Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pendekar Murtad
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

"Tolooong...! Lepaskan aku! Binatang kau!" Gadis yang berada dipondongan lelaki tinggi kurus itu berteriak-teriak. Sepasang tangannya yang berjari mungil tak henti hentinya memukuli punggung orang itu. Dia terus meronta sambil berteriak-teriak

"He he he...! Biarpun berteriak-teriak sampai suaramu habis, tak akan ada orang yang menolongmu. Hutan ini sangat lebat dan tidak ada seorang pun yang berani mendatanginya," kata lebki tinggi kurus itu sambil terkekeh parau. Setelah berkata demikian, dielusnya pinggul ramping gadis itu.

"Benar, Manis. Untuk apa membuang-buang tenaga percuma. Lebih baik simpan tenagamu untuk melayani kami nanti. Tak usah takut. Kami tidak akan melukaimu. Hanya.... He he he!" orang yang berlari di samping si tinggi kurus ikut membujuk. Suaranya terdengar melengking bagaikan suara wanita. Orang yang satu itu penampilannya sangat jauh berbeda dengan kawannya. Tubuhnya pendek dan gemuk sehingga terlihat bulat. Dan pada saat tengah berlari seperti itu, tak ubahnya sebuah bola yang menggelinding.

Dua orang laki-laki yang jauh berbeda bagai langit dan bumi itu tems berlari menerobos semak belukar. Sepertinya mereka sama sekali tidak merasa khawatir kalau-kalau akan bertemu binatang buas. Tidak berapa lama kemudian, kedua orang itu menghentikan larinya. Di hadapan mereka tampak membentang lapangan berumput hijau yang cukup luas. Sementara itu, gadis yang berada dalam pondongan si kurus, tampaknya sudah tak kuasa lagi untuk meronta-ronta. Sepertinya dia sudah pasrah.

Laki laki tinggi kurus itu melangkahkan kakinya menuju sebatang pohon besar yang berdaun lebat. Bergegas diturunkan tubuh molek yang berada dalam pondongannya itu, lalu direbahkan di atas rerumputan tebal laksana permadani. Sedangkan tubuhnya sendiri dijatuhkan di samping gadis itu, sambil tetap memeluk.

Gadis manis berwajah bulat telur itu hanya menangis sambil menutupi wajahnya. Menilik pakaian yang dikenakan, pastilah gadis itu putri seorang yang cukup berada. Karena pakaiannya terbuat dari bahan sutra halus, bersulamkan benang emas. Dengan warna kuning gading, serasi benar dengan kulit tubuhnya yang putih mulus. Tampak gadis itu hanya meringkuk dengan wajah bersimbah air mata.

"Kasihanlah aku, Tuan. Kembalikanlah aku kepada ayahku," ratap gadis manis itu, diantara isak tangisnya yang menyayat.

"He he he...!Berhentilah menangis, Bidadariku. Beristirahatlah agar tenagamu tetap kuat untuk melayani kami berdua," ujar si tinggi kurus yang berwajah mirip tengkorak. Tulang-tulang wajahnya tampak menonjol, seolah-olah hanya merupakan tulang yang terbungkus kulit. Kembali dielus-elusnya pinggul gadis yang padat berisi itu. Dan gadis itu hanya bisa menatap.

"He he he...! Kita harus mengundinya, Kakang. Siapa yang berhak mencicipi tubuh molek ini terlebih dahulu," usul si pendek gemuk, seraya tertawa. Sepasang matanya yang sipit menjalari sekujur tubuh ramping mengundang gairah. Karena meskipun gadis itu mengenakan pakaian, jelas sekali lekuk tubuhnya begitu indah.

"Huh! Enak saja kau bicara! Tentu saja aku dulu yang harus mencicipinya. Pertama aku telah susah payah memondongnya hingga sampai ke tempat ini. Kedua, aku adalah kakakmu. Dan tentu saja harus didahulukan. Jadi sudah sepantasnya kalau kau mendapat bagian paling belakang. Bukankah itu sudah adil?" sentak si tinggi kurus mengajukan alasan. Sementara tangannya masih saja sibuk mengelus tubuh si gadis.

"Wah! Kau memang selalu ingin menang sendiri, Kakang. Setiap kita mendapat sesuatu, selalu kau ajukan alasan yang sama. Lalu, kapan aku akan mendapat bagian pertama?" sergah si gemuk dengan wajah menyeringai sedih. Mulutnya tampak cemberut mendengar alasan kakaknya.

"Ah, sudahlah. Mengapa masalah sepele ini harus dipersoalkan. Lebih baik lihat, bagaimana aku menundukkan bidadari liar ini. Apakah kau tidak ingin menyaksikannya?"

"He he he...! Tentu saja aku mau. Tapi kau harus melakukannya dengan baik, Kakang. Nah! Dengan begitu, mungkin aku bisa menerima alasanmu tadi," sahut si gendut. Sepasang matanya tampak berbinar penuh kegembiraan. Sepertinya ia merasa senang sekali mendengar perkataan si tinggi kurus itu.

"Nah, lihatlah!" kata si tinggi kurus, parau. Setelah berkata demikian, segera disekapnya tubuh si gadis yang maslh terisak ketakutan.

"Oh! Jangan, Tuan. Lepaskan aku...!" si gadis kembali berteriak Sedangkan sepasang matanya membelalak ngeri, membayangkan apa yang yang akan diperbuat si kurus itu.

"He he he...! Merontalah, Manis. Gerakanmu membuatku semakin bersemangat!" ucap orang itu sambil mendekap mangsanya penuh gejolak.

Si gemuk pendek tertawa kegirangan melihat perbuatan kakak seperguruannya itu. Wajahnya yang bulat tampak semakin merah. Sepasang matanya dibuka lebar-lebar agar dapat melihat jelas pemandangan didepannya. Belum lagi laki-Iaki tinggi kurus itu meneruskan niat kotornya, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat cepat ke arah mereka.

"Jahanam! Lepaskan gadis itu!" bentak sosok tubuh berjubah putih itu. Berdirinya demikian gagah, dengan kedua kaki terpentang. Sepasang matanya mencorong tajam memancarkan sinar.

Seketika itu juga si kurus bangkit disertai kemarahan memuncak. Sepasang matanya yang memang sudah melotot keluar itu nampak semakin menonjol. "Bangsat! Siapa kau, Anak Muda?! Apakah kau sudah tidak menyayangi nyawamu?!" bentak laki-laki bermuka mirip tengkorak itu. Suaranya cukup menggelegar, memekakkan telinga. Sepertinya sangat marah karena kesenangannya terganggu.

"Hei, Anak Muda! Tahukah kau, dengan siapa kau berhadapan saat ini?!" si gendut ikut menimpali. Suaranya yang kecil semakin melengking, karena ia pun sudah pula diliputi kemarahan.

Pemuda berjubah putihitu tersenyum tenang. Wajahnya yang tampan tampak semakin menarik. Perlahan-lahan dilangkahkan kakinya semakin mendekati kedua orang itu. Kira-kira berjarak sekirar tiga tombak, pemuda itu pun menghentikan langkahnya. Jelas sekali kalau pemuda itu tidak merasa gentar menghadapi dua orang yang bertampang agak aneh itu.

"Hm.... Aku tidak peduli, siapa kalian berdua! Lepaskan gadis itu, maka kalian akan selamat!" sahut pemuda tampan berjubah putih itu setengah mengancam.

Kedua orang itu tertawa terkekeh- kekeh ketika mendengar ancaman pemuda itu. Kemarahan di hati mereka mendadak lenyap, karena merasa geli dengan ucapan pemuda itu. Keduanya terpingkal-pingkal sambil memegangi perut.

"He he he...! Lucu.... Lucu! Ada anak menjangan yang coba-coba menggertak harimau! Lucu...!" ejek si tinggi kurus yang masih saja tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan air matanya sampai keluar.

"Ha ha ha...! Ketahuilah,Anak Muda. Saat ini kau tengah berhadapan dengan Setan Langit dan Setan Bumi," si gendut memperkenalkan julukan mereka untuk menakut-nakuti pemuda itu.

"Hm.... Baru Setan Langit dan Setan Bumi. Bahkan Raja Setan sekalipun, tetap akan kutentang!" sahut pemuda tampan itu tetap tenang tanpa rasa gentar sedikitpun!

"Eh?!"

Kedua orang itu seketika menghentikan tawanya, karena menjadi terkejut mendengar jawaban pemuda itu. Untuk beberapa saat lamanya mereka hanya dapat saling pandang dengan wajah heran.

"Hm.... Jadi kau belum pernah mendengar julukan kami berdua?! Ketahuilah! Kami dijuluki sebagai Setan Langit dan Setan Bumi karena sepak terjang kami yang sangat kejam!" si tinggi kurus masih mencoba menakut-nakuti pemuda tampan itu.

Tapi, kedua orang itu kembali harus mendan kekecewaannya. Ternyata, pemuda berjubah putih sama sekali tidak berubah sikapnya. Malah kini kepalanya terangkat dengan sikap agak angkuh.

"Hm.... Sekarang giliranku untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Ketahuilah! Kalangan rimba persilatan memberikan julukan padaku. Sepak terjangku yang telah mengguncangkan dunia persilatan, membuat diriku dijuluki Pendekar Naga Putih. Apakah kalian sudah pernah mendengar julukan itu?" kata pemuda tampan itu, tenang.

"Pendekar Naga Putih...?!" seru Setan Langit dan Setan Bumi tersentak kaget. Wajah mereka berubah seketika, saat mendengar julukan pemuda berjubah putih itu. Serentak keduanya mdangkah mundur dengan wajah agak pucat.

"Huh! Kau kira kami akan mempercayainya begitu saja? Jangan coba-coba menakut-nakuti, Anak Muda!" kilah salah seorang dari mereka sambil mencoba menekan debaran dalam dadanya. Meskipun sebenarnya kata-kata anak muda itu mulai dipercayai, namun untuk menjaga julukannya, Setan Bumi yang bertubuh pendek itu berusaha untuk menyembunyikan kegentarannya.

"Hm.... Biarpun kau memang benar Pendekar Naga Putih, jangan harap kami akan gentar! Malah kami sudah lama ingin berhadapan denganmu. Kami ingin mencoba kehebatan 'Ilmu Naga Sakti' dan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'mu yang terkenal itu. Nah! Marilah kita mulai!" timpal Setan Langit yang bertubuh jangkung dan berwajah mirip tengkorak itu. Sebagai tokoh gdongan hitam yang sangat ditakuti, tentu saja Setan Langit tidak ingin memperlihatkan rasa gentarnya di hadapan pendekar muda yang terkenal itu.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan ketiga orang sakti itu, sesosok tubuh tegap tampak memperhatikan mereka. Sepasang mata yang tersembunyi di balik semak-semak itu nampak terbelalak. Untunglah jaraknya terpisah beberapa belas tombak, sehingga kehadirannya tidak sampai diketahui tiga orang tokoh itu. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu berdebar hatinya. Memang, sebentar lagi ia akan menyaksikan sebuah pertarungan yang sangat langka.

"Hm.... Aku harus berhati-hati agar tidak terdengar oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa pertarungan itu akan gagal," desah laki-laki itu dalam hati. Dengan menarik napas perlahan-lahan, orang itu berusaha menekan debaran dalam dadanya. Kembali matanya diarahkan pada tiga orang yang saling menggertak, untuk menjatuhkan nyali masing-masing.

"Ha ha ha...! Kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, baiklah. Tapi bagaimana dengan gadis tawananmu! Apakah tidak sebaiknya kita bertaruh?" usul si pemuda yang kelihatannya memang Pendekar Naga Putih itu. Sikap Pendekar Naga Putih itu tetap tenang, seolah-olah sama sekali tidak merasa khawatir meskipun yang dihadapinya adalah dua orang tokoh hitam yang menggiriskan.

"Apa maksudmu, Pendekar Naga Putih?" tanya Setan Bumi seraya mengerutkan keningya. Memang sulit dimengerti, apa yang diinginkan pendekar itu.

"Ya! Katakanlah, tidak perlu berbelit-belit!" timpal Setan Langit yang sudah tidak sabar melihat sikap pemuda yang masih saja nampak santai.

"Hm.... Begini maksudku, Setan Berotak Udang! Kalau aku memenangkan pertempuran ini, maka kuminta agar gadis itu diserahkan kepadaku. Sebaliknya, apabila kau yang memenangkan pertarungan ini, terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku dan juga kepada gadis itu. Bagaimana? Apakah kalian berani?" tawar pemuda tampan itu sambil tersenyum merendahkan. Ia sengaja berbuat demikian untuk membuat hati kedua calon Iawannya itu menjadi panas.

"Baik!. Kuterima tantanganmu, Pendekar Naga Putih! Nah, sekarang bersiaplah!" sahut Setan Langit, langsung bersiap menghadapi pertarungan.

Melihat Setan Langit telah bersiap, Setan Bumi pun bergegas menggeser tubuhnya merenggang. Tampaknya mereka hendak menggencet Pendekar Naga Putih dan dua arah.

"Ha ha ha...! Mengapa kalian begitu terburu-buru? Sabarlah. Bukankah perjanjian kita belum selesai?" sergah Pendekar Naga Putih yang langsung tertawa melihat kedua orang calon Iawannya sudah bersiap-siap.

"Bangsat! Apa lagi yang hendak kau ucapkan, Pendekar Naga Putih? Apakah kau memang sengaja hendak mempermainkan kami?"

Setan Langit yang sudah mulai menyiapkan ilmunya segera mengendurkan urat-urat tubuhnya. Lelaki tinggi kurus berusia enam puluhan tahun itu mulai bangkit nafsu membunuhnya. Karena, ia merasa telah dipermainkan pendekar muda itu.

"Bedebah! Rupanya kau memang sengaja hendak mengejek kami, Pendekar Naga Putih! Aku tidak peduli dengan segala macam syarat yang kau ajukan itu! Kalau tidak segera bersiap, jangan salahkan kami. Hati hati, tubuhmu akan terbelah oleh pukulanku!" ancam Setan Bumi. Laki-laki gemuk pendek itupun sudah terbangkit kemarahannya. Rasanya pendekar itu memang seperti sengaja hendak mengulur-ulur waktu. Tentu saja hal itu membuat hatinya jengkel.

"Wah, wah! Sabar dulu, Kisanak. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin bertanya, apakah kita bertarung dengan tangan kosong, atau menggunakan senjata?" kilah Panji sambil merentangkan kedua tangannya ke depan dada untuk menyabarkan kedua orang itu.

"Tidak peduli! Kau boleh menggunakan apa saja untuk menghadapi kami! Aku tidak sudi terhadap segala macam aturan pertandingan! Sekarang kau benar-benar harus bersiap, Pendekar Naga Putih!" geram Setan Langit yang sudah menarik napas berulang-ulang.

"Hmh...!"

Dengan sebuah gerengan keras, Setan Langit mendorongkan telapak tangannya ke depan. Hawa panas langsung berhembus disertai bau amis yang menusuk hidung. Tokoh sesat itu benar-benar tidak main-main, dan langsung saja mengeluarkan ilmunya yang mengerikan dalam menghadapi pendekar muda yang memang sudah terkenal itu.

Beberapa tombak di sebelah Setan Langit, nampak Setan Bumi juga sudah mempersiapkan ilmu andalannya. Sepasang tangannya dengan telapak terbuka bergerak turun-naik bergantian. Angin dingin bergemuruh ketika kedua tangannya mulai digerakkan.

"Ha ha ha...! Keluarkanlah 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'mu, Pendekar Naga Putih. Aku ingin tahu, apakah ilmu 'Pukulan Badai Salju'ku dapat kau tahan!" desis Setan Bumi yang sudah menarik kedua tangannya ke sisi pinggang. Sedangkan kuda-kuda kakinya tetap membentuk kuda-kuda kokoh.

"Hmh...!" Pemuda berjubah putih itu menggeram perlahan. Kedua tangannya mendorong ke atas dengan telapak menghadap langit. Kedua kakinya yang membentuk kuda-kuda menunggang kuda bergerak turun dalam posisi yang amat rendah. Kemudian, kedua tangan itu bergerak turun menyilang. Pendekar Naga Putih mendorong tangannya lurus-lurus ke depan setelah menariknya ke sisi pinggang

"Sambutlah 'Pukulan Api Neraka'ku, Pendekar Naga Putih! Heaaat...!" ujar Setan Langit.

Tubuh kakek tinggi kurus itu meluncur cepat dengan serangan dahsyat. Kedua tangannya berputaran menimbulkan sambaran angin panas yang menyengat kulit. Nampaknya dia tidak ingin ayal-ayalan lagi. Begitu serangannya dibuka, langsung digunakan ilmu pamungkasnya yang menggiriskan itu.

Wuttt! Wuttt...!

"Hahhh!" Pendekar Naga Putih membentak menggelegar. Tubuhnya langsung melambung ke udara. Begitu serangan Setan Langit lewat di bawah kakinya, tangan pemuda itu bergerak menusuk ke arah ubun-ubun lawannya.

Cuiiit...!

Angin pukulan yang keluar dari jari-jari yang menusuk itu mencicit tajam, sehingga mengejutkan lawan. Setan Langit mengegoskan kepalanya dengan gerakan berputar. Kemudian tubuhnya bergulingan ke kiri menghindari sambaran susulan. Setelah berhasil menyelamatkan diri, tubuh tokoh sesat itu langsung mencelat melontarkan tendangan terbang!

Zebbb! Plakkk!

Pendekar Naga Putih menapak kaki yang melancarkan tendangan itu. Kemudian tubuhnya berjumpalitan melewati kepala Iawannya dengan meminjam tenaga tepakan tadi.

Wusss!

Baru saja kaki pemuda itu menyentuh permukaan tanah, tahu-tahu saja serangkum angin dingin berhembus keras ke arahnya. Cepat cepat tubuhnya direndahkan disertai liukan. Kemudian, kedua tangannya mendorong ke depan menyambut serangan Setan Bumi.

Bresss!

"Ahk...!"

Sungguh hebat pertemuan dua tenaga dalam tingkat tinggi itu. Udara di sekitarnya tampak bergetar hebat. Daun-daun pohon di dekat mereka langsung berguguran ke atas tanah. Sedangkan tubuh kedua orang sakti itu sama-sama terjajar mundur ke belakang. Sepertinya, pada pertemuan tenaga pertama itu keduanya berimbang!

"Ha ha ha...! Ternyata julukanmu bukan sekadar nama kosong belaka, Pendekar Naga Putih!" puji Setan Langit sambil terkekeh, meskipun di sudut bibirnya tampak cairan merah merembes keluar.

"Kau pun hebat, SetanLangit!" sambut Panji yang juga menekap dadanya. Dari sudut bibir pemuda itu juga mengalir cairan merah perlahan.

"Yeaaat...!" Saat itu pukulan Setan Langit meluncur datang, siap melumatkan tubuh Pendekar Naga Putih.

Blarrr!

Debu dan dedaunan mengepul, beterbangan di udara ketika pukulan Setan Langit mengenai permukaan bumi. Hebat sekali pukulan yang dilancarkan tokoh sesat itu. Akibatnya bumi di sekitar tempat itu bagai digoyang gempa! Untunglah pemuda berjubah putih itu sempat menyelamatkan diri. Kalau tidak, niscaya tubuhnya pasti sudah hancur terhantam pukulan dahsyat itu. Pemuda itu terus bergulingan menjauhi kedua orang lawannya. Sehingga tanpa sadar Setan Langit dan Setan Bumi mengejar sehingga meninggalkan tawanan mereka.

"He he he...! Mau lari ke mana kau, Pendekar Naga Putih? Sebentar lagi kematian akan segera menjemputmu!" seru Setan Langit terkekeh kegirangan. Tubuhnya terus melesat mengejar pendekar muda yang sudah mulai terdesak.

Setan Bumi pun tidak mau ketinggalan. Tubuhnya yang bulat itu seperti menggelinding mengejar lawanya. Meskipun tubuhnya seperti itu, namun nyatanya dapat pula bergerak gesit.

DUA

Laki-laki berusia empat puluh tahun yang menyaksikan pertarungan dari tempat tersembunyi, menjadi cemas. Sebab biarpun tidak begitu mengenal Pendekar Naga Putih, namun ia adalah salah seorang pengagumnya. Dan ketika pertarungan itu bergeser, laki-laki itu terus membuntuti dengan menjaga jarak.

"Ah! Bisakah pendekar muda itu menyelamatkan diri dari ancaman kedua orang jahat itu? Kalau sampai pendekar itu tewas di tangan mereka, maka akan celakalah dunia persilatan. Dengan tewasnya Pendekar Naga Putih, berarti mereka akan semakin merajalela menyebarkan bencana. Mudah-mudahan saja pendekar muda itu dapat mengalahkan lawannya. Atau paling tidak bisa meloloskan diri dari ancaman kematian," desah laki-laki itu penuh harap.

Memasuki jurus ketujuh puluh lima, Pendekar Naga Putih mulai tampak bangkit. Jurus-jurus andalannya mulai terlihat dahsyat. Sampai pada suatu saat.... Mendadak sepasang mata di balik semak belukar itu terbelalak heran! Kedua matanya digosok-gosokkan, seolah-olah tak mempercayai apa yang dilihatnya. Karena saat itu, tampak Setan Langit dan Setan Bumi berlutut di depan kaki pemuda berjubah putih itu. Sikap kedua orang tokoh sesat itu terlihat patuh dan takut.

"Hei! Apa yang telah terjadi terhadap kedua tokoh sesat itu? Bukankah tadi mereka telah berhasil mendesak Pendekar Naga Putih? Lalu mengapa sekarang berlutut kepada pemuda itu? Apa yang telah dilakukan pendekar muda itu terhadap lawan-lawannya?" kata hati laki-laki yang bersembunyi di balik semak-semak itu. Dia jadi keheranan melihat kedua orang lawan Pendekar Naga Putih itu tahu-tahu telah menyerah begitu saja.

Keheranan dan rasa tidak percaya semakin kuat menyelimuti benaknya. Apalagi ketika Pendekar Naga Putih menggerakkan tangannya seperti orang yang mengusir anjing. Seketika kedua orang yang cukup ditakuti kaum rimba persilatan itu tampak beranjak bangkit dan bergegas meninggalkan tempat itu. Sedikit pun mereka tidak menoleh, dan terus saja berlari bagai seorang pesuruh yang diperintah majikannya. Sepeninggal kedua orang tokoh sesat yang sakti itu, pemuda berjubah putih melangkah mendekati gadis yang masih rebah ketakutan.

"Jangan takut. Kedua orang setan keparat itu sudah pergi. Bangkitlah. Mari kuantarkan ke rumahmu," ajak pemuda tampan itu. Segera Pendekar Naga Putih mengulurkan tangannya menarik tangan si gadis untuk bangkit. Senyum di wajah pemuda tampan itu mengembang, membuatnya tampak semakin menarik.

"Terima kasih, Tuan... Tuan telah menyelamatkan diriku," ucap gadis manis itu dengan suara bergetar. Sekujur tubuh dara itu semakin gemetar ketika lengannya yang berkulit kuning langsat itu digenggam Pendekar Naga Putih. Tampak warna kemerahan merona di kedua sisi wajahnya. Dengan agak malu-malu, gadis manis itu bangkit berdiri.

"Di manakah rumahmu?" tanya Pendekar Naga Putih, lembut. Nada suara pemuda itu tampak bergetar karena merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Hanya saja bedanya, ia tidak bersikap malu-malu.

"Jauh sekali...," sahut gadis itu dengan tubuh gemetar karena lengannya masih saja digenggam erat pemuda tampan itu. Gadis itu nampak semakin gugup saja.

"Tidak apa. Mari, kuantarkan," ajak Pendekar Naga Putih sambil tetap memegang tangan dara itu. Sesaat kemudian Pendekar Naga Putih menyadari kelakuannya. Cepat-cepat tangannya ditarik dari lengan gadis itu.

"Hm.... Siapa namamu?" tanya pemuda tampan itu sambil melangkah menjajari di samping kaki si gadis.

"Namaku Warti. Nama Kakang siapa?" tanya gadis manis itu. Hatinya mulai memperoleh ketenangan. Sikapnya pun sudah tidak canggung lagi. Bahkan sudah berani pula bertanya tentang nama penolongnya.

"Namaku Panji," sahut pemuda tampan berjubah putih itu sambil memamerkan senyumnya.

"Dan kedua kakek bejat tadi menyebutmu sebagai Pendekar Naga Putih. Benarkah itu julukanmu?" tanya gadis yang ternyata bernama Warti itu semakin berani.

Pemuda berjubah putih yang mengaku bernama Panji itu menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja kepala pendekar muda itu menoleh ke arah semak-semak yang terpisah beberapa tombak di sebelah kanannya. Setelah bergumam tak jelas, pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya kepada Warti.

Laki-laki yang masih bersembunyi di batik semak-semak itu hampir saja melompat keluar ketika Pendekar Naga Putih memperhatikan semak-semak tempatnya bersembunyi. Namun segera niatnya diurungkan ketika pemuda itu mengalihkan pandangannya kembali. "Hm.... Apakah pemuda itu tahu kalau aku bersembunyi di sini?" pikir orang itu, bertanya kepada dirinya sendiri.

Sepeninggal Panji dan Warti, laki-laki itu kembali mengendap-endap mengikuti mereka. Ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan agar tidak sampai menimbulkan suara mencurigakan. Orang itu juga menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan pendekar yang dikaguminya itu.

Pendekar Naga Putih dan Warti terlihat semakin akrab. Sesekali gadis manis itu malah mencubit lengan Panji sambil terkikik manja. Tampaknya Warti sudah mulai melupakan kejadian yang hampir merenggut kehormatannya. Dia nampak semakin banyak memperlihatkan senyumnya. Sikapnya pun terlihat semakin manja kepada pemuda penolongnya itu.

"Hm.... Kita harus mencari kuda untuk mempercepat perjalanan," gumam Pendekar Naga Putih di sela-sela canda mereka.

Orang yang sudah mengenal pemuda tampan itu pasti akan merasa heran melihat sikapnya kali ini. Pemuda yang biasanya pendiam itu, kini nampak pandai sekali berseloroh, sehingga Warti menjadi gembira dibuatnya. Bahkan sepasang matanya terkadang memandang gadis di sampingnya dengan penuh hasrat. Memang aneh sekali tingkah pemuda itu kali ini.

"Tidak apalah, Kakang. Akupun tidak terlalu merasa letih," sahut Warti cepat.

Dari cara memandang dan tingkah laku, Pendekar Naga Putih tahu kalau gadis manis itu enggan untuk lekas- lekas berpisah dengannya. Sepertinya dia sudah benar-benar melupakan keluarga dan tempat tinggalnya. Karena, hatinya benar-benar telah terpikat oleh ketampanan pemuda penolongnya itu. Dan hal itu tentu saja diketahui Pendekar Naga Putih.

"Apakah kau tidak takut kalau kita kemalaman di tengah hutan lebat ini?" tanya pemuda itu seperti hendak memancing perasaan Warti.

"Di manapun, aku tidak merasa takut kalau bersama Kakang," sahut gadis itu tanpa basa-basi. Warti sepertinya sudah percaya penuh terhadap Pendekar Naga Putih. Sehingga perasaan hatinya tidak ragu-ragu lagi untuk diungkapkan. Karena dari sikap serta pandang mata pemuda itu, diyakininya kalau orang yang mengaku bernama Panji itu juga menyukainya. Itulah sebabnya, mengapa Warti begitu berani mengungkapkan perasaannya. Padahal, mereka baru beberapa saat saling mengenal.

"Sungguh...?" tanya Panji seraya mengelus wajah bulat telur itu dengan telapak tangannya. Sepasang mata pemuda itu tampak berbinar gembira.

Warti menganggukkan kepalanya seraya menangkap tangan pemuda itu, lalu digenggamnya penuh kehangatan. Sepasang matanya tampak terpejam seolah-olah ingin menikmati perasaan bahagia yang saat itu tengah dirasakannya. Pemuda itu merunduk perlahan. Lalu dikecupnya bibir mungil itu penuh perasaan. Warti mengerang lirih bagaikan seekor kucing yang tengah dibelai-belai manja. Dibalasnya kecupan pemuda itu penuh gelora. Pelukan keduanya kini semakin rapat saja. Sebentar-sebentar terdengar erangan lirih penuh kenikmatan.

Laki-laki yang semenjak tadi masih tetap mengikuti kedua anak muda itu menjadi heran. Keningnya berkerut dalam melihat pemandangan yang terbentang di depan matanya. Diam-diam hatinya mulai tidak suka kepada Pendekar Naga Putih yang menurutnya telah menjebak gadis itu agar jatuh ke dalam pelukannya.

"Hm... Tidak kusangka kalau Pendekar Naga Putih yang tersohor itu ternyata adalah seorang pemuda mata keranjang," umpat laki-laki itu geram. Dan memang, tentu saja ia tidak dapat berbuat apa-apa karena hal itu terjadi atas suka sama suka. Sedangkan ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.

Dan kini yang terlihat hanyalah dua insan berlainan jenis saling berpacu dalam birahi. Masing-masing mulai menanggalkan pakaian, tanpa melepas pagutan. Kemudian, mereka sama-sama menjatuhkan diri di atas rumput tebal. Sementara orang yang bersembunyi itu memejamkan mata sambil menahan seruannya ketika menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Hatinya menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga akhirnya ia hanya dapat mengurut dada melihat perbuatan kedua orang muda yang tengah dipenuhi nafsu birahi itu.

"Kau menyesal, Warti?" tanya pemuda tampan itu sambil membelai wajah Warti.

Sementara, gadis itu masih sibuk membenahi pakaiannya yang morat-marit. Meskipun wajahnya agak pucat, namun jelas sekali kalau Warti merasa bahagia. Sepertinya Warti tidak menyesali perbuatan yang telah dilakukannya.

"Tidak, Kakang. Sebaliknya, aku malah bahagia," ujar gadis itu memamerkan senyum manisnya. Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak merapikan rambutnya yang kusut. Wajahnya yang manis itu tampak masih dihiasi butir-butir keringat yang menitik. Namun di balik itu semua, tersimpan suatu perasaan yang sulit diungkapkan.

Pendekar Naga Putih tersenyum lembut. Kembali dikecupnya bibir gadis itu perlahan, kemudian bergerak bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali. Wajah tampan itu pun masih terhias butir-butir keringat.

Sementara laki-laki gagah yang semenjak tadi menyembunyikan dirinya, segera melompat keluar. Rupanya dia sudah tidak kuasa lagi menahan rasa muak melihat perbuatan pemuda yang dikaguminya itu. Perbuatan yang jelas-jelas menyimpang dari sepak terjangnya selama ini.

"Huh! Inikah pemuda bejat yang berjuluk Pendekar Naga Putih?! Sungguh aku merasa kecewa sekali. Semula kusangka Pendekar Naga Putih adalah seorang laki-laki sejati yang selalu menjunjung tinggi susila dan sopan santun. Tapi nyatanya hanyalah seorang pemuda bejat yang suka merayu gadis-gadis! Sungguh memuakkan!" kata laki-laki gagah itu sambil bertolak pinggang.

Wajah laki-laki itu nampak memerah ketika mengingat perbuatan Pendekar Naga Putih yang telah menodai gadis desa lugu itu. Sedangkan Pendekar Naga Putih dan Warti langsung tersentak kaget melihat kehadiran orang itu yang dengan tiba-tiba saja.

"Hm... Siapakah Kisanak ini? Dan apa yang kau bicarakan itu?" sahut Panji dengan alis berkerut. Meskipun begitu, pemuda itu nampaknya berusaha menahan kegugupannya dengan kehadiran orang itu.

"Huh! Tidak usah berlagak bodoh, Pendekar Cabul! Aku lihat semua yang telah kau perbuat terhadap gadis itu! Apakah masih mau menyangkal?" laki-laki gagah itu semakin sinis saja melihat sikap yang ditunjukkan Pendekar Naga Putih.

"Ha ha ha...! Kami berbuat karena dilandasi rasa suka sama suka. Mengapa kau yang marah-marah? Tanyalah gadis itu, apakah ia menyesal atau tidak?" sahut Panji,tenang.

Sikap Panji demikian tenang seolah-olah sama sekali tidak berbuat kesalahan. Tentu saja hal ini sangat mengherankan hati laki-laki gagahitu. Orang itu bungkam begitu mendengar kata-kata Panji. Segera pandangannya dialihkan kepada Warti yang saat itu sudah ketakutan. Selain merasa malu karena perbuatannya telah dipergoki orang lain, gadis itu takut kalau-kalau pemuda yang dicintainya akan tewas ditangan laki-laki yang terlihat gagah dan bertenaga kuat itu.

"Nisanak. Apakah kau tidak sadar kalau dirimu sudah terjebak rayuan pemuda iblis berwajah tampan ini? Ketahuilah, Nisanak. Pemuda ini pastiakan segera meninggalkanmu setelah merenggut kehormatanmu. Kau telah dipermainkannya, Nisanak!" jelas laki-laki gagah itu mencoba menyadarkan Warti.

"Oh, tidak mungkin! Kakang, katakanlah kalau kau tidak akan meninggalkan aku! Jawablah, Kakang!" sambil terisak ketakutan, Warti mengguncang-guncangkan lengan Panji.

"Nah! Kau lihat sendiri, bukan? Pemuda Iblis itu tidak akan sudi mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadapmu," kembali si laki-laki gagah mencoba menyadarkan Warti.

"Jawablah, Kakang! Kau tidak akan meninggalkan aku, bukan? Kau akan mengantarkan aku kepada orang tuaku, bukan?" Warti semakin kalap ketika pemuda tampan itu hanya berdiri mematung tanpa menjawab pertanyaannya. la semakin keras mengguncangkan tangan pemuda itu.

"Diam kau, Perempuan Bodoh! Apakah kau lebih mempercayai orang itu daripada aku?" bentak Panji sambil menepiskan lengannya sehingga gadis itu terjatuh keras ditanah.

"Ohhh...!" Warti menekap wajah dengan telapak tangannya. Hatinya benar-benar sedih mendapat perlakuan yang demikian kasar dari pemuda yang dicintainya itu. Diam-diam ia pun mulai mempercayai kata-kata lelaki gagah itu.

"Hei, Pendekar Murtad! Sadarkah kau kalau perbuatanmu itu telah menghancurkan nama besarmu sendiri yang telah dipuja tokoh-tokoh persilatan! Maka kelak kesulitan akan datang kepadamu apabila kejadian ini tersebar dan diketahui kaum rimba persilatan!" tegas laki-laki gagah itu lagi, geram. Ia yang semula kagum dengan pemuda itu, berbalik menjadi membencinya setengah mati. Sepertinya perbuatan Pendekar Naga Putih tidak bisa dimaafkan lagi.

"Ha ha ha...! Kejadian ini tidak akan tersebar apabila aku menghancurkan tubuhmu dan tubuh gadis kampung itu! Nah! Sekarang, bersiaplah untuk melayat ke akhirat!" Setelah berkata demikian, tubuh Pendekar Naga Putih melesat dengan kecepatan kilat. Sepasang tangannya siap melumat tubuh laki-laki gagah itu.

Wuttt! Wuttt!

"Ahk...!" Orang itu bergegas melempar tubuhnya ke belakang. Serangan yang berbahaya itu tidak mengenai sasaran. Tubuh lelaki gagah itu terus bergulingan menjauhkan diri dari serangan Pendekar Naga Putih. Begitu bangkit, tangannya telah menggenggam sebatang pedang yang langsung digerakkan untuk menghalau serbuan pendekar muda yang sakti itu.

Wukkk! Wukkk!

Pendekar Naga Putih melompat ke belakang begitu serangannya disambut tebasan pedang. Begitu kakinya menyentuh tanah, kembali disiapkan serangan berikutnya.

"Nisanak! Kau larilah!" teriak laki-laki gagah itu memperingatkan Warti akan bahaya yang akan menimpa diri gadis itu.

"Ohhh.... Tidaaak...!" Warti berteriak-teriak bagaikan kesetanan. Hatinya benar-benar terpukul atas kejadian yang dialaminya itu. Jiwanya begitu guncang sehingga Warti tidak lagi mempedulikan persoalan mati hidupnya. Warti bergegas bangkit dengan sepasang mata menyala. Air matanya terus mengalir bagai anak sungai. Terdengar isak lirih yang keluar dari kerongkongannya. Rupanya gadis manis itu benar-benar telah mengalami guncangan jiwa yang hebat!

"Kubunuh kau...!" teriak Warti. Bagaikan seekor harimau luka tubuhnya, gadis itu segera berlari menerjang Panji yang tengah berusaha untuk menghabisi nyawa si lelaki gagah.

Pendekar Naga Putih langsung menggerakkan tangannya menghantam batok kepala Warti yang pada saat itu tengah memukuli punggungnya. Akibatnya, pukulan yang bertenaga dalam tinggi itu memang parah apabila menghantam batok kepala wanita lemah seperti Warti. Maka....

Wuttt! Prakkk!

Darah segar bercampur cairan putih memercik membasahi permukaan bumi. Batok kepala gadis itu langsung pecah terkena pukulan pemuda tampan itu. Tanpa sempat berteriak lagi, tubuh wanita desa yang malang itu tewas seketika.

"Biadab kau, Pendekar Naga Putih! Kau benar-benar setan! Kau sudah berubah menjadi iblis! Bagus sekali perbuatanmu. Setelah kau renggut kehormatannya, kau renggut pula jiwanya! Kalau kau masih belum puas, ayo hirup darahku!" teriak laki-laki gagah itu yang menjadi meledak-ledak kemarahannya melihat kekejaman pendekar muda yang semula dikaguminya itu.

"Ha ha ha...! Tentu! Kau pun akan segera mendapat bagian, Manusia Usil!" ancam Pendekar Naga Putih. Karena disadari kalau orang itu terlalu berbahaya baginya. Dan sudah pasti tidak akan membiarkannya lolos!

"Heaaat...!" Dibarengi sebuah bentakan menggeledek, tubuh pemuda berjubah putih itu meluncur ke arah Iawannya. Sepasang tangannya yang berbentuk cakar, berkelebat mencari sasaran.

Bet! Bet...!

"Ah...!" Lelaki gagah itu berlompatan menghindari sambaran cakar Pendekar Naga Putih yang berhawa maut. Sekali salah langkah saja, maka dirinya tidak mungkin dapat lolos dari kematian. Hal itu tentu saja disadarinya. Walaupun lelaki gagah itu bukanlah lawan berat bagi Pendekar Naga Putih, namun sulit juga untuk menundukkannya. Dia selalu bisa menghindar sambil sesekali menusukkan pedangnya apabila sudah sangat terdesak.

Lelaki gagah itu mulai menyadari kalau tidak mungkin akan menang menghadapi Pendekar Naga Putih. Namun ia pun tidak menginginkan pemuda itu terbebas dari hukuman atas perbuatannya yang keji itu. Setelah mempertimbangkan segalanya, maka diambilnya keputusan untuk meloloskan diri dari tangan maut Pendekar Naga Putih. Mulailah dicari jalan agar dapat meloloskan diri dari pemuda sakti itu. Namun Pendekar Naga Putih tentu saja tidak ingin membiarkan lawannya lolos. Begitu melihat gelagat kalau orang itu hendak mencari jalan untuk lari, maka semakin diperhebat serangan- serangannya.

"Heaaat...!"

Wuttt! Brettt!

"Aaakh...!" Orang itu menjerit kesakitan ketika sebuah tusukan jari tangan Panji mengenai bagian atas dada kirinya. Tubuhnya langsung terlempar sejauh dua tombak ke belakang. Darah tampak merembes melalui lukanya yang terasa perih itu. Ketika tampak Pendekar Naga Putih melompat mengejar, cepat senjatanya dilemparkan ke arah lawan. Kemudian, secepat kilat tubuhnya melompat kesemak-semak.

Pendekar Naga Putihcukup terkejut melihat pedang lawan meluncur ke arahnya. Bergegas tubuhnya dimiringkan, sehingga senjata itu lewat disisinya. "Bangsat!" geram Panji ketika melihat lawannya menghilang di balik semak-semak. Cepat pemuda itu bergegas mengejarnya. Tubuhnya melesat ke balik semak-semak tempat Iawannya tadi menghilang.

Kegelapan senja yang mulai menapak, membuat pemuda itu mendapat kesulitan untuk menemukan lawannya. Setelah cukup lama mencari, namun tidak juga dapat menemukan orang itu, maka dengan hati kesal Pendekar Naga Putih bergegas meninggalkan tempat itu.

