung...?" tanya Panji meminta pendapat Ketua Perguruan Merak Emas. Pemuda itu tidak ingin mengambil keputusan sendiri selagi masih ada orang yang lebih tua darinya.

"Hm...," Ki Gawung bergumam sambil mengelus jenggotnya yang berwarna dua. "Jika mereka bersedia menjadi muridku, aku akan memberi ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan"

"Nah! Kalian dengar sendiri, bukan! Ketua Perguruan Merak Emas berkenan menerima kalian sebagai murid-murid perguruan ini seandainya kalian bertobat dan meninggalkan jalan sesat!" seru Panji setelah mendengar keputusan Ki Gawung.

Tanpa berpikir panjang lagi, para pengikut Ki Gawung langsung menyatakan kesediaannya. Sehingga, Panji dan yang lainnya menjadi lega. Kemudian pemuda itu memanggil salah seorang pengikut Ki Punjalu, dan menanyakan tentang perampokan di Hutan Ngarai. Panji menduga pelaku perampokan itu pastilah Ki Punjalu dan Galiang beserta kawan-kawannya. Dugaan Panji ternyata tidak meleset. Orang itu langsung mengakui bahwa perampokan itu memang perbuatan mereka. Lalu, menunjukkan di mana harta rampokan itu disimpan.

"Ki Gawung. Karena kami berdua masih ada kepentingan lain, harap kau sudi memaafkan bila kami tidak bisa lebih lama," pamit Panji dan Kenanga kepada Ki Gawung, setelah mendapatkan keterangan jelas dari anak buah Ki Punjalu.

Ketua Perguruan Merak Emas tidak bisa berbuat lain. Lelaki tua itu melepas kepergian pasangan pendekar muda itu dengan tatapan mata penuh haru. Karena berkat jasa merekalah perguruannya tidak sampai musnah. Setelah bayangan Panji dan Kenanga hilang dari pandangan, Ki Gawung memerintahkan murid-muridnya untuk membereskan tempat itu. Ketua Perguruan Merak Emas pun melangkah masuk ke dalam bangunan utama.

S E L E S A I