Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Hilangnya Pusaka Kerajaan
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM sudah semakin larut. Bulan sepotong nampak menggantung di langit pekat. Cahayanya redup, sehingga tak mampu menerobos kekelaman malam. Di bawah siraman cahaya rembulan yang temaram itu, tampak sesosok bayangan hitam tengah berlari cepat. Gerakannya tak ubahnya bagai bayangan hantu yang berkeliaran mencari mangsa. Menilik dari gerakannya yang ringan dan gesit, jelas kalau kepandaiannya sangat tinggi.

Tak berapa lama kemudian, sosok bayangan itu telah tiba di bawah sebuah tembok tinggi dan kokoh. Sambil merapatkan tubuh ke tembok, sepasang matanya tampak merayapi sekeliling dengan pandangan penuh curiga. Dari tarikan napasnya yang berat, jelas kalau sosok tubuh berpakaian serba hitam itu tengah diliputi ketegangan. Setelah merasa yakin kalau keadaan di sekitarnya aman, kedua kakinya segera dijejakkan ke tanah. Seketika itu juga, tubuhnya yang tinggi besar melambung melewati tembok belakang Istana Kerajaan Cadas Putih.

Sepasang kaki sosok tubuh itu hinggap di sebuah taman belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tubuhnya langsung merunduk di balik semak-semak ketika dua orang penjaga lewat beberapa langkah di depannya. Sepeninggal kedua orang penjaga itu, tubuhnya kembali melesat bagai anak panah menu- ju gudang penyimpanan senjata pusaka Kerajaan Cadas Putih.

Sosok tubuh itu kini harus menghadapi orang yang tengah berbincang-bincang di pos jaga, di depan tempat penyimpanan senjata pusaka kerajaan. Dengan gerakan ringan tanpa suara sedikit pun, orang itu melesat cepat ke arah pos jaga. Kedua tangannya bergerak cepat ke arah para penjaga.

Empat orang penjaga yang berada di pos jaga itu kontan roboh tak berkutik, hanya sekali totokan saja. Cepat bagai kilat, tubuhnya kemudian langsung menyelinap di balik pintu tempat penyimpanan pusaka kerajaan. Belum juga sosok bayangan hitam itu meneliti pusaka-pusaka yang berada di dalam gudang, terdengar seruan-seruan terkejut dari luar gudang ini. Sepertinya, empat penjaga yang dirobohkannya tadi telah diketemukan para penjaga lainnya.

"Pasti ada orang gila yang nekat menyelinap ke tempat ini. Kalian berdua, cepat beri tahu yang lain. Aku dan yang lainnya, akan memeriksa setiap sudut tempat ini!" terdengar perintah yang keluar dari mulut seorang perwira berusia sekitar empat puluh tahun.

Setelah berkata demikian, golok besar yang tergantung di pinggangnya segera dicabut. Kemudian, perwira itu melangkah memasuki gudang penyimpanan senjata pusaka Kerajaan Cadas Putih, ditemani dua orang bawahannya. Sementara itu, wajah di balik kain hitam yang berada di dalam gudang terlihat menegang. Keringat tampak telah membasahi bajunya.

"Hei?! Mengapa pintu gudang ini tidak dikunci?" tanya perwira itu seraya menolehkan kepalanya kepada dua orang pengawal di belakangnya. la sama sekali tidak menduga kalau ada orang tak dikenal telah masuk ke gudang penyimpanan pusaka. Apalagi kunci pintu gudang itu sama sekali tidak rusak.

Sementara, dua orang penjaga yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa saling berpandangan mengangkat bahu. Baru saja kaki perwira itu melangkah masuk sejauh dua tindak, serangkum angin keras menerpa tubuhnya. Cepat-cepat dikerahkannya tenaga dalam untuk menahan dorongan yang amat kuat itu.

Bukkk!

"Aaakh...!" Tahu-tahu saja, sebuah tendangan keras telah membuat perwira itu terpental ke luar! Terdengar jerit kesakitan dari mulutnya. Darah segar seketika menyembur dari mulutnya. Jelas kalau dia menderita luka dalam yang cukup parah.

"Tangkap orang itu...!" teriak si perwira, marah. Dia mencoba bergerak bangkit, namun rasa nyeri di dadanya menghambat gerakannya. Perwira itu hanya bisa menekap dadanya yang terhajar tendangan tadi. Mulutnya menyeringai menahan sakit.

Sementara dua orang penjaga yang semula berada dibelakangnya langsung tersadar begitu mendengar teriakan Cepat mereka menodongkan ujung tombak ke arah sosok tubuh tinggi besar yang berdiri tegak dengan sinar mata mencorong tajam.

"Hmh...!" Sosok bayangan hitam itu mendengus mengejek ketika dua batang tombak meluncur mengancam tubuhnya.

Trakkk! Trakkk!

Bukan main terkejutnya hati kedua orang penjaga itu ketika tombak di tangan mereka langsung patah begitu dihunjamkan ke tubuh bayangan hitam itu. Belum lagi rasa terkejut mereka hilang, orang berpakaian serba hitam itu sudah mengayunkan tangannya menampar dua kali berturut-turut

Prakkk! Prakkk!

Tanpa sempat menjerit lagi, kedua orang pengawal itu kontan roboh dengan kepala pecah. Sebentar mereka menggelepar, sesaat kemudian diam tak berkutik lagi.

"Keparat kau, Maling Hina! Kau akan dihukum gantung akibat perbuatanmu ini!" bentak perwira berusia empat puluh tahun itu, geram. Walaupun dadanya terasa masih sakit, ia berusa- ha menghadang dengan golok besar melintang di depan dadanya. Sedangkan tangan kirinya masih menekap dada yang terasa nyeri.

Sosok tinggi besar berpakaian serba hitam itu sama sekali tidak menyahut. Seketika itu juga, tubuhnya meluruk melakukan tamparan dengan telapak tangan kanan. Sungguh hebat serangan itu, karena ditandai oleh suara mencicit tajam. Sementara di tangan kirinya nampak tergenggam sebatang tongkat yang terbuat dari batu pualam. Pada bagian ujungnya bertahtakan permata. Rupanya barang yang dicarinya itu sudah didapatkan.

Perwira yang bernama Maharya itu melompat mundur menghindari tamparan maut lawannya. Namun, betapa terkejutnya dia ketika sambaran angin tamparan orang itu membuat tubuhnya limbung. Padahal, Maharya sudah melompat sejauh hampir dua batang tombak.

"Gila! Kepandaian pencuri ini hebat sekali! Siapakah dia sebenarnya? Dan apa maksudnya mencuri pusaka kebesaran Kerajaan Cadas Putih? Mungkinkah ia orang sewaan?" gumam Maharya sibuk menduga-duga, siapa orang berpakaian hitam itu.

Maharya tidak sempat lagi berpikir terlalu jauh. Dan memang saat itu lawannya kembali menerjang dengan serangan-serangan yang lebih dahsyat. Kini Maharya harus sibuk menghalau se- rangan yang datang bagaikan gelombang lautan Dalam lima jurus saja, perwira itu sudah terdesak hebat. Bahkan tidak mampu lagi melakukan se- rangan balasan. Diam-diam hatinya mengeluh, karena bantuan yang diharapkannya belum juga muncul.

Bukkk! Desss!

"Aaargh...!" Raung kematian terdengar dari mulut Maharya ketika dua buah hantaman telapak tangan dan tendangan pencuri itu telak menghantam dada dan lambungnya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh perwira gemuk itu langsung jatuh berdebuk keras. Darah segar langsung mengalir dari mulut dan hidungnya. Maharya tewas seketika di tangan pencuri yang rupanya berkemampuan tinggi. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Maharya, terdengar derap langkah banyak orang mendatangi tempat itu.

"Hei! Jangan lari...!"

"Tangkap orang itu...!"

"Jangan biarkan lolos...!"

Terdengar teriakan-teriakan marah dari beberapa orang pengawal yang mengejar bayangan hitam itu. Namun sayang, kepandaian pencuri itu masih lebih tinggi daripada pengejarnya. Sehingga dalam beberapa kali lompatan saja, para pengawal itu sudah jauh tertinggal di belakang.

"Hm.... Mau lari ke mana kau, Maling Busuk!" bentak seorang senapati muda yang telah berdiri tegak menghadang di depan sosok bayan- gan hitam itu.

Tiga orang perwira dan delapan pengawal yang berada di belakang senapati muda bernama Palareja, langsung bergerak mengepung si pencuri. Sepasang mata yang tersembunyi di balik kain hitam penutup wajah tampak bergerak liar. Sepertinya, ia tengah mencari jalan untuk lolos dari kepungan. Dari gerakan dadanya yang bergelombang, jelas kalau pencuri itu merasa tegang dan cemas. Dia benar-benar sadar kalau harus cepat meloloskan diri sebelum tokoh-tokoh kerajaan yang lainnya berdatangan. Apa bila hal itu terjadi, maka jangan harap kalau bisa selamat. Apalagi tempat itu banyak dipenuhi tokoh sakti yang mengabdikan dirinya pada Kerajaan Cadas Putih.

"Kisanak! Lebih baik menyerah saja secara baik-baik. Dengan begitu, mungkin hukuman yang dijatuhkan untukmu menjadi lebih ringan," ujar senapati muda bernama Palareja itu dengan sikap tenang dan penuh percaya diri. Sikap seorang panglima muda tulen.

"Persetan dengan ocehanmu itu...!" geram sosok tinggi besar berpakaian serba hitam itu, parau. Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat kesebelah kiri, tempat dua orang pengawal yang mengepungnya berdiri.

Melihat tubuh pencuri itu meluruk ke arah mereka, langsung saja kedua orang pengawal itu menusukkan ujung tombaknya untuk menyambut serangan. Dan ternyata luncuran dua batang tombak tidak membuat pencuri itu menghentikan serangan. Tangan kanannya langsung bergerak cepat menimbulkan deru angin dahsyat. Seketika terdengarlah teriakan ngeri yang disusul terlemparnya tubuh kedua orang pengawal itu dalam keadaan tak bernyawa.

"Keparat...!" Palareja memaki gusar melihat kejadian yang tak disangka itu. Senapati muda yang sudah siap melancarkan serangan itu, menahan langkahnya ketika melihat dua orang perwira yang tadi mengejar datang menghampiri.

"Tuanku.... Pencuri itu juga sudah membunuh Kakang Maharya," lapor perwira tinggi kurus dengan napas memburu.

"Keparat! Kalau begitu, ia harus menerima hukuman yang seberat-beratnya! Cepat, kepung dia! Jangan beri kesempatan untuk lolos!" perintah Palareja dengan suara menggelegar penuh kemarahan. Seusai mengeluarkan perintah, tubuh senapati muda itu langsung melesat ke arah si pencuri yang tengah mengamuk, dikeroyok dua belas orang prajurit dan lima orang perwira.

Wuttt!

Sambaran angin pukulan Palareja membuat pencuri itu melempar tubuhnya ke belakang. Sebab, dari sambaran angin pukulan yang menderu itu, disadari betul kalau penyerangnya kali ini bukanlah orang sembarangan dan tidak bisa dipandang rendah. Begitu lolos dari pukulan Palareja, tubuh pencuri itu kembali melenting ke kanan. Seketika dirobohkannya empat orang prajurit sekaligus.

Tentu saja hal itu membuat Palareja terkejut. "Gila! Orang ini benar-benar bukan tokoh sembarangan! Entah apa maksudnya mencuri pusaka lambang Kerajaan Cadas Putih?" gumam Palareja tak habis mengerti. Sadar betapa berartinya benda yang dicuri sosok tinggi besar itu, Palareja pun melesat dan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menangkap si pencuri, hidup atau mati!

"Jangan mimpi untuk dapat lolos dari tempat ini, Maling Hina!" bentak Palareja. Kembali dilancarkannya serangan-serangan maut dengan tidak kepalang tanggung.

"Hmh...!" Lelaki bertubuh tinggi besar berpakaian serba hitam itu mendengus penuh ejekan. Tubuhnya bergerak berputar sambil melakukan serangkaian tendangan ke arah para prajurit yang meluruk ke arahnya. Hal itu dilakukan untuk sekaligus menghindari terjangan Palareja. Sebuah gerakan yang hebat, dan menunjukkan kecerdikan sosok tubuh itu.

Palareja gusar bukan main. Bukan saja serangannya dapat dielakkan orang itu. Bahkan sosok tubuh itu mampu sekaligus menewaskan tiga orang prajuritnya. Dapat dibayangkan, betapa murkanya hati senapati muda itu. Maka cepat-cepat tubuhnya melompat mengejar pencuri yang berlari menuju halaman belakang gudang penyimpanan pusaka kerajaan. Kembali hati senapati muda itu dilanda rasa penasaran. Meskipun, seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya telah dikerahkan, ternyata ia masih belum bisa mengimbangi ilmu lari yang dimiliki pencuri itu.

"Bangsat, berhenti...!" teriak Palareja semakin gusar. Rasa penasaran dan kemarahan di hati senapati muda itu hampir-hampir memecahkan dadanya. Betapa tidak? la yang dalam Kerajaan Cadas Putih berpangkat senapati muda, ternyata tidak mampu menangkap seorang pencuri. Sungguh hal yang sangat memalukan! Padahal sebagai seorang senapati muda, tentu saja kepandaian yang dimiliki Palareja sudah sangat tinggi. Dan hanya ada beberapa orang saja di kerajaan itu yang mampu menandingi kepandaiannya. Tapi, sekarang ia terpaksa harus menelan kekecewaan, karena telah dipecundangi seorang pencuri yang sama sekali tidak dikenalnya. Hal itu benar-benar menyakitkan bagi Palareja.

Saat itu, si pencuri sudah memasuki taman belakang bangunan besar Kerajaan Cadas Putih. Namun Palareja berusaha untuk terus mengejar. Senapati muda itu baru menyerah kalah, ketika tubuh pencuri itu melambung melewati tembok setinggi tiga batang tombak lebih. Hal yang tidak mungkin dapat dilakukan Palareja. Palareja hanya berdiri terlongong sambil memandangi arah kepergian pencuri itu. Sambil mendengus kesal, tubuhnya disandarkan di bawah tembok. Wajahnya menampakkan kekecewaan dan rasa penasaran.

"Apa kata Gusti Prabu apabila mendengar kegagalanku ini...," desah senapati muda itu lesu.

Dengan langkah lunglai, Palareja meninggalkan taman untuk melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi Malam semakin bertambah larut. Suara binatang-binatang malam yang menyemarak, semakin membuat gundah hati Palareja.

"Malam sial!" desah hatinya kecewa.

********************

DUA

"Apa! Tongkat Pualam Putih lenyap dicuri orang?" tanya Prabu Aria Winata, menggelegar.

Raja Agung Cadas Putih itu tersentak bangkit dari singgasananya dengan wajah merah padam. Sedangkan seluruh pembesar kerajaan yang hadir di ruangan itu menundukkan kepala dengan wajah pucat. Tak seorang pun yang berani mengangkat wajahnya melihat kemurkaan Prabu Aria Winata. Demikian pula halnya dengan Palareja yang melaporkan kejadian itu. Wajah senapati muda itu tampak pucat pias. Titik-titik keringat mengalir turun, membasahi lehernya.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba menerima salah, dan rela menerima hukuman atas kebodohan hamba ini," ucap Palareja dengan suara bergetar. Kepalanya tetap tertunduk tanpa berani memandang rajanya.

"Hm.... Coba ceritakan kejadian semalam itu seluruhnya, Palareja," titah Prabu Aria Winata sambil menghenyakkan bokongnya di atas kursi kebesaran yang berlapiskan emas murni.

"Ampun, Gusti Prabu...," sembah Palareja sebelum memulai ceritanya. Setelah menarik napas sejenak untuk menenangkan diri, Palareja pun menceritakan kejadian yang diketahuinya. "Sama sekali tidak diduga kalau kepandaian pencuri itu demikian tinggi, hingga berhasil lolos dari tangan hamba. Dan hamba siap menerima hukuman atas kebodohan ini," Palareja menutup ceritanya dengan kepala tetap tertunduk.

"Lalu, ke mana perginya Ki Sempana? Bukankah ia yang bertugas menjaga pusaka itu? Mengapa ia tidak kelihatan sekarang?" tanya Prabu Aria Winata lagi, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan ini.

"Ampunkan hamba, Gusti. Sudah sejak semalam hamba tidak melihat Ki Sempana. Dan hamba tidak tahu, di mana dia sekarang. Orang tua itu seperti lenyap ditelan bumi," sahut Palareja lagi.

"Hm.... Apakah kau sudah mencarinya?" kening Prabu Aria Winata berkerut dalam mendengar jawaban senapati mudanya itu.

"Sudah, Gusti Prabu. Tapi, hamba tidak berhasil menemukannya," jawab Palareja. Benak senapati muda itu dipenuhi tanda tanya. Ia pun mulai menduga-duga tentang lenyapnya Ki Sempana yang bertepatan dengan pencurian itu.

Raja Agung Cadas Putih termenung mendengar keterangan Palareja. Perlahan-lahan ia bangkit dari singgasananya, kemudian berjalan hilir-mudik tanpa sepatah kata pun terlompat dari mulutnya. Tentu saja sikap Prabu Aria Winata itu membuat para pembesar istana menjadi tegang. Tak seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Semuanya bungkam dengan wajah menunduk menekuri lantai. Setelah agak lama ruangan itu dicekam kesunyian, terdengar helaan napas berat berkepanjangan yang keluar dari mulut Prabu Aria Winata. Dia kini kembali duduk di singgasananya.

"Bagaimana menurutmu, Paman Patih? Apakah lenyapnya Ki Sempana berkaitan dengan pencurian pusaka itu? Dan tindakan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?" tanya Prabu Aria Winata seraya menolehkan kepala kepada seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang duduk di sebelah kanannya.

Patih Kerajaan Cadas Putih itu tidak segera menjawab pertanyaan rajanya. Orang tua yang terlihat bijaksana itu melepaskan pandangannya yang menerawang jauh. Tangan kanannya mengelus-elus jenggot panjang dan berwarna putih itu.

"Ampun, Gusti Prabu...," ucap orang tua itu kemudian. "Kejadian ini memang sangat aneh dan menimbulkan berbagai dugaan di hati kita semua. Tapi sebelum Ki Sempana dapat ditemukan, rasanya sulit sekali bagi hamba untuk mengambil kesimpulan. Jadi, menurut hemat hamba, sebaiknya dikesampingkan saja dulu lenyapnya Ki Sempana itu."

"Maksud Paman Patih, bagaimana...?" selak Prabu Aria Winata tak sabar ketika melihat orang tua itu menghentikan ucapannya.

"Ampun, Gusti Prabu.... Menurut hamba, lebih baik bereskan dulu masalah hilangnya Pusaka Tongkat Pualam Putih yang menjadi lambang kebesaran Kerajaan Cadas Putih. Sebab, apabila hilangnya pusaka itu sampai terdengar kerajaan lain, bukan mustahil mereka akan memperebutkan pusaka itu. Kalau sampai pusaka itu jatuh ke tangan raja negeri lain, maka lenyaplah nama Kerajaan Cadas Putih yang kita cintai ini. Sudah menjadi peraturan tertulis, siapa pun yang memegang Tongkat Pualam Putih, maka ia mempunyai peluang menjadi penguasa negeri ini," jawab patih itu lagi dengan wajah sedih.

Prabu Aria Winata memang masih sangat muda dan belum lama menduduki tahta ayahnya yang mangkat setengah tahun lewat. Itulah sebabnya, mengapa ia belum begitu banyak mengetahui masalah-masalah yang berkaitan dengan kerajaan.

"Tapi, Paman Patih. Bukankah kita masih memiliki balatentara tangguh untuk mempertahankan negeri ini? Dan rasanya, tidak mudah bagi kerajaan-kerajaan lain untuk menaklukkan Kerajaan Cadas Putih!" sergah Prabu Aria Winata dengan suara mantap.

"Ampun, Gusti Prabu. Menurut sepengetahuan hamba, dengan lenyapnya tongkat pusaka itu berarti kehancuran bagi negeri kita. Menurut cerita ayah hamba almarhum, pada beberapa puluh tahun yang lalu hal ini pun sudah pernah terjadi. Dan seperti yang hamba katakan tadi, negeri yang dahulunya bernama Kerajaan Muara Bumi mengalami kehancuran. Tapi, hal itu masih dapat dihindari bila secepatnya mencari pusaka itu. Hamba rasa, pusaka itu akan dapat ditemukan dengan mengerahkan ketiga pasukan inti Kerajaan Cadas Putih," usul patih itu, menutup ceritanya.

"Maksud, Paman Patih..., Pasukan Garuda Hitam, Garuda Perak, dan Garuda Emas?" tanya Prabu Aria Winata menegasi.

"Benar, Gusti Prabu. Hamba rasa, hanya ketiga pasukan itulah yang akan dapat menunaikan tugas berat ini dengan baik."

"Baiklah, Paman Patih. Akan segera kuperintahkan ketiga pasukan itu untuk menyebar ke seluruh pelosok negeri." Setelah berkata demikian, Prabu Aria Winata membubarkan pertemuan pagi hari itu.

********************

Siang ini matahari memancarkan sinarnya yang begitu terik. Sinarnya yang kuning keemasan terasa lianas menyengat permukaan kulit. Hembusan angin pun, terasa hangat menerpa wajah. Saat itu, pintu gerbang Kerajaan Cadas Putih terbuka lebar. Puluhan kelompok penunggang kuda tampak bergerak berpencaran ke segala penjuru. Mereka tak lain adalah, Pasukan Tiga Garuda yang menjadi tulang punggung kekuatan Kerajaan Cadas Putih. Dan kini mereka diberi tugas untuk mencari pusaka Tongkat Pualam Putih yang merupakan tongkat kebesaran sekaligus keramat bagi kerajaan itu.

Ketiga pasukan inti yang beranggotakan hampir mencapai dua ratus orang segera menyebar. Agar pencarian benda pusaka yang hilang Itu tidak menyolok, para anggota pasukan menyamar sebagai kaum rimba persilatan. Hal itu dilakukan agar mereka bisa leluasa bergerak. Apalagi, pusaka itu memang diperebutkan oleh kerajaan lain. Bukan tidak mungkin, bila hilangnya pusaka itu terdengar oleh kerajaan lain akan lebih memperkeruh suasana.

Pasukan Garuda Hitam yang memiliki anggota enam puluh orang dan rata-rata berusia sekitar tiga puluh tahun, memecah menjadi tiga kelompok. Tiap kelompok dipimpin seorang perwira berusia empat puluh tahun. Mereka bergerak menuju ke tiga penjuru. Kelompok pertama yang dipimpin seorang perwira bernama Jaya Prana bergerak menuju ke arah Barat. Derap kaki kuda dua puluh orang itu terdengar bergemuruh, dan meninggalkan kepulan debu yang membumbung tinggi ke angkasa.

Jaya Prana memimpin kedua puluh orang anggotanya menuju Desa Gedangan yang letaknya cukup jauh dari kotaraja. Sikap perwira berusia empat puluh tahun itu terlihat gagah dan penuh percaya diri. Sebaris kumis tebal yang melintang, membuat wajahnya semakin angker dan berwibawa. Menilik dari gerak-geriknya, jelas kalau Jaya Prana memiliki kepandaian tinggi. Hal itu memang patut diakui, karena ia termasuk salah seorang pemimpin Pasukan Garuda Hitam yang sangat terkenal kegagahannya.

Dan kini puluhan penunggang kuda itu pun mulai menginjak perbatasan Desa Gedangan. Itu bisa diketahui dari adanya sebuah tiang batu setinggi orang dewasa yang terpancang di tepi kananjalan. Sebelum memasuki perbatasan, perwira gagah itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai isyarat kepada yang lainnya untuk berhenti.

"Ingat! Tidak ada seorang pan yang bisa bertindak seenaknya tanpa seizinku. Usahakan untuk menghindari keributan. Mengerti?!" tegas Jaya Prana seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan sinar mata tajam.

"Mengerti, Kakang," sahut kedua puluh orang anggota itu sambil menganggukkan kepala. Satu keistimewaan ataupun ciri dari ketiga pasukan inti Kerajaan Cadas Putih, adalah bebasnya panggilan antar mereka. Dalam Pasukan Garuda Hitam, Garuda Perak, maupun Garuda Emas tidak ada perbedaan jabatan. Karena, para anggota ketiga pasukan inti itu rata-rata setingkat dengan pangkat seorang perwira menengah kerajaan. Sehingga, mereka memanggil pimpinan cukup dengan kakang saja. Sedangkan di antara para anggota sendiri, biasanya memanggil nama saja.

Setelah dirasakan cukup memberi nasihat-nasihat lainnya, rombongan itu pun kembali bergerak memasuki mulut Desa Gedangan. Lari kuda mereka diperlambat agar tidak terlalu menarik perhatian penduduk. Jaya Prana menghentikan kudanya di depan sebuah kedai makan yang cukup besar dan terlihat sepi pengunjung. Hanya ada empat orang yang terlihat tengah menikmati hidangan. Setelah menambatkan kuda pada sebuah tiang kayu yang terdapat di depan kedai, Jaya Prana melangkah masuk mendahului yang lainnya. Lalu, dipesannya makanan dan minuman kepada pelayan setengah tua yang tergopoh-gopoh datang menyambutnya.

Sedangkan kedua puluh orang lainnya sudah mengambil tempat masing-masing. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan itu membuat perut mereka terasa lapar. Dan ketika makanan sudah dihidangkan pelayan, mereka santap dengan lahapnya. Tengah para anggotanya sibuk dengan hidangan masing-masing, Jaya Prana melangkahkan kakinya mendekati pemilik kedai. Tampak lelaki gagah itu berbisik-bisik sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya. Sepertinya, ia tengah menanyakan sesuatu. Namun si pemilik kedai terlihat menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah ketololan.

Karena tidak mendapat keterangan sebagaimana yang diinginkan, Jaya Prana bergegas kembali ke mejanya. Setelah semua anggota pasu- kannya menyelesaikan hidangan, lelaki gagah itu pun segera mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Rombongan berkuda itu pun kembali bergerak melintasi jalan utama Desa Gedangan. Begitu tiba di luar desa, kuda-kuda tunggangan itu segera dipacu tepat Kepulan debu membumbung tinggi mengiringi kepergian mereka.

********************

TIGA

Pagi baru saja menyapa bumi. Kicau burung saling bersahutan menyemarakkan suasana yang cerah itu. Hembusan angin yang bersilir lembut, terasa segar menerpa tubuh.

Di bawah siraman hangatnya sinar matahari pagi, tampak serombongan penunggang kuda bergerak lambat menyusuri jalan berbatu. Seorang lelaki gagah bertubuh gemuk dan bercambang bauk duduk dengan punggung lurus di atas kudanya yang berada paling depan. Sikapnya terlihat angkuh, menunjukkan sikap seorang pemimpin. Jelas kalau lelaki itu merupakan pemimpin rombongan berkuda itu.nRombongan itu terus bergerak maju perlahan menuju sebuah bangunan yang sekelilingnya dibentengi dinding kayu bulat dan kokoh. Di atas sebuah pintu gerbang, terdapat papan kayu yang cukup lebar.

"Perguruan Tinju Selatan...," bibir tebal lelaki gemuk bercambang bauk itu bergerak-gerak membaca papan nama yang tergantung di atas pintu gerbang.

"Hoiii..., Kisanak! Siapa kalian...? Apa maksudmu mendatangi perguruan kami?!" teriak seorang lelaki berkumis tipis dari atas tempat jaganya. Sementara itu penjaga yang lainnya hanya memandang dengan kening berkerut Sepertinya, ia merasa heran melihat kedatangan rombongan penunggang kuda itu.

"Aku adalah salah seorang sahabat Tinju Sakti dari Selatan! Bukalah pintu gerbang ini, dan antarkan kami menemui beliau!" teriak lelaki gemuk bercambang bauk lebat itu menyahuti.

"Sebutkan nama dan julukanmu...!" pinta penjaga itu lagi, sebelum meluluskan permintaan kepala rombongan berkuda itu.

"Aku Juraga! Gurumu lebih mengenal julukanku sebagai Harimau Bukit Munjul.Sudahlah! Cepat laporkan dan jangan banyak tanya lagi!" jawab Harimau Bukit Munjul mulai kesal atas pertanyaan penjaga itu yang dianggapnya bertele-tele.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara berderak keras ketika pintu gerbang Perguruan Tinju Selatan dibuka dari dalam. Sedangkan salah seorang murid perguruan itu sudah berlari untuk melaporkan kedatangan rombongan itu kepada gurunya.

Juraga atau lebih dikenal berjuluk Harimau Bukit Munjul, membawa rombongannya memasuki halaman perguruan itu. Mereka terus bergerak menuju balai utama perguruan dengan diantar oleh salah seorang penjaga pintu gerbang perguruan. Begitu seluruh rombongan penunggang kuda itu memasuki halaman depan perguruan, mendadak saja lelaki yang berjuluk Harimau Bukit Munjul itu melompat turun dari punggung kudanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kanannya bergerak menampar ke arah kepala murid Perguruan Tinju Selatan yangmengantarkannya.

Rupanya orang yang diserang Juraga itu cukup tangkas. Begitu merasakan ada sambaran angin kuat dari belakang, lelaki berkumis tipis itu menoleh. Melihat datangnya tamparan yang mengandung tenaga dalam kuat itu, cepat-cepat kakinya melangkah dua tindak ke samping dengan mendoyongkan tubuhnya membentuk kuda-kuda rendah.

"Hei! Apa-apaan ini...? Mengapa...? Ugkh...!"

Belum lagi laki-laki berkumis tipis itu me- nyelesaikan pertanyaannya, sebuah hantaman mendarat telak pada batang lehernya. Akibatnya orang itu terpelanting dan menjerit keras. Dari suara berderak keras yang ditimbulkan pukulan sisi telapak tangan miring Juraga, jelas kalau tulang leher orang itu langsung patah seketika itu juga. Melihat dari darah segar yang mengalir lewat mulutnya dan sepasang matanya yang mendelik lebar, sudah dapat dipastikan kalau orang itu telah tewas akibat pukulan Harimau Bukit Munjul.

"Hei?! Apa maksudmu...? Mengapa kau membunuh kawan kami..?" teriak salah seorang murid sambil berlari ke arah tempat itu bersama belasan orang murid lainnya. Dan dalam sekejap saja, seluruh anggota rombongan berkuda itu telah terkepung puluhan murid Perguruan Tinju Selatan yang memandang marah.

"Ha ha ha...! Dengarlah, Tikus-tikus Busuk! Hari ini, Pasukan Garuda Emas akan menyapu bersih Perguruan Tinju Selatan!" ancam Juraga sambil tertawa terbahak-bahak.

"Apa kesalahan kami, Kisanak? Mengapa kau sedemikian tega menjatuhkan tangan kejam kepada salah seorang murid kami? Bukankah kalau ada persoalan bisa dibicarakan baik-baik?" tegur seorang lelaki bertubuh tegap dan memiliki wajah gagah.

"Sudahlah, Kakang. Mengapa mesti bertanya lagi? Jelas orang-orang ini hendak mencari perkara. Lebih baik beri mereka pelajaran agar lain kali tidak memandang rendah Perguruan Tinju Selatan. Kalau tidak begitu, aku yakin mereka akan semakin kurang ajar terhadap kita," selak seorang murid tak senang. Kemarahan hati murid itu masih dapat ditahan, karena adanya lelaki tegap yang merupakan salah seorang tokoh perguruan itu.

"Betul, Kakang. Tunggu apa lagi...?"

"Kekejaman si brewok itu sudah melewati batas!" Ucapan murid-murid berhasil juga memancing amarah lelaki gagah itu. Wajahnya yang semula tenang, terlihat agak menggelap. Sepasang matanya yang semula menyiratkan kewibawaan, berubah berkilat menyimpan api kemarahan.

"Cepat katakan! Apa alasanmu membunuh murid kami?" geram lelaki gagah itu sambil mengepal jari-jari tangannya hingga memperdengarkan bunyi gemeretak nyaring.

"Kalian orang rimba persilatan telah membuat kami susah! Salah seorang tokoh rimba persilatan telah mencuri sebuah pusaka berharga dari gudang istana. Dan akibat perbuatan tokoh itu, kami tidak boleh kembali ke istana sebelum menemukan benda pusaka keramat itu. Kalian tahu, apa hukumannya kalau tugas kami gagal? Hukuman pancung yang akan diterima apabila berani kembali dengan tangan hampa. Akibat kejadian ini, aku jadi benci terhadap orang-orang rimba persilatan! Kalian tentu tahu, betapa beratnya tugas yang harus kami pikul ini? Nah, sebelum menerima hukuman pancung itu, akan ku basmi seluruh kaum rimba persilatan yang kutemui. Jelas?!" bentak Juraga dengan wajah bengis.

"Kisanak! Sadarkah kalau perbuatanmu ini adalah tindakan bodoh? Kalau perbuatanmu ini diteruskan, maka kemarahan seluruh kaum rimba persilatan yang ada di muka bumi ini akan terbangkit! Dan akibatnya, akan kau rasakan sendiri kelak!" sahut lelaki bertubuh tegap itu semakin geram mendengar keterangan Juraga.

Sadar kalau ucapan Harimau Bukit Munjul itu bukan sekadar gertakan kosong belaka, senjatanya segera diloloskan, siap menghadapi ke- mungkinan yang akar terjadi. Saat itu, para penunggang kuda yang mengaku dari anggota Pasukan Garuda Emas sudah berlompatan turun. Masing-masing juga sudah melolos senjata, siap menghadapi pertarungan.

Namun sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, terdengar bentakan nyaring yang mengguntur. Kemudian, disusul berkelebatnya sesosok tu- buh tinggi kurus yang mendaratkan kakinya di tengah arena itu.

"Tahan...!"

Hebat sekali akibat bentakan yang didorong tenaga dalam tinggi itu. Kedua belah pihak yang semula siap membunuh, bergerak mundur sambil menahan napas melindungi guncangan pada bagian dalam dada mereka. Beberapa orang murid yang belum kuat tenaganya, terhuyung ke belakang dengan wajah pucat pasi.

"Guru...!"

Puluhan orang murid Perguruan Tinju Selatan langsung menjatuhkan dirinya berlutut Dan memang, orang tinggi kurus yang baru tiba Itu tak lain adalah Tinju Sakti dari Selatan yang menjadi Ketua Perguruan Tinju Selatan.

Lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahun itu mengerutkan keningnya ketika melihat salah seorang muridnya sudah tergeletak tanpa nyawa. Tenang sekali kakek itu membungkuk, memeriksa luka yang menyebabkan kematian muridnya itu.

"Pukulan keji...! Siapa yang melakukan perbuatan Ini?" tanya orang tua itu. Dia kemudian bergerak bangkit sambil melepaskan pandangan ke arah Juraga dan rombongannya. Sepasang mata tua yang berkilat menggetarkan itu berhenti di wajah bercambang bauk lebat milik Juraga.

"Kaukah yang telah membunuh muridku, Kisanak? Siapakah kau sebenarnya?" tanya Tinju Sakti dari Selatan. Kening laki-laki tua itu tampak berkerut Dari nada pertanyaannya, jelas kalau dia sama sekali tidak mengenal Harimau Bukit Munjul.

"Tunggu apa lagi? Ayo, kita musnahkan perguruan ini!" Tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Ketua Perguruan Tinju Selatan, Juraga memerintahkan anggotanya untuk maju menyerang. la sendiri juga sudah melompat menyerang orang tua itu dengan ditemani salah seorang anggotanya.

"Hei, tunggu...!" cegah Tinju Sakti dari Selatan sambil melompat mengelakkan serangan kedua orang lawannya. Tangan orang tua itu bergerak mengibaskan dua buah senjata yang menyambar ke arah tubuhnya.

Takkk! Takkk!

Juraga dan kawannya terdorong mundur akibat tangkisan ujung baju lawannya. Bagaikan seekor ular hidup, ujung lengan baju Tinju Sakti dari Selatan terus bergerak meliuk dan mematuk pergelangan kedua orang lawan yang memegang senjata.

Bettt! Bettt!

Namun, kedua lawan Ketua Perguruan Tinju Selatan itu pun ternyata bukan orang sembarangan. Serangan yang dilakukan orang tua itu dengan mudah dapat dielakkan. Bahkan langsung melancarkan serangan balasan yang tidak kalah ganas dan berbahayanya. Tak pelak lagi, pertarungan pun berlangsung sengit. Tubuh ketiga orang itu bergerak cepat melancarkan serangan ganas dan mengandung tenaga dalam kuat. Sebentar saja, kedua belah pihak sudah mengeluarkan ilmu andalan masing- masing.

Anggota rombongan Juraga mengamuk hebat menghadapi keroyokan puluhan orang murid Perguruan Tinju Selatan. Sembilan belas orang lelaki muda yang mengaku dari Pasukan Garuda Emas itu memang rata-rata memiliki kepandaian sangat tinggi. Sehingga dalam beberapa jurus saja, delapan orang murid Perguruan Tinju Selatan telah menggeletak roboh mandi darah.

Tentu saja kejadian itu membuat empat orang murid utama Tinju Sakti dari Selatan menjadi penasaran. Terutama orang yang tertua. Dia adalah laki-laki tegap berwajah gagah. Namanya Samala. Dengan kemarahan yang menggelegak, Samala mengayun senjatanya yang berputar menimbulkan deru angin keras.

Trang! Trang!

Dua kali ayunan senjata Samala berhasil dipukul mundur salah seorang lawan. Lelaki tegap itu terkejut bukan main ketika telapak tangannya terasa kesemutan akibat tangkisan lawan. Hal itu menyadarkannya untuk bertindak lebih hati-hati dalam melancarkan serangan-serangan berikut.

"Haiiit..!"

Dibarengi teriakan nyaring melengking, Samala kembali menerjang lawan yang berkumis seperti tikus itu. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga membentuk gulungan sinar yang membungkus tubuhnya.

Wrrr! Wrrr!

"Hmh...!" Terdengar. dengusan mengejek dari orang berkumis seperti tikus itu Jelas sekali kalau dia sangat memandang rendah Samala. Begitu tusukan ujung pedang Samala meluncur mengancam lambungnya, orang itu menggeser kaki kanan ke depan seperti hendak menyambut serangan itu.

Samala terbelalak heran, dan juga girang melihat gerakan lawannya. Biasanya, orang akan bergerak mundur dan menjauhi senjatanya untuk mengelak. Tapi, orang itu justru melakukan hal kebalikannya. Tentu saja hal itu terasa aneh dan asing bagi lelaki bertubuh tegap itu.

Wuttt!

Pada saat ujung pedang Samala hampir menghunjam di lambung lawan, mendadak saja tubuh lelaki berkumis seperti tikus itu berputar bagai gangsing. Gerakannya dibarengi pula oleh sambaran pedang yang bergerak dari bawah ke atas.

Wuttt! Brettt!

"Aaakh...!" Gerakan lawan yang cepat dan tak terduga itu, membuat Samala tak sempat lagi menghindar. Tubuh lelaki tegap itu melintir tersambar pedang lawan. Luka memanjang dari lambung ke dada seketika tercipta, dan tampak cukup dalam. Darah segar pun mengalir membasahi celana dan pakaiannya. Belum lagi Samala dapat memperbaiki sikapnya, pedang di tangan lawan kembali melun- cur lurus menuju jantung.

Cappp!

"Aaargh...!" Terdengar jerit kematian yang melengking merobek angkasa, disusul robohnya tubuh Samala yang bermandikan darah segar. Tokoh utama Perguruan Tinju Selatan itu tewas seketika.

"Keparat, kubunuh kau...!" Salah seorang murid utama lainnya yang melihat kejadian itu nampak begitu murka. Saat itu juga tubuhnya meluruk disertai putaran pedang yang mengaung dahsyat.

"Hmh..." Melihat datangnya serangan lawan, lelaki berkumis seperti tikus itu hanya bergumam lirih. Seperti halnya ketika menghadapi serangan Samala, tubuh orang itu kembali meluncur maju seperti hendak menyambut serangan lawan dengan tubuhnya. Gerakan yang dilakukan si kumis tikus itu, tentu saja membuat lawannya menjadi girang. Maka kekuatannya segera ditambah. Maksudnya agar dapat membunuh lelaki berkumis seperti tikus itu dengan sekali tusuk.

Bibir laki-laki berkumis seperti tikus itu tersenyum mengejek. Dia merasa telah berhasil menipu lawannya yang jelas-jelas telah kehilangan pertahanan diri itu. Maka ketika ujung pedang lawan hampir menyentuh kulit tubuhnya, tahu-tahu saja laki-laki berkumis seperti tikus itu menjatuhkan tubuh ke tanah. Gerakan yang tak terduga itu masih dibarengi tusukan ujung pedang ke tenggorokan lawan.

Cappp!

"Eeegkh...!" Ujung pedang yang menancap sedalam sejengkal itu cepat ditarik kembali. Berbarengan dengan gerakan menarik itu, tubuh laki-laki berkumis seperti tikus itu melenting ke udara disertai babatan pedang dari atas ke bawah.

Crakkk!

Kembali terdengar raung kematian yang menyayat, disusul suara berdebuk tubuh terbanting di atas tanah. Adik seperguruan Samala pun tewas berlumuran darah di tangan laki-laki berkumis seperti tikus yang memiliki kepandaian tinggi dan aneh itu.

Saat itu, pertarungan yang berlangsung antara Tinju Sakti dari Selatan melawan Juraga dan seorang anggotanya masih berlangsung sengit Tokoh sakti berusia enam puluh tahun itu mengamuk hebat. Sepasang tangannya bergerak cepat menghamburkan serangan ganas dan mematikan.

"Adi Lambit, awas...!" tiba-tiba saja Juraga berseru keras memperingatkan kawannya.

Tapi sayang, peringatan Juraga terlambat! Pukulan maut yang dilancarkan Ketua Perguruan Tinju Selatan itu telah mendarat di tubuh Lambit.

Bukkk! Desss!

Lelaki bertubuh sedang yang dipanggil Lambit itu terlempar akibat dua buah pukulan keras yang bersarang di dada dan perutnya. Darah segar mengucur deras dari telinga dan mulut, mengiringi kematian Lambit Dua pukulan keras Tinju Sakti dari Selatan, telah mengantarkan laki-laki bertubuh sedang itu ke neraka.

"Adi Lambit..!"

Juraga berteriak parau ketika melihat tubuh kawannya diam tak bergerak. Bagaikan orang linglung, laki-laki bercambang bauk itu melangkah mendekati mayat kawannya. Tak dihiraukannya lagi Tinju Sakti dari Selatan yang menatap heran. Untuk beberapa saat lamanya, Ketua Perguruan Tinju Selatan itu hanya berdiri memandangi ting- kah Juraga yang menurutnya aneh.

"Ada hubungan apa sebenarnya antara Juraga dengan orang bernama Lambit itu? Mengapa ia nampak demikian terpukul atas kematian kawannya?" pikir Tinju Sakti dari Selatan tak habis mengerti. Tapi orang tua itu tidak bisa lama-lama memikirkannya. Karena saat itu, Juraga sudah bangkit dengan wajah gelap. Dari sorot matanya, nampak jelas gumpalan api dendam yang terasa akan membakar tubuh Ketua Perguruan Tinju Selatan.

"Bangsat kau, Orang Tua! Kematian adik seperguruanku ini hanya dapat ditebus dengan darahmu!" desis Juraga penuh dendam. Kematian Lambit yang ternyata adalah adik seperguruannya itu, jelas membuatnya demikian mendendam. Sepertinya, Juraga sangat menyayangi adik seperguruannya yang tewas di tangan Tinju Sakti dari Selatan.

"Jangan timpakan kesalahan itu kepadaku, Kisanak. Bukankah kau sendiri yang mencari penyakit? Dan kalau kau mau berpikir sedikit, sebenarnya kematian adik seperguruanmu itu adalah karena ulahmu sendiri. Nah! Makilah dirimu sendiri! Atau kalau ingin membuat arwah adik seperguruanmu itu tenteram, bunuhlah dirimu sendiri. Temani arwahnya biar tidak kesepian!" sahut Tinju Sakti dari Selatan dengan tidak kalah geramnya. Dan memang, ia pun sudah terbangkit amarahnya melihat mayat-mayat muridnya bergelimpangan bermandikan darah. Ucapan orang tua itu bagai api yang semakin mengobarkan kemurkaan Harimau Bukit Munjul. Wajah lelaki gemuk bercambang bauk itu berkerut-kerut menahan hawa marah yang terasa akan meledakkan dadanya.

"Hm.... Dikira aku tidak bisa membunuhmu seorang diri, Orang Tua! Rupanya kau belum kenal Harimau Bukit Munjul! Bersiaplah! Rasakan, betapa kerasnya cakaranku!" ancam Juraga seraya melempar senjatanya ke tanah begitu saja.

