Social Items

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Algojo Gunung Sutra
Karya T. Hidayat
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih


SATU

Di atas sebuah puncak gunung yang terletak cukup Jauh dari Selatan Desa Cikunir, berdiri sebuah bangunan besar yang dikurung oleh pagar tembok yang tinggi dan kokoh. Di atas pintu gerbang yang terbuat dari kayu pilihan tertera nama 'PERGURUAN GUNUNG SALAKA' yang tertulis pada papan tebal. Nama perguruan itu ditulis dengan tinta emas. Huruf-hurufnya yang besar dan terukir, cukup indah dan gagah dipandang. Dalam jarak sepuluh tombak, orang sudah dapat jelas membacanya. Bagi kaum rimba persilatan, nama Perguruan Gunung Salaka bukanlah nama asing. Perguruan itu terkenal sebagai pusatnya pendekar-pendekar.

Malam itu, Ki Tunggul Jagad yang merupakan Ketua Perguruan Gunung Salaka tampak sedang mengumpulkan murid-murid utamanya yang berjumlah delapan orang. Mereka adalah tokoh-tokoh tingkatan atas di perguruan itu, karena merupakan murid-murid langsung dari Ki Tunggul Jagad.

“Tentu hati kalian bertanya-tanya, mengapa mendadak aku memanggil. Sebenarnya hal ini sudah lama kupikirkan, namun baru kali ini mempunyai kesempatan untuk mengutarakannya kepada kalian!" orang tua sakti itu terdiam sejenak sambil menarik napas panjang, sepertinya apa yang akan disampaikannya ada suatu hal yang penting.

"Begini murid-muridku! Aku bermaksud menyerahkan urusan perguruan ini untuk sementara waktu kepada kalian."

"Apakah maksud Guru, ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Guru?" tanya salah seorang murid tertua Perguruan Gunung Salaka yang dipimpin Ki Tunggul Jagad. Wajah murid ketua itu gelisah, takut kalau-kalau ada tingkah mereka yang telah membuat hati orang tua sakti itu kecewa.

"Tidak ada satu pun dari kalian yang berbuat salah! Aku hanya berniat ingin beristirahat dari kesibukan-kesibukan perguruan selama beberapa waktu. Nah! Oleh karena itu akan kutunjuk salah seorang dari kalian, yang akan menggantikanku selama beristirahat. Dan untuk selama itu aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun, atau urusan apa pun! Apakah kalian sanggup?" tanya Ki Tunggul Jagad sambil merayapi wajah-wajah muridnya dengan tajam.

"Sanggup, Guru! Dan selanjutnya kami mohon petunjuk dan nasihat demi kelancaran tugas kami...!" jawab delapan orang murid Ki Tunggul Jagad, dengan suara tegas.

"Hm, bagus..., bagus! Memang begitulah seharusnya," ujar Ki Tunggul Jagad. Kini wajahnya menjadi cerah.

Kemudian orang tua sakti itu pun menunjuk Ki Sukma Kelana untuk mengurus perguruan selama dirinya menyepi. Selain itu juga ditunjuk Ki Surya Kencana sebagai wakil. Begitu juga keenam orang lainnya yang masing-masing diserahi tugas yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh.

"Nah! Sekarang kemukakanlah pendapat kalian! Kalau ada yang merasa keberatan, sampaikanlah selagi aku masih ada di sini. Sebab, aku tidak ingin apabila di kemudian hari ada kejadian yang tidak diharapkan. Dan jika hal itu terjadi, maka tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian!" ujar Ki Tunggul Jagad, dengan suara yang tegas dan berwibawa.

"Kami setuju, Guru! Dan semua perintah Guru akan kami laksanakan dengan sebaik baiknya!" janji kedelapan orang murid-murid Ki Tunggul Jagad, bersungguh-sungguh.

"Baiklah. Kalau memang sudah tidak ada persoalan lagi, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing..."

"Baik Guru!" seru kedelapan orang itu serempak Setelah memberi hormat, delapan orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Pada keesokan harinya kedelapan murid Perguruan Gunung Salaka mulai menjalankan tugas sebagaimana yang telah dipesankan guru mereka. Dan tidak seorang murid lain pun yang mengetahui hal itu, kecuali delapan murid utama Perguruan Gunung Salaka. Hal itu memang sudah dipesankan oleh Ki Tunggul Jagad, agar tidak terjadi keresahan di antara murid Perguruan Gunung Salaka itu.

********************

Hari masih pagi, ketika serombongan orang bersama-sama mendaki Lereng Gunung Salaka. Kalau di lihat dari keadaan yang rata-rata kusut dan agak kotor, itu, jelas bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Meskipun langkah-langkah kaki terlihat agak gemetar, namun dari sorot mata terpancar semangat mereka yang tinggi.

Rombongan itu teidiri dari berbagai golongan. Ada anak hartawan, anak saudagar kaya, dan ada juga anak pedagang kecil. Maksud kedatangan mereka ke tempat itu adalah sama, yaitu untuk mengikuti ujian penerimaan murid baru, yang akan diadakan Perguruan Gunung Salaka pada setiap enam bulan sekali. Setelah melakukan pendakian yang sukar dan melelahkan, rombongan itu tiba pada pos pertama yang dijaga dua orang murid tingkat enam, Perguruan Gunung Salaka.

"Saudara-saudara, harap berhenti sebentar...!" seru salah seorang dari dua penjaga itu.

"Huh! Apa maksudnya badut-badut itu mencegah kita?!" Membuat jengkel orang saja...!" umpat salah seorang pemuda dari rombongan itu. Tarikan wajahnya kelihatan angkuh. Pemuda itu berusia sekitar enam belas tahun. Pakaiannya terbuat dari bahan sutra pilihan berwarna biru muda. Wajahnya tampan, bagai seorang bangsawan. Kelihatan manja dan pesolek.

"Sudahlah! Jangan mencari penyakit, Sobat! Kita baru memasuki pos penjagaan yang pertama!" jawab seorang pemuda lain, yang rupanya tidak suka ucapan pemuda pesolek tadi.

"Benar! Kalau kita diterima menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, kita harus sabar dan bersikap sopan," sahut pemuda lainnya lagi, ikut memberikan nasihat

Sementara itu, kedua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga di pos pertama mulai melakukan pemeriksaan. Setiap orang yang akan melewati pos pertama, harus meninggalkan segala bentuk senjata tajam yang dibawa. Jika benar-benar bersih tanpa senjata, baru mereka diperbolehkan meneruskan perjalanan.

"Hm, sombong sekali orang-orang gunung itu! Untuk apa buntalan pakaian diperiksa? Memangnya kita ini pencuri...?" geruru si pemuda pesolek lagi.

Kedua orang pemuda yang tadi mencoba memberi nasehat menoleh sejenak. Dan tanpa menjawab sepatah kata pun segera dipalingkan wajah mereka dengan perasaan sebal. Memang sudah bisa ditebak sifat jelek pemuda pesolek yang sombong itu.

"Huh! Dikira perguruan ini milik nenek moyangnya apa...!" gerutu salah seorang dari dua pemuda itu, sambil melengos meninggalkan pemuda pesolek anak hartawan itu. Tindak-tanduknya memang kelihatan sombong.

Mendengar gerutu itu, pemuda yang satunya lagi hanya tertawa saja. Segera diikuti langkah temannya, yang sudah berjalan ke arah pos pemeriksaan itu. Setelah rombongan itu melewati pos penjagaan pertama, maka mereka kini tiba pada pos penjagaan kedua. Di pos penjagan kedua ini dijaga tiga orang murid tingkat lima. Di sini, para calon murid ditanya tentang maksud dan tujuan memasuki Perguruan Gunung Salaka.

"Sahabat, apa tujuanmu memasuki perguruan kami?" tanya salah seorang yang menjadi pimpinan di pos kedua ini. Kali ini yang mendapat giliran adalah salah seorang dari dua pemuda yang memberi nasihat kepada pemuda pesolek yang sombong tadi.

"Paman" jawab pemuda itu sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia sengaja memanggil paman, karena melihat penjaga itu berumur sekitar tiga puluh lima tahun.

"Maksud hamba memasuki Perguruan Gunung Salaka adalah untuk mempelajari ilmu silat!" jawabnya jujur.

"Hm, untuk apa kau pelajari ilmu silat? Bukankah ilmu silat hanya akan mengundang keributan saja?" tanya penjaga itu lagi. Kali ini disertai senyum. Memang, penjaga itu ingin mengetahui jawaban atau pandangan anak muda itu tentang ilmu silat

"Paman, menurut pendapat hamba yang bodoh ini, setiap sesuatu yang kita pelajari atau kita miliki tentulah memiliki sifat baik dan buruk. Dan semua itu tergantung pada orang itu sendiri. Apakah orang itu mempergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan ataukah untuk kejahatan? Bukan begitu, Paman?" pemuda itu berhenti sejenak untuk melihat reaksi penjaga tersebut.

Si penjaga itu mengangguk-angguk penuh kepuasan. Maka kakinya segera menyingkir, memberi jalan kepada pemuda itu meneruskan maksudnya. Setelah pemuda tadi lulus dengan baik, ternyata masih ada beberapa orang pemuda yang berhasil melewati pos penjagaan kedua itu. Demikian pula si pemuda pesolek yang sombong tadi. Sedangkan para pemuda yang mengalami kegagalan, dipersilakan meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Mereka yang gagal berjumlah lima belas orang.

Dengan wajah penuh kekecewaan, lima belas orang pemuda itu bergegas meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Kini barulah mereka merasakan kelelahan yang sangat pada tubuhnya. Kelelahan yang semula tertutup semangat berapi-api tadi, dan baru muncul setelah semangat itu hancur dilanda kegagalan. Setelah cukup lama perjalanan dari Kaki Gunung Salaka, lima belas orang pemuda tadi menjatuhkan diri di atas sebuah padang rumput tebal. Layaknya sebuah permadani hijau terhampar di mulut sebuah hutan. Mereka segera beristirahat sambil mengeluarkan bekal yang dibawa di dalam buntalan pakaian masing-masing.

"Hhh! Tidak kusangka, kalau demikian sulitnya untuk menjadi murid perguruan itu!" keluh seorang pemuda sambil mengunyah makanannya pelahan lahan. Seolah-olah selera makannya ikut lenyap tergilas kegagalan yang dihadapinya.

"Benar! Tidak seperti guru-guru silat di desa, siapa pun akan diterima asalkan dapat membayar sejumlah uang yang cukup!" jawab pemuda lain dengan suara pelahan. Seakan-akan berkata untuk dirinya sendiri.

"Tentu saja. Sebab kata orang, Perguruan Gunung Salaka itu pusatnya para pendekar. Bahkan kepandaian mereka sudah seperti dewa saja. Malah di antara tokoh-tokohnya ada yang pandai menghilang!" pemuda lain lagi ikut pula menimpali.

"Eh! Sampai sedemikian hebatnya!" seru kedua orang pemuda tadi, yang diikuti pula oleh para pemuda lainnya. Para pemuda itu segera menggeser bokongnya karena merasa tertarik pada cerita salah satu kawannya itu.

Pemuda tadi jadi semakin bersemangat, karena empat belas orang kawannya itu merasa tertarik oleh ceritanya. Dan untuk sementara, mereka segera terlupa akan kegagalan dan kelelahan. Sepertinya lenyap begitu saja. Tapi belum lagi cerita itu sempat diteruskan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang di sekitar tempat itu.

"Ha ha ha...! Mana ada manusia yang mampu menghilang, anak-anak tolol! Coba katakan padaku, siapa yang sudah pernah melihat manusia yang dapat menghilang! Ayo, jawab!" belum lagi gema tawa itu lenyap, orang yang bersuara itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.

Kelima belas orang pemuda itu tersentak bagai disengat kalajengking! Wajah mereka mendadak pucat karena rasa kaget yang luar biasa.

"Ssseeettt... tttaaannn...!" teriak beberapa orang pemuda dengan tubuh gemetar. Mereka serentak saling berangkulan satu sama lain Orang yang baru datang itu benar-benar disangka dedemit. Sebab bagaimana mungkin orang itu tiba-tiba muncul dihadapan mereka, tanpa diketahui dari mana dan kapan datangnya

Sementara, beberapa orang pemuda lain yang telah memiliki pengetahuan cukup, mulai menduga bahwa orang itu pasti memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi. Mereka yang lebih mempunyai keberanian dan pengalaman itu, segera saja dapat menguasai hati dan perasaannya.

"Ha ha ha! Hanya sedemikianlah keberanian orang-orang yang ingin berguru ke Gunung Salaka? Benar-benar memalukan! Pantas kalau kalian tidak diterima manusia-manusia sombong itu!" seru orang itu lagi. Nadanya benar-benar menghina.

Mendengar hinaan itu, lima orang pemuda yang telah dapat meredakan kekagetannya itu segera bangkit sambil mengepal tangan meskipun belum menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, namun mereka tidak terima dihina orang itu.

"Kisanak yang gagah!" ujar salah seorang dari lima pemuda itu, tanpa meninggalkan kesopanannya. "Mengapa Tuan menghina kami? Bukankah kita tidak saling mengenal? Biarpun kami gagal, tapi kami tidak ingin dihina seperti itu."

"Hm," orang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bewok itu mendengus kasar. Namun ada kekaguman atas perkataan anak muda di hadapannya yang terdengar sopan tapi mempunyai ketegasan. "Siapa yang menghinamu, Anak Muda? Bukankah aku hanya bertanya? Apakah pertanyaan itu di anggap menghina?! Kalaupun aku menghinamu, kau mau apa?" tantang orang tua itu. Namun kali ini nada suaranya terdengar lebih halus meskipun masih mengandung ejekan yang menyakitkan.

"Hm, Orang Tua! Rupanya kau adalah orang sombong yang merasa paling pandai, sehingga tidak ingin mendengar kelebihan orang lain. Kami berbicara di antara kami sendiri, lalu apa urusannya denganmu, Orang Tua? Kami ingin bercerita apa pun, itu adalah urusan kami! Lantas, mengapa dirimu yang kelabakan? Seperti kakek-kakek yang kebakaran jenggot saja!" jawab pemuda itu lagi semakin berani, karena sama sekali tidak merasa bersalah.

"Eh eh eh, semakin berani saja kau bicara! Tahukah kau, dengan siapa berhadapan?! Jaga mulutmu, Anak Muda! Kalau habis kesabaranku, bisa-bisa kau tidak mempunyai mulut lagi!" ancam orang tua itu, karena merasa kalah bicara dengan pemuda yang ternyata pandai memutarbalikan kata-kata itu.

"Huh! Tentu saja tahu, aku sedang berhadapan dengan siapa?" jawabnya lagi, berwajah sungguh-sungguh.

"Eh eh eh. Rupanya kau sudah pula mengenal diriku, Anak Muda! Coba sebutkan siapa diriku?! Mungkin nanti bisa kupertimbangkan, apakah kau akan kuampuni atau tidak?!" teriak orang tua itu. Rupanya dia merasa senang karena namanya sudah dikenal sampai sedemikian jauh.

"Hm, aku tahu!" jawab anak muda itu sambil tersenyum geli. "Engkau adalah kakek buruk, gendut, dan usil dengan urusan orang!"

Setelah berkata demikian meledaklah tawa kelima belas orang pemuda itu. Ini karena mereka dapat membalas hinaan orang tua itu tadi. Bukan main terperanjatnya orang tua itu. Wajahnya yang semula berseri gembira itu mendadak gelap. Matanya mencorong tajam berwarna merah seperti darah! Selama hidup belum pernah dia mengalami hinaan yang sedemikian itu. Masalahnya sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani menghina tokoh sesat macam dirinya yang kejam seperti iblis. Jangankan menghina, baru mendengar namanya saja orang pasti lari pontang-panting!

"Hm! Kalau belum menghirup darah kalian, belum puas hatiku! Dengarlah baik-baik! Aku adalah Gandaruwo Hutan Jagal! Maka akan kucerai-beraikan tubuh kalian semua!" ancam orang tua yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal itu. Suaranya begitu parau dan menggeletar karena amarah yang menggelegak.

Mendengar ancaman itu, mau tidak mau bulu kuduk lima belas orang pemuda itu meremang. Sungguh tidak pernah dibayangkan kalau mereka akan berjumpa iblis itu di tempat ini. Apalagi lima orang pemuda yang mengejeknya tadi. Mereka pernah mendengar kekejaman Gandaruwo Hutan Jagal yang suka makan daging manusia. Terutama daging anak muda yang merupakan kesukaannya.

Kelima belas orang pemuda itu menggigil hebat. Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Kengerian pun tergambar di wajah masing-masing Bahkan beberapa di antaranya sampai terkencing- kencing, karena rasa ngeri yang mencekam. Kelima belas pemuda itu menggigil hebat! Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa!

Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal mulai membantai mereka! Dalam waktu singkat, pemuda-pemuda itu sudah banyak yang roboh dalam keadaan mengenaskan! Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal itu mulai membantai mereka. Dalam waktu singkat, kelima belas orang pemuda itu tewas dengan keadaan yang sangat mengerikan. Tubuh-tubuh mereka cerai-berai, bagai diamuk segerombolan binatang liar. Darah merah pun membanjiri rerumputan tebal yang semula bersih dan menghijau itu.

Setelah puas membunuhi dan memakan anggota tubuh, dan meminum darah lima belas orang pemuda, dengan langkah santai Gandaruwo Hutan Jagal itu segera meninggalkan tempat itu. Wajah iblis itu kembali berseri-seri penuh kepuasan.

Angin gunung bertiup lembut menerobos sela-sela dedaunan menimbulkan suara gemerisik lembut, bagai kan senandung alam yang melenakan. Seolah-olah sang angin ingin menyampaikan berita duka kepada orang-orang yang tengah dilanda kesibukannya masing-masing.

********************

DUA

Beberapa hari setelah pembantaian lima belas orang pemuda yang malang itu, tampak serombongan pemuda yang berjumlah sepuluh orang bergegas menuruni Lereng Gunung Salaka. Mereka adalah murid Perguruan Gunung Salaka yang mendapat tugas untuk membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan sehari-hari. Tujuh hari sekali beberapa murid Perguruan Gunung Salaka turun ke Desa Cikunir, yang merupakan desa terdekat dari gunung itu. Kesepuluh orang itu melakukan perjalanan dengan penuh kegembiraan. Kadang-kadang diselingi derai tawa apabila salah seorang menceritakan hal-hal yang menggelitik perut.

"He he he! Rupanya Kakang Rupaksa sudah tidak sabar lagi untuk bertemu si jantung hati, sehingga tega-teganya meninggalkan kita!" ledek salah seorang ketika melihat orang yang dipanggil Rupaksa itu melangkah mendahuluinya.

Mendengar gurauan itu, yang lain kontan tertawa geli sambil mempermainkan bola matanya melirik Rupaksa. Mereka memang sudah tahu apa yang dimaksud salah seorang kawannya itu.

"Ah! Kau bisa saja, Adi! Aku hanya ingin memeriksa keadaan di depan kita saja!" bantah Rupaksa sambil terpaksa menghentikan langkahnya masalahnya, kalau langkahnya diteruskan, pastilah mereka akan terus menggodanya.

"Hm! Kalau begitu, silakan teruskan maksud Kakang. Siapa tahu di balik semak-semak depan sana ada anak gadis kepala desa yang cantik itu! Ha ha ha...!" goda orang itu, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.

Demikian pula kedelapan orang lainnya. Mereka tidak dapat lagi menahan geli di hati, yang tergelitik oleh perkataan kawannya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, meledaklah tawa mereka sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perut.

Rupaksa yang kali ini menjadi bahan godaan kawan-kawannya, hanya dapat berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mampu berkata-kata. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, karena jengah dan malu. Namun meskipun demikian, Rupaksa sama sekali tidak merasa tersinggung. Memang, hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Lagipula, ia tidak ingin merusak suasana yang menggembirakan itu, hanya karena masalah sepele.

"Hm. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh, Adi. Entah mengapa, sejak berangkat tadi, hatiku selalu was-was. Dan hal ini tidak pernah kualami sebelumnya," ujar Rupaksa sungguh-sungguh, ketika tawa kawan kawannya mulai mereda.

Melihat wajah dan suara yang sungguh-sungguh itu, tawa kesembilan orang kawannya itu pun berhenti seketika. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandangan dengan wajah bingung. Seolah-olah saling meminta pendapat masing-masing, apakah akan melanjutkan godaan itu atau tidak.

"Hm..., maksud Kakang, bagaimana?" tanya salah seorang ragu-ragu.

"Entahlah Adi? Sebaiknya tingkatkanlah kewaspadaan kita! Yahhh, mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa," desah Rupaksa penuh harap.

Maka kesepuluh orang murid Perguruan Gunung Salaka itu kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak lagi terdengar gelak tawa atau senda gurau. Memang, mereka sudah mulai terpengaruh perkataan Rupaksa tadi.

"Uuufff, bau apa ini?" teriak salah seorang ketika mereka melewati sebuah hutan yang cukup jauh dari Kaki Gunung Salaka. Orang itu mengendus-enduskan hidungnya, seolah-olah ingin memastikan bau yang tercium itu.

"Eh! Seperti bau bangkai! Mungkin bangkai binatang hutan yang mulai mengering!" teriak yang lain sambil menutup hidung.

Lain halnya Rupaksa. Saat teman-temannya mulai ribut, ia hanya termenung sambil mengernyitkan dahinya. Setelah berpikir beberapa saat lamanya, segera dilepaskan sabuk merah yang melilit pinggangnya.

"Kalian tetaplah di sini, aku akan memeriksa sebentar!" perintah Rupaksa sambil mengikatkan sabuk pada wajah untuk menutupi hidungnya. Dan dengan langkah pelahan-lahan, mulai dimasuki mulut hutan itu.

"Aku ikut, Kakang...!" teriak dua orang kawannya yang segera mengikuti langkah Rupaksa memasuki hutan. Mereka juga ikut melepaskan sabuk masing-masing untuk menutupi hidungnya, akibat bau yang menyengat.

"Hei, hati-hati!" teriak yang lainnya, memperingatkan.

Dengan penuh kewaspadaan, ketiga orang itu mulai memasuki hutan yang menjadi sumber bau sehingga mengusik hidung. Tentu saja hal itu tidak terlalu sulit. Dengan semakin santernya bau busuk itu, berarti semakin dekat pula ke arah sumbernya. Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan kedua orang kawannya mulai mendekati tempat lima belas orang pemuda yang dibantai secara mengerikan!

"Aaahhh...!" lenguh ketiga murid Perguruan Gunung Salaka itu, tertahan. Mata mereka membelalak dengan wajah pucat. Apa yang disaksikan ini, benar-benar membuat hati terguncang! Di hadapan mereka kini terbentang sebuah pemandangan yang dapat membuat hati siapa saja akan menggigil ketakutan, karena rasa ngeri yang hebat!

Memang, yang disaksikan mereka adalah belasan mayat yang sudah tidak mungkin dapat dikenali. Tubuh belasan mayat itu sudah mulai mengering, dan tidak satu pun yang anggota tubuhnya masih lengkap. Ada sosok mayat yang tanpa kepala. Ada pula yang tanpa kaki. Bahkan ada yang isi perutnya berhamburan!

Rupaksa dan kedua orang kawannya segera berlari meninggalkan tempat itu, dengan langkah terhuyung-huyung. Mereka tidak sanggup lagi menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Seluruh tubuh mereka kini dibanjiri keringat dingin. Dan begitu tiba di tempat kawan-kawannya, tubuh ketiga orang itu ambruk bagai sehelai karung basah. Dengan cepat mereka segera melepaskan sabuk yang menutupi mulut dan hidungnya.

"Huaaakkk...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, tiga orang itu langsung muntah-muntah. Rasanya seluruh isi perut ingin dikeluarkan saat itu. Setelah tidak ada lagi yang dimuntahkan, ketiga orang itu masih belum dapat berkata-kata. Tubuh mereka lemas seolah-olah tenaga ikut pula tersedot.

"Ada apa, Kakang? Apa yang sudah terjadi?" tanya kawan-kawannya, cemas. Memang mereka tidak tahu apa yang telah dialami tiga kawannya itu. Mereka memang tidak sempat bertanya sebab begitu tiba ketiganya langsung ambruk dan muntah-muntah hebat. Sehingga, ketujuh orang kawannya itu hanya dapat memandang, disertai wajah bingung. Mereka segera membantu mengurut-urut tubuh ketiganya, agar pernapasannya lebih longgar.

Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan dua orang lainnya sudah mulai pulih kembali lagi. Wajah ketiganya tampak sudah segar seperti semula. Ketiganya pun segera melangkah menghampiri tujuh orang kawannya yang sudah pula berdiri menyambutnya.

"Ayolah, Kakang. Kami sudah tidak sabar mendengar ceritamu," pinta salah seorang kawannya, ketika mereka sudah duduk di atas bebatuan.

"Baiklah. Akan kuceritakan kepada kalian, apa yang telah kami temukan dalam hutan itu," jawab Rupaksa kalem.

Rupaksa pun mulai menceritakan semua yang disaksikan di dalam hutan itu. Ketujuh orang temannya itu berkali-kali berseru kaget bercampur ngeri. Sama sekali tidak disangka kalau bau busuk itu berasal dari mayat-mayat manusia yang hampir mengering. Sungguh di luar dugaan sama sekali.

"Menurut cerita Kakang, mayat itu berjumlah belasan banyaknya. Aku jadi curiga, jangan-jangan...," orang itu tidak meneruskan ucapannya. Hal ini memang dapat berakibat buruk bagi Perguruan Gunung Salaka, maka segera dibuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan itu.

"Hm, mengapa tidak kau teruskan ucapanmu, Adi? Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Nanti baru kita teliti benar tidaknya," ujar Rupaksa penasaran.

"Benar! Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Siapa tahu misteri pembunuhan itu dapat disingkap," bujuk kawan yang lain, ikut menimpali.

"Sebenarnya aku takut tentang dugaanku itu. Sebab hal ini akan besar sekali pengaruhnya bagi nama besar perguruan kita. Maka sebaiknya, kubuang jauh-jauh pikiran itu," bantah orang itu cemas.

"Jadi, kejadian itu bisa berpengaruh pada perguruan kita? Gila!" ujar kawannya yang lain.

"Nanti dulu, nanti dulu! Mmm..., belasan orang yang terbunuh dan mayatnya sudah hampir mengering. Jadi paling sedikitnya sudah dua atau tiga hari terbunuh. Dan hari kejadian pembunuhan ini, paling tidak berbarengan dengan hari penerimaan murid-murid baru. Aaahhh..., benarkah dugaanku?" ujar Rupaksa. Wajahnya terlihat agak pucat. "Kalau memang demikian, berarti malapetaka akan menimpa perguruan kita!"

"Benar! itulah yang kutakutkan, Kakang!" ujar kawannya, yang memang berpikir demikian.

"Kalau begitu, kita harus bertindak cepat! Kalian bertujuh, tetaplah pada tugas semula. Sedangkan aku dan dua orang teman lainnya akan kembali keperguruan untuk melaporkan kepada Guru. Biar bagaimanapun, pembunuhan itu terjadi di wilayah kita. Maka sudah merupakan kewajiban kita untuk menyelidikinya," usul Rupaksa.

"Baiklah, kalau memang sudah menjadi keputusanmu, Kakang!" jawab mereka, segera menyetujui usul itu.

Maka murid-murid Perguruan Gunung Salaka itu pun berpisah. Rupaksa dan dua orang lainnya bergegas kembali keperguruan, sedang tujuh orang lainnya segera meneruskan perjalanannya. Sementara itu Rupaksa mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mempercepat perjalanan, diikuti dua orang kawannya. Kini Rupaksa dan dua orang kawannya tiba di Puncak Gunung Salaka. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka memasuki bangsal utama perguruan itu untuk menghadap guru besar mereka.

"Hei, berhenti dulu! Mau ke mana, kalian?" tegur seorang murid yang sedang mendapat tugas membersihkan bangsal utama itu.

"Kami ingin menghadap Guru. Ada sesuatu yang ingin dilaporkan!" jawab Rupaksa. Suaranya dibuat hormat karena yang menyapa mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripadanya.

"Hm, penting sekalikah kabar itu? Tidak dapatkah ditunda hingga nanti sore, Adi Rupaksa?" tanya orang itu mulai ragu.

"Tidak bisa, Kakang! Ini menyangkut nama besar perguruan kita. Dan kalau Guru Besar marah, biarlah akan kutanggung akibatnya!" ujar Rupaksa. Suaranya begitu tegas.

"Ah! Bukan begitu maksudku. Adi Rupaksa! Kalau begitu masuklah. Biarlah resikonya kita tanggung bersama-sama."

Maka keempat orang itu segera melangkah menuju bangsal utama yang dijadikan tempat pertemuan. Letaknya di tengah-tengah bangunan besar Perguruan Gunung Salaka. Rupaksa dan dua orang temannya segera memasukinya. Sedangkan orang yang mengantar sudah kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan mereka.

********************

"Ampun, Guru! Kami bertiga datang menghadap," ucap Rupaksa dan dua temannya sambil berlutut. Kepala mereka tertunduk, seperti tak berani menatap sorot mata tajam Ki Sukma Kelana wakil guru besar mereka.

"Hm.... Bangkitlah, kalian. Kabar apakah yang kau bawa Rupaksa?" tanya Ki Sukma Kelana dengan suara dalam.

"Ampun, Guru! Kami membawa berita buruk, dan mohon petunjuk!" tutur Rupaksa penuh hormat. Kemudian dengan dibantu dua orang temannya, Rupaksa segera menceritakan apa yang telah ditemukannya di dalam hutan di dekat Kaki Gunung Salaka.

"Kurang ajar! Siapa orangnya yang berani melakukan perbuatan biadab itu?!" Hm. Segera harus diselidiki, Kakang! Kalau tidak, mereka tentu akan semakin kurang ajar kepada kita!" ujar Ki Surya kencana dengan wajah merah padam. Laki-laki setengah baya ini memang wakil Ki Sukma Kelana. Bahkan dulu juga sebagai adik seperguruan Guru Besar Perguruan Gunung Salaka itu.

"Sabarlah, Adi. Kita toh belum mengetahui pasti, apakah pembunuhan itu dilakukan manusia atau binatang buas. Sedangkan menurut laporan Rupaksa, keadaan mayat-mayat itu bagai diamuk binatang buas dan ganas. Dan sebelum mengetahui secara jelas, kita tidak bisa asal tuduh saja. Jika hal itu akan menjadi persoalan baru bagi kita, maka sebaiknya harus diperiksa dulu kebenarannya. Setelah itu baru dicari keterangan penyebab kematian orang-orang itu," ujar Ketua Perguruan Gunung Salaka, Ki Sukma Kelana panjang lebar.

"Tapi, Kakang! Kita tidak boleh mendiamkan saja! Aku yakin, perbuatan itu pasti dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kemajuan dan nama besar Perguruan Gunung Salaka. Jadi, biar bagaimanapun kita harus segera bertindak! Agar mereka tahu bahwa perguruan kita tidak dapat dibuat main-main!" tegas Ki Surya Kencana yang benar-benar merasa terpukul akan kejadian itu. Jelas itu merupakan sebuah tamparan pada wajah mereka, karena terjadi masih di sekitar daerah perguruan itu.

"Benar. Tapi aku akan mengutus beberapa orang murid-murid tingkat empat untuk mencari tahu penyebab kematian orang-orang itu. Kemudian, baru dipikirkan langkah selanjutnya!" ujar Ki Sukma Kelana memberi keputusan.

"Tidak perlu, Kakang! Biar aku sendiri yang akan menyelidikinya!" sergah Ki Surya Kencana yang sudah bangkit dari duduknya. "Maafkan aku, Kakang! Tapi percayalah! Aku akan bertindak sesuai dengan perintahmu, dan aku akan berusaha untuk tidak membuat persoalan baru. Aku pamit dulu, Kakang!"

Setelah berkata demikian, Ki Surya Kencana membungkuk hormat kepada Ki Sukma Kelana yang juga kakak seperguruannya itu. Dengan langkah lebar laki-laki setengah baya itu segera meninggalkan tempat bangsal utama.

Tidak lama setelah kepergian wakil ketua Perguruan Gunung Salaka itu pergi, Rupaksa dan kedua orang murid lainnya juga segera mohon diri. Ki Sukma Kelana hanya mengangguk saja.

"Hmm, Tunggu!" cegah Ki Sukma Kelana ketika tiga muridnya itu akan melangkah.

"Ada apa Guru?"

"Kupesankan kepada kalian bertiga agar tak menceritakan kepada siapa pun. Dan sampaikan pesanku ini kepada rujuh orang murid lainnya," jelas Ki Sukma Kelana.

"Baik, Guru. Kami akan melaksanakan perintah Guru sebaik-baiknya," jawab ketiganya serempak. Setelah memberi hormat mereka segera beranjak meninggalkan tempat itu.

********************

Hari baru menjelang siang, ketika sesosok tubuh berlumuran darah melangkah terseok-seok menaiki Lereng Gunung Salaka. Pakaian yang dikenakan sobek di sana-sini, akibat sayatan senjata tajam yang juga melukai kulit dan dagingnya. Rasanya hanya karena semangat baja saja yang membuatnya mampu bertahan hidup sampai saat itu.

Duggg! Duggg! Brukkk...!

Setelah menggedor pintu gerbang di hadapannya beberapa kali, orang itu pun ambruk. Kedua kakinya sudah tidak mampu lagi berdiri, dan merintih lirih. Dirasakan sakit pada luka-lukanya yang diderita. Dua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga pintu gerbang bergegas membukanya, ketika mendengar gedoran yang cukup keras tadi. Dan alangkah terkejutnya mereka mendapati sesosok tubuh yang berlumur darah tergeletak tak berdaya di depan pintu gerbang perguruan. Bergegas keduanya menghampiri dan membalikkan tubuh yang tertelungkup itu.

"Hei! Bukankah dia salah satu kawan kita yang bertugas membeli bahan makanan ke Desa Cikunir? Kemana yang lainnya? Apa yang terjadi pada mereka?!" seru salah seorang penjaga itu. Wajahnya diliputi ketegangan.

"Sudahlah, jangan banyak tanya dulu! Cepat laporkan hal ini kepada Guru Besar! Lihatlah! Luka-lukanya parah sekali. Mungkin ia tidak bisa bertahan terlalu lama. Cepat, beritahukan kepada Guru Besar!" teriak penjaga yang satunya lagi. Hatinya juga diliputi kecemasan. Dia memang merasa khawatir kalau-kalau orang itu sudah tewas, sebelum sempat menceritakan kejadian yang dialaminya.

Bagai dikejar setan, salah seorang dari dua penjaga itu melesat meninggalkan tempat itu menuju bangsal utama perguruan. Tentu saja kelakuannya yang di luar kebiasaan itu, mengundang perhatian murid-murid lainnya. Hal ini memang menjadikan mereka bingung, dan hatinya diliputi keheranan.

"Hei, berhenti! Ada apa ini?! Mengapa berlari bagai di kejar setan? Apa yang telah terjadi?! Cepat katakan!" seru seorang murid tingkat empat tiba-tiba sambil menghadang perjalanan penjaga itu.

"Kakang, di depan pintu gerbang ada salah seorang murid yang terluka parah. Dan aku tidak tahu kenapa. Aku harus cepat-cepat melaporkan hal ini kepada Guru Besar! orang itu sepertinya sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi!" lapor penjaga itu dengan napas tersengal-sengal.

"Baiklah kalau begitu. Cepat kau menghadap Guru. Aku akan memeriksanya terlebih dulu." Setelah berkata demikian, orang yang dipanggil kakang itu berkelebat menuju pintu gerbang. Gerakannya cepat sekali, seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh permukaan tanah. Dan dalam waktu singkat saja dia telah tiba di tempat sosok tubuh yang membujur tak berdaya.

"Ayo, semua ke pinggir! Jangan merubung seperti itu," teriak murid tingkat empat itu ketika melihat di depan pintu gerbang telah dipenuhi murid yang berdesak-desakkan ingin menyaksikan kejadian itu.

Mendengar suara teriakan keras, murid yang berdiri bergerombol seketika buyar untuk memberi jalan kepada salah seorang kakak seperguruan mereka yang baru tiba itu. Namun mereka hanya bergeser sedikit, tanpa berniat meninggalkan tempat. Tentu saja hal ini membuat tokoh tingkat empat yang baru datang tadi menjadi berang.

"Hei! Ayo, semuanya kembali ke tempat masing-masing! Atau kalian ingin dihukum, hah!"

"Ampun, Kakang...!" seru murid-murid perguruan itu. Yang kemudian bergegas meninggalkan tempat tanpa menoleh lagi.

Tanpa buang-buang waktu lagi tokoh tingkat empat Perguruan Gunung Salaka itu segera memeriksa keadaan murid yang terluka parah tadi. Hatinya menjadi terkejut, ketika mendapati luka-luka akibat pukulan-pukulan yang cukup kuat. Apalagi ditambah sayatan senjata tajam yang memenuh seluruh tubuh adik seperguruannya itu. Cepat-cepat dilakukan totokkan di beberapa bagian tubuh yang penuh luka, ketika mendengar suara mengorok dari kerongkongan tubuh yang tergeletak itu. Pertanda bahwa nyawanya akan meninggalkan raga.

"Hkkkhhh... huaaakkk...!" segumpal darah kental yang menyumbat kerongkongannya terlompat keluar ketika beberapa bagian tubuhnya ditotok kakak seperguruannya. Dan beberapa saat kemudian, orang itu pun membuka kedua matanya pelahan-lahan.

"Cepat, katakan. Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?" tanya tokoh itu dengan suara tegang.

"Algojooo.... Ghununghhh.... Sutraaa... akkkhhrrr...!" setelah berkata susah payah, orang itu pun menghembuskan napasnya yang terakhir di atas pangkuan salah seorang kakak seperguruannya.

"Gunung Sutra!" gumam tokoh tingkat empat itu sambil memandang salah satu penjaga pintu gerbang yang juga ikut mendengar perkataan terakhir kawannya.

"Kakang, bukankah Perguruan Gunung Sutra adalah sebuah perguruan yang besar dan terhormat. Mengapa mereka begitu tega melakukan pembunuhan sekejam ini kepada perguruan kita?" tanva penjaga pintu gerbang itu heran.

"Entahlah! Rasanya mustahil kalau perbuatan ini dilakukan perguruan itu. Tapi ucapan orang yang sekarat, tidak mungkin bohong! Ahhh! Sebaiknya, hal ini harus dilaporkan dulu kepada Guru Besar. Biarlah Guru yang memutuskannya nanti!"

"Apa yang harus kuputuskan, Santiaji?" tiba-tiba terdengar suara yang berat dan berwibawa. Dan sebelum gema suara itu hilang, di samping mereka telah berdiri Guru Besar mereka, ki Sukma Kelana.

"Guru!" seru keduanya sambil berlutut di hadapan guru besar mereka.

"Hm, bangkitlah kalian. Ceritakan, apa yang sudah terjadi?" tanya Ki Sukma Kelana kepada tokoh tingkat empat yang ternyata bernama Santiaji. Hanya dengan sekilas pandang saja, guru besar Perguruan Gunung Salaka itu sudah mengetahui bahwa murid yang diceritakan penjaga tadi sudah tidak bernyawa lagi.

"Ampun, Guru. Kami pun tidak tahu pasti kejadiannya, Dan mayat ini adalah salah seorang dari tujuh murid perguruan yang bertugas membeli bahan-bahan keperluan di Desa Cikunir. Dia kembali seorang diri dalam keadaan terluka parah. Sedangkan yang enam murid lainnya, sampai saat ini belum kembali, Guru!" lapor Santiaji dengan panjang lebar.

"Lalu, apakah pada saat-saat terakhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa? tanya Ki Sukma Kelana lagi sambil menunjuk mayat muridnya itu.

"Ada, Guru. Dia memang mengatakan sesuatu. Tapi...," Santiaji tidak berani meneruskan ucapannya.

"Tapi apa, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana, heran.

"Em, anu, Guru! la... ia mengatakan, semua... semua itu adalah perbuatan Perguruan Gunung Sutra, Guru!" jelas Santiaji kemudian menunduk hormat.

"Hm. Benarkah yang kudengar ini, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana dengan wajah gelap.

"Apakah mungkin mereka melakukan perbuatan sekejam ini kepada kita?!"

"Benar, Guru! Memang demikianlah yang dikatakannya. Aku pun ikut mendengarkan, Guru!" jawab penjaga pintu gerbang yang tadi ikut mendengarkan bersama Santiaji.

"Hhh...," Ki Sukma Kelana hanya menarik napas panjang, setelah mendengar pernyataan yang menguatkan laporan Santiaji itu. "Sudahlah. Sekarang urus mayat itu baik-baik. Dan jangan menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Santiaji, kau ikut aku!" Setelah berkata demikian, Ki Sukma Kelana segera meninggalkan tempat itu.

"Baik, Guru!" ujar Santiaji, yang segera melangkah mengikuti Pimpinan Perguruan Gunung Salaka itu. Sepeninggal tokoh-tokoh perguruan itu, beberapa orang murid yang berada tak jauh dari tempat kejadian segera dipanggil oleh penjaga pintu gerbang uniuk menjalankan perintah guru besar mereka.

********************

TIGA

Hari masih sangat pagi, ketika lima orang murid yang bertugas mengambil air di Lereng Gunung Salaka itu menemukan beberapa manusia yang telah menjadi mayat! Mayat-mayat itu seolah-olah sengaja diletakkan di pinggir sungai tempat biasanya mengambil air. Setelah meneliti mayat yang ternyata berjumlah enam orang itu, kelima orang murid Perguruan Gunung Salaka tersentak mundur diiringi wajah pucat. Memang, mereka kenal betul, bahwa mayat-mayat itu tidak lain adalah kawan seperguruan mereka sendiri.

"Kalian berdua cepat naik ke atas. Laporkan hal ini kepada Guru Besar. Cepat...!" perintah salah seorang dari mereka.

Dua orang yang mendapat perintah itu, yang semula hanya berdiri terpaku tanpa sanggup mengeluarkan suara. Akhirnya dapat pula bersuara. "Baiklah. Kami akan segera kembali secepatnya!" jawab salah seorang setelah tersadar. Dan tanpa di perintah dua kali, kedua orang itu segera melesat meninggalkan tiga orang kawannya yang menunggu di tempat itu. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka tidak lama kemudian dua orang itu sudah kembali disertai dua orang tokoh tingkat empat yang salah seorang di antaranya adalah Santiaji.

"Kakang, apa yang terjadi terhadap mereka?" tanya salah seorang yang tadi menunggui mayat-mayat itu. Di wajahnya tergambar kegelisahan dan kemarahan.

"Entahlah. Aku tidak tahu, siapa yang telah membunuh mereka? Dan apa maksudnya meletakkan mayat-mayat itu di sini!" jawab Santiaji yang masih ingin menyembunyikan persoalan yang sedang dihadapi Perguruan Gunung Salaka.

"Tapi, kesalahan apa yang telah mereka perbuat, Kakang? Bukankah mereka adalah murid-murid yang ditugaskan untuk membeli bahan-bahan makanan ke desa terdekat?" tanya yang lainnya mendesak. Memang mereka merasa tidak puas atas jawaban Santiaji tadi.

"Ahhh, sudahlah! Lebih baik, sekarang bawa mayat-mayat itu ke atas, agar Guru Besar dapat memeriksanya! Ayo, cepat!" perintah Santiaji yang mencoba mengelak dari pertanyaan adik seperguruannya itu.

Tanpa membantah lagi, lima murid tadi dengan dibantu oleh beberapa kawannya segera mematuhi perintah kakak seperguruannya itu. Karena mayat-mayat itu masih baru, jadi mereka tidak merasa jijik untuk membawanya.

Ki Sukma Kelana termenung di hadapan tujuh mayat muridnya itu, di halaman Perguruan Gunung Salaka. Wajah orang tua yang biasanya selalu tenang, kini menjadi muram. Kemarahan mulai terbayang diwajah tuanya. Rupanya kali ini hatinya benar-benar terpukul atas kematian murid-muridnya itu. Namun meskipun demikian, Ki Sukma Kelana masih berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahannya. Hanya, di matanya sekilas terlihat kilatan cahaya kemerahan yang membuat hati orang-orang yang memandangnya tergetar. Namun, tidak demikian sikap yang ditujukkan Ki Surya Kencana. Orang kedua dari Gunung Salaka itu sudah tidak dapat menyembunyikan kemarahannya lagi. Tubuhnya sampai menggigil karena menahan amarah yang telah memenuhi rongga dadanya.

"Heaaattt...!" Tiba-tiba tubuh Ki Surya Kencana melesat cepat bagai kilat ke arah sebuah pohon besar yang berjarak sekitar lima batang tombak darinya. Tangan kanannya berkelebat cepat ke arah batang pohon besar itu. Dan....

Kraaakkk.... Gusraaakkk...!

Pohon sebesar badan kerbau itu kontan patah, kemudian tumbang dengan menimbulkan suara bergemuruh. Hebat sekali tenaga sakti orang tua itu. Entah apa jadinya kalau yang menjadi sasaran telapak tangannya adalah tubuh manusia. Ngeri rasanya untuk membayangkannya.

Para murid Perguruan Gunung Salaka yang menyaksikan kehebatan pukulan Ki Surya Kencana itu, hanya terbelalak kagum sambil berdecak. Memang selama berdiam di Gunung Salaka, baru kali inilah mereka dapat menyaksikan kehebatan orang tua itu.