Lama setelah kepergian Pendekar Naga Putih, sesosok tubuh melayang turun dari atas pohon yang tidak jauh dari semak-semak. Sambil menekap luka di bagian atas dadanya, kakinya melangkah tertatih-tatih meninggalkan hutan. Lelaki gagah itu mengambil jalan yang berlawanan, agar tidak kepergok orang yang mengaku berjuluk Pendekar Naga Putih itu. Malam pun semakin merayap menampakkan kekuasaannya. Bintang-bintang tampak menghiasi cakrawala yang berwarna biru gelap. Rembulan tersenyum memancarkan cahayanya, menerobos kegelapan malam.

********************

TIGA

“Tolooong...! Ada rampok.... Pembunuh...!" Seorang laki-laki bercaping bambu berlari sambil berteriak-teriak. Cangkulnya yang semula tersandang di punggung, terlempar entah ke mana.

Beberapa orang petani yang hendak berangkat ke sawah, tertegun sesaat. Mereka terkejut melihat laki-laki yang berlari bagai dikejar setan itu.

"Bukankah itu tukang kebun Tuan Wiralaga? Mengapa berteriak-teriak seperti itu? Di mana pula ada perampok dan pembunuh?" bisik salah seorang petani kepada kawannya.

Orang yang diajak bicara hanya memandang bingung karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya memandang kawannya sambil mengangkat bahu tanda tak mengerti.

"Hei, Karja! Ada apa? Siapa yang dirampok? Dan siapa pula yang dibunuh?!" desak seorang laki-laki bertubuh sedang, menghentikan lari orang yang bernama Karja itu.

"Ada perampok... Pembunuh...." kata Karja dengan napas megap-megap bagaikan ikan yang diangkat dari sungai. Wajahnya tampak pucat bagai tak teraliri darah. Sepertinya laki-laki setengah baya yang bernama Karja itu masih dilanda ketegangan dan keguncangan. Dan memang, meskipun orang bertubuh sedang itu bertanya lembut, ia hanya menjawab dua patah kata saja. Dan itu pun diulang-ulangnya.

"iya, siapa yang dirampok? Siapa yang dibunuh?!" teriak laki-laki bertubuh sedang itu sambil mengguncang-guncangkan tubuh Karja. Rupanya kesabarannya hilang melihat sikap Karja yang hanya mengulang-ulang dua kata itu saja.

"Bawa saja kepada kepala desa. Siapa tahu Ki Banggala dapat menyadarkannya?" usul salah seorang penduduk kepada lelaki bertubuh sedang yang tengah mengguncang-guncang tubuh Karja.

Mendengar usul yang baik, orang itu menganggukkan kepalanya. Kemudian tanpa minta persetujuan orang yang bersangkutan, langsung ditarik tubuh Karja untuk menemui Ki Banggala yang menjadi pemimpin desa itu.

"Ada apa, Kakang Dungga?" tanya salah seorang penjaga rumah kepala desa begitu mengenali siapa orang yang datang itu.

"Entahlah, Adi. Aku pun masih belum jelas. Tapi sepertinya si Karja ini baru saja mengalami peristiwa hebat," sahut orang bertubuh sedang yang ternyata bernama Dungga itu. Dungga kemudian melangkah kan kakinya, sambil menggamit lengan Karja menuju pintu masuk rumah kepala desa. Sementara penjaga itu segera mensejajarkan langkahnya di samping Dungga.

"Jadi Kakang Dungga pun belum tahu apa yang telah dialami orang ini? Lalu, mengapa Kakang membawanya ke sini? Untuk apa, Kakang? Siapa tahu ia hanya orang gila yang kesasar," kata si penjaga yang rupanya tidak mengenai lelaki yang dibawa kawannya itu.

"Bodoh kau! Kalau tidak ada apa-apa, mengapa harus bersusah-susah membawanya ke sini? Lagi pula, aku kenal baik orang ini. Dia sama sekali bukan orang gila seperti yang kau sangka itu!" sahut Dungga agak kesal. "Sekarang, lebih baik beritahukan kepada Ki Banggala kalau aku ingin bertemu dengannya!"

“Tapi, Kakang Mana aku berani? Aku juga belum tahu, apakah Ki Banggala sudah bangun atau belum! Kau sajalah yang membangunkannya, Kakang. Bukankah kau orang kepercayaannya? Jadi kalau kau yang memberitahukannya, mungkin dia tidak terlalu marah," tukas si penjaga yang tidak berani membangunkan kepala desanya.

"Ah, dasar kau!" umpat Dungga semakin bertambah kesal mendengar jawaban yang berbeda dengan keinginannya. Tanpa banyak cakap lagi, Dungga bergegas menaiki anak tangga yang menuju ke pintu depan. Tangan kanannya tetap menarik Karja yang terus saja mengoceh hingga tak ubahnya seorang pemabuk,

Der, der, der!

"Ki...! Aku Dungga, ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting!"

Sambil menggedor-gedor pintu, Dungga berteriak-teriak membangunkan penghuni rumah yang sepertinya masih terlelap. Memang saat ini hari masih terlalu pagi. Hanya para petani yang sawahnya jauh saja yang sudah berangkat, memulai kehidupan di mayapada ini. Setelah agak lama menunggu, terdengar langkah kaki yang terseret menghampiri pintu depan. Di situ, Dungga menunggu tak sabar.

"Apakah Ki Banggala sudah bangun? Cepat laporkan, Dungga ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting!" desah Dungga ketika melihat yang membuka pintu temyata hanyalah pembantu kepala desa.

Pembantu itu mempersilakan Dungga dan Karja untuk masuk, kemudian kembali ke ruangan dalam untuk memberitahukan majikannya. Dan tak berapa lama, tampak seorang laki-laki gagah berusia kira-kira lima puluh tahun muncul. Sepasang matanya nampak segar, menandakan kalau ia telah lama bangun dari tidur.

"Hm.... Kau rupanya, Dungga. Ada keperluan apa sepagi ini sudah datang menghadapku? Dan siapa pula orang kau bawa itu?" Ki Banggala yang begitu tiba, langsung memberi pertanyaan beruntun. Keningnya berkerut ketika mendengar ocehan yang keluar dari mulut orang yang datang bersama Dungga itu.

"Begini, Ki...," Dunggapun lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Hm...," Ki Banggala bergumam tak jelas setelah mendengar penuturan pembantu utamanya itu. Cepat-cepat pelayannya diperintahkan untuk segera mengambilkan air putih. Tak lama, pelayan itu keluar membawa air putih yang diminta majikannya. Kemudian, segera diserahkannya air putih itu. Ki Banggala segera meraih dan meminumkannya ke mulut Karja yang hanya menerima tanpa perlawanan. Kemudian orang tua itu memijat beberapa bagian dipelipis dan belakang kepala Karja.

"Karja kau dengar suaraku? Kenalkah kau, siapa aku?" tanya Ki Banggala begitu melihat mata Karja kembali menunjukkan tanda-tanda kembali seperti biasa.

"Ki.... Banggala!" seru Karja setelah beberapa saat lamanya menegasi wajah laki-laki setengah baya yang duduk di depannya. Suaranya terdengar masih mengambang.

"Ceritakan, apa yang telah terjadi dan di mana kau melihatnya," desak Ki Banggala begitu mengetahui kalau Karja benar-benar telah tenang kembali.

Dengan terputus-putus, Karja lalu menceritakan apa yang telah disaksikan di rumah majikannya. Berkali kali wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangannya ketika terbayang peristiwa yang menimpa keluarga majikannya.

"Hm.... Jadi kau sempat melihat perampok itu, Karja?" tanya Ki Banggala setelah mendengar penuturan Karja sampai selesai.

"Benar, Ki. Saat itu kebetulan si perampok berdiri di bawah sinar lampu. Jadi aku sempat melihat wajahnya yang masih muda dan tampan. Dia bukan saja merampok, Ki. Tapi juga membunuh seluruh keluarga majikanku. Bahkan sebelum membunuh, sepertinya ia telah memperkosa putri majikanku, Ki," tutur Karja dengan wajah sedih. Laki-laki setengah baya itu menutup wajahnya seolah-olah ingin membuang semua bayangan buruk yang sangat mengerikan itu.

"Hm.... Bagaimana kau tahu kalau putri majikanmu telah diperkosa sebelum dibunuh?" tanya Ki Banggala lagi dengan alis berkerut. Dan memang, biar bagaimanapun, Ki Banggala boleh juga mencurigai Karja. Sebab, hanya dialah satu-satunya orang yang mengetahuinya. Tentu saja hal itu bukan berarti Ki Banggala menuduh Karja sebagai pelakunya.

"Setelah perampok biadab itu pergi, aku lalu memeriksa seluruh ruangan. Dan ketika memasuki kamar putri majikanku, ternyata dia telah tewas dalam keadaan tidak berpakaian. Itulah sebabnya aku menduga demikian, Ki," tutur Karja lagi.

"Baiklah. Kalau begitu, kita harus segera berangkat untuk melihat keadaan tempat majikanmu itu," kata Ki Banggala, setelah jelas dengan semua keterangan yang diperoleh dari tukang kebun Tuan Wiralaga yang merupakan orang terkaya di desa itu. Setelah memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan beberapa ekor kuda, Ki Banggala bergegas memasuki kamar untuk mengganti pakaiannya.

********************

Lima ekor kuda berpacu cepat melintasi jalan utama desa. Keremangan pagi tidak menjadi halangan bagi lima orang untuk mempercepat lari kudanya. Karena yang ditempuh hanyalah jalan lurus yang biasa dipakai umum. Ki Banggala yang berada paling depan, segera membelokkan kudanya menuju Timur desa. Tidak jauh di belakangnya, tampak Karja yang juga menunggang kuda. Sedangkan Dungga dan dua orang lainnya berada paling belakang.

Dan kini, kelima ekor kuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang dikelilingi tembok kokoh. Ki Banggala terus saja melompat dari atas punggung kuda begitu telah berada di halaman rumah besar itu. Karja, Dungga, dan dua orang lainnya juga bergegas turun dari atas punggung kuda. Senjata mereka telah terhunus untuk menjaga kemungkinan yang akan dihadapi nanti.

"Kalian berdua tunggu disini! Biar aku, Karja, dan Dungga saja yang memeriksa keadaan di dalam. Ingat! Jika kalian melihat sesuatu yang mencurigakan, cepat beri tanda!" perintah Ki Banggala kepada dua orang pengawalnya.

"Baik, Ki!" jawab salah seorang dari kedua penjaga itu mengangguk hormat.

Setelah mencabut senjata yang tergantung di pinggang, Ki Banggala melangkah memasuki rumah besar itu melalui jalan samping. Dungga mengikuti di belakangnya. Sedangkan Karja berjalan di belakang Dungga. Wajah laki-laki setengah baya itu tampak pucat ketakutan. Ketiga orang itu terus melangkah memasuki setiap ruangan yang terdapat di dalam rumah besar itu. Namun mereka tidak menemukan sesuatu, selain mayat keluarga Tuan Wiralaga dan beberapa orang pembantunya. Maka ketiga orang itu bergegas kembali ke halaman depan.

"Karja! Menurut penuturanmu tadi, perampok itu hanya seorang diri. Benarkah itu?" tanya Ki Banggala kembali menegasi keterangan yang diberikan Karja tadi.

"Betul, Ki," jawab Karja pasti.

"Dan perampok itu adalah seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah putih, dan mengeluarkan kabut keperakan pada tubuhnya. Begitu bukan?"

"Ya! Begitulah yang kulihat, Ki," sahut Karja lagi. Sebenarnya hati Karja sudah merasa tidak enak melihat kepala desanya masih terus saja mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang serupa. Namun, karena memang tidak bersalah, maka ia pun tidak merasa takut untuk menjawabnya.

"Kau yakin, Karja? Apakah kau tidak salah lihat?" desak Ki Banggala kembali.

"Aku yakin, Ki. Karena aku bersembunyi di semak-semak itu dan pemuda tampan yang mengenakan jubah putih tepat berdiri di sini!" jawab Karja sambil menunjuk ke arah semak-semak yang terpisah beberapa tombak dari tempatnya berdiri. Sinar mata Karja seperti memancarkan kekesalan karena didesak terus-menerus.

"Maafkan aku, Karja. Bukan semua keteranganmu tidak kupercayai. Tapi ciri-ciri orang yang kau sebutkan itu rasanya pernah kudengar. Dan suatu hal yang mustahil kalau orang itulah yang melakukan perbuatan ini," jelas Ki Banggala yang menjadi tidak enak karena terlalu mendesak orang itu.

"Tidak apa-apa, Ki. Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Aku percaya, semua ini demi kepentingan penduduk desa agar kejadian semacam ini tidak akan terulang," Karja tersenyum untuk membuktikan kalau sama sekali tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan kepala desanya yang seperti menyelidik dan tidak mempercayai keterangannya itu.

"Terima kasih, Karja," ucapKi Banggala juga memperlihatkan senyumnya untuk menghilangkan ketegangan di antara mereka.

"Ki. Siapakah pemuda tampan berjubah putih yang pernah kau dengar itu? Dan di manakah tinggalnya?" tanya Dungga yang rupanya memikirkan tentang perampok tunggal berusia muda itu.

"Hm, dalam rimba persilatan, hanya ada satu pemuda mengenakan jubah putih yag tubuhnya mengeluarkan kabut keperakan. Tapi, apa mungkin kalau dia yang melakukannya. Karena orang itu adalah seorang pendekar besar yang menjadi kebanggaan tokoh persilatan golongan putih. Dia berjuluk Pendekar Naga Putih. Kebersihan jiwanya sudah sering ditunjukkan dengan jalan membasmi kejahatan. Sayang pendekar muda yang perkasa itu tidak mempunyai tempat tinggal tetap, Dungga," papar Ki Banggala tentang pemuda berjubah putih yang pernah didengarnya itu. Wajah orang tua itu nampak menyiratkan kebanggaan ketika menceritakan tentang Pendekar Naga Putih yang memang sangat dikaguminya itu.

"Ki, Apakah tidak mungkin kalau ada seseorang yang sengaja hendak mencemarkan nama besar Pendekar Naga Putih?" tiba-tiba saja ucapan itu terlontar dari mulut Dungga.

"Bisa saja, Dungga. Tapi yang menjadi persoalan, siapa orang yang melakukan perbuatan itu? Apakah kau mempunyai dugaan?" Ki Banggala malah balik bertanya kepada pembantu utamanya itu.

"Sayang sekali tidak, Ki," sahut Dungga. Wajahnya agak kecewa, karena memang tidak mempunyai dugaan sama sekali tentang orang yang melakukan perbuatan keji itu.

"Yah, sudahlah. Marikita kembali. Biar nanti aku suruh beberapa orang penduduk untuk mengurus jenazah mereka," desah Ki Banggala sambil melompat ke atas punggung kudanya. Dihelanya kuda itu, yang segera berjalan menuju keluar.

Dungga dan yang lainnyasegera mengikuti kepala desa itu meninggalkan rumah kediaman Almarhum Tuan Wiralaga. Tidak berapa lama kemudian, kelima penunggang kuda itu kembali menyusuri jalan utama desa.

********************

EMPAT

Siang itu matahari memancar terik. Sinarnya yang kuning keemasan menyirami penmukaan bumi secara merata. Tiupan angin silir-silir memainkan pucuk dedaunan. Di bawah siraman cahaya matahari, nampak iring-iringan yang cukup panjang tengah melintasi jalan utama. Beberapa orang di antaranya terlihat meng-gotong enam buah peti mati. Sepertinya iring-iringan itu akan melakukan penguburan. Wajah-wajah puluhan laki-laki itu tampak tertunduk sedih. Diduga, suatu musibah baru saja menimpa, sehingga menewaskan kawan-kawan mereka. Karena pakaian yang dikenakan rata-rata berwarna putih. Dan pada bagian punggung terdapat bulatan yang cukup besar. Bulatan itu ternyata adalah sebuah lambang perguruan.

"Huh! Hal ini tidak bisa kita biarkan, Kakang! Kita harus mencari keparat keji itu untuk menuntut balas!" tegas salah seorang yang berwajah kuning dan pucat. Suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar yang lain.

"Tentu saja kita harus membalasnya, Adi. Tapi yang menjadi pertanyaan dalam hatiku, apakah semua ini memang hasil perbuatannya? Rasanya aku belum dapat mempercayainya, Adi!" sahut orang itu yang masih merasa ragu tentang kejadian itu.

"Hm.... Jadi kau tidak mempercayai keterangan yang diberikan saudara seperguruan kita, Kakang? Bukankah tidak mungkin kalau mereka membohongi kita? Apa untungnya bagi mereka?" bantah laki-laki berwajah kuning pucat yang merasa tak senang mendengar jawaban kakak seperguruannya itu

"Bukan aku tidak mempercayai keterangan saudara seperguruan kita itu, Adi. Tapi rasanya mustahil kalau ini dilakukan Pendekar Naga Putih! Bukankah kau pun tahu, siapa Pendekar Naga Putih itu?"

"Tapi bukankah ia masih muda, Kakang. Pemuda mana yang tidak akan tertarik melihat kedua orang adik seperguruan kita yang cantik-cantik itu? Mungkin saja pendekar muda itu khilaf karena melihat kecantikan mereka. Dan karena mereka tidak melayaninya, maka jalan kekerasanlah yang diambilnya, lalu dibunuhnya setelah mereka dinodai terlebih dahulu! Dan saudara-saudara seperguruan kita yang mencoba membela, terpaksa harus tewas di tangannya. Beruntung dua orang saudara kita berhasil melarikan diri. Sehingga mereka dapat mengadukan hal ini kepada guru," si muka pucat masih juga bersikeras mempertahankan pendapatnya.

"Yahhh... Nantilah kita bicarakan hal ini kepada guru. Sekarang yang harus dilakukan adalah menasihati saudara-saudara yang lain. Agar mereka tidak bertindak sendiri- lsendiri. Setelah penguburan ini, baru kita rencanakan hal itu," jelas orang itu.

********************

"Hei, lihat! Bukankahitu Pendekar Naga Putih!" tiba-tiba salah seorang dari anggota rombongan pengantar jenazah berteriak sambil menunjuk ke satu arah.

Mendengar teriakan itu, yang lain serentak menoIeh. Wajah puluhan orang itu langsung menegang ketika sesosok tubuh yang mengenakan jubah putih tampak tengah berjalan ke arah mereka. Beberapa orang yang semula menggotong peti mati malah serentak menurunkannya. Pemuda tampan yangtengah melangkah lambat itu memang Pendekar Naga Putih. Wajahnya yang bersih dan tampan itu memancarkan rasa keheranan ketika melihat puluhan orang yang mengenakan pakaian serba putih berlarian ke arahnya. Dan rasa heran langsung berubah terkejut ketika puluhan orang itu langsung mengurungnya.

"Ada apa ini, Kisanak?" tanya Panji yang tetap memperlihatkan sikap tenangnya. Padahal sebenarnya dadanya berdebar tegang!

"Huh! Tidak perlu bersandiwara, Pendekar Cabul! Lihatlah korban-korbanmu itu!" sahut salah seorang dari para pengepung itu galak sambil menggerak-gerakkan pedangnya di depan dada dengan sikap mengancam.

"Ha ha ha...! Rupanya kau sengaja hendak melihat bagaimana korban-korban kebiadabanmu itu akan dikuburkan. Begitu bukan?" seru yang lainnya. Sikapnya jelas sekali menunjukkan kebencian yang dalam.

"Maaf, Kisanak. Aku sama sekali tidak mengerti pembicaraan kalian ini? Apakah kalian bersedia menjelaskannya?" pinta Panji tetap tenang tanpa amarah sedikit pun. Karena Pendekar Naga Putih tahu, kalau mereka telah salah menuduh.

"Tidak perlu bersandiwara, Pendekar Cabul! Pembunuhan dan perkosaan yang telah kau lakukan terhadap murid wanita perguruan kami, hanya dapat dicuci dengan darahmu yang hitam itu!" bentak lelaki bermuka pucat Laki-laki itu memang sangat dendam terhadap Pendekar Naga Putih, karena salah satu korban adalah kekasihnya. Maka wajarlah kalau rasa dendamnya demikian dalam terhadap pendekar muda itu.

"Dengarlah, Kisanak. Kalian telah salah menuduh orang" sahut Panji yang menjadi pucat seketika. Suaranya pun sedikit bergetar. Benar-benar tidak disangka kalau dirinya akan dituduh sedemikian kejinya oleh orang-orang itu.

"Tidak perlu banyak bicara, Pendekar Murtad! Hari ini kami akan membalaskan sakit hati saudara-saudara kami yang telah kau bunuh itu! Terimalah hukumanmu! Heaaat..!" Dibarengi sebuah teriakan keras, salah seorang pengepung Itu segera melompat menerjang Pendekar Naga Putih.

Wuuuttt!

Panji melangkah mundur sambil memiringkan tubuhnya untuk menghindari tebasan golok orang itu, kemudian melompat ke belakang. Maksudnya adalah untuk menghindari terjadinya pertempuran. Tapi anggapan orang-orang itu ternyata lain. Mereka segera melompat dan menerjang Pendekar Naga Putih yang dikira akan melarikan diri.

Bet! Bet! Bet...!

Beberapa mata pedang berkelebatan mengancam tubuh Pendekar Naga Putih. Cepat Panji melempar tubuhnya ke belakang, menghindari bacokan. Dua di antaranya segera ditepis karena tidak mungkin lagi dielakkannya.

Plakkk! Plakkk!

"Uuuhhh...!"

Dua orang pengeroyokyang senjatanya tertepiskan itu terpental hingga dua tombak jauhnya. Mereka langsung memijat-mijat tangan yang terasa bagaikan patah itu. Sedangkan senjata mereka telah terpental entah kemana.

"Kisanak. Tidak bisakah masalah ini diselesaikan secara baik-baik? Percayalah! Aku benar-benar tidak mengerti tuduhan yang kalian lontarkan itu!" dengus Panji yang tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah. Karena, menurutnya semua itu hanyalah kesalah pahaman saja.

"Apa katamu, Pendekar Murtad? Bicara baik-baik? Huh! Enak saja! Setelah kau bunuh dan kau nodai dua saudara seperguruan kami, kau masih ingin bicara baik-baik! Jangan mencari alasan, Pendekar Naga Putih! Lebih baik kau jagalah dirimu agar tidak tersayat pedang kami!" sahut si muka pucat yang memang sangat membenci Panji setelah kejadian itu.

"Sudahlah. Untuk apa bicara lagi! Ia pasti tidak akan sudi mengakui perbuatannya itu!" Setelah ucapannya selesai, orang itu segera melompat sambil menyabetkan senjatanya ke leher Panji.

"Heaaat...!"

Beberapa orang kembali bergerak mengeroyok Sepertinya pertempuran tidak mungkin lagi untuk dihindari. Pendekar Naga Putih yang semula masih mencoba bersabar, menjadi kesal hatinya. la benar-benar dongkol melihat sikap keras kepala orang-orang itu. Kemarahannya pun mulai bangkit ketika disadari kalau orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya memang benar-benar berniat membunuhnya.

"Hmh...!" Sambil menggertakkan giginya, Panji pun mulai menggerakkan tangannya melancarkan serangan balasan.

Bukkk! Desss!

"Hukh...!"

Dua orang pengeroyok terjungkal seketika begitu terkena hantaman Pendekar Naga Putih. Mereka pingsan seketika itu juga akibat kerasnya pukulan yang dilontarkan Panji. Masih untung Pendekar Naga Putih tidak berniat mencelakai, sehingga tidak mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya.

"Kakang Balewa! Ayo kita hajar pendekar sesat itu!" ajak si muka pucat, menolehkan kepala kepada kakak seperguruannya.

Setelah berkata demikian, tubuhnya langsung melesat disertai sambaran goloknya yang menimbulkan deruan angin tajam. Dilihat dari gerakan dan kekuatannya, pastilah si muka pucat memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Sedangkan orang yang dipanggil Balewa termangu sejenak. Mulanya ia masih merasa ragu-ragu untuk melakukan pengeroyokan. Tapi begitu melihat dua orang kawannya tergeletak akibat terkena pukulan Pendekar Naga Putih, maka ia segera berkelebat membantu si muka pucat.

Wuttt!

Pedang di tangan Balewa menderu dan menimbulkan sambaran angin yang kencang! Bahkan gerakannya terlihat lebih gesit dan mantap daripada si muka pucat. Tubuh Pendekar Naga Putih berkelebatan menyelinap di antara sambaran pedang para pengeroyoknya. Sesekali dilontarkannya serangan balasan agar tidak terlalu terdesak Sampai sejauh ini, Panji belum juga mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Padahal keadaannya boleh dibilang terancam.

Semarah-marahnya Panji, rupanya masih tidak tega juga untuk menurunkan tangan kejam kepada orang-orang itu. Sebab disadari kalau tuduhan terhadapnya bukanlah sekadar fitnah yang mereka cari-cari. Pasti ada sebab-sebab yang kuat sehingga tuduhan itu terlempar kepadanya. Dan bukannya tidak mungkin kalau yang melakukan adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai dirinya. Jelasnya, pasti ada orang yang memang sengaja hendak mencemarkan namanya. Setelah mempunyai dugaan seperti itu, Panji berniat meloloskan diri dari kepungan. Maka mulailah matanya melirik jalan keluar yang akan diterobosnya.

Wuttt...!

"Ihhh...!" Untunglah Panji sempat memiringkan tubuhnya ke samping. Kalau tidak, tentu pedang di tangan Balewa sudah merobek perutnya. Begitu tebasan pedang lawannya luput tangan Panji bergerak menusuk ke arah lambung orang itu. Gerakannya demikian cepat hingga hampir tidak tertangkap mata.

Balewa yang mengetahui kehebatan ilmu lawannya, cepat menarik mundur tubuhnya. Namun sayang, ia tertipu! Sebab saat itu Panji telah menarik pulang lengannya yang merupakan serangan tipuan itu. Mendadak tubuhnya berputar sambil melepaskan tendangan ke arah dada orang itu.

Desss!

"Uhg...!" Tendangan berputar yang dilakukan Pendekar Naga Putih tepat hinggap di dada Balewa. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu pun terjengkang ke be- lakang disertai semburan darah kental. Namun sebagai seorang yang terlatih baik, Balewa langsung melenting bangkit. Padahal kedudukan kedua kakinya terlihat agak goyah. Setelah menarik napas berulang-ulang untuk menghilangkan rasa nyeri yang diderita, Balewa kembali menerjang Panji.

Sesudah berhasil menjatuhkan lawannya yang paling tangguh, tubuh pendekar muda itu melesat menerobos kepungan di sebelah kirinya. Si muka pucat yang memang berada di sebelah kiri menjadi terkejut Ini karena dirinya menjadi incaran serangan pemuda itu. Cepat goloknya dikelebatkan untuk menahan serbuan pendekar muda yang lihai itu.

Wuttt!

Panji hanya perlu memiringkan sedikit tubuhnya membiarkan ujung golok lawan lewat di sisi tubuhnya. Secepat kilat tubuhnya merendah, disertai sebuah totokan yang mengarah lambung si muka pucat! Sadar akan bahaya yang mengancam, maka si muka pucat membentak sambil menjejak bumi kuat-kuat. Detik itu juga tubuhnya melambung melewati kepala lawannya. Dan dalam keadaan masih di udara, goloknya diayunkan, untuk membelah kepala Pendekar Naga Putih.

"Yeaaat..!"

Pendekar Naga Putih sempat mengagumi kesigapan gerak Iawannya. Namun, ia tidak ingin bertindak ayal-ayalan. Cepat tubuhnya dijatuhkan disertai ayunan kaki untuk menangkis bacokan golok lawan.

Plakkk!

"Ahk...!" Si muka pucat berseru tertahan. Goloknya terpental akibat hantaman telapak kaki yang tepat mengenai pergelangan tangannya. Belum lagi sempat menyadari keadaannya, sebuah tendangan berikutnya telah bersarang di dada si muka pucat.

Bukkk!

"Hegh...!" Tubuh si muka pucat yang tengah meluncur turun itu kembali tersentak ke atas. Darah segar langsung menyembur dari mulutnya hingga membasahi jubah lawan. Meskipun demikian, ternyata tubuhnya masih sempat juga diselamatkan agar tidak terbanting di atas tanah. Setelah berjumpalitan beberapa kali, kedua kaki si muka pucat hinggap di atas permukaan tanah dengan selamat. Kedua tangannya tampak menekap bagian dada yang terasa bagai patah tulang-tulangnya. Rupanya tendangan Pendekar Naga Putih telah menjadi berlipat kekuatannya karena dibantu daya luncur tubuh si muka pucat itu sendiri. Dan akibatnya dia mengalami luka yang cukup parah!

Begitu kesempatan untuk meloloskan diri terbuka, tubuh Panji segera melesat meninggalkan tempat itu. Lesatannya demikian cepat bagai kilat, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Sekejap kemudian, tubuh pemuda berjubah putih itu sudah jauh meninggalkan para pengeroyoknya.

"Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Sampai ke ujung dunia pun, aku bersumpah akan tetap mengejarmu!" teriak si muka pucat dengan napas terengah-engah. Hatinya benar-benar penasaran sekali melihat musuh yang sudah di depan mata ternyata mampu meloloskan diri.

"Sudahlah, Adi. Lebih baik kuburkan dulu mayat-mayat itu. Sesudah itu baru kita melaporkan kejadian ini kepada guru," bujuk Balewa yang merasa tidak tega melihat keadaan adik seperguruannya yang tengah dilanda kekecewaan dan kesedihan itu.

"Aku bersumpah akan mencarinya nanti, Kakang. Berjanjilah bahwa kau juga akan membantuku," pinta si muka pucat kepada kakak seperguruannya itu.

"Aku berjanji akan membantumu, Adi. Karena hal itu memang sudah menjadi kewajibanku dan juga kewajiban seluruh murid perguruan kita," jawab Balewa menenangkan perasaan adik seperguruannya.

Dan kini, rombongan itu kembali bergerak ke daerah pekuburan. Saat itu matahari sudah semakin tinggi. Sinarnya terasa menyengat permukaan kulit. Seolah-olah sang mentari tidak peduli dengan kejadian yang berlangsung dibawahnya.

********************

LIMA

Pendekar Naga Putih terus berlari mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Perasaannya benar-benar kacau akibat kejadian yang baru saja dialaminya itu. Sudah cukup jauh juga dia berlari. Dan kini Panji tiba di suatu jalan setapak yang di kanan-kirinya ditumbuhi semak belukar.

"Perlahan dulu, Anak Muda...!"

Tiba-tiba terdengar teguran halus yang mengandung perbawa kuat. Mau tak mau Panji yang saat itu baru saja mengurangi kecepatan larinya menjadi terkejut dan menghentikan larinya. Kening Pendekar Naga Putih berkerut dalam ketika melihat seorang kakek tengah melambaikan tangan ke arahnya. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Ketika melangkah menghampiri Panji, jubah putihnya tertiup angin. Empat orang lelaki gagah yang berpakaian serba putih, ikut menyertainya. Dua di antaranya, tampak dalam keadaan terluka.

Melihat lambang garuda putih yang ada di dada, Pendekar Naga Putih bisa menduga kalau mereka berasal dari Perguruan Garuda Putih. Dan kalau tak salah, pemimpin perguruan itu adalah Eyang Sancaka. Dan kini laki-laki tua itu telah berdiri di antara mereka, di depan Panji

"Ada keperluan apakah Kakek menahan langkahku?" tanya Panji sopan. Terus terang, dada Pendekar Naga Putih berdebar tegang saat melihat pakaian yang dikenakan mereka. Karena pakaian itu mengingatkannya kepada orang-orang yang tadi mengeroyoknya.

"Hm.... Maaf kalau aku mengejutkanmu, Pendekar Naga Putih. Bukankah demikian julukanmu?" ucap Eyang Sancaka. Suaranya juga lembut dan berwibawa. Tampak tangan kanannya mengelus-elus perlahan jenggotnya yang panjang dan berwarna putih.

"Benar, Kek. Itulah julukan yang diberikan orang kepadaku," jawab Panji. Perasaannya semakin tidak enak Pikirannya kembali melayang kepada tuduhan yang dilontarkan pada pengeroyoknya tadi

"Hm.... Benarkah pemuda ini yang telah melakukan perbuatan itu, Panjala? Telitilah dulu?" Eyang Sancaka mengalihkan pandangan ke arah salah seorang muridnya yang tampak mengalami luka. Nada suaranya jelas meminta penegasan.

"Benar, Eyang. Tidak salah lagi! Pemuda inilah yang telah melakukan perbuatan biadab itu! Aku yakin, Eyang. Dan aku tidak akan salah!" jawab laki-laki gagah yang bernama Panjala itu tegas. Sepasang matanya menatap Panji dengan sorot dendam yang hebat

"Kau, Banawa. Benarkah pemuda ini yang telah melukaimu?" tanya kakek itu lagi kepada muridnya yang lain. Orang itu juga dalam keadaan terluka pada bagian bahunya.

"Benar, Eyang Pemuda inilah yang telah melukai ku dan menodai serta membunuh dua orang murid wanita kita," jawab laki-laki brewok yang dipanggil Banawa itu tanpa keraguan sedikitpun.

Panji yang saat itu pikirannya masih kalut, sebenarnya merasa tersinggung juga mendengar keluhan itu. Sepertinya mereka menganggapnya sebagai maling tertangkap basah yang hukumannya sedang diputuskan. Tapi karena masih memandang orang tua itu, maka Panji terpaksa menelan rasa jengkelnya.

"Nah...! Kau dengar sendiri apa yang telah dikatakan kedua orang muridku ini, Anak Muda. Sekarang apa pendapatmu?" kata Eyang Sancaka, mengalihkan pertanyaannya kepada Pendekar Naga Putih.

"Maaf, Kek. Bukan aku ingin menyangkal apa yang dituduhkan kepadaku. Tapi aku memang benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang kalian inginkan?" sahut Panji. Nadanya terdengar agak keras. Namun demikian sikap yang ditunjukkannya tetap membayangkan ketenangan, karena ia memang tidak merasa telah berbuat salah terhadap orang-orang itu.

"Hm.... Perbuatanmu telah mencoreng nama besarmu sendiri, Pendekar Naga Putih. Dan di sini ada dua orang saksi yang langsung mengalami kejadian itu. Dan apa-apa yang mereka katakan itu adalah kebenaran yang tidak mungkin diingkari," gumam Eyang Sancaka lembut. Namun di balik kata-katanya, terkandung tuntutan yang tidak mungkin dibantah.

Panji terdiam untuk beberapa saat lamanya. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah benar perbuatan seperti yang mereka tuduhkan itu telah dilakukannya? Kalau tidak, mengapa tampaknya mereka begitu yakin kalau dirinya yang telah melakukan? Ia yakin kalau orang-orang itu tidak hanya sekadar melemparkan fitnah belaka. Sebab Pendekar Naga Putih kenal betul kalau Perguruan Garuda Putih adalah perkumpulan orang-orang gagah yang tidak akan sembarangan menuduh. Apalagi, perguruan itu dipimpin Eyang Sancaka yang cukup arif dan bijaksana.

"Itu dia si Pendekar Murtad!"

Belum lagi Panji sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan kakek itu, tiba-tiba terdengar seruan keras. Pendekar Naga Putih dan kelompok orang dari Perguruan Garuda Putih sama-sama menolehkan kepalanya ke arah teriakan tadi. Kening semua orang yang ada di situ jadi berkerut melihat tujuh orang laki-laki gagah dengan langkah lebar-lebar mendatangi mereka. Dari roman wajah tujuh orang itu jelas tei gambar kemarahan yang ditujukan kepada Panji.

"Hei! Pendekar Murtad, apakah kau masih ingat kepadaku?" tanya salah seorang dari ketujuh laki-laki gagah itu dengan suara yang sangat menyakitkan telinga.

"Maaf, Kisanak. Aku sama sekali belum mengenalmu. Dan rasanya kita belum pernah berjumpa," sahut Panji. Rasanya hati Pendekar Naga Putih semakin tidak enak saja. Dia mulai menduga kalau kedatangan orang itu mungkin membawa persoalan yang akan menambah ruwet pikirannya.

"O, begitu. Jadi kau tidak ingat dengan wanita desa yang kau gauli di dalam hutan, dan kemudian kau bunuh secara kejam? Mungkin kalau saat itu aku tidak berhasil meloloskan diri, pasti tubuhku sudah hancur oleh pukulanmu. Kenapa kau masih menyangkalnya, Pendekar Murtad?" ejek laki-laki bertubuh sedang itu setengah membentak. Wajahnya tampak memerah karena kemarahan yang menggelegak

Mendengar tuduhan itu, tubuh Panji menggigil hebat! Wajahnya berubah pucat bagai tak teraliri darah. Tuduhan itu terdengar bagaikan ledakan petir di telinga pemuda tampan itu. "Hm.... Ini sudah keterlaluan. Apa sebenarnya maksud kalian melontarkan fitnah keji itu kepadaku? Lihatlah baik-baik. Apakah orang yang melakukan perbuatan keji itu adalah aku? Apakah orang itu memiliki ilmu-ilmu sepertiku? Jawablah!" teriak Panji dengan suara menggelegar. Hati Pendekar Naga Putih benar-benar merasa terpukul atas tuduhan yang telah dilemparkan orang-orang itu kepadanya. Kemarahan dan rasa sakit di hatinya benar-benar sudah tidak dapat ditahan lagi.

Lima orang dari Perguruan Garuda Putih dan tujuh orang tokoh persilatan itu melangkah mundur melihat sikap yang ditunjukkan pemuda itu. Serentak kedua belas orang itu bersiap menghadapi segala ke mungkinan yang bakal terjadi.

"Jangan coba untuk menyangkal, Pendekar Murtad. Kalau seandainya kau memiliki saudara kembar, apakah orang itu juga mempunyai ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' seperti yang kau miliki itu? Tidak mungkin, bukan? Nah, sekarang lebih baik kau menyerah untuk mempertanggung jawabkan segala kejahatanmu!" desak laki-laki gagah yang tak lain adalah Panjala, murid utama Perguruan Garuda Putih dengan suara mengejek.

"Jadi.... Jadi orang itu memiliki ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'?" tanya Panji seperti bertanya pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar bergetar hingga tak ubahnya seperti orang berbisik. Wajah pemuda itu semakin bertambah pucat ketika mendengar penjelasan Panjala.

"Benar! Dan orang itu juga mengeluarkan sinar putih keperakan dari tubuhnya. Jadi sudah pasti kalau orang itu adalah kau, Pendekar Naga Putih!" bentak Banawa, keras. Rupanya ia juga sudah tidak sabar untuk segera membalas perlakuan pemuda itu terhadap saudara-saudara seperguruannya.

"Keji...! Kalian telah melemparkan fltnah keji karena tidak suka kepadaku!" hati Panji benar-benar terguncang mendengar tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan kepadanya itu.

"Huh! Percuma saja. Apa pun yang kita katakan, ia tetap akan menyangkal!" timpal salah seorang dari tujuh laki-laki gagah itu, seraya mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

"Ya! Lebih baik kita seret dengan paksa!" seru yang lain sambil menghunus senjatanya. Tanpa banyak cakap lagi,orang itu langsung melompat menerjang Panji.

"Yeaaat..!"

Keenam orang tokoh lainnya bergegas melompat menyusul kawannya. Senjata-senjata mereka bergerak cepat menciptakan gulungan sinar yang menyilaukan mata.

Wuttt! Wukkk..!

Dua batang pedang menderu keras dari sebelah ldri. Sedang yang lainnya sudah pula menyusul mengancam tubuh pemuda berjubah putih itu. Meskipun hati Pendekar Naga Putih terguncang sangat hebat, namun nalurinya yang terlatih telah membuat tubuhnya bergerak menghindari sambaran pedang lawan. Cepat-cepat Panji melempar tubuhnya ke belakang untuk mempersiapkan jurus-jurusnya.

"Heeeaaa...!"

Terdengar pekikan laksana binatang terluka yang keluar dari mulut Panji. Rasa sakit hati dan penasaran telah membangkitkan kemarahannya. Sesaat kemudian, selapis kabut yang bersinar putih keperakan pun mulai bergerak menyelimuti seluruh tubuhnya. Menyadari kalau lawan bukanlah orang-orang sembarangan, maka Pendekar Naga Putih mulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Jurus 'Naga Sakti' yang tidak pernah digunakan secara sembarangan, juga dikeluarkan. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan diri dari ancaman senjata dan pukulan para pengeroyoknya. Ketujuh orang laki-laki gagah itu tersentak mundur ketika ada serangkum hawa dingin yang menyergap tubuh mereka.

