Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pemburu Nyawa
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

"Nah! Sekarang, kita telah tiba di perbatasan desa...," desah salah seorang dari tiga sosok, ketika berhenti di sebuah pertigaan jalan.

Bentuk tubuh orang yang berbicara tadi cukup aneh. Wajahnya lucu. Hidungnya bulat dan besar, seperti tomat. Sepasang pipinya kemerahan, mungkin terlalu sering terbakar sinar matahari. Bibirnya agak tebal dan berwarna merah. Bahkan potongan rambutnya pun terlihat aneh, mengingatkan orang akan jengger di atas kepala ayam jantan.

Sedangkan orang yang berada di tengah juga tak kalah aneh. Rambutnya hanya tumbuh di kedua sisi kepala. Sedang pada bagian tengahnya licin pelontos, tanpa ditumbuhi sehelai rambut pun. Sepasang matanya besar dan agak sayu, mengingatkan orang akan mata seekor sapi. Dan pada telinga kirinya, tergantung sebuah anting-anting sebesar gelang. Yang lebih mengesankan adalah bentuk pakaiannya yang terlihat kebesaran. Padahal, tubuhnya gemuk dan pendek seperti bola. Yang jelas, orang kedua ini pun terlihat lucu. Bahkan bisa membuat orang yang melihatnya menjadi tersenyum.

Namun, keanehan pada dua orang tadi rupanya tidak dimiliki orang yang berdiri paling kanan. Tubuhnya tinggi besar. Otot-ototnya yang melingkar, menambah kejantanannya. Wajahnya juga tampak keras, apalagi ditambah cambang bauk lebat.

"Perbatasan desa apa ini, Kakang Wirya Bajang...?" tanya orang yang rambutnya hanya tumbuh di kedua sisi kepala, sambil menggeleng-geleng. Suaranya terdengar kecil tinggi, sepera suara perempuan genit.

Orang pertama yang ditanya menjadi agak jengkel. Sikapnya tampak berubah berang ketika mendengar pertanyaan lelaki gemuk itu "Bodoh, kau Pasopati! Apakah kau tidak bisa membaca tulisan yang tertera pada batu di tepi jalan itu?" umpat Wirya Bajang sambil menudingkan telunjuknya ke tepi jalan. Di situ terlihat sebuah tembok batu setinggi pinggang yang merupakan tanda perbatasan desa.

Mendengar ucapan itu, laki-laki berpakaian kebesaran yang ternyata bernama Pasopati itu tertunduk diam. Setelah mengerling sejenak, kakinya melangkah ke arah batu itu, dan memperhatikannya dengan teliti. Lama dia berdiri sambil menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Keningnya tampak berkerut dalam. Sepertinya tengah mengalami kesukaran dalam membaca tulisan di batu itu.

"Ha ha ha...!"

Tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak, sehingga membuat Pasopati dan Wirya Bajang menoleh bersamaan. Mereka tampak memandang tak senang ke arah laki-iaki bertubuh tinggi besar yang tengah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya. Rupanya, dia menertawakan tingkah Pasopati yang tengah berusaha membaca tulisan di batu itu.

"Mengapa kau tertawa, Gajah Mungkur? Apa yang kau tertawakan?" tegur Wirya Bajang dengan sorot mata tajam.

Lelaki tinggi besar yang bernama Gajah Mungkur itu masih juga tertawa, tanpa menjawab pertanyaan itu. Kemudian, dengan wajah yang masih menyeringai, matanya menatap geli pada Wirya Bajang yang merupakan saudaranya yang tertua. Memang, mereka adalah tiga bersaudara. Sedangkan Gajah Mungkur adalah orang termuda di antara mereka.

"Bagaimana aku tidak geli, Kakang Wirya Bajang. Sampai kiamat pun, Kakang Pasopati tidak akan dapat membaca tulisan pada batu itu. Apa kau lupa kalau dia sama sekali tidak bisa membaca...?" kata Gajah Mungkur, kembali tergelak. Rupanya dia kembali teringat tingkah lucu Pasopati tadi ketika disuruh membaca tulisan di batu itu.

Meskipun bertubuh tinggi besar, namun sorot mata Gajah Mungkur tetap saja terlihat begitu lucu. Yang jelas, tak jauh beda dengan kedua saudaranya yang memiliki bentuk tubuh dan watak aneh. Namun sebenarnya, jangan dipandang remeh ketiga lelaki yang tampak kurang waras itu. Dalam kalangan rimba persilatan, mereka dikenal sebagai tokoh sesat yang sangat kejam dalam menghukum lawan-lawannya. Tak heran kalau kemudian mereka dijuluki sebagai Tiga Badut Setan!

Jawaban Gajah Mungkur membuat Wirya Bajang terhenyak. Orang tertua dari Tiga Badut Setan itu segera sadar akan kekurangan adiknya yang bernama Pasopati itu. Maka seketika Wirya Bajang ikut tertawa terkekeh, mirip ringkik seekor kuda.

"Hieh heh heh...! Kau benar, Gajah Mungkur. Ah, betapa bodohnya aku. Aku baru ingat kalau Pasopati tidak bisa membaca...," ujar Wirya Bajang dengan wajah masih menyimpan senyum geli.

Sedangkan Pasopati tampak tertunduk malu. Tingkahnya seperti dara remaja yang baru saja menerima pernyataan cinta dari seorang pemuda. "Itu sebabnya kenapa aku bertanya kepadamu tadi. Tapi karena disuruh membaca sendiri, ya..., terpaksa kucoba membacanya. Padahal, kepalaku pusing sekali melihat garis-garis seperti cacing itu...," ujar Pasopati yang mengakui kekurangannya sambil mengerling manja kepada kedua orang saudaranya.

"Sudahlah. Desa yang akan kita datangi ini bernama Desa Kandaran. Mudah-mudahan saja di situ banyak orang berkepandaian silat tinggi. Kalau harapanku terkabul, tentu kita akan senang...," kata Wirya Bajang dengan wajah berbinar-binar. Jelas ucapan itu sangat aneh bagi sebagian orang yang mendengarnya. Tapi, tidak bagi telinga kedua saudaranya. Mereka bertiga memang merupakan tokoh aneh yang sangat suka bertarung. Semakin pandai lawan yang dihadapi, semakin senanglah hati mereka.

"Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu, Kakang? Ayolah, kita datangi Desa Kandaran itu...," selak Gajah Mungkur. Kelihatannya laki-laki tinggi besar itu tidak sabar setelah mendengar ucapan kakaknya yang tertua. Sepasang matanya tampak berbinar-binar penuh semangat. Jari-jari tangannya terlihat mengepal, seperti sudah ingin bertarung dengan lawannya.

"Tentu..., tentu.... Ayo, kita segera berangkat..," ajak Wirya Bajang seraya melangkah menuju jalan sebelah kiri yang menuju Desa Kandaran.

"Satu, dua.... Satu, dua.... Kiri..., kanan...!"

Sambil melangkah tegap, Wirya Bajang berjalan di depan. Mulutnya tak henti-henti memberi aba-aba kepada kedua saudaranya yang berjajar di belakangnya. Sikap itu benar-benar menunjukkan ketidakwarasan mereka.

********************

Ketiga lelaki aneh dengan bentuk tubuh berbeda-beda itu, baru saja memasuki mulut Desa Kandaran.

"Kakang, perutku lapar sekali..." Terdengar keluhan salah seorang di antara ketiga lelaki itu. Rupanya lelaki bertubuh besar yang bernama Gajah Mungkur itu merengek seperti anak kecil kepada lelaki yang berhidung seperti tomat. Tentu saja sikap yang tidak wajar itu membuat beberapa penduduk menoleh dan tersenyum geli. Dan melihat penampilannya, tak dapat dibantah kalau mereka adalah Tiga Badut Setan.

"Lucu sekali orang itu. Usianya sudah dewasa, dan tubuhnya sebesar gajah, tapi tingkahnya seperti anak kecil. Pasti otaknya agak miring." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari seorang pemuda remaja penduduk Desa Kandaran yang berusia sekitar lima belas tahun. Bahkan tanpa sadar, jari telunjuknya menuding ke arah Gajah Mungkur.

Mendengar ucapan yang jelas-jelas bernada ejekan itu, Gajah Mungkur langsung menoleh ke arah sumber suara. Kemudian, pandangannya beralih kepada Wirya Bajang yang berhidung seperti tomat dengan mimik wajah lucu.

"Kakang, ada orang yang menghinaku...," adu Gajah Mungkur. Sikapnya yang seperti anak kecil semakin menjadi perhatian bagi yang melihatnya. Tentu saja sikapnya kembali mengundang tawa beberapa penduduk Desa Kandaran.

"Eh, mengapa kau semakin bertambah bodoh, Gajah Mungkur? Kalau ada yang menghinamu, bunuh saja! Kalau dagingnya masih lunak dan manis, santap saja. Bukankah kau suka...?" sahut Wirya Bajang, datar dan tanpa perasaan.

Mendengar ucapan itu, Gajah Mungkur kontan gembira. Bagaikan anak kecil yang akan mendapat hadiah, lelaki tinggi besar itu melangkah berdebum. Dihampirinya kerumunan orang desa yang memandang ke arahnya. Karena wajah Gajah Mungkur tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan, para penduduk pun tidak merasa takut, apalagi lari.

Setelah dekat dengan kerumunan orang-orang yang memandangnya, Gajah Mungkur menatap wajah mereka satu persatu dengan lagak lucu. Orang-orang desa itu sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam. Padahal, semakin lucu lagak yang ditunjukkan Tiga Badut Setan, maka akan semakin buaslah tindakan yang dilakukan!

Semula kerumunan orang desa itu tertawa-tawa saat sepasang lengan Gajah Mungkur terulur menangkap tubuh laki-laki berusia lima belas tahun yang mengejeknya.. Mereka baru menampakkan ketakutan dan jeritan ketika Gajah Mungkur mengangkat tubuh anak laki-laki itu ke atas kepala, kemudian membantingnya kuat-kuat ke tanah.

Jrettt!

Tanpa sempat berbuat sesuatu, tubuh anak tanggung yang malang itu kontan remuk, nyawanya langsung melayang. Mati! Sedangkan Gajah Mungkur sama sekali tidak peduli dengan orang-orang desa yang menjerit-jerit ketakutan. Laki-laki bertubuh raksasa itu langsung melorot duduk di atas tanah, kemudian mulai mempreteli anggota tubuh anak laki-laki yang tewas itu!

Sementara itu, Wirya Bajang dan Pasopati hanya memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, sambil tertawa terbahak-babak Kejadian itu bagi mereka justru adalah pertujukan lucu. Sama sekali tak tersirat belas kasihan pada wajah mereka.

Dengan nikmatnya, Gajah Mungkur mulai melahap daging lengan mayat anak laki-laki itu. Darah segar berlelehan di sekitar mulut dan dagunya yang ditumbuhi bulu lebat. Tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya, lelaki bertubuh raksasa berusia sekitar tiga puluh tahun itu terus saja menyantap dengan nikmatnya.

Cruppp!Cruppp!

"Ah...! Lezat dan gurih sekali...," gumam Gajah Mungkur, seraya mencerucup kembali darah segar yang masih membasahi potongan lengan itu. Mulutnya terdengar berdecap-decap nikmat.

Pemandangan itu terlihat sangat mengerikan bagi yang baru melihatnya. Tapi, Gajah Mungkur sendiri tampaknya sangat menikmati perbuatannya itu.

"Gajah Mungkur! Kutunggu kau di kedai depan itu...!" kata Wirya Bajang, sedikit berteriak. Kemudian, dia melangkah bersama Pasopati sambil terus terkekeh-kekeh.

"Ya..., ya...," sahut Gajah Mungkur cepat, tanpa menolehkan kepalanya.

Sepertinya lelaki bertubuh raksasa yang kurang waras itu benar-benar telah lupa pada keadaan sekelilingnya. Rupanya, santapan di depannya jauh lebih menarik. Tidak lama setelah tubuh Wirya Bajang dan Pasopati memasuki kedai, tiba-tiba muncul serombongan orang yang dipimpin seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tegap, padat berisi seperti menyimpan kekuatan. Rupanya, mereka yang ternyata para keamanan desa itu menghampiri Gajah Mungkur yang masih menikmati santapan mengerikan!

"Itu dia raksasa pemakan daging manusia, Ki Banang! Makhluk biadab itu harus segera dibasmi! Aku yakin, dia akan mencari anak-anak lain untuk menjadi santapan berikutnya. Tapi hati-hati, Ki Banang! Raksasa itu kelihatannya tidak waras...," tunjuk seorang penduduk yang melaporkan peristiwa itu kepada Kepala Keamanan Desa Kandaran yang bernama Ki Banang.

"Menepilah, Kisanak. Biar aku yang akan membereskannya," ujar Ki Banang. Kemudian, laki-laki gagah itu bergerak maju bersama sepuluh anak buahnya.

"Gila! Dari mana datangnya raksasa pemakan daging itu?! Mudah-mudahan saja aku dapat mengatasinya..," gumam Ki Banang.

Ki Banang kelihatannya agak gentar juga melihat perawakan Gajah Mungkur, yang memang menggetarkan jantung itu. Dengan gerak perlahan, kawan-kawannya diperintahkan untuk mengepung.

"Hei, Orang Asing! Siapa kau?! Dan, dari mana asalmu?! Apa kesalahan penduduk desa ini, sampai kau tega melakukan perbuatan terkutuk itu...?" tegur Ki Banang yang berdiri dalam jarak satu tombak lebih dari laki-laki bertubuh besar itu. Kakinya terpentang lebar seperti telah siap menghadapi pertarungan.

Tapi, teguran itu tidak membuat Gajah Mungkur menghentikan makannya. Bahkan wajahnya sama sekali tidak menoleh. Telinganya seolah-olah telah tertutup rapat oleh kenikmatan yang tengah dirasakannya. Tentu saja sikap Gajah Mungkur membuat Ki Banang naik pitam.

"Keparat! Raksasa ini ternyata tuli!" umpat Ki Banang. Laki-laki setengah baya itu menjadi tak sabar ketika melihat Gajah Mungkur sama sekali tidak mempedulikannya. Dan karena merasa dianggap angin lalu, dikeluarkannya sebilah pisau sepanjang satu jengkal dari dalam pakaiannya.

"Maaf, bukan maksudku berlaku curang." Usai berkata demikian, Ki Banang melepaskan pisau kecil itu ke arah dada kanan Gajah Mungkur.

Syuuut..!

Pisau yang dilepaskan Ki Banang yang disertai pengerahan tenaga dalam meluncur cepat menuju sasarannya. Dan....

Takkk!

Kejadian selanjutnya, benar-benar membuat Ki Banang terkejut! Ternyata, bukan tubuh lawan yang terluka. Tapi sebaliknya, malah pisau itu sendiri yang patah dua ketika menghantam bagian kanan dada Gajah Mungkur. Dari sini saja sudah terbukti kalau tubuh lelaki raksasa itu sangat keras dan kebal terhadap senjata tajam.

"Grrrhhh. ," Gajah Mungkur menggereng. Lelaki bertubuh besar itu jelas merasa kenikmatannya terganggu Maka sambil mengangkat wajahnya sekilas, sepasang matanya menyambar tajam. Meski demikian, mimik wajahnya tak sedikit pun menggambarkan kemarahan. Bahkan semakin memperlihatkan seringai-seringai lucu.

Dari sini, Ki Banang segera mengambil kesimpulan kalau laki- laki tinggi besar itu memang benar tidak waras seperti yang dilaporkan warganya tadi. Dan dia jadi terpaku, tak mengerti harus berbuat apa. Maka untuk beberapa saat, suasana jadi tegang.

Sementara itu Gajah Mungkur perlahan bangkit, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Senyumnya melebar ketika orang-orang bersera-gam hitam tampak sudah mengelilinginya.

"Kalian ingin bermain-main denganku...? Bagus! Aku suka sekali," kata Gajah Mungkur yang kini mengalihkan tatapannya kepada Ki Banang.

Meskipun tampak kurang waras, tapi sepertinya Gajah Mungkur dapat mengetahui orang yang memimpin sepuluh sosok berseragam hitam itu. Buktinya, laki-laki bertubuh besar ini lebih banyak memandangi Ki Banang, ketimbang yang lainnya.

"Siapa kau, Kisanak?! Mengapa kau menyebar kekejian terhadap penduduk desa kami? Apa kesalahannya...?!" tanya Ki Banang.

Sepasang mata Ki Banang menatapi sosok tinggi besar di hadapannya penuh selidik. Bentuk tubuh Ki Banang memang termasuk tinggi dan kekar. Tapi dibandingkan Gajah Mungkur, Ki Banang hanya setinggi bahunya saja. Jelas, sosok Gajah Mungkur memang jauh melebihi ukuran manusia biasa.

"Aku menyebar kekejian? Lucu sekali. Orang Kecil. Aku hanya ingin makan. Ketika kulihat bocah itu berbicara kepadaku, kelihatannya dia berusaha hendak menyenangkan hatiku. Maka langsung saja kupilih untuk menjadi makananku. Apakah itu Jahat namanya?" sahut Gajah Mungkur dengan wajah bergerak-gerak lucu. Tentu saja jawaban Itu membuat Ki Banang terkejut

"Raksasa gila!" desis Ki Banang. Laki-laki setengah baya itu segera mencabut pedangnya yang tergantung dipinggang. Kemudian, dia bergerak maju sambil memerintahkan kawan- kawannya untuk bersiap-siap.

"Hei! Mau apa kalian...?! Ingin, menyakiti aku ya...? Hayo, pergi sana! Pergi jauh-jauh...!"

Gajah Mungkur berusaha mengusir mereka, seraya bergerak mundur. Seolah-olah hatinya merasa gentar ketika melihat kilatan sinar pedang. Tangannya bergerak-gerak dengan sikap mengusir.

"Bunuh raksasa gila itu...!" perintah Ki Banang, langsung saja melesat ke depan sambil menyabetkan pedangnya sekuat tenaga. Laki-laki setengah baya itu sadar kalau calon lawannya sangat kuat. Kalau tenaga dalamnya tidak kuat, mungkin tubuh raksasa itu tidak akan mampu melukainya.

Wuertt...!

"Heiii...?!" Gajah Mungkur terpekik kaget ketika melihat pedang Ki Banang berkelebat menyambar bagian perutnya. Maka dengan gerakan lucu seperti orang ketakutan, Gajah Mungkur bergerak ke belakang. Sehingga, sambaran pedang Ki Banang hanya mengenai angin kosong. Dan rupanya, lelaki bertubuh raksasa itu memang tidak siap bertarung. Buktinya, empat batang pedang pengeroyoknya telak sekali menghantam tubuhnya

Bukkk! Takkk!

Meskipun keenam batang pedang itu jelas-jelas menghantam tubuhnya, tapi Gajah Mungkur seperti tidak merasa sakit sedikit pun. Apalagi terluka. Bahkan, senjata-senjata itulah yang perpatahan jatuh ke tanah. Sedangkan Gajah Mungkur tampak menyeringai, seperti merasakan pijatan yang membuat tubuhnya terasa nikmat

"He he he...! Kalian benar-benar baik. Aku patut memberi hadiah yang pantas buat kalian berempat..," kata Gajah Mungkur dengan senyum lucu. Begitu ucapan laki-laki bertubuh raksasa itu selesai, tangan kanannya langsung bergerak ke depan. Tahu-tahu saja, lengan salah seorang lawan yang berseragam hitam itu telah dapat dicekalnya Dan....

"Aaa.!" Salah seorang pengeroyok yang bernasib sial itu memekik ngeri, ketika tubuhnya terasa melayang di udara. Rupanya, Gajah Mungkur telah melemparkan tubuh orang itu ke arah sebatang pohon yang ada di tepi jalan.

Prokkk.!

Tanpa ampun lagi, tubuh pengeroyok yang meluncur dengan kepala lebih dulu langsung menghantam sebatang pohon besar yang tumbuh di tepi jalan. Jelas, kalau orang itu pasti tewas seketika dengan kepala remuk.

Belum lagi kejadian itu sempat disadari oleh pengeroyok yang lain, termasuk Ki Banang, laki-laki bertubuh raksasa itu kembali melompat ke arah dua pengeroyok lainnya. Kedua tangannya bergerak cepat menangkap kepala kedua lawannya. Kemudian, kepala itu dibenturkannya satu sama lain. Akibatnya, kedua pengeroyok kontan ambruk dengan kepala pecah.

"Bedebah keji...!" Ki Banang menggereng marah. Setelah menyaksikan kejadian itu, lelaki separo baya ini kembali menerjang maju. Meskipun disadari kalau tubuh lawannya terlindung kulit tebal, namun Ki Banang sama sekali tidak gentar.

"Hiaaa...!"

Whuttt..!

Ujung pedang Ki Banang datang meluruk cepat. Sasarannya mengarah pada bagian-bagian kelemahan tubuh lawannya. Yang menjadi sasaran pertama adalah ulu hati Gajah Mungkur. Namun sayang, lelaki bertubuh raksasa itu dapat bergerak lincah dalam mengelakkan serangan.

"Aihhh, luput..!" ejek Gajah Mungkur sambil meleletkan lidahnya.

Mendapat ejekan seperti itu, hati Ki Banang semakin bertambah panas. Maka, serangannya pun semakin diperhebat. Tapi, Gajah Mungkur ternyata bukan hanya memiliki tubuh kebal. Bahkan, ilmu silatnya pun sangat tinggi dengan gerakan-gerakan cepat. Sehingga tanpa terduga, jari-jari yang besar itu telah mencekal erat lengan Ki Banang yang sedang mengacungkan pedang. Sebelum laki-laki setengah baya itu menyadari adanya bahaya, kepalan yang sebesar kepala bayi Gajah Mungkur telah meluncur ke arah batok kepalanya.

Prakkk!

Tanpa ampun lagi, batok kepala Ki Banang pecah. Darah segar bercampur cairan putih seketika membasahi bumi. Tubuh lelaki gagah itu langsung jatuh, begitu Gajah Mungkur melepaskannya. Sebentar dia menggelepar meregang nyawa, lalu diam tak bergerak-gerak lagi. Mati!

"Hei! Kalian mau ke mana...?" teriak Gajah Mungkur, ketika melihat para pengeroyoknya yang lain menghambur pergi.

Rupanya kematian Ki Banang membuat keberanian sisa anak buahnya lenyap seketika. Maka tanpa diberi aba-aba lagi, sisa keamanan Desa Kandaran itu segera melarikan diri meninggalkan arena pertempuran.

"Ahhh...! Tempat ini jadi sepi dan menjemukan. Sebaiknya aku pergi menyusul Kakang Wirya Bajang dan Kakang Pasopati...," gumam Gajah Mungkur, yang kemudian melangkahkan kakinya dengan suara berdebum meninggalkan korban-korbannya.

********************

DUA

"Wah...! Rupanya kalian baru saja selesai berpesta...!" kata Gajah Mungkur setelah memasuki kedai yang tampak berantakan.

Belasan mayat tampak bergeletakan di sana-sini. Sedangkan di sudut ruangan, tampak Wirya Bajang dan Pasopati sedang duduk dengan tenangnya, sambil menikmati hidangan. Bersama mereka tampak pula dua wanita berusia sekitar dua puluh lima dan tiga puluh tahun.

"Hieh heh heh...! Mengapa kau tidak membawa teman, Gajah Mungkur? Apa kau tidak iri melihat kami?" sambut Pasopati yang berpakaian kebesaran itu, sambil mencium seorang wanita yang duduk disebelahnya.

Wajah wanita yang berada dalam dekapan Pasopati itu tampak pucat dan tak dapat berbuat apa-apa. Sepertinya, hatinya merasa ngeri untuk memberontak. Dia tahu, baik Wirya Bajang maupun Pasopati tidak akan segan-segan menyiksa. Apalagi jika kehendak kedua lelaki aneh dari Tiga Badut Setan itu tidak dituruti.

"Ah! Aku memang kurang beruntung, Kakang Pasopati. Pinjamilah sebentar saja. Apa kau tidak, kasihan kepada adikmu ini yang tak berteman...?" pinta Gajah Mungkur seraya bergerak maju. Lelaki bertubuh besar itu langsung saja berusaha hendak merebut wanita dalam pelukan Pasopati.

"Eh?! Apa-apaan ini, Gajah Mungkur?! Jangan kurang ajar kau!" bentak Pasopati. Tentu saja Pasopati marah melihat perbuatan adiknya. Maka lelaki gemuk pendek itu segera mengangkat tangan kanannya untuk menghalau cengkeraman Gajah Mungkur.

Dukkk!

Tubuh mereka seketika bergetar mundur, ketika sepasang lengan satu sama lain saling berbenturan. Bahkan, kursi yang diduduki Pasopati langsung hancur akibat hebatnya pertemuan kedua tenaga tadi.

"Hei! Kau berani melawanku, Gajah Mungkur! Kurang ajar!" bentak Pasopati tanpa sifat-siiat lucu maupun lagak gilanya. Pasopati segera beranjak maju dengan hati panas.

Namun, Gajah Mungkur kelihatannya tidak mau mengalah begitu saja. Melihat Pasopati marah, dia pun menggereng bagai harimau terluka. Kini keduanya tampak siap saling tempur. Memang aneh sekali sifat Tiga Badut Setan itu. Hanya karena masalah sepele saja, antara satu dan lainnya bisa saling gontok-gontokan. Apalagi terhadap orang yang tidak mereka kenal. Mereka pun tidak segan-segan menyiksa dengan tangan kejam. Bahkan sampai membunuh!

Wirya Bajang sendiri sepertinya tidak mempedulikan pertengkaran kedua adiknya. Lelaki berhidung seperti tomat itu masih saja asyik tertawa-tawa sambil menenggak arak di gelas bambunya. Sesekali wanita di sebelahnya diciumi penuh nafsu. Dia benar-benar tidak mau tahu atas pertengkaran yang berlangsung di depan matanya Padahal, pertengkaran itu sudah jelas akan berlanjut menjadi perang otot

"Kau terlalu sekali, Kakang Pasopati! Aku hanya ingin pinjam sebentar saja, tidak boleh!" bantah Gajah Mungkur, yang masih juga menginginkan wanita dalam dekapan Pasopati.

"Haa..,. Pinjam menurutmu, bukanlah pinjam yang sebenarnya, Gajah Mungkur. Kalau wanita ini kuberikan, pasti akan disantap setelah kehangatan tubuhnya kau nikmati dengan kasar. Dan, aku tidak ingin hal itu terjadi...!" tegas Pasopati, lantang. Rupanya, keputusan Pasopati tidak bisa diubah lagi.

"Kalau begitu, aku terpaksa harus merebutnya...," ancam Gajah Mungkur sambil melangkah maju. Laki-laki raksasa itu kembali mengulurkan kedua tangannya untuk merebut wanita dalam pelukan Pasopati.

Whuuut!

Sambaran jari-jari tangan Gajah Mungkur yang besar dan kasar luput Namun, Pasopati lebih cepat menggeser tubuhnya beberapa langkah. Setelah menotok lumpuh dan meletakkan tubuh wanita itu di sudut ruangan kedai, Pasopati melangkah maju untuk bertarung melawan adiknya sendiri.

"Kau memang perlu diajar adat, Gajah Mungkur...!" geram Pasopati, seraya meleset kedepan. Langsung dilontarkannya tamparan ke pelipis adiknya.

Bettt!

Deru angin keras terdengar menyambar ketika telapak tangan Pasopati meluncur ke pelipis adiknya. Namun Gajah Mungkur yang bertubuh raksasa, sudah menarik tubuhnya hingga doyong ke samping. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sebuah tendangan kilat. Melihat ketidak beranian Gajah Mungkur dalam menerima tamparan, dapat ditebak kalau tenaga dalam Pasopati mampu menembus kekebalannya. Tak heran kalau Gajah Mungkur terpaksa memilih menghindar, ketimbang menerima tamparan.

Pertarungan antara kakak melawan adik itu pun tak terelakkan lagi, laksana musuh bebuyutan. Sementara itu, Wirya Bajang, lelaki tertua dari Tiga Badut Setan, masih saja tidak peduli. Tampaknya perselisihan seperti itu sudah sering terjadi di antara mereka, sehingga dia merasa tidak perlu memisahkan.

Namun, pertarungan yang tengah berlangsung sengit itu tiba-tiba terhenti, ketika terdengar suara ribut-ribut di luar kedai. Seketika Pasopati dan Gajah Mungkur menghentikan pertarungan, dan saling berpandangan. Seperti diberi aba-aba, mereka langsung melesat ke arah keramaian di luar kedai. Sekali lompat saja, kedua lelaki itu telah tiba di luar.

Pasopati dan Gajah Mungkur segera menjejakkan kakinya di tanah secara bersamaan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Seketika mereka tertawa terkekeh begitu di depan kedai itu tampak berdiri seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. Sedangkan di belakang, kiri, dan kanan orang tua itu terdapat puluhan lelaki berseragam hitam.

Mereka tidak lain adalah Kepala Desa Kandaran beserta para pengawalnya. Rupanya, setelah mendapat laporan dari para keamanan desa, Kepala Desa Kandaran yang bernama Ki Sobali itu langsung membawa para pengawalnya untuk mengusir penjahat-penjahat yang mengacau desanya.

Ki Sobali menjadi terkejut melihat dua lelaki yang keluar dari kedai. Menurut laporan, pengacau itu hanya ada satu orang. Tubuhnya tinggi besar, dan pemakan daging manusia. Tapi kenyataannya, sama sekali tidak terduga. Ternyata pangacau itu berjumlah dua orang!

"Hm.... Bukan tidak mungkin kalau di dalam kedai itu masih ada kawan mereka yang lain," gumam Ki Sobali sambil mengamati bentuk tubuh kedua orang itu.

Penampilan Gajah Mungkur dan Pasopati yang lucu itu membuat Ki Sobali langsung menduga kalau yang dihadapi kali ini bukanlah penjahat biasa. Maka, dia pun agak berhati-hati dalam menghadapi mereka.

"Wah, Kakang. Rupanya kakek itulah yang barusan berteriak-teriak, sehingga mengganggu kesenangan kita...," kata Gajah Mungkur kepada Pasopati. Tampak Gajah Mungkur telah melupakan pertengkarannya dengan Pasopati tadi. Dan kini, tatapannya ditujukan pada wajah Ki Sobali.

"Hei, Kakek! Apakah kau telah kehilangan cucumu, sampai berteriak-teriak seperti orang gila...?" tegur Gajah Mungkur dengan mimik wajah berkerut-kerut lucu.

Kalau saja Ki Sobali dan para pengawalnya tidak mendapat laporan sebelumnya, mungkin akan tertawa melihatnya. Atau paling tidak tersenyum geli melihat tingkah-laku lelaki bertubuh raksasa itu.

"Hm.... Untuk apa bertanya lagi, Gajah Mungkur. Kedatangan mereka sudah jelas hendak bermain-main dengan kita. Ayo kita layani saja...," timpal Pasopati. Pasopati rupanya juga telah melupakan pertengkaran barusan. Dan kini kakinya segera melangkah maju. Pakaiannya yang memang kebesaran, tampak berkibar tertiup angin yang cukup keras.

"Tunggu dulu...!" cegah Ki Sobali seraya mengangkat tangannya ke depan. "Kalian ini siapa? Dan, mengapa kalian melakukan pembunuhan tanpa sebab? Apa salah warga desa ini?"

Ki Sobali menatap wajah kedua orang itu penuh selidik. Sayang, meskipun telah berusaha mengenali kedua orang itu, tapi ternyata Ki Sobali tak juga dapat mengenalinya. Dan dia memang belum pernah bertemu kedua pengacau itu sebelumnya.

Setelah mendengar pertanyaan lelaki tua itu, Pasopati menoleh ke arah adiknya. Terdengar suara gumamannya yang kecil tinggi seperti wanita. "Gajah Mungkur, kesalahan apa yang telah mereka perbuat?" tanya Pasopati dengan mimik seperti orang bodoh. Nada ucapan Pasopati sama sekali tidak menunjukkan kalau tengah mengejek Ki Sobali. Pertanyaannya memang terdengar sungguh-sungguh, seolah-olah Pasopati memang tidak tahu akan hal itu.

"Salah apa? Tidak ada yang salah. Setahuku, orang-orang yang bersalah pasti dimasukkan ke dalam penjara. Dan kalau kesalahannya terlalu berat, mungkin bisa dihukum gantung. Bukankah begitu, Kakek?" sahut Gajah Mungkur dengan wajah bersungguh-sungguh.

Ki Sobali dan para pengawalnya menjadi heran mendengar ucapan kedua tokoh lucu namun bersikap kejam itu. Dari perkataan itu, jelas menunjukkan ketidakwajaran pikirannya.

"Orang gila...!" desis Ki Sobali dengan suara perlahan. Baru disadari kalau kali ini dia berhadapan dengan penjahat yang kurang waras.

"Benar! Kau pintar sekali, Kakek. Hanya orang gilalah yang membunuh orang tanpa sebab. Aku benar-benar kagum atas jawabanmu yang sangat tepat itu...!" puji Pasopati setelah mendengar ucapan Ki Sobali. Bahkan dengan lagak kocak, ibu jari tangannya diacungkan sebagai tanda pujian.

"Kalianlah yang gila, Manusia Keparat! Dan untuk itu, kalian harus dihukum mati!" bentak Ki Sobali.

Laki-laki tua itu jadi hilang kesabarannya, setelah menerima tanggapan ngawur kedua orang di hadapannya. Tanpa ingin memperpanjang perdebatan yang sia-sia ini, maka langsung pedangnya dihunus. Disadari kalau lawannya berasal dari golongan sesat yang berkepandaian tinggi. Karena sepanjang pengetahuannya, hanya orang-orang berkepandaian tinggi saja yang memiliki sifat aneh serta tidak wajar. Dan kini, segera para pengawalnya diperintahkan maju dan mengepung kedua orang yang dianggapnya sinting itu.

"Nah! Benar yang kukatakan tadi, Gajah Mungkur. Mereka memang ingin bermain-main dengan kita...," desah Pasopati dengan wajah berbinar ketika melihat orang-orang bersenjata itu mulai mengepung.

"Kalau begitu, marilah kita berlomba. Siapa yang paling banyak dan paling cepat mengirim mereka ke akhirat, dialah yang menang," timpal Gajah Mungkur. Hatinya kelihatan sangat gembira menghadapi pertarungan yang bakal pecah sebentar lagi.

"Ayolah...," tantangan itu diterima Pasopati. Dan begitu ucapannya selesai, laki-laki bertubuh gemuk itu langsung saja bergerak terhuyung-huyung ke depan. Sepasang tangannya bergerak aneh, menimbulkan deru angin keras yang ber-decitan tajam.

"Haaat..!"

Ki Sobali yang merasakan sambaran angin pukulan lelaki gemuk itu, segera memekik keras. Langsung disambutnya kedatangan tubuh lawan dengan pedang di tangannya. Maka sebentar saja Pasopati telah bertempur melawan Ki Sobali yang masih dibantu lima belas orang pengawalnya.

"Heaaat..!"

Di pihak lain. Gajah Mungkur telah mengamuk. Sepak terjangnya benar-benar menggiriskan. Sepasang tangannya menyambar-nyambar disertai desir angin tajam. Walaupun serangan Gajah Mungkur sama sekali tidak mengenal sasaran, tapi cukup membuat tubuh para pengeroyoknya terhuyung-huyung!

Bahkan orang yang terkena tamparan Gajah Mungkur langsung binasa dengan kepala pecah dan tulang dada remuk. Tak heran kalau dalam waktu singkat, telah belasan mayat bergeletakan ditanah. Tentu saja amukan lelaki bertubuh raksasa itu membuat lawan-lawannya menjadi gentar. Karena selain tamparan dan tendangannya bisa mengakibatkan kematian, tubuh Gajah Mungkur pun kebal terhadap senjata tajam.

"Ha ha ha...! Lihat, Kakang Pasopati. Jumlah yang kuperoleh lebih banyak!" seru Gajah Mungkur sambil terus melepaskan serangan-serangan mematikan.

"Hieh heh heh...! Jangan takabur, Gajah Mungkur! Tengoklah hasil yang kuperoleh. Pasti tidak kalah banyak dengan hasilmu...!" sahut Pasopati. Rupanya, lelaki bertubuh gemuk pendek itu telah banyak pula menewaskan lawannya. Sehingga, jumlah para pengeroyoknya semakin berkurang. Bahkan, Ki Sobali sendiri kelihatan sudah kepayahan menghadapinya.

"Keparat! Terimalah pembalasanku..!" pekik Ki Sobali. Laki-laki tua itu menjadi penasaran melihat para pengawalnya semakin banyak yang tewas di tangan lelaki gemuk pendek ini. Tubuhnya segera cepat melesat dengan gerakan menyilang, disertai tebasan pedangnya dari atas ke bawah. Jelas, Ki Sobali telah mengerahkan sisa-sisa tenaga dalam serangannya kali ini.

Whuuut..!

Sayang, serangan yang telah dipersiapkan dengan baik itu, masih juga meleset dari sasaran. Karena pada saat hampir bersamaan, Pasopati telah menggeser tubuhnya ke samping dengan kuda-kuda rendah. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sodokan jari-jari tangah ke arah ulu hati lawan.

Crabbb!

"Aaakh...?!" Ki Sobali memekik keras ketika jari-jari tangan lawan yang setajam mata pedang, amblas memasuki tubuhnya. Darah segar kontan mengalir deras dari tubuh Ki Sobali, seiring amblasnya jari-jari tangan Pasopati.

"Heaaah...!"

Dibarengi bentakan keras, Pasopati menarik kembali tangannya yang telah merenggut segumpal daging sebesar kepalan tangan. Akibatnya, tubuh Ki Sobali langsung ambruk tanpa nyawa, karena jantungnya telah dicopot paksa.

Kematian Ki Sobali tentu saja membuat para pengawalnya tersentak mundur dengan wajah pucat. Tapi, Pasopati tidak mau bertindak kepalang tanggung. Setelah melemparkan jantung Ki Sobali ke tanah, tubuhnya langsung melesat dengan serangan kilatnya.

"Hihhh...!"

Sekali berkelebat saja, empat orang lawan yang tersisa langsung terpelanting dengan kepala pecah! Gerakan Pasopati memang sangat sulit dilihat mata telanjang. Begitu menyelesaikan lawan-lawannya, Pasopati menoleh ke arah Gajah Mungkur yang ternyata telah pula menyudahi lawan-lawannya.

Gajah Mungkur pun saat itu menoleh ke arah kakaknya. Lelaki bertubuh raksasa itu tersenyum lebar ketika melihat lawan-lawan kakaknya tidak ada yang tersisa. Mereka kemudian saling bertatapan dengan wajah mencerminkan kepuasan.

"Wah! Sayang, aku terlambat..."

Tiba-tiba terdengar suara parau yang membuat Pasopati dan Gajah Mungkur menoleh bersamaan. Keduanya langsung tertawa bergelak ketika melihat wajah Wirya Bajang yang baru muncul, tampak menyiratkan kekecewaan.

"Tidak ada bagian lagi untukmu, Kakang Wirya Bajang. Semuanya sudah kami habiskan...," sahut Pasopati sambil tertawa seperti ringkik kuda.

"Tidak mengapa, Pasopati. Aku masih bisa mencarinya di tempat lain. Ayo kita tinggalkan desa Ini...," ajak Wirya Bajang seraya berbalik.

"Tapi..., bagaimana dengan wanita milikku, Kakang? Aku ingin menikmatinya dulu, sebelum meninggalkan tempat ini...," Pasopati mencoba membantah perintah kakaknya. Kalau belum menikmati wanita yang ditinggalkannya di kedai, rasanya Pasopati tak ingin meninggalkan Desa Kandaran. Rupanya wanita itu telah membangkitkan gairah nafsu iblisnya.

"Wanita milikmu itu membuat hatiku jengkel, Pasopati. Dia merengek tak habis-habisnya. Karena aku geram, maka kupukul saja kepalanya hingga pecah. Demikian juga wanita yang kumiliki. Tapi, tentu saja kehangatan tubuh mereka telah kunikmati dulu. He he he.... Aku memang lebih beruntung ketimbang dirimu, Pasopati...," jawab Wirya Bajang dengan nada datar tanpa perasaan. Seolah, nyawa manusia tidak ada artinya baginya.

"Ah! Sayang sekali...," sesal Pasopati yang tampaknya tidak berani marah kepada kakaknya.

"Sudahlah. Nanti kita cari yang lebih cantik. Ayo ikuti aku...," bujuk Wirya Bajang lagi.

Kali ini kedua adiknya menurut saja. Maka, setelah menebarkan bencana di Desa Kandaran, Tiga Badut Setan itu segera meninggalkan tempat itu

********************

Matahari baru saja menampakkan dirinya saat tiga sosok memasuki daerah Bukit Kundul. Mereka terus bergerak ringan mendaki lereng bukit. Lereng yang terjal itu tidak membuat mereka kesukaran mendakinya. Langkah kaki mereka kelihatan sangat mantap dan terlatih baik. Sehingga, sebentar saja sudah bertemu lereng yang datar dan tidak menanjak lagi.

