Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Asmara Di Ujung Pedang
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih karya T. Hidayat

SATU

SEBUAH kereta kuda tampak tengah merangkak perlahan menyusuri jalan berliku. Batu-batu berserakan di jalan, membuat laju kereta menjadi lambat. Tidak jarang kusir kereta yang berusia sekitar lima puluh tahun itu harus turun dan menarik keretanya karena terperosok lubang yang banyak terdapat di jalan itu.

Di kiri-kanan kereta kuda itu tampak empat orang lelaki gagah mengiringinya sambil menunggang kuda. Melihat dari sikap keempat orang penunggang kuda itu, jelas kalau mereka bertugas melindungi kereta kuda itu. Di dalam kereta kuda, duduk seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Di sampingnya, duduk seorang wanita cantik bersama seorang bocah perempuan yang berada di tengah-tengah mereka berdua. Kelihatan-nya, mereka inilah yang harus dilindungi. Sebentar kemudian, laki-laki itu membuka tirai jendela kereta kuda. Kepalanya dijulurkan ke luar.

“Tidak adakah jalan yang lebih baik daripada jalan ini, Jantar?” tanya lelaki yang berada dalam kereta kuda, kepada seseorang yang dipanggil Jantar. Dialah yang menjadi kusir kereta kuda ini.

“Maaf, Tuan Besar. Memang hanya jalan inilah satu-satunya yang lebih dekat ke kadipatan. Tapi, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama. Karena, sebentar lagi kita akan tiba pada jalan rata,” jelas Ki Jantar sambil menyusut peluh yang menganak sungai membasahi wajahnya. Memang, saat itu matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya begitu terik, memancar garang dan terasa menyengat kulit.

“Ranta! Coba lihat ke depan. Berapa jauh lagi kita harus berada di jalan neraka ini?” perintah lelaki berkumis tipis yang dipanggil tuan besar itu, kepada penunggang kuda yang berada di sebelah kin kereta.

“Baik, Tuan Besar,” sahut lelaki tinggi tegap berwajah brewok yang dipanggil Ranta, menyahuti. Kemudian kudanya digebah sehingga melesat mendahului kereta kuda.

Debu dan batu-batu kecil beterbangan ke udara ketika kuda Ranta meluncur ke depan. Tidak berapa lama kemudian, binatang beserta penunggangnya itu lenyap di balik sebuah tikungan yang terhalang pohon-pohon besar di tepi jalan. Sementara itu kereta kuda terus merayap perlahan melintasi jalan yang rusak. Namun, sampai mereka tiba di tikungan jalan, lelaki berwajah brewok tadi belum juga terlihat kembali. Padahal untuk mencapai tikungan jalan itu, mereka telah memakan waktu yang cukup lama.

“Mengapa Ranta begitu lama? Bukankah tadi kau katakan kalau tidak lama lagi jalan rusak ini dapat kita lewati? Apa ucapanmu tadi hanya untuk menghiburku, Jantar?” tegur lelaki yang berada di dalam kereta, kembali menjulurkan kepalanya. Sambil berkata demikian, lelaki itu menatap Ki Jantar lekat-lekat. Sinar matanya jelas memancarkan kekesalan hati.

“Betul, Tuan Besar. Aku sama sekali tidak berhohong. Setelah melewati dua belokan lagi, maka jalanan rusak ini akan berakhir. Aku sendiri merasa heran, mengapa Ranta begitu lama?” sahut Ki Jantar. Ki Jantar tidak berani membalas tatapan tuan besarnya. Karena dari nada suaranya, dia tahu kalau majikannya sedang kesal.

“Biar aku yang akan menyusulnya, Tuan Besar. Siapa tahu Adi Ranta mengalami kesulitan,” pinta pengawal yang berada di sebelah kanannya, agak keras.

“Hm.... Pergilah. Tapi jangan terlalu lama!” sahut laki-laki yang dipanggil tuan besar itu, cepat Kemudian, kepalanya kembali ditarik dari jendela kereta. Lalu, tubuhnya disandarkan, disertai hembusan napas berat

“Sudahlah, Kakang. Mengapa harus kesal? Bukankah Kakang sendiri yang meminta kepada Ki Jantar supaya mengambil jalan pintas,” hibur wanita cantik yang memang istri tuan besar itu dengan lembut.

“Hhh....” Lelaki itu hanya mendesah lirih sambil membelai kepala anaknya yang berusia sekitar tujuh tahun, dan nampak tertidur lelap. Sepertinya, ia sama sekali tidak merasa terganggu oleh guncangan-guncangan kereta kuda yang ditumpanginya. Ketika kereta membelok lagi, lelaki yang kelihatannya adalah seorang saudagar kaya itu kembali menjulurkan kepala, memandang keluar.

“Apakah kedua orang itu belum juga kembali, Jantar?” tanya saudagar itu dengan kening berkerut. Di wajahnya terbayang keheranan besar.

“Belum, Tuan Besar. Entah apa yang mereka lihat sampai begitu lama belum juga kembali,” sahut Ki Jantar yang juga merasa heran dengan keanehan itu.

“Hm..., aneh!” gumam saudagar itu sambil mengusap-usap dagunya. Sementara itu, tampak dua orang pengawal hendak bergerak menyusul kedua rekannya.

“Kalian tetap saja berjaga-jaga di belakang dan tidak perlu menyusul mereka. Mungkin mereka sengaja menunggu kita di perbatasan jalanan buruk ini,” cegah saudagar itu kepada kedua orang pengawal tadi.

Kedua orang lelaki itu mengangguk hormat dari ter-paksa membatalkan niatnya. Keduanya kembali memutar kuda tunggangannya dan kembali mengiringi kereta dari belakang.

“Ah..., Tuan Besar. Lihat..., lihat itu...!” teriak Ki Jantar dengan wajah pucat bagai mayat.

“Ada apa, Jantar...? Ahhh...!” saudagar itu menahan seruannya. Sepasang matanya terbelalak lebar melihat apa yang terbentang di depan mereka.

Dua orang pengawal yang mengiringi kereta dari belakang itu pun terkejut ketika mendengar teriakan Ki Jantar. Keduanya cepat membedal kuda masing-masing, sehingga segera melesat ke depan. Dan apa yang disaksikan, benar-benar membuat hati mereka berdebar tegang.

“Ranta.... Langsat..!? Apa yang terjadi dengan mereka...?!” kata salah seorang pengawal itu ketika melihat tubuh kedua orang kawannya tergeletak di tengah jalan dalam keadaan tewas. Tubuh keduanya tampak digenangi darah yang membasahi bumi.

“Mereka..., mereka telah tewas, Kakang...,” jelas pengawal yang seorang lagi dengan suara bergetar penuh kemarahan. Hampir dia tidak mempercayai kejadian itu. Hatinya berharap bahwa hal itu hanya merupakan sebuah mimpi buruk yang menakutkan.

Belum lagi kedua orang pengawal itu bangkit, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan parau dari sekeliling mereka. Kemudian, disusul berloncatannya belasan sosok tubuh yang segera mengepung mereka. Secepat kilat, kedua orang pengawal itu bergegas bangkit sambil melolos senjata masing-masing. Mereka bergegas melompat menghindari sambaran senjata yang mengancam. Dan tanpa banyak tanya lagi, kedua orang pengawal itu segera menyambut serangan-serangan yang dilancarkan orang-orang tak dikenal. Maka sebentar saja, pertarungan pun terjadi.

Kedua orang pengawal itu berusaha mati-matian untuk menghampiri kereta kuda. Mereka mengamuk hebat, karena khawatir akan keselamatan majikan dan keluarga-nya. Sehingga, tidak lagi dipedulikan selembar nyawa mereka masing-masing. Tapi sayang, belasan orang kasar yang sudah jelas perampok itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Sehingga lama kelamaan, kedua orang pengawal itu pun terdesak hebat.

Brettt! Brettt!

“Aaakh...!”

Jerit kematian berkumandang ketika tubuh kedua orang pengawal itu terbanting ke atas tanah, dan sudah berlumuran darah. Kedua pengawal setia itu tewas di ujung pedang pengeroyoknya.

Bukan main terperanjatnya hati saudagar muda itu ketika mendengar jeritan tadi. Sudah bisa diduga, itu jeritan kemauan kedua orang pengawalnya. Kejadian yang sama sekali tidak diduga itu membuat otaknya tidak dapat berpikir untuk beberapa saat lamanya. Ia baru tersadar ketika mendengar teriakan-teriakan para perampok itu.

“Serbu...!” Seorang lelaki berperut buncit dan berkepala botak, meluruk maju setelah memberi aba-aba kepada anak buahnya. Maka, tanpa diperintah dua kali, belasan orang perampok itu langsung menghambur ke arah kereta yang ditumpangi saudagar muda dan keluarganya.

“Jantar, lariii...!” teriak saudagar muda itu dengan wajah pucat bagai tak dialiri darah. Setelah itu, kepalanya ditarik ke dalam kereta dan memeluk tubuh anak istrinya yang menjerit-jerit ketakutan. Ki Jantar yang sudah dapat meraba maksud belasan orang lelaki kasar itu, bergegas melecutkan cambuknya kuat-kuat ke tubuh dua ekor kuda yang menghela kereta itu.

Siuuut... Tappp!

Ujung cambuk yang meluncur deras itu tiba-tiba saja tertahan di udara. Ki Jantar semakin pucat wajahnya ketika melihat lelaki gendut berkepala botak lelah menangkap ujung cambuk dengan jemari tangannya.

“Hih...!” Sebelum Ki Jantar sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba lelaki gendut itu membentak sambil menyentak cambuk ditangan lelaki setengah baya itu.

“Aaa...!” Bukan main ngerinya hati Ki Jantar ketika tubuhnya terasa melambung akibat sentakan kuat itu. Dan sebelum menyentuh permukaan tanah, sebuah pukulan keras mem-buat tubuhnya terpental balik disertai jerit kematiannya. Tubuh kusir malang itu ambruk ke tanah disertai semburan darah segar yang mengalir deras dari mulutnya. Setelah berkelojotan sesaat, dia pun diam tak bergerak-gerak lagi. Ki Jantar tewas seketika.

“Jangan...! Lepaskan! Jangan ganggu kami! Kakang, tolooong...!” wanita cantik istri saudagar yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun menjerit-jerit dalam dekapan seorang anak buah perampok. Namun meskipun meronta sekuat tenaga, tetap saja ia masih kalah kuat dengan perampok yang seperti kerasukan setan itu.

“Biadab! Kalian boleh ambil semua barang-barang yang ada dalam kereta itu, asalkan jangan ganggu anak istriku!” saudagar muda itu berteriak-teriak marah sambil berlari menghambur ke arah istrinya. Namun sebuah kelebatan senjata membuat langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya bergerak limbung sambil menekap perut yang berlumuran darah. Ternyata sebuah bacokan membuat saudagar muda itu ambruk ke atas tanah.

“Ough.... Nyai..., Anggini...,” rintih saudagar muda itu seraya menggapaikan tangannya dengan wajah bersimbah darah.

“Kakaaang...!” wanita cantik itu menjerit memilukan ketika melihat kepala suaminya terkulai lemah dan tak bergerak lagi.

“Ayaaah...!” bocah perempuan berusia tujuh tahun ber-teriak-teriak memanggil ayahnya. Ia meronta-ronta dalam pondongan salah seorang perampok.

“Diam kau, Bocah...!” bentak perampok itu tanpa rasa iba sedikit pun melihat bocah kecil itu menjerit-jerit sambil menangis.

Plakkk!

Karena bocah perempuan itu masih juga menjerit-jerit, akhimya perampok bertubuh kurus dan berwajah licik itu melayangkan tamparan yang cukup keras. Akibatnya, tubuh kecil itu terpelanting dan pingsan seketika.

“Manusia jahat! Kau apakan anakku...?!” Wanita cantik itu kembali meronta dari dekapan anggota perampok. Sadar kalau masih kalah tenaga dari perampok yang mendekap tubuhnya, akhirnya ia terpaksa menggigit orang itu.

“Aaakh...!” Anggota perampok itu menjerit kesakitan sambil melepaskan dekapannya pada tubuh wanita itu.

“Anggini...!” Begitu terlepas dari pelukan lelaki kasar itu, ia pun langsung menghambur ke arah tubuh anak perempuannya yang masih tergeletak dengan bibir berdarah. Namun belum juga sampai, mendadak saja....

“Hait...! Ha ha ha.... Mau lari ke mana kau, Manis...?” cegah lelaki botak berperut gendut, sambil merentangkan tangannya menghadang lari wanita cantik itu.

Sepasang mata bulat indah itu melirik ke kiri-kanan bagaikan mata kelinci yang ketakutan. “Oh..., kasihanilah kami, Tuan. Lepaskanlah kami. Ambillah semua harta milik suamiku yang ada dalam kereta itu,” rintih wanita malang itu dengan wajah ber-simbah air mata.

“He he he.... Tidak mungkin, Manis. Kau tidak akan kulepaskan begitu saja. Ikutlah bersamaku, dan jadilah istriku. Pasti kau akan senang,” bujuk lelaki berkepala botak itu seraya meneguk air liurnya sendiri melihat kecantikan dan keindahan tubuh wanita di hadapannya itu.

“Ha ha ha...! Tunggu apa lagi, Kakang Gandil? Tubruk saja kijang muda yang menggiurkan itu. Kan, beres,” ujar seorang anggota perampok, tak sabar melihat sikap pemimpinnya.

“Betul, Kakang. Tidak usah membujuk-bujuk. Seret saja wanita cantik itu. Buat apa membuang-buang waktu,” timpal yang lain ikut memanasi.

Sedangkan para anggota perampok lainnya tengah sibuk menguras seluruh isi kereta kuda itu. Setelah semua barang-barang berharga dikeluarkan, salah seorang anggota perampok membawa kereta kuda itu ke tepi jurang. Kemudian, dia menceburkan nya setelah terlebih dahulu memasukkan tubuh Ki Jantar dan keempat mayat pengawal di dalamnya. Terdengar suara yang ramai ketika badan kereta beserta dua ekor kuda penghelanya meluncur menghantam bebatuan yang bertonjolan di dinding jurang. Sementara, lelaki berkepala botak yang merupakan pimpinan perampok itu sudah menerkam tubuh wanita cantik yang hanya mampu menjerit ketakutan.

“He he he...! Tidak ada gunanya meronta-ronta, Manis. Lebih baik nikmati saja babak pertama ini,” ujar lelaki berkepala botak yang bemama Gandil itu. Diciuminya seluruh wajah wanita itu penuh nafsu. Belum lagi nafsu iblisnya terlampiaskan, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut yang disusul jerit kesakitan!

Brukkk!

“Bangsat, berani kau mengganggu kesenanganku!” bentak Gandil. Langsung dikirimkannya tamparan keras ke arah sosok yang menerjang tubuhnya.

Sosok tubuh berpakaian kumal itu melintir akibat tamparan keras yang menghantam pelipisnya. Namun orang itu sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Dia langsung ambruk, tak bergerak lagi. Melihat hal ini, Gandil terkejut bukan main. Bahkan orang itu sama sekali tidak menjerit ketika tamparannya tepat mengenai pelipis.

Merasa curiga, Gandil bergegas menghampiri, lalu membalikkan tubuh orang yang menelungkup itu. Bukan main terkejutnya lelaki bengis berkepala botak itu ketika mengenali kalau orang itu ternyata anak buahnya sendiri.

“Bangsat! Siapa yang berani main-main dengan Macan Bukit Setan!” bentak lelaki gundul itu.

Gandil kemudian melompat keluar dari balik semak-semak. Kemarahan yang menggumpal dadanya, mem-buatnya jadi lupa pada calon korbannya yang terisak dengan pakaian tak karuan.

“Akulah yang datang untuk menghentikan kebiadabanmu, Macan Ompong!” sahut sesosok tubuh tinggi tegap yang berdiri gagah dalam jarak tujuh batang tombak dari tempat Gandil berdiri.

Kemarahan di hati Gandil berubah menjadi rasa terkejut yang amat sangat. Puluhan mayat anak buahnya yang bergeletakan saling tumpang tindih itu, membuat Macan Bukit Setan termangu untuk beberapa saat lamanya.

“Bersiaplah menyusul mayat-mayat pengikutmu!” ancam sosok berpakaian putih yang ternyata seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu Suaranya terdengar pelan, namun mengandung wibawa yang kuat. Tersentak Gandil ketika mendengar ucapan itu. Dengan kemarahan menggelegak, lelaki gundul itu melangkah maju menghampiri pemuda itu.

“Siapa kau, Anak Muda?! Sebutkan namamu sebelum tubuhmu kurobek-robek!” bentak Macan Bukit Setan menggereng murka.

“Kau ingin tahu namaku? Ketahuilah. Aku adalah Malaikat Maut yang mendapat tugas untuk mencabut nyawamu saat ini juga,” sahut pemuda gagah itu bernada mengejek.

“Keparat..! Terimalah kematianmu, haaat...!” Diiringi pekik kemarahannya, tubuh lelaki gendut itu melompat maju disertai cakamya yang menimbul-kan angin berkesiutan.

“Hmh...!” Pemuda berpakaian putih itu bergumam tak jelas. Dan begitu serangan lawannya tiba, tubuhnya digeser dan langsung dikirimkan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Wuuut!

Gandil memiringkan kepalanya menghindari sebuah pukulan yang menimbulkan angin menderu tajam. Begitu pukulan lawan lewat di samping kepalanya, tubuh gendut yang ternyata dapat bergerak gesit itu meliuk dengan kuda-kuda rendah.

“Hiaaah...!” Sambil membentak keras, tubuh Macan Bukit Setan berputar melakukan serangan. Maksudnya agar dapat membongkar kuda-kuda lawan. Sapuan kaki Gandil ternyata hanya membabat tanah berumput, karena kaki lawan yang menjadi sasarannya telah terangkat naik dan ditarik ke belakang. Tapi serangan lelaki gundul itu ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sapuannya yang tidak mengenai sasaran, kembali berputar cepat bagai baring-baling hingga menimbulkan deru angin kuat.

Wuuut! Wuuuk...!

Berkali-kali sapuan Gandil mengibas dengan kecepatan mengagumkan. Namun untuk yang kesekian kalinya, ia harus menelan kekecewaan. Memang lawannya yang meskipun berusia jauh lebih muda itu, ternyata sangat lincah. Sehingga setiap kali Macan Bukit Setan berputar, selalu saja dapat dielakkannya tanpa kesulitan.

Kenyataan itu membuat Gandil semakin bertambah penasaran. Ketika untuk yang kesekian kali serangannya mengenai tempat kosong, tiba-tiba saja tubuh lelaki berkepala gundul itu melenting disertai sambaran cakar yang mengancam leher dan lambung lawan.

Plakkk! Plakkk!

Terdengar ledakan keras sebanyak dua kali ketika pemuda gagah itu menggerakkan kedua tangannya memapak serangan Gandil. Dan sebagai akibatnya, tubuh lelaki gendut itu terdorong mundur dan hampir terjengkang. Untung saja dia segera menguasai tubuhnya dengan cara melenting dan melakukan beberapa kali salto di udara.

“Bangsat! Pantas saja berani berlagak! Rupanya kau memiliki kepandaian lumayan!” geram Macan Bukit Setan menyembunyikan rasa terkejutnya.

Memang, dari tangkisan lawannya tadi, ia dapat merasakan kalau tenaga pemuda itu kuat sekali. Bahkan menurut penilaiannya, mungkin masih jauh lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Kenyataan itu benar-benar membuatnya tergetar.

“Hm.... Jangan hanya memaki saja, Macan Ompong! Kalau memang memiliki kepandaian, majulah!” sahut pemuda gagah bertubuh tegap itu, tenang. Jelas ia sama sekali tidak terpengaruh akibat pertemuan tenaga tadi.

Macan Bukit Setan tidak segera menanggapi ucapan lawannya. Rupanya, pertarungan yang berlangsung hamprr tiga puluh jurus tadi telah membuat matanya terbuka. Sadar kalau untuk memperoleh kemenangan terlalu tipis baginya, maka ia pun segera melesat menuju semak-semak tempat wanita cantik istri saudagar muda yang dirampoknya itu ditinggalkan.

“Hei! Mau lari ke mana kau, Macan Ompong...?!” teriak pemuda gagah itu yang segera melesat melakukan pengejaran. Dugaannya, lawannya itu berniat hendak melarikan diri.

DUA

“Ha ha ha...! Majulah kalau ingin melihat tubuh wanita ini kurobek dengan cakarku!” ancam Macan Bukit Setan. Tahu-tahu saja, dia telah memeluk tubuh wanita cantik yang wajahnya dibasahi air mata itu.

Karena tidak menduga perbuatan licik lawannya, pemuda itu menjadi tertegun. Untuk beberapa saat lamanya, ia hanya dapat menatap Macan Bukit Setan dengan penuh kegeraman.

“Tuan, jangan pedulikan diriku! Aku rela mati asalkan kau sudi memenuhi permintaanku,” ujar wanita malang itu dengan suara bercampur isak. Sepasang mata sayu itu menatap wajah penolongnya, penuh permohonan.

“Apa permintaanmu, Nyai? Kalau memang aku mampu, akan kulaksanakan dengan senang hati,” sahut pemuda gagah itu sambil memutar otak untuk dapat melepaskan wanita itu dari cengkeraman Macan Bukit Setan.

“Selamatkanlah anakku. Peliharalah dia baik-baik. Aku percaya, anakku akan aman berada dalam lindunganmu,” pinta wanita malang itu. Air matanya kembali menetes mengingat kematJan suaminya.

“Aku akan memenuhi permintaanmu itu, Nyai. Bocah perempuan itu masih selamat dan tidak kurang suatu apa. Ia kusembunyikan di tempat aman. Tapi, kau pun harus kuselamatkan. Karena biar bagaimanapun, anak itu lebih memerlukanmu ketimbang aku,” sahut pemuda gagah itu setelah terdiam sejenak ketika mendengar permintaan wanita dalam cengkeraman Macan Bukit Setan.

“He he he.... Selangkah lagi maju, maka tubuh perempuan molek ini akan kucabik-cabik!” ancam Gandil ketika melihat pemuda itu mendekatinya.

Pemuda itu terpaksa menghentikan langkah ketika melihat cakar lelaki gundul itu bergetar, dan slap merencah tubuh molek dalam cengkeramannya.

“Hm.... Silakan kau cabik-cabik tubuh wanita itu, Macan Ompong. Bukankah kau sudah dengar sendiri penegasannya tadi?” tantang pemuda berpakaian putih itu tidak kalah gertak.

“Eh...!” Macan Bukit Setan berseru heran mendengar jawaban pemuda itu. Akibatnya, kewaspadaannya pun mengendur ketika melihat pemuda gagah itu kelihatan malah membalikkan tubuh seolah-olah tak peduli.

Namun, keheranan Gandil berubah menjadi rasa terkejut yang amat sangat! Betapa tidak? Sebab, pemuda yang semula membalikkan tubuhnya itu tiba-tiba bersalto bagai kilat. Langsung dikirimkannya serangan maut ke kepalanya. Gerakan yang demikian cepat dan tak terduga itu membuat Macan Bukit Setan terperangah kelabakan. Cepat-cepat tubuhnya ditarik sambil menyentakkan wanita cantik tawanannya.

Plakkk... Desss!

Tubuh Macan Bukit Setan terpental ke belakang jauh tiga batang tombak. Meskipun berhasil menangkis pukulan tangan kiri lawannya, namun hantaman tangan kanan lawan telak menghunjam dadanya.

“Huagkh...!” Darah segar terlompat dari mulut lelaki gundul itu. Macan Bukit Setan berusaha merangkak bangkit sambil menekap dada yang terasa remuk. Baru saja tubuhnya berdiri tegak, sebuah tendangan kilat disertai pengerahan tenaga yang amat kuat kembali menggedor dadanya.

Bugkh!

“Hugkh...!” Tak ayal lagi, tubuh Macan Bukit Setan terjengkang ke belakang dan menghantam batu besar di belakangnya. Akibatnya, kepala gundul itu berderak keras disertai percikan darah yang bercampur cairan putih. Maka tamat-lah riwayat Macan Bukit Setan.

“Ohhh...!”

Pemuda berpakaian putih itu menoleh ke arah asal keluhan lirih yang tertangkap telinganya. Cepat dihampirinya, ketika matanya melihat tubuh wanita cantik itu tergeletak berlumuran darah.

“Nyai.... Kau..., kau kenapa...?” tanya pemuda itu sambil membungkuk memeriksa tubuh wanita itu. Terkejut hati pemuda itu ketika melihat kepala wanita di hadapannya retak akibat terbentur batu. Darah segar mengalir deras dari luka di belakang kepalanya. Rupanya, sentakan tangan Macan Bukit Setan yang dalam keadaan kalap tadi, secara tak sadar telah membuat tubuh wanita malang itu terlempar menghantam batu cadas di tepi jalan.

“Tolong jaga, dan pelihara anakku Anggini..., Tu...an....”

Setelah berpesan demikian, wanita malang itu pun menghembuskan napasnya yang terakhir di pangkuan tuan penolongnya. Sedangkan pemuda gagah itu hanya dapat menghela napas disertai kekesalan. Setelah agak lama termenung, dia pun bergerak bangkit sambil memondong mayat wanita itu. Kemudian dikuburkannya mayat itu pada sebuah tempat yang cukup baik. Dengan peluh yang masih berlelehan, pemuda gagah itu melangkah ke tempat bocah perempuan yang masih pingsan, yang tadi disembunyikannya.

“Untung seluruh kejadian tadi tidak disaksikannya. Kalau dia melihat, mungkin perkembangan jiwanya akan terganggu kelak,” gumam pemuda itu merasa bersyukur. Diangkatnya tubuh mungil itu setelah terlebih dahulu diobati dan dibuatnya tertidur. Kemudian, ditinggal-kannya tempat itu bersama tubuh mungil Anggini dalam pondongannya.

Matahari semakin naik tinggi dengan pancaran sinarnya yang terik. Hembusan angin tetap bersilir lembut, seolah-olah tak peduli terhadap peristiwa berdarah itu. Jalan berbatu itu pun kembali lengang dan sunyi.

*******************

Di bawah siraman cahaya matahari yang memancar terik, tampak sesosok tubuh bergerak mendaki lereng Gunung Tangger. Di bahu kanannya tampak seorang anak kecil yang tengah terlelap. Gerakan sosok itu demikian gesit dan ringan. Seolah-olah lereng gunung yang terjal dan licin itu sudah tidak asing lagi baginya. Setelah melalui jalanan yang berkelok dan terjal, sosok tubuh itu berdiri tegak memandang ke arah lembah di bawahnya. Agak lama juga dia berdiri di atas sebongkah batu besar itu, seolah-olah timbul keraguan dalam hatinya.

Tak lama kemudian, sosok tubuh itu pun bergerak turun ke dalam lembah. Jalanan yang menurun dan licin itu pun tidak menjadi halangan. Bagaikan seekor burung besar menyambar mangsa, tubuhnya melayang ke bawah. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, tubuhnya kembali melambung ke udara. Itu dilakukannya berkali-kari. Gerakannya sama sekali tidak membuat anak yang dipondongnya terbangua Dari sini saja sudah dapat diketahui, betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh orang itu. Setelah menyeberangi sebuah aliran sungai, tak lama kemudian tibalah sosok itu di depan sebuah pondok sederhana.

“Hm ... Siapa lagi yang kau bawa kali ini, Kembara?” sebuah suara lembut bernada teguran menyapa sosok tubuh itu.

“Ampun, Guru....” sahut sosok tubuh yang ternyata bernama Kembara. Dia masih muda dan berwajah gagah. Kembara cepat meletakkan sosok mungil yang dipondongnya. Bergegas, dia menjatuhkan diri berlutut di bawah tangga yang menghubungkan ke pintu pondok. Dalam hati, Kembara mengagumi ilmu pembeda gerak dan suara yang dimiliki orang yang dipanggil guru olehnya itu. Walaupun pintu pondok tertutup, dia bisa tahu kalau Kembara datang tidak sendiri. Tapi, bersama seseorang dalam pondongannya.

Tidak berapa lama kemudian, seraut wajah seorang kakek tersembul dari balik pintu yang terkuak. Kakek itu tersenyum lembut sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang. Sebelum kakek itu sempat menuruni anak tangga, sesosok tubuh mungil berlari mendahuluinya.

“Horeee..., Paman sudah kembali....!” Sambil bersorak gembira, seorang anak laki-laki berumur delapan tahun berlari menyongsong kedatangan lelaki muda itu. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Kembara.

Tanpa merubah berlututnya, lelaki muda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu mengembangkan tangannya menyambut pelukan si bocah. “Hm.... Kau sudah semakin besar, Samba. Apakah kau masih suka menyusahkan eyang?” tanya Kembara sambil mengelus rambut kepala bocah lelaki itu penuh kasih.

“Tidak, Paman. Aku selalu menuruti perintah eyang. Dan tidak menyusahkannya!” sahut bocah bemama Samba itu dengan suaranya yang bening dan nyaring, seraya menoleh ke arah kakek itu.

“Sudahlah, Samba. Pamanmu jangan diganggu dulu. Dia masih lelah. Sebaiknya, temani kakangmu yang tengah berlatih di tepi hutan sana!” ujar kakek itu. Suaranya lembut, namun bernada tegas.

“Baik, Eyang,” sahut bocah itu cepat. Setelah pamitan pada pamannya, Samba pun berlari-lari kecil menuju hutan yang terdapat di belakang pondok.

“Bawalah bocah itu naik, Kembara!” perintah kakek itu lagi, seraya membalikkan tubuhnya masuk kembali ke dalam pondok.

Kembara segera bangkit dan menaiki tangga memasuki pondok Diangkatnya tubuh mungil yang tadi diletakkan di sebelahnya.

“Maaf, Eyang. Aku terpaksa membawa bocah perempuan ini ke sini. Kedua orang tuanya telah tiada lagi, karena dibunuh sekawanan perampok yang kerap mengganggu desa,” ujar Kembara, memberikan alasan mengapa bocah perempuan berusia sekitar tujuh tahun itu dibawanya.

“Hm.... Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau masih ingin meneruskan pengembaraanmu?” tanya sang Guru sambil mengelus jenggotnya perlahan. Wajah kakek itu tampak menggambarkan perasaan iba ketika melihat wajah muridnya yang selalu tersaput mendung tebal itu. Namun hal itu berusaha disembunyikan.

“Tidak, Eyang. Aku sudah mengambil keputusan untuk menetap di sini, dan merawat ketiga bocah itu,” jawab Kembara perlahan. Jelas sekali kalau pemuda berwajah gagah itu berusaha menyembunyikan perasaan hatinya.

“Apakah keputusanmu sudah tetap? Aku tidak akan memaksamu kalau kau memang masih menginginkan mengembara,” kata kakek itu. Pandangan matanya tajam, seolah-olah ingin menyelami perasaan muridnya.

“Terima kasih, Eyang. Tapi keputusanku sudah bulat untuk menetap di Lembah Gunung Tangger ini,” sahut si pemuda, tetap tidak merubah keputusannya.

“Hm...,” kakek itu menggumam tak jelas. Hati laki-laki tua berjenggot putih itu terenyuh mengingat penderitaan yang pemah dialami muridnya.

Terbayang kembali di benaknya ketika setahun yang lalu muridnya kembali dari pengembaraan, dengan membawa hati yang patah. Setelah beberapa bulan, akhirnya dia tak tahan melihat keadaan murid satu-satunya itu selalu termenung dan menyendiri. Dan kakek itu masih ingat ketika dengan terpatah-patah Kembara menceritakan penderitaan batinnya, yang mengalami patah hati karena ditinggal kekasihnya. Untuk menghibur hati muridnya, kakek itu pun menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi yang selama ini disimpannya.

Setelah menamatkan pelajaran, muridnya itu kembali diizinkan untuk turun gunung. Padahal, sang Guru tahu kalau luka di hati Kembara belum sembuh. Bahkan rasanya memang tidak mungkin disembuhkan. Sekembalinya dari pengembaraan, Kembara membawa dua orang bocah laki-laki yang kemudian dititipkan kepadanya. Dan yang terakhir, ia kembali ke lembah dengan membawa seorang bocah perempuan.

“Eyang...,” panggil Kembara yang membuat lamunan kakek itu terhenti.

“Hhh....” Sang Guru yang dalam dunia persilatan dikenal sebagai Begawan Madapati itu menghela napas panjang. Wajahnya kembali tenang tanpa menggambarkan perasaan apa pun.

“Ada apa, Eyang...?” tanya Kembara setelah mendengar helaan napas gurunya. Sepertinya, laki-laki tua itu tengah memikirkan sesuatu.

“Tidak ada apa-apa, Kembara. Hanya menurut pikiranku, ada baiknya kalau kita membuat sebuah pondok lagi untuk tempat bernaung ketiga bocah yang kau bawa itu. Bagaimana menurutmu?” tanya Begawan Madapati.

“Balk sekali, Eyang. Aku akan segera membuatnya. Biarlah untuk sementara bocah perempuan itu tidur di sini. Memang, ia kelihatannya lelah sekali,” sahut Kembara, mendukung sekali pernyataan kakek itu.

Begawan Madapati hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Laki-laki tua itu mengangguk kembali ketika muridnya minta izin untuk segera membuat pondok yang dimaksudkan gurunya.

“Paman...!” terdengar sebuah seruan. Salah seorang dari dua bocah lelaki segera meng-hambur ke dalam pelukan Kembara yang baru saja menginjakkan kakinya pada anak tangga terakhir.

“Ah, Wirasaba. Kau sudah bertambah besar. Bagaimana latihanmu?” tanya Kembara seraya membalas pelukan bocah lelaki berumur sembilan tahun itu. Dibelainya rambut kepala bocah bernama Wirasaba dengan perasaan kasih yang mendalam.

“Seperti pesan Paman, aku dan Samba tidak pernah mengeluh meskipun latihan-latihan yang diberikan eyang terasa sangat berat. Bukankah Paman mengatakan kalau kami harus rajin berlatih agar kelak menjadi seorang pendekar hebat dan dapat mengusir orang-orang jahat?” sahut Wirasaba dengan suara nyaring, dan menimbulkan kegembiraan di hati Kembara.

“Bagus, kalau kalian masih ingat perkataan Paman itu. Nah! Sekarang, bersihkan tubuh kalian. Karena Paman masih ada keperluan lain yang harus cepat-cepat diselesaikan!” ujar Kembara sambil melepaskan pelukan Wirasaba.

“Apakah Paman akan meninggalkan kami lagi?” Samba yang sejak tadi hanya membisu, tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan itu dengan sepasang mata cemas.

“Hm.... Apakah kalian tidak senang tinggal bersama eyang?” tanya Kembara yang ingin mengetahui perasaan kedua bocah itu selama ini. Diraihnya tubuh Samba ke dalam pelukannya.

“Tentu saja kami senang, Paman. Tapi, kami akan lebih senang lagi kalau Paman tinggal juga di sini untuk menemani kami berlatih,” sahut Samba seraya menatap wajah Kembara penuh harap.

“Baiklah. Paman akan tinggal, dan menemani kalian berlatih. Sekarang, kalian harus membersihkan tubuh dulu. Paman hendak membuat sebuah pondok untuk tempat tinggal kita,” ujar Kembara.

Persetujuan Kembara itu ternyata membuat dua orang bocah itu semakin mengetatkan pelukannya. Kemudian, sambil terrawa-tawa gembira mereka berkejaran menuju aliran sungai yang hanya beberapa tombak dari pondok itu.

Kembara memandangi kedua orang bocah itu dengan sinar mata iba. Memang, keadaannya dulu pun tidak berbeda jauh dengan ketiga orang bocah yang ditolongnya itu. Dia dulu juga ditolong Begawan Madapati, lalu dibawa ke Lembah Gunung Tangger. Sepuluh tahun kemudian, ia pun menjelma menjadi seorang pemuda tangguh setelah digembleng kakek sakti itu.

“Hhh.... Kasihan sekali mereka,” desah Kembara yang menjadi lupa akan keadaan dirinya sendiri. Sesaat kemudian, ia pun beranjak meninggalkan tempat itu untuk segera membuat pondok baru.

Dalam beberapa hari saja, sebuah pondok sederhana pun telah berdiri tidak jauh dari pondok lama. Kembara memandangi hasil kerjanya diiringi senyum puas. Meskipun saat itu masih tersisa kelelahan wajahnya, namun hal itu sama sekali tidak dirasakan.

*******************

TIGA

Sang waktu terus bergulir. Minggu, bulan, dan tahun pun melintas cepat. Tanpa terasa, sepuluh tahun sudah Kembara menetap di Lembah Gunung Tangger bersama tiga anak asuhnya.

“Haiiit..!”

Teriakan nyaring namun merdu itu terasa meng-getarkan lembah yang semula hening dan sepi. Kemudian, disusul berkelebatnya sesosok tubuh ramping mengenakan pakaian serba kuning. Rambutnya yang panjang dan berkepang dua itu bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuhnya. Dilihat dari bentuk tubuh serta pakaiannya, jelas dia adalah seorang gadis.

Bettt! Bettt!

Dua buah pukulan yang menimbulkan sambaran angin kuat dilontarkan sosok berpakaian kuning itu. Akibatnya, pemuda tegap yang menjadi lawannya cepat menggeser tubuh ke samping. Berbarengan dengan gerakan itu, kaki kirinya mencelat melakukan tendangan kilat ke arah lambung gadis berpakaian kuning itu. Namun dengan gerakan yang tidak kalah gesitnya, tangan kanan gadis itu bergerak turun menepiskan tendangan lawan.

Plak! “Uhhh...!”

Keduanya tersentak mundur beberapa langkah ke belakang. Memang, pertemuan tenaga itu telah membuat keduanya bergetar sesaat.

“Cukup...!” Terdengar bentakan yang menggetarkan isi dada kedua orang yang tengah bertarung itu. Suara itu berasal dari seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun lebih.

“Wah! Kau hebat sekali, Adik Anggini! Ternyata aku tidak mampu menundukkanmu,” puji pemuda tampan bertubuh tegap itu. Tubuhnya segera dibungkukkan sebagai tanda hormat. Senyumnya merekah sehingga semakin membuatnya tampak menarik.

“Ah! Kau terlalu memuji, Kakang Wirasaba. Nyatanya, aku sendiri pun tidak mampu mendesakmu. Nah! Pujianmu tidak berlaku, bukan?” sahut si gadis bernama Anggini itu seraya tersenyum menggoda. Wajah gadis itu yang memang sudah cantik, tampak semakin menarik. Hal ini membuat pemuda yang dipanggil Wirasaba itu terpaku menatapnya.

“Sudahlah. Kalian beristirahat dulu,” lelaki gagah yang tak lain dari Kembara itu menengahi.

“Ya. Sekarang giliranku yang akan berlatih bersama Paman Kembara. Ayo, kalian menyingkir!” timpal seorang pemuda lain.

Perawakan pemuda itu sedang, dan berwajah tampan. Bahkan terlalu halus hingga tak ubahnya wajah wanita. Kalau wajahnya tidak dihiasi sebaris kumis tipis, pastilah orang akan menyangka dirinya seorang wanita.

Wirasaba dan Anggini bergegas menepi untuk memberikan kesempatan kepada kedua orang itu.

“Kau sudah siap, Samba?!” tanya Kembara kepada pemuda tampan yang ternyata Samba.

“Siap, Paman!” sahut Samba cepat. Setelah berkata demikian, pemuda itu menggerakkan tangannya disertai tarikan napas yang teratur halus.

“Hiaaat..!”

Kembara dan Samba terus berlatih memainkan jurus-jurus dahsyat. Sedangkan Anggini dan Wirasaba hanya jadi penonton saja. Tak ada yang tahu kalau di situ telah hadir seorang laki-laki tua berjenggot putih. Siapa lagi kalau bukan Begawan Madapati.

“He he he...! Kau tampak semakin matang, Kembara!” tiba-tiba saja terdengar suara berat berwibawa. Kembara dan Samba langsung menghentikan latihannya. Sementara Wirasaba dan Anggini menoleh ke arah asal suara.

“Eyang...!”

Serentak keempat orang itu menjatuhkan diri dan berlutut begitu mengetahui siapa yang datang. Hanya Kembara yang kemudian bangkit, lalu melangkah menghampiri gurunya.

Begawan Madapati, yang menjadi guru mereka, hanya tersenyum lembut sambil merayapi wajah murid-muridnya. Meskipun bukan guru langsung bagi Wirasaba, Samba, dan Anggini, namun mereka tetap meng-hormatinya. Sebab ketiga orang itu berlatih di bawah bimbingan Kembara. Sedangkan Kembara adalah murid Begawan Madapati.

“Bangkitlah. Aku merasa bangga sekali melihat kemajuan yang telah kalian capai sekarang. Meskipun aku tidak mendidik Samba, Wirasaba, dan Anggini secara langsung, namun ternyata hasil yang diperoleh telah memuaskan hatiku. Dan rasanya, hasil didikanku pun tidak akan lebih baik daripada guru kalian ini,” ujar Begawan Madapati sambil menepuk-nepuk bahu Kembara yang sudah berdiri di sebelahnya. Apa yang dikatakan kakek itu bukanlah sebuah pujian kosong. Tapi memang suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Kembara hanya menunduk tersipu mendengar pujian gurunya. Diam-diam hatinya merasa bersyukur, karena telah menunaikan tugas yang diberikan gurunya dengan baik. Dan semua itu bisa terlihat dari seraut wajah tua yang tampak tersenyum penuh kepuasan.

"Teruskanlah latihan kalian. Aku ada keperluan dengan pamanmu ini,” lanjut Begawan Madapati, sambil mengajak Kembara meninggalkan ketiga anak muda itu.

“Baik, Eyang...!” sahut ketiganya patuh.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga anak muda itu hanya berdiri memandang kepergian eyang guru dan pamannya itu.

*******************

Malam baru saja menguasai mayapada. Kepekatan yang menyelimuti permukaan bumi, periahan-lahan disibakkan oleh sinar sang dewi malam. Sinarnya tampak temaram, menemani sang malam. Bintang-bintang pun ber-munculan, ikut meramaikan cakrawala malam.

Dalam suasana malam indah itu, Kembara terbaring di atas balai-balai bambu di pondoknya yang didiaminya seorang diri. Karena semenjak ketiga anak asuhnya menanjak remaja, mereka pun mendiami pondok masing-masing yang dibuat bersama-sama. Maka di Lembah Gunung Tengger itu kini berdiri lima buah pondok sederhana.

“Hhh....” Laki-laki yang sudah tidak muda lagi, namun masih nampak gagah itu menghela napas panjang. Ingatannya menerawang sewaktu Begawan Madapati membawanya untuk membicarakan sesuatu. Dan apa yang dibicarakan sang Guru itu benar-benar membebani pikirannya. Karena, Begawan Madapati tidak mengizinkan Kembara untuk menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepada tiga orang muridnya.

“Ilmu-ilmu yang kuturunkan kepadamu itu bukanlah ilmu sembarangan, Muridku. Tanpa memiliki pengalaman cukup, maka orang itu tidak akan pernah sempurna dalam menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi perguruan kita. Ini bukan berarti aku tidak sayang kepada mereka. Tapi rasanya akan percuma kalau ilmu-ilmu itu diturunkan sekarang. Mereka belum matang, Muridku. Mereka masih terlalu hijau dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh permainan dan tipu daya. Kau mengerti maksudku, Kembara?”

Demikian yang dipesankan Begawan Madapati kepada muridnya. Dan Kembara harus mematuhi pesan sang Guru, meskipun hal itu menjadi ganjalan bagi hatinya. Ketika teringat ketiga orang anak asuhannya, yang terbayang jelas hanyalah wajah cantik manis Anggini. Dia memang telah menjelma menjadi seorang dara yang sangat memikat. Mendung tebal yang selalu menutupi wajahnya yang gagah, langsung lenyap, dan berganti senyum bahagia apabila teringat akan dara cantik itu.

“Hhh....” Kembara menyentak tubuhnya, dan langsung bangkit dari tidurnya. Diusirnya bayangan dara manis yang melekat di benaknya itu. Ia duduk termenung di tepian balai-balai bambu. Pandangannya kembali menerawang, menembus awang-awang sehingga menciptakan bayang-bayang. Perasaan itu disadarinya betul, terutama semenjak Anggini tumbuh dan semakin menampakkan kecantikan yang memikat setiap hati pria.

Kembara pun bukannya tidak tahu kalau kedua orang pemuda gagah dan tampan yang diasuhnya diam-diam mencintai Anggini. Dan sebagai seorang laki-laki yang sehat jasmani maupun rohani, ia pun terkadang merasa cemburu terhadap Samba dan Wirasaba. Namun tentu saja hal itu berusaha ditekan dan disembunyikannya agar tidak diketahui mereka dan juga gurunya.

“Yahhh... Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui isi hatiku yang amat memalukan ini!” desis hati Kembara sambil memejamkan mata menahan rasa nyeri yang menusuk jantung.

Karena hatinya masih juga diliputi keresahan, maka Kembara melangkahkan kakinya menuju ke luar pondok. Langkahnya terayun periahan sambil menatapi langit yang nampak jemih karena terhias ribuan bintang. Tanpa sadar, ia melangkah menuju ke aliran sungai yang terpisah beberapa puluh tombak di belakang pondoknya. Disertai helaan napas berat, Kembara menghenyakkan pantatnya pada sebongkah batu yang cukup besar di tepi sungai. Wajahnya menengadah menatap langit biru jernih.

“Tuhan.... Mengapa perasaan ini kembali menyiksa hatiku? Dan mengapa justru Anggini yang harus kucintai? Mengapa bukan gadis lain saja? Ah...! Betapa akan malunya kalau sampai perasaanku ini diketahui orang lain? Dan bagaimana kalau guru mengetahuinya? Mengapa aku tidak bisa mencintai gadis lain di desa, di bawah gunung ini? Betapapun perasaan hatiku ini berusaha disembunyikan, aku yakin pada akhirnya akan diketahui yang lain!”

