Social Items

"Pangeran... aihhh, pangeran... kenapa paduka berkata demikian? Hamba diharuskan membunuh paduka dengan racun? Lebih baik hamba yang mati!"

Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut tersenyum dan wajah berseri, pandang matanya lembut dan mesra. "Bi Lan, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau lebih baik mati daripada membunuhku untuk menyelamatkan Lan Lan. Apakah ini berarti bahwa engkaupun cinta padaku?"

Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan tersipu. "Pangeran, mana hamba... berani...?" Ia tergagap.

Dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu mendekap wajahnya dalam rangkulan. Bi Lan menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada pangeran itu. Pangeran Li Si Bin membiarkannya sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan dia.

"Duduklah, dan tenangkan hatimu. Sejak bertemu, akupun sudah amat kagum kepadamu, dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, Bi Lan. Nah, setelah kita mengetahui perasaan hati masing-masing, mari kita bicara tentang Lan Lan dan ancaman si penculik. Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk menyelamatkan puterimu itu."

Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki kamar yang aman, tidak akan terdengar orang lain percakapan mereka dan di tempat ini mereka berbicara dengan serius. Bi Lan mendengarkan siasat yang diatur oleh pangeran itu. Pangeran Li Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat yang pandai, maka menghadapi ancaman surat itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan menemukan cara untuk menanggulangi dan mengatasinya.

Hati Bi Lan lega bukan main setelah ia keluar dari istana pada sore hari itu. Bukan saja ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat yang diatur oleh putera mahkota, akan tetapi juga ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya, karena pengakuan putera mahkota yang juga mencintanya!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Suasana di istana tercekam kegelisahan. Betapa tidak? Putra mahkota, juga panglima besar, Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah! Sambil berbisik-bisik semua penghuni istana membicarakannya. Terpetik berita dari tabib yang menangani perawatan putera mahkota bahwa pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar disembuhkan. Bahkan Kaisar dan permaisuri, juga para selir menjadi gelisah. Hanya tiga orang saja yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura sakit!

Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang diberikan tabib kepadanya. Hanya Pangeran Li Si Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah, yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak menderita penyakit apapun juga. Dia sehat-sehat saja. Akan tetapi selain mereka bertiga, semua orang percaya bahwa putera mahkota sakit berat, keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat disembuhkan lagi!

Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak memperkenankan orang lain mendekat, masuklah seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu itu. Tabib Song yang tua dan terkenal pandai itu mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam itu.

"Hemm, mau apa engkau masuk ke sini? Jangan mengganggu sang pangeran!"

"Maafkan hamba, Tabib Mulia," kata thai-kam (orang kebiri) itu dengan suara gemetar, "Hamba diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan Putera Mahkota."

"Keadaannya gawat dan jangan diganggu!" kata pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal sudah siap dengan tombak dan pedang mereka untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima perintah dari tabib. Dalam keadaan seperti itu, kaisar sendiri yang memberi kekuasaan sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan merawat putera mahkota, dan siapapun harus tunduk kepada sang tabib.

"Maafkan hamba... akan tetapi Sang Permaisuri mengutus hamba untuk melihat keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana keadaannya, apakah masih ada harapan... ampun, hamba hanya utusan..." Dan thai-kam itu merangkak mendekat.

Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti yang diatur oleh putera mahkota sendiri membiarkan thai-kam itu mendekat dan membiarkan thai-kam itu mengangkat muka memandang kepada sang pangeran yang rebah terlentang seperti mayat.

"Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong houw (Permaisuri) bahwa keadaan Putera Mahkota amat gawat. Lihat saja, wajahnya semakin pucat dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak dapat diusir semua. Ludahnya berwarna hitam dan matanya merah, napasnya terengah. Laporkan kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya putera mahkota tidak dapat tertolong lagi, mungkin tinggal satu dua hari lagi..."

Thai kam itu menahan tangisnya, lalu mengundurkan diri dari kamar itu. Dia terisak ketika keluar dan melewati penjaga yang mengawal di luar pintu kamar, sehingga semua orang menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan mencitai putera mahkota sehingga tidak dapat menahan kesedihannya ketika menjenguk dan melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit payah itu.

Mulai malam itu, tiada seorangpun diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit sang pangeran sudah terlalu gawat, sehingga sama sekali tidak boleh diganggu. Hanya tabib itu saja yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar, sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal diperketat.

Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di istana Pangeran Li Siu Ti. Pangeran Tua inipun hanya pada hari pertama putera mahkota jatuh sakit saja diperbolehkan menengok. Siauw Can beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan bertanya mengapa wanita itu demikian berduka. Dengan singkat Bi Lan berkata,

"Bagaimana aku tidak akan berduka? Lan Lan diculik penjahat, dan kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit..."

Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya dan ia tidak melihat betapa Siauw Can tersenyum puas. "Masih ada aku di sini, Lan-moi. Akulah yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai dapat."

"Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan, bukan bicara saja di sini. Pergi dan jangan ganggu aku."

Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat menghentikan tangisnya. Ia hanya menangis kalau ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur oleh putera mahkota. Sekarang sudah hari ke tiga dan ia harus siap-siaga karena orang yang menculik Lan Lan tentu akan mengembalikan Lan Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran menderita sakit keracunan hebat.

Tidak sukar baginya untuk menangis, karena bagaimanapun juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik. Dan sekarang ia sudah siap siaga untuk menangkap penculik itu kalau Lan Lan dikembalikan. Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita dari penculik itu. Bi Lan sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan memanggilnya dari arah belakang, dari taman.

"Ibu...! Ibu...!"