"Apa ada wanita cantik di bukit ini, Kakang Wirya Bajang?" tanya lelaki bertubuh raksasa, yang wajahnya terhias cambang bauk lebat. Siapa lagi orang itu kalau bukan Gajah Mungkur? Rupanya, yang tengah mendaki lereng Bukit Kundul itu adalah Tiga Badut Setan.

"Kisanak! Harap berhenti sebentar...!"

Tiba-tiba terdengar seruan halus, yang membuat langkah Tiga Badut Setan tertahan. Baru saja seruan itu lenyap, enam sosok bermunculan menghadang jalan mereka. Wirya Bajang yang berjalan paling depan, menatap tajam keenam orang yang berjajar menghadang jalan. Satu persatu dirayapinya wajah orang-orang itu dengan kepala bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Tingkahnya terlihat lucu, sehingga keenam orang itu saling berpandangan. Salah seorang penghadang yang tampaknya sebagai pemimpin dari kelima kawannya, melangkah maju beberapa tindak. Kemudian, dia menghormat sebelum melontarkan pertanyaannya kepada Wirya Bajang.

"Siapakah kalian bertiga? Dan, apa tujuan kalian datang ke Bukit Kundul ini?" tanya lelaki gagah berusia empat puluh tahun, menunjukkan nada persahabatan.

"Kami ingin mencari wanita cantik. Apakah di atas puncak bukit ini banyak wanita cantik...?" sahut Gajah Mungkur langsung, sebelum Wirya Bajang membuka suara.

"Wanita cantik...? Wanita manakah yang kau maksudkan, Kisanak?" tanya lelaki gagah itu lagi. Tentu saja dia menjadi heran mendengar jawaban yang sama sekali tidak lumrah. Meski demikian, sikapnya masih sabar untuk meminta keterangan yang lebih jelas dari sosok lelaki bertubuh raksasa itu.

"Ya..., wanita mana saja. Asal cantik, aku pasti suka..," sahut Gajah Mungkur lagi seenaknya.

Mendengar jawaban Gajah Mungkur, lelaki gagah itu menjadi merah selebar wajahnya. Jelas, nada ucapan Gajah Mungkur menunjukkan maksud tidak baik. "Maaf. Di atas puncak bukit ini tidak ada rumah bordil. Yang ada, hanya Perguruan Bukit Kundul. Kalian telah salah alamat, silakan cari di tempat lain saja...," jawab lelaki gagah itu. Secara tak langsung, kata-katanya bernada mengusir ketiga tamu yang tak diundang itu.

"Ahhh...! Jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mendapat jawaban yang mengecewakan. Benar-benar tak adil! Kau tentu bohong, Kisanak. Biar kulihat sendiri untuk membuktikan ucapanmu itu...," ujar Gajah Mungkur. Setelah berkata demikian. Gajah Mungkur bergerak melangkah tanpa mempedulikan wajah ketidak senangan dari lelaki gagah itu.

"Tunggu, Kisanak! Kau tidak boleh berbuat seenaknya di tempat ini! Kami mempunyai peraturan yang harus ditaati oleh siapa pun yang datang. Harap kalian tinggalkan saja tempat ini. Jangan memaksa kami untuk bertindak kasar...!" cegah lelaki gagah itu bernada ancaman. Bahkan lima orang kawannya yang berada di belakang telah bergerak maju, juga siap mencegah maju Gajah Mungkur.

"Apa?! Kalian hendak menggunakan kekerasan? Haaa... Ingin kulihat, seperti apa kekerasan yang dimaksudkan itu, Orang Gagah. Karena, aku pun suka kekerasan...," sahut Gajah Mungkur kembali, sekenanya. Lelaki bertubuh besar itu melanjutkan langkahnya tanpa peduli kalau lelaki gagah itu telah bersiap-siap untuk menyerangnya.

"Sial! Tempat ini ternyata telah kedatangan orang gila...!" umpat lelaki gagah Itu, jengkel. Sepasang tangannya tampak bergetar, karena telah teraliri tenaga dalam yang siap digunakan sewaktu-waktu.

TIGA

"Hati-hatilah, Kakang Darinta! Tampaknya mereka memiliki tenaga kuat...," bisik seorang kawan lelaki gagah itu. Lelaki yang bernama Darinta itu hanya mengangguk maklum, karena juga berpendapat sama.

"Hayo, sambut kepalanku...!" seru Gajah Mungkur disusul gerakan berputar yang aneh. Tubuhnya yang tinggi besar segera melesat ke depan melancarkan pukulan.

Bettt...!

Darinta sudah dapat mengukur kekuatan tenaga dalam dari sambaran angin pukulannya. Sehingga, dia tidak ingjn bertindak ceroboh. Cepat-cepat tubuhnya bergeser mundur dua langkah. Kemudian kakinya melangkah ke depan setelah pukulan lawannya luput. Lalu, sepasang telapak tangannya cepat meluncur ke arah dada lawan.

Tampak Gajah Mungkur seperti hendak memperlihatkan kekebalan tubuhnya. Dorongan sepasang tangan lawan disambut oleh dadanya yang dibusungkan ke depan. Akibatnya, hantaman sepasang telapak tangan Darinta telak mengenai sasarannya.

Bukk!

"Akh...!" Apa yang terjadi benar-benar membuat kawan-kawan Darinta terbelalak kaget. Mereka hampir tidak percaya ketika melihat tubuh pimpinannya terhempas ke belakang diiringi pekik kesakitan. Padahal, mereka jelas-jelas tahu kalau hantaman sepasang telapak tangan Darinta sanggup menghancurkan batu besar. Tapi, kenapa sekarang justru membuat Darinta menjerit

"Kakang...!"

Dua kawan Darinta bergegas memburu, dan membantu pimpinannya bangkit. Mereka semakin terkejut ketika melihat sepasang tangan Darinta tampak membengkak akibat tenaga pukulan yang membalik.

"Gila! Manusia raksasa itu ternyata jauh lebih kuat dari dugaanku! Ini saja baru seorang yang maju. Apalagi, bila mereka bertiga maju bersamaan! Rasanya kita tidak akan sanggup mencegah mereka untuk naik ke puncak. Sebaiknya, salah seorang dari kalian segera melaporkan kejadian ini kepada guru. Cepatlah...!" bisik Darinta.

Lelaki gagah itu kini telah berdiri tegak, siap bertarung kembali. Sementara tanpa banyak membuang waktu, salah seorang dari kawan Darinta bergegas naik ke puncak bukit. Sedangkan Darinta bersama keempat kawannya tetap bertahan untuk bertarung mayi-matian.

Sringgg! Srattt!

Empat kawan Darinta bersamaan menghunus senjata untuk menghadapi lawan. Mereka bergerak mengepung Gajah Mungkur dengan pedang di tangan. Memang yang menjadi lawan Darinta hanya Gajah Mungkur. Sedangkan Pasopati dan Wirya Bajang hanya menjadi penonton saja. Dua orang dari Tiga Badut Setan itu sepertinya telah percaya dengan kemampuan adiknya. Sementara itu, Darinta sendiri telah berdiri di depan Gajah Mungkur. Rupanya, dia tidak merasa jera meskipun kedua tangannya sudah tidak bisa digunakan lagi untuk menyerang.

"Ha ha ha...! Kalian seperti tikus-tikus kecil yang menghadapi kucing liar!" ejek Gajah Mungkur sambil tertawa-tawa dengan tangan kiri memegangi perutnya. Sedangkan tangan kanannya menuding wajah kelima lawannya berganti-ganti. Sikap yang sombong Itu tentu saja membuat wajah lawan-lawannya menjadi merah.

"Jangan takabur dulu, Kerbau Dungu! Kita lihat saja, apakah kau memang mampu melawan kami berlima...!" desis Darinta. Jelas, Darinta merasa terhina atas ucapan yang dilontarkan Gajah Mungkur. Segera saja diberinya isyarat kepada kawan-kawannya untuk maju menggempur.

"Haaat...!"

Diiringi sebuah teriakan nyaring, seorang kawan Darinta yang berada di samping kanan Gajah Mungkur melesat disertai sambaran pedangnya yang mengarah ke leher. Kemudian, tiga kawahnya yang lain menyusuli dengan serangan beruntun susul-menyusul. Mereka bergerak dengan kecepatan mengagumkan. Darinta sendiri menerjang dari depan dengan tendangan-tendangannya yang berputaran cepat, laksana baling-baling. Rupanya laki-laki ini memang cukup lihai juga dalam ilmu tendangan. Semua itu terlihat jelas, sewaktu menerjang Gajah Mungkur.

"Hm...," Gajah Mungkur bergumam perlahan. Tubuh laki-laki tinggi besar itu sama sekali tidak bergeser dari tempat berpijaknya semula. Jelas, kalau kekebalan tubuhnya sangat diandalkan untuk menyelesaikan pertarungan itu.

Trakkk! Trakkk! Trakkk!

"Ahhh...?!"

"Haih...?!"

Terdengar pekikan kaget berturut-turut dari keempat anak buah Darinta, begitu senjata masing-masing telak menghantam sasaran. Tapi, tak satu pun dari keempat batang pedang itu yang sanggup melukai tubuh Gajah Mungkur. Sebaliknya, tubuh empat anak buah Darinta sendirilah yang terpental balik. Memang, tenaga tolakan yang keluar dari tubuh Gajah Mungkur sangat kuat!

Zebbb!

Setelah keempat batang pedang itu berpatahan ketika mengenai tubuh Gajah Mungkur, tendangan Darinta meluncur mengancam pelipis. Jelas, Darinta ingin melihat apakah jalan darah besar di kepala lawan juga terlindung kekebalan?

Tapi, Gajah Mungkur sepertinya bisa menebak maksud lawan yang satu itu. Maka, cepat kepalanya dimiringkan ketika tendangan Darinta meluncur datang. Dan tanpa diduga sama sekali, tangannya bergerak sangat cepat Sehingga....

Tappp!

"Ahhh.?!" Darinta benar-benar terkesiap ketika pergelangan kakinya dirasakan telah tercekal jari-jari tangan lelaki raksasa yang besar dan kuat Dia terpaksa menjerit, ketika Gajah Mungkur meremas dan memuntir kakinya disertai pengerahan kekuatan tenaganya.

"Hiaaah...!" Gajah Mungkur membentak keras. Langsung disertakannya tubuh Darinta yang langsung terangkat ke udara. Kemudian, diputar-putarnya tubuh laki-laki gagah itu di atas kepalanya seperti baling-baling!

"Aaa...!" Darinta memekik ngeri ketika tubuhnya terasa meluncur pesat, saat dilepaskan Gajah Mungkur. Tanpa ampun lagi, tubuhnya melayang dan menghantam dinding bukit yang berbatu cadas itu.

Prokkk!

Terdengar suara benturan keras ketika kepala Darinta menghantam dinding bukit. Darah segar bercampur cairan putih kontan muncrat membasahi tanah! Darinta pun tewas seketika itu juga.

"Ahhh...!"

Keempat kawan Darinta sama-sama terpekik ngeri melihat pimpinannya tewas secara mengerikan! Tanpa sadar, mereka bergerak mundur menjauhi lawannya. Sementara lelaki raksasa itu menatapi keempat murid Perguruan Bukit Kundul sambil tertawa terbahak-bahak

"Jangan khawatir! kalian pun pasti akan mendapat bagian yang tidak kalah menariknya...," ejek Gajah Mungkur. Tawanya terdengar semakin keras, menandakan nafsu membunuh yang sudah berada di puncaknya.

Mendengar ucapan lelaki bertubuh besar itu, wajah keempat murid Perguruan Bukit Kundul menjadi semakin pucat. Seketika itu juga, keberanian mereka langsung lenyap entah ke mana. Sehingga, kaki mereka terus bergerak mundur menjauhi sosok Gajah Mungkur yang terlihat bagaikan seorang raksasa pemburu nyawa.

"Haaa...!"

Gajah Mungkur kelihatan sangat gembira menyaksikan wajah-wajah yang dilanda ketakutan hebat Malah calon-calon korbannya sengaja ditakut-takuti. Bentakannya yang menggelegar serta kedua tangannya yang terkembang, membuat keempat lawannya melompat ke belakang. Bahkan keringat dingin mulai membasahi wajah dan tubuh mereka.

"Ha ha ha..!"

Senang bukan main Gajah Mungkur menyaksikan tingkah laku keempat orang lawannya Tawanya tergelak-gelak sampai menitikkan air mata melihat lawan-lawannya semakin bertambah pucat Apalagi setelah mendengar bentakannya

"Hieeeh heh heh..! Bagus.... Bagus, Gajah Mungkur! Aku senang sekali melihat tontonan seperti ini...!" Pasopati yang masih menjadi penonton bersama Wirya Bajang memperdengarkan tawanya yang seperti ringkik kuda. Rupanya hatinya juga merasa gembira menyaksikan kekejaman adiknya

Sementara itu, Wirya Bajang sampai jatuh terduduk menyaksikan pertunjukan yang baginya sangat lucu. Benar-benar mengiriskan sifat Tiga Badut Setan itu. Semakin orang ketakutan, Tiga Badut Setan akan semakin senang dan puas melihatnya. Bagi mereka bertiga, pertunjukan itu merupakan hiburan yang mengasyikkan.

Setelah puas mempermainkan lawan-lawannya yang hampir mati ketakutan. Gajah Mungkur berniat mengakhiri permainannya. Dengan bentakan keras, lelaki tinggi besar itu melompat Kedua tangannya tampak dikembangkan, menangkap leher dua lawannya. Kemudian, diangkatnya kedua tubuh itu dengan jari-jari tangan mencekik leher tawan hingga tewas.

Setelah menewaskan kedua lawannya, Gajah Mungkur berpaling ke arah dua lawan lainnya yang tersisa. Dan dengan gerakan cepat, kedua lawannya ditangkap. Lalu tanpa ada rasa kasihan, satu persatu dipatahkannya anggota tubuh dua korbannya. Dan tanpa menghiraukan jeritan-jeritan kesakitan, dipatahkannya batang leher keduanya hingga tewas dengan mata terbeliak! Setelah melepaskan korbannya hingga tersuruk di tanah, Gajah Mungkur bertepuk tangan disertai senyum penuh kepuasan. Sekilas wajahnya berpaling ke arah dua saudaranya, seolah mengharapkan pujian atas hasil perbuatannya.

"Pekerjaan yang sangat bagus dan menyenangkan, Gajah Mungkur...," puji Pasopati tersenyum puas.

"Nikmat sekali aku melihatnya, Gajah Mungkur...," tambah Wirya Bajang sambil bertepuk tangan, sehingga membuat Gajah Mungkur semakin bangga.

"Sekarang tinggal mencari wanita cantik di atas bukit ini...," kata Gajah Mungkur.

Laki-laki tinggi besar itu kemudian mempersilakan Wirya Bajang untuk berjalan lebih dulu. Dia baru berjalan paling belakang, setelah Pasopati melangkah melewatinya.

********************

"Itu mereka, Guru...! Celaka! Pasti Kakang Darinta dan yang lainnya telah dibunuh...!"

Terdengar kata-kata keras dari lelaki pendek kepada seorang lelaki tua yang di tangan kanannya tergenggam tongkat berwarna merah. Jari telunjuknya ditudingkan ke arah tiga sosok lelaki yang tengah bergerak semakin mendekat

"Eh?! Tidak salahkah penglihatanku...? Betulkah Tiga Badut Setan yang datang mengacau...?" desis lelaki tua itu sambil menyipitkan matanya, menegasi.

Perkataannya jelas menandakan kalau laki-laki tua yang ternyata Ketua Perguruan Bukit Kundul itu telah cukup mengenal ketiga tamu tak diundang Itu. Sebagai kaum rimba persilatan golongan tua, tentu saja ketiga tokoh sesat yang memiliki sifat aneh mendekat kegilaan itu sudah dikenalnya. Kenyataan itu membuat hatinya sangat terkejut.

"Ha ha ha...! Rupanya yang mendekam di bukit ini adalah Tongkat Kayu Merah! Sungguh kebetulan! Berarti perjalananku tidak sia-sia. Bertarung dengan orang sepertimu, pasti sangat menyenangkan...!" tantang Wirya Bajang setelah berada agak dekat. Rupanya laki-laki berhidung seperti tomat ini mengenali lelaki bertongkat merah yang berusia sekitar lima puluh tahun itu.

"Tanyakan kepadanya, Kakang. Apakah dia memelihara gadis-gadis cantik di dalam perguruannya..?" bisik Gajah Mungkur yang masih saja memikirkan gadis-gadis cantik. Lelaki bertubuh raksasa itu tampak masih penasaran setelah kejadian di Desa Kandaran. Sehingga, sepanjang perjalanan benaknya hanya dipenuhi bayangan gadis-gadis cantik saja.

"Tenanglah, Gajah Mungkur. Kita pasti akan mendapatkan banyak gadis cantik. Kau boleh memilih dan menikmatinya nanti...," jawab Wirya Bajang agak keras. Sehingga suaranya terdengar oleh laki-laki yang ternyata berjuluk Pendekar Tongkat Kayu Merah dan murid-muridnya.

"Kalau begitu, aku pesan empat Yang cantik-cantik, dan mulus-mulus...," timpal Pasopati, langsung saja. Bibirnya tampak tersenyum membayangkan dirinya dikelilingi gadis-gadis cantik yang membuat air liurnya menetes.

"Aku memilihnya nanti saja kalau sudah melihat..," kata Gajah Mungkur sambil menjilati bibirnya. Bayangan gadis-gadis cantik itu seolah santapan yang terlezat baginya

"Hm.... Rupanya mata tuaku masih cukup baik Kiranya Tiga Badut Setan yang datang berkunjung. Hhh. Betapa sempitnya dunia ini. Sayang, kedatangan kalian disertai maksud keji." Percakapan Tiga Badut Setan terhenti ketika mendengar kata-kata Pendekar Tongkat Kayu Merah yang berwibawa dan cukup lantang.

"Sebenarnya, kedatangan kami hanya untuk bersenang- senang, Tongkat Merah. Sambutan murid-muridmu pun cukup hangat. Sayang, mereka harus kami tinggalkan di bawah sana..," sahut Wirya Bajang, datar.

Bagi yang belum mengetahui sifat Tiga Badut Setan, tentu akan mengira ucapan itu tidak menyimpan arti lain. Namun tidak demikian halnya Pendekar Tongkat Kayu Merah. Laki-laki tua itu cukup mengenal sifat serta istilah yang selalu digunakan Tiga Badut Setan. Makanya, tak heran kalau wajahnya tampak berubah kelam ketika mendengar kata-kata Wirya Bajang.

Pendekar Tongkat Kayu Merah yang bernama asli Ki Baginta sadar, ucapan itu berarti kematian bagi murid-muridnya yang berada di sana. Meski demikian, kemarahannya berusaha ditekan, karena bisa berakibat parah bagi dirinya. Apalagi, lawan yang harus dihadapinya sangat tangguh dan belum tentu mampu ditandinginya.

"Kalian benar-benar iblis keji! Tanpa sebab yang jelas) murid-muridku kalian bantai seperti sekumpulan lalat! Apa sebenarnya yang diharapkan dengan melakukan kejahatan seperti itu..?" Meskipun telah menekan kegeramannya sekuat tenaga, tak urung nada suara Ki Baginta terdengar agak bergetar mengandung kemarahan. Tapi, Wirya Bajang malah menanggapinya dengan tawa terbahak keras.

"He he he...! Tidak banyak yang kuinginkan, Ki Baginta. Kami hanya mencari kesenangan, kepuasan, kemashyuran, dan pengakuan bahwa Tiga Badut Setan adalah tokoh nomor wahid dalam dunia ini...," sahut Wirya Bajang terkekeh berkepanjangan.

"Kalian benar-benar sinting! Hanya karena alasan kosong itu sampai tega membunuh orang lain?! Rasanya berdosa besar jika kalian kubiarkan merajalela menebar bencana! Meski harus mengorbankan nyawa, kebiadaban kalian akan kuhen-Bkan...!" geram Ki Baginta.

Segera laki-laki tua itu memutar tongkat merahnya, hingga menimbulkan putaran angin keras yang menerbangkan bebatuan kecil. Kemudian, tongkatnya disilangkan di depan dada dengan sorot mata tajam.

"Bagus..., bagus...! Memang itulah yang kuinginkan, Ki Baginta. Tanpa ditantang pun, aku pasti akan memaksamu bertarung denganku...," sambut Wirya Bajang melompat- lompat kegirangan, persis seperti bocah kecil yang memperoleh mainan kesukaannya.

"Biar yang lainnya bermain-main denganku, Kakang...," pinta Pasopati. Sepasang matanya sempat berbinar-binar ketika melihat murid-murid Perguruan Bukit Kundul sudah siap tempur.

"Aku juga ikut bermain...!" seru Gajah Mungkur yang tidak kalah gembiranya.

"Manusia-manusia gila...!" umpat Ki Baginta. Diam-diam Ketua Perguruan Bukit Kundul itu merasa geram melihat orang-orang yang gila menyiksa serta membunuh sesamanya. Mereka tak ubahnya seperti pemburu-pemburu nyawa.

Melihat Wirya Bajang sudah menggeser langkahnya, Ki Baginta pun mulai mempersiapkan diri dengan jurus-jurus andalan. Lelaki berjuluk Pendekar Tongkat Kayu Merah sadar, lawannya bukanlah orang sembarangan. Maka begitu berhadapan, langsung dikeluarkannya jurus-jurus andalan.

Sementara itu, Gajah Mungkur dan Pasopati telah bergerak untuk menerjang murid-murid Ki Baginta. Jelas, mereka sangat bernafsu untuk saling berlomba dalam menewaskan lawan-lawannya.

"Haaat..!" Ki Baginta langsung membuka serangan dengan putaran tongkat merahnya. Kemudian tongkatnya bergerak lurus dengan totokan yang mengancam jalan darah kemarian di tubuh lawan.

Syuuut..!

Wirya Bajang terkekeh parau melihat datangnya serangan tongkat lawan. Dengan gerak aneh namun jelas sangat ampuh dan membingungkan, serangkaian totokan itu berhasil dielakkan tanpa perlu menggeser tubuhnya jauh-jauh. Jelas hal itu menunjukkan betapa tingginya ilmu berkelit yang dimilikinya. Ki Baginta pun mau tak mau harus memuji dalam hati.

"Shaaa...!" Serangan tongkat Ki Baginta mulai melemah, karena selalu meleset dari sasaran. Dan kesempatan ini digunakan Wirya Bajang untuk melancarkan serangan balasan. Didahului sebuah bentakan mengejutkan, tubuhnya bergerak cepat dengan tusukan jari-jari tangan yang membentuk paruh ular.

Bettt! Bettt!

Tampak Ki Baginta kewalahan dalam mengelakkan serangan beruntun yang datang laksana air bah. Namun dengan kelincahannya, serangan lawan tetap berusaha dihindari sambil sesekali menangkis dan membalas. Maka sebentar saja kedua tokoh itu telah terlibat dalam perkelahian sengit. Tapi setelah bertarung kurang lebih tiga puluh jurus, Ki Baginta mulai kerepotan menghadapi serangan beruntun lawannya. Bahkan sudah tidak sempat lagi membalas, karena terlalu sibuk mengelak serta menangkis serangan-serangan.

"Yiaaah...!"

Wirya Bajang yang melakukan tekanan-tekanan berat tiba- tiba membentak nyaring mengejutkan. Berbarengan dengan itu, tubuhnya merendah hampir berjongkok Kemudian, dia melompat cepat sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya. Maka....

Blaggg.!

"Huakkkh.!"

Telak sekali sepasang telapak tangan Wirya Bajang mendarat di tubuh Ki Baginta. Akibatnya, Ketua Perguruan Bukit Kundul itu terjajar disertai muntahan darah segar dari mulutnya. Meski demikian, dia berusaha menahan kuda-kudanya agar jangan sampai terjatuh. Tapi malang. Sebelum laki-laki tua itu bersiap kembali, pukulan Wirya Bajang kembali datang menghantam dadanya

Bukkk!

Kali ini tubuh Ki Baginta terhempas deras, dan terbanting keras di tanah. Dan belum juga laki-laki tua itu bisa bangkit, telapak kaki Wirya Bajang telah mengakhiri hidupnya. Ketua Perguruan Bukit Kundul itu langsung tewas begitu batang lehernya patah diinjak Wirya Bajang!

Pada saat yang hampir bersamaan, Pasopati dan Gajah Mungkur juga mengakhiri nyawa lawan terakhirnya Kedua murid Perguruan Bukit Kundul yang tersisa telah tewas dengan kepala retak akibat tamparan keras tokoh sesat itu.

"Sekarang, tinggal mencari wanita-wanita cantik yang tentunya disimpan dalam perguruan itu..." Lagi-lagi Gajah Mungkur yang mengucapkan kalimat itu. Sepertinya dia sudah tidak sabar menyalurkan hajatnya. Mendekap tubuh molek, dan menyantapnya untuk mengisi perut.

Wirya Bajang dan Pasopati hanya terkekeh mendengar ucapan adiknya. Mereka kini bergerak memasuki perguruan yang sudah tidak terjaga lagi, karena semua murid Perguruan Bukit Kundul telah dibasmi dengan kejam, termasuk pimpinannya!

********************

EMPAT

Tak banyak orang yang berlalu lalang di desa ini. Hanya satu dua saja yang tampak. Bahkan tak terlihat sosok wanita. Namun keadaan yang demikian tidak membuat dua sosok yang tengah berjalan ini jadi bertanya-tanya. Dua sosok itu tampak memasuki sebuah kedai makan yang ramai pengunjungnya. Mereka adalah seorang pemuda tampan bertubuh sedang, mengenakan jubah panjang berwarna putih. Dan yang seorang lagi adalah seorang dara jelita berpakaian serba hijau. Kehadiran mereka tentu saja menjadi pusat perhatian, terutama sosok dara jelita berpakaian serba hijau.

Tidak satu lelaki pun di dalam kedai yang melewatkan kesempatan menatap wajah jelita itu penuh kekaguman. Sebagian lagi menatap disertai hasrat yang menggebu-gebu. Namun pandangan mata mereka serentak merunduk, ketika melihat gagang pedang yang menghiasi pinggang dara jelita itu. Senjata itu menandakan kalau gadis itu berasal dari kaum rimba persilatan. Maka, tentu saja mereka tidak berani main-main.

Beberapa pemuda yang berusia sekitar dua puluh atau dua puluh lima tahun, menatap penuh Iri kepada pemuda tampan berjubah putih yang kelihatannya sangat akrab. Mereka menduga kalau pemuda itu pasti suami, atau paling tidak kekasihnya.

"Beruntung sekali pemuda itu, entah bagaimana caranya dara jelita itu didapatkannya...," gumam seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun. Rupanya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa iri terhadap pemuda tampan berjubah putih itu. Tapi dia tidak bisa berbuat lain, kecuali hanya menatapi sosok dara jelita itu dari kejauhan.

Sedangkan sepasang anak muda itu menyadari kalau tengah menjadi pusat perhatian para pengunjung kedai. Namun, keduanya tetap melangkah tenang ke sebuah meja yang masih kosong. Kemudian, mereka duduk berdampingan dan memesan hidangan kepada pelayan yang datang menghampiri. Baru saja pelayan kedai pergi, seorang lelaki tua datang ke arah meja sepasang pemuda itu. Sengaja dia pindah dari mejanya untuk mendekati pemuda tampan dan dara jelita yang tidak begitu jauh dari tempat duduknya.

"Maaf, kalau aku mengganggu. Bolehkah aku bergabung dengan kalian...?" pinta lelaki tua yang berusia sekitar lima puluh tahun. Sikap dan nadanya terlihat sangat sopan.

"Tentu saja, Paman. Silakan...," sambut pemuda tampan berjubah putih itu setelah menatap wajah lelaki tua di hadapannya sejenak Kemudian, orang tua itu diberinya tempat untuk duduk bersama.

"Terima kasih...," ucap lelaki tua itu dengan wajah yang sopan dan wajar. Lelaki tua itu tampaknya ingin menyampaikan sesuatu kepada pasangan muda di depannya. Sementara, sepasang anak muda itu pun seolah telah mengerti, sehingga tetap bersikap menunggu.

"Maaf...," ujar lelaki tua itu setelah duduk dan memperhatikan orang-orang yang berada dalam kedai. "Bukannya aku menakut-nakuti. Tapi menurut pendapatku, terlalu berbahaya bagi wanita secantik Nisanak untuk berada di luar rumah dalam keadaan yang kacau seperti sekarang ini." Orang tua itu menghentikan ucapannya dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seolah, khawatir kalau ada orang yang memperhatikan.

"Mengapa, Paman...? Bukankah kami tidak berbuat kesalahan?" tanya pemuda tampan itu. Keningnya tampak agak berkerut, karena belum bisa menebak arah pembicaraan orang tua itu.

"Sebagai pedagang keliling, aku cukup tahu akan keadaan sekarang ini. Di mana-mana, banyak terjadi kejahatan. Bahkan kabarnya, penjahat-penjahat itu memiliki kesaktian tinggi dan mempunyai banyak pengikut. Tidak jarang gadis-gadis muda dan cantik diculik, tanpa peduli miskin atau kaya. Pembunuhan terjadi di mana-mana tanpa seorang pun yang mampu mencegahnya. Dan aku khawatir, kalau sampai Nisanak ini mengalaminya. Sekali lagi, aku mohon maaf. Aku hanya ingin mengingatkan, dan bukan menakut-nakuti. Harap jangan salah paham...," jelas lelaki tua yang mengaku sebagai pedagang keliling. Melihat dari raut wajah dan sikapnya, lelaki tua itu memang sekadar mengingatkan tanpa bermaksud menakut-nakuti, seperti yang ditekankannya berulang kali.

"Kejahatan memang tidak akan pernah habis, Paman. Di mana-mana selalu saja ada orang yang sengaja atau tidak, melakukan kejahatan. Tapi kami berdua yakin, akan selalu ada yang bersedia mengorbankan nyawa untuk memberantas kejahatan. Yang penting, kita harus selalu waspada dan jangan sampai terjerumus melakukan kejahatan...," timpal pemuda tampan itu.

Pemuda berjubah putih itu rupanya memiliki pengalaman cukup luas. Hanya saja, dia tidak merincinya satu persatu, karena membutuhkan waktu lama. Sehingga, dia hanya mengemukakan garis besarnya saja.

"Bukan itu maksudku, Anak Muda. Terus terang saja, kawanmu ini terlalu menarik bagi kaum lelaki. Sedangkan kejahatan yang kumaksudkan, terjadi sekarang ini. Itu yang kukhawatirkan...," bantah lelaki tua itu. Lagi-lagi pandang mata lelaki tua itu meraya pengunjung di ruangan ini dengan sikap penu curiga. Sehingga, dara jelita yang sejak tadi hanya mendengar, kini malah menatap tajam padanya.

"Paman," panggil dara jelita itu dengan suara lembut menyejukkan hati. "Coba jelaskan kejahatan yang Paman maksudkan? Kami memang baru tiba di desa ini, sehingga belum mengetahui peristiwa yang terjadi baru-baru ini"

"Apakah Paman melihat ada salah satu di antara mereka di dalam kedai ini...?" tanya pemuda tampan ini, ketika lelaki tua itu belum juga menjawab. Malah pandang matanya beredar dengan wajah agak cemas.

"Aku tidak tahu, Anak Muda. Yang jelas, mereka pasti berjumlah banyak. Dan, bisa saja kalau di antara para pengunjung kedai ada salah satu dari mereka. Kami, para pedagang keliling pernah menyaksikan perampok itu bertindak. Mereka rata-rata pandai silat dan sangat kejam. Untung saja nasibku dan dua kawanku masih dilindungi Tuhan. Saat para perampok datang, kami bersembunyi sambil membawa barang-barang dagangan. Ngeri sekali menyaksikan para perampok itu membunuhi penduduk desa tanpa perasaan. Bahkan membawa gadis-gadis muda, yang sudah pasti untuk kepuasan nafsu iblis yang merasuki tubuh mereka," tutur orang tua itu perlahan, takut kalau terdengar orang lain.

"Apakah perampokan dan penculikan itu sering terjadi, Paman?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu, agak menyelidik.

"Ya, begitulah. Tidak jarang dalam satu hari, ada dua atau tiga desa yang dijarah," sahut lelaki tua itu, masih dengan suara perlahan. Bahkan kali ini agak berbisik lirih.

"Hm.... Apakah tidak ada tokoh persilatan yang berusaha membasminya...?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu. Rupanya dia agak penasaran.

"Tentu saja ada. Tapi kebanyakan dari mereka telah tewas, meskipun sebelumnya berhasil mengusir perampok-perampok ganas itu. Kabarnya, tokoh-tokoh persilatan yang hendak menegakkan kebenaran itu tewas di tangan para pemimpin perampok. Bahkan banyak juga perguruan yang membubarkan murid-muridnya, karena tidak jarang didatangi oleh gembong penjahat. Mereka mengacau perguruan-perguruan, dari yang letaknya terpencil sampai yang ternama. Mungkin karena kesaktian gembong-gembong penjahat itulah, yang membuat orang-orang beraliran putih berpikir sepuluh kali untuk menumpas mereka. Makanya, aku harus menasihati kalian agar berhati-hati. Kalau sampai Nisanak terlihat oleh salah satu dari anggota mereka, celakalah kalian berdua" Lelaki tua itu menghentikan penjelasannya, tepat pada saat pelayan kedai datang membawa makanan dan minuman pesanan sepasang anak muda ini.

"Hm... Tadi Paman mengatakan, gerombolan itu pernah menjarah desa, saat Paman melewatkan malam di desa itu. Dapatkah kau tunjukkan, ke mana gerombolan itu pergi?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu hati-hati. Tampak sekali kalau semua cerita orang tua itu disimak baik-baik. Lelaki tua itu tampak berpikir sejenak Jelas dia tidak ingin memberikan jawaban asal jadi saja.

"Hm.... aku tidak tahu pasti. Tapi kalau tidak salah, mereka menuju ke arah barat, setelah menjarah desa itu. Kalau dari desa ini, kira-kira arahnya ke utara," jawab lelaki tua itu.

Pemuda tampan itu tampak mengangguk-angguk -eperti hendak menyimpan baik-baik keterangan pedagang keliling itu. Saat itu dua kawannya yang diceritakan barusan, telah memanggilnya dari ambang pintu kedai. Rupanya mereka hendak melanjutkan perjalanan untuk menjajakan barang dagangan.

"Maaf aku harus pergi. Pesanku, berhati-hatilah dan jangan lengah...," ujar orang tua itu seraya bergegas bangkit dari kursinya.

"Akan kuperhatikan, Paman. Dan, terima kasih...," sahut pemuda tampan berjubah putih itu sambil membalas anggukan kepala lelaki tua itu.

Sebentar kemudian, pedagang itu meninggalkan sepasang anak muda ini. Tubuhnya lalu menghilang, bersama dua orang kawannya yang menunggu.

"Kakang bermaksud menyelidiki gerombolan perampok yang diceritakan lelaki tua itu...?" tanya dara jelita berpakaian hijau seperti meminta kepastian kepada pemuda tampan di sebelahnya, setelah pedagang keliling tadi sudah tidak nampak lagi.

"Tentu saja, Kenanga. Dan rasanya, memang sudah menjadi tugas kita dalam kehidupan ini...," sahut pemuda tampan itu. Pemuda berjubah putih itu menatap gadis cantik yang dipanggil Kenanga. Melihat ciri-cirinya, dia sudah pasti Panji dan lebih dikenal sebagai Pendekar Naga Putih.

"Bagaimana kalau gerombolan itu hanya perampok biasa yang tidak mempunyai hubungan dengan tokoh tertentu...?" tanya Kenanga lagi, seperti masih meragukan cerita pedagang keliling tadi. Memang, bukan tidak mungkin kalau lelaki tua tadi telah membesar-besarkan kejadian yang sebenarnya. Dan biasanya, setiap peristiwa yang berasal dari mulut ke mulut selalu dibumbu-bumbui agar menjadi menarik.

"Biarpun begitu, kita tetap berkewajiban untuk menumpasnya. Kalau hal itu dibiarkan berlarut-larut, jelas akan mengganggu ketenangan orang banyak...," kilah Panji lagi, tenang.

"Lalu, mengapa kita Gdak segera berangkat ke utara? Aku pun ingin melihat sendiri, seberapa kehebatan gerombolan perampok yang diceritakan orang tua itu," ujar Kenanga lagi.

Tampaknya gadis itu merasa penasaran. Hendak dibuktikannya sendiri cerita-cerita pedagang keliling itu. Menurutnya, cerita orang tua tadi jelas menggambarkan keganasan serta kehebatan gerombolan perampok. Kalau saja orang lain yang mendengarnya, mungkin akan gentar. Tapi orang yang dinasihati pedagang keliling itu adalah Pendekar Naga Putih dan kekasihnya, Kenanga. Sepasang pendekar muda itu tentu saja tidak pernah merasa gentar dalam menghadapi penjahat atau tokoh sesat sesakti apapun.

"Baiklah. Kita berangkat setelah selesai mengisi perut yang keroncongan ini...," desah Panji.

Jawaban Pendekar Naga Putih membuat semangat dara jelita itu bangkit. Dan itu tampak sekali dari wajah Kenanga yang bersinar gembira dan mata berbinar-binar. Dia memang sangat menyukai petualangan-petualangan yang mendebarkan. Apalagi bersama pemuda pujaan hatinya. Tidak aneh kalau dia kelihatan ingin segera menghabiskan santapannya.

********************

"Kita langsung menuju ke utara, Kakang...?" tanya Kenanga ketika mereka tengah melintasi sebuah hutan kecil.

"Ya! Dan untuk mempercepat perjalanan, kita harus melewati tempat-tempat yang jarang dilalui orang. Sehingga, mungkin saja kita secara tak sengaja menemukan markas perampok yang biasanya terletak di daerah seperti itu," sahut Panji sambil tetap mengayunkan langkahnya menerabas semak perdu.

Namun, tiba-tiba saja pemuda tampan itu menghentikan langkahnya. Sedangkan Kenanga sedikit terkejut, dan juga segera berhenti. Dan gadis itu memang sudah sering melakukan perjalanan bersama kekasihnya. Maka segera saja bisa diduga, apa yang menyebabkan Panji berhenti mendadak. Indera pendengarannya segera dipasang tajam-tajam kalau kalau mendengar suara-suara yang mencurigakan.

"Kau dapat menangkap suara itu, Kenanga...?" tanya Panji ketika melihat kekasihnya tampak tengah memusatkan pendengarannya.

"Hhh.... Aku tidak menangkap suara apa-apa, Kakang...," sahut Kenanga agak kecewa.

"Ikuti aku. Sepertinya, ada pertempuran di sekitar daerah ini Mungkin agak jauh, karena terdengarnya samar-samar. Tapi aku yakin, suara yang kudengar itu teriakan dan dentingan senjata beradu...," jelas Panji. Dan tanpa menunggu lagi, langsung saja Pendekar Naga Putih berkelebat ke arah selatan hutan kecil itu.

Sementara, Kenanga yang melihat kekasihnya tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dalam berlari, segera saja dapat menjajarinya. Kedua pendekar muda itu bergerak ke arah selatan, seperti yang diinginkan Panji.

"Ahhh...?! Aku mulai dapat menangkap suara itu, Kakang. Jelas ada orang yang tengah bertempur di sekitar daerah ini. Mudah-mudahan saja gerombolan itulah yang diceritakan pedagang keliling tadi...," seru Kenanga, gembira.

"Hm.... Coba, bawalah aku ke tempat asal suara itu...," ujar Panji, sengaja hendak menguji ketajaman pendengaran kekasihnya.

"Baik...," sahut Kenanga, mantap dan penuh keyakinan. Jelas, dara jelita itu telah yakin akan ketajaman indera pendengarannya. Segera saja tubuhnya melesat ke arah kanan dengan kecepatan mengagumkan.

Sedangkan Panji bergerak mengikuti arah yang dituju kekasihnya. Diam-diam hatinya dihinggapi rasa bangga melihat kemajuan dara jelita itu. Latihan-latihan yang sering dilakukan dalam perjalanan, membuat kepandaian Kenanga telah meningkat pesat. Selain memiliki bakat yang cukup baik, latihannya pun sangat tekun. Terutama melatih ilmu-ilmu yang diajarkan kekasihnya. Tidak heran kalau kemajuannya kini cukup berarti.

"Itu dia, Kakang...!" desah Kenanga, gembira ketika melihat ada yang bertarung di depan.

Jarak mereka dengan pertarungan masih terpisah sekitar sepuluh tombak Namun, mereka terus bergerak mendekat dan bersembunyi di balik semak-semak..Panji dan Kenanga sama sekali belum memutuskan untuk bergerak, dan hanya menatap perkelahian untuk beberapa saat. Mereka hendak memastikan lebih dulu, pihak mana yang akan dibela. Kedua pendekar muda itu seperti telah sepakat untuk membantu dua wanita yang tengah dikeroyok belasan lelaki kasar berpakaian serba hitam. Dan Kenanga telah lebih dulu berkelebat ke arena pertempuran.

