Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Beruang Gunung Es
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

PAGI baru saja datang menggantikan tugas sang Malam. Suara burung di dahan-dahan pohon terdengar bersahutan menyambut datangnya mentari pagi. Semilir bayu perlahan menyapa dedaunan, memperdengarkan suara gemerisik lembut di telinga.

Di bawah siraman mentari yang hangat menyentuh kulit, tampak enam sosok lelaki tegap bergerak menyusuri jalanan lebar. Langkah kaki mereka yang mantap menapak tanah, menandakan rombongan kecil itu telah terbiasa berjalan jauh. Keenam lelaki tegap itu agaknya para pemburu. Mereka membawa busur dan anak panah, serta sebilah golok besar yang terselip dipinggang.

Lelaki terdepan berwajah keras dengan sepasang mata lebar dan tajam. Rahangnya yang kokoh menggambarkan keteguhan hatinya. Tampak jelas bahwa lelaki berwajah berewokan itu telah terbiasa menghadapi kehidupan yang keras.

Orang kedua berperawakan hampir sama dengan lelaki pertama. Bahkan badannya lebih kekar dan kokoh. Lelaki itu kelihatan sangat jantan sehingga menimbulkan rasa kagum bagi siapa saja yang memandangnya. Usianya tidak terlalu tua. Sekitar empat puluh tahun. Sepuluh tahun lebih muda dari lelaki pertama.

Sedangkan empat orang lainnya berperawakan tegap dan bermata tajam. Gerakan mereka pun gesit. Apa yang mereka miliki itu rasanya sudah cukup memenuhi syarat sebagai pemburu.

“Arah mana yang akan kita ambil, Kakang Lodana...?” tanya lelaki bertubuh kekar kepada lelaki berwajah berewok, yang rupanya pemimpin rombongan kecil itu. Karena usianya yang paling tua di antara mereka dan pengalamannya dalam berburu yang jauh lebih luas daripada kelima orang kawannya.

“Hm... tujuan kita adalah Hutan Graban. Kabarnya tempat itu banyak dihuni binatang-binatang buruan yang sangat langka. Tempatnya memang cukup jauh, hingga memerlukan dua hari perjalanan. Tapi, aku yakin kalian akan puas setelah melihatnya sendiri...,” sahut lelaki berwajah berewok yang bernama Lodana. Sosoknya berdiri tegak di persimpangan jalan yang terpecah menjadi tiga.

“Hutan Graban...?!” desis kelima pemburu lainnya. Mereka kelihatan berpikir beberapa saat untuk mengingat-ingat nama itu.

“Ah, aku ingat sekarang!” seru lelaki kekar itu terlonjak gembira. “Aku memang pernah mendengar tentang sebuah hutan yang banyak dihuni binatang buruan yang sangat langka. Dan dapat dijual dengan harga tinggi bila kita bisa membawa kulitnya tanpa cacat. Kalau begitu, kita ambil jalan ke kanan. Meskipun harus menerobos semak belukar, tapi jaraknya lebih dekat dibanding jalan lainnya...,” lanjut lelaki itu mengajukan usul.

“Hm... ternyata kau memiliki ingatan tajam, Tangkar!” puji Ki Lodana. “Sebaiknya memang kita mengambil jalan ke kanan. Dengan begitu, kita akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan”

“Kalau benar begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita segera berangkat...,” tukas salah seorang dari empat pemburu lainnya. Tampaknya ia sudah tidak sabar membayangkan binatang buruan di Hutan Graban. Mereka pun langsung setuju.

Ki Lodana tersenyum lebar. Lelaki berewok itu gembira melihat semangat kawan-kawannya. Maka, kakinya melangkah menapaki jalan tanah berumput. Semakin lama jalan itu semakin sempit. Hingga akhirnya mereka melalui jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan lebat di kiri-kanannya. Ketika jalan yang mereka lalui semakin bertambah sulit, dan terhalang ranting pohon yang menjulur ke jalan, Ki Lodana mencabut golok besarnya. Kemudian mengayunkan ke kiri- kanan untuk membuka jalan.

Matahari sudah bergeser ke barat ketika keenam pemburu itu merambas padang ilalang. Dan kegelapan pun menyelimuti bumi, saat mereka tiba di pinggir sebuah hutan yang tidak terlalu lebat.

“Hm! Kelihatannya kita harus bermalam di pinggir hutan ini,” ujar Ki Lodana. Langkahnya terhenti dan berbalik menghadap kelima orang pemburu yang berada dibelakangnya.

“Sebaiknya kita mencari tempat yang dekat dengan aliran sungai, Kang. Agar kita tidak susah mencari air minum...,” usul salah seorang pemburu. Walaupun Ki Lodana tentu sudah tahu akan hal itu.

Ki Lodana kembali mengayunkan langkah mencari aliran sungai. Tidak berapa lama kemudian, suara gemericik air tertangkap pendengaran mereka. Setelah berjalan beberapa saat lagi, tampaklah sebuah sungai yang berair jernih. Ketika menemukan tempat yang cukup baik untuk bermalam, Ki Lodana dan kawan- kawannya langsung menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau.

“Hm.... Tempat ini memang sangat cocok...,” desah lelaki bertubuh kekar yang bernama Adi Tangkar. Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya dengan berbantal bungkusan pakaian.

Ki Lodana dan yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah Tangkar. Sesaat mereka melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Lalu, Ki Lodana memerintahkan kawan-kawannya untuk segera membuat api dan mengambil air minum. Saat kegelapan semakin pekat, Ki Lodana dan kawan-kawannya sudah beristirahat dengan tenang. Perut mereka telah diisi roti kering yang mereka bawa sebagai bekal perjalanan.

“Eh...?!” Ki Lodana tersentak bangkit dengan kening berkerut Lelaki berewok yang belum terlelap itu menangkap suara gemerisik dari semak di sebelah kanannya. Tangkar dan seorang pemburu yang tengah berjaga-jaga menjadi heran. Mereka bangkit dan menghampiri lelaki berewok itu.

“Ada apa, Kang...?” tanya Tangkar. Dilihatnya sepasang mata Ki Lodana memandangi semak-semak. Tangkar pun menjadi latah, hingga ikut-ikutan memandangi semak yang cukup lebat itu.

“Aku mendengar suara gemerisik dari dalam semak-semak itu. Apa kalian tidak mendengarnya...?” sahut Ki Lodana balik bertanya.

Mendengar ucapan Ki Lodana, Tangkar langsung mencabut golok besarnya. Dan melangkah mendekati semak-semak itu. Tangan kanannya menggenggam sebatang kayu bakar yang masih menyala. Dengan itulah Tangkar menerangi semak-semak itu, untuk mengetahui apa yang telah membangunkan Ki Lodana.

Krosakkk!

“Haeeet...!” Tangkar sempat terkejut ketika menyibak semak dengan ujung goloknya. Tiba-tiba sesosok makhluk kecil melompat dan menghilang dalam kepekatan malam. Gerakan binatang itu yang mengagetkan Tangkar!

“Hanya seekor kelinci yang kemalaman, Kang...,” jelas Tangkar Hingga suasana tegang kembali mereda.

“Hm... kukira binatang buas yang hendak memangsa kita...,” gumam Ki Lodana kembali merebahkan tubuh. Beberapa saat kemudian terdengar dengkurnya. Lelaki berewok itu telah dibuai mimpi.

Tangkar dan kawannya hanya menggeleng melihat Ki Lodana sudah terlelap. Keduanya kembali duduk di dekat api unggun sambil menambah kayu bakar ke dalamnya. Saat itu, malam telah semakin larut.

********************

“Sssttt...” Ki Lodana memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar tidak bersuara. Lelaki berewok itu menghentikan langkahnya dan merunduk. Yang lainnya segera mengikuti gerakan Ki Lodana, meski dengan hati bertanya-tanya. Dengan tetap merunduk, Ki Lodana bergerak maju. Kemudian bersembunyi di balik alang-alang. Dan mengintai dari tempat itu dengan hati-hati.

“Lihat, betapa cantiknya kijang jantan muda itu...!” bisik Ki Lodana kepada kawan-kawannya yang juga tengah mengintai ke arah pandang Ki Lodana.

“Aiiihhh...?!”

Tangkar dan empat pemburu lainnya berdecak kagum. Apa yang dikatakan Ki Lodana tidak salah. Beberapa tombak dari tempat persembunyian mereka tampaklah seekor kijang jantan besar dengan sepasang tanduk yang panjang dan indah. Kijang jantan muda itu tengah menemani betinanya di tepi sungai.

Dengan hati-hati, Ki Lodana memasang anak panah pada busurnya. Lalu dibidikkan ke tubuh kijang jantan. Untunglah saat itu angin berhembus ke arahnya. Sehingga binatang-binatang itu tidak mencium bau tubuh mereka.

Zingngng...!

Anak panah Ki Lodana berdesing membelah udara dengan kecepatan tinggi. Sayang kijang jantan itu menangkap gaung anak panah yang datang mengancamnya. Sepasang binatang itu langsung terlonjak, dan melesat ke dalam hutan.

“Kurang ajar...!” umpat Ki Lodana. Tidak menyangka kijang jantan itu demikian sigap dan sangat peka pendengarannya.

“Kejar...!”

Tangkar cepat mengambil tindakan. Begitu anak panah Ki Lodana tidak mengenai sasaran, lelaki kekar itu langsung melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Kemudian melesat mengejar sepasang kijang itu.

“Tangkar, tunggu...!” Ki Lodana yang tidak menyangka akan perbuatan kawannya, berusaha untuk mencegah. Bersama dengan pemburu lainnya, lelaki berewok itu melesat mengikuti Tangkar. Jelas, mereka sangat ingin mendapatkan kijang jantan bertanduk indah itu.

Tangkar sendiri tidak peduli dengan teriakan Ki Lodana. Ia terus berlari mengejar sepasang kijang itu. Hatinya semakin penasaran, ketika kijang jantan yang telah terpisah dari betinanya seperti mempermainkannya. Terkadang binatang itu berhenti berlari, dan menunggu Tangkar tiba dekat. Lalu melesat pergi saat Tangkar membidikkan anak panahnya ke tubuh binatang itu.

“Setan...!” maki Tangkar. Lagi-lagi ia harus menelan kedongkolannya. Sebelum anak panahnya sempat dilepaskan, kijang jantan itu telah melesat menjauh. Sehingga Tangkar kembali mengejar, tanpa menyadari kalau dirinya sudah terpisah dari kawan-kawannya.

Dengan penuh nafsu, Tangkar terus mengejar kijang jantan itu. Semak-belukar diterobosnya tanpa peduli. Keinginan untuk mendapat kijang itu membuatnya tidak lagi memperhatikan arah yang telah ditempuh. Dan kesadarannya baru muncul, saat merasakan udara dingin menyergap sekujur tubuhnya.

“Aaahhh...?!”

Tangkar menengadahkan kepala dan memperhatikan sekeliling. Wajahnya menegang dan menyiratkan kecemasan. Rupanya ia baru menyadari kalau dirinya telah berada di suatu tempat yang masih sangat asing.

“Mungkinkah aku telah tersesat begitu jauh...?!” gumam Tangkar sambil memperhatikan sekitar tempat itu. Di sekelilingnya hanya terdapat pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Tangkar telah terperangkap di dalam sebuah hutan yang sangat lebat, dan hampir tidak pernah didatangi orang. Dengan hati berdebar, Tangkar bergerak perlahan. Kijang jantan yang diburunya telah lenyap entah ke mana. Hutan itu demikian lebat sehingga ia kehilangan binatang buruannya!

Menyadari dirinya berada di suatu tempat yang asing dan belum diketahui keadaannya, Tangkar segera menyimpan anak panah serta busurnya. Dan menggantinya dengan golok besar yang terselip di pinggang kanan. Lalu melangkah dengan penuh kewaspadaan.

Matahari sudah semakin tinggi saat Tangkar terbebas dari hutan lebat itu. Tapi, itu bukan berarti dirinya telah keluar dari daerah asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Meski ia telah berada di tempat yang agak jarang ditumbuhi pepohonan raksasa, namun hawa dingin terasa semakin kuat.

“Gunung Es...?!” desis Tangkar dengan suara bergetar karena hawa dingin di tempat itu. Kepalanya tengadah menatap sebuah gunung yang menjulang beberapa puluh tombak di depannya.

Dugaan Tangkar tidak keliru. Gunung yang menjulang dengan puncak putih berkilau tertimpa cahaya matahari itu memang Gunung Es. Itu berarti Tangkar telah tersesat jauh dari tempatnya semula. Sambil menyarungkan senjatanya, Tangkar segera melangkah perlahan. Dan membasuh wajahnya yang penuh dengan lelehan keringat serta lapisan debu. Air sungai yang bening dan dingin membuatnya terasa agak segar. Karena tanpa disadarinya, ia telah berlari hampir setengah hari. Dan tanpa hasil. Buruannya lenyap di hutan lebat.

“Hhh.... Kakang Lodana dan yang lainnya pasti mencariku. Sayang, tempat ini masih sangat asing. Sehingga, aku tak mungkin dapat menemukan jalan kembali dengan cepat,” desah Tangkar seraya menengadah menatap langit.

Setelah agak lama dia tercenung, Kemudian Tangkar menyeberangi aliran sungai. Kakinya yang kokoh berloncatan dengan bertumpu pada batu-batu di tengah sungai. Akhirnya, ia tiba di seberang dengan selamat. Sebagai seorang pemburu yang cukup mengenal kehidupan kaum rimba persilatan, Tangkar berharap bisa menemukan tempat untuk bermalam.

Ia sering mendengar tentang tokoh-tokoh sakti yang hidup di tempat-tempat sunyi. Dan menurutnya, daerah Gunung Es sangat cocok untuk tokoh-tokoh yang ingin menjauhi dunia ramai. Pikiran itu sesaat menghibur hatinya. Tapi belum lama lelaki kekar itu melangkah mendekati Gunung Es. Tiba-tiba terdengar geraman keras yang membuatnya mundur beberapa langkah.

Deg! Jantung Tangkar hampir copot ketika sepasang matanya menangkap sosok berbulu putih, beberapa tombak di depannya. Sosok itulah yang mengeluarkan geraman barusan.

“Be... ruang... Es...!?” desis Tangkar agak gemetar saat mengenali sosok berbulu putih itu.

Sebenarnya sosok makhluk itu bukanlah hal aneh bagi pemburu ulung seperti Tangkar. Tapi, binatang itu besarnya tidak wajar. Hingga Tangkar jadi terkesima. Kesadarannya baru pulih saat beruang es yang sangat besar itu kembali memperdengarkan geramannya.

“Aaahhh...!” Tangkar bergerak mundur. Meski hatinya tidak bisa tenang, namun tangannya bergerak sigap memasang anak panah. Kemudian membidikkan ke arah binatang itu. Andai aku bisa mendapatkan beruang langka ini, tentu Ki Lodana dan yang lainnya akan terkagum- kagum, desah hati Tangkar. Naluri pemburunya seketika bangkit

Zingngng...!

Anak panah di tangan lelaki kekar itu melesat dengan kecepatan tinggi. Dan meluncur ke arah jantung binatang itu. Tapi...,

Trakkk!

Sepasang mata Tangkar terbelalak melihat anak panahnya runtuh ke tanah dalam keadaan patah. Padahal, ia melihat jelas anak panah itu telak mengenai tubuh beruang es yang kini mengeram sambil memperlihatkan taringnya. Tampaknya binatang itu sangat marah dengan perbuatan Tangkar.

“Gila! Mana mungkin tubuhnya tidak tertembus anak panah!?” desis Tangkar. Tidak disangkanya beruang besar itu memiliki kekebalan terhadap senjata tajam.

Wreeettt!

“Aaaiiihhh...!?” Tangkar terpekik kaget. Lengan binatang besar dan kuat itu meluncur ke arahnya. Cepat lelaki itu melompat mundur menghindari tamparan itu. Sambil menarik napas panjang berulang-ulang, Tangkar mencoba mengumpulkan keberaniannya. Kemudian, mencabut golok besar. Siap menghadapi binatang buas itu.

“Majulah! Ingin kulihat, sampai di mana kekebalan tubuhmu...,” desak Tangkar. Golok besarnya digerakkan menyilang. Kemudian menggeser langkahnya ke kanan.

“Groaaahhh...!” Sambil memperdengarkan geramannya yang sangat menggetarkan dada, beruang berbulu putih berdiri tegak dengan kedua kaki belakangnya. Kemudian melompat menerjang Tangkar dengan kecepatan yang mengagumkan!

“Heeeaaat...!” Tangkar yang sedikit banyak mengetahui ilmu silat, langsung menyambut terjangan beruang es dengan tebasan golok besarnya. Senjata itu menderu diiringi kilatan sinar putih. Dan....

Trakkk!

“Heiii...!?” Lagi-lagi Tangkar terpekik kaget! Binatang buas itu mempergunakan lengannya untuk menangkis senjata. Yang membuat Tangkar terkejut adalah gerakan menangkis binatang itu. Tangkisan itu jelas merupakan gerak ilmu silat. Tentu Tangkar heran dibuatnya.

Sungguh tidak masuk akal! Bagaimana mungkin seekor binatang bisa menunjukkan gerak silat yang cukup baik! Atau hal itu hanya kebetulan saja...? Desis batin Tangkar yang sudah berlompatan menjauhi binatang itu. Senjatanya patah akibat tangkisan kuat tadi.

Pertanyaan yang memusingkan kepala itu segera terjawab. Beruang es kembali menunjukkan gerak-gerak ilmu silat saat melangkah mendekati Tangkar. Kenyataan ini tidak bisa diragukan lagi. Beruang es yang besar itu jelas menguasai gerak ilmu silat.

Plaggg!

“Uuuggghhh!” Tangkar yang masih terkesima tidak sempat mengelakkan sebuah tamparan keras pada bahunya. Akibatnya, tubuh lelaki tegap itu terlempar dan jatuh bergulingan.

“Uuuhhh...” Meski dengan bahu terasa remuk, Tangkar berusaha bangkit. Lagi-lagi lelaki kekar itu melihat keanehan pada beruang putih itu. Tamparan yang mengenai bahunya tidak sekeras dugaannya. Beruang itu tidak menggunakan kuku-kukunya sewaktu melakukan serangan. Hal itu jelas sangat mengherankan!

“Binatang ini pasti bukan beruang sembarangan. Tamparan tadi, tidak dimaksudkannya untuk membunuhku. Dan gerak silat itu, pasti didapat dari majikannya. Mungkin beruang itu tidak ingin aku berada di tempat ini,” gumam Tangkar setelah mengkaji semua yang dialaminya. Lelaki kekar itu pun memutuskan untuk segera berlalu dari daerah Gunung Es tersebut.

Melihat binatang itu tidak berusaha mengejar, Tangkar semakin yakin dengan dugaannya. Untuk meyakinkan diri, Tangkar membalikkan tubuh saat telah tiba di seberang sungai. Dilihatnya beruang besar itu berbalik dan melangkah pergi. Lelaki kekar itu pun menarik napas lega.

“Hm.... Tidak salah lagi, beruang besar itu pasti peliharaan seorang tokoh sakti yang menyepi di Gunung Es ini. Untunglah binatang itu hanya mengusirku. Mungkin nalurinya dapat menebak bahwa aku bukan orang jahat. Buktinya binatang itu tidak membunuhku. Kalau ia mau, aku tidak mungkin selamat seperti sekarang...,” desah Tangkar kepada dirinya sendiri.

Kemudian, beranjak meninggalkan tempat itu setelah bayangan beruang es lenyap dari pandangan matanya. Sambil memegangi bahu kanannya yang masih terasa nyeri, Tangkar melangkah mencari tempat bermalam. Saat itu alam memang mulai diselimuti kegelapan.

********************

DUA

“Kakang, lihat..!” Dara jelita berpakaian serba hijau berseru sambil menunjukkan jarinya yang lentik ke sebatang pohon besar.

Sebetulnya dara jelita itu tidak perlu berseru demikian. Pemuda tampan berjubah putih di sebelahnya juga sudah melihatnya. Tubuhnya lalu bergerak ringan setengah berlari, menyusul dara jelita berpakaian serba hijau yang sudah melesat lebih dahulu. Anehnya meski tidak kelihatan berlari cepat, namun tubuhnya meluncur seperti tidak menyentuh tanah. Dan pemuda tampan berjubah putih itu tiba lebih dulu dari kawannya. Tanpa membuang waktu lagi, pemuda tampan berjubah putih itu membungkukkan tubuhnya. Terdengar helaan napas pertanda kelegaan hatinya. Ternyata sosok yang terbaring di bawah pohon besar itu hanya pingsan.

“Bagaimana, Kang? Apakah pemburu itu masih hidup...?” tanya dara jelita ketika tiba di dekat kawannya.

“Pemburu ini hanya pingsan. Mungkin tidak kuat menahan serangan hawa dingin di tempat ini. Tidak lama lagi ia akan siuman. Aku sudah melancarkan peredaran jalan darahnya dengan pijatan. Kita tunggu saja beberapa saat...,” sahut pemuda tampan berjubah putih.

“Syukurlah kalau begitu. Tapi, aku merasa heran. Mengapa ia berada seorang diri di tempat seperti ini? Meskipun seorang pemburu ulung, semestinya ada beberapa orang yang menemaninya. Apalagi tanpa perbekalan...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau. Lalu menjatuhkan tubuhnya di dekat pemuda tampan berjubah putih itu duduk.

“Hm.... Mungkin ia terpisah dari kawan-kawannya, dan tersesat ke tempat ini. Sebab, aku tidak melihat ada binatang buruan di sekitar daerah ini...,” pemuda tampan berjubah putih menimpali dengan dugaan.

Dara jelita berpakaian serba hijau itu diam dan menganggukkan kepala. Sepasang matanya yang bening dan indah meneliti wajah dan pakaian lelaki kekar yang masih tak sadarkan diri. Akhirnya, pemburu berusia sekitar empat puluh tahun itu mengeluh perlahan.

“Ia mulai siuman, Kang...,” gumam dara jelita itu, menoleh ke arah pemuda tampan berjubah putih disebelahnya.

“Hm...,” pemuda tampan berjubah putih hanya bergumam pelan. Kemudian bangkit mendekati lelaki kekar yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Seperti merasa silau dengan sinar matahari pagi.

“Ehhh?!” Bagai disengat kalajengking, pemburu yang tidak lain Tangkar terlonjak bangkit Ia sangat terkejut melihat ada dua orang asing di dekatnya.

“Maaf, jika kehadiran kami mengejutkanmu, Kisanak...,” ujar pemuda tampan berjubah putih dengan sopan dan bersahabat Sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya.

“Kalian berdua..., siapa? Dan..., apa yang kalian lakukan di tempat ini...?” tanya Tangkar dengan tatapan mata curiga. Tubuhnya digeser menjauhi kedua orang muda itu.

“Kami pengembara yang kebetulan lewat di tempat ini. Melihat Kisanak terbaring tak sadarkan diri, kami mencoba menyadarkan. Syukurlah, usaha kami tidak sia-sia...,” sahut pemuda tampan berjubah putih itu, tanpa peduli kecurigaan Tangkar.

Tangkar tampak agak tercenung. Seperti sedang mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya. Samar-samar ia mulai teringat saat mencari tempat untuk bermalam. Rasa lelah dan nyeri pada bahunya serta hawa dingin yang menyerang, membuatnya tidak sadarkan diri. Hingga terkapar pingsan di bawah pohon besar itu. Setelah itu, ia tidak tahu apa-apa lagi.

“Kami menduga kau telah terpisah dari kawan-kawanmu, dan tersesat ke tempat ini. Apakah dugaan kami benar?” tanya pemuda tampan berjubah putih ketika melihat lelaki bertubuh kekar itu terdiam cukup lama.

“Ya... ya. Aku memang tersesat dan terpisah dari kawan-kawanku,” sahut Tangkar agak gugup. Sikap itu membuat kedua penolongnya mengerutkan kening, dan saling berpandangan sesaat.

“Mmm.... Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Kisanak? Tidakkah kau ingin bergabung kembali dengan kawan-kawanmu?” Kali ini yang melontarkan pertanyaan dara jelita berpakaian serba hijau. Sepasang mata bulat bening itu menatap wajah ke depannya dengan penuh selidik. Gadis itu agaknya mengetahui Tangkar telah menyembunyikan sesuatu.

Tangkar mengatur napas perlahan-lahan. Ia belum menjawab pertanyaan tadi. Bahkan, lelaki kekar itu mencoba bangkit berdiri. Tapi....

“Uuuhhh...!” Pemburu bertubuh kekar itu mengeluh tertahan. Tangan kirinya memijat bahu kanan yang terasa sakit saat bergerak bangkit Rupanya bekas tamparan beruang es belum sembuh.

“Kau terluka, Kisanak...?” tanya pemuda tampan berjubah putih. Tangannya diulurkan menangkap tubuh Tangkar yang terlihat agak limbung seperti mau jatuh.

“Terima kasih...,” ucap Tangkar. Kemarin aku terjatuh. Dan bahu ku agak terkilir..,” lanjutnya.

“Kalau kau tidak keberatan, aku akan memeriksanya. Mudah-mudahan aku bisa meringankan rasa sakit di bahumu itu...,” tukas pemuda tampan berjubah putih dengan sinar mata tulus, tanpa menyembunyikan keinginan lain.

Tangkar hanya mengangguk lemah. Ia memang merasa terganggu dengan bekas luka tamparan beruang es. Hingga lelaki itu tidak berusaha mencegah, ketika pemuda tampan berjubah putih membuka pakaiannya pada bahu bagian kanan.

“Hm...,” pemuda tampan berjubah putih bergumam perlahan saat melihat luka memar di bahu lelaki bertubuh kekar itu. Agaknya pemuda itu tahu kalau dirinya dibohongi. Namun, ia tidak berkata apa-apa.

“Siapa namamu, Anak Muda? Sepertinya kau sangat ahli mengobati luka...?” tanya Tangkar. Ketika pemuda tampan itu melepaskan jari-jari tangannya, setelah menyelesaikan pijatannya pada bahu Tangkar.

“Namaku Panji. Dan kawanku ini Kenanga. Sebagai orang yang selalu melakukan perjalanan, kami membekali diri dengan sedikit kepandaian mengobati. Semua itu hanya untuk berjaga-jaga,” sahut pemuda tampan berjubah putih, memperkenalkan diri.

“Aku Tangkar. Kuucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang telah kalian berikan. Dan kalau kalian tidak keberatan, aku ingin ikut bersama kalian sampai keluar dari daerah Gunung Es ini...,” pinta Tangkar sambil memperkenalkan diri pada pasangan muda yang ternyata Panji dan Kenanga.

“Tentu saja kami tidak keberatan. Kalau begitu, mari kita segera berangkat..,” sahut Panji langsung setuju. Pemuda itu berharap dapat mengorek keterangan mengenai kejadian yang menimpa pemburu itu. Dan, apa yang menyebabkan Tangkar menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.

“Ayolah...,” tukas Tangkar yang segera melangkah di samping pasangan pendekar muda itu.

********************

Sepanjang perjalanan Tangkar tidak banyak bicara. Bahkan terkesan sengaja menutup diri. Sehingga, Panji dan Kenanga tidak menyinggung mengenai penyebab Tangkar berpisah dengan kawan-kawannya. Juga soal luka di bahu pemburu itu. Meskipun Panji tahu luka itu bukan disebabkan oleh terjatuh. Tangkar seperti hendak menyembunyikan kejadian yang menimpa dirinya hingga Panji tidak ingin mencampuri.

“Sampai di sini kita berpisah. Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih...,” saat ketiganya tiba di pertigaan jalan, Tangkar meminta untuk berpisah. Ucapan terima kasih yang diucapkannya jelas hanya basa-basi saja. Raut wajahnya sedikit pun tidak menggambarkan perasaan itu.

“Hm.... Tempat ini masih sangat jauh dari perkampungan. Di mana tempat tinggalmu, Tangkar...?” tanya Panji setelah terdiam beberapa saat memperhatikan sekitar tempat itu.

“Sebagai seorang pemburu, aku sering melakukan perjalanan jauh. Aku pun dapat mengenali jalan dengan baik. Tempat tinggalku sendiri tidak jauh dari sini. Kalian tidak perlu mengantarku. Cukup sampai di sini saja...,” sahut Tangkar tanpa menyebutkan desa tempat tinggalnya. Hingga pasangan pendekar muda itu mengerutkan kening dengan wajah agak heran.

"Pemburu ini sangat aneh. Jelas ia menyembunyikan sesuatu dariku. Apa yang membuatnya khawatir jika aku dan Kenanga mengetahuinya...?" Desis batin Panji seraya menatap wajah Tangkar lekat-lekat

Mendapat tatapan tajam seperti itu, Tangkar menjadi salah tingkah. Lelaki kekar itu berusaha menghindar dengan membuang pandang ke arah lain.

“Silakan lanjutkan perjalanan kalian. Terima kasih atas bantuan kalian kepadaku...,” ucap Tangkar. Lalu berbalik meninggalkan pasangan pendekar muda itu, yang terpaku menatap kepergiannya. Sesekali Tangkar menoleh dengan cemas. Seolah khawatir Panji dan Kenanga mengikuti.

“Aneh sekali orang itu...,” gumam Kenanga setelah bayangan tubuh Tangkar tidak nampak lagi. Dara jelita itu tidak bisa menyimpan rasa penasarannya. Hingga segera mengungkapkannya kepada Panji.

“Hhh..., aku pun heran dengan sikapnya. Entah apa yang ingin disembunyikannya dari kita...,” sahut Panji berdesah lirih. Sementara pandang matanya tetap tertuju ke arah bayangan Tangkar lenyap.

“Bahkan desa tempat tinggalnya pun berusaha ditutupi, agar kita tidak tahu. Padahal kalau kita mau, mudah sekali mengikuti langkahnya...,” sambung Kenanga seraya memandang ke arah Tangkar lenyap.

“Yaaah...” Panji menghela napas panjang. Sebenarnya ia pun penasaran melihat sikap tertutup pemburu itu. Tapi karena menduga yang dirahasiakan Tangkar persoalan pribadi, maka Panji tidak ingin mencampuri. Apalagi orang yang bersangkutan tidak menginginkan campur tangannya.

“Apa tidak sebaiknya kita ikuti saja, Kang...?” usul Kenanga.

“Tidak perlu,” tukas Panji tegas, meski dengan suara lembut. “Mungkin itu persoalan pribadi. Hingga ia tidak ingin kita mencampurinya.”

Mendengar jawaban kekasihnya, Kenanga terdiam dan menghela napas. Kemudian mengalihkan pandang ke tempat lain.

“Sudahlah. Kelihatannya memang tidak ada yang perlu kita selidiki dari pemburu yang mengaku bernama Tangkar itu. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan...,” ujar Panji setelah beberapa saat lamanya mereka dicekam kebisuan.

Lalu, Panji mendekati kekasihnya. Dan melingkarkan lengannya ke bahu dara jelita itu. Mereka pun melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Keduanya mengambil jalan yang berlawanan dengan arah Tangkar pergi.

********************

Lima orang lelaki berperawakan tegap bergerak memasuki mulut Desa Kawung. Masing-masing membawa seekor kijang jantan mati. Menilik pakaiannya, agaknya kelima lelaki berperawakan tegap itu para pemburu yang baru kembali dari perburuannya. Mereka pun membawa sebuah bungkusan besar yang berisikan kulit binatang. Tampaknya kelima pemburu itu mendapat hasil yang memuaskan. Semua itu tampak jelas dari wajah-wajah mereka yang cerah.

“Wah. Kelihatannya Kakang Lodana sedang mujur dalam perburuan kali ini...,” sapa seorang lelaki bertubuh sedang ketika berpapasan dengan rombongan pemburu itu.

“Begitulah. Sayangnya semua hasil yang cukup melimpah ini harus kami tebus dengan diri Tangkar. Dia terpisah dari kami, dan tersesat entah ke mana...,” sahut Ki Lodana. Wajahnya berubah keruh begitu teringat seorang kawannya yang terpisah dan tidak dapat ditemukan.

“Apa Kakang tidak salah bicara...?” tukas lelaki bertubuh sedang dengan wajah heran. Sehingga, Ki Lodana dan kawan-kawannya saling bertukar pandang sejenak.

“Salah bicara bagaimana...?” tanya Ki Lodana tidak mengerti.

“Kakang bilang, Kang Tangkar terpisah dan tersesat. Tapi, kemarin siang aku melihatnya, ia memang tidak membawa hasil buruan seperti yang kalian bawa...,” jelas lelaki bertubuh sedang.

Jawaban yang tidak disangka-sangka itu tentu saja membuat Ki Lodana dan kawan-kawannya terkejut. Kelihatan sekali mereka tidak percaya dengan keterangan itu.

“Kau yakin...?” tegas Ki Lodana belum percaya.

“Tentu saja, Kang. Bahkan aku sempat berteguran dengannya...,” tukas lelaki bertubuh sedang, yang kelihatan semakin tidak mengerti dengan sikap Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Hm.... Mari kita lihat...,” ajak Ki Lodana kepada kawan-kawannya. Tanpa menunggu jawaban, lelaki berewok itu melangkah cepat menuju tempat tinggal Tangkar.

Tinggallah lelaki bertubuh sedang yang memandangi kepergian Ki Lodana dan kawan-kawannya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Heran melihat tingkah pemburu-pemburu itu.

Rasa heran dan penasaran membuat langkah Ki Lodana semakin cepat menyusuri jalan utama Desa Kawung. Sapaan beberapa penduduk hampir tidak dipedulikan. Lelaki itu hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Tentu saja sikap lelaki berewok itu membuat para penduduk yang mengenalnya menjadi heran. Namun mereka hanya bisa menggeleng, dan melanjutkan langkahnya. Tanpa peduli dengan sikap Ki Lodana yang terlihat aneh itu.

Di depan sebuah rumah sederhana yang letaknya agak terpencil, Ki Lodana menghentikan langkahnya sejenak. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang tengah menyapu halaman, bergegas menyambut kedatangan Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Benar Tangkar sudah kembali...?” tanpa basa-basi lagi, Ki Lodana langsung melontarkan pertanyaan kepada wanita itu.

“Benar, Kang. Ada apa...?” jawab wanita itu balik bertanya. Wajahnya menggambarkan keheranan besar atas sikap Ki Lodana yang tidak biasanya.

“Aku ingin bertemu dengannya...?” tukas Ki Lodana langsung bergerak memasuki halaman rumah itu.

“Kakang...,” sambut lelaki bertubuh kekar menyongsong kedatangan Ki Lodana dan para pemburu lainnya.

“Kau ini bagaimana, Adi Tangkar! Setengah mati kami mencarimu, kau malah enak-enak di rumah!” tegur Ki Lodana. Meski nada suaranya terdengar agak ketus, namun wajahnya menggambarkan kelegaan melihat sosok Tangkar yang disangkanya telah hilang sewaktu berpisah di hutan.

“Begini, Kang...,” jelas Tangkar segera menceritakan peristiwa yang dialaminya. Tapi, sampai sejauh itu tidak menyinggung tentang Panji dan Kenang yang menyelamatkannya. Juga mengenai beruang es yang ditemukannya pada waktu tersesat.

Ki Lodana dan empat pemburu lainnya menghela napas lega setelah mendengar penjelasan Tangkar. Mereka merasa bersyukur kawannya yang diduga hilang ternyata selamat tanpa kurang suatu apa. Hal itu tidak pernah mereka sangka.

“Kakang... ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, juga dengan kawan-kawan...,” bisik Tangkar perlahan. Matanya mengerling ke arah istrinya yang masih sibuk membersihkan pekarangan dari dedaunan pohon.

“Ada apa, Adi Tangkar? Kelihatannya sangat rahasia...?” tanya Ki Lodana juga berbisik. Rupanya, lelaki berewok itu menangkap ada sesuatu yang ingin dirahasiakan Tangkar.

“Mari kita ke halaman belakang. Di sana lebih aman...,” bisik Tangkar lagi. Lalu beranjak menuju halaman belakang rumah. Setelah mereka berkumpul, Tangkar segera menceritakan pengalaman yang sesungguhnya dengan berbisik. Tapi, tetap tidak menyinggung pasangan pendekar muda yang menolongnya.

“Beruang es...?!” seru Ki Lodana dan empat pemburu lainnya. Mereka kelihatan sangat terkejut mendengar penuturan Tangkar.

“Benar! Besarnya satu setengah kali ukuran manusia normal. Selain itu, binatang langka itu pun pandai bermain silat!” lanjut Tangkar dengan mata berbinar. Lelaki kekar itu merasa bangga dapat membuat kawan-kawannya terbelalak heran.

“Ahhh...?!”

Kembali kelima pemburu itu berseru heran. Mulut mereka sampai ternganga. Cerita Tangkar hampir tidak masuk di akal. Hanya karena mereka sudah berkawan lama, dan tahu watak Tangkar yang tidak suka berdusta saja. Sehingga mereka percaya dengan cerita itu. Kalau orang lain yang menceritakannya, Ki Lodana dan kawan-kawannya pasti akan mentertawakan.

“Dan anehnya, beruang itu tidak bermaksud membunuhku! Ia hanya mengusirku agar menjauhi tempat itu. Nah. Apakah itu tidak aneh?”, lanjut Tangkar. Kawan-kawannya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Hm.... Kalau benar demikian tentu kulit binatang itu sangat mahal harganya...,” gumam salah seorang pemburu. Kawan-kawannya menoleh.

“Menurutku, bukan hanya kulit beruang itu saja yang bisa mendatangkan kekayaan bagi kita. Tapi, aku menduga ada sesuatu yang dijaga binatang itu. Bukan mustahil binatang itu menjaga harta majikannya yang sudah tewas...,” Tangkar mengemukakan pendapat nya.

“Lalu...?” Ki Lodana yang masih belum mengerti jalan pikiran Tangkar, mencoba menegasi.

“Apakah Kakang tidak tertarik untuk menyelidiki keanehan beruang itu? Dan lagi, binatang buruan itu sangat langka. Tentunya jauh lebih berharga dibanding apa yang telah kalian dapatkan,” tegas Tangkar. Agaknya, ia hendak mengajak kawan-kawannya memburu beruang es itu.

Mendengar ucapan Tangkar, empat pemburu lainnya segera menatap Ki Lodana. Mereka seperti hendak melihat tanggapan lelaki berewok yang merupakan orang paling tua dan paling berpengalaman di antara mereka berenam. Hingga keputusannya berada di tangan Ki Lodana.

“Hm.... Kalau mendengar ceritamu, sepertinya beruang itu sangat sukar ditundukkan. Selain itu dugaanmu belum tentu benar, Tangkar. Bagaimana kalau majikan beruang es masih hidup? Tentu ia akan murka. Kalau beruang itu pandai menggunakan ilmu silat, pasti majikannya seorang tokoh sakti. Terbukti ia bisa melatih beruang...,” ujar Ki Lodana.

“Mengapa harus bingung, Kang. Bukankah kita pemburu? Kalau majikan beruang itu marah, kita bisa mengajukan alasan yang tepat. Sebab, tidak ada larangan bagi pemburu untuk membunuh binatang yang ditemukannya. Apalagi di tengah belantara sepi yang jauh dari pemukiman penduduk,” bantah Tangkar, setelah terdiam beberapa saat.

Mendengar ucapan itu, keempat pemburu lainnya mengangguk. Jelas mereka sangat setuju dengan ucapan Tangkar. Kini mereka tinggal menunggu persetujuan Ki Lodana.

“Hm.... Baiklah. Tapi kuperingatkan kepada kalian, jangan menceritakan mengenai beruang es itu kepada siapa pun! Jika hal ini sampai terdengar orang-orang rimba persilatan, mereka pasti akan tertarik. Kalau hal itu terjadi, kita yang akan susah...,” ujar Ki Lodana mengingatkan, sekaligus sebagai jawaban kalau ia menyetujui usul Tangkar.

“Baik,” sahut Tangkar dan yang lainnya dengan wajah cerah. Mereka sangat gembira mendengar keputusan Ki Lodana.