"Hm.... Anak muda ini benar-benar hebat! Sayang ia telah memilih jalan yang salah dan tercela," ucap Eyang Sancaka yang menjadi Ketua Perguruan Garuda Putih, lirih. Dari nada suaranya, jelas kalau kakek itu merasa kecewa terhadap Panji. Sebentar kemudian tubuh kakek itu melesat ke tengah arena pertempuran. Tangan kanannya mengibas, persis orang mengukir lalat

Wusss...!

Hebat sekali! Kibasan tangan si kakek yang terlihat sembarangan itu ternyata berhasil menguslr hawa dingin yang keluar dari tubuh Pendekar Naga Putih. Dan tentu saja hal itu membuat Pendekar Naga Putih terkejut dan semakin bersiaga penuh. Disadari betul kalau kakek itu satu-satunya lawan yang terberat Dua orang murid urama Perguruan Garuda Putih sudah pula melompat ke tengah arena. Mereka masing-masing telah menghunus sebatang pedang.

"Sambutlah, Anak Muda!" seru Eyang Sancaka sambil melompat melakukan serangkaian serangan yang menimbulkan sambaran angin mencicit tajam.

Wuttt..! Bettt..!

Panji memiringkan tubuhnya sambil menggeser kaki kanannya ke belakang. Kemudian secepat kilat dilancarkannya serangan balasan yang tidak kalah dahsyat Kedua tangannya yang membentuk cakar naga tampak bergerak cepat melakukan sambaran-sambaran yang menebarkan hawa dingin. Tak pelak lagi, pertarungan sengit pun berlangsung hebat.Kedua tokoh sakti itu saling menyerang hebat. Ilmu-ilmu andalan yang biasanya jarang sekali digunakan, kini dikeluarkan untuk menjatuhkan lawan.

Sedangkan para tokohlain bergerak mundur menjauhi pertarungan yang mendebarkan itu. Sebab angin pukulan yang teriontar dari tangan kedua tokoh sakti itu menyambar-nyambar ke segala arah. Dan kalau tidak segera bergerak mundur, bisa jadi mereka akan terkena sambaran pukulan nyasar. Jurus derm jurus berlalu cepat. Tak terasa, pertarungan telah memasuki jurus yang keenam puluh. Namun, sampai sejauh itu belum terlihat tanda-tanda yang bakal terdesak

"Heaaah...!"

Suatu saat, Ketua Perguruan Garuda Putih membentak keras. Sepasang tangannya yang membentuk cakar garuda bergerak susul-menyusul mengancam tubuh Panji.

Plakkk! Plakkk!

"Aaah...!"

Seketika terdengar ledakan yang memekakkan telinga ketika kedua lengan tokoh sakti itu saling berbenturan. Tubuh mereka masing-masing tampak terjajar mundur beberapa langkah ke belakang. Baik Panji dan kakek itu sama sama menyeringai menahan rasa nyeri pada tulang lengan mereka. Untuk beberapa saat keduanya saling tatap bagaikan dua ekor ayam jago yang siap berlaga kembali.

"Haaat..!"

Pada saat mereka tengah terdiam sambil meneliti gerak satu sama lain, dua orang tokoh persilatan melompat disertai sambaran senjata yang menimbulkan deruan angin keras.

Wuttt! Wuttt...!

Cepat Panji melempar tubuhnya ke bclakanq. menghindari dua batang pedang yang mengancam tubuhnya itu. Setelah berputar di udara, tubuh Pendekar Naga Putih melayang turun sejauh tiga tombak dari dua orang Iawannya itu. Namun, baru saja kedua kakinya menyentuh pcrmukaan tanah, serangan dari yang lain sudah meluncur datang. Panji melangkah mundur sejauh dua tindak ketika dua batang pedang menyambar perut dan lambungnya. Begitu dua serangan itu lolos, tubuh pemuda itu melambung ke udara disertai sambaran cakarnya yang membawa hawa dingin menggigit tulang.

Bet! Bet...!

"Ahk...!"

Bukan main kagetnya hatikedua orang tokoh itu ketika mendadak tubuh mereka bagaikan dikurung dalam sebuah ruangan salju. Mereka kemudian cepat-cepat mengempos semangat, untuk mengerahkan hawa murni agar rasa dingin yang mengganggu gerakan mereka terusir. Dan pada saat sepasang cakar Pendekar Naga Putih hampir mencelakai, mereka pun bergulingan menghindarkan diri. Ketika telah berada sejauh tiga tombak, kedua orang itu melenting bangkit. Namun alangkah terkejutnya hati mereka ketika pada saat itu Pendekar Naga Putih telah melontarkan pukulan jarak jauh disertai pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Wusss! Blarrr!

Untunglah kedua orang itu sempat melempar tubuhnya dan bergulingan ke samping. Kalau tidak, akan hancurlah tubuh mereka. Buktinya, pohon besar sepelukan orang dewasa yang ada di belakang mereka langsung tumbang menimbulkan suara berderak keras. Wajah kedua orang tokoh persilatan itu langsung pucat. Ciut hati mereka membayangkan seandainya terkena pukulan maut pendekar muda itu.

"Sambut pukulanku, Pendekar Naga Putih!" bentak Eyang Sancaka memperingatkan. Saat itu juga tubuhnya meluncur disertai dorongan telapak tangannya yang menimbulkan terpaan angin keras.

Mendengar teriakan itu, Panji bergegas membalikkan tubuhnya. Tampak tubuh Eyang Sancaka meluncur menerjang. Maka Pendekar Naga Putih segera mendorong sepasang telapak tangannya untuk menyambut pukulan maut kakek itu.

Bresss!

Bumi di sekitar arena pertarungan bagai diguncang gempa ketika dua tenaga dalam tinggi saling berbenturan dahsyat. Tubuh mereka terpental ke belakang dan jatuh menimbulkan suara berdebuk keras. Panji dan Eyang Sancaka bergegas melenting bangkit. Keduanya segera menyedot udara banyak-banyak untuk menghilangkan rasa nyeri yang menusuk rongga dada mereka. Dari sudut bibir masing-masing tokoh sakti itu tampak cairan merah mengalir.

"Haaat..!"

Empat orang tokoh persilatan yang melihat keadaan itu cepat melompat menerjang Panji. Mereka memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas selagi pendekar muda itu terluka. Senjata mereka berdesing membelah udara.

Plak! Plak! Bret!

"Ahk...!"

Dua di antara empat batang senjata itu berhasil dttepiskan telapak tangan Pendekar Naga Putih. Namun dua senjata lain berhasil merobek tubuhnya! Untunglah Panji masih sempat memiringkan tubuhnya, sehingga lukanya tidak terlalu parah. Tubuh Pendekar Naga Putih terjajar mundur sejauh enam langkah, dan agak limbung. Tangan kirinya menekap luka di lambung, sedangkan tangan kanan menekap dada. Pada sela-sela jarinya keluar darah segar dari luka sehingga menodai jubahnya.

Meskipun kedua luka itu tidak terlalu dalam, tapi cukup membuat wajah pendekar muda itu meringis menahan nyeri Meskipun kemarahan membakar dadanya, namun Panji sadar kalau bukan orang-orang itulah yang menjadi musuhnya. Maka begitu melihat lawan-lawannya lengah, ia bergegas melompat meninggalkan tempat itu. Gerakannya demikian cepat, karena disertai ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai taraf kesempurnaan.

"Mau lari ke mana kau, Pendekar Murtad?!" bentak Panjala yang segera menghadang Panji. Senjatanya melintang di depan dada dan siap menyerang.

Banawa yang berada di samping Panjala bertindak cepat. Tanpa basa-basi lagi, tubuhnya segera melesat sambil menyabetkan senjata ke tubuh Pendekar Naga Putih. Panjala pun berbuat hal yang serupa. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa hingga membentuk gundukan sinar yang membungkus seluruh tubuhnya. Dibarengi bentakan keras, tubuhnya langsung melayang ke arah Panji.

Kali ini Panji sudah benar-benar marah. Melihat kedua orang murid utama Perguruan Garuda Putih itu menghalangi jalannya, sepasang telapak tangannya segera didorongkan ke depan Serangkum angin dingin berhembus keras mengiringi dorongan tangan pemuda itu. Rupanya dalam kemarahannya kali ini, Pendekar Naga Putih telah menggunakan pukulan jarak jauh disertai pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang sangat dahsyat itu.

Bukan main terkejutnya hati kedua orang tokoh Perguruan Garuda Putih itu. Wajah mereka pucat seketika. Untuk menghindar, rasanya sudah tidak mungkin lagi, tubuh keduanya dalam keadaan mengapung di udara. Cepat-cepat mereka mendorongkan telapak tangan kiri sepenuh tenaga.

Blarrr!

"Aaargh...!"

Banawa dan Panjala berteriak ngeri ketika tubuh mereka bagaikan membentur sebuah kekuatan raksasa. Tubuh mereka terlempar keras hingga bebarapa tombak ke belakang. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keduanya terbanting keras di atas permukaan tanah.

"Ouhhh...!"

Kedua tokoh Perguruan Garuda Putih itu merintih setelah teriebih dahulu memuntahkan segumpal darah kental. Mereka mengerang sambil menekap dada yang terasa bagaikan dihantam godam!

"Panjala...! Banawa...!"

Eyang Sancaka yang menjadi Ketua Perguruan Garuda Putih berlari memburu kedua orang muridnya itu dengan wajah membayangkan kecemasan. Dia segera berjongkok memeriksa luka yang diderita kedua orang muridnya. Rasa cemas terbayang di wajahnya melihat keadaan muridnya. Hal ini membuat kakek itu melupakan kehadiran Panji yang berdiri tegak beberapa langkah di sampingnya. Melihat kesempatan baik itu, Panji bergegas melompat meninggalkan tempat itu. Segera dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya agar tidak sampai terkejar orang-orang itu.

"Pendekar Naga Putih, tunggu...! Persoalan di antara kita belum selesai!" teriak Eyang Sancaka seusai memberi obat pulung kepada kedua orang muridnya. Suaranya dikerahkan lewat tenaga dalam yang cukup tinggi, sehingga menggema sampai jauh.

"Keparat! Pemuda cabul itu telah berhasil meloloskan diri!" umpat salah seorang tokoh persilatan, geram.

"Ayo, kita kejar pendekar biadab itu!" ajak yang lainnya, cepat.

Setelah berkata demikian, mereka segera melesat mengejar Pendekar Naga Putih. Enam orang lainnya bergegas menyusul kawannya. Rupanya hati mereka belum puas kalau beium dapat menghukum pendekar muda yang kira sangat dibenci itu.

ENAM

Pemuda berjubah putih itu terus berlari menerobos semak belukar. Pada bagian dada dan lambung terdapat noda merah yang membasahi pakaiannya. Namun sepertinya dia sama sekali tidak mempedulikan luka yang dideritanya itu, dan terus saja berlari ke dalam lebatnyarimba. Wajah yang bersih dan tampan itu tampak sayu bagaikan orang kehilangan semangat. Peluh yang membasahi seluruh wajah dan tubuhnya sudah tidak dihiraukannya lagi. Sepertinya jiwa pemuda tampan berjubah putih itu tengah mengalami pukulan berat.

Setelah agak lama berlari dan telah jauh memasuki hutan, pemuda tampan itu menjatuhkan tubuhnya di atas permukaan rumput tebal. Disandarkan punggungnya pada sebatang pohon besar yang berada di belakangnya. Terdengar helaan napasnya yang berat, membayangkan kelelahan lahir dan batin.

"Ouhhh...!" Pemuda tampan yang tak lain adalah Panji itu mengusap wajahnya diseretai keluhan berat. Agak lama pemuda itu menutupi wajahnya tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan direbahkan tubuhnya. Matanya dipejamkan seolah- olah hendak mengusir pergi bayangan-bayangan buruk yang mengganggunya.

"Mengapa orang-orang itu memusuhiku? Mengapa mereka begitu yakin kalau aku telah melakukannya? Dan menurut keterangan mereka, orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji dan biadab itu adalah aku. Mungkinkah ada pemuda lain di dunia ini yang memiliki wajah serupa denganku? Apakah orang itu pun mempunyai Tenaga Sakti Gerhana Bulan' warisan Eyang Tirta Yasa? Aaah..., rasanya mustahil?" desah batin Pendekar Naga Putih yang bergelut dengan berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya sendiri.

Panji kembali menghela napas berat, melepaskan gumpalan yang terasa mengganjal dalam rongga dadanya. Pikirannya menerawang, mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah diperbuatnya selama ini. Namun sampai lelah, tak satu pun perbuatan jahat yang pernah dilakukannya.

“Tapi, mengapa mereka menuduhku pendekar murtad?!" Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Panji, hingga sempat tetperanjat mendengamya. Sepertinya, suara pertanyaan itu terlontar karena rasa penasaran dan tidak puas yang menekan jiwanya.

Mendadak Pendekar Naga Putih terlonjak dari duduknya, seperti baru saja teringat akan sesuatu. Dan bisa saja itu dapat menyingkap tabir rahasia ini. Dengan gerakan perlahan, sepasang mata Pendekar Naga Putih mulai meneliti sekujur tubuhnya, seolah-olah ingin mencari kelainan yang akan dapat membedakan dirinya dengan manusia culas yang mengaku-aku sebagai dirinya.

"Ah, ini dia!" seru Pendekar Naga Putih sambil menurunkan Pedang Naga Langit dari punggungnya. Wajahnya tampak berseri ketika melihat benda pusaka yang tidak ada duanya dalam dunia persilatan. Perlahan lahan dicabutnya pedang itu dari sarungnya, yang berukir seekor naga yang berwarna kuning keemasan

Untuk jelasnya tentang Pedang Naga Langit yang dimiliki Panji ini, silakan pembaca mengikuti serial Pendekar Naga Putih dalam episode Bunga Abadi di Gunung Kembaran

Srek!

Sinar kuning keemasan berpendar ketika Pendekar Naga Putih meloloskan pedang pusaka dari sarungnya. Sejenak Panji menutupi mata dengan sebelah tangannya, karena sinar pedang itu begitu silau.

"Ya. Hanya pedang inilah yang akan membedakan antara aku dengan bangsat keji itu! Aku yakin kalau orang yang telah mencemarkan namaku pasti tidak akan memiliki pedang pusaka yang tiada duanya ini," tegas Panji.

Hati Pendekar Naga Putih sedikit lega karena telah mempunyai bukti kuat kalau dirinya bukanlah orang yang dimaksud. Dengan Pedang Naga Langit yang tak ada duanya dalam rimba persilatan, jelas akan membedakan Panji dari yang lainnya.

"Tapi, apakah mungkin orang-orang itu akan menerima alasanku? Dapatkah mereka mempercayainya apabila pedang ini kutunjukkan sebagai bukti kalau aku tidak bersalah? Hm.... Sepertinya masalah ini belum selesai hanya dengan menunjukkan pedang ini sebagai alasan," gumam Panji dalam hati. Kembali Pendekar Naga Putih menghela napas sebagai tanda kekecewaannya. Pikirannya menerawang jauh hingga sampai ke wajah kekasihnya. Tiba-tiba saja wajah Kenanga muncul dalam benaknya.

"Ahhh.... Seandainya saja saat ini Kenanga ada bersamaku, pastilah akan dapat membantuku untuk memecahkan masalah rumit ini. Tapi.... Tapi, ahhh...!" desah Panji sambil menepak keningnya perlahan.

Pendekar Naga Putih merasa khawatir juga apabila persoalan ini telah sampai ke telinga Kenanga. Sulit digambarkan, bagaimana tanggapan gadis itu ketika mendengar tuduhan yang telah dilimpahkan orang-orang kepada Panji. Apakah tuduhan itu akan dipercayainya? Ataukah akan lebih percaya kepada Panji? Setelah menyarungkan pedangnya kembali, Panji duduk bersandar pada pohon di belakangnya. Pandangannya dilayangkan ke arah cakrawala yang mulai tersaput keremangan senja. Hati Pendekar Naga Putih ikut melayang dan mengembara entah ke mana.

"Kakang...!"

Panji tersentak bangkit bagaikan disengat kalajengking. Dadanya berdebar tegang ketika mendengar suara merdu yang sangat dikenalnya. Mulut pemuda itu menggerimit seolah-olah tengah berhadapan dengan hantu yang menakutkan! Seluruh urat-urat tubuhnya menegang! Wajahnya pun pucat, dan keringat dinginnya mulai menitik Pemuda itu menjadi tegang karena suara merdu itu terdengar agak ketus.

Perlahan-lahan Pendekar Naga Putih menolehkan pandangan ke arah asal suara itu. Debaran dalam dadanya terdengar semakin bergemuruh ketika tampak sesosok tubuh ramping berparas jelita tengah memandang tajam ke arahnya. Dari raut wajahnya, Panji sadar kalau gadis itu telah mengetahui duduk persoalannya. Karena wajahnya menyiratkan kebencian hebat!

"Kenanga, kau.... Kau mengapa ada di tempat ini?" tanya Panji bergetar.

Pemuda itu merasa aneh ketika mendengar suaranya demikian asing di telinga. Seolah-olah suara itu bukanlah suara sendiri. Karena demikian kering dan bergetar, seperti dari alam lain.

"Hm.... Seharusnya aku yang harus bertanya seperti itu kepadamu?! Mengapa kau berada di tempat ini?! Apa yang tengah kau lakukan?!" tanya gadis jelita itu. Suaranya terdengar tidak enak sekali di telinga Panji.

Hati pemuda itu pun semakin tidak enak ketika gadis itu tidak iagi menyebutnya 'kakang’. Jelas sekali kalau dia sudah tidak menunjukkan sikap mesra kepadanya. Dan hal itu membuat debaran dalam dada Panji semakin keras. "Aku.... Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, Kenanga. Aku.... Aku hanya sedang melepaskan lelah," sahut Panji. Suaranya masih tetap bergetar karena hatinya masih diliputi ketegangan. Diam-diam hati pemudaitu berharap agar kekasihnya belum mendengar berita-berita yang menyudutkan dirinya. Siapa tahu gadis itu hanya marah karena telah berpisah dengannya tanpa sengaja.

"Hm.... Mengapa ada luka di tubuhmu?" tanya Kenanga. Gadis itu menatap tajam penuh kebencian pada Pendekar Naga Putih.

Panji berdiri lesu bagaikan seorang pesakitan yang menunggu keputusan hakim. Sepasang mata kekasihnya yang biasanya selalu menimbulkan perasaan indah itu, kini tak lagi nampak Sebenarnya Panji lebih suka ditodongkan ujung tombak daripada mendapat tatapan mata kekasihnya yang tajam dan sangat menusuk hati

“Pendekar Naga Putih! Apakah kau memang sudah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Ke mana perginya kegagahan yang selama ini kau miliki? Kau benar-benar telah membuatku kecewa, Panji!" sindir Kenanga. Wajahnya tampak mulai basah oleh air mata. Kata-kata itu memang demikian tajam. Bahkan sepertinya Kenanga tidak menganggap Panji lagi.

Kening Panji berkerut-kerut menahan rasa sakit hati akibat ucapan kekasihnya itu. Kalau saja orang lain yang mengatakannya, mungkin tidak apa-apa. Tapi ucapan itu justru keluar dari mulut orang yang amat dicintainya. Tentu saja hal itu bagaikan ujung tombak yang menikam jantungnya.

"Kenanga. Kau pun percayaakan tuduhan orang-orang persilatan itu kepadaku? Kau..., kau lebih mempercayai mereka daripada aku? Ohhh...!"

Panji terhuyung ke belakang dengan wajah pucat. Keningnya semakin berkerut-kerut manahankan guncangan hebat pada dirinya. Ucapan kekasihnya itu bagaikan ujung pedang yang mengiris-iris jantungnya. Bahkan rasanya lebih baik tubuhnya diiris-iris ujung pedang daripada harus mendengar tuduhan itu.

"Hm.... Pada mulanya aku memang tidak mempercayai berita yang tersebar di kalangan persilatan itu. Karena, aku mengenal betul siapa dirimu. Dan rasanya keyakinanku itu tidak akan berubah apabila tidak memergoki perbuatanmu yang keji itu. Jangan coba-coba membodohi aku, Pendekar Naga Putih. Karena aku telah memergokimu ketika kau baru saja melakukan perampokan, pembunuhan, dan sekaligus menodai seorang gadis anak keluarga kaya di Desa Tirtasana. Aku tahu, kau pasti telah melupakannya. Atau memang sengaja berpura-pura lupa agar aku mempercayaimu," ucap gadis itu sambil menyusut air matanya yang mulai jatuh dan bergulir di pipinya yang halus itu. Kenanga segera menarik napas untuk melonggarkan rongga dadanya yang terasa sesak.

"Tidak mungkin...! Kau pasti keliru, Kenanga! Aku... aku tidak pernah melakukan apa-apa! Sungguh!" bantah Panji. Suara Pendekar NagaPutih terdengar semakin lemah dan serak. Kedua kakinya tampak gemetar. Sepertinya ia tidak mampu lagi untuk menahan bobot tubuhnya. Terlihat pemuda tampan itu menyeringai menahan sakit sambil meremas-remas dadanya.

"Kau bilang aku keliru? Huh! Siapa lagi di dunia ini yang memiliki ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'? Siapa lagi di dunia ini yang tubuhnya dapat mengeluarkan sinar putih keperakan? Dan siapa tokoh sakti di dunia ini yang masih muda dan tampan yang memiliki ilmu pukulan berhawa sedingin salju?" desah Kenanga.

Suara gadis itu semakin lama semakin tinggi. Bahkan pada akhir kalimatnya, gadis itu berteriak sekeras-kerasnya. Rupanya bukan hanya Panji saja yang menerima guncangan batin yang hebat Sepertinya gadis jelita itu juga tidak terlepas dari pukulan yang mendera batinnya.

"Tidak mungkin, Kenanga...! Tidak mungkin..! Oh, Tuhan.... Dosa apa yang telah hamba perhuat, sehingga begitu kuat cobaan yang Kau berikan...?!" desah Panji dengan suara yang semakin serak dan lemah. Pemuda itu berdiri bergoyang- goyang bagai orang mabuk. Sepasang matanya yang selalu menyorotkan sinar tajam, kini nampak sayu.

"Jangan sebut-sebut nama Tuhan! Kesalahanmu sungguh besar, Pendekar Naga Putih. Dan kini kau masih juga berusaha menyangkal! Padahal kita sempat bertanding selama beberapa jurus. Dan sebelum melarikan diri, kau berkata agar aku segera melupakanmu dan tidak usah mencari-carimu lagi?! Apakah kau pun telah lupa dengan ucapanmu itu?!" bentak Kenanga semakin keras. Meskipun wajah gadis itu sama pucatnya dengan wajah Panji, namun Kenanga tampak lebih bisa menguasai dirinya. Itu bukan berarti dia lebih tegar. Tapi karena gadis itu sudah pasrah kepada nasib yang menimpa dirinya.

"Oh, Tuhan...," Panji mengeluh sambil menekap wajahnya. Jari-jari tangan Pendekar Naga Putih tampak gemetar ketika mengusap wajahnya. Namun debaran dalam dadanya sudah tidak lagi sehebat tadi. Pendekar Naga Putih mulai bisa menenangkan gejola khatinya.

"Baiklah. Kalau kau memang sudah tidak mempercayaiku lagi, terserah. Aku pasrah. Namun aku bersumpah, bahwa aku sama sekali tidak melakukan hal- hal seperti yang kau tuduhkan itu. Biarlah kalau memang sudah begin! suratan nasibku, aku pasrah, Kenanga," kata Panji. Suara Pendekar Naga Putihkini lebih tenang meskipun masih tetap bergetar, penuh perasaan kasih. Sambil mencoba menguatkan hatinya, Panji melangkah mendekati kekasihnya.

"Diam di tempatmu! Kalau kau masih juga melangkah, maka terpaksa kau akan kubunuh, Pendekar Naga Putih!" bentak Kenanga sambil menodongkan ujung pedang yang mengeluarkan sinar keperakan ke tubuh Panji. Rupanya gadis itu masih juga mencurigainya. Meskipun saat itu Panji telah benar-benar pasrah.

"Aku bersumpah tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan keji itu, Kenanga. Percayalah kalau orang yang pernah bertarung denganmu itu bukanlah aku!" tegas Panji yang telah mendapatkan kembali ketenangan dirinya. Semua itu didapatkan setelah kepasrahan dalam dirinya timbul. Meskipun ia tetap tidak mengakui segala apa yang telah dituduhkan kepada dirinya itu.

"Hm.... Kalau memang kau masih juga tidak mengakui segala perbuatan biadabmu itu, marilah kita bertarung! Meskipun aku harus kehilangan orang yang paling kucintai. Ini terpaksa kulakukan demi menegakkan keadilan!" tegas Kenanga yang segera melintangkan pedangnya, siap menghadapi pertarungan mati-matian.

"Tidak! Aku tidak akan melawanmu, Kenanga! Kalau kau memang ingin membunuhku, silakan! Dan aku akan ikhlas menerimanya," jawab Panji pasrah. Memang jelas, bagaimana mungkin Pendekar Naga Putih akan melakukan pertarungan dengan kekasihnya. Dan Panji tahu betul kalau gadis jelita itu tidak akan berani membunuhnya.

Melihat Pendekar Naga Putih tampak berdiri pasrah, Kenanga membanting-banting kaki kanannya karena kesal. Hatinya bergetar menerima tatapan lembut yang menyiratkan perasaan kasih yang dalam di hati pemuda itu. Hingga untuk beberapa saat lamanya, Kenanga hanya dapat memandang bingung.

"Lawanlah aku, Pendekar Naga Putih! Apakah kau telah berubah menjadi seorang pengecut?!" teriak Kenanga yang menjadi gemas melihat sikap yang ditunjukkan pemuda itu.

Panji hanya tersenyum getir melihat keadaan gadis yang dicintainya. Pemuda itu menggeleng pelan sebagai tanda kalau tidak bisa meluluskan permintaan kekasihnya.

"Hm.... Jangan dikira aku tidak akan berani untuk membunuhmu, Pendekar Naga Putih? Kalau kau masih juga tidak akan mencabut senjatamu, terpaksa kau akan kubunuh!" teriak Kenanga yang menjadi gusar.

"Aku siap menerima hukuman darimu, Kenanga," sahut Panji lembut. Suara Pendekar Naga Putih bergetar menahan perasaan sakit dan kecewa. Wajahnya berkerut-kerut menandakan betapa terpukul hatinya melihat orang yang dicintainya sudah tidak mempercayi dirinya lagi.

Melihat kenyataan kalau Panji masih juga belum mencabut senjatanya, Kenanga menggertakkan giginya menahan geram. Biarpun pemuda itu adalah orang satu-satunya yang dicintainya, akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk melenyapkan kebathilan. Gadis itu masa bodoh apabila kehilangan orang yang paling dicintainya.

"Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, baiklah! Bersiaplah untuk menerima hukuman, Pendekar Naga Putih!" ancam Kenanga yang sudah menggerakkan senjatanya, siap melenyapkan Pendekar Naga Putih.

TUJUH

Wuk! Wuk...!

"Hiaaat...!"

Dibarengi teriakan nyaring, tubuh gadis itu pun melesat sambil menusukkan pedangnya ke dada Panji. Kenanga menguatkan hatinya yang sempat bergetar melihat tatapan penuh kasih yang terpancar di wajah pemuda itu. Dan getaran di hatinya telah membuat senjata di tangannya ikut pula bergetar!

Cappp!

"Akh...!" Panji mengeluh pendek, menahan rasa sakit pada perutnya yang tertembus pedang kekasihnya. Meskpun wajahnya semakin memucat, namun tatapan penuh kasih itu tetap memancar diwajahnya.

"Ah...!" Kenanga menahan jeritannya melihat darah segar mulai mengucur membasahi jubah pemuda itu. Bergegas tubuhnya melompat mundur sambil mencabut senjatanya dari perut Panji. Bibir gadis jelita itu bergetar menahankan perasaan hatinya yang terguncang. Kenanga berdiri terpaku melihat tubuh kekasihnya roboh mandi darah. Bibir Panji tampak tersenyum memandang wajah kekasihnya. Akhirnya karena tak sanggup menerima kenyataan, Kenanga langsung jatuh terduduk di atas rerumputan. Wajahnya basah oleh air mata yang mengalir deras menganak sungai.

"Ohhh..., Kakang. Apa artinya hidup ini bagiku! Tunggulah aku, Kakang...." Sambil berkata demikian, Kenanga mengangkat pedangnya. Dan kini mata pedangnya menempel di belahan dadanya. Sepertinya Kenanga ingin bunuh diri karena tidak sanggup menahan penderitaan yang mendera jiwanya. Dengan kedua tangan gemetar dan wajah bersimbah air mata, gadis jelita itu memejamkan matanya. Pedang Sinar Rembulan terangkat dan siap dihunjamkan ke dada yang berisi kehancuran. Dan ketika ujung pedang itu hendak ditekan, mendadak...

Trang!

"Akh...!" Kenanga terpekik kaget ketika pedangnya yang meluncur turun itu tiba-tiba terpental. Belum lagi gadis itu sempat mengetahui apa yang telah membuat senjatanya teriepas dari genggaman, tahu-tahu saja di depannya telah berdiri seorang kakek berusia sekitar delapan puluh tahun. Ternyata dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, kakek itu menjentikkan kerikil dan tepat memapak pedang Kenanga.

"Cucuku, kematian bukanlah sebuah penyelesaian," kata kakek itu. Dihampirinya Kenanga yang telah bersimbah air mata. Begitu dekat, dibelainya rambut kepala gadis jelita itu penuh kasih. Wajah tua itu berkerut ketika melihat tubuh seorang pemuda berjubah putih tergeletak beberapa tombak didepannya.

"Ohhh, Eyang.... Biarkanlah aku menyusul Kakang Panji. Aku... aku tidak sanggup untuk menahan penderitaan ini, Eyang," Kenanga menangis sesenggukan ketika mengenali orang yang berdiri didepannya itu. Kakek itu tak lain adalah Raja Obat.

"Hm.... Rupanya aku terlambat..," desah Raja Obat penuh sesal. "Bangkitlah, Cucuku. Mari kita lihat keadaan kekasihmu itu." Setelah berkata demikian, kakek itu melangkahkan kakinya menghampiri tubuh Panji yang tergeletak berlumur darah.

Mendengar ucapan Raja Obat, Kenanga bangkit merintih pilu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis jelita itu segera berlari meninggalkan tempat itu. Isaknya masih terdengar mengiringi langkah kakinya.

"Kenanga, tunggu...!" seru Raja Obat mencoba menahan kepergian gadis jelita itu. Dan orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat gadis itu terus mempercepat larinya. Untuk beberapa saat lamanya, Raja Obat hanya termangu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya kembali menatap tubuh yang tergeletak itu. Setelah agak lama terdiam, kakek itu pun mengulurkan tangannya memeriksa keadaan Panji. Senyum lega membayang di wajah tua itu ketika merasakan denyut jantung yang terdengar lemah. Jelas kalau pemuda itu masih mempunyai harapan hidup.

"Hhh.... Syukurlah, dia masih bisa diselamatkan," ucap Raja Obat lega.

Tak lama kemudian, kakek itu melangkah meninggalkan tempat itu dengan membawa tubuh Panji yang ternyata belum tewas. Kegelapan mulai merangkak menyelimuti permukaan bumi. Tampaknya sang malam mulai menampakkan kekuasaannya. Tak lama kemudian, rembulan muncul menerangi jagat raya dengan sinarnya yang temaram.

********************

Di sebuah kedai makan, tampak tiga orang tengah berbincang-bincang. Mereka duduk dekat pintu masuk. Sementara ada seseorang yang duduk di pojok. Dia hanya memperhatikan saja. Sedangkan enam orang lainnya seperti acuh tak acuh.

"Hm.... Semakin hari sepak terjang Pendekar Naga Putih semakin merajalela saja. Sudah terlalu banyak perbuatan keji yang dilakukannya. Dan kalau kita belum juga dapat melenyapkannya, maka akan binasalah semua manusia di permukaan bumi ini," jelas seorang laki-laki bertubuh sedang, geram. Sepasang matanya tampak mencorong tajam menandakan kegusaran hatinya.

"Ya! Sayangnya sampai saat ini belum ada seorang pun yang sanggup menghentikan keganasannya. Bahkan kini yang menjadi korban bukan lagi orang-orang awam, melainkan para tokoh golongan putih," timpal seorang laki-laki berusia setengah baya. Wajahnya yang gagah itu tampak tertutup mendung. Berkali-kali kepalanya digelengkan disertai helaan napas berat

"Dan tampaknya kita harus menerima kenyataan pahit ini, Ki. Saat ini para tokoh golongan hitam bersorak gembira dan berpesta mengelu-elukan Pendekar Naga Putih. Tampaknya pendekar muda yang selama ini diagung-agungkan tokoh golongan putih telah berubah haluan. Entah apa yang telah menyebabkannya?" orang yang lainnya ikut menimpah dengan suara penuh penyesalan.

"Apakah Ki Barak sudah berhasil menghubungi Ki Ageng Mandalewa?" tanya lelaki bertubuh sedang, yang pertama kali membuka percakapan. Langsung ditatapnya laki-laki setengah baya yang dipanggilnya dengan nama Ki Barak. Wajahnya yang lelah itu tampak menyiratkan sebuah harapan.

"Hhh.... Sayang sekali aku tidak berhasil, Aki Bantar. Menurut keterangan para muridnya, orang tua sakti itu sudah setengah bulan lebih menyembunylkan diri di tempat pertapaan. Kita baru dapat menghubunginya pada lima purnama mendatang. Hhh..., entah siapa lagi yang harus kita hubungi untuk meminta bantuan dalam menghadapi keganasan Pendekar Naga Putih," sahut Ki Barak berdesah kecewa.

"Yahhh.... Belum lagi kita harus menghadapi tokoh golongan hitam yang sepertinya mulai bangkit dan melakukan kekacauan di mana-mana. Rasanya kali ini para tokoh golongan putih tengah menghadapi ujian berat," ujar orang lainnya yang bertubuh gemuk dan berkepala botak.

Tanpa sepengetahuan ketiga orang yang tengah berbincang itu, seorang laki-laki bertubuh sedang dan berusia sekitar enam puluh tahun lebih tampak ikut memasang telinganya. Sesekali terdengar helaan napasnya yang berat. Sepertinya dia juga tengah merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang tengah berbicara itu. Kakek itu duduk tenang di pojok kedai sambil mencicipi hidangan di atas meja.

Saat itu suasana kedai memang tidak terlalu ramai. Hanya ada enam orang lagi, selain si kakek dan ketiga orang yang tengah berbincang itu. Untuk beberapa saat lamanya suasana menjadi hening ketika ketiga orang laki-laki yang semula berbincang itu tampak berhenti dan menikmati makanannya.

Kakek yang duduk pada meja yang terdapat di sudut, tampak bergerak bangkit dari bangkunya. Kemudian, kakinya melangkah tertatih-tatih mendekati meja ketiga orang yang tengah menikmati hidangannya. Wajahnya yang mulai berkeriput itu tampak pucat, seolah-olah tengah mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Setelah terbatuk-batuk kecil, kakek itu menyapa Ki Barak dan dua orang kawannya.

"Ohhh.... Maaf, Kisanak. Bolehkah aku bergabung dengan kalian? Rasanya tidak enak sekali kalau harus menikmati hidangan tanpa seorang pun teman yang dapat diajak bicara," pinta kakek itu dengan suara lembut dan sopan. Sepasang matanya yang menghitam pada bagian bawahnya tampak menatap penuh harap.

Ki Barak, Bantar, dan kawannya yang seorang lagi sama-sama menatap ke arah wajah yang ditumbuhi kumis dan jenggot memutih itu.

"Oh, mari, mari, Ki. Silakan," sahut Ki Barak yang merupakan orang tertua di antara ketiga orang itu. Kemudian, laki-laki setengah baya itu segera menarik kursi yang memang tinggal sebuah itu. Memang dalam satu meja, terdapat empat buah kursi.

"Ah, apakah aku tidak mengganggu?" tanya kakek itu yang sepertinya masih ragu, sehingga masih saja berdiri ditempatnya. Dipandanginya wajah ketiga orang itu satu persatu, seolah-olah ingin memastikan kalau ketiga orang itu benar-benar tidak merasa keberatan dengan keberadaannya. Setelah melihat ketiganya mengangguk ramah, maka tanpa rasa ragu lagi segera diambilnya kursi yang telah diperuntukkan baginya.

Ki Barak bergegas menggapai seorang pelayan dan minta agar hidangan untuk mejanya ditambah. Hal ini dimaksudkan kalau dia sama sekali tidak merasa keberatan.

"Ah! Aku telah membuat kalian repot," desah kakek itu yang menjadi risih karena mendapat perlakuan yang demikian ramah dari lelaki setengah baya itu.

"Janganlah merasa sungkan, Kisanak. Anggaplah kami ini sebagai sahabat lama yang baru bertemu kembali," Ki Bantar menyahut sambil memperdengarkan tawanya yang lunak dan menunjukkan kegembiraan yang tidak dibuat-buat

"Terima kasih.... Terima kasih. Kalian benar-benar orang-orang baik! Ah, beruntung sekali aku dapat berkenalan dengan kalian," ucap kakek itu lagi sambil melepaskan senyumnya.

Untuk beberapa saat lamanya wajah-wajah yang tertutup mendung tebal itu tampak berseri gembira.

"Boleh kami tahu, siapakah namamu?" tanya Ki Barak sesudah memperkenalkan namanya dan nama kedua orang temannya. Meskipun tampaknya penyakitan dan lemah, namun Ki Barak dapat menduga kalau kakek itu bukanlah orang sembarangan. Memang, dari sinar mata yang sayu itu terkadang berkilat tajam dan mengandung perbawa kuat. Diam-diam Ki Barak memperhatikan wajah kakek itu dengan seksama kalau-kalau saja mengenal kakek itu.

"Namaku Ki Tungkil. Kedatanganku ke desa ini semula hendak mengunjungi cucuku. Aku memang sudah lama tidak pernah mengunjunginya. Tapi sayang kedatanganku terlambat. Sebab, cucuku itu ternyata telah pindah beberapa hari yang lalu. Maka aku pun singgah di kedai ini untuk mengisi perutku yang dari kemarin belum dimasuki apa-apa," jelas kakek yang mengaku bernama Ki Tungkil itu pelan. Di akhir ucapannya, Ki Tungkil tertawa terkekeh.

"Ah, sayang sekali! Apakah para tetangganya tidak memberi tahu, ke mana cucu Ki Tungkil itu pindah?" tanya Ki Barak sekadar berbasa-basi. Dan sebagai orang yang berpengalaman, Ki Barak bisa menduga kalau kakek itu menyembunyikan sesuatu.

"Sayang sekali tidak, Kisanak Tapi biarlah. Karena, aku yakin ia akan mengunjungiku setelah kepindahannya selesai," sahut Ki Tungkil menghela napas sejenak.

Pembicaraan mereka mendadak terhenti ketika pelayan kedai datang membawa pesanan. Sambil tertawa ramah, laki-laki setengah baya itu segera mempersilakan untuk segera menikmati hidangan yang masih mengepul dan menebarkan bau harum itu.

"Ayolah, Selagi masih hangat," ajak Ki Barak yang tanpa ragu-ragu lagi segera menyantap hidangannya.

Suasana pun kembali sunyi. Yang terdengar hanya kunyahan mulut mereka.

"Maaf," selak KiTungkil setelah mereka menyantap hidangan. "Tadi aku mendengar kalian membicarakan Pendekar Naga Putih. Sepertinya aku sering mendengar nama itu disebut-sebut orang di desa tempat tinggalku. Bisakah Kisanak menerangkan kepadaku,bsiapa sebenarnya orang itu? Dan bagaimana rupanya?" tanya Ki Tungkil sambil menatap Ki Barak lembut.

Mendengar pertanyaan itu, Ki Barak dan kedua orang temannya saling berpandangan sejenak. Dugaan laki-laki setengah baya itu semakin kuat kalau kakek itu bukanlah orang biasa, seperti orang kebanyakan. Dan sudah bisa diraba sebelumnya, apa maksud kakek itu bergabung dengan mereka. Yang jelas pasti bukan hanya untuk mencari teman untuk berbicara. Dan tentu saja ada maksud lain yang disembunyikan.