"Maafkan aku, Kakang! Bukan maksudku untuk memamerkan, kekuatan di depan murid-murid. Sebab kalau tidak kutumpahkan kemarahanku, bisa-bisa kepalaku pecah dibuatnya. Aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk bersabar, Kakang! Oleh karena itu, ijinkanlah aku kembali untuk mencari pembunuh biadab itu!" ujar Ki Surya Kencana kepada kakak seperguruannya, penuh harap. Dia memang pernah mencari si pembunuh, namun hasilnya sia-sia. Maka, diputuskanlah untuk kembali ke perguruan. Dan kini, Ki Surya Kencana masih belum punya bukti-bukti yang jelas.

Ki Sukma Kelana yang merasa maklum akan kemarahan adik seperguruannya itu hanya tersenyum penuh kesabaran. Ia tahu betul watak adiknya. Meskipun ia tidak mengijinkan adik seperguruannya itu pergi, pastilah Ki Surya Kencana akan pergi secara diam-diam.

"Baiklah, Adi! Kali ini kau kuijinkan kembali untuk pergi menyelidikinya. Tapi ingat. Jangan menurunkan tangan kejam pada sembarang orang. Kendalikan hawa amarahmu, jangan sampai membuat persoalan baru lagi!" pesan Ki Sukma Kelana yang akhirnya terpaksa mengalah kepada adik seperguruannya itu.

"Terima kasih, Kakang. Aku pergi dulu," ucap Ki Surya Kencana bersemangat. Tubuh orang tua sakti itu berkelebat cepat, seolah-olah pandai menghilang saja.

"Hati-hati, Adi!" seru Ki Sukma Kelana memperingatkan. Suaranya terdengar melengking tinggi karena didorong tenaga dalam yang kuat. Bahkan gema suaranya terdengar sampai sedemikian jauhnya.

"Bagaimana dengan kami, Guru? Apakah kami harus berdiam diri saja, melihat keadaan perguruan yang sedang dalam kemelut itu?" tanya Santiaji yang merupakan tokoh tingkat empat di Perguruan Gunung Salaka. Pertanyaan bernada penuh permohonan.

"Betul, Guru. Berilah kami tugas. Dan akan kami jalankan sebagai mana yang diperintahkan!" pinta yang lain lagi. Tingkatannya dalam perguruan ini sama dengan Santiaji.

"Baik! Tanpa kalian minta pun sebenarnya sudah kupersiapkan sebuah tugas untuk kalian berdua," ujar Ki Sukma Kelana yang merasa maklum akan perasaan kedua orang murid kepalanya tersebut Yang ingin segera mencari biang keladi dari kemelut yang tengah mereka hadapi.

"Tugas yang akan kuberikan kepada kalian adalah pergi ke Desa Cikunir. Di sana tanyakanlah kejadian yang sebenarnya kepada penduduk setempat. Dan ingat! Dalam melakukan penyelidikan, lakukanlah penyamaran. Hal ini agar tidak mudah dikenali musuh-musuh kita. Dan juga, kalian harus berangkat pada malam hari untuk menghindari intaian musuh! Karena, kita tidak mengetahui siapa dan di mana musuh-musuh yang sebenarnya. Kalian mengerti maksudku?"

"Mengerti, Guru!" jawab keduanya serempak.

"Nah! Kalau begitu, sekarang uruslah dulu mayat-mayat ini sebagaimana mestinya. Baru setelah itu, kalian bisa mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penyamaran nanti. Nah, aku pergi dulu!" ujar Ki Sukma Kelana sambil melangkah meninggalkan tempat itu.

"Terima kasih, Guru...!" jawab keduanya lagi sambil berlutut memberi hormat, diikuti murid-murid lainnya yang juga masih di tempat itu.

Sepeninggal Ki Sukma Kelana maka mulailah mereka mengurus mayat keenam orang kawan seperguruannya itu. Sedangkan Santiaji dan teman setingkatnya bergegas kembali ke kamar untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam melakukan tugas yang diberikan guru besarnya itu.

********************

EMPAT

Kehangatan sinar matahari pagi menyertai langkahnya memasuki perbatasan sebuah desa. Meskipun usianya sudah tua, namun langkah kakinya teriihat ringan dan mantap. Tubuhnya tegap dan sehat, pertanda orang itu selalu memperhatikan kesehatan. Pakaiannya yang terbuat dari kain kasar berwarna putih itu, disatukan dengan celana hitam. Maka penampilan orang tua itu menjadi terlihat sederhana. Siapa lagi kalau bukan Ki Surya Kencana yang sedang dalam penyelidikan atas pembantaian beberapa murid Perguruan Gunung Salaka.

Ki Surya Kencana juga sengaja melakukan penyamaran agar kehadirannya dalam dunia persilatan tidak mudah dikenali orang. Sudah hampir seminggu melakukan penyelidikan, namun yang ditempuh masih tetap gelap. Sama sekali belum ditemukan tanda-tanda tentang si pembunuh sedikit pun. Tapi berkat semangatnya yang tinggi, Ki Surya Kencana tetap meneruskan pencarian. Orang kedua di Perguruan Gunung Salaka itu melangkahkan kakinya menuju sebuah kedai makan yang terletak di tepi jalan utama desa itu. Hatinya merasa lega ketika di dalam kedai makan tidak terlalu banyak pengunjung. Dihampirinya sebuah meja yang terletak dekat jendela. Dengan demikian dia dapat memandang bebas keluar. Ki Surya Kencana menggerakkan tangannya memanggil pelayan, dan memesan beberapa jenis makanan dan minuman.

Tidak lama, pelayan yang dipanggil kembali kemejanya dengan membawa beberapa makanan dan minuman. Kemudian segera disantap makanannya dengan pelahan. Di dalam kedai, ada juga beberapa orang juga tengah menyantap makanan. Semula tidak dipedulikan sama sekali obrolan orang-orang yang sedang mengisi perut itu. Tapi, mendadak wajahnya berubah ketika mendengar cerita dua orang yang berada di seberang mejanya.

"Bayangkan! Siapa yang tidak gemetar bila melihat sesosok mayat yang keadaannya sangat mengerikan itu! Entah binatang buas jenis apa yang begitu ganas menyiksanya. Sampai-sampai anggota tubuhnya terpisah-pisah! Hiii! Mengerikan sekali!" tutur salah seorang.

Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian Ki Surya Kencana. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera ditinggalkan mejanya untuk menghampiri meja dua orang yang tengah bercerita. Dengan langkah yang dibuat-buat, segera didekati dua orang itu.

"Selamat pagi, Kisanak," sapa Ki Surya Kencana, sambil menganggukkan kepalanya. "Aku tertarik dengan ceritamu tadi. Hm, bolehkah aku ikut mendengarkannya?"

"Selamat pagi! Silakan..., silakan!" jawab kedua orang itu, dengan senyum ramah.

"Ceritamu tadi sungguh menarik, Kisanak Mmm, dimanakah engkau melihat mayat yang sedemikian mengerikan itu?" tanya Ki Surya Kencana penuh minat Wajahnya begitu bersungguh-sungguh.

Sebagaimana sifat manusia pada umumnya, kedua orang itu pun senang jika ceritanya menarik perhatian orang lain. Dan dengan suara yang dibuat-buat, orang itu lalu menceritakan pengalamannya kepada Ki Surya Kencana. Laki-laki setengah baya itu mendengarkan dengan wajah berseri-seri.

"Karena kami berdua adalah pedagang keliling, maka banyak mengetahui atau menemukan peristiwa yang sedang terjadi saat ini," jelas orang itu penuh kebanggaan.

"Jadi, pembunuh seperti itu sedang mewabah di sekitar sini?" tanya Ki Surya Kencana lagi, meminta kepastian.

"Benar! Bahkan dua hari yang lalu, di Desa Karang Gempal ini seorang pemuda berumur empat belas tahun lenyap tanpa jejak. Dan pada keesokan paginya, seorang pencari kayu menemukan sesosok mayat yang masih baru. Namun tubuh si mayat sudah hampir tak berdaging. Rupanya binatang itu merasa kekenyangan sehingga tidak menghabiskan santapannya itu," tutur orang itu wajahnya menggambarkan kengerian yang amat sangat.

"Wah, sungguh berbahaya kalau begitu," desah Ki Surya Kencana yang juga memasang wajah kengerian, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Ha ha ha...! Jangan takut, Kisanak hewan itu hanya memilih daging-daging yang masih segar saja, jadi tidak perlu khawatir," hibur keduanya. Hati mereka merasa geli melihat wajah orang tua itu yang mendadak pucat

"Ah, syukuriah kalau begitu. Sekarang lebih baik aku pergi saja. Sungguh aku menjadi semakin ngeri mendengar ceritamu, Kisanak. Mari," ujar Ki Surya Kencana meminta diri.

Setelah membayar harga makanan serta minumannya terlebih dahulu, orang tua itu pun bergegas meninggalkan kedai makan. Kepergiannya diiringi gelak tawa dua orang pedagang keliling tadi. Sesampainya di luar kedai, Ki Surya Kencana segera berkelebat menuju keluar Desa Karang Gempal. Dia berminat memeriksa ke sekeliling perbatasan desa itu. Siapa tahu di sana dapat menemukan sedikit petunjuk, atau pun tanda-tanda yang akan membawanya kepada pembunuh biadab itu.

Setelah cukup lama berkeliling, tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara yang mencurigakan. Ki Surya Kencana semakin mempertajam indra pendengarannya, untuk memastikan arah suara yang mencurigakan itu. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menarik napas kecewa. Ternyata yang didengarnya adalah suara langkah kaki manusia yang terdengar lambat dan berat.

"He he he...! Rupanya cacing-cacing di dalam perutku sudah mulai kelaparan lagi," terdengar suara orang berbicara.

Tiba-tiba muncul sosok tubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Dielus-elus perutnya yang gendut, sambil bergumam sendirian. Entah mengapa tahu-tahu saja orang itu meludah kekiri-kekanan dengan cuping hidungnya bergerak-gerak seolah-olah mengendus sesuatu.

"Huh! Bau daging alot! Bau daging alot!" teriak sosok tubuh itu berkali-kali.

Ki Surya Kencana yang bersembunyi di balik semak-semak merasa terkejut sekali mendengar umpatan orang tinggi besar, "Gila! Manusia ini tajam sekali penciumannya. Seperti binatang pemakan daging saja layaknya," pikir Ki Surya Kencana.

"Hei! Keluar kau, kakek peot! Baumu memualkan perut, tahu!" teriak orang tinggi besar itu. Suaranya begitu serak menakutkan.

Ki Surya Kencana merasa panas perutnya mendengar sumpah yang dilontarkan orang yang berwajah menyeramkan itu. Dengan langkah bagaikan orang lemah, Ki Surya Kencana segera keluar dari tempat persembunyian. Ia sengaja berbuat demikian agar reaksi orang itu terpancing.

"Hm, mengapa kau bersembunyi di balik semak-semak itu?! Apakah sengaja memata-mataiku? Jawab, peot! Jangan sampai kurobek-robek mulutmu yang sudah mulai ompong itu!" bentak orang tinggi besar, yang tak lain adalah Gandaruwo Hutan Jagal.

"Oh. Tidak..., tidak! Aku... aku hanya tersesat," jawab Ki Surya Kencana, pura-pura gugup. Hatinya sudah mulai menduga tentang orang yang berada di hadapannya. Namun, ia tidak ingin bertindak sebelum dapat memastikan bahwa orang tinggi besar itulah yang dicari.

"Hm, untung aku sedang tidak berselera untuk membunuh. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan merobek-robek tubuh peotmu itu. Hayo, pergilah sebelum pikiranku berubah!" dengus orang itu sambil mengibaskan tangannya, secara pelahan dan sembarangan.

Namun, Ki Surya Kencana yang berdiri sejauh dua tombak dari orang itu, menjadi terkejut sekali. Dirasakannya sambaran angin kuat yang ditimbulkan gerakan sembarangan tadi. Dengan wajah seolah-olah tidak menyadari adanya bahaya, Ki Surya Kencana segera mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya dari serangan itu. Ketika sambaran angin kuat itu tiba, Ki Surya Kencana cepat mengendorkan kedua kakinya. Maka tak ayal lagi, tubuh orang tua itu terdorong dan jatuh bergulingan sejauh tiga tombak. Dan dengan pura-pura susah payah, Ki Surya Kencana berusaha bangkit berdiri.

"He he he.... Orang tua peot yang lemah dan menjemukan, huh!" dengus orang itu. Setelah berkata demikian, Gandaruwo Hutan Jagal itu melangkah pergi. Tidak dipedulikannya lagi Ki Surya Kencana yang masih pura-pura terhuyung.

Ki Surya Kencana masih belum dapat memastikan siapa sebenarnya orang yang bertubuh tinggi besar dan menyeramkan itu, juga tidak ingin memperpanjang urusan. Maka ketika Gandaruwo Hutan Jagal melangkah pergi, hanya didiamkan saja. Tapi yang jelas dia berniat menguntit orang yang mencurigakan itu dari kejauhan.

Mendadak kening orang tua itu berkerut dan wajahnya menegang, ketika secara samar-samar teringat akan seorang tokoh golongan hitam yang ciri-cirinya mirip dengan orang tinggi besar itu. Dengan kecepatan kilat, tubuhnya pun segera berkelebat ke arah Gandaruwo Hutan Jagal itu pergi.

"Kisanak, pelahan sedikit...!" seru Ki Surya Kencana ketika sudah melihat orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Mendengar seruan itu, Gandaruwo Hutan Jagal segera menghentikan langkahnya. Hatinya jadi heran ketika melihat orang yang berteriak itu adalah tubuh tua yang tadi dibuatnya terpelanting. Selintas terpancar hawa maut dari sepasang sinar matanya yang semerah buah saga itu.

"Hhh! Apakah ingin mencari mampus, orang tua peot?! Berani benar kau menunda perjalananku!" ujar Gandaruwo Hutan Jagal dengan suara menggeram marah.

"Tunggu dulu, Kisanak. Aku hanya ingin bertanya sedikit!" jawab Ki Surya Kencana tenang. Namun sorot matanya terlihat tajam dan berpengaruh.

"Huh! Apa yang ingin kau tanyakan?! Cepat katakan!" kata Gandaruwo Hutan Jagal tak sabar. Sekejap tadi hatinya sempat terkejut melihat sinar mata yang tajam menusuk dari orang tua yang dianggap remeh itu. Namun karena ketinggian hatinya, maka tidak dipedulikannya.

"Hm.... Kalau mata tuaku tidak salah lihat, Kisanak pastilah yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal. Benar?" tanya Ki Surya Kencana. Pandangan matanya seperti menyelidik.

"Ha ha ha.... Memang tidak salah, peot! Akulah yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal. Lalu, apa maumu?i" jawab Gandaruwo Hutan Jagal penuh kesombongan.

Tapi memang demikian kebiasan tokoh-tokoh golongan hitam, yang selalu merasa bangga apabila namanya sudah dikenal orang.

"Dan aku pun sudah pula mengenal kebiasaanmu yang suka memakan daging manusia itu. Satu lagi pertanyaanku. Pemahkah kau berkeliaran di sekitar Gunung Salaka pada dua minggu yang lalu?" tanya Ki Surya Kencana dengan wajah yang mulai menegang. Sengaja dia memancing dengan pertanyaan itu untuk menuju kepada pokok persoalan yang sesungguhnya.

"He! Apa maksudmu, orang tua peot! Dan apa hubunganmu dengan Perguruan Gunung Salaka? Hm..., nanti dulu! He he he..., sekarang aku ingat. Bukankah kau yang berjuluk si Tangan Pedang? Tidak salah lagi, kaulah orangnya!" tebak Gandaruwo Hutan Jagal. Wajahnya juga kelihatan menegang.

"Tidak salah penglihatanmu. Akulah Surya Kencana yang berjuluk si Tangan Pedang itu! Hm, Gandaruwo Hutan Jagal. Kalau kau bukan seorang pengecut, pasti mau mengakui perbuatanmu yang telah membantai lima belas orang pemuda secara kejam di hutan dekat Kaki Gunung Salaka dua minggu lalu! Apakah kau akan menyangkal?" tanya Ki Surya Kencana. Sengaja nada suara pada kata-kata 'Pengecut' diberikan tekanan agar reaksi Gandaruwo Hutan Jagal terpancing. Namun demikian, hatinya dibuat setenang mungkin.

Memang pada umumnya tokoh-tokoh golongan hitam, paling tabu dengan kata-kata pengecut. Masalahnya, mereka rata rata memiliki hati sombong dan paling suka menonjolkan kekejamannya. "Hm, jadi kau sengaja turun gunung untuk mencariku, orang tua peot? He he he.... Memang sudah lama ingin kurasakan ketajaman tangan pedangmu! Nah! Kalau memang aku yang melakukannya, apa yang akan kau perbuat?" tantang Gandaruwo Hutan Jagal sambil bertolak pinggang. Sikapnya angkuh sekali.

"Hm. Kalau memang demikian, harus ikut aku ke Gunung Salaka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan biadabmu itu!" kata Ki Surya Kencana bernada mengancam.

"He he he...! Lakukanlah kalau mampu, orang tua peot!" tantang Gandaruwo Hutan Jagal sambil memperdengarkan tawanya yang panjang.

"Hm. Bersiaplah kau, Gandaruwo Hutan Jagal! Hiaaattt..!" sambil berteriak mengguntur, tubuh Ki Surya Kencana meluncur deras. Kedua tangan berputar mencari sasaran yang mematikan.

Hebat sekali serangan yang dilakukan tokoh sakti dari Perguruan Gunung Salaka itu. Angin keras menderu-deru mengiringi putaran tangannya seolah menjadi banyak Dan tahu-tahu tangan kanannya me-nyembul keluar, menusuk ke arah tenggorokan Gandaruwo Hutan Jagal dengan kecepatan kilat.

Wuuusss...!

Gandaruwo Hutan Jagal mengetahui kelihaian lawan. Dikerahkan tenaganya menyambut serangan lawan. Dan merendahkan kakinya agak miring serta tangan kirinya cepat mengnakis tusukan tangan Ki Surya Kencana ke tenggorokannya itu.

Dukkk!

Terdengar benturan keras. Tubuh Ki Surya Kencana terpental. Namun dengan gerakan indah, tubuh orang tua itu berputar di udara empat kali. Dan mendarat di atas berumput. Hatinya terkejut, tangannya te-rasa bergetar ketika beradu dengan tangan lawan. Diam-diam dipujinya kekuatan tenaga sakti lawannya.

Demikian halnya Gandaruwo Hutan Jagal. Tubuhnya yang tinggi besar itu, terpelanting ketika menangkis serangan lawannya. Lengan kirinya yang digunakan untuk menangkis terasa linu dan nyeri. Gandaruwo Hutan Jagal merasa terkejut. Sama sekali tak disangka tenaga dalam lawannya sangat kuat. Bahkan mungkin lebih kuat daripada tenaganya.

"Gila! Tak kusangka tenaga orang tua itu demikian kuat," umpat Gandaruwo Hutan Jagal dalam hati.

Kedua kembali berhadapan sambil meneliti posisi lawan. Rupanya dalam pertemuan tenaga tadi masing masing sudah dapat mengukur kemampuan lawan. Sehingga kali ini keduanya teriihat lebih berhati-hati dalam melakukan serangan berikutnya.

"Hiaaattt!"

Dengan sebuah teriakan yang sember, Gandaruwo Hutan Jagal ,mencoba membuka serangan mendahului lawan. Kedua tangannya melakukan serangan secara bergantian, diiringi pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi. Angin tajam menderu-deru dan menyambar demikian kuat. Bumi di sekitar tempat pertarungan terasa bergetar, ketika tubuh tinggi besar itu berlompatan lincah dan cepat

Melihat lawannya sudah membuka serangan, maka Ki Surya Kencana tak tinggal diam. Kedua tangannya kembali berputar hingga menimbulkan suara mengaung ribut. Daun-daun pohon di sekitar pertarungan berguguran terianggar angin pukulan bertenaga dalam yang amat kuat. Dan sekejap saja keduanya segera terlibat sebuah pertarungan yang hebat dan sengit.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Hingga tanpa terasa pertarungan sudah mencapai jurus yang kedua puluh. Namun keduanya masih teriihat seimbang, dan tanpa mampu mendesak lawannya masing-masing. Sehingga, pertempuran semakin teriihat alot saja. Ki Surya Kencana berusaha mendesak lawannya lewat serangan-serangan yang gencar dan berbahaya. Setiap serangan di arahkan pada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawannya. Namun sampai sedemikian jauh, dia merasa masih belum perlu mengeluarkan ilmu andalannya, ilmu 'Tangan Pedang'. Dengan ilmu itu namanya menjadi terangkat dalam dunia persilatan pada dua puluh tahun lalu. Ilmu andalannya masih belum dikerahkan, karena sampai sejauh ini serangan-serangan lawan masih dapat diatasi.

Sementara itu, Gandaruwo Hutan Jagal semakin lama semakin merasa terkejut akan kelihaian lawannya yang sudah tua itu. Dengan susah payah berusaha dibalas serangan-serangan Ki Surya Kencana. Memang cukup ganas dan berbahaya. Kedua tangannya yang mengepal itu, menyambar-nyambar ganas ke bagian-bagian terlemah di tubuh lawannya.

Demikian pula dengan Gandaruwo Hutan Jagal. Seperti halnya Ki Surya Kencana, dia pun sampai sejauh ini belum mengeluarkan ilmu andalannya. Menurutnya, rasanya belum pernah mempergunakannya. Tempo pertarungan semakin lama semakin cepat. Sepuluh jurus kembali terlewat. Ketika menginjak jurus yang ketiga puluh empat, Gandaruwo Hutan Jagal tak sempat lagi menghindar dari tebasan sisi telapak tangan Ki Surya Kencana yang meluncur bagai kilat menuju lambungnya. Maka tahu-tahu saja tangan orang tua itu telah menghajar lambung sebelah kanannya.

Buuukkk!

"Uhhhkkk...!" lenguh Gandaruwo Hutan Jagal. Tubuh laki-laki tinggi besar itu terpelanting sejauh dua batang tombak lebih. Belum lagi, Gandaruwo Hutan Jagal menyadari apa yang terjadi, kembali datang serangan yang demikian cepat. Dan untuk menghindarinya lelaki seram itu langsung bergulingan menjatuhkan diri. Dan dengan gerakan gesit tubuhnya melenting berdiri, membentuk kuda-kuda kokoh.

Gandaruwo Hutan Jagal meringis merasakan pedih pada kulit lambungnya, yang terkena hantaman tangan lawan tadi. Biarpun pukulan itu cukup keras, namun sama sekali tidak mengakibatkan luka yang parah pada tubuhnya. Diiringi gerengan yang menggetarkan, Gandaruwo Hutan Jagal segera mencabut keluar senjatanya berupa gada yang terlihat berat. Dengan penuh kemurkaan, Gandaruwo Hutan Jagal memutar-mutar senjatanya di atas kepala hingga menimbulkan suara angin menderu-deru. Daun-daun dan ranting berterbangan terlanda putaran angin yang sangat kuat itu. Rupanya Gandaruwo Hutan Jagal telah mengeluarkan jurus andalan 'Putaran Angin Puyuh', yang terkenal kehebatannya.

Melihat lawannya sudah mulai mengeluarkan ilmu andalan, Ki Surya Kencana pun tidak ingin berbuat ceroboh. Kehebatan ilmu itu pernah didengarnya. Maka segera digerakkan tangannya secara bersilangan, sehingga terdengar suara berdesing keras. Padahal gerakan orang tua itu sepertinya tidak terlalu cepat Namun, desingan angin tajam yang ditimbulkan telah mampu membuat permukaan kulit lawan terluka. Memang betapa ampuhnya ilmu yang bernama 'Tangan Pedang' itu. Bahkan ketajamannya tidak kalah dengan sambaran pedang yang tajam.

"Yeeeaaahhh...!"

Disertai teriakan yang menggetarkan jantung, tubuh Gandaruwo Hutan Jagal meluruk deras ke arah Ki Surya Kencana. Serangannya begitu dahsyat! Angin keras berputar dan menderu-deru menyertai luncuran gadanya yang besar dan berat itu.

Weeerrr...! Weeerrr...!

"Haiiit..!" Tubuh Ki Surya Kencana bergerak indah. Kakinya bergeser ke samping kanan sambil melepaskan sebuah tusukan yang menimbulkan suara mencicit tajam ke arah lambung kiri lawannya. Tusukan tangan kiri dengan jari-jari terbuka itu, demikian hebatnya. Apabila mengenai sasaran, maka dapat dipastikan tubuh lawan akan tertembus tak ubahnya tertusuk pedang. Memang, tusukan itu didorong oleh tenaga dalam yang tinggi.

Tentu saja Gandaruwo Hutan Jagal tidak membiarkan lambungnya ditembus jari-jari tangan lawan. Dengan egosan yang tidak kalah hebatnya, segera diputar tubuhnya sambil menghantam gada ke punggung Ki Surya Kencana.

Wuuuttt...!

Suara angin pukulan gada itu mengaung tajam. Kecepatannya hampir tidak teriihat mata biasa. Hebat sekali pukulan yang diiancarkan Gandaruwo Hutan Jagal itu. Jangankan tubuh manusia. Batu karang pun akan hancur berkeping-keping apabila terhantam!

Ki Surya Kencana cepat-cepat merendahkan tu buhnya, sehingga serangan lawannya lewat di atas ke pala. Dan sebelum Gandaruwo Hutan Jagal memperbaiki posisi, tiba-tiba tubuh Ki Surya Kencana melesat tinggi melewati kepala lawannya. Segera dilepaskan sebuah bacokan yang disertai tenaga dalam penuh dalam upaya membelah kepala lawan. Bukan main berbahayanya serangan laki-laki tua itu. Apalagi dilakukan secara mendadak. Sehingga untuk sesaat, Gandaruwo Hutan Jagal menjadi gugup. Buru-buru dilempar tubuhnya ke kiri.

Siiinnng!

Crattt!

"Aaakkk...!" Terdengar jerit melengking kesakitan yang keluar dari mulut Gandaruwo Hutan Jagal. Sambil memegangi kaki kirinya yang tersayat tebasan tangan lawannya, laki-laki seram itu meringis kesakitan. Rupanya walaupun dia mampu berkelit, namun tetap saja tebasan Ki Surya Kencana mengenai kaki kirinya. Darah pun langsung mengucur dari lukanya.

"Kurang ajar! Monyet tua! Rupanya kau benar-benar tidak bisa dikasih hati! Awas! Kulumat tubuhmu dan akan kumakan jantungmu, setan!" umpat Gandaruwo Hutan Jagal karena merasa kecolongan.

"He he he.... Jangan hanya bisa berteriak-teriak, gendut jelek! Ayo, buktikan ucapanmu!" ejek Ki Surya Kencana sambil tertawa.

"Setannn.... Iblisss...! Kubunuh, kau! Heaaattt...!" umpat Gandaruwo Hutan Jagal.

Selesai berkata demikian tubuh Gandaruwo Hutan Jagal melesat ke arah Ki Surya Kencana, melakukan serangan-serangan cepat dan berbahaya. Segera dia berputar beberapa kali di udara, disertai putaran gada yang menimbulkan suara menderu-deru. Dalam kemarahannya itu rupanya Gandaruwo Hutan Jagal telah mengeluarkan jurus-jurus terakhir dari ilmu 'Putaran Angin Puyuh'.

Ki Surya Kencana sempat terkejut melihat tubuh lawanya berputar di udara itu. Bahkan kadang-kadang melepaskan pukulan gadanya tanpa terduga. Diam-diam diakui kehebatan jurus lawannya. Namun, Ki Surya Kencana tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Karena pukulan-pukulan lawan yang berbahaya itu tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Dengan cepat, Ki Surya Kencana segera mengempos seluruh kekuatan tenaga saktinya. Dan tiba-tiba saja tubuh laki-laki tua itu bergerak sangat cepat. Kedua kakinya secara bergantian melakukan langkah-langkah yang sulit dan membingungkan. Sedangkan kedua tangannya bergerak-gerak, sukar diduga arahnya. memang hebat sekali jurus ilmu 'Tangan Pedang' tingkat terakhir yang diperlihatkan Ki Surya Kencana itu. Seolah-olah tubuhnya timbul tenggelam tertutup gerakan tangan yang luar biasa cepatnya itu.

Dalam sekejap saja keduanya kembali terlibat pertarungan yang lebih sengit dan mendebarkan. Masing-masing berkelebat sambil melepaskan serangan-serangan yang tidak terduga. Kadang-kadang tubuh mereka terpisah karena benturan-benturan tangan. Dan dalam beberapa saat saja, pertempuran telah berjalan tiga puluh jurus.

Gandaruwo Hutan Jagal bernafsu sekali untuk segera dapat menjatuhkan lawan. Serangannya semakin gencar dan berbahaya. Pukulannya yang mengandung tenaga dalam penuh, menyambar-nyambar di sekitar tubuh lawan. Hebat sekali serangan-serangan yang dilakukan tokoh hitam itu. Kalau saja bukan Ki Surya Kencana yang dihadapi, mungkin lawannya sudah tewas di tangan Gandaruwo Hutan Jagal yang lihai dan ganas itu.

Karena yang dihadapinya adalah lawan yang telah mewarisi hampir seluruh ilmu tinggi Perguruan Gunung Salaka, maka serangan-serangan Gandaruwo Hutan Jagal selalu kandas dan mengenai tempat kosong. Meskipun demikian, Ki Surya Kencana pun tidak mudah untuk menjatuhkan lawannya. Dia terus berusaha keras mendesak lawannya lewat serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya. Namun sampai sejauh itu. Lawan belum juga terdesak.

Sementara tanpa mereka ketahui pertarungan telah bergeser cukup jauh dari semula. Pertarungan yang semula berlangsung di daerah berumput, kini berpindah ke daerah berbatu-batu, di tepi sungai yang mengalir jernih. Batu-batu yang bertonjolan di permukaan tanah, melesak terkena jejakan kaki-kaki yang bertenaga dalam kuat.

"Heaaattt...!"

Memasuki jurus keempat puluh tujuh, Gandaruwo Hutan Jagal berteriak melengking tinggi. Tubuhnya yang tinggi besar itu meluruk deras, sejajar dengan permukaan tanah. Dia melakukan serangan dahsyat dam memarikan. Tangan kirinya dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah dua mata lawan. Sementara tangan kanannya yang memegang gada, berputar-putar menimbulkan suara mengaung keras. Rasanya tubuh Ki Surya Kencana siap dijadikan sasaran pukulan! Hebat dan ganas sekali serangan yang dilakukan Gandaruwo Hutan Jagal kali ini.

Ki Surya Kencana yang mengetahui serangan berbahaya itu, cepat menjatuhkan tubuhnya ke depan, dengan posisi terlentang. Dan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba kedua kakinya mencuat ke atas menghantam perut Gandaruwo Hutan Jagal. Laki-laki tinggi besar itu menjadi terkejut setengah mati karena tidak menduga bahwa lawannya akan melakukan serangan demikian. Karena tidak ada waktu untuk menghindar, Gandaruwo Hutan Jagal segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi perut dari tendangan itu.

Deeesss!

"Ouuugggh...!" lenguh Gandaruwo Hutan Jagal. Ternyata hantaman kedua kaki Ki Surya Kencana mendarat telak di perut laki-laki seram itu. Tubuh yang tinggi besar itu melambung ke udara, lalu jatuh di tanah dengan kerasnya sehingga menimbulkan suara berdebuk. Dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar. Sambil membungkuk merasakan sakit pada perut, Gandaruwo Hutan Jagal berusaha bangkit dengan bertumpu pada gadanya. Walaupun tubuhnya limbung, tapi Gandaruwo Hutan Jagal berusaha berdiri tegak. Kembali dia bersiap menghadapi lawannya.

"Hm.... Manusia biadab, terimalah hukumanmu!" ancam Ki Surya Kencana. Setelah berkata demikian, Ki Surya Kencana kembali melancarkan serangan ke arah lawannya. Kedua tangannya bergerak cepat hingga menimbulkan suara mencicit tajam. Dan tiba-tiba saja tangan kirinya sudah meluncur ke ulu hati lawan.

Menyadari kalau tidak mungkin menghindar, Gandaruwo Hutan Jagal hanya berdiri tegak sambil menanti serangan lawan. Sedangkan tangan kanannya menggenggam gadanya erat-erat agar sewaktu-waktu dapat dihantamkan ke kepala lawannya. Licik sekali manusia iblis itu. Dalam keadaan terjepit, dia sengaja ingin mengadu nyawa. Ki Surya Kencana sempat merasa terkejut melihat lawannya tidak bergeming sedikit pun. Namun, untuk menarik pulang serangannya sudah tidak mungkin dilakukan. Serangannya itu memang sudah dekat sekali ke tubuh lawan.

Dan..... Jreeebbb! Wuuuttt!

Kraaakkk!

"Arrrggghhh...!"

"Aaahhhkkk...!"

Masing-masing orang yang tengah mengadu nyawa itu menjerit bareng dengan tubuh terhuyung-huyung. Rupanya pada saat jari-jari tangan kanan Ki Surya Kencana menembus tubuhnya, Gandaruwo Hutan Jagal membarengi dengan ayunan gada ke kepala lawan. Saat itu, Ki Surya Kencana tidak mempunyai waktu lagi untuk menghidar. Terpaksa diangkat tangan kirinya menyambut hantaman tersebut. Akibatnya, kini tulang lengan kirinya remuk terhantam gada yang berat dan mengandung tenaga kuat. Kedua orang itu sama-sama terpental balik ke belakang.

Ki Surya Kencana marah bukan main ketika mendapat kenyataan tulang lengan kirinya remuk. Dengan kemarahan meluap-luap, tubuh laki-laki itu meluncur deras ke arah Gandaruwo Hutan Jagal yang masih terhuyung-huyung sambil menekap ulu hatinya yang terluka itu. Maka seketika Ki Surya Kencana membabatkan tangan kanan ke leher lawan menggunakan ilmu 'Tangan Pedang'. Itu pun masih disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Gandaruwo Hutan Jagal yang sudah terluka hanya dapat memandang dengan mata membelalak ngeri. Rasanya sudah tidak mungkin lagi menghidar dari tebasan maut itu.

Siiinnng!

Craaakkk!

Terdengar suara bagaikan sebatang pedang menebas tulang. Tangan Ki Surya Kencana tepat menebas putus leher Gandaruwo Hutan Jagal itu. Darah langsung menyembur dari leher yang tanpa kepala itu. Tubuh tinggi besar tanpa kepala masih berdiri limbung, bergoyang-goyang ke kiri dan kanan. Ki Surya Kencana yang sudah diliputi amarah yang memuncak, segera menggerakkan kakinya menendang tubuh Gandaruwo Hutan Jagal.

Desss!

Tubuh tinggi besar tanpa kepala itu, terpental sejauh tiga tombak dan ambruk tanpa dapat bangkit lagi. Tamat sudah riwayat Gandaruwo Hutan Jagal yang sangat kejam dan buas di tangan Ki Surya Kencana. Tapi laki-laki tua itu harus mengorbankan tangan kirinya yang tak mungkin berfungsi lagi. Tokoh kedua Perguruan Gunung Salaka itu berdiri mematung, memandangi mayat Gandaruwo Hutan Jagal yang tewas menyedihkan.

Setelah menotok pangkal lengan agar darah berhenti mengalir, laki-laki tua itu pun melangkah meninggalkan bekas arena pertempuran. Biarpun harus kehilangan kirinya, namun Ki Surya Kencana tersenyum puas karena telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Hembusan angin terasa lembut silir-silir, mengiringi langkah Ki Surya Kencana yang akan kembali ke Gunung Salaka. Memang, untuk sementara tugasnya telah selesai.

********************

LIMA

Beberapa saat sepeninggal si Tangan Pedang atau Ki Surya Kencana, beberapa sosok tubuh berjalan ke arah bekas tempat pertempuran. Jumlahnya sekitar tiga belas orang. Wajah mereka rata-rata memancarkan sifat kejam dan licik. Masing-masing di pinggang tergantung sebatang pedang, yang menandakan bahwa mereka dari rimba persilatan. Dan kalau melihat dari tingkah dan penampilan, jelaslah bahwa ketiga belas orang itu dari golongan hitam. Tiba-tiba orang yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya seraya memandang berkeliling dengan kening berkerut. Rupanya hatinya merasa heran melihat keadaan di sekeliling yang teriihat porak-poranda itu.

"Hm.... Di tempat ini seperti baru saja terjadi pertempuran hebat. Entah, tokoh-tokoh mana yang telah bertarung di tempat ini. Kalau dilihat dari bekas-bekasnya, pastilah mereka bukan orang sembarangan?" ujar orang yang berjalan paling depan. Sepertinya dia merupakan pimpinan dari kedua belas orang lainnya. Mukanya kuning pucat, dan wataknya licik. Jadi, wajarlah kalau kaum rimba persilatan menjulukinya, Ular Muka Kuning.

"Betul, Ketua! Dan sepertinya pertempuran itu belum lama terjadi!" jelas orang yang berada di belakangnya, dengan wajah terheran-heran.

Si pemimpin yang berwajah kuning itu melangkah pelahan-lahan mengitari tempat bekas pertempuran tadi. Dan kerutan pada keningnya teriihat semakin dalam, ketika memperhatikan bekas-bekas pertempuran yang terus bergeser dari tempat semula.

"Hm, rupanya pertempuran itu semakin bergeser ke tepi sungai. Jelas pertempuran itu pasti berlangsung lama dan sangat seru," ujar Ular Muka Kuning semakin heran.

"Ketua, lihat! Di sini ada kepala manusia!" teriak salah seorang anak buahnya. Laki-laki berperawakan kekar itu juga ikut memeriksa sekitar daerah tepian sungai.

Orang yang dipanggil ketua dan berjuluk Ular Muka Kuning itu bergegas menghampiri salah seorang anak buahnya yang berteriak tadi. Dan matanya terbelalak seketika, karena dikenali betul kepala tanpa tubuh itu. Sejenak diedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Sikapnya benar-benar waspada. Namun ketika tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, laki-laki yang memiliki wajah kuning itu kembali menatap kepala tanpa tubuh.

"Gila! Siapa yang telah membunuh Gandaruwo Hutan Jagal ini? Hm, kalau orang itu telah mampu membunuh Gandaruwo Hutan Jagal, tentu kepandaiannya sangat hebat," gumam Ular Muka Kuning, pelan.

"Kalau melihat keadaan kepala tanpa tubuh ini, pastilah orang yang telah membunuhnya belum pergi terlalu jauh. Mari kita kejar!"

Setelah berkata demikian, Ular Muka Kuning segera melesat, diikuti dua belas orang anak buahnya.

Ketiga belas orang itu terus berlari menuju arah Selatan. Sebentar-sebentar sang ketua yang berjuluk Ulang Muka Kuning menghentikan langkahnya seraya memandang berkeliling. Setelah memastikan arah yang dituju, kembali dilanjutkan pengejaran. Mulutnya seketika tersenyum saat dari kejauhan dilihatnya sosok berpakaian putih yang berlari sambil memegangi tangan kirinya.

"Hei, tunggu!" teriak Ular Muka Kuning ketika jaraknya tinggal beberapa puluh tombak lagi.

Orang berbaju putih yang tak lain adalah Ki Surya Kencana tersentak kaget, ketika mendengar teriakan tadi. Untuk beberapa saat lamanya orang tua itu kelihatan ragu-ragu. Namun tetap dihentikan langkahnya dan menunggu kedatangan serombongan orang itu. Hati Ki Surya Kencana menjadi heran, karena merasa tidak pernah berurusan terhadap mereka.

"Hei, Orang Tua! Ke mana tujuanmu? Mengapa begitu terburu-buru?" tanya Ular Muka Kuning setelah dekat. Pandang matanya penuh selidik. Sedangkan hatinya menjadi curiga ketika melihat lengan baju sebelah kiri orang tua itu ada tetesan darah yang sepertinya masih baru.

"Oh! Aku..., aku hendak pergi ke desa sebelah untuk menengok cucuku yang sakit keras," jawab Ki Surya Kencana terpaksa berbohong. Dia tidak ingin mencari keributan tanpa sebab. Jawabnya pun dibuat gugup, agar penyamarannya tidak terbongkar.

"Hm.... Lengan kirimu kenapa, Orang Tua! Nampaknya seperti luka yang masih baru. Boleh kulihat?" tanya Ular Muka Kuning, semakin berani.

Dan sebelum Ki Surya Kencana merijawab. Laki-laki bermuka kuning itu sudah mengulurkan tangannya ke arah tangan kiri Ki Surya Kencana yang tergantung lumpuh itu. Orang kedua di Perguruan Gunung Salaka itu segera menggeser kakinya kebelakang sehingga tangkapan Ular Muka Kuning mengeriai tempat kosong. Dan tanpa disadari, hawa murni Ki Surya Kencana segera menyebar melindungi tubuhnya.

"Hm. Sudah kuduga! Kau pasti mempunyai sedikit kepandaian, Orang Tua! Kalau melihat luka di tanganmu, rasanya baru saja habis bertarung. Apakah tanganmu yang telah membunuh Gandaruwo Hutan Jagal?" tanya Ular Muka Kuning. Hatinya diliputi keraguan karena melihat penampilan orang tua itu yang sederhana.

"Benar! Akulah yang membunuhnya. Siapa kalian dan apa maksudnya menghadang perjalananku?" tegas Ki Surya Kencana seraya balik bertanya.

Sebagai seorang pendekar, dia memang tidak pernah kecut hatinya. Maka, dengan beraninya diakui segera perbuatannya terhadap Gandaruwo Hutan Jagal. Tapi, pengakuannya itu sama sekali bukan karena terdorong oleh kesombongan. Itu memang sudah jadi sifatnya, untuk tidak lari dari tanggungjawab terhadap segala perbuatannya.

"Hhh! Jangan besar kepala dulu, Orang Tua! Aku adalah sahabat Gandaruwo Hutan Jagal. Kau telah berhutang nyawa pada temanku. Maka aku harus menebusnya dengan nyawamu! Bersiaplah!" bentak Ular Muka Kuning, sambil menggeram.

"Tunggu dulu! Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Surya Kencana, heran.

"Hm. Kau pasti belum pernah mengenal orang yang berjuluk Ular Muka Kuning. Itulah julukanku! Sekarang, sebutkan namamu, agar kau tidak mati sia-sia!" bentak Ular Muka Kuning lagi. Hatinya memang diliputi kegeraman.

"Kalau kau belum kenal diriku, baiklah! Akulah Ki Surya Kencana! Nah! Kini aku sudah siap, Ular Muka Kuning!" tantang Ki Surya Kencana tidak kalah garangnya. Dia memang sudah bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.

"Eh, tunggu dulu! Rupanya kaulah yang berjuluk si Tangan Pedang dari Gunung Salaka?! Ha ha ha...! Ternyata julukanmu lebih terkenal daripada namamu sendiri. Bersiaplah untuk mampus, kakek peot!"

Setelah berkata demikian, Ular Muka Kuning segera menggerakkan tangannya. Murid-muridnya yang mengerrj isyarat itu serempak maju mengeroyok Ki Surya Kencana. Dengan teriakan-teriakan keras mereka segera membabatkan senjatanya ke arah orang tua yang berjuluk si Tangan Pedang. Terdengar berdesingan ketika senjata-senjata itu menyambar-nyambar ganas.

Ki Surya Kencana yang sudah menduga kalau tiga belas orang itu bukan orang baik-baik, segera bersikap waspada. Maka ketika musuh-musuhnya mulai menyerang, segera dikerahkan kelincahan kakinya untuk menghindari serangan lawan-lawannya. Namun sayang sekali gerakannya tidak selincah semula. Tentu saja, ini karena tangan kirinya yang telah lumpuh yang sangat mengganggu gerakannya. Sebentar-sebentar terlihat wajahnya menyeringai menahan rasa nyeri pada lukanya.

Melihat gerakan orang tua itu yang tersendat-sendat, Ular Muka Kuning segera melesat dan ikut maju mengeroyok. Akibatnya keadaan Ki Surya Kencana menjadi terdesak. Serangan Ular Muka Kuning menderu-deru mencari bagian-bagian yang mematikan. Ternyata dia memang cukup lihai. Pada suatu kesempatan, salah seorang pengikut Ular Muka Kuning menyabetkan pedangnya ke pinggang Ki Surya Kencana. Namun dengan gerakan ringan, orang tua itu segera menggeser tubuhnya. Maka, serangan itu hanya lewat tanpa mengenai sasaran. Dan sebelum orang itu menyadari keadaannya, tahu-tahu saja tangan Ki Surya Kencana cepat meluruk membelah dadanya.

"Aaakh!" Terdengar teriakan menyayat ketika bacokan tangan Ki Surya Kencana mengenai sasaran. Tubuh orang itu terjengkang dan tewas seketika dengan dada terbelah. Cepat-cepat Ki Surya Kencana menyambar senjata orang itu. Dan dengan gerakan indah, dia melompat. Tubuhnya berputar beberapa kali, kemudian mendarat ringan sejauh enam tombak dari lawan-lawannya.

"Aaakh!" Terdengar teriakan menyayat ketika bacokan tangan Ki Surya Kencana mengenai sasaran. Tubuh orang itu terjengkang dan tewas seketika dengan dada terbelah!

Ki Surya Kencana pun segera menyambar senjata orang itu, untuk memotong lengan kirinya yang tergantung lumpuh! Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan senjata rampasannya ke arah tangan kiri yang tergantung lumpuh itu.