"Hmh...!" Disertai geramannya yang terasa menggetarkan isi dada, Harimau Bukit Munjul mendorongkan kedua tangannya yang telah membentuk cakar ke atas kepala. Terdengar helaan napas berat dan panjang yang keluar dari hidung dan mulutnya.nJari-jari tangan yang berbentuk cakar harimau itu tampak bergetar, menandakan betapa kuatnya tenaga yang terhimpun di dalamnya.

"Heaaah...!"

Sambil membentak keras, Harimau Bukit Munjul menurunkan kedua tangan sehingga bersilangan di depan dada. Kemudian tangannya dibuka sambil menarik kaki kanan ke belakang dengan kuda-kuda rendah namun kokoh. Sikap Juraga tak ubahnya seekor harimau yang siap menerkam mangsa.

Orang tua berusia enam puluh tahun itu memandang gerakan lawannya dengan kening berkerut dalam. Meskipun ia memang tidak mengenal orang yang berjuluk Harimau Bukit Munjul itu, namun menilik dari gerakannya, jelas kalau lelaki gemuk itu tidak bersungguh-sungguh ketika melawannya tadi.

"Haaah...!" Tinju Sakti dari Selatan membentak keras menggelegar. Bentakan yang dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi itu sempat membuat dada Juraga bergetar untuk sesaat. Apalagi ketika Ketua Perguruan Tinju Selatan itu memutar kedua tangannya dengan kecepatan tinggi. Tinju Sakti dari Selatan memang tidak memusingkan, apakah mengenal orang itu atau tidak. Sekarang ini yang terpenting adalah, menundukkan orang itu secepatnya sebelum murid-muridnya habis dibantai teman-teman lelaki gemuk itu.

Juraga benar-benar terkejut melihat sepasang tangan lawan bagaikan menjadi banyak. Belum lagi, sambaran angin yang ditimbulkannya terasa demikian kuat menerpa tubuhnya. Jelas, julukan Tinju Sakti dari Selatan yang disandangnya bukan sekadar julukan kosong belaka. Namun Ju- raga tidak mau menunjukkan kekagumannya, karena hal itu akan membuat dirinya dipandang remeh lawan.

"Tunjukkan 'Tinju Sakti'mu, Orang Tua...!" bentak Juraga keras, sambil meluruk ke arah lawan dengan kecepatan tinggi.

Wuttt! Wuttt!

Sambaran angin yang ditimbulkan gerakan kedua tangan Harimau Bukit Munjul menderu-deru dahsyat Sepasang cakar yang mengandung kekuatan hebat itu bergerak cepat, ganas, dan mematikan. Tinju Sakti dari Selatan mendoyongkan tubuhnya ke kanan sambil melepaskan sebuah pukulan ya menderu tajam. Hebat dan tak terduga serangan yang dilakukan orang tua itu. Akibatnya, Juraga yang tubuhnya tengah doyong ke depan karena serangannya berhasil dielakkan lawan, terpaksa membanting tubuhnya ke kanan. Kemudian, langsung dilepaskannya sebuah tendangan kilat yang menyambar lambung Ketua Perguruan Tinju Selatan.

Bettt!

Rupanya gerakan Juraga telah diperhitungkan lawannya. Buktinya orang tua itu menarik mundur kaki kanannya yang dibarengi tepisan telapak tangan kirinya disertai pengerahan tenaga sepenuhnya. Hal itu dimaksudkan, sekaligus untuk meremukkan tulang telapak kaki Juraga.

Plak!

"Akh...!" Tubuh Juraga yang memang dalam keadaan kurang memungkinkan itu, terlempar sejauh dua batang tombak. Untunglah tenaga dalamnya yang sudah cukup tinggi itu dikerahkan ketika melakukan tendangan tadi Kalau tidak, tentu tulang telapak kakinya telah patah akibat tangkisan yang amat kuat itu. Meskipun tidak sampai mengalami patah tulang, namun jelas Juraga cukup menderita akibat tangkisan lawannya tadi. Ia berusaha untuk berdiri walaupun kakinya terpincang-pincang. Wajahnya terlihat menyeringai menahan sakit.

Di pihak lain, Tinju Sakti dari Selatan pun bukan tidak merasakan kekuatan tenaga lawan. Buktinya telapak tangannya terasa nyeri. Tentu saja orang tua itu diam-diam merasa terkejut dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Harimau Bukit Munjul. Bahkan, kuda-kudanya pun sempat tergempur. Padahal, saat menangkis tadi, sikap kuda-kudanya sudah sangat kokoh. Tapi, ternyata ia masih juga terdorong mundur sampai sejauh enamlangkah. Saat itu, empat orang pengikut Harimau Bukit Munjul menghambur ke arah pimpinannya. Wajah mereka terlihat cemas melihat langkah Juraga yang terpincang-pincang.

"Kakang, kau tidak apa-apa...?" tanya salah seorang yang bertubuh kurus namun terlihat tegap.

"Mengapa kau tinggalkan kawan-kawanmu yang lain? Apakah pekerjaan kalian sudah selesai?" tegur Juraga. Sepertinya, dia merasa tidak senang melihat kedatangan empat orang pengikutnya itu. Tapi, wajah yang gelap itu mendadak terang begitu mendengar jawaban lelaki kurus tegap itu.

"Sudah hampir selesai, Kakang. Hanya tinggal beberapa orang saja. Dan kepandaiannya pun tidak seberapa," sahut lelaki kurus itu seraya menarik napas lega melihat wajah pimpinannya yang nampak senang setelah mendengar laporannya.

"Kalau memang begitu, mari kita habisi tua bangka keparat itu," ajak Juraga.

Kemudian, laki-laki bercambang bauk itu melangkah terpincang-pincang mendekati Tinju Sakti dari Selatan. Sementara itu, wajah laki-Laki tua Ketua Perguruan Tinju Selatan itu terlihat pucat menyaksikan murid-muridnya yang tinggal beberapa orang saja. Dan itu pun terlihat tidak dapat bertahan lama.

"Kepung dia...! Gunakan tali...!" perintah Harimau Bukit Munjul.

Seketika, keempat orang pengikutnya segera bergerak mengepung Ketua Perguruan Tinju Selatan. Sedangkan lelaki gemuk itu sendiri sudah melompat kembali menerjang Tinju Sakti dari Selatan.

Ketua Perguruan Tinju Selatan kembali menggeser kakinya menghindari serangan Harimau Bukit Munjul Pukulannya menderu, mengancam tubuh lawannya. Pertarungan pun kembali berlangsung sengit. Meskipun gerakannya terpincang-pincang, ternyata kelihaian Harimau Bukit Munjul tidak berkurang. Serangan-serangannya masih tetap ganas dan berbahaya. Bahkan masih dapat membuat repot lawan

Namun memasuki jurus yang kelima belas, terlihat Tinju Sakti dari Selatan mulai dapat menguasai lawan. Perlahan-lahan Harimau Bukit Munjul mulai terdesak oleh serangan-serangan lawan yang menderu-deru. Maka, lelaki bercambang bauk itu hanya dapat bertahan tanpa mampu membalas.

Wuttt!

Pada saat Harimau Bukit Munjul benar-benar dalam keadaan terjepit, sebuah pukulan lawan meluncur bagai kilat menuju bagian dada sebelah kiri. Melihat sikap lelaki gemuk itu yang nampak gugup, sudah dapat dipastikan kalau pukulan Tinju Sakti dari Selatan akan dapat mencapai sasaran. Namun keempat orang pengikut lelaki gemuk itu rupanya tidak tinggal diam. Melihat pemimpinnya dalam keadaan berbahaya, tali-tali yang semula hanya diputar di atas kepala langsung dilepaskan secara serempak.

Rrrt.. rrrt..!

Tubuh Ketua Perguruan Tinju Selatan yang tengah melancarkan serangan maut itu mendadak tertahan di udara. Empat utas tali yang dilemparkan ke arahnya, tepat melibat kedua tangan dan kaki orang tua itu. Akibatnya kepalan tangannya yang hampir mengenal dada lawan, berhenti dalam jarak tiga jari.

Sepasang mata Harimau Bukit Munjul yang sempat melihat gerakan keempat orang pengikutnya, tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Sepasang tangannya bergerak cepat melakukan dorongan dengan kekuatan sepenuhnya menuju dada lawan.

Wusss! Blaggg!

"Aaakh...!" Hantaman sepasang tangan yang mengandung kekuatan hebat, telak sekali menghantam dada Tinju Sakti dari Selatan. Tubuh orang tua itu tersentak kuat ke belakang. Darah segar menyembur dari mulut pendekar tua itu dan membasahi tanah di bawahnya. Kemudian, tubuhnya ambruk ketanah. Namun, tubuh itu kembali tersentak balik oleh tali-tali yang menjerat kuat lengan dan kakinya. Selagi orang tua itu mengerang menahan sakit, Harimau Bukit Munjul menusukkan sebilah pedang yang dipungut dari tanah. Dan....

Bret! Bret! Crap!

Pedang di tangan lelaki gemuk itu berkali-kali merobek tubuh Tinju Sakti dari Selatan. Darah yang memercik dari luka-luka di tubuh orang tua itu rupanya makin membuat Harimau Bukit Munjul kesetanan. Tanpa rasa perikemanusiaan sedikit pun, pedangnya terus berkelebat bagai hendak mencincang hancur tubuh Ketua Pergu- ruan Tinju Selatan itu.

"Mampus kau, Tua Bangka! Pergilah ke neraka...!" sambil membacokkan pedangnya berulang-ulang, mulut Harimau Bukit Munjul tak henti-hentinya memaki Lelaki gemuk itu baru menghentikan gerakannya setelah merasa puas melihat keadaan musuhnya. Dilemparkannya pedang di tangan, kemudian berbalik meninggalkan tubuh Tinju Sakti dari Selatan yang sudah tak bernyawa lagi.

Para pengikut Harimau Bukit Munjul yang telah berkumpul dan menyaksikan penyiksaan itu, hanya tertawa berderai. Sepertinya, mereka pun ikut merasa puas atas perbuatan pemimpinnya itu. Mereka yang telah membantai habis seluruh murid Perguruan Tinju Selatan, melemparkan tubuh orang tua itu begitu saja tanpa perasaan.

"Ha ha ha...! Biarpun harus kehilangan adik seperguruan yang sangat kusayangi, tapi aku puas! Mari kita tinggalkan tempat ini...," perintah Juraga sambil melangkah ke arah binatang tunggangannya yang meringkik seperti ikut merasa gembira atas keberhasilan majikannya.

Harimau Bukit Munjul yang sudah bersiap meninggalkan tempat itu, mendadak menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja, tubuh lelaki gemuk itu melesat ke arah samping balai utama perguruan itu. Memang, dia sempat melihat dua orang berpakaian kuning yang berkelebat hendak meninggalkan tempat itu.

"Berhenti...!" bentak Harimau Bukit Munjul dengan suara menggelegar mengejutkan.

Dua orang berpakaian kuning yang rupanya sisa murid Perguruan Tinju Selatan itu merasakan lutut mereka jadi lemas. Keduanya jatuh dengan bertopang pada lutut, tak ubahnya seperti orang hendak menyembah.

"Ampunkan kami, Tuan.... Jangan bunuh kami," ratap keduanya, ketakutan.

Harimau Bukit Munjul yang sekali melompat sudah berada di depan kedua orang murid Perguruan Tinju Selatan itu, mengangkat tangan kanannya, siap menghancurkan batok kepala mereka. Namun tangan yang semula siap memukul itu, perlahan turun. Di wajah lelaki gemuk itu terbayang senyum licik. Sepertinya, ia mendapat sebuah gagasan baik dengan adanya kedua orang murid musuhnya yang selamat itu.

"Hm.... Kalau kuberi kebebasan, apa yang akan kalian perbuat sebagai balasannya?" tanya Harimau Bukit Munjul sambil menatap tajam wajah kedua orang Itu yang mengangkat kepalanya.

Mendapat pertanyaan yang tak disangka-sangka Itu, tentu saja membuat kedua orang itu seperti melihat setitik harapan untuk dapat hidup lebih lama. Dengan penuh harap, mereka men- gangkat wajah untuk menatap Juraga.

"Kami..., kami akan bersedia melaksanakan segala perintah Tuan, asalkan tidak dibunuh," sahut salah seorang dari mereka yang berwajah kehitaman.

"Betul, begitu...? Ingat! Kalau kalian berbohong, aku tidak segan-segan meremukkan batok kepala kalian!" tegas Juraga dengan suara berat penuh ancaman maut.

"Betul, Tuan Betul! Kami berjanji dengan taruhan nyawa," sahut orang itu lagi Kawannya ikut pula menguatkan janji lelaki berwajah hitam itu.

"Baik!" ujar Juraga. Setelah memberikan perintah, ia pun berlalu bersama para pengikutnya meninggalkan tempat itu.

********************

DUA

"Heya... heya...!"

Serombongan penunggang kuda berpacu cepat melewati padang rumput luas yang hijau terbentang. Derap langkah kaki kuda seperti hendak meruntuhkan bumi. Tampak tubuh-tubuh penunggang kuda itu berguncang-guncang mengikuti irama lari binatang itu. Ketika kaki-kaki kuda itu melintasi jalan besar yang di kiri kanannya terbentang persawahan luas, seorang penunggang kuda yang berada di tengah, memacu kudanya ke arah depan. Penunggang kuda berusia sekitar tiga pu- luh tahun itu memperlambat lari kudanya, di sebelah lelaki tegap berkumis lebat yang merupakan pimpinan rombongan itu.

"Kakang, tempat ini tidak jauh dari kediaman guruku. Bagaimana kalau kita singgah sebentar? Siapa tahu guruku bisa memberi sedikit petunjuk kepada kita," usul lelaki berbahu lebar itu kepada pemimpinnya.

Lelaki tegap berkumis lebat yang tak lain dari Jaya Prana itu, termangu sejenak. la berpikir, menimbang-nimbang sebelum menjawab usul salah seorang anggota pasukannya itu.

"Betul, Kakang. Apa yang diusulkan Banja rasanya cukup baik. Aku pun sudah lama tidak mengunjungi guruku. Selagi kita berada tidak jauh dari tempat kediaman guruku, tidak ada salahnya kalau singgah sebentar."

Yang mendukung saran lelaki bernama Banja itu adalah seorang lelaki bertubuh kecil namun padat berisi. Menilik dari ucapannya, jelas kalau orang itu adalah saudara seperguruan Banja.

"Baiklah. Tapi, ingat! Tidak boleh ada seorang pun yang membicarakan tugas kita, sebelum aku memulainya. Bagaimana, setuju?" tanya Jaya Prana.

"Baik, Kakang. Kami akan ingat kata-katamu itu," janji Banja dan lelaki bertubuh kecil padat yang bernama Gandira. Wajah mereka tampak berseri ketika mendengar jawaban yang melegakan hati itu.

"Ayo, kalian berdua di depan sebagai penunjuk jalan," ajak Jaya Prana lagi kepada Banja dan Gandira.

"Baik," jawab mereka serempak.

Banja dan Gandira memacu kudanya ke depan dan membelokkannya ke kanan ketika melintasi jalan bercabang tiga. Jalan yang dilewati kali ini terlihat rata dan mulus. Tidak seperti jalan semula yang dipenuhi batu kerikil. Sehingga, perjalanan pun semakin mudah dan cepat. Dan kini, tampaklah sebuah bangunan besar yang dikelilingi kayu-kayu bulat dan kokoh.

Bangunan itu menyerupai sebuah perguruan silat. Dengan hati berdebar penuh kegembiraan karena hendak bertemu dengan saudara-saudara seperguruan dan gurunya, kedua orang lelaki gagah itu memacu kudanya agar lebih cepat lagi. Begitu tiba di depan pintu gerbang yang terdapat sebuah papan nama bertuliskan 'Perguruan Tinju Selatan", Banja dan Gandira tampak saling berpandangan bingung.

"Kau tidak merasa aneh dengan kesunyian ini, Banja...?" tanya Gandira memandang saudara seperguruannya dengan wajah cemas. Sepertinya, lelaki bertubuh kecil padat itu merasa kan sesuatu yang ganjil.

"Ya. Seingatku, pos penjagaan di atas itu tidak pernah ditinggalkan. Tapi, mengapa kali ini tidak terlihat seorang pun? Aneh!" gumam Banja seraya mengerutkan keningnya dengan wajah heran.

"Ada apa, Banja, Gandira...? Mengapa kalian tidak lekas memberitahukan kedatangan kalian?" tegur Jaya Prana ketika melihat kedua orang itu nampak bingung dan ragu.

"Entahlah, Kakang. Sepertinya perasaanku tidak enak. Sebab, tidak biasanya perguruan terlihat sunyi. Tidak ada sebuah suara pun yang terdengar. Padahal, sore hari begini biasanya murid-murid berlatih di halaman depan," sahut Banja tak bersemangat.

"Ah! Kalian ini ada-ada saja. Siapa tahu di dalam sedang ada kesibukan, sehingga semua murid berkumpul di dalam balai utama perguruan. Lebih baik kalian panggil saja dari sini kuat-kuat," usul Jaya Prana yang tidak sabar melihat keraguan kedua orang itu.

"Hoiii...! Buka pintu...! Kami, Banja dan Gandira datang berkunjung...!"

Banja langsung berteriak begitu mendengar usul yang diajukan pimpinannya itu. Suara lelaki berbahu lebar itu bergema karena didorong tenaga dalam kuat. Sampai agak lama mereka menunggu, tapi tidak juga terdengar sahutan ataupun langkah kaki orang mendatangi tempat itu dari dalam perguruan. Jaya Prana yang merasa tidak sabar itu, segera menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan tenaga dalamnya.

"Hoii..! Buka pintu...!

Teriakan Jaya Prana yang didorong kekuatan tenaga dalam itu terdengar berkumandang jauh dan bergema. Dari suara teriakannya yang jauh lebih kuat daripada teriakan Banja, sudah pasti akan terdengar apabila di dalam bangunan itu memang ada penghuninya.

Banja dan Gandira menarik napas lega ketika terdengar langkah kaki mendatangi dari dalam bangunan itu. Tidak lama kemudian, terden- gar derit keras yang disusul terbukanya pintu gerbang Perguruan Tinju Selatan.

"Mengapa lama sekali kalian membuka pintu ini? Ke mana yang lainnya?" tegur Banja begitu melihat seorang murid berusia sekitar dua puluh tahun lebih, dan berwajah kehitaman. Sedangkan seorang lagi yang bertubuh pendek gemuk, hanya menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Banja dan Gandira.

Banja dan Gandira bergegas turun dari punggung kudanya. Sementara Jaya Prana dan lainnya tetap berada di punggung kuda masing-masing. Setelah meneliti sejenak dan mengenali wajah! Banja dan Gandira, lelaki berwajah kehitaman itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut sambil menangis. Perbuatannya ternyata diikuti lelaki gemuk pendek setelah mengangkat wajahnya dan mengenali kedua orang itu.

"Hei? Ayo bangun...! Guru akan marah besar apabila melihat muridnya menangis seperti anak kecil! Hayo, ceritakan! Ada apa ini sebenarnya? Dan ke mana murid yang lainnya? Di mana pula guru sekarang berada?" Banja yang bersifat lebih pemarah itu memberondong lelaki bermuka kehitaman itu denganpertanyaan-pertanyaan. Lelaki berwajah kehitaman itu mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang masih mengalir turun membasahi pipi. Sejenak hatinya bingung karena tidak tahu, pertanyaan mana yang harus dijawabnya lebih dahulu.

"Semuanya.... Semuanya habis, Kakang Banja.... Perguruan... kita sudah binasa Musnah!" Karena tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Banja, akhirnya lelaki berwajah kehitaman itu mengatakan seadanya yang saat itu terlintas di benak. Kemudian kepalanya kembali tertunduk sedih.

"Apa... apa maksud ucapanmu itu...? Hayo jawab yang benar! Hentikan tangismu!" desak Banja. Banja yang mulai mendapat firasat buruk itu menjadi kalap mendengar jawaban yang tak berujung pangkal Dengan geram, dicekalnya leher baju orang itu dan diangkatnya berdiri secara paksa. Gandira yang memiliki sikap lebih tenang dan sabar, menepuk bahu Banja perlahan dan mencoba menenangkannya.

"Sabarlah, Banja. Kalau cara bertanyamu seperti itu, bagaimana mungkin dapat dijawab dengan benar? Tidakkah kau lihat, betapa batinnya sangat tersiksa oleh kemarahanmu yang tidak pada tempatnya?" tegur Gandira dengan suara halus, namun tegas.

"Benar apa yang dikatakan Gandira itu, Banja. Kalau saja kau bersabar sedikit, aku yakin kita akan memperoleh keterangan yang lebih lengkap dan jelas," Jaya Prana ikut pula menasihati.

"Hhh...!" Banja menghela napas panjang, seolah-olah ingin melepaskan seluruh kekesalan hatinya. Dilepaskannya cekalan pada leher baju lelaki muda berwajah kehitaman itu, kemudian melangkah ke belakang dan menyerahkan persoalan itu kepada Gandira.

Lelaki berwajah gagah yang memiliki bentuk tubuh padat berisi itu tidak menghampiri si muka kehitaman, namun malah mendekati orang yang satunya lagi. Dan memang lelaki bertubuh pendek gemuk itu terlihat lebih tenang daripada kawannya.

"Siapa namamu, Kisanak? Dan apa jabatanmu di Perguruan Tinju Selatan ini?" tanya Gandira dengan suara halus sambil menepuk-nepuk bahu lelaki pendek gemuk itu perlahan.

Melihat wajah orang itu yang agak tenang, jelas kalau cara yang dilakukan Gandira sudah tepat. "Namaku Janaka. Sedangkan kawanku ini bernama Santika. Kami bertugas sebagai pengurus rumah tangga dan sekaligus murid Perguruan Tinju Selatan. Meskipun Kakang berdua tidak mengenal kami, tapi kami berdua telah mengenal Kakang Banja dan Kakang Gandira."

Setelah memperkenalkan diri, lelaki pendek gemuk bernama Janaka itu pun mulai bercerita. Sepanjang ceritanya, seluruh anggota rombongan termasuk juga Jaya Prana, berkali-kali mengeluarkan seruan terkejut. Wajah-wajah mereka nampak pucat dan merah berganti-ganti. Mungkin kalau orang itu tidak bersumpah kalau telah melihat dengan mata kepala sendiri, pasti Jaya Prana dan anggota pasukannya tidak ada yang akan mempercayai cerita Janaka itu.

"Begitulah kejadian yang sebenarnya, Kakang. Tidak satu pun yang kami tambah dan kurangi. Semuanya lengkap dan jelas. Dan kami berani bersumpah untuk mempertaruhkan kebenaran cerita itu, Kakang." Janaka mengakhiri ceritanya, seraya menundukkan wajah dalam-dalam. Seolah-olah dia enggan bertemu pandang secara langsung dengan Gandira. Apalagi sepasang mata lelaki gagah itu nampak menyiratkan kilatan marah dan dendam.

"Kakang! Benarkah Pasukan Garuda Emas tega melakukan perbuatan keji yang diceritakan Janaka ini?" tanya Gandira kepada Jaya Prana. Karena menurutnya, sebagai seorang pimpinan tentu Jaya Prana memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang ketiga pasukan garuda itu.

"Hm.... Sebenarnya sangat sulit dipercaya. Tapi melihat kesungguhan yang terpancar dari sinar mata Janaka, aku mulai percaya meskipun tidak sepenuhnya. Apalagi penggambaran tentang pemimpin yang disebutkan Janaka tadi, aku rasa keterangannya memang benar. Hanya saja, kita tidak boleh langsung terpancing dengan cerita itu. Harus diselidiki dulu kebenarannya sebelum menuduh orang," jelas Jaya Prana hati-hati.

Memang, masalah yang kini tengah diperbincangkan, bisa berubah menjadi masalah besar yang akan membuat Kerajaan Cadas Putih gempar! Itulah, mengapa Jaya Prana lebih suka menyimpannya untuk sementara.

Sedangkan Banja sudah berlari meninggalkan kawan-kawannya. Cerita yang didengar dari Janaka, membuat sekujur tubuhnya gemetar bagai orang terserang demam hebat. Lelaki tegap berbahu lebar itu terus melesat ke belakang balai utama perguruan. Gandira sama sekali tidak mencegah kepergian Banja. Dia tahu, apa yang hendak dilakukan saudara seperguruannya itu.

"Ia hendak membuktikan kebenaran cerita Janaka. Marilah kita ke sana, Kakang. Di belakang balai utama itulah letak kuburan bagi anggota Perguruan Tinju Selatan," jelas Gandira saat melihat tatapan Jaya Prana yang menuntut jawaban. Memang, lelaki tegap berkumis lebat itu tidak mengerti akan tindakan Banja.

Jaya Prana yang masih berada di atas punggung kudanya menarik napas lega setelah mendengar keterangan Gandira. Kemudian kepalanya terangguk. Laki-Laki berkumis lebat itu lalu memberi perintah kepada seluruh anggota pasukan untuk menjalankan kudanya lambat-lambat, mengikuti langkah Gandira, Janaka, dan Santika. Delapan belas orang anggota Pasukan Garuda Hitam mengikuti dari belakang.

Rombongan itu pun bergerak menuju ke belakang balai utama, tempat pemakaman murid-murid dan guru Perguruan Tinju Selatan. Hati Gandira bergetar menahan keharuan yang menyeruak dalam rongga dadanya. Puluhan gundukan tanah yang masih baru dan basah terbentang di depan matanya. Setelah termenung beberapa saat, kakinya melangkah perlahan menghampiri Banja yang saat itu tengah berlutut di samping sebuah gundukan tanah merah. Sudah dapat dipastikan, makam itu pasti tempat gurunya beristirahat panjang.

"Guru...," desah Gandira serak sambil menjatuhkan lututnya di sebelah Banja. "Maafkan keterlambatan kami.... Akibat kelalaian kamilah, hingga nasib buruk ini menimpa Perguruan Tinju Selatan. Ampuni kami, Guru..."

"Guru.... Kami berjanji akan mencari pembunuh keji itu walau sampai ke ujung langit sekalipun! Meskipun untuk itu harus mengorbankan nyawa, kami tak lagi peduli. Dengarlah janji kami ini, Guru. Seluruh arwah saudara kami menjadi saksinya," ucap Banja bergetar penuh dendam. Usai mengucapkan janji di hadapan makam gurunya, kedua orang lelaki gagah itu pun bangkit dan meninggalkan gundukan tanah yang hanya bisa diam membisu.

"Kakang, maafkan kelancanganku. Aku dan Gandira terpaksa harus mengambil jalan ke Selatan. Rasanya kami harus mendapat jawaban atas kejadian ini, langsung dari pimpinan Pasukan Garuda Emas. Tapi Kakang tidak usah cemas. Sepanjang perjalanan, tugas dari Gusti Prabu Aria Winata tetap akan dijalankan," pinta Banja kepada Jaya Prana.

Melihat dari sikap dan tatapan matanya, rasanya keputusan Banja sudah bulat dan tidak mungkin dapat dirubah lagi. Meski oleh pimpinannya sekalipun. "Hm Sadarkah akan ucapanmu itu, Banja? Lupakah kau, siapa kita ini? Coba sebutkan, apa bunyi ikrar kelima dari Pasukan Garuda Hitam?" tegur Jaya Prana dengan kening berkerut tak senang.

Mendengar kata-kata yang jelas-jelas bernada teguran keras itu, Banja maupun Gandira sama-sama menundukkan kepala dalam-dalam. Tak satu bantahan pun yang keluar dari mulut mereka.

"Rupanya kalian berdua benar-benar telah lupa akan bunyi ikrar kelima itu," gumam Jaya Prana ketika melihat sikap kedua orang anggota pasukannya itu.

"Sama sekali tidak, Kakang. Hanya saja, kami merasa tidak enak untuk melibatkan Pasukan Garuda Hitam dalam persoalan ini," sahut Gandira mewakili Banja.

"Hm Kalau begitu, coba sebutkan," pinta Jaya Prana bernada memerintah.

Banja dan Gandira sama-sama mengangkat wajah saling bertukar pandang sejenak. Sesaat kemudian, terdengarlah suara lantang dari mulut mereka.

"Kami Pasukan Garuda Hitam, adalah satu. Setiap persoalan yang menyangkut salah seorang anggota, menjadi tanggung jawab seluruh anggota yang berdiri di bawah bendera Garuda Hitam. Hidup mati, suka dan duka, akan dihadapi bersama,"

"Hm.... Masihkah kalian tidak memahami makna yang tersirat dalam ikrar itu?" tanya Jaya Prana lagi. Kali ini bibirnya menyunggingkan kemenangan.

"Maafkan kami, Kakang. Hanya..."

"Ah, sudahlah! Mari kita berangkat ke Selatan bersama-sama," potong Jaya Prana seraya mengulapkan tangannya. Lelaki berkumis lebat itu mengatupkan rahangnya, pertanda tidak ingin melanjutkan perdebatan kosong itu.

"Terima kasih atas kesediaan Kakang dan kawan-kawan untuk membantu kami. Dengan adanya Kakang, kami yakin persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik," ucap Gandira sambil membungkuk hormat kepada pimpinan yang sangat dihormatinya itu. Perbuatannya pun diikuti Banja.

"Hm.... Kalian berdua ikut bersama kami," ujar Jaya Prana kepada Janaka dan Santika.

"Maaf, Tuanku. Bukannya kami menolak. Tapi, kalau kami berdua ikut pergi, siapa yang akan mengurus makam gum dan juga perguruan ini. Jadi, maafkan kalau terpaksa kami menolaknya," sahut Janaka sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Rasanya alasan mereka bisa diterima, Kakang. Biarlah mereka tinggal untuk mengurus makam guru dan perguruan kami," Banja ikut memperkuat alasan yang diajukan Janaka. Maka, lelaki muda bertubuh gemuk pendek itu menjadi agak lega.

"Baiklah," Jaya Prana akhirnya mengalah. "Ayo kita berangkat."

Rombongan Pasukan Garuda Hitam itu pun bergerak meninggalkan bangunan Perguruan Tinju Selatan.

********************

LIMA

"Aaahhh "

Gadis jelita berpakaian serba hijau itu menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Sinar matahari pagi yang menerobos di antara rimbunan dedaunan, tepat jatuh di wajahnya yang bening dan sejuk. Sejenak ia tergagap, lalu menggosokkan telapak tangan pada sepasang mata berbentuk bulat dan indah miliknya.

"Mengapa Kakang tidak membangunkan aku...?" sungut gadis jelita itu kepada seorang pemuda tampan berjubah putih yang duduk di atas baru tak jauh di sebelahnya.

"Kulihat tidurmu begitu lelap. Jadi, aku tidak tega mengganggumu," sahut pemuda tampan itu seraya tersenyum lembut "Sudahlah. Sekarang, bersihkanlah dirimu. Kau lihat aku sudah menyiapkan hidangan yang istimewa untukmu."

Wajah jelita yang semula cemberut itu, berseri seketika. Tersentuh hatinya melihat perhatian yang demikian besar dari pemuda tampan itu. "Tunggulah, Kakang. Aku tidak akan lama...," ujar gadis jelita itu.

Dia kemudian segera bangkit dan melesat ke arah aliran sungai yang terletak tidak jauh dari tempat itu. Sementara, pemuda tampan berjubah putih itu hanya tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar di wajah si gadis. Tak berapa lama kemudian, gadis jelita itu pun kembali muncul dengan wajah yang lebih segar kemerahan. Geraknya terlihat penuh kemanjaan ketika bokongnya dijatuhkan di depan si pemuda. Disambarnya ayam hutan bakar yang terhidang itu.

Dengan senyum yang makin melebar, pemuda tampan itu pun mengambil ayam bakar yang seekor lagi Kemudian, dinikmatinya sambil tak lepas menatap wajah jelita didepannya. Selesai menikmati hidangan, mereka merapikan diri masing-masing. Kemudian meninggalkan tempat itu. Angin pagi bersilir lembut mengiringi langkah kaki dua orang muda berlainan jenis itu.

"Hei? Ada apa di depan sana...?" gumam si gadis jelita ketika melihat kerumunan orang di depan sebuah bangunan besar. Saat itu, keduanya telah memasuki perbatasan sebelah Barat Desa Malaju.

"Entahlah! Kelihatannya orang-orang itu begitu gembira. Mungkin yang mereka lihat itu adalah sebuah tontonan menarik," sahut pemuda tampan berjubah putih yang tak lain adalah Panji yang berjuluk Pendekar Naga Putih. Kemudian, mereka mempercepat langkah ingin segera mengetahui, apa sebenarnya yang telah dilihat orang- orang itu.

"Ah! Rupanya hanya tukang obat yang berusaha menarik perhatian pembeli dengan mempertontonkan kepandaian silat," ucap gadis jelita yang sudah pasti Kenanga. Suara gadis itu tidak terdengar jelas, karena saat itu orang-orang yang menonton bersorak gembira menyaksikan pertunjukan yang disuguhkan.

Panji hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya. Sepasang matanya kembali beralih ke arena pertunjukan. Saat itu, dua orang yang tengah bertarung di tengah arena terlihat semakin seru dan menarik. Meskipun pertunjukan itu tak lebih hanya sekadar pertunjukan ilmu meringankan tubuh, namun Panji sempat dibuat kagum oleh gerakan-gerakan mereka yang berkesan indah dan menarik.

"Haiiit...!"

Orang bertubuh kurus yang saat itu tengah terdesak, tiba-tiba berseru nyaring sambil berkelit ke kanan seraya melepaskan sebuah pukulan ke iga kiri lawannya yang memiliki tubuh sedikit lebih pendek. Mungkin karena terlalu sibuk dengan serangan-serangannya, orang bertubuh gemuk pendek itu tak sempat lagi menghindar dari pukulan balasan lawan yang sama sekali tidak diduga. Dan akibatnya....

Bukkk!

"Aaakh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh gemuk itu pun terjajar ke belakang disertai jeritannya. Pada bagian iganya yang memang tidak terlindung pakaian itu, terlihat membiru akibat pukulan si tinggi kurus yang cukup keras tadi.

Seorang lelaki setengah baya yang merupakan pimpinan kelompok penjual obat itu, bergegas melangkah ke tengah arena. "Saudara-saudara sekalian! Pertunjukan ini terpaksa dihentikan sejenak. Di sini, akan dipertunjukkan khasiat obat gosok kami. Lihatlah luka bekas pukulan yang diderita kawan kami ini," ujar lelaki setengah baya itu sambil menunjukkan luka memar yang terdapat di iga lelaki gemuk tadi.

Para penduduk Desa Malaju mengangguk-anggukkan kepala setelah menegasi luka yang terlihat agak membiru itu.

"Nah! Luka memar yang telah saudara-saudara saksikan ini, akan lenyap dan tidak lagi terasa sakit apabila sudah diurut dengan obat gosok kami," tegas lelaki setengah baya itu lagi sambil mengangkat botol obatnya tinggi-tinggi.

Setelah berkata demikian, dibukanya penutup botol dan dioleskan cairan dari dalam botol ke tempat luka memar tadi. Kemudian, laki-Laki setengah baya itu mengurutnya dari bawah ke atas sebanyak tiga kali dengan menggunakan ibu jari. Ajaib! Tak lama setelah lelaki setengah baya itu mengoleskan obat gosoknya, luka memar yang semula membiru itu terlihat memudar, untuk kemudian lenyap sama sekali.

"Kemanjuran obat kami sudah terbukti. Sekarang, kami akan mengobati dengan cuma-cuma. Bagi saudara-saudara yang menderita luka memar, luka bakar, dan lain-lainnya, silakan maju ke depan. Tidak usah ragu-ragu! Kami tidak akan memungut bayaran sepeser pun!" tegas lelaki setengah baya itu lagi sambil memamerkan senyumnya.

"Kisanak! Aku tidak yakin akan kemanjuran obat gosokmu itu! Kalaupun kau telah membuktikannya, itu hanya karena keahlianmu memijat. Jadi, bukan karena kemanjuran obat murahan yang kau jual kepada penduduk desa ini," ujar seseorang bertubuh kurus dan berwajah bopeng, bernada hina sekali. Dia kemudian menghampiri si penjual obat.

Tentu saja ucapan kasar yang keluar dari mulut lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu mengejutkan semua orang. Para penduduk yang semula mengerumuni si penjual obat, serentak menyingkir. Sebab dari tingkah laku orang berwajah bopeng itu, dapat diduga kalau ia memang sengaja hendak mencari keributan. Sekejapan mata saja, arena itu pun menjadi sepi. Para penduduk kini berdiri di tepi, hendak melihat kelanjutan perbuatan lelaki berwajah bopeng itu. Sedangkan lelaki setengah baya yang masih berdiri di tengah arena, memandang lelaki tinggi kurus itu dengan kening berkerut. Sepasang matanya nampak berkilat untuk sesaat.

"Tuan," sebut lelaki setengah baya itu tenang. Seketika sinar matanya kembali cerah. "Apa yang Tuan tuduhkan itu sama sekali tidak benar. Kami hanyalah orang bodoh yang mencari nafkah dengan mengandalkan sedikit pengetahuan tentang pengobatan. Dan selama kami menjual obat gosok ini, tak seorang pun yang mengembalikan obat ini. Apalagi sampai menuduh kami sebagai penipu."

"Hm.... Aku tetap tidak mempercayainya!" bentak lelaki berwajah bopeng itu semakin berlagak.

"Saudara-saudara, marilah kita buktikan kemanjuran obat gosok tua bangka penipu ini! Kalau obat ini tidak berhasil menyembuhkan luka akibat pukulanku, itu berarti kalian telah tertipu mentah-mentah!" seru lelaki berwajah bopeng itu dengan lagak sombong, seraya kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lelaki setengah baya yang menjadi terkejut mendengarnya.

"Kisanak" panggil lelaki setengah baya itu datar. Dan memang, ia sudah mulai tersinggung atas sikap lelaki berwajah bopeng itu. Maka, panggilan tuan pun dirubahnya menjadi kisanak. Itu pertanda ia tidak lagi menaruh hormat kepada orang yang jelas-jelas hendak memancing keributan. "Apa untungnya kau mengganggu cara hidup kami? Kalau memang tidak ingin membeli obat gosok ini, silakan pergi dan jangan mengganggu kami."

"Ha ha ha Kau takut ketahuan belangmu rupanya, ya? Tampaknya kau begitu khawatir kalau obat gosokmu itu tidak mampu menghilangkan luka akibat pukulanku? Kalau begitu, kemasilah barang-barangmu dan tinggalkan Desa Malaju ini. Dan, jangan coba berani kembali lagi" si wajah bopeng berbalik mengusir dengan lagak seperti seorang tuan besar yang memerintah kacungnya.

"Ayah! Orang buruk ini sudah keterlaluan menghina kita. Biarlah aku mewakilimu untuk memberi pelajaran kepadanya," pinta seorang gadis manis. Gadis yang semula hanya duduk memperhatikan perdebatan itu, rupanya menjadi tak sabar. Dia segera melangkah ke tengah arena.

Lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu menyeringai bagai serigala lapar. Sepasang matanya yang semula menyipit, terbuka lebar menjelajahi seluruh tubuh gadis itu. "He he he.... Rupanya kau menyimpan kelinci cantik, Tua Bangka...," kata laki-Laki bopeng itu, tanpa melepaskan tatapannya dari wajah dan tubuh si gadis.

Merasakan betapa tatapan lelaki bopeng bagai menelanjangi tubuhnya, seketika merah padam seluruh wajah gadis manis berpakaian merah muda itu. Matanya yang bulat menyiratkan kemarahan.

Srattt!

Selarik sinar putih berkeredep ketika gadis itu melolos sebilah pedang yang tergantung di pinggang. "Manusia ceriwis! Rasakan pedangku...!" bentak gadis berpakaian merah muda itu sambil mengayunkan pedang dengan gerakan menyilang.

Swing!

"Ah...! Galak juga rupanya kau, Ni sanak. Coba kulihat, sampai di mana kepandaianmu!" ujar lelaki berwajah bopeng itu pongah, sambil menarik mundur kaki kanan dengan gerakan tubuh doyong kebelakang. Begitu serangan pedang lewat di depan tubuhnya, tangan lelaki tinggi kurus itu bergerak cepat melakukan cengkeraman ke arah dada kiri gadis itu. Gerakannya terlihat ringan dan tangkas. Jelas, lelaki berwajah bopeng itu bukan orang sembarangan.

Wuttt!

Cengkeraman itu lewat ketika gadis anak penjual obat menggeser kaki kanannya ke samping disertai gerakan tubuhnya. Berbarengan dengan gerakan itu, pedang di tangan kanannya berbalik dan menebas tangan kananlawan. Lagi-lagi lelaki tinggi kurus itu segera menunjukkan kegesitan tubuhnya. Pedang lawan yang bergerak mendatar, hanya lewat di atas kepala ketika tubuhnya meliuk dengan kuda-kuda rendah.

Rasa penasaran akibat kegagalan serangannya tadi, rupanya membuat orang itu penasaran. Terbukti, tangan kirinya kembali meluncur dengan cengkeraman menuju dada kiri gadis itu. Dari caranya menyerang ke arah sasaran yang sama sebanyak dua kali, jelas dia memiliki niat kotor. Gerakan yang cepat dan tak terduga, sempat membuat gadis manis itu menjadi gugup. Meskipun telah berusaha untuk menghindarinya, namun serangan lelaki tinggi kurus itu tetap saja terarah pada sasarannya. Maka....

Brettt!

"Auw...!"

Terdengar bunyi kain sobek ketika cengkeraman lelaki tinggi kurus itu mengenai sasaran. Gadis itu melompat mundur sambil menekap bagian dada kirinya yang terdapat lubang cukup besar. Meskipun hanya sekilas, namun dada berkulit putih yang ranum itu, sempat tertangkap sepasang mata liar milik lelaki berwajah bopeng itu.

"Larsih.... Kau tidak apa-apa...?" tanya lelaki setengah baya itu cemas sambil menyambar tubuh anak gadisnya yang terhuyung ke arahnya.

Gadis manis yang ternyata bernama Larsih itu tidak menyahuti pertanyaan ayahnya. Bahkan hampir saja tangisnya meledak karena rasa malu yang diderita. Wajahnya semakin merah ketika teringat betapa lelaki berwajah bopeng itu sempat meremas dada kirinya. Rasanya, ia lebih suka terpukul daripada harus mendapat hinaan seperti itu.

Lelaki setengah baya yang maklum akan perasaan anak gadisnya, segera memeluk dan membisikkan kata-kata bernada menghibur. "Sudahlah, Larsih. Orang itu bukan lawanmu. Biarlah Ayah yang akan membalasnya. Sekarang kembalilah ke tempatmu. Salinlah pakaianmu dengan yang lain." Setelah berkata demikian, lelaki setengah baya itu melangkah maju mendekati lelaki tinggi kurus yang terlihat tengah menciumi sobekan pakaian Larsih di tangan kirinya.

"Hm Bukan main harumnya tubuh anak gadismu, Pak Tua. Rasanya aku akan senang sekali kalau kau bersedia memberikannya untuk menemaniku selama beberapa malam. Bagaimana, Orang Tua? Apakah kau bersedia?" kata lelaki berwajah bopeng itu tanpa mempedulikan pandangan lawan yang penuh amarah.

"Jaga mulutmu, Kisanak! Meskipun hanya seorang penjual obat jalanan, namun aku bukanlah seorang pengecut! Dan aku akan menjaga anakku dengan taruhan nyawa tuaku ini!"

Setelah berkata demikian, lelaki setengah baya itu menggeser kedua kakinya membentuk kuda-kuda seperti tengah menunggang kuda. Tangan kanannya mengepal di atas kepala. Sedangkan tangan kirinya berada di depan dada dengan jari-jari lurus menghadap keatas.

"Hm.... Rupanya kau lebih suka kalau aku menyeret anakmu secara paksa. Kalau memang itu yang diinginkan, baiklah! Jangan sesali nasib burukmu hari ini," ancam lelaki tinggi kurus itu dengan sepasang bola mata berkilat tajam. Selesai berkata demikian, lelaki berwajah bopeng itu melemparkan sobekan kain di tangan kirinya. Dengan lagak sombong, ia berdiri tegak menghadapi lelaki setengah baya itu tanpa persiapan sedikit pun. Jelas, ia memandang rendah lawannya.

"Haiiit...!"

Dibarengi sebuah teriakan nyaring, lelaki setengah baya itu membuka serangan dengan pukulan-pukulan yang menimbulkan angin berkesiutan.

Bettt! Bettt...!

Serangkaian serangan yang dilancarkan lelaki setengah baya itu, berhasil dielakkan lawan hanya dengan geseran-geseran kaki yang disertai egosan tubuhnya. Sesekali lelaki tinggi kurus itu melakukan tangkisan, yang sekaligus disusul dengan serangan balasan. Sebentar saja mereka telah terlibat pertarungan, yang bagi penduduk Desa Malaju lebih seru dan lebih ramai ketimbang pertarungan dua orang pengikut si penjual obat tadi.

Larsih dan dua orang pembantu ayahnya hanya dapat memandang dengan wajah cemas. Sebab melihat dari jalannya pertarungan itu, jelas kalau lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu memiliki kepandaian di atas kepandaian ayahnya. Kenyataan itu membuat hati mereka diliputi ketegangan.