"Jangan khawatir. Sahabat! Aku datang membantu kalian! Mari kita gempur pengacau-pengacau kurang ajar ini...!" seru Kenanga.

Kenanga sudah bisa menduga kalau belasan lelaki itu adalah golongan sesat. Dari cara mereka bertarung melawan kedua wanita itu sudah memperlihatkan sikap-sikap yang tidak sopan. Selain kata-kata kotor yang sesekali terlontar, serangan-serangan balasan orang itu pun selalu tertuju ke arah dada yang membusung indah. Dan perbuatan itu tentunya hanya dilakukan oleh orang-orang golongansesat.

Dua wanita cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun dan tiga puluh tahun itu memandang Kenanga dengan penuh rasa terima kasih. Apalagi, saat itu mereka memang sudah kewalahan menghadapi tekanan para pengeroyoknya. Terutama dua pengeroyok yang kepandaiannya tampak lebih tinggi dari pengeroyok lainnya. Tentu saja datangnya bantuan membuat mereka lega, begitu menyaksikan dara jelita berpakaian hijau itu langsung dapat menghempaskan seorang pengeroyok.

Rasa syukur kedua wanita yang sama-sama berwajah cantik dan manis itu semakin bertambah, ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih melayang turun dan ikut membantu. Sepak terjang pemuda yang seketika langsung merobohkan dua pengeroyok, membuat kedua wanita itu memandang kagum. Keduanya merasa yakin akan selamat karena pertolongan sepasang tokoh muda yang sakti itu.

"Lari...!" Salah satu lelaki yang merupakan pimpinan belasan orang berpakaian serba hitam itu segera memberi perintah mundur. Rupanya, dia sadar kalau sepasang pendekar muda yang baru tiba ini tidak mungkin dapat dilawan.

Melihat lawan-lawannya berlarian mundur. Kenanga dan Panji sama sekali tidak berusaha mengejar. Mereka hanya menatap kepergian orang-orang berpakaian serba hitam itu dengan senyuman.

"Sahabat-sahabat yang gagah, tolong jangan biarkan orang-orang jahat itu pergi! Mereka telah banyak menyusahkan kami! Habisi saja mereka!" pinta wanita yang usianya lebih tua. Jelas sekali kalau dia tidak ingin melihat orang-orang jahat itu selamat

"Hm.... Baiklah. Tunggu di sini, dan jaga mereka, Kenanga...!" ujar Panji. Langsung Pendekar Naga Putih kini telah berubah menjadi sosok bayangan putih, sebelum gema suaranya lenyap. Tentu saja gerakannya yang bagaikan sambaran kilat itu membuat semua orang yang ada di situ semakin terkagum-kagum.

Tidak sulit bagi Panji untuk dapat menyusul ketiga belas lawan-lawannya. Dalam beberapa saat saja, Pendekar Naga Putih telah berhasil menyusul belasan lelaki berpakaian serba hitam itu. Dalam jarak dua tombak lagi, tiba-tiba Panji menghentakkan kedua kakinya ke tanah. Seketika itu juga, tubuhnya melayang di atas kepala orang-orang itu dan mendarat ringan di hadapan mereka. Belasan lelaki itu kontan jadi terkejut melihatnya.

"Keparat! Rupanya kau benar-benar mencari mati...!" geram laki-laki tinggi kurus yang berlari paling depan. Dengan kemarahan yang menggelegak, laki-laki itu langsung saja menerjang sosok pemuda tampan berjubah putih yang tengah berdiri menghadang jalan.

"Haaat...!"

Bettt!

Sambaran pedang lelaki tinggi kurus itu meluncur mengancam tubuh Panji. Namun Pendekar Naga Putih sama sekali tidak berusaha menggeser tubuhnya. Tangan kanannya hanya diulurkan, menyambut datangnya sambaran mata pedang lawan.

Tappp!

"Aihhh...?!" Bukan main terkejutnya hari lelaki tinggi kurus itu ketika menyaksikan mata pedangnya terjepit jari-jari tangan Pendekar Naga Putih. Tentu saja hal yang sangat mustahil ini membuatnya hampir tidak percaya.

"Hm.... Pedang tumpul dan tua ini seharusnya tidak digunakan untuk menyerangku, Kisanak...," ujar Panji dengan suara tetap tenang.

Kelihatannya Pendekar Naga Putih sama sekali tidak mengerahkan tenaga sedikit pun untuk menjepit pedang lawan. Padahal, lelaki tinggi kurus itu tengah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan senjatanya. Bahkan, tubuh lelaki kurus itu tampak telah mengeluarkan peluh yang membasahi pakaian. Jelas, seluruh tenaganya telah dikerahkan untuk melepaskan senjatanya.

Takkk!

"Aiii...?!" Tiba-tiba terdengar suara keras. Bahkan pedang itu pun langsung patah menjadi dua bagian ketika Panji menekukkan jari tangannya. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi kurus itu terpelanting ke belakang, karena pada saat yang bersamaan, pedangnya tengah berusaha disentakkan dengan sisa-sisa tenaga.

Brukkk!

Terdengar suara berdebum keras ketika sosok tinggi kurus itu terbanting ke tanah. Seketika beberapa orang kawannya berlarian dan bergegas membantunya bangkit. Sedang sebagian lagi langsung menerjang Panji dengan pedang di tangan.

Panji hanya bergumam perlahan ketika tujuh batang pedang itu berdesingan datang mengancam tubuhnya. Tapi yang terjadi kemudian, membuat para pengeroyok menjadi tak mengerti. Ternyata sebelum serangan mengenai sasaran, pedang-pedang itu seketika menyentak balik. Akibatnya, para penyerang itu kontan terpelanting ke kiri dan karian. Sungguh tidak diketahui kalau pemuda itu telah menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menolak serangan.

"Ilmu iblis...!" desis lelaki tinggi kurus itu. Rupanya dia sempat melihat kejadian yang menimpa kawan-kawannya. Kini, disadari betul untuk mengalahkan pemuda tampan berjubah putih itu memang merupakan hal mustahil. Maka diputuskannya untuk diam menanti apa yang hendak dilakukan pemuda itu terhadapnya.

LIMA

Melihat gerombolan laki-laki berpakaian hitam itu hanya berdiam diri dan menatapnya dengan wajah tegang, Panji perlahan-lahan melangkah maju. Sepertinya mereka sengaja hendak digiring ke tempat semula. Ketika langkah Pendekar Naga Putih mendekati jarak setengah tombak, tiba-tiba saja pimpinan gerombolan itu mencabut tiga bilah pisau pendek yang langsung dilemparkannya. Dan tentu saja arahnya menuju Pendekar Naga Putih!

"Manusia licik...!" geram Panji, menjadi jengkel melihat kenekatan lawannya. Pendekar Naga Putih menggeram perlahan. Kemudian, lengan kanannya dikibaskan saat tiga bilah pisau itu sudah mendekati tubuhnya.

"Aaa...!" Lelaki tinggi kurus itu menjerit ngeri ketika tiga pisau terbang yang dilepaskannya, membalik menyerang dirinya. Dengan kecepatan tiga kali lipat, pisau-pisau itu langsung menancap di kening, leher, serta dada kirinya. Tanpa ampun lagi, lelaki tinggi kurus itu pun ambruk ke tanah dengan napas putus!

"Ada lagi yang hendak menyusul pimpinan kalian...?" tantang Panji tegas dan dengan sorot mata tajam. Ketika menunggu beberapa saat tidak ada yang menjawab, Panji memerintahkan kepada lawan-lawannya itu untuk kembali ke tempat semula. Kedua belas laki-laki itu sepertinya masih ragu untuk melaksanakan perintah Panji. Mereka berpandangan satu sama lain, seolah saling meminta pendapat.

"Hukuman dari ketua kita akan lebih mengerikan lagi. Lebih baik mati di tangannya, daripada menerima siksaan yang belum pernah terbayangkan di kepala kita...," desis salah seorang anggota gerombolan, meski dengan wajah pucat dan suara gemetar. Begitu ucapannya selesai, orang itu langsung menerjang maju dengan sambaran pedangnya.

"Haaat...!"

Panji sempat tertegun ketika mendengar ucapan orang yang menyerangnya. Pemuda berjubah putih itu menjadi agak jengkel melihat kebandelan lawan-lawannya. Maka, langsung dilancarkannya pukulan jarak jauh yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Debbb!

"Aaakh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh penyerang itu pun terpental balik akibat pukulan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terhempas jatuh dan tewas seketika dengan kulit membiru. Tampak lapisan kabut tipis berhawa dingin menyelimuti mayat laki-laki itu.

"Silakan, kalau kalian menginginkan kematian seperti kawanmu ini...," kata Panji seraya menatapi wajah-wajah pucat di depannya dengan sorot mata tajam menikam jantung.

Tapi sebelas orang sisa gerombolan itu rupanya sudah telanjur dipengaruhi ucapan kawannya barusan. Meskipun penuh keraguan, mereka bergerak menerjang Pendekar Naga Putih. Jelas, bayangan hukuman yang telah menunggu lebih membuat gentar mereka. Sehingga, sisa gerombolan itu lebih memilih mati di tangan Panji.

"Hebat! Entah siapa yang menjadi pimpinan gerombolan ini, sehingga mereka lebih suka mati di tanganku...?" gumam Panji yang terpaksa melayani serangan lawan-lawannya. Setelah kehilangan pimpinannya, tampaknya mereka lebih suka mati ketimbang dibebaskan. Maka sudah bisa diterka, bagaimana akhir pertarungan itu. itu.

"Mereka semua lebih memilih mati di tanganku...," desah Panji, disertai helaan napas panjang, penuh penyesalan.

"Kau tidak pedu menyesali tindakanmu, Kisanak. Mereka adalah orang-orang golongan hitam yang menamakan dirinya sebagai Gerombolan Kelelawar Hitam. Ketuanya yang berjuluk Iblis Mata Satu memang sangat kejam. Orang-orang itu ditugaskan untuk menangkap kami berdua dalam keadaan hidup. Kalau tidak, mereka akan dihukum secara mengerikan...," jelas wanita yang usianya lebih tua. Sambil menjelaskan, matanya tak henti-hentinya mengagumi ketampanan serta kegagahan Panji. Mendapat tatapan seperti itu, tentu saja membuat Panji menjadi agak risih.

"Hm.... Apa yang membuat kalian bermusuhan dengan Gerombolan Kelelawar Hitam?" tanya Panji. Pertanyaan itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian wanita yang baru saja menjelaskan duduk perkaranya. Selain itu, dia pun ingin mencari tahu penyebab kedua wanita itu dikeroyok.

Untuk sesaat lamanya, kedua wanita itu saling bertukar pandangan. Setelah melihat kawannya mengangguk, kemudian yang tertua menghela napas panjang. Sepertinya persoalan itu diserahkan kepadanya.

Kedua sosok wanita yang mengaku bernama Rinjani dan Sumarti seperti hendak menceritakan kisah perjalanan mereka, hingga bertemu sepasang pendekar muda itu.

"Kami berdua adalah murid Perguruan Tinju Berantai yang tersisa. Saat Gerombolan Kelelawar Hitam menyerbu perguruan, kami berdua terpaksa melarikan diri atas perintah guru. Karena menurutnya, gerombolan itu sukar dilawan. Dengan sangat terpaksa, kami melarikan diri saat pertempuran berkobar. Dan yang terjadi selanjutnya, kami tidak tahu," jelas Rinjani dengan suara parau.

Rupanya ingatan akan kehancuran perguruannya membuat wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu, tidak mampu menahan kesedihan yang selama ini terpendam di hati. Merasa diberi kesempatan untuk menumpahkan isi hatinya yang mengandung dendam dan penasaran, Rinjani tidak bisa menahan air matanya. Isaknya terdengar tertahan dengan bahu berguncang-guncang. Dan hal ini membuat Panji dan Kenanga menjadi iba dan ikut merasakan penderitaan wanita cantik itu.

Sumarti, wanita yang berusia lebih muda, juga tidak bisa menahan kesedihan hatinya. Gadis manis itu merunduk, menyembunyikan air mata yang membasahi wajahnya.

"Tapi..., bagaimana Iblis Mata Satu sampai mengetahui tentang kalian? Apakah kalian berdua sempat terlihat sebelum meninggalkan kancah pertempuran...?" tanya Kenanga setelah tangis kedua orang wanita itu mulai lenyap.

Kenanga dan Panji sama sekali tidak berusaha menghentikan tangis kedua wanita malang itu. Mereka tahu, tangis bisa membuat dada yang sesak menjadi terasa lapang. Dan hal itu dirasakan Rinjani dan Sumarti. Mereka merasa agak lega setelah mengeluarkan segala derita yang selama ini terpendam.

"Iblis Mata Satu memang belum pernah melihat kami berdua. Tapi, mana mungkin hati ini bisa tenteram sebelum mengetahui pasti, apa yang telah terjadi terhadap guru dan saudara-saudara seperguruan kami...?" sahut Rinjani agak parau setelah menghentikan tangisannya.

"Hm.... Pasti kalian berdua telah nekat menyatroni rumah perguruan yang telah dikuasai Gerombolan Kelelawar Hitam! Lalu kalian kepergok dan melarikan diri hingga dikejar mereka. Begitu maksudmu...?" ujar Panji, seperti sudah bisa menebak arah dari Hsah dua murid Perguruan Tinju Berantai itu

"Benar...," sahut Rinjani singkat

"Sudahlah, jangan terlalu bersedih. Sekarang, kalian telah selamat. Dan kami berdua berjanji akan membantu kalian mendapatkan kembali perguruan ttu," tandas Panji yang juga disetujui Kenanga.

Mendengar janji itu, wajah Rinjani dan Sumarti menjadi cerah. "Benarkah kalian berdua bersedia membantu kami...?" tanya Rinjani seperti belum mempercayai pendengarannya. Bias-bias harapan tampak terpancar pada wajah mereka berdua. Apalagi ketika melihat Kenanga dan Panji tersenyum pasti.

"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong- menolong. Lalu mengapa kalian merasa ragu?" tegas Kenanga seraya tersenyum manis kepada Rinjani dan Sumarti.

Saat itu Kenanga merasa betapa dirinya jauh lebih beruntung ketimbang dua wanita Itu. Dia masih memiliki Panji yang menyayangi sepenuh hati. Bahkan selalu melindungi dengan segenap jiwa raga. Teringat akan hal itu, Kenanga tertunduk haru dan bahagia.

"Bukan aku tidak percaya. Tapi, selama ini telah banyak kaum pendekar yang tewas di tangan pimpinan Gerombolan Kelelawar Hitam. Dan..., aku takut kalau kalian berdua menjadi korban hanya karena ingin membela kami. Hhh.... Kalau saja kami dapat menemukan Pendekar Naga Putih...," desah Rinjani, menggantung dengan sepasang mata menerawang jauh. Kelihatan sekali kalau wanita itu sangat mengharapkan untuk dapat berjumpa Pendekar Naga Putih. Sepertinya, Rinjani sangat yakin kalau hanya pendekar muda itulah yang mampu membantunya.

"Eh...?!"

"Eh...?!"

Teringat akan pendekar muda yang telah mengguncangkan rimba persilatan itu, Rinjani tiba-tiba menoleh cepat ke arah Panji. Ingatannya kepada Pendekar Naga Putih membuatnya baru menyadari sosok pemuda berjubah putih itu. Dengan dada berdebar, ditatapnya sosok Panji dari atas ke bawah.

Kenanga yang melihat besarnya harapan Rinjani untuk bertemu Pendekar Naga Putih, menahan kata-kata yang hampir meluncur dari mulutnya. Tampak Rinjani tengah mengawasi Panji penuh selidik. Tahulah Kenanga, rupanya Rinjani telah mendapat gambaran tentang ciri-ciri Pendekar Naga Putih.

"Kau.... Siapakah kau sebenarnya, Kisanak...?" Akhirnya, meski terdengar bergetar, meluncur juga ucapan itu dari mulut Rinjani

"Menurutmu, siapakah tunanganku ini, Rinjani? Terka-lah...?" selak Kenanga tiba-tiba, sebelum Panji menjawab pertanyaan wanita cantik yang kelihatan sangat tegang itu.

"Mungkinkah..., kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" desah Rinjani. Tampaknya dia kesukaran untuk mengeluarkan setiap perkataan, karena harinya sudah lebih dulu dilanda ketegangan yang berbaur harapan.

"Menurutmu, apakah Kakang Panji patut menyandang julukan itu?" timpal Kenanga, masih juga belum hendak memberikan jawaban pasti kepada Rinjani.

"Ohhh..." Rinjani sepertinya tidak ragu-ragu lagi ketika mendengar ucapan Kenanga. Maka langsung saja dirinya dijatuhkan untuk memeluk kedua kaki Panji. Semuanya dilakukan tanpa sadar. Wanita itu benar-benar tidak menduga kalau akan dapat berjumpa pendekar muda yang sangat dikaguminya itu.

"Ah. Bangkitlah, Rinjani! Kau membuatku malu," ujar Panji. Sungguh sama sekali tidak diduga kalau Rinjani akan berbuat demikian. Lalu, diangkatnya tubuh wanita cantik itu.

"Pendekar Naga Putih..., Pendekar Naga Putih...," rintih Rinjani.

Kelihatannya, wanita ini sangat terguncang oleh pertemuan tak terduga itu. Bahkan sampai jatuh pingsan, karena tidak sanggup menahan luapan kegembiraan dan kebahagiaan dalam hatinya. Tentu saja kejadian tak terduga itu, membuat semuanya menjadi terkejut Sehingga untuk beberapa saat mereka terdiam dan masih terkesima.

"Nampaknya, beban batin yang ditanggung kakak seperguruanmu ini sangat berat, Sumarti...," desah Panji memecah keheningan.

"Maafkan atas kelemahan kakak seperguruanku, Pendekar Naga Putih. Sejak guru kami bercerita tentang dirimu, sikap Rinjani langsung berubah. Dia seringkaii membicarakan tentang dirimu kepadaku. Dan keinginannya sangat besar untuk dapat berjumpa denganmu. Bahkan keinginan itu sudah terpendam selama hampir tiga tahun. Mungkiri semua itulah yang membuatnya tidak bisa menahan luapan perasaannya, ketika tahu tentang dirimu yang sebenarnya, Kakang Panji...," jelas Sumarti panjang lebar.

Panji dan Kenanga sama-sama merasa maklum. "Hm.... Kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia siuman sendiri. Setelah itu, baru kita bergerak untuk mencari tahu nasib saudara-saudara seperguruanmu yang lain."

Sumarti menatap wajah Pendekar Naga Putih secara sembunyi-sembunyi. Wanita yang satu ini memang agak pemalu, dan tidak pernah membuka rahasia hatinya kepada siapa pun. Termasuk, kepada kakak seperguruannya sendiri. Seperti halnya Rinjani, Sumarti pun diam-diam menyimpan kekaguman terhadap Pendekar Naga Putih. Hal itu juga dirasakan setelah mendengar sepak-terjang pemuda gagah itu dari gurunya.

Sumarti menyimpan perasaannya rapat-rapat, ketika mengetahui kalau kakak seperguruannya juga menyimpan perasaan serupa. Dan kalau dicobanya membunuh perasaan yang semakin berkembang, karena tidak ingin bersaing dengan kakak seperguruannya. Apalagi, setelah kini mengetahui kalau Pendekar Naga Putih ternyata telah bertunangan dengan seorang wanita yang memiliki kelebihan, baik dalam hal kepandaian maupun kecantikan. Bahkan hatinya merasa bahagia ketika mengetahui betapa mulianya hati tunangan pendekar muda itu. Maka, Sumarti pun berjanji kepada dirinya, untuk menyimpan perasaan hatinya rapat-rapat

"Sumarti.... Kau kenapa...?"

Tiba-tiba saja Sumarti melompat bangkit bagaikan disengat kalajengking, begitu mendengar suara teguran. Dihelanya napas dengan wajah berubah merah, ketika mengetahui kalau yang menyentuh bahunya adalah Kenanga.

"Kau membuatku terkejut, Kenanga...," desah Sumarti menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.

"Apa yang kau pikirkan, sampai-sampai tidak mendengar teguranku? Padahal, aku sudah tiga kali memanggll- manggilmu...," tanya Kenanga dengan pandangan menyelidik.

"Hhh.... Mungkin aku hanya merasa tegang, mengingat akan berhadapan dengan Iblis Mata Satu nanti...," sahut wanita itu berbohong. Tentu saja Sumarti tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada dara jelita itu.

Kenanga sepertinya mempercayai jawaban Sumarti. Buktinya, dia tidak terlalu mendesak dengan pertanyaan berikutnya. "Lapangkanlah pikiranmu, Sumarti. Percayalah! Kebenaran selalu berada di atas kebathilan...," hibur Kenanga.

Sesaat kemudian, keduanya kembali membisu. Mereka menunggu Rinjani siuman. Jika Rinjani sudah siuman, mereka akan bergerak mendatangi Perguruan Tinju Berantai yang telah dikuasai Gerombolan Kelelawar Hitam.

********************

ENAM

Matahari semakin bergeser ke barat. Sinarnya terlihat mulai redup. Panasnya tidak lagi terasa menyengat seperti tadi. Angin menjelang sore itu, bertiup silir-silir lembut menyejukkan. Namun, sesekali bertiup keras menerbangkan daun-daun kering

Saat itu, Panji bersama Kenanga, Rinjani, dan Sumarti bergerak menuju Perguruan Tinju Berantai. Mereka kini telah mengatur rencana bersama-sama, setelah mendapat penjelasan dari Rinjani tentang letak bangunan perguruan. Perjalanan menuju tempat itu memang tidak memakan waktu lama. sebelum senja, mereka telah tiba, tidak jauh dari tempat tujuan.

Tiba-tiba Panji menghentikan langkahnya, seraya memandang Kenanga dengan kening berkerut. Tampak sekali, kalau pemuda itu tengah memikirkan sesuatu. Kemudian, kepalanya menoleh ke arah Rinjani,

"Rinjani! Kau mengatakan, pimpinan Gerombolan Kelelawar Hitam itu berjuluk Iblis Mata Satu. Apakah kau tidak salah...?" tanya Panji.

Rinjani terdiam sesaat. "Aku tidak mungkin salah mengenali orang, Kakang. Hm.... Sepertinya ada sesuatu yang Kakang pikirkan?" sahut Rinjani.

"Melihat dari cara belasan orang yang mengeroyok kalian berdua, sepertinya mereka tidak bermaksud membunuh. Kemungkinan, mereka hanya ingin menawan kalian berdua. Apakah kalian tahu, apa sebabnya?" tanya Panji lagi. Pertanyaan itu membuat Rinjani, Sumarti, dan Juga Kenanga menatap pemuda itu dengan wajah penuh tanda-tanya.

"Tentu saja mereka ingin menangkap kami hidup-hidup. Dan, kami lebih baik mati daripada harus menjadi permainan mereka...," sahut Rinjani. Wanita itu jelas tahu maksud Iblis Mata Satu yang hendak menangkapnya hidup-hidup bersama adik seperguruannya.

"Hm.... Apakah kau tahu tentang gerombolan yang tengah mengganas, dan suka menculik gadis-gadis muda...?" tanya Panji lagi.

Pertanyaan ini membuat ketiga wanita itu semakin heran. Dan ketika Kenanga hendak bertanya, Panji mengangkat tangannya mencegah. Sepertinya, ingin didengarnya jawaban Rinjani lebih dulu.

"Ya! Sudah pasti yang melakukan adalah Gerombolan Kelelawar Hitam. Dan aku tidak pernah mendengar adanya gerombolan lain yang begitu berani mengacau perguruan- perguruan, tanpa gentar dengan kemarahan kaum pendekar," jawab Rinjani pasti.

Panji lalu mengangguk puas, kemudian baru menoleh ke arah Kenanga. "Kenanga. Apa kau tahu, siapa Iblis Mata Satu itu? Dan, dari mana asalnya...?" tanya Panji.

Kenanga mengerutkan keningnya, mencoba mengingat- ingat. "Iblis Mata Satu...," ulang Kenanga berdesah perlahan, seolah mulai mengerti arah pertanyaan kekasihnya. "Ah! Aku ingat sekarang, Kakang. Tokoh itu berasal dari Pantai Utara. Dan..., dia tidak suka wanita, sampai-sampai para pengikutnya tidak pernah menikah seumur hidup."

"Persis!" sentak Panji, dengan wajah berseri. "Nah! Kalau orang yang tidak suka wanita, lalu melakukan penculikan terhadap gadis-gadis muda, apakah itu bukan hal aneh?"

Rinjani dan Sumarti menjadi bingung. Karena mereka berdua memang jarang melakukan pengembaraan, sehingga tidak banyak mengenal tokoh-tokoh rimba persilatan.

"Lalu, untuk apa gadis-gadis muda yang diculik itu? Mungkinkah hendak dipersembahkan untuk orang lain...?" gumam Rinjani, seraya menatap Kenanga dan Panji berganti-ganti. Jelas, dia merasa bingung sekali.

"Justru itulah yang hendak kuketahui. Dan bukan musahil kalau dugaanmu benar, Rinjani. Setahuku, kepandaian Iblis Mata Satu memang sangat sakti. Tapi, rasanya dia belum gila dengan perbuatannya yang membangkitkan kemarahan kaum pendekar. Jadi kemungkinan besar, ada orang lain di belakang tokoh sesat itu. Ini lebih berbahaya. Kalau sampai tokoh seperti Iblis Mata Satu mau merendah diri, sudah pasti kepandaian tokoh yang jadi pelindungnya sangat tinggi....," kata Panji menduga-duga.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kakang? Apakah rencana yang telah tersusun rapi harus dibatalkan...?" tanya Kenanga. Kepala gadis itu menjadi pening menghadapi persoalan berbelit-belit ini.

"Terpaksa harus dirubah. Kalau disetujui, aku ingin mengajukan dirimu sebagai pancingan. Kemudian, kita lihat apa yang akan diperbuat Iblis Mata Satu terhadap dirimu. Kalau memang dia bekerja untuk tokoh lain, kau pasti akan dikirimkan kepada junjungannya itu. Dengan demikian, kita akan segera tahu tokoh di belakang Iblis Mata Satu itu...," jelas Panji sambil menatap Kenanga. Seolah, dia meminta pendapat pada dara jelita itu mengenai usul yang diajukannya.

Tapi..., bagaimana kalau mereka menggunakan racun untuk membiusku, Kakang? Tentu aku tidak berdaya. Dan..., aku ngeri membayangkannya, Kakang...," sergah Kenanga. Gadis itu jadi bergidik, membayangkan dirinya dipermainkan orang- orang kasar, tanpa mampu melakukan perlawanan.

"Aku berjanji akan selalu melindungimu,! Kenanga. Dan mudah-mudahan rencana ini berjalan sesuai yang diinginkan...," desak Panji.

Rupanya Panji tetap menginginkan kekasihnya untuk dijadikan umpan. Pendekar Naga Putih yakin, hanya Kenanga yang mampu melakukannya. Kalau Rinjani atau Sumarti sebagai pancingan, terlalu besar bahaya yang harus ditanggung Apalagi kepandaian kedua wanita itu masih di bawah Kenanga.

"Boleh aku mengajukan syarat, Kakang..?" tanya Kenanga. Rupanya, gadis itu tahu alasan Panji memilihnya. Makanya, dia bertanya dengan sinar mata lain dari biasanya.

"Ah! Kau ini aneh-aneh saja. Kenanga. Tapi coba katakan, apa syarat yang hendak kau ajukan...?" tanya Panji hendak mengetahui syarat yang dikehendaki kekasihnya.

"Yang kukhawatirkan, hanyalah soal racun yang mungkin akan dilolohkan ke mulutku. Dan satu-satunya yang mampu mencegahnya, hanyalah Pedang Naga Langit. Bagaimana kalau senjata itu kau pinjamkan kepadaku, sebagaimana kau menyimpannya," jelas Kenanga.

Tentu saja permintaan dara jelita itu membuat Rinjani dan Sumarti mencari-cari pedang yang dimaksud Kenanga. Keduanya semakin heran ketika melihat Panji tidak membawa pedang.

"Tentu aku setuju, Kenanga. Masalahnya, apakah aku bisa menyimpannya dalam dirimu...," sahut Panji.

Tentu saja Pendekar Naga Putih menjadi bingung, setelah mendengar permintaan kekasihnya. Bukannya merasa keberatan, tapi Panji benar-benar tidak tahu bagaimana cara memindahkan Pedang Naga Langit ke tubuh kekasihnya. Dan dia pun tidak tahu, apakah pedang keramat itu juga akan berubah menjadi tenaga dalam tubuh Kenanga.

"Kita coba saja, Kakang. Tidak ada salahnya, bukan? Selain itu, pengetahuanmu tentu akan bertambah...," desak Kenanga, sehingga membuat Panji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Baiklah. Aku akan mencobanya. Mari kita cari tempat yang aman dan terlindung," ajak Panji. Pendekar Naga Putih segera melangkah mencari tempat yang dimaksudkannya.

Sedangkan, Kenanga, Rinjani, dan Sumarti mengikuti dari belakang. Kedua wanita murid Perguruan Tinju Berantai Itu merasa penasaran sekali. Mereka ingin tahu, bagaimana bentuk pedang keramat yang sanggup menolak segala jenis racun itu. Mereka juga ingin tahu, di mana pemuda itu menyimpan senjatanya. Sampai lelah mencari, mereka berdua tidak berhasil menemukannya.

Setelah menemukan tempat yang cocok, Panji menghentikan langkahnya. Dimintanya agar Rinjani dan Sumarti agak menjauh. Kini Pendekar Naga Putih menyilangkan kedua lengannya dengan telapak melekat ke dada. Kemudian, terdengar bentakannya yang menggetarkan jantung. Dan begitu sepasang lengannya dijulurkan ke atas, muncullah sinar kuning keemasan yang kemudian membentuk sebatang pedang

"Luar biasa...!" pelak lirih Rinjani dan Sumarti hampir bersamaan.

Kalau saja tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu mereka akan percaya. Tapi kejadian itu jelas terlihat di depan mata. Dan, bukan merupakan bayangan semu, sebagaimana halnya ilmu sihir. Kini barulah jelas bagaimana cara Pendekar Naga Putih menyimpan senjatanya.

"Pantas saja aku tidak bisa menemukan pedang itu. Ternyata, Pendekar Naga Putih menyimpannya di dalam tubuh. Benar-benar sukar dipercaya...!" desis Sumarti. Dia tentu saja semakin bertambah kagum terhadap kesaktian pendekar muda itu. Dengan demikian, keyakinannya pun semakin bertambah kalau Pendekar Naga Putih pasti akan dapat menolong mereka.

"Bersiaplah, Kenanga! Kosongkan pikiranmu. Jangan sekali-kali mengerahkan tenaga untuk melawan, apa pun yang kau rasakan nanti," ujar Panji, memperingatkan kekasihnya kalau akan segera memulai penyatuan itu

"Aku sudah siap, Kakang...," sahut Kenanga, segera memejamkan matanya dan mengosongkan pikiran.

Setelah mendengar ucapan kekasihnya, Panji segera menghubungkan tenaga batinnya dengan Pedang Naga Langit. Dan memang, pedang keramat itu pada dasarnya adalah seekor naga raksasa.

"Naga Langit! Jika kau memang benar jodohku dan dapat menyatu dengan tubuhku, kau pun harus dapat menyatu dengan tubuh kekasihku. Meski, untuk sementara waktu...," bisik batin Panji.

Kemudian, pemuda berjubah putih itu kembali menjulurkan kedua lengannya ke arah pedang keramat yang melayang di udara. Lalu, pedang itu dituntunnya hingga tepat berada di atas kepala Kenanga. Perlahan lahan, lengan pemuda itu turun seiring turunnya Pedang Naga Langit.

"Ahhh...?!"

Rinjani dan Sumarti menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan jeritan takjubnya. Mata mereka juga terbelalak lebar ketika menyaksikan badan pedang itu lenyap perlahan-lahan saat menyentuh kepala Kenanga. Benar-benar mengagumkan. Pedang keramat itu dapat menyatu ke dalam tubuh Kenanga!

Ketika seluruh bagian pedang telah lenyap ke dalam tubuh Kenanga, Panji menarik kedua lengannya perlahan-lahan. Kemudian, disilangkannya di depan dada. Pendekar Naga Putih kelihatan agak lelah, karena harus mengerahkan banyak tenaga. Memang, apa yang dilakukannya bukanlah pekerjaan mudah.

"Apa yang kau rasakan, Kenanga...?" tanya Panji ketika melihat kekasihnya sudah membuka mata.

Wajah jelita bagai bidadari itu, menyunggingkan senyum lembut yang manis bagai madu. "Tidak terlalu mengejutkan, Kakang. Rasanya seperti aliran tenaga sakti yang dipindahkan orang lain ke dalam tubuh kita. Nah! Sekarang, aku tidak ragu lagi melakukan tugas yang kau berikan, Kakang," sahut dara jelita itu lantang dan tampak sangat gembira.

"Jangan terburu nafsu dulu. Kenanga! Kita belum mencoba, apakah pedang yang tersimpan di dalam tubuhmu dapat bekerja, seperti bila berada di dalam tubuhku. Sekarang harus dibuktikan. Kerahkanlah hawa murnimu dan alirkan ke kedua lengan! Kemudian, baru ke seluruh tubuh...," ujar Panji, memberi petunjuk Kenanga langsung menurut. Dan....

"Hebat...!" puji Panji. Pendekar Naga Putih sampai mengeluarkan pujian penuh kekaguman. Selama ini Pendekar Naga Putih hanya merasakannya' saja dan melihat dari tubuhnya sendiri. Dan ketika menyaksikan tubuh Kenanga terlapis sinar kuning keemasan, barulah hatinya merasa takjub. Padahal, apa yang disaksikannya sudah sering dilakukan.

Kenanga tampak gembira sekali setelah merasakan apa yang selama ini hanya dilihatnya. Bahkan gadis itu sampai terlonjak, karena teramat gembiranya. Dan Panji harus mengingatkan kekasihnya untuk menarik kembali kekuatan ajaib itu, karena udara yang ditimbulkannya terasa panas. Bahkan mampu membuat 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dalam tubuh Panji bergolak.

Rinjani dan Sumarti yang berdiri dalam jarak lima tombak lebih, tak urung terkena juga pengaruh hawa panas itu. Meski tidak sampai menyengat kulit dan membahayakan tubuh, namun peluh mereka mengalir deras akibat udara pengap yang terhirup.

Mendengar seruan Panji, Kenanga segera menarik tenaga ajaib itu. Sebentar saja, sinar kuning keemasan itu lenyap tanpa bekas.

"Nah! Kalau sekarang kau sudah siap, pergilah. Tantanglah Iblis Mata Satu! Sebut segala kejahatan yang selama ini dilakukannya! Yang jelas, kau harus bersikap sebagal sosok pendekar wanita yang hendak membasmi kejahatan...," ujar Panji, memberi petunjuk.

"Aku paham, Kakang...," sahut Kenanga sambil menganggukkan kepala. Setelah berpamitan kepada Rinjani dan Sumarti, dara jelita itu pun berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Apa kau tidak khawatir akan keselamatannya, Kakang Panji?" tanya Rinjani menyelidik. Wanita itu memang melihat wajah Panji tetap tenang, tanpa terlihat kekhawatiran.

"Tentu saja aku khawatir. Setiap perbuatan, pasti ada bahayanya. Namun,kita harus berani berbuat. Tidak boleh patah semangat sebelum berhasil...," sahut Panji sambil tersenyum.

Kemudian, Pendekar Naga Putih mengajak Rinjani dan Sumarti menuju Perguruan Tinju Berantai untuk menyusul Kenanga. Mereka harus tetap siap melindungi Kenanga, serta menyelidiki tindakan Iblis Mata Satu.

Kenanga tiba di depan gerbang Perguruan Tinju Berantai yang telah diganti papan namanya menjadi Perguruan Kelelawar Hitam. Dara Jelita berpakaian serba hijau itu berdiri tegak di depan gerbang. Kepalanya menengadah ke arah pos di atas gerbang. Tentu saja sikapnya menyebabkan dua penjaga yang bertugas, seperti tengah bermimpi melihat pemandangan yang membuat mata terbelalak lebar.

"Hei! Cepat panggil ketua kalian yang berjuluk Iblis Mata Satu! Katakan kepadanya, aku datang hendak menghentikan segala kejahatannya...!" seru Kenanga sambil mengerahkan tenaga dalamnya Sehingga, gema suaranya terdengar sayup-sayup ke bangunan induk.

Tepat pada saat itu seorang lelaki tinggi kekar dengan sebelah mata tertutup tengah melangkah keluar dari dalam bangunan induk. Di sebelah kiri dan kanannya ikut mengawal dua lelaki berkepala botak. Jelas mereka adalah pembantu-pembantu utama sosok lelaki tinggi besar yang berjuluk Iblis Mata Satu.

Baru saja Iblis Mata Satu hendak bertanya kepada pembantunya yang berada di sebelah kanan, tiba-tiba seorang anggotanya menghampiri dan langsung melapor.

"Lapor, Ketua! Di depan gerbang ada seorang gadis pendekar yang mengatakan ingin memberantas gerombolan kita. Tapi..., wajahnya sangat cantik seperti bidadari, Ketua...," lapor lelaki itu sebelum Iblis Mata Satu bertanya.

"Gadis secantik bidadari datang hendak menantangku...? Apa kau tidak salah lihat...?" tanya Iblis Mata Satu dengan suara berat dan dalam. Ucapannya yang terdengar seperti bentakan itu, membuat tubuh penjaga itu berjingkrak kaget

"Benar, Ketua. Aku berani sumpah!" tegas penjaga Itu, lantang.

Iblis Mata Satu langsung saja memerintahkan untuk membuka gerbang. "Mari kita lihat, Beruang Gurun! Kalau benar, pemimpin agung tentu akan senang sekali menerima persembahan kita kali ini," ajak Iblis Mata Sa tu, sambil tertawa serak. Kemudian Iblis Mata Satu melangkah lebar menuju gerbang dengan diiringi kedua pembantunya yang berjuluk Beruang Gurun itu.

"Haaa...! Selamat datang, Bidadari Cantik!" sapa Iblis Mata Satu begitu tiba di gerbang dan melihat sosok ramping berwajah jelita yang berpakaian serba hijau. Meskipun mata yang tinggal sebelah tidak menyiratkan keinginan tertentu, namun tampak sekali kegembiraannya melihat betapa dara itu memang sangat cantik seperti bidadari.

"Hm.... Tidak pedu bermanis-manis. Iblis Mata Satu! Kedatanganku bukan untuk bertamu. Tapi, untuk mencabut nyawamu...!" Sambil berkata demikian, Kenanga melolos pedang yang melilit pinggangnya. Pedang itu memang sangat lemas seperti sabuk hingga bisa dilibatkan ke pinggang. Itulah Pedang Sinar Rembulan yang diberikan Panji kepada Kenanga.

Swiing...!

Terdengar suara mengaung ketika pedang yang sangat lentur itu terlolos ke luar. Pancaran sinarnya yang keperakan nampak sangat indah, sehingga Iblis Mata Satu pun mengaguminya.

"Pedang bagus...!" puji lelaki kekar itu, tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.

"Apakah kau sudah siap melayat ke neraka, Iblis Mata Satu?" tantang Kenanga lagi, lantang.

Iblis Mata Satu tersadar dan menggeram marah, mendengar ejekan wanita berpakaian serba hijau itu. "Hmhhh...!"

Sambil menggeram gusar, Iblis Mata Satu mengibaskan kedua tangannya. Langsung diperintahkannya kedua pembantunya yang berjuluk Beruang Gurun untuk maju menghadapi gadis jelita itu.

Kenanga tampak sudah menggeser langkahnya ke kanan, ketika melihat dua lelaki berkepala botak telah bergerak mengepungnya. Segera Pedang Sinar Rembulan dilintangkannya di depan dada, siap menghadapi serbuan lawan.

"Hati-hati! Jangan sampai bidadari itu terluka parah...!" seru Iblis Mata Satu keras. Rupanya, dia tidak menginginkan Kenanga terluka. Meskipun kedua pembantunya tidak menyahut, namun perintah Iblis Mata Satu tidak mungkin dilanggar

"Haiiit...!"

Kenanga langsung saja membuka serangan dengan pekikan nyaring! Pedang Sinar Rembulan di tangannya berputaran menimbulkan suara meng-aung tajam, laksana ratusan lebah marah. Gerakan senjatanya melingkar-lingkar, sehingga membuat silau mata kedua lawannya.

Bettt!

Kelebatan sinar perak itu meluncur cepat, mengancam tenggorokan lawannya yang terdekat Namun, salah satu dari Beruang Gurun itu keburu menghindar.

"Hiaaah...!"

Dibarengi sebuah bentakan keras, lawan yang berada di sebelah kanan Kenanga melesat cepat sambil melancarkan serangan-serangan cepat. Sambaran angin tajam yang berdesing-desing cukup dirasakan Kenanga, sehingga harus menggeser tubuhnya satu langkah ke belakang. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sebuah tusukan kilat!

