Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Putra Harimau
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM baru saja berganti pagi. Cahaya kuning keemasan berpendar menghangatkan bumi. Angin sejuk bersilir lembut mempermainkan pucuk-pucuk dedaunan di wilayah Hutan Welang, sebuah hutan liar yang terletak di sebetah Barat Kadipaten Danau Bulus.

Pagi itu, empat sosok lelaki tegap berpakaian pemburu tampak bergerak menerobos semak belukar. Pemandangan seperti itu tidaKiah aneh. Sebab, musim panas seperti itu memang saat yang tepat untuk mencari binatang-binatang buruan. Apalagi, Hutan Welang adalah daerah yang paling banyak dihuni binatang buas, yang tentunya sangat disenangi para pemburu.

"Menjelang siang nanti, kita pasti sudah tiba di lembah. Saat sinar matahari sedang terik-teriknya, banyak binatang yang berteduh. Hanya saja, harus hati-hati, jangan sampai kedatangan kita tertangkap oleh penciuman mereka yang tajam," lelaki terdepan mengingatkan ketiga kawannya.

Tubuh lelaki yang berbicara itu tinggi tegap dan kokoh, sangat cocok bagi seorang pemburu. Belum lagi, bulu-bulu lebat menghiasi sebagian wajahnya. Maka semakin angkerlah penampilan lelaki itu.

Orang kedua, bertubuh sedikit lebih pendek. Wajahnya persegi empat, dengan sepasang mata kecil menjorok ke dalam. Namun, penampilan orang kedua ini tidak kalah angkernya dengan sosok pertama. Dilihat dari gerak langkahnya, lelaki itu tentu bukan orang sembarangan. Seperti juga orang pertama, dia tampaknya memiliki kepandaian silat.

Lelaki ketiga dan keempat berperawakan lebih kurus. Meskipun begitu, gerak-gerik keduanya tampak sigap. Jelas bahwa keempat orang pemburu itu tidak dapat disamakan dengan pemburu-pemburu lainnya.

"Apa tidak sebaiknya kita mulai saja dari sini, Kakang? Sepertinya di sekitar sini pun banyak terdapat binatang buruan," kata lelaki kedua sambil memperlambat langkah dan menggerakkan tangan kanannya, menyibak pohon yang menghalangi.

"Aku rasa pendapat Gantar ada benarnya, Kakang. Untuk apa jauh-jauh ke lembah, kalau di sekitar sini saja kita sudah bisa mendapatkan binatang buruan?" timpal orang ketiga yang bertubuh agak kurus, yang jelas sangat setuju dengan usul rekannya yang dipanggil Gantar itu.

"Memang, di sini banyak binatang buruan. Tapi untuk mendapatkannya sangat sulit. Kita harus bersusah-payah dulu menerobos semak belukar dan rawa-rawa. Lain halnya di lembah sana. Mereka berteduh saling berkelompok. Lagi pula binatangnya gemuk-gemuk," ungkap lelaki tinggi tegap yang tampaknya pemimpin dari kelompok kecil pemburu itu.

Ketiga orang pemburu lainnya mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah berseri-seri. Mata ketiga orang itu berbinar membayangkan binatang buruan yang gemuk-gemuk.

"Wah, kita bisa membawa hasil buruan yang hebat kali ini. Dari mana Kakang tahu? Apakah Kakang sudah pernah ke sana?" tanya Gantar penasaran.

"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan serombongan besar pemburu. Mereka mendapatkan banyak binatang buruan. Nah, dari merekalah aku mendapatkan keterangan tentang lembah di sebelah Barat hutan ini. Oh ya, sebelum berpisah, pemimpin rombongan itu berpesan pula agar aku menjauhi lembah itu. Katanya, meskipun di sana banyak binatang buruan, bahayanya tidak sedikit. Tidak kurang dari delapan orang di antara mereka tewas diterkam binatang buas. Juga, enam orang dari mereka mengalami luka yang cukup parah," kata lelaki tinggi gagah itu.

"Kalau lembah itu banyak dihuni binatang buas, mengapa kau berniat hendak ke sana, Kakang?" tanya Gantar lagi dengan wajah agak heran.

"Ha ha ha..., apa kau merasa takut, Adi Gantar? Rombongan yang kutemui itu bukanlah orang-orang terlatih seperti kita. Mereka sama sekali tidak memiliki kepandaian silat. Jadi wajar saja kalau mereka menjadi sasaran empuk binatang-binatang buas itu. Lain halnya dengan kita. Dengan kepandaian yang kita miliki, apa susahnya membela diri dari terkaman binatang-binatang buas itu?" sahut lelaki tinggi gagah itu lagi sambil tertawa.

Gantar dan dua orang lainnya ikut tertawa dan mengangguk-angguk tanda mengerti. Alasan yang dikemukakan pimpinan mereka memang tidak salah. Sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian silat, tentu saja mereka tidak perlu takut menghadapi binatang buas. Keempat pemburu itu memang bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah murid-murid Perguruan Jari Besi, sebuah perguruan yang sangat terkenal di kawasan Kadipaten Danau Bulus. Bahkan, Adipati Danau Bulus sendiri sangat menaruh hormat kepada ketua perguruan itu.

Ada pun lelaki gagah yang memimpin tiga orang temannya dalam perburuan itu adalah tokoh tingkat tiga di Perguruan Jari Besi. Namanya Maharya. Sedangkan tiga orang lainnya merupakan tokoh tingkat empat, atau satu tingkat di bawah Ki Maharya. Tingkatan-tingkatan itu tidak didapatkan dengan mudah. Banyak ujian berat yang harus mereka hadapi, sebelum Ki Bonggala, Guru Besar Perguruan Jari Besi, mengukuhkan mereka dalam tingkatan yang telah ditentukan.

Ki Bonggala sendiri bukanlah tokoh sembarangan. Lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu sangat dikenal di kalangan rimba persilatan. Pada masa mudanya, Ki Bonggala banyak menghadapi pertarungan maut. Tidak sedikit tokoh sesat yang tewas di tangannya. Sehingga, ia mendapat julukan Pendekar Tangan Sakti. Setelah lelah berpetualang, sebuah perguruan pun didirikan oleh pendekar gagah itu. Dan dilatihnya murid-murid untuk meneruskan ilmu-ilmu yang dimilikinya.

Sementara itu, keempat pemburu terus menerobos semak belukar menuju lembah sebelah Barat Hutan Welang. Baru saja mereka memasuki sebuah tempat yang agak lapang, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengejutkan.

"Hua ha ha...!"

Cepat-cepat keempat pemburu itu melompat mundur dalam keadaan siaga. Urat-urat tubuh mereka tampak menegang, karena tenaga dalam mereka telah bergerak, siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Ki Maharya, lelaki tinggi tegap berusia empat puluh tahun itu, mengedarkan pandangannya ber keliling. Sebagai pemimpin kelompok kecil itu, tentu saja ia merasa paling bertanggung jawab atas keselamatan mereka.

"Siapa kau? Tunjukkan dirimu...?" seru Ki Maharya sambil mengerahkan tenaga dalam, sehingga suaranya menggema sampai beberapa tombak jauhnya.

Ki Maharya dan adik-adik seperguruannya tidak perlu menunggu lama. Baru saja gema teriakan Ki Maharya lenyap, tampak sesosok tubuh gemuk dengan wajah bercambang lebat, melangkah ringan menghampiri mereka.

"Hua ha ha...! Benar-benar gagah murid-murid Pendekar Tangan Sakti! Mengagumkan..., mengagumkan...!" Lelaki gemuk bercambang lebat itu berdecak-decak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ucapan yang keluar dari mulutnya memang bernada pujian, tapi jelas ada kesan ejekan pada sepasang mata dan wajahnya.

"Maaf, Sahabat! Benar, kami adalah murid-murid Ki Bonggala. Tapi sayangnya kami begitu bodoh, tidak mengenali siapa adanya sahabat yang gagah ini..," kata Ki Maharya sambil membungkukkan badannya dengan sikap hormat. Ketiga adik seperguruan Ki Maharya juga menunjukkan sikap hormat kepada lelaki bercambang lebat itu. Ki Bonggala memang telah mengajarkan murid-muridnya untuk tidak bersikap sombong, terlebih-lebih kepada orang yang sama sekali belum dikenal.

"Hua ha ha.... Bagus..., bagus...! Rupanya Pendekar Tangan Sakti telah berhasil mendidik murid-muridnya dengan baik. Benar-benar membuat aku terharu...," kata lelaki gemuk itu lagi dengan nada yang tidak enak.

"Maaf, kalau boleh kami yang bodoh ini ingin tahu, siapakah adanya sahabat yang gagah ini? Dan, ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?" tanya Ki Maharya dengan sikap yang mulai berubah. Sorot mata Ki Maharya tidak lagi menyiratkan rasa hormat. Jelas, dia mulai tidak suka dengan sikap sombong lelaki gemuk itu.

"Hua ha ha.... Baik, kalau kalian benar-benar ingin mengenalku. Orang menyebutku si Elang Hitam. Guru kalian, Ki Bonggala, pasti telah mengenalku dengan baik. Dan, aku ada di sini, jelas untuk membunuh kalian! Tapi, aku akan berbaik hati dengan menyisakan salah satu dari kalian untuk menyampaikan pesanku kepada Ki Bonggala. Bagaimana? Kalian pasti setuju dengan usulku ini." Ucapan yang dikeluarkan lelaki bercambang lebat itu kelihatan enteng sekali, seolah-olah nyawa manusia sama sekali tidak berharga baginya. Tentu saja hal ini membuat Ki Maharya dan kawan-kawannya geram.

"Dengar, Orang Hutan!" ujar Gantar yang tidak dapat menahan kemarahannya, sambil melangkah maju dan menudingkan telunjuk ke wajah lelaki bercambang lebat itu. "Siapa pun kau. Elang Hitam, Elang Belang, atau Elang Burik sekalipun, kami murid-murid Ki Bonggala tidak takut menghadapimu! Kehadiranmu di tempat ini jelas menunjukkan sifat pengecut! Sebab, kalau kau seorang pemberani, tentunya kau akan langsung datang mencari guru. Bukan menghadang kami di tempat ini." Ucapan Gantar jelas semata-mata dimaksudkan untuk menghina dan menggertak lawan. Gertakan itu diharapkannya dapat mengurungkan niat si Elang Hitam. Bagaimanapun, tujuan mereka ke hutan ini adalah untuk berburu, bukan berkelahi. Cerdik juga tampaknya lelaki bertubuh gempal itu.

"Perbuatanku boleh saja kau anggap pengecut, tapi ini adalah siasat cerdik. Dengan membunuh tiga orang dari kalian, aku telah membuat Ki Bonggala penasaran dan sakit hati. Nah, bukankah itu namanya cerdik?" sahut si Elang Hitam yang sekali tidak tampak terpengaruh dimaki sebagai pengecut itu.

"Kalau begitu, mengapa harus banyak bacot lagi? Lakukan saja niatmu. Kami siap membuktikan, apakah kepandaianmu juga sehebat ucapanmu!" bentak Ki Maharya sambil mencabut pedang di pinggangnya.

Gantar dan dua temannya pun berjaga-jaga dengan senjata masing-masing. Keempat murid Ki Bonggala itu tampak siap menghadapi Elang Hitam.

"Bagus..., bagus..., itu baru namanya lelaki gagah.... Hua ha ha."

Tawa Elang Hitam terdengar berkepanjangan. Dia kemudian melangkah maju menghampiri keempat lawannya. Dan sebagai murid pendekar yang terlatih baik, tentu saja keempat lawannya itu tidak memerlukan perintah pemimpinnya. Mereka segera menyebar dan mengurung Elang Hitam yang terus saja tertawa-tawa itu. Tampaknya Elang Hitam tidak ingin mendahului pengeroyoknya, ia hanya berdiri tegak di tengah arena dengan sikap sombong.

"Heaaat...!"

Ki Maharya yang berada di sebelah kanan Elang Hitam berseru nyaring membuka serangan. Pedang lelaki tinggi gagah itu berkelebatan, menimbulkan pendaran sinar yang menyilaukan. Gerakan yang mengandung tenaga dalam kuat itu menunjukkan bahwa Ki Maharya tidak memandang rendah lawannya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Gantar dan kawan- kawannya pun berseru nyaring, sambil melesat dengan putaran senjatanya. Sebentar saja suasana hutan yang sunyi itu pun berubah bising oleh suara senjata yang mengaung-ngaung tajam.

"Hmh...!" Elang Hitam hanya mendengus kasar melihat gerakan para pengeroyoknya. Dengan gerakan yang jauh lebih ringan dan mantap, tubuhnya ditarik ke belakang saat tebasan pedang Ki Maharya tiba. Kemudian badannya berputar ke kiri menghindar sambaran pedang di tangan Gantar. Sedangkan dua serangan lainnya dielakkan dengan melenting ke atas. Dan, langsung dikirimkan hantaman dua buah telapak tangannya ke arah punggung dua orang murid Perguruan Jari Besi.

Wukkk! Wukkk!

"Aihhh...!?"

Kedua orang murid itu terkejut bukan main. Serangan balasan yang cepat dan tak terduga itu membuat mereka harus menggulingkan tubuh dan menjauhi Elang Hitam. Untunglah saat itu Ki Maharya telah melesat dengan babatan senjatanya. Sehingga, Elang Hitam yang berniat mengejar dua orang lawannya itu terpaksa menarik kembali kedua tangannya. Dan, tubuhnya diputar dengan kekuatan pinggang.

Bettt...!

Tebasan pedang Ki Maharya berdesing tajam di atas kepala Elang Hitam. Kalau saja gerakan Ki Maharya lebih cepat sedikit, dapat dipastikan leher lelaki gemuk bercambang lebat itu akan putus. Apa boleh buat, gerakan Elang Hitam masih jauh lebih cepat dari sambaran pedang Ki Maharya. Serangan lelaki gagah itu pun hanya menyambar angin kosong. Kemudian....

"Makan olehmu!" teriak Elang Hitam, disertai lontaran kaki kanan dalam gerak menyamping, yang langsung mengancam pelipis Ki Maharya.

Plak!

"Aaakh.!" Ki Maharya mengeluh pendek. Meskipun berhasil menangkis tendangan lawan dengan tangan kirinya, tubuh lelaki gagah itu tak urung terhuyung dengan wajah menyeringai. Dia tampak kesakitan memegangi tangan kirinya yang tadi terbentur kaki lawan dengan keras.

Elang Hitam tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Cepat-cepat tubuhnya melesat dengan cengkeraman-cengkeraman sepasang cakarnya yang bergerak dari bawah ke atas mengancam dada dan lambung Ki Maharya.

"Yeaaat.!"

Namun, pada saat yang gawat itu, Gantar datang dengan sambaran senjatanya. Tindakan lelaki bertubuh gempal itu memang tepat sekali. Kalau tidak, Ki Maharya pasti akan tersambar cakar lawan yang keras bagai besi itu. Hebatnya Elang Hitam tidak kehilangan akal. Dengan putaran tangan yang cepat, gerakannya berubah mengancam Gantar. Dengan sebuah liukan tubuh yang mengejutkan, sepasang cakar itu bergerak susul-menyusul mengincar tubuh Ganta. Dan....

Brettt! Brettt!

"Aaakh.!" Gantar memekik kesakitan ketika cakar tangan Elang Hitam merobek lambung dan lehernya. Darah segar langsung mengalir. Cakar sekeras besi itu merenggut kulit berikut daging di tubuh Gantar. Dan selagi tubuh lelaki gempal itu terhuyung- huyung, menyusullah sebuah gedoran keras menghajar dadanya.

Blakkk!

"Aaargh.!" Terdengar jerit melengking tinggi. Tubuh Gantar terpental sejauh satu setengah tombak dan langsung melanggar sebatang pohon di belakangnya. Tanpa ampun, tubuh itu melorot jatuh dan tidak bergerak lagi. Dari mulutnya mengalir darah segar. Gantar tewas seketika itu juga.

"Adi Gantar!" Ki Maharya berteriak kalap melihat adegan itu. Dengan kemarahan yang meluap-luap, lelaki gagah itu segera menerjang lawannya dengan tebasan pedangnya yang bergulung-gulung.

Bettt! Bettt..!

"Hiaaah.!" Elang Hitam membentak nyaring disertai lentingan tubuh ke udara. Terjangan Ki Maharya dihindarinya dengan mudah. Dan setelah berputar beberapa kali, lelaki gemuk itu kemudian mendarat di belakang dua orang adik seperguruan Ki Maharya lainnya.

Kreppp! Kreppp!

Cepat bagai kilat, cengkeraman Elang Hitam langsung mencekal leher kedua orang itu. Salah satu dari keduanya dilemparkan dengan sentakan tenaga dalam, sedangkan yang seorang lagi langsung diremas hancur tulang lehernya.

"Iblisss...!" Makin kalap Ki Maharya menyaksikan kejadian yang menimpa adik-adik seperguruannya. Suaranya kini terdengar lebih berupa bisikan ketimbang desis kemarahan. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya.

"Hua ha ha.... Ambillah tubuh busuk ini. Aku tidak membutuhkannya...," teriak Elang Hitam sambil melemparkan mayat lawan yang tulang lehernya telah diremas hancur itu.

Ki Maharya tertegun sejenak melihat mayat adik seperguruannya melayang cepat ke arahnya. Segera diputuskannya untuk menghindar. Malang Elang Hitam rupanya telah memperhitungkan gerakan lelaki gagah itu. Tepat pada saat tubuh Ki Maharya bergerak k kiri, Elang Hitam melesat bagai kilat dengan cengkeraman mautnya.

Brettt! Brettt!

"Aaakh...!" Ki Maharya memekik kesakitan! Tubuh tinggi tegap itu terdorong sejauh satu tombak ke belakang. Belum lagi disadari keadaannya, sebuah tendangan kilat telah menerpa dada kirinya tanpa ampun.

Desss...!

"Hugkh...!" Darah segar menyemprot dari mulut Ki Maharya. Tubuhnya pun terlempar deras.

Bruggg!

Lelaki gagah murid Ki Bonggala itu meregang menahan sakit. Dan, sebelum bergerak mencoba bangkit, telapak kaki lawan langsung menjejak perut Ki Maharya. Tanpa ampun, satu nyawa lepas lagi di tangan Elang Hitam yang memiliki kekejaman luar biasa itu. Sekarang tinggal satu orang murid Ki Bonggala yang masih hidup. Ia masih terduduk kesakitan dengan noda darah memenuhi pakaiannya.

"Serahkan surat ini kepada gurumu...," ujar Elang Hitam seraya melemparkan gulungan surat kepada murid bertubuh kurus yang sengaja tidak dibunuhnya itu. Setelah berkata demikian. Elang Hitam langsung melesat dan lenyap di kelebatan pohon.

********************

DUA

Ki Bonggala,

Kutunggu kau di lembah sebelah Barat Hutan Welang. Kematian saudara seperguruanku harus kau bayar mahal!

Elang Hitam


"Hhh..." Lelaki gagah dengan sorot mata penuh perbawa kuat itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dihembuskannya kuat-kuat. Diremasnya hingga hancur kulit kayu yang baru saja selesai dibacanya. Terdengar tarikan napas panjang saat ia bangkit dari kursi.

"Jadi Ki Maharya dan dua orang temanmu yang lain telah tewas di tangan Elang Hitam?" ujar lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu. Nada suaranya terdengar berat dan dalam, sehingga menambah kewibawaannya.

Lelaki gagah itu lak lain adalah Ki Bonggala, yang dikenal dengan julukan Pendekar Tangan Sakti. Pagi itu dia kedatangan salah seorang muridnya. Murid bertubuh kurus itu melaporkan segala kejadian yang dialami bersama kawan-kawannya ketika berburu. Disampaikannya pula surat dari kulit kayu, yang dikirimkan oleh Elang Hitam.

"Benar, Guru. Bukan maksudku untuk mencari selamat sendiri. Tapi lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Elang Hitam itu memang berkata bahwa ia akan melepaskan salah seorang dari kami untuk menyampaikan pesannya," sahut lelaki kurus yang bersimpuh beberapa langkah di depan Ki Bonggala. Pakaian lelaki kurus itu dipenuhi noda darah. Bahkan, pada sudut bibir masih tersisa bekas-bekas darah.

"Hm..., bukan salahmu, Girja. Aku pun tidak menyalahkanmu. Jangan kau siksa dirimu dengan rasa bersalah itu hanya akan membuat jiwamu tertekan," jelas Pendekar Tangan Sakti.

"Baik, Guru. Terima kasih...," ujar lelaki yang dipanggil Girja itu dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah Pendekar Tangan Sakti.

"Hm..., kau beristirahatlah. Obati luka-lukamu...," ujar Ki Bonggala sambil kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi. Untuk kesekian kalinya, terdengar helaan napas panjang yang berat. Sekilas tampak sinar kedukaan membayang di wajah ki Bonggala.

Girja pun beranjak meninggalkan ruang pertemuan itu. Di hadapan Ki Bonggala kini bersimpuh tiga murid utama Perguruan Jari Besi yang turut mendengarkan pembicaraan antara guru dan murid tadi.

"Guru...," kata salah seorang dari ketiga murid utama itu sambil menatap wajah gurunya.

"Hm..."

Murid utama yang usianya hanya lebih muda lima tahun dibanding gurunya itu terlihat merapatkan telapak tangannya ketika mendengar gumaman Ki Bonggala. Tersirat gambaran keengganan pada wajah murid utama itu. Untuk beberapa saat dia terbungkam, seoalah olah tengah mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada saat seperti itu. Suasana hening sejenak.

"Ada apa, Lunggara? Kenapa kau malah diam? Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah...," ujar Ki Bonggala, menutup keheningan itu.

"Kalau boleh, kami murid-muridmu yang bodoh ini ingin mengetahui, ada apakah sebenarnya, Guru. Andai saja kami bisa meringankan persoalan yang sedang Guru hadapi, kami siap membantu semampu kami, Guru."

Akhirnya Lunggara mengutarakan juga apa yang menjadi beban pikirannya. Lelaki berwajah bulat telur dengan jenggot lebat menghias dagunya itu merasa ikut bertanggung jawab atas persoalan yang mengganggu pikiran gurunya.

"Sebelum aku menjelaskan persoalan ini kepada kalian bertiga, ada baiknya kalian mengetahui sedikit masa laluku," desah Ki Bonggala sambil menatap wajah ketiga orang murid utamanya dengan sorot mata tajam. Lelaki gagah itu ingin tahu, adakah gambaran keberatan pada wajah-wajah muridnya. Lega hati Ki Bonggala ketika tidak menemukan apa yang dikhawatirkannya itu.

"Kami siap mendengarkan, Guru."

Lunggara dan dua murid utama lainnya segera menyahuti dengan suara mantap. Ketiga orang murid itu sangat ingin membantu memecahkan persoalan yang saat ini menjadi beban gurunya.

"Dua puluh tahun yang silam, saat aku pindah dari kotaraja ke tempat terpencil ini, ada suatu keajaiban yang tidak bisa kulupakan seumur hidup. Saat itu aku telah menikah dan mempunyai seorang putra yang belum lama lahir dari rahim istriku. Rupanya, bibit-bibit permusuhan yang semasa muda kutanamkan secara tidak langsung terhadap tokoh-tokoh golongan hitam telah menjadi bencana bagi keluargaku. Seorang tokoh sesat berjuluk Telapak Tangan Setan menghadang perjalananku, ia bersekongkol dengan tokoh-tokoh sesat lainnya yang pernah kukalahkan semasa aku masih berpetualang di rimba persilatan. Sayang, meskipun aku berhasil membinasakan mereka, istri dan anakku lenyap saat keributan terjadi. Berbulan-bulan aku menjelajahi seluruh wilayah Gunung Kendal dan Hutan Bajang. Tapi, pencarianku sia-sia. Istri dan putraku bagaikan lenyap ditelan bumi. Karena putus asa, kuputuskan untuk menetap di Desa Welang ini dan mengambil murid-murid untuk menemaniku"

Ki Bonggala menarik napas panjang sambil tengadah menatap langit melalui jendela yang terbuka. Tampak lelaki gagah itu mengerjap-ngerjapkan matanya, ia terhanyut dalam kesedihan mengenang masa lalunya.

Mendengar penuturan gurunya, ketiga murid utama itu menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka pun ikut merasakan kesedihan yang dialami gurunya semasa mereka belum menjadi murid lelaki gagah itu.

"Maaf, Guru...," ujar salah seorang dari ketiga murid utama itu. Murid yang rambutnya digelung ke atas dan berusia sekitar tiga puluh tahun itu tampaknya ingin bertanya kepada Ki Bonggala. Ia kelihatan belum mengerti sepenuhnya kaitan antara cerita lelaki gagah itu dan surat yang baru diterima tadi.

"Hm..., ketahuilah, Samija... Orang yang mengirimkan surat kepadaku, yaitu si Elang Hitam, adalah salah satu tokoh sesat yang kepandaiannya sangat tinggi. Tingkat kepandaiannya hampir dapat disejajarkan dengan datuk-datuk sesat pada masa sekarang. Dan, Elang Hitam merupakan kakak seperguruan dari Telapak Tangan Setan. Rupanya ia telah lama mendendam kepadaku, yang telah membunuh adik seperguruannya. Sehingga, ia mengirimkan surat tantangan kepadaku," jawab Ki Bonggala menjelaskan hubungan ceritanya dengan surat kulit kayu yang telah diremas hancur tadi.

"Lalu, apa yang akan Guru lakukan? Apakah Guru menerima tantangan itu?" tanya Lunggara yang tampak khawatir akan keselamatan gurunya.

"Hm..., apa kau kira gurumu ini seorang pengecut, Lunggara? Tentu saja tantangan itu akan kuterima. Jangankan hanya seorang Elang Hitam, berpuluh orang sepertinya pun, kalau memang harus dihadapi, tidak akan membuatku mundur meski selangkah...," sahut Ki Bonggala sambil mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, hingga terdengar suara berkerotokan.

"Lalu, apa yang dapat kami bantu, Guru...?" tanya murid yang dipanggil Samija, dengan wajah agak bingung.

"Tentu saja aku mengharapkan bantuan kalian bertiga. Tapi aku ragu, apakah kalian sanggup...," desah Ki Bonggala sambil menatap wajah ketiga orang murid utamanya itu lekat-lekat. Ada bayang kecerdikan pada sorot mata lelaki gagah ini. Tampaknya Ki Bonggala memancing tanggapan ketiga lelaki di hadapannya itu.

"Tentu saja kami sanggup, Guru. Bahkan nyawa pun siap kami korbankan jika perlu...," jawab Lunggara dengan lantang dan gagah. Sorot mata lelaki berusia empat puluh lima tahun itu memancarkan semangat. Tampaknya kesetiaan Lunggara memang tidak diragukan lagi.

"Bagaimana dengan yang lain? Tugas yang kuberikan kepada kalian ini tidak mudah, meskipun juga tidak terlalu sukar. Tapi yang jelas tugas ini sangat memerlukan keberanian yang besar."

Kembali terdengar ucapan Ki Bonggala bernada meragukan kesanggupan murid-murid utamanya. Sehingga, ketiga orang murid utama itu kelihatan berusaha menunjukkan perasaan dan kesetiaan mereka dengan penuh semangat.

"Kami siap, Guru. Seberat apa pun tugas yang Guru berikan, kami akan berusaha menjalankan sebaik-baiknya!" jawab Samija dengan sorot mata berapi-api.

"Baiklah. Aku harus pergi. Dan, harus ada orang yang menggantikanku menjaga dan mengawasi perguruan ini selama aku pergi. Karena kalian telah berjanji akan membantuku sebaik-baiknya, kuserahkan tugas ini kepada kalian bertiga...," kata Ki Bonggala sambil tersenyum tipis.

Lelaki gagah itu tampak senang dapat menjebak murid- murid utamanya itu. Hal ini dilakukan karena ia tidak ingin melibatkan orang lain lagi dalam persoalan dendam mendendam yang tak ada habis-habisnya itu.

"Ahhh...?!"

Tentu saja ucapan Ki Bonggala membuat Lunggara dan kedua orang saudara seperguruannya terkejut. Mereka yang semula sudah membayangkan akan menemani Pendekar Tangan Sakti menghadapi Elang Hitam itu tidak menyangka akan mendapat tugas yang sama sekali di luar perkiraan. Tapi, karena janji telah terucap, tugas itu tidak dapat ditolak lagi.

"Tugas ini bukan tidak berarti apa-apa, Murid-muridku. Bahkan tugas yang kuserahkan kepada kalian ini jauh lebih berat ketimbang kalian ikut berhadapan dengan Elang Hitam. Tapi, aku yakin kalian akan dapat melaksanakan tugas ini dengan baik dan dapat saling bantu satu sama lain," ujar Ki Bonggala melanjutkan ucapannya ketika melihat kekecewaan tergambar jelas di wajah ketiga orang murid utamanya itu.

"Baiklah, Guru. Kami berjanji akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Semoga kami tidak mengecewakan harapan Guru...," ucap Lunggara sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan menghormat, yang diikuti pula oleh dua oran murid utama lainnya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Apabila ada murid yang bertanya, katakanlah bahwa aku tengah bersemadi dan tidak boleh diganggu. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa lagi, Murid-muridku..." Setelah berpesan demikian, tubuh Ki Bonggala melesat dan langsung lenyap di balik tembok samping bangunan utama Perguruan Jari Besi.

"Selamat jalan, Guru..," desis ketiga murid utama itu sambil bersujud menghadap ke arah lenyapnya tubuh Ki Bonggala.

********************

Sosok tubuh tinggi gagah melesat menerobos semak belukar Hutan Welang. Gerakannya demikian ringan dan gesit. Jalan-jalan yang biasanya sangat sulit dilalui orang lain sama sekali tidak menjadi halangan bagi sosok gagah itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, telah dimasukinya Hutan Welang sebelah Barat. Saat tiba di sebuah dataran yang agak tinggi, sosok tegap itu menghentikan langkahnya. Sepasang matanya yang tajam merayapi lembah yang kini terbentang di hadapannya Tanpa peduli sengatan terik matahari dan hembusan angin panas, lelaki gagah itu bergerak turun memasuki lembah.

"Hiaaah...!"

Begitu hampir tiba di dasar lembah, lelaki gagah itu berseru perlahan. Seketika itu juga, tubuhnya melenting dan berputar beberapa kali, lalu dipijakkan kakinya di atas tanah berumput segar. Setelah memperhatikan suasana lembah sesaat, kakinya pun melangkah perlahan. Puluhan ekor binatang yang tengah berteduh dari sengatan matahari langsung berlarian menyebar. Kehadiran lelaki gagah ini tampaknya telah mengganggu ketenangan binatang-binatang itu.

"Grauuung...!"

Terdengar raungan marah belasan ekor binatang buas yang merasa terganggu oleh kehadiran lelaki gagah itu. Beberapa di antaranya bergerak meninggalkan tempat itu. Sedangkan lima ekor singa jantan mengaum dan menghampiri sosok lelaki gagah itu dengan menunjukkan taring-taringnya yang runcing.

"Hm. Pantas Elang Hitam memilih tempat ini sebagai arena pertarungan. Rupanya ia hendak menggunakan binatang- binatang buas ini untuk mempelajari gerakan-gerakanku. Benar-benar licik iblis itu...," gumam lelaki gagah yang tak lain dari Ki Bonggala itu, dengan nada agak jengkel. Sadar bahwa mungkin lawan telah memperhatikannya, Ki Konggala berjaga-jaga dengan pedang tergenggam erat di tangan kanan.

Sring...!

Secercah sinar putih berkeredep ketika pedang Ki Bonggala keluar dari sarungnya. Desingannya yang tajam membuat lima ekor singa jantan tadi bergerak mundur sambil meraung keras.

"Kau lihat dan pelajarilah gerakanku, Elang Hitam. Kau pikir aku orang bodoh yang bisa kau kelabui begitu saja...," gumam Ki Bonggala yang sengaja menggunakan senjatanya untuk menghadapi lima ekor singa jantan itu. Ki Bonggala tentu tidak mau dibodohi lawannya. Dengan menggunakan senjata, ia bisa menyembunyikan ilmu silat yang dikuasainya. Sehingga, ia tidak perlu khawatir biarpun gerakannya diperhatikan oleh lawannya, yang diyakininya tengah bersembunyi tidak jauh dari tempat itu.

"Grauugh...!"

Cwiiit… cwiiit...!

Ki Bonggala mengibaskan pedangnya bersilangan saat kelima ekor singa jantan itu bergerak mendekatinya. Binatang-binatang buas itu pun kembali bergerak mundur sambil menunjukkan taringnya. Jelas, mereka gentar melihat desingan tajam yang ditimbulkan pedang Ki Bonggala. Rupanya selain gentar, binatang-binatang buas itu juga merasa penasaran. Dua di antaranya melompat cepat dengan terkaman maut, disertai numan keras bagai hendak meruntuhkan dinding lembah.

"Hm..." Pendekar Tangan Sakti hanya bergumam pelan. Tubuhnya dilesatkan ke samping kiri dengan kibasan pedangnya yang cepat dan hampir tak dapat dilihat.

Brettt! Brettt!

"Auuurgh...!"

Dua ekor singa jantan itu meraung kesakitan saat pedang Ki Bonggala melukai bagian tubuh singa-singa itu. Belum lagi dua ekor singa jantan itu membalikkan tubuh. Pendekar Tangan Sakti telah melesat dengan tendangan kilat.

Buggg! Desss...!

Binatang-binatang itu meraung kesakitan. Tubuh keduanya terpental hingga satu tombak jauhnya, kemudian terus berlari masuk ke hutan sambil mengaum lirih. Kedua binatang buas itu tampak gentar melihat kehebatan calon korbannya.

Cepat bagai kilat, Ki Bonggala membalikkan tubuhnya menghadapi tiga ekor singa jantan lainnya. Tapi, binatang-binatang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Ketiganya malah bergerak mundur sambil menunjukkan taringnya yang runcing, lalu berbalik dan melarika diri ke dalam hutan.

Ki Ronggala tersenyum melihat tingkah binatang binatang buas itu. Pandangannya diedarkan ke sekeliling lembah, seolah-olah mencari tempat persembunyian Elang Hitam. "Elang Hitam, ini aku sudah datang! Apakal kau masih tetap hendak menyembunyikan dirimu...?" seru Ki Bonggala nyaring dengan pengerahan tenaga saktinya, sehingga gemanya berpantulan di dinding tebing.

Agak lama Ki Bonggala menanti jawaban. Dan setelah kesabarannya hampir habis, tampak sesosok bayangan berkelebat dari sebelah kirinya dengar tawa berkepanjangan.

"Hua ha ha...!"

Dengan sikap yang tetap tenang, Ki Bonggak menggeser kakinya beberapa langkah ke samping kanan. Disarungkan kembali senjatanya, kemudian diselipkannya di pinggang kanan. Tampaknya lelaki gagah itu ingin menghadapi lawannya dengan tangan kosong. Memang, keistimewaan ilmu silatnya terletak pada tangan kosong. Itulah sebabnya mengapa Ki Bonggala dijuluki sebagai Pendekar Tangan Sakti.

"Pantas saja adik seperguruanku sampai tewas ditanganmu, Ki Bonggala. Ternyata kau benar-benar gagah. Kau patut menjadi seorang pendekar yang disegani...," puji lelaki gemuk bercambang lebat itu. Sambil berkata demikian, kakinya melangkah mengitari Ki Bonggala. Sikapnya terlihat sombong, seolah-olah ia yakin akan dapat mengalahkan Pendekar Tangan Sakti yang terkenal itu.

"Kau mengundangku untuk menuntut balas kematian saudara seperguruanmu, ataukah hanya untuk berbicara...? Kalau kau mengundangku hanya untuk meladeni pembicaraanmu yang tak berguna itu, sebaiknya aku pergi saja...," sahut Ki Bonggala sambil menunjukkan sikap bersiap-siap meninggalkan lembah itu.

Elang Hitam tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ki Bonggala. Sebentar kemudian, ditatapnya sosok lelaki gagah itu, bagai sedang menilai suatu benda yang ingin dibelinya. Hal itu tentunya sengaja dilakukan Elang Hitam untuk memancing kemarahan lawan. Apabila pancingannya berhasil, akan lebih mudah bagi Elang Hitam untuk menundukkan lawannya. Sebab, bila seseorang menyerang atau bertempur dalam keadaan marah, biasanya kewaspadaannya akan berkurang.

Namun, pancingan tokoh sesat itu tidak berhasil. Ki Bonggala tetap saja tenang. Laki-laki gagah itu sadar betul lawan sengaja memancing kemarahannya.

TIGA

Sikap tidak peduli Ki Bonggala membuat wajah Elang Hitam berubah gelap. Sorot matanya berkilat tajam menggambarkan kejengkelan hatinya. Tampaknya tokoh sesat itu termakan pancingannya sendiri.

"Apakah bicaramu sudah selesai, Elang Hitam...?" ujar Ki Bonggala seraya tersenyum tipis. Tokoh itu kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

Tentu saja sikap Pendekar Tangan Sakti itu membuat Elang Hitam semakin bertambah jengkel. "Sudah! Dan sekarang bersiaplah! Akan kucabut nyawamu!" Sambil membentak marah, Elang Hitam melompat dengan disertai sambaran cakarnya yang menderu-deru.