Sampai saat ini pertarungan telah menginjak jurus yang kedua puluh satu. Dan dalam jurus-jurus selanjutnya, jelas terlihat kalau lelaki setengah baya penjual obat keliling itu terdesak oleh serangan lawan. Bahkan ketika pertarungan mulai menginjak jurus yang kedua puluh empat, serangan-serangan lelaki berwajah bopeng itu terlihat semakin cepat dan ganas. Akibatnya, laki-Laki setengah baya penjual obat itu tidak lagi mempunyai peluang untuk melancarkan serangan balasan. Dia hanya dapat bertarung mundur dan berusaha menghindari kepalan maupun tendangan lawan yang berkali-kali hampir bersarang di tubuhnya.

Bukkk! Desss!

"Hugkh...!" Memasuki jurus yang kedua puluh lima, sebuah pukulan dan tendangan lawan tak dapat lagi dihindari lelaki setengah baya itu. Tubuhnya yang agak gemuk itu, terpental ke belakang diiringi jeritnya.

Brukkk!

Tubuh lelaki setengah baya itu terbanting di atas tanah disertai semburan darah segar yang terlompat dari mulutnya. Sambil mengerang lirih, ia berusaha bangkit berdiri.

"Ayah...!" Larsih langsung menghambur ke arah ayahnya dan berusaha membantu untuk bangkit berdiri. Di wajah gadis manis itu tampak mengalir turun air bening. Rupanya ia tidak sanggup menahan kesedihan melihat keadaan ayahnya yang nampak terluka parah itu.

"Paman...!"

Dua orang lelaki muda yang menjadi pembantu penjual obat pun berlari menghambur ke arah lelaki setengah baya itu. Mereka cepat membantu Larsih yang tengah menolong ayahnya bangkit.

"He he he.... Bagaimana, Orang Tua? Apakah masih tidak bersedia menyerahkan anak ga- dismu kepadaku? Jangan khawatir.... Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Bahkan akan kujadikan istriku yang tercinta," ujar lelaki tinggi kurus itu terkekeh sambil melangkah mendekat

"Cihhh! Siapa yang sudi menjadi istrimu, Manusia Bejat! Lebih baik aku mati daripada menjadi pemuas nafsu iblismu!" seru Larsih sambil meludah dengan perasaan benci.

"Hm.... Kau memang harus dijinakkan lebih dahulu, Betina Liar. Ketahuilah! Tidak ada seorang pun yang bisa menolak keinginan Jerangkong Bukit Karang! Suka atau tidak, kau akan kubawa ke tempat tinggalku!" geram lelaki tinggi kurus yang mengaku berjuluk Jerangkong Bukit Karang. Rupanya, ia merasa tersinggung dengan penolakan Larsih.

"Keparat, jangan ganggu dia...!" Lelaki pendek gemuk yang menjadi pembantu ayah Larsih seketika bergerak maju dan menghadang di depan Jerangkong Bukit Karang. Perbuatannya diikuti pula oleh kawannya yang bertubuh lebih tinggi sedikit.

"Huh! Gentong-gentong kosong yang tidak punya guna! Mau apa kalian menghadangku! Minggir...!" sentak lelaki tinggi kurus itu. Seketika tangannya dikibaskan secara sembarangan. Serangkum angin kuat berhembus mengiringi kibasan tangan kanannya.

Wuttt!

Dan belum juga kibasan tangan itu menghantam dua orang pembantu tukang obat mendadak saja sebuah bayangan hijau berkelebat cepat. Maka....

"Akh...!" Jerangkong Bukit Karang berseru kaget ketika merasa kan lengannya membentur sebuah benda yang keras bagaikan batangan besi. Bahkan tubuhnya pun terdorong mundur sejauh satu batang tombak.

"Hei?!" Lelaki tinggi kurus itu menarik kepalanya dengan sepasang mata hampir terlompat ke luar. Rasa nyeri pada lengannya seolah-olah terlupa karena pesona yang memancar dari sosok tubuh ramping di hadapannya. Dan itu benar-benar membuat lelaki itu bagaikan tersihir! Hingga untuk beberapa saat lamanya, ia hanya dapat ternganga tanpa mampu bergerak.

"Apakah kau sudah berubah menjadi murung, Jerangkong Bukit Karang?" tegur sosok tubuh ramping berpakaian serba hijau itu sambil bertolak pinggang. Meskipun suara itu bernada mengejek, namun tetap saja terdengar merdu di telinga. Siapa lagi sosok tubuh ramping itu kalau bukan Kenanga. Rupanya ia langsung turun tangan ketika melihat nyawa kedua orang pembantu penjual obat itu terancam maut.

Jerangkong Bukit Karang tersentak kaget dan tersadar dari keterpakuannya. Kedua matanya langsung digosok-gosok, seolah-olah masih tidak mempercayai kehadiran dara jelita berpakaian hijau yang berdiri satu batang tombak di depannya.

"Kau.... Kau siapa, Nisanak..?" tanya laki-Laki bopeng itu dengan suara gagap, seraya sepasang matanya menjelajahi sekujur tubuh gadis jelita itu.

"Hm.... Dasar lelaki kurang ajar! Kau memang patut diberi hajaran!" bentak Kenanga tajam. Rupanya gadis jelita itu merasa marah melihat tatapan mata lelaki tinggi kurus itu yang bagaikan menelanjangi tubuhnya.

"Eh...?!" Lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu tersentak mundur ketika pandangan matanya bertumbuk dengan sepasang mata Kenanga yang berkilat tajam penuh kemarahan. Diam-diam hati Jerangkong Bukit Karang merasa terkejut melihat sinar mata itu. Dia teringat akan benda sekeras besi yang menangkis kibasan tangannya tadi.

"Gadis jelita inikah yang telah menangkis kibasan tanganku?" pikir laki-Laki bopeng itu penuh keraguan. Namun tanda tanya di hati Jerangkong Bukit Karang tidak berlangsung lama, setelah gadis di depannya mengeluarkan bentakan nyaring dan mengejutkan.

"Sambut seranganku, Manusia Kurang Ajar...! " seru gadis jelita itu sambil melompat dan melancarkan dua buah pukulan sekaligus.

Bettt! Bettt!

Sambaran angin pukulan yang menderu tajam itu membuat hati Jerangkong Bukit Karang semakin tercekat. Kini baru disadari kalau gadis jelita itu ternyata adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi. Maka cepat-cepat ia melompat mundur dan melakukan beberapa kali salto, ketika! sepasang tangan gadis jelita itu masih juga mengejarnya. Sadar kalau lawan yang kali ini dihadapinya bukan orang sembarangan, maka kepandaiannya segera dikerahkan untuk melancarkan serangan balasan.

"Yeaaah...!"

Diiringi teriakan parau, Jerangkong Bukit Karang melepaskan sebuah pukulan keras setelah berhasil mengelakkan pukulan yang dilancarkan Kenanga. Dari suara yang ditimbulkannya, dapat diduga kalau lelaki tinggi kurus itu telah mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk mengimbangi serangan lawan. Melihat pukulan lawan yang meluncur mengancam iga kirinya, Kenanga sama sekali tidak berusaha mengelak. Seketika kaki kirinya bergeser ke belakang sambil memutar tubuh menyamping. Kuda-kudanya segera direndahkan seraya lengan kanannya bergerak melakukan tangkisan dengan sikap menekuk. Sadar akan kekuatan tenaga lawan, Kenanga pun mengerahkan hampir sepertiga dari tenaganya dalam melakukan tangkisan.

Dukkk!

Terdengar suara nyaring bagaikan dua batang besi yang sating bertumbukan keras. Tubuh keduanya terpental balik sejauh dua batang tombak. Dari sikap kuda-kuda mereka yang sama-sama terlihat kokoh, dapat dinilai kalau pertemuan tenaga itu ternyata memiliki kekuatan seimbang.

Jerangkong Bukit Karang yang telah mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, tentu saja menjadi terkejut setengah mati. Sama sekali tidak disangka kalau gadis jelita itu ternyata memiliki tenaga dalam tinggi. Bahkan mungkin lebih kuat daripada tenaga dalam yang dimilikinya. Hal itu dapat dilihat dari deru napas gadis itu yang sama sekali tidak memburu. Berbeda dengan napasnya yang bagaikan orang habis berlari menempuh jarak cukup jauh. Kenyataan itu membuat hatinya bergetar, dan wajahnya berubah menegang.

"Haiiit..!"

Kenanga yang sempat melihat wajah lelaki bopeng itu meringis sambil memegangi lengan kanannya, dapat menduga kalau tenaga yang dimilikinya masih lebih kuat. Dibarengi teriakan nyaring, gadis jelita itu pun kembali mencecar lawan dengan gerakan cepat dan kuat. Dan kini Kenanga telah mengeluarkan ilmu andalannya. Hebat bukan main jurus 'Bidadari Menabur Bunga' yang digunakan gadis jelita itu. Sepasang tangannya tampak bergerak cepat hingga bentuknya pun lenyap. Yang tampak kini hanya bayangan puluhan batang lengan mematuk-matuk menimbulkan angin berkesiutan.

Wuttt! Wuttt!

"Aiiih...!" Jerangkong Bukit Karang berseru kaget. Hampir saja dada kirinya terkena pagutan jemari tangan gadis jelita itu yang berbentuk paruh bangau. Untung tubuhnya masih sempat dimiringkan, sehingga serangan gadis itu lewat beberapa jari di depan dadanya. Tapi, rasa lega lelaki berwajah bopeng itu rupanya tidak berlangsung lama. Sebab begitu patukan jemari tangannya berhasil dielakkan lawan, tahu-tahu saja kaki dara jelita itu mencelat naik menghantam iganya.

Desss!

"Hugkh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh lelaki tinggi kurus itu pun terlempar ke belakang sejauh tiga batang tombak. Namun, Jerangkong Bukit Karang memang bukan tokoh sembarangan. Meskipun tendangan telak itu membuat iganya terasa remuk, namun kuda-kudanya masih dapat dipertahankan. Sehingga, tubuhnya tidak sampai terbanting jatuh.

Kenanga rupanya tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk membangun serangan. Selagi tubuh Jerangkong Bukit Karang terjajar mundur, gadis jelita itu membarenginya dengan serangan cepat dan kuat. Jerangkong Bukit Karang yang belum sempat mempersiapkan pertahanannya, terpaksa menghindar sebisa-bisanya. Tapi memang dasar nasibnya sedang sial, maka ia pun kembali harus menelan pil pahit!

Bukkk... Desss!

Untuk kedua kalinya, tubuh tinggi kurus itu kembali terlempar bergulingan. Jerit kesakitan terlontar dari mulut Jerangkong Bukit Karang, yang kemudian memuntahkan darah segar.

Kenanga melangkah perlahan menghampiri lawannya yang masih terduduk sambil mengerang kesakitan. Dua buah hantaman yang telak mengenai dada dan lambung, membuat Jerangkong Bukit Karang tidak mampu buru-buru bangkit Sepertinya, hantaman gadis jelita itu mendatangkan luka dalam yang cukup parah. Jerangkong Bukit Karang memaksa bangkit pada saat langkah kaki gadis jelita itu tinggal beberapa belas tindak lagi.

"Hari ini aku mengaku kalah kepadamu, Ni sanak. Tapi, ingatlah! Suatu hari nanti aku akan mencarimu untuk membalas penghinaan ini!" tandas Jerangkong Bukit Karang dengan sorot mata penuh dendam. Kemudian, ia pun berlari tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.

Melihat orang itu melarikan diri, Kenanga sudah bergerak mengejar. Namun, langkah kakinya terhenti ketika terdengar seruan di belakangnya.

"Biarkan dia pergi...!"

Belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok bayangan putih tahu-tahu saja telah berada di belakang gadis jelita itu.

"Kakang, mengapa mencegahku? Ancamannya tadi, jelas membuktikan kalau orang itu belum jera," bantah Kenanga, menuntut jawaban sosok bayangan putih yang ternyata Panji.

"Menyiksa lawan yang sudah tidak berdaya, bukanlah sifat ksatria, Kenanga. Apalagi, Jerangkong Bukit Karang jelas-jelas mengaku kalah tadi. Sedangkan ancamannya hanyalah luapan amarah seorang pecundang. Mudah-mudahan saja ia bisa berpikir lebih dalam dan melupakan ancamannya," sahut Panji sambil melebarkan senyumnya.

Kenanga hanya menghela napas, seolah-olah ingin membuang sisa-sisa rasa tak puas yang menggumpal dalam rongga dadanya. Sesaat ke- mudian, senyum manisnya pun kembali terlukis, menghias wajahnya yang jelita. Kedua orang pendekar muda itu sama-sama menolehkan kepalanya ketika mendengar langkah kaki mendatangi.

"Ni sanak! Kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Entah dengan apa kami dapat membalasnya," ucap lelaki setengah baya itu sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam kepada Panji dan Kenanga.

"Tidak perlu sungkan-sungkan, Paman. Apa yang kulakukan tadi, hanyalah suatu kewajiban. Jadi, tidak ada keharusan bagi Paman untuk membalasnya," sahut Kenanga sambil membalas penghormatan penjual obat itu.

"Apa yang dikatakan kawan saya ini memang benar, Paman. Janganlah merasa berhutang budi karena pertolongannya tadi. Maaf, kami harus melanjutkan perjalanan. Sekarang, silakan teruskan pekerjaan Paman," timpal Panji yang langsung berpamitan karena saat itu para penduduk desa telah berdatangan mengerumuni.

Keempat orang itu hanya dapat memandang kepergian Panji dan Kenanga penuh rasa terima kasih. Setelah tubuh kedua orang pendekar muda itu semakin menjauh, lelaki setengah baya itu pun membalikkan tubuh dan melanjutkan pekerjaannya.

********************

ENAM

Di bawah siraman cahaya matahari yang semakin naik tinggi, nampak dua sosok tubuh melangkah memasuki mulut hutan. Yang seorang memakai jubah putih, dan yang seorang lagi men- genakan pakaian serba hijau. Dan rupanya sinar matahari tak lagi dirasakan, karena tubuh mereka terlindungi pepohonan besar yang tumbuh menju- lang tinggi. Pada saat mereka hampir berada di tengah hutan, mendadak sosok yang mengenakan jubah putih itu menghentikan langkahnya. Kepalanya segera dimiringkan seolah-olah hendak memastikan pendengarannya.

"Ada apa, Kakang...?" tanya sosok tubuh yang berpakaian serba hijau. Wajahnya yang putih halus menampakkan keheranan melihat tingkah laku kawannya. Dari suara dan kehalusan wajahnya, dapat dipastikan kalau dia adalah seorang wanita.

"Sepertinya aku mendengar suara orang bertengkar. Apa kau tidak mendengarnya?" sosok berjubah putih yang memang seorang pemuda itu balas bertanya.

"Tidak, Kakang. Aku sama sekali tidak mendengarnya," sahut gadis jelita itu sambil menggeleng perlahan.

"Hm...," pemuda berjubah putih itu hanya menggumam mendengar jawaban itu. "Mari ikut aku..." Tanpa menunggu jawaban lagi, tubuhnya pun segera melesat ke depan. Dan tanpa banyak cakap, gadis jelita yang mengenakan pakaian serba hijau itu bergegas mengerahkan ilmu larinya mengikuti pemuda tadi.

"Aku mulai dapat menangkap suara yang kau maksudkan itu, Kakang. Kedengarannya memang seperti orang yang sedang bertengkar," kata gadis jelita itu sambil terus mengimbangi lari kawannya. Saat itu mereka sudah semakin jauh memasuki hutan.

"Ya! Suara itu semakin jelas terdengar," sahut pemuda tampan berjubah putih. "Hati-hati, jangan sampai langkah kaki kita terdengar mereka."

Gadis jelita itu mengangguk dan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sehingga gerakan langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tidak berapa lama kemudian, mereka tiba pada sebuah tempat terbuka yang cukup luas. Di sana, tampak dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan dalam keadaan tegang.

"Jangan sembarangan menuduh, Jaya Prana! Sadarkah kau kalau kata-katamu itu bisa mengakibatkan perpecahan di antara kita?" bentak lelaki tinggi besar bertubuh kokoh bagai batu karang. Suaranya terdengar berat dan kasar, sesuai bentuk tubuhnya. Wajahnya kemerahan seperti menahan kemarahan.

Sebelum orang yang dipanggil Jaya Prana itu menyahut, seorang yang berbahu lebar dan berusia sekitar tiga puluh tahun, melompat turun dari atas punggung kudanya. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, orang itu langsung menudingkan telunjuknya ke wajah lelaki tinggi besar yang masih berada di atas punggung kuda.

"Hmh! Tidak kusangka kalau pimpinan Pasukan Garuda Emas ternyata seorang pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya. Sungguh memalukan!" ujar lelaki tegap berbahu lebar itu dengan suara sangat menghina.

"Jaga mulutmu, Banja! Apa kau ingin agar aku merobek mulutmu dulu, supaya tidak semakin kurang ajar!" bentak lelaki tinggi besar itu. Wajah orang itu tampak dipenuhi cambang bauk. Sepasang matanya tampak berkilat penuh kemarahan. Jelas, ia tidak bisa menerima hinaan yang dilontarkan lelaki berbahu lebar yang tak lain dari Banja. Rupanya kedua kelompok penunggang kuda itu adalah Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang merupakan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih.

"Keparat keji! Akibat perbuatanmu terhadap guru dan saudara-saudara seperguruanku, apakah kau kira aku masih sudi menghormatimu! Tidak, Pragola. Aku tidak lagi memandangmu sebagai pemimpin, melainkan seorang pembunuh keji yang berjiwa pengecut" Banja semakin berapi-api melontarkan kata-katanya. Jelas sekali kalau ia tidak memandang sebelah mata pun kepada Pragola yang menjadi salah satu pimpinan Pasukan Garuda Emas.

"Kurang ajar...! Mulutmu benar-benar harus dirobek!" bentak Pragola yang melompat dari kudanya, langsung menerjang Banja.

Jaya Prana yang menjadi pimpinan dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Hitam tentu saja tidak bisa berdiam diri melihat Banja terancam. Lelaki tegap berkumis lebat itu pun melesat dari atas punggung kuda, dan langsung memapak serangan Pragola.

"Perlahan dulu, Pragola...!" seru Jaya Prana sambil mengibaskan lengan kanan menyambut serangan lelaki tinggi besar itu.

Wuttt...Wuttt! Plakkk!

Terdengar benturan keras yang disusul terpentalnya tubuh kedua orang itu ke belakang. Namun, baik Pragola maupun Jaya Prana ternyata dapat menguasai keseimbangan tubuh. Setelah berjumpalitan beberapa kali, tubuh mereka jatuh di atas tanah dalam sikap kuda-kuda kokoh dan indah.

"Kau akan membela orangmu yang kurang ajar itu, Jaya Prana? Baik! Kalau begitu, sambutlah seranganku ini...!" seru Pragola.

Laki-Laki itu semakin marah melihat campur tangan Jaya Prana. Maka, Pragola kembali menerjang maju dengan serangan-serangan hebat dan berbahaya. Jaya Prana pun tidak tinggal diam. Melihat lawan sudah kembali menyerang, maka segera disambut dengan tidak kalah hangatnya. Dalam sekejap saja, kedua orang lelaki gagah itu pun terlibat perkelahian seru dan mati-matian.

Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang melihat pemimpin pemimpin mereka masing-masing sudah terlibat dalam perkelahian sengit, menjadi gatal tangannya. Tanpa diperintah lagi, kedua kelompok pasukan inti Kerajaan Cadas Putih itu pun masing-masing melompat turun dari atas punggung kuda. Tanpa banyak cakap lagi, kedua kelompok itu pun mencabut senjata masing-masing.

"Yeaaa...!"

Disertai teriakan nyaring bergemuruh, Pasukan Garuda Hitam meluruk ke arah dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Emas. Sesaat sebelum pertempuran itu pecah, mendadak dua sosok tubuh melesat ke tengah arena. Gerakan kedua sosok tubuh itu demikian cepat dan menimbulkan desir angin kuat Sosok tubuh pertama yang merupakan bayangan putih, menuju ke arah dua pasukan yang hampir bertemu itu. Kedua tangannya men- gibas ke kiri kanan setelah menjejakkan kakinya di antara kedua kelompok itu.

Wusss!

Serangkum angin dingin yang amat kuat berhembus bagaikan badai salju yang menghumbalangkan tubuh kedua pasukan kecil itu.

"Tahan...!" teriak bayangan putih itu dengan suara laksana ledakan guntur di angkasa. Jelas, suara itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Tak satu pun dari kedua kelompok itu yang sanggup mempertahankan diri dari dorongan angin dingin itu. Tubuh mereka bergelimpangan dan menggigil kedinginan. Dengan demikian, pertarun- gan kedua pasukankecil itu jadi batal. Sedangkan sosok tubuh lain yang merupakan bayangan hijau, meluruk ke arah Jaya Prana dan Pragola yang saat itu tengah bertarung sengit. Gerakan bayangan hijau itu ternyata sangat lincah dan gesit Sehingga, tanpa mengalami kesulitan sedikit pun tahu-tahu saja tubuhnya telah berada di antara kedua orang lelaki gagah itu.

"Berhenti...!" Bentakan nyaring dan merdu itu disertai dorongan sepasang lengannya ke kiri kanan.

Wuttt! Wusss!

Sambaran angin kuat yang mengancam tubuh Jaya Prana dan Pragola, membuat kedua orang itu melompat ke belakang dan melakukan beberapa kali salto diudara.

"Siapa kau, Ni sanak? Apa maksudmu mencampuri urusan kami?" bentak Pragola setelah terdiam beberapa saat lamanya. Laki-laki itu sama sekali tidak menduga kalau sosok tubuh yang memisahkan mereka ternyata seorang wanita muda berparas jelita. Kalau saja tidak mengalaminya sendiri, tentu Pragola tidak akan percaya begitu saja. Apalagi ketika mendapat kenyataan, betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di balik sosok tubuh ramping itu.

Jaya Prana pun tidak kalah terkejutnya dengan kenyataan itu. Padahal, ia adalah salah seorang pimpinan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih. Tapi kenyataannya mampu didorong mundur oleh seorang gadis muda berparas jelita. Untung gadis itu tidak bermaksud jelek. Kalau tidak, mungkin ia dan Pragola sudah mengalami luka dalam yang cukup parah.

Lelaki gagah berkumis lebat itu jelas-jelas tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Ia berdiri tegak menanti jawaban yang keluar dari dara jelita itu. Sebelum pertanyaan Pragola terjawab, sosok berjubah putih yang tak lain dari Panji atau berjuluk Pendekar Naga Putih melangkah menghampiri mereka.

"Paman berdua harap maafkan kelancangan aku dan kawanku ini. Semua ini dilakukan semata-mata karena telah terjadi kesalahpahaman di antara kalian. Dari sanggahan Paman Pragola tadi, aku yakin kalau ia tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka, aku terpaksa berbuat lancang agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut," jelas Panji sambil membungkuk hormat kepada mereka.

"Hm.... Jadi kau telah lama mengintai kami?" tegur Jaya Prana, tak senang.

"Maaf, hal ini terpaksa kulakukan karena merasa tertarik dengan pertengkaran Paman berdua tadi. Karena sepintas tadi, aku mendengar tentang pembunuhan yang dituduhkan kepada Paman Pragola. Melihat kesungguhan dan kegagahannya, aku yakin tuduhan itu sama sekali tidak benar. Kalau boleh aku bertanya, adakah saksi yang dapat dipercaya dalam hal ini?" tanya Panji akhirnya. Suara dan wajah Pendekar Naga Putih terlihat tenang. Dan hal ini membuat kedua orang perwira itu bertanya-tanya, siapa gerangan pemuda tampan berjubah putih ini.

"Hm Siapa kau sebenarnya, Anak Muda? Dari sikap dan nada bicaramu, aku yakin kau bukan orang sembarangan. Sebutkan nama dan julukanmu? Dengan demikian, mungkin kami dapat mempertimbangkan dan memaafkan perbuatanmu," tanya Pragola mulai menduga-duga pemuda yang memiliki ketenangan mengagumkan hatinya itu.

Melihat dari kepandaian yang dimiliki gadis jelita tadi, bukan tidak mungkin kalau kepandaian pemuda ini masih lebih tinggi lagi. Atau paling tidak sejajar dengan kepandaian gadis jelita berpakaian serba hijau yang berdiri di samping pemuda tampan itu.

"Maaf, Paman. Namaku Panji. Sedangkan kawanku bernama Kenanga. Orang-orang rimba persilatan memberikan julukan Pendekar Naga Putih kepadaku," sahut Panji. Dia terpaksa memperkenalkan julukannya. Karena, menurutnya julukan itu mungkin dapat membuat kedua orang itu lebih mempercayainya.

"Ah.... Jadi, kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih? Sepak terjangmu sudah lama membuatku kagum. Tahukah kau, julukanmu itu sempat pula menggemparkan Istana Kerajaan Cadas Putih?" seru Pragola. Saking kagumnya, ia sampai menyebutkan rahasia yang seharusnya disembunyikan.

"Hm.... Mengingat julukanmu yang telah mendatangkan kekaguman, maka kami percaya kalau kau memang pantas menjadi penengah bagi masalah yang tengah dihadapi ini," timpal Jaya Prana. Dari nada suaranya, jelas kalau ia tidak menyesali kata-kata Pragola yang telah membuka rahasia penyamaran mereka. Dan memang, menurutnya, julukan Pendekar Naga Putih dapat menjadi jaminan dan bisa dipercaya.

Panji yang semula hanya menduga-duga, sempat terkejut mendengar pengakuan lelaki gagah berwajah brewok itu. Sebagaimana sikap seorang rakyat jelata terhadap pembesar kerajaan, maka kedua orang muda itu menjatuhkan dirinya memberi hormat

"Maafkan kalau sikap kami kurang hormat terhadap Tuan Perwira berdua," ucap Panji. Pendekar Naga Putih segera menekuk lutut sambil merangkapkan telapak tangannya sebagai penghormatan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Kenanga.

"Bangkitlah kau, Pendekar Naga Putih dan Kenanga. Janganlah terlalu banyak peraturan. Apalagi tempat ini bukanlah istana kerajaan," kata Pragola sambil membungkuk dan mengangkat tubuh Panji. Diam-diam hati perwira berusia empat puluh lima tahun ini semakin kagum atas sikap yang ditunjukkan pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

"Nah! Sekarang katakan, apa usulmu agar persoalan ini dapat kita selesaikan?" tanya Jaya Prana yang percaya penuh setelah melihat sikap pemuda itu.

"Kembali kepada pertanyaanku tadi, Paman Perwira. Adakah saksi yang bisa membuktikan kalau pembunuhan itu memang dilakukan Tuanku Pragola?" tanya Panji yang merubah panggilannya begitu mengetahui kalau kedua orang di depannya adalah perwira kerajaan.

"Tidak usah terlalu sungkan, Pendekar Naga Putih. Sebut saja kami dengan panggilan paman tanpa embel-embel perwira segala macam," tegas Pragola ketika mendengar panggilan pemuda itu berubah.

"Betul, Panji. Dan mengenai pertanyaanmu itu, kami memang mempunyai dua orang saksi mata. Dari merekalah didapatkan keterangan tentang pelaku perbuatan itu. Bahkan mereka memberikan gambaran jelas mengenai raut wajah dan bentuk tubuh si pembunuh. Dan keterangan itu jelas-jelas menggambarkan sosok Kakang Pragola ini," Jaya Prana memberi keterangan kepada Panji, karena tidak ingin dituduh melemparkan fitnah tanpa bukti jelas.

"Kedua orang saksi mata itu dapat dipercaya, karena mereka adalah murid Perguruan Tinju Selatan sendiri! Aku tidak percaya kalau keterangan mereka hanya sekadar fitnah! Sebab kalau tidak menyaksikan sendiri, dari mana mereka mendapat gambaran tentang bentuk tubuh dan raut wajah pembunuh keji itu!"

Mendengar ucapan keras yang berapi-api itu, Panji, Kenanga, Jaya Prana, dan Pragola menolehkan kepala. Kening Pragola terkejut, dan wajahnya kembali gelap ketika melihat Banja dan Gandira datang menghampiri. Rupanya kedua orang itu dan anggota yang lainnya sudah terlepas dari pengaruh 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang dikerahkan Pendekar Naga Putih tadi.

"Tenanglah, Banja. Kami telah berembuk untuk memecahkan masalah pembunuhan guru dan saudara-saudara seperguruanmu itu. Tahan amarahmu kalau ingin masalah ini segera. selesai," ujar JayaPrana. Laki-laki berkumis lebat itu memang mera- sa tidak enak terhadap Pragola. Maka, bergegas dia menghampiri Banja dan menepuk-nepuk bahu lelaki itu.

"Benar, Banja. Dan kalau memang ternyata aku yang melakukan perbuatan keji itu, aku tidak akan lari dari tanggung jawab," sahut Pragola penuh ketegasan.

"Kalau boleh kuusulkan, dapatkah kedua orang saksi mata itu dihadapkan kemari," pinta Pendekar Naga Putih ketika keadaan sudah kembali tenang. Bahkan kini mereka telah duduk di atas rumput membuat lingkaran.

"Sayang kedua orang saksi itu tidak bisa menyertai kami, karena harus merawat perguruan dan makam guru mereka. Sebab, hanya kedua orang murid itulah yang saat ini tinggal di dalam bangunan Perguruan Tinju Selatan," jelas Jaya Prana. Laki-Laki berkumis lebat itu sedikit kecewa, karena kedua orang saksi itu tidak ada. Dan kalau ada, sudah pasti masalahnya dapat cepat diselesaikan.

"Ah, sayang sekali. Padahal tanpa mereka, kita tidak bisa memutuskan apa-apa. Saat ini, hanya kedua orang saksi itulah yang menjadi kunci untuk memecahkan persoalan ini," sesal Panji, seraya menghela napas kecewa.

"Kakang, bagaimana kalau kita datangi Perguruan Tinju Selatan bersama-sama. Bukankah itu lebih baik, daripada persoalan ini menjadi tertunda dan tetap gelap?" Kenanga yang semenjak tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba mengajukan usul

Pragola, Jaya Prana, Banja, dan Gandira mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, usul gadis Jelita itu bisa dipertimbangkan. Sedangkan Panji hanya menatap wajah keempat orang lelaki gagah itu berganti-ganti. Menurut perkiraannya, apa yang diusulkan Kenanga itu merupakan jalan satu-satunya untuk memecahkan masalah yang tengah dihadapi. Setelah semuanya menyetujui usul yang diajukan Kenanga, berangkatlah dua rombongan pasukan itu disertai Kenanga dan Pendekar Naga Putih.

********************

Saat matahari sudah meratakan sinarnya ke seluruh permukaan bumi. Rombongan dua pa- sukan itu pun tiba di depan pintu gerbang Pergu- ruan TinjuSelatan. Panji dan Kenanga yang juga mengendarai kuda, bergegas melompat turun mengikuti dua orang pimpinan pasukan itu. Banja yang merasa paling penasaran, bergegas menggedor pintu gerbang sambil berteriak-teriak me-manggil. Kekesalan yang menggumpal di dada, membuatnya menjadi tidak sabar ketika panggilannya tidak juga disahuti.

"Kurang ajar! Ke mana pula perginya Janaka dan Santika? Mengapa mereka belum juga keluar?" omel Banja dengan wajah gelap.

"Sabarlah. Mungkin saat ini mereka berada jauh dibelakang. Jadi, wajar saja kalau belum mendengar panggilanmu," bujuk Gandira sambil menepuk-nepuk punggung saudara seperguruannya.

"Biarlah aku yang akan memanggil mereka," pinta Pragola menyelak. Sebagai seorang tertuduh, lelaki bercambang bauk ini pun tidak kalah penasarannya dengan Banja. Pragola ingin melihat, bagaimana rupa orang yang telah menjatuhkan fitnah keji terhadapnya.

"Silakan, Kakang Pragola...," sahut Gandira, terpaksa. Sementara Banja telah menekuk wajahnya ketika melihat Pragola mendekati mereka. Melihat sikapnya, jelas kalau ia masih tetap menyalahkan Pragola atas kejadian yang menimpa guru dan saudara-saudara seperguruannya.

"Hei! Siapa pun yang berada di dalam bangunan Perguruan Tinju Selatan, harap keluar! Banja dan Gandira datang berkunjung...!"

Hebat sekali teriakan Pragola yang didorong tenaga dalam kuat itu. Beberapa orang anggota pasukan yang paling lemah kepandaiannya, terpaksa harus menutup telinga sambil mengerahkan hawa murni untuk melindungi bagian dalam dada mereka. Dan memang teriakan itu sempat pula mengguncangkan dada.

Panji sendiri tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Hal itu terlihat dari pancaran sinar matanya ketika memandang Pragola. Diam-diam pemuda itu semakin bertambah kagum melihat kekuatan tenaga dalam laki-laki bercambang bauk itu.

Hanya Banja yang terlihat agak sinis. Kekesalan hatinya membuat lelaki gagah berbahu lebar itu menganggap Pragola sengaja menyombongkan kekuatan tenaga dalam. Pikiran itu membuat rasa tak suka di hati Banja semakin menebal. Meskipun berwatak berangasan, namun Pragola memiliki pandangan sangat luas. Dan ia bukan tidak tahu akan cibiran sinis bibir Banja yang tertuju kepadanya. Tapi dengan kematangan jiwa, sikap Banja dapat dimakluminya.

Sayang apa yang dilakukan Pragola itu sia-sia. Meskipun teriakan tadi sangat kuat, tapi Janaka dan Santika belum juga muncul. Tentu saja hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di hati mereka. Panji yang memiliki pengalaman luas tentang dunia persilatan, segera bisa menebak penyebab ketidakmunculan orang yang bernama Janaka dan Santika. Maka seketika kecurigaannya timbul.

"Aku akan mencoba masuk untuk membuka pintu dari dalam," usul pemuda berjubah putih itu. Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Pendekar Naga Putih langsung melesat melompati dinding pagar setinggi tiga batang tombak. Semua orang yang berada di tempat itu, membelalak kagum melihat tubuh pemuda tampan itu melayang bagaikan seekor burung besar.

"Hm.... Pantas saja dunia persilatan dapat dibuat gempar. Kepandaian yang dimilikinya benar-benar hebat! Rasanya sukar sekali mencari orang yang dapat menandinginya pada masa ini. Untunglah kepandaian sehebat itu dimiliki pemuda seperti dia. Entah apa jadinya kalau dimiliki seorang pemuda berwatak bejat Mungkin dunia persilatan akan kacau dibuatnya," gumam Jaya Prana pelan sambil menggelengkan kepala.

"Kalau saja pemuda seperti dia sudi mengabdikan diri untuk Kerajaan Cadas Putih, bukan main gembiranya hati Gusti Prabu," desah Pragola yang juga semakin kagum oleh Pendekar Naga Putih.

"Yah.... Aku pun berpendapat demikian," Jaya Prana yang mendengar ucapan Pragola, menyahuti Laki-Laki berkumis tebal itu agak menyesal, karena sadar kalau harapan mereka berdua tidak mungkin akan dapat terpenuhi. Sebab, mereka tahu kalau seorang pendekar petualang seperti Pendekar Naga Putih akan lebih suka hidup bebas tanpa ikatan apapun.

Jaya Prana, Pragola, dan yang lainnya, baru tersadar ketika mereka mendengar derit pintu gerbang yang bergerak karena telah dibuka Pendekar Naga Putih. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka pun bergegas masuk. Banja sudah lebih dulu melesat masuk, dan langsung berlari menuju halaman belakang balai utama. Tak lama setelah tubuh pemuda berbahu lebar itu menghilang di balik bangunan besar itu, terdengar hiruk-pikuk yang disertai makian marah.

"Biadab! Manusia iblis!" terdengar makian Banja yang mengejutkan semua orang yang berada di halaman depan Perguruan Tinju Selatan.

"Ada apa, Ban.... Ahhh...!?" Gandira yang tiba lebih dulu di halaman belakang bangunan perguruan, membelalak pucat tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Lelaki gagah itu hanya dapat berdiri memandang dua buah tiang, dua depa di hadapannya.

Seruan-seruan terkejut bercampur kemarahan seketika bersahutan saat seluruh rombongan telah berada di tempat itu. Sebab apa yang mereka saksikan, benar-benar membuat darah mereka mendidih. Panji yang tidak tega melihat pemandangan mengerikan itu, bergegas menghampiri. Diturunkannya dua sosok tubuh yang tak lain dari Janaka dan Santika. Tubuh mereka terpentang di tiang berbentuk salib. Tubuh keduanya yang tanpa pakaian dan dipenuhi luka bakar maupun sayatan pisau itu ditutupi Panji dengan menggunakan pakaian cadangan dalam buntalannya. Tampak darah masih membasahi luka-luka di tubuh mereka, membuktikan kalau kejadian penyiksaan itu belum lama berlangsung.

"Kedatangan kita ternyata telah terlambat. Ini membuktikan kalau gerakan kita telah diketahui lawan," jelas Pendekar Naga Putih yang membuat orang-orang di sekitarnya terperangah dengan wajah menegang.

"Aku akan mencari manusia-manusia keji itu! Dan aku tidak akan pernah berhenti, sebelum tubuh iblis-iblis itu kukuliti dengan tanganku!" teriak Banja bagai orang kesetanan. Sebelum semua orang yang berada di tempat itu menyadari, tubuh lelaki tegap berbahu lebar itu sudah melesat meninggalkan tempat itu.

"Banja, tunggu...!" teriak Jaya Prana. Laki-Laki berkumis tebal itu berlari cepat mengejar anggota pasukannya. Karena kepandaiannya masih lebih tinggi, dalam beberapa kali loncatan saja tubuhnya sudah dapat menangkap lengan Banja.

"Lepaskan aku! Akan kucari iblis-iblis keji itu walau sampai ke ujung langit sekalipun!" teriak Banja sambil berusaha melepaskan pegangan Jaya Prana.

"Manusia dungu!" bentak Jaya Prana, gusar melihat keadaan Banja. "Siapa yang akan kau cari?! Apa kau tahu, siapa manusia biadab itu? Dasar bodoh! Perbuatan tololmu yang tanpa perhitungan ini hanya akan menambah kerumitan saja, tahu!"

Mendengar bentakan kasar dari pimpinannya, baru terbuka pikiran Banja. Memang benar apa yang dikatakan pimpinannya itu. Siapa yang harus dicarinya? Dan bagaimana dapat menemukan orang itu, kalau ia sendiri belum mengenalnya. Pikiran itu membuat Banja jatuh terduduk lemas dan menekap wajah dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku, Kakang.... Aku terlalu menuruti amarah," rintih Banja serak dan penuh penyesalan.

"Sudahlah, Banja. Kau tidak perlu menyesali diri. Lebih baik kita cari jalan, bagaimana caranya agar dapat menemukan pembunuh biadab itu," hibur Pragola yang sudah berada di dekat Jaya Prana.

"Maafkan aku, Kakang Pragola. Betapa bodohnya aku telah menuduhmu yang melakukan perbuatan ini," ucap Banja yang jadi lega ketika melihat anggukan dan senyum di wajah lelaki kekar berotot itu.

"Bangkitlah. Mari kita pecahkan masalah ini bersama Pendekar Naga Putih," hibur Pragola mengajak Banja menemui Panji.

********************

TUJUH

"Tangkap dan bunuh pendekar sombong itu!" teriak lelaki brewok bertubuh kekar tiba-tiba.

Seketika dia melakukan pengejaran. Golok besar berkilat di tangan kanannya diacung-acungkan di atas kepala. Di sebelah kanannya, seorang lelaki gagah berkumis tebal ikut menyertainya. Sementara beberapa langkah di belakang, tampak puluhan laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun berlari cepat mengikuti langkah kedua orang itu.

Namun, dua sosok tubuh yang dikejar itu ternyata memiliki ilmu lari cepat yang tinggi. Sehingga, jarak di antara mereka semakin bertambah jauh saja. Sadar kalau kedua sosok tubuh itu memang memiliki ilmu lari yang demikian tinggi, maka ketika melewati pintu gerbang, lelaki brewok yang tak lain Pragola itu bergegas melompat ke atas punggung kuda. Dan langsung dibedalnya kuda itu untuk melakukan pengejaran. Perbuatan Pragola diikuti yang lainnya. Terdengarlah suara derap bergemuruh yang meninggalkan kepulan debu tebal.

"Hiya.... Hiya...!"

Bentakan-bentakan nyaring yang disertai ledakan cambuk, ikut mewarnai suara bergemuruh derap kaki kuda. Pengejaran dengan menunggang kuda ternyata mulai menampakkan hasilnya. Dan memang, jarak antara dua sosok tubuh itu dengan mereka semakin bertambah dekat saja. Tentu saja hal itu membuat Pragola, Jaya Prana, dan seluruh anggota pasukannya makin bersemangat. Tapi, kedua sosok tubuh itu pun ternyata cukup cerdik. Sadar kalau para pengejarnya sudah semakin dekat maka mereka berlari menuju sebuah hutan lebat.

Pohon-pohon besar yang tumbuh tak beraturan itu, membuat gerak langkah kaki kuda agak terhambat Beberapa kali rombongan pengejar itu harus menghentikan lari kuda karena terhalang pohon besar yang tumbuh rapat. Sedangkan dua orang yang dikejar itu enak saja menyelinap di antara batang-batang pohon. Maka sebentar saja para pengejar sudah tertinggal jauh di belakang. Dan tak lama kemudian, kedua sosok tubuh itu pun lenyap ditelan keremangan hutan.

"Kurang ajar kau, Pendekar Naga Putih! Tunggulah! Lain waktu jangan harap berhasil lolos dari tanganku!" teriak Pragola disertai pengerahan tenaga dalam, hingga suaranya terdengar jauh ke dalam hutan. Setelah berkata demikian, lelaki kekar berwajah brewok itu membalikkan kudanya yang saat itu terperangkap di tengah semak belukar.

"Bagaimana ini, Kakang? Hari sudah semakin gelap. Sedangkan untuk keluar dari hutan ini, sudah tidak mungkin. Yang jelas, kita akan kemalaman di jalan," tanya Jaya Prana ketika Pragola menjalankan kudanya menghampiri.

"Kita terus saja. Siapa tahu ada tempat terbuka yang cukup baik untuk melewatkan malam," sahut Pragola setelah terdiam beberapa saat lamanya. Kemudian, ia pun memberi aba-aba kepada seluruh rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa diperintah dua kali, seluruh rombongan berkuda itu mulai bergerak mengikuti Pragola dan Jaya Prana. Semak belukar yang menghalangi jalan, diterobos seenaknya. Tak berapa lama kemudian, Pragola dan Jaya Prana sama-sama mengangkat tangan kanannya ke atas. Kemudian mereka melambai perlahan sebagai tanda agar lari kuda diperlambat.

"Kita istirahat di sini...!" Kembali terdengar suara Pragola yang keras. Kemudian, ia melompat turun dari atas punggung kuda dan berjalan memeriksa daerah sekitarnya.

Perbuatan Pragola diikuti Jaya Prana. Lelaki berkumis tebal itu pun melangkah mengelilingi sisi sebelah kiri. Itu sudah menjadi kebiasaan Pasukan Garuda apabila hendak bermalam di suatu tempat asing. Demikian pula dengan anggota pasukan mereka. Begitu tiba, kedua pasukan itu memecah dan menyiapkan tenda-tenda darurat dan ranting-ranting kering untuk membuat api unggun. Ketika kegelapan sudah mulai turun menyelimuti seluruh permukaan bumi, di sekitar lapangan berumput itu telah berdiri sepuluh buah tenda. Lidah api unggun tampak menjilat-jilat, menerangi sekitar perkemahan darurat kedua Pasukan Garuda itu.

********************

"Hm.... Tidak kusangka kalau orang yang berjuluk Pendekar Naga Putih demikian angkuh dansombong!Ucapannyatadibenar-benar keterlaluan dan sangat merendahkan kita semua. Heran! Mengapa orang-orang persilatan demikian memujanya? Tak habis pikir aku," dengus lelaki tinggi kekar. Suaranya seperti bernada sangat penasaran. Dia tampak berdiri tegak, memandangi api unggun dibawahnya.

"Sebagai seorang pendekar yang sangat dikagumi seluruh tokoh persilatan, seharusnya ia berhati-hati dalam setiap mengucapkan kata-kata. Bahkan tidak boleh sembarangan menghina orang. Lenyap sudah seluruh kekagumanku padanya. Pendekar muda itu benar-benar mengecewakan. Kalau suatu saat nanti aku kembali berjumpa dengannya, akan kuberi pelajaran pemuda som- bong itu!" sambut laki-laki berkumis tebal Dia tak lain dari Jaya Prana. Ucapannya diakhiri perasaan geram.