"Lan Lan...!!" Bi Lan meloncat keluar dari kamarnya dan seperti terbang memasuki taman. Benar saja, ia menemukan Lan Lan di tengah taman, dalam keadaan sehat! Ia menyambar tubuh Lan Lan, dipondongnya dan didekapnya, diciuminya dan kembali Bi Lan tak dapat menahan banjirnya air mata, air mata kebahagiaan. Ia sendiri merasa heran mengapa setelah ia jatuh cinta, begini mudah ia menangis!

Ia membawa Lan Lan ke kamarnya, menutup pintu kamar dan dengan lembut dan penuh rasa sayang, ia menanyai Lan Lan kemana saja ia pergi selama tiga hari itu. Lan Lan adalah seorang anak yang usianya baru tiga tahun, masih belum dapat memberi keterangan dengan jelas. Ia hanya mengatakan bahwa ia ditempatkan dalam sebuah kamar, diberi banyak barang-barang mainan, dilayani oleh seorang laki laki yang baik hati.

Bi Lan tentu saja tidak dapat mengharapkan keterangan jelas siapa penculik anak itu, dan tentu anak itu ditotok ketika diculik dan dikembalikan sehingga tidak tahu apa-apa. Dengan hati-hati Bi Lan menjaga Lan Lan malam itu di kamarnya dan pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah memondong Lan Lan keluar dari istana Pangeran Tua, menuju ke istana kaisar!

Karena ia dikenal baik sebagai guru silat yang melatih para dayang di istana, dengan mudah ia diperbolehkan masuk dan langsung saja Bi Lan menju ke kamar di mana Putera Mahkota "dirawat" oleh tabib. Dan dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pangeran Li Si Bin ketika melihat Bi Lan datang sambil memondong Lan Lan yang dalam keadaan sehat dan selamat! Dan berakhirlah "penyakit" putera mahkota itu pada hari itu juga.

Seluruh penghuni istana menjadi gembira bukan main. Demikian pula kaisar ketika mendengar bahwa puteranya telah sembuh sama sekali. Yang mendapatkan jasa besar adalah Tabib Song tentu saja. Dia dianggap berjasa telah dapat mengobati dan menyembuhkan putera mahkota!

Pada hari itu juga. Bi Lan ditahan di istana atas kehendak putera mahkota. Dengan alasan bahwa Bi Lan diangkat menjadi pengawal pribadi Putera Mahkota, maka wanita itu bersama puterinya tidak perlu lagi kembali ke istana Pangera Tua, bahkan barang-barangnya lalu diminta agar diantar ke istana! Bukan itu saja. Bahkan tak lama kemudian Putera Mahkota secara berterang mengangkat Bi Lan menjadi selirnya, merangkap pengawal pribadi! Karena ibunya menjadi selir pangeran, tentu saja dengan sendirinya Lan Lan juga menjadi seorang puteri!

********************

"Tabib Song keparat itu!" Pangeran Li Siu Ti mondar-mandir di dalam kamarnya, kadang mengepal tinju dan wajahnya muram. Hatinya kecewa bukan main mendengar bahwa Putera Mahkota telah sembuh dari sakitnya. "Bagaimana mungkin? Padahal, menurut keterangan thai kam Ciu, keadaan pangeran Li Si Bin sudah parah sekali, sudah sekarat. Bagaimana tiba-tiba dapat menjadi sembuh?"

Poa Kiu dan Siauw Can yang berada di kamar itu, saling pandang dan mereka berdua juga merasa kecewa dan heran. Mereka sudah mengembalikan Lan Lan kepada Bi Lan karena mereka sudah merasa yakin bahwa putera mahkota pasti akan mati. Mereka menganggap bahwa Bi Lan terpaksa harus mentaati bunyi surat, yaitu meracuni Pangeran Li Si Bin untuk menyelamatkan nyawa Lan Lan. Mereka sudah percaya sepenuhnya bahwa usaha itu berhasil dan kini tahu-tahu pangeran itu sembuh, dan Bi Lan ditarik ke istana menjadi pengawal pribadi!

"Jangan-jangan adik misanmu itu yang berkhianat," kata Pangeran Tua kepada Siauw Can atau Can Hong San. "Buktinya. Putera Mahkota tidak tewas dan setelah Lan Lan dikembalikan, ia segera membawa Lan Lan ke istana dan diangkat menjadi pengawal pribadi."

"Saya kira tidak demikian, pangeran." kata Hong San. "Banyak saksinya bahwa putera mahkota benar-benar keracunan, bahkan banyak yang melihat dia sakit payah, hampir mati. Tentu tabib sial itu telah menemukan obat penawar yang amat mujarab. Tentang diangkatnya Bi Lan menjadi pengawal pribadi, hal itupun tidak aneh. Pangeran Li Si Bin agaknya suka kepada Bi Lan dan sudah lama Bi Lan telah diberi tugas untuk melatih para dayang."

"Keterangan Siauw Can memang benar, pangeran. Kalau saja tabib Song tidak menemukan obat yang ampuh, tentu usaha itu berhasil baik dan tentu sekarang putera mahkota telah tewas. Bagaimanapun juga, Siauw Can telah membuat jasa dan dapat dikatakan bahwa tugasnya mengusahakan kematian Pangeran Li Si Bin telah dilaksanakan dengan baik."

Pangeran Tua Li Siu Ti mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya. Dia tahu apa maksud ucapan kedua orang pembantu utamanya itu. Tentu mengenai hubungan pembantu muda yang tampan dan pandai ini dengan puterinya, Ai Yin.