Wettt... Wettt...!

"Haiiit...!" Rupanya sikap tidak peduli Ki Bonggala bukan berarti ia tidak waspada. Begitu cakar elang lawan akan menyambar tubuhnya, lelaki gagah itu bertindak sigap dengan melakukan lompatan pendek ke belakang. Saat berikutnya, Ki Bonggala melontarkan sebuah tendangan lurus dengan kecepata kilat.

Zebbb!

Tendangan lurus yang mengancam perut Elang Hitam ternyata mengenai angin kosong. Lelaki gemuk bercambang lebat itu telah menarik tubuhnya mundur sebanyak dua tindak. Ki Bonggala sendiri ternyata telah menduga gerakan lawannya. Lelaki gagah yang terkenal berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu masih melanjutkan serangannya dengan serangkaian tendangan yang berputar-putar dan menimbulkan angin menderu-deru. Elang Hitam pun kelabakan menghindari tendangan yang laksana kitiran itu.

"Heaaat...!"

Saat Elang Hitam tengah kerepotan menghindari serangkaian tendangan maut itu, tiba-tiba saja Ki Bonggala menghentikan serangan kakinya secara mendadak. Disertai lengkingan nyaring yang mengejutkan, tiba-tiba tubuh lelaki gagah itu melejit ke udara. Dan, tangan kanannya lalu terlontar dengan cepat melakukan tebasan. Serangan ini benar-benar berbahaya.

Sadar kalau serangan kilat itu sangat sulit dielakkan, Elang Hitam terpaksa menyambut dengan mengulurkan tangan kirinya dalam keadaan agak bengkok, ia bermaksud menyambut tebasan sisi telapak tangan lawan dengan lengan tangannya.

Plak...!

Terdengar suara benturan keras. Dua buah lengan yang dialiri tenaga dalam kuat itu berbenturan, di udara. Seruan- seruan tertahan terdengar dari mulut kedua tokoh yang saling menggebrak itu. Keduanya sama-sama terkejut merasakan kekuatan tenaga sakti lawannya.

Ki Bonggala yang terpental balik segera melakukan beberapa kali putaran di udara sebelum menjejak tanah. Sedangkan lawannya yang tergempur serangannya pun segera memutar kaki depan setengah lingkaran, dan langsung kembali memasang kuda-kuda.

"Benar-benar mengagumkan! Aku gembira menemui tandingan yang lihai sepertimu, Pendekar Tangan Sakti...," desis Elang Hitam dengan napas terengah-engah.

"Hm.... Kau pun hebat. Elang Hitam. Sayang kepandaian sehebat itu kau gunakan untuk kejahatan...," ucap Ki Bonggala, dengan napas yang juga agak memburu.

Elang Hitam kini tidak lagi bersuara. Tokoh sesat itu bergerak dengan langkah-langkah pendek. Kedua tangannya yang membentuk cakar elang, dikibas-kibaskan dengan keras. Tidak salah lagi, dalam penyerangan kali ini, Elang Hitam bersiap-siap mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Semua itu terbukti dari suara kibasan tangannya yan menderu tajam.

Pendekar Tangan Sakti tampaknya cukup menyadari kekuatan tenaga dalam lawannya. Terbukti tokoh itu langsung merendahkan tubuhnya dengan kedudukan bagai orang menunggang kuda. Sepasang tangannya dengan telapak tangan terbuka, berputaran menyambar-nyambar dan menimbulkan deru angin yang kuat. Kakinya bergerak dalam bentuk kuda-kuda yang kokoh bagaikan batu karang. Ki Bonggala tampak siap mengimbangi permainan lawannya.

"Yeaaah...!"

Dibarengi bentakan nyaring yang memekakkan telinga, Elang Hitam mulai menerjang dengan jurus-jurus cakar elangnya. Tubuhnya bergerak ringan bagaikan seekor burung elang yang beterbangan mengincar mangsa. Sepasang tangannya yang bagai cakar elang menyambar-nyambar dengan ganas.

Ki Bonggala tetap mengimbangi permainan keras lawan dengan ilmu-ilmu tangan kosongnya yang sangat terkenal dalam rimba persilatan. Gerakan tangannya yang selalu berubah bentuk benar-benar membuat lawannya kebingungan. Pertarungan pun semakin bertambah seru. Kedua tokoh itu saling menerjang dengan ilmu andalan masing-masing.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Pada jurus-jurus awal, tampak Ki Bonggala masih sanggup mengimbangi, bahkan membalas serangan lawannya. Tapi, ketika pertarungan meningkat hingga jurus keempat puluh lima, tampak Elang Hitam masih lebih tinggi kepandaiannya daripada Ki Bonggala. Kini, tokoh sesat itu menggempur lawannya habis-habisan. Sehingga, Ki Bonggala kini tampak dalam keadaan terdesak hebat.

Wuttt...!

"Ahhh...!?"

Sebuah tamparan cakar lawan nyaris merobek wajah Ki Bonggala. Untunglah tokoh sakti itu masih sempat memiringkan kepalanya. Sehingga jemari sekeras baja itu lewat setengah jengkal di samping wajahnya. Tapi, Ki Bonggala belum bisa menarik napas lega. Sebab, tangan kiri lawan langsung menyusul dengan tajam. Kali ini cengkeraman maut itu bergerak dari bawah ke atas. Hendak merobek perut Pendekar Tangan Sakti. Karena tidak ada waktu lagi untuk menghindar, Ki Bonggala nekat mengangkat tangan kanannya dan menekan ke bawah sambil menarik kaki kanannya ke belakang.

Dukkk!

"Uuuhhh...!" Ki Bonggala mengeluh pendek. Tangkisannya ternyata membuat tubuhnya terpental sejauh satu tombak ke belakang. Kali ini nyata bahwa tenaga dalam lawannya masih jauh lebih kuat daripada tenaga dalamnya. Dan sebelum tokoh sakti itu sempat memasang kembali kuda-kudanya, sebua tendangan keras telak menghajar bagian kiri dadanya.

Buggg!

"Hugkh...!"

Tak ayal lagi, tubuh lelaki gagah itu pun terjungkal deras ke belakang, lalu terbanting ke atas tanah. Semburan darah segar langsung membasahi tanah berumput. Meskipun demikian, Ki Bonggala masih bisa mencelat bangkit. Dia kembali siap menghadapi lawannya. Elang Hitam hanya tertawa melihat kekuatan lawannya. Dan tiba-tiba tubuh lelaki bercambang lebat itu melenting ke atas dan berputar bagai kitiran.

Plakkk! Brettt...!

Tubuh Ki Bonggala melintir akibat tamparan keras pada wajahnya. Lelaki tegap itu terbanting ke atas tanah untuk kedua kalinya. Dan, sebelum sempat bergerak bangkit. Elang Hitam melesat dengan cengkeraman mautnya.

"Yeaaat...!"

Ki Bonggala yang sudah tidak mampu lagi berkelit itu hanya memandang terbelalak. Lelaki gagah itu sama sekali tidak berkedip menunggu maut yang siap menjemputnya.

"Haiiit...!"

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring membeset udara. Sesosok bayangan tinggi kurus melesat memotong serangan Elang Hitam. Akibatnya....

Plakkk! Bukkk! Desss!

"Aaakh.!" Hebat dan cepat sekali gerakan tangan sosok tinggi kurus itu. Bukan saja serangan Elang Hitam dapat ditangkisnya. Tapi, dua hantamannya pun bersarang telak di dada dan lambung tokoh sesat itu. Akibatnya, tubuh lelaki gemuk itu terjengkang dan mulutnya memuntahkan darah segar.

Bruggg!

Tanpa ampun lagi, tubuh Elang Hitam terbanting keras di atas tanah berumput. Namun meskipun kedua kakinya agak goyah, lelaki gemuk bercambang lebat itu masih dapat bergerak bangkit dengan sigapnya.

"Setan keparat...!" maki Elang Hitam dengi sorot mata yang memancarkan kemarahan yang amat sangat.

Sementara itu, sosok tubuh tinggi kurus telah berdiri tegak menghadapi Elang Hitam. Tatapan matanya yang terlindung di balik alis tebal putih berjuntai itu jelas menandakan bahwa lelaki itu telah berusia lanjut. Usianya tampak lebih dari tujuh puluh tahun. Kulit wajahnya pun telah dipenuhi keriput.

"Guru...!?" Ki Bonggala berseru lirih, agak tertahan. Lelaki gagah yang tengah terluka itu agak terkejut ketika mengenali siapa sesungguhnya sosok tinggi kurus itu.

"Dewa Langit..!?" desis Elang Hitam yang juga terkejut. Tanpa banyak cakap lagi, lelaki gemuk itu pun melesat pergi meninggalkan lawannya. Jelas, hatinya gentar terhadap laki-laki tua yang disebut dengan julukan Dewa Langit itu.

"Tunggulah pembalasanku, Ki Bonggala, Dewa Langit...!" Suara Elang Hitam terdengar dari kejauhan. Sosok bayangannya sendiri sudah tidak terlihat lagi, lenyap ditelan kerimbunan pepohonan hutan.

Perginya Elang Hitam menandakan kecerdikan otaknya. Sebab, laki-laki tua tinggi kurus yang disebut sebagai Dewa Langit itu bukan tandingannya. Guru Ki Bonggala itu adalah seorang tokoh sakti yang sangat terkenal dalam dunia persilatan. Entah bagaimana tokoh sakti yang telah mengasingkan diri itu tiba-tiba muncul menyelamatkan muridnya pada saat yang tepat.

"Guru..., syukurlah kedatanganmu sangat tepat. Terlambat sedikit saja, rasanya Guru hanya akan mendapatkan mayatku di tempat ini...," ucap Ki Bonggala setelah luka dalamnya diobati Dewa Langit.

"Hm.... Sesungguhnya aku memang ingin mengunjungimu, dan lewat lembah inilah jalan terdekat ke tempatmu. Kau tentunya sudah mempunyai keturunan yang dapat mewarisi ilmu-ilmuku. Aku sudah sangat tua, Bonggala. Meskipun kau telah mewarisi ilmu-ilmuku, ada beberapa ilmu yang tidak cocok denganmu karena bakat silatmu tidak begitu bagus. Jadi, kedatanganku ini adalah untuk mendidik putramu. Tentunya dia sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat perguruan kita. Aku tinggal menambah dan mematangkannya saja," jelas Dewa Langit.

"Hhh..."

Kening Dewa Langit berkerut melihat wajah murung dan helaan napas berat muridnya. Ditatapnya wajah lelaki gagah itu penuh selidik.

"Ada apa, Bonggala...? Kau tidak suka putramu menjadi muridku?" tanya Dewa Langit tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah Ki Bonggala.

"Bukan begitu, Guru.... Tapi, istri dan putraku telah lenyap dua puluh tahun yang lalu. Tampaknya mereka telah tewas. Itu kutekankan dalam hati, agar kesedihan tidak selalu datang apabila aku teringat pada mereka...," jawab Ki Bonggala dengan wajah gelap.

"Ahhh..., jadi kedatanganku sia-sia saja. Maafkan aku, Bonggala. Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu...," desah Dewa Langit yang merasa ikut prihatin dengan nasib muridnya Itu. Bayangan kekecewaan tergambar jelas pada raut wajah keriput itu.

"Akulah yang seharusnya minta maaf. Guru. Aku tidak pernah mengunjungimu setelah meninggalkan perguruan. Bahkan ketika aku menikah, justru Gurulah yang mengunjungiku. Aaah..., aku memang murid yang tidak tahu balas budi...," ujar Ki Bonggala memaki dirinya sendiri.

"Sudahlah, Bonggala. Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan. Biarlah, meskipun putramu telah tiada, aku tinggal di tempatmu untuk beberapa waktu. Sudah jauh sekali aku berjalan, tidak ada salahnya aku mampir di tempatmu, bukan? Itu pun kalau kau tidak keberatan...," ujar Dewa Langit sambil tersenyum tipis.

"Ah, Guru membuatku malu saja. Tentu saja aku merasa gembira apabila Guru mau tinggal bersamaku...," sahut Ki Bonggala dengan mata berbinar-binar.

"Yahhh..., siapa tahu saja ada di antara murid-muridmu yang memiliki bakat baik. Eh..., kau tentu mempunyai murid, bukan?" tanya Dewa Langit.

"Muridku cukup banyak, Guru. Sayang, tidak ada seorang pun yang berbakat baik. Jangankan untuk mewarisi ilmu-ilmu tinggi dari guru. Ilmu-ilmuku saja tidak dapat mereka warisi dengan baik. Aku benar-benar menyesal, Guru...," desah Ki Donggala.

Wajah Pendekar Tangan Sakti tampak murung, ia menyesali dirinya sendiri karena tak dapat membantu gurunya mencari murid yang memiliki bakat baik. Memang, untuk mendapatkan murid seperti yang diinginkan tokoh itu sulit sekali.

"Sudahlah, mari kita ke tempat tinggalmu...," tukas Dewa Langit memutuskan pembicaraan mereka.

Kedua pendekar berlainan usia itu kemudian segera melangkahkan kakinya, meninggalkan Lembah Hutan Welang.

********************

EMPAT

Di wilayah Timur Kadipaten Danau Bulus terdapat hutan bernama Jembalang. Bagi penduduk desa di sekitarnya, Hutan Jembalang dikenal sebagai hutan keramat. Hutan lebat yang angker itu banyak dihuni binatang-binatang buas pada umumnya. Sehingga, penduduk desa sekitar hutan itu menganggap binatang-binatang itu sebagai dewa ataupun pelindung mereka.

Nama dan keangkeran Hutan Jembalang tidak hanya dikenal oleh penduduk setempat. Tidak sedikit tokoh persilatan yang juga menganggap hutan itu sebagai tempat keramat. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada orang yang berani mendatangi atau mencoba menjelajahinya. Beberapa tokoh persilatan yang merasa penasaran pernah mencoba menjelajahi hutan itu. Tapi, sejak tokoh-tokoh itu pergi, tak ada seorang pun yang kembali. Sehingga, Hutan Jembalang semakin ditakuti.

Maka tidak seorang pun yang akan percaya apabila menyaksikan keanehan yang terlihat di dalam Hutan Jembalang pada pagi itu. Sesosok bayangan tubuh manusia tampak berlarian dengan cepatnya. Dan, yang lebih mengherankan lagi, seekor harimau besar ikut berlari di belakang sosok manusia itu. Cukup lama kedua sosok makhluk itu saling berkejaran. Setelah tiba di sebuah tepian sungai, barulah keduanya menghentikan langkah mereka.

Sosok bayangan manusja itu terlihat memiliki bentuk tubuh yang tinggi dan kokoh. Guratan-guratan otot tubuhnya jelas membayangkan kekuatan yang hebat. Belum lagi, bentuk raut wajahnya yang keras dan kokoh. Sungguh sebuah sosok manusia yang melambangkan kejantanan dan keperkasaan. Sayangnya, manusia yang tampak masih muda itu memiliki sepasang mata liar, persis seperti mata binatang buas. Sehingga, sosoknya yang tampan terlihat angker dan menakutkan.

"Grrrng,..!"

Setelah menatapi riak air sungai yang jernih itu sejenak, sosok yang jelas-jelas menandakan manusia rimba itu meraung lirih. Kepalanya berputar menoleh ke belakang. Di situ seekor harimau duduk memandangnya. Harimau muda yang besar itu pun meraung menunjukkan taringnya yang runcing.

Sosok manusia rimba berusia sekitar dua puluh tahun itu tampak mengulas senyum. Kemudian, ia melepaskan celana pendek dari kulit harimau yang dikenakannya. Lalu, diterjunkan dirinya ke dalam air sungai. Rupanya raungan tadi sebagai isyarat bahwa ia akan mandi.

Selama lelaki muda itu bermain di dalam sungai, harimau besar itu hanya duduk memandanginya. Sesekali terdengar raungannya ketika pemuda itu menyiraminya dengan air sungai. Sedangkan pemuda itu tertawa gembira melihat sahabatnya jengkel. Belum lagi pemuda itu merasa puas bermain-main di dalam air, tiba-tiba terdengar raungan keras bagai hendak menggetarkan seluruh isi hutan. Jelas suara itu merupakan raung kesakitan seekor harimau.

"Grauuung...!"

Lelaki muda itu pun meraung, menjawab raungan keras yang didengarnya. Cepat bagai kilat tubuhnya langsung melesat naik ke tepi sungai. Setelah mengenakan celana kulit harimaunya, bergegas pemuda itu mengajak sahabatnya, si harimau besar, berlari menuju sumber suara kesakitan tadi. Tidak lama kemudian, tibalah pemuda dan harimau besar itu di sebuah tempat yang agak terbuka. Terdengar erangan keras dari kedua makhluk berlainan wujud itu. Keduanya tampak marah menyaksikan pemandangan di depan mereka.

Belasan bangkai harimau bergeletakan saling tindih. Dan beberapa langkah di depan bangkai-bangkai harimau itu, tampak belasan ekor harimau lain tengah mengeroyok seorang lelaki bertubuh gemuk pendek. Meskipun dikeroyok belasan ekor harimau besar, lelaki yang berusia sekitar enam puluh tahun itu sama sekali tidak kelihatan gentar. Bahkan lelaki itu memperdengarkan suara kekehnya.

"Grauuurgh...!"

Empat ekor harimau besar yang muda dan kuat meraung sambil melompat. Cakar-cakar yang runcing dan terlihat kokoh siap merejam tubuh lelaki gemuk pendek itu.

"He he he...! Hari ini nasib kalian pasti sedang sial. Aku, Iblis Penakluk Harimau, akan menunjukkan pada orang-orang bahwa Hutan Jembalang tidak lagi pantas ditakuti...," kata lelaki gemuk itu sambil merendahkan tubuhnya dan mengangkat kedua telapak tangannya keatas.

Buggg! Desss!

Hebat dan tepat sekali perhitungan lelaki gemuk pendek itu. Hantaman sepasang telapak tangannya telak menghunjam tubuh dua ekor harimau yang menerjang dari kiri dan kanannya. Sehingga, kedua binatang buas itu meraung dan terlempar sejauh satu setengah tombak.

Gerakannya ternyata belum selesai, ia masih melanjutkan dengan lentingan ke udara dan putaran tubuh beberapa kali ke belakang. Sehingga, tubuh gemuk itu melampaui seekor harimau yang menerjang dari belakang. Dengan ringannya, tubuh gemuk pendek itu secara tak terduga mendarat di atas punggung harimau. Tangan kanannya bergerak melakukan tamparan keras ke arah kepala harimau yang berhasil ditungganginya.

Prakkk!

Darah segar langsung muncrat begitu telapak tangan lelaki itu menghantam pecah kepala harimau yang ditungganginya. Kemudian, dengan kaki kanannya, ditendangnya perut harimau yang menyerang dari depan saat harimau itu masih berada di udara.

Desss!

"Grauuung...!"

Harimau jantan itu menggerang kesakitan. Tubuhnya yang besar langsung terlempar hingga membentur sebatang pohon besar. Sambil menggeram marah dan menunjukkan taringnya, harimau jantan itu kembali bangkit dan melangkah. Tapi harimau besar itu agak ragu karena gentar menghadapi mangsanya kali ini.

Lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Iblis Penakluk Harimau itu tiba-tiba tersentak kaget. Baru saja ia melompat turun dari atas punggung harimau yang terbanting ke tanah, terdengar raungan keras yang agak aneh.

"Hei...!" Iblis Penakluk Harimau hampir tidak mempercayai pandangannya. Untuk beberapa saat lamanya, lelaki gemuk itu hanya berdiri terpaku menatap sosok manusia bertubuh kokoh yang matanya menyala penuh kebencian.

Ketika melihat sosok pemuda tampan bertubuh kokoh yang memancarkan kekuatan hebat itu melangkah maju, Iblis Penakluk Harimau bergerak mundur. Memang, langkah pemuda penghuni rimba itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menyerang. Dan lelaki gemuk itu sendiri bergerak mundur karena ingin mengetahui, apa yang akan diperbuat pemuda itu.

Untuk kedua kalinya. Iblis Penakluk Harimau dibuat terheran-heran. Pemuda bertubuh kokoh itu tampak menjatuhkan dirinya dan memeluk erat salah satu bangkai harimau. Sesekali terdengar raungannya bernada pilu. Pemuda itu tengah menangisi seekor harimau betina yang besar dan jelas berusia tua.

"Aneh, mengapa pemuda itu menangis...? Apakah harimau betina yang paling besar itu peliharaannya...? Ataukah memang harimau-harimau yang kubunuh itu peliharaannya?" gumam Iblis Penakluk Harimau dengan berbagai pertanyaan memusingkan kepalanya.

Tidak lama kemudian, pemuda bertubuh kokoh itu bangkit dengan gerakan perlahan. Sepasang matanya mencorong tajam menatap wajah Iblis Penakluk Harimau. Dari mulutnya terdengar erangan marah yang sambung-menyambung.

"Anak muda, siapakah kau? Apakah kau majikan hutan ini dan pemilik harimau-harimau yang kubunuh itu...?" tanya Iblis Penakluk Harimau sambil merayapi sosok tubuh kekar berotot di depannya itu.

Ada kilatan kekaguman yang tidak berusaha disembunyikan oleh lelaki gemuk itu. Jelas memang sosok pemuda itu mendatangkan kekaguman yang tidak bisa dipungkirinya. Tapi, pemuda itu sama sekali tidak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menggeram marah. Iblis Penakluk Harimau pun heran melihat tingkah pemuda itu.

"Hei, Anak Muda! Apakah kau tuli. Atau kau bisu...?" bentak Iblis Penakluk Harimau jengkel seraya melangkah maju menentang pandang pemuda itu dengan tidak kalah tajamnya.

Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Tampaknya dia tidak kuat melawan tatap mata Iblis Penakluk Harimau yang tajam mencorong itu. Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu kembali menelengkan kepalanya dengan sikap bingung, sadarlah Iblis Penakluk Harimau bahwa pemuda itu tidak bisa berbicara sebagaimana layaknya manusia.

"Aneh.... Mungkinkah pemuda ini tinggal sejak kecil di dalam hutan? Apakah harimau betina itu yang merawatnya? Lalu, dari mana sebenarnya asal pemuda ini? Apa mungkin ia diculik dari desa oleh harimau-harimau itu...?" Iblis Penakluk Harimau bertanya-tanya dalam hati. Peristiwa aneh memang sudah sering terjadi dalam kalangan persilatan, namun apa yang disaksikannya saat ini benar-benar sukar diterimanya.

Sementara itu, pemuda tampan bertubuh kokoh itu mulai melangkah ke depan. Seekor harimau muda yang memiliki bentuk tubuh lebih besar daripada harimau-harimau lainnya tampak mengikuti langkah pemuda itu sambil menunjukkan taring-taringnya dengan sikap mengancam. Sembilan ekor harimau lainnya yang masih hidup ikut mengiring dari belakang. Pemandangan ini jelas menandakan bahwa pemuda itu adalah pemimpin harimau-harimau yang mengeroyok Iblis Penakluk Harimau.

"Hm,.., tidak salah lagi, pemuda ini anak didik induk harimau yang tadi kubunuh. Bahkan, tampaknya ia sangat disegani harimau-harimau lainnya. Harimau-harimau itu tentu menganggap pemuda ini sebagai pemimpinnya, benar-benar menakjubkan...," desis Iblis Penakluk Harimau sambil berdecak kagum.

Iblis Penakluk Harimau bergerak ke samping saat rombongan harimau yang dipimpin pemuda tampan itu semakin mendekat ke arahnya. Pikiran yang melintas di benaknya membuat lelaki gemuk itu tersenyum licik. Ia ingin melihat, pemuda itu memiliki ilmu silat atau hanya sekadar terlatih oleh keganasan alam hutan.

"Hm...., majulah kau, Putra Harimau. Aku ingin melihat, apakah indukmu telah mendidikmu dengan baik...," tantang Iblis Penakluk Harimau sambil menatap tajam pemuda yang kini sudah menghentikan langkahnya itu.

Pemuda itu tampak merunduk, seperti siap menerkam Iblis Penakluk Harimau. Sedangkan harimau-harimau di belakangnya bergerak menyebar. Lelaki gemuk itu dikepung dari segala arah.

"Grrrhhh...!"

Pemuda bertubuh kokoh itu tampak menggeram lirih sambil menatap Iblis Penakluk Harimau dengan sorot mata yang tajam. Tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari kesempatan baik untuk menerjang lawan.

"Grauuung...!"

Dibarengi sebuah bentakan keras yang nyaring, pemuda itu melesat sambil merentangkan tangannya yang telah membentuk cakar harimau. Gerakannya ternyata jauh lebih gesit daripada harimau biasa. Sehingga, Iblis Penakluk Harimau sempat terbelalak kagum menyaksikannya. Namun betapapun cepatnya, terkaman pemuda itu tidak mengenai sasaran. Iblis Penakluk Harimau telah bergerak ke samping kanan sambil menepiskan cengkeraman tangan kiri pemuda itu.

Plakkk!

"Aaargh...!"

Terdengar pemuda itu meraung kesakitan ketika tepisan tangan Iblis Penakluk Harimau mengenai lengan kirinya. Meskipun demikian, tubuh pemuda itu tidak sampai terbanting di tanah. Sebab, dengan sebuah gerakan ringan, tubuh pemuda itu telah melenting dan jatuh dengan kedua tangan terlebih dahulu. Dia lalu melejit bangkit sambil meraung marah.

Saat itu juga harimau jantan muda yang bertubuh besar dan kuat melesat untuk menerkam Iblis Penakluk Harimau. Tapi, lelaki gemuk itu sama kali tidak gugup. Dengan sebuah geseran yang indah, tangan kanannya bergerak dari samping menghajar tubuh harimau muda itu.

Desss...!

Harimau muda itu meraung keras. Tubuhnya terlempar hingga melanggar sebatang pohon besar. Beberapa saat lamanya, harimau muda itu hanya mendekam sambil mengaum lirih, ia tampak menderita akibat perbuatan Iblis Penakluk Harimau.

Keganasan Iblis Penakluk Harimau tidak sampai di situ saja. Setelah menghajar harimau muda yang menerjangnya tadi, tubuh lelaki gemuk bergerak cepat ke depan. Tiga ekor harimau yan tengah siap menerkam, langsung berkelojotan dengan kepala pecah dihajar keras olehnya. Kemudian, dibagi-bagikan tamparan mautnya ke arah harimau-harimau lainnya. Sehingga, dalam beberapa gebrakan saja, habislah harimau yang mengeroyoknya, kecuali harimau muda yang masih mendekam kesakitan dan pemuda tampan itu.

"He he he.... Rasanya sayang kalau aku membunuhmu, Putra Harimau. Lebih baik kau kutangkap dan kulatih untuk mewarisi semua ilmuku. Kelak kau pasti akan menggemparkan rimba persilatan...," gumam lelaki gemuk itu sambil melangkah maju menghampiri kedua lawannya yang kini telah siap kembali memasang kuda-kuda itu. Baru saja kedua belah pihak siap untuk saling menggempur, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan nyaring. Masing-masing pun menahan gerakannya.

"Tunggu...!" Bentakan nyaring itu disusul berkelebatnya sesosok gemuk yang wajahnya bercambang lebat. Lelaki itu melangkah ke arah Iblis Penakluk Harimau.

"Elang Hitam...? Mau apa kau datang ke tempat ini...?" tegur Iblis Penakluk Harimau. Lelaki pendek gemuk itu tampak terganggu dengan kedatangan lelaki bercambang lebat yang tidak lain dari Elang Hitam itu.

"Hm..., Iblis Penakluk Harimau, apakah kau tidak melihat kalung yang tergantung di leher pemuda hutan itu...? Perhatikanlah baik-baik. Kau pasti akan terkejut setelah mengetahuinya," ujar Elang Hitam, agak pelan.

Iblis Penakluk Harimau berkerut keningnya. Meskipun demikian, ia menoleh juga ke arah Putra Harimau itu. Diperhatikannya kalung yang tergantung di leher pemuda itu. "Hm...," gumam Iblis Penakluk Harimau dengan rona wajah berubah. Tampaknya ia mengenali permata kalung berbentuk pipih yang terbuat dari perak itu.

"Kau pasti kenal, siapa pemilik kalung berlambang telapak tangan itu, bukan? Nah, turutilah rencanaku...," ujar Elang Hitam dengan tatapan tajam.

"Hm..., kalau begitu, kau pasti sudah sejak tadi berada di tempat ini. Aku kira, tidak mungkin kau sudi menginjakkan kaki di Hutan Jembalang ini tanpa suatu maksud tertentu. Nah, jelaskanlah rencanamu itu padaku...," pinta Iblis Penakluk Harimau dengan wajah sungguh-sungguh.

"Aku memang sedang mencarimu. Dari seorang muridmu, aku mendapat keterangan bahwa kau hendak mendatangi Hutan Jembalang ini karena tertarik dengan keangkerannya. Itulah sebabnya aku datang ke hutan ini. Aku mengharapkan bantuanmu untuk suatu urusan yang pasti kau sukai. Tentang urusan itu sendiri, nantilah aku jelaskan. Yang penting sekarang, kau jangan membunuh pemuda itu. Sebaiknya kita tawan saja. Dia bisa dipergunakan untuk melawan musuh kita...," jelas Elang Hitam dengan senyum tipis penuh rencana licik.

"Hm..., pemuda itu tentu memiliki perasaan yang tajam, sebagaimana binatang buas lainnya. Sebaiknya kita mengatur siasat, agar ia mau mengikutimu dan membantumu menghadapi musuh-musuh kita...," usul Iblis Penakluk Harimau yang tampak memiliki otak lebih cerdik dibanding kawannya.

Untuk beberapa saat lamanya, suasana menjadi hening. Kedua tokoh sesat itu saling berbisik mengatur rencana. Setelah mendapatkan kata sepakat, barulah keduanya menatap ke arah si pemuda dan harimau muda itu. Elang Hitam bergerak merenggang, menjauhi rekannya. Sedangkan Iblis Penakluk Harimau melangkah maju menghadapi kedua lawannya.

"Grrrh...!"

Kedua makhluk berlainan wujud yang berkawan sejak kecil itu menggeram marah. Keduanya berpencar, siap menghadapi gebrakan Iblis Penakluk Harimau.

"Yeaaah..!"

Disertai sebuah bentakan nyaring, tubuh lelaki gemuk pendek itu melesat menerjang lawannya. Pertarungan pun kembali berlangsung sengit. Iblis Penakluk Harimau bergerak cepat dengan lontaran pukulan-pukulannya. Sehingga, kedua lawannya jatuh bangun dan semakin terdesak hebat.

Bukkk!

Untuk kesekian kalinya, sebuah pukulan keras menghajar tubuh harimau muda itu dengan telak. Tanpa ampun lagi, tubuh harimau jantan yang besar itu pun terlempar deras, lalu terbanting hingga menimbulkan suara berdebuk nyaring.

"Hreeeaaagh...!"

Si pemuda tampan meraung murka. Cepat bagai kilat, tubuhnya melesat menolong binatang yang menjadi sahabatnya itu. Sebab, saat itu Iblis Penakluk Harimau telah siap melepaskan tamparannya untuk menghabisi nyawa harimau muda itu.

"Hmh...," gumam Iblis Penakluk Harimau perlahan, seraya mengubah tamparannya menjadi sebuah tebasan yang mengancam lambung lawan.

Whuttt!

Tebasan sisi telapak tangan Iblis Penakluk Harimau menderu mengincar lambung pemuda itu. Namun, sebuah bayangan lain datang sambil mengayunkan tangannya menyambut tebasan telapak tangan Iblis Penakluk Harimau itu. Dan....

Plakkk!

Iblis Penakluk Harimau dan sosok bayangan yang menyambut pukulannya itu sama-sama terlempar ke belakang. Jelas bahwa kekuatan tenaga dalam keduanya berimbang.

"Keparat...!" hardik Iblis Penakluk Harimau. "Mengapa kau ikut campur urusanku, Elang Hitam?"

"Sebaiknya kau pergilah dari Hutan Jembalang ini, Iblis Penakluk Harimau. Kalau tidak, terpaksa aku akan menamatkan riwayatmu," ujar sosok bayangan yang menolong pemuda itu. Namun jelas, pertengkaran keduanya hanyalah sebuah sandiwara untuk menarik simpati Putra Harimau.

"Bangsat...!"

Sambil menghardik kasar, Iblis Penakluk Harimau melompat disertai tamparan keras yang mengancam kepala lawan.

"Hmh..." Elang Hitam mendengus. Tubuhnya direndahkan sambil melontarkan hantaman telapak tangan ke arah tubuh lawan. Dan....

Bukkk!

"Akh.!"

Hantaman telapak tangan yang dilontarkan Elang Hitam telak mengenai sasaran. Sehingga, tubuh lawannya terlempar mundur hingga satu tombak jauhnya.

"Pergilah...!" bentak Elang Hitam dengan sorot mata tajam, namun tampak sebelah matanya mengerdip memberi isyarat.

Iblis Penakluk Harimau menggeram perlahan. Tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu. Namun, sempat dilontarkannya sebilah pisau kecil ke arah harimau muda yang berada di samping Putra Harimau.

Siuuut.., cappp!

Harimau muda yang tidak sempat menghindar itu meraung keras. Pisau kecil itu telah menancap di antara kedua matanya. Darah segar pun mengalir. Harimau besar itu menggelepar di atas tanah.

Elang Hitam bergegas menghambur ke tubuh harimau itu. Sebelum Putra Harimau sempat menyadarinya, Iblis Penakluk Harimau telah mendorong gagang pisau kecil yang masih tampak di kepala harimau itu hingga melesak semakin dalam. Jelas, kematian harimau muda itu ingin dipercepatnya.

"Hm..., sayang aku tidak berhasil menyelamatkannya. Sahabat," desah Elang Hitam, berpura-pura menyesal. Putra Harimau hanya menatap bingung, tidak mengerti, mengapa lelaki tinggi gemuk bercambang lebat itu menolongnya. Pemuda itu hanya menggereng lirih, mirip sebuah tangisan seorang anak yang ditinggalkan sahabat bermainnya.

Elang Hitam mengelus rambut pemuda itu dengan lembut. Tampak lelaki gemuk berhati licik itu hendak menanamkan kesan baik pada pemuda itu.

"Sudahlah. Lebih baik kita kuburkan saja kawan-kawanmu yang telah tewas itu...," ujar Elang Hitam.

Tanpa banyak cakap lagi, Elang Hitam segera membuat lubang untuk menguburkan mayat-mayat harimau yang berserakan itu. Sedangkan Putra Harimau hanya menatap bingung.

LIMA

Elang Hitam memandang sosok tegap berambut panjang yang tengah bersimpuh di kuburan harimau-harimau itu. Sesekali terdengar raungan lirih keluar dari kerongkongan pemuda itu. Jelas sekali kalau pemuda itu tengah dilanda kesedihan yang dalam. Namun, setelah menanti sekian lama, pemuda itu tidak juga bergerak bangkit Elang Hitam menjadi tidak sabar. Dilangkahkan kakinya mendekati pemuda itu. Ditepuknya bahu pemuda itu perlahan sambil menghibur.

"Sudahlah, Anak Muda. Tidak baik membenamkan diri dalam kesedihan yang berlarut-larut. Sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini. Kau bersedia ikut bersamaku, bukan...?" tanya Elang Hitam dengan kata-kata manis.

Pemuda putra harimau yang semenjak kecil hidup di dalam hutan itu sejenak terpaku. Dipandanginya wajah Elang Hitam dengan raut bingung. Jelas ia tidak mengerti ucapan-ucapan yang dikeluarkan Elang Hitam.

Elang Hitam terpaksa menggunakan gerakan tangan untuk berbicara kepada pemuda itu. Tapi, ajakan lelaki bercambang lebat tampaknya tidak diterima si pemuda. Terlihat ia menggeram-geram tidak senang.

"Hm...," gumam Elang Hitam sambil berpikir keras. Sebenarnya bisa saja Elang Hitam memaksa, tapi pemuda itu kemungkinan tidak akan menurut nantinya. Itulah yang membuat Elang Hitam harus menelan kedongkolan hatinya, dengan mencoba terus bersikap baik kepada pemuda itu. Kemudian Elang Hitam pun terpaksa mengikuti kemauan pemuda itu. Lelaki gemuk itu sama sekali tidak membantah ketika si Putra Harimau mengajaknya tinggal di dalam hutan.

"Hm..., biarlah untuk beberapa hari ini aku menuruti kemauannya. Kelak bila sudah menaruh kepercayaan kepadaku ia tentu tidak akan sulit lagi diatur," gumam Elang Hitam sambil mengikuti langkah pemuda itu.

Beberapa hari lamanya, Elang Hitam mengikuti kemauan pemuda itu. Bahkan lelaki gemuk bercambang lebat itu mulai mengajarkan bicara sedikit demi sedikit. Sehingga, meskipun agak sulit, pemuda itu mulai dapat berbicara.

"Wa-na-ra...."