“Kalau begitu, sekarang kita harus mempersiapkan perbekalan. Sebab, perjalanan kali ini akan lebih jauh dan lebih berat dari biasanya,” lanjut Ki Lodana. Tangkar dan yang lainnya mengangguk tanda mengerti.

“Kapan kita berangkat, Kang...?” tanya Tangkar. “Besok, Kang. Aku pun harus menyiapkan peralatanku. Semuanya telah lenyap saat aku tersesat...,” ujar Tangkar sambil menganggukkan kepala dengan sepasang mata berbinar. Lelaki kekar itu tampak sangat gembira dengan perjalanannya kali ini yang dianggapnya sangat berbeda.

Setelah menyusun rencana, Ki Lodana dan empat pemburu lainnya mohon diri. Dan, berjanji akan datang esok sebelum fajar. Tangkar tersenyum melepas kepergian kawan-kawannya. Lelaki kekar itu tampak tidak berusaha menyembunyikan perasaan gembiranya. Setelah bayangan Ki Lodana dan yang lainnya sudah jauh, Tangkar pun sibuk menyiapkan segala keperluan berburu.

********************

TIGA

“Terima kasih...,” ucap perempuan berwajah manis berusia sekitar tiga puluh tahun.

“Katakan kepada Kakang Tangkar agar berhati-hati. Semoga ia berhasil mendapatkan binatang itu...,” ujar pelayan kedai berusia empat puluh tahun yang bertubuh agak kurus.

Perempuan itu hanya tersenyum dan bergegas meninggalkan kedai dengan membawa barang belanjaannya. Baik pelayan maupun perempuan yang tidak lain istri Tangkar, tidak menyadari kalau pembicaraan mereka telah menarik perhatian orang. Dua lelaki bertampang seram segera bangkit dan menghampiri pelayan, saat istri Tangkar telah lenyap dari pandangan.

“Ada apa, Tuan...?” tanya pelayan kedai mencoba tersenyum ramah. Sayang ia gagal. Sebab senyumnya terlihat sangat ngeri.

“Hm.... Coba ulangi apa yang barusan diceritakan perempuan itu kepadamu...,” gumam salah seorang dari kedua lelaki itu, yang wajahnya terhias kumis tebal. Pada sepasang matanya terlihat ancaman. Hingga pelayan kedai itu ciut nyalinya.

“Baik... baik...,” jawabnya dengan wajah agak pucat. Sebab kawan lelaki berkumis tebal itu meraba-raba gagang pedang yang menyembul dari balik pakaian.

“Hm...” Kedua lelaki yang kelihatan berwatak kasar itu bergumam sambil meraba-raba dagu. Kepala mereka sesekali terlihat mengangguk, mendengar cerita pelayan kedai yang disampaikan dengan berbisik.

“Jadi mereka akan berangkat sebelum fajar...?” tanya lelaki berkumis lebat menegasi, setelah cerita pelayan kedai itu selesai.

“Benar, Tuan...,” jawab pelayan kedai seraya menghela napas panjang. Butir-butir keringat menitik di keningnya. Pelayan itu menduga kedua lelaki itu bukanlah orang baik-baik. Itu terlihat dari sikap dan cara bicara mereka yang kasar dan sombong.

“Kau yakin mereka akan lewat Hutan Batang...?” desis yang seorang lagi. Sepertinya masih kurang percaya dengan penjelasan pelayan kedai.

“Aku... tidak tahu pasti, Tuan. Tapi, menurut wanita tadi memang begitu...,” jawab pelayan kedai terbata-bata.

“Hm...” Kedua lelaki kasar itu saling berpandangan sejenak. terlihat senyum licik di bibir mereka. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya bergerak hendak meninggalkan kedai.

“Tuan...,” panggil pelayan kedai lirih. Hampir tidak terdengar kedua orang itu.

“Ada apa lagi?” sahut lelaki berkepala botak yang mengenakan ikat kepala putih. Wajahnya tampak tak senang ketika menoleh.

“Makanan yang Tuan-tuan pesan tadi... belum dibayar...,” ujar pelayan kedai takut-takut. Kendati hatinya berdebar-debar, pelayan kedai itu memberanikan diri menagih. Karena ia tidak ingin dimarahi majikannya.

“Hmmm...” Lelaki berkepala botak menggeram tak senang. Sepasang matanya menyapu sekeliling ruangan kedai. Melihat para pengunjung kedai menundukkan wajah, tak berani menentang pandangan matanya. Ia kembali menatap wajah pelayan yang semakin pucat.

“Sudahlah, Tonggala. Untuk apa meladeni pelayan tolol itu...,” ujar lelaki berkumis lebat. Kembali melanjutkan langkahnya ke luar kedai.

“Tuan...!” melihat kedua orang itu tidak mau membayar pelayan kedai itu bergegas mengejar. Tapi....

“Kurangajar!” desis lelaki berkepala botak marah. Cepat tubuhnya berbalik, dan tangan kanannya melayang dengan tamparan keras!

Plakkk!

“Auuughhh!” Hebat sekali tamparan itu. Tubuh pelayan kedai langsung terjengkang ke belakang dan menimpa sebuah meja. Kemudian terbanting ke tanah.

Kejadian itu semakin membuat para pengunjung ketakutan. Tak satu pun yang bergerak hendak menolong pelayan sial itu. Bahkan mereka berpura-pura tak mengetahui kejadian itu. Sementara pelayan kedai berusaha bangkit, sambil mengaduh memegangi wajah sebelah kanannya yang bengkak. Pada ujung bibirnya terlihat darah segar.

“Hm… Masih untung tidak kutebas batang lehermu...!” desis lelaki berkepala botak. Lalu kembali melangkah setelah meludah ke tanah.

“Kasihanilah saya, Tuan. Kalau nanti majikanku mengetahui ada yang tidak bayar, aku akan dipecatnya...” rintih pelayan kedai dengan suara menghiba. Wajahnya terlihat demikian memelas. Dengan sepasang mata sayu, ditatapinya kedua lelaki kasar itu. Sepasang tangannya bergerak menangkap lengan lelaki berkepala botak. Pelayan itu berdiri dengan bertelekan kedua lututnya, persis seperti orang menyembah.

“Keparat! Pergi kau!” lelaki berkepala botak sedikit pun tidak tergerak dan merasa kasihan. Ia malah se- makin geram. Kali ini tubuh pelayan itu ditendangnya hingga terpental ke luar kedai.

Ngekkk!

Tanpa ampun, tubuh pelayan itu terpental dan terbanting ke tanah, persis di bawah kaki dua sosok tubuh yang baru saja hendak memasuki kedai. Pelayan kedai itu merintih sambil memegangi perutnya yang terasa hancur terkena tendangan lelaki berkepala botak. Kepalanya yang tepat berada di dekat kaki dua sosok tubuh itu tengadah, seperti hendak melihat pemilik kaki-kaki itu.

Sosok pemuda tampan berjubah putih itu mengulurkan kedua tangannya. Lalu, diangkatnya tubuh pelayan itu bangkit berdiri. Sedangkan dara jelita berpakaian serba hijau yang berdiri di sebelah pemuda tampan itu menatap heran. Ia tidak mengetahui apa yang menyebabkan lelaki bertubuh agak kurus itu terluka, dan mengeluarkan darah pada ujung bibirnya.

“Hm.... Rupanya ada orang yang sok jadi pahlawan...!” desis suara berat bernada sinis. Ucapan itu keluar dari mulut lelaki berkepala botak, yang baru saja keluar dari pintu kedai bersama kawannya. Lelaki botak itu tidak senang melihat perbuatan pemuda tampan berjubah putih.

“Maaf, Kisanak. Aku hanya ingin membantu orang ini berdiri. Apa perbuatanku salah?” sahut pemuda tampan berjubah putih dengan tenang. Sekali lihat saja, pemuda itu langsung tahu apa yang menyebabkan pelayan kedai itu terluka.

“Perbuatanmu jelas salah, Bocah! Dengan menolong pelayan sialan itu, sama artinya kau menantangku!” tukas lelaki berkepala botak dengan wajah gelap. Suaranya terdengar penuh kemarahan.

“Sekali lagi, maaf. Aku sungguh tidak bermaksud menantangmu. Hanya ingin membantu orang ini berdiri. Itu saja,” kembali pemuda tampan berjubah putih membela diri. Nada suaranya tetap wajar, tanpa mencerminkan perasaan apa pun. Bahkan sikapnya tetap tenang, meski tahu lelaki berkepala botak sangat marah kepadanya.

“Untuk apa meladeni bocah itu, Tonggala? Ingat, kita masih mempunyai urusan yang lebih penting!” lelaki berkumis lebat mengingatkan kawannya agar tidak mempedulikan pemuda tampan berjubah putih.

“Tidak bisa, Janaga! Aku harus memberi pelajaran padanya. Agar lain kali berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan seperti sekarang ini! Kalau tidak, ia akan menjadi sombong dan besar kepala!” lelaki berkepala botak yang bernama Tonggala itu tidak mau mengalah. Bahkan, melangkah mendekati pemuda tampan berjubah putih. Sementara pemuda itu tetap berdiri tenang sambil memegang tubuh pelayan kedai yang masih lemas merasakan sakitnya.

“Hm.... Aku ingin melihat sampai di mana keberanianmu, Bocah! Tunjukkan kemampuanmu di depan Tonggala! Aku yakin pasti kau memiliki satu dua gerak ilmu silat..!” ujar Tonggala. Tampak begitu yakin dapat menundukkan pemuda tampan berjubah putih. Dengan dada membusung, ia berdiri di hadapan pemuda itu dalam jarak setengah tombak.

“Di antara kita tidak ada persoalan, Kisanak. Apa yang kau lakukan terhadap pelayan kedai ini sudah lebih dari cukup. Sebaiknya, tidak perlu kita lanjutkan persoalan ini...,” ujar pemuda tampan berjubah putih mencoba mengalah dan menghindari kekerasan.

“Hua ha ha...!” Tonggala tertawa keras mendengar perkataan pemuda tampan berjubah putih. “Hei, gadis cantik seperti bidadari! Pengawalmu ternyata bernyali kecil. Sebaiknya kau tinggal saja bocah ingusan itu! Aku akan senang menjadi pengawal setiamu. Dan, kau tentu akan lebih aman dalam lindunganku...,” lanjut Tonggala dengan sombongnya. Sepasang matanya mengerling ke arah dara jelita berpakaian serba hijau.

“Begitukah menurutmu, Tonggala?” tukas dara jelita berpakaian serba hijau, memamerkan senyumnya yang mampu membuat hati lelaki melompat-lompat. Seraya berkata demikian, dara jelita itu melangkah mengitari tubuh Tonggala. Seperti tengah menilai kekuatan lelaki berkepala botak itu.

Tonggala semakin membusungkan dadanya. Senyumnya melebar, mencerminkan kesombongan hatinya. Tampaknya ia ingin menunjukkan dirinya jauh lebih cocok menjadi pengawal dara jelita itu, daripada pemuda tampan yang memapah tubuh pelayan kedai, yang ditolongnya berdiri tadi.

“Hm.... Aku ragu akan kekuatanmu, Tonggala...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau. Setelah beberapa saat meneliti sosok Tonggala, dan berhenti di depan lelaki berkepala botak itu.

“Ehhh!?” Tonggala agak terperanjat mendengar ucapan dara jelita yang masih memamerkan senyum memabukkan itu. Saking terkejutnya, lelaki botak itu tampak menarik kepalanya ke belakang. Tidak menyangka dara jelita itu berani berkata demikian kepadanya.

“Hm.... Jadi, kau menganggap pemuda ingusan itu lebih kuat dariku!” geram Tonggala seraya melemparkan pandang ke arah pemuda tampan berjubah putih di belakang dara jelita itu. “Kalau kau ingin melihat kekuatanku, boleh kau ajukan pengawalmu itu untuk mengujiku!” tantang Tonggala.

“Tidak perlu sejauh itu. Kalau kau sanggup menjaga tubuhmu dari pukulanku, itu sudah cukup. Nah. Apa kau bersedia?” tukas dara jelita berpakaian serba hijau tanpa kehilangan senyum manisnya.

Tonggala tertawa berkakakan. Kepalanya tengadah, karena sangat gembira. Dengan menghadapi dara jelita itu, berarti ia mempunyai kesempatan untuk menyentuh tubuh moleknya. Dan Tonggala girang membayangkan hal menyenangkan itu.

“Lakukanlah, Bidadari ku. Aku sudah tidak sabar ingin segera merasakan sentuhan tangan halusmu...!” tantang Tonggala kembali dengan congkaknya. Kemudian lelaki botak itu bertolak pinggang. Seolah hendak memberikan tubuhnya untuk dipukul dara jelita itu.

“Kau boleh mengelak, Tonggala. Aku tidak ingin kau menyesal nanti...,” ujar dara jelita itu memperingatkan.

“He he he...! Aku tidak akan melakukan hal bodohitu, Bidadari Jelita. Sebab, aku sangat ingin merasakan sentuhan tanganmu yang hangat dan lembut. Ayolah! Apa lagi yang kau tunggu?” sahut Tonggala sombong.

Sementara itu, para penduduk sudah banyak berkerumun hendak menyaksikan. Mereka kelihatannya mengkhawatirkan dara jelita berpakaian serba hijau. Karena sosok Tonggala memang meyakinkan. Lelaki botak itu terlihat sangat kuat, hingga tidak mudah dirobohkan orang. Jangankan dara jelita itu, dua puluh lelaki pun belum tentu mampu merobohkannya.

“Kau tidak akan menyesal Tonggala...?” tanya dara berparas jelita itu menegasi. Ia masih memberi kesempatan lelaki berkepala botak untuk berpikir lagi.

“Lakukan... lakukanlah...,” tukas Tonggala sambil tertawa-tawa sombong.

“Hm.... Kalau begitu bersiaplah...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau seraya melangkah maju.

Menyaksikan dara jelita itu mengayun pukulan, para penduduk Desa Kawung sama-sama menahan napas. Pukulan itu kelihatan pelan dan tak bertenaga. Tentu tubuh kekar lelaki botak itu tidak akan bergeming. Mungkin ia merasa seperti dibelai kepalan mungil dara jelita itu. Tapi....

Bukkk!

“Hiiighhh!”

Tonggala sangat terkejut melihat pukulan dara jelita itu menyentuh tubuhnya. Tanpa dapat dicegah, lelaki botak itu terbanting keras ke tanah. Kepalan mungil itu telah menyesakkan dadanya. Kenyataan itu sungguh tidak pernah terbayang dalam pikiran Tonggala.

Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu ternganga heran! Bagaimana mungkin kepalan mungil yang dilontarkan dengan perlahan itu sanggup merobohkan Tonggala, yang terlihat kekar dan sangat kuat? Tapi, kejadian itu terbentang nyata di depan mata mereka. Sehingga, tidak diragukan lagi kebenarannya.

“Keparat...!” desis Tonggala, dan berusaha bangkit dengan wajah merah. Dadanya yang terkena pukulan dara jelita itu terasa nyeri, hingga sulit untuk bernapas. Tonggala menjadi geram, dan lupa dengan kata-katanya tadi.

“Kau... kau pasti menggunakan ilmu sihir...!” desis Tonggala yang merasa malu karena kejadian itu disaksikan banyak orang.

Dara jelita berpakaian serba hijau itu hanya tersenyum manis. Gadis itu tampaknya tidak merasa khawatir dengan kemarahan Tonggala. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu, Tonggala? Mengapa sekarang marah-marah? Apakah kau sudah lupa dengan ucapanmu yang didengar orang banyak tadi?” ujar dara jelita berpakaian serba hijau dengan sikap tenang. Sehingga, Tonggala menggertakkan gigi kuat-kuat. Ucapan itu memang tidak bisa dibantahnya.

Janaga pun bukan tidak terkejut menyaksikan kejadian itu. Ia sendiri semula merasa heran dan tidak mempercayainya. Tapi, kejadian itu begitu jelas terpampang di depan mata. Sehingga, Janaga mencurigai dara jelita berpakaian serba hijau dan pemuda tampan berjubah putih yang masih tetap tenang di tempatnya. Seolah pemuda itu yakin kawannya dapat mengatasi Tonggala. Sikap tenang pasangan orang muda itu, serta kejadian yang disaksikannya, membuat Janaga segera menilai. Lelaki itu tidak mau bertindak gegabah seperti yang dilakukan Tonggala. Setelah berpikir beberapa saat, Janaga segera menghampiri Tonggala. Kemudian berbisik kepada kawannya.

“Tonggala, gadis jelita berpakaian serba hijau itu jelas bukan orang sembarangan. Belum lagi pemuda tampan berjubah putih, yang tampak begitu tenang dan penuh percaya diri. Sebaiknya kita tidak mencari penyakit. Ingat, urusan kita masih belum selesai...,” kata-kata itu meluncur jelas di telinga Tonggala. Sebab, Janaga berdiri di samping lelaki botak itu dan mengapit lengannya.

“Tapi...,” Tonggala berusaha membantah. Lelaki botak itu masih penasaran dan ingin membalas rasa malu yang dideritanya.

“Tonggala, kita belum melaporkan berita yang kita dengar di kedai tadi...,” kembali Janaga membujuk kawannya. “Mengenai kedua orang itu, bisa kita urus belakangan..,”

Melihat Tonggala terdiam seperti tengah memikirkan perkataannya, Janaga tak membuang-buang waktu lagi. Cepat diseretnya Tonggala meninggalkan tempat itu dengan diiringi sorak mengejek penduduk.

Sedangkan pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau hanya berdiri memandang kepergian Tonggala dan Janaga. Mereka tampak tidak berusaha mengejar. Malah bersyukur, kejadian itu tidak menimbulkan pertumpahan darah. Setelah bayangan kedua orang kasar itu semakin mengecil, keduanya bergegas masuk ke dalam kedai. Pelayan kedai itu masih dipapah pemuda tampan berjubah putih.

********************

EMPAT

Hembusan angin masih terasa dingin menyentuh kulit. Kendati kokok ayam sudah terdengar, namun langit masih gelap. Matahari belum lagi menampakkan diri. Saat itu fajar baru saja menjelang. Dalam cuaca seperti itu, tampak enam sosok bayangan hitam bergerak menyusuri jalan lebar. Mereka hanya diterangi dua batang obor yang dibawa orang terdepan dan paling belakang. Dengan api yang bergoyang-goyang dipermainkan angin itulah mereka mengenali jalan yang akan dilalui.

Setelah melewati perbatasan Desa Kawung, keenam sosok tubuh itu bergerak ke kiri, menerobos jalan setapak yang masih basah oleh embun. Kendati demikian, mereka tidak menemui kesulitan. Tampaknya keenam orang itu telah mengenali jalan yang dilaluinya. Sehingga, perjalanan berlangsung cepat. Kini mereka menyeberangi sungai yang merupakan jalan masuk ke sebuah hutan karet.

Jalan yang kali ini mereka lalui cukup besar dan tanahnya agak keras. Pohon karet yang berdiri berjajar sepanjang jalan, tak ubahnya sosok-sosok penjaga hutan karet yang cukup luas itu. Ketika rombongan kecil itu telah melewati hutan karet, mereka kelihatan terkejut, dan menghentikan langkah berbarengan. Beberapa tombak di depan mereka tampak cahaya yang menerobos celah dedaunan pohon.

“Mungkinkah...”

“Sssttt..!”

Ucapan salah seorang anggota rombongan yang berperawakan kekar terhenti. Setelah lelaki gagah yang berada didepan dan bertindak sebagai kepala rombongan, memberi isyarat untuk tidak bersuara. Kendati demikian, mereka semua tahu kelanjutan kalimat itu. Buktinya empat anggota rombongan yang lain tidak bertanya-tanya, hanya memandang ke arah pimpinan rombongan.

Lelaki gagah yang menjadi pemimpin rombongan berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya yang keras dihiasi berewok. Lelaki berewok itu memberi isyarat dengan gerakan kedua tangannya agar mereka waspada. Kemudian perlahan melangkah maju, diikuti kelima kawannya. Bias cahaya yang mereka lihat dari celah dedaunan pohon ternyata berasal dari sebatang obor yang tertancap di sebuah pohon. Aneh, benda itu membuat mereka berseru tertahan. Bahkan ketegangan dan kecemasan terpancar pada wajah keenam lelaki itu.

“Mungkinkah tanda ini diberikan untuk kita? Atau ada rombongan lain yang mereka tunggu?” desis lelaki gagah berwajah berewok yang tidak lain Ki Lodana. Rupanya mereka rombongan pemburu yang hendak menuju Gunung Es. Mendengar ucapan yang lebih mirip desahan panjang itu, kelima pemburu lainnya saling bertukar pandang sesaat. Mereka merasa heran melihat obor tertancap di batang pohon itu. Mereka saling melontarkan tanya melalui pandang mata.

“Kalau kita yang dimaksud oleh tanda ini, jelas ‘mereka’ telah keliru mengenali orang. Sebab, kita tidak akan mendatangkan keuntungan bagi ‘mereka’...,” setelah agak lama terdiam, lelaki bertubuh kekar yang tidak lain Tangkar, mengemukakan pendapatnya.

Para pemburu itu tampak menganggukkan kepala, tanda sependapat dengan Tangkar. Meski demikian, untuk beberapa saat tidak ada yang menanggapi perkataan lelaki berperawakan kekar itu. Hati mereka masih diliputi tanda tanya besar dengan adanya obor yang seperti menghadang jalan mereka.

“Hm.... Mungkin ‘mereka’ memang salah alamat. Sebaiknya kita terus berjalan. Tapi harus tetap waspada, dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan kita hadapi...,” akhirnya, Ki Lodana mengambil keputusan. Kakinya melangkah melewati obor yang berada di batang pohon setinggi satu tombak dari atas tanah.

Melihat pimpinannya bergerak maju, Tangkar dan yang lainnya langsung mengikuti. Kendati demikian, bias-bias ketegangan masih tampak jelas pada wajah mereka. Bahkan tidak jarang mereka meraba golok yang tergantung di pinggang. Jelas, ada sesuatu yang dikhawatirkan rombongan pemburu itu.

Whuttt..!

Baru beberapa tombak mereka melangkah, tiba-tiba terdengar suara sambaran angin berdesing yang entah dari mana datangnya. Dibarengi dengan munculnya sinar putih yang berkilau tertimpa cahaya obor di tangan para pemburu itu.

“Awaaasss...!” Ki Lodana yang berada paling depan, segera memerintahkan kawan-kawannya bergerak mundur. Ia sendiri sudah melompat ke belakang menyelamatkan diri.

Cappp!

Pohon sepelukan orang dewasa yang berada empat langkah dari tempat Ki Lodana semula berdiri, menjadi sasaran sinar putih berdesing tajam. Sebilah golok berukuran cukup panjang tertancap dan bergoyang- goyang, membuat hati para pemburu itu semakin tegang.

“Tanda kedua dari ‘mereka’...,” desis Ki Lodana. Sepertinya telah mengetahui ciri-ciri peringatan yang disebut ‘mereka’. “Artinya, kita tidak boleh meneruskan perjalanan jika masih ingin selamat..,” lanjut lelaki berewok itu menjelaskan kepada kawan-kawannya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Kang? Dan, apa sebenarnya yang mereka harapkan dari kita? Bukankah selama ini ‘mereka’ tidak pernah mengganggu kita...?” desis Tangkar yang kelihatan sangat penasaran.

“Hm.... Sebaiknya kita tunggu saja kemunculan ‘mereka’. Aku pun tidak mengerti. Mengapa tanda-tanda itu ditunjukkan kepada kita?” sahut Ki Lodana pelan. Lelaki berewok itu telah mengambil keputusan untuk menunggu. Jelas tanda-tanda itu merupakan peringatan yang tidak boleh dilanggar. Dan Ki Lodana lebih suka mematuhi peringatan itu daripada kehilangan nyawa.

Demikian pula Tangkar dan empat pemburu lainnya. Mereka pun tidak mau mengambil resiko dengan melanjutkan perjalanan yang mungkin bisa membawa bencana bagi mereka. Sehingga, rombongan pemburu itu hanya bisa menanti dengan hati berdebar tegang! Rupanya, Ki Lodana dan kawan-kawannya tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat kemudian, yang mereka tunggu pun muncul dari balik semak-semak di sebelah kiri mereka.

“Hm.... Bagus, kalian mematuhi peringatan itu. Tandanya kalian masih waras dan menyayangi nyawa yang hanya satu,” terdengar suara berat dan parau seiring dengan munculnya tiga orang lelaki. Rupanya, orang-orang itulah yang dimaksud ‘mereka’ oleh Ki Lodana dan kawan-kawannya.

Ki Lodana dan kawan-kawannya semakin tegang. Mereka menatap ketiga sosok tubuh itu tanpa berani mengeluarkan suara. Seperti menunggu ketiga orang itu mendekat

“Lodana,” suara berat dan parau itu kembali terdengar memecah keheningan. “Jelaskan dengan jujur, mengapa kalian berada di tempat ini? Dan hendak pergi ke mana? Ingat! Jangan sekali-sekali berdusta! Sebab akibatnya akan membuat kalian menyesal seumur hidup!” lanjut lelaki bertubuh gemuk. Berwajah bulat dengan kumis tebal melintang. Rambutnya dibiarkan terurai jatuh di bahu. Dan diikat dengan sebuah kain putih. Sorot mata lelaki itu tajam menikam jantung, membuat orang enggan menentang pandang mata itu.

Ki Lodana tampak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia melempar pandang kepada kelima kawannya. Dalam sinar mata lelaki berewok itu tersirat pertanyaan. Tapi, kelima kawannya menggeleng perlahan. Mereka pun tidak tahu, mengapa lelaki gemuk itu bertanya demikian. Ki Lodana kelihatan gelisah. Ia tidak berani membohongi lelaki gemuk itu. Tapi untuk mengatakan yang sebenarnya, ia masih ragu. Hingga, Ki Lodana tercenung beberapa saat lamanya. Dan itu membuat lelaki gemuk berkumis lebat tidak sabar.

“Hm...” Lelaki gemuk itu menggeram gusar. Saat itu juga tangan kanannya bergerak cepat. Dan....

Singngng!

“Aaakkkh!”

Terdengar suara berdesing nyaring. Disusul jerit kematian salah seorang kawan Ki Lodana. Pemburu bernasib sial itu pun ambruk. Dada kirinya tertancap sebilah pisau yang tampak gagangnya saja. Tidak diragukan lagi, pemburu itu pasti tewas seketika itu juga.

Perbuatan lelaki gemuk itu benar-benar mengejutkan Ki Lodana. Ia dan kawan-kawannya tersurut mundur dengan wajah pias! Jelas ancaman lelaki gemuk berkumis lebat itu tidak main-main! Itu telah dibuktikannya.

“Pisau Kilat. Apa sebenarnya yang kau inginkan dari kami? Kami tidak memiliki benda berharga, jika itu yang kau maksudkan,” ujar Ki Lodana memberanikan diri. Sikapnya tampak tegang. Dan jari-jari tangannya sudah meraba gagang golok di pinggangnya.

Lelaki gemuk yang ternyata berjuluk Pisau Kilat menggeram gusar. Tokoh itu memang terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Mudah sekali menurunkan tangan maut kepada siapa saja, meski tanpa alasan sekalipun. Ia pemimpin perampok yang sudah cukup terkenal di kalangan persilatan. Setiap kali hendak menunjukkan aksinya, Pisau Kilat selalu memberi tanda. Tanda-tanda itulah yang dikenali Ki Lodana. Tanda yang menjadi ciri gerombolan perampok di bawah pimpinan Pisau Kilat.

“Tunggu...!” cegah Ki Lodana ketika melihat Pisau Kilat terlihat geram dengan pertanyaannya. Karena tidak ingin kawannya yang lain menjadi korban berikutnya, Ki Lodana pun menjelaskan tujuannya.

“Ki, jangan...!” Salah seorang pemburu berteriak, mencegah Ki Lodana yang sudah hampir menyelesaikan ucapannya. Pemburu bertubuh tinggi tegap berusia tiga puluh tahun itu, tidak ingin Pisau Kilat mengetahui tujuan perjalanan mereka. Sebab ia sadar tokoh jahat seperti lelaki gemuk itu tidak mungkin menepati janji. Cepat atau lambat tokoh sesat itu akan menyingkirkan mereka berlima. Alasan itulah yang membuatnya mengambil keputusan nekat!

“Hmmmhhh...!” Lagi-lagi Pisau Kilat memperdengarkan geraman gusar. Tangannya kembali bergerak cepat. Akibatnya....

“Aaakh!” Pemburu tinggi tegap yang sudah mencabut golok panjangnya itu, tak sempat lagi menghindar. Kecepatan dan ketepatan gerak Pisau Kilat, mengakibatkan tubuh pemburu malang itu terjungkal ke tanah. Tubuhnya berkelojotan sesaat. Kemudian diam tak bergerak. Mati.

“Siapa lagi yang hendak menyusul...?” dingin sekali ucapan Pisau Kilat, hingga Ki Lodana dan ketiga kawannya saling berpandangan.

“Kau tidak perlu membunuh lagi, Pisau Kilat. Bukankah aku sudah berterus terang kepadamu?” Ki Lodana memberanikan diri menegur kepala perampok kejam itu.

“Jadi kau ingin menyusul...?!” geram Pisau Kilat Tanpa peduli perasaan Ki Lodana dan kawan-kawannya. Tampaknya ia telah siap mencabut nyawa Ki Lodana.

“Tunggu!” Tangkar yang semenjak tadi diam menyaksikan kemalangan yang menimpa kawan-kawannya, bertindak mencegah. Ia merasa paling bertanggung jawab atas semua kejadian itu. Selain dia yang pertama mengetahui dan merencanakan perjalanan itu, dia pulalah yang mengajak kawan-kawannya. Pikiran itu membuat Tangkar memberanikan diri menghadapi Pisau Kilat, yang terkenal jahat dan kejam.

“Pisau Kilat, kalau kau ingin mengetahui perihal beruang es, akulah yang harus kau bawa. Sebab, aku yang pernah berhadapan dengan binatang itu. Maka, kuminta kau membiarkan ketiga kawanku ini pergi tanpa diganggu. Dan aku akan mengantarkanmu ke tempat beruang es berada...,” dengan lantang Tangkar maju menyelamatkan nyawa kawan-kawannya. Dan menawarkan diri mengantarkan Pisau Kilat beserta rombongannya ke Gunung Es.

Perbuatan Tangkar tentu saja mengejutkan kawan-kawannya. Walaupun mereka tahu yang dilakukan Tangkar semata-mata untuk menyelamatkan mereka bertiga. Tapi rasa setia kawan yang tinggi, membuat Ki Lodana tidak mau membiarkan Tangkar menghadapi bahaya seorang diri. Maka ia pun berkata,

“Tidak, Tangkar! Kau tidak boleh pergi seorang diri. Kami bertiga akan menemani. Pisau Kilat, kami berempat bersedia mengantarmu ke Gunung Es,” tegas Ki Lodana tanpa mempedulikan bantahan Tangkar.

“Hua ha ha...!” Mendengar pemburu-pemburu itu saling berbantahan, Pisau Kilat tertawa berkakakan. Sedikit pun hatinya tidak tergerak. Betapa pemburu-pemburu itu saling membela demi keselamatan yang lain. Sikap lelaki gemuk berkumis lebat itu menunjukkan hatinya telah mati. Hingga tidak lagi mempunyai perasaan. Puas memperdengarkan tawanya yang parau dan menyakitkan telinga, Pisau Kilat merayapi wajah keempat pemburu itu. Lelaki gemuk itu mengangguk-angguk dengan sepasang mata berbinar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hanya ia sendiri yang tahu.

“Kalau begitu, ayo kalian berempat ikut bersamaku ke Gunung Es,” ujar Pisau Kilat Kemudian bertepuk tiga kali. Muncullah para pengikutnya yang berjumlah tidak kurang tiga puluh orang.

“Siapkan kuda untukku...,” perintah Pisau Kilat kepada salah seorang dari kedua pembantunya.

“Baik, Ketua...,” sahut lelaki berkepala botak yang ternyata Tonggala.

Sedangkan pembantu Pisau Kilat yang seorang lagi Janaga. Rupanya, kedua pengacau di kedai Desa Kawung pembantu-pembantu utama Pisau Kilat si kepala perampok. Mereka berdua itulah yang menjadi mata-mata Pisau Kilat. Sehingga, dapat mengetahui kegiatan di Desa Kawung dan desa-desa lain di sekitar wilayah itu.

Begitu kuda yang diminta telah siap, Pisau Kilat langsung melompat ke atas punggung kuda. Kemudian memerintahkan perjalanan segera dimulai. Rombongan pun bergerak perlahan menuju Gunung Es, yang rupanya sangat menarik perhatian kepala perampok itu. Para pemburu itu sendiri tidak tahu, apa yang membuat Pisau Kilat demikian tertarik dengan beruang Gunung Es. Kenyataan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Ki Lodana dan kawan-kawannya.

********************

Perjalanan panjang dan cukup melelahkan itu baru berakhir saat matahari sudah condong ke barat. Sinarnya semakin pudar. Hingga tak lagi menyengat. Apalagi saat itu rombongan Pisau Kilat telah memasuki wilayah Gunung Es, yang berhawa sangat dingin menusuk tulang. Kalau saja mereka bukan orang-orang yang telah terbiasa dengan segala cuaca, niscaya tidak akan sanggup bertahan lama di tempat itu.

Saat rombongan tiba di tepi sungai, Pisau Kilat memerintahkan mereka berhenti sejenak. Lelaki gemuk itu melompat turun dari atas punggung kuda. Lalu, menghampiri Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Hm.... Di mana kau pernah berjumpa dengan beruang Gunung Es?” tanya Pisau Kilat dengan wajah angker. Sikapnya sedikit pun tidak berubah. Dingin dan menyeramkan.

“Kira-kira dua puluh tombak lebih di seberang sungai itu,” sahut Tangkar sambil menunjuk ke arah rimbunan pohon besar yang tumbuh di kaki gunung.

“Apa kau tidak melihat sebuah pondok untuk bangunan di sekitar kaki gunung?” tanya Pisau Kilat lagi seraya menatap wajah Tangkar lekat-lekat Seolah khawatir lelaki kekar itu akan berbohong.

“Aku tidak tahu. Karena baru beberapa puluh tombak, beruang Gunung Es sudah berdiri menghadang. Seolah tak menghendaki tempatnya didatangi orang...,” jawab Tangkar sejujurnya. Tanpa menyembunyikan apa yang pernah dialaminya di tempat itu. Tampaknya Tangkar sadar bahwa berbohong kepada Pisau Kilat tak ada gunanya. Hanya mencelakakan dirinya saja. Maka, lelaki kekar itu tidak menyembunyikan sesuatu pun dari kepala perampok berdarah dingin itu.

“Jadi beruang Gunung Es tidak sampai menyeberang ke sini?” Setelah terdiam beberapa saat, Pisau Kilat kembali melanjutkan pertanyaan.

“Tidak,” disertai gelengan kepala Tangkar menjawab singkat.

Pisau Kilat tampak mengangguk-angguk. Kendati demikian, keningnya berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu. “Kalau begitu, kita harus segera menyeberang sebelum hari menjadi gelap...,” gumam Pisau Kilat

Lalu, memerintahkan para pengikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini lelaki gemuk itu tidak menunggang kuda. Sebab perjalanan yang akan dilalui sangat sulit Menggunakan kuda hanya akan memperlambat perjalanan. Tidak berapa lama kemudian, rombongan itu pun menyeberangi sungai. Untung saat itu air sedang surut. Sehingga, batu-batu besar bertonjolan di permukaan air. Membuat Pisau Kilat dan rombongannya dapat menyeberang dengan mudah.

“Mulai dari sini kita harus meningkatkan kewaspadaan...,” ujar Pisau Kilat mengingatkan para pengikutnya. Lelaki gemuk itu khawatir beruang Gunung Es akan muncul sewaktu-waktu. Seperti yang diceritakan Tangkar kepadanya. Pisau Kilat mendadak menghentikan langkah. Raut wajahnya berubah ketika menemukan banyak tapak kaki di atas rumput basah.

“Tonggala, Janaga...!” teriak lelaki gemuk itu. Memanggil kedua pembantu utamanya agar segera menghampiri.

“Ada apa, Ketua...?” tanya Janaga. Setelah tiba di hadapan Pisau Kilat yang masih memandangi rumput di bawahnya.

“Hm.... Tampaknya berita tentang beruang Gunung Es yang pandai silat itu telah tersebar luas. Jejak-jejak ini menunjukkan kita sudah kedahuluan orang lain. Hhh.... Betapa tajamnya pendengaran orang-orang rimba persilatan. Berita yang baru kemarin terdengar, langsung menyebar seperti dibawa angin...,” desah Pisau Kilat. Diam-diam merasa cemas, mengingat banyaknya saingan yang akan ditemukan. Kalau tokoh-tokoh tingkat tinggi sampai ikut datang ke tempat itu, tipislah harapannya dapat menjalankan rencana yang telah diatur.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Ketua...?” Tonggala yang kaget mendengar penuturan ketuanya, menjadi cemas. Ia sendiri tidak begitu heran dengan begitu cepatnya berita itu tersebar. Sebab, berita itu didapatnya dari seorang nelayan kedai di Desa Kawung. yang mengingatkan lelaki kekar berkepala botak itu pada pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, yang pernah memukul roboh dirinya. Menurutnya, bukan tidak mungkin pelayan itu menceritakan perihal beruang Gunung Es kepada pasangan muda itu.

“Hm.... Kita harus bergegas. Kalau tidak, kita akan ketinggalan,” sahut Pisau Kilat Lalu, menyuruh Tonggala dan Janaga mengumpulkan semua orang-orangnya.

Baru saja Pisau Kilat selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengguncangkan dada. Lelaki gemuk itu sempat mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dadanya agar tidak terguncang. Suara tawa itu merupakan serangan tenaga dalam yang ampuh, dan bisa menewaskan orang dengan isi dada pecah!

“Keparat..!” desis Pisau Kilat melihat para pengikutnya bergulingan di atas rumput. Tidak sanggup menahan serangan tawa yang mengandung tenaga dalam tinggi itu. Hingga kemarahan tokoh sesat itu bangkia seketika.

“Hei, Setan Belang! Gandarwa Sundal! Kalau kau bukan seorang pengecut, tunjukkan dirimu! Kalau tidak, akan kuratakan dengan tanah seluruh daerah ini...!” teriak Pisau Kilat tidak dapat menyembunyikan kemurkaannya.

“Hua ha ha...!”

Bersamaan dengan berhembusnya angin keras, sesosok bayangan serba putih meluncur turun dari atas pohon besar yang tingginya belasan tombak. Sosok tinggi besar itu mendarat ringan beberapa tombak di hadapan Pisau Kilat

Pisau Kilat sendiri tampak tergetar hatinya begitu mengenali sosok tinggi besar terbungkus pakaian serba putih. Ada kilatan gentar pada sepasang mata yang biasanya tajam menikam jantung. Kenyataan itu menunjukkan kalau sosok tinggi besar dengan tawa menggelegar, itu seorang tokoh persilatan yang namanya cukup membuat orang lari tunggang-langgang.

LIMA

“Hantu Tangan Merah...?!” desis Pisau Kilat sedikit gentar. Lelaki gemuk itu agaknya mengetahui tokoh bertubuh tinggi besar itu. Kendati demikian, Pisau Kilat tidak menunjukkan kegentarannya. Ia berusaha menutupi dengan tawanya yang serak dan berat

“He he he...! Apa kerjamu di tempat ini, Pisau Kilat..?” tegur Hantu Tangan Merah. Sepasang matanya agak menyipit Seperti hendak membaca pikiran lelaki gemuk berkumis lebat itu.

Pisau Kilat sadar sepenuhnya kalau Hantu Tangan Merah merupakan saingan berat. Otaknya segera bekerja cepat mencari jalan yang akan menguntungkan dirinya. Lelaki gemuk itu pun mengatur rencana licik, dengan hendak mempergunakan kelebihan Hantu Tangan Merah.