Berbagai pertanyaan dan keluhan bermunculan di benak Kembara. Meskipun demikian, tetap saja ia tidak mampu mengusir pergi bayangan Anggini yang selalu mengganggunya.

“Hhh....” Kembara kembali menghembuskan napas kuat-kuat. Seolah-olah dengan berbuat begitu, perasaan yang kian menyesak di dadanya diharapkan dapat terusir. Disapunya wajah dengan kedua tangan, seakan-akan ingin menghapuskan bayangan Anggini.

“Paman...!” tiba-tiba saja sebuah suara merdu dan lembut menyapanya perlahan.

Bukan main kagetnya hati Kembara. Tubuhnya mencelat sejauh tiga batang tombak. Bahkan wajahnya pucat bagai melihat hantu di siang bolong. Sepasang kakinya terasa lemas bagaikan tak bertulang ketika melihat gadis yang selalu mengganggu pikirannya tahu-tahu saja telah berada di depannya.

“Ada apa, Paman...?” tanya gadis yang ternyata memang Anggini.

Gadis itu segera menjauhi batu yang tadi diduduki pamannya, karena melihat Kembara begitu terkejut, sepasang matanya yang indah menatap tajam. Pandangannya begitu curiga dan waspada ke arah batu itu. Karena, dikira sang Paman terpatuk ular ataupun binatang berbisa lainnya.

“Ah! Tid..., tidak.... Tidak ada apa-apa. .!” sahut Kembara yang menjadi gugup dalam menghadapi anak asuhnya, sambil menghapus butiran keringat yang membasahi keningnya.

“Paman mengejutkan aku saja! Atau aku yang membuat Paman terkejut tadi?” tanya Anggini. Gadis itu segera melangkah menghampiri pamannya. Dan tanpa canggung-canggung lagi, ditariknya tangan sang Paman untuk diajak duduk kembali di atas batu.

Anggini yang memang sejak kecil diasuh Kembara, sama sekali tidak mengetahui kemelut yang tengah dialami sang Paman. Gadis itu memang sudah menganggap Kembara sebagai orang tuanya sendiri. Jadi, tentu saja dia tidak malu-malu untuk memegang atau memeluk tubuh pamannya. Apalagi hal itu memang sudah merupakan kebiasaannya sejak kecil. Hanya sang Paman itulah tempat ia mengadu dan bermanja.

Sedangkan bagi Kembara, rupanya jadi lain lagi. Semenjak gadis itu tumbuh semakin besar, perasaan hatinya mulai tak menentu. Ia tidak lagi berani menatap wajah gadis itu secara langsung. Apalagi semenjak setahun yang lalu, saat mulai memiliki perasaan lain terhadap gadis itu. Maka, Kembara mengambil keputusan untuk jangan terlalu sering bertemu. Paling tidak agar rahasia hati yang memalukan itu tidak diketahui Anggini.

“Paman. Apakah Paman sakit?” tanya Anggini. Gadis itu benar-benar terkejut melihat tubuh pamannya gemetar. Anggini kemudian menghapus keringat yang mem-basahi kening pamannya dengan saputangan miliknya. Tentu saja hal itu membuat tubuh Kembara seperti terserang demam tinggi. Dan gadis itu pun semakin cemas ketika merasakan deburan dalam dada pamannya demikian keras.

“Aku..., aku memang agak kurang sehat,” sahut Kembara memberi alasan yang didapat dari pertanyaan dara itu.

“Kalau begitu, mari kita kembali saja ke dalam pondokmu, Paman. Kesehatan Paman akan bertambah buruk kalau tetap berada di sini,” ajak Anggini. Gadis itu telah bersiap-siap membawanya ke pondok.

“Tidak, Anggini Aku tidak apa-apa. Penyakit ini tidak terlalu mengganggu,” sahut Kembara.

Cepat-cepat laki-laki gagah itu menarik tangannya ynng dipegang telapak tangan Anggini yang sudah mulai bangkit. Memang, ketika telapak tangan mereka bersentuhan, Kembara merasakan aliran darahnya berdesir semakin cepat. Maka itulah ia cepat-cepat melepaskannya.

“Betul, Paman tidak apa-apa...?” tanya Anggini memastikan.

“Benar. Aku tidak apa -apa,” jawab Kembara pasti.

Diam-diam, Kembara memaki perasaan hatinya itu. Dan perasaan takut kehilangan, tiba-tiba muncul begitu saja di hatinya. Sehingga tanpa sadar, ia telah menahan agar gadis itu tidak pergi. Terus terang, Kembara lebih suka berada di tempat ini bersama Anggini, daripada di dalam pondoknya yang dicekam kesepian. Hanya saja, kali ini Kembara tidak mampu mencegah perasaan hatinya yang memalukan itu.

“Paman, mengapa belakangan ini hampir tidak pernah menemani kami berlatih? Apakah Paman sudah merasa bosan melatih kami?” tanya Anggini sambil merapatkan duduknya ke tubuh Kembara. Sepasang matanya yang bening dan jernih itu menatap lekat-lekat, seolah-olah ingin menjenguk ke dalam dada sang Paman.

“Hhh.... Kalian sudah semakin bertambah besar, Anggini. Dan rasanya, sudah bisa berlatih sendiri. Lagi pula, semua ilmu yang kumiliki sudah kuturunkan semua kepada kalian. Jadi tidak perlu lagi aku menemani kalian setiap hari,” jawab Kembara, memberi alasan.

Anggini menatap wajah pamannya lekat-lekat. Hatinya menjadi semakin heran ketika melihat pamannya tidak berani mengangkat wajahnya yang selalu tertutup mendung itu ketika berbicara. Dan itu melahirkan berbagai pertanyaan di hati gadis cantik ini.

“Tapi, menurutku lain. Paman sepertinya berusaha menghindari kami. Apakah salah seorang dari kami telah berbuat salah? Katakanlah, Paman? Agar hatiku, maupun hati Kakang Wirasaba dan Samba menjadi tenang,” desak gadis itu.

Mendengar pertanyaan itu, hati Kembara menjadi terkejut. Perlahan-lahan wajahnya terangkat. Seketika kilatan sinar aneh terpancar dari sepasang mata lelaki gagah itu. Meskipun hal itu hanya sekejap, namun telah cukup membuat hati Anggini berdebar aneh.

“Hm.... Tidak betul itu, Anggini. Tidak seorang pun dari kalian yang telah berbuat kesalahan. Jadi, hilangkanlah perasaan bersalah dalam dirimu dan juga kedua saudara seperguruanmu itu. Percayalah, aku tidak apa-apa,” sahut Kembara yang sudah dapat menguasai perasaannya. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Maaf, aku harus kembali ke pondok.” Kemudian tanpa menunggu jawaban gadis itu lagi, Kembara pun segera meninggalkan Anggini yang menjadi terpaku dibuatnya.

“Hm.... Aku yakin pasti ada sesuatu yang mengganggu perasaan Paman Kembara. Tapi, entah apa yang telah mengganggu pikirannya?” desah hati Anggini masih belum mengerti keanehan tingkah laku pamannya.

*******************

Pagi harinya, setelah selesai berlatih, Anggini segera berlari menuju pondok pamannya. Sama sekali tidak dipedulikan tatapan heran kedua orang kakak seperguruannya. Gadis cantik yang lincah itu terus saja berlari-lari kecil meninggalkan tempat latihannya. Wirasaba berdebar hatinya ketika mengetahui, kemana arah yang dituju gadis itu.

“Ah! Jangan-jangan ia hendak mengadukan perbuatanku semalam kepada paman! Bisa celaka kalau sampai paman menjadi marah karena tahu aku mengungkapkan perasaan cinta pada Anggini. Tapi, mudah-mudahan saja paman memaklumi perasaanku. Bukankah paman pun seorang laki-laki? Dan sudah pasti dia juga pernah mengalami seperti yang kurasakan saat ini,” kata Wirasaba dalam hati.

Wirasaba yang semula cemas karena takut ditegur pamannya, menjadi tenang kembali. Rupanya dia telah mendapat jawaban apabila sang Paman menanyakan tentang perbuatannya. Tidak lama kemudian, Wirasaba dan Samba bertambah heran melihat Anggini berlari ke arahnya dengan wajah berduka.

“Kakang! Apakah kalian melihat Paman Kembara?” tanya Anggini begitu tiba di dekat kedua kakak seperguruannya. Nada suara gadis cantik itu jelas menggambarkan kejengkelan.

“Tidak. Memangnya ada apa, Adik Anggini?” tanya Wirasaba yang menjadi tenang hatinya. Rupanya sikap gadis itu seperti sudah melupakan kejadian semalam.

“Hm.... Kalau begitu, aku harus menemui eyang. Mungkin paman berada di sana,” ujar Anggini seperti berkata pada dirinya sendiri. Suaranya demikian lirih, dan hampir tidak terdengar. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu segera melesat menuju pondok eyang gurunya yang terletak di dekat aliran sungai.

Wirasaba dan Samba saling berpandangan sejenak. Mereka sama-sama mengangkat bahu, tanda tak mengerti. Sesaat kemudian, kedua orang pemuda itu bergegas menyusul adik seperguruannya.

Anggini yang telah tiba di depan pondok Begawan Madapati, bergegas masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tampak Begawan Madapati tengah duduk bersila di atas balai-balai bambu. Sepertinya kakek itu memang sudah mengetahui, dan menunggu kedatangan murid perempuan satu-satunya ini.

“Eyang...!” sapa Anggini yang langsung bersujud beberapa langkah di bawah balai-balai tempat kakek itu duduk.

“Hm.... Bangkitlah, Cucuku,” ujar Begawan Madapati tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang semakin panjang. Sepasang matanya menatap lembut dan penuh kasih.

“Eyang, aku....”

Begawan Madapati mengangkat tangannya mencegah gadis itu berbicara. Rupanya kakek itu pun sudah mengetahui apa yang akan diutarakan muridnya. Dan pada saat itu, tampak dua orang pemuda yang juga menjadi muridnya tengah melangkah masuk.

“Eyang...!” sapa kedua orang pemuda itu sambil menjatuhkan diri, berlutut di dekat Anggini.

“Hm.... Ada apa kalian datang menghadap kepadaku, Cucuku?” tanya Begawan Madapati kepada kedua orang pemuda yang tak lain Wirasaba dan Samba.

“Tidak ada apa-apa, Eyang. Kami hanya merasa bingung melihat sikap Adik Anggini yang seperti tengah menghadapi persoalan. Kami minta maaf karena telah berani menghadap Eyang tanpa dipanggil,” sahut Wirasaba mewakili Samba yang hanya terdiam menatapnya.

“He he he...! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Cucuku. Kalian berdua boleh pergi untuk melanjutkan latihan kalian,” kilah Begawan Madapati tersenyum lembut.

“Baiklah, Eyang. Kami berdua mohon pamit” Setelah melemparkan pandang ke arah Anggini sejenak, kedua orang pemuda itu pun bergegas keluar.

Begawan Madapati hanya menganggukkan kepala sambil tangannya tak lepas dari jenggot yang berwarna putih itu. Setelah Wirasaba dan Samba pergi, kakek itu mengalihkan perhatiannya pada Anggini. Gadis itu memang tengah menatapnya seperti mohon penjelasan.

“Kau mencari pamanmu, bukan?” tanya kakek itu seraya tersenyum lembut.

“Betul, Eyang. Karena paman telah berjanji akan menceritakan tentang pengalamannya kepadaku. Tapi ketika aku menemuinya, ternyata sudah tidak ada di pondoknya.. Aku mohon petunjuk Eyang. Di manakah Paman Kembara bisa kutemui?” pinta Anggini. Suaranya agak menggeletar karena mulai merasa sesuatu yang terjadi dengan pamannya itu.

'Hm.... Ia telah minta maaf kepadamu, Cucuku. Pamanmu terpaksa belum bisa memenuhi janji, karena pagi-pagi sekali telah kuperintahkan untuk melihat beberapa desa yang tengah dilanda musibah,” Begawan Madapati.

“Di manakah itu, Eyang. Bolehkah aku menyusulnya?” tanya Anggini disertai wajah sedih karena sang Paman ternyata sudah pergi meninggalkan lembah.

“Sebaiknya jangan, Cucuku. Tempat itu sangat jauh. Dan lagi, Eyang tidak tahu desa mana yang akan ditujunya lebih dulu. Lebih baik tunggu saja kedatangannya. Di samping itu, kau harus tetap berlatih untuk menyempurnakan semua yang diajarkan pamanmu. Tentu dia akan gembira apabila sekembalinya nanti, kepandaianmu telah jauh lebih sempurna. Tapi Eyang tidak dapat memastikan, kapan pamanmu akan kembali,” jawab Begawan Madapati.

Memang, ucapan Begawan Madapati adalah pesan Kembara kepada gadis itu. Meskipun kakek itu sudah dapat menerka apa yang saat itu dirasakan muridnya, namun ia berpura-pura tidak tahu.

Anggini terdiam untuk beberapa saat lamanya. Hatinya merasa berduka sekali atas kepergian paman sekaligus gurunya. Kini mulai disadari, betapa sunyi dan tidak bergairah tanpa Paman Kembara. Dia telah pergi tanpa diketahui di mana pastinya berada. Ingin rasanya Anggini menangis untuk menumpahkan segala perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Namun ia berusaha menahan jatuhnya air mata. Rasanya memang tidak pantas menangis di hadapan eyang gurunya.

“Eyang, izinkanlah aku melihat-lihat keramaian di desa yang berada di bawah lembah? Aku.... Aku ingin sekali, Eyang,” pinta Anggini Gadis itu sudah hampir tidak kuat lagi menahan kesedihannya. Maka, cepat-cepat wajahnya ditundukkan untuk menyembunyikan sepasang matanya yang mulai tergenang air.

Begawan Madapati bukannya tidak mengetahui apa yang tengah dirasakan cucu muridnya. Meskipun Kembara dan gadis itu tidak pernah menceritakan apa-apa kepadanya, namun melihat sikap Anggini, kakek itu yakin kalau di antara mereka telah terjalin suatu hubungan yang belum diketahui seberapa jauhnya.

“Baiklah. Mintalah kepada kedua orang kakak seperguruanmu untuk menemani. Hal itu akan lebih baik bagimu. Karena selain kau seorang gadis, kau juga belum pernah terjun ke dunia ramai,” ujar Begawan Madapati mengizinkan permintaan gadis itu.

Laki-laki tua itu bukan tidak mengetahui kalau Anggini hanya sekadar ingin menghibur hati saja. Itulah sebabnya, mengapa ia memberi izin. Dan sebelum gadis itu meninggalkan pondoknya, kakek itu memberi nasihat-nasihat yang sekiranya perlu. Gadis itu juga diperintahkan untuk memanggil kedua orang kakak seperguruannya.

Anggini segera pamitan untuk menjalankan perintah eyang gurunya. Sesampainya di luar pondok, gadis cantik itu segera berlari ke tepi sungai. Di sana segala kepedihan hatinya ditumpahkan. Hal itu dilakukannya di tempat tersembunyi, karena tidak ingin ada seorang pun yang tahu. Termasuk, kedua orang kakak seperguruannya.

Setelah puas menumpahkan segala kesedihannya, gadis itu pun merendam tubuhnya di dalam air sungai yang sejuk dan jernih. Seluruh tubuhnya dibersihkan agar tidak terlalu kentara kalau baru saja habis menangis. Begitu tubuhnya terasa agak segar, Anggini kembali mengenakan pakaiannya. Bergegas dia memberitahukan dua orang kakak seperguruannya tentang pesan Begawan Madapati.

Kini mereka bersama-sama menuju pondok Begawan Madapati Setelah memberi hormat sebcntar, mereka kemudian duduk berdampingan. Begawan Madapati lalu memberi nasihat-nasihat yang mungkin akan diperlukan dalam perjalanan murid-muridnya itu. Sesudah merasa yakin kalau ketiga orang muridnya telah benar-benar memahami, maka kakek itu pun segera melepas ketiganya.

“Kuberi waktu kalian selama satu bulan untuk melihat-lihat desa. Dan setelah itu, walaupun apa yang terjadi, kalian harus kembali. Mengerti?!” pesan Begawan Madapati.

“Baik, Eyang. Dan kami akan selalu mengingat pesan-pesan Eyang. Kami mohon pamit, Eyang,” ucap mereka bertiga mantap.

*******************

EMPAT

Belasan pasang mata di dalam kedai makan itu memandang ke arah pintu yang terbuka lebar. Saat itu tampak tiga sosok tubuh melangkah tenang memasuki tempat itu. Beberapa orang di antara pengunjung segera menundukkan kepala ketika salah seorang dari tiga sosok tubuh itu berbisik lirih. Rupanya pengunjung kedai itu sudah dapat menduga, siapa ketiga orang muda yang memasuki kedai. Sedangkan ketiga anak muda yang tak lain dari Wirasaba, Samba, dan Anggini itu terus saja mengambil tempat tanpa mempedulikan orang-orang itu.

Wirasaba mengulapkan tangannya memanggil pelayan kedai yang kemudian segera menghampiri. Setelah menerima pesanan dari pemuda gagah itu, pelayan itu pun kembali berlalu.

“Hm.... Rasanya senang sekali bisa melihat tempat ramai seperti ini. Bagaimana dengan kalian?” tanya Wirasaba memecah keheningan di antara mereka. Wajah pemuda gagah itu nampak berseri-seri. Seakan-akan, ia memang benar-benar menikmati perjalanan ini.

“Aku pun merasa gembira, Kakang. Di sini bisa melihat wajah-wajah asing yang menyenangkan. Sedangkan selama ini aku hanya dapat melihat wajah-wajah kalian yang membosankan,” gurau Samba. Seperti halnya Wirasaba, dia pun begitu menyenangi perjalanan ini. Pemuda bertubuh sedang dan berwajah halus itu mengakhiri ucapannya dengan gelak berkepanjangan.

Sedangkan Anggini yang semula hanya menunduk menatap lantai, mengangkat kepalanya begitu mendengar gurauan Samba. Gadis cantik itu mencoba mengimbangi kegembiraan kedua orang kakak seperguruannya dengan berusaha memperdengarkan suara tawanya. Tapi sayang, Anggini tidak berhasil. Karena, suara tawanya terdengar demikian getir dan sumbang. Gadis yang biasanya selalu lincah dan pandai bicara itu seperti masih merasa sedih. Terutama bila teringat kepergian Kembara yang tanpa pamit itu.

Wirasaba dan Samba saling tukar pandang ketika mendengar nada getir dalam tawa adik seperguruannya itu. Mereka yang tidak mengetahui duduk persoalannya, tentu saja jadi bingung.

“Ada apa, Adik Anggini? Sepertinya kau tidak menikmati perjalanan kita ini?” tegur Samba lembut Pemuda berwajah halus ini mencoba mencari tahu, apa yang menyebabkan gadis itu tidak gembira. Sebab, ia tidak ingin kalau kegembiraan itu hanya milik dirinya dengan kakak seperguruannya. Samba pun ingin agar Anggini ikut pula merasa kan kegembiraan seperti mereka.

“Hhh.... Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing. Sebentar juga akan segera pulih,” kilah Anggini. Gadis itu juga segera melebarkan senyumnya untuk menghilangkan rasa kecurigaan kedua orang kakak seperguruannya itu.

“Hei! Itu pesanan kita sudah datang!” seru Anggini kemudian. Rupanya saat itu si pelayan kedai sudah membawa pesanan ketiga orang itu dan menghidangkannya diatas meja.

Tanpa banyak cakap lagi, mereka segera menyantap hidangan yang jarang mereka nikmati di lembah. Wirasaba dan Samba tampak betul-betul menikmati makanan itu. Sehingga, sama sekali tidak memperhatikan betapa Anggini menatap keduanya dengan hati tergelitik. Merasakan adanya suatu keanehan, Wirasaba dan Samba menolehkan kepala berbarengan. Mereka menjadi heran melihat Anggini tengah memandang sambil menyembunyikan senyum dengan telapak tangan.

“Ada apa, Anggini?” tanya Wirasaba agak tersipu, karena mulai dapat menduga apa yang menyebabkan jadis cantik itu tersenyum.

“Hi hi hi..! Kalian seperti orang yang tidak pernah makan saja. Memalukan!” sahut gadis itu. Anggini benar-benar tidak dapat lagi menahan tawanya.

Samba dan Wirasaba saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama tergelak ketika tersadar akan kelakuannya yang persis seperti orang kelaparan itu. Selain itu, mereka gembira karena melihat Anggini yang sudah mendapatkan kegembiraannya kembali. Mendadak saja, kegembiraan mereka terganggu dengan masuknya seorang pemuda jangkung berkulit coklat Di belakangnya tampak dua orang berseragam hitam mengiringi. Begitu masuk, ia langsung menatap ke arah Wirasaba, Samba, dan Anggini.

“Hm.... Mengapa ribut sekali? Seperti kerbau saja? Atau memang kedai ini sudah berubah menjadi kandang kerbau?” ejek laki-laki jangkung itu, menghina. Setelah berkata demikian sepasang matanya menjelajahi tubuh dan wajah Anggini. Sesaat ia nampak termangu melihat kecantikan gadis itu. Namun sesaat kemudian, pemuda itu mengedikkan kepalanya dengan sikap sombong.

Anggini dan dua orang kakak seperguruannya saling bertukar pandang sejenak. Wirasaba dan Samba mengisyaratkan adik seperguruannya agar tidak mempedulikan pemuda sombong itu. Namun Anggini yang merasa kegembiraannya terganggu, sudah menjadi marah. Sama sekali tidak digubris isyarat yang diberikan kedua orang kakak seperguruannya itu. Gads cantik itu sudah bangkit dan memandang dengan sinar mata galak.

“Hei, Lutung Kesasar! Apakah kau tidak tahu jalan pulang menuju hutan, sehingga berkaok-kaok tidak karuan!” bentak Anggini sambil bertolak pinggang, seraya melangkah menghampiri pemuda jangkung yang melontarkan hinaan itu.

“Kurang ajar kau, Setan Betina! Jangan mentang-mentang cantik, lalu bisa berbuat semaumu! Ketahuilah! Aku adalah putra penguasa di desa ini, dan bisa menangkapmu karena telah berani menghinaku di depan orang banyak!” bentak pemuda itu, pongah. Memang, sebagai seorang putra kepala desa, ia biasa diperlakukan secara hormat oleh para penduduk di sekitarnya.

"Tuan muda! Biar kami tangkapkan setan betina cantik itu untukmu,” kata salah seorang laki-laki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukulnya. Sepertinya, dia ingin mencari jasa di hadapan tuan mudanya itu.

“Hmh...!” Terdengar suara dengusan dari pemuda jangkung itu. Tangannya segera dikibaskan untuk mencegah tukang pukulnya yang sudah bergerak maju. Sepasang matanya menjelajah liar setiap jengkal tubuh padat berisi milik Anggini.

“Biar aku saja yang akan menundukkannya. Kalian berjaga-jaga sajalah. Siapa tahu, kedua kerbau itu akan membelanya,” ujar si pemuda jangkung dengan sikap sangat memandang rendah.

“Anggini. Jangan mencari keributan di sini, Adikku. Marilah kita pergi. Jangan ladeni lutung hitam itu,” bujuk Wirasaba mencoba mencegah perkelahian yang akan terjadi.

Setelah meletakkan beberapa uang logam di atas meja, pemuda gagah itu pun bergegas menarik lengan Anggini dan membawanya ke luar. Sementara Samba mengikuti dari belakang sambil berjaga-jaga kalau-kalau dua orang tukang pukul pemuda jangkung itu berbuat curang.

“Tunggu...!” cegah pemuda jangkung itu sambil melintangkan tangan di depan pintu kedai. Wajahnya yang kecoklatan itu tampak semakin gelap ketika mendengar pemuda gagah itu memakinya sebagai lutung hitam.

“Biarkanlah kami lewat, Kisanak. Kami tidak ingin mencari keributan di sini,” kata Samba halus. Samba berusaha menekan kemarahannya melihat kesombongan pemuda jangkung yang memuakkan itu. Hal ini karena ia teringat akan pesan eyang gurunya agar tidak mencari keributan dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.

“Hm.... boleh saja. Tapi ada syaratnya,” sahut pemuda jangkung putra kepala desa itu sinis dan angkuh.

“Apa syaratnya?” tanya Wirasaba yang sudah hampir tidak bisa menahan rasa sebal melihat wajah yang angkuh itu. Memang, baru menjadi putra kepala desa, pemuda itu sudah sedemikian sombongnya. Entah bagaimana jadinya kalau jadi putra seorang raja atau adipati? Mungkin ia akan semakin bertambah besar kepala.

“He he he.... Kalian berdua boleh meninggalkan tempat ini dengan cara merangkak di bawah kakiku! Tapi, tinggalkan gadis cantik yang galak itu untukku!” pemuda jangkung itu terkekeh penuh ejekan.

“Betul.... Betul...!” sambut dua orang tukang pukul pemuda itu sambil mengangguk-anggukkan kepala per-tanda gembira.

Merah selebar wajah Wirasaba dan Samba ketika mendengar ucapan pemuda jangkung itu. Tubuh mereka gemetar menahan kemarahan yang menyesakkan dada. Sedangkan tanggapan Anggini lain lagi. Begitu mendengar syarat yang diajukan pemuda jangkung itu, tubuhnya langsung melesat dan melakukan dua kali tamparan berturut-turut. Gerakannya demikian cepat dan tiba-tiba, sehingga tak seorang pun yang sempat menyadarinya.

Plakl Plak!

“Akh...!” Si pemuda jangkung menjerit kesakitan. Tubuhnya langsung terjerembab menabrak meja yang berada di belakangnya. Darah segar tampak mengucur membasahi wajah. Rupanya selain bibimya pecah, beberapa buah giginya pun tanggal akibat tamparan kuat yang dilepaskan Anggini.

“Bangsat kau, Setan Betina! Kau akan membayar mahal akibat perbuatanmu ini!” ancam pemuda jangkung itu dengan suara terpatah-patah sambil memegangi wajahnya. Tangannya bergerak meraba gagang golok yang menyembul di balik bajunya.

Dua orang berseragam hitam yang menjadi tukang pukul putra kepala desa itu terpaku bingung. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana gadis itu tahu-tahu bisa menampar wajah majikannya. Dan yang lebih mem-bingungkan, kedua orang itu sampai tidak mengetahui kapan gadis itu melakukan tamparan. Sebab, tadi mereka hanya melihat sebuah bayangan melesat cepat dan sukar diikuti pandang mata.

“Rasakanlah, Pemuda Bobrok! Untung aku masih bermurah hati tidak langsung membunuhmu! Ayo kita pergi, Kakang!” ajak Anggini yang segera beranjak meninggalkan kedai makan itu.

“Tangkap ketiga orang pengacau itu!” teriak si pemuda jangkung itu.

Seketika kedua orang tukang pukulnya pun langsung melesat melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya.

“Berhenti..!”

Wirasaba, Samba, dan Anggini menghentikan larinya ketika belasan sosok tubuh berdiri menghadang jalan mereka. Belasan laki-laki itu telah menghunus senjata masing-masing dengan sikap mengancam. Ketiga orang murid Lembah Gunung Tangger itu bergegas membalikkan tubuhnya untuk mencari jalan lain. Namun mereka kembali terkejut ketika di belakang pun telah berdiri belasan orang yang juga mengenakan seragam hitam. Tampaknya, tidak ada jalan lolos lagi bagi ketiga anak muda itu.

“Hm.... Mau lari ke mana kalian? Jangan harap bisa keluar dari desa ini dalam keadaan hidup!” ujar salah seorang dari tukang pukul pemuda jangkung itu. Sepertinya, dia merupakan pimpinan para pengepung itu.

Sadar kalau tidak mungkin dapat lolos, maka Samba, Wirasaba, dan Anggini pun mulai bersiap menghadapi keroyokan orang-orang itu. Tadi pun mereka lari bukan karena takut, tapi karena berusaha untuk menghindari keributan. Hal ini merupakan pesan Begawan Madapati, sebelum mereka berangkat. Namun, kali ini sepertinya mereka tidak memiliki pilihan lain.

“Bunuh kedua orang pemuda keparat itu! Dan tangkap gadis galak yang binal itu!” perintah salah seorang dari tukang pukul putra kepala desa sambil bergerak maju mengibas-ngibaskan goloknya.

“Heaaat..!”

Tukang pukul yang berjumlah sekitar tiga puluh orang lebih itu berlompatan sambil mengayunkan senjata, siap merencah tubuh kedua orang pemuda itu.

“Hati-hati! Jangan sampai kesalahan tangan hingga sampai membunuh mereka, Samba, Anggini,” bisik Wirasaba kepada kedua orang adik seperguruannya.

“Jangan khawatir, Kakang,” sahut Samba.

Pemuda itu tidak merasa gentar sedikit pun. Padahal, jumlah lawan lebih banyak. Memang, hal itu telah menimbulkan kegembiraan di hatinya. Sebab, baru kali inilah ia terlibat dalam sebuah pertarungan sungguh-sungguh. Yang jelas, bukan pertarungan main-main seperti yang sering dilakukan bersama saudara-saudara seperguruannya atau dengan pamannya.

Wuuut! Wuuut!

Dua buah sambaran golok yang datang dari sebelah kiri, dielakkan dengan mudah oleh Samba. Kedua kakinya langsung mencelat bergantian melakukan tendangan kilat.

Bukkk! Desss!

“Hughk...!”

Dua orang pengeroyok itu kontan terjungkal ketika tubuhnya tercium ujung kaki Samba. Mereka langsung terjerembab, pingsan seketika itu juga. Memang tendangan yang dilakukan pemuda itu telak mengenai ulu hati dan dada lawannya.

“Bangsat! Mampuslah!” bentak yang lain begitu melihat lawan telah menjatuhkan dua orang kawannya hanya dengan sekali gebrak saja.

Samba yang tidak ingin tubuhnya dijadikan sasaran senjata tajam lawannya, cepat mengegoskan tubuhnya. Namun sebelum sempat membalas, pengeroyok lain sudah datang mengancam. Terpaksa pemuda itu harus kembali berkelit, dan melompat ke belakang.

Sementara itu, para penduduk yang menyaksikan pertempuran dari tempat yang agak jauh, terlihat mencemaskan ketiga anak muda yang tidak mereka kenal itu. Sepertinya, para penduduk memang tidak begitu suka terhadap putra kepala desa dan para tukang pukulnya. Hal itu terbukti dari pembicaraan beberapa penduduk yang menonton pertarungan itu.

“Kasihan sekali ketiga anak muda itu, Ki. Mereka pasti akan tewas di tangan tukang-tukang pukul itu,” bisik salah seorang pemuda berwajah kehitaman karena terlalu sering terpanggang sinar matahari.

“Yahhh! Tapi mudah-mudahan saja mereka dapat menyelamatkan diri. Kelihatannya, mereka bukan orang-orang sembarangan. Mungkin, mereka itulah yang disebut sebagai pendekar. Lihat saja. Bukankah mereka tidak menggunakan senjata? Malahan para tukang pukul itu hanya dipukul roboh. Jelas, ketiga anak muda itu adalah orang baik-baik,” sahut laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, menimpali ucapan pemuda berwajah kehitaman itu.

Beberapa batang tombak dari kedua orang penduduk yang tengah menyaksikan pertarungan itu, tampak seorang pemuda tampan berjubah putih, dan seorang gadis cantik berpakaian ketat serba hijau. Pandang mata mereka bergerak mengikurJ jalannya pertarungan. Wajah mereka juga tampak tenang, tidak seperti kedua orang penduduk yang berbicara tadi.

“Hm.... Sepertinya ketiga anak muda itu adalah murid orang sakti. Dan mereka pasti baru saja turun gunung, Kakang. Sebenarnya mereka dapat menjatuhkan musuh-musuhnya lebih cepat. Jelas sekali kalau ketiga orang itu memiliki ilmu-ilmu tingkat tinggi. Ini bisa dilihat dari gerakan mereka. Hanya saja, mereka tampak masih ragu-ragu dalam setiap melontarkan serangan balasan,” kata gadis jelita laksana bidadari itu. Sepasang matanya yang tajam dan berbentuk indah, tak pernah lepas dari arena pertarungan.

“Hm...!” gumam pemuda tampan berjubah putih itu tak jelas. Walaupun demikian, tampak kepala pemuda itu terangguk-angguk sebagai tanda kalau mempunyai pendapat yang sama dengan gadis itu. Siapa lagi kedua orang itu, kalau bukan Pendekar Naga Putih dan kekasihnya, Kenanga.

LIMA

“Haaat..!”

Wuuur!

Wirasaba menarik kaki kanannya ke belakang sambil memutar tubuhnya. Begitu sambaran golok itu lewat, secepat kilat tangan kirinya terayun menghajar dagu lawan.

Desss!

“Aaakh...!” Orang itu kontan terjengkang ke belakang. Dan sebelum tubuhnya terjatuh, Wirasaba kembali mengirimkan tendangan ke dada. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu ambruk tak bangun-bangun lagi. Kini Wirasaba mengarahkan serangan pada dua orang pengeroyoknya. Maka akibatnya....

Bugkh! Dugkh!

“Ugkh...!”

Dua orang pengeroyok seketika terpelanting pingsan saat pelipis dan ulu hati mereka terkena sambaran tangan pemuda gagah itu. Meskipun dalam keadaan sibuk, Wirasaba tetap menjaga pukulan agar jangan sampai membuat pengeroyok tewas.

Di tempat lain, Anggini pun sudah pula menjatuhkan dua orang pengeroyoknya. Seperti halnya Wirasaba dan Samba, gadis itu juga mematuhi pesan gurunya agar tidak mudah menurunkan tangan kejam terhadap setiap lawan.

“Yeaaah...!”

Dua orang pengeroyok melompat tinggi sambil mengayunkan golok bersilangan. Namun gadis itu cepat menyambut dengan gerakan berputar. Kaki dan tangannya bergerak melakukan tamparan dan tendangan.

Plakkk! Desss!

Kedua orang itu terpental balik disertai semburan darah segar yang membasahi bumi. Setelah merasakan sakit sesaat, tubuh keduanya tak berkutik lagi. Pingsan. Salah seorang pimpinan pengeroyok yang berseragam hitam dan berkumis tebal, marah bukan main. Golok panjang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga menimbulkan deru angin keras.

"Haaat..!”

Wuuut! Wuuut!

Golok panjang di tangan si kumis tebal menusuk dan membacok berkali-kali. Di sini, Anggini tampak memperlihatkan kegesitan tubuhnya. Kedua kakinya bergerak lincah, berlompatan menghindari ancaman mata golok lawan. Sehingga, serangan si kumis tebal selalu mengenai tempat kosong.

Setelah lima jurus menyerang tanpa hasil, napas orang itu terlihat mulai memburu. Hal itu dikarenakan ia terlalu bernafsu dalam melancarkan serangan. Dan tentu saja hal itu membuatnya cepat menjadi lelah. Melihat serangan lawan mulai mengendur, Anggini pun merubah gerakannya. Tubuh gadis itu berkelebatan cepat sambil melontarkan pukulan dan tendangan keras. Dalam dua jurus saja, sebuah pukulan sisi telapak tangannya singgah di batang leher lawan.

Desss!

“Hegkh...!”

Kedua mata si kumis tebal itu mendelik. Darah seketika meleleh di sudut bibimya. Tubuhnya yang agak gemuk itu pun langsung roboh tanpa dapat bangkit lagi.

“Anggini, lari...!” tiba-tiba terdengar teriakan Wirasaba. Gadis cantik itu pun bergegas menolehkan kepalanya. Begitu kedua orang kakak seperguruannya terlihat meninggalkan tempat itu, maka Anggini pun segera melesat meninggalkan empat orang lawannya yang hanya berdiri bengong memandang mereka.

“Keparat! Tunggulah kau, Gadis Culas! Suatu hari, pasti kau akan dapat ditemukan! Dan pada saat itu kau akan tahu, siapa sebenarnya aku!” si pemuda jangkung putra kepala desa itu berteriak-teriak kalang-kabut. Dari sinar matanya yang dipenuhi dendam, jelas bahwa itu bukan hanya gertakan!

Namun ketiga anak muda itu sama sekali tidak mempedulikan si pemuda jangkung. Mereka terus saja berlari melewati mulut desa.

“Wah! Bagaimana ini, Kakang? Apakah kita harus kembali ke lembah?” tanya Samba meminta pendapat Wirasaba. Rupanya pemuda tampan itu belum puas dengan perjalanannya. Dan semuanya memang tidak ada yang bisa menjawab. Mereka benar-benar bingung, ke mana harus pergi. Atau, sebaiknya kembali saja?

“Hm.... Awas kau putra kepala desa yang manja! Suatu hari, aku akan datang untuk mengambil nyawamu!” gumam Samba geram. Sepasang mata pemuda tampan itu mengeluarkan sinar berkilat ketika teringat pemuda jangkung yang inerusak kegembiraan dan perjalanan mereka. Dan ini mereka harus berpikir dua kali bila ingin melanjutkan perjalanan.

“Aku pun baru sekarang merasa geram kepada pemuda sombong itu. Ingin rasanya batang lehernya kupuntir agar tidak mempunyai kepala lagi! Dengan begitu, ia tidak akan dapat sombong lagi!” kata Wirasaba sambil memukulkan tinju kanan ke telapak tangan kirinya. Jelas kalau bukan hanya Samba saja yang merasa dendam.

“Ahhh! Kalian ini bagaimana, sih? Tadi mati-matian ingin meloloskan diri dan tidak mau memberi pelajaran kepada pemuda itu. Lalu, mengapa sekarang berubah pikiran?” tanya Anggini yang menjadi tidak mengerti melihat sikap kedua orang saudara seperguruannya.

“Karena baru sekarang aku sadar kalau pemuda sombong itu telah merebut kegembiraan kita! Orang seperti itu sepantasnya memang tidak boleh dibiarkan hidup lama-lama. Sebab, ia hanya akan mendatangkan kesusahan saja bagi orang lain!” sahut Samba yang belum hilang rasa jengkelnya.

“Sudahlah. Kita lihat-lihat desa lain saja. Mudah-mudahan saja sebelum malam kita sudah menemukan desa,” usul Wirasaba.

“Kalau kemalaman di jalan, tidur di dalam hutan saja. Bukankah itu lebih enak?” timpal Samba.

“Hm.... Rasanya tidak terlalu jelek,” gumam Anggini sambil tersenyum. Namun, senyum gadis itu ternyata tidak mendapat sambutan. Karena, sepertinya baik Samba maupun Wirasaba masih teringat akan kejadian yang baru saja dialami tadi.

“Ayolah. Lebih baik kita percepat perjalanan.” Sambil berkata demikian, Wirasaba pun segera menggenjot tubuhnya yang langsung melesat cepat. Samba dan Anggini pun tidak mau ketinggalan. Mereka bergegas menyusul Wirasaba yang telah berada cukup jauh di depan.

*******************

Dalam keremangan cahaya rembulan, sesosok tubuh tinggi kekar tampak berloncatan di antara atap-atap rumah penduduk. Pakaian serba hitam yang dikenakan, semakin menyamarkan sosok tubuhnya yang bergerak demikian gesit dan ringan. Pijakan kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara yang berarti.

Sosok bayangan hitam itu terus bergerak dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Tak berapa lama kemudian, sosok itu pun menghentikan larinya di atas sebuah rumah yang paling besar di Desa Banjar. Jika dilihat dari adanya beberapa penjaga di halaman, dapat ditebak kalau itu pasti rumah kediaman Kepala Desa Banjar.

Pada sebuah pelataran yang sepi dan agak gelap, sosok itu pun melayang turun. Satu persatu, ditelitinya kamar yang terdapat di dalam rumah itu dari luar. Kemudian, tubuhnya menyelinap melalui pintu samping. Hebat! Hanya dengan menempelkan telapak tangannya, maka pintu itu langsung terbuka! Rupanya dia tidak mengalami kesulitan untuk membuka pintu yang semula terkunci.

Dengan mengendap-endap, sosok itu pun melangkah hati-hati menuju ke sebuah kamar. Kemudian telapak tangannya kembali ditempelkan pada pintu kamar, dan didorongnya periahan. Pintu itu pun terbuka. Dari caranya membuka pintu, sudah dapat diduga kalau dia memiliki tenaga dalam tinggi!

Perlahan-lahan dihampirinya sesosok tubuh jangkung yang tengah terbaring di atas tempat tidur dari kayu jati berukir. Sejenak dipandanginya wajah berkulit kecoklatan yang tengah terlelap itu. Wajah yang tak lain milik si pemuda jangkung, putra Kepala Desa Banjar.

“Bangun kau, Keparat!” bisik sosok tubuh itu. Suaranya lirih, namun mengandung kegeraman yang amat sangat.

Tentu saja pemuda jangkung yang tengah terlelap itu tersentak kaget! Ia merasa heran, bagaimana orang itu dapat masuk ke dalam kamarnya yang terkunci rapat? “Si... siapa kau...? Apa..., apa maksudmu datang ke sini...?” tanya si pemuda jangkung gugup. Keringat dingin membasahi tubuh pemuda itu ketika goloknya yang digantung di dinding kamar ternyata telah tergenggam di tangan orang itu.

“Hm.... Pemuda culas! Kau tidak pantas hidup lebih lama di permukaan bumi ini! Berdoalah, agar tidak masuk ke dalam neraka!” geram sosok tubuh itu bernada maut. Setelah berkata demikian, golok itu diangkatnya tinggi-tinggi siap dihunjamkan ke tubuh si pemuda jangkung yang menjadi pucat ketakutan.

Wuuut!

“Aaah...!” Si pemuda jangkung terpekik tertahan. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang untuk menghindari sambaran golok itu.

“Tolooong...! Ada pembunuh...!” teriak pemuda itu ketakutan. Lupalah sudah dia akan kesombongannya. Rasa takut ternyata telah mengalahkan nyalinya.

“Hm.... Berteriaklah sepuasmu, Bangsat Rendah! Biar bagaimana pun, kematian tetap menjemputmu malam ini!” ancam sosok tubuh berpakaian serba hitam itu. Sama sekali hatinya tidak merasa khawatir dengan teriakan pemuda jangkung itu.

Dan memang, di luar sana terdengar suara-suara ribut, ditingkahi langkah-langkah kaki orang yang berlari mencari sumber teriakan tadi. Suasana sepi di rumah besar itu seketika gempar.

“Nah, terimalah kematianmu!” Setelah berkata demikian, sosok tubuh itu pun menggerakkan golok di tangannya dengan kecepatan begitu tinggi. Sinar putih bergulung-gulung menimbulkan suara angin yang menderu. Satu dua serangan memang masih berhasil dielakkan pemuda jangkung yang memang bukan orang lemah itu. Namun, kepandaian sosok berbaju hitam itu memang jauh lebih tinggi darinya. Akibatnya, ia pun tidak mampu untuk menyelamatkan diri dari serangan selanjutnya.

Bret! Bret!

“Aaa...!” Si pemuda jangkung menjerit setinggi langit ketika dua kali sambaran golok berhasil membeset tubuhnya. Darah segar seketika menyembur membasahi lantai dan tempat tidurnya. Tubuh jangkung itu pun terhempas, tewas di atas pembaringan. Dua buah luka menganga tampak pada bagian perutnya.

Pada saat yang bersamaan, pintu kamar yang tadi telah ditutup, ditendang oleh seseorang dari luar. Dan kini empat orang penjaga berlompatan masuk.

“Keparat! Iblis dari mana kau hingga berani membuat kerusuhan di tempat ini?” bentak salah seorang penjaga. Seketika mata penjaga itu terbelalak saat melihat tubuh majikan mudanya terbujur berlumuran darah di atas pembaringan.

“Hmh...!” Sosok tubuh berpakaian hitam itu hanya bergumam perlahan. Tampaknya ia sama sekali tidak merasa khawatir atas kedatangan para penjaga itu. Disertai bentakan keras, tubuhnya meluncur ke arah pintu. Kedua tangannya berputaran menimbulkan angin keras, kiri-kanan akibat tamparan dan tendangan sosok berpakaian hitam itu. Para penjaga itu tak mampu bangkit lagi. Pingsan!

Begitu tiba di luar kamar, sosok itu menengadahkan kepala ke langit-langit rumah. Sesaat kemudian, tubuhnya digenjot untuk menjebol atap rumah besar itu. Dengan menggunakan kepandaian ilmu meringankan tubuhnya, sosok berpakaian hitam itu kembali berloncatan dari satu atap ke atap rumah lainnya. Tidak lama kemudian, dia lenyap ditelan kegelapan malam.

Sementara itu, kentongan tanda bahaya telah bergema memenuhi seluruh penjuru desa. Obor pun tampak bermunculan dari dalam rumah-rumah penduduk. Hanya dalam sekejap saja, malam yang semula hening dan sepi menjadi ramai oleh suara kentongan yang ditingkahi teriakan-teriakan ribut. Sedangkan saat itu, si pembuat keributan dan kegemparan telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Puluhan penduduk berbondong-bondong mendatangi rumah kepala desa. Dalam sekejap saja, halaman rumah besar yang semula sepi itu telah dipenuhi penduduk desa. Memang, mereka ingin mengetahui, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah kepala desa mereka itu. Seorang laki-laki tinggi kurus yang berusia sekitar lima puluh tahun berdiri tegak di serambi yang terletak di depan rumah. Matanya merayapi orang-orang di sekitarnya, sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

“Saudara-saudara! Kalian boleh pulang ke rumah masing-masing, karena tidak ada yang dapat diperbuat di sini!” ujar laki-laki tinggi kurus itu yang rupanya adalah Kepala Desa Banjar.