Banja dan Gandira yang saat itu ikut meriting mengelilingi api unggun, sama-sama menundukkan wajah dalam-dalam. Sepertinya, kedua lelaki gagah itu masih teringat akan kematian gurunya yang tidak sempat mereka saksikan. Dan yang membuat hati bertambah penasaran adalah, tidak diketahuinya siapa orang yang telah membantai guru dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Istirahatlah dulu, Banja, Gandira. Aku dan Jaya Prana menyusul nanti." Hanya itu yang bisa diucapkan Pragola. Karena, ia pun maklum kalau sampai saat itu blum satu pun yang dapat diperbuatnya untuk meringankan kesedihan kedua orang lelaki gagah itu.

"Biarlah, Kakang. Kami berdua sudah sepakat untuk melakukan penjagaan malam ini. Kalau memang Kakang berdua sudah merasa lelah, silakan beristirahat," sahut Gandira.

Laki-laki ini tidak enak, karena telah menuduh Pragola sebagai pembunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. Untunglah Pragola tidak sampai sakit hati karenanya. Dan tentu saja hal itu membuat hati Gandira sedikit lega. Maka, ia pun semakin menaruh hormat kepada lelaki bertubuh tinggi kekar itu.

"Baiklah kalau begitu. Aku istirahat dulu," ujar Pragola yang segera berpamitan dan memasuki tenda yang paling bagus di antara tenda-tenda lain.

Sepeninggal Pragola, Jaya Prana juga bergegas bangkit dari duduknya. Setelah menghela napas sejenak, kakinya melangkah menuju tendanya setelah meninggalkan pesan kepada kedua orang anak buahnya itu agar berhati-hati. Kedua lelaki gagah itu sama-sama mengangguk hormat kepada pimpinannya. Kemudian mereka kembali duduk sambil menggosok- gosokkan telapak tangan di dekat api unggun. Hal itu dilakukan untuk mengusir hawa dingin. Malam pun semakin larut. Beberapa orang anggota Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang berjaga-jaga mulai terserang rasa kantuk. Hawa yang kian bertambah dingin, membuat mereka berkali-kali menguap. Banja dan Gandira yang berjaga di dekat tenda kedua orang pemimpin Pasukan Garuda itu mendadak bangkit sambil mengedarkan mata ke sekitarnya. Wajah mereka terlihat menegang.

"Kau dengar suara-suara itu, Gandira...?" tanya Banja, suaranya terdengar pelahan sambil meraba gagang pedang yang terselip di pinggang kanannya.

"Benar! Aku pun mendengarnya. Suara itu memang seperti suara binatang hutan. Tapi, kalau memang ditimbulkan binatang-binatang hutan, mengapa terdengar saling bersahutan? Ini mencurigakan! Jangan-jangan, itu adalah sandi rahasia dari musuh-musuh kita," timpal Gandira. Lelaki gagah bertubuh padat berisi ini pun meraba gagang pedang dengan wajah tegang.

"Yaaaooouuu !"

Kedua orang lelaki gagah itu semakin bertambah curiga ketika kembali dengan jelas menangkap suara-suara mencurigakan itu. Tapi yang membuat sulit dimengerti, mengapa Pragola dan Jaya Prana tidak segera keluar dari tendanya. Rasanya, suara itu juga terdengar mereka.

"Mungkin Kakang Pragola dan Kakang Jaya Prana terlalu lelah, sehingga sudah tertidur sangat lelap dan kehilangan kewaspadaan. Sebaiknya kau pergi ke sana, dan bangunkan mereka. Biar aku yang akan berjaga-jaga di sini," kata Gandira sambil menolehkan kepala ke arah Banja yang saat itu juga tengah menatap kearahnya.

"Baik. Hati-hatilah, aku akan segera kembali..." Begitu ucapannya selesai, tubuh Banja langsung melesat menuju tenda yang didiami Jaya Prana.

Sepeninggal Banja, Gandira yang sudah bersiaga dengan senjata di tangan tiba-tiba tersentak kaget. Cepat pedangnya diputar membentuk gulungan sinar bulat yang melindungi tubuhnya.

Trang! Tring!

Paku-paku halus yang meluncur ke arahnya, langsung berjatuhan ke atas tanah. Sambil tetap memutar pedang, tubuh Gandira mencelat ke belakang dan langsung melakukan salto beberapa kali.

"Ada apa, Gandira...?" tiba-tiba saja Banja yang rupanya mendengar suara ribut itu telah melesat dan berdiri di samping Gandira dengan senjata terhunus.

"Jelas ada orang-orang yang mengintai kita. Sepeninggalmu tadi, aku diserang senjata rahasia yang berupa paku-paku kecil. Dan aku yakin, senjata rahasia itu pasti telah diolesi racun. Kita harus berhati-hati, Banja. Bagaimana tugasmu? Apakah hal ini sudah kau ceritakan kepada mereka?" tanya Gandira setelah menceritakan kejadian yang menimpanya.

"Dugaanmu ternyata meleset. Ternyata Kakang Pragola dan Kakang Jaya Prana sama-sama mendengar suara-suara itu. Tapi, mereka berdua sengaja menunggu di dalam untuk memancing orang-orang itu keluar dari tempat persembunyiannya. Rupanya, kedua pemimpin kita itu sudah menduga sejak semula. Jadi, tidak perlu khawatir tentang keadaan ini," sahut Banja yang tidak melepaskan pandangannya dari semak belukar di depannya.

Belum lagi ketegangan di hati mereka lenyap, tiba-tiba terdengar jerit kematian yang menyayat langkah mereka yang sudah siap berlari menuju asal jeritan itu, mendadak terhenti. Sesosok bayangan Iain berkelebat cepat mendahului, setelah meninggalkan pesan kepada Banja dan Gandira.

"Tetap di tempatmu! Biar aku yang akan melihatnya...," perintah bayangan itu, yang terus berkelebat tanpa menunggu jawaban mereka. Selagi Banja dan Gandira tercenung, tahu-tahu saja sesosok tubuh lain telah berdiri di belakang mereka.

"Kakang Pragola...," desah Banja dan Gandira berbarengan. Lega hati mereka begitu mengetahui, siapa sosok tubuh yang berdiri tegak di belakang itu.

"Tenanglah. Jangan mudah terpancing oleh kelicikan musuh," ujar Pragola. Melihat sikap tenang yang ditunjukkan Pragola, mau tak mau kedua lelaki gagah itu mengerutkan keningnya.

"Kakang. Nampaknya kau sama sekali tidak terkejut oleh kejadian ini? Mengapa?" tanya Banja menuntut Rupanya, ia tidak bisa menyimpan keheranan dan rasa penasaran di hatinya.

"Apa kalian tidak ingat pada kematian Santika dan Janaka yang aneh itu? Hal itu terjadi, karena kita ingin menjumpai dan mengorek keterangan dari mereka," jelas Pragola yang membuat kerutan di kening Banja dan Gandira semakin nyata.

"Maksud, Kakang...?" Gandira yang belum mengerti ke mana arah pembicaraan Pragola, tak dapat menahan rasa ingin tahunya.

"Hm.... Kalian ini benar-benar bodoh!" umpat Pragola tanpa maksud menghina. "Itu tandanya, musuh-musuh selalu membayangi perjalanan kita. Jadi, aku tidak heran kalau malam ini mereka akan menyerbu kita."

Mendengar keterangan itu, Banja dan Gandira mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Dugaan yang diajukan Pragola, membuat harapan untuk berhadapan dengan pembunuh guru mereka menjadi terbuka. Mengingat hal itu, sepasang mata mereka tampak bersinar penuh semangat. Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar derap langkah kaki banyak orang mendatangi. Mereka adalah anggota Pasukan Garuda Emas yang hendak menghadap pimpinan.

"Kakang! Para anggota Garuda Hitam yang dipimpin Kakang Jaya Prana tengah bertarung melawan puluhan orang-orang berpakaian serba hitam. Kami kini menunggu perintah. Dan kini Pasukan Garuda Hitam terdesak oleh orang-orang itu," lapor salah seorang anggota Pasukan Garuda Emas, lantang.

"Hm, benarkah?! Mengapa bisa demikian? Siapa sebenarnya musuh-musuh gelap kita ini?" seru Pragola terkejut.

Laki-laki itu bukan tidak mendengar suara perkelahian. Tapi, sesuai rencana yang telah diatur bersama Jaya Prana, maka ia pun diam saja menanti perkembangan selanjutnya. Sebab menurutnya, bukan tidak mungkin kalau pasukan musuh itu masih ada yang bersembunyi, menanti mereka letih. Saat bantuan musuh datang, barulah ia dan pasukannya akan datang membantu.

"Kami harus pergi, Kakang Pragola...!" pamit Gandira yang tidak dapat menahan hati melihat lelaki tinggi kekar itu malah termenung.

Dan tanpa menunggu jawaban lagi, kedua lelaki gagah itu pun melesat ke tempat terjadinya pertarungan. Gerakan mereka begitu bersemangat karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui pembunuh gum dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Mari kita ke sana...!" perintah Pragola setelah tersadar dari lamunannya.

Begitu ucapannya selesai, tubuh tinggi kekar itu langsung melesat menuju tempat pertarungan yang tengah berlangsung. Tanpa banyak cakap lagi, kedua puluh orang anggota Pasukan Garuda Emas bergerak mengikuti pimpinannya. Derap kaki mereka terdengar bergemuruh bagai hendak merobohkan pohon-pohon di hutanitu. Pragola langsung menerjunkan diri ke arena pertempuran yang tengah berlangsung ramai itu.

Hatinya benar-benar terkejut ketika mendapat kenyataan kalau lawan-lawannya itu ternyata rata-rata memiliki kemampuan cukup tinggi. Bahkan boleh dikatakan seimbang dengan kemampuan para anggota pasukannya. Tentu saja dengan kenyataan itu, dia tidak merasa heran melihat Pasukan Garuda Hitam terdesak. Karena, jumlah lawan masih lebih banyak daripada anak buah Jaya Prana yang hanya berjumlah dua puluh orang.

Melihat kehadiran Pragola dan pasukannya, Jaya Prana dan pasukannya dapat bernapas lega. Bantuan Pasukan Garuda Emas itu membuat lawan-lawan kini terdesak mundur. Sehingga, keadaan pun kini berbalik. Jaya Prana sendiri mendapat lawan seorang lelaki brewok bertubuh gendut Dia ternyata cukup tangguh dan dapat bergerak lincah tanpa terhalang kegemukan tubuhnya. Bahkan pukulan-pukulan yang dilontarkan sangat berbahaya, sehingga pimpinan Pasukan Garuda Hitam harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk menandingi kesaktiannya.

Wuttt!

Pukulan yang meluncur menimbulkan angin berkesiutan itu dielakkan Jaya Prana dengan memiringkan tubuh sambil menarik kaki kanan ke belakang. Begitu pukulan lawan lewat, kaki yang semula ditarik ke belakang, mendadak berbalik. Langsung dilepaskannya tendangan berputar, mengancam batang leher lawan. Lelaki bertubuh gemuk dan berwajah brewok yang tak lain dari Harimau Bukit Munjul, memutar tubuh dengan kuda-kuda rendah. Berbarengan dengan itu, tangannya yang berbentuk cakar terulur menangkap kaki Jaya Prana. Gerakan itu masih disusul dengan sodokan sikut kanan yang menggedor dada lelaki berkumis lebat itu.

Bret... Desss!

"Hegkh...!" Tubuh Jaya Prana terpental mundur dibarengi suara kain robek. Namun, lelaki tegap itu memang tidak percuma sebagai pimpinan Pasukan Garuda Hitam. Maka tubuhnya cepat bergulingan menghindari serangan susulan lawan. Setelah terbebas dari ancaman, tubuh Jaya Prana melenting bangkit dan agak tertatih-tatih. Kaki kanannya tampak mengalirkan darah akibat cakaran kuku lawan. Wajahnya pun tampak menyeringai kesakitan. Di sela bibirnya, mengalir cairan merah. Rupanya sodokan sikut lawan pada dadanya, telah mengakibatkan luka dalam yang cukup parah!

"He he he.... Hanya sampai sedemikiankah kepandaian yang dimiliki pimpinan Pasukan Garuda Hitam?" ejek Harimau Bukit Munjul yang bernama asli Juraga, sambil bertolak pinggang.

"Hm.... Jangan sombong dulu, Kisanak. Boleh kau saksikan kehebatan Pasukan Garuda Hitam sekarang," geram Jaya Prana sambil menatap lawan dengan sorot mata tajam.

Perlahan-lahan lelaki gagah berkumis lebat itu melangkah mundur. Tiba-tiba, terdengar teriakannya yang membahana. Teriakan itu merupakan perintah bagi anggota pasukannya untuk membentuk barisan.

"Kawan-kawan, mundur...!" seru Jaya Prana memerintah. "Bentuk barisan dalam jajaran 'Garuda Hitam Membentang Sayap'...!"

Setelah berkata demikian, ia sendiri sudah berdiri tegak dengan sikap kuda-kuda bersilang. Kedua tangannya terkembang ke kiri kanan menyerupai sepasang sayap garuda. Sedangkan para anggota pasukannya termasuk Banja dan Gandira, sudah berlari ke arah belakang Jaya Prana. Tak lama kemudian, terbentuklah bentuk barisan yang dimaksud. Dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Hitam berbaris rapi berlapis dua di kiri kanan Jaya Prana. Kuda-kuda maupun bentuk tangan mereka tidak berbeda dengan pemimpinnya.

"Haaat..!"

Dibarengi teriakan keras yang merupakan aba-aba, tubuh Jaya Prana dan sepuluh barisan terdepan meluruk maju menyerbu lawan-lawannya. Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya yang semula memandang rendah barisan itu, terkejut bukan main. Barisan terdepan yang menerjang maju itu mendadak bergulingan secara tak terduga. Pada saat Juraga dan kawan-kawan belum mengerti apa yang hendak dilakukan lawan, sepuluh orang yang berada di barisan belakang melesat melampaui kepala barisan terdepan yang tengah bergulingan. Langsung dikirimkan serangan dengan menggunakan senjata mereka.

Terdengar jeritan-jeritan kematian yang merobek udara malam itu. Jeritan itu disusul oleh robohnya delapan orang kawan Harimau Bukit Munjul, dengan tubuh berlumuran darah. Sedangkan tokoh sesat berwajah brewok berperut gendut itu sendiri sudah melompat mundur menghindari tebasan Banja yang mengancam leher. Belum lagi Harimau Bukit Munjul dapat menarik napas lega, tahu-tahu saja tubuh Jaya Prana yang masih bergulingan itu melenting dan langsung membabatkan senjata secara mendatar.

Wuttt!

"Akh...!" Bukan main terkejutnya hati Harimau Bukit Munjul mendapat serangan tak terduga itu. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang dan melakukan beberapa kali salto di udara untuk menjauhi lawan-lawannya. Sayang, Harimau Bukit Munjul belum mengetahui keistimewaan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih itu. la yang merasa yakin bisa terbebas dari ancaman maut itu, kembali terbelalak pucat. Baru saja kakinya menginjak tanah, dua batang pedang yang digerakkan Banja dan Jaya Prana sudah mengancam dari bawah ke atas.

Wuttt... Brettt!

"Akh...!" Meskipun Harimau Bukit Munjul telah berusaha menyelamatkan diri, tak urung bahu kanannya terkena sambaran ujung pedang Banja yang berputar mengejutkan. Belum lagi rasa terkejutnya hilang, sebuah tendangan keras membuat tubuh gendut itu terjungkal, jatuh berguling- guling.

"Bangsat..! Kubunuh kalian semua...!" teriak Harimau Bukit Munjul dengan kemarahan yang menyesakkan dadanya.

Sepasang mata Juraga yang kemerahan itu menatap tajam ke arah Pasukan Garuda Hitam yang sudah membentuk barisan semula. Diam-diam hati lelaki gendut itu sempat bergetar melihat keangkeran barisan 'Garuda Hitam Membentang Sayap' yang dibentuk lawan-lawannya. Hatinya masih ngeri membayangkan, betapa ia hampir saja kehilangan nyawa akibat barisan itu. Pasukan Garuda Hitam dalam bentuk 'Garuda Hitam Membentang Sayap' terlihat mulai bergerak maju. Gerak langkah mereka terlihat teratur rapi. Jelas, barisan itu memang sudah terlatih baik.

DELAPAN

Di arena lain, Pasukan Garuda Emas pun sudah pula merobohkan banyak lawan. Pragola yang juga membentuk barisan dalam posisi 'Paruh Garuda', berhasil menguasai pertempuran. Sehingga, dalam waktu yang singkat kedua Pasukan Garuda telah dapat mengendalikan lawan- lawannya.

"Mundur...!" lelaki tinggi kurus yang wajahnya dipenuhi bopeng, berteriak keras. Setelah berteriak, ia sendiri telah melompat mundur sejauh dua tombak. Di wajahnya tampak seringai kesakitan. Dari gerak tangannya yang mengurut-urut dada, jelas kalau lelaki bopeng itu telah mendapat luka.

Kalau melihat sinar matanya yang menatap Pragola, bisa ditebak, dia telah menerima pukulan dari pemimpin Pasukan Garuda Emas. Kawan-kawan si muka bopeng langsung berlompatan mundur, meninggalkan kawan-kawannya yang terluka ataupun tewas di tangan Pasukan Garuda Emas. Belasan orang yang ternyata masih berusia muda itu berkerumun di belakang pemimpinnya. Siapa lag} lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu kalau bukan Jerangkong Bukit Karang!

Rupanya tokoh ini bersekutu dengan Harimau Bukit Munjul. Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang telah membentuk posisi masing- masing, terus bergerak maju mengurung lawan-lawannya. Gerakan langkah kaki mereka yang terlihat mantap dan ringan, membuat Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawan bergerak mundur dengan wajah tegang. Jelas, mereka merasa gentar untuk menghadapi kedua barisan yang memang sangat ampuh itu.

"Hm.... Jelas sudah semua persoalan ini bagiku sekarang. Kalianlah yang telah membantai Perguruan Tinju Selatan. Sayang, kelicikan kalian itu tidak sampai membuat kami saling bunuh. Dan kini, kalian semua harus menerima balasannya!" tegas Pragola setelah melihat bentuk tubuh dan raut wajah Harimau Bukit Munjul. Kalau dilihat sepintas, jelas mereka memang hampir mirip satu sama lain. Maka wajar saja kalau kedua orang murid Perguruan Tinju Selatan salah memberi keterangan.

"Ya! Akulah yang telah menghabisi nyawa tua bangka itu beserta murid muridnya. Sayang, kedua orang bodoh itu tidak berhasil membuat kalian saling bunuh. Jadi, nyawa mereka terpaksa kuhabisi sekalian," sahut Harimau Bukit Munjul membeberkan persoalannya.

Dan memang, menurutnya tidak ada gunanya lagi menyembunyikan perbuatan itu. Dan keterusterangannya itu dimaksudkan agar kemarahan lawannya terpancing. Siapa tahu saja dengan kemarahan itu, barisan lawan menjadi kacau. Apa yang diharapkan Harimau Bukit Munjul yang juga bernama Juraga, hampir menjadi kenyataan. Banja dan Gandira yang mendengar penuturan itu langsung saja bergerak maju dengan wajah penuh dendam. Kedua orang lelaki gagah itu siap meninggalkan barisannya, untuk membalas kematian guru dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Banja, Gandira, mundur...!" Jaya Prana yang melihat kelakuan kedua orang anggota pasukannya itu, cepat mencegah. "Kembali ke tempatmu, atau perjalanan kita selama ini akan sia-sia!"

'Tapi, Kakang.... Aku..., aku harus membalas kematian guru dan saudara-saudara seperguruanku.... Iblis keji itu harus kucincang hancur tubuhnya...," ragu-ragu Banja membantah perintah pimpinannya. Suaranya terdengar bergetar dan tersendat-sendat

"Bodoh! Dia sengaja memancing amarahmu, agar kau meninggalkan barisan. Itu yang diinginkannya, Banja! Manusia itu sangat licik dan keji. Ia masih juga ingin memancing kemarahanmu, setelah fitnah yang dilemparkan kepada Pragola, tidak membuat kita saling bunuh. Jelas manusia ini sengaja mengadu domba. Aku rasa perbuatannya ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan hilangnya Tongkat Pualam Putih!" seru Jaya Prana tak sabar melihat keraguan di wajah Banja dan Gandira.

Harimau Bukit Munjul maupun Jerangkong Bukit Karang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Sebab, kalau Banja dan Gandira sudah kembali memasuki barisan, akan sulit bagi mereka untuk dapat menyelamatkan diri dari keganasan Pasukan Garuda itu.

"Serbu...!" Dibarengi teriakan keras dari Harimau Bukit Munjul dan Jerangkong Bukit Karang, maka puluhan pemuda di bawah pimpinannya meluruk maju. Suara-suara teriakan mereka yang gegap- gempita, terdengar riuh-rendah mengejutkan penghuni hutan.

Untunglah saat itu Banja maupun Gandira sadar akan perbuatan bodoh mereka. Maka cepat keduanya melompat dan memasuki barisan. Begitu barisan telah terbentuk seperti semula, kedua barisan itu bergerak maju menyambut serangan lawan-lawan. Hebatnya, meskipun menghadapi pertempuran kacau, Pasukan Garuda tetap tersusun rapi. Sehingga, lawan-lawannya hanya bisa bermain mundur. Sebab apabila nekat maju, sudah pasti nyawa mereka akan melayang meninggalkan raga. Selagi kedua Pasukan Garuda itu mendesak lawan, tiba-tiba bertiup angin yang amat kuat. Dan belum juga ada yang menyadari, dua sosok tubuh berpakaian merah dan hitam telah melesat mengiringi tiupan angin kuat itu.

"Ha ha ha...! Sungguh hebat! Pasukan Garuda ternyata memang bukan nama kosong!" seru suara menggelegar yang berasal dari sosok berpakaian merah. Sambil berseru demikian, kedua tangannya mengibas ke kiri kanan.

Wusss! Wusss!

Hebat sekali akibat kibasan tangan yang kelihatannya perlahan itu! Barisan Garuda Emas yang dipimpin Pragola seketika terpukul mundur dan berjatuhan bagai dihempas badai! Pasukan Garuda Hitam yang dipimpin Jaya Prana pun mengalami nasib serupa. Barisan 'Garuda Hitam Membentang Sayap'nya, kontan kocar-kacir akibat amukan sosok berpakaian hitam yang mengobat-abitkan lengan bagaikan orang mengusir lalat.

Namun sebagai prajurit-prajurit yang terlatih baik, para anggota kedua Pasukan Garuda itu bergegas bangkit meskipun agak terhuyung. Sayang, sebelum mereka sempat membentuk barisan lagi, kedua orang aneh itu langsung menerjang maju. Jelas, orang berpakaian hitam dan merah itu tidak ingin memberi kesempatan kepada kedua Pasukan Garuda untuk menyusun kekuatan.

"Mundur...!" Pragola yang menyadari datangnya bahaya, cepat berteriak memperingatkan anggota pasukannya. Sedangkan ia sendiri yang merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan setiap anggotanya, sudah melompat maju dengan kibasan senjatanya.

Orang berjubah merah yang mengacau-balaukan pasukan Pragola, hanya mendengus melihat serangan laki-Laki brewok itu. Tanpa mempedulikan sambaran pedang yang mengancam punggung, dia terus saja melanjutkan pukulan ke arah dua orang anggota Pasukan Garuda Emas.

Bukkk! Desss!

"Aaa...!" Terdengar jeritan ngeri ketika pukulan yang dilancarkan lelaki berjubah merah itu tepat menghantam dada korbannya. Disertai semburan darah segar yang memercik membasahi bumi, tubuh kedua orang malang itu terpental dan melambung tinggi bagai dilempar sebuah kekuatan raksasa.

Setelah menyelesaikan serangannya, sosok berjubah merah itu bam menggeser kakinya ke samping. Langsung dilepaskannya sebuah pukulan dengan telapak tangan terbuka ke dada Pragola.

Bukkk!

"Hugkh...!" Pragola terbatuk keras ketika telapak tangan lawan yang bagaikan palu godam itu telak menghajar dadanya. Bagai dihentakkan tangan raksasa, tubuh lelaki tinggi besar itu tersentak deras ke belakang.

"Hup...!" Tubuh Pragola yang meluncur deras itu tidak sampai jatuh ke atas tanah. Tiba-tiba sepasang lengan halus sosok ramping berpakaian serba hijau telah melesat dan menangkapnya di udara.

"Kenanga...!" desah Pragola bersyukur melihat kedatangan wanita jelita yang digdaya itu.

"Maafkan aku, Paman. Aku datang terlambat..." ucap Kenanga setelah merebahkan tubuh Pragola di atas rerumputan tebal.

"Tidak apa. Mana Pendekar Naga Putih...?" tanya Pragola begitu tidak melihat Panji dekat gadis jelita itu.

"Tenanglah, Paman. Kakang Panji telah berada di antara kita. Sekarang, ia tengah bertarung melawan lelaki tua berpakaian hitam. Orang itu dipanggil Paman Jaya Prana dengan nama Ki Sempana. Apakah Paman juga mengenalnya?" tanya Kenanga sambil menyerahkan sebutir obat luka yang diambil dari dalam buntalan pakaiannya.

"Ki Sempana...!? Ah, pantas saja Tongkat Pusaka Keramat itu dapat dicuri. Tak tahunya, dia ikut membantunya. Untunglah kalian berdua bersedia membantu kami Kalau tidak, mungkin hanya nama kami sajalah yang akan kembali ke istana," kata Pragola, setelah menelan pil yang diberikan kepadanya.

"Hm.... Aku pun sudah mendengar hal itu dari Paman berdua ketika merencanakan siasat ini di Perguruan Tinju Selatan. Sayang, rencana kita tidak semulus apa yang dibayangkan. Sehingga, beberapa orang anggota pasukan Paman dan Paman Jaya Prana harus menjadi korban. Sebaiknya Paman beristirahat saja dulu. Biar aku yang menghadapi orang berbaju merah itu," ujar Kenanga yang segera bangkit meninggalkan Pragola.

Setelah menoleh kepala ke arah pertarungan yang tengah berlangsung antara Panji dan Ki Sempana, Pragola memejamkan matanya untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka dalamnya. Sikapnya bersemadi, untuk menghimpun hawa murni.

Saat itu, pertarungan antara Panji melawan Ki Sempana tengah berlangsung sengit. Jaya Prana dan sisa anggota pasukannya terpaksa menjauhi arena pertarungan. Dan memang, angin pukulan yang ditimbulkan kedua orang tokoh sakti itu dapat menewaskan mereka. Sehingga, pertarungan itu terpaksa disaksikan dari tempat yang agak jauh. Pertempuran yang sudah melewati seratus jurus itu nampak semakin seru dan menegangkan. Sadar kalau lawan tidak mungkin dapat ditundukkan begitu saja, maka Panji pun mulai mengerahkan ilmu simpanannya.

"Haiiit..!"

Sebuah pukulan yang meluncur ke arah dadanya, berhasil dihindari Pendekar Naga Putih dengan jalan melempar tubuh jauh ke belakang. Begitu kakinya menjejak tanah, pemuda tampan itu langsung menggeser kakinya membentuk kuda-kuda bagai menunggang kuda.

"Hmh...!" Disertai geraman yang mengguncangkan isi dada, kedua tangan pendekar muda itu bergerak naik dalam bentuk cakar naga. Kemudian, kedua tangan itu mengembang di depan dada.

Ki Sempana yang melihat betapa lawannya mulai mengeluarkan jurus-jurus andalan, segera menarik keluar sebatang suling berwarna putih dari selipan pinggangnya.

Swingngng!

Terdengar lengkingan tinggi rendah ketika suling di tangan kakek berusia tujuh puluh tahun itu bergerak cepat turun naik.

"Yeaaat..!"

Dibarengi teriakan dahsyat, tubuh Panji meluruk ke arah lawannya. Sepasang tangannya berputaran cepat saat melancarkan serangan bertubi-tubi.

Wuttt! Wuttt!

Sambaran hawa dingin yang membuat beku tubuh lawan, menyertai sambaran tangan Pendekar Naga Putih. Dalam beberapa jurus saja, Ki Sempana dibuat terkejut Karena tubuhnya terasa bagai dikelilingi dinding-dinding salju yang amat dingin. Tentu saja keadaan itu membuat gerakannya terhalang dan tidak bisa bergerak cepat.

"Heaaa...!" Sadar kalau dibiarkan terlalu lama bisa membahayakan, Ki Sempana berteriak mengguntur untuk mengusir hawa dingin yang mempengaruhi gerakannya. Sepasang tangannya mengibas ke kiri kanan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Gerakan itu dilakukan dalam sikap tubuh miring. Maksudnya, sekaligus untuk menghindari hantaman tangan kanan lawan.

Bettt!

Cakaran Pendekar Naga Putih yang lewat sejengkal di depan tubuhnya, langsung disambut sebuah hantaman suling di tangan kanannya.

Wuttt!

Dengan menggunakan jurus 'Naga Sakti Memutar Ekor', tubuh pemuda berjubah putih itu meliuk rendah menghindari sambaran suling yang memperdengarkan suara mencicit tajam. Dan sebelum Ki Sempana sempat menarik pulang tangannya, tahu-tahu saja tubuh Panji berputar disertai sebuah tendangan kilat yang meluncur mengancam batang leher.

Desss!

"Akh...!" Tubuh kakek itu melintir meskipun tendangan Panji berhasil dielakkan, dan hanya menghantam bahu kirinya. Kesempatan baik itu tidak disia-siakan begitu saja oleh Pendekar Naga Putih. Saat itu juga, tubuh Panji langsung melesat disertai dorongan sepasang telapak tangannya.

Wusss. Desss!

"Waaa...!" Terdengar jeritan kesakitan ketika sepasang telapak tangan yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' menggedor dada Ki Sempana. Tubuh lelaki tua itu tersentak ke belakang dengan amat kuatnya.

Brukkk!

"Ougkh...!" Ki Sempana mengerang kesakitan. Tubuh tuanya yang terbanting keras di atas tanah, tampak berkelojotan dengan kedua tangan menekap dada. Dari mulutnya, mengalir darah segar yang menggenang membasahi tanah di bawah kepala.

"Ikat orang tua itu...!" Jaya Prana cepat memerintah kepada para anggota pasukannya untuk segera menangkap Ki Sempana. Laki-laki berkumis tebal itu sendiri tidak tinggal diam. Tubuh tegapnya berkelebat menghambur ke arah Ki Sempana yang terbaring lemah akibat luka dalam yang dideritanya.

Panji yang merasa lelah setelah melakukan pertempuran hampir dua ratus jurus melawan Ki Sempana, menolehkan kepala ke arah pertarungan lain. Tubuhnya segera melesat ketika melihat Kenanga tengah terdesak hebat melawan seorang laki-laki tinggi gagah yang mengenakan pakaian serba merah.

"Haittt..!" Begitu tiba, Panji langsung mengirimkan pukulan telapak tangannya untuk memapak tusukan jari tangan orang itu yang tengah mengancam kekasihnya.

Plakkk!

"Ugkh...!" Ledakan keras yang timbul akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti yang dahsyat membuat tubuh Panji maupun orang berjubah merah itu terpental ke belakang. Tapi, baik Panji maupun lawannya dapat mematahkan daya luncur itu dengan bersalto diudara beberapa kali.

Begitu kedua kakinya menjejak tanah, Panji langsung menyedot napas dalam-dalam. Kemudian, dia menghembuskannya disertai dorongan kedua telapak tangannya ke depan. Gerakan itu dilakukan untuk menghilangkan pengaruh pertemuan tenaga yang sempat menggetarkan bagian dalam dadanya. Selesai berbuat demikian, Pendekar Naga Putih berdiri tegak menatap tajam lawannya. Sempat terlihat orang berjubah merah itu juga melakukan hal yang sama dengannya. Jelas, orang berjubah merah itu merasakan juga akibat tangkisan Panji tadi.

"Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih, Kisanak?" tanya orang berjubah merah itu memastikan. Sambil berkata demikian, sorot matanya yang mencorong tajam meneliti sekujur tubuh Panji. Sepertinya, orang itu tengah menilai Pendekar Naga Putih yang telah mengguncangkan dunia persilatan itu.

"Tidak salah. Dan kalau boleh kutahu, siapakah kau sebenarnya, Kisanak? Mengapa kau sembunyikan wajahmu di balik kain merah itu? Apakah kau merasa malu karena wajahmu buruk?" Panji malah balik bertanya. Sengaja dilontarkannya kata-kata bernada mengejek untuk memancing lawannya agar membuka rahasia dirinya.

"Hm.... Siapa adanya aku, itu bukan urusanmu! Yang perlu diketahui adalah, aku tidak menyukai orang yang sok pahlawan! Apa tujuanmu mencampuri urusan orang lain?" dengus orang berjubah merah itu tajam. Tatapan matanya pun berubah penuh kebencian kepada pemuda tampan di hadapannya.

"Kakang, untuk apa banyak bertanya lagi? Tangkap saja orang itu, dan serahkan kepada Paman Pragola dan Paman Jaya Prana," tegur Kenanga yang merasa tidak sabar melihat kekasihnya malah berbincang dengan orang berjubah merah yang jelas-jelas seorang tokoh sesat.

Orang berjubah merah itu melirik sejenak ke tempat Ki Sempana yang tengah terduduk lemah dengan tangan dan kaki terikat. Sepertinya, dia menyadari kalau keadaannya tidak menguntungkan. Maka, ia pun segera melangkah mundur perlahan-lahan.

"Hm.... Kalian akan menyesal kalau telah mencampuri urusan ini!" ancam orang itu. Dia terus melangkah mundur, walaupun matanya masih menatap tajam Pendekar Naga Putih. Sepertinya perhatian Panji dan Kenanga sengaja hendak dialihkan lewat ucapan-ucapannya. Pada saat tubuhnya telah terpisah jauh dari Panji, tiba-tiba orang berjubah merah itu berbalik dan melesat pergi disertai perintahnya kepada Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya.

"Tinggalkan tempat ini...!" seru orang berjubah merah itu sambil melarikan diri.

Harimau Bukit Munjul dan yang lainnya pun sadar akan keadaan mereka. Maka tanpa diperintah dua kali, ia dan kawan-kawannya pun segera berlari meninggalkan tempat itu.

"Hei, jangan lari...!" teriak Panji yang segera melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk mengejar orang berjubah merah itu.

"Tangkap mereka...!" Pragola yang sudah sembuh dari lukanya, berseru memerintah pasukannya untuk segera mengejar Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya.

"Cegah mereka...!" Jaya Prana pun tidak tinggal diam. Ia dan anggota pasukannya bergegas ikut mengejar. Karena untuk menyelamatkan diri sudah tidak mungkin, maka Harimau Bukit Munjul dan Jerangkong Bukit Karang, memerintahkan kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan.

Tanpa dapat di cegah lagi, pertempuran pun kembali berkecamuk. Denting senjata dan jerit kematian mewarnai pertempuran sengit itu. Darah segar pun kembali mengalir membasahi rerumputan hijau.

Di tempat lain, Panji tengah mengejar orang berjubah merah yang merupakan pimpinan gerombolan pengacau itu. Pendekar Naga Putih mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya untuk dapat menyusul lawan. Diam-diam hati pendekar muda itu merasa penasaran ketika mendapat kenyataan kalau ilmu kepandaian lari lawan, ternyata tidak kalah dengan ilmu lari yang dimilikinya. Setelah agak lama kejar-kejaran yang melelahkan itu berlangsung, Panji mulai dapat memperpendek jarak di antara mereka. Hingga akhirnya, dapat menyusul orang berjubah merah itu ketika mereka melintasi padang rumput yang cukup luas.

"Haiiit..!" Dibarengi bentakan nyaring, tubuh Pendekar Naga Putih melambung melewati kepala lawan. Kemudian, kakinya mendarat ringan sejauh satu setengah tombak di hadapan lawan.

"Jangan harap dapat meloloskan diri dari tanganku, Kisanak!" tegas Panji yang segera membalikkan tubuhnya menghadapi orang berjubah merah itu.

"Bedebah! Rupanya kau memang benar-benar ingin mati, Pendekar Naga Putih! Sambutlah seranganku...!" bentak orang berjubah merah itu dengan penuh kemarahan. Berbarengan dengan suara bentakan, tu-buhnya pun meluncur ke arah Pendekar Naga Putih dengan serangan ganas dan berbahaya.

Bettt! Bettt!

Dua kali pukulan lawan dihindari Panji dengan menarik mundur tubuhnya ke belakang. Pemuda itu terlihat agak hati-hati ketika mendengar suara mencicit tajam yang ditimbulkan sambaran pukulan lawan Sebab, orang yang sudah memiliki sambaran pukulan seperti itu sudah pasti memiliki tenaga dalam tinggi dan berbahaya.

Panji masih saja mengelak ketika orang berjubah merah itu melontarkan tendangan kilat menuju lambungnya. Cepat pemuda itu menarik mundur kaki kanannya dengan sikap tubuh doyong ke belakang. Maka sambaran tendangan lawan hanya lewat beberapa jengkal di atas kepalanya. Belum lagi orang itu sempat menarik pulang tendangannya, tiba-tiba saja tubuh Panji sudah berputar cepat disertai tendangan berputar yang mengancam dada orang itu.

Wuttt! Plakkk!

Panji terhuyung ke belakang ketika orang itu mengangkat tangan untuk menangkis serangan kakinya. Hal itu bukan karena tenaga lawan lebih kuat, tapi karena pada saat menendang, sikap kuda-kudanya lebih lemah dari lawan. Pertarungan sengit pun kembali berlanjut Kedua orang tokoh yang ternyata sama-sama memiliki kepandaian tinggi saling serang dan saling mendesak hebat. Beberapa batang pohon langsung tumbang akibat sambaran pukulan mereka yang nyasar. Pertempuran yang terus bergeser itu membuat daerah di sekitarnya porak-poranda bagaikan diamuk badai. Batu-batu besar dan kecil beterbangan akibat sambaran kaki mereka yang mengandung kekuatan hebat.

"Haaat..!" Memasuki jurus yang kesembilan puluh enam, tiba-tiba orang berjubah merah itu berseru keras disertai dorongan sepasang telapak tangan ke arah tubuh Panji.

Wusss! Darrr!

Semak perdu yang berada dua tombak di belakang pemuda itu langsung berhamburan akibat hantaman pukulan orang berjubah merah. Untunglah, Panji masih sempat menyelamatkan dirinya. Kalau tidak, tubuhnya akan luluh lantak akibat pukulan yang mengandung kekuatan raksasa itu. Buktinya, tanah tempat Pendekar Naga Putih berpijak tadi langsung berlubang dalam. Ketika angin pukulan yang amat kuat itu lewat beberapa jengkal di samping tubuhnya, Pendekar Naga Putih pun langsung melompat disertai pukulan telapak tangan yang menimbulkan sambaran angin dingin.

Wuttt! Wuttt!

Angin dingin seketika bertiup, bagai hendak merobohkan pepohonan di hutan itu. Setelah berputar, telapak tangan Pendekar Naga Putih langsung melontarkan pukulan jarak jauh.

Wusss!

Merasakan sambaran angin dingin yang amat kuat mengancam dirinya, lelaki bertubuh sedang yang mengenakan jubah merah itu bergegas menyedot udara sebanyak-banyaknya. Kemudian, dengan pengerahan seluruh tenaga saktinya, orang berjubah merah itu mendorongkan telapak tangan ke depan menyambut serangan Pendekar Naga Putih. Dan....

Wusss! Blarrr!

Bumi di sekitar tepi hutan itu bagaikan diguncang gempa yang amat hebat Dua gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat itu saling bertumbukan di udara, sehingga menimbulkan ledakan yang menulikan telinga. Akibat yang dialami kedua orang itu pun tidak kalah hebatnya. Tubuh keduanya terlempar, bagaikan sehelai daun kering yang tertiup angin. Tubuh Panji maupun orang berjubah merah itu terlempar menabrak sebatang pohon besar hingga daun-daunnya berguguran bagai dilanda seekor gajah. Kemudian tubuh mereka melorot jatuh bagaikan sehelai karung basah.

"Kau.... Kau hebat, Pendekar Naga Putih...!" puji orang berjubah merah itu tulus. Kemudian tangan orang berjubah merah itu bergerak melepas kain yang menutupi sebagian wajahnya. Nampaklah wajah seorang laki-Laki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun. Dihapusnya lelehan darah yang membasahi sela bibirnya.

"Kau pun hebat Kisanak," ujar Panji memuji lawannya sungguh-sungguh.

Memang, jarang sekali Pendekar Naga Putih mendapat lawan yang benar-benar tangguh seperti sekarang ini. Panji jadi menyayangkan, mengapa orang yang memiliki kepandaian setinggi itu harus melakukan kejahatan. Alangkah baiknya kalau kepandaiannya digunakan untuk kebaikan. Kedua laki-laki yang terbaring lemah itu sama-sama memalingkan wajah ketika mendengar suara banyak langkah yang mendekati tempat itu.

Rupanya Jaya Prana dan Pragola yang membawahi Pasukan Garuda juga telah berhasil meringkus Harimau Bukit Munjul, Jerangkong Bukit Karang dan kawan-kawannya. Dan sambil membawa tawanan, mereka menghampiri Pendekar Naga Putih dan orang berjubah merah itu.

"Tidak usah kalian takut! Aku sudah tidak mempunyai daya lagi untuk melakukan perlawanan," ujar orang berjubah merah itu lemah.

"Kau.... Bukankah kau Pendekar Karang Jatra yang merupakan pengawal pribadi Gusti Pangeran Dwipa Sura?" tanya Pragola hampir tak mempercayai pandangannya. Rupanya baik Pragola maupun Jaya Prana bukan terdiam karena takut, melainkan tengah menegasi wajah lelaki gagah berjubah merah itu.

"Benar! Dan aku pulalah yang telah mencuri Tongkat Pualam Putih atas perintah junjun- ganku yang ingin menguasai Kerajaan Cadas Putih. Dan Tongkat Pualam Putih menurutnya dapat membuat keinginannya cepat terlaksana. Semua ini kukatakan bukan karena mengharap keringanan hukuman. Sama sekali tidak. Tapi, aku benar-benar sadar akan kesalahanku selama ini. Dan itu semua kusadari setelah bertemu Pendekar Naga Putih," sahut Pendekar Karang Jatra yang kemudian menolehkan kepala ke arah Panji. "Aku iri kepadamu, Pendekar Naga Putih."

Panji yang luka dalamnya sudah tidak begitu terasa setelah menelan obat yang diberi Kenanga, bergegas bangkit dan tersenyum kepada Pendekar Karang Jatra. Senyum Pendekar Naga Putih bukan karena rasa bangga atas sanjungan itu, melainkan karena mendengar kesadaran tokoh itu akan kesesatannya selama ini.

Pragola dan Jaya Prana melangkah ke arah Panji setelah mengikat tubuh Pendekar Karang Jatra terlebih dahulu. "Kami berdua mengucapkan terima kasih atas bantuanmu yang sangat besar ini, Panji. Siasat yang kau atur, ternyata berjalan lancar. Mereka benar-benar muncul setelah kau menghilang dalam pengejaran. Bahkan bukan hanya begundalnya saja. Para tokohnya pun dapat pula sekalian terjaring," jelas Pragola, sambil tersenyum dan mengangguk hormat pada Panji dan Kenanga.

"Kami akan membawa para tawanan ini ke Istana Cadas Putih. Mengenai Tongkat Pualam Putih, akan kami urus kelak bersama para pembesar kerajaan lain. Apakah kau bersedia ikut bersama kami untuk menghadap Gusti Prabu Aria Winata? Aku yakin, beliau pasti akan senang menerima kedatanganmu. Dan selain itu, kau pun patut mendapat imbalan sebagai tanda terima kasih sang Prabu. Bagaimana, Panji?" kata Jaya Prana menawarkan.

"Terima kasih, Paman. Sayang, kami tidak bisa meluluskan permintaan itu. Dan karena persoalan ini sudah selesai, maka kami berdua mohon pamit".

Usai berkata demikian, Panji menggenggam jemari kekasihnya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Pragola dan Jaya Prana hanya dapat menarik napas melihat kepergian pasangan pendekar muda itu. Baru setelah bayangan kedua orang yang menimbulkan rasa kagum di hati mereka lenyap, keduanya pun meninggalkan tempat itu sambil membawa para tawanan.

Angin pagi bertiup lembut mengiringi langkah kaki Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang berhasil menunaikan tugasnya dengan gemilang. Perlahan kemudian, sinar matahari pun mulai menyeluruh menghangatkan permukaan bumi. Pagi tampak cerah, diwarnai cericit burung di atas dahan-dahan pepohonan.

S E L E S A I

Hilangnya Pusaka Kerajaan

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Hilangnya Pusaka Kerajaan
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

MALAM sudah semakin larut. Bulan sepotong nampak menggantung di langit pekat. Cahayanya redup, sehingga tak mampu menerobos kekelaman malam. Di bawah siraman cahaya rembulan yang temaram itu, tampak sesosok bayangan hitam tengah berlari cepat. Gerakannya tak ubahnya bagai bayangan hantu yang berkeliaran mencari mangsa. Menilik dari gerakannya yang ringan dan gesit, jelas kalau kepandaiannya sangat tinggi.

