Social Items

Mendengar pertanyaan itu, Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang dan Si Han Beng memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada isterinya, tanda bahwa dia setuju kalau isterinya menceritakan tentang keadaan puteri mereka kepada Thian Ki dan Cin Cin.

"Malapetaka telah menimpa keluarga kami, Thian Ki dan Cin Cin. Sejak anak kami berusia dua tahun, ia telah diculik orang dan sampai sekarang kami belum pernah melihat anak kami itu." Biarpun ia seorang wanita gagah perkasa, namun menceritakan tentang puterinya itu, mau tidak mau Bu Giok Cu merasa berduka dan suaranya terdengar agak gemetar.

Mendengar itu, Cin Cin menjadi penasaran sekali. "Akan tetapi bagaimana mungkin hal itu terjadi, bibi? Paman dan bibi adalah suami isteri yang berkepandaian tinggi! Siapa orangnya berani main-main seperti itu, berani menculik puteri paman dan bibi? Katakan, siapa orangnya dan aku akan membantu paman dan bibi mencari puteri bibi itu sampai dapat!"

"Akupun siap untuk membantu paman dan bibi mencari penculik itu!" kata Thian Ki.

"Penculiknya seorang wanita yang bernama Kwa Bi Lan," kata Si Han Beng.

Cin Cin memandang heran. "Dan selama ini paman dan bibi tidak pernah berhasil menemukan kembali puteri paman itu?"

Bu Giok Cu yang menjawab setelah menghela napas panjang. "Kami berdua memang tidak pernah mencarinya."

"Tapi, kenapa, bibi? Dengan ilmu kepandaian bibi yang tinggi, apalagi ada paman. Apa sukarnya mencari penculik itu, membunuhnya dan merampas kembali puteri bibi? Kenapa bibi dan paman tidak pernah mencarinya?"

Thian Ki juga ikut menatap wajah suami isteri itu bergantian dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan. Kembali suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu menghela napas panjang, lalu berkata,

"Baiklah, kalian berdua adalah keluarga Hek-houw-pang, bukan orang luar dan biar akan kuceritakan apa yang telah terjadi belasan tahun yang lalu dan kenapa kami tidak pernah mencari puteri kami."

Ia lalu menceritakan tentang Kwa Bi Lan yang terhitung su-moi dari suaminya. Kemudian Kwa Bi Lan menjadi isteri gurunya sendiri, mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki. Liu Bhok Ki marah dan penasaran kepada Si Han Beng yang mengecewakan hatinya, karena Si Han Beng yang tadinya diharapkan menikah dengan Kwa Bi Lan malah menikah dengan Bu Giok Cu tanpa memberi tahu. Liu Bhok Ki berduka dan menjadi sakit-sakitan sampai meninggalnya, dan Kwa Bi Lan merasa sakit hati kepada Si Han Beng.

"Nah, untuk membalas sakit hatinya itulah, Kwa Bi Lan datang dan menculik Hong Lan, anak kami. Kami tidak berani mengejar, karena ia mengancam bahwa kalau kami mengejar, ia akan membunuh anak kami." Sampai di sini, nyonya itu tidak kuasa lagi mencegah menetesnya beberapa butir air mata.

"Akan tetapi, tentu ada cara untuk merampas kembali puteri bibi." kata Thian Ki. "Apalagi sekarang tentu ia telah menjadi seorang gadis yang dewasa."

"Jangan khawatir, paman dan bibi. Kalau Thian Ki sudah mendapatkan kebebasan dari hawa beracun di tubuhnya, kami berdua akan mencari puteri bibi sampai dapat dan kami tidak akan berhenti mencari sebelum kami berhasil!" kata Cin Cin penuh semangat. Thian Ki membenarkan dan diapun menyanggupi untuk mencari dan mengajak kembali Si Hong Lan kepada orang tuanya.

"Aku khawatir ia tidak akan lagi mengenal kami," kata Bu Giok Cu. "Mudah-mudahan saja Kwa Bi Lan dapat menjadi pengganti ibu yang baik. Ia bukan seorang jahat, bahkan ia seorang pendekar wanita yang tangguh, murid Siauw-lim-pai..."

"Murid Siauw-lim-pai? Seperti ayah tiriku..." kata Cin Cin.

Si Han Beng mengangguk. "Memang Kwa Bi Lan adalah keponakan dari ayah tirimu yang bernama Lie Koan Tek itu, Cin Cin."

"Ahh.......!" Gadis itu berteriak kaget. "Kalau begitu, lebih mudah lagi! Aku akan bertanya kepada ayah tiriku, tentu dia mengetahui dimana adanya Kwa Bi Lan dan aku akan mengambil puteri bibi darinya!"

Bu Giok Cu tersenyum. "Terima kasih, Cin Cin. Biarpun sejak lama engkau menjadi murid Tung-hai Mo-li, ternyata engkau tidak kehilangan watak pendekar dari orang tuamu. Syukurlah, karena aku sendiri dahulu juga menjadi murid seorang datuk sesat, yaitu Ban-tok Mo-li mendiang nenek Thian Ki. Akan tetapi, rasanya tidak begitu mudah bagi kami untuk mendapatkan kembali anak kami, karena sekarang tentu ia telah dewasa dan kalau ia sudah menganggap Kwa Bi Lan sebagai ibunya, ia tidak mengenal kami lagi."

"Akan tetapi hal itu dapat dijelaskan kepadanya, bibi!" bantah Cin Cin.

"Sudahlah," kata Si Han Beng. "Hal itu tidak perlu diributkan lagi. Kami memang amat rindu kepada anak kami, akan tetapi kami sudah tidak mengharapkan ia mengenal kami sebagai orang tuanya. Kalau kami dapat melihat ia dalam keadaan sehat dan selamat, juga berbahagia, kami sudah ikut merasa berbahagia. Sekarang sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kami berdua akan samadhi dan menghimpun tenaga sin-kang. Malam nanti baru kami akan mencoba untuk membantu Thian Ki mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Thian Ki, engkau tinggal di kamar tamu di depan, dan Cin Cin di kamar anak kami yang sampai sekarang masih kami pelihara baik-baik dan kami persiapkan kalau-kalau anak kami itu pulang."

Thian Ki dan Cin Cin merasa terharu sekali mendengar ucapan pendekar itu karena dalam ucapan itu terkandung harapan dan kedukaan yang mendalam, namun sengaja ditekan. Setelah suami isteri itu memasuki kamar mereka untuk bersamadhi, Thian Ki tinggal berdua saja dengan Cin Cin.

"Mari kita keluar, di samping rumah melihat taman yang indah dan hawanya sejuk," kata Thian Ki.

Tanpa menjawab Cin Cin mengikutinya. Mereka memasuki taman. Suasana sunyi dan taman itu memang menyejukkan badan dan hati. Thian Ki mengajak Cin Cin duduk di bangku dalam taman. Keduanya duduk dan berdiam diri sampai lama. Akhirnya Cin Cin yang bicara, suaranya lirih.

"Thian Ki, kenapa engkau lakukan itu?"

"Lakukan apa?" Thian Ki mengangkat muka menengok dan karena gadis itu pun sedang memandangnya, maka dua pasang mata bertemu dan bertaut.

"Yang kau katakan kepada subo dan kepada paman dan bibi tadi..."

"Ya...?" Thian Ki mendukung.

"...bahwa engkau... cinta padaku dan mengharapkan akan menjadi... isterimu..." gadis itu tidak kuasa menahan debaran hatinya yang tegang dan malu, dan ia menundukkan mukanya. Padahal, Cin Cin adalah seorang gadis yang biasanya lincah jenaka, periang dan gembira lagi pandai bicara, walaupun semenjak tangan kirinya buntung, ia menjadi lebih pendiam. Namun hal ini bukan karena buntungnya tangan, melainkan karena Thian Ki yang menyebabkan buntung.

"Cin Cin, apakah ucapanku itu menyinggung perasaan hatimu? Maafkan kalau aku menyinggungmu..."

"Bukan begitu maksudku, akan tetapi kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau mengucapkan kata-kata itu?" sepasang matayang jeli dan tajam sinarnya itu menatap wajah Thian Ki penuh selidik.

Akan tetapi Thian Ki menyambut tatapan mata itu dengan tenang dan jujur. "Kenapa, Cin Cin? Aku tidak mengerti mengapa engkau masih bertanya kenapa."

"Thian Ki, berterus teranglah. Apakah engkau mengatakan kepada subo bahwa engkau mencintaiku, hanya untuk membela aku dari kemarahan Subo? Kemudian engkau mengatakan kepada paman dan bibi bahwa engkau mengharapkan aku menjadi isterimu hanya agar mereka mau membebaskanmu dari hawa beracun?"

Sepasang mata Thian Ki terbelalak lebar, ia terkejut bukan main karena tidak menyangka sama sekali bahwa ke sana arah pertanyaan Cin Cin tadi. "Cin Cin! Seperti itukah buruknya penilaianmu terhadap diriku? Engkau... tidak percayakah engkau kepadaku?"

"Thian Ki, aku hanya menghendaki kepastian. Jawablah pertanyaanku tadi."

"Demi Tuhan, Cin Cin. Aku memang cinta padamu! Aku memang mengharapkan engkau menjadi isteriku! Atau, engkau menghendaki aku bersumpah?"

"Thian Ki, apakah perasaan cintamu itu terdorong oleh perasaan iba dan menyesal karena engkau telah membuntungi tangan kiriku?" Kembali sepasang mata itu memandang penuh selidik.

Thian Ki merasa hatinya perih sekali. "Cin Cin, kenapa engkau begitu tega mengajukan pertanyaan seperti itu? Ingat bahwa tangan kirimu buntung karena aku selama hidupku akan mendatangkan perasaan sesal di hatiku. Akan tetapi bukan karena itu aku mencintamu dan ingin berjodoh denganmu. Sebelum tangan kirimu buntungpun, ketika pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Justeru karena cintaku kepadamu maka aku membuntungi tangan kirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Setelah tanganmu buntung perasaan duka dan sesal itu bahkan memperdalam rasa cintaku. Cin Cin, kalau engkau tidak menganggap aku terlalu hina dan rendah, aku... sekali lagi kepadamu kunyatakan bahwa aku cinta padamu dan bahwa aku ingin sekali berjodoh denganmu, menjadi suamimu dan kita hidup bersama selamanya, Cin Cin."

Sepasang mata yang jeli itu kini menjadi basah, dan ketika ia membuka mulut bicara, suaranya terdengar lirih dan gemetar. "Thian Ki, aku... aku yang hina dan rendah, aku tidak pantas menjadi isterimu, aku... aku hanya seorang gadis buntung..."

"Hushhh..." Thian Ki meraih dan memegang tangan kanan gadis itu, lalu menutupkan tangan kirinya ke depan mulut Cin Cin, mencegah gadis itu bicara lebih banyak. "Anak bodoh, engkau adalah gadis paling hebat, paling cantik, dan paling kucinta di dunia ini."

"Thian Ki...!" Kini Cin Cin menangis sesenggukan di atas dada Thian Ki. Akan tetapi hanya sebentar.

Mereka berdua maklum bahwa di taman itu, keadaan mereka akan mudah dilihat orang lain. Juga Cin Cin menangis karena bahagia, maka ia dapat menekan perasaannya dan kini mereka duduk berdampingan. Tangan kiri Thian Ki tak pernah melepaskan tangan kanan gadis itu yang digenggamnya erat-erat dan telapak tangan mereka yang saling genggam itu menyalurkan getaran kasih yang hangat dan mesra, yang hanya dapat dirasakan dan dimengerti oleh mereka berdua. Mereka berdua hening sampai lama, hanya saling pandang dan saling lirik. Biarpun matanya masih basah, kini Cin Cin sudah tersenyum manis.

"Cin Cin, engkau masih hutang kepadaku dan harus kau bayar sekarang juga, tidak boleh ditunda-tunda lagi agar hatiku tidak menjadi gelisah..."

Gadis itu membelalakkan matanya yang indah, yang masih basah. "Hutang kepadamu? Aku hutang? Hutang apa, Thian Ki?"

Thian Ki tersenyum. Betapa indahnya mata itu, seperti telaga yang amat dalam penuh rahasia dan bibir itu, betapa manisnya kalau sedang setengah terbuka karena keheranan itu. "Cin Cin, aku sudah mengaku cinta dan ingin memperisterimu, akan tetapi engkau sama sekali belum menjawabku. Nah, itulah hutangmu kepadaku, bayarlah sekarang juga!"

Wajah itu menjadi merah sekali, merah sampai ke lehernya, dan mata itu nampak gugup dan salah tingkah, bibir itu gemetar seolah sukar mengeluarkan suara, dan Cin Cin yang biasanya lincah jenaka, gembira dan tabah, kini nampak seperti seorang gadis yang lemah, pemalu, dan cengeng!

"Aku... aku... ah, Thian Ki, haruskah... aku...? Apakah... engkau tidak dapat merasakan...!?" Ia mencoba menghindari jawaban yang dituntut Thian Ki itu.

"Ah, tidak bisa! Engkau harus menjawab, Cin Cin. Aku pun menghendaki kepastian. Bagaimana kalau engkau sebenarnya tidak cinta padaku dan tidak ingin menjadi isteriku, akan tetapi hanya karena kasihan kepadaku dan sungkan untuk menolak? Nah, kau tahu betapa pentingnya jawabanmu bagiku"

"Jangan... jangan pandang aku seperti itu, sukar bagiku untuk menjawab kalau engkau memandangku..."

Thian Ki tersenyum. "Aku harus memandangmu agar dapat melihat apakah jawabanmu sejujurnya atau hanya berbohong!"

"Ihh! Engkau... kejam sekali, engkau tega membuat aku menjadi salah tingkah begini...?"

Thian Ki menggenggam tangan gadis itu. "Jawablah, Cin Cin. Aku bahkan berani mengaku cinta di depan orang-orang lain. Sekarang, hanya ada kita berdua, pengakuanmu hanya akan kudengar sendiri."

Cin Cin menyerah. Ia menundukkan mukanya dan berkata lirih seperti hanya berbisik saja, namun terdengar amat merdunya dalam telinga Thian Ki. "Thian Ki, sejak pertemuan kita pertama, akupun sudah jatuh cinta padamu. Aku cinta padamu dan aku ingin menjadi isterimu..."

"Cin Cin....!" Kembali Thian Ki mendekapnya dan sejenak mereka tenggelam ke dalam perasaan yang menyatu.

Tiba-tiba mereka saling melepaskan rangkulan karena telinga mereka yang terlatih mendengar langkah orang. Cepat mereka menengok dan mereka melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka. Kalau Thian Ki memandang heran karena tidak mengenal pemuda itu. Cin Cin bangkit dengan cepat dan matanya menyinarkan kemarahan. Sebaliknya, pemuda itupun nampak terkejut bukan main ketika mengenal Cin Cin.

"Cin Cin...!" Pemuda itu berseru kaget.

"Bagus engkau datang, The Siong Ki. Aku memang mencarimu untuk menantangmu! Engkau telah berani melukai ibuku dan menyerang ayah tiriku. Nah, mari kita selesaikan urusan kita di sini!" Cin Cin menantang dan melangkah maju menghampiri.

Akan tetapi pemuda itu, Siong Ki memandang bingung. Melihat di dalam taman ada seorang pemuda dan seorang gadis duduk di bangku taman dan berpelukan, dia yang baru saja datang menjadi heran dan curiga, maka segera memasuki taman untuk menegur. Tidak tahunya, gadis itu adalah Cin Cin! Dia tidak ingin berkelahi dengan gadis yang lihai itu, apalagi di situ terdapat suhu dan subonya.

Seperti kita ketahui, The Siong Ki yang bekerja sama dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling telah gagal ketika membantu pemberontak dan pengkhianat, yaitu Pangeran Li Seng Cun. Mereka bukan saja gagal membunuh kaisar, bahkan Ouw Ling tewas dalam usaha itu, dan Siong Ki berhasil lolos dari istana dan melarikan diri, kembali ke dusun Hong-cun, tempat tinggal suhu dan subonya. Sungguh tidak disangkanya sama sekali akan bertemu dengan Cin Cin di taman gurunya itu.

"Cin Cin, maafkan aku. Memang tidak kusangkal bahwa aku pernah menyerang ibumu dan ayah tirimu. Akan tetapi semua itu terjadi karena aku salah duga. Aku mengira bahwa Lie Koan Tek itulah yang telah membunuh ayahku dalam penyerbuan ke Hek-houw-pang dahulu. Aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku. Aku sekarang menyadari bahwa bukan dia yang membunuh ayahku, dan harap engkau suka memaafkan aku."

"Enak saja minta maaf! Engkau sudah melukai ibuku dan minta maaf begitu saja? Kalau pada waktu engkau menyerang mereka aku tidak muncul dan mencegahmu, mungkin sekarang engkau telah membunuh ibuku dan ayah tiriku!"

"Itu hanya merupakan salah sangka. Maafkan aku, Cin Cin. Atau kalau engkau masih penasaran dan hendak membalaskan luka ibumu, nah, kau boleh lukai aku, aku tidak akan membalas. Ingat, kita masih sama-sama keluarga Hek-houw-pang dan kita sama-sama menderita karena penyerangan kepada Hek-houw-pang itu."