“Apa sebenarnya yang sudah terjadi, Ki? Bolehkah kami mengetahuinya?” tanya salah seorang laki-laki berwajah bulat. Sepertinya, ia masih merasa penasaran kalau belum mengetahui kejadian yang menimpa keluarga kepala desanya.

“Hm.... Entah kesalahan apa yang telah diperbuat putraku, sehingga malam ini ada seorang pembunuh yang telah menghukumnya secara kejam!” sahut kepala desa, dengan wajah berduka. “Nah! Sekarang, kalian pulanglah. Jangan-jangan si pembunuh itu mendatangi rumah kalian!”

Mendengar ucapan itu, para penduduk pun segera berlarian kembali ke rumah masing-masing. Wajah-wajah mereka tampak dibayangi kecemasan hebat. Sedangkan di dalam kamar tempat pembunuhan itu terjadi, terdengar tangisan yang memilukan. Empat orang penjaga yang tadi tergeletak pingsan telah digotong ke luar. Hanya mayat si pemuda jangkung itulah yang masih tetap terbujur di atas pembaringan. Seorang wanita gemuk berusia sekitar empat puluh tahun tampak merintih sambil membelai wajah mayat yang mulai membeku.

Sementara malam semakin bertambah larut. Sang rembulan tetap memancarkan sinarnya, tanpa mempeduli-kan kejadian yang menimpa anak manusia di permukaan bumi. Seorang pemuda tampan mengenakan jubah berwarna putih yang ditemani seorang gadis jelita, nampak masih berdiri di halaman rumah besar itu. Mereka tak lain adalah Panji dan Kenanga.

“Mengapa Kisanak masih juga belum pulang?” tanya seorang penjaga sambil menghampiri pasangan muda itu. Rupanya ia mengira kedua orang itu adalah penduduk desanya.

“Maaf. Kami berdua adalah seorang kelana, dan malam ini kebetulan menginap di desa ini. Mmm.... Kalau boleh, aku ingin bertemu kepala desamu,” pinta Panji. Suaranya terdengar sopan.

“Wah! Aku tidak berani, Kisanak,” desah penjaga itu yang sesekali mencuri pandang ke arah Kenanga. Rupanya kecantikan gadis itu telah membuatnya tidak bisa diam.

ENAM

“Hm.... Ada keperluan apa kau ingin menemuiku, Anak Muda?” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat ketiga orang itu menoleh.

“Ah! Maaf, Ki. Kalau diperkenankan, aku ingin melihat mayat orang yang baru saja terbunuh itu. Barangkali saja pembunuh itu dapat kukenali melalui tanda-tanda yang terdapat di tubuh korban,” sahut Panji, sehingga membuat kening lelaki setengah baya itu berkerut

“Hm.... Bagaimana kau dapat mengetahui pembunuh itu, bila hanya melihat dari tanda-tandanya saja, Anak Muda? Siapakah kau sebenamya?” tanya kepala desa itu. Rupanya, dia mulai mencurigai Panji. Pertama, pemuda itu bukan penduduk desanya. Kedua, kedatangan pemuda itu persis saat kematian putranya. Maka ia pun mulai bersikap waspada menghadapi pemuda berjubah putih itu.

“Ketahuilah, Ki. Setiap tokoh persilatan mempunyai ciri pada ilmunya. Biasanya, apabila si pembunuh itu berasal dari kalangan persilatan, maka akan meninggalkan tanda ilmunya. Nah! Dengan begitu, mudah bagi kita untuk mencari pembunuh itu. Sedangkan pemuda yang kini berada di depan Aki ini adalah Pendekar Naga Putih. Dan kebersihan jiwanya tidak perlu diragukan lagi!” tandas Kenanga. Gadis itu memang merasa tidak senang melihat sinar mata Kepala Desa Banjar yang mengandung kecurigaan itu!

“Ah...! Betulkah..., betulkah kau Pendekar Putih yang tersohor itu, Anak Muda?” tanya kepala, desa itu, penuh harap. Kemudian, dia melangkah semakin dekat untuk menegasi wajah pendekar muda yang telah menggetarkan rimba persilatan sekarang ini.

“Demikianlah orang-orang persilatan memberi julukan padaku, Ki,” jawab Panji tenang, tanpa kesombongan sedikit pun.

“Ah! Mari.., mari silakan Pendekar Naga Putih!” kepala Desa Banjar itu mengajak Panji met rumahnya.

Panji dan Kenanga segera melangkah mengikuti laki-laki setengah baya itu di belakangnya. Lalu, mereka pun memasuki sebuah kamar. Di dalamnya, tampak seorang wanita yang tengah menangisi mayat putranya.

“Sudahlah, Nyai. Pergilah beristirahat. Biarlah tuan pendekar ini yang akan memeriksanya. Siapa tahu pembunuh putra kita bisa ditemukannya,” bujuk kepala desa itu sambil menggandeng tangan istrinya, dibawanya pergi meninggalkan kamar itu.

Setelah mengantarkan istrinya ke kamar, ia pun segera kembali ke tempat mayat anaknya terbaring. Sebentar ditatapnya mayat itu, kemudian perhatiannya beralih pada Panji dan Kenanga. “Bagaimana, Pendekar Naga Putih? Apakah kau sudah bisa menduga, siapa pembunuh keji itu?” tanya lelaki setengah baya itu. Pada wajah tuanya tampak tersirat setitik harapan.

“Hhh.... Sayang sekali, Ki. Pembunuh itu ternyata orang yang sangat berpengalaman. Sengaja dia tidak mempergunakan pukulan atau senjatanya sendiri, melainkan menggunakan senjata yang tergantung di dinding itu,” jelas Panji sambil menunjuk ke arah sarung golok yang masih tergantung di binding. Sedangkan golok yang digunakan untuk membunuh, entah berada di mana.

“Hhh.... Benar-benar licik bangsat keji itu! Mungkinkah ia seorang pembunuh bayaran?” gumam orang tua itu geram.

“Entahlah. Tapi aku pernah melihat putramu ini di kedai, dekat mulut desa. Saat itu ia dan orang-orangnya tengah mengeroyok dua orang laki-laki dan seorang perempuan muda. Tapi aku tidak tahu, apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan kejadian pagi tadi atau tidak,” jelas Panji lagi. Rupanya, Pendekar Naga Putih sempat mengenali sewaktu pemuda jangkung dan anak buahnya mengeroyok Wirasaba, Samba, dan Anggini.

“Ah! Jadi, tadi pagi anakku telah membuat keributan? Hhh.... Dasar anak keras kepala! Padahal, sudah berulangkali aku menasihatinya agar tidak memancing-mancing keributan. Oh, ya. Tahukah kau, siapakah yang memulai perseBsihan itu, Anak Muda? Jawablah, tanpa harus merasa tidak enak kepadaku. Karena aku tahu, anakku memang keras kepala dan tidak mau kalah kepada orang lain,” tanya orang tua itu.

“Hm.... Kalau melihat dari sikap ketiga orang anak muda yang dikeroyoknya, dapat diambil kesimpulan kalau kesalahan itu terletak pada putra Aki. Buktinya, jika melihat gerakannya, jelas ketiga orang itu memiliki kepandaian tinggi. Dan kalau ingin, mungkin mereka dapat membunuh para pengeroyoknya. Tapi, hal itu tidak merela lakukan. Sebaliknya, malah ketiga orang itu berusaha meloloskan diri. Begitulah kejadian yang kulihat tadi pagi, Ki,” jelas Panji.

“Hhh.... Aku yakin, pembunuhan ini merupa buntut dari peristiwa pengeroyokan itu. Mungkin anakku telah melakukan kesalahan besar yang menyakitkan hati ketiga orang itu. Sebab, pembunuh itu hanya meminta korban anakku saja. Padahal kalau mau, dapat juga membunuh keempat orang penjagaku. Jadi, jelas anakkulah yang menjadi tujuannya,” kata kepala desa itu.

Tampaknya orang tua itu menyesali perbuatan putranya yang justru telah membahayakan dirinya sendiri. Dan kini, menyesal rasanya sudah terlambat. Diam-diam, dia menyalahkan diri sendiri, karena terlalu memanjakan putra satu-satunya itu.

“Aku akan menyelidiki hal ini, Ki. Aku juga ingin tahu, siapa sebenarnya yang melakukan pembunuhan ini. Dan apa yang menyebabkan orang itu melakukannya?” janji Panji. Kepala Desa Banjar itu hanya bisa mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

Setelah berkata demikian, Panji dan Kenanga pun pamitan untuk kembali ke penginapan. Sekali lagi orang tua itu mengucapkan rasa terima kasihnya. Kemudian, ia mengantarkan kepergian kedua orang mendekar muda itu hingga gerbang rumahnya. Pendekar Naga Putih dan Kenanga melangkahkan kaidnya menerobos kegelapan malam yang mulai men-jelang pagi. Kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi.

*******************

“Tolong...! Kantung uangku dicuri! Oh, tolong...!” Seorang wanita setengah baya berteriak-teriak minta tolong. Sedang tangannya menunjuk ke arah seorang laki-laki kurus berwajah kumal yang berlari dan menyelinap di antara keramaian pasar.

Sedangkan orang-orang yang tengah berbelanja dan berdagang di pasar hanya menolehkan kepala jenak, kemudian kembali melanjutkan kegiatan tanpa mem-pedulikan kejadian itu. Sepertinya, orang-orang di pasar telah mengenal betul lelaki kurus yang nencuri kantung uang wanita itu. Mereka tidak ingin nencampurinya, karena takut akan akibatnya. Paling tidak, pencuri itu akan mencegat dan menganiaya bersama kawan-kawannya. Maka, orang-orang itu terpaksa menulikan telinganya dan berpura-pura tidak tahu.

Dua orang pemuda dan seorang gadis cantik yang tengah menikmati keramaian pasar, tersentak ketika nen-dengar jeritan minta tolong. Mereka langsung menoleh ke arah asal teriakan tadi. Kening mereka berkerut dalam ketika melihat seorang laki-laki kurus dan kumal berlari cepat. Di tangan kanannya tampak tergenggam kantung uang.

“Hm.... Mengapa orang-orang di pasar ini hanya diam saja?” gumam Wirasaba. Pemuda itu benar-benar heran ketika tidak melihat seorang pun yang berusaha mengejar si pencuri.

“Mungkin mereka takut, Kakang,” sahut Samba.

Lain halnya dengan wanita cantik yang tak lain! Anggini. Tanpa berkata sepatah pun, dia segera melesat mengejar lelaki kurus itu. Hanya beberapa kali lompatan saja, tubuh gadis itu telah berdiri menghadang jalan lari pencuri itu.

“Berhenti! Atau, kupatahkan kakimu!” ancam Anggini sambil berdiri bertolak pinggang. Wajahnya! tampak kemerahan menahan amarah yang meluap-luap dalam dada.

“Hm.... Minggirlah kau, Nisanak! Sayangilah kecantikanmu. Jangan sampai wajahmu yang cantik itu kurusak!” pencuri itu rupanya merasa lucu mendengar ancaman Anggini, sehingga berbalik mengancam.

“Oh! Rupanya kau minta diberi pelajaran! Baik. Nah, sambutlah kepalanku ini. Lumayan untuk sarapan pagi!” ujar gadis cantik itu geram melihat ke bandelan si pencuri. Maka kedua tangannya cepat bergerak. Dan tahu-tahu saja....

Brettt! Plakkk! Desss!

“Akh...!” Lelaki kurus berwajah kumal itu menjerit, dan! Tubuhnya langsung terbanting jatuh. Cairan merah tampak merembes di sudut bibirnya. Sepasang matanya sampai terbelalak memandang gadis di depannya. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa tahu-tahu saja wajah dan perutnya terasa sakit. Bahkan kantung uang di tangannya pun telah berpindah ke tangan gadis cantik itu. Rupanya kecepatan gerak pukulan dan tendangan tadi tidak terlihat matanya, sehingga ia tidak lahu kalau wajah dan perutnya telah menjadi sasaran tangan kaki gadis cantik itu.

“Bedebah kau, Kuntilanak! Rupanya kau tidak patut disayangi! Rasakanlah pembalasanku! Heaaat..!” Disertai sebuah pekikan marah, tubuh kurus itu segera melompat menerjang Anggini.

Mau tak mau, Anggini terpaksa tersenyum melihat gerakan orang itu. Karena, ia tahu persis kalau gerakan lelaki kurus itu hanya asal-asalan. Sama sekali tidak mengandung unsur silat cabang mana pun. Tentu saja serangan orang itu tidak ada artinya bagi gadis cantik murid tokoh sakti macam Anggini. Hanya dengan satu tangan saja, maka tubuh orang itu kembali terpelanting akibat sambaran pukulan lawan. Akibatnya, dada orang itu terasa rontok.

Sadar kalau yang dihadapinya bukanlah gadis sembarangan, maka tanpa malu-malu lagi laki-laki kurus itu bergegas melarikan diri. Sehingga, Anggini pun tersenyum melihatnya.

“Hebat..! Hebat..!” tiba-tiba terdengar seruan bernada memuji.

Tampak seorang pemuda tampan mengenakan pakaian dari sutra halus berwama coklat muda telah berdiri tidak jauh dari Anggini. Ia berseru sambil bertepuk tangan keras-keras. Sepertinya, ia telah menyaksikan gebrakan gadis itu saat melumpuhkan si pencuri.

“Apa maksudmu, Kisanak? Dan mengapa kau tidak berusaha mencegah perbuatannya tadi?” tanya Anggini. Keningnya berkerut, menatap pemuda pesolek yang sebenarnya cukup gagah dan menarik itu.

“Maaf, Nisanak. Namaku Gutala. Tapi sayang sekali, aku tidak memiliki keberanian sepertimu. Mmm.... Bolehkah aku tahu namamu?” tanya pemuda tampan pesolek itu, setelah lebih dulu memperkenalkan nama-nya. Sama sekali da tidak berusaha menyembunyikan rasa kagumnya melihat kecantikan dan kepandaian Anggini.

Kerutan di kening Anggini semakin dalam. Dipandanginya wajah pemuda itu penuh selidik. Seolah-olah dia mencoba mencari jawaban, mengapa pemuda itu sedemikian mudahnya memperkenalkan diri. Sepertinya, hal itu memang sudah diatur olehnya. Namun karena sikap pemuda itu sangat sopan, maka tidak enak untuk menyambutnya.

“Aku Anggini. Dan...” Gadis itu menghentikan ucapannya ketika terdengar jerit kesakitan yang menyayat. Anggini semakin terkejut melihat tubuh wanita setengah baya yang baru saja kantung uangnya dikembalikan, tersungkur roboh mandi darah. Dua bilah belati tampak menancap di dada dan lehernya.

“Hei, berhenti! Mau lari ke mana kau, Pembunuh!” seru Wirasaba marah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda tinggi tegap itu segera mengejar si pembunuh.

Samba yang tidak ingin ketinggalan, bergegas pula mengejar dua orang laki-laki yang melemparkan senjata tadi. Kedua pemuda itu melesat cepat penuh kemarahan, sehingga melupakan Anggini yang masih berada di tempat itu.

“Sabarlah, Nisanak. Apakah dua orang temanmu itu masih belum cukup untuk menangkap mereka? Lebih baik tunggu saja di sini. Aku yakin, tidak lama lagi pasti kedua orang temanmu sudah kembali sambil menyeret dua orang yang dikejarnya. Mereka memang teman si pencuri yang kau robohkan tadi. Marilah kita tunggu mereka di dekat pohon itu,” ajak si pemuda yang mengaku bernama Gutala sambil menunjuk sebatang pohon yang cukup besar.

“Hm.... Jadi, kau pun sudah pula mengenal banyak kawanan pencuri itu? Lalu mengapa tidak kau beri hajaran, agar mereka kapok?” tanya Anggini, seraya melangkah ke sebuah bangku panjang di bawah pohon besar itu.

Si pemuda pesolek hanya tersenyum memikat. Kembali dijelajahinya seluruh wajah Anggini yang cantik itu dengan matanya. Sinar kekaguman semakin nyata terlihat pada sepasang mata pemuda itu.

“Ihhh! Mengapa kau memandangiku seperti itu, Gutala?” sergah Anggini sambil memalingkan wajahnya. Dia memang jengah melihat pandangan yang tajam menusuk itu.

“Hm..., Anggini. Sebuah nama yang indah dan antik. Sungguh sesuai dengan kecantikannya. Kau tidak ubahnya seperti dewi, Anggini,” gumam Gutala. Suaranya terdengar agak menggeletar.

“Apa... Apa maksudmu, Gutala. Kau..., kau..., ah! Aku tidak suka mendengar ucapan itu! Sekali lagi kata itu diucapkan, aku akan pergi meninggalkanmu!” bentak Anggini yang sudah bangkit dari duduknya. Sepasang matanya menyiratkan kemarahan hatinya.

“Aduh...! Sabar dulu, Anggini. Mengapa marah-marah begitu? Apa yang kukatakan itu adalah yang sebenarnya. Apakah salah kalau aku mengatakan kau cantik? Tidak bolehkah kita mengagumi sesuatu yang indah dan cantik? Hhh.... Kau aneh sekali, Anggini?” bantah Gutala. Suaranya demikian lemah, sehingga membuat kemarahan di hati gadis itu lenyap.

“Maafkan aku, Gutala. Tapi aku benar-benar tidak suka mendengar ucapan itu. Dan kuminta, jangan kau ulangi lagi,” desah Anggini.

Gutala tersenyum lega. Ternyata Anggini adalah gadis yang pemaaf. Hal ini makin membuatnya tertarik. Diam-diam, semakin dikaguminya gadis itu.

“Eh, mengapa mereka lama sekali? Ke mana saja mereka?” tanya gadis itu yang mulai merasa tidak enak ketika kedua orang saudara seperguruannya tidak muncul-muncul. Dan lagi, pertanyaan itu memang untuk mem-belokkan ketertarikan Gutala padanya.

“Sabarlah. Sebentar lagi mereka pasti kembali,” bujuk Gutala sambil menyuruh gadis itu duduk kembali.

“Tidak, Gutala. Aku harus menyusul mereka!” Setelah berkata demikian, Anggini pun mulai meng-gerakkan kakinya meninggalkan Gutala.

“Eh, eh! Sabar dulu, Anggini! Kita tunggu saja di sini!” cegah Gutala kaget. Cepat-cepat disambarnya lengan gadis itu, sehingga gerakannya jadi tertahan.

“Apa-apaan kau, Gutala!” bentak Anggini sambil menepiskan tangan pemuda itu yang telah menggenggam jemarinya. Hati gadis cantik itu sempat tergetar ketika merasakan betapa lembut dan hangatnya genggaman tangan lelaki pesolek itu.

“Jangan pergi, Anggini. Sejak melihatmu tadi, aku.... Aku telah jatuh cinta kepadamu,” Gutala terpaksa mengutarakan perasaan hatinya. Dia pikir, mungkin pengakuannya pada Anggini akan membatalkan niat gadis itu untuk mencari kedua orang saudara seperguruannya.

Tapi sayang, dugaan Gutala salah besar! Dugaannya semula, gadis itu akan tertunduk malu mendengar pengakuannya. Tapi, ternyata tidak! Anggini malah menentang pandang mata Gutala dengan wajah merah! Bukan karena rasa malu ataupun jengah, tapi sebaliknya malah merasa marah.

“Hm.... Jadi itu maksudmu, mengapa kau menahanku disini? Dan kau pilar, keberadaanku di sini karena tertarik kepadamu? Huh! Kau salah, Gutala! Selamat tinggal!” dengus Anggini.

Gadis itu segera melesat meninggalkan Gutala yang terpaku dengan wajah merah. Pemuda itu merasa malu dan terhina sekali mendengar kata-kata yang teratur menusuk hatinya tadi. Kata-kata yang terucap dari mulut gadis yang telah mencuri sekeping hatinya.

“Anggini, tunggu...!” seru Gutala, bersiap mengejar. Namun sebelum kakinya melangkah, tiba-tiba....

“Tidak pertu mengejar gadis itu, Perayu Busuk! Karena telah berani mengganggu gadis itu, berarti kau pun telah berani untuk menghadap malaikat maut!” ancam sebuah suara berat.

Gutala langsung menahan langkahnya. Kepalanya langsung dipalingkan ke arah asal suara. Tampak lelaki tinggl tegap berwajah buruk dan tua telah berdiri di dekatnya. Rambutnya yang telah berwarna dua tampak meriap dan menutupi sebagian wajah. Penampilan orang itu benar-benar menggetarkan hati Gutala.

“Siapa... siapa kau? Dan apa maksud kata-katamu itu?” tanya Gutala agak gugup mendengar kata-kata berbau maut itu.

"Tidak perlu banyak cakap! Bersiaplah! Kau kuberi kesempatan untuk membela diri!” lanjut suara berat itu tanpa mengenal belas kasihan.

Gutala segera mencabut pedang yang terselip dipinggangnya. Memang disadarinya kalau lelaki setengah baya berwajah buruk itu tidak main-main dengan ancamannya. Maka, ia pun bersiap untuk membela diri.

“Haaat..!” Dibarengi sebuah teriakan parau, tubuh lelaki buruk itu meluncur disertai sambaran pedangnya menimbulkan deru angin keras.

Wuuut! Wuuut!

Sambaran pedang yang membawa hawa maut berkelebatan mengancam tubuh Gutala. Cepat-cepat pemuda itu berkelit dan melempar tubuhnya ke belakang. Memang, serangan orang aneh itu demikian gencar sekali. Maka Gutala pun kalang-kabut dibuatnya.

TUJUH

“Orang gila! Apa sebenarnya maumu?” teriak Gutala sambil berlompatan, menghindari serangan yang menderu-deru dari orang aneh itu.

“Jangan banyak bacot! Keluarkan semua kepandaianmu, kalau masih ingin hidup lebih lama lagi!” bentak lelaki aneh berwajah buruk itu, semakin mempergencar serangannya.

Wuuut!

“Aaah...!” Gutala berteriak kaget ketika ujung pedang lawan hampir saja membeset kulit tubuhnya. Untunglah tubuhnya sempat dimiringkan, sehingga ujung pedang orang aneh itu hanya mengenai bajunya. Pemuda itu segera melempar tubuhnya, lalu bergulingan menjauhkan diri dari lelaki buruk yang berkepandaian tinggi itu.

“Huh! Percuma melarikan diri, Pemuda Busuk!” seru lelaki aneh itu ketika melihat lawannya hendak melarikan diri. Setelah berkata demikian, tubuhnya vang tegap dan kokoh itu melayang mengejar calon korbannya. Senjata di tangannya diputar sedemikan rupa, sehingga menimbul-kan gulungan sinar yang menyilaukan mata.

Wuuut! Crasss!

“Aaargh...!” Terdengar jerit kematian yang menyayat pedang di tangan lelaki buruk yang aneh itu membeset tubuh Gutala sebanyak tiga kali. Darah segar memercik membasahi permukaan bumi. Tubuh Gutala kemudian ambruk di tanah. Dia meraung-raung berkelojotan meregang nyawa. Dada, perut, dan lehernya terdapat luka memanjang yang cukup dalam. Tidak berapa lama kemudian, tubuh Gutala diam bergerak. Mati. Setelah merasa yakin kalau korbannya telah tewas, lelaki buruk yang aneh itu segera melesat meninggalkan mayat yang bersimbah darah.

“Pembunuhan...! Pembunuhan...!”

Terdengar teriakan dari beberapa penduduk melihat mayat Gutala. Mereka telah mengerumuni mayat itu. Tak seorang pun yang berani mendekat apalagi sampai menyentuhnya. Mereka hanya gerombol dalam jarak empat batang tombak.

Seorang gadis berkepang dua dan berwajah cantik, segera berlari mempercepat langkahnya mendekati kerumunan orang itu. Ia tak lain adalah Anggini. Gadis itu memang bermaksud menanyakan tempat berkumpulnya kawanan pencuri yang biasanya menjarah pasar. Pada waktu mengejar tadi, Anggini tidak berhasil menemukan kedua orang saudara seperguruannya, meskipun telah bertanya ke sana kemari.

“Hm.... Ada apa lagi itu? Sepertinya ada kejadian yang menarik?” gumam Anggini dalam. Gadis itu pun mempercepat langkahnya. Kemudian, dia segera menyeruak di antara kerumunan penduduk.

Orang-orang yang tengah berkerumun memberikan jalan kepada Anggini. Mereka memang tahu kalau gadis cantik itu memiliki kepandaian hebat, karena sempat menyaksikan pertarungan Anggini melawan pencuri ditengah pasar tadi.

“Ada apa, Kisanak?” tanya Anggini kepada seorang laki-laki setengah baya yang menyingkir memberi jalan.

“Ada orang terbunuh! Kata orang yang melihat pertarungan korban tadi, pembunuhnya berumur setengah baya, juga wajahnya buruk. Tapi ia sudah menghilang sejak tadi,” jelas lelaki itu.

“Hah...!?” Sepasang mata Anggini terbelalak lebar. Hampir sata gadis itu tidak mempercayai pandangan matanya. Benar-benar tidak disangka kalau mayat itu tak lain adalah Gutala. Padahal, belum lama tadi ia berada bersamanya. Lalu, bagaimana mungkin pemuda itu dapat terbunuh sedemikian mudah? Apa yang menyebab Gutala sampai terbunuh? Aneh! Anggini benar-benar tak habis mengert.

“Nisanak kenal orang itu?” tanya seorang pemuda berjubah putih yang juga ada dalam kerumunan penduduk, dekat dengan Anggini. Nada pertanyaannya demikian wajar dan tidak mengandung kecurigaan.

Anggini tidak segera menjawab pertanyaan itu. Kepalanya menoleh, dan keningnya berkerut. Sekilas saja gadis itu tahu kalau pemuda berjubah putih itu berkepandaian tinggi. Kemudian pandangannya dialihkan kepada seorang wanita jelita yang menghampiri.

“Aku mengenalnya baru beberapa saat yang lalu. Tapi aku tidak tahu, siapa dia sebenarnya? Dan penyebabnya sehingga ia sampai terbunuh? Padahal kelihatannya dia orang baik,” sahut Anggini.

“Apa dia pernah bercerita kalau mempunyai musuh?” tanya wanita jelita berpakaian hijau, ikut menimpali.

“Hm..., tidak. Perkenalan kami belum lama. Lagi pula, tidak baik menceritakan persoalan kepada orang yang baru dikenal,” jawab Anggini. Matanya masih memandang wanita jelita itu penuh kagum. Sekali melihat saja, ia sudah menyukainya. sudah dapat diduga kalau wanita jelita itu bukan orang sembarangan.

“Hm.... Aneh!” gumam pemuda tampan berjubah putih yang tak lain Pendekar Naga Putih. Sedangkan wanita jelita itu pasti Kenanga.

Kedua pendekar muda itu hanya mengamati sambil menatap kepergian Anggini. Lalu, mereka segera berlalu setelah berpesan kepada penduduk mengurusi mayat pemuda pesolek itu.

“Apakah kau akan mengikuti gadis itu, Kakang?' tanya Kenanga setelah mereka meninggalkan keramaian pasar. Saat itu, mereka berjalan menyusuri utama desa.

“Hm..., begitulah. Kau tahu, saat ini kita tidak mempunyai petunjuk lain selain gadis itu dan orang pemuda yang bersamanya,” sahut Panji.

“Kau mencurigai mereka sebagai pembunuhnya?' tanya Kenanga lagi.

“Yah! Itu hanya dugaan, Kenanga. Tapi yang jelas, sumber pembunuhan itu pasti berasal dari mereka. Dan satu-satunya jalan untuk membekuk pembunuh aneh itu adalah melalui ketiga orang itu,” jawab Panji yang bertekad untuk menyelidiki pembunuh-pembunuh gelap yang mereka temui.

“Kalau begitu, marilah kita ikuti gadis cantik itu!” ajak Kenanga bersemangat. Memang dia pun sudah tidak sabar untuk segera membekuk pembunuh itu.

“Ayolah!” sahut Panji Pendekar Naga Putih segera mengikuti Kenanga yang sudah berlari mendahuluinya. Cepat sekali!

Mereka kemudian melesat cepat seperti saling berkejar-kejaran. Jelas, mereka telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang mendekati kesempurnaan. Yang terlihat kini hanyalah bayangan putih dan hijau. Bagi orang yang tak memiliki kepandaian tinggi, sulit untuk menebak, bayangan apa yang tengah berkelebat dengan kecepatan tinggi itu.

Sebentar kemudian, Pendekar Naga Putih dan Kenanga telah tiba di tempat Anggini tadi menuju. Namun, mereka menjadi heran ketika tidak menemukan gadis itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menanyakan orang yang dicarinya kepada seorang laki-laki yang tengah berdiri di pintu rumah dan memandang ke arahnya.

“Maaf, Kisanak. Apakah kau melihat gadis cantik yang rambutnya berkepang dua?” tanya Panji sopan.

“Apakah yang kau maksud, gadis berbaju kuning dan bercelana hitam?” orang itu balik bertanya.

Begitu kepala Panji terlihat mengangguk, orang itu menggerak-gerakkan tangannya menunjuk ke satu arah. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka segera melesat ke arah yang ditunjuk orang itu. Rupanya Anggini telah meninggalkan desa itu.

*******************

“Berhenti..!” terdengar bentakan nyaring, disertai ber-lompatannya belasan sosok tubuh dari balik semak-semak.

Gadis cantik berkepang dua itu melangkah mundur dengan sikap waspada. Satu persatu, dipandanginya orang-orang yang berdiri menghadang jalannya itu. Dapat diduga kalau orang-orang yang terlihat kasar itu mempunyai niat yang tidak baik terhadapnya.

“Maaf, Kisanak. Apa keperluan kalian hingga menghadang jalanku? “ tanya gadis cantik yang tak lain Anggini itu, curiga. Gadis cantik yang belum berpengalaman ini sama sekali tidak mengetahui kalau saat itu tengah berhadapan dengan para perampok.

“Ha ha ha...!” Laki-laki berkepala botak yang merupakan pimpinan para perampok itu tertawa mendengar pertanyaan Anggini. Sepertinya, pertanyaan yang dilontarkan gadis itu lucu. Sebab bukan hanya si botak yang tertawa, tapi hampir semua laki-laki kasar itu tergelak mendengarnya.

“Hei, Nisanak yang cantik. Mestinya kau tahu keperluan tuanmu ini. Ketahuilah, aku dan pasukanku sengaja datang menyambutmu. Karena, sebentar lagi kau akan menjadi permaisuriku! Kau tidak keberatan, bukan?” ujar si botak seraya memperdengarkan tawanya yang memuakkan.

“Maaf, Kisanak. Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu itu? Lebih baik, kalian menyingkir! Biarkan aku lewat!” tegas Anggini bemada mengancam.

“Hei? Apakah kau lebih suka kalau aku menggunakan kekerasan? Hm.... Sebaiknya, kau menurut saja, Nisanak. Kujamin, kau akan hidup senang,” ujar si botak lagi tanpa mempedulikan ancaman gadis itu.

“Sudahlah, Ki. Untuk apa bertele-tele? Tangkap saja! Kan, beres!” selak lelaki tinggi kurus dan berwajah brewok.

Sepasang mata laki-laki yang agak sipit itu berputar liar menjelajahi sekujur tubuh Anggini. Air liurnya nampak menetes, tak ubahnya seekor harimau yang melihat kijang muda.

“Hm.... Rupanya kalian menganggap aku main-main! Baiklah. Kalau kalian masih juga tidak mau menyingkir, jangan salahkan kalau kepala kalian akan terpisah dari badan!” geram Anggini. Gadis itu langsung mencabut pedangnya yang terselip di pinggang. Ketika melihat sinar mata si brewok, Anggini pun tahu keinginan orang-orang kasar itu sebenarnya.

Sret!

Selarik sinar berkilatan keluar dari mata pedang yang tercabut keluar dan tergenggam di tangan gadis cantik itu. Wajahnya yang putih halus nampak kemerahan karena kemarahannya mulai bangidt Bagaimana ia tidak akan jengkel? Belum lagi kedua orang kakak seperguruannya dapat ditemukan, kini ada lagi persoalan yang membuat kepalanya tambah pusing.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan kedua belah pihak, dua sosok tubuh tampak memperhatikan dari balik rimbunan pohon bambu kuning.

“Kakang, bagaimana kalau gadis itu terdesak? Apakah kita akan mendiamkannya saja?” tanya sosok tubuh ramping itu. Sementara sepasang matanya yang indah tetap menatap ke arah orang-orang itu.

“Kita tunggu saja perkembangannya,” sahut yang seorang tanpa menolehkan kepala.

“Tapi kalau dia tertangkap, bagaimana?” tanya sosok tubuh ramping itu lagi.

Sepertinya dia tidak tega melihat Anggini yang hanya seorang dhi, siap dikeroyok oleh kawanan perampok yang jumlahnya lebih dari lima belas orang. Belum lagi kalau mereka masih mempunyai kawan yang tengah ber-sembunyi di semak-semak.

“Sudahlah. Jangan terlalu khawatir dulu, Kenanga. Dan jangan sekali-kali bergerak sebelum ada isyarat dariku,” sahut sosok yang satunya. Siapa lagi kedua orang itu, kalau bukan Kenanga dan Panji yang rupanya sudah pula tiba di tempat itu.

Sementara itu, ketegangan di kedua belah pihak semakin memuncak. Pemimpin perampok yang berkepala botak itu sudah memerintahkan anak buahnya menyebar mengelilingi Anggini Beberapa di antaranya tampak sudah memutar-mutar tambang yang pada bagian tengahnya dibentuk sebuah bulatan. Sepertinya, mereka memang bermaksud untuk menangkap gadis itu hidup-hidup.

“Heaaat..!”

Dibarengi bentakan nyaring, pemimpin perampok itu bergerak maju tanpa menggunakan senjata. Sesaat kemudian, lelaki kurus berwajah brewok yang merupakan wakilnya, ikut pula bergerak maja la juga menggunakan tangan kosong.

“Haiitt...!”

Anggini melompat tinggi menyambut serangan kedua orang pimpinan perampok itu. Gadis yang berjiwa bersih ini sudah pula menyimpan senjata begitu melihat kedua orang lawannya hanya bertangan kosong. Dengan gerakan indah, Anggini memutar tubuhnya menghindari dua buah serangan yang dilancarkan lelaki berkepala botak itu. Sambil memutar tubuh, tangan kirinya terayun ke leher lawan. Begitu hantaman tangan kirinya berhasil dielakkan lawan, gadis itu pun segera menyusuli dengan sebuah tendangan kilat

Lelaki berkepala botak itu terkejut sekali melihat kecepatan gerak lawan. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang karena tidak ingin dadanya dijejak kaki mungil yang menyimpan tenaga hebat itu. Pada saat yang bersamaan, serangan dari lawan lain meluncur datang. Jari-jari tangan yang berbentuk akar dari laki-laki brewok itu menyambar-nyambar cepat mengincar beberapa bagian tubuh gadis itu.

Anggini bergerak mundur dengan menggeser kedua kakinya bergantian. Sepasang matanya bergerak lincah mencari-cari kelemahan lawan. Gadis cantik yang cukup cerdik itu terus bergerak mundur sambil mencari celah yang kira-krra dapat dimanfaatkannya. Namun sampai beberapa jurus lamanya, titik kelemahan dari jurus-jurus lawan belum juga terlihat. Sepertinya, pertahanan si brewok cukup rapat dan kuat

Setelah menyerang selama lima jurus namun belum juga berhasil menyentuh tubuh lawannya, lelaki brewok itu pun bangkit kemarahannya. Jurus-jurus serangannya pun semakin dipercepat Cengkeraman tangannya kadang-kadang berubah membentuk kepalan. Namun kepalan itu tidak kalah berbahayanya dengan cengkeramannya. Malah mungkin akibatnya akan lebih parah apabila terkena tubuh lawan!

Pada suatu saat, gadis cantik itu berteriak nyaring mengagetkan lawan. Serangan-serangan yang semakin cepat itu justru telah menyebabkan pertahanan si brewok agak melemah. Anggini pun menyadari akan hal itu. Maka ketika cengkeraman dan kepalan lawan meluncur mengancam dada dan perutnya, tubuh gadis itu meliuk dengan jurus 'Harimau Lapar Menerkam Kambing'.

Wuuut!

Kepalan dan cengkeraman si brewok temyata hanya mengenai angin kosong karena tubuh Anggini telah lebih dulu meliuk ke kanan. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, tangan kanan gadis terulur mengancam dada. Gerakannya dibarengi pula dengan tendangan kaki kanan yang mengarah perut

Dapat dibayangkan, beta pa kagetnya hati si brewok melihat serangan tiba-tiba itu. Apalagi, dia tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Maka si brewok cepat mengerahkan tenaganya untuk melindungi bagian tubuh yang menjadi sasaran serangan lawan.

Desss! Bukkk!

“Aaakh...!” Disertai jeritan ngeri, tubuh kurus itu pun terjengkang beberapa tombak ke belakang! Darah segar langsung memercik membasahi rerumputan yang kering. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kurus itu pun terbanting keras menimbulkan suara berdebuk!

Sambil menekap dada dan perutnya, lelaki brewok itu berusaha bangidt meskipun dengan susah-payah. Kembali ia terbatuk, langsung memuntahkan darah segar! Rupanya ia salah perhitungan! Sungguh sama sekali tidak diduga kalau tenaga dalam yang dimiliki gadis cantik itu ternyata demikian tinggi. Maka tentu saja tenaga yang diper-gunakan untuk melindungi tubuhnya itu tidak berarti. Akibatnya, pukulan dan tendangan gadis itu tetap saja melukai tubuhnya.

“Gunakan tali! Kuntilanak ini benar-benar patut diberi pelajaran!” perintah laki-laki botak. Pemimpin perampok itu menjadi marah melihat kawannya telah dilukai gadis ini Sebagian nafsunya telah lenyap, dan telah berganti dengan kemarahan. Golok besar yang tergantung di punggung dicabutnya.

“Yeaaat..!” Disertai bentakan keras, tubuh si botak melambung ke atas dengan bacokannya. Kali ini ia tidak peduli lagi, apakah si gadis akan terluka atau tidak. Satunya-satunya yang diinginkan saat itu adalah melumpuhkan Anggini.

Trangngng! Trangngng!

“Aaah...” Entah kapan dilakukannya, tahu-tahu saja di tangan Anggini telah tergenggam sebatang pedang. Langsung pedangnya dikerahkan untuk memapak ayunan golok si botak. Maka terdengarlah benturan yang keras disertai jeritan kaget lelaki berkepala botak itu.

Benturan yang cukup kuat itu telah membuat kuda-kuda si botak tergempur. Tubuhnya terjajar mundur, hingga beberapa langkah ke belakang. Meskipun demikian, golok besarnya tetap tergenggam erat di tangannya.

Anggini tidak mau membuang-buang waktu lag! Saat itu juga tubuhnya melesat ke arah pimpinan perampok yang tengah terhuyung itu. Pedang di tangannya berputar cepat menimbulkan deru angin keras. Tapi sayang Anggini tidak memperhatikan lawan lainnya. Pada saat tubuhnya melompat, beberapa utas tambang yang ujungnya berbentuk bulatan itu melayang ke arahnya!

Rrrttt! Rrrttt!

“Aaah...!” Anggini berteriak kaget ketika dirasakan ada sesuatu benda yang menjerat keduanya kakinya. Baru saja pedangnya hendak diayunkan untuk membabat tambang-tambang itu, kedua pergelangan tangannya kembali terjerat tambang yang lain. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya pun meluncur ke bawah. Jatuh, tak berdaya.

Brukkk!

“Uuugkh...!”

Rrrttt! Rrrttt!

Terdengar suara berdebuk ketika tubuh gadis itu ter-banting di atas rerumputan. Anggini mengeluh menahan rasa nyeri pada tubuhnya. Cepat ia bergerak bangkit sambil mengerahkan tenaga pada lengan dan kakinya. Namun betapa terkejutnya gadis itu ketika kaki tangannya tidak mampu digerakkan. Pandangan gadis itu beredar. Dia kini mendapati tali-tali yang semula dipegang gerombolan perampok itu telah dilibatkan ke pohon-pohon besar. Maka Anggini hanya bisa pasrah, untuk melihat apa yang akan diperbuat orang-orang itu terhadap dirinya.

Kenanga yang melihat gadis cantik itu sudah berdaya, segera bergerak bangkit hendak menolongnya. Memang sebagai seorang wanita, dia sudah dapat menduga maksud perampok-perampok liat itu. Namun, gerakan Kenanga tertahan telapak tangan Panji, yang menekan bahunya. Semula gadis jelita itu hendak membantah, tapi langsung bungkam ketika Panji nunjuk ke arah tempat terjadinya pertempuran.

Rupanya di arena pertempuran terjadi perubahan mendadak. Ternyata di sana telah muncul dua orang pemuda yang tampak gagah. Sedangkan gadis yang terikat tadi telah pula terbebas. Malah kini telah di samping dua orang pemuda gagah itu.

“Hhh.... Hampir saja aku berbuat kesalahan!" desah Kenanga menghela napas lega. Dipandanginya Panji, dengan sinar mata penuh permohonan maaf.

SATU

“Hm... Siapa kau, Anak Muda?! Mengapa berani mencampuri urusanku?!” bentak orang berkepala botak itu dengan suara menggelegar. Ia benar-benar marah sekali melihat mangsa yang sudah berada di depan mulut terlepas begitu saja karena perbuatan dua orang itu.

“Ha ha ha...! Hei, Perampok-perampok Busuk! Dengarlah! Kami adalah Dua Harimau Cakar Besi! Dan hari ini, malaikat maut akan datang hendak mencabut nyawa kalian!” ancam salah seorang dari dua pemuda gagah itu, dingin.

“Ahhh...!” Mendengar disebutnya nama Dua Harimau Cakar Besi, para perampok itu bergerak mundur dengan wajah pucat. Memang mereka telah banyak mendengar tentang sepak-terjang dua pendekar muda yang sering membasmi para perampok di sekitar daerah itu tanpa kenal ampun. Tak seorang pun perampok yang pernah lolos dari hukuman mereka. Sehingga kedua orang pendekar itu dijuluki sebagai Dua Harimau Cakar Besi. Tidak heran bila setiap perampok yang bertemu kedua orang itu, pasti akan tewas!

“Lari....!” tanpa malu-malu lagi, si kepala perampok memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan diri dari hukuman kedua pendekar yang tak mengenal kata ampun itu.

Melihat gerombolan perampok itu hendak melarikan diri, dua orang pemuda gagah itu segera bergerak mengejar.

“Jangan kejar...!” terdengar seruan halus yang membuat Dua Harimau Cakar Besi menghentikan langkahnya.

“Mengapa, Nisanak? Mereka adalah orang-orang kejam dan buas. Hanya kematianlah jalan satu-satunya bagi mereka,” tegas salah seorang dari pemuda itu. Dia merasa heran mendengar gadis yang ditolongnya itu mencegah mereka.

“Betul, Nisanak. Kalau tidak dibunuh, lain kali mereka pasti akan mengganggu orang lagi,” timpal yang seorang lagi, membenarkan ucapan kawannya. Sambil berkata demikian, ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Dan ia pun baru sadar, betapa cantiknya gadis yang ditolongnya itu. Sinar kekaguman pun nampak di matanya.

"Tapi, siapa tahu setelah berjumpa dengan kalian menjadi sadar? Nah, bukankah hal itu akan lebih baik?” bantah Anggini. Gadis itu terpaksa menundukkan matanya melihat sinar kekaguman yang tak disembunyikan terpancar dari mata kedua orang pemuda penolongnya.

“Yahhh, sudahlah. Apa yang perlu diributkan lagi? Andaikan kita kejar pun, sudah tidak ada gunanya lagi. Mereka pasti sudah menyembunyikan diri di dalam hutan lebat di depan sana. Oh, ya. Kau hendak ke manakah, Nisanak? Mengapa berada sendirian di tempat ini?” tanya pemuda yang memiliki kumis tipis di wajahnya. Dia tersenyum, sehingga membuat wajahnya semakin menarik.

Anggini pun lalu menceritakan kejadiannya hingga sampai berada di daerah itu. Ia berusaha menerangkan sejelas-jelasnya dengan harapan kedua orang itu bisa memberi petunjuk. Bukankah mereka berasal dari sekitar daerah ini? Atau paling tidak, mereka pasti sudah lama tinggal di sekitar sini.

Kedua orang pemuda itu saling berpandangan begitu Anggini menyelesaikan ceritanya. Sepertinya, kedua orang itu tidak bisa memberi petunjuk apa-apa kepada gadis itu.

“Hm.... Kalau begitu, biarlah aku pergi saja. Siapa tahu kedua orang saudara seperguruanku itu sudah kembali ke perguruan. Atau kalau tidak, aku akan melaporkan hal ini kepada guru,” gumam Anggini, seperti untuk dirinya sendiri.

“Hm.... Sebentar lagi hari akan gelap, Nisanak. Kelihatannya bahaya sekali melakukan perjalanan di malam hari. Apalagi, Nisanak seorang gadis muda dan hanya seorang diri. Sebaiknya untuk malam ini, biarlah Nisanak menginap di pondok kami. Besok, baru melanjutkan perjalanan. Bagaimana?” tanya pemuda yang berkumis tipis memberikan usul.

“Betul, Nisanak. Bukannya kami hendak memaksa agar Nisanak tidak pergi. Tapi ada baiknya pertimbangkanlah tawaran kami,” sambut satunya, mendukung usul yang diajukan kawannya.

Anggini bimbang sejenak. Disadari juga kebenaran ucapan kedua orang itu. Tapi hatinya juga ragu karena tidak begitu mengenai kedua pemuda itu. “Yahhh...! Kalau memang tidak ada pilihan lain, apa boleh buat!” sahut Anggini yang akhirnya menyetujui usul kedua orang pemuda itu.