Pada hari ketiga, Elang Hitam mulai memberikan nama kepada pemuda itu. Diucapkannya nama itu sambil menunjuk ke arah si Putra Harimau.

"Wa... na... ra...," ucap pemuda itu tersendat-sendat meniru sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.

"Bagus. Mulai sekarang kau harus ingat baik-baik, namamu adalah Wanara. Namamu Wa-nara."

Elang Hitam bukan main gembiranya melihat putra harimau itu sudah makin mengerti akan ucapan-ucapannya.

"Na-ma-ku... Wa-na-ra ," ulang pemuda itu seraya terkekeh gembira. Jelas sekali kalau pemuda itu pun tidak kalah gembiranya dapat berkata-kata seperti manusia pada umumnya. Dan setelah beberapa hari tinggal ditemani Elang Hitam, pemuda itu mulai mengerti siapa sebenarnya dirinya, ia pun telah memahami perbedaan antara manusia dan binatang.

Elang Hitam bukan hanya mengajarkan Wanara untuk berbicara. Tokoh sesat itu juga mengajarkan dasar-dasar ilmu silat. Kegembiraan lelaki bercambang lebat itu kian menjadi-jadi. Sebab, Wanara bukan hanya cerdik, tapi juga memiliki bakat yang sangat besar dalam ilmu silat. Bahkan gerakan tubuhnya hampir menyamai Elang Hitam. Hal ini tidak terlalu aneh. Wanara yang semenjak kecil hidup di dalam hutan dan dididik oleh seekor induk harimau itu tentu saja memiliki kegesitan dan kekuatan seperti halnya seekor harimau. Dalam waktu beberapa hari saja, kepandaian pemuda bertubuh kuat itu telah maju pesat.

Pada pagi hari yang kesepuluh. Elang Hitam menatap penuh kagum ke arah Wanara yang tengah berlatih ilmu silat. Kelincahan pukulannya tampak sudah sedemikian mantap. Sehingga, lelaki gemuk itu tersenyum-senyum penuh kepuasan. Elang Hitam pun menjadi gatal-gatal tangannya.

"Wanara! Sambut seranganku...!" seru lelaki gemuk itu sambil meluruk ke arah Wanara. "Hiaaahhh...!"

Whuuut!

Cengkeraman Elang Hitam meluruk cepat mengancam kedua lambung Wanara. Serangkum angin berkesiutan menyertai datangnya cengkeraman hebat itu. Jelas tenaga yang dikerahkan Elang Hitam cukup kuat dan bisa membahayakan lawan.

"Heeearkhhh...!" Wanara berseru keras. Dilambungkan tubuhnya ke depan dan terus diputarnya dengan kepala di bawah. Sepasang tangannya dengan telapak terbuka bergerak cepat siap menghajar kedua telinga Elang Hitam.

"Bagus...!" ujar Elang Hitam melihat tindakan cepat Wanara. Sambil melontarkan pujian, lelaki gemuk itu merendahkan kuda-kudanya. Kemudian dia melejit balik dengan sebuah tendangan keras mengarah perut Wanara.

Plakkk! Plakkk!

"Uhhh...!"

Tendangan kilat yang tak terduga itu berhasil ditepiskan Wanara, meskipun untuk itu ia harus menderita rasa nyeri pada telapak tangannya. Tubuhnya melejit kembali ke udara dengan menggunakan tenaga benturan itu, lalu meluruk turun dengan kaki di atas tanah.

"Yeaaattt..!"

Elang Hitam sepertinya tidak mau memberikan kesempatan bagi Wanara untuk menarik napas lega. Dengan disertai teriakan nyaring, tokoh sesat itu kembali meluncur menerjang Wanara. Sepasang tangannya yang berbentuk cakar elang bergerak cepat susul-menyusul, mengarah bagian-bagian terlemah di tubuh pemuda itu.

Bettt! Bettt! Bettt!

"Haittt..!"

Dengan loncatan-loncatan ringan, Wanara bergerak ke arah kiri dan kanan menghindari sambaran cakar Elang Hitam! Gerakan pemuda itu sangat gesit, sehingga Elang Hitam sempat kebingungan mengejar sasarannya. Setelah melewati dua puluh lima jurus, Elang Hitam semakin menambah kekuatan dan kecepatan serangan-serangannya. Tentu saja gempuran-gempuran hebat itu membuat Wanara terdesak hebat. Hingga, pada jurus yang ketiga puluh, pemuda itu tidak sanggup lagi bertahan. Akibatnya, sebuah pukulan telapak tangan Elang Hitam telak menghajar tubuhnya.

Bukkk!

"Aaakhhh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Wanara terlempar deras dan terbanting ke atas tanah berumput. Meskipun pemuda itu dapat bangkit lagi dengan sigapnya, dari raut wajahnya tergambar bahwa ia cukup merasakan kerasnya pukulan lawan. Cairan merah tampak membasahi sudut kiri bibirnya.

"Cukup, Wanara...!" Elang Hitam berseru mencegah ketika dilihatnya Wanara masih hendak melanjutkan pertarungan. Lelaki bercambang lebat itu melangkah ke arah pemuda tampan itu dengan senyum lebar yang menandakan kepuasan hatinya.

"Gu-ru... hebat se-ka-li...," puji Wanara dengan suara terpatah-patah, tapi terdengar jelas dan bisa dimengerti oleh Elang Hitam.

"Kau pun hebat, Wanara. Kemajuan yang kau peroleh pesat sekali. Kalau saja ada orang yang mendidikmu lebih pandai dari aku, mungkin saat ini aku sudah tidak mampu lagi berhadapan denganmu," ujar Elang Hitam dengan wajah berseri.

Kemajuan yang diperoleh pemuda itu tentu saja mendatangkan keuntungan yang menggembirakan bagi Elang Hitam. Sebab, pemuda itu jelas dapat menjadi seorang pembantu yang sangat baik baginya. Jika ditekankan bahwa ia adalah orang satu-satunya yang terbaik bagi Wanara, kemungkinan pemuda itu untuk berkhianat sangat kecil.

"Be-tul-kah... itu..., Gu-ru...," tegas Wanara, seolah-olah belum percaya akan kemampuan yang kini dimilikinya.

"Tentu saja betul. Apa aku pernah berbohong padamu...?" kata Elang Hitam. "Sekarang sudah saatnya kita keluar dari Hutan Jembalang ini. Kau masih ingat bukan, cerita yang pernah kusampaikan padamu beberapa hari lalu...?"

"Ten-tang... mu-suh be-sar Gu-ru...," sahut Wanara setelah mengingat beberapa saat lamanya.

"Benar. Untuk itulah kita harus keluar dari hutan ini. Selain itu, aku pun ingin meminta bantuan dari beberapa rekan segolongan. Sebab, selain kejam, musuhku itu memiliki ilmu tinggi, ia juga mempunyai seorang pembantu yang sangat hebat..."

Elang Hitam mulai menanamkan bibit kebencian di hati Wanara terhadap musuhnya. Sehingga, pemuda polos itu menjadi geram terhadap orang yang dianggapnya jahat itu. Sedangkan Elang Hitam dirasakannya sangat baik terhadapnya.

"Kalau begitu, ayolah ki-ta ca-ri orang ja-hat itu, Gu-ru...," sahut Wanara dengan tatapan mata berkilat yang menggambarkan kebencian terhadap musuh besar gurunya itu.

"Ayolah. Tapi sebelumnya kita harus mencari seorang guru yang pandai untuk menambah ilmu-ilmu yang telah kau miliki," ujar Elang Hitam seraya mengajak Wanara meninggalkan Hutan Jembalang.

********************

Rambahan sinar matahari pagi semakin meluas ke seluruh permukaan bumi. Kehangatannya menjalar menguapkan lapisan embun di pucuk-pucuk dedaunan. Semilir angin pagi yang lembut terasa bagai elusan tangan gadis jelita yang menimbulkan kesegaran dankenikmatan. Saat itu, dua sosok tubuh tampak bergerak perlahan melewati batas Desa Babakan. Nama desa itu tertulis pada tiang batu setinggi bahu yang terpancang di pinggirjalan.

Angin pagi yang lembut sesekali menyibakkan rambut kedua sosok itu. Namun, keduanya sama sekali tidak peduli. Mereka terus saja melangkah lambat menyusuri jalan lebar memasuki Desa Babakan. Tidak lama kemudian, tibalah keduanya di mulut desa. Beberapa penduduk desa yang berpapasan dengan mereka melemparkan pandang penuh kekaguman terhadap sosok ramping yang berpakaian serba hijau.

Sosok ramping itu adalah orang yang sangat jelita dan mempesona. Beberapa lelaki muda melemparkan pandangan penuh iri kepada pemuda berjubah putih yang berjalan bersamanya. Pemuda dan gadis itu tetap tidak peduli. Keduanya terus melangkah menyusuri jalan utama Desa Babakan. Mereka baru berhenti saat melihat sebuah kedai makan yang agak sepi.

"Kita singgah sebentar di kedai ini, Kakang...," kata gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Suaranya demikian bening dan memikat.

Sosok pemuda berjubah putih yang tampan itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Kemudian keduanya bergerak memasuki kedai makan di tepi jalan utama desa itu. Tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, pemuda tampan berjubah putih itu melambaikan tangan kepada seorang lelaki setengah baya yang berpakaian pelayan.

Segera saja pelayan itu bergerak menghampiri. Tapi baru beberapa langkah pelayan itu melangkahkan kakinya, mendadak sebuah lengan kekar berbulu lebat menghalangi jalannya. Lelaki setengah baya itu pun menghentikan langkahnya dan menatap si empunya lengan dengan tatapan takut-takut.

"Kembalilah. Biar aku saja yang melayani keperluan dua orang asing itu." Terdengar suara berat dan parau dari si empunya lengan kekar berbulu itu. Wajahnya yang bercambang lebat dengan sepasang mata yang lebar tampak menakutkan sekali. Sehingga, tanpa membantah lagi pelayan itu bergerak mundur.

"Baik., baik.., Tuan...," ujar pelayan itu terbata-bata. Pada wajah tua si pelayan terbayang kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Tampaknya lelaki kekar menyeramkan itu sudah dikenalnya.

Lelaki kekar bercambang lebat dengan mata besar itu menghampiri meja pemuda berjubah putih, seraya memilin- milin kumisnya yang lebat. Sedangkan matanya tak pernah lepas dari raut wajah jelita gadis di samping pemuda itu.

"Hm , kalian tentu bukan orang Desa Babakan ini. Dari mana asal kalian dan ada keperluan apa singgah di desa kami ini...?" tanya lelaki bercambang bauk itu sambil menaikkan kakinya ke atas kursi. Sikapnya jelas menggambarkan kesombongan.

Pemuda tampan berjubah putih itu tersenyum sabar. Disentuhnya lengan gadis jelita di sampingnya ketika dilihatnya si gadis hendak bangkit. Kemudian ditatapnya wajah bengis di depannya setelah gadis jelita itu menuruti isyaratnya.

"Kami memang bukan warga Desa Babakan ini, Kisanak. Kami hanyalah dua orang pengembara yang kehausan dan hendak melepaskan lelah di desa ini. Maafkanlah apabila kedatangan kami tidak berkenan di hati Kisanak..," ujar pemuda tampan berjubah putih itu dengan nada halus dan sabar. Senyum si pemuda tampak mengiringi setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Jelas semua itu menandakan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan keributan.

"Hm..., sayang sekali gadis jelita seperti Nisanak ini tidak diberikan kehidupan yang layak. Nisanak, daripada kau mengikuti pemuda gembel ini, apakah tidak sebaiknya kau menjadi istriku? Ikutlah bersamaku. Kau akan kuberikan rumah yang megah dan kehidupan yang jauh lebih ketimbang yang diberikan pemuda ini kepadamu. Ayolah...," kata lelaki bercambang lebat itu sambil mengulurkan tangannya hendak mencekal lengan halus gadis jelita yang berpakaian serba hijau itu.

Namun, sebelum pemuda berjubah putih itu sempat mencegah, tiba-tiba gadis cantik berpakaian serba hijau itu menggerakkan tangannya dengan kecepatan kilat. Akibatnya....

Plakkk!

"Aaughhh.!" Lelaki bercambang lebat itu menjerit keras tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya langsung terjengkang hingga menimpa meja di belakangnya. Tanpa ampun lagi, meja itu pun berderak patah karena tak sanggup menahan berat tubuh lelaki kasar itu.

"Kurang ajar.!" Lelaki berwajah bengis itu memaki kalang-kabut dan menyumpah-nyumpah kotor. Dihapusnya cairan merah yang membasahi sudut bibirnya. Pada bagian kiri wajah orang itu tampak tergambar jelas bekas jari-jari tangan mungil yang membentuk guratan-guratan merah. Lelaki bercambang lebat itu telah terkena tamparan keras yang entah kapan datangnya.

"Sabar, Kisanak..," bujuk pemuda berjubah putih itu seraya bangkit, mencoba menghindari keributan. Tapi, ucapan pemuda tampan ini dianggap sebagai suatu penghinaan oleh lelaki bengis itu. Ia menduga, pemuda itulah yang telah menamparnya. Segera saja diayunkan lengannya yang besar dan berhulu itu ke wajah si pemuda tampan.

Whuuut!

Untunglah pemuda tampan berjubah putih itu telah lebih dulu menundukkan kepalanya. Sehingga, selamatlah ia dari ancaman jari-jari tangan yang besar dan kasar itu.

"Bedebah...!"

Elakan pemuda itu ibarat minyak yang disiramkan ke api yang berkobar. Dengan kemarahan memuncak, lelaki bercambang bauk itu kembali menerjang. Kali ini bukan hanya tamparan yang digunakan. Tendangan dan pukulan pun bergerak susul-menyusul mengincar wajah dan tubuh pemuda itu.

Meskipun demikian, pemuda berjubah putih itu sama sekali tidak gugup. Dengan gerakan tubuh yang indah, setiap pukulan dan tendangan lawan dapat dihindarinya. Sehingga, beberapa meja dan kursi pun patah berantakan terkena terjangan lelaki bengis itu. Suasana kedai menjadi hiruk-pikuk.

Sadar bahwa jika tingkah lelaki bengis itu dibiarkan berlarut-larut, kedai makan ini bisa hancur berantakan. Pemuda berjubah putih itu segera melesat keluar. Gerakannya itu diikuti pula oleh gadis jelita berbaju hijau.

"Keparat! Hendak lari ke mana kau. Pengecut..!" teriak lelaki bercambang lebat itu sambil bergegas menyusul kedua orang lawannya keluar kedai.

Empat pengunjung lain yang tampaknya kawan dari lelaki bengis itu ikut pula melompat keluar dari kedai dengan senjata terhunus. Mereka bermaksud mengeroyok kedua pendatang baru itu.

ENAM

Pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau itu berdiri tegak di samping halaman kedai. Dugaan lelaki bangis bercambang lebat itu ternyata salah. Terbukti, kedua orang pendatang itu sama sekali tidak melarikan diri.

"Hm..., pantas kalian berdua demikian sombong. Rupanya kalian memiliki kepandaian juga...," geram lelaki berwajah bengis itu sambil mencabut pedang dari pinggangnya. Sikap lelaki gemuk itu jelas bukanlah sekedar gertakan. Sehingga, pemuda berjubah putih itu sempat berkerut keningnya.

"Kisanak, persoalan diantara kita hanya sepele. Mengapa harus dibesar-besarkan? Kalau memang kau menganggap kami berdua salah, baiklah aku mohon maaf, dan harap kesalahpahaman ini tidak dilanjutkan...," bujuk pemuda tampan berjubah putih itu dengan halus. Jelas, keributan sama sekali tidak diinginkannya.

"Sudahlah, Kakang. Percuma kau membujuk mereka. Orang- orang sombong seperti itu harus diberi pelajaran, biar lain kali tidak lagi bertindak kurang ajar...," selak gadis jelita di samping pemuda tampan itu. Kakinya yang mungil dan ramping sudah melangkah, siap meladeni telaki bercambang lebat dan kawan-kawannya itu.

"Benar apa yang dikatakan gadis jelita itu, Pemuda Pengecut. Tapi, kalau kau memang ingin minta ampun, ayo, bersujudlah, minta ampun dari ku!" kata lelaki bercambang lebat itu dengan sombong.

"Nah, kau dengar sendiri, bukan? Kakang mau mengikuti kemauan orang kasar itu?" sindir gadis jelita itu dengan wajah yang berubah gelap, setelah mendengar permintaan yang melewati batas itu.

"Ayo kepung mereka! Bunuh pemuda itu! Gadis jelita ini biar menjadi bagianku...!" perintah lelaki bercambang lebat itukepada kawan-kawannya.

Keempat lelaki yang telah menghunus senjata itu pun langsung mengepung.

"Yeaaat..!"

Tanpa membuang-buang waktu, keempat lelaki kasar itu segera melesat dengan tebasan senjatanya. Mereka tampak sungguh-sungguh. Hal itu pun sudah diketahui oleh pemuda tampan berjubah putih itu. Segera tubuhnya digeser untuk menghindari sebuah sambaran senjata yang mengancam lambung kanannya.

"Hm..." Sambil bergumam, pemuda tampan itu melesat ke belakang sejauh dua tombak. Para pengeroyoknya menjadi kaget melihat kecepatan gerak itu.

"Kisanak. Sebaiknya sudahi saja permain konyol ini sebelum kalian menyesal...," kata pemuda itu untuk kesekian kalinya. Ucapannya kali ini bernada mengancam.

"Tidak perlu banyak bacot! Hadapi senjata kami.!"

Orang-orang kasar itu sama sekali tidak peduli. Mereka kembali menerjang dengan sambaran senjata yang berkeredep menyilaukan mata. Kali ini wajah keempat lelaki kasar itu terlihat berseri. Sebab, pemuda tampan itu sama sekali tidak menunjukkan usaha untuk menghindar sambaran senjata-senjata mereka. Keempat orang itu menduga, si pemuda telah menjadi kaku tubuhnya karena rasa takut. Empat bilah senjata pun meluruk deras. Pemuda itu terlihat pasrah. Tapi…

Wuttt! Trakkk! Trakkk!

"Augkh...!"

"Akh...!"

Apa yang terjadi kemudian benar-benar tidak pernah terbetik dalam pikiran keempat lelaki kasar itu. Saat mata pedang mereka menghantam tubuh yang terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan itu terdengar suara berpatahan yang disusul runtuhnya senjata mereka ke tanah dalam keadaan terbelah. Tubuh keempatnya kemudian terpental ke belakang bagai dilempar tangan-tangan raksasa. Keempat lelaki kasar itu pun menjerit keras.

Demikian pula halnya yang dialami lelaki bercambang lebat itu. Lelaki yang begitu bernafsu melawan gadis jelita berpakaian serba hijau itu harus menerima kenyataan yang tidak pernah dibayangkannya. Dalam sepuluh jurus saja, tubuhnya terpental akibat tendangan keras yang telak menghajar dadanya. Darah segar pun menghambur dari mulut dan jatuh membasahi tanah merah.

"Ugh..." Lelaki kekar bercambang lebat itu mengeluh kesakitan. Dia berusaha bangkit, tapi tendangan keras yang diterimanya bagai meremukkan tulang-tulang dadanya. Sehingga, untuk kesekian kalinya lelaki itu terjatuh dan kini tidak mampu berdiri lagi. Empat lelaki kasar lainnya beringsut menghampiri lelaki bercambang lebat yang menjadi pemimpinnya itu.

Pemuda tampan berjubah putih dan gadis berpakaian serba hijau itu melangkah lambat menghampiri lawan-lawannya yang sudah tidak berdaya. Kelima orang lelaki kasar itu pun bertambah takut.

"Ampun kami, Tuan Pendekar.... Jangan bunuh kami...," ratap kelima lelaki kasar itu sambil menyembah-nyembah.

"Hm..., pergilah kalian sebelum pikiranku berubah...," kata gadis jelita itu dengan nada yang datar dan dingin. Rasa kesal sesungguhnya belum lenyap di hati si gadis jika teringat kekurangajaran lelaki bercambang lebat itu. Sikap sabar pemuda tampan itulah yang membuatnya tidak berani menyakiti lawan-lawannya lebih jauh.

Tanpa banyak cakap lagi, kelima orang itu bergerak bangkit, kemudian tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.

"Hm..., ada-ada saja.... Lenyap sudah selera makanku. Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan kita, Kakang. Rupanya penduduk di sini tidak ramah kalau menyambut orang asing."

Gadis jelita itu melangkah menuju perbatasan desa sebelah Barat. Sedangkan pemuda tampan berjubah putih itu tidak berkata apa-apa. Ia mengayunkan langkahnya mengikuti gadis itu.

********************

"Tuan Pendekar..., tunggu...!"

Gadis jelita dan pemuda tampan berjubah putih itu menahan langkah ketika terdengar ada yang memanggil dari belakang. Kening keduanya berkerut. Tampak seorang lelaki setengah baya tengah berlari mengejar mereka.

"Tu... an Pendekar..., jangan pergi...," ujar lelaki setengah baya itu dengan suara terputus-putus. Dengus napasnya yang memburu membuatnya tidak bisa berkata dengan baik.

"Tenanglah, Paman. Mari duduklah...," sapa pemuda tampan berjubah putih itu.

Ketiganya kemudian duduk di sebuah batu besar.

"Nah, sekarang ceritakanlah, apa yang ingin Paman sampaikan kepada kami. Mungkin kami bisa memberikan bantuan...," tanya gadis jelita berpakaian hijau itu dengan lembut. Seulas senyum manis tersungging di bibirnya, membentuk dua lesung pipit yang makin membuatnya memikat.

"Aku melihat saat Tuan berdua bertarung melawan lima orang lelaki kasar dan jahat itu. Ketahuilah, Tuan Pendekar! Mereka sama sekali bukan warga Desa Babakan. Mereka adalah perampok-perampok yang menguasai desa. Sedangkan pemimpin mereka hanya datang setiap tiga bulan sekali, untuk mengambil upeti dan perempuan-perempuan muda di desa kami. Hal ini sudah berlangsung hampir tiga tahun. Melihat Tuan berdua dapat mengalahkan kelima perampok itu tanpa kesulitan, langsung saja aku mengejar dan memohon bantuan...," kata lelaki setengah baya itu. Ditatapnya wajah kedua pendekar muda itu berganti-ganti. Ada sinar kecemasan dalam mata tua itu, tampaknya dia takut kalau pasangan pendekar itu akan menolak permintaannya.

"Hm..., mengapa kepala desamu tidak mengusir mereka...?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu sambil lalu.

"Itulah celakanya. Kepala desa kami, yang semula sangat memperhatikan penduduk, kini malah membantu para perampok itu untuk mengumpulkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Tapi hal itu bisa dimaklumi. Sebab, rumah kepala desa itu sendiri dijaga ketat oleh beberapa perampok. Sehingga, apabila sang Kepala Desa berbuat macam-macam, keluarganya pasti akan dibantai habis. Mungkin itulah alasannya mengapa Ki Danggala tidak berani mengambil tindakan," jelas lelaki setengah baya itu.

Pasangan pendekar muda itu hanya mengangguk-angguk mendengar keterangan lelaki setengah baya itu. Sehingga lagi-lagi lelaki itu cemas takut permintaannya ditolak.

"Bagaimana, Tuan Pendekar...? Apakah Tuan Pendekar bersedia menolong penduduk Desa Babakan yang telah lama menderita ini...?" tanyanya sambil menatap wajah pasangan pendekar muda itu berganti-ganti.

"Mengapa tidak, Paman. Sekarang juga, marilah kita berangkat ke rumah Ki Danggala...," sahut pemuda berjubah putih itu sambil tersenyum.

"Jadi..., Tuan berdua bersedia...?" tanya lelaki setengah baya itu, meragukan pendengarannya sendiri.

"Hm..., apakah selama ini ada orang yang menolak ketika Paman meminta bantuan...?" selidik pemuda berjubah putih itu.

"Hampir semua orang gagah yang kutemui menolak untuk menolong kami. Penolakan itu dikatakan setelah aku memberi tahu siapa pemimpin gerombolan perampok itu..,. Mungkin..., mungkin Tuan berdua pun akan menolak apabila aku menyebutkan nama tokoh mengerikan itu...," kata lelaki tua itu, cemas.

"Paman..., siapa pun adanya orang yang menguasai Desa Babakan, kami berdua sama sekali tidak merasa gentar. Dan, keputusan kami untuk membantu pun tidak berubah, meski Raja Neraka sekalipun yang harus kami lawan...," tegas gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Ucapan ini tentu saja membuat wajah lelaki itu kembali cerah.

"Tokoh sesat itu berjuluk Jari Pencabut Nyawa. Menurut keterangan orang-orang gagah yang menolak membantu kami, tokoh itu sangat tinggi kepandaiannya. Dan..., hanya satu orang yang mungkin bisa menaklukkan tokoh sesat itu. Sayangnya aku tidak tahu di mana pendekar besar itu berada. Tapi, melihat bagaimana Tuan berdua menjatuhkan perampok-perampok tadi, rasanya kalian berdua pun memiliki kesaktian yang tinggi...," ujar lelaki setengah baya itu.

Wajah lelaki tua itu tampak keheranan. Sebab, raut wajah pasangan pendekar itu dilihatnya sama sekali tidak berubah, meskipun telah disebutkannya tadi julukan seram yang banyak disegani tokoh-tokoh persilatan itu. Lelaki tua itu pun mengambil kesimpulan, pasangan pendekar muda itu pasti belum pernah mengenal keganasan Jari Pencabut Nyawa.

"Hm..., Paman tahu, siapa satu-satunya orang yang bisa menaklukkan tokoh sesat itu...?" tanya si gadis jelita. Gadis ini tampaknya penasaran mendengar cerita lelaki tua itu bahwa hanya ada satu orang yang mampu mengalahkan si Jari Pencabut Nyawa. Sebab, hal ini berarti bahwa dia dan pemuda itu tidak akan sanggup menghadapi tokoh sesat itu.

"Hm..., kalau tidak salah, orang-orang gagah memberikan julukan Pendekar Naga Putih kepada tokoh pendekar yang sangat dikagumi itu. Apakah, Nisanak pernah mendengarnya?" Lelaki setengah baya itu malah balik bertanya. Namun, bukan main herannya ketika menyaksikan dara cantik itu malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar julukan Pendekar Naga Putih.

"Hi hi hi.... Kalau cuma seorang Pendekar Naga Putih, untuk apa Paman harus bersusah-payah mencarinya. Tahukan Paman kalau pendekar terkenal itu telah bertekuk lutut kepadaku? Hm..., kalau saja ia tahu aku berada di tempat ini, tentu ia akan lari terbirit-birit menyambutku."

Dara jelita itu menyombongkan dirinya sambil melirik pemuda berjubah putih di sampingnya. Sedangkan telaki setengah baya itu membelalak pucat. Sebab, apa yang kali ini didengarnya bertentangan dengan keterangan orang-orang gagah selama ini.

"Benarkah itu, Nisanak...?" tanya lelaki setengah baya itu dengan wajah ketololan. Tampaknya ia belum bisa menerima perkataan dara cantik itu.

"Tentu saja benar. Paman. Untuk apa aku harus berbohong. Kalau kau masih tidak percaya, tanyakan saja pada kawanku ini...," sahut dara jelita itu sambil melirik ke arah pemuda berjubah putih di sebelahnya.

"Benarkah perkataan Nisanak ini, Tuan Pendekar...?" tanya lelaki setengah baya itu yang tampak masih tidak percaya.

"Benar, Paman. Maka sebaiknya kita segera menuju ke rumah Ki Danggala. Percayalah! Jari Pencabut Nyawa tidak akan berkutik menghadapi kawanku ini...," ucap pemuda tampan berjubah putih itu sambil tersenyum.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" Lelaki setengah baya itu bukan main gembiranya. Sebab, orang yang kali ini dimintai bantuannya ternyata jauh lebih hebat daripada Pendekar Naga Putih yang selama ini diagung-agungkan itu. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

********************

"Inilah kediaman kepala desa kami, Tuan Pendekar. Biasanya halaman depannya selalu dijaga dua orang anggota perampok. Aneh, mengapa kali ini tampak sepi...?" desis lelaki setengah itu.

"Hm..., mungkin mereka mengira desa benar-benar telah tunduk di bawah kekuasaan mereka. Mereka mungkin berpikir, tidak ada lagi yang berani berbuat macam-macam. Sehingga, mereka tidak begitu ketat lagi melakukan pengawasan...," sahut pemuda berjubah putih itu sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Tanpa banyak cakap lagi, pemuda berjubah putih itu segera memasuki halaman rumah besar itu, kemudian terus bergerak ke arah pintu ruang depan yang tampak tertutup rapat.

"Ki Danggala...! Kami sahabatmu datang berkunjung! Keluarlah, sambut kedatangan kami...!" teriak pemuda itu seraya mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga suaranya mengaung memenuhi setiap penjuru rumah.

Tidak lama kemudian, muncul empat telaki bertampang kasar dari balik pintu. Setelah menatap ke arah pemuda tampan itu sejenak, keempatnya menuruni tangga.

"Hm..., siapa kau, Anak Muda? Ada keperluan apa kau ingin bertemu dengan Ki Danggala?" tegur lelaki gemuk yang dadanya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Di tangan kanannya tampak sebuah gada yang dipenuhi duri-duri runcing.

"Aku Panji, sahabat lama Ki Danggala. Secara kebetulan aku singgah di desa ini. Jadi, sekalian saja aku mengunjunginya. Apakah kau salah seorang pengawalnya?" tanya si pemuda tampan, berpura-pura bodoh.

Saat itu juga, gadis berbaju hijau dan lelaki setengah baya sudah menghilang ke dalam bangunan.

"Ki Danggala tidak berada di tempat, ia sudah lama pergi. Harap kau kembali saja lain kali..., tukas lelaki gemuk yang menggenggam gada itu.

"Hm..., kalau begitu, biarlah kutunggu saja sini...," ucap pemuda tampan bernama Panji sambil melangkah menuju ruang depan. Tentu tindakannya ini membuat keempat lelaki kasar marah.

"Tunggu...!" Bentakan menggelegar keluar dari mulut lelaki gemuk bersenjata gada itu. Sedangkan kawannya sudah bergerak mengepung.

"Sudah, tidak perlu banyak tanya lagi. Hajar saja pemuda kurang ajar itu, Bungkarasa! Kalau dibiarkan, dia bisa bertingkah!" kata salah seeorang dari ketiga lelaki kasar itu dengan nada bengis.

"Hei, mengapa kau berkata demikian kasar terhadap sahabat majikanmu? Apakah kau tidak takut kalau aku nanti mengadukannya kepada Ki Danggala?" tegur Panji berpura-pura menakut-nakuti.

"Bedebah! Siapa takut kepada tua bangka Danggala itu! Kau, pemuda kurang ajar, rasakan kerasnya kepalanku ini...!" geram lelaki tinggi berwajah pucat seperti mayat. Lelaki itu siap melontarkan pukulannya.

"Tunggu...!" cegah Panji sambil mengulurkan lengannya dengan telapak terbuka. Maksudnya tentu saja untuk mencegah lawannya menerjang.

"Hm..., kalau kau takut, pergilah. Kami tidak punya waktu mengurusi pemuda ingusan sepertimu...!" hardik lelaki kurus pucat itu dengan mata melotot. Tampak ia merasa jengkel terhadap Panji.

"Hm..., baiklah." Panji melemparkan senyumnya kepada keempat orang kasar itu. Kemudian dia bergerak malas-malasan menuju pintu keluar.

TUJUH

Bungkarasa dan ketiga orang kawannya tertegun sejenak. Mereka sama-sama mengerutkan kening melihat pemuda itu melangkah malas-malasan menuju pintu keluar. Merasa dipermainkan, kemarahan Bungkarasa dan kawan-kawannya bangkit seketika.

"Setan! Apa sebenarnya yang diinginkan muda sinting ini.!"

Salah seorang yang bertubuh kurus dan bermuka pucat menggeram jengkel. Jelas ia merasa tidak suka dengan sikap pemuda itu. Begitu ucapannya selesai, lelaki kurus itu langsung melesat dengan sisi telapak tangan mengancam leher Panji.

Whuuut!

Tampaknya serangan yang dilancarkan lelaki kurus bermuka pucat itu bukan sekadar peringatan. Terbukti sambaran angin pukulannya demikian tajam. Lelaki kurus itu rupanya ingin cepat menghajar Panji dengan pukulan mautnya.

Namun, apa yang terjadi benar-benar mengejutkan. Dengan gerakan yang cepat dan sulit ditangkap, tiba-tiba pemuda berjubah putih itu berbalik. Tubuhnya digeser ke samping. Berbarengan dengan gerakan itu, tangan kanannya diayunkan dengan kecepatan kilat. Dan....

Bukkk!

"Uuugh.!" Darah segar menyembur dari mulut lelaki kurus itu, begitu hantaman lengan kanan lawan telak mendarat di perutnya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kurus itu langsung terlempar deras ke belakang.

"Adi Gurinta...!" seru Bungkarasa dengan wajah tegang. Cepat-cepat tubuhnya melesat ke depan dan mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh kawannya yang bernama Gurinta itu.

Bukan main marahnya hati Bungkarasa. Sebab, Gurinta telah jatuh pingsan akibat pukulan yang dideritanya. Jelas, pukulan pemuda berjubah putih itu sangat hebat. Tapi, rasa terkejut dan kemarahan yang bercampur menjadi satu di hati Bungkarasa dan juga kedua orang lelaki kasar lainnya, serentak berubah menjadi rasa gentar. Sebab, sosok pemuda tampan yang semula hendak mereka jadikan sasaran kemarahan itu ternyata telah terlapisi kabut bersinar putih keperakan. Ketiganya pun langsung bergerak mundur dengan hati kecut.

"Pendekar Naga Putih.!?"

Bungkarasa dan dua orang kawannya melangkah mundur. Setelah mengetahui siapa sesungguhnya pemuda berjubah putih itu, rasa takut di hari mereka tidak bisa disembunyikan lagi.

"Bagaimana ini, Kakang...?" tanya salah seorang lelaki kasar itu kepada Bungkarasa. Wajah kasar itu telah berubah menjadi pucat. Bahkan, nada suaranya menjadi kering. Sehingga, pertannyaan yang keluar dari mulutnya lebih mirip bisikan.

"Terpaksa kita harus memanggil kawan-kawan yang lain..." sahut Bungkarasa dengan suara parau karena hatinya pun tengah dilanda ketegangan.

"Suuuiiit...!"

Tanpa banyak cakap, Bungkarasa langsung mengeluarkan suitan nyaring yang berkepanjangan. Suitan panjang itu rupanya panggilan bagi kawanan perampok lainnya. Terbukti, dalam waktu yang tidak terlalu lama, terdengarlah suara berderap riuh. Lalu, muncul kawanan perampok yang segera mengurung Pendekar Naga Putih.

"Hm..." Panji bergumam tak jelas. Kini sadarlah pemuda itu, mengapa Desa Babakan bisa jatuh ke tangan perampok. Melihat jumlah mereka yang puluhan itu, Panji pun maklum apabila penduduk desa itu tidak berkutik.

"Serbuuu..! Bunuh pemuda itu.!"

Bungkarasa langsung memberi perintah. Dan, puluhan lelaki bertampang kasar pun segera melunak ke arah Pendekar Naga Putih disertai teriakan-teriakan ribut.

"Heaaah...!"

Pendekar Naga Putih menanti hingga para pengeroyoknya datang mendekat. Begitu jarak di antara mereka tinggal setengah tombak, pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring yang mengejutkan. Sepasang tangannya mengibas ke kiri-kanan dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Akibatnya sangat hebat. Belasan anggota perampok terdepan langsung menjerit ngeri. Sambaran hawa dingin bagai badai salju membuat mereka berpentalan ke segala arah.

"Gila...!?" Bungkarasa memaki kalap. Hati lelaki gemuk itu semakin gentar. Dalam satu gebrakan saja belasan anak buahnya telah dibuat porak-poranda oleh pendekar muda itu.

Dua orang lelaki kasar yang berada di kiri-kanan Bungkarasa sudah bergerak hendak meninggalkan tempat itu. Keberanian mereka langsung lenyap melihat sepak terjang pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu. Tampaknya kedua orang itu mengambil keputusan untuk mencari selamat sendiri.

"Hendak ke mana kalian...?" Bungkarasa, yang melihat kedua kawannya hendak melarikan diri, segera saja menegur. Tapi tegurannya sama sekali tidak dipedulikan. Malah Bungkarasa sendiri bergegas mengikuti kedua orang kawannya itu untuk melarikan diri.

"Hm..., hendak lari ke mana kalian, Pengecut-pengecut Busuk...?!" bentak Panji.

Wajah Bungkarasa dan kedua perampok lainnya tentu saja menjadi pucat. Belum lagi mereka sempat berpikir, tiba-tiba sesosok bayangan putih telah berkelebat melewati kepala mereka dan langsung berdiri menghadang jalan ketiga perampok itu. Lenyaplah keberanian dan kekejaman ketiga perampok yang selama ini bertindak kasar dan tidak mengenal ampun itu. Serentak mereka melompat mundur dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Bungkarasa menoleh ke belakang. Hati lelaki kasar itu semakin ciut melihat tubuh anak buahnya telah bergeletakan tak berdaya. Jelas semua itu akibat ulah Pendekar Naga Putih yang kini berdiri menghadang dan mengancamnya.