"Crakkk!" Tangan kiri Ki Surya Kencana yang sudah lumpuh itu kini putus sebatas siku. Sambil menggigit bibir, orang tua itu menotok pangkal lengannya untuk menghentikan darah. Hal itu sengaja dilakukan, agar gerakannya tidak terganggu.

Pada saat itu Ular Muka Kuning sudah mencabut golok bergerigi, yang tergantung di pinggang. Langsung dilancarkan serangan cepat dan kuat. Angin tajam berdesing mengiringi serangannya. Ki Surya Kencana mengegoskan tubuhnya kesamping, menghindari serangan lawan. Untunglah! Serangan Ular Muka Kuning hanya mengenai tempat kosong. Tapi alangkah terkejutnya hati Ki Surya Kencana ketika golok besar bergerigi itu meliuk-liuk bagaikan ular hidup dan kembali mengancam tubuhnya. Cepat-cepat direndahkan tubuhnya sambil melepaskan sebuah tusukan yang cepat dan kuat.

Dan lagi-lagi Ki Surya Kencana terkejut, ketika melihat lawannya tidak mengelak mundur. Bahkan malah mencondongkan tubuhnya ke depan disertai liukan yang mengagumkan. Dengan demikian tusukan tangan orang tua itu luput. Sementara itu, para pengikut Ular Muka Kuning sudah kembali menyerbu. Dan memang lama-kelamaan Ki Surya Kencana mulai terdesak, oleh serangan lawan-lawannya yang semakin gencar. Diam-diam orang tua itu mulai merasa cemas terhadap keadaan yang tidak memungkinkan itu.

Sebenarnya, Ki Surya Kencana bisa terdesak bukan disebabkan kelihaian lawan. Kalau saja keadaan tubuhnya tidak seburuk ini, rasanya tidaklah sulit untuk menjatuhkan lawan-lawanya. Tapi, karena kelelahan akibat bertarung melawan Gandaruwo Hutan Jagal, tenaganya sudah terkuras. Itu pun masih ditambah dengan hilangnya tangan kiri. Jadi, wajarlah kalau keadaan Ki Surya Kencana benar-benar di bawah bayangan maut.

Memasuki jurus kedua puluh, kembali terdengar jeritan dua orang pengikut Ular Muka Kuning yang melengking. Tubuh mereka terpental, dengan luka menganga di perut dan lehernya. Jelas itu akibat tebasan ilmu 'Tangan Pedang' yang dimiliki Ki Surya Kencana. Maka, seketika kepungan lawan-lawannya agak mengendor. Rupanya mereka agak gentar juga melihat kelihaian laki-laki tua itu. Secara serentak mereka pun melompat mundur sambil mempersiapkan serangan berikut.

Untuk beberapa saat Ki Surya Kencana dapat bernapas lega. Namun tiba-tiba, tubuh orang tua itu bergoyang-goyang. Ternyata dari tangannya yang telah buntung itu, darah kembali mengalir deras. Rupanya totokan pada pangkal lengannya sudah terbuka, akibat terlalu banyak bergerak dan mengerahkan tenaga dalam secara berlebihan. Sehingga, keadaan orang tua itu semakin melemah.

"He he he.... Rupanya malaikat maut sudah tidak sabar menunggumu, tua bangka!" ejek Ular Muka Kuning. Rupanya dia telah membaca keadaan lawannya.

"Ayo, anak-anak! Kuras tenaga Orang Tua itu!" Setelah berkata demikian Ular Muka Kuning kembali menerjang lawan, diikuti sisa para pengikutnya. Maka pertarungan pun kembali berjalan sengit.

Kali ini Ki Surya Kencana benar-benar dibuat tidak berdaya. Setiap kali dia membalas serangan salah seorang lawan, namun Ular Muka Kuning selalu membokongnya dengan serangan dahsyat Hal ini membuat Ki Surya Kencana semakin marah dan penasaran. Menginjak jurus keempat puluh tiga, gerakan Ki Surya Kencana sudah tidak lincah lagi. Darah semakin banyak keluar dari lukanya.

Akibatnya, gerakannya pun kembali teriihat semakin lambat. Peluh telah membanjiri wajah dan tubuhnya. Kelelahan yang sangat terpancar di wajah tua itu. Namun meskipun demikian, dia masih berusaha untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Suatu kesempatan, Ular Muka Kurang menusukkan goloknya yang cepat bagai kilat ke arah lambung lawan. Angin sambaran goloknya berdesing tajam. Jelas, betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu.

Wuuuttt!

Ki Surya Kencana bergegas menggeser kedua kakinya hingga serangan itu luput. Dan ketika golok itu meliuk dengan gerakan lemas, Ki Surya Kencana cepat-cepat memapak ke arah pergelangan lawan.

Namun hatinya jadi kaget. Ternyata tiba-tiba Ular Muka Kuning menarik pulang tangannya sambil melepaskan tendangan kilat ke lambung Ki Surya Kencana. Orang tua itu berusaha memutar tubuh dan meng-gerakkan tangan menangkis tendangan lawan. Namun, sayang. Gerakannya sudah terlambat. Maka....

Buuukkk!

"Ouuuggghhh...!" lenguh Ki Surya Kencana. Tubuh laki-laki tua itu terjengkang ketika tendangan lawan mendarat telak di lambung kiri. Untuk sejenak dirasakan keadaan sekitarnya bergoyang-goyang. Ki Surya Kencana mendesis pelahan sambil mendekap lambungnya yang terasa nyeri dan ngilu. Untuk beberapa saat, hatinya merasa menyesal karena kehilangan tangan kiri. Kalau saja tidak kehilangan sebelah tangan tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.

Ular Muka Kuning segera berteriak kepada anak buahnya untuk menyerbu Ki Surya Kencana yang telah terluka itu. Beberapa batang senjata langsung meluncur, mengancam tubuhnya. Dengan tangan masih menekap lambung, orang tua itu berusaha berkelit. Namun gerakannya yang lambat itu, sudah diduga Ular Muka Kuning. Maka dia segera menyambutnya dengan tebasan ke leher. Gerakannya cepat bukan main. Ki Surya Kencana melempar tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan lawan. Tapi sungguh tidak diduga kalau empat orang pengikut Ular Muka Kuning sudah menunggu dengan ujung ujung senjatanya. Laki-laki tua itu berusaha memutar tubuh sambil menusukkan tangannya.

Cappp! Brertt! Crakkk!

"Aaahhhkkk...!"

"Uhhhkkk...!"

Terdengar teriakan kesakitan dari seorang lawan. Tubuhnya terpelanting dan tewas dengan leher berlubang. Sedangkan tubuh Ki Surya Kencana melintir tersambar tiga buah senjata lawan. Orang tua itu jatuh terduduk, dan wajahnya langsung berubah pucat. Darah mengalir dari luka di dada dan punggungnya akibat sambaran pedang lawan.

"Ohhh Rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sayang, belum sempat kulaporkan keberhasilan tugasku, kepada Kakang Sukma Kelana," desah Ki Surya Kencana dengan wajah murung. Dengan susah payah, laki-laki tua itu berusaha bangkit berdiri. Pakaiannya yang berwarna putih itu, sudah dibasahi darah yang bercampur peluh. Keadaannya saat itu benar-benar menyedihkan. Namun, meskipun telah mendapat luka yang cukup parah, orang tua itu tidak ingin mati sia-sia.

"Hm. Sebelum ajal tiba, aku harus dapat membunuh mereka sebanyak-banyaknya!" tekad Ki Surya Kencana geram.

"He he he, peot! Sekarang, terimalah kematianmu!" ejek Ular Muka Kuning sambil tertawa terkekeh berkepanjangan.

Setelah berkata demikian Ular Muka Kuning segera menggerakkan tangan memberi isyarat kepada enam orang anak buahnya. Maka tanpa buang-buang waktu lagi mereka serempak berlompatan sambil membabatkan senjata ke tubuh lawan yang sudah hampir tidak berdaya itu. Enam buah senjata itu berkelebat sehingga menimbulkan suara berdesing.

Tubuh Ki Surya Kencana bergeser ke kanan, mencoba menghindari serangan enam buah senjata lawan. Dan langsung digerakkan tangannya ke punggung lawan terdekat. Tak ayal lagi orang itu terhantam kibasan tangan laki-laki tua itu. Tubuhnya terjungkal dengan luka memanjang di punggung.

"Bangsat! Rupanya setan tua ini masih berbahaya juga!" umpat Ular Muka Kuning dengan wajah merah padam. Dan dengan kemarahan yang meluap-luap dia segera melesat, menyerang dahsyat. Golok besarnya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan suara mengaung. Bagai ribuan ekor lebah yang sedang marah saja layaknya.

Ki Surya Kencana yang menyadari bahaya itu, berlompatan menghindari serangan dahsyat Ular Muka Kuning. Gerakan kakinya terlihat goyah, ketika melakukan lompatan-lompatan. Dengan pengerahan sisa-sisa tenaga, sesekali Ki Surya Kencana melepaskan serangan disertai ilmu 'Tangan Pedang'. Hanya saja sekarang tidak lagi seampuh semula, tapi cukup kuat untuk melukai kulit tubuh lawan.

Sayang sekali perlawanan Ki Surya Kencana tidak banyak membantu untuk menghadapi serangan-serangan ganas Ular Muka Kuning. Sehingga dalam beberapa jurus saja, Ki Surya Kencana sudah tidak dapat lagi memberi perlawanan berarti. Secara lambat tapi meyakinkan, Ular Muka Kuning mulai mendesak lawan disertai serangan yang mematikan. Ki Surya Kencana kini hanya mampu menghindar sambil bermain mundur. Sehingga ketika Ular Muka Kuning melakukan serangan ganda, Ki Surya Kencana tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Walaupun berusaha mengangkat tangannya untuk memapak, tapi gedoran telapak tangan lawan tetap saja lolos dan menghantam dada sebelah kiri.

Dheeesss!

Seketika Ki Surya Kencana terpelanting keras! Segumpal darah segar kontan menyembur dari mulutnya. Hantaman telapak tangan lawan memang benar-benar kuat. Laki-laki tua itu berusaha melompat bangkit, sambil menekap dadanya yang terasa panas dan sesak. Belum lagi tubuhnya sempat berdiri tegak, beberapa sosok bayangan berkelebat disertai suara desingan senjata.

Crasss! Brettt! Crattt!

"Aaarrrggghhh...!" jerit Ki Surya Kencana. Tubuh orang tua itu telah tertembus beberapa batang senjata. Darah kontan berhamburan dari luka-luka akibat tertembus senjata-senjata lawan. Tubuh Ki Surya Kencana terdorong dan terhuyung-huyung, seperti tak kuat lagi berdiri. Dan sebelum tubuhnya ambruk ke tanah, sebuah bayangan berkelebat cepat sambil menggerakkan senjata secara mendatar ke leher Ki Surya Kencana.

Siiinnng! Croookkk!

Dengan ganas golok besar bergerigi itu menebas putus leher Ki Surya Kencana. Darah segar kembali memancur dari luka di leher laki-laki tua yang telah buntung. Dan golok besar itu kembali berkelebat menembus ulu hati tubuh yang sudah tak berkepala itu. Seketika tubuh Ki Surya Kencana yang tanpa kepala itu ambruk ke tanah berumput hijau yang langsung berubah memerah oleh darah. Laki-laki tua tokoh sakti dari Perguruan Gunung Salaka kini tewas dalam keadaan sangat menyedihkan! Tubuhnya sudah hampir tidak berbentuk lagi. Di sana-sini terdapat bekas-bekas senjata tajam.

"Ha ha ha.... Orang-orang Gunung Salaka memang terlalu sombong! Kalian lihat nanti. Kami akan datang dengan membawa bencana! Ha ha ha...!” Ular Muka Kuning tertawa terbahak-bahak.

Hati orang berwajah kuning itu gembira bukan main, karena telah berhasil membunuh salah seorang tokoh utama perguruan yang sangat dibencinya itu. Memang,t itu sudah menjadi sifat tokoh golongan hitam yang selalu menganggap golongan putih sebagai manusia sombong. Bagi mereka, golongan putih adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Setelah puas dengan tawanya, Ular Muka Kuning dan delapan orang sisa anak buahnya bergegas meninggalkan tempat itu sambil memperdengarkan suara lawa yang berkumandang ke sekitarnya. Suasana ditempat itu kembali sepi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Sinar mentari yang semula memancar garang, mendadak meredup. Seolah-olah turut berkabung atas kematian Ki Surya Kencana di tangan orang-orang yang berjiwa binatang. Tiupan angin lembut telah merontokkan sehelai daun pohon yang menguning. Daun itu melayang-layang dan jatuh ke permuka bumi.

********************

ENAM

Hari baru menjelang sore. Dua orang laki-laki berjalan menyusuri jalan utama Desa Cikunir. Mereka adalah Santiaji dan Ranjita, dua orang tokoh tjngkat empat Perguruan Gunung Salaka. Keduanya memang tengah melakukan penyelidikan tentang kematian murid-murid Gunung Salaka yang misterius. Mereka baru saja meninggalkan rumah Kepala Desa Cikunir, untuk mencari keterangan tentang si pelaku. Menurut keterangan yang didapat dari warga dan kepala desa setempat, memang pernah terjadi bentrokan antara dua perguruan pada dua minggu yang lalu. Tapi kedua perguruan itu hanya bertengkar mulut dan tidak menjurus pada perkelahian. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa.

Seorang pemilik kedai yang tempatnya dijadikan arena pertengkaran mulut mengatakan, bahwa mungkin saja kedua belah pihak mengadakan perjanjian untuk bertemu di luar desa. Di sana mereka kemudian bertempur tanpa sepengetahuan penduduk desa. Dan dugaan itu bisa diterima Santiaji maupun Ranjita, tapi bukan berarti harus mempercayainya. Mereka harus menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu, setelah ilu barulah berani memastikan. Memang sebagaimana pesan guru, mereka harus berhati-hati dalam mengambil tindakan agar tidak sampai menimbulkan persoalan baru lagi.

Kedua orang itu kini melangkah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pikiran Santiaji maupun Ranjita masih dipenuhi pertanyaan yang sulit terjawab. "Hhh...!" Ranjita menghela napas yang berat memecah kesunyian di antara mereka. Wajahnya terlihat murung karena sampai sejauh ini belum juga mendapat tanda-tanda yang berarti sebagai pegangan.

"Yahhh...! Persoalan ini memang masih gelap. Bagaimana kalau kita kembali, dan melaporkan kepada Guru?" usul Santiaji sambil menoleh kepada saudara seperguruannya. Tatapan matanya seperti menunggu tanggapan.

"Tidak, Santiaji! Kita sudah bertekad untuk tidak kembali keperguruan sebelum menemukan jawaban dari semua peristiwa yang menimpa perguruan kita. Tapi kalau kau ingin kembali, silakan. Biar aku sendiri yang meneruskan penyelidikan ini," tegas Ranjita tanpa menolehkan kepalanya kepada Santiaji.

Santiaji tidak langsung menanggapi penegasan Ranjita tadi. Dialihkan pandang matanya ke depan dengan helaan napas berat. Murid tingkat empat Perguruan Gunung Salaka itu berusaha memahami perasaan saudara seperguruannya itu. Seperti halnya Ranjita, Santiaji pun sebenarnya mempunyai pikiran sama. Rasanya memang malu kembali keperguruan tanpa hasil sedikit pun.

"Sebenarnya aku pun mempunyai pikiran yang sama denganmu, Ranjita! Aku juga merasa malu untuk menghadap Guru dengan tangan hampa. Apa kata Guru nanti?" ungkap Santiaji tanpa semangat. Saat itu pikirannya benar buntu. Dia tidak tahu lagi, ke mana harus mencari keterangan sesudah ke Desa Cikunir.

"Hmm. Bagaimana kalau kita mendatangi Gunung Sutra, dan menanyakannya langsung kepada Ki Ageng Pandira yang menjadi ketua perguruan itu?" usul Ranjita tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Santiaji.

"Hei, jangan Ranjita! Tanpa persetujuan Guru, aku tidak berani untuk berkunjung ke sana. Bisa-bisa kedatangan kita ke sana hanya akan memperuncing keadaan saja. Masalahnya, sama sekali kita belum tahu, apakah dipihak mereka juga telah timbul korban atau tidak? Nah! Seandainya di sana juga terjadi korban, bukankah kedatangan kita hanya akan membangkitkan kemarahan di hati mereka," tegas Santiaji.

Laki-laki setingkat dengan Ranjita ini memang memiliki pandangan lebih luas daripada Ranjita. Demikian pula dalam menghadapi persoalan yang sangat rumit dan peka ini. Dia lebih mengandalkan otak daripada amarah. Oleh karena itu, mengapa Ki Sukma Kelana menugaskan Santiaji dalam menyelidiki persoalan itu. Orang tua itu percaya akan kebijaksanaan muridnya dalam menghadapi setiap persoalan.

"Lalu, Ke mana lagi kita harus mencari keterangan?" tanya Ranjita yang suaranya mengandung rasa penasaran.

Benar-benar tidak dimengerti jalan pikiran Santiaji, yang menurutnya terlalu lemah dan terlalu banyak perhitungan. Bahkan dia sampai mempunyai pikiran kalau Santiaji ini seorang pengecut. Dan sengaja menyembunyikan sifat pengecutnya itu dengan berkedok kesabaran, dan kehati-hatian dalam bertindak.

"Entahlah. Tapi, kurasa tidak ada salahnya kalau mencari keterangan di desa-desa sekitar Gunung Salaka. Siapa tahu di sana dapat menemukan petunjuk yang dapat dipakai sebagai pegangan," ujar Santiaji penuh harap.

"Kalau memang sudah menjadi keputusanmu tunggu apa lagi? Ayo, berangkat!" sahut Ranjita Tidak banyak bicara lagi!

"Baiklah. Mari," sambut Santiaji yang segera bangkit semangatnya.

Kedua orang tokoh Perguruan Gunung Salaka itupun segera bergegas menuju perbatasan Desa Cikunir. Mereka melangkah dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu yang, tidak begitu lama telah meninggalkan Desa Cikunir. Santiaji maupun Ranjita sepakat untuk mengambill arah Selatan terlebih dahulu, sebagai langkah awalj penyelidikan.

Untuk mempersingkat waktu, keduanya sengaja menempuh jalan pintas yang jarang dilalui orang. Sekarang mereka harus menerobos semak belukar dan hutan kecil yang banyak terdapat di daerah itu. Kini mereka telah tiba pada sebuah padang rumput yang cukup luas.

"Setelah melewati padang rumput ini, kita akan menemukan sebuah bukit. Nah! Di balik bukit itu terdapat sebuah perkampungan yang akan menjadi penyelidikan kita," jelas Santiaji.

"Berapa lama lagi kira-kira waktu yang diperlukan, untuk mencapai perkampungan itu ?" tanya Ranjita.

"Kalau melakukan perjalanan biasa, bisa memakan waktu setengah harian. Dan berarti akan tiba di sana setelah hari gelap. Maka untuk mempersingkat waktu kita harus tetap mengerahkan ilmu meringankan tubuh, agar tidak kemalaman di jalan."

Ranjita mendengarkan sambil manggut-manggut. Tanpa berpikir dua kali, mereka segera melanjutkan perjalanan. "Baik, Santiaji. Ayo, nanti kita malah kemalaman!" kata Ranjita dengan wajah berseri-seri.

********************

Di tengah padang rumput yang cukup luas dan sunyi itu, melesat cepat bagaikan kilat dua buah bayangan. Kedua bayangan itu sepertinya tengah berlomba menggunakan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Santiaji maupun Ranjita sama-sama mengerahkan kemampuannya agar tiba lebih dahulu di bukit yang dimaksud.

Santiaji dan Ranjita terus berlari, sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan. Keduanya seperti saling mendahului, memang tingkat kepandaian mereka pada dasarnya seimbang. Maka tanpa banyak mengalami kesulitan, keduanya tiba di bukit yang dituju secara bersama.

Plok plok plok!

Tiba-tiba terdengar tepukan riuh, yang menyambut kedatangan mereka. Keduanya tersentak kaget, dan segera menoleh ke arah asal suara tepukan itu. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika melihat seorang bertubuh jangkung dan berkumis lebat telah berdiri tidak jauh dari situ. Orang itu memandang Santiaji dan Ranjita disertai senyum mengejek.

"Ha ha ha...! Hebat.,, hebat! Suatu ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan. Tapi sayang masih mentah," ujar orang itu, seperti menghina.

"Hm, kata-katamu tepat sekali, Kisanak. Sungguh kami bukan bermaksud memamerkan kepandaian yang tidak seberapa ini di hadapanmu. Siapakah, Kisanak ini?" tanya Santiaji sambil membungkuk hormat. Wajahnya teriihat tenang, seolah-olah tidak terpengaruh hinaan orang itu.

Orang bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu tertegun sejenak ketika mendengar jawaban Santiaji yang di luar dugaannya. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, hanya berdiri mematung karena kehilangan kata-kata. Tapi hal itu tidaklah berlangsung lama. Tiba-tiba saja orang itu sudah mulai membuka mulut lagi.

"Ha ha ha...! Apakah kalian tidak akan lari terbirit-birit kalau kuperkenalkan nama besarku?"

Seketika wajah Santiaji dan Ranjita memerah ketika mendengar perkataan yang bernada penghinaan. Santiaji segera menyentuh tangan Ranjita yang sudah melangkah maju, sambil mengepalkan tangan. Sejenak keduanya saling bertatapan. Dan Ranjita segera mengurungkan niatnya ketika Santiaji mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat untuk bersabar.

"Maafkanlah kami yang tidak mengenai nama besarmu, Kisanak! Maklumlah, kami hanya perantau yang memiliki sedikit bekal untuk menjaga diri. Dan karena takut kemalaman di jalan, maka kami harus mempercepat perjalanan untuk mencari tempat menginap. Dapatkah Kisanak membantu untuk mendapatkan tempat bermalam yang terdekat dari sini?" tanya Santiaji yang masih mencoba untuk menghindari keributan.

"Tentu saja dapat. Jaraknya dekat sekali!" jawab laki-laki kurus dan berkumis lebat itu, penuh teka-teki. Seringainya semakin melebar, sehingga wajahnya semakin tak sedap dipandang.

"Oh, benarkah?" Di manakah tempat itu, Kisanak tanya Santiaji berwajah cerah. Meskipun sebenarnya merasa curiga, namun pertanyaan itu terlompat begitu saja dari bibir Santiaji.

"Ha ha ha.... Tentu saja di sini. Memangnya di mana lagi? Tempat ini sangat cocok utuk menginap kalian selama-lamanya! Bahkan tidak akan dipungut uang sewa. Ha ha ha...!" setelah berkata demikian, meledaklah tawa orang berkumis tebal itu.

"Kurang ajar! Monyet kurus, rupanya kau memang sengaja ingin mencari perkara dengan kami. Baiklah, kalau memang itu yang diingini! Nah, sambutlah seranganku! Hiaaattt...!"

Begitu ucapannya habis, tubuh Ranjita segera melesat dibarengi teriakan menggeledek. Kedua tangan nya bergerak cepat mencari kelemahan-kelemahan di tubuh lawan. Rupanya dalam kemarahannya itu Ranjita telah mengeluarkan salah satu ilmu andalannya, 'Menggetar Langit Mengacau Bumi.

Wuuuttt! Wuuusss!

Akibat yang ditimbulkan jurus yang dikeluarkan Ranjita memang begitu dahsyat. Angin keras berputar, seolah-olah di tempat itu tengah terjadi topan hebat. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, tempat itu menjadi gelap tertutup debu-debu yang mengepul keudara.

Sesaat orang bertubuh jangkung itu dibuat kagum oleh kehebatan ilmu lawannya, namun sesaat kemudian senyum mengejek menghias wajahnya. Tiba-tiba dengan gerakan gesit, orang bertubuh jangkung itu segera menyelinap di antara sambaran-sambaran tangan Ranjita. Gerakannya hebat sekali, seolah-olah yang terlihat hanya bayangan tubuhnya yang berkelebat cepat mengurung Ranjita. Sehingga ke mana pun Ranjita bergerak, tubuh jangkung itu selalu membayanginya. Dan tentu saja hal ini membuat Ranjita menjadi terkejut. Dan diam-diam diakui kehebatan lawannya itu.

Tiba-tiba saja Ranjita dikejutkan oleh sambaran-sambaran angin kuat yang ditimbulkan pukulan lawan. Rupanya orang bertubuh jangkung itu sudah mulai melepaskan serangan di antara kelebatan tubuhnya. Dan secara pelahan-lahan Ranjita mulai terdesak hebat. Hingga pada suatu saat, sebuah hantaman telapak tangan lawan tidak dapat lagi dihindari lagi.

Deeesss!

"Aaakh!" terdengar suara keluhan dari mulut Ranjita.

Pukulan yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu telah mendarat di dada kirinya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Ranjita terlempar dari arena pertempuran, dan jatuh tepat di hadapan Santiaji. Ranjita berusaha bangkit, meski dadanya terasa bagai terbakar. Dari sela-sela bibirnya tampak mengalir darah segar. Dadanya terasa sesak, dan napasnya tersengal.

"Kau... kau tidak apa-apa, Ranjita?" tanya Santiaji cemas, sambil berusaha membantu adik seperguruannya bangkit.

"Uhuk..,, uhuk! Uh! Dia hebat sekali, Santiaji. Pukulannya mengandung hawa panas yang amat kuat! Berhati-hatilah menghadapinya," ujar Ranjita di antara batuknya.

Ranjita benar-benar tidak menyangka sama sekali bahwa kepandaian lawannya ternyata demikian hebat. Rasanya untuk dapat mengatasi orang itu, dia harus bergabung bersama Santiaji. Maka segera dikerahkan hawa murni untuk mengusir hawa panas yang membakar dadanya. Sementara itu, Santiaji sudah mulai bersiap untuk menghadapi orang bertubuh jangkung yang sama sekali belum dikenalnya.

"Kisanak, apa maksudmu mencelakai kami?! Bukankah di antara kita tidak saling mengenai dan tidak memiliki persoalan? Siapakah kau sebenarnya?!" tanya Santiaji. Kemarahan di dadanya mulai memuncak, karena tanpa sebab apa pun orang bertubuh jangkung itu ingin membunuh mereka.

"Ha ha ha...! Dengarlah, manusia-manusia sombong dari Gunung Salaka! Aku adalah Algojo Gunung Sutra yang akan menuntut balas atas kematian murid-muridku. Nah, bersiaplah menerima hukuman!" bentak orang beriubah jangkung yang temyata berjuluk Algojo Gunung Sutra. Suaranya begitu bengis dan berbau hawa maut.

Santiaji terkejut, sebab orang itu ternyata mengetahui asalnya. Tapi yang membuatnya benar-benar terkejut adalah ketika orang bertubuh jangkung itu memperkenalkan diri sebagai Algojo Gunung Sutra. Untuk beberapa saat lamanya, Santiaji hanya dapat memandang dengan mulut ternganga. Sebab, siapa yang tidak mengenai nama Algojo Gunung Sutra? Meskipun dalam urutan perguruan hanya tergolong tokoh tingkat dua, namun menurut kabar kepandaiannya cukup tinggi. Memang Santiaji yang sebelumnya tidak pernah bertemu tokoh itu, tidak segera dapat mengenali. Baru setelah orang itu menyebutkan julukannya, ia segera teringat akan ciri-ciri dari tokoh tersebut.

Setelah mengamati sesaat, barulah dapat dipastikan kalau orang itu benar-benar Algojo Gunung Sutra, atau bernama asli Ki Ageng Sampang. Tapi hal itu justru membuat lega hati Santiaji. Sebab biar bagaimanapun juga, sebagai tokoh yang kepandaiannya tinggi, Ki Ageng Sampang tentu lebih berpandangan luas dan tak akan turun tangan secara membabi buta.

"Ah! Maafkan aku, Ki. Benar-benar tidak kusangka kalau sekarang tengah berhadapan dengan Ki Ageng Sampang yang sangat kuhormati. Sekali lagi aku mohon maaf. Dan marilah kita membicarakan masalah yang sedang dihadapi ini, agar semuanya menjadi terang dan jelas," ujar Santiaji, penuh hormat.

"Hm..., tidak perlu kau banyak tingkah lagi! Sekarang, kau bersiaplah untuk segera kukirim keneraka!" teriak orang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu, dengan wajah berang.

"Tapi... tapi..., Ki...!"

Santiaji menjadi heran melihat sikap yang ditunjukkan oleh tokoh utama dari Gunung Sutra itu. Dan sebelum dapat berpikir lebih jauh lagi, Ki Ageng Sampang sudah menerjangnya dengan pukulan ganas dan keji. Tentu saja Santiaji tak membiarkan tubuhnya dijadikan sasaran pukulan itu. Dengan gerakan yang indah tubuhnya meliuk menghindari pukulan lawan. Dan langsung dibalasnya dengan serangan-serangan cepat dan kuat. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya segera teriihat sebuah pertempuran sengit.

Tapi, memang pada dasarnya kepandaian Santiaji masih jauh di bawah kepandaian Algojo Gunung Sutra. Maka setelah lewat dua puluh jurus, tampak' Santiaji mulai terdesak. Dapat dipastikan, tidak lama lagi Santiaji pasti tidak dapat menahan gempuran lawan. Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang nampak semakin bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya. Pukulannya pun semakin cepat dan kuat sehingga Santiaji semakin tak berdaya dibuatnya.

Melihat keadaan saudara seperguruannya yang tengah diincar maut itu, Ranjita yang keadaannya sudah pulih kembali segera melompat ke arena pertempuran membantu Santiaji. Tentu saja hal ini, sangat menggembirakan hati Santiaji. Dengan masuknya Ranjita, dia dapat terbebas dari desakkan lawannya. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya pun segera bekerja sama menghadapi Algojo Gunung Sutra yang amat lihai itu. Menghadapi gempuran dan kerja sama yang kompak saudara seperguruan itu, Algojo Gunung Sutra pun semakin memperhebat serangannya. Namun karena Santiaji dan Ranjita bertempur secara saling mengisi dan melindungi, maka cukup sulit bagi lawan untuk segera menguasai mereka.

Sudah tiga puluh jurus kedua belah pihak berusaha saling menjatuhkan. Tapi sampai sejauh itu, belum ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang. Dan hal ini membuat Algojo Gunung Sutra menjadi marah dan penasaran. Hingga pada suatu kesempatan, dia melepaskan pukulan cepat Kedua telapak tangannya terbuka mengarah dada dua lawannya sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam.

Wuuusss! Wuuusss!

Bukan main hebatnya serangan Algojo Gunung Sutra itu. Jangankan terkena hantaman telapak tangan. Terlanggar angin pukulan saja, lawan yang tidak mempunyai tenaga dalam kuat akan tewas seketika dengan dada ringsek.

Santiaji dan Ranjita tentu saja menyadari bahaya pukulan lawan. Keduanya segera mengempos semangat, dan langsung menggabungkan tenaga dalam sambil berpegangan tangan. Dengan kuda-kuda rendah, mereka segera menyambut pukulan lawan dengan telapak tangan kiri.

Blannng!

"Aaahhh...!" Terdengar ledakan dahsyat ketika tenaga dalam mereka beradu. Hebat sekali akibat bentrokan tenaga dalam tingkat tinggi itu, sehingga ledakan itu menggetarkan udara di sekitar arena pertempuran. Santiaji dan Ranjita yang mengalami benturan itu, terlempar ke udara diiringi jerit kesakitan. Keduanya jatuh terduduk sambil menekan dada yang terasa berguncang. Terlihat dari sela-sela bibir mereka, cairan merah menetes.

Sedangkan lawannya yang juga terpental akibat benturan tadi, mudah sekali mendaratkan kakinya di tanah. Gerakannya ringan, tanpa luka sedikit pun. Hanya kedua lengannya saja yang terasa bergetar. Dari sini saja sudah dapat diketahui kalau tenaga dalam Ki Ageng Sampang jauh lebih tinggi daripada mereka berdua.

"Ha ha ha...! Bersiaplah! Sebentar lagi malaikat maut akan datang menjemput kalian!" ejek Algojo Gunung Sutra itu, jumawa. Setelah berkata demikian, tubuh laki-laki tinggi berkumis itu segera melayang. Kedua lengannya ter-kembang, mengarah pada batok kepala Santiaji dan Ranjita yang masih terduduk tak bergerak.

"Heaaattt...!"

Darrr! Darrr!

Debu mengepul tinggi, ketika pukulan kedua tangan Ki Ageng Sampang mengenai tanah yang terdiri dari batu-batu cadas itu. Rupanya Santiaji dan Ranjita yang semula sengaja berdiam diri untuk memulihkan tenaga, segera melesat menghindari serangan ketika pukulan lawan hampir tiba. Serangan lawan hanya mengenai batu-batu cadas sehingga hancur berkeping-keping. Dan kini mereka sudah bersiap-siap kembali menghadapi orang tua lihai itu.

Melihat lawannya dapat menghindari serangan, Algojo Gunung Sutra semakin meluap-luap kemarahannya. "Huh, sayang! Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi kalian!" ujar Algojo Gunung Sutra geram.

Setelah berkata demikian, mulutnya segera bersiul nyaring dan panjang. Suaranya bergema ke seluruh penjuru karena didorong tenaga dalam tinggi. Seketika tempat itu sudah diramaikan belasan sosok tubuh yang berloncatan dari balik bukit. Melihat dari gerakan mereka, dapat dipastikan bahwa semuanya memiliki kepandaian yang tidak rendah. Begitu tiba, belasan sosok tubuh itu langsung menerjang Santiaji dan Ranjita dengan senjata terhunus!

Keduanya segera berloncatan menghindari sambaran senjata-senjata lawan yang berdesingan mengancam tubuh. Sambil berusaha mengelak, Santiaji dan Ranjita melepaskan pukulan-pukulan balasan yang ampuh. Sehingga dalam waktu singkat, kedua belah pihak sudah terlibat pertempuran yang seru dan mendebarkan. Santiaji dan Ranjita menjadi terkejut. Ternyata mereka mendapat kenyataan bahwa kepandaian lawan rata-rata cukup tinggi.

Siiinnng! Siiinnng!

"Aaahhh...!" keduanya melenguh tertahan ketika dua buah senjata lawan hampir melukai tubuh mereka. Dengan wajah agak pucat, keduanya segera berloncatan mundur sambil mencabut senjata masing-masing. Di tangan Santiaji sudah tergenggam dua buah pedang pendek. Sedangkan Ranjita sudah pula mencabut sebuah pedang yang bersinar kuning. Dengan senjata di tangan, kini mereka kembali menghadapi belasan orang lawannya itu.

Melihat keadaan itu, Algojo Gunung Sutra yang semenjak tadi hanya berdiam diri tiba-tiba melayang ke arena pertempuran. Diputar kedua tangannya hingga menimbulkan angin yang menderu-deru. Langsung dihantamkan telapak tangannya ke arah Santiaji dan Ranjita yang tengah bertempur saling bahu membahu itu.

Deeesss! Plaaakkk!

"Aaarrrggghh...!"

Santiaji dan Ranjita yang tengah kerepotan menghadapi belasan orang lawan, tak sempat lagi untuk menghindari hantaman telapak tangan Ki Ageng Sampang yang mengandung tenaga dalam tinggi itu, Keduanya terpelanting akibat hantaman yang keras pada bahu dan punggung.

"Huaaak...!" Santiaji yang terhantam punggungnya, memuntahkan darah kental berwarna kehitaman. Punggungnya dirasakan bagai terbakar akibat hawa panas yang terkandung dalam pukulan Algojo Gunung Sutra. Santiaji berdiri limbung dengan pandangan mata berkunang-kunang.

"Ranjita, lari! Selamatkan dirimu! Biar aku yang menghadang mereka!" teriak Santiaji dengan napas tersengal-sengal.

Santiaji benar-benar menyadari bahwa pihak musuh terlalu kuat. Setelah berkata demikian, dia langsung melompat membendung serangan lawan-lawannya yang sudah melancarkan serangan kembali.

"Tidak, Santiaji! Aku tidak akan meninggalkanmu. Biarlah kita mati bersama-sama!" teriak Ranjita. Ternyata Rajita juga tidak tega membiarkan kawannya menghadapi musuh sendirian. Walaupun sebelah tangannya lumpuh akibat hantaman telapak tangan Algojo Gunung Sutra itu, dia ikut pula melompat membantu Santiaji yang tengah kerepotan menghadapi belasan orang lawannya.

"Ranjita, pergi! Bodoh kau! Kalau kita berdua mati, lalu siapa... aduh!" teriak Santiaji.

Laki-laki tingkat empat di Perguruan Gunung Salaka itu merasa kesakitan akibat sabetan pedang lawan yang mengenai pangkal lengan kirinya. Dengan penuh kegeraman segera dibabatkan pedang pendeknya membelah dada lawan itu. Kontan orang itu menjerit menyayat. Tubuhnya langsung ambruk dan tewas dengan dada terbelah.

"Aaahhhkkk...!" kembali Santiaji berteriak kesakitan karena pundaknya tertusuk pedang lawan yang lainnya. "Lari, Ranjita! Lari! Kau harus melaporkan hal ini kepada Guru! Aku..., aku sudah tidak kuat lagi. Cepat...! Aduh...!" Lagi-lagi senjata lawan menyabet lambungnya. Santiaji kembali mengamuk membabi buta, tanpa mempedulikan keselamatannya lagi.

Ranjita berdiri dengan wajah bingung. Pelahan-lahan butir-butiran air bening mengalir membasahi pipinya. Hatinya benar-benar trenyuh menyaksikan pengorbanan yang dilakukan saudara seperguruannya itu. la masih berdiri bimbang tanpa dapat mengambil keputusan. Saat itu Santiaji melompat ke arahnya sambil melepaskan sebuah tendangan ke arah Ranjita.

Bukkk!

"Pergi, manusia bodoh! Jangan korbankan nyawamu sia-sia!" bentak Santiaji, tak sabar. Memang keadaannya sudah menyedihkan sekali. Sekujur tubuhnya telah dibanjiri darah yang mengalir dari luka-luka akibat sabetan golok lawan. Meskipun demikian dia masih dapat melakukan perlawanan hebat

"Jangan biarkan orang itu lolos! Habisi mereka!" teriak Algojo Gunung Sutra ketika melihat Ranjita berlari meninggalkan arena pertempuran sambil memegangi tangan kirinya yang lumpuh itu.

Beberapa orang segera berlompatan mengejar Ranjita. Namun, Santiaji tidak membiarkan hal itu. Segera tubuhnya melompat menghadang lawan dengan senjata di tangan.

"Monyet-monyet busuk! Rasakan seranganku ini! Heaaattt...!" Santiaji segera menggerakkan kedua senjatanya menerjang orang-orang yang hendak mengejar Ranjita. Sayang gerakannya sudah sangat lemah. Sehingga, lawannya mudah sekali dapat menghindari serangannya dan langsung membalas ganas.

Crasss! Brettt! Craaasss!

"Aaarrrggghhh...!" Santiaji meraung tinggi, ketika beberapa tusukan dan bacokan senjata lawan menembus tubuhnya. Dia langsung ambruk dan tewas seketika.

"Santiaji...!" Ranjita berteriak parau, ketika mendengar suara jeritan kematian saudara seperguruannya itu. Dari kejauhan, sempat disaksikan bagaimana tubuh Santiaji tertembus beberapa buah senjata lawan. Ranjita hanya memandang dengan tubuh menggigil menahan luapan amarah yang memenuhi rongga dada.

"Manusia keparat! Inilah pembalasanku! Hiaaa...!" Tanpa mempedulikan keselamatannya lagi, Ranjita segera berlari dan menerjang lawan-lawannya. Rupanya ia telah lupa dengan pesan terakhir Santiaji. Ini terjadi akibat kemarahan yang meledak-ledak dalam dada.

Namun sebelum Ranjita dan musuh-musuhnya berlaga, tiba-tiba melesat cepat sebuah bayangan yang langsung mendarat di tengah-tengah mereka. Dan bayangan itu segera mendorong telapak tangannya ke arah belasan orang yang meluncur ke arah Ranjita.

Wuuusss!

Hembusan angin yang dingin luar biasa, menyambut kedatangan belasan orang itu. Tubuh belasan orang itu kontan berpentalan ke kiri dan kanan akibat terlanggar hembusan angin dingin. Belasan orang itu jatuh terduduk sambil menggigil kedinginan.

"Pendekar Naga Putih...!" seru orang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra, terkejut.

"Pendekar Naga Putih...!" gumam Ranjita pelahan, seolah-olah berkata pada dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas di benaknya secercah harapan yang membuatnya menarik napas lega.

Memang beberapa yang diucapkan Algojo Gunung Sutra itu. Di tengah-tengah arena pertempuran, berdiri seorang pemuda berbaju putih. Selapis kabut berwarna keperakan menyelimuti sekujur tubuhnya. Orang itu adalah Pendekar Naga Putih atau..., murid tunggal Malaikat Petir atau Tirta Yasa!

"Hm.... Menyingkiriah kau Pendekar Naga Putih. Aku tidak mempunyai urusan denganmu!" bentak Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang sambil memasang wajah bengis.

"Tapi aku mempunyai urusan denganmu, Orang Tua!" seru Pendekar Naga Putih bersikap tenang. Sementara sinar matanya menyorot tajam, bagaikan mata naga yang sedang marah.

Algojo Gunung Sutra tergetar hatinya ketika beradu pandang dengan sinar mata Panji yang tajam itu. Cepat-cepat dikerahkan tenaga untuk menekan debaran dalam dadanya. "Huh! Jangan kira aku akan gentar mendengar nama besarmu, Pendekar Naga Putih. Dan sekarang, sambutlah seranganku! Yeaaattt...!" tegas Algojo Gunung Sutra.

Setelah berkata demikian, tubuh jangkung itu melayang dengan kecepatan tinggi, disertai teriakan menggeledek. Kedua tangan berputar dan susul-menyusul dengan serangan yang berbahaya.

"Menyingkirlah, Paman! Biar aku yang menghadapinya," ujar Panji kepada Ranjita yang berdiri terpaku di belakangnya.

Setelah berkata demikian, Panji mengegoskan tubuhnya sambil memasang kuda-kuda rendah untuk menghindari serangan lawan. Begitu serangan lawan lolos, Panji segera membalasnya dengan serangan yang tidak kalah berbahayanya. Dalam waktu singkat, keduanya sudah bertempur sengit. Panji yang tidak pernah lalai melatih ilmunya dalam setiap kesempatan, teriihat bergerak semakin gesit dan matang. Kedua tangannya yang berbentuk cakar naga itu, menyambar-nyambar di sekitar tubuh lawan. Bahkan kecepatannya sukar diikuti mata. Hingga dalam beberapa jurus saja, Algojo Gunung Sutra tampak terdesak oleh sambaran-sambaran tangan yang berbentuk cakar itu.

Breeettt!

"Uuuhhh...!" lenguh Algojo Gunung Sutra. Dan memang tahu-tahu pangkal lengannya terkena sambaran tangan lawan yang amat kuat. Tubuh jangkung itu sampai melintir seperti gangsing. Cepat-cepat Algojo Gunung Sutra bergulingan menjauhi lawannya. Orang tua itu bangkit berdiri sambil memandang luka di pangkal lengan. Untunglah sambaran tangan lawan tidak terlalu telak mengenainya. Kalau saja telak, bukan hanya kulit dan bajunya yang terkelupas. Bahkan daging pangkal lengannya bisa hancur akibat cakaran yang berbahaya itu. Cepat orang tua itu mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa dingin yang menyelusup dari lukanya.

"Gila! Anak Muda ini gerakannya seperti iblis saja!" ucap Algojo Gunung Sutra dalam hati. Dia memang tidak tahu, bagaimana caranya pendekar itu bisa melukainya.

"Anak-anak, serbu...!" teriak laki-laki tua itu tanpa malu-malu lagi.

Tanpa diperintah dua kali, belasan orang anak buahnya yang telah terbebas dari hawa dingin itu segera berlompatan sambil membabatkan pedangnya ke arah Panji. Pendekar Naga Putih memang sudah memperhitungkan hal itu. Dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh Panji berkelebatan di antara belasan sinar pedang yang berdesingan mengincar tubuhnya. Dan setiap kali tangannya bergerak, selalu disertai terlemparnya tubuh lawan yang kemudian tewas dengan tubuh membiru. Hal ini akibat hawa dingin yang terpancar dari kedua belah tangan Pendekar Naga Putih.

Dalam beberapa jurus saja, serangan belasan orang itu menjadi kacau dan tidak teratur lagi. Rasa gentar mulai menyelimuti hati mereka, setelah melihat kelincahan pemuda yang menjadi lawannya itu. Tanpa disadari, mereka mulai merenggangkan kepungan. Tentu saja hal ini membuat gerakan Panji semakin leluasa untuk melancarkan serangan-serangan balasan.

Desss! Blaggg!

"Aaahk!"

Kembali dua orang lawannya terjungkal, sambil memperdengarkan jerit kematian. Dua orang yang terkena hantaman sisi telapak tangan Panji itu tergeletak tewas, dan tubuhnya membiru. Menyaksikan hal ini, kawan-kawannya segera berloncatan mundur disertai wajah yang memucat.

"Ombak besar, lari!" teriak Algojo Gunung Sutra yang merasa bahwa anak buahnya tidak akan mampu menghadapi lawannya. Setelah berkata demikian orang tua bertubuh jangkung itu segera melompat ke arah semak-semak, diikuti anak buahnya. Dalam sekejap saja, belasan orang itu sudah lenyap di balik rimbunnya pepohonan.

"Mengapa tidak dikejar, Kisanak?" tanya Ranjita, keheranan.