“Nah, itu lebih baik! Ayolah!” ajak pemuda berkumis tipis, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Anggini dan pemuda yang satu lagi bergegas mengikutinya.

********************

Kegelapan malam mulai turun menyelimuti permukaan bumi. Suara jangkrik mulai terdengar ramai bersahut-sahutan. Bintang-bintang tampak bertaburan bagaikan pelita menghiasi malam. Di depan halaman sebuah pondok sederhana, tampak nyala api berkobar menghangatkan suasana malam yang dingin. Lapat-lapat terdengar gemercik air yang mengalir. Sepertinya, pondok itu berdiri di dekat sebuah aliran sungai. Hal itu terbukti dari suara-suara katak yang bernyanyi menyemarakkan suasana malam.

Di dekat api yang menjilat-jilat, terlihat seorang pemuda berkumis tipis. Sesekali tangannya memutar-mutar sebatang dahan kayu yang terjilat api. Di tengah dahan kayu itu terdapat seekor ayam yang telah dikuliti tengah terjilat api. Baunya begitu menebar kesekitarnya. Jelas pemuda itu tengah memanggang seekor ayam yang aromanya menerbitkan air liur dan membuat perut terasa lapar. Pemuda itu memalingkan wajahnya ketika mendengar ada desah napas di depan pintu pondoknya.

“Eh. Kau belum tidur, Nisanak? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya pemuda berkumis tipis itu. Saat itu, sesosok tubuh ramping tampak tengah melangkah menghampirinya.

“Hm.... Bau harum panggang ayam itulah yang telah menggangguku,” sahut sosok tubuh ramping yang rambutnya dikepang dua.

Siapa lagi orang itu kalau bukan Anggini. Gadis yang memang memiliki sifat lincah dan periang itu, enak saja melontarkan kata-katanya. Padahal, ia baru saja mengenal pemuda itu. Tapi, gadis itu sudah mengeluarkan gurauan seolah-olah sudah lama saling mengenal.

“Wah, maaf kalau begitu. Aku sebenarnya tidak bermaksud mengganggumu. Tapi, perut yang tak tahu adat ini sudah berkeruyuk sejak tadi. Jadi... yaaah! Terpaksa aku harus membuat makanan,” sahut pemuda itu tanpa malu-malu lagi.

“Dari mana kau peroleh ayam itu sehingga menimbulkan bau harum ayam panggang yang menggoda selera?” tanya gadis itu lagi.

“Entahlah. Mungkin ini ayam hutan kesasar. Atau mungkin memang sengaja datang, karena tahu aku sedang kelaparan? Nah, menurutmu yang manakah yang lebih masuk akal, Nisanak?” sahut pemuda itu seraya melebarkan senyumnya karena merasa gembira.

“Panggil saja aku Anggini. Rasanya canggung sekali mendengar sebutanmu itu. Oh, ya. Menurutku, mungkin saja ayam hutan itu memang sengaja datang. Dikira keruyuk di perutmu itu adalah si betina,” sahut Anggini terkekeh gembira. “Eh, ke manakah kawanmu yang seorang itu?”

“Hm. Tadi kami berdua sengaja hendak mencari ayam hutan. Lalu, kami berpencar untuk mendapatkannya. Yah, mungkin saja nasibnya tidak seberuntung aku. Tapi, sebentar lagi juga kembali Oh, ya. Kau boleh memanggilku Benta saja. Cukup, kan?” jelas pemuda berkumis tipis itu yang matanya tak lepas dari wajah Anggini.

“Hei! Aku seperti mendengar suara orang bertarung? Apakah kau tidak mendengamya, Benta?” tanya Anggini tiba-tiba. Gadis itu segera mengerahkan indra pendengarannya agar dapat menangkap lebih jelas.

“Ah, ya. Aku pun mendengarnya! Mari kita lihat, Anggini. Siapa tahu Kakang Ginta mendapat kesukaran!”

Setelah berkata demikian, keduanya pun segera melesat mencari sumber suara pertarungan yang terdengar itu. Keduanya terus berlari cepat menerobos kegelapan malam dan semak belukar. Meskipun tanpa kata sepakat, ternyata mereka menuju arah yang sama.

“Wah! Suara pertempuran itu sudah tidak terdengar lagi! Sepertinya pertempuran itu sudah berakhir, Anggini?” desah Benta, harap-harap cemas. Diam-diam ia pun mulai mengkhawatirkan nasib saudaranya yang sampai saat itu belum juga kembali. Jangan-jangan... Benta berusaha mengusir bayangan-bayangan buruk yang muncul di benaknya.

“He!?! Lihat itu, Benta! Rupanya salah seorang telah berhasil membunuh lawannya,” ujar Anggini ketika melihat sesosok tubuh tergeletak tak bergerak beberapa langkah di depannya.

“Kakang Ginta...!” Benta berteriak kalap begitu mengenali sosok tubuh yang tergeletak itu.

Memang orang yang tergeletak itu adalah kakak seperguruannya. Maka cepat diraihnya sosok tubuh yang masih dibasahi darah segar itu. Bukan main hancurnya hati pemuda itu melihat kematian kakak seperguruannya.

“Ah, siapa yang telah membunuhnya...?” gumam Anggini dengan suara lirih.

Gadis cantik itu pun turut bersedih atas kematian salah seorang penolongnya. Meskipun merasa tidak suka dengan pandangan mata yang terlihat hangat dan mesra dari kedua orang itu, namun ia pun bukanlah seorang yang tidak tahu berterima kasih. Gadis itu tetap menghargai dan menyukai mereka sebagai sahabat yang menyenangkaa Dan kini tahu-tahu saja salah seorang dari penolongnya terbunuh. Bahkan tidak seorang pun dari mereka yang sempat melihat pembunuh itu. Maka tentu saja kejadian itu menimbulkan rasa penasaran di hati Anggini.

Sementara Benta masih tetap memeluk tubuh kakak seperguruannya yang sudah tewas itu. Terdengar keluhan-keluhan lirih dari mulut pemuda berkumis itu. Sepertinya hatinya benar-benar merasa terpukul atas kejadian itu.

“Hm.... Akan kucari bangsat itu sampai dapat! Akan kucabik-cabik tubuhnya sampai hancur dan tidak berbentuk lagi!” geram Benta. Pemuda itu segera bangkit dengan sepasang mata mencorong menakutkan. Hingga Anggini sendiri pun sampai bergetar harinya.

“Benta. Lebih baik kuburkan dulu mayat kakakmu itu. Besok, baru kita selidiki orang yang telah berbuat sekejam itu,” Anggini mengajukan usulnya ketika melihat Benta melangkah sambil memondong mayat Ginta.

"Tidak, Anggini. Aku akan membawanya ke pondok. Malam ini aku akan menemaninya. Besok, baru dikuburkan,” sahut Benta dengan suara serak dan bergetar. Kemudian langkahnya pun diteruskan menuju pondok.

Untuk beberapa saat lamanya, Anggini hanya terpaku di tempatnya. Dimaklumi, apa yang saat tengah dirasakan Benta. Dan mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama apabila kejadian itu menimpa dua orang kakak seperguruannya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu pun melang-kahkan kakinya perlahan. Karena ia sadar, kalaiu pada saat-saat seperti itu biasanya orang tidak ingin ditemani. Maka langkahnya segera diperlambat. Anggini menghentikan langkahnya sejenak. Dihelanya napas perlahan-lahan ketika teringat akan kedua orang saudara seperguruannya yang belum juga dapat ditemukan. Kekhawatiran mulai menyelinap di hatinya.

“Ah! Mudah-mudahan kejadian ini tidak menimpa diri kedua orang saudara seperguruanku! Kalau sampai terjadi apa-apa terhadap mereka, bagaimana aku harus mengatakannya kepada eyang guru. Bisa-bisa aku kena marah nanti,” pikir gadis itu dengan perasaan kacau.

Tanpa sadar langkah kakinya mengarah ke tepi sungai yang mengalir membelah hutan. Dengan hati semakin resah, gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas sebongkah batu yang cukup besar. Dipandanginya pantulan sinar bulan yang jatuh di atas permukaan air yang mengalir bening. Pildrannya kembali menerawang kepada kedua orang kakak seperguruannya, yang entah di mana saat ini.

“Eh...?!” Gadis cantik itu kembali menolehkan kepala dengan wajah tegang. Lapat-lapat telinganya yang terlatih menangkap suara-suara pertarungan yang diselingi teriakan marah. Dan Anggini semakin terkejut ketika mengenali bentakan Benta.

“Apakah.... Apakah...?!” Wajah gadis itu mendadak pucat begitu teringat akan kematian Ginta yang masih jadi tanda tanya di harinya. Dan kini terdengar kembali suara orang bertarung. Entah siapa yang tengah bertarung dengan Denta itu.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Anggini pun segera melesat menuju arah pondok. Tapi sayang, langkahnya tadi telah membawanya cukup jauh dari pondok tempat kedua orang pendekar muda itu tinggal. Sehingga, larinya harus tertunda-tunda untuk mencari arah suara orang yang tengah bertarung itu.

Sedangkan di pondok tempat kediaman Ginta dan Benta, tampak dua sosok tubuh tengah bertarung sengit! Tempat di sekitar arena pertarungan sudah porak-poranda. Sepertinya orang yang tengah bertarung dengan Benta itu memang memifiki kepandaian tinggi. Sehingga, biarpun Benta telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tetap saja terdesak hebat.

“Keparat! Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau memusuhi kami?” Benta berteriak-teriak marah sambil berlompatan menghindari serangan orang aneh itu. Hatinya benar-benar terkejut melihat kepandaian orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“Hm.... Siapa pun yang berani mendekati gadis itu, harus mati! Termasuk juga kau, Pemuda Mata Keranjang!” bentak lelaki tegap yang mengenakan pakaian serba hitam itu. Sesekali cahaya rembulan tampak menerangi wajahnya yang buruk dan menakutkan itu. Rambutnya yang panjang riap-riapan dan berwarna dua itu semakin menambah keangkerannya.

“Bangsat! Kau harus menebus kematian saudaraku!” bentak Benta semakin kalap. Pemuda itu cepat melempar tubuhnya jauh belakang ketika pedang di tangan lawan menyambar ke arah tiga bagian tubuhnya sekaligus.

“Huh! Jangan harap akan dapat lolos dari tanganku!” geram orang aneh itu. Dia memang menyangka Benta akan melarikan diri. Sesaat kemudian, tubuh orang itu pun melayang disertai ayunan pedangnya.

Wuuut! Wuuut!

“Akh...!” Benta kembali harus melempar tubuhnya, dan melaku-kan beberapa kali salto di udara. Diam-diam kegentaran di hati Benta mulai timbul melihat keganasan dan kehebatan lawannya. Namun perasaan itu berusaha ditekannya ketika teringat akan kematian kakak seperguruannya di tangan laki-laki aneh berwajah buruk itu.

“Hmh...!” Sambil menggeram gusar, Benta memutar senjatanya sedemikian rupa hingga membentuk gulungan sinar yang menyelimuti tubuhnya.

“Yeaaat..!” Dibarengi sebuah teriakan mengguntur, tubuh pemuda berkumis apis itu melesat menerjang lawannya. Pedang di tangannya berkelebatan cepat mengancam beberapa bagian tubuh yang mematikan.

“Huh...!” Laki-laki aneh berwajah buruk itu mengumpat. Dan pada saat itu juga pedang di tangannya bergerak cepat menimbulkan deru angin tajam. Sepertinya, ilmu pamungkasnya yang paling tinggi tengah dipersiapkan. Tubuhnya tampak agak membungkuk dengan kuda-kuda rendah.

“Hiaaah...!” Sambil membentak keras, tubuh orang itu melayang menyambut serangan Benta. Serangkum angin keras menyertai ayunan pedangnya. Dari tiupan angin yang menderu itu, dapat diduga betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki orang aneh itu.

SEMBILAN

Pada saat yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba dari belakang Benta melesat sesosok bayangan putih. Sinar keemasan yang menyilaukan mata tampak menyertainya. Dan...

Trangngng!

“Akh...!” Benturan keras yang memekakkan telinga seketika terjadi bagaikan guntur menggelegar. Tubuh orang aneh itu terlempar disertai teriakan kagetnya. Namun dengan gerakan indah, tubuhnya berputar beberapa kali di udara untuk kemudian mendarat empuk di atas tanah.

Hal itu pun dialami pula oleh sosok berjubah putih yang menyelamatkan Benta dari kematian. Setelah berputar beberapa kali, tubuhnya pun mendarat ringan dengan kuda-kuda kokoh.

“Siapa kau, Keparat! Aku sama sekali tidak mempunyai urusan denganmu! Sebaiknya, menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran!” ancam orang aneh berwajah buruk itu, geram. Sepasang mata orang aneh itu tampak mengeluarkan sinar berkilat yang menggetarkan jantung. Jelas sekali kalau dia merasa gusar atas campur tangan sosok tubuh berjubah putih itu.

“Hm.... Aku memang tidak mempunyai urusan secara langsung denganmu. Tapi perbuatanmu yang telah membunuhi orang-orang secara kejam, menyebabkan aku terpaksa harus mencampurinya. Apakah alasanmu membunuhi mereka, Kisanak?” tanya sosok berjubah putih itu tanpa gentar sedikit pun. Bahkan sepasang matanya menentang pandangan mata si orang aneh dengan tidak kalah tajamnya.

“Apa pedulimu, Pemuda Sombong!? Kalau memang ingin menghentikanku, lakukanlah! Karena, hanya kematianlah yang dapat menghentikan perbuatanku ini!” sahut laki-laki berwajah buruk itu. Seketika dia mehntangkan pedang di depan dada. Kali ini sikapnya terlihat lebih hati-hati. Mungkin baru menyadari kalau lawannya kali ini tidak dapat disamakan dengan korban-korbannya yang lain.

Sosok berjubah putih yang menggenggam pedang bersinar kuning keemasan itu pun telah pula bersiap menghadapi lawannya. Pedang di tangannya terangkat naik ke atas kepala. Bersamaan dengan gerakan itu, selapis kabut putih keperakan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Pendekar Naga Putih...!” seru orang aneh itu terkejut. Meskipun demikian, wajah orang itu sama sekali tidak menampakkan suatu gejala sedikit pun. Sedangkan kedua kakinya sudah melangkah mundur begitu mengetahui, siapa orang yang menjadi lawannya.

“Hm.... Pantas saja berani mencari urusanku. Rupanya kau pendekar muda yang tersohor itu!” geram laki-laki berwajah buruk itu sinis. Suaranya terdengar agak bergetar karena kekagetan yang bercampur kegentaran.

“Maaf, Kisanak. Sebenarnya aku tidak ada permusuhan denganmu. Dan kalau kau mau berjanji untuk menghentikan kekejamanmu itu, aku akan merasa senang sekali. Bagaimana, Kisanak?” tanya pemuda berjubah putih yang tak lain Panji itu.

“Huh! Apakah dikira aku akan lari terbirit-birit karena nama besarmu? Tidak, Sobat! Adalah suatu kehormatan besar apabila aku tewas di tanganmu. Namun, jangan harap kau dapat menghentikanku, kecuali bisa membunuhku. Itulah jalan satu-satunya yang harus kau lakukan,” jawab orang aneh itu yang rupanya salah duga dengan ucapan Panji.

“Jangan salah mengerti, Kisanak,” tiba-tiba terdengar suara merdu yang disusul munculnya sesosok tubuh ramping berparas jelita. Gadis cantik itu melangkahkan kakinya mendekati Panji. Siapa lagi gadis jelita itu kalau bukan Kenanga.

“Dengarlah, Kisanak. Pendekar Naga Putih sama sekali tidak bermaksud merendahkan ataupun menghinamu. Rasanya, jalan damai memang lebih baik daripada sebuah pertarungan. Dan Pendekar Naga Putih telah menawarkan jalan itu kepadamu. Bagaimana?” tanya gadis jelita itu lebih lanjut

“Hm.... Jangan coba membujukku, Nisanak. Apakah kau pikir dengan kecantikanmu itu dapat melemahkan hatiku? Hmh..., kau keliru. Sudah kukatakan tadi, hanya kematianlah yang dapat menghentikan perbuatanku! Jadi percuma saja kalau kau berniat membujukku!” sahut orang aneh itu tetap pada pendiriannya. Sepertinya, tekadnya memang sudah tidak bisa dirubah lagi.

“Kakang Benta! Kau..., kau tidak apa-apa...?” tiba-tiba saja terdengar seruan kecemasan. Begitu muncul, Anggini langsung menghampiri Benta yang wajahnya masih nampak pucat itu.

“Hhh... Aku tidak apa-apa, Anggini Pendekar Naga Putih telah menyelamatkanku dari keganasan laki-laki buruk itu,” desah Benta sambil menggerakkan kepala ke arah si orang aneh yang tampak mulai salah tingkah ketika melihat kedatangan Anggini.

Mendengar jawaban pemuda berkumis itu, barulah Anggini sadar kalau mereka tidak hanya berdua di tempat itu. Lalu, pandangannya dialihkan kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Terakhir, dipandangnya laki-laki berwajah buruk itu lekat-lekat. Dipandang sedemikian rupa oleh Anggini, orang aneh itu tampak semakin tidak bisa diam. Pandangannya kemudian dibuang ke arah lain. Sepertinya ia tidak suka dipandangi sedemikian tegas oleh Anggini.

Panji yang memang sejak semula sudah dapat menduga kalau laki-laki buruk itu sepertinya mempunyai hubungan dengan gadis cantik itu, mulai menduga-duga sebabnya. “Diakah yang membunuh Gutala dan Kakang Ginta, Kakang Benta?” tanya Anggini tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok tubuh laki-laki aneh itu.

“Aku tidak tahu, siapa yang kau maksudkan dengan Gutala itu. Tapi yang jelas, orang aneh itulah yang telah membunuh Kakang Ginta. Kepandaiannya memang sangat tinggi. Pantas saja kalau Kakang Ginta sampai tewas di tangannya. Jangankan hanya seorang diri. Bahkan berdua pun rasanya aku masih ragu untuk dapat mengalahkannya,” sahut Benta hrih. Dari nada suaranya jelas sekali kalau Benta merasa kecewa.

“Nisanak. Apakah kau dapat mengenali lelaki aneh itu? Kelihatannya, ia agak gentar menghadapimu,” tanya Panji seraya menolehkan kepalanya memandang Anggini.

Anggini mengerutkan keningnya begitu mendengar pertanyaan orang yang disebut Benta sebagai Pendekar Naga Putih. Diam-diam hatinya mengagumi pemuda tampan itu. Apalagi dalam usia yang semuda itu, ia telah mampu membuat nama besar dalam dunia persilatan. Tanpa sadar Anggini mulai membanding-bandingkan pemuda tampan itu dengan pamannya.

“Nisanak. Apakah kau mendengar pertanyaanku?” tanya Panji lagi ketika gadis cantik itu hanya memandanginya dengan sinar mata menerawang jauh.

“Oh, apa...?” Anggini menjadi tergagap ketika men-engar teguran Panji. Seketika lamunannya buyar. Wajahnya pun menjadi kemerahan teringat akan siapnya tadi.

“Aku tadi bertanya, apakah kau dapat mengenali atau pernah berkenalan dengan orang itu?” Panji mengulangi pertanyaannya.

“Oh, tidak. Aku sama sekali tidak pernah mengenalnya. Bahkan melihatnya pun baru kali ini,” jawab Anggini yang menjadi tidak mengerti, mengapa pendekar muda itu mengajukan pertanyaan yang terdengar aneh.

“Hei, berhenti! Mau lari ke mana kau?!” teriak endekar Naga Putih tiba-tiba.

Panji langsung menggenjot tubuhnya ketika laki-laki berwajah buruk itu hendak melarikan diri. Melihat kecepatan gerak lawannya, Panji bergegas mengerahkan ilmu lari cepatnya agar dapat mengejar orang aneh itu. Pendekar Naga Putih semakin mempercepat larinya. ketika orang aneh itu berlari semakin cepat. Meskipun semula sudah dapat menduga kepandaian lawannya, namun hatinya pun sempat terkejut juga ketika melihat kehebatan ilmu lari orang aneh itu. Sehingga, Panji terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga agar dapat menyusul laki-laki berwajah buruk itu.

“Jangan harap dapat meloloskan diri dariku, Pengecut!” bentak Panji gusar. Sesaat kemudian, tubuhnya melambung dan bersalto beberapa kali di udara.

Jleg!

Orang aneh itu terpaksa menghentikan langkahnya ketika tubuh Pendekar Naga Putih telah berdiri tegak menghadang jalannya. Sadar kalau tidak mungkin dapat lolos dari kejaran pendekar muda itu, maka senjatanya langsung digerakkan ke arah Panji.

“Yeaaat..!”

Wuuut! Wuuut..!

Panji bergegas melempar tubuhnya ke belakang mengindari serangan beruntun yang dilancarkan orang aneh itu. Namun Panji semakin terkejut ketika pedang lawan terus saja mengincarnya. Sepertinya, ia tidak ingin memberi peluang lawannya untuk membalas serangan. Maka Panji terpaksa harus memapak pedang lawan untuk mem-bendung serangan orang aneh itu.

Trangngng! Trangngng!

Baik Panji maupun orang aneh sama-sama terjajar mundur beberapa langkah ke belakang. Sepertinya, usaha Panji untuk menghentikan serangan gencar orang itu berhasil baik. Buktinya setelah benturan keras itu, orang aneh itu menghentikan serangan. Sepasang matanya menatap Panji tajam. Pedang di tangannya tampak bergetar karena dialiri tenaga sakti yang kuat. Orang aneh itu kini kembali menyiapkan serangan berikutnya.

“Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Mengapa tidak kau biarkan saja aku pergi!” geram orang aneh itu. Dia merasa gusar sekali atas ulah Panji yang masih juga mengejarnya.

“Maaf, Kisanak. Aku terpaksa harus mengejarmu. Karena kalau kubiarkan, maka korban kekejamanmu akan bertambah lagi. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi,” tegas Panji, dingin. Suaranya terdengar tenang, namun tetap waspada kalau-kalau lawannya akan berbuat curang.

“Keparat kau! Heaaat..!” Dibarengi teriakan mengguntur, tubuh orang aneh itu kembali menerjang Panji. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga menimbulkan gulungan sinar yang menderu bagai angin puting beliung.

“Haaat..!” Panji yang semakin menyadari kehebatan lawan, tidak ingin berbuat kesalahan. Pedangnya segera diputar meng-gunakan 'Ilmu Pedang Naga Sakti' yang merupakan ilmu pedang andalan.

Wrrr! Wrrr...!

Serangkum angin dingin yang sanggup membekukan jalan darah di tubuh lawan, berhembus keras mengiringi ayunan pedang Pendekar Naga Putin. Sinar kuning keemasan tampak bergulung-gulung bagaikan seekor naga yang turun dari langit Tentu saja hal itu membuat lawannya terkejut.

“Gila! Kabar tentang kehebatan Pendekar Naga Putjh ternyata bukan hanya isapan jempol belaka!” desis orang bermuka buruk itu penuh kagum. Sadar akan kehebatan lawannya, orang aneh itu pun bergegas mengerahkan seluruh tenaganya.

Sesaat kemudian, kedua orang tokoh sakti itu pun sudah saling menerjang hebat Dalam beberapa jurus saja, daun-daun kering dan bebatuan kecil beterbangan ke segala arah. Bukan hanya itu saja. Bahkan beberapa pepohonan di sekitarnya langsung bertumbangan terkena sambaran angin pedang kedua tokoh yang berilmu tinggi itu. Maka dalam sekejap saja, tempat itu telah porak-poranda bagai tergilas topan hebat.

Makin lama, Pendekar Naga Putin semakin bertambah kagum atas kehebatan lawan. Meskipun sebelumnya sudah diduga, namun sama sekali tidak disangka kalau orang bermuka buruk itu dapat menahan serangannya selama lebih dari tiga puluh jurus. Padahal, jurus-jurusnya sekarang ini merupakan jurus andalan. Maka tentu saja hal itu membuatnya penasaran.

Demikian pula halnya dengan orang aneh itu. Walaupun sudah sering mendengar tentang kehebatan Pendekar Naga Putih, namun tak urung terkejut juga. Memang, apa yang dirasakannya kali ini benar-benar di luar dugaannya. Sehingga, seluruh ilmu simpannya harus dikeluarkan kalau tidak ingin dipecundangi pemuda itu.

Sementara itu, Kenanga, Anggini, dan Benta telah tiba di dekat arena pertarungan. Anggini dan Benta ternganga kagum melihat pertarungan yang selama hidup belum pernah mereka saksikan. Keduanya sampai terbelalak pucat tanpa mampu mengeluarkan suara. Anggini dan Benta benar-benar dibuat takjub!

Sedangkan bagi Kenanga, pertarungan dahsyat itu bukanlah hal yang aneh. Dia memang telah sering melihat pertarungan kekasihnya, bahkan lebih hebat dari yang disaksikannya kali ini. Gadis jelita itu kemudian memperingatkan Anggini dan Benta agar tidak terlalu dekat dengan pertarungan. Karena bisa-bisa sambaran angin pukulan dan pedang dapat melukai mereka.

“Heaaat..!” Laki-laki berwajah buruk yang semakin penasaran itu tiba-tiba memekik nyaring. Saat itu juga tubuhnya berputar setengah lingkaran, disertai ayunan pedangnya.

Cwiiit! Swing! Wuuut..!

Ayunan pedang orang aneh itu menyambar cepat secara bersilangan. Secercah sinar berkilat yang disertai sambaran angin tajam mencicit memekakkan telinga, mengiringi serangan itu. Tiga buah serangan sekaligus meluncur mengancam tiga jalan darah kematian di tubuh Panji.

Pendekar Naga Putih sempat tercekat melihat serangan maut yang menggiriskan itu. Namun sebagai orang yang telah berpengalaman, ia tidak merasa gugup dalam menghadapi serangan dahsyat itu. Dengan tenang, tubuh Panji meliuk dan bergerak mundur. Begitu serangan lawan lewat, pedang di tangannya meluncur melakukan tusukan ke lambung lawan. Ujung pedang yang mengeluarkan sinar berpendar itu tampak bergetar membingungkan pandangan lawan.

Swingngng!

“Heaaah...!”

Sadar kalau serangan itu sangat berbahaya, lelaki berwajah buruk itu bergegas melempar tubuhnya ke belakang disertai bentakan. Maksudnya, agar serangan lawan terpengaruh. Namun Pendekar Naga Putih telah meraba gerakan lawan. Dan begitu tubuh lawan menghindar dengan membuat putaran ke belakang, tubuh pendekar muda itu pun bergerak menyusulinya disertai sambaran tangan kirinya yang membentuk cakar naga. Jari-jari yang telah terisi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' itu meluncur cepat mengancam dada lawannya.

Orang aneh itu berseru tertahan melihat dadanya tahu-tahu telah terancam cakar lawan. Cepat-cepat tubuhnya dimiringkan sambil menepiskan serangan itu dengan tangan kiri. Namun tanpa disangka-sangka, cakar itu langsung berputar dan kembali menyambar mukanya.

Brettt!

“Akh...!” Lelaki berwajah buruk itu menjerit tertahan ketika sambaran cakar Panji merobek pipi kirinya. Namun meskipun begitu, ia masih juga dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Hasilnya, kakinya dapat didaratkan di atas tanah dengan selamat .

“Eh...?!” Panji tersentak kaget ketika tangan kirinya yang mencengkeram wajah orang aneh itu ternyata telah menggenggam sebuah topeng karet yang amat tipis. Cepat-cepat pandangannya dilemparkan ke arah orang aneh yang telah menjelma menjadi seorang laki-laki gagah yang cukup tampan. Dan sepertinya, orang itu belum menyadari kalau penyamarannya telah terbuka. Tak heran kalau ia masih tetap menatap Panji dengan sorot mata tajam mengandung dendam.

“Paman Kembara...!” Tiba-tiba saja terdengar seruan Anggini yang lirih. Namun gadis cantik itu belum yakin sepenuhnya akan pandang matanya itu. Makanya, ia hanya menatap dengan sinar mata terbelalak.

“Ahhh...!” Orang aneh yang tak lain Kembara itu tersentak bagaikan mendengar ledakan petir ditelinganya. Wajah yang bersih dan gagah mendadak pucat Dengan tangan gemetar, wajahnya diraba. Dan ketika tidak merasakan adanya topeng yang selama ini menurupi wajahnya, tubuhnya pun semakin gemetar hebat.

“Paman...!” Setelah yakin kalau orang itu memang pamannya, Anggini pun bergegas menghambur ke arah Kembara. Terdengar isaknya yang lirih. Gadis itu benar-benar telah lupa akan perbuatan pamannya yang telah begitu tega membunuh orang-orang yang mengganggu dan mendekatinya. Yang teringat saat ini adalah, kasih sayang pamannya yang telah merawatnya sejak kecil. Tentu saja hal itu tidak mungkin akan dapat dilupakannya.

“Ah...!” Kembara merasa kan hatinya hancur. Rasanya ia lebih baik mati saat ini, daripada harus menanggung malu karena penyamarannya telah terbongkar. Begitu melihat Anggini berlari ke arahnya, laki-laki gagah berusia tiga puluh satu tahun itu pun segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.

“Pamaaan...!” Anggini berteriak mencegah kepergian Kembara.

Namun Kembara tidak mempedulikannya. Dia terus saja berlari tanpa menoleh lagi. Lemas rasanya seluruh persendian tubuh Anggini. Gadis itu hanya dapat terduduk sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Terdengar suara isaknya yang lirih.

Tinggallah Panji, dan Benta yang terpaku saling berpandangan. Pendekar Naga Putih pun tidak mengejar laki-laki gagah yang dipanggil Paman Kembara itu. Mereka benar-benar bingung melihat perubahan yang sama sekali tidak pernah diduga itu. Sehingga untuk beberapa saat, mereka hanya terpaku tanpa suara.

Tidak berapa lama kemudian, Anggini bergerak bangkit Gadis cantik itu menyusut air matanya sejenak, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah tiga orang yang masih berdiri menatapnya dengan heran. Mereka memang tidak mengerti, apa yang membuat gadis itu menangis. Rasanya tidak mungkin kalau hanya karena ditinggalkan pamannya. Pasti ada sesuatu penyebab yang lebih dari itu.

Dengan langkah gontai, Anggini melangkah menghampiri Panji, Kenanga, dan Benta. Pandang matanya yang redup tampak tertuju kepada Benta. Gadis cantik itu menghentikan langkahnya dalam jarak satu batang tombak.

“Kakang Benta, ketahuilah. Bahwa orang yang telah membunuh saudaramu itu adalah pamanku. Aku tidak tahu, apa yang telah menyebabkannya hingga berbuat demikian. Tapi kalau kau ingin membalaskan kematian saudara seperguruanmu itu, lampiaskanlah padaku. Hal ini kulakukan bukan semata-mata karena aku keponakan ataupun muridnya yang telah diasuh sejak kecil. Ini hanya karena aku yakin kalau perbuatan pamanku itu ada sangkut-pautnya dengan diriku. Dan demi orang yang telah mendidikku sejak kecil, aku rela menebus dosanya dengan darahku. Dan aku percaya, pamanku tidak akan melakukan perbuatan seperti ini lagi,” ujar Anggini dengan sinar mata pasrah.

Benta hanya berdiri kaku menatap wajah cantik yang telah menyentuh hatinya itu. Sehingga untuk beberapa saat, ia hanya berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Meskipun dendam di hatinya belum mampu dihilangkan, namun ia tidak akan tega untuk membalaskan dendam terhadap gadis itu.

"Pendekar Naga Putih! Kau sebagai orang yang lebih berpengalaman, tentunya bisa mengambil jalan tengah. Sekarang, apa pendapatmu? Rasanya saat ini aku membutuhkan nasihatmu,” pinta Benta seraya menolehkan kepalanya ke arah Panji yang berada tidak jauh di sebelahnya.

Panji tidak langsung menjawab. Kemudian kakinya melangkah perlahan. Dipandanginya kaki langit sebelah Timur yang dijalari wama kemerahan. Rupanya, saat itu pagi sudah mulai menjelang. “Benta, kau meminta pendapatku, atau menyerahkan persoalan ini kepadaku?” tanya Pendekar Naga Putih yang segera mengalihkan pandangan. Ditatapnya Benta lekat-lekat.

“Mmm.... Aku menyerahkan persoalan ini kepadamu. Apa pun yang menjadi keputusanmu, akan kusetujui,” sahut Benta tanpa ragu-ragu sedikit pun. Sepertinya pemuda itu telah menaruh kepercayaan penuh kepada Pendekar Naga Putih.

“Menurut pendapatku, kejadian seperti ini rasanya tidak akan terulang lagi. Pembunuh aneh yang ternyata adalah paman gadis ini, tidak mungkin akan melakukannya lagi. Sebab, rahasia yang selama ini menyelimuti dirinya sudah terungkap. Dan menurut penglihatanku, pada dasarnya orang itu tidaklah sejahat yang kita duga. Jadi, alangkah baiknya kalau kita lupakan saja persoalan ini. Bagaimana, Benta?” tanya Panji setelah menerangkan panjang lebar tentang pendapatnya.

“Aku menyetujuinya, Pendekar Naga Putih. Biarlah persoalan ini dihabiskan sampai di sini saja. Nah! Kalau begitu, aku pergi dulu untuk mengurus jenazah kakak seperguruanku. Selamat tinggal!” pamit Benta seraya melangkah meninggalkan tempat itu.

“Selamat jalan, Kakang Benta. Terima kasih atas kebaikan hatimu yang mau memaafkan kekhilafan pamanku!” ucap Anggini dengan wajah agak berseri. “Maaf, Pendekar Naga Putih. Aku pun harus menyusul pamanku.”

Panji dan Kenanga hanya menganggukkan kepala dengan senyum terkembang. Kemudian gadis itu cepat melesat pergi. Makin lama, bayangan tubuhnya yang ramping kian hilang ditelan kejauhan.

“Sepertinya antara orang yang dipanggil Paman Kembara dan gadis itu ada sesuatu yang aneh, Kakang? Apakah kau pun melihatnya?” tanya Kenanga setelah Anggini tak terlihat lagi.

“Hm.... Ya. Aku jadi ingin tahu, ada apa sebenarnya di antara kedua orang itu. Ayo, kita ikuti gadis itu,” ajak Panji.

Pendekar Naga Putih segera mengayunkan kakinya mengejar Anggini. Kenanga yang juga merasa penasaran, bergegas mengikuti langkah kekasihnya.

********************

“Demikianlah, Eyang. Setelah memberi pelajaran kepada kedua orang pembunuh itu, maka kami bergegas kembali menemui Adik Anggini. Tapi sayang, kami tidak berhasil menemukannya. Setelah mengitari seluruh desa tanpa hasil, maka kami pun memutuskan untuk kembali ke lembah. Dugaan kami, mungkin Adik Anggini telah kembali ke sini,” lapor salah seorang dari kedua pemuda yang tengah duduk di hadapan seorang kakek renta.

“Hm...,” kakek yang tak lain adalah Begawan Madapati itu hanya bergumam sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan berwama putih.

“Ampunkanlah kami, Eyang. Kami mengaku salah,” ucap pemuda yang satunya, lirih. Wajahnya yang gagah tampak menunduk penuh penyesalan.

“Sebaiknya kalian beristirahat dulu. Nanti Eyang akan menyuruh pamanmu untuk mencarinya. Mudah-mudahan saja ia segera kembali,” ujar kakek itu lembut, penuh harap.

Lega hati kedua pemuda itu ketika tidak mendengar adanya nada kemarahan dalam suara kakek itu. Mereka pun segera berpamitan untuk kembali ke pondok masing-masing.

Setelah kepergian kedua orang muridnya itu, Begawan Madapati bergegas meninggalkan pondoknya. Begitu tiba di luar pondok, tubuh kakek itu melesat menuju ke suatu tempat yang hanya diketahui Kembara dan dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Begawan Madapati tiba di sebuah mulut gua yang agak tertutup semak-semak. Untuk beberapa saat lamanya, kakek itu hanya berdiri mengawasi mulut gua. Lalu kakinya melangkah memasuki mulut gua itu.

“Aku telah mengetahui kedatanganmu, Kembara. Mengapa kau tidak langsung menghadapku, tapi kau malah menyembunyikan diri di tempat ini?” tanya kakek itu sambil mengawasi sosok tubuh yang telah membelakanginya.

“Ampunkan aku, Eyang. Aku... aku telah membuat kesalahan yang besar,” sahut sosok tubuh yang tak lain adalah Kembara itu. Rupanya ia pun telah mengetahui kedatangan gurunya. Kembara menundukkan wajahnya yang pucat di depan kakek itu.

“Ceritakanlah, Muridku. Jangan kau simpan kedukaan itu dalam hatimu. Sebab kedukaan itu dapat meracuni tubuhmu dan merusak batin,” ujar Begawan Madapati yang memang sangat menyayangi murid turiggalnya itu. Memang, hanya Kembara-lah yang merupakan murid langsung hasil didikannya.

Kembara yang sudah lama mengetahui akan perasaan gurunya itu, segera menceritakan apa-apa yang telah diperbuatnya. Sedangkan Begawan Madapati hanya mendengarkan disertai helaan napas panjang. Orang tua itu hampir-hampir sulit mempercayai cerita yang didengarnya.

“Hhh.... Mengapa kau sampai tersesat sedemikian jauh, Kembara? Sadarkah kau bahwa perbuatanmu itu bisa menimbulkan kesulitan buat kita semua,” desah Begawan Madapati. Laki-laki tua itu merasa agak terpukul mendengar perbuatan murid satu-satunya yang amat disayangi itu.

“Ampunkan aku, Eyang. Hukumlah aku,” rintih Kembara dengan wajah yang semakin pucat bagaikan tak berdarah.

“Sudahlah. Penyesalan itu tidak mungkin akan dapat menghidupkan orang-orang yang telah kau bunuh. Sebaiknya, tetaplah di sini. Bersihkanlah hatimu dari segala nafsu jahat yang masih menguasai dirimu,” ujar Begawan Madapati. Kemudian, laki-laki tua itu melang-kahkan kakinya keluar dari tempat ini. Terdengar helaan napas berat yang mewakili kekecewaan hatinya.

“Baik, Eyang,” sahut Kembara yang segera melihat kedua kakinya untuk melakukan semadi seperti yang diperintah gurunya.

********************

“Eyang...!” begitu memasuki pondok, Anggini langsung menjatuhkan dirinya berlutut di depan Begawan Madapati. Wajah gadis itu tampak pucat. Rambutnya yang biasa-nya selalu terkepang dua, kini nampak terurai kusut.

“Anggini! Kau sudah kembali, Cucuku. Syukurlah kau selamat,” sambut kakek itu seraya mengelus rambut kepala Anggini

“Eyang! Paman.., Paman Kembara di mana, Eyang?” tanya Anggini, langsung. Sepasang matanya tampak masih merah dan agak membengkak karena terlalu banyak menangis.

“Mengapa datang-datang langsung menanyakan pamanmu, Anggini? Apakah ada sesuatu yang terjadi terhadap pamanmu? Di mana kau bertemu dengannya?” tanya Begawan Madapati, memancing keterangan gadis itu.

Dengan terbata-bata, Anggini segera menceritakan mengenai pengalamannya selama meninggalkan Lembah Gunung Tangger.

“Hm.... Kemarin pamanmu telah kembali, tapi kemudian pergi lagi untuk membersihkan hatinya yang ternyata masih bisa diracuni perasaannya itu. Dan hal itu lebih baik baginya,” ujar Begawan Madapati sengaja menyembunyikan hal yang sebenamya.

“Tapi, Eyang. Aku harus bertemu paman. Aku ingin tahu, mengapa paman melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu? Aku ingin mendengar alasannya, Eyang,” rintih Anggini lirih. Air mata gadis ttu kembali mengalir membasahi prpinya. Harinya sedih sekali ketika mendengar kalau pamannya kembali telah pergi meninggalkannya. Anggini merasakan dunianya semakin sempit. Semangat hidupnya pun langsung lenyap bersama kepergian sang Paman.

“Anggini..!” Tiba-tiba terdengar suara serak yang bergetar dari arah pintu pondok. Seorang lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di muka pintu dengan wajah pucat.

“Paman..!” Begitu mengenali, Anggini langsung menghambur ke dalam pelukan orang itu. Tangisnya pun meledak memilukan. Hingga untuk beberapa saat lamanya ruangan pondok itu menjadi hening. Yang terdengar hanya suara tangis Anggini yang semakin lemah.

“Paman! Apakah yang membuat Paman melakukan perbuatan-perbuatan itu? Katakanlah, Paman. Aku ingin mendengarnya,” desak Anggini. Suaranya terdengar lirih, namun penuh tuntutan. Gadis cantik itu menengadahkan wajahnya memandangi wajah pamannya lekat-lekat.

“Anggini, aku..., aku...,” Kembara tergagap karena apa yang akan diucapkannya adalah sesuatu yang tidak pantas menurutnya.

“Katakanlah, Paman,” desak Anggini.

“Maafkan aku, Anggini. Aku..., aku tidak bisa mengatakannya,” sahut Kembara yang wajahnya menjadi pucat dan merah berganti-ganti.

“Paman melakukannya karena mencintaiku, bukan? Mengapa harus disembunyikan? Mengapa Paman tidak pernah mengatakannya kepadaku? Mengapa Paman malah menjauhiku? Tidakkah Paman sadar kalau aku pun mencintaimu. Dan betapa tersiksanya aku menunggu-nunggu pengakuan Paman. Apakah Paman tidak mengetahui hal itu?” Anggini tahu-tahu saja begitu lancar berbicara.

“Tidak, Anggini. Aku sudah terlalu tua untukmu. Lebih baik kau pilih salah seorang di antara kakak seperguruanmu. Mereka adalah pemuda pilihan yang lebih baik daripada aku,” jawab Kembara berusaha mengelak karena perbedaan umur mereka yang terlalu jauh. “Aku tahu, kedua orang saudaramu itu sangat mencintaimu, Anggini. Dan aku percaya, mereka pasti akan menjagamu dengan baik.”

“Tidak, Paman. Pamanlah yang lebih tepat untuk menjaga Adik Anggini. Kami berdua rela. Dan kami sadar, hanya Pamanlah lelaki satu-satunya yang dicintai Anggini. Dan lagi menurut kami, Paman tidaklah setua seperti yang Paman rasakan. Jadi rasanya tidak ada lagi yang patut dipersoalkan,” ujar salah seorang dari kedua pemuda yang tak lain adalah Wirasaba dan Samba.

Mereka memang tahu-tahu saja telah muncul di belakang pamannya. Rupanya seperti halnya Kembara, mereka pun tak sengaja datang ke tempat itu. Niat mereka semula hanyalah ingin menghadap Begawan Madapati untuk menanyakan kabar Anggini dan pamannya.

“Ah, Wirasaba, Samba. Kalian pun sudah ada di sini rupanya,” sapa Kembara yang segera menyuruh kedua orang muridnya itu masuk. Setelah itu, Kembara mengalihkan pandangannya kepada Begawan Madapati yang hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Nah! Kali ini kau tidak ada alasan lagi, Paman. Eh, Kakang. Mereka semua sudah setuju. Jadi, aku pun tidak sudi lagi untuk memanggil paman. Maka, biarlah kau kupanggil dengan Kakang Kembara saja. Agar kau tidak merasa tua.” Sambil berkata demikian, Anggini segera menarik tangan Kembara menuju keluar pondok. Langsung dlbawanya laki-laki itu ke tepi sungai.

Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Kembara pun hanya menurut saja, ke mana gadis cantik itu membawanya. Wajahnya yang semula pucat nampak mulai berseri. Kebahagiaan jelas terpancar dari mata keduanya.

Begawan Madapati hanya tersenyum melihat kepergian kedua orang itu. Demikian pula dengan Wirasaba dan Samba. Mereka semua berharap agar Kembara bisa menebus dosa-dosanya dengan berbuat baik dikemudian hari. Mereka pun sadar, cinta memang mampu mengalahkan segalanya. Termasuk menutup mata dan jiwa kependekaran Kembara. Perasaan cemburunya terlalu berkobar-kobar! Padahal sesungguhnya Kembara adalah seorang laki-laki yang berjiwa baik dan jujur.

********************

“Nah! Betul kan, dugaanku. Mereka pasti saling cinta,” ujar seorang gadis jelita yang tengah berdiri berdampingan di atas sebongkah batu besar di seberang sungai. Rupanya Pendekar Naga Putih dan Kenanga telah sampai pula di Lembah Gunung Tangger. Dan mereka memperhatikan semua kejadian itu dari jauh.

“Ya. Mudah-mudahan saja, mereka pun berbahagia seperti kita,” sahut Panji yang berada di sebelah Kenanga. Setelah berkata demikian, kedua tangan Pendekar Naga Putih langsung bergerak menyambar tubuh gadis jelita itu. Seketika, Kenanga dibawanya lari meninggalkan lembah.

“Aih! Apa-apaan ini, Kakang? Sudah mulai genit, ya?” seru Kenanga manja. Meskipun bibirnya berkata demikian, namun gadis itu tidak berusaha melepaskan tubuhnya dari pondongan Pendekar Naga Putih.

S E L E S A I

Asmara Di Ujung Pedang

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Asmara Di Ujung Pedang
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta

Cerita silat Indonesia Serial Pendekar Naga Putih karya T. Hidayat

SATU

SEBUAH kereta kuda tampak tengah merangkak perlahan menyusuri jalan berliku. Batu-batu berserakan di jalan, membuat laju kereta menjadi lambat. Tidak jarang kusir kereta yang berusia sekitar lima puluh tahun itu harus turun dan menarik keretanya karena terperosok lubang yang banyak terdapat di jalan itu.