“Hm.... Tak perlu berpura-pura, Hantu Tangan Merah. Kau sendiri hendak mengerjakan apa di tempat ini...?” Pisau Kilat balik bertanya, dengan nada sinis. Mulutnya berkata demikian, seperti hendak menentang. Tapi diam-diam pikirannya merangkai sebuah rencana busuk.

“Jadi kedatanganmu ke Gunung Es ada hubungannya dengan harta peninggalan Malaikat Salju, begitu?” tukas Hantu Tangan Merah yang terlihat menganggap remeh Pisau Kilat. Lelaki tinggi besar itu merasa kedudukannya lebih tinggi. Hingga tidak bisa disejajarkan dengan seorang kepala perampok. Kendati demikian, Hantu Tangan Merah tidak mengurangi kewaspadaan. Ia telah mengenal baik kelicikan Pisau Kilat.

“Harta peninggalan Malaikat Salju...?!” Dari mana kau mendapat kabar itu, Hantu Tangan Merah?” Kening Pisau Kilat agak berkerut mendengar ucapan itu. Sebab, tujuan kedatangannya ke tempat itu baru dugaan. Ia sedikit pun tidak tahu tentang tokoh yang berjuluk Malaikat Salju. Meskipun demikian, nama itu dicatat dalam kepalanya.

“Jangan berpura-pura bodoh, Pisau Kilat. Kalau bukan karena harta peninggalan tokoh sakti itu, lalu apa tujuanmu datang jauh-jauh ke tempat ini?” tukas Hantu Tangan Merah. Tidak percaya Pisau Kilat tidak mengetahui hal itu.

“Aku tidak berpura-pura, Hantu Tangan Merah. Terus terang, tujuanku ke tempat ini karena tertarik dengan berita mengenai beruang es. Aku menduga binatang yang pandai bersilat itu peliharaan tokoh sakti. Tapi sungguh tidak kusangka kalau tokoh itu Malaikat Salju, yang namanya telah lama lenyap dari kalangan persilatan...,” jawab Pisau Kilat sejujurnya. Tentu saja kejujuran itu karena ia mengharapkan keterangan lebih jauh.

“Hmmm....” Melihat kesungguhan Pisau Kilat, Hantu Tangan Merah hanya bergumam pelan. Keningnya berkerut, seolah ada sesuatu yang dipikirkan. Sepasang matanya menatap wajah Pisau Kilat lekat-lekat. Ia belum yakin sepenuhnya dengan ucapan kepala perampok itu.

“Maafkan, Hantu Tangan Merah. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menemanimu. Sudah banyak tokoh lain yang datang lebih dahulu ke tempat ini...,” lalu, Pisau Kilat berbalik dan memerintahkan para pengikutnya melanjutkan perjalanan.

“Tunggu, Pisau Kilat...!” cegah Hantu Tangan Merah. Lelaki tinggi besar itu agak kaget mendengar ada orang telah tiba lebih dahulu dari mereka. Wajahnya kelihatan sedikit tegang. Khawatir akan kedahuluan orang lain.

“Ada apa lagi, Hantu Tangan Merah?” tanya Pisau Kilat tak senang. Meski demikian, tubuhnya berbalik menghadap tokoh tinggi besar itu.

“Kalau bilang kita telah kedahuluan orang. Apa kau mengenali siapa mereka? Dan dari golongan mana?” Hantu Tangan Merah kelihatan sangat ingin mengeta- hui hal itu.

“Aku sendiri tidak tahu. Karena aku hanya melihat banyak jejak tertinggal di atas rumput,” jelas Pisau Kilat. Kemudian berbalik, dan melangkah meninggalkan Hantu Tangan Merah yang termangu dengan wajah tercenung. Pisau Kilat bergerak menjauh bersama para pengikutnya yang kelihatan agak lemah. Hal itu disebabkan oleh serangan tawa Hantu Tangan Merah yang seperti menguras tenaga. Hanya karena patuh pada Pisau Kilat saja, maka mereka tidak mengeluh.

Saat rombongan Pisau Kilat sudah semakin jauh, dan hampir lenyap ditelan kelebatan pohon, Hantu Tangan Merah baru tersadar dari lamunannya. Ia langsung berkelebat menyusul rombongan Pisau Kilat. Dan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Semua itu adalah akal licik Hantu Tangan Merah. Sebab bila rombongan Pisau Kilat mendapat bahaya, ia tidak perlu repot-repot. Tinggal menyaksikan dari jauh, bagaimana Pisau Kilat dan para pengikutnya menghadapi kemungkinan itu.

********************

Pisau Kilat yang berjalan paling depan, mendadak menghentikan langkah. Sepasang matanya terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Para pengikutnya yang juga menyaksikan pemandangan itu berhenti dengan wajah pucat!

“Gila...!?” desis Pisau Kilat. Tampak kaget melihat enam sosok mayat bergeletakan di tanah berumput. Kendati kematian dan penyiksaan bukan hal aneh lagi. Tapi, tak urung tokoh berdarah dingin itu terkejut menyaksikan keadaan tubuh keenam mayat, yang menurut dugaannya adalah kaum rimba persilatan. Tubuh mayat-mayat itu nyaris tidak bisa dikenali. Anggota tubuhnya tidak utuh lagi. Bahkan ada di antaranya yang bagian tubuhnya hancur. Diam-diam hati tokoh sesat berdarah dingin itu bergidik ngeri.

“Pastilah beruang Gunung Es yang melakukannya...,” tanpa sadar, Tangkar bergumam seorang diri. Tapi, ucapan itu cukup jelas terdengar di telinga Pisau Kilat. Tangkar memang berada di samping kepala perampok itu.

“Kau yakin...?” desis Pisau Kilat. Belum percaya kalau kematian keenam kaum rimba persilatan itu disebabkan oleh beruang Gunung Es, yang pernah ditemui Tangkar.

“Kau bisa melihat dari luka-luka mayat itu, Pisau Kilat. Bukankah itu bekas kuku-kuku yang besar dan kuat? Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan binatang raksasa itu...?” sahut Tangkar. Wajahnya kelihatan pucat. Baginya, kematian keenam orang itu terlalu mengerikan.

“Hm...,” Pisau Kilat tidak berkata lagi. Ia pun mempunyai dugaan serupa. Hanya tidak dikeluarkannya. “Kita lanjutkan perjalanan...!” teriaknya lantang. Para pengikutnya, yang meskipun sudah lenyap keberaniannya setelah menyaksikan mayat-mayat itu, tidak berani membantah. Mereka terpaksa mengikuti langkah pemimpinnya.

Korban-korban yang bergeletakan di rumput semakin bertambah ketika Pisau Kilat melangkah semakin jauh. Hati tokoh sesat itu mulai dilanda ketegangan. Pemandangan itu membuatnya semakin berhati-hati dan melangkah dengan perlahan. Lelaki gemuk itu yakin kalau pembunuh itu akan muncul menghadang rombongannya.

“Groooaaahhh...!”

Tiba-tiba terdengar sebuah geraman keras menggetarkan jantung. Beberapa pengikut Pisau Kilat roboh. Sebab, kedua kaki mereka mendadak gemetar. Hingga tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Kenyataan membuktikan kalau geraman keras tadi sangat hebat!

Pisau Kilat sendiri sudah meraba gagang pedang di pinggangnya. Saat mendengar geraman itu. Ia yakin beruang Gunung Es berada di sekitar tempat itu. Dan bisa muncul sewaktu-waktu. Saat ketegangan Pisau Kilat dan anggota rombongannya semakin memuncak, tiba-tiba terdengar suara berdebum yang menggetarkan bumi. Dengan diiringi geraman keras, muncullah binatang yang sangat besar, berlari cepat ke arah rombongan! Dan...,

“Aaakh...!”

Empat orang anggota rombongan Pisau Kilat menjerit ngeri. Beruang Gunung Es yang kelihatan sangat murka itu menangkap dan mencabik tubuh mereka. Tanpa ampun lagi, keempat orang itu tewas seketika itu juga!

“Munduuur...!” Pisau Kilat bertindak cepat dengan memerintahkan para pengikutnya untuk menjauhi binatang buas yang tengah mengamuk itu. Pedang tergenggam di tangan kanan lelaki gemuk itu. Pisau Kilat segera memerintahkan kedua pembantu utamanya untuk bersama- sama menghadapi binatang itu.

“Haaattt..!”

Ketika beruang Gunung Es berlari mengejar anggota rombongannya, Pisau Kilat berteriak nyaring untuk menarik perhatian binatang itu. Kemudian melepaskan empat batang pisau terbang dengan kecepatan kilat!

Singngng... singngng...!

Empat batang pisau terbang itu meluncur deras mengancam tubuh beruang Gunung Es. Namun hanya dengan sampokan kedua tangannya, binatang itu behasil meruntuhkan pisau-pisau terbang kepala perampok itu. Padahal, gerakan binatang itu terlihat lamban. Hingga Pisau Kilat hampir tidak percaya melihat kejadian itu.

“Para pemburu itu ternyata tidak berbohong. Beruang Gunung Es memang memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi. Binatang itu mampu menghalau pisau terbang ku. Padahal, jarang ada tokoh persilatan yang mampu atau pun berani melakukannya...?!” desis Pisau Kilat terbelalak kagum melihat kehebatan binatang itu.

“Binatang itu jelas dapat bersilat, Ketua...,” ujar Tonggala dengan penuh ketegangan. Melihat binatang besar dan sangat kuat itu mampu mengatasi kecepatan laju pisau terbang pemimpinnya. Ia sendiri tidak mungkin sanggup melakukannya. Kegentaran pun mulai menguasai hati lelaki itu.

Demikian pula dengan Janaga. Lelaki bertubuh sedang dan berkumis lebat itu pun sangat kaget melihat kehebatan beruang Gunung Es. Apalagi, ketika teringat korban akibat keganasan binatang itu. Gerakannya menjadi ragu. Sebab, dalam hatinya telah terselip rasa takut

“Jangan takut! Ayo kita hadapi binatang keparat itu...!” Pisau Kilat agaknya dapat menduga kegentaran yang menguasai hati kedua pembantunya. Maka lelaki gemuk itu segera berteriak, memerintahkan Tonggala dan Janaga untuk mengepung dan mengeroyok Beruang Gunung Es.

“Haaattt..!”

Untuk membangkitkan keberanian kedua pembantunya, Pisau Kilat melesat menerjang binatang raksasa itu. Pedang di tangannya berputaran seperti baling-baling. Kemudian membacok dengan kekuatan penuh!

Whukkk!

Namun meski dengan gerak yang kelihatan agak lambat. Beruang Gunung Es mampu mengelakkan bacokan pedang Pisau Kilat. Sehingga, lelaki gemuk itu semakin terkejut

Wrettt!

“Aaaiiihhh!?” Pisau Kilat memekik kaget. Kuku-kuku runcing bagai mata pedang datang menyambar tubuhnya. Untung ia cepat menyadari ancaman maut itu. Tubuhnya dilempar ke belakang, dan terus berjumpalitan ke udara. Dalam keadaan demikian, tangan kirinya masih sempat melepaskan dua buah pisau terbang ke arah binatang itu.

Trakkk! Trakkk!

Lagi-lagi Pisau Kilat harus menahan seruan kagetnya. Senjata yang sangat diandalkannya ternyata tidak mampu menembus kulit dan bulu tebal binatang itu. Padahal, ia telah mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk melemparkan pisau-pisau itu. Tapi, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Senjata kebanggaannya runtuh ketika membentur kulit yang dilindungi bulu tebal itu. Beruang Gunung Es ternyata memiliki kekebalan tubuh yang hebat!

“Celaka! Kalau begini terus aku bisa menjadi korban keganasan binatang itu...,” gumam Pisau Kilat Lelaki gemuk itu tampaknya menyadari tidak akan sanggup menundukkan binatang yang kuat dan kebal itu. Kesadaran itu membuat Pisau Kilat berpaling ke tempat Hantu Tangan Merah berada. Ia tahu tokoh bertubuh tinggi besar itu mengikuti rombongannya dari jarak jauh. Maka tanpa malu-malu, Pisau Kilat memanggil tokoh itu.

“Hei, Hantu Tangan Merah! Kalau kau ingin mendapatkan peninggalan Malaikat Salju, ayo bantu aku menghadapi binatang gila ini!” teriak Pisau Kilat

Hantu Tangan Merah sepertinya menyadari akan perlunya mereka bergabung. Kelihatan ia bergerak mendekati Pisau Kilat yang meminta bantuannya.

“Pisau Kilat Untuk menghadapi binatang liar yang tangguh itu, diperlukan waktu yang cukup lama. Aku khawatir nanti kita akan kehabisan tenaga. Jika sudah demikian, orang-orang yang datang belakangan akan dengan mudah mendapatkan harta peninggalan Malaikat Salju tanpa halangan apa pun...,” ujar Hantu Tangan Merah, setelah tiba di dekat Pisau Kilat

“Hm...,” Pisau Kilat tampak mengerutkan kening mendengar ucapan Hantu Tangan Merah. “Kalau begitu, biar aku suruh anak buahku mengambil harta peninggalan Malaikat Salju. Sementara kita menghadapi beruang gila itu. Aku yakin, tempat penyimpanan harta itu tidak jauh dari tempat ini. Bagaimana...?” usul Pisau Kilat yang sepertinya telah mendapatkan cara cukup baik.

“Baiklah...,” sahut Hantu Tangan Merah langsung menyetujui. Sebab, mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk mengatur rencana lain.

Setelah mendapat kata sepakat, kedua tokoh itu bergerak maju menghadapi beruang Gunung Es. Sedangkan Tonggala dan Janaga diperintahkan mencari tempat penyimpanan harta peninggalan Malaikat Salju. Kedua pembantu Pisau Kilat itu bergegas mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu. Mereka juga mengajak Ki Lodana dan tiga pemburu lainnya.

Tinggallah Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat yang bersama mencegah beruang Gunung Es, agar tidak mengejar rombongan para pengikut Pisau Kilat. Akibatnya, binatang yang seperti dapat menduga apa yang dicari orang-orang itu murka bukan main. Kepalanya tegak menatap langit. Dan geramannya terdengar berkali-kali, membuat dada kedua lawannya berdebar.

“Haaaiiit..!”

Sebelum beruang Gunung Es menyerbu, Hantu Tangan Merah sudah melesat maju dengan serangan sepasang telapak tangannya. Tercium bau amis saat tokoh tinggi besar itu melakukan tamparan-tamparan yang mendatangkan sambaran angin berciutan. Sepasang telapak tangan tokoh itu berubah merah sampai batas pergelangan. Rupanya, itu yang membuatnya dijuluki Hantu Tangan Merah. Gerakannya sendiri memang cepat laksana bayangan hantu.

Beruang Gunung Es agaknya dapat mencium bahaya maut serangan itu. Binatang itu bergerak mundur beberapa langkah. Hawa beracun yang berasal dari telapak tangan Hantu Tangan Merah telah membuat agak pening. Itu terlihat dari gelengan kepalanya yang berkali-kali. Tampaknya, beruang itu hendak mengusir rasa pening yang dideritanya.

Pisau Kilat pun tidak tinggal diam. Lelaki gemuk berkumis lebat itu menerjang dengan pedang di tangan. Kendati sadar binatang itu kebal terhadap senjata tajam. Tapi Pisau Kilat mencoba mengarahkan serangan itu pada bagian yang dianggapnya terlemah, dan tidak mungkin dilindungi kekebalan. Serangan pedangnya diarahkan pada sepasang mata binatang itu. Sedangkan Hantu Tangan Merah menambah kecepatan. Melihat binatang itu agak gentar menghadapi pukulan tangan merahnya. Sehingga, sepasang tangan tokoh tinggi besar itu tidak tampak lagi bentuknya.

“Groooaaah...!” Beruang Gunung Es kelihatan seperti penasaran. Dengan menggeram marah, binatang itu membalas serangan Hantu Tangan Merah. Bahkan, berani memapaki pukulan telapak tangan lawan.

“Heeeaaah...!”

Meski agak repot menghindari serangan balasan binatang buas itu, tetapi Hantu Tangan Merah tidak mengurangi serangannya. Bahkan semakin dipergencar. Sasarannya selalu pada bagian terlemah tubuh binatang itu.

Whuuusss...!

Diiringi suara berkesiutan, asap tipis berwarna merah mengepul dari telapak tangan tokoh tinggi besar itu. Sasarannya adalah dada kiri beruang Gunung Es.

Plaggg!

“Uuuhhh...!” Tanpa disangka-sangka, beruang Gunung Es mengangkat lengannya untuk menangkis. Benturan keras pun tak dapat dihindarkan lagi. Dan, tubuh Hantu Tangan Merah terhuyung mundur. Jelas, ia kalah tenaga dengan binatang itu. Kendati sangat sedikit perbedaannya. Sebab beruang itu pun terjajar beberapa langkah ke belakang.

“Kurang ajar...!” desis Hantu Tangan Merah geram. Tenaga binatang itu ternyata lebih besar dari dugaannya. Maka, ia segera mengerahkan seluruh kekuatan- nya untuk menggempur binatang itu.

“Haaaiiittt..!”

Pisau Kilat tampaknya memang sangat pandai memanfaatkan kesempatan. Sewaktu binatang itu terjajar mundur, cepat digunakannya untuk menyerang dengan tusukan pedang.

Syuuuttt!

Ujung pedang Pisau Kilat meluncur cepat mengarah mata kanan binatang itu. Hati lelaki gemuk itu sudah merasa gembira ketika serangan hampir tiba pada sasaran. Tapi....

Krakkk!

“Aaahhh...?!” Pada saat ujung pedang Pisau Kilat hampir mengenai sasaran, beruang itu memapaki dengan mengangkat lengannya. Sambaran kuku-kukunya yang besar dan kuat, membuat pedang di tangan lelaki gemuk itu patah seketika! Bahkan, tubuh Pisau Kilat terhuyung sejauh satu tombak. Kuda-kudanya tergempur oleh kekuatan tangkisan binatang itu. Selagi tubuh Pisau Kilat terhuyung dan tengah berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya, sambaran cakar beruang itu meluncur datang. Siap meremukkan batok kepala lelaki gemuk berkumis lebat itu!

“Haaaiiihhh!” Untunglah pada saat yang sangat berbahaya itu, Hantu Tangan Merah datang menolong. Sepasang telapak tangan tokoh tinggi besar itu meluncur dengan suara berkesiutan!

Bukkk!

“Graaauuuhhh!” Beruang Gunung Es sempat menangkis hantaman tangan kiri lawan. Tapi, tidak sanggup menghalangi datangnya gedoran pukulan beracun pada dada ki- rinya. Akibatnya, tubuh binatang itu terhuyung ham- pir jatuh. Meskipun begitu, binatang itu tampaknya mengalami luka dalam. Pada dada kirinya terdapat tanda merah akibat pukulan Hantu Tangan Merah, yang memang sangat ampuh dan kuat Walaupun demikian, beruang Gunung Es tidak menjadi gentar. Binatang itu siap merangsek maju.

ENAM

“Haaattt..!”

Hantu Tangan Merah rupanya dapat menduga kalau pukulannya tadi telah melukai binatang itu. Maka, lelaki tinggi besar itu pun tidak membuang-buang waktu lagi. Serangan-serangannya kembali datang laksana air bah!

Bweeet! Bweeet!

Dengan sangat bernafsu, Hantu Tangan Merah melancarkan serangkaian serangan maut Sambaran angin tajam yang disertai hawa beracun datang silih berganti. Hingga beruang Gunung Es agak kewalahan menghindarinya. Kendati demikian, binatang itu berjuang keras untuk mengimbangi serangan-serangan lawan. Sayang, pengaruh racun pukulan Hantu Tangan Merah mempengaruhi kekuatannya. Gerakan binatang itu kelihatan bertambah lambat Bahkan, benturan lengan yang terjadi membuat binatang itu terhuyung-huyung. Akibatnya Hantu Tangan Merah mampu mendesak, dan menekan dengan serangan- serangan yang kian gencar!

Bukkk!

“Grooahhh...!” Sebuah hantaman telapak tangan kanan lawan, tak dapat dihindari lagi. Tubuh binatang itu terhuyung sejauh setengah tombak. Kesempatan yang sangat baik pun digunakan Hantu Tangan Merah. Sepasang tela- pak tangannya yang mengandung racun jahat didorongkan ke depan!

Deeesss...!

Dorongan sepasang telapak tangan tokoh tinggi besar itu, membuat tubuh beruang Gunung Es terjengkang. Binatang itu melenguh merasakan dadanya terasa panas seperti terbakar. Kendatipun demikian, beruang Gunung Es berusaha merangkak bangkit untuk melanjutkan pertempuran. Binatang itu berdiri bergoyang-goyang karena rasa pening di kepalanya. Matanya pun sudah tidak bisa melihat dengan baik. Semua yang dilihatnya berbayang-bayang dan kelihatan samar-samar. Binatang itu jelas mengalami luka yang sangat parah!

“Hm Sekarang tamatlah riwayatmu, Binatang Keparat...!” teriak Hantu Tangan Merah seraya melesat dengan dorongan sepasang telapak tangan yang berisi tenaga dalam penuh.

“Haaattt..!”

Dibarengi pekik mengguntur, Hantu Tangan Merah melayang dengan kecepatan tinggi. Kali ini beruang Gunung Es tidak mungkin sanggup bertahan lagi!

Whuuusss!

Asap tipis kemerahan yang disertai bau amis memuakkan, meluncur datang mengancam nyawa beruang Gunung Es!

Blaaarrr!

“Aaakh?!”

Akibatnya membuat Hantu Tangan Merah memekik heran. Tubuhnya terlempar sejauh satu setengah tombak, dengan diiringi ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitar tempat itu. Lelaki tinggi besar itu merasakan dadanya sesak! Kendati demikian, Hantu Tangan Merah masih sempat berjumpalitan menyelamatkan diri agar tidak terbanting ke tanah. Tokoh itu meluncur turun dengan kedua kaki lebih dahulu.

Sepasang mata lelaki tinggi besar itu tampak menyipit menatap sosok pemuda tampan berjubah putih yang berdiri di depan beruang Gunung Es. Mengertilah Hantu Tangan Merah kalau yang memapaki pukulan mautnya adalah pemuda tampan berjubah putih itu. Wajah seramnya terlihat berubah tegang. Tenaga yang membentur pukulannya mengandung hawa dingin menusuk tulang. Dan, sosok berjubah itu terbungkus kabut bersinar putih keperakan. Ciri-ciri itulah yang membuat Hantu Tangan Merah berdebar tegang. Hingga tergambar jelas pada wajahnya.

“Kau... apakah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?” tanya Hantu Tangan Merah dengan suara berdesis.

Sosok pemuda tampan berjubah putih itu maju beberapa tindak. Sikapnya tampak tenang dan sedikit pun tidak menampakkan kesombongan. Meskipun tadi telah memapaki pukulan Hantu Tangan Merah hingga tokoh itu terdorong.

“Demikianlah orang-orang memberikan julukan kepadaku, Hantu Tangan Merah,” sahut pemuda tampan berjubah putih, yang ternyata memang Panji.

Deg!

Jawaban itu membuat hati Hantu Tangan Merah gelisah. Sebab keinginannya mendapat halangan berat Padahal ia sudah hampir menundukkan beruang Gunung Es. Kehadiran pendekar muda yang tersohor itu, akan mengacaukan rencananya bersama Pisau Kilat. Begitu pun dengan Pisau Kilat Mendengar pemuda tampan berjubah putih itu Pendekar Naga Putih, kegelisahan tergambar jelas pada raut wajahnya.

Nama tokoh muda itu sudah demikian terkenal di kalangan persilatan. Dan lagi ia sudah sering mendengar sepak-terjang pemuda itu, yang selalu menentang segala bentuk kejahatan. Pisau Kilat hanya bisa menyumpah dalam hati. Pendekar muda itu pasti akan menghancurkan harapannya untuk memperoleh peninggalan Malaikat Salju.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Hantu Tangan Merah...?” tanya Pisau Kilat berbisik.

Hantu Tangan Merah mendengus jengkel. Pertanyaan Pisau Kilat tidak segera dijawabnya. Tampaknya, tokoh tinggi besar itu sedang mencari jalan keluar agar terbebas dari Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Sebaiknya kita cegah dulu pendekar muda itu. Bukankah para pengikutmu tengah mencari tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju? Kemungkinan besar Pendekar Naga Putih tidak tahuakan hal itu. Setelah para pengikutmu memberi tanda, baru kita tinggalkan tempat ini...,” jawab Hantu Tangan Merah, yang rupanya telah mendapat jalan keluar.

“Bagus! Usulmu tepat sekali, Hantu Tangan Merah...,” puji Pisau Kilat, meskipun hatinya terkejut

Ia memang menyuruh para pengikutnya memberi tanda bila sudah berhasil menemukan peninggalan Malaikat Salju. Tapi, tidak dikatakannya kepada Hantu Tangan Merah. Tentu saja ia jadi heran mendengar ucapan tokoh tinggi besar itu. Padahal, Hantu Tangan Merah tidak mengetahuinya.

Pisau Kilat tidak tahu kalau tokoh tinggi besar itu telah terbiasa dengan segala bentuk kejahatan dan kelicikan. Sehingga, Hantu Tangan Merah tahu kebiasaan orang-orang jahat. Bahkan, ia sendiri sudah mempunyai rencana yang tidak diketahui Pisau Kilat Tokoh tinggi besar itu ingin menguasai peninggalan Malaikat Salju seluruhnya.

Panji sendiri tidak menaruh curiga dengan sikap kedua lawannya yang saling berbisik. Sosoknya tetap tegak. Siap menghadapi kedua tokoh sesat itu. Dan baru bergeser ketika melihat Hantu Tangan Merah dan lelaki gemuk berkumis tebal, yang belum dikenalnya, merenggang melakukan kepungan. Kedua tokoh sesaat itu hendak mengeroyok Panji,

Cwiiit... cwiiit!

Pisau Kilat kali ini menggunakan sepasang senjata andalannya. Seraya mengibaskan senjatanya, lelaki gemuk itu bergerak maju dari arah kanan. Sedangkan Hantu Tangan Merah bergerak dari sebelah kiri. Sepasang telapak tangan tokoh sesat bertubuh tinggi besar itu berwarna merah. Rupanya, lelaki itu menggunakan ilmu andalannya untuk menghadapi Pendekar Naga Putih, yang kehebatannya telah sering ia dengar. Hingga Hantu Tangan Merah tidak ingin bertindak ceroboh. Dan, langsung mengerahkan ilmu andalannya.

“Hm...” Panji bergumam perlahan melihat kehebatan Hantu Tangan Merah. Kakinya terus bergerak membentuk langkah-langkah kokoh dan indah. Kemudian sepasang tangannya digerakkan membentuk cakar naga. Jelas Pendekar Naga Putih tidak memandang enteng lawan. Terbukti ia langsung menggunakan Ilmu Silat Naga Sakti untuk menghadapi keroyokan tokoh-tokoh sesat itu.

“Heaaattt..!”

Pisau Kilat berseru keras memulai serangan. Sepasang pisau terbang yang berada di tangannya bergerak cepat, menimbulkan kilatan-kilatan sinar putih. Kepala perampok itu telah mengerahkan segenap kekuatannya dalam serangan itu.

“Haiiittt..!”

Sesaat setelah tubuh Pisau Kilat bergerak, Hantu Tangan Merah menyusuli. Asap tipis kemerahan serta bau busuk yang menyengat menyertai sambaran telapak tangannya. Serangan tokoh tinggi besar itu jauh lebih berbahaya dibanding sepasang pisau di tangan Pisau Kilat

Cwiiit.. cwiiit..! Whuuukkk...!

Serangan kedua lawannya yang datang susul-menyusul tidak membuat Panji gugup. Dengan tenang kakinya bergeser menghindari. Bahkan melontarkan serangan balasan dengan sambaran sepasang tangannya yang disertai hembusan angin dingin. Sebentar saja ketiganya telah terlibat dalam pertarungan sengit!

Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat kelihatan sangat bernafsu menyarangkan serangannya ke tubuh Panji. Sayang, gerakan Pendekar Naga Putih demikian cepat, hingga sangat sulit menyentuhnya. Setelah le-wat dua puluh jurus, serangan mereka belum satu pun yang mengenai sasaran. Justru mereka sendiri yang mulai kepayahan. Sebab hawa dingin yang keluar dari tubuh Pendekar Naga Putih telah membekukan urat-urat tubuh. Sehingga, tidak jarang mereka harus berlompatan menjauhi arena pertarungan untuk menghindari serbuan hawa dingin itu.

“Haaahhh...!” Panji memekik mengejutkan. Ketika untuk kesekian kalinya Pisau Kilat dan Hantu Tangan Merah berlompatan menjauh. Seketika itu juga, tubuhnya melesat ke depan dengan sambaran sepasang telapak tangan.

Bweeettt.. bweeettt..!

“Aaahhh...?!”

“Heeeiii...?!”

Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat terpekik kaget. Serbuan hawa dingin yang mendahului datangnya serangan Pendekar Naga Putih, membuat keduanya kalap. Mereka tidak sempat lagi melihat tujuan serangan Panji. Hingga....

Bukkk! Deeesss.!

Tubuh Pisau Kilat terjengkang oleh tamparan punggung tangan Pendekar Naga Putih pada bahunya. Sedangkan Hantu Tangan Merah jatuh terguling-guling. Dada kanannya terkena hantaman telapak tangan pemuda itu.

“Uhhh...”

Rupanya, pukulan Pendekar Naga Putih tidak dimaksudkan untuk membunuh. Terbukti Hantu Tangan Merah hanya menggigil sesaat Kemudian bangkit kendati sambil mendekap dada. Melihat tetesan darah yang mengalir di sudut bibir tokoh tinggi besar itu, jelas pukulan Panji telah membuat isi dadanya terguncang. Namun demikian, tidak mengalami luka dalam yang mengkhawatirkan.

Lain dengan Pisau Kilat yang kekuatannya berada di bawah Hantu Tangan Merah. Kendati tamparan punggung tangan Pendekar Naga Putih tidak dilakukan sekuat tenaga, tapi terasa terlalu keras bagi kepala perampok itu. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, tangan kiri Pisau Kilat menjadi lumpuh. Dan untuk memulihkannya diperlukan waktu beberapa hari. Sebab, bahu yang terkena tamparan itu terlihat membengkak.

“Suuuiiittt..!”

Tiba-tiba terdengar siulan panjang yang cukup nyaring. Pisau Kilat dan Hantu Tangan Merah saling bertukar pandang sesaat. Seperti telah mendapat kata sepakat, keduanya berbalik meninggalkan tempat itu. Kedua tokoh sesat itu telah mengetahui makna siulan tadi.

Panji yang tidak mengetahui makna siulan itu, memandang kepergian lawan-lawannya dengan kening berkerut. Menduga bahwa siulan itu hanya merupakan tanda bagi Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat untuk lari meninggalkan pertarungan, pemuda itu pun tidak berniat mengejar. Dan membiarkan kedua tokoh sesat itu melarikan diri.

“Kakang...” Suara merdu yang memanggilnya dari arah belakang, membalikkan tubuh Panji. Dilihatnya dara jelita berpakaian serba hijau yang tidak lain Kenanga, tengah duduk di samping beruang putih. Sedangkan binatang itu menggeletak dengan napas satu-satu. Beruang Gunung Es tengah merasakan luka akibat pukulan beracun Hantu Tangan Merah. Panji pun bergegas menghampiri.

“Luka yang diderita binatang ini sangat parah, Kakang. Kalau tidak segera diobati, kemungkinan besar ia tidak akan sanggup bertahan,” jelas Kenanga setelah Panji duduk di sampingnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Panji langsung memeriksa tubuh beruang berbulu putih itu. Keningnya berkerut ketika mendapat kenyataan racun akibat pukulan Hantu Tangan Merah ternyata sangat ganas. Untung beruang es memiliki daya tahan tubuh melebih binatang lain. Kalau tidak, sudah pasti binatang itu telah tewas.

Panji membuka bungkusan pakaian, dan menjejalkan obat luka beracun ke mulut binatang itu. Kemudian mengangkatnya agar dapat duduk tegak. Sepsang telapak tangannya ditempelkan ke punggung beruang Gunung Es. Dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong keluar racun yang berada di dalam tubuh binatang itu.

Kenanga yang mengetahui perbuatan kekasihnya tidak boleh terganggu. Gadis itu pun segera bangkit dan memandang berkeliling. Ia harus berjaga-jaga jika saja ada musuh datang ke tempat itu.

Apa yang dilakukan Panji tidak terlalu lama. Beberapa saat kemudian, pengobatan itu pun selesai. Meski tidak kelihatan sangat lelah, namun pada kening pemuda itu ada titik-titik keringat. Menandakan ia telah banyak mengeluarkan tenaga untuk mengobati beruang Gunung Es.

“Nggguuuhhh”

Panji dan Kenanga menarik napas lega, saat melihat binatang itu mulai bergerak bangkit, kendati masih agak lemah. Walaupun begitu mereka tampak waspada. Bukan tidak mungkin beruang Gunung Es akan menyerang mereka. Tapi, beruang itu ternyata hanya memandang keduanya dengan sorot mata agak sayu. Kemudian melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

Beruang Gunung Es terus bergerak menjauh diiringi pandang mata Panji dan Kenanga. Sampai sejauh itu, keduanya belum tahu apa yang akan mereka lakukan. Apakah mengikuti langkah binatang itu, atau membiarkannya, dan pergi meninggalkan tempat itu?

“Kakang,” tiba-tiba suara Kenanga memecah kebisuan di antara mereka.

“Hm...,” Panji bergumam pelan. Tanpa mengalihkan pandang dari sosok beruang Gunung Es yang semakin menjauh.

“Benarkah binatang itu peliharaan Malaikat Salju seperti yang tersiar di kalangan rimba persilatan?” tanya dara jelita itu seraya berpaling dan menatap wajah kekasihnya dari samping.

“Kemungkinan besar begitu. Sebab, tubuh binatang itu telah terlatih baik. Bahkan ketika menghadapi Hantu Tangan Merah dan kawannya, binatang itu menunjukkan gerak-gerak dasar ilmu silat tinggi. Tapi anehnya, pertarungan yang cukup ribut itu tidak membuat Malaikat Salju datang melihat. Hal ini terasa janggal bagiku,” desah Panji menjawab pertanyaan kekasihnya. Sementara bayangan beruang Gunung Es sudah semakin kecil. Kemudian lenyap di balik rimbunan pepohonan.

“Mungkin yang dikabarkan orang benar, Kakang. Siapa tahu Malaikat Salju memang telah tewas. Dan beruang Gunung Es peliharaannya, ditugaskan untuk menjaga peninggalan majikannya. Bukankah kabar itu pula yang membuat kita berada di sini...?” ujar Kenanga lagi.

“Hmmm.... Kau benar, Adikku. Kalau begitu, kita harus mengikuti binatang itu. Tapi kita harus berhati-hati. Bukan mustahil binatang itu akan menyerang bila melihat kita membuntutinya. Sebab, ia menduga kita hendak menguasai peninggalan majikannya...,” tukas Panji.

Lalu melesat dengan ilmu lari cepatnya. Pemuda itu hendak mengejar beruang Gunung Es. Tanpa banyak cakap, Kenanga segera melesat mengejar kekasihnya. Karena Panji tidak mengerahkan seluruh kekuatan ilmu larinya, maka sebentar kemudian Kenanga sudah bisa menjajari langkah pemuda itu.

TUJUH

Kendati beruang Gunung Es telah lenyap dari pandangan, namun karena binatang itu bergerak lambat, akhirnya Panji dan Kenanga dapat menemukannya. Lari sepasang pendekar muda itu diperlambat saat sosok beruang putih sudah kelihatan beberapa belas tombak di depan mereka. Keduanya menjaga jarak, agar tidak terlalu dekat dengan binatang itu.

“Menurutku, binatang itu hendak menuju tempat tinggal majikannya, Kang,” ujar Kenanga menduga-duga.

“Ya...,” sahut Panji perlahan sambil tetap mengawasi sosok beruang Gunung Es, yang mulai mendaki lereng gunung. Pemuda itu menghentikan larinya. Karena jalan yang dilalui mulai agak sulit. Dan gerak beruang Gunung Es semakin lambat. Kenanga maklum akan maksud kekasihnya. Hingga tidak membantah saat lengannya dipegang Panji agar dara jelita itu menghentikan larinya.

“Hm.... Apakah Malaikat Salju mendirikan tempat tinggalnya di puncak gunung ini...?” gumam Kenanga perlahan. Seperti bertanya pada diri sendiri. Melihat beruang putih itu terus mendaki lereng gunung.

“Kita lihat saja nanti,” tukas Panji menyahuti. Kemudian kembali mengajak dara jelita itu untuk mengejar. Sebab, beruang Gunung Es sudah menghilang di sebuah kelokan.

Kali ini jalan yang mereka lalui mulai mendatar dan tidak sesulit tadi. Dan beberapa tombak kemudian mereka bergerak turun. Sepertinya langkah beruang Gunung Es menuju lembah. Mereka pun terus mengikuti.

“Sudah kuduga Malaikat Salju tidak tinggal di atas puncak gunung ini. Kalau benar tokoh sakti itu mendirikan tempat tinggal di atas sana, tidak mungkin binatang peliharaannya akan berjaga di kaki gunung...,” gumam Panji. Rupanya pemuda itu sudah sejak semula menduga kalau tempat tinggal tokoh yang berjuluk Malaikat Salju tidak mungkin berada di atas puncak gunung.

“Mengapa Kakang tidak mengatakannya kepadaku...?” tegur Kenanga ketika mendengar ucapan kekasihnya.

“Aku baru menduganya. Tapi melihat jalan yang ditempuh beruang putih itu semakin menurun, jelas kemungkinan besar ia menuju lembah,” jawab Panji menjelaskan kepada kekasihnya.

Kenanga diam, saja dan menganggukkan kepala. Saat itu, mereka sudah tiba di sebuah lapangan berumput segar yang cukup luas. Udara di tempat itu sangat dingin menusuk tulang. Kalau saja mereka bukan orang-orang yang memiliki tenaga dalam kuat, pasti tidak akan mudah tiba di tempat itu.

“Hm.... Rupanya banyak sekali orang yang mengincar peninggalan Malaikat Salju. Sayang mereka tidak mengukur kemampuan dirinya...,” gumam Kenanga ketika melihat belasan sosok mayat bergeletakan di tempat itu. Melihat keadaannya, jelas sosok-sosok itu mati karena tak kuat menahan serangan hawa dingin.

Sedangkan Panji hanya menghela napas panjang melihat manusia-manusia serakah itu, yang mengorbankan nyawa dengan percuma. Pemandangan itu membuktikan betapa manusia memiliki sifat serakah dan tak pernah puas terhadap apa yang dimilikinya. Tujuan kedatangan dirinya dan Kenanga ke tempat ini tidak sama seperti yang diinginkan orang-orang serakah itu. Gemblengan guru mereka membuat pemuda itu tidak pernah menginginkan apa yang dipunyai orang lain. Menurut gurunya, apa yang dimiliki pemuda itu telah lebih dari cukup. Hanya tinggal menyempurnakannya saja. Wejangan itulah yang membuat Panji tidak merasa kekurangan, dan mensyukuri apa yang dimiliki.

“Kakang, lihat..!” seruan Kenanga membuyarkan lamunan Panji.

Pemuda itu mengalihkan pandang matanya ke arah yang ditunjuk kekasihnya. Dilihatnya sosok beruang putih memasuki sebuah mulut goa yang semula tertutup semak-semak. Lalu beruang itu lenyap di dalamnya. Semula Panji berniat mengajak kekasihnya masuk ke dalam goa. Namun pemuda itu segera membatalkan niatnya. Saat itu beruang putih tampak melesat keluar seraya menggeram marah. Cepat Panji menarik lengan Kenanga untuk bersembunyi di semak-semak.

“Apa yang menyebabkan beruang itu marah, Kang...?” tanya Kenanga mengintip dari semak-semak.