"Aku mengerti, dan akupun tidak akan menyalahi janji. Agaknya engkau dengan Ai Yln sudah saling mencinta, Siauw Can. Baiklah, engkau akan kujodohkan dengan Ai Yin dan pertunangannya akan segera diumumkan setelah engkau berhasil dengan sebuah tugas lagi yang amat penting, akan tetapi tidak begitu sukar bagimu."

Di dalam hatinya, Can Hong San merasa gembira sekali, akan tetapi juga mendongkol, tercapai cita-citanya menjadi mantu seorang pangeran yang memiliki kekuasaan besar! Akan tetapi kembali dia diserahi tugas, itulah yang membuat dia mendongkol. "Harap paduka katakan saja, apa tugas itu.Akan saya laksanakan dengan baik, pangeran."

"Engkau harus cepat menyingkirkan thai-kam Ciu. Dia harus mati secepatnya!"

"Akan tetapi, kenapa, pangeran? Bukankah ia telah berhasil diselundupkan dan amat berguna bagi paduka sebagai mata-mata di sana?" tanya Poa Kiu terkejut, karena dia yang mengusulkan diselundupkannya thai-kam itu ke istana.

"Saya mengerti maksud paduka." kata Hong San, sambil menoleh kepada Poa Kiu dengan senyum memandang rendah. "Paman Poa, lupakah paman bahwa kita menyuruh thai-kam Ciu untuk menyelidiki keadaan Pangeran Li Si Bin pada hari ketiga? Dia berhasil melihat keadaan putera mahkota, dan siapa tahu, perbuatannya itu akan dilaporkan oleh Tabib Song dan Putera Mahkota akan merasa curiga kepadanya. Padahal, dialah satu-tunya orang yang mengetahui rahasia kita dan dapat membocorkannya."

"Akan tetapi, tidak mungkin dia mengkhianati kita," kata pula Poa Kiu.

"Siauw Can benar," kata Pangeran Tua. "Poa Kiu, lupakah engkau akan kamar siksaan dimana setiap orang, betapapun kuat dan setianya, akan mengakui segala perbuatannya kalau dia disiksa? Kurasa thai-kam Ciu tidak terkecuali. Kalau dia dicurigai, lalu ditangkap dan disiksa, pasti dia tidak tahan dan akan mengaku, membongkar semua rahasia kita."

Wajah Poa Kiu menjadi pucat. "Kalau begitu... kalau begitu..."

"Jangan khawatir, Paman Poa. Aku akan menghabisinya sekarang juga. Serahkan saja urusan ini kepadaku, pasti beres!"

Senanglah hati Pangeran Tua Li Siu Ti, "Jangan sekarang, Siauw Can. Kita harus menunggu sampai keadaan menjadi tenang. Tunggu tiga empat hari, setelah semua tenang baru engkau turun tangan melenyapkan thai-kam Ciu. Dan setelan tugas itu berhasil, pertunanganmu dengan Ai Yin akan kurayakan."

Bukan main senangnya hati Can Hong San. Dia segera menemui Li Ai Yin dan pada malam itu dia berhasil mengajak Ai Yin bicara berdua saja di dalam taman. "Yin-moi," sejak Ai Yin menyambut cintanya Hong San selalu menyebutnya Yin moi (dinda Yin) dan hanya menyebut nona kalau berada di depan keluarga pangeran tua itu. "Mulai hari ini, kita telah bertunangan!" Dia lalu menceritakan janji ayah gadis itu.

Ai Yin tersenyum senang dan membiarkan ke dua tangannya dipegang oleh pemuda yang dikaguminya itu. "Kenapa terjadi perubahan yang tiba tiba ini, Can ko? Bukankah ayah masih prihatin dengan peristiwa di istana, dimana kakanda pangeran mahkota hampir saja tewas keracunan? Dan Lan Lan juga menjadi korban penculikan, untung sudah dikembalikan. Kemudian, kepergian enci Bi Lan yang demikian tiba-tiba, pindah ke istana. Semua ini membuat aku bingung. Akan tetapi ayah malah hendak membuat pesta pertunangan."

"Aih, jadi engkau sudah tahu?" tanya Hong San gembira.

Gadis itu mengangguk dan mengerling manja. "Tentu saja. Kau kira ayah akan merahasiakan? Dia sudah memberitahukan dan menanyakan kepadaku, minta persetujuanku untuk ditunangkan denganmu."

"Dan bagaimana jawabanmu, Yin-moi?"

Wajah itu berseri, kedua pipinya berubah merah dan senyumnya genit manja, tangannya mencubit lengan Hong San. "Kau kira bagaimana jawabanku?"

"Ha, tentu jawabanmu begini...!" Hong San lalu maju merangkul dan mencium puteri pangeran itu.

Ai Yin tertawa manja dan malu, akan tetapi karena ia sudah mendengar sendiri betapa ayahnya menyetujui pemuda ini menjadi calon suaminya, iapun tidak menolak. Akan tetapi ketika Hong San berbuat terlalu berani, iapun mendorong muka pemuda itu.

"Hemm, apa yang kau lakukan ini!"

Can Hong San adalah putera mendiang Cui beng Sai-kong dan biarpun tidak sekuat mendiang ayahnya, dia telah menguasai ilmu sihir. Melihat betapa gadis bangsawan itu menolaknya, diapun merasa penasaran. Kalau saja dia tidak ditolak Bi Lan, tentu diapun tidak bermaksud untuk menggauli Li Ai Yin sebelum mereka menjadi suami isteri, karena dia ingin menjadi mantu pangeran secara terhormat.

Akan tetapi, dia telah dikecewakan Bi Lan, maka gejolak nafsunya hendak dia puaskan dengan gadis bangsawan yang oleh ayahnya telah diserahkan kepadanya itu. Dia memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut, menatap wajahnya dengan tajam dan suaranya mengandung getaran kuat.