Di kiri-kanan kereta kuda itu tampak empat orang lelaki gagah mengiringinya sambil menunggang kuda. Melihat dari sikap keempat orang penunggang kuda itu, jelas kalau mereka bertugas melindungi kereta kuda itu. Di dalam kereta kuda, duduk seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Di sampingnya, duduk seorang wanita cantik bersama seorang bocah perempuan yang berada di tengah-tengah mereka berdua. Kelihatan-nya, mereka inilah yang harus dilindungi. Sebentar kemudian, laki-laki itu membuka tirai jendela kereta kuda. Kepalanya dijulurkan ke luar.

“Tidak adakah jalan yang lebih baik daripada jalan ini, Jantar?” tanya lelaki yang berada dalam kereta kuda, kepada seseorang yang dipanggil Jantar. Dialah yang menjadi kusir kereta kuda ini.

“Maaf, Tuan Besar. Memang hanya jalan inilah satu-satunya yang lebih dekat ke kadipatan. Tapi, kesulitan ini tidak akan berlangsung lama. Karena, sebentar lagi kita akan tiba pada jalan rata,” jelas Ki Jantar sambil menyusut peluh yang menganak sungai membasahi wajahnya. Memang, saat itu matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya begitu terik, memancar garang dan terasa menyengat kulit.

“Ranta! Coba lihat ke depan. Berapa jauh lagi kita harus berada di jalan neraka ini?” perintah lelaki berkumis tipis yang dipanggil tuan besar itu, kepada penunggang kuda yang berada di sebelah kin kereta.

“Baik, Tuan Besar,” sahut lelaki tinggi tegap berwajah brewok yang dipanggil Ranta, menyahuti. Kemudian kudanya digebah sehingga melesat mendahului kereta kuda.

Debu dan batu-batu kecil beterbangan ke udara ketika kuda Ranta meluncur ke depan. Tidak berapa lama kemudian, binatang beserta penunggangnya itu lenyap di balik sebuah tikungan yang terhalang pohon-pohon besar di tepi jalan. Sementara itu kereta kuda terus merayap perlahan melintasi jalan yang rusak. Namun, sampai mereka tiba di tikungan jalan, lelaki berwajah brewok tadi belum juga terlihat kembali. Padahal untuk mencapai tikungan jalan itu, mereka telah memakan waktu yang cukup lama.

“Mengapa Ranta begitu lama? Bukankah tadi kau katakan kalau tidak lama lagi jalan rusak ini dapat kita lewati? Apa ucapanmu tadi hanya untuk menghiburku, Jantar?” tegur lelaki yang berada di dalam kereta, kembali menjulurkan kepalanya. Sambil berkata demikian, lelaki itu menatap Ki Jantar lekat-lekat. Sinar matanya jelas memancarkan kekesalan hati.

“Betul, Tuan Besar. Aku sama sekali tidak berhohong. Setelah melewati dua belokan lagi, maka jalanan rusak ini akan berakhir. Aku sendiri merasa heran, mengapa Ranta begitu lama?” sahut Ki Jantar. Ki Jantar tidak berani membalas tatapan tuan besarnya. Karena dari nada suaranya, dia tahu kalau majikannya sedang kesal.

“Biar aku yang akan menyusulnya, Tuan Besar. Siapa tahu Adi Ranta mengalami kesulitan,” pinta pengawal yang berada di sebelah kanannya, agak keras.

“Hm.... Pergilah. Tapi jangan terlalu lama!” sahut laki-laki yang dipanggil tuan besar itu, cepat Kemudian, kepalanya kembali ditarik dari jendela kereta. Lalu, tubuhnya disandarkan, disertai hembusan napas berat

“Sudahlah, Kakang. Mengapa harus kesal? Bukankah Kakang sendiri yang meminta kepada Ki Jantar supaya mengambil jalan pintas,” hibur wanita cantik yang memang istri tuan besar itu dengan lembut.

“Hhh....” Lelaki itu hanya mendesah lirih sambil membelai kepala anaknya yang berusia sekitar tujuh tahun, dan nampak tertidur lelap. Sepertinya, ia sama sekali tidak merasa terganggu oleh guncangan-guncangan kereta kuda yang ditumpanginya. Ketika kereta membelok lagi, lelaki yang kelihatannya adalah seorang saudagar kaya itu kembali menjulurkan kepala, memandang keluar.

“Apakah kedua orang itu belum juga kembali, Jantar?” tanya saudagar itu dengan kening berkerut. Di wajahnya terbayang keheranan besar.

“Belum, Tuan Besar. Entah apa yang mereka lihat sampai begitu lama belum juga kembali,” sahut Ki Jantar yang juga merasa heran dengan keanehan itu.

“Hm..., aneh!” gumam saudagar itu sambil mengusap-usap dagunya. Sementara itu, tampak dua orang pengawal hendak bergerak menyusul kedua rekannya.

“Kalian tetap saja berjaga-jaga di belakang dan tidak perlu menyusul mereka. Mungkin mereka sengaja menunggu kita di perbatasan jalanan buruk ini,” cegah saudagar itu kepada kedua orang pengawal tadi.

Kedua orang lelaki itu mengangguk hormat dari ter-paksa membatalkan niatnya. Keduanya kembali memutar kuda tunggangannya dan kembali mengiringi kereta dari belakang.

“Ah..., Tuan Besar. Lihat..., lihat itu...!” teriak Ki Jantar dengan wajah pucat bagai mayat.

“Ada apa, Jantar...? Ahhh...!” saudagar itu menahan seruannya. Sepasang matanya terbelalak lebar melihat apa yang terbentang di depan mereka.

Dua orang pengawal yang mengiringi kereta dari belakang itu pun terkejut ketika mendengar teriakan Ki Jantar. Keduanya cepat membedal kuda masing-masing, sehingga segera melesat ke depan. Dan apa yang disaksikan, benar-benar membuat hati mereka berdebar tegang.

“Ranta.... Langsat..!? Apa yang terjadi dengan mereka...?!” kata salah seorang pengawal itu ketika melihat tubuh kedua orang kawannya tergeletak di tengah jalan dalam keadaan tewas. Tubuh keduanya tampak digenangi darah yang membasahi bumi.

“Mereka..., mereka telah tewas, Kakang...,” jelas pengawal yang seorang lagi dengan suara bergetar penuh kemarahan. Hampir dia tidak mempercayai kejadian itu. Hatinya berharap bahwa hal itu hanya merupakan sebuah mimpi buruk yang menakutkan.

Belum lagi kedua orang pengawal itu bangkit, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan parau dari sekeliling mereka. Kemudian, disusul berloncatannya belasan sosok tubuh yang segera mengepung mereka. Secepat kilat, kedua orang pengawal itu bergegas bangkit sambil melolos senjata masing-masing. Mereka bergegas melompat menghindari sambaran senjata yang mengancam. Dan tanpa banyak tanya lagi, kedua orang pengawal itu segera menyambut serangan-serangan yang dilancarkan orang-orang tak dikenal. Maka sebentar saja, pertarungan pun terjadi.

Kedua orang pengawal itu berusaha mati-matian untuk menghampiri kereta kuda. Mereka mengamuk hebat, karena khawatir akan keselamatan majikan dan keluarga-nya. Sehingga, tidak lagi dipedulikan selembar nyawa mereka masing-masing. Tapi sayang, belasan orang kasar yang sudah jelas perampok itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Sehingga lama kelamaan, kedua orang pengawal itu pun terdesak hebat.

Brettt! Brettt!

“Aaakh...!”

Jerit kematian berkumandang ketika tubuh kedua orang pengawal itu terbanting ke atas tanah, dan sudah berlumuran darah. Kedua pengawal setia itu tewas di ujung pedang pengeroyoknya.

Bukan main terperanjatnya hati saudagar muda itu ketika mendengar jeritan tadi. Sudah bisa diduga, itu jeritan kemauan kedua orang pengawalnya. Kejadian yang sama sekali tidak diduga itu membuat otaknya tidak dapat berpikir untuk beberapa saat lamanya. Ia baru tersadar ketika mendengar teriakan-teriakan para perampok itu.

“Serbu...!” Seorang lelaki berperut buncit dan berkepala botak, meluruk maju setelah memberi aba-aba kepada anak buahnya. Maka, tanpa diperintah dua kali, belasan orang perampok itu langsung menghambur ke arah kereta yang ditumpangi saudagar muda dan keluarganya.

“Jantar, lariii...!” teriak saudagar muda itu dengan wajah pucat bagai tak dialiri darah. Setelah itu, kepalanya ditarik ke dalam kereta dan memeluk tubuh anak istrinya yang menjerit-jerit ketakutan. Ki Jantar yang sudah dapat meraba maksud belasan orang lelaki kasar itu, bergegas melecutkan cambuknya kuat-kuat ke tubuh dua ekor kuda yang menghela kereta itu.

Siuuut... Tappp!

Ujung cambuk yang meluncur deras itu tiba-tiba saja tertahan di udara. Ki Jantar semakin pucat wajahnya ketika melihat lelaki gendut berkepala botak lelah menangkap ujung cambuk dengan jemari tangannya.

“Hih...!” Sebelum Ki Jantar sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba lelaki gendut itu membentak sambil menyentak cambuk ditangan lelaki setengah baya itu.

“Aaa...!” Bukan main ngerinya hati Ki Jantar ketika tubuhnya terasa melambung akibat sentakan kuat itu. Dan sebelum menyentuh permukaan tanah, sebuah pukulan keras mem-buat tubuhnya terpental balik disertai jerit kematiannya. Tubuh kusir malang itu ambruk ke tanah disertai semburan darah segar yang mengalir deras dari mulutnya. Setelah berkelojotan sesaat, dia pun diam tak bergerak-gerak lagi. Ki Jantar tewas seketika.

“Jangan...! Lepaskan! Jangan ganggu kami! Kakang, tolooong...!” wanita cantik istri saudagar yang berusia sekitar dua puluh tujuh tahun menjerit-jerit dalam dekapan seorang anak buah perampok. Namun meskipun meronta sekuat tenaga, tetap saja ia masih kalah kuat dengan perampok yang seperti kerasukan setan itu.

“Biadab! Kalian boleh ambil semua barang-barang yang ada dalam kereta itu, asalkan jangan ganggu anak istriku!” saudagar muda itu berteriak-teriak marah sambil berlari menghambur ke arah istrinya. Namun sebuah kelebatan senjata membuat langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya bergerak limbung sambil menekap perut yang berlumuran darah. Ternyata sebuah bacokan membuat saudagar muda itu ambruk ke atas tanah.

“Ough.... Nyai..., Anggini...,” rintih saudagar muda itu seraya menggapaikan tangannya dengan wajah bersimbah darah.

“Kakaaang...!” wanita cantik itu menjerit memilukan ketika melihat kepala suaminya terkulai lemah dan tak bergerak lagi.

“Ayaaah...!” bocah perempuan berusia tujuh tahun ber-teriak-teriak memanggil ayahnya. Ia meronta-ronta dalam pondongan salah seorang perampok.

“Diam kau, Bocah...!” bentak perampok itu tanpa rasa iba sedikit pun melihat bocah kecil itu menjerit-jerit sambil menangis.

Plakkk!

Karena bocah perempuan itu masih juga menjerit-jerit, akhimya perampok bertubuh kurus dan berwajah licik itu melayangkan tamparan yang cukup keras. Akibatnya, tubuh kecil itu terpelanting dan pingsan seketika.

“Manusia jahat! Kau apakan anakku...?!” Wanita cantik itu kembali meronta dari dekapan anggota perampok. Sadar kalau masih kalah tenaga dari perampok yang mendekap tubuhnya, akhirnya ia terpaksa menggigit orang itu.

“Aaakh...!” Anggota perampok itu menjerit kesakitan sambil melepaskan dekapannya pada tubuh wanita itu.

“Anggini...!” Begitu terlepas dari pelukan lelaki kasar itu, ia pun langsung menghambur ke arah tubuh anak perempuannya yang masih tergeletak dengan bibir berdarah. Namun belum juga sampai, mendadak saja....

“Hait...! Ha ha ha.... Mau lari ke mana kau, Manis...?” cegah lelaki botak berperut gendut, sambil merentangkan tangannya menghadang lari wanita cantik itu.

Sepasang mata bulat indah itu melirik ke kiri-kanan bagaikan mata kelinci yang ketakutan. “Oh..., kasihanilah kami, Tuan. Lepaskanlah kami. Ambillah semua harta milik suamiku yang ada dalam kereta itu,” rintih wanita malang itu dengan wajah ber-simbah air mata.

“He he he.... Tidak mungkin, Manis. Kau tidak akan kulepaskan begitu saja. Ikutlah bersamaku, dan jadilah istriku. Pasti kau akan senang,” bujuk lelaki berkepala botak itu seraya meneguk air liurnya sendiri melihat kecantikan dan keindahan tubuh wanita di hadapannya itu.

“Ha ha ha...! Tunggu apa lagi, Kakang Gandil? Tubruk saja kijang muda yang menggiurkan itu. Kan, beres,” ujar seorang anggota perampok, tak sabar melihat sikap pemimpinnya.

“Betul, Kakang. Tidak usah membujuk-bujuk. Seret saja wanita cantik itu. Buat apa membuang-buang waktu,” timpal yang lain ikut memanasi.

Sedangkan para anggota perampok lainnya tengah sibuk menguras seluruh isi kereta kuda itu. Setelah semua barang-barang berharga dikeluarkan, salah seorang anggota perampok membawa kereta kuda itu ke tepi jurang. Kemudian, dia menceburkan nya setelah terlebih dahulu memasukkan tubuh Ki Jantar dan keempat mayat pengawal di dalamnya. Terdengar suara yang ramai ketika badan kereta beserta dua ekor kuda penghelanya meluncur menghantam bebatuan yang bertonjolan di dinding jurang. Sementara, lelaki berkepala botak yang merupakan pimpinan perampok itu sudah menerkam tubuh wanita cantik yang hanya mampu menjerit ketakutan.

“He he he...! Tidak ada gunanya meronta-ronta, Manis. Lebih baik nikmati saja babak pertama ini,” ujar lelaki berkepala botak yang bemama Gandil itu. Diciuminya seluruh wajah wanita itu penuh nafsu. Belum lagi nafsu iblisnya terlampiaskan, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut yang disusul jerit kesakitan!

Brukkk!

“Bangsat, berani kau mengganggu kesenanganku!” bentak Gandil. Langsung dikirimkannya tamparan keras ke arah sosok yang menerjang tubuhnya.

Sosok tubuh berpakaian kumal itu melintir akibat tamparan keras yang menghantam pelipisnya. Namun orang itu sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Dia langsung ambruk, tak bergerak lagi. Melihat hal ini, Gandil terkejut bukan main. Bahkan orang itu sama sekali tidak menjerit ketika tamparannya tepat mengenai pelipis.

Merasa curiga, Gandil bergegas menghampiri, lalu membalikkan tubuh orang yang menelungkup itu. Bukan main terkejutnya lelaki bengis berkepala botak itu ketika mengenali kalau orang itu ternyata anak buahnya sendiri.

“Bangsat! Siapa yang berani main-main dengan Macan Bukit Setan!” bentak lelaki gundul itu.

Gandil kemudian melompat keluar dari balik semak-semak. Kemarahan yang menggumpal dadanya, mem-buatnya jadi lupa pada calon korbannya yang terisak dengan pakaian tak karuan.

“Akulah yang datang untuk menghentikan kebiadabanmu, Macan Ompong!” sahut sesosok tubuh tinggi tegap yang berdiri gagah dalam jarak tujuh batang tombak dari tempat Gandil berdiri.

Kemarahan di hati Gandil berubah menjadi rasa terkejut yang amat sangat. Puluhan mayat anak buahnya yang bergeletakan saling tumpang tindih itu, membuat Macan Bukit Setan termangu untuk beberapa saat lamanya.

“Bersiaplah menyusul mayat-mayat pengikutmu!” ancam sosok berpakaian putih yang ternyata seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu Suaranya terdengar pelan, namun mengandung wibawa yang kuat. Tersentak Gandil ketika mendengar ucapan itu. Dengan kemarahan menggelegak, lelaki gundul itu melangkah maju menghampiri pemuda itu.

“Siapa kau, Anak Muda?! Sebutkan namamu sebelum tubuhmu kurobek-robek!” bentak Macan Bukit Setan menggereng murka.

“Kau ingin tahu namaku? Ketahuilah. Aku adalah Malaikat Maut yang mendapat tugas untuk mencabut nyawamu saat ini juga,” sahut pemuda gagah itu bernada mengejek.

“Keparat..! Terimalah kematianmu, haaat...!” Diiringi pekik kemarahannya, tubuh lelaki gendut itu melompat maju disertai cakamya yang menimbul-kan angin berkesiutan.

“Hmh...!” Pemuda berpakaian putih itu bergumam tak jelas. Dan begitu serangan lawannya tiba, tubuhnya digeser dan langsung dikirimkan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Wuuut!

Gandil memiringkan kepalanya menghindari sebuah pukulan yang menimbulkan angin menderu tajam. Begitu pukulan lawan lewat di samping kepalanya, tubuh gendut yang ternyata dapat bergerak gesit itu meliuk dengan kuda-kuda rendah.

“Hiaaah...!” Sambil membentak keras, tubuh Macan Bukit Setan berputar melakukan serangan. Maksudnya agar dapat membongkar kuda-kuda lawan. Sapuan kaki Gandil ternyata hanya membabat tanah berumput, karena kaki lawan yang menjadi sasarannya telah terangkat naik dan ditarik ke belakang. Tapi serangan lelaki gundul itu ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sapuannya yang tidak mengenai sasaran, kembali berputar cepat bagai baring-baling hingga menimbulkan deru angin kuat.

Wuuut! Wuuuk...!

Berkali-kali sapuan Gandil mengibas dengan kecepatan mengagumkan. Namun untuk yang kesekian kalinya, ia harus menelan kekecewaan. Memang lawannya yang meskipun berusia jauh lebih muda itu, ternyata sangat lincah. Sehingga setiap kali Macan Bukit Setan berputar, selalu saja dapat dielakkannya tanpa kesulitan.

Kenyataan itu membuat Gandil semakin bertambah penasaran. Ketika untuk yang kesekian kali serangannya mengenai tempat kosong, tiba-tiba saja tubuh lelaki berkepala gundul itu melenting disertai sambaran cakar yang mengancam leher dan lambung lawan.

Plakkk! Plakkk!

Terdengar ledakan keras sebanyak dua kali ketika pemuda gagah itu menggerakkan kedua tangannya memapak serangan Gandil. Dan sebagai akibatnya, tubuh lelaki gendut itu terdorong mundur dan hampir terjengkang. Untung saja dia segera menguasai tubuhnya dengan cara melenting dan melakukan beberapa kali salto di udara.

“Bangsat! Pantas saja berani berlagak! Rupanya kau memiliki kepandaian lumayan!” geram Macan Bukit Setan menyembunyikan rasa terkejutnya.

Memang, dari tangkisan lawannya tadi, ia dapat merasakan kalau tenaga pemuda itu kuat sekali. Bahkan menurut penilaiannya, mungkin masih jauh lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Kenyataan itu benar-benar membuatnya tergetar.

“Hm.... Jangan hanya memaki saja, Macan Ompong! Kalau memang memiliki kepandaian, majulah!” sahut pemuda gagah bertubuh tegap itu, tenang. Jelas ia sama sekali tidak terpengaruh akibat pertemuan tenaga tadi.

Macan Bukit Setan tidak segera menanggapi ucapan lawannya. Rupanya, pertarungan yang berlangsung hamprr tiga puluh jurus tadi telah membuat matanya terbuka. Sadar kalau untuk memperoleh kemenangan terlalu tipis baginya, maka ia pun segera melesat menuju semak-semak tempat wanita cantik istri saudagar muda yang dirampoknya itu ditinggalkan.

“Hei! Mau lari ke mana kau, Macan Ompong...?!” teriak pemuda gagah itu yang segera melesat melakukan pengejaran. Dugaannya, lawannya itu berniat hendak melarikan diri.

DUA

“Ha ha ha...! Majulah kalau ingin melihat tubuh wanita ini kurobek dengan cakarku!” ancam Macan Bukit Setan. Tahu-tahu saja, dia telah memeluk tubuh wanita cantik yang wajahnya dibasahi air mata itu.

Karena tidak menduga perbuatan licik lawannya, pemuda itu menjadi tertegun. Untuk beberapa saat lamanya, ia hanya dapat menatap Macan Bukit Setan dengan penuh kegeraman.

“Tuan, jangan pedulikan diriku! Aku rela mati asalkan kau sudi memenuhi permintaanku,” ujar wanita malang itu dengan suara bercampur isak. Sepasang mata sayu itu menatap wajah penolongnya, penuh permohonan.

“Apa permintaanmu, Nyai? Kalau memang aku mampu, akan kulaksanakan dengan senang hati,” sahut pemuda gagah itu sambil memutar otak untuk dapat melepaskan wanita itu dari cengkeraman Macan Bukit Setan.

“Selamatkanlah anakku. Peliharalah dia baik-baik. Aku percaya, anakku akan aman berada dalam lindunganmu,” pinta wanita malang itu. Air matanya kembali menetes mengingat kematJan suaminya.

“Aku akan memenuhi permintaanmu itu, Nyai. Bocah perempuan itu masih selamat dan tidak kurang suatu apa. Ia kusembunyikan di tempat aman. Tapi, kau pun harus kuselamatkan. Karena biar bagaimanapun, anak itu lebih memerlukanmu ketimbang aku,” sahut pemuda gagah itu setelah terdiam sejenak ketika mendengar permintaan wanita dalam cengkeraman Macan Bukit Setan.

“He he he.... Selangkah lagi maju, maka tubuh perempuan molek ini akan kucabik-cabik!” ancam Gandil ketika melihat pemuda itu mendekatinya.

Pemuda itu terpaksa menghentikan langkah ketika melihat cakar lelaki gundul itu bergetar, dan slap merencah tubuh molek dalam cengkeramannya.

“Hm.... Silakan kau cabik-cabik tubuh wanita itu, Macan Ompong. Bukankah kau sudah dengar sendiri penegasannya tadi?” tantang pemuda berpakaian putih itu tidak kalah gertak.

“Eh...!” Macan Bukit Setan berseru heran mendengar jawaban pemuda itu. Akibatnya, kewaspadaannya pun mengendur ketika melihat pemuda gagah itu kelihatan malah membalikkan tubuh seolah-olah tak peduli.

Namun, keheranan Gandil berubah menjadi rasa terkejut yang amat sangat! Betapa tidak? Sebab, pemuda yang semula membalikkan tubuhnya itu tiba-tiba bersalto bagai kilat. Langsung dikirimkannya serangan maut ke kepalanya. Gerakan yang demikian cepat dan tak terduga itu membuat Macan Bukit Setan terperangah kelabakan. Cepat-cepat tubuhnya ditarik sambil menyentakkan wanita cantik tawanannya.

Plakkk... Desss!

Tubuh Macan Bukit Setan terpental ke belakang jauh tiga batang tombak. Meskipun berhasil menangkis pukulan tangan kiri lawannya, namun hantaman tangan kanan lawan telak menghunjam dadanya.

“Huagkh...!” Darah segar terlompat dari mulut lelaki gundul itu. Macan Bukit Setan berusaha merangkak bangkit sambil menekap dada yang terasa remuk. Baru saja tubuhnya berdiri tegak, sebuah tendangan kilat disertai pengerahan tenaga yang amat kuat kembali menggedor dadanya.

Bugkh!

“Hugkh...!” Tak ayal lagi, tubuh Macan Bukit Setan terjengkang ke belakang dan menghantam batu besar di belakangnya. Akibatnya, kepala gundul itu berderak keras disertai percikan darah yang bercampur cairan putih. Maka tamat-lah riwayat Macan Bukit Setan.

“Ohhh...!”

Pemuda berpakaian putih itu menoleh ke arah asal keluhan lirih yang tertangkap telinganya. Cepat dihampirinya, ketika matanya melihat tubuh wanita cantik itu tergeletak berlumuran darah.

“Nyai.... Kau..., kau kenapa...?” tanya pemuda itu sambil membungkuk memeriksa tubuh wanita itu. Terkejut hati pemuda itu ketika melihat kepala wanita di hadapannya retak akibat terbentur batu. Darah segar mengalir deras dari luka di belakang kepalanya. Rupanya, sentakan tangan Macan Bukit Setan yang dalam keadaan kalap tadi, secara tak sadar telah membuat tubuh wanita malang itu terlempar menghantam batu cadas di tepi jalan.

“Tolong jaga, dan pelihara anakku Anggini..., Tu...an....”

Setelah berpesan demikian, wanita malang itu pun menghembuskan napasnya yang terakhir di pangkuan tuan penolongnya. Sedangkan pemuda gagah itu hanya dapat menghela napas disertai kekesalan. Setelah agak lama termenung, dia pun bergerak bangkit sambil memondong mayat wanita itu. Kemudian dikuburkannya mayat itu pada sebuah tempat yang cukup baik. Dengan peluh yang masih berlelehan, pemuda gagah itu melangkah ke tempat bocah perempuan yang masih pingsan, yang tadi disembunyikannya.

“Untung seluruh kejadian tadi tidak disaksikannya. Kalau dia melihat, mungkin perkembangan jiwanya akan terganggu kelak,” gumam pemuda itu merasa bersyukur. Diangkatnya tubuh mungil itu setelah terlebih dahulu diobati dan dibuatnya tertidur. Kemudian, ditinggal-kannya tempat itu bersama tubuh mungil Anggini dalam pondongannya.

Matahari semakin naik tinggi dengan pancaran sinarnya yang terik. Hembusan angin tetap bersilir lembut, seolah-olah tak peduli terhadap peristiwa berdarah itu. Jalan berbatu itu pun kembali lengang dan sunyi.

*******************

Di bawah siraman cahaya matahari yang memancar terik, tampak sesosok tubuh bergerak mendaki lereng Gunung Tangger. Di bahu kanannya tampak seorang anak kecil yang tengah terlelap. Gerakan sosok itu demikian gesit dan ringan. Seolah-olah lereng gunung yang terjal dan licin itu sudah tidak asing lagi baginya. Setelah melalui jalanan yang berkelok dan terjal, sosok tubuh itu berdiri tegak memandang ke arah lembah di bawahnya. Agak lama juga dia berdiri di atas sebongkah batu besar itu, seolah-olah timbul keraguan dalam hatinya.

Tak lama kemudian, sosok tubuh itu pun bergerak turun ke dalam lembah. Jalanan yang menurun dan licin itu pun tidak menjadi halangan. Bagaikan seekor burung besar menyambar mangsa, tubuhnya melayang ke bawah. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, tubuhnya kembali melambung ke udara. Itu dilakukannya berkali-kari. Gerakannya sama sekali tidak membuat anak yang dipondongnya terbangua Dari sini saja sudah dapat diketahui, betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh orang itu. Setelah menyeberangi sebuah aliran sungai, tak lama kemudian tibalah sosok itu di depan sebuah pondok sederhana.

“Hm ... Siapa lagi yang kau bawa kali ini, Kembara?” sebuah suara lembut bernada teguran menyapa sosok tubuh itu.

“Ampun, Guru....” sahut sosok tubuh yang ternyata bernama Kembara. Dia masih muda dan berwajah gagah. Kembara cepat meletakkan sosok mungil yang dipondongnya. Bergegas, dia menjatuhkan diri berlutut di bawah tangga yang menghubungkan ke pintu pondok. Dalam hati, Kembara mengagumi ilmu pembeda gerak dan suara yang dimiliki orang yang dipanggil guru olehnya itu. Walaupun pintu pondok tertutup, dia bisa tahu kalau Kembara datang tidak sendiri. Tapi, bersama seseorang dalam pondongannya.

Tidak berapa lama kemudian, seraut wajah seorang kakek tersembul dari balik pintu yang terkuak. Kakek itu tersenyum lembut sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang. Sebelum kakek itu sempat menuruni anak tangga, sesosok tubuh mungil berlari mendahuluinya.

“Horeee..., Paman sudah kembali....!” Sambil bersorak gembira, seorang anak laki-laki berumur delapan tahun berlari menyongsong kedatangan lelaki muda itu. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Kembara.

Tanpa merubah berlututnya, lelaki muda berusia sekitar dua puluh satu tahun itu mengembangkan tangannya menyambut pelukan si bocah. “Hm.... Kau sudah semakin besar, Samba. Apakah kau masih suka menyusahkan eyang?” tanya Kembara sambil mengelus rambut kepala bocah lelaki itu penuh kasih.

“Tidak, Paman. Aku selalu menuruti perintah eyang. Dan tidak menyusahkannya!” sahut bocah bemama Samba itu dengan suaranya yang bening dan nyaring, seraya menoleh ke arah kakek itu.

“Sudahlah, Samba. Pamanmu jangan diganggu dulu. Dia masih lelah. Sebaiknya, temani kakangmu yang tengah berlatih di tepi hutan sana!” ujar kakek itu. Suaranya lembut, namun bernada tegas.

“Baik, Eyang,” sahut bocah itu cepat. Setelah pamitan pada pamannya, Samba pun berlari-lari kecil menuju hutan yang terdapat di belakang pondok.

“Bawalah bocah itu naik, Kembara!” perintah kakek itu lagi, seraya membalikkan tubuhnya masuk kembali ke dalam pondok.

Kembara segera bangkit dan menaiki tangga memasuki pondok Diangkatnya tubuh mungil yang tadi diletakkan di sebelahnya.

“Maaf, Eyang. Aku terpaksa membawa bocah perempuan ini ke sini. Kedua orang tuanya telah tiada lagi, karena dibunuh sekawanan perampok yang kerap mengganggu desa,” ujar Kembara, memberikan alasan mengapa bocah perempuan berusia sekitar tujuh tahun itu dibawanya.

“Hm.... Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau masih ingin meneruskan pengembaraanmu?” tanya sang Guru sambil mengelus jenggotnya perlahan. Wajah kakek itu tampak menggambarkan perasaan iba ketika melihat wajah muridnya yang selalu tersaput mendung tebal itu. Namun hal itu berusaha disembunyikan.

“Tidak, Eyang. Aku sudah mengambil keputusan untuk menetap di sini, dan merawat ketiga bocah itu,” jawab Kembara perlahan. Jelas sekali kalau pemuda berwajah gagah itu berusaha menyembunyikan perasaan hatinya.

“Apakah keputusanmu sudah tetap? Aku tidak akan memaksamu kalau kau memang masih menginginkan mengembara,” kata kakek itu. Pandangan matanya tajam, seolah-olah ingin menyelami perasaan muridnya.

“Terima kasih, Eyang. Tapi keputusanku sudah bulat untuk menetap di Lembah Gunung Tangger ini,” sahut si pemuda, tetap tidak merubah keputusannya.

“Hm...,” kakek itu menggumam tak jelas. Hati laki-laki tua berjenggot putih itu terenyuh mengingat penderitaan yang pemah dialami muridnya.

Terbayang kembali di benaknya ketika setahun yang lalu muridnya kembali dari pengembaraan, dengan membawa hati yang patah. Setelah beberapa bulan, akhirnya dia tak tahan melihat keadaan murid satu-satunya itu selalu termenung dan menyendiri. Dan kakek itu masih ingat ketika dengan terpatah-patah Kembara menceritakan penderitaan batinnya, yang mengalami patah hati karena ditinggal kekasihnya. Untuk menghibur hati muridnya, kakek itu pun menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi yang selama ini disimpannya.

Setelah menamatkan pelajaran, muridnya itu kembali diizinkan untuk turun gunung. Padahal, sang Guru tahu kalau luka di hati Kembara belum sembuh. Bahkan rasanya memang tidak mungkin disembuhkan. Sekembalinya dari pengembaraan, Kembara membawa dua orang bocah laki-laki yang kemudian dititipkan kepadanya. Dan yang terakhir, ia kembali ke lembah dengan membawa seorang bocah perempuan.

“Eyang...,” panggil Kembara yang membuat lamunan kakek itu terhenti.

“Hhh....” Sang Guru yang dalam dunia persilatan dikenal sebagai Begawan Madapati itu menghela napas panjang. Wajahnya kembali tenang tanpa menggambarkan perasaan apa pun.

“Ada apa, Eyang...?” tanya Kembara setelah mendengar helaan napas gurunya. Sepertinya, laki-laki tua itu tengah memikirkan sesuatu.

“Tidak ada apa-apa, Kembara. Hanya menurut pikiranku, ada baiknya kalau kita membuat sebuah pondok lagi untuk tempat bernaung ketiga bocah yang kau bawa itu. Bagaimana menurutmu?” tanya Begawan Madapati.

“Balk sekali, Eyang. Aku akan segera membuatnya. Biarlah untuk sementara bocah perempuan itu tidur di sini. Memang, ia kelihatannya lelah sekali,” sahut Kembara, mendukung sekali pernyataan kakek itu.

Begawan Madapati hanya mengangguk dan tersenyum lembut. Laki-laki tua itu mengangguk kembali ketika muridnya minta izin untuk segera membuat pondok yang dimaksudkan gurunya.

“Paman...!” terdengar sebuah seruan. Salah seorang dari dua bocah lelaki segera meng-hambur ke dalam pelukan Kembara yang baru saja menginjakkan kakinya pada anak tangga terakhir.

“Ah, Wirasaba. Kau sudah bertambah besar. Bagaimana latihanmu?” tanya Kembara seraya membalas pelukan bocah lelaki berumur sembilan tahun itu. Dibelainya rambut kepala bocah bernama Wirasaba dengan perasaan kasih yang mendalam.

“Seperti pesan Paman, aku dan Samba tidak pernah mengeluh meskipun latihan-latihan yang diberikan eyang terasa sangat berat. Bukankah Paman mengatakan kalau kami harus rajin berlatih agar kelak menjadi seorang pendekar hebat dan dapat mengusir orang-orang jahat?” sahut Wirasaba dengan suara nyaring, dan menimbulkan kegembiraan di hati Kembara.

“Bagus, kalau kalian masih ingat perkataan Paman itu. Nah! Sekarang, bersihkan tubuh kalian. Karena Paman masih ada keperluan lain yang harus cepat-cepat diselesaikan!” ujar Kembara sambil melepaskan pelukan Wirasaba.

“Apakah Paman akan meninggalkan kami lagi?” Samba yang sejak tadi hanya membisu, tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan itu dengan sepasang mata cemas.

“Hm.... Apakah kalian tidak senang tinggal bersama eyang?” tanya Kembara yang ingin mengetahui perasaan kedua bocah itu selama ini. Diraihnya tubuh Samba ke dalam pelukannya.

“Tentu saja kami senang, Paman. Tapi, kami akan lebih senang lagi kalau Paman tinggal juga di sini untuk menemani kami berlatih,” sahut Samba seraya menatap wajah Kembara penuh harap.

“Baiklah. Paman akan tinggal, dan menemani kalian berlatih. Sekarang, kalian harus membersihkan tubuh dulu. Paman hendak membuat sebuah pondok untuk tempat tinggal kita,” ujar Kembara.

Persetujuan Kembara itu ternyata membuat dua orang bocah itu semakin mengetatkan pelukannya. Kemudian, sambil terrawa-tawa gembira mereka berkejaran menuju aliran sungai yang hanya beberapa tombak dari pondok itu.

Kembara memandangi kedua orang bocah itu dengan sinar mata iba. Memang, keadaannya dulu pun tidak berbeda jauh dengan ketiga orang bocah yang ditolongnya itu. Dia dulu juga ditolong Begawan Madapati, lalu dibawa ke Lembah Gunung Tangger. Sepuluh tahun kemudian, ia pun menjelma menjadi seorang pemuda tangguh setelah digembleng kakek sakti itu.

“Hhh.... Kasihan sekali mereka,” desah Kembara yang menjadi lupa akan keadaan dirinya sendiri. Sesaat kemudian, ia pun beranjak meninggalkan tempat itu untuk segera membuat pondok baru.

Dalam beberapa hari saja, sebuah pondok sederhana pun telah berdiri tidak jauh dari pondok lama. Kembara memandangi hasil kerjanya diiringi senyum puas. Meskipun saat itu masih tersisa kelelahan wajahnya, namun hal itu sama sekali tidak dirasakan.

*******************

TIGA

Sang waktu terus bergulir. Minggu, bulan, dan tahun pun melintas cepat. Tanpa terasa, sepuluh tahun sudah Kembara menetap di Lembah Gunung Tangger bersama tiga anak asuhnya.

“Haiiit..!”

Teriakan nyaring namun merdu itu terasa meng-getarkan lembah yang semula hening dan sepi. Kemudian, disusul berkelebatnya sesosok tubuh ramping mengenakan pakaian serba kuning. Rambutnya yang panjang dan berkepang dua itu bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuhnya. Dilihat dari bentuk tubuh serta pakaiannya, jelas dia adalah seorang gadis.

Bettt! Bettt!

Dua buah pukulan yang menimbulkan sambaran angin kuat dilontarkan sosok berpakaian kuning itu. Akibatnya, pemuda tegap yang menjadi lawannya cepat menggeser tubuh ke samping. Berbarengan dengan gerakan itu, kaki kirinya mencelat melakukan tendangan kilat ke arah lambung gadis berpakaian kuning itu. Namun dengan gerakan yang tidak kalah gesitnya, tangan kanan gadis itu bergerak turun menepiskan tendangan lawan.

Plak! “Uhhh...!”

Keduanya tersentak mundur beberapa langkah ke belakang. Memang, pertemuan tenaga itu telah membuat keduanya bergetar sesaat.

“Cukup...!” Terdengar bentakan yang menggetarkan isi dada kedua orang yang tengah bertarung itu. Suara itu berasal dari seorang laki-laki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun lebih.

“Wah! Kau hebat sekali, Adik Anggini! Ternyata aku tidak mampu menundukkanmu,” puji pemuda tampan bertubuh tegap itu. Tubuhnya segera dibungkukkan sebagai tanda hormat. Senyumnya merekah sehingga semakin membuatnya tampak menarik.

“Ah! Kau terlalu memuji, Kakang Wirasaba. Nyatanya, aku sendiri pun tidak mampu mendesakmu. Nah! Pujianmu tidak berlaku, bukan?” sahut si gadis bernama Anggini itu seraya tersenyum menggoda. Wajah gadis itu yang memang sudah cantik, tampak semakin menarik. Hal ini membuat pemuda yang dipanggil Wirasaba itu terpaku menatapnya.

“Sudahlah. Kalian beristirahat dulu,” lelaki gagah yang tak lain dari Kembara itu menengahi.

“Ya. Sekarang giliranku yang akan berlatih bersama Paman Kembara. Ayo, kalian menyingkir!” timpal seorang pemuda lain.

Perawakan pemuda itu sedang, dan berwajah tampan. Bahkan terlalu halus hingga tak ubahnya wajah wanita. Kalau wajahnya tidak dihiasi sebaris kumis tipis, pastilah orang akan menyangka dirinya seorang wanita.

Wirasaba dan Anggini bergegas menepi untuk memberikan kesempatan kepada kedua orang itu.

“Kau sudah siap, Samba?!” tanya Kembara kepada pemuda tampan yang ternyata Samba.

“Siap, Paman!” sahut Samba cepat. Setelah berkata demikian, pemuda itu menggerakkan tangannya disertai tarikan napas yang teratur halus.

“Hiaaat..!”

Kembara dan Samba terus berlatih memainkan jurus-jurus dahsyat. Sedangkan Anggini dan Wirasaba hanya jadi penonton saja. Tak ada yang tahu kalau di situ telah hadir seorang laki-laki tua berjenggot putih. Siapa lagi kalau bukan Begawan Madapati.

“He he he...! Kau tampak semakin matang, Kembara!” tiba-tiba saja terdengar suara berat berwibawa. Kembara dan Samba langsung menghentikan latihannya. Sementara Wirasaba dan Anggini menoleh ke arah asal suara.

“Eyang...!”

Serentak keempat orang itu menjatuhkan diri dan berlutut begitu mengetahui siapa yang datang. Hanya Kembara yang kemudian bangkit, lalu melangkah menghampiri gurunya.

Begawan Madapati, yang menjadi guru mereka, hanya tersenyum lembut sambil merayapi wajah murid-muridnya. Meskipun bukan guru langsung bagi Wirasaba, Samba, dan Anggini, namun mereka tetap meng-hormatinya. Sebab ketiga orang itu berlatih di bawah bimbingan Kembara. Sedangkan Kembara adalah murid Begawan Madapati.

“Bangkitlah. Aku merasa bangga sekali melihat kemajuan yang telah kalian capai sekarang. Meskipun aku tidak mendidik Samba, Wirasaba, dan Anggini secara langsung, namun ternyata hasil yang diperoleh telah memuaskan hatiku. Dan rasanya, hasil didikanku pun tidak akan lebih baik daripada guru kalian ini,” ujar Begawan Madapati sambil menepuk-nepuk bahu Kembara yang sudah berdiri di sebelahnya. Apa yang dikatakan kakek itu bukanlah sebuah pujian kosong. Tapi memang suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Kembara hanya menunduk tersipu mendengar pujian gurunya. Diam-diam hatinya merasa bersyukur, karena telah menunaikan tugas yang diberikan gurunya dengan baik. Dan semua itu bisa terlihat dari seraut wajah tua yang tampak tersenyum penuh kepuasan.

"Teruskanlah latihan kalian. Aku ada keperluan dengan pamanmu ini,” lanjut Begawan Madapati, sambil mengajak Kembara meninggalkan ketiga anak muda itu.

“Baik, Eyang...!” sahut ketiganya patuh.

Untuk beberapa saat lamanya ketiga anak muda itu hanya berdiri memandang kepergian eyang guru dan pamannya itu.

*******************

Malam baru saja menguasai mayapada. Kepekatan yang menyelimuti permukaan bumi, periahan-lahan disibakkan oleh sinar sang dewi malam. Sinarnya tampak temaram, menemani sang malam. Bintang-bintang pun ber-munculan, ikut meramaikan cakrawala malam.

Dalam suasana malam indah itu, Kembara terbaring di atas balai-balai bambu di pondoknya yang didiaminya seorang diri. Karena semenjak ketiga anak asuhnya menanjak remaja, mereka pun mendiami pondok masing-masing yang dibuat bersama-sama. Maka di Lembah Gunung Tengger itu kini berdiri lima buah pondok sederhana.

“Hhh....” Laki-laki yang sudah tidak muda lagi, namun masih nampak gagah itu menghela napas panjang. Ingatannya menerawang sewaktu Begawan Madapati membawanya untuk membicarakan sesuatu. Dan apa yang dibicarakan sang Guru itu benar-benar membebani pikirannya. Karena, Begawan Madapati tidak mengizinkan Kembara untuk menurunkan ilmu-ilmu tingkat tinggi kepada tiga orang muridnya.

“Ilmu-ilmu yang kuturunkan kepadamu itu bukanlah ilmu sembarangan, Muridku. Tanpa memiliki pengalaman cukup, maka orang itu tidak akan pernah sempurna dalam menguasai ilmu-ilmu tingkat tinggi perguruan kita. Ini bukan berarti aku tidak sayang kepada mereka. Tapi rasanya akan percuma kalau ilmu-ilmu itu diturunkan sekarang. Mereka belum matang, Muridku. Mereka masih terlalu hijau dalam menghadapi kehidupan dunia yang penuh permainan dan tipu daya. Kau mengerti maksudku, Kembara?”

Demikian yang dipesankan Begawan Madapati kepada muridnya. Dan Kembara harus mematuhi pesan sang Guru, meskipun hal itu menjadi ganjalan bagi hatinya. Ketika teringat ketiga orang anak asuhannya, yang terbayang jelas hanyalah wajah cantik manis Anggini. Dia memang telah menjelma menjadi seorang dara yang sangat memikat. Mendung tebal yang selalu menutupi wajahnya yang gagah, langsung lenyap, dan berganti senyum bahagia apabila teringat akan dara cantik itu.

“Hhh....” Kembara menyentak tubuhnya, dan langsung bangkit dari tidurnya. Diusirnya bayangan dara manis yang melekat di benaknya itu. Ia duduk termenung di tepian balai-balai bambu. Pandangannya kembali menerawang, menembus awang-awang sehingga menciptakan bayang-bayang. Perasaan itu disadarinya betul, terutama semenjak Anggini tumbuh dan semakin menampakkan kecantikan yang memikat setiap hati pria.

Kembara pun bukannya tidak tahu kalau kedua orang pemuda gagah dan tampan yang diasuhnya diam-diam mencintai Anggini. Dan sebagai seorang laki-laki yang sehat jasmani maupun rohani, ia pun terkadang merasa cemburu terhadap Samba dan Wirasaba. Namun tentu saja hal itu berusaha ditekan dan disembunyikannya agar tidak diketahui mereka dan juga gurunya.

“Yahhh... Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui isi hatiku yang amat memalukan ini!” desis hati Kembara sambil memejamkan mata menahan rasa nyeri yang menusuk jantung.

Karena hatinya masih juga diliputi keresahan, maka Kembara melangkahkan kakinya menuju ke luar pondok. Langkahnya terayun periahan sambil menatapi langit yang nampak jemih karena terhias ribuan bintang. Tanpa sadar, ia melangkah menuju ke aliran sungai yang terpisah beberapa puluh tombak di belakang pondoknya. Disertai helaan napas berat, Kembara menghenyakkan pantatnya pada sebongkah batu yang cukup besar di tepi sungai. Wajahnya menengadah menatap langit biru jernih.