Melihat kekasihnya marah-marah dan sikap pemuda itu yang kini dia kenal sebagai The Siong Ki yang pernah dikenalnya belasan tahun yang lalu ketika dia ikut ayah ibunya ke Hek-houw-pang nampak mengalah dan minta maaf, Thian Ki segera melerai.

"Sudahlah, Cin Cin. Siong Ki benar, semua itu terjadi karena salah sangka, dan dia sudah minta maaf."

Melihat Thian Ki yang nampak akrab dengan Cin Cin dan kini ikut pula bicara, bahkan menyebut namanya begitu saja, timbul perasaan tidak senang dalam hati Siong Ki. Timbul perasaan tinggi hatinya dan dengan ketus dia bertanya. "Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"

Thian Ki merasa heran mendengar ucapan yang bernada tinggi hati dan angkuh itu. Sungguh tidak patut murid Naga Sakti Sungai Kuning bersikap seperti itu, akan tetapi dia tersenyum dan menghampiri Siong Ki. "Siong Ki, lupakah engkau kepadaku? Aku senasib dengan engkau dan Cin Cin, kehilangan ayah ketika Hek-houw-pang diserbu. Aku Coa Thian Ki!"

Siong Ki melebarkan matanya. "Coa Thian Ki? Kau putera Paman Coa Siang Lee itu?" Sekarang Siong Ki bersikap ramah.

"Siong Ki...!"

Pemuda itu terkejut dan wajahnya berubah pucat mendengar suara suhunya. Dia menoleh dan cepat menjatuhkan diri di depan suhu dan subonya yang telah berada di situ. Suami isteri pendekar itu telah mendengar suara mereka dan keduanya memasuki taman. Melihat sikap Cin Cin yang marah, Si Han Beng segera menegur muridnya.

"Siong Ki, apa yang telah kami dengar dari Cin Cin itu? Engkau telah menyerang pendekar Lie Koan Tek dan juga ibu Cin Cin, bahkan telah melukainya? Lupakah engkau akan pesan kami ketika engkau pergi, tidak boleh memusuhi pendekar itu sebelum melakukan penyelidikan dengan seksama dan tidak boleh mendendam kepada siapapun?"

"Ampun, suhu, dan subo, teecu telah melakukan kesalahan karena terburu nafsu dan diamuk duka dan dendam atas kematian ayah. Teecu telah bersalah dan teecu siap menerima hukuman dari suhu berdua." kata Siong Ki dengan nada sedih.

Tadi ketika Thian Ki melerai, hati Cin Cin sudah mulai dingin dan ia dapat memaafkan Siong Ki. Kini, melihat kedua orang guru pemuda ini nampak marah, Cin Cin semakin merasa kasihan kepada Siong Ki. Bagaimanapun juga, yang diserang Siong Ki bukanlah ibunya, melainkan Lie Koan Tek dan ibunya membela suami, maka sampai terluka. Dan penyerangan Siong Ki terhadap Lie Koan Tek tidak dapat terlalu disalahkan karena pemuda itu mengira bahwa ayah tirinya yang membunuh ayah pemuda itu.

"Siong Ki, kembalikan pedangku!" terdengar Bu Giok Cu berkata dan suaranya juga tidak ramah.

Dengan muka pucat Siong Ki melepaskan tali sarung pedangnya dan menyerahkan pedang Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) kepada subonya.

Bu Giok Cu tanpa berkata apa-apa, menerima pedang itu dan mencabutnya dari sarung, memeriksa pedang itu, kemudian memasukkannya kembali dan memasangkan di punggungnya sendiri. "Hemm, pedangku kupinjamkan kepadamu sebagal bekal agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Lalu, apa hasilnya selama engkau pergi ini? Hanya untuk menyerang dan melukai ibu Cin Cin dan ayah tirinya? Itu saja?"

Tentu saja Siong Ki tidak berani menyinggung tentang pekerjaannya membantu pangeran yang memberontak dan usahanya membunuh kaisar namun gagal itu. Ia teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang diculik orang belasan tahun yang lalu. Bahkan ketika Si Hong Lan. puteri Suhunya itu diculik oleh Kwa Bi Lan, dia yang semestinya bertanggung jawab, karena ketika itu, dia yang baru berusia enam tahun yang mengasuh Hong Lan yang berusia dua tahun.

"Maaf. subo..."

"Lancang! Siapa memberi ijin engkau menyebut subo kepadaku?" bentak Bu Giok Cu.

"Maaf... maafkan saya. bibi... saya sudah berusaha semampu saya mencari jejak mereka, akan tetapi belum berhasil."

"Sudahlah," kata Si Han Beng. "Engkau beristirahatlah, atau boleh menemani Thian Ki dan Cin Cin. Kami hendak melanjutkan bersamadhi di kamar dan nanti kalian bertiga boleh makan malam di ruangan makan, kami tidak ingin diganggu sebelum hari menjadi gelap." Setelah berkata demikian, Si Han Beng dan isterinya meninggalkan taman dan masuk kembali ke dalam rumah.

Karena ia sendiri sedang merasa berbahagia dan hatinya senang karena baru saja ia dan Thian Ki sudah saling membuka rahasia hati masing-masing yang saling mencinta, maka hati Cin Cin menjadi tak tega dan ia sudah dapat memaafkan Siong Ki sepenuh hatinya. Apalagi melihat betapa Siong Ki dimarahi oleh kedua orang gurunya, iapun merasa kasihan.

"Tentu engkau disuruh mencari puteri paman Si Han Beng yang diculik orang itu, bukan?" tanya Cin Cin kepada Siong Ki.

Pemuda itu menjatuhkan diri di atas bangku taman dan menghela napas panjang berulang-ulang. Memang hatinya sedang kesal bukan main. Usahanya di kota raja gagal, bahkan hampir saja dia tidak dapat meloloskan diri dari istana. Dan diapun belum berhasil mendapatkan puteri gurunya yang hilang itu.

"Memang nasibku yang buruk. Dahulu, adik Hong Lan diculik oleh Kwa Bi Lan ketika sedang kuajak bermain-main di taman ini. Aku baru berusia enam tahun dan tak berdaya, ditotok oleh Kwa Bi Lan. Dan sekarang, suhu menugaskan aku untuk mencari puterinya, akan tetapi aku sama sekali tidak berhasil menemukan jejak Kwa Bi Lan. Sudah kutanyakan ke seluruh penjuru, kepada para tokoh kangouw, namun tidak ada yang dapat memberitahu dimana adanya Kwa Bi Lan, seolah ia lenyap ditelan bumi bersama anak yang diculiknya."

"Aku yang akan dapat menemukannya, Siong Ki. Aku dan Thian Ki akan membantu paman dan bibi menemukan kembali anak mereka," kata Cin Cin.

"Cin Cin, engkau tahu di mana adanya Kwa Bi Lan yang menculik puteri suhu?" tanya Siong Ki heran.

"Aku juga belum tahu, akan tetapi dapat kutanyakan kepada ayah tiriku. Kiranya dia mengetahui atau dapat menduga di mana adanya wanita itu kerena Kwa Bi Lan adalah keponakan ayah tiriku."

"Ah, begitukah?" kata Siong Ki gembira "Kalau begitu, aku yakin bahwa akhirnya engkau dan Thian Ki yang akan mampu mengembalikan adik Si Hong Lan kepada suhu!"

Kini Siong Ki kelihatan gembira sekali. Memang hatinya bergembira karena lega. Biarpun kedua orang gurunya tidak puas dengan kegagalannya menemukan Hong Lan, akan tetapi mereka tidaklah terlalu marah kepadanya. Dan kini ternyata Cin Cin telah memaafkannya. Tidak ada sesuatu yang dapat dia khawatirkan lagi. Peristiwa di istana kerajaan itu tentu tidak akan diketahui gurunya, dan dia kini telah aman berada di rumah gurunya. Karena gembira, maka dia lalu mengajak Thian Ki dan Cin Cin bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Akan tetapi tentu saja cerita mereka itu terbatas, hanya yang seperlunya saja diceritakan. Siong Ki tentu saja menyimpan rahasia, sedangkan Cin Cin yang bagaimanapun juga tidak sepenuhnya melupakan perbuatan Siong Ki, juga tidak mau menceritakan semua keadaan dirinya. Demikian pula dengan Thian Ki. Sikap Siong Ki yang tadi terdengar angkuh itu saja sudah membuat dia tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pemuda ini.

Karena dia menghadapi pengobatan yang akan dilakukan Si Han Beng dan Bu Giok Cu, Thian Ki berpamit dari kedua orang itu untuk melakukan samadhi di kamarnya, sebagai persiapan menerima bantuan pengobatan dari suami isteri pendekar itu dengan mengumpulkan hawa murni ke dalam tubuhnya. Cin Cin yang memaklumi keadaan kekasihnya dan mengharapkan Thian Ki sembuh atau terbebas dari hawa beracun itu, menyetujui. Iapun mengajak Siong Ki untuk bercakap-cakap di dalam taman itu menanti lewatnya siang hari.

Siong Ki memang seorang yang pandai membawa diri. Dia bersikap sopan dan ramah, bahkan akrab sekali sehingga semakin menipis kesan buruk atas diri pemuda itu dalam hati Cin Cin. "Maafkan aku, Cin Cin, kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Kalau engkau tidak suka menjawab, anggap saja pertanyaanku ini tidak pernah ada." Dia menghentikan kata-katanya sambil memandang wajah gadis itu untuk memberi kesempatan kepada Cin Cin mengambil keputusan.

Cin Cin mengerutkan alisnya. Pemuda aneh, akan tetapi juga ia merasa tertarik untuk mengetahui pertanyaan apa gerangan yang akan diajukan pemuda itu. "Katakanlah, aku tidak akan tersinggung, asal engkau tidak sengaja hendak menyinggung atau menghinaku."

"Cin Cin, aku ingat benar sekarang ketika kita masih sama-sama menjadi sahabat, bahkan saudara seperguruan di Hek-houw-pang. Ketika itu, aku ingat bahwa kedua tanganmu masih utuh. Maaf kan aku... tangan kirimu..."

Cin Cin tersenyum. Ia merasa heran sendiri karena semenjak tangan kirinya buntung, setiap kali ada orang menyinggung tentang tangan itu, ia merasa jengkel dan marah, bahkan banyak orang sudah ia buntungi tangannya hanya karena orang itu menyinggung tentang cacatnya itu. Akan tetapi sekarang, ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia tidak tahu bahwa hal itu terjadi karena pengakuan cinta dari Thian Ki tadi. Kebencian dan kemarahannya karena tangannya buntung adalah kebencian yang timbul karena kekecewaan bahwa pemuda yang dicintanya yang melakukannya. Kini, tangannya yang buntung sama sekali tidak membuat ia menyesal lagi!

"Tangan kiriku ini, Siong Ki?" tanyanya sambil tersenyun dan ia mengangkat lengan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan. Ujung lengan itu terbungkus sutera putih. "Ah, tangan kiriku dipenggal pedang sehingga buntung..."

"Ahh! Siapa jahanam yang melakukannya. Cin Cin? Aku akan membantumu membalas dendam atas perbuatannya yang kejam itu!"

Senyum di bibir Cin Cin mengembang. "Tidak perlu, Siong Ki, karena orang yang membuntungi tangan kiriku adalah Thian Ki sendiri."

"Ehh? Bagaimana pula ini? Kenapa Thian Ki membuntungi tangan kirimu, padahal kulihat..." Dia menghentikan ucapannya karena merasa terlanjur bicara.

"Kami memang saling mencinta dan telah bersepakat untuk menjadi suami isteri, Siong Ki. Pembuntungan tanganku ini telah terjadi beberapa waktu yang lalu."

"Tapi... kenapa? Sungguh aneh kalau dia mencintamu akan tetapi membuntungi tanganmu!"

"Justeru karena dia mencintaku maka dia membuntungi tangan kiriku, Siong Ki. Karena kalau dia tidak melakukan itu, tentu sekarang aku sudah tidak berada di dunia lagi, sudah mati."

"Ehh? Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi?" Tentu saja Siong Ki menjadi semakin penasaran dan heran.

"Panjang ceritanya, Siong Ki," Kata Cin Cin. "Ketika itu, aku memenuhi permintaan guruku untuk membunuh guru dan ayah tiri Thian Ki..."

"Maksudmu Cian Bu Ong?"

"Benar. Cian Bu Ong yang dimusuhi oleh guruku. Thian Ki hendak melindungi ayah tirinya, dan aku mencengkeram pundaknya, tidak tahu bahwa dia seorang tok-jin (manusia beracun) sehingga tangan kiriku yang mencengkeram itu bahkan keracunan. Melihat itu Thian Ki cepat membuntungi tangan kiriku karena kalau tidak, racun akan menjalar naik dan nyawaku tidak akan dapat diselamatkan lagi."

"Luar biasa sekali! Kalau tidak mendengar sendiri darimu, bagaimana aku dapat percaya? Engkau sudah dibuntungi tangan kirimu oleh Thian Ki dan sekarang engkau bahkan memilihnya menjadi calon suamimu!"

"Akan tetapi, dia melakukannya untuk menyelamatkan nyawaku, dan akulah yang mencengkeram pundaknya."

Siong Ki mengangguk-angguk. "Hemm, jadi Thian Ki adalah seorang manusia beracun? Mengerikan."

"Dia dijadikan tok-tong oleh mendiang neneknya, ketika dia masih kecil. Hal itu bukan kehendaknya dan kini justeru dia datang mencari paman Si Han Beng dan isterinya untuk minta pertolongan mereka agar suka membantunya membebaskan dirinya dari pengaruh hawa beracun itu." Cin Cin membela kekasihnya.

Siong Ki mengangguk-angguk. "Dan suhu sudah menyanggupinya?"

"Sudah, paman dan bibi akan berusaha mengobatinya malam nanti, sekarang paman dan bibi sedang melakukan siu-lian (samadhi) untuk menghimpun kekuatan."

Siong Ki berdiam diri sampai lama, alisnya berkerut. Betapa lihainya Coa Thian Ki. Tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat ampuh! Bahkan Cin Cin yang demikian lihainya, setelah mencengkeram Thian Ki, tangannya sendiri keracunan hebat dan kalau tidak dibuntungi, akan tewas! Kalau saja dia yang mempunyai tubuh beracun seperti itu, alangkah senangnya! Tidak akan ada yang mampu mengalahkannya, dan dia akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia ini. Akan tetapi, Thian Ki berusaha keras hendak melenyapkan pengaruh hawa beracun itu, agar tubuhnya tidak beracun lagi! Sungguh gila!

Melihat pemuda itu termangu dan termenung, Cin Cin tersenyum. "Siong Ki, apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

"Sungguh aku merasa heran bukan main, Cin Cin. Thian Ki dapat menjadi tok-tong itu sungguh luar biasa sekali! Belum tentu seorang anak dari sejuta orang dapat seberuntung dia. Akan tetapi, memiliki tubuh yang demikian lihainya, yang dapat membuat dia menjadi seorang lawan yang sukar dikalahkan dan amat berbahaya, sepatutnya dia bahagia dan bangga. Akan tetapi kenapa dia malah hendak membebaskan dirinya dari hawa beracun di tubuhnya itu?"

Setelah bercakap-cakap dengan Siong Ki, Cin Cin merasa akrab kembali dengan pemuda yang di waktu kecilnya adalah teman bermainnya itu, maka iapun tidak ragu lagi untuk berterus terang. "Siong Ki, Thian Ki bukan seorang yang haus akan kemenangan, tidak ingin menjadi jagoan yang paling kuat di dunia persilatan. Dia ingin menjadi manusia biasa, jatuh cinta dan dicinta, kemudian menikah dan membentuk keluarga. Sedangkan kalau tubuhnya masih beracun seperti sekarang ini, dia tidak mungkin dapat menikah."

"Eh, kenapa begitu? Apa salahnya kalau dia menikah?"

"Kalau dia menikah, isterinya akan tewas keracunan," kata Cin Cin singkat.

Hampir saja Siong Ki mengeluarkan suara hatinya dalam kata-kata bahwa dia tidak akan perduli apakah wanita yang diperisterinya akan tewas, dia bahkan akan dapat berganti-ganti isteri, dengan tubuhnya yang demikian ampuh, apapun akan dapat diraihnya! Biarpun Siong Ki dapat menahan diri dan tidak mengucapkan suara hatinya.

Namun Cin Cin yang hendak membela kekasihnya, seolah dapat mendengar isi hati Siong Ki dan iapun berkata, bukan tidak ada kebanggaan terkandung dalam suaranya. "Sebetulnya, tanpa diobatipun, Thian Ki akan dapat membebaskan dirinya dari pengaruh racun itu kalau ia sudah memperisteri banyak wanita dan menewaskan mereka. Akan tetapi Thian Ki bukanlah seorang yang jahat seperti itu. Dia tidak ingin menyebabkan kematian siapapun, apalagi kematian seorang wanita yang menjadi isterinya. Dia akan berupaya agar tubuhnya bebas dari pengaruh hawa beracun, barulah dia mau menikah. Kalau usahanya itu gagal, dia lebih senang selama hidupnya tidak menikah dan tidak menewaskan siapapun yang tidak berdosa."