"Li Ai Yin, pandanglah aku baik-baik! Lihatlah betapa besar kasihku kepadamu dan engkau akan menyerah, tunduk dan menuruti semua kemauanku. Aku cinta padamu, Ai Yin dan engkaupun cinta padaku..."

Ai Yin terbelalak, kemudian iapun menjadi lemas dan ia pun bertekuk lutut dan tidak terdapat perlawanan sedikitpun lagi dalam hatinya. Ia menurut saja segala kehendak Hong San yang terus merayunya, menurut dan menyerah saja ketika ia digandeng dan dituntun memasuki kamarnya.

********************

Empat hari kemudian. Masih dalam rangka siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di istana seolah-olah telah tenang kembali. Tidak ada bekas ketegangan sebagai akibat sakitnya putera mahkota yang kabarnya keracunan hebat itu. Sang pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan kecurigaan apapun.

Wanita itu secara resmi diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik dan perkasa ini berduaan saja dengan putera mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali.

Tadinya memang putera mahkota hanya menginginkan Bi Lan menjadi pengawal pribadinya, akan tetapi karena masing-masing mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka saling mengagumi dan saling mencinta, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian putera mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang selir terkasih.

Bi Lan tahu diri. Ia hanya seorang wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah yatim piatu. Dibandingkan dengan putera mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak bersanding dengan burung Hong. Oleh karena itu, dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir merangkap pengawal pribadi.

Karena tugasnya sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan lebih sering berdekatan dengan putera mahkota dibandingkan selir lainnya, kemudian. Dan iapun sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu.

Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan bersikap seolah sudah melupakan peristiwa penculikan puterinya dan jatuh sakitnya putera mahkota. Akan tetapi sesungguhnya, ia tidak pernah lengah sebentarpun. Ia selalu waspada dan memperhatikan setiap orang yang berada di dalam istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang!

Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya berhasil. Pada suatu malam, secara sembunyi Bi lan meronda ke bagian belakang daerah keputren. Ia sudah diceritakan oleh putera mahkota tentang sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih tepat berpura-pura sakit.

Malam ini, Bi Lan sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki keadaan dirinya. Sore tadi ia melihat thai-kam itu seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya, orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan tampak gugup.

Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu membuka pintu dan keluar menuju ke taman dengan sikap hati-hati sekali. Bi Lan membayangi dari jauh agar jangan sampai terlihat. Karena inilah, maka ketika memasuki taman, ia kehilangan bayangan thai-kam Ciu. Selagi ia kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh-aduh dan suara sambaran senjata tajam berdesing.

Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara itu dan ia masih sempat melihat seseorang diserang orang lain dengan sebatang pedang. Orang yang diserang itu agaknya sudah terluka, akan tetapi masih berusaha mengelak dan berloncatan ke sana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan muncul, penyerang itu berhasil menusukkan pedangnya lagi dan orang itupun roboh.

"Heiii, tahan senjata!" bentak Bi Lan dan si penyerang itu agaknya terkejut, menarik kembali pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam kegelapan malam.

Sinar lampu penerangan taman itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok untuk memeriksanya, ia terkejut ketika mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai oleh putera mahkota!

Orang itu sudah payah, luka tusukan pedang membuat tubuhnya berlepotan darah dan napasnya tinggal satu-satu. Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat. Ditotoknya beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun bertanya. "Cepat katakan siapa pembunuhmu dan apa hubungannya dengan penculik anakku dan musuh putera mahkota!"

Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat mengerahkan tenaga terakhir dan dengan suara penuh penyesalan dan rasa penasaran, diapun berkata, "Semua diatur oleh Pangeran Tua... dibantu Poa Kiu dan Siauw Can..."

kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan tak lama kemudian diapun terkulai, tewas. Akan tetapi keterangan itu sudah cukup bagi Bi Lan. Keterangan yang membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya lemas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu bangkit berdiri, termangu-mangu. Pangeran Tua Li Siu Ti? Dan Siauw Can...?

Kini mengertilah ia, walaupun ia masih terkejut karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua peristiwa itu diatur oleh orang-orang yang selama ini dianggapnya baik dan dipercaya sepenuhnya. Yang membuat hatinya sakit seperti ditusuk adalah Siauw Can. Pemuda yang dianggapnya sebagai seorang pendekar itu, bahkan yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk membunuh putera mahkota!

Ia dapat menduga bahwa tentu Siauw Can diperalat oleh Pangeran Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji dengan menculik Lan Lan dan memaksanya membunuh putera mahkota, sungguh membuatnya penasaran bukan main. Ingin rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can atau Can Hong San untuk memaki dan menyerangnya.

Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda itu adalah seorang lawan yang amat tangguh, apalagi tentu dia akan dibantu oleh anak buah Pangeran Tua. Tidak, urusan ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri. Cepat ia meninggalkan taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li Si Bin.

Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar laporan Bi Lan. Memang pangeran ini pernah mempunyai kecurigaan terhadap pamannya, Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti maka dia tidak dapat melakukan sesuatu. Kini tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu juga dia memanggil para panglima yang membantunya dan pasukan khusus dikerahkan.

Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti. Gegerlah di kota raja. Terjadi pertempuran yang hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh putera mahkota!

Dan penyerbuan itupun sudah direstui kaisar yang malam itu juga mendengar laporan puteranya. Mereka yang berani melakukan perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut. Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap. Akan tetapi, dengan hati yang lega Bi Lan mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan. Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa penasaran karena Can Hong San juga lolos.

Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can Hong San. Pemuda itu tentu sudah merasa khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia. Hong San tentu sudah dapat menduga kemungkinan datangnya serbuan dari putera mahkota, maka begitu tiba di istana Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi dan tidak lupa membawa barang-barang berharga dari istana itu.

Ketika Ai Yin mendesak dan minta keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau mengaku dan setengah memaksa gadis yang telah ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang dua ekor kuda pilihan. Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya dihukum buang.

Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin dan iapun menyerah dengan senang hati ketika putera mahkota itu mengangkatnya sebagai selir terkasih dan terpercaya. Dengan sendirinya Lan Lan yang kini diaku sebagai puteri sang pangeran dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat perlakuan sebagai seorang puteri dan pendidikan dan perawatannya diserahkan kepada para ahli yang di istana bertugas untuk mendidik para puteri yang masih kecil.

********************

Anak laki-laki itu berusia kurang lebih duabelas tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang dewasa saja. Juga wajahnya yang tampan itu nampak dewasa, dengan mata yang tajam mencorong penuh pengertian, mulut yang membayangkan keteguhan hati dan ketabahan. Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagum-kagum.

Anak berusia duabelas tahun itu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam di tanah setinggi satu meter. Kedua kakinya bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing. Gerakannya demikian gesit dan tangkas, kedua kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan belakang, bahkan kadang melompati sebatang bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing berikutnya, tak pernah meleset.

Orang akan merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu akan terjatuh dan bambu-bambu runcing akan menyambut perut dan dadanya atau punggungnya. Dan mengingat betapa kedua kaki telanjang itu berloncatan di atas bambu-bambu runcing, sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan.

Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan jenggotnya panjang. Pria berusia sekitar lima puluh delapan tahun itu masih nampak gagah dan berwibawa. Dari wajah dan sikapnya mudah diduga bahwa dia bukan orang sembarangan. Dia mengelus jenggotnya dan mulutnya tersenyum, kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu.

Dari gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa anak itu memang memiliki bakat yang besar sekali. Gerakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku dan setiap gerakan mengandung tenaga yang tepat penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah.

Pria tinggi besar itu adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong! Selama beberapa tahun ini, semenjak Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang lebih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui yang telah jatuh. Namun semua usahanya gagal, bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap pemberontak, menjadi orang buruan. Hidupnya tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan Tang.

Terutama sekali karena yang menjadi panglima adalah putera mahkota sendiri, yaitu Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai, Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat. Setelah dia bertemu dengan Sim Lan Ci yang kemudian menjadi isterinya, barulah dia menghentikan usahanya untuk memberontak.

Namun, bersama Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan juga puterinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir kalau jejaknya ditemukan para penyelidik Kerajaan Tang.

Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai puteranya sendiri. Dia amat mencinta Sim Lan Ci yang telah menjadi isterinya dan dia sayang pula kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak laki-laki. Anaknya yang tunggal dengan isteri pertama yang tewas oleh pasukan Tang adalah seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini berusia sebelas tahun.

Cian Bu Ong menggembleng kedua orang anak itu, bahkan dia lebih tekun mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki, karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi terhadap Thia Ki. Dia mengharapkan anak tiri yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar di dunia persilatan, agar dapat mengangkat kembali namanya yang telah jatuh bersama runtuhnya Kerajaan Sui.

Baru setelah panglima besar dan putera mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat hidup tenang bersama isterinya dan kedua orang anaknya, di sebuah dusun kecil yang terletak di tempat yang amat indah pemandangan alamnya, yaitu di tepi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San (Bukit Emas).

Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kaisar ini lebih banyak memperhatikan urusan pemerintahan, tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak berbahaya lagi.

Di dusun Ke-cung itu, yang penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan hidup tenang dan tenteram bersama Sim Lan Ci dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan Kui Eng.

Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya, juga gurunya. Dulu, ketika dia masih hidup bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat.

Akan tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya, yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li, telah menggembleng tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang tok-tong (anak beracun). Di luar kehendaknya sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui orang.

Yaitu dia telah membunuh atau lebih tepat lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana. Mereka semua tewas keracunan karena berani menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang sudah penuh dengan hawa beracun yang amat kuat itu!

Semula, karena melihat tok-tong inilah maka Cian Bu Ong tertarik. Dia ingin memiliki anak beracun itu untuk membantu gerakannya dan usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui. Akan tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu, dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan mungkin terlaksana karena Kerajaan Tang yang baru semakin kuat, dan untuk berjuang menumbangkan pemerintahan dia harus mempunyai pasukan yang besar sekali.

Hal yang tidak mungkin dimilikinya, maka diapun membuang cita-cita itu. Kini dia menggembleng Thian Ki dengan cita-cita lain. Dia ingin anak tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi terkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi nama besar Pangeran Cian Bu Ong. Oleh karena itu, maka dia menggembleng Thian Ki dengan amat tekunnya.

Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan suka sekali mempelajari ilmu silat. Hal ini merupakan perubahan yang amat besar. Selain ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup ini. Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi ini dan amat sukarlah mengharapkan perlindungan dari orang lain.

Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah mampu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing. Hal ini sungguh mengagumkan sekali. Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan seperti itu. Namun, Thian Ki sudah dapat berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu runcing itu. Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong. Dia sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu, dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang dimiliki Thian Ki sekarang ini. Dia merasa bangga dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki.

Puterinya sendiri, Kui Eng. juga tekun dan cerdas, akan tetapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah jauh. Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki beracun, dan keadaan ini saja sudah amat berbahaya bagi lawannya. Lawan yang amat lihai sekalipun akan dapat tewas sendiri kalau berani menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu. Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)!