"Maaf. Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, bolehkah aku yang rendah ini mengetahui nama besarmu, Ki Tungkil?" tanya Ki Barak hati-hati, karena tidak ingin kalau kakek itu sampai tersinggung.

"He he he...!" kakek itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sepertinya Ki Tungkil merasa geli mendengar pertanyaan Ki Barak yang terdengar aneh ditelinganya itu. Tentu saja Ki Barak dan kedua orang kawannya saling berpandangan tak mengerti. Mereka merasa heran melihat kakek itu tertawa mendengar pertanyaan Ki Barak tadi. Karena, mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dalam pertanyaan itu.

"Mengapa Ki Tungkil tertawa? Apakah ada sesuatu yang lucu dalam pertanyaanku tadi?" tanya Ki Barak dengan kening berkerut. Hatinya agak tersinggung juga melihat Ki Tungkil tertawa.

"He he he.... Maaf kalau suara tawaku telah membuatmu tersinggung, Kisanak. Tapi aku benar-benar merasa geli mendengarnya. Sebab, aku hanyalah orang biasa yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Jadi, tentu saja aku merasa lucu mendengar pertanyaan itu," jawab Ki Tungkil yang masih saja terkekeh sambil menyembunyikan mulutnya karena terrutup telapak tangan.

"Hm.... Maaf, Ki Tungkil. Meskipun aku bukanlah seorang pendekar besar, tapi tidak bisa tertipu. Dan aku bisa melihat bahwa kau pastilah memiliki ilmu silat. Buktinya tubuhmu terlihat masih segar dan berisi. Dan juga sinar matamu terkadang mengeluarkan kilatan tajam. Itulah yang membuatku yakin kalau Ki Tungkil tentu bukan sekadar memiliki ilmu silat. Bahkan mungkin juga seorang pendekar yang berusaha menyembunyikan diri. Apakah kau juga ingin mencari Pendekar Naga Putih?" tanpa ragu-ragu lagi Ki Barak pun langsung menyudutkan Ki Tungkil.

Ki Tungkil tersentak juga mendengar uraian Ki Barak yang memiliki pandangan cukup tajam itu. Untuk beberapa saat lamanya, dia hanya terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggaruk rambutnya meskipun sama sekali tidak gatal.

"Teryata pandanganmu sangat tajam, Ki Barak. Tapi, memang. Sebenarnya aku tidak memiliki nama besar seperti yang kau duga itu. Aku memang pernah mempelajari ilmu silat, namun hanya untuk menjaga kesehatan tubuhku saja dan tidak ada maksud-maksud tertentu. Maaf kalau aku mengecewakanmu, Kisanak," kilah Ki Tungkil dengan wajah penuh sesal.

"Yah. Kalau memang begitu, sudahlah. Eh, masihkah Ki Tungkil menginginkan keterangan tentang Pendekar Naga Putih?" tanya Ki Barak mencoba menghilangkan suasana kaku di antara mereka. Tawa Ki Barak pun sudah terdengar kembali meskipun agak sedikit sumbang. Tapi jelas sekali kalau lelaki setengah baya itu berusaha menghilangkan kekakuan yang menyelimuti mereka.

“Tentu saja, kalau kau tidak merasa keberatan," sahut Ki Tungkil cepat sambil terkekeh nyaring.

"Sama sekali tidak, Ki. Justru aku minta maaf kalau keteranganku ini hanya serba sedikit. Kuakui, aku pun belum pernah berjumpa dengan pendekar muda yang kini tengah ramai dibicarakan orang rimba persilatan," ujar Ki Barak sebelum memulai ceritanya.

"Hm. Mengapa begitu? Apa yang telah. dilakukannya?" tanya Ki Tungkil seraya mengerutkan keningnya. Sepertinya kabar yang menggemparkan itu memang belum pernah didengarnya.

"Yah, karena pendekar muda yang selama ini dipuja tokoh golongan putih itu, telah berubah menjadi seorang penjahat yang sangat kejam! Kejahatan yang dilakukannya benar-benar telah melewati takaran! Makanya, ia kini dikenal sebagai seorang perampok, pembunuh, dan sekaligus pemerkosa. Kebanyakan dari gadis yang dinodainya karena terpikat oleh ketampanan Pendekar Naga Putih! Dan ia tidak segan-segan membunuh gadis itu setelah terlebih dahulu dinodainya. Memang ada beberapa di antaranya yang dilepaskan begitu saja. Tapi, apa bedanya hidup dan mati bagi seorang gadis yang telah kehilangan kehormatannya?" Ki Barak menghentikan ceritanya sejenak. Diteguknya sisa air di gelasnya yang terbuat dari potongan bambu itu.

********************

DELAPAN

Sesosok tubuh ramping melangkah tersuruk-suruk menyusuri jalan berbatu. Sesekali terdengar keluhan lirih disertai isak tangisnya yang memilukan. Wajah yang sebenarnya cantik jelita itu nampak kotor tak terurus. Sebentar-sebentar air matanya disusut dengan punggung tangan. Sepertinya dia tengah mengalami suatu penderitaan yang sangat berat, hingga tidak lagi mempedulikan keadaan dirinya.

Siapa lagi gadis cantik yang mengenakan pakaian serba hijau itu kalau bukan Kenanga. Pedang Sinar Rembulan masih tergenggam di tangannya. Pada ujung mata pedang itu masih terdapat darah yang telah mengering. Dan gadis itu sama sekali tidak berusaha membersihkan ujung pedangnya yang ternoda itu. Tampaknya hatinya merasa terpukul setelah membunuh Panji. Bahkan ia memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri pada waktu itu. Untunglah Raja Obat keburu datang mencegahnya. Kalau tidak, mungkin saat itu ia sudah menyusul kekasihnya.

"Oh, Kakang...," keluh gadis jelita itu dengan hati hancur. Kembali butiran air bening mengalir turun membasahi wajahnya yang tampak pucat dan agak kurus itu. Tubuhnya melangkah limbung begitu teringat akan Panji yang telah dibunuhnya. Meskipun Kenanga berusaha mengeraskan hatinya, namun tetap saja tidak mampu menghibur hatinya yang terguncang. Gadis jelita itu terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Sepertinya dia sudah tidak mempunyai tujuan lagi, dan hanya membiarkan langkah kaki yang akan membawa tubuhnya.

"Oh...?!" Kenanga menahan jeritan dengan menutupkan telapak tangan ke mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat ketika melihat sosok tubuh terpampang di depannya. Sepasang matanya yang semula sayu tak bergairah, tiba-tiba terbelalak bagai orang melihat hantu di siang bolong!

"Oh, tidaaak..!" Gadis jelita itu mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah-olah ingin mengusir bayangan yang dianggapnya semu itu. Kepalanya menggeleng-geleng diiringi keluhan menyayat. Tubuhnya bergerak mundur terhuyung-huyung. Sepertinya, penderitaan tak kunjung lenyap dari kehidupannya.

"Kenanga...." Sosok tubuh berjubah putih yang membuat gadis itu terbelalak menyapa dengan suara lembut dan bergetar. Rupanya dialah yang telah kembali mengguncangkan hati Kenanga. Akibatnya, wajahnya sampai berkerut-kerut menahankan perasaan hati yang teraduk-aduk.

"Tidak mungkin...! Kau..., kau sudah mati..!" Akhirnya suara itu meluncur juga dari bibir mungil yang pucat itu. Jari-jari gadis itu gemetar ketika mengarahkan telunjuknya ke wajah sosok berjubah putih yang tak lain adalah Panji.

"Mengapa, Kenanga...?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu agak heran melihat sikap Kenanga. "Mengapa kau bilang aku sudah mati?"

"Bukankah kau.... Kau telah kubunuh di dalam hutan beberapa hari yang lalu? Jadi... jadi tidak mungkin kalau hidup lagi. Tidak mungkin!" Kenanga berteriak keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu.

Pendekar Naga Putih tampak tertegun sesaat ketika mendengar ucapan gadis jelita itu Tapi sesaat kemudian, senyumnya pun kembali menghiasi wajahnya yang tampan itu. "Hm.... Jadi kau telah berhasil membunuh manusia keparat yang telah mencemari namaku, Kenanga? Bagaimana kau bisa menemukan manusia iblis itu? Apakah ia benar-benar sudah tewas?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Pendekar Naga Putih. Wajah tampan itu mendadak berseri gembira. Langsung kakinya melangkah menghampiri gadis jelita itu

"Membunuhnya...? Apa... apa maksudmu, Kakang?" tanya Kenanga yang menjadi terkejut ketika mendengar kata-kata pemuda tampan berjubah putih itu.

"Ya. Orang yang telah kau bunuh itu adalah Pendekar Naga Putih palsu yang telah melakukan perbuatan- perbuatan keji. Selamat, Kenanga," sahut Panji semakin mendekati Kenanga sambil mengulurkan tangannya.

"Pendekar Naga Putih palsu? Benarkah itu? Tapi, mengapa demikian mirip? Tidak! Tidak mungkin!" desah Kenanga seperti berkata kepada dirinya sendiri.

Sejenak kemudian, Kenanga memijat-mijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Rasanya pusing sekali memikirkan hal yang sepertinya tidak masuk akal itu. Apalagi saat ini kondisinya memang sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk berpikir keras.

"Mengapa tidak mungkin, Kenanga. Aku sudah pernah berjumpa sekali dengannya. Tapi sayang, ia berhasil meloloskan diri. Selain ilmu silatnya tinggi, ternyata manusia keparat itu pun memiliki ilmu sihir yang hebat! Dan dengan mengandalkan kehebatan ilmu sihirnya, tokoh-tokoh persilatan berhasil dikelabuinya. Dan kini, akulah yang terkena getahnya. Kau mengerti, Kenanga?" jelas Panji secara panjang lebar kepada Kenanga. Sementara langkahnya semakin mendekati Kenanga.

"Jadi... jadi..., ohhh!" Kenanga tak mampu menruskan kata-katanya. Rupanya karena kelelahan yang amat sangat, gadis itu jadi tidak kuat hatinya menghadapi pertemuan yang mengejutkan. Tubuh Kenanga yang kini tampak kurus itu melorot jatuh di atas tanah berbatu. Pingsan!

"Kenanga...!" Panji segera melompat hendak menangkap tubuh gadis itu agar tidak terjatuh di atas tanah berbatu. Belum lagi tubuh Pendekar Naga Putih sampai ke tempat Kenanga, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat. Maka Pendekar Naga Putih cepat-cepat menarik pulang tangannya.

"Jangan sentuh gadis itu...!" bentak bayangan itu, langsung mendorongkan telapak tangannya ke dada Pendekar Naga Putih.

Bergegas Pendekar Naga Putih melempar tubuhnya ke belakang dan berjumpalitan beberapa kali di udara. Maka telapak tangan bayangan itu hanya lewat di depannya, sehingga menimbulkan angin mencicit tajam.

"Siapa kau! Mengapa mencampuri. urusanku!" bentak Pendekar Naga Putih geram. Seluruh wajahnya tampak memerah karena menahan kemarahan yang meluap.

"Hm! Apakah kau sudah pikun, Pendekar Naga Putih? Bukankah kita pernah bertemu beberapa waktu yang lalu? Dan aku juga telah berjanji akan mengejarmu walau sampai ke ujung langit sekalipun!" tegas si kakek yang mengenakan pakaian serba putih itu seraya tersenyum lembut. Ia tak lain adalah Eyang Sancaka, Ketua Perguruan Garuda Putih. Dan memang pernah bertempur dengan Panji. Waktu itu, Eyang Sancaka ditemani dua orang muridnya yang juga ikut mengeroyok Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Jangan berpura-pura bodoh, Pendekar Murtad!" bentak salah seorang dari murid Perguruan Garuda Putih yang juga telah berada di tempat itu.

"Dan hari ini kau tidak mungkin akan lolos lagi, Manusia Bejat!" timpal salah seorang murid utama kakek berpakaian putih yang bernama Banawa.

"He he he...! Jangan takut, Pendekar Naga Putih. Kami datang membantu!" terdengar tawa terkekeh sember yang cukup mengejutkan. Belum lagi gema suara itu lenyap, tahu-tahu sesosok tubuh jangkung telah berdiri di tempat itu. Ternyata dia adalah Setan Langit

"Ha ha ha...! Aku pun ikut, Kakang...!" kembali terdengar suara tawa yang menyakitkan anak telinga. Suara tawa itu tadi dibarengi pula dengan menggelindingnya sebuah benda bulat yang mirip bola. Dia lebih dikenal dengan julukan Setan Bumi.

Tujuh orang tokoh Perguruan Garuda Putih yang berdiri dekat dengan benda yang menggelinding itu cepat berloncatan menghindar. Wajah mereka nampak terkejut melihatnya. Belum lagi rasa kaget mereka hilang, tiba-tiba benda itu melambung setinggi satu tombak.

"Ha ha ha...!"

Kembali tokoh Perguruan Garuda Putih itu berlompatan sambil mencabut senjata masing-masing. Rasanya jantung mereka hampir copot ketika tahu-tahu saja sesosok tubuh gemuk pendek mengejutkan mereka dengan suara melengking

"Kaget, ya?" ledek sosok tubuh yang berwajah bulat seperti wajah kanak-kanak itu.

"Setan Langit dan Setan Bumi...!" seru Eyang Sancaka yang mengenakan pakaian serba putih, terkejut. Dari nada suara laki-laki tua itu jelas sekali kalau dia merasa khawatir dengan kehadiran kedua orang aneh yang sakti itu.

"Hm.... Pantas saja kau begitu tega menyebar maut, Pendekar Naga Putih? Kiranya kau berteman dengan dua setan tak tahu adat itu!" kata Eyang Sancaka lagi. Nada suaranya terdengar sinis.

"He he he.... Bagus kau masih mengenaliku, Sancaka. Tanganku jadi semakin gatal saja melihat keberadaanmu di tempat ini!" kata Setan Langit yang bertubuh tinggi kurus.

Bahkan Eyang Sancaka sampai mendongakkan kepalanya ketika memandang wajah Setan Langit yang satu setengah kali lebih tinggi darinya itu. Wajah Eyang Sancaka tampak cemas dengan adanya kedua orang itu. Karena, ia tahu betul akan kehebatan kedua orang manusia telengas itu. Dan di antara para tokoh yang terdapat di situ, hanya dialah yang mampu mengimbangi kesaktian kedua orang itu. Tentu saja hal ini membuatnya khawatir!

"He he he.... Pendekar Naga Putih palsu, si manusia bejat! Hari ini Malaikat Maut akan menjemputmu!"

Tiba-tiba terdengar suara menggema yang memenuhi sekitar tempat itu. Dan sebelum suara itu lenyap, terlihat seorang kakek kakek bertubuh sedang, berlari menuju ke tempat para tokoh rimba persilatan itu. Di belakangnya tampak Ki Barak dan dua orang kawannya. Siapa lagi kakek itu kalau bukan Ki Tungkil.

"Pendekar Naga Putih palsu...?" Suara merdu yang parau itu keluar dari mulut Kenanga yang rupanya sudah mulai tersadar dari pingsannya. Dan gadis jelita itu kembali mengernyitkan kening, karena nama Pendekar Naga Putih palsu kembali terdengar disebut-sebut untuk yang kedua kalinya.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu, Kakek Tua?" tanya salah seorang murid Perguruan Garuda Putih yang menjadi terkejut mendengarnya.

"Hm.... Dapatkah kau membuktikannya, Kisanak?" tanya Ketua Perguruan Garuda Putih yang juga tidak kalah heran.

"Hm..., Nisanak! Tahukah kau, senjata apa yang dimiliki Pendekar Naga Putih yang asli? Dan apakah senjata itu ada pada orang yang mengaku sebagai Pendekar Naga Putih?" tanya Ki Tungkil kepada Kenanga sambil menunjuk ke arah pemuda tampan berjubah putih itu.

"Oh! Mengapa aku baru teringat sekarang!" keluh Kenanga pelan. "Ya, aku ingat sekarang! Kakang Panji, tunjukkan senjatamu kepadaku?"

Pemuda tampan berjubah putih itu menjadi terkejut. Jelas sekali kalau ia agak bingung mendengar permintaan gadis itu. Dengan gerakan ragu-ragu, akhirnya pemuda itu pun mengeluarkan pedangnya yang tergantung dipinggang. "Hm.... Inilah senjataku, Kenanga!" sahut Pendekar Naga Putih sambil berusaha menenangkan perasaannya yang berdebar tegang.

"Kau... kau bukan Kakang Panji! Ohhh...!" Gadis jelita itu menjerit tatkala mengingat perbuatannya yang telah membunuh Pendekar Naga Putih asli di sebuah hutan pada beberapa hari yang lalu.

"He he he.... Kau salah, Manusia Keji. Inilah senjata Pendekar Naga Putih kalau kau ingin tahu!" seru Ki Tungkil.

Laki-laki tua itu kemudian mengeluarkan sebatang pedang yang tergantung di punggungnya. Selama ini, rupanya kakek itu menyembunyikannya di balik jubah, sehingga tidak begitu terlihat orang lain.

"Pedang Naga Langit...!"

Seruan kaget dan kagum itu keluar dari mulut tokoh-tokoh tua seperti Eyang Sancaka, Setan Langit, dan Setan Bumi. Karena hanya merekalah yang pernah mendengar riwayat dan keberadaan pedang mukjizat itu.

"Aku menemukan senjata ini di sebuah hutan lebat di samping mayat pendekar muda itu," lanjut kakek itu menerangkan.

SEMBILAN

"Ohhh...!" Kenanga kembali mengeluh ketika mendengar ucapan terakhir kakek itu. Gadis itu benar-benar merasa berdosa kepada kekasihnya.

"Keparat kau, Manusia Keji! Terimalah balasanku!" bentak gadis jelita itu yang segera memutar pedangnya kuat-kuat

"Nisanak, tahan! Biar aku yang menghadapinya!" cegah Ki Tungkil yang segera melompat ke arah pemuda berjubah putih itu. Sepasang mata kakek itu mencorong tajam menggiriskan.

"Ha ha ha.... Jangan kalian kira akan begitu mudah menangkapku! Nah! Kalian bisa lihat baik-baik! Seekor naga berkepala tiga akan segera menelan kalian semua hidup-hidup!" ancam pemuda berjubah putih itu. Suaranya terdengar demikian keras dan menggetarkan hati para tokoh persilatan yang berada di tempat itu.

"Ahk...!"

Ki Tungkil, Kenanga, Eyang Sancaka dan para tokoh persilatan lainnya berteriak kaget dengan mata membelalak: Tanpa sadar kaki mereka bergerak mundur ketika menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal.

"Ilmu iblis...!"

"Ilmu sihir...!"

Terdengar teriakan-teriakan parau dan bergetar. Dan memang, apa yang diucapkan pemuda tampan itu benar- benar menjadi kenyataan! Segumpal asap hitam bergulung-gulung keluar dari tangan pemuda itu, kemudian membentuk seekor naga berkepala tiga!

"Graaaurrr...!" Naga berkepala tiga itu meraung keras sambil bergerak siap menelan tubuh mereka hidup-hidup!

"Huh! Jangan kira aku takut dengan pertunjukan murahan itu, Pemuda Biadab! Lihatlah!" Setelah berkata demikian, Ki Tungkil segera mencabut keluar pedang dari sarungnya.

Sringngng!

Sinar kuning keemasan berpendar dari badan Pedang Naga Langit yang telah keluar dari sarungnya.

"Heaaat..!" Ki Tungkil segera melompat sambil menyabetkan pedangnya ke arah naga berkepala tiga. Sinar keemasan itu terlihat semakin melebar ketika pedang itu digerakkan.

Wusss...! Blarrr!

Terdengar ledakan keras yang mengguncangkan tanah di sekitar tempat itu! Naga berkepala tiga ciptaan Pendekar Naga Putih palsu itu langsung lenyap begitu sinar kuning keemasan yang memancar dari Pedang Naga Langit membabat kepalanya.

"Aaahk...!" Bersamaan dengan ledakan dan lenyapnya wujud naga itu, terdengar jerit kesakitan yang keluar dari mulut Pendekar Naga Putih palsu. Tubuhnya terjajar mundur ke belakang. Memang, dengan lenyapnya ilmu sihir ciptaannya itu, maka tenaga sihirnya dengan sendirinya membalik dan memukul tubuhnya.

"Bangsat kau, Kakek Tua! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Pendekar Naga Putih palsu sambil bergerak bangkit karena tadi dia sempat terjatuh. Di sudut bibirnya tampak cairan merah menetes. Sepertinya pemuda itu mengalami luka dalam akibat ilmu sihirnya telah dipatahkan kakek itu.

"He he he.... Ilmu sihirmu memang dapat kau pergunakan untuk mengelabui orang lain. Tapi tidak berlaku untukku. Dan aku pun akan mengembalikan ke ujud asalmu yang kini masih menyamar sebagai Pendekar Naga Putih!" ancam Ki Tungkil yang sudah bersiap melancarkan serangan berikut.

"Bedebah! Kubunuh kau, Kakek Peot!" teriak pemuda tampan itu Setelah berteriak keras, tubuh pemuda itu pun melompat disertai sabetan pedangnya. Rupanya ia sudah tidak berniat lagi menggunakan ilmu sihirnya, karena hal itu akan percuma saja. Sebab, kakek itu pasti akan memunahkannya dengan menggunakan pedang mukjizat yang tergenggam di tangannya itu. Satu-satunya jalan ialah pedang itu harus dapat direbut dari tangan si kakek.

"Heaaat...!" Ki Tungkil berseru nyaring. Tubuhnya melesat menyambut serangan pemuda itu. Sesaat kemudian, keduanya sudah bertarung sengit. Dua gulungan sinar putih dan kuning saling libat dan saling mengalahkan! Sedangkan tubuh kedua orang yang tengah bertarung itu sudah tidak tampak lagi. Yang terlihat kini hanya bayangan samar berkelebatan saling desak!

Jurus demi jurus terus berlalu. Kedua orang itu berusaha keras untuk segera menjatuhkan satu sama lain secepatnya. Ilmu-ilmu andalan masing- masing telah keluar untuk mencapai kemenangan. Namun sampai sedemikian jauh, keduanya tampak masih tetap seimbang.

Sementara itu, pertarungan yang lain pun sudah pula berlangsung. Eyang Sancaka berhadapan dengan Setan Langit. Nampaknya kakek itu menemukan lawan yang seimbang. Buktinya, keduanya terlihat sama-sama gesit. Dan pukulan-pukulan mereka juga sama-sama menimbulkan deruan angin tajam. Dan memang pertarungan dua orang tokoh yang berbeda golongan itu tidak kalah serunya dibanding pertarungan Ki Tungkil dengan Pendekar Naga Putih palsu.

Sedangkan Setan Bumi dikeroyok Kenanga, Ki Barak, Banawa dan Panjala, sehingga menjadi kewalahan juga. Apalagi keempat orang pengeroyok itu bukanlah tokoh sembarangan. Terutama gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Serangan-serangannya demikian ganas dan menggiriskan. Mau tak mau Setan Bumi terpaksa harus memusatkan perhatiannya kepada gadis itu.

Di tempat lain, pertarungan yang berlangsung antara Ki Tungkil dan Pendekar Naga Putih palsu terlihat semakin seru dan menegangkan. Rupanya ilmu pedang yang dimiliki kakek itu memang benar-benar hebat. Sehingga semakin lama sinar putih itu pun semakin mengecil lingkarannya.

"Heaaat..!" Diiringi sebuah teriakan nyaring, Ki Tungkil menyabetkan pedangnya secara mendatar, mengarah ke pinggang lawan. Sinar kuning keemasan berkeredep disertai sambaran angin yang menggemuruh.

Wuttt! Trangngng!

"Uhhh...!" Pemuda ahli sihir itu bergegas menggerakkan pedangnya menangkis serangan. Maka seketika terdengar benturan yang memekakkan telinga. Tubuh Pendekar Naga Putih palsu terjajar mundur diiringi keluhan kesakitan. Pemuda tampan berjubah putih itu berdiri limbung sambil menyeringai menahan sakit pada lengannya yang digunakan untuk menangkis tadi. Jelas sekali hatinya merasa terkejut ketika mendapat kenyataan kalau tenaga dalam kakek itu ternyata masih berada di atasnya.

"Yeaaat..!" Ketika melihat lawannya termangu dengan seringai kesakitan, Ki Tungkil tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bergegas dia melompat dengan kecepatan kilat Sepertinya kakek itu sudah tidak sabar untuk segera menghabisi riwayat pemuda itu.

Wukkk! Wukkk..!

Pendekar Naga Putih palsu buru-buru melempar tubuhnya ke belakang beberapa tombak, maka dua buah serangan kakek itu mengenai angin kosong. Begitu kakinya menjejak bumi, tubuh pemuda itu melambung ke arah Ki Tungkil disertai bacokan dari atas ke bawah.

Kakek tua yang kelihatan penyakitan itu ternyata memiliki kegesitan hebat! Begitu serangan lawan tiba, segera kaki kanannya digeser ke depan dengan kuda-kuda rendah. Sesaat setelah serangan lawan lolos, Ki Tungkil menusukkan pedangnya ke lambung lawan yang terbuka. Namun Pendekar Naga Putih palsu cepat memiringkan tubuhnya sambil melontarkan sebuah tendangan ke kepala.

Bret! Desss!

"Aaah...!"

"Uuuh...!"

Keduanya terjajar mundur disertai jeritan masing-masing. Pakaian yang dikenakan pemuda itu robek. Ternyata mata pedang kakek itu sempat melukai kulit perutnya. Untung tubuhnya sempat dimiringkan. Kalau tidak, mungkin lambungnya bolong akibat tusukan pedang kakek itu.

Sedangkan kakek itu pun terlihat meringis sambil mengusap bahunya yang terkena tendangan lawan. Ki Tungkil rupanya salah tafsir. Semula disangka tendangan itu mengarah perutnya. Maka ia pun mengegos sambil menarik kaki kanan sehingga kuda-kudanya agak naik. Dan ketika tendangan itu terus melayang ke atas, terpaksa bahunya dibiarkan jadi sasaran lawan. Dan tentu saja bahunya telah terlindungi oleh tenaga dalam.

"Keparat! Kau harus membayar mahal akibat perbuatanmu ini, Kakek Peot!" teriak pemuda itu marah. Setelah berkata demikian, pedangnya segera dilintangkan, siap melancarkan serangan!

"He he he.... Lihatlah, Kawan-kawan! Apakah manusia biadab ini benar-benar Pendekar Naga Putih?" Ki Tungkil bertanya kepada para tokoh persilatan yang tengah menyaksikan pertarungan itu.

"Hei! Dia ternyata Pendekar Naga Putih palsu!" seru salah seorang tokoh.

Tentu saja semua orang yang ada di situ menjadi terkejut melihat wajah pemuda itu telah berubah. Hal itu disebabkan, tubuhnya telah tersentuh Pedang Naga Langit yang memang dapat melenyapkan pengaruh ilmu sihir.

"Ya! Dia bukan Pendekar Naga Putih!" seru yang lainnya, heran.

Sedangkan pemuda berjubah putih itu nampak kebingungan, karena ia sendiri tidak dapat melihat bagaimana rupa wajahnya sekarang. Padahal wajahnya kini memang benar-benar telah berubah menjadi dirinya sendiri.

Ki Tungkil menatap tajam wajah pemuda yang juga tampan dan bersih itu. Sebaris kumis tipis tampak menghias wajahnya. Dan di kedua sisi wajahnya tampak tumbuh bulu-bulu halus yang menyerupai cambang. Rupanya seperti itulah wajah asli pemuda tukang sihir itu sebenarnya.

"Kini terimalah kematianmu, Keparat" Sambil berkata demikian, tubuh kakek itu meluncur disertai sambaran pedang yang mengaung memekakkan telinga.

Pemuda tukang sihir yang semula menyamar sebagai Pendekar Naga Putih itu terperanjat ketika melihat sinar kuning berpendar menyilaukan mata. Tanpa sadar telapak tangannya bergerak melindungi matanya dari sinar kuning menyilaukan yang berbentuk bulat itu. Maka....

Wukkk! Crasss!

"Aaargh...!" Pemuda itu menjerit setinggi langit ketika ujung pedang di tangan lawannya telah membeset perutnya. Darah segar langsung menyemprot dari goresan luka yang dalam dan memanjang itu. Tubuh pemuda itu terhuyung mundur disertai darah yang berceceran. Beberapa saat kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah dan tak mampu bangkit lagi.

"Ough.... Bunuhlah aku, Kakek Peot!" ratap pemuda yang rupanya belum tewas itu. Tubuhnya bergetar dan berkelojotan menahan rasa sakit yang diderita.

"Hm.... Aku tidak akan membunuhmu, Iblis Keji! Karena tanpa kubunuh pun kau akan mati! Sekarang jawab pertanyaanku! Siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu mencemarkan nama Pendekar Naga Putih?" ujar kakek itu sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat. la hanya berdiri menatap wajah pemuda yang tak berdaya itu.

"Baiklah. Aku akan menjelaskannya agar kau tidak menjadi penasaran, Kakek Peot," sahut pemuda itu terengah-engah. "Ketahuilah. Aku berjuluk Raja Sihir dari Barat. Dan cita-citaku adalah menguasai dunia persilatan. Namun rupanya Pendekar Naga Putih adalah satu-satunya penghalang berat yang harus segera kusingkirkan. Karena tidak mungkin dapat mengalahkannya, maka aku menyamar sebagai dirinya untuk melakukan kejahatan. Nah! Dengan demikian, aku dapat menghancurkan Pendekar Naga Putih dan juga tokoh-tokoh golongan putih lainnya. Apakah kau puas, Kakek Peot?" tanya pemuda yang ternyata berjuluk Raja Sihir dari Barat itu dengan napas yang semakin memburu.

Ki Tungkil sama sekali tidak menjawab. Tanpa mempedulikan lawannya yang sudah tak berdaya itu, kakinya melangkah meninggalkan tubuh lawan yang tak mampu bangkit lagi.

Sedangkan di arena lain, tampak pertarungan yang berlangsung antara Eyang Sancaka dan Setan Langit sudah mencapai puncaknya! Tubuh keduanya saat itu tengah melambung ke udara sambil mendorongkan telapak tangan masing-masing.

Blarrr!

"Aaahk...!"

Udara di sekitar arena pertarungan bergetar ketika dua gelombang tenaga sakti yang sama kuat saling berbenturan di udara. Tubuh keduanya terlempar balik diiringi jerit kesakitan.

"Kkk.. kau... hebattth Sancaka...!" puji Setan Langit yang berdiri limbung. Rupanya tokoh sesat itu tidak sampai terbanting jatuh di tanah, ketika kedua kakinya mendarat di tanah. Darah segar tampak mengalir dari mulutnya.

"Hkkk..., kau pun hebat, Setan Langit...!" Eyang Sancaka pun memuji kehebatan lawannya. Kakek itu berdiri tegak sambil menekap dadanya. Sedangkan dari mulutnya, juga mengalir tetesan darah segar. Seperti halnya Setan Langit, kakek itu. Juga melayang turun dengan kedua kaki lebih dulu.

Sementara itu Setan Bumi yang sekujur tubuhnya telah dipenuhi goresan-goresan luka, bergegas melesat meninggalkan lawan-lawannya begitu melihat saudaranya terluka.

"Kakang.... Kau tidak apa- apa...?" tanya Setan Bumi sambil memapah tubuh Setan Langit yang masih limbung itu.

Kenanga dan tiga orang lainnya bergegas memburu Setan Bumi yang tengah memapah saudaranya itu. Rupanya mereka masih penasaran karena belum dapat membunuh lawan.

"Biarkan mereka...!" tiba-tiba Ki Tungkil berseru menahan gerakan keempat orang itu.

"Mengapa mereka dilepaskan, Ki?" tanya Ki Barak heran melihat sikap Ki Tungkil yang melepaskan kedua tokoh sesat itu begitu saja.

"Biarkanlah. Mudah-mudahan saja dengan begitu mereka akan menyadari kesalahannya. Karena orang yang menjadi biang keladi dari semua ini adalah pemuda itu," sahut Ki Tungkil sambil menunjuk sosok tubuh yang tengah tak berdaya.

Para tokoh persilatanitu bergerak menghampiri sosok tubuh yang berlumuran darah. Banawa dan Panjala berpaling sejenak ke arah gurunya yang saat itu tengah bersemadi.

"Keparat kau, Manusia Iblis! Kau telah menghancurkan hidupku!" sambil terisak, Kenanga mengayunkan senjatanya ke leher pemuda yang telah menyebabkan kesengsaraan pada dirinya itu.

"Kenanga, tahan...!" cegah Ki Tungkil ketika melihat apa yang dilakukan gadis itu. Namun, terlambat!

Ternyata pedang gadis itu telah menebas putus leher pemuda yang tengah meregang nyawa. Kenanga memalingkan wajahnya ke arah Ki Tungkil. Ternyata pada saat berteriak tadi, suara kakek itu terdengar lain dari biasanya. Dan suara itu sangat dikenalnya. Sedangkan Ki Tungkil yang tanpa sadar telah mengeluarkan suara aslinya, hanya tersenyum melihat gadis jelita itu menatapnya lekat-lekat.

"Kau.... Siapa kau sebenarnya, Ki?" tanya gadis jelita itu dengan suara bergetar karena ketegangan yang amat sangat.

"Eh! Apakah kau suka kepadaku, Nisanak? Mengapa kau memandangiku seperti itu?" ledek Ki Tungkil yang tidak lagi menyembunyikan suaranya.

"Kau... kau...!"

"Ah, sudahlah. Lebih baik aku pergi sekarang!" desah Ki Tungkil lagi sambil berpamitan kepada para tokoh persilatan yang berada di tempat itu. "Mari, Kenanga...."

"Kakang..., kaukah itu?" desah Kenanga dengan wajah yang mulai basah oleh air mata.

Ki Tungkil sama sekali tidak mempedulikan gadis itu, dan terus saja melangkah meninggalkan tempat itu. Langkahnya kini nampak berbeda dengan yang sebelumnya. Beberapa tombak kemudian, kakek itu menghentikan langkahnya dan melambaikan tangan kepada Kenanga.

Gadis jelita itu semakin tertegun melihat cara berjalan kakek itu. Wajahnya semakin pucat karena ketegangan. Air mata semakin banyak menuruni pipinya yang halus itu. "Kakaaang...!"

Tanpa ragu-ragu lagi, Kenanga segera berlari memburu Ki Tungkil yang saat itu masih berdiri sambil melambaikan tangan. Kedua tangan kakek itu mengembang ketika Kenanga berlari menghampirinya. Begitu tiba, Kenanga langsung memeluk tubuh kakek itu erat-erat. Nalurinya begitu yakin kalau kakek itu adalah Panji atau Pendekar Naga Putih yang semula dikira telah tewas ditangannya. Kakek itu memeluk tubuh Kenanga dengan penuh kasih. Dibelainya rambut kepala gadis itu lembut, membuat Kenanga semakin sesenggukan tangisnya.

"Ah! Tidak malukah kau berpelukan dengan seorang kakek-kakek semesra ini, Bidadariku?" goda kakek itu sambil tersenyum.

"Kakang. Mengapa kau masih ingin menyiksa perasaanku? Tidak tahukah kau akan penderitaan yang kualami?" isak Kenanga sambil mengangkat kepalanya menatap wajah Ki Tungkil. Tiba-tiba tangan kanannya terulur mencabut kumis dan jenggot putih yang ternyata palsu.

"Ah, Kenanga. Apakah kau kira aku bahagia selama ini?" tanya kakek itu yang ternyata adalah Pendekar Naga Putih asli.

Pemuda itu sama sekali tidak berusaha mengelak ketika Kenanga mencabut kumis dan jenggot palsunya. Malah dibantunya dengan menggosok kedua telapak tangan ke wajahnya. Sehingga, keriput yang menghiasi wajahnya pun lenyap. Dan Ki Tungkil kini telah berubah menjadi Pendekar Naga Putih.

Tanpa malu-malu lagi, Kenanga segera menciumi wajah kekasihnya penuh kerinduan. Beberapa saat kemudian, Panji menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu. Lalu, dihapusnya air mata yang masih membasahi wajah kekasihnya.

"Hm.... Kau nampak kurus, Kenanga? Kau menyiksa dirimu sendiri," gumam Panji ketika menyadari kalau wajah gadis jelita itu agak kurus.

"Ampuni dosaku, Kakang... Aku mengaku salah," ucap gadis itu setelah mereka sama-sama melepaskan rangkulannya.

"Sudahlah. Jadikanlah semua itu pelajaran. Aku yakin setelah kejadian ini, pikiranmu akan lebih dewasa. Dan kau tidak akan memutuskan segala persoalan tanpa penyelidikan lebih dahulu. Janji?"

"Aku berjanji, Kakang. Dana ku pun menyadari kekeliruanku setelah aku merasa kau telah tiada. Tapi, bagaimana kau bisa selamat dan menyamar sebagai kakek-kakek jelek itu?" tanya Kenanga. Gadis ini sengaja mengatakan kakek-kakek jelek untuk menggoda Panji.

"Biar jelek tapi kau suka kan?"

"Ih, tidak sudil" sahut Kenanga mencibir.

"Buktinya kau tidak malu memeluk kakek-kakek jelek tadi. Apakah itu bukan pertanda suka?" goda Panji lagi.

"Ah, sudahlah. Aku pergi saja kalau Kakang tidak sudi menjawab pertanyaanku tadi!" desah Kenanga, merajuk.

"Ayolah. Nanti aku ceritakan sambil jalan," sahut Panji.

Lalu Pendekar Naga Putih melangkah sambil memeluk tubuh kekasihnya. Kenanga pun melingkarkan lengannya dipinggang pemuda pujaannya. Sambi melangkah meninggalkan tempat itu, Panji segera menceritakan semuanya. Waktu itu dirinya telah diselamatkan Raja Obat, dan diberikan nasihat agar batinnya tidak terpukul atas kejadian itu. Sedangkan Kenanga mendengarkan penuturan kekasihnya itu penuh perhatian.

"Jadi yang mendandani Kakang menyamar sebagai kakek-kakek itu Raja Obat?" tanya Kenanga begitu Panji telah menyelesaikan ceritanya.

"Benar. Sungguh besar sekali budi Raja Obat kepadaku. Dia ternyata mempercayaiku. Sebab menurutnya, tidak mungkin kalau aku melakukan perbuatan keji itu. Dan sebelum pergi, dia berpesan agar aku menggunakan Pedang Naga Langit untuk menghadapi ilmu sihir. Karena salah satu keistimewaan pedang itu adalah sebagai penangkal ilmu sihir."

"Lalu di manakah sekarang Raja Obat berada, Kakang?" tanya Kenanga lagi.

"Entahlah. Dia pergi begitu saja, tanpa memberi tahu ke mana tujuannya," sahut Panji sambil melepaskan pandangan ke arah cakrawala biru.

Keduanya kembali membisu. Hanya wajah mereka sajalah yang menampakkan kebahagiaan, karena ternyata dapat bersatu kembali.

"Oh ya, Kakang. Dari mana Pendekar Naga Putih palsu tahu kalau aku kekasihmu?" tanya Kenanga yang masih bingung karena Pendekar Naga Putih palsu seakan-akan mengenai betul dirinya.

"Orang yang menyamar, biasanya akan berusaha sesempurna mungkin meniru orang yang disamarinya. Bahkan sampai meniru kehidupannya."

"Maksudmu?"

"Ya, tentu saja dia berusaha mencari keterangan tentang kehidupanku. Sampai tentang, siapa kekasihku!" jelas Panji.

Kenanga mengangguk-anggukkan kepalanya mulai mengerti. Kini sepasang pendekar muda itu melanjutkan pengembaraan kembali. Begitulah sikap seorang pendekar sejati yang selalu siap membela orang-orang lemah.

S E L E S A I

Pendekar Murtad

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Pendekar Murtad
Karya T. Hidayat
Cetakan Pertama Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih

SATU

"Tolooong...! Lepaskan aku! Binatang kau!" Gadis yang berada dipondongan lelaki tinggi kurus itu berteriak-teriak. Sepasang tangannya yang berjari mungil tak henti hentinya memukuli punggung orang itu. Dia terus meronta sambil berteriak-teriak

"He he he...! Biarpun berteriak-teriak sampai suaramu habis, tak akan ada orang yang menolongmu. Hutan ini sangat lebat dan tidak ada seorang pun yang berani mendatanginya," kata lebki tinggi kurus itu sambil terkekeh parau. Setelah berkata demikian, dielusnya pinggul ramping gadis itu.