Siong Ki hanya mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya dia mencela Thian Ki sebagai seorang yang bodoh sekali. Cin Cin lalu meninggalkan pemuda itu untuk pergi mandi karena hari telah sore. Siong Ki ditinggalkan seorang diri dalam lamunannya. Betapa jauh perbedaannya sekarang setelah dia kembali ke rumah gurunya. Dahulu, sebelum dia pergi, dia merasa bahwa tempat itu seperti tempat tinggalnya sendiri.

Dia merasa betah dan senang tinggal di situ, senang membantu kedua orang gurunya bekerja di sawah ladang sebagai petani atau naik perahu mencari ikan di sungai. Akan tetapi sekarang, setelah mengalami banyak peristiwa dalam perantauannya, dia merasa betapa tidak menyenangkan hidup di dusun yang sunyi itu. Tidak ada keramaian, tidak ada kemewahan, tidak ada kesenangan sama sekali!

Terutama sekali setelah dia mengalami kemesraan dengan mendiang Bi Tok Siocia Ouw Ling, kini dia merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Bagaikan seseorang yang mulai ketagihan candu, dia merasa tidak sanggup hidup bersunyi diri jauh dari seorang teman wanita! Setiap kali dia membayangkan kemesraan dengan Ouw Ling, timbul desakan gairah yang membuat dia menderita sekali, bagaikan seorang kelaparan dan mulailah timbul pikiran bermacam-macam untuk dapat melampiaskan dorongan gairahnya yang berkobar.

Hati akal pikiran merupakan tempat yang amat penting bagi nafsu, karenanya nafsu bersarang di sana. Hati akal pikiran kita sudah bergelimang dengan nafsu, oleh karena itu apapun yang kita pikirkan, selalu diboncengi nafsu yang selalu mendesak untuk dipenuhi tujuannya, yaitu kesenangan. Segala macam perasaan, senang susah, iri benci dengki timbul melalui pikiran yang mengenang atau membayangkan segala peristiwa yang lalu atau yang akan datang.

Batin tidak akan diguncang gelombang perasaan itu kalau pikiran tidak mengenang atau membayangkan. Segala macam perasaan senang, susah, marah, benci dan sebagainya itu tidak akan timbul ketika kita sedang tidur atau pingsan, karena pikiran tidak bekerja. Itulah sebabnya mengapa para arif bijaksana sejak jaman dahulu mengatakan bahwa musuh kita yang paling berbahaya adalah pikiran sendiri, karena pikiran kita sendirilah sumber segala kesengsaraan batin.

Tak dapat disangkal. Dari pikiran timbulnya segala macam perasaan itu, akan tetapi pikiran pula merupakan alat kita yang terpenting. Hati akal pikiran inilah yang membuat kita menjadi manusia, berbeda dengan mahluk lain. Kalau harimau mempertahankan hidupnya dengan cakar dan taringnya, kita mempertahankan hidup dengan hati akal pikiran kita. Karena hati akal pikiran yang memegang peranan utama dalam kehidupan kita.

Maka nafsu menjadikan sebagai sarangnya. Kalau tadinya hati akal pikiran disertakan kita untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan hidup kita, oleh nafsu diubah menjadi alat untuk mengejar kesenangan. Pengejaran kesenangan inilah yang menimbulkan semua konflik, semua pertentangan, dimulai dari pertentangan dalam batin sendiri, lalu tercurah keluar menjadi pertentangan antara manusia, antara golongan, antara bangsa.


"Sungguh tolol Thian Ki!" Siong Ki memaki dalam hatinya. Kalau saja dia yang menjadi tok-tong! Dan ada jalan yang lebih menyenangkan untuk membebaskan diri dari pengaruh hawa beracun, walaupun keinginan inipun gila, kenapa memilih cara yang lebih sukar dan tidak menyenangkan? Kalau dia, tentu akan memilih cara yang menyenangkan itu, membuang hawa beracun itu melalui kesenangan menggauli wanita. Berapa banyaknya wanita yang akan tewas menjadi korban keracunan, apa salahnya? Bukan sengaja membunuh, melainkan suatu cara pengobatan.

Siong Ki lalu memasuki kamarnya di samping. Dia merasa berterima kasih juga bahwa suhunya dan subonya tidak terlalu memarahinya, bahkan kamarnyapun masih terawat bersih, juga tidak diberikan kepada Thian Ki sebagai tamu yang menempati kamar tamu di belakang, sedangkan Cin Cin diberi kamar yang selalu dirawat akan tetapi tidak pernah dipakai, yaitu kamar yang dipersiapkan kalau-kalau puteri suhunya pulang!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Mereka semua makan malam bersama karena ketika Si Han Beng dan Bu Giok Cu keluar dari kamar, tiga orang muda itu belum makan, masih menanti mereka. Wajah suami isteri pendekar itu nampak kemerahan dan bercahaya, menunjukkan bahwa saat itu tenaga sakti mereka terkumpul dan mereka berada dalam keadaan yang amat kuat.

Mereka berlima makan malam tanpa banyak cakap. Setelah selesai makan malam, kembali suami isteri itu memasuki kamar mereka dan baru beberapa jam kemudian mereka keluar dan mengajak Thian Ki ke dalam ruangan kosong di samping kiri rumah itu, sebuah ruangan yang juga dipergunakan untuk berlatih silat. Ruangan itu bersih dan udaranya segar karena terdapat banyak jendela dan pintu angin yang menembus ke taman.

Siong Ki pamit kepada gurunya untuk berkunjung kepada kenalan-kenalan di dusun itu, dan Cin Cin ikut pula memasuki ruangan itu, mempersiapkan diri kalau-kalau kedua suami isteri itu dalam mengobati Thian Ki membutuhkan bantuannya. Si Han Beng menyuruh Thian Ki duduk bersila di atas lantai. Dia sendiri duduk di depan pemuda itu dan isterinya duduk bersila pula di belakang Thian Ki.

"Thian Ki, apa saja yang telah kau pelajari dari mendiang nenekmu untuk menguasai hawa beracun dari tubuhmu itu. Ceritakan sejelasnya."

"Paman, sebelum nenek menggemblengku selama hampir dua tahun, aku tidak dapat menguasai hawa beracun yang liar, sehingga setiap kali menggerakkan kaki tangan, tentu hawa beracun itu bekerja dan aku bahkan tidak berani berlatih silat dengan sumoi karena takut kalau-kalau hawa beracun bekerja mencelakainya. Selama hampir dua tahun, mendiang nenek melatihku cara untuk menguasai hawa beracun itu dan akhirnya aku berhasil mengendalikannya. Tanpa pengerahan sin-kang tertentu, hawa beracun itu tidak akan melukai orang. Akan tetapi, paman, hal itu tidak berarti bahwa aku telah bebas dari hawa beracun itu. Kalau ada yang menyerangku dengan tangan kosong, secara otomatis, diluar kemampuanku untuk mencegahnya, hawa beracun itu bekerja, seperti yang terjadi pada Cin Cin."

Si Han Beng mengangguk-angguk, lalu menyuruh pemuda itu membuka bajunya. Kini Thian Ki bertelanjang dada. "Sekarang coba kerahkan sin-kang yang dapat menggerakkan hawa beracun pada tubuhmu."

Thian Ki mengerutkan alisnya. "Harap paman dan bibi jangan menyentuh tubuhku, apalagi menekan," pesannya.

Suami isteri itu agak menjauh, kemudian Thian Ki mengerahkan sin-kangnya. Cin Cin terbelalak melihat betapa dari tubuh Thian Ki mengepul uap hitam dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pening. Melihat Si Han Beng dan Bu Giok Cu menyalurkan sin-kang, Cin Cin juga cepat mengerahkan tenaga menyalurkan sin-kang untuk menolak pengaruh hawa beracun yang seolah memenuhi ruangan itu.

"Cukup, Thian Ki." kata Si Han Beng.

Thian Ki menghentikan pengerahan sin-kangnya dan uap hitam itupun makin menipis dan akhirnya menghilang.

"Berbahaya sekali!" Bu Giok Cu berseru sambil memandang kagum. "Mendiang nenekmu memang ahli racun yang hebat dan ia telah berhasil membuat engkau seperti yang dikehendakinya, Thian Ki. Aku telah melihat ilmu silatmu ketika engkau menandingi Tung-hai Mo-li, dan aku percaya bahwa dengan hawa beracun di tubuhmu itu, kalau engkau menghendaki dan mempergunakannya, kiranya tidak ada seorangpun tokoh persilatan yang akan mampu mengalahkanmu. Bahkan mereka terancam maut keracunan."

"Maaf, paman dan bibi. Aku tidak ingin menjadi manusia beracun seperti itu. Aku ingin menjadi manusia biasa, berkeluarga, mempunyai keturunan. Maka, aku mohon dengan sangat, sudilah paman dan bibi menolongku."

"Kami akan berusaha, Thian Ki. Akan tetapi kurasa tidak akan mudah, melihat betapa hebatnya hawa beracun di tubuhmu tadi. Sekarang, kami akan mencoba dulu dan ingin mengetahui, racun macam bagaimana yang membuatmu menjadi tok-tong. Aku dan bibimu akan mempergunakan sin-kang untuk menepukmu dari depan dan belakang. Engkau kendalikan hawa beracun itu dan pergunakan kekuatan itu untuk menolak..."

"Tapi itu berbahaya sekali bagi paman dan bibi! Tidak, aku tidak berani..."

"Thian Ki, jangan membantah pamanmu," kata Bu Giok Cu dengan nada menegur. "Dan jangan pandang rendah kepada kami. Kami akan menggunakan sin-kang melindungi diri dari hawa beracun."

"Benar, Thian Ki, asal engkau tidak mengerahkan seluruh hawa beracun itu, kami tidak akan terancam bahaya. Kami hanya ingin menguji dan mengetahui kekuatannya, baru akan dapat menentukan dengan cara bagaimana membantumu."

"Baiklah, paman... akan tetapi, harap paman dan bibi berhati-hati. Kalau sampai paman dan bibi keracunan, selama hidup aku tidak akan dapat memaafkan diriku sendiri."

Mendengar ini, Cin Cin tidak tahan untuk tinggal diam saja. Kekasihnya perlu didukung dan dibesarkan hatinya. "Thian Ki, kenapa engkau masih banyak ragu? Paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu yang memerintahkan, engkau hanya tinggal menurut saja. Kalau terjadi apapun, siapa yang akan menyalahkanmu? Juga, mereka adalah sepasang pendekar yang berilmu tinggi, tidak dapat disamakan dengan orang-orang yang pernah tewas oleh hawa beracun di tubuhmu."

Mendengar ucapan kekasihnya itu, agak berkurang kekhawatiran hati Thian Ki. "Baiklah, paman dan bibi. Aku sudah siap."

Si Han Beng saling pandang dengan isterinya. Memang mereka sudah membicarakan tentang usaha penyembuhan itu dan sudah mengatur sebelumnya sehingga kini keduanya sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.

"Thian Ki, sambutlah, kami menyerang kedua pundakmu dengan tamparan ringan."

Suami isteri itu bergerak secara berbareng, Si Han Beng yang berada di depan Thian Ki menepuk pundak kirinya dengan tangan kiri sambil mengerahkan sinkang yang berhawa dingin, sebaliknya isterinya, Bu Giok Cu, menampar pundak kanan Thian Ki dengan tangan kanan sambil mengerahkan sin-kang yang berhawa panas.

Gerakan mereka cepat dan dari telapak tangan mereka sudah menyambar hawa yang dingin dan panas ke arah kedua pundak Thian Ki. Pemuda itu mengendalikan hawa beracun di tubuhnya dan menyalurkannya ke pundak, namun tentu saja dia berhati-hati dan hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya yang mematikan itu.

"Plak! Plak!"

Thian Ki merasa betapa pundak kirinya tergetar oleh hawa yang amat dingin, sedangkan pundak kanannya diguncang hawa panas. Ketika kedua tangan itu menampar pundaknya, kedua tangan terpental oleh tenaga dari hawa beracun dan suami isteri itu cepat sudah menarik kembali tangan mereka. Thian Ki melihat betapa telapak tangan kanan Si Han Beng berwarna Hitam! Tanpa menengokpun dia dapat menduga bahwa tentu tangan Bu Giok Cu sama juga, keracunan.

"Paman...! Bibi...!" serunya kaget. Akan tetapi, ketika dia dalam keadaan duduk bersila itu meloncat ke samping, berdiri dan memandang kepada dua orang suami isteri yang kini duduk bersila saling berhadapan karena tidak lagi terhalang dirinya, dia melihat mereka memejamkan mata dan membuat gerakan 'Satu Tangan Menyangga Langit' dan dari telapak tangan mereka itu mengepul uap hitam. Hanya beberapa menit saja mereka mengerahkan sin-kang dan semua warna hitam itu lenyap dari tangan mereka tadi.

Cin Cin memandang kagum bukan main, juga Thian Ki tertegun dengan hati yang lega bukan main. Tadi dia sudah terkejut dan khawatir bukan main melihat betapa tangan suami isteri pendekar itu menjadi hitam setelah menepuk pundaknya. Akan tetapi ternyata mereka memiliki kekuatan sin-kang yang dahsyat, yang mampu mengusir hawa beracun itu dari tangan mereka. Giranglah hatinya dan dia merasa yakin bahwa suami isteri inilah yang akan mampu menolongnya, membebaskan dirinya dari hawa beracun.

"Paman dan bibi sungguh hebat!" serunya dan diapun bersila kembali di tengah antara suami isteri itu.

Akan tetapi suami isteri itu saling pandang dan Si Han Beng menghela napas. "Thian Ki, mendiang nenekmu yang telah membuat engkau menjadi tok-tong memang seorang yang amat lihai dalam hal racun, dan tidak ada duanya di dunia kang-ouw. Racun di tubuhmu amatlah hebatnya, bergerak otomatis, mengimbangi keadaan sin-kang lawan yang menyerangmu. Tadi aku mempergunakan sin-kang berhawa dingin, sedangkan bibimu menggunakan sin-kang berhawa panas, akan tetapi akibatnya sama saja, kami berdua keracunan. Kami akan berusaha, akan tetapi jangan terlalu memastikan bahwa kami akan berhasil sepenuhnya. Nah, sekarang kendurkan semua urat syarafmu, sedikitpun jangan melawan tenaga kami. Kami akan membantumu mendorong keluar hawa beracun dari tubuhmu."

"Baik, paman," kata Thian Ki dengan pasrah.

Kini suami isteri itu menjulurkan kedua tangan ditempelkan ke dada dan punggung Thian Ki. Mereka mengerahkan tenaga sin-kang, perlahan-lahan, makin lama semakin kuat. Thian Ki merasa betapa hawa yang hangat menyusup ke dalam tubuhnya. Perlahan-lahan, uap hitam mengepul keluar dari tubuhnya, terutama dari mulut dan hidungnya. Dia merasa pening dan ada dorongan untuk menentang, untuk melawan dua tenaga sakti yang menyusup ke dalam tubuhnya itu. Dia maklum bahwa sekali dia menuruti dorongan ini, suami isteri itu akan terancam bahaya maut.

Oleh karena itu, dia menekan dorongan itu yang semakin kuat saja sehingga dia harus menggigit giginya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang tergetar hebat karena ada perang dalam dirinya sendiri. Kesadarannya menuntut agar dia tetap mengendurkan seluruh urat syaraf di tubuhnya, meniadakan bentuk perlawanan sedikitpun, akan tetapi dilain pihak, ada suatu keinginan kuat yang mendorongnya untuk melakukan perlawanan. Dia merasa kepalanya pening, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin.

Cin Cin memandang dan tertegun, penuh kekaguman, juga penuh kekhawatiran terhadap kekasihnya dan kedua suami isteri itu. Ia maklum bahwa cara pengobatan itu amat berbahaya, baik bagi yang diobati maupun bagi yang mengobati. Akan tetapi ia tidak berdaya mencampuri, dan hanya dapat memandang dengan terpukau, seperti patung, bernapas pun ditahannya agar jangan banyak menimbulkan suara. Akan tetapi diam-diam ia harus mengerahkan tenaganya pula karena uap hitam yang keluar dari tubuh Thian Ki membuatnya pening. Bahkan akhirnya ia tidak tahan lagi dan keluar dari ruangan itu, hanya menonton dari luar, dimana udaranya jernih.

Kurang lebih setengah jam suami isteri itu mengerahkan sin-kang untuk membantu Thian Ki terbebas dari hawa beracun. Akhirnya Bu Giok Cu mengeluh dan melepaskan kedua tangannya, disusul oleh suaminya. Suami isteri itu masih bersila, memejamkan mata dan nampak lemas. Mereka kini duduk diam dan menghimpun hawa murni.

Bukan hanya suami isteri itu yang kehabisan tenaga, juga Thian Ki nampak pucat dan lemas, seluruh tubuhnya penuh keringat. Diapun masih duduk bersila dan tidak ada lagi uap hitam mengepul dari tubuhnya! Dia juga harus mengimpun hawa murni untuk memulihkan tenaganya yang bagaikan tersedot keluar bersama uap hitam tadi. Dia merasa lemah lunglai, kepalanya tetap pening.