Namun, kedua lawan Kenanga memang sangat gesit dan tidak bisa diremehkan. Sehingga, jurus-jurus ampuhnya terpaksa dikeluarkan untuk merobohkan lawan.

TUJUH

Pertarungan sengit tampak masih berjalan seimbang, hingga memasuki jurus kedua puluh. Baru ketika pertarungan menginjak jurus kedua puluh lima, Kenanga mulai memperlihatkan keunggulannya. Kedua orang lelaki berkepala botak itu tampak mulai kelabakan. Ke mana mereka bergerak menghindar. Pedang Sinar Rembulan selalu saja mengejarnya.

"Hiaaat...!"

Sambil memekik keras, Kenanga melesat mengejar salah seorang lawannya yang mencoba menghindar dari mata pedangnya. Gerakannya memang masih lebih cepat daripada lawan. Sehingga tanpa ampun lagi, ujung pedang bersinar perak itu merobek pangkal lengan salah seorang lawan.

Brettt!

"Aaakh...!" Lelaki kekar itu memekik kesakitan. Darah segar langsung mengucur dari luka yang terlihat cukup dalam itu. Tapi, serangan Kenanga memang belum berakhir. Pedangnya kembali berputar dan menyabet mendatar, hendak merobek perut lawan!

"Hait...!"

Seorang lelaki botak lainnya, rupanya tidak ingin membiarkan kawannya sampai tewas. Cepat tubuhnya bergerak, memapak sambaran pedang Kenanga dengan sebuah kapak yang telah tergenggam di tangan kanannya.

Whuuut.. tranggg!

Terdengar dentingan nyaring, ketika dua senjata itu saling berbenturan keras. Bunga api yang memercik menandakan betapa kerasnya benturan tadi.

"Aihhh...!" Jelas sekali, kalau tenaga dalam Kenanga jauh lebih unggul dari lawannya. Buktinya, tubuh lawan sampai terdorong balik.

Sedangkan dara jelita itu tetap tegak di tempat, meskipun agak bergetar. "Tamat riwayatmu..!" maki Kenanga, seraya melesat dengan tusukan pedangnya. Tanpa memberi kesempatan pada lawan untuk memperbaiki keadaan, mata pedang Kenanga meluncur datang dengan kecepatan menggetarkan. Melihat hal ini, wajah lawan kontan pucat. Tanpa sempat mengelak, ujung pedang itu pun amblas ke tubuh lawan hingga mengenai jantung,

Crabbb!

"Aaargh.,.!" Salah seorang dari Beruang Gurun itu menjerit keras ketika Kenanga menarik kembali senjatanya. Darah langsung menyembur dari luka yang menganga di perutnya. Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki botak itu pun ambruk tak bernyawa!

"Keparat! Kucincang tubuhmu...!" Tiba-tiba Beruang Gurun yang satunya menjadi kalap bukan main. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, langsung saja dara jelita itu diterjang dengan kuku-kukunya yang panjang dan kuat.

Wettt! Wettt!

Namun Kenanga telah siap menghadapi serangan itu. Dengan sikap tetap tenang, dia melompat pendek ke samping kanan. Langsung dibarenginya gerakan lawan dengan babatan pedangnya. Akibatnya Beruang Gurun terkejut bukan kepalang. Tapi sebelum mata pedang sempat merobek lambung, tahu-tahu saja melesat sesosok bayangan hitam yang langsung memapak pedang dara jelita itu.

Tranggg!

Lagi-lagi terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Bahkan, kali ini jauh lebih keras. Bahkan akibat benturan itu sempat membuat kuda-kuda Kenanga tergempur, hingga terdorong mundur sejauh empat langkah. Bayangan hitam yang menyelamatkan nyawa salah satu dari Beruang Gurun itu juga mengalami hal yang serupa. Terlihat keterkejutan di wajah bengisnya.

"Gila...! Tidak kusangka kalau dia cukup tangguh juga! Entah dari mana asalnya. Dan, datang bersama siapa ke tempat ini..?" geram sosok bayangan hitam yang tak lain Iblis Mata Satu. Kelihatan sekali kalau kenyataan yang baru dialaminya tidak bisa diterima akalnya.

Kenanga sendiri agak kaget ketika mengetahui sosok bayangan hitam yang menyambut sambaran pedangnya adalah Iblis Mata Satu. Cepat tubuhnya bergerak mundur, setelah sadar kalau lawannya kali ini tidak bisa dipandang ringan. Kenanga memang harus bersikap lebih hati-hati untuk menghadapinya.

"Kau benar-benar mengagumkan, Nisanak! Kalau saja aku bisa menjinakkan dan membawamu kehadapan pemimpin agungku, tentu beliau akan gembira sekali...," puji Iblis Mata Satu seraya memperdengarkan kekehnya yang parau

"Hm.... Jangan mimpi untuk dapat menangkapku, Mata Satu! Sebentar lagi, matamu yang satu itu akan kubutakan! Dengan demikian, julukanmu akan berubah menjadi Iblis Tak Bermata. Nah! Cukup bagus, bukan...?" ejek Kenanga.

"Hmhhh...," geram Iblis Mata Satu menanggapi ejekan Kenanga. Kemudian, kakinya melangkah maju Gerakannya miring dengan kuda-kuda tampak kuat

"Ah! Jalanmu jelek sekali seperti seekor kepiting, Iblis Mata Satu! Mengapa kau tidak langsung menyerangku...?" ejek Kenanga lagi. Gadis itu memutar langkahnya ke kanan, menjauhi lawannya. Sehingga, Iblis Mata Satu menjadi murka, karena merasa dipermainkan.

"Hmhhh...! Iblis Mata Satu kembali menggeram jengkel. Segera dirogohnya kantung kain yang tergantung di pinggang kiri. Begitu mendengar suara gemerih-cing halus, Kenanga sadar kalau lawan hendak menggunakan paku-paku halus yang mengandung racun.

"Shaaa...!"

Secara tiba-tiba, Iblis Mata Satu yang ternyata memiliki sifat licik, langsung saja membentak sambil mengibaskan tangan kanannya ke arah Kenanga.

Srrr... srrr...!

Terdengar suara berdesingan halus menuju ke arah Kenanga. Dara jelita itu tentu saja sudah dapat menebak, kalau lawannya pasti tengah menggunakan senjata rahasia beracun.

"Hm..." Kenanga hanya bergumam melihat serangan yang cukup berbahaya. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pedang Sinar Rembulan diputarnya disertai lesatan tubuhnya ke depan. Sehingga, paku-paku kecil yang dilepaskan Iblis Mata Satu beterbangan kian kemari. Satu pun tak ada yang mengenai sasaran, karena tubuh Kenanga telah terbungkus sinar pedang. Tentu saja hal itu membuat Iblis Mata Satu semakin penasaran.

"Jangan takabur dulu, Nisanak. Itu baru permulaan...," kata Iblis Mata Satu berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

Kenanga tidak lagi mempedulikan ocehan lawannya. Tubuhnya terus saja bergerak maju, dengan putaran pedangnya yang mengaung-ngaung. "Hm.Sambut setanganku..!"

Ketika jarak tubuh Kenanga tinggal satu tombak, Iblis Mata Satu langsung melempar tubuhnya bergulingan. Setelah berdiri tegak, tangan kanannya dikibaskan untuk melepaskan paku-paku kecil yang mengandung racun pembius.

Kenanga kembali menyabetkan senjatanya, untuk menghalau paku-paku halus yang dilemparkan lawan. Kemudian, langsung pedangnya ditusukkan secepat kilat, mengancam tenggorokan lawan.

Perkelahian kembali berlanjut. Kali ini, bahkan lebih seru! Memang, kepandaian Iblis Mata Satu berada di atas kepandaian kedua pembantunya. Jadi tidak aneh kalau pertarungan kali ini jauh lebih menarik Kepandaian mereka sepertinya memang tidak berselisih jauh. Bahkan, bisa dibilang berimbang. Dan meski pertarungan telah menginjak lebih dari empat puluh jurus, tetap saja belum kelihatan yang bakal keluar sebagai pemenang.

"Jiaaah.!" Merasa penasaran karena tidak mampu mengalahkan seorang gadis yang pantas menjadi putrinya, mendadak Iblis Mata Satu mengeluarkan bentakan sambil merundukkan tubuhnya, persis seperti seekor katak! Tapi....

Kokkk! Kokkk!

"Ahhh.?!" Kenanga berseru kaget ketika sepasang telapak tangan lawan mendorong ke arahnya. Itulah 'Ilmu Pukulan Katak Buduk' yang mengandung racun pelumpuh tenaga.

Bresssh...!

"Aaakh...!" Karena baru sekali menyaksikan ilmu yang demikian aneh. Kenanga menjadi lengah. Akibatnya, pukulan lawan telak menghajar tubuhnya. Tubuh dara jelita itu kontan terpental sejauh satu tombak lebih ke belakang. Kenanga yang juga mempelajari ilmu pengobatan, segera saja tahu untuk apa racun yang mengenainya. Meskipun tenaga ajaib jelmaan Pedang Naga Langit telah bekerja cepat mengusir hawa-hawa beracun yang meresap ke dalam tubuhnya, tapi Kenanga berpura-pura terluka.

"He he he...! Sekarang kau baru tahu kehebatan Iblis Mata Satu!" desis lelaki tinggi kekar berwajah bengis itu.

Tokoh sesat itu merasa bangga sekali atas hasil pukulannya yang membuat Kenanga tergeletak pingsan seketika itu juga. Sambil tetap memperdengarkan kekehnya yang parau, Iblis Mata Satu bergerak hati-hati mendekati Kenanga yang rebah pingsan. Setelah merasa pasti lawannya benar-benar telah terbius racun pukulannya, Iblis Mata Satu segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Kenanga ke dalam bangunan.

********************

"Kakang! Apakah Kenanga benar-benar pingsan akibat pukulan Iblis Mata Satu tadi...?" tanya Rinjani.

Panji, Rinjani, dan Sumarti saat itu memang tengah berada diatas atap bangunan utama. Merekapun juga menyaksikanvjalannya pertarungan. Rupanya atas petunjuk Rinjani, Panji berhasil membawa kedua wanita itu menyelinap ke dalam lingkungan Perguruan Kelelawar Hitam. Mereka belum lama tiba, dan hanya menyaksikan perkelahian antara Kenanga melawan Iblis Mata Satu.

"Tidak perlu cemas, Rinjani. Meskipun pukulan itu telak mengenai tubuh Kenanga, tapi tidak akan mendatangkan luka dalam. Biar tidak tahu secara pasti, tapi aku yakin Kenanga tidak apa-apa," jawab Panji.

Kini hati Rinjani dan Sumarti agak lega. Biar bagaimanapun, mereka merasa kalau telah melibatkan Kenanga dan Panji ke dalam bahaya.b"Syukurlah kalau memang begitu, Kakang...," desah Rinjani menghela napas berkepanjangan, melepaskan kegundahan hatinya.

"Kalian tetap di sini. Jangan pergi ke mana-mana. Aku ingin mencari tahu letak kamar tempat Kenanga ditawan. Setelah itu, aku akan kembali ke sini. Ingat baik-baik pesanku...," pesan Panji menekankan berulang-ulang.

Kemudian Pendekar Naga Putih berbalik. Tubuhnya lalu meluncur turun di bagian belakang bangunan utama yang tampak sepi. Ketika melihat di sekitarnya tidak ada yang memergoki, cepat bagai kilat tubuhnya telah menyelinap ke bagian dalam bangunan. Saat ini, senja telah menjelang. Cuaca pun mulai agak gelap.

Setelah menemukan tempat Kenanga ditawan, Panji kembali ke tempat Rinjani dan Sumarti menunggu. Kedua gadis cantik itu menyambut kedatangan Panji dengan wajah menyimpan banyak pertanyaan. Terpaksa Pendekar Naga Putih menjelaskannya, agar tidak membuat mereka penasaran.

"Aku sudah menemukan tempat Kenanga disekap. Dan bisa kupastikan dia tidak apa-apa. Semuanya berjalan sesuai rencana. Mudah-mudahan saja. Iblis Mata Satu tidak sampai tahu. Kalau sampai dia tahu, kemungkinan kita akan gagal untuk mengetahui tokoh tersembunyi yang melindungi Iblis Mata Satu. Dan, apa benar tokoh itu ada...?" jelas Panji.

"Kakang...," panggil Rinjani setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti.

"Ya...," sahut Panji, singkat. Pendekar Naga Putih menatap wajah gadis cantik di depannya. Kelihatan semakin menarik, karena terpantul cahaya rembulan yang bersinar terang.

"Sebaiknya, kita melewatkan malam di tempat lain. Rasanya di sini kita kurang leluasa bergerak..." usul Rinjani.

"Semestinya memang demikian. Kita harus mengetahui perkembangan selanjutnya. Tapi karena kau kurang suka, kita bisa cari tempat lain. Di taman belakang umpamanya. Bagaimana...?" sahut Panji.

"Kurasa di taman belakang memang lebih aman, Kakang," timpal Sumarti.

Panji langsung menoleh ke arahnya, kemudian memandang Rinjani seperti meminta pendapat.

"Aku setuju...," tegas Rinjani.

Panji kemudian bangkit berdiri dari duduknya. Mari kita turun. Hati-hati, jangan sampai menimbulkan suara yang mencurigakan...," pesan Panji.

Tidak berapa lama kemudian, ketiga tokoh muda itu pun tiba di taman, yang terletak di belakang bangunan induk.

"Tidurlah kalian. Biar aku yang menjaga...," ujar Panji ketika melihat kedua wanita itu sudah menguap berkali-kali. Pendekar Naga Putih maklum, karena Rinjani dan Sumarti bukanlah orang-orang petualang. Sehingga, mereka berdua belum terbiasa dengan keadaan yang sulit seperti sekarang.

********************

Sebelum fajar datang, Panji membangunkan Rinjani dan Sumarti Kemudian, kedua gadis itu dibawa keluar dari lingkungan Perguruan Kelelawar Hitam. Tanpa banyak tanya lagi, Rinjani dan Sumarti menurut saja. Mereka tahu. Panji mungkin mempunyai rencana lain yang belum dikatakan.

Panji berlari cepat diikuti Rinjani dan Sumarti. Mereka terus bergerak menerobos cuaca yang masih dikuasai kegelapan, Tidak berapa lama kemudian Panji menghentikan iarinya, diikuti Rinjani dan Sumarti.

"Ada apa sebenarnya, Kakang...?" tanya Rinjani penasaran.

Sedangkan Sumarti yang jarang bicara, hanya menatap Panji dengan sinar mata penuh keingin tahuan.

"Hm.... Kalian berdua tunggu di tempat ini, dan jangan pergi sebelum aku kembali...," ujar Panji kembali berpesan kepada Rinjani dan Sumarti.

Tentu saja kedua wanita itu menjadi semakin tak mengerti. Perlahan Rinjani mengawas keadaan sekitarnya dengan pandangan matanya. Meskipun suasana masih gelap, tapi Rinjani tahu kalau tidak jauh dari tempat ini ada sebuah jalan agak besar yang berbatu.

"Aku pergi dulu. Ingat pesanku tadi...," pamit Pendekar Naga Putih setelah menatap Rinjani dan Sumarti berganti-ganti.

Sebelum Rinjani sempat bertanya, tubuh pemuda itu sudah lenyap ditelan kegelapan. Sehingga, Rinjani hanya bisa menghela napas panjang.

********************

DELAPAN

Mentari pagi mulai tampak. Dahan dan dedaunan tampak terang oleh pancaran sinar kuning keemasan yang hangat menyengat tubuh. Panji yang saat itu tengah bersembunyi di atas atap bangunan induk, menyaksikan kesibukan di bawahnya.

"Hm..., tepat dugaanku. Mereka pasti akan membawa Kenanga untuk dipersembahkan kepada pimpinan yang tersembunyi itu...," gumam Panji.

Saat itu Pendekar Naga Putih melihat orang-orang di bawahnya tengah mempersiapkan dua buah kereta kuda. Tampaknya, hari ini pimpinan Perguruan Kelelawar Hitam hendak bepergian. Tidak berapa lama kemudian, apa yang ditunggu-tunggu Pendekar Naga Putih muncul. Iblis Mata Satu yang diantar orang termuda dari Beruang Gurun tampak bergerak keluar dari dalam bangunan induk.

Sementara, Kenanga pun terlihat di antara mereka. Keadaannya rampak tidak berdaya, dan seperti berada dalam pengaruh aneh. "Ayo, kita segera berangkat..!"

Terdengar Iblis Mata Satu memberikan perintahnya. Maka, kereta kuda itu pun bergerak melewati pintu gerbang yang telah terbuka lebar. Rombongan yang terdiri dari dua buah kereta kuda itu terus bergerak melintasi jalan berdebu yang cukup lebar, dikawal empat orang penunggang kuda di kiri dan kanan.

Setelah memastikan arah bergerak kereta kuda itu, Panji kembali melesat turun dari atas atap bangunan. Begitu kedua kakinya menginjak halaman samping, tubuhnya kembali melesat menuju luar bangunan, dan terus ke tempat Rinjani serta Sumarti menunggu. Kedua wanita itu segera saja menyongsong kedatangan Panji dengan wajah meminta perjelasan.

"Iblis Mata Satu telah pergi, dikawal empat anggotanya. Mungkin dia hendak membawa Kenanga kepada pimpinannya. Di dalam bangunan Perguruan Kelelawar Hitam hanya ada Beruang Gurun yang tinggal seorang. Aku tahu, kalian pasti ingin merebut kembali perguruan itu, bukan? Nah, sekaranglah saat yang paling baik untuk bergerak," jelas Panji, sebelum Rinjani sempat bertanya.

Kemudian, langsung saja Pendekar Naga Putih mengajak mereka untuk merebut kembali bangunan perguruan itu. Dan begitu tiba, langsung saja telapak tangan kanannya didorongkan ke arah pintu gerbang bangunan yang terlihat kokoh.

Whusss... brakkk!

Sekali hantam saja, pecahlah pintu gerbang dengan memperdengarkan suara keras. Mendengar suara keras yang tiba-tiba, tentu saja murid-murid Perguruan Kelelawar Hitam jadi terkejut bukan main. Namun, kekhawatiran di wajah mereka agak berkurang ketika melihat kalau yang muncul hanya tiga orang muda yang berwajah tampan dan menarik. Tapi, beberapa murid Perguruan Tinju Berantai yang terpaksa menjadi anggota gerombolan itu, merasa terkejut bukan main ketika mengenali Rinjani dan Sumarti. Memang, kedua orang wanita itu merupakan murid-murid utama Perguruan Tinju Berantai.

"Jangan takut! Kedatanganku bukan untuk menghukum. Aku memaklumi, apa yang kalian pilih adalah sangat terpaksa. Maka, sekarang marilah bergabung denganku untuk membasmi orang-orang yang telah menghancurkan perguruan kita...!" seru Rinjani lantang.

Melihat siapa yang datang dan apa yang diucapkan wanita cantik yang kini terlihat sangat berwibawa, belasan anggota Perguruan Tinju Berantai segera saja bergabung dengan Rinjani. Jelas, mereka memang tidak bersungguh-sungguh masuk ke dalam gerombolan penjahat itu.

"Bagus! Nah, sekarang mari kita hancurkan musuh-musuh kita...!" seru Rinjani membangkitkan semangat saudara- saudara seperguruannya.

Tanpa menunggu perintah dua. kali, belasan orang murid yang kembali sadar dan rela mati demi membela perguruan, segera saja menyerbu orang-orang Kelelawar Hitam dengan senjata di tangan. Maka sebentar saja pertempuran pun pecah.

"Haaat..!"

Rinjani dan Sumarti pun tidak mau berpangku tangan saja. Cepat mereka menerjang disertai putaran pedang yang bergulung-gulung menimbulkan angin menderu-deru. Panji yang semula hanya berdiri menatapi pertempuran, bergerak maju ketika melihat Beruang Gurun muncul dan hendak terjun ke dalam kancah pertempuran. Rupanya, sosok lelaki botak kekar itulah yang ditunggu-tunggu. Memang, hanya Beruang Gurun yang masih dikhawatirkan Panji, karena kepandaian tokoh itu masih diatas Rinjani dan Sumarti. Itulah sebabnya, mengapa Panji ikut menyertai Rinjani dan Sumarti untuk menyerbu.

"Grrrhhh...!"

Beruang Gurun menggereng ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih berdiri tegak menghadang jalannya. Sejenak sepasang matanya menatap tajam, mengawasi sosok Panji. Kemudian dia bergerak maju beberapa langkah.

"Siapa kau...?! Apakah kau pun ingin menumpas Gerombolan Kelelawar Hitam...?!" tegur Beruang Gurun dengan wajah bengis.

"Siapa pun aku, tidak terlalu penting Dan kedatanganku ke tempat ini, sudah kau jawab sendiri. Nah! Sekarang, bersiaplah. Aku akan segera melenyapkanmu, atau paling tidak melumpuhkanmu...," sahut Panji. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pendekar Naga Putih langsung saja bergerak maju, siap melontarkan serangan.

"Keparat! Kupecahkan kepalamu, Bocah...! Haaat..!" Beruang Gurun sepertinya benar-benar marah. Apalagi ketika melihat pemuda itu bergerak maju dengan sikap tenang, tanpa bersiap menghadapi sebuah pertarungan. Merasa dianggap remeh, maka langsung saja kapaknya digunakan dan menerjang kalap.

Bettt! Bettt...!

Sekali terjang saja, tokoh berkepala botak itu telah melancarkan serangan bertubi-tubi. Meski demikian, tak satu pun yang mengenai sasaran. Dan Pendekar Naga Putih memang telah bergerak mengelak dengan kecepatan tinggi, sehingga Beruang Gurun seperti kehilangan lawannya.

"Aku di belakangmu, Beruang Tolol...!" ledek Panji yang telah berdiri tegak di belakang lawannya.

"Bedebah...! Mampus kau...!" bentak Beruang Gurun. Tanpa menoleh lebih dulu, langsung saja Beruang Gurun membabatkan kapaknya ke belakang dengan gerakan berputar.

Kali ini Panji sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Tepat pada saat kapak lawan dalang, kepalanya direndahkan sedikit. Itu pun masih disusuli dengan tangan kirinya yang terangkat menyambut serangan lawan.

Dukkk!

"Ahhh...?!" Beruang Gurun memekik kesakitan ketika lengannya tertangkis lengan Panji yang bagaikan batang besi. Sebelum tubuh lawan terdorong jatuh, tangan Pendekar Naga Putih sudah melibat pergelangan tangan Beruang Gurun dan menyentakkannya ke depan. Lalu langsung disambutnya tubuh Beruang Gurun dengan sebuah totokan keras.

Tukkk!

"Aaakh...?!" Tubuh Beruang Gurun langsung melorot jatuh bagaikan sehelai karung basah. Kemudian Panji bergerak menghampiri. Langsung diangkatnya tubuh Beruang Gurun dan dilemparkannya ke dekat sebatang pohon yang tumbang di samping bangunan. Setelah itu, tubuh Panji bergerak ke dalam arena pertempuran.

"Rinjani! Aku harus menyusul Iblis Mata Satu yang membawa pergi Kenanga. Beruang Gurun sudah kulumpuhkan. Semoga kalian berhasil. Oh, ya. Sampaikan salamku kepada Sumarti dan saudara-saudara seperguruanmu yang lain...," ujar Panji. Dan Pendekar Naga Putih langsung melesat meninggalkan tempat itu setelah merobohkan beberapa orang lawan lagi.

Rinjani hanya mengangguk. Kepergian Pendekar Naga Putih memang tidak bisa dicegah, karena tempat ini tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan kemenangan sudah berada di depan mata. Maka, dia hanya bisa berharap agar Panji kembali mengunjungi Perguruan Tinju Berantai setelah urusannya selesai.

Tubuh Pendekar Naga Putih melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busur. Segenap ilmu larinya dikerahkan untuk dapat menyusul kereta kuda Iblis Mata Satu. Karena memang telah memperhitungkan arah yang bakal ditempuh buruannya, sebentar saja Pendekar Naga Putih sudah melihat rombongan kecil itu beberapa belas tombak di depannya. Seketika Pendekar Naga Putih memperlambat larinya membayangi kereta kuda itu.

Tidak berapa lama kemudian, kereta kuda itu tiba di bawah sebuah bukit yang puncaknya cukup tinggi. Pendekar Naga Putih mengenali tempat itu sebagai Bukit Kundul. Dan, dia juga pernah mendengar tentang adanya sebuah perguruan berdiri di atas puncak bukit itu.

"Hm.... Tidak mungkin kalau Pendekar Tongkat Kayu Merah telah berubah menjadi sesat. Kemungkinan besar, perguruan itu telah direbut tokoh-tokoh sesat dari tangannya...," gumam Panji. Pendekar Naga Putih terus membayangi rombongan Iblis Mata Satu, meskipun mereka telah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki

Tidak berapa lama kemudian, rombongan kecil Iblis Mata Satu tiba di atas puncak bukit Di situ terdapat sebuah bangunan besar yang cukup megah. Kedatangan Iblis Mata Satu ternyata langsung disambut hangat oleh tiga orang aneh dan memiliki gerak-gerik lucu

"Tiga Badut Setan...!" desis Panji yang langsung saja mengenali ketiga sosok tubuh di depannya itu. "Jadi, merekalah yang selama ini menjadi orang di belakang Iblis Mata Satu." Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya, Panji langsung melesat sebelum Kenanga diserahkan kepada Tiga Badut Setan.

"Kenanga! Sekarang...!" teriak Panji memperingatkan kekasihnya kalau sandiwara yang mereka buat telah selesai.

Begitu tiba, Pendekar Naga Putih langsung saja melancarkan serangan ke arah Tiga Badut Setan. Mendapatkan serangan cepat itu, tiga tokoh sesat bertampang lucu itu langsung berlompatan mundur. Dari angin pukulan sosok bayangan putih itu, mereka tahu kalau serangan yang datang sangat berbahaya.

Kenanga sendiri yang semula kelihatan seperti orang kehilangan pikiran sadarnya, langsung bergerak melepaskan diri dari Iblis Mata Satu. Langsung diterjangnya tokoh bertubuh kekar itu dengan pukulan mengandung tenaga dalam tinggi. Sadar kalau serangan itu sangat berbahaya dan tidak mungkin dielakkan. Iblis Mata Satu langsung saja memapaknya.

Plakkk!

Tubuh mereka sama-sama terdorong mundur, ketika lengan saling berbenturan keras. Iblis Mata Satu benar-benar tidak menyangka kalau gadis jelita tawanannya ternyata hanya berpura-pura. Dia tidak habis mengerti, bagaimana mungkin tawanannya sampai bisa tidak terpengaruh racun pembius yang diminumkan. Tentu saja Iblis Mata Satu tidak akan pernah bisa mengerti, karena hanya Panji dan Kenanga saja yang tahu.

"Ahhh...! Kurang ajar sekali kau, Iblis Mata Satu! Apakah kau memang hendak memberontak terhadap kami...?" tegur lelaki berhidung bulat yang bentuk rambutnya seperti jengger ayam. Memang, rambut di kepalanya itu hanya tumbuh di bagian tengah, memanjang dari depan ke belakang. Tokoh itu sama sekali tidak kelihatan marah. Bahkan malah tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala menatap Iblis Mata Satu.

Tokoh sesat bermata satu Itu pun tentu saja telah tahu sifat aneh pimpinannya. Maka kakinya melangkah mendekat, hendak menjelaskan kalau dia sendiri sama sekali tidak tahu. "Aku sama sekali tidak tahu, Tuanku Wirya Bajang. Aku sendiri telah dibodohi perempuan setan itu..!" bantah Iblis Mata Satu berusaha meyakinkan pimpinannya.

"Hm.... Tunjukkan kalau kau tidak bersalah" Yang berbicara kali ini adalah Pasopati, yang disusul tawa ringkik kudanya. Tapi Iblis Mata Satu sadar kalau di balik wajah penuh tawa dan lucu, tersembunyi sifat kejam dan tak kenal ampun.

"Baik,..," sahut Iblis Mata Satu. Tanpa banyak cakap lagi, langsung saja Iblis Mata Satu menerjang Kenanga dengan serangan-serangan maut.

Namun tentu saja Kenanga tidak tinggal diam. Meskipun kali ini dia harus menggunakan tangan kosong untuk menghadapinya, tapi dara jelita itu tidak gentar. Cepat tubuhnya melesat menyambut datangnya serangan lawan. Maka sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam pertempuran sengit

Panji sendiri sudah berhadapan dengan Tiga Badut Setan yang tampak tengah menegasi sosok pemuda tampan berjubah putih itu. Terdengar Wirya Bajang bertanya dengan suaranya yang parau.

”Benarkah aku tengah berhadapan dengan orang yang berjuluk Pendekar Naga Putih ?" tanya warya Bajang. Rupanya dia telah mengenal ciri-ciri pendekar besar itu.

"Tidak salah," sahut Panji tegas. "Kalian memang tengah berhadapan dengan Pendekar Naga Putih. Dan, pertemuan ini merupakan akhir kejahatan kalian, Tiga Badut Setan...!"

Mendengar kalau pemuda tampan itu adalah Pendekar Naga Putih, lenyaplah sikap dan gerak-gerik ketiga tokoh sesat itu. Jelas kelihatan kalau mereka merasa tegang berhadapan dengan pendekar muda yang terkenal sangat sakti dan telah banyak menjatuhkan tokoh puncak golongan sesat.

"Hieeeh heh heh...! Kau terlalu takabur, Pendekar Naga Putih. Seharusnya kau sadar kalau pertemuan ini merupakan akhir petualanganmu. Bukan kami...! Kalau tidak percaya, bersiaplah! Aku akan memberikan pelajaran barupadamu...!" Setelah agak lama, barulah Pasopati menyahuti ucapan Panji. Lalu, kakinya melangkah maju dan bergerak kekanan.

Melihat Pasopati sudah hendak berhadapan dengan Pendekar Naga Putih, Wirya Bajang dan Gajah Mungkur bergegas mengepung dari depan dan belakang. Kini Panji harus menghadapi lawan-lawannya yang akan menyerang dari tiga jurusan.

"Mulailah! Tanganku sudah gatal ingin menempeleng kepala kalian yang berisi rencana-rencana jahat dan kotor itu...!" tantang Panji. Pendekar Naga Putih kini sudah merendahkan kuda-kudanya, siap menghadapi serangan Tiga Badut Setan. Dia tahu, lawan-lawannya yang memiliki silat aneh dan cenderung sinting, ternyata juga memiliki beragam ilmu tinggi.

"Sambut seranganku...!" Gajah Mungkur yang memang sangat suka bertarung danmenganggap permainan menyenangkan, segera saja datang menyerbu Panji dengan kedua tangan terkembang.

Whuuut..!

Panji melompat pendek ke samping sehingga sergapan Gajah Mungkur hanya mengenai angin saja.

"Ha ha ha...!"

Melihat Gajah Mungkur kebingungan seperti orang tolol, Wirya Bajang dan Pasopati tertawa bergelak. Rupanya mereka benar-benar merasa geli melihat wajah Gajah Mungkur yang kelihatan sangat lucu.

"He he he..!" Meskipun dengan wajah menyeringai seperti orang tolol, Gajah Mungkur akhirnya tertawa juga. Lelaki bertubuh raksasa itu memandang kedua saudaranya berganti-ganti sambil terkekeh.

Melihat sikap ketiga lawannya yang seperti telah melupakan dirinya. Panji hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Meskipun telah mendengar tentang sifat-sifat aneh Tiga Badut Setan, tak urung hatinya merasa heran juga ketika menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

"Hieeeh heh heh...! Siapa yang kau tangkap, Gajah Mungkur? Coba tunjukkan padaku, apa yang kau dapatkan...?" ledek Pasopati dengan ringkik kudanya yang masih terdengar berkepanjangan.

"Ahhh! Aku belum dapat apa-apa, Kakang...," sahut Gajah Mungkur. Laki-laki tinggi besar itu menjadi kebingungan sendiri ketika mendengar pertanyaan saudaranya itu. Lalu, masih seperti orang tolol, dipandanginya sepasang lengannya. Seolah, dia tengah berusaha mengingat apa yang barusan hendak ditangkapnya.

"Ha ha ha...! Dasar raksasa tolol! Kau barusan hendak menangkap naga berwarna putih. Dan sekarang, dia ada di belakangmu...," jelas Wirya Bajang sambil menggeleng- gelengkan kepala yang merupakan kebiasaannya.

"Naga...? Naga berwarna putih...?" gumam Gajah Mungkur sambil mencari-cari ke atas dan ke bawah. Pada saat sepasang matanya berbentur sosok Panji, barulah Gajah Mungkur teringat apa yang barusan hendak ditangkapnya. "Ah, benar! Aku memang hendak menangkap naga putih...! Sekarang aku akan mencobanya lagi...," seru Gajah Mungkur yang tertawa-tawa sambil melangkah berdebum menghampiri sosok Pendekar Naga Putih.

Panji sendiri masih tetap berdiri tegak, ketika melihat lelaki raksasa itu kembali datang hendak menyergapnya.

"Kena...!" teriak Gajah Mungkur, menyergap tubuh Panji dengan kedua tangannya yang besar dan berbulu lebat itu.

Tapi, sergapannya yang kedua kali ini pun masih saja gagal. Bahkan tubuhnya sempat terhuyung, karena Panji telah melenting ke udara. Bahkan kepala Gajah Mungkur digunakan sebagai landasan kakinya. Kemudian Panji meluncur turun seraya melepaskan tendangan ke punggung lelaki bertubuh raksasa itu. Tendangan Pendekar Naga Putih memang tidak terlalu keras, dan hanya sekadar membuat tubuh lawannya terhuyung. Tapi, perbuatannya membuat Gajah Mungkur teringat siapa orang yang tengah dihadapinya saat ini.

"Grrrh...!" Gajah Mungkur menggereng, memperlihatkan gigi-giginya yang besar dan kuat. Sepasang tangannya kali ini tidak lagi bergerak seperti hendak menyergap, tapi membentuk gerak-gerak silat yang aneh dan cepat. Mau tak mau, Pendekar Naga Putih sendiri sempat kagum dibuatnya.

"Hm.... Aku harus hati-hati dalam menghadapi raksasa seperti Gajah Mungkur ini. Biasanya orang sepertinya memiliki kulit tubuh kebal dan kuat...," gumam Panji, kali ini bersiap menghadapi terjangan lawan.

Rupanya kejadian yang menimpa Gajah Mungkur, juga telah membangkitkan ingatan Wirya Bajang dan Pasopati terhadap pemuda berjubah putih itu. Maka mereka pun bergerak susul-menyusul dengan serangan-serangan berbahaya.

"Heaaa...!"

Panji yang saat itu tengah bertarung melawan Gajah Mungkur, cepat melesat ke kanan. Dihindarinya terjangan Pasopati yang cengkeramannya sekeras baja, siap merobek lambungnya.

Bettt!

Lagi, sebuah pukulan dari Wirya Bajang yang menimbulkan suara mencicit tajam datang mengancam tubuh Panji. Padahal, Pendekar Naga Putih baru saja menjejakkan sebelah kakinya di tanah. Maka langsung saja tubuhnya merunduk dan mengangkat tangan kanannya untuk memapak serangan lawan.

Dukkk... plakkk!

Terdengar benturan dua kali berturut-turut, sehingga membuat tubuh Wirya Bajang terdorong ke belakang. Belum lagi tokoh itu sempat berbuat sesuatu. Panji telah menyusulinya dengan sebuah tendangan miring.

Desss...!

Tanpa ampun lagi, tubuh Wirya Bajang terpental disertai muntahan darah segar ketika tendangan Pendekar Naga Putih telak menghajar dada. Meski demikian, tokoh berhidung bulat seperti tomat itu sempat memperbaiki tubuhnya agar tidak sampai terbanting.

"Haaa...!”

Gajah Mungkur dan Pasopati kelihatannya sangat marah ketika mengetahui saudara tuanya terkena tendangan Pendekar Naga Putih. Mereka segera melesat maju, menerjang pemuda itu. Akibatnya, Panji dibuat kewalahan menghadapi serangan-serangan kedua lawannya yang seperti kerbau gila.

"Heaaa...!"

Ketika pertarungan memasuki jurus yang ketujuh puluh delapan, Pendekar Naga Putih tiba-tiba mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'. Seketika itu juga, tubuhnya langsung melayang ke udara. Dan dari atas, kedua kakinya melepaskan tendangan-tendangan berantai ke arah Gajah Mungkur yang terdekat.

Bukkk! Bukkk!

"Aaakh...?!" Gajah Mungkur yang biasanya kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam, kali ini memekik kesakitan akibat tendangan Panji yang mendarat di punggung dan dadanya. Akibatnya, tubuh raksasa itu terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk laut.

"Yiaaah...!"

Serangan Panji rupanya belum selesai. Buktinya setelah melancarkan serangkaian tendangan yang sekaligus digunakan untuk pijakan, tubuhnya cepat jungkir balik dengan kepala di bawah. Kedua tangannya langsung mengembang ke kiri dan kanan, menghantam tubuh kedua lawannya.

Desss... desss...!

"hiuakkkh...!"

Sungguh hebat hantaman telapak tangan yang telah diisi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Akibatnya, tubuh Gajah Mungkur dan Pasopati terjengkang sejauh satu tombak lebih, dan terus jatuh berguling-guling. Gajah Mungkur dan Pasopati yang jatuh secara terpisah sama-sama memuntahkan darah kental. Mereka menggigil bagaikan terkena serangan malaria, akibat pukulan yang berisikan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', dari Pendekar Naga Putih.

"Shaaa...!"

Wirya Bajang yang menyaksikan kedua orang saudaranya jatuh berguling-guling, segera saja berseru keras sambil menyerbu Pendekar Naga Putih. Tap karena tenaganya sudah berkurang akibat luka dalam yang diderita, Wirya Bajang kembali harus menelan pil pahit. Ternyata sebuah pukulan Panji malah singgah di dada kirinya.

Bukkk!

"Aaakh...!" Tubuh Wirya Bajang kembali tersentak deras ke belakang. Bahkan kali ini tidak mampu untuk bangkit lagi. Setelah meregang nyawa sebentar, nyawa Wirya Bajang langsung terbang akibat pukulan Panji yang berisi tenaga dalam tinggi.

"Aaa...!"

Bagaikan orang gila, Gajah Mungkur maju menerjang Panji begitu mengetahui kalau saudara tuanya telah tewas. Gajah Mungkur benar-benar nekat. Pukulan-pukulan yang dilepaskannya datang bertubi-tubi mengancam tubuh Panji. Namun, karena gerakan Pendekar Naga Putih jauh lebih cepat, sehingga tak satu pun yang mengenai sasaran. Bahkan....

Desss!

Sambil merendahkan tubuh menghindari kepalan lawan, Panji langsung saja mendorongkan sepasang telapak tangan ke tubuh raksasa itu. Tanpa ampun lagi, tubuh Gajah Mungkur tersentak ke belakang dan terbanting jatuh dengan tubuh menggigil kedinginan. Sebentar kemudian, tubuh raksasa itu pun diam tak bergerak-gerak lagi. Mati!

"Kaaakhhh.!"

Pasopati yang melihat kedua orang saudaranya telah binasa di tangan Pendekar Naga Putih, langsung memekik parau! Tubuhnya cepat melayang dan berjumpalitan di udara dengan sepasang cakar siap terhunjam ke leher lawan.

"Haaat..!"

Panji sendiri tidak tinggal diam. Tubuhnya cepat ikut mencelat ke udara. Langsung disambutnya tubuh lawan dengan tendangan terbangnya. Dan....

Bukkk!

"Aaa...!" Pasopati kontan terpental balik disertai raung kematiannya yang parau. Tamatlah riwayat orang kedua dari Tiga Badut Setan dengan dada remuk, akibat tendangan Pendekar Naga Putih yang menyambut luncuran tubuhnya.

"Kakang..." Kenanga yang rupanya juga telah menyelesaikan pertarungannya melawan Iblis Mata Satu, datang menghampiri Panji yang juga tengah melangkah menghampirinya.

"Hhh.... Berakhirlah segala kekejaman Tiga Badut Setan. Mereka sebenarnya tidak lebih dari orang-orang gila yang memang patut dibasmi, karena selalu mengganggu ketenangan orang banyak...," desah Panji.

Pendekar Naga Putih lalu menyambut tubuh kekasihnya dengan kedua tangan terbuka. Kemudian mereka melangkah meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan petualangan.

S E L E S A I

Pemburu Nyawa

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pemburu Nyawa
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

"Nah! Sekarang, kita telah tiba di perbatasan desa...," desah salah seorang dari tiga sosok, ketika berhenti di sebuah pertigaan jalan.

Bentuk tubuh orang yang berbicara tadi cukup aneh. Wajahnya lucu. Hidungnya bulat dan besar, seperti tomat. Sepasang pipinya kemerahan, mungkin terlalu sering terbakar sinar matahari. Bibirnya agak tebal dan berwarna merah. Bahkan potongan rambutnya pun terlihat aneh, mengingatkan orang akan jengger di atas kepala ayam jantan.