"Benar, Manis. Untuk apa membuang-buang tenaga percuma. Lebih baik simpan tenagamu untuk melayani kami nanti. Tak usah takut. Kami tidak akan melukaimu. Hanya.... He he he!" orang yang berlari di samping si tinggi kurus ikut membujuk. Suaranya terdengar melengking bagaikan suara wanita. Orang yang satu itu penampilannya sangat jauh berbeda dengan kawannya. Tubuhnya pendek dan gemuk sehingga terlihat bulat. Dan pada saat tengah berlari seperti itu, tak ubahnya sebuah bola yang menggelinding.

Dua orang laki-laki yang jauh berbeda bagai langit dan bumi itu tems berlari menerobos semak belukar. Sepertinya mereka sama sekali tidak merasa khawatir kalau-kalau akan bertemu binatang buas. Tidak berapa lama kemudian, kedua orang itu menghentikan larinya. Di hadapan mereka tampak membentang lapangan berumput hijau yang cukup luas. Sementara itu, gadis yang berada dalam pondongan si kurus, tampaknya sudah tak kuasa lagi untuk meronta-ronta. Sepertinya dia sudah pasrah.

Laki laki tinggi kurus itu melangkahkan kakinya menuju sebatang pohon besar yang berdaun lebat. Bergegas diturunkan tubuh molek yang berada dalam pondongannya itu, lalu direbahkan di atas rerumputan tebal laksana permadani. Sedangkan tubuhnya sendiri dijatuhkan di samping gadis itu, sambil tetap memeluk.

Gadis manis berwajah bulat telur itu hanya menangis sambil menutupi wajahnya. Menilik pakaian yang dikenakan, pastilah gadis itu putri seorang yang cukup berada. Karena pakaiannya terbuat dari bahan sutra halus, bersulamkan benang emas. Dengan warna kuning gading, serasi benar dengan kulit tubuhnya yang putih mulus. Tampak gadis itu hanya meringkuk dengan wajah bersimbah air mata.

"Kasihanlah aku, Tuan. Kembalikanlah aku kepada ayahku," ratap gadis manis itu, diantara isak tangisnya yang menyayat.

"He he he...!Berhentilah menangis, Bidadariku. Beristirahatlah agar tenagamu tetap kuat untuk melayani kami berdua," ujar si tinggi kurus yang berwajah mirip tengkorak. Tulang-tulang wajahnya tampak menonjol, seolah-olah hanya merupakan tulang yang terbungkus kulit. Kembali dielus-elusnya pinggul gadis yang padat berisi itu. Dan gadis itu hanya bisa menatap.

"He he he...! Kita harus mengundinya, Kakang. Siapa yang berhak mencicipi tubuh molek ini terlebih dahulu," usul si pendek gemuk, seraya tertawa. Sepasang matanya yang sipit menjalari sekujur tubuh ramping mengundang gairah. Karena meskipun gadis itu mengenakan pakaian, jelas sekali lekuk tubuhnya begitu indah.

"Huh! Enak saja kau bicara! Tentu saja aku dulu yang harus mencicipinya. Pertama aku telah susah payah memondongnya hingga sampai ke tempat ini. Kedua, aku adalah kakakmu. Dan tentu saja harus didahulukan. Jadi sudah sepantasnya kalau kau mendapat bagian paling belakang. Bukankah itu sudah adil?" sentak si tinggi kurus mengajukan alasan. Sementara tangannya masih saja sibuk mengelus tubuh si gadis.

"Wah! Kau memang selalu ingin menang sendiri, Kakang. Setiap kita mendapat sesuatu, selalu kau ajukan alasan yang sama. Lalu, kapan aku akan mendapat bagian pertama?" sergah si gemuk dengan wajah menyeringai sedih. Mulutnya tampak cemberut mendengar alasan kakaknya.

"Ah, sudahlah. Mengapa masalah sepele ini harus dipersoalkan. Lebih baik lihat, bagaimana aku menundukkan bidadari liar ini. Apakah kau tidak ingin menyaksikannya?"

"He he he...! Tentu saja aku mau. Tapi kau harus melakukannya dengan baik, Kakang. Nah! Dengan begitu, mungkin aku bisa menerima alasanmu tadi," sahut si gendut. Sepasang matanya tampak berbinar penuh kegembiraan. Sepertinya ia merasa senang sekali mendengar perkataan si tinggi kurus itu.

"Nah, lihatlah!" kata si tinggi kurus, parau. Setelah berkata demikian, segera disekapnya tubuh si gadis yang maslh terisak ketakutan.

"Oh! Jangan, Tuan. Lepaskan aku...!" si gadis kembali berteriak Sedangkan sepasang matanya membelalak ngeri, membayangkan apa yang yang akan diperbuat si kurus itu.

"He he he...! Merontalah, Manis. Gerakanmu membuatku semakin bersemangat!" ucap orang itu sambil mendekap mangsanya penuh gejolak.

Si gemuk pendek tertawa kegirangan melihat perbuatan kakak seperguruannya itu. Wajahnya yang bulat tampak semakin merah. Sepasang matanya dibuka lebar-lebar agar dapat melihat jelas pemandangan didepannya. Belum lagi laki-Iaki tinggi kurus itu meneruskan niat kotornya, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat cepat ke arah mereka.

"Jahanam! Lepaskan gadis itu!" bentak sosok tubuh berjubah putih itu. Berdirinya demikian gagah, dengan kedua kaki terpentang. Sepasang matanya mencorong tajam memancarkan sinar.

Seketika itu juga si kurus bangkit disertai kemarahan memuncak. Sepasang matanya yang memang sudah melotot keluar itu nampak semakin menonjol. "Bangsat! Siapa kau, Anak Muda?! Apakah kau sudah tidak menyayangi nyawamu?!" bentak laki-laki bermuka mirip tengkorak itu. Suaranya cukup menggelegar, memekakkan telinga. Sepertinya sangat marah karena kesenangannya terganggu.

"Hei, Anak Muda! Tahukah kau, dengan siapa kau berhadapan saat ini?!" si gendut ikut menimpali. Suaranya yang kecil semakin melengking, karena ia pun sudah pula diliputi kemarahan.

Pemuda berjubah putihitu tersenyum tenang. Wajahnya yang tampan tampak semakin menarik. Perlahan-lahan dilangkahkan kakinya semakin mendekati kedua orang itu. Kira-kira berjarak sekirar tiga tombak, pemuda itu pun menghentikan langkahnya. Jelas sekali kalau pemuda itu tidak merasa gentar menghadapi dua orang yang bertampang agak aneh itu.

"Hm.... Aku tidak peduli, siapa kalian berdua! Lepaskan gadis itu, maka kalian akan selamat!" sahut pemuda tampan berjubah putih itu setengah mengancam.

Kedua orang itu tertawa terkekeh- kekeh ketika mendengar ancaman pemuda itu. Kemarahan di hati mereka mendadak lenyap, karena merasa geli dengan ucapan pemuda itu. Keduanya terpingkal-pingkal sambil memegangi perut.

"He he he...! Lucu.... Lucu! Ada anak menjangan yang coba-coba menggertak harimau! Lucu...!" ejek si tinggi kurus yang masih saja tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan air matanya sampai keluar.

"Ha ha ha...! Ketahuilah,Anak Muda. Saat ini kau tengah berhadapan dengan Setan Langit dan Setan Bumi," si gendut memperkenalkan julukan mereka untuk menakut-nakuti pemuda itu.

"Hm.... Baru Setan Langit dan Setan Bumi. Bahkan Raja Setan sekalipun, tetap akan kutentang!" sahut pemuda tampan itu tetap tenang tanpa rasa gentar sedikitpun!

"Eh?!"

Kedua orang itu seketika menghentikan tawanya, karena menjadi terkejut mendengar jawaban pemuda itu. Untuk beberapa saat lamanya mereka hanya dapat saling pandang dengan wajah heran.

"Hm.... Jadi kau belum pernah mendengar julukan kami berdua?! Ketahuilah! Kami dijuluki sebagai Setan Langit dan Setan Bumi karena sepak terjang kami yang sangat kejam!" si tinggi kurus masih mencoba menakut-nakuti pemuda tampan itu.

Tapi, kedua orang itu kembali harus mendan kekecewaannya. Ternyata, pemuda berjubah putih sama sekali tidak berubah sikapnya. Malah kini kepalanya terangkat dengan sikap agak angkuh.

"Hm.... Sekarang giliranku untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Ketahuilah! Kalangan rimba persilatan memberikan julukan padaku. Sepak terjangku yang telah mengguncangkan dunia persilatan, membuat diriku dijuluki Pendekar Naga Putih. Apakah kalian sudah pernah mendengar julukan itu?" kata pemuda tampan itu, tenang.

"Pendekar Naga Putih...?!" seru Setan Langit dan Setan Bumi tersentak kaget. Wajah mereka berubah seketika, saat mendengar julukan pemuda berjubah putih itu. Serentak keduanya mdangkah mundur dengan wajah agak pucat.

"Huh! Kau kira kami akan mempercayainya begitu saja? Jangan coba-coba menakut-nakuti, Anak Muda!" kilah salah seorang dari mereka sambil mencoba menekan debaran dalam dadanya. Meskipun sebenarnya kata-kata anak muda itu mulai dipercayai, namun untuk menjaga julukannya, Setan Bumi yang bertubuh pendek itu berusaha untuk menyembunyikan kegentarannya.

"Hm.... Biarpun kau memang benar Pendekar Naga Putih, jangan harap kami akan gentar! Malah kami sudah lama ingin berhadapan denganmu. Kami ingin mencoba kehebatan 'Ilmu Naga Sakti' dan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'mu yang terkenal itu. Nah! Marilah kita mulai!" timpal Setan Langit yang bertubuh jangkung dan berwajah mirip tengkorak itu. Sebagai tokoh gdongan hitam yang sangat ditakuti, tentu saja Setan Langit tidak ingin memperlihatkan rasa gentarnya di hadapan pendekar muda yang terkenal itu.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan ketiga orang sakti itu, sesosok tubuh tegap tampak memperhatikan mereka. Sepasang mata yang tersembunyi di balik semak-semak itu nampak terbelalak. Untunglah jaraknya terpisah beberapa belas tombak, sehingga kehadirannya tidak sampai diketahui tiga orang tokoh itu. Laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu berdebar hatinya. Memang, sebentar lagi ia akan menyaksikan sebuah pertarungan yang sangat langka.

"Hm.... Aku harus berhati-hati agar tidak terdengar oleh mereka. Kalau tidak, bisa-bisa pertarungan itu akan gagal," desah laki-laki itu dalam hati. Dengan menarik napas perlahan-lahan, orang itu berusaha menekan debaran dalam dadanya. Kembali matanya diarahkan pada tiga orang yang saling menggertak, untuk menjatuhkan nyali masing-masing.

"Ha ha ha...! Kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, baiklah. Tapi bagaimana dengan gadis tawananmu! Apakah tidak sebaiknya kita bertaruh?" usul si pemuda yang kelihatannya memang Pendekar Naga Putih itu. Sikap Pendekar Naga Putih itu tetap tenang, seolah-olah sama sekali tidak merasa khawatir meskipun yang dihadapinya adalah dua orang tokoh hitam yang menggiriskan.

"Apa maksudmu, Pendekar Naga Putih?" tanya Setan Bumi seraya mengerutkan keningya. Memang sulit dimengerti, apa yang diinginkan pendekar itu.

"Ya! Katakanlah, tidak perlu berbelit-belit!" timpal Setan Langit yang sudah tidak sabar melihat sikap pemuda yang masih saja nampak santai.

"Hm.... Begini maksudku, Setan Berotak Udang! Kalau aku memenangkan pertempuran ini, maka kuminta agar gadis itu diserahkan kepadaku. Sebaliknya, apabila kau yang memenangkan pertarungan ini, terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku dan juga kepada gadis itu. Bagaimana? Apakah kalian berani?" tawar pemuda tampan itu sambil tersenyum merendahkan. Ia sengaja berbuat demikian untuk membuat hati kedua calon Iawannya itu menjadi panas.

"Baik!. Kuterima tantanganmu, Pendekar Naga Putih! Nah, sekarang bersiaplah!" sahut Setan Langit, langsung bersiap menghadapi pertarungan.

Melihat Setan Langit telah bersiap, Setan Bumi pun bergegas menggeser tubuhnya merenggang. Tampaknya mereka hendak menggencet Pendekar Naga Putih dan dua arah.

"Ha ha ha...! Mengapa kalian begitu terburu-buru? Sabarlah. Bukankah perjanjian kita belum selesai?" sergah Pendekar Naga Putih yang langsung tertawa melihat kedua orang calon Iawannya sudah bersiap-siap.

"Bangsat! Apa lagi yang hendak kau ucapkan, Pendekar Naga Putih? Apakah kau memang sengaja hendak mempermainkan kami?"

Setan Langit yang sudah mulai menyiapkan ilmunya segera mengendurkan urat-urat tubuhnya. Lelaki tinggi kurus berusia enam puluhan tahun itu mulai bangkit nafsu membunuhnya. Karena, ia merasa telah dipermainkan pendekar muda itu.

"Bedebah! Rupanya kau memang sengaja hendak mengejek kami, Pendekar Naga Putih! Aku tidak peduli dengan segala macam syarat yang kau ajukan itu! Kalau tidak segera bersiap, jangan salahkan kami. Hati hati, tubuhmu akan terbelah oleh pukulanku!" ancam Setan Bumi. Laki-laki gemuk pendek itupun sudah terbangkit kemarahannya. Rasanya pendekar itu memang seperti sengaja hendak mengulur-ulur waktu. Tentu saja hal itu membuat hatinya jengkel.

"Wah, wah! Sabar dulu, Kisanak. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin bertanya, apakah kita bertarung dengan tangan kosong, atau menggunakan senjata?" kilah Panji sambil merentangkan kedua tangannya ke depan dada untuk menyabarkan kedua orang itu.

"Tidak peduli! Kau boleh menggunakan apa saja untuk menghadapi kami! Aku tidak sudi terhadap segala macam aturan pertandingan! Sekarang kau benar-benar harus bersiap, Pendekar Naga Putih!" geram Setan Langit yang sudah menarik napas berulang-ulang.

"Hmh...!"

Dengan sebuah gerengan keras, Setan Langit mendorongkan telapak tangannya ke depan. Hawa panas langsung berhembus disertai bau amis yang menusuk hidung. Tokoh sesat itu benar-benar tidak main-main, dan langsung saja mengeluarkan ilmunya yang mengerikan dalam menghadapi pendekar muda yang memang sudah terkenal itu.

Beberapa tombak di sebelah Setan Langit, nampak Setan Bumi juga sudah mempersiapkan ilmu andalannya. Sepasang tangannya dengan telapak terbuka bergerak turun-naik bergantian. Angin dingin bergemuruh ketika kedua tangannya mulai digerakkan.

"Ha ha ha...! Keluarkanlah 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'mu, Pendekar Naga Putih. Aku ingin tahu, apakah ilmu 'Pukulan Badai Salju'ku dapat kau tahan!" desis Setan Bumi yang sudah menarik kedua tangannya ke sisi pinggang. Sedangkan kuda-kuda kakinya tetap membentuk kuda-kuda kokoh.

"Hmh...!" Pemuda berjubah putih itu menggeram perlahan. Kedua tangannya mendorong ke atas dengan telapak menghadap langit. Kedua kakinya yang membentuk kuda-kuda menunggang kuda bergerak turun dalam posisi yang amat rendah. Kemudian, kedua tangan itu bergerak turun menyilang. Pendekar Naga Putih mendorong tangannya lurus-lurus ke depan setelah menariknya ke sisi pinggang

"Sambutlah 'Pukulan Api Neraka'ku, Pendekar Naga Putih! Heaaat...!" ujar Setan Langit.

Tubuh kakek tinggi kurus itu meluncur cepat dengan serangan dahsyat. Kedua tangannya berputaran menimbulkan sambaran angin panas yang menyengat kulit. Nampaknya dia tidak ingin ayal-ayalan lagi. Begitu serangannya dibuka, langsung digunakan ilmu pamungkasnya yang menggiriskan itu.

Wuttt! Wuttt...!

"Hahhh!" Pendekar Naga Putih membentak menggelegar. Tubuhnya langsung melambung ke udara. Begitu serangan Setan Langit lewat di bawah kakinya, tangan pemuda itu bergerak menusuk ke arah ubun-ubun lawannya.

Cuiiit...!

Angin pukulan yang keluar dari jari-jari yang menusuk itu mencicit tajam, sehingga mengejutkan lawan. Setan Langit mengegoskan kepalanya dengan gerakan berputar. Kemudian tubuhnya bergulingan ke kiri menghindari sambaran susulan. Setelah berhasil menyelamatkan diri, tubuh tokoh sesat itu langsung mencelat melontarkan tendangan terbang!

Zebbb! Plakkk!

Pendekar Naga Putih menapak kaki yang melancarkan tendangan itu. Kemudian tubuhnya berjumpalitan melewati kepala Iawannya dengan meminjam tenaga tepakan tadi.

Wusss!

Baru saja kaki pemuda itu menyentuh permukaan tanah, tahu-tahu saja serangkum angin dingin berhembus keras ke arahnya. Cepat cepat tubuhnya direndahkan disertai liukan. Kemudian, kedua tangannya mendorong ke depan menyambut serangan Setan Bumi.

Bresss!

"Ahk...!"

Sungguh hebat pertemuan dua tenaga dalam tingkat tinggi itu. Udara di sekitarnya tampak bergetar hebat. Daun-daun pohon di dekat mereka langsung berguguran ke atas tanah. Sedangkan tubuh kedua orang sakti itu sama-sama terjajar mundur ke belakang. Sepertinya, pada pertemuan tenaga pertama itu keduanya berimbang!

"Ha ha ha...! Ternyata julukanmu bukan sekadar nama kosong belaka, Pendekar Naga Putih!" puji Setan Langit sambil terkekeh, meskipun di sudut bibirnya tampak cairan merah merembes keluar.

"Kau pun hebat, SetanLangit!" sambut Panji yang juga menekap dadanya. Dari sudut bibir pemuda itu juga mengalir cairan merah perlahan.

"Yeaaat...!" Saat itu pukulan Setan Langit meluncur datang, siap melumatkan tubuh Pendekar Naga Putih.

Blarrr!

Debu dan dedaunan mengepul, beterbangan di udara ketika pukulan Setan Langit mengenai permukaan bumi. Hebat sekali pukulan yang dilancarkan tokoh sesat itu. Akibatnya bumi di sekitar tempat itu bagai digoyang gempa! Untunglah pemuda berjubah putih itu sempat menyelamatkan diri. Kalau tidak, niscaya tubuhnya pasti sudah hancur terhantam pukulan dahsyat itu. Pemuda itu terus bergulingan menjauhi kedua orang lawannya. Sehingga tanpa sadar Setan Langit dan Setan Bumi mengejar sehingga meninggalkan tawanan mereka.

"He he he...! Mau lari ke mana kau, Pendekar Naga Putih? Sebentar lagi kematian akan segera menjemputmu!" seru Setan Langit terkekeh kegirangan. Tubuhnya terus melesat mengejar pendekar muda yang sudah mulai terdesak.

Setan Bumi pun tidak mau ketinggalan. Tubuhnya yang bulat itu seperti menggelinding mengejar lawanya. Meskipun tubuhnya seperti itu, namun nyatanya dapat pula bergerak gesit.

DUA

Laki-laki berusia empat puluh tahun yang menyaksikan pertarungan dari tempat tersembunyi, menjadi cemas. Sebab biarpun tidak begitu mengenal Pendekar Naga Putih, namun ia adalah salah seorang pengagumnya. Dan ketika pertarungan itu bergeser, laki-laki itu terus membuntuti dengan menjaga jarak.

"Ah! Bisakah pendekar muda itu menyelamatkan diri dari ancaman kedua orang jahat itu? Kalau sampai pendekar itu tewas di tangan mereka, maka akan celakalah dunia persilatan. Dengan tewasnya Pendekar Naga Putih, berarti mereka akan semakin merajalela menyebarkan bencana. Mudah-mudahan saja pendekar muda itu dapat mengalahkan lawannya. Atau paling tidak bisa meloloskan diri dari ancaman kematian," desah laki-laki itu penuh harap.

Memasuki jurus ketujuh puluh lima, Pendekar Naga Putih mulai tampak bangkit. Jurus-jurus andalannya mulai terlihat dahsyat. Sampai pada suatu saat.... Mendadak sepasang mata di balik semak belukar itu terbelalak heran! Kedua matanya digosok-gosokkan, seolah-olah tak mempercayai apa yang dilihatnya. Karena saat itu, tampak Setan Langit dan Setan Bumi berlutut di depan kaki pemuda berjubah putih itu. Sikap kedua orang tokoh sesat itu terlihat patuh dan takut.

"Hei! Apa yang telah terjadi terhadap kedua tokoh sesat itu? Bukankah tadi mereka telah berhasil mendesak Pendekar Naga Putih? Lalu mengapa sekarang berlutut kepada pemuda itu? Apa yang telah dilakukan pendekar muda itu terhadap lawan-lawannya?" kata hati laki-laki yang bersembunyi di balik semak-semak itu. Dia jadi keheranan melihat kedua orang lawan Pendekar Naga Putih itu tahu-tahu telah menyerah begitu saja.

Keheranan dan rasa tidak percaya semakin kuat menyelimuti benaknya. Apalagi ketika Pendekar Naga Putih menggerakkan tangannya seperti orang yang mengusir anjing. Seketika kedua orang yang cukup ditakuti kaum rimba persilatan itu tampak beranjak bangkit dan bergegas meninggalkan tempat itu. Sedikit pun mereka tidak menoleh, dan terus saja berlari bagai seorang pesuruh yang diperintah majikannya. Sepeninggal kedua orang tokoh sesat yang sakti itu, pemuda berjubah putih melangkah mendekati gadis yang masih rebah ketakutan.

"Jangan takut. Kedua orang setan keparat itu sudah pergi. Bangkitlah. Mari kuantarkan ke rumahmu," ajak pemuda tampan itu. Segera Pendekar Naga Putih mengulurkan tangannya menarik tangan si gadis untuk bangkit. Senyum di wajah pemuda tampan itu mengembang, membuatnya tampak semakin menarik.

"Terima kasih, Tuan... Tuan telah menyelamatkan diriku," ucap gadis manis itu dengan suara bergetar. Sekujur tubuh dara itu semakin gemetar ketika lengannya yang berkulit kuning langsat itu digenggam Pendekar Naga Putih. Tampak warna kemerahan merona di kedua sisi wajahnya. Dengan agak malu-malu, gadis manis itu bangkit berdiri.

"Di manakah rumahmu?" tanya Pendekar Naga Putih, lembut. Nada suara pemuda itu tampak bergetar karena merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Hanya saja bedanya, ia tidak bersikap malu-malu.

"Jauh sekali...," sahut gadis itu dengan tubuh gemetar karena lengannya masih saja digenggam erat pemuda tampan itu. Gadis itu nampak semakin gugup saja.

"Tidak apa. Mari, kuantarkan," ajak Pendekar Naga Putih sambil tetap memegang tangan dara itu. Sesaat kemudian Pendekar Naga Putih menyadari kelakuannya. Cepat-cepat tangannya ditarik dari lengan gadis itu.

"Hm.... Siapa namamu?" tanya pemuda tampan itu sambil melangkah menjajari di samping kaki si gadis.

"Namaku Warti. Nama Kakang siapa?" tanya gadis manis itu. Hatinya mulai memperoleh ketenangan. Sikapnya pun sudah tidak canggung lagi. Bahkan sudah berani pula bertanya tentang nama penolongnya.

"Namaku Panji," sahut pemuda tampan berjubah putih itu sambil memamerkan senyumnya.

"Dan kedua kakek bejat tadi menyebutmu sebagai Pendekar Naga Putih. Benarkah itu julukanmu?" tanya gadis yang ternyata bernama Warti itu semakin berani.

Pemuda berjubah putih yang mengaku bernama Panji itu menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja kepala pendekar muda itu menoleh ke arah semak-semak yang terpisah beberapa tombak di sebelah kanannya. Setelah bergumam tak jelas, pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya kepada Warti.

Laki-laki yang masih bersembunyi di batik semak-semak itu hampir saja melompat keluar ketika Pendekar Naga Putih memperhatikan semak-semak tempatnya bersembunyi. Namun segera niatnya diurungkan ketika pemuda itu mengalihkan pandangannya kembali. "Hm.... Apakah pemuda itu tahu kalau aku bersembunyi di sini?" pikir orang itu, bertanya kepada dirinya sendiri.

Sepeninggal Panji dan Warti, laki-laki itu kembali mengendap-endap mengikuti mereka. Ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan agar tidak sampai menimbulkan suara mencurigakan. Orang itu juga menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan pendekar yang dikaguminya itu.

Pendekar Naga Putih dan Warti terlihat semakin akrab. Sesekali gadis manis itu malah mencubit lengan Panji sambil terkikik manja. Tampaknya Warti sudah mulai melupakan kejadian yang hampir merenggut kehormatannya. Dia nampak semakin banyak memperlihatkan senyumnya. Sikapnya pun terlihat semakin manja kepada pemuda penolongnya itu.

"Hm.... Kita harus mencari kuda untuk mempercepat perjalanan," gumam Pendekar Naga Putih di sela-sela canda mereka.

Orang yang sudah mengenal pemuda tampan itu pasti akan merasa heran melihat sikapnya kali ini. Pemuda yang biasanya pendiam itu, kini nampak pandai sekali berseloroh, sehingga Warti menjadi gembira dibuatnya. Bahkan sepasang matanya terkadang memandang gadis di sampingnya dengan penuh hasrat. Memang aneh sekali tingkah pemuda itu kali ini.

"Tidak apalah, Kakang. Akupun tidak terlalu merasa letih," sahut Warti cepat.

Dari cara memandang dan tingkah laku, Pendekar Naga Putih tahu kalau gadis manis itu enggan untuk lekas- lekas berpisah dengannya. Sepertinya dia sudah benar-benar melupakan keluarga dan tempat tinggalnya. Karena, hatinya benar-benar telah terpikat oleh ketampanan pemuda penolongnya itu. Dan hal itu tentu saja diketahui Pendekar Naga Putih.

"Apakah kau tidak takut kalau kita kemalaman di tengah hutan lebat ini?" tanya pemuda itu seperti hendak memancing perasaan Warti.

"Di manapun, aku tidak merasa takut kalau bersama Kakang," sahut gadis itu tanpa basa-basi. Warti sepertinya sudah percaya penuh terhadap Pendekar Naga Putih. Sehingga perasaan hatinya tidak ragu-ragu lagi untuk diungkapkan. Karena dari sikap serta pandang mata pemuda itu, diyakininya kalau orang yang mengaku bernama Panji itu juga menyukainya. Itulah sebabnya, mengapa Warti begitu berani mengungkapkan perasaannya. Padahal, mereka baru beberapa saat saling mengenal.

"Sungguh...?" tanya Panji seraya mengelus wajah bulat telur itu dengan telapak tangannya. Sepasang mata pemuda itu tampak berbinar gembira.

Warti menganggukkan kepalanya seraya menangkap tangan pemuda itu, lalu digenggamnya penuh kehangatan. Sepasang matanya tampak terpejam seolah-olah ingin menikmati perasaan bahagia yang saat itu tengah dirasakannya. Pemuda itu merunduk perlahan. Lalu dikecupnya bibir mungil itu penuh perasaan. Warti mengerang lirih bagaikan seekor kucing yang tengah dibelai-belai manja. Dibalasnya kecupan pemuda itu penuh gelora. Pelukan keduanya kini semakin rapat saja. Sebentar-sebentar terdengar erangan lirih penuh kenikmatan.

Laki-laki yang semenjak tadi masih tetap mengikuti kedua anak muda itu menjadi heran. Keningnya berkerut dalam melihat pemandangan yang terbentang di depan matanya. Diam-diam hatinya mulai tidak suka kepada Pendekar Naga Putih yang menurutnya telah menjebak gadis itu agar jatuh ke dalam pelukannya.

"Hm... Tidak kusangka kalau Pendekar Naga Putih yang tersohor itu ternyata adalah seorang pemuda mata keranjang," umpat laki-laki itu geram. Dan memang, tentu saja ia tidak dapat berbuat apa-apa karena hal itu terjadi atas suka sama suka. Sedangkan ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.

Dan kini yang terlihat hanyalah dua insan berlainan jenis saling berpacu dalam birahi. Masing-masing mulai menanggalkan pakaian, tanpa melepas pagutan. Kemudian, mereka sama-sama menjatuhkan diri di atas rumput tebal. Sementara orang yang bersembunyi itu memejamkan mata sambil menahan seruannya ketika menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Hatinya menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga akhirnya ia hanya dapat mengurut dada melihat perbuatan kedua orang muda yang tengah dipenuhi nafsu birahi itu.

"Kau menyesal, Warti?" tanya pemuda tampan itu sambil membelai wajah Warti.

Sementara, gadis itu masih sibuk membenahi pakaiannya yang morat-marit. Meskipun wajahnya agak pucat, namun jelas sekali kalau Warti merasa bahagia. Sepertinya Warti tidak menyesali perbuatan yang telah dilakukannya.

"Tidak, Kakang. Sebaliknya, aku malah bahagia," ujar gadis itu memamerkan senyum manisnya. Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak merapikan rambutnya yang kusut. Wajahnya yang manis itu tampak masih dihiasi butir-butir keringat yang menitik. Namun di balik itu semua, tersimpan suatu perasaan yang sulit diungkapkan.

Pendekar Naga Putih tersenyum lembut. Kembali dikecupnya bibir gadis itu perlahan, kemudian bergerak bangkit dan mengenakan pakaiannya kembali. Wajah tampan itu pun masih terhias butir-butir keringat.

Sementara laki-laki gagah yang semenjak tadi menyembunyikan dirinya, segera melompat keluar. Rupanya dia sudah tidak kuasa lagi menahan rasa muak melihat perbuatan pemuda yang dikaguminya itu. Perbuatan yang jelas-jelas menyimpang dari sepak terjangnya selama ini.

"Huh! Inikah pemuda bejat yang berjuluk Pendekar Naga Putih?! Sungguh aku merasa kecewa sekali. Semula kusangka Pendekar Naga Putih adalah seorang laki-laki sejati yang selalu menjunjung tinggi susila dan sopan santun. Tapi nyatanya hanyalah seorang pemuda bejat yang suka merayu gadis-gadis! Sungguh memuakkan!" kata laki-laki gagah itu sambil bertolak pinggang.

Wajah laki-laki itu nampak memerah ketika mengingat perbuatan Pendekar Naga Putih yang telah menodai gadis desa lugu itu. Sedangkan Pendekar Naga Putih dan Warti langsung tersentak kaget melihat kehadiran orang itu yang dengan tiba-tiba saja.

"Hm... Siapakah Kisanak ini? Dan apa yang kau bicarakan itu?" sahut Panji dengan alis berkerut. Meskipun begitu, pemuda itu nampaknya berusaha menahan kegugupannya dengan kehadiran orang itu.

"Huh! Tidak usah berlagak bodoh, Pendekar Cabul! Aku lihat semua yang telah kau perbuat terhadap gadis itu! Apakah masih mau menyangkal?" laki-laki gagah itu semakin sinis saja melihat sikap yang ditunjukkan Pendekar Naga Putih.

"Ha ha ha...! Kami berbuat karena dilandasi rasa suka sama suka. Mengapa kau yang marah-marah? Tanyalah gadis itu, apakah ia menyesal atau tidak?" sahut Panji,tenang.

Sikap Panji demikian tenang seolah-olah sama sekali tidak berbuat kesalahan. Tentu saja hal ini sangat mengherankan hati laki-laki gagahitu. Orang itu bungkam begitu mendengar kata-kata Panji. Segera pandangannya dialihkan kepada Warti yang saat itu sudah ketakutan. Selain merasa malu karena perbuatannya telah dipergoki orang lain, gadis itu takut kalau-kalau pemuda yang dicintainya akan tewas ditangan laki-laki yang terlihat gagah dan bertenaga kuat itu.

"Nisanak. Apakah kau tidak sadar kalau dirimu sudah terjebak rayuan pemuda iblis berwajah tampan ini? Ketahuilah, Nisanak. Pemuda ini pastiakan segera meninggalkanmu setelah merenggut kehormatanmu. Kau telah dipermainkannya, Nisanak!" jelas laki-laki gagah itu mencoba menyadarkan Warti.

"Oh, tidak mungkin! Kakang, katakanlah kalau kau tidak akan meninggalkan aku! Jawablah, Kakang!" sambil terisak ketakutan, Warti mengguncang-guncangkan lengan Panji.

"Nah! Kau lihat sendiri, bukan? Pemuda Iblis itu tidak akan sudi mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadapmu," kembali si laki-laki gagah mencoba menyadarkan Warti.

"Jawablah, Kakang! Kau tidak akan meninggalkan aku, bukan? Kau akan mengantarkan aku kepada orang tuaku, bukan?" Warti semakin kalap ketika pemuda tampan itu hanya berdiri mematung tanpa menjawab pertanyaannya. la semakin keras mengguncangkan tangan pemuda itu.

"Diam kau, Perempuan Bodoh! Apakah kau lebih mempercayai orang itu daripada aku?" bentak Panji sambil menepiskan lengannya sehingga gadis itu terjatuh keras ditanah.

"Ohhh...!" Warti menekap wajah dengan telapak tangannya. Hatinya benar-benar sedih mendapat perlakuan yang demikian kasar dari pemuda yang dicintainya itu. Diam-diam ia pun mulai mempercayai kata-kata lelaki gagah itu.

"Hei, Pendekar Murtad! Sadarkah kau kalau perbuatanmu itu telah menghancurkan nama besarmu sendiri yang telah dipuja tokoh-tokoh persilatan! Maka kelak kesulitan akan datang kepadamu apabila kejadian ini tersebar dan diketahui kaum rimba persilatan!" tegas laki-laki gagah itu lagi, geram. Ia yang semula kagum dengan pemuda itu, berbalik menjadi membencinya setengah mati. Sepertinya perbuatan Pendekar Naga Putih tidak bisa dimaafkan lagi.

"Ha ha ha...! Kejadian ini tidak akan tersebar apabila aku menghancurkan tubuhmu dan tubuh gadis kampung itu! Nah! Sekarang, bersiaplah untuk melayat ke akhirat!" Setelah berkata demikian, tubuh Pendekar Naga Putih melesat dengan kecepatan kilat. Sepasang tangannya siap melumat tubuh laki-laki gagah itu.

Wuttt! Wuttt!

"Ahk...!" Orang itu bergegas melempar tubuhnya ke belakang. Serangan yang berbahaya itu tidak mengenai sasaran. Tubuh lelaki gagah itu terus bergulingan menjauhkan diri dari serangan Pendekar Naga Putih. Begitu bangkit, tangannya telah menggenggam sebatang pedang yang langsung digerakkan untuk menghalau serbuan pendekar muda yang sakti itu.

Wukkk! Wukkk!

Pendekar Naga Putih melompat ke belakang begitu serangannya disambut tebasan pedang. Begitu kakinya menyentuh tanah, kembali disiapkan serangan berikutnya.

"Nisanak! Kau larilah!" teriak laki-laki gagah itu memperingatkan Warti akan bahaya yang akan menimpa diri gadis itu.

"Ohhh.... Tidaaak...!" Warti berteriak-teriak bagaikan kesetanan. Hatinya benar-benar terpukul atas kejadian yang dialaminya itu. Jiwanya begitu guncang sehingga Warti tidak lagi mempedulikan persoalan mati hidupnya. Warti bergegas bangkit dengan sepasang mata menyala. Air matanya terus mengalir bagai anak sungai. Terdengar isak lirih yang keluar dari kerongkongannya. Rupanya gadis manis itu benar-benar telah mengalami guncangan jiwa yang hebat!

"Kubunuh kau...!" teriak Warti. Bagaikan seekor harimau luka tubuhnya, gadis itu segera berlari menerjang Panji yang tengah berusaha untuk menghabisi nyawa si lelaki gagah.

Pendekar Naga Putih langsung menggerakkan tangannya menghantam batok kepala Warti yang pada saat itu tengah memukuli punggungnya. Akibatnya, pukulan yang bertenaga dalam tinggi itu memang parah apabila menghantam batok kepala wanita lemah seperti Warti. Maka....

Wuttt! Prakkk!

Darah segar bercampur cairan putih memercik membasahi permukaan bumi. Batok kepala gadis itu langsung pecah terkena pukulan pemuda tampan itu. Tanpa sempat berteriak lagi, tubuh wanita desa yang malang itu tewas seketika.

"Biadab kau, Pendekar Naga Putih! Kau benar-benar setan! Kau sudah berubah menjadi iblis! Bagus sekali perbuatanmu. Setelah kau renggut kehormatannya, kau renggut pula jiwanya! Kalau kau masih belum puas, ayo hirup darahku!" teriak laki-laki gagah itu yang menjadi meledak-ledak kemarahannya melihat kekejaman pendekar muda yang semula dikaguminya itu.

"Ha ha ha...! Tentu! Kau pun akan segera mendapat bagian, Manusia Usil!" ancam Pendekar Naga Putih. Karena disadari kalau orang itu terlalu berbahaya baginya. Dan sudah pasti tidak akan membiarkannya lolos!

"Heaaat...!" Dibarengi sebuah bentakan menggeledek, tubuh pemuda berjubah putih itu meluncur ke arah Iawannya. Sepasang tangannya yang berbentuk cakar, berkelebat mencari sasaran.

Bet! Bet...!

"Ah...!" Lelaki gagah itu berlompatan menghindari sambaran cakar Pendekar Naga Putih yang berhawa maut. Sekali salah langkah saja, maka dirinya tidak mungkin dapat lolos dari kematian. Hal itu tentu saja disadarinya. Walaupun lelaki gagah itu bukanlah lawan berat bagi Pendekar Naga Putih, namun sulit juga untuk menundukkannya. Dia selalu bisa menghindar sambil sesekali menusukkan pedangnya apabila sudah sangat terdesak.

Lelaki gagah itu mulai menyadari kalau tidak mungkin akan menang menghadapi Pendekar Naga Putih. Namun ia pun tidak menginginkan pemuda itu terbebas dari hukuman atas perbuatannya yang keji itu. Setelah mempertimbangkan segalanya, maka diambilnya keputusan untuk meloloskan diri dari tangan maut Pendekar Naga Putih. Mulailah dicari jalan agar dapat meloloskan diri dari pemuda sakti itu. Namun Pendekar Naga Putih tentu saja tidak ingin membiarkan lawannya lolos. Begitu melihat gelagat kalau orang itu hendak mencari jalan untuk lari, maka semakin diperhebat serangan- serangannya.

"Heaaat...!"

Wuttt! Brettt!

"Aaakh...!" Orang itu menjerit kesakitan ketika sebuah tusukan jari tangan Panji mengenai bagian atas dada kirinya. Tubuhnya langsung terlempar sejauh dua tombak ke belakang. Darah tampak merembes melalui lukanya yang terasa perih itu. Ketika tampak Pendekar Naga Putih melompat mengejar, cepat senjatanya dilemparkan ke arah lawan. Kemudian, secepat kilat tubuhnya melompat kesemak-semak.

Pendekar Naga Putihcukup terkejut melihat pedang lawan meluncur ke arahnya. Bergegas tubuhnya dimiringkan, sehingga senjata itu lewat disisinya. "Bangsat!" geram Panji ketika melihat lawannya menghilang di balik semak-semak. Cepat pemuda itu bergegas mengejarnya. Tubuhnya melesat ke balik semak-semak tempat Iawannya tadi menghilang.

Kegelapan senja yang mulai menapak, membuat pemuda itu mendapat kesulitan untuk menemukan lawannya. Setelah cukup lama mencari, namun tidak juga dapat menemukan orang itu, maka dengan hati kesal Pendekar Naga Putih bergegas meninggalkan tempat itu.