"Bangsat keparat! Siapa yang berani mengacau di tempat ini...?!"

Pada saat Bungkarasa dan dua orang perampok itu tidak tahu harus berbuat apa-apa, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat wajah ketiganya rampak berseri. Jelas, Bungkarasa dan kedua kawannya mengenal baik seruanitu. Wajah Bungkarasa dan dua orang kawannya semakin cerah. Ketiganya menarik napas lega ketika melihat sesosok tubuh tinggi besar berkepala botak. Bahkan, kehadiran sosok itu masih disusul dengan tiga sosok lainnya.

"Pendekar Naga Putih...!? Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tegur sosok bertubuh hitam kekar itu.

"Benar, akulah Pendekar Naga Putih. Dan kau gembong perampok yang berjuluk Jari Pencabut Nyawa itu, bukan?" ujar Panji balik bertanya.

"Ketua, pemuda ini telah menghajar orang-orang kita. Sebaiknya dibunuh saja pemuda keparat ini...," seru Bungkarasa, yang merasa lega melihat kehadiran pemimpin besarnya.

"Hm..." Lelaki kasar berkepala botak yang berjuluk Jari Pencabut Nyawa itu hanya bergumam tak jelas. Sekilas terlihat ada sinar kegentaran pada matanya. Namun, semua itu berusaha disembunyikannya dengan memasang wajah keras.

Seorang lelaki gemuk bercambang lebat, salah satu dari tiga sosok tubuh yang datang bersama Jari Pencabut Nyawa, bergerak menghampirinya. Kemudian lelaki gemuk itu berdiri di sampingnya, dan berbisik dengan lirih.

"Tinggalkan saja pemuda itu. Kita masih mempunyai masalah yang lebih penting. Kelak, setelah masalah penting itu selesai, baru kita kembali ke desa ini, dan kita obrak-abrik seluruh tempat di desa ini...," bisik lelaki gemuk bercambang lebat yan tak lain dari Elang Hitam.

Dua sosok lainnya ternyata adalah Iblis Penakluk Harimau dan Wanara. Rupanya ketiga orang itu telah mendatangi Jari Pencabut Nyawa untuk diajak bergabung dengan mereka.

"Tapi, apakah tidak sebaiknya kita habisi pemuda ini dulu, baru kemudian kita menghajar musuh besar kita...," bantah Jari Pencabut Nyawa.

"Jangan bodoh, Jari Pencabut Nyawa! Pemuda ini belum tentu mampu kita tundukkan. Sedangkan musuh besar kita sudah pasti dapat kita taklukkan. Kalau kau bersikeras hendak menghajar pemuda ini terlebih dahulu, bisa hilang kesempatan kita untuk menghajar musuh besar yang telah membuat kita tersiksa dendam itu," balas Elang Hitam.

Setelah berpikir sejenak, Jari Pencabut Nyawa pun mengangguk-angguk setuju. "Hm..., kali ini aku tidak mempunyai waktu mengurusimu. Pendekar Naga Putih. Biarlah lain kali aku akan mencarimu...," seru Jari Pencabut Nyawa, sambil beranjak mengikuti Elang Hitam dan dua orang kawannya. Diajaknya pula Bungkarasa dan dua orang temannya.

Panji berdiri tegak mengawasi kepergian gembong perampok dan kawannya itu. Pemuda itu tidak berusaha mengejar. Sebab, niatnya memang bukan mencari musuh, melainkan membebaskan penduduk Desa Babakan dari tekanan para perampok. Dan itu sudah dilakukannya.

"Kau biarkan mereka pergi begitu saja, Kakang...?" Tiba-tiba saja gadis jelita yang tak lain dari Kenanga muncul dan menegur pemuda itu dengan kening berkerut. Gadis itu tampaknya tidak rela membiarkan gembong perampok itu pergi.

"Hm..., tugas kita bukan untuk membunuh atau mencari musuh, Kenanga. Kewajiban kita untuk membebaskan warga Desa Babakan sudah terlaksana. Jadi, untuk apa mengejar lawan yang sudah jelas-jelas tidak ingin bertarung...?" sahut Panji tersenyum melihat wajah kekasihnya.

"Jadi..., Tuan adalah Pendekar Naga Putih...?" tanya lelaki setengah baya yang meminta pertolongan Panji dan Kenanga tadi sambil membelalakkan mata.

Suasana menjadi ramai ketika Ki Danggala beserta anggota keluarganya muncul. Kepala desa berumur empat puluh tahun lebih itu menjabat tangan Panji erat-erat sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sehingga, pemuda itu risih.

"Tidak perlu dibesar-besarkan, Paman. Semua ini sudah menjadi kewajiban kita. Jadi, apa yang saya lakukan ini memang telah menjadi tugas kita semua...," ujar Panji.

Ki Danggala terharu mendengar ucapan yang menandakan keluhuran budi itu. Kemudian ia memerintahkan para pembantunya untuk menguburkan mereka yang tewas. Sedangkan para perampok yang selamat dilepaskan setelah diberi peringatan agar tidak melakukan kejahatan lagi. Saat kesibukan itu terjadi, Panji segera mengajak Kenanga untuk menyelinap secara diam-diam meninggalkan tempat itu. Tinggallah Ki Danggala dan penduduk Desa Babakan yang kebingungan ketika mereka tidak menjumpai lagi Pendekar Naga Putih, yang telah menyelamatkan desa itu dari tekanan para perampok.

"Hm..., pendekar berbudi luhur seperti itulah yang diperlukan di dunia ini...," desah Ki Danggala.

"Ke mana tujuan kita, Kakang...?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu saat telah jauh meninggalkan Desa Babakan.

"Aku merasa curiga dengan Jari Pencabut Nyawa dan kawan- kawannya itu. Mereka pergi karena harus menyelesaikan suatu urusan yang tampaknya jauh lebih penting ketimbang meladeniku. Entah apa yang hendak mereka lakukan. Kenanga. Yang jelas, pasti mereka hendak melakukan suatu kejahatan...," sahut pemuda berjubah putih yang tidak lain dari Panji.

"Lalu, Kakang ingin mengikuti mereka...?" tanya Kenanga lagi.

"Ya. Sebab aku yakin ada kejahatan besar yang tengah mereka rencanakan...," jawab Panji sambil mengedarkan pandangan berkeliling.

"Tapi..., ke mana kita harus mencari mereka, Kakang...?" "Entahlah. Yang pasti mereka bergerak menuju ke arah Barat"

"Kalau begitu, kita harus bergerak cepat, Kakang," sambut Kenanga seraya bersiap mengerahkan ilmu lari cepatnya.

Panji tersenyum melihat semangat kekasihnya. Pemuda itu segera menyambar lengan dara jelita itu sebelum sempat melesat ke depan. Tentu saja perbuatan pemuda itu membuat langkah Kenanga tertahan.

"Ada apa lagi, Kakang...?"

"Sabarlah. Dugaanku belum pasti benar. Siapa tahu mereka mengambil arah lain. Untuk itu harus teliti dan jangan terburu- buru."

"Kalau begitu, apa yang akan Kakang lakukan untuk mencari jejak mereka..?"

Pendekar Naga Putih termenung sejenak. Cukup sulit baginya menentukan arah yang harus mereka tempuh. Akhirnya, karena tidak menemukan jalan lain, diputuskannya untuk menjelajahi daerah sebelah Barat. Tanpa banyak cakap, Kenanga pun mengikuti langkah kekasihnya. Kedua pendekar muda itu bergerak mengerahkan ilmu lari cepat mereka menuju arah Barat. Hari bergerak merambat sore. Sepasang pendekar muda itu terus saja berlari, seolah-olah hendak berpacu dengan waktu. Tapi, karena tempat yang mereka tuju memang sangat jauh, akhirnya Panji dan Kenanga harus melewatkan malam di dalam sebuah hutan.

"Mengapa kita tidak terus saja dan mencari perkampungan untuk melewatkan malam, Kakang?" tanya Kenanga ketika Panji mengajaknya beristirahat dihutan.

"Hm..., aku khawatir di depan sana tidak ada perkampungan. Lagi pula, selain perjalanan di malam hari dapat menghambat gerakan kita, siapa tahu Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya telah tahu bahwa kita mengejar mereka. Jika demikian, kesulitan kita tentu semakin bertambah. Bisa saja mereka memasang jebakan untuk menewaskan kita..," sahut Panji, yang memang selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan.

"Kakang takut..?" desak Kenanga dengan kening berkerut.

"Hm..., kau ini aneh, Kenanga. Ketahuilah, sikap hati-hati jauh lebih baik. Kecerobohan hanya akan mendatangkan kerugian bagi kita. Jangan salah mengerti, Kenanga. Perkataan takut dan hati-hati itu jauh sekali bedanya...," jelas Panji tersenyum sambil membelai rambut gadis jelita itu.

Kenanga tidak banyak bertanya lagi. Dara jelita itu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Pendekar Naga Putih. Panji mengecup lembut rambut kekasihnya. Ada rasa kasihan terselip di hatinya melihat dara sejelita Kenanga harus menjalani kehidupan sebagai seorang pengembara. Namun, pikiran itu dibuangnya jauh-jauh ketika teringat bahwa gadis itu sama sekali tidak pernah mengeluh tentang apa yang selama ini mereka jalani.

Malam kian larut. Hembusan angin terasa semakin dingin menggigit kulit. Panji sama sekalih tidak bergerak. Pemuda itu membiarkan saja Kenanga terlena dalam pelukannya.

********************

Sengatan sinar matahari pagi menerobos melalui dedaunan. Kedua pendekar itu tersentak bangkit dari mimpinya. Setelah membersihkan tubuh di sebuah sumber air yang mereka temui, pasangan pendekar itu pun kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Sebagai tokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja tidak sulit bagi Panji dan Kenanga untuk mempercepat perjalanan. Dengan ilmu lari yang mereka miliki, tidak berapa lama kemudian tibalah mereka di daerah Barat.

"Hm..., kalau tidak salah, kita telah cukup jauh memasuki wilayah Barat. Entah di mana kita bisa menemukan Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya...," desah Panji saat menyusuri daerah perbukitan.

Matahari saat itu sudah semakin tinggi. Sengatan sinarnya terasa panas menyengat kulit. Namun, pasangan pendekar itu tetap melanjutkan perjalanan.

"Sebaiknya kira mengambil jalan lewat hutan itu saja, Kakang. Rasanya aku tidak kuat dalam cuaca sepanas ini," ucap Kenanga, yang wajahnya bersimbah peluh.

Panji hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian keduanya bergerak memasuki hutan lebat. Terdengar helaan napas lega dara jelita itu ketika dirasakannya udara segar di dalam hutan yang mereka lalui. Sengatan sinar matahari tidak lagi terasa. Karena, rimbun dedaunan pohon-pohon besar di dalam hutan itu melindungi mereka dari teriknya matahari.

Ketika keduanya semakin jauh merambah hutan, tiba-tiba Panji menahan langkahnya sambil mencekal lengan kekasihnya. Diletakkannya cepat-cepat jari telunjuknya di bibir saat Kenanga hendak bersuara. Dengan langkah yang lebih hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, pasangan pendekar muda itu kembali bergerak lambat- lambat Panji semakin mempertajam indera pendengarannya. Karena, sempat didengarnya sesuatu yang mencurigakan.

"Kakang, lihat..?!" seru Kenanga tiba-tiba sambil menutupi mulutnya. Gadis itu sangat terkejut melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya.

Panji pun sempat terkejut menyaksikan pemandangan yang ditunjuk kekasihnya. Di depan mereka, kira-kira berjarak tiga tombak, tampak empat ekor harimau tengah berebutan menyantap tubuh yang tak berdaya. Tanpa banyak pikir, Panji segera melangkah maju dan mengibaskan tangannya, mengusir harimau-harimau kelaparan itu. Dua di antaranya meraung marah dan langsung melesat ke arah Panji. Namun, pemuda itu sama sekali tidak gentar. Cepat-cepat tubuhnya bergerak maju di antara kedua binatang buas itu, lalu kedua tangannya mengibas ke kiri dan ke kanan.

Buggg! Desss...!

Tanpa ampun lagi, kedua binatang itu meraung kesakitan, dan terlempar sejauh dua tombak. Sang raja hutan itu langsung bangkit melarikan diri dengan langkah tertatih-tatih. Jelas, mereka merasa gentar terhadap pemuda berjubah putih itu. Dua binatang buas lainnya yang semula mendekam di dekat mayat langsung berlari masuk ke dalam hutan begitu Panji mendekat. Sehingga, pemuda itu dapat leluasa meneliti sosok yang sulit dikenali lagi itu.

"Hm..., dilihat dan tulang-tulangnya, jelas orang ini berusia lebih dari enam puluh tahun., Selain itu, ia bukan orang sembarangan. Tulang-tulangnya demikian kokoh. Semasa hidup ia pasti memiliki ilmu tenaga dalam yang cukup tinggi. Entah siapa yang telah membunuhnya...?" desah Panji setelah meneliti sosok mayat tinggi kurus itu.

Kenanga hanya terdiam tanpa berkeinginan menanggapi ucapan kekasihnya. Dara jelita itu baru mengerutkan keningnya saat Panji menemukan tali-tali kokoh yang melibat kedua lengan dan kaki laki-laki tua itu. Bahkan, beberapa senjata rahasia tampak terbenam di dalam daging mayat itu.

"Benar-benar keji orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang setua ini. Aku mencium adanya racun pelumpuh syaraf yang tampak terhisap orang ini. Mungkin racun-racun itulah yang membuatnya tidak berdaya. Jelas orang ini telah terperangkap dalam jebakan licik," ujar Panji yang tampak marah terhadap kelicikan si pembunuh.

"Siapa kira-kira pembunuh itu, Kakang...?" tanya Kenanga yang menjadi penasaran.

"Hm..., sepanjang pengetahuanku, tokoh sesat yang memiliki racun pelumpuh syaraf hanyalah Jari Pencabut Nyawa. Jadi, kemungkinan besar rombongan yang tengah kita kejar itulah yang melakukan pembunuhan keji ini," jelas Panji.

"Lalu, apakah Kakang tidak bisa mengenali siapa adanya mayat ini...?" tanya Kenanga lagi, sambil mencoba mengenali wajah mayat yang telah rusak oleh kuku-kuku harimau itu.

"Entahlah. Wajahnya sangat sulit dikenali. Yang jelas, orang ini pasti tokoh besar dalam rimba persilatan..." jawab Panji dengan wajah kecewa, karena tidak dapat mengenali mayat itu dengan baik.

"Lalu..., apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang...?"

"Hm..., orang tua ini ada kemungkinan dipancing untuk masuk ke dalam hutan. Kemudian ia dijebak secara licik. Kejadiannya pasti malam tadi. Dan itu berarti tempat tinggalnya tidak jauh dari daerah ini. Sebaiknya kita melakukan gerak cepat untuk melihat-lihat sekitar daerah ini. Siapa tahu dengan begitu kita dapat menemukan Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya. Ayolah"

Panji kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak cakap, Kenanga pun langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, menyusul Panji.

********************

DELAPAN

Matahari siang sudah tepat berada di atas kepala. Saat itu serombongan orang yang dipimpin lelaki gemuk bercambang lebat tiba di depan sebuah pintu gerbang perguruan. Tanpa banyak cakap, lelaki gemuk itu langsung mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

"Hiaaah...!"

Brakkk...!

Pintu gerbang Perguruan Jari Besi yang terbuat dari kayu tebal itu langsung jebol terkena pukulan jarak jauh yang dilontarkan Elang Hitam. Tentu saja suara hiruk-pikuk itu membuat murid-murid Perguruan Jari Besi menghambur dengan senjata terhunus. Namun, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tujuh sosok tubuh telah menerobos masuk dan langsung melontarkan pukulan-pukulan maut. Terdengar jerit kematian susul-menyusul seiring dengan robohnya murid Perguruan Jari Besi dalam keadaan tewas. Tentu saja peristiwa ini membuat gempar seisi perguruan.

"Ki Bonggala! Keluarlah kau...! Aku, Elang Hitam datang untuk membuat perhitungan!" teriak lelaki gemuk bercambang lebat itu menantang. Suaranya yang dikirimkan dengan pengerahan tenaga dalam itu mengaung memenuhi seluruh bangunan Perguruan Jari Besi.

Elang Hitam tidak perlu menunggu terlalu. Beberapa saat setelah gema suaranya lenyap, empat sosok tubuh tegap melesat keluar dari dalam bangunan. Mereka tidak lain dari Ki Bonggala beserta tiga orang murid utamanya. Bukan main marahnya Ki Bonggala melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya. Puluhan orang muridnya telah bergeletakan dengan tubuh bermandikan darah. Mendidih darah tokoh itu menyaksikan kekejaman tamu-tamu tak diundang itu.

"Hua ha ha..! Hari ini adalah hari kematianmu, Bonggala. Kau boleh berteriak sampai serak memanggil gurumu. Kakek renta yang berjuluk Dewa Langit itu telah kami jebak ke dalam Hutan Welang semalam. Jadi, kau tidak mempunyai kekuatan lagi sekarang. Hua ha ha." Tawa Elang Hitam terdengar berkepanjangan. Tokoh sesat berhati licik itu benar-benar merasa puas melihat wajah pucat lawannya.

"Iblis keji...!" maki Ki Bonggala yang tentu merasa terkejut mendengar keterangan Elang Hitam.

Semalam, sesungguhnya Ki Bonggala memang sempat mendengar adanya suara-suara mencurigakan. Tapi, karena gurunya berpesan agar ia tetap tinggal, sementara orang tua itu yang mengejar, terpaksa Ki Bonggala menyerahkan persoalan itu ke tangan gurunya. Siapa sangka orang-orang yang menyelinap semalam itu adalah Elang Hitam dan kawan-kawannya. Kini Ki Bonggala baru mengerti, mengapa gurunya tidak kembali lagi sejak semalam. Kiranya Elang Hitam telah menjebak gurunya.

Lunggara, murid tertua Perguruan Jari Besi, segera melompat ke arah Elang Hitam. Menyusul kemudian Samija dan seorang murid utama lainnya. Ki Bonggala sendiri tidak sempat mencegah. Karena, pikiran orang tua itu tengah disibukkan oleh kematian gurunya.

"Hua ha ha...!" Elang Hitam tertawa makin keras melihat majunya tiga orang murid utama Ki Bonggala. Lelaki gemuk itu sama sekali tidak peduli. Sebab, Iblis Penakluk Harimau dan tiga orang pembantu Jari Pencabut Nyawa telah menyambut serangan ketiga murid itu. Sedangkan ia sendiri telah siap mencabut nyawa Pendekar Tangan Sakti.

"Diakah musuh besarmu, Guru...?" tanya pemuda berambut panjang dan bertubuh kekar yang berdiri di samping Elang Hitam. Pemuda yang menatap wajah Ki Bonggala dengan tak berkedip itu tak lain dari Wanara, si Putra Harimau.

Sementara itu, Jari Pencabut Nyawa hanya berdiri tegak dengan sorot mata penuh kebencian. Jelas, tokoh sesat itu pun menaruh dendam terhadap Ki Bonggala. Karena, tokoh yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu pernah mengobrak-abrik gerombolannya pada waktu yang silam.

"Ayo, kita tangkap dia. Pendekar sombong itu tidak boleh mati tanpa disiksa. Harus kita siksa dia sebelum dibunuh!" teriak Elang Hitam. Kemudian lelaki gemuk itu langsung melesat menerjang dengan cakar elangnya.

Ki Bonggala, yang sadar bahwa keadaannya benar-benar terancam, segera mengeluarkan ilmu andalannya untuk menghadapi keroyokan Elang Hitam, Jari Pencabut Nyawa, dan pemuda berambut panjang itu.

"Heaaat..!"

Whuttt! Whuuut!

Elang Hitam langsung mengulurkan cakar-cakar mautnya mengancam tubuh lawan. Demikian pula halnya dengan Jari Pencabut Nyawa. Tokoh sesat berkepala botak itu mengirimkan serangan-serangan mautnya yang menimbulkan deruan angin tajam.

Sedangkan Wanara sejenak mengerutkan keningnya tanda tak senang. Pemuda yang jujur itu sebenarnya merasa tidak suka mengeroyok seorang lawan. Tapi, karena gurunya memerintah, pemuda itu tidak bisa berdiam diri saja. Maka, ia pun ikut mengeroyok Ki Bonggala. Keroyokan tiga orang lawan yang memiliki kepandaian tinggi itu tentu saja membuat ki Bonggala kerepotan. Jangankan menghadapi keroyokan, melawan salah satu dari mereka pun ia harus mengerahkan segenap kepandaiannya. Sebab, baik Elang Hitam maupun Jari Pencabut Nyawa memiliki kepandaian yang hampir setingkat dengannya. Apalagi kini ada pula pemuda gesit bertubuh kokoh itu. Ki Bonggala harus mati-matian mempertahankan dirinya.

"Khreaaakh...!"

Pada suatu kesempatan, Wanara yang menggempur Ki Bonggala dari sebelah kiri, berseru nyaring. Pemuda bertubuh kokoh itu melontarkan cengkeraman ke arah lawannya. Meskipun dalam keadaan terdesak hebat, Ki Bonggala menunjukkan kebolehannya. Dua buah cengkeraman yang mengancam perut dan lambungnya dapat dihindarinya dengan menggeser tubuh ke samping. Namun, sepasang mara orang tua itu membelalak saat melihat mata kalung yang tergantung di leher Wanara. Meskipun keterkejutan Ki Bonggala hanya sekejap, jelas hal iIni sangat merugikan baginya. Akibatnya, sebuah cakar Wanara berhasil merobek bahu kirinya.

Brettt!

"Akh...!" Ki Bonggala menjerit kesakitan. Tubuh orang tua itu melintir mengikuti arah sambaran cakaran Wanara. Hal itu memang sengaja dilakukannya. Sebab dengan demikian, Ki Bonggala dapat menghindari cengkeraman selanjutnya yang masih bersusulan. Dengan sebuah lompatan panjang, Pendekar Tangan Sakti bergerak menjauhi lawan-lawannya, kemudian berdiri tegak menatap mata kalung di dada Wanara. Tampaknya ia sangat tertarik dengan kalung yang tergantung di leher pemuda itu.

"Sahabat muda, dari manakah kau mendapatkan kalung bergambar telapak tangan itu...? Tolong katakan padaku...," tanya Ki Bonggala

Pertanyaan itu tentu saja membuat gerakan Wanara terhenti seketika. Perlahan kepalanya tertunduk menatap kalung yang tergantung di lehernya. "Aku tidak tahu. Kalung ini telah ada sejak aku kecil...," jawab Wanara jujur. Pemuda polos itu menjadi heran ketika melihat wajah Ki Bonggala tampak pucat mendengar jawabannya.

Sayang Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa tidak memberikan banyak kesempatan lagi kepada Pendekar Tangan Sakti. Kedua tokoh sesat itu kembali menerjang lawannya dengan serangan-serangan maut. Ki Bonggala yang tengah terhanyut pikirannya oleh jawaban polos Wanara tak sempat menghindar. Akibatnya, dua pukulan lawan telak bersarang di dadanya.

Bukkk! Desss!

"Uuugh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Ki Bonggala terjengkang deras sejauh satu setengah tombak, kemudian ia jatuh bergulingan sambil memuntahkan darah segar. Pendekar Tangan Sakti terlihat menderita luka dalam yang cukup parah akibat hantaman pada tubuhnya itu.

"Lumpuhkan bangsat itu...!" seru Elang Hitam kepada Jari Pencabut Nyawa yang jaraknya lebih dekat dengan Ki Bonggala. Lelaki gemuk bercambang lebat itu sendiri sudah melompat dengan beberapa totokan mautnya.

Jari Pencabut Nyawa pun tidak mau membuang-buang waktu. Tanpa diperintah pun sebenarnya ia memang hendak melumpuhkan Ki Bonggala secepatnya. Ucapan Elang Hitam membuatnya bergerak semakin cepat untuk melumpuhkan Pendekar Tangan Sakti yang makin terdesak itu.

"Hiaaat..!" Dibarengi teriakan keras, tubuh lelaki kekar berkepala botak itu melesat cepat melancar totokan pada bagian-bagian terlemah di tubuh lawannya yang tengah berusaha bangkit itu.

"Yeaaat...!"

Mendadak, pada saat yang gawat, terdengar teriakan nyaring yang mengguntur. Berbarengan dengan suara yang sangat keras itu, sesosok bayangan putih berkelebat bagai kilatan cahaya. Dan, langsung disambutnya serangan Jari Pencabut Nyawa dan Elang Hitam tadi. Akibatnya....

Plakkk! Tasss! Bukkk!

"Uuuhhh...!?"

"Aaakh...!"

Hebat sekali akibat yang ditimbulkan oleh terjangan sosok bayangan putih bersinar keperakan itu. Bukan saja serangan kedua tokoh sesat itu dapat digagalkan. Telapak tangannya pun sempat mendarat di tubuh Elang Hitam. Hingga tanpa ampun lagi, tubuh lelaki gemuk itu terjungkal mencium tanah. Tapi, karena hantaman telapak tangan itu tidak terlalu keras, luka yang ditimbulkannya pun tidak terlalu parah. Elang Hitam masih bisa bangkit dengan cepat sambil mengusap lelehan darah di sudut bibirnya.

Kehadiran sosok bayangan yang terselimut kabut putih keperakan itu ternyata berbarengan dengan munculnya sesosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau. Dan, sosok tubuh ramping itu langsung menceburkan diri ke dalam kancah pertempuran lain, tempat di mana Lunggara tengah berjuang keras menyelamatkan nyawa. Di situ dua orang adik seperguruan Lunggara telah menggeletak mandi darah. Kehadiran sosok tubuh terbungkus pakaian serba hijau itu benar-benar sangat berarti bagi Lunggara. Ia dapat mengatur napasnya sambil menyaksikan sosok ramping itu menggempur lawan-lawannya.

Sementara itu, Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa tengah berdiri menatap sosok bersinar putih keperakan yang telah menyelamatkan Ki Bonggala. Kedua tokoh sesat itu tentu saja terkejut bukan main saat mengenali siapa penolong lawannya itu.

"Pendekar Naga Putih...!?"

Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa berseru dengan wajah tegang. Sedangkan Wanara hanya memandang bingung, karena ia memang tidak pernah mengenal julukan Pendekar Naga Putih.

Lain lagi halnya dengan Ki Bonggala. Lelaki gagah yang dikenal berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu bergumam dengan wajah cerah. Sebab, tuan penolongnya dikenalnya sebagai seorang pendekar besar yang telah mengguncangkan dunia persilatan pada masa ini. Tentu saja kenyataan itu membuat Ki Bonggala dapat bernapas lega. Bergegas lelaki gagah itu menghampiri penolongnya itu.

"Pendekar Naga Putih, kau tak ubahnya bagaikan malaikat yang turun dari langit. Kedatanganmu sangat tepat dan memang kubutuhkan...," ucap Ki Bonggala sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada pemuda tampan yang tak lain dari Panji itu.

Panji pun cepat membalas hormat orang tua itu. Namun, keduanya tidak dapat melanjutkan pembicaraan. Karena, saat itu Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa telah melesat menerjang Pendekar Naga Putih. Tampaknya kedua tokoh sesat itu sengaja mengambil kesempatan selagi Panji dan Ki Bonggala sedang berbicara.

Namun, niat licik kedua tokoh sesat itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Sebagai seorang pendekar yang telah berpengalaman, tentu saja Panji tidak lagi memerlukan persiapan dalam menghadapi setiap gempuran lawan. Dengan sebuah langkah panjang ke samping, serangan kedua lawan itu pun dapat dihindarinya. Bahkan, sempat juga dilontarkannya serangkaian serangan balasan yang sangat mengejutkan.

"Hiaaah...!"

Elang Hitam yang menjadi sasaran serangan balasan Panji berusaha menghindar sebisa-bisanya. Lelaki bercambang lebat itu tunggang-langgang, kerepotan menghadapi gempuran Pendekar Naga Pulih yang bagai gelombang lautan itu. Pada saat yang berbahaya itu, Jari Pencabut Nyawa menyelamatkannya dengan jalan menebarkan bubuk beracun ke arah Pendekar Naga Putih.

"Hm..." Panji menggeram gusar melihat kekejian Jari Pencabut Nyawa. Kegusaran pemuda itu berubah menjadi kemarahan manakala ia teringat akan mayat seorang kakek di Hutan Welang. Sebab, bubuk yang digunakan untuk menyerang dirinya memiliki bau harum yang sama dengan yang tercium olehnya pada mayat itu.

"Heaaah.!" Sambil mengeluarkan bentakan keras, Pendekar Naga Putih mengibaskan lengannya ke kiri dan ke kanan. Sehingga, racun pelumpuh syaraf itu pun bertebaran musnah terbawa angin berhawa dingin yang keluar dari tangan pemuda itu. Kemudian, dengan sebuah lompatan kilat, pemuda itu berbalik menggempur Jari Pencabut Nyawa.

Serangan yang dilancarkan Panji kali ini benar-benar hebat. Tubuh pemuda itu meliuk-liuk turun naik bagaikan seekor naga yang tengah bermain di angkasa. Sepasang cakarnya menyambar susul-menyusul bagaikan tidak berkesudahan. Sehingga, dalam jurus yang kelima puluh, Jari Pencabut Nyawa tidak sanggup lagi membendung serangan-serangan Pendekar Naga Putih. Akibatnya, sebuah sambaran cakar naga Panji merobek bahu kanan lelaki kekar berkepala botak itu.

Whuttt! Brettt!

"Akh...!" Tokoh sesat gembong perampok itu menjerit kesakitan. Bahkan, tubuhnya yang kekar sempat melintir akibat kuatnya tenaga sambaran cakar lawannya itu. Belum lagi sempat disadari keadaannya, sebuah tendangan keras telah membuat tubuhnya terjungkal dan jatuh berdebuk di atas tanah.

Elang Hitam tentu saja terkejut bukan main. Cepat-cepat tokoh bertubuh gemuk itu melesat dengan cakar elangnya yang sambar-menyambar. Tapi kali ini Panji tidak berniat main-main lagi. Dengan gerakan-gerakan tubuh yang manis, pemuda itu terus menghindari serangan berantai lawannya. Kemudian, begitu melihat pertahanan lawan terbuka, langsung saja dikirimkannya dua buah hantaman telapak tangannya ke dada lawan.

Desss...!

"Aaargh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Elang Hitam terlempar keras bagaikan selembar daun kering, lalu meluncur membentur dinding kayu tebal di belakangnya. Kemalangan rupanya masih terus membuntuti Elang Hitam. Saat terbentur pada kayu tebal yang langsung patah itu, tubuh lelaki gemuk itu kembali terjatuh tepat di atas patahan kayu bulat yang meruncing. Karuan saja darah segar menyembur seiring jerit kematian Elang Hitam yang tubuhnya telah terpaku potongan kayu itu. Elang Hitam tewas secara menyedihkan.

"Pendekar Naga Putih, tahan...!"

Panji yang saat itu tengah siap bertempur melawan Wanara, si Putra Harimau, menahan gerakannya. Seruan Ki Bonggala membuat Pendekar Naga Putih melompat mundur, lalu menarik kembali serangannya terhadap pemuda bertubuh kokoh itu.

"Ada apa, Paman...?" tanya Panji sambil mengerutkan keningnya melihat tingkah laku aneh Ki Bonggala. Tanpa menjawab pertanyaannya, orang tua itu melangkah ke arah Wanara.

"Anak muda, perlihatkanlah kalungmu. Lihatlah, aku pun memiliki kalung yang serupa dengan milikmu. Dan, kalung yang kau kenakan itu adalah kalung milik putraku yang kulekatkan di lehernya ketika bayi...," kata Ki Bonggala dengan suara bergetar, berusaha menahan keharuan hatinya.

Wanara tentu saja bingung melihat kalung milik Ki Bonggala benar-benar serupa dengan miliknya. "Apa artinya ini, Orang Tua...?" tanya Wanara, sambil menatap wajah Ki Bonggala dengan pandangan bodoh.

"Kalau memang kalung yang kau kenakan itu bukan pemberian orang lain, berarti kau adalah putraku, Anak Muda...," ujar Ki Bonggala yang menjadi tegang, sambil meneliti raut wajah Wanara.

"Aku..., putramu...? Lalu, di manakah Ibuku...?" tanya Wanara, yang tampak mulai mengerti.

"Akulah yang seharusnya bertanya demikian, Anakku. Tapi mungkin ibumu telah tewas sewaktu membawamu lari dari kejaran penjahat-penjahat keji yang memburu keluarga kita...," jelas Ki Bonggala. Tanpa sadar sepasang mata tuanya menjadi basah karena rasa haru dan gembira bercampur-baur dalam hati.

"Ayah...!" Tanpa ragu-ragu lagi, Wanara segera menghambur dan memeluk tubuh Ki Bonggala erat-erat. Pertemuan yang tak disangka-sangka itu tentu saja membuat keduanya langsung terhanyut dalam luapan rasa gembira.

Kesempatan itu rupanya tidak disia-siakan oleh Jari Pencabut Nyawa. Tokoh sesat yang sejak tadi hanya berdiri bingung menyaksikan kejadian yang tak disangka-sangka itu langsung mengirimkan serangan maut, saat Ki Bonggala dan Wanara lengah.

"Hiaaat...!"

Kedua orang ayah beranak itu baru tersadar ketika terdengar teriakan nyaring yang mengejutkan. Untunglah Panji bertindak cepat. Dengan lentingan manis, tubuh pemuda tampan itu berputar beberapa kali di udara, lalu didaratkan dua telapak tangannya di tubuh Jari Pencabut Nyawa.

Desss...!

"Huaaagkh...!"

Hantaman telak telapak tangan Panji membuat tubuh kekar berkepala botak itu terhempas bagai selembar daun kering tertiup angin. Jari Pencabut Nyawa terbanting keras di tanah disertai semburan darah segar dari mulutnya. Setelah berkelojotan sesaat dengan tubuh menggigil kedinginan, tokoh sesat itu pun diam tak berkutik lagi, tewas akibat pukulan keras yang dilandasi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Ki Bonggala dan Wanara menghela napas lega. Untuk kedua kalinya orang tua itu harus berterima kasih kepada Panji yang telah menyelamatkan nyawanya dan juga nyawa putra yang baru dijumpainya setelah lenyap selama dua puluh tahun itu.

"Kakang...," Kenanga, yang ternyata telah berhasil pula menundukkan Iblis Penakluk Harimau dan murid-murid Jari Pencabut Nyawa, segera bergabung dengan Panji.

"Ah..., kalian berdua telah berjasa besar terhadapku. Entah bagaimana aku bisa membalasnya...," desah Ki Bonggala sambil menatap pasangan pendekar itu dengan penuh kagum. Hati orang tua itu benar-benar bangga. Sebab, kaum persilatan golongan putih ternyata telah memiliki seorang tokoh muda yang berkepandaian tinggi dan berbudi luhur.

"Tidak perlu dipikirkan, Paman. Semua itu memang merupakan kewajiban kita. Siapa tahu kelak. Pamanlah yang menyelamatkan nyawa kami berdua. Dan, karena persoalan di sini telah selesai, maaf kalau kami terpaksa harus pamit untuk melanjutkan perjalanan."

Baru saja ucapan itu selesai. Panji telah berkelebat bersama Kenanga meninggalkan tempat itu. Sekejap saja, bayangan kedua pendekar muda itu telah lenyap di balik pagar kayu bulat yang mengelilingi Perguruan Jari Besi. Kini tinggallah Ki Bonggala dan Wanara yang hanya bisa menggelengkan kepala, karena tidak sempat mencegah kepergian kedua pendekar itu.

"Orang-orang berbudi luhur seperti itulah yang patut dijadikan contoh, Anakku...," desah Ki Bonggala seraya menatap wajah putranya. Ada sinar kebanggaan dalam tatapan orang tua itu. Sosok putranya begitu gagah dimatanya.

Wanara hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Pemuda itu masih merasa seperti bermimpi dapat bertemu dengan keluarganya, meskipun hanya ayahnya yang masih ada.

Ki Bonggala mengajak putranya dan sisa-sisa murid perguruannya untuk membersihkan halaman Perguruan Jari Besi. Angin sore bersilir lembut menjanjikan ketenangan dan kedamaian bagi perguruan itu di kemudian hari.

S E L E S A I

Putra Harimau

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Putra Harimau
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM baru saja berganti pagi. Cahaya kuning keemasan berpendar menghangatkan bumi. Angin sejuk bersilir lembut mempermainkan pucuk-pucuk dedaunan di wilayah Hutan Welang, sebuah hutan liar yang terletak di sebetah Barat Kadipaten Danau Bulus.