Melihat tidak ada uap hitam lagi mengepul dari tubuh Thian Ki, Cin Cin berani memasuki ruangan itu dan mendekati mereka. Hatinya berdebar girang karena ia mengira bahwa tentu kekasihnya sekarang telah terbebas dari hawa beracun itu. Ia pun memandang dengan penuh kagum dan juga terharu kepada suami isteri yang gagah perkasa itu. Mereka telah mempertaruhkan keselamatan sendiri, bahkan kini kehabisan tenaga untuk menolong Thian Ki. Betapa mulia budi suami isteri pendekar itu.

Si Han Beng membuka matanya dan menghela napas panjang. Agaknya helaan napas itu menyadarkan pula isterinya yang membuka mata. Suami isteri itupun seperti Thian Ki, agak pucat dan kelihatan lelah bukan main.

"Bukan main...!" Bu Giok Cu berkata sambil menggeleng-geleng kepala kagum memandang kepada Thian Ki yang masih bersila di depannya, membelakanginya.

Thian Ki membuka matanya, kemudian menggeser duduknya ke belakang, menghadapi suami isteri itu dan dia berlutut kepada mereka. "Terima kasih paman dan bibi. Budi paman dan bibi takkan kulupakan selama hidupku."

"Aih, Thian Ki, jangan perkata begitu." kata Si Han Beng. "Kami bahkan merasa menyesal bahwa kami telah gagal membersihkan hawa beracun dari tubuhmu, mungkin hanya beberapa bagian saja. Hawa itu terlampau kuat."

Thian Ki maklum karena dia juga merasa bahwa hawa beracun di tubuhnya belum bersih, baru sebagian saja yang terusir pergi. Mungkin hanya mengurangi keampuhannya saja sehingga kalau tubuhnya dipukul orang, si pemukul itu hanya terkena racun yang tidak begitu berbahaya lagi. Namun, tetap saja tubuhnya masih mengandung racun dan hal ini tidak memungkinkannya untuk menikah.

"Kurasa hawa beracun itu telah membuat darahmu juga beracun, Thian Ki, harus ditemukan obat untuk mencuci darahmu." kata Bu Giok Cu.

Karena pekerjaan itu amat melelahkan, menguras habis tenaga suami isteri itu dan Thian Ki, maka mereka bertiga lalu kembali ke kamar-masing masing untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga. Malam itu Cin Cin gelisah di dalam kamarnya. Ia tak dapat tidur nyenyak karena selalu teringat akan kekasihnya, Coa Thian Ki. Ia maklum bahwa kekasihnya itu belum terbebas sama sekali dari hawa beracun, seperti yang didengarnya dari percakapan dengan suami isteri tadi seusai pengobatan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Cin sudah bangun, mencuci badan lalu memasuki taman untuk mencari udara segar karena tubuhnya terasa agak lesu karena kurang tidur. Ternyata ia mendapatkan Thian Ki sudah berada di taman, berlatih silat!

Pemuda itu nampak berlatih silat tangan kosong, gerakannya gesit dan mantap sekali, pukulan kedua tangannya mendatangkan angin. Memang hebat ilmu tangan kosong pemuda ini. Dia telah menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh bekas pangeran Cian Bu Ong, juga dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ibunya dan neneknya. Kini dia memainkan ilmu silat tangan kosong yang diajarkan gurunya atau ayah tirinya, yaitu Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti).

Gerakannya gagah sekali, kedua tangan dibuka, jari-jari membentuk cakar naga. Agaknya tenaga Thian Ki sudah pulih kembali. Ketika pemuda itu mengakhiri ilmu silatnya, dia mengangkat kedua tangan yang membentuk cakar naga itu ke atas, mengerahkan tenaga saktinya dan kedua tangannya berubah kehitaman sampai sebatas pergelangan dan ada uap hitam mengepul dari jari jari tangannya. Dia menghentikan gerakannya, kedua lengannya tergantung lemas dan lunglai seolah kehabisan tenaga dan dia menundukkan mukanya yang nampak kecewa.

"Thian Ki...!" Cin Cin menghampiri.

Thian Ki yang agaknya berada dalam keadaan berduka itu sadar dari lamunannya dan dia mengangkat mukanya, dan sebentar saja wajahnya telah berseri kembali. "Eh, sepagi ini engkau sudah bangun, Cin Cin?"

"Engkau malah sudah berlatih silat, Thian Ki. Bagaimana dengan hawa beracun di tubuhmu?" Cin Cin berpura-pura mengajukan pertanyaan ini, padahal tadi ia melihat sendiri bahwa kedua tangan itu masih berwarna hitam ketika Thian Ki mengerahkan tenaga sin-kang.

Thian Ki tersenyum. "Berkat bantuan paman dan bibi, sudah banyak berkurang hawa beracun itu."

"Thian Ki, kepadaku engkau tidak perlu menyembunyikan. Berterus-teranglah saja bahwa hawa beracun itu belum hilang dan engkau belum terbebas, bukan? Aku semalam sudah mendengar ucapan Paman Si Han Beng, juga tadi aku melihat kedua tanganmu berubah hitam."

Thian Ki menghela napas lalu duduk di atas bangku. Cin Cin juga duduk di sampingnya. "Engkau benar, Cin Cin. Memang sudah banyak hawa beracun yang keluar, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku telah bebas sama sekali. Biasanya, kalau aku mengerahkan tenaga seperti tadi, mengendalikan hawa beracun itu ke arah lengan, tanganku menghitam dari jari tangan sampai ke siku. Sekarang masih menghitam, akan tetapi hanya sampai di pergelangan tangan saja dan ini berarti bahwa biarpun sudah berkurang, akan tetapi belum bersih betul. Benar seperti yang dikatakan bibi Bu Giok Cu, hawa beracun telah membuat darahku beracun, maka kalau hanya dengan dorongan sin-kang saja, tidak mungkin dapat dibersihkan. Darah yang beracun itu akan menambah kekuatan hawa beracun lagi, maka haruslah ditemukan obat yang dapat membersihkan darahku dari racun. Cin Cin, kebetulan sekali kita dapat bicara berdua. Setelah aku melihat keadaan diriku, kurasa belum terlambat bagimu untuk menjauhkan diri dariku, Cin Cin." kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara gemetar.

Cin Cin terbelalak memandang wajah pemuda itu. "Thian Ki, apa maksud ucapanmu ini? Jelaskan!" Ia nampak marah.

Sejenak mereka saling pandang dan Thian Ki yang lebih dulu menundukkan pandang matanya. "Cin Cin, agaknya keadaan diriku ini tidak dapat dipulihkan, tidak dapat disembuhkan dan aku akan menjadi orang beracun selamanya..."

"Aih, kenapa engkau mendadak menjadi begini cengeng dan lemah, Thian Ki? Ini tidak pantas bagimu. Engkau tidak boleh putus asa!" Kata Cin Cin bersemangat.

"Aku tidak putus asa, Cin Cin, aku akan tetap berusaha sampai aku berhasil menemukan obatnya. Akan tetapi, aku tidak berhak mengikatmu, Cin Cin. Kita memang saling mencinta, akan tetapi dengan keadaanku seperti ini, bagaimana mungkin? Aku tidak ingin melihat engkau kelak kecewa dan sengsara karena aku tidak berhasil sembuh. Maka, sebelum terlambat, sebelum ikatan di antara kita semakin kuat, sebaiknya kalau engkau meninggalkan aku. Engkau berhak hidup berbahagia, dengan calon jodoh lain yang normal, bukan manusia beracun seperti aku."

Sejenak Cin Cin mengamati wajah pemuda itu dengan kaget, heran dan tidak percaya, kemudian ia menangis.

"Cin Cin, kenapa? Kenapa engkau menangis...?"

Cin Cin mengusap air matanya, matanya mencorong marah. "Thian Ki, engkau sungguh kejam! Tega benar engkau menikam hatiku dengan ucapanmu itu. Kau kira aku ini seorang wanita macam apa, begitu dangkal cintanya, begitu palsu dan mementingkan diri sendiri? Thian Ki, aku mencintamu dengan setulus hatiku, apa dan bagaimana keadaanmu, aku akan tetap mencintamu. Andaikata kita kelak tidak dapat menikah, aku bersedia hidup sebagai sahabat selamanya, dan aku akan tetap mencintamu. Andaikata kelak kita menikah dan aku mati keracunan, akupun tidak akan menyalahkanmu dan aku rela, aku akan tetap mencintamu. Dan engkau sekarang... engkau menganjurkan agar aku meninggalkanmu?" Gadis itu menangis lagi.

Thian Ki merasa terharu dan juga berbahagia sekali. Ternyata cinta gadis ini kepadanya membesarkan hatinya. Diapun memegang tangan kanan gadis itu dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Cin Cin, maafkan aku. Sungguh mati, aku mengeluarkan kata-kata itu demi cintaku kepadamu, karena aku tidak ingin melihat engkau menderita. Biarlah aku sendiri yang menderita akan tetapi jangan engkau, orang yang paling kusayang di dunia ini, ikut pula menderita karena keadaan tubuhku. Maafkan aku, Cin Cin, kini aku semakin yakin bahwa dengan engkau disampingku, aku akan menghadapi apapun juga dengan tabah. Biarlah kita hadapi bersama, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

Cin Cin menghentikan tangisnya dan ketika Thian Ki merangkulnya, ia berbisik di dekat telinga pemuda itu. "Thian Ki, bagiku, penderitaan di sampingmu merupakan suatu kebahagiaan, sebaliknya, kebahagiaan tanpa engkau akan merupakan penderitaan."

Thian Ki semakin terharu. Dengan lembut dia memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya dan sambil menatap wajah itu dengan sinar mata yang penuh kasih sayang, diapun berkata lirih. "Cin Cin, demi Tuhan cinta kasihmu yang begini tulus dan mendalam tidak akan sia-sia, tidak akan sia-sia..."

"Aku tahu, Thian Ki, kita saling mengetahui isi hati masing-masing dan semoga Tuhan melindungi kita. Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Aku ingin memenuhi pesan guruku, juga ayah tiriku, yaitu mendapatkan pedang pusakanya yang berada di gudang pusaka kerajaan. Aku harus melakukan itu, dan harus berhasil, untuk membalas segala budi kebaikannya kepadaku dan kepada ibuku. Setelah berhasil, aku akan memperkenalkan engkau kepada ibuku dan ayah tiriku, dan mengakui kepada mereka bahwa engkau adalah calon isteriku."

Berkata sampai di situ Thian Ki tertegun. Baru dia teringat bahwa ayah tirinya telah menjodohkan dia dengan Cian Kui Eng! Dan terkenang dia kepada sumoinya atau juga adik tirinya itu bahwa Kui Eng juga mencintanya, bukan sebagai adik kepada kakak, melainkan sebagai seorang wanita kepada seorang pria. Sejenak dia menjadi gelisah akan tetapi segera terhapus kegelisahan itu begitu dia menatap wajah kekasihnya.

"Engkau kenapa, Thian Ki?" tanya Cin Cin yang melihat perubahan sejenak tadi pada wajah kekasihnya.

"Tidak apa-apa, aku hanya teringat bahwa aku mempunyai sebuah tugas lagi yang harus kulakukan, demi membalas budi kebaikan paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu."

"Aku tahu, mencari dan membawa kembali puteri nereka, bukan?" Cin Cin memotong, "aku akan membantumu sekuat tenagaku, Thian Ki."

Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut dari depan rumah dan disusul suara beradunya senjata tajam yang nyaring. Tentu saja Thian Ki dan Cin Cin terkejut sekali dan mereka berloncatan dan berlari keluar dari taman menuju ke pekarangan luar. Dan di sana, mereka melihat dua orang sedang berkelahi dengan seru dan mati-matian. Setelah dekat, mereka mengenal Siong Ki yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda yang bertubuh kecil, berwajah tampan sekali dan gerakan pedangnya jelas menunjukkan bahwa orang ini memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai.

Namun, sekali pandang saja tahulah Cin Cin dan Thian Ki, bahwa pemuda tampan itu tidak akan dapat menandingi Siong Ki yang jauh lebih unggul ilmu pedangnya, sehingga kini pemuda itu terdesak oleh sinar pedang yang dimainkan Siong Ki. Namun, pemuda itu nampaknya bertekad untuk menyerang mati-matian, sehingga Thian Ki khawatir kalau-kalau Siong Ki akan lupa diri dan membunuh orang.

"Tahan senjata..!!" teriaknya dan diapun meloncat ke depan, ke tengah-tengah medan pertandingan.

Mendengar angin yang dahsyat menyambar, pemuda itu terkejut dan melompat mundur. Demikian pula Siong Ki juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya Thian Ki dan Cin Cin.

"Sabarlah, Siong Ki dan engkau juga, sobat. Kalau ada persoalan dapat dibicarakan dan didamaikan. Kenapa kalian sepagi ini sudah saling serang mati-matian seperti itu? Siong Ki, siapakah sobat ini dan mengapa kalian bertanding mati-matian?" tanya Thian Ki.

Siong Ki mengamati pemuda di depannya itu dengan alis berkerut dan sinar mata marah dan penasaran. "Orang sinting ini datang ingin bertemu dengan suhu dan subo dengan nada suara yang merendahkan, ketika kuberitahu bahwa suhu dan subo masih tidur, tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuhku."

"Jahanam keparat, memang aku akan membunuhmu!" bentak pemuda itu dan dia sudah hendak menyerang lagi. Dari cara dia bicara, dari sikapnya, Thian Ki merasa bahwa pemuda ini bukanlah orang kangouw biasa saja. Kata-katanya, walaupun sedang marah dan merupakan makian, tetap saja menggunakan kata-kata yang halus, dengan pengucapan yang teratur, seperti seorang bangsawan!

"Tahan dulu, sobat," katanya sambil memberi hormat kepada pemuda itu dengan merangkapkan kedua tangan depan dada. "Agaknya terjadi kesalah pahaman di sini. Tahukah engkau siapa pemuda ini?" Thian Ki menuding ke arah Siong Ki. "Dia adalah The Siong Ki, murid dari paman Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho-Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)..."

"Kalau begitu, Huang-ho Sing-liong adalah seorang jahat yang memiliki murid jahat!" pemuda itu membentak marah.

"Orang gila!" Siong Ki sudah marah lagi, akan tetapi sebelum dia melakukan sesuatu, terdengar suara dari dalam rumah.

"Siapakah yang mengatakan bahwa kami jahat?" Dan Si Han Beng bersama isterinya telah muncul dari pintu depan. Suami isteri ini masih nampak agak pucat dan lemah, tanda bahwa mereka belum dapat memulihkan tenaga yang malam tadi terkuras habis ketika mereka mencoba untuk mengobati Thian Ki.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bu Giok Cu melihat muridnya berdiri dengan sebatang pedang di tangan, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang kelihatan marah-marah dan yang juga memegang sebatang pedang di tangannya.

"Paman dan bibi, agaknya terjadi kesalah pahaman antara Siong Ki dan tamu ini," kata Thian Ki.

"Siong Ki, apa yang terjadi?" tanya Si Han Beng dengan suara tegas karena guru ini masih merasa kecewa melihat muridnya pulang tanpa hasil mencari puterinya, bahkan telah melukai ibu Cin Cin.

"Suhu, teecu sendiri tidak mengerti. Orang ini tadi muncul di pekarangan dan teecu segera menemuinya dan menanyakan maksud kunjungannya. Dia hendak bertemu dengan suhu dan subo, dan ucapannya terdengar kasar, bahkan tidak menghormati suhu dan subo. Teecu menjawab bahwa suhu dan subo masih belum bangun dari tidur dan menyuruh dia pergi agar tidak mengganggu, karena sikap dan kata-katanya yang tidak menghormat. Eh, tiba-tiba dia mencabut pedang dan menyerang teecu, bukan sekedar menguji kepandaian, melainkan dengan sungguh-sungguh akan membunuh teecu."

Mendengar laporan muridnya itu, Si Han Beng memandang penuh perhatian kepada tamunya, dan Bu Giok Cu sudah tidak sabar lagi. "Orang muda, engkau masih muda dan tampan, kenapa begini pemarah? Setidaknya, jelaskan dulu kenapa engkau hendak membunuhnya dan apa pula keperluanmu mencari kami berdua."

Pemuda itu menatap wajah Si Han Beng dan Bu Giok Cu bergantian, kemudian, dengan suara mengandung kemarahan dia berkata, "Aku harus membunuh jahanam busuk ini! Apalagi setelah ternyata dia ini murid Huang-ho Sing-liong Si Han Beng, dia harus mati di tanganku! Kalau kalian suami isteri hendak membelanya, boleh! Biar aku mendapat kenyataan bahwa nama besar Huang-ho Sin-liong hanyalah nama kosong belaka, dia bukan seorang pendekar budiman yang bijaksana, melainkan seorang yang pengecut, tidak bertanggung-jawab, juga mempunyai murid yang jahat, pengkhianat dan pemberontak...!"

Naga Beracun Jilid 29

Mendengar pertanyaan itu, Si Han Beng dan Bu Giok Cu saling pandang dan Si Han Beng memberi isyarat dengan anggukan kepala kepada isterinya, tanda bahwa dia setuju kalau isterinya menceritakan tentang keadaan puteri mereka kepada Thian Ki dan Cin Cin.

"Malapetaka telah menimpa keluarga kami, Thian Ki dan Cin Cin. Sejak anak kami berusia dua tahun, ia telah diculik orang dan sampai sekarang kami belum pernah melihat anak kami itu." Biarpun ia seorang wanita gagah perkasa, namun menceritakan tentang puterinya itu, mau tidak mau Bu Giok Cu merasa berduka dan suaranya terdengar agak gemetar.