"Thian Ki." kata bekas pangeran itu berulang kali, "Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian Thian Ki," dia memberi tekanan kepada nama keluarga Cian itu. Dia mengakui Thian Ki sebagai anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak itu dan ibunya agar menggunakan she (nama keluarga) Cian! "Akan tetapi, di dunia kangouw, tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar Naga Beracun), ha-ha ha!"

Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong (Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke dua. Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering menyebut Tok-liong kepadanya.

Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di dusun Ke-cung itu. Setelah mendengar bahwa Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia merasa aman dan tinggal di dusun lembah sungai yang indah itu. Penduduk dusun menyambut keluarga ini dengan gembira. Mereka tidak mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja.

Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah seorang hartawan atau pejabat yang telah mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal yang tenang di dusun itu. Karena keluarga baru ini selain kaya juga ringan tangan membantu penduduk, maka keluarga ini disambut dengan baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian, bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia seorang yang kaya dan pandai, luas pengetahuannya dan suka menolong penduduk, puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera mengangkatnya menjadi ketua dusun.

Demi keamanan, Cian Bu menerima pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia tersenyum pahit. Dia, pangeran adik kaisar terakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya diangkat menjadi ketua dusun! Inipun dusun yang kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak resmi dari pemerintahan.

Karena rumah dan pekarangan berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau keluarga itu berlatih silat. Tiga orang pelayan keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia majikan mereka kepada siapapun juga.

Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas bambu-bambu runcing melainkan di atas tanah di mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas tahun datang berlari-lari. Melihat Thian Ki masih bersilat dengan tangan kosong, dengan baju dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan berkilauan karena keringat.

Anak perempuan itu mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki dan langsung saja menyerangnya dengan jari tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki, menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali! Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu meloncat jauh ke belakang. Ketika anak itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar dan mendesak, ayahnya membentak.

"Kui Eng, berhenti!"

Anak perempuan itu berhenti menyerang, menoleh kepada ayahnya dan iapun membanting-banting kaki dan merajuk. "Aihhh, ayah, aku ingin berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak boleh!"

Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis dan bertubuh ramping. Matanya tajam dan galak, mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang utama dari wajahnya yang bulat telur. Rambutnya agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal.

"Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan kepadamu. Engkau tidak boleh berlatih dengan kakakmu. Itu berbahaya sekali!" kata Cian Bu Ong, atau yang nama barunya Cian Bu saja itu.

Pada saat itu, Sim Lan Ci muncul dan mendengar percakapan itu, iapun lari menghampiri dan merangkul Kui Eng yang bersungut-sungut. "Kui Eng, engkau sudah seringkali kuberi tahu agar jangan berlatih dengan kakakmu. Engkau tentu tahu bahwa kakakmu adalah seorang yang berbahaya, karena disebut Naga Beracun. Dia seorang tok-tong..."

Dalam usianya yang hampir empatpuluh tahun, Sim Lan Ci masih nampak cantik. Hal ini adalah karena selama menjadi isteri Cian Bu Ong, ia merasa hidupnya berbahagia walaupun ia ikut melarikan diri dan bersembunyi bersama suaminya selama tujuh tahun ini. Cian Bu amat mencintanya juga ia mencinta Kui Eng seperti mencinta Thian Ki anak kandungnya. Suaminya seorang yang amat baik, bahkan jauh lebih sakti dari pada suaminya yang pertama, dan juga berwibawa dan jantan.

"Ibu, kenapa sih toako disebut Tok-liong (Naga Beracun), dan apa sih artinya tok-tong?"

"Dia disebut tok-tong karena tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat kuat, Kui Eng. Beradu tangan dengan dia, bahkan menyentuh tubuhnya pun kalau kebetulan hawa beracun itu bekerja, orang akan mati seketika."

"Tapi... kenapa toako bisa seperti itu?"

Suami isteri itu saling pandang. Sudah tiba saatnya mereka memberi tahu anak-anak mereka akan kejadian yang sebenarnya tentang diri Thian Ki. Bahkan anak itu sendiri belum tahu dengan jelas. Melihat pandang mata isterinya, Cian Bu menghela napas panjang dan mengangguk, lalu dia duduk di atas bangku di taman itu.

"Ibu, akupun ingin sekali mengetahui mengapa tubuhku jadi beracun? Ibu dan ayah tidak pernah mau menceritakan," kata pula Thian Ki yang memakai kembali bajunya dan mendekati ibunya.

Sejak berusia lima tahun, dia dipesan oleh ibunya agar berhati-hati kalau bermain-main dengan Kui Eng, agar dia tidak mengerahkan tenaga dan sekali-kali tidak boleh berlatih silat dengan adiknya itu. Biarpun perintah ibunya itu tentu saja membuat dia tidak dapat bergembira dan bermain-main sebebasnya dengan adiknya, namun dia selalu mentaati karena dia sendiri tahu bahwa dalam dirinya terdapat rahasia aneh. Sudah dia melihat sendiri beberapa orang yang amat lihai ilmu silatnya tewas ketika menyerangnya, tewas ketika digigitnya, bahkan tewas ketika mencengkeramnya.

Sim Lan Ci menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan kedua anaknya, diajaknya duduk di bangku dekat suaminya. Kemudia ia mulai bercerita. "Thian Ki dan Kui Eng, ingat baik-baik apa yang akan kuceritakan ini agar kelak tidak sampai terjadi sesuatu pada diri kalian. Thian Ki, engkau telah menjadi seorang tok-tong. Di dalam tubuhmu terdapat racun yang amat hebat, seluruh darahmu mengandung racun, juga tubuhmu penuh dengan hawa beracun yang dapat membunuh siapa saja, bahkan orang-orang seperti aku dan ayahmu dapat saja terbunuh oleh racun di tubuhmu itu."