Pagi itu, empat sosok lelaki tegap berpakaian pemburu tampak bergerak menerobos semak belukar. Pemandangan seperti itu tidaKiah aneh. Sebab, musim panas seperti itu memang saat yang tepat untuk mencari binatang-binatang buruan. Apalagi, Hutan Welang adalah daerah yang paling banyak dihuni binatang buas, yang tentunya sangat disenangi para pemburu.

"Menjelang siang nanti, kita pasti sudah tiba di lembah. Saat sinar matahari sedang terik-teriknya, banyak binatang yang berteduh. Hanya saja, harus hati-hati, jangan sampai kedatangan kita tertangkap oleh penciuman mereka yang tajam," lelaki terdepan mengingatkan ketiga kawannya.

Tubuh lelaki yang berbicara itu tinggi tegap dan kokoh, sangat cocok bagi seorang pemburu. Belum lagi, bulu-bulu lebat menghiasi sebagian wajahnya. Maka semakin angkerlah penampilan lelaki itu.

Orang kedua, bertubuh sedikit lebih pendek. Wajahnya persegi empat, dengan sepasang mata kecil menjorok ke dalam. Namun, penampilan orang kedua ini tidak kalah angkernya dengan sosok pertama. Dilihat dari gerak langkahnya, lelaki itu tentu bukan orang sembarangan. Seperti juga orang pertama, dia tampaknya memiliki kepandaian silat.

Lelaki ketiga dan keempat berperawakan lebih kurus. Meskipun begitu, gerak-gerik keduanya tampak sigap. Jelas bahwa keempat orang pemburu itu tidak dapat disamakan dengan pemburu-pemburu lainnya.

"Apa tidak sebaiknya kita mulai saja dari sini, Kakang? Sepertinya di sekitar sini pun banyak terdapat binatang buruan," kata lelaki kedua sambil memperlambat langkah dan menggerakkan tangan kanannya, menyibak pohon yang menghalangi.

"Aku rasa pendapat Gantar ada benarnya, Kakang. Untuk apa jauh-jauh ke lembah, kalau di sekitar sini saja kita sudah bisa mendapatkan binatang buruan?" timpal orang ketiga yang bertubuh agak kurus, yang jelas sangat setuju dengan usul rekannya yang dipanggil Gantar itu.

"Memang, di sini banyak binatang buruan. Tapi untuk mendapatkannya sangat sulit. Kita harus bersusah-payah dulu menerobos semak belukar dan rawa-rawa. Lain halnya di lembah sana. Mereka berteduh saling berkelompok. Lagi pula binatangnya gemuk-gemuk," ungkap lelaki tinggi tegap yang tampaknya pemimpin dari kelompok kecil pemburu itu.

Ketiga orang pemburu lainnya mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah berseri-seri. Mata ketiga orang itu berbinar membayangkan binatang buruan yang gemuk-gemuk.

"Wah, kita bisa membawa hasil buruan yang hebat kali ini. Dari mana Kakang tahu? Apakah Kakang sudah pernah ke sana?" tanya Gantar penasaran.

"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan serombongan besar pemburu. Mereka mendapatkan banyak binatang buruan. Nah, dari merekalah aku mendapatkan keterangan tentang lembah di sebelah Barat hutan ini. Oh ya, sebelum berpisah, pemimpin rombongan itu berpesan pula agar aku menjauhi lembah itu. Katanya, meskipun di sana banyak binatang buruan, bahayanya tidak sedikit. Tidak kurang dari delapan orang di antara mereka tewas diterkam binatang buas. Juga, enam orang dari mereka mengalami luka yang cukup parah," kata lelaki tinggi gagah itu.

"Kalau lembah itu banyak dihuni binatang buas, mengapa kau berniat hendak ke sana, Kakang?" tanya Gantar lagi dengan wajah agak heran.

"Ha ha ha..., apa kau merasa takut, Adi Gantar? Rombongan yang kutemui itu bukanlah orang-orang terlatih seperti kita. Mereka sama sekali tidak memiliki kepandaian silat. Jadi wajar saja kalau mereka menjadi sasaran empuk binatang-binatang buas itu. Lain halnya dengan kita. Dengan kepandaian yang kita miliki, apa susahnya membela diri dari terkaman binatang-binatang buas itu?" sahut lelaki tinggi gagah itu lagi sambil tertawa.

Gantar dan dua orang lainnya ikut tertawa dan mengangguk-angguk tanda mengerti. Alasan yang dikemukakan pimpinan mereka memang tidak salah. Sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian silat, tentu saja mereka tidak perlu takut menghadapi binatang buas. Keempat pemburu itu memang bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah murid-murid Perguruan Jari Besi, sebuah perguruan yang sangat terkenal di kawasan Kadipaten Danau Bulus. Bahkan, Adipati Danau Bulus sendiri sangat menaruh hormat kepada ketua perguruan itu.

Ada pun lelaki gagah yang memimpin tiga orang temannya dalam perburuan itu adalah tokoh tingkat tiga di Perguruan Jari Besi. Namanya Maharya. Sedangkan tiga orang lainnya merupakan tokoh tingkat empat, atau satu tingkat di bawah Ki Maharya. Tingkatan-tingkatan itu tidak didapatkan dengan mudah. Banyak ujian berat yang harus mereka hadapi, sebelum Ki Bonggala, Guru Besar Perguruan Jari Besi, mengukuhkan mereka dalam tingkatan yang telah ditentukan.

Ki Bonggala sendiri bukanlah tokoh sembarangan. Lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu sangat dikenal di kalangan rimba persilatan. Pada masa mudanya, Ki Bonggala banyak menghadapi pertarungan maut. Tidak sedikit tokoh sesat yang tewas di tangannya. Sehingga, ia mendapat julukan Pendekar Tangan Sakti. Setelah lelah berpetualang, sebuah perguruan pun didirikan oleh pendekar gagah itu. Dan dilatihnya murid-murid untuk meneruskan ilmu-ilmu yang dimilikinya.

Sementara itu, keempat pemburu terus menerobos semak belukar menuju lembah sebelah Barat Hutan Welang. Baru saja mereka memasuki sebuah tempat yang agak lapang, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengejutkan.

"Hua ha ha...!"

Cepat-cepat keempat pemburu itu melompat mundur dalam keadaan siaga. Urat-urat tubuh mereka tampak menegang, karena tenaga dalam mereka telah bergerak, siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Ki Maharya, lelaki tinggi tegap berusia empat puluh tahun itu, mengedarkan pandangannya ber keliling. Sebagai pemimpin kelompok kecil itu, tentu saja ia merasa paling bertanggung jawab atas keselamatan mereka.

"Siapa kau? Tunjukkan dirimu...?" seru Ki Maharya sambil mengerahkan tenaga dalam, sehingga suaranya menggema sampai beberapa tombak jauhnya.

Ki Maharya dan adik-adik seperguruannya tidak perlu menunggu lama. Baru saja gema teriakan Ki Maharya lenyap, tampak sesosok tubuh gemuk dengan wajah bercambang lebat, melangkah ringan menghampiri mereka.

"Hua ha ha...! Benar-benar gagah murid-murid Pendekar Tangan Sakti! Mengagumkan..., mengagumkan...!" Lelaki gemuk bercambang lebat itu berdecak-decak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ucapan yang keluar dari mulutnya memang bernada pujian, tapi jelas ada kesan ejekan pada sepasang mata dan wajahnya.

"Maaf, Sahabat! Benar, kami adalah murid-murid Ki Bonggala. Tapi sayangnya kami begitu bodoh, tidak mengenali siapa adanya sahabat yang gagah ini..," kata Ki Maharya sambil membungkukkan badannya dengan sikap hormat. Ketiga adik seperguruan Ki Maharya juga menunjukkan sikap hormat kepada lelaki bercambang lebat itu. Ki Bonggala memang telah mengajarkan murid-muridnya untuk tidak bersikap sombong, terlebih-lebih kepada orang yang sama sekali belum dikenal.

"Hua ha ha.... Bagus..., bagus...! Rupanya Pendekar Tangan Sakti telah berhasil mendidik murid-muridnya dengan baik. Benar-benar membuat aku terharu...," kata lelaki gemuk itu lagi dengan nada yang tidak enak.

"Maaf, kalau boleh kami yang bodoh ini ingin tahu, siapakah adanya sahabat yang gagah ini? Dan, ada keperluan apakah menghadang perjalanan kami?" tanya Ki Maharya dengan sikap yang mulai berubah. Sorot mata Ki Maharya tidak lagi menyiratkan rasa hormat. Jelas, dia mulai tidak suka dengan sikap sombong lelaki gemuk itu.

"Hua ha ha.... Baik, kalau kalian benar-benar ingin mengenalku. Orang menyebutku si Elang Hitam. Guru kalian, Ki Bonggala, pasti telah mengenalku dengan baik. Dan, aku ada di sini, jelas untuk membunuh kalian! Tapi, aku akan berbaik hati dengan menyisakan salah satu dari kalian untuk menyampaikan pesanku kepada Ki Bonggala. Bagaimana? Kalian pasti setuju dengan usulku ini." Ucapan yang dikeluarkan lelaki bercambang lebat itu kelihatan enteng sekali, seolah-olah nyawa manusia sama sekali tidak berharga baginya. Tentu saja hal ini membuat Ki Maharya dan kawan-kawannya geram.

"Dengar, Orang Hutan!" ujar Gantar yang tidak dapat menahan kemarahannya, sambil melangkah maju dan menudingkan telunjuk ke wajah lelaki bercambang lebat itu. "Siapa pun kau. Elang Hitam, Elang Belang, atau Elang Burik sekalipun, kami murid-murid Ki Bonggala tidak takut menghadapimu! Kehadiranmu di tempat ini jelas menunjukkan sifat pengecut! Sebab, kalau kau seorang pemberani, tentunya kau akan langsung datang mencari guru. Bukan menghadang kami di tempat ini." Ucapan Gantar jelas semata-mata dimaksudkan untuk menghina dan menggertak lawan. Gertakan itu diharapkannya dapat mengurungkan niat si Elang Hitam. Bagaimanapun, tujuan mereka ke hutan ini adalah untuk berburu, bukan berkelahi. Cerdik juga tampaknya lelaki bertubuh gempal itu.

"Perbuatanku boleh saja kau anggap pengecut, tapi ini adalah siasat cerdik. Dengan membunuh tiga orang dari kalian, aku telah membuat Ki Bonggala penasaran dan sakit hati. Nah, bukankah itu namanya cerdik?" sahut si Elang Hitam yang sekali tidak tampak terpengaruh dimaki sebagai pengecut itu.

"Kalau begitu, mengapa harus banyak bacot lagi? Lakukan saja niatmu. Kami siap membuktikan, apakah kepandaianmu juga sehebat ucapanmu!" bentak Ki Maharya sambil mencabut pedang di pinggangnya.

Gantar dan dua temannya pun berjaga-jaga dengan senjata masing-masing. Keempat murid Ki Bonggala itu tampak siap menghadapi Elang Hitam.

"Bagus..., bagus..., itu baru namanya lelaki gagah.... Hua ha ha."

Tawa Elang Hitam terdengar berkepanjangan. Dia kemudian melangkah maju menghampiri keempat lawannya. Dan sebagai murid pendekar yang terlatih baik, tentu saja keempat lawannya itu tidak memerlukan perintah pemimpinnya. Mereka segera menyebar dan mengurung Elang Hitam yang terus saja tertawa-tawa itu. Tampaknya Elang Hitam tidak ingin mendahului pengeroyoknya, ia hanya berdiri tegak di tengah arena dengan sikap sombong.

"Heaaat...!"

Ki Maharya yang berada di sebelah kanan Elang Hitam berseru nyaring membuka serangan. Pedang lelaki tinggi gagah itu berkelebatan, menimbulkan pendaran sinar yang menyilaukan. Gerakan yang mengandung tenaga dalam kuat itu menunjukkan bahwa Ki Maharya tidak memandang rendah lawannya.

Pada saat yang hampir bersamaan, Gantar dan kawan- kawannya pun berseru nyaring, sambil melesat dengan putaran senjatanya. Sebentar saja suasana hutan yang sunyi itu pun berubah bising oleh suara senjata yang mengaung-ngaung tajam.

"Hmh...!" Elang Hitam hanya mendengus kasar melihat gerakan para pengeroyoknya. Dengan gerakan yang jauh lebih ringan dan mantap, tubuhnya ditarik ke belakang saat tebasan pedang Ki Maharya tiba. Kemudian badannya berputar ke kiri menghindar sambaran pedang di tangan Gantar. Sedangkan dua serangan lainnya dielakkan dengan melenting ke atas. Dan, langsung dikirimkan hantaman dua buah telapak tangannya ke arah punggung dua orang murid Perguruan Jari Besi.

Wukkk! Wukkk!

"Aihhh...!?"

Kedua orang murid itu terkejut bukan main. Serangan balasan yang cepat dan tak terduga itu membuat mereka harus menggulingkan tubuh dan menjauhi Elang Hitam. Untunglah saat itu Ki Maharya telah melesat dengan babatan senjatanya. Sehingga, Elang Hitam yang berniat mengejar dua orang lawannya itu terpaksa menarik kembali kedua tangannya. Dan, tubuhnya diputar dengan kekuatan pinggang.

Bettt...!

Tebasan pedang Ki Maharya berdesing tajam di atas kepala Elang Hitam. Kalau saja gerakan Ki Maharya lebih cepat sedikit, dapat dipastikan leher lelaki gemuk bercambang lebat itu akan putus. Apa boleh buat, gerakan Elang Hitam masih jauh lebih cepat dari sambaran pedang Ki Maharya. Serangan lelaki gagah itu pun hanya menyambar angin kosong. Kemudian....

"Makan olehmu!" teriak Elang Hitam, disertai lontaran kaki kanan dalam gerak menyamping, yang langsung mengancam pelipis Ki Maharya.

Plak!

"Aaakh.!" Ki Maharya mengeluh pendek. Meskipun berhasil menangkis tendangan lawan dengan tangan kirinya, tubuh lelaki gagah itu tak urung terhuyung dengan wajah menyeringai. Dia tampak kesakitan memegangi tangan kirinya yang tadi terbentur kaki lawan dengan keras.

Elang Hitam tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Cepat-cepat tubuhnya melesat dengan cengkeraman-cengkeraman sepasang cakarnya yang bergerak dari bawah ke atas mengancam dada dan lambung Ki Maharya.

"Yeaaat.!"

Namun, pada saat yang gawat itu, Gantar datang dengan sambaran senjatanya. Tindakan lelaki bertubuh gempal itu memang tepat sekali. Kalau tidak, Ki Maharya pasti akan tersambar cakar lawan yang keras bagai besi itu. Hebatnya Elang Hitam tidak kehilangan akal. Dengan putaran tangan yang cepat, gerakannya berubah mengancam Gantar. Dengan sebuah liukan tubuh yang mengejutkan, sepasang cakar itu bergerak susul-menyusul mengincar tubuh Ganta. Dan....

Brettt! Brettt!

"Aaakh.!" Gantar memekik kesakitan ketika cakar tangan Elang Hitam merobek lambung dan lehernya. Darah segar langsung mengalir. Cakar sekeras besi itu merenggut kulit berikut daging di tubuh Gantar. Dan selagi tubuh lelaki gempal itu terhuyung- huyung, menyusullah sebuah gedoran keras menghajar dadanya.

Blakkk!

"Aaargh.!" Terdengar jerit melengking tinggi. Tubuh Gantar terpental sejauh satu setengah tombak dan langsung melanggar sebatang pohon di belakangnya. Tanpa ampun, tubuh itu melorot jatuh dan tidak bergerak lagi. Dari mulutnya mengalir darah segar. Gantar tewas seketika itu juga.

"Adi Gantar!" Ki Maharya berteriak kalap melihat adegan itu. Dengan kemarahan yang meluap-luap, lelaki gagah itu segera menerjang lawannya dengan tebasan pedangnya yang bergulung-gulung.

Bettt! Bettt..!

"Hiaaah.!" Elang Hitam membentak nyaring disertai lentingan tubuh ke udara. Terjangan Ki Maharya dihindarinya dengan mudah. Dan setelah berputar beberapa kali, lelaki gemuk itu kemudian mendarat di belakang dua orang adik seperguruan Ki Maharya lainnya.

Kreppp! Kreppp!

Cepat bagai kilat, cengkeraman Elang Hitam langsung mencekal leher kedua orang itu. Salah satu dari keduanya dilemparkan dengan sentakan tenaga dalam, sedangkan yang seorang lagi langsung diremas hancur tulang lehernya.

"Iblisss...!" Makin kalap Ki Maharya menyaksikan kejadian yang menimpa adik-adik seperguruannya. Suaranya kini terdengar lebih berupa bisikan ketimbang desis kemarahan. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya.

"Hua ha ha.... Ambillah tubuh busuk ini. Aku tidak membutuhkannya...," teriak Elang Hitam sambil melemparkan mayat lawan yang tulang lehernya telah diremas hancur itu.

Ki Maharya tertegun sejenak melihat mayat adik seperguruannya melayang cepat ke arahnya. Segera diputuskannya untuk menghindar. Malang Elang Hitam rupanya telah memperhitungkan gerakan lelaki gagah itu. Tepat pada saat tubuh Ki Maharya bergerak k kiri, Elang Hitam melesat bagai kilat dengan cengkeraman mautnya.

Brettt! Brettt!

"Aaakh...!" Ki Maharya memekik kesakitan! Tubuh tinggi tegap itu terdorong sejauh satu tombak ke belakang. Belum lagi disadari keadaannya, sebuah tendangan kilat telah menerpa dada kirinya tanpa ampun.

Desss...!

"Hugkh...!" Darah segar menyemprot dari mulut Ki Maharya. Tubuhnya pun terlempar deras.

Bruggg!

Lelaki gagah murid Ki Bonggala itu meregang menahan sakit. Dan, sebelum bergerak mencoba bangkit, telapak kaki lawan langsung menjejak perut Ki Maharya. Tanpa ampun, satu nyawa lepas lagi di tangan Elang Hitam yang memiliki kekejaman luar biasa itu. Sekarang tinggal satu orang murid Ki Bonggala yang masih hidup. Ia masih terduduk kesakitan dengan noda darah memenuhi pakaiannya.

"Serahkan surat ini kepada gurumu...," ujar Elang Hitam seraya melemparkan gulungan surat kepada murid bertubuh kurus yang sengaja tidak dibunuhnya itu. Setelah berkata demikian. Elang Hitam langsung melesat dan lenyap di kelebatan pohon.

********************

DUA

Ki Bonggala,

Kutunggu kau di lembah sebelah Barat Hutan Welang. Kematian saudara seperguruanku harus kau bayar mahal!

Elang Hitam


"Hhh..." Lelaki gagah dengan sorot mata penuh perbawa kuat itu menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dihembuskannya kuat-kuat. Diremasnya hingga hancur kulit kayu yang baru saja selesai dibacanya. Terdengar tarikan napas panjang saat ia bangkit dari kursi.

"Jadi Ki Maharya dan dua orang temanmu yang lain telah tewas di tangan Elang Hitam?" ujar lelaki gagah berusia sekitar lima puluh tahun itu. Nada suaranya terdengar berat dan dalam, sehingga menambah kewibawaannya.

Lelaki gagah itu lak lain adalah Ki Bonggala, yang dikenal dengan julukan Pendekar Tangan Sakti. Pagi itu dia kedatangan salah seorang muridnya. Murid bertubuh kurus itu melaporkan segala kejadian yang dialami bersama kawan-kawannya ketika berburu. Disampaikannya pula surat dari kulit kayu, yang dikirimkan oleh Elang Hitam.

"Benar, Guru. Bukan maksudku untuk mencari selamat sendiri. Tapi lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Elang Hitam itu memang berkata bahwa ia akan melepaskan salah seorang dari kami untuk menyampaikan pesannya," sahut lelaki kurus yang bersimpuh beberapa langkah di depan Ki Bonggala. Pakaian lelaki kurus itu dipenuhi noda darah. Bahkan, pada sudut bibir masih tersisa bekas-bekas darah.

"Hm..., bukan salahmu, Girja. Aku pun tidak menyalahkanmu. Jangan kau siksa dirimu dengan rasa bersalah itu hanya akan membuat jiwamu tertekan," jelas Pendekar Tangan Sakti.

"Baik, Guru. Terima kasih...," ujar lelaki yang dipanggil Girja itu dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah Pendekar Tangan Sakti.

"Hm..., kau beristirahatlah. Obati luka-lukamu...," ujar Ki Bonggala sambil kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi. Untuk kesekian kalinya, terdengar helaan napas panjang yang berat. Sekilas tampak sinar kedukaan membayang di wajah ki Bonggala.

Girja pun beranjak meninggalkan ruang pertemuan itu. Di hadapan Ki Bonggala kini bersimpuh tiga murid utama Perguruan Jari Besi yang turut mendengarkan pembicaraan antara guru dan murid tadi.

"Guru...," kata salah seorang dari ketiga murid utama itu sambil menatap wajah gurunya.

"Hm..."

Murid utama yang usianya hanya lebih muda lima tahun dibanding gurunya itu terlihat merapatkan telapak tangannya ketika mendengar gumaman Ki Bonggala. Tersirat gambaran keengganan pada wajah murid utama itu. Untuk beberapa saat dia terbungkam, seoalah olah tengah mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada saat seperti itu. Suasana hening sejenak.

"Ada apa, Lunggara? Kenapa kau malah diam? Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, tanyakanlah...," ujar Ki Bonggala, menutup keheningan itu.

"Kalau boleh, kami murid-muridmu yang bodoh ini ingin mengetahui, ada apakah sebenarnya, Guru. Andai saja kami bisa meringankan persoalan yang sedang Guru hadapi, kami siap membantu semampu kami, Guru."

Akhirnya Lunggara mengutarakan juga apa yang menjadi beban pikirannya. Lelaki berwajah bulat telur dengan jenggot lebat menghias dagunya itu merasa ikut bertanggung jawab atas persoalan yang mengganggu pikiran gurunya.

"Sebelum aku menjelaskan persoalan ini kepada kalian bertiga, ada baiknya kalian mengetahui sedikit masa laluku," desah Ki Bonggala sambil menatap wajah ketiga orang murid utamanya dengan sorot mata tajam. Lelaki gagah itu ingin tahu, adakah gambaran keberatan pada wajah-wajah muridnya. Lega hati Ki Bonggala ketika tidak menemukan apa yang dikhawatirkannya itu.

"Kami siap mendengarkan, Guru."

Lunggara dan dua murid utama lainnya segera menyahuti dengan suara mantap. Ketiga orang murid itu sangat ingin membantu memecahkan persoalan yang saat ini menjadi beban gurunya.

"Dua puluh tahun yang silam, saat aku pindah dari kotaraja ke tempat terpencil ini, ada suatu keajaiban yang tidak bisa kulupakan seumur hidup. Saat itu aku telah menikah dan mempunyai seorang putra yang belum lama lahir dari rahim istriku. Rupanya, bibit-bibit permusuhan yang semasa muda kutanamkan secara tidak langsung terhadap tokoh-tokoh golongan hitam telah menjadi bencana bagi keluargaku. Seorang tokoh sesat berjuluk Telapak Tangan Setan menghadang perjalananku, ia bersekongkol dengan tokoh-tokoh sesat lainnya yang pernah kukalahkan semasa aku masih berpetualang di rimba persilatan. Sayang, meskipun aku berhasil membinasakan mereka, istri dan anakku lenyap saat keributan terjadi. Berbulan-bulan aku menjelajahi seluruh wilayah Gunung Kendal dan Hutan Bajang. Tapi, pencarianku sia-sia. Istri dan putraku bagaikan lenyap ditelan bumi. Karena putus asa, kuputuskan untuk menetap di Desa Welang ini dan mengambil murid-murid untuk menemaniku"

Ki Bonggala menarik napas panjang sambil tengadah menatap langit melalui jendela yang terbuka. Tampak lelaki gagah itu mengerjap-ngerjapkan matanya, ia terhanyut dalam kesedihan mengenang masa lalunya.

Mendengar penuturan gurunya, ketiga murid utama itu menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka pun ikut merasakan kesedihan yang dialami gurunya semasa mereka belum menjadi murid lelaki gagah itu.

"Maaf, Guru...," ujar salah seorang dari ketiga murid utama itu. Murid yang rambutnya digelung ke atas dan berusia sekitar tiga puluh tahun itu tampaknya ingin bertanya kepada Ki Bonggala. Ia kelihatan belum mengerti sepenuhnya kaitan antara cerita lelaki gagah itu dan surat yang baru diterima tadi.

"Hm..., ketahuilah, Samija... Orang yang mengirimkan surat kepadaku, yaitu si Elang Hitam, adalah salah satu tokoh sesat yang kepandaiannya sangat tinggi. Tingkat kepandaiannya hampir dapat disejajarkan dengan datuk-datuk sesat pada masa sekarang. Dan, Elang Hitam merupakan kakak seperguruan dari Telapak Tangan Setan. Rupanya ia telah lama mendendam kepadaku, yang telah membunuh adik seperguruannya. Sehingga, ia mengirimkan surat tantangan kepadaku," jawab Ki Bonggala menjelaskan hubungan ceritanya dengan surat kulit kayu yang telah diremas hancur tadi.

"Lalu, apa yang akan Guru lakukan? Apakah Guru menerima tantangan itu?" tanya Lunggara yang tampak khawatir akan keselamatan gurunya.

"Hm..., apa kau kira gurumu ini seorang pengecut, Lunggara? Tentu saja tantangan itu akan kuterima. Jangankan hanya seorang Elang Hitam, berpuluh orang sepertinya pun, kalau memang harus dihadapi, tidak akan membuatku mundur meski selangkah...," sahut Ki Bonggala sambil mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, hingga terdengar suara berkerotokan.

"Lalu, apa yang dapat kami bantu, Guru...?" tanya murid yang dipanggil Samija, dengan wajah agak bingung.

"Tentu saja aku mengharapkan bantuan kalian bertiga. Tapi aku ragu, apakah kalian sanggup...," desah Ki Bonggala sambil menatap wajah ketiga orang murid utamanya itu lekat-lekat. Ada bayang kecerdikan pada sorot mata lelaki gagah ini. Tampaknya Ki Bonggala memancing tanggapan ketiga lelaki di hadapannya itu.

"Tentu saja kami sanggup, Guru. Bahkan nyawa pun siap kami korbankan jika perlu...," jawab Lunggara dengan lantang dan gagah. Sorot mata lelaki berusia empat puluh lima tahun itu memancarkan semangat. Tampaknya kesetiaan Lunggara memang tidak diragukan lagi.

"Bagaimana dengan yang lain? Tugas yang kuberikan kepada kalian ini tidak mudah, meskipun juga tidak terlalu sukar. Tapi yang jelas tugas ini sangat memerlukan keberanian yang besar."

Kembali terdengar ucapan Ki Bonggala bernada meragukan kesanggupan murid-murid utamanya. Sehingga, ketiga orang murid utama itu kelihatan berusaha menunjukkan perasaan dan kesetiaan mereka dengan penuh semangat.

"Kami siap, Guru. Seberat apa pun tugas yang Guru berikan, kami akan berusaha menjalankan sebaik-baiknya!" jawab Samija dengan sorot mata berapi-api.

"Baiklah. Aku harus pergi. Dan, harus ada orang yang menggantikanku menjaga dan mengawasi perguruan ini selama aku pergi. Karena kalian telah berjanji akan membantuku sebaik-baiknya, kuserahkan tugas ini kepada kalian bertiga...," kata Ki Bonggala sambil tersenyum tipis.

Lelaki gagah itu tampak senang dapat menjebak murid- murid utamanya itu. Hal ini dilakukan karena ia tidak ingin melibatkan orang lain lagi dalam persoalan dendam mendendam yang tak ada habis-habisnya itu.

"Ahhh...?!"

Tentu saja ucapan Ki Bonggala membuat Lunggara dan kedua orang saudara seperguruannya terkejut. Mereka yang semula sudah membayangkan akan menemani Pendekar Tangan Sakti menghadapi Elang Hitam itu tidak menyangka akan mendapat tugas yang sama sekali di luar perkiraan. Tapi, karena janji telah terucap, tugas itu tidak dapat ditolak lagi.

"Tugas ini bukan tidak berarti apa-apa, Murid-muridku. Bahkan tugas yang kuserahkan kepada kalian ini jauh lebih berat ketimbang kalian ikut berhadapan dengan Elang Hitam. Tapi, aku yakin kalian akan dapat melaksanakan tugas ini dengan baik dan dapat saling bantu satu sama lain," ujar Ki Bonggala melanjutkan ucapannya ketika melihat kekecewaan tergambar jelas di wajah ketiga orang murid utamanya itu.

"Baiklah, Guru. Kami berjanji akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Semoga kami tidak mengecewakan harapan Guru...," ucap Lunggara sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan menghormat, yang diikuti pula oleh dua oran murid utama lainnya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Apabila ada murid yang bertanya, katakanlah bahwa aku tengah bersemadi dan tidak boleh diganggu. Mudah-mudahan kita dapat berjumpa lagi, Murid-muridku..." Setelah berpesan demikian, tubuh Ki Bonggala melesat dan langsung lenyap di balik tembok samping bangunan utama Perguruan Jari Besi.

"Selamat jalan, Guru..," desis ketiga murid utama itu sambil bersujud menghadap ke arah lenyapnya tubuh Ki Bonggala.

********************

Sosok tubuh tinggi gagah melesat menerobos semak belukar Hutan Welang. Gerakannya demikian ringan dan gesit. Jalan-jalan yang biasanya sangat sulit dilalui orang lain sama sekali tidak menjadi halangan bagi sosok gagah itu. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, telah dimasukinya Hutan Welang sebelah Barat. Saat tiba di sebuah dataran yang agak tinggi, sosok tegap itu menghentikan langkahnya. Sepasang matanya yang tajam merayapi lembah yang kini terbentang di hadapannya Tanpa peduli sengatan terik matahari dan hembusan angin panas, lelaki gagah itu bergerak turun memasuki lembah.

"Hiaaah...!"

Begitu hampir tiba di dasar lembah, lelaki gagah itu berseru perlahan. Seketika itu juga, tubuhnya melenting dan berputar beberapa kali, lalu dipijakkan kakinya di atas tanah berumput segar. Setelah memperhatikan suasana lembah sesaat, kakinya pun melangkah perlahan. Puluhan ekor binatang yang tengah berteduh dari sengatan matahari langsung berlarian menyebar. Kehadiran lelaki gagah ini tampaknya telah mengganggu ketenangan binatang-binatang itu.

"Grauuung...!"

Terdengar raungan marah belasan ekor binatang buas yang merasa terganggu oleh kehadiran lelaki gagah itu. Beberapa di antaranya bergerak meninggalkan tempat itu. Sedangkan lima ekor singa jantan mengaum dan menghampiri sosok lelaki gagah itu dengan menunjukkan taring-taringnya yang runcing.

"Hm. Pantas Elang Hitam memilih tempat ini sebagai arena pertarungan. Rupanya ia hendak menggunakan binatang- binatang buas ini untuk mempelajari gerakan-gerakanku. Benar-benar licik iblis itu...," gumam lelaki gagah yang tak lain dari Ki Bonggala itu, dengan nada agak jengkel. Sadar bahwa mungkin lawan telah memperhatikannya, Ki Konggala berjaga-jaga dengan pedang tergenggam erat di tangan kanan.

Sring...!

Secercah sinar putih berkeredep ketika pedang Ki Bonggala keluar dari sarungnya. Desingannya yang tajam membuat lima ekor singa jantan tadi bergerak mundur sambil meraung keras.

"Kau lihat dan pelajarilah gerakanku, Elang Hitam. Kau pikir aku orang bodoh yang bisa kau kelabui begitu saja...," gumam Ki Bonggala yang sengaja menggunakan senjatanya untuk menghadapi lima ekor singa jantan itu. Ki Bonggala tentu tidak mau dibodohi lawannya. Dengan menggunakan senjata, ia bisa menyembunyikan ilmu silat yang dikuasainya. Sehingga, ia tidak perlu khawatir biarpun gerakannya diperhatikan oleh lawannya, yang diyakininya tengah bersembunyi tidak jauh dari tempat itu.

"Grauugh...!"

Cwiiit… cwiiit...!

Ki Bonggala mengibaskan pedangnya bersilangan saat kelima ekor singa jantan itu bergerak mendekatinya. Binatang-binatang buas itu pun kembali bergerak mundur sambil menunjukkan taringnya. Jelas, mereka gentar melihat desingan tajam yang ditimbulkan pedang Ki Bonggala. Rupanya selain gentar, binatang-binatang buas itu juga merasa penasaran. Dua di antaranya melompat cepat dengan terkaman maut, disertai numan keras bagai hendak meruntuhkan dinding lembah.

"Hm..." Pendekar Tangan Sakti hanya bergumam pelan. Tubuhnya dilesatkan ke samping kiri dengan kibasan pedangnya yang cepat dan hampir tak dapat dilihat.

Brettt! Brettt!

"Auuurgh...!"

Dua ekor singa jantan itu meraung kesakitan saat pedang Ki Bonggala melukai bagian tubuh singa-singa itu. Belum lagi dua ekor singa jantan itu membalikkan tubuh. Pendekar Tangan Sakti telah melesat dengan tendangan kilat.

Buggg! Desss...!

Binatang-binatang itu meraung kesakitan. Tubuh keduanya terpental hingga satu tombak jauhnya, kemudian terus berlari masuk ke hutan sambil mengaum lirih. Kedua binatang buas itu tampak gentar melihat kehebatan calon korbannya.

Cepat bagai kilat, Ki Bonggala membalikkan tubuhnya menghadapi tiga ekor singa jantan lainnya. Tapi, binatang-binatang itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Ketiganya malah bergerak mundur sambil menunjukkan taringnya yang runcing, lalu berbalik dan melarika diri ke dalam hutan.

Ki Ronggala tersenyum melihat tingkah binatang binatang buas itu. Pandangannya diedarkan ke sekeliling lembah, seolah-olah mencari tempat persembunyian Elang Hitam. "Elang Hitam, ini aku sudah datang! Apakal kau masih tetap hendak menyembunyikan dirimu...?" seru Ki Bonggala nyaring dengan pengerahan tenaga saktinya, sehingga gemanya berpantulan di dinding tebing.

Agak lama Ki Bonggala menanti jawaban. Dan setelah kesabarannya hampir habis, tampak sesosok bayangan berkelebat dari sebelah kirinya dengar tawa berkepanjangan.

"Hua ha ha...!"

Dengan sikap yang tetap tenang, Ki Bonggak menggeser kakinya beberapa langkah ke samping kanan. Disarungkan kembali senjatanya, kemudian diselipkannya di pinggang kanan. Tampaknya lelaki gagah itu ingin menghadapi lawannya dengan tangan kosong. Memang, keistimewaan ilmu silatnya terletak pada tangan kosong. Itulah sebabnya mengapa Ki Bonggala dijuluki sebagai Pendekar Tangan Sakti.

"Pantas saja adik seperguruanku sampai tewas ditanganmu, Ki Bonggala. Ternyata kau benar-benar gagah. Kau patut menjadi seorang pendekar yang disegani...," puji lelaki gemuk bercambang lebat itu. Sambil berkata demikian, kakinya melangkah mengitari Ki Bonggala. Sikapnya terlihat sombong, seolah-olah ia yakin akan dapat mengalahkan Pendekar Tangan Sakti yang terkenal itu.

"Kau mengundangku untuk menuntut balas kematian saudara seperguruanmu, ataukah hanya untuk berbicara...? Kalau kau mengundangku hanya untuk meladeni pembicaraanmu yang tak berguna itu, sebaiknya aku pergi saja...," sahut Ki Bonggala sambil menunjukkan sikap bersiap-siap meninggalkan lembah itu.

Elang Hitam tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ki Bonggala. Sebentar kemudian, ditatapnya sosok lelaki gagah itu, bagai sedang menilai suatu benda yang ingin dibelinya. Hal itu tentunya sengaja dilakukan Elang Hitam untuk memancing kemarahan lawan. Apabila pancingannya berhasil, akan lebih mudah bagi Elang Hitam untuk menundukkan lawannya. Sebab, bila seseorang menyerang atau bertempur dalam keadaan marah, biasanya kewaspadaannya akan berkurang.

Namun, pancingan tokoh sesat itu tidak berhasil. Ki Bonggala tetap saja tenang. Laki-laki gagah itu sadar betul lawan sengaja memancing kemarahannya.

TIGA

Sikap tidak peduli Ki Bonggala membuat wajah Elang Hitam berubah gelap. Sorot matanya berkilat tajam menggambarkan kejengkelan hatinya. Tampaknya tokoh sesat itu termakan pancingannya sendiri.

"Apakah bicaramu sudah selesai, Elang Hitam...?" ujar Ki Bonggala seraya tersenyum tipis. Tokoh itu kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.

Tentu saja sikap Pendekar Tangan Sakti itu membuat Elang Hitam semakin bertambah jengkel. "Sudah! Dan sekarang bersiaplah! Akan kucabut nyawamu!" Sambil membentak marah, Elang Hitam melompat dengan disertai sambaran cakarnya yang menderu-deru.

Wettt... Wettt...!