Sedangkan orang yang berada di tengah juga tak kalah aneh. Rambutnya hanya tumbuh di kedua sisi kepala. Sedang pada bagian tengahnya licin pelontos, tanpa ditumbuhi sehelai rambut pun. Sepasang matanya besar dan agak sayu, mengingatkan orang akan mata seekor sapi. Dan pada telinga kirinya, tergantung sebuah anting-anting sebesar gelang. Yang lebih mengesankan adalah bentuk pakaiannya yang terlihat kebesaran. Padahal, tubuhnya gemuk dan pendek seperti bola. Yang jelas, orang kedua ini pun terlihat lucu. Bahkan bisa membuat orang yang melihatnya menjadi tersenyum.

Namun, keanehan pada dua orang tadi rupanya tidak dimiliki orang yang berdiri paling kanan. Tubuhnya tinggi besar. Otot-ototnya yang melingkar, menambah kejantanannya. Wajahnya juga tampak keras, apalagi ditambah cambang bauk lebat.

"Perbatasan desa apa ini, Kakang Wirya Bajang...?" tanya orang yang rambutnya hanya tumbuh di kedua sisi kepala, sambil menggeleng-geleng. Suaranya terdengar kecil tinggi, sepera suara perempuan genit.

Orang pertama yang ditanya menjadi agak jengkel. Sikapnya tampak berubah berang ketika mendengar pertanyaan lelaki gemuk itu "Bodoh, kau Pasopati! Apakah kau tidak bisa membaca tulisan yang tertera pada batu di tepi jalan itu?" umpat Wirya Bajang sambil menudingkan telunjuknya ke tepi jalan. Di situ terlihat sebuah tembok batu setinggi pinggang yang merupakan tanda perbatasan desa.

Mendengar ucapan itu, laki-laki berpakaian kebesaran yang ternyata bernama Pasopati itu tertunduk diam. Setelah mengerling sejenak, kakinya melangkah ke arah batu itu, dan memperhatikannya dengan teliti. Lama dia berdiri sambil menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. Keningnya tampak berkerut dalam. Sepertinya tengah mengalami kesukaran dalam membaca tulisan di batu itu.

"Ha ha ha...!"

Tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak, sehingga membuat Pasopati dan Wirya Bajang menoleh bersamaan. Mereka tampak memandang tak senang ke arah laki-iaki bertubuh tinggi besar yang tengah terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perutnya. Rupanya, dia menertawakan tingkah Pasopati yang tengah berusaha membaca tulisan di batu itu.

"Mengapa kau tertawa, Gajah Mungkur? Apa yang kau tertawakan?" tegur Wirya Bajang dengan sorot mata tajam.

Lelaki tinggi besar yang bernama Gajah Mungkur itu masih juga tertawa, tanpa menjawab pertanyaan itu. Kemudian, dengan wajah yang masih menyeringai, matanya menatap geli pada Wirya Bajang yang merupakan saudaranya yang tertua. Memang, mereka adalah tiga bersaudara. Sedangkan Gajah Mungkur adalah orang termuda di antara mereka.

"Bagaimana aku tidak geli, Kakang Wirya Bajang. Sampai kiamat pun, Kakang Pasopati tidak akan dapat membaca tulisan pada batu itu. Apa kau lupa kalau dia sama sekali tidak bisa membaca...?" kata Gajah Mungkur, kembali tergelak. Rupanya dia kembali teringat tingkah lucu Pasopati tadi ketika disuruh membaca tulisan di batu itu.

Meskipun bertubuh tinggi besar, namun sorot mata Gajah Mungkur tetap saja terlihat begitu lucu. Yang jelas, tak jauh beda dengan kedua saudaranya yang memiliki bentuk tubuh dan watak aneh. Namun sebenarnya, jangan dipandang remeh ketiga lelaki yang tampak kurang waras itu. Dalam kalangan rimba persilatan, mereka dikenal sebagai tokoh sesat yang sangat kejam dalam menghukum lawan-lawannya. Tak heran kalau kemudian mereka dijuluki sebagai Tiga Badut Setan!

Jawaban Gajah Mungkur membuat Wirya Bajang terhenyak. Orang tertua dari Tiga Badut Setan itu segera sadar akan kekurangan adiknya yang bernama Pasopati itu. Maka seketika Wirya Bajang ikut tertawa terkekeh, mirip ringkik seekor kuda.

"Hieh heh heh...! Kau benar, Gajah Mungkur. Ah, betapa bodohnya aku. Aku baru ingat kalau Pasopati tidak bisa membaca...," ujar Wirya Bajang dengan wajah masih menyimpan senyum geli.

Sedangkan Pasopati tampak tertunduk malu. Tingkahnya seperti dara remaja yang baru saja menerima pernyataan cinta dari seorang pemuda. "Itu sebabnya kenapa aku bertanya kepadamu tadi. Tapi karena disuruh membaca sendiri, ya..., terpaksa kucoba membacanya. Padahal, kepalaku pusing sekali melihat garis-garis seperti cacing itu...," ujar Pasopati yang mengakui kekurangannya sambil mengerling manja kepada kedua orang saudaranya.

"Sudahlah. Desa yang akan kita datangi ini bernama Desa Kandaran. Mudah-mudahan saja di situ banyak orang berkepandaian silat tinggi. Kalau harapanku terkabul, tentu kita akan senang...," kata Wirya Bajang dengan wajah berbinar-binar. Jelas ucapan itu sangat aneh bagi sebagian orang yang mendengarnya. Tapi, tidak bagi telinga kedua saudaranya. Mereka bertiga memang merupakan tokoh aneh yang sangat suka bertarung. Semakin pandai lawan yang dihadapi, semakin senanglah hati mereka.

"Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu, Kakang? Ayolah, kita datangi Desa Kandaran itu...," selak Gajah Mungkur. Kelihatannya laki-laki tinggi besar itu tidak sabar setelah mendengar ucapan kakaknya yang tertua. Sepasang matanya tampak berbinar-binar penuh semangat. Jari-jari tangannya terlihat mengepal, seperti sudah ingin bertarung dengan lawannya.

"Tentu..., tentu.... Ayo, kita segera berangkat..," ajak Wirya Bajang seraya melangkah menuju jalan sebelah kiri yang menuju Desa Kandaran.

"Satu, dua.... Satu, dua.... Kiri..., kanan...!"

Sambil melangkah tegap, Wirya Bajang berjalan di depan. Mulutnya tak henti-henti memberi aba-aba kepada kedua saudaranya yang berjajar di belakangnya. Sikap itu benar-benar menunjukkan ketidakwarasan mereka.

********************

Ketiga lelaki aneh dengan bentuk tubuh berbeda-beda itu, baru saja memasuki mulut Desa Kandaran.

"Kakang, perutku lapar sekali..." Terdengar keluhan salah seorang di antara ketiga lelaki itu. Rupanya lelaki bertubuh besar yang bernama Gajah Mungkur itu merengek seperti anak kecil kepada lelaki yang berhidung seperti tomat. Tentu saja sikap yang tidak wajar itu membuat beberapa penduduk menoleh dan tersenyum geli. Dan melihat penampilannya, tak dapat dibantah kalau mereka adalah Tiga Badut Setan.

"Lucu sekali orang itu. Usianya sudah dewasa, dan tubuhnya sebesar gajah, tapi tingkahnya seperti anak kecil. Pasti otaknya agak miring." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari seorang pemuda remaja penduduk Desa Kandaran yang berusia sekitar lima belas tahun. Bahkan tanpa sadar, jari telunjuknya menuding ke arah Gajah Mungkur.

Mendengar ucapan yang jelas-jelas bernada ejekan itu, Gajah Mungkur langsung menoleh ke arah sumber suara. Kemudian, pandangannya beralih kepada Wirya Bajang yang berhidung seperti tomat dengan mimik wajah lucu.

"Kakang, ada orang yang menghinaku...," adu Gajah Mungkur. Sikapnya yang seperti anak kecil semakin menjadi perhatian bagi yang melihatnya. Tentu saja sikapnya kembali mengundang tawa beberapa penduduk Desa Kandaran.

"Eh, mengapa kau semakin bertambah bodoh, Gajah Mungkur? Kalau ada yang menghinamu, bunuh saja! Kalau dagingnya masih lunak dan manis, santap saja. Bukankah kau suka...?" sahut Wirya Bajang, datar dan tanpa perasaan.

Mendengar ucapan itu, Gajah Mungkur kontan gembira. Bagaikan anak kecil yang akan mendapat hadiah, lelaki tinggi besar itu melangkah berdebum. Dihampirinya kerumunan orang desa yang memandang ke arahnya. Karena wajah Gajah Mungkur tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan, para penduduk pun tidak merasa takut, apalagi lari.

Setelah dekat dengan kerumunan orang-orang yang memandangnya, Gajah Mungkur menatap wajah mereka satu persatu dengan lagak lucu. Orang-orang desa itu sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam. Padahal, semakin lucu lagak yang ditunjukkan Tiga Badut Setan, maka akan semakin buaslah tindakan yang dilakukan!

Semula kerumunan orang desa itu tertawa-tawa saat sepasang lengan Gajah Mungkur terulur menangkap tubuh laki-laki berusia lima belas tahun yang mengejeknya.. Mereka baru menampakkan ketakutan dan jeritan ketika Gajah Mungkur mengangkat tubuh anak laki-laki itu ke atas kepala, kemudian membantingnya kuat-kuat ke tanah.

Jrettt!

Tanpa sempat berbuat sesuatu, tubuh anak tanggung yang malang itu kontan remuk, nyawanya langsung melayang. Mati! Sedangkan Gajah Mungkur sama sekali tidak peduli dengan orang-orang desa yang menjerit-jerit ketakutan. Laki-laki bertubuh raksasa itu langsung melorot duduk di atas tanah, kemudian mulai mempreteli anggota tubuh anak laki-laki yang tewas itu!

Sementara itu, Wirya Bajang dan Pasopati hanya memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, sambil tertawa terbahak-babak Kejadian itu bagi mereka justru adalah pertujukan lucu. Sama sekali tak tersirat belas kasihan pada wajah mereka.

Dengan nikmatnya, Gajah Mungkur mulai melahap daging lengan mayat anak laki-laki itu. Darah segar berlelehan di sekitar mulut dan dagunya yang ditumbuhi bulu lebat. Tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya, lelaki bertubuh raksasa berusia sekitar tiga puluh tahun itu terus saja menyantap dengan nikmatnya.

Cruppp!Cruppp!

"Ah...! Lezat dan gurih sekali...," gumam Gajah Mungkur, seraya mencerucup kembali darah segar yang masih membasahi potongan lengan itu. Mulutnya terdengar berdecap-decap nikmat.

Pemandangan itu terlihat sangat mengerikan bagi yang baru melihatnya. Tapi, Gajah Mungkur sendiri tampaknya sangat menikmati perbuatannya itu.

"Gajah Mungkur! Kutunggu kau di kedai depan itu...!" kata Wirya Bajang, sedikit berteriak. Kemudian, dia melangkah bersama Pasopati sambil terus terkekeh-kekeh.

"Ya..., ya...," sahut Gajah Mungkur cepat, tanpa menolehkan kepalanya.

Sepertinya lelaki bertubuh raksasa yang kurang waras itu benar-benar telah lupa pada keadaan sekelilingnya. Rupanya, santapan di depannya jauh lebih menarik. Tidak lama setelah tubuh Wirya Bajang dan Pasopati memasuki kedai, tiba-tiba muncul serombongan orang yang dipimpin seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tegap, padat berisi seperti menyimpan kekuatan. Rupanya, mereka yang ternyata para keamanan desa itu menghampiri Gajah Mungkur yang masih menikmati santapan mengerikan!

"Itu dia raksasa pemakan daging manusia, Ki Banang! Makhluk biadab itu harus segera dibasmi! Aku yakin, dia akan mencari anak-anak lain untuk menjadi santapan berikutnya. Tapi hati-hati, Ki Banang! Raksasa itu kelihatannya tidak waras...," tunjuk seorang penduduk yang melaporkan peristiwa itu kepada Kepala Keamanan Desa Kandaran yang bernama Ki Banang.

"Menepilah, Kisanak. Biar aku yang akan membereskannya," ujar Ki Banang. Kemudian, laki-laki gagah itu bergerak maju bersama sepuluh anak buahnya.

"Gila! Dari mana datangnya raksasa pemakan daging itu?! Mudah-mudahan saja aku dapat mengatasinya..," gumam Ki Banang.

Ki Banang kelihatannya agak gentar juga melihat perawakan Gajah Mungkur, yang memang menggetarkan jantung itu. Dengan gerak perlahan, kawan-kawannya diperintahkan untuk mengepung.

"Hei, Orang Asing! Siapa kau?! Dan, dari mana asalmu?! Apa kesalahan penduduk desa ini, sampai kau tega melakukan perbuatan terkutuk itu...?" tegur Ki Banang yang berdiri dalam jarak satu tombak lebih dari laki-laki bertubuh besar itu. Kakinya terpentang lebar seperti telah siap menghadapi pertarungan.

Tapi, teguran itu tidak membuat Gajah Mungkur menghentikan makannya. Bahkan wajahnya sama sekali tidak menoleh. Telinganya seolah-olah telah tertutup rapat oleh kenikmatan yang tengah dirasakannya. Tentu saja sikap Gajah Mungkur membuat Ki Banang naik pitam.

"Keparat! Raksasa ini ternyata tuli!" umpat Ki Banang. Laki-laki setengah baya itu menjadi tak sabar ketika melihat Gajah Mungkur sama sekali tidak mempedulikannya. Dan karena merasa dianggap angin lalu, dikeluarkannya sebilah pisau sepanjang satu jengkal dari dalam pakaiannya.

"Maaf, bukan maksudku berlaku curang." Usai berkata demikian, Ki Banang melepaskan pisau kecil itu ke arah dada kanan Gajah Mungkur.

Syuuut..!

Pisau yang dilepaskan Ki Banang yang disertai pengerahan tenaga dalam meluncur cepat menuju sasarannya. Dan....

Takkk!

Kejadian selanjutnya, benar-benar membuat Ki Banang terkejut! Ternyata, bukan tubuh lawan yang terluka. Tapi sebaliknya, malah pisau itu sendiri yang patah dua ketika menghantam bagian kanan dada Gajah Mungkur. Dari sini saja sudah terbukti kalau tubuh lelaki raksasa itu sangat keras dan kebal terhadap senjata tajam.

"Grrrhhh. ," Gajah Mungkur menggereng. Lelaki bertubuh besar itu jelas merasa kenikmatannya terganggu Maka sambil mengangkat wajahnya sekilas, sepasang matanya menyambar tajam. Meski demikian, mimik wajahnya tak sedikit pun menggambarkan kemarahan. Bahkan semakin memperlihatkan seringai-seringai lucu.

Dari sini, Ki Banang segera mengambil kesimpulan kalau laki- laki tinggi besar itu memang benar tidak waras seperti yang dilaporkan warganya tadi. Dan dia jadi terpaku, tak mengerti harus berbuat apa. Maka untuk beberapa saat, suasana jadi tegang.

Sementara itu Gajah Mungkur perlahan bangkit, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Senyumnya melebar ketika orang-orang bersera-gam hitam tampak sudah mengelilinginya.

"Kalian ingin bermain-main denganku...? Bagus! Aku suka sekali," kata Gajah Mungkur yang kini mengalihkan tatapannya kepada Ki Banang.

Meskipun tampak kurang waras, tapi sepertinya Gajah Mungkur dapat mengetahui orang yang memimpin sepuluh sosok berseragam hitam itu. Buktinya, laki-laki bertubuh besar ini lebih banyak memandangi Ki Banang, ketimbang yang lainnya.

"Siapa kau, Kisanak?! Mengapa kau menyebar kekejian terhadap penduduk desa kami? Apa kesalahannya...?!" tanya Ki Banang.

Sepasang mata Ki Banang menatapi sosok tinggi besar di hadapannya penuh selidik. Bentuk tubuh Ki Banang memang termasuk tinggi dan kekar. Tapi dibandingkan Gajah Mungkur, Ki Banang hanya setinggi bahunya saja. Jelas, sosok Gajah Mungkur memang jauh melebihi ukuran manusia biasa.

"Aku menyebar kekejian? Lucu sekali. Orang Kecil. Aku hanya ingin makan. Ketika kulihat bocah itu berbicara kepadaku, kelihatannya dia berusaha hendak menyenangkan hatiku. Maka langsung saja kupilih untuk menjadi makananku. Apakah itu Jahat namanya?" sahut Gajah Mungkur dengan wajah bergerak-gerak lucu. Tentu saja jawaban Itu membuat Ki Banang terkejut

"Raksasa gila!" desis Ki Banang. Laki-laki setengah baya itu segera mencabut pedangnya yang tergantung dipinggang. Kemudian, dia bergerak maju sambil memerintahkan kawan- kawannya untuk bersiap-siap.

"Hei! Mau apa kalian...?! Ingin, menyakiti aku ya...? Hayo, pergi sana! Pergi jauh-jauh...!"

Gajah Mungkur berusaha mengusir mereka, seraya bergerak mundur. Seolah-olah hatinya merasa gentar ketika melihat kilatan sinar pedang. Tangannya bergerak-gerak dengan sikap mengusir.

"Bunuh raksasa gila itu...!" perintah Ki Banang, langsung saja melesat ke depan sambil menyabetkan pedangnya sekuat tenaga. Laki-laki setengah baya itu sadar kalau calon lawannya sangat kuat. Kalau tenaga dalamnya tidak kuat, mungkin tubuh raksasa itu tidak akan mampu melukainya.

Wuertt...!

"Heiii...?!" Gajah Mungkur terpekik kaget ketika melihat pedang Ki Banang berkelebat menyambar bagian perutnya. Maka dengan gerakan lucu seperti orang ketakutan, Gajah Mungkur bergerak ke belakang. Sehingga, sambaran pedang Ki Banang hanya mengenai angin kosong. Dan rupanya, lelaki bertubuh raksasa itu memang tidak siap bertarung. Buktinya, empat batang pedang pengeroyoknya telak sekali menghantam tubuhnya

Bukkk! Takkk!

Meskipun keenam batang pedang itu jelas-jelas menghantam tubuhnya, tapi Gajah Mungkur seperti tidak merasa sakit sedikit pun. Apalagi terluka. Bahkan, senjata-senjata itulah yang perpatahan jatuh ke tanah. Sedangkan Gajah Mungkur tampak menyeringai, seperti merasakan pijatan yang membuat tubuhnya terasa nikmat

"He he he...! Kalian benar-benar baik. Aku patut memberi hadiah yang pantas buat kalian berempat..," kata Gajah Mungkur dengan senyum lucu. Begitu ucapan laki-laki bertubuh raksasa itu selesai, tangan kanannya langsung bergerak ke depan. Tahu-tahu saja, lengan salah seorang lawan yang berseragam hitam itu telah dapat dicekalnya Dan....

"Aaa.!" Salah seorang pengeroyok yang bernasib sial itu memekik ngeri, ketika tubuhnya terasa melayang di udara. Rupanya, Gajah Mungkur telah melemparkan tubuh orang itu ke arah sebatang pohon yang ada di tepi jalan.

Prokkk.!

Tanpa ampun lagi, tubuh pengeroyok yang meluncur dengan kepala lebih dulu langsung menghantam sebatang pohon besar yang tumbuh di tepi jalan. Jelas, kalau orang itu pasti tewas seketika dengan kepala remuk.

Belum lagi kejadian itu sempat disadari oleh pengeroyok yang lain, termasuk Ki Banang, laki-laki bertubuh raksasa itu kembali melompat ke arah dua pengeroyok lainnya. Kedua tangannya bergerak cepat menangkap kepala kedua lawannya. Kemudian, kepala itu dibenturkannya satu sama lain. Akibatnya, kedua pengeroyok kontan ambruk dengan kepala pecah.

"Bedebah keji...!" Ki Banang menggereng marah. Setelah menyaksikan kejadian itu, lelaki separo baya ini kembali menerjang maju. Meskipun disadari kalau tubuh lawannya terlindung kulit tebal, namun Ki Banang sama sekali tidak gentar.

"Hiaaa...!"

Whuttt..!

Ujung pedang Ki Banang datang meluruk cepat. Sasarannya mengarah pada bagian-bagian kelemahan tubuh lawannya. Yang menjadi sasaran pertama adalah ulu hati Gajah Mungkur. Namun sayang, lelaki bertubuh raksasa itu dapat bergerak lincah dalam mengelakkan serangan.

"Aihhh, luput..!" ejek Gajah Mungkur sambil meleletkan lidahnya.

Mendapat ejekan seperti itu, hati Ki Banang semakin bertambah panas. Maka, serangannya pun semakin diperhebat. Tapi, Gajah Mungkur ternyata bukan hanya memiliki tubuh kebal. Bahkan, ilmu silatnya pun sangat tinggi dengan gerakan-gerakan cepat. Sehingga tanpa terduga, jari-jari yang besar itu telah mencekal erat lengan Ki Banang yang sedang mengacungkan pedang. Sebelum laki-laki setengah baya itu menyadari adanya bahaya, kepalan yang sebesar kepala bayi Gajah Mungkur telah meluncur ke arah batok kepalanya.

Prakkk!

Tanpa ampun lagi, batok kepala Ki Banang pecah. Darah segar bercampur cairan putih seketika membasahi bumi. Tubuh lelaki gagah itu langsung jatuh, begitu Gajah Mungkur melepaskannya. Sebentar dia menggelepar meregang nyawa, lalu diam tak bergerak-gerak lagi. Mati!

"Hei! Kalian mau ke mana...?" teriak Gajah Mungkur, ketika melihat para pengeroyoknya yang lain menghambur pergi.

Rupanya kematian Ki Banang membuat keberanian sisa anak buahnya lenyap seketika. Maka tanpa diberi aba-aba lagi, sisa keamanan Desa Kandaran itu segera melarikan diri meninggalkan arena pertempuran.

"Ahhh...! Tempat ini jadi sepi dan menjemukan. Sebaiknya aku pergi menyusul Kakang Wirya Bajang dan Kakang Pasopati...," gumam Gajah Mungkur, yang kemudian melangkahkan kakinya dengan suara berdebum meninggalkan korban-korbannya.

********************

DUA

"Wah...! Rupanya kalian baru saja selesai berpesta...!" kata Gajah Mungkur setelah memasuki kedai yang tampak berantakan.

Belasan mayat tampak bergeletakan di sana-sini. Sedangkan di sudut ruangan, tampak Wirya Bajang dan Pasopati sedang duduk dengan tenangnya, sambil menikmati hidangan. Bersama mereka tampak pula dua wanita berusia sekitar dua puluh lima dan tiga puluh tahun.

"Hieh heh heh...! Mengapa kau tidak membawa teman, Gajah Mungkur? Apa kau tidak iri melihat kami?" sambut Pasopati yang berpakaian kebesaran itu, sambil mencium seorang wanita yang duduk disebelahnya.

Wajah wanita yang berada dalam dekapan Pasopati itu tampak pucat dan tak dapat berbuat apa-apa. Sepertinya, hatinya merasa ngeri untuk memberontak. Dia tahu, baik Wirya Bajang maupun Pasopati tidak akan segan-segan menyiksa. Apalagi jika kehendak kedua lelaki aneh dari Tiga Badut Setan itu tidak dituruti.

"Ah! Aku memang kurang beruntung, Kakang Pasopati. Pinjamilah sebentar saja. Apa kau tidak, kasihan kepada adikmu ini yang tak berteman...?" pinta Gajah Mungkur seraya bergerak maju. Lelaki bertubuh besar itu langsung saja berusaha hendak merebut wanita dalam pelukan Pasopati.

"Eh?! Apa-apaan ini, Gajah Mungkur?! Jangan kurang ajar kau!" bentak Pasopati. Tentu saja Pasopati marah melihat perbuatan adiknya. Maka lelaki gemuk pendek itu segera mengangkat tangan kanannya untuk menghalau cengkeraman Gajah Mungkur.

Dukkk!

Tubuh mereka seketika bergetar mundur, ketika sepasang lengan satu sama lain saling berbenturan. Bahkan, kursi yang diduduki Pasopati langsung hancur akibat hebatnya pertemuan kedua tenaga tadi.

"Hei! Kau berani melawanku, Gajah Mungkur! Kurang ajar!" bentak Pasopati tanpa sifat-siiat lucu maupun lagak gilanya. Pasopati segera beranjak maju dengan hati panas.

Namun, Gajah Mungkur kelihatannya tidak mau mengalah begitu saja. Melihat Pasopati marah, dia pun menggereng bagai harimau terluka. Kini keduanya tampak siap saling tempur. Memang aneh sekali sifat Tiga Badut Setan itu. Hanya karena masalah sepele saja, antara satu dan lainnya bisa saling gontok-gontokan. Apalagi terhadap orang yang tidak mereka kenal. Mereka pun tidak segan-segan menyiksa dengan tangan kejam. Bahkan sampai membunuh!

Wirya Bajang sendiri sepertinya tidak mempedulikan pertengkaran kedua adiknya. Lelaki berhidung seperti tomat itu masih saja asyik tertawa-tawa sambil menenggak arak di gelas bambunya. Sesekali wanita di sebelahnya diciumi penuh nafsu. Dia benar-benar tidak mau tahu atas pertengkaran yang berlangsung di depan matanya Padahal, pertengkaran itu sudah jelas akan berlanjut menjadi perang otot

"Kau terlalu sekali, Kakang Pasopati! Aku hanya ingin pinjam sebentar saja, tidak boleh!" bantah Gajah Mungkur, yang masih juga menginginkan wanita dalam dekapan Pasopati.

"Haa..,. Pinjam menurutmu, bukanlah pinjam yang sebenarnya, Gajah Mungkur. Kalau wanita ini kuberikan, pasti akan disantap setelah kehangatan tubuhnya kau nikmati dengan kasar. Dan, aku tidak ingin hal itu terjadi...!" tegas Pasopati, lantang. Rupanya, keputusan Pasopati tidak bisa diubah lagi.

"Kalau begitu, aku terpaksa harus merebutnya...," ancam Gajah Mungkur sambil melangkah maju. Laki-laki raksasa itu kembali mengulurkan kedua tangannya untuk merebut wanita dalam pelukan Pasopati.

Whuuut!

Sambaran jari-jari tangan Gajah Mungkur yang besar dan kasar luput Namun, Pasopati lebih cepat menggeser tubuhnya beberapa langkah. Setelah menotok lumpuh dan meletakkan tubuh wanita itu di sudut ruangan kedai, Pasopati melangkah maju untuk bertarung melawan adiknya sendiri.

"Kau memang perlu diajar adat, Gajah Mungkur...!" geram Pasopati, seraya meleset kedepan. Langsung dilontarkannya tamparan ke pelipis adiknya.

Bettt!

Deru angin keras terdengar menyambar ketika telapak tangan Pasopati meluncur ke pelipis adiknya. Namun Gajah Mungkur yang bertubuh raksasa, sudah menarik tubuhnya hingga doyong ke samping. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sebuah tendangan kilat. Melihat ketidak beranian Gajah Mungkur dalam menerima tamparan, dapat ditebak kalau tenaga dalam Pasopati mampu menembus kekebalannya. Tak heran kalau Gajah Mungkur terpaksa memilih menghindar, ketimbang menerima tamparan.

Pertarungan antara kakak melawan adik itu pun tak terelakkan lagi, laksana musuh bebuyutan. Sementara itu, Wirya Bajang, lelaki tertua dari Tiga Badut Setan, masih saja tidak peduli. Tampaknya perselisihan seperti itu sudah sering terjadi di antara mereka, sehingga dia merasa tidak perlu memisahkan.

Namun, pertarungan yang tengah berlangsung sengit itu tiba-tiba terhenti, ketika terdengar suara ribut-ribut di luar kedai. Seketika Pasopati dan Gajah Mungkur menghentikan pertarungan, dan saling berpandangan. Seperti diberi aba-aba, mereka langsung melesat ke arah keramaian di luar kedai. Sekali lompat saja, kedua lelaki itu telah tiba di luar.

Pasopati dan Gajah Mungkur segera menjejakkan kakinya di tanah secara bersamaan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Seketika mereka tertawa terkekeh begitu di depan kedai itu tampak berdiri seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun. Sedangkan di belakang, kiri, dan kanan orang tua itu terdapat puluhan lelaki berseragam hitam.

Mereka tidak lain adalah Kepala Desa Kandaran beserta para pengawalnya. Rupanya, setelah mendapat laporan dari para keamanan desa, Kepala Desa Kandaran yang bernama Ki Sobali itu langsung membawa para pengawalnya untuk mengusir penjahat-penjahat yang mengacau desanya.

Ki Sobali menjadi terkejut melihat dua lelaki yang keluar dari kedai. Menurut laporan, pengacau itu hanya ada satu orang. Tubuhnya tinggi besar, dan pemakan daging manusia. Tapi kenyataannya, sama sekali tidak terduga. Ternyata pangacau itu berjumlah dua orang!

"Hm.... Bukan tidak mungkin kalau di dalam kedai itu masih ada kawan mereka yang lain," gumam Ki Sobali sambil mengamati bentuk tubuh kedua orang itu.

Penampilan Gajah Mungkur dan Pasopati yang lucu itu membuat Ki Sobali langsung menduga kalau yang dihadapi kali ini bukanlah penjahat biasa. Maka, dia pun agak berhati-hati dalam menghadapi mereka.

"Wah, Kakang. Rupanya kakek itulah yang barusan berteriak-teriak, sehingga mengganggu kesenangan kita...," kata Gajah Mungkur kepada Pasopati. Tampak Gajah Mungkur telah melupakan pertengkarannya dengan Pasopati tadi. Dan kini, tatapannya ditujukan pada wajah Ki Sobali.

"Hei, Kakek! Apakah kau telah kehilangan cucumu, sampai berteriak-teriak seperti orang gila...?" tegur Gajah Mungkur dengan mimik wajah berkerut-kerut lucu.

Kalau saja Ki Sobali dan para pengawalnya tidak mendapat laporan sebelumnya, mungkin akan tertawa melihatnya. Atau paling tidak tersenyum geli melihat tingkah-laku lelaki bertubuh raksasa itu.

"Hm.... Untuk apa bertanya lagi, Gajah Mungkur. Kedatangan mereka sudah jelas hendak bermain-main dengan kita. Ayo kita layani saja...," timpal Pasopati. Pasopati rupanya juga telah melupakan pertengkaran barusan. Dan kini kakinya segera melangkah maju. Pakaiannya yang memang kebesaran, tampak berkibar tertiup angin yang cukup keras.

"Tunggu dulu...!" cegah Ki Sobali seraya mengangkat tangannya ke depan. "Kalian ini siapa? Dan, mengapa kalian melakukan pembunuhan tanpa sebab? Apa salah warga desa ini?"

Ki Sobali menatap wajah kedua orang itu penuh selidik. Sayang, meskipun telah berusaha mengenali kedua orang itu, tapi ternyata Ki Sobali tak juga dapat mengenalinya. Dan dia memang belum pernah bertemu kedua pengacau itu sebelumnya.

Setelah mendengar pertanyaan lelaki tua itu, Pasopati menoleh ke arah adiknya. Terdengar suara gumamannya yang kecil tinggi seperti wanita. "Gajah Mungkur, kesalahan apa yang telah mereka perbuat?" tanya Pasopati dengan mimik seperti orang bodoh. Nada ucapan Pasopati sama sekali tidak menunjukkan kalau tengah mengejek Ki Sobali. Pertanyaannya memang terdengar sungguh-sungguh, seolah-olah Pasopati memang tidak tahu akan hal itu.

"Salah apa? Tidak ada yang salah. Setahuku, orang-orang yang bersalah pasti dimasukkan ke dalam penjara. Dan kalau kesalahannya terlalu berat, mungkin bisa dihukum gantung. Bukankah begitu, Kakek?" sahut Gajah Mungkur dengan wajah bersungguh-sungguh.

Ki Sobali dan para pengawalnya menjadi heran mendengar ucapan kedua tokoh lucu namun bersikap kejam itu. Dari perkataan itu, jelas menunjukkan ketidakwajaran pikirannya.

"Orang gila...!" desis Ki Sobali dengan suara perlahan. Baru disadari kalau kali ini dia berhadapan dengan penjahat yang kurang waras.

"Benar! Kau pintar sekali, Kakek. Hanya orang gilalah yang membunuh orang tanpa sebab. Aku benar-benar kagum atas jawabanmu yang sangat tepat itu...!" puji Pasopati setelah mendengar ucapan Ki Sobali. Bahkan dengan lagak kocak, ibu jari tangannya diacungkan sebagai tanda pujian.

"Kalianlah yang gila, Manusia Keparat! Dan untuk itu, kalian harus dihukum mati!" bentak Ki Sobali.

Laki-laki tua itu jadi hilang kesabarannya, setelah menerima tanggapan ngawur kedua orang di hadapannya. Tanpa ingin memperpanjang perdebatan yang sia-sia ini, maka langsung pedangnya dihunus. Disadari kalau lawannya berasal dari golongan sesat yang berkepandaian tinggi. Karena sepanjang pengetahuannya, hanya orang-orang berkepandaian tinggi saja yang memiliki sifat aneh serta tidak wajar. Dan kini, segera para pengawalnya diperintahkan maju dan mengepung kedua orang yang dianggapnya sinting itu.

"Nah! Benar yang kukatakan tadi, Gajah Mungkur. Mereka memang ingin bermain-main dengan kita...," desah Pasopati dengan wajah berbinar ketika melihat orang-orang bersenjata itu mulai mengepung.

"Kalau begitu, marilah kita berlomba. Siapa yang paling banyak dan paling cepat mengirim mereka ke akhirat, dialah yang menang," timpal Gajah Mungkur. Hatinya kelihatan sangat gembira menghadapi pertarungan yang bakal pecah sebentar lagi.

"Ayolah...," tantangan itu diterima Pasopati. Dan begitu ucapannya selesai, laki-laki bertubuh gemuk itu langsung saja bergerak terhuyung-huyung ke depan. Sepasang tangannya bergerak aneh, menimbulkan deru angin keras yang ber-decitan tajam.

"Haaat..!"

Ki Sobali yang merasakan sambaran angin pukulan lelaki gemuk itu, segera memekik keras. Langsung disambutnya kedatangan tubuh lawan dengan pedang di tangannya. Maka sebentar saja Pasopati telah bertempur melawan Ki Sobali yang masih dibantu lima belas orang pengawalnya.

"Heaaat..!"

Di pihak lain. Gajah Mungkur telah mengamuk. Sepak terjangnya benar-benar menggiriskan. Sepasang tangannya menyambar-nyambar disertai desir angin tajam. Walaupun serangan Gajah Mungkur sama sekali tidak mengenal sasaran, tapi cukup membuat tubuh para pengeroyoknya terhuyung-huyung!

Bahkan orang yang terkena tamparan Gajah Mungkur langsung binasa dengan kepala pecah dan tulang dada remuk. Tak heran kalau dalam waktu singkat, telah belasan mayat bergeletakan ditanah. Tentu saja amukan lelaki bertubuh raksasa itu membuat lawan-lawannya menjadi gentar. Karena selain tamparan dan tendangannya bisa mengakibatkan kematian, tubuh Gajah Mungkur pun kebal terhadap senjata tajam.

"Ha ha ha...! Lihat, Kakang Pasopati. Jumlah yang kuperoleh lebih banyak!" seru Gajah Mungkur sambil terus melepaskan serangan-serangan mematikan.

"Hieh heh heh...! Jangan takabur, Gajah Mungkur! Tengoklah hasil yang kuperoleh. Pasti tidak kalah banyak dengan hasilmu...!" sahut Pasopati. Rupanya, lelaki bertubuh gemuk pendek itu telah banyak pula menewaskan lawannya. Sehingga, jumlah para pengeroyoknya semakin berkurang. Bahkan, Ki Sobali sendiri kelihatan sudah kepayahan menghadapinya.

"Keparat! Terimalah pembalasanku..!" pekik Ki Sobali. Laki-laki tua itu menjadi penasaran melihat para pengawalnya semakin banyak yang tewas di tangan lelaki gemuk pendek ini. Tubuhnya segera cepat melesat dengan gerakan menyilang, disertai tebasan pedangnya dari atas ke bawah. Jelas, Ki Sobali telah mengerahkan sisa-sisa tenaga dalam serangannya kali ini.

Whuuut..!

Sayang, serangan yang telah dipersiapkan dengan baik itu, masih juga meleset dari sasaran. Karena pada saat hampir bersamaan, Pasopati telah menggeser tubuhnya ke samping dengan kuda-kuda rendah. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sodokan jari-jari tangah ke arah ulu hati lawan.

Crabbb!

"Aaakh...?!" Ki Sobali memekik keras ketika jari-jari tangan lawan yang setajam mata pedang, amblas memasuki tubuhnya. Darah segar kontan mengalir deras dari tubuh Ki Sobali, seiring amblasnya jari-jari tangan Pasopati.

"Heaaah...!"

Dibarengi bentakan keras, Pasopati menarik kembali tangannya yang telah merenggut segumpal daging sebesar kepalan tangan. Akibatnya, tubuh Ki Sobali langsung ambruk tanpa nyawa, karena jantungnya telah dicopot paksa.

Kematian Ki Sobali tentu saja membuat para pengawalnya tersentak mundur dengan wajah pucat. Tapi, Pasopati tidak mau bertindak kepalang tanggung. Setelah melemparkan jantung Ki Sobali ke tanah, tubuhnya langsung melesat dengan serangan kilatnya.

"Hihhh...!"

Sekali berkelebat saja, empat orang lawan yang tersisa langsung terpelanting dengan kepala pecah! Gerakan Pasopati memang sangat sulit dilihat mata telanjang. Begitu menyelesaikan lawan-lawannya, Pasopati menoleh ke arah Gajah Mungkur yang ternyata telah pula menyudahi lawan-lawannya.

Gajah Mungkur pun saat itu menoleh ke arah kakaknya. Lelaki bertubuh raksasa itu tersenyum lebar ketika melihat lawan-lawan kakaknya tidak ada yang tersisa. Mereka kemudian saling bertatapan dengan wajah mencerminkan kepuasan.

"Wah! Sayang, aku terlambat..."

Tiba-tiba terdengar suara parau yang membuat Pasopati dan Gajah Mungkur menoleh bersamaan. Keduanya langsung tertawa bergelak ketika melihat wajah Wirya Bajang yang baru muncul, tampak menyiratkan kekecewaan.

"Tidak ada bagian lagi untukmu, Kakang Wirya Bajang. Semuanya sudah kami habiskan...," sahut Pasopati sambil tertawa seperti ringkik kuda.

"Tidak mengapa, Pasopati. Aku masih bisa mencarinya di tempat lain. Ayo kita tinggalkan desa Ini...," ajak Wirya Bajang seraya berbalik.

"Tapi..., bagaimana dengan wanita milikku, Kakang? Aku ingin menikmatinya dulu, sebelum meninggalkan tempat ini...," Pasopati mencoba membantah perintah kakaknya. Kalau belum menikmati wanita yang ditinggalkannya di kedai, rasanya Pasopati tak ingin meninggalkan Desa Kandaran. Rupanya wanita itu telah membangkitkan gairah nafsu iblisnya.

"Wanita milikmu itu membuat hatiku jengkel, Pasopati. Dia merengek tak habis-habisnya. Karena aku geram, maka kupukul saja kepalanya hingga pecah. Demikian juga wanita yang kumiliki. Tapi, tentu saja kehangatan tubuh mereka telah kunikmati dulu. He he he.... Aku memang lebih beruntung ketimbang dirimu, Pasopati...," jawab Wirya Bajang dengan nada datar tanpa perasaan. Seolah, nyawa manusia tidak ada artinya baginya.

"Ah! Sayang sekali...," sesal Pasopati yang tampaknya tidak berani marah kepada kakaknya.

"Sudahlah. Nanti kita cari yang lebih cantik. Ayo ikuti aku...," bujuk Wirya Bajang lagi.

Kali ini kedua adiknya menurut saja. Maka, setelah menebarkan bencana di Desa Kandaran, Tiga Badut Setan itu segera meninggalkan tempat itu

********************

Matahari baru saja menampakkan dirinya saat tiga sosok memasuki daerah Bukit Kundul. Mereka terus bergerak ringan mendaki lereng bukit. Lereng yang terjal itu tidak membuat mereka kesukaran mendakinya. Langkah kaki mereka kelihatan sangat mantap dan terlatih baik. Sehingga, sebentar saja sudah bertemu lereng yang datar dan tidak menanjak lagi.

"Apa ada wanita cantik di bukit ini, Kakang Wirya Bajang?" tanya lelaki bertubuh raksasa, yang wajahnya terhias cambang bauk lebat. Siapa lagi orang itu kalau bukan Gajah Mungkur? Rupanya, yang tengah mendaki lereng Bukit Kundul itu adalah Tiga Badut Setan.