“Tuhan.... Mengapa perasaan ini kembali menyiksa hatiku? Dan mengapa justru Anggini yang harus kucintai? Mengapa bukan gadis lain saja? Ah...! Betapa akan malunya kalau sampai perasaanku ini diketahui orang lain? Dan bagaimana kalau guru mengetahuinya? Mengapa aku tidak bisa mencintai gadis lain di desa, di bawah gunung ini? Betapapun perasaan hatiku ini berusaha disembunyikan, aku yakin pada akhirnya akan diketahui yang lain!”

Berbagai pertanyaan dan keluhan bermunculan di benak Kembara. Meskipun demikian, tetap saja ia tidak mampu mengusir pergi bayangan Anggini yang selalu mengganggunya.

“Hhh....” Kembara kembali menghembuskan napas kuat-kuat. Seolah-olah dengan berbuat begitu, perasaan yang kian menyesak di dadanya diharapkan dapat terusir. Disapunya wajah dengan kedua tangan, seakan-akan ingin menghapuskan bayangan Anggini.

“Paman...!” tiba-tiba saja sebuah suara merdu dan lembut menyapanya perlahan.

Bukan main kagetnya hati Kembara. Tubuhnya mencelat sejauh tiga batang tombak. Bahkan wajahnya pucat bagai melihat hantu di siang bolong. Sepasang kakinya terasa lemas bagaikan tak bertulang ketika melihat gadis yang selalu mengganggu pikirannya tahu-tahu saja telah berada di depannya.

“Ada apa, Paman...?” tanya gadis yang ternyata memang Anggini.

Gadis itu segera menjauhi batu yang tadi diduduki pamannya, karena melihat Kembara begitu terkejut, sepasang matanya yang indah menatap tajam. Pandangannya begitu curiga dan waspada ke arah batu itu. Karena, dikira sang Paman terpatuk ular ataupun binatang berbisa lainnya.

“Ah! Tid..., tidak.... Tidak ada apa-apa. .!” sahut Kembara yang menjadi gugup dalam menghadapi anak asuhnya, sambil menghapus butiran keringat yang membasahi keningnya.

“Paman mengejutkan aku saja! Atau aku yang membuat Paman terkejut tadi?” tanya Anggini. Gadis itu segera melangkah menghampiri pamannya. Dan tanpa canggung-canggung lagi, ditariknya tangan sang Paman untuk diajak duduk kembali di atas batu.

Anggini yang memang sejak kecil diasuh Kembara, sama sekali tidak mengetahui kemelut yang tengah dialami sang Paman. Gadis itu memang sudah menganggap Kembara sebagai orang tuanya sendiri. Jadi, tentu saja dia tidak malu-malu untuk memegang atau memeluk tubuh pamannya. Apalagi hal itu memang sudah merupakan kebiasaannya sejak kecil. Hanya sang Paman itulah tempat ia mengadu dan bermanja.

Sedangkan bagi Kembara, rupanya jadi lain lagi. Semenjak gadis itu tumbuh semakin besar, perasaan hatinya mulai tak menentu. Ia tidak lagi berani menatap wajah gadis itu secara langsung. Apalagi semenjak setahun yang lalu, saat mulai memiliki perasaan lain terhadap gadis itu. Maka, Kembara mengambil keputusan untuk jangan terlalu sering bertemu. Paling tidak agar rahasia hati yang memalukan itu tidak diketahui Anggini.

“Paman. Apakah Paman sakit?” tanya Anggini. Gadis itu benar-benar terkejut melihat tubuh pamannya gemetar. Anggini kemudian menghapus keringat yang mem-basahi kening pamannya dengan saputangan miliknya. Tentu saja hal itu membuat tubuh Kembara seperti terserang demam tinggi. Dan gadis itu pun semakin cemas ketika merasakan deburan dalam dada pamannya demikian keras.

“Aku..., aku memang agak kurang sehat,” sahut Kembara memberi alasan yang didapat dari pertanyaan dara itu.

“Kalau begitu, mari kita kembali saja ke dalam pondokmu, Paman. Kesehatan Paman akan bertambah buruk kalau tetap berada di sini,” ajak Anggini. Gadis itu telah bersiap-siap membawanya ke pondok.

“Tidak, Anggini Aku tidak apa-apa. Penyakit ini tidak terlalu mengganggu,” sahut Kembara.

Cepat-cepat laki-laki gagah itu menarik tangannya ynng dipegang telapak tangan Anggini yang sudah mulai bangkit. Memang, ketika telapak tangan mereka bersentuhan, Kembara merasakan aliran darahnya berdesir semakin cepat. Maka itulah ia cepat-cepat melepaskannya.

“Betul, Paman tidak apa-apa...?” tanya Anggini memastikan.

“Benar. Aku tidak apa -apa,” jawab Kembara pasti.

Diam-diam, Kembara memaki perasaan hatinya itu. Dan perasaan takut kehilangan, tiba-tiba muncul begitu saja di hatinya. Sehingga tanpa sadar, ia telah menahan agar gadis itu tidak pergi. Terus terang, Kembara lebih suka berada di tempat ini bersama Anggini, daripada di dalam pondoknya yang dicekam kesepian. Hanya saja, kali ini Kembara tidak mampu mencegah perasaan hatinya yang memalukan itu.

“Paman, mengapa belakangan ini hampir tidak pernah menemani kami berlatih? Apakah Paman sudah merasa bosan melatih kami?” tanya Anggini sambil merapatkan duduknya ke tubuh Kembara. Sepasang matanya yang bening dan jernih itu menatap lekat-lekat, seolah-olah ingin menjenguk ke dalam dada sang Paman.

“Hhh.... Kalian sudah semakin bertambah besar, Anggini. Dan rasanya, sudah bisa berlatih sendiri. Lagi pula, semua ilmu yang kumiliki sudah kuturunkan semua kepada kalian. Jadi tidak perlu lagi aku menemani kalian setiap hari,” jawab Kembara, memberi alasan.

Anggini menatap wajah pamannya lekat-lekat. Hatinya menjadi semakin heran ketika melihat pamannya tidak berani mengangkat wajahnya yang selalu tertutup mendung itu ketika berbicara. Dan itu melahirkan berbagai pertanyaan di hati gadis cantik ini.

“Tapi, menurutku lain. Paman sepertinya berusaha menghindari kami. Apakah salah seorang dari kami telah berbuat salah? Katakanlah, Paman? Agar hatiku, maupun hati Kakang Wirasaba dan Samba menjadi tenang,” desak gadis itu.

Mendengar pertanyaan itu, hati Kembara menjadi terkejut. Perlahan-lahan wajahnya terangkat. Seketika kilatan sinar aneh terpancar dari sepasang mata lelaki gagah itu. Meskipun hal itu hanya sekejap, namun telah cukup membuat hati Anggini berdebar aneh.

“Hm.... Tidak betul itu, Anggini. Tidak seorang pun dari kalian yang telah berbuat kesalahan. Jadi, hilangkanlah perasaan bersalah dalam dirimu dan juga kedua saudara seperguruanmu itu. Percayalah, aku tidak apa-apa,” sahut Kembara yang sudah dapat menguasai perasaannya. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Maaf, aku harus kembali ke pondok.” Kemudian tanpa menunggu jawaban gadis itu lagi, Kembara pun segera meninggalkan Anggini yang menjadi terpaku dibuatnya.

“Hm.... Aku yakin pasti ada sesuatu yang mengganggu perasaan Paman Kembara. Tapi, entah apa yang telah mengganggu pikirannya?” desah hati Anggini masih belum mengerti keanehan tingkah laku pamannya.

*******************

Pagi harinya, setelah selesai berlatih, Anggini segera berlari menuju pondok pamannya. Sama sekali tidak dipedulikan tatapan heran kedua orang kakak seperguruannya. Gadis cantik yang lincah itu terus saja berlari-lari kecil meninggalkan tempat latihannya. Wirasaba berdebar hatinya ketika mengetahui, kemana arah yang dituju gadis itu.

“Ah! Jangan-jangan ia hendak mengadukan perbuatanku semalam kepada paman! Bisa celaka kalau sampai paman menjadi marah karena tahu aku mengungkapkan perasaan cinta pada Anggini. Tapi, mudah-mudahan saja paman memaklumi perasaanku. Bukankah paman pun seorang laki-laki? Dan sudah pasti dia juga pernah mengalami seperti yang kurasakan saat ini,” kata Wirasaba dalam hati.

Wirasaba yang semula cemas karena takut ditegur pamannya, menjadi tenang kembali. Rupanya dia telah mendapat jawaban apabila sang Paman menanyakan tentang perbuatannya. Tidak lama kemudian, Wirasaba dan Samba bertambah heran melihat Anggini berlari ke arahnya dengan wajah berduka.

“Kakang! Apakah kalian melihat Paman Kembara?” tanya Anggini begitu tiba di dekat kedua kakak seperguruannya. Nada suara gadis cantik itu jelas menggambarkan kejengkelan.

“Tidak. Memangnya ada apa, Adik Anggini?” tanya Wirasaba yang menjadi tenang hatinya. Rupanya sikap gadis itu seperti sudah melupakan kejadian semalam.

“Hm.... Kalau begitu, aku harus menemui eyang. Mungkin paman berada di sana,” ujar Anggini seperti berkata pada dirinya sendiri. Suaranya demikian lirih, dan hampir tidak terdengar. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, gadis itu segera melesat menuju pondok eyang gurunya yang terletak di dekat aliran sungai.

Wirasaba dan Samba saling berpandangan sejenak. Mereka sama-sama mengangkat bahu, tanda tak mengerti. Sesaat kemudian, kedua orang pemuda itu bergegas menyusul adik seperguruannya.

Anggini yang telah tiba di depan pondok Begawan Madapati, bergegas masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tampak Begawan Madapati tengah duduk bersila di atas balai-balai bambu. Sepertinya kakek itu memang sudah mengetahui, dan menunggu kedatangan murid perempuan satu-satunya ini.

“Eyang...!” sapa Anggini yang langsung bersujud beberapa langkah di bawah balai-balai tempat kakek itu duduk.

“Hm.... Bangkitlah, Cucuku,” ujar Begawan Madapati tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang semakin panjang. Sepasang matanya menatap lembut dan penuh kasih.

“Eyang, aku....”

Begawan Madapati mengangkat tangannya mencegah gadis itu berbicara. Rupanya kakek itu pun sudah mengetahui apa yang akan diutarakan muridnya. Dan pada saat itu, tampak dua orang pemuda yang juga menjadi muridnya tengah melangkah masuk.

“Eyang...!” sapa kedua orang pemuda itu sambil menjatuhkan diri, berlutut di dekat Anggini.

“Hm.... Ada apa kalian datang menghadap kepadaku, Cucuku?” tanya Begawan Madapati kepada kedua orang pemuda yang tak lain Wirasaba dan Samba.

“Tidak ada apa-apa, Eyang. Kami hanya merasa bingung melihat sikap Adik Anggini yang seperti tengah menghadapi persoalan. Kami minta maaf karena telah berani menghadap Eyang tanpa dipanggil,” sahut Wirasaba mewakili Samba yang hanya terdiam menatapnya.

“He he he...! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Cucuku. Kalian berdua boleh pergi untuk melanjutkan latihan kalian,” kilah Begawan Madapati tersenyum lembut.

“Baiklah, Eyang. Kami berdua mohon pamit” Setelah melemparkan pandang ke arah Anggini sejenak, kedua orang pemuda itu pun bergegas keluar.

Begawan Madapati hanya menganggukkan kepala sambil tangannya tak lepas dari jenggot yang berwarna putih itu. Setelah Wirasaba dan Samba pergi, kakek itu mengalihkan perhatiannya pada Anggini. Gadis itu memang tengah menatapnya seperti mohon penjelasan.

“Kau mencari pamanmu, bukan?” tanya kakek itu seraya tersenyum lembut.

“Betul, Eyang. Karena paman telah berjanji akan menceritakan tentang pengalamannya kepadaku. Tapi ketika aku menemuinya, ternyata sudah tidak ada di pondoknya.. Aku mohon petunjuk Eyang. Di manakah Paman Kembara bisa kutemui?” pinta Anggini. Suaranya agak menggeletar karena mulai merasa sesuatu yang terjadi dengan pamannya itu.

'Hm.... Ia telah minta maaf kepadamu, Cucuku. Pamanmu terpaksa belum bisa memenuhi janji, karena pagi-pagi sekali telah kuperintahkan untuk melihat beberapa desa yang tengah dilanda musibah,” Begawan Madapati.

“Di manakah itu, Eyang. Bolehkah aku menyusulnya?” tanya Anggini disertai wajah sedih karena sang Paman ternyata sudah pergi meninggalkan lembah.

“Sebaiknya jangan, Cucuku. Tempat itu sangat jauh. Dan lagi, Eyang tidak tahu desa mana yang akan ditujunya lebih dulu. Lebih baik tunggu saja kedatangannya. Di samping itu, kau harus tetap berlatih untuk menyempurnakan semua yang diajarkan pamanmu. Tentu dia akan gembira apabila sekembalinya nanti, kepandaianmu telah jauh lebih sempurna. Tapi Eyang tidak dapat memastikan, kapan pamanmu akan kembali,” jawab Begawan Madapati.

Memang, ucapan Begawan Madapati adalah pesan Kembara kepada gadis itu. Meskipun kakek itu sudah dapat menerka apa yang saat itu dirasakan muridnya, namun ia berpura-pura tidak tahu.

Anggini terdiam untuk beberapa saat lamanya. Hatinya merasa berduka sekali atas kepergian paman sekaligus gurunya. Kini mulai disadari, betapa sunyi dan tidak bergairah tanpa Paman Kembara. Dia telah pergi tanpa diketahui di mana pastinya berada. Ingin rasanya Anggini menangis untuk menumpahkan segala perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Namun ia berusaha menahan jatuhnya air mata. Rasanya memang tidak pantas menangis di hadapan eyang gurunya.

“Eyang, izinkanlah aku melihat-lihat keramaian di desa yang berada di bawah lembah? Aku.... Aku ingin sekali, Eyang,” pinta Anggini Gadis itu sudah hampir tidak kuat lagi menahan kesedihannya. Maka, cepat-cepat wajahnya ditundukkan untuk menyembunyikan sepasang matanya yang mulai tergenang air.

Begawan Madapati bukannya tidak mengetahui apa yang tengah dirasakan cucu muridnya. Meskipun Kembara dan gadis itu tidak pernah menceritakan apa-apa kepadanya, namun melihat sikap Anggini, kakek itu yakin kalau di antara mereka telah terjalin suatu hubungan yang belum diketahui seberapa jauhnya.

“Baiklah. Mintalah kepada kedua orang kakak seperguruanmu untuk menemani. Hal itu akan lebih baik bagimu. Karena selain kau seorang gadis, kau juga belum pernah terjun ke dunia ramai,” ujar Begawan Madapati mengizinkan permintaan gadis itu.

Laki-laki tua itu bukan tidak mengetahui kalau Anggini hanya sekadar ingin menghibur hati saja. Itulah sebabnya, mengapa ia memberi izin. Dan sebelum gadis itu meninggalkan pondoknya, kakek itu memberi nasihat-nasihat yang sekiranya perlu. Gadis itu juga diperintahkan untuk memanggil kedua orang kakak seperguruannya.

Anggini segera pamitan untuk menjalankan perintah eyang gurunya. Sesampainya di luar pondok, gadis cantik itu segera berlari ke tepi sungai. Di sana segala kepedihan hatinya ditumpahkan. Hal itu dilakukannya di tempat tersembunyi, karena tidak ingin ada seorang pun yang tahu. Termasuk, kedua orang kakak seperguruannya.

Setelah puas menumpahkan segala kesedihannya, gadis itu pun merendam tubuhnya di dalam air sungai yang sejuk dan jernih. Seluruh tubuhnya dibersihkan agar tidak terlalu kentara kalau baru saja habis menangis. Begitu tubuhnya terasa agak segar, Anggini kembali mengenakan pakaiannya. Bergegas dia memberitahukan dua orang kakak seperguruannya tentang pesan Begawan Madapati.

Kini mereka bersama-sama menuju pondok Begawan Madapati Setelah memberi hormat sebcntar, mereka kemudian duduk berdampingan. Begawan Madapati lalu memberi nasihat-nasihat yang mungkin akan diperlukan dalam perjalanan murid-muridnya itu. Sesudah merasa yakin kalau ketiga orang muridnya telah benar-benar memahami, maka kakek itu pun segera melepas ketiganya.

“Kuberi waktu kalian selama satu bulan untuk melihat-lihat desa. Dan setelah itu, walaupun apa yang terjadi, kalian harus kembali. Mengerti?!” pesan Begawan Madapati.

“Baik, Eyang. Dan kami akan selalu mengingat pesan-pesan Eyang. Kami mohon pamit, Eyang,” ucap mereka bertiga mantap.

*******************

EMPAT

Belasan pasang mata di dalam kedai makan itu memandang ke arah pintu yang terbuka lebar. Saat itu tampak tiga sosok tubuh melangkah tenang memasuki tempat itu. Beberapa orang di antara pengunjung segera menundukkan kepala ketika salah seorang dari tiga sosok tubuh itu berbisik lirih. Rupanya pengunjung kedai itu sudah dapat menduga, siapa ketiga orang muda yang memasuki kedai. Sedangkan ketiga anak muda yang tak lain dari Wirasaba, Samba, dan Anggini itu terus saja mengambil tempat tanpa mempedulikan orang-orang itu.

Wirasaba mengulapkan tangannya memanggil pelayan kedai yang kemudian segera menghampiri. Setelah menerima pesanan dari pemuda gagah itu, pelayan itu pun kembali berlalu.

“Hm.... Rasanya senang sekali bisa melihat tempat ramai seperti ini. Bagaimana dengan kalian?” tanya Wirasaba memecah keheningan di antara mereka. Wajah pemuda gagah itu nampak berseri-seri. Seakan-akan, ia memang benar-benar menikmati perjalanan ini.

“Aku pun merasa gembira, Kakang. Di sini bisa melihat wajah-wajah asing yang menyenangkan. Sedangkan selama ini aku hanya dapat melihat wajah-wajah kalian yang membosankan,” gurau Samba. Seperti halnya Wirasaba, dia pun begitu menyenangi perjalanan ini. Pemuda bertubuh sedang dan berwajah halus itu mengakhiri ucapannya dengan gelak berkepanjangan.

Sedangkan Anggini yang semula hanya menunduk menatap lantai, mengangkat kepalanya begitu mendengar gurauan Samba. Gadis cantik itu mencoba mengimbangi kegembiraan kedua orang kakak seperguruannya dengan berusaha memperdengarkan suara tawanya. Tapi sayang, Anggini tidak berhasil. Karena, suara tawanya terdengar demikian getir dan sumbang. Gadis yang biasanya selalu lincah dan pandai bicara itu seperti masih merasa sedih. Terutama bila teringat kepergian Kembara yang tanpa pamit itu.

Wirasaba dan Samba saling tukar pandang ketika mendengar nada getir dalam tawa adik seperguruannya itu. Mereka yang tidak mengetahui duduk persoalannya, tentu saja jadi bingung.

“Ada apa, Adik Anggini? Sepertinya kau tidak menikmati perjalanan kita ini?” tegur Samba lembut Pemuda berwajah halus ini mencoba mencari tahu, apa yang menyebabkan gadis itu tidak gembira. Sebab, ia tidak ingin kalau kegembiraan itu hanya milik dirinya dengan kakak seperguruannya. Samba pun ingin agar Anggini ikut pula merasa kan kegembiraan seperti mereka.

“Hhh.... Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing. Sebentar juga akan segera pulih,” kilah Anggini. Gadis itu juga segera melebarkan senyumnya untuk menghilangkan rasa kecurigaan kedua orang kakak seperguruannya itu.

“Hei! Itu pesanan kita sudah datang!” seru Anggini kemudian. Rupanya saat itu si pelayan kedai sudah membawa pesanan ketiga orang itu dan menghidangkannya diatas meja.

Tanpa banyak cakap lagi, mereka segera menyantap hidangan yang jarang mereka nikmati di lembah. Wirasaba dan Samba tampak betul-betul menikmati makanan itu. Sehingga, sama sekali tidak memperhatikan betapa Anggini menatap keduanya dengan hati tergelitik. Merasakan adanya suatu keanehan, Wirasaba dan Samba menolehkan kepala berbarengan. Mereka menjadi heran melihat Anggini tengah memandang sambil menyembunyikan senyum dengan telapak tangan.

“Ada apa, Anggini?” tanya Wirasaba agak tersipu, karena mulai dapat menduga apa yang menyebabkan jadis cantik itu tersenyum.

“Hi hi hi..! Kalian seperti orang yang tidak pernah makan saja. Memalukan!” sahut gadis itu. Anggini benar-benar tidak dapat lagi menahan tawanya.

Samba dan Wirasaba saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama tergelak ketika tersadar akan kelakuannya yang persis seperti orang kelaparan itu. Selain itu, mereka gembira karena melihat Anggini yang sudah mendapatkan kegembiraannya kembali. Mendadak saja, kegembiraan mereka terganggu dengan masuknya seorang pemuda jangkung berkulit coklat Di belakangnya tampak dua orang berseragam hitam mengiringi. Begitu masuk, ia langsung menatap ke arah Wirasaba, Samba, dan Anggini.

“Hm.... Mengapa ribut sekali? Seperti kerbau saja? Atau memang kedai ini sudah berubah menjadi kandang kerbau?” ejek laki-laki jangkung itu, menghina. Setelah berkata demikian sepasang matanya menjelajahi tubuh dan wajah Anggini. Sesaat ia nampak termangu melihat kecantikan gadis itu. Namun sesaat kemudian, pemuda itu mengedikkan kepalanya dengan sikap sombong.

Anggini dan dua orang kakak seperguruannya saling bertukar pandang sejenak. Wirasaba dan Samba mengisyaratkan adik seperguruannya agar tidak mempedulikan pemuda sombong itu. Namun Anggini yang merasa kegembiraannya terganggu, sudah menjadi marah. Sama sekali tidak digubris isyarat yang diberikan kedua orang kakak seperguruannya itu. Gads cantik itu sudah bangkit dan memandang dengan sinar mata galak.

“Hei, Lutung Kesasar! Apakah kau tidak tahu jalan pulang menuju hutan, sehingga berkaok-kaok tidak karuan!” bentak Anggini sambil bertolak pinggang, seraya melangkah menghampiri pemuda jangkung yang melontarkan hinaan itu.

“Kurang ajar kau, Setan Betina! Jangan mentang-mentang cantik, lalu bisa berbuat semaumu! Ketahuilah! Aku adalah putra penguasa di desa ini, dan bisa menangkapmu karena telah berani menghinaku di depan orang banyak!” bentak pemuda itu, pongah. Memang, sebagai seorang putra kepala desa, ia biasa diperlakukan secara hormat oleh para penduduk di sekitarnya.

"Tuan muda! Biar kami tangkapkan setan betina cantik itu untukmu,” kata salah seorang laki-laki berpakaian hitam yang menjadi tukang pukulnya. Sepertinya, dia ingin mencari jasa di hadapan tuan mudanya itu.

“Hmh...!” Terdengar suara dengusan dari pemuda jangkung itu. Tangannya segera dikibaskan untuk mencegah tukang pukulnya yang sudah bergerak maju. Sepasang matanya menjelajah liar setiap jengkal tubuh padat berisi milik Anggini.

“Biar aku saja yang akan menundukkannya. Kalian berjaga-jaga sajalah. Siapa tahu, kedua kerbau itu akan membelanya,” ujar si pemuda jangkung dengan sikap sangat memandang rendah.

“Anggini. Jangan mencari keributan di sini, Adikku. Marilah kita pergi. Jangan ladeni lutung hitam itu,” bujuk Wirasaba mencoba mencegah perkelahian yang akan terjadi.

Setelah meletakkan beberapa uang logam di atas meja, pemuda gagah itu pun bergegas menarik lengan Anggini dan membawanya ke luar. Sementara Samba mengikuti dari belakang sambil berjaga-jaga kalau-kalau dua orang tukang pukul pemuda jangkung itu berbuat curang.

“Tunggu...!” cegah pemuda jangkung itu sambil melintangkan tangan di depan pintu kedai. Wajahnya yang kecoklatan itu tampak semakin gelap ketika mendengar pemuda gagah itu memakinya sebagai lutung hitam.

“Biarkanlah kami lewat, Kisanak. Kami tidak ingin mencari keributan di sini,” kata Samba halus. Samba berusaha menekan kemarahannya melihat kesombongan pemuda jangkung yang memuakkan itu. Hal ini karena ia teringat akan pesan eyang gurunya agar tidak mencari keributan dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.

“Hm.... boleh saja. Tapi ada syaratnya,” sahut pemuda jangkung putra kepala desa itu sinis dan angkuh.

“Apa syaratnya?” tanya Wirasaba yang sudah hampir tidak bisa menahan rasa sebal melihat wajah yang angkuh itu. Memang, baru menjadi putra kepala desa, pemuda itu sudah sedemikian sombongnya. Entah bagaimana jadinya kalau jadi putra seorang raja atau adipati? Mungkin ia akan semakin bertambah besar kepala.

“He he he.... Kalian berdua boleh meninggalkan tempat ini dengan cara merangkak di bawah kakiku! Tapi, tinggalkan gadis cantik yang galak itu untukku!” pemuda jangkung itu terkekeh penuh ejekan.

“Betul.... Betul...!” sambut dua orang tukang pukul pemuda itu sambil mengangguk-anggukkan kepala per-tanda gembira.

Merah selebar wajah Wirasaba dan Samba ketika mendengar ucapan pemuda jangkung itu. Tubuh mereka gemetar menahan kemarahan yang menyesakkan dada. Sedangkan tanggapan Anggini lain lagi. Begitu mendengar syarat yang diajukan pemuda jangkung itu, tubuhnya langsung melesat dan melakukan dua kali tamparan berturut-turut. Gerakannya demikian cepat dan tiba-tiba, sehingga tak seorang pun yang sempat menyadarinya.

Plakl Plak!

“Akh...!” Si pemuda jangkung menjerit kesakitan. Tubuhnya langsung terjerembab menabrak meja yang berada di belakangnya. Darah segar tampak mengucur membasahi wajah. Rupanya selain bibimya pecah, beberapa buah giginya pun tanggal akibat tamparan kuat yang dilepaskan Anggini.

“Bangsat kau, Setan Betina! Kau akan membayar mahal akibat perbuatanmu ini!” ancam pemuda jangkung itu dengan suara terpatah-patah sambil memegangi wajahnya. Tangannya bergerak meraba gagang golok yang menyembul di balik bajunya.

Dua orang berseragam hitam yang menjadi tukang pukul putra kepala desa itu terpaku bingung. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana gadis itu tahu-tahu bisa menampar wajah majikannya. Dan yang lebih mem-bingungkan, kedua orang itu sampai tidak mengetahui kapan gadis itu melakukan tamparan. Sebab, tadi mereka hanya melihat sebuah bayangan melesat cepat dan sukar diikuti pandang mata.

“Rasakanlah, Pemuda Bobrok! Untung aku masih bermurah hati tidak langsung membunuhmu! Ayo kita pergi, Kakang!” ajak Anggini yang segera beranjak meninggalkan kedai makan itu.

“Tangkap ketiga orang pengacau itu!” teriak si pemuda jangkung itu.

Seketika kedua orang tukang pukulnya pun langsung melesat melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya.

“Berhenti..!”

Wirasaba, Samba, dan Anggini menghentikan larinya ketika belasan sosok tubuh berdiri menghadang jalan mereka. Belasan laki-laki itu telah menghunus senjata masing-masing dengan sikap mengancam. Ketiga orang murid Lembah Gunung Tangger itu bergegas membalikkan tubuhnya untuk mencari jalan lain. Namun mereka kembali terkejut ketika di belakang pun telah berdiri belasan orang yang juga mengenakan seragam hitam. Tampaknya, tidak ada jalan lolos lagi bagi ketiga anak muda itu.

“Hm.... Mau lari ke mana kalian? Jangan harap bisa keluar dari desa ini dalam keadaan hidup!” ujar salah seorang dari tukang pukul pemuda jangkung itu. Sepertinya, dia merupakan pimpinan para pengepung itu.

Sadar kalau tidak mungkin dapat lolos, maka Samba, Wirasaba, dan Anggini pun mulai bersiap menghadapi keroyokan orang-orang itu. Tadi pun mereka lari bukan karena takut, tapi karena berusaha untuk menghindari keributan. Hal ini merupakan pesan Begawan Madapati, sebelum mereka berangkat. Namun, kali ini sepertinya mereka tidak memiliki pilihan lain.

“Bunuh kedua orang pemuda keparat itu! Dan tangkap gadis galak yang binal itu!” perintah salah seorang dari tukang pukul putra kepala desa sambil bergerak maju mengibas-ngibaskan goloknya.

“Heaaat..!”

Tukang pukul yang berjumlah sekitar tiga puluh orang lebih itu berlompatan sambil mengayunkan senjata, siap merencah tubuh kedua orang pemuda itu.

“Hati-hati! Jangan sampai kesalahan tangan hingga sampai membunuh mereka, Samba, Anggini,” bisik Wirasaba kepada kedua orang adik seperguruannya.

“Jangan khawatir, Kakang,” sahut Samba.

Pemuda itu tidak merasa gentar sedikit pun. Padahal, jumlah lawan lebih banyak. Memang, hal itu telah menimbulkan kegembiraan di hatinya. Sebab, baru kali inilah ia terlibat dalam sebuah pertarungan sungguh-sungguh. Yang jelas, bukan pertarungan main-main seperti yang sering dilakukan bersama saudara-saudara seperguruannya atau dengan pamannya.

Wuuut! Wuuut!

Dua buah sambaran golok yang datang dari sebelah kiri, dielakkan dengan mudah oleh Samba. Kedua kakinya langsung mencelat bergantian melakukan tendangan kilat.

Bukkk! Desss!

“Hughk...!”

Dua orang pengeroyok itu kontan terjungkal ketika tubuhnya tercium ujung kaki Samba. Mereka langsung terjerembab, pingsan seketika itu juga. Memang tendangan yang dilakukan pemuda itu telak mengenai ulu hati dan dada lawannya.

“Bangsat! Mampuslah!” bentak yang lain begitu melihat lawan telah menjatuhkan dua orang kawannya hanya dengan sekali gebrak saja.

Samba yang tidak ingin tubuhnya dijadikan sasaran senjata tajam lawannya, cepat mengegoskan tubuhnya. Namun sebelum sempat membalas, pengeroyok lain sudah datang mengancam. Terpaksa pemuda itu harus kembali berkelit, dan melompat ke belakang.

Sementara itu, para penduduk yang menyaksikan pertempuran dari tempat yang agak jauh, terlihat mencemaskan ketiga anak muda yang tidak mereka kenal itu. Sepertinya, para penduduk memang tidak begitu suka terhadap putra kepala desa dan para tukang pukulnya. Hal itu terbukti dari pembicaraan beberapa penduduk yang menonton pertarungan itu.

“Kasihan sekali ketiga anak muda itu, Ki. Mereka pasti akan tewas di tangan tukang-tukang pukul itu,” bisik salah seorang pemuda berwajah kehitaman karena terlalu sering terpanggang sinar matahari.

“Yahhh! Tapi mudah-mudahan saja mereka dapat menyelamatkan diri. Kelihatannya, mereka bukan orang-orang sembarangan. Mungkin, mereka itulah yang disebut sebagai pendekar. Lihat saja. Bukankah mereka tidak menggunakan senjata? Malahan para tukang pukul itu hanya dipukul roboh. Jelas, ketiga anak muda itu adalah orang baik-baik,” sahut laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun, menimpali ucapan pemuda berwajah kehitaman itu.

Beberapa batang tombak dari kedua orang penduduk yang tengah menyaksikan pertarungan itu, tampak seorang pemuda tampan berjubah putih, dan seorang gadis cantik berpakaian ketat serba hijau. Pandang mata mereka bergerak mengikurJ jalannya pertarungan. Wajah mereka juga tampak tenang, tidak seperti kedua orang penduduk yang berbicara tadi.

“Hm.... Sepertinya ketiga anak muda itu adalah murid orang sakti. Dan mereka pasti baru saja turun gunung, Kakang. Sebenarnya mereka dapat menjatuhkan musuh-musuhnya lebih cepat. Jelas sekali kalau ketiga orang itu memiliki ilmu-ilmu tingkat tinggi. Ini bisa dilihat dari gerakan mereka. Hanya saja, mereka tampak masih ragu-ragu dalam setiap melontarkan serangan balasan,” kata gadis jelita laksana bidadari itu. Sepasang matanya yang tajam dan berbentuk indah, tak pernah lepas dari arena pertarungan.

“Hm...!” gumam pemuda tampan berjubah putih itu tak jelas. Walaupun demikian, tampak kepala pemuda itu terangguk-angguk sebagai tanda kalau mempunyai pendapat yang sama dengan gadis itu. Siapa lagi kedua orang itu, kalau bukan Pendekar Naga Putih dan kekasihnya, Kenanga.

LIMA

“Haaat..!”

Wuuur!

Wirasaba menarik kaki kanannya ke belakang sambil memutar tubuhnya. Begitu sambaran golok itu lewat, secepat kilat tangan kirinya terayun menghajar dagu lawan.

Desss!

“Aaakh...!” Orang itu kontan terjengkang ke belakang. Dan sebelum tubuhnya terjatuh, Wirasaba kembali mengirimkan tendangan ke dada. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu ambruk tak bangun-bangun lagi. Kini Wirasaba mengarahkan serangan pada dua orang pengeroyoknya. Maka akibatnya....

Bugkh! Dugkh!

“Ugkh...!”

Dua orang pengeroyok seketika terpelanting pingsan saat pelipis dan ulu hati mereka terkena sambaran tangan pemuda gagah itu. Meskipun dalam keadaan sibuk, Wirasaba tetap menjaga pukulan agar jangan sampai membuat pengeroyok tewas.

Di tempat lain, Anggini pun sudah pula menjatuhkan dua orang pengeroyoknya. Seperti halnya Wirasaba dan Samba, gadis itu juga mematuhi pesan gurunya agar tidak mudah menurunkan tangan kejam terhadap setiap lawan.

“Yeaaah...!”

Dua orang pengeroyok melompat tinggi sambil mengayunkan golok bersilangan. Namun gadis itu cepat menyambut dengan gerakan berputar. Kaki dan tangannya bergerak melakukan tamparan dan tendangan.

Plakkk! Desss!

Kedua orang itu terpental balik disertai semburan darah segar yang membasahi bumi. Setelah merasakan sakit sesaat, tubuh keduanya tak berkutik lagi. Pingsan. Salah seorang pimpinan pengeroyok yang berseragam hitam dan berkumis tebal, marah bukan main. Golok panjang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga menimbulkan deru angin keras.

"Haaat..!”

Wuuut! Wuuut!

Golok panjang di tangan si kumis tebal menusuk dan membacok berkali-kali. Di sini, Anggini tampak memperlihatkan kegesitan tubuhnya. Kedua kakinya bergerak lincah, berlompatan menghindari ancaman mata golok lawan. Sehingga, serangan si kumis tebal selalu mengenai tempat kosong.

Setelah lima jurus menyerang tanpa hasil, napas orang itu terlihat mulai memburu. Hal itu dikarenakan ia terlalu bernafsu dalam melancarkan serangan. Dan tentu saja hal itu membuatnya cepat menjadi lelah. Melihat serangan lawan mulai mengendur, Anggini pun merubah gerakannya. Tubuh gadis itu berkelebatan cepat sambil melontarkan pukulan dan tendangan keras. Dalam dua jurus saja, sebuah pukulan sisi telapak tangannya singgah di batang leher lawan.

Desss!

“Hegkh...!”

Kedua mata si kumis tebal itu mendelik. Darah seketika meleleh di sudut bibimya. Tubuhnya yang agak gemuk itu pun langsung roboh tanpa dapat bangkit lagi.

“Anggini, lari...!” tiba-tiba terdengar teriakan Wirasaba. Gadis cantik itu pun bergegas menolehkan kepalanya. Begitu kedua orang kakak seperguruannya terlihat meninggalkan tempat itu, maka Anggini pun segera melesat meninggalkan empat orang lawannya yang hanya berdiri bengong memandang mereka.

“Keparat! Tunggulah kau, Gadis Culas! Suatu hari, pasti kau akan dapat ditemukan! Dan pada saat itu kau akan tahu, siapa sebenarnya aku!” si pemuda jangkung putra kepala desa itu berteriak-teriak kalang-kabut. Dari sinar matanya yang dipenuhi dendam, jelas bahwa itu bukan hanya gertakan!

Namun ketiga anak muda itu sama sekali tidak mempedulikan si pemuda jangkung. Mereka terus saja berlari melewati mulut desa.

“Wah! Bagaimana ini, Kakang? Apakah kita harus kembali ke lembah?” tanya Samba meminta pendapat Wirasaba. Rupanya pemuda tampan itu belum puas dengan perjalanannya. Dan semuanya memang tidak ada yang bisa menjawab. Mereka benar-benar bingung, ke mana harus pergi. Atau, sebaiknya kembali saja?

“Hm.... Awas kau putra kepala desa yang manja! Suatu hari, aku akan datang untuk mengambil nyawamu!” gumam Samba geram. Sepasang mata pemuda tampan itu mengeluarkan sinar berkilat ketika teringat pemuda jangkung yang inerusak kegembiraan dan perjalanan mereka. Dan ini mereka harus berpikir dua kali bila ingin melanjutkan perjalanan.

“Aku pun baru sekarang merasa geram kepada pemuda sombong itu. Ingin rasanya batang lehernya kupuntir agar tidak mempunyai kepala lagi! Dengan begitu, ia tidak akan dapat sombong lagi!” kata Wirasaba sambil memukulkan tinju kanan ke telapak tangan kirinya. Jelas kalau bukan hanya Samba saja yang merasa dendam.

“Ahhh! Kalian ini bagaimana, sih? Tadi mati-matian ingin meloloskan diri dan tidak mau memberi pelajaran kepada pemuda itu. Lalu, mengapa sekarang berubah pikiran?” tanya Anggini yang menjadi tidak mengerti melihat sikap kedua orang saudara seperguruannya.

“Karena baru sekarang aku sadar kalau pemuda sombong itu telah merebut kegembiraan kita! Orang seperti itu sepantasnya memang tidak boleh dibiarkan hidup lama-lama. Sebab, ia hanya akan mendatangkan kesusahan saja bagi orang lain!” sahut Samba yang belum hilang rasa jengkelnya.

“Sudahlah. Kita lihat-lihat desa lain saja. Mudah-mudahan saja sebelum malam kita sudah menemukan desa,” usul Wirasaba.

“Kalau kemalaman di jalan, tidur di dalam hutan saja. Bukankah itu lebih enak?” timpal Samba.

“Hm.... Rasanya tidak terlalu jelek,” gumam Anggini sambil tersenyum. Namun, senyum gadis itu ternyata tidak mendapat sambutan. Karena, sepertinya baik Samba maupun Wirasaba masih teringat akan kejadian yang baru saja dialami tadi.

“Ayolah. Lebih baik kita percepat perjalanan.” Sambil berkata demikian, Wirasaba pun segera menggenjot tubuhnya yang langsung melesat cepat. Samba dan Anggini pun tidak mau ketinggalan. Mereka bergegas menyusul Wirasaba yang telah berada cukup jauh di depan.

*******************

Dalam keremangan cahaya rembulan, sesosok tubuh tinggi kekar tampak berloncatan di antara atap-atap rumah penduduk. Pakaian serba hitam yang dikenakan, semakin menyamarkan sosok tubuhnya yang bergerak demikian gesit dan ringan. Pijakan kakinya sama sekali tidak menimbulkan suara yang berarti.

Sosok bayangan hitam itu terus bergerak dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Tak berapa lama kemudian, sosok itu pun menghentikan larinya di atas sebuah rumah yang paling besar di Desa Banjar. Jika dilihat dari adanya beberapa penjaga di halaman, dapat ditebak kalau itu pasti rumah kediaman Kepala Desa Banjar.

Pada sebuah pelataran yang sepi dan agak gelap, sosok itu pun melayang turun. Satu persatu, ditelitinya kamar yang terdapat di dalam rumah itu dari luar. Kemudian, tubuhnya menyelinap melalui pintu samping. Hebat! Hanya dengan menempelkan telapak tangannya, maka pintu itu langsung terbuka! Rupanya dia tidak mengalami kesulitan untuk membuka pintu yang semula terkunci.

Dengan mengendap-endap, sosok itu pun melangkah hati-hati menuju ke sebuah kamar. Kemudian telapak tangannya kembali ditempelkan pada pintu kamar, dan didorongnya periahan. Pintu itu pun terbuka. Dari caranya membuka pintu, sudah dapat diduga kalau dia memiliki tenaga dalam tinggi!

Perlahan-lahan dihampirinya sesosok tubuh jangkung yang tengah terbaring di atas tempat tidur dari kayu jati berukir. Sejenak dipandanginya wajah berkulit kecoklatan yang tengah terlelap itu. Wajah yang tak lain milik si pemuda jangkung, putra Kepala Desa Banjar.

“Bangun kau, Keparat!” bisik sosok tubuh itu. Suaranya lirih, namun mengandung kegeraman yang amat sangat.

Tentu saja pemuda jangkung yang tengah terlelap itu tersentak kaget! Ia merasa heran, bagaimana orang itu dapat masuk ke dalam kamarnya yang terkunci rapat? “Si... siapa kau...? Apa..., apa maksudmu datang ke sini...?” tanya si pemuda jangkung gugup. Keringat dingin membasahi tubuh pemuda itu ketika goloknya yang digantung di dinding kamar ternyata telah tergenggam di tangan orang itu.

“Hm.... Pemuda culas! Kau tidak pantas hidup lebih lama di permukaan bumi ini! Berdoalah, agar tidak masuk ke dalam neraka!” geram sosok tubuh itu bernada maut. Setelah berkata demikian, golok itu diangkatnya tinggi-tinggi siap dihunjamkan ke tubuh si pemuda jangkung yang menjadi pucat ketakutan.

Wuuut!

“Aaah...!” Si pemuda jangkung terpekik tertahan. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang untuk menghindari sambaran golok itu.

“Tolooong...! Ada pembunuh...!” teriak pemuda itu ketakutan. Lupalah sudah dia akan kesombongannya. Rasa takut ternyata telah mengalahkan nyalinya.

“Hm.... Berteriaklah sepuasmu, Bangsat Rendah! Biar bagaimana pun, kematian tetap menjemputmu malam ini!” ancam sosok tubuh berpakaian serba hitam itu. Sama sekali hatinya tidak merasa khawatir dengan teriakan pemuda jangkung itu.

Dan memang, di luar sana terdengar suara-suara ribut, ditingkahi langkah-langkah kaki orang yang berlari mencari sumber teriakan tadi. Suasana sepi di rumah besar itu seketika gempar.

“Nah, terimalah kematianmu!” Setelah berkata demikian, sosok tubuh itu pun menggerakkan golok di tangannya dengan kecepatan begitu tinggi. Sinar putih bergulung-gulung menimbulkan suara angin yang menderu. Satu dua serangan memang masih berhasil dielakkan pemuda jangkung yang memang bukan orang lemah itu. Namun, kepandaian sosok berbaju hitam itu memang jauh lebih tinggi darinya. Akibatnya, ia pun tidak mampu untuk menyelamatkan diri dari serangan selanjutnya.

Bret! Bret!

“Aaa...!” Si pemuda jangkung menjerit setinggi langit ketika dua kali sambaran golok berhasil membeset tubuhnya. Darah segar seketika menyembur membasahi lantai dan tempat tidurnya. Tubuh jangkung itu pun terhempas, tewas di atas pembaringan. Dua buah luka menganga tampak pada bagian perutnya.

Pada saat yang bersamaan, pintu kamar yang tadi telah ditutup, ditendang oleh seseorang dari luar. Dan kini empat orang penjaga berlompatan masuk.

“Keparat! Iblis dari mana kau hingga berani membuat kerusuhan di tempat ini?” bentak salah seorang penjaga. Seketika mata penjaga itu terbelalak saat melihat tubuh majikan mudanya terbujur berlumuran darah di atas pembaringan.

“Hmh...!” Sosok tubuh berpakaian hitam itu hanya bergumam perlahan. Tampaknya ia sama sekali tidak merasa khawatir atas kedatangan para penjaga itu. Disertai bentakan keras, tubuhnya meluncur ke arah pintu. Kedua tangannya berputaran menimbulkan angin keras, kiri-kanan akibat tamparan dan tendangan sosok berpakaian hitam itu. Para penjaga itu tak mampu bangkit lagi. Pingsan!

Begitu tiba di luar kamar, sosok itu menengadahkan kepala ke langit-langit rumah. Sesaat kemudian, tubuhnya digenjot untuk menjebol atap rumah besar itu. Dengan menggunakan kepandaian ilmu meringankan tubuhnya, sosok berpakaian hitam itu kembali berloncatan dari satu atap ke atap rumah lainnya. Tidak lama kemudian, dia lenyap ditelan kegelapan malam.

Sementara itu, kentongan tanda bahaya telah bergema memenuhi seluruh penjuru desa. Obor pun tampak bermunculan dari dalam rumah-rumah penduduk. Hanya dalam sekejap saja, malam yang semula hening dan sepi menjadi ramai oleh suara kentongan yang ditingkahi teriakan-teriakan ribut. Sedangkan saat itu, si pembuat keributan dan kegemparan telah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Puluhan penduduk berbondong-bondong mendatangi rumah kepala desa. Dalam sekejap saja, halaman rumah besar yang semula sepi itu telah dipenuhi penduduk desa. Memang, mereka ingin mengetahui, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah kepala desa mereka itu. Seorang laki-laki tinggi kurus yang berusia sekitar lima puluh tahun berdiri tegak di serambi yang terletak di depan rumah. Matanya merayapi orang-orang di sekitarnya, sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

“Saudara-saudara! Kalian boleh pulang ke rumah masing-masing, karena tidak ada yang dapat diperbuat di sini!” ujar laki-laki tinggi kurus itu yang rupanya adalah Kepala Desa Banjar.