"Biarlah, Paman! Sekarang sebaiknya kita pergi. Di perjalanan kita bisa berbincang-bincang tentang pengeroyokan mereka terhadap Paman," tegas Pendekar Naga Putih kalem.

********************

TUJUH

Perguruan Gunung Salaka kembali dilanda kegemparan. Suasana di sekitar perguruan terlihat sunyi, karena para murid dan tokoh-tokoh perguruan tengah berkumpul di ruang utama perguruan itu. Mereka duduk bersimpuh mengelilingi sebuah peti mati. Wajah mereka semua menggambarkan perasaan sedih dan marah. Memang, sejak Ki Tunggul Jagad mengundurkan diri, malapetaka itu terus saja mengancam. Kejadian yang melanda Perguruan Gunung Salaka secara berturut-turut, telah membuat perguruan itu seolah-olah larut dalam mimpi yang buruk dan menakutkan. Mereka yang selalu hidup dalam ketentraman tiba-tiba saja dikejutkan kejadian-kejadian yang membuat hati penasaran dan marah.

Baru saja, perguruan itu kedatangan beberapa orang penduduk Desa Cikunir yang dipimpin langsung kepala desanya sendiri. Mereka mengantarkan sebuah bungkusan yang tidak diketahui isinya. Menurut mereka, bungkusan itu diterima dari seorang laki-laki tua yang mengaku berjuluk Algojo Gunung Sutra. Dia telah berpesan agar menyampaikan bungkusan itu pada Perguruan Gunung Salaka.

"Ketika kami tanyakan mengapa tidak mengantarkannya sendiri, ia mengatakan bahwa masih mempunyai tugas yang amat mendadak. Begitulah, yang dikatakan orang bertubuh jangkung itu," tutur Kepala Desa Cikunir kepada beberapa orang murid perguruan yang menyambut kedatangannya.

Setelah menyampaikan bungkusan itu, Kepala Desa Cikunir dan beberapa orang warganya segera mohon diri. Murid-murid Perguruan Gunung Salaka yang memang sudah mengenal mereka, tentu saja tidak menjadi curiga. Dan dibiarkan saja kepala desa dan beberapa orang warganya itu meninggalkan perguruan itu. Dua orang murid perguruan bergegas menyampaikan bungkusan itu kepada guru besar mereka. Segera diceritakannya asal-usul bungkusan itu.

"Algojo Gunung Sutra...!" gumam Ki Sukma Kelana dengan kening berkerut setelah mendengar keterangan dua orang muridnya. Lalu diperintahkanlah dua orang muridnya untuk melanjutkan tugasnya. Dengan disaksikan empat orang tokoh tingkat tiga, Ki Sukma Kelana segera membuka bungkusan tadi.

"Aaah!" Empat orang tokoh tingkat tiga itu kontan menjerit tertahan ketika menyaksikan isi bungkusan. Tubuh mereka menggigil menahan gejolak amarah yang memenuhi rongga dada. Wajah keempat orang itu pucat dan merah berganti-ganti.

Sedangkan Ki Sukma Kelana sendiri hanya termangu-mangu, namun wajahnya pucat. Wakil ketua yang diserahi tugas memegang jabatan ketua sementara selama gurunya mengasingkan diri itu, memandang sayu. Jelas sekali gambaran kesedihan dan penyesalan membayang di wajah tua nya.

"Oh..., Adi Surya Kencana. Apa yang harus kukatakan kepada Guru nanti? Mengapa begitu berat tanggungjawab yang harus kupikul? Ya, Tuhan..., dosa apa kiranya yang telah hamba lakukan?" tatap orang tua itu sambil memandangi kepala Ki Surya Kencana yang tanpa tubuh itu. "Guru, benarkah yang melakukan perbuatan keji itu adalah Ki Ageng Sampang?" tanya salah seorang dari keempat murid itu. Suara mereka mengandung rasa penasaran yang tak dapat disembunyikan.

"Hhh..., entahlah! Aku sendiri masih meragukannya," desah Ki Sukma Kelana. Helaan napasnya terdengar berat.

Keempat orang murid tingkat tiga Perguruan Gunung Salaka itu terdiam ketika menyadari bahwa Ki Sukma Kelana tidak ingin membicarakan persoalan itu saat ini. Menyadari hal ini, empat orang murid utama itu pun segera berpamit kepada gurunya. Itulah kejadian yang menggemparkan seisi Perguruan Gunung Salaka. Kiriman mayat kepala tanpa tubuh Ki Surya Kencana itu, benar-benar membuat seluruh penghuni perguruan menjadi marah dan penasaran. Jadi, itulah mengapa pada hari ini Perguruan Gunung Salaka teriihat sunyi tanpa kegiatan. Rupanya Perguruan Gunung Salaka tengah berkabung. Di tengah suasana berkabung yang hening dan mencekam itu, tiba-tiba terdengar teriakan lantang yang bergema ke seluruh penjuru bangunan besar itu.

"Ki Tunggul Jagad! Aku utusan Ki Ageng Pandira, datang berkunjung!"

Murid-murid Gunung Salaka yang tengah dilanda kesedihan itu saling pandang satu sama lain. Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba saja mereka berloncatan sambil menghunus pedang.

"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar bentakan keras mengandung tenaga dalam tinggi. Bagaikan ledakkan petir di angkasa saja layaknya.

Para murid perguruan yang berlarian serentak menghentikan langkahnya, ketika mendengar teriakan yang terdengar marah. Puluhan orang murid dengan senjata di tangan itu berpaling menatap gurunya. Pandangan mereka menyiratkan kekecewaan.

“Apa maksud kalian semua, heh! Jawab!" bentak Ki Sukma Kelana dengan wajah merah padam karena amarah. "Apakah kalian ingin main hakim sendiri? Kalian anggap apa aku, hah!"

Puluhan orang murid Gunung Salaka itu menunduk dalam-dalam. Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak disangka bahwa guru besar mereka menjadi sedemikian marahnya. Tanpa diperintah murid-murid Gunung Salaka itu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.

"Ampunilah kami, Guru...!" seru mereka serentak.

Tersentuh hati ki Sukma Kelana melihat permohonan maaf murid-muridnya itu. Dia pun sebenarnya merasa maklum akan perasaan murid-muridnya itu. Apalagi untuk menyalahkan sikap mereka yang sedang dilanda kesedihan.

"Bangkitlah, kalian murid-muridku! Marilah kita sambut mereka dengan kepala dingin," ajak orang tua itu lembut. Sekarang, bukalah pintu untuk mereka!"

"Baik, Guru," jawab dua orang di antara murid-muridnya yang kemudian bangkit dan bergegas mengerjakan perintah.

"Selamat bertemu, Kakang Sukma Kelana. Apakah sehat-sehat saja? Bagaimana pula kabar Ki Tunggul Jagad?" tanya orang bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu, sambil melangkah masuk diikuti empat orang lainnya.

"Baik-baik saja! Bagaimana pula keadaan Ki Ageng Pandira?" tanya Ki Sukma Kelana berbasa-basi, sambil berusaha menekan kemarahan dalam hatinya. Meskipun begitu, tetap tidak menyembunyikan nada suaranya, yang terdengar dingin dan kaku.

"Ada kabar apa sehingga kau berkunjung kemari?"

"Guru, untuk apa berbasa-basi lagi? Bukankah sudah jelas kalau dia yang telah mengirimkan bungkusan itu!" teriak salah seorang dari empat murid utama Gunung Salaka itu, tak sabar.

"Eh... eh! Ada apa ini? Apa maksud kalian?" tanya Ki Ageng Sampang dengan wajah keheranan. Seolah-olah orang tua itu memang tidak mengetahui maksud perkataan tokoh utama Perguruan Gunung Salaka itu.

"Oh, Apakah Algojo Gunung Sutra sudah kehilangan keberanian utuk mengakui, perbuatannya?" ujar tokoh yang lain bernada mengejek.

"Nanti dulu..., nanti dulu, hei! Kakang Sukma, ada apa ini sebenarnya? Aku sungguh tidak mengerti?" sahut Ki Ageng Sampang dengan wajah yang mulai diliputi ketegangan.

"Hm. Benarkah kau tidak mengetahuinya?" tanya Ki Sukma Kelana dingin. Nada suara orang tua itu benar-benar tidak enak terdengar di telinga.

"Sungguh! Aku sama sekali tidak mengerti, Kakang! Dan kedatanganku kemari pun, bukan tidak membawa persoalan!" jawab Ki Ageng Sampang yang amarahnya mulai terpancing.

"Kedatanganku kemari sebenarnya ingin meminta pertanggungjawaban Ki Surya Kencana dan beberapa murid perguruan ini. Mereka telah membantai puluhan murid Gunung Sutra dan tiga tokoh utama secara biadab! Di sini aku sengaja bersikap sabar dan tidak ingin bertindak sembarangan, namun ternyata sikap baikku malah tidak kalian anggap sama sekali!"

"Huh! Kau sengaja ingin memutar balikkan kenyataan, Ki Ageng Sampang! Belum lama ini kami telah menerima bungkusan yang kau titipkan kepada Kepala Desa Cikunir! Kau tahu apa isi bungkusan itu?" jelas salah seorang tokoh Gunung Salaka penuh amarah.

"Oh! Apa... apa isinya...?" yang bertanya kali ini adalah seorang tokoh Gunung Sutra yang sejak tadi hanya diam saja.

"Hm. Baiklah kalau kalian enggan berterus terang kepada kami. Kalian tahu, bungkusan itu adalah isi mayat kepala tanpa tubuh dari Ki Surya Kencana, yang dituduh telah membantai murid-murid kalian itu!" jawab tokoh Gunung Salaka itu lagi, geram.

"Mustahil! Guru, mereka pasti sengaja menyembunyikan Ki Surya Kencana dan sengaja membuat cerita yang tidak masuk akal itu!" selak salah seorang tokoh Gunung Sutra kepada Ki Ageng Sampang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu.

"Ya! Kalau memang cerita itu benar, coba tunjukkan kepada kami!" sambung tokoh Gunung Sutra yang lainnya, diiringi senyum mengejek.

"Bangsat! Apa kau kira kami ini orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi kalian?! Huh! Manusia sombong, rasakanlah pukulanku!" teriak salah seorang tokoh Gunung Salaka yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Begitu ucapannya selesai, tokoh itu segera melompat menerjang salah seorang tokoh Gunung Sutra yang menjadi lawan bicaranya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, keduanya segera terlibat dalam sebuah pertempuran sengit.

Kedua orang tokoh dari dua perguruan berbeda itu saling serang dengan hebatnya. Karena satu sama lain ingin segera menjatuhkan lawannya, maka dikeluarkan ilmu andalan masing-masing. Namun, kepandaian kedua orang tokoh dari perguruan berbeda itu, ternyata seimbang. Sehingga pertarungan itu bagaikan dua saudara seperguruan yang sedang berlatih saja.

Melihat kawannya sudah mulai terlibat pertarungan, maka tiga orang murid tingkat tiga dari Gunung Salaka segera melesat ke arah tiga murid Gunung Sutra lainnya. Maka kini masing-masing pihak sudah saling menyerang ganas. Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang yang berniat mencegah pertempuran itu, ternyata disalah artikan oleh Ki Sukma Kelana.

"Sabar dulu. Biarkanlah mereka bermain-main sejenak. Tapi kalau memang tanganmu sudah gatal, aku sanggup melayanimu bermain-main barang satu atau dua jurus. Nah, sambutlah seranganku."

Setelah berkata demikian tubuh orang tua itu sudah tiba di hadapan Ki Ageng Sampang dan langsung melancarkan pukulan ke arah Algojo Gunung Sutra. Laki-laki pemimpin Perguruan Gunung Sutra itu terkejut dibuatnya karena serangan Ki Sukma Kelana begitu cepat datangnya. Itulah salah satu keistimewaan tokoh tua dari Gunung Salaka itu. Maka tidak heran kalau orang menjulukinya Pendekar Tangan Kilat Gerakan orang tua itu benar-benar bagai kilat saja cepatnya.

Tentu saja Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang tidak membiarkan tubuhnya jadi sasaran pukulan yang berbahaya itu. Dengan gerakan indah, tubuhnya segera berkelebat menghindarinya. Langsung dibalasnya serangan itu dengan tidak kalah dahsyat! Dalam sekejap saja tokoh sakti itu segera terlibat dalam pertarungan dahsyat dan mendebarkan!

Menyaksikan pertempuran tiba-tiba itu, muridmu-rid Perguruan Gunung Salaka yang belum bertempur segera berlari menjauhi arena pertarungan. Memang sambaran angin pukulan yang dikeluarkan dua tokoh sakti itu sangat berbahaya. Jika terlanggar akibatnya sangat fatal. Sudah sepuluh jurus terlewat, namun sama sekali belum dapat dipastikan pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang. Memang mereka semua sama-sama gesit dan sama-sama lihai.

Di antara pertarungan lima pasang tokoh itu, yang paling seru dan mendebarkan adalah pertarungan antara Algojo Gunung Sutra melawan Ki Sukma Kelana si Pendekar Tangan Kilat. Apalagi, kedua tokoh itu sudah menggunakan ilmu andalan perguruan masing-masing. Ki Sukma Kelana yang sudah mengeluarkan jurus 'Sebelas Jurus Penahan Ombak', bergerak agak lambat namun tenaga yang terkandung dalam setiap serangannya benar-benar tidak dapat dianggap ringan. Setiap lontaran pukulannya, menimbulkan getaran udara yang kuat. Sehingga mau tidak mau lawan harus bersikap lebih hati-hati.

Di lain pihak, Algojo Gunung Sutra pun sudah menggunakan jurus 'Tinju Delapan Bayangan', yang menjadi salah satu ilmu andalan perguruannya. Ilmu itu memiliki keampuhan yang tidak kalah dahsyatnya. Gerakannya yang cepat dan tak terduga itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin. Akibatnya, lawan bagaikan dikeroyok delapan orang saja.

Setelah bertempur kurang lebih selama empat puluh jurus, kedua tokoh sakti itu mulai merasa penasaran. tiba-tiba masing-masing melompat ke belakang dan langsung membentuk kuda-kuda kokoh bagaikan batu karang. Angin berhembus keras, ketika kedua tokoh sakti yang berdiri berhadapan dalam jarak tiga tombak itu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

"Heaaattt...!"

"Hiaaa...!"

Disertai teriakan mengguntur, satu sama lain langsung melesat sambil melepaskan pukulan yang terampuh dari ilmu masing-masing. Dan....

Blaaarrr!

Terdengar ledakan keras yang memekakkan telinga. Ternyata ada tiga sosok tubuh saling bertubrukkan di udara. Mereka berpentalan dan jatuh sejauh tujuh tombak dari titik benturan tadi. Ki Sukma Kelana maupun Ki Ageng Sampang langsung bangkit, meskipun tubuh masing-masing limbung. Dari sela-sela bibir mereka menetes darah segar. Kedua tokoh sakti itu merasa terkejut sekali, karena disaat hampir beradu pukulan tadi tiba-tiba sesosok bayangan putih langsung melesat ke tengah-tengah sambil mendorongkan telapak tangan ke tubuh mereka.

Kedua orang tokoh sakti itu bergegas menghampiri sesosok tubuh yang tengah berusaha bangkit dengan susah payah. Dan tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, sosok tubuh berjubah putih itu segera bersemadi untuk memulihkan kekuatannya. Sementara kegiatan di sekitar tempat itu menjadi terhenti. Para tokoh dari dua perguruan berbeda telah menghentikan pertempuran ketika mendengar ledakkan dahsyat tadi. Mereka pun segera menepi dan berkumpul pada kelompok masing-masing

"Guru...!" seru seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun tiba-tiba. Langsung dijatuhkan dirinya berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.

"Oh, Ranjita! Apa yang terjadi denganmu? Mana Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana. Keningnya berkerut ketika melihat keadaan Ranjita yang seperti habis bertempur itu.

"Panjang sekali ceritanya, Guru!" jawab Ranjita pelan. "Guru! Dia itu, Pendekar Naga Purih," seru Ranjita sambil menunjuk pemuda berjubah putih yang tengah bersila untuk menghimpun tenaga.

"Oh, Pendekar Naga Putih!" gumam sepuluh orang tokoh dari dua perguruan itu, mereka semua memasang wajah heran.

Sementara itu. Panji yang telah selesai bersemadi segera bangkit dan menghampiri mereka. Langkahnya begitu tenang. Wajahnya yang semula memucat akibat benturan dahsyat tadi, kini tampak memerah pertanda sudah dapat dipulihkan tenaganya. Setelah saling bertegur sapa, Ki Sukma Kelana segera mengajak mereka memasuki bangsal utama perguruan Gunung Salaka. Tak lupa, mereka juga mengajak tokoh-tokoh dari Perguruan Gunung Sutra untuk melanjutkan pembicaraan dan memecahkan masalah misterius ini.

"Nah! Sekarang, marilah kita pecahkan teka-teki ini dengan kepala dingin. Ranjita, coba ceritakan pengalamanmu," usul Ki Sukma Kelana ketika mereka telah berkumpul di ruang bangsal utama. Ki Sukma Kelana rupanya sudah menyadari kekeliruannya, dan kini bersikap lebih hati-hati.

Ranjita segera menceritakan apa-apa yang dialami dari awal, hingga akhirnya ditolong Panji Pendekar Naga Putih. Murid tingkat empat itu sama sekali tidak melebih-lebihkan atau pun mengurangi ceritanya. "Demikianlah, Guru. Kalau saja saat itu tidak datang Pendekar Naga Putih, pasti aku tidak akan pernah kembali lagi ke perguruan!" desah Ranjita menutup ceritanya.

"Tidak mungkin!" selak salah seorang tokoh Gunung Sutra. "Selama dua hari ini, kami selalu bersama. Jadi bagaimana mungkin kalau Ki Ageng Sampang melakukan hal itu?!"

"Sabarlah! Bukankah Ki Sukma Kelana sudah mengatakan akan membahas masalah ini dengan kepala dingin. Mengapa kau menjadi tidak sabar?" tegur Algojo Gunung Sutra.

"Ah, maafkan aku. Aku benar-benar bingung!" ucap orang yang menyelak tadi dengan wajah kemerahan.

Ki Sukma Kelana lalu melanjutkan pembicaraan itu. Akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk menunda perselisihan di antara mereka, sampai bisa ditemukan bukti-bukti nyata. Lalu mereka sepakat untuk mengutus murid andalan masing-masing untuk menyelidiki dan memperjelas persoalan itu.

"Adi Panji, kami sangat memerlukan bantuanmu untuk menyertai seorang murid kami dalam melakukan penyelidikan. Mudah-mudahan kau bersedia," ujar Ki Sukma Kelana penuh harap.

"Benar! Sebenarnya kami tidak dapat meninggalkan perguruan tanpa seijin ketua. Sedangkan saat ini ketua Perguruan Gunung Salaka maupun Gunung Sutra tengah mengasingkan diri. Dan sekarang ini kami diberi tugas untuk mengurus perguruan selama beliau pergi," sambung Ki Ageng Sampang menimpali ucapan Ki Sukma Kelana.

"Baiklah, Ki. Akan kucoba untuk membantu memperjelas persoalan ini," jawab Pendekar Naga Putih.

Tidak berapa lama, Ki Ageng Sampang beserta rombongannya bergegas meninggalkan perguruan itu diikuti Panji dan seorang murid andalan dari Perguruan Gunung Salaka yang bernama Suntara. Suntara adalah murid langsung Ki Tunggul Jagad yang dirahasiakan. Hanya dua orang murid kepala yaitu Ki Sukma Kelana dan Ki Surya Kencana yang mengetahuinya. Karena Suntara dibimbing langsung Ki Tunggul Jagad, maka kepandaiannya pun tidak jauh di banding dua tokoh itu. Itulah sebabnya, mengapa Ki Sukma Kelana berani mempercayakan tugas ini kepadanya.

"Ayo, kita harus mempercepat perjalanan," ajak Algojo Gunung Sutra sambil melesat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Melihat orang tua itu sudah berlari meninggalkan mereka, tapa dikomando lagi enam orang lainnya segera berlari mengejar. Terjadilah kejar-kejaran yang seru di antara tujuh orang sakti itu. Ki Ageng Sampang semakin mempercepat larinya karena diam-diam, ingin diujinya kepandaian Panji dan Suntara yang masih belum diketahuinya jelas. Tapi, alangkah terkejutnya orang tua itu ketika menoleh kebelakang. Ternyata baik Pendekar Naga Putih maupun Suntara sudah berada di belakangnya. Sedangkan empat tokoh Gunung Sutra lainnya tertinggal di belakang.

Karena masih merasa penasaran, Ki Ageng Sampang segera mengempos semangatnya. Segera dikerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuh orang tua itu meluncur bagaikan anak panah lepas dari busur. Napasnya agak sedikit memburu dan butir-butir keringat mulai membasahi dahinya. Dan untuk kedua kalinya ia menjadi terkejut ketika menoleh. Ternyata dua pemuda itu masih saja berada di belakangnya.

"Hm, anak-anak muda yang hebat!" ucapnya dalam hati. Merasa sudah cukup menguji dua pemuda itu, Ki Ageng Sampang kembali memperlambat larinya. "Kalau kuteruskan, bisa-bisa putus napasku," ujar Ki Ageng Sampang dalam hati sambil tersenyum mesem.

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu setengah hari, maka tujuh orang itu tiba di daerah Gunung Sutra. Kegelapan telah menyelimuti bumi, ketika Ki Ageng Sampang, Panji, Suntara, dan empat orang tokoh Gunung Sutra tiba di Perguruan Gunung Sutra. Ki Ageng Sampang segera mengajak Panji dan Suntara untuk bermalam di perguruan itu, agar keesokan paginya dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.

"Apakah Ki Ageng akan ikut dengan kami, besok?" tanya Panji kepada Ki Ageng Sampang, sebelum memasuki kamar yang disediakan untuknya dan Suntara.

"Oh! Tidak, Saudara Panji. Kami akan mengutus seorang murid kesayangan Ki Ageng Pandira yang bernama Rahayu. Dialah yang akan menyertai kalian berdua dalam melakukan penyelidikan. Nah, sekarang beristirahatlah dulu, agar kalian menjadi lebih segar," ujar Ki Ageng Sampang. Setelah berkata demikian, orang tua itu beranjak meninggalkan mereka.

Malam semakin larut. Nyanyian binatang-binatang malam saling bersahutan sehingga membuat suasana malam semakin semarak.

********************

DELAPAN

Hari masih sangat pagi. Bumi pun masih terselimut kegelapan. Di kejauhan terdengar kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan, Semilir angin pagi yang berhembus masih terasa dingin menyentuh kulit. Dari kejauhan teriihat tiga sosok tubuh tergesa-gesa menuruni Lereng Gunung Sutra, yang puncaknya masih dilapisi kabut tebal. Ketiga sosok tubuh itu berlompatan dengan lincahnya, bagai tiga ekor burung yang tengah menikmati keindahan suasana pagi. Lereng Gunung Sutra yang masih basah oleh embun itu, sepertinya tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menuruninya. Tidak beberapa lama, ketiganya sudah tiba di kaki gunung. Sejenak mereka berhenti, sambil menoleh ke kiri dan kanan.

"Arah mana yang harus ditempuh, Panji?" tanya lelaki di sebelahnya yang bertubuh agak jangkung. Dia tak lain dari Suntara, murid kesayangan Ki Tunggul Jagad.

"Lebih baik ambil jalan Selatan saja, karena di Utara banyak perkampungan penduduk," jawab orang yang tak lain adalah Panji Pendekar Naga Putih. "Bagaimana menurutmu, Adik Rahayu?" tanya Panji sambil menoleh kepada orang yang dipanggil Rahayu, dan ternyata seorang wanita.

"Kalau aku terserah kalian saja," jawab gadis yang bernama Rahayu itu. Suaranya begitu halus. Rahayu adalah satu-satunya murid wanita dari Ki Ageng Pandira yang menjadi ketua Perguruan Gunung Sutra. Biarpun seorang wanita, namun tidak mungkin dipandang remeh. Sebab sebagai murid Ki Ageng Pandira yang berjuluk Dewa Berlengan Delapan itu. Rahayu pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah. Apalagi sudah dipercayakan untuk menunaikan tugas yang berbahaya seperti itu. Pasti ia telah dibekali ilmu-ilmu yang tinggi dan hebat.

Memang, akhirnya arah yang diambil tiga orang muda-mudi itu adalah ke arah Selatan, sebagaimana yang diusulkan Pendekar Naga Putih. Mereka melangkah bersisian, melewati sebuah hutan kecil yang jarang dijamah manusia. Jalan itu sengaja dipilih, karena itu adalah jalan pintas. Setelah hampir setengah harian berjalan, beberapa ratus depa di hadapan mereka terbentang sebuah jalan besar yang banyak dilalui orang.

"Hm, rasanya kita akan melewati sebuah perkampungan penduduk," gumam Panji tak jelas.

"Apakah kita akan singgah, Panji?" tanya Rahayu yang rupanya mendengar gumaman Panji tadi.

"Tentu saja. Perutku sudah keroncongan minta diisi," jawab Suntara tanpa malu-malu sambil menepuk-nepuk perutnya hingga menimbulkan suara nyaring.

"Apa kau kira perutku dari batu? Dengarlah nyanyian cacing-cacing di perutku yang sudah segera minta diisi," timpal Panji seraya tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo!" seru Rahayu sambil melesat mendahului kedua kawannya. Gerakan gadis itu gesit sekali, bagaikan seekor burung walet yang baru keluar dari sarangnya.

Melihat gadis itu sudah mendahului, kedua pemuda itu tidak mau ketinggalan. Sekali menjejak tanah, tubuh mereka segera melayang mengejar Rahayu. Timbul kegembiraan di hati gadis itu ketika melihat dua kawannya yang sama-sama tampan dan gagah mengejar di belakangnya. la pun segera mempercepat larinya seraya mengerahkan seluruh tenaga, sehingga dua orang pemuda itu tertinggal di belakangnya.

Suntara dan Panji tentu saja mengetahui maksud gadis itu sebenarnya. Maka segera dikerahkan kemampuan mereka untuk mengejar Rahayu, yang beberapa ratus depa di depan. Namun meskipun Suntara telah mengerahkan seluruh kemampuan tetap saja jarak di antara mereka tidak berubah. Panji yang mengetahui bahwa Suntara tertarik kepada Rahayu, tidak berusaha untuk mengejar gadis itu. Sebenarnya dia bisa mengejarnya, tapi sengaja berpura-pura lelah dan mengalah kepada mereka.

"Eh! Di mana Panji?" tanya Rahayu, yang sudah duduk di atas sebuah batu di tepi jalan ketika Suntara tiba di dekatnya.

"Entahlah. Mungkin sudah merasa kelelahan," jawab Suntara yang terlihat agak sedikit lelah itu. Namun tak lama kemudian Panji muncul, dengan napas dibuat tersengal-sengal.

"Wah! Tega-teganya kalian meninggalkan aku, hhh...," setelah berkata demikian, Panji segera menjatuhkan tubuhnya di atasa tanah berumput.

"Sudahlah. Ayo kita mencari kedai makan," ajak Suntara. Dia segera berjalan memasuki perbatasan desa, yang tinggal beberajpa ratus meter itu.

Tanpa berkata-kata lagi, Panji dan Rahayu segera melangkah mengikuti Suntara. Pemuda itu kini sudah memasuki sebuah kedai makan yang terletak di tepi jalan utama desa. Panji dan Rahayu juga segera memasuki kedai, dan langsung mengambil tempat duduk dihadapan Suntara. Setelah selesai mengisi perut tiga muda-mudi itu segera melanjutkan perjalanan.

********************

"Wah! Terpaksa harus menginap di dalam hutan!" ujar Suntara, ketika hari telah gelap.

"Aku kira demikian. Rasanya tidak ada desa terdekat di sekitar sini!" jawab Panji. "Mari, kita cari tempat yang lebih enak."

Maka mereka segera meneruskan langkahnya memasuki hutan, dan akhirnya tiba pada sebuah tempat yang agak luas. Dan tempat itu baik sekali untuk melewati malam.

"Kalian tunggulah di sini. Aku mau mencari air. Sepertinya, tidak jauh dari tempat ini ada sebuah sungai. Aku telah mendengar gemericik air," jelas Panji sambil melangkah meninggalkan kedua kawannya.

"Baiklah. Biarlah aku yang mencari ranting-ranting kering, agar dapat digunakan untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, Kau tunggulah di sini, Adik Rahayu!" ujar Suntara. Tidak berapa lama kemudian, kedua orang pemuda itu pun sudah tidak terlihat lagi.

Rahayu yang ditinggal seorang diri itu, tiba-tiba menjadi gelisah. Diputuskanlah untuk jalan-jalan saja, daripada berdiam diri sendiri seperti patung. Maka segera kakinya melangkah mengitari tempat itu. Ketika tengah melangkah dengan hati resah, tiba-tiba telinganya yang terlatih menangkap sebuah desiran halus dari arah belakang. Cepat bagaikan kilat gadis itu berbalik, dan cepat sekali tangannya bergerak menampar sambil memiringkan kuda-kudanya. Dan gadis itu menjadi terkejut, ketika merasakan tangannya bergetar setelah bergerak menampar.

"Hm, hebat juga tenaga orang yang berjiwa curang itu!" desis Rahayu. Penasaran sekaligus geram. Rahayu yang semula ingin berteriak menyuruh penyerang gelap itu keluar, segera mengurungkan niatnya. Alisnya yang indah itu berkerut, ketika memperhatikan benda yang menyerangnya secara gelap tadi. Dengan sikap waspada diraihnya benda yang ternyata adalah sebuah daun lontar yang terlipat rapi.

"Hm. Apa maksud orang itu sebenarnya? Jelas orang itu tidak berniat mencelakakan. Sebab kalau berniat jahat, mengapa harus menggunakan daun lontar?" desah Rahayu di tengah keheranannya.

Tangan gadis itu bergerak membuka lipatan daun lontar. Hatinya berdebar tegang, ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Dibacanya berulang-ulang, seolah-olah tidak mempercayai matanya.

“Kalau ingin menemukan orang ketiga yang mengacaukan perguruanmu, temuilah aku di sebuah danau. Letaknya tidak jauh dan tempatmu. Cepatlah, sebelum semuanya terlambat.”

Rahayu membaca berulang-ulang surat yang tertera di atas daun lontar tadi. Dadanya berdebar cepat antara perasaan girang dan tegang. Sebab tugas yang dikatakan berat oleh gurunya itu, ternyata dapat dilakukan amat mudah. Tanpa berpikir dua kali, Rahayu berkelebat cepat mencari tempat yang dimaksudkan si pengirim daun lontar tadi. Karena gembira yang meluap-luap, sehingga Rahayu terlupa akan Suntara dan Panji yang juga mempunyai tujuan serupa.

Di tempat lain, Suntara yang tengah memunguti ranting-ranting kering menjadi terkejut ketika mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Semula Suntara tidak mempedulikannya, karena dikira itu adalah suara langkah kawannya. Namun ketika menoleh, mendadak wajahnya menegang. Ternyata orang yang tengah menghampirinya itu adalah Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang. Suntara yang sudah mendengar cerita Ranjita dan Panji tentang seorang yang menyamar menjadi Ki Ageng Sampang itu, sejenak meragu. Tapi keraguannya menjadi pudar ketika mendengar sapaan orang tua itu.

"Ha ha ha..., Suntara! Apakah kau sudah menemukan tanda-tanda orang yang kau curigai?" tanya Algojo Gunung Sutra, sambil terus melangkah menghampirinya.

"Oh! Belum. Belum, Ki! Kami... kami belum menemukan apa-apa," jawab Suntara gagap. Sementara pandang matanya tetap meneliti sekujur tubuh Ki Ageng Sampang. "Mengapa Ki Ageng berada di tempat ini? Bukankah dia harus mengurus perguruan?" Suntara bertanya-tanya dalam hati dengan sikap tetap waspada.

Biar bagaimanapun, Suntara masih tetap meragukan keaslian orang tua itu. Sebab sebelum meninggalkan Gunung Sutra, Ki Ageng Sampang berkata bahwa ia tidak bisa meninggalkan perguruan. Hal ini karena ketua Perguruan Gunung Sutra tengah menyepi di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali Ki Ageng Sampang sendiri. Memang sampai saat ini ia masih belum mempercayai orang tua di hadapannya itu. Maka diam-diam dikerahkan tenaga saktinya untuk menghadapi segala kemungkinan. Orang tua bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan dipahami betul keraguan Suntara.

"Yahhh.... Dapat kumengerti sikapmu yang mencurigai aku, Suntara. Memang, kita tidak boleh mempercayai sesuatu yang belum diketahui kebenarannya," tegas orang yang mengaku sebagai Ki Ageng Sampang disertai helaan napas yang dalam.

Wajah orang itu memang teriihat sedih seolah-olah menyesali perbuatan orang yang telah menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra. Sedangkan kedua kakinya terus melangkah mendekati Suntara. Suntara tertunduk malu mendengar kata-kata bernada sedih dari orang tua yang dihormatinya itu. Untuk beberapa saat lamanya kesiagaannya lenyap tersentuh kata-kata halus tadi.

Namun, kalau saja Suntara tidak menundukkan wajahnya tentulah akan terkejut melihat sinar mata orang tua itu. Sinar mata yang semula meredup, kini tampak berkilat penuh cahaya nafsu membunuh. Jarak di antara mereka hanya tinggal satu jangkauan tangan saja. Dan, tiba-tiba saja tangan orang tua itu terangkat dengan cengkraman maut Suntara yang tengah lengah itu mengira bahwa orang yang diduganya Ki Ageng Sampang itu ingin menepuk pundaknya, sehingga sama sekali tidak merasa curiga. Tapi, ketika dirasakan sambaran angin kuat yang keluar dari kedua tangan orang tua itu, rasanya sudah terlambat untuk menghindar. Untung saja, tenaga dalamnya merasakan ada tekanan membahayakan dan segera cepat bergolak melindungi dirinya.

Deeesss!

Tubuh Suntara terpelanting ketika tamparan keras itu menghantamnya. Untunglah pada saat yang berbahaya itu masih dapat dimiringkan tubuhnya. Sehingga tamparan yang semula tertuju ke kepalanya, melesat menghantam bahunya dengan keras. Cepat-cepat Suntara bergulingan mengikuti dorongan itu, agar dapat menjauhi lawannya.

"Huaaakkk...!" Suntara seketika memuntahkan darah berwarna kehitaman. Jelas itu akibat hantaman kuat, yang rupanya telah melukai bagian dalam tubuhnya. Meskipun demikian Suntara masih mencoba bangkit. Untunglah tenaga dalamnya telah bergerak melindungi tubuhnya. Kalau tidak, pasti bahu yang terkena hantaman lawan itu akan patah tulang-tulangnya.

Saat itu, orang yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra sudah meluncur sambil mengarahkan totokan-totokan yang dapat melumpuhkan tubuh lawan. Kedua tangannya bergerak susul-menyusul, seolah-olah berebut untuk menyentuh tubuh Suntara. Dengan gerakan limbung bagaikan orang mabuk tuak, Suntara berusaha menghindari serangan lawannya. Dalam posisi seperti ini, Suntara masih mencoba untuk melontarkan serangan-serangan balasan. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, dia masih melakukan perlawanan yang cukup berarti.

"Setan! Bocah ini ternyata alot juga," umpat orang bertubuh jangkung itu mengumpat, penuh kegeraman. Mau tidak mau harus diakui keuletan pemuda yang menjadi lawannya itu.

Wuuuttt!

Orang tua itu memiringkan tubuhnya menghindari sambaran "tangan kanan Suntara yang mengarah kepala. Dan memang, serangan pemuda itu luput. Ki Ageng Sampang palsu itu langsung membalas dengan sebuah totokan yang menimbulkan desingan angin tajam. Suntara melempar tubuh ke belakang untuk menghindarinya. Tapi alangkah terkejutnya pemuda Itu ketika melihat jari-jari tangan lawan masih tetap mengejar dan mengancam tubuhnya. Suntara yang tidak melihat jalan keluar, terpaksa menyambutnya dengan sisi telapak tangan miring. Pemuda itu kembali terkejut ketika jari-jari yang hendak ditepis, tiba-tiba meliuk dan meluncur pesat menuju lehernya.

"Aaahhh...!" keluh Suntara agak terkesiap. Segera dijatuhkan tubuhnya dan bergulingan menghindari kejaran tangan lawan yang bagai seekor ular hidup itu. Setelah memasrikan bahwa lawannya cukup jauh, pemuda itu melenting berdiri. Namun, belum juga Suntara memantapkan posisi berdirinya, tiba-tiba orang tua itu bersalto melewati kepalanya dan mendarat di belakangnya. Sementara Suntara yang masih terkesiap tiba-tiba merasakan....

Desss!

"Uuughhh...!" Suntara melenguh tertahan. Tubuh Suntara terlontar keras ke depan, ketika sebuah tendangan berkekuatan hebat menghantam bagian belakangnya. Pemuda itu ambruk tak sadarkan diri, setelah terlebih dahulu memuntahkan darah segar. Sejenak orang tua itu tertawa, lalu mendekati tubuh Suntara. Segera dipanggulnya tubuh murid kesayangan Ki Tunggul Jagad itu.

********************

Sementara itu, Panji yang sudah kembali ke tempat Rahayu menunggu, menjadi keheranan ketika tidak menemukan gadis itu. Nalurinya yang tajam mengisyaratkan adanya bahaya yang mengancam di sekitar tempat ini. Panji mengitari sekitarnya dengan kewaspadaan penuh. Pendekar Naga Putih itu mengurungkan niatnya untuk memanggil Rahayu, ketika pendengarannya yang terlatih menangkap samar-samar suara orang tengah melangkahkan kaki.

Cepat bagai kilat Panji melesat ke arah asal suara tadi. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menjadi kebingungan ketika suara itu mendadak terhenri. Pendekar Naga Putih itu mengerutkan keningnya sambil mengerahkan seluruh kepekaan pendengarannya. Panji segera menyusupkan tubuhnya di balik semak-semak, ketika mendengar suara langkah kaki kembali terdengar mendatanginya.

"He he he.... Ki Tunggul Jagad, tunggulah kehancuranmu!" terdengar suara tawa kemenangan dari mulut orang tua bertubuh jangkung ketika melintas tidak jauh di hadapan Panji Pendekar Naga Putih itu menjadi terkejut melihat tubuh yang terkulai di atas bahu orang yang mengaku sebagai Algojo Gunung Sutra.

"Suntara...!" desisnya keheranan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera melesat melampaui kepala orang tua tersebut.

"Berhenti...!" bentak Panji begitu kakinya mendarat di hadapan orang bertubuh jangkung itu. "Hm..., lagi-lagi kau membuat ulah, Orang Tua!" desis Panji penuh kemarahan.

Orang tua itu tersentak kaget, sambil melangkah mundur. Jelas tergambar rasa gentar di wajahnya ketika mengenali pemuda yang menghalangi jalannya. Matanya berputar liar mencari jalan untuk menghindar. "Huh! Mengapa kau selalu mencampuri urusanku, Pendekar Naga Putih?!" dengus orang tua itu.

Mulutnya berkata demikian, tapi sementara otaknya berputar mencari jalan selamat. Rupanya Ki Ageng Sampang palsu yang sudah pernah merasakan kehebatan Panji, merasa yakin tidak akan dapat mengatasi pemuda sakti itu. Makanya, sekarang ini dia berusaha untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya mencan jalan keluar.

"Tidak perlu banyak bicara lagi, Orang Tua! Terimalah hukumanmu!" bentak Panji geram.

Begitu ucapannya selesai, tubuh pemuda itu melesat cepat membawa serangan berbahaya. Selapis kabut tipis yang berwarna putih keperakan kini telah menyelimuti tubuhnya. Pertanda bahwa pemuda sakti itu telah mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang menimbulkan hawa dingin luar biasa. Kedua tangannya yang telah membentuk cakar naga itu terulur disertai hembusan udara dingin yang menggigit.

Algojo Gunung Sutra palsu terkejut ketika merasakan sambaran hawa dingin yang sangat kuat menerpa tubuhnya. Cepat-cepat dilempar tubuhnya kebelakang untuk menghindari serangan yang luar bisa hebatnya. Wajah orang tua itu berubah pucat ketika sepasang tangan yang bagaikan cakar-cakar naga itu terus mengejarnya. Karena tidak mempunyai peluang untuk lolos, orang tua itu pun menggerakkan tangannya menangkis serangan Pendekar Naga Putih dengan sekuat tenaga!

Dukkk!

"Aiiihhh.,.!" jerit orang tua itu. Seketika dirasakan hawa dingin yang amat kuat menyusup dari tangan pemuda itu. Saat menangkis serangannya. Tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh tiga tombak. Sehingga tubuh Suntara yang semula berada di bahunya ikut pula terlempar. Cepat dia bangkit sambil mengerahkan hawa mumi untuk mengusir hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil hebat. Darah merah yang agak mengental karena hawa dingin itu mengalir melalui sela-sela bibirnya.

"Ilmu iblis...!" dengus orang yang mengaku-ngaku sebagai Algojo Gunung Sutra. Wajahnya nampak semakin memucat. Setelah dapat mengusir hawa dingin tubuhnya, orang tua itu segera bersiap menghadapi gempuran lawannya.

"Huh! Jangan bertepuk dada dulu, Anak Muda! Ayo kita bertempur sampai seribu jurus!" gertak Algojo Gunung Sutra palsu di tengah keputusasaannya.

Namun, sebelum kedua orang itu saling bergebrak, tiba-tiba terdengar lengkingan halus yang menyakitkan telinga, Panji terkejut ketika merasakan kekuatan yang terkandung dalam suara lengkingan itu. Meskipun tidak membahayakan dirinya, tapi hatinya cemas juga. Dari suara lengkingan itu Pendekar Naga Putih dapat menebak kepandaian orang yang mengeluarkan suara lengkingan itu.

Di lain pihak, orang yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra itu menjadi berseri-seri wajahnya. "Ha ha ha...! Syukurlah kau segera datang, Nyai Serondeng!" ujar orang tua itu tertawa gembira. Sementara tubuh Suntara sudah pula berada dalam pondongannya. Dia memang ingin menculik pemuda ini.

"Cepat tinggalkan tempat ini, goblok!" perintah wanita tua yang tiba-tiba saja sudah berada di tempat itu.

"Berhenti! Langkahi dulu mayatku kalau kalian ingin meninggalkan tempat ini!" bentak Panji. Segera dia melesat mengejar Algojo Gunung Sutra palsu yang sudah bergerak meninggalkan tempat pertarungan.

"Hi hi hi.... Selamat tinggal, Pendekar Naga Putih! Sayang sekali, hari ini aku tidak mempunyai waktu untuk bermain-main denganmu!" tegas wanita tua itu. Suaranya begitu tinggi dan nyaring.

Setelah berkata demikian, wanita tua itu menggerakkan tangannya ke arah Pendekar Naga Putih. Melihat luncuran sebuah benda putih yang berbentuk bulat itu bagitu deras, cepat-cepat Panji melesat ke atas dan berputar dua kali di udara.

"Darrr!" Benda sebesar telur puyuh itu meledak ketika menyentuh permukaan tanah. Asap putih tebal yang menebarkan bau itu bergulung-gulung menutupi sekitarnya. Pendekar Naga Putih yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah, tidak dapat mengejar kedua musuhnya. Tentu saja, karena asap tebal telah menghalangi penglihatannya.

"Asap beracun...!" sentak Panji sambil melompat keluar dari gulungan asap tebal tersebut Kedua tangan pemuda sakti itu mendorong ke depan seraya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

"Wuuusss!" Angin yang berhawa dingin luar biasa seketika berhembus keras mengusir asap beracun yang menyelimuti sekitarnya. Dalam beberapa saat saja, tempat itu kembali terang. Hanya sayangnya, Panji sudah tidak menemukan dua orang musuhnya.

Pendekar Naga Putih berlari mengitari seluruh daerah itu untuk mencari dua orang musuhnya tadi. Tapi mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Dengan langkah gontai, Panji kambali ke tempatnya semula, tempat mereka berniat melewatkan malam. Pemuda itu termenung mengingat-ingat kejadian-kejadian yang baru beberapa hari ini dialaminya. Memang, masih menjadi misteri yang harus diungkapnya.

Angin malam bersilir lembut menyejukan tubuh. Seolah-olah ingin menghibur dan menghilangkan keresahan di hati pemuda itu. Sekejap kemudian, Panji sudah terlelap.

********************

Kemanakah perginya Rahayu? Dan bagaimana nasib Suntara? Siapakah orang tua yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra, dan siapa pula tokoh yang bernama Nyai Sorendeng itu? Dan yang terpenting, siapakah yang mendalangi semua kemelut ini?! Untuk jawabnya, ikutilah kisah selanjutnya dalam episode PARTAI RIMBA HITAM

S E L E S A I

Algojo Gunung Sutra

Serial Pendekar Naga Putih
Episode Algojo Gunung Sutra
Karya T. Hidayat
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cerita silat serial Pendekar Naga Putih


SATU

Di atas sebuah puncak gunung yang terletak cukup Jauh dari Selatan Desa Cikunir, berdiri sebuah bangunan besar yang dikurung oleh pagar tembok yang tinggi dan kokoh. Di atas pintu gerbang yang terbuat dari kayu pilihan tertera nama 'PERGURUAN GUNUNG SALAKA' yang tertulis pada papan tebal. Nama perguruan itu ditulis dengan tinta emas. Huruf-hurufnya yang besar dan terukir, cukup indah dan gagah dipandang. Dalam jarak sepuluh tombak, orang sudah dapat jelas membacanya. Bagi kaum rimba persilatan, nama Perguruan Gunung Salaka bukanlah nama asing. Perguruan itu terkenal sebagai pusatnya pendekar-pendekar.