"Haiiit...!" Rupanya sikap tidak peduli Ki Bonggala bukan berarti ia tidak waspada. Begitu cakar elang lawan akan menyambar tubuhnya, lelaki gagah itu bertindak sigap dengan melakukan lompatan pendek ke belakang. Saat berikutnya, Ki Bonggala melontarkan sebuah tendangan lurus dengan kecepata kilat.

Zebbb!

Tendangan lurus yang mengancam perut Elang Hitam ternyata mengenai angin kosong. Lelaki gemuk bercambang lebat itu telah menarik tubuhnya mundur sebanyak dua tindak. Ki Bonggala sendiri ternyata telah menduga gerakan lawannya. Lelaki gagah yang terkenal berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu masih melanjutkan serangannya dengan serangkaian tendangan yang berputar-putar dan menimbulkan angin menderu-deru. Elang Hitam pun kelabakan menghindari tendangan yang laksana kitiran itu.

"Heaaat...!"

Saat Elang Hitam tengah kerepotan menghindari serangkaian tendangan maut itu, tiba-tiba saja Ki Bonggala menghentikan serangan kakinya secara mendadak. Disertai lengkingan nyaring yang mengejutkan, tiba-tiba tubuh lelaki gagah itu melejit ke udara. Dan, tangan kanannya lalu terlontar dengan cepat melakukan tebasan. Serangan ini benar-benar berbahaya.

Sadar kalau serangan kilat itu sangat sulit dielakkan, Elang Hitam terpaksa menyambut dengan mengulurkan tangan kirinya dalam keadaan agak bengkok, ia bermaksud menyambut tebasan sisi telapak tangan lawan dengan lengan tangannya.

Plak...!

Terdengar suara benturan keras. Dua buah lengan yang dialiri tenaga dalam kuat itu berbenturan, di udara. Seruan- seruan tertahan terdengar dari mulut kedua tokoh yang saling menggebrak itu. Keduanya sama-sama terkejut merasakan kekuatan tenaga sakti lawannya.

Ki Bonggala yang terpental balik segera melakukan beberapa kali putaran di udara sebelum menjejak tanah. Sedangkan lawannya yang tergempur serangannya pun segera memutar kaki depan setengah lingkaran, dan langsung kembali memasang kuda-kuda.

"Benar-benar mengagumkan! Aku gembira menemui tandingan yang lihai sepertimu, Pendekar Tangan Sakti...," desis Elang Hitam dengan napas terengah-engah.

"Hm.... Kau pun hebat. Elang Hitam. Sayang kepandaian sehebat itu kau gunakan untuk kejahatan...," ucap Ki Bonggala, dengan napas yang juga agak memburu.

Elang Hitam kini tidak lagi bersuara. Tokoh sesat itu bergerak dengan langkah-langkah pendek. Kedua tangannya yang membentuk cakar elang, dikibas-kibaskan dengan keras. Tidak salah lagi, dalam penyerangan kali ini, Elang Hitam bersiap-siap mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Semua itu terbukti dari suara kibasan tangannya yan menderu tajam.

Pendekar Tangan Sakti tampaknya cukup menyadari kekuatan tenaga dalam lawannya. Terbukti tokoh itu langsung merendahkan tubuhnya dengan kedudukan bagai orang menunggang kuda. Sepasang tangannya dengan telapak tangan terbuka, berputaran menyambar-nyambar dan menimbulkan deru angin yang kuat. Kakinya bergerak dalam bentuk kuda-kuda yang kokoh bagaikan batu karang. Ki Bonggala tampak siap mengimbangi permainan lawannya.

"Yeaaah...!"

Dibarengi bentakan nyaring yang memekakkan telinga, Elang Hitam mulai menerjang dengan jurus-jurus cakar elangnya. Tubuhnya bergerak ringan bagaikan seekor burung elang yang beterbangan mengincar mangsa. Sepasang tangannya yang bagai cakar elang menyambar-nyambar dengan ganas.

Ki Bonggala tetap mengimbangi permainan keras lawan dengan ilmu-ilmu tangan kosongnya yang sangat terkenal dalam rimba persilatan. Gerakan tangannya yang selalu berubah bentuk benar-benar membuat lawannya kebingungan. Pertarungan pun semakin bertambah seru. Kedua tokoh itu saling menerjang dengan ilmu andalan masing-masing.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Pada jurus-jurus awal, tampak Ki Bonggala masih sanggup mengimbangi, bahkan membalas serangan lawannya. Tapi, ketika pertarungan meningkat hingga jurus keempat puluh lima, tampak Elang Hitam masih lebih tinggi kepandaiannya daripada Ki Bonggala. Kini, tokoh sesat itu menggempur lawannya habis-habisan. Sehingga, Ki Bonggala kini tampak dalam keadaan terdesak hebat.

Wuttt...!

"Ahhh...!?"

Sebuah tamparan cakar lawan nyaris merobek wajah Ki Bonggala. Untunglah tokoh sakti itu masih sempat memiringkan kepalanya. Sehingga jemari sekeras baja itu lewat setengah jengkal di samping wajahnya. Tapi, Ki Bonggala belum bisa menarik napas lega. Sebab, tangan kiri lawan langsung menyusul dengan tajam. Kali ini cengkeraman maut itu bergerak dari bawah ke atas. Hendak merobek perut Pendekar Tangan Sakti. Karena tidak ada waktu lagi untuk menghindar, Ki Bonggala nekat mengangkat tangan kanannya dan menekan ke bawah sambil menarik kaki kanannya ke belakang.

Dukkk!

"Uuuhhh...!" Ki Bonggala mengeluh pendek. Tangkisannya ternyata membuat tubuhnya terpental sejauh satu tombak ke belakang. Kali ini nyata bahwa tenaga dalam lawannya masih jauh lebih kuat daripada tenaga dalamnya. Dan sebelum tokoh sakti itu sempat memasang kembali kuda-kudanya, sebua tendangan keras telak menghajar bagian kiri dadanya.

Buggg!

"Hugkh...!"

Tak ayal lagi, tubuh lelaki gagah itu pun terjungkal deras ke belakang, lalu terbanting ke atas tanah. Semburan darah segar langsung membasahi tanah berumput. Meskipun demikian, Ki Bonggala masih bisa mencelat bangkit. Dia kembali siap menghadapi lawannya. Elang Hitam hanya tertawa melihat kekuatan lawannya. Dan tiba-tiba tubuh lelaki bercambang lebat itu melenting ke atas dan berputar bagai kitiran.

Plakkk! Brettt...!

Tubuh Ki Bonggala melintir akibat tamparan keras pada wajahnya. Lelaki tegap itu terbanting ke atas tanah untuk kedua kalinya. Dan, sebelum sempat bergerak bangkit. Elang Hitam melesat dengan cengkeraman mautnya.

"Yeaaat...!"

Ki Bonggala yang sudah tidak mampu lagi berkelit itu hanya memandang terbelalak. Lelaki gagah itu sama sekali tidak berkedip menunggu maut yang siap menjemputnya.

"Haiiit...!"

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring membeset udara. Sesosok bayangan tinggi kurus melesat memotong serangan Elang Hitam. Akibatnya....

Plakkk! Bukkk! Desss!

"Aaakh.!" Hebat dan cepat sekali gerakan tangan sosok tinggi kurus itu. Bukan saja serangan Elang Hitam dapat ditangkisnya. Tapi, dua hantamannya pun bersarang telak di dada dan lambung tokoh sesat itu. Akibatnya, tubuh lelaki gemuk itu terjengkang dan mulutnya memuntahkan darah segar.

Bruggg!

Tanpa ampun lagi, tubuh Elang Hitam terbanting keras di atas tanah berumput. Namun meskipun kedua kakinya agak goyah, lelaki gemuk bercambang lebat itu masih dapat bergerak bangkit dengan sigapnya.

"Setan keparat...!" maki Elang Hitam dengi sorot mata yang memancarkan kemarahan yang amat sangat.

Sementara itu, sosok tubuh tinggi kurus telah berdiri tegak menghadapi Elang Hitam. Tatapan matanya yang terlindung di balik alis tebal putih berjuntai itu jelas menandakan bahwa lelaki itu telah berusia lanjut. Usianya tampak lebih dari tujuh puluh tahun. Kulit wajahnya pun telah dipenuhi keriput.

"Guru...!?" Ki Bonggala berseru lirih, agak tertahan. Lelaki gagah yang tengah terluka itu agak terkejut ketika mengenali siapa sesungguhnya sosok tinggi kurus itu.

"Dewa Langit..!?" desis Elang Hitam yang juga terkejut. Tanpa banyak cakap lagi, lelaki gemuk itu pun melesat pergi meninggalkan lawannya. Jelas, hatinya gentar terhadap laki-laki tua yang disebut dengan julukan Dewa Langit itu.

"Tunggulah pembalasanku, Ki Bonggala, Dewa Langit...!" Suara Elang Hitam terdengar dari kejauhan. Sosok bayangannya sendiri sudah tidak terlihat lagi, lenyap ditelan kerimbunan pepohonan hutan.

Perginya Elang Hitam menandakan kecerdikan otaknya. Sebab, laki-laki tua tinggi kurus yang disebut sebagai Dewa Langit itu bukan tandingannya. Guru Ki Bonggala itu adalah seorang tokoh sakti yang sangat terkenal dalam dunia persilatan. Entah bagaimana tokoh sakti yang telah mengasingkan diri itu tiba-tiba muncul menyelamatkan muridnya pada saat yang tepat.

"Guru..., syukurlah kedatanganmu sangat tepat. Terlambat sedikit saja, rasanya Guru hanya akan mendapatkan mayatku di tempat ini...," ucap Ki Bonggala setelah luka dalamnya diobati Dewa Langit.

"Hm.... Sesungguhnya aku memang ingin mengunjungimu, dan lewat lembah inilah jalan terdekat ke tempatmu. Kau tentunya sudah mempunyai keturunan yang dapat mewarisi ilmu-ilmuku. Aku sudah sangat tua, Bonggala. Meskipun kau telah mewarisi ilmu-ilmuku, ada beberapa ilmu yang tidak cocok denganmu karena bakat silatmu tidak begitu bagus. Jadi, kedatanganku ini adalah untuk mendidik putramu. Tentunya dia sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat perguruan kita. Aku tinggal menambah dan mematangkannya saja," jelas Dewa Langit.

"Hhh..."

Kening Dewa Langit berkerut melihat wajah murung dan helaan napas berat muridnya. Ditatapnya wajah lelaki gagah itu penuh selidik.

"Ada apa, Bonggala...? Kau tidak suka putramu menjadi muridku?" tanya Dewa Langit tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah Ki Bonggala.

"Bukan begitu, Guru.... Tapi, istri dan putraku telah lenyap dua puluh tahun yang lalu. Tampaknya mereka telah tewas. Itu kutekankan dalam hati, agar kesedihan tidak selalu datang apabila aku teringat pada mereka...," jawab Ki Bonggala dengan wajah gelap.

"Ahhh..., jadi kedatanganku sia-sia saja. Maafkan aku, Bonggala. Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu...," desah Dewa Langit yang merasa ikut prihatin dengan nasib muridnya Itu. Bayangan kekecewaan tergambar jelas pada raut wajah keriput itu.

"Akulah yang seharusnya minta maaf. Guru. Aku tidak pernah mengunjungimu setelah meninggalkan perguruan. Bahkan ketika aku menikah, justru Gurulah yang mengunjungiku. Aaah..., aku memang murid yang tidak tahu balas budi...," ujar Ki Bonggala memaki dirinya sendiri.

"Sudahlah, Bonggala. Tidak ada gunanya kita saling menyalahkan. Biarlah, meskipun putramu telah tiada, aku tinggal di tempatmu untuk beberapa waktu. Sudah jauh sekali aku berjalan, tidak ada salahnya aku mampir di tempatmu, bukan? Itu pun kalau kau tidak keberatan...," ujar Dewa Langit sambil tersenyum tipis.

"Ah, Guru membuatku malu saja. Tentu saja aku merasa gembira apabila Guru mau tinggal bersamaku...," sahut Ki Bonggala dengan mata berbinar-binar.

"Yahhh..., siapa tahu saja ada di antara murid-muridmu yang memiliki bakat baik. Eh..., kau tentu mempunyai murid, bukan?" tanya Dewa Langit.

"Muridku cukup banyak, Guru. Sayang, tidak ada seorang pun yang berbakat baik. Jangankan untuk mewarisi ilmu-ilmu tinggi dari guru. Ilmu-ilmuku saja tidak dapat mereka warisi dengan baik. Aku benar-benar menyesal, Guru...," desah Ki Donggala.

Wajah Pendekar Tangan Sakti tampak murung, ia menyesali dirinya sendiri karena tak dapat membantu gurunya mencari murid yang memiliki bakat baik. Memang, untuk mendapatkan murid seperti yang diinginkan tokoh itu sulit sekali.

"Sudahlah, mari kita ke tempat tinggalmu...," tukas Dewa Langit memutuskan pembicaraan mereka.

Kedua pendekar berlainan usia itu kemudian segera melangkahkan kakinya, meninggalkan Lembah Hutan Welang.

********************

EMPAT

Di wilayah Timur Kadipaten Danau Bulus terdapat hutan bernama Jembalang. Bagi penduduk desa di sekitarnya, Hutan Jembalang dikenal sebagai hutan keramat. Hutan lebat yang angker itu banyak dihuni binatang-binatang buas pada umumnya. Sehingga, penduduk desa sekitar hutan itu menganggap binatang-binatang itu sebagai dewa ataupun pelindung mereka.

Nama dan keangkeran Hutan Jembalang tidak hanya dikenal oleh penduduk setempat. Tidak sedikit tokoh persilatan yang juga menganggap hutan itu sebagai tempat keramat. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada orang yang berani mendatangi atau mencoba menjelajahinya. Beberapa tokoh persilatan yang merasa penasaran pernah mencoba menjelajahi hutan itu. Tapi, sejak tokoh-tokoh itu pergi, tak ada seorang pun yang kembali. Sehingga, Hutan Jembalang semakin ditakuti.

Maka tidak seorang pun yang akan percaya apabila menyaksikan keanehan yang terlihat di dalam Hutan Jembalang pada pagi itu. Sesosok bayangan tubuh manusia tampak berlarian dengan cepatnya. Dan, yang lebih mengherankan lagi, seekor harimau besar ikut berlari di belakang sosok manusia itu. Cukup lama kedua sosok makhluk itu saling berkejaran. Setelah tiba di sebuah tepian sungai, barulah keduanya menghentikan langkah mereka.

Sosok bayangan manusja itu terlihat memiliki bentuk tubuh yang tinggi dan kokoh. Guratan-guratan otot tubuhnya jelas membayangkan kekuatan yang hebat. Belum lagi, bentuk raut wajahnya yang keras dan kokoh. Sungguh sebuah sosok manusia yang melambangkan kejantanan dan keperkasaan. Sayangnya, manusia yang tampak masih muda itu memiliki sepasang mata liar, persis seperti mata binatang buas. Sehingga, sosoknya yang tampan terlihat angker dan menakutkan.

"Grrrng,..!"

Setelah menatapi riak air sungai yang jernih itu sejenak, sosok yang jelas-jelas menandakan manusia rimba itu meraung lirih. Kepalanya berputar menoleh ke belakang. Di situ seekor harimau duduk memandangnya. Harimau muda yang besar itu pun meraung menunjukkan taringnya yang runcing.

Sosok manusia rimba berusia sekitar dua puluh tahun itu tampak mengulas senyum. Kemudian, ia melepaskan celana pendek dari kulit harimau yang dikenakannya. Lalu, diterjunkan dirinya ke dalam air sungai. Rupanya raungan tadi sebagai isyarat bahwa ia akan mandi.

Selama lelaki muda itu bermain di dalam sungai, harimau besar itu hanya duduk memandanginya. Sesekali terdengar raungannya ketika pemuda itu menyiraminya dengan air sungai. Sedangkan pemuda itu tertawa gembira melihat sahabatnya jengkel. Belum lagi pemuda itu merasa puas bermain-main di dalam air, tiba-tiba terdengar raungan keras bagai hendak menggetarkan seluruh isi hutan. Jelas suara itu merupakan raung kesakitan seekor harimau.

"Grauuung...!"

Lelaki muda itu pun meraung, menjawab raungan keras yang didengarnya. Cepat bagai kilat tubuhnya langsung melesat naik ke tepi sungai. Setelah mengenakan celana kulit harimaunya, bergegas pemuda itu mengajak sahabatnya, si harimau besar, berlari menuju sumber suara kesakitan tadi. Tidak lama kemudian, tibalah pemuda dan harimau besar itu di sebuah tempat yang agak terbuka. Terdengar erangan keras dari kedua makhluk berlainan wujud itu. Keduanya tampak marah menyaksikan pemandangan di depan mereka.

Belasan bangkai harimau bergeletakan saling tindih. Dan beberapa langkah di depan bangkai-bangkai harimau itu, tampak belasan ekor harimau lain tengah mengeroyok seorang lelaki bertubuh gemuk pendek. Meskipun dikeroyok belasan ekor harimau besar, lelaki yang berusia sekitar enam puluh tahun itu sama sekali tidak kelihatan gentar. Bahkan lelaki itu memperdengarkan suara kekehnya.

"Grauuurgh...!"

Empat ekor harimau besar yang muda dan kuat meraung sambil melompat. Cakar-cakar yang runcing dan terlihat kokoh siap merejam tubuh lelaki gemuk pendek itu.

"He he he...! Hari ini nasib kalian pasti sedang sial. Aku, Iblis Penakluk Harimau, akan menunjukkan pada orang-orang bahwa Hutan Jembalang tidak lagi pantas ditakuti...," kata lelaki gemuk itu sambil merendahkan tubuhnya dan mengangkat kedua telapak tangannya keatas.

Buggg! Desss!

Hebat dan tepat sekali perhitungan lelaki gemuk pendek itu. Hantaman sepasang telapak tangannya telak menghunjam tubuh dua ekor harimau yang menerjang dari kiri dan kanannya. Sehingga, kedua binatang buas itu meraung dan terlempar sejauh satu setengah tombak.

Gerakannya ternyata belum selesai, ia masih melanjutkan dengan lentingan ke udara dan putaran tubuh beberapa kali ke belakang. Sehingga, tubuh gemuk itu melampaui seekor harimau yang menerjang dari belakang. Dengan ringannya, tubuh gemuk pendek itu secara tak terduga mendarat di atas punggung harimau. Tangan kanannya bergerak melakukan tamparan keras ke arah kepala harimau yang berhasil ditungganginya.

Prakkk!

Darah segar langsung muncrat begitu telapak tangan lelaki itu menghantam pecah kepala harimau yang ditungganginya. Kemudian, dengan kaki kanannya, ditendangnya perut harimau yang menyerang dari depan saat harimau itu masih berada di udara.

Desss!

"Grauuung...!"

Harimau jantan itu menggerang kesakitan. Tubuhnya yang besar langsung terlempar hingga membentur sebatang pohon besar. Sambil menggeram marah dan menunjukkan taringnya, harimau jantan itu kembali bangkit dan melangkah. Tapi harimau besar itu agak ragu karena gentar menghadapi mangsanya kali ini.

Lelaki gemuk yang mengaku berjuluk Iblis Penakluk Harimau itu tiba-tiba tersentak kaget. Baru saja ia melompat turun dari atas punggung harimau yang terbanting ke tanah, terdengar raungan keras yang agak aneh.

"Hei...!" Iblis Penakluk Harimau hampir tidak mempercayai pandangannya. Untuk beberapa saat lamanya, lelaki gemuk itu hanya berdiri terpaku menatap sosok manusia bertubuh kokoh yang matanya menyala penuh kebencian.

Ketika melihat sosok pemuda tampan bertubuh kokoh yang memancarkan kekuatan hebat itu melangkah maju, Iblis Penakluk Harimau bergerak mundur. Memang, langkah pemuda penghuni rimba itu tidak menunjukkan tanda-tanda hendak menyerang. Dan lelaki gemuk itu sendiri bergerak mundur karena ingin mengetahui, apa yang akan diperbuat pemuda itu.

Untuk kedua kalinya. Iblis Penakluk Harimau dibuat terheran-heran. Pemuda bertubuh kokoh itu tampak menjatuhkan dirinya dan memeluk erat salah satu bangkai harimau. Sesekali terdengar raungannya bernada pilu. Pemuda itu tengah menangisi seekor harimau betina yang besar dan jelas berusia tua.

"Aneh, mengapa pemuda itu menangis...? Apakah harimau betina yang paling besar itu peliharaannya...? Ataukah memang harimau-harimau yang kubunuh itu peliharaannya?" gumam Iblis Penakluk Harimau dengan berbagai pertanyaan memusingkan kepalanya.

Tidak lama kemudian, pemuda bertubuh kokoh itu bangkit dengan gerakan perlahan. Sepasang matanya mencorong tajam menatap wajah Iblis Penakluk Harimau. Dari mulutnya terdengar erangan marah yang sambung-menyambung.

"Anak muda, siapakah kau? Apakah kau majikan hutan ini dan pemilik harimau-harimau yang kubunuh itu...?" tanya Iblis Penakluk Harimau sambil merayapi sosok tubuh kekar berotot di depannya itu.

Ada kilatan kekaguman yang tidak berusaha disembunyikan oleh lelaki gemuk itu. Jelas memang sosok pemuda itu mendatangkan kekaguman yang tidak bisa dipungkirinya. Tapi, pemuda itu sama sekali tidak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil menggeram marah. Iblis Penakluk Harimau pun heran melihat tingkah pemuda itu.

"Hei, Anak Muda! Apakah kau tuli. Atau kau bisu...?" bentak Iblis Penakluk Harimau jengkel seraya melangkah maju menentang pandang pemuda itu dengan tidak kalah tajamnya.

Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Tampaknya dia tidak kuat melawan tatap mata Iblis Penakluk Harimau yang tajam mencorong itu. Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu kembali menelengkan kepalanya dengan sikap bingung, sadarlah Iblis Penakluk Harimau bahwa pemuda itu tidak bisa berbicara sebagaimana layaknya manusia.

"Aneh.... Mungkinkah pemuda ini tinggal sejak kecil di dalam hutan? Apakah harimau betina itu yang merawatnya? Lalu, dari mana sebenarnya asal pemuda ini? Apa mungkin ia diculik dari desa oleh harimau-harimau itu...?" Iblis Penakluk Harimau bertanya-tanya dalam hati. Peristiwa aneh memang sudah sering terjadi dalam kalangan persilatan, namun apa yang disaksikannya saat ini benar-benar sukar diterimanya.

Sementara itu, pemuda tampan bertubuh kokoh itu mulai melangkah ke depan. Seekor harimau muda yang memiliki bentuk tubuh lebih besar daripada harimau-harimau lainnya tampak mengikuti langkah pemuda itu sambil menunjukkan taring-taringnya dengan sikap mengancam. Sembilan ekor harimau lainnya yang masih hidup ikut mengiring dari belakang. Pemandangan ini jelas menandakan bahwa pemuda itu adalah pemimpin harimau-harimau yang mengeroyok Iblis Penakluk Harimau.

"Hm,.., tidak salah lagi, pemuda ini anak didik induk harimau yang tadi kubunuh. Bahkan, tampaknya ia sangat disegani harimau-harimau lainnya. Harimau-harimau itu tentu menganggap pemuda ini sebagai pemimpinnya, benar-benar menakjubkan...," desis Iblis Penakluk Harimau sambil berdecak kagum.

Iblis Penakluk Harimau bergerak ke samping saat rombongan harimau yang dipimpin pemuda tampan itu semakin mendekat ke arahnya. Pikiran yang melintas di benaknya membuat lelaki gemuk itu tersenyum licik. Ia ingin melihat, pemuda itu memiliki ilmu silat atau hanya sekadar terlatih oleh keganasan alam hutan.

"Hm...., majulah kau, Putra Harimau. Aku ingin melihat, apakah indukmu telah mendidikmu dengan baik...," tantang Iblis Penakluk Harimau sambil menatap tajam pemuda yang kini sudah menghentikan langkahnya itu.

Pemuda itu tampak merunduk, seperti siap menerkam Iblis Penakluk Harimau. Sedangkan harimau-harimau di belakangnya bergerak menyebar. Lelaki gemuk itu dikepung dari segala arah.

"Grrrhhh...!"

Pemuda bertubuh kokoh itu tampak menggeram lirih sambil menatap Iblis Penakluk Harimau dengan sorot mata yang tajam. Tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari kesempatan baik untuk menerjang lawan.

"Grauuung...!"

Dibarengi sebuah bentakan keras yang nyaring, pemuda itu melesat sambil merentangkan tangannya yang telah membentuk cakar harimau. Gerakannya ternyata jauh lebih gesit daripada harimau biasa. Sehingga, Iblis Penakluk Harimau sempat terbelalak kagum menyaksikannya. Namun betapapun cepatnya, terkaman pemuda itu tidak mengenai sasaran. Iblis Penakluk Harimau telah bergerak ke samping kanan sambil menepiskan cengkeraman tangan kiri pemuda itu.

Plakkk!

"Aaargh...!"

Terdengar pemuda itu meraung kesakitan ketika tepisan tangan Iblis Penakluk Harimau mengenai lengan kirinya. Meskipun demikian, tubuh pemuda itu tidak sampai terbanting di tanah. Sebab, dengan sebuah gerakan ringan, tubuh pemuda itu telah melenting dan jatuh dengan kedua tangan terlebih dahulu. Dia lalu melejit bangkit sambil meraung marah.

Saat itu juga harimau jantan muda yang bertubuh besar dan kuat melesat untuk menerkam Iblis Penakluk Harimau. Tapi, lelaki gemuk itu sama kali tidak gugup. Dengan sebuah geseran yang indah, tangan kanannya bergerak dari samping menghajar tubuh harimau muda itu.

Desss...!

Harimau muda itu meraung keras. Tubuhnya terlempar hingga melanggar sebatang pohon besar. Beberapa saat lamanya, harimau muda itu hanya mendekam sambil mengaum lirih, ia tampak menderita akibat perbuatan Iblis Penakluk Harimau.

Keganasan Iblis Penakluk Harimau tidak sampai di situ saja. Setelah menghajar harimau muda yang menerjangnya tadi, tubuh lelaki gemuk bergerak cepat ke depan. Tiga ekor harimau yan tengah siap menerkam, langsung berkelojotan dengan kepala pecah dihajar keras olehnya. Kemudian, dibagi-bagikan tamparan mautnya ke arah harimau-harimau lainnya. Sehingga, dalam beberapa gebrakan saja, habislah harimau yang mengeroyoknya, kecuali harimau muda yang masih mendekam kesakitan dan pemuda tampan itu.

"He he he.... Rasanya sayang kalau aku membunuhmu, Putra Harimau. Lebih baik kau kutangkap dan kulatih untuk mewarisi semua ilmuku. Kelak kau pasti akan menggemparkan rimba persilatan...," gumam lelaki gemuk itu sambil melangkah maju menghampiri kedua lawannya yang kini telah siap kembali memasang kuda-kuda itu. Baru saja kedua belah pihak siap untuk saling menggempur, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan nyaring. Masing-masing pun menahan gerakannya.

"Tunggu...!" Bentakan nyaring itu disusul berkelebatnya sesosok gemuk yang wajahnya bercambang lebat. Lelaki itu melangkah ke arah Iblis Penakluk Harimau.

"Elang Hitam...? Mau apa kau datang ke tempat ini...?" tegur Iblis Penakluk Harimau. Lelaki pendek gemuk itu tampak terganggu dengan kedatangan lelaki bercambang lebat yang tidak lain dari Elang Hitam itu.

"Hm..., Iblis Penakluk Harimau, apakah kau tidak melihat kalung yang tergantung di leher pemuda hutan itu...? Perhatikanlah baik-baik. Kau pasti akan terkejut setelah mengetahuinya," ujar Elang Hitam, agak pelan.

Iblis Penakluk Harimau berkerut keningnya. Meskipun demikian, ia menoleh juga ke arah Putra Harimau itu. Diperhatikannya kalung yang tergantung di leher pemuda itu. "Hm...," gumam Iblis Penakluk Harimau dengan rona wajah berubah. Tampaknya ia mengenali permata kalung berbentuk pipih yang terbuat dari perak itu.

"Kau pasti kenal, siapa pemilik kalung berlambang telapak tangan itu, bukan? Nah, turutilah rencanaku...," ujar Elang Hitam dengan tatapan tajam.

"Hm..., kalau begitu, kau pasti sudah sejak tadi berada di tempat ini. Aku kira, tidak mungkin kau sudi menginjakkan kaki di Hutan Jembalang ini tanpa suatu maksud tertentu. Nah, jelaskanlah rencanamu itu padaku...," pinta Iblis Penakluk Harimau dengan wajah sungguh-sungguh.

"Aku memang sedang mencarimu. Dari seorang muridmu, aku mendapat keterangan bahwa kau hendak mendatangi Hutan Jembalang ini karena tertarik dengan keangkerannya. Itulah sebabnya aku datang ke hutan ini. Aku mengharapkan bantuanmu untuk suatu urusan yang pasti kau sukai. Tentang urusan itu sendiri, nantilah aku jelaskan. Yang penting sekarang, kau jangan membunuh pemuda itu. Sebaiknya kita tawan saja. Dia bisa dipergunakan untuk melawan musuh kita...," jelas Elang Hitam dengan senyum tipis penuh rencana licik.

"Hm..., pemuda itu tentu memiliki perasaan yang tajam, sebagaimana binatang buas lainnya. Sebaiknya kita mengatur siasat, agar ia mau mengikutimu dan membantumu menghadapi musuh-musuh kita...," usul Iblis Penakluk Harimau yang tampak memiliki otak lebih cerdik dibanding kawannya.

Untuk beberapa saat lamanya, suasana menjadi hening. Kedua tokoh sesat itu saling berbisik mengatur rencana. Setelah mendapatkan kata sepakat, barulah keduanya menatap ke arah si pemuda dan harimau muda itu. Elang Hitam bergerak merenggang, menjauhi rekannya. Sedangkan Iblis Penakluk Harimau melangkah maju menghadapi kedua lawannya.

"Grrrh...!"

Kedua makhluk berlainan wujud yang berkawan sejak kecil itu menggeram marah. Keduanya berpencar, siap menghadapi gebrakan Iblis Penakluk Harimau.

"Yeaaah..!"

Disertai sebuah bentakan nyaring, tubuh lelaki gemuk pendek itu melesat menerjang lawannya. Pertarungan pun kembali berlangsung sengit. Iblis Penakluk Harimau bergerak cepat dengan lontaran pukulan-pukulannya. Sehingga, kedua lawannya jatuh bangun dan semakin terdesak hebat.

Bukkk!

Untuk kesekian kalinya, sebuah pukulan keras menghajar tubuh harimau muda itu dengan telak. Tanpa ampun lagi, tubuh harimau jantan yang besar itu pun terlempar deras, lalu terbanting hingga menimbulkan suara berdebuk nyaring.

"Hreeeaaagh...!"

Si pemuda tampan meraung murka. Cepat bagai kilat, tubuhnya melesat menolong binatang yang menjadi sahabatnya itu. Sebab, saat itu Iblis Penakluk Harimau telah siap melepaskan tamparannya untuk menghabisi nyawa harimau muda itu.

"Hmh...," gumam Iblis Penakluk Harimau perlahan, seraya mengubah tamparannya menjadi sebuah tebasan yang mengancam lambung lawan.

Whuttt!

Tebasan sisi telapak tangan Iblis Penakluk Harimau menderu mengincar lambung pemuda itu. Namun, sebuah bayangan lain datang sambil mengayunkan tangannya menyambut tebasan telapak tangan Iblis Penakluk Harimau itu. Dan....

Plakkk!

Iblis Penakluk Harimau dan sosok bayangan yang menyambut pukulannya itu sama-sama terlempar ke belakang. Jelas bahwa kekuatan tenaga dalam keduanya berimbang.

"Keparat...!" hardik Iblis Penakluk Harimau. "Mengapa kau ikut campur urusanku, Elang Hitam?"

"Sebaiknya kau pergilah dari Hutan Jembalang ini, Iblis Penakluk Harimau. Kalau tidak, terpaksa aku akan menamatkan riwayatmu," ujar sosok bayangan yang menolong pemuda itu. Namun jelas, pertengkaran keduanya hanyalah sebuah sandiwara untuk menarik simpati Putra Harimau.

"Bangsat...!"

Sambil menghardik kasar, Iblis Penakluk Harimau melompat disertai tamparan keras yang mengancam kepala lawan.

"Hmh..." Elang Hitam mendengus. Tubuhnya direndahkan sambil melontarkan hantaman telapak tangan ke arah tubuh lawan. Dan....

Bukkk!

"Akh.!"

Hantaman telapak tangan yang dilontarkan Elang Hitam telak mengenai sasaran. Sehingga, tubuh lawannya terlempar mundur hingga satu tombak jauhnya.

"Pergilah...!" bentak Elang Hitam dengan sorot mata tajam, namun tampak sebelah matanya mengerdip memberi isyarat.

Iblis Penakluk Harimau menggeram perlahan. Tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu. Namun, sempat dilontarkannya sebilah pisau kecil ke arah harimau muda yang berada di samping Putra Harimau.

Siuuut.., cappp!

Harimau muda yang tidak sempat menghindar itu meraung keras. Pisau kecil itu telah menancap di antara kedua matanya. Darah segar pun mengalir. Harimau besar itu menggelepar di atas tanah.

Elang Hitam bergegas menghambur ke tubuh harimau itu. Sebelum Putra Harimau sempat menyadarinya, Iblis Penakluk Harimau telah mendorong gagang pisau kecil yang masih tampak di kepala harimau itu hingga melesak semakin dalam. Jelas, kematian harimau muda itu ingin dipercepatnya.

"Hm..., sayang aku tidak berhasil menyelamatkannya. Sahabat," desah Elang Hitam, berpura-pura menyesal. Putra Harimau hanya menatap bingung, tidak mengerti, mengapa lelaki tinggi gemuk bercambang lebat itu menolongnya. Pemuda itu hanya menggereng lirih, mirip sebuah tangisan seorang anak yang ditinggalkan sahabat bermainnya.

Elang Hitam mengelus rambut pemuda itu dengan lembut. Tampak lelaki gemuk berhati licik itu hendak menanamkan kesan baik pada pemuda itu.

"Sudahlah. Lebih baik kita kuburkan saja kawan-kawanmu yang telah tewas itu...," ujar Elang Hitam.

Tanpa banyak cakap lagi, Elang Hitam segera membuat lubang untuk menguburkan mayat-mayat harimau yang berserakan itu. Sedangkan Putra Harimau hanya menatap bingung.

LIMA

Elang Hitam memandang sosok tegap berambut panjang yang tengah bersimpuh di kuburan harimau-harimau itu. Sesekali terdengar raungan lirih keluar dari kerongkongan pemuda itu. Jelas sekali kalau pemuda itu tengah dilanda kesedihan yang dalam. Namun, setelah menanti sekian lama, pemuda itu tidak juga bergerak bangkit Elang Hitam menjadi tidak sabar. Dilangkahkan kakinya mendekati pemuda itu. Ditepuknya bahu pemuda itu perlahan sambil menghibur.

"Sudahlah, Anak Muda. Tidak baik membenamkan diri dalam kesedihan yang berlarut-larut. Sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini. Kau bersedia ikut bersamaku, bukan...?" tanya Elang Hitam dengan kata-kata manis.

Pemuda putra harimau yang semenjak kecil hidup di dalam hutan itu sejenak terpaku. Dipandanginya wajah Elang Hitam dengan raut bingung. Jelas ia tidak mengerti ucapan-ucapan yang dikeluarkan Elang Hitam.

Elang Hitam terpaksa menggunakan gerakan tangan untuk berbicara kepada pemuda itu. Tapi, ajakan lelaki bercambang lebat tampaknya tidak diterima si pemuda. Terlihat ia menggeram-geram tidak senang.

"Hm...," gumam Elang Hitam sambil berpikir keras. Sebenarnya bisa saja Elang Hitam memaksa, tapi pemuda itu kemungkinan tidak akan menurut nantinya. Itulah yang membuat Elang Hitam harus menelan kedongkolan hatinya, dengan mencoba terus bersikap baik kepada pemuda itu. Kemudian Elang Hitam pun terpaksa mengikuti kemauan pemuda itu. Lelaki gemuk itu sama sekali tidak membantah ketika si Putra Harimau mengajaknya tinggal di dalam hutan.

"Hm..., biarlah untuk beberapa hari ini aku menuruti kemauannya. Kelak bila sudah menaruh kepercayaan kepadaku ia tentu tidak akan sulit lagi diatur," gumam Elang Hitam sambil mengikuti langkah pemuda itu.

Beberapa hari lamanya, Elang Hitam mengikuti kemauan pemuda itu. Bahkan lelaki gemuk bercambang lebat itu mulai mengajarkan bicara sedikit demi sedikit. Sehingga, meskipun agak sulit, pemuda itu mulai dapat berbicara.

"Wa-na-ra...."

Pada hari ketiga, Elang Hitam mulai memberikan nama kepada pemuda itu. Diucapkannya nama itu sambil menunjuk ke arah si Putra Harimau.