“Apa sebenarnya yang sudah terjadi, Ki? Bolehkah kami mengetahuinya?” tanya salah seorang laki-laki berwajah bulat. Sepertinya, ia masih merasa penasaran kalau belum mengetahui kejadian yang menimpa keluarga kepala desanya.

“Hm.... Entah kesalahan apa yang telah diperbuat putraku, sehingga malam ini ada seorang pembunuh yang telah menghukumnya secara kejam!” sahut kepala desa, dengan wajah berduka. “Nah! Sekarang, kalian pulanglah. Jangan-jangan si pembunuh itu mendatangi rumah kalian!”

Mendengar ucapan itu, para penduduk pun segera berlarian kembali ke rumah masing-masing. Wajah-wajah mereka tampak dibayangi kecemasan hebat. Sedangkan di dalam kamar tempat pembunuhan itu terjadi, terdengar tangisan yang memilukan. Empat orang penjaga yang tadi tergeletak pingsan telah digotong ke luar. Hanya mayat si pemuda jangkung itulah yang masih tetap terbujur di atas pembaringan. Seorang wanita gemuk berusia sekitar empat puluh tahun tampak merintih sambil membelai wajah mayat yang mulai membeku.

Sementara malam semakin bertambah larut. Sang rembulan tetap memancarkan sinarnya, tanpa mempeduli-kan kejadian yang menimpa anak manusia di permukaan bumi. Seorang pemuda tampan mengenakan jubah berwarna putih yang ditemani seorang gadis jelita, nampak masih berdiri di halaman rumah besar itu. Mereka tak lain adalah Panji dan Kenanga.

“Mengapa Kisanak masih juga belum pulang?” tanya seorang penjaga sambil menghampiri pasangan muda itu. Rupanya ia mengira kedua orang itu adalah penduduk desanya.

“Maaf. Kami berdua adalah seorang kelana, dan malam ini kebetulan menginap di desa ini. Mmm.... Kalau boleh, aku ingin bertemu kepala desamu,” pinta Panji. Suaranya terdengar sopan.

“Wah! Aku tidak berani, Kisanak,” desah penjaga itu yang sesekali mencuri pandang ke arah Kenanga. Rupanya kecantikan gadis itu telah membuatnya tidak bisa diam.

ENAM

“Hm.... Ada keperluan apa kau ingin menemuiku, Anak Muda?” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat ketiga orang itu menoleh.

“Ah! Maaf, Ki. Kalau diperkenankan, aku ingin melihat mayat orang yang baru saja terbunuh itu. Barangkali saja pembunuh itu dapat kukenali melalui tanda-tanda yang terdapat di tubuh korban,” sahut Panji, sehingga membuat kening lelaki setengah baya itu berkerut

“Hm.... Bagaimana kau dapat mengetahui pembunuh itu, bila hanya melihat dari tanda-tandanya saja, Anak Muda? Siapakah kau sebenamya?” tanya kepala desa itu. Rupanya, dia mulai mencurigai Panji. Pertama, pemuda itu bukan penduduk desanya. Kedua, kedatangan pemuda itu persis saat kematian putranya. Maka ia pun mulai bersikap waspada menghadapi pemuda berjubah putih itu.

“Ketahuilah, Ki. Setiap tokoh persilatan mempunyai ciri pada ilmunya. Biasanya, apabila si pembunuh itu berasal dari kalangan persilatan, maka akan meninggalkan tanda ilmunya. Nah! Dengan begitu, mudah bagi kita untuk mencari pembunuh itu. Sedangkan pemuda yang kini berada di depan Aki ini adalah Pendekar Naga Putih. Dan kebersihan jiwanya tidak perlu diragukan lagi!” tandas Kenanga. Gadis itu memang merasa tidak senang melihat sinar mata Kepala Desa Banjar yang mengandung kecurigaan itu!

“Ah...! Betulkah..., betulkah kau Pendekar Putih yang tersohor itu, Anak Muda?” tanya kepala, desa itu, penuh harap. Kemudian, dia melangkah semakin dekat untuk menegasi wajah pendekar muda yang telah menggetarkan rimba persilatan sekarang ini.

“Demikianlah orang-orang persilatan memberi julukan padaku, Ki,” jawab Panji tenang, tanpa kesombongan sedikit pun.

“Ah! Mari.., mari silakan Pendekar Naga Putih!” kepala Desa Banjar itu mengajak Panji met rumahnya.

Panji dan Kenanga segera melangkah mengikuti laki-laki setengah baya itu di belakangnya. Lalu, mereka pun memasuki sebuah kamar. Di dalamnya, tampak seorang wanita yang tengah menangisi mayat putranya.

“Sudahlah, Nyai. Pergilah beristirahat. Biarlah tuan pendekar ini yang akan memeriksanya. Siapa tahu pembunuh putra kita bisa ditemukannya,” bujuk kepala desa itu sambil menggandeng tangan istrinya, dibawanya pergi meninggalkan kamar itu.

Setelah mengantarkan istrinya ke kamar, ia pun segera kembali ke tempat mayat anaknya terbaring. Sebentar ditatapnya mayat itu, kemudian perhatiannya beralih pada Panji dan Kenanga. “Bagaimana, Pendekar Naga Putih? Apakah kau sudah bisa menduga, siapa pembunuh keji itu?” tanya lelaki setengah baya itu. Pada wajah tuanya tampak tersirat setitik harapan.

“Hhh.... Sayang sekali, Ki. Pembunuh itu ternyata orang yang sangat berpengalaman. Sengaja dia tidak mempergunakan pukulan atau senjatanya sendiri, melainkan menggunakan senjata yang tergantung di dinding itu,” jelas Panji sambil menunjuk ke arah sarung golok yang masih tergantung di binding. Sedangkan golok yang digunakan untuk membunuh, entah berada di mana.

“Hhh.... Benar-benar licik bangsat keji itu! Mungkinkah ia seorang pembunuh bayaran?” gumam orang tua itu geram.

“Entahlah. Tapi aku pernah melihat putramu ini di kedai, dekat mulut desa. Saat itu ia dan orang-orangnya tengah mengeroyok dua orang laki-laki dan seorang perempuan muda. Tapi aku tidak tahu, apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan kejadian pagi tadi atau tidak,” jelas Panji lagi. Rupanya, Pendekar Naga Putih sempat mengenali sewaktu pemuda jangkung dan anak buahnya mengeroyok Wirasaba, Samba, dan Anggini.

“Ah! Jadi, tadi pagi anakku telah membuat keributan? Hhh.... Dasar anak keras kepala! Padahal, sudah berulangkali aku menasihatinya agar tidak memancing-mancing keributan. Oh, ya. Tahukah kau, siapakah yang memulai perseBsihan itu, Anak Muda? Jawablah, tanpa harus merasa tidak enak kepadaku. Karena aku tahu, anakku memang keras kepala dan tidak mau kalah kepada orang lain,” tanya orang tua itu.

“Hm.... Kalau melihat dari sikap ketiga orang anak muda yang dikeroyoknya, dapat diambil kesimpulan kalau kesalahan itu terletak pada putra Aki. Buktinya, jika melihat gerakannya, jelas ketiga orang itu memiliki kepandaian tinggi. Dan kalau ingin, mungkin mereka dapat membunuh para pengeroyoknya. Tapi, hal itu tidak merela lakukan. Sebaliknya, malah ketiga orang itu berusaha meloloskan diri. Begitulah kejadian yang kulihat tadi pagi, Ki,” jelas Panji.

“Hhh.... Aku yakin, pembunuhan ini merupa buntut dari peristiwa pengeroyokan itu. Mungkin anakku telah melakukan kesalahan besar yang menyakitkan hati ketiga orang itu. Sebab, pembunuh itu hanya meminta korban anakku saja. Padahal kalau mau, dapat juga membunuh keempat orang penjagaku. Jadi, jelas anakkulah yang menjadi tujuannya,” kata kepala desa itu.

Tampaknya orang tua itu menyesali perbuatan putranya yang justru telah membahayakan dirinya sendiri. Dan kini, menyesal rasanya sudah terlambat. Diam-diam, dia menyalahkan diri sendiri, karena terlalu memanjakan putra satu-satunya itu.

“Aku akan menyelidiki hal ini, Ki. Aku juga ingin tahu, siapa sebenarnya yang melakukan pembunuhan ini. Dan apa yang menyebabkan orang itu melakukannya?” janji Panji. Kepala Desa Banjar itu hanya bisa mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

Setelah berkata demikian, Panji dan Kenanga pun pamitan untuk kembali ke penginapan. Sekali lagi orang tua itu mengucapkan rasa terima kasihnya. Kemudian, ia mengantarkan kepergian kedua orang mendekar muda itu hingga gerbang rumahnya. Pendekar Naga Putih dan Kenanga melangkahkan kaidnya menerobos kegelapan malam yang mulai men-jelang pagi. Kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi.

*******************

“Tolong...! Kantung uangku dicuri! Oh, tolong...!” Seorang wanita setengah baya berteriak-teriak minta tolong. Sedang tangannya menunjuk ke arah seorang laki-laki kurus berwajah kumal yang berlari dan menyelinap di antara keramaian pasar.

Sedangkan orang-orang yang tengah berbelanja dan berdagang di pasar hanya menolehkan kepala jenak, kemudian kembali melanjutkan kegiatan tanpa mem-pedulikan kejadian itu. Sepertinya, orang-orang di pasar telah mengenal betul lelaki kurus yang nencuri kantung uang wanita itu. Mereka tidak ingin nencampurinya, karena takut akan akibatnya. Paling tidak, pencuri itu akan mencegat dan menganiaya bersama kawan-kawannya. Maka, orang-orang itu terpaksa menulikan telinganya dan berpura-pura tidak tahu.

Dua orang pemuda dan seorang gadis cantik yang tengah menikmati keramaian pasar, tersentak ketika nen-dengar jeritan minta tolong. Mereka langsung menoleh ke arah asal teriakan tadi. Kening mereka berkerut dalam ketika melihat seorang laki-laki kurus dan kumal berlari cepat. Di tangan kanannya tampak tergenggam kantung uang.

“Hm.... Mengapa orang-orang di pasar ini hanya diam saja?” gumam Wirasaba. Pemuda itu benar-benar heran ketika tidak melihat seorang pun yang berusaha mengejar si pencuri.

“Mungkin mereka takut, Kakang,” sahut Samba.

Lain halnya dengan wanita cantik yang tak lain! Anggini. Tanpa berkata sepatah pun, dia segera melesat mengejar lelaki kurus itu. Hanya beberapa kali lompatan saja, tubuh gadis itu telah berdiri menghadang jalan lari pencuri itu.

“Berhenti! Atau, kupatahkan kakimu!” ancam Anggini sambil berdiri bertolak pinggang. Wajahnya! tampak kemerahan menahan amarah yang meluap-luap dalam dada.

“Hm.... Minggirlah kau, Nisanak! Sayangilah kecantikanmu. Jangan sampai wajahmu yang cantik itu kurusak!” pencuri itu rupanya merasa lucu mendengar ancaman Anggini, sehingga berbalik mengancam.

“Oh! Rupanya kau minta diberi pelajaran! Baik. Nah, sambutlah kepalanku ini. Lumayan untuk sarapan pagi!” ujar gadis cantik itu geram melihat ke bandelan si pencuri. Maka kedua tangannya cepat bergerak. Dan tahu-tahu saja....

Brettt! Plakkk! Desss!

“Akh...!” Lelaki kurus berwajah kumal itu menjerit, dan! Tubuhnya langsung terbanting jatuh. Cairan merah tampak merembes di sudut bibirnya. Sepasang matanya sampai terbelalak memandang gadis di depannya. Ia benar-benar tidak mengerti, mengapa tahu-tahu saja wajah dan perutnya terasa sakit. Bahkan kantung uang di tangannya pun telah berpindah ke tangan gadis cantik itu. Rupanya kecepatan gerak pukulan dan tendangan tadi tidak terlihat matanya, sehingga ia tidak lahu kalau wajah dan perutnya telah menjadi sasaran tangan kaki gadis cantik itu.

“Bedebah kau, Kuntilanak! Rupanya kau tidak patut disayangi! Rasakanlah pembalasanku! Heaaat..!” Disertai sebuah pekikan marah, tubuh kurus itu segera melompat menerjang Anggini.

Mau tak mau, Anggini terpaksa tersenyum melihat gerakan orang itu. Karena, ia tahu persis kalau gerakan lelaki kurus itu hanya asal-asalan. Sama sekali tidak mengandung unsur silat cabang mana pun. Tentu saja serangan orang itu tidak ada artinya bagi gadis cantik murid tokoh sakti macam Anggini. Hanya dengan satu tangan saja, maka tubuh orang itu kembali terpelanting akibat sambaran pukulan lawan. Akibatnya, dada orang itu terasa rontok.

Sadar kalau yang dihadapinya bukanlah gadis sembarangan, maka tanpa malu-malu lagi laki-laki kurus itu bergegas melarikan diri. Sehingga, Anggini pun tersenyum melihatnya.

“Hebat..! Hebat..!” tiba-tiba terdengar seruan bernada memuji.

Tampak seorang pemuda tampan mengenakan pakaian dari sutra halus berwama coklat muda telah berdiri tidak jauh dari Anggini. Ia berseru sambil bertepuk tangan keras-keras. Sepertinya, ia telah menyaksikan gebrakan gadis itu saat melumpuhkan si pencuri.

“Apa maksudmu, Kisanak? Dan mengapa kau tidak berusaha mencegah perbuatannya tadi?” tanya Anggini. Keningnya berkerut, menatap pemuda pesolek yang sebenarnya cukup gagah dan menarik itu.

“Maaf, Nisanak. Namaku Gutala. Tapi sayang sekali, aku tidak memiliki keberanian sepertimu. Mmm.... Bolehkah aku tahu namamu?” tanya pemuda tampan pesolek itu, setelah lebih dulu memperkenalkan nama-nya. Sama sekali da tidak berusaha menyembunyikan rasa kagumnya melihat kecantikan dan kepandaian Anggini.

Kerutan di kening Anggini semakin dalam. Dipandanginya wajah pemuda itu penuh selidik. Seolah-olah dia mencoba mencari jawaban, mengapa pemuda itu sedemikian mudahnya memperkenalkan diri. Sepertinya, hal itu memang sudah diatur olehnya. Namun karena sikap pemuda itu sangat sopan, maka tidak enak untuk menyambutnya.

“Aku Anggini. Dan...” Gadis itu menghentikan ucapannya ketika terdengar jerit kesakitan yang menyayat. Anggini semakin terkejut melihat tubuh wanita setengah baya yang baru saja kantung uangnya dikembalikan, tersungkur roboh mandi darah. Dua bilah belati tampak menancap di dada dan lehernya.

“Hei, berhenti! Mau lari ke mana kau, Pembunuh!” seru Wirasaba marah. Tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda tinggi tegap itu segera mengejar si pembunuh.

Samba yang tidak ingin ketinggalan, bergegas pula mengejar dua orang laki-laki yang melemparkan senjata tadi. Kedua pemuda itu melesat cepat penuh kemarahan, sehingga melupakan Anggini yang masih berada di tempat itu.

“Sabarlah, Nisanak. Apakah dua orang temanmu itu masih belum cukup untuk menangkap mereka? Lebih baik tunggu saja di sini. Aku yakin, tidak lama lagi pasti kedua orang temanmu sudah kembali sambil menyeret dua orang yang dikejarnya. Mereka memang teman si pencuri yang kau robohkan tadi. Marilah kita tunggu mereka di dekat pohon itu,” ajak si pemuda yang mengaku bernama Gutala sambil menunjuk sebatang pohon yang cukup besar.

“Hm.... Jadi, kau pun sudah pula mengenal banyak kawanan pencuri itu? Lalu mengapa tidak kau beri hajaran, agar mereka kapok?” tanya Anggini, seraya melangkah ke sebuah bangku panjang di bawah pohon besar itu.

Si pemuda pesolek hanya tersenyum memikat. Kembali dijelajahinya seluruh wajah Anggini yang cantik itu dengan matanya. Sinar kekaguman semakin nyata terlihat pada sepasang mata pemuda itu.

“Ihhh! Mengapa kau memandangiku seperti itu, Gutala?” sergah Anggini sambil memalingkan wajahnya. Dia memang jengah melihat pandangan yang tajam menusuk itu.

“Hm..., Anggini. Sebuah nama yang indah dan antik. Sungguh sesuai dengan kecantikannya. Kau tidak ubahnya seperti dewi, Anggini,” gumam Gutala. Suaranya terdengar agak menggeletar.

“Apa... Apa maksudmu, Gutala. Kau..., kau..., ah! Aku tidak suka mendengar ucapan itu! Sekali lagi kata itu diucapkan, aku akan pergi meninggalkanmu!” bentak Anggini yang sudah bangkit dari duduknya. Sepasang matanya menyiratkan kemarahan hatinya.

“Aduh...! Sabar dulu, Anggini. Mengapa marah-marah begitu? Apa yang kukatakan itu adalah yang sebenarnya. Apakah salah kalau aku mengatakan kau cantik? Tidak bolehkah kita mengagumi sesuatu yang indah dan cantik? Hhh.... Kau aneh sekali, Anggini?” bantah Gutala. Suaranya demikian lemah, sehingga membuat kemarahan di hati gadis itu lenyap.

“Maafkan aku, Gutala. Tapi aku benar-benar tidak suka mendengar ucapan itu. Dan kuminta, jangan kau ulangi lagi,” desah Anggini.

Gutala tersenyum lega. Ternyata Anggini adalah gadis yang pemaaf. Hal ini makin membuatnya tertarik. Diam-diam, semakin dikaguminya gadis itu.

“Eh, mengapa mereka lama sekali? Ke mana saja mereka?” tanya gadis itu yang mulai merasa tidak enak ketika kedua orang saudara seperguruannya tidak muncul-muncul. Dan lagi, pertanyaan itu memang untuk mem-belokkan ketertarikan Gutala padanya.

“Sabarlah. Sebentar lagi mereka pasti kembali,” bujuk Gutala sambil menyuruh gadis itu duduk kembali.

“Tidak, Gutala. Aku harus menyusul mereka!” Setelah berkata demikian, Anggini pun mulai meng-gerakkan kakinya meninggalkan Gutala.

“Eh, eh! Sabar dulu, Anggini! Kita tunggu saja di sini!” cegah Gutala kaget. Cepat-cepat disambarnya lengan gadis itu, sehingga gerakannya jadi tertahan.

“Apa-apaan kau, Gutala!” bentak Anggini sambil menepiskan tangan pemuda itu yang telah menggenggam jemarinya. Hati gadis cantik itu sempat tergetar ketika merasakan betapa lembut dan hangatnya genggaman tangan lelaki pesolek itu.

“Jangan pergi, Anggini. Sejak melihatmu tadi, aku.... Aku telah jatuh cinta kepadamu,” Gutala terpaksa mengutarakan perasaan hatinya. Dia pikir, mungkin pengakuannya pada Anggini akan membatalkan niat gadis itu untuk mencari kedua orang saudara seperguruannya.

Tapi sayang, dugaan Gutala salah besar! Dugaannya semula, gadis itu akan tertunduk malu mendengar pengakuannya. Tapi, ternyata tidak! Anggini malah menentang pandang mata Gutala dengan wajah merah! Bukan karena rasa malu ataupun jengah, tapi sebaliknya malah merasa marah.

“Hm.... Jadi itu maksudmu, mengapa kau menahanku disini? Dan kau pilar, keberadaanku di sini karena tertarik kepadamu? Huh! Kau salah, Gutala! Selamat tinggal!” dengus Anggini.

Gadis itu segera melesat meninggalkan Gutala yang terpaku dengan wajah merah. Pemuda itu merasa malu dan terhina sekali mendengar kata-kata yang teratur menusuk hatinya tadi. Kata-kata yang terucap dari mulut gadis yang telah mencuri sekeping hatinya.

“Anggini, tunggu...!” seru Gutala, bersiap mengejar. Namun sebelum kakinya melangkah, tiba-tiba....

“Tidak pertu mengejar gadis itu, Perayu Busuk! Karena telah berani mengganggu gadis itu, berarti kau pun telah berani untuk menghadap malaikat maut!” ancam sebuah suara berat.

Gutala langsung menahan langkahnya. Kepalanya langsung dipalingkan ke arah asal suara. Tampak lelaki tinggl tegap berwajah buruk dan tua telah berdiri di dekatnya. Rambutnya yang telah berwarna dua tampak meriap dan menutupi sebagian wajah. Penampilan orang itu benar-benar menggetarkan hati Gutala.

“Siapa... siapa kau? Dan apa maksud kata-katamu itu?” tanya Gutala agak gugup mendengar kata-kata berbau maut itu.

"Tidak perlu banyak cakap! Bersiaplah! Kau kuberi kesempatan untuk membela diri!” lanjut suara berat itu tanpa mengenal belas kasihan.

Gutala segera mencabut pedang yang terselip dipinggangnya. Memang disadarinya kalau lelaki setengah baya berwajah buruk itu tidak main-main dengan ancamannya. Maka, ia pun bersiap untuk membela diri.

“Haaat..!” Dibarengi sebuah teriakan parau, tubuh lelaki buruk itu meluncur disertai sambaran pedangnya menimbulkan deru angin keras.

Wuuut! Wuuut!

Sambaran pedang yang membawa hawa maut berkelebatan mengancam tubuh Gutala. Cepat-cepat pemuda itu berkelit dan melempar tubuhnya ke belakang. Memang, serangan orang aneh itu demikian gencar sekali. Maka Gutala pun kalang-kabut dibuatnya.

TUJUH

“Orang gila! Apa sebenarnya maumu?” teriak Gutala sambil berlompatan, menghindari serangan yang menderu-deru dari orang aneh itu.

“Jangan banyak bacot! Keluarkan semua kepandaianmu, kalau masih ingin hidup lebih lama lagi!” bentak lelaki aneh berwajah buruk itu, semakin mempergencar serangannya.

Wuuut!

“Aaah...!” Gutala berteriak kaget ketika ujung pedang lawan hampir saja membeset kulit tubuhnya. Untunglah tubuhnya sempat dimiringkan, sehingga ujung pedang orang aneh itu hanya mengenai bajunya. Pemuda itu segera melempar tubuhnya, lalu bergulingan menjauhkan diri dari lelaki buruk yang berkepandaian tinggi itu.

“Huh! Percuma melarikan diri, Pemuda Busuk!” seru lelaki aneh itu ketika melihat lawannya hendak melarikan diri. Setelah berkata demikian, tubuhnya vang tegap dan kokoh itu melayang mengejar calon korbannya. Senjata di tangannya diputar sedemikan rupa, sehingga menimbul-kan gulungan sinar yang menyilaukan mata.

Wuuut! Crasss!

“Aaargh...!” Terdengar jerit kematian yang menyayat pedang di tangan lelaki buruk yang aneh itu membeset tubuh Gutala sebanyak tiga kali. Darah segar memercik membasahi permukaan bumi. Tubuh Gutala kemudian ambruk di tanah. Dia meraung-raung berkelojotan meregang nyawa. Dada, perut, dan lehernya terdapat luka memanjang yang cukup dalam. Tidak berapa lama kemudian, tubuh Gutala diam bergerak. Mati. Setelah merasa yakin kalau korbannya telah tewas, lelaki buruk yang aneh itu segera melesat meninggalkan mayat yang bersimbah darah.

“Pembunuhan...! Pembunuhan...!”

Terdengar teriakan dari beberapa penduduk melihat mayat Gutala. Mereka telah mengerumuni mayat itu. Tak seorang pun yang berani mendekat apalagi sampai menyentuhnya. Mereka hanya gerombol dalam jarak empat batang tombak.

Seorang gadis berkepang dua dan berwajah cantik, segera berlari mempercepat langkahnya mendekati kerumunan orang itu. Ia tak lain adalah Anggini. Gadis itu memang bermaksud menanyakan tempat berkumpulnya kawanan pencuri yang biasanya menjarah pasar. Pada waktu mengejar tadi, Anggini tidak berhasil menemukan kedua orang saudara seperguruannya, meskipun telah bertanya ke sana kemari.

“Hm.... Ada apa lagi itu? Sepertinya ada kejadian yang menarik?” gumam Anggini dalam. Gadis itu pun mempercepat langkahnya. Kemudian, dia segera menyeruak di antara kerumunan penduduk.

Orang-orang yang tengah berkerumun memberikan jalan kepada Anggini. Mereka memang tahu kalau gadis cantik itu memiliki kepandaian hebat, karena sempat menyaksikan pertarungan Anggini melawan pencuri ditengah pasar tadi.

“Ada apa, Kisanak?” tanya Anggini kepada seorang laki-laki setengah baya yang menyingkir memberi jalan.

“Ada orang terbunuh! Kata orang yang melihat pertarungan korban tadi, pembunuhnya berumur setengah baya, juga wajahnya buruk. Tapi ia sudah menghilang sejak tadi,” jelas lelaki itu.

“Hah...!?” Sepasang mata Anggini terbelalak lebar. Hampir sata gadis itu tidak mempercayai pandangan matanya. Benar-benar tidak disangka kalau mayat itu tak lain adalah Gutala. Padahal, belum lama tadi ia berada bersamanya. Lalu, bagaimana mungkin pemuda itu dapat terbunuh sedemikian mudah? Apa yang menyebab Gutala sampai terbunuh? Aneh! Anggini benar-benar tak habis mengert.

“Nisanak kenal orang itu?” tanya seorang pemuda berjubah putih yang juga ada dalam kerumunan penduduk, dekat dengan Anggini. Nada pertanyaannya demikian wajar dan tidak mengandung kecurigaan.

Anggini tidak segera menjawab pertanyaan itu. Kepalanya menoleh, dan keningnya berkerut. Sekilas saja gadis itu tahu kalau pemuda berjubah putih itu berkepandaian tinggi. Kemudian pandangannya dialihkan kepada seorang wanita jelita yang menghampiri.

“Aku mengenalnya baru beberapa saat yang lalu. Tapi aku tidak tahu, siapa dia sebenarnya? Dan penyebabnya sehingga ia sampai terbunuh? Padahal kelihatannya dia orang baik,” sahut Anggini.

“Apa dia pernah bercerita kalau mempunyai musuh?” tanya wanita jelita berpakaian hijau, ikut menimpali.

“Hm..., tidak. Perkenalan kami belum lama. Lagi pula, tidak baik menceritakan persoalan kepada orang yang baru dikenal,” jawab Anggini. Matanya masih memandang wanita jelita itu penuh kagum. Sekali melihat saja, ia sudah menyukainya. sudah dapat diduga kalau wanita jelita itu bukan orang sembarangan.

“Hm.... Aneh!” gumam pemuda tampan berjubah putih yang tak lain Pendekar Naga Putih. Sedangkan wanita jelita itu pasti Kenanga.

Kedua pendekar muda itu hanya mengamati sambil menatap kepergian Anggini. Lalu, mereka segera berlalu setelah berpesan kepada penduduk mengurusi mayat pemuda pesolek itu.

“Apakah kau akan mengikuti gadis itu, Kakang?' tanya Kenanga setelah mereka meninggalkan keramaian pasar. Saat itu, mereka berjalan menyusuri utama desa.

“Hm..., begitulah. Kau tahu, saat ini kita tidak mempunyai petunjuk lain selain gadis itu dan orang pemuda yang bersamanya,” sahut Panji.

“Kau mencurigai mereka sebagai pembunuhnya?' tanya Kenanga lagi.

“Yah! Itu hanya dugaan, Kenanga. Tapi yang jelas, sumber pembunuhan itu pasti berasal dari mereka. Dan satu-satunya jalan untuk membekuk pembunuh aneh itu adalah melalui ketiga orang itu,” jawab Panji yang bertekad untuk menyelidiki pembunuh-pembunuh gelap yang mereka temui.

“Kalau begitu, marilah kita ikuti gadis cantik itu!” ajak Kenanga bersemangat. Memang dia pun sudah tidak sabar untuk segera membekuk pembunuh itu.

“Ayolah!” sahut Panji Pendekar Naga Putih segera mengikuti Kenanga yang sudah berlari mendahuluinya. Cepat sekali!

Mereka kemudian melesat cepat seperti saling berkejar-kejaran. Jelas, mereka telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang mendekati kesempurnaan. Yang terlihat kini hanyalah bayangan putih dan hijau. Bagi orang yang tak memiliki kepandaian tinggi, sulit untuk menebak, bayangan apa yang tengah berkelebat dengan kecepatan tinggi itu.

Sebentar kemudian, Pendekar Naga Putih dan Kenanga telah tiba di tempat Anggini tadi menuju. Namun, mereka menjadi heran ketika tidak menemukan gadis itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera menanyakan orang yang dicarinya kepada seorang laki-laki yang tengah berdiri di pintu rumah dan memandang ke arahnya.

“Maaf, Kisanak. Apakah kau melihat gadis cantik yang rambutnya berkepang dua?” tanya Panji sopan.

“Apakah yang kau maksud, gadis berbaju kuning dan bercelana hitam?” orang itu balik bertanya.

Begitu kepala Panji terlihat mengangguk, orang itu menggerak-gerakkan tangannya menunjuk ke satu arah. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka segera melesat ke arah yang ditunjuk orang itu. Rupanya Anggini telah meninggalkan desa itu.

*******************

“Berhenti..!” terdengar bentakan nyaring, disertai ber-lompatannya belasan sosok tubuh dari balik semak-semak.

Gadis cantik berkepang dua itu melangkah mundur dengan sikap waspada. Satu persatu, dipandanginya orang-orang yang berdiri menghadang jalannya itu. Dapat diduga kalau orang-orang yang terlihat kasar itu mempunyai niat yang tidak baik terhadapnya.

“Maaf, Kisanak. Apa keperluan kalian hingga menghadang jalanku? “ tanya gadis cantik yang tak lain Anggini itu, curiga. Gadis cantik yang belum berpengalaman ini sama sekali tidak mengetahui kalau saat itu tengah berhadapan dengan para perampok.

“Ha ha ha...!” Laki-laki berkepala botak yang merupakan pimpinan para perampok itu tertawa mendengar pertanyaan Anggini. Sepertinya, pertanyaan yang dilontarkan gadis itu lucu. Sebab bukan hanya si botak yang tertawa, tapi hampir semua laki-laki kasar itu tergelak mendengarnya.

“Hei, Nisanak yang cantik. Mestinya kau tahu keperluan tuanmu ini. Ketahuilah, aku dan pasukanku sengaja datang menyambutmu. Karena, sebentar lagi kau akan menjadi permaisuriku! Kau tidak keberatan, bukan?” ujar si botak seraya memperdengarkan tawanya yang memuakkan.

“Maaf, Kisanak. Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu itu? Lebih baik, kalian menyingkir! Biarkan aku lewat!” tegas Anggini bemada mengancam.

“Hei? Apakah kau lebih suka kalau aku menggunakan kekerasan? Hm.... Sebaiknya, kau menurut saja, Nisanak. Kujamin, kau akan hidup senang,” ujar si botak lagi tanpa mempedulikan ancaman gadis itu.

“Sudahlah, Ki. Untuk apa bertele-tele? Tangkap saja! Kan, beres!” selak lelaki tinggi kurus dan berwajah brewok.

Sepasang mata laki-laki yang agak sipit itu berputar liar menjelajahi sekujur tubuh Anggini. Air liurnya nampak menetes, tak ubahnya seekor harimau yang melihat kijang muda.

“Hm.... Rupanya kalian menganggap aku main-main! Baiklah. Kalau kalian masih juga tidak mau menyingkir, jangan salahkan kalau kepala kalian akan terpisah dari badan!” geram Anggini. Gadis itu langsung mencabut pedangnya yang terselip di pinggang. Ketika melihat sinar mata si brewok, Anggini pun tahu keinginan orang-orang kasar itu sebenarnya.

Sret!

Selarik sinar berkilatan keluar dari mata pedang yang tercabut keluar dan tergenggam di tangan gadis cantik itu. Wajahnya yang putih halus nampak kemerahan karena kemarahannya mulai bangidt Bagaimana ia tidak akan jengkel? Belum lagi kedua orang kakak seperguruannya dapat ditemukan, kini ada lagi persoalan yang membuat kepalanya tambah pusing.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan kedua belah pihak, dua sosok tubuh tampak memperhatikan dari balik rimbunan pohon bambu kuning.

“Kakang, bagaimana kalau gadis itu terdesak? Apakah kita akan mendiamkannya saja?” tanya sosok tubuh ramping itu. Sementara sepasang matanya yang indah tetap menatap ke arah orang-orang itu.

“Kita tunggu saja perkembangannya,” sahut yang seorang tanpa menolehkan kepala.

“Tapi kalau dia tertangkap, bagaimana?” tanya sosok tubuh ramping itu lagi.

Sepertinya dia tidak tega melihat Anggini yang hanya seorang dhi, siap dikeroyok oleh kawanan perampok yang jumlahnya lebih dari lima belas orang. Belum lagi kalau mereka masih mempunyai kawan yang tengah ber-sembunyi di semak-semak.

“Sudahlah. Jangan terlalu khawatir dulu, Kenanga. Dan jangan sekali-kali bergerak sebelum ada isyarat dariku,” sahut sosok yang satunya. Siapa lagi kedua orang itu, kalau bukan Kenanga dan Panji yang rupanya sudah pula tiba di tempat itu.

Sementara itu, ketegangan di kedua belah pihak semakin memuncak. Pemimpin perampok yang berkepala botak itu sudah memerintahkan anak buahnya menyebar mengelilingi Anggini Beberapa di antaranya tampak sudah memutar-mutar tambang yang pada bagian tengahnya dibentuk sebuah bulatan. Sepertinya, mereka memang bermaksud untuk menangkap gadis itu hidup-hidup.

“Heaaat..!”

Dibarengi bentakan nyaring, pemimpin perampok itu bergerak maju tanpa menggunakan senjata. Sesaat kemudian, lelaki kurus berwajah brewok yang merupakan wakilnya, ikut pula bergerak maja la juga menggunakan tangan kosong.

“Haiitt...!”

Anggini melompat tinggi menyambut serangan kedua orang pimpinan perampok itu. Gadis yang berjiwa bersih ini sudah pula menyimpan senjata begitu melihat kedua orang lawannya hanya bertangan kosong. Dengan gerakan indah, Anggini memutar tubuhnya menghindari dua buah serangan yang dilancarkan lelaki berkepala botak itu. Sambil memutar tubuh, tangan kirinya terayun ke leher lawan. Begitu hantaman tangan kirinya berhasil dielakkan lawan, gadis itu pun segera menyusuli dengan sebuah tendangan kilat

Lelaki berkepala botak itu terkejut sekali melihat kecepatan gerak lawan. Cepat-cepat tubuhnya dilempar ke belakang karena tidak ingin dadanya dijejak kaki mungil yang menyimpan tenaga hebat itu. Pada saat yang bersamaan, serangan dari lawan lain meluncur datang. Jari-jari tangan yang berbentuk akar dari laki-laki brewok itu menyambar-nyambar cepat mengincar beberapa bagian tubuh gadis itu.

Anggini bergerak mundur dengan menggeser kedua kakinya bergantian. Sepasang matanya bergerak lincah mencari-cari kelemahan lawan. Gadis cantik yang cukup cerdik itu terus bergerak mundur sambil mencari celah yang kira-krra dapat dimanfaatkannya. Namun sampai beberapa jurus lamanya, titik kelemahan dari jurus-jurus lawan belum juga terlihat. Sepertinya, pertahanan si brewok cukup rapat dan kuat

Setelah menyerang selama lima jurus namun belum juga berhasil menyentuh tubuh lawannya, lelaki brewok itu pun bangkit kemarahannya. Jurus-jurus serangannya pun semakin dipercepat Cengkeraman tangannya kadang-kadang berubah membentuk kepalan. Namun kepalan itu tidak kalah berbahayanya dengan cengkeramannya. Malah mungkin akibatnya akan lebih parah apabila terkena tubuh lawan!

Pada suatu saat, gadis cantik itu berteriak nyaring mengagetkan lawan. Serangan-serangan yang semakin cepat itu justru telah menyebabkan pertahanan si brewok agak melemah. Anggini pun menyadari akan hal itu. Maka ketika cengkeraman dan kepalan lawan meluncur mengancam dada dan perutnya, tubuh gadis itu meliuk dengan jurus 'Harimau Lapar Menerkam Kambing'.

Wuuut!

Kepalan dan cengkeraman si brewok temyata hanya mengenai angin kosong karena tubuh Anggini telah lebih dulu meliuk ke kanan. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, tangan kanan gadis terulur mengancam dada. Gerakannya dibarengi pula dengan tendangan kaki kanan yang mengarah perut

Dapat dibayangkan, beta pa kagetnya hati si brewok melihat serangan tiba-tiba itu. Apalagi, dia tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Maka si brewok cepat mengerahkan tenaganya untuk melindungi bagian tubuh yang menjadi sasaran serangan lawan.

Desss! Bukkk!

“Aaakh...!” Disertai jeritan ngeri, tubuh kurus itu pun terjengkang beberapa tombak ke belakang! Darah segar langsung memercik membasahi rerumputan yang kering. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh kurus itu pun terbanting keras menimbulkan suara berdebuk!

Sambil menekap dada dan perutnya, lelaki brewok itu berusaha bangidt meskipun dengan susah-payah. Kembali ia terbatuk, langsung memuntahkan darah segar! Rupanya ia salah perhitungan! Sungguh sama sekali tidak diduga kalau tenaga dalam yang dimiliki gadis cantik itu ternyata demikian tinggi. Maka tentu saja tenaga yang diper-gunakan untuk melindungi tubuhnya itu tidak berarti. Akibatnya, pukulan dan tendangan gadis itu tetap saja melukai tubuhnya.

“Gunakan tali! Kuntilanak ini benar-benar patut diberi pelajaran!” perintah laki-laki botak. Pemimpin perampok itu menjadi marah melihat kawannya telah dilukai gadis ini Sebagian nafsunya telah lenyap, dan telah berganti dengan kemarahan. Golok besar yang tergantung di punggung dicabutnya.

“Yeaaat..!” Disertai bentakan keras, tubuh si botak melambung ke atas dengan bacokannya. Kali ini ia tidak peduli lagi, apakah si gadis akan terluka atau tidak. Satunya-satunya yang diinginkan saat itu adalah melumpuhkan Anggini.

Trangngng! Trangngng!

“Aaah...” Entah kapan dilakukannya, tahu-tahu saja di tangan Anggini telah tergenggam sebatang pedang. Langsung pedangnya dikerahkan untuk memapak ayunan golok si botak. Maka terdengarlah benturan yang keras disertai jeritan kaget lelaki berkepala botak itu.

Benturan yang cukup kuat itu telah membuat kuda-kuda si botak tergempur. Tubuhnya terjajar mundur, hingga beberapa langkah ke belakang. Meskipun demikian, golok besarnya tetap tergenggam erat di tangannya.

Anggini tidak mau membuang-buang waktu lag! Saat itu juga tubuhnya melesat ke arah pimpinan perampok yang tengah terhuyung itu. Pedang di tangannya berputar cepat menimbulkan deru angin keras. Tapi sayang Anggini tidak memperhatikan lawan lainnya. Pada saat tubuhnya melompat, beberapa utas tambang yang ujungnya berbentuk bulatan itu melayang ke arahnya!

Rrrttt! Rrrttt!

“Aaah...!” Anggini berteriak kaget ketika dirasakan ada sesuatu benda yang menjerat keduanya kakinya. Baru saja pedangnya hendak diayunkan untuk membabat tambang-tambang itu, kedua pergelangan tangannya kembali terjerat tambang yang lain. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya pun meluncur ke bawah. Jatuh, tak berdaya.

Brukkk!

“Uuugkh...!”

Rrrttt! Rrrttt!

Terdengar suara berdebuk ketika tubuh gadis itu ter-banting di atas rerumputan. Anggini mengeluh menahan rasa nyeri pada tubuhnya. Cepat ia bergerak bangkit sambil mengerahkan tenaga pada lengan dan kakinya. Namun betapa terkejutnya gadis itu ketika kaki tangannya tidak mampu digerakkan. Pandangan gadis itu beredar. Dia kini mendapati tali-tali yang semula dipegang gerombolan perampok itu telah dilibatkan ke pohon-pohon besar. Maka Anggini hanya bisa pasrah, untuk melihat apa yang akan diperbuat orang-orang itu terhadap dirinya.

Kenanga yang melihat gadis cantik itu sudah berdaya, segera bergerak bangkit hendak menolongnya. Memang sebagai seorang wanita, dia sudah dapat menduga maksud perampok-perampok liat itu. Namun, gerakan Kenanga tertahan telapak tangan Panji, yang menekan bahunya. Semula gadis jelita itu hendak membantah, tapi langsung bungkam ketika Panji nunjuk ke arah tempat terjadinya pertempuran.

Rupanya di arena pertempuran terjadi perubahan mendadak. Ternyata di sana telah muncul dua orang pemuda yang tampak gagah. Sedangkan gadis yang terikat tadi telah pula terbebas. Malah kini telah di samping dua orang pemuda gagah itu.

“Hhh.... Hampir saja aku berbuat kesalahan!" desah Kenanga menghela napas lega. Dipandanginya Panji, dengan sinar mata penuh permohonan maaf.

SATU

“Hm... Siapa kau, Anak Muda?! Mengapa berani mencampuri urusanku?!” bentak orang berkepala botak itu dengan suara menggelegar. Ia benar-benar marah sekali melihat mangsa yang sudah berada di depan mulut terlepas begitu saja karena perbuatan dua orang itu.

“Ha ha ha...! Hei, Perampok-perampok Busuk! Dengarlah! Kami adalah Dua Harimau Cakar Besi! Dan hari ini, malaikat maut akan datang hendak mencabut nyawa kalian!” ancam salah seorang dari dua pemuda gagah itu, dingin.

“Ahhh...!” Mendengar disebutnya nama Dua Harimau Cakar Besi, para perampok itu bergerak mundur dengan wajah pucat. Memang mereka telah banyak mendengar tentang sepak-terjang dua pendekar muda yang sering membasmi para perampok di sekitar daerah itu tanpa kenal ampun. Tak seorang pun perampok yang pernah lolos dari hukuman mereka. Sehingga kedua orang pendekar itu dijuluki sebagai Dua Harimau Cakar Besi. Tidak heran bila setiap perampok yang bertemu kedua orang itu, pasti akan tewas!

“Lari....!” tanpa malu-malu lagi, si kepala perampok memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan diri dari hukuman kedua pendekar yang tak mengenal kata ampun itu.

Melihat gerombolan perampok itu hendak melarikan diri, dua orang pemuda gagah itu segera bergerak mengejar.

“Jangan kejar...!” terdengar seruan halus yang membuat Dua Harimau Cakar Besi menghentikan langkahnya.

“Mengapa, Nisanak? Mereka adalah orang-orang kejam dan buas. Hanya kematianlah jalan satu-satunya bagi mereka,” tegas salah seorang dari pemuda itu. Dia merasa heran mendengar gadis yang ditolongnya itu mencegah mereka.

“Betul, Nisanak. Kalau tidak dibunuh, lain kali mereka pasti akan mengganggu orang lagi,” timpal yang seorang lagi, membenarkan ucapan kawannya. Sambil berkata demikian, ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Dan ia pun baru sadar, betapa cantiknya gadis yang ditolongnya itu. Sinar kekaguman pun nampak di matanya.

"Tapi, siapa tahu setelah berjumpa dengan kalian menjadi sadar? Nah, bukankah hal itu akan lebih baik?” bantah Anggini. Gadis itu terpaksa menundukkan matanya melihat sinar kekaguman yang tak disembunyikan terpancar dari mata kedua orang pemuda penolongnya.

“Yahhh, sudahlah. Apa yang perlu diributkan lagi? Andaikan kita kejar pun, sudah tidak ada gunanya lagi. Mereka pasti sudah menyembunyikan diri di dalam hutan lebat di depan sana. Oh, ya. Kau hendak ke manakah, Nisanak? Mengapa berada sendirian di tempat ini?” tanya pemuda yang memiliki kumis tipis di wajahnya. Dia tersenyum, sehingga membuat wajahnya semakin menarik.

Anggini pun lalu menceritakan kejadiannya hingga sampai berada di daerah itu. Ia berusaha menerangkan sejelas-jelasnya dengan harapan kedua orang itu bisa memberi petunjuk. Bukankah mereka berasal dari sekitar daerah ini? Atau paling tidak, mereka pasti sudah lama tinggal di sekitar sini.

Kedua orang pemuda itu saling berpandangan begitu Anggini menyelesaikan ceritanya. Sepertinya, kedua orang itu tidak bisa memberi petunjuk apa-apa kepada gadis itu.

“Hm.... Kalau begitu, biarlah aku pergi saja. Siapa tahu kedua orang saudara seperguruanku itu sudah kembali ke perguruan. Atau kalau tidak, aku akan melaporkan hal ini kepada guru,” gumam Anggini, seperti untuk dirinya sendiri.

“Hm.... Sebentar lagi hari akan gelap, Nisanak. Kelihatannya bahaya sekali melakukan perjalanan di malam hari. Apalagi, Nisanak seorang gadis muda dan hanya seorang diri. Sebaiknya untuk malam ini, biarlah Nisanak menginap di pondok kami. Besok, baru melanjutkan perjalanan. Bagaimana?” tanya pemuda yang berkumis tipis memberikan usul.

“Betul, Nisanak. Bukannya kami hendak memaksa agar Nisanak tidak pergi. Tapi ada baiknya pertimbangkanlah tawaran kami,” sambut satunya, mendukung usul yang diajukan kawannya.