Malam itu, Ki Tunggul Jagad yang merupakan Ketua Perguruan Gunung Salaka tampak sedang mengumpulkan murid-murid utamanya yang berjumlah delapan orang. Mereka adalah tokoh-tokoh tingkatan atas di perguruan itu, karena merupakan murid-murid langsung dari Ki Tunggul Jagad.

“Tentu hati kalian bertanya-tanya, mengapa mendadak aku memanggil. Sebenarnya hal ini sudah lama kupikirkan, namun baru kali ini mempunyai kesempatan untuk mengutarakannya kepada kalian!" orang tua sakti itu terdiam sejenak sambil menarik napas panjang, sepertinya apa yang akan disampaikannya ada suatu hal yang penting.

"Begini murid-muridku! Aku bermaksud menyerahkan urusan perguruan ini untuk sementara waktu kepada kalian."

"Apakah maksud Guru, ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Guru?" tanya salah seorang murid tertua Perguruan Gunung Salaka yang dipimpin Ki Tunggul Jagad. Wajah murid ketua itu gelisah, takut kalau-kalau ada tingkah mereka yang telah membuat hati orang tua sakti itu kecewa.

"Tidak ada satu pun dari kalian yang berbuat salah! Aku hanya berniat ingin beristirahat dari kesibukan-kesibukan perguruan selama beberapa waktu. Nah! Oleh karena itu akan kutunjuk salah seorang dari kalian, yang akan menggantikanku selama beristirahat. Dan untuk selama itu aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun, atau urusan apa pun! Apakah kalian sanggup?" tanya Ki Tunggul Jagad sambil merayapi wajah-wajah muridnya dengan tajam.

"Sanggup, Guru! Dan selanjutnya kami mohon petunjuk dan nasihat demi kelancaran tugas kami...!" jawab delapan orang murid Ki Tunggul Jagad, dengan suara tegas.

"Hm, bagus..., bagus! Memang begitulah seharusnya," ujar Ki Tunggul Jagad. Kini wajahnya menjadi cerah.

Kemudian orang tua sakti itu pun menunjuk Ki Sukma Kelana untuk mengurus perguruan selama dirinya menyepi. Selain itu juga ditunjuk Ki Surya Kencana sebagai wakil. Begitu juga keenam orang lainnya yang masing-masing diserahi tugas yang harus dilaksanakan sungguh-sungguh.

"Nah! Sekarang kemukakanlah pendapat kalian! Kalau ada yang merasa keberatan, sampaikanlah selagi aku masih ada di sini. Sebab, aku tidak ingin apabila di kemudian hari ada kejadian yang tidak diharapkan. Dan jika hal itu terjadi, maka tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian!" ujar Ki Tunggul Jagad, dengan suara yang tegas dan berwibawa.

"Kami setuju, Guru! Dan semua perintah Guru akan kami laksanakan dengan sebaik baiknya!" janji kedelapan orang murid-murid Ki Tunggul Jagad, bersungguh-sungguh.

"Baiklah. Kalau memang sudah tidak ada persoalan lagi, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing..."

"Baik Guru!" seru kedelapan orang itu serempak Setelah memberi hormat, delapan orang itu pun segera meninggalkan tempat itu.

Pada keesokan harinya kedelapan murid Perguruan Gunung Salaka mulai menjalankan tugas sebagaimana yang telah dipesankan guru mereka. Dan tidak seorang murid lain pun yang mengetahui hal itu, kecuali delapan murid utama Perguruan Gunung Salaka. Hal itu memang sudah dipesankan oleh Ki Tunggul Jagad, agar tidak terjadi keresahan di antara murid Perguruan Gunung Salaka itu.

********************

Hari masih pagi, ketika serombongan orang bersama-sama mendaki Lereng Gunung Salaka. Kalau di lihat dari keadaan yang rata-rata kusut dan agak kotor, itu, jelas bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Meskipun langkah-langkah kaki terlihat agak gemetar, namun dari sorot mata terpancar semangat mereka yang tinggi.

Rombongan itu teidiri dari berbagai golongan. Ada anak hartawan, anak saudagar kaya, dan ada juga anak pedagang kecil. Maksud kedatangan mereka ke tempat itu adalah sama, yaitu untuk mengikuti ujian penerimaan murid baru, yang akan diadakan Perguruan Gunung Salaka pada setiap enam bulan sekali. Setelah melakukan pendakian yang sukar dan melelahkan, rombongan itu tiba pada pos pertama yang dijaga dua orang murid tingkat enam, Perguruan Gunung Salaka.

"Saudara-saudara, harap berhenti sebentar...!" seru salah seorang dari dua penjaga itu.

"Huh! Apa maksudnya badut-badut itu mencegah kita?!" Membuat jengkel orang saja...!" umpat salah seorang pemuda dari rombongan itu. Tarikan wajahnya kelihatan angkuh. Pemuda itu berusia sekitar enam belas tahun. Pakaiannya terbuat dari bahan sutra pilihan berwarna biru muda. Wajahnya tampan, bagai seorang bangsawan. Kelihatan manja dan pesolek.

"Sudahlah! Jangan mencari penyakit, Sobat! Kita baru memasuki pos penjagaan yang pertama!" jawab seorang pemuda lain, yang rupanya tidak suka ucapan pemuda pesolek tadi.

"Benar! Kalau kita diterima menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, kita harus sabar dan bersikap sopan," sahut pemuda lainnya lagi, ikut memberikan nasihat

Sementara itu, kedua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga di pos pertama mulai melakukan pemeriksaan. Setiap orang yang akan melewati pos pertama, harus meninggalkan segala bentuk senjata tajam yang dibawa. Jika benar-benar bersih tanpa senjata, baru mereka diperbolehkan meneruskan perjalanan.

"Hm, sombong sekali orang-orang gunung itu! Untuk apa buntalan pakaian diperiksa? Memangnya kita ini pencuri...?" geruru si pemuda pesolek lagi.

Kedua orang pemuda yang tadi mencoba memberi nasehat menoleh sejenak. Dan tanpa menjawab sepatah kata pun segera dipalingkan wajah mereka dengan perasaan sebal. Memang sudah bisa ditebak sifat jelek pemuda pesolek yang sombong itu.

"Huh! Dikira perguruan ini milik nenek moyangnya apa...!" gerutu salah seorang dari dua pemuda itu, sambil melengos meninggalkan pemuda pesolek anak hartawan itu. Tindak-tanduknya memang kelihatan sombong.

Mendengar gerutu itu, pemuda yang satunya lagi hanya tertawa saja. Segera diikuti langkah temannya, yang sudah berjalan ke arah pos pemeriksaan itu. Setelah rombongan itu melewati pos penjagaan pertama, maka mereka kini tiba pada pos penjagaan kedua. Di pos penjagan kedua ini dijaga tiga orang murid tingkat lima. Di sini, para calon murid ditanya tentang maksud dan tujuan memasuki Perguruan Gunung Salaka.

"Sahabat, apa tujuanmu memasuki perguruan kami?" tanya salah seorang yang menjadi pimpinan di pos kedua ini. Kali ini yang mendapat giliran adalah salah seorang dari dua pemuda yang memberi nasihat kepada pemuda pesolek yang sombong tadi.

"Paman" jawab pemuda itu sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia sengaja memanggil paman, karena melihat penjaga itu berumur sekitar tiga puluh lima tahun.

"Maksud hamba memasuki Perguruan Gunung Salaka adalah untuk mempelajari ilmu silat!" jawabnya jujur.

"Hm, untuk apa kau pelajari ilmu silat? Bukankah ilmu silat hanya akan mengundang keributan saja?" tanya penjaga itu lagi. Kali ini disertai senyum. Memang, penjaga itu ingin mengetahui jawaban atau pandangan anak muda itu tentang ilmu silat

"Paman, menurut pendapat hamba yang bodoh ini, setiap sesuatu yang kita pelajari atau kita miliki tentulah memiliki sifat baik dan buruk. Dan semua itu tergantung pada orang itu sendiri. Apakah orang itu mempergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan ataukah untuk kejahatan? Bukan begitu, Paman?" pemuda itu berhenti sejenak untuk melihat reaksi penjaga tersebut.

Si penjaga itu mengangguk-angguk penuh kepuasan. Maka kakinya segera menyingkir, memberi jalan kepada pemuda itu meneruskan maksudnya. Setelah pemuda tadi lulus dengan baik, ternyata masih ada beberapa orang pemuda yang berhasil melewati pos penjagaan kedua itu. Demikian pula si pemuda pesolek yang sombong tadi. Sedangkan para pemuda yang mengalami kegagalan, dipersilakan meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Mereka yang gagal berjumlah lima belas orang.

Dengan wajah penuh kekecewaan, lima belas orang pemuda itu bergegas meninggalkan Perguruan Gunung Salaka. Kini barulah mereka merasakan kelelahan yang sangat pada tubuhnya. Kelelahan yang semula tertutup semangat berapi-api tadi, dan baru muncul setelah semangat itu hancur dilanda kegagalan. Setelah cukup lama perjalanan dari Kaki Gunung Salaka, lima belas orang pemuda tadi menjatuhkan diri di atas sebuah padang rumput tebal. Layaknya sebuah permadani hijau terhampar di mulut sebuah hutan. Mereka segera beristirahat sambil mengeluarkan bekal yang dibawa di dalam buntalan pakaian masing-masing.

"Hhh! Tidak kusangka, kalau demikian sulitnya untuk menjadi murid perguruan itu!" keluh seorang pemuda sambil mengunyah makanannya pelahan lahan. Seolah-olah selera makannya ikut lenyap tergilas kegagalan yang dihadapinya.

"Benar! Tidak seperti guru-guru silat di desa, siapa pun akan diterima asalkan dapat membayar sejumlah uang yang cukup!" jawab pemuda lain dengan suara pelahan. Seakan-akan berkata untuk dirinya sendiri.

"Tentu saja. Sebab kata orang, Perguruan Gunung Salaka itu pusatnya para pendekar. Bahkan kepandaian mereka sudah seperti dewa saja. Malah di antara tokoh-tokohnya ada yang pandai menghilang!" pemuda lain lagi ikut pula menimpali.

"Eh! Sampai sedemikian hebatnya!" seru kedua orang pemuda tadi, yang diikuti pula oleh para pemuda lainnya. Para pemuda itu segera menggeser bokongnya karena merasa tertarik pada cerita salah satu kawannya itu.

Pemuda tadi jadi semakin bersemangat, karena empat belas orang kawannya itu merasa tertarik oleh ceritanya. Dan untuk sementara, mereka segera terlupa akan kegagalan dan kelelahan. Sepertinya lenyap begitu saja. Tapi belum lagi cerita itu sempat diteruskan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang di sekitar tempat itu.

"Ha ha ha...! Mana ada manusia yang mampu menghilang, anak-anak tolol! Coba katakan padaku, siapa yang sudah pernah melihat manusia yang dapat menghilang! Ayo, jawab!" belum lagi gema tawa itu lenyap, orang yang bersuara itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.

Kelima belas orang pemuda itu tersentak bagai disengat kalajengking! Wajah mereka mendadak pucat karena rasa kaget yang luar biasa.

"Ssseeettt... tttaaannn...!" teriak beberapa orang pemuda dengan tubuh gemetar. Mereka serentak saling berangkulan satu sama lain Orang yang baru datang itu benar-benar disangka dedemit. Sebab bagaimana mungkin orang itu tiba-tiba muncul dihadapan mereka, tanpa diketahui dari mana dan kapan datangnya

Sementara, beberapa orang pemuda lain yang telah memiliki pengetahuan cukup, mulai menduga bahwa orang itu pasti memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi. Mereka yang lebih mempunyai keberanian dan pengalaman itu, segera saja dapat menguasai hati dan perasaannya.

"Ha ha ha! Hanya sedemikianlah keberanian orang-orang yang ingin berguru ke Gunung Salaka? Benar-benar memalukan! Pantas kalau kalian tidak diterima manusia-manusia sombong itu!" seru orang itu lagi. Nadanya benar-benar menghina.

Mendengar hinaan itu, lima orang pemuda yang telah dapat meredakan kekagetannya itu segera bangkit sambil mengepal tangan meskipun belum menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, namun mereka tidak terima dihina orang itu.

"Kisanak yang gagah!" ujar salah seorang dari lima pemuda itu, tanpa meninggalkan kesopanannya. "Mengapa Tuan menghina kami? Bukankah kita tidak saling mengenal? Biarpun kami gagal, tapi kami tidak ingin dihina seperti itu."

"Hm," orang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bewok itu mendengus kasar. Namun ada kekaguman atas perkataan anak muda di hadapannya yang terdengar sopan tapi mempunyai ketegasan. "Siapa yang menghinamu, Anak Muda? Bukankah aku hanya bertanya? Apakah pertanyaan itu di anggap menghina?! Kalaupun aku menghinamu, kau mau apa?" tantang orang tua itu. Namun kali ini nada suaranya terdengar lebih halus meskipun masih mengandung ejekan yang menyakitkan.

"Hm, Orang Tua! Rupanya kau adalah orang sombong yang merasa paling pandai, sehingga tidak ingin mendengar kelebihan orang lain. Kami berbicara di antara kami sendiri, lalu apa urusannya denganmu, Orang Tua? Kami ingin bercerita apa pun, itu adalah urusan kami! Lantas, mengapa dirimu yang kelabakan? Seperti kakek-kakek yang kebakaran jenggot saja!" jawab pemuda itu lagi semakin berani, karena sama sekali tidak merasa bersalah.

"Eh eh eh, semakin berani saja kau bicara! Tahukah kau, dengan siapa berhadapan?! Jaga mulutmu, Anak Muda! Kalau habis kesabaranku, bisa-bisa kau tidak mempunyai mulut lagi!" ancam orang tua itu, karena merasa kalah bicara dengan pemuda yang ternyata pandai memutarbalikan kata-kata itu.

"Huh! Tentu saja tahu, aku sedang berhadapan dengan siapa?" jawabnya lagi, berwajah sungguh-sungguh.

"Eh eh eh. Rupanya kau sudah pula mengenal diriku, Anak Muda! Coba sebutkan siapa diriku?! Mungkin nanti bisa kupertimbangkan, apakah kau akan kuampuni atau tidak?!" teriak orang tua itu. Rupanya dia merasa senang karena namanya sudah dikenal sampai sedemikian jauh.

"Hm, aku tahu!" jawab anak muda itu sambil tersenyum geli. "Engkau adalah kakek buruk, gendut, dan usil dengan urusan orang!"

Setelah berkata demikian meledaklah tawa kelima belas orang pemuda itu. Ini karena mereka dapat membalas hinaan orang tua itu tadi. Bukan main terperanjatnya orang tua itu. Wajahnya yang semula berseri gembira itu mendadak gelap. Matanya mencorong tajam berwarna merah seperti darah! Selama hidup belum pernah dia mengalami hinaan yang sedemikian itu. Masalahnya sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani menghina tokoh sesat macam dirinya yang kejam seperti iblis. Jangankan menghina, baru mendengar namanya saja orang pasti lari pontang-panting!

"Hm! Kalau belum menghirup darah kalian, belum puas hatiku! Dengarlah baik-baik! Aku adalah Gandaruwo Hutan Jagal! Maka akan kucerai-beraikan tubuh kalian semua!" ancam orang tua yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal itu. Suaranya begitu parau dan menggeletar karena amarah yang menggelegak.

Mendengar ancaman itu, mau tidak mau bulu kuduk lima belas orang pemuda itu meremang. Sungguh tidak pernah dibayangkan kalau mereka akan berjumpa iblis itu di tempat ini. Apalagi lima orang pemuda yang mengejeknya tadi. Mereka pernah mendengar kekejaman Gandaruwo Hutan Jagal yang suka makan daging manusia. Terutama daging anak muda yang merupakan kesukaannya.

Kelima belas orang pemuda itu menggigil hebat. Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Kengerian pun tergambar di wajah masing-masing Bahkan beberapa di antaranya sampai terkencing- kencing, karena rasa ngeri yang mencekam. Kelima belas pemuda itu menggigil hebat! Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa!

Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal mulai membantai mereka! Dalam waktu singkat, pemuda-pemuda itu sudah banyak yang roboh dalam keadaan mengenaskan! Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal itu mulai membantai mereka. Dalam waktu singkat, kelima belas orang pemuda itu tewas dengan keadaan yang sangat mengerikan. Tubuh-tubuh mereka cerai-berai, bagai diamuk segerombolan binatang liar. Darah merah pun membanjiri rerumputan tebal yang semula bersih dan menghijau itu.

Setelah puas membunuhi dan memakan anggota tubuh, dan meminum darah lima belas orang pemuda, dengan langkah santai Gandaruwo Hutan Jagal itu segera meninggalkan tempat itu. Wajah iblis itu kembali berseri-seri penuh kepuasan.

Angin gunung bertiup lembut menerobos sela-sela dedaunan menimbulkan suara gemerisik lembut, bagai kan senandung alam yang melenakan. Seolah-olah sang angin ingin menyampaikan berita duka kepada orang-orang yang tengah dilanda kesibukannya masing-masing.

********************

DUA

Beberapa hari setelah pembantaian lima belas orang pemuda yang malang itu, tampak serombongan pemuda yang berjumlah sepuluh orang bergegas menuruni Lereng Gunung Salaka. Mereka adalah murid Perguruan Gunung Salaka yang mendapat tugas untuk membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan sehari-hari. Tujuh hari sekali beberapa murid Perguruan Gunung Salaka turun ke Desa Cikunir, yang merupakan desa terdekat dari gunung itu. Kesepuluh orang itu melakukan perjalanan dengan penuh kegembiraan. Kadang-kadang diselingi derai tawa apabila salah seorang menceritakan hal-hal yang menggelitik perut.

"He he he! Rupanya Kakang Rupaksa sudah tidak sabar lagi untuk bertemu si jantung hati, sehingga tega-teganya meninggalkan kita!" ledek salah seorang ketika melihat orang yang dipanggil Rupaksa itu melangkah mendahuluinya.

Mendengar gurauan itu, yang lain kontan tertawa geli sambil mempermainkan bola matanya melirik Rupaksa. Mereka memang sudah tahu apa yang dimaksud salah seorang kawannya itu.

"Ah! Kau bisa saja, Adi! Aku hanya ingin memeriksa keadaan di depan kita saja!" bantah Rupaksa sambil terpaksa menghentikan langkahnya masalahnya, kalau langkahnya diteruskan, pastilah mereka akan terus menggodanya.

"Hm! Kalau begitu, silakan teruskan maksud Kakang. Siapa tahu di balik semak-semak depan sana ada anak gadis kepala desa yang cantik itu! Ha ha ha...!" goda orang itu, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.

Demikian pula kedelapan orang lainnya. Mereka tidak dapat lagi menahan geli di hati, yang tergelitik oleh perkataan kawannya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, meledaklah tawa mereka sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perut.

Rupaksa yang kali ini menjadi bahan godaan kawan-kawannya, hanya dapat berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mampu berkata-kata. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, karena jengah dan malu. Namun meskipun demikian, Rupaksa sama sekali tidak merasa tersinggung. Memang, hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Lagipula, ia tidak ingin merusak suasana yang menggembirakan itu, hanya karena masalah sepele.

"Hm. Tapi kali ini aku sungguh-sungguh, Adi. Entah mengapa, sejak berangkat tadi, hatiku selalu was-was. Dan hal ini tidak pernah kualami sebelumnya," ujar Rupaksa sungguh-sungguh, ketika tawa kawan kawannya mulai mereda.

Melihat wajah dan suara yang sungguh-sungguh itu, tawa kesembilan orang kawannya itu pun berhenti seketika. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandangan dengan wajah bingung. Seolah-olah saling meminta pendapat masing-masing, apakah akan melanjutkan godaan itu atau tidak.

"Hm..., maksud Kakang, bagaimana?" tanya salah seorang ragu-ragu.

"Entahlah Adi? Sebaiknya tingkatkanlah kewaspadaan kita! Yahhh, mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa," desah Rupaksa penuh harap.

Maka kesepuluh orang murid Perguruan Gunung Salaka itu kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak lagi terdengar gelak tawa atau senda gurau. Memang, mereka sudah mulai terpengaruh perkataan Rupaksa tadi.

"Uuufff, bau apa ini?" teriak salah seorang ketika mereka melewati sebuah hutan yang cukup jauh dari Kaki Gunung Salaka. Orang itu mengendus-enduskan hidungnya, seolah-olah ingin memastikan bau yang tercium itu.

"Eh! Seperti bau bangkai! Mungkin bangkai binatang hutan yang mulai mengering!" teriak yang lain sambil menutup hidung.

Lain halnya Rupaksa. Saat teman-temannya mulai ribut, ia hanya termenung sambil mengernyitkan dahinya. Setelah berpikir beberapa saat lamanya, segera dilepaskan sabuk merah yang melilit pinggangnya.

"Kalian tetaplah di sini, aku akan memeriksa sebentar!" perintah Rupaksa sambil mengikatkan sabuk pada wajah untuk menutupi hidungnya. Dan dengan langkah pelahan-lahan, mulai dimasuki mulut hutan itu.

"Aku ikut, Kakang...!" teriak dua orang kawannya yang segera mengikuti langkah Rupaksa memasuki hutan. Mereka juga ikut melepaskan sabuk masing-masing untuk menutupi hidungnya, akibat bau yang menyengat.

"Hei, hati-hati!" teriak yang lainnya, memperingatkan.

Dengan penuh kewaspadaan, ketiga orang itu mulai memasuki hutan yang menjadi sumber bau sehingga mengusik hidung. Tentu saja hal itu tidak terlalu sulit. Dengan semakin santernya bau busuk itu, berarti semakin dekat pula ke arah sumbernya. Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan kedua orang kawannya mulai mendekati tempat lima belas orang pemuda yang dibantai secara mengerikan!

"Aaahhh...!" lenguh ketiga murid Perguruan Gunung Salaka itu, tertahan. Mata mereka membelalak dengan wajah pucat. Apa yang disaksikan ini, benar-benar membuat hati terguncang! Di hadapan mereka kini terbentang sebuah pemandangan yang dapat membuat hati siapa saja akan menggigil ketakutan, karena rasa ngeri yang hebat!

Memang, yang disaksikan mereka adalah belasan mayat yang sudah tidak mungkin dapat dikenali. Tubuh belasan mayat itu sudah mulai mengering, dan tidak satu pun yang anggota tubuhnya masih lengkap. Ada sosok mayat yang tanpa kepala. Ada pula yang tanpa kaki. Bahkan ada yang isi perutnya berhamburan!

Rupaksa dan kedua orang kawannya segera berlari meninggalkan tempat itu, dengan langkah terhuyung-huyung. Mereka tidak sanggup lagi menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang. Seluruh tubuh mereka kini dibanjiri keringat dingin. Dan begitu tiba di tempat kawan-kawannya, tubuh ketiga orang itu ambruk bagai sehelai karung basah. Dengan cepat mereka segera melepaskan sabuk yang menutupi mulut dan hidungnya.

"Huaaakkk...!"

Tanpa dapat dicegah lagi, tiga orang itu langsung muntah-muntah. Rasanya seluruh isi perut ingin dikeluarkan saat itu. Setelah tidak ada lagi yang dimuntahkan, ketiga orang itu masih belum dapat berkata-kata. Tubuh mereka lemas seolah-olah tenaga ikut pula tersedot.

"Ada apa, Kakang? Apa yang sudah terjadi?" tanya kawan-kawannya, cemas. Memang mereka tidak tahu apa yang telah dialami tiga kawannya itu. Mereka memang tidak sempat bertanya sebab begitu tiba ketiganya langsung ambruk dan muntah-muntah hebat. Sehingga, ketujuh orang kawannya itu hanya dapat memandang, disertai wajah bingung. Mereka segera membantu mengurut-urut tubuh ketiganya, agar pernapasannya lebih longgar.

Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan dua orang lainnya sudah mulai pulih kembali lagi. Wajah ketiganya tampak sudah segar seperti semula. Ketiganya pun segera melangkah menghampiri tujuh orang kawannya yang sudah pula berdiri menyambutnya.

"Ayolah, Kakang. Kami sudah tidak sabar mendengar ceritamu," pinta salah seorang kawannya, ketika mereka sudah duduk di atas bebatuan.

"Baiklah. Akan kuceritakan kepada kalian, apa yang telah kami temukan dalam hutan itu," jawab Rupaksa kalem.

Rupaksa pun mulai menceritakan semua yang disaksikan di dalam hutan itu. Ketujuh orang temannya itu berkali-kali berseru kaget bercampur ngeri. Sama sekali tidak disangka kalau bau busuk itu berasal dari mayat-mayat manusia yang hampir mengering. Sungguh di luar dugaan sama sekali.

"Menurut cerita Kakang, mayat itu berjumlah belasan banyaknya. Aku jadi curiga, jangan-jangan...," orang itu tidak meneruskan ucapannya. Hal ini memang dapat berakibat buruk bagi Perguruan Gunung Salaka, maka segera dibuang jauh-jauh pikiran yang bukan-bukan itu.

"Hm, mengapa tidak kau teruskan ucapanmu, Adi? Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Nanti baru kita teliti benar tidaknya," ujar Rupaksa penasaran.

"Benar! Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Siapa tahu misteri pembunuhan itu dapat disingkap," bujuk kawan yang lain, ikut menimpali.

"Sebenarnya aku takut tentang dugaanku itu. Sebab hal ini akan besar sekali pengaruhnya bagi nama besar perguruan kita. Maka sebaiknya, kubuang jauh-jauh pikiran itu," bantah orang itu cemas.

"Jadi, kejadian itu bisa berpengaruh pada perguruan kita? Gila!" ujar kawannya yang lain.

"Nanti dulu, nanti dulu! Mmm..., belasan orang yang terbunuh dan mayatnya sudah hampir mengering. Jadi paling sedikitnya sudah dua atau tiga hari terbunuh. Dan hari kejadian pembunuhan ini, paling tidak berbarengan dengan hari penerimaan murid-murid baru. Aaahhh..., benarkah dugaanku?" ujar Rupaksa. Wajahnya terlihat agak pucat. "Kalau memang demikian, berarti malapetaka akan menimpa perguruan kita!"

"Benar! itulah yang kutakutkan, Kakang!" ujar kawannya, yang memang berpikir demikian.

"Kalau begitu, kita harus bertindak cepat! Kalian bertujuh, tetaplah pada tugas semula. Sedangkan aku dan dua orang teman lainnya akan kembali keperguruan untuk melaporkan kepada Guru. Biar bagaimanapun, pembunuhan itu terjadi di wilayah kita. Maka sudah merupakan kewajiban kita untuk menyelidikinya," usul Rupaksa.

"Baiklah, kalau memang sudah menjadi keputusanmu, Kakang!" jawab mereka, segera menyetujui usul itu.

Maka murid-murid Perguruan Gunung Salaka itu pun berpisah. Rupaksa dan dua orang lainnya bergegas kembali keperguruan, sedang tujuh orang lainnya segera meneruskan perjalanannya. Sementara itu Rupaksa mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk mempercepat perjalanan, diikuti dua orang kawannya. Kini Rupaksa dan dua orang kawannya tiba di Puncak Gunung Salaka. Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka memasuki bangsal utama perguruan itu untuk menghadap guru besar mereka.

"Hei, berhenti dulu! Mau ke mana, kalian?" tegur seorang murid yang sedang mendapat tugas membersihkan bangsal utama itu.

"Kami ingin menghadap Guru. Ada sesuatu yang ingin dilaporkan!" jawab Rupaksa. Suaranya dibuat hormat karena yang menyapa mempunyai tingkatan yang lebih tinggi daripadanya.

"Hm, penting sekalikah kabar itu? Tidak dapatkah ditunda hingga nanti sore, Adi Rupaksa?" tanya orang itu mulai ragu.

"Tidak bisa, Kakang! Ini menyangkut nama besar perguruan kita. Dan kalau Guru Besar marah, biarlah akan kutanggung akibatnya!" ujar Rupaksa. Suaranya begitu tegas.

"Ah! Bukan begitu maksudku. Adi Rupaksa! Kalau begitu masuklah. Biarlah resikonya kita tanggung bersama-sama."

Maka keempat orang itu segera melangkah menuju bangsal utama yang dijadikan tempat pertemuan. Letaknya di tengah-tengah bangunan besar Perguruan Gunung Salaka. Rupaksa dan dua orang temannya segera memasukinya. Sedangkan orang yang mengantar sudah kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan mereka.

********************

"Ampun, Guru! Kami bertiga datang menghadap," ucap Rupaksa dan dua temannya sambil berlutut. Kepala mereka tertunduk, seperti tak berani menatap sorot mata tajam Ki Sukma Kelana wakil guru besar mereka.

"Hm.... Bangkitlah, kalian. Kabar apakah yang kau bawa Rupaksa?" tanya Ki Sukma Kelana dengan suara dalam.

"Ampun, Guru! Kami membawa berita buruk, dan mohon petunjuk!" tutur Rupaksa penuh hormat. Kemudian dengan dibantu dua orang temannya, Rupaksa segera menceritakan apa yang telah ditemukannya di dalam hutan di dekat Kaki Gunung Salaka.

"Kurang ajar! Siapa orangnya yang berani melakukan perbuatan biadab itu?!" Hm. Segera harus diselidiki, Kakang! Kalau tidak, mereka tentu akan semakin kurang ajar kepada kita!" ujar Ki Surya kencana dengan wajah merah padam. Laki-laki setengah baya ini memang wakil Ki Sukma Kelana. Bahkan dulu juga sebagai adik seperguruan Guru Besar Perguruan Gunung Salaka itu.

"Sabarlah, Adi. Kita toh belum mengetahui pasti, apakah pembunuhan itu dilakukan manusia atau binatang buas. Sedangkan menurut laporan Rupaksa, keadaan mayat-mayat itu bagai diamuk binatang buas dan ganas. Dan sebelum mengetahui secara jelas, kita tidak bisa asal tuduh saja. Jika hal itu akan menjadi persoalan baru bagi kita, maka sebaiknya harus diperiksa dulu kebenarannya. Setelah itu baru dicari keterangan penyebab kematian orang-orang itu," ujar Ketua Perguruan Gunung Salaka, Ki Sukma Kelana panjang lebar.

"Tapi, Kakang! Kita tidak boleh mendiamkan saja! Aku yakin, perbuatan itu pasti dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kemajuan dan nama besar Perguruan Gunung Salaka. Jadi, biar bagaimanapun kita harus segera bertindak! Agar mereka tahu bahwa perguruan kita tidak dapat dibuat main-main!" tegas Ki Surya Kencana yang benar-benar merasa terpukul akan kejadian itu. Jelas itu merupakan sebuah tamparan pada wajah mereka, karena terjadi masih di sekitar daerah perguruan itu.

"Benar. Tapi aku akan mengutus beberapa orang murid-murid tingkat empat untuk mencari tahu penyebab kematian orang-orang itu. Kemudian, baru dipikirkan langkah selanjutnya!" ujar Ki Sukma Kelana memberi keputusan.

"Tidak perlu, Kakang! Biar aku sendiri yang akan menyelidikinya!" sergah Ki Surya Kencana yang sudah bangkit dari duduknya. "Maafkan aku, Kakang! Tapi percayalah! Aku akan bertindak sesuai dengan perintahmu, dan aku akan berusaha untuk tidak membuat persoalan baru. Aku pamit dulu, Kakang!"

Setelah berkata demikian, Ki Surya Kencana membungkuk hormat kepada Ki Sukma Kelana yang juga kakak seperguruannya itu. Dengan langkah lebar laki-laki setengah baya itu segera meninggalkan tempat bangsal utama.

Tidak lama setelah kepergian wakil ketua Perguruan Gunung Salaka itu pergi, Rupaksa dan kedua orang murid lainnya juga segera mohon diri. Ki Sukma Kelana hanya mengangguk saja.

"Hmm, Tunggu!" cegah Ki Sukma Kelana ketika tiga muridnya itu akan melangkah.

"Ada apa Guru?"

"Kupesankan kepada kalian bertiga agar tak menceritakan kepada siapa pun. Dan sampaikan pesanku ini kepada rujuh orang murid lainnya," jelas Ki Sukma Kelana.

"Baik, Guru. Kami akan melaksanakan perintah Guru sebaik-baiknya," jawab ketiganya serempak. Setelah memberi hormat mereka segera beranjak meninggalkan tempat itu.

********************

Hari baru menjelang siang, ketika sesosok tubuh berlumuran darah melangkah terseok-seok menaiki Lereng Gunung Salaka. Pakaian yang dikenakan sobek di sana-sini, akibat sayatan senjata tajam yang juga melukai kulit dan dagingnya. Rasanya hanya karena semangat baja saja yang membuatnya mampu bertahan hidup sampai saat itu.

Duggg! Duggg! Brukkk...!

Setelah menggedor pintu gerbang di hadapannya beberapa kali, orang itu pun ambruk. Kedua kakinya sudah tidak mampu lagi berdiri, dan merintih lirih. Dirasakan sakit pada luka-lukanya yang diderita. Dua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga pintu gerbang bergegas membukanya, ketika mendengar gedoran yang cukup keras tadi. Dan alangkah terkejutnya mereka mendapati sesosok tubuh yang berlumur darah tergeletak tak berdaya di depan pintu gerbang perguruan. Bergegas keduanya menghampiri dan membalikkan tubuh yang tertelungkup itu.

"Hei! Bukankah dia salah satu kawan kita yang bertugas membeli bahan makanan ke Desa Cikunir? Kemana yang lainnya? Apa yang terjadi pada mereka?!" seru salah seorang penjaga itu. Wajahnya diliputi ketegangan.

"Sudahlah, jangan banyak tanya dulu! Cepat laporkan hal ini kepada Guru Besar! Lihatlah! Luka-lukanya parah sekali. Mungkin ia tidak bisa bertahan terlalu lama. Cepat, beritahukan kepada Guru Besar!" teriak penjaga yang satunya lagi. Hatinya juga diliputi kecemasan. Dia memang merasa khawatir kalau-kalau orang itu sudah tewas, sebelum sempat menceritakan kejadian yang dialaminya.

Bagai dikejar setan, salah seorang dari dua penjaga itu melesat meninggalkan tempat itu menuju bangsal utama perguruan. Tentu saja kelakuannya yang di luar kebiasaan itu, mengundang perhatian murid-murid lainnya. Hal ini memang menjadikan mereka bingung, dan hatinya diliputi keheranan.

"Hei, berhenti! Ada apa ini?! Mengapa berlari bagai di kejar setan? Apa yang telah terjadi?! Cepat katakan!" seru seorang murid tingkat empat tiba-tiba sambil menghadang perjalanan penjaga itu.

"Kakang, di depan pintu gerbang ada salah seorang murid yang terluka parah. Dan aku tidak tahu kenapa. Aku harus cepat-cepat melaporkan hal ini kepada Guru Besar! orang itu sepertinya sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi!" lapor penjaga itu dengan napas tersengal-sengal.

"Baiklah kalau begitu. Cepat kau menghadap Guru. Aku akan memeriksanya terlebih dulu." Setelah berkata demikian, orang yang dipanggil kakang itu berkelebat menuju pintu gerbang. Gerakannya cepat sekali, seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh permukaan tanah. Dan dalam waktu singkat saja dia telah tiba di tempat sosok tubuh yang membujur tak berdaya.

"Ayo, semua ke pinggir! Jangan merubung seperti itu," teriak murid tingkat empat itu ketika melihat di depan pintu gerbang telah dipenuhi murid yang berdesak-desakkan ingin menyaksikan kejadian itu.

Mendengar suara teriakan keras, murid yang berdiri bergerombol seketika buyar untuk memberi jalan kepada salah seorang kakak seperguruan mereka yang baru tiba itu. Namun mereka hanya bergeser sedikit, tanpa berniat meninggalkan tempat. Tentu saja hal ini membuat tokoh tingkat empat yang baru datang tadi menjadi berang.

"Hei! Ayo, semuanya kembali ke tempat masing-masing! Atau kalian ingin dihukum, hah!"

"Ampun, Kakang...!" seru murid-murid perguruan itu. Yang kemudian bergegas meninggalkan tempat tanpa menoleh lagi.

Tanpa buang-buang waktu lagi tokoh tingkat empat Perguruan Gunung Salaka itu segera memeriksa keadaan murid yang terluka parah tadi. Hatinya menjadi terkejut, ketika mendapati luka-luka akibat pukulan-pukulan yang cukup kuat. Apalagi ditambah sayatan senjata tajam yang memenuh seluruh tubuh adik seperguruannya itu. Cepat-cepat dilakukan totokkan di beberapa bagian tubuh yang penuh luka, ketika mendengar suara mengorok dari kerongkongan tubuh yang tergeletak itu. Pertanda bahwa nyawanya akan meninggalkan raga.

"Hkkkhhh... huaaakkk...!" segumpal darah kental yang menyumbat kerongkongannya terlompat keluar ketika beberapa bagian tubuhnya ditotok kakak seperguruannya. Dan beberapa saat kemudian, orang itu pun membuka kedua matanya pelahan-lahan.

"Cepat, katakan. Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?" tanya tokoh itu dengan suara tegang.

"Algojooo.... Ghununghhh.... Sutraaa... akkkhhrrr...!" setelah berkata susah payah, orang itu pun menghembuskan napasnya yang terakhir di atas pangkuan salah seorang kakak seperguruannya.

"Gunung Sutra!" gumam tokoh tingkat empat itu sambil memandang salah satu penjaga pintu gerbang yang juga ikut mendengar perkataan terakhir kawannya.

"Kakang, bukankah Perguruan Gunung Sutra adalah sebuah perguruan yang besar dan terhormat. Mengapa mereka begitu tega melakukan pembunuhan sekejam ini kepada perguruan kita?" tanva penjaga pintu gerbang itu heran.

"Entahlah! Rasanya mustahil kalau perbuatan ini dilakukan perguruan itu. Tapi ucapan orang yang sekarat, tidak mungkin bohong! Ahhh! Sebaiknya, hal ini harus dilaporkan dulu kepada Guru Besar. Biarlah Guru yang memutuskannya nanti!"

"Apa yang harus kuputuskan, Santiaji?" tiba-tiba terdengar suara yang berat dan berwibawa. Dan sebelum gema suara itu hilang, di samping mereka telah berdiri Guru Besar mereka, ki Sukma Kelana.

"Guru!" seru keduanya sambil berlutut di hadapan guru besar mereka.

"Hm, bangkitlah kalian. Ceritakan, apa yang sudah terjadi?" tanya Ki Sukma Kelana kepada tokoh tingkat empat yang ternyata bernama Santiaji. Hanya dengan sekilas pandang saja, guru besar Perguruan Gunung Salaka itu sudah mengetahui bahwa murid yang diceritakan penjaga tadi sudah tidak bernyawa lagi.

"Ampun, Guru. Kami pun tidak tahu pasti kejadiannya, Dan mayat ini adalah salah seorang dari tujuh murid perguruan yang bertugas membeli bahan-bahan keperluan di Desa Cikunir. Dia kembali seorang diri dalam keadaan terluka parah. Sedangkan yang enam murid lainnya, sampai saat ini belum kembali, Guru!" lapor Santiaji dengan panjang lebar.

"Lalu, apakah pada saat-saat terakhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa? tanya Ki Sukma Kelana lagi sambil menunjuk mayat muridnya itu.

"Ada, Guru. Dia memang mengatakan sesuatu. Tapi...," Santiaji tidak berani meneruskan ucapannya.

"Tapi apa, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana, heran.

"Em, anu, Guru! la... ia mengatakan, semua... semua itu adalah perbuatan Perguruan Gunung Sutra, Guru!" jelas Santiaji kemudian menunduk hormat.

"Hm. Benarkah yang kudengar ini, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana dengan wajah gelap.

"Apakah mungkin mereka melakukan perbuatan sekejam ini kepada kita?!"

"Benar, Guru! Memang demikianlah yang dikatakannya. Aku pun ikut mendengarkan, Guru!" jawab penjaga pintu gerbang yang tadi ikut mendengarkan bersama Santiaji.

"Hhh...," Ki Sukma Kelana hanya menarik napas panjang, setelah mendengar pernyataan yang menguatkan laporan Santiaji itu. "Sudahlah. Sekarang urus mayat itu baik-baik. Dan jangan menceritakan kejadian ini kepada siapa pun. Santiaji, kau ikut aku!" Setelah berkata demikian, Ki Sukma Kelana segera meninggalkan tempat itu.

"Baik, Guru!" ujar Santiaji, yang segera melangkah mengikuti Pimpinan Perguruan Gunung Salaka itu. Sepeninggal tokoh-tokoh perguruan itu, beberapa orang murid yang berada tak jauh dari tempat kejadian segera dipanggil oleh penjaga pintu gerbang uniuk menjalankan perintah guru besar mereka.

********************

TIGA

Hari masih sangat pagi, ketika lima orang murid yang bertugas mengambil air di Lereng Gunung Salaka itu menemukan beberapa manusia yang telah menjadi mayat! Mayat-mayat itu seolah-olah sengaja diletakkan di pinggir sungai tempat biasanya mengambil air. Setelah meneliti mayat yang ternyata berjumlah enam orang itu, kelima orang murid Perguruan Gunung Salaka tersentak mundur diiringi wajah pucat. Memang, mereka kenal betul, bahwa mayat-mayat itu tidak lain adalah kawan seperguruan mereka sendiri.

"Kalian berdua cepat naik ke atas. Laporkan hal ini kepada Guru Besar. Cepat...!" perintah salah seorang dari mereka.

Dua orang yang mendapat perintah itu, yang semula hanya berdiri terpaku tanpa sanggup mengeluarkan suara. Akhirnya dapat pula bersuara. "Baiklah. Kami akan segera kembali secepatnya!" jawab salah seorang setelah tersadar. Dan tanpa di perintah dua kali, kedua orang itu segera melesat meninggalkan tiga orang kawannya yang menunggu di tempat itu. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka tidak lama kemudian dua orang itu sudah kembali disertai dua orang tokoh tingkat empat yang salah seorang di antaranya adalah Santiaji.

"Kakang, apa yang terjadi terhadap mereka?" tanya salah seorang yang tadi menunggui mayat-mayat itu. Di wajahnya tergambar kegelisahan dan kemarahan.

"Entahlah. Aku tidak tahu, siapa yang telah membunuh mereka? Dan apa maksudnya meletakkan mayat-mayat itu di sini!" jawab Santiaji yang masih ingin menyembunyikan persoalan yang sedang dihadapi Perguruan Gunung Salaka.

"Tapi, kesalahan apa yang telah mereka perbuat, Kakang? Bukankah mereka adalah murid-murid yang ditugaskan untuk membeli bahan-bahan makanan ke desa terdekat?" tanya yang lainnya mendesak. Memang mereka merasa tidak puas atas jawaban Santiaji tadi.

"Ahhh, sudahlah! Lebih baik, sekarang bawa mayat-mayat itu ke atas, agar Guru Besar dapat memeriksanya! Ayo, cepat!" perintah Santiaji yang mencoba mengelak dari pertanyaan adik seperguruannya itu.

Tanpa membantah lagi, lima murid tadi dengan dibantu oleh beberapa kawannya segera mematuhi perintah kakak seperguruannya itu. Karena mayat-mayat itu masih baru, jadi mereka tidak merasa jijik untuk membawanya.

Ki Sukma Kelana termenung di hadapan tujuh mayat muridnya itu, di halaman Perguruan Gunung Salaka. Wajah orang tua yang biasanya selalu tenang, kini menjadi muram. Kemarahan mulai terbayang diwajah tuanya. Rupanya kali ini hatinya benar-benar terpukul atas kematian murid-muridnya itu. Namun meskipun demikian, Ki Sukma Kelana masih berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahannya. Hanya, di matanya sekilas terlihat kilatan cahaya kemerahan yang membuat hati orang-orang yang memandangnya tergetar. Namun, tidak demikian sikap yang ditujukkan Ki Surya Kencana. Orang kedua dari Gunung Salaka itu sudah tidak dapat menyembunyikan kemarahannya lagi. Tubuhnya sampai menggigil karena menahan amarah yang telah memenuhi rongga dadanya.

"Heaaattt...!" Tiba-tiba tubuh Ki Surya Kencana melesat cepat bagai kilat ke arah sebuah pohon besar yang berjarak sekitar lima batang tombak darinya. Tangan kanannya berkelebat cepat ke arah batang pohon besar itu. Dan....

Kraaakkk.... Gusraaakkk...!

Pohon sebesar badan kerbau itu kontan patah, kemudian tumbang dengan menimbulkan suara bergemuruh. Hebat sekali tenaga sakti orang tua itu. Entah apa jadinya kalau yang menjadi sasaran telapak tangannya adalah tubuh manusia. Ngeri rasanya untuk membayangkannya.

Para murid Perguruan Gunung Salaka yang menyaksikan kehebatan pukulan Ki Surya Kencana itu, hanya terbelalak kagum sambil berdecak. Memang selama berdiam di Gunung Salaka, baru kali inilah mereka dapat menyaksikan kehebatan orang tua itu.

"Maafkan aku, Kakang! Bukan maksudku untuk memamerkan, kekuatan di depan murid-murid. Sebab kalau tidak kutumpahkan kemarahanku, bisa-bisa kepalaku pecah dibuatnya. Aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk bersabar, Kakang! Oleh karena itu, ijinkanlah aku kembali untuk mencari pembunuh biadab itu!" ujar Ki Surya Kencana kepada kakak seperguruannya, penuh harap. Dia memang pernah mencari si pembunuh, namun hasilnya sia-sia. Maka, diputuskanlah untuk kembali ke perguruan. Dan kini, Ki Surya Kencana masih belum punya bukti-bukti yang jelas.