“Entahlah,” sahut Panji. Seperti halnya Kenanga, Panji pun memperhatikan gerak-gerik binatang murka itu dari celah-celah dedaunan. Dan tetap berada di tempat persembunyiannya ketika beruang Gunung Es berlari meninggalkan lembah.

Setelah sosok beruang berbulu putih itu lenyap dari pandangan, bergegas keduanya melihat keluar. Untuk beberapa saat mereka masih memperhatikan ke arah beruang itu lenyap. Kemudian berbalik memperhatikan goa yang tadi dimasuki beruang Gunung Es. Pada wajah keduanya tergambar rasa penasaran yang sangat

“Mari kita lihat. Apa yang telah membuat binatang itu demikian murka...?” ajak Kenanga. Lalu melesat ke arah mulut goa yang cukup besar itu.

Kenanga yang agaknya juga berpikiran sama segera menjajari langkah kekasihnya. Meskipun menduga tempat itu tidak ada penghuninya, namun sepasang pendekar muda itu tetap waspada dan tidak bertindak ceroboh. Mereka memasuki mulut goa dengan hati-hati. Ruangan di dalam goa ternyata cukup luas. Tak ubahnya sebuah tempat tinggal. Sayang, goa yang tidak seberapa dalam itu terlihat kosong. Hanya ada beberapa peti berukuran sedang yang juga kosong!

“Celaka! Rupanya ada orang yang berhasil menemukan tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju! Inilah yang menyebabkan binatang itu murka...,” ujar Panji segera dapat menduga penyebab kemarahan beruang Gunung Es.

“Tapi..., siapa kira-kira yang telah mencurinya, Kang...?” tanya Kenanga gusar.

“Mengingat berita ini sudah tersebar luas di kalangan persilatan, sulit rasanya untuk menerka siapa pencuri laknat itu. Yang jelas bila peninggalan Malaikat Salju tidak segera kita ketemukan, rimba persilatan akan dilanda bahaya besar! Pencuri itu pasti kaum golongan sesat,” jawab Panji yang juga kelihatan cemas dengan lenyapnya peninggalan Malaikat Salju.

Peninggalan tokoh sakti yang telah lama lenyap dari kalangan persilatan itu, sudah pasti berupa kitab ilmu silat dan benda-benda pusaka lainnya. Kalau pencuri itu sempat mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Malaikat Salju, jelas akan membahayakan banyak orang. Dan kemungkinan besar akan sulit sekali menundukkannya. Mengingat Malaikat Salju merupakan salah seorang tokoh puncak yang banyak memiliki ilmu-ilmu tinggi dan langka.

“Kalau begitu, orang pertama yang harus kita cari adalah Hantu Tangan Merah. Sebab, bukan tak mungkin tokoh itu tahu orang yang telah melakukan perbuatan keji ini...,” ujar Kenanga. Mengingatkan kekasihnya akan tokoh tinggi besar itu.

“Ya. Tapi, sayangnya Hantu Tangan Merah tidak memiliki tempat tinggal tetap. Ia seorang pengembara seperti kita...,” tukas Panji tampak berpikir keras. Pemuda itu merasa ikut bertanggung jawab atas lenyapnya peninggalan Malaikat Salju.

“Meskipun demikian kita harus segera mencarinya, Kang...,” lanjut Kenanga. Gadis jelita itu merasa tokoh sesat itulah satu-satunya yang dapat dijadikan petunjuk saat itu.

“Tentu saja. Ayolah...,” ajak Panji yang segera meninggalkan lembah Gunung Es. Sebentar kemudian, bayangan keduanya sudah terlihat samar. Kemudian lenyap sama sekali.

********************

“Tolooong... tolooong...!”

Penduduk Desa Warangan berlarian kian kemari sambil berteriak-teriak ketakutan. Wajah mereka menggambarkan rasa takut dan ngeri yang hebat! Masing-masing mencari keselamatan diri sendiri.

“Groaaahhh...!”

Rupanya, makhluk besar berbulu putih itu yang membuat penduduk desa kalang kabut. Binatang yang seperti telah menjadi gila itu mengamuk, membunuh siapa saja yang ditemuinya. Tidak peduli korbannya wanita tua atau anak-anak. Siapa saja yang mendekat, pasti akan menjadi sasaran kuku-kuku dan taringnya yang tajam seperti mata pedang.

“Keparat! Dari mana datangnya binatang gila itu...!” desis seorang lelaki bertubuh sedang yang mengenakan pakaian serba hitam. Ia memimpin belasan orang kawannya untuk menghadang binatang itu agar tidak menambah jumlah korban lagi.

Sedangkan binatang raksasa berbulu putih yang tidak lain beruang Gunung Es, semakin bertambah marah melihat orang-orang mengepungnya. Geramannya terdengar semakin keras. Binatang itu menubruk orang yang berada didepannya.

“Aaahhh...!” Lelaki bertubuh gemuk yang merupakan salah seorang keamanan Desa Warangan, kaget bukan main. Cepat ia melompat ke belakang menyelamatkan diri. Tapi....

Breeettt..!

“Aaakhhh...?!” Lelaki malang itu menjerit ngeri. Cakar beruang Gunung Es telah merobek perutnya. Bahkan tidak sampai di situ saja. Tubuh lelaki gemuk itu diangkat dan dilemparkan dengan sekuat tenaga. Sehingga tanpa ampun lagi terbanting ke tanah. Sudah pasti lelaki itu tidak mungkin selamat. Apalagi pada bagian perutnya terdapat luka yang dalam.

“Binatang Gila!” maki lelaki bertubuh sedang itu. Merasa dirinya paling bertanggung jawab atas keselamatan warga desanya, ia segera bertindak maju dengan pedang di tangan. Kemudian membabatkan senja- tanya ke tubuh beruang Gunung Es.

Whuuuttt..!

Secercah sinar putih berkilau saat pedang di tangan lelaki itu bergerak menyilang mengarah tubuh bagian depan binatang itu. Dari suara sambaran anginnya, tenaga yang dipergunakan lelaki bertubuh sedang itu jelas cukup kuat. Tapi....

“Heiii. ?!” Lelaki bertubuh sedang menahan seruan kaget. Sambaran pedangnya dapat dielakkan binatang itu dengan gerakan yang menunjukkan jurus silat Kenyataan itu hampir-hampir tidak dapat dipercayainya. Sehingga lelaki itu tertegun, dan lupa akan bahaya yang siap merenggut nyawanya!

“Ki Bayak, awaaas...!” melihat lelaki bertubuh sedang itu belum juga sadar kendati beruang Gunung Es sudah mengulurkan lengannya, salah seorang kawan lelaki bernama Ki Bayak itu berseru memperingatkan. Teriakan itu membuat Ki Bayak tersentak dari keterkejutannya. Cepat tubuhnya dilempar ke belakang dengan lompatan panjang. Tapi, gerakan beruang Gunung Es itu masih lebih cepat. Sehingga....

Tappp!

Kuku-kuku tajam dan kuat itu tahu-tahu telah mencekik batang leher Ki Bayak.

“Groooaaarrr...!” Diiringi geraman keras beruang Gunung Es mengangkat tubuh lelaki itu hingga mempererat cekikannya. Ki Bayak tidak sempat berteriak lagi. Lelaki bertubuh sedang itu tewas seketika itu juga dengan tulang leher remuk!

Kematian Ki Bayak yang merupakan pimpinan keamanan desa, membuat yang lainnya menjadi pucat! Kendati demikian, beberapa di antaranya berlaku nekat. Mereka berlompatan maju seraya membabatkan pedangnya ke tubuh binatang itu. Tapi....

Trakkk! Trakkk!

“Aaahhh.?!”

Mereka berteriak kaget hampir bersamaan! Sebab bukan tubuh binatang itu yang terluka, tapi senjata mereka malah patah! Tubuh beruang Gunung Es tidak dapat dilukai senjata tajam. Tentu kenyataan itu sukar mereka percayai.

“Beruang Setan?!”

“Binatang Iblis...?!”

Terdengar seruan-seruan bernada gentar dari para keamanan desa. Semakin sadarlah mereka kalau beruang besar berbulu putih itu tidak mungkin dapat dikalahkan. Kenyataan itu langsung menerbangkan keberanian yang memang hanya sedikit di hati mereka. Para keamanan desa pun mengambil keputusan untuk lari!

Sementara beruang Gunung Es terus melangkah, sambil memperdengarkan geramannya yang sanggup membuat lutut orang gemetar dan sukar dilangkah- kan. Tentu saja penduduk desa semakin ketakutan. Dan buru-buru mengunci pintu rumahnya.

Seperti tidak puas dengan korban-korbannya, beruang Gunung Es tiba-tiba membelokkan langkahnya ke sebuah kedai makan. Sepasang mata binatang itu menangkap beberapa kepala mengintai dari jendela kedai. Kedatangan binatang yang tengah murka itu membuat seisi kedai kalang kabut. Mereka segera berlarian keluar melalui pintu belakang. Sehingga tidak ada korban jiwa. Hanya bangunan kedai itu saja yang roboh diamuk beruang Gunung Es.

Karena tidak menemukan sesosok tubuh pun di dalam kedai itu, beruang Gunung Es bergerak meninggalkan tempat itu. Dan melanjutkan langkahnya menyusuri jalan utama desa yang menjadi lengang dan sunyi. Geraman-geramannya terdengar terus sepanjang jalan, mengiringi langkah kakinya. Tak seorang pun berani menampakkan diri. Meski binatang itu telah merobohkan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan yang dilalui. Ketika tiba di pertigaan jalan, beruang Gunung Es tampak menghentikan langkahnya. Kepalanya menggeleng ke kiri-kanan. Seolah hendak menentukan arah mana yang harus dituju.

Belum lagi binatang itu mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dari sebelah kirinya. Binatang itu langsung menoleh sambil memperdengarkan geramannya yang menggetarkan dada. Seorang lelaki berperawakan gagah berusia sekitar lima puluh lima tahun, terlihat mengerutkan kening. Lelaki gagah itu melompat turun dari atas punggung kuda dalam jarak empat tombak lebih. Kemudian menoleh kekanan.

“Binatang itukah yang kau katakan sangat kebal dan pandai bersilat...?!” tanya lelaki gagah itu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah beruang Gunung Es.

“Benar, Ki. Binatang laknat itu telah membunuh Ki Bayak serta beberapa penduduk dan keamanan desa...,” sahut lelaki berperawakan tinggi kurus. Rupanya lelaki itu telah melaporkan beruang yang dianggapnya gila kepada kepala desanya.

“Hm...,” lelaki berperawakan gagah bergumam sambil tetap mengawasi binatang berbulu putih itu. Ia segera teringat akan kabar yang tersebar di kalangan persilatan. Hingga menduga binatang itulah yang tengah dibicarakan orang banyak.

“Kalian berdua ikut aku...!” perintah lelaki gagah seraya menghunus senjata. Kendati ia merasa ragu dapat menundukkan beruang besar itu. Namun tanggung jawab yang ada di bahunya, membuatnya melangkah maju dengan senjata di tangan.

Dua orang pembantu utama Kepala Desa Warangan, bergegas mengiringi langkah lelaki gagah itu. Di tangan mereka tergenggam sebatang pedang. Ketegangan tergambar jelas pada wajah keduanya. Beruang Gunung Es tampak bergerak menyongsong ketiga orang itu. Sesekali terdengar geramannya. Membuat dada ketiga lelaki itu berdebar keras.

“Hati-hati. Binatang ini kelihatannya sangat berbahaya, “ lelaki berperawakan gagah mengingatkan kedua pembantunya. Dan memberi isyarat untuk menyebar agar perhatian beruang itu terpecah.

Whuuuttt.. whuuuttt..!

Terdengar suara sambaran angin berkesiutan saat pedang di tangan lelaki gagah itu bergerak menyilang. Kelihatan sekali ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur binatang itu. Kepala Desa Warangan tidak ingin bertindak gegabah dengan memandang rendah beruang putih itu. Apalagi mengingat kepala keamanan desa telah tewas di tangan binatang itu.

“Tunggu...!”

Saat Kepala Desa Warangan dan kedua pembantunya sudah siap menerjang maju, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh sedang terbungkus jubah panjang putih telah berdiri di dekat ketiga lelaki itu, langsung menghadapi beruang Gunung Es.

Ki Drupada, Kepala Desa Warangan dan kedua pembantunya terkejut bukan main! Sosok berjubah putih Itu muncul begitu saja tanpa mereka ketahui kedatangannya. Seolah muncul dari dalam bumi bagai hantu. Sehingga, Ki Drupada dan kedua pembantunya bergerak mundur dengan wajah agak pucat!

“Maaf, kalau kedatanganku telah mengejutkan kalian...,” ujar sosok berjubah putih yang ternyata seorang pemuda tampan. Seraya berkata demikian, langkahnya digeser ke samping dengan tetap mengawasi beruang Gunung Es.

Belum lagi Ki Drupada sempat membuka suara, kembali ia dikejutkan dengan kelebatan sesosok bayangan hijau. Sepasang mata lelaki tua itu terbelalak melihat seorang dara jelita telah berdiri di sebelah pemuda tampan berjubah putih itu. Seolah belum mempercayai penglihatannya, Ki Drupada menggeleng perlahan sambil mengerjapkan sepasang matanya. Hatinya baru yakin akan keberadaan sepasang orang muda itu, setelah mengerjap beberapa kali. Sosok pemuda tampan dan dara jelita itu tetap berada di tempat semula.

“Siapa kalian? Apakah binatang itu peliharaan kalian yang terlepas...?” setelah beberapa saat lamanya, akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulut Ki Drupada.

“Namaku Panji. Sedangkan kawanku ini Kenanga. Binatang itu bukan peliharaan kami. Tapi kami tahu dari mana beruang putih itu berasal. Kami berdua mengikutinya sejak dari Gunung Es. Sayang kami sempat kehilangan jejak, hingga terlambat mencegah kejadian yang menimpa penduduk desa ini..,” jawab pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji. Suara dan sikapnya yang sopan serta menunjukkan persahabatan, membuat Ki Drupada langsung merasa suka dengan pemuda itu. Lelaki tua itu langsung mengangguk dan membalas senyum Panji.

“Lalu, apa yang hendak kalian perbuat pada binatang berbahaya itu?” tanya Ki Drupada lagi. Sepertinya merasa khawatir akan keselamatan pasangan muda yang menarik hatinya itu. Perasaan yang tergambar jelas pada wajahnya, membuat Panji dan Kenanga maklum. Hingga keduanya tidak berkata apa-apa.

“Maaf, Ki. Pada dasarnya binatang ini tidak jahat. Tapi karena suatu hal, maka ia berubah ganas dan mencelakai siapa saja yang ditemuinya. Kami akan mencoba menjinakkannya kembali. Mudah-mudahan berhasil...,” jawab Panji tanpa menyombongkan diri. Bahkan pemuda itu terkesan memiliki kerendahan hati.

“Tapi..., beruang itu sangat berbahaya. Aku khawatir nanti kalian akan celaka...,” bantah Ki Drupada.

Jawaban orang tua itu membuat Panji dan Kenanga tersenyum. Dari ucapan itu dapat diduga kemuliaan hati Kepala Desa Warangan. Lelaki itu tidak ingin melihat orang lain celaka hanya karena hendak membelanya. Kenyataan itu menimbulkan rasa kagum mereka pada Ki Drupada.

“Tidak perlu khawatir, Ki. Kami tahu cara untuk menjinakkannya,” tukas Panji.

Lalu melangkah mendekati beruang Gunung Es, yang sepertinya telah mengenali pemuda tampan berjubah putih itu. Buktinya, semenjak tadi binatang itu hanya menggeram saja tanpa menyerang. Beruang Gunung Es kelihatan menjadi ragu ketika melihat pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya dari kematian.

“Aku tahu kau marah dengan lenyapnya peninggalan majikanmu,” ujar Panji yang menduga beruang itu mengerti akan kata-katanya, meski hanya dengan naluri. “Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku dan kawanku akan membantu menemukan kembali benda-benda milik majikanmu itu. Ikutlah bersama kami untuk mencari pencuri keparat itu...,”

Panji melanjutkannya ucapannya ketika melihat beruang Gunung Es terdiam seraya memperdengarkan lenguhannya. Sehingga, pemuda itu bertambah yakin kalau binatang itu dapat menangkap arti kata-katanya.

Ki Drupada serta para pembantunya terbengong-bengong melihat pemuda itu berbicara seperti tengah berhadapan dengan manusia. Keheranan mereka semakin bertambah ketika melihat sepasang mata kecil binatang ganas itu tampak meredup. Tak ubahnya seekor binatang manja yang tengah berhadapan dengan majikannya.

Panji tersenyum melihat gerak-gerik beruang Gunung Es. Pemuda itu merasa yakin kalau binatang itu ingin menunjukkan bahwa kata-katanya barusan hendak dipatuhi. Maka, ia segera berpamitan kepada Ki Drupada.

“Beruang itu adalah piaraan seorang tokoh sakti yang menyepi di lembah Gunung Es. Itulah sebabnya, ia mengerti kata-kata yang kuucapkan. Biarlah aku memintakan maaf atas segala yang telah dilakukannya. Aku akan membawa binatang ini mencari pencuri harta pusaka majikannya...,” jelas Panji. Ki Drupada serta orang-orangnya hanya bisa menganggukkan kepala dengan wajah bodoh.

“Anak Muda, siapa kau sebenarnya...?” seru Ki Drupada. Yang baru tersadar dari keheranannya saat Panji, Kenanga, dan beruang Gunung Es telah berjalan jauh. Lelaki tua itu merasa penasaran melihat pemuda itu dapat dengan mudah menundukkan beruang besar dan ganas itu. Sehingga, ia mulai menduga pemuda tampan berjubah putih pasti bukan orang sembarangan. Sayang, ia terlambat menyadarinya.

Panji tidak menjawab pertanyaan Ki Drupada. Pemuda itu membalikkan tubuh dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Hingga Ki Drupada tak bisa berkata apa-apa, kecuali mengiringi kepergian mereka dengan pandangan mata.

“Pemuda tampan itu pasti seorang tokoh muda yang digdaya. Sayang, aku tidak sempat mengenalnya lebih jauh...,” desah Ki Drupada setelah sosok Panji lenyap dari pandangan mata. Tidak satu pun dari pembantu-pembantunya yang menimpalinya. Mereka memang tidak mengerti dan tidak merasa perlu mengenal pemuda tampan berjubah putih itu.

Ki Drupada lalu memerintahkan orang-orangnya untuk menguburkan mayat-mayat korban beruang Gunung Es, serta merapikan rumah-rumah yang dirobohkan binatang itu. Sedangkan ia sendiri melompat ke atas punggung kuda. Dan menggebah binatang tunggangan itu menuju tempat kediamannya.

********************

DELAPAN

Lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu melangkah terseok-seok. Tubuhnya dibanjiri oleh peluh yang tak henti-henti mengalir dari wajah dan tubuhnya. Nafasnya terdengar berat. Menandakan bahwa ia sangat lelah. Kendati demikian, lelaki gagah itu terus melangkah. Sesekali ia berhenti untuk mengatur nafasnya yang hampir putus dengan bersandar pada batang pohon. Kemudian kembali berjalan setelah sebelumnya menoleh ke belakang. Seperti merasa khawatir ada orang yang mengikutinya.

Ketika baru saja lelaki gagah itu menyeberangi sebuah sungai kecil, tubuhnya terlonjak mundur hampir jatuh. Dari arah sampingnya, muncul tiga sosok tubuh yang membuat jantungnya hampir putus. Untung salah satu dari ketiga sosok tubuh itu, yang mengenakan jubah putih, bertindak cepat dengan mengulurkan tangannya. Sehingga, lelaki gagah itu tidak terjatuh ke sungai.

“Sssiapa... kau, Anak Muda...?” tanya lelaki gagah itu dengan gugup. Sinar kecurigaan terpancar jelas pada sepasang matanya.

Pemuda yang tidak lain Panji itu hanya tersenyum. Tapi menduga kalau orang itu tengah melarikan diri dari sesuatu yang ditakuti, Panji pun tidak ingin membuat lelaki tua itu semakin gelisah. Maka, ia segera menjawabnya dengan ramah dan penuh persahabatan.

“Itu... itu...,” desis lelaki gagah seraya menudingkan jari telunjuknya ke arah beruang Gunung Es, setelah Panji dan Kenanga memperkenalkan diri. Tampaknya lelaki gagah itu sangat takut melihat beruang Gunung Es yang datang bersama Panji dan Kenanga. Apalagi, ketika beruang itu memperdengarkan geramannya saat melihat lelaki gagah itu.

“Tenanglah, Putih. Jangan membuat orang ini bertambah takut,” ujar Panji kepada binatang itu. Meski kelihatan patuh, namun beruang itu masih menggeram lemah dan menunjukkan taringnya.

“Kelihatannya Paman seorang pemburu. Mengapa Paman ketakutan? Adakah sesuatu yang menyusahkan, Paman?” tanya Panji hati-hati dan berusaha agar lelaki tua itu mempercayainya.

Lelaki gagah yang tidak lain Ki Lodana memandang Panji dan Kenanga sesaat. Kemudian menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya. Meski ceritanya terpatah-patah karena nafasnya masih memburu, namun semuanya dapat ditangkap jelas oleh Panji dan Kenanga. Sepasang pendekar muda itu tampak terkejut mendengar cerita Ki Lodana.

“Mereka membunuh ketiga kawanku setelah menemukan goa tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju. Untung aku tergelincir cukup jauh ketika ditendang salah seorang pengikut Pisau Kilat. Mereka mengira aku telah tewas. Begitu mereka pergi, aku bergegas meninggalkan Gunung Es untuk pulang ke desaku...”

Ki Lodana mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang. Setelah menjelaskan semua itu kepada Panji dan Kenanga, hati Ki Lodana terasa agak lega. Baginya, cerita itu merupakan tumpahan kesedihandan kedukaan hati karena kematian kawan-kawannya.

“Hm.... Jadi, yang mencuri peninggalan Malaikat Salju orang-orang Pisau Kilat. Kalau tidak salah, bukankah tokoh berjuluk Pisau Kilat berperawakan gemuk dan berkumis lebat yang bersama-sama Hantu Tangan Merah?” ujar Panji. Segera dapat menebak bahwa Pisau Kilat lelaki gemuk berkumis lebat yang mengeroyoknya bersama Hantu Tangan Merah.

“Benar. Dialah yang berjuluk Pisau Kilat. Seorang kepala perampok yang berhati kejam...,” sahut Ki Lodana membenarkan dugaan Panji.

“Tahukah Paman, di mana markas para perampok itu?” tanya Panji membuat Ki Lodana gelisah. Lelaki tua itu agaknya merasa takut dengan tokoh yang berjuluk Pisau Kilat

“Bantulah kami, Paman. Kami berdua hendak mengembalikan barang-barang Malaikat Salju ke tempatnya semula. Binatang peliharaan tokoh sakti itu akan terus berkeliaran mencari pencuri peninggalan majikannya, selama benda-benda itu belum diketemukan,” bujuk Panji. Pemuda itu dapat membaca rasa cemas di hati Ki Lodana.

“Kami menjamin keselamatan Paman. Percayalah, kami akan memberi hukuman yang setimpal kepada orang-orang jahat itu. Mereka tidak akan lagi menimbulkan keresahan bagi orang banyak,” Kenanga ikut menimpali, agar Ki Lodana merasa terlindung dan mau menunjukkan markas Pisau Kilat.

“Baiklah. Aku akan membantu kalian...,” akhirnya Ki Lodana bersedia menunjukkan markas gerombolan Pisau Kilat, setelah berpikir cukup lama.

“Terima kasih, Paman. Keselamatan Paman akan kami jamin. Beruang Gunung Es pun akan ikut menjaga keselamatan Paman. Bukanlah begitu, Putih...?” ujar Panji menoleh ke arah beruang Gunung Es. Lalu dibelainya tubuh binatang itu, yang menggeram lirih.

Ki Lodana menyimpan keheranan hatinya melihat beruang besar itu sangat patuh kepada Panji dan Kenanga. Lelaki gemuk itu menduga kalau sepasang orang muda itu pasti bukan orang sembarangan. Sebab, ia sendiri tahu akan kehebatan dan kelebihan binatang raksasa itu. Setelah Ki Lodana menyetujui permintaan Panji, pemuda itu memberi sebutir pil berwarna putih untuk memulihkan kekuatan lelaki gagah itu. Dan Ki Lodana tidak merasa ragu. Obat itu langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Wah. Ternyata kau seorang tabib yang sangat pandai, Panji. Obatmu benar-benar manjur...,” puji Ki Lodana. Lelaki itu merasa ada aliran hawa hangat setelah menelan pil putih seperti salju itu.

“Terima kasih atas pujian Paman...,” ujar Panji tanpa terkesan sombong

Kemudian bergegas mengikuti langkah orang tua itu, yang kelihatan sangat bersemangat menunjukkan markas gerombolan Pisau Kilat. Setelah merasakan kemujaraban obat pemberian Panji, Ki Lodana semakin bertambah yakin kedua orang muda itu bukan orang sembarangan. Menurutnya, hanya orang-orang pandai saja memiliki obat demikian luar biasa. Ia menduga sepasang orang muda itu murid tokoh silat tingkat tinggi.

********************

“Tunggu...!”

Ketika mereka telah melewati hutan karet, tiba-tiba Panji berseru perlahan. Hingga langkah Ki Lodana yang berada di depan terhenti, dan menoleh ke arah pemuda itu.

“Ada apa, Kang?” tanya Kenanga. Meskipun telah menduga apa yang membuat kekasihnya berhenti, namun pertanyaan itu terlontar juga dari bibirnya.

“Paman, di sebelah manakah arah markas Gerombolan Pisau Kilat?” tanya Panji. Tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya.

“Di sebelah utara,” sahut Ki Lodana dengan wajah heran. Ia belum mengerti, mengapa Panji tiba-tiba bertanya demikian kepadanya.

“Hm.... Kalau begitu kita harus bergegas. Aku mendengar suara pertempuran dari sebelah utara...,” tukas Panji. Hingga Ki Lodana terkejut bukan main. Sebab, ia tidak mendengar suara pertempuran sedikitpun.

“Tapi...,” Ki Lodana mencoba membantah.

“Paman, naiklah ke punggung si putih...,” potong Panji cepat Kemudian memberi isyarat kepada beruang besar itu. Dan, beruang Gunung Es tidak memberontak ketika Ki Lodana naik ke punggungnya. Binatang itu segera melesat mengikuti Panji dan Kenanga yang sudah berlari lebih dulu.

Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka di dekat sebuah bukit yang subur. Apa yang didengar Panji memang tidak keliru. Di tempat itu tengah berlangsung sebuah pertempuran yang cukup seru. Yang membuat Panji heran adalah orang-orang yang tengah melakukan pertempuran itu. Pemuda itu melihat Hantu Tangan Merah tengah dikeroyok Pisau Kilat dan para pengikutnya.

Namun, keheranan itu tidak berlangsung lama. Panji segera teringat akan sifat tokoh-tokoh golongan sesat yang berwatak licik dan serakah. Hingga, langsung dapat menduga kalau Pisau Kilat ingin menguasai barang curian itu seluruhnya. Sehingga Hantu Tangan Merah marah dan menggempurnya.

Pertempuran yang kelihatan tidak seimbang itu langsung berhenti ketika Hantu Tangan Merah melihat kemunculan Panji. Dan tokoh tinggi besar itu bertambah kaget melihat beruang Gunung Es datang bersama Pendekar Naga Putih. Sekali pandang saja, tahulah Hantu Tangan Merah kalau beruang itu telah diselamatkan Panji. Buktinya binatang itu terlihat patuh kepada pemuda itu.

Pisau Kilat pun tidak kalah kagetnya melihat kemunculan Pendekar Naga Putih, bersama beruang Gunung Es serta Ki Lodana. Tahulah kepala perampok itu bahwa yang memberitahukan tempat tinggalnya pemburu kawakan itu. Diam-diam ia merasa geram dan berjanji akan mencincang tubuh Ki Lodana.

“Kepung mereka...!” perintah Pisau Kilat yang maklum akan maksud kedatangan Pendekar Naga Putih. Lelaki itu melompat menyongsong kedatangan pemuda tampan itu. Sifat kaum golongan sesat memang terkadang tidak lumrah. Padahal Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat baru saja bertarung mati-matian tadi. Tapi setelah melihat kehadiran pemuda itu, keduanya langsung bergabung meski tanpa kata sepakat.

Melihat orang-orang itu bergerak menyongsong kedatangannya, Panji memberi isyarat kepada Kenanga dan Ki Lodana untuk tetap di tempatnya. Demikian juga beruang Gunung Es. Sedangkan pemuda itu sendiri sudah bergerak maju menghadapi para pengeroyoknya. Sikapnya tetap tenang. Tanpa rasa gentar sedikit pun.

“Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Rupanya, kau pun menghendaki peninggalan Malaikat Salju! Tidak kusangka pendekar sehebat dirimu masih merasa kurang dengan apa yang kau miliki,” geram Pisau Kilat marah bukan main karena campur tangan pendekar muda itu. Hingga dengan liciknya, menuduh Pendekar Naga Putih salah seorang pemburu peninggalan Malaikat Salju.

Panji kelihatan tidak terpancing meski dituduh demikian. Pemuda itu malah menyunggingkan senyumnya. Dan menatap wajah Pisau Kilat dengan sorot mata tajam menusuk jantung.

“Pisau Kilat. Kau boleh menuduhku apa saja. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku memang hendak mengambil barang-barang curian itu darimu. Dan akan mengembalikannya ke tempat semula,” sahut Panji tenang. Namun mengandung perbawa yang amat kuat. Hingga dada Pisau Kilat berdebar.

“Huh! Tidak kusangka pendekar muda yang namanya tersohor di kolong langit ternyata seorang munafik! Meskipun aku dikenal sebagai orang jahat, tapi aku tidak serendah dirimu, Pendekar Naga Putih! Dan aku tidak perlu menggunakan segala macam dalih. Sebab, aku memang menginginkan benda peninggalan Malaikat Salju yang berupa kitab ilmu silat serta pedang pusaka langka. Nah, bukankah aku lebih jujur darimu?!”

Hantu Tangan Merah yang juga merasa marah kepada Pendekar Naga Patih, dan ikut menyudutkan pelmuda tampan itu. Bahkan, kata-kata yang dilontarkannya jauh lebih tajam dari ucapan Pisau Kilat. Meskipun begitu, Panji tetap tenang. Dan tidak menunjukkan tanda-tanda amarahnya terpancing. Bahkan, senyumnya semakin bertambah lebar. Membuat lawan-lawannya jengkel melihatnya.

“Bunuh pemuda munafik itu...!”

Karena tidak bisa menahan kesabarannya lagi, Pisau Kilat langsung memerintahkan anak buahnya menggempur Pendekar Naga Putih. Ia sendiri tidak bergerak maju. Hanya berdiri menunggu kesempatan baik untuk melakukan serangan.

Namun belum Panji bergerak melakukan perlawanan, tiba-tiba terdengar geraman keras. Disusul dengan melesatnya beruang Gunung Es menyambut kedatangan para pengikut Pisau Kilat!

“Putih, jangan...!” Panji mencoba mencegah beruang itu. Namun, beruang Gunung Es tidak mematuhi teriakan pemuda itu. Binatang itu terus menerjang para pengikut Pisau Kilat yang tentu saja sangat terkejut!

“Yeaaahhh...!”

Merasa marah dengan majunya binatang itu, Pisau Kilat langsung mengibaskan kedua lengannya bergantian. Sinar-sinar putih berkilauan disertai suara berdesing tajam. Empat batang pisau terbang bergerak mengancam keselamatan Ki Lodana yang saat itu berdiri di dekat Kenanga. Sungguh licik sekali perbuatan kepala perampok itu!

“Bangsat Curang!” seru Kenanga geram. Melihat kelicikan lelaki gemuk berkumis lebat itu. Tangannya cepat bergerak mencabut Pedang Sinar Bulan yang melibat pinggangnya. Kemudian, dikibaskan menyilang meruntuhkan senjata gelap itu. Sehingga, Ki Lodana menarik napas lega.

“Haaattt...!”

Hantu Tangan Merah pun mempergunakan kesempatan selagi perhatian Pendekar Naga Putih terpecah. Tokoh tinggi besar itu melesat dengan serangan-serangan mautnya yang mengandung racun ganas!

Bwettt.. bweeettt..!

Sepasang telapak tangan yang mengeluarkan pukulan beracun berhawa panas itu, datang berganti-ganti mengancam tubuh Pendekar Naga Putih. Pada saat yang hampir bersamaan, Pisau Kilat melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali. Dari sebelah atas, tokoh itu melepaskan sebuah serangan gelap secara tiba-tiba!

Syuttt.. syuttt...!

Enam batang pisau terbang langsung melesat mengancam enam jalan darah kematian di tubuh Panji. Benar-benar sebuah serangan keji!

“Hm...” Panji bergumam datar melihat serangan-serangan maut kedua lawannya. Untuk menghadapi serbuan Hantu Tangan Merah, pemuda itu menggunakan sepasang tangannya yang membentuk cakar naga. Tubuhnya meliuk-liuk dengan indah. Dan sambil menyambut terjangan Hantu Tangan Merah, Pendekar Naga Putih menghindari senjata Pisau Kilat.

Plakkk! Plakkk!

“Aaaihhh.?!” Meski telah tahu akan kepandaian pemuda tampan itu, Hantu Tangan Merah tidak urung terkejut juga ketika serangannya disambut baik oleh lawan. Akibatnya, tubuh tinggi besar itu terhuyung mundur. Kekuatan tenaga dalamnya ternyata masih kalah dengan pemuda tampan berjubah putih. Sadar akan kekurangannya, Hantu Tangan Merah mulai mengatur serangan baru. Kali ini ia berusaha menghindari benturan dengan pemuda itu. Sebab, hal itu hanya akan merugikan dirinya.

“Haaattt..!”

Pisau Kilat yang kali ini menggunakan sebatang pedang, langsung menyabetkan senjatanya ke tubuh lawan. Terdengar desingan menderu ketika mata pedang Pisau Kilat mengarah leher belakang Pendekar Naga Putih. Kepala perampok itu hendak memenggal kepala lawan yang sangat dibencinya itu.

Whuttt..!

Panji menggeser kaki kanannya ke samping sambil memutar kepala untuk menghindari sabetan pedang lawan. Belum lagi ia sempat mengirimkan serangan balasan, gempuran Hantu Tangan Merah telah datang menyusul. Pertempuran pun semakin bertambah seru. Sebab selain harus menghindari sabetan pedang Pisau Kilat, Panji pun harus berhati-hati dengan pukulan beracun Hantu Tangan Merah.

Jurus demi jurus berlalu tanpa terasa. Lima puluh jurus telah lewat, tanpa ada tanda-tanda pihak mana yang akan kalah. Itu bukan berarti kepandaian Pisau Kilat telah maju. Kalau saja kepala perampok itu tidak dibantu Hantu Tangan Merah, rasanya dalam tiga puluh jurus Panji dapat merobohkan lelaki gemuk itu. Tapi karena Hantu Tangan Merah membantunya, maka Pisau Kilat dapat bertahan sampai lima puluh jurus. Dan ia boleh bangga akan hal itu.

“Haiiittt...!”

Ketika pertempuran memasuki jurus keenam puluh, tiba-tiba Pendekar Naga Putih mengeluarkan pekikan nyaring. Seiring dengan itu, tubuhnya bergerak semakin cepat. Sepasang tangannya sudah tidak kelihatan lagi bentuk aslinya. Apalagi, hawa dingin yang menebar dari tubuh pendekar muda itu terasa membekukan urat-urat tubuh mereka. Hingga Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat kewalahan dibuatnya.

Bukkk!

“Huaaakkk...!”

Karena gerak tangan pemuda itu sukar ditangkap mata, Pisau Kilat terpaksa harus menerima pil pahit. Dadanya terkena gedoran telapak tangan Pendekar Naga Putih. Tubuh kepala perampok itu terpental dan jatuh terguling-guling. Darah segar termuntah keluar dari mulutnya. Pukulan yang keras itu, membuatnya tidak sanggup lagi bangkit. Bahkan beberapa saat kemudian, nafasnya berhenti untuk selamanya. Pisau Kilat tewas di tangan Pendekar Naga Putih.

Terpentalnya tubuh Pisau Kilat, membuat Hantu Tangan Merah agak gugup. Perasaan itu tentu sangat merugikan dirinya. Gerakannya menjadi kacau dan tidak terkendali. Akibatnya, sebuah sambaran cakar naga lawan membuat tubuhnya terlempar sejauh satu tombak!

Brettt..!

“Aaarghhh...!” Hantu Tangan Merah memekik kesakitan. Kendati demikian, tubuhnya tidak terbanting ke tanah. Tokoh tinggi besar itu dapat menyelamatkan diri dengan berjumpalitan di udara. Dan mendarat dengan kedua kaki lebih dahulu.

“Heaaahhh...!” Kali ini, Pendekar Naga Putih tidak memberi kesempatan lagi kepala Hantu Tangan Merah. Sebelum lawan sempat membangun serangan, sepasang telapak tangan pemuda itu telah meluncur ke arah dada Hantu Tangan Merah. Hingga....

Deeesss!

Hantaman yang sangat kuat itu membuat Hantu Tangan Merah memekik ngeri! Tubuhnya terpental bagai daun kering diterbangkan angin. Dan jatuh berdebuk di atas tanah dengan kerasnya. Sesaat tokoh tinggi besar itu seperti hendak bangkit berdiri. Namun kembali roboh. Darah segar tak henti-hentinya mengalir dari bibirnya. Nafasnya terlihat satu-satu dan sangat pelan. Sampai akhirnya lenyap sama sekali. Hantu Tangan Merah telah terbang ke alam baka.

Setelah menyelesaikan lawan-lawannya, Pendekar Naga Putih kelihatan termenung memandang mayat-mayat pengikut Pisau Kilat yang menjadi korban beruang Gunung Es ini. Sedangkan binatang itu tidak ada. Begitu juga Kenanga dan Ki Lodana. Hingga Panji mengerutkan kening heran. Tapi, Panji tidak perlu menunggu lama untuk menemukan Kenanga, Ki Lodana, dan beruang Gunung Es. Ketiga sosok tubuh itu muncul dari dalam sebuah pondok besar.

“Apa kalian sudah menemukan barang-barang yang dicuri Pisau Kilat bersama anggotanya?” tanya Panji. Kendati melihat kedua tangan beruang Gunung Es membawa dua peti kayu berukir yang cukup besar.

“Sudah, Panji. Aku yakin semuanya masih lengkap...,” sahut Ki Lodana yang kelihatan semakin dekat dengan beruang Gunung Es. Kenyataan itu membuat Panji merasa senang. Ia tidak perlu merasa khawatir lagi. Hingga bisa meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan.

“Panji, aku akan tinggal di Gunung Es. Sebab, aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Kuharap kau bersedia menemani kami untuk beberapa hari. Kenanga sudah setuju dengan usulku itu...,” ujar Ki Lodana. Lelaki gagah itu agaknya memutuskan untuk menetap di Gunung Es bersama binatang peliharaan Malaikat Salju.

“Hm.... Kalau sudah begitu, untuk apa kau bertanya kepadaku, Paman. Sudah pasti aku akan setuju...,” jawab Panji tertawa perlahan, membuat Ki Lodana berseri wajahnya.

Beruang Gunung Es melenguh memperlihatkan taring-taringnya. Tampaknya, binatang itu ikut gembira dan tertawa. Padahal, suara yang keluar dari moncongnya tetap saja berupa geraman. Sebab, mana mungkin seekor beruang dapat terkekeh. Jelas suatu hal yang mustahil....

S E L E S A I

Beruang Gunung Es

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Beruang Gunung Es
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih

SATU

PAGI baru saja datang menggantikan tugas sang Malam. Suara burung di dahan-dahan pohon terdengar bersahutan menyambut datangnya mentari pagi. Semilir bayu perlahan menyapa dedaunan, memperdengarkan suara gemerisik lembut di telinga.