Lama setelah kepergian Pendekar Naga Putih, sesosok tubuh melayang turun dari atas pohon yang tidak jauh dari semak-semak. Sambil menekap luka di bagian atas dadanya, kakinya melangkah tertatih-tatih meninggalkan hutan. Lelaki gagah itu mengambil jalan yang berlawanan, agar tidak kepergok orang yang mengaku berjuluk Pendekar Naga Putih itu. Malam pun semakin merayap menampakkan kekuasaannya. Bintang-bintang tampak menghiasi cakrawala yang berwarna biru gelap. Rembulan tersenyum memancarkan cahayanya, menerobos kegelapan malam.

********************

TIGA

“Tolooong...! Ada rampok.... Pembunuh...!" Seorang laki-laki bercaping bambu berlari sambil berteriak-teriak. Cangkulnya yang semula tersandang di punggung, terlempar entah ke mana.

Beberapa orang petani yang hendak berangkat ke sawah, tertegun sesaat. Mereka terkejut melihat laki-laki yang berlari bagai dikejar setan itu.

"Bukankah itu tukang kebun Tuan Wiralaga? Mengapa berteriak-teriak seperti itu? Di mana pula ada perampok dan pembunuh?" bisik salah seorang petani kepada kawannya.

Orang yang diajak bicara hanya memandang bingung karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya memandang kawannya sambil mengangkat bahu tanda tak mengerti.

"Hei, Karja! Ada apa? Siapa yang dirampok? Dan siapa pula yang dibunuh?!" desak seorang laki-laki bertubuh sedang, menghentikan lari orang yang bernama Karja itu.

"Ada perampok... Pembunuh...." kata Karja dengan napas megap-megap bagaikan ikan yang diangkat dari sungai. Wajahnya tampak pucat bagai tak teraliri darah. Sepertinya laki-laki setengah baya yang bernama Karja itu masih dilanda ketegangan dan keguncangan. Dan memang, meskipun orang bertubuh sedang itu bertanya lembut, ia hanya menjawab dua patah kata saja. Dan itu pun diulang-ulangnya.

"iya, siapa yang dirampok? Siapa yang dibunuh?!" teriak laki-laki bertubuh sedang itu sambil mengguncang-guncangkan tubuh Karja. Rupanya kesabarannya hilang melihat sikap Karja yang hanya mengulang-ulang dua kata itu saja.

"Bawa saja kepada kepala desa. Siapa tahu Ki Banggala dapat menyadarkannya?" usul salah seorang penduduk kepada lelaki bertubuh sedang yang tengah mengguncang-guncang tubuh Karja.

Mendengar usul yang baik, orang itu menganggukkan kepalanya. Kemudian tanpa minta persetujuan orang yang bersangkutan, langsung ditarik tubuh Karja untuk menemui Ki Banggala yang menjadi pemimpin desa itu.

"Ada apa, Kakang Dungga?" tanya salah seorang penjaga rumah kepala desa begitu mengenali siapa orang yang datang itu.

"Entahlah, Adi. Aku pun masih belum jelas. Tapi sepertinya si Karja ini baru saja mengalami peristiwa hebat," sahut orang bertubuh sedang yang ternyata bernama Dungga itu. Dungga kemudian melangkah kan kakinya, sambil menggamit lengan Karja menuju pintu masuk rumah kepala desa. Sementara penjaga itu segera mensejajarkan langkahnya di samping Dungga.

"Jadi Kakang Dungga pun belum tahu apa yang telah dialami orang ini? Lalu, mengapa Kakang membawanya ke sini? Untuk apa, Kakang? Siapa tahu ia hanya orang gila yang kesasar," kata si penjaga yang rupanya tidak mengenai lelaki yang dibawa kawannya itu.

"Bodoh kau! Kalau tidak ada apa-apa, mengapa harus bersusah-susah membawanya ke sini? Lagi pula, aku kenal baik orang ini. Dia sama sekali bukan orang gila seperti yang kau sangka itu!" sahut Dungga agak kesal. "Sekarang, lebih baik beritahukan kepada Ki Banggala kalau aku ingin bertemu dengannya!"

“Tapi, Kakang Mana aku berani? Aku juga belum tahu, apakah Ki Banggala sudah bangun atau belum! Kau sajalah yang membangunkannya, Kakang. Bukankah kau orang kepercayaannya? Jadi kalau kau yang memberitahukannya, mungkin dia tidak terlalu marah," tukas si penjaga yang tidak berani membangunkan kepala desanya.

"Ah, dasar kau!" umpat Dungga semakin bertambah kesal mendengar jawaban yang berbeda dengan keinginannya. Tanpa banyak cakap lagi, Dungga bergegas menaiki anak tangga yang menuju ke pintu depan. Tangan kanannya tetap menarik Karja yang terus saja mengoceh hingga tak ubahnya seorang pemabuk,

Der, der, der!

"Ki...! Aku Dungga, ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting!"

Sambil menggedor-gedor pintu, Dungga berteriak-teriak membangunkan penghuni rumah yang sepertinya masih terlelap. Memang saat ini hari masih terlalu pagi. Hanya para petani yang sawahnya jauh saja yang sudah berangkat, memulai kehidupan di mayapada ini. Setelah agak lama menunggu, terdengar langkah kaki yang terseret menghampiri pintu depan. Di situ, Dungga menunggu tak sabar.

"Apakah Ki Banggala sudah bangun? Cepat laporkan, Dungga ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting!" desah Dungga ketika melihat yang membuka pintu temyata hanyalah pembantu kepala desa.

Pembantu itu mempersilakan Dungga dan Karja untuk masuk, kemudian kembali ke ruangan dalam untuk memberitahukan majikannya. Dan tak berapa lama, tampak seorang laki-laki gagah berusia kira-kira lima puluh tahun muncul. Sepasang matanya nampak segar, menandakan kalau ia telah lama bangun dari tidur.

"Hm.... Kau rupanya, Dungga. Ada keperluan apa sepagi ini sudah datang menghadapku? Dan siapa pula orang kau bawa itu?" Ki Banggala yang begitu tiba, langsung memberi pertanyaan beruntun. Keningnya berkerut ketika mendengar ocehan yang keluar dari mulut orang yang datang bersama Dungga itu.

"Begini, Ki...," Dunggapun lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Hm...," Ki Banggala bergumam tak jelas setelah mendengar penuturan pembantu utamanya itu. Cepat-cepat pelayannya diperintahkan untuk segera mengambilkan air putih. Tak lama, pelayan itu keluar membawa air putih yang diminta majikannya. Kemudian, segera diserahkannya air putih itu. Ki Banggala segera meraih dan meminumkannya ke mulut Karja yang hanya menerima tanpa perlawanan. Kemudian orang tua itu memijat beberapa bagian dipelipis dan belakang kepala Karja.

"Karja kau dengar suaraku? Kenalkah kau, siapa aku?" tanya Ki Banggala begitu melihat mata Karja kembali menunjukkan tanda-tanda kembali seperti biasa.

"Ki.... Banggala!" seru Karja setelah beberapa saat lamanya menegasi wajah laki-laki setengah baya yang duduk di depannya. Suaranya terdengar masih mengambang.

"Ceritakan, apa yang telah terjadi dan di mana kau melihatnya," desak Ki Banggala begitu mengetahui kalau Karja benar-benar telah tenang kembali.

Dengan terputus-putus, Karja lalu menceritakan apa yang telah disaksikan di rumah majikannya. Berkali kali wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangannya ketika terbayang peristiwa yang menimpa keluarga majikannya.

"Hm.... Jadi kau sempat melihat perampok itu, Karja?" tanya Ki Banggala setelah mendengar penuturan Karja sampai selesai.

"Benar, Ki. Saat itu kebetulan si perampok berdiri di bawah sinar lampu. Jadi aku sempat melihat wajahnya yang masih muda dan tampan. Dia bukan saja merampok, Ki. Tapi juga membunuh seluruh keluarga majikanku. Bahkan sebelum membunuh, sepertinya ia telah memperkosa putri majikanku, Ki," tutur Karja dengan wajah sedih. Laki-laki setengah baya itu menutup wajahnya seolah-olah ingin membuang semua bayangan buruk yang sangat mengerikan itu.

"Hm.... Bagaimana kau tahu kalau putri majikanmu telah diperkosa sebelum dibunuh?" tanya Ki Banggala lagi dengan alis berkerut. Dan memang, biar bagaimanapun, Ki Banggala boleh juga mencurigai Karja. Sebab, hanya dialah satu-satunya orang yang mengetahuinya. Tentu saja hal itu bukan berarti Ki Banggala menuduh Karja sebagai pelakunya.

"Setelah perampok biadab itu pergi, aku lalu memeriksa seluruh ruangan. Dan ketika memasuki kamar putri majikanku, ternyata dia telah tewas dalam keadaan tidak berpakaian. Itulah sebabnya aku menduga demikian, Ki," tutur Karja lagi.

"Baiklah. Kalau begitu, kita harus segera berangkat untuk melihat keadaan tempat majikanmu itu," kata Ki Banggala, setelah jelas dengan semua keterangan yang diperoleh dari tukang kebun Tuan Wiralaga yang merupakan orang terkaya di desa itu. Setelah memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan beberapa ekor kuda, Ki Banggala bergegas memasuki kamar untuk mengganti pakaiannya.

********************

Lima ekor kuda berpacu cepat melintasi jalan utama desa. Keremangan pagi tidak menjadi halangan bagi lima orang untuk mempercepat lari kudanya. Karena yang ditempuh hanyalah jalan lurus yang biasa dipakai umum. Ki Banggala yang berada paling depan, segera membelokkan kudanya menuju Timur desa. Tidak jauh di belakangnya, tampak Karja yang juga menunggang kuda. Sedangkan Dungga dan dua orang lainnya berada paling belakang.

Dan kini, kelima ekor kuda itu berhenti di depan sebuah rumah yang dikelilingi tembok kokoh. Ki Banggala terus saja melompat dari atas punggung kuda begitu telah berada di halaman rumah besar itu. Karja, Dungga, dan dua orang lainnya juga bergegas turun dari atas punggung kuda. Senjata mereka telah terhunus untuk menjaga kemungkinan yang akan dihadapi nanti.

"Kalian berdua tunggu disini! Biar aku, Karja, dan Dungga saja yang memeriksa keadaan di dalam. Ingat! Jika kalian melihat sesuatu yang mencurigakan, cepat beri tanda!" perintah Ki Banggala kepada dua orang pengawalnya.

"Baik, Ki!" jawab salah seorang dari kedua penjaga itu mengangguk hormat.

Setelah mencabut senjata yang tergantung di pinggang, Ki Banggala melangkah memasuki rumah besar itu melalui jalan samping. Dungga mengikuti di belakangnya. Sedangkan Karja berjalan di belakang Dungga. Wajah laki-laki setengah baya itu tampak pucat ketakutan. Ketiga orang itu terus melangkah memasuki setiap ruangan yang terdapat di dalam rumah besar itu. Namun mereka tidak menemukan sesuatu, selain mayat keluarga Tuan Wiralaga dan beberapa orang pembantunya. Maka ketiga orang itu bergegas kembali ke halaman depan.

"Karja! Menurut penuturanmu tadi, perampok itu hanya seorang diri. Benarkah itu?" tanya Ki Banggala kembali menegasi keterangan yang diberikan Karja tadi.

"Betul, Ki," jawab Karja pasti.

"Dan perampok itu adalah seorang pemuda tampan yang mengenakan jubah putih, dan mengeluarkan kabut keperakan pada tubuhnya. Begitu bukan?"

"Ya! Begitulah yang kulihat, Ki," sahut Karja lagi. Sebenarnya hati Karja sudah merasa tidak enak melihat kepala desanya masih terus saja mendesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang serupa. Namun, karena memang tidak bersalah, maka ia pun tidak merasa takut untuk menjawabnya.

"Kau yakin, Karja? Apakah kau tidak salah lihat?" desak Ki Banggala kembali.

"Aku yakin, Ki. Karena aku bersembunyi di semak-semak itu dan pemuda tampan yang mengenakan jubah putih tepat berdiri di sini!" jawab Karja sambil menunjuk ke arah semak-semak yang terpisah beberapa tombak dari tempatnya berdiri. Sinar mata Karja seperti memancarkan kekesalan karena didesak terus-menerus.

"Maafkan aku, Karja. Bukan semua keteranganmu tidak kupercayai. Tapi ciri-ciri orang yang kau sebutkan itu rasanya pernah kudengar. Dan suatu hal yang mustahil kalau orang itulah yang melakukan perbuatan ini," jelas Ki Banggala yang menjadi tidak enak karena terlalu mendesak orang itu.

"Tidak apa-apa, Ki. Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Aku percaya, semua ini demi kepentingan penduduk desa agar kejadian semacam ini tidak akan terulang," Karja tersenyum untuk membuktikan kalau sama sekali tidak merasa tersinggung atas pertanyaan-pertanyaan kepala desanya yang seperti menyelidik dan tidak mempercayai keterangannya itu.

"Terima kasih, Karja," ucapKi Banggala juga memperlihatkan senyumnya untuk menghilangkan ketegangan di antara mereka.

"Ki. Siapakah pemuda tampan berjubah putih yang pernah kau dengar itu? Dan di manakah tinggalnya?" tanya Dungga yang rupanya memikirkan tentang perampok tunggal berusia muda itu.

"Hm, dalam rimba persilatan, hanya ada satu pemuda mengenakan jubah putih yag tubuhnya mengeluarkan kabut keperakan. Tapi, apa mungkin kalau dia yang melakukannya. Karena orang itu adalah seorang pendekar besar yang menjadi kebanggaan tokoh persilatan golongan putih. Dia berjuluk Pendekar Naga Putih. Kebersihan jiwanya sudah sering ditunjukkan dengan jalan membasmi kejahatan. Sayang pendekar muda yang perkasa itu tidak mempunyai tempat tinggal tetap, Dungga," papar Ki Banggala tentang pemuda berjubah putih yang pernah didengarnya itu. Wajah orang tua itu nampak menyiratkan kebanggaan ketika menceritakan tentang Pendekar Naga Putih yang memang sangat dikaguminya itu.

"Ki, Apakah tidak mungkin kalau ada seseorang yang sengaja hendak mencemarkan nama besar Pendekar Naga Putih?" tiba-tiba saja ucapan itu terlontar dari mulut Dungga.

"Bisa saja, Dungga. Tapi yang menjadi persoalan, siapa orang yang melakukan perbuatan itu? Apakah kau mempunyai dugaan?" Ki Banggala malah balik bertanya kepada pembantu utamanya itu.

"Sayang sekali tidak, Ki," sahut Dungga. Wajahnya agak kecewa, karena memang tidak mempunyai dugaan sama sekali tentang orang yang melakukan perbuatan keji itu.

"Yah, sudahlah. Marikita kembali. Biar nanti aku suruh beberapa orang penduduk untuk mengurus jenazah mereka," desah Ki Banggala sambil melompat ke atas punggung kudanya. Dihelanya kuda itu, yang segera berjalan menuju keluar.

Dungga dan yang lainnyasegera mengikuti kepala desa itu meninggalkan rumah kediaman Almarhum Tuan Wiralaga. Tidak berapa lama kemudian, kelima penunggang kuda itu kembali menyusuri jalan utama desa.

********************

EMPAT

Siang itu matahari memancar terik. Sinarnya yang kuning keemasan menyirami penmukaan bumi secara merata. Tiupan angin silir-silir memainkan pucuk dedaunan. Di bawah siraman cahaya matahari, nampak iring-iringan yang cukup panjang tengah melintasi jalan utama. Beberapa orang di antaranya terlihat meng-gotong enam buah peti mati. Sepertinya iring-iringan itu akan melakukan penguburan. Wajah-wajah puluhan laki-laki itu tampak tertunduk sedih. Diduga, suatu musibah baru saja menimpa, sehingga menewaskan kawan-kawan mereka. Karena pakaian yang dikenakan rata-rata berwarna putih. Dan pada bagian punggung terdapat bulatan yang cukup besar. Bulatan itu ternyata adalah sebuah lambang perguruan.

"Huh! Hal ini tidak bisa kita biarkan, Kakang! Kita harus mencari keparat keji itu untuk menuntut balas!" tegas salah seorang yang berwajah kuning dan pucat. Suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar yang lain.

"Tentu saja kita harus membalasnya, Adi. Tapi yang menjadi pertanyaan dalam hatiku, apakah semua ini memang hasil perbuatannya? Rasanya aku belum dapat mempercayainya, Adi!" sahut orang itu yang masih merasa ragu tentang kejadian itu.

"Hm.... Jadi kau tidak mempercayai keterangan yang diberikan saudara seperguruan kita, Kakang? Bukankah tidak mungkin kalau mereka membohongi kita? Apa untungnya bagi mereka?" bantah laki-laki berwajah kuning pucat yang merasa tak senang mendengar jawaban kakak seperguruannya itu

"Bukan aku tidak mempercayai keterangan saudara seperguruan kita itu, Adi. Tapi rasanya mustahil kalau ini dilakukan Pendekar Naga Putih! Bukankah kau pun tahu, siapa Pendekar Naga Putih itu?"

"Tapi bukankah ia masih muda, Kakang. Pemuda mana yang tidak akan tertarik melihat kedua orang adik seperguruan kita yang cantik-cantik itu? Mungkin saja pendekar muda itu khilaf karena melihat kecantikan mereka. Dan karena mereka tidak melayaninya, maka jalan kekerasanlah yang diambilnya, lalu dibunuhnya setelah mereka dinodai terlebih dahulu! Dan saudara-saudara seperguruan kita yang mencoba membela, terpaksa harus tewas di tangannya. Beruntung dua orang saudara kita berhasil melarikan diri. Sehingga mereka dapat mengadukan hal ini kepada guru," si muka pucat masih juga bersikeras mempertahankan pendapatnya.

"Yahhh... Nantilah kita bicarakan hal ini kepada guru. Sekarang yang harus dilakukan adalah menasihati saudara-saudara yang lain. Agar mereka tidak bertindak sendiri- lsendiri. Setelah penguburan ini, baru kita rencanakan hal itu," jelas orang itu.

********************

"Hei, lihat! Bukankahitu Pendekar Naga Putih!" tiba-tiba salah seorang dari anggota rombongan pengantar jenazah berteriak sambil menunjuk ke satu arah.

Mendengar teriakan itu, yang lain serentak menoIeh. Wajah puluhan orang itu langsung menegang ketika sesosok tubuh yang mengenakan jubah putih tampak tengah berjalan ke arah mereka. Beberapa orang yang semula menggotong peti mati malah serentak menurunkannya. Pemuda tampan yangtengah melangkah lambat itu memang Pendekar Naga Putih. Wajahnya yang bersih dan tampan itu memancarkan rasa keheranan ketika melihat puluhan orang yang mengenakan pakaian serba putih berlarian ke arahnya. Dan rasa heran langsung berubah terkejut ketika puluhan orang itu langsung mengurungnya.

"Ada apa ini, Kisanak?" tanya Panji yang tetap memperlihatkan sikap tenangnya. Padahal sebenarnya dadanya berdebar tegang!

"Huh! Tidak perlu bersandiwara, Pendekar Cabul! Lihatlah korban-korbanmu itu!" sahut salah seorang dari para pengepung itu galak sambil menggerak-gerakkan pedangnya di depan dada dengan sikap mengancam.

"Ha ha ha...! Rupanya kau sengaja hendak melihat bagaimana korban-korban kebiadabanmu itu akan dikuburkan. Begitu bukan?" seru yang lainnya. Sikapnya jelas sekali menunjukkan kebencian yang dalam.

"Maaf, Kisanak. Aku sama sekali tidak mengerti pembicaraan kalian ini? Apakah kalian bersedia menjelaskannya?" pinta Panji tetap tenang tanpa amarah sedikit pun. Karena Pendekar Naga Putih tahu, kalau mereka telah salah menuduh.

"Tidak perlu bersandiwara, Pendekar Cabul! Pembunuhan dan perkosaan yang telah kau lakukan terhadap murid wanita perguruan kami, hanya dapat dicuci dengan darahmu yang hitam itu!" bentak lelaki bermuka pucat Laki-laki itu memang sangat dendam terhadap Pendekar Naga Putih, karena salah satu korban adalah kekasihnya. Maka wajarlah kalau rasa dendamnya demikian dalam terhadap pendekar muda itu.

"Dengarlah, Kisanak. Kalian telah salah menuduh orang" sahut Panji yang menjadi pucat seketika. Suaranya pun sedikit bergetar. Benar-benar tidak disangka kalau dirinya akan dituduh sedemikian kejinya oleh orang-orang itu.

"Tidak perlu banyak bicara, Pendekar Murtad! Hari ini kami akan membalaskan sakit hati saudara-saudara kami yang telah kau bunuh itu! Terimalah hukumanmu! Heaaat..!" Dibarengi sebuah teriakan keras, salah seorang pengepung Itu segera melompat menerjang Pendekar Naga Putih.

Wuuuttt!

Panji melangkah mundur sambil memiringkan tubuhnya untuk menghindari tebasan golok orang itu, kemudian melompat ke belakang. Maksudnya adalah untuk menghindari terjadinya pertempuran. Tapi anggapan orang-orang itu ternyata lain. Mereka segera melompat dan menerjang Pendekar Naga Putih yang dikira akan melarikan diri.

Bet! Bet! Bet...!

Beberapa mata pedang berkelebatan mengancam tubuh Pendekar Naga Putih. Cepat Panji melempar tubuhnya ke belakang, menghindari bacokan. Dua di antaranya segera ditepis karena tidak mungkin lagi dielakkannya.

Plakkk! Plakkk!

"Uuuhhh...!"

Dua orang pengeroyokyang senjatanya tertepiskan itu terpental hingga dua tombak jauhnya. Mereka langsung memijat-mijat tangan yang terasa bagaikan patah itu. Sedangkan senjata mereka telah terpental entah kemana.

"Kisanak. Tidak bisakah masalah ini diselesaikan secara baik-baik? Percayalah! Aku benar-benar tidak mengerti tuduhan yang kalian lontarkan itu!" dengus Panji yang tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah. Karena, menurutnya semua itu hanyalah kesalah pahaman saja.

"Apa katamu, Pendekar Murtad? Bicara baik-baik? Huh! Enak saja! Setelah kau bunuh dan kau nodai dua saudara seperguruan kami, kau masih ingin bicara baik-baik! Jangan mencari alasan, Pendekar Naga Putih! Lebih baik kau jagalah dirimu agar tidak tersayat pedang kami!" sahut si muka pucat yang memang sangat membenci Panji setelah kejadian itu.

"Sudahlah. Untuk apa bicara lagi! Ia pasti tidak akan sudi mengakui perbuatannya itu!" Setelah ucapannya selesai, orang itu segera melompat sambil menyabetkan senjatanya ke leher Panji.

"Heaaat...!"

Beberapa orang kembali bergerak mengeroyok Sepertinya pertempuran tidak mungkin lagi untuk dihindari. Pendekar Naga Putih yang semula masih mencoba bersabar, menjadi kesal hatinya. la benar-benar dongkol melihat sikap keras kepala orang-orang itu. Kemarahannya pun mulai bangkit ketika disadari kalau orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya memang benar-benar berniat membunuhnya.

"Hmh...!" Sambil menggertakkan giginya, Panji pun mulai menggerakkan tangannya melancarkan serangan balasan.

Bukkk! Desss!

"Hukh...!"

Dua orang pengeroyok terjungkal seketika begitu terkena hantaman Pendekar Naga Putih. Mereka pingsan seketika itu juga akibat kerasnya pukulan yang dilontarkan Panji. Masih untung Pendekar Naga Putih tidak berniat mencelakai, sehingga tidak mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya.

"Kakang Balewa! Ayo kita hajar pendekar sesat itu!" ajak si muka pucat, menolehkan kepala kepada kakak seperguruannya.

Setelah berkata demikian, tubuhnya langsung melesat disertai sambaran goloknya yang menimbulkan deruan angin tajam. Dilihat dari gerakan dan kekuatannya, pastilah si muka pucat memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Sedangkan orang yang dipanggil Balewa termangu sejenak. Mulanya ia masih merasa ragu-ragu untuk melakukan pengeroyokan. Tapi begitu melihat dua orang kawannya tergeletak akibat terkena pukulan Pendekar Naga Putih, maka ia segera berkelebat membantu si muka pucat.

Wuttt!

Pedang di tangan Balewa menderu dan menimbulkan sambaran angin yang kencang! Bahkan gerakannya terlihat lebih gesit dan mantap daripada si muka pucat. Tubuh Pendekar Naga Putih berkelebatan menyelinap di antara sambaran pedang para pengeroyoknya. Sesekali dilontarkannya serangan balasan agar tidak terlalu terdesak Sampai sejauh ini, Panji belum juga mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Padahal keadaannya boleh dibilang terancam.

Semarah-marahnya Panji, rupanya masih tidak tega juga untuk menurunkan tangan kejam kepada orang-orang itu. Sebab disadari kalau tuduhan terhadapnya bukanlah sekadar fitnah yang mereka cari-cari. Pasti ada sebab-sebab yang kuat sehingga tuduhan itu terlempar kepadanya. Dan bukannya tidak mungkin kalau yang melakukan adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai dirinya. Jelasnya, pasti ada orang yang memang sengaja hendak mencemarkan namanya. Setelah mempunyai dugaan seperti itu, Panji berniat meloloskan diri dari kepungan. Maka mulailah matanya melirik jalan keluar yang akan diterobosnya.

Wuttt...!

"Ihhh...!" Untunglah Panji sempat memiringkan tubuhnya ke samping. Kalau tidak, tentu pedang di tangan Balewa sudah merobek perutnya. Begitu tebasan pedang lawannya luput tangan Panji bergerak menusuk ke arah lambung orang itu. Gerakannya demikian cepat hingga hampir tidak tertangkap mata.

Balewa yang mengetahui kehebatan ilmu lawannya, cepat menarik mundur tubuhnya. Namun sayang, ia tertipu! Sebab saat itu Panji telah menarik pulang lengannya yang merupakan serangan tipuan itu. Mendadak tubuhnya berputar sambil melepaskan tendangan ke arah dada orang itu.

Desss!

"Uhg...!" Tendangan berputar yang dilakukan Pendekar Naga Putih tepat hinggap di dada Balewa. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh orang itu pun terjengkang ke be- lakang disertai semburan darah kental. Namun sebagai seorang yang terlatih baik, Balewa langsung melenting bangkit. Padahal kedudukan kedua kakinya terlihat agak goyah. Setelah menarik napas berulang-ulang untuk menghilangkan rasa nyeri yang diderita, Balewa kembali menerjang Panji.

Sesudah berhasil menjatuhkan lawannya yang paling tangguh, tubuh pendekar muda itu melesat menerobos kepungan di sebelah kirinya. Si muka pucat yang memang berada di sebelah kiri menjadi terkejut Ini karena dirinya menjadi incaran serangan pemuda itu. Cepat goloknya dikelebatkan untuk menahan serbuan pendekar muda yang lihai itu.

Wuttt!

Panji hanya perlu memiringkan sedikit tubuhnya membiarkan ujung golok lawan lewat di sisi tubuhnya. Secepat kilat tubuhnya merendah, disertai sebuah totokan yang mengarah lambung si muka pucat! Sadar akan bahaya yang mengancam, maka si muka pucat membentak sambil menjejak bumi kuat-kuat. Detik itu juga tubuhnya melambung melewati kepala lawannya. Dan dalam keadaan masih di udara, goloknya diayunkan, untuk membelah kepala Pendekar Naga Putih.

"Yeaaat..!"

Pendekar Naga Putih sempat mengagumi kesigapan gerak Iawannya. Namun, ia tidak ingin bertindak ayal-ayalan. Cepat tubuhnya dijatuhkan disertai ayunan kaki untuk menangkis bacokan golok lawan.

Plakkk!

"Ahk...!" Si muka pucat berseru tertahan. Goloknya terpental akibat hantaman telapak kaki yang tepat mengenai pergelangan tangannya. Belum lagi sempat menyadari keadaannya, sebuah tendangan berikutnya telah bersarang di dada si muka pucat.

Bukkk!

"Hegh...!" Tubuh si muka pucat yang tengah meluncur turun itu kembali tersentak ke atas. Darah segar langsung menyembur dari mulutnya hingga membasahi jubah lawan. Meskipun demikian, ternyata tubuhnya masih sempat juga diselamatkan agar tidak terbanting di atas tanah. Setelah berjumpalitan beberapa kali, kedua kaki si muka pucat hinggap di atas permukaan tanah dengan selamat. Kedua tangannya tampak menekap bagian dada yang terasa bagai patah tulang-tulangnya. Rupanya tendangan Pendekar Naga Putih telah menjadi berlipat kekuatannya karena dibantu daya luncur tubuh si muka pucat itu sendiri. Dan akibatnya dia mengalami luka yang cukup parah!

Begitu kesempatan untuk meloloskan diri terbuka, tubuh Panji segera melesat meninggalkan tempat itu. Lesatannya demikian cepat bagai kilat, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Sekejap kemudian, tubuh pemuda berjubah putih itu sudah jauh meninggalkan para pengeroyoknya.

"Keparat kau, Pendekar Naga Putih! Sampai ke ujung dunia pun, aku bersumpah akan tetap mengejarmu!" teriak si muka pucat dengan napas terengah-engah. Hatinya benar-benar penasaran sekali melihat musuh yang sudah di depan mata ternyata mampu meloloskan diri.

"Sudahlah, Adi. Lebih baik kuburkan dulu mayat-mayat itu. Sesudah itu baru kita melaporkan kejadian ini kepada guru," bujuk Balewa yang merasa tidak tega melihat keadaan adik seperguruannya yang tengah dilanda kekecewaan dan kesedihan itu.

"Aku bersumpah akan mencarinya nanti, Kakang. Berjanjilah bahwa kau juga akan membantuku," pinta si muka pucat kepada kakak seperguruannya itu.

"Aku berjanji akan membantumu, Adi. Karena hal itu memang sudah menjadi kewajibanku dan juga kewajiban seluruh murid perguruan kita," jawab Balewa menenangkan perasaan adik seperguruannya.

Dan kini, rombongan itu kembali bergerak ke daerah pekuburan. Saat itu matahari sudah semakin tinggi. Sinarnya terasa menyengat permukaan kulit. Seolah-olah sang mentari tidak peduli dengan kejadian yang berlangsung dibawahnya.

********************

LIMA

Pendekar Naga Putih terus berlari mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Perasaannya benar-benar kacau akibat kejadian yang baru saja dialaminya itu. Sudah cukup jauh juga dia berlari. Dan kini Panji tiba di suatu jalan setapak yang di kanan-kirinya ditumbuhi semak belukar.

"Perlahan dulu, Anak Muda...!"

Tiba-tiba terdengar teguran halus yang mengandung perbawa kuat. Mau tak mau Panji yang saat itu baru saja mengurangi kecepatan larinya menjadi terkejut dan menghentikan larinya. Kening Pendekar Naga Putih berkerut dalam ketika melihat seorang kakek tengah melambaikan tangan ke arahnya. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Ketika melangkah menghampiri Panji, jubah putihnya tertiup angin. Empat orang lelaki gagah yang berpakaian serba putih, ikut menyertainya. Dua di antaranya, tampak dalam keadaan terluka.

Melihat lambang garuda putih yang ada di dada, Pendekar Naga Putih bisa menduga kalau mereka berasal dari Perguruan Garuda Putih. Dan kalau tak salah, pemimpin perguruan itu adalah Eyang Sancaka. Dan kini laki-laki tua itu telah berdiri di antara mereka, di depan Panji

"Ada keperluan apakah Kakek menahan langkahku?" tanya Panji sopan. Terus terang, dada Pendekar Naga Putih berdebar tegang saat melihat pakaian yang dikenakan mereka. Karena pakaian itu mengingatkannya kepada orang-orang yang tadi mengeroyoknya.

"Hm.... Maaf kalau aku mengejutkanmu, Pendekar Naga Putih. Bukankah demikian julukanmu?" ucap Eyang Sancaka. Suaranya juga lembut dan berwibawa. Tampak tangan kanannya mengelus-elus perlahan jenggotnya yang panjang dan berwarna putih.

"Benar, Kek. Itulah julukan yang diberikan orang kepadaku," jawab Panji. Perasaannya semakin tidak enak Pikirannya kembali melayang kepada tuduhan yang dilontarkan pada pengeroyoknya tadi

"Hm.... Benarkah pemuda ini yang telah melakukan perbuatan itu, Panjala? Telitilah dulu?" Eyang Sancaka mengalihkan pandangan ke arah salah seorang muridnya yang tampak mengalami luka. Nada suaranya jelas meminta penegasan.

"Benar, Eyang. Tidak salah lagi! Pemuda inilah yang telah melakukan perbuatan biadab itu! Aku yakin, Eyang. Dan aku tidak akan salah!" jawab laki-laki gagah yang bernama Panjala itu tegas. Sepasang matanya menatap Panji dengan sorot dendam yang hebat

"Kau, Banawa. Benarkah pemuda ini yang telah melukaimu?" tanya kakek itu lagi kepada muridnya yang lain. Orang itu juga dalam keadaan terluka pada bagian bahunya.

"Benar, Eyang Pemuda inilah yang telah melukai ku dan menodai serta membunuh dua orang murid wanita kita," jawab laki-laki brewok yang dipanggil Banawa itu tanpa keraguan sedikitpun.

Panji yang saat itu pikirannya masih kalut, sebenarnya merasa tersinggung juga mendengar keluhan itu. Sepertinya mereka menganggapnya sebagai maling tertangkap basah yang hukumannya sedang diputuskan. Tapi karena masih memandang orang tua itu, maka Panji terpaksa menelan rasa jengkelnya.

"Nah...! Kau dengar sendiri apa yang telah dikatakan kedua orang muridku ini, Anak Muda. Sekarang apa pendapatmu?" kata Eyang Sancaka, mengalihkan pertanyaannya kepada Pendekar Naga Putih.

"Maaf, Kek. Bukan aku ingin menyangkal apa yang dituduhkan kepadaku. Tapi aku memang benar-benar tidak tahu apa sebenarnya yang kalian inginkan?" sahut Panji. Nadanya terdengar agak keras. Namun demikian sikap yang ditunjukkannya tetap membayangkan ketenangan, karena ia memang tidak merasa telah berbuat salah terhadap orang-orang itu.

"Hm.... Perbuatanmu telah mencoreng nama besarmu sendiri, Pendekar Naga Putih. Dan di sini ada dua orang saksi yang langsung mengalami kejadian itu. Dan apa-apa yang mereka katakan itu adalah kebenaran yang tidak mungkin diingkari," gumam Eyang Sancaka lembut. Namun di balik kata-katanya, terkandung tuntutan yang tidak mungkin dibantah.

Panji terdiam untuk beberapa saat lamanya. Ia mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah benar perbuatan seperti yang mereka tuduhkan itu telah dilakukannya? Kalau tidak, mengapa tampaknya mereka begitu yakin kalau dirinya yang telah melakukan? Ia yakin kalau orang-orang itu tidak hanya sekadar melemparkan fitnah belaka. Sebab Pendekar Naga Putih kenal betul kalau Perguruan Garuda Putih adalah perkumpulan orang-orang gagah yang tidak akan sembarangan menuduh. Apalagi, perguruan itu dipimpin Eyang Sancaka yang cukup arif dan bijaksana.

"Itu dia si Pendekar Murtad!"

Belum lagi Panji sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan kakek itu, tiba-tiba terdengar seruan keras. Pendekar Naga Putih dan kelompok orang dari Perguruan Garuda Putih sama-sama menolehkan kepalanya ke arah teriakan tadi. Kening semua orang yang ada di situ jadi berkerut melihat tujuh orang laki-laki gagah dengan langkah lebar-lebar mendatangi mereka. Dari roman wajah tujuh orang itu jelas tei gambar kemarahan yang ditujukan kepada Panji.

"Hei! Pendekar Murtad, apakah kau masih ingat kepadaku?" tanya salah seorang dari ketujuh laki-laki gagah itu dengan suara yang sangat menyakitkan telinga.

"Maaf, Kisanak. Aku sama sekali belum mengenalmu. Dan rasanya kita belum pernah berjumpa," sahut Panji. Rasanya hati Pendekar Naga Putih semakin tidak enak saja. Dia mulai menduga kalau kedatangan orang itu mungkin membawa persoalan yang akan menambah ruwet pikirannya.

"O, begitu. Jadi kau tidak ingat dengan wanita desa yang kau gauli di dalam hutan, dan kemudian kau bunuh secara kejam? Mungkin kalau saat itu aku tidak berhasil meloloskan diri, pasti tubuhku sudah hancur oleh pukulanmu. Kenapa kau masih menyangkalnya, Pendekar Murtad?" ejek laki-laki bertubuh sedang itu setengah membentak. Wajahnya tampak memerah karena kemarahan yang menggelegak

Mendengar tuduhan itu, tubuh Panji menggigil hebat! Wajahnya berubah pucat bagai tak teraliri darah. Tuduhan itu terdengar bagaikan ledakan petir di telinga pemuda tampan itu. "Hm.... Ini sudah keterlaluan. Apa sebenarnya maksud kalian melontarkan fitnah keji itu kepadaku? Lihatlah baik-baik. Apakah orang yang melakukan perbuatan keji itu adalah aku? Apakah orang itu memiliki ilmu-ilmu sepertiku? Jawablah!" teriak Panji dengan suara menggelegar. Hati Pendekar Naga Putih benar-benar merasa terpukul atas tuduhan yang telah dilemparkan orang-orang itu kepadanya. Kemarahan dan rasa sakit di hatinya benar-benar sudah tidak dapat ditahan lagi.

Lima orang dari Perguruan Garuda Putih dan tujuh orang tokoh persilatan itu melangkah mundur melihat sikap yang ditunjukkan pemuda itu. Serentak kedua belas orang itu bersiap menghadapi segala ke mungkinan yang bakal terjadi.

"Jangan coba untuk menyangkal, Pendekar Murtad. Kalau seandainya kau memiliki saudara kembar, apakah orang itu juga mempunyai ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' seperti yang kau miliki itu? Tidak mungkin, bukan? Nah, sekarang lebih baik kau menyerah untuk mempertanggung jawabkan segala kejahatanmu!" desak laki-laki gagah yang tak lain adalah Panjala, murid utama Perguruan Garuda Putih dengan suara mengejek.

"Jadi.... Jadi orang itu memiliki ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'?" tanya Panji seperti bertanya pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar bergetar hingga tak ubahnya seperti orang berbisik. Wajah pemuda itu semakin bertambah pucat ketika mendengar penjelasan Panjala.

"Benar! Dan orang itu juga mengeluarkan sinar putih keperakan dari tubuhnya. Jadi sudah pasti kalau orang itu adalah kau, Pendekar Naga Putih!" bentak Banawa, keras. Rupanya ia juga sudah tidak sabar untuk segera membalas perlakuan pemuda itu terhadap saudara-saudara seperguruannya.

"Keji...! Kalian telah melemparkan fltnah keji karena tidak suka kepadaku!" hati Panji benar-benar terguncang mendengar tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan kepadanya itu.

"Huh! Percuma saja. Apa pun yang kita katakan, ia tetap akan menyangkal!" timpal salah seorang dari tujuh laki-laki gagah itu, seraya mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

"Ya! Lebih baik kita seret dengan paksa!" seru yang lain sambil menghunus senjatanya. Tanpa banyak cakap lagi,orang itu langsung melompat menerjang Panji.

"Yeaaat..!"

Keenam orang tokoh lainnya bergegas melompat menyusul kawannya. Senjata-senjata mereka bergerak cepat menciptakan gulungan sinar yang menyilaukan mata.

Wuttt! Wukkk..!

Dua batang pedang menderu keras dari sebelah ldri. Sedang yang lainnya sudah pula menyusul mengancam tubuh pemuda berjubah putih itu. Meskipun hati Pendekar Naga Putih terguncang sangat hebat, namun nalurinya yang terlatih telah membuat tubuhnya bergerak menghindari sambaran pedang lawan. Cepat-cepat Panji melempar tubuhnya ke belakang untuk mempersiapkan jurus-jurusnya.

"Heeeaaa...!"

Terdengar pekikan laksana binatang terluka yang keluar dari mulut Panji. Rasa sakit hati dan penasaran telah membangkitkan kemarahannya. Sesaat kemudian, selapis kabut yang bersinar putih keperakan pun mulai bergerak menyelimuti seluruh tubuhnya. Menyadari kalau lawan bukanlah orang-orang sembarangan, maka Pendekar Naga Putih mulai mengeluarkan ilmu-ilmu andalannya. Jurus 'Naga Sakti' yang tidak pernah digunakan secara sembarangan, juga dikeluarkan. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan diri dari ancaman senjata dan pukulan para pengeroyoknya. Ketujuh orang laki-laki gagah itu tersentak mundur ketika ada serangkum hawa dingin yang menyergap tubuh mereka.