Ki Sukma Kelana yang merasa maklum akan kemarahan adik seperguruannya itu hanya tersenyum penuh kesabaran. Ia tahu betul watak adiknya. Meskipun ia tidak mengijinkan adik seperguruannya itu pergi, pastilah Ki Surya Kencana akan pergi secara diam-diam.

"Baiklah, Adi! Kali ini kau kuijinkan kembali untuk pergi menyelidikinya. Tapi ingat. Jangan menurunkan tangan kejam pada sembarang orang. Kendalikan hawa amarahmu, jangan sampai membuat persoalan baru lagi!" pesan Ki Sukma Kelana yang akhirnya terpaksa mengalah kepada adik seperguruannya itu.

"Terima kasih, Kakang. Aku pergi dulu," ucap Ki Surya Kencana bersemangat. Tubuh orang tua sakti itu berkelebat cepat, seolah-olah pandai menghilang saja.

"Hati-hati, Adi!" seru Ki Sukma Kelana memperingatkan. Suaranya terdengar melengking tinggi karena didorong tenaga dalam yang kuat. Bahkan gema suaranya terdengar sampai sedemikian jauhnya.

"Bagaimana dengan kami, Guru? Apakah kami harus berdiam diri saja, melihat keadaan perguruan yang sedang dalam kemelut itu?" tanya Santiaji yang merupakan tokoh tingkat empat di Perguruan Gunung Salaka. Pertanyaan bernada penuh permohonan.

"Betul, Guru. Berilah kami tugas. Dan akan kami jalankan sebagai mana yang diperintahkan!" pinta yang lain lagi. Tingkatannya dalam perguruan ini sama dengan Santiaji.

"Baik! Tanpa kalian minta pun sebenarnya sudah kupersiapkan sebuah tugas untuk kalian berdua," ujar Ki Sukma Kelana yang merasa maklum akan perasaan kedua orang murid kepalanya tersebut Yang ingin segera mencari biang keladi dari kemelut yang tengah mereka hadapi.

"Tugas yang akan kuberikan kepada kalian adalah pergi ke Desa Cikunir. Di sana tanyakanlah kejadian yang sebenarnya kepada penduduk setempat. Dan ingat! Dalam melakukan penyelidikan, lakukanlah penyamaran. Hal ini agar tidak mudah dikenali musuh-musuh kita. Dan juga, kalian harus berangkat pada malam hari untuk menghindari intaian musuh! Karena, kita tidak mengetahui siapa dan di mana musuh-musuh yang sebenarnya. Kalian mengerti maksudku?"

"Mengerti, Guru!" jawab keduanya serempak.

"Nah! Kalau begitu, sekarang uruslah dulu mayat-mayat ini sebagaimana mestinya. Baru setelah itu, kalian bisa mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penyamaran nanti. Nah, aku pergi dulu!" ujar Ki Sukma Kelana sambil melangkah meninggalkan tempat itu.

"Terima kasih, Guru...!" jawab keduanya lagi sambil berlutut memberi hormat, diikuti murid-murid lainnya yang juga masih di tempat itu.

Sepeninggal Ki Sukma Kelana maka mulailah mereka mengurus mayat keenam orang kawan seperguruannya itu. Sedangkan Santiaji dan teman setingkatnya bergegas kembali ke kamar untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam melakukan tugas yang diberikan guru besarnya itu.

********************

EMPAT

Kehangatan sinar matahari pagi menyertai langkahnya memasuki perbatasan sebuah desa. Meskipun usianya sudah tua, namun langkah kakinya teriihat ringan dan mantap. Tubuhnya tegap dan sehat, pertanda orang itu selalu memperhatikan kesehatan. Pakaiannya yang terbuat dari kain kasar berwarna putih itu, disatukan dengan celana hitam. Maka penampilan orang tua itu menjadi terlihat sederhana. Siapa lagi kalau bukan Ki Surya Kencana yang sedang dalam penyelidikan atas pembantaian beberapa murid Perguruan Gunung Salaka.

Ki Surya Kencana juga sengaja melakukan penyamaran agar kehadirannya dalam dunia persilatan tidak mudah dikenali orang. Sudah hampir seminggu melakukan penyelidikan, namun yang ditempuh masih tetap gelap. Sama sekali belum ditemukan tanda-tanda tentang si pembunuh sedikit pun. Tapi berkat semangatnya yang tinggi, Ki Surya Kencana tetap meneruskan pencarian. Orang kedua di Perguruan Gunung Salaka itu melangkahkan kakinya menuju sebuah kedai makan yang terletak di tepi jalan utama desa itu. Hatinya merasa lega ketika di dalam kedai makan tidak terlalu banyak pengunjung. Dihampirinya sebuah meja yang terletak dekat jendela. Dengan demikian dia dapat memandang bebas keluar. Ki Surya Kencana menggerakkan tangannya memanggil pelayan, dan memesan beberapa jenis makanan dan minuman.

Tidak lama, pelayan yang dipanggil kembali kemejanya dengan membawa beberapa makanan dan minuman. Kemudian segera disantap makanannya dengan pelahan. Di dalam kedai, ada juga beberapa orang juga tengah menyantap makanan. Semula tidak dipedulikan sama sekali obrolan orang-orang yang sedang mengisi perut itu. Tapi, mendadak wajahnya berubah ketika mendengar cerita dua orang yang berada di seberang mejanya.

"Bayangkan! Siapa yang tidak gemetar bila melihat sesosok mayat yang keadaannya sangat mengerikan itu! Entah binatang buas jenis apa yang begitu ganas menyiksanya. Sampai-sampai anggota tubuhnya terpisah-pisah! Hiii! Mengerikan sekali!" tutur salah seorang.

Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian Ki Surya Kencana. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera ditinggalkan mejanya untuk menghampiri meja dua orang yang tengah bercerita. Dengan langkah yang dibuat-buat, segera didekati dua orang itu.

"Selamat pagi, Kisanak," sapa Ki Surya Kencana, sambil menganggukkan kepalanya. "Aku tertarik dengan ceritamu tadi. Hm, bolehkah aku ikut mendengarkannya?"

"Selamat pagi! Silakan..., silakan!" jawab kedua orang itu, dengan senyum ramah.

"Ceritamu tadi sungguh menarik, Kisanak Mmm, dimanakah engkau melihat mayat yang sedemikian mengerikan itu?" tanya Ki Surya Kencana penuh minat Wajahnya begitu bersungguh-sungguh.

Sebagaimana sifat manusia pada umumnya, kedua orang itu pun senang jika ceritanya menarik perhatian orang lain. Dan dengan suara yang dibuat-buat, orang itu lalu menceritakan pengalamannya kepada Ki Surya Kencana. Laki-laki setengah baya itu mendengarkan dengan wajah berseri-seri.

"Karena kami berdua adalah pedagang keliling, maka banyak mengetahui atau menemukan peristiwa yang sedang terjadi saat ini," jelas orang itu penuh kebanggaan.

"Jadi, pembunuh seperti itu sedang mewabah di sekitar sini?" tanya Ki Surya Kencana lagi, meminta kepastian.

"Benar! Bahkan dua hari yang lalu, di Desa Karang Gempal ini seorang pemuda berumur empat belas tahun lenyap tanpa jejak. Dan pada keesokan paginya, seorang pencari kayu menemukan sesosok mayat yang masih baru. Namun tubuh si mayat sudah hampir tak berdaging. Rupanya binatang itu merasa kekenyangan sehingga tidak menghabiskan santapannya itu," tutur orang itu wajahnya menggambarkan kengerian yang amat sangat.

"Wah, sungguh berbahaya kalau begitu," desah Ki Surya Kencana yang juga memasang wajah kengerian, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Ha ha ha...! Jangan takut, Kisanak hewan itu hanya memilih daging-daging yang masih segar saja, jadi tidak perlu khawatir," hibur keduanya. Hati mereka merasa geli melihat wajah orang tua itu yang mendadak pucat

"Ah, syukuriah kalau begitu. Sekarang lebih baik aku pergi saja. Sungguh aku menjadi semakin ngeri mendengar ceritamu, Kisanak. Mari," ujar Ki Surya Kencana meminta diri.

Setelah membayar harga makanan serta minumannya terlebih dahulu, orang tua itu pun bergegas meninggalkan kedai makan. Kepergiannya diiringi gelak tawa dua orang pedagang keliling tadi. Sesampainya di luar kedai, Ki Surya Kencana segera berkelebat menuju keluar Desa Karang Gempal. Dia berminat memeriksa ke sekeliling perbatasan desa itu. Siapa tahu di sana dapat menemukan sedikit petunjuk, atau pun tanda-tanda yang akan membawanya kepada pembunuh biadab itu.

Setelah cukup lama berkeliling, tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara yang mencurigakan. Ki Surya Kencana semakin mempertajam indra pendengarannya, untuk memastikan arah suara yang mencurigakan itu. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menarik napas kecewa. Ternyata yang didengarnya adalah suara langkah kaki manusia yang terdengar lambat dan berat.

"He he he...! Rupanya cacing-cacing di dalam perutku sudah mulai kelaparan lagi," terdengar suara orang berbicara.

Tiba-tiba muncul sosok tubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Dielus-elus perutnya yang gendut, sambil bergumam sendirian. Entah mengapa tahu-tahu saja orang itu meludah kekiri-kekanan dengan cuping hidungnya bergerak-gerak seolah-olah mengendus sesuatu.

"Huh! Bau daging alot! Bau daging alot!" teriak sosok tubuh itu berkali-kali.

Ki Surya Kencana yang bersembunyi di balik semak-semak merasa terkejut sekali mendengar umpatan orang tinggi besar, "Gila! Manusia ini tajam sekali penciumannya. Seperti binatang pemakan daging saja layaknya," pikir Ki Surya Kencana.

"Hei! Keluar kau, kakek peot! Baumu memualkan perut, tahu!" teriak orang tinggi besar itu. Suaranya begitu serak menakutkan.

Ki Surya Kencana merasa panas perutnya mendengar sumpah yang dilontarkan orang yang berwajah menyeramkan itu. Dengan langkah bagaikan orang lemah, Ki Surya Kencana segera keluar dari tempat persembunyian. Ia sengaja berbuat demikian agar reaksi orang itu terpancing.

"Hm, mengapa kau bersembunyi di balik semak-semak itu?! Apakah sengaja memata-mataiku? Jawab, peot! Jangan sampai kurobek-robek mulutmu yang sudah mulai ompong itu!" bentak orang tinggi besar, yang tak lain adalah Gandaruwo Hutan Jagal.

"Oh. Tidak..., tidak! Aku... aku hanya tersesat," jawab Ki Surya Kencana, pura-pura gugup. Hatinya sudah mulai menduga tentang orang yang berada di hadapannya. Namun, ia tidak ingin bertindak sebelum dapat memastikan bahwa orang tinggi besar itulah yang dicari.

"Hm, untung aku sedang tidak berselera untuk membunuh. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan merobek-robek tubuh peotmu itu. Hayo, pergilah sebelum pikiranku berubah!" dengus orang itu sambil mengibaskan tangannya, secara pelahan dan sembarangan.

Namun, Ki Surya Kencana yang berdiri sejauh dua tombak dari orang itu, menjadi terkejut sekali. Dirasakannya sambaran angin kuat yang ditimbulkan gerakan sembarangan tadi. Dengan wajah seolah-olah tidak menyadari adanya bahaya, Ki Surya Kencana segera mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya dari serangan itu. Ketika sambaran angin kuat itu tiba, Ki Surya Kencana cepat mengendorkan kedua kakinya. Maka tak ayal lagi, tubuh orang tua itu terdorong dan jatuh bergulingan sejauh tiga tombak. Dan dengan pura-pura susah payah, Ki Surya Kencana berusaha bangkit berdiri.

"He he he.... Orang tua peot yang lemah dan menjemukan, huh!" dengus orang itu. Setelah berkata demikian, Gandaruwo Hutan Jagal itu melangkah pergi. Tidak dipedulikannya lagi Ki Surya Kencana yang masih pura-pura terhuyung.

Ki Surya Kencana masih belum dapat memastikan siapa sebenarnya orang yang bertubuh tinggi besar dan menyeramkan itu, juga tidak ingin memperpanjang urusan. Maka ketika Gandaruwo Hutan Jagal melangkah pergi, hanya didiamkan saja. Tapi yang jelas dia berniat menguntit orang yang mencurigakan itu dari kejauhan.

Mendadak kening orang tua itu berkerut dan wajahnya menegang, ketika secara samar-samar teringat akan seorang tokoh golongan hitam yang ciri-cirinya mirip dengan orang tinggi besar itu. Dengan kecepatan kilat, tubuhnya pun segera berkelebat ke arah Gandaruwo Hutan Jagal itu pergi.

"Kisanak, pelahan sedikit...!" seru Ki Surya Kencana ketika sudah melihat orang yang bertubuh tinggi besar itu.

Mendengar seruan itu, Gandaruwo Hutan Jagal segera menghentikan langkahnya. Hatinya jadi heran ketika melihat orang yang berteriak itu adalah tubuh tua yang tadi dibuatnya terpelanting. Selintas terpancar hawa maut dari sepasang sinar matanya yang semerah buah saga itu.

"Hhh! Apakah ingin mencari mampus, orang tua peot?! Berani benar kau menunda perjalananku!" ujar Gandaruwo Hutan Jagal dengan suara menggeram marah.

"Tunggu dulu, Kisanak. Aku hanya ingin bertanya sedikit!" jawab Ki Surya Kencana tenang. Namun sorot matanya terlihat tajam dan berpengaruh.

"Huh! Apa yang ingin kau tanyakan?! Cepat katakan!" kata Gandaruwo Hutan Jagal tak sabar. Sekejap tadi hatinya sempat terkejut melihat sinar mata yang tajam menusuk dari orang tua yang dianggap remeh itu. Namun karena ketinggian hatinya, maka tidak dipedulikannya.

"Hm.... Kalau mata tuaku tidak salah lihat, Kisanak pastilah yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal. Benar?" tanya Ki Surya Kencana. Pandangan matanya seperti menyelidik.

"Ha ha ha.... Memang tidak salah, peot! Akulah yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal. Lalu, apa maumu?i" jawab Gandaruwo Hutan Jagal penuh kesombongan.

Tapi memang demikian kebiasan tokoh-tokoh golongan hitam, yang selalu merasa bangga apabila namanya sudah dikenal orang.

"Dan aku pun sudah pula mengenal kebiasaanmu yang suka memakan daging manusia itu. Satu lagi pertanyaanku. Pemahkah kau berkeliaran di sekitar Gunung Salaka pada dua minggu yang lalu?" tanya Ki Surya Kencana dengan wajah yang mulai menegang. Sengaja dia memancing dengan pertanyaan itu untuk menuju kepada pokok persoalan yang sesungguhnya.

"He! Apa maksudmu, orang tua peot! Dan apa hubunganmu dengan Perguruan Gunung Salaka? Hm..., nanti dulu! He he he..., sekarang aku ingat. Bukankah kau yang berjuluk si Tangan Pedang? Tidak salah lagi, kaulah orangnya!" tebak Gandaruwo Hutan Jagal. Wajahnya juga kelihatan menegang.

"Tidak salah penglihatanmu. Akulah Surya Kencana yang berjuluk si Tangan Pedang itu! Hm, Gandaruwo Hutan Jagal. Kalau kau bukan seorang pengecut, pasti mau mengakui perbuatanmu yang telah membantai lima belas orang pemuda secara kejam di hutan dekat Kaki Gunung Salaka dua minggu lalu! Apakah kau akan menyangkal?" tanya Ki Surya Kencana. Sengaja nada suara pada kata-kata 'Pengecut' diberikan tekanan agar reaksi Gandaruwo Hutan Jagal terpancing. Namun demikian, hatinya dibuat setenang mungkin.

Memang pada umumnya tokoh-tokoh golongan hitam, paling tabu dengan kata-kata pengecut. Masalahnya, mereka rata rata memiliki hati sombong dan paling suka menonjolkan kekejamannya. "Hm, jadi kau sengaja turun gunung untuk mencariku, orang tua peot? He he he.... Memang sudah lama ingin kurasakan ketajaman tangan pedangmu! Nah! Kalau memang aku yang melakukannya, apa yang akan kau perbuat?" tantang Gandaruwo Hutan Jagal sambil bertolak pinggang. Sikapnya angkuh sekali.

"Hm. Kalau memang demikian, harus ikut aku ke Gunung Salaka untuk mempertanggungjawabkan perbuatan biadabmu itu!" kata Ki Surya Kencana bernada mengancam.

"He he he...! Lakukanlah kalau mampu, orang tua peot!" tantang Gandaruwo Hutan Jagal sambil memperdengarkan tawanya yang panjang.

"Hm. Bersiaplah kau, Gandaruwo Hutan Jagal! Hiaaattt..!" sambil berteriak mengguntur, tubuh Ki Surya Kencana meluncur deras. Kedua tangan berputar mencari sasaran yang mematikan.

Hebat sekali serangan yang dilakukan tokoh sakti dari Perguruan Gunung Salaka itu. Angin keras menderu-deru mengiringi putaran tangannya seolah menjadi banyak Dan tahu-tahu tangan kanannya me-nyembul keluar, menusuk ke arah tenggorokan Gandaruwo Hutan Jagal dengan kecepatan kilat.

Wuuusss...!

Gandaruwo Hutan Jagal mengetahui kelihaian lawan. Dikerahkan tenaganya menyambut serangan lawan. Dan merendahkan kakinya agak miring serta tangan kirinya cepat mengnakis tusukan tangan Ki Surya Kencana ke tenggorokannya itu.

Dukkk!

Terdengar benturan keras. Tubuh Ki Surya Kencana terpental. Namun dengan gerakan indah, tubuh orang tua itu berputar di udara empat kali. Dan mendarat di atas berumput. Hatinya terkejut, tangannya te-rasa bergetar ketika beradu dengan tangan lawan. Diam-diam dipujinya kekuatan tenaga sakti lawannya.

Demikian halnya Gandaruwo Hutan Jagal. Tubuhnya yang tinggi besar itu, terpelanting ketika menangkis serangan lawannya. Lengan kirinya yang digunakan untuk menangkis terasa linu dan nyeri. Gandaruwo Hutan Jagal merasa terkejut. Sama sekali tak disangka tenaga dalam lawannya sangat kuat. Bahkan mungkin lebih kuat daripada tenaganya.

"Gila! Tak kusangka tenaga orang tua itu demikian kuat," umpat Gandaruwo Hutan Jagal dalam hati.

Kedua kembali berhadapan sambil meneliti posisi lawan. Rupanya dalam pertemuan tenaga tadi masing masing sudah dapat mengukur kemampuan lawan. Sehingga kali ini keduanya teriihat lebih berhati-hati dalam melakukan serangan berikutnya.

"Hiaaattt!"

Dengan sebuah teriakan yang sember, Gandaruwo Hutan Jagal ,mencoba membuka serangan mendahului lawan. Kedua tangannya melakukan serangan secara bergantian, diiringi pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi. Angin tajam menderu-deru dan menyambar demikian kuat. Bumi di sekitar tempat pertarungan terasa bergetar, ketika tubuh tinggi besar itu berlompatan lincah dan cepat

Melihat lawannya sudah membuka serangan, maka Ki Surya Kencana tak tinggal diam. Kedua tangannya kembali berputar hingga menimbulkan suara mengaung ribut. Daun-daun pohon di sekitar pertarungan berguguran terianggar angin pukulan bertenaga dalam yang amat kuat. Dan sekejap saja keduanya segera terlibat sebuah pertarungan yang hebat dan sengit.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Hingga tanpa terasa pertarungan sudah mencapai jurus yang kedua puluh. Namun keduanya masih teriihat seimbang, dan tanpa mampu mendesak lawannya masing-masing. Sehingga, pertempuran semakin teriihat alot saja. Ki Surya Kencana berusaha mendesak lawannya lewat serangan-serangan yang gencar dan berbahaya. Setiap serangan di arahkan pada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawannya. Namun sampai sedemikian jauh, dia merasa masih belum perlu mengeluarkan ilmu andalannya, ilmu 'Tangan Pedang'. Dengan ilmu itu namanya menjadi terangkat dalam dunia persilatan pada dua puluh tahun lalu. Ilmu andalannya masih belum dikerahkan, karena sampai sejauh ini serangan-serangan lawan masih dapat diatasi.

Sementara itu, Gandaruwo Hutan Jagal semakin lama semakin merasa terkejut akan kelihaian lawannya yang sudah tua itu. Dengan susah payah berusaha dibalas serangan-serangan Ki Surya Kencana. Memang cukup ganas dan berbahaya. Kedua tangannya yang mengepal itu, menyambar-nyambar ganas ke bagian-bagian terlemah di tubuh lawannya.

Demikian pula dengan Gandaruwo Hutan Jagal. Seperti halnya Ki Surya Kencana, dia pun sampai sejauh ini belum mengeluarkan ilmu andalannya. Menurutnya, rasanya belum pernah mempergunakannya. Tempo pertarungan semakin lama semakin cepat. Sepuluh jurus kembali terlewat. Ketika menginjak jurus yang ketiga puluh empat, Gandaruwo Hutan Jagal tak sempat lagi menghindar dari tebasan sisi telapak tangan Ki Surya Kencana yang meluncur bagai kilat menuju lambungnya. Maka tahu-tahu saja tangan orang tua itu telah menghajar lambung sebelah kanannya.

Buuukkk!

"Uhhhkkk...!" lenguh Gandaruwo Hutan Jagal. Tubuh laki-laki tinggi besar itu terpelanting sejauh dua batang tombak lebih. Belum lagi, Gandaruwo Hutan Jagal menyadari apa yang terjadi, kembali datang serangan yang demikian cepat. Dan untuk menghindarinya lelaki seram itu langsung bergulingan menjatuhkan diri. Dan dengan gerakan gesit tubuhnya melenting berdiri, membentuk kuda-kuda kokoh.

Gandaruwo Hutan Jagal meringis merasakan pedih pada kulit lambungnya, yang terkena hantaman tangan lawan tadi. Biarpun pukulan itu cukup keras, namun sama sekali tidak mengakibatkan luka yang parah pada tubuhnya. Diiringi gerengan yang menggetarkan, Gandaruwo Hutan Jagal segera mencabut keluar senjatanya berupa gada yang terlihat berat. Dengan penuh kemurkaan, Gandaruwo Hutan Jagal memutar-mutar senjatanya di atas kepala hingga menimbulkan suara angin menderu-deru. Daun-daun dan ranting berterbangan terlanda putaran angin yang sangat kuat itu. Rupanya Gandaruwo Hutan Jagal telah mengeluarkan jurus andalan 'Putaran Angin Puyuh', yang terkenal kehebatannya.

Melihat lawannya sudah mulai mengeluarkan ilmu andalan, Ki Surya Kencana pun tidak ingin berbuat ceroboh. Kehebatan ilmu itu pernah didengarnya. Maka segera digerakkan tangannya secara bersilangan, sehingga terdengar suara berdesing keras. Padahal gerakan orang tua itu sepertinya tidak terlalu cepat Namun, desingan angin tajam yang ditimbulkan telah mampu membuat permukaan kulit lawan terluka. Memang betapa ampuhnya ilmu yang bernama 'Tangan Pedang' itu. Bahkan ketajamannya tidak kalah dengan sambaran pedang yang tajam.

"Yeeeaaahhh...!"

Disertai teriakan yang menggetarkan jantung, tubuh Gandaruwo Hutan Jagal meluruk deras ke arah Ki Surya Kencana. Serangannya begitu dahsyat! Angin keras berputar dan menderu-deru menyertai luncuran gadanya yang besar dan berat itu.

Weeerrr...! Weeerrr...!

"Haiiit..!" Tubuh Ki Surya Kencana bergerak indah. Kakinya bergeser ke samping kanan sambil melepaskan sebuah tusukan yang menimbulkan suara mencicit tajam ke arah lambung kiri lawannya. Tusukan tangan kiri dengan jari-jari terbuka itu, demikian hebatnya. Apabila mengenai sasaran, maka dapat dipastikan tubuh lawan akan tertembus tak ubahnya tertusuk pedang. Memang, tusukan itu didorong oleh tenaga dalam yang tinggi.

Tentu saja Gandaruwo Hutan Jagal tidak membiarkan lambungnya ditembus jari-jari tangan lawan. Dengan egosan yang tidak kalah hebatnya, segera diputar tubuhnya sambil menghantam gada ke punggung Ki Surya Kencana.

Wuuuttt...!

Suara angin pukulan gada itu mengaung tajam. Kecepatannya hampir tidak teriihat mata biasa. Hebat sekali pukulan yang diiancarkan Gandaruwo Hutan Jagal itu. Jangankan tubuh manusia. Batu karang pun akan hancur berkeping-keping apabila terhantam!

Ki Surya Kencana cepat-cepat merendahkan tu buhnya, sehingga serangan lawannya lewat di atas ke pala. Dan sebelum Gandaruwo Hutan Jagal memperbaiki posisi, tiba-tiba tubuh Ki Surya Kencana melesat tinggi melewati kepala lawannya. Segera dilepaskan sebuah bacokan yang disertai tenaga dalam penuh dalam upaya membelah kepala lawan. Bukan main berbahayanya serangan laki-laki tua itu. Apalagi dilakukan secara mendadak. Sehingga untuk sesaat, Gandaruwo Hutan Jagal menjadi gugup. Buru-buru dilempar tubuhnya ke kiri.

Siiinnng!

Crattt!

"Aaakkk...!" Terdengar jerit melengking kesakitan yang keluar dari mulut Gandaruwo Hutan Jagal. Sambil memegangi kaki kirinya yang tersayat tebasan tangan lawannya, laki-laki seram itu meringis kesakitan. Rupanya walaupun dia mampu berkelit, namun tetap saja tebasan Ki Surya Kencana mengenai kaki kirinya. Darah pun langsung mengucur dari lukanya.

"Kurang ajar! Monyet tua! Rupanya kau benar-benar tidak bisa dikasih hati! Awas! Kulumat tubuhmu dan akan kumakan jantungmu, setan!" umpat Gandaruwo Hutan Jagal karena merasa kecolongan.

"He he he.... Jangan hanya bisa berteriak-teriak, gendut jelek! Ayo, buktikan ucapanmu!" ejek Ki Surya Kencana sambil tertawa.

"Setannn.... Iblisss...! Kubunuh, kau! Heaaattt...!" umpat Gandaruwo Hutan Jagal.

Selesai berkata demikian tubuh Gandaruwo Hutan Jagal melesat ke arah Ki Surya Kencana, melakukan serangan-serangan cepat dan berbahaya. Segera dia berputar beberapa kali di udara, disertai putaran gada yang menimbulkan suara menderu-deru. Dalam kemarahannya itu rupanya Gandaruwo Hutan Jagal telah mengeluarkan jurus-jurus terakhir dari ilmu 'Putaran Angin Puyuh'.

Ki Surya Kencana sempat terkejut melihat tubuh lawanya berputar di udara itu. Bahkan kadang-kadang melepaskan pukulan gadanya tanpa terduga. Diam-diam diakui kehebatan jurus lawannya. Namun, Ki Surya Kencana tidak dapat berpikir lebih jauh lagi. Karena pukulan-pukulan lawan yang berbahaya itu tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Dengan cepat, Ki Surya Kencana segera mengempos seluruh kekuatan tenaga saktinya. Dan tiba-tiba saja tubuh laki-laki tua itu bergerak sangat cepat. Kedua kakinya secara bergantian melakukan langkah-langkah yang sulit dan membingungkan. Sedangkan kedua tangannya bergerak-gerak, sukar diduga arahnya. memang hebat sekali jurus ilmu 'Tangan Pedang' tingkat terakhir yang diperlihatkan Ki Surya Kencana itu. Seolah-olah tubuhnya timbul tenggelam tertutup gerakan tangan yang luar biasa cepatnya itu.

Dalam sekejap saja keduanya kembali terlibat pertarungan yang lebih sengit dan mendebarkan. Masing-masing berkelebat sambil melepaskan serangan-serangan yang tidak terduga. Kadang-kadang tubuh mereka terpisah karena benturan-benturan tangan. Dan dalam beberapa saat saja, pertempuran telah berjalan tiga puluh jurus.

Gandaruwo Hutan Jagal bernafsu sekali untuk segera dapat menjatuhkan lawan. Serangannya semakin gencar dan berbahaya. Pukulannya yang mengandung tenaga dalam penuh, menyambar-nyambar di sekitar tubuh lawan. Hebat sekali serangan-serangan yang dilakukan tokoh hitam itu. Kalau saja bukan Ki Surya Kencana yang dihadapi, mungkin lawannya sudah tewas di tangan Gandaruwo Hutan Jagal yang lihai dan ganas itu.

Karena yang dihadapinya adalah lawan yang telah mewarisi hampir seluruh ilmu tinggi Perguruan Gunung Salaka, maka serangan-serangan Gandaruwo Hutan Jagal selalu kandas dan mengenai tempat kosong. Meskipun demikian, Ki Surya Kencana pun tidak mudah untuk menjatuhkan lawannya. Dia terus berusaha keras mendesak lawannya lewat serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya. Namun sampai sejauh itu. Lawan belum juga terdesak.

Sementara tanpa mereka ketahui pertarungan telah bergeser cukup jauh dari semula. Pertarungan yang semula berlangsung di daerah berumput, kini berpindah ke daerah berbatu-batu, di tepi sungai yang mengalir jernih. Batu-batu yang bertonjolan di permukaan tanah, melesak terkena jejakan kaki-kaki yang bertenaga dalam kuat.

"Heaaattt...!"

Memasuki jurus keempat puluh tujuh, Gandaruwo Hutan Jagal berteriak melengking tinggi. Tubuhnya yang tinggi besar itu meluruk deras, sejajar dengan permukaan tanah. Dia melakukan serangan dahsyat dam memarikan. Tangan kirinya dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah dua mata lawan. Sementara tangan kanannya yang memegang gada, berputar-putar menimbulkan suara mengaung keras. Rasanya tubuh Ki Surya Kencana siap dijadikan sasaran pukulan! Hebat dan ganas sekali serangan yang dilakukan Gandaruwo Hutan Jagal kali ini.

Ki Surya Kencana yang mengetahui serangan berbahaya itu, cepat menjatuhkan tubuhnya ke depan, dengan posisi terlentang. Dan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba kedua kakinya mencuat ke atas menghantam perut Gandaruwo Hutan Jagal. Laki-laki tinggi besar itu menjadi terkejut setengah mati karena tidak menduga bahwa lawannya akan melakukan serangan demikian. Karena tidak ada waktu untuk menghindar, Gandaruwo Hutan Jagal segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi perut dari tendangan itu.

Deeesss!

"Ouuugggh...!" lenguh Gandaruwo Hutan Jagal. Ternyata hantaman kedua kaki Ki Surya Kencana mendarat telak di perut laki-laki seram itu. Tubuh yang tinggi besar itu melambung ke udara, lalu jatuh di tanah dengan kerasnya sehingga menimbulkan suara berdebuk. Dari sela-sela bibirnya mengalir darah segar. Sambil membungkuk merasakan sakit pada perut, Gandaruwo Hutan Jagal berusaha bangkit dengan bertumpu pada gadanya. Walaupun tubuhnya limbung, tapi Gandaruwo Hutan Jagal berusaha berdiri tegak. Kembali dia bersiap menghadapi lawannya.

"Hm.... Manusia biadab, terimalah hukumanmu!" ancam Ki Surya Kencana. Setelah berkata demikian, Ki Surya Kencana kembali melancarkan serangan ke arah lawannya. Kedua tangannya bergerak cepat hingga menimbulkan suara mencicit tajam. Dan tiba-tiba saja tangan kirinya sudah meluncur ke ulu hati lawan.

Menyadari kalau tidak mungkin menghindar, Gandaruwo Hutan Jagal hanya berdiri tegak sambil menanti serangan lawan. Sedangkan tangan kanannya menggenggam gadanya erat-erat agar sewaktu-waktu dapat dihantamkan ke kepala lawannya. Licik sekali manusia iblis itu. Dalam keadaan terjepit, dia sengaja ingin mengadu nyawa. Ki Surya Kencana sempat merasa terkejut melihat lawannya tidak bergeming sedikit pun. Namun, untuk menarik pulang serangannya sudah tidak mungkin dilakukan. Serangannya itu memang sudah dekat sekali ke tubuh lawan.

Dan..... Jreeebbb! Wuuuttt!

Kraaakkk!

"Arrrggghhh...!"

"Aaahhhkkk...!"

Masing-masing orang yang tengah mengadu nyawa itu menjerit bareng dengan tubuh terhuyung-huyung. Rupanya pada saat jari-jari tangan kanan Ki Surya Kencana menembus tubuhnya, Gandaruwo Hutan Jagal membarengi dengan ayunan gada ke kepala lawan. Saat itu, Ki Surya Kencana tidak mempunyai waktu lagi untuk menghidar. Terpaksa diangkat tangan kirinya menyambut hantaman tersebut. Akibatnya, kini tulang lengan kirinya remuk terhantam gada yang berat dan mengandung tenaga kuat. Kedua orang itu sama-sama terpental balik ke belakang.

Ki Surya Kencana marah bukan main ketika mendapat kenyataan tulang lengan kirinya remuk. Dengan kemarahan meluap-luap, tubuh laki-laki itu meluncur deras ke arah Gandaruwo Hutan Jagal yang masih terhuyung-huyung sambil menekap ulu hatinya yang terluka itu. Maka seketika Ki Surya Kencana membabatkan tangan kanan ke leher lawan menggunakan ilmu 'Tangan Pedang'. Itu pun masih disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Gandaruwo Hutan Jagal yang sudah terluka hanya dapat memandang dengan mata membelalak ngeri. Rasanya sudah tidak mungkin lagi menghidar dari tebasan maut itu.

Siiinnng!

Craaakkk!

Terdengar suara bagaikan sebatang pedang menebas tulang. Tangan Ki Surya Kencana tepat menebas putus leher Gandaruwo Hutan Jagal itu. Darah langsung menyembur dari leher yang tanpa kepala itu. Tubuh tinggi besar tanpa kepala masih berdiri limbung, bergoyang-goyang ke kiri dan kanan. Ki Surya Kencana yang sudah diliputi amarah yang memuncak, segera menggerakkan kakinya menendang tubuh Gandaruwo Hutan Jagal.

Desss!

Tubuh tinggi besar tanpa kepala itu, terpental sejauh tiga tombak dan ambruk tanpa dapat bangkit lagi. Tamat sudah riwayat Gandaruwo Hutan Jagal yang sangat kejam dan buas di tangan Ki Surya Kencana. Tapi laki-laki tua itu harus mengorbankan tangan kirinya yang tak mungkin berfungsi lagi. Tokoh kedua Perguruan Gunung Salaka itu berdiri mematung, memandangi mayat Gandaruwo Hutan Jagal yang tewas menyedihkan.

Setelah menotok pangkal lengan agar darah berhenti mengalir, laki-laki tua itu pun melangkah meninggalkan bekas arena pertempuran. Biarpun harus kehilangan kirinya, namun Ki Surya Kencana tersenyum puas karena telah berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Hembusan angin terasa lembut silir-silir, mengiringi langkah Ki Surya Kencana yang akan kembali ke Gunung Salaka. Memang, untuk sementara tugasnya telah selesai.

********************

LIMA

Beberapa saat sepeninggal si Tangan Pedang atau Ki Surya Kencana, beberapa sosok tubuh berjalan ke arah bekas tempat pertempuran. Jumlahnya sekitar tiga belas orang. Wajah mereka rata-rata memancarkan sifat kejam dan licik. Masing-masing di pinggang tergantung sebatang pedang, yang menandakan bahwa mereka dari rimba persilatan. Dan kalau melihat dari tingkah dan penampilan, jelaslah bahwa ketiga belas orang itu dari golongan hitam. Tiba-tiba orang yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya seraya memandang berkeliling dengan kening berkerut. Rupanya hatinya merasa heran melihat keadaan di sekeliling yang teriihat porak-poranda itu.

"Hm.... Di tempat ini seperti baru saja terjadi pertempuran hebat. Entah, tokoh-tokoh mana yang telah bertarung di tempat ini. Kalau dilihat dari bekas-bekasnya, pastilah mereka bukan orang sembarangan?" ujar orang yang berjalan paling depan. Sepertinya dia merupakan pimpinan dari kedua belas orang lainnya. Mukanya kuning pucat, dan wataknya licik. Jadi, wajarlah kalau kaum rimba persilatan menjulukinya, Ular Muka Kuning.

"Betul, Ketua! Dan sepertinya pertempuran itu belum lama terjadi!" jelas orang yang berada di belakangnya, dengan wajah terheran-heran.

Si pemimpin yang berwajah kuning itu melangkah pelahan-lahan mengitari tempat bekas pertempuran tadi. Dan kerutan pada keningnya teriihat semakin dalam, ketika memperhatikan bekas-bekas pertempuran yang terus bergeser dari tempat semula.

"Hm, rupanya pertempuran itu semakin bergeser ke tepi sungai. Jelas pertempuran itu pasti berlangsung lama dan sangat seru," ujar Ular Muka Kuning semakin heran.

"Ketua, lihat! Di sini ada kepala manusia!" teriak salah seorang anak buahnya. Laki-laki berperawakan kekar itu juga ikut memeriksa sekitar daerah tepian sungai.

Orang yang dipanggil ketua dan berjuluk Ular Muka Kuning itu bergegas menghampiri salah seorang anak buahnya yang berteriak tadi. Dan matanya terbelalak seketika, karena dikenali betul kepala tanpa tubuh itu. Sejenak diedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Sikapnya benar-benar waspada. Namun ketika tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, laki-laki yang memiliki wajah kuning itu kembali menatap kepala tanpa tubuh.

"Gila! Siapa yang telah membunuh Gandaruwo Hutan Jagal ini? Hm, kalau orang itu telah mampu membunuh Gandaruwo Hutan Jagal, tentu kepandaiannya sangat hebat," gumam Ular Muka Kuning, pelan.

"Kalau melihat keadaan kepala tanpa tubuh ini, pastilah orang yang telah membunuhnya belum pergi terlalu jauh. Mari kita kejar!"

Setelah berkata demikian, Ular Muka Kuning segera melesat, diikuti dua belas orang anak buahnya.

Ketiga belas orang itu terus berlari menuju arah Selatan. Sebentar-sebentar sang ketua yang berjuluk Ulang Muka Kuning menghentikan langkahnya seraya memandang berkeliling. Setelah memastikan arah yang dituju, kembali dilanjutkan pengejaran. Mulutnya seketika tersenyum saat dari kejauhan dilihatnya sosok berpakaian putih yang berlari sambil memegangi tangan kirinya.

"Hei, tunggu!" teriak Ular Muka Kuning ketika jaraknya tinggal beberapa puluh tombak lagi.

Orang berbaju putih yang tak lain adalah Ki Surya Kencana tersentak kaget, ketika mendengar teriakan tadi. Untuk beberapa saat lamanya orang tua itu kelihatan ragu-ragu. Namun tetap dihentikan langkahnya dan menunggu kedatangan serombongan orang itu. Hati Ki Surya Kencana menjadi heran, karena merasa tidak pernah berurusan terhadap mereka.

"Hei, Orang Tua! Ke mana tujuanmu? Mengapa begitu terburu-buru?" tanya Ular Muka Kuning setelah dekat. Pandang matanya penuh selidik. Sedangkan hatinya menjadi curiga ketika melihat lengan baju sebelah kiri orang tua itu ada tetesan darah yang sepertinya masih baru.

"Oh! Aku..., aku hendak pergi ke desa sebelah untuk menengok cucuku yang sakit keras," jawab Ki Surya Kencana terpaksa berbohong. Dia tidak ingin mencari keributan tanpa sebab. Jawabnya pun dibuat gugup, agar penyamarannya tidak terbongkar.

"Hm.... Lengan kirimu kenapa, Orang Tua! Nampaknya seperti luka yang masih baru. Boleh kulihat?" tanya Ular Muka Kuning, semakin berani.

Dan sebelum Ki Surya Kencana merijawab. Laki-laki bermuka kuning itu sudah mengulurkan tangannya ke arah tangan kiri Ki Surya Kencana yang tergantung lumpuh itu. Orang kedua di Perguruan Gunung Salaka itu segera menggeser kakinya kebelakang sehingga tangkapan Ular Muka Kuning mengeriai tempat kosong. Dan tanpa disadari, hawa murni Ki Surya Kencana segera menyebar melindungi tubuhnya.

"Hm. Sudah kuduga! Kau pasti mempunyai sedikit kepandaian, Orang Tua! Kalau melihat luka di tanganmu, rasanya baru saja habis bertarung. Apakah tanganmu yang telah membunuh Gandaruwo Hutan Jagal?" tanya Ular Muka Kuning. Hatinya diliputi keraguan karena melihat penampilan orang tua itu yang sederhana.

"Benar! Akulah yang membunuhnya. Siapa kalian dan apa maksudnya menghadang perjalananku?" tegas Ki Surya Kencana seraya balik bertanya.

Sebagai seorang pendekar, dia memang tidak pernah kecut hatinya. Maka, dengan beraninya diakui segera perbuatannya terhadap Gandaruwo Hutan Jagal. Tapi, pengakuannya itu sama sekali bukan karena terdorong oleh kesombongan. Itu memang sudah jadi sifatnya, untuk tidak lari dari tanggungjawab terhadap segala perbuatannya.

"Hhh! Jangan besar kepala dulu, Orang Tua! Aku adalah sahabat Gandaruwo Hutan Jagal. Kau telah berhutang nyawa pada temanku. Maka aku harus menebusnya dengan nyawamu! Bersiaplah!" bentak Ular Muka Kuning, sambil menggeram.

"Tunggu dulu! Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Surya Kencana, heran.

"Hm. Kau pasti belum pernah mengenal orang yang berjuluk Ular Muka Kuning. Itulah julukanku! Sekarang, sebutkan namamu, agar kau tidak mati sia-sia!" bentak Ular Muka Kuning lagi. Hatinya memang diliputi kegeraman.

"Kalau kau belum kenal diriku, baiklah! Akulah Ki Surya Kencana! Nah! Kini aku sudah siap, Ular Muka Kuning!" tantang Ki Surya Kencana tidak kalah garangnya. Dia memang sudah bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.

"Eh, tunggu dulu! Rupanya kaulah yang berjuluk si Tangan Pedang dari Gunung Salaka?! Ha ha ha...! Ternyata julukanmu lebih terkenal daripada namamu sendiri. Bersiaplah untuk mampus, kakek peot!"

Setelah berkata demikian, Ular Muka Kuning segera menggerakkan tangannya. Murid-muridnya yang mengerrj isyarat itu serempak maju mengeroyok Ki Surya Kencana. Dengan teriakan-teriakan keras mereka segera membabatkan senjatanya ke arah orang tua yang berjuluk si Tangan Pedang. Terdengar berdesingan ketika senjata-senjata itu menyambar-nyambar ganas.

Ki Surya Kencana yang sudah menduga kalau tiga belas orang itu bukan orang baik-baik, segera bersikap waspada. Maka ketika musuh-musuhnya mulai menyerang, segera dikerahkan kelincahan kakinya untuk menghindari serangan lawan-lawannya. Namun sayang sekali gerakannya tidak selincah semula. Tentu saja, ini karena tangan kirinya yang telah lumpuh yang sangat mengganggu gerakannya. Sebentar-sebentar terlihat wajahnya menyeringai menahan rasa nyeri pada lukanya.

Melihat gerakan orang tua itu yang tersendat-sendat, Ular Muka Kuning segera melesat dan ikut maju mengeroyok. Akibatnya keadaan Ki Surya Kencana menjadi terdesak. Serangan Ular Muka Kuning menderu-deru mencari bagian-bagian yang mematikan. Ternyata dia memang cukup lihai. Pada suatu kesempatan, salah seorang pengikut Ular Muka Kuning menyabetkan pedangnya ke pinggang Ki Surya Kencana. Namun dengan gerakan ringan, orang tua itu segera menggeser tubuhnya. Maka, serangan itu hanya lewat tanpa mengenai sasaran. Dan sebelum orang itu menyadari keadaannya, tahu-tahu saja tangan Ki Surya Kencana cepat meluruk membelah dadanya.

"Aaakh!" Terdengar teriakan menyayat ketika bacokan tangan Ki Surya Kencana mengenai sasaran. Tubuh orang itu terjengkang dan tewas seketika dengan dada terbelah. Cepat-cepat Ki Surya Kencana menyambar senjata orang itu. Dan dengan gerakan indah, dia melompat. Tubuhnya berputar beberapa kali, kemudian mendarat ringan sejauh enam tombak dari lawan-lawannya.

"Aaakh!" Terdengar teriakan menyayat ketika bacokan tangan Ki Surya Kencana mengenai sasaran. Tubuh orang itu terjengkang dan tewas seketika dengan dada terbelah!

Ki Surya Kencana pun segera menyambar senjata orang itu, untuk memotong lengan kirinya yang tergantung lumpuh! Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan senjata rampasannya ke arah tangan kiri yang tergantung lumpuh itu.

"Crakkk!" Tangan kiri Ki Surya Kencana yang sudah lumpuh itu kini putus sebatas siku. Sambil menggigit bibir, orang tua itu menotok pangkal lengannya untuk menghentikan darah. Hal itu sengaja dilakukan, agar gerakannya tidak terganggu.