Mendengar itu, Cin Cin menjadi penasaran sekali. "Akan tetapi bagaimana mungkin hal itu terjadi, bibi? Paman dan bibi adalah suami isteri yang berkepandaian tinggi! Siapa orangnya berani main-main seperti itu, berani menculik puteri paman dan bibi? Katakan, siapa orangnya dan aku akan membantu paman dan bibi mencari puteri bibi itu sampai dapat!"

"Akupun siap untuk membantu paman dan bibi mencari penculik itu!" kata Thian Ki.

"Penculiknya seorang wanita yang bernama Kwa Bi Lan," kata Si Han Beng.

Cin Cin memandang heran. "Dan selama ini paman dan bibi tidak pernah berhasil menemukan kembali puteri paman itu?"

Bu Giok Cu yang menjawab setelah menghela napas panjang. "Kami berdua memang tidak pernah mencarinya."

"Tapi, kenapa, bibi? Dengan ilmu kepandaian bibi yang tinggi, apalagi ada paman. Apa sukarnya mencari penculik itu, membunuhnya dan merampas kembali puteri bibi? Kenapa bibi dan paman tidak pernah mencarinya?"

Thian Ki juga ikut menatap wajah suami isteri itu bergantian dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan. Kembali suami isteri itu saling pandang, kemudian Bu Giok Cu menghela napas panjang, lalu berkata,

"Baiklah, kalian berdua adalah keluarga Hek-houw-pang, bukan orang luar dan biar akan kuceritakan apa yang telah terjadi belasan tahun yang lalu dan kenapa kami tidak pernah mencari puteri kami."

Ia lalu menceritakan tentang Kwa Bi Lan yang terhitung su-moi dari suaminya. Kemudian Kwa Bi Lan menjadi isteri gurunya sendiri, mendiang Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki. Liu Bhok Ki marah dan penasaran kepada Si Han Beng yang mengecewakan hatinya, karena Si Han Beng yang tadinya diharapkan menikah dengan Kwa Bi Lan malah menikah dengan Bu Giok Cu tanpa memberi tahu. Liu Bhok Ki berduka dan menjadi sakit-sakitan sampai meninggalnya, dan Kwa Bi Lan merasa sakit hati kepada Si Han Beng.

"Nah, untuk membalas sakit hatinya itulah, Kwa Bi Lan datang dan menculik Hong Lan, anak kami. Kami tidak berani mengejar, karena ia mengancam bahwa kalau kami mengejar, ia akan membunuh anak kami." Sampai di sini, nyonya itu tidak kuasa lagi mencegah menetesnya beberapa butir air mata.

"Akan tetapi, tentu ada cara untuk merampas kembali puteri bibi." kata Thian Ki. "Apalagi sekarang tentu ia telah menjadi seorang gadis yang dewasa."

"Jangan khawatir, paman dan bibi. Kalau Thian Ki sudah mendapatkan kebebasan dari hawa beracun di tubuhnya, kami berdua akan mencari puteri bibi sampai dapat dan kami tidak akan berhenti mencari sebelum kami berhasil!" kata Cin Cin penuh semangat. Thian Ki membenarkan dan diapun menyanggupi untuk mencari dan mengajak kembali Si Hong Lan kepada orang tuanya.

"Aku khawatir ia tidak akan lagi mengenal kami," kata Bu Giok Cu. "Mudah-mudahan saja Kwa Bi Lan dapat menjadi pengganti ibu yang baik. Ia bukan seorang jahat, bahkan ia seorang pendekar wanita yang tangguh, murid Siauw-lim-pai..."

"Murid Siauw-lim-pai? Seperti ayah tiriku..." kata Cin Cin.

Si Han Beng mengangguk. "Memang Kwa Bi Lan adalah keponakan dari ayah tirimu yang bernama Lie Koan Tek itu, Cin Cin."

"Ahh.......!" Gadis itu berteriak kaget. "Kalau begitu, lebih mudah lagi! Aku akan bertanya kepada ayah tiriku, tentu dia mengetahui dimana adanya Kwa Bi Lan dan aku akan mengambil puteri bibi darinya!"

Bu Giok Cu tersenyum. "Terima kasih, Cin Cin. Biarpun sejak lama engkau menjadi murid Tung-hai Mo-li, ternyata engkau tidak kehilangan watak pendekar dari orang tuamu. Syukurlah, karena aku sendiri dahulu juga menjadi murid seorang datuk sesat, yaitu Ban-tok Mo-li mendiang nenek Thian Ki. Akan tetapi, rasanya tidak begitu mudah bagi kami untuk mendapatkan kembali anak kami, karena sekarang tentu ia telah dewasa dan kalau ia sudah menganggap Kwa Bi Lan sebagai ibunya, ia tidak mengenal kami lagi."

"Akan tetapi hal itu dapat dijelaskan kepadanya, bibi!" bantah Cin Cin.

"Sudahlah," kata Si Han Beng. "Hal itu tidak perlu diributkan lagi. Kami memang amat rindu kepada anak kami, akan tetapi kami sudah tidak mengharapkan ia mengenal kami sebagai orang tuanya. Kalau kami dapat melihat ia dalam keadaan sehat dan selamat, juga berbahagia, kami sudah ikut merasa berbahagia. Sekarang sebaiknya kalian berdua beristirahat. Kami berdua akan samadhi dan menghimpun tenaga sin-kang. Malam nanti baru kami akan mencoba untuk membantu Thian Ki mengusir hawa beracun dari tubuhnya. Thian Ki, engkau tinggal di kamar tamu di depan, dan Cin Cin di kamar anak kami yang sampai sekarang masih kami pelihara baik-baik dan kami persiapkan kalau-kalau anak kami itu pulang."

Thian Ki dan Cin Cin merasa terharu sekali mendengar ucapan pendekar itu karena dalam ucapan itu terkandung harapan dan kedukaan yang mendalam, namun sengaja ditekan. Setelah suami isteri itu memasuki kamar mereka untuk bersamadhi, Thian Ki tinggal berdua saja dengan Cin Cin.

"Mari kita keluar, di samping rumah melihat taman yang indah dan hawanya sejuk," kata Thian Ki.

Tanpa menjawab Cin Cin mengikutinya. Mereka memasuki taman. Suasana sunyi dan taman itu memang menyejukkan badan dan hati. Thian Ki mengajak Cin Cin duduk di bangku dalam taman. Keduanya duduk dan berdiam diri sampai lama. Akhirnya Cin Cin yang bicara, suaranya lirih.

"Thian Ki, kenapa engkau lakukan itu?"

"Lakukan apa?" Thian Ki mengangkat muka menengok dan karena gadis itu pun sedang memandangnya, maka dua pasang mata bertemu dan bertaut.

"Yang kau katakan kepada subo dan kepada paman dan bibi tadi..."

"Ya...?" Thian Ki mendukung.

"...bahwa engkau... cinta padaku dan mengharapkan akan menjadi... isterimu..." gadis itu tidak kuasa menahan debaran hatinya yang tegang dan malu, dan ia menundukkan mukanya. Padahal, Cin Cin adalah seorang gadis yang biasanya lincah jenaka, periang dan gembira lagi pandai bicara, walaupun semenjak tangan kirinya buntung, ia menjadi lebih pendiam. Namun hal ini bukan karena buntungnya tangan, melainkan karena Thian Ki yang menyebabkan buntung.

"Cin Cin, apakah ucapanku itu menyinggung perasaan hatimu? Maafkan kalau aku menyinggungmu..."

"Bukan begitu maksudku, akan tetapi kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau mengucapkan kata-kata itu?" sepasang matayang jeli dan tajam sinarnya itu menatap wajah Thian Ki penuh selidik.

Akan tetapi Thian Ki menyambut tatapan mata itu dengan tenang dan jujur. "Kenapa, Cin Cin? Aku tidak mengerti mengapa engkau masih bertanya kenapa."

"Thian Ki, berterus teranglah. Apakah engkau mengatakan kepada subo bahwa engkau mencintaiku, hanya untuk membela aku dari kemarahan Subo? Kemudian engkau mengatakan kepada paman dan bibi bahwa engkau mengharapkan aku menjadi isterimu hanya agar mereka mau membebaskanmu dari hawa beracun?"

Sepasang mata Thian Ki terbelalak lebar, ia terkejut bukan main karena tidak menyangka sama sekali bahwa ke sana arah pertanyaan Cin Cin tadi. "Cin Cin! Seperti itukah buruknya penilaianmu terhadap diriku? Engkau... tidak percayakah engkau kepadaku?"

"Thian Ki, aku hanya menghendaki kepastian. Jawablah pertanyaanku tadi."

"Demi Tuhan, Cin Cin. Aku memang cinta padamu! Aku memang mengharapkan engkau menjadi isteriku! Atau, engkau menghendaki aku bersumpah?"

"Thian Ki, apakah perasaan cintamu itu terdorong oleh perasaan iba dan menyesal karena engkau telah membuntungi tangan kiriku?" Kembali sepasang mata itu memandang penuh selidik.

Thian Ki merasa hatinya perih sekali. "Cin Cin, kenapa engkau begitu tega mengajukan pertanyaan seperti itu? Ingat bahwa tangan kirimu buntung karena aku selama hidupku akan mendatangkan perasaan sesal di hatiku. Akan tetapi bukan karena itu aku mencintamu dan ingin berjodoh denganmu. Sebelum tangan kirimu buntungpun, ketika pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Justeru karena cintaku kepadamu maka aku membuntungi tangan kirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Setelah tanganmu buntung perasaan duka dan sesal itu bahkan memperdalam rasa cintaku. Cin Cin, kalau engkau tidak menganggap aku terlalu hina dan rendah, aku... sekali lagi kepadamu kunyatakan bahwa aku cinta padamu dan bahwa aku ingin sekali berjodoh denganmu, menjadi suamimu dan kita hidup bersama selamanya, Cin Cin."

Sepasang mata yang jeli itu kini menjadi basah, dan ketika ia membuka mulut bicara, suaranya terdengar lirih dan gemetar. "Thian Ki, aku... aku yang hina dan rendah, aku tidak pantas menjadi isterimu, aku... aku hanya seorang gadis buntung..."

"Hushhh..." Thian Ki meraih dan memegang tangan kanan gadis itu, lalu menutupkan tangan kirinya ke depan mulut Cin Cin, mencegah gadis itu bicara lebih banyak. "Anak bodoh, engkau adalah gadis paling hebat, paling cantik, dan paling kucinta di dunia ini."

"Thian Ki...!" Kini Cin Cin menangis sesenggukan di atas dada Thian Ki. Akan tetapi hanya sebentar.

Mereka berdua maklum bahwa di taman itu, keadaan mereka akan mudah dilihat orang lain. Juga Cin Cin menangis karena bahagia, maka ia dapat menekan perasaannya dan kini mereka duduk berdampingan. Tangan kiri Thian Ki tak pernah melepaskan tangan kanan gadis itu yang digenggamnya erat-erat dan telapak tangan mereka yang saling genggam itu menyalurkan getaran kasih yang hangat dan mesra, yang hanya dapat dirasakan dan dimengerti oleh mereka berdua. Mereka berdua hening sampai lama, hanya saling pandang dan saling lirik. Biarpun matanya masih basah, kini Cin Cin sudah tersenyum manis.

"Cin Cin, engkau masih hutang kepadaku dan harus kau bayar sekarang juga, tidak boleh ditunda-tunda lagi agar hatiku tidak menjadi gelisah..."

Gadis itu membelalakkan matanya yang indah, yang masih basah. "Hutang kepadamu? Aku hutang? Hutang apa, Thian Ki?"

Thian Ki tersenyum. Betapa indahnya mata itu, seperti telaga yang amat dalam penuh rahasia dan bibir itu, betapa manisnya kalau sedang setengah terbuka karena keheranan itu. "Cin Cin, aku sudah mengaku cinta dan ingin memperisterimu, akan tetapi engkau sama sekali belum menjawabku. Nah, itulah hutangmu kepadaku, bayarlah sekarang juga!"

Wajah itu menjadi merah sekali, merah sampai ke lehernya, dan mata itu nampak gugup dan salah tingkah, bibir itu gemetar seolah sukar mengeluarkan suara, dan Cin Cin yang biasanya lincah jenaka, gembira dan tabah, kini nampak seperti seorang gadis yang lemah, pemalu, dan cengeng!

"Aku... aku... ah, Thian Ki, haruskah... aku...? Apakah... engkau tidak dapat merasakan...!?" Ia mencoba menghindari jawaban yang dituntut Thian Ki itu.

"Ah, tidak bisa! Engkau harus menjawab, Cin Cin. Aku pun menghendaki kepastian. Bagaimana kalau engkau sebenarnya tidak cinta padaku dan tidak ingin menjadi isteriku, akan tetapi hanya karena kasihan kepadaku dan sungkan untuk menolak? Nah, kau tahu betapa pentingnya jawabanmu bagiku"

"Jangan... jangan pandang aku seperti itu, sukar bagiku untuk menjawab kalau engkau memandangku..."

Thian Ki tersenyum. "Aku harus memandangmu agar dapat melihat apakah jawabanmu sejujurnya atau hanya berbohong!"

"Ihh! Engkau... kejam sekali, engkau tega membuat aku menjadi salah tingkah begini...?"

Thian Ki menggenggam tangan gadis itu. "Jawablah, Cin Cin. Aku bahkan berani mengaku cinta di depan orang-orang lain. Sekarang, hanya ada kita berdua, pengakuanmu hanya akan kudengar sendiri."

Cin Cin menyerah. Ia menundukkan mukanya dan berkata lirih seperti hanya berbisik saja, namun terdengar amat merdunya dalam telinga Thian Ki. "Thian Ki, sejak pertemuan kita pertama, akupun sudah jatuh cinta padamu. Aku cinta padamu dan aku ingin menjadi isterimu..."

"Cin Cin....!" Kembali Thian Ki mendekapnya dan sejenak mereka tenggelam ke dalam perasaan yang menyatu.

Tiba-tiba mereka saling melepaskan rangkulan karena telinga mereka yang terlatih mendengar langkah orang. Cepat mereka menengok dan mereka melihat seorang pemuda berjalan menghampiri mereka. Kalau Thian Ki memandang heran karena tidak mengenal pemuda itu. Cin Cin bangkit dengan cepat dan matanya menyinarkan kemarahan. Sebaliknya, pemuda itupun nampak terkejut bukan main ketika mengenal Cin Cin.

"Cin Cin...!" Pemuda itu berseru kaget.

"Bagus engkau datang, The Siong Ki. Aku memang mencarimu untuk menantangmu! Engkau telah berani melukai ibuku dan menyerang ayah tiriku. Nah, mari kita selesaikan urusan kita di sini!" Cin Cin menantang dan melangkah maju menghampiri.

Akan tetapi pemuda itu, Siong Ki memandang bingung. Melihat di dalam taman ada seorang pemuda dan seorang gadis duduk di bangku taman dan berpelukan, dia yang baru saja datang menjadi heran dan curiga, maka segera memasuki taman untuk menegur. Tidak tahunya, gadis itu adalah Cin Cin! Dia tidak ingin berkelahi dengan gadis yang lihai itu, apalagi di situ terdapat suhu dan subonya.

Seperti kita ketahui, The Siong Ki yang bekerja sama dengan Bi Tok Siocia Ouw Ling telah gagal ketika membantu pemberontak dan pengkhianat, yaitu Pangeran Li Seng Cun. Mereka bukan saja gagal membunuh kaisar, bahkan Ouw Ling tewas dalam usaha itu, dan Siong Ki berhasil lolos dari istana dan melarikan diri, kembali ke dusun Hong-cun, tempat tinggal suhu dan subonya. Sungguh tidak disangkanya sama sekali akan bertemu dengan Cin Cin di taman gurunya itu.

"Cin Cin, maafkan aku. Memang tidak kusangkal bahwa aku pernah menyerang ibumu dan ayah tirimu. Akan tetapi semua itu terjadi karena aku salah duga. Aku mengira bahwa Lie Koan Tek itulah yang telah membunuh ayahku dalam penyerbuan ke Hek-houw-pang dahulu. Aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku. Aku sekarang menyadari bahwa bukan dia yang membunuh ayahku, dan harap engkau suka memaafkan aku."

"Enak saja minta maaf! Engkau sudah melukai ibuku dan minta maaf begitu saja? Kalau pada waktu engkau menyerang mereka aku tidak muncul dan mencegahmu, mungkin sekarang engkau telah membunuh ibuku dan ayah tiriku!"

"Itu hanya merupakan salah sangka. Maafkan aku, Cin Cin. Atau kalau engkau masih penasaran dan hendak membalaskan luka ibumu, nah, kau boleh lukai aku, aku tidak akan membalas. Ingat, kita masih sama-sama keluarga Hek-houw-pang dan kita sama-sama menderita karena penyerangan kepada Hek-houw-pang itu."

Melihat kekasihnya marah-marah dan sikap pemuda itu yang kini dia kenal sebagai The Siong Ki yang pernah dikenalnya belasan tahun yang lalu ketika dia ikut ayah ibunya ke Hek-houw-pang nampak mengalah dan minta maaf, Thian Ki segera melerai.