Tak berapa lama kemudian, sosok bayangan itu telah tiba di bawah sebuah tembok tinggi dan kokoh. Sambil merapatkan tubuh ke tembok, sepasang matanya tampak merayapi sekeliling dengan pandangan penuh curiga. Dari tarikan napasnya yang berat, jelas kalau sosok tubuh berpakaian serba hitam itu tengah diliputi ketegangan. Setelah merasa yakin kalau keadaan di sekitarnya aman, kedua kakinya segera dijejakkan ke tanah. Seketika itu juga, tubuhnya yang tinggi besar melambung melewati tembok belakang Istana Kerajaan Cadas Putih.

Sepasang kaki sosok tubuh itu hinggap di sebuah taman belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tubuhnya langsung merunduk di balik semak-semak ketika dua orang penjaga lewat beberapa langkah di depannya. Sepeninggal kedua orang penjaga itu, tubuhnya kembali melesat bagai anak panah menu- ju gudang penyimpanan senjata pusaka Kerajaan Cadas Putih.

Sosok tubuh itu kini harus menghadapi orang yang tengah berbincang-bincang di pos jaga, di depan tempat penyimpanan senjata pusaka kerajaan. Dengan gerakan ringan tanpa suara sedikit pun, orang itu melesat cepat ke arah pos jaga. Kedua tangannya bergerak cepat ke arah para penjaga.

Empat orang penjaga yang berada di pos jaga itu kontan roboh tak berkutik, hanya sekali totokan saja. Cepat bagai kilat, tubuhnya kemudian langsung menyelinap di balik pintu tempat penyimpanan pusaka kerajaan. Belum juga sosok bayangan hitam itu meneliti pusaka-pusaka yang berada di dalam gudang, terdengar seruan-seruan terkejut dari luar gudang ini. Sepertinya, empat penjaga yang dirobohkannya tadi telah diketemukan para penjaga lainnya.

"Pasti ada orang gila yang nekat menyelinap ke tempat ini. Kalian berdua, cepat beri tahu yang lain. Aku dan yang lainnya, akan memeriksa setiap sudut tempat ini!" terdengar perintah yang keluar dari mulut seorang perwira berusia sekitar empat puluh tahun.

Setelah berkata demikian, golok besar yang tergantung di pinggangnya segera dicabut. Kemudian, perwira itu melangkah memasuki gudang penyimpanan senjata pusaka Kerajaan Cadas Putih, ditemani dua orang bawahannya. Sementara itu, wajah di balik kain hitam yang berada di dalam gudang terlihat menegang. Keringat tampak telah membasahi bajunya.

"Hei?! Mengapa pintu gudang ini tidak dikunci?" tanya perwira itu seraya menolehkan kepalanya kepada dua orang pengawal di belakangnya. la sama sekali tidak menduga kalau ada orang tak dikenal telah masuk ke gudang penyimpanan pusaka. Apalagi kunci pintu gudang itu sama sekali tidak rusak.

Sementara, dua orang penjaga yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa saling berpandangan mengangkat bahu. Baru saja kaki perwira itu melangkah masuk sejauh dua tindak, serangkum angin keras menerpa tubuhnya. Cepat-cepat dikerahkannya tenaga dalam untuk menahan dorongan yang amat kuat itu.

Bukkk!

"Aaakh...!" Tahu-tahu saja, sebuah tendangan keras telah membuat perwira itu terpental ke luar! Terdengar jerit kesakitan dari mulutnya. Darah segar seketika menyembur dari mulutnya. Jelas kalau dia menderita luka dalam yang cukup parah.

"Tangkap orang itu...!" teriak si perwira, marah. Dia mencoba bergerak bangkit, namun rasa nyeri di dadanya menghambat gerakannya. Perwira itu hanya bisa menekap dadanya yang terhajar tendangan tadi. Mulutnya menyeringai menahan sakit.

Sementara dua orang penjaga yang semula berada dibelakangnya langsung tersadar begitu mendengar teriakan Cepat mereka menodongkan ujung tombak ke arah sosok tubuh tinggi besar yang berdiri tegak dengan sinar mata mencorong tajam.

"Hmh...!" Sosok bayangan hitam itu mendengus mengejek ketika dua batang tombak meluncur mengancam tubuhnya.

Trakkk! Trakkk!

Bukan main terkejutnya hati kedua orang penjaga itu ketika tombak di tangan mereka langsung patah begitu dihunjamkan ke tubuh bayangan hitam itu. Belum lagi rasa terkejut mereka hilang, orang berpakaian serba hitam itu sudah mengayunkan tangannya menampar dua kali berturut-turut

Prakkk! Prakkk!

Tanpa sempat menjerit lagi, kedua orang pengawal itu kontan roboh dengan kepala pecah. Sebentar mereka menggelepar, sesaat kemudian diam tak berkutik lagi.

"Keparat kau, Maling Hina! Kau akan dihukum gantung akibat perbuatanmu ini!" bentak perwira berusia empat puluh tahun itu, geram. Walaupun dadanya terasa masih sakit, ia berusa- ha menghadang dengan golok besar melintang di depan dadanya. Sedangkan tangan kirinya masih menekap dada yang terasa nyeri.

Sosok tinggi besar berpakaian serba hitam itu sama sekali tidak menyahut. Seketika itu juga, tubuhnya meluruk melakukan tamparan dengan telapak tangan kanan. Sungguh hebat serangan itu, karena ditandai oleh suara mencicit tajam. Sementara di tangan kirinya nampak tergenggam sebatang tongkat yang terbuat dari batu pualam. Pada bagian ujungnya bertahtakan permata. Rupanya barang yang dicarinya itu sudah didapatkan.

Perwira yang bernama Maharya itu melompat mundur menghindari tamparan maut lawannya. Namun, betapa terkejutnya dia ketika sambaran angin tamparan orang itu membuat tubuhnya limbung. Padahal, Maharya sudah melompat sejauh hampir dua batang tombak.

"Gila! Kepandaian pencuri ini hebat sekali! Siapakah dia sebenarnya? Dan apa maksudnya mencuri pusaka kebesaran Kerajaan Cadas Putih? Mungkinkah ia orang sewaan?" gumam Maharya sibuk menduga-duga, siapa orang berpakaian hitam itu.

Maharya tidak sempat lagi berpikir terlalu jauh. Dan memang saat itu lawannya kembali menerjang dengan serangan-serangan yang lebih dahsyat. Kini Maharya harus sibuk menghalau se- rangan yang datang bagaikan gelombang lautan Dalam lima jurus saja, perwira itu sudah terdesak hebat. Bahkan tidak mampu lagi melakukan se- rangan balasan. Diam-diam hatinya mengeluh, karena bantuan yang diharapkannya belum juga muncul.

Bukkk! Desss!

"Aaargh...!" Raung kematian terdengar dari mulut Maharya ketika dua buah hantaman telapak tangan dan tendangan pencuri itu telak menghantam dada dan lambungnya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh perwira gemuk itu langsung jatuh berdebuk keras. Darah segar langsung mengalir dari mulut dan hidungnya. Maharya tewas seketika di tangan pencuri yang rupanya berkemampuan tinggi. Bersamaan dengan jatuhnya tubuh Maharya, terdengar derap langkah banyak orang mendatangi tempat itu.

"Hei! Jangan lari...!"

"Tangkap orang itu...!"

"Jangan biarkan lolos...!"

Terdengar teriakan-teriakan marah dari beberapa orang pengawal yang mengejar bayangan hitam itu. Namun sayang, kepandaian pencuri itu masih lebih tinggi daripada pengejarnya. Sehingga dalam beberapa kali lompatan saja, para pengawal itu sudah jauh tertinggal di belakang.

"Hm.... Mau lari ke mana kau, Maling Busuk!" bentak seorang senapati muda yang telah berdiri tegak menghadang di depan sosok bayan- gan hitam itu.

Tiga orang perwira dan delapan pengawal yang berada di belakang senapati muda bernama Palareja, langsung bergerak mengepung si pencuri. Sepasang mata yang tersembunyi di balik kain hitam penutup wajah tampak bergerak liar. Sepertinya, ia tengah mencari jalan untuk lolos dari kepungan. Dari gerakan dadanya yang bergelombang, jelas kalau pencuri itu merasa tegang dan cemas. Dia benar-benar sadar kalau harus cepat meloloskan diri sebelum tokoh-tokoh kerajaan yang lainnya berdatangan. Apa bila hal itu terjadi, maka jangan harap kalau bisa selamat. Apalagi tempat itu banyak dipenuhi tokoh sakti yang mengabdikan dirinya pada Kerajaan Cadas Putih.

"Kisanak! Lebih baik menyerah saja secara baik-baik. Dengan begitu, mungkin hukuman yang dijatuhkan untukmu menjadi lebih ringan," ujar senapati muda bernama Palareja itu dengan sikap tenang dan penuh percaya diri. Sikap seorang panglima muda tulen.

"Persetan dengan ocehanmu itu...!" geram sosok tinggi besar berpakaian serba hitam itu, parau. Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat kesebelah kiri, tempat dua orang pengawal yang mengepungnya berdiri.

Melihat tubuh pencuri itu meluruk ke arah mereka, langsung saja kedua orang pengawal itu menusukkan ujung tombaknya untuk menyambut serangan. Dan ternyata luncuran dua batang tombak tidak membuat pencuri itu menghentikan serangan. Tangan kanannya langsung bergerak cepat menimbulkan deru angin dahsyat. Seketika terdengarlah teriakan ngeri yang disusul terlemparnya tubuh kedua orang pengawal itu dalam keadaan tak bernyawa.

"Keparat...!" Palareja memaki gusar melihat kejadian yang tak disangka itu. Senapati muda yang sudah siap melancarkan serangan itu, menahan langkahnya ketika melihat dua orang perwira yang tadi mengejar datang menghampiri.

"Tuanku.... Pencuri itu juga sudah membunuh Kakang Maharya," lapor perwira tinggi kurus dengan napas memburu.

"Keparat! Kalau begitu, ia harus menerima hukuman yang seberat-beratnya! Cepat, kepung dia! Jangan beri kesempatan untuk lolos!" perintah Palareja dengan suara menggelegar penuh kemarahan. Seusai mengeluarkan perintah, tubuh senapati muda itu langsung melesat ke arah si pencuri yang tengah mengamuk, dikeroyok dua belas orang prajurit dan lima orang perwira.

Wuttt!

Sambaran angin pukulan Palareja membuat pencuri itu melempar tubuhnya ke belakang. Sebab, dari sambaran angin pukulan yang menderu itu, disadari betul kalau penyerangnya kali ini bukanlah orang sembarangan dan tidak bisa dipandang rendah. Begitu lolos dari pukulan Palareja, tubuh pencuri itu kembali melenting ke kanan. Seketika dirobohkannya empat orang prajurit sekaligus.

Tentu saja hal itu membuat Palareja terkejut. "Gila! Orang ini benar-benar bukan tokoh sembarangan! Entah apa maksudnya mencuri pusaka lambang Kerajaan Cadas Putih?" gumam Palareja tak habis mengerti. Sadar betapa berartinya benda yang dicuri sosok tinggi besar itu, Palareja pun melesat dan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menangkap si pencuri, hidup atau mati!

"Jangan mimpi untuk dapat lolos dari tempat ini, Maling Hina!" bentak Palareja. Kembali dilancarkannya serangan-serangan maut dengan tidak kepalang tanggung.

"Hmh...!" Lelaki bertubuh tinggi besar berpakaian serba hitam itu mendengus penuh ejekan. Tubuhnya bergerak berputar sambil melakukan serangkaian tendangan ke arah para prajurit yang meluruk ke arahnya. Hal itu dilakukan untuk sekaligus menghindari terjangan Palareja. Sebuah gerakan yang hebat, dan menunjukkan kecerdikan sosok tubuh itu.

Palareja gusar bukan main. Bukan saja serangannya dapat dielakkan orang itu. Bahkan sosok tubuh itu mampu sekaligus menewaskan tiga orang prajuritnya. Dapat dibayangkan, betapa murkanya hati senapati muda itu. Maka cepat-cepat tubuhnya melompat mengejar pencuri yang berlari menuju halaman belakang gudang penyimpanan pusaka kerajaan. Kembali hati senapati muda itu dilanda rasa penasaran. Meskipun, seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya telah dikerahkan, ternyata ia masih belum bisa mengimbangi ilmu lari yang dimiliki pencuri itu.

"Bangsat, berhenti...!" teriak Palareja semakin gusar. Rasa penasaran dan kemarahan di hati senapati muda itu hampir-hampir memecahkan dadanya. Betapa tidak? la yang dalam Kerajaan Cadas Putih berpangkat senapati muda, ternyata tidak mampu menangkap seorang pencuri. Sungguh hal yang sangat memalukan! Padahal sebagai seorang senapati muda, tentu saja kepandaian yang dimiliki Palareja sudah sangat tinggi. Dan hanya ada beberapa orang saja di kerajaan itu yang mampu menandingi kepandaiannya. Tapi, sekarang ia terpaksa harus menelan kekecewaan, karena telah dipecundangi seorang pencuri yang sama sekali tidak dikenalnya. Hal itu benar-benar menyakitkan bagi Palareja.

Saat itu, si pencuri sudah memasuki taman belakang bangunan besar Kerajaan Cadas Putih. Namun Palareja berusaha untuk terus mengejar. Senapati muda itu baru menyerah kalah, ketika tubuh pencuri itu melambung melewati tembok setinggi tiga batang tombak lebih. Hal yang tidak mungkin dapat dilakukan Palareja. Palareja hanya berdiri terlongong sambil memandangi arah kepergian pencuri itu. Sambil mendengus kesal, tubuhnya disandarkan di bawah tembok. Wajahnya menampakkan kekecewaan dan rasa penasaran.

"Apa kata Gusti Prabu apabila mendengar kegagalanku ini...," desah senapati muda itu lesu.

Dengan langkah lunglai, Palareja meninggalkan taman untuk melaporkan peristiwa yang baru saja terjadi Malam semakin bertambah larut. Suara binatang-binatang malam yang menyemarak, semakin membuat gundah hati Palareja.

"Malam sial!" desah hatinya kecewa.

********************

DUA

"Apa! Tongkat Pualam Putih lenyap dicuri orang?" tanya Prabu Aria Winata, menggelegar.

Raja Agung Cadas Putih itu tersentak bangkit dari singgasananya dengan wajah merah padam. Sedangkan seluruh pembesar kerajaan yang hadir di ruangan itu menundukkan kepala dengan wajah pucat. Tak seorang pun yang berani mengangkat wajahnya melihat kemurkaan Prabu Aria Winata. Demikian pula halnya dengan Palareja yang melaporkan kejadian itu. Wajah senapati muda itu tampak pucat pias. Titik-titik keringat mengalir turun, membasahi lehernya.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba menerima salah, dan rela menerima hukuman atas kebodohan hamba ini," ucap Palareja dengan suara bergetar. Kepalanya tetap tertunduk tanpa berani memandang rajanya.

"Hm.... Coba ceritakan kejadian semalam itu seluruhnya, Palareja," titah Prabu Aria Winata sambil menghenyakkan bokongnya di atas kursi kebesaran yang berlapiskan emas murni.

"Ampun, Gusti Prabu...," sembah Palareja sebelum memulai ceritanya. Setelah menarik napas sejenak untuk menenangkan diri, Palareja pun menceritakan kejadian yang diketahuinya. "Sama sekali tidak diduga kalau kepandaian pencuri itu demikian tinggi, hingga berhasil lolos dari tangan hamba. Dan hamba siap menerima hukuman atas kebodohan ini," Palareja menutup ceritanya dengan kepala tetap tertunduk.

"Lalu, ke mana perginya Ki Sempana? Bukankah ia yang bertugas menjaga pusaka itu? Mengapa ia tidak kelihatan sekarang?" tanya Prabu Aria Winata lagi, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan ini.

"Ampunkan hamba, Gusti. Sudah sejak semalam hamba tidak melihat Ki Sempana. Dan hamba tidak tahu, di mana dia sekarang. Orang tua itu seperti lenyap ditelan bumi," sahut Palareja lagi.

"Hm.... Apakah kau sudah mencarinya?" kening Prabu Aria Winata berkerut dalam mendengar jawaban senapati mudanya itu.

"Sudah, Gusti Prabu. Tapi, hamba tidak berhasil menemukannya," jawab Palareja. Benak senapati muda itu dipenuhi tanda tanya. Ia pun mulai menduga-duga tentang lenyapnya Ki Sempana yang bertepatan dengan pencurian itu.

Raja Agung Cadas Putih termenung mendengar keterangan Palareja. Perlahan-lahan ia bangkit dari singgasananya, kemudian berjalan hilir-mudik tanpa sepatah kata pun terlompat dari mulutnya. Tentu saja sikap Prabu Aria Winata itu membuat para pembesar istana menjadi tegang. Tak seorang pun yang berani mengeluarkan suara. Semuanya bungkam dengan wajah menunduk menekuri lantai. Setelah agak lama ruangan itu dicekam kesunyian, terdengar helaan napas berat berkepanjangan yang keluar dari mulut Prabu Aria Winata. Dia kini kembali duduk di singgasananya.

"Bagaimana menurutmu, Paman Patih? Apakah lenyapnya Ki Sempana berkaitan dengan pencurian pusaka itu? Dan tindakan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?" tanya Prabu Aria Winata seraya menolehkan kepala kepada seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang duduk di sebelah kanannya.

Patih Kerajaan Cadas Putih itu tidak segera menjawab pertanyaan rajanya. Orang tua yang terlihat bijaksana itu melepaskan pandangannya yang menerawang jauh. Tangan kanannya mengelus-elus jenggot panjang dan berwarna putih itu.

"Ampun, Gusti Prabu...," ucap orang tua itu kemudian. "Kejadian ini memang sangat aneh dan menimbulkan berbagai dugaan di hati kita semua. Tapi sebelum Ki Sempana dapat ditemukan, rasanya sulit sekali bagi hamba untuk mengambil kesimpulan. Jadi, menurut hemat hamba, sebaiknya dikesampingkan saja dulu lenyapnya Ki Sempana itu."

"Maksud Paman Patih, bagaimana...?" selak Prabu Aria Winata tak sabar ketika melihat orang tua itu menghentikan ucapannya.

"Ampun, Gusti Prabu.... Menurut hamba, lebih baik bereskan dulu masalah hilangnya Pusaka Tongkat Pualam Putih yang menjadi lambang kebesaran Kerajaan Cadas Putih. Sebab, apabila hilangnya pusaka itu sampai terdengar kerajaan lain, bukan mustahil mereka akan memperebutkan pusaka itu. Kalau sampai pusaka itu jatuh ke tangan raja negeri lain, maka lenyaplah nama Kerajaan Cadas Putih yang kita cintai ini. Sudah menjadi peraturan tertulis, siapa pun yang memegang Tongkat Pualam Putih, maka ia mempunyai peluang menjadi penguasa negeri ini," jawab patih itu lagi dengan wajah sedih.

Prabu Aria Winata memang masih sangat muda dan belum lama menduduki tahta ayahnya yang mangkat setengah tahun lewat. Itulah sebabnya, mengapa ia belum begitu banyak mengetahui masalah-masalah yang berkaitan dengan kerajaan.

"Tapi, Paman Patih. Bukankah kita masih memiliki balatentara tangguh untuk mempertahankan negeri ini? Dan rasanya, tidak mudah bagi kerajaan-kerajaan lain untuk menaklukkan Kerajaan Cadas Putih!" sergah Prabu Aria Winata dengan suara mantap.

"Ampun, Gusti Prabu. Menurut sepengetahuan hamba, dengan lenyapnya tongkat pusaka itu berarti kehancuran bagi negeri kita. Menurut cerita ayah hamba almarhum, pada beberapa puluh tahun yang lalu hal ini pun sudah pernah terjadi. Dan seperti yang hamba katakan tadi, negeri yang dahulunya bernama Kerajaan Muara Bumi mengalami kehancuran. Tapi, hal itu masih dapat dihindari bila secepatnya mencari pusaka itu. Hamba rasa, pusaka itu akan dapat ditemukan dengan mengerahkan ketiga pasukan inti Kerajaan Cadas Putih," usul patih itu, menutup ceritanya.

"Maksud, Paman Patih..., Pasukan Garuda Hitam, Garuda Perak, dan Garuda Emas?" tanya Prabu Aria Winata menegasi.

"Benar, Gusti Prabu. Hamba rasa, hanya ketiga pasukan itulah yang akan dapat menunaikan tugas berat ini dengan baik."

"Baiklah, Paman Patih. Akan segera kuperintahkan ketiga pasukan itu untuk menyebar ke seluruh pelosok negeri." Setelah berkata demikian, Prabu Aria Winata membubarkan pertemuan pagi hari itu.

********************

Siang ini matahari memancarkan sinarnya yang begitu terik. Sinarnya yang kuning keemasan terasa lianas menyengat permukaan kulit. Hembusan angin pun, terasa hangat menerpa wajah. Saat itu, pintu gerbang Kerajaan Cadas Putih terbuka lebar. Puluhan kelompok penunggang kuda tampak bergerak berpencaran ke segala penjuru. Mereka tak lain adalah, Pasukan Tiga Garuda yang menjadi tulang punggung kekuatan Kerajaan Cadas Putih. Dan kini mereka diberi tugas untuk mencari pusaka Tongkat Pualam Putih yang merupakan tongkat kebesaran sekaligus keramat bagi kerajaan itu.

Ketiga pasukan inti yang beranggotakan hampir mencapai dua ratus orang segera menyebar. Agar pencarian benda pusaka yang hilang Itu tidak menyolok, para anggota pasukan menyamar sebagai kaum rimba persilatan. Hal itu dilakukan agar mereka bisa leluasa bergerak. Apalagi, pusaka itu memang diperebutkan oleh kerajaan lain. Bukan tidak mungkin, bila hilangnya pusaka itu terdengar oleh kerajaan lain akan lebih memperkeruh suasana.

Pasukan Garuda Hitam yang memiliki anggota enam puluh orang dan rata-rata berusia sekitar tiga puluh tahun, memecah menjadi tiga kelompok. Tiap kelompok dipimpin seorang perwira berusia empat puluh tahun. Mereka bergerak menuju ke tiga penjuru. Kelompok pertama yang dipimpin seorang perwira bernama Jaya Prana bergerak menuju ke arah Barat. Derap kaki kuda dua puluh orang itu terdengar bergemuruh, dan meninggalkan kepulan debu yang membumbung tinggi ke angkasa.

Jaya Prana memimpin kedua puluh orang anggotanya menuju Desa Gedangan yang letaknya cukup jauh dari kotaraja. Sikap perwira berusia empat puluh tahun itu terlihat gagah dan penuh percaya diri. Sebaris kumis tebal yang melintang, membuat wajahnya semakin angker dan berwibawa. Menilik dari gerak-geriknya, jelas kalau Jaya Prana memiliki kepandaian tinggi. Hal itu memang patut diakui, karena ia termasuk salah seorang pemimpin Pasukan Garuda Hitam yang sangat terkenal kegagahannya.

Dan kini puluhan penunggang kuda itu pun mulai menginjak perbatasan Desa Gedangan. Itu bisa diketahui dari adanya sebuah tiang batu setinggi orang dewasa yang terpancang di tepi kananjalan. Sebelum memasuki perbatasan, perwira gagah itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai isyarat kepada yang lainnya untuk berhenti.

"Ingat! Tidak ada seorang pan yang bisa bertindak seenaknya tanpa seizinku. Usahakan untuk menghindari keributan. Mengerti?!" tegas Jaya Prana seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan sinar mata tajam.

"Mengerti, Kakang," sahut kedua puluh orang anggota itu sambil menganggukkan kepala. Satu keistimewaan ataupun ciri dari ketiga pasukan inti Kerajaan Cadas Putih, adalah bebasnya panggilan antar mereka. Dalam Pasukan Garuda Hitam, Garuda Perak, maupun Garuda Emas tidak ada perbedaan jabatan. Karena, para anggota ketiga pasukan inti itu rata-rata setingkat dengan pangkat seorang perwira menengah kerajaan. Sehingga, mereka memanggil pimpinan cukup dengan kakang saja. Sedangkan di antara para anggota sendiri, biasanya memanggil nama saja.

Setelah dirasakan cukup memberi nasihat-nasihat lainnya, rombongan itu pun kembali bergerak memasuki mulut Desa Gedangan. Lari kuda mereka diperlambat agar tidak terlalu menarik perhatian penduduk. Jaya Prana menghentikan kudanya di depan sebuah kedai makan yang cukup besar dan terlihat sepi pengunjung. Hanya ada empat orang yang terlihat tengah menikmati hidangan. Setelah menambatkan kuda pada sebuah tiang kayu yang terdapat di depan kedai, Jaya Prana melangkah masuk mendahului yang lainnya. Lalu, dipesannya makanan dan minuman kepada pelayan setengah tua yang tergopoh-gopoh datang menyambutnya.

Sedangkan kedua puluh orang lainnya sudah mengambil tempat masing-masing. Perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan itu membuat perut mereka terasa lapar. Dan ketika makanan sudah dihidangkan pelayan, mereka santap dengan lahapnya. Tengah para anggotanya sibuk dengan hidangan masing-masing, Jaya Prana melangkahkan kakinya mendekati pemilik kedai. Tampak lelaki gagah itu berbisik-bisik sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya. Sepertinya, ia tengah menanyakan sesuatu. Namun si pemilik kedai terlihat menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah ketololan.

Karena tidak mendapat keterangan sebagaimana yang diinginkan, Jaya Prana bergegas kembali ke mejanya. Setelah semua anggota pasu- kannya menyelesaikan hidangan, lelaki gagah itu pun segera mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Rombongan berkuda itu pun kembali bergerak melintasi jalan utama Desa Gedangan. Begitu tiba di luar desa, kuda-kuda tunggangan itu segera dipacu tepat Kepulan debu membumbung tinggi mengiringi kepergian mereka.

********************

TIGA

Pagi baru saja menyapa bumi. Kicau burung saling bersahutan menyemarakkan suasana yang cerah itu. Hembusan angin yang bersilir lembut, terasa segar menerpa tubuh.

Di bawah siraman hangatnya sinar matahari pagi, tampak serombongan penunggang kuda bergerak lambat menyusuri jalan berbatu. Seorang lelaki gagah bertubuh gemuk dan bercambang bauk duduk dengan punggung lurus di atas kudanya yang berada paling depan. Sikapnya terlihat angkuh, menunjukkan sikap seorang pemimpin. Jelas kalau lelaki itu merupakan pemimpin rombongan berkuda itu.nRombongan itu terus bergerak maju perlahan menuju sebuah bangunan yang sekelilingnya dibentengi dinding kayu bulat dan kokoh. Di atas sebuah pintu gerbang, terdapat papan kayu yang cukup lebar.

"Perguruan Tinju Selatan...," bibir tebal lelaki gemuk bercambang bauk itu bergerak-gerak membaca papan nama yang tergantung di atas pintu gerbang.

"Hoiii..., Kisanak! Siapa kalian...? Apa maksudmu mendatangi perguruan kami?!" teriak seorang lelaki berkumis tipis dari atas tempat jaganya. Sementara itu penjaga yang lainnya hanya memandang dengan kening berkerut Sepertinya, ia merasa heran melihat kedatangan rombongan penunggang kuda itu.

"Aku adalah salah seorang sahabat Tinju Sakti dari Selatan! Bukalah pintu gerbang ini, dan antarkan kami menemui beliau!" teriak lelaki gemuk bercambang bauk lebat itu menyahuti.

"Sebutkan nama dan julukanmu...!" pinta penjaga itu lagi, sebelum meluluskan permintaan kepala rombongan berkuda itu.

"Aku Juraga! Gurumu lebih mengenal julukanku sebagai Harimau Bukit Munjul.Sudahlah! Cepat laporkan dan jangan banyak tanya lagi!" jawab Harimau Bukit Munjul mulai kesal atas pertanyaan penjaga itu yang dianggapnya bertele-tele.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara berderak keras ketika pintu gerbang Perguruan Tinju Selatan dibuka dari dalam. Sedangkan salah seorang murid perguruan itu sudah berlari untuk melaporkan kedatangan rombongan itu kepada gurunya.

Juraga atau lebih dikenal berjuluk Harimau Bukit Munjul, membawa rombongannya memasuki halaman perguruan itu. Mereka terus bergerak menuju balai utama perguruan dengan diantar oleh salah seorang penjaga pintu gerbang perguruan. Begitu seluruh rombongan penunggang kuda itu memasuki halaman depan perguruan, mendadak saja lelaki yang berjuluk Harimau Bukit Munjul itu melompat turun dari punggung kudanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kanannya bergerak menampar ke arah kepala murid Perguruan Tinju Selatan yangmengantarkannya.

Rupanya orang yang diserang Juraga itu cukup tangkas. Begitu merasakan ada sambaran angin kuat dari belakang, lelaki berkumis tipis itu menoleh. Melihat datangnya tamparan yang mengandung tenaga dalam kuat itu, cepat-cepat kakinya melangkah dua tindak ke samping dengan mendoyongkan tubuhnya membentuk kuda-kuda rendah.

"Hei! Apa-apaan ini...? Mengapa...? Ugkh...!"

Belum lagi laki-laki berkumis tipis itu me- nyelesaikan pertanyaannya, sebuah hantaman mendarat telak pada batang lehernya. Akibatnya orang itu terpelanting dan menjerit keras. Dari suara berderak keras yang ditimbulkan pukulan sisi telapak tangan miring Juraga, jelas kalau tulang leher orang itu langsung patah seketika itu juga. Melihat dari darah segar yang mengalir lewat mulutnya dan sepasang matanya yang mendelik lebar, sudah dapat dipastikan kalau orang itu telah tewas akibat pukulan Harimau Bukit Munjul.

"Hei?! Apa maksudmu...? Mengapa kau membunuh kawan kami..?" teriak salah seorang murid sambil berlari ke arah tempat itu bersama belasan orang murid lainnya. Dan dalam sekejap saja, seluruh anggota rombongan berkuda itu telah terkepung puluhan murid Perguruan Tinju Selatan yang memandang marah.

"Ha ha ha...! Dengarlah, Tikus-tikus Busuk! Hari ini, Pasukan Garuda Emas akan menyapu bersih Perguruan Tinju Selatan!" ancam Juraga sambil tertawa terbahak-bahak.

"Apa kesalahan kami, Kisanak? Mengapa kau sedemikian tega menjatuhkan tangan kejam kepada salah seorang murid kami? Bukankah kalau ada persoalan bisa dibicarakan baik-baik?" tegur seorang lelaki bertubuh tegap dan memiliki wajah gagah.

"Sudahlah, Kakang. Mengapa mesti bertanya lagi? Jelas orang-orang ini hendak mencari perkara. Lebih baik beri mereka pelajaran agar lain kali tidak memandang rendah Perguruan Tinju Selatan. Kalau tidak begitu, aku yakin mereka akan semakin kurang ajar terhadap kita," selak seorang murid tak senang. Kemarahan hati murid itu masih dapat ditahan, karena adanya lelaki tegap yang merupakan salah seorang tokoh perguruan itu.

"Betul, Kakang. Tunggu apa lagi...?"

"Kekejaman si brewok itu sudah melewati batas!" Ucapan murid-murid berhasil juga memancing amarah lelaki gagah itu. Wajahnya yang semula tenang, terlihat agak menggelap. Sepasang matanya yang semula menyiratkan kewibawaan, berubah berkilat menyimpan api kemarahan.

"Cepat katakan! Apa alasanmu membunuh murid kami?" geram lelaki gagah itu sambil mengepal jari-jari tangannya hingga memperdengarkan bunyi gemeretak nyaring.

"Kalian orang rimba persilatan telah membuat kami susah! Salah seorang tokoh rimba persilatan telah mencuri sebuah pusaka berharga dari gudang istana. Dan akibat perbuatan tokoh itu, kami tidak boleh kembali ke istana sebelum menemukan benda pusaka keramat itu. Kalian tahu, apa hukumannya kalau tugas kami gagal? Hukuman pancung yang akan diterima apabila berani kembali dengan tangan hampa. Akibat kejadian ini, aku jadi benci terhadap orang-orang rimba persilatan! Kalian tentu tahu, betapa beratnya tugas yang harus kami pikul ini? Nah, sebelum menerima hukuman pancung itu, akan ku basmi seluruh kaum rimba persilatan yang kutemui. Jelas?!" bentak Juraga dengan wajah bengis.

"Kisanak! Sadarkah kalau perbuatanmu ini adalah tindakan bodoh? Kalau perbuatanmu ini diteruskan, maka kemarahan seluruh kaum rimba persilatan yang ada di muka bumi ini akan terbangkit! Dan akibatnya, akan kau rasakan sendiri kelak!" sahut lelaki bertubuh tegap itu semakin geram mendengar keterangan Juraga.

Sadar kalau ucapan Harimau Bukit Munjul itu bukan sekadar gertakan kosong belaka, senjatanya segera diloloskan, siap menghadapi ke- mungkinan yang akar terjadi. Saat itu, para penunggang kuda yang mengaku dari anggota Pasukan Garuda Emas sudah berlompatan turun. Masing-masing juga sudah melolos senjata, siap menghadapi pertarungan.

Namun sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, terdengar bentakan nyaring yang mengguntur. Kemudian, disusul berkelebatnya sesosok tu- buh tinggi kurus yang mendaratkan kakinya di tengah arena itu.

"Tahan...!"

Hebat sekali akibat bentakan yang didorong tenaga dalam tinggi itu. Kedua belah pihak yang semula siap membunuh, bergerak mundur sambil menahan napas melindungi guncangan pada bagian dalam dada mereka. Beberapa orang murid yang belum kuat tenaganya, terhuyung ke belakang dengan wajah pucat pasi.

"Guru...!"

Puluhan orang murid Perguruan Tinju Selatan langsung menjatuhkan dirinya berlutut Dan memang, orang tinggi kurus yang baru tiba Itu tak lain adalah Tinju Sakti dari Selatan yang menjadi Ketua Perguruan Tinju Selatan.

Lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahun itu mengerutkan keningnya ketika melihat salah seorang muridnya sudah tergeletak tanpa nyawa. Tenang sekali kakek itu membungkuk, memeriksa luka yang menyebabkan kematian muridnya itu.

"Pukulan keji...! Siapa yang melakukan perbuatan Ini?" tanya orang tua itu. Dia kemudian bergerak bangkit sambil melepaskan pandangan ke arah Juraga dan rombongannya. Sepasang mata tua yang berkilat menggetarkan itu berhenti di wajah bercambang bauk lebat milik Juraga.

"Kaukah yang telah membunuh muridku, Kisanak? Siapakah kau sebenarnya?" tanya Tinju Sakti dari Selatan. Kening laki-laki tua itu tampak berkerut Dari nada pertanyaannya, jelas kalau dia sama sekali tidak mengenal Harimau Bukit Munjul.

"Tunggu apa lagi? Ayo, kita musnahkan perguruan ini!" Tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Ketua Perguruan Tinju Selatan, Juraga memerintahkan anggotanya untuk maju menyerang. la sendiri juga sudah melompat menyerang orang tua itu dengan ditemani salah seorang anggotanya.

"Hei, tunggu...!" cegah Tinju Sakti dari Selatan sambil melompat mengelakkan serangan kedua orang lawannya. Tangan orang tua itu bergerak mengibaskan dua buah senjata yang menyambar ke arah tubuhnya.

Takkk! Takkk!

Juraga dan kawannya terdorong mundur akibat tangkisan ujung baju lawannya. Bagaikan seekor ular hidup, ujung lengan baju Tinju Sakti dari Selatan terus bergerak meliuk dan mematuk pergelangan kedua orang lawan yang memegang senjata.

Bettt! Bettt!

Namun, kedua lawan Ketua Perguruan Tinju Selatan itu pun ternyata bukan orang sembarangan. Serangan yang dilakukan orang tua itu dengan mudah dapat dielakkan. Bahkan langsung melancarkan serangan balasan yang tidak kalah ganas dan berbahayanya. Tak pelak lagi, pertarungan pun berlangsung sengit. Tubuh ketiga orang itu bergerak cepat melancarkan serangan ganas dan mengandung tenaga dalam kuat. Sebentar saja, kedua belah pihak sudah mengeluarkan ilmu andalan masing- masing.

Anggota rombongan Juraga mengamuk hebat menghadapi keroyokan puluhan orang murid Perguruan Tinju Selatan. Sembilan belas orang lelaki muda yang mengaku dari Pasukan Garuda Emas itu memang rata-rata memiliki kepandaian sangat tinggi. Sehingga dalam beberapa jurus saja, delapan orang murid Perguruan Tinju Selatan telah menggeletak roboh mandi darah.

Tentu saja kejadian itu membuat empat orang murid utama Tinju Sakti dari Selatan menjadi penasaran. Terutama orang yang tertua. Dia adalah laki-laki tegap berwajah gagah. Namanya Samala. Dengan kemarahan yang menggelegak, Samala mengayun senjatanya yang berputar menimbulkan deru angin keras.

Trang! Trang!

Dua kali ayunan senjata Samala berhasil dipukul mundur salah seorang lawan. Lelaki tegap itu terkejut bukan main ketika telapak tangannya terasa kesemutan akibat tangkisan lawan. Hal itu menyadarkannya untuk bertindak lebih hati-hati dalam melancarkan serangan-serangan berikut.

"Haiiit..!"

Dibarengi teriakan nyaring melengking, Samala kembali menerjang lawan yang berkumis seperti tikus itu. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga membentuk gulungan sinar yang membungkus tubuhnya.

Wrrr! Wrrr!

"Hmh...!" Terdengar. dengusan mengejek dari orang berkumis seperti tikus itu Jelas sekali kalau dia sangat memandang rendah Samala. Begitu tusukan ujung pedang Samala meluncur mengancam lambungnya, orang itu menggeser kaki kanan ke depan seperti hendak menyambut serangan itu.

Samala terbelalak heran, dan juga girang melihat gerakan lawannya. Biasanya, orang akan bergerak mundur dan menjauhi senjatanya untuk mengelak. Tapi, orang itu justru melakukan hal kebalikannya. Tentu saja hal itu terasa aneh dan asing bagi lelaki bertubuh tegap itu.

Wuttt!

Pada saat ujung pedang Samala hampir menghunjam di lambung lawan, mendadak saja tubuh lelaki berkumis seperti tikus itu berputar bagai gangsing. Gerakannya dibarengi pula oleh sambaran pedang yang bergerak dari bawah ke atas.

Wuttt! Brettt!

"Aaakh...!" Gerakan lawan yang cepat dan tak terduga itu, membuat Samala tak sempat lagi menghindar. Tubuh lelaki tegap itu melintir tersambar pedang lawan. Luka memanjang dari lambung ke dada seketika tercipta, dan tampak cukup dalam. Darah segar pun mengalir membasahi celana dan pakaiannya. Belum lagi Samala dapat memperbaiki sikapnya, pedang di tangan lawan kembali melun- cur lurus menuju jantung.

Cappp!

"Aaargh...!" Terdengar jerit kematian yang melengking merobek angkasa, disusul robohnya tubuh Samala yang bermandikan darah segar. Tokoh utama Perguruan Tinju Selatan itu tewas seketika.

"Keparat, kubunuh kau...!" Salah seorang murid utama lainnya yang melihat kejadian itu nampak begitu murka. Saat itu juga tubuhnya meluruk disertai putaran pedang yang mengaung dahsyat.

"Hmh..." Melihat datangnya serangan lawan, lelaki berkumis seperti tikus itu hanya bergumam lirih. Seperti halnya ketika menghadapi serangan Samala, tubuh orang itu kembali meluncur maju seperti hendak menyambut serangan lawan dengan tubuhnya. Gerakan yang dilakukan si kumis tikus itu, tentu saja membuat lawannya menjadi girang. Maka kekuatannya segera ditambah. Maksudnya agar dapat membunuh lelaki berkumis seperti tikus itu dengan sekali tusuk.

Bibir laki-laki berkumis seperti tikus itu tersenyum mengejek. Dia merasa telah berhasil menipu lawannya yang jelas-jelas telah kehilangan pertahanan diri itu. Maka ketika ujung pedang lawan hampir menyentuh kulit tubuhnya, tahu-tahu saja laki-laki berkumis seperti tikus itu menjatuhkan tubuh ke tanah. Gerakan yang tak terduga itu masih dibarengi tusukan ujung pedang ke tenggorokan lawan.

Cappp!

"Eeegkh...!" Ujung pedang yang menancap sedalam sejengkal itu cepat ditarik kembali. Berbarengan dengan gerakan menarik itu, tubuh laki-laki berkumis seperti tikus itu melenting ke udara disertai babatan pedang dari atas ke bawah.

Crakkk!

Kembali terdengar raung kematian yang menyayat, disusul suara berdebuk tubuh terbanting di atas tanah. Adik seperguruan Samala pun tewas berlumuran darah di tangan laki-laki berkumis seperti tikus yang memiliki kepandaian tinggi dan aneh itu.

Saat itu, pertarungan yang berlangsung antara Tinju Sakti dari Selatan melawan Juraga dan seorang anggotanya masih berlangsung sengit Tokoh sakti berusia enam puluh tahun itu mengamuk hebat. Sepasang tangannya bergerak cepat menghamburkan serangan ganas dan mematikan.

"Adi Lambit, awas...!" tiba-tiba saja Juraga berseru keras memperingatkan kawannya.

Tapi sayang, peringatan Juraga terlambat! Pukulan maut yang dilancarkan Ketua Perguruan Tinju Selatan itu telah mendarat di tubuh Lambit.

Bukkk! Desss!

Lelaki bertubuh sedang yang dipanggil Lambit itu terlempar akibat dua buah pukulan keras yang bersarang di dada dan perutnya. Darah segar mengucur deras dari telinga dan mulut, mengiringi kematian Lambit Dua pukulan keras Tinju Sakti dari Selatan, telah mengantarkan laki-laki bertubuh sedang itu ke neraka.

"Adi Lambit..!"

Juraga berteriak parau ketika melihat tubuh kawannya diam tak bergerak. Bagaikan orang linglung, laki-laki bercambang bauk itu melangkah mendekati mayat kawannya. Tak dihiraukannya lagi Tinju Sakti dari Selatan yang menatap heran. Untuk beberapa saat lamanya, Ketua Perguruan Tinju Selatan itu hanya berdiri memandangi ting- kah Juraga yang menurutnya aneh.

"Ada hubungan apa sebenarnya antara Juraga dengan orang bernama Lambit itu? Mengapa ia nampak demikian terpukul atas kematian kawannya?" pikir Tinju Sakti dari Selatan tak habis mengerti. Tapi orang tua itu tidak bisa lama-lama memikirkannya. Karena saat itu, Juraga sudah bangkit dengan wajah gelap. Dari sorot matanya, nampak jelas gumpalan api dendam yang terasa akan membakar tubuh Ketua Perguruan Tinju Selatan.

"Bangsat kau, Orang Tua! Kematian adik seperguruanku ini hanya dapat ditebus dengan darahmu!" desis Juraga penuh dendam. Kematian Lambit yang ternyata adalah adik seperguruannya itu, jelas membuatnya demikian mendendam. Sepertinya, Juraga sangat menyayangi adik seperguruannya yang tewas di tangan Tinju Sakti dari Selatan.

"Jangan timpakan kesalahan itu kepadaku, Kisanak. Bukankah kau sendiri yang mencari penyakit? Dan kalau kau mau berpikir sedikit, sebenarnya kematian adik seperguruanmu itu adalah karena ulahmu sendiri. Nah! Makilah dirimu sendiri! Atau kalau ingin membuat arwah adik seperguruanmu itu tenteram, bunuhlah dirimu sendiri. Temani arwahnya biar tidak kesepian!" sahut Tinju Sakti dari Selatan dengan tidak kalah geramnya. Dan memang, ia pun sudah terbangkit amarahnya melihat mayat-mayat muridnya bergelimpangan bermandikan darah. Ucapan orang tua itu bagai api yang semakin mengobarkan kemurkaan Harimau Bukit Munjul. Wajah lelaki gemuk bercambang bauk itu berkerut-kerut menahan hawa marah yang terasa akan meledakkan dadanya.

"Hm.... Dikira aku tidak bisa membunuhmu seorang diri, Orang Tua! Rupanya kau belum kenal Harimau Bukit Munjul! Bersiaplah! Rasakan, betapa kerasnya cakaranku!" ancam Juraga seraya melempar senjatanya ke tanah begitu saja.

"Hmh...!" Disertai geramannya yang terasa menggetarkan isi dada, Harimau Bukit Munjul mendorongkan kedua tangannya yang telah membentuk cakar ke atas kepala. Terdengar helaan napas berat dan panjang yang keluar dari hidung dan mulutnya.nJari-jari tangan yang berbentuk cakar harimau itu tampak bergetar, menandakan betapa kuatnya tenaga yang terhimpun di dalamnya.

"Heaaah...!"