"Kisanak! Harap berhenti sebentar...!"

Tiba-tiba terdengar seruan halus, yang membuat langkah Tiga Badut Setan tertahan. Baru saja seruan itu lenyap, enam sosok bermunculan menghadang jalan mereka. Wirya Bajang yang berjalan paling depan, menatap tajam keenam orang yang berjajar menghadang jalan. Satu persatu dirayapinya wajah orang-orang itu dengan kepala bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Tingkahnya terlihat lucu, sehingga keenam orang itu saling berpandangan. Salah seorang penghadang yang tampaknya sebagai pemimpin dari kelima kawannya, melangkah maju beberapa tindak. Kemudian, dia menghormat sebelum melontarkan pertanyaannya kepada Wirya Bajang.

"Siapakah kalian bertiga? Dan, apa tujuan kalian datang ke Bukit Kundul ini?" tanya lelaki gagah berusia empat puluh tahun, menunjukkan nada persahabatan.

"Kami ingin mencari wanita cantik. Apakah di atas puncak bukit ini banyak wanita cantik...?" sahut Gajah Mungkur langsung, sebelum Wirya Bajang membuka suara.

"Wanita cantik...? Wanita manakah yang kau maksudkan, Kisanak?" tanya lelaki gagah itu lagi. Tentu saja dia menjadi heran mendengar jawaban yang sama sekali tidak lumrah. Meski demikian, sikapnya masih sabar untuk meminta keterangan yang lebih jelas dari sosok lelaki bertubuh raksasa itu.

"Ya..., wanita mana saja. Asal cantik, aku pasti suka..," sahut Gajah Mungkur lagi seenaknya.

Mendengar jawaban Gajah Mungkur, lelaki gagah itu menjadi merah selebar wajahnya. Jelas, nada ucapan Gajah Mungkur menunjukkan maksud tidak baik. "Maaf. Di atas puncak bukit ini tidak ada rumah bordil. Yang ada, hanya Perguruan Bukit Kundul. Kalian telah salah alamat, silakan cari di tempat lain saja...," jawab lelaki gagah itu. Secara tak langsung, kata-katanya bernada mengusir ketiga tamu yang tak diundang itu.

"Ahhh...! Jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mendapat jawaban yang mengecewakan. Benar-benar tak adil! Kau tentu bohong, Kisanak. Biar kulihat sendiri untuk membuktikan ucapanmu itu...," ujar Gajah Mungkur. Setelah berkata demikian. Gajah Mungkur bergerak melangkah tanpa mempedulikan wajah ketidak senangan dari lelaki gagah itu.

"Tunggu, Kisanak! Kau tidak boleh berbuat seenaknya di tempat ini! Kami mempunyai peraturan yang harus ditaati oleh siapa pun yang datang. Harap kalian tinggalkan saja tempat ini. Jangan memaksa kami untuk bertindak kasar...!" cegah lelaki gagah itu bernada ancaman. Bahkan lima orang kawannya yang berada di belakang telah bergerak maju, juga siap mencegah maju Gajah Mungkur.

"Apa?! Kalian hendak menggunakan kekerasan? Haaa... Ingin kulihat, seperti apa kekerasan yang dimaksudkan itu, Orang Gagah. Karena, aku pun suka kekerasan...," sahut Gajah Mungkur kembali, sekenanya. Lelaki bertubuh besar itu melanjutkan langkahnya tanpa peduli kalau lelaki gagah itu telah bersiap-siap untuk menyerangnya.

"Sial! Tempat ini ternyata telah kedatangan orang gila...!" umpat lelaki gagah Itu, jengkel. Sepasang tangannya tampak bergetar, karena telah teraliri tenaga dalam yang siap digunakan sewaktu-waktu.

TIGA

"Hati-hatilah, Kakang Darinta! Tampaknya mereka memiliki tenaga kuat...," bisik seorang kawan lelaki gagah itu. Lelaki yang bernama Darinta itu hanya mengangguk maklum, karena juga berpendapat sama.

"Hayo, sambut kepalanku...!" seru Gajah Mungkur disusul gerakan berputar yang aneh. Tubuhnya yang tinggi besar segera melesat ke depan melancarkan pukulan.

Bettt...!

Darinta sudah dapat mengukur kekuatan tenaga dalam dari sambaran angin pukulannya. Sehingga, dia tidak ingjn bertindak ceroboh. Cepat-cepat tubuhnya bergeser mundur dua langkah. Kemudian kakinya melangkah ke depan setelah pukulan lawannya luput. Lalu, sepasang telapak tangannya cepat meluncur ke arah dada lawan.

Tampak Gajah Mungkur seperti hendak memperlihatkan kekebalan tubuhnya. Dorongan sepasang tangan lawan disambut oleh dadanya yang dibusungkan ke depan. Akibatnya, hantaman sepasang telapak tangan Darinta telak mengenai sasarannya.

Bukk!

"Akh...!" Apa yang terjadi benar-benar membuat kawan-kawan Darinta terbelalak kaget. Mereka hampir tidak percaya ketika melihat tubuh pimpinannya terhempas ke belakang diiringi pekik kesakitan. Padahal, mereka jelas-jelas tahu kalau hantaman sepasang telapak tangan Darinta sanggup menghancurkan batu besar. Tapi, kenapa sekarang justru membuat Darinta menjerit

"Kakang...!"

Dua kawan Darinta bergegas memburu, dan membantu pimpinannya bangkit. Mereka semakin terkejut ketika melihat sepasang tangan Darinta tampak membengkak akibat tenaga pukulan yang membalik.

"Gila! Manusia raksasa itu ternyata jauh lebih kuat dari dugaanku! Ini saja baru seorang yang maju. Apalagi, bila mereka bertiga maju bersamaan! Rasanya kita tidak akan sanggup mencegah mereka untuk naik ke puncak. Sebaiknya, salah seorang dari kalian segera melaporkan kejadian ini kepada guru. Cepatlah...!" bisik Darinta.

Lelaki gagah itu kini telah berdiri tegak, siap bertarung kembali. Sementara tanpa banyak membuang waktu, salah seorang dari kawan Darinta bergegas naik ke puncak bukit. Sedangkan Darinta bersama keempat kawannya tetap bertahan untuk bertarung mayi-matian.

Sringgg! Srattt!

Empat kawan Darinta bersamaan menghunus senjata untuk menghadapi lawan. Mereka bergerak mengepung Gajah Mungkur dengan pedang di tangan. Memang yang menjadi lawan Darinta hanya Gajah Mungkur. Sedangkan Pasopati dan Wirya Bajang hanya menjadi penonton saja. Dua orang dari Tiga Badut Setan itu sepertinya telah percaya dengan kemampuan adiknya. Sementara itu, Darinta sendiri telah berdiri di depan Gajah Mungkur. Rupanya, dia tidak merasa jera meskipun kedua tangannya sudah tidak bisa digunakan lagi untuk menyerang.

"Ha ha ha...! Kalian seperti tikus-tikus kecil yang menghadapi kucing liar!" ejek Gajah Mungkur sambil tertawa-tawa dengan tangan kiri memegangi perutnya. Sedangkan tangan kanannya menuding wajah kelima lawannya berganti-ganti. Sikap yang sombong Itu tentu saja membuat wajah lawan-lawannya menjadi merah.

"Jangan takabur dulu, Kerbau Dungu! Kita lihat saja, apakah kau memang mampu melawan kami berlima...!" desis Darinta. Jelas, Darinta merasa terhina atas ucapan yang dilontarkan Gajah Mungkur. Segera saja diberinya isyarat kepada kawan-kawannya untuk maju menggempur.

"Haaat...!"

Diiringi sebuah teriakan nyaring, seorang kawan Darinta yang berada di samping kanan Gajah Mungkur melesat disertai sambaran pedangnya yang mengarah ke leher. Kemudian, tiga kawahnya yang lain menyusuli dengan serangan beruntun susul-menyusul. Mereka bergerak dengan kecepatan mengagumkan. Darinta sendiri menerjang dari depan dengan tendangan-tendangannya yang berputaran cepat, laksana baling-baling. Rupanya laki-laki ini memang cukup lihai juga dalam ilmu tendangan. Semua itu terlihat jelas, sewaktu menerjang Gajah Mungkur.

"Hm...," Gajah Mungkur bergumam perlahan. Tubuh laki-laki tinggi besar itu sama sekali tidak bergeser dari tempat berpijaknya semula. Jelas, kalau kekebalan tubuhnya sangat diandalkan untuk menyelesaikan pertarungan itu.

Trakkk! Trakkk! Trakkk!

"Ahhh...?!"

"Haih...?!"

Terdengar pekikan kaget berturut-turut dari keempat anak buah Darinta, begitu senjata masing-masing telak menghantam sasaran. Tapi, tak satu pun dari keempat batang pedang itu yang sanggup melukai tubuh Gajah Mungkur. Sebaliknya, tubuh empat anak buah Darinta sendirilah yang terpental balik. Memang, tenaga tolakan yang keluar dari tubuh Gajah Mungkur sangat kuat!

Zebbb!

Setelah keempat batang pedang itu berpatahan ketika mengenai tubuh Gajah Mungkur, tendangan Darinta meluncur mengancam pelipis. Jelas, Darinta ingin melihat apakah jalan darah besar di kepala lawan juga terlindung kekebalan?

Tapi, Gajah Mungkur sepertinya bisa menebak maksud lawan yang satu itu. Maka, cepat kepalanya dimiringkan ketika tendangan Darinta meluncur datang. Dan tanpa diduga sama sekali, tangannya bergerak sangat cepat Sehingga....

Tappp!

"Ahhh.?!" Darinta benar-benar terkesiap ketika pergelangan kakinya dirasakan telah tercekal jari-jari tangan lelaki raksasa yang besar dan kuat Dia terpaksa menjerit, ketika Gajah Mungkur meremas dan memuntir kakinya disertai pengerahan kekuatan tenaganya.

"Hiaaah...!" Gajah Mungkur membentak keras. Langsung disertakannya tubuh Darinta yang langsung terangkat ke udara. Kemudian, diputar-putarnya tubuh laki-laki gagah itu di atas kepalanya seperti baling-baling!

"Aaa...!" Darinta memekik ngeri ketika tubuhnya terasa meluncur pesat, saat dilepaskan Gajah Mungkur. Tanpa ampun lagi, tubuhnya melayang dan menghantam dinding bukit yang berbatu cadas itu.

Prokkk!

Terdengar suara benturan keras ketika kepala Darinta menghantam dinding bukit. Darah segar bercampur cairan putih kontan muncrat membasahi tanah! Darinta pun tewas seketika itu juga.

"Ahhh...!"

Keempat kawan Darinta sama-sama terpekik ngeri melihat pimpinannya tewas secara mengerikan! Tanpa sadar, mereka bergerak mundur menjauhi lawannya. Sementara lelaki raksasa itu menatapi keempat murid Perguruan Bukit Kundul sambil tertawa terbahak-bahak

"Jangan khawatir! kalian pun pasti akan mendapat bagian yang tidak kalah menariknya...," ejek Gajah Mungkur. Tawanya terdengar semakin keras, menandakan nafsu membunuh yang sudah berada di puncaknya.

Mendengar ucapan lelaki bertubuh besar itu, wajah keempat murid Perguruan Bukit Kundul menjadi semakin pucat. Seketika itu juga, keberanian mereka langsung lenyap entah ke mana. Sehingga, kaki mereka terus bergerak mundur menjauhi sosok Gajah Mungkur yang terlihat bagaikan seorang raksasa pemburu nyawa.

"Haaa...!"

Gajah Mungkur kelihatan sangat gembira menyaksikan wajah-wajah yang dilanda ketakutan hebat Malah calon-calon korbannya sengaja ditakut-takuti. Bentakannya yang menggelegar serta kedua tangannya yang terkembang, membuat keempat lawannya melompat ke belakang. Bahkan keringat dingin mulai membasahi wajah dan tubuh mereka.

"Ha ha ha..!"

Senang bukan main Gajah Mungkur menyaksikan tingkah laku keempat orang lawannya Tawanya tergelak-gelak sampai menitikkan air mata melihat lawan-lawannya semakin bertambah pucat Apalagi setelah mendengar bentakannya

"Hieeeh heh heh..! Bagus.... Bagus, Gajah Mungkur! Aku senang sekali melihat tontonan seperti ini...!" Pasopati yang masih menjadi penonton bersama Wirya Bajang memperdengarkan tawanya yang seperti ringkik kuda. Rupanya hatinya juga merasa gembira menyaksikan kekejaman adiknya

Sementara itu, Wirya Bajang sampai jatuh terduduk menyaksikan pertunjukan yang baginya sangat lucu. Benar-benar mengiriskan sifat Tiga Badut Setan itu. Semakin orang ketakutan, Tiga Badut Setan akan semakin senang dan puas melihatnya. Bagi mereka bertiga, pertunjukan itu merupakan hiburan yang mengasyikkan.

Setelah puas mempermainkan lawan-lawannya yang hampir mati ketakutan. Gajah Mungkur berniat mengakhiri permainannya. Dengan bentakan keras, lelaki tinggi besar itu melompat Kedua tangannya tampak dikembangkan, menangkap leher dua lawannya. Kemudian, diangkatnya kedua tubuh itu dengan jari-jari tangan mencekik leher tawan hingga tewas.

Setelah menewaskan kedua lawannya, Gajah Mungkur berpaling ke arah dua lawan lainnya yang tersisa. Dan dengan gerakan cepat, kedua lawannya ditangkap. Lalu tanpa ada rasa kasihan, satu persatu dipatahkannya anggota tubuh dua korbannya. Dan tanpa menghiraukan jeritan-jeritan kesakitan, dipatahkannya batang leher keduanya hingga tewas dengan mata terbeliak! Setelah melepaskan korbannya hingga tersuruk di tanah, Gajah Mungkur bertepuk tangan disertai senyum penuh kepuasan. Sekilas wajahnya berpaling ke arah dua saudaranya, seolah mengharapkan pujian atas hasil perbuatannya.

"Pekerjaan yang sangat bagus dan menyenangkan, Gajah Mungkur...," puji Pasopati tersenyum puas.

"Nikmat sekali aku melihatnya, Gajah Mungkur...," tambah Wirya Bajang sambil bertepuk tangan, sehingga membuat Gajah Mungkur semakin bangga.

"Sekarang tinggal mencari wanita cantik di atas bukit ini...," kata Gajah Mungkur.

Laki-laki tinggi besar itu kemudian mempersilakan Wirya Bajang untuk berjalan lebih dulu. Dia baru berjalan paling belakang, setelah Pasopati melangkah melewatinya.

********************

"Itu mereka, Guru...! Celaka! Pasti Kakang Darinta dan yang lainnya telah dibunuh...!"

Terdengar kata-kata keras dari lelaki pendek kepada seorang lelaki tua yang di tangan kanannya tergenggam tongkat berwarna merah. Jari telunjuknya ditudingkan ke arah tiga sosok lelaki yang tengah bergerak semakin mendekat

"Eh?! Tidak salahkah penglihatanku...? Betulkah Tiga Badut Setan yang datang mengacau...?" desis lelaki tua itu sambil menyipitkan matanya, menegasi.

Perkataannya jelas menandakan kalau laki-laki tua yang ternyata Ketua Perguruan Bukit Kundul itu telah cukup mengenal ketiga tamu tak diundang Itu. Sebagai kaum rimba persilatan golongan tua, tentu saja ketiga tokoh sesat yang memiliki sifat aneh mendekat kegilaan itu sudah dikenalnya. Kenyataan itu membuat hatinya sangat terkejut.

"Ha ha ha...! Rupanya yang mendekam di bukit ini adalah Tongkat Kayu Merah! Sungguh kebetulan! Berarti perjalananku tidak sia-sia. Bertarung dengan orang sepertimu, pasti sangat menyenangkan...!" tantang Wirya Bajang setelah berada agak dekat. Rupanya laki-laki berhidung seperti tomat ini mengenali lelaki bertongkat merah yang berusia sekitar lima puluh tahun itu.

"Tanyakan kepadanya, Kakang. Apakah dia memelihara gadis-gadis cantik di dalam perguruannya..?" bisik Gajah Mungkur yang masih saja memikirkan gadis-gadis cantik. Lelaki bertubuh raksasa itu tampak masih penasaran setelah kejadian di Desa Kandaran. Sehingga, sepanjang perjalanan benaknya hanya dipenuhi bayangan gadis-gadis cantik saja.

"Tenanglah, Gajah Mungkur. Kita pasti akan mendapatkan banyak gadis cantik. Kau boleh memilih dan menikmatinya nanti...," jawab Wirya Bajang agak keras. Sehingga suaranya terdengar oleh laki-laki yang ternyata berjuluk Pendekar Tongkat Kayu Merah dan murid-muridnya.

"Kalau begitu, aku pesan empat Yang cantik-cantik, dan mulus-mulus...," timpal Pasopati, langsung saja. Bibirnya tampak tersenyum membayangkan dirinya dikelilingi gadis-gadis cantik yang membuat air liurnya menetes.

"Aku memilihnya nanti saja kalau sudah melihat..," kata Gajah Mungkur sambil menjilati bibirnya. Bayangan gadis-gadis cantik itu seolah santapan yang terlezat baginya

"Hm.... Rupanya mata tuaku masih cukup baik Kiranya Tiga Badut Setan yang datang berkunjung. Hhh. Betapa sempitnya dunia ini. Sayang, kedatangan kalian disertai maksud keji." Percakapan Tiga Badut Setan terhenti ketika mendengar kata-kata Pendekar Tongkat Kayu Merah yang berwibawa dan cukup lantang.

"Sebenarnya, kedatangan kami hanya untuk bersenang- senang, Tongkat Merah. Sambutan murid-muridmu pun cukup hangat. Sayang, mereka harus kami tinggalkan di bawah sana..," sahut Wirya Bajang, datar.

Bagi yang belum mengetahui sifat Tiga Badut Setan, tentu akan mengira ucapan itu tidak menyimpan arti lain. Namun tidak demikian halnya Pendekar Tongkat Kayu Merah. Laki-laki tua itu cukup mengenal sifat serta istilah yang selalu digunakan Tiga Badut Setan. Makanya, tak heran kalau wajahnya tampak berubah kelam ketika mendengar kata-kata Wirya Bajang.

Pendekar Tongkat Kayu Merah yang bernama asli Ki Baginta sadar, ucapan itu berarti kematian bagi murid-muridnya yang berada di sana. Meski demikian, kemarahannya berusaha ditekan, karena bisa berakibat parah bagi dirinya. Apalagi, lawan yang harus dihadapinya sangat tangguh dan belum tentu mampu ditandinginya.

"Kalian benar-benar iblis keji! Tanpa sebab yang jelas) murid-muridku kalian bantai seperti sekumpulan lalat! Apa sebenarnya yang diharapkan dengan melakukan kejahatan seperti itu..?" Meskipun telah menekan kegeramannya sekuat tenaga, tak urung nada suara Ki Baginta terdengar agak bergetar mengandung kemarahan. Tapi, Wirya Bajang malah menanggapinya dengan tawa terbahak keras.

"He he he...! Tidak banyak yang kuinginkan, Ki Baginta. Kami hanya mencari kesenangan, kepuasan, kemashyuran, dan pengakuan bahwa Tiga Badut Setan adalah tokoh nomor wahid dalam dunia ini...," sahut Wirya Bajang terkekeh berkepanjangan.

"Kalian benar-benar sinting! Hanya karena alasan kosong itu sampai tega membunuh orang lain?! Rasanya berdosa besar jika kalian kubiarkan merajalela menebar bencana! Meski harus mengorbankan nyawa, kebiadaban kalian akan kuhen-Bkan...!" geram Ki Baginta.

Segera laki-laki tua itu memutar tongkat merahnya, hingga menimbulkan putaran angin keras yang menerbangkan bebatuan kecil. Kemudian, tongkatnya disilangkan di depan dada dengan sorot mata tajam.

"Bagus..., bagus...! Memang itulah yang kuinginkan, Ki Baginta. Tanpa ditantang pun, aku pasti akan memaksamu bertarung denganku...," sambut Wirya Bajang melompat- lompat kegirangan, persis seperti bocah kecil yang memperoleh mainan kesukaannya.

"Biar yang lainnya bermain-main denganku, Kakang...," pinta Pasopati. Sepasang matanya sempat berbinar-binar ketika melihat murid-murid Perguruan Bukit Kundul sudah siap tempur.

"Aku juga ikut bermain...!" seru Gajah Mungkur yang tidak kalah gembiranya.

"Manusia-manusia gila...!" umpat Ki Baginta. Diam-diam Ketua Perguruan Bukit Kundul itu merasa geram melihat orang-orang yang gila menyiksa serta membunuh sesamanya. Mereka tak ubahnya seperti pemburu-pemburu nyawa.

Melihat Wirya Bajang sudah menggeser langkahnya, Ki Baginta pun mulai mempersiapkan diri dengan jurus-jurus andalan. Lelaki berjuluk Pendekar Tongkat Kayu Merah sadar, lawannya bukanlah orang sembarangan. Maka begitu berhadapan, langsung dikeluarkannya jurus-jurus andalan.

Sementara itu, Gajah Mungkur dan Pasopati telah bergerak untuk menerjang murid-murid Ki Baginta. Jelas, mereka sangat bernafsu untuk saling berlomba dalam menewaskan lawan-lawannya.

"Haaat..!" Ki Baginta langsung membuka serangan dengan putaran tongkat merahnya. Kemudian tongkatnya bergerak lurus dengan totokan yang mengancam jalan darah kemarian di tubuh lawan.

Syuuut..!

Wirya Bajang terkekeh parau melihat datangnya serangan tongkat lawan. Dengan gerak aneh namun jelas sangat ampuh dan membingungkan, serangkaian totokan itu berhasil dielakkan tanpa perlu menggeser tubuhnya jauh-jauh. Jelas hal itu menunjukkan betapa tingginya ilmu berkelit yang dimilikinya. Ki Baginta pun mau tak mau harus memuji dalam hati.

"Shaaa...!" Serangan tongkat Ki Baginta mulai melemah, karena selalu meleset dari sasaran. Dan kesempatan ini digunakan Wirya Bajang untuk melancarkan serangan balasan. Didahului sebuah bentakan mengejutkan, tubuhnya bergerak cepat dengan tusukan jari-jari tangan yang membentuk paruh ular.

Bettt! Bettt!

Tampak Ki Baginta kewalahan dalam mengelakkan serangan beruntun yang datang laksana air bah. Namun dengan kelincahannya, serangan lawan tetap berusaha dihindari sambil sesekali menangkis dan membalas. Maka sebentar saja kedua tokoh itu telah terlibat dalam perkelahian sengit. Tapi setelah bertarung kurang lebih tiga puluh jurus, Ki Baginta mulai kerepotan menghadapi serangan beruntun lawannya. Bahkan sudah tidak sempat lagi membalas, karena terlalu sibuk mengelak serta menangkis serangan-serangan.

"Yiaaah...!"

Wirya Bajang yang melakukan tekanan-tekanan berat tiba- tiba membentak nyaring mengejutkan. Berbarengan dengan itu, tubuhnya merendah hampir berjongkok Kemudian, dia melompat cepat sambil mendorongkan sepasang telapak tangannya. Maka....

Blaggg.!

"Huakkkh.!"

Telak sekali sepasang telapak tangan Wirya Bajang mendarat di tubuh Ki Baginta. Akibatnya, Ketua Perguruan Bukit Kundul itu terjajar disertai muntahan darah segar dari mulutnya. Meski demikian, dia berusaha menahan kuda-kudanya agar jangan sampai terjatuh. Tapi malang. Sebelum laki-laki tua itu bersiap kembali, pukulan Wirya Bajang kembali datang menghantam dadanya

Bukkk!

Kali ini tubuh Ki Baginta terhempas deras, dan terbanting keras di tanah. Dan belum juga laki-laki tua itu bisa bangkit, telapak kaki Wirya Bajang telah mengakhiri hidupnya. Ketua Perguruan Bukit Kundul itu langsung tewas begitu batang lehernya patah diinjak Wirya Bajang!

Pada saat yang hampir bersamaan, Pasopati dan Gajah Mungkur juga mengakhiri nyawa lawan terakhirnya Kedua murid Perguruan Bukit Kundul yang tersisa telah tewas dengan kepala retak akibat tamparan keras tokoh sesat itu.

"Sekarang, tinggal mencari wanita-wanita cantik yang tentunya disimpan dalam perguruan itu..." Lagi-lagi Gajah Mungkur yang mengucapkan kalimat itu. Sepertinya dia sudah tidak sabar menyalurkan hajatnya. Mendekap tubuh molek, dan menyantapnya untuk mengisi perut.

Wirya Bajang dan Pasopati hanya terkekeh mendengar ucapan adiknya. Mereka kini bergerak memasuki perguruan yang sudah tidak terjaga lagi, karena semua murid Perguruan Bukit Kundul telah dibasmi dengan kejam, termasuk pimpinannya!

********************

EMPAT

Tak banyak orang yang berlalu lalang di desa ini. Hanya satu dua saja yang tampak. Bahkan tak terlihat sosok wanita. Namun keadaan yang demikian tidak membuat dua sosok yang tengah berjalan ini jadi bertanya-tanya. Dua sosok itu tampak memasuki sebuah kedai makan yang ramai pengunjungnya. Mereka adalah seorang pemuda tampan bertubuh sedang, mengenakan jubah panjang berwarna putih. Dan yang seorang lagi adalah seorang dara jelita berpakaian serba hijau. Kehadiran mereka tentu saja menjadi pusat perhatian, terutama sosok dara jelita berpakaian serba hijau.

Tidak satu lelaki pun di dalam kedai yang melewatkan kesempatan menatap wajah jelita itu penuh kekaguman. Sebagian lagi menatap disertai hasrat yang menggebu-gebu. Namun pandangan mata mereka serentak merunduk, ketika melihat gagang pedang yang menghiasi pinggang dara jelita itu. Senjata itu menandakan kalau gadis itu berasal dari kaum rimba persilatan. Maka, tentu saja mereka tidak berani main-main.

Beberapa pemuda yang berusia sekitar dua puluh atau dua puluh lima tahun, menatap penuh Iri kepada pemuda tampan berjubah putih yang kelihatannya sangat akrab. Mereka menduga kalau pemuda itu pasti suami, atau paling tidak kekasihnya.

"Beruntung sekali pemuda itu, entah bagaimana caranya dara jelita itu didapatkannya...," gumam seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun. Rupanya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa iri terhadap pemuda tampan berjubah putih itu. Tapi dia tidak bisa berbuat lain, kecuali hanya menatapi sosok dara jelita itu dari kejauhan.

Sedangkan sepasang anak muda itu menyadari kalau tengah menjadi pusat perhatian para pengunjung kedai. Namun, keduanya tetap melangkah tenang ke sebuah meja yang masih kosong. Kemudian, mereka duduk berdampingan dan memesan hidangan kepada pelayan yang datang menghampiri. Baru saja pelayan kedai pergi, seorang lelaki tua datang ke arah meja sepasang pemuda itu. Sengaja dia pindah dari mejanya untuk mendekati pemuda tampan dan dara jelita yang tidak begitu jauh dari tempat duduknya.

"Maaf, kalau aku mengganggu. Bolehkah aku bergabung dengan kalian...?" pinta lelaki tua yang berusia sekitar lima puluh tahun. Sikap dan nadanya terlihat sangat sopan.

"Tentu saja, Paman. Silakan...," sambut pemuda tampan berjubah putih itu setelah menatap wajah lelaki tua di hadapannya sejenak Kemudian, orang tua itu diberinya tempat untuk duduk bersama.

"Terima kasih...," ucap lelaki tua itu dengan wajah yang sopan dan wajar. Lelaki tua itu tampaknya ingin menyampaikan sesuatu kepada pasangan muda di depannya. Sementara, sepasang anak muda itu pun seolah telah mengerti, sehingga tetap bersikap menunggu.

"Maaf...," ujar lelaki tua itu setelah duduk dan memperhatikan orang-orang yang berada dalam kedai. "Bukannya aku menakut-nakuti. Tapi menurut pendapatku, terlalu berbahaya bagi wanita secantik Nisanak untuk berada di luar rumah dalam keadaan yang kacau seperti sekarang ini." Orang tua itu menghentikan ucapannya dan kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seolah, khawatir kalau ada orang yang memperhatikan.

"Mengapa, Paman...? Bukankah kami tidak berbuat kesalahan?" tanya pemuda tampan itu. Keningnya tampak agak berkerut, karena belum bisa menebak arah pembicaraan orang tua itu.

"Sebagai pedagang keliling, aku cukup tahu akan keadaan sekarang ini. Di mana-mana, banyak terjadi kejahatan. Bahkan kabarnya, penjahat-penjahat itu memiliki kesaktian tinggi dan mempunyai banyak pengikut. Tidak jarang gadis-gadis muda dan cantik diculik, tanpa peduli miskin atau kaya. Pembunuhan terjadi di mana-mana tanpa seorang pun yang mampu mencegahnya. Dan aku khawatir, kalau sampai Nisanak ini mengalaminya. Sekali lagi, aku mohon maaf. Aku hanya ingin mengingatkan, dan bukan menakut-nakuti. Harap jangan salah paham...," jelas lelaki tua yang mengaku sebagai pedagang keliling. Melihat dari raut wajah dan sikapnya, lelaki tua itu memang sekadar mengingatkan tanpa bermaksud menakut-nakuti, seperti yang ditekankannya berulang kali.

"Kejahatan memang tidak akan pernah habis, Paman. Di mana-mana selalu saja ada orang yang sengaja atau tidak, melakukan kejahatan. Tapi kami berdua yakin, akan selalu ada yang bersedia mengorbankan nyawa untuk memberantas kejahatan. Yang penting, kita harus selalu waspada dan jangan sampai terjerumus melakukan kejahatan...," timpal pemuda tampan itu.

Pemuda berjubah putih itu rupanya memiliki pengalaman cukup luas. Hanya saja, dia tidak merincinya satu persatu, karena membutuhkan waktu lama. Sehingga, dia hanya mengemukakan garis besarnya saja.

"Bukan itu maksudku, Anak Muda. Terus terang saja, kawanmu ini terlalu menarik bagi kaum lelaki. Sedangkan kejahatan yang kumaksudkan, terjadi sekarang ini. Itu yang kukhawatirkan...," bantah lelaki tua itu. Lagi-lagi pandang mata lelaki tua itu meraya pengunjung di ruangan ini dengan sikap penu curiga. Sehingga, dara jelita yang sejak tadi hanya mendengar, kini malah menatap tajam padanya.

"Paman," panggil dara jelita itu dengan suara lembut menyejukkan hati. "Coba jelaskan kejahatan yang Paman maksudkan? Kami memang baru tiba di desa ini, sehingga belum mengetahui peristiwa yang terjadi baru-baru ini"

"Apakah Paman melihat ada salah satu di antara mereka di dalam kedai ini...?" tanya pemuda tampan ini, ketika lelaki tua itu belum juga menjawab. Malah pandang matanya beredar dengan wajah agak cemas.

"Aku tidak tahu, Anak Muda. Yang jelas, mereka pasti berjumlah banyak. Dan, bisa saja kalau di antara para pengunjung kedai ada salah satu dari mereka. Kami, para pedagang keliling pernah menyaksikan perampok itu bertindak. Mereka rata-rata pandai silat dan sangat kejam. Untung saja nasibku dan dua kawanku masih dilindungi Tuhan. Saat para perampok datang, kami bersembunyi sambil membawa barang-barang dagangan. Ngeri sekali menyaksikan para perampok itu membunuhi penduduk desa tanpa perasaan. Bahkan membawa gadis-gadis muda, yang sudah pasti untuk kepuasan nafsu iblis yang merasuki tubuh mereka," tutur orang tua itu perlahan, takut kalau terdengar orang lain.

"Apakah perampokan dan penculikan itu sering terjadi, Paman?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu, agak menyelidik.

"Ya, begitulah. Tidak jarang dalam satu hari, ada dua atau tiga desa yang dijarah," sahut lelaki tua itu, masih dengan suara perlahan. Bahkan kali ini agak berbisik lirih.

"Hm.... Apakah tidak ada tokoh persilatan yang berusaha membasminya...?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu. Rupanya dia agak penasaran.

"Tentu saja ada. Tapi kebanyakan dari mereka telah tewas, meskipun sebelumnya berhasil mengusir perampok-perampok ganas itu. Kabarnya, tokoh-tokoh persilatan yang hendak menegakkan kebenaran itu tewas di tangan para pemimpin perampok. Bahkan banyak juga perguruan yang membubarkan murid-muridnya, karena tidak jarang didatangi oleh gembong penjahat. Mereka mengacau perguruan-perguruan, dari yang letaknya terpencil sampai yang ternama. Mungkin karena kesaktian gembong-gembong penjahat itulah, yang membuat orang-orang beraliran putih berpikir sepuluh kali untuk menumpas mereka. Makanya, aku harus menasihati kalian agar berhati-hati. Kalau sampai Nisanak terlihat oleh salah satu dari anggota mereka, celakalah kalian berdua" Lelaki tua itu menghentikan penjelasannya, tepat pada saat pelayan kedai datang membawa makanan dan minuman pesanan sepasang anak muda ini.

"Hm... Tadi Paman mengatakan, gerombolan itu pernah menjarah desa, saat Paman melewatkan malam di desa itu. Dapatkah kau tunjukkan, ke mana gerombolan itu pergi?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu hati-hati. Tampak sekali kalau semua cerita orang tua itu disimak baik-baik. Lelaki tua itu tampak berpikir sejenak Jelas dia tidak ingin memberikan jawaban asal jadi saja.

"Hm.... aku tidak tahu pasti. Tapi kalau tidak salah, mereka menuju ke arah barat, setelah menjarah desa itu. Kalau dari desa ini, kira-kira arahnya ke utara," jawab lelaki tua itu.

Pemuda tampan itu tampak mengangguk-angguk -eperti hendak menyimpan baik-baik keterangan pedagang keliling itu. Saat itu dua kawannya yang diceritakan barusan, telah memanggilnya dari ambang pintu kedai. Rupanya mereka hendak melanjutkan perjalanan untuk menjajakan barang dagangan.

"Maaf aku harus pergi. Pesanku, berhati-hatilah dan jangan lengah...," ujar orang tua itu seraya bergegas bangkit dari kursinya.

"Akan kuperhatikan, Paman. Dan, terima kasih...," sahut pemuda tampan berjubah putih itu sambil membalas anggukan kepala lelaki tua itu.

Sebentar kemudian, pedagang itu meninggalkan sepasang anak muda ini. Tubuhnya lalu menghilang, bersama dua orang kawannya yang menunggu.

"Kakang bermaksud menyelidiki gerombolan perampok yang diceritakan lelaki tua itu...?" tanya dara jelita berpakaian hijau seperti meminta kepastian kepada pemuda tampan di sebelahnya, setelah pedagang keliling tadi sudah tidak nampak lagi.

"Tentu saja, Kenanga. Dan rasanya, memang sudah menjadi tugas kita dalam kehidupan ini...," sahut pemuda tampan itu. Pemuda berjubah putih itu menatap gadis cantik yang dipanggil Kenanga. Melihat ciri-cirinya, dia sudah pasti Panji dan lebih dikenal sebagai Pendekar Naga Putih.

"Bagaimana kalau gerombolan itu hanya perampok biasa yang tidak mempunyai hubungan dengan tokoh tertentu...?" tanya Kenanga lagi, seperti masih meragukan cerita pedagang keliling tadi. Memang, bukan tidak mungkin kalau lelaki tua tadi telah membesar-besarkan kejadian yang sebenarnya. Dan biasanya, setiap peristiwa yang berasal dari mulut ke mulut selalu dibumbu-bumbui agar menjadi menarik.

"Biarpun begitu, kita tetap berkewajiban untuk menumpasnya. Kalau hal itu dibiarkan berlarut-larut, jelas akan mengganggu ketenangan orang banyak...," kilah Panji lagi, tenang.

"Lalu, mengapa kita Gdak segera berangkat ke utara? Aku pun ingin melihat sendiri, seberapa kehebatan gerombolan perampok yang diceritakan orang tua itu," ujar Kenanga lagi.

Tampaknya gadis itu merasa penasaran. Hendak dibuktikannya sendiri cerita-cerita pedagang keliling itu. Menurutnya, cerita orang tua tadi jelas menggambarkan keganasan serta kehebatan gerombolan perampok. Kalau saja orang lain yang mendengarnya, mungkin akan gentar. Tapi orang yang dinasihati pedagang keliling itu adalah Pendekar Naga Putih dan kekasihnya, Kenanga. Sepasang pendekar muda itu tentu saja tidak pernah merasa gentar dalam menghadapi penjahat atau tokoh sesat sesakti apapun.

"Baiklah. Kita berangkat setelah selesai mengisi perut yang keroncongan ini...," desah Panji.

Jawaban Pendekar Naga Putih membuat semangat dara jelita itu bangkit. Dan itu tampak sekali dari wajah Kenanga yang bersinar gembira dan mata berbinar-binar. Dia memang sangat menyukai petualangan-petualangan yang mendebarkan. Apalagi bersama pemuda pujaan hatinya. Tidak aneh kalau dia kelihatan ingin segera menghabiskan santapannya.

********************

"Kita langsung menuju ke utara, Kakang...?" tanya Kenanga ketika mereka tengah melintasi sebuah hutan kecil.

"Ya! Dan untuk mempercepat perjalanan, kita harus melewati tempat-tempat yang jarang dilalui orang. Sehingga, mungkin saja kita secara tak sengaja menemukan markas perampok yang biasanya terletak di daerah seperti itu," sahut Panji sambil tetap mengayunkan langkahnya menerabas semak perdu.

Namun, tiba-tiba saja pemuda tampan itu menghentikan langkahnya. Sedangkan Kenanga sedikit terkejut, dan juga segera berhenti. Dan gadis itu memang sudah sering melakukan perjalanan bersama kekasihnya. Maka segera saja bisa diduga, apa yang menyebabkan Panji berhenti mendadak. Indera pendengarannya segera dipasang tajam-tajam kalau kalau mendengar suara-suara yang mencurigakan.

"Kau dapat menangkap suara itu, Kenanga...?" tanya Panji ketika melihat kekasihnya tampak tengah memusatkan pendengarannya.

"Hhh.... Aku tidak menangkap suara apa-apa, Kakang...," sahut Kenanga agak kecewa.

"Ikuti aku. Sepertinya, ada pertempuran di sekitar daerah ini Mungkin agak jauh, karena terdengarnya samar-samar. Tapi aku yakin, suara yang kudengar itu teriakan dan dentingan senjata beradu...," jelas Panji. Dan tanpa menunggu lagi, langsung saja Pendekar Naga Putih berkelebat ke arah selatan hutan kecil itu.

Sementara, Kenanga yang melihat kekasihnya tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dalam berlari, segera saja dapat menjajarinya. Kedua pendekar muda itu bergerak ke arah selatan, seperti yang diinginkan Panji.

"Ahhh...?! Aku mulai dapat menangkap suara itu, Kakang. Jelas ada orang yang tengah bertempur di sekitar daerah ini. Mudah-mudahan saja gerombolan itulah yang diceritakan pedagang keliling tadi...," seru Kenanga, gembira.

"Hm.... Coba, bawalah aku ke tempat asal suara itu...," ujar Panji, sengaja hendak menguji ketajaman pendengaran kekasihnya.

"Baik...," sahut Kenanga, mantap dan penuh keyakinan. Jelas, dara jelita itu telah yakin akan ketajaman indera pendengarannya. Segera saja tubuhnya melesat ke arah kanan dengan kecepatan mengagumkan.

Sedangkan Panji bergerak mengikuti arah yang dituju kekasihnya. Diam-diam hatinya dihinggapi rasa bangga melihat kemajuan dara jelita itu. Latihan-latihan yang sering dilakukan dalam perjalanan, membuat kepandaian Kenanga telah meningkat pesat. Selain memiliki bakat yang cukup baik, latihannya pun sangat tekun. Terutama melatih ilmu-ilmu yang diajarkan kekasihnya. Tidak heran kalau kemajuannya kini cukup berarti.

"Itu dia, Kakang...!" desah Kenanga, gembira ketika melihat ada yang bertarung di depan.

Jarak mereka dengan pertarungan masih terpisah sekitar sepuluh tombak Namun, mereka terus bergerak mendekat dan bersembunyi di balik semak-semak..Panji dan Kenanga sama sekali belum memutuskan untuk bergerak, dan hanya menatap perkelahian untuk beberapa saat. Mereka hendak memastikan lebih dulu, pihak mana yang akan dibela. Kedua pendekar muda itu seperti telah sepakat untuk membantu dua wanita yang tengah dikeroyok belasan lelaki kasar berpakaian serba hitam. Dan Kenanga telah lebih dulu berkelebat ke arena pertempuran.

"Jangan khawatir. Sahabat! Aku datang membantu kalian! Mari kita gempur pengacau-pengacau kurang ajar ini...!" seru Kenanga.