"Sudahlah, Cin Cin. Siong Ki benar, semua itu terjadi karena salah sangka, dan dia sudah minta maaf."

Melihat Thian Ki yang nampak akrab dengan Cin Cin dan kini ikut pula bicara, bahkan menyebut namanya begitu saja, timbul perasaan tidak senang dalam hati Siong Ki. Timbul perasaan tinggi hatinya dan dengan ketus dia bertanya. "Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?"

Thian Ki merasa heran mendengar ucapan yang bernada tinggi hati dan angkuh itu. Sungguh tidak patut murid Naga Sakti Sungai Kuning bersikap seperti itu, akan tetapi dia tersenyum dan menghampiri Siong Ki. "Siong Ki, lupakah engkau kepadaku? Aku senasib dengan engkau dan Cin Cin, kehilangan ayah ketika Hek-houw-pang diserbu. Aku Coa Thian Ki!"

Siong Ki melebarkan matanya. "Coa Thian Ki? Kau putera Paman Coa Siang Lee itu?" Sekarang Siong Ki bersikap ramah.

"Siong Ki...!"

Pemuda itu terkejut dan wajahnya berubah pucat mendengar suara suhunya. Dia menoleh dan cepat menjatuhkan diri di depan suhu dan subonya yang telah berada di situ. Suami isteri pendekar itu telah mendengar suara mereka dan keduanya memasuki taman. Melihat sikap Cin Cin yang marah, Si Han Beng segera menegur muridnya.

"Siong Ki, apa yang telah kami dengar dari Cin Cin itu? Engkau telah menyerang pendekar Lie Koan Tek dan juga ibu Cin Cin, bahkan telah melukainya? Lupakah engkau akan pesan kami ketika engkau pergi, tidak boleh memusuhi pendekar itu sebelum melakukan penyelidikan dengan seksama dan tidak boleh mendendam kepada siapapun?"

"Ampun, suhu, dan subo, teecu telah melakukan kesalahan karena terburu nafsu dan diamuk duka dan dendam atas kematian ayah. Teecu telah bersalah dan teecu siap menerima hukuman dari suhu berdua." kata Siong Ki dengan nada sedih.

Tadi ketika Thian Ki melerai, hati Cin Cin sudah mulai dingin dan ia dapat memaafkan Siong Ki. Kini, melihat kedua orang guru pemuda ini nampak marah, Cin Cin semakin merasa kasihan kepada Siong Ki. Bagaimanapun juga, yang diserang Siong Ki bukanlah ibunya, melainkan Lie Koan Tek dan ibunya membela suami, maka sampai terluka. Dan penyerangan Siong Ki terhadap Lie Koan Tek tidak dapat terlalu disalahkan karena pemuda itu mengira bahwa ayah tirinya yang membunuh ayah pemuda itu.

"Siong Ki, kembalikan pedangku!" terdengar Bu Giok Cu berkata dan suaranya juga tidak ramah.

Dengan muka pucat Siong Ki melepaskan tali sarung pedangnya dan menyerahkan pedang Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) kepada subonya.

Bu Giok Cu tanpa berkata apa-apa, menerima pedang itu dan mencabutnya dari sarung, memeriksa pedang itu, kemudian memasukkannya kembali dan memasangkan di punggungnya sendiri. "Hemm, pedangku kupinjamkan kepadamu sebagal bekal agar engkau dapat melaksanakan tugasmu dengan baik. Lalu, apa hasilnya selama engkau pergi ini? Hanya untuk menyerang dan melukai ibu Cin Cin dan ayah tirinya? Itu saja?"

Tentu saja Siong Ki tidak berani menyinggung tentang pekerjaannya membantu pangeran yang memberontak dan usahanya membunuh kaisar namun gagal itu. Ia teringat akan tugas yang diberikan gurunya kepadanya, yaitu mencari puteri gurunya yang diculik orang belasan tahun yang lalu. Bahkan ketika Si Hong Lan. puteri Suhunya itu diculik oleh Kwa Bi Lan, dia yang semestinya bertanggung jawab, karena ketika itu, dia yang baru berusia enam tahun yang mengasuh Hong Lan yang berusia dua tahun.

"Maaf. subo..."

"Lancang! Siapa memberi ijin engkau menyebut subo kepadaku?" bentak Bu Giok Cu.

"Maaf... maafkan saya. bibi... saya sudah berusaha semampu saya mencari jejak mereka, akan tetapi belum berhasil."

"Sudahlah," kata Si Han Beng. "Engkau beristirahatlah, atau boleh menemani Thian Ki dan Cin Cin. Kami hendak melanjutkan bersamadhi di kamar dan nanti kalian bertiga boleh makan malam di ruangan makan, kami tidak ingin diganggu sebelum hari menjadi gelap." Setelah berkata demikian, Si Han Beng dan isterinya meninggalkan taman dan masuk kembali ke dalam rumah.

Karena ia sendiri sedang merasa berbahagia dan hatinya senang karena baru saja ia dan Thian Ki sudah saling membuka rahasia hati masing-masing yang saling mencinta, maka hati Cin Cin menjadi tak tega dan ia sudah dapat memaafkan Siong Ki sepenuh hatinya. Apalagi melihat betapa Siong Ki dimarahi oleh kedua orang gurunya, iapun merasa kasihan.

"Tentu engkau disuruh mencari puteri paman Si Han Beng yang diculik orang itu, bukan?" tanya Cin Cin kepada Siong Ki.

Pemuda itu menjatuhkan diri di atas bangku taman dan menghela napas panjang berulang-ulang. Memang hatinya sedang kesal bukan main. Usahanya di kota raja gagal, bahkan hampir saja dia tidak dapat meloloskan diri dari istana. Dan diapun belum berhasil mendapatkan puteri gurunya yang hilang itu.

"Memang nasibku yang buruk. Dahulu, adik Hong Lan diculik oleh Kwa Bi Lan ketika sedang kuajak bermain-main di taman ini. Aku baru berusia enam tahun dan tak berdaya, ditotok oleh Kwa Bi Lan. Dan sekarang, suhu menugaskan aku untuk mencari puterinya, akan tetapi aku sama sekali tidak berhasil menemukan jejak Kwa Bi Lan. Sudah kutanyakan ke seluruh penjuru, kepada para tokoh kangouw, namun tidak ada yang dapat memberitahu dimana adanya Kwa Bi Lan, seolah ia lenyap ditelan bumi bersama anak yang diculiknya."

"Aku yang akan dapat menemukannya, Siong Ki. Aku dan Thian Ki akan membantu paman dan bibi menemukan kembali anak mereka," kata Cin Cin.

"Cin Cin, engkau tahu di mana adanya Kwa Bi Lan yang menculik puteri suhu?" tanya Siong Ki heran.

"Aku juga belum tahu, akan tetapi dapat kutanyakan kepada ayah tiriku. Kiranya dia mengetahui atau dapat menduga di mana adanya wanita itu kerena Kwa Bi Lan adalah keponakan ayah tiriku."

"Ah, begitukah?" kata Siong Ki gembira "Kalau begitu, aku yakin bahwa akhirnya engkau dan Thian Ki yang akan mampu mengembalikan adik Si Hong Lan kepada suhu!"

Kini Siong Ki kelihatan gembira sekali. Memang hatinya bergembira karena lega. Biarpun kedua orang gurunya tidak puas dengan kegagalannya menemukan Hong Lan, akan tetapi mereka tidaklah terlalu marah kepadanya. Dan kini ternyata Cin Cin telah memaafkannya. Tidak ada sesuatu yang dapat dia khawatirkan lagi. Peristiwa di istana kerajaan itu tentu tidak akan diketahui gurunya, dan dia kini telah aman berada di rumah gurunya. Karena gembira, maka dia lalu mengajak Thian Ki dan Cin Cin bercakap-cakap, saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Akan tetapi tentu saja cerita mereka itu terbatas, hanya yang seperlunya saja diceritakan. Siong Ki tentu saja menyimpan rahasia, sedangkan Cin Cin yang bagaimanapun juga tidak sepenuhnya melupakan perbuatan Siong Ki, juga tidak mau menceritakan semua keadaan dirinya. Demikian pula dengan Thian Ki. Sikap Siong Ki yang tadi terdengar angkuh itu saja sudah membuat dia tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada pemuda ini.

Karena dia menghadapi pengobatan yang akan dilakukan Si Han Beng dan Bu Giok Cu, Thian Ki berpamit dari kedua orang itu untuk melakukan samadhi di kamarnya, sebagai persiapan menerima bantuan pengobatan dari suami isteri pendekar itu dengan mengumpulkan hawa murni ke dalam tubuhnya. Cin Cin yang memaklumi keadaan kekasihnya dan mengharapkan Thian Ki sembuh atau terbebas dari hawa beracun itu, menyetujui. Iapun mengajak Siong Ki untuk bercakap-cakap di dalam taman itu menanti lewatnya siang hari.

Siong Ki memang seorang yang pandai membawa diri. Dia bersikap sopan dan ramah, bahkan akrab sekali sehingga semakin menipis kesan buruk atas diri pemuda itu dalam hati Cin Cin. "Maafkan aku, Cin Cin, kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Kalau engkau tidak suka menjawab, anggap saja pertanyaanku ini tidak pernah ada." Dia menghentikan kata-katanya sambil memandang wajah gadis itu untuk memberi kesempatan kepada Cin Cin mengambil keputusan.

Cin Cin mengerutkan alisnya. Pemuda aneh, akan tetapi juga ia merasa tertarik untuk mengetahui pertanyaan apa gerangan yang akan diajukan pemuda itu. "Katakanlah, aku tidak akan tersinggung, asal engkau tidak sengaja hendak menyinggung atau menghinaku."

"Cin Cin, aku ingat benar sekarang ketika kita masih sama-sama menjadi sahabat, bahkan saudara seperguruan di Hek-houw-pang. Ketika itu, aku ingat bahwa kedua tanganmu masih utuh. Maaf kan aku... tangan kirimu..."

Cin Cin tersenyum. Ia merasa heran sendiri karena semenjak tangan kirinya buntung, setiap kali ada orang menyinggung tentang tangan itu, ia merasa jengkel dan marah, bahkan banyak orang sudah ia buntungi tangannya hanya karena orang itu menyinggung tentang cacatnya itu. Akan tetapi sekarang, ia sama sekali tidak merasa tersinggung. Ia tidak tahu bahwa hal itu terjadi karena pengakuan cinta dari Thian Ki tadi. Kebencian dan kemarahannya karena tangannya buntung adalah kebencian yang timbul karena kekecewaan bahwa pemuda yang dicintanya yang melakukannya. Kini, tangannya yang buntung sama sekali tidak membuat ia menyesal lagi!

"Tangan kiriku ini, Siong Ki?" tanyanya sambil tersenyun dan ia mengangkat lengan kirinya yang buntung sebatas pergelangan tangan. Ujung lengan itu terbungkus sutera putih. "Ah, tangan kiriku dipenggal pedang sehingga buntung..."

"Ahh! Siapa jahanam yang melakukannya. Cin Cin? Aku akan membantumu membalas dendam atas perbuatannya yang kejam itu!"

Senyum di bibir Cin Cin mengembang. "Tidak perlu, Siong Ki, karena orang yang membuntungi tangan kiriku adalah Thian Ki sendiri."

"Ehh? Bagaimana pula ini? Kenapa Thian Ki membuntungi tangan kirimu, padahal kulihat..." Dia menghentikan ucapannya karena merasa terlanjur bicara.

"Kami memang saling mencinta dan telah bersepakat untuk menjadi suami isteri, Siong Ki. Pembuntungan tanganku ini telah terjadi beberapa waktu yang lalu."

"Tapi... kenapa? Sungguh aneh kalau dia mencintamu akan tetapi membuntungi tanganmu!"

"Justeru karena dia mencintaku maka dia membuntungi tangan kiriku, Siong Ki. Karena kalau dia tidak melakukan itu, tentu sekarang aku sudah tidak berada di dunia lagi, sudah mati."

"Ehh? Kenapa begitu? Apa yang telah terjadi?" Tentu saja Siong Ki menjadi semakin penasaran dan heran.

"Panjang ceritanya, Siong Ki," Kata Cin Cin. "Ketika itu, aku memenuhi permintaan guruku untuk membunuh guru dan ayah tiri Thian Ki..."

"Maksudmu Cian Bu Ong?"

"Benar. Cian Bu Ong yang dimusuhi oleh guruku. Thian Ki hendak melindungi ayah tirinya, dan aku mencengkeram pundaknya, tidak tahu bahwa dia seorang tok-jin (manusia beracun) sehingga tangan kiriku yang mencengkeram itu bahkan keracunan. Melihat itu Thian Ki cepat membuntungi tangan kiriku karena kalau tidak, racun akan menjalar naik dan nyawaku tidak akan dapat diselamatkan lagi."

"Luar biasa sekali! Kalau tidak mendengar sendiri darimu, bagaimana aku dapat percaya? Engkau sudah dibuntungi tangan kirimu oleh Thian Ki dan sekarang engkau bahkan memilihnya menjadi calon suamimu!"

"Akan tetapi, dia melakukannya untuk menyelamatkan nyawaku, dan akulah yang mencengkeram pundaknya."

Siong Ki mengangguk-angguk. "Hemm, jadi Thian Ki adalah seorang manusia beracun? Mengerikan."

"Dia dijadikan tok-tong oleh mendiang neneknya, ketika dia masih kecil. Hal itu bukan kehendaknya dan kini justeru dia datang mencari paman Si Han Beng dan isterinya untuk minta pertolongan mereka agar suka membantunya membebaskan dirinya dari pengaruh hawa beracun itu." Cin Cin membela kekasihnya.

Siong Ki mengangguk-angguk. "Dan suhu sudah menyanggupinya?"

"Sudah, paman dan bibi akan berusaha mengobatinya malam nanti, sekarang paman dan bibi sedang melakukan siu-lian (samadhi) untuk menghimpun kekuatan."

Siong Ki berdiam diri sampai lama, alisnya berkerut. Betapa lihainya Coa Thian Ki. Tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat ampuh! Bahkan Cin Cin yang demikian lihainya, setelah mencengkeram Thian Ki, tangannya sendiri keracunan hebat dan kalau tidak dibuntungi, akan tewas! Kalau saja dia yang mempunyai tubuh beracun seperti itu, alangkah senangnya! Tidak akan ada yang mampu mengalahkannya, dan dia akan dapat menjadi jagoan nomor satu di dunia ini. Akan tetapi, Thian Ki berusaha keras hendak melenyapkan pengaruh hawa beracun itu, agar tubuhnya tidak beracun lagi! Sungguh gila!

Melihat pemuda itu termangu dan termenung, Cin Cin tersenyum. "Siong Ki, apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

"Sungguh aku merasa heran bukan main, Cin Cin. Thian Ki dapat menjadi tok-tong itu sungguh luar biasa sekali! Belum tentu seorang anak dari sejuta orang dapat seberuntung dia. Akan tetapi, memiliki tubuh yang demikian lihainya, yang dapat membuat dia menjadi seorang lawan yang sukar dikalahkan dan amat berbahaya, sepatutnya dia bahagia dan bangga. Akan tetapi kenapa dia malah hendak membebaskan dirinya dari hawa beracun di tubuhnya itu?"

Setelah bercakap-cakap dengan Siong Ki, Cin Cin merasa akrab kembali dengan pemuda yang di waktu kecilnya adalah teman bermainnya itu, maka iapun tidak ragu lagi untuk berterus terang. "Siong Ki, Thian Ki bukan seorang yang haus akan kemenangan, tidak ingin menjadi jagoan yang paling kuat di dunia persilatan. Dia ingin menjadi manusia biasa, jatuh cinta dan dicinta, kemudian menikah dan membentuk keluarga. Sedangkan kalau tubuhnya masih beracun seperti sekarang ini, dia tidak mungkin dapat menikah."

"Eh, kenapa begitu? Apa salahnya kalau dia menikah?"

"Kalau dia menikah, isterinya akan tewas keracunan," kata Cin Cin singkat.

Hampir saja Siong Ki mengeluarkan suara hatinya dalam kata-kata bahwa dia tidak akan perduli apakah wanita yang diperisterinya akan tewas, dia bahkan akan dapat berganti-ganti isteri, dengan tubuhnya yang demikian ampuh, apapun akan dapat diraihnya! Biarpun Siong Ki dapat menahan diri dan tidak mengucapkan suara hatinya.

Namun Cin Cin yang hendak membela kekasihnya, seolah dapat mendengar isi hati Siong Ki dan iapun berkata, bukan tidak ada kebanggaan terkandung dalam suaranya. "Sebetulnya, tanpa diobatipun, Thian Ki akan dapat membebaskan dirinya dari pengaruh racun itu kalau ia sudah memperisteri banyak wanita dan menewaskan mereka. Akan tetapi Thian Ki bukanlah seorang yang jahat seperti itu. Dia tidak ingin menyebabkan kematian siapapun, apalagi kematian seorang wanita yang menjadi isterinya. Dia akan berupaya agar tubuhnya bebas dari pengaruh hawa beracun, barulah dia mau menikah. Kalau usahanya itu gagal, dia lebih senang selama hidupnya tidak menikah dan tidak menewaskan siapapun yang tidak berdosa."