Di bawah siraman mentari yang hangat menyentuh kulit, tampak enam sosok lelaki tegap bergerak menyusuri jalanan lebar. Langkah kaki mereka yang mantap menapak tanah, menandakan rombongan kecil itu telah terbiasa berjalan jauh. Keenam lelaki tegap itu agaknya para pemburu. Mereka membawa busur dan anak panah, serta sebilah golok besar yang terselip dipinggang.

Lelaki terdepan berwajah keras dengan sepasang mata lebar dan tajam. Rahangnya yang kokoh menggambarkan keteguhan hatinya. Tampak jelas bahwa lelaki berwajah berewokan itu telah terbiasa menghadapi kehidupan yang keras.

Orang kedua berperawakan hampir sama dengan lelaki pertama. Bahkan badannya lebih kekar dan kokoh. Lelaki itu kelihatan sangat jantan sehingga menimbulkan rasa kagum bagi siapa saja yang memandangnya. Usianya tidak terlalu tua. Sekitar empat puluh tahun. Sepuluh tahun lebih muda dari lelaki pertama.

Sedangkan empat orang lainnya berperawakan tegap dan bermata tajam. Gerakan mereka pun gesit. Apa yang mereka miliki itu rasanya sudah cukup memenuhi syarat sebagai pemburu.

“Arah mana yang akan kita ambil, Kakang Lodana...?” tanya lelaki bertubuh kekar kepada lelaki berwajah berewok, yang rupanya pemimpin rombongan kecil itu. Karena usianya yang paling tua di antara mereka dan pengalamannya dalam berburu yang jauh lebih luas daripada kelima orang kawannya.

“Hm... tujuan kita adalah Hutan Graban. Kabarnya tempat itu banyak dihuni binatang-binatang buruan yang sangat langka. Tempatnya memang cukup jauh, hingga memerlukan dua hari perjalanan. Tapi, aku yakin kalian akan puas setelah melihatnya sendiri...,” sahut lelaki berwajah berewok yang bernama Lodana. Sosoknya berdiri tegak di persimpangan jalan yang terpecah menjadi tiga.

“Hutan Graban...?!” desis kelima pemburu lainnya. Mereka kelihatan berpikir beberapa saat untuk mengingat-ingat nama itu.

“Ah, aku ingat sekarang!” seru lelaki kekar itu terlonjak gembira. “Aku memang pernah mendengar tentang sebuah hutan yang banyak dihuni binatang buruan yang sangat langka. Dan dapat dijual dengan harga tinggi bila kita bisa membawa kulitnya tanpa cacat. Kalau begitu, kita ambil jalan ke kanan. Meskipun harus menerobos semak belukar, tapi jaraknya lebih dekat dibanding jalan lainnya...,” lanjut lelaki itu mengajukan usul.

“Hm... ternyata kau memiliki ingatan tajam, Tangkar!” puji Ki Lodana. “Sebaiknya memang kita mengambil jalan ke kanan. Dengan begitu, kita akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan”

“Kalau benar begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita segera berangkat...,” tukas salah seorang dari empat pemburu lainnya. Tampaknya ia sudah tidak sabar membayangkan binatang buruan di Hutan Graban. Mereka pun langsung setuju.

Ki Lodana tersenyum lebar. Lelaki berewok itu gembira melihat semangat kawan-kawannya. Maka, kakinya melangkah menapaki jalan tanah berumput. Semakin lama jalan itu semakin sempit. Hingga akhirnya mereka melalui jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan lebat di kiri-kanannya. Ketika jalan yang mereka lalui semakin bertambah sulit, dan terhalang ranting pohon yang menjulur ke jalan, Ki Lodana mencabut golok besarnya. Kemudian mengayunkan ke kiri- kanan untuk membuka jalan.

Matahari sudah bergeser ke barat ketika keenam pemburu itu merambas padang ilalang. Dan kegelapan pun menyelimuti bumi, saat mereka tiba di pinggir sebuah hutan yang tidak terlalu lebat.

“Hm! Kelihatannya kita harus bermalam di pinggir hutan ini,” ujar Ki Lodana. Langkahnya terhenti dan berbalik menghadap kelima orang pemburu yang berada dibelakangnya.

“Sebaiknya kita mencari tempat yang dekat dengan aliran sungai, Kang. Agar kita tidak susah mencari air minum...,” usul salah seorang pemburu. Walaupun Ki Lodana tentu sudah tahu akan hal itu.

Ki Lodana kembali mengayunkan langkah mencari aliran sungai. Tidak berapa lama kemudian, suara gemericik air tertangkap pendengaran mereka. Setelah berjalan beberapa saat lagi, tampaklah sebuah sungai yang berair jernih. Ketika menemukan tempat yang cukup baik untuk bermalam, Ki Lodana dan kawan- kawannya langsung menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan hijau.

“Hm.... Tempat ini memang sangat cocok...,” desah lelaki bertubuh kekar yang bernama Adi Tangkar. Lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya dengan berbantal bungkusan pakaian.

Ki Lodana dan yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah Tangkar. Sesaat mereka melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Lalu, Ki Lodana memerintahkan kawan-kawannya untuk segera membuat api dan mengambil air minum. Saat kegelapan semakin pekat, Ki Lodana dan kawan-kawannya sudah beristirahat dengan tenang. Perut mereka telah diisi roti kering yang mereka bawa sebagai bekal perjalanan.

“Eh...?!” Ki Lodana tersentak bangkit dengan kening berkerut Lelaki berewok yang belum terlelap itu menangkap suara gemerisik dari semak di sebelah kanannya. Tangkar dan seorang pemburu yang tengah berjaga-jaga menjadi heran. Mereka bangkit dan menghampiri lelaki berewok itu.

“Ada apa, Kang...?” tanya Tangkar. Dilihatnya sepasang mata Ki Lodana memandangi semak-semak. Tangkar pun menjadi latah, hingga ikut-ikutan memandangi semak yang cukup lebat itu.

“Aku mendengar suara gemerisik dari dalam semak-semak itu. Apa kalian tidak mendengarnya...?” sahut Ki Lodana balik bertanya.

Mendengar ucapan Ki Lodana, Tangkar langsung mencabut golok besarnya. Dan melangkah mendekati semak-semak itu. Tangan kanannya menggenggam sebatang kayu bakar yang masih menyala. Dengan itulah Tangkar menerangi semak-semak itu, untuk mengetahui apa yang telah membangunkan Ki Lodana.

Krosakkk!

“Haeeet...!” Tangkar sempat terkejut ketika menyibak semak dengan ujung goloknya. Tiba-tiba sesosok makhluk kecil melompat dan menghilang dalam kepekatan malam. Gerakan binatang itu yang mengagetkan Tangkar!

“Hanya seekor kelinci yang kemalaman, Kang...,” jelas Tangkar Hingga suasana tegang kembali mereda.

“Hm... kukira binatang buas yang hendak memangsa kita...,” gumam Ki Lodana kembali merebahkan tubuh. Beberapa saat kemudian terdengar dengkurnya. Lelaki berewok itu telah dibuai mimpi.

Tangkar dan kawannya hanya menggeleng melihat Ki Lodana sudah terlelap. Keduanya kembali duduk di dekat api unggun sambil menambah kayu bakar ke dalamnya. Saat itu, malam telah semakin larut.

********************

“Sssttt...” Ki Lodana memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar tidak bersuara. Lelaki berewok itu menghentikan langkahnya dan merunduk. Yang lainnya segera mengikuti gerakan Ki Lodana, meski dengan hati bertanya-tanya. Dengan tetap merunduk, Ki Lodana bergerak maju. Kemudian bersembunyi di balik alang-alang. Dan mengintai dari tempat itu dengan hati-hati.

“Lihat, betapa cantiknya kijang jantan muda itu...!” bisik Ki Lodana kepada kawan-kawannya yang juga tengah mengintai ke arah pandang Ki Lodana.

“Aiiihhh...?!”

Tangkar dan empat pemburu lainnya berdecak kagum. Apa yang dikatakan Ki Lodana tidak salah. Beberapa tombak dari tempat persembunyian mereka tampaklah seekor kijang jantan besar dengan sepasang tanduk yang panjang dan indah. Kijang jantan muda itu tengah menemani betinanya di tepi sungai.

Dengan hati-hati, Ki Lodana memasang anak panah pada busurnya. Lalu dibidikkan ke tubuh kijang jantan. Untunglah saat itu angin berhembus ke arahnya. Sehingga binatang-binatang itu tidak mencium bau tubuh mereka.

Zingngng...!

Anak panah Ki Lodana berdesing membelah udara dengan kecepatan tinggi. Sayang kijang jantan itu menangkap gaung anak panah yang datang mengancamnya. Sepasang binatang itu langsung terlonjak, dan melesat ke dalam hutan.

“Kurang ajar...!” umpat Ki Lodana. Tidak menyangka kijang jantan itu demikian sigap dan sangat peka pendengarannya.

“Kejar...!”

Tangkar cepat mengambil tindakan. Begitu anak panah Ki Lodana tidak mengenai sasaran, lelaki kekar itu langsung melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Kemudian melesat mengejar sepasang kijang itu.

“Tangkar, tunggu...!” Ki Lodana yang tidak menyangka akan perbuatan kawannya, berusaha untuk mencegah. Bersama dengan pemburu lainnya, lelaki berewok itu melesat mengikuti Tangkar. Jelas, mereka sangat ingin mendapatkan kijang jantan bertanduk indah itu.

Tangkar sendiri tidak peduli dengan teriakan Ki Lodana. Ia terus berlari mengejar sepasang kijang itu. Hatinya semakin penasaran, ketika kijang jantan yang telah terpisah dari betinanya seperti mempermainkannya. Terkadang binatang itu berhenti berlari, dan menunggu Tangkar tiba dekat. Lalu melesat pergi saat Tangkar membidikkan anak panahnya ke tubuh binatang itu.

“Setan...!” maki Tangkar. Lagi-lagi ia harus menelan kedongkolannya. Sebelum anak panahnya sempat dilepaskan, kijang jantan itu telah melesat menjauh. Sehingga Tangkar kembali mengejar, tanpa menyadari kalau dirinya sudah terpisah dari kawan-kawannya.

Dengan penuh nafsu, Tangkar terus mengejar kijang jantan itu. Semak-belukar diterobosnya tanpa peduli. Keinginan untuk mendapat kijang itu membuatnya tidak lagi memperhatikan arah yang telah ditempuh. Dan kesadarannya baru muncul, saat merasakan udara dingin menyergap sekujur tubuhnya.

“Aaahhh...?!”

Tangkar menengadahkan kepala dan memperhatikan sekeliling. Wajahnya menegang dan menyiratkan kecemasan. Rupanya ia baru menyadari kalau dirinya telah berada di suatu tempat yang masih sangat asing.

“Mungkinkah aku telah tersesat begitu jauh...?!” gumam Tangkar sambil memperhatikan sekitar tempat itu. Di sekelilingnya hanya terdapat pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi. Tangkar telah terperangkap di dalam sebuah hutan yang sangat lebat, dan hampir tidak pernah didatangi orang. Dengan hati berdebar, Tangkar bergerak perlahan. Kijang jantan yang diburunya telah lenyap entah ke mana. Hutan itu demikian lebat sehingga ia kehilangan binatang buruannya!

Menyadari dirinya berada di suatu tempat yang asing dan belum diketahui keadaannya, Tangkar segera menyimpan anak panah serta busurnya. Dan menggantinya dengan golok besar yang terselip di pinggang kanan. Lalu melangkah dengan penuh kewaspadaan.

Matahari sudah semakin tinggi saat Tangkar terbebas dari hutan lebat itu. Tapi, itu bukan berarti dirinya telah keluar dari daerah asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Meski ia telah berada di tempat yang agak jarang ditumbuhi pepohonan raksasa, namun hawa dingin terasa semakin kuat.

“Gunung Es...?!” desis Tangkar dengan suara bergetar karena hawa dingin di tempat itu. Kepalanya tengadah menatap sebuah gunung yang menjulang beberapa puluh tombak di depannya.

Dugaan Tangkar tidak keliru. Gunung yang menjulang dengan puncak putih berkilau tertimpa cahaya matahari itu memang Gunung Es. Itu berarti Tangkar telah tersesat jauh dari tempatnya semula. Sambil menyarungkan senjatanya, Tangkar segera melangkah perlahan. Dan membasuh wajahnya yang penuh dengan lelehan keringat serta lapisan debu. Air sungai yang bening dan dingin membuatnya terasa agak segar. Karena tanpa disadarinya, ia telah berlari hampir setengah hari. Dan tanpa hasil. Buruannya lenyap di hutan lebat.

“Hhh.... Kakang Lodana dan yang lainnya pasti mencariku. Sayang, tempat ini masih sangat asing. Sehingga, aku tak mungkin dapat menemukan jalan kembali dengan cepat,” desah Tangkar seraya menengadah menatap langit.

Setelah agak lama dia tercenung, Kemudian Tangkar menyeberangi aliran sungai. Kakinya yang kokoh berloncatan dengan bertumpu pada batu-batu di tengah sungai. Akhirnya, ia tiba di seberang dengan selamat. Sebagai seorang pemburu yang cukup mengenal kehidupan kaum rimba persilatan, Tangkar berharap bisa menemukan tempat untuk bermalam.

Ia sering mendengar tentang tokoh-tokoh sakti yang hidup di tempat-tempat sunyi. Dan menurutnya, daerah Gunung Es sangat cocok untuk tokoh-tokoh yang ingin menjauhi dunia ramai. Pikiran itu sesaat menghibur hatinya. Tapi belum lama lelaki kekar itu melangkah mendekati Gunung Es. Tiba-tiba terdengar geraman keras yang membuatnya mundur beberapa langkah.

Deg! Jantung Tangkar hampir copot ketika sepasang matanya menangkap sosok berbulu putih, beberapa tombak di depannya. Sosok itulah yang mengeluarkan geraman barusan.

“Be... ruang... Es...!?” desis Tangkar agak gemetar saat mengenali sosok berbulu putih itu.

Sebenarnya sosok makhluk itu bukanlah hal aneh bagi pemburu ulung seperti Tangkar. Tapi, binatang itu besarnya tidak wajar. Hingga Tangkar jadi terkesima. Kesadarannya baru pulih saat beruang es yang sangat besar itu kembali memperdengarkan geramannya.

“Aaahhh...!” Tangkar bergerak mundur. Meski hatinya tidak bisa tenang, namun tangannya bergerak sigap memasang anak panah. Kemudian membidikkan ke arah binatang itu. Andai aku bisa mendapatkan beruang langka ini, tentu Ki Lodana dan yang lainnya akan terkagum- kagum, desah hati Tangkar. Naluri pemburunya seketika bangkit

Zingngng...!

Anak panah di tangan lelaki kekar itu melesat dengan kecepatan tinggi. Dan meluncur ke arah jantung binatang itu. Tapi...,

Trakkk!

Sepasang mata Tangkar terbelalak melihat anak panahnya runtuh ke tanah dalam keadaan patah. Padahal, ia melihat jelas anak panah itu telak mengenai tubuh beruang es yang kini mengeram sambil memperlihatkan taringnya. Tampaknya binatang itu sangat marah dengan perbuatan Tangkar.

“Gila! Mana mungkin tubuhnya tidak tertembus anak panah!?” desis Tangkar. Tidak disangkanya beruang besar itu memiliki kekebalan terhadap senjata tajam.

Wreeettt!

“Aaaiiihhh...!?” Tangkar terpekik kaget. Lengan binatang besar dan kuat itu meluncur ke arahnya. Cepat lelaki itu melompat mundur menghindari tamparan itu. Sambil menarik napas panjang berulang-ulang, Tangkar mencoba mengumpulkan keberaniannya. Kemudian, mencabut golok besar. Siap menghadapi binatang buas itu.

“Majulah! Ingin kulihat, sampai di mana kekebalan tubuhmu...,” desak Tangkar. Golok besarnya digerakkan menyilang. Kemudian menggeser langkahnya ke kanan.

“Groaaahhh...!” Sambil memperdengarkan geramannya yang sangat menggetarkan dada, beruang berbulu putih berdiri tegak dengan kedua kaki belakangnya. Kemudian melompat menerjang Tangkar dengan kecepatan yang mengagumkan!

“Heeeaaat...!” Tangkar yang sedikit banyak mengetahui ilmu silat, langsung menyambut terjangan beruang es dengan tebasan golok besarnya. Senjata itu menderu diiringi kilatan sinar putih. Dan....

Trakkk!

“Heiii...!?” Lagi-lagi Tangkar terpekik kaget! Binatang buas itu mempergunakan lengannya untuk menangkis senjata. Yang membuat Tangkar terkejut adalah gerakan menangkis binatang itu. Tangkisan itu jelas merupakan gerak ilmu silat. Tentu Tangkar heran dibuatnya.

Sungguh tidak masuk akal! Bagaimana mungkin seekor binatang bisa menunjukkan gerak silat yang cukup baik! Atau hal itu hanya kebetulan saja...? Desis batin Tangkar yang sudah berlompatan menjauhi binatang itu. Senjatanya patah akibat tangkisan kuat tadi.

Pertanyaan yang memusingkan kepala itu segera terjawab. Beruang es kembali menunjukkan gerak-gerak ilmu silat saat melangkah mendekati Tangkar. Kenyataan ini tidak bisa diragukan lagi. Beruang es yang besar itu jelas menguasai gerak ilmu silat.

Plaggg!

“Uuuggghhh!” Tangkar yang masih terkesima tidak sempat mengelakkan sebuah tamparan keras pada bahunya. Akibatnya, tubuh lelaki tegap itu terlempar dan jatuh bergulingan.

“Uuuhhh...” Meski dengan bahu terasa remuk, Tangkar berusaha bangkit. Lagi-lagi lelaki kekar itu melihat keanehan pada beruang putih itu. Tamparan yang mengenai bahunya tidak sekeras dugaannya. Beruang itu tidak menggunakan kuku-kukunya sewaktu melakukan serangan. Hal itu jelas sangat mengherankan!

“Binatang ini pasti bukan beruang sembarangan. Tamparan tadi, tidak dimaksudkannya untuk membunuhku. Dan gerak silat itu, pasti didapat dari majikannya. Mungkin beruang itu tidak ingin aku berada di tempat ini,” gumam Tangkar setelah mengkaji semua yang dialaminya. Lelaki kekar itu pun memutuskan untuk segera berlalu dari daerah Gunung Es tersebut.

Melihat binatang itu tidak berusaha mengejar, Tangkar semakin yakin dengan dugaannya. Untuk meyakinkan diri, Tangkar membalikkan tubuh saat telah tiba di seberang sungai. Dilihatnya beruang besar itu berbalik dan melangkah pergi. Lelaki kekar itu pun menarik napas lega.

“Hm.... Tidak salah lagi, beruang besar itu pasti peliharaan seorang tokoh sakti yang menyepi di Gunung Es ini. Untunglah binatang itu hanya mengusirku. Mungkin nalurinya dapat menebak bahwa aku bukan orang jahat. Buktinya binatang itu tidak membunuhku. Kalau ia mau, aku tidak mungkin selamat seperti sekarang...,” desah Tangkar kepada dirinya sendiri.

Kemudian, beranjak meninggalkan tempat itu setelah bayangan beruang es lenyap dari pandangan matanya. Sambil memegangi bahu kanannya yang masih terasa nyeri, Tangkar melangkah mencari tempat bermalam. Saat itu alam memang mulai diselimuti kegelapan.

********************

DUA

“Kakang, lihat..!” Dara jelita berpakaian serba hijau berseru sambil menunjukkan jarinya yang lentik ke sebatang pohon besar.

Sebetulnya dara jelita itu tidak perlu berseru demikian. Pemuda tampan berjubah putih di sebelahnya juga sudah melihatnya. Tubuhnya lalu bergerak ringan setengah berlari, menyusul dara jelita berpakaian serba hijau yang sudah melesat lebih dahulu. Anehnya meski tidak kelihatan berlari cepat, namun tubuhnya meluncur seperti tidak menyentuh tanah. Dan pemuda tampan berjubah putih itu tiba lebih dulu dari kawannya. Tanpa membuang waktu lagi, pemuda tampan berjubah putih itu membungkukkan tubuhnya. Terdengar helaan napas pertanda kelegaan hatinya. Ternyata sosok yang terbaring di bawah pohon besar itu hanya pingsan.

“Bagaimana, Kang? Apakah pemburu itu masih hidup...?” tanya dara jelita ketika tiba di dekat kawannya.

“Pemburu ini hanya pingsan. Mungkin tidak kuat menahan serangan hawa dingin di tempat ini. Tidak lama lagi ia akan siuman. Aku sudah melancarkan peredaran jalan darahnya dengan pijatan. Kita tunggu saja beberapa saat...,” sahut pemuda tampan berjubah putih.

“Syukurlah kalau begitu. Tapi, aku merasa heran. Mengapa ia berada seorang diri di tempat seperti ini? Meskipun seorang pemburu ulung, semestinya ada beberapa orang yang menemaninya. Apalagi tanpa perbekalan...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau. Lalu menjatuhkan tubuhnya di dekat pemuda tampan berjubah putih itu duduk.

“Hm.... Mungkin ia terpisah dari kawan-kawannya, dan tersesat ke tempat ini. Sebab, aku tidak melihat ada binatang buruan di sekitar daerah ini...,” pemuda tampan berjubah putih menimpali dengan dugaan.

Dara jelita berpakaian serba hijau itu diam dan menganggukkan kepala. Sepasang matanya yang bening dan indah meneliti wajah dan pakaian lelaki kekar yang masih tak sadarkan diri. Akhirnya, pemburu berusia sekitar empat puluh tahun itu mengeluh perlahan.

“Ia mulai siuman, Kang...,” gumam dara jelita itu, menoleh ke arah pemuda tampan berjubah putih disebelahnya.

“Hm...,” pemuda tampan berjubah putih hanya bergumam pelan. Kemudian bangkit mendekati lelaki kekar yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Seperti merasa silau dengan sinar matahari pagi.

“Ehhh?!” Bagai disengat kalajengking, pemburu yang tidak lain Tangkar terlonjak bangkit Ia sangat terkejut melihat ada dua orang asing di dekatnya.

“Maaf, jika kehadiran kami mengejutkanmu, Kisanak...,” ujar pemuda tampan berjubah putih dengan sopan dan bersahabat Sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya.

“Kalian berdua..., siapa? Dan..., apa yang kalian lakukan di tempat ini...?” tanya Tangkar dengan tatapan mata curiga. Tubuhnya digeser menjauhi kedua orang muda itu.

“Kami pengembara yang kebetulan lewat di tempat ini. Melihat Kisanak terbaring tak sadarkan diri, kami mencoba menyadarkan. Syukurlah, usaha kami tidak sia-sia...,” sahut pemuda tampan berjubah putih itu, tanpa peduli kecurigaan Tangkar.

Tangkar tampak agak tercenung. Seperti sedang mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya. Samar-samar ia mulai teringat saat mencari tempat untuk bermalam. Rasa lelah dan nyeri pada bahunya serta hawa dingin yang menyerang, membuatnya tidak sadarkan diri. Hingga terkapar pingsan di bawah pohon besar itu. Setelah itu, ia tidak tahu apa-apa lagi.

“Kami menduga kau telah terpisah dari kawan-kawanmu, dan tersesat ke tempat ini. Apakah dugaan kami benar?” tanya pemuda tampan berjubah putih ketika melihat lelaki bertubuh kekar itu terdiam cukup lama.

“Ya... ya. Aku memang tersesat dan terpisah dari kawan-kawanku,” sahut Tangkar agak gugup. Sikap itu membuat kedua penolongnya mengerutkan kening, dan saling berpandangan sesaat.

“Mmm.... Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Kisanak? Tidakkah kau ingin bergabung kembali dengan kawan-kawanmu?” Kali ini yang melontarkan pertanyaan dara jelita berpakaian serba hijau. Sepasang mata bulat bening itu menatap wajah ke depannya dengan penuh selidik. Gadis itu agaknya mengetahui Tangkar telah menyembunyikan sesuatu.

Tangkar mengatur napas perlahan-lahan. Ia belum menjawab pertanyaan tadi. Bahkan, lelaki kekar itu mencoba bangkit berdiri. Tapi....

“Uuuhhh...!” Pemburu bertubuh kekar itu mengeluh tertahan. Tangan kirinya memijat bahu kanan yang terasa sakit saat bergerak bangkit Rupanya bekas tamparan beruang es belum sembuh.

“Kau terluka, Kisanak...?” tanya pemuda tampan berjubah putih. Tangannya diulurkan menangkap tubuh Tangkar yang terlihat agak limbung seperti mau jatuh.

“Terima kasih...,” ucap Tangkar. Kemarin aku terjatuh. Dan bahu ku agak terkilir..,” lanjutnya.

“Kalau kau tidak keberatan, aku akan memeriksanya. Mudah-mudahan aku bisa meringankan rasa sakit di bahumu itu...,” tukas pemuda tampan berjubah putih dengan sinar mata tulus, tanpa menyembunyikan keinginan lain.

Tangkar hanya mengangguk lemah. Ia memang merasa terganggu dengan bekas luka tamparan beruang es. Hingga lelaki itu tidak berusaha mencegah, ketika pemuda tampan berjubah putih membuka pakaiannya pada bahu bagian kanan.

“Hm...,” pemuda tampan berjubah putih bergumam perlahan saat melihat luka memar di bahu lelaki bertubuh kekar itu. Agaknya pemuda itu tahu kalau dirinya dibohongi. Namun, ia tidak berkata apa-apa.

“Siapa namamu, Anak Muda? Sepertinya kau sangat ahli mengobati luka...?” tanya Tangkar. Ketika pemuda tampan itu melepaskan jari-jari tangannya, setelah menyelesaikan pijatannya pada bahu Tangkar.

“Namaku Panji. Dan kawanku ini Kenanga. Sebagai orang yang selalu melakukan perjalanan, kami membekali diri dengan sedikit kepandaian mengobati. Semua itu hanya untuk berjaga-jaga,” sahut pemuda tampan berjubah putih, memperkenalkan diri.

“Aku Tangkar. Kuucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang telah kalian berikan. Dan kalau kalian tidak keberatan, aku ingin ikut bersama kalian sampai keluar dari daerah Gunung Es ini...,” pinta Tangkar sambil memperkenalkan diri pada pasangan muda yang ternyata Panji dan Kenanga.

“Tentu saja kami tidak keberatan. Kalau begitu, mari kita segera berangkat..,” sahut Panji langsung setuju. Pemuda itu berharap dapat mengorek keterangan mengenai kejadian yang menimpa pemburu itu. Dan, apa yang menyebabkan Tangkar menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.

“Ayolah...,” tukas Tangkar yang segera melangkah di samping pasangan pendekar muda itu.

********************

Sepanjang perjalanan Tangkar tidak banyak bicara. Bahkan terkesan sengaja menutup diri. Sehingga, Panji dan Kenanga tidak menyinggung mengenai penyebab Tangkar berpisah dengan kawan-kawannya. Juga soal luka di bahu pemburu itu. Meskipun Panji tahu luka itu bukan disebabkan oleh terjatuh. Tangkar seperti hendak menyembunyikan kejadian yang menimpa dirinya hingga Panji tidak ingin mencampuri.

“Sampai di sini kita berpisah. Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih...,” saat ketiganya tiba di pertigaan jalan, Tangkar meminta untuk berpisah. Ucapan terima kasih yang diucapkannya jelas hanya basa-basi saja. Raut wajahnya sedikit pun tidak menggambarkan perasaan itu.

“Hm.... Tempat ini masih sangat jauh dari perkampungan. Di mana tempat tinggalmu, Tangkar...?” tanya Panji setelah terdiam beberapa saat memperhatikan sekitar tempat itu.

“Sebagai seorang pemburu, aku sering melakukan perjalanan jauh. Aku pun dapat mengenali jalan dengan baik. Tempat tinggalku sendiri tidak jauh dari sini. Kalian tidak perlu mengantarku. Cukup sampai di sini saja...,” sahut Tangkar tanpa menyebutkan desa tempat tinggalnya. Hingga pasangan pendekar muda itu mengerutkan kening dengan wajah agak heran.

"Pemburu ini sangat aneh. Jelas ia menyembunyikan sesuatu dariku. Apa yang membuatnya khawatir jika aku dan Kenanga mengetahuinya...?" Desis batin Panji seraya menatap wajah Tangkar lekat-lekat

Mendapat tatapan tajam seperti itu, Tangkar menjadi salah tingkah. Lelaki kekar itu berusaha menghindar dengan membuang pandang ke arah lain.

“Silakan lanjutkan perjalanan kalian. Terima kasih atas bantuan kalian kepadaku...,” ucap Tangkar. Lalu berbalik meninggalkan pasangan pendekar muda itu, yang terpaku menatap kepergiannya. Sesekali Tangkar menoleh dengan cemas. Seolah khawatir Panji dan Kenanga mengikuti.

“Aneh sekali orang itu...,” gumam Kenanga setelah bayangan tubuh Tangkar tidak nampak lagi. Dara jelita itu tidak bisa menyimpan rasa penasarannya. Hingga segera mengungkapkannya kepada Panji.

“Hhh..., aku pun heran dengan sikapnya. Entah apa yang ingin disembunyikannya dari kita...,” sahut Panji berdesah lirih. Sementara pandang matanya tetap tertuju ke arah bayangan Tangkar lenyap.

“Bahkan desa tempat tinggalnya pun berusaha ditutupi, agar kita tidak tahu. Padahal kalau kita mau, mudah sekali mengikuti langkahnya...,” sambung Kenanga seraya memandang ke arah Tangkar lenyap.

“Yaaah...” Panji menghela napas panjang. Sebenarnya ia pun penasaran melihat sikap tertutup pemburu itu. Tapi karena menduga yang dirahasiakan Tangkar persoalan pribadi, maka Panji tidak ingin mencampuri. Apalagi orang yang bersangkutan tidak menginginkan campur tangannya.

“Apa tidak sebaiknya kita ikuti saja, Kang...?” usul Kenanga.

“Tidak perlu,” tukas Panji tegas, meski dengan suara lembut. “Mungkin itu persoalan pribadi. Hingga ia tidak ingin kita mencampurinya.”

Mendengar jawaban kekasihnya, Kenanga terdiam dan menghela napas. Kemudian mengalihkan pandang ke tempat lain.

“Sudahlah. Kelihatannya memang tidak ada yang perlu kita selidiki dari pemburu yang mengaku bernama Tangkar itu. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan...,” ujar Panji setelah beberapa saat lamanya mereka dicekam kebisuan.

Lalu, Panji mendekati kekasihnya. Dan melingkarkan lengannya ke bahu dara jelita itu. Mereka pun melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Keduanya mengambil jalan yang berlawanan dengan arah Tangkar pergi.

********************

Lima orang lelaki berperawakan tegap bergerak memasuki mulut Desa Kawung. Masing-masing membawa seekor kijang jantan mati. Menilik pakaiannya, agaknya kelima lelaki berperawakan tegap itu para pemburu yang baru kembali dari perburuannya. Mereka pun membawa sebuah bungkusan besar yang berisikan kulit binatang. Tampaknya kelima pemburu itu mendapat hasil yang memuaskan. Semua itu tampak jelas dari wajah-wajah mereka yang cerah.

“Wah. Kelihatannya Kakang Lodana sedang mujur dalam perburuan kali ini...,” sapa seorang lelaki bertubuh sedang ketika berpapasan dengan rombongan pemburu itu.

“Begitulah. Sayangnya semua hasil yang cukup melimpah ini harus kami tebus dengan diri Tangkar. Dia terpisah dari kami, dan tersesat entah ke mana...,” sahut Ki Lodana. Wajahnya berubah keruh begitu teringat seorang kawannya yang terpisah dan tidak dapat ditemukan.

“Apa Kakang tidak salah bicara...?” tukas lelaki bertubuh sedang dengan wajah heran. Sehingga, Ki Lodana dan kawan-kawannya saling bertukar pandang sejenak.

“Salah bicara bagaimana...?” tanya Ki Lodana tidak mengerti.

“Kakang bilang, Kang Tangkar terpisah dan tersesat. Tapi, kemarin siang aku melihatnya, ia memang tidak membawa hasil buruan seperti yang kalian bawa...,” jelas lelaki bertubuh sedang.

Jawaban yang tidak disangka-sangka itu tentu saja membuat Ki Lodana dan kawan-kawannya terkejut. Kelihatan sekali mereka tidak percaya dengan keterangan itu.

“Kau yakin...?” tegas Ki Lodana belum percaya.

“Tentu saja, Kang. Bahkan aku sempat berteguran dengannya...,” tukas lelaki bertubuh sedang, yang kelihatan semakin tidak mengerti dengan sikap Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Hm.... Mari kita lihat...,” ajak Ki Lodana kepada kawan-kawannya. Tanpa menunggu jawaban, lelaki berewok itu melangkah cepat menuju tempat tinggal Tangkar.

Tinggallah lelaki bertubuh sedang yang memandangi kepergian Ki Lodana dan kawan-kawannya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Heran melihat tingkah pemburu-pemburu itu.

Rasa heran dan penasaran membuat langkah Ki Lodana semakin cepat menyusuri jalan utama Desa Kawung. Sapaan beberapa penduduk hampir tidak dipedulikan. Lelaki itu hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Tentu saja sikap lelaki berewok itu membuat para penduduk yang mengenalnya menjadi heran. Namun mereka hanya bisa menggeleng, dan melanjutkan langkahnya. Tanpa peduli dengan sikap Ki Lodana yang terlihat aneh itu.

Di depan sebuah rumah sederhana yang letaknya agak terpencil, Ki Lodana menghentikan langkahnya sejenak. Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun yang tengah menyapu halaman, bergegas menyambut kedatangan Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Benar Tangkar sudah kembali...?” tanpa basa-basi lagi, Ki Lodana langsung melontarkan pertanyaan kepada wanita itu.

“Benar, Kang. Ada apa...?” jawab wanita itu balik bertanya. Wajahnya menggambarkan keheranan besar atas sikap Ki Lodana yang tidak biasanya.

“Aku ingin bertemu dengannya...?” tukas Ki Lodana langsung bergerak memasuki halaman rumah itu.

“Kakang...,” sambut lelaki bertubuh kekar menyongsong kedatangan Ki Lodana dan para pemburu lainnya.

“Kau ini bagaimana, Adi Tangkar! Setengah mati kami mencarimu, kau malah enak-enak di rumah!” tegur Ki Lodana. Meski nada suaranya terdengar agak ketus, namun wajahnya menggambarkan kelegaan melihat sosok Tangkar yang disangkanya telah hilang sewaktu berpisah di hutan.

“Begini, Kang...,” jelas Tangkar segera menceritakan peristiwa yang dialaminya. Tapi, sampai sejauh itu tidak menyinggung tentang Panji dan Kenang yang menyelamatkannya. Juga mengenai beruang es yang ditemukannya pada waktu tersesat.

Ki Lodana dan empat pemburu lainnya menghela napas lega setelah mendengar penjelasan Tangkar. Mereka merasa bersyukur kawannya yang diduga hilang ternyata selamat tanpa kurang suatu apa. Hal itu tidak pernah mereka sangka.

“Kakang... ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, juga dengan kawan-kawan...,” bisik Tangkar perlahan. Matanya mengerling ke arah istrinya yang masih sibuk membersihkan pekarangan dari dedaunan pohon.

“Ada apa, Adi Tangkar? Kelihatannya sangat rahasia...?” tanya Ki Lodana juga berbisik. Rupanya, lelaki berewok itu menangkap ada sesuatu yang ingin dirahasiakan Tangkar.

“Mari kita ke halaman belakang. Di sana lebih aman...,” bisik Tangkar lagi. Lalu beranjak menuju halaman belakang rumah. Setelah mereka berkumpul, Tangkar segera menceritakan pengalaman yang sesungguhnya dengan berbisik. Tapi, tetap tidak menyinggung pasangan pendekar muda yang menolongnya.

“Beruang es...?!” seru Ki Lodana dan empat pemburu lainnya. Mereka kelihatan sangat terkejut mendengar penuturan Tangkar.

“Benar! Besarnya satu setengah kali ukuran manusia normal. Selain itu, binatang langka itu pun pandai bermain silat!” lanjut Tangkar dengan mata berbinar. Lelaki kekar itu merasa bangga dapat membuat kawan-kawannya terbelalak heran.

“Ahhh...?!”

Kembali kelima pemburu itu berseru heran. Mulut mereka sampai ternganga. Cerita Tangkar hampir tidak masuk di akal. Hanya karena mereka sudah berkawan lama, dan tahu watak Tangkar yang tidak suka berdusta saja. Sehingga mereka percaya dengan cerita itu. Kalau orang lain yang menceritakannya, Ki Lodana dan kawan-kawannya pasti akan mentertawakan.

“Dan anehnya, beruang itu tidak bermaksud membunuhku! Ia hanya mengusirku agar menjauhi tempat itu. Nah. Apakah itu tidak aneh?”, lanjut Tangkar. Kawan-kawannya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Hm.... Kalau benar demikian tentu kulit binatang itu sangat mahal harganya...,” gumam salah seorang pemburu. Kawan-kawannya menoleh.

“Menurutku, bukan hanya kulit beruang itu saja yang bisa mendatangkan kekayaan bagi kita. Tapi, aku menduga ada sesuatu yang dijaga binatang itu. Bukan mustahil binatang itu menjaga harta majikannya yang sudah tewas...,” Tangkar mengemukakan pendapat nya.

“Lalu...?” Ki Lodana yang masih belum mengerti jalan pikiran Tangkar, mencoba menegasi.

“Apakah Kakang tidak tertarik untuk menyelidiki keanehan beruang itu? Dan lagi, binatang buruan itu sangat langka. Tentunya jauh lebih berharga dibanding apa yang telah kalian dapatkan,” tegas Tangkar. Agaknya, ia hendak mengajak kawan-kawannya memburu beruang es itu.

Mendengar ucapan Tangkar, empat pemburu lainnya segera menatap Ki Lodana. Mereka seperti hendak melihat tanggapan lelaki berewok yang merupakan orang paling tua dan paling berpengalaman di antara mereka berenam. Hingga keputusannya berada di tangan Ki Lodana.

“Hm.... Kalau mendengar ceritamu, sepertinya beruang itu sangat sukar ditundukkan. Selain itu dugaanmu belum tentu benar, Tangkar. Bagaimana kalau majikan beruang es masih hidup? Tentu ia akan murka. Kalau beruang itu pandai menggunakan ilmu silat, pasti majikannya seorang tokoh sakti. Terbukti ia bisa melatih beruang...,” ujar Ki Lodana.

“Mengapa harus bingung, Kang. Bukankah kita pemburu? Kalau majikan beruang itu marah, kita bisa mengajukan alasan yang tepat. Sebab, tidak ada larangan bagi pemburu untuk membunuh binatang yang ditemukannya. Apalagi di tengah belantara sepi yang jauh dari pemukiman penduduk,” bantah Tangkar, setelah terdiam beberapa saat.

Mendengar ucapan itu, keempat pemburu lainnya mengangguk. Jelas mereka sangat setuju dengan ucapan Tangkar. Kini mereka tinggal menunggu persetujuan Ki Lodana.

“Hm.... Baiklah. Tapi kuperingatkan kepada kalian, jangan menceritakan mengenai beruang es itu kepada siapa pun! Jika hal ini sampai terdengar orang-orang rimba persilatan, mereka pasti akan tertarik. Kalau hal itu terjadi, kita yang akan susah...,” ujar Ki Lodana mengingatkan, sekaligus sebagai jawaban kalau ia menyetujui usul Tangkar.

“Baik,” sahut Tangkar dan yang lainnya dengan wajah cerah. Mereka sangat gembira mendengar keputusan Ki Lodana.

“Kalau begitu, sekarang kita harus mempersiapkan perbekalan. Sebab, perjalanan kali ini akan lebih jauh dan lebih berat dari biasanya,” lanjut Ki Lodana. Tangkar dan yang lainnya mengangguk tanda mengerti.