"Wah, hebat kalau begitu! Ibu, kalau kakak Thian Ki mempunyai tubuh sehebat itu, kenapa aku tidak? Ibu dan ayah, jadikanlah aku seperti dia, aku ingin mempunyai tubuh beracun seperti itu agar dapat kubasmi semua orang jahat di dunia ini!"

"Ih, Kui Eng, enak saja kau bicara!" Thian Ki menegur adiknya. "Apa sih senangnya punya tubuh beracun? Lihat saja aku. Aku ingin bermain-main denganmu, berlatih silat denganmu tidak bisa! Kalau racun di tubuhku ini dapat lenyap, aku akan berbahagia sekali!"

"Ibu, kenapa kakak Thian Ki menjadi Tok-tong? Bagaimana terjadinya!" tanya pula Kui Eng, tidak perduli akan keluhan kakaknya.

"Semua ini gara-gara nenekmu, Lo Nikouw..."

"Aih, nenek Lo Nikouw. Ibu dari ibu yang jarang ibu ceritakan itu? Bagaimana nenek bisa menjadi gara-gara keadaan toako ibu?"

"Ibuku, nenek kalian itu adalah seorang ahli racun yang tiada keduanya di empat penjuru sehingga ia dikenal sebagai Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun)..."

"Ihhhh! Julukannya mengerikan benar!" seru Kui Eng.

"Julukannya itu adalah ketika ia belum menjadi seorang nikouw, Kui Eng. Sekarang ia dikenal sebagai Lo Nikouw yang pekerjaannya hanya berdoa. Nenek kalian itulah yang diluar tahuku telah membuat Thian Ki menjadi tok-tong, dengan cara merendam tubuh Thian Ki ketika masih kecil ke dalam ramuan obat beracun. Aku mengetahui hal itu setelah terlambat."

"Aih, kenapa nenek begitu jahat terhadap Thian Ki, Ibu?" Kui Eng berseru dengan penasaran.

"Hush, jangan berkata begitu, Kui Eng!" tiba-tiba Cian Bu yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, berseru kepada puterinya. "Nenekmu melakukan hal itu justeru karena ia menyayang Thian Ki. Ia ingin membuat Thian Ki menjadi orang yang tak terkalahkan, dan dalam hal ini, ia telah banyak membantu dan usahanya itu berhasil. Kalau bukan seorang ahli yang amat pandai, bagaimana mungkin ia dapat membuat cucunya menjadi tok-tong? Orang lain yang tubuhnya mengandung racun seperti Thian Ki, takkan mampu bertahan hidup lagi. Nenekmu itu memang hebat!"

"Akan tetapi aku tidak suka menjadi tok-tong! Aku tidak ingin menjadi orang yang tak terkalahkan!" teriak Thian Ki.

"Aih, toako. Kenapa engkau begitu bodoh. Sepantasnya engkau berterima kasih kepada nenek. Kalau aku yang menjadi seperti engkau, wah, aku akan merasa bangga dan senang sekali. Akan kukalahkan seluruh jagoan di dunia ini! Ibu, bawa aku kepada nenek biar aku juga dijadikan seorang anak beracun!"

"Hemm, kau kira mudah menjadikan seseorang beracun seperti itu? Hanya anak yang masih kecil dan berbakat saja yang akan mampu hidup menjadi anak beracun. Engkau sudah besar, Kui Eng, tidak mungkin menjadi anak beracun lagi. Baru Thian Ki saja menjadi tok-tong kami sudah bingung, masa engkau ingin menjadi anak beracun lagi!" kata Sim Lan Ci.

Sementara itu, Cian Bu menghela napas panjang. Dia mencita-citakan Thian Ki kelak menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia. Thian Ki telah menjadi tok-tong, berbakat baik dan telah digemblengnya dengan sungguh sungguh, akan tetapi ternyata anak itu tidak suka menjadi jagoan seperti yang dia idamkan. Kalau saja Thian Ki mempunyai semangat seperti yang diucapkan Kui Eng tadi! Thian Ki berwatak lemah, terlalu baik, tidak suka akan kekerasan, tidak ingin menjadi jagoan tak terkalahkan, padahal dia memiliki kemampuan untuk itu. Sebaliknya semangat Kui Eng berkobar-kobar.

"Ibu, kenapa nenek memperlakukan aku seperti ini? Aku juga ingin bertemu dengan nenek, akan kuminta agar dia melenyapkan racun dari tubuhku!" kata Thian Ki.

"Tidak semudah itu, Thian Ki. Racun itu telah menjadi satu dengan darahmu, biar nenekmu sendiri tidak akan dapat melenyapkannya. Hanya satu cara saja..." Wanita cantik itu menghentikan kata-katanya, menyadari bahwa ia telah terlanjur bicara.

Thian Ki segera menyambar kesempatan itu. "Ibu, katakan. Apa caranya akan kutempuh segala cara untuk membuat aku menjadi manusia biasa. Katakanlah, apa cara yang satu-satunya itu?"

Karena sudah terlanjur bicara. Sim Lan Ci memandang suaminya, lalu berkata. "Caranya hanya menularkan racun itu kepada orang lain. Sedikitnya kepada sepuluh orang dan mereka itu akan tewas. Biarpun setiap orang hanya menerima sepersepuluh bagian saja, cukup untuk membuat ia tewas. Nah, setelah menewaskan belasan orang, barulah ada kemungkinan racun itu akan lenyap dari tubuhmu."