Kenanga sudah bisa menduga kalau belasan lelaki itu adalah golongan sesat. Dari cara mereka bertarung melawan kedua wanita itu sudah memperlihatkan sikap-sikap yang tidak sopan. Selain kata-kata kotor yang sesekali terlontar, serangan-serangan balasan orang itu pun selalu tertuju ke arah dada yang membusung indah. Dan perbuatan itu tentunya hanya dilakukan oleh orang-orang golongansesat.

Dua wanita cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun dan tiga puluh tahun itu memandang Kenanga dengan penuh rasa terima kasih. Apalagi, saat itu mereka memang sudah kewalahan menghadapi tekanan para pengeroyoknya. Terutama dua pengeroyok yang kepandaiannya tampak lebih tinggi dari pengeroyok lainnya. Tentu saja datangnya bantuan membuat mereka lega, begitu menyaksikan dara jelita berpakaian hijau itu langsung dapat menghempaskan seorang pengeroyok.

Rasa syukur kedua wanita yang sama-sama berwajah cantik dan manis itu semakin bertambah, ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih melayang turun dan ikut membantu. Sepak terjang pemuda yang seketika langsung merobohkan dua pengeroyok, membuat kedua wanita itu memandang kagum. Keduanya merasa yakin akan selamat karena pertolongan sepasang tokoh muda yang sakti itu.

"Lari...!" Salah satu lelaki yang merupakan pimpinan belasan orang berpakaian serba hitam itu segera memberi perintah mundur. Rupanya, dia sadar kalau sepasang pendekar muda yang baru tiba ini tidak mungkin dapat dilawan.

Melihat lawan-lawannya berlarian mundur. Kenanga dan Panji sama sekali tidak berusaha mengejar. Mereka hanya menatap kepergian orang-orang berpakaian serba hitam itu dengan senyuman.

"Sahabat-sahabat yang gagah, tolong jangan biarkan orang-orang jahat itu pergi! Mereka telah banyak menyusahkan kami! Habisi saja mereka!" pinta wanita yang usianya lebih tua. Jelas sekali kalau dia tidak ingin melihat orang-orang jahat itu selamat

"Hm.... Baiklah. Tunggu di sini, dan jaga mereka, Kenanga...!" ujar Panji. Langsung Pendekar Naga Putih kini telah berubah menjadi sosok bayangan putih, sebelum gema suaranya lenyap. Tentu saja gerakannya yang bagaikan sambaran kilat itu membuat semua orang yang ada di situ semakin terkagum-kagum.

Tidak sulit bagi Panji untuk dapat menyusul ketiga belas lawan-lawannya. Dalam beberapa saat saja, Pendekar Naga Putih telah berhasil menyusul belasan lelaki berpakaian serba hitam itu. Dalam jarak dua tombak lagi, tiba-tiba Panji menghentakkan kedua kakinya ke tanah. Seketika itu juga, tubuhnya melayang di atas kepala orang-orang itu dan mendarat ringan di hadapan mereka. Belasan lelaki itu kontan jadi terkejut melihatnya.

"Keparat! Rupanya kau benar-benar mencari mati...!" geram laki-laki tinggi kurus yang berlari paling depan. Dengan kemarahan yang menggelegak, laki-laki itu langsung saja menerjang sosok pemuda tampan berjubah putih yang tengah berdiri menghadang jalan.

"Haaat...!"

Bettt!

Sambaran pedang lelaki tinggi kurus itu meluncur mengancam tubuh Panji. Namun Pendekar Naga Putih sama sekali tidak berusaha menggeser tubuhnya. Tangan kanannya hanya diulurkan, menyambut datangnya sambaran mata pedang lawan.

Tappp!

"Aihhh...?!" Bukan main terkejutnya hari lelaki tinggi kurus itu ketika menyaksikan mata pedangnya terjepit jari-jari tangan Pendekar Naga Putih. Tentu saja hal yang sangat mustahil ini membuatnya hampir tidak percaya.

"Hm.... Pedang tumpul dan tua ini seharusnya tidak digunakan untuk menyerangku, Kisanak...," ujar Panji dengan suara tetap tenang.

Kelihatannya Pendekar Naga Putih sama sekali tidak mengerahkan tenaga sedikit pun untuk menjepit pedang lawan. Padahal, lelaki tinggi kurus itu tengah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan senjatanya. Bahkan, tubuh lelaki kurus itu tampak telah mengeluarkan peluh yang membasahi pakaian. Jelas, seluruh tenaganya telah dikerahkan untuk melepaskan senjatanya.

Takkk!

"Aiii...?!" Tiba-tiba terdengar suara keras. Bahkan pedang itu pun langsung patah menjadi dua bagian ketika Panji menekukkan jari tangannya. Akibatnya, tubuh lelaki tinggi kurus itu terpelanting ke belakang, karena pada saat yang bersamaan, pedangnya tengah berusaha disentakkan dengan sisa-sisa tenaga.

Brukkk!

Terdengar suara berdebum keras ketika sosok tinggi kurus itu terbanting ke tanah. Seketika beberapa orang kawannya berlarian dan bergegas membantunya bangkit. Sedang sebagian lagi langsung menerjang Panji dengan pedang di tangan.

Panji hanya bergumam perlahan ketika tujuh batang pedang itu berdesingan datang mengancam tubuhnya. Tapi yang terjadi kemudian, membuat para pengeroyok menjadi tak mengerti. Ternyata sebelum serangan mengenai sasaran, pedang-pedang itu seketika menyentak balik. Akibatnya, para penyerang itu kontan terpelanting ke kiri dan karian. Sungguh tidak diketahui kalau pemuda itu telah menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menolak serangan.

"Ilmu iblis...!" desis lelaki tinggi kurus itu. Rupanya dia sempat melihat kejadian yang menimpa kawan-kawannya. Kini, disadari betul untuk mengalahkan pemuda tampan berjubah putih itu memang merupakan hal mustahil. Maka diputuskannya untuk diam menanti apa yang hendak dilakukan pemuda itu terhadapnya.

LIMA

Melihat gerombolan laki-laki berpakaian hitam itu hanya berdiam diri dan menatapnya dengan wajah tegang, Panji perlahan-lahan melangkah maju. Sepertinya mereka sengaja hendak digiring ke tempat semula. Ketika langkah Pendekar Naga Putih mendekati jarak setengah tombak, tiba-tiba saja pimpinan gerombolan itu mencabut tiga bilah pisau pendek yang langsung dilemparkannya. Dan tentu saja arahnya menuju Pendekar Naga Putih!

"Manusia licik...!" geram Panji, menjadi jengkel melihat kenekatan lawannya. Pendekar Naga Putih menggeram perlahan. Kemudian, lengan kanannya dikibaskan saat tiga bilah pisau itu sudah mendekati tubuhnya.

"Aaa...!" Lelaki tinggi kurus itu menjerit ngeri ketika tiga pisau terbang yang dilepaskannya, membalik menyerang dirinya. Dengan kecepatan tiga kali lipat, pisau-pisau itu langsung menancap di kening, leher, serta dada kirinya. Tanpa ampun lagi, lelaki tinggi kurus itu pun ambruk ke tanah dengan napas putus!

"Ada lagi yang hendak menyusul pimpinan kalian...?" tantang Panji tegas dan dengan sorot mata tajam. Ketika menunggu beberapa saat tidak ada yang menjawab, Panji memerintahkan kepada lawan-lawannya itu untuk kembali ke tempat semula. Kedua belas laki-laki itu sepertinya masih ragu untuk melaksanakan perintah Panji. Mereka berpandangan satu sama lain, seolah saling meminta pendapat.

"Hukuman dari ketua kita akan lebih mengerikan lagi. Lebih baik mati di tangannya, daripada menerima siksaan yang belum pernah terbayangkan di kepala kita...," desis salah seorang anggota gerombolan, meski dengan wajah pucat dan suara gemetar. Begitu ucapannya selesai, orang itu langsung menerjang maju dengan sambaran pedangnya.

"Haaat...!"

Panji sempat tertegun ketika mendengar ucapan orang yang menyerangnya. Pemuda berjubah putih itu menjadi agak jengkel melihat kebandelan lawan-lawannya. Maka, langsung dilancarkannya pukulan jarak jauh yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Debbb!

"Aaakh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh penyerang itu pun terpental balik akibat pukulan yang dilancarkan Pendekar Naga Putih. Tubuhnya terhempas jatuh dan tewas seketika dengan kulit membiru. Tampak lapisan kabut tipis berhawa dingin menyelimuti mayat laki-laki itu.

"Silakan, kalau kalian menginginkan kematian seperti kawanmu ini...," kata Panji seraya menatapi wajah-wajah pucat di depannya dengan sorot mata tajam menikam jantung.

Tapi sebelas orang sisa gerombolan itu rupanya sudah telanjur dipengaruhi ucapan kawannya barusan. Meskipun penuh keraguan, mereka bergerak menerjang Pendekar Naga Putih. Jelas, bayangan hukuman yang telah menunggu lebih membuat gentar mereka. Sehingga, sisa gerombolan itu lebih memilih mati di tangan Panji.

"Hebat! Entah siapa yang menjadi pimpinan gerombolan ini, sehingga mereka lebih suka mati di tanganku...?" gumam Panji yang terpaksa melayani serangan lawan-lawannya. Setelah kehilangan pimpinannya, tampaknya mereka lebih suka mati ketimbang dibebaskan. Maka sudah bisa diterka, bagaimana akhir pertarungan itu. itu.

"Mereka semua lebih memilih mati di tanganku...," desah Panji, disertai helaan napas panjang, penuh penyesalan.

"Kau tidak pedu menyesali tindakanmu, Kisanak. Mereka adalah orang-orang golongan hitam yang menamakan dirinya sebagai Gerombolan Kelelawar Hitam. Ketuanya yang berjuluk Iblis Mata Satu memang sangat kejam. Orang-orang itu ditugaskan untuk menangkap kami berdua dalam keadaan hidup. Kalau tidak, mereka akan dihukum secara mengerikan...," jelas wanita yang usianya lebih tua. Sambil menjelaskan, matanya tak henti-hentinya mengagumi ketampanan serta kegagahan Panji. Mendapat tatapan seperti itu, tentu saja membuat Panji menjadi agak risih.

"Hm.... Apa yang membuat kalian bermusuhan dengan Gerombolan Kelelawar Hitam?" tanya Panji. Pertanyaan itu dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian wanita yang baru saja menjelaskan duduk perkaranya. Selain itu, dia pun ingin mencari tahu penyebab kedua wanita itu dikeroyok.

Untuk sesaat lamanya, kedua wanita itu saling bertukar pandangan. Setelah melihat kawannya mengangguk, kemudian yang tertua menghela napas panjang. Sepertinya persoalan itu diserahkan kepadanya.

Kedua sosok wanita yang mengaku bernama Rinjani dan Sumarti seperti hendak menceritakan kisah perjalanan mereka, hingga bertemu sepasang pendekar muda itu.

"Kami berdua adalah murid Perguruan Tinju Berantai yang tersisa. Saat Gerombolan Kelelawar Hitam menyerbu perguruan, kami berdua terpaksa melarikan diri atas perintah guru. Karena menurutnya, gerombolan itu sukar dilawan. Dengan sangat terpaksa, kami melarikan diri saat pertempuran berkobar. Dan yang terjadi selanjutnya, kami tidak tahu," jelas Rinjani dengan suara parau.

Rupanya ingatan akan kehancuran perguruannya membuat wanita berusia sekitar tiga puluh tahun itu, tidak mampu menahan kesedihan yang selama ini terpendam di hati. Merasa diberi kesempatan untuk menumpahkan isi hatinya yang mengandung dendam dan penasaran, Rinjani tidak bisa menahan air matanya. Isaknya terdengar tertahan dengan bahu berguncang-guncang. Dan hal ini membuat Panji dan Kenanga menjadi iba dan ikut merasakan penderitaan wanita cantik itu.

Sumarti, wanita yang berusia lebih muda, juga tidak bisa menahan kesedihan hatinya. Gadis manis itu merunduk, menyembunyikan air mata yang membasahi wajahnya.

"Tapi..., bagaimana Iblis Mata Satu sampai mengetahui tentang kalian? Apakah kalian berdua sempat terlihat sebelum meninggalkan kancah pertempuran...?" tanya Kenanga setelah tangis kedua orang wanita itu mulai lenyap.

Kenanga dan Panji sama sekali tidak berusaha menghentikan tangis kedua wanita malang itu. Mereka tahu, tangis bisa membuat dada yang sesak menjadi terasa lapang. Dan hal itu dirasakan Rinjani dan Sumarti. Mereka merasa agak lega setelah mengeluarkan segala derita yang selama ini terpendam.

"Iblis Mata Satu memang belum pernah melihat kami berdua. Tapi, mana mungkin hati ini bisa tenteram sebelum mengetahui pasti, apa yang telah terjadi terhadap guru dan saudara-saudara seperguruan kami...?" sahut Rinjani agak parau setelah menghentikan tangisannya.

"Hm.... Pasti kalian berdua telah nekat menyatroni rumah perguruan yang telah dikuasai Gerombolan Kelelawar Hitam! Lalu kalian kepergok dan melarikan diri hingga dikejar mereka. Begitu maksudmu...?" ujar Panji, seperti sudah bisa menebak arah dari Hsah dua murid Perguruan Tinju Berantai itu

"Benar...," sahut Rinjani singkat

"Sudahlah, jangan terlalu bersedih. Sekarang, kalian telah selamat. Dan kami berdua berjanji akan membantu kalian mendapatkan kembali perguruan ttu," tandas Panji yang juga disetujui Kenanga.

Mendengar janji itu, wajah Rinjani dan Sumarti menjadi cerah. "Benarkah kalian berdua bersedia membantu kami...?" tanya Rinjani seperti belum mempercayai pendengarannya. Bias-bias harapan tampak terpancar pada wajah mereka berdua. Apalagi ketika melihat Kenanga dan Panji tersenyum pasti.

"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong- menolong. Lalu mengapa kalian merasa ragu?" tegas Kenanga seraya tersenyum manis kepada Rinjani dan Sumarti.

Saat itu Kenanga merasa betapa dirinya jauh lebih beruntung ketimbang dua wanita Itu. Dia masih memiliki Panji yang menyayangi sepenuh hati. Bahkan selalu melindungi dengan segenap jiwa raga. Teringat akan hal itu, Kenanga tertunduk haru dan bahagia.

"Bukan aku tidak percaya. Tapi, selama ini telah banyak kaum pendekar yang tewas di tangan pimpinan Gerombolan Kelelawar Hitam. Dan..., aku takut kalau kalian berdua menjadi korban hanya karena ingin membela kami. Hhh.... Kalau saja kami dapat menemukan Pendekar Naga Putih...," desah Rinjani, menggantung dengan sepasang mata menerawang jauh. Kelihatan sekali kalau wanita itu sangat mengharapkan untuk dapat berjumpa Pendekar Naga Putih. Sepertinya, Rinjani sangat yakin kalau hanya pendekar muda itulah yang mampu membantunya.

"Eh...?!"

"Eh...?!"

Teringat akan pendekar muda yang telah mengguncangkan rimba persilatan itu, Rinjani tiba-tiba menoleh cepat ke arah Panji. Ingatannya kepada Pendekar Naga Putih membuatnya baru menyadari sosok pemuda berjubah putih itu. Dengan dada berdebar, ditatapnya sosok Panji dari atas ke bawah.

Kenanga yang melihat besarnya harapan Rinjani untuk bertemu Pendekar Naga Putih, menahan kata-kata yang hampir meluncur dari mulutnya. Tampak Rinjani tengah mengawasi Panji penuh selidik. Tahulah Kenanga, rupanya Rinjani telah mendapat gambaran tentang ciri-ciri Pendekar Naga Putih.

"Kau.... Siapakah kau sebenarnya, Kisanak...?" Akhirnya, meski terdengar bergetar, meluncur juga ucapan itu dari mulut Rinjani

"Menurutmu, siapakah tunanganku ini, Rinjani? Terka-lah...?" selak Kenanga tiba-tiba, sebelum Panji menjawab pertanyaan wanita cantik yang kelihatan sangat tegang itu.

"Mungkinkah..., kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" desah Rinjani. Tampaknya dia kesukaran untuk mengeluarkan setiap perkataan, karena harinya sudah lebih dulu dilanda ketegangan yang berbaur harapan.

"Menurutmu, apakah Kakang Panji patut menyandang julukan itu?" timpal Kenanga, masih juga belum hendak memberikan jawaban pasti kepada Rinjani.

"Ohhh..." Rinjani sepertinya tidak ragu-ragu lagi ketika mendengar ucapan Kenanga. Maka langsung saja dirinya dijatuhkan untuk memeluk kedua kaki Panji. Semuanya dilakukan tanpa sadar. Wanita itu benar-benar tidak menduga kalau akan dapat berjumpa pendekar muda yang sangat dikaguminya itu.

"Ah. Bangkitlah, Rinjani! Kau membuatku malu," ujar Panji. Sungguh sama sekali tidak diduga kalau Rinjani akan berbuat demikian. Lalu, diangkatnya tubuh wanita cantik itu.

"Pendekar Naga Putih..., Pendekar Naga Putih...," rintih Rinjani.

Kelihatannya, wanita ini sangat terguncang oleh pertemuan tak terduga itu. Bahkan sampai jatuh pingsan, karena tidak sanggup menahan luapan kegembiraan dan kebahagiaan dalam hatinya. Tentu saja kejadian tak terduga itu, membuat semuanya menjadi terkejut Sehingga untuk beberapa saat mereka terdiam dan masih terkesima.

"Nampaknya, beban batin yang ditanggung kakak seperguruanmu ini sangat berat, Sumarti...," desah Panji memecah keheningan.

"Maafkan atas kelemahan kakak seperguruanku, Pendekar Naga Putih. Sejak guru kami bercerita tentang dirimu, sikap Rinjani langsung berubah. Dia seringkaii membicarakan tentang dirimu kepadaku. Dan keinginannya sangat besar untuk dapat berjumpa denganmu. Bahkan keinginan itu sudah terpendam selama hampir tiga tahun. Mungkiri semua itulah yang membuatnya tidak bisa menahan luapan perasaannya, ketika tahu tentang dirimu yang sebenarnya, Kakang Panji...," jelas Sumarti panjang lebar.

Panji dan Kenanga sama-sama merasa maklum. "Hm.... Kalau begitu, kita tunggu saja sampai dia siuman sendiri. Setelah itu, baru kita bergerak untuk mencari tahu nasib saudara-saudara seperguruanmu yang lain."

Sumarti menatap wajah Pendekar Naga Putih secara sembunyi-sembunyi. Wanita yang satu ini memang agak pemalu, dan tidak pernah membuka rahasia hatinya kepada siapa pun. Termasuk, kepada kakak seperguruannya sendiri. Seperti halnya Rinjani, Sumarti pun diam-diam menyimpan kekaguman terhadap Pendekar Naga Putih. Hal itu juga dirasakan setelah mendengar sepak-terjang pemuda gagah itu dari gurunya.

Sumarti menyimpan perasaannya rapat-rapat, ketika mengetahui kalau kakak seperguruannya juga menyimpan perasaan serupa. Dan kalau dicobanya membunuh perasaan yang semakin berkembang, karena tidak ingin bersaing dengan kakak seperguruannya. Apalagi, setelah kini mengetahui kalau Pendekar Naga Putih ternyata telah bertunangan dengan seorang wanita yang memiliki kelebihan, baik dalam hal kepandaian maupun kecantikan. Bahkan hatinya merasa bahagia ketika mengetahui betapa mulianya hati tunangan pendekar muda itu. Maka, Sumarti pun berjanji kepada dirinya, untuk menyimpan perasaan hatinya rapat-rapat

"Sumarti.... Kau kenapa...?"

Tiba-tiba saja Sumarti melompat bangkit bagaikan disengat kalajengking, begitu mendengar suara teguran. Dihelanya napas dengan wajah berubah merah, ketika mengetahui kalau yang menyentuh bahunya adalah Kenanga.

"Kau membuatku terkejut, Kenanga...," desah Sumarti menyembunyikan wajahnya yang kemerahan.

"Apa yang kau pikirkan, sampai-sampai tidak mendengar teguranku? Padahal, aku sudah tiga kali memanggll- manggilmu...," tanya Kenanga dengan pandangan menyelidik.

"Hhh.... Mungkin aku hanya merasa tegang, mengingat akan berhadapan dengan Iblis Mata Satu nanti...," sahut wanita itu berbohong. Tentu saja Sumarti tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada dara jelita itu.

Kenanga sepertinya mempercayai jawaban Sumarti. Buktinya, dia tidak terlalu mendesak dengan pertanyaan berikutnya. "Lapangkanlah pikiranmu, Sumarti. Percayalah! Kebenaran selalu berada di atas kebathilan...," hibur Kenanga.

Sesaat kemudian, keduanya kembali membisu. Mereka menunggu Rinjani siuman. Jika Rinjani sudah siuman, mereka akan bergerak mendatangi Perguruan Tinju Berantai yang telah dikuasai Gerombolan Kelelawar Hitam.

********************

ENAM

Matahari semakin bergeser ke barat. Sinarnya terlihat mulai redup. Panasnya tidak lagi terasa menyengat seperti tadi. Angin menjelang sore itu, bertiup silir-silir lembut menyejukkan. Namun, sesekali bertiup keras menerbangkan daun-daun kering

Saat itu, Panji bersama Kenanga, Rinjani, dan Sumarti bergerak menuju Perguruan Tinju Berantai. Mereka kini telah mengatur rencana bersama-sama, setelah mendapat penjelasan dari Rinjani tentang letak bangunan perguruan. Perjalanan menuju tempat itu memang tidak memakan waktu lama. sebelum senja, mereka telah tiba, tidak jauh dari tempat tujuan.

Tiba-tiba Panji menghentikan langkahnya, seraya memandang Kenanga dengan kening berkerut. Tampak sekali, kalau pemuda itu tengah memikirkan sesuatu. Kemudian, kepalanya menoleh ke arah Rinjani,

"Rinjani! Kau mengatakan, pimpinan Gerombolan Kelelawar Hitam itu berjuluk Iblis Mata Satu. Apakah kau tidak salah...?" tanya Panji.

Rinjani terdiam sesaat. "Aku tidak mungkin salah mengenali orang, Kakang. Hm.... Sepertinya ada sesuatu yang Kakang pikirkan?" sahut Rinjani.

"Melihat dari cara belasan orang yang mengeroyok kalian berdua, sepertinya mereka tidak bermaksud membunuh. Kemungkinan, mereka hanya ingin menawan kalian berdua. Apakah kalian tahu, apa sebabnya?" tanya Panji lagi. Pertanyaan itu membuat Rinjani, Sumarti, dan Juga Kenanga menatap pemuda itu dengan wajah penuh tanda-tanya.

"Tentu saja mereka ingin menangkap kami hidup-hidup. Dan, kami lebih baik mati daripada harus menjadi permainan mereka...," sahut Rinjani. Wanita itu jelas tahu maksud Iblis Mata Satu yang hendak menangkapnya hidup-hidup bersama adik seperguruannya.

"Hm.... Apakah kau tahu tentang gerombolan yang tengah mengganas, dan suka menculik gadis-gadis muda...?" tanya Panji lagi.

Pertanyaan ini membuat ketiga wanita itu semakin heran. Dan ketika Kenanga hendak bertanya, Panji mengangkat tangannya mencegah. Sepertinya, ingin didengarnya jawaban Rinjani lebih dulu.

"Ya! Sudah pasti yang melakukan adalah Gerombolan Kelelawar Hitam. Dan aku tidak pernah mendengar adanya gerombolan lain yang begitu berani mengacau perguruan- perguruan, tanpa gentar dengan kemarahan kaum pendekar," jawab Rinjani pasti.

Panji lalu mengangguk puas, kemudian baru menoleh ke arah Kenanga. "Kenanga. Apa kau tahu, siapa Iblis Mata Satu itu? Dan, dari mana asalnya...?" tanya Panji.

Kenanga mengerutkan keningnya, mencoba mengingat- ingat. "Iblis Mata Satu...," ulang Kenanga berdesah perlahan, seolah mulai mengerti arah pertanyaan kekasihnya. "Ah! Aku ingat sekarang, Kakang. Tokoh itu berasal dari Pantai Utara. Dan..., dia tidak suka wanita, sampai-sampai para pengikutnya tidak pernah menikah seumur hidup."

"Persis!" sentak Panji, dengan wajah berseri. "Nah! Kalau orang yang tidak suka wanita, lalu melakukan penculikan terhadap gadis-gadis muda, apakah itu bukan hal aneh?"

Rinjani dan Sumarti menjadi bingung. Karena mereka berdua memang jarang melakukan pengembaraan, sehingga tidak banyak mengenal tokoh-tokoh rimba persilatan.

"Lalu, untuk apa gadis-gadis muda yang diculik itu? Mungkinkah hendak dipersembahkan untuk orang lain...?" gumam Rinjani, seraya menatap Kenanga dan Panji berganti-ganti. Jelas, dia merasa bingung sekali.

"Justru itulah yang hendak kuketahui. Dan bukan musahil kalau dugaanmu benar, Rinjani. Setahuku, kepandaian Iblis Mata Satu memang sangat sakti. Tapi, rasanya dia belum gila dengan perbuatannya yang membangkitkan kemarahan kaum pendekar. Jadi kemungkinan besar, ada orang lain di belakang tokoh sesat itu. Ini lebih berbahaya. Kalau sampai tokoh seperti Iblis Mata Satu mau merendah diri, sudah pasti kepandaian tokoh yang jadi pelindungnya sangat tinggi....," kata Panji menduga-duga.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kakang? Apakah rencana yang telah tersusun rapi harus dibatalkan...?" tanya Kenanga. Kepala gadis itu menjadi pening menghadapi persoalan berbelit-belit ini.

"Terpaksa harus dirubah. Kalau disetujui, aku ingin mengajukan dirimu sebagai pancingan. Kemudian, kita lihat apa yang akan diperbuat Iblis Mata Satu terhadap dirimu. Kalau memang dia bekerja untuk tokoh lain, kau pasti akan dikirimkan kepada junjungannya itu. Dengan demikian, kita akan segera tahu tokoh di belakang Iblis Mata Satu itu...," jelas Panji sambil menatap Kenanga. Seolah, dia meminta pendapat pada dara jelita itu mengenai usul yang diajukannya.

Tapi..., bagaimana kalau mereka menggunakan racun untuk membiusku, Kakang? Tentu aku tidak berdaya. Dan..., aku ngeri membayangkannya, Kakang...," sergah Kenanga. Gadis itu jadi bergidik, membayangkan dirinya dipermainkan orang- orang kasar, tanpa mampu melakukan perlawanan.

"Aku berjanji akan selalu melindungimu,! Kenanga. Dan mudah-mudahan rencana ini berjalan sesuai yang diinginkan...," desak Panji.

Rupanya Panji tetap menginginkan kekasihnya untuk dijadikan umpan. Pendekar Naga Putih yakin, hanya Kenanga yang mampu melakukannya. Kalau Rinjani atau Sumarti sebagai pancingan, terlalu besar bahaya yang harus ditanggung Apalagi kepandaian kedua wanita itu masih di bawah Kenanga.

"Boleh aku mengajukan syarat, Kakang..?" tanya Kenanga. Rupanya, gadis itu tahu alasan Panji memilihnya. Makanya, dia bertanya dengan sinar mata lain dari biasanya.

"Ah! Kau ini aneh-aneh saja. Kenanga. Tapi coba katakan, apa syarat yang hendak kau ajukan...?" tanya Panji hendak mengetahui syarat yang dikehendaki kekasihnya.

"Yang kukhawatirkan, hanyalah soal racun yang mungkin akan dilolohkan ke mulutku. Dan satu-satunya yang mampu mencegahnya, hanyalah Pedang Naga Langit. Bagaimana kalau senjata itu kau pinjamkan kepadaku, sebagaimana kau menyimpannya," jelas Kenanga.

Tentu saja permintaan dara jelita itu membuat Rinjani dan Sumarti mencari-cari pedang yang dimaksud Kenanga. Keduanya semakin heran ketika melihat Panji tidak membawa pedang.

"Tentu aku setuju, Kenanga. Masalahnya, apakah aku bisa menyimpannya dalam dirimu...," sahut Panji.

Tentu saja Pendekar Naga Putih menjadi bingung, setelah mendengar permintaan kekasihnya. Bukannya merasa keberatan, tapi Panji benar-benar tidak tahu bagaimana cara memindahkan Pedang Naga Langit ke tubuh kekasihnya. Dan dia pun tidak tahu, apakah pedang keramat itu juga akan berubah menjadi tenaga dalam tubuh Kenanga.

"Kita coba saja, Kakang. Tidak ada salahnya, bukan? Selain itu, pengetahuanmu tentu akan bertambah...," desak Kenanga, sehingga membuat Panji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Baiklah. Aku akan mencobanya. Mari kita cari tempat yang aman dan terlindung," ajak Panji. Pendekar Naga Putih segera melangkah mencari tempat yang dimaksudkannya.

Sedangkan, Kenanga, Rinjani, dan Sumarti mengikuti dari belakang. Kedua wanita murid Perguruan Tinju Berantai Itu merasa penasaran sekali. Mereka ingin tahu, bagaimana bentuk pedang keramat yang sanggup menolak segala jenis racun itu. Mereka juga ingin tahu, di mana pemuda itu menyimpan senjatanya. Sampai lelah mencari, mereka berdua tidak berhasil menemukannya.

Setelah menemukan tempat yang cocok, Panji menghentikan langkahnya. Dimintanya agar Rinjani dan Sumarti agak menjauh. Kini Pendekar Naga Putih menyilangkan kedua lengannya dengan telapak melekat ke dada. Kemudian, terdengar bentakannya yang menggetarkan jantung. Dan begitu sepasang lengannya dijulurkan ke atas, muncullah sinar kuning keemasan yang kemudian membentuk sebatang pedang

"Luar biasa...!" pelak lirih Rinjani dan Sumarti hampir bersamaan.

Kalau saja tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, belum tentu mereka akan percaya. Tapi kejadian itu jelas terlihat di depan mata. Dan, bukan merupakan bayangan semu, sebagaimana halnya ilmu sihir. Kini barulah jelas bagaimana cara Pendekar Naga Putih menyimpan senjatanya.

"Pantas saja aku tidak bisa menemukan pedang itu. Ternyata, Pendekar Naga Putih menyimpannya di dalam tubuh. Benar-benar sukar dipercaya...!" desis Sumarti. Dia tentu saja semakin bertambah kagum terhadap kesaktian pendekar muda itu. Dengan demikian, keyakinannya pun semakin bertambah kalau Pendekar Naga Putih pasti akan dapat menolong mereka.

"Bersiaplah, Kenanga! Kosongkan pikiranmu. Jangan sekali-kali mengerahkan tenaga untuk melawan, apa pun yang kau rasakan nanti," ujar Panji, memperingatkan kekasihnya kalau akan segera memulai penyatuan itu

"Aku sudah siap, Kakang...," sahut Kenanga, segera memejamkan matanya dan mengosongkan pikiran.

Setelah mendengar ucapan kekasihnya, Panji segera menghubungkan tenaga batinnya dengan Pedang Naga Langit. Dan memang, pedang keramat itu pada dasarnya adalah seekor naga raksasa.

"Naga Langit! Jika kau memang benar jodohku dan dapat menyatu dengan tubuhku, kau pun harus dapat menyatu dengan tubuh kekasihku. Meski, untuk sementara waktu...," bisik batin Panji.

Kemudian, pemuda berjubah putih itu kembali menjulurkan kedua lengannya ke arah pedang keramat yang melayang di udara. Lalu, pedang itu dituntunnya hingga tepat berada di atas kepala Kenanga. Perlahan lahan, lengan pemuda itu turun seiring turunnya Pedang Naga Langit.

"Ahhh...?!"

Rinjani dan Sumarti menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan jeritan takjubnya. Mata mereka juga terbelalak lebar ketika menyaksikan badan pedang itu lenyap perlahan-lahan saat menyentuh kepala Kenanga. Benar-benar mengagumkan. Pedang keramat itu dapat menyatu ke dalam tubuh Kenanga!

Ketika seluruh bagian pedang telah lenyap ke dalam tubuh Kenanga, Panji menarik kedua lengannya perlahan-lahan. Kemudian, disilangkannya di depan dada. Pendekar Naga Putih kelihatan agak lelah, karena harus mengerahkan banyak tenaga. Memang, apa yang dilakukannya bukanlah pekerjaan mudah.

"Apa yang kau rasakan, Kenanga...?" tanya Panji ketika melihat kekasihnya sudah membuka mata.

Wajah jelita bagai bidadari itu, menyunggingkan senyum lembut yang manis bagai madu. "Tidak terlalu mengejutkan, Kakang. Rasanya seperti aliran tenaga sakti yang dipindahkan orang lain ke dalam tubuh kita. Nah! Sekarang, aku tidak ragu lagi melakukan tugas yang kau berikan, Kakang," sahut dara jelita itu lantang dan tampak sangat gembira.

"Jangan terburu nafsu dulu. Kenanga! Kita belum mencoba, apakah pedang yang tersimpan di dalam tubuhmu dapat bekerja, seperti bila berada di dalam tubuhku. Sekarang harus dibuktikan. Kerahkanlah hawa murnimu dan alirkan ke kedua lengan! Kemudian, baru ke seluruh tubuh...," ujar Panji, memberi petunjuk Kenanga langsung menurut. Dan....

"Hebat...!" puji Panji. Pendekar Naga Putih sampai mengeluarkan pujian penuh kekaguman. Selama ini Pendekar Naga Putih hanya merasakannya' saja dan melihat dari tubuhnya sendiri. Dan ketika menyaksikan tubuh Kenanga terlapis sinar kuning keemasan, barulah hatinya merasa takjub. Padahal, apa yang disaksikannya sudah sering dilakukan.

Kenanga tampak gembira sekali setelah merasakan apa yang selama ini hanya dilihatnya. Bahkan gadis itu sampai terlonjak, karena teramat gembiranya. Dan Panji harus mengingatkan kekasihnya untuk menarik kembali kekuatan ajaib itu, karena udara yang ditimbulkannya terasa panas. Bahkan mampu membuat 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' dalam tubuh Panji bergolak.

Rinjani dan Sumarti yang berdiri dalam jarak lima tombak lebih, tak urung terkena juga pengaruh hawa panas itu. Meski tidak sampai menyengat kulit dan membahayakan tubuh, namun peluh mereka mengalir deras akibat udara pengap yang terhirup.

Mendengar seruan Panji, Kenanga segera menarik tenaga ajaib itu. Sebentar saja, sinar kuning keemasan itu lenyap tanpa bekas.

"Nah! Kalau sekarang kau sudah siap, pergilah. Tantanglah Iblis Mata Satu! Sebut segala kejahatan yang selama ini dilakukannya! Yang jelas, kau harus bersikap sebagal sosok pendekar wanita yang hendak membasmi kejahatan...," ujar Panji, memberi petunjuk.

"Aku paham, Kakang...," sahut Kenanga sambil menganggukkan kepala. Setelah berpamitan kepada Rinjani dan Sumarti, dara jelita itu pun berkelebat meninggalkan tempat itu.

"Apa kau tidak khawatir akan keselamatannya, Kakang Panji?" tanya Rinjani menyelidik. Wanita itu memang melihat wajah Panji tetap tenang, tanpa terlihat kekhawatiran.

"Tentu saja aku khawatir. Setiap perbuatan, pasti ada bahayanya. Namun,kita harus berani berbuat. Tidak boleh patah semangat sebelum berhasil...," sahut Panji sambil tersenyum.

Kemudian, Pendekar Naga Putih mengajak Rinjani dan Sumarti menuju Perguruan Tinju Berantai untuk menyusul Kenanga. Mereka harus tetap siap melindungi Kenanga, serta menyelidiki tindakan Iblis Mata Satu.

Kenanga tiba di depan gerbang Perguruan Tinju Berantai yang telah diganti papan namanya menjadi Perguruan Kelelawar Hitam. Dara Jelita berpakaian serba hijau itu berdiri tegak di depan gerbang. Kepalanya menengadah ke arah pos di atas gerbang. Tentu saja sikapnya menyebabkan dua penjaga yang bertugas, seperti tengah bermimpi melihat pemandangan yang membuat mata terbelalak lebar.

"Hei! Cepat panggil ketua kalian yang berjuluk Iblis Mata Satu! Katakan kepadanya, aku datang hendak menghentikan segala kejahatannya...!" seru Kenanga sambil mengerahkan tenaga dalamnya Sehingga, gema suaranya terdengar sayup-sayup ke bangunan induk.

Tepat pada saat itu seorang lelaki tinggi kekar dengan sebelah mata tertutup tengah melangkah keluar dari dalam bangunan induk. Di sebelah kiri dan kanannya ikut mengawal dua lelaki berkepala botak. Jelas mereka adalah pembantu-pembantu utama sosok lelaki tinggi besar yang berjuluk Iblis Mata Satu.

Baru saja Iblis Mata Satu hendak bertanya kepada pembantunya yang berada di sebelah kanan, tiba-tiba seorang anggotanya menghampiri dan langsung melapor.

"Lapor, Ketua! Di depan gerbang ada seorang gadis pendekar yang mengatakan ingin memberantas gerombolan kita. Tapi..., wajahnya sangat cantik seperti bidadari, Ketua...," lapor lelaki itu sebelum Iblis Mata Satu bertanya.

"Gadis secantik bidadari datang hendak menantangku...? Apa kau tidak salah lihat...?" tanya Iblis Mata Satu dengan suara berat dan dalam. Ucapannya yang terdengar seperti bentakan itu, membuat tubuh penjaga itu berjingkrak kaget

"Benar, Ketua. Aku berani sumpah!" tegas penjaga Itu, lantang.

Iblis Mata Satu langsung saja memerintahkan untuk membuka gerbang. "Mari kita lihat, Beruang Gurun! Kalau benar, pemimpin agung tentu akan senang sekali menerima persembahan kita kali ini," ajak Iblis Mata Sa tu, sambil tertawa serak. Kemudian Iblis Mata Satu melangkah lebar menuju gerbang dengan diiringi kedua pembantunya yang berjuluk Beruang Gurun itu.

"Haaa...! Selamat datang, Bidadari Cantik!" sapa Iblis Mata Satu begitu tiba di gerbang dan melihat sosok ramping berwajah jelita yang berpakaian serba hijau. Meskipun mata yang tinggal sebelah tidak menyiratkan keinginan tertentu, namun tampak sekali kegembiraannya melihat betapa dara itu memang sangat cantik seperti bidadari.

"Hm.... Tidak pedu bermanis-manis. Iblis Mata Satu! Kedatanganku bukan untuk bertamu. Tapi, untuk mencabut nyawamu...!" Sambil berkata demikian, Kenanga melolos pedang yang melilit pinggangnya. Pedang itu memang sangat lemas seperti sabuk hingga bisa dilibatkan ke pinggang. Itulah Pedang Sinar Rembulan yang diberikan Panji kepada Kenanga.

Swiing...!

Terdengar suara mengaung ketika pedang yang sangat lentur itu terlolos ke luar. Pancaran sinarnya yang keperakan nampak sangat indah, sehingga Iblis Mata Satu pun mengaguminya.

"Pedang bagus...!" puji lelaki kekar itu, tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.

"Apakah kau sudah siap melayat ke neraka, Iblis Mata Satu?" tantang Kenanga lagi, lantang.

Iblis Mata Satu tersadar dan menggeram marah, mendengar ejekan wanita berpakaian serba hijau itu. "Hmhhh...!"

Sambil menggeram gusar, Iblis Mata Satu mengibaskan kedua tangannya. Langsung diperintahkannya kedua pembantunya yang berjuluk Beruang Gurun untuk maju menghadapi gadis jelita itu.

Kenanga tampak sudah menggeser langkahnya ke kanan, ketika melihat dua lelaki berkepala botak telah bergerak mengepungnya. Segera Pedang Sinar Rembulan dilintangkannya di depan dada, siap menghadapi serbuan lawan.

"Hati-hati! Jangan sampai bidadari itu terluka parah...!" seru Iblis Mata Satu keras. Rupanya, dia tidak menginginkan Kenanga terluka. Meskipun kedua pembantunya tidak menyahut, namun perintah Iblis Mata Satu tidak mungkin dilanggar

"Haiiit...!"

Kenanga langsung saja membuka serangan dengan pekikan nyaring! Pedang Sinar Rembulan di tangannya berputaran menimbulkan suara meng-aung tajam, laksana ratusan lebah marah. Gerakan senjatanya melingkar-lingkar, sehingga membuat silau mata kedua lawannya.

Bettt!

Kelebatan sinar perak itu meluncur cepat, mengancam tenggorokan lawannya yang terdekat Namun, salah satu dari Beruang Gurun itu keburu menghindar.

"Hiaaah...!"

Dibarengi sebuah bentakan keras, lawan yang berada di sebelah kanan Kenanga melesat cepat sambil melancarkan serangan-serangan cepat. Sambaran angin tajam yang berdesing-desing cukup dirasakan Kenanga, sehingga harus menggeser tubuhnya satu langkah ke belakang. Kemudian, langsung dibalasnya serangan itu dengan sebuah tusukan kilat!