Siong Ki hanya mengangguk-angguk, akan tetapi di dalam hatinya dia mencela Thian Ki sebagai seorang yang bodoh sekali. Cin Cin lalu meninggalkan pemuda itu untuk pergi mandi karena hari telah sore. Siong Ki ditinggalkan seorang diri dalam lamunannya. Betapa jauh perbedaannya sekarang setelah dia kembali ke rumah gurunya. Dahulu, sebelum dia pergi, dia merasa bahwa tempat itu seperti tempat tinggalnya sendiri.

Dia merasa betah dan senang tinggal di situ, senang membantu kedua orang gurunya bekerja di sawah ladang sebagai petani atau naik perahu mencari ikan di sungai. Akan tetapi sekarang, setelah mengalami banyak peristiwa dalam perantauannya, dia merasa betapa tidak menyenangkan hidup di dusun yang sunyi itu. Tidak ada keramaian, tidak ada kemewahan, tidak ada kesenangan sama sekali!

Terutama sekali setelah dia mengalami kemesraan dengan mendiang Bi Tok Siocia Ouw Ling, kini dia merasa kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Bagaikan seseorang yang mulai ketagihan candu, dia merasa tidak sanggup hidup bersunyi diri jauh dari seorang teman wanita! Setiap kali dia membayangkan kemesraan dengan Ouw Ling, timbul desakan gairah yang membuat dia menderita sekali, bagaikan seorang kelaparan dan mulailah timbul pikiran bermacam-macam untuk dapat melampiaskan dorongan gairahnya yang berkobar.

Hati akal pikiran merupakan tempat yang amat penting bagi nafsu, karenanya nafsu bersarang di sana. Hati akal pikiran kita sudah bergelimang dengan nafsu, oleh karena itu apapun yang kita pikirkan, selalu diboncengi nafsu yang selalu mendesak untuk dipenuhi tujuannya, yaitu kesenangan. Segala macam perasaan, senang susah, iri benci dengki timbul melalui pikiran yang mengenang atau membayangkan segala peristiwa yang lalu atau yang akan datang.

Batin tidak akan diguncang gelombang perasaan itu kalau pikiran tidak mengenang atau membayangkan. Segala macam perasaan senang, susah, marah, benci dan sebagainya itu tidak akan timbul ketika kita sedang tidur atau pingsan, karena pikiran tidak bekerja. Itulah sebabnya mengapa para arif bijaksana sejak jaman dahulu mengatakan bahwa musuh kita yang paling berbahaya adalah pikiran sendiri, karena pikiran kita sendirilah sumber segala kesengsaraan batin.

Tak dapat disangkal. Dari pikiran timbulnya segala macam perasaan itu, akan tetapi pikiran pula merupakan alat kita yang terpenting. Hati akal pikiran inilah yang membuat kita menjadi manusia, berbeda dengan mahluk lain. Kalau harimau mempertahankan hidupnya dengan cakar dan taringnya, kita mempertahankan hidup dengan hati akal pikiran kita. Karena hati akal pikiran yang memegang peranan utama dalam kehidupan kita.

Maka nafsu menjadikan sebagai sarangnya. Kalau tadinya hati akal pikiran disertakan kita untuk dipergunakan memenuhi kebutuhan hidup kita, oleh nafsu diubah menjadi alat untuk mengejar kesenangan. Pengejaran kesenangan inilah yang menimbulkan semua konflik, semua pertentangan, dimulai dari pertentangan dalam batin sendiri, lalu tercurah keluar menjadi pertentangan antara manusia, antara golongan, antara bangsa.


"Sungguh tolol Thian Ki!" Siong Ki memaki dalam hatinya. Kalau saja dia yang menjadi tok-tong! Dan ada jalan yang lebih menyenangkan untuk membebaskan diri dari pengaruh hawa beracun, walaupun keinginan inipun gila, kenapa memilih cara yang lebih sukar dan tidak menyenangkan? Kalau dia, tentu akan memilih cara yang menyenangkan itu, membuang hawa beracun itu melalui kesenangan menggauli wanita. Berapa banyaknya wanita yang akan tewas menjadi korban keracunan, apa salahnya? Bukan sengaja membunuh, melainkan suatu cara pengobatan.

Siong Ki lalu memasuki kamarnya di samping. Dia merasa berterima kasih juga bahwa suhunya dan subonya tidak terlalu memarahinya, bahkan kamarnyapun masih terawat bersih, juga tidak diberikan kepada Thian Ki sebagai tamu yang menempati kamar tamu di belakang, sedangkan Cin Cin diberi kamar yang selalu dirawat akan tetapi tidak pernah dipakai, yaitu kamar yang dipersiapkan kalau-kalau puteri suhunya pulang!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Mereka semua makan malam bersama karena ketika Si Han Beng dan Bu Giok Cu keluar dari kamar, tiga orang muda itu belum makan, masih menanti mereka. Wajah suami isteri pendekar itu nampak kemerahan dan bercahaya, menunjukkan bahwa saat itu tenaga sakti mereka terkumpul dan mereka berada dalam keadaan yang amat kuat.

Mereka berlima makan malam tanpa banyak cakap. Setelah selesai makan malam, kembali suami isteri itu memasuki kamar mereka dan baru beberapa jam kemudian mereka keluar dan mengajak Thian Ki ke dalam ruangan kosong di samping kiri rumah itu, sebuah ruangan yang juga dipergunakan untuk berlatih silat. Ruangan itu bersih dan udaranya segar karena terdapat banyak jendela dan pintu angin yang menembus ke taman.

Siong Ki pamit kepada gurunya untuk berkunjung kepada kenalan-kenalan di dusun itu, dan Cin Cin ikut pula memasuki ruangan itu, mempersiapkan diri kalau-kalau kedua suami isteri itu dalam mengobati Thian Ki membutuhkan bantuannya. Si Han Beng menyuruh Thian Ki duduk bersila di atas lantai. Dia sendiri duduk di depan pemuda itu dan isterinya duduk bersila pula di belakang Thian Ki.

"Thian Ki, apa saja yang telah kau pelajari dari mendiang nenekmu untuk menguasai hawa beracun dari tubuhmu itu. Ceritakan sejelasnya."

"Paman, sebelum nenek menggemblengku selama hampir dua tahun, aku tidak dapat menguasai hawa beracun yang liar, sehingga setiap kali menggerakkan kaki tangan, tentu hawa beracun itu bekerja dan aku bahkan tidak berani berlatih silat dengan sumoi karena takut kalau-kalau hawa beracun bekerja mencelakainya. Selama hampir dua tahun, mendiang nenek melatihku cara untuk menguasai hawa beracun itu dan akhirnya aku berhasil mengendalikannya. Tanpa pengerahan sin-kang tertentu, hawa beracun itu tidak akan melukai orang. Akan tetapi, paman, hal itu tidak berarti bahwa aku telah bebas dari hawa beracun itu. Kalau ada yang menyerangku dengan tangan kosong, secara otomatis, diluar kemampuanku untuk mencegahnya, hawa beracun itu bekerja, seperti yang terjadi pada Cin Cin."

Si Han Beng mengangguk-angguk, lalu menyuruh pemuda itu membuka bajunya. Kini Thian Ki bertelanjang dada. "Sekarang coba kerahkan sin-kang yang dapat menggerakkan hawa beracun pada tubuhmu."

Thian Ki mengerutkan alisnya. "Harap paman dan bibi jangan menyentuh tubuhku, apalagi menekan," pesannya.

Suami isteri itu agak menjauh, kemudian Thian Ki mengerahkan sin-kangnya. Cin Cin terbelalak melihat betapa dari tubuh Thian Ki mengepul uap hitam dan tiba-tiba ia merasa kepalanya pening. Melihat Si Han Beng dan Bu Giok Cu menyalurkan sin-kang, Cin Cin juga cepat mengerahkan tenaga menyalurkan sin-kang untuk menolak pengaruh hawa beracun yang seolah memenuhi ruangan itu.

"Cukup, Thian Ki." kata Si Han Beng.

Thian Ki menghentikan pengerahan sin-kangnya dan uap hitam itupun makin menipis dan akhirnya menghilang.

"Berbahaya sekali!" Bu Giok Cu berseru sambil memandang kagum. "Mendiang nenekmu memang ahli racun yang hebat dan ia telah berhasil membuat engkau seperti yang dikehendakinya, Thian Ki. Aku telah melihat ilmu silatmu ketika engkau menandingi Tung-hai Mo-li, dan aku percaya bahwa dengan hawa beracun di tubuhmu itu, kalau engkau menghendaki dan mempergunakannya, kiranya tidak ada seorangpun tokoh persilatan yang akan mampu mengalahkanmu. Bahkan mereka terancam maut keracunan."

"Maaf, paman dan bibi. Aku tidak ingin menjadi manusia beracun seperti itu. Aku ingin menjadi manusia biasa, berkeluarga, mempunyai keturunan. Maka, aku mohon dengan sangat, sudilah paman dan bibi menolongku."

"Kami akan berusaha, Thian Ki. Akan tetapi kurasa tidak akan mudah, melihat betapa hebatnya hawa beracun di tubuhmu tadi. Sekarang, kami akan mencoba dulu dan ingin mengetahui, racun macam bagaimana yang membuatmu menjadi tok-tong. Aku dan bibimu akan mempergunakan sin-kang untuk menepukmu dari depan dan belakang. Engkau kendalikan hawa beracun itu dan pergunakan kekuatan itu untuk menolak..."

"Tapi itu berbahaya sekali bagi paman dan bibi! Tidak, aku tidak berani..."

"Thian Ki, jangan membantah pamanmu," kata Bu Giok Cu dengan nada menegur. "Dan jangan pandang rendah kepada kami. Kami akan menggunakan sin-kang melindungi diri dari hawa beracun."

"Benar, Thian Ki, asal engkau tidak mengerahkan seluruh hawa beracun itu, kami tidak akan terancam bahaya. Kami hanya ingin menguji dan mengetahui kekuatannya, baru akan dapat menentukan dengan cara bagaimana membantumu."

"Baiklah, paman... akan tetapi, harap paman dan bibi berhati-hati. Kalau sampai paman dan bibi keracunan, selama hidup aku tidak akan dapat memaafkan diriku sendiri."

Mendengar ini, Cin Cin tidak tahan untuk tinggal diam saja. Kekasihnya perlu didukung dan dibesarkan hatinya. "Thian Ki, kenapa engkau masih banyak ragu? Paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu yang memerintahkan, engkau hanya tinggal menurut saja. Kalau terjadi apapun, siapa yang akan menyalahkanmu? Juga, mereka adalah sepasang pendekar yang berilmu tinggi, tidak dapat disamakan dengan orang-orang yang pernah tewas oleh hawa beracun di tubuhmu."

Mendengar ucapan kekasihnya itu, agak berkurang kekhawatiran hati Thian Ki. "Baiklah, paman dan bibi. Aku sudah siap."

Si Han Beng saling pandang dengan isterinya. Memang mereka sudah membicarakan tentang usaha penyembuhan itu dan sudah mengatur sebelumnya sehingga kini keduanya sudah tahu apa yang akan mereka lakukan.

"Thian Ki, sambutlah, kami menyerang kedua pundakmu dengan tamparan ringan."

Suami isteri itu bergerak secara berbareng, Si Han Beng yang berada di depan Thian Ki menepuk pundak kirinya dengan tangan kiri sambil mengerahkan sinkang yang berhawa dingin, sebaliknya isterinya, Bu Giok Cu, menampar pundak kanan Thian Ki dengan tangan kanan sambil mengerahkan sin-kang yang berhawa panas.

Gerakan mereka cepat dan dari telapak tangan mereka sudah menyambar hawa yang dingin dan panas ke arah kedua pundak Thian Ki. Pemuda itu mengendalikan hawa beracun di tubuhnya dan menyalurkannya ke pundak, namun tentu saja dia berhati-hati dan hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya yang mematikan itu.

"Plak! Plak!"

Thian Ki merasa betapa pundak kirinya tergetar oleh hawa yang amat dingin, sedangkan pundak kanannya diguncang hawa panas. Ketika kedua tangan itu menampar pundaknya, kedua tangan terpental oleh tenaga dari hawa beracun dan suami isteri itu cepat sudah menarik kembali tangan mereka. Thian Ki melihat betapa telapak tangan kanan Si Han Beng berwarna Hitam! Tanpa menengokpun dia dapat menduga bahwa tentu tangan Bu Giok Cu sama juga, keracunan.

"Paman...! Bibi...!" serunya kaget. Akan tetapi, ketika dia dalam keadaan duduk bersila itu meloncat ke samping, berdiri dan memandang kepada dua orang suami isteri yang kini duduk bersila saling berhadapan karena tidak lagi terhalang dirinya, dia melihat mereka memejamkan mata dan membuat gerakan 'Satu Tangan Menyangga Langit' dan dari telapak tangan mereka itu mengepul uap hitam. Hanya beberapa menit saja mereka mengerahkan sin-kang dan semua warna hitam itu lenyap dari tangan mereka tadi.

Cin Cin memandang kagum bukan main, juga Thian Ki tertegun dengan hati yang lega bukan main. Tadi dia sudah terkejut dan khawatir bukan main melihat betapa tangan suami isteri pendekar itu menjadi hitam setelah menepuk pundaknya. Akan tetapi ternyata mereka memiliki kekuatan sin-kang yang dahsyat, yang mampu mengusir hawa beracun itu dari tangan mereka. Giranglah hatinya dan dia merasa yakin bahwa suami isteri inilah yang akan mampu menolongnya, membebaskan dirinya dari hawa beracun.

"Paman dan bibi sungguh hebat!" serunya dan diapun bersila kembali di tengah antara suami isteri itu.

Akan tetapi suami isteri itu saling pandang dan Si Han Beng menghela napas. "Thian Ki, mendiang nenekmu yang telah membuat engkau menjadi tok-tong memang seorang yang amat lihai dalam hal racun, dan tidak ada duanya di dunia kang-ouw. Racun di tubuhmu amatlah hebatnya, bergerak otomatis, mengimbangi keadaan sin-kang lawan yang menyerangmu. Tadi aku mempergunakan sin-kang berhawa dingin, sedangkan bibimu menggunakan sin-kang berhawa panas, akan tetapi akibatnya sama saja, kami berdua keracunan. Kami akan berusaha, akan tetapi jangan terlalu memastikan bahwa kami akan berhasil sepenuhnya. Nah, sekarang kendurkan semua urat syarafmu, sedikitpun jangan melawan tenaga kami. Kami akan membantumu mendorong keluar hawa beracun dari tubuhmu."

"Baik, paman," kata Thian Ki dengan pasrah.

Kini suami isteri itu menjulurkan kedua tangan ditempelkan ke dada dan punggung Thian Ki. Mereka mengerahkan tenaga sin-kang, perlahan-lahan, makin lama semakin kuat. Thian Ki merasa betapa hawa yang hangat menyusup ke dalam tubuhnya. Perlahan-lahan, uap hitam mengepul keluar dari tubuhnya, terutama dari mulut dan hidungnya. Dia merasa pening dan ada dorongan untuk menentang, untuk melawan dua tenaga sakti yang menyusup ke dalam tubuhnya itu. Dia maklum bahwa sekali dia menuruti dorongan ini, suami isteri itu akan terancam bahaya maut.

Oleh karena itu, dia menekan dorongan itu yang semakin kuat saja sehingga dia harus menggigit giginya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya yang tergetar hebat karena ada perang dalam dirinya sendiri. Kesadarannya menuntut agar dia tetap mengendurkan seluruh urat syaraf di tubuhnya, meniadakan bentuk perlawanan sedikitpun, akan tetapi dilain pihak, ada suatu keinginan kuat yang mendorongnya untuk melakukan perlawanan. Dia merasa kepalanya pening, tubuhnya sebentar panas sebentar dingin.

Cin Cin memandang dan tertegun, penuh kekaguman, juga penuh kekhawatiran terhadap kekasihnya dan kedua suami isteri itu. Ia maklum bahwa cara pengobatan itu amat berbahaya, baik bagi yang diobati maupun bagi yang mengobati. Akan tetapi ia tidak berdaya mencampuri, dan hanya dapat memandang dengan terpukau, seperti patung, bernapas pun ditahannya agar jangan banyak menimbulkan suara. Akan tetapi diam-diam ia harus mengerahkan tenaganya pula karena uap hitam yang keluar dari tubuh Thian Ki membuatnya pening. Bahkan akhirnya ia tidak tahan lagi dan keluar dari ruangan itu, hanya menonton dari luar, dimana udaranya jernih.

Kurang lebih setengah jam suami isteri itu mengerahkan sin-kang untuk membantu Thian Ki terbebas dari hawa beracun. Akhirnya Bu Giok Cu mengeluh dan melepaskan kedua tangannya, disusul oleh suaminya. Suami isteri itu masih bersila, memejamkan mata dan nampak lemas. Mereka kini duduk diam dan menghimpun hawa murni.

Bukan hanya suami isteri itu yang kehabisan tenaga, juga Thian Ki nampak pucat dan lemas, seluruh tubuhnya penuh keringat. Diapun masih duduk bersila dan tidak ada lagi uap hitam mengepul dari tubuhnya! Dia juga harus mengimpun hawa murni untuk memulihkan tenaganya yang bagaikan tersedot keluar bersama uap hitam tadi. Dia merasa lemah lunglai, kepalanya tetap pening.