Pada saat itu Ular Muka Kuning sudah mencabut golok bergerigi, yang tergantung di pinggang. Langsung dilancarkan serangan cepat dan kuat. Angin tajam berdesing mengiringi serangannya. Ki Surya Kencana mengegoskan tubuhnya kesamping, menghindari serangan lawan. Untunglah! Serangan Ular Muka Kuning hanya mengenai tempat kosong. Tapi alangkah terkejutnya hati Ki Surya Kencana ketika golok besar bergerigi itu meliuk-liuk bagaikan ular hidup dan kembali mengancam tubuhnya. Cepat-cepat direndahkan tubuhnya sambil melepaskan sebuah tusukan yang cepat dan kuat.

Dan lagi-lagi Ki Surya Kencana terkejut, ketika melihat lawannya tidak mengelak mundur. Bahkan malah mencondongkan tubuhnya ke depan disertai liukan yang mengagumkan. Dengan demikian tusukan tangan orang tua itu luput. Sementara itu, para pengikut Ular Muka Kuning sudah kembali menyerbu. Dan memang lama-kelamaan Ki Surya Kencana mulai terdesak, oleh serangan lawan-lawannya yang semakin gencar. Diam-diam orang tua itu mulai merasa cemas terhadap keadaan yang tidak memungkinkan itu.

Sebenarnya, Ki Surya Kencana bisa terdesak bukan disebabkan kelihaian lawan. Kalau saja keadaan tubuhnya tidak seburuk ini, rasanya tidaklah sulit untuk menjatuhkan lawan-lawanya. Tapi, karena kelelahan akibat bertarung melawan Gandaruwo Hutan Jagal, tenaganya sudah terkuras. Itu pun masih ditambah dengan hilangnya tangan kiri. Jadi, wajarlah kalau keadaan Ki Surya Kencana benar-benar di bawah bayangan maut.

Memasuki jurus kedua puluh, kembali terdengar jeritan dua orang pengikut Ular Muka Kuning yang melengking. Tubuh mereka terpental, dengan luka menganga di perut dan lehernya. Jelas itu akibat tebasan ilmu 'Tangan Pedang' yang dimiliki Ki Surya Kencana. Maka, seketika kepungan lawan-lawannya agak mengendor. Rupanya mereka agak gentar juga melihat kelihaian laki-laki tua itu. Secara serentak mereka pun melompat mundur sambil mempersiapkan serangan berikut.

Untuk beberapa saat Ki Surya Kencana dapat bernapas lega. Namun tiba-tiba, tubuh orang tua itu bergoyang-goyang. Ternyata dari tangannya yang telah buntung itu, darah kembali mengalir deras. Rupanya totokan pada pangkal lengannya sudah terbuka, akibat terlalu banyak bergerak dan mengerahkan tenaga dalam secara berlebihan. Sehingga, keadaan orang tua itu semakin melemah.

"He he he.... Rupanya malaikat maut sudah tidak sabar menunggumu, tua bangka!" ejek Ular Muka Kuning. Rupanya dia telah membaca keadaan lawannya.

"Ayo, anak-anak! Kuras tenaga Orang Tua itu!" Setelah berkata demikian Ular Muka Kuning kembali menerjang lawan, diikuti sisa para pengikutnya. Maka pertarungan pun kembali berjalan sengit.

Kali ini Ki Surya Kencana benar-benar dibuat tidak berdaya. Setiap kali dia membalas serangan salah seorang lawan, namun Ular Muka Kuning selalu membokongnya dengan serangan dahsyat Hal ini membuat Ki Surya Kencana semakin marah dan penasaran. Menginjak jurus keempat puluh tiga, gerakan Ki Surya Kencana sudah tidak lincah lagi. Darah semakin banyak keluar dari lukanya.

Akibatnya, gerakannya pun kembali teriihat semakin lambat. Peluh telah membanjiri wajah dan tubuhnya. Kelelahan yang sangat terpancar di wajah tua itu. Namun meskipun demikian, dia masih berusaha untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Suatu kesempatan, Ular Muka Kurang menusukkan goloknya yang cepat bagai kilat ke arah lambung lawan. Angin sambaran goloknya berdesing tajam. Jelas, betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu.

Wuuuttt!

Ki Surya Kencana bergegas menggeser kedua kakinya hingga serangan itu luput. Dan ketika golok itu meliuk dengan gerakan lemas, Ki Surya Kencana cepat-cepat memapak ke arah pergelangan lawan.

Namun hatinya jadi kaget. Ternyata tiba-tiba Ular Muka Kuning menarik pulang tangannya sambil melepaskan tendangan kilat ke lambung Ki Surya Kencana. Orang tua itu berusaha memutar tubuh dan meng-gerakkan tangan menangkis tendangan lawan. Namun, sayang. Gerakannya sudah terlambat. Maka....

Buuukkk!

"Ouuuggghhh...!" lenguh Ki Surya Kencana. Tubuh laki-laki tua itu terjengkang ketika tendangan lawan mendarat telak di lambung kiri. Untuk sejenak dirasakan keadaan sekitarnya bergoyang-goyang. Ki Surya Kencana mendesis pelahan sambil mendekap lambungnya yang terasa nyeri dan ngilu. Untuk beberapa saat, hatinya merasa menyesal karena kehilangan tangan kiri. Kalau saja tidak kehilangan sebelah tangan tentu hal seperti ini tidak akan terjadi.

Ular Muka Kuning segera berteriak kepada anak buahnya untuk menyerbu Ki Surya Kencana yang telah terluka itu. Beberapa batang senjata langsung meluncur, mengancam tubuhnya. Dengan tangan masih menekap lambung, orang tua itu berusaha berkelit. Namun gerakannya yang lambat itu, sudah diduga Ular Muka Kuning. Maka dia segera menyambutnya dengan tebasan ke leher. Gerakannya cepat bukan main. Ki Surya Kencana melempar tubuhnya ke belakang untuk menghindari serangan lawan. Tapi sungguh tidak diduga kalau empat orang pengikut Ular Muka Kuning sudah menunggu dengan ujung ujung senjatanya. Laki-laki tua itu berusaha memutar tubuh sambil menusukkan tangannya.

Cappp! Brertt! Crakkk!

"Aaahhhkkk...!"

"Uhhhkkk...!"

Terdengar teriakan kesakitan dari seorang lawan. Tubuhnya terpelanting dan tewas dengan leher berlubang. Sedangkan tubuh Ki Surya Kencana melintir tersambar tiga buah senjata lawan. Orang tua itu jatuh terduduk, dan wajahnya langsung berubah pucat. Darah mengalir dari luka di dada dan punggungnya akibat sambaran pedang lawan.

"Ohhh Rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sayang, belum sempat kulaporkan keberhasilan tugasku, kepada Kakang Sukma Kelana," desah Ki Surya Kencana dengan wajah murung. Dengan susah payah, laki-laki tua itu berusaha bangkit berdiri. Pakaiannya yang berwarna putih itu, sudah dibasahi darah yang bercampur peluh. Keadaannya saat itu benar-benar menyedihkan. Namun, meskipun telah mendapat luka yang cukup parah, orang tua itu tidak ingin mati sia-sia.

"Hm. Sebelum ajal tiba, aku harus dapat membunuh mereka sebanyak-banyaknya!" tekad Ki Surya Kencana geram.

"He he he, peot! Sekarang, terimalah kematianmu!" ejek Ular Muka Kuning sambil tertawa terkekeh berkepanjangan.

Setelah berkata demikian Ular Muka Kuning segera menggerakkan tangan memberi isyarat kepada enam orang anak buahnya. Maka tanpa buang-buang waktu lagi mereka serempak berlompatan sambil membabatkan senjata ke tubuh lawan yang sudah hampir tidak berdaya itu. Enam buah senjata itu berkelebat sehingga menimbulkan suara berdesing.

Tubuh Ki Surya Kencana bergeser ke kanan, mencoba menghindari serangan enam buah senjata lawan. Dan langsung digerakkan tangannya ke punggung lawan terdekat. Tak ayal lagi orang itu terhantam kibasan tangan laki-laki tua itu. Tubuhnya terjungkal dengan luka memanjang di punggung.

"Bangsat! Rupanya setan tua ini masih berbahaya juga!" umpat Ular Muka Kuning dengan wajah merah padam. Dan dengan kemarahan yang meluap-luap dia segera melesat, menyerang dahsyat. Golok besarnya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan suara mengaung. Bagai ribuan ekor lebah yang sedang marah saja layaknya.

Ki Surya Kencana yang menyadari bahaya itu, berlompatan menghindari serangan dahsyat Ular Muka Kuning. Gerakan kakinya terlihat goyah, ketika melakukan lompatan-lompatan. Dengan pengerahan sisa-sisa tenaga, sesekali Ki Surya Kencana melepaskan serangan disertai ilmu 'Tangan Pedang'. Hanya saja sekarang tidak lagi seampuh semula, tapi cukup kuat untuk melukai kulit tubuh lawan.

Sayang sekali perlawanan Ki Surya Kencana tidak banyak membantu untuk menghadapi serangan-serangan ganas Ular Muka Kuning. Sehingga dalam beberapa jurus saja, Ki Surya Kencana sudah tidak dapat lagi memberi perlawanan berarti. Secara lambat tapi meyakinkan, Ular Muka Kuning mulai mendesak lawan disertai serangan yang mematikan. Ki Surya Kencana kini hanya mampu menghindar sambil bermain mundur. Sehingga ketika Ular Muka Kuning melakukan serangan ganda, Ki Surya Kencana tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Walaupun berusaha mengangkat tangannya untuk memapak, tapi gedoran telapak tangan lawan tetap saja lolos dan menghantam dada sebelah kiri.

Dheeesss!

Seketika Ki Surya Kencana terpelanting keras! Segumpal darah segar kontan menyembur dari mulutnya. Hantaman telapak tangan lawan memang benar-benar kuat. Laki-laki tua itu berusaha melompat bangkit, sambil menekap dadanya yang terasa panas dan sesak. Belum lagi tubuhnya sempat berdiri tegak, beberapa sosok bayangan berkelebat disertai suara desingan senjata.

Crasss! Brettt! Crattt!

"Aaarrrggghhh...!" jerit Ki Surya Kencana. Tubuh orang tua itu telah tertembus beberapa batang senjata. Darah kontan berhamburan dari luka-luka akibat tertembus senjata-senjata lawan. Tubuh Ki Surya Kencana terdorong dan terhuyung-huyung, seperti tak kuat lagi berdiri. Dan sebelum tubuhnya ambruk ke tanah, sebuah bayangan berkelebat cepat sambil menggerakkan senjata secara mendatar ke leher Ki Surya Kencana.

Siiinnng! Croookkk!

Dengan ganas golok besar bergerigi itu menebas putus leher Ki Surya Kencana. Darah segar kembali memancur dari luka di leher laki-laki tua yang telah buntung. Dan golok besar itu kembali berkelebat menembus ulu hati tubuh yang sudah tak berkepala itu. Seketika tubuh Ki Surya Kencana yang tanpa kepala itu ambruk ke tanah berumput hijau yang langsung berubah memerah oleh darah. Laki-laki tua tokoh sakti dari Perguruan Gunung Salaka kini tewas dalam keadaan sangat menyedihkan! Tubuhnya sudah hampir tidak berbentuk lagi. Di sana-sini terdapat bekas-bekas senjata tajam.

"Ha ha ha.... Orang-orang Gunung Salaka memang terlalu sombong! Kalian lihat nanti. Kami akan datang dengan membawa bencana! Ha ha ha...!” Ular Muka Kuning tertawa terbahak-bahak.

Hati orang berwajah kuning itu gembira bukan main, karena telah berhasil membunuh salah seorang tokoh utama perguruan yang sangat dibencinya itu. Memang,t itu sudah menjadi sifat tokoh golongan hitam yang selalu menganggap golongan putih sebagai manusia sombong. Bagi mereka, golongan putih adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Setelah puas dengan tawanya, Ular Muka Kuning dan delapan orang sisa anak buahnya bergegas meninggalkan tempat itu sambil memperdengarkan suara lawa yang berkumandang ke sekitarnya. Suasana ditempat itu kembali sepi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Sinar mentari yang semula memancar garang, mendadak meredup. Seolah-olah turut berkabung atas kematian Ki Surya Kencana di tangan orang-orang yang berjiwa binatang. Tiupan angin lembut telah merontokkan sehelai daun pohon yang menguning. Daun itu melayang-layang dan jatuh ke permuka bumi.

********************

ENAM

Hari baru menjelang sore. Dua orang laki-laki berjalan menyusuri jalan utama Desa Cikunir. Mereka adalah Santiaji dan Ranjita, dua orang tokoh tjngkat empat Perguruan Gunung Salaka. Keduanya memang tengah melakukan penyelidikan tentang kematian murid-murid Gunung Salaka yang misterius. Mereka baru saja meninggalkan rumah Kepala Desa Cikunir, untuk mencari keterangan tentang si pelaku. Menurut keterangan yang didapat dari warga dan kepala desa setempat, memang pernah terjadi bentrokan antara dua perguruan pada dua minggu yang lalu. Tapi kedua perguruan itu hanya bertengkar mulut dan tidak menjurus pada perkelahian. Apalagi sampai menimbulkan korban jiwa.

Seorang pemilik kedai yang tempatnya dijadikan arena pertengkaran mulut mengatakan, bahwa mungkin saja kedua belah pihak mengadakan perjanjian untuk bertemu di luar desa. Di sana mereka kemudian bertempur tanpa sepengetahuan penduduk desa. Dan dugaan itu bisa diterima Santiaji maupun Ranjita, tapi bukan berarti harus mempercayainya. Mereka harus menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu, setelah ilu barulah berani memastikan. Memang sebagaimana pesan guru, mereka harus berhati-hati dalam mengambil tindakan agar tidak sampai menimbulkan persoalan baru lagi.

Kedua orang itu kini melangkah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pikiran Santiaji maupun Ranjita masih dipenuhi pertanyaan yang sulit terjawab. "Hhh...!" Ranjita menghela napas yang berat memecah kesunyian di antara mereka. Wajahnya terlihat murung karena sampai sejauh ini belum juga mendapat tanda-tanda yang berarti sebagai pegangan.

"Yahhh...! Persoalan ini memang masih gelap. Bagaimana kalau kita kembali, dan melaporkan kepada Guru?" usul Santiaji sambil menoleh kepada saudara seperguruannya. Tatapan matanya seperti menunggu tanggapan.

"Tidak, Santiaji! Kita sudah bertekad untuk tidak kembali keperguruan sebelum menemukan jawaban dari semua peristiwa yang menimpa perguruan kita. Tapi kalau kau ingin kembali, silakan. Biar aku sendiri yang meneruskan penyelidikan ini," tegas Ranjita tanpa menolehkan kepalanya kepada Santiaji.

Santiaji tidak langsung menanggapi penegasan Ranjita tadi. Dialihkan pandang matanya ke depan dengan helaan napas berat. Murid tingkat empat Perguruan Gunung Salaka itu berusaha memahami perasaan saudara seperguruannya itu. Seperti halnya Ranjita, Santiaji pun sebenarnya mempunyai pikiran sama. Rasanya memang malu kembali keperguruan tanpa hasil sedikit pun.

"Sebenarnya aku pun mempunyai pikiran yang sama denganmu, Ranjita! Aku juga merasa malu untuk menghadap Guru dengan tangan hampa. Apa kata Guru nanti?" ungkap Santiaji tanpa semangat. Saat itu pikirannya benar buntu. Dia tidak tahu lagi, ke mana harus mencari keterangan sesudah ke Desa Cikunir.

"Hmm. Bagaimana kalau kita mendatangi Gunung Sutra, dan menanyakannya langsung kepada Ki Ageng Pandira yang menjadi ketua perguruan itu?" usul Ranjita tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Santiaji.

"Hei, jangan Ranjita! Tanpa persetujuan Guru, aku tidak berani untuk berkunjung ke sana. Bisa-bisa kedatangan kita ke sana hanya akan memperuncing keadaan saja. Masalahnya, sama sekali kita belum tahu, apakah dipihak mereka juga telah timbul korban atau tidak? Nah! Seandainya di sana juga terjadi korban, bukankah kedatangan kita hanya akan membangkitkan kemarahan di hati mereka," tegas Santiaji.

Laki-laki setingkat dengan Ranjita ini memang memiliki pandangan lebih luas daripada Ranjita. Demikian pula dalam menghadapi persoalan yang sangat rumit dan peka ini. Dia lebih mengandalkan otak daripada amarah. Oleh karena itu, mengapa Ki Sukma Kelana menugaskan Santiaji dalam menyelidiki persoalan itu. Orang tua itu percaya akan kebijaksanaan muridnya dalam menghadapi setiap persoalan.

"Lalu, Ke mana lagi kita harus mencari keterangan?" tanya Ranjita yang suaranya mengandung rasa penasaran.

Benar-benar tidak dimengerti jalan pikiran Santiaji, yang menurutnya terlalu lemah dan terlalu banyak perhitungan. Bahkan dia sampai mempunyai pikiran kalau Santiaji ini seorang pengecut. Dan sengaja menyembunyikan sifat pengecutnya itu dengan berkedok kesabaran, dan kehati-hatian dalam bertindak.

"Entahlah. Tapi, kurasa tidak ada salahnya kalau mencari keterangan di desa-desa sekitar Gunung Salaka. Siapa tahu di sana dapat menemukan petunjuk yang dapat dipakai sebagai pegangan," ujar Santiaji penuh harap.

"Kalau memang sudah menjadi keputusanmu tunggu apa lagi? Ayo, berangkat!" sahut Ranjita Tidak banyak bicara lagi!

"Baiklah. Mari," sambut Santiaji yang segera bangkit semangatnya.

Kedua orang tokoh Perguruan Gunung Salaka itupun segera bergegas menuju perbatasan Desa Cikunir. Mereka melangkah dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu yang, tidak begitu lama telah meninggalkan Desa Cikunir. Santiaji maupun Ranjita sepakat untuk mengambill arah Selatan terlebih dahulu, sebagai langkah awalj penyelidikan.

Untuk mempersingkat waktu, keduanya sengaja menempuh jalan pintas yang jarang dilalui orang. Sekarang mereka harus menerobos semak belukar dan hutan kecil yang banyak terdapat di daerah itu. Kini mereka telah tiba pada sebuah padang rumput yang cukup luas.

"Setelah melewati padang rumput ini, kita akan menemukan sebuah bukit. Nah! Di balik bukit itu terdapat sebuah perkampungan yang akan menjadi penyelidikan kita," jelas Santiaji.

"Berapa lama lagi kira-kira waktu yang diperlukan, untuk mencapai perkampungan itu ?" tanya Ranjita.

"Kalau melakukan perjalanan biasa, bisa memakan waktu setengah harian. Dan berarti akan tiba di sana setelah hari gelap. Maka untuk mempersingkat waktu kita harus tetap mengerahkan ilmu meringankan tubuh, agar tidak kemalaman di jalan."

Ranjita mendengarkan sambil manggut-manggut. Tanpa berpikir dua kali, mereka segera melanjutkan perjalanan. "Baik, Santiaji. Ayo, nanti kita malah kemalaman!" kata Ranjita dengan wajah berseri-seri.

********************

Di tengah padang rumput yang cukup luas dan sunyi itu, melesat cepat bagaikan kilat dua buah bayangan. Kedua bayangan itu sepertinya tengah berlomba menggunakan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Santiaji maupun Ranjita sama-sama mengerahkan kemampuannya agar tiba lebih dahulu di bukit yang dimaksud.

Santiaji dan Ranjita terus berlari, sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan. Keduanya seperti saling mendahului, memang tingkat kepandaian mereka pada dasarnya seimbang. Maka tanpa banyak mengalami kesulitan, keduanya tiba di bukit yang dituju secara bersama.

Plok plok plok!

Tiba-tiba terdengar tepukan riuh, yang menyambut kedatangan mereka. Keduanya tersentak kaget, dan segera menoleh ke arah asal suara tepukan itu. Dan betapa terkejutnya mereka, ketika melihat seorang bertubuh jangkung dan berkumis lebat telah berdiri tidak jauh dari situ. Orang itu memandang Santiaji dan Ranjita disertai senyum mengejek.

"Ha ha ha...! Hebat.,, hebat! Suatu ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan. Tapi sayang masih mentah," ujar orang itu, seperti menghina.

"Hm, kata-katamu tepat sekali, Kisanak. Sungguh kami bukan bermaksud memamerkan kepandaian yang tidak seberapa ini di hadapanmu. Siapakah, Kisanak ini?" tanya Santiaji sambil membungkuk hormat. Wajahnya teriihat tenang, seolah-olah tidak terpengaruh hinaan orang itu.

Orang bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu tertegun sejenak ketika mendengar jawaban Santiaji yang di luar dugaannya. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, hanya berdiri mematung karena kehilangan kata-kata. Tapi hal itu tidaklah berlangsung lama. Tiba-tiba saja orang itu sudah mulai membuka mulut lagi.

"Ha ha ha...! Apakah kalian tidak akan lari terbirit-birit kalau kuperkenalkan nama besarku?"

Seketika wajah Santiaji dan Ranjita memerah ketika mendengar perkataan yang bernada penghinaan. Santiaji segera menyentuh tangan Ranjita yang sudah melangkah maju, sambil mengepalkan tangan. Sejenak keduanya saling bertatapan. Dan Ranjita segera mengurungkan niatnya ketika Santiaji mengedipkan sebelah matanya sebagai isyarat untuk bersabar.

"Maafkanlah kami yang tidak mengenai nama besarmu, Kisanak! Maklumlah, kami hanya perantau yang memiliki sedikit bekal untuk menjaga diri. Dan karena takut kemalaman di jalan, maka kami harus mempercepat perjalanan untuk mencari tempat menginap. Dapatkah Kisanak membantu untuk mendapatkan tempat bermalam yang terdekat dari sini?" tanya Santiaji yang masih mencoba untuk menghindari keributan.

"Tentu saja dapat. Jaraknya dekat sekali!" jawab laki-laki kurus dan berkumis lebat itu, penuh teka-teki. Seringainya semakin melebar, sehingga wajahnya semakin tak sedap dipandang.

"Oh, benarkah?" Di manakah tempat itu, Kisanak tanya Santiaji berwajah cerah. Meskipun sebenarnya merasa curiga, namun pertanyaan itu terlompat begitu saja dari bibir Santiaji.

"Ha ha ha.... Tentu saja di sini. Memangnya di mana lagi? Tempat ini sangat cocok utuk menginap kalian selama-lamanya! Bahkan tidak akan dipungut uang sewa. Ha ha ha...!" setelah berkata demikian, meledaklah tawa orang berkumis tebal itu.

"Kurang ajar! Monyet kurus, rupanya kau memang sengaja ingin mencari perkara dengan kami. Baiklah, kalau memang itu yang diingini! Nah, sambutlah seranganku! Hiaaattt...!"

Begitu ucapannya habis, tubuh Ranjita segera melesat dibarengi teriakan menggeledek. Kedua tangan nya bergerak cepat mencari kelemahan-kelemahan di tubuh lawan. Rupanya dalam kemarahannya itu Ranjita telah mengeluarkan salah satu ilmu andalannya, 'Menggetar Langit Mengacau Bumi.

Wuuuttt! Wuuusss!

Akibat yang ditimbulkan jurus yang dikeluarkan Ranjita memang begitu dahsyat. Angin keras berputar, seolah-olah di tempat itu tengah terjadi topan hebat. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, tempat itu menjadi gelap tertutup debu-debu yang mengepul keudara.

Sesaat orang bertubuh jangkung itu dibuat kagum oleh kehebatan ilmu lawannya, namun sesaat kemudian senyum mengejek menghias wajahnya. Tiba-tiba dengan gerakan gesit, orang bertubuh jangkung itu segera menyelinap di antara sambaran-sambaran tangan Ranjita. Gerakannya hebat sekali, seolah-olah yang terlihat hanya bayangan tubuhnya yang berkelebat cepat mengurung Ranjita. Sehingga ke mana pun Ranjita bergerak, tubuh jangkung itu selalu membayanginya. Dan tentu saja hal ini membuat Ranjita menjadi terkejut. Dan diam-diam diakui kehebatan lawannya itu.

Tiba-tiba saja Ranjita dikejutkan oleh sambaran-sambaran angin kuat yang ditimbulkan pukulan lawan. Rupanya orang bertubuh jangkung itu sudah mulai melepaskan serangan di antara kelebatan tubuhnya. Dan secara pelahan-lahan Ranjita mulai terdesak hebat. Hingga pada suatu saat, sebuah hantaman telapak tangan lawan tidak dapat lagi dihindari lagi.

Deeesss!

"Aaakh!" terdengar suara keluhan dari mulut Ranjita.

Pukulan yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu telah mendarat di dada kirinya. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Ranjita terlempar dari arena pertempuran, dan jatuh tepat di hadapan Santiaji. Ranjita berusaha bangkit, meski dadanya terasa bagai terbakar. Dari sela-sela bibirnya tampak mengalir darah segar. Dadanya terasa sesak, dan napasnya tersengal.

"Kau... kau tidak apa-apa, Ranjita?" tanya Santiaji cemas, sambil berusaha membantu adik seperguruannya bangkit.

"Uhuk..,, uhuk! Uh! Dia hebat sekali, Santiaji. Pukulannya mengandung hawa panas yang amat kuat! Berhati-hatilah menghadapinya," ujar Ranjita di antara batuknya.

Ranjita benar-benar tidak menyangka sama sekali bahwa kepandaian lawannya ternyata demikian hebat. Rasanya untuk dapat mengatasi orang itu, dia harus bergabung bersama Santiaji. Maka segera dikerahkan hawa murni untuk mengusir hawa panas yang membakar dadanya. Sementara itu, Santiaji sudah mulai bersiap untuk menghadapi orang bertubuh jangkung yang sama sekali belum dikenalnya.

"Kisanak, apa maksudmu mencelakai kami?! Bukankah di antara kita tidak saling mengenai dan tidak memiliki persoalan? Siapakah kau sebenarnya?!" tanya Santiaji. Kemarahan di dadanya mulai memuncak, karena tanpa sebab apa pun orang bertubuh jangkung itu ingin membunuh mereka.

"Ha ha ha...! Dengarlah, manusia-manusia sombong dari Gunung Salaka! Aku adalah Algojo Gunung Sutra yang akan menuntut balas atas kematian murid-muridku. Nah, bersiaplah menerima hukuman!" bentak orang beriubah jangkung yang temyata berjuluk Algojo Gunung Sutra. Suaranya begitu bengis dan berbau hawa maut.

Santiaji terkejut, sebab orang itu ternyata mengetahui asalnya. Tapi yang membuatnya benar-benar terkejut adalah ketika orang bertubuh jangkung itu memperkenalkan diri sebagai Algojo Gunung Sutra. Untuk beberapa saat lamanya, Santiaji hanya dapat memandang dengan mulut ternganga. Sebab, siapa yang tidak mengenai nama Algojo Gunung Sutra? Meskipun dalam urutan perguruan hanya tergolong tokoh tingkat dua, namun menurut kabar kepandaiannya cukup tinggi. Memang Santiaji yang sebelumnya tidak pernah bertemu tokoh itu, tidak segera dapat mengenali. Baru setelah orang itu menyebutkan julukannya, ia segera teringat akan ciri-ciri dari tokoh tersebut.

Setelah mengamati sesaat, barulah dapat dipastikan kalau orang itu benar-benar Algojo Gunung Sutra, atau bernama asli Ki Ageng Sampang. Tapi hal itu justru membuat lega hati Santiaji. Sebab biar bagaimanapun juga, sebagai tokoh yang kepandaiannya tinggi, Ki Ageng Sampang tentu lebih berpandangan luas dan tak akan turun tangan secara membabi buta.

"Ah! Maafkan aku, Ki. Benar-benar tidak kusangka kalau sekarang tengah berhadapan dengan Ki Ageng Sampang yang sangat kuhormati. Sekali lagi aku mohon maaf. Dan marilah kita membicarakan masalah yang sedang dihadapi ini, agar semuanya menjadi terang dan jelas," ujar Santiaji, penuh hormat.

"Hm..., tidak perlu kau banyak tingkah lagi! Sekarang, kau bersiaplah untuk segera kukirim keneraka!" teriak orang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu, dengan wajah berang.

"Tapi... tapi..., Ki...!"

Santiaji menjadi heran melihat sikap yang ditunjukkan oleh tokoh utama dari Gunung Sutra itu. Dan sebelum dapat berpikir lebih jauh lagi, Ki Ageng Sampang sudah menerjangnya dengan pukulan ganas dan keji. Tentu saja Santiaji tak membiarkan tubuhnya dijadikan sasaran pukulan itu. Dengan gerakan yang indah tubuhnya meliuk menghindari pukulan lawan. Dan langsung dibalasnya dengan serangan-serangan cepat dan kuat. Sehingga dalam waktu singkat, keduanya segera teriihat sebuah pertempuran sengit.

Tapi, memang pada dasarnya kepandaian Santiaji masih jauh di bawah kepandaian Algojo Gunung Sutra. Maka setelah lewat dua puluh jurus, tampak' Santiaji mulai terdesak. Dapat dipastikan, tidak lama lagi Santiaji pasti tidak dapat menahan gempuran lawan. Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang nampak semakin bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya. Pukulannya pun semakin cepat dan kuat sehingga Santiaji semakin tak berdaya dibuatnya.

Melihat keadaan saudara seperguruannya yang tengah diincar maut itu, Ranjita yang keadaannya sudah pulih kembali segera melompat ke arena pertempuran membantu Santiaji. Tentu saja hal ini, sangat menggembirakan hati Santiaji. Dengan masuknya Ranjita, dia dapat terbebas dari desakkan lawannya. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya pun segera bekerja sama menghadapi Algojo Gunung Sutra yang amat lihai itu. Menghadapi gempuran dan kerja sama yang kompak saudara seperguruan itu, Algojo Gunung Sutra pun semakin memperhebat serangannya. Namun karena Santiaji dan Ranjita bertempur secara saling mengisi dan melindungi, maka cukup sulit bagi lawan untuk segera menguasai mereka.

Sudah tiga puluh jurus kedua belah pihak berusaha saling menjatuhkan. Tapi sampai sejauh itu, belum ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang. Dan hal ini membuat Algojo Gunung Sutra menjadi marah dan penasaran. Hingga pada suatu kesempatan, dia melepaskan pukulan cepat Kedua telapak tangannya terbuka mengarah dada dua lawannya sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam.

Wuuusss! Wuuusss!

Bukan main hebatnya serangan Algojo Gunung Sutra itu. Jangankan terkena hantaman telapak tangan. Terlanggar angin pukulan saja, lawan yang tidak mempunyai tenaga dalam kuat akan tewas seketika dengan dada ringsek.

Santiaji dan Ranjita tentu saja menyadari bahaya pukulan lawan. Keduanya segera mengempos semangat, dan langsung menggabungkan tenaga dalam sambil berpegangan tangan. Dengan kuda-kuda rendah, mereka segera menyambut pukulan lawan dengan telapak tangan kiri.

Blannng!

"Aaahhh...!" Terdengar ledakan dahsyat ketika tenaga dalam mereka beradu. Hebat sekali akibat bentrokan tenaga dalam tingkat tinggi itu, sehingga ledakan itu menggetarkan udara di sekitar arena pertempuran. Santiaji dan Ranjita yang mengalami benturan itu, terlempar ke udara diiringi jerit kesakitan. Keduanya jatuh terduduk sambil menekan dada yang terasa berguncang. Terlihat dari sela-sela bibir mereka, cairan merah menetes.

Sedangkan lawannya yang juga terpental akibat benturan tadi, mudah sekali mendaratkan kakinya di tanah. Gerakannya ringan, tanpa luka sedikit pun. Hanya kedua lengannya saja yang terasa bergetar. Dari sini saja sudah dapat diketahui kalau tenaga dalam Ki Ageng Sampang jauh lebih tinggi daripada mereka berdua.

"Ha ha ha...! Bersiaplah! Sebentar lagi malaikat maut akan datang menjemput kalian!" ejek Algojo Gunung Sutra itu, jumawa. Setelah berkata demikian, tubuh laki-laki tinggi berkumis itu segera melayang. Kedua lengannya ter-kembang, mengarah pada batok kepala Santiaji dan Ranjita yang masih terduduk tak bergerak.

"Heaaattt...!"

Darrr! Darrr!

Debu mengepul tinggi, ketika pukulan kedua tangan Ki Ageng Sampang mengenai tanah yang terdiri dari batu-batu cadas itu. Rupanya Santiaji dan Ranjita yang semula sengaja berdiam diri untuk memulihkan tenaga, segera melesat menghindari serangan ketika pukulan lawan hampir tiba. Serangan lawan hanya mengenai batu-batu cadas sehingga hancur berkeping-keping. Dan kini mereka sudah bersiap-siap kembali menghadapi orang tua lihai itu.

Melihat lawannya dapat menghindari serangan, Algojo Gunung Sutra semakin meluap-luap kemarahannya. "Huh, sayang! Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menghadapi kalian!" ujar Algojo Gunung Sutra geram.

Setelah berkata demikian, mulutnya segera bersiul nyaring dan panjang. Suaranya bergema ke seluruh penjuru karena didorong tenaga dalam tinggi. Seketika tempat itu sudah diramaikan belasan sosok tubuh yang berloncatan dari balik bukit. Melihat dari gerakan mereka, dapat dipastikan bahwa semuanya memiliki kepandaian yang tidak rendah. Begitu tiba, belasan sosok tubuh itu langsung menerjang Santiaji dan Ranjita dengan senjata terhunus!

Keduanya segera berloncatan menghindari sambaran senjata-senjata lawan yang berdesingan mengancam tubuh. Sambil berusaha mengelak, Santiaji dan Ranjita melepaskan pukulan-pukulan balasan yang ampuh. Sehingga dalam waktu singkat, kedua belah pihak sudah terlibat pertempuran yang seru dan mendebarkan. Santiaji dan Ranjita menjadi terkejut. Ternyata mereka mendapat kenyataan bahwa kepandaian lawan rata-rata cukup tinggi.

Siiinnng! Siiinnng!

"Aaahhh...!" keduanya melenguh tertahan ketika dua buah senjata lawan hampir melukai tubuh mereka. Dengan wajah agak pucat, keduanya segera berloncatan mundur sambil mencabut senjata masing-masing. Di tangan Santiaji sudah tergenggam dua buah pedang pendek. Sedangkan Ranjita sudah pula mencabut sebuah pedang yang bersinar kuning. Dengan senjata di tangan, kini mereka kembali menghadapi belasan orang lawannya itu.

Melihat keadaan itu, Algojo Gunung Sutra yang semenjak tadi hanya berdiam diri tiba-tiba melayang ke arena pertempuran. Diputar kedua tangannya hingga menimbulkan angin yang menderu-deru. Langsung dihantamkan telapak tangannya ke arah Santiaji dan Ranjita yang tengah bertempur saling bahu membahu itu.

Deeesss! Plaaakkk!

"Aaarrrggghh...!"

Santiaji dan Ranjita yang tengah kerepotan menghadapi belasan orang lawan, tak sempat lagi untuk menghindari hantaman telapak tangan Ki Ageng Sampang yang mengandung tenaga dalam tinggi itu, Keduanya terpelanting akibat hantaman yang keras pada bahu dan punggung.

"Huaaak...!" Santiaji yang terhantam punggungnya, memuntahkan darah kental berwarna kehitaman. Punggungnya dirasakan bagai terbakar akibat hawa panas yang terkandung dalam pukulan Algojo Gunung Sutra. Santiaji berdiri limbung dengan pandangan mata berkunang-kunang.

"Ranjita, lari! Selamatkan dirimu! Biar aku yang menghadang mereka!" teriak Santiaji dengan napas tersengal-sengal.

Santiaji benar-benar menyadari bahwa pihak musuh terlalu kuat. Setelah berkata demikian, dia langsung melompat membendung serangan lawan-lawannya yang sudah melancarkan serangan kembali.

"Tidak, Santiaji! Aku tidak akan meninggalkanmu. Biarlah kita mati bersama-sama!" teriak Ranjita. Ternyata Rajita juga tidak tega membiarkan kawannya menghadapi musuh sendirian. Walaupun sebelah tangannya lumpuh akibat hantaman telapak tangan Algojo Gunung Sutra itu, dia ikut pula melompat membantu Santiaji yang tengah kerepotan menghadapi belasan orang lawannya.

"Ranjita, pergi! Bodoh kau! Kalau kita berdua mati, lalu siapa... aduh!" teriak Santiaji.

Laki-laki tingkat empat di Perguruan Gunung Salaka itu merasa kesakitan akibat sabetan pedang lawan yang mengenai pangkal lengan kirinya. Dengan penuh kegeraman segera dibabatkan pedang pendeknya membelah dada lawan itu. Kontan orang itu menjerit menyayat. Tubuhnya langsung ambruk dan tewas dengan dada terbelah.

"Aaahhhkkk...!" kembali Santiaji berteriak kesakitan karena pundaknya tertusuk pedang lawan yang lainnya. "Lari, Ranjita! Lari! Kau harus melaporkan hal ini kepada Guru! Aku..., aku sudah tidak kuat lagi. Cepat...! Aduh...!" Lagi-lagi senjata lawan menyabet lambungnya. Santiaji kembali mengamuk membabi buta, tanpa mempedulikan keselamatannya lagi.

Ranjita berdiri dengan wajah bingung. Pelahan-lahan butir-butiran air bening mengalir membasahi pipinya. Hatinya benar-benar trenyuh menyaksikan pengorbanan yang dilakukan saudara seperguruannya itu. la masih berdiri bimbang tanpa dapat mengambil keputusan. Saat itu Santiaji melompat ke arahnya sambil melepaskan sebuah tendangan ke arah Ranjita.

Bukkk!

"Pergi, manusia bodoh! Jangan korbankan nyawamu sia-sia!" bentak Santiaji, tak sabar. Memang keadaannya sudah menyedihkan sekali. Sekujur tubuhnya telah dibanjiri darah yang mengalir dari luka-luka akibat sabetan golok lawan. Meskipun demikian dia masih dapat melakukan perlawanan hebat

"Jangan biarkan orang itu lolos! Habisi mereka!" teriak Algojo Gunung Sutra ketika melihat Ranjita berlari meninggalkan arena pertempuran sambil memegangi tangan kirinya yang lumpuh itu.

Beberapa orang segera berlompatan mengejar Ranjita. Namun, Santiaji tidak membiarkan hal itu. Segera tubuhnya melompat menghadang lawan dengan senjata di tangan.

"Monyet-monyet busuk! Rasakan seranganku ini! Heaaattt...!" Santiaji segera menggerakkan kedua senjatanya menerjang orang-orang yang hendak mengejar Ranjita. Sayang gerakannya sudah sangat lemah. Sehingga, lawannya mudah sekali dapat menghindari serangannya dan langsung membalas ganas.

Crasss! Brettt! Craaasss!

"Aaarrrggghhh...!" Santiaji meraung tinggi, ketika beberapa tusukan dan bacokan senjata lawan menembus tubuhnya. Dia langsung ambruk dan tewas seketika.

"Santiaji...!" Ranjita berteriak parau, ketika mendengar suara jeritan kematian saudara seperguruannya itu. Dari kejauhan, sempat disaksikan bagaimana tubuh Santiaji tertembus beberapa buah senjata lawan. Ranjita hanya memandang dengan tubuh menggigil menahan luapan amarah yang memenuhi rongga dada.

"Manusia keparat! Inilah pembalasanku! Hiaaa...!" Tanpa mempedulikan keselamatannya lagi, Ranjita segera berlari dan menerjang lawan-lawannya. Rupanya ia telah lupa dengan pesan terakhir Santiaji. Ini terjadi akibat kemarahan yang meledak-ledak dalam dada.

Namun sebelum Ranjita dan musuh-musuhnya berlaga, tiba-tiba melesat cepat sebuah bayangan yang langsung mendarat di tengah-tengah mereka. Dan bayangan itu segera mendorong telapak tangannya ke arah belasan orang yang meluncur ke arah Ranjita.

Wuuusss!

Hembusan angin yang dingin luar biasa, menyambut kedatangan belasan orang itu. Tubuh belasan orang itu kontan berpentalan ke kiri dan kanan akibat terlanggar hembusan angin dingin. Belasan orang itu jatuh terduduk sambil menggigil kedinginan.

"Pendekar Naga Putih...!" seru orang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra, terkejut.

"Pendekar Naga Putih...!" gumam Ranjita pelahan, seolah-olah berkata pada dirinya sendiri. Tiba-tiba terlintas di benaknya secercah harapan yang membuatnya menarik napas lega.

Memang beberapa yang diucapkan Algojo Gunung Sutra itu. Di tengah-tengah arena pertempuran, berdiri seorang pemuda berbaju putih. Selapis kabut berwarna keperakan menyelimuti sekujur tubuhnya. Orang itu adalah Pendekar Naga Putih atau..., murid tunggal Malaikat Petir atau Tirta Yasa!

"Hm.... Menyingkiriah kau Pendekar Naga Putih. Aku tidak mempunyai urusan denganmu!" bentak Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang sambil memasang wajah bengis.

"Tapi aku mempunyai urusan denganmu, Orang Tua!" seru Pendekar Naga Putih bersikap tenang. Sementara sinar matanya menyorot tajam, bagaikan mata naga yang sedang marah.

Algojo Gunung Sutra tergetar hatinya ketika beradu pandang dengan sinar mata Panji yang tajam itu. Cepat-cepat dikerahkan tenaga untuk menekan debaran dalam dadanya. "Huh! Jangan kira aku akan gentar mendengar nama besarmu, Pendekar Naga Putih. Dan sekarang, sambutlah seranganku! Yeaaattt...!" tegas Algojo Gunung Sutra.

Setelah berkata demikian, tubuh jangkung itu melayang dengan kecepatan tinggi, disertai teriakan menggeledek. Kedua tangan berputar dan susul-menyusul dengan serangan yang berbahaya.

"Menyingkirlah, Paman! Biar aku yang menghadapinya," ujar Panji kepada Ranjita yang berdiri terpaku di belakangnya.

Setelah berkata demikian, Panji mengegoskan tubuhnya sambil memasang kuda-kuda rendah untuk menghindari serangan lawan. Begitu serangan lawan lolos, Panji segera membalasnya dengan serangan yang tidak kalah berbahayanya. Dalam waktu singkat, keduanya sudah bertempur sengit. Panji yang tidak pernah lalai melatih ilmunya dalam setiap kesempatan, teriihat bergerak semakin gesit dan matang. Kedua tangannya yang berbentuk cakar naga itu, menyambar-nyambar di sekitar tubuh lawan. Bahkan kecepatannya sukar diikuti mata. Hingga dalam beberapa jurus saja, Algojo Gunung Sutra tampak terdesak oleh sambaran-sambaran tangan yang berbentuk cakar itu.

Breeettt!

"Uuuhhh...!" lenguh Algojo Gunung Sutra. Dan memang tahu-tahu pangkal lengannya terkena sambaran tangan lawan yang amat kuat. Tubuh jangkung itu sampai melintir seperti gangsing. Cepat-cepat Algojo Gunung Sutra bergulingan menjauhi lawannya. Orang tua itu bangkit berdiri sambil memandang luka di pangkal lengan. Untunglah sambaran tangan lawan tidak terlalu telak mengenainya. Kalau saja telak, bukan hanya kulit dan bajunya yang terkelupas. Bahkan daging pangkal lengannya bisa hancur akibat cakaran yang berbahaya itu. Cepat orang tua itu mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa dingin yang menyelusup dari lukanya.

"Gila! Anak Muda ini gerakannya seperti iblis saja!" ucap Algojo Gunung Sutra dalam hati. Dia memang tidak tahu, bagaimana caranya pendekar itu bisa melukainya.

"Anak-anak, serbu...!" teriak laki-laki tua itu tanpa malu-malu lagi.

Tanpa diperintah dua kali, belasan orang anak buahnya yang telah terbebas dari hawa dingin itu segera berlompatan sambil membabatkan pedangnya ke arah Panji. Pendekar Naga Putih memang sudah memperhitungkan hal itu. Dengan kecepatan yang luar biasa, tubuh Panji berkelebatan di antara belasan sinar pedang yang berdesingan mengincar tubuhnya. Dan setiap kali tangannya bergerak, selalu disertai terlemparnya tubuh lawan yang kemudian tewas dengan tubuh membiru. Hal ini akibat hawa dingin yang terpancar dari kedua belah tangan Pendekar Naga Putih.

Dalam beberapa jurus saja, serangan belasan orang itu menjadi kacau dan tidak teratur lagi. Rasa gentar mulai menyelimuti hati mereka, setelah melihat kelincahan pemuda yang menjadi lawannya itu. Tanpa disadari, mereka mulai merenggangkan kepungan. Tentu saja hal ini membuat gerakan Panji semakin leluasa untuk melancarkan serangan-serangan balasan.

Desss! Blaggg!

"Aaahk!"

Kembali dua orang lawannya terjungkal, sambil memperdengarkan jerit kematian. Dua orang yang terkena hantaman sisi telapak tangan Panji itu tergeletak tewas, dan tubuhnya membiru. Menyaksikan hal ini, kawan-kawannya segera berloncatan mundur disertai wajah yang memucat.

"Ombak besar, lari!" teriak Algojo Gunung Sutra yang merasa bahwa anak buahnya tidak akan mampu menghadapi lawannya. Setelah berkata demikian orang tua bertubuh jangkung itu segera melompat ke arah semak-semak, diikuti anak buahnya. Dalam sekejap saja, belasan orang itu sudah lenyap di balik rimbunnya pepohonan.