Mendengar ini, Thian Ki termenung dan wajahnya dibayangi kedukaan. "Kalau begitu... selama hidupku sampai mati... aku tidak akan dapat melenyapkan racun keparat ini dari tubuhku..." Ucapan ini saja menyatakan bahwa ia tidak suka membunuh orang, biar hal itu demi keselamatan diri sendiri.

Melihat ini, Cian Bu lalu menghibur. "Sebetulnya tidak perlu dilenyapkan, apa lagi kalau caranya demikian sulit. Asalkan Thian Ki dapat menguasai racun itu, dapat menekannya sehingga racun itu tidak bekerja, kecuali hanya kalau diperlukan saja, maka tentu dia akan hidup seperi orang biasa. Hanya pada saat tertentu saja dia dapat mengerahkan kekuatan racun itu. Sayang, sudah kucoba, namun aku belum menemukan caranya untuk mengajar dia dapat mengendalikan hawa beracun itu."

Mendengar ini, Thian Ki memandang ibunya "Ibu, dapatkah nenek mengajariku agar aku dapat menguasai racun ini? Biarpun tidak dapat lenyap, kalau aku dapat menguasainya seperti dikatakan ayah, sudah lumayan..."

Sim Lan Ci mengerutkan alisnya. Sudah tujuh tahun lebih ia meninggalkan ibunya yang berada di kuil Thian ho-tong di luar dusun Mo-kim-cung. Bahkan rumahnyapun ia tinggalkan. Sejak ia dan almarhum suaminya, Coa Siang Lee meninggalkan dusun Mo-kim cung berkunjung ke pusat Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung, yaitu tempat tinggal keluarga almarhum suaminya, ia tidak pernah lagi kembali ke Mo-kim cung.

Terlalu banyak peristiwa terjadi sejak ia dan suami pertamanya itu meninggalkan Mo-kim-cung. Di Hek-houw-pang itulah terjadinya malapetaka yang membuat suaminya tewas dan ia bersama Thian Ki ikut Cian Bu Ong dan kemudian bahkan menjadi isteri bekas pangeran itu yang kini bernama Cian Bu. Tujuh tahun lebih telah lewat dari kini percakapan tentang ibunya membuat ia teringat akan semua itu.

"Bagaimana, ibu?" Thian Ki mendesak ketika melihat ibunya termenung. "Aku masih ingat, nenek adalah seorang nikouw yang ramah dan baik budi, selalu bersikap baik kepadaku. Beliau tentu akan suka menolongku, ibu."

Wanita itu menghela napas panjang. "Tidak tahulah, Thian Ki. Aku memang pernah mempelajari ilmu-ilmu dari ibuku tentang ilmu-ilmu pukulan beracun, akan tetapi aku tidak pernah diajari ilmu membuat seseorang menjadi tok-tong, juga tidak tahu menahu tentang cara menguasai hawa beracun dalam tubuh. Ilmu pukulan beracun memang hanya timbul hawa beracun itu kalau ilmu itu dipergunakan untuk berkelahi, kalau pengerahan tenaga sakti dilakukan dengan cara tertentu disamping latihan yang menggunakan racun. Akan tetapi racun yang sudah menjadi satu dengan darah seperti yang kau alami, biasanya hanya membuat orang itu mati. Engkau sebaliknya hidup dengan sehat dan kuat, dan racun itu bekerja di luar kehendakmu. Aku tidak tahu..."

"Kalau begitu, kenapa tidak ke sana saja? Kita semua pergi ke sana mencari ibumu, minta agar ia suka mengajari Thian Ki menguasai racun di dalam dirinya, dan kita sekalian berpesiar ke timur. Anak-anak ini perlu mendapatkan pengalaman, juga aku ingin sekali melihat keadaan di sana sekarang ini. Tentu ramai sekali."

Sim Lan Ci terkejut, akan tetapi juga wajahnya berseri gembira sekali. "Benarkah...? Tidak... tidak akan ada halangannyakah?" Ia memandang suaminya dengan khawatir. Suaminya pernah menjadi seorang buruan pemerintah, kalau sekarang mereka menuju ke timur, bukankah itu sama saja dengan ular mencari pemukul...?

Cian Bu menggeleng kepala dan meraba jenggotnya yang dipotong pendek. Dia mengerti apa yang dimaksudkan isterinya, dan diapun tersenyum yakin akan dirinya sendiri bahwa keadaannya sudah berubah sama sekali. Dahulu dia bertubuh tinggi besar dengan jenggot panjang dan pakaian bangsawan. Akan tetapi sekarang, biarpun dia masih tinggi besar, namun perutnya agak gendut, dan jenggotnya pendek.

Juga dia mengenakan pakaian biasa, pakaian seorang petani kaya. Juga rambut di kepalanya dibiarkan tidak tertutup, digelung ke atas, tidak pernah memakai penutup kepala yang biasa dipakai para bangsawan. Pula, sejak lama tidak pernah ada pasukan yang mencarinya, dan setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar, dia merasa lebih aman.

"Tidak akan ada halangan. Hari kita pergi mengunjungi ibumu dan mudah-mudahan saja ia akan dapat membimbing Thian Ki sehingga dia dapat menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya..."

Mendengar bahwa ayah ibunya akan mengajak ia dan kakaknya pesiar ke timur, ke kota-kota besar yang ramai, Kui Eng bersorak gembira. Anak perempuan berusia sebelas tahun itu kadang-kadang masih amat kekanak-kanakan. Ia meloncat-loncat dan merangkul Thian Ki.

"Kita pesiar...! Horee, kita pesiar. Toako, alangkah senangnya dan ini semua jasamu!" Ia merangkul leher Thian Ki sehingga