“Kapan kita berangkat, Kang...?” tanya Tangkar. “Besok, Kang. Aku pun harus menyiapkan peralatanku. Semuanya telah lenyap saat aku tersesat...,” ujar Tangkar sambil menganggukkan kepala dengan sepasang mata berbinar. Lelaki kekar itu tampak sangat gembira dengan perjalanannya kali ini yang dianggapnya sangat berbeda.

Setelah menyusun rencana, Ki Lodana dan empat pemburu lainnya mohon diri. Dan, berjanji akan datang esok sebelum fajar. Tangkar tersenyum melepas kepergian kawan-kawannya. Lelaki kekar itu tampak tidak berusaha menyembunyikan perasaan gembiranya. Setelah bayangan Ki Lodana dan yang lainnya sudah jauh, Tangkar pun sibuk menyiapkan segala keperluan berburu.

********************

TIGA

“Terima kasih...,” ucap perempuan berwajah manis berusia sekitar tiga puluh tahun.

“Katakan kepada Kakang Tangkar agar berhati-hati. Semoga ia berhasil mendapatkan binatang itu...,” ujar pelayan kedai berusia empat puluh tahun yang bertubuh agak kurus.

Perempuan itu hanya tersenyum dan bergegas meninggalkan kedai dengan membawa barang belanjaannya. Baik pelayan maupun perempuan yang tidak lain istri Tangkar, tidak menyadari kalau pembicaraan mereka telah menarik perhatian orang. Dua lelaki bertampang seram segera bangkit dan menghampiri pelayan, saat istri Tangkar telah lenyap dari pandangan.

“Ada apa, Tuan...?” tanya pelayan kedai mencoba tersenyum ramah. Sayang ia gagal. Sebab senyumnya terlihat sangat ngeri.

“Hm.... Coba ulangi apa yang barusan diceritakan perempuan itu kepadamu...,” gumam salah seorang dari kedua lelaki itu, yang wajahnya terhias kumis tebal. Pada sepasang matanya terlihat ancaman. Hingga pelayan kedai itu ciut nyalinya.

“Baik... baik...,” jawabnya dengan wajah agak pucat. Sebab kawan lelaki berkumis tebal itu meraba-raba gagang pedang yang menyembul dari balik pakaian.

“Hm...” Kedua lelaki yang kelihatan berwatak kasar itu bergumam sambil meraba-raba dagu. Kepala mereka sesekali terlihat mengangguk, mendengar cerita pelayan kedai yang disampaikan dengan berbisik.

“Jadi mereka akan berangkat sebelum fajar...?” tanya lelaki berkumis lebat menegasi, setelah cerita pelayan kedai itu selesai.

“Benar, Tuan...,” jawab pelayan kedai seraya menghela napas panjang. Butir-butir keringat menitik di keningnya. Pelayan itu menduga kedua lelaki itu bukanlah orang baik-baik. Itu terlihat dari sikap dan cara bicara mereka yang kasar dan sombong.

“Kau yakin mereka akan lewat Hutan Batang...?” desis yang seorang lagi. Sepertinya masih kurang percaya dengan penjelasan pelayan kedai.

“Aku... tidak tahu pasti, Tuan. Tapi, menurut wanita tadi memang begitu...,” jawab pelayan kedai terbata-bata.

“Hm...” Kedua lelaki kasar itu saling berpandangan sejenak. terlihat senyum licik di bibir mereka. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya bergerak hendak meninggalkan kedai.

“Tuan...,” panggil pelayan kedai lirih. Hampir tidak terdengar kedua orang itu.

“Ada apa lagi?” sahut lelaki berkepala botak yang mengenakan ikat kepala putih. Wajahnya tampak tak senang ketika menoleh.

“Makanan yang Tuan-tuan pesan tadi... belum dibayar...,” ujar pelayan kedai takut-takut. Kendati hatinya berdebar-debar, pelayan kedai itu memberanikan diri menagih. Karena ia tidak ingin dimarahi majikannya.

“Hmmm...” Lelaki berkepala botak menggeram tak senang. Sepasang matanya menyapu sekeliling ruangan kedai. Melihat para pengunjung kedai menundukkan wajah, tak berani menentang pandangan matanya. Ia kembali menatap wajah pelayan yang semakin pucat.

“Sudahlah, Tonggala. Untuk apa meladeni pelayan tolol itu...,” ujar lelaki berkumis lebat. Kembali melanjutkan langkahnya ke luar kedai.

“Tuan...!” melihat kedua orang itu tidak mau membayar pelayan kedai itu bergegas mengejar. Tapi....

“Kurangajar!” desis lelaki berkepala botak marah. Cepat tubuhnya berbalik, dan tangan kanannya melayang dengan tamparan keras!

Plakkk!

“Auuughhh!” Hebat sekali tamparan itu. Tubuh pelayan kedai langsung terjengkang ke belakang dan menimpa sebuah meja. Kemudian terbanting ke tanah.

Kejadian itu semakin membuat para pengunjung ketakutan. Tak satu pun yang bergerak hendak menolong pelayan sial itu. Bahkan mereka berpura-pura tak mengetahui kejadian itu. Sementara pelayan kedai berusaha bangkit, sambil mengaduh memegangi wajah sebelah kanannya yang bengkak. Pada ujung bibirnya terlihat darah segar.

“Hm… Masih untung tidak kutebas batang lehermu...!” desis lelaki berkepala botak. Lalu kembali melangkah setelah meludah ke tanah.

“Kasihanilah saya, Tuan. Kalau nanti majikanku mengetahui ada yang tidak bayar, aku akan dipecatnya...” rintih pelayan kedai dengan suara menghiba. Wajahnya terlihat demikian memelas. Dengan sepasang mata sayu, ditatapinya kedua lelaki kasar itu. Sepasang tangannya bergerak menangkap lengan lelaki berkepala botak. Pelayan itu berdiri dengan bertelekan kedua lututnya, persis seperti orang menyembah.

“Keparat! Pergi kau!” lelaki berkepala botak sedikit pun tidak tergerak dan merasa kasihan. Ia malah se- makin geram. Kali ini tubuh pelayan itu ditendangnya hingga terpental ke luar kedai.

Ngekkk!

Tanpa ampun, tubuh pelayan itu terpental dan terbanting ke tanah, persis di bawah kaki dua sosok tubuh yang baru saja hendak memasuki kedai. Pelayan kedai itu merintih sambil memegangi perutnya yang terasa hancur terkena tendangan lelaki berkepala botak. Kepalanya yang tepat berada di dekat kaki dua sosok tubuh itu tengadah, seperti hendak melihat pemilik kaki-kaki itu.

Sosok pemuda tampan berjubah putih itu mengulurkan kedua tangannya. Lalu, diangkatnya tubuh pelayan itu bangkit berdiri. Sedangkan dara jelita berpakaian serba hijau yang berdiri di sebelah pemuda tampan itu menatap heran. Ia tidak mengetahui apa yang menyebabkan lelaki bertubuh agak kurus itu terluka, dan mengeluarkan darah pada ujung bibirnya.

“Hm.... Rupanya ada orang yang sok jadi pahlawan...!” desis suara berat bernada sinis. Ucapan itu keluar dari mulut lelaki berkepala botak, yang baru saja keluar dari pintu kedai bersama kawannya. Lelaki botak itu tidak senang melihat perbuatan pemuda tampan berjubah putih.

“Maaf, Kisanak. Aku hanya ingin membantu orang ini berdiri. Apa perbuatanku salah?” sahut pemuda tampan berjubah putih dengan tenang. Sekali lihat saja, pemuda itu langsung tahu apa yang menyebabkan pelayan kedai itu terluka.

“Perbuatanmu jelas salah, Bocah! Dengan menolong pelayan sialan itu, sama artinya kau menantangku!” tukas lelaki berkepala botak dengan wajah gelap. Suaranya terdengar penuh kemarahan.

“Sekali lagi, maaf. Aku sungguh tidak bermaksud menantangmu. Hanya ingin membantu orang ini berdiri. Itu saja,” kembali pemuda tampan berjubah putih membela diri. Nada suaranya tetap wajar, tanpa mencerminkan perasaan apa pun. Bahkan sikapnya tetap tenang, meski tahu lelaki berkepala botak sangat marah kepadanya.

“Untuk apa meladeni bocah itu, Tonggala? Ingat, kita masih mempunyai urusan yang lebih penting!” lelaki berkumis lebat mengingatkan kawannya agar tidak mempedulikan pemuda tampan berjubah putih.

“Tidak bisa, Janaga! Aku harus memberi pelajaran padanya. Agar lain kali berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan seperti sekarang ini! Kalau tidak, ia akan menjadi sombong dan besar kepala!” lelaki berkepala botak yang bernama Tonggala itu tidak mau mengalah. Bahkan, melangkah mendekati pemuda tampan berjubah putih. Sementara pemuda itu tetap berdiri tenang sambil memegang tubuh pelayan kedai yang masih lemas merasakan sakitnya.

“Hm.... Aku ingin melihat sampai di mana keberanianmu, Bocah! Tunjukkan kemampuanmu di depan Tonggala! Aku yakin pasti kau memiliki satu dua gerak ilmu silat..!” ujar Tonggala. Tampak begitu yakin dapat menundukkan pemuda tampan berjubah putih. Dengan dada membusung, ia berdiri di hadapan pemuda itu dalam jarak setengah tombak.

“Di antara kita tidak ada persoalan, Kisanak. Apa yang kau lakukan terhadap pelayan kedai ini sudah lebih dari cukup. Sebaiknya, tidak perlu kita lanjutkan persoalan ini...,” ujar pemuda tampan berjubah putih mencoba mengalah dan menghindari kekerasan.

“Hua ha ha...!” Tonggala tertawa keras mendengar perkataan pemuda tampan berjubah putih. “Hei, gadis cantik seperti bidadari! Pengawalmu ternyata bernyali kecil. Sebaiknya kau tinggal saja bocah ingusan itu! Aku akan senang menjadi pengawal setiamu. Dan, kau tentu akan lebih aman dalam lindunganku...,” lanjut Tonggala dengan sombongnya. Sepasang matanya mengerling ke arah dara jelita berpakaian serba hijau.

“Begitukah menurutmu, Tonggala?” tukas dara jelita berpakaian serba hijau, memamerkan senyumnya yang mampu membuat hati lelaki melompat-lompat. Seraya berkata demikian, dara jelita itu melangkah mengitari tubuh Tonggala. Seperti tengah menilai kekuatan lelaki berkepala botak itu.

Tonggala semakin membusungkan dadanya. Senyumnya melebar, mencerminkan kesombongan hatinya. Tampaknya ia ingin menunjukkan dirinya jauh lebih cocok menjadi pengawal dara jelita itu, daripada pemuda tampan yang memapah tubuh pelayan kedai, yang ditolongnya berdiri tadi.

“Hm.... Aku ragu akan kekuatanmu, Tonggala...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau. Setelah beberapa saat meneliti sosok Tonggala, dan berhenti di depan lelaki berkepala botak itu.

“Ehhh!?” Tonggala agak terperanjat mendengar ucapan dara jelita yang masih memamerkan senyum memabukkan itu. Saking terkejutnya, lelaki botak itu tampak menarik kepalanya ke belakang. Tidak menyangka dara jelita itu berani berkata demikian kepadanya.

“Hm.... Jadi, kau menganggap pemuda ingusan itu lebih kuat dariku!” geram Tonggala seraya melemparkan pandang ke arah pemuda tampan berjubah putih di belakang dara jelita itu. “Kalau kau ingin melihat kekuatanku, boleh kau ajukan pengawalmu itu untuk mengujiku!” tantang Tonggala.

“Tidak perlu sejauh itu. Kalau kau sanggup menjaga tubuhmu dari pukulanku, itu sudah cukup. Nah. Apa kau bersedia?” tukas dara jelita berpakaian serba hijau tanpa kehilangan senyum manisnya.

Tonggala tertawa berkakakan. Kepalanya tengadah, karena sangat gembira. Dengan menghadapi dara jelita itu, berarti ia mempunyai kesempatan untuk menyentuh tubuh moleknya. Dan Tonggala girang membayangkan hal menyenangkan itu.

“Lakukanlah, Bidadari ku. Aku sudah tidak sabar ingin segera merasakan sentuhan tangan halusmu...!” tantang Tonggala kembali dengan congkaknya. Kemudian lelaki botak itu bertolak pinggang. Seolah hendak memberikan tubuhnya untuk dipukul dara jelita itu.

“Kau boleh mengelak, Tonggala. Aku tidak ingin kau menyesal nanti...,” ujar dara jelita itu memperingatkan.

“He he he...! Aku tidak akan melakukan hal bodohitu, Bidadari Jelita. Sebab, aku sangat ingin merasakan sentuhan tanganmu yang hangat dan lembut. Ayolah! Apa lagi yang kau tunggu?” sahut Tonggala sombong.

Sementara itu, para penduduk sudah banyak berkerumun hendak menyaksikan. Mereka kelihatannya mengkhawatirkan dara jelita berpakaian serba hijau. Karena sosok Tonggala memang meyakinkan. Lelaki botak itu terlihat sangat kuat, hingga tidak mudah dirobohkan orang. Jangankan dara jelita itu, dua puluh lelaki pun belum tentu mampu merobohkannya.

“Kau tidak akan menyesal Tonggala...?” tanya dara berparas jelita itu menegasi. Ia masih memberi kesempatan lelaki berkepala botak untuk berpikir lagi.

“Lakukan... lakukanlah...,” tukas Tonggala sambil tertawa-tawa sombong.

“Hm.... Kalau begitu bersiaplah...,” ujar dara jelita berpakaian serba hijau seraya melangkah maju.

Menyaksikan dara jelita itu mengayun pukulan, para penduduk Desa Kawung sama-sama menahan napas. Pukulan itu kelihatan pelan dan tak bertenaga. Tentu tubuh kekar lelaki botak itu tidak akan bergeming. Mungkin ia merasa seperti dibelai kepalan mungil dara jelita itu. Tapi....

Bukkk!

“Hiiighhh!”

Tonggala sangat terkejut melihat pukulan dara jelita itu menyentuh tubuhnya. Tanpa dapat dicegah, lelaki botak itu terbanting keras ke tanah. Kepalan mungil itu telah menyesakkan dadanya. Kenyataan itu sungguh tidak pernah terbayang dalam pikiran Tonggala.

Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu ternganga heran! Bagaimana mungkin kepalan mungil yang dilontarkan dengan perlahan itu sanggup merobohkan Tonggala, yang terlihat kekar dan sangat kuat? Tapi, kejadian itu terbentang nyata di depan mata mereka. Sehingga, tidak diragukan lagi kebenarannya.

“Keparat...!” desis Tonggala, dan berusaha bangkit dengan wajah merah. Dadanya yang terkena pukulan dara jelita itu terasa nyeri, hingga sulit untuk bernapas. Tonggala menjadi geram, dan lupa dengan kata-katanya tadi.

“Kau... kau pasti menggunakan ilmu sihir...!” desis Tonggala yang merasa malu karena kejadian itu disaksikan banyak orang.

Dara jelita berpakaian serba hijau itu hanya tersenyum manis. Gadis itu tampaknya tidak merasa khawatir dengan kemarahan Tonggala. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu, Tonggala? Mengapa sekarang marah-marah? Apakah kau sudah lupa dengan ucapanmu yang didengar orang banyak tadi?” ujar dara jelita berpakaian serba hijau dengan sikap tenang. Sehingga, Tonggala menggertakkan gigi kuat-kuat. Ucapan itu memang tidak bisa dibantahnya.

Janaga pun bukan tidak terkejut menyaksikan kejadian itu. Ia sendiri semula merasa heran dan tidak mempercayainya. Tapi, kejadian itu begitu jelas terpampang di depan mata. Sehingga, Janaga mencurigai dara jelita berpakaian serba hijau dan pemuda tampan berjubah putih yang masih tetap tenang di tempatnya. Seolah pemuda itu yakin kawannya dapat mengatasi Tonggala. Sikap tenang pasangan orang muda itu, serta kejadian yang disaksikannya, membuat Janaga segera menilai. Lelaki itu tidak mau bertindak gegabah seperti yang dilakukan Tonggala. Setelah berpikir beberapa saat, Janaga segera menghampiri Tonggala. Kemudian berbisik kepada kawannya.

“Tonggala, gadis jelita berpakaian serba hijau itu jelas bukan orang sembarangan. Belum lagi pemuda tampan berjubah putih, yang tampak begitu tenang dan penuh percaya diri. Sebaiknya kita tidak mencari penyakit. Ingat, urusan kita masih belum selesai...,” kata-kata itu meluncur jelas di telinga Tonggala. Sebab, Janaga berdiri di samping lelaki botak itu dan mengapit lengannya.

“Tapi...,” Tonggala berusaha membantah. Lelaki botak itu masih penasaran dan ingin membalas rasa malu yang dideritanya.

“Tonggala, kita belum melaporkan berita yang kita dengar di kedai tadi...,” kembali Janaga membujuk kawannya. “Mengenai kedua orang itu, bisa kita urus belakangan..,”

Melihat Tonggala terdiam seperti tengah memikirkan perkataannya, Janaga tak membuang-buang waktu lagi. Cepat diseretnya Tonggala meninggalkan tempat itu dengan diiringi sorak mengejek penduduk.

Sedangkan pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau hanya berdiri memandang kepergian Tonggala dan Janaga. Mereka tampak tidak berusaha mengejar. Malah bersyukur, kejadian itu tidak menimbulkan pertumpahan darah. Setelah bayangan kedua orang kasar itu semakin mengecil, keduanya bergegas masuk ke dalam kedai. Pelayan kedai itu masih dipapah pemuda tampan berjubah putih.

********************

EMPAT

Hembusan angin masih terasa dingin menyentuh kulit. Kendati kokok ayam sudah terdengar, namun langit masih gelap. Matahari belum lagi menampakkan diri. Saat itu fajar baru saja menjelang. Dalam cuaca seperti itu, tampak enam sosok bayangan hitam bergerak menyusuri jalan lebar. Mereka hanya diterangi dua batang obor yang dibawa orang terdepan dan paling belakang. Dengan api yang bergoyang-goyang dipermainkan angin itulah mereka mengenali jalan yang akan dilalui.

Setelah melewati perbatasan Desa Kawung, keenam sosok tubuh itu bergerak ke kiri, menerobos jalan setapak yang masih basah oleh embun. Kendati demikian, mereka tidak menemui kesulitan. Tampaknya keenam orang itu telah mengenali jalan yang dilaluinya. Sehingga, perjalanan berlangsung cepat. Kini mereka menyeberangi sungai yang merupakan jalan masuk ke sebuah hutan karet.

Jalan yang kali ini mereka lalui cukup besar dan tanahnya agak keras. Pohon karet yang berdiri berjajar sepanjang jalan, tak ubahnya sosok-sosok penjaga hutan karet yang cukup luas itu. Ketika rombongan kecil itu telah melewati hutan karet, mereka kelihatan terkejut, dan menghentikan langkah berbarengan. Beberapa tombak di depan mereka tampak cahaya yang menerobos celah dedaunan pohon.

“Mungkinkah...”

“Sssttt..!”

Ucapan salah seorang anggota rombongan yang berperawakan kekar terhenti. Setelah lelaki gagah yang berada didepan dan bertindak sebagai kepala rombongan, memberi isyarat untuk tidak bersuara. Kendati demikian, mereka semua tahu kelanjutan kalimat itu. Buktinya empat anggota rombongan yang lain tidak bertanya-tanya, hanya memandang ke arah pimpinan rombongan.

Lelaki gagah yang menjadi pemimpin rombongan berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya yang keras dihiasi berewok. Lelaki berewok itu memberi isyarat dengan gerakan kedua tangannya agar mereka waspada. Kemudian perlahan melangkah maju, diikuti kelima kawannya. Bias cahaya yang mereka lihat dari celah dedaunan pohon ternyata berasal dari sebatang obor yang tertancap di sebuah pohon. Aneh, benda itu membuat mereka berseru tertahan. Bahkan ketegangan dan kecemasan terpancar pada wajah keenam lelaki itu.

“Mungkinkah tanda ini diberikan untuk kita? Atau ada rombongan lain yang mereka tunggu?” desis lelaki gagah berwajah berewok yang tidak lain Ki Lodana. Rupanya mereka rombongan pemburu yang hendak menuju Gunung Es. Mendengar ucapan yang lebih mirip desahan panjang itu, kelima pemburu lainnya saling bertukar pandang sesaat. Mereka merasa heran melihat obor tertancap di batang pohon itu. Mereka saling melontarkan tanya melalui pandang mata.

“Kalau kita yang dimaksud oleh tanda ini, jelas ‘mereka’ telah keliru mengenali orang. Sebab, kita tidak akan mendatangkan keuntungan bagi ‘mereka’...,” setelah agak lama terdiam, lelaki bertubuh kekar yang tidak lain Tangkar, mengemukakan pendapatnya.

Para pemburu itu tampak menganggukkan kepala, tanda sependapat dengan Tangkar. Meski demikian, untuk beberapa saat tidak ada yang menanggapi perkataan lelaki berperawakan kekar itu. Hati mereka masih diliputi tanda tanya besar dengan adanya obor yang seperti menghadang jalan mereka.

“Hm.... Mungkin ‘mereka’ memang salah alamat. Sebaiknya kita terus berjalan. Tapi harus tetap waspada, dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan kita hadapi...,” akhirnya, Ki Lodana mengambil keputusan. Kakinya melangkah melewati obor yang berada di batang pohon setinggi satu tombak dari atas tanah.

Melihat pimpinannya bergerak maju, Tangkar dan yang lainnya langsung mengikuti. Kendati demikian, bias-bias ketegangan masih tampak jelas pada wajah mereka. Bahkan tidak jarang mereka meraba golok yang tergantung di pinggang. Jelas, ada sesuatu yang dikhawatirkan rombongan pemburu itu.

Whuttt..!

Baru beberapa tombak mereka melangkah, tiba-tiba terdengar suara sambaran angin berdesing yang entah dari mana datangnya. Dibarengi dengan munculnya sinar putih yang berkilau tertimpa cahaya obor di tangan para pemburu itu.

“Awaaasss...!” Ki Lodana yang berada paling depan, segera memerintahkan kawan-kawannya bergerak mundur. Ia sendiri sudah melompat ke belakang menyelamatkan diri.

Cappp!

Pohon sepelukan orang dewasa yang berada empat langkah dari tempat Ki Lodana semula berdiri, menjadi sasaran sinar putih berdesing tajam. Sebilah golok berukuran cukup panjang tertancap dan bergoyang- goyang, membuat hati para pemburu itu semakin tegang.

“Tanda kedua dari ‘mereka’...,” desis Ki Lodana. Sepertinya telah mengetahui ciri-ciri peringatan yang disebut ‘mereka’. “Artinya, kita tidak boleh meneruskan perjalanan jika masih ingin selamat..,” lanjut lelaki berewok itu menjelaskan kepada kawan-kawannya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Kang? Dan, apa sebenarnya yang mereka harapkan dari kita? Bukankah selama ini ‘mereka’ tidak pernah mengganggu kita...?” desis Tangkar yang kelihatan sangat penasaran.

“Hm.... Sebaiknya kita tunggu saja kemunculan ‘mereka’. Aku pun tidak mengerti. Mengapa tanda-tanda itu ditunjukkan kepada kita?” sahut Ki Lodana pelan. Lelaki berewok itu telah mengambil keputusan untuk menunggu. Jelas tanda-tanda itu merupakan peringatan yang tidak boleh dilanggar. Dan Ki Lodana lebih suka mematuhi peringatan itu daripada kehilangan nyawa.

Demikian pula Tangkar dan empat pemburu lainnya. Mereka pun tidak mau mengambil resiko dengan melanjutkan perjalanan yang mungkin bisa membawa bencana bagi mereka. Sehingga, rombongan pemburu itu hanya bisa menanti dengan hati berdebar tegang! Rupanya, Ki Lodana dan kawan-kawannya tidak perlu menunggu lama. Beberapa saat kemudian, yang mereka tunggu pun muncul dari balik semak-semak di sebelah kiri mereka.

“Hm.... Bagus, kalian mematuhi peringatan itu. Tandanya kalian masih waras dan menyayangi nyawa yang hanya satu,” terdengar suara berat dan parau seiring dengan munculnya tiga orang lelaki. Rupanya, orang-orang itulah yang dimaksud ‘mereka’ oleh Ki Lodana dan kawan-kawannya.

Ki Lodana dan kawan-kawannya semakin tegang. Mereka menatap ketiga sosok tubuh itu tanpa berani mengeluarkan suara. Seperti menunggu ketiga orang itu mendekat

“Lodana,” suara berat dan parau itu kembali terdengar memecah keheningan. “Jelaskan dengan jujur, mengapa kalian berada di tempat ini? Dan hendak pergi ke mana? Ingat! Jangan sekali-sekali berdusta! Sebab akibatnya akan membuat kalian menyesal seumur hidup!” lanjut lelaki bertubuh gemuk. Berwajah bulat dengan kumis tebal melintang. Rambutnya dibiarkan terurai jatuh di bahu. Dan diikat dengan sebuah kain putih. Sorot mata lelaki itu tajam menikam jantung, membuat orang enggan menentang pandang mata itu.

Ki Lodana tampak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia melempar pandang kepada kelima kawannya. Dalam sinar mata lelaki berewok itu tersirat pertanyaan. Tapi, kelima kawannya menggeleng perlahan. Mereka pun tidak tahu, mengapa lelaki gemuk itu bertanya demikian. Ki Lodana kelihatan gelisah. Ia tidak berani membohongi lelaki gemuk itu. Tapi untuk mengatakan yang sebenarnya, ia masih ragu. Hingga, Ki Lodana tercenung beberapa saat lamanya. Dan itu membuat lelaki gemuk berkumis lebat tidak sabar.

“Hm...” Lelaki gemuk itu menggeram gusar. Saat itu juga tangan kanannya bergerak cepat. Dan....

Singngng!

“Aaakkkh!”

Terdengar suara berdesing nyaring. Disusul jerit kematian salah seorang kawan Ki Lodana. Pemburu bernasib sial itu pun ambruk. Dada kirinya tertancap sebilah pisau yang tampak gagangnya saja. Tidak diragukan lagi, pemburu itu pasti tewas seketika itu juga.

Perbuatan lelaki gemuk itu benar-benar mengejutkan Ki Lodana. Ia dan kawan-kawannya tersurut mundur dengan wajah pias! Jelas ancaman lelaki gemuk berkumis lebat itu tidak main-main! Itu telah dibuktikannya.

“Pisau Kilat. Apa sebenarnya yang kau inginkan dari kami? Kami tidak memiliki benda berharga, jika itu yang kau maksudkan,” ujar Ki Lodana memberanikan diri. Sikapnya tampak tegang. Dan jari-jari tangannya sudah meraba gagang golok di pinggangnya.

Lelaki gemuk yang ternyata berjuluk Pisau Kilat menggeram gusar. Tokoh itu memang terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin. Mudah sekali menurunkan tangan maut kepada siapa saja, meski tanpa alasan sekalipun. Ia pemimpin perampok yang sudah cukup terkenal di kalangan persilatan. Setiap kali hendak menunjukkan aksinya, Pisau Kilat selalu memberi tanda. Tanda-tanda itulah yang dikenali Ki Lodana. Tanda yang menjadi ciri gerombolan perampok di bawah pimpinan Pisau Kilat.

“Tunggu...!” cegah Ki Lodana ketika melihat Pisau Kilat terlihat geram dengan pertanyaannya. Karena tidak ingin kawannya yang lain menjadi korban berikutnya, Ki Lodana pun menjelaskan tujuannya.

“Ki, jangan...!” Salah seorang pemburu berteriak, mencegah Ki Lodana yang sudah hampir menyelesaikan ucapannya. Pemburu bertubuh tinggi tegap berusia tiga puluh tahun itu, tidak ingin Pisau Kilat mengetahui tujuan perjalanan mereka. Sebab ia sadar tokoh jahat seperti lelaki gemuk itu tidak mungkin menepati janji. Cepat atau lambat tokoh sesat itu akan menyingkirkan mereka berlima. Alasan itulah yang membuatnya mengambil keputusan nekat!

“Hmmmhhh...!” Lagi-lagi Pisau Kilat memperdengarkan geraman gusar. Tangannya kembali bergerak cepat. Akibatnya....

“Aaakh!” Pemburu tinggi tegap yang sudah mencabut golok panjangnya itu, tak sempat lagi menghindar. Kecepatan dan ketepatan gerak Pisau Kilat, mengakibatkan tubuh pemburu malang itu terjungkal ke tanah. Tubuhnya berkelojotan sesaat. Kemudian diam tak bergerak. Mati.

“Siapa lagi yang hendak menyusul...?” dingin sekali ucapan Pisau Kilat, hingga Ki Lodana dan ketiga kawannya saling berpandangan.

“Kau tidak perlu membunuh lagi, Pisau Kilat. Bukankah aku sudah berterus terang kepadamu?” Ki Lodana memberanikan diri menegur kepala perampok kejam itu.

“Jadi kau ingin menyusul...?!” geram Pisau Kilat Tanpa peduli perasaan Ki Lodana dan kawan-kawannya. Tampaknya ia telah siap mencabut nyawa Ki Lodana.

“Tunggu!” Tangkar yang semenjak tadi diam menyaksikan kemalangan yang menimpa kawan-kawannya, bertindak mencegah. Ia merasa paling bertanggung jawab atas semua kejadian itu. Selain dia yang pertama mengetahui dan merencanakan perjalanan itu, dia pulalah yang mengajak kawan-kawannya. Pikiran itu membuat Tangkar memberanikan diri menghadapi Pisau Kilat, yang terkenal jahat dan kejam.

“Pisau Kilat, kalau kau ingin mengetahui perihal beruang es, akulah yang harus kau bawa. Sebab, aku yang pernah berhadapan dengan binatang itu. Maka, kuminta kau membiarkan ketiga kawanku ini pergi tanpa diganggu. Dan aku akan mengantarkanmu ke tempat beruang es berada...,” dengan lantang Tangkar maju menyelamatkan nyawa kawan-kawannya. Dan menawarkan diri mengantarkan Pisau Kilat beserta rombongannya ke Gunung Es.

Perbuatan Tangkar tentu saja mengejutkan kawan-kawannya. Walaupun mereka tahu yang dilakukan Tangkar semata-mata untuk menyelamatkan mereka bertiga. Tapi rasa setia kawan yang tinggi, membuat Ki Lodana tidak mau membiarkan Tangkar menghadapi bahaya seorang diri. Maka ia pun berkata,

“Tidak, Tangkar! Kau tidak boleh pergi seorang diri. Kami bertiga akan menemani. Pisau Kilat, kami berempat bersedia mengantarmu ke Gunung Es,” tegas Ki Lodana tanpa mempedulikan bantahan Tangkar.

“Hua ha ha...!” Mendengar pemburu-pemburu itu saling berbantahan, Pisau Kilat tertawa berkakakan. Sedikit pun hatinya tidak tergerak. Betapa pemburu-pemburu itu saling membela demi keselamatan yang lain. Sikap lelaki gemuk berkumis lebat itu menunjukkan hatinya telah mati. Hingga tidak lagi mempunyai perasaan. Puas memperdengarkan tawanya yang parau dan menyakitkan telinga, Pisau Kilat merayapi wajah keempat pemburu itu. Lelaki gemuk itu mengangguk-angguk dengan sepasang mata berbinar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Hanya ia sendiri yang tahu.

“Kalau begitu, ayo kalian berempat ikut bersamaku ke Gunung Es,” ujar Pisau Kilat Kemudian bertepuk tiga kali. Muncullah para pengikutnya yang berjumlah tidak kurang tiga puluh orang.

“Siapkan kuda untukku...,” perintah Pisau Kilat kepada salah seorang dari kedua pembantunya.

“Baik, Ketua...,” sahut lelaki berkepala botak yang ternyata Tonggala.

Sedangkan pembantu Pisau Kilat yang seorang lagi Janaga. Rupanya, kedua pengacau di kedai Desa Kawung pembantu-pembantu utama Pisau Kilat si kepala perampok. Mereka berdua itulah yang menjadi mata-mata Pisau Kilat. Sehingga, dapat mengetahui kegiatan di Desa Kawung dan desa-desa lain di sekitar wilayah itu.

Begitu kuda yang diminta telah siap, Pisau Kilat langsung melompat ke atas punggung kuda. Kemudian memerintahkan perjalanan segera dimulai. Rombongan pun bergerak perlahan menuju Gunung Es, yang rupanya sangat menarik perhatian kepala perampok itu. Para pemburu itu sendiri tidak tahu, apa yang membuat Pisau Kilat demikian tertarik dengan beruang Gunung Es. Kenyataan itu menimbulkan tanda tanya besar bagi Ki Lodana dan kawan-kawannya.

********************

Perjalanan panjang dan cukup melelahkan itu baru berakhir saat matahari sudah condong ke barat. Sinarnya semakin pudar. Hingga tak lagi menyengat. Apalagi saat itu rombongan Pisau Kilat telah memasuki wilayah Gunung Es, yang berhawa sangat dingin menusuk tulang. Kalau saja mereka bukan orang-orang yang telah terbiasa dengan segala cuaca, niscaya tidak akan sanggup bertahan lama di tempat itu.

Saat rombongan tiba di tepi sungai, Pisau Kilat memerintahkan mereka berhenti sejenak. Lelaki gemuk itu melompat turun dari atas punggung kuda. Lalu, menghampiri Ki Lodana dan kawan-kawannya.

“Hm.... Di mana kau pernah berjumpa dengan beruang Gunung Es?” tanya Pisau Kilat dengan wajah angker. Sikapnya sedikit pun tidak berubah. Dingin dan menyeramkan.

“Kira-kira dua puluh tombak lebih di seberang sungai itu,” sahut Tangkar sambil menunjuk ke arah rimbunan pohon besar yang tumbuh di kaki gunung.

“Apa kau tidak melihat sebuah pondok untuk bangunan di sekitar kaki gunung?” tanya Pisau Kilat lagi seraya menatap wajah Tangkar lekat-lekat Seolah khawatir lelaki kekar itu akan berbohong.

“Aku tidak tahu. Karena baru beberapa puluh tombak, beruang Gunung Es sudah berdiri menghadang. Seolah tak menghendaki tempatnya didatangi orang...,” jawab Tangkar sejujurnya. Tanpa menyembunyikan apa yang pernah dialaminya di tempat itu. Tampaknya Tangkar sadar bahwa berbohong kepada Pisau Kilat tak ada gunanya. Hanya mencelakakan dirinya saja. Maka, lelaki kekar itu tidak menyembunyikan sesuatu pun dari kepala perampok berdarah dingin itu.

“Jadi beruang Gunung Es tidak sampai menyeberang ke sini?” Setelah terdiam beberapa saat, Pisau Kilat kembali melanjutkan pertanyaan.

“Tidak,” disertai gelengan kepala Tangkar menjawab singkat.

Pisau Kilat tampak mengangguk-angguk. Kendati demikian, keningnya berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu. “Kalau begitu, kita harus segera menyeberang sebelum hari menjadi gelap...,” gumam Pisau Kilat

Lalu, memerintahkan para pengikutnya untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini lelaki gemuk itu tidak menunggang kuda. Sebab perjalanan yang akan dilalui sangat sulit Menggunakan kuda hanya akan memperlambat perjalanan. Tidak berapa lama kemudian, rombongan itu pun menyeberangi sungai. Untung saat itu air sedang surut. Sehingga, batu-batu besar bertonjolan di permukaan air. Membuat Pisau Kilat dan rombongannya dapat menyeberang dengan mudah.

“Mulai dari sini kita harus meningkatkan kewaspadaan...,” ujar Pisau Kilat mengingatkan para pengikutnya. Lelaki gemuk itu khawatir beruang Gunung Es akan muncul sewaktu-waktu. Seperti yang diceritakan Tangkar kepadanya. Pisau Kilat mendadak menghentikan langkah. Raut wajahnya berubah ketika menemukan banyak tapak kaki di atas rumput basah.

“Tonggala, Janaga...!” teriak lelaki gemuk itu. Memanggil kedua pembantu utamanya agar segera menghampiri.

“Ada apa, Ketua...?” tanya Janaga. Setelah tiba di hadapan Pisau Kilat yang masih memandangi rumput di bawahnya.

“Hm.... Tampaknya berita tentang beruang Gunung Es yang pandai silat itu telah tersebar luas. Jejak-jejak ini menunjukkan kita sudah kedahuluan orang lain. Hhh.... Betapa tajamnya pendengaran orang-orang rimba persilatan. Berita yang baru kemarin terdengar, langsung menyebar seperti dibawa angin...,” desah Pisau Kilat. Diam-diam merasa cemas, mengingat banyaknya saingan yang akan ditemukan. Kalau tokoh-tokoh tingkat tinggi sampai ikut datang ke tempat itu, tipislah harapannya dapat menjalankan rencana yang telah diatur.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Ketua...?” Tonggala yang kaget mendengar penuturan ketuanya, menjadi cemas. Ia sendiri tidak begitu heran dengan begitu cepatnya berita itu tersebar. Sebab, berita itu didapatnya dari seorang nelayan kedai di Desa Kawung. yang mengingatkan lelaki kekar berkepala botak itu pada pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau, yang pernah memukul roboh dirinya. Menurutnya, bukan tidak mungkin pelayan itu menceritakan perihal beruang Gunung Es kepada pasangan muda itu.

“Hm.... Kita harus bergegas. Kalau tidak, kita akan ketinggalan,” sahut Pisau Kilat Lalu, menyuruh Tonggala dan Janaga mengumpulkan semua orang-orangnya.

Baru saja Pisau Kilat selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengguncangkan dada. Lelaki gemuk itu sempat mengerahkan hawa murni untuk melindungi isi dadanya agar tidak terguncang. Suara tawa itu merupakan serangan tenaga dalam yang ampuh, dan bisa menewaskan orang dengan isi dada pecah!

“Keparat..!” desis Pisau Kilat melihat para pengikutnya bergulingan di atas rumput. Tidak sanggup menahan serangan tawa yang mengandung tenaga dalam tinggi itu. Hingga kemarahan tokoh sesat itu bangkia seketika.

“Hei, Setan Belang! Gandarwa Sundal! Kalau kau bukan seorang pengecut, tunjukkan dirimu! Kalau tidak, akan kuratakan dengan tanah seluruh daerah ini...!” teriak Pisau Kilat tidak dapat menyembunyikan kemurkaannya.

“Hua ha ha...!”

Bersamaan dengan berhembusnya angin keras, sesosok bayangan serba putih meluncur turun dari atas pohon besar yang tingginya belasan tombak. Sosok tinggi besar itu mendarat ringan beberapa tombak di hadapan Pisau Kilat

Pisau Kilat sendiri tampak tergetar hatinya begitu mengenali sosok tinggi besar terbungkus pakaian serba putih. Ada kilatan gentar pada sepasang mata yang biasanya tajam menikam jantung. Kenyataan itu menunjukkan kalau sosok tinggi besar dengan tawa menggelegar, itu seorang tokoh persilatan yang namanya cukup membuat orang lari tunggang-langgang.

LIMA

“Hantu Tangan Merah...?!” desis Pisau Kilat sedikit gentar. Lelaki gemuk itu agaknya mengetahui tokoh bertubuh tinggi besar itu. Kendati demikian, Pisau Kilat tidak menunjukkan kegentarannya. Ia berusaha menutupi dengan tawanya yang serak dan berat

“He he he...! Apa kerjamu di tempat ini, Pisau Kilat..?” tegur Hantu Tangan Merah. Sepasang matanya agak menyipit Seperti hendak membaca pikiran lelaki gemuk berkumis lebat itu.

Pisau Kilat sadar sepenuhnya kalau Hantu Tangan Merah merupakan saingan berat. Otaknya segera bekerja cepat mencari jalan yang akan menguntungkan dirinya. Lelaki gemuk itu pun mengatur rencana licik, dengan hendak mempergunakan kelebihan Hantu Tangan Merah.

“Hm.... Tak perlu berpura-pura, Hantu Tangan Merah. Kau sendiri hendak mengerjakan apa di tempat ini...?” Pisau Kilat balik bertanya, dengan nada sinis. Mulutnya berkata demikian, seperti hendak menentang. Tapi diam-diam pikirannya merangkai sebuah rencana busuk.