"Mengapa tidak dikejar, Kisanak?" tanya Ranjita, keheranan.

"Biarlah, Paman! Sekarang sebaiknya kita pergi. Di perjalanan kita bisa berbincang-bincang tentang pengeroyokan mereka terhadap Paman," tegas Pendekar Naga Putih kalem.

********************

TUJUH

Perguruan Gunung Salaka kembali dilanda kegemparan. Suasana di sekitar perguruan terlihat sunyi, karena para murid dan tokoh-tokoh perguruan tengah berkumpul di ruang utama perguruan itu. Mereka duduk bersimpuh mengelilingi sebuah peti mati. Wajah mereka semua menggambarkan perasaan sedih dan marah. Memang, sejak Ki Tunggul Jagad mengundurkan diri, malapetaka itu terus saja mengancam. Kejadian yang melanda Perguruan Gunung Salaka secara berturut-turut, telah membuat perguruan itu seolah-olah larut dalam mimpi yang buruk dan menakutkan. Mereka yang selalu hidup dalam ketentraman tiba-tiba saja dikejutkan kejadian-kejadian yang membuat hati penasaran dan marah.

Baru saja, perguruan itu kedatangan beberapa orang penduduk Desa Cikunir yang dipimpin langsung kepala desanya sendiri. Mereka mengantarkan sebuah bungkusan yang tidak diketahui isinya. Menurut mereka, bungkusan itu diterima dari seorang laki-laki tua yang mengaku berjuluk Algojo Gunung Sutra. Dia telah berpesan agar menyampaikan bungkusan itu pada Perguruan Gunung Salaka.

"Ketika kami tanyakan mengapa tidak mengantarkannya sendiri, ia mengatakan bahwa masih mempunyai tugas yang amat mendadak. Begitulah, yang dikatakan orang bertubuh jangkung itu," tutur Kepala Desa Cikunir kepada beberapa orang murid perguruan yang menyambut kedatangannya.

Setelah menyampaikan bungkusan itu, Kepala Desa Cikunir dan beberapa orang warganya segera mohon diri. Murid-murid Perguruan Gunung Salaka yang memang sudah mengenal mereka, tentu saja tidak menjadi curiga. Dan dibiarkan saja kepala desa dan beberapa orang warganya itu meninggalkan perguruan itu. Dua orang murid perguruan bergegas menyampaikan bungkusan itu kepada guru besar mereka. Segera diceritakannya asal-usul bungkusan itu.

"Algojo Gunung Sutra...!" gumam Ki Sukma Kelana dengan kening berkerut setelah mendengar keterangan dua orang muridnya. Lalu diperintahkanlah dua orang muridnya untuk melanjutkan tugasnya. Dengan disaksikan empat orang tokoh tingkat tiga, Ki Sukma Kelana segera membuka bungkusan tadi.

"Aaah!" Empat orang tokoh tingkat tiga itu kontan menjerit tertahan ketika menyaksikan isi bungkusan. Tubuh mereka menggigil menahan gejolak amarah yang memenuhi rongga dada. Wajah keempat orang itu pucat dan merah berganti-ganti.

Sedangkan Ki Sukma Kelana sendiri hanya termangu-mangu, namun wajahnya pucat. Wakil ketua yang diserahi tugas memegang jabatan ketua sementara selama gurunya mengasingkan diri itu, memandang sayu. Jelas sekali gambaran kesedihan dan penyesalan membayang di wajah tua nya.

"Oh..., Adi Surya Kencana. Apa yang harus kukatakan kepada Guru nanti? Mengapa begitu berat tanggungjawab yang harus kupikul? Ya, Tuhan..., dosa apa kiranya yang telah hamba lakukan?" tatap orang tua itu sambil memandangi kepala Ki Surya Kencana yang tanpa tubuh itu. "Guru, benarkah yang melakukan perbuatan keji itu adalah Ki Ageng Sampang?" tanya salah seorang dari keempat murid itu. Suara mereka mengandung rasa penasaran yang tak dapat disembunyikan.

"Hhh..., entahlah! Aku sendiri masih meragukannya," desah Ki Sukma Kelana. Helaan napasnya terdengar berat.

Keempat orang murid tingkat tiga Perguruan Gunung Salaka itu terdiam ketika menyadari bahwa Ki Sukma Kelana tidak ingin membicarakan persoalan itu saat ini. Menyadari hal ini, empat orang murid utama itu pun segera berpamit kepada gurunya. Itulah kejadian yang menggemparkan seisi Perguruan Gunung Salaka. Kiriman mayat kepala tanpa tubuh Ki Surya Kencana itu, benar-benar membuat seluruh penghuni perguruan menjadi marah dan penasaran. Jadi, itulah mengapa pada hari ini Perguruan Gunung Salaka teriihat sunyi tanpa kegiatan. Rupanya Perguruan Gunung Salaka tengah berkabung. Di tengah suasana berkabung yang hening dan mencekam itu, tiba-tiba terdengar teriakan lantang yang bergema ke seluruh penjuru bangunan besar itu.

"Ki Tunggul Jagad! Aku utusan Ki Ageng Pandira, datang berkunjung!"

Murid-murid Gunung Salaka yang tengah dilanda kesedihan itu saling pandang satu sama lain. Entah siapa yang memulainya, tiba-tiba saja mereka berloncatan sambil menghunus pedang.

"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar bentakan keras mengandung tenaga dalam tinggi. Bagaikan ledakkan petir di angkasa saja layaknya.

Para murid perguruan yang berlarian serentak menghentikan langkahnya, ketika mendengar teriakan yang terdengar marah. Puluhan orang murid dengan senjata di tangan itu berpaling menatap gurunya. Pandangan mereka menyiratkan kekecewaan.

“Apa maksud kalian semua, heh! Jawab!" bentak Ki Sukma Kelana dengan wajah merah padam karena amarah. "Apakah kalian ingin main hakim sendiri? Kalian anggap apa aku, hah!"

Puluhan orang murid Gunung Salaka itu menunduk dalam-dalam. Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat wajahnya. Sama sekali tidak disangka bahwa guru besar mereka menjadi sedemikian marahnya. Tanpa diperintah murid-murid Gunung Salaka itu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.

"Ampunilah kami, Guru...!" seru mereka serentak.

Tersentuh hati ki Sukma Kelana melihat permohonan maaf murid-muridnya itu. Dia pun sebenarnya merasa maklum akan perasaan murid-muridnya itu. Apalagi untuk menyalahkan sikap mereka yang sedang dilanda kesedihan.

"Bangkitlah, kalian murid-muridku! Marilah kita sambut mereka dengan kepala dingin," ajak orang tua itu lembut. Sekarang, bukalah pintu untuk mereka!"

"Baik, Guru," jawab dua orang di antara murid-muridnya yang kemudian bangkit dan bergegas mengerjakan perintah.

"Selamat bertemu, Kakang Sukma Kelana. Apakah sehat-sehat saja? Bagaimana pula kabar Ki Tunggul Jagad?" tanya orang bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu, sambil melangkah masuk diikuti empat orang lainnya.

"Baik-baik saja! Bagaimana pula keadaan Ki Ageng Pandira?" tanya Ki Sukma Kelana berbasa-basi, sambil berusaha menekan kemarahan dalam hatinya. Meskipun begitu, tetap tidak menyembunyikan nada suaranya, yang terdengar dingin dan kaku.

"Ada kabar apa sehingga kau berkunjung kemari?"

"Guru, untuk apa berbasa-basi lagi? Bukankah sudah jelas kalau dia yang telah mengirimkan bungkusan itu!" teriak salah seorang dari empat murid utama Gunung Salaka itu, tak sabar.

"Eh... eh! Ada apa ini? Apa maksud kalian?" tanya Ki Ageng Sampang dengan wajah keheranan. Seolah-olah orang tua itu memang tidak mengetahui maksud perkataan tokoh utama Perguruan Gunung Salaka itu.

"Oh, Apakah Algojo Gunung Sutra sudah kehilangan keberanian utuk mengakui, perbuatannya?" ujar tokoh yang lain bernada mengejek.

"Nanti dulu..., nanti dulu, hei! Kakang Sukma, ada apa ini sebenarnya? Aku sungguh tidak mengerti?" sahut Ki Ageng Sampang dengan wajah yang mulai diliputi ketegangan.

"Hm. Benarkah kau tidak mengetahuinya?" tanya Ki Sukma Kelana dingin. Nada suara orang tua itu benar-benar tidak enak terdengar di telinga.

"Sungguh! Aku sama sekali tidak mengerti, Kakang! Dan kedatanganku kemari pun, bukan tidak membawa persoalan!" jawab Ki Ageng Sampang yang amarahnya mulai terpancing.

"Kedatanganku kemari sebenarnya ingin meminta pertanggungjawaban Ki Surya Kencana dan beberapa murid perguruan ini. Mereka telah membantai puluhan murid Gunung Sutra dan tiga tokoh utama secara biadab! Di sini aku sengaja bersikap sabar dan tidak ingin bertindak sembarangan, namun ternyata sikap baikku malah tidak kalian anggap sama sekali!"

"Huh! Kau sengaja ingin memutar balikkan kenyataan, Ki Ageng Sampang! Belum lama ini kami telah menerima bungkusan yang kau titipkan kepada Kepala Desa Cikunir! Kau tahu apa isi bungkusan itu?" jelas salah seorang tokoh Gunung Salaka penuh amarah.

"Oh! Apa... apa isinya...?" yang bertanya kali ini adalah seorang tokoh Gunung Sutra yang sejak tadi hanya diam saja.

"Hm. Baiklah kalau kalian enggan berterus terang kepada kami. Kalian tahu, bungkusan itu adalah isi mayat kepala tanpa tubuh dari Ki Surya Kencana, yang dituduh telah membantai murid-murid kalian itu!" jawab tokoh Gunung Salaka itu lagi, geram.

"Mustahil! Guru, mereka pasti sengaja menyembunyikan Ki Surya Kencana dan sengaja membuat cerita yang tidak masuk akal itu!" selak salah seorang tokoh Gunung Sutra kepada Ki Ageng Sampang yang berjuluk Algojo Gunung Sutra itu.

"Ya! Kalau memang cerita itu benar, coba tunjukkan kepada kami!" sambung tokoh Gunung Sutra yang lainnya, diiringi senyum mengejek.

"Bangsat! Apa kau kira kami ini orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi kalian?! Huh! Manusia sombong, rasakanlah pukulanku!" teriak salah seorang tokoh Gunung Salaka yang sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Begitu ucapannya selesai, tokoh itu segera melompat menerjang salah seorang tokoh Gunung Sutra yang menjadi lawan bicaranya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, keduanya segera terlibat dalam sebuah pertempuran sengit.

Kedua orang tokoh dari dua perguruan berbeda itu saling serang dengan hebatnya. Karena satu sama lain ingin segera menjatuhkan lawannya, maka dikeluarkan ilmu andalan masing-masing. Namun, kepandaian kedua orang tokoh dari perguruan berbeda itu, ternyata seimbang. Sehingga pertarungan itu bagaikan dua saudara seperguruan yang sedang berlatih saja.

Melihat kawannya sudah mulai terlibat pertarungan, maka tiga orang murid tingkat tiga dari Gunung Salaka segera melesat ke arah tiga murid Gunung Sutra lainnya. Maka kini masing-masing pihak sudah saling menyerang ganas. Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang yang berniat mencegah pertempuran itu, ternyata disalah artikan oleh Ki Sukma Kelana.

"Sabar dulu. Biarkanlah mereka bermain-main sejenak. Tapi kalau memang tanganmu sudah gatal, aku sanggup melayanimu bermain-main barang satu atau dua jurus. Nah, sambutlah seranganku."

Setelah berkata demikian tubuh orang tua itu sudah tiba di hadapan Ki Ageng Sampang dan langsung melancarkan pukulan ke arah Algojo Gunung Sutra. Laki-laki pemimpin Perguruan Gunung Sutra itu terkejut dibuatnya karena serangan Ki Sukma Kelana begitu cepat datangnya. Itulah salah satu keistimewaan tokoh tua dari Gunung Salaka itu. Maka tidak heran kalau orang menjulukinya Pendekar Tangan Kilat Gerakan orang tua itu benar-benar bagai kilat saja cepatnya.

Tentu saja Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang tidak membiarkan tubuhnya jadi sasaran pukulan yang berbahaya itu. Dengan gerakan indah, tubuhnya segera berkelebat menghindarinya. Langsung dibalasnya serangan itu dengan tidak kalah dahsyat! Dalam sekejap saja tokoh sakti itu segera terlibat dalam pertarungan dahsyat dan mendebarkan!

Menyaksikan pertempuran tiba-tiba itu, muridmu-rid Perguruan Gunung Salaka yang belum bertempur segera berlari menjauhi arena pertarungan. Memang sambaran angin pukulan yang dikeluarkan dua tokoh sakti itu sangat berbahaya. Jika terlanggar akibatnya sangat fatal. Sudah sepuluh jurus terlewat, namun sama sekali belum dapat dipastikan pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang. Memang mereka semua sama-sama gesit dan sama-sama lihai.

Di antara pertarungan lima pasang tokoh itu, yang paling seru dan mendebarkan adalah pertarungan antara Algojo Gunung Sutra melawan Ki Sukma Kelana si Pendekar Tangan Kilat. Apalagi, kedua tokoh itu sudah menggunakan ilmu andalan perguruan masing-masing. Ki Sukma Kelana yang sudah mengeluarkan jurus 'Sebelas Jurus Penahan Ombak', bergerak agak lambat namun tenaga yang terkandung dalam setiap serangannya benar-benar tidak dapat dianggap ringan. Setiap lontaran pukulannya, menimbulkan getaran udara yang kuat. Sehingga mau tidak mau lawan harus bersikap lebih hati-hati.

Di lain pihak, Algojo Gunung Sutra pun sudah menggunakan jurus 'Tinju Delapan Bayangan', yang menjadi salah satu ilmu andalan perguruannya. Ilmu itu memiliki keampuhan yang tidak kalah dahsyatnya. Gerakannya yang cepat dan tak terduga itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin. Akibatnya, lawan bagaikan dikeroyok delapan orang saja.

Setelah bertempur kurang lebih selama empat puluh jurus, kedua tokoh sakti itu mulai merasa penasaran. tiba-tiba masing-masing melompat ke belakang dan langsung membentuk kuda-kuda kokoh bagaikan batu karang. Angin berhembus keras, ketika kedua tokoh sakti yang berdiri berhadapan dalam jarak tiga tombak itu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

"Heaaattt...!"

"Hiaaa...!"

Disertai teriakan mengguntur, satu sama lain langsung melesat sambil melepaskan pukulan yang terampuh dari ilmu masing-masing. Dan....

Blaaarrr!

Terdengar ledakan keras yang memekakkan telinga. Ternyata ada tiga sosok tubuh saling bertubrukkan di udara. Mereka berpentalan dan jatuh sejauh tujuh tombak dari titik benturan tadi. Ki Sukma Kelana maupun Ki Ageng Sampang langsung bangkit, meskipun tubuh masing-masing limbung. Dari sela-sela bibir mereka menetes darah segar. Kedua tokoh sakti itu merasa terkejut sekali, karena disaat hampir beradu pukulan tadi tiba-tiba sesosok bayangan putih langsung melesat ke tengah-tengah sambil mendorongkan telapak tangan ke tubuh mereka.

Kedua orang tokoh sakti itu bergegas menghampiri sesosok tubuh yang tengah berusaha bangkit dengan susah payah. Dan tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, sosok tubuh berjubah putih itu segera bersemadi untuk memulihkan kekuatannya. Sementara kegiatan di sekitar tempat itu menjadi terhenti. Para tokoh dari dua perguruan berbeda telah menghentikan pertempuran ketika mendengar ledakkan dahsyat tadi. Mereka pun segera menepi dan berkumpul pada kelompok masing-masing

"Guru...!" seru seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun tiba-tiba. Langsung dijatuhkan dirinya berlutut di hadapan Ki Sukma Kelana.

"Oh, Ranjita! Apa yang terjadi denganmu? Mana Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana. Keningnya berkerut ketika melihat keadaan Ranjita yang seperti habis bertempur itu.

"Panjang sekali ceritanya, Guru!" jawab Ranjita pelan. "Guru! Dia itu, Pendekar Naga Purih," seru Ranjita sambil menunjuk pemuda berjubah putih yang tengah bersila untuk menghimpun tenaga.

"Oh, Pendekar Naga Putih!" gumam sepuluh orang tokoh dari dua perguruan itu, mereka semua memasang wajah heran.

Sementara itu. Panji yang telah selesai bersemadi segera bangkit dan menghampiri mereka. Langkahnya begitu tenang. Wajahnya yang semula memucat akibat benturan dahsyat tadi, kini tampak memerah pertanda sudah dapat dipulihkan tenaganya. Setelah saling bertegur sapa, Ki Sukma Kelana segera mengajak mereka memasuki bangsal utama perguruan Gunung Salaka. Tak lupa, mereka juga mengajak tokoh-tokoh dari Perguruan Gunung Sutra untuk melanjutkan pembicaraan dan memecahkan masalah misterius ini.

"Nah! Sekarang, marilah kita pecahkan teka-teki ini dengan kepala dingin. Ranjita, coba ceritakan pengalamanmu," usul Ki Sukma Kelana ketika mereka telah berkumpul di ruang bangsal utama. Ki Sukma Kelana rupanya sudah menyadari kekeliruannya, dan kini bersikap lebih hati-hati.

Ranjita segera menceritakan apa-apa yang dialami dari awal, hingga akhirnya ditolong Panji Pendekar Naga Putih. Murid tingkat empat itu sama sekali tidak melebih-lebihkan atau pun mengurangi ceritanya. "Demikianlah, Guru. Kalau saja saat itu tidak datang Pendekar Naga Putih, pasti aku tidak akan pernah kembali lagi ke perguruan!" desah Ranjita menutup ceritanya.

"Tidak mungkin!" selak salah seorang tokoh Gunung Sutra. "Selama dua hari ini, kami selalu bersama. Jadi bagaimana mungkin kalau Ki Ageng Sampang melakukan hal itu?!"

"Sabarlah! Bukankah Ki Sukma Kelana sudah mengatakan akan membahas masalah ini dengan kepala dingin. Mengapa kau menjadi tidak sabar?" tegur Algojo Gunung Sutra.

"Ah, maafkan aku. Aku benar-benar bingung!" ucap orang yang menyelak tadi dengan wajah kemerahan.

Ki Sukma Kelana lalu melanjutkan pembicaraan itu. Akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk menunda perselisihan di antara mereka, sampai bisa ditemukan bukti-bukti nyata. Lalu mereka sepakat untuk mengutus murid andalan masing-masing untuk menyelidiki dan memperjelas persoalan itu.

"Adi Panji, kami sangat memerlukan bantuanmu untuk menyertai seorang murid kami dalam melakukan penyelidikan. Mudah-mudahan kau bersedia," ujar Ki Sukma Kelana penuh harap.

"Benar! Sebenarnya kami tidak dapat meninggalkan perguruan tanpa seijin ketua. Sedangkan saat ini ketua Perguruan Gunung Salaka maupun Gunung Sutra tengah mengasingkan diri. Dan sekarang ini kami diberi tugas untuk mengurus perguruan selama beliau pergi," sambung Ki Ageng Sampang menimpali ucapan Ki Sukma Kelana.

"Baiklah, Ki. Akan kucoba untuk membantu memperjelas persoalan ini," jawab Pendekar Naga Putih.

Tidak berapa lama, Ki Ageng Sampang beserta rombongannya bergegas meninggalkan perguruan itu diikuti Panji dan seorang murid andalan dari Perguruan Gunung Salaka yang bernama Suntara. Suntara adalah murid langsung Ki Tunggul Jagad yang dirahasiakan. Hanya dua orang murid kepala yaitu Ki Sukma Kelana dan Ki Surya Kencana yang mengetahuinya. Karena Suntara dibimbing langsung Ki Tunggul Jagad, maka kepandaiannya pun tidak jauh di banding dua tokoh itu. Itulah sebabnya, mengapa Ki Sukma Kelana berani mempercayakan tugas ini kepadanya.

"Ayo, kita harus mempercepat perjalanan," ajak Algojo Gunung Sutra sambil melesat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Melihat orang tua itu sudah berlari meninggalkan mereka, tapa dikomando lagi enam orang lainnya segera berlari mengejar. Terjadilah kejar-kejaran yang seru di antara tujuh orang sakti itu. Ki Ageng Sampang semakin mempercepat larinya karena diam-diam, ingin diujinya kepandaian Panji dan Suntara yang masih belum diketahuinya jelas. Tapi, alangkah terkejutnya orang tua itu ketika menoleh kebelakang. Ternyata baik Pendekar Naga Putih maupun Suntara sudah berada di belakangnya. Sedangkan empat tokoh Gunung Sutra lainnya tertinggal di belakang.

Karena masih merasa penasaran, Ki Ageng Sampang segera mengempos semangatnya. Segera dikerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuh orang tua itu meluncur bagaikan anak panah lepas dari busur. Napasnya agak sedikit memburu dan butir-butir keringat mulai membasahi dahinya. Dan untuk kedua kalinya ia menjadi terkejut ketika menoleh. Ternyata dua pemuda itu masih saja berada di belakangnya.

"Hm, anak-anak muda yang hebat!" ucapnya dalam hati. Merasa sudah cukup menguji dua pemuda itu, Ki Ageng Sampang kembali memperlambat larinya. "Kalau kuteruskan, bisa-bisa putus napasku," ujar Ki Ageng Sampang dalam hati sambil tersenyum mesem.

Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu setengah hari, maka tujuh orang itu tiba di daerah Gunung Sutra. Kegelapan telah menyelimuti bumi, ketika Ki Ageng Sampang, Panji, Suntara, dan empat orang tokoh Gunung Sutra tiba di Perguruan Gunung Sutra. Ki Ageng Sampang segera mengajak Panji dan Suntara untuk bermalam di perguruan itu, agar keesokan paginya dapat melanjutkan perjalanan dengan tubuh segar.

"Apakah Ki Ageng akan ikut dengan kami, besok?" tanya Panji kepada Ki Ageng Sampang, sebelum memasuki kamar yang disediakan untuknya dan Suntara.

"Oh! Tidak, Saudara Panji. Kami akan mengutus seorang murid kesayangan Ki Ageng Pandira yang bernama Rahayu. Dialah yang akan menyertai kalian berdua dalam melakukan penyelidikan. Nah, sekarang beristirahatlah dulu, agar kalian menjadi lebih segar," ujar Ki Ageng Sampang. Setelah berkata demikian, orang tua itu beranjak meninggalkan mereka.

Malam semakin larut. Nyanyian binatang-binatang malam saling bersahutan sehingga membuat suasana malam semakin semarak.

********************

DELAPAN

Hari masih sangat pagi. Bumi pun masih terselimut kegelapan. Di kejauhan terdengar kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan, Semilir angin pagi yang berhembus masih terasa dingin menyentuh kulit. Dari kejauhan teriihat tiga sosok tubuh tergesa-gesa menuruni Lereng Gunung Sutra, yang puncaknya masih dilapisi kabut tebal. Ketiga sosok tubuh itu berlompatan dengan lincahnya, bagai tiga ekor burung yang tengah menikmati keindahan suasana pagi. Lereng Gunung Sutra yang masih basah oleh embun itu, sepertinya tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menuruninya. Tidak beberapa lama, ketiganya sudah tiba di kaki gunung. Sejenak mereka berhenti, sambil menoleh ke kiri dan kanan.

"Arah mana yang harus ditempuh, Panji?" tanya lelaki di sebelahnya yang bertubuh agak jangkung. Dia tak lain dari Suntara, murid kesayangan Ki Tunggul Jagad.

"Lebih baik ambil jalan Selatan saja, karena di Utara banyak perkampungan penduduk," jawab orang yang tak lain adalah Panji Pendekar Naga Putih. "Bagaimana menurutmu, Adik Rahayu?" tanya Panji sambil menoleh kepada orang yang dipanggil Rahayu, dan ternyata seorang wanita.

"Kalau aku terserah kalian saja," jawab gadis yang bernama Rahayu itu. Suaranya begitu halus. Rahayu adalah satu-satunya murid wanita dari Ki Ageng Pandira yang menjadi ketua Perguruan Gunung Sutra. Biarpun seorang wanita, namun tidak mungkin dipandang remeh. Sebab sebagai murid Ki Ageng Pandira yang berjuluk Dewa Berlengan Delapan itu. Rahayu pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah. Apalagi sudah dipercayakan untuk menunaikan tugas yang berbahaya seperti itu. Pasti ia telah dibekali ilmu-ilmu yang tinggi dan hebat.

Memang, akhirnya arah yang diambil tiga orang muda-mudi itu adalah ke arah Selatan, sebagaimana yang diusulkan Pendekar Naga Putih. Mereka melangkah bersisian, melewati sebuah hutan kecil yang jarang dijamah manusia. Jalan itu sengaja dipilih, karena itu adalah jalan pintas. Setelah hampir setengah harian berjalan, beberapa ratus depa di hadapan mereka terbentang sebuah jalan besar yang banyak dilalui orang.

"Hm, rasanya kita akan melewati sebuah perkampungan penduduk," gumam Panji tak jelas.

"Apakah kita akan singgah, Panji?" tanya Rahayu yang rupanya mendengar gumaman Panji tadi.

"Tentu saja. Perutku sudah keroncongan minta diisi," jawab Suntara tanpa malu-malu sambil menepuk-nepuk perutnya hingga menimbulkan suara nyaring.

"Apa kau kira perutku dari batu? Dengarlah nyanyian cacing-cacing di perutku yang sudah segera minta diisi," timpal Panji seraya tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo!" seru Rahayu sambil melesat mendahului kedua kawannya. Gerakan gadis itu gesit sekali, bagaikan seekor burung walet yang baru keluar dari sarangnya.

Melihat gadis itu sudah mendahului, kedua pemuda itu tidak mau ketinggalan. Sekali menjejak tanah, tubuh mereka segera melayang mengejar Rahayu. Timbul kegembiraan di hati gadis itu ketika melihat dua kawannya yang sama-sama tampan dan gagah mengejar di belakangnya. la pun segera mempercepat larinya seraya mengerahkan seluruh tenaga, sehingga dua orang pemuda itu tertinggal di belakangnya.

Suntara dan Panji tentu saja mengetahui maksud gadis itu sebenarnya. Maka segera dikerahkan kemampuan mereka untuk mengejar Rahayu, yang beberapa ratus depa di depan. Namun meskipun Suntara telah mengerahkan seluruh kemampuan tetap saja jarak di antara mereka tidak berubah. Panji yang mengetahui bahwa Suntara tertarik kepada Rahayu, tidak berusaha untuk mengejar gadis itu. Sebenarnya dia bisa mengejarnya, tapi sengaja berpura-pura lelah dan mengalah kepada mereka.

"Eh! Di mana Panji?" tanya Rahayu, yang sudah duduk di atas sebuah batu di tepi jalan ketika Suntara tiba di dekatnya.

"Entahlah. Mungkin sudah merasa kelelahan," jawab Suntara yang terlihat agak sedikit lelah itu. Namun tak lama kemudian Panji muncul, dengan napas dibuat tersengal-sengal.

"Wah! Tega-teganya kalian meninggalkan aku, hhh...," setelah berkata demikian, Panji segera menjatuhkan tubuhnya di atasa tanah berumput.

"Sudahlah. Ayo kita mencari kedai makan," ajak Suntara. Dia segera berjalan memasuki perbatasan desa, yang tinggal beberajpa ratus meter itu.

Tanpa berkata-kata lagi, Panji dan Rahayu segera melangkah mengikuti Suntara. Pemuda itu kini sudah memasuki sebuah kedai makan yang terletak di tepi jalan utama desa. Panji dan Rahayu juga segera memasuki kedai, dan langsung mengambil tempat duduk dihadapan Suntara. Setelah selesai mengisi perut tiga muda-mudi itu segera melanjutkan perjalanan.

********************

"Wah! Terpaksa harus menginap di dalam hutan!" ujar Suntara, ketika hari telah gelap.

"Aku kira demikian. Rasanya tidak ada desa terdekat di sekitar sini!" jawab Panji. "Mari, kita cari tempat yang lebih enak."

Maka mereka segera meneruskan langkahnya memasuki hutan, dan akhirnya tiba pada sebuah tempat yang agak luas. Dan tempat itu baik sekali untuk melewati malam.

"Kalian tunggulah di sini. Aku mau mencari air. Sepertinya, tidak jauh dari tempat ini ada sebuah sungai. Aku telah mendengar gemericik air," jelas Panji sambil melangkah meninggalkan kedua kawannya.

"Baiklah. Biarlah aku yang mencari ranting-ranting kering, agar dapat digunakan untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin, Kau tunggulah di sini, Adik Rahayu!" ujar Suntara. Tidak berapa lama kemudian, kedua orang pemuda itu pun sudah tidak terlihat lagi.

Rahayu yang ditinggal seorang diri itu, tiba-tiba menjadi gelisah. Diputuskanlah untuk jalan-jalan saja, daripada berdiam diri sendiri seperti patung. Maka segera kakinya melangkah mengitari tempat itu. Ketika tengah melangkah dengan hati resah, tiba-tiba telinganya yang terlatih menangkap sebuah desiran halus dari arah belakang. Cepat bagaikan kilat gadis itu berbalik, dan cepat sekali tangannya bergerak menampar sambil memiringkan kuda-kudanya. Dan gadis itu menjadi terkejut, ketika merasakan tangannya bergetar setelah bergerak menampar.

"Hm, hebat juga tenaga orang yang berjiwa curang itu!" desis Rahayu. Penasaran sekaligus geram. Rahayu yang semula ingin berteriak menyuruh penyerang gelap itu keluar, segera mengurungkan niatnya. Alisnya yang indah itu berkerut, ketika memperhatikan benda yang menyerangnya secara gelap tadi. Dengan sikap waspada diraihnya benda yang ternyata adalah sebuah daun lontar yang terlipat rapi.

"Hm. Apa maksud orang itu sebenarnya? Jelas orang itu tidak berniat mencelakakan. Sebab kalau berniat jahat, mengapa harus menggunakan daun lontar?" desah Rahayu di tengah keheranannya.

Tangan gadis itu bergerak membuka lipatan daun lontar. Hatinya berdebar tegang, ketika membaca tulisan yang tertera di dalamnya. Dibacanya berulang-ulang, seolah-olah tidak mempercayai matanya.

“Kalau ingin menemukan orang ketiga yang mengacaukan perguruanmu, temuilah aku di sebuah danau. Letaknya tidak jauh dan tempatmu. Cepatlah, sebelum semuanya terlambat.”

Rahayu membaca berulang-ulang surat yang tertera di atas daun lontar tadi. Dadanya berdebar cepat antara perasaan girang dan tegang. Sebab tugas yang dikatakan berat oleh gurunya itu, ternyata dapat dilakukan amat mudah. Tanpa berpikir dua kali, Rahayu berkelebat cepat mencari tempat yang dimaksudkan si pengirim daun lontar tadi. Karena gembira yang meluap-luap, sehingga Rahayu terlupa akan Suntara dan Panji yang juga mempunyai tujuan serupa.

Di tempat lain, Suntara yang tengah memunguti ranting-ranting kering menjadi terkejut ketika mendengar suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya. Semula Suntara tidak mempedulikannya, karena dikira itu adalah suara langkah kawannya. Namun ketika menoleh, mendadak wajahnya menegang. Ternyata orang yang tengah menghampirinya itu adalah Algojo Gunung Sutra atau Ki Ageng Sampang. Suntara yang sudah mendengar cerita Ranjita dan Panji tentang seorang yang menyamar menjadi Ki Ageng Sampang itu, sejenak meragu. Tapi keraguannya menjadi pudar ketika mendengar sapaan orang tua itu.

"Ha ha ha..., Suntara! Apakah kau sudah menemukan tanda-tanda orang yang kau curigai?" tanya Algojo Gunung Sutra, sambil terus melangkah menghampirinya.

"Oh! Belum. Belum, Ki! Kami... kami belum menemukan apa-apa," jawab Suntara gagap. Sementara pandang matanya tetap meneliti sekujur tubuh Ki Ageng Sampang. "Mengapa Ki Ageng berada di tempat ini? Bukankah dia harus mengurus perguruan?" Suntara bertanya-tanya dalam hati dengan sikap tetap waspada.

Biar bagaimanapun, Suntara masih tetap meragukan keaslian orang tua itu. Sebab sebelum meninggalkan Gunung Sutra, Ki Ageng Sampang berkata bahwa ia tidak bisa meninggalkan perguruan. Hal ini karena ketua Perguruan Gunung Sutra tengah menyepi di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun kecuali Ki Ageng Sampang sendiri. Memang sampai saat ini ia masih belum mempercayai orang tua di hadapannya itu. Maka diam-diam dikerahkan tenaga saktinya untuk menghadapi segala kemungkinan. Orang tua bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seakan-akan dipahami betul keraguan Suntara.

"Yahhh.... Dapat kumengerti sikapmu yang mencurigai aku, Suntara. Memang, kita tidak boleh mempercayai sesuatu yang belum diketahui kebenarannya," tegas orang yang mengaku sebagai Ki Ageng Sampang disertai helaan napas yang dalam.

Wajah orang itu memang teriihat sedih seolah-olah menyesali perbuatan orang yang telah menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra. Sedangkan kedua kakinya terus melangkah mendekati Suntara. Suntara tertunduk malu mendengar kata-kata bernada sedih dari orang tua yang dihormatinya itu. Untuk beberapa saat lamanya kesiagaannya lenyap tersentuh kata-kata halus tadi.

Namun, kalau saja Suntara tidak menundukkan wajahnya tentulah akan terkejut melihat sinar mata orang tua itu. Sinar mata yang semula meredup, kini tampak berkilat penuh cahaya nafsu membunuh. Jarak di antara mereka hanya tinggal satu jangkauan tangan saja. Dan, tiba-tiba saja tangan orang tua itu terangkat dengan cengkraman maut Suntara yang tengah lengah itu mengira bahwa orang yang diduganya Ki Ageng Sampang itu ingin menepuk pundaknya, sehingga sama sekali tidak merasa curiga. Tapi, ketika dirasakan sambaran angin kuat yang keluar dari kedua tangan orang tua itu, rasanya sudah terlambat untuk menghindar. Untung saja, tenaga dalamnya merasakan ada tekanan membahayakan dan segera cepat bergolak melindungi dirinya.

Deeesss!

Tubuh Suntara terpelanting ketika tamparan keras itu menghantamnya. Untunglah pada saat yang berbahaya itu masih dapat dimiringkan tubuhnya. Sehingga tamparan yang semula tertuju ke kepalanya, melesat menghantam bahunya dengan keras. Cepat-cepat Suntara bergulingan mengikuti dorongan itu, agar dapat menjauhi lawannya.

"Huaaakkk...!" Suntara seketika memuntahkan darah berwarna kehitaman. Jelas itu akibat hantaman kuat, yang rupanya telah melukai bagian dalam tubuhnya. Meskipun demikian Suntara masih mencoba bangkit. Untunglah tenaga dalamnya telah bergerak melindungi tubuhnya. Kalau tidak, pasti bahu yang terkena hantaman lawan itu akan patah tulang-tulangnya.

Saat itu, orang yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra sudah meluncur sambil mengarahkan totokan-totokan yang dapat melumpuhkan tubuh lawan. Kedua tangannya bergerak susul-menyusul, seolah-olah berebut untuk menyentuh tubuh Suntara. Dengan gerakan limbung bagaikan orang mabuk tuak, Suntara berusaha menghindari serangan lawannya. Dalam posisi seperti ini, Suntara masih mencoba untuk melontarkan serangan-serangan balasan. Sehingga untuk beberapa saat lamanya, dia masih melakukan perlawanan yang cukup berarti.

"Setan! Bocah ini ternyata alot juga," umpat orang bertubuh jangkung itu mengumpat, penuh kegeraman. Mau tidak mau harus diakui keuletan pemuda yang menjadi lawannya itu.

Wuuuttt!

Orang tua itu memiringkan tubuhnya menghindari sambaran "tangan kanan Suntara yang mengarah kepala. Dan memang, serangan pemuda itu luput. Ki Ageng Sampang palsu itu langsung membalas dengan sebuah totokan yang menimbulkan desingan angin tajam. Suntara melempar tubuh ke belakang untuk menghindarinya. Tapi alangkah terkejutnya pemuda Itu ketika melihat jari-jari tangan lawan masih tetap mengejar dan mengancam tubuhnya. Suntara yang tidak melihat jalan keluar, terpaksa menyambutnya dengan sisi telapak tangan miring. Pemuda itu kembali terkejut ketika jari-jari yang hendak ditepis, tiba-tiba meliuk dan meluncur pesat menuju lehernya.

"Aaahhh...!" keluh Suntara agak terkesiap. Segera dijatuhkan tubuhnya dan bergulingan menghindari kejaran tangan lawan yang bagai seekor ular hidup itu. Setelah memasrikan bahwa lawannya cukup jauh, pemuda itu melenting berdiri. Namun, belum juga Suntara memantapkan posisi berdirinya, tiba-tiba orang tua itu bersalto melewati kepalanya dan mendarat di belakangnya. Sementara Suntara yang masih terkesiap tiba-tiba merasakan....

Desss!

"Uuughhh...!" Suntara melenguh tertahan. Tubuh Suntara terlontar keras ke depan, ketika sebuah tendangan berkekuatan hebat menghantam bagian belakangnya. Pemuda itu ambruk tak sadarkan diri, setelah terlebih dahulu memuntahkan darah segar. Sejenak orang tua itu tertawa, lalu mendekati tubuh Suntara. Segera dipanggulnya tubuh murid kesayangan Ki Tunggul Jagad itu.

********************

Sementara itu, Panji yang sudah kembali ke tempat Rahayu menunggu, menjadi keheranan ketika tidak menemukan gadis itu. Nalurinya yang tajam mengisyaratkan adanya bahaya yang mengancam di sekitar tempat ini. Panji mengitari sekitarnya dengan kewaspadaan penuh. Pendekar Naga Putih itu mengurungkan niatnya untuk memanggil Rahayu, ketika pendengarannya yang terlatih menangkap samar-samar suara orang tengah melangkahkan kaki.

Cepat bagai kilat Panji melesat ke arah asal suara tadi. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menjadi kebingungan ketika suara itu mendadak terhenri. Pendekar Naga Putih itu mengerutkan keningnya sambil mengerahkan seluruh kepekaan pendengarannya. Panji segera menyusupkan tubuhnya di balik semak-semak, ketika mendengar suara langkah kaki kembali terdengar mendatanginya.

"He he he.... Ki Tunggul Jagad, tunggulah kehancuranmu!" terdengar suara tawa kemenangan dari mulut orang tua bertubuh jangkung ketika melintas tidak jauh di hadapan Panji Pendekar Naga Putih itu menjadi terkejut melihat tubuh yang terkulai di atas bahu orang yang mengaku sebagai Algojo Gunung Sutra.

"Suntara...!" desisnya keheranan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera melesat melampaui kepala orang tua tersebut.

"Berhenti...!" bentak Panji begitu kakinya mendarat di hadapan orang bertubuh jangkung itu. "Hm..., lagi-lagi kau membuat ulah, Orang Tua!" desis Panji penuh kemarahan.

Orang tua itu tersentak kaget, sambil melangkah mundur. Jelas tergambar rasa gentar di wajahnya ketika mengenali pemuda yang menghalangi jalannya. Matanya berputar liar mencari jalan untuk menghindar. "Huh! Mengapa kau selalu mencampuri urusanku, Pendekar Naga Putih?!" dengus orang tua itu.

Mulutnya berkata demikian, tapi sementara otaknya berputar mencari jalan selamat. Rupanya Ki Ageng Sampang palsu yang sudah pernah merasakan kehebatan Panji, merasa yakin tidak akan dapat mengatasi pemuda sakti itu. Makanya, sekarang ini dia berusaha untuk mengulur waktu sambil memutar otaknya mencan jalan keluar.

"Tidak perlu banyak bicara lagi, Orang Tua! Terimalah hukumanmu!" bentak Panji geram.

Begitu ucapannya selesai, tubuh pemuda itu melesat cepat membawa serangan berbahaya. Selapis kabut tipis yang berwarna putih keperakan kini telah menyelimuti tubuhnya. Pertanda bahwa pemuda sakti itu telah mengerahkan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan' yang menimbulkan hawa dingin luar biasa. Kedua tangannya yang telah membentuk cakar naga itu terulur disertai hembusan udara dingin yang menggigit.

Algojo Gunung Sutra palsu terkejut ketika merasakan sambaran hawa dingin yang sangat kuat menerpa tubuhnya. Cepat-cepat dilempar tubuhnya kebelakang untuk menghindari serangan yang luar bisa hebatnya. Wajah orang tua itu berubah pucat ketika sepasang tangan yang bagaikan cakar-cakar naga itu terus mengejarnya. Karena tidak mempunyai peluang untuk lolos, orang tua itu pun menggerakkan tangannya menangkis serangan Pendekar Naga Putih dengan sekuat tenaga!

Dukkk!

"Aiiihhh.,.!" jerit orang tua itu. Seketika dirasakan hawa dingin yang amat kuat menyusup dari tangan pemuda itu. Saat menangkis serangannya. Tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh tiga tombak. Sehingga tubuh Suntara yang semula berada di bahunya ikut pula terlempar. Cepat dia bangkit sambil mengerahkan hawa mumi untuk mengusir hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil hebat. Darah merah yang agak mengental karena hawa dingin itu mengalir melalui sela-sela bibirnya.

"Ilmu iblis...!" dengus orang yang mengaku-ngaku sebagai Algojo Gunung Sutra. Wajahnya nampak semakin memucat. Setelah dapat mengusir hawa dingin tubuhnya, orang tua itu segera bersiap menghadapi gempuran lawannya.

"Huh! Jangan bertepuk dada dulu, Anak Muda! Ayo kita bertempur sampai seribu jurus!" gertak Algojo Gunung Sutra palsu di tengah keputusasaannya.

Namun, sebelum kedua orang itu saling bergebrak, tiba-tiba terdengar lengkingan halus yang menyakitkan telinga, Panji terkejut ketika merasakan kekuatan yang terkandung dalam suara lengkingan itu. Meskipun tidak membahayakan dirinya, tapi hatinya cemas juga. Dari suara lengkingan itu Pendekar Naga Putih dapat menebak kepandaian orang yang mengeluarkan suara lengkingan itu.

Di lain pihak, orang yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra itu menjadi berseri-seri wajahnya. "Ha ha ha...! Syukurlah kau segera datang, Nyai Serondeng!" ujar orang tua itu tertawa gembira. Sementara tubuh Suntara sudah pula berada dalam pondongannya. Dia memang ingin menculik pemuda ini.

"Cepat tinggalkan tempat ini, goblok!" perintah wanita tua yang tiba-tiba saja sudah berada di tempat itu.

"Berhenti! Langkahi dulu mayatku kalau kalian ingin meninggalkan tempat ini!" bentak Panji. Segera dia melesat mengejar Algojo Gunung Sutra palsu yang sudah bergerak meninggalkan tempat pertarungan.

"Hi hi hi.... Selamat tinggal, Pendekar Naga Putih! Sayang sekali, hari ini aku tidak mempunyai waktu untuk bermain-main denganmu!" tegas wanita tua itu. Suaranya begitu tinggi dan nyaring.

Setelah berkata demikian, wanita tua itu menggerakkan tangannya ke arah Pendekar Naga Putih. Melihat luncuran sebuah benda putih yang berbentuk bulat itu bagitu deras, cepat-cepat Panji melesat ke atas dan berputar dua kali di udara.

"Darrr!" Benda sebesar telur puyuh itu meledak ketika menyentuh permukaan tanah. Asap putih tebal yang menebarkan bau itu bergulung-gulung menutupi sekitarnya. Pendekar Naga Putih yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah, tidak dapat mengejar kedua musuhnya. Tentu saja, karena asap tebal telah menghalangi penglihatannya.

"Asap beracun...!" sentak Panji sambil melompat keluar dari gulungan asap tebal tersebut Kedua tangan pemuda sakti itu mendorong ke depan seraya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

"Wuuusss!" Angin yang berhawa dingin luar biasa seketika berhembus keras mengusir asap beracun yang menyelimuti sekitarnya. Dalam beberapa saat saja, tempat itu kembali terang. Hanya sayangnya, Panji sudah tidak menemukan dua orang musuhnya.

Pendekar Naga Putih berlari mengitari seluruh daerah itu untuk mencari dua orang musuhnya tadi. Tapi mereka bagaikan lenyap ditelan bumi. Dengan langkah gontai, Panji kambali ke tempatnya semula, tempat mereka berniat melewatkan malam. Pemuda itu termenung mengingat-ingat kejadian-kejadian yang baru beberapa hari ini dialaminya. Memang, masih menjadi misteri yang harus diungkapnya.

Angin malam bersilir lembut menyejukan tubuh. Seolah-olah ingin menghibur dan menghilangkan keresahan di hati pemuda itu. Sekejap kemudian, Panji sudah terlelap.

********************

Kemanakah perginya Rahayu? Dan bagaimana nasib Suntara? Siapakah orang tua yang menyamar sebagai Algojo Gunung Sutra, dan siapa pula tokoh yang bernama Nyai Sorendeng itu? Dan yang terpenting, siapakah yang mendalangi semua kemelut ini?! Untuk jawabnya, ikutilah kisah selanjutnya dalam episode PARTAI RIMBA HITAM

S E L E S A I