"Hm.... Anak muda ini benar-benar hebat! Sayang ia telah memilih jalan yang salah dan tercela," ucap Eyang Sancaka yang menjadi Ketua Perguruan Garuda Putih, lirih. Dari nada suaranya, jelas kalau kakek itu merasa kecewa terhadap Panji. Sebentar kemudian tubuh kakek itu melesat ke tengah arena pertempuran. Tangan kanannya mengibas, persis orang mengukir lalat

Wusss...!

Hebat sekali! Kibasan tangan si kakek yang terlihat sembarangan itu ternyata berhasil menguslr hawa dingin yang keluar dari tubuh Pendekar Naga Putih. Dan tentu saja hal itu membuat Pendekar Naga Putih terkejut dan semakin bersiaga penuh. Disadari betul kalau kakek itu satu-satunya lawan yang terberat Dua orang murid urama Perguruan Garuda Putih sudah pula melompat ke tengah arena. Mereka masing-masing telah menghunus sebatang pedang.

"Sambutlah, Anak Muda!" seru Eyang Sancaka sambil melompat melakukan serangkaian serangan yang menimbulkan sambaran angin mencicit tajam.

Wuttt..! Bettt..!

Panji memiringkan tubuhnya sambil menggeser kaki kanannya ke belakang. Kemudian secepat kilat dilancarkannya serangan balasan yang tidak kalah dahsyat Kedua tangannya yang membentuk cakar naga tampak bergerak cepat melakukan sambaran-sambaran yang menebarkan hawa dingin. Tak pelak lagi, pertarungan sengit pun berlangsung hebat.Kedua tokoh sakti itu saling menyerang hebat. Ilmu-ilmu andalan yang biasanya jarang sekali digunakan, kini dikeluarkan untuk menjatuhkan lawan.

Sedangkan para tokohlain bergerak mundur menjauhi pertarungan yang mendebarkan itu. Sebab angin pukulan yang teriontar dari tangan kedua tokoh sakti itu menyambar-nyambar ke segala arah. Dan kalau tidak segera bergerak mundur, bisa jadi mereka akan terkena sambaran pukulan nyasar. Jurus derm jurus berlalu cepat. Tak terasa, pertarungan telah memasuki jurus yang keenam puluh. Namun, sampai sejauh itu belum terlihat tanda-tanda yang bakal terdesak

"Heaaah...!"

Suatu saat, Ketua Perguruan Garuda Putih membentak keras. Sepasang tangannya yang membentuk cakar garuda bergerak susul-menyusul mengancam tubuh Panji.

Plakkk! Plakkk!

"Aaah...!"

Seketika terdengar ledakan yang memekakkan telinga ketika kedua lengan tokoh sakti itu saling berbenturan. Tubuh mereka masing-masing tampak terjajar mundur beberapa langkah ke belakang. Baik Panji dan kakek itu sama sama menyeringai menahan rasa nyeri pada tulang lengan mereka. Untuk beberapa saat keduanya saling tatap bagaikan dua ekor ayam jago yang siap berlaga kembali.

"Haaat..!"

Pada saat mereka tengah terdiam sambil meneliti gerak satu sama lain, dua orang tokoh persilatan melompat disertai sambaran senjata yang menimbulkan deruan angin keras.

Wuttt! Wuttt...!

Cepat Panji melempar tubuhnya ke bclakanq. menghindari dua batang pedang yang mengancam tubuhnya itu. Setelah berputar di udara, tubuh Pendekar Naga Putih melayang turun sejauh tiga tombak dari dua orang Iawannya itu. Namun, baru saja kedua kakinya menyentuh pcrmukaan tanah, serangan dari yang lain sudah meluncur datang. Panji melangkah mundur sejauh dua tindak ketika dua batang pedang menyambar perut dan lambungnya. Begitu dua serangan itu lolos, tubuh pemuda itu melambung ke udara disertai sambaran cakarnya yang membawa hawa dingin menggigit tulang.

Bet! Bet...!

"Ahk...!"

Bukan main kagetnya hatikedua orang tokoh itu ketika mendadak tubuh mereka bagaikan dikurung dalam sebuah ruangan salju. Mereka kemudian cepat-cepat mengempos semangat, untuk mengerahkan hawa murni agar rasa dingin yang mengganggu gerakan mereka terusir. Dan pada saat sepasang cakar Pendekar Naga Putih hampir mencelakai, mereka pun bergulingan menghindarkan diri. Ketika telah berada sejauh tiga tombak, kedua orang itu melenting bangkit. Namun alangkah terkejutnya hati mereka ketika pada saat itu Pendekar Naga Putih telah melontarkan pukulan jarak jauh disertai pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'.

Wusss! Blarrr!

Untunglah kedua orang itu sempat melempar tubuhnya dan bergulingan ke samping. Kalau tidak, akan hancurlah tubuh mereka. Buktinya, pohon besar sepelukan orang dewasa yang ada di belakang mereka langsung tumbang menimbulkan suara berderak keras. Wajah kedua orang tokoh persilatan itu langsung pucat. Ciut hati mereka membayangkan seandainya terkena pukulan maut pendekar muda itu.

"Sambut pukulanku, Pendekar Naga Putih!" bentak Eyang Sancaka memperingatkan. Saat itu juga tubuhnya meluncur disertai dorongan telapak tangannya yang menimbulkan terpaan angin keras.

Mendengar teriakan itu, Panji bergegas membalikkan tubuhnya. Tampak tubuh Eyang Sancaka meluncur menerjang. Maka Pendekar Naga Putih segera mendorong sepasang telapak tangannya untuk menyambut pukulan maut kakek itu.

Bresss!

Bumi di sekitar arena pertarungan bagai diguncang gempa ketika dua tenaga dalam tinggi saling berbenturan dahsyat. Tubuh mereka terpental ke belakang dan jatuh menimbulkan suara berdebuk keras. Panji dan Eyang Sancaka bergegas melenting bangkit. Keduanya segera menyedot udara banyak-banyak untuk menghilangkan rasa nyeri yang menusuk rongga dada mereka. Dari sudut bibir masing-masing tokoh sakti itu tampak cairan merah mengalir.

"Haaat..!"

Empat orang tokoh persilatan yang melihat keadaan itu cepat melompat menerjang Panji. Mereka memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas selagi pendekar muda itu terluka. Senjata mereka berdesing membelah udara.

Plak! Plak! Bret!

"Ahk...!"

Dua di antara empat batang senjata itu berhasil dttepiskan telapak tangan Pendekar Naga Putih. Namun dua senjata lain berhasil merobek tubuhnya! Untunglah Panji masih sempat memiringkan tubuhnya, sehingga lukanya tidak terlalu parah. Tubuh Pendekar Naga Putih terjajar mundur sejauh enam langkah, dan agak limbung. Tangan kirinya menekap luka di lambung, sedangkan tangan kanan menekap dada. Pada sela-sela jarinya keluar darah segar dari luka sehingga menodai jubahnya.

Meskipun kedua luka itu tidak terlalu dalam, tapi cukup membuat wajah pendekar muda itu meringis menahan nyeri Meskipun kemarahan membakar dadanya, namun Panji sadar kalau bukan orang-orang itulah yang menjadi musuhnya. Maka begitu melihat lawan-lawannya lengah, ia bergegas melompat meninggalkan tempat itu. Gerakannya demikian cepat, karena disertai ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai taraf kesempurnaan.

"Mau lari ke mana kau, Pendekar Murtad?!" bentak Panjala yang segera menghadang Panji. Senjatanya melintang di depan dada dan siap menyerang.

Banawa yang berada di samping Panjala bertindak cepat. Tanpa basa-basi lagi, tubuhnya segera melesat sambil menyabetkan senjata ke tubuh Pendekar Naga Putih. Panjala pun berbuat hal yang serupa. Pedang di tangannya diputar sedemikian rupa hingga membentuk gundukan sinar yang membungkus seluruh tubuhnya. Dibarengi bentakan keras, tubuhnya langsung melayang ke arah Panji.

Kali ini Panji sudah benar-benar marah. Melihat kedua orang murid utama Perguruan Garuda Putih itu menghalangi jalannya, sepasang telapak tangannya segera didorongkan ke depan Serangkum angin dingin berhembus keras mengiringi dorongan tangan pemuda itu. Rupanya dalam kemarahannya kali ini, Pendekar Naga Putih telah menggunakan pukulan jarak jauh disertai pengerahan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya yang sangat dahsyat itu.

Bukan main terkejutnya hati kedua orang tokoh Perguruan Garuda Putih itu. Wajah mereka pucat seketika. Untuk menghindar, rasanya sudah tidak mungkin lagi, tubuh keduanya dalam keadaan mengapung di udara. Cepat-cepat mereka mendorongkan telapak tangan kiri sepenuh tenaga.

Blarrr!

"Aaargh...!"

Banawa dan Panjala berteriak ngeri ketika tubuh mereka bagaikan membentur sebuah kekuatan raksasa. Tubuh mereka terlempar keras hingga bebarapa tombak ke belakang. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh keduanya terbanting keras di atas permukaan tanah.

"Ouhhh...!"

Kedua tokoh Perguruan Garuda Putih itu merintih setelah teriebih dahulu memuntahkan segumpal darah kental. Mereka mengerang sambil menekap dada yang terasa bagaikan dihantam godam!

"Panjala...! Banawa...!"

Eyang Sancaka yang menjadi Ketua Perguruan Garuda Putih berlari memburu kedua orang muridnya itu dengan wajah membayangkan kecemasan. Dia segera berjongkok memeriksa luka yang diderita kedua orang muridnya. Rasa cemas terbayang di wajahnya melihat keadaan muridnya. Hal ini membuat kakek itu melupakan kehadiran Panji yang berdiri tegak beberapa langkah di sampingnya. Melihat kesempatan baik itu, Panji bergegas melompat meninggalkan tempat itu. Segera dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya agar tidak sampai terkejar orang-orang itu.

"Pendekar Naga Putih, tunggu...! Persoalan di antara kita belum selesai!" teriak Eyang Sancaka seusai memberi obat pulung kepada kedua orang muridnya. Suaranya dikerahkan lewat tenaga dalam yang cukup tinggi, sehingga menggema sampai jauh.

"Keparat! Pemuda cabul itu telah berhasil meloloskan diri!" umpat salah seorang tokoh persilatan, geram.

"Ayo, kita kejar pendekar biadab itu!" ajak yang lainnya, cepat.

Setelah berkata demikian, mereka segera melesat mengejar Pendekar Naga Putih. Enam orang lainnya bergegas menyusul kawannya. Rupanya hati mereka belum puas kalau beium dapat menghukum pendekar muda yang kira sangat dibenci itu.

ENAM

Pemuda berjubah putih itu terus berlari menerobos semak belukar. Pada bagian dada dan lambung terdapat noda merah yang membasahi pakaiannya. Namun sepertinya dia sama sekali tidak mempedulikan luka yang dideritanya itu, dan terus saja berlari ke dalam lebatnyarimba. Wajah yang bersih dan tampan itu tampak sayu bagaikan orang kehilangan semangat. Peluh yang membasahi seluruh wajah dan tubuhnya sudah tidak dihiraukannya lagi. Sepertinya jiwa pemuda tampan berjubah putih itu tengah mengalami pukulan berat.

Setelah agak lama berlari dan telah jauh memasuki hutan, pemuda tampan itu menjatuhkan tubuhnya di atas permukaan rumput tebal. Disandarkan punggungnya pada sebatang pohon besar yang berada di belakangnya. Terdengar helaan napasnya yang berat, membayangkan kelelahan lahir dan batin.

"Ouhhh...!" Pemuda tampan yang tak lain adalah Panji itu mengusap wajahnya diseretai keluhan berat. Agak lama pemuda itu menutupi wajahnya tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan direbahkan tubuhnya. Matanya dipejamkan seolah- olah hendak mengusir pergi bayangan-bayangan buruk yang mengganggunya.

"Mengapa orang-orang itu memusuhiku? Mengapa mereka begitu yakin kalau aku telah melakukannya? Dan menurut keterangan mereka, orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji dan biadab itu adalah aku. Mungkinkah ada pemuda lain di dunia ini yang memiliki wajah serupa denganku? Apakah orang itu pun mempunyai Tenaga Sakti Gerhana Bulan' warisan Eyang Tirta Yasa? Aaah..., rasanya mustahil?" desah batin Pendekar Naga Putih yang bergelut dengan berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya sendiri.

Panji kembali menghela napas berat, melepaskan gumpalan yang terasa mengganjal dalam rongga dadanya. Pikirannya menerawang, mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah diperbuatnya selama ini. Namun sampai lelah, tak satu pun perbuatan jahat yang pernah dilakukannya.

“Tapi, mengapa mereka menuduhku pendekar murtad?!" Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Panji, hingga sempat tetperanjat mendengamya. Sepertinya, suara pertanyaan itu terlontar karena rasa penasaran dan tidak puas yang menekan jiwanya.

Mendadak Pendekar Naga Putih terlonjak dari duduknya, seperti baru saja teringat akan sesuatu. Dan bisa saja itu dapat menyingkap tabir rahasia ini. Dengan gerakan perlahan, sepasang mata Pendekar Naga Putih mulai meneliti sekujur tubuhnya, seolah-olah ingin mencari kelainan yang akan dapat membedakan dirinya dengan manusia culas yang mengaku-aku sebagai dirinya.

"Ah, ini dia!" seru Pendekar Naga Putih sambil menurunkan Pedang Naga Langit dari punggungnya. Wajahnya tampak berseri ketika melihat benda pusaka yang tidak ada duanya dalam dunia persilatan. Perlahan lahan dicabutnya pedang itu dari sarungnya, yang berukir seekor naga yang berwarna kuning keemasan

Untuk jelasnya tentang Pedang Naga Langit yang dimiliki Panji ini, silakan pembaca mengikuti serial Pendekar Naga Putih dalam episode Bunga Abadi di Gunung Kembaran

Srek!

Sinar kuning keemasan berpendar ketika Pendekar Naga Putih meloloskan pedang pusaka dari sarungnya. Sejenak Panji menutupi mata dengan sebelah tangannya, karena sinar pedang itu begitu silau.

"Ya. Hanya pedang inilah yang akan membedakan antara aku dengan bangsat keji itu! Aku yakin kalau orang yang telah mencemarkan namaku pasti tidak akan memiliki pedang pusaka yang tiada duanya ini," tegas Panji.

Hati Pendekar Naga Putih sedikit lega karena telah mempunyai bukti kuat kalau dirinya bukanlah orang yang dimaksud. Dengan Pedang Naga Langit yang tak ada duanya dalam rimba persilatan, jelas akan membedakan Panji dari yang lainnya.

"Tapi, apakah mungkin orang-orang itu akan menerima alasanku? Dapatkah mereka mempercayainya apabila pedang ini kutunjukkan sebagai bukti kalau aku tidak bersalah? Hm.... Sepertinya masalah ini belum selesai hanya dengan menunjukkan pedang ini sebagai alasan," gumam Panji dalam hati. Kembali Pendekar Naga Putih menghela napas sebagai tanda kekecewaannya. Pikirannya menerawang jauh hingga sampai ke wajah kekasihnya. Tiba-tiba saja wajah Kenanga muncul dalam benaknya.

"Ahhh.... Seandainya saja saat ini Kenanga ada bersamaku, pastilah akan dapat membantuku untuk memecahkan masalah rumit ini. Tapi.... Tapi, ahhh...!" desah Panji sambil menepak keningnya perlahan.

Pendekar Naga Putih merasa khawatir juga apabila persoalan ini telah sampai ke telinga Kenanga. Sulit digambarkan, bagaimana tanggapan gadis itu ketika mendengar tuduhan yang telah dilimpahkan orang-orang kepada Panji. Apakah tuduhan itu akan dipercayainya? Ataukah akan lebih percaya kepada Panji? Setelah menyarungkan pedangnya kembali, Panji duduk bersandar pada pohon di belakangnya. Pandangannya dilayangkan ke arah cakrawala yang mulai tersaput keremangan senja. Hati Pendekar Naga Putih ikut melayang dan mengembara entah ke mana.

"Kakang...!"

Panji tersentak bangkit bagaikan disengat kalajengking. Dadanya berdebar tegang ketika mendengar suara merdu yang sangat dikenalnya. Mulut pemuda itu menggerimit seolah-olah tengah berhadapan dengan hantu yang menakutkan! Seluruh urat-urat tubuhnya menegang! Wajahnya pun pucat, dan keringat dinginnya mulai menitik Pemuda itu menjadi tegang karena suara merdu itu terdengar agak ketus.

Perlahan-lahan Pendekar Naga Putih menolehkan pandangan ke arah asal suara itu. Debaran dalam dadanya terdengar semakin bergemuruh ketika tampak sesosok tubuh ramping berparas jelita tengah memandang tajam ke arahnya. Dari raut wajahnya, Panji sadar kalau gadis itu telah mengetahui duduk persoalannya. Karena wajahnya menyiratkan kebencian hebat!

"Kenanga, kau.... Kau mengapa ada di tempat ini?" tanya Panji bergetar.

Pemuda itu merasa aneh ketika mendengar suaranya demikian asing di telinga. Seolah-olah suara itu bukanlah suara sendiri. Karena demikian kering dan bergetar, seperti dari alam lain.

"Hm.... Seharusnya aku yang harus bertanya seperti itu kepadamu?! Mengapa kau berada di tempat ini?! Apa yang tengah kau lakukan?!" tanya gadis jelita itu. Suaranya terdengar tidak enak sekali di telinga Panji.

Hati pemuda itu pun semakin tidak enak ketika gadis itu tidak iagi menyebutnya 'kakang’. Jelas sekali kalau dia sudah tidak menunjukkan sikap mesra kepadanya. Dan hal itu membuat debaran dalam dada Panji semakin keras. "Aku.... Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, Kenanga. Aku.... Aku hanya sedang melepaskan lelah," sahut Panji. Suaranya masih tetap bergetar karena hatinya masih diliputi ketegangan. Diam-diam hati pemudaitu berharap agar kekasihnya belum mendengar berita-berita yang menyudutkan dirinya. Siapa tahu gadis itu hanya marah karena telah berpisah dengannya tanpa sengaja.

"Hm.... Mengapa ada luka di tubuhmu?" tanya Kenanga. Gadis itu menatap tajam penuh kebencian pada Pendekar Naga Putih.

Panji berdiri lesu bagaikan seorang pesakitan yang menunggu keputusan hakim. Sepasang mata kekasihnya yang biasanya selalu menimbulkan perasaan indah itu, kini tak lagi nampak Sebenarnya Panji lebih suka ditodongkan ujung tombak daripada mendapat tatapan mata kekasihnya yang tajam dan sangat menusuk hati

“Pendekar Naga Putih! Apakah kau memang sudah berubah menjadi seorang pengecut yang tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Ke mana perginya kegagahan yang selama ini kau miliki? Kau benar-benar telah membuatku kecewa, Panji!" sindir Kenanga. Wajahnya tampak mulai basah oleh air mata. Kata-kata itu memang demikian tajam. Bahkan sepertinya Kenanga tidak menganggap Panji lagi.

Kening Panji berkerut-kerut menahan rasa sakit hati akibat ucapan kekasihnya itu. Kalau saja orang lain yang mengatakannya, mungkin tidak apa-apa. Tapi ucapan itu justru keluar dari mulut orang yang amat dicintainya. Tentu saja hal itu bagaikan ujung tombak yang menikam jantungnya.

"Kenanga. Kau pun percayaakan tuduhan orang-orang persilatan itu kepadaku? Kau..., kau lebih mempercayai mereka daripada aku? Ohhh...!"

Panji terhuyung ke belakang dengan wajah pucat. Keningnya semakin berkerut-kerut manahankan guncangan hebat pada dirinya. Ucapan kekasihnya itu bagaikan ujung pedang yang mengiris-iris jantungnya. Bahkan rasanya lebih baik tubuhnya diiris-iris ujung pedang daripada harus mendengar tuduhan itu.

"Hm.... Pada mulanya aku memang tidak mempercayai berita yang tersebar di kalangan persilatan itu. Karena, aku mengenal betul siapa dirimu. Dan rasanya keyakinanku itu tidak akan berubah apabila tidak memergoki perbuatanmu yang keji itu. Jangan coba-coba membodohi aku, Pendekar Naga Putih. Karena aku telah memergokimu ketika kau baru saja melakukan perampokan, pembunuhan, dan sekaligus menodai seorang gadis anak keluarga kaya di Desa Tirtasana. Aku tahu, kau pasti telah melupakannya. Atau memang sengaja berpura-pura lupa agar aku mempercayaimu," ucap gadis itu sambil menyusut air matanya yang mulai jatuh dan bergulir di pipinya yang halus itu. Kenanga segera menarik napas untuk melonggarkan rongga dadanya yang terasa sesak.

"Tidak mungkin...! Kau pasti keliru, Kenanga! Aku... aku tidak pernah melakukan apa-apa! Sungguh!" bantah Panji. Suara Pendekar NagaPutih terdengar semakin lemah dan serak. Kedua kakinya tampak gemetar. Sepertinya ia tidak mampu lagi untuk menahan bobot tubuhnya. Terlihat pemuda tampan itu menyeringai menahan sakit sambil meremas-remas dadanya.

"Kau bilang aku keliru? Huh! Siapa lagi di dunia ini yang memiliki ilmu 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'? Siapa lagi di dunia ini yang tubuhnya dapat mengeluarkan sinar putih keperakan? Dan siapa tokoh sakti di dunia ini yang masih muda dan tampan yang memiliki ilmu pukulan berhawa sedingin salju?" desah Kenanga.

Suara gadis itu semakin lama semakin tinggi. Bahkan pada akhir kalimatnya, gadis itu berteriak sekeras-kerasnya. Rupanya bukan hanya Panji saja yang menerima guncangan batin yang hebat Sepertinya gadis jelita itu juga tidak terlepas dari pukulan yang mendera batinnya.

"Tidak mungkin, Kenanga...! Tidak mungkin..! Oh, Tuhan.... Dosa apa yang telah hamba perhuat, sehingga begitu kuat cobaan yang Kau berikan...?!" desah Panji dengan suara yang semakin serak dan lemah. Pemuda itu berdiri bergoyang- goyang bagai orang mabuk. Sepasang matanya yang selalu menyorotkan sinar tajam, kini nampak sayu.

"Jangan sebut-sebut nama Tuhan! Kesalahanmu sungguh besar, Pendekar Naga Putih. Dan kini kau masih juga berusaha menyangkal! Padahal kita sempat bertanding selama beberapa jurus. Dan sebelum melarikan diri, kau berkata agar aku segera melupakanmu dan tidak usah mencari-carimu lagi?! Apakah kau pun telah lupa dengan ucapanmu itu?!" bentak Kenanga semakin keras. Meskipun wajah gadis itu sama pucatnya dengan wajah Panji, namun Kenanga tampak lebih bisa menguasai dirinya. Itu bukan berarti dia lebih tegar. Tapi karena gadis itu sudah pasrah kepada nasib yang menimpa dirinya.

"Oh, Tuhan...," Panji mengeluh sambil menekap wajahnya. Jari-jari tangan Pendekar Naga Putih tampak gemetar ketika mengusap wajahnya. Namun debaran dalam dadanya sudah tidak lagi sehebat tadi. Pendekar Naga Putih mulai bisa menenangkan gejola khatinya.

"Baiklah. Kalau kau memang sudah tidak mempercayaiku lagi, terserah. Aku pasrah. Namun aku bersumpah, bahwa aku sama sekali tidak melakukan hal- hal seperti yang kau tuduhkan itu. Biarlah kalau memang sudah begin! suratan nasibku, aku pasrah, Kenanga," kata Panji. Suara Pendekar Naga Putihkini lebih tenang meskipun masih tetap bergetar, penuh perasaan kasih. Sambil mencoba menguatkan hatinya, Panji melangkah mendekati kekasihnya.

"Diam di tempatmu! Kalau kau masih juga melangkah, maka terpaksa kau akan kubunuh, Pendekar Naga Putih!" bentak Kenanga sambil menodongkan ujung pedang yang mengeluarkan sinar keperakan ke tubuh Panji. Rupanya gadis itu masih juga mencurigainya. Meskipun saat itu Panji telah benar-benar pasrah.

"Aku bersumpah tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan keji itu, Kenanga. Percayalah kalau orang yang pernah bertarung denganmu itu bukanlah aku!" tegas Panji yang telah mendapatkan kembali ketenangan dirinya. Semua itu didapatkan setelah kepasrahan dalam dirinya timbul. Meskipun ia tetap tidak mengakui segala apa yang telah dituduhkan kepada dirinya itu.

"Hm.... Kalau memang kau masih juga tidak mengakui segala perbuatan biadabmu itu, marilah kita bertarung! Meskipun aku harus kehilangan orang yang paling kucintai. Ini terpaksa kulakukan demi menegakkan keadilan!" tegas Kenanga yang segera melintangkan pedangnya, siap menghadapi pertarungan mati-matian.

"Tidak! Aku tidak akan melawanmu, Kenanga! Kalau kau memang ingin membunuhku, silakan! Dan aku akan ikhlas menerimanya," jawab Panji pasrah. Memang jelas, bagaimana mungkin Pendekar Naga Putih akan melakukan pertarungan dengan kekasihnya. Dan Panji tahu betul kalau gadis jelita itu tidak akan berani membunuhnya.

Melihat Pendekar Naga Putih tampak berdiri pasrah, Kenanga membanting-banting kaki kanannya karena kesal. Hatinya bergetar menerima tatapan lembut yang menyiratkan perasaan kasih yang dalam di hati pemuda itu. Hingga untuk beberapa saat lamanya, Kenanga hanya dapat memandang bingung.

"Lawanlah aku, Pendekar Naga Putih! Apakah kau telah berubah menjadi seorang pengecut?!" teriak Kenanga yang menjadi gemas melihat sikap yang ditunjukkan pemuda itu.

Panji hanya tersenyum getir melihat keadaan gadis yang dicintainya. Pemuda itu menggeleng pelan sebagai tanda kalau tidak bisa meluluskan permintaan kekasihnya.

"Hm.... Jangan dikira aku tidak akan berani untuk membunuhmu, Pendekar Naga Putih? Kalau kau masih juga tidak akan mencabut senjatamu, terpaksa kau akan kubunuh!" teriak Kenanga yang menjadi gusar.

"Aku siap menerima hukuman darimu, Kenanga," sahut Panji lembut. Suara Pendekar Naga Putih bergetar menahan perasaan sakit dan kecewa. Wajahnya berkerut-kerut menandakan betapa terpukul hatinya melihat orang yang dicintainya sudah tidak mempercayi dirinya lagi.

Melihat kenyataan kalau Panji masih juga belum mencabut senjatanya, Kenanga menggertakkan giginya menahan geram. Biarpun pemuda itu adalah orang satu-satunya yang dicintainya, akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk melenyapkan kebathilan. Gadis itu masa bodoh apabila kehilangan orang yang paling dicintainya.

"Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, baiklah! Bersiaplah untuk menerima hukuman, Pendekar Naga Putih!" ancam Kenanga yang sudah menggerakkan senjatanya, siap melenyapkan Pendekar Naga Putih.

TUJUH

Wuk! Wuk...!

"Hiaaat...!"

Dibarengi teriakan nyaring, tubuh gadis itu pun melesat sambil menusukkan pedangnya ke dada Panji. Kenanga menguatkan hatinya yang sempat bergetar melihat tatapan penuh kasih yang terpancar di wajah pemuda itu. Dan getaran di hatinya telah membuat senjata di tangannya ikut pula bergetar!

Cappp!

"Akh...!" Panji mengeluh pendek, menahan rasa sakit pada perutnya yang tertembus pedang kekasihnya. Meskpun wajahnya semakin memucat, namun tatapan penuh kasih itu tetap memancar diwajahnya.

"Ah...!" Kenanga menahan jeritannya melihat darah segar mulai mengucur membasahi jubah pemuda itu. Bergegas tubuhnya melompat mundur sambil mencabut senjatanya dari perut Panji. Bibir gadis jelita itu bergetar menahankan perasaan hatinya yang terguncang. Kenanga berdiri terpaku melihat tubuh kekasihnya roboh mandi darah. Bibir Panji tampak tersenyum memandang wajah kekasihnya. Akhirnya karena tak sanggup menerima kenyataan, Kenanga langsung jatuh terduduk di atas rerumputan. Wajahnya basah oleh air mata yang mengalir deras menganak sungai.

"Ohhh..., Kakang. Apa artinya hidup ini bagiku! Tunggulah aku, Kakang...." Sambil berkata demikian, Kenanga mengangkat pedangnya. Dan kini mata pedangnya menempel di belahan dadanya. Sepertinya Kenanga ingin bunuh diri karena tidak sanggup menahan penderitaan yang mendera jiwanya. Dengan kedua tangan gemetar dan wajah bersimbah air mata, gadis jelita itu memejamkan matanya. Pedang Sinar Rembulan terangkat dan siap dihunjamkan ke dada yang berisi kehancuran. Dan ketika ujung pedang itu hendak ditekan, mendadak...

Trang!

"Akh...!" Kenanga terpekik kaget ketika pedangnya yang meluncur turun itu tiba-tiba terpental. Belum lagi gadis itu sempat mengetahui apa yang telah membuat senjatanya teriepas dari genggaman, tahu-tahu saja di depannya telah berdiri seorang kakek berusia sekitar delapan puluh tahun. Ternyata dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, kakek itu menjentikkan kerikil dan tepat memapak pedang Kenanga.

"Cucuku, kematian bukanlah sebuah penyelesaian," kata kakek itu. Dihampirinya Kenanga yang telah bersimbah air mata. Begitu dekat, dibelainya rambut kepala gadis jelita itu penuh kasih. Wajah tua itu berkerut ketika melihat tubuh seorang pemuda berjubah putih tergeletak beberapa tombak didepannya.

"Ohhh, Eyang.... Biarkanlah aku menyusul Kakang Panji. Aku... aku tidak sanggup untuk menahan penderitaan ini, Eyang," Kenanga menangis sesenggukan ketika mengenali orang yang berdiri didepannya itu. Kakek itu tak lain adalah Raja Obat.

"Hm.... Rupanya aku terlambat..," desah Raja Obat penuh sesal. "Bangkitlah, Cucuku. Mari kita lihat keadaan kekasihmu itu." Setelah berkata demikian, kakek itu melangkahkan kakinya menghampiri tubuh Panji yang tergeletak berlumur darah.

Mendengar ucapan Raja Obat, Kenanga bangkit merintih pilu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis jelita itu segera berlari meninggalkan tempat itu. Isaknya masih terdengar mengiringi langkah kakinya.

"Kenanga, tunggu...!" seru Raja Obat mencoba menahan kepergian gadis jelita itu. Dan orang tua itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat gadis itu terus mempercepat larinya. Untuk beberapa saat lamanya, Raja Obat hanya termangu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya kembali menatap tubuh yang tergeletak itu. Setelah agak lama terdiam, kakek itu pun mengulurkan tangannya memeriksa keadaan Panji. Senyum lega membayang di wajah tua itu ketika merasakan denyut jantung yang terdengar lemah. Jelas kalau pemuda itu masih mempunyai harapan hidup.

"Hhh.... Syukurlah, dia masih bisa diselamatkan," ucap Raja Obat lega.

Tak lama kemudian, kakek itu melangkah meninggalkan tempat itu dengan membawa tubuh Panji yang ternyata belum tewas. Kegelapan mulai merangkak menyelimuti permukaan bumi. Tampaknya sang malam mulai menampakkan kekuasaannya. Tak lama kemudian, rembulan muncul menerangi jagat raya dengan sinarnya yang temaram.

********************

Di sebuah kedai makan, tampak tiga orang tengah berbincang-bincang. Mereka duduk dekat pintu masuk. Sementara ada seseorang yang duduk di pojok. Dia hanya memperhatikan saja. Sedangkan enam orang lainnya seperti acuh tak acuh.

"Hm.... Semakin hari sepak terjang Pendekar Naga Putih semakin merajalela saja. Sudah terlalu banyak perbuatan keji yang dilakukannya. Dan kalau kita belum juga dapat melenyapkannya, maka akan binasalah semua manusia di permukaan bumi ini," jelas seorang laki-laki bertubuh sedang, geram. Sepasang matanya tampak mencorong tajam menandakan kegusaran hatinya.

"Ya! Sayangnya sampai saat ini belum ada seorang pun yang sanggup menghentikan keganasannya. Bahkan kini yang menjadi korban bukan lagi orang-orang awam, melainkan para tokoh golongan putih," timpal seorang laki-laki berusia setengah baya. Wajahnya yang gagah itu tampak tertutup mendung. Berkali-kali kepalanya digelengkan disertai helaan napas berat

"Dan tampaknya kita harus menerima kenyataan pahit ini, Ki. Saat ini para tokoh golongan hitam bersorak gembira dan berpesta mengelu-elukan Pendekar Naga Putih. Tampaknya pendekar muda yang selama ini diagung-agungkan tokoh golongan putih telah berubah haluan. Entah apa yang telah menyebabkannya?" orang yang lainnya ikut menimpah dengan suara penuh penyesalan.

"Apakah Ki Barak sudah berhasil menghubungi Ki Ageng Mandalewa?" tanya lelaki bertubuh sedang, yang pertama kali membuka percakapan. Langsung ditatapnya laki-laki setengah baya yang dipanggilnya dengan nama Ki Barak. Wajahnya yang lelah itu tampak menyiratkan sebuah harapan.

"Hhh.... Sayang sekali aku tidak berhasil, Aki Bantar. Menurut keterangan para muridnya, orang tua sakti itu sudah setengah bulan lebih menyembunylkan diri di tempat pertapaan. Kita baru dapat menghubunginya pada lima purnama mendatang. Hhh..., entah siapa lagi yang harus kita hubungi untuk meminta bantuan dalam menghadapi keganasan Pendekar Naga Putih," sahut Ki Barak berdesah kecewa.

"Yahhh.... Belum lagi kita harus menghadapi tokoh golongan hitam yang sepertinya mulai bangkit dan melakukan kekacauan di mana-mana. Rasanya kali ini para tokoh golongan putih tengah menghadapi ujian berat," ujar orang lainnya yang bertubuh gemuk dan berkepala botak.

Tanpa sepengetahuan ketiga orang yang tengah berbincang itu, seorang laki-laki bertubuh sedang dan berusia sekitar enam puluh tahun lebih tampak ikut memasang telinganya. Sesekali terdengar helaan napasnya yang berat. Sepertinya dia juga tengah merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang tengah berbicara itu. Kakek itu duduk tenang di pojok kedai sambil mencicipi hidangan di atas meja.

Saat itu suasana kedai memang tidak terlalu ramai. Hanya ada enam orang lagi, selain si kakek dan ketiga orang yang tengah berbincang itu. Untuk beberapa saat lamanya suasana menjadi hening ketika ketiga orang laki-laki yang semula berbincang itu tampak berhenti dan menikmati makanannya.

Kakek yang duduk pada meja yang terdapat di sudut, tampak bergerak bangkit dari bangkunya. Kemudian, kakinya melangkah tertatih-tatih mendekati meja ketiga orang yang tengah menikmati hidangannya. Wajahnya yang mulai berkeriput itu tampak pucat, seolah-olah tengah mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Setelah terbatuk-batuk kecil, kakek itu menyapa Ki Barak dan dua orang kawannya.

"Ohhh.... Maaf, Kisanak. Bolehkah aku bergabung dengan kalian? Rasanya tidak enak sekali kalau harus menikmati hidangan tanpa seorang pun teman yang dapat diajak bicara," pinta kakek itu dengan suara lembut dan sopan. Sepasang matanya yang menghitam pada bagian bawahnya tampak menatap penuh harap.

Ki Barak, Bantar, dan kawannya yang seorang lagi sama-sama menatap ke arah wajah yang ditumbuhi kumis dan jenggot memutih itu.

"Oh, mari, mari, Ki. Silakan," sahut Ki Barak yang merupakan orang tertua di antara ketiga orang itu. Kemudian, laki-laki setengah baya itu segera menarik kursi yang memang tinggal sebuah itu. Memang dalam satu meja, terdapat empat buah kursi.

"Ah, apakah aku tidak mengganggu?" tanya kakek itu yang sepertinya masih ragu, sehingga masih saja berdiri ditempatnya. Dipandanginya wajah ketiga orang itu satu persatu, seolah-olah ingin memastikan kalau ketiga orang itu benar-benar tidak merasa keberatan dengan keberadaannya. Setelah melihat ketiganya mengangguk ramah, maka tanpa rasa ragu lagi segera diambilnya kursi yang telah diperuntukkan baginya.

Ki Barak bergegas menggapai seorang pelayan dan minta agar hidangan untuk mejanya ditambah. Hal ini dimaksudkan kalau dia sama sekali tidak merasa keberatan.

"Ah! Aku telah membuat kalian repot," desah kakek itu yang menjadi risih karena mendapat perlakuan yang demikian ramah dari lelaki setengah baya itu.

"Janganlah merasa sungkan, Kisanak. Anggaplah kami ini sebagai sahabat lama yang baru bertemu kembali," Ki Bantar menyahut sambil memperdengarkan tawanya yang lunak dan menunjukkan kegembiraan yang tidak dibuat-buat

"Terima kasih.... Terima kasih. Kalian benar-benar orang-orang baik! Ah, beruntung sekali aku dapat berkenalan dengan kalian," ucap kakek itu lagi sambil melepaskan senyumnya.

Untuk beberapa saat lamanya wajah-wajah yang tertutup mendung tebal itu tampak berseri gembira.

"Boleh kami tahu, siapakah namamu?" tanya Ki Barak sesudah memperkenalkan namanya dan nama kedua orang temannya. Meskipun tampaknya penyakitan dan lemah, namun Ki Barak dapat menduga kalau kakek itu bukanlah orang sembarangan. Memang, dari sinar mata yang sayu itu terkadang berkilat tajam dan mengandung perbawa kuat. Diam-diam Ki Barak memperhatikan wajah kakek itu dengan seksama kalau-kalau saja mengenal kakek itu.

"Namaku Ki Tungkil. Kedatanganku ke desa ini semula hendak mengunjungi cucuku. Aku memang sudah lama tidak pernah mengunjunginya. Tapi sayang kedatanganku terlambat. Sebab, cucuku itu ternyata telah pindah beberapa hari yang lalu. Maka aku pun singgah di kedai ini untuk mengisi perutku yang dari kemarin belum dimasuki apa-apa," jelas kakek yang mengaku bernama Ki Tungkil itu pelan. Di akhir ucapannya, Ki Tungkil tertawa terkekeh.

"Ah, sayang sekali! Apakah para tetangganya tidak memberi tahu, ke mana cucu Ki Tungkil itu pindah?" tanya Ki Barak sekadar berbasa-basi. Dan sebagai orang yang berpengalaman, Ki Barak bisa menduga kalau kakek itu menyembunyikan sesuatu.

"Sayang sekali tidak, Kisanak Tapi biarlah. Karena, aku yakin ia akan mengunjungiku setelah kepindahannya selesai," sahut Ki Tungkil menghela napas sejenak.

Pembicaraan mereka mendadak terhenti ketika pelayan kedai datang membawa pesanan. Sambil tertawa ramah, laki-laki setengah baya itu segera mempersilakan untuk segera menikmati hidangan yang masih mengepul dan menebarkan bau harum itu.

"Ayolah, Selagi masih hangat," ajak Ki Barak yang tanpa ragu-ragu lagi segera menyantap hidangannya.

Suasana pun kembali sunyi. Yang terdengar hanya kunyahan mulut mereka.

"Maaf," selak KiTungkil setelah mereka menyantap hidangan. "Tadi aku mendengar kalian membicarakan Pendekar Naga Putih. Sepertinya aku sering mendengar nama itu disebut-sebut orang di desa tempat tinggalku. Bisakah Kisanak menerangkan kepadaku,bsiapa sebenarnya orang itu? Dan bagaimana rupanya?" tanya Ki Tungkil sambil menatap Ki Barak lembut.