Sambil membentak keras, Harimau Bukit Munjul menurunkan kedua tangan sehingga bersilangan di depan dada. Kemudian tangannya dibuka sambil menarik kaki kanan ke belakang dengan kuda-kuda rendah namun kokoh. Sikap Juraga tak ubahnya seekor harimau yang siap menerkam mangsa.

Orang tua berusia enam puluh tahun itu memandang gerakan lawannya dengan kening berkerut dalam. Meskipun ia memang tidak mengenal orang yang berjuluk Harimau Bukit Munjul itu, namun menilik dari gerakannya, jelas kalau lelaki gemuk itu tidak bersungguh-sungguh ketika melawannya tadi.

"Haaah...!" Tinju Sakti dari Selatan membentak keras menggelegar. Bentakan yang dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi itu sempat membuat dada Juraga bergetar untuk sesaat. Apalagi ketika Ketua Perguruan Tinju Selatan itu memutar kedua tangannya dengan kecepatan tinggi. Tinju Sakti dari Selatan memang tidak memusingkan, apakah mengenal orang itu atau tidak. Sekarang ini yang terpenting adalah, menundukkan orang itu secepatnya sebelum murid-muridnya habis dibantai teman-teman lelaki gemuk itu.

Juraga benar-benar terkejut melihat sepasang tangan lawan bagaikan menjadi banyak. Belum lagi, sambaran angin yang ditimbulkannya terasa demikian kuat menerpa tubuhnya. Jelas, julukan Tinju Sakti dari Selatan yang disandangnya bukan sekadar julukan kosong belaka. Namun Ju- raga tidak mau menunjukkan kekagumannya, karena hal itu akan membuat dirinya dipandang remeh lawan.

"Tunjukkan 'Tinju Sakti'mu, Orang Tua...!" bentak Juraga keras, sambil meluruk ke arah lawan dengan kecepatan tinggi.

Wuttt! Wuttt!

Sambaran angin yang ditimbulkan gerakan kedua tangan Harimau Bukit Munjul menderu-deru dahsyat Sepasang cakar yang mengandung kekuatan hebat itu bergerak cepat, ganas, dan mematikan. Tinju Sakti dari Selatan mendoyongkan tubuhnya ke kanan sambil melepaskan sebuah pukulan ya menderu tajam. Hebat dan tak terduga serangan yang dilakukan orang tua itu. Akibatnya, Juraga yang tubuhnya tengah doyong ke depan karena serangannya berhasil dielakkan lawan, terpaksa membanting tubuhnya ke kanan. Kemudian, langsung dilepaskannya sebuah tendangan kilat yang menyambar lambung Ketua Perguruan Tinju Selatan.

Bettt!

Rupanya gerakan Juraga telah diperhitungkan lawannya. Buktinya orang tua itu menarik mundur kaki kanannya yang dibarengi tepisan telapak tangan kirinya disertai pengerahan tenaga sepenuhnya. Hal itu dimaksudkan, sekaligus untuk meremukkan tulang telapak kaki Juraga.

Plak!

"Akh...!" Tubuh Juraga yang memang dalam keadaan kurang memungkinkan itu, terlempar sejauh dua batang tombak. Untunglah tenaga dalamnya yang sudah cukup tinggi itu dikerahkan ketika melakukan tendangan tadi Kalau tidak, tentu tulang telapak kakinya telah patah akibat tangkisan yang amat kuat itu. Meskipun tidak sampai mengalami patah tulang, namun jelas Juraga cukup menderita akibat tangkisan lawannya tadi. Ia berusaha untuk berdiri walaupun kakinya terpincang-pincang. Wajahnya terlihat menyeringai menahan sakit.

Di pihak lain, Tinju Sakti dari Selatan pun bukan tidak merasakan kekuatan tenaga lawan. Buktinya telapak tangannya terasa nyeri. Tentu saja orang tua itu diam-diam merasa terkejut dengan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Harimau Bukit Munjul. Bahkan, kuda-kudanya pun sempat tergempur. Padahal, saat menangkis tadi, sikap kuda-kudanya sudah sangat kokoh. Tapi, ternyata ia masih juga terdorong mundur sampai sejauh enamlangkah. Saat itu, empat orang pengikut Harimau Bukit Munjul menghambur ke arah pimpinannya. Wajah mereka terlihat cemas melihat langkah Juraga yang terpincang-pincang.

"Kakang, kau tidak apa-apa...?" tanya salah seorang yang bertubuh kurus namun terlihat tegap.

"Mengapa kau tinggalkan kawan-kawanmu yang lain? Apakah pekerjaan kalian sudah selesai?" tegur Juraga. Sepertinya, dia merasa tidak senang melihat kedatangan empat orang pengikutnya itu. Tapi, wajah yang gelap itu mendadak terang begitu mendengar jawaban lelaki kurus tegap itu.

"Sudah hampir selesai, Kakang. Hanya tinggal beberapa orang saja. Dan kepandaiannya pun tidak seberapa," sahut lelaki kurus itu seraya menarik napas lega melihat wajah pimpinannya yang nampak senang setelah mendengar laporannya.

"Kalau memang begitu, mari kita habisi tua bangka keparat itu," ajak Juraga.

Kemudian, laki-laki bercambang bauk itu melangkah terpincang-pincang mendekati Tinju Sakti dari Selatan. Sementara itu, wajah laki-Laki tua Ketua Perguruan Tinju Selatan itu terlihat pucat menyaksikan murid-muridnya yang tinggal beberapa orang saja. Dan itu pun terlihat tidak dapat bertahan lama.

"Kepung dia...! Gunakan tali...!" perintah Harimau Bukit Munjul.

Seketika, keempat orang pengikutnya segera bergerak mengepung Ketua Perguruan Tinju Selatan. Sedangkan lelaki gemuk itu sendiri sudah melompat kembali menerjang Tinju Sakti dari Selatan.

Ketua Perguruan Tinju Selatan kembali menggeser kakinya menghindari serangan Harimau Bukit Munjul Pukulannya menderu, mengancam tubuh lawannya. Pertarungan pun kembali berlangsung sengit. Meskipun gerakannya terpincang-pincang, ternyata kelihaian Harimau Bukit Munjul tidak berkurang. Serangan-serangannya masih tetap ganas dan berbahaya. Bahkan masih dapat membuat repot lawan

Namun memasuki jurus yang kelima belas, terlihat Tinju Sakti dari Selatan mulai dapat menguasai lawan. Perlahan-lahan Harimau Bukit Munjul mulai terdesak oleh serangan-serangan lawan yang menderu-deru. Maka, lelaki bercambang bauk itu hanya dapat bertahan tanpa mampu membalas.

Wuttt!

Pada saat Harimau Bukit Munjul benar-benar dalam keadaan terjepit, sebuah pukulan lawan meluncur bagai kilat menuju bagian dada sebelah kiri. Melihat sikap lelaki gemuk itu yang nampak gugup, sudah dapat dipastikan kalau pukulan Tinju Sakti dari Selatan akan dapat mencapai sasaran. Namun keempat orang pengikut lelaki gemuk itu rupanya tidak tinggal diam. Melihat pemimpinnya dalam keadaan berbahaya, tali-tali yang semula hanya diputar di atas kepala langsung dilepaskan secara serempak.

Rrrt.. rrrt..!

Tubuh Ketua Perguruan Tinju Selatan yang tengah melancarkan serangan maut itu mendadak tertahan di udara. Empat utas tali yang dilemparkan ke arahnya, tepat melibat kedua tangan dan kaki orang tua itu. Akibatnya kepalan tangannya yang hampir mengenal dada lawan, berhenti dalam jarak tiga jari.

Sepasang mata Harimau Bukit Munjul yang sempat melihat gerakan keempat orang pengikutnya, tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Sepasang tangannya bergerak cepat melakukan dorongan dengan kekuatan sepenuhnya menuju dada lawan.

Wusss! Blaggg!

"Aaakh...!" Hantaman sepasang tangan yang mengandung kekuatan hebat, telak sekali menghantam dada Tinju Sakti dari Selatan. Tubuh orang tua itu tersentak kuat ke belakang. Darah segar menyembur dari mulut pendekar tua itu dan membasahi tanah di bawahnya. Kemudian, tubuhnya ambruk ketanah. Namun, tubuh itu kembali tersentak balik oleh tali-tali yang menjerat kuat lengan dan kakinya. Selagi orang tua itu mengerang menahan sakit, Harimau Bukit Munjul menusukkan sebilah pedang yang dipungut dari tanah. Dan....

Bret! Bret! Crap!

Pedang di tangan lelaki gemuk itu berkali-kali merobek tubuh Tinju Sakti dari Selatan. Darah yang memercik dari luka-luka di tubuh orang tua itu rupanya makin membuat Harimau Bukit Munjul kesetanan. Tanpa rasa perikemanusiaan sedikit pun, pedangnya terus berkelebat bagai hendak mencincang hancur tubuh Ketua Pergu- ruan Tinju Selatan itu.

"Mampus kau, Tua Bangka! Pergilah ke neraka...!" sambil membacokkan pedangnya berulang-ulang, mulut Harimau Bukit Munjul tak henti-hentinya memaki Lelaki gemuk itu baru menghentikan gerakannya setelah merasa puas melihat keadaan musuhnya. Dilemparkannya pedang di tangan, kemudian berbalik meninggalkan tubuh Tinju Sakti dari Selatan yang sudah tak bernyawa lagi.

Para pengikut Harimau Bukit Munjul yang telah berkumpul dan menyaksikan penyiksaan itu, hanya tertawa berderai. Sepertinya, mereka pun ikut merasa puas atas perbuatan pemimpinnya itu. Mereka yang telah membantai habis seluruh murid Perguruan Tinju Selatan, melemparkan tubuh orang tua itu begitu saja tanpa perasaan.

"Ha ha ha...! Biarpun harus kehilangan adik seperguruan yang sangat kusayangi, tapi aku puas! Mari kita tinggalkan tempat ini...," perintah Juraga sambil melangkah ke arah binatang tunggangannya yang meringkik seperti ikut merasa gembira atas keberhasilan majikannya.

Harimau Bukit Munjul yang sudah bersiap meninggalkan tempat itu, mendadak menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja, tubuh lelaki gemuk itu melesat ke arah samping balai utama perguruan itu. Memang, dia sempat melihat dua orang berpakaian kuning yang berkelebat hendak meninggalkan tempat itu.

"Berhenti...!" bentak Harimau Bukit Munjul dengan suara menggelegar mengejutkan.

Dua orang berpakaian kuning yang rupanya sisa murid Perguruan Tinju Selatan itu merasakan lutut mereka jadi lemas. Keduanya jatuh dengan bertopang pada lutut, tak ubahnya seperti orang hendak menyembah.

"Ampunkan kami, Tuan.... Jangan bunuh kami," ratap keduanya, ketakutan.

Harimau Bukit Munjul yang sekali melompat sudah berada di depan kedua orang murid Perguruan Tinju Selatan itu, mengangkat tangan kanannya, siap menghancurkan batok kepala mereka. Namun tangan yang semula siap memukul itu, perlahan turun. Di wajah lelaki gemuk itu terbayang senyum licik. Sepertinya, ia mendapat sebuah gagasan baik dengan adanya kedua orang murid musuhnya yang selamat itu.

"Hm.... Kalau kuberi kebebasan, apa yang akan kalian perbuat sebagai balasannya?" tanya Harimau Bukit Munjul sambil menatap tajam wajah kedua orang Itu yang mengangkat kepalanya.

Mendapat pertanyaan yang tak disangka-sangka Itu, tentu saja membuat kedua orang itu seperti melihat setitik harapan untuk dapat hidup lebih lama. Dengan penuh harap, mereka men- gangkat wajah untuk menatap Juraga.

"Kami..., kami akan bersedia melaksanakan segala perintah Tuan, asalkan tidak dibunuh," sahut salah seorang dari mereka yang berwajah kehitaman.

"Betul, begitu...? Ingat! Kalau kalian berbohong, aku tidak segan-segan meremukkan batok kepala kalian!" tegas Juraga dengan suara berat penuh ancaman maut.

"Betul, Tuan Betul! Kami berjanji dengan taruhan nyawa," sahut orang itu lagi Kawannya ikut pula menguatkan janji lelaki berwajah hitam itu.

"Baik!" ujar Juraga. Setelah memberikan perintah, ia pun berlalu bersama para pengikutnya meninggalkan tempat itu.

********************

DUA

"Heya... heya...!"

Serombongan penunggang kuda berpacu cepat melewati padang rumput luas yang hijau terbentang. Derap langkah kaki kuda seperti hendak meruntuhkan bumi. Tampak tubuh-tubuh penunggang kuda itu berguncang-guncang mengikuti irama lari binatang itu. Ketika kaki-kaki kuda itu melintasi jalan besar yang di kiri kanannya terbentang persawahan luas, seorang penunggang kuda yang berada di tengah, memacu kudanya ke arah depan. Penunggang kuda berusia sekitar tiga pu- luh tahun itu memperlambat lari kudanya, di sebelah lelaki tegap berkumis lebat yang merupakan pimpinan rombongan itu.

"Kakang, tempat ini tidak jauh dari kediaman guruku. Bagaimana kalau kita singgah sebentar? Siapa tahu guruku bisa memberi sedikit petunjuk kepada kita," usul lelaki berbahu lebar itu kepada pemimpinnya.

Lelaki tegap berkumis lebat yang tak lain dari Jaya Prana itu, termangu sejenak. la berpikir, menimbang-nimbang sebelum menjawab usul salah seorang anggota pasukannya itu.

"Betul, Kakang. Apa yang diusulkan Banja rasanya cukup baik. Aku pun sudah lama tidak mengunjungi guruku. Selagi kita berada tidak jauh dari tempat kediaman guruku, tidak ada salahnya kalau singgah sebentar."

Yang mendukung saran lelaki bernama Banja itu adalah seorang lelaki bertubuh kecil namun padat berisi. Menilik dari ucapannya, jelas kalau orang itu adalah saudara seperguruan Banja.

"Baiklah. Tapi, ingat! Tidak boleh ada seorang pun yang membicarakan tugas kita, sebelum aku memulainya. Bagaimana, setuju?" tanya Jaya Prana.

"Baik, Kakang. Kami akan ingat kata-katamu itu," janji Banja dan lelaki bertubuh kecil padat yang bernama Gandira. Wajah mereka tampak berseri ketika mendengar jawaban yang melegakan hati itu.

"Ayo, kalian berdua di depan sebagai penunjuk jalan," ajak Jaya Prana lagi kepada Banja dan Gandira.

"Baik," jawab mereka serempak.

Banja dan Gandira memacu kudanya ke depan dan membelokkannya ke kanan ketika melintasi jalan bercabang tiga. Jalan yang dilewati kali ini terlihat rata dan mulus. Tidak seperti jalan semula yang dipenuhi batu kerikil. Sehingga, perjalanan pun semakin mudah dan cepat. Dan kini, tampaklah sebuah bangunan besar yang dikelilingi kayu-kayu bulat dan kokoh.

Bangunan itu menyerupai sebuah perguruan silat. Dengan hati berdebar penuh kegembiraan karena hendak bertemu dengan saudara-saudara seperguruan dan gurunya, kedua orang lelaki gagah itu memacu kudanya agar lebih cepat lagi. Begitu tiba di depan pintu gerbang yang terdapat sebuah papan nama bertuliskan 'Perguruan Tinju Selatan", Banja dan Gandira tampak saling berpandangan bingung.

"Kau tidak merasa aneh dengan kesunyian ini, Banja...?" tanya Gandira memandang saudara seperguruannya dengan wajah cemas. Sepertinya, lelaki bertubuh kecil padat itu merasa kan sesuatu yang ganjil.

"Ya. Seingatku, pos penjagaan di atas itu tidak pernah ditinggalkan. Tapi, mengapa kali ini tidak terlihat seorang pun? Aneh!" gumam Banja seraya mengerutkan keningnya dengan wajah heran.

"Ada apa, Banja, Gandira...? Mengapa kalian tidak lekas memberitahukan kedatangan kalian?" tegur Jaya Prana ketika melihat kedua orang itu nampak bingung dan ragu.

"Entahlah, Kakang. Sepertinya perasaanku tidak enak. Sebab, tidak biasanya perguruan terlihat sunyi. Tidak ada sebuah suara pun yang terdengar. Padahal, sore hari begini biasanya murid-murid berlatih di halaman depan," sahut Banja tak bersemangat.

"Ah! Kalian ini ada-ada saja. Siapa tahu di dalam sedang ada kesibukan, sehingga semua murid berkumpul di dalam balai utama perguruan. Lebih baik kalian panggil saja dari sini kuat-kuat," usul Jaya Prana yang tidak sabar melihat keraguan kedua orang itu.

"Hoiii...! Buka pintu...! Kami, Banja dan Gandira datang berkunjung...!"

Banja langsung berteriak begitu mendengar usul yang diajukan pimpinannya itu. Suara lelaki berbahu lebar itu bergema karena didorong tenaga dalam kuat. Sampai agak lama mereka menunggu, tapi tidak juga terdengar sahutan ataupun langkah kaki orang mendatangi tempat itu dari dalam perguruan. Jaya Prana yang merasa tidak sabar itu, segera menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan tenaga dalamnya.

"Hoii..! Buka pintu...!

Teriakan Jaya Prana yang didorong kekuatan tenaga dalam itu terdengar berkumandang jauh dan bergema. Dari suara teriakannya yang jauh lebih kuat daripada teriakan Banja, sudah pasti akan terdengar apabila di dalam bangunan itu memang ada penghuninya.

Banja dan Gandira menarik napas lega ketika terdengar langkah kaki mendatangi dari dalam bangunan itu. Tidak lama kemudian, terden- gar derit keras yang disusul terbukanya pintu gerbang Perguruan Tinju Selatan.

"Mengapa lama sekali kalian membuka pintu ini? Ke mana yang lainnya?" tegur Banja begitu melihat seorang murid berusia sekitar dua puluh tahun lebih, dan berwajah kehitaman. Sedangkan seorang lagi yang bertubuh pendek gemuk, hanya menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Banja dan Gandira.

Banja dan Gandira bergegas turun dari punggung kudanya. Sementara Jaya Prana dan lainnya tetap berada di punggung kuda masing-masing. Setelah meneliti sejenak dan mengenali wajah! Banja dan Gandira, lelaki berwajah kehitaman itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut sambil menangis. Perbuatannya ternyata diikuti lelaki gemuk pendek setelah mengangkat wajahnya dan mengenali kedua orang itu.

"Hei? Ayo bangun...! Guru akan marah besar apabila melihat muridnya menangis seperti anak kecil! Hayo, ceritakan! Ada apa ini sebenarnya? Dan ke mana murid yang lainnya? Di mana pula guru sekarang berada?" Banja yang bersifat lebih pemarah itu memberondong lelaki bermuka kehitaman itu denganpertanyaan-pertanyaan. Lelaki berwajah kehitaman itu mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang masih mengalir turun membasahi pipi. Sejenak hatinya bingung karena tidak tahu, pertanyaan mana yang harus dijawabnya lebih dahulu.

"Semuanya.... Semuanya habis, Kakang Banja.... Perguruan... kita sudah binasa Musnah!" Karena tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Banja, akhirnya lelaki berwajah kehitaman itu mengatakan seadanya yang saat itu terlintas di benak. Kemudian kepalanya kembali tertunduk sedih.

"Apa... apa maksud ucapanmu itu...? Hayo jawab yang benar! Hentikan tangismu!" desak Banja. Banja yang mulai mendapat firasat buruk itu menjadi kalap mendengar jawaban yang tak berujung pangkal Dengan geram, dicekalnya leher baju orang itu dan diangkatnya berdiri secara paksa. Gandira yang memiliki sikap lebih tenang dan sabar, menepuk bahu Banja perlahan dan mencoba menenangkannya.

"Sabarlah, Banja. Kalau cara bertanyamu seperti itu, bagaimana mungkin dapat dijawab dengan benar? Tidakkah kau lihat, betapa batinnya sangat tersiksa oleh kemarahanmu yang tidak pada tempatnya?" tegur Gandira dengan suara halus, namun tegas.

"Benar apa yang dikatakan Gandira itu, Banja. Kalau saja kau bersabar sedikit, aku yakin kita akan memperoleh keterangan yang lebih lengkap dan jelas," Jaya Prana ikut pula menasihati.

"Hhh...!" Banja menghela napas panjang, seolah-olah ingin melepaskan seluruh kekesalan hatinya. Dilepaskannya cekalan pada leher baju lelaki muda berwajah kehitaman itu, kemudian melangkah ke belakang dan menyerahkan persoalan itu kepada Gandira.

Lelaki berwajah gagah yang memiliki bentuk tubuh padat berisi itu tidak menghampiri si muka kehitaman, namun malah mendekati orang yang satunya lagi. Dan memang lelaki bertubuh pendek gemuk itu terlihat lebih tenang daripada kawannya.

"Siapa namamu, Kisanak? Dan apa jabatanmu di Perguruan Tinju Selatan ini?" tanya Gandira dengan suara halus sambil menepuk-nepuk bahu lelaki pendek gemuk itu perlahan.

Melihat wajah orang itu yang agak tenang, jelas kalau cara yang dilakukan Gandira sudah tepat. "Namaku Janaka. Sedangkan kawanku ini bernama Santika. Kami bertugas sebagai pengurus rumah tangga dan sekaligus murid Perguruan Tinju Selatan. Meskipun Kakang berdua tidak mengenal kami, tapi kami berdua telah mengenal Kakang Banja dan Kakang Gandira."

Setelah memperkenalkan diri, lelaki pendek gemuk bernama Janaka itu pun mulai bercerita. Sepanjang ceritanya, seluruh anggota rombongan termasuk juga Jaya Prana, berkali-kali mengeluarkan seruan terkejut. Wajah-wajah mereka nampak pucat dan merah berganti-ganti. Mungkin kalau orang itu tidak bersumpah kalau telah melihat dengan mata kepala sendiri, pasti Jaya Prana dan anggota pasukannya tidak ada yang akan mempercayai cerita Janaka itu.

"Begitulah kejadian yang sebenarnya, Kakang. Tidak satu pun yang kami tambah dan kurangi. Semuanya lengkap dan jelas. Dan kami berani bersumpah untuk mempertaruhkan kebenaran cerita itu, Kakang." Janaka mengakhiri ceritanya, seraya menundukkan wajah dalam-dalam. Seolah-olah dia enggan bertemu pandang secara langsung dengan Gandira. Apalagi sepasang mata lelaki gagah itu nampak menyiratkan kilatan marah dan dendam.

"Kakang! Benarkah Pasukan Garuda Emas tega melakukan perbuatan keji yang diceritakan Janaka ini?" tanya Gandira kepada Jaya Prana. Karena menurutnya, sebagai seorang pimpinan tentu Jaya Prana memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang ketiga pasukan garuda itu.

"Hm.... Sebenarnya sangat sulit dipercaya. Tapi melihat kesungguhan yang terpancar dari sinar mata Janaka, aku mulai percaya meskipun tidak sepenuhnya. Apalagi penggambaran tentang pemimpin yang disebutkan Janaka tadi, aku rasa keterangannya memang benar. Hanya saja, kita tidak boleh langsung terpancing dengan cerita itu. Harus diselidiki dulu kebenarannya sebelum menuduh orang," jelas Jaya Prana hati-hati.

Memang, masalah yang kini tengah diperbincangkan, bisa berubah menjadi masalah besar yang akan membuat Kerajaan Cadas Putih gempar! Itulah, mengapa Jaya Prana lebih suka menyimpannya untuk sementara.

Sedangkan Banja sudah berlari meninggalkan kawan-kawannya. Cerita yang didengar dari Janaka, membuat sekujur tubuhnya gemetar bagai orang terserang demam hebat. Lelaki tegap berbahu lebar itu terus melesat ke belakang balai utama perguruan. Gandira sama sekali tidak mencegah kepergian Banja. Dia tahu, apa yang hendak dilakukan saudara seperguruannya itu.

"Ia hendak membuktikan kebenaran cerita Janaka. Marilah kita ke sana, Kakang. Di belakang balai utama itulah letak kuburan bagi anggota Perguruan Tinju Selatan," jelas Gandira saat melihat tatapan Jaya Prana yang menuntut jawaban. Memang, lelaki tegap berkumis lebat itu tidak mengerti akan tindakan Banja.

Jaya Prana yang masih berada di atas punggung kudanya menarik napas lega setelah mendengar keterangan Gandira. Kemudian kepalanya terangguk. Laki-Laki berkumis lebat itu lalu memberi perintah kepada seluruh anggota pasukan untuk menjalankan kudanya lambat-lambat, mengikuti langkah Gandira, Janaka, dan Santika. Delapan belas orang anggota Pasukan Garuda Hitam mengikuti dari belakang.

Rombongan itu pun bergerak menuju ke belakang balai utama, tempat pemakaman murid-murid dan guru Perguruan Tinju Selatan. Hati Gandira bergetar menahan keharuan yang menyeruak dalam rongga dadanya. Puluhan gundukan tanah yang masih baru dan basah terbentang di depan matanya. Setelah termenung beberapa saat, kakinya melangkah perlahan menghampiri Banja yang saat itu tengah berlutut di samping sebuah gundukan tanah merah. Sudah dapat dipastikan, makam itu pasti tempat gurunya beristirahat panjang.

"Guru...," desah Gandira serak sambil menjatuhkan lututnya di sebelah Banja. "Maafkan keterlambatan kami.... Akibat kelalaian kamilah, hingga nasib buruk ini menimpa Perguruan Tinju Selatan. Ampuni kami, Guru..."

"Guru.... Kami berjanji akan mencari pembunuh keji itu walau sampai ke ujung langit sekalipun! Meskipun untuk itu harus mengorbankan nyawa, kami tak lagi peduli. Dengarlah janji kami ini, Guru. Seluruh arwah saudara kami menjadi saksinya," ucap Banja bergetar penuh dendam. Usai mengucapkan janji di hadapan makam gurunya, kedua orang lelaki gagah itu pun bangkit dan meninggalkan gundukan tanah yang hanya bisa diam membisu.

"Kakang, maafkan kelancanganku. Aku dan Gandira terpaksa harus mengambil jalan ke Selatan. Rasanya kami harus mendapat jawaban atas kejadian ini, langsung dari pimpinan Pasukan Garuda Emas. Tapi Kakang tidak usah cemas. Sepanjang perjalanan, tugas dari Gusti Prabu Aria Winata tetap akan dijalankan," pinta Banja kepada Jaya Prana.

Melihat dari sikap dan tatapan matanya, rasanya keputusan Banja sudah bulat dan tidak mungkin dapat dirubah lagi. Meski oleh pimpinannya sekalipun. "Hm Sadarkah akan ucapanmu itu, Banja? Lupakah kau, siapa kita ini? Coba sebutkan, apa bunyi ikrar kelima dari Pasukan Garuda Hitam?" tegur Jaya Prana dengan kening berkerut tak senang.

Mendengar kata-kata yang jelas-jelas bernada teguran keras itu, Banja maupun Gandira sama-sama menundukkan kepala dalam-dalam. Tak satu bantahan pun yang keluar dari mulut mereka.

"Rupanya kalian berdua benar-benar telah lupa akan bunyi ikrar kelima itu," gumam Jaya Prana ketika melihat sikap kedua orang anggota pasukannya itu.

"Sama sekali tidak, Kakang. Hanya saja, kami merasa tidak enak untuk melibatkan Pasukan Garuda Hitam dalam persoalan ini," sahut Gandira mewakili Banja.

"Hm Kalau begitu, coba sebutkan," pinta Jaya Prana bernada memerintah.

Banja dan Gandira sama-sama mengangkat wajah saling bertukar pandang sejenak. Sesaat kemudian, terdengarlah suara lantang dari mulut mereka.

"Kami Pasukan Garuda Hitam, adalah satu. Setiap persoalan yang menyangkut salah seorang anggota, menjadi tanggung jawab seluruh anggota yang berdiri di bawah bendera Garuda Hitam. Hidup mati, suka dan duka, akan dihadapi bersama,"

"Hm.... Masihkah kalian tidak memahami makna yang tersirat dalam ikrar itu?" tanya Jaya Prana lagi. Kali ini bibirnya menyunggingkan kemenangan.

"Maafkan kami, Kakang. Hanya..."

"Ah, sudahlah! Mari kita berangkat ke Selatan bersama-sama," potong Jaya Prana seraya mengulapkan tangannya. Lelaki berkumis lebat itu mengatupkan rahangnya, pertanda tidak ingin melanjutkan perdebatan kosong itu.

"Terima kasih atas kesediaan Kakang dan kawan-kawan untuk membantu kami. Dengan adanya Kakang, kami yakin persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik," ucap Gandira sambil membungkuk hormat kepada pimpinan yang sangat dihormatinya itu. Perbuatannya pun diikuti Banja.

"Hm.... Kalian berdua ikut bersama kami," ujar Jaya Prana kepada Janaka dan Santika.

"Maaf, Tuanku. Bukannya kami menolak. Tapi, kalau kami berdua ikut pergi, siapa yang akan mengurus makam gum dan juga perguruan ini. Jadi, maafkan kalau terpaksa kami menolaknya," sahut Janaka sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Rasanya alasan mereka bisa diterima, Kakang. Biarlah mereka tinggal untuk mengurus makam guru dan perguruan kami," Banja ikut memperkuat alasan yang diajukan Janaka. Maka, lelaki muda bertubuh gemuk pendek itu menjadi agak lega.

"Baiklah," Jaya Prana akhirnya mengalah. "Ayo kita berangkat."

Rombongan Pasukan Garuda Hitam itu pun bergerak meninggalkan bangunan Perguruan Tinju Selatan.

********************

LIMA

"Aaahhh "

Gadis jelita berpakaian serba hijau itu menggeliat sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Sinar matahari pagi yang menerobos di antara rimbunan dedaunan, tepat jatuh di wajahnya yang bening dan sejuk. Sejenak ia tergagap, lalu menggosokkan telapak tangan pada sepasang mata berbentuk bulat dan indah miliknya.

"Mengapa Kakang tidak membangunkan aku...?" sungut gadis jelita itu kepada seorang pemuda tampan berjubah putih yang duduk di atas baru tak jauh di sebelahnya.

"Kulihat tidurmu begitu lelap. Jadi, aku tidak tega mengganggumu," sahut pemuda tampan itu seraya tersenyum lembut "Sudahlah. Sekarang, bersihkanlah dirimu. Kau lihat aku sudah menyiapkan hidangan yang istimewa untukmu."

Wajah jelita yang semula cemberut itu, berseri seketika. Tersentuh hatinya melihat perhatian yang demikian besar dari pemuda tampan itu. "Tunggulah, Kakang. Aku tidak akan lama...," ujar gadis jelita itu.

Dia kemudian segera bangkit dan melesat ke arah aliran sungai yang terletak tidak jauh dari tempat itu. Sementara, pemuda tampan berjubah putih itu hanya tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar di wajah si gadis. Tak berapa lama kemudian, gadis jelita itu pun kembali muncul dengan wajah yang lebih segar kemerahan. Geraknya terlihat penuh kemanjaan ketika bokongnya dijatuhkan di depan si pemuda. Disambarnya ayam hutan bakar yang terhidang itu.

Dengan senyum yang makin melebar, pemuda tampan itu pun mengambil ayam bakar yang seekor lagi Kemudian, dinikmatinya sambil tak lepas menatap wajah jelita didepannya. Selesai menikmati hidangan, mereka merapikan diri masing-masing. Kemudian meninggalkan tempat itu. Angin pagi bersilir lembut mengiringi langkah kaki dua orang muda berlainan jenis itu.

"Hei? Ada apa di depan sana...?" gumam si gadis jelita ketika melihat kerumunan orang di depan sebuah bangunan besar. Saat itu, keduanya telah memasuki perbatasan sebelah Barat Desa Malaju.

"Entahlah! Kelihatannya orang-orang itu begitu gembira. Mungkin yang mereka lihat itu adalah sebuah tontonan menarik," sahut pemuda tampan berjubah putih yang tak lain adalah Panji yang berjuluk Pendekar Naga Putih. Kemudian, mereka mempercepat langkah ingin segera mengetahui, apa sebenarnya yang telah dilihat orang- orang itu.

"Ah! Rupanya hanya tukang obat yang berusaha menarik perhatian pembeli dengan mempertontonkan kepandaian silat," ucap gadis jelita yang sudah pasti Kenanga. Suara gadis itu tidak terdengar jelas, karena saat itu orang-orang yang menonton bersorak gembira menyaksikan pertunjukan yang disuguhkan.

Panji hanya tersenyum menanggapi ucapan kekasihnya. Sepasang matanya kembali beralih ke arena pertunjukan. Saat itu, dua orang yang tengah bertarung di tengah arena terlihat semakin seru dan menarik. Meskipun pertunjukan itu tak lebih hanya sekadar pertunjukan ilmu meringankan tubuh, namun Panji sempat dibuat kagum oleh gerakan-gerakan mereka yang berkesan indah dan menarik.

"Haiiit...!"

Orang bertubuh kurus yang saat itu tengah terdesak, tiba-tiba berseru nyaring sambil berkelit ke kanan seraya melepaskan sebuah pukulan ke iga kiri lawannya yang memiliki tubuh sedikit lebih pendek. Mungkin karena terlalu sibuk dengan serangan-serangannya, orang bertubuh gemuk pendek itu tak sempat lagi menghindar dari pukulan balasan lawan yang sama sekali tidak diduga. Dan akibatnya....

Bukkk!

"Aaakh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh gemuk itu pun terjajar ke belakang disertai jeritannya. Pada bagian iganya yang memang tidak terlindung pakaian itu, terlihat membiru akibat pukulan si tinggi kurus yang cukup keras tadi.

Seorang lelaki setengah baya yang merupakan pimpinan kelompok penjual obat itu, bergegas melangkah ke tengah arena. "Saudara-saudara sekalian! Pertunjukan ini terpaksa dihentikan sejenak. Di sini, akan dipertunjukkan khasiat obat gosok kami. Lihatlah luka bekas pukulan yang diderita kawan kami ini," ujar lelaki setengah baya itu sambil menunjukkan luka memar yang terdapat di iga lelaki gemuk tadi.

Para penduduk Desa Malaju mengangguk-anggukkan kepala setelah menegasi luka yang terlihat agak membiru itu.

"Nah! Luka memar yang telah saudara-saudara saksikan ini, akan lenyap dan tidak lagi terasa sakit apabila sudah diurut dengan obat gosok kami," tegas lelaki setengah baya itu lagi sambil mengangkat botol obatnya tinggi-tinggi.

Setelah berkata demikian, dibukanya penutup botol dan dioleskan cairan dari dalam botol ke tempat luka memar tadi. Kemudian, laki-Laki setengah baya itu mengurutnya dari bawah ke atas sebanyak tiga kali dengan menggunakan ibu jari. Ajaib! Tak lama setelah lelaki setengah baya itu mengoleskan obat gosoknya, luka memar yang semula membiru itu terlihat memudar, untuk kemudian lenyap sama sekali.

"Kemanjuran obat kami sudah terbukti. Sekarang, kami akan mengobati dengan cuma-cuma. Bagi saudara-saudara yang menderita luka memar, luka bakar, dan lain-lainnya, silakan maju ke depan. Tidak usah ragu-ragu! Kami tidak akan memungut bayaran sepeser pun!" tegas lelaki setengah baya itu lagi sambil memamerkan senyumnya.

"Kisanak! Aku tidak yakin akan kemanjuran obat gosokmu itu! Kalaupun kau telah membuktikannya, itu hanya karena keahlianmu memijat. Jadi, bukan karena kemanjuran obat murahan yang kau jual kepada penduduk desa ini," ujar seseorang bertubuh kurus dan berwajah bopeng, bernada hina sekali. Dia kemudian menghampiri si penjual obat.

Tentu saja ucapan kasar yang keluar dari mulut lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu mengejutkan semua orang. Para penduduk yang semula mengerumuni si penjual obat, serentak menyingkir. Sebab dari tingkah laku orang berwajah bopeng itu, dapat diduga kalau ia memang sengaja hendak mencari keributan. Sekejapan mata saja, arena itu pun menjadi sepi. Para penduduk kini berdiri di tepi, hendak melihat kelanjutan perbuatan lelaki berwajah bopeng itu. Sedangkan lelaki setengah baya yang masih berdiri di tengah arena, memandang lelaki tinggi kurus itu dengan kening berkerut. Sepasang matanya nampak berkilat untuk sesaat.

"Tuan," sebut lelaki setengah baya itu tenang. Seketika sinar matanya kembali cerah. "Apa yang Tuan tuduhkan itu sama sekali tidak benar. Kami hanyalah orang bodoh yang mencari nafkah dengan mengandalkan sedikit pengetahuan tentang pengobatan. Dan selama kami menjual obat gosok ini, tak seorang pun yang mengembalikan obat ini. Apalagi sampai menuduh kami sebagai penipu."

"Hm.... Aku tetap tidak mempercayainya!" bentak lelaki berwajah bopeng itu semakin berlagak.

"Saudara-saudara, marilah kita buktikan kemanjuran obat gosok tua bangka penipu ini! Kalau obat ini tidak berhasil menyembuhkan luka akibat pukulanku, itu berarti kalian telah tertipu mentah-mentah!" seru lelaki berwajah bopeng itu dengan lagak sombong, seraya kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lelaki setengah baya yang menjadi terkejut mendengarnya.

"Kisanak" panggil lelaki setengah baya itu datar. Dan memang, ia sudah mulai tersinggung atas sikap lelaki berwajah bopeng itu. Maka, panggilan tuan pun dirubahnya menjadi kisanak. Itu pertanda ia tidak lagi menaruh hormat kepada orang yang jelas-jelas hendak memancing keributan. "Apa untungnya kau mengganggu cara hidup kami? Kalau memang tidak ingin membeli obat gosok ini, silakan pergi dan jangan mengganggu kami."

"Ha ha ha Kau takut ketahuan belangmu rupanya, ya? Tampaknya kau begitu khawatir kalau obat gosokmu itu tidak mampu menghilangkan luka akibat pukulanku? Kalau begitu, kemasilah barang-barangmu dan tinggalkan Desa Malaju ini. Dan, jangan coba berani kembali lagi" si wajah bopeng berbalik mengusir dengan lagak seperti seorang tuan besar yang memerintah kacungnya.

"Ayah! Orang buruk ini sudah keterlaluan menghina kita. Biarlah aku mewakilimu untuk memberi pelajaran kepadanya," pinta seorang gadis manis. Gadis yang semula hanya duduk memperhatikan perdebatan itu, rupanya menjadi tak sabar. Dia segera melangkah ke tengah arena.

Lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu menyeringai bagai serigala lapar. Sepasang matanya yang semula menyipit, terbuka lebar menjelajahi seluruh tubuh gadis itu. "He he he.... Rupanya kau menyimpan kelinci cantik, Tua Bangka...," kata laki-Laki bopeng itu, tanpa melepaskan tatapannya dari wajah dan tubuh si gadis.

Merasakan betapa tatapan lelaki bopeng bagai menelanjangi tubuhnya, seketika merah padam seluruh wajah gadis manis berpakaian merah muda itu. Matanya yang bulat menyiratkan kemarahan.

Srattt!

Selarik sinar putih berkeredep ketika gadis itu melolos sebilah pedang yang tergantung di pinggang. "Manusia ceriwis! Rasakan pedangku...!" bentak gadis berpakaian merah muda itu sambil mengayunkan pedang dengan gerakan menyilang.

Swing!

"Ah...! Galak juga rupanya kau, Ni sanak. Coba kulihat, sampai di mana kepandaianmu!" ujar lelaki berwajah bopeng itu pongah, sambil menarik mundur kaki kanan dengan gerakan tubuh doyong kebelakang. Begitu serangan pedang lewat di depan tubuhnya, tangan lelaki tinggi kurus itu bergerak cepat melakukan cengkeraman ke arah dada kiri gadis itu. Gerakannya terlihat ringan dan tangkas. Jelas, lelaki berwajah bopeng itu bukan orang sembarangan.

Wuttt!

Cengkeraman itu lewat ketika gadis anak penjual obat menggeser kaki kanannya ke samping disertai gerakan tubuhnya. Berbarengan dengan gerakan itu, pedang di tangan kanannya berbalik dan menebas tangan kananlawan. Lagi-lagi lelaki tinggi kurus itu segera menunjukkan kegesitan tubuhnya. Pedang lawan yang bergerak mendatar, hanya lewat di atas kepala ketika tubuhnya meliuk dengan kuda-kuda rendah.

Rasa penasaran akibat kegagalan serangannya tadi, rupanya membuat orang itu penasaran. Terbukti, tangan kirinya kembali meluncur dengan cengkeraman menuju dada kiri gadis itu. Dari caranya menyerang ke arah sasaran yang sama sebanyak dua kali, jelas dia memiliki niat kotor. Gerakan yang cepat dan tak terduga, sempat membuat gadis manis itu menjadi gugup. Meskipun telah berusaha untuk menghindarinya, namun serangan lelaki tinggi kurus itu tetap saja terarah pada sasarannya. Maka....

Brettt!

"Auw...!"

Terdengar bunyi kain sobek ketika cengkeraman lelaki tinggi kurus itu mengenai sasaran. Gadis itu melompat mundur sambil menekap bagian dada kirinya yang terdapat lubang cukup besar. Meskipun hanya sekilas, namun dada berkulit putih yang ranum itu, sempat tertangkap sepasang mata liar milik lelaki berwajah bopeng itu.

"Larsih.... Kau tidak apa-apa...?" tanya lelaki setengah baya itu cemas sambil menyambar tubuh anak gadisnya yang terhuyung ke arahnya.

Gadis manis yang ternyata bernama Larsih itu tidak menyahuti pertanyaan ayahnya. Bahkan hampir saja tangisnya meledak karena rasa malu yang diderita. Wajahnya semakin merah ketika teringat betapa lelaki berwajah bopeng itu sempat meremas dada kirinya. Rasanya, ia lebih suka terpukul daripada harus mendapat hinaan seperti itu.

Lelaki setengah baya yang maklum akan perasaan anak gadisnya, segera memeluk dan membisikkan kata-kata bernada menghibur. "Sudahlah, Larsih. Orang itu bukan lawanmu. Biarlah Ayah yang akan membalasnya. Sekarang kembalilah ke tempatmu. Salinlah pakaianmu dengan yang lain." Setelah berkata demikian, lelaki setengah baya itu melangkah maju mendekati lelaki tinggi kurus yang terlihat tengah menciumi sobekan pakaian Larsih di tangan kirinya.

"Hm Bukan main harumnya tubuh anak gadismu, Pak Tua. Rasanya aku akan senang sekali kalau kau bersedia memberikannya untuk menemaniku selama beberapa malam. Bagaimana, Orang Tua? Apakah kau bersedia?" kata lelaki berwajah bopeng itu tanpa mempedulikan pandangan lawan yang penuh amarah.

"Jaga mulutmu, Kisanak! Meskipun hanya seorang penjual obat jalanan, namun aku bukanlah seorang pengecut! Dan aku akan menjaga anakku dengan taruhan nyawa tuaku ini!"

Setelah berkata demikian, lelaki setengah baya itu menggeser kedua kakinya membentuk kuda-kuda seperti tengah menunggang kuda. Tangan kanannya mengepal di atas kepala. Sedangkan tangan kirinya berada di depan dada dengan jari-jari lurus menghadap keatas.

"Hm.... Rupanya kau lebih suka kalau aku menyeret anakmu secara paksa. Kalau memang itu yang diinginkan, baiklah! Jangan sesali nasib burukmu hari ini," ancam lelaki tinggi kurus itu dengan sepasang bola mata berkilat tajam. Selesai berkata demikian, lelaki berwajah bopeng itu melemparkan sobekan kain di tangan kirinya. Dengan lagak sombong, ia berdiri tegak menghadapi lelaki setengah baya itu tanpa persiapan sedikit pun. Jelas, ia memandang rendah lawannya.

"Haiiit...!"

Dibarengi sebuah teriakan nyaring, lelaki setengah baya itu membuka serangan dengan pukulan-pukulan yang menimbulkan angin berkesiutan.

Bettt! Bettt...!

Serangkaian serangan yang dilancarkan lelaki setengah baya itu, berhasil dielakkan lawan hanya dengan geseran-geseran kaki yang disertai egosan tubuhnya. Sesekali lelaki tinggi kurus itu melakukan tangkisan, yang sekaligus disusul dengan serangan balasan. Sebentar saja mereka telah terlibat pertarungan, yang bagi penduduk Desa Malaju lebih seru dan lebih ramai ketimbang pertarungan dua orang pengikut si penjual obat tadi.

Larsih dan dua orang pembantu ayahnya hanya dapat memandang dengan wajah cemas. Sebab melihat dari jalannya pertarungan itu, jelas kalau lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu memiliki kepandaian di atas kepandaian ayahnya. Kenyataan itu membuat hati mereka diliputi ketegangan.