Namun, kedua lawan Kenanga memang sangat gesit dan tidak bisa diremehkan. Sehingga, jurus-jurus ampuhnya terpaksa dikeluarkan untuk merobohkan lawan.

TUJUH

Pertarungan sengit tampak masih berjalan seimbang, hingga memasuki jurus kedua puluh. Baru ketika pertarungan menginjak jurus kedua puluh lima, Kenanga mulai memperlihatkan keunggulannya. Kedua orang lelaki berkepala botak itu tampak mulai kelabakan. Ke mana mereka bergerak menghindar. Pedang Sinar Rembulan selalu saja mengejarnya.

"Hiaaat...!"

Sambil memekik keras, Kenanga melesat mengejar salah seorang lawannya yang mencoba menghindar dari mata pedangnya. Gerakannya memang masih lebih cepat daripada lawan. Sehingga tanpa ampun lagi, ujung pedang bersinar perak itu merobek pangkal lengan salah seorang lawan.

Brettt!

"Aaakh...!" Lelaki kekar itu memekik kesakitan. Darah segar langsung mengucur dari luka yang terlihat cukup dalam itu. Tapi, serangan Kenanga memang belum berakhir. Pedangnya kembali berputar dan menyabet mendatar, hendak merobek perut lawan!

"Hait...!"

Seorang lelaki botak lainnya, rupanya tidak ingin membiarkan kawannya sampai tewas. Cepat tubuhnya bergerak, memapak sambaran pedang Kenanga dengan sebuah kapak yang telah tergenggam di tangan kanannya.

Whuuut.. tranggg!

Terdengar dentingan nyaring, ketika dua senjata itu saling berbenturan keras. Bunga api yang memercik menandakan betapa kerasnya benturan tadi.

"Aihhh...!" Jelas sekali, kalau tenaga dalam Kenanga jauh lebih unggul dari lawannya. Buktinya, tubuh lawan sampai terdorong balik.

Sedangkan dara jelita itu tetap tegak di tempat, meskipun agak bergetar. "Tamat riwayatmu..!" maki Kenanga, seraya melesat dengan tusukan pedangnya. Tanpa memberi kesempatan pada lawan untuk memperbaiki keadaan, mata pedang Kenanga meluncur datang dengan kecepatan menggetarkan. Melihat hal ini, wajah lawan kontan pucat. Tanpa sempat mengelak, ujung pedang itu pun amblas ke tubuh lawan hingga mengenai jantung,

Crabbb!

"Aaargh.,.!" Salah seorang dari Beruang Gurun itu menjerit keras ketika Kenanga menarik kembali senjatanya. Darah langsung menyembur dari luka yang menganga di perutnya. Tanpa ampun lagi, tubuh lelaki botak itu pun ambruk tak bernyawa!

"Keparat! Kucincang tubuhmu...!" Tiba-tiba Beruang Gurun yang satunya menjadi kalap bukan main. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, langsung saja dara jelita itu diterjang dengan kuku-kukunya yang panjang dan kuat.

Wettt! Wettt!

Namun Kenanga telah siap menghadapi serangan itu. Dengan sikap tetap tenang, dia melompat pendek ke samping kanan. Langsung dibarenginya gerakan lawan dengan babatan pedangnya. Akibatnya Beruang Gurun terkejut bukan kepalang. Tapi sebelum mata pedang sempat merobek lambung, tahu-tahu saja melesat sesosok bayangan hitam yang langsung memapak pedang dara jelita itu.

Tranggg!

Lagi-lagi terdengar suara benturan yang memekakkan telinga. Bahkan, kali ini jauh lebih keras. Bahkan akibat benturan itu sempat membuat kuda-kuda Kenanga tergempur, hingga terdorong mundur sejauh empat langkah. Bayangan hitam yang menyelamatkan nyawa salah satu dari Beruang Gurun itu juga mengalami hal yang serupa. Terlihat keterkejutan di wajah bengisnya.

"Gila...! Tidak kusangka kalau dia cukup tangguh juga! Entah dari mana asalnya. Dan, datang bersama siapa ke tempat ini..?" geram sosok bayangan hitam yang tak lain Iblis Mata Satu. Kelihatan sekali kalau kenyataan yang baru dialaminya tidak bisa diterima akalnya.

Kenanga sendiri agak kaget ketika mengetahui sosok bayangan hitam yang menyambut sambaran pedangnya adalah Iblis Mata Satu. Cepat tubuhnya bergerak mundur, setelah sadar kalau lawannya kali ini tidak bisa dipandang ringan. Kenanga memang harus bersikap lebih hati-hati untuk menghadapinya.

"Kau benar-benar mengagumkan, Nisanak! Kalau saja aku bisa menjinakkan dan membawamu kehadapan pemimpin agungku, tentu beliau akan gembira sekali...," puji Iblis Mata Satu seraya memperdengarkan kekehnya yang parau

"Hm.... Jangan mimpi untuk dapat menangkapku, Mata Satu! Sebentar lagi, matamu yang satu itu akan kubutakan! Dengan demikian, julukanmu akan berubah menjadi Iblis Tak Bermata. Nah! Cukup bagus, bukan...?" ejek Kenanga.

"Hmhhh...," geram Iblis Mata Satu menanggapi ejekan Kenanga. Kemudian, kakinya melangkah maju Gerakannya miring dengan kuda-kuda tampak kuat

"Ah! Jalanmu jelek sekali seperti seekor kepiting, Iblis Mata Satu! Mengapa kau tidak langsung menyerangku...?" ejek Kenanga lagi. Gadis itu memutar langkahnya ke kanan, menjauhi lawannya. Sehingga, Iblis Mata Satu menjadi murka, karena merasa dipermainkan.

"Hmhhh...! Iblis Mata Satu kembali menggeram jengkel. Segera dirogohnya kantung kain yang tergantung di pinggang kiri. Begitu mendengar suara gemerih-cing halus, Kenanga sadar kalau lawan hendak menggunakan paku-paku halus yang mengandung racun.

"Shaaa...!"

Secara tiba-tiba, Iblis Mata Satu yang ternyata memiliki sifat licik, langsung saja membentak sambil mengibaskan tangan kanannya ke arah Kenanga.

Srrr... srrr...!

Terdengar suara berdesingan halus menuju ke arah Kenanga. Dara jelita itu tentu saja sudah dapat menebak, kalau lawannya pasti tengah menggunakan senjata rahasia beracun.

"Hm..." Kenanga hanya bergumam melihat serangan yang cukup berbahaya. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pedang Sinar Rembulan diputarnya disertai lesatan tubuhnya ke depan. Sehingga, paku-paku kecil yang dilepaskan Iblis Mata Satu beterbangan kian kemari. Satu pun tak ada yang mengenai sasaran, karena tubuh Kenanga telah terbungkus sinar pedang. Tentu saja hal itu membuat Iblis Mata Satu semakin penasaran.

"Jangan takabur dulu, Nisanak. Itu baru permulaan...," kata Iblis Mata Satu berusaha menyembunyikan kekecewaannya.

Kenanga tidak lagi mempedulikan ocehan lawannya. Tubuhnya terus saja bergerak maju, dengan putaran pedangnya yang mengaung-ngaung. "Hm.Sambut setanganku..!"

Ketika jarak tubuh Kenanga tinggal satu tombak, Iblis Mata Satu langsung melempar tubuhnya bergulingan. Setelah berdiri tegak, tangan kanannya dikibaskan untuk melepaskan paku-paku kecil yang mengandung racun pembius.

Kenanga kembali menyabetkan senjatanya, untuk menghalau paku-paku halus yang dilemparkan lawan. Kemudian, langsung pedangnya ditusukkan secepat kilat, mengancam tenggorokan lawan.

Perkelahian kembali berlanjut. Kali ini, bahkan lebih seru! Memang, kepandaian Iblis Mata Satu berada di atas kepandaian kedua pembantunya. Jadi tidak aneh kalau pertarungan kali ini jauh lebih menarik Kepandaian mereka sepertinya memang tidak berselisih jauh. Bahkan, bisa dibilang berimbang. Dan meski pertarungan telah menginjak lebih dari empat puluh jurus, tetap saja belum kelihatan yang bakal keluar sebagai pemenang.

"Jiaaah.!" Merasa penasaran karena tidak mampu mengalahkan seorang gadis yang pantas menjadi putrinya, mendadak Iblis Mata Satu mengeluarkan bentakan sambil merundukkan tubuhnya, persis seperti seekor katak! Tapi....

Kokkk! Kokkk!

"Ahhh.?!" Kenanga berseru kaget ketika sepasang telapak tangan lawan mendorong ke arahnya. Itulah 'Ilmu Pukulan Katak Buduk' yang mengandung racun pelumpuh tenaga.

Bresssh...!

"Aaakh...!" Karena baru sekali menyaksikan ilmu yang demikian aneh. Kenanga menjadi lengah. Akibatnya, pukulan lawan telak menghajar tubuhnya. Tubuh dara jelita itu kontan terpental sejauh satu tombak lebih ke belakang. Kenanga yang juga mempelajari ilmu pengobatan, segera saja tahu untuk apa racun yang mengenainya. Meskipun tenaga ajaib jelmaan Pedang Naga Langit telah bekerja cepat mengusir hawa-hawa beracun yang meresap ke dalam tubuhnya, tapi Kenanga berpura-pura terluka.

"He he he...! Sekarang kau baru tahu kehebatan Iblis Mata Satu!" desis lelaki tinggi kekar berwajah bengis itu.

Tokoh sesat itu merasa bangga sekali atas hasil pukulannya yang membuat Kenanga tergeletak pingsan seketika itu juga. Sambil tetap memperdengarkan kekehnya yang parau, Iblis Mata Satu bergerak hati-hati mendekati Kenanga yang rebah pingsan. Setelah merasa pasti lawannya benar-benar telah terbius racun pukulannya, Iblis Mata Satu segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Kenanga ke dalam bangunan.

********************

"Kakang! Apakah Kenanga benar-benar pingsan akibat pukulan Iblis Mata Satu tadi...?" tanya Rinjani.

Panji, Rinjani, dan Sumarti saat itu memang tengah berada diatas atap bangunan utama. Merekapun juga menyaksikanvjalannya pertarungan. Rupanya atas petunjuk Rinjani, Panji berhasil membawa kedua wanita itu menyelinap ke dalam lingkungan Perguruan Kelelawar Hitam. Mereka belum lama tiba, dan hanya menyaksikan perkelahian antara Kenanga melawan Iblis Mata Satu.

"Tidak perlu cemas, Rinjani. Meskipun pukulan itu telak mengenai tubuh Kenanga, tapi tidak akan mendatangkan luka dalam. Biar tidak tahu secara pasti, tapi aku yakin Kenanga tidak apa-apa," jawab Panji.

Kini hati Rinjani dan Sumarti agak lega. Biar bagaimanapun, mereka merasa kalau telah melibatkan Kenanga dan Panji ke dalam bahaya.b"Syukurlah kalau memang begitu, Kakang...," desah Rinjani menghela napas berkepanjangan, melepaskan kegundahan hatinya.

"Kalian tetap di sini. Jangan pergi ke mana-mana. Aku ingin mencari tahu letak kamar tempat Kenanga ditawan. Setelah itu, aku akan kembali ke sini. Ingat baik-baik pesanku...," pesan Panji menekankan berulang-ulang.

Kemudian Pendekar Naga Putih berbalik. Tubuhnya lalu meluncur turun di bagian belakang bangunan utama yang tampak sepi. Ketika melihat di sekitarnya tidak ada yang memergoki, cepat bagai kilat tubuhnya telah menyelinap ke bagian dalam bangunan. Saat ini, senja telah menjelang. Cuaca pun mulai agak gelap.

Setelah menemukan tempat Kenanga ditawan, Panji kembali ke tempat Rinjani dan Sumarti menunggu. Kedua gadis cantik itu menyambut kedatangan Panji dengan wajah menyimpan banyak pertanyaan. Terpaksa Pendekar Naga Putih menjelaskannya, agar tidak membuat mereka penasaran.

"Aku sudah menemukan tempat Kenanga disekap. Dan bisa kupastikan dia tidak apa-apa. Semuanya berjalan sesuai rencana. Mudah-mudahan saja. Iblis Mata Satu tidak sampai tahu. Kalau sampai dia tahu, kemungkinan kita akan gagal untuk mengetahui tokoh tersembunyi yang melindungi Iblis Mata Satu. Dan, apa benar tokoh itu ada...?" jelas Panji.

"Kakang...," panggil Rinjani setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti.

"Ya...," sahut Panji, singkat. Pendekar Naga Putih menatap wajah gadis cantik di depannya. Kelihatan semakin menarik, karena terpantul cahaya rembulan yang bersinar terang.

"Sebaiknya, kita melewatkan malam di tempat lain. Rasanya di sini kita kurang leluasa bergerak..." usul Rinjani.

"Semestinya memang demikian. Kita harus mengetahui perkembangan selanjutnya. Tapi karena kau kurang suka, kita bisa cari tempat lain. Di taman belakang umpamanya. Bagaimana...?" sahut Panji.

"Kurasa di taman belakang memang lebih aman, Kakang," timpal Sumarti.

Panji langsung menoleh ke arahnya, kemudian memandang Rinjani seperti meminta pendapat.

"Aku setuju...," tegas Rinjani.

Panji kemudian bangkit berdiri dari duduknya. Mari kita turun. Hati-hati, jangan sampai menimbulkan suara yang mencurigakan...," pesan Panji.

Tidak berapa lama kemudian, ketiga tokoh muda itu pun tiba di taman, yang terletak di belakang bangunan induk.

"Tidurlah kalian. Biar aku yang menjaga...," ujar Panji ketika melihat kedua wanita itu sudah menguap berkali-kali. Pendekar Naga Putih maklum, karena Rinjani dan Sumarti bukanlah orang-orang petualang. Sehingga, mereka berdua belum terbiasa dengan keadaan yang sulit seperti sekarang.

********************

Sebelum fajar datang, Panji membangunkan Rinjani dan Sumarti Kemudian, kedua gadis itu dibawa keluar dari lingkungan Perguruan Kelelawar Hitam. Tanpa banyak tanya lagi, Rinjani dan Sumarti menurut saja. Mereka tahu. Panji mungkin mempunyai rencana lain yang belum dikatakan.

Panji berlari cepat diikuti Rinjani dan Sumarti. Mereka terus bergerak menerobos cuaca yang masih dikuasai kegelapan, Tidak berapa lama kemudian Panji menghentikan iarinya, diikuti Rinjani dan Sumarti.

"Ada apa sebenarnya, Kakang...?" tanya Rinjani penasaran.

Sedangkan Sumarti yang jarang bicara, hanya menatap Panji dengan sinar mata penuh keingin tahuan.

"Hm.... Kalian berdua tunggu di tempat ini, dan jangan pergi sebelum aku kembali...," ujar Panji kembali berpesan kepada Rinjani dan Sumarti.

Tentu saja kedua wanita itu menjadi semakin tak mengerti. Perlahan Rinjani mengawas keadaan sekitarnya dengan pandangan matanya. Meskipun suasana masih gelap, tapi Rinjani tahu kalau tidak jauh dari tempat ini ada sebuah jalan agak besar yang berbatu.

"Aku pergi dulu. Ingat pesanku tadi...," pamit Pendekar Naga Putih setelah menatap Rinjani dan Sumarti berganti-ganti.

Sebelum Rinjani sempat bertanya, tubuh pemuda itu sudah lenyap ditelan kegelapan. Sehingga, Rinjani hanya bisa menghela napas panjang.

********************

DELAPAN

Mentari pagi mulai tampak. Dahan dan dedaunan tampak terang oleh pancaran sinar kuning keemasan yang hangat menyengat tubuh. Panji yang saat itu tengah bersembunyi di atas atap bangunan induk, menyaksikan kesibukan di bawahnya.

"Hm..., tepat dugaanku. Mereka pasti akan membawa Kenanga untuk dipersembahkan kepada pimpinan yang tersembunyi itu...," gumam Panji.

Saat itu Pendekar Naga Putih melihat orang-orang di bawahnya tengah mempersiapkan dua buah kereta kuda. Tampaknya, hari ini pimpinan Perguruan Kelelawar Hitam hendak bepergian. Tidak berapa lama kemudian, apa yang ditunggu-tunggu Pendekar Naga Putih muncul. Iblis Mata Satu yang diantar orang termuda dari Beruang Gurun tampak bergerak keluar dari dalam bangunan induk.

Sementara, Kenanga pun terlihat di antara mereka. Keadaannya rampak tidak berdaya, dan seperti berada dalam pengaruh aneh. "Ayo, kita segera berangkat..!"

Terdengar Iblis Mata Satu memberikan perintahnya. Maka, kereta kuda itu pun bergerak melewati pintu gerbang yang telah terbuka lebar. Rombongan yang terdiri dari dua buah kereta kuda itu terus bergerak melintasi jalan berdebu yang cukup lebar, dikawal empat orang penunggang kuda di kiri dan kanan.

Setelah memastikan arah bergerak kereta kuda itu, Panji kembali melesat turun dari atas atap bangunan. Begitu kedua kakinya menginjak halaman samping, tubuhnya kembali melesat menuju luar bangunan, dan terus ke tempat Rinjani serta Sumarti menunggu. Kedua wanita itu segera saja menyongsong kedatangan Panji dengan wajah meminta perjelasan.

"Iblis Mata Satu telah pergi, dikawal empat anggotanya. Mungkin dia hendak membawa Kenanga kepada pimpinannya. Di dalam bangunan Perguruan Kelelawar Hitam hanya ada Beruang Gurun yang tinggal seorang. Aku tahu, kalian pasti ingin merebut kembali perguruan itu, bukan? Nah, sekaranglah saat yang paling baik untuk bergerak," jelas Panji, sebelum Rinjani sempat bertanya.

Kemudian, langsung saja Pendekar Naga Putih mengajak mereka untuk merebut kembali bangunan perguruan itu. Dan begitu tiba, langsung saja telapak tangan kanannya didorongkan ke arah pintu gerbang bangunan yang terlihat kokoh.

Whusss... brakkk!

Sekali hantam saja, pecahlah pintu gerbang dengan memperdengarkan suara keras. Mendengar suara keras yang tiba-tiba, tentu saja murid-murid Perguruan Kelelawar Hitam jadi terkejut bukan main. Namun, kekhawatiran di wajah mereka agak berkurang ketika melihat kalau yang muncul hanya tiga orang muda yang berwajah tampan dan menarik. Tapi, beberapa murid Perguruan Tinju Berantai yang terpaksa menjadi anggota gerombolan itu, merasa terkejut bukan main ketika mengenali Rinjani dan Sumarti. Memang, kedua orang wanita itu merupakan murid-murid utama Perguruan Tinju Berantai.

"Jangan takut! Kedatanganku bukan untuk menghukum. Aku memaklumi, apa yang kalian pilih adalah sangat terpaksa. Maka, sekarang marilah bergabung denganku untuk membasmi orang-orang yang telah menghancurkan perguruan kita...!" seru Rinjani lantang.

Melihat siapa yang datang dan apa yang diucapkan wanita cantik yang kini terlihat sangat berwibawa, belasan anggota Perguruan Tinju Berantai segera saja bergabung dengan Rinjani. Jelas, mereka memang tidak bersungguh-sungguh masuk ke dalam gerombolan penjahat itu.

"Bagus! Nah, sekarang mari kita hancurkan musuh-musuh kita...!" seru Rinjani membangkitkan semangat saudara- saudara seperguruannya.

Tanpa menunggu perintah dua. kali, belasan orang murid yang kembali sadar dan rela mati demi membela perguruan, segera saja menyerbu orang-orang Kelelawar Hitam dengan senjata di tangan. Maka sebentar saja pertempuran pun pecah.

"Haaat..!"

Rinjani dan Sumarti pun tidak mau berpangku tangan saja. Cepat mereka menerjang disertai putaran pedang yang bergulung-gulung menimbulkan angin menderu-deru. Panji yang semula hanya berdiri menatapi pertempuran, bergerak maju ketika melihat Beruang Gurun muncul dan hendak terjun ke dalam kancah pertempuran. Rupanya, sosok lelaki botak kekar itulah yang ditunggu-tunggu. Memang, hanya Beruang Gurun yang masih dikhawatirkan Panji, karena kepandaian tokoh itu masih diatas Rinjani dan Sumarti. Itulah sebabnya, mengapa Panji ikut menyertai Rinjani dan Sumarti untuk menyerbu.

"Grrrhhh...!"

Beruang Gurun menggereng ketika melihat seorang pemuda tampan berjubah putih berdiri tegak menghadang jalannya. Sejenak sepasang matanya menatap tajam, mengawasi sosok Panji. Kemudian dia bergerak maju beberapa langkah.

"Siapa kau...?! Apakah kau pun ingin menumpas Gerombolan Kelelawar Hitam...?!" tegur Beruang Gurun dengan wajah bengis.

"Siapa pun aku, tidak terlalu penting Dan kedatanganku ke tempat ini, sudah kau jawab sendiri. Nah! Sekarang, bersiaplah. Aku akan segera melenyapkanmu, atau paling tidak melumpuhkanmu...," sahut Panji. Tanpa membuang-buang waktu lagi. Pendekar Naga Putih langsung saja bergerak maju, siap melontarkan serangan.

"Keparat! Kupecahkan kepalamu, Bocah...! Haaat..!" Beruang Gurun sepertinya benar-benar marah. Apalagi ketika melihat pemuda itu bergerak maju dengan sikap tenang, tanpa bersiap menghadapi sebuah pertarungan. Merasa dianggap remeh, maka langsung saja kapaknya digunakan dan menerjang kalap.

Bettt! Bettt...!

Sekali terjang saja, tokoh berkepala botak itu telah melancarkan serangan bertubi-tubi. Meski demikian, tak satu pun yang mengenai sasaran. Dan Pendekar Naga Putih memang telah bergerak mengelak dengan kecepatan tinggi, sehingga Beruang Gurun seperti kehilangan lawannya.

"Aku di belakangmu, Beruang Tolol...!" ledek Panji yang telah berdiri tegak di belakang lawannya.

"Bedebah...! Mampus kau...!" bentak Beruang Gurun. Tanpa menoleh lebih dulu, langsung saja Beruang Gurun membabatkan kapaknya ke belakang dengan gerakan berputar.

Kali ini Panji sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Tepat pada saat kapak lawan dalang, kepalanya direndahkan sedikit. Itu pun masih disusuli dengan tangan kirinya yang terangkat menyambut serangan lawan.

Dukkk!

"Ahhh...?!" Beruang Gurun memekik kesakitan ketika lengannya tertangkis lengan Panji yang bagaikan batang besi. Sebelum tubuh lawan terdorong jatuh, tangan Pendekar Naga Putih sudah melibat pergelangan tangan Beruang Gurun dan menyentakkannya ke depan. Lalu langsung disambutnya tubuh Beruang Gurun dengan sebuah totokan keras.

Tukkk!

"Aaakh...?!" Tubuh Beruang Gurun langsung melorot jatuh bagaikan sehelai karung basah. Kemudian Panji bergerak menghampiri. Langsung diangkatnya tubuh Beruang Gurun dan dilemparkannya ke dekat sebatang pohon yang tumbang di samping bangunan. Setelah itu, tubuh Panji bergerak ke dalam arena pertempuran.

"Rinjani! Aku harus menyusul Iblis Mata Satu yang membawa pergi Kenanga. Beruang Gurun sudah kulumpuhkan. Semoga kalian berhasil. Oh, ya. Sampaikan salamku kepada Sumarti dan saudara-saudara seperguruanmu yang lain...," ujar Panji. Dan Pendekar Naga Putih langsung melesat meninggalkan tempat itu setelah merobohkan beberapa orang lawan lagi.

Rinjani hanya mengangguk. Kepergian Pendekar Naga Putih memang tidak bisa dicegah, karena tempat ini tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan kemenangan sudah berada di depan mata. Maka, dia hanya bisa berharap agar Panji kembali mengunjungi Perguruan Tinju Berantai setelah urusannya selesai.

Tubuh Pendekar Naga Putih melesat bagaikan anak panah yang lepas dari busur. Segenap ilmu larinya dikerahkan untuk dapat menyusul kereta kuda Iblis Mata Satu. Karena memang telah memperhitungkan arah yang bakal ditempuh buruannya, sebentar saja Pendekar Naga Putih sudah melihat rombongan kecil itu beberapa belas tombak di depannya. Seketika Pendekar Naga Putih memperlambat larinya membayangi kereta kuda itu.

Tidak berapa lama kemudian, kereta kuda itu tiba di bawah sebuah bukit yang puncaknya cukup tinggi. Pendekar Naga Putih mengenali tempat itu sebagai Bukit Kundul. Dan, dia juga pernah mendengar tentang adanya sebuah perguruan berdiri di atas puncak bukit itu.

"Hm.... Tidak mungkin kalau Pendekar Tongkat Kayu Merah telah berubah menjadi sesat. Kemungkinan besar, perguruan itu telah direbut tokoh-tokoh sesat dari tangannya...," gumam Panji. Pendekar Naga Putih terus membayangi rombongan Iblis Mata Satu, meskipun mereka telah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki

Tidak berapa lama kemudian, rombongan kecil Iblis Mata Satu tiba di atas puncak bukit Di situ terdapat sebuah bangunan besar yang cukup megah. Kedatangan Iblis Mata Satu ternyata langsung disambut hangat oleh tiga orang aneh dan memiliki gerak-gerik lucu

"Tiga Badut Setan...!" desis Panji yang langsung saja mengenali ketiga sosok tubuh di depannya itu. "Jadi, merekalah yang selama ini menjadi orang di belakang Iblis Mata Satu." Setelah yakin dengan apa yang dilihatnya, Panji langsung melesat sebelum Kenanga diserahkan kepada Tiga Badut Setan.

"Kenanga! Sekarang...!" teriak Panji memperingatkan kekasihnya kalau sandiwara yang mereka buat telah selesai.

Begitu tiba, Pendekar Naga Putih langsung saja melancarkan serangan ke arah Tiga Badut Setan. Mendapatkan serangan cepat itu, tiga tokoh sesat bertampang lucu itu langsung berlompatan mundur. Dari angin pukulan sosok bayangan putih itu, mereka tahu kalau serangan yang datang sangat berbahaya.

Kenanga sendiri yang semula kelihatan seperti orang kehilangan pikiran sadarnya, langsung bergerak melepaskan diri dari Iblis Mata Satu. Langsung diterjangnya tokoh bertubuh kekar itu dengan pukulan mengandung tenaga dalam tinggi. Sadar kalau serangan itu sangat berbahaya dan tidak mungkin dielakkan. Iblis Mata Satu langsung saja memapaknya.

Plakkk!

Tubuh mereka sama-sama terdorong mundur, ketika lengan saling berbenturan keras. Iblis Mata Satu benar-benar tidak menyangka kalau gadis jelita tawanannya ternyata hanya berpura-pura. Dia tidak habis mengerti, bagaimana mungkin tawanannya sampai bisa tidak terpengaruh racun pembius yang diminumkan. Tentu saja Iblis Mata Satu tidak akan pernah bisa mengerti, karena hanya Panji dan Kenanga saja yang tahu.

"Ahhh...! Kurang ajar sekali kau, Iblis Mata Satu! Apakah kau memang hendak memberontak terhadap kami...?" tegur lelaki berhidung bulat yang bentuk rambutnya seperti jengger ayam. Memang, rambut di kepalanya itu hanya tumbuh di bagian tengah, memanjang dari depan ke belakang. Tokoh itu sama sekali tidak kelihatan marah. Bahkan malah tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala menatap Iblis Mata Satu.

Tokoh sesat bermata satu Itu pun tentu saja telah tahu sifat aneh pimpinannya. Maka kakinya melangkah mendekat, hendak menjelaskan kalau dia sendiri sama sekali tidak tahu. "Aku sama sekali tidak tahu, Tuanku Wirya Bajang. Aku sendiri telah dibodohi perempuan setan itu..!" bantah Iblis Mata Satu berusaha meyakinkan pimpinannya.

"Hm.... Tunjukkan kalau kau tidak bersalah" Yang berbicara kali ini adalah Pasopati, yang disusul tawa ringkik kudanya. Tapi Iblis Mata Satu sadar kalau di balik wajah penuh tawa dan lucu, tersembunyi sifat kejam dan tak kenal ampun.

"Baik,..," sahut Iblis Mata Satu. Tanpa banyak cakap lagi, langsung saja Iblis Mata Satu menerjang Kenanga dengan serangan-serangan maut.

Namun tentu saja Kenanga tidak tinggal diam. Meskipun kali ini dia harus menggunakan tangan kosong untuk menghadapinya, tapi dara jelita itu tidak gentar. Cepat tubuhnya melesat menyambut datangnya serangan lawan. Maka sebentar saja, keduanya telah terlibat dalam pertempuran sengit

Panji sendiri sudah berhadapan dengan Tiga Badut Setan yang tampak tengah menegasi sosok pemuda tampan berjubah putih itu. Terdengar Wirya Bajang bertanya dengan suaranya yang parau.

”Benarkah aku tengah berhadapan dengan orang yang berjuluk Pendekar Naga Putih ?" tanya warya Bajang. Rupanya dia telah mengenal ciri-ciri pendekar besar itu.

"Tidak salah," sahut Panji tegas. "Kalian memang tengah berhadapan dengan Pendekar Naga Putih. Dan, pertemuan ini merupakan akhir kejahatan kalian, Tiga Badut Setan...!"

Mendengar kalau pemuda tampan itu adalah Pendekar Naga Putih, lenyaplah sikap dan gerak-gerik ketiga tokoh sesat itu. Jelas kelihatan kalau mereka merasa tegang berhadapan dengan pendekar muda yang terkenal sangat sakti dan telah banyak menjatuhkan tokoh puncak golongan sesat.

"Hieeeh heh heh...! Kau terlalu takabur, Pendekar Naga Putih. Seharusnya kau sadar kalau pertemuan ini merupakan akhir petualanganmu. Bukan kami...! Kalau tidak percaya, bersiaplah! Aku akan memberikan pelajaran barupadamu...!" Setelah agak lama, barulah Pasopati menyahuti ucapan Panji. Lalu, kakinya melangkah maju dan bergerak kekanan.

Melihat Pasopati sudah hendak berhadapan dengan Pendekar Naga Putih, Wirya Bajang dan Gajah Mungkur bergegas mengepung dari depan dan belakang. Kini Panji harus menghadapi lawan-lawannya yang akan menyerang dari tiga jurusan.

"Mulailah! Tanganku sudah gatal ingin menempeleng kepala kalian yang berisi rencana-rencana jahat dan kotor itu...!" tantang Panji. Pendekar Naga Putih kini sudah merendahkan kuda-kudanya, siap menghadapi serangan Tiga Badut Setan. Dia tahu, lawan-lawannya yang memiliki silat aneh dan cenderung sinting, ternyata juga memiliki beragam ilmu tinggi.

"Sambut seranganku...!" Gajah Mungkur yang memang sangat suka bertarung danmenganggap permainan menyenangkan, segera saja datang menyerbu Panji dengan kedua tangan terkembang.

Whuuut..!

Panji melompat pendek ke samping sehingga sergapan Gajah Mungkur hanya mengenai angin saja.

"Ha ha ha...!"

Melihat Gajah Mungkur kebingungan seperti orang tolol, Wirya Bajang dan Pasopati tertawa bergelak. Rupanya mereka benar-benar merasa geli melihat wajah Gajah Mungkur yang kelihatan sangat lucu.

"He he he..!" Meskipun dengan wajah menyeringai seperti orang tolol, Gajah Mungkur akhirnya tertawa juga. Lelaki bertubuh raksasa itu memandang kedua saudaranya berganti-ganti sambil terkekeh.

Melihat sikap ketiga lawannya yang seperti telah melupakan dirinya. Panji hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Meskipun telah mendengar tentang sifat-sifat aneh Tiga Badut Setan, tak urung hatinya merasa heran juga ketika menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

"Hieeeh heh heh...! Siapa yang kau tangkap, Gajah Mungkur? Coba tunjukkan padaku, apa yang kau dapatkan...?" ledek Pasopati dengan ringkik kudanya yang masih terdengar berkepanjangan.

"Ahhh! Aku belum dapat apa-apa, Kakang...," sahut Gajah Mungkur. Laki-laki tinggi besar itu menjadi kebingungan sendiri ketika mendengar pertanyaan saudaranya itu. Lalu, masih seperti orang tolol, dipandanginya sepasang lengannya. Seolah, dia tengah berusaha mengingat apa yang barusan hendak ditangkapnya.

"Ha ha ha...! Dasar raksasa tolol! Kau barusan hendak menangkap naga berwarna putih. Dan sekarang, dia ada di belakangmu...," jelas Wirya Bajang sambil menggeleng- gelengkan kepala yang merupakan kebiasaannya.

"Naga...? Naga berwarna putih...?" gumam Gajah Mungkur sambil mencari-cari ke atas dan ke bawah. Pada saat sepasang matanya berbentur sosok Panji, barulah Gajah Mungkur teringat apa yang barusan hendak ditangkapnya. "Ah, benar! Aku memang hendak menangkap naga putih...! Sekarang aku akan mencobanya lagi...," seru Gajah Mungkur yang tertawa-tawa sambil melangkah berdebum menghampiri sosok Pendekar Naga Putih.

Panji sendiri masih tetap berdiri tegak, ketika melihat lelaki raksasa itu kembali datang hendak menyergapnya.

"Kena...!" teriak Gajah Mungkur, menyergap tubuh Panji dengan kedua tangannya yang besar dan berbulu lebat itu.

Tapi, sergapannya yang kedua kali ini pun masih saja gagal. Bahkan tubuhnya sempat terhuyung, karena Panji telah melenting ke udara. Bahkan kepala Gajah Mungkur digunakan sebagai landasan kakinya. Kemudian Panji meluncur turun seraya melepaskan tendangan ke punggung lelaki bertubuh raksasa itu. Tendangan Pendekar Naga Putih memang tidak terlalu keras, dan hanya sekadar membuat tubuh lawannya terhuyung. Tapi, perbuatannya membuat Gajah Mungkur teringat siapa orang yang tengah dihadapinya saat ini.

"Grrrh...!" Gajah Mungkur menggereng, memperlihatkan gigi-giginya yang besar dan kuat. Sepasang tangannya kali ini tidak lagi bergerak seperti hendak menyergap, tapi membentuk gerak-gerak silat yang aneh dan cepat. Mau tak mau, Pendekar Naga Putih sendiri sempat kagum dibuatnya.

"Hm.... Aku harus hati-hati dalam menghadapi raksasa seperti Gajah Mungkur ini. Biasanya orang sepertinya memiliki kulit tubuh kebal dan kuat...," gumam Panji, kali ini bersiap menghadapi terjangan lawan.

Rupanya kejadian yang menimpa Gajah Mungkur, juga telah membangkitkan ingatan Wirya Bajang dan Pasopati terhadap pemuda berjubah putih itu. Maka mereka pun bergerak susul-menyusul dengan serangan-serangan berbahaya.

"Heaaa...!"

Panji yang saat itu tengah bertarung melawan Gajah Mungkur, cepat melesat ke kanan. Dihindarinya terjangan Pasopati yang cengkeramannya sekeras baja, siap merobek lambungnya.

Bettt!

Lagi, sebuah pukulan dari Wirya Bajang yang menimbulkan suara mencicit tajam datang mengancam tubuh Panji. Padahal, Pendekar Naga Putih baru saja menjejakkan sebelah kakinya di tanah. Maka langsung saja tubuhnya merunduk dan mengangkat tangan kanannya untuk memapak serangan lawan.

Dukkk... plakkk!

Terdengar benturan dua kali berturut-turut, sehingga membuat tubuh Wirya Bajang terdorong ke belakang. Belum lagi tokoh itu sempat berbuat sesuatu. Panji telah menyusulinya dengan sebuah tendangan miring.

Desss...!

Tanpa ampun lagi, tubuh Wirya Bajang terpental disertai muntahan darah segar ketika tendangan Pendekar Naga Putih telak menghajar dada. Meski demikian, tokoh berhidung bulat seperti tomat itu sempat memperbaiki tubuhnya agar tidak sampai terbanting.

"Haaa...!”

Gajah Mungkur dan Pasopati kelihatannya sangat marah ketika mengetahui saudara tuanya terkena tendangan Pendekar Naga Putih. Mereka segera melesat maju, menerjang pemuda itu. Akibatnya, Panji dibuat kewalahan menghadapi serangan-serangan kedua lawannya yang seperti kerbau gila.

"Heaaa...!"

Ketika pertarungan memasuki jurus yang ketujuh puluh delapan, Pendekar Naga Putih tiba-tiba mengeluarkan 'Pekikan Naga Marah'. Seketika itu juga, tubuhnya langsung melayang ke udara. Dan dari atas, kedua kakinya melepaskan tendangan-tendangan berantai ke arah Gajah Mungkur yang terdekat.

Bukkk! Bukkk!

"Aaakh...?!" Gajah Mungkur yang biasanya kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam, kali ini memekik kesakitan akibat tendangan Panji yang mendarat di punggung dan dadanya. Akibatnya, tubuh raksasa itu terhuyung-huyung bagaikan orang mabuk laut.

"Yiaaah...!"

Serangan Panji rupanya belum selesai. Buktinya setelah melancarkan serangkaian tendangan yang sekaligus digunakan untuk pijakan, tubuhnya cepat jungkir balik dengan kepala di bawah. Kedua tangannya langsung mengembang ke kiri dan kanan, menghantam tubuh kedua lawannya.

Desss... desss...!

"hiuakkkh...!"

Sungguh hebat hantaman telapak tangan yang telah diisi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Akibatnya, tubuh Gajah Mungkur dan Pasopati terjengkang sejauh satu tombak lebih, dan terus jatuh berguling-guling. Gajah Mungkur dan Pasopati yang jatuh secara terpisah sama-sama memuntahkan darah kental. Mereka menggigil bagaikan terkena serangan malaria, akibat pukulan yang berisikan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan', dari Pendekar Naga Putih.

"Shaaa...!"

Wirya Bajang yang menyaksikan kedua orang saudaranya jatuh berguling-guling, segera saja berseru keras sambil menyerbu Pendekar Naga Putih. Tap karena tenaganya sudah berkurang akibat luka dalam yang diderita, Wirya Bajang kembali harus menelan pil pahit. Ternyata sebuah pukulan Panji malah singgah di dada kirinya.

Bukkk!

"Aaakh...!" Tubuh Wirya Bajang kembali tersentak deras ke belakang. Bahkan kali ini tidak mampu untuk bangkit lagi. Setelah meregang nyawa sebentar, nyawa Wirya Bajang langsung terbang akibat pukulan Panji yang berisi tenaga dalam tinggi.

"Aaa...!"

Bagaikan orang gila, Gajah Mungkur maju menerjang Panji begitu mengetahui kalau saudara tuanya telah tewas. Gajah Mungkur benar-benar nekat. Pukulan-pukulan yang dilepaskannya datang bertubi-tubi mengancam tubuh Panji. Namun, karena gerakan Pendekar Naga Putih jauh lebih cepat, sehingga tak satu pun yang mengenai sasaran. Bahkan....

Desss!

Sambil merendahkan tubuh menghindari kepalan lawan, Panji langsung saja mendorongkan sepasang telapak tangan ke tubuh raksasa itu. Tanpa ampun lagi, tubuh Gajah Mungkur tersentak ke belakang dan terbanting jatuh dengan tubuh menggigil kedinginan. Sebentar kemudian, tubuh raksasa itu pun diam tak bergerak-gerak lagi. Mati!

"Kaaakhhh.!"

Pasopati yang melihat kedua orang saudaranya telah binasa di tangan Pendekar Naga Putih, langsung memekik parau! Tubuhnya cepat melayang dan berjumpalitan di udara dengan sepasang cakar siap terhunjam ke leher lawan.

"Haaat..!"

Panji sendiri tidak tinggal diam. Tubuhnya cepat ikut mencelat ke udara. Langsung disambutnya tubuh lawan dengan tendangan terbangnya. Dan....

Bukkk!

"Aaa...!" Pasopati kontan terpental balik disertai raung kematiannya yang parau. Tamatlah riwayat orang kedua dari Tiga Badut Setan dengan dada remuk, akibat tendangan Pendekar Naga Putih yang menyambut luncuran tubuhnya.

"Kakang..." Kenanga yang rupanya juga telah menyelesaikan pertarungannya melawan Iblis Mata Satu, datang menghampiri Panji yang juga tengah melangkah menghampirinya.

"Hhh.... Berakhirlah segala kekejaman Tiga Badut Setan. Mereka sebenarnya tidak lebih dari orang-orang gila yang memang patut dibasmi, karena selalu mengganggu ketenangan orang banyak...," desah Panji.

Pendekar Naga Putih lalu menyambut tubuh kekasihnya dengan kedua tangan terbuka. Kemudian mereka melangkah meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan petualangan.

S E L E S A I