“Jadi kedatanganmu ke Gunung Es ada hubungannya dengan harta peninggalan Malaikat Salju, begitu?” tukas Hantu Tangan Merah yang terlihat menganggap remeh Pisau Kilat. Lelaki tinggi besar itu merasa kedudukannya lebih tinggi. Hingga tidak bisa disejajarkan dengan seorang kepala perampok. Kendati demikian, Hantu Tangan Merah tidak mengurangi kewaspadaan. Ia telah mengenal baik kelicikan Pisau Kilat.

“Harta peninggalan Malaikat Salju...?!” Dari mana kau mendapat kabar itu, Hantu Tangan Merah?” Kening Pisau Kilat agak berkerut mendengar ucapan itu. Sebab, tujuan kedatangannya ke tempat itu baru dugaan. Ia sedikit pun tidak tahu tentang tokoh yang berjuluk Malaikat Salju. Meskipun demikian, nama itu dicatat dalam kepalanya.

“Jangan berpura-pura bodoh, Pisau Kilat. Kalau bukan karena harta peninggalan tokoh sakti itu, lalu apa tujuanmu datang jauh-jauh ke tempat ini?” tukas Hantu Tangan Merah. Tidak percaya Pisau Kilat tidak mengetahui hal itu.

“Aku tidak berpura-pura, Hantu Tangan Merah. Terus terang, tujuanku ke tempat ini karena tertarik dengan berita mengenai beruang es. Aku menduga binatang yang pandai bersilat itu peliharaan tokoh sakti. Tapi sungguh tidak kusangka kalau tokoh itu Malaikat Salju, yang namanya telah lama lenyap dari kalangan persilatan...,” jawab Pisau Kilat sejujurnya. Tentu saja kejujuran itu karena ia mengharapkan keterangan lebih jauh.

“Hmmm....” Melihat kesungguhan Pisau Kilat, Hantu Tangan Merah hanya bergumam pelan. Keningnya berkerut, seolah ada sesuatu yang dipikirkan. Sepasang matanya menatap wajah Pisau Kilat lekat-lekat. Ia belum yakin sepenuhnya dengan ucapan kepala perampok itu.

“Maafkan, Hantu Tangan Merah. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menemanimu. Sudah banyak tokoh lain yang datang lebih dahulu ke tempat ini...,” lalu, Pisau Kilat berbalik dan memerintahkan para pengikutnya melanjutkan perjalanan.

“Tunggu, Pisau Kilat...!” cegah Hantu Tangan Merah. Lelaki tinggi besar itu agak kaget mendengar ada orang telah tiba lebih dahulu dari mereka. Wajahnya kelihatan sedikit tegang. Khawatir akan kedahuluan orang lain.

“Ada apa lagi, Hantu Tangan Merah?” tanya Pisau Kilat tak senang. Meski demikian, tubuhnya berbalik menghadap tokoh tinggi besar itu.

“Kalau bilang kita telah kedahuluan orang. Apa kau mengenali siapa mereka? Dan dari golongan mana?” Hantu Tangan Merah kelihatan sangat ingin mengeta- hui hal itu.

“Aku sendiri tidak tahu. Karena aku hanya melihat banyak jejak tertinggal di atas rumput,” jelas Pisau Kilat. Kemudian berbalik, dan melangkah meninggalkan Hantu Tangan Merah yang termangu dengan wajah tercenung. Pisau Kilat bergerak menjauh bersama para pengikutnya yang kelihatan agak lemah. Hal itu disebabkan oleh serangan tawa Hantu Tangan Merah yang seperti menguras tenaga. Hanya karena patuh pada Pisau Kilat saja, maka mereka tidak mengeluh.

Saat rombongan Pisau Kilat sudah semakin jauh, dan hampir lenyap ditelan kelebatan pohon, Hantu Tangan Merah baru tersadar dari lamunannya. Ia langsung berkelebat menyusul rombongan Pisau Kilat. Dan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Semua itu adalah akal licik Hantu Tangan Merah. Sebab bila rombongan Pisau Kilat mendapat bahaya, ia tidak perlu repot-repot. Tinggal menyaksikan dari jauh, bagaimana Pisau Kilat dan para pengikutnya menghadapi kemungkinan itu.

********************

Pisau Kilat yang berjalan paling depan, mendadak menghentikan langkah. Sepasang matanya terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya. Para pengikutnya yang juga menyaksikan pemandangan itu berhenti dengan wajah pucat!

“Gila...!?” desis Pisau Kilat. Tampak kaget melihat enam sosok mayat bergeletakan di tanah berumput. Kendati kematian dan penyiksaan bukan hal aneh lagi. Tapi, tak urung tokoh berdarah dingin itu terkejut menyaksikan keadaan tubuh keenam mayat, yang menurut dugaannya adalah kaum rimba persilatan. Tubuh mayat-mayat itu nyaris tidak bisa dikenali. Anggota tubuhnya tidak utuh lagi. Bahkan ada di antaranya yang bagian tubuhnya hancur. Diam-diam hati tokoh sesat berdarah dingin itu bergidik ngeri.

“Pastilah beruang Gunung Es yang melakukannya...,” tanpa sadar, Tangkar bergumam seorang diri. Tapi, ucapan itu cukup jelas terdengar di telinga Pisau Kilat. Tangkar memang berada di samping kepala perampok itu.

“Kau yakin...?” desis Pisau Kilat. Belum percaya kalau kematian keenam kaum rimba persilatan itu disebabkan oleh beruang Gunung Es, yang pernah ditemui Tangkar.

“Kau bisa melihat dari luka-luka mayat itu, Pisau Kilat. Bukankah itu bekas kuku-kuku yang besar dan kuat? Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan binatang raksasa itu...?” sahut Tangkar. Wajahnya kelihatan pucat. Baginya, kematian keenam orang itu terlalu mengerikan.

“Hm...,” Pisau Kilat tidak berkata lagi. Ia pun mempunyai dugaan serupa. Hanya tidak dikeluarkannya. “Kita lanjutkan perjalanan...!” teriaknya lantang. Para pengikutnya, yang meskipun sudah lenyap keberaniannya setelah menyaksikan mayat-mayat itu, tidak berani membantah. Mereka terpaksa mengikuti langkah pemimpinnya.

Korban-korban yang bergeletakan di rumput semakin bertambah ketika Pisau Kilat melangkah semakin jauh. Hati tokoh sesat itu mulai dilanda ketegangan. Pemandangan itu membuatnya semakin berhati-hati dan melangkah dengan perlahan. Lelaki gemuk itu yakin kalau pembunuh itu akan muncul menghadang rombongannya.

“Groooaaahhh...!”

Tiba-tiba terdengar sebuah geraman keras menggetarkan jantung. Beberapa pengikut Pisau Kilat roboh. Sebab, kedua kaki mereka mendadak gemetar. Hingga tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Kenyataan membuktikan kalau geraman keras tadi sangat hebat!

Pisau Kilat sendiri sudah meraba gagang pedang di pinggangnya. Saat mendengar geraman itu. Ia yakin beruang Gunung Es berada di sekitar tempat itu. Dan bisa muncul sewaktu-waktu. Saat ketegangan Pisau Kilat dan anggota rombongannya semakin memuncak, tiba-tiba terdengar suara berdebum yang menggetarkan bumi. Dengan diiringi geraman keras, muncullah binatang yang sangat besar, berlari cepat ke arah rombongan! Dan...,

“Aaakh...!”

Empat orang anggota rombongan Pisau Kilat menjerit ngeri. Beruang Gunung Es yang kelihatan sangat murka itu menangkap dan mencabik tubuh mereka. Tanpa ampun lagi, keempat orang itu tewas seketika itu juga!

“Munduuur...!” Pisau Kilat bertindak cepat dengan memerintahkan para pengikutnya untuk menjauhi binatang buas yang tengah mengamuk itu. Pedang tergenggam di tangan kanan lelaki gemuk itu. Pisau Kilat segera memerintahkan kedua pembantu utamanya untuk bersama- sama menghadapi binatang itu.

“Haaattt..!”

Ketika beruang Gunung Es berlari mengejar anggota rombongannya, Pisau Kilat berteriak nyaring untuk menarik perhatian binatang itu. Kemudian melepaskan empat batang pisau terbang dengan kecepatan kilat!

Singngng... singngng...!

Empat batang pisau terbang itu meluncur deras mengancam tubuh beruang Gunung Es. Namun hanya dengan sampokan kedua tangannya, binatang itu behasil meruntuhkan pisau-pisau terbang kepala perampok itu. Padahal, gerakan binatang itu terlihat lamban. Hingga Pisau Kilat hampir tidak percaya melihat kejadian itu.

“Para pemburu itu ternyata tidak berbohong. Beruang Gunung Es memang memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi. Binatang itu mampu menghalau pisau terbang ku. Padahal, jarang ada tokoh persilatan yang mampu atau pun berani melakukannya...?!” desis Pisau Kilat terbelalak kagum melihat kehebatan binatang itu.

“Binatang itu jelas dapat bersilat, Ketua...,” ujar Tonggala dengan penuh ketegangan. Melihat binatang besar dan sangat kuat itu mampu mengatasi kecepatan laju pisau terbang pemimpinnya. Ia sendiri tidak mungkin sanggup melakukannya. Kegentaran pun mulai menguasai hati lelaki itu.

Demikian pula dengan Janaga. Lelaki bertubuh sedang dan berkumis lebat itu pun sangat kaget melihat kehebatan beruang Gunung Es. Apalagi, ketika teringat korban akibat keganasan binatang itu. Gerakannya menjadi ragu. Sebab, dalam hatinya telah terselip rasa takut

“Jangan takut! Ayo kita hadapi binatang keparat itu...!” Pisau Kilat agaknya dapat menduga kegentaran yang menguasai hati kedua pembantunya. Maka lelaki gemuk itu segera berteriak, memerintahkan Tonggala dan Janaga untuk mengepung dan mengeroyok Beruang Gunung Es.

“Haaattt..!”

Untuk membangkitkan keberanian kedua pembantunya, Pisau Kilat melesat menerjang binatang raksasa itu. Pedang di tangannya berputaran seperti baling-baling. Kemudian membacok dengan kekuatan penuh!

Whukkk!

Namun meski dengan gerak yang kelihatan agak lambat. Beruang Gunung Es mampu mengelakkan bacokan pedang Pisau Kilat. Sehingga, lelaki gemuk itu semakin terkejut

Wrettt!

“Aaaiiihhh!?” Pisau Kilat memekik kaget. Kuku-kuku runcing bagai mata pedang datang menyambar tubuhnya. Untung ia cepat menyadari ancaman maut itu. Tubuhnya dilempar ke belakang, dan terus berjumpalitan ke udara. Dalam keadaan demikian, tangan kirinya masih sempat melepaskan dua buah pisau terbang ke arah binatang itu.

Trakkk! Trakkk!

Lagi-lagi Pisau Kilat harus menahan seruan kagetnya. Senjata yang sangat diandalkannya ternyata tidak mampu menembus kulit dan bulu tebal binatang itu. Padahal, ia telah mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk melemparkan pisau-pisau itu. Tapi, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Senjata kebanggaannya runtuh ketika membentur kulit yang dilindungi bulu tebal itu. Beruang Gunung Es ternyata memiliki kekebalan tubuh yang hebat!

“Celaka! Kalau begini terus aku bisa menjadi korban keganasan binatang itu...,” gumam Pisau Kilat Lelaki gemuk itu tampaknya menyadari tidak akan sanggup menundukkan binatang yang kuat dan kebal itu. Kesadaran itu membuat Pisau Kilat berpaling ke tempat Hantu Tangan Merah berada. Ia tahu tokoh bertubuh tinggi besar itu mengikuti rombongannya dari jarak jauh. Maka tanpa malu-malu, Pisau Kilat memanggil tokoh itu.

“Hei, Hantu Tangan Merah! Kalau kau ingin mendapatkan peninggalan Malaikat Salju, ayo bantu aku menghadapi binatang gila ini!” teriak Pisau Kilat

Hantu Tangan Merah sepertinya menyadari akan perlunya mereka bergabung. Kelihatan ia bergerak mendekati Pisau Kilat yang meminta bantuannya.

“Pisau Kilat Untuk menghadapi binatang liar yang tangguh itu, diperlukan waktu yang cukup lama. Aku khawatir nanti kita akan kehabisan tenaga. Jika sudah demikian, orang-orang yang datang belakangan akan dengan mudah mendapatkan harta peninggalan Malaikat Salju tanpa halangan apa pun...,” ujar Hantu Tangan Merah, setelah tiba di dekat Pisau Kilat

“Hm...,” Pisau Kilat tampak mengerutkan kening mendengar ucapan Hantu Tangan Merah. “Kalau begitu, biar aku suruh anak buahku mengambil harta peninggalan Malaikat Salju. Sementara kita menghadapi beruang gila itu. Aku yakin, tempat penyimpanan harta itu tidak jauh dari tempat ini. Bagaimana...?” usul Pisau Kilat yang sepertinya telah mendapatkan cara cukup baik.

“Baiklah...,” sahut Hantu Tangan Merah langsung menyetujui. Sebab, mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk mengatur rencana lain.

Setelah mendapat kata sepakat, kedua tokoh itu bergerak maju menghadapi beruang Gunung Es. Sedangkan Tonggala dan Janaga diperintahkan mencari tempat penyimpanan harta peninggalan Malaikat Salju. Kedua pembantu Pisau Kilat itu bergegas mengajak kawan-kawannya meninggalkan tempat itu. Mereka juga mengajak Ki Lodana dan tiga pemburu lainnya.

Tinggallah Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat yang bersama mencegah beruang Gunung Es, agar tidak mengejar rombongan para pengikut Pisau Kilat. Akibatnya, binatang yang seperti dapat menduga apa yang dicari orang-orang itu murka bukan main. Kepalanya tegak menatap langit. Dan geramannya terdengar berkali-kali, membuat dada kedua lawannya berdebar.

“Haaaiiit..!”

Sebelum beruang Gunung Es menyerbu, Hantu Tangan Merah sudah melesat maju dengan serangan sepasang telapak tangannya. Tercium bau amis saat tokoh tinggi besar itu melakukan tamparan-tamparan yang mendatangkan sambaran angin berciutan. Sepasang telapak tangan tokoh itu berubah merah sampai batas pergelangan. Rupanya, itu yang membuatnya dijuluki Hantu Tangan Merah. Gerakannya sendiri memang cepat laksana bayangan hantu.

Beruang Gunung Es agaknya dapat mencium bahaya maut serangan itu. Binatang itu bergerak mundur beberapa langkah. Hawa beracun yang berasal dari telapak tangan Hantu Tangan Merah telah membuat agak pening. Itu terlihat dari gelengan kepalanya yang berkali-kali. Tampaknya, beruang itu hendak mengusir rasa pening yang dideritanya.

Pisau Kilat pun tidak tinggal diam. Lelaki gemuk berkumis lebat itu menerjang dengan pedang di tangan. Kendati sadar binatang itu kebal terhadap senjata tajam. Tapi Pisau Kilat mencoba mengarahkan serangan itu pada bagian yang dianggapnya terlemah, dan tidak mungkin dilindungi kekebalan. Serangan pedangnya diarahkan pada sepasang mata binatang itu. Sedangkan Hantu Tangan Merah menambah kecepatan. Melihat binatang itu agak gentar menghadapi pukulan tangan merahnya. Sehingga, sepasang tangan tokoh tinggi besar itu tidak tampak lagi bentuknya.

“Groooaaah...!” Beruang Gunung Es kelihatan seperti penasaran. Dengan menggeram marah, binatang itu membalas serangan Hantu Tangan Merah. Bahkan, berani memapaki pukulan telapak tangan lawan.

“Heeeaaah...!”

Meski agak repot menghindari serangan balasan binatang buas itu, tetapi Hantu Tangan Merah tidak mengurangi serangannya. Bahkan semakin dipergencar. Sasarannya selalu pada bagian terlemah tubuh binatang itu.

Whuuusss...!

Diiringi suara berkesiutan, asap tipis berwarna merah mengepul dari telapak tangan tokoh tinggi besar itu. Sasarannya adalah dada kiri beruang Gunung Es.

Plaggg!

“Uuuhhh...!” Tanpa disangka-sangka, beruang Gunung Es mengangkat lengannya untuk menangkis. Benturan keras pun tak dapat dihindarkan lagi. Dan, tubuh Hantu Tangan Merah terhuyung mundur. Jelas, ia kalah tenaga dengan binatang itu. Kendati sangat sedikit perbedaannya. Sebab beruang itu pun terjajar beberapa langkah ke belakang.

“Kurang ajar...!” desis Hantu Tangan Merah geram. Tenaga binatang itu ternyata lebih besar dari dugaannya. Maka, ia segera mengerahkan seluruh kekuatan- nya untuk menggempur binatang itu.

“Haaaiiittt..!”

Pisau Kilat tampaknya memang sangat pandai memanfaatkan kesempatan. Sewaktu binatang itu terjajar mundur, cepat digunakannya untuk menyerang dengan tusukan pedang.

Syuuuttt!

Ujung pedang Pisau Kilat meluncur cepat mengarah mata kanan binatang itu. Hati lelaki gemuk itu sudah merasa gembira ketika serangan hampir tiba pada sasaran. Tapi....

Krakkk!

“Aaahhh...?!” Pada saat ujung pedang Pisau Kilat hampir mengenai sasaran, beruang itu memapaki dengan mengangkat lengannya. Sambaran kuku-kukunya yang besar dan kuat, membuat pedang di tangan lelaki gemuk itu patah seketika! Bahkan, tubuh Pisau Kilat terhuyung sejauh satu tombak. Kuda-kudanya tergempur oleh kekuatan tangkisan binatang itu. Selagi tubuh Pisau Kilat terhuyung dan tengah berusaha mengatur keseimbangan tubuhnya, sambaran cakar beruang itu meluncur datang. Siap meremukkan batok kepala lelaki gemuk berkumis lebat itu!

“Haaaiiihhh!” Untunglah pada saat yang sangat berbahaya itu, Hantu Tangan Merah datang menolong. Sepasang telapak tangan tokoh tinggi besar itu meluncur dengan suara berkesiutan!

Bukkk!

“Graaauuuhhh!” Beruang Gunung Es sempat menangkis hantaman tangan kiri lawan. Tapi, tidak sanggup menghalangi datangnya gedoran pukulan beracun pada dada ki- rinya. Akibatnya, tubuh binatang itu terhuyung ham- pir jatuh. Meskipun begitu, binatang itu tampaknya mengalami luka dalam. Pada dada kirinya terdapat tanda merah akibat pukulan Hantu Tangan Merah, yang memang sangat ampuh dan kuat Walaupun demikian, beruang Gunung Es tidak menjadi gentar. Binatang itu siap merangsek maju.

ENAM

“Haaattt..!”

Hantu Tangan Merah rupanya dapat menduga kalau pukulannya tadi telah melukai binatang itu. Maka, lelaki tinggi besar itu pun tidak membuang-buang waktu lagi. Serangan-serangannya kembali datang laksana air bah!

Bweeet! Bweeet!

Dengan sangat bernafsu, Hantu Tangan Merah melancarkan serangkaian serangan maut Sambaran angin tajam yang disertai hawa beracun datang silih berganti. Hingga beruang Gunung Es agak kewalahan menghindarinya. Kendati demikian, binatang itu berjuang keras untuk mengimbangi serangan-serangan lawan. Sayang, pengaruh racun pukulan Hantu Tangan Merah mempengaruhi kekuatannya. Gerakan binatang itu kelihatan bertambah lambat Bahkan, benturan lengan yang terjadi membuat binatang itu terhuyung-huyung. Akibatnya Hantu Tangan Merah mampu mendesak, dan menekan dengan serangan- serangan yang kian gencar!

Bukkk!

“Grooahhh...!” Sebuah hantaman telapak tangan kanan lawan, tak dapat dihindari lagi. Tubuh binatang itu terhuyung sejauh setengah tombak. Kesempatan yang sangat baik pun digunakan Hantu Tangan Merah. Sepasang tela- pak tangannya yang mengandung racun jahat didorongkan ke depan!

Deeesss...!

Dorongan sepasang telapak tangan tokoh tinggi besar itu, membuat tubuh beruang Gunung Es terjengkang. Binatang itu melenguh merasakan dadanya terasa panas seperti terbakar. Kendatipun demikian, beruang Gunung Es berusaha merangkak bangkit untuk melanjutkan pertempuran. Binatang itu berdiri bergoyang-goyang karena rasa pening di kepalanya. Matanya pun sudah tidak bisa melihat dengan baik. Semua yang dilihatnya berbayang-bayang dan kelihatan samar-samar. Binatang itu jelas mengalami luka yang sangat parah!

“Hm Sekarang tamatlah riwayatmu, Binatang Keparat...!” teriak Hantu Tangan Merah seraya melesat dengan dorongan sepasang telapak tangan yang berisi tenaga dalam penuh.

“Haaattt..!”

Dibarengi pekik mengguntur, Hantu Tangan Merah melayang dengan kecepatan tinggi. Kali ini beruang Gunung Es tidak mungkin sanggup bertahan lagi!

Whuuusss!

Asap tipis kemerahan yang disertai bau amis memuakkan, meluncur datang mengancam nyawa beruang Gunung Es!

Blaaarrr!

“Aaakh?!”

Akibatnya membuat Hantu Tangan Merah memekik heran. Tubuhnya terlempar sejauh satu setengah tombak, dengan diiringi ledakan keras yang menggetarkan tanah di sekitar tempat itu. Lelaki tinggi besar itu merasakan dadanya sesak! Kendati demikian, Hantu Tangan Merah masih sempat berjumpalitan menyelamatkan diri agar tidak terbanting ke tanah. Tokoh itu meluncur turun dengan kedua kaki lebih dahulu.

Sepasang mata lelaki tinggi besar itu tampak menyipit menatap sosok pemuda tampan berjubah putih yang berdiri di depan beruang Gunung Es. Mengertilah Hantu Tangan Merah kalau yang memapaki pukulan mautnya adalah pemuda tampan berjubah putih itu. Wajah seramnya terlihat berubah tegang. Tenaga yang membentur pukulannya mengandung hawa dingin menusuk tulang. Dan, sosok berjubah itu terbungkus kabut bersinar putih keperakan. Ciri-ciri itulah yang membuat Hantu Tangan Merah berdebar tegang. Hingga tergambar jelas pada wajahnya.

“Kau... apakah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?” tanya Hantu Tangan Merah dengan suara berdesis.

Sosok pemuda tampan berjubah putih itu maju beberapa tindak. Sikapnya tampak tenang dan sedikit pun tidak menampakkan kesombongan. Meskipun tadi telah memapaki pukulan Hantu Tangan Merah hingga tokoh itu terdorong.

“Demikianlah orang-orang memberikan julukan kepadaku, Hantu Tangan Merah,” sahut pemuda tampan berjubah putih, yang ternyata memang Panji.

Deg!

Jawaban itu membuat hati Hantu Tangan Merah gelisah. Sebab keinginannya mendapat halangan berat Padahal ia sudah hampir menundukkan beruang Gunung Es. Kehadiran pendekar muda yang tersohor itu, akan mengacaukan rencananya bersama Pisau Kilat. Begitu pun dengan Pisau Kilat Mendengar pemuda tampan berjubah putih itu Pendekar Naga Putih, kegelisahan tergambar jelas pada raut wajahnya.

Nama tokoh muda itu sudah demikian terkenal di kalangan persilatan. Dan lagi ia sudah sering mendengar sepak-terjang pemuda itu, yang selalu menentang segala bentuk kejahatan. Pisau Kilat hanya bisa menyumpah dalam hati. Pendekar muda itu pasti akan menghancurkan harapannya untuk memperoleh peninggalan Malaikat Salju.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Hantu Tangan Merah...?” tanya Pisau Kilat berbisik.

Hantu Tangan Merah mendengus jengkel. Pertanyaan Pisau Kilat tidak segera dijawabnya. Tampaknya, tokoh tinggi besar itu sedang mencari jalan keluar agar terbebas dari Pendekar Naga Putih.

“Hm.... Sebaiknya kita cegah dulu pendekar muda itu. Bukankah para pengikutmu tengah mencari tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju? Kemungkinan besar Pendekar Naga Putih tidak tahuakan hal itu. Setelah para pengikutmu memberi tanda, baru kita tinggalkan tempat ini...,” jawab Hantu Tangan Merah, yang rupanya telah mendapat jalan keluar.

“Bagus! Usulmu tepat sekali, Hantu Tangan Merah...,” puji Pisau Kilat, meskipun hatinya terkejut

Ia memang menyuruh para pengikutnya memberi tanda bila sudah berhasil menemukan peninggalan Malaikat Salju. Tapi, tidak dikatakannya kepada Hantu Tangan Merah. Tentu saja ia jadi heran mendengar ucapan tokoh tinggi besar itu. Padahal, Hantu Tangan Merah tidak mengetahuinya.

Pisau Kilat tidak tahu kalau tokoh tinggi besar itu telah terbiasa dengan segala bentuk kejahatan dan kelicikan. Sehingga, Hantu Tangan Merah tahu kebiasaan orang-orang jahat. Bahkan, ia sendiri sudah mempunyai rencana yang tidak diketahui Pisau Kilat Tokoh tinggi besar itu ingin menguasai peninggalan Malaikat Salju seluruhnya.

Panji sendiri tidak menaruh curiga dengan sikap kedua lawannya yang saling berbisik. Sosoknya tetap tegak. Siap menghadapi kedua tokoh sesat itu. Dan baru bergeser ketika melihat Hantu Tangan Merah dan lelaki gemuk berkumis tebal, yang belum dikenalnya, merenggang melakukan kepungan. Kedua tokoh sesaat itu hendak mengeroyok Panji,

Cwiiit... cwiiit!

Pisau Kilat kali ini menggunakan sepasang senjata andalannya. Seraya mengibaskan senjatanya, lelaki gemuk itu bergerak maju dari arah kanan. Sedangkan Hantu Tangan Merah bergerak dari sebelah kiri. Sepasang telapak tangan tokoh sesat bertubuh tinggi besar itu berwarna merah. Rupanya, lelaki itu menggunakan ilmu andalannya untuk menghadapi Pendekar Naga Putih, yang kehebatannya telah sering ia dengar. Hingga Hantu Tangan Merah tidak ingin bertindak ceroboh. Dan, langsung mengerahkan ilmu andalannya.

“Hm...” Panji bergumam perlahan melihat kehebatan Hantu Tangan Merah. Kakinya terus bergerak membentuk langkah-langkah kokoh dan indah. Kemudian sepasang tangannya digerakkan membentuk cakar naga. Jelas Pendekar Naga Putih tidak memandang enteng lawan. Terbukti ia langsung menggunakan Ilmu Silat Naga Sakti untuk menghadapi keroyokan tokoh-tokoh sesat itu.

“Heaaattt..!”

Pisau Kilat berseru keras memulai serangan. Sepasang pisau terbang yang berada di tangannya bergerak cepat, menimbulkan kilatan-kilatan sinar putih. Kepala perampok itu telah mengerahkan segenap kekuatannya dalam serangan itu.

“Haiiittt..!”

Sesaat setelah tubuh Pisau Kilat bergerak, Hantu Tangan Merah menyusuli. Asap tipis kemerahan serta bau busuk yang menyengat menyertai sambaran telapak tangannya. Serangan tokoh tinggi besar itu jauh lebih berbahaya dibanding sepasang pisau di tangan Pisau Kilat

Cwiiit.. cwiiit..! Whuuukkk...!

Serangan kedua lawannya yang datang susul-menyusul tidak membuat Panji gugup. Dengan tenang kakinya bergeser menghindari. Bahkan melontarkan serangan balasan dengan sambaran sepasang tangannya yang disertai hembusan angin dingin. Sebentar saja ketiganya telah terlibat dalam pertarungan sengit!

Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat kelihatan sangat bernafsu menyarangkan serangannya ke tubuh Panji. Sayang, gerakan Pendekar Naga Putih demikian cepat, hingga sangat sulit menyentuhnya. Setelah le-wat dua puluh jurus, serangan mereka belum satu pun yang mengenai sasaran. Justru mereka sendiri yang mulai kepayahan. Sebab hawa dingin yang keluar dari tubuh Pendekar Naga Putih telah membekukan urat-urat tubuh. Sehingga, tidak jarang mereka harus berlompatan menjauhi arena pertarungan untuk menghindari serbuan hawa dingin itu.

“Haaahhh...!” Panji memekik mengejutkan. Ketika untuk kesekian kalinya Pisau Kilat dan Hantu Tangan Merah berlompatan menjauh. Seketika itu juga, tubuhnya melesat ke depan dengan sambaran sepasang telapak tangan.

Bweeettt.. bweeettt..!

“Aaahhh...?!”

“Heeeiii...?!”

Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat terpekik kaget. Serbuan hawa dingin yang mendahului datangnya serangan Pendekar Naga Putih, membuat keduanya kalap. Mereka tidak sempat lagi melihat tujuan serangan Panji. Hingga....

Bukkk! Deeesss.!

Tubuh Pisau Kilat terjengkang oleh tamparan punggung tangan Pendekar Naga Putih pada bahunya. Sedangkan Hantu Tangan Merah jatuh terguling-guling. Dada kanannya terkena hantaman telapak tangan pemuda itu.

“Uhhh...”

Rupanya, pukulan Pendekar Naga Putih tidak dimaksudkan untuk membunuh. Terbukti Hantu Tangan Merah hanya menggigil sesaat Kemudian bangkit kendati sambil mendekap dada. Melihat tetesan darah yang mengalir di sudut bibir tokoh tinggi besar itu, jelas pukulan Panji telah membuat isi dadanya terguncang. Namun demikian, tidak mengalami luka dalam yang mengkhawatirkan.

Lain dengan Pisau Kilat yang kekuatannya berada di bawah Hantu Tangan Merah. Kendati tamparan punggung tangan Pendekar Naga Putih tidak dilakukan sekuat tenaga, tapi terasa terlalu keras bagi kepala perampok itu. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, tangan kiri Pisau Kilat menjadi lumpuh. Dan untuk memulihkannya diperlukan waktu beberapa hari. Sebab, bahu yang terkena tamparan itu terlihat membengkak.

“Suuuiiittt..!”

Tiba-tiba terdengar siulan panjang yang cukup nyaring. Pisau Kilat dan Hantu Tangan Merah saling bertukar pandang sesaat. Seperti telah mendapat kata sepakat, keduanya berbalik meninggalkan tempat itu. Kedua tokoh sesat itu telah mengetahui makna siulan tadi.

Panji yang tidak mengetahui makna siulan itu, memandang kepergian lawan-lawannya dengan kening berkerut. Menduga bahwa siulan itu hanya merupakan tanda bagi Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat untuk lari meninggalkan pertarungan, pemuda itu pun tidak berniat mengejar. Dan membiarkan kedua tokoh sesat itu melarikan diri.

“Kakang...” Suara merdu yang memanggilnya dari arah belakang, membalikkan tubuh Panji. Dilihatnya dara jelita berpakaian serba hijau yang tidak lain Kenanga, tengah duduk di samping beruang putih. Sedangkan binatang itu menggeletak dengan napas satu-satu. Beruang Gunung Es tengah merasakan luka akibat pukulan beracun Hantu Tangan Merah. Panji pun bergegas menghampiri.

“Luka yang diderita binatang ini sangat parah, Kakang. Kalau tidak segera diobati, kemungkinan besar ia tidak akan sanggup bertahan,” jelas Kenanga setelah Panji duduk di sampingnya.

Tanpa banyak bicara lagi, Panji langsung memeriksa tubuh beruang berbulu putih itu. Keningnya berkerut ketika mendapat kenyataan racun akibat pukulan Hantu Tangan Merah ternyata sangat ganas. Untung beruang es memiliki daya tahan tubuh melebih binatang lain. Kalau tidak, sudah pasti binatang itu telah tewas.

Panji membuka bungkusan pakaian, dan menjejalkan obat luka beracun ke mulut binatang itu. Kemudian mengangkatnya agar dapat duduk tegak. Sepsang telapak tangannya ditempelkan ke punggung beruang Gunung Es. Dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong keluar racun yang berada di dalam tubuh binatang itu.

Kenanga yang mengetahui perbuatan kekasihnya tidak boleh terganggu. Gadis itu pun segera bangkit dan memandang berkeliling. Ia harus berjaga-jaga jika saja ada musuh datang ke tempat itu.

Apa yang dilakukan Panji tidak terlalu lama. Beberapa saat kemudian, pengobatan itu pun selesai. Meski tidak kelihatan sangat lelah, namun pada kening pemuda itu ada titik-titik keringat. Menandakan ia telah banyak mengeluarkan tenaga untuk mengobati beruang Gunung Es.

“Nggguuuhhh”

Panji dan Kenanga menarik napas lega, saat melihat binatang itu mulai bergerak bangkit, kendati masih agak lemah. Walaupun begitu mereka tampak waspada. Bukan tidak mungkin beruang Gunung Es akan menyerang mereka. Tapi, beruang itu ternyata hanya memandang keduanya dengan sorot mata agak sayu. Kemudian melangkah perlahan meninggalkan tempat itu.

Beruang Gunung Es terus bergerak menjauh diiringi pandang mata Panji dan Kenanga. Sampai sejauh itu, keduanya belum tahu apa yang akan mereka lakukan. Apakah mengikuti langkah binatang itu, atau membiarkannya, dan pergi meninggalkan tempat itu?

“Kakang,” tiba-tiba suara Kenanga memecah kebisuan di antara mereka.

“Hm...,” Panji bergumam pelan. Tanpa mengalihkan pandang dari sosok beruang Gunung Es yang semakin menjauh.

“Benarkah binatang itu peliharaan Malaikat Salju seperti yang tersiar di kalangan rimba persilatan?” tanya dara jelita itu seraya berpaling dan menatap wajah kekasihnya dari samping.

“Kemungkinan besar begitu. Sebab, tubuh binatang itu telah terlatih baik. Bahkan ketika menghadapi Hantu Tangan Merah dan kawannya, binatang itu menunjukkan gerak-gerak dasar ilmu silat tinggi. Tapi anehnya, pertarungan yang cukup ribut itu tidak membuat Malaikat Salju datang melihat. Hal ini terasa janggal bagiku,” desah Panji menjawab pertanyaan kekasihnya. Sementara bayangan beruang Gunung Es sudah semakin kecil. Kemudian lenyap di balik rimbunan pepohonan.

“Mungkin yang dikabarkan orang benar, Kakang. Siapa tahu Malaikat Salju memang telah tewas. Dan beruang Gunung Es peliharaannya, ditugaskan untuk menjaga peninggalan majikannya. Bukankah kabar itu pula yang membuat kita berada di sini...?” ujar Kenanga lagi.

“Hmmm.... Kau benar, Adikku. Kalau begitu, kita harus mengikuti binatang itu. Tapi kita harus berhati-hati. Bukan mustahil binatang itu akan menyerang bila melihat kita membuntutinya. Sebab, ia menduga kita hendak menguasai peninggalan majikannya...,” tukas Panji.

Lalu melesat dengan ilmu lari cepatnya. Pemuda itu hendak mengejar beruang Gunung Es. Tanpa banyak cakap, Kenanga segera melesat mengejar kekasihnya. Karena Panji tidak mengerahkan seluruh kekuatan ilmu larinya, maka sebentar kemudian Kenanga sudah bisa menjajari langkah pemuda itu.

TUJUH

Kendati beruang Gunung Es telah lenyap dari pandangan, namun karena binatang itu bergerak lambat, akhirnya Panji dan Kenanga dapat menemukannya. Lari sepasang pendekar muda itu diperlambat saat sosok beruang putih sudah kelihatan beberapa belas tombak di depan mereka. Keduanya menjaga jarak, agar tidak terlalu dekat dengan binatang itu.

“Menurutku, binatang itu hendak menuju tempat tinggal majikannya, Kang,” ujar Kenanga menduga-duga.

“Ya...,” sahut Panji perlahan sambil tetap mengawasi sosok beruang Gunung Es, yang mulai mendaki lereng gunung. Pemuda itu menghentikan larinya. Karena jalan yang dilalui mulai agak sulit. Dan gerak beruang Gunung Es semakin lambat. Kenanga maklum akan maksud kekasihnya. Hingga tidak membantah saat lengannya dipegang Panji agar dara jelita itu menghentikan larinya.

“Hm.... Apakah Malaikat Salju mendirikan tempat tinggalnya di puncak gunung ini...?” gumam Kenanga perlahan. Seperti bertanya pada diri sendiri. Melihat beruang putih itu terus mendaki lereng gunung.

“Kita lihat saja nanti,” tukas Panji menyahuti. Kemudian kembali mengajak dara jelita itu untuk mengejar. Sebab, beruang Gunung Es sudah menghilang di sebuah kelokan.

Kali ini jalan yang mereka lalui mulai mendatar dan tidak sesulit tadi. Dan beberapa tombak kemudian mereka bergerak turun. Sepertinya langkah beruang Gunung Es menuju lembah. Mereka pun terus mengikuti.

“Sudah kuduga Malaikat Salju tidak tinggal di atas puncak gunung ini. Kalau benar tokoh sakti itu mendirikan tempat tinggal di atas sana, tidak mungkin binatang peliharaannya akan berjaga di kaki gunung...,” gumam Panji. Rupanya pemuda itu sudah sejak semula menduga kalau tempat tinggal tokoh yang berjuluk Malaikat Salju tidak mungkin berada di atas puncak gunung.

“Mengapa Kakang tidak mengatakannya kepadaku...?” tegur Kenanga ketika mendengar ucapan kekasihnya.

“Aku baru menduganya. Tapi melihat jalan yang ditempuh beruang putih itu semakin menurun, jelas kemungkinan besar ia menuju lembah,” jawab Panji menjelaskan kepada kekasihnya.

Kenanga diam, saja dan menganggukkan kepala. Saat itu, mereka sudah tiba di sebuah lapangan berumput segar yang cukup luas. Udara di tempat itu sangat dingin menusuk tulang. Kalau saja mereka bukan orang-orang yang memiliki tenaga dalam kuat, pasti tidak akan mudah tiba di tempat itu.

“Hm.... Rupanya banyak sekali orang yang mengincar peninggalan Malaikat Salju. Sayang mereka tidak mengukur kemampuan dirinya...,” gumam Kenanga ketika melihat belasan sosok mayat bergeletakan di tempat itu. Melihat keadaannya, jelas sosok-sosok itu mati karena tak kuat menahan serangan hawa dingin.

Sedangkan Panji hanya menghela napas panjang melihat manusia-manusia serakah itu, yang mengorbankan nyawa dengan percuma. Pemandangan itu membuktikan betapa manusia memiliki sifat serakah dan tak pernah puas terhadap apa yang dimilikinya. Tujuan kedatangan dirinya dan Kenanga ke tempat ini tidak sama seperti yang diinginkan orang-orang serakah itu. Gemblengan guru mereka membuat pemuda itu tidak pernah menginginkan apa yang dipunyai orang lain. Menurut gurunya, apa yang dimiliki pemuda itu telah lebih dari cukup. Hanya tinggal menyempurnakannya saja. Wejangan itulah yang membuat Panji tidak merasa kekurangan, dan mensyukuri apa yang dimiliki.

“Kakang, lihat..!” seruan Kenanga membuyarkan lamunan Panji.

Pemuda itu mengalihkan pandang matanya ke arah yang ditunjuk kekasihnya. Dilihatnya sosok beruang putih memasuki sebuah mulut goa yang semula tertutup semak-semak. Lalu beruang itu lenyap di dalamnya. Semula Panji berniat mengajak kekasihnya masuk ke dalam goa. Namun pemuda itu segera membatalkan niatnya. Saat itu beruang putih tampak melesat keluar seraya menggeram marah. Cepat Panji menarik lengan Kenanga untuk bersembunyi di semak-semak.

“Apa yang menyebabkan beruang itu marah, Kang...?” tanya Kenanga mengintip dari semak-semak.