Sampai saat ini pertarungan telah menginjak jurus yang kedua puluh satu. Dan dalam jurus-jurus selanjutnya, jelas terlihat kalau lelaki setengah baya penjual obat keliling itu terdesak oleh serangan lawan. Bahkan ketika pertarungan mulai menginjak jurus yang kedua puluh empat, serangan-serangan lelaki berwajah bopeng itu terlihat semakin cepat dan ganas. Akibatnya, laki-Laki setengah baya penjual obat itu tidak lagi mempunyai peluang untuk melancarkan serangan balasan. Dia hanya dapat bertarung mundur dan berusaha menghindari kepalan maupun tendangan lawan yang berkali-kali hampir bersarang di tubuhnya.

Bukkk! Desss!

"Hugkh...!" Memasuki jurus yang kedua puluh lima, sebuah pukulan dan tendangan lawan tak dapat lagi dihindari lelaki setengah baya itu. Tubuhnya yang agak gemuk itu, terpental ke belakang diiringi jeritnya.

Brukkk!

Tubuh lelaki setengah baya itu terbanting di atas tanah disertai semburan darah segar yang terlompat dari mulutnya. Sambil mengerang lirih, ia berusaha bangkit berdiri.

"Ayah...!" Larsih langsung menghambur ke arah ayahnya dan berusaha membantu untuk bangkit berdiri. Di wajah gadis manis itu tampak mengalir turun air bening. Rupanya ia tidak sanggup menahan kesedihan melihat keadaan ayahnya yang nampak terluka parah itu.

"Paman...!"

Dua orang lelaki muda yang menjadi pembantu penjual obat pun berlari menghambur ke arah lelaki setengah baya itu. Mereka cepat membantu Larsih yang tengah menolong ayahnya bangkit.

"He he he.... Bagaimana, Orang Tua? Apakah masih tidak bersedia menyerahkan anak ga- dismu kepadaku? Jangan khawatir.... Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Bahkan akan kujadikan istriku yang tercinta," ujar lelaki tinggi kurus itu terkekeh sambil melangkah mendekat

"Cihhh! Siapa yang sudi menjadi istrimu, Manusia Bejat! Lebih baik aku mati daripada menjadi pemuas nafsu iblismu!" seru Larsih sambil meludah dengan perasaan benci.

"Hm.... Kau memang harus dijinakkan lebih dahulu, Betina Liar. Ketahuilah! Tidak ada seorang pun yang bisa menolak keinginan Jerangkong Bukit Karang! Suka atau tidak, kau akan kubawa ke tempat tinggalku!" geram lelaki tinggi kurus yang mengaku berjuluk Jerangkong Bukit Karang. Rupanya, ia merasa tersinggung dengan penolakan Larsih.

"Keparat, jangan ganggu dia...!" Lelaki pendek gemuk yang menjadi pembantu ayah Larsih seketika bergerak maju dan menghadang di depan Jerangkong Bukit Karang. Perbuatannya diikuti pula oleh kawannya yang bertubuh lebih tinggi sedikit.

"Huh! Gentong-gentong kosong yang tidak punya guna! Mau apa kalian menghadangku! Minggir...!" sentak lelaki tinggi kurus itu. Seketika tangannya dikibaskan secara sembarangan. Serangkum angin kuat berhembus mengiringi kibasan tangan kanannya.

Wuttt!

Dan belum juga kibasan tangan itu menghantam dua orang pembantu tukang obat mendadak saja sebuah bayangan hijau berkelebat cepat. Maka....

"Akh...!" Jerangkong Bukit Karang berseru kaget ketika merasa kan lengannya membentur sebuah benda yang keras bagaikan batangan besi. Bahkan tubuhnya pun terdorong mundur sejauh satu batang tombak.

"Hei?!" Lelaki tinggi kurus itu menarik kepalanya dengan sepasang mata hampir terlompat ke luar. Rasa nyeri pada lengannya seolah-olah terlupa karena pesona yang memancar dari sosok tubuh ramping di hadapannya. Dan itu benar-benar membuat lelaki itu bagaikan tersihir! Hingga untuk beberapa saat lamanya, ia hanya dapat ternganga tanpa mampu bergerak.

"Apakah kau sudah berubah menjadi murung, Jerangkong Bukit Karang?" tegur sosok tubuh ramping berpakaian serba hijau itu sambil bertolak pinggang. Meskipun suara itu bernada mengejek, namun tetap saja terdengar merdu di telinga. Siapa lagi sosok tubuh ramping itu kalau bukan Kenanga. Rupanya ia langsung turun tangan ketika melihat nyawa kedua orang pembantu penjual obat itu terancam maut.

Jerangkong Bukit Karang tersentak kaget dan tersadar dari keterpakuannya. Kedua matanya langsung digosok-gosok, seolah-olah masih tidak mempercayai kehadiran dara jelita berpakaian hijau yang berdiri satu batang tombak di depannya.

"Kau.... Kau siapa, Nisanak..?" tanya laki-Laki bopeng itu dengan suara gagap, seraya sepasang matanya menjelajahi sekujur tubuh gadis jelita itu.

"Hm.... Dasar lelaki kurang ajar! Kau memang patut diberi hajaran!" bentak Kenanga tajam. Rupanya gadis jelita itu merasa marah melihat tatapan mata lelaki tinggi kurus itu yang bagaikan menelanjangi tubuhnya.

"Eh...?!" Lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu tersentak mundur ketika pandangan matanya bertumbuk dengan sepasang mata Kenanga yang berkilat tajam penuh kemarahan. Diam-diam hati Jerangkong Bukit Karang merasa terkejut melihat sinar mata itu. Dia teringat akan benda sekeras besi yang menangkis kibasan tangannya tadi.

"Gadis jelita inikah yang telah menangkis kibasan tanganku?" pikir laki-Laki bopeng itu penuh keraguan. Namun tanda tanya di hati Jerangkong Bukit Karang tidak berlangsung lama, setelah gadis di depannya mengeluarkan bentakan nyaring dan mengejutkan.

"Sambut seranganku, Manusia Kurang Ajar...! " seru gadis jelita itu sambil melompat dan melancarkan dua buah pukulan sekaligus.

Bettt! Bettt!

Sambaran angin pukulan yang menderu tajam itu membuat hati Jerangkong Bukit Karang semakin tercekat. Kini baru disadari kalau gadis jelita itu ternyata adalah seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi. Maka cepat-cepat ia melompat mundur dan melakukan beberapa kali salto, ketika! sepasang tangan gadis jelita itu masih juga mengejarnya. Sadar kalau lawan yang kali ini dihadapinya bukan orang sembarangan, maka kepandaiannya segera dikerahkan untuk melancarkan serangan balasan.

"Yeaaah...!"

Diiringi teriakan parau, Jerangkong Bukit Karang melepaskan sebuah pukulan keras setelah berhasil mengelakkan pukulan yang dilancarkan Kenanga. Dari suara yang ditimbulkannya, dapat diduga kalau lelaki tinggi kurus itu telah mengerahkan hampir seluruh tenaganya untuk mengimbangi serangan lawan. Melihat pukulan lawan yang meluncur mengancam iga kirinya, Kenanga sama sekali tidak berusaha mengelak. Seketika kaki kirinya bergeser ke belakang sambil memutar tubuh menyamping. Kuda-kudanya segera direndahkan seraya lengan kanannya bergerak melakukan tangkisan dengan sikap menekuk. Sadar akan kekuatan tenaga lawan, Kenanga pun mengerahkan hampir sepertiga dari tenaganya dalam melakukan tangkisan.

Dukkk!

Terdengar suara nyaring bagaikan dua batang besi yang sating bertumbukan keras. Tubuh keduanya terpental balik sejauh dua batang tombak. Dari sikap kuda-kuda mereka yang sama-sama terlihat kokoh, dapat dinilai kalau pertemuan tenaga itu ternyata memiliki kekuatan seimbang.

Jerangkong Bukit Karang yang telah mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya, tentu saja menjadi terkejut setengah mati. Sama sekali tidak disangka kalau gadis jelita itu ternyata memiliki tenaga dalam tinggi. Bahkan mungkin lebih kuat daripada tenaga dalam yang dimilikinya. Hal itu dapat dilihat dari deru napas gadis itu yang sama sekali tidak memburu. Berbeda dengan napasnya yang bagaikan orang habis berlari menempuh jarak cukup jauh. Kenyataan itu membuat hatinya bergetar, dan wajahnya berubah menegang.

"Haiiit..!"

Kenanga yang sempat melihat wajah lelaki bopeng itu meringis sambil memegangi lengan kanannya, dapat menduga kalau tenaga yang dimilikinya masih lebih kuat. Dibarengi teriakan nyaring, gadis jelita itu pun kembali mencecar lawan dengan gerakan cepat dan kuat. Dan kini Kenanga telah mengeluarkan ilmu andalannya. Hebat bukan main jurus 'Bidadari Menabur Bunga' yang digunakan gadis jelita itu. Sepasang tangannya tampak bergerak cepat hingga bentuknya pun lenyap. Yang tampak kini hanya bayangan puluhan batang lengan mematuk-matuk menimbulkan angin berkesiutan.

Wuttt! Wuttt!

"Aiiih...!" Jerangkong Bukit Karang berseru kaget. Hampir saja dada kirinya terkena pagutan jemari tangan gadis jelita itu yang berbentuk paruh bangau. Untung tubuhnya masih sempat dimiringkan, sehingga serangan gadis itu lewat beberapa jari di depan dadanya. Tapi, rasa lega lelaki berwajah bopeng itu rupanya tidak berlangsung lama. Sebab begitu patukan jemari tangannya berhasil dielakkan lawan, tahu-tahu saja kaki dara jelita itu mencelat naik menghantam iganya.

Desss!

"Hugkh...!" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh lelaki tinggi kurus itu pun terlempar ke belakang sejauh tiga batang tombak. Namun, Jerangkong Bukit Karang memang bukan tokoh sembarangan. Meskipun tendangan telak itu membuat iganya terasa remuk, namun kuda-kudanya masih dapat dipertahankan. Sehingga, tubuhnya tidak sampai terbanting jatuh.

Kenanga rupanya tidak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk membangun serangan. Selagi tubuh Jerangkong Bukit Karang terjajar mundur, gadis jelita itu membarenginya dengan serangan cepat dan kuat. Jerangkong Bukit Karang yang belum sempat mempersiapkan pertahanannya, terpaksa menghindar sebisa-bisanya. Tapi memang dasar nasibnya sedang sial, maka ia pun kembali harus menelan pil pahit!

Bukkk... Desss!

Untuk kedua kalinya, tubuh tinggi kurus itu kembali terlempar bergulingan. Jerit kesakitan terlontar dari mulut Jerangkong Bukit Karang, yang kemudian memuntahkan darah segar.

Kenanga melangkah perlahan menghampiri lawannya yang masih terduduk sambil mengerang kesakitan. Dua buah hantaman yang telak mengenai dada dan lambung, membuat Jerangkong Bukit Karang tidak mampu buru-buru bangkit Sepertinya, hantaman gadis jelita itu mendatangkan luka dalam yang cukup parah. Jerangkong Bukit Karang memaksa bangkit pada saat langkah kaki gadis jelita itu tinggal beberapa belas tindak lagi.

"Hari ini aku mengaku kalah kepadamu, Ni sanak. Tapi, ingatlah! Suatu hari nanti aku akan mencarimu untuk membalas penghinaan ini!" tandas Jerangkong Bukit Karang dengan sorot mata penuh dendam. Kemudian, ia pun berlari tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.

Melihat orang itu melarikan diri, Kenanga sudah bergerak mengejar. Namun, langkah kakinya terhenti ketika terdengar seruan di belakangnya.

"Biarkan dia pergi...!"

Belum lagi gema suara itu lenyap, sesosok bayangan putih tahu-tahu saja telah berada di belakang gadis jelita itu.

"Kakang, mengapa mencegahku? Ancamannya tadi, jelas membuktikan kalau orang itu belum jera," bantah Kenanga, menuntut jawaban sosok bayangan putih yang ternyata Panji.

"Menyiksa lawan yang sudah tidak berdaya, bukanlah sifat ksatria, Kenanga. Apalagi, Jerangkong Bukit Karang jelas-jelas mengaku kalah tadi. Sedangkan ancamannya hanyalah luapan amarah seorang pecundang. Mudah-mudahan saja ia bisa berpikir lebih dalam dan melupakan ancamannya," sahut Panji sambil melebarkan senyumnya.

Kenanga hanya menghela napas, seolah-olah ingin membuang sisa-sisa rasa tak puas yang menggumpal dalam rongga dadanya. Sesaat ke- mudian, senyum manisnya pun kembali terlukis, menghias wajahnya yang jelita. Kedua orang pendekar muda itu sama-sama menolehkan kepalanya ketika mendengar langkah kaki mendatangi.

"Ni sanak! Kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Entah dengan apa kami dapat membalasnya," ucap lelaki setengah baya itu sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam kepada Panji dan Kenanga.

"Tidak perlu sungkan-sungkan, Paman. Apa yang kulakukan tadi, hanyalah suatu kewajiban. Jadi, tidak ada keharusan bagi Paman untuk membalasnya," sahut Kenanga sambil membalas penghormatan penjual obat itu.

"Apa yang dikatakan kawan saya ini memang benar, Paman. Janganlah merasa berhutang budi karena pertolongannya tadi. Maaf, kami harus melanjutkan perjalanan. Sekarang, silakan teruskan pekerjaan Paman," timpal Panji yang langsung berpamitan karena saat itu para penduduk desa telah berdatangan mengerumuni.

Keempat orang itu hanya dapat memandang kepergian Panji dan Kenanga penuh rasa terima kasih. Setelah tubuh kedua orang pendekar muda itu semakin menjauh, lelaki setengah baya itu pun membalikkan tubuh dan melanjutkan pekerjaannya.

********************

ENAM

Di bawah siraman cahaya matahari yang semakin naik tinggi, nampak dua sosok tubuh melangkah memasuki mulut hutan. Yang seorang memakai jubah putih, dan yang seorang lagi men- genakan pakaian serba hijau. Dan rupanya sinar matahari tak lagi dirasakan, karena tubuh mereka terlindungi pepohonan besar yang tumbuh menju- lang tinggi. Pada saat mereka hampir berada di tengah hutan, mendadak sosok yang mengenakan jubah putih itu menghentikan langkahnya. Kepalanya segera dimiringkan seolah-olah hendak memastikan pendengarannya.

"Ada apa, Kakang...?" tanya sosok tubuh yang berpakaian serba hijau. Wajahnya yang putih halus menampakkan keheranan melihat tingkah laku kawannya. Dari suara dan kehalusan wajahnya, dapat dipastikan kalau dia adalah seorang wanita.

"Sepertinya aku mendengar suara orang bertengkar. Apa kau tidak mendengarnya?" sosok berjubah putih yang memang seorang pemuda itu balas bertanya.

"Tidak, Kakang. Aku sama sekali tidak mendengarnya," sahut gadis jelita itu sambil menggeleng perlahan.

"Hm...," pemuda berjubah putih itu hanya menggumam mendengar jawaban itu. "Mari ikut aku..." Tanpa menunggu jawaban lagi, tubuhnya pun segera melesat ke depan. Dan tanpa banyak cakap, gadis jelita yang mengenakan pakaian serba hijau itu bergegas mengerahkan ilmu larinya mengikuti pemuda tadi.

"Aku mulai dapat menangkap suara yang kau maksudkan itu, Kakang. Kedengarannya memang seperti orang yang sedang bertengkar," kata gadis jelita itu sambil terus mengimbangi lari kawannya. Saat itu mereka sudah semakin jauh memasuki hutan.

"Ya! Suara itu semakin jelas terdengar," sahut pemuda tampan berjubah putih. "Hati-hati, jangan sampai langkah kaki kita terdengar mereka."

Gadis jelita itu mengangguk dan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sehingga gerakan langkah kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tidak berapa lama kemudian, mereka tiba pada sebuah tempat terbuka yang cukup luas. Di sana, tampak dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan dalam keadaan tegang.

"Jangan sembarangan menuduh, Jaya Prana! Sadarkah kau kalau kata-katamu itu bisa mengakibatkan perpecahan di antara kita?" bentak lelaki tinggi besar bertubuh kokoh bagai batu karang. Suaranya terdengar berat dan kasar, sesuai bentuk tubuhnya. Wajahnya kemerahan seperti menahan kemarahan.

Sebelum orang yang dipanggil Jaya Prana itu menyahut, seorang yang berbahu lebar dan berusia sekitar tiga puluh tahun, melompat turun dari atas punggung kudanya. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, orang itu langsung menudingkan telunjuknya ke wajah lelaki tinggi besar yang masih berada di atas punggung kuda.

"Hmh! Tidak kusangka kalau pimpinan Pasukan Garuda Emas ternyata seorang pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya. Sungguh memalukan!" ujar lelaki tegap berbahu lebar itu dengan suara sangat menghina.

"Jaga mulutmu, Banja! Apa kau ingin agar aku merobek mulutmu dulu, supaya tidak semakin kurang ajar!" bentak lelaki tinggi besar itu. Wajah orang itu tampak dipenuhi cambang bauk. Sepasang matanya tampak berkilat penuh kemarahan. Jelas, ia tidak bisa menerima hinaan yang dilontarkan lelaki berbahu lebar yang tak lain dari Banja. Rupanya kedua kelompok penunggang kuda itu adalah Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang merupakan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih.

"Keparat keji! Akibat perbuatanmu terhadap guru dan saudara-saudara seperguruanku, apakah kau kira aku masih sudi menghormatimu! Tidak, Pragola. Aku tidak lagi memandangmu sebagai pemimpin, melainkan seorang pembunuh keji yang berjiwa pengecut" Banja semakin berapi-api melontarkan kata-katanya. Jelas sekali kalau ia tidak memandang sebelah mata pun kepada Pragola yang menjadi salah satu pimpinan Pasukan Garuda Emas.

"Kurang ajar...! Mulutmu benar-benar harus dirobek!" bentak Pragola yang melompat dari kudanya, langsung menerjang Banja.

Jaya Prana yang menjadi pimpinan dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Hitam tentu saja tidak bisa berdiam diri melihat Banja terancam. Lelaki tegap berkumis lebat itu pun melesat dari atas punggung kuda, dan langsung memapak serangan Pragola.

"Perlahan dulu, Pragola...!" seru Jaya Prana sambil mengibaskan lengan kanan menyambut serangan lelaki tinggi besar itu.

Wuttt...Wuttt! Plakkk!

Terdengar benturan keras yang disusul terpentalnya tubuh kedua orang itu ke belakang. Namun, baik Pragola maupun Jaya Prana ternyata dapat menguasai keseimbangan tubuh. Setelah berjumpalitan beberapa kali, tubuh mereka jatuh di atas tanah dalam sikap kuda-kuda kokoh dan indah.

"Kau akan membela orangmu yang kurang ajar itu, Jaya Prana? Baik! Kalau begitu, sambutlah seranganku ini...!" seru Pragola.

Laki-Laki itu semakin marah melihat campur tangan Jaya Prana. Maka, Pragola kembali menerjang maju dengan serangan-serangan hebat dan berbahaya. Jaya Prana pun tidak tinggal diam. Melihat lawan sudah kembali menyerang, maka segera disambut dengan tidak kalah hangatnya. Dalam sekejap saja, kedua orang lelaki gagah itu pun terlibat perkelahian seru dan mati-matian.

Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang melihat pemimpin pemimpin mereka masing-masing sudah terlibat dalam perkelahian sengit, menjadi gatal tangannya. Tanpa diperintah lagi, kedua kelompok pasukan inti Kerajaan Cadas Putih itu pun masing-masing melompat turun dari atas punggung kuda. Tanpa banyak cakap lagi, kedua kelompok itu pun mencabut senjata masing-masing.

"Yeaaa...!"

Disertai teriakan nyaring bergemuruh, Pasukan Garuda Hitam meluruk ke arah dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Emas. Sesaat sebelum pertempuran itu pecah, mendadak dua sosok tubuh melesat ke tengah arena. Gerakan kedua sosok tubuh itu demikian cepat dan menimbulkan desir angin kuat Sosok tubuh pertama yang merupakan bayangan putih, menuju ke arah dua pasukan yang hampir bertemu itu. Kedua tangannya men- gibas ke kiri kanan setelah menjejakkan kakinya di antara kedua kelompok itu.

Wusss!

Serangkum angin dingin yang amat kuat berhembus bagaikan badai salju yang menghumbalangkan tubuh kedua pasukan kecil itu.

"Tahan...!" teriak bayangan putih itu dengan suara laksana ledakan guntur di angkasa. Jelas, suara itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Tak satu pun dari kedua kelompok itu yang sanggup mempertahankan diri dari dorongan angin dingin itu. Tubuh mereka bergelimpangan dan menggigil kedinginan. Dengan demikian, pertarun- gan kedua pasukankecil itu jadi batal. Sedangkan sosok tubuh lain yang merupakan bayangan hijau, meluruk ke arah Jaya Prana dan Pragola yang saat itu tengah bertarung sengit. Gerakan bayangan hijau itu ternyata sangat lincah dan gesit Sehingga, tanpa mengalami kesulitan sedikit pun tahu-tahu saja tubuhnya telah berada di antara kedua orang lelaki gagah itu.

"Berhenti...!" Bentakan nyaring dan merdu itu disertai dorongan sepasang lengannya ke kiri kanan.

Wuttt! Wusss!

Sambaran angin kuat yang mengancam tubuh Jaya Prana dan Pragola, membuat kedua orang itu melompat ke belakang dan melakukan beberapa kali salto diudara.

"Siapa kau, Ni sanak? Apa maksudmu mencampuri urusan kami?" bentak Pragola setelah terdiam beberapa saat lamanya. Laki-laki itu sama sekali tidak menduga kalau sosok tubuh yang memisahkan mereka ternyata seorang wanita muda berparas jelita. Kalau saja tidak mengalaminya sendiri, tentu Pragola tidak akan percaya begitu saja. Apalagi ketika mendapat kenyataan, betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di balik sosok tubuh ramping itu.

Jaya Prana pun tidak kalah terkejutnya dengan kenyataan itu. Padahal, ia adalah salah seorang pimpinan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih. Tapi kenyataannya mampu didorong mundur oleh seorang gadis muda berparas jelita. Untung gadis itu tidak bermaksud jelek. Kalau tidak, mungkin ia dan Pragola sudah mengalami luka dalam yang cukup parah.

Lelaki gagah berkumis lebat itu jelas-jelas tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Ia berdiri tegak menanti jawaban yang keluar dari dara jelita itu. Sebelum pertanyaan Pragola terjawab, sosok berjubah putih yang tak lain dari Panji atau berjuluk Pendekar Naga Putih melangkah menghampiri mereka.

"Paman berdua harap maafkan kelancangan aku dan kawanku ini. Semua ini dilakukan semata-mata karena telah terjadi kesalahpahaman di antara kalian. Dari sanggahan Paman Pragola tadi, aku yakin kalau ia tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka, aku terpaksa berbuat lancang agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut," jelas Panji sambil membungkuk hormat kepada mereka.

"Hm.... Jadi kau telah lama mengintai kami?" tegur Jaya Prana, tak senang.

"Maaf, hal ini terpaksa kulakukan karena merasa tertarik dengan pertengkaran Paman berdua tadi. Karena sepintas tadi, aku mendengar tentang pembunuhan yang dituduhkan kepada Paman Pragola. Melihat kesungguhan dan kegagahannya, aku yakin tuduhan itu sama sekali tidak benar. Kalau boleh aku bertanya, adakah saksi yang dapat dipercaya dalam hal ini?" tanya Panji akhirnya. Suara dan wajah Pendekar Naga Putih terlihat tenang. Dan hal ini membuat kedua orang perwira itu bertanya-tanya, siapa gerangan pemuda tampan berjubah putih ini.

"Hm Siapa kau sebenarnya, Anak Muda? Dari sikap dan nada bicaramu, aku yakin kau bukan orang sembarangan. Sebutkan nama dan julukanmu? Dengan demikian, mungkin kami dapat mempertimbangkan dan memaafkan perbuatanmu," tanya Pragola mulai menduga-duga pemuda yang memiliki ketenangan mengagumkan hatinya itu.

Melihat dari kepandaian yang dimiliki gadis jelita tadi, bukan tidak mungkin kalau kepandaian pemuda ini masih lebih tinggi lagi. Atau paling tidak sejajar dengan kepandaian gadis jelita berpakaian serba hijau yang berdiri di samping pemuda tampan itu.

"Maaf, Paman. Namaku Panji. Sedangkan kawanku bernama Kenanga. Orang-orang rimba persilatan memberikan julukan Pendekar Naga Putih kepadaku," sahut Panji. Dia terpaksa memperkenalkan julukannya. Karena, menurutnya julukan itu mungkin dapat membuat kedua orang itu lebih mempercayainya.

"Ah.... Jadi, kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih? Sepak terjangmu sudah lama membuatku kagum. Tahukah kau, julukanmu itu sempat pula menggemparkan Istana Kerajaan Cadas Putih?" seru Pragola. Saking kagumnya, ia sampai menyebutkan rahasia yang seharusnya disembunyikan.

"Hm.... Mengingat julukanmu yang telah mendatangkan kekaguman, maka kami percaya kalau kau memang pantas menjadi penengah bagi masalah yang tengah dihadapi ini," timpal Jaya Prana. Dari nada suaranya, jelas kalau ia tidak menyesali kata-kata Pragola yang telah membuka rahasia penyamaran mereka. Dan memang, menurutnya, julukan Pendekar Naga Putih dapat menjadi jaminan dan bisa dipercaya.

Panji yang semula hanya menduga-duga, sempat terkejut mendengar pengakuan lelaki gagah berwajah brewok itu. Sebagaimana sikap seorang rakyat jelata terhadap pembesar kerajaan, maka kedua orang muda itu menjatuhkan dirinya memberi hormat

"Maafkan kalau sikap kami kurang hormat terhadap Tuan Perwira berdua," ucap Panji. Pendekar Naga Putih segera menekuk lutut sambil merangkapkan telapak tangannya sebagai penghormatan. Hal yang sama dilakukan pula oleh Kenanga.

"Bangkitlah kau, Pendekar Naga Putih dan Kenanga. Janganlah terlalu banyak peraturan. Apalagi tempat ini bukanlah istana kerajaan," kata Pragola sambil membungkuk dan mengangkat tubuh Panji. Diam-diam hati perwira berusia empat puluh lima tahun ini semakin kagum atas sikap yang ditunjukkan pemuda yang berjuluk Pendekar Naga Putih itu.

"Nah! Sekarang katakan, apa usulmu agar persoalan ini dapat kita selesaikan?" tanya Jaya Prana yang percaya penuh setelah melihat sikap pemuda itu.

"Kembali kepada pertanyaanku tadi, Paman Perwira. Adakah saksi yang bisa membuktikan kalau pembunuhan itu memang dilakukan Tuanku Pragola?" tanya Panji yang merubah panggilannya begitu mengetahui kalau kedua orang di depannya adalah perwira kerajaan.

"Tidak usah terlalu sungkan, Pendekar Naga Putih. Sebut saja kami dengan panggilan paman tanpa embel-embel perwira segala macam," tegas Pragola ketika mendengar panggilan pemuda itu berubah.

"Betul, Panji. Dan mengenai pertanyaanmu itu, kami memang mempunyai dua orang saksi mata. Dari merekalah didapatkan keterangan tentang pelaku perbuatan itu. Bahkan mereka memberikan gambaran jelas mengenai raut wajah dan bentuk tubuh si pembunuh. Dan keterangan itu jelas-jelas menggambarkan sosok Kakang Pragola ini," Jaya Prana memberi keterangan kepada Panji, karena tidak ingin dituduh melemparkan fitnah tanpa bukti jelas.

"Kedua orang saksi mata itu dapat dipercaya, karena mereka adalah murid Perguruan Tinju Selatan sendiri! Aku tidak percaya kalau keterangan mereka hanya sekadar fitnah! Sebab kalau tidak menyaksikan sendiri, dari mana mereka mendapat gambaran tentang bentuk tubuh dan raut wajah pembunuh keji itu!"

Mendengar ucapan keras yang berapi-api itu, Panji, Kenanga, Jaya Prana, dan Pragola menolehkan kepala. Kening Pragola terkejut, dan wajahnya kembali gelap ketika melihat Banja dan Gandira datang menghampiri. Rupanya kedua orang itu dan anggota yang lainnya sudah terlepas dari pengaruh 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang dikerahkan Pendekar Naga Putih tadi.

"Tenanglah, Banja. Kami telah berembuk untuk memecahkan masalah pembunuhan guru dan saudara-saudara seperguruanmu itu. Tahan amarahmu kalau ingin masalah ini segera. selesai," ujar JayaPrana. Laki-laki berkumis lebat itu memang mera- sa tidak enak terhadap Pragola. Maka, bergegas dia menghampiri Banja dan menepuk-nepuk bahu lelaki itu.

"Benar, Banja. Dan kalau memang ternyata aku yang melakukan perbuatan keji itu, aku tidak akan lari dari tanggung jawab," sahut Pragola penuh ketegasan.

"Kalau boleh kuusulkan, dapatkah kedua orang saksi mata itu dihadapkan kemari," pinta Pendekar Naga Putih ketika keadaan sudah kembali tenang. Bahkan kini mereka telah duduk di atas rumput membuat lingkaran.

"Sayang kedua orang saksi itu tidak bisa menyertai kami, karena harus merawat perguruan dan makam guru mereka. Sebab, hanya kedua orang murid itulah yang saat ini tinggal di dalam bangunan Perguruan Tinju Selatan," jelas Jaya Prana. Laki-Laki berkumis lebat itu sedikit kecewa, karena kedua orang saksi itu tidak ada. Dan kalau ada, sudah pasti masalahnya dapat cepat diselesaikan.

"Ah, sayang sekali. Padahal tanpa mereka, kita tidak bisa memutuskan apa-apa. Saat ini, hanya kedua orang saksi itulah yang menjadi kunci untuk memecahkan persoalan ini," sesal Panji, seraya menghela napas kecewa.

"Kakang, bagaimana kalau kita datangi Perguruan Tinju Selatan bersama-sama. Bukankah itu lebih baik, daripada persoalan ini menjadi tertunda dan tetap gelap?" Kenanga yang semenjak tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba mengajukan usul

Pragola, Jaya Prana, Banja, dan Gandira mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya, usul gadis Jelita itu bisa dipertimbangkan. Sedangkan Panji hanya menatap wajah keempat orang lelaki gagah itu berganti-ganti. Menurut perkiraannya, apa yang diusulkan Kenanga itu merupakan jalan satu-satunya untuk memecahkan masalah yang tengah dihadapi. Setelah semuanya menyetujui usul yang diajukan Kenanga, berangkatlah dua rombongan pasukan itu disertai Kenanga dan Pendekar Naga Putih.

********************

Saat matahari sudah meratakan sinarnya ke seluruh permukaan bumi. Rombongan dua pa- sukan itu pun tiba di depan pintu gerbang Pergu- ruan TinjuSelatan. Panji dan Kenanga yang juga mengendarai kuda, bergegas melompat turun mengikuti dua orang pimpinan pasukan itu. Banja yang merasa paling penasaran, bergegas menggedor pintu gerbang sambil berteriak-teriak me-manggil. Kekesalan yang menggumpal di dada, membuatnya menjadi tidak sabar ketika panggilannya tidak juga disahuti.

"Kurang ajar! Ke mana pula perginya Janaka dan Santika? Mengapa mereka belum juga keluar?" omel Banja dengan wajah gelap.

"Sabarlah. Mungkin saat ini mereka berada jauh dibelakang. Jadi, wajar saja kalau belum mendengar panggilanmu," bujuk Gandira sambil menepuk-nepuk punggung saudara seperguruannya.

"Biarlah aku yang akan memanggil mereka," pinta Pragola menyelak. Sebagai seorang tertuduh, lelaki bercambang bauk ini pun tidak kalah penasarannya dengan Banja. Pragola ingin melihat, bagaimana rupa orang yang telah menjatuhkan fitnah keji terhadapnya.

"Silakan, Kakang Pragola...," sahut Gandira, terpaksa. Sementara Banja telah menekuk wajahnya ketika melihat Pragola mendekati mereka. Melihat sikapnya, jelas kalau ia masih tetap menyalahkan Pragola atas kejadian yang menimpa guru dan saudara-saudara seperguruannya.

"Hei! Siapa pun yang berada di dalam bangunan Perguruan Tinju Selatan, harap keluar! Banja dan Gandira datang berkunjung...!"

Hebat sekali teriakan Pragola yang didorong tenaga dalam kuat itu. Beberapa orang anggota pasukan yang paling lemah kepandaiannya, terpaksa harus menutup telinga sambil mengerahkan hawa murni untuk melindungi bagian dalam dada mereka. Dan memang teriakan itu sempat pula mengguncangkan dada.

Panji sendiri tidak menyembunyikan rasa kagumnya. Hal itu terlihat dari pancaran sinar matanya ketika memandang Pragola. Diam-diam pemuda itu semakin bertambah kagum melihat kekuatan tenaga dalam laki-laki bercambang bauk itu.

Hanya Banja yang terlihat agak sinis. Kekesalan hatinya membuat lelaki gagah berbahu lebar itu menganggap Pragola sengaja menyombongkan kekuatan tenaga dalam. Pikiran itu membuat rasa tak suka di hati Banja semakin menebal. Meskipun berwatak berangasan, namun Pragola memiliki pandangan sangat luas. Dan ia bukan tidak tahu akan cibiran sinis bibir Banja yang tertuju kepadanya. Tapi dengan kematangan jiwa, sikap Banja dapat dimakluminya.

Sayang apa yang dilakukan Pragola itu sia-sia. Meskipun teriakan tadi sangat kuat, tapi Janaka dan Santika belum juga muncul. Tentu saja hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan di hati mereka. Panji yang memiliki pengalaman luas tentang dunia persilatan, segera bisa menebak penyebab ketidakmunculan orang yang bernama Janaka dan Santika. Maka seketika kecurigaannya timbul.

"Aku akan mencoba masuk untuk membuka pintu dari dalam," usul pemuda berjubah putih itu. Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Pendekar Naga Putih langsung melesat melompati dinding pagar setinggi tiga batang tombak. Semua orang yang berada di tempat itu, membelalak kagum melihat tubuh pemuda tampan itu melayang bagaikan seekor burung besar.

"Hm.... Pantas saja dunia persilatan dapat dibuat gempar. Kepandaian yang dimilikinya benar-benar hebat! Rasanya sukar sekali mencari orang yang dapat menandinginya pada masa ini. Untunglah kepandaian sehebat itu dimiliki pemuda seperti dia. Entah apa jadinya kalau dimiliki seorang pemuda berwatak bejat Mungkin dunia persilatan akan kacau dibuatnya," gumam Jaya Prana pelan sambil menggelengkan kepala.

"Kalau saja pemuda seperti dia sudi mengabdikan diri untuk Kerajaan Cadas Putih, bukan main gembiranya hati Gusti Prabu," desah Pragola yang juga semakin kagum oleh Pendekar Naga Putih.

"Yah.... Aku pun berpendapat demikian," Jaya Prana yang mendengar ucapan Pragola, menyahuti Laki-Laki berkumis tebal itu agak menyesal, karena sadar kalau harapan mereka berdua tidak mungkin akan dapat terpenuhi. Sebab, mereka tahu kalau seorang pendekar petualang seperti Pendekar Naga Putih akan lebih suka hidup bebas tanpa ikatan apapun.

Jaya Prana, Pragola, dan yang lainnya, baru tersadar ketika mereka mendengar derit pintu gerbang yang bergerak karena telah dibuka Pendekar Naga Putih. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka pun bergegas masuk. Banja sudah lebih dulu melesat masuk, dan langsung berlari menuju halaman belakang balai utama. Tak lama setelah tubuh pemuda berbahu lebar itu menghilang di balik bangunan besar itu, terdengar hiruk-pikuk yang disertai makian marah.

"Biadab! Manusia iblis!" terdengar makian Banja yang mengejutkan semua orang yang berada di halaman depan Perguruan Tinju Selatan.

"Ada apa, Ban.... Ahhh...!?" Gandira yang tiba lebih dulu di halaman belakang bangunan perguruan, membelalak pucat tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Lelaki gagah itu hanya dapat berdiri memandang dua buah tiang, dua depa di hadapannya.

Seruan-seruan terkejut bercampur kemarahan seketika bersahutan saat seluruh rombongan telah berada di tempat itu. Sebab apa yang mereka saksikan, benar-benar membuat darah mereka mendidih. Panji yang tidak tega melihat pemandangan mengerikan itu, bergegas menghampiri. Diturunkannya dua sosok tubuh yang tak lain dari Janaka dan Santika. Tubuh mereka terpentang di tiang berbentuk salib. Tubuh keduanya yang tanpa pakaian dan dipenuhi luka bakar maupun sayatan pisau itu ditutupi Panji dengan menggunakan pakaian cadangan dalam buntalannya. Tampak darah masih membasahi luka-luka di tubuh mereka, membuktikan kalau kejadian penyiksaan itu belum lama berlangsung.

"Kedatangan kita ternyata telah terlambat. Ini membuktikan kalau gerakan kita telah diketahui lawan," jelas Pendekar Naga Putih yang membuat orang-orang di sekitarnya terperangah dengan wajah menegang.

"Aku akan mencari manusia-manusia keji itu! Dan aku tidak akan pernah berhenti, sebelum tubuh iblis-iblis itu kukuliti dengan tanganku!" teriak Banja bagai orang kesetanan. Sebelum semua orang yang berada di tempat itu menyadari, tubuh lelaki tegap berbahu lebar itu sudah melesat meninggalkan tempat itu.

"Banja, tunggu...!" teriak Jaya Prana. Laki-Laki berkumis tebal itu berlari cepat mengejar anggota pasukannya. Karena kepandaiannya masih lebih tinggi, dalam beberapa kali loncatan saja tubuhnya sudah dapat menangkap lengan Banja.

"Lepaskan aku! Akan kucari iblis-iblis keji itu walau sampai ke ujung langit sekalipun!" teriak Banja sambil berusaha melepaskan pegangan Jaya Prana.

"Manusia dungu!" bentak Jaya Prana, gusar melihat keadaan Banja. "Siapa yang akan kau cari?! Apa kau tahu, siapa manusia biadab itu? Dasar bodoh! Perbuatan tololmu yang tanpa perhitungan ini hanya akan menambah kerumitan saja, tahu!"

Mendengar bentakan kasar dari pimpinannya, baru terbuka pikiran Banja. Memang benar apa yang dikatakan pimpinannya itu. Siapa yang harus dicarinya? Dan bagaimana dapat menemukan orang itu, kalau ia sendiri belum mengenalnya. Pikiran itu membuat Banja jatuh terduduk lemas dan menekap wajah dengan kedua tangannya.

"Maafkan aku, Kakang.... Aku terlalu menuruti amarah," rintih Banja serak dan penuh penyesalan.

"Sudahlah, Banja. Kau tidak perlu menyesali diri. Lebih baik kita cari jalan, bagaimana caranya agar dapat menemukan pembunuh biadab itu," hibur Pragola yang sudah berada di dekat Jaya Prana.

"Maafkan aku, Kakang Pragola. Betapa bodohnya aku telah menuduhmu yang melakukan perbuatan ini," ucap Banja yang jadi lega ketika melihat anggukan dan senyum di wajah lelaki kekar berotot itu.

"Bangkitlah. Mari kita pecahkan masalah ini bersama Pendekar Naga Putih," hibur Pragola mengajak Banja menemui Panji.

********************

TUJUH

"Tangkap dan bunuh pendekar sombong itu!" teriak lelaki brewok bertubuh kekar tiba-tiba.

Seketika dia melakukan pengejaran. Golok besar berkilat di tangan kanannya diacung-acungkan di atas kepala. Di sebelah kanannya, seorang lelaki gagah berkumis tebal ikut menyertainya. Sementara beberapa langkah di belakang, tampak puluhan laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun berlari cepat mengikuti langkah kedua orang itu.

Namun, dua sosok tubuh yang dikejar itu ternyata memiliki ilmu lari cepat yang tinggi. Sehingga, jarak di antara mereka semakin bertambah jauh saja. Sadar kalau kedua sosok tubuh itu memang memiliki ilmu lari yang demikian tinggi, maka ketika melewati pintu gerbang, lelaki brewok yang tak lain Pragola itu bergegas melompat ke atas punggung kuda. Dan langsung dibedalnya kuda itu untuk melakukan pengejaran. Perbuatan Pragola diikuti yang lainnya. Terdengarlah suara derap bergemuruh yang meninggalkan kepulan debu tebal.

"Hiya.... Hiya...!"

Bentakan-bentakan nyaring yang disertai ledakan cambuk, ikut mewarnai suara bergemuruh derap kaki kuda. Pengejaran dengan menunggang kuda ternyata mulai menampakkan hasilnya. Dan memang, jarak antara dua sosok tubuh itu dengan mereka semakin bertambah dekat saja. Tentu saja hal itu membuat Pragola, Jaya Prana, dan seluruh anggota pasukannya makin bersemangat. Tapi, kedua sosok tubuh itu pun ternyata cukup cerdik. Sadar kalau para pengejarnya sudah semakin dekat maka mereka berlari menuju sebuah hutan lebat.

Pohon-pohon besar yang tumbuh tak beraturan itu, membuat gerak langkah kaki kuda agak terhambat Beberapa kali rombongan pengejar itu harus menghentikan lari kuda karena terhalang pohon besar yang tumbuh rapat. Sedangkan dua orang yang dikejar itu enak saja menyelinap di antara batang-batang pohon. Maka sebentar saja para pengejar sudah tertinggal jauh di belakang. Dan tak lama kemudian, kedua sosok tubuh itu pun lenyap ditelan keremangan hutan.

"Kurang ajar kau, Pendekar Naga Putih! Tunggulah! Lain waktu jangan harap berhasil lolos dari tanganku!" teriak Pragola disertai pengerahan tenaga dalam, hingga suaranya terdengar jauh ke dalam hutan. Setelah berkata demikian, lelaki kekar berwajah brewok itu membalikkan kudanya yang saat itu terperangkap di tengah semak belukar.

"Bagaimana ini, Kakang? Hari sudah semakin gelap. Sedangkan untuk keluar dari hutan ini, sudah tidak mungkin. Yang jelas, kita akan kemalaman di jalan," tanya Jaya Prana ketika Pragola menjalankan kudanya menghampiri.

"Kita terus saja. Siapa tahu ada tempat terbuka yang cukup baik untuk melewatkan malam," sahut Pragola setelah terdiam beberapa saat lamanya. Kemudian, ia pun memberi aba-aba kepada seluruh rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa diperintah dua kali, seluruh rombongan berkuda itu mulai bergerak mengikuti Pragola dan Jaya Prana. Semak belukar yang menghalangi jalan, diterobos seenaknya. Tak berapa lama kemudian, Pragola dan Jaya Prana sama-sama mengangkat tangan kanannya ke atas. Kemudian mereka melambai perlahan sebagai tanda agar lari kuda diperlambat.

"Kita istirahat di sini...!" Kembali terdengar suara Pragola yang keras. Kemudian, ia melompat turun dari atas punggung kuda dan berjalan memeriksa daerah sekitarnya.

Perbuatan Pragola diikuti Jaya Prana. Lelaki berkumis tebal itu pun melangkah mengelilingi sisi sebelah kiri. Itu sudah menjadi kebiasaan Pasukan Garuda apabila hendak bermalam di suatu tempat asing. Demikian pula dengan anggota pasukan mereka. Begitu tiba, kedua pasukan itu memecah dan menyiapkan tenda-tenda darurat dan ranting-ranting kering untuk membuat api unggun. Ketika kegelapan sudah mulai turun menyelimuti seluruh permukaan bumi, di sekitar lapangan berumput itu telah berdiri sepuluh buah tenda. Lidah api unggun tampak menjilat-jilat, menerangi sekitar perkemahan darurat kedua Pasukan Garuda itu.

********************

"Hm.... Tidak kusangka kalau orang yang berjuluk Pendekar Naga Putih demikian angkuh dansombong!Ucapannyatadibenar-benar keterlaluan dan sangat merendahkan kita semua. Heran! Mengapa orang-orang persilatan demikian memujanya? Tak habis pikir aku," dengus lelaki tinggi kekar. Suaranya seperti bernada sangat penasaran. Dia tampak berdiri tegak, memandangi api unggun dibawahnya.

"Sebagai seorang pendekar yang sangat dikagumi seluruh tokoh persilatan, seharusnya ia berhati-hati dalam setiap mengucapkan kata-kata. Bahkan tidak boleh sembarangan menghina orang. Lenyap sudah seluruh kekagumanku padanya. Pendekar muda itu benar-benar mengecewakan. Kalau suatu saat nanti aku kembali berjumpa dengannya, akan kuberi pelajaran pemuda som- bong itu!" sambut laki-laki berkumis tebal Dia tak lain dari Jaya Prana. Ucapannya diakhiri perasaan geram.