Mendengar pertanyaan itu, Ki Barak dan kedua orang temannya saling berpandangan sejenak. Dugaan laki-laki setengah baya itu semakin kuat kalau kakek itu bukanlah orang biasa, seperti orang kebanyakan. Dan sudah bisa diraba sebelumnya, apa maksud kakek itu bergabung dengan mereka. Yang jelas pasti bukan hanya untuk mencari teman untuk berbicara. Dan tentu saja ada maksud lain yang disembunyikan.

"Maaf. Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, bolehkah aku yang rendah ini mengetahui nama besarmu, Ki Tungkil?" tanya Ki Barak hati-hati, karena tidak ingin kalau kakek itu sampai tersinggung.

"He he he...!" kakek itu tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sepertinya Ki Tungkil merasa geli mendengar pertanyaan Ki Barak yang terdengar aneh ditelinganya itu. Tentu saja Ki Barak dan kedua orang kawannya saling berpandangan tak mengerti. Mereka merasa heran melihat kakek itu tertawa mendengar pertanyaan Ki Barak tadi. Karena, mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dalam pertanyaan itu.

"Mengapa Ki Tungkil tertawa? Apakah ada sesuatu yang lucu dalam pertanyaanku tadi?" tanya Ki Barak dengan kening berkerut. Hatinya agak tersinggung juga melihat Ki Tungkil tertawa.

"He he he.... Maaf kalau suara tawaku telah membuatmu tersinggung, Kisanak. Tapi aku benar-benar merasa geli mendengarnya. Sebab, aku hanyalah orang biasa yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Jadi, tentu saja aku merasa lucu mendengar pertanyaan itu," jawab Ki Tungkil yang masih saja terkekeh sambil menyembunyikan mulutnya karena terrutup telapak tangan.

"Hm.... Maaf, Ki Tungkil. Meskipun aku bukanlah seorang pendekar besar, tapi tidak bisa tertipu. Dan aku bisa melihat bahwa kau pastilah memiliki ilmu silat. Buktinya tubuhmu terlihat masih segar dan berisi. Dan juga sinar matamu terkadang mengeluarkan kilatan tajam. Itulah yang membuatku yakin kalau Ki Tungkil tentu bukan sekadar memiliki ilmu silat. Bahkan mungkin juga seorang pendekar yang berusaha menyembunyikan diri. Apakah kau juga ingin mencari Pendekar Naga Putih?" tanpa ragu-ragu lagi Ki Barak pun langsung menyudutkan Ki Tungkil.

Ki Tungkil tersentak juga mendengar uraian Ki Barak yang memiliki pandangan cukup tajam itu. Untuk beberapa saat lamanya, dia hanya terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan menggaruk rambutnya meskipun sama sekali tidak gatal.

"Teryata pandanganmu sangat tajam, Ki Barak. Tapi, memang. Sebenarnya aku tidak memiliki nama besar seperti yang kau duga itu. Aku memang pernah mempelajari ilmu silat, namun hanya untuk menjaga kesehatan tubuhku saja dan tidak ada maksud-maksud tertentu. Maaf kalau aku mengecewakanmu, Kisanak," kilah Ki Tungkil dengan wajah penuh sesal.

"Yah. Kalau memang begitu, sudahlah. Eh, masihkah Ki Tungkil menginginkan keterangan tentang Pendekar Naga Putih?" tanya Ki Barak mencoba menghilangkan suasana kaku di antara mereka. Tawa Ki Barak pun sudah terdengar kembali meskipun agak sedikit sumbang. Tapi jelas sekali kalau lelaki setengah baya itu berusaha menghilangkan kekakuan yang menyelimuti mereka.

“Tentu saja, kalau kau tidak merasa keberatan," sahut Ki Tungkil cepat sambil terkekeh nyaring.

"Sama sekali tidak, Ki. Justru aku minta maaf kalau keteranganku ini hanya serba sedikit. Kuakui, aku pun belum pernah berjumpa dengan pendekar muda yang kini tengah ramai dibicarakan orang rimba persilatan," ujar Ki Barak sebelum memulai ceritanya.

"Hm. Mengapa begitu? Apa yang telah. dilakukannya?" tanya Ki Tungkil seraya mengerutkan keningnya. Sepertinya kabar yang menggemparkan itu memang belum pernah didengarnya.

"Yah, karena pendekar muda yang selama ini dipuja tokoh golongan putih itu, telah berubah menjadi seorang penjahat yang sangat kejam! Kejahatan yang dilakukannya benar-benar telah melewati takaran! Makanya, ia kini dikenal sebagai seorang perampok, pembunuh, dan sekaligus pemerkosa. Kebanyakan dari gadis yang dinodainya karena terpikat oleh ketampanan Pendekar Naga Putih! Dan ia tidak segan-segan membunuh gadis itu setelah terlebih dahulu dinodainya. Memang ada beberapa di antaranya yang dilepaskan begitu saja. Tapi, apa bedanya hidup dan mati bagi seorang gadis yang telah kehilangan kehormatannya?" Ki Barak menghentikan ceritanya sejenak. Diteguknya sisa air di gelasnya yang terbuat dari potongan bambu itu.

********************

DELAPAN

Sesosok tubuh ramping melangkah tersuruk-suruk menyusuri jalan berbatu. Sesekali terdengar keluhan lirih disertai isak tangisnya yang memilukan. Wajah yang sebenarnya cantik jelita itu nampak kotor tak terurus. Sebentar-sebentar air matanya disusut dengan punggung tangan. Sepertinya dia tengah mengalami suatu penderitaan yang sangat berat, hingga tidak lagi mempedulikan keadaan dirinya.

Siapa lagi gadis cantik yang mengenakan pakaian serba hijau itu kalau bukan Kenanga. Pedang Sinar Rembulan masih tergenggam di tangannya. Pada ujung mata pedang itu masih terdapat darah yang telah mengering. Dan gadis itu sama sekali tidak berusaha membersihkan ujung pedangnya yang ternoda itu. Tampaknya hatinya merasa terpukul setelah membunuh Panji. Bahkan ia memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri pada waktu itu. Untunglah Raja Obat keburu datang mencegahnya. Kalau tidak, mungkin saat itu ia sudah menyusul kekasihnya.

"Oh, Kakang...," keluh gadis jelita itu dengan hati hancur. Kembali butiran air bening mengalir turun membasahi wajahnya yang tampak pucat dan agak kurus itu. Tubuhnya melangkah limbung begitu teringat akan Panji yang telah dibunuhnya. Meskipun Kenanga berusaha mengeraskan hatinya, namun tetap saja tidak mampu menghibur hatinya yang terguncang. Gadis jelita itu terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Sepertinya dia sudah tidak mempunyai tujuan lagi, dan hanya membiarkan langkah kaki yang akan membawa tubuhnya.

"Oh...?!" Kenanga menahan jeritan dengan menutupkan telapak tangan ke mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat ketika melihat sosok tubuh terpampang di depannya. Sepasang matanya yang semula sayu tak bergairah, tiba-tiba terbelalak bagai orang melihat hantu di siang bolong!

"Oh, tidaaak..!" Gadis jelita itu mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah-olah ingin mengusir bayangan yang dianggapnya semu itu. Kepalanya menggeleng-geleng diiringi keluhan menyayat. Tubuhnya bergerak mundur terhuyung-huyung. Sepertinya, penderitaan tak kunjung lenyap dari kehidupannya.

"Kenanga...." Sosok tubuh berjubah putih yang membuat gadis itu terbelalak menyapa dengan suara lembut dan bergetar. Rupanya dialah yang telah kembali mengguncangkan hati Kenanga. Akibatnya, wajahnya sampai berkerut-kerut menahankan perasaan hati yang teraduk-aduk.

"Tidak mungkin...! Kau..., kau sudah mati..!" Akhirnya suara itu meluncur juga dari bibir mungil yang pucat itu. Jari-jari gadis itu gemetar ketika mengarahkan telunjuknya ke wajah sosok berjubah putih yang tak lain adalah Panji.

"Mengapa, Kenanga...?" tanya pemuda tampan berjubah putih itu agak heran melihat sikap Kenanga. "Mengapa kau bilang aku sudah mati?"

"Bukankah kau.... Kau telah kubunuh di dalam hutan beberapa hari yang lalu? Jadi... jadi tidak mungkin kalau hidup lagi. Tidak mungkin!" Kenanga berteriak keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu.

Pendekar Naga Putih tampak tertegun sesaat ketika mendengar ucapan gadis jelita itu Tapi sesaat kemudian, senyumnya pun kembali menghiasi wajahnya yang tampan itu. "Hm.... Jadi kau telah berhasil membunuh manusia keparat yang telah mencemari namaku, Kenanga? Bagaimana kau bisa menemukan manusia iblis itu? Apakah ia benar-benar sudah tewas?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Pendekar Naga Putih. Wajah tampan itu mendadak berseri gembira. Langsung kakinya melangkah menghampiri gadis jelita itu

"Membunuhnya...? Apa... apa maksudmu, Kakang?" tanya Kenanga yang menjadi terkejut ketika mendengar kata-kata pemuda tampan berjubah putih itu.

"Ya. Orang yang telah kau bunuh itu adalah Pendekar Naga Putih palsu yang telah melakukan perbuatan- perbuatan keji. Selamat, Kenanga," sahut Panji semakin mendekati Kenanga sambil mengulurkan tangannya.

"Pendekar Naga Putih palsu? Benarkah itu? Tapi, mengapa demikian mirip? Tidak! Tidak mungkin!" desah Kenanga seperti berkata kepada dirinya sendiri.

Sejenak kemudian, Kenanga memijat-mijat kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Rasanya pusing sekali memikirkan hal yang sepertinya tidak masuk akal itu. Apalagi saat ini kondisinya memang sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk berpikir keras.

"Mengapa tidak mungkin, Kenanga. Aku sudah pernah berjumpa sekali dengannya. Tapi sayang, ia berhasil meloloskan diri. Selain ilmu silatnya tinggi, ternyata manusia keparat itu pun memiliki ilmu sihir yang hebat! Dan dengan mengandalkan kehebatan ilmu sihirnya, tokoh-tokoh persilatan berhasil dikelabuinya. Dan kini, akulah yang terkena getahnya. Kau mengerti, Kenanga?" jelas Panji secara panjang lebar kepada Kenanga. Sementara langkahnya semakin mendekati Kenanga.

"Jadi... jadi..., ohhh!" Kenanga tak mampu menruskan kata-katanya. Rupanya karena kelelahan yang amat sangat, gadis itu jadi tidak kuat hatinya menghadapi pertemuan yang mengejutkan. Tubuh Kenanga yang kini tampak kurus itu melorot jatuh di atas tanah berbatu. Pingsan!

"Kenanga...!" Panji segera melompat hendak menangkap tubuh gadis itu agar tidak terjatuh di atas tanah berbatu. Belum lagi tubuh Pendekar Naga Putih sampai ke tempat Kenanga, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat. Maka Pendekar Naga Putih cepat-cepat menarik pulang tangannya.

"Jangan sentuh gadis itu...!" bentak bayangan itu, langsung mendorongkan telapak tangannya ke dada Pendekar Naga Putih.

Bergegas Pendekar Naga Putih melempar tubuhnya ke belakang dan berjumpalitan beberapa kali di udara. Maka telapak tangan bayangan itu hanya lewat di depannya, sehingga menimbulkan angin mencicit tajam.

"Siapa kau! Mengapa mencampuri. urusanku!" bentak Pendekar Naga Putih geram. Seluruh wajahnya tampak memerah karena menahan kemarahan yang meluap.

"Hm! Apakah kau sudah pikun, Pendekar Naga Putih? Bukankah kita pernah bertemu beberapa waktu yang lalu? Dan aku juga telah berjanji akan mengejarmu walau sampai ke ujung langit sekalipun!" tegas si kakek yang mengenakan pakaian serba putih itu seraya tersenyum lembut. Ia tak lain adalah Eyang Sancaka, Ketua Perguruan Garuda Putih. Dan memang pernah bertempur dengan Panji. Waktu itu, Eyang Sancaka ditemani dua orang muridnya yang juga ikut mengeroyok Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Jangan berpura-pura bodoh, Pendekar Murtad!" bentak salah seorang dari murid Perguruan Garuda Putih yang juga telah berada di tempat itu.

"Dan hari ini kau tidak mungkin akan lolos lagi, Manusia Bejat!" timpal salah seorang murid utama kakek berpakaian putih yang bernama Banawa.

"He he he...! Jangan takut, Pendekar Naga Putih. Kami datang membantu!" terdengar tawa terkekeh sember yang cukup mengejutkan. Belum lagi gema suara itu lenyap, tahu-tahu sesosok tubuh jangkung telah berdiri di tempat itu. Ternyata dia adalah Setan Langit

"Ha ha ha...! Aku pun ikut, Kakang...!" kembali terdengar suara tawa yang menyakitkan anak telinga. Suara tawa itu tadi dibarengi pula dengan menggelindingnya sebuah benda bulat yang mirip bola. Dia lebih dikenal dengan julukan Setan Bumi.

Tujuh orang tokoh Perguruan Garuda Putih yang berdiri dekat dengan benda yang menggelinding itu cepat berloncatan menghindar. Wajah mereka nampak terkejut melihatnya. Belum lagi rasa kaget mereka hilang, tiba-tiba benda itu melambung setinggi satu tombak.

"Ha ha ha...!"

Kembali tokoh Perguruan Garuda Putih itu berlompatan sambil mencabut senjata masing-masing. Rasanya jantung mereka hampir copot ketika tahu-tahu saja sesosok tubuh gemuk pendek mengejutkan mereka dengan suara melengking

"Kaget, ya?" ledek sosok tubuh yang berwajah bulat seperti wajah kanak-kanak itu.

"Setan Langit dan Setan Bumi...!" seru Eyang Sancaka yang mengenakan pakaian serba putih, terkejut. Dari nada suara laki-laki tua itu jelas sekali kalau dia merasa khawatir dengan kehadiran kedua orang aneh yang sakti itu.

"Hm.... Pantas saja kau begitu tega menyebar maut, Pendekar Naga Putih? Kiranya kau berteman dengan dua setan tak tahu adat itu!" kata Eyang Sancaka lagi. Nada suaranya terdengar sinis.

"He he he.... Bagus kau masih mengenaliku, Sancaka. Tanganku jadi semakin gatal saja melihat keberadaanmu di tempat ini!" kata Setan Langit yang bertubuh tinggi kurus.

Bahkan Eyang Sancaka sampai mendongakkan kepalanya ketika memandang wajah Setan Langit yang satu setengah kali lebih tinggi darinya itu. Wajah Eyang Sancaka tampak cemas dengan adanya kedua orang itu. Karena, ia tahu betul akan kehebatan kedua orang manusia telengas itu. Dan di antara para tokoh yang terdapat di situ, hanya dialah yang mampu mengimbangi kesaktian kedua orang itu. Tentu saja hal ini membuatnya khawatir!

"He he he.... Pendekar Naga Putih palsu, si manusia bejat! Hari ini Malaikat Maut akan menjemputmu!"

Tiba-tiba terdengar suara menggema yang memenuhi sekitar tempat itu. Dan sebelum suara itu lenyap, terlihat seorang kakek kakek bertubuh sedang, berlari menuju ke tempat para tokoh rimba persilatan itu. Di belakangnya tampak Ki Barak dan dua orang kawannya. Siapa lagi kakek itu kalau bukan Ki Tungkil.

"Pendekar Naga Putih palsu...?" Suara merdu yang parau itu keluar dari mulut Kenanga yang rupanya sudah mulai tersadar dari pingsannya. Dan gadis jelita itu kembali mengernyitkan kening, karena nama Pendekar Naga Putih palsu kembali terdengar disebut-sebut untuk yang kedua kalinya.

"Apa maksudmu dengan ucapan itu, Kakek Tua?" tanya salah seorang murid Perguruan Garuda Putih yang menjadi terkejut mendengarnya.

"Hm.... Dapatkah kau membuktikannya, Kisanak?" tanya Ketua Perguruan Garuda Putih yang juga tidak kalah heran.

"Hm..., Nisanak! Tahukah kau, senjata apa yang dimiliki Pendekar Naga Putih yang asli? Dan apakah senjata itu ada pada orang yang mengaku sebagai Pendekar Naga Putih?" tanya Ki Tungkil kepada Kenanga sambil menunjuk ke arah pemuda tampan berjubah putih itu.

"Oh! Mengapa aku baru teringat sekarang!" keluh Kenanga pelan. "Ya, aku ingat sekarang! Kakang Panji, tunjukkan senjatamu kepadaku?"

Pemuda tampan berjubah putih itu menjadi terkejut. Jelas sekali kalau ia agak bingung mendengar permintaan gadis itu. Dengan gerakan ragu-ragu, akhirnya pemuda itu pun mengeluarkan pedangnya yang tergantung dipinggang. "Hm.... Inilah senjataku, Kenanga!" sahut Pendekar Naga Putih sambil berusaha menenangkan perasaannya yang berdebar tegang.

"Kau... kau bukan Kakang Panji! Ohhh...!" Gadis jelita itu menjerit tatkala mengingat perbuatannya yang telah membunuh Pendekar Naga Putih asli di sebuah hutan pada beberapa hari yang lalu.

"He he he.... Kau salah, Manusia Keji. Inilah senjata Pendekar Naga Putih kalau kau ingin tahu!" seru Ki Tungkil.

Laki-laki tua itu kemudian mengeluarkan sebatang pedang yang tergantung di punggungnya. Selama ini, rupanya kakek itu menyembunyikannya di balik jubah, sehingga tidak begitu terlihat orang lain.

"Pedang Naga Langit...!"

Seruan kaget dan kagum itu keluar dari mulut tokoh-tokoh tua seperti Eyang Sancaka, Setan Langit, dan Setan Bumi. Karena hanya merekalah yang pernah mendengar riwayat dan keberadaan pedang mukjizat itu.

"Aku menemukan senjata ini di sebuah hutan lebat di samping mayat pendekar muda itu," lanjut kakek itu menerangkan.

SEMBILAN

"Ohhh...!" Kenanga kembali mengeluh ketika mendengar ucapan terakhir kakek itu. Gadis itu benar-benar merasa berdosa kepada kekasihnya.

"Keparat kau, Manusia Keji! Terimalah balasanku!" bentak gadis jelita itu yang segera memutar pedangnya kuat-kuat

"Nisanak, tahan! Biar aku yang menghadapinya!" cegah Ki Tungkil yang segera melompat ke arah pemuda berjubah putih itu. Sepasang mata kakek itu mencorong tajam menggiriskan.

"Ha ha ha.... Jangan kalian kira akan begitu mudah menangkapku! Nah! Kalian bisa lihat baik-baik! Seekor naga berkepala tiga akan segera menelan kalian semua hidup-hidup!" ancam pemuda berjubah putih itu. Suaranya terdengar demikian keras dan menggetarkan hati para tokoh persilatan yang berada di tempat itu.

"Ahk...!"

Ki Tungkil, Kenanga, Eyang Sancaka dan para tokoh persilatan lainnya berteriak kaget dengan mata membelalak: Tanpa sadar kaki mereka bergerak mundur ketika menyaksikan pemandangan yang tak masuk akal.

"Ilmu iblis...!"

"Ilmu sihir...!"

Terdengar teriakan-teriakan parau dan bergetar. Dan memang, apa yang diucapkan pemuda tampan itu benar- benar menjadi kenyataan! Segumpal asap hitam bergulung-gulung keluar dari tangan pemuda itu, kemudian membentuk seekor naga berkepala tiga!

"Graaaurrr...!" Naga berkepala tiga itu meraung keras sambil bergerak siap menelan tubuh mereka hidup-hidup!

"Huh! Jangan kira aku takut dengan pertunjukan murahan itu, Pemuda Biadab! Lihatlah!" Setelah berkata demikian, Ki Tungkil segera mencabut keluar pedang dari sarungnya.

Sringngng!

Sinar kuning keemasan berpendar dari badan Pedang Naga Langit yang telah keluar dari sarungnya.

"Heaaat..!" Ki Tungkil segera melompat sambil menyabetkan pedangnya ke arah naga berkepala tiga. Sinar keemasan itu terlihat semakin melebar ketika pedang itu digerakkan.

Wusss...! Blarrr!

Terdengar ledakan keras yang mengguncangkan tanah di sekitar tempat itu! Naga berkepala tiga ciptaan Pendekar Naga Putih palsu itu langsung lenyap begitu sinar kuning keemasan yang memancar dari Pedang Naga Langit membabat kepalanya.

"Aaahk...!" Bersamaan dengan ledakan dan lenyapnya wujud naga itu, terdengar jerit kesakitan yang keluar dari mulut Pendekar Naga Putih palsu. Tubuhnya terjajar mundur ke belakang. Memang, dengan lenyapnya ilmu sihir ciptaannya itu, maka tenaga sihirnya dengan sendirinya membalik dan memukul tubuhnya.

"Bangsat kau, Kakek Tua! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Pendekar Naga Putih palsu sambil bergerak bangkit karena tadi dia sempat terjatuh. Di sudut bibirnya tampak cairan merah menetes. Sepertinya pemuda itu mengalami luka dalam akibat ilmu sihirnya telah dipatahkan kakek itu.

"He he he.... Ilmu sihirmu memang dapat kau pergunakan untuk mengelabui orang lain. Tapi tidak berlaku untukku. Dan aku pun akan mengembalikan ke ujud asalmu yang kini masih menyamar sebagai Pendekar Naga Putih!" ancam Ki Tungkil yang sudah bersiap melancarkan serangan berikut.

"Bedebah! Kubunuh kau, Kakek Peot!" teriak pemuda tampan itu Setelah berteriak keras, tubuh pemuda itu pun melompat disertai sabetan pedangnya. Rupanya ia sudah tidak berniat lagi menggunakan ilmu sihirnya, karena hal itu akan percuma saja. Sebab, kakek itu pasti akan memunahkannya dengan menggunakan pedang mukjizat yang tergenggam di tangannya itu. Satu-satunya jalan ialah pedang itu harus dapat direbut dari tangan si kakek.

"Heaaat...!" Ki Tungkil berseru nyaring. Tubuhnya melesat menyambut serangan pemuda itu. Sesaat kemudian, keduanya sudah bertarung sengit. Dua gulungan sinar putih dan kuning saling libat dan saling mengalahkan! Sedangkan tubuh kedua orang yang tengah bertarung itu sudah tidak tampak lagi. Yang terlihat kini hanya bayangan samar berkelebatan saling desak!

Jurus demi jurus terus berlalu. Kedua orang itu berusaha keras untuk segera menjatuhkan satu sama lain secepatnya. Ilmu-ilmu andalan masing- masing telah keluar untuk mencapai kemenangan. Namun sampai sedemikian jauh, keduanya tampak masih tetap seimbang.

Sementara itu, pertarungan yang lain pun sudah pula berlangsung. Eyang Sancaka berhadapan dengan Setan Langit. Nampaknya kakek itu menemukan lawan yang seimbang. Buktinya, keduanya terlihat sama-sama gesit. Dan pukulan-pukulan mereka juga sama-sama menimbulkan deruan angin tajam. Dan memang pertarungan dua orang tokoh yang berbeda golongan itu tidak kalah serunya dibanding pertarungan Ki Tungkil dengan Pendekar Naga Putih palsu.

Sedangkan Setan Bumi dikeroyok Kenanga, Ki Barak, Banawa dan Panjala, sehingga menjadi kewalahan juga. Apalagi keempat orang pengeroyok itu bukanlah tokoh sembarangan. Terutama gadis jelita berpakaian serba hijau itu. Serangan-serangannya demikian ganas dan menggiriskan. Mau tak mau Setan Bumi terpaksa harus memusatkan perhatiannya kepada gadis itu.

Di tempat lain, pertarungan yang berlangsung antara Ki Tungkil dan Pendekar Naga Putih palsu terlihat semakin seru dan menegangkan. Rupanya ilmu pedang yang dimiliki kakek itu memang benar-benar hebat. Sehingga semakin lama sinar putih itu pun semakin mengecil lingkarannya.

"Heaaat..!" Diiringi sebuah teriakan nyaring, Ki Tungkil menyabetkan pedangnya secara mendatar, mengarah ke pinggang lawan. Sinar kuning keemasan berkeredep disertai sambaran angin yang menggemuruh.

Wuttt! Trangngng!

"Uhhh...!" Pemuda ahli sihir itu bergegas menggerakkan pedangnya menangkis serangan. Maka seketika terdengar benturan yang memekakkan telinga. Tubuh Pendekar Naga Putih palsu terjajar mundur diiringi keluhan kesakitan. Pemuda tampan berjubah putih itu berdiri limbung sambil menyeringai menahan sakit pada lengannya yang digunakan untuk menangkis tadi. Jelas sekali hatinya merasa terkejut ketika mendapat kenyataan kalau tenaga dalam kakek itu ternyata masih berada di atasnya.

"Yeaaat..!" Ketika melihat lawannya termangu dengan seringai kesakitan, Ki Tungkil tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Bergegas dia melompat dengan kecepatan kilat Sepertinya kakek itu sudah tidak sabar untuk segera menghabisi riwayat pemuda itu.

Wukkk! Wukkk..!

Pendekar Naga Putih palsu buru-buru melempar tubuhnya ke belakang beberapa tombak, maka dua buah serangan kakek itu mengenai angin kosong. Begitu kakinya menjejak bumi, tubuh pemuda itu melambung ke arah Ki Tungkil disertai bacokan dari atas ke bawah.

Kakek tua yang kelihatan penyakitan itu ternyata memiliki kegesitan hebat! Begitu serangan lawan tiba, segera kaki kanannya digeser ke depan dengan kuda-kuda rendah. Sesaat setelah serangan lawan lolos, Ki Tungkil menusukkan pedangnya ke lambung lawan yang terbuka. Namun Pendekar Naga Putih palsu cepat memiringkan tubuhnya sambil melontarkan sebuah tendangan ke kepala.

Bret! Desss!

"Aaah...!"

"Uuuh...!"

Keduanya terjajar mundur disertai jeritan masing-masing. Pakaian yang dikenakan pemuda itu robek. Ternyata mata pedang kakek itu sempat melukai kulit perutnya. Untung tubuhnya sempat dimiringkan. Kalau tidak, mungkin lambungnya bolong akibat tusukan pedang kakek itu.

Sedangkan kakek itu pun terlihat meringis sambil mengusap bahunya yang terkena tendangan lawan. Ki Tungkil rupanya salah tafsir. Semula disangka tendangan itu mengarah perutnya. Maka ia pun mengegos sambil menarik kaki kanan sehingga kuda-kudanya agak naik. Dan ketika tendangan itu terus melayang ke atas, terpaksa bahunya dibiarkan jadi sasaran lawan. Dan tentu saja bahunya telah terlindungi oleh tenaga dalam.

"Keparat! Kau harus membayar mahal akibat perbuatanmu ini, Kakek Peot!" teriak pemuda itu marah. Setelah berkata demikian, pedangnya segera dilintangkan, siap melancarkan serangan!

"He he he.... Lihatlah, Kawan-kawan! Apakah manusia biadab ini benar-benar Pendekar Naga Putih?" Ki Tungkil bertanya kepada para tokoh persilatan yang tengah menyaksikan pertarungan itu.

"Hei! Dia ternyata Pendekar Naga Putih palsu!" seru salah seorang tokoh.

Tentu saja semua orang yang ada di situ menjadi terkejut melihat wajah pemuda itu telah berubah. Hal itu disebabkan, tubuhnya telah tersentuh Pedang Naga Langit yang memang dapat melenyapkan pengaruh ilmu sihir.

"Ya! Dia bukan Pendekar Naga Putih!" seru yang lainnya, heran.

Sedangkan pemuda berjubah putih itu nampak kebingungan, karena ia sendiri tidak dapat melihat bagaimana rupa wajahnya sekarang. Padahal wajahnya kini memang benar-benar telah berubah menjadi dirinya sendiri.

Ki Tungkil menatap tajam wajah pemuda yang juga tampan dan bersih itu. Sebaris kumis tipis tampak menghias wajahnya. Dan di kedua sisi wajahnya tampak tumbuh bulu-bulu halus yang menyerupai cambang. Rupanya seperti itulah wajah asli pemuda tukang sihir itu sebenarnya.

"Kini terimalah kematianmu, Keparat" Sambil berkata demikian, tubuh kakek itu meluncur disertai sambaran pedang yang mengaung memekakkan telinga.

Pemuda tukang sihir yang semula menyamar sebagai Pendekar Naga Putih itu terperanjat ketika melihat sinar kuning berpendar menyilaukan mata. Tanpa sadar telapak tangannya bergerak melindungi matanya dari sinar kuning menyilaukan yang berbentuk bulat itu. Maka....

Wukkk! Crasss!

"Aaargh...!" Pemuda itu menjerit setinggi langit ketika ujung pedang di tangan lawannya telah membeset perutnya. Darah segar langsung menyemprot dari goresan luka yang dalam dan memanjang itu. Tubuh pemuda itu terhuyung mundur disertai darah yang berceceran. Beberapa saat kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah dan tak mampu bangkit lagi.

"Ough.... Bunuhlah aku, Kakek Peot!" ratap pemuda yang rupanya belum tewas itu. Tubuhnya bergetar dan berkelojotan menahan rasa sakit yang diderita.

"Hm.... Aku tidak akan membunuhmu, Iblis Keji! Karena tanpa kubunuh pun kau akan mati! Sekarang jawab pertanyaanku! Siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu mencemarkan nama Pendekar Naga Putih?" ujar kakek itu sambil menghembuskan napasnya kuat-kuat. la hanya berdiri menatap wajah pemuda yang tak berdaya itu.

"Baiklah. Aku akan menjelaskannya agar kau tidak menjadi penasaran, Kakek Peot," sahut pemuda itu terengah-engah. "Ketahuilah. Aku berjuluk Raja Sihir dari Barat. Dan cita-citaku adalah menguasai dunia persilatan. Namun rupanya Pendekar Naga Putih adalah satu-satunya penghalang berat yang harus segera kusingkirkan. Karena tidak mungkin dapat mengalahkannya, maka aku menyamar sebagai dirinya untuk melakukan kejahatan. Nah! Dengan demikian, aku dapat menghancurkan Pendekar Naga Putih dan juga tokoh-tokoh golongan putih lainnya. Apakah kau puas, Kakek Peot?" tanya pemuda yang ternyata berjuluk Raja Sihir dari Barat itu dengan napas yang semakin memburu.

Ki Tungkil sama sekali tidak menjawab. Tanpa mempedulikan lawannya yang sudah tak berdaya itu, kakinya melangkah meninggalkan tubuh lawan yang tak mampu bangkit lagi.

Sedangkan di arena lain, tampak pertarungan yang berlangsung antara Eyang Sancaka dan Setan Langit sudah mencapai puncaknya! Tubuh keduanya saat itu tengah melambung ke udara sambil mendorongkan telapak tangan masing-masing.

Blarrr!

"Aaahk...!"

Udara di sekitar arena pertarungan bergetar ketika dua gelombang tenaga sakti yang sama kuat saling berbenturan di udara. Tubuh keduanya terlempar balik diiringi jerit kesakitan.

"Kkk.. kau... hebattth Sancaka...!" puji Setan Langit yang berdiri limbung. Rupanya tokoh sesat itu tidak sampai terbanting jatuh di tanah, ketika kedua kakinya mendarat di tanah. Darah segar tampak mengalir dari mulutnya.

"Hkkk..., kau pun hebat, Setan Langit...!" Eyang Sancaka pun memuji kehebatan lawannya. Kakek itu berdiri tegak sambil menekap dadanya. Sedangkan dari mulutnya, juga mengalir tetesan darah segar. Seperti halnya Setan Langit, kakek itu. Juga melayang turun dengan kedua kaki lebih dulu.

Sementara itu Setan Bumi yang sekujur tubuhnya telah dipenuhi goresan-goresan luka, bergegas melesat meninggalkan lawan-lawannya begitu melihat saudaranya terluka.

"Kakang.... Kau tidak apa- apa...?" tanya Setan Bumi sambil memapah tubuh Setan Langit yang masih limbung itu.

Kenanga dan tiga orang lainnya bergegas memburu Setan Bumi yang tengah memapah saudaranya itu. Rupanya mereka masih penasaran karena belum dapat membunuh lawan.

"Biarkan mereka...!" tiba-tiba Ki Tungkil berseru menahan gerakan keempat orang itu.

"Mengapa mereka dilepaskan, Ki?" tanya Ki Barak heran melihat sikap Ki Tungkil yang melepaskan kedua tokoh sesat itu begitu saja.

"Biarkanlah. Mudah-mudahan saja dengan begitu mereka akan menyadari kesalahannya. Karena orang yang menjadi biang keladi dari semua ini adalah pemuda itu," sahut Ki Tungkil sambil menunjuk sosok tubuh yang tengah tak berdaya.

Para tokoh persilatanitu bergerak menghampiri sosok tubuh yang berlumuran darah. Banawa dan Panjala berpaling sejenak ke arah gurunya yang saat itu tengah bersemadi.

"Keparat kau, Manusia Iblis! Kau telah menghancurkan hidupku!" sambil terisak, Kenanga mengayunkan senjatanya ke leher pemuda yang telah menyebabkan kesengsaraan pada dirinya itu.

"Kenanga, tahan...!" cegah Ki Tungkil ketika melihat apa yang dilakukan gadis itu. Namun, terlambat!

Ternyata pedang gadis itu telah menebas putus leher pemuda yang tengah meregang nyawa. Kenanga memalingkan wajahnya ke arah Ki Tungkil. Ternyata pada saat berteriak tadi, suara kakek itu terdengar lain dari biasanya. Dan suara itu sangat dikenalnya. Sedangkan Ki Tungkil yang tanpa sadar telah mengeluarkan suara aslinya, hanya tersenyum melihat gadis jelita itu menatapnya lekat-lekat.

"Kau.... Siapa kau sebenarnya, Ki?" tanya gadis jelita itu dengan suara bergetar karena ketegangan yang amat sangat.

"Eh! Apakah kau suka kepadaku, Nisanak? Mengapa kau memandangiku seperti itu?" ledek Ki Tungkil yang tidak lagi menyembunyikan suaranya.

"Kau... kau...!"

"Ah, sudahlah. Lebih baik aku pergi sekarang!" desah Ki Tungkil lagi sambil berpamitan kepada para tokoh persilatan yang berada di tempat itu. "Mari, Kenanga...."

"Kakang..., kaukah itu?" desah Kenanga dengan wajah yang mulai basah oleh air mata.

Ki Tungkil sama sekali tidak mempedulikan gadis itu, dan terus saja melangkah meninggalkan tempat itu. Langkahnya kini nampak berbeda dengan yang sebelumnya. Beberapa tombak kemudian, kakek itu menghentikan langkahnya dan melambaikan tangan kepada Kenanga.

Gadis jelita itu semakin tertegun melihat cara berjalan kakek itu. Wajahnya semakin pucat karena ketegangan. Air mata semakin banyak menuruni pipinya yang halus itu. "Kakaaang...!"

Tanpa ragu-ragu lagi, Kenanga segera berlari memburu Ki Tungkil yang saat itu masih berdiri sambil melambaikan tangan. Kedua tangan kakek itu mengembang ketika Kenanga berlari menghampirinya. Begitu tiba, Kenanga langsung memeluk tubuh kakek itu erat-erat. Nalurinya begitu yakin kalau kakek itu adalah Panji atau Pendekar Naga Putih yang semula dikira telah tewas ditangannya. Kakek itu memeluk tubuh Kenanga dengan penuh kasih. Dibelainya rambut kepala gadis itu lembut, membuat Kenanga semakin sesenggukan tangisnya.

"Ah! Tidak malukah kau berpelukan dengan seorang kakek-kakek semesra ini, Bidadariku?" goda kakek itu sambil tersenyum.

"Kakang. Mengapa kau masih ingin menyiksa perasaanku? Tidak tahukah kau akan penderitaan yang kualami?" isak Kenanga sambil mengangkat kepalanya menatap wajah Ki Tungkil. Tiba-tiba tangan kanannya terulur mencabut kumis dan jenggot putih yang ternyata palsu.

"Ah, Kenanga. Apakah kau kira aku bahagia selama ini?" tanya kakek itu yang ternyata adalah Pendekar Naga Putih asli.

Pemuda itu sama sekali tidak berusaha mengelak ketika Kenanga mencabut kumis dan jenggot palsunya. Malah dibantunya dengan menggosok kedua telapak tangan ke wajahnya. Sehingga, keriput yang menghiasi wajahnya pun lenyap. Dan Ki Tungkil kini telah berubah menjadi Pendekar Naga Putih.

Tanpa malu-malu lagi, Kenanga segera menciumi wajah kekasihnya penuh kerinduan. Beberapa saat kemudian, Panji menjauhkan wajahnya dari wajah gadis itu. Lalu, dihapusnya air mata yang masih membasahi wajah kekasihnya.

"Hm.... Kau nampak kurus, Kenanga? Kau menyiksa dirimu sendiri," gumam Panji ketika menyadari kalau wajah gadis jelita itu agak kurus.

"Ampuni dosaku, Kakang... Aku mengaku salah," ucap gadis itu setelah mereka sama-sama melepaskan rangkulannya.

"Sudahlah. Jadikanlah semua itu pelajaran. Aku yakin setelah kejadian ini, pikiranmu akan lebih dewasa. Dan kau tidak akan memutuskan segala persoalan tanpa penyelidikan lebih dahulu. Janji?"

"Aku berjanji, Kakang. Dana ku pun menyadari kekeliruanku setelah aku merasa kau telah tiada. Tapi, bagaimana kau bisa selamat dan menyamar sebagai kakek-kakek jelek itu?" tanya Kenanga. Gadis ini sengaja mengatakan kakek-kakek jelek untuk menggoda Panji.

"Biar jelek tapi kau suka kan?"

"Ih, tidak sudil" sahut Kenanga mencibir.

"Buktinya kau tidak malu memeluk kakek-kakek jelek tadi. Apakah itu bukan pertanda suka?" goda Panji lagi.

"Ah, sudahlah. Aku pergi saja kalau Kakang tidak sudi menjawab pertanyaanku tadi!" desah Kenanga, merajuk.

"Ayolah. Nanti aku ceritakan sambil jalan," sahut Panji.

Lalu Pendekar Naga Putih melangkah sambil memeluk tubuh kekasihnya. Kenanga pun melingkarkan lengannya dipinggang pemuda pujaannya. Sambi melangkah meninggalkan tempat itu, Panji segera menceritakan semuanya. Waktu itu dirinya telah diselamatkan Raja Obat, dan diberikan nasihat agar batinnya tidak terpukul atas kejadian itu. Sedangkan Kenanga mendengarkan penuturan kekasihnya itu penuh perhatian.

"Jadi yang mendandani Kakang menyamar sebagai kakek-kakek itu Raja Obat?" tanya Kenanga begitu Panji telah menyelesaikan ceritanya.

"Benar. Sungguh besar sekali budi Raja Obat kepadaku. Dia ternyata mempercayaiku. Sebab menurutnya, tidak mungkin kalau aku melakukan perbuatan keji itu. Dan sebelum pergi, dia berpesan agar aku menggunakan Pedang Naga Langit untuk menghadapi ilmu sihir. Karena salah satu keistimewaan pedang itu adalah sebagai penangkal ilmu sihir."

"Lalu di manakah sekarang Raja Obat berada, Kakang?" tanya Kenanga lagi.

"Entahlah. Dia pergi begitu saja, tanpa memberi tahu ke mana tujuannya," sahut Panji sambil melepaskan pandangan ke arah cakrawala biru.

Keduanya kembali membisu. Hanya wajah mereka sajalah yang menampakkan kebahagiaan, karena ternyata dapat bersatu kembali.

"Oh ya, Kakang. Dari mana Pendekar Naga Putih palsu tahu kalau aku kekasihmu?" tanya Kenanga yang masih bingung karena Pendekar Naga Putih palsu seakan-akan mengenai betul dirinya.

"Orang yang menyamar, biasanya akan berusaha sesempurna mungkin meniru orang yang disamarinya. Bahkan sampai meniru kehidupannya."

"Maksudmu?"

"Ya, tentu saja dia berusaha mencari keterangan tentang kehidupanku. Sampai tentang, siapa kekasihku!" jelas Panji.

Kenanga mengangguk-anggukkan kepalanya mulai mengerti. Kini sepasang pendekar muda itu melanjutkan pengembaraan kembali. Begitulah sikap seorang pendekar sejati yang selalu siap membela orang-orang lemah.

S E L E S A I