“Entahlah,” sahut Panji. Seperti halnya Kenanga, Panji pun memperhatikan gerak-gerik binatang murka itu dari celah-celah dedaunan. Dan tetap berada di tempat persembunyiannya ketika beruang Gunung Es berlari meninggalkan lembah.

Setelah sosok beruang berbulu putih itu lenyap dari pandangan, bergegas keduanya melihat keluar. Untuk beberapa saat mereka masih memperhatikan ke arah beruang itu lenyap. Kemudian berbalik memperhatikan goa yang tadi dimasuki beruang Gunung Es. Pada wajah keduanya tergambar rasa penasaran yang sangat

“Mari kita lihat. Apa yang telah membuat binatang itu demikian murka...?” ajak Kenanga. Lalu melesat ke arah mulut goa yang cukup besar itu.

Kenanga yang agaknya juga berpikiran sama segera menjajari langkah kekasihnya. Meskipun menduga tempat itu tidak ada penghuninya, namun sepasang pendekar muda itu tetap waspada dan tidak bertindak ceroboh. Mereka memasuki mulut goa dengan hati-hati. Ruangan di dalam goa ternyata cukup luas. Tak ubahnya sebuah tempat tinggal. Sayang, goa yang tidak seberapa dalam itu terlihat kosong. Hanya ada beberapa peti berukuran sedang yang juga kosong!

“Celaka! Rupanya ada orang yang berhasil menemukan tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju! Inilah yang menyebabkan binatang itu murka...,” ujar Panji segera dapat menduga penyebab kemarahan beruang Gunung Es.

“Tapi..., siapa kira-kira yang telah mencurinya, Kang...?” tanya Kenanga gusar.

“Mengingat berita ini sudah tersebar luas di kalangan persilatan, sulit rasanya untuk menerka siapa pencuri laknat itu. Yang jelas bila peninggalan Malaikat Salju tidak segera kita ketemukan, rimba persilatan akan dilanda bahaya besar! Pencuri itu pasti kaum golongan sesat,” jawab Panji yang juga kelihatan cemas dengan lenyapnya peninggalan Malaikat Salju.

Peninggalan tokoh sakti yang telah lama lenyap dari kalangan persilatan itu, sudah pasti berupa kitab ilmu silat dan benda-benda pusaka lainnya. Kalau pencuri itu sempat mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Malaikat Salju, jelas akan membahayakan banyak orang. Dan kemungkinan besar akan sulit sekali menundukkannya. Mengingat Malaikat Salju merupakan salah seorang tokoh puncak yang banyak memiliki ilmu-ilmu tinggi dan langka.

“Kalau begitu, orang pertama yang harus kita cari adalah Hantu Tangan Merah. Sebab, bukan tak mungkin tokoh itu tahu orang yang telah melakukan perbuatan keji ini...,” ujar Kenanga. Mengingatkan kekasihnya akan tokoh tinggi besar itu.

“Ya. Tapi, sayangnya Hantu Tangan Merah tidak memiliki tempat tinggal tetap. Ia seorang pengembara seperti kita...,” tukas Panji tampak berpikir keras. Pemuda itu merasa ikut bertanggung jawab atas lenyapnya peninggalan Malaikat Salju.

“Meskipun demikian kita harus segera mencarinya, Kang...,” lanjut Kenanga. Gadis jelita itu merasa tokoh sesat itulah satu-satunya yang dapat dijadikan petunjuk saat itu.

“Tentu saja. Ayolah...,” ajak Panji yang segera meninggalkan lembah Gunung Es. Sebentar kemudian, bayangan keduanya sudah terlihat samar. Kemudian lenyap sama sekali.

********************

“Tolooong... tolooong...!”

Penduduk Desa Warangan berlarian kian kemari sambil berteriak-teriak ketakutan. Wajah mereka menggambarkan rasa takut dan ngeri yang hebat! Masing-masing mencari keselamatan diri sendiri.

“Groaaahhh...!”

Rupanya, makhluk besar berbulu putih itu yang membuat penduduk desa kalang kabut. Binatang yang seperti telah menjadi gila itu mengamuk, membunuh siapa saja yang ditemuinya. Tidak peduli korbannya wanita tua atau anak-anak. Siapa saja yang mendekat, pasti akan menjadi sasaran kuku-kuku dan taringnya yang tajam seperti mata pedang.

“Keparat! Dari mana datangnya binatang gila itu...!” desis seorang lelaki bertubuh sedang yang mengenakan pakaian serba hitam. Ia memimpin belasan orang kawannya untuk menghadang binatang itu agar tidak menambah jumlah korban lagi.

Sedangkan binatang raksasa berbulu putih yang tidak lain beruang Gunung Es, semakin bertambah marah melihat orang-orang mengepungnya. Geramannya terdengar semakin keras. Binatang itu menubruk orang yang berada didepannya.

“Aaahhh...!” Lelaki bertubuh gemuk yang merupakan salah seorang keamanan Desa Warangan, kaget bukan main. Cepat ia melompat ke belakang menyelamatkan diri. Tapi....

Breeettt..!

“Aaakhhh...?!” Lelaki malang itu menjerit ngeri. Cakar beruang Gunung Es telah merobek perutnya. Bahkan tidak sampai di situ saja. Tubuh lelaki gemuk itu diangkat dan dilemparkan dengan sekuat tenaga. Sehingga tanpa ampun lagi terbanting ke tanah. Sudah pasti lelaki itu tidak mungkin selamat. Apalagi pada bagian perutnya terdapat luka yang dalam.

“Binatang Gila!” maki lelaki bertubuh sedang itu. Merasa dirinya paling bertanggung jawab atas keselamatan warga desanya, ia segera bertindak maju dengan pedang di tangan. Kemudian membabatkan senja- tanya ke tubuh beruang Gunung Es.

Whuuuttt..!

Secercah sinar putih berkilau saat pedang di tangan lelaki itu bergerak menyilang mengarah tubuh bagian depan binatang itu. Dari suara sambaran anginnya, tenaga yang dipergunakan lelaki bertubuh sedang itu jelas cukup kuat. Tapi....

“Heiii. ?!” Lelaki bertubuh sedang menahan seruan kaget. Sambaran pedangnya dapat dielakkan binatang itu dengan gerakan yang menunjukkan jurus silat Kenyataan itu hampir-hampir tidak dapat dipercayainya. Sehingga lelaki itu tertegun, dan lupa akan bahaya yang siap merenggut nyawanya!

“Ki Bayak, awaaas...!” melihat lelaki bertubuh sedang itu belum juga sadar kendati beruang Gunung Es sudah mengulurkan lengannya, salah seorang kawan lelaki bernama Ki Bayak itu berseru memperingatkan. Teriakan itu membuat Ki Bayak tersentak dari keterkejutannya. Cepat tubuhnya dilempar ke belakang dengan lompatan panjang. Tapi, gerakan beruang Gunung Es itu masih lebih cepat. Sehingga....

Tappp!

Kuku-kuku tajam dan kuat itu tahu-tahu telah mencekik batang leher Ki Bayak.

“Groooaaarrr...!” Diiringi geraman keras beruang Gunung Es mengangkat tubuh lelaki itu hingga mempererat cekikannya. Ki Bayak tidak sempat berteriak lagi. Lelaki bertubuh sedang itu tewas seketika itu juga dengan tulang leher remuk!

Kematian Ki Bayak yang merupakan pimpinan keamanan desa, membuat yang lainnya menjadi pucat! Kendati demikian, beberapa di antaranya berlaku nekat. Mereka berlompatan maju seraya membabatkan pedangnya ke tubuh binatang itu. Tapi....

Trakkk! Trakkk!

“Aaahhh.?!”

Mereka berteriak kaget hampir bersamaan! Sebab bukan tubuh binatang itu yang terluka, tapi senjata mereka malah patah! Tubuh beruang Gunung Es tidak dapat dilukai senjata tajam. Tentu kenyataan itu sukar mereka percayai.

“Beruang Setan?!”

“Binatang Iblis...?!”

Terdengar seruan-seruan bernada gentar dari para keamanan desa. Semakin sadarlah mereka kalau beruang besar berbulu putih itu tidak mungkin dapat dikalahkan. Kenyataan itu langsung menerbangkan keberanian yang memang hanya sedikit di hati mereka. Para keamanan desa pun mengambil keputusan untuk lari!

Sementara beruang Gunung Es terus melangkah, sambil memperdengarkan geramannya yang sanggup membuat lutut orang gemetar dan sukar dilangkah- kan. Tentu saja penduduk desa semakin ketakutan. Dan buru-buru mengunci pintu rumahnya.

Seperti tidak puas dengan korban-korbannya, beruang Gunung Es tiba-tiba membelokkan langkahnya ke sebuah kedai makan. Sepasang mata binatang itu menangkap beberapa kepala mengintai dari jendela kedai. Kedatangan binatang yang tengah murka itu membuat seisi kedai kalang kabut. Mereka segera berlarian keluar melalui pintu belakang. Sehingga tidak ada korban jiwa. Hanya bangunan kedai itu saja yang roboh diamuk beruang Gunung Es.

Karena tidak menemukan sesosok tubuh pun di dalam kedai itu, beruang Gunung Es bergerak meninggalkan tempat itu. Dan melanjutkan langkahnya menyusuri jalan utama desa yang menjadi lengang dan sunyi. Geraman-geramannya terdengar terus sepanjang jalan, mengiringi langkah kakinya. Tak seorang pun berani menampakkan diri. Meski binatang itu telah merobohkan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan yang dilalui. Ketika tiba di pertigaan jalan, beruang Gunung Es tampak menghentikan langkahnya. Kepalanya menggeleng ke kiri-kanan. Seolah hendak menentukan arah mana yang harus dituju.

Belum lagi binatang itu mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dari sebelah kirinya. Binatang itu langsung menoleh sambil memperdengarkan geramannya yang menggetarkan dada. Seorang lelaki berperawakan gagah berusia sekitar lima puluh lima tahun, terlihat mengerutkan kening. Lelaki gagah itu melompat turun dari atas punggung kuda dalam jarak empat tombak lebih. Kemudian menoleh kekanan.

“Binatang itukah yang kau katakan sangat kebal dan pandai bersilat...?!” tanya lelaki gagah itu kembali mengalihkan perhatiannya ke arah beruang Gunung Es.

“Benar, Ki. Binatang laknat itu telah membunuh Ki Bayak serta beberapa penduduk dan keamanan desa...,” sahut lelaki berperawakan tinggi kurus. Rupanya lelaki itu telah melaporkan beruang yang dianggapnya gila kepada kepala desanya.

“Hm...,” lelaki berperawakan gagah bergumam sambil tetap mengawasi binatang berbulu putih itu. Ia segera teringat akan kabar yang tersebar di kalangan persilatan. Hingga menduga binatang itulah yang tengah dibicarakan orang banyak.

“Kalian berdua ikut aku...!” perintah lelaki gagah seraya menghunus senjata. Kendati ia merasa ragu dapat menundukkan beruang besar itu. Namun tanggung jawab yang ada di bahunya, membuatnya melangkah maju dengan senjata di tangan.

Dua orang pembantu utama Kepala Desa Warangan, bergegas mengiringi langkah lelaki gagah itu. Di tangan mereka tergenggam sebatang pedang. Ketegangan tergambar jelas pada wajah keduanya. Beruang Gunung Es tampak bergerak menyongsong ketiga orang itu. Sesekali terdengar geramannya. Membuat dada ketiga lelaki itu berdebar keras.

“Hati-hati. Binatang ini kelihatannya sangat berbahaya, “ lelaki berperawakan gagah mengingatkan kedua pembantunya. Dan memberi isyarat untuk menyebar agar perhatian beruang itu terpecah.

Whuuuttt.. whuuuttt..!

Terdengar suara sambaran angin berkesiutan saat pedang di tangan lelaki gagah itu bergerak menyilang. Kelihatan sekali ia telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur binatang itu. Kepala Desa Warangan tidak ingin bertindak gegabah dengan memandang rendah beruang putih itu. Apalagi mengingat kepala keamanan desa telah tewas di tangan binatang itu.

“Tunggu...!”

Saat Kepala Desa Warangan dan kedua pembantunya sudah siap menerjang maju, tiba-tiba terdengar teriakan keras. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh sedang terbungkus jubah panjang putih telah berdiri di dekat ketiga lelaki itu, langsung menghadapi beruang Gunung Es.

Ki Drupada, Kepala Desa Warangan dan kedua pembantunya terkejut bukan main! Sosok berjubah putih Itu muncul begitu saja tanpa mereka ketahui kedatangannya. Seolah muncul dari dalam bumi bagai hantu. Sehingga, Ki Drupada dan kedua pembantunya bergerak mundur dengan wajah agak pucat!

“Maaf, kalau kedatanganku telah mengejutkan kalian...,” ujar sosok berjubah putih yang ternyata seorang pemuda tampan. Seraya berkata demikian, langkahnya digeser ke samping dengan tetap mengawasi beruang Gunung Es.

Belum lagi Ki Drupada sempat membuka suara, kembali ia dikejutkan dengan kelebatan sesosok bayangan hijau. Sepasang mata lelaki tua itu terbelalak melihat seorang dara jelita telah berdiri di sebelah pemuda tampan berjubah putih itu. Seolah belum mempercayai penglihatannya, Ki Drupada menggeleng perlahan sambil mengerjapkan sepasang matanya. Hatinya baru yakin akan keberadaan sepasang orang muda itu, setelah mengerjap beberapa kali. Sosok pemuda tampan dan dara jelita itu tetap berada di tempat semula.

“Siapa kalian? Apakah binatang itu peliharaan kalian yang terlepas...?” setelah beberapa saat lamanya, akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulut Ki Drupada.

“Namaku Panji. Sedangkan kawanku ini Kenanga. Binatang itu bukan peliharaan kami. Tapi kami tahu dari mana beruang putih itu berasal. Kami berdua mengikutinya sejak dari Gunung Es. Sayang kami sempat kehilangan jejak, hingga terlambat mencegah kejadian yang menimpa penduduk desa ini..,” jawab pemuda tampan berjubah putih yang memang Panji. Suara dan sikapnya yang sopan serta menunjukkan persahabatan, membuat Ki Drupada langsung merasa suka dengan pemuda itu. Lelaki tua itu langsung mengangguk dan membalas senyum Panji.

“Lalu, apa yang hendak kalian perbuat pada binatang berbahaya itu?” tanya Ki Drupada lagi. Sepertinya merasa khawatir akan keselamatan pasangan muda yang menarik hatinya itu. Perasaan yang tergambar jelas pada wajahnya, membuat Panji dan Kenanga maklum. Hingga keduanya tidak berkata apa-apa.

“Maaf, Ki. Pada dasarnya binatang ini tidak jahat. Tapi karena suatu hal, maka ia berubah ganas dan mencelakai siapa saja yang ditemuinya. Kami akan mencoba menjinakkannya kembali. Mudah-mudahan berhasil...,” jawab Panji tanpa menyombongkan diri. Bahkan pemuda itu terkesan memiliki kerendahan hati.

“Tapi..., beruang itu sangat berbahaya. Aku khawatir nanti kalian akan celaka...,” bantah Ki Drupada.

Jawaban orang tua itu membuat Panji dan Kenanga tersenyum. Dari ucapan itu dapat diduga kemuliaan hati Kepala Desa Warangan. Lelaki itu tidak ingin melihat orang lain celaka hanya karena hendak membelanya. Kenyataan itu menimbulkan rasa kagum mereka pada Ki Drupada.

“Tidak perlu khawatir, Ki. Kami tahu cara untuk menjinakkannya,” tukas Panji.

Lalu melangkah mendekati beruang Gunung Es, yang sepertinya telah mengenali pemuda tampan berjubah putih itu. Buktinya, semenjak tadi binatang itu hanya menggeram saja tanpa menyerang. Beruang Gunung Es kelihatan menjadi ragu ketika melihat pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya dari kematian.

“Aku tahu kau marah dengan lenyapnya peninggalan majikanmu,” ujar Panji yang menduga beruang itu mengerti akan kata-katanya, meski hanya dengan naluri. “Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku dan kawanku akan membantu menemukan kembali benda-benda milik majikanmu itu. Ikutlah bersama kami untuk mencari pencuri keparat itu...,”

Panji melanjutkannya ucapannya ketika melihat beruang Gunung Es terdiam seraya memperdengarkan lenguhannya. Sehingga, pemuda itu bertambah yakin kalau binatang itu dapat menangkap arti kata-katanya.

Ki Drupada serta para pembantunya terbengong-bengong melihat pemuda itu berbicara seperti tengah berhadapan dengan manusia. Keheranan mereka semakin bertambah ketika melihat sepasang mata kecil binatang ganas itu tampak meredup. Tak ubahnya seekor binatang manja yang tengah berhadapan dengan majikannya.

Panji tersenyum melihat gerak-gerik beruang Gunung Es. Pemuda itu merasa yakin kalau binatang itu ingin menunjukkan bahwa kata-katanya barusan hendak dipatuhi. Maka, ia segera berpamitan kepada Ki Drupada.

“Beruang itu adalah piaraan seorang tokoh sakti yang menyepi di lembah Gunung Es. Itulah sebabnya, ia mengerti kata-kata yang kuucapkan. Biarlah aku memintakan maaf atas segala yang telah dilakukannya. Aku akan membawa binatang ini mencari pencuri harta pusaka majikannya...,” jelas Panji. Ki Drupada serta orang-orangnya hanya bisa menganggukkan kepala dengan wajah bodoh.

“Anak Muda, siapa kau sebenarnya...?” seru Ki Drupada. Yang baru tersadar dari keheranannya saat Panji, Kenanga, dan beruang Gunung Es telah berjalan jauh. Lelaki tua itu merasa penasaran melihat pemuda itu dapat dengan mudah menundukkan beruang besar dan ganas itu. Sehingga, ia mulai menduga pemuda tampan berjubah putih pasti bukan orang sembarangan. Sayang, ia terlambat menyadarinya.

Panji tidak menjawab pertanyaan Ki Drupada. Pemuda itu membalikkan tubuh dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Hingga Ki Drupada tak bisa berkata apa-apa, kecuali mengiringi kepergian mereka dengan pandangan mata.

“Pemuda tampan itu pasti seorang tokoh muda yang digdaya. Sayang, aku tidak sempat mengenalnya lebih jauh...,” desah Ki Drupada setelah sosok Panji lenyap dari pandangan mata. Tidak satu pun dari pembantu-pembantunya yang menimpalinya. Mereka memang tidak mengerti dan tidak merasa perlu mengenal pemuda tampan berjubah putih itu.

Ki Drupada lalu memerintahkan orang-orangnya untuk menguburkan mayat-mayat korban beruang Gunung Es, serta merapikan rumah-rumah yang dirobohkan binatang itu. Sedangkan ia sendiri melompat ke atas punggung kuda. Dan menggebah binatang tunggangan itu menuju tempat kediamannya.

********************

DELAPAN

Lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu melangkah terseok-seok. Tubuhnya dibanjiri oleh peluh yang tak henti-henti mengalir dari wajah dan tubuhnya. Nafasnya terdengar berat. Menandakan bahwa ia sangat lelah. Kendati demikian, lelaki gagah itu terus melangkah. Sesekali ia berhenti untuk mengatur nafasnya yang hampir putus dengan bersandar pada batang pohon. Kemudian kembali berjalan setelah sebelumnya menoleh ke belakang. Seperti merasa khawatir ada orang yang mengikutinya.

Ketika baru saja lelaki gagah itu menyeberangi sebuah sungai kecil, tubuhnya terlonjak mundur hampir jatuh. Dari arah sampingnya, muncul tiga sosok tubuh yang membuat jantungnya hampir putus. Untung salah satu dari ketiga sosok tubuh itu, yang mengenakan jubah putih, bertindak cepat dengan mengulurkan tangannya. Sehingga, lelaki gagah itu tidak terjatuh ke sungai.

“Sssiapa... kau, Anak Muda...?” tanya lelaki gagah itu dengan gugup. Sinar kecurigaan terpancar jelas pada sepasang matanya.

Pemuda yang tidak lain Panji itu hanya tersenyum. Tapi menduga kalau orang itu tengah melarikan diri dari sesuatu yang ditakuti, Panji pun tidak ingin membuat lelaki tua itu semakin gelisah. Maka, ia segera menjawabnya dengan ramah dan penuh persahabatan.

“Itu... itu...,” desis lelaki gagah seraya menudingkan jari telunjuknya ke arah beruang Gunung Es, setelah Panji dan Kenanga memperkenalkan diri. Tampaknya lelaki gagah itu sangat takut melihat beruang Gunung Es yang datang bersama Panji dan Kenanga. Apalagi, ketika beruang itu memperdengarkan geramannya saat melihat lelaki gagah itu.

“Tenanglah, Putih. Jangan membuat orang ini bertambah takut,” ujar Panji kepada binatang itu. Meski kelihatan patuh, namun beruang itu masih menggeram lemah dan menunjukkan taringnya.

“Kelihatannya Paman seorang pemburu. Mengapa Paman ketakutan? Adakah sesuatu yang menyusahkan, Paman?” tanya Panji hati-hati dan berusaha agar lelaki tua itu mempercayainya.

Lelaki gagah yang tidak lain Ki Lodana memandang Panji dan Kenanga sesaat. Kemudian menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya. Meski ceritanya terpatah-patah karena nafasnya masih memburu, namun semuanya dapat ditangkap jelas oleh Panji dan Kenanga. Sepasang pendekar muda itu tampak terkejut mendengar cerita Ki Lodana.

“Mereka membunuh ketiga kawanku setelah menemukan goa tempat penyimpanan peninggalan Malaikat Salju. Untung aku tergelincir cukup jauh ketika ditendang salah seorang pengikut Pisau Kilat. Mereka mengira aku telah tewas. Begitu mereka pergi, aku bergegas meninggalkan Gunung Es untuk pulang ke desaku...”

Ki Lodana mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang. Setelah menjelaskan semua itu kepada Panji dan Kenanga, hati Ki Lodana terasa agak lega. Baginya, cerita itu merupakan tumpahan kesedihandan kedukaan hati karena kematian kawan-kawannya.

“Hm.... Jadi, yang mencuri peninggalan Malaikat Salju orang-orang Pisau Kilat. Kalau tidak salah, bukankah tokoh berjuluk Pisau Kilat berperawakan gemuk dan berkumis lebat yang bersama-sama Hantu Tangan Merah?” ujar Panji. Segera dapat menebak bahwa Pisau Kilat lelaki gemuk berkumis lebat yang mengeroyoknya bersama Hantu Tangan Merah.

“Benar. Dialah yang berjuluk Pisau Kilat. Seorang kepala perampok yang berhati kejam...,” sahut Ki Lodana membenarkan dugaan Panji.

“Tahukah Paman, di mana markas para perampok itu?” tanya Panji membuat Ki Lodana gelisah. Lelaki tua itu agaknya merasa takut dengan tokoh yang berjuluk Pisau Kilat

“Bantulah kami, Paman. Kami berdua hendak mengembalikan barang-barang Malaikat Salju ke tempatnya semula. Binatang peliharaan tokoh sakti itu akan terus berkeliaran mencari pencuri peninggalan majikannya, selama benda-benda itu belum diketemukan,” bujuk Panji. Pemuda itu dapat membaca rasa cemas di hati Ki Lodana.

“Kami menjamin keselamatan Paman. Percayalah, kami akan memberi hukuman yang setimpal kepada orang-orang jahat itu. Mereka tidak akan lagi menimbulkan keresahan bagi orang banyak,” Kenanga ikut menimpali, agar Ki Lodana merasa terlindung dan mau menunjukkan markas Pisau Kilat.

“Baiklah. Aku akan membantu kalian...,” akhirnya Ki Lodana bersedia menunjukkan markas gerombolan Pisau Kilat, setelah berpikir cukup lama.

“Terima kasih, Paman. Keselamatan Paman akan kami jamin. Beruang Gunung Es pun akan ikut menjaga keselamatan Paman. Bukanlah begitu, Putih...?” ujar Panji menoleh ke arah beruang Gunung Es. Lalu dibelainya tubuh binatang itu, yang menggeram lirih.

Ki Lodana menyimpan keheranan hatinya melihat beruang besar itu sangat patuh kepada Panji dan Kenanga. Lelaki gemuk itu menduga kalau sepasang orang muda itu pasti bukan orang sembarangan. Sebab, ia sendiri tahu akan kehebatan dan kelebihan binatang raksasa itu. Setelah Ki Lodana menyetujui permintaan Panji, pemuda itu memberi sebutir pil berwarna putih untuk memulihkan kekuatan lelaki gagah itu. Dan Ki Lodana tidak merasa ragu. Obat itu langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Wah. Ternyata kau seorang tabib yang sangat pandai, Panji. Obatmu benar-benar manjur...,” puji Ki Lodana. Lelaki itu merasa ada aliran hawa hangat setelah menelan pil putih seperti salju itu.

“Terima kasih atas pujian Paman...,” ujar Panji tanpa terkesan sombong

Kemudian bergegas mengikuti langkah orang tua itu, yang kelihatan sangat bersemangat menunjukkan markas gerombolan Pisau Kilat. Setelah merasakan kemujaraban obat pemberian Panji, Ki Lodana semakin bertambah yakin kedua orang muda itu bukan orang sembarangan. Menurutnya, hanya orang-orang pandai saja memiliki obat demikian luar biasa. Ia menduga sepasang orang muda itu murid tokoh silat tingkat tinggi.

********************

“Tunggu...!”

Ketika mereka telah melewati hutan karet, tiba-tiba Panji berseru perlahan. Hingga langkah Ki Lodana yang berada di depan terhenti, dan menoleh ke arah pemuda itu.

“Ada apa, Kang?” tanya Kenanga. Meskipun telah menduga apa yang membuat kekasihnya berhenti, namun pertanyaan itu terlontar juga dari bibirnya.

“Paman, di sebelah manakah arah markas Gerombolan Pisau Kilat?” tanya Panji. Tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya.

“Di sebelah utara,” sahut Ki Lodana dengan wajah heran. Ia belum mengerti, mengapa Panji tiba-tiba bertanya demikian kepadanya.

“Hm.... Kalau begitu kita harus bergegas. Aku mendengar suara pertempuran dari sebelah utara...,” tukas Panji. Hingga Ki Lodana terkejut bukan main. Sebab, ia tidak mendengar suara pertempuran sedikitpun.

“Tapi...,” Ki Lodana mencoba membantah.

“Paman, naiklah ke punggung si putih...,” potong Panji cepat Kemudian memberi isyarat kepada beruang besar itu. Dan, beruang Gunung Es tidak memberontak ketika Ki Lodana naik ke punggungnya. Binatang itu segera melesat mengikuti Panji dan Kenanga yang sudah berlari lebih dulu.

Tidak berapa lama kemudian, tibalah mereka di dekat sebuah bukit yang subur. Apa yang didengar Panji memang tidak keliru. Di tempat itu tengah berlangsung sebuah pertempuran yang cukup seru. Yang membuat Panji heran adalah orang-orang yang tengah melakukan pertempuran itu. Pemuda itu melihat Hantu Tangan Merah tengah dikeroyok Pisau Kilat dan para pengikutnya.

Namun, keheranan itu tidak berlangsung lama. Panji segera teringat akan sifat tokoh-tokoh golongan sesat yang berwatak licik dan serakah. Hingga, langsung dapat menduga kalau Pisau Kilat ingin menguasai barang curian itu seluruhnya. Sehingga Hantu Tangan Merah marah dan menggempurnya.

Pertempuran yang kelihatan tidak seimbang itu langsung berhenti ketika Hantu Tangan Merah melihat kemunculan Panji. Dan tokoh tinggi besar itu bertambah kaget melihat beruang Gunung Es datang bersama Pendekar Naga Putih. Sekali pandang saja, tahulah Hantu Tangan Merah kalau beruang itu telah diselamatkan Panji. Buktinya binatang itu terlihat patuh kepada pemuda itu.

Pisau Kilat pun tidak kalah kagetnya melihat kemunculan Pendekar Naga Putih, bersama beruang Gunung Es serta Ki Lodana. Tahulah kepala perampok itu bahwa yang memberitahukan tempat tinggalnya pemburu kawakan itu. Diam-diam ia merasa geram dan berjanji akan mencincang tubuh Ki Lodana.

“Kepung mereka...!” perintah Pisau Kilat yang maklum akan maksud kedatangan Pendekar Naga Putih. Lelaki itu melompat menyongsong kedatangan pemuda tampan itu. Sifat kaum golongan sesat memang terkadang tidak lumrah. Padahal Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat baru saja bertarung mati-matian tadi. Tapi setelah melihat kehadiran pemuda itu, keduanya langsung bergabung meski tanpa kata sepakat.

Melihat orang-orang itu bergerak menyongsong kedatangannya, Panji memberi isyarat kepada Kenanga dan Ki Lodana untuk tetap di tempatnya. Demikian juga beruang Gunung Es. Sedangkan pemuda itu sendiri sudah bergerak maju menghadapi para pengeroyoknya. Sikapnya tetap tenang. Tanpa rasa gentar sedikit pun.

“Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Rupanya, kau pun menghendaki peninggalan Malaikat Salju! Tidak kusangka pendekar sehebat dirimu masih merasa kurang dengan apa yang kau miliki,” geram Pisau Kilat marah bukan main karena campur tangan pendekar muda itu. Hingga dengan liciknya, menuduh Pendekar Naga Putih salah seorang pemburu peninggalan Malaikat Salju.

Panji kelihatan tidak terpancing meski dituduh demikian. Pemuda itu malah menyunggingkan senyumnya. Dan menatap wajah Pisau Kilat dengan sorot mata tajam menusuk jantung.

“Pisau Kilat. Kau boleh menuduhku apa saja. Aku tidak peduli. Yang jelas, aku memang hendak mengambil barang-barang curian itu darimu. Dan akan mengembalikannya ke tempat semula,” sahut Panji tenang. Namun mengandung perbawa yang amat kuat. Hingga dada Pisau Kilat berdebar.

“Huh! Tidak kusangka pendekar muda yang namanya tersohor di kolong langit ternyata seorang munafik! Meskipun aku dikenal sebagai orang jahat, tapi aku tidak serendah dirimu, Pendekar Naga Putih! Dan aku tidak perlu menggunakan segala macam dalih. Sebab, aku memang menginginkan benda peninggalan Malaikat Salju yang berupa kitab ilmu silat serta pedang pusaka langka. Nah, bukankah aku lebih jujur darimu?!”

Hantu Tangan Merah yang juga merasa marah kepada Pendekar Naga Patih, dan ikut menyudutkan pelmuda tampan itu. Bahkan, kata-kata yang dilontarkannya jauh lebih tajam dari ucapan Pisau Kilat. Meskipun begitu, Panji tetap tenang. Dan tidak menunjukkan tanda-tanda amarahnya terpancing. Bahkan, senyumnya semakin bertambah lebar. Membuat lawan-lawannya jengkel melihatnya.

“Bunuh pemuda munafik itu...!”

Karena tidak bisa menahan kesabarannya lagi, Pisau Kilat langsung memerintahkan anak buahnya menggempur Pendekar Naga Putih. Ia sendiri tidak bergerak maju. Hanya berdiri menunggu kesempatan baik untuk melakukan serangan.

Namun belum Panji bergerak melakukan perlawanan, tiba-tiba terdengar geraman keras. Disusul dengan melesatnya beruang Gunung Es menyambut kedatangan para pengikut Pisau Kilat!

“Putih, jangan...!” Panji mencoba mencegah beruang itu. Namun, beruang Gunung Es tidak mematuhi teriakan pemuda itu. Binatang itu terus menerjang para pengikut Pisau Kilat yang tentu saja sangat terkejut!

“Yeaaahhh...!”

Merasa marah dengan majunya binatang itu, Pisau Kilat langsung mengibaskan kedua lengannya bergantian. Sinar-sinar putih berkilauan disertai suara berdesing tajam. Empat batang pisau terbang bergerak mengancam keselamatan Ki Lodana yang saat itu berdiri di dekat Kenanga. Sungguh licik sekali perbuatan kepala perampok itu!

“Bangsat Curang!” seru Kenanga geram. Melihat kelicikan lelaki gemuk berkumis lebat itu. Tangannya cepat bergerak mencabut Pedang Sinar Bulan yang melibat pinggangnya. Kemudian, dikibaskan menyilang meruntuhkan senjata gelap itu. Sehingga, Ki Lodana menarik napas lega.

“Haaattt...!”

Hantu Tangan Merah pun mempergunakan kesempatan selagi perhatian Pendekar Naga Putih terpecah. Tokoh tinggi besar itu melesat dengan serangan-serangan mautnya yang mengandung racun ganas!

Bwettt.. bweeettt..!

Sepasang telapak tangan yang mengeluarkan pukulan beracun berhawa panas itu, datang berganti-ganti mengancam tubuh Pendekar Naga Putih. Pada saat yang hampir bersamaan, Pisau Kilat melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali. Dari sebelah atas, tokoh itu melepaskan sebuah serangan gelap secara tiba-tiba!

Syuttt.. syuttt...!

Enam batang pisau terbang langsung melesat mengancam enam jalan darah kematian di tubuh Panji. Benar-benar sebuah serangan keji!

“Hm...” Panji bergumam datar melihat serangan-serangan maut kedua lawannya. Untuk menghadapi serbuan Hantu Tangan Merah, pemuda itu menggunakan sepasang tangannya yang membentuk cakar naga. Tubuhnya meliuk-liuk dengan indah. Dan sambil menyambut terjangan Hantu Tangan Merah, Pendekar Naga Putih menghindari senjata Pisau Kilat.

Plakkk! Plakkk!

“Aaaihhh.?!” Meski telah tahu akan kepandaian pemuda tampan itu, Hantu Tangan Merah tidak urung terkejut juga ketika serangannya disambut baik oleh lawan. Akibatnya, tubuh tinggi besar itu terhuyung mundur. Kekuatan tenaga dalamnya ternyata masih kalah dengan pemuda tampan berjubah putih. Sadar akan kekurangannya, Hantu Tangan Merah mulai mengatur serangan baru. Kali ini ia berusaha menghindari benturan dengan pemuda itu. Sebab, hal itu hanya akan merugikan dirinya.

“Haaattt..!”

Pisau Kilat yang kali ini menggunakan sebatang pedang, langsung menyabetkan senjatanya ke tubuh lawan. Terdengar desingan menderu ketika mata pedang Pisau Kilat mengarah leher belakang Pendekar Naga Putih. Kepala perampok itu hendak memenggal kepala lawan yang sangat dibencinya itu.

Whuttt..!

Panji menggeser kaki kanannya ke samping sambil memutar kepala untuk menghindari sabetan pedang lawan. Belum lagi ia sempat mengirimkan serangan balasan, gempuran Hantu Tangan Merah telah datang menyusul. Pertempuran pun semakin bertambah seru. Sebab selain harus menghindari sabetan pedang Pisau Kilat, Panji pun harus berhati-hati dengan pukulan beracun Hantu Tangan Merah.

Jurus demi jurus berlalu tanpa terasa. Lima puluh jurus telah lewat, tanpa ada tanda-tanda pihak mana yang akan kalah. Itu bukan berarti kepandaian Pisau Kilat telah maju. Kalau saja kepala perampok itu tidak dibantu Hantu Tangan Merah, rasanya dalam tiga puluh jurus Panji dapat merobohkan lelaki gemuk itu. Tapi karena Hantu Tangan Merah membantunya, maka Pisau Kilat dapat bertahan sampai lima puluh jurus. Dan ia boleh bangga akan hal itu.

“Haiiittt...!”

Ketika pertempuran memasuki jurus keenam puluh, tiba-tiba Pendekar Naga Putih mengeluarkan pekikan nyaring. Seiring dengan itu, tubuhnya bergerak semakin cepat. Sepasang tangannya sudah tidak kelihatan lagi bentuk aslinya. Apalagi, hawa dingin yang menebar dari tubuh pendekar muda itu terasa membekukan urat-urat tubuh mereka. Hingga Hantu Tangan Merah dan Pisau Kilat kewalahan dibuatnya.

Bukkk!

“Huaaakkk...!”

Karena gerak tangan pemuda itu sukar ditangkap mata, Pisau Kilat terpaksa harus menerima pil pahit. Dadanya terkena gedoran telapak tangan Pendekar Naga Putih. Tubuh kepala perampok itu terpental dan jatuh terguling-guling. Darah segar termuntah keluar dari mulutnya. Pukulan yang keras itu, membuatnya tidak sanggup lagi bangkit. Bahkan beberapa saat kemudian, nafasnya berhenti untuk selamanya. Pisau Kilat tewas di tangan Pendekar Naga Putih.

Terpentalnya tubuh Pisau Kilat, membuat Hantu Tangan Merah agak gugup. Perasaan itu tentu sangat merugikan dirinya. Gerakannya menjadi kacau dan tidak terkendali. Akibatnya, sebuah sambaran cakar naga lawan membuat tubuhnya terlempar sejauh satu tombak!

Brettt..!

“Aaarghhh...!” Hantu Tangan Merah memekik kesakitan. Kendati demikian, tubuhnya tidak terbanting ke tanah. Tokoh tinggi besar itu dapat menyelamatkan diri dengan berjumpalitan di udara. Dan mendarat dengan kedua kaki lebih dahulu.

“Heaaahhh...!” Kali ini, Pendekar Naga Putih tidak memberi kesempatan lagi kepala Hantu Tangan Merah. Sebelum lawan sempat membangun serangan, sepasang telapak tangan pemuda itu telah meluncur ke arah dada Hantu Tangan Merah. Hingga....

Deeesss!

Hantaman yang sangat kuat itu membuat Hantu Tangan Merah memekik ngeri! Tubuhnya terpental bagai daun kering diterbangkan angin. Dan jatuh berdebuk di atas tanah dengan kerasnya. Sesaat tokoh tinggi besar itu seperti hendak bangkit berdiri. Namun kembali roboh. Darah segar tak henti-hentinya mengalir dari bibirnya. Nafasnya terlihat satu-satu dan sangat pelan. Sampai akhirnya lenyap sama sekali. Hantu Tangan Merah telah terbang ke alam baka.

Setelah menyelesaikan lawan-lawannya, Pendekar Naga Putih kelihatan termenung memandang mayat-mayat pengikut Pisau Kilat yang menjadi korban beruang Gunung Es ini. Sedangkan binatang itu tidak ada. Begitu juga Kenanga dan Ki Lodana. Hingga Panji mengerutkan kening heran. Tapi, Panji tidak perlu menunggu lama untuk menemukan Kenanga, Ki Lodana, dan beruang Gunung Es. Ketiga sosok tubuh itu muncul dari dalam sebuah pondok besar.

“Apa kalian sudah menemukan barang-barang yang dicuri Pisau Kilat bersama anggotanya?” tanya Panji. Kendati melihat kedua tangan beruang Gunung Es membawa dua peti kayu berukir yang cukup besar.

“Sudah, Panji. Aku yakin semuanya masih lengkap...,” sahut Ki Lodana yang kelihatan semakin dekat dengan beruang Gunung Es. Kenyataan itu membuat Panji merasa senang. Ia tidak perlu merasa khawatir lagi. Hingga bisa meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan.

“Panji, aku akan tinggal di Gunung Es. Sebab, aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi. Kuharap kau bersedia menemani kami untuk beberapa hari. Kenanga sudah setuju dengan usulku itu...,” ujar Ki Lodana. Lelaki gagah itu agaknya memutuskan untuk menetap di Gunung Es bersama binatang peliharaan Malaikat Salju.

“Hm.... Kalau sudah begitu, untuk apa kau bertanya kepadaku, Paman. Sudah pasti aku akan setuju...,” jawab Panji tertawa perlahan, membuat Ki Lodana berseri wajahnya.

Beruang Gunung Es melenguh memperlihatkan taring-taringnya. Tampaknya, binatang itu ikut gembira dan tertawa. Padahal, suara yang keluar dari moncongnya tetap saja berupa geraman. Sebab, mana mungkin seekor beruang dapat terkekeh. Jelas suatu hal yang mustahil....

S E L E S A I