"Wa... na... ra...," ucap pemuda itu tersendat-sendat meniru sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.

"Bagus. Mulai sekarang kau harus ingat baik-baik, namamu adalah Wanara. Namamu Wa-nara."

Elang Hitam bukan main gembiranya melihat putra harimau itu sudah makin mengerti akan ucapan-ucapannya.

"Na-ma-ku... Wa-na-ra ," ulang pemuda itu seraya terkekeh gembira. Jelas sekali kalau pemuda itu pun tidak kalah gembiranya dapat berkata-kata seperti manusia pada umumnya. Dan setelah beberapa hari tinggal ditemani Elang Hitam, pemuda itu mulai mengerti siapa sebenarnya dirinya, ia pun telah memahami perbedaan antara manusia dan binatang.

Elang Hitam bukan hanya mengajarkan Wanara untuk berbicara. Tokoh sesat itu juga mengajarkan dasar-dasar ilmu silat. Kegembiraan lelaki bercambang lebat itu kian menjadi-jadi. Sebab, Wanara bukan hanya cerdik, tapi juga memiliki bakat yang sangat besar dalam ilmu silat. Bahkan gerakan tubuhnya hampir menyamai Elang Hitam. Hal ini tidak terlalu aneh. Wanara yang semenjak kecil hidup di dalam hutan dan dididik oleh seekor induk harimau itu tentu saja memiliki kegesitan dan kekuatan seperti halnya seekor harimau. Dalam waktu beberapa hari saja, kepandaian pemuda bertubuh kuat itu telah maju pesat.

Pada pagi hari yang kesepuluh. Elang Hitam menatap penuh kagum ke arah Wanara yang tengah berlatih ilmu silat. Kelincahan pukulannya tampak sudah sedemikian mantap. Sehingga, lelaki gemuk itu tersenyum-senyum penuh kepuasan. Elang Hitam pun menjadi gatal-gatal tangannya.

"Wanara! Sambut seranganku...!" seru lelaki gemuk itu sambil meluruk ke arah Wanara. "Hiaaahhh...!"

Whuuut!

Cengkeraman Elang Hitam meluruk cepat mengancam kedua lambung Wanara. Serangkum angin berkesiutan menyertai datangnya cengkeraman hebat itu. Jelas tenaga yang dikerahkan Elang Hitam cukup kuat dan bisa membahayakan lawan.

"Heeearkhhh...!" Wanara berseru keras. Dilambungkan tubuhnya ke depan dan terus diputarnya dengan kepala di bawah. Sepasang tangannya dengan telapak terbuka bergerak cepat siap menghajar kedua telinga Elang Hitam.

"Bagus...!" ujar Elang Hitam melihat tindakan cepat Wanara. Sambil melontarkan pujian, lelaki gemuk itu merendahkan kuda-kudanya. Kemudian dia melejit balik dengan sebuah tendangan keras mengarah perut Wanara.

Plakkk! Plakkk!

"Uhhh...!"

Tendangan kilat yang tak terduga itu berhasil ditepiskan Wanara, meskipun untuk itu ia harus menderita rasa nyeri pada telapak tangannya. Tubuhnya melejit kembali ke udara dengan menggunakan tenaga benturan itu, lalu meluruk turun dengan kaki di atas tanah.

"Yeaaattt..!"

Elang Hitam sepertinya tidak mau memberikan kesempatan bagi Wanara untuk menarik napas lega. Dengan disertai teriakan nyaring, tokoh sesat itu kembali meluncur menerjang Wanara. Sepasang tangannya yang berbentuk cakar elang bergerak cepat susul-menyusul, mengarah bagian-bagian terlemah di tubuh pemuda itu.

Bettt! Bettt! Bettt!

"Haittt..!"

Dengan loncatan-loncatan ringan, Wanara bergerak ke arah kiri dan kanan menghindari sambaran cakar Elang Hitam! Gerakan pemuda itu sangat gesit, sehingga Elang Hitam sempat kebingungan mengejar sasarannya. Setelah melewati dua puluh lima jurus, Elang Hitam semakin menambah kekuatan dan kecepatan serangan-serangannya. Tentu saja gempuran-gempuran hebat itu membuat Wanara terdesak hebat. Hingga, pada jurus yang ketiga puluh, pemuda itu tidak sanggup lagi bertahan. Akibatnya, sebuah pukulan telapak tangan Elang Hitam telak menghajar tubuhnya.

Bukkk!

"Aaakhhh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Wanara terlempar deras dan terbanting ke atas tanah berumput. Meskipun pemuda itu dapat bangkit lagi dengan sigapnya, dari raut wajahnya tergambar bahwa ia cukup merasakan kerasnya pukulan lawan. Cairan merah tampak membasahi sudut kiri bibirnya.

"Cukup, Wanara...!" Elang Hitam berseru mencegah ketika dilihatnya Wanara masih hendak melanjutkan pertarungan. Lelaki bercambang lebat itu melangkah ke arah pemuda tampan itu dengan senyum lebar yang menandakan kepuasan hatinya.

"Gu-ru... hebat se-ka-li...," puji Wanara dengan suara terpatah-patah, tapi terdengar jelas dan bisa dimengerti oleh Elang Hitam.

"Kau pun hebat, Wanara. Kemajuan yang kau peroleh pesat sekali. Kalau saja ada orang yang mendidikmu lebih pandai dari aku, mungkin saat ini aku sudah tidak mampu lagi berhadapan denganmu," ujar Elang Hitam dengan wajah berseri.

Kemajuan yang diperoleh pemuda itu tentu saja mendatangkan keuntungan yang menggembirakan bagi Elang Hitam. Sebab, pemuda itu jelas dapat menjadi seorang pembantu yang sangat baik baginya. Jika ditekankan bahwa ia adalah orang satu-satunya yang terbaik bagi Wanara, kemungkinan pemuda itu untuk berkhianat sangat kecil.

"Be-tul-kah... itu..., Gu-ru...," tegas Wanara, seolah-olah belum percaya akan kemampuan yang kini dimilikinya.

"Tentu saja betul. Apa aku pernah berbohong padamu...?" kata Elang Hitam. "Sekarang sudah saatnya kita keluar dari Hutan Jembalang ini. Kau masih ingat bukan, cerita yang pernah kusampaikan padamu beberapa hari lalu...?"

"Ten-tang... mu-suh be-sar Gu-ru...," sahut Wanara setelah mengingat beberapa saat lamanya.

"Benar. Untuk itulah kita harus keluar dari hutan ini. Selain itu, aku pun ingin meminta bantuan dari beberapa rekan segolongan. Sebab, selain kejam, musuhku itu memiliki ilmu tinggi, ia juga mempunyai seorang pembantu yang sangat hebat..."

Elang Hitam mulai menanamkan bibit kebencian di hati Wanara terhadap musuhnya. Sehingga, pemuda polos itu menjadi geram terhadap orang yang dianggapnya jahat itu. Sedangkan Elang Hitam dirasakannya sangat baik terhadapnya.

"Kalau begitu, ayolah ki-ta ca-ri orang ja-hat itu, Gu-ru...," sahut Wanara dengan tatapan mata berkilat yang menggambarkan kebencian terhadap musuh besar gurunya itu.

"Ayolah. Tapi sebelumnya kita harus mencari seorang guru yang pandai untuk menambah ilmu-ilmu yang telah kau miliki," ujar Elang Hitam seraya mengajak Wanara meninggalkan Hutan Jembalang.

********************

Rambahan sinar matahari pagi semakin meluas ke seluruh permukaan bumi. Kehangatannya menjalar menguapkan lapisan embun di pucuk-pucuk dedaunan. Semilir angin pagi yang lembut terasa bagai elusan tangan gadis jelita yang menimbulkan kesegaran dankenikmatan. Saat itu, dua sosok tubuh tampak bergerak perlahan melewati batas Desa Babakan. Nama desa itu tertulis pada tiang batu setinggi bahu yang terpancang di pinggirjalan.

Angin pagi yang lembut sesekali menyibakkan rambut kedua sosok itu. Namun, keduanya sama sekali tidak peduli. Mereka terus saja melangkah lambat menyusuri jalan lebar memasuki Desa Babakan. Tidak lama kemudian, tibalah keduanya di mulut desa. Beberapa penduduk desa yang berpapasan dengan mereka melemparkan pandang penuh kekaguman terhadap sosok ramping yang berpakaian serba hijau.

Sosok ramping itu adalah orang yang sangat jelita dan mempesona. Beberapa lelaki muda melemparkan pandangan penuh iri kepada pemuda berjubah putih yang berjalan bersamanya. Pemuda dan gadis itu tetap tidak peduli. Keduanya terus melangkah menyusuri jalan utama Desa Babakan. Mereka baru berhenti saat melihat sebuah kedai makan yang agak sepi.

"Kita singgah sebentar di kedai ini, Kakang...," kata gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Suaranya demikian bening dan memikat.

Sosok pemuda berjubah putih yang tampan itu hanya mengangguk seraya tersenyum. Kemudian keduanya bergerak memasuki kedai makan di tepi jalan utama desa itu. Tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, pemuda tampan berjubah putih itu melambaikan tangan kepada seorang lelaki setengah baya yang berpakaian pelayan.

Segera saja pelayan itu bergerak menghampiri. Tapi baru beberapa langkah pelayan itu melangkahkan kakinya, mendadak sebuah lengan kekar berbulu lebat menghalangi jalannya. Lelaki setengah baya itu pun menghentikan langkahnya dan menatap si empunya lengan dengan tatapan takut-takut.

"Kembalilah. Biar aku saja yang melayani keperluan dua orang asing itu." Terdengar suara berat dan parau dari si empunya lengan kekar berbulu itu. Wajahnya yang bercambang lebat dengan sepasang mata yang lebar tampak menakutkan sekali. Sehingga, tanpa membantah lagi pelayan itu bergerak mundur.

"Baik., baik.., Tuan...," ujar pelayan itu terbata-bata. Pada wajah tua si pelayan terbayang kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Tampaknya lelaki kekar menyeramkan itu sudah dikenalnya.

Lelaki kekar bercambang lebat dengan mata besar itu menghampiri meja pemuda berjubah putih, seraya memilin- milin kumisnya yang lebat. Sedangkan matanya tak pernah lepas dari raut wajah jelita gadis di samping pemuda itu.

"Hm , kalian tentu bukan orang Desa Babakan ini. Dari mana asal kalian dan ada keperluan apa singgah di desa kami ini...?" tanya lelaki bercambang bauk itu sambil menaikkan kakinya ke atas kursi. Sikapnya jelas menggambarkan kesombongan.

Pemuda tampan berjubah putih itu tersenyum sabar. Disentuhnya lengan gadis jelita di sampingnya ketika dilihatnya si gadis hendak bangkit. Kemudian ditatapnya wajah bengis di depannya setelah gadis jelita itu menuruti isyaratnya.

"Kami memang bukan warga Desa Babakan ini, Kisanak. Kami hanyalah dua orang pengembara yang kehausan dan hendak melepaskan lelah di desa ini. Maafkanlah apabila kedatangan kami tidak berkenan di hati Kisanak..," ujar pemuda tampan berjubah putih itu dengan nada halus dan sabar. Senyum si pemuda tampak mengiringi setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Jelas semua itu menandakan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan keributan.

"Hm..., sayang sekali gadis jelita seperti Nisanak ini tidak diberikan kehidupan yang layak. Nisanak, daripada kau mengikuti pemuda gembel ini, apakah tidak sebaiknya kau menjadi istriku? Ikutlah bersamaku. Kau akan kuberikan rumah yang megah dan kehidupan yang jauh lebih ketimbang yang diberikan pemuda ini kepadamu. Ayolah...," kata lelaki bercambang lebat itu sambil mengulurkan tangannya hendak mencekal lengan halus gadis jelita yang berpakaian serba hijau itu.

Namun, sebelum pemuda berjubah putih itu sempat mencegah, tiba-tiba gadis cantik berpakaian serba hijau itu menggerakkan tangannya dengan kecepatan kilat. Akibatnya....

Plakkk!

"Aaughhh.!" Lelaki bercambang lebat itu menjerit keras tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya langsung terjengkang hingga menimpa meja di belakangnya. Tanpa ampun lagi, meja itu pun berderak patah karena tak sanggup menahan berat tubuh lelaki kasar itu.

"Kurang ajar.!" Lelaki berwajah bengis itu memaki kalang-kabut dan menyumpah-nyumpah kotor. Dihapusnya cairan merah yang membasahi sudut bibirnya. Pada bagian kiri wajah orang itu tampak tergambar jelas bekas jari-jari tangan mungil yang membentuk guratan-guratan merah. Lelaki bercambang lebat itu telah terkena tamparan keras yang entah kapan datangnya.

"Sabar, Kisanak..," bujuk pemuda berjubah putih itu seraya bangkit, mencoba menghindari keributan. Tapi, ucapan pemuda tampan ini dianggap sebagai suatu penghinaan oleh lelaki bengis itu. Ia menduga, pemuda itulah yang telah menamparnya. Segera saja diayunkan lengannya yang besar dan berhulu itu ke wajah si pemuda tampan.

Whuuut!

Untunglah pemuda tampan berjubah putih itu telah lebih dulu menundukkan kepalanya. Sehingga, selamatlah ia dari ancaman jari-jari tangan yang besar dan kasar itu.

"Bedebah...!"

Elakan pemuda itu ibarat minyak yang disiramkan ke api yang berkobar. Dengan kemarahan memuncak, lelaki bercambang bauk itu kembali menerjang. Kali ini bukan hanya tamparan yang digunakan. Tendangan dan pukulan pun bergerak susul-menyusul mengincar wajah dan tubuh pemuda itu.

Meskipun demikian, pemuda berjubah putih itu sama sekali tidak gugup. Dengan gerakan tubuh yang indah, setiap pukulan dan tendangan lawan dapat dihindarinya. Sehingga, beberapa meja dan kursi pun patah berantakan terkena terjangan lelaki bengis itu. Suasana kedai menjadi hiruk-pikuk.

Sadar bahwa jika tingkah lelaki bengis itu dibiarkan berlarut-larut, kedai makan ini bisa hancur berantakan. Pemuda berjubah putih itu segera melesat keluar. Gerakannya itu diikuti pula oleh gadis jelita berbaju hijau.

"Keparat! Hendak lari ke mana kau. Pengecut..!" teriak lelaki bercambang lebat itu sambil bergegas menyusul kedua orang lawannya keluar kedai.

Empat pengunjung lain yang tampaknya kawan dari lelaki bengis itu ikut pula melompat keluar dari kedai dengan senjata terhunus. Mereka bermaksud mengeroyok kedua pendatang baru itu.

ENAM

Pemuda tampan berjubah putih dan dara jelita berpakaian serba hijau itu berdiri tegak di samping halaman kedai. Dugaan lelaki bangis bercambang lebat itu ternyata salah. Terbukti, kedua orang pendatang itu sama sekali tidak melarikan diri.

"Hm..., pantas kalian berdua demikian sombong. Rupanya kalian memiliki kepandaian juga...," geram lelaki berwajah bengis itu sambil mencabut pedang dari pinggangnya. Sikap lelaki gemuk itu jelas bukanlah sekedar gertakan. Sehingga, pemuda berjubah putih itu sempat berkerut keningnya.

"Kisanak, persoalan diantara kita hanya sepele. Mengapa harus dibesar-besarkan? Kalau memang kau menganggap kami berdua salah, baiklah aku mohon maaf, dan harap kesalahpahaman ini tidak dilanjutkan...," bujuk pemuda tampan berjubah putih itu dengan halus. Jelas, keributan sama sekali tidak diinginkannya.

"Sudahlah, Kakang. Percuma kau membujuk mereka. Orang- orang sombong seperti itu harus diberi pelajaran, biar lain kali tidak lagi bertindak kurang ajar...," selak gadis jelita di samping pemuda tampan itu. Kakinya yang mungil dan ramping sudah melangkah, siap meladeni telaki bercambang lebat dan kawan-kawannya itu.

"Benar apa yang dikatakan gadis jelita itu, Pemuda Pengecut. Tapi, kalau kau memang ingin minta ampun, ayo, bersujudlah, minta ampun dari ku!" kata lelaki bercambang lebat itu dengan sombong.

"Nah, kau dengar sendiri, bukan? Kakang mau mengikuti kemauan orang kasar itu?" sindir gadis jelita itu dengan wajah yang berubah gelap, setelah mendengar permintaan yang melewati batas itu.

"Ayo kepung mereka! Bunuh pemuda itu! Gadis jelita ini biar menjadi bagianku...!" perintah lelaki bercambang lebat itukepada kawan-kawannya.

Keempat lelaki yang telah menghunus senjata itu pun langsung mengepung.

"Yeaaat..!"

Tanpa membuang-buang waktu, keempat lelaki kasar itu segera melesat dengan tebasan senjatanya. Mereka tampak sungguh-sungguh. Hal itu pun sudah diketahui oleh pemuda tampan berjubah putih itu. Segera tubuhnya digeser untuk menghindari sebuah sambaran senjata yang mengancam lambung kanannya.

"Hm..." Sambil bergumam, pemuda tampan itu melesat ke belakang sejauh dua tombak. Para pengeroyoknya menjadi kaget melihat kecepatan gerak itu.

"Kisanak. Sebaiknya sudahi saja permain konyol ini sebelum kalian menyesal...," kata pemuda itu untuk kesekian kalinya. Ucapannya kali ini bernada mengancam.

"Tidak perlu banyak bacot! Hadapi senjata kami.!"

Orang-orang kasar itu sama sekali tidak peduli. Mereka kembali menerjang dengan sambaran senjata yang berkeredep menyilaukan mata. Kali ini wajah keempat lelaki kasar itu terlihat berseri. Sebab, pemuda tampan itu sama sekali tidak menunjukkan usaha untuk menghindar sambaran senjata-senjata mereka. Keempat orang itu menduga, si pemuda telah menjadi kaku tubuhnya karena rasa takut. Empat bilah senjata pun meluruk deras. Pemuda itu terlihat pasrah. Tapi…

Wuttt! Trakkk! Trakkk!

"Augkh...!"

"Akh...!"

Apa yang terjadi kemudian benar-benar tidak pernah terbetik dalam pikiran keempat lelaki kasar itu. Saat mata pedang mereka menghantam tubuh yang terselimut lapisan kabut bersinar putih keperakan itu terdengar suara berpatahan yang disusul runtuhnya senjata mereka ke tanah dalam keadaan terbelah. Tubuh keempatnya kemudian terpental ke belakang bagai dilempar tangan-tangan raksasa. Keempat lelaki kasar itu pun menjerit keras.

Demikian pula halnya yang dialami lelaki bercambang lebat itu. Lelaki yang begitu bernafsu melawan gadis jelita berpakaian serba hijau itu harus menerima kenyataan yang tidak pernah dibayangkannya. Dalam sepuluh jurus saja, tubuhnya terpental akibat tendangan keras yang telak menghajar dadanya. Darah segar pun menghambur dari mulut dan jatuh membasahi tanah merah.

"Ugh..." Lelaki kekar bercambang lebat itu mengeluh kesakitan. Dia berusaha bangkit, tapi tendangan keras yang diterimanya bagai meremukkan tulang-tulang dadanya. Sehingga, untuk kesekian kalinya lelaki itu terjatuh dan kini tidak mampu berdiri lagi. Empat lelaki kasar lainnya beringsut menghampiri lelaki bercambang lebat yang menjadi pemimpinnya itu.

Pemuda tampan berjubah putih dan gadis berpakaian serba hijau itu melangkah lambat menghampiri lawan-lawannya yang sudah tidak berdaya. Kelima orang lelaki kasar itu pun bertambah takut.

"Ampun kami, Tuan Pendekar.... Jangan bunuh kami...," ratap kelima lelaki kasar itu sambil menyembah-nyembah.

"Hm..., pergilah kalian sebelum pikiranku berubah...," kata gadis jelita itu dengan nada yang datar dan dingin. Rasa kesal sesungguhnya belum lenyap di hati si gadis jika teringat kekurangajaran lelaki bercambang lebat itu. Sikap sabar pemuda tampan itulah yang membuatnya tidak berani menyakiti lawan-lawannya lebih jauh.

Tanpa banyak cakap lagi, kelima orang itu bergerak bangkit, kemudian tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.

"Hm..., ada-ada saja.... Lenyap sudah selera makanku. Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan kita, Kakang. Rupanya penduduk di sini tidak ramah kalau menyambut orang asing."

Gadis jelita itu melangkah menuju perbatasan desa sebelah Barat. Sedangkan pemuda tampan berjubah putih itu tidak berkata apa-apa. Ia mengayunkan langkahnya mengikuti gadis itu.

********************

"Tuan Pendekar..., tunggu...!"

Gadis jelita dan pemuda tampan berjubah putih itu menahan langkah ketika terdengar ada yang memanggil dari belakang. Kening keduanya berkerut. Tampak seorang lelaki setengah baya tengah berlari mengejar mereka.

"Tu... an Pendekar..., jangan pergi...," ujar lelaki setengah baya itu dengan suara terputus-putus. Dengus napasnya yang memburu membuatnya tidak bisa berkata dengan baik.

"Tenanglah, Paman. Mari duduklah...," sapa pemuda tampan berjubah putih itu.

Ketiganya kemudian duduk di sebuah batu besar.

"Nah, sekarang ceritakanlah, apa yang ingin Paman sampaikan kepada kami. Mungkin kami bisa memberikan bantuan...," tanya gadis jelita berpakaian hijau itu dengan lembut. Seulas senyum manis tersungging di bibirnya, membentuk dua lesung pipit yang makin membuatnya memikat.

"Aku melihat saat Tuan berdua bertarung melawan lima orang lelaki kasar dan jahat itu. Ketahuilah, Tuan Pendekar! Mereka sama sekali bukan warga Desa Babakan. Mereka adalah perampok-perampok yang menguasai desa. Sedangkan pemimpin mereka hanya datang setiap tiga bulan sekali, untuk mengambil upeti dan perempuan-perempuan muda di desa kami. Hal ini sudah berlangsung hampir tiga tahun. Melihat Tuan berdua dapat mengalahkan kelima perampok itu tanpa kesulitan, langsung saja aku mengejar dan memohon bantuan...," kata lelaki setengah baya itu. Ditatapnya wajah kedua pendekar muda itu berganti-ganti. Ada sinar kecemasan dalam mata tua itu, tampaknya dia takut kalau pasangan pendekar itu akan menolak permintaannya.

"Hm..., mengapa kepala desamu tidak mengusir mereka...?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu sambil lalu.

"Itulah celakanya. Kepala desa kami, yang semula sangat memperhatikan penduduk, kini malah membantu para perampok itu untuk mengumpulkan segala sesuatu yang mereka perlukan. Tapi hal itu bisa dimaklumi. Sebab, rumah kepala desa itu sendiri dijaga ketat oleh beberapa perampok. Sehingga, apabila sang Kepala Desa berbuat macam-macam, keluarganya pasti akan dibantai habis. Mungkin itulah alasannya mengapa Ki Danggala tidak berani mengambil tindakan," jelas lelaki setengah baya itu.

Pasangan pendekar muda itu hanya mengangguk-angguk mendengar keterangan lelaki setengah baya itu. Sehingga lagi-lagi lelaki itu cemas takut permintaannya ditolak.

"Bagaimana, Tuan Pendekar...? Apakah Tuan Pendekar bersedia menolong penduduk Desa Babakan yang telah lama menderita ini...?" tanyanya sambil menatap wajah pasangan pendekar muda itu berganti-ganti.

"Mengapa tidak, Paman. Sekarang juga, marilah kita berangkat ke rumah Ki Danggala...," sahut pemuda berjubah putih itu sambil tersenyum.

"Jadi..., Tuan berdua bersedia...?" tanya lelaki setengah baya itu, meragukan pendengarannya sendiri.

"Hm..., apakah selama ini ada orang yang menolak ketika Paman meminta bantuan...?" selidik pemuda berjubah putih itu.

"Hampir semua orang gagah yang kutemui menolak untuk menolong kami. Penolakan itu dikatakan setelah aku memberi tahu siapa pemimpin gerombolan perampok itu..,. Mungkin..., mungkin Tuan berdua pun akan menolak apabila aku menyebutkan nama tokoh mengerikan itu...," kata lelaki tua itu, cemas.

"Paman..., siapa pun adanya orang yang menguasai Desa Babakan, kami berdua sama sekali tidak merasa gentar. Dan, keputusan kami untuk membantu pun tidak berubah, meski Raja Neraka sekalipun yang harus kami lawan...," tegas gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Ucapan ini tentu saja membuat wajah lelaki itu kembali cerah.

"Tokoh sesat itu berjuluk Jari Pencabut Nyawa. Menurut keterangan orang-orang gagah yang menolak membantu kami, tokoh itu sangat tinggi kepandaiannya. Dan..., hanya satu orang yang mungkin bisa menaklukkan tokoh sesat itu. Sayangnya aku tidak tahu di mana pendekar besar itu berada. Tapi, melihat bagaimana Tuan berdua menjatuhkan perampok-perampok tadi, rasanya kalian berdua pun memiliki kesaktian yang tinggi...," ujar lelaki setengah baya itu.

Wajah lelaki tua itu tampak keheranan. Sebab, raut wajah pasangan pendekar itu dilihatnya sama sekali tidak berubah, meskipun telah disebutkannya tadi julukan seram yang banyak disegani tokoh-tokoh persilatan itu. Lelaki tua itu pun mengambil kesimpulan, pasangan pendekar muda itu pasti belum pernah mengenal keganasan Jari Pencabut Nyawa.

"Hm..., Paman tahu, siapa satu-satunya orang yang bisa menaklukkan tokoh sesat itu...?" tanya si gadis jelita. Gadis ini tampaknya penasaran mendengar cerita lelaki tua itu bahwa hanya ada satu orang yang mampu mengalahkan si Jari Pencabut Nyawa. Sebab, hal ini berarti bahwa dia dan pemuda itu tidak akan sanggup menghadapi tokoh sesat itu.

"Hm..., kalau tidak salah, orang-orang gagah memberikan julukan Pendekar Naga Putih kepada tokoh pendekar yang sangat dikagumi itu. Apakah, Nisanak pernah mendengarnya?" Lelaki setengah baya itu malah balik bertanya. Namun, bukan main herannya ketika menyaksikan dara cantik itu malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar julukan Pendekar Naga Putih.

"Hi hi hi.... Kalau cuma seorang Pendekar Naga Putih, untuk apa Paman harus bersusah-payah mencarinya. Tahukan Paman kalau pendekar terkenal itu telah bertekuk lutut kepadaku? Hm..., kalau saja ia tahu aku berada di tempat ini, tentu ia akan lari terbirit-birit menyambutku."

Dara jelita itu menyombongkan dirinya sambil melirik pemuda berjubah putih di sampingnya. Sedangkan telaki setengah baya itu membelalak pucat. Sebab, apa yang kali ini didengarnya bertentangan dengan keterangan orang-orang gagah selama ini.

"Benarkah itu, Nisanak...?" tanya lelaki setengah baya itu dengan wajah ketololan. Tampaknya ia belum bisa menerima perkataan dara cantik itu.

"Tentu saja benar. Paman. Untuk apa aku harus berbohong. Kalau kau masih tidak percaya, tanyakan saja pada kawanku ini...," sahut dara jelita itu sambil melirik ke arah pemuda berjubah putih di sebelahnya.

"Benarkah perkataan Nisanak ini, Tuan Pendekar...?" tanya lelaki setengah baya itu yang tampak masih tidak percaya.

"Benar, Paman. Maka sebaiknya kita segera menuju ke rumah Ki Danggala. Percayalah! Jari Pencabut Nyawa tidak akan berkutik menghadapi kawanku ini...," ucap pemuda tampan berjubah putih itu sambil tersenyum.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" Lelaki setengah baya itu bukan main gembiranya. Sebab, orang yang kali ini dimintai bantuannya ternyata jauh lebih hebat daripada Pendekar Naga Putih yang selama ini diagung-agungkan itu. Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

********************

"Inilah kediaman kepala desa kami, Tuan Pendekar. Biasanya halaman depannya selalu dijaga dua orang anggota perampok. Aneh, mengapa kali ini tampak sepi...?" desis lelaki setengah itu.

"Hm..., mungkin mereka mengira desa benar-benar telah tunduk di bawah kekuasaan mereka. Mereka mungkin berpikir, tidak ada lagi yang berani berbuat macam-macam. Sehingga, mereka tidak begitu ketat lagi melakukan pengawasan...," sahut pemuda berjubah putih itu sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Tanpa banyak cakap lagi, pemuda berjubah putih itu segera memasuki halaman rumah besar itu, kemudian terus bergerak ke arah pintu ruang depan yang tampak tertutup rapat.

"Ki Danggala...! Kami sahabatmu datang berkunjung! Keluarlah, sambut kedatangan kami...!" teriak pemuda itu seraya mengerahkan tenaga dalamnya, sehingga suaranya mengaung memenuhi setiap penjuru rumah.

Tidak lama kemudian, muncul empat telaki bertampang kasar dari balik pintu. Setelah menatap ke arah pemuda tampan itu sejenak, keempatnya menuruni tangga.

"Hm..., siapa kau, Anak Muda? Ada keperluan apa kau ingin bertemu dengan Ki Danggala?" tegur lelaki gemuk yang dadanya ditumbuhi bulu-bulu lebat. Di tangan kanannya tampak sebuah gada yang dipenuhi duri-duri runcing.

"Aku Panji, sahabat lama Ki Danggala. Secara kebetulan aku singgah di desa ini. Jadi, sekalian saja aku mengunjunginya. Apakah kau salah seorang pengawalnya?" tanya si pemuda tampan, berpura-pura bodoh.

Saat itu juga, gadis berbaju hijau dan lelaki setengah baya sudah menghilang ke dalam bangunan.

"Ki Danggala tidak berada di tempat, ia sudah lama pergi. Harap kau kembali saja lain kali..., tukas lelaki gemuk yang menggenggam gada itu.

"Hm..., kalau begitu, biarlah kutunggu saja sini...," ucap pemuda tampan bernama Panji sambil melangkah menuju ruang depan. Tentu tindakannya ini membuat keempat lelaki kasar marah.

"Tunggu...!" Bentakan menggelegar keluar dari mulut lelaki gemuk bersenjata gada itu. Sedangkan kawannya sudah bergerak mengepung.

"Sudah, tidak perlu banyak tanya lagi. Hajar saja pemuda kurang ajar itu, Bungkarasa! Kalau dibiarkan, dia bisa bertingkah!" kata salah seeorang dari ketiga lelaki kasar itu dengan nada bengis.

"Hei, mengapa kau berkata demikian kasar terhadap sahabat majikanmu? Apakah kau tidak takut kalau aku nanti mengadukannya kepada Ki Danggala?" tegur Panji berpura-pura menakut-nakuti.

"Bedebah! Siapa takut kepada tua bangka Danggala itu! Kau, pemuda kurang ajar, rasakan kerasnya kepalanku ini...!" geram lelaki tinggi berwajah pucat seperti mayat. Lelaki itu siap melontarkan pukulannya.

"Tunggu...!" cegah Panji sambil mengulurkan lengannya dengan telapak terbuka. Maksudnya tentu saja untuk mencegah lawannya menerjang.

"Hm..., kalau kau takut, pergilah. Kami tidak punya waktu mengurusi pemuda ingusan sepertimu...!" hardik lelaki kurus pucat itu dengan mata melotot. Tampak ia merasa jengkel terhadap Panji.

"Hm..., baiklah." Panji melemparkan senyumnya kepada keempat orang kasar itu. Kemudian dia bergerak malas-malasan menuju pintu keluar.

TUJUH

Bungkarasa dan ketiga orang kawannya tertegun sejenak. Mereka sama-sama mengerutkan kening melihat pemuda itu melangkah malas-malasan menuju pintu keluar. Merasa dipermainkan, kemarahan Bungkarasa dan kawan-kawannya bangkit seketika.

"Setan! Apa sebenarnya yang diinginkan muda sinting ini.!"

Salah seorang yang bertubuh kurus dan bermuka pucat menggeram jengkel. Jelas ia merasa tidak suka dengan sikap pemuda itu. Begitu ucapannya selesai, lelaki kurus itu langsung melesat dengan sisi telapak tangan mengancam leher Panji.

Whuuut!

Tampaknya serangan yang dilancarkan lelaki kurus bermuka pucat itu bukan sekadar peringatan. Terbukti sambaran angin pukulannya demikian tajam. Lelaki kurus itu rupanya ingin cepat menghajar Panji dengan pukulan mautnya.

Namun, apa yang terjadi benar-benar mengejutkan. Dengan gerakan yang cepat dan sulit ditangkap, tiba-tiba pemuda berjubah putih itu berbalik. Tubuhnya digeser ke samping. Berbarengan dengan gerakan itu, tangan kanannya diayunkan dengan kecepatan kilat. Dan....

Bukkk!

"Uuugh.!" Darah segar menyembur dari mulut lelaki kurus itu, begitu hantaman lengan kanan lawan telak mendarat di perutnya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kurus itu langsung terlempar deras ke belakang.

"Adi Gurinta...!" seru Bungkarasa dengan wajah tegang. Cepat-cepat tubuhnya melesat ke depan dan mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh kawannya yang bernama Gurinta itu.

Bukan main marahnya hati Bungkarasa. Sebab, Gurinta telah jatuh pingsan akibat pukulan yang dideritanya. Jelas, pukulan pemuda berjubah putih itu sangat hebat. Tapi, rasa terkejut dan kemarahan yang bercampur menjadi satu di hati Bungkarasa dan juga kedua orang lelaki kasar lainnya, serentak berubah menjadi rasa gentar. Sebab, sosok pemuda tampan yang semula hendak mereka jadikan sasaran kemarahan itu ternyata telah terlapisi kabut bersinar putih keperakan. Ketiganya pun langsung bergerak mundur dengan hati kecut.

"Pendekar Naga Putih.!?"

Bungkarasa dan dua orang kawannya melangkah mundur. Setelah mengetahui siapa sesungguhnya pemuda berjubah putih itu, rasa takut di hari mereka tidak bisa disembunyikan lagi.

"Bagaimana ini, Kakang...?" tanya salah seorang lelaki kasar itu kepada Bungkarasa. Wajah kasar itu telah berubah menjadi pucat. Bahkan, nada suaranya menjadi kering. Sehingga, pertannyaan yang keluar dari mulutnya lebih mirip bisikan.

"Terpaksa kita harus memanggil kawan-kawan yang lain..." sahut Bungkarasa dengan suara parau karena hatinya pun tengah dilanda ketegangan.

"Suuuiiit...!"

Tanpa banyak cakap, Bungkarasa langsung mengeluarkan suitan nyaring yang berkepanjangan. Suitan panjang itu rupanya panggilan bagi kawanan perampok lainnya. Terbukti, dalam waktu yang tidak terlalu lama, terdengarlah suara berderap riuh. Lalu, muncul kawanan perampok yang segera mengurung Pendekar Naga Putih.

"Hm..." Panji bergumam tak jelas. Kini sadarlah pemuda itu, mengapa Desa Babakan bisa jatuh ke tangan perampok. Melihat jumlah mereka yang puluhan itu, Panji pun maklum apabila penduduk desa itu tidak berkutik.

"Serbuuu..! Bunuh pemuda itu.!"

Bungkarasa langsung memberi perintah. Dan, puluhan lelaki bertampang kasar pun segera melunak ke arah Pendekar Naga Putih disertai teriakan-teriakan ribut.

"Heaaah...!"

Pendekar Naga Putih menanti hingga para pengeroyoknya datang mendekat. Begitu jarak di antara mereka tinggal setengah tombak, pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring yang mengejutkan. Sepasang tangannya mengibas ke kiri-kanan dengan pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya. Akibatnya sangat hebat. Belasan anggota perampok terdepan langsung menjerit ngeri. Sambaran hawa dingin bagai badai salju membuat mereka berpentalan ke segala arah.

"Gila...!?" Bungkarasa memaki kalap. Hati lelaki gemuk itu semakin gentar. Dalam satu gebrakan saja belasan anak buahnya telah dibuat porak-poranda oleh pendekar muda itu.

Dua orang lelaki kasar yang berada di kiri-kanan Bungkarasa sudah bergerak hendak meninggalkan tempat itu. Keberanian mereka langsung lenyap melihat sepak terjang pemuda tampan yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu. Tampaknya kedua orang itu mengambil keputusan untuk mencari selamat sendiri.

"Hendak ke mana kalian...?" Bungkarasa, yang melihat kedua kawannya hendak melarikan diri, segera saja menegur. Tapi tegurannya sama sekali tidak dipedulikan. Malah Bungkarasa sendiri bergegas mengikuti kedua orang kawannya itu untuk melarikan diri.

"Hm..., hendak lari ke mana kalian, Pengecut-pengecut Busuk...?!" bentak Panji.