Banja dan Gandira yang saat itu ikut meriting mengelilingi api unggun, sama-sama menundukkan wajah dalam-dalam. Sepertinya, kedua lelaki gagah itu masih teringat akan kematian gurunya yang tidak sempat mereka saksikan. Dan yang membuat hati bertambah penasaran adalah, tidak diketahuinya siapa orang yang telah membantai guru dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Istirahatlah dulu, Banja, Gandira. Aku dan Jaya Prana menyusul nanti." Hanya itu yang bisa diucapkan Pragola. Karena, ia pun maklum kalau sampai saat itu blum satu pun yang dapat diperbuatnya untuk meringankan kesedihan kedua orang lelaki gagah itu.

"Biarlah, Kakang. Kami berdua sudah sepakat untuk melakukan penjagaan malam ini. Kalau memang Kakang berdua sudah merasa lelah, silakan beristirahat," sahut Gandira.

Laki-laki ini tidak enak, karena telah menuduh Pragola sebagai pembunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. Untunglah Pragola tidak sampai sakit hati karenanya. Dan tentu saja hal itu membuat hati Gandira sedikit lega. Maka, ia pun semakin menaruh hormat kepada lelaki bertubuh tinggi kekar itu.

"Baiklah kalau begitu. Aku istirahat dulu," ujar Pragola yang segera berpamitan dan memasuki tenda yang paling bagus di antara tenda-tenda lain.

Sepeninggal Pragola, Jaya Prana juga bergegas bangkit dari duduknya. Setelah menghela napas sejenak, kakinya melangkah menuju tendanya setelah meninggalkan pesan kepada kedua orang anak buahnya itu agar berhati-hati. Kedua lelaki gagah itu sama-sama mengangguk hormat kepada pimpinannya. Kemudian mereka kembali duduk sambil menggosok- gosokkan telapak tangan di dekat api unggun. Hal itu dilakukan untuk mengusir hawa dingin. Malam pun semakin larut. Beberapa orang anggota Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang berjaga-jaga mulai terserang rasa kantuk. Hawa yang kian bertambah dingin, membuat mereka berkali-kali menguap. Banja dan Gandira yang berjaga di dekat tenda kedua orang pemimpin Pasukan Garuda itu mendadak bangkit sambil mengedarkan mata ke sekitarnya. Wajah mereka terlihat menegang.

"Kau dengar suara-suara itu, Gandira...?" tanya Banja, suaranya terdengar pelahan sambil meraba gagang pedang yang terselip di pinggang kanannya.

"Benar! Aku pun mendengarnya. Suara itu memang seperti suara binatang hutan. Tapi, kalau memang ditimbulkan binatang-binatang hutan, mengapa terdengar saling bersahutan? Ini mencurigakan! Jangan-jangan, itu adalah sandi rahasia dari musuh-musuh kita," timpal Gandira. Lelaki gagah bertubuh padat berisi ini pun meraba gagang pedang dengan wajah tegang.

"Yaaaooouuu !"

Kedua orang lelaki gagah itu semakin bertambah curiga ketika kembali dengan jelas menangkap suara-suara mencurigakan itu. Tapi yang membuat sulit dimengerti, mengapa Pragola dan Jaya Prana tidak segera keluar dari tendanya. Rasanya, suara itu juga terdengar mereka.

"Mungkin Kakang Pragola dan Kakang Jaya Prana terlalu lelah, sehingga sudah tertidur sangat lelap dan kehilangan kewaspadaan. Sebaiknya kau pergi ke sana, dan bangunkan mereka. Biar aku yang akan berjaga-jaga di sini," kata Gandira sambil menolehkan kepala ke arah Banja yang saat itu juga tengah menatap kearahnya.

"Baik. Hati-hatilah, aku akan segera kembali..." Begitu ucapannya selesai, tubuh Banja langsung melesat menuju tenda yang didiami Jaya Prana.

Sepeninggal Banja, Gandira yang sudah bersiaga dengan senjata di tangan tiba-tiba tersentak kaget. Cepat pedangnya diputar membentuk gulungan sinar bulat yang melindungi tubuhnya.

Trang! Tring!

Paku-paku halus yang meluncur ke arahnya, langsung berjatuhan ke atas tanah. Sambil tetap memutar pedang, tubuh Gandira mencelat ke belakang dan langsung melakukan salto beberapa kali.

"Ada apa, Gandira...?" tiba-tiba saja Banja yang rupanya mendengar suara ribut itu telah melesat dan berdiri di samping Gandira dengan senjata terhunus.

"Jelas ada orang-orang yang mengintai kita. Sepeninggalmu tadi, aku diserang senjata rahasia yang berupa paku-paku kecil. Dan aku yakin, senjata rahasia itu pasti telah diolesi racun. Kita harus berhati-hati, Banja. Bagaimana tugasmu? Apakah hal ini sudah kau ceritakan kepada mereka?" tanya Gandira setelah menceritakan kejadian yang menimpanya.

"Dugaanmu ternyata meleset. Ternyata Kakang Pragola dan Kakang Jaya Prana sama-sama mendengar suara-suara itu. Tapi, mereka berdua sengaja menunggu di dalam untuk memancing orang-orang itu keluar dari tempat persembunyiannya. Rupanya, kedua pemimpin kita itu sudah menduga sejak semula. Jadi, tidak perlu khawatir tentang keadaan ini," sahut Banja yang tidak melepaskan pandangannya dari semak belukar di depannya.

Belum lagi ketegangan di hati mereka lenyap, tiba-tiba terdengar jerit kematian yang menyayat langkah mereka yang sudah siap berlari menuju asal jeritan itu, mendadak terhenti. Sesosok bayangan Iain berkelebat cepat mendahului, setelah meninggalkan pesan kepada Banja dan Gandira.

"Tetap di tempatmu! Biar aku yang akan melihatnya...," perintah bayangan itu, yang terus berkelebat tanpa menunggu jawaban mereka. Selagi Banja dan Gandira tercenung, tahu-tahu saja sesosok tubuh lain telah berdiri di belakang mereka.

"Kakang Pragola...," desah Banja dan Gandira berbarengan. Lega hati mereka begitu mengetahui, siapa sosok tubuh yang berdiri tegak di belakang itu.

"Tenanglah. Jangan mudah terpancing oleh kelicikan musuh," ujar Pragola. Melihat sikap tenang yang ditunjukkan Pragola, mau tak mau kedua lelaki gagah itu mengerutkan keningnya.

"Kakang. Nampaknya kau sama sekali tidak terkejut oleh kejadian ini? Mengapa?" tanya Banja menuntut Rupanya, ia tidak bisa menyimpan keheranan dan rasa penasaran di hatinya.

"Apa kalian tidak ingat pada kematian Santika dan Janaka yang aneh itu? Hal itu terjadi, karena kita ingin menjumpai dan mengorek keterangan dari mereka," jelas Pragola yang membuat kerutan di kening Banja dan Gandira semakin nyata.

"Maksud, Kakang...?" Gandira yang belum mengerti ke mana arah pembicaraan Pragola, tak dapat menahan rasa ingin tahunya.

"Hm.... Kalian ini benar-benar bodoh!" umpat Pragola tanpa maksud menghina. "Itu tandanya, musuh-musuh selalu membayangi perjalanan kita. Jadi, aku tidak heran kalau malam ini mereka akan menyerbu kita."

Mendengar keterangan itu, Banja dan Gandira mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Dugaan yang diajukan Pragola, membuat harapan untuk berhadapan dengan pembunuh guru mereka menjadi terbuka. Mengingat hal itu, sepasang mata mereka tampak bersinar penuh semangat. Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar derap langkah kaki banyak orang mendatangi. Mereka adalah anggota Pasukan Garuda Emas yang hendak menghadap pimpinan.

"Kakang! Para anggota Garuda Hitam yang dipimpin Kakang Jaya Prana tengah bertarung melawan puluhan orang-orang berpakaian serba hitam. Kami kini menunggu perintah. Dan kini Pasukan Garuda Hitam terdesak oleh orang-orang itu," lapor salah seorang anggota Pasukan Garuda Emas, lantang.

"Hm, benarkah?! Mengapa bisa demikian? Siapa sebenarnya musuh-musuh gelap kita ini?" seru Pragola terkejut.

Laki-laki itu bukan tidak mendengar suara perkelahian. Tapi, sesuai rencana yang telah diatur bersama Jaya Prana, maka ia pun diam saja menanti perkembangan selanjutnya. Sebab menurutnya, bukan tidak mungkin kalau pasukan musuh itu masih ada yang bersembunyi, menanti mereka letih. Saat bantuan musuh datang, barulah ia dan pasukannya akan datang membantu.

"Kami harus pergi, Kakang Pragola...!" pamit Gandira yang tidak dapat menahan hati melihat lelaki tinggi kekar itu malah termenung.

Dan tanpa menunggu jawaban lagi, kedua lelaki gagah itu pun melesat ke tempat terjadinya pertarungan. Gerakan mereka begitu bersemangat karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui pembunuh gum dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Mari kita ke sana...!" perintah Pragola setelah tersadar dari lamunannya.

Begitu ucapannya selesai, tubuh tinggi kekar itu langsung melesat menuju tempat pertarungan yang tengah berlangsung. Tanpa banyak cakap lagi, kedua puluh orang anggota Pasukan Garuda Emas bergerak mengikuti pimpinannya. Derap kaki mereka terdengar bergemuruh bagai hendak merobohkan pohon-pohon di hutanitu. Pragola langsung menerjunkan diri ke arena pertempuran yang tengah berlangsung ramai itu.

Hatinya benar-benar terkejut ketika mendapat kenyataan kalau lawan-lawannya itu ternyata rata-rata memiliki kemampuan cukup tinggi. Bahkan boleh dikatakan seimbang dengan kemampuan para anggota pasukannya. Tentu saja dengan kenyataan itu, dia tidak merasa heran melihat Pasukan Garuda Hitam terdesak. Karena, jumlah lawan masih lebih banyak daripada anak buah Jaya Prana yang hanya berjumlah dua puluh orang.

Melihat kehadiran Pragola dan pasukannya, Jaya Prana dan pasukannya dapat bernapas lega. Bantuan Pasukan Garuda Emas itu membuat lawan-lawan kini terdesak mundur. Sehingga, keadaan pun kini berbalik. Jaya Prana sendiri mendapat lawan seorang lelaki brewok bertubuh gendut Dia ternyata cukup tangguh dan dapat bergerak lincah tanpa terhalang kegemukan tubuhnya. Bahkan pukulan-pukulan yang dilontarkan sangat berbahaya, sehingga pimpinan Pasukan Garuda Hitam harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk menandingi kesaktiannya.

Wuttt!

Pukulan yang meluncur menimbulkan angin berkesiutan itu dielakkan Jaya Prana dengan memiringkan tubuh sambil menarik kaki kanan ke belakang. Begitu pukulan lawan lewat, kaki yang semula ditarik ke belakang, mendadak berbalik. Langsung dilepaskannya tendangan berputar, mengancam batang leher lawan. Lelaki bertubuh gemuk dan berwajah brewok yang tak lain dari Harimau Bukit Munjul, memutar tubuh dengan kuda-kuda rendah. Berbarengan dengan itu, tangannya yang berbentuk cakar terulur menangkap kaki Jaya Prana. Gerakan itu masih disusul dengan sodokan sikut kanan yang menggedor dada lelaki berkumis lebat itu.

Bret... Desss!

"Hegkh...!" Tubuh Jaya Prana terpental mundur dibarengi suara kain robek. Namun, lelaki tegap itu memang tidak percuma sebagai pimpinan Pasukan Garuda Hitam. Maka tubuhnya cepat bergulingan menghindari serangan susulan lawan. Setelah terbebas dari ancaman, tubuh Jaya Prana melenting bangkit dan agak tertatih-tatih. Kaki kanannya tampak mengalirkan darah akibat cakaran kuku lawan. Wajahnya pun tampak menyeringai kesakitan. Di sela bibirnya, mengalir cairan merah. Rupanya sodokan sikut lawan pada dadanya, telah mengakibatkan luka dalam yang cukup parah!

"He he he.... Hanya sampai sedemikiankah kepandaian yang dimiliki pimpinan Pasukan Garuda Hitam?" ejek Harimau Bukit Munjul yang bernama asli Juraga, sambil bertolak pinggang.

"Hm.... Jangan sombong dulu, Kisanak. Boleh kau saksikan kehebatan Pasukan Garuda Hitam sekarang," geram Jaya Prana sambil menatap lawan dengan sorot mata tajam.

Perlahan-lahan lelaki gagah berkumis lebat itu melangkah mundur. Tiba-tiba, terdengar teriakannya yang membahana. Teriakan itu merupakan perintah bagi anggota pasukannya untuk membentuk barisan.

"Kawan-kawan, mundur...!" seru Jaya Prana memerintah. "Bentuk barisan dalam jajaran 'Garuda Hitam Membentang Sayap'...!"

Setelah berkata demikian, ia sendiri sudah berdiri tegak dengan sikap kuda-kuda bersilang. Kedua tangannya terkembang ke kiri kanan menyerupai sepasang sayap garuda. Sedangkan para anggota pasukannya termasuk Banja dan Gandira, sudah berlari ke arah belakang Jaya Prana. Tak lama kemudian, terbentuklah bentuk barisan yang dimaksud. Dua puluh orang anggota Pasukan Garuda Hitam berbaris rapi berlapis dua di kiri kanan Jaya Prana. Kuda-kuda maupun bentuk tangan mereka tidak berbeda dengan pemimpinnya.

"Haaat..!"

Dibarengi teriakan keras yang merupakan aba-aba, tubuh Jaya Prana dan sepuluh barisan terdepan meluruk maju menyerbu lawan-lawannya. Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya yang semula memandang rendah barisan itu, terkejut bukan main. Barisan terdepan yang menerjang maju itu mendadak bergulingan secara tak terduga. Pada saat Juraga dan kawan-kawan belum mengerti apa yang hendak dilakukan lawan, sepuluh orang yang berada di barisan belakang melesat melampaui kepala barisan terdepan yang tengah bergulingan. Langsung dikirimkan serangan dengan menggunakan senjata mereka.

Terdengar jeritan-jeritan kematian yang merobek udara malam itu. Jeritan itu disusul oleh robohnya delapan orang kawan Harimau Bukit Munjul, dengan tubuh berlumuran darah. Sedangkan tokoh sesat berwajah brewok berperut gendut itu sendiri sudah melompat mundur menghindari tebasan Banja yang mengancam leher. Belum lagi Harimau Bukit Munjul dapat menarik napas lega, tahu-tahu saja tubuh Jaya Prana yang masih bergulingan itu melenting dan langsung membabatkan senjata secara mendatar.

Wuttt!

"Akh...!" Bukan main terkejutnya hati Harimau Bukit Munjul mendapat serangan tak terduga itu. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang dan melakukan beberapa kali salto di udara untuk menjauhi lawan-lawannya. Sayang, Harimau Bukit Munjul belum mengetahui keistimewaan pasukan inti Kerajaan Cadas Putih itu. la yang merasa yakin bisa terbebas dari ancaman maut itu, kembali terbelalak pucat. Baru saja kakinya menginjak tanah, dua batang pedang yang digerakkan Banja dan Jaya Prana sudah mengancam dari bawah ke atas.

Wuttt... Brettt!

"Akh...!" Meskipun Harimau Bukit Munjul telah berusaha menyelamatkan diri, tak urung bahu kanannya terkena sambaran ujung pedang Banja yang berputar mengejutkan. Belum lagi rasa terkejutnya hilang, sebuah tendangan keras membuat tubuh gendut itu terjungkal, jatuh berguling- guling.

"Bangsat..! Kubunuh kalian semua...!" teriak Harimau Bukit Munjul dengan kemarahan yang menyesakkan dadanya.

Sepasang mata Juraga yang kemerahan itu menatap tajam ke arah Pasukan Garuda Hitam yang sudah membentuk barisan semula. Diam-diam hati lelaki gendut itu sempat bergetar melihat keangkeran barisan 'Garuda Hitam Membentang Sayap' yang dibentuk lawan-lawannya. Hatinya masih ngeri membayangkan, betapa ia hampir saja kehilangan nyawa akibat barisan itu. Pasukan Garuda Hitam dalam bentuk 'Garuda Hitam Membentang Sayap' terlihat mulai bergerak maju. Gerak langkah mereka terlihat teratur rapi. Jelas, barisan itu memang sudah terlatih baik.

DELAPAN

Di arena lain, Pasukan Garuda Emas pun sudah pula merobohkan banyak lawan. Pragola yang juga membentuk barisan dalam posisi 'Paruh Garuda', berhasil menguasai pertempuran. Sehingga, dalam waktu yang singkat kedua Pasukan Garuda telah dapat mengendalikan lawan- lawannya.

"Mundur...!" lelaki tinggi kurus yang wajahnya dipenuhi bopeng, berteriak keras. Setelah berteriak, ia sendiri telah melompat mundur sejauh dua tombak. Di wajahnya tampak seringai kesakitan. Dari gerak tangannya yang mengurut-urut dada, jelas kalau lelaki bopeng itu telah mendapat luka.

Kalau melihat sinar matanya yang menatap Pragola, bisa ditebak, dia telah menerima pukulan dari pemimpin Pasukan Garuda Emas. Kawan-kawan si muka bopeng langsung berlompatan mundur, meninggalkan kawan-kawannya yang terluka ataupun tewas di tangan Pasukan Garuda Emas. Belasan orang yang ternyata masih berusia muda itu berkerumun di belakang pemimpinnya. Siapa lag} lelaki tinggi kurus berwajah bopeng itu kalau bukan Jerangkong Bukit Karang!

Rupanya tokoh ini bersekutu dengan Harimau Bukit Munjul. Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang telah membentuk posisi masing- masing, terus bergerak maju mengurung lawan-lawannya. Gerakan langkah kaki mereka yang terlihat mantap dan ringan, membuat Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawan bergerak mundur dengan wajah tegang. Jelas, mereka merasa gentar untuk menghadapi kedua barisan yang memang sangat ampuh itu.

"Hm.... Jelas sudah semua persoalan ini bagiku sekarang. Kalianlah yang telah membantai Perguruan Tinju Selatan. Sayang, kelicikan kalian itu tidak sampai membuat kami saling bunuh. Dan kini, kalian semua harus menerima balasannya!" tegas Pragola setelah melihat bentuk tubuh dan raut wajah Harimau Bukit Munjul. Kalau dilihat sepintas, jelas mereka memang hampir mirip satu sama lain. Maka wajar saja kalau kedua orang murid Perguruan Tinju Selatan salah memberi keterangan.

"Ya! Akulah yang telah menghabisi nyawa tua bangka itu beserta murid muridnya. Sayang, kedua orang bodoh itu tidak berhasil membuat kalian saling bunuh. Jadi, nyawa mereka terpaksa kuhabisi sekalian," sahut Harimau Bukit Munjul membeberkan persoalannya.

Dan memang, menurutnya tidak ada gunanya lagi menyembunyikan perbuatan itu. Dan keterusterangannya itu dimaksudkan agar kemarahan lawannya terpancing. Siapa tahu saja dengan kemarahan itu, barisan lawan menjadi kacau. Apa yang diharapkan Harimau Bukit Munjul yang juga bernama Juraga, hampir menjadi kenyataan. Banja dan Gandira yang mendengar penuturan itu langsung saja bergerak maju dengan wajah penuh dendam. Kedua orang lelaki gagah itu siap meninggalkan barisannya, untuk membalas kematian guru dan saudara-saudara seperguruan mereka.

"Banja, Gandira, mundur...!" Jaya Prana yang melihat kelakuan kedua orang anggota pasukannya itu, cepat mencegah. "Kembali ke tempatmu, atau perjalanan kita selama ini akan sia-sia!"

'Tapi, Kakang.... Aku..., aku harus membalas kematian guru dan saudara-saudara seperguruanku.... Iblis keji itu harus kucincang hancur tubuhnya...," ragu-ragu Banja membantah perintah pimpinannya. Suaranya terdengar bergetar dan tersendat-sendat

"Bodoh! Dia sengaja memancing amarahmu, agar kau meninggalkan barisan. Itu yang diinginkannya, Banja! Manusia itu sangat licik dan keji. Ia masih juga ingin memancing kemarahanmu, setelah fitnah yang dilemparkan kepada Pragola, tidak membuat kita saling bunuh. Jelas manusia ini sengaja mengadu domba. Aku rasa perbuatannya ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan hilangnya Tongkat Pualam Putih!" seru Jaya Prana tak sabar melihat keraguan di wajah Banja dan Gandira.

Harimau Bukit Munjul maupun Jerangkong Bukit Karang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Sebab, kalau Banja dan Gandira sudah kembali memasuki barisan, akan sulit bagi mereka untuk dapat menyelamatkan diri dari keganasan Pasukan Garuda itu.

"Serbu...!" Dibarengi teriakan keras dari Harimau Bukit Munjul dan Jerangkong Bukit Karang, maka puluhan pemuda di bawah pimpinannya meluruk maju. Suara-suara teriakan mereka yang gegap- gempita, terdengar riuh-rendah mengejutkan penghuni hutan.

Untunglah saat itu Banja maupun Gandira sadar akan perbuatan bodoh mereka. Maka cepat keduanya melompat dan memasuki barisan. Begitu barisan telah terbentuk seperti semula, kedua barisan itu bergerak maju menyambut serangan lawan-lawan. Hebatnya, meskipun menghadapi pertempuran kacau, Pasukan Garuda tetap tersusun rapi. Sehingga, lawan-lawannya hanya bisa bermain mundur. Sebab apabila nekat maju, sudah pasti nyawa mereka akan melayang meninggalkan raga. Selagi kedua Pasukan Garuda itu mendesak lawan, tiba-tiba bertiup angin yang amat kuat. Dan belum juga ada yang menyadari, dua sosok tubuh berpakaian merah dan hitam telah melesat mengiringi tiupan angin kuat itu.

"Ha ha ha...! Sungguh hebat! Pasukan Garuda ternyata memang bukan nama kosong!" seru suara menggelegar yang berasal dari sosok berpakaian merah. Sambil berseru demikian, kedua tangannya mengibas ke kiri kanan.

Wusss! Wusss!

Hebat sekali akibat kibasan tangan yang kelihatannya perlahan itu! Barisan Garuda Emas yang dipimpin Pragola seketika terpukul mundur dan berjatuhan bagai dihempas badai! Pasukan Garuda Hitam yang dipimpin Jaya Prana pun mengalami nasib serupa. Barisan 'Garuda Hitam Membentang Sayap'nya, kontan kocar-kacir akibat amukan sosok berpakaian hitam yang mengobat-abitkan lengan bagaikan orang mengusir lalat.

Namun sebagai prajurit-prajurit yang terlatih baik, para anggota kedua Pasukan Garuda itu bergegas bangkit meskipun agak terhuyung. Sayang, sebelum mereka sempat membentuk barisan lagi, kedua orang aneh itu langsung menerjang maju. Jelas, orang berpakaian hitam dan merah itu tidak ingin memberi kesempatan kepada kedua Pasukan Garuda untuk menyusun kekuatan.

"Mundur...!" Pragola yang menyadari datangnya bahaya, cepat berteriak memperingatkan anggota pasukannya. Sedangkan ia sendiri yang merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan setiap anggotanya, sudah melompat maju dengan kibasan senjatanya.

Orang berjubah merah yang mengacau-balaukan pasukan Pragola, hanya mendengus melihat serangan laki-Laki brewok itu. Tanpa mempedulikan sambaran pedang yang mengancam punggung, dia terus saja melanjutkan pukulan ke arah dua orang anggota Pasukan Garuda Emas.

Bukkk! Desss!

"Aaa...!" Terdengar jeritan ngeri ketika pukulan yang dilancarkan lelaki berjubah merah itu tepat menghantam dada korbannya. Disertai semburan darah segar yang memercik membasahi bumi, tubuh kedua orang malang itu terpental dan melambung tinggi bagai dilempar sebuah kekuatan raksasa.

Setelah menyelesaikan serangannya, sosok berjubah merah itu bam menggeser kakinya ke samping. Langsung dilepaskannya sebuah pukulan dengan telapak tangan terbuka ke dada Pragola.

Bukkk!

"Hugkh...!" Pragola terbatuk keras ketika telapak tangan lawan yang bagaikan palu godam itu telak menghajar dadanya. Bagai dihentakkan tangan raksasa, tubuh lelaki tinggi besar itu tersentak deras ke belakang.

"Hup...!" Tubuh Pragola yang meluncur deras itu tidak sampai jatuh ke atas tanah. Tiba-tiba sepasang lengan halus sosok ramping berpakaian serba hijau telah melesat dan menangkapnya di udara.

"Kenanga...!" desah Pragola bersyukur melihat kedatangan wanita jelita yang digdaya itu.

"Maafkan aku, Paman. Aku datang terlambat..." ucap Kenanga setelah merebahkan tubuh Pragola di atas rerumputan tebal.

"Tidak apa. Mana Pendekar Naga Putih...?" tanya Pragola begitu tidak melihat Panji dekat gadis jelita itu.

"Tenanglah, Paman. Kakang Panji telah berada di antara kita. Sekarang, ia tengah bertarung melawan lelaki tua berpakaian hitam. Orang itu dipanggil Paman Jaya Prana dengan nama Ki Sempana. Apakah Paman juga mengenalnya?" tanya Kenanga sambil menyerahkan sebutir obat luka yang diambil dari dalam buntalan pakaiannya.

"Ki Sempana...!? Ah, pantas saja Tongkat Pusaka Keramat itu dapat dicuri. Tak tahunya, dia ikut membantunya. Untunglah kalian berdua bersedia membantu kami Kalau tidak, mungkin hanya nama kami sajalah yang akan kembali ke istana," kata Pragola, setelah menelan pil yang diberikan kepadanya.

"Hm.... Aku pun sudah mendengar hal itu dari Paman berdua ketika merencanakan siasat ini di Perguruan Tinju Selatan. Sayang, rencana kita tidak semulus apa yang dibayangkan. Sehingga, beberapa orang anggota pasukan Paman dan Paman Jaya Prana harus menjadi korban. Sebaiknya Paman beristirahat saja dulu. Biar aku yang menghadapi orang berbaju merah itu," ujar Kenanga yang segera bangkit meninggalkan Pragola.

Setelah menoleh kepala ke arah pertarungan yang tengah berlangsung antara Panji dan Ki Sempana, Pragola memejamkan matanya untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka dalamnya. Sikapnya bersemadi, untuk menghimpun hawa murni.

Saat itu, pertarungan antara Panji melawan Ki Sempana tengah berlangsung sengit. Jaya Prana dan sisa anggota pasukannya terpaksa menjauhi arena pertarungan. Dan memang, angin pukulan yang ditimbulkan kedua orang tokoh sakti itu dapat menewaskan mereka. Sehingga, pertarungan itu terpaksa disaksikan dari tempat yang agak jauh. Pertempuran yang sudah melewati seratus jurus itu nampak semakin seru dan menegangkan. Sadar kalau lawan tidak mungkin dapat ditundukkan begitu saja, maka Panji pun mulai mengerahkan ilmu simpanannya.

"Haiiit..!"

Sebuah pukulan yang meluncur ke arah dadanya, berhasil dihindari Pendekar Naga Putih dengan jalan melempar tubuh jauh ke belakang. Begitu kakinya menjejak tanah, pemuda tampan itu langsung menggeser kakinya membentuk kuda-kuda bagai menunggang kuda.

"Hmh...!" Disertai geraman yang mengguncangkan isi dada, kedua tangan pendekar muda itu bergerak naik dalam bentuk cakar naga. Kemudian, kedua tangan itu mengembang di depan dada.

Ki Sempana yang melihat betapa lawannya mulai mengeluarkan jurus-jurus andalan, segera menarik keluar sebatang suling berwarna putih dari selipan pinggangnya.

Swingngng!

Terdengar lengkingan tinggi rendah ketika suling di tangan kakek berusia tujuh puluh tahun itu bergerak cepat turun naik.

"Yeaaat..!"

Dibarengi teriakan dahsyat, tubuh Panji meluruk ke arah lawannya. Sepasang tangannya berputaran cepat saat melancarkan serangan bertubi-tubi.

Wuttt! Wuttt!

Sambaran hawa dingin yang membuat beku tubuh lawan, menyertai sambaran tangan Pendekar Naga Putih. Dalam beberapa jurus saja, Ki Sempana dibuat terkejut Karena tubuhnya terasa bagai dikelilingi dinding-dinding salju yang amat dingin. Tentu saja keadaan itu membuat gerakannya terhalang dan tidak bisa bergerak cepat.

"Heaaa...!" Sadar kalau dibiarkan terlalu lama bisa membahayakan, Ki Sempana berteriak mengguntur untuk mengusir hawa dingin yang mempengaruhi gerakannya. Sepasang tangannya mengibas ke kiri kanan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Gerakan itu dilakukan dalam sikap tubuh miring. Maksudnya, sekaligus untuk menghindari hantaman tangan kanan lawan.

Bettt!

Cakaran Pendekar Naga Putih yang lewat sejengkal di depan tubuhnya, langsung disambut sebuah hantaman suling di tangan kanannya.

Wuttt!

Dengan menggunakan jurus 'Naga Sakti Memutar Ekor', tubuh pemuda berjubah putih itu meliuk rendah menghindari sambaran suling yang memperdengarkan suara mencicit tajam. Dan sebelum Ki Sempana sempat menarik pulang tangannya, tahu-tahu saja tubuh Panji berputar disertai sebuah tendangan kilat yang meluncur mengancam batang leher.

Desss!

"Akh...!" Tubuh kakek itu melintir meskipun tendangan Panji berhasil dielakkan, dan hanya menghantam bahu kirinya. Kesempatan baik itu tidak disia-siakan begitu saja oleh Pendekar Naga Putih. Saat itu juga, tubuh Panji langsung melesat disertai dorongan sepasang telapak tangannya.

Wusss. Desss!

"Waaa...!" Terdengar jeritan kesakitan ketika sepasang telapak tangan yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' menggedor dada Ki Sempana. Tubuh lelaki tua itu tersentak ke belakang dengan amat kuatnya.

Brukkk!

"Ougkh...!" Ki Sempana mengerang kesakitan. Tubuh tuanya yang terbanting keras di atas tanah, tampak berkelojotan dengan kedua tangan menekap dada. Dari mulutnya, mengalir darah segar yang menggenang membasahi tanah di bawah kepala.

"Ikat orang tua itu...!" Jaya Prana cepat memerintah kepada para anggota pasukannya untuk segera menangkap Ki Sempana. Laki-laki berkumis tebal itu sendiri tidak tinggal diam. Tubuh tegapnya berkelebat menghambur ke arah Ki Sempana yang terbaring lemah akibat luka dalam yang dideritanya.

Panji yang merasa lelah setelah melakukan pertempuran hampir dua ratus jurus melawan Ki Sempana, menolehkan kepala ke arah pertarungan lain. Tubuhnya segera melesat ketika melihat Kenanga tengah terdesak hebat melawan seorang laki-laki tinggi gagah yang mengenakan pakaian serba merah.

"Haittt..!" Begitu tiba, Panji langsung mengirimkan pukulan telapak tangannya untuk memapak tusukan jari tangan orang itu yang tengah mengancam kekasihnya.

Plakkk!

"Ugkh...!" Ledakan keras yang timbul akibat pertemuan dua gelombang tenaga sakti yang dahsyat membuat tubuh Panji maupun orang berjubah merah itu terpental ke belakang. Tapi, baik Panji maupun lawannya dapat mematahkan daya luncur itu dengan bersalto diudara beberapa kali.

Begitu kedua kakinya menjejak tanah, Panji langsung menyedot napas dalam-dalam. Kemudian, dia menghembuskannya disertai dorongan kedua telapak tangannya ke depan. Gerakan itu dilakukan untuk menghilangkan pengaruh pertemuan tenaga yang sempat menggetarkan bagian dalam dadanya. Selesai berbuat demikian, Pendekar Naga Putih berdiri tegak menatap tajam lawannya. Sempat terlihat orang berjubah merah itu juga melakukan hal yang sama dengannya. Jelas, orang berjubah merah itu merasakan juga akibat tangkisan Panji tadi.

"Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih, Kisanak?" tanya orang berjubah merah itu memastikan. Sambil berkata demikian, sorot matanya yang mencorong tajam meneliti sekujur tubuh Panji. Sepertinya, orang itu tengah menilai Pendekar Naga Putih yang telah mengguncangkan dunia persilatan itu.

"Tidak salah. Dan kalau boleh kutahu, siapakah kau sebenarnya, Kisanak? Mengapa kau sembunyikan wajahmu di balik kain merah itu? Apakah kau merasa malu karena wajahmu buruk?" Panji malah balik bertanya. Sengaja dilontarkannya kata-kata bernada mengejek untuk memancing lawannya agar membuka rahasia dirinya.

"Hm.... Siapa adanya aku, itu bukan urusanmu! Yang perlu diketahui adalah, aku tidak menyukai orang yang sok pahlawan! Apa tujuanmu mencampuri urusan orang lain?" dengus orang berjubah merah itu tajam. Tatapan matanya pun berubah penuh kebencian kepada pemuda tampan di hadapannya.

"Kakang, untuk apa banyak bertanya lagi? Tangkap saja orang itu, dan serahkan kepada Paman Pragola dan Paman Jaya Prana," tegur Kenanga yang merasa tidak sabar melihat kekasihnya malah berbincang dengan orang berjubah merah yang jelas-jelas seorang tokoh sesat.

Orang berjubah merah itu melirik sejenak ke tempat Ki Sempana yang tengah terduduk lemah dengan tangan dan kaki terikat. Sepertinya, dia menyadari kalau keadaannya tidak menguntungkan. Maka, ia pun segera melangkah mundur perlahan-lahan.

"Hm.... Kalian akan menyesal kalau telah mencampuri urusan ini!" ancam orang itu. Dia terus melangkah mundur, walaupun matanya masih menatap tajam Pendekar Naga Putih. Sepertinya perhatian Panji dan Kenanga sengaja hendak dialihkan lewat ucapan-ucapannya. Pada saat tubuhnya telah terpisah jauh dari Panji, tiba-tiba orang berjubah merah itu berbalik dan melesat pergi disertai perintahnya kepada Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya.

"Tinggalkan tempat ini...!" seru orang berjubah merah itu sambil melarikan diri.

Harimau Bukit Munjul dan yang lainnya pun sadar akan keadaan mereka. Maka tanpa diperintah dua kali, ia dan kawan-kawannya pun segera berlari meninggalkan tempat itu.

"Hei, jangan lari...!" teriak Panji yang segera melesat mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk mengejar orang berjubah merah itu.

"Tangkap mereka...!" Pragola yang sudah sembuh dari lukanya, berseru memerintah pasukannya untuk segera mengejar Harimau Bukit Munjul dan kawan-kawannya.

"Cegah mereka...!" Jaya Prana pun tidak tinggal diam. Ia dan anggota pasukannya bergegas ikut mengejar. Karena untuk menyelamatkan diri sudah tidak mungkin, maka Harimau Bukit Munjul dan Jerangkong Bukit Karang, memerintahkan kawan-kawannya untuk melakukan perlawanan.

Tanpa dapat di cegah lagi, pertempuran pun kembali berkecamuk. Denting senjata dan jerit kematian mewarnai pertempuran sengit itu. Darah segar pun kembali mengalir membasahi rerumputan hijau.

Di tempat lain, Panji tengah mengejar orang berjubah merah yang merupakan pimpinan gerombolan pengacau itu. Pendekar Naga Putih mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya untuk dapat menyusul lawan. Diam-diam hati pendekar muda itu merasa penasaran ketika mendapat kenyataan kalau ilmu kepandaian lari lawan, ternyata tidak kalah dengan ilmu lari yang dimilikinya. Setelah agak lama kejar-kejaran yang melelahkan itu berlangsung, Panji mulai dapat memperpendek jarak di antara mereka. Hingga akhirnya, dapat menyusul orang berjubah merah itu ketika mereka melintasi padang rumput yang cukup luas.

"Haiiit..!" Dibarengi bentakan nyaring, tubuh Pendekar Naga Putih melambung melewati kepala lawan. Kemudian, kakinya mendarat ringan sejauh satu setengah tombak di hadapan lawan.

"Jangan harap dapat meloloskan diri dari tanganku, Kisanak!" tegas Panji yang segera membalikkan tubuhnya menghadapi orang berjubah merah itu.

"Bedebah! Rupanya kau memang benar-benar ingin mati, Pendekar Naga Putih! Sambutlah seranganku...!" bentak orang berjubah merah itu dengan penuh kemarahan. Berbarengan dengan suara bentakan, tu-buhnya pun meluncur ke arah Pendekar Naga Putih dengan serangan ganas dan berbahaya.

Bettt! Bettt!

Dua kali pukulan lawan dihindari Panji dengan menarik mundur tubuhnya ke belakang. Pemuda itu terlihat agak hati-hati ketika mendengar suara mencicit tajam yang ditimbulkan sambaran pukulan lawan Sebab, orang yang sudah memiliki sambaran pukulan seperti itu sudah pasti memiliki tenaga dalam tinggi dan berbahaya.

Panji masih saja mengelak ketika orang berjubah merah itu melontarkan tendangan kilat menuju lambungnya. Cepat pemuda itu menarik mundur kaki kanannya dengan sikap tubuh doyong ke belakang. Maka sambaran tendangan lawan hanya lewat beberapa jengkal di atas kepalanya. Belum lagi orang itu sempat menarik pulang tendangannya, tiba-tiba saja tubuh Panji sudah berputar cepat disertai tendangan berputar yang mengancam dada orang itu.

Wuttt! Plakkk!

Panji terhuyung ke belakang ketika orang itu mengangkat tangan untuk menangkis serangan kakinya. Hal itu bukan karena tenaga lawan lebih kuat, tapi karena pada saat menendang, sikap kuda-kudanya lebih lemah dari lawan. Pertarungan sengit pun kembali berlanjut Kedua orang tokoh yang ternyata sama-sama memiliki kepandaian tinggi saling serang dan saling mendesak hebat. Beberapa batang pohon langsung tumbang akibat sambaran pukulan mereka yang nyasar. Pertempuran yang terus bergeser itu membuat daerah di sekitarnya porak-poranda bagaikan diamuk badai. Batu-batu besar dan kecil beterbangan akibat sambaran kaki mereka yang mengandung kekuatan hebat.

"Haaat..!" Memasuki jurus yang kesembilan puluh enam, tiba-tiba orang berjubah merah itu berseru keras disertai dorongan sepasang telapak tangan ke arah tubuh Panji.

Wusss! Darrr!

Semak perdu yang berada dua tombak di belakang pemuda itu langsung berhamburan akibat hantaman pukulan orang berjubah merah. Untunglah, Panji masih sempat menyelamatkan dirinya. Kalau tidak, tubuhnya akan luluh lantak akibat pukulan yang mengandung kekuatan raksasa itu. Buktinya, tanah tempat Pendekar Naga Putih berpijak tadi langsung berlubang dalam. Ketika angin pukulan yang amat kuat itu lewat beberapa jengkal di samping tubuhnya, Pendekar Naga Putih pun langsung melompat disertai pukulan telapak tangan yang menimbulkan sambaran angin dingin.

Wuttt! Wuttt!

Angin dingin seketika bertiup, bagai hendak merobohkan pepohonan di hutan itu. Setelah berputar, telapak tangan Pendekar Naga Putih langsung melontarkan pukulan jarak jauh.

Wusss!

Merasakan sambaran angin dingin yang amat kuat mengancam dirinya, lelaki bertubuh sedang yang mengenakan jubah merah itu bergegas menyedot udara sebanyak-banyaknya. Kemudian, dengan pengerahan seluruh tenaga saktinya, orang berjubah merah itu mendorongkan telapak tangan ke depan menyambut serangan Pendekar Naga Putih. Dan....

Wusss! Blarrr!

Bumi di sekitar tepi hutan itu bagaikan diguncang gempa yang amat hebat Dua gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat itu saling bertumbukan di udara, sehingga menimbulkan ledakan yang menulikan telinga. Akibat yang dialami kedua orang itu pun tidak kalah hebatnya. Tubuh keduanya terlempar, bagaikan sehelai daun kering yang tertiup angin. Tubuh Panji maupun orang berjubah merah itu terlempar menabrak sebatang pohon besar hingga daun-daunnya berguguran bagai dilanda seekor gajah. Kemudian tubuh mereka melorot jatuh bagaikan sehelai karung basah.

"Kau.... Kau hebat, Pendekar Naga Putih...!" puji orang berjubah merah itu tulus. Kemudian tangan orang berjubah merah itu bergerak melepas kain yang menutupi sebagian wajahnya. Nampaklah wajah seorang laki-Laki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun. Dihapusnya lelehan darah yang membasahi sela bibirnya.

"Kau pun hebat Kisanak," ujar Panji memuji lawannya sungguh-sungguh.

Memang, jarang sekali Pendekar Naga Putih mendapat lawan yang benar-benar tangguh seperti sekarang ini. Panji jadi menyayangkan, mengapa orang yang memiliki kepandaian setinggi itu harus melakukan kejahatan. Alangkah baiknya kalau kepandaiannya digunakan untuk kebaikan. Kedua laki-laki yang terbaring lemah itu sama-sama memalingkan wajah ketika mendengar suara banyak langkah yang mendekati tempat itu.

Rupanya Jaya Prana dan Pragola yang membawahi Pasukan Garuda juga telah berhasil meringkus Harimau Bukit Munjul, Jerangkong Bukit Karang dan kawan-kawannya. Dan sambil membawa tawanan, mereka menghampiri Pendekar Naga Putih dan orang berjubah merah itu.

"Tidak usah kalian takut! Aku sudah tidak mempunyai daya lagi untuk melakukan perlawanan," ujar orang berjubah merah itu lemah.

"Kau.... Bukankah kau Pendekar Karang Jatra yang merupakan pengawal pribadi Gusti Pangeran Dwipa Sura?" tanya Pragola hampir tak mempercayai pandangannya. Rupanya baik Pragola maupun Jaya Prana bukan terdiam karena takut, melainkan tengah menegasi wajah lelaki gagah berjubah merah itu.

"Benar! Dan aku pulalah yang telah mencuri Tongkat Pualam Putih atas perintah junjun- ganku yang ingin menguasai Kerajaan Cadas Putih. Dan Tongkat Pualam Putih menurutnya dapat membuat keinginannya cepat terlaksana. Semua ini kukatakan bukan karena mengharap keringanan hukuman. Sama sekali tidak. Tapi, aku benar-benar sadar akan kesalahanku selama ini. Dan itu semua kusadari setelah bertemu Pendekar Naga Putih," sahut Pendekar Karang Jatra yang kemudian menolehkan kepala ke arah Panji. "Aku iri kepadamu, Pendekar Naga Putih."

Panji yang luka dalamnya sudah tidak begitu terasa setelah menelan obat yang diberi Kenanga, bergegas bangkit dan tersenyum kepada Pendekar Karang Jatra. Senyum Pendekar Naga Putih bukan karena rasa bangga atas sanjungan itu, melainkan karena mendengar kesadaran tokoh itu akan kesesatannya selama ini.

Pragola dan Jaya Prana melangkah ke arah Panji setelah mengikat tubuh Pendekar Karang Jatra terlebih dahulu. "Kami berdua mengucapkan terima kasih atas bantuanmu yang sangat besar ini, Panji. Siasat yang kau atur, ternyata berjalan lancar. Mereka benar-benar muncul setelah kau menghilang dalam pengejaran. Bahkan bukan hanya begundalnya saja. Para tokohnya pun dapat pula sekalian terjaring," jelas Pragola, sambil tersenyum dan mengangguk hormat pada Panji dan Kenanga.

"Kami akan membawa para tawanan ini ke Istana Cadas Putih. Mengenai Tongkat Pualam Putih, akan kami urus kelak bersama para pembesar kerajaan lain. Apakah kau bersedia ikut bersama kami untuk menghadap Gusti Prabu Aria Winata? Aku yakin, beliau pasti akan senang menerima kedatanganmu. Dan selain itu, kau pun patut mendapat imbalan sebagai tanda terima kasih sang Prabu. Bagaimana, Panji?" kata Jaya Prana menawarkan.

"Terima kasih, Paman. Sayang, kami tidak bisa meluluskan permintaan itu. Dan karena persoalan ini sudah selesai, maka kami berdua mohon pamit".

Usai berkata demikian, Panji menggenggam jemari kekasihnya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Pragola dan Jaya Prana hanya dapat menarik napas melihat kepergian pasangan pendekar muda itu. Baru setelah bayangan kedua orang yang menimbulkan rasa kagum di hati mereka lenyap, keduanya pun meninggalkan tempat itu sambil membawa para tawanan.

Angin pagi bertiup lembut mengiringi langkah kaki Pasukan Garuda Hitam dan Pasukan Garuda Emas yang berhasil menunaikan tugasnya dengan gemilang. Perlahan kemudian, sinar matahari pun mulai menyeluruh menghangatkan permukaan bumi. Pagi tampak cerah, diwarnai cericit burung di atas dahan-dahan pepohonan.

S E L E S A I