Melihat tidak ada uap hitam lagi mengepul dari tubuh Thian Ki, Cin Cin berani memasuki ruangan itu dan mendekati mereka. Hatinya berdebar girang karena ia mengira bahwa tentu kekasihnya sekarang telah terbebas dari hawa beracun itu. Ia pun memandang dengan penuh kagum dan juga terharu kepada suami isteri yang gagah perkasa itu. Mereka telah mempertaruhkan keselamatan sendiri, bahkan kini kehabisan tenaga untuk menolong Thian Ki. Betapa mulia budi suami isteri pendekar itu.

Si Han Beng membuka matanya dan menghela napas panjang. Agaknya helaan napas itu menyadarkan pula isterinya yang membuka mata. Suami isteri itupun seperti Thian Ki, agak pucat dan kelihatan lelah bukan main.

"Bukan main...!" Bu Giok Cu berkata sambil menggeleng-geleng kepala kagum memandang kepada Thian Ki yang masih bersila di depannya, membelakanginya.

Thian Ki membuka matanya, kemudian menggeser duduknya ke belakang, menghadapi suami isteri itu dan dia berlutut kepada mereka. "Terima kasih paman dan bibi. Budi paman dan bibi takkan kulupakan selama hidupku."

"Aih, Thian Ki, jangan perkata begitu." kata Si Han Beng. "Kami bahkan merasa menyesal bahwa kami telah gagal membersihkan hawa beracun dari tubuhmu, mungkin hanya beberapa bagian saja. Hawa itu terlampau kuat."

Thian Ki maklum karena dia juga merasa bahwa hawa beracun di tubuhnya belum bersih, baru sebagian saja yang terusir pergi. Mungkin hanya mengurangi keampuhannya saja sehingga kalau tubuhnya dipukul orang, si pemukul itu hanya terkena racun yang tidak begitu berbahaya lagi. Namun, tetap saja tubuhnya masih mengandung racun dan hal ini tidak memungkinkannya untuk menikah.

"Kurasa hawa beracun itu telah membuat darahmu juga beracun, Thian Ki, harus ditemukan obat untuk mencuci darahmu." kata Bu Giok Cu.

Karena pekerjaan itu amat melelahkan, menguras habis tenaga suami isteri itu dan Thian Ki, maka mereka bertiga lalu kembali ke kamar-masing masing untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga. Malam itu Cin Cin gelisah di dalam kamarnya. Ia tak dapat tidur nyenyak karena selalu teringat akan kekasihnya, Coa Thian Ki. Ia maklum bahwa kekasihnya itu belum terbebas sama sekali dari hawa beracun, seperti yang didengarnya dari percakapan dengan suami isteri tadi seusai pengobatan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Cin sudah bangun, mencuci badan lalu memasuki taman untuk mencari udara segar karena tubuhnya terasa agak lesu karena kurang tidur. Ternyata ia mendapatkan Thian Ki sudah berada di taman, berlatih silat!

Pemuda itu nampak berlatih silat tangan kosong, gerakannya gesit dan mantap sekali, pukulan kedua tangannya mendatangkan angin. Memang hebat ilmu tangan kosong pemuda ini. Dia telah menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh bekas pangeran Cian Bu Ong, juga dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang diajarkan oleh ibunya dan neneknya. Kini dia memainkan ilmu silat tangan kosong yang diajarkan gurunya atau ayah tirinya, yaitu Sin-liong-ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti).

Gerakannya gagah sekali, kedua tangan dibuka, jari-jari membentuk cakar naga. Agaknya tenaga Thian Ki sudah pulih kembali. Ketika pemuda itu mengakhiri ilmu silatnya, dia mengangkat kedua tangan yang membentuk cakar naga itu ke atas, mengerahkan tenaga saktinya dan kedua tangannya berubah kehitaman sampai sebatas pergelangan dan ada uap hitam mengepul dari jari jari tangannya. Dia menghentikan gerakannya, kedua lengannya tergantung lemas dan lunglai seolah kehabisan tenaga dan dia menundukkan mukanya yang nampak kecewa.

"Thian Ki...!" Cin Cin menghampiri.

Thian Ki yang agaknya berada dalam keadaan berduka itu sadar dari lamunannya dan dia mengangkat mukanya, dan sebentar saja wajahnya telah berseri kembali. "Eh, sepagi ini engkau sudah bangun, Cin Cin?"

"Engkau malah sudah berlatih silat, Thian Ki. Bagaimana dengan hawa beracun di tubuhmu?" Cin Cin berpura-pura mengajukan pertanyaan ini, padahal tadi ia melihat sendiri bahwa kedua tangan itu masih berwarna hitam ketika Thian Ki mengerahkan tenaga sin-kang.

Thian Ki tersenyum. "Berkat bantuan paman dan bibi, sudah banyak berkurang hawa beracun itu."

"Thian Ki, kepadaku engkau tidak perlu menyembunyikan. Berterus-teranglah saja bahwa hawa beracun itu belum hilang dan engkau belum terbebas, bukan? Aku semalam sudah mendengar ucapan Paman Si Han Beng, juga tadi aku melihat kedua tanganmu berubah hitam."

Thian Ki menghela napas lalu duduk di atas bangku. Cin Cin juga duduk di sampingnya. "Engkau benar, Cin Cin. Memang sudah banyak hawa beracun yang keluar, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku telah bebas sama sekali. Biasanya, kalau aku mengerahkan tenaga seperti tadi, mengendalikan hawa beracun itu ke arah lengan, tanganku menghitam dari jari tangan sampai ke siku. Sekarang masih menghitam, akan tetapi hanya sampai di pergelangan tangan saja dan ini berarti bahwa biarpun sudah berkurang, akan tetapi belum bersih betul. Benar seperti yang dikatakan bibi Bu Giok Cu, hawa beracun telah membuat darahku beracun, maka kalau hanya dengan dorongan sin-kang saja, tidak mungkin dapat dibersihkan. Darah yang beracun itu akan menambah kekuatan hawa beracun lagi, maka haruslah ditemukan obat yang dapat membersihkan darahku dari racun. Cin Cin, kebetulan sekali kita dapat bicara berdua. Setelah aku melihat keadaan diriku, kurasa belum terlambat bagimu untuk menjauhkan diri dariku, Cin Cin." kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara gemetar.

Cin Cin terbelalak memandang wajah pemuda itu. "Thian Ki, apa maksud ucapanmu ini? Jelaskan!" Ia nampak marah.

Sejenak mereka saling pandang dan Thian Ki yang lebih dulu menundukkan pandang matanya. "Cin Cin, agaknya keadaan diriku ini tidak dapat dipulihkan, tidak dapat disembuhkan dan aku akan menjadi orang beracun selamanya..."

"Aih, kenapa engkau mendadak menjadi begini cengeng dan lemah, Thian Ki? Ini tidak pantas bagimu. Engkau tidak boleh putus asa!" Kata Cin Cin bersemangat.

"Aku tidak putus asa, Cin Cin, aku akan tetap berusaha sampai aku berhasil menemukan obatnya. Akan tetapi, aku tidak berhak mengikatmu, Cin Cin. Kita memang saling mencinta, akan tetapi dengan keadaanku seperti ini, bagaimana mungkin? Aku tidak ingin melihat engkau kelak kecewa dan sengsara karena aku tidak berhasil sembuh. Maka, sebelum terlambat, sebelum ikatan di antara kita semakin kuat, sebaiknya kalau engkau meninggalkan aku. Engkau berhak hidup berbahagia, dengan calon jodoh lain yang normal, bukan manusia beracun seperti aku."

Sejenak Cin Cin mengamati wajah pemuda itu dengan kaget, heran dan tidak percaya, kemudian ia menangis.

"Cin Cin, kenapa? Kenapa engkau menangis...?"

Cin Cin mengusap air matanya, matanya mencorong marah. "Thian Ki, engkau sungguh kejam! Tega benar engkau menikam hatiku dengan ucapanmu itu. Kau kira aku ini seorang wanita macam apa, begitu dangkal cintanya, begitu palsu dan mementingkan diri sendiri? Thian Ki, aku mencintamu dengan setulus hatiku, apa dan bagaimana keadaanmu, aku akan tetap mencintamu. Andaikata kita kelak tidak dapat menikah, aku bersedia hidup sebagai sahabat selamanya, dan aku akan tetap mencintamu. Andaikata kelak kita menikah dan aku mati keracunan, akupun tidak akan menyalahkanmu dan aku rela, aku akan tetap mencintamu. Dan engkau sekarang... engkau menganjurkan agar aku meninggalkanmu?" Gadis itu menangis lagi.

Thian Ki merasa terharu dan juga berbahagia sekali. Ternyata cinta gadis ini kepadanya membesarkan hatinya. Diapun memegang tangan kanan gadis itu dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Cin Cin, maafkan aku. Sungguh mati, aku mengeluarkan kata-kata itu demi cintaku kepadamu, karena aku tidak ingin melihat engkau menderita. Biarlah aku sendiri yang menderita akan tetapi jangan engkau, orang yang paling kusayang di dunia ini, ikut pula menderita karena keadaan tubuhku. Maafkan aku, Cin Cin, kini aku semakin yakin bahwa dengan engkau disampingku, aku akan menghadapi apapun juga dengan tabah. Biarlah kita hadapi bersama, suka sama dinikmati, duka sama ditanggung."

Cin Cin menghentikan tangisnya dan ketika Thian Ki merangkulnya, ia berbisik di dekat telinga pemuda itu. "Thian Ki, bagiku, penderitaan di sampingmu merupakan suatu kebahagiaan, sebaliknya, kebahagiaan tanpa engkau akan merupakan penderitaan."

Thian Ki semakin terharu. Dengan lembut dia memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya dan sambil menatap wajah itu dengan sinar mata yang penuh kasih sayang, diapun berkata lirih. "Cin Cin, demi Tuhan cinta kasihmu yang begini tulus dan mendalam tidak akan sia-sia, tidak akan sia-sia..."

"Aku tahu, Thian Ki, kita saling mengetahui isi hati masing-masing dan semoga Tuhan melindungi kita. Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

"Aku ingin memenuhi pesan guruku, juga ayah tiriku, yaitu mendapatkan pedang pusakanya yang berada di gudang pusaka kerajaan. Aku harus melakukan itu, dan harus berhasil, untuk membalas segala budi kebaikannya kepadaku dan kepada ibuku. Setelah berhasil, aku akan memperkenalkan engkau kepada ibuku dan ayah tiriku, dan mengakui kepada mereka bahwa engkau adalah calon isteriku."

Berkata sampai di situ Thian Ki tertegun. Baru dia teringat bahwa ayah tirinya telah menjodohkan dia dengan Cian Kui Eng! Dan terkenang dia kepada sumoinya atau juga adik tirinya itu bahwa Kui Eng juga mencintanya, bukan sebagai adik kepada kakak, melainkan sebagai seorang wanita kepada seorang pria. Sejenak dia menjadi gelisah akan tetapi segera terhapus kegelisahan itu begitu dia menatap wajah kekasihnya.

"Engkau kenapa, Thian Ki?" tanya Cin Cin yang melihat perubahan sejenak tadi pada wajah kekasihnya.

"Tidak apa-apa, aku hanya teringat bahwa aku mempunyai sebuah tugas lagi yang harus kulakukan, demi membalas budi kebaikan paman Si Han Beng dan bibi Bu Giok Cu."

"Aku tahu, mencari dan membawa kembali puteri nereka, bukan?" Cin Cin memotong, "aku akan membantumu sekuat tenagaku, Thian Ki."

Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut dari depan rumah dan disusul suara beradunya senjata tajam yang nyaring. Tentu saja Thian Ki dan Cin Cin terkejut sekali dan mereka berloncatan dan berlari keluar dari taman menuju ke pekarangan luar. Dan di sana, mereka melihat dua orang sedang berkelahi dengan seru dan mati-matian. Setelah dekat, mereka mengenal Siong Ki yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda yang bertubuh kecil, berwajah tampan sekali dan gerakan pedangnya jelas menunjukkan bahwa orang ini memiliki dasar ilmu silat Siauw-lim-pai.

Namun, sekali pandang saja tahulah Cin Cin dan Thian Ki, bahwa pemuda tampan itu tidak akan dapat menandingi Siong Ki yang jauh lebih unggul ilmu pedangnya, sehingga kini pemuda itu terdesak oleh sinar pedang yang dimainkan Siong Ki. Namun, pemuda itu nampaknya bertekad untuk menyerang mati-matian, sehingga Thian Ki khawatir kalau-kalau Siong Ki akan lupa diri dan membunuh orang.

"Tahan senjata..!!" teriaknya dan diapun meloncat ke depan, ke tengah-tengah medan pertandingan.

Mendengar angin yang dahsyat menyambar, pemuda itu terkejut dan melompat mundur. Demikian pula Siong Ki juga menahan pedangnya ketika melihat munculnya Thian Ki dan Cin Cin.

"Sabarlah, Siong Ki dan engkau juga, sobat. Kalau ada persoalan dapat dibicarakan dan didamaikan. Kenapa kalian sepagi ini sudah saling serang mati-matian seperti itu? Siong Ki, siapakah sobat ini dan mengapa kalian bertanding mati-matian?" tanya Thian Ki.

Siong Ki mengamati pemuda di depannya itu dengan alis berkerut dan sinar mata marah dan penasaran. "Orang sinting ini datang ingin bertemu dengan suhu dan subo dengan nada suara yang merendahkan, ketika kuberitahu bahwa suhu dan subo masih tidur, tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuhku."

"Jahanam keparat, memang aku akan membunuhmu!" bentak pemuda itu dan dia sudah hendak menyerang lagi. Dari cara dia bicara, dari sikapnya, Thian Ki merasa bahwa pemuda ini bukanlah orang kangouw biasa saja. Kata-katanya, walaupun sedang marah dan merupakan makian, tetap saja menggunakan kata-kata yang halus, dengan pengucapan yang teratur, seperti seorang bangsawan!

"Tahan dulu, sobat," katanya sambil memberi hormat kepada pemuda itu dengan merangkapkan kedua tangan depan dada. "Agaknya terjadi kesalah pahaman di sini. Tahukah engkau siapa pemuda ini?" Thian Ki menuding ke arah Siong Ki. "Dia adalah The Siong Ki, murid dari paman Si Han Beng yang berjuluk Huang-ho-Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)..."

"Kalau begitu, Huang-ho Sing-liong adalah seorang jahat yang memiliki murid jahat!" pemuda itu membentak marah.

"Orang gila!" Siong Ki sudah marah lagi, akan tetapi sebelum dia melakukan sesuatu, terdengar suara dari dalam rumah.

"Siapakah yang mengatakan bahwa kami jahat?" Dan Si Han Beng bersama isterinya telah muncul dari pintu depan. Suami isteri ini masih nampak agak pucat dan lemah, tanda bahwa mereka belum dapat memulihkan tenaga yang malam tadi terkuras habis ketika mereka mencoba untuk mengobati Thian Ki.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bu Giok Cu melihat muridnya berdiri dengan sebatang pedang di tangan, berhadapan dengan seorang pemuda tampan yang kelihatan marah-marah dan yang juga memegang sebatang pedang di tangannya.

"Paman dan bibi, agaknya terjadi kesalah pahaman antara Siong Ki dan tamu ini," kata Thian Ki.

"Siong Ki, apa yang terjadi?" tanya Si Han Beng dengan suara tegas karena guru ini masih merasa kecewa melihat muridnya pulang tanpa hasil mencari puterinya, bahkan telah melukai ibu Cin Cin.

"Suhu, teecu sendiri tidak mengerti. Orang ini tadi muncul di pekarangan dan teecu segera menemuinya dan menanyakan maksud kunjungannya. Dia hendak bertemu dengan suhu dan subo, dan ucapannya terdengar kasar, bahkan tidak menghormati suhu dan subo. Teecu menjawab bahwa suhu dan subo masih belum bangun dari tidur dan menyuruh dia pergi agar tidak mengganggu, karena sikap dan kata-katanya yang tidak menghormat. Eh, tiba-tiba dia mencabut pedang dan menyerang teecu, bukan sekedar menguji kepandaian, melainkan dengan sungguh-sungguh akan membunuh teecu."

Mendengar laporan muridnya itu, Si Han Beng memandang penuh perhatian kepada tamunya, dan Bu Giok Cu sudah tidak sabar lagi. "Orang muda, engkau masih muda dan tampan, kenapa begini pemarah? Setidaknya, jelaskan dulu kenapa engkau hendak membunuhnya dan apa pula keperluanmu mencari kami berdua."

Pemuda itu menatap wajah Si Han Beng dan Bu Giok Cu bergantian, kemudian, dengan suara mengandung kemarahan dia berkata, "Aku harus membunuh jahanam busuk ini! Apalagi setelah ternyata dia ini murid Huang-ho Sing-liong Si Han Beng, dia harus mati di tanganku! Kalau kalian suami isteri hendak membelanya, boleh! Biar aku mendapat kenyataan bahwa nama besar Huang-ho Sin-liong hanyalah nama kosong belaka, dia bukan seorang pendekar budiman yang bijaksana, melainkan seorang yang pengecut, tidak bertanggung-jawab, juga mempunyai murid yang jahat, pengkhianat dan pemberontak...!"