Wajah Bungkarasa dan kedua perampok lainnya tentu saja menjadi pucat. Belum lagi mereka sempat berpikir, tiba-tiba sesosok bayangan putih telah berkelebat melewati kepala mereka dan langsung berdiri menghadang jalan ketiga perampok itu. Lenyaplah keberanian dan kekejaman ketiga perampok yang selama ini bertindak kasar dan tidak mengenal ampun itu. Serentak mereka melompat mundur dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Bungkarasa menoleh ke belakang. Hati lelaki kasar itu semakin ciut melihat tubuh anak buahnya telah bergeletakan tak berdaya. Jelas semua itu akibat ulah Pendekar Naga Putih yang kini berdiri menghadang dan mengancamnya.

"Bangsat keparat! Siapa yang berani mengacau di tempat ini...?!"

Pada saat Bungkarasa dan dua orang perampok itu tidak tahu harus berbuat apa-apa, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang membuat wajah ketiganya rampak berseri. Jelas, Bungkarasa dan kedua kawannya mengenal baik seruanitu. Wajah Bungkarasa dan dua orang kawannya semakin cerah. Ketiganya menarik napas lega ketika melihat sesosok tubuh tinggi besar berkepala botak. Bahkan, kehadiran sosok itu masih disusul dengan tiga sosok lainnya.

"Pendekar Naga Putih...!? Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?" tegur sosok bertubuh hitam kekar itu.

"Benar, akulah Pendekar Naga Putih. Dan kau gembong perampok yang berjuluk Jari Pencabut Nyawa itu, bukan?" ujar Panji balik bertanya.

"Ketua, pemuda ini telah menghajar orang-orang kita. Sebaiknya dibunuh saja pemuda keparat ini...," seru Bungkarasa, yang merasa lega melihat kehadiran pemimpin besarnya.

"Hm..." Lelaki kasar berkepala botak yang berjuluk Jari Pencabut Nyawa itu hanya bergumam tak jelas. Sekilas terlihat ada sinar kegentaran pada matanya. Namun, semua itu berusaha disembunyikannya dengan memasang wajah keras.

Seorang lelaki gemuk bercambang lebat, salah satu dari tiga sosok tubuh yang datang bersama Jari Pencabut Nyawa, bergerak menghampirinya. Kemudian lelaki gemuk itu berdiri di sampingnya, dan berbisik dengan lirih.

"Tinggalkan saja pemuda itu. Kita masih mempunyai masalah yang lebih penting. Kelak, setelah masalah penting itu selesai, baru kita kembali ke desa ini, dan kita obrak-abrik seluruh tempat di desa ini...," bisik lelaki gemuk bercambang lebat yan tak lain dari Elang Hitam.

Dua sosok lainnya ternyata adalah Iblis Penakluk Harimau dan Wanara. Rupanya ketiga orang itu telah mendatangi Jari Pencabut Nyawa untuk diajak bergabung dengan mereka.

"Tapi, apakah tidak sebaiknya kita habisi pemuda ini dulu, baru kemudian kita menghajar musuh besar kita...," bantah Jari Pencabut Nyawa.

"Jangan bodoh, Jari Pencabut Nyawa! Pemuda ini belum tentu mampu kita tundukkan. Sedangkan musuh besar kita sudah pasti dapat kita taklukkan. Kalau kau bersikeras hendak menghajar pemuda ini terlebih dahulu, bisa hilang kesempatan kita untuk menghajar musuh besar yang telah membuat kita tersiksa dendam itu," balas Elang Hitam.

Setelah berpikir sejenak, Jari Pencabut Nyawa pun mengangguk-angguk setuju. "Hm..., kali ini aku tidak mempunyai waktu mengurusimu. Pendekar Naga Putih. Biarlah lain kali aku akan mencarimu...," seru Jari Pencabut Nyawa, sambil beranjak mengikuti Elang Hitam dan dua orang kawannya. Diajaknya pula Bungkarasa dan dua orang temannya.

Panji berdiri tegak mengawasi kepergian gembong perampok dan kawannya itu. Pemuda itu tidak berusaha mengejar. Sebab, niatnya memang bukan mencari musuh, melainkan membebaskan penduduk Desa Babakan dari tekanan para perampok. Dan itu sudah dilakukannya.

"Kau biarkan mereka pergi begitu saja, Kakang...?" Tiba-tiba saja gadis jelita yang tak lain dari Kenanga muncul dan menegur pemuda itu dengan kening berkerut. Gadis itu tampaknya tidak rela membiarkan gembong perampok itu pergi.

"Hm..., tugas kita bukan untuk membunuh atau mencari musuh, Kenanga. Kewajiban kita untuk membebaskan warga Desa Babakan sudah terlaksana. Jadi, untuk apa mengejar lawan yang sudah jelas-jelas tidak ingin bertarung...?" sahut Panji tersenyum melihat wajah kekasihnya.

"Jadi..., Tuan adalah Pendekar Naga Putih...?" tanya lelaki setengah baya yang meminta pertolongan Panji dan Kenanga tadi sambil membelalakkan mata.

Suasana menjadi ramai ketika Ki Danggala beserta anggota keluarganya muncul. Kepala desa berumur empat puluh tahun lebih itu menjabat tangan Panji erat-erat sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sehingga, pemuda itu risih.

"Tidak perlu dibesar-besarkan, Paman. Semua ini sudah menjadi kewajiban kita. Jadi, apa yang saya lakukan ini memang telah menjadi tugas kita semua...," ujar Panji.

Ki Danggala terharu mendengar ucapan yang menandakan keluhuran budi itu. Kemudian ia memerintahkan para pembantunya untuk menguburkan mereka yang tewas. Sedangkan para perampok yang selamat dilepaskan setelah diberi peringatan agar tidak melakukan kejahatan lagi. Saat kesibukan itu terjadi, Panji segera mengajak Kenanga untuk menyelinap secara diam-diam meninggalkan tempat itu. Tinggallah Ki Danggala dan penduduk Desa Babakan yang kebingungan ketika mereka tidak menjumpai lagi Pendekar Naga Putih, yang telah menyelamatkan desa itu dari tekanan para perampok.

"Hm..., pendekar berbudi luhur seperti itulah yang diperlukan di dunia ini...," desah Ki Danggala.

"Ke mana tujuan kita, Kakang...?" tanya dara jelita berpakaian serba hijau itu saat telah jauh meninggalkan Desa Babakan.

"Aku merasa curiga dengan Jari Pencabut Nyawa dan kawan- kawannya itu. Mereka pergi karena harus menyelesaikan suatu urusan yang tampaknya jauh lebih penting ketimbang meladeniku. Entah apa yang hendak mereka lakukan. Kenanga. Yang jelas, pasti mereka hendak melakukan suatu kejahatan...," sahut pemuda berjubah putih yang tidak lain dari Panji.

"Lalu, Kakang ingin mengikuti mereka...?" tanya Kenanga lagi.

"Ya. Sebab aku yakin ada kejahatan besar yang tengah mereka rencanakan...," jawab Panji sambil mengedarkan pandangan berkeliling.

"Tapi..., ke mana kita harus mencari mereka, Kakang...?" "Entahlah. Yang pasti mereka bergerak menuju ke arah Barat"

"Kalau begitu, kita harus bergerak cepat, Kakang," sambut Kenanga seraya bersiap mengerahkan ilmu lari cepatnya.

Panji tersenyum melihat semangat kekasihnya. Pemuda itu segera menyambar lengan dara jelita itu sebelum sempat melesat ke depan. Tentu saja perbuatan pemuda itu membuat langkah Kenanga tertahan.

"Ada apa lagi, Kakang...?"

"Sabarlah. Dugaanku belum pasti benar. Siapa tahu mereka mengambil arah lain. Untuk itu harus teliti dan jangan terburu- buru."

"Kalau begitu, apa yang akan Kakang lakukan untuk mencari jejak mereka..?"

Pendekar Naga Putih termenung sejenak. Cukup sulit baginya menentukan arah yang harus mereka tempuh. Akhirnya, karena tidak menemukan jalan lain, diputuskannya untuk menjelajahi daerah sebelah Barat. Tanpa banyak cakap, Kenanga pun mengikuti langkah kekasihnya. Kedua pendekar muda itu bergerak mengerahkan ilmu lari cepat mereka menuju arah Barat. Hari bergerak merambat sore. Sepasang pendekar muda itu terus saja berlari, seolah-olah hendak berpacu dengan waktu. Tapi, karena tempat yang mereka tuju memang sangat jauh, akhirnya Panji dan Kenanga harus melewatkan malam di dalam sebuah hutan.

"Mengapa kita tidak terus saja dan mencari perkampungan untuk melewatkan malam, Kakang?" tanya Kenanga ketika Panji mengajaknya beristirahat dihutan.

"Hm..., aku khawatir di depan sana tidak ada perkampungan. Lagi pula, selain perjalanan di malam hari dapat menghambat gerakan kita, siapa tahu Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya telah tahu bahwa kita mengejar mereka. Jika demikian, kesulitan kita tentu semakin bertambah. Bisa saja mereka memasang jebakan untuk menewaskan kita..," sahut Panji, yang memang selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan.

"Kakang takut..?" desak Kenanga dengan kening berkerut.

"Hm..., kau ini aneh, Kenanga. Ketahuilah, sikap hati-hati jauh lebih baik. Kecerobohan hanya akan mendatangkan kerugian bagi kita. Jangan salah mengerti, Kenanga. Perkataan takut dan hati-hati itu jauh sekali bedanya...," jelas Panji tersenyum sambil membelai rambut gadis jelita itu.

Kenanga tidak banyak bertanya lagi. Dara jelita itu menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Pendekar Naga Putih. Panji mengecup lembut rambut kekasihnya. Ada rasa kasihan terselip di hatinya melihat dara sejelita Kenanga harus menjalani kehidupan sebagai seorang pengembara. Namun, pikiran itu dibuangnya jauh-jauh ketika teringat bahwa gadis itu sama sekali tidak pernah mengeluh tentang apa yang selama ini mereka jalani.

Malam kian larut. Hembusan angin terasa semakin dingin menggigit kulit. Panji sama sekalih tidak bergerak. Pemuda itu membiarkan saja Kenanga terlena dalam pelukannya.

********************

Sengatan sinar matahari pagi menerobos melalui dedaunan. Kedua pendekar itu tersentak bangkit dari mimpinya. Setelah membersihkan tubuh di sebuah sumber air yang mereka temui, pasangan pendekar itu pun kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Sebagai tokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja tidak sulit bagi Panji dan Kenanga untuk mempercepat perjalanan. Dengan ilmu lari yang mereka miliki, tidak berapa lama kemudian tibalah mereka di daerah Barat.

"Hm..., kalau tidak salah, kita telah cukup jauh memasuki wilayah Barat. Entah di mana kita bisa menemukan Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya...," desah Panji saat menyusuri daerah perbukitan.

Matahari saat itu sudah semakin tinggi. Sengatan sinarnya terasa panas menyengat kulit. Namun, pasangan pendekar itu tetap melanjutkan perjalanan.

"Sebaiknya kira mengambil jalan lewat hutan itu saja, Kakang. Rasanya aku tidak kuat dalam cuaca sepanas ini," ucap Kenanga, yang wajahnya bersimbah peluh.

Panji hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian keduanya bergerak memasuki hutan lebat. Terdengar helaan napas lega dara jelita itu ketika dirasakannya udara segar di dalam hutan yang mereka lalui. Sengatan sinar matahari tidak lagi terasa. Karena, rimbun dedaunan pohon-pohon besar di dalam hutan itu melindungi mereka dari teriknya matahari.

Ketika keduanya semakin jauh merambah hutan, tiba-tiba Panji menahan langkahnya sambil mencekal lengan kekasihnya. Diletakkannya cepat-cepat jari telunjuknya di bibir saat Kenanga hendak bersuara. Dengan langkah yang lebih hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, pasangan pendekar muda itu kembali bergerak lambat- lambat Panji semakin mempertajam indera pendengarannya. Karena, sempat didengarnya sesuatu yang mencurigakan.

"Kakang, lihat..?!" seru Kenanga tiba-tiba sambil menutupi mulutnya. Gadis itu sangat terkejut melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya.

Panji pun sempat terkejut menyaksikan pemandangan yang ditunjuk kekasihnya. Di depan mereka, kira-kira berjarak tiga tombak, tampak empat ekor harimau tengah berebutan menyantap tubuh yang tak berdaya. Tanpa banyak pikir, Panji segera melangkah maju dan mengibaskan tangannya, mengusir harimau-harimau kelaparan itu. Dua di antaranya meraung marah dan langsung melesat ke arah Panji. Namun, pemuda itu sama sekali tidak gentar. Cepat-cepat tubuhnya bergerak maju di antara kedua binatang buas itu, lalu kedua tangannya mengibas ke kiri dan ke kanan.

Buggg! Desss...!

Tanpa ampun lagi, kedua binatang itu meraung kesakitan, dan terlempar sejauh dua tombak. Sang raja hutan itu langsung bangkit melarikan diri dengan langkah tertatih-tatih. Jelas, mereka merasa gentar terhadap pemuda berjubah putih itu. Dua binatang buas lainnya yang semula mendekam di dekat mayat langsung berlari masuk ke dalam hutan begitu Panji mendekat. Sehingga, pemuda itu dapat leluasa meneliti sosok yang sulit dikenali lagi itu.

"Hm..., dilihat dan tulang-tulangnya, jelas orang ini berusia lebih dari enam puluh tahun., Selain itu, ia bukan orang sembarangan. Tulang-tulangnya demikian kokoh. Semasa hidup ia pasti memiliki ilmu tenaga dalam yang cukup tinggi. Entah siapa yang telah membunuhnya...?" desah Panji setelah meneliti sosok mayat tinggi kurus itu.

Kenanga hanya terdiam tanpa berkeinginan menanggapi ucapan kekasihnya. Dara jelita itu baru mengerutkan keningnya saat Panji menemukan tali-tali kokoh yang melibat kedua lengan dan kaki laki-laki tua itu. Bahkan, beberapa senjata rahasia tampak terbenam di dalam daging mayat itu.

"Benar-benar keji orang yang melakukan pembunuhan terhadap orang setua ini. Aku mencium adanya racun pelumpuh syaraf yang tampak terhisap orang ini. Mungkin racun-racun itulah yang membuatnya tidak berdaya. Jelas orang ini telah terperangkap dalam jebakan licik," ujar Panji yang tampak marah terhadap kelicikan si pembunuh.

"Siapa kira-kira pembunuh itu, Kakang...?" tanya Kenanga yang menjadi penasaran.

"Hm..., sepanjang pengetahuanku, tokoh sesat yang memiliki racun pelumpuh syaraf hanyalah Jari Pencabut Nyawa. Jadi, kemungkinan besar rombongan yang tengah kita kejar itulah yang melakukan pembunuhan keji ini," jelas Panji.

"Lalu, apakah Kakang tidak bisa mengenali siapa adanya mayat ini...?" tanya Kenanga lagi, sambil mencoba mengenali wajah mayat yang telah rusak oleh kuku-kuku harimau itu.

"Entahlah. Wajahnya sangat sulit dikenali. Yang jelas, orang ini pasti tokoh besar dalam rimba persilatan..." jawab Panji dengan wajah kecewa, karena tidak dapat mengenali mayat itu dengan baik.

"Lalu..., apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang...?"

"Hm..., orang tua ini ada kemungkinan dipancing untuk masuk ke dalam hutan. Kemudian ia dijebak secara licik. Kejadiannya pasti malam tadi. Dan itu berarti tempat tinggalnya tidak jauh dari daerah ini. Sebaiknya kita melakukan gerak cepat untuk melihat-lihat sekitar daerah ini. Siapa tahu dengan begitu kita dapat menemukan Jari Pencabut Nyawa dan kawan-kawannya. Ayolah"

Panji kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak cakap, Kenanga pun langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, menyusul Panji.

********************

DELAPAN

Matahari siang sudah tepat berada di atas kepala. Saat itu serombongan orang yang dipimpin lelaki gemuk bercambang lebat tiba di depan sebuah pintu gerbang perguruan. Tanpa banyak cakap, lelaki gemuk itu langsung mendorongkan sepasang telapak tangannya ke depan.

"Hiaaah...!"

Brakkk...!

Pintu gerbang Perguruan Jari Besi yang terbuat dari kayu tebal itu langsung jebol terkena pukulan jarak jauh yang dilontarkan Elang Hitam. Tentu saja suara hiruk-pikuk itu membuat murid-murid Perguruan Jari Besi menghambur dengan senjata terhunus. Namun, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tujuh sosok tubuh telah menerobos masuk dan langsung melontarkan pukulan-pukulan maut. Terdengar jerit kematian susul-menyusul seiring dengan robohnya murid Perguruan Jari Besi dalam keadaan tewas. Tentu saja peristiwa ini membuat gempar seisi perguruan.

"Ki Bonggala! Keluarlah kau...! Aku, Elang Hitam datang untuk membuat perhitungan!" teriak lelaki gemuk bercambang lebat itu menantang. Suaranya yang dikirimkan dengan pengerahan tenaga dalam itu mengaung memenuhi seluruh bangunan Perguruan Jari Besi.

Elang Hitam tidak perlu menunggu terlalu. Beberapa saat setelah gema suaranya lenyap, empat sosok tubuh tegap melesat keluar dari dalam bangunan. Mereka tidak lain dari Ki Bonggala beserta tiga orang murid utamanya. Bukan main marahnya Ki Bonggala melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya. Puluhan orang muridnya telah bergeletakan dengan tubuh bermandikan darah. Mendidih darah tokoh itu menyaksikan kekejaman tamu-tamu tak diundang itu.

"Hua ha ha..! Hari ini adalah hari kematianmu, Bonggala. Kau boleh berteriak sampai serak memanggil gurumu. Kakek renta yang berjuluk Dewa Langit itu telah kami jebak ke dalam Hutan Welang semalam. Jadi, kau tidak mempunyai kekuatan lagi sekarang. Hua ha ha." Tawa Elang Hitam terdengar berkepanjangan. Tokoh sesat berhati licik itu benar-benar merasa puas melihat wajah pucat lawannya.

"Iblis keji...!" maki Ki Bonggala yang tentu merasa terkejut mendengar keterangan Elang Hitam.

Semalam, sesungguhnya Ki Bonggala memang sempat mendengar adanya suara-suara mencurigakan. Tapi, karena gurunya berpesan agar ia tetap tinggal, sementara orang tua itu yang mengejar, terpaksa Ki Bonggala menyerahkan persoalan itu ke tangan gurunya. Siapa sangka orang-orang yang menyelinap semalam itu adalah Elang Hitam dan kawan-kawannya. Kini Ki Bonggala baru mengerti, mengapa gurunya tidak kembali lagi sejak semalam. Kiranya Elang Hitam telah menjebak gurunya.

Lunggara, murid tertua Perguruan Jari Besi, segera melompat ke arah Elang Hitam. Menyusul kemudian Samija dan seorang murid utama lainnya. Ki Bonggala sendiri tidak sempat mencegah. Karena, pikiran orang tua itu tengah disibukkan oleh kematian gurunya.

"Hua ha ha...!" Elang Hitam tertawa makin keras melihat majunya tiga orang murid utama Ki Bonggala. Lelaki gemuk itu sama sekali tidak peduli. Sebab, Iblis Penakluk Harimau dan tiga orang pembantu Jari Pencabut Nyawa telah menyambut serangan ketiga murid itu. Sedangkan ia sendiri telah siap mencabut nyawa Pendekar Tangan Sakti.

"Diakah musuh besarmu, Guru...?" tanya pemuda berambut panjang dan bertubuh kekar yang berdiri di samping Elang Hitam. Pemuda yang menatap wajah Ki Bonggala dengan tak berkedip itu tak lain dari Wanara, si Putra Harimau.

Sementara itu, Jari Pencabut Nyawa hanya berdiri tegak dengan sorot mata penuh kebencian. Jelas, tokoh sesat itu pun menaruh dendam terhadap Ki Bonggala. Karena, tokoh yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu pernah mengobrak-abrik gerombolannya pada waktu yang silam.

"Ayo, kita tangkap dia. Pendekar sombong itu tidak boleh mati tanpa disiksa. Harus kita siksa dia sebelum dibunuh!" teriak Elang Hitam. Kemudian lelaki gemuk itu langsung melesat menerjang dengan cakar elangnya.

Ki Bonggala, yang sadar bahwa keadaannya benar-benar terancam, segera mengeluarkan ilmu andalannya untuk menghadapi keroyokan Elang Hitam, Jari Pencabut Nyawa, dan pemuda berambut panjang itu.

"Heaaat..!"

Whuttt! Whuuut!

Elang Hitam langsung mengulurkan cakar-cakar mautnya mengancam tubuh lawan. Demikian pula halnya dengan Jari Pencabut Nyawa. Tokoh sesat berkepala botak itu mengirimkan serangan-serangan mautnya yang menimbulkan deruan angin tajam.

Sedangkan Wanara sejenak mengerutkan keningnya tanda tak senang. Pemuda yang jujur itu sebenarnya merasa tidak suka mengeroyok seorang lawan. Tapi, karena gurunya memerintah, pemuda itu tidak bisa berdiam diri saja. Maka, ia pun ikut mengeroyok Ki Bonggala. Keroyokan tiga orang lawan yang memiliki kepandaian tinggi itu tentu saja membuat ki Bonggala kerepotan. Jangankan menghadapi keroyokan, melawan salah satu dari mereka pun ia harus mengerahkan segenap kepandaiannya. Sebab, baik Elang Hitam maupun Jari Pencabut Nyawa memiliki kepandaian yang hampir setingkat dengannya. Apalagi kini ada pula pemuda gesit bertubuh kokoh itu. Ki Bonggala harus mati-matian mempertahankan dirinya.

"Khreaaakh...!"

Pada suatu kesempatan, Wanara yang menggempur Ki Bonggala dari sebelah kiri, berseru nyaring. Pemuda bertubuh kokoh itu melontarkan cengkeraman ke arah lawannya. Meskipun dalam keadaan terdesak hebat, Ki Bonggala menunjukkan kebolehannya. Dua buah cengkeraman yang mengancam perut dan lambungnya dapat dihindarinya dengan menggeser tubuh ke samping. Namun, sepasang mara orang tua itu membelalak saat melihat mata kalung yang tergantung di leher Wanara. Meskipun keterkejutan Ki Bonggala hanya sekejap, jelas hal iIni sangat merugikan baginya. Akibatnya, sebuah cakar Wanara berhasil merobek bahu kirinya.

Brettt!

"Akh...!" Ki Bonggala menjerit kesakitan. Tubuh orang tua itu melintir mengikuti arah sambaran cakaran Wanara. Hal itu memang sengaja dilakukannya. Sebab dengan demikian, Ki Bonggala dapat menghindari cengkeraman selanjutnya yang masih bersusulan. Dengan sebuah lompatan panjang, Pendekar Tangan Sakti bergerak menjauhi lawan-lawannya, kemudian berdiri tegak menatap mata kalung di dada Wanara. Tampaknya ia sangat tertarik dengan kalung yang tergantung di leher pemuda itu.

"Sahabat muda, dari manakah kau mendapatkan kalung bergambar telapak tangan itu...? Tolong katakan padaku...," tanya Ki Bonggala

Pertanyaan itu tentu saja membuat gerakan Wanara terhenti seketika. Perlahan kepalanya tertunduk menatap kalung yang tergantung di lehernya. "Aku tidak tahu. Kalung ini telah ada sejak aku kecil...," jawab Wanara jujur. Pemuda polos itu menjadi heran ketika melihat wajah Ki Bonggala tampak pucat mendengar jawabannya.

Sayang Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa tidak memberikan banyak kesempatan lagi kepada Pendekar Tangan Sakti. Kedua tokoh sesat itu kembali menerjang lawannya dengan serangan-serangan maut. Ki Bonggala yang tengah terhanyut pikirannya oleh jawaban polos Wanara tak sempat menghindar. Akibatnya, dua pukulan lawan telak bersarang di dadanya.

Bukkk! Desss!

"Uuugh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Ki Bonggala terjengkang deras sejauh satu setengah tombak, kemudian ia jatuh bergulingan sambil memuntahkan darah segar. Pendekar Tangan Sakti terlihat menderita luka dalam yang cukup parah akibat hantaman pada tubuhnya itu.

"Lumpuhkan bangsat itu...!" seru Elang Hitam kepada Jari Pencabut Nyawa yang jaraknya lebih dekat dengan Ki Bonggala. Lelaki gemuk bercambang lebat itu sendiri sudah melompat dengan beberapa totokan mautnya.

Jari Pencabut Nyawa pun tidak mau membuang-buang waktu. Tanpa diperintah pun sebenarnya ia memang hendak melumpuhkan Ki Bonggala secepatnya. Ucapan Elang Hitam membuatnya bergerak semakin cepat untuk melumpuhkan Pendekar Tangan Sakti yang makin terdesak itu.

"Hiaaat..!" Dibarengi teriakan keras, tubuh lelaki kekar berkepala botak itu melesat cepat melancar totokan pada bagian-bagian terlemah di tubuh lawannya yang tengah berusaha bangkit itu.

"Yeaaat...!"

Mendadak, pada saat yang gawat, terdengar teriakan nyaring yang mengguntur. Berbarengan dengan suara yang sangat keras itu, sesosok bayangan putih berkelebat bagai kilatan cahaya. Dan, langsung disambutnya serangan Jari Pencabut Nyawa dan Elang Hitam tadi. Akibatnya....

Plakkk! Tasss! Bukkk!

"Uuuhhh...!?"

"Aaakh...!"

Hebat sekali akibat yang ditimbulkan oleh terjangan sosok bayangan putih bersinar keperakan itu. Bukan saja serangan kedua tokoh sesat itu dapat digagalkan. Telapak tangannya pun sempat mendarat di tubuh Elang Hitam. Hingga tanpa ampun lagi, tubuh lelaki gemuk itu terjungkal mencium tanah. Tapi, karena hantaman telapak tangan itu tidak terlalu keras, luka yang ditimbulkannya pun tidak terlalu parah. Elang Hitam masih bisa bangkit dengan cepat sambil mengusap lelehan darah di sudut bibirnya.

Kehadiran sosok bayangan yang terselimut kabut putih keperakan itu ternyata berbarengan dengan munculnya sesosok tubuh ramping terbungkus pakaian serba hijau. Dan, sosok tubuh ramping itu langsung menceburkan diri ke dalam kancah pertempuran lain, tempat di mana Lunggara tengah berjuang keras menyelamatkan nyawa. Di situ dua orang adik seperguruan Lunggara telah menggeletak mandi darah. Kehadiran sosok tubuh terbungkus pakaian serba hijau itu benar-benar sangat berarti bagi Lunggara. Ia dapat mengatur napasnya sambil menyaksikan sosok ramping itu menggempur lawan-lawannya.

Sementara itu, Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa tengah berdiri menatap sosok bersinar putih keperakan yang telah menyelamatkan Ki Bonggala. Kedua tokoh sesat itu tentu saja terkejut bukan main saat mengenali siapa penolong lawannya itu.

"Pendekar Naga Putih...!?"

Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa berseru dengan wajah tegang. Sedangkan Wanara hanya memandang bingung, karena ia memang tidak pernah mengenal julukan Pendekar Naga Putih.

Lain lagi halnya dengan Ki Bonggala. Lelaki gagah yang dikenal berjuluk Pendekar Tangan Sakti itu bergumam dengan wajah cerah. Sebab, tuan penolongnya dikenalnya sebagai seorang pendekar besar yang telah mengguncangkan dunia persilatan pada masa ini. Tentu saja kenyataan itu membuat Ki Bonggala dapat bernapas lega. Bergegas lelaki gagah itu menghampiri penolongnya itu.

"Pendekar Naga Putih, kau tak ubahnya bagaikan malaikat yang turun dari langit. Kedatanganmu sangat tepat dan memang kubutuhkan...," ucap Ki Bonggala sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada pemuda tampan yang tak lain dari Panji itu.

Panji pun cepat membalas hormat orang tua itu. Namun, keduanya tidak dapat melanjutkan pembicaraan. Karena, saat itu Elang Hitam dan Jari Pencabut Nyawa telah melesat menerjang Pendekar Naga Putih. Tampaknya kedua tokoh sesat itu sengaja mengambil kesempatan selagi Panji dan Ki Bonggala sedang berbicara.

Namun, niat licik kedua tokoh sesat itu tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Sebagai seorang pendekar yang telah berpengalaman, tentu saja Panji tidak lagi memerlukan persiapan dalam menghadapi setiap gempuran lawan. Dengan sebuah langkah panjang ke samping, serangan kedua lawan itu pun dapat dihindarinya. Bahkan, sempat juga dilontarkannya serangkaian serangan balasan yang sangat mengejutkan.

"Hiaaah...!"

Elang Hitam yang menjadi sasaran serangan balasan Panji berusaha menghindar sebisa-bisanya. Lelaki bercambang lebat itu tunggang-langgang, kerepotan menghadapi gempuran Pendekar Naga Pulih yang bagai gelombang lautan itu. Pada saat yang berbahaya itu, Jari Pencabut Nyawa menyelamatkannya dengan jalan menebarkan bubuk beracun ke arah Pendekar Naga Putih.

"Hm..." Panji menggeram gusar melihat kekejian Jari Pencabut Nyawa. Kegusaran pemuda itu berubah menjadi kemarahan manakala ia teringat akan mayat seorang kakek di Hutan Welang. Sebab, bubuk yang digunakan untuk menyerang dirinya memiliki bau harum yang sama dengan yang tercium olehnya pada mayat itu.

"Heaaah.!" Sambil mengeluarkan bentakan keras, Pendekar Naga Putih mengibaskan lengannya ke kiri dan ke kanan. Sehingga, racun pelumpuh syaraf itu pun bertebaran musnah terbawa angin berhawa dingin yang keluar dari tangan pemuda itu. Kemudian, dengan sebuah lompatan kilat, pemuda itu berbalik menggempur Jari Pencabut Nyawa.

Serangan yang dilancarkan Panji kali ini benar-benar hebat. Tubuh pemuda itu meliuk-liuk turun naik bagaikan seekor naga yang tengah bermain di angkasa. Sepasang cakarnya menyambar susul-menyusul bagaikan tidak berkesudahan. Sehingga, dalam jurus yang kelima puluh, Jari Pencabut Nyawa tidak sanggup lagi membendung serangan-serangan Pendekar Naga Putih. Akibatnya, sebuah sambaran cakar naga Panji merobek bahu kanan lelaki kekar berkepala botak itu.

Whuttt! Brettt!

"Akh...!" Tokoh sesat gembong perampok itu menjerit kesakitan. Bahkan, tubuhnya yang kekar sempat melintir akibat kuatnya tenaga sambaran cakar lawannya itu. Belum lagi sempat disadari keadaannya, sebuah tendangan keras telah membuat tubuhnya terjungkal dan jatuh berdebuk di atas tanah.

Elang Hitam tentu saja terkejut bukan main. Cepat-cepat tokoh bertubuh gemuk itu melesat dengan cakar elangnya yang sambar-menyambar. Tapi kali ini Panji tidak berniat main-main lagi. Dengan gerakan-gerakan tubuh yang manis, pemuda itu terus menghindari serangan berantai lawannya. Kemudian, begitu melihat pertahanan lawan terbuka, langsung saja dikirimkannya dua buah hantaman telapak tangannya ke dada lawan.

Desss...!

"Aaargh...!" Tanpa ampun lagi, tubuh Elang Hitam terlempar keras bagaikan selembar daun kering, lalu meluncur membentur dinding kayu tebal di belakangnya. Kemalangan rupanya masih terus membuntuti Elang Hitam. Saat terbentur pada kayu tebal yang langsung patah itu, tubuh lelaki gemuk itu kembali terjatuh tepat di atas patahan kayu bulat yang meruncing. Karuan saja darah segar menyembur seiring jerit kematian Elang Hitam yang tubuhnya telah terpaku potongan kayu itu. Elang Hitam tewas secara menyedihkan.

"Pendekar Naga Putih, tahan...!"

Panji yang saat itu tengah siap bertempur melawan Wanara, si Putra Harimau, menahan gerakannya. Seruan Ki Bonggala membuat Pendekar Naga Putih melompat mundur, lalu menarik kembali serangannya terhadap pemuda bertubuh kokoh itu.

"Ada apa, Paman...?" tanya Panji sambil mengerutkan keningnya melihat tingkah laku aneh Ki Bonggala. Tanpa menjawab pertanyaannya, orang tua itu melangkah ke arah Wanara.

"Anak muda, perlihatkanlah kalungmu. Lihatlah, aku pun memiliki kalung yang serupa dengan milikmu. Dan, kalung yang kau kenakan itu adalah kalung milik putraku yang kulekatkan di lehernya ketika bayi...," kata Ki Bonggala dengan suara bergetar, berusaha menahan keharuan hatinya.

Wanara tentu saja bingung melihat kalung milik Ki Bonggala benar-benar serupa dengan miliknya. "Apa artinya ini, Orang Tua...?" tanya Wanara, sambil menatap wajah Ki Bonggala dengan pandangan bodoh.

"Kalau memang kalung yang kau kenakan itu bukan pemberian orang lain, berarti kau adalah putraku, Anak Muda...," ujar Ki Bonggala yang menjadi tegang, sambil meneliti raut wajah Wanara.

"Aku..., putramu...? Lalu, di manakah Ibuku...?" tanya Wanara, yang tampak mulai mengerti.

"Akulah yang seharusnya bertanya demikian, Anakku. Tapi mungkin ibumu telah tewas sewaktu membawamu lari dari kejaran penjahat-penjahat keji yang memburu keluarga kita...," jelas Ki Bonggala. Tanpa sadar sepasang mata tuanya menjadi basah karena rasa haru dan gembira bercampur-baur dalam hati.

"Ayah...!" Tanpa ragu-ragu lagi, Wanara segera menghambur dan memeluk tubuh Ki Bonggala erat-erat. Pertemuan yang tak disangka-sangka itu tentu saja membuat keduanya langsung terhanyut dalam luapan rasa gembira.

Kesempatan itu rupanya tidak disia-siakan oleh Jari Pencabut Nyawa. Tokoh sesat yang sejak tadi hanya berdiri bingung menyaksikan kejadian yang tak disangka-sangka itu langsung mengirimkan serangan maut, saat Ki Bonggala dan Wanara lengah.

"Hiaaat...!"

Kedua orang ayah beranak itu baru tersadar ketika terdengar teriakan nyaring yang mengejutkan. Untunglah Panji bertindak cepat. Dengan lentingan manis, tubuh pemuda tampan itu berputar beberapa kali di udara, lalu didaratkan dua telapak tangannya di tubuh Jari Pencabut Nyawa.

Desss...!

"Huaaagkh...!"

Hantaman telak telapak tangan Panji membuat tubuh kekar berkepala botak itu terhempas bagai selembar daun kering tertiup angin. Jari Pencabut Nyawa terbanting keras di tanah disertai semburan darah segar dari mulutnya. Setelah berkelojotan sesaat dengan tubuh menggigil kedinginan, tokoh sesat itu pun diam tak berkutik lagi, tewas akibat pukulan keras yang dilandasi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Ki Bonggala dan Wanara menghela napas lega. Untuk kedua kalinya orang tua itu harus berterima kasih kepada Panji yang telah menyelamatkan nyawanya dan juga nyawa putra yang baru dijumpainya setelah lenyap selama dua puluh tahun itu.

"Kakang...," Kenanga, yang ternyata telah berhasil pula menundukkan Iblis Penakluk Harimau dan murid-murid Jari Pencabut Nyawa, segera bergabung dengan Panji.

"Ah..., kalian berdua telah berjasa besar terhadapku. Entah bagaimana aku bisa membalasnya...," desah Ki Bonggala sambil menatap pasangan pendekar itu dengan penuh kagum. Hati orang tua itu benar-benar bangga. Sebab, kaum persilatan golongan putih ternyata telah memiliki seorang tokoh muda yang berkepandaian tinggi dan berbudi luhur.

"Tidak perlu dipikirkan, Paman. Semua itu memang merupakan kewajiban kita. Siapa tahu kelak. Pamanlah yang menyelamatkan nyawa kami berdua. Dan, karena persoalan di sini telah selesai, maaf kalau kami terpaksa harus pamit untuk melanjutkan perjalanan."

Baru saja ucapan itu selesai. Panji telah berkelebat bersama Kenanga meninggalkan tempat itu. Sekejap saja, bayangan kedua pendekar muda itu telah lenyap di balik pagar kayu bulat yang mengelilingi Perguruan Jari Besi. Kini tinggallah Ki Bonggala dan Wanara yang hanya bisa menggelengkan kepala, karena tidak sempat mencegah kepergian kedua pendekar itu.

"Orang-orang berbudi luhur seperti itulah yang patut dijadikan contoh, Anakku...," desah Ki Bonggala seraya menatap wajah putranya. Ada sinar kebanggaan dalam tatapan orang tua itu. Sosok putranya begitu gagah dimatanya.

Wanara hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Pemuda itu masih merasa seperti bermimpi dapat bertemu dengan keluarganya, meskipun hanya ayahnya yang masih ada.

Ki Bonggala mengajak putranya dan sisa-sisa murid perguruannya untuk membersihkan halaman Perguruan Jari Besi. Angin sore bersilir lembut menjanjikan ketenangan dan kedamaian bagi perguruan itu di kemudian hari.

S E L E S A I