Anggini bimbang sejenak. Disadari juga kebenaran ucapan kedua orang itu. Tapi hatinya juga ragu karena tidak begitu mengenai kedua pemuda itu. “Yahhh...! Kalau memang tidak ada pilihan lain, apa boleh buat!” sahut Anggini yang akhirnya menyetujui usul kedua orang pemuda itu.

“Nah, itu lebih baik! Ayolah!” ajak pemuda berkumis tipis, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Anggini dan pemuda yang satu lagi bergegas mengikutinya.

********************

Kegelapan malam mulai turun menyelimuti permukaan bumi. Suara jangkrik mulai terdengar ramai bersahut-sahutan. Bintang-bintang tampak bertaburan bagaikan pelita menghiasi malam. Di depan halaman sebuah pondok sederhana, tampak nyala api berkobar menghangatkan suasana malam yang dingin. Lapat-lapat terdengar gemercik air yang mengalir. Sepertinya, pondok itu berdiri di dekat sebuah aliran sungai. Hal itu terbukti dari suara-suara katak yang bernyanyi menyemarakkan suasana malam.

Di dekat api yang menjilat-jilat, terlihat seorang pemuda berkumis tipis. Sesekali tangannya memutar-mutar sebatang dahan kayu yang terjilat api. Di tengah dahan kayu itu terdapat seekor ayam yang telah dikuliti tengah terjilat api. Baunya begitu menebar kesekitarnya. Jelas pemuda itu tengah memanggang seekor ayam yang aromanya menerbitkan air liur dan membuat perut terasa lapar. Pemuda itu memalingkan wajahnya ketika mendengar ada desah napas di depan pintu pondoknya.

“Eh. Kau belum tidur, Nisanak? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya pemuda berkumis tipis itu. Saat itu, sesosok tubuh ramping tampak tengah melangkah menghampirinya.

“Hm.... Bau harum panggang ayam itulah yang telah menggangguku,” sahut sosok tubuh ramping yang rambutnya dikepang dua.

Siapa lagi orang itu kalau bukan Anggini. Gadis yang memang memiliki sifat lincah dan periang itu, enak saja melontarkan kata-katanya. Padahal, ia baru saja mengenal pemuda itu. Tapi, gadis itu sudah mengeluarkan gurauan seolah-olah sudah lama saling mengenal.

“Wah, maaf kalau begitu. Aku sebenarnya tidak bermaksud mengganggumu. Tapi, perut yang tak tahu adat ini sudah berkeruyuk sejak tadi. Jadi... yaaah! Terpaksa aku harus membuat makanan,” sahut pemuda itu tanpa malu-malu lagi.

“Dari mana kau peroleh ayam itu sehingga menimbulkan bau harum ayam panggang yang menggoda selera?” tanya gadis itu lagi.

“Entahlah. Mungkin ini ayam hutan kesasar. Atau mungkin memang sengaja datang, karena tahu aku sedang kelaparan? Nah, menurutmu yang manakah yang lebih masuk akal, Nisanak?” sahut pemuda itu seraya melebarkan senyumnya karena merasa gembira.

“Panggil saja aku Anggini. Rasanya canggung sekali mendengar sebutanmu itu. Oh, ya. Menurutku, mungkin saja ayam hutan itu memang sengaja datang. Dikira keruyuk di perutmu itu adalah si betina,” sahut Anggini terkekeh gembira. “Eh, ke manakah kawanmu yang seorang itu?”

“Hm. Tadi kami berdua sengaja hendak mencari ayam hutan. Lalu, kami berpencar untuk mendapatkannya. Yah, mungkin saja nasibnya tidak seberuntung aku. Tapi, sebentar lagi juga kembali Oh, ya. Kau boleh memanggilku Benta saja. Cukup, kan?” jelas pemuda berkumis tipis itu yang matanya tak lepas dari wajah Anggini.

“Hei! Aku seperti mendengar suara orang bertarung? Apakah kau tidak mendengamya, Benta?” tanya Anggini tiba-tiba. Gadis itu segera mengerahkan indra pendengarannya agar dapat menangkap lebih jelas.

“Ah, ya. Aku pun mendengarnya! Mari kita lihat, Anggini. Siapa tahu Kakang Ginta mendapat kesukaran!”

Setelah berkata demikian, keduanya pun segera melesat mencari sumber suara pertarungan yang terdengar itu. Keduanya terus berlari cepat menerobos kegelapan malam dan semak belukar. Meskipun tanpa kata sepakat, ternyata mereka menuju arah yang sama.

“Wah! Suara pertempuran itu sudah tidak terdengar lagi! Sepertinya pertempuran itu sudah berakhir, Anggini?” desah Benta, harap-harap cemas. Diam-diam ia pun mulai mengkhawatirkan nasib saudaranya yang sampai saat itu belum juga kembali. Jangan-jangan... Benta berusaha mengusir bayangan-bayangan buruk yang muncul di benaknya.

“He!?! Lihat itu, Benta! Rupanya salah seorang telah berhasil membunuh lawannya,” ujar Anggini ketika melihat sesosok tubuh tergeletak tak bergerak beberapa langkah di depannya.

“Kakang Ginta...!” Benta berteriak kalap begitu mengenali sosok tubuh yang tergeletak itu.

Memang orang yang tergeletak itu adalah kakak seperguruannya. Maka cepat diraihnya sosok tubuh yang masih dibasahi darah segar itu. Bukan main hancurnya hati pemuda itu melihat kematian kakak seperguruannya.

“Ah, siapa yang telah membunuhnya...?” gumam Anggini dengan suara lirih.

Gadis cantik itu pun turut bersedih atas kematian salah seorang penolongnya. Meskipun merasa tidak suka dengan pandangan mata yang terlihat hangat dan mesra dari kedua orang itu, namun ia pun bukanlah seorang yang tidak tahu berterima kasih. Gadis itu tetap menghargai dan menyukai mereka sebagai sahabat yang menyenangkaa Dan kini tahu-tahu saja salah seorang dari penolongnya terbunuh. Bahkan tidak seorang pun dari mereka yang sempat melihat pembunuh itu. Maka tentu saja kejadian itu menimbulkan rasa penasaran di hati Anggini.

Sementara Benta masih tetap memeluk tubuh kakak seperguruannya yang sudah tewas itu. Terdengar keluhan-keluhan lirih dari mulut pemuda berkumis itu. Sepertinya hatinya benar-benar merasa terpukul atas kejadian itu.

“Hm.... Akan kucari bangsat itu sampai dapat! Akan kucabik-cabik tubuhnya sampai hancur dan tidak berbentuk lagi!” geram Benta. Pemuda itu segera bangkit dengan sepasang mata mencorong menakutkan. Hingga Anggini sendiri pun sampai bergetar harinya.

“Benta. Lebih baik kuburkan dulu mayat kakakmu itu. Besok, baru kita selidiki orang yang telah berbuat sekejam itu,” Anggini mengajukan usulnya ketika melihat Benta melangkah sambil memondong mayat Ginta.

"Tidak, Anggini. Aku akan membawanya ke pondok. Malam ini aku akan menemaninya. Besok, baru dikuburkan,” sahut Benta dengan suara serak dan bergetar. Kemudian langkahnya pun diteruskan menuju pondok.

Untuk beberapa saat lamanya, Anggini hanya terpaku di tempatnya. Dimaklumi, apa yang saat tengah dirasakan Benta. Dan mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama apabila kejadian itu menimpa dua orang kakak seperguruannya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu pun melang-kahkan kakinya perlahan. Karena ia sadar, kalaiu pada saat-saat seperti itu biasanya orang tidak ingin ditemani. Maka langkahnya segera diperlambat. Anggini menghentikan langkahnya sejenak. Dihelanya napas perlahan-lahan ketika teringat akan kedua orang saudara seperguruannya yang belum juga dapat ditemukan. Kekhawatiran mulai menyelinap di hatinya.

“Ah! Mudah-mudahan kejadian ini tidak menimpa diri kedua orang saudara seperguruanku! Kalau sampai terjadi apa-apa terhadap mereka, bagaimana aku harus mengatakannya kepada eyang guru. Bisa-bisa aku kena marah nanti,” pikir gadis itu dengan perasaan kacau.

Tanpa sadar langkah kakinya mengarah ke tepi sungai yang mengalir membelah hutan. Dengan hati semakin resah, gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas sebongkah batu yang cukup besar. Dipandanginya pantulan sinar bulan yang jatuh di atas permukaan air yang mengalir bening. Pildrannya kembali menerawang kepada kedua orang kakak seperguruannya, yang entah di mana saat ini.

“Eh...?!” Gadis cantik itu kembali menolehkan kepala dengan wajah tegang. Lapat-lapat telinganya yang terlatih menangkap suara-suara pertarungan yang diselingi teriakan marah. Dan Anggini semakin terkejut ketika mengenali bentakan Benta.

“Apakah.... Apakah...?!” Wajah gadis itu mendadak pucat begitu teringat akan kematian Ginta yang masih jadi tanda tanya di harinya. Dan kini terdengar kembali suara orang bertarung. Entah siapa yang tengah bertarung dengan Denta itu.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Anggini pun segera melesat menuju arah pondok. Tapi sayang, langkahnya tadi telah membawanya cukup jauh dari pondok tempat kedua orang pendekar muda itu tinggal. Sehingga, larinya harus tertunda-tunda untuk mencari arah suara orang yang tengah bertarung itu.

Sedangkan di pondok tempat kediaman Ginta dan Benta, tampak dua sosok tubuh tengah bertarung sengit! Tempat di sekitar arena pertarungan sudah porak-poranda. Sepertinya orang yang tengah bertarung dengan Benta itu memang memifiki kepandaian tinggi. Sehingga, biarpun Benta telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tetap saja terdesak hebat.

“Keparat! Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau memusuhi kami?” Benta berteriak-teriak marah sambil berlompatan menghindari serangan orang aneh itu. Hatinya benar-benar terkejut melihat kepandaian orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

“Hm.... Siapa pun yang berani mendekati gadis itu, harus mati! Termasuk juga kau, Pemuda Mata Keranjang!” bentak lelaki tegap yang mengenakan pakaian serba hitam itu. Sesekali cahaya rembulan tampak menerangi wajahnya yang buruk dan menakutkan itu. Rambutnya yang panjang riap-riapan dan berwarna dua itu semakin menambah keangkerannya.

“Bangsat! Kau harus menebus kematian saudaraku!” bentak Benta semakin kalap. Pemuda itu cepat melempar tubuhnya jauh belakang ketika pedang di tangan lawan menyambar ke arah tiga bagian tubuhnya sekaligus.

“Huh! Jangan harap akan dapat lolos dari tanganku!” geram orang aneh itu. Dia memang menyangka Benta akan melarikan diri. Sesaat kemudian, tubuh orang itu pun melayang disertai ayunan pedangnya.

Wuuut! Wuuut!

“Akh...!” Benta kembali harus melempar tubuhnya, dan melaku-kan beberapa kali salto di udara. Diam-diam kegentaran di hati Benta mulai timbul melihat keganasan dan kehebatan lawannya. Namun perasaan itu berusaha ditekannya ketika teringat akan kematian kakak seperguruannya di tangan laki-laki aneh berwajah buruk itu.

“Hmh...!” Sambil menggeram gusar, Benta memutar senjatanya sedemikian rupa hingga membentuk gulungan sinar yang menyelimuti tubuhnya.

“Yeaaat..!” Dibarengi sebuah teriakan mengguntur, tubuh pemuda berkumis apis itu melesat menerjang lawannya. Pedang di tangannya berkelebatan cepat mengancam beberapa bagian tubuh yang mematikan.

“Huh...!” Laki-laki aneh berwajah buruk itu mengumpat. Dan pada saat itu juga pedang di tangannya bergerak cepat menimbulkan deru angin tajam. Sepertinya, ilmu pamungkasnya yang paling tinggi tengah dipersiapkan. Tubuhnya tampak agak membungkuk dengan kuda-kuda rendah.

“Hiaaah...!” Sambil membentak keras, tubuh orang itu melayang menyambut serangan Benta. Serangkum angin keras menyertai ayunan pedangnya. Dari tiupan angin yang menderu itu, dapat diduga betapa hebatnya tenaga dalam yang dimiliki orang aneh itu.

SEMBILAN

Pada saat yang sangat berbahaya itu, tiba-tiba dari belakang Benta melesat sesosok bayangan putih. Sinar keemasan yang menyilaukan mata tampak menyertainya. Dan...

Trangngng!

“Akh...!” Benturan keras yang memekakkan telinga seketika terjadi bagaikan guntur menggelegar. Tubuh orang aneh itu terlempar disertai teriakan kagetnya. Namun dengan gerakan indah, tubuhnya berputar beberapa kali di udara untuk kemudian mendarat empuk di atas tanah.

Hal itu pun dialami pula oleh sosok berjubah putih yang menyelamatkan Benta dari kematian. Setelah berputar beberapa kali, tubuhnya pun mendarat ringan dengan kuda-kuda kokoh.

“Siapa kau, Keparat! Aku sama sekali tidak mempunyai urusan denganmu! Sebaiknya, menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran!” ancam orang aneh berwajah buruk itu, geram. Sepasang mata orang aneh itu tampak mengeluarkan sinar berkilat yang menggetarkan jantung. Jelas sekali kalau dia merasa gusar atas campur tangan sosok tubuh berjubah putih itu.

“Hm.... Aku memang tidak mempunyai urusan secara langsung denganmu. Tapi perbuatanmu yang telah membunuhi orang-orang secara kejam, menyebabkan aku terpaksa harus mencampurinya. Apakah alasanmu membunuhi mereka, Kisanak?” tanya sosok berjubah putih itu tanpa gentar sedikit pun. Bahkan sepasang matanya menentang pandangan mata si orang aneh dengan tidak kalah tajamnya.

“Apa pedulimu, Pemuda Sombong!? Kalau memang ingin menghentikanku, lakukanlah! Karena, hanya kematianlah yang dapat menghentikan perbuatanku ini!” sahut laki-laki berwajah buruk itu. Seketika dia mehntangkan pedang di depan dada. Kali ini sikapnya terlihat lebih hati-hati. Mungkin baru menyadari kalau lawannya kali ini tidak dapat disamakan dengan korban-korbannya yang lain.

Sosok berjubah putih yang menggenggam pedang bersinar kuning keemasan itu pun telah pula bersiap menghadapi lawannya. Pedang di tangannya terangkat naik ke atas kepala. Bersamaan dengan gerakan itu, selapis kabut putih keperakan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.

“Pendekar Naga Putih...!” seru orang aneh itu terkejut. Meskipun demikian, wajah orang itu sama sekali tidak menampakkan suatu gejala sedikit pun. Sedangkan kedua kakinya sudah melangkah mundur begitu mengetahui, siapa orang yang menjadi lawannya.

“Hm.... Pantas saja berani mencari urusanku. Rupanya kau pendekar muda yang tersohor itu!” geram laki-laki berwajah buruk itu sinis. Suaranya terdengar agak bergetar karena kekagetan yang bercampur kegentaran.

“Maaf, Kisanak. Sebenarnya aku tidak ada permusuhan denganmu. Dan kalau kau mau berjanji untuk menghentikan kekejamanmu itu, aku akan merasa senang sekali. Bagaimana, Kisanak?” tanya pemuda berjubah putih yang tak lain Panji itu.

“Huh! Apakah dikira aku akan lari terbirit-birit karena nama besarmu? Tidak, Sobat! Adalah suatu kehormatan besar apabila aku tewas di tanganmu. Namun, jangan harap kau dapat menghentikanku, kecuali bisa membunuhku. Itulah jalan satu-satunya yang harus kau lakukan,” jawab orang aneh itu yang rupanya salah duga dengan ucapan Panji.

“Jangan salah mengerti, Kisanak,” tiba-tiba terdengar suara merdu yang disusul munculnya sesosok tubuh ramping berparas jelita. Gadis cantik itu melangkahkan kakinya mendekati Panji. Siapa lagi gadis jelita itu kalau bukan Kenanga.

“Dengarlah, Kisanak. Pendekar Naga Putih sama sekali tidak bermaksud merendahkan ataupun menghinamu. Rasanya, jalan damai memang lebih baik daripada sebuah pertarungan. Dan Pendekar Naga Putih telah menawarkan jalan itu kepadamu. Bagaimana?” tanya gadis jelita itu lebih lanjut

“Hm.... Jangan coba membujukku, Nisanak. Apakah kau pikir dengan kecantikanmu itu dapat melemahkan hatiku? Hmh..., kau keliru. Sudah kukatakan tadi, hanya kematianlah yang dapat menghentikan perbuatanku! Jadi percuma saja kalau kau berniat membujukku!” sahut orang aneh itu tetap pada pendiriannya. Sepertinya, tekadnya memang sudah tidak bisa dirubah lagi.

“Kakang Benta! Kau..., kau tidak apa-apa...?” tiba-tiba saja terdengar seruan kecemasan. Begitu muncul, Anggini langsung menghampiri Benta yang wajahnya masih nampak pucat itu.

“Hhh... Aku tidak apa-apa, Anggini Pendekar Naga Putih telah menyelamatkanku dari keganasan laki-laki buruk itu,” desah Benta sambil menggerakkan kepala ke arah si orang aneh yang tampak mulai salah tingkah ketika melihat kedatangan Anggini.

Mendengar jawaban pemuda berkumis itu, barulah Anggini sadar kalau mereka tidak hanya berdua di tempat itu. Lalu, pandangannya dialihkan kepada orang-orang yang berada di sekitar tempat itu. Terakhir, dipandangnya laki-laki berwajah buruk itu lekat-lekat. Dipandang sedemikian rupa oleh Anggini, orang aneh itu tampak semakin tidak bisa diam. Pandangannya kemudian dibuang ke arah lain. Sepertinya ia tidak suka dipandangi sedemikian tegas oleh Anggini.

Panji yang memang sejak semula sudah dapat menduga kalau laki-laki buruk itu sepertinya mempunyai hubungan dengan gadis cantik itu, mulai menduga-duga sebabnya. “Diakah yang membunuh Gutala dan Kakang Ginta, Kakang Benta?” tanya Anggini tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok tubuh laki-laki aneh itu.

“Aku tidak tahu, siapa yang kau maksudkan dengan Gutala itu. Tapi yang jelas, orang aneh itulah yang telah membunuh Kakang Ginta. Kepandaiannya memang sangat tinggi. Pantas saja kalau Kakang Ginta sampai tewas di tangannya. Jangankan hanya seorang diri. Bahkan berdua pun rasanya aku masih ragu untuk dapat mengalahkannya,” sahut Benta hrih. Dari nada suaranya jelas sekali kalau Benta merasa kecewa.

“Nisanak. Apakah kau dapat mengenali lelaki aneh itu? Kelihatannya, ia agak gentar menghadapimu,” tanya Panji seraya menolehkan kepalanya memandang Anggini.

Anggini mengerutkan keningnya begitu mendengar pertanyaan orang yang disebut Benta sebagai Pendekar Naga Putih. Diam-diam hatinya mengagumi pemuda tampan itu. Apalagi dalam usia yang semuda itu, ia telah mampu membuat nama besar dalam dunia persilatan. Tanpa sadar Anggini mulai membanding-bandingkan pemuda tampan itu dengan pamannya.

“Nisanak. Apakah kau mendengar pertanyaanku?” tanya Panji lagi ketika gadis cantik itu hanya memandanginya dengan sinar mata menerawang jauh.

“Oh, apa...?” Anggini menjadi tergagap ketika men-engar teguran Panji. Seketika lamunannya buyar. Wajahnya pun menjadi kemerahan teringat akan siapnya tadi.

“Aku tadi bertanya, apakah kau dapat mengenali atau pernah berkenalan dengan orang itu?” Panji mengulangi pertanyaannya.

“Oh, tidak. Aku sama sekali tidak pernah mengenalnya. Bahkan melihatnya pun baru kali ini,” jawab Anggini yang menjadi tidak mengerti, mengapa pendekar muda itu mengajukan pertanyaan yang terdengar aneh.

“Hei, berhenti! Mau lari ke mana kau?!” teriak endekar Naga Putih tiba-tiba.

Panji langsung menggenjot tubuhnya ketika laki-laki berwajah buruk itu hendak melarikan diri. Melihat kecepatan gerak lawannya, Panji bergegas mengerahkan ilmu lari cepatnya agar dapat mengejar orang aneh itu. Pendekar Naga Putih semakin mempercepat larinya. ketika orang aneh itu berlari semakin cepat. Meskipun semula sudah dapat menduga kepandaian lawannya, namun hatinya pun sempat terkejut juga ketika melihat kehebatan ilmu lari orang aneh itu. Sehingga, Panji terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga agar dapat menyusul laki-laki berwajah buruk itu.

“Jangan harap dapat meloloskan diri dariku, Pengecut!” bentak Panji gusar. Sesaat kemudian, tubuhnya melambung dan bersalto beberapa kali di udara.

Jleg!

Orang aneh itu terpaksa menghentikan langkahnya ketika tubuh Pendekar Naga Putih telah berdiri tegak menghadang jalannya. Sadar kalau tidak mungkin dapat lolos dari kejaran pendekar muda itu, maka senjatanya langsung digerakkan ke arah Panji.

“Yeaaat..!”

Wuuut! Wuuut..!

Panji bergegas melempar tubuhnya ke belakang mengindari serangan beruntun yang dilancarkan orang aneh itu. Namun Panji semakin terkejut ketika pedang lawan terus saja mengincarnya. Sepertinya, ia tidak ingin memberi peluang lawannya untuk membalas serangan. Maka Panji terpaksa harus memapak pedang lawan untuk mem-bendung serangan orang aneh itu.

Trangngng! Trangngng!

Baik Panji maupun orang aneh sama-sama terjajar mundur beberapa langkah ke belakang. Sepertinya, usaha Panji untuk menghentikan serangan gencar orang itu berhasil baik. Buktinya setelah benturan keras itu, orang aneh itu menghentikan serangan. Sepasang matanya menatap Panji tajam. Pedang di tangannya tampak bergetar karena dialiri tenaga sakti yang kuat. Orang aneh itu kini kembali menyiapkan serangan berikutnya.

“Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Mengapa tidak kau biarkan saja aku pergi!” geram orang aneh itu. Dia merasa gusar sekali atas ulah Panji yang masih juga mengejarnya.

“Maaf, Kisanak. Aku terpaksa harus mengejarmu. Karena kalau kubiarkan, maka korban kekejamanmu akan bertambah lagi. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi,” tegas Panji, dingin. Suaranya terdengar tenang, namun tetap waspada kalau-kalau lawannya akan berbuat curang.

“Keparat kau! Heaaat..!” Dibarengi teriakan mengguntur, tubuh orang aneh itu kembali menerjang Panji. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa, hingga menimbulkan gulungan sinar yang menderu bagai angin puting beliung.

“Haaat..!” Panji yang semakin menyadari kehebatan lawan, tidak ingin berbuat kesalahan. Pedangnya segera diputar meng-gunakan 'Ilmu Pedang Naga Sakti' yang merupakan ilmu pedang andalan.

Wrrr! Wrrr...!

Serangkum angin dingin yang sanggup membekukan jalan darah di tubuh lawan, berhembus keras mengiringi ayunan pedang Pendekar Naga Putin. Sinar kuning keemasan tampak bergulung-gulung bagaikan seekor naga yang turun dari langit Tentu saja hal itu membuat lawannya terkejut.

“Gila! Kabar tentang kehebatan Pendekar Naga Putjh ternyata bukan hanya isapan jempol belaka!” desis orang bermuka buruk itu penuh kagum. Sadar akan kehebatan lawannya, orang aneh itu pun bergegas mengerahkan seluruh tenaganya.

Sesaat kemudian, kedua orang tokoh sakti itu pun sudah saling menerjang hebat Dalam beberapa jurus saja, daun-daun kering dan bebatuan kecil beterbangan ke segala arah. Bukan hanya itu saja. Bahkan beberapa pepohonan di sekitarnya langsung bertumbangan terkena sambaran angin pedang kedua tokoh yang berilmu tinggi itu. Maka dalam sekejap saja, tempat itu telah porak-poranda bagai tergilas topan hebat.

Makin lama, Pendekar Naga Putin semakin bertambah kagum atas kehebatan lawan. Meskipun sebelumnya sudah diduga, namun sama sekali tidak disangka kalau orang bermuka buruk itu dapat menahan serangannya selama lebih dari tiga puluh jurus. Padahal, jurus-jurusnya sekarang ini merupakan jurus andalan. Maka tentu saja hal itu membuatnya penasaran.

Demikian pula halnya dengan orang aneh itu. Walaupun sudah sering mendengar tentang kehebatan Pendekar Naga Putih, namun tak urung terkejut juga. Memang, apa yang dirasakannya kali ini benar-benar di luar dugaannya. Sehingga, seluruh ilmu simpannya harus dikeluarkan kalau tidak ingin dipecundangi pemuda itu.

Sementara itu, Kenanga, Anggini, dan Benta telah tiba di dekat arena pertarungan. Anggini dan Benta ternganga kagum melihat pertarungan yang selama hidup belum pernah mereka saksikan. Keduanya sampai terbelalak pucat tanpa mampu mengeluarkan suara. Anggini dan Benta benar-benar dibuat takjub!

Sedangkan bagi Kenanga, pertarungan dahsyat itu bukanlah hal yang aneh. Dia memang telah sering melihat pertarungan kekasihnya, bahkan lebih hebat dari yang disaksikannya kali ini. Gadis jelita itu kemudian memperingatkan Anggini dan Benta agar tidak terlalu dekat dengan pertarungan. Karena bisa-bisa sambaran angin pukulan dan pedang dapat melukai mereka.

“Heaaat..!” Laki-laki berwajah buruk yang semakin penasaran itu tiba-tiba memekik nyaring. Saat itu juga tubuhnya berputar setengah lingkaran, disertai ayunan pedangnya.

Cwiiit! Swing! Wuuut..!

Ayunan pedang orang aneh itu menyambar cepat secara bersilangan. Secercah sinar berkilat yang disertai sambaran angin tajam mencicit memekakkan telinga, mengiringi serangan itu. Tiga buah serangan sekaligus meluncur mengancam tiga jalan darah kematian di tubuh Panji.

Pendekar Naga Putih sempat tercekat melihat serangan maut yang menggiriskan itu. Namun sebagai orang yang telah berpengalaman, ia tidak merasa gugup dalam menghadapi serangan dahsyat itu. Dengan tenang, tubuh Panji meliuk dan bergerak mundur. Begitu serangan lawan lewat, pedang di tangannya meluncur melakukan tusukan ke lambung lawan. Ujung pedang yang mengeluarkan sinar berpendar itu tampak bergetar membingungkan pandangan lawan.

Swingngng!

“Heaaah...!”

Sadar kalau serangan itu sangat berbahaya, lelaki berwajah buruk itu bergegas melempar tubuhnya ke belakang disertai bentakan. Maksudnya, agar serangan lawan terpengaruh. Namun Pendekar Naga Putih telah meraba gerakan lawan. Dan begitu tubuh lawan menghindar dengan membuat putaran ke belakang, tubuh pendekar muda itu pun bergerak menyusulinya disertai sambaran tangan kirinya yang membentuk cakar naga. Jari-jari yang telah terisi 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' itu meluncur cepat mengancam dada lawannya.

Orang aneh itu berseru tertahan melihat dadanya tahu-tahu telah terancam cakar lawan. Cepat-cepat tubuhnya dimiringkan sambil menepiskan serangan itu dengan tangan kiri. Namun tanpa disangka-sangka, cakar itu langsung berputar dan kembali menyambar mukanya.

Brettt!

“Akh...!” Lelaki berwajah buruk itu menjerit tertahan ketika sambaran cakar Panji merobek pipi kirinya. Namun meskipun begitu, ia masih juga dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Hasilnya, kakinya dapat didaratkan di atas tanah dengan selamat .

“Eh...?!” Panji tersentak kaget ketika tangan kirinya yang mencengkeram wajah orang aneh itu ternyata telah menggenggam sebuah topeng karet yang amat tipis. Cepat-cepat pandangannya dilemparkan ke arah orang aneh yang telah menjelma menjadi seorang laki-laki gagah yang cukup tampan. Dan sepertinya, orang itu belum menyadari kalau penyamarannya telah terbuka. Tak heran kalau ia masih tetap menatap Panji dengan sorot mata tajam mengandung dendam.

“Paman Kembara...!” Tiba-tiba saja terdengar seruan Anggini yang lirih. Namun gadis cantik itu belum yakin sepenuhnya akan pandang matanya itu. Makanya, ia hanya menatap dengan sinar mata terbelalak.

“Ahhh...!” Orang aneh yang tak lain Kembara itu tersentak bagaikan mendengar ledakan petir ditelinganya. Wajah yang bersih dan gagah mendadak pucat Dengan tangan gemetar, wajahnya diraba. Dan ketika tidak merasakan adanya topeng yang selama ini menurupi wajahnya, tubuhnya pun semakin gemetar hebat.

“Paman...!” Setelah yakin kalau orang itu memang pamannya, Anggini pun bergegas menghambur ke arah Kembara. Terdengar isaknya yang lirih. Gadis itu benar-benar telah lupa akan perbuatan pamannya yang telah begitu tega membunuh orang-orang yang mengganggu dan mendekatinya. Yang teringat saat ini adalah, kasih sayang pamannya yang telah merawatnya sejak kecil. Tentu saja hal itu tidak mungkin akan dapat dilupakannya.

“Ah...!” Kembara merasa kan hatinya hancur. Rasanya ia lebih baik mati saat ini, daripada harus menanggung malu karena penyamarannya telah terbongkar. Begitu melihat Anggini berlari ke arahnya, laki-laki gagah berusia tiga puluh satu tahun itu pun segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.

“Pamaaan...!” Anggini berteriak mencegah kepergian Kembara.

Namun Kembara tidak mempedulikannya. Dia terus saja berlari tanpa menoleh lagi. Lemas rasanya seluruh persendian tubuh Anggini. Gadis itu hanya dapat terduduk sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. Terdengar suara isaknya yang lirih.

Tinggallah Panji, dan Benta yang terpaku saling berpandangan. Pendekar Naga Putih pun tidak mengejar laki-laki gagah yang dipanggil Paman Kembara itu. Mereka benar-benar bingung melihat perubahan yang sama sekali tidak pernah diduga itu. Sehingga untuk beberapa saat, mereka hanya terpaku tanpa suara.

Tidak berapa lama kemudian, Anggini bergerak bangkit Gadis cantik itu menyusut air matanya sejenak, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah tiga orang yang masih berdiri menatapnya dengan heran. Mereka memang tidak mengerti, apa yang membuat gadis itu menangis. Rasanya tidak mungkin kalau hanya karena ditinggalkan pamannya. Pasti ada sesuatu penyebab yang lebih dari itu.

Dengan langkah gontai, Anggini melangkah menghampiri Panji, Kenanga, dan Benta. Pandang matanya yang redup tampak tertuju kepada Benta. Gadis cantik itu menghentikan langkahnya dalam jarak satu batang tombak.

“Kakang Benta, ketahuilah. Bahwa orang yang telah membunuh saudaramu itu adalah pamanku. Aku tidak tahu, apa yang telah menyebabkannya hingga berbuat demikian. Tapi kalau kau ingin membalaskan kematian saudara seperguruanmu itu, lampiaskanlah padaku. Hal ini kulakukan bukan semata-mata karena aku keponakan ataupun muridnya yang telah diasuh sejak kecil. Ini hanya karena aku yakin kalau perbuatan pamanku itu ada sangkut-pautnya dengan diriku. Dan demi orang yang telah mendidikku sejak kecil, aku rela menebus dosanya dengan darahku. Dan aku percaya, pamanku tidak akan melakukan perbuatan seperti ini lagi,” ujar Anggini dengan sinar mata pasrah.

Benta hanya berdiri kaku menatap wajah cantik yang telah menyentuh hatinya itu. Sehingga untuk beberapa saat, ia hanya berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Meskipun dendam di hatinya belum mampu dihilangkan, namun ia tidak akan tega untuk membalaskan dendam terhadap gadis itu.

"Pendekar Naga Putih! Kau sebagai orang yang lebih berpengalaman, tentunya bisa mengambil jalan tengah. Sekarang, apa pendapatmu? Rasanya saat ini aku membutuhkan nasihatmu,” pinta Benta seraya menolehkan kepalanya ke arah Panji yang berada tidak jauh di sebelahnya.

Panji tidak langsung menjawab. Kemudian kakinya melangkah perlahan. Dipandanginya kaki langit sebelah Timur yang dijalari wama kemerahan. Rupanya, saat itu pagi sudah mulai menjelang. “Benta, kau meminta pendapatku, atau menyerahkan persoalan ini kepadaku?” tanya Pendekar Naga Putih yang segera mengalihkan pandangan. Ditatapnya Benta lekat-lekat.

“Mmm.... Aku menyerahkan persoalan ini kepadamu. Apa pun yang menjadi keputusanmu, akan kusetujui,” sahut Benta tanpa ragu-ragu sedikit pun. Sepertinya pemuda itu telah menaruh kepercayaan penuh kepada Pendekar Naga Putih.

“Menurut pendapatku, kejadian seperti ini rasanya tidak akan terulang lagi. Pembunuh aneh yang ternyata adalah paman gadis ini, tidak mungkin akan melakukannya lagi. Sebab, rahasia yang selama ini menyelimuti dirinya sudah terungkap. Dan menurut penglihatanku, pada dasarnya orang itu tidaklah sejahat yang kita duga. Jadi, alangkah baiknya kalau kita lupakan saja persoalan ini. Bagaimana, Benta?” tanya Panji setelah menerangkan panjang lebar tentang pendapatnya.

“Aku menyetujuinya, Pendekar Naga Putih. Biarlah persoalan ini dihabiskan sampai di sini saja. Nah! Kalau begitu, aku pergi dulu untuk mengurus jenazah kakak seperguruanku. Selamat tinggal!” pamit Benta seraya melangkah meninggalkan tempat itu.

“Selamat jalan, Kakang Benta. Terima kasih atas kebaikan hatimu yang mau memaafkan kekhilafan pamanku!” ucap Anggini dengan wajah agak berseri. “Maaf, Pendekar Naga Putih. Aku pun harus menyusul pamanku.”

Panji dan Kenanga hanya menganggukkan kepala dengan senyum terkembang. Kemudian gadis itu cepat melesat pergi. Makin lama, bayangan tubuhnya yang ramping kian hilang ditelan kejauhan.

“Sepertinya antara orang yang dipanggil Paman Kembara dan gadis itu ada sesuatu yang aneh, Kakang? Apakah kau pun melihatnya?” tanya Kenanga setelah Anggini tak terlihat lagi.

“Hm.... Ya. Aku jadi ingin tahu, ada apa sebenarnya di antara kedua orang itu. Ayo, kita ikuti gadis itu,” ajak Panji.

Pendekar Naga Putih segera mengayunkan kakinya mengejar Anggini. Kenanga yang juga merasa penasaran, bergegas mengikuti langkah kekasihnya.

********************

“Demikianlah, Eyang. Setelah memberi pelajaran kepada kedua orang pembunuh itu, maka kami bergegas kembali menemui Adik Anggini. Tapi sayang, kami tidak berhasil menemukannya. Setelah mengitari seluruh desa tanpa hasil, maka kami pun memutuskan untuk kembali ke lembah. Dugaan kami, mungkin Adik Anggini telah kembali ke sini,” lapor salah seorang dari kedua pemuda yang tengah duduk di hadapan seorang kakek renta.

“Hm...,” kakek yang tak lain adalah Begawan Madapati itu hanya bergumam sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan berwama putih.

“Ampunkanlah kami, Eyang. Kami mengaku salah,” ucap pemuda yang satunya, lirih. Wajahnya yang gagah tampak menunduk penuh penyesalan.

“Sebaiknya kalian beristirahat dulu. Nanti Eyang akan menyuruh pamanmu untuk mencarinya. Mudah-mudahan saja ia segera kembali,” ujar kakek itu lembut, penuh harap.

Lega hati kedua pemuda itu ketika tidak mendengar adanya nada kemarahan dalam suara kakek itu. Mereka pun segera berpamitan untuk kembali ke pondok masing-masing.

Setelah kepergian kedua orang muridnya itu, Begawan Madapati bergegas meninggalkan pondoknya. Begitu tiba di luar pondok, tubuh kakek itu melesat menuju ke suatu tempat yang hanya diketahui Kembara dan dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Begawan Madapati tiba di sebuah mulut gua yang agak tertutup semak-semak. Untuk beberapa saat lamanya, kakek itu hanya berdiri mengawasi mulut gua. Lalu kakinya melangkah memasuki mulut gua itu.

“Aku telah mengetahui kedatanganmu, Kembara. Mengapa kau tidak langsung menghadapku, tapi kau malah menyembunyikan diri di tempat ini?” tanya kakek itu sambil mengawasi sosok tubuh yang telah membelakanginya.

“Ampunkan aku, Eyang. Aku... aku telah membuat kesalahan yang besar,” sahut sosok tubuh yang tak lain adalah Kembara itu. Rupanya ia pun telah mengetahui kedatangan gurunya. Kembara menundukkan wajahnya yang pucat di depan kakek itu.

“Ceritakanlah, Muridku. Jangan kau simpan kedukaan itu dalam hatimu. Sebab kedukaan itu dapat meracuni tubuhmu dan merusak batin,” ujar Begawan Madapati yang memang sangat menyayangi murid turiggalnya itu. Memang, hanya Kembara-lah yang merupakan murid langsung hasil didikannya.

Kembara yang sudah lama mengetahui akan perasaan gurunya itu, segera menceritakan apa-apa yang telah diperbuatnya. Sedangkan Begawan Madapati hanya mendengarkan disertai helaan napas panjang. Orang tua itu hampir-hampir sulit mempercayai cerita yang didengarnya.

“Hhh.... Mengapa kau sampai tersesat sedemikian jauh, Kembara? Sadarkah kau bahwa perbuatanmu itu bisa menimbulkan kesulitan buat kita semua,” desah Begawan Madapati. Laki-laki tua itu merasa agak terpukul mendengar perbuatan murid satu-satunya yang amat disayangi itu.

“Ampunkan aku, Eyang. Hukumlah aku,” rintih Kembara dengan wajah yang semakin pucat bagaikan tak berdarah.

“Sudahlah. Penyesalan itu tidak mungkin akan dapat menghidupkan orang-orang yang telah kau bunuh. Sebaiknya, tetaplah di sini. Bersihkanlah hatimu dari segala nafsu jahat yang masih menguasai dirimu,” ujar Begawan Madapati. Kemudian, laki-laki tua itu melang-kahkan kakinya keluar dari tempat ini. Terdengar helaan napas berat yang mewakili kekecewaan hatinya.

“Baik, Eyang,” sahut Kembara yang segera melihat kedua kakinya untuk melakukan semadi seperti yang diperintah gurunya.

********************

“Eyang...!” begitu memasuki pondok, Anggini langsung menjatuhkan dirinya berlutut di depan Begawan Madapati. Wajah gadis itu tampak pucat. Rambutnya yang biasa-nya selalu terkepang dua, kini nampak terurai kusut.

“Anggini! Kau sudah kembali, Cucuku. Syukurlah kau selamat,” sambut kakek itu seraya mengelus rambut kepala Anggini

“Eyang! Paman.., Paman Kembara di mana, Eyang?” tanya Anggini, langsung. Sepasang matanya tampak masih merah dan agak membengkak karena terlalu banyak menangis.

“Mengapa datang-datang langsung menanyakan pamanmu, Anggini? Apakah ada sesuatu yang terjadi terhadap pamanmu? Di mana kau bertemu dengannya?” tanya Begawan Madapati, memancing keterangan gadis itu.

Dengan terbata-bata, Anggini segera menceritakan mengenai pengalamannya selama meninggalkan Lembah Gunung Tangger.

“Hm.... Kemarin pamanmu telah kembali, tapi kemudian pergi lagi untuk membersihkan hatinya yang ternyata masih bisa diracuni perasaannya itu. Dan hal itu lebih baik baginya,” ujar Begawan Madapati sengaja menyembunyikan hal yang sebenamya.

“Tapi, Eyang. Aku harus bertemu paman. Aku ingin tahu, mengapa paman melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu? Aku ingin mendengar alasannya, Eyang,” rintih Anggini lirih. Air mata gadis ttu kembali mengalir membasahi prpinya. Harinya sedih sekali ketika mendengar kalau pamannya kembali telah pergi meninggalkannya. Anggini merasakan dunianya semakin sempit. Semangat hidupnya pun langsung lenyap bersama kepergian sang Paman.

“Anggini..!” Tiba-tiba terdengar suara serak yang bergetar dari arah pintu pondok. Seorang lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di muka pintu dengan wajah pucat.

“Paman..!” Begitu mengenali, Anggini langsung menghambur ke dalam pelukan orang itu. Tangisnya pun meledak memilukan. Hingga untuk beberapa saat lamanya ruangan pondok itu menjadi hening. Yang terdengar hanya suara tangis Anggini yang semakin lemah.

“Paman! Apakah yang membuat Paman melakukan perbuatan-perbuatan itu? Katakanlah, Paman. Aku ingin mendengarnya,” desak Anggini. Suaranya terdengar lirih, namun penuh tuntutan. Gadis cantik itu menengadahkan wajahnya memandangi wajah pamannya lekat-lekat.

“Anggini, aku..., aku...,” Kembara tergagap karena apa yang akan diucapkannya adalah sesuatu yang tidak pantas menurutnya.

“Katakanlah, Paman,” desak Anggini.

“Maafkan aku, Anggini. Aku..., aku tidak bisa mengatakannya,” sahut Kembara yang wajahnya menjadi pucat dan merah berganti-ganti.

“Paman melakukannya karena mencintaiku, bukan? Mengapa harus disembunyikan? Mengapa Paman tidak pernah mengatakannya kepadaku? Mengapa Paman malah menjauhiku? Tidakkah Paman sadar kalau aku pun mencintaimu. Dan betapa tersiksanya aku menunggu-nunggu pengakuan Paman. Apakah Paman tidak mengetahui hal itu?” Anggini tahu-tahu saja begitu lancar berbicara.

“Tidak, Anggini. Aku sudah terlalu tua untukmu. Lebih baik kau pilih salah seorang di antara kakak seperguruanmu. Mereka adalah pemuda pilihan yang lebih baik daripada aku,” jawab Kembara berusaha mengelak karena perbedaan umur mereka yang terlalu jauh. “Aku tahu, kedua orang saudaramu itu sangat mencintaimu, Anggini. Dan aku percaya, mereka pasti akan menjagamu dengan baik.”

“Tidak, Paman. Pamanlah yang lebih tepat untuk menjaga Adik Anggini. Kami berdua rela. Dan kami sadar, hanya Pamanlah lelaki satu-satunya yang dicintai Anggini. Dan lagi menurut kami, Paman tidaklah setua seperti yang Paman rasakan. Jadi rasanya tidak ada lagi yang patut dipersoalkan,” ujar salah seorang dari kedua pemuda yang tak lain adalah Wirasaba dan Samba.

Mereka memang tahu-tahu saja telah muncul di belakang pamannya. Rupanya seperti halnya Kembara, mereka pun tak sengaja datang ke tempat itu. Niat mereka semula hanyalah ingin menghadap Begawan Madapati untuk menanyakan kabar Anggini dan pamannya.

“Ah, Wirasaba, Samba. Kalian pun sudah ada di sini rupanya,” sapa Kembara yang segera menyuruh kedua orang muridnya itu masuk. Setelah itu, Kembara mengalihkan pandangannya kepada Begawan Madapati yang hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Nah! Kali ini kau tidak ada alasan lagi, Paman. Eh, Kakang. Mereka semua sudah setuju. Jadi, aku pun tidak sudi lagi untuk memanggil paman. Maka, biarlah kau kupanggil dengan Kakang Kembara saja. Agar kau tidak merasa tua.” Sambil berkata demikian, Anggini segera menarik tangan Kembara menuju keluar pondok. Langsung dlbawanya laki-laki itu ke tepi sungai.

Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, Kembara pun hanya menurut saja, ke mana gadis cantik itu membawanya. Wajahnya yang semula pucat nampak mulai berseri. Kebahagiaan jelas terpancar dari mata keduanya.

Begawan Madapati hanya tersenyum melihat kepergian kedua orang itu. Demikian pula dengan Wirasaba dan Samba. Mereka semua berharap agar Kembara bisa menebus dosa-dosanya dengan berbuat baik dikemudian hari. Mereka pun sadar, cinta memang mampu mengalahkan segalanya. Termasuk menutup mata dan jiwa kependekaran Kembara. Perasaan cemburunya terlalu berkobar-kobar! Padahal sesungguhnya Kembara adalah seorang laki-laki yang berjiwa baik dan jujur.

********************

“Nah! Betul kan, dugaanku. Mereka pasti saling cinta,” ujar seorang gadis jelita yang tengah berdiri berdampingan di atas sebongkah batu besar di seberang sungai. Rupanya Pendekar Naga Putih dan Kenanga telah sampai pula di Lembah Gunung Tangger. Dan mereka memperhatikan semua kejadian itu dari jauh.

“Ya. Mudah-mudahan saja, mereka pun berbahagia seperti kita,” sahut Panji yang berada di sebelah Kenanga. Setelah berkata demikian, kedua tangan Pendekar Naga Putih langsung bergerak menyambar tubuh gadis jelita itu. Seketika, Kenanga dibawanya lari meninggalkan lembah.

“Aih! Apa-apaan ini, Kakang? Sudah mulai genit, ya?” seru Kenanga manja. Meskipun bibirnya berkata demikian, namun gadis itu tidak berusaha melepaskan tubuhnya dari pondongan Pendekar Naga Putih.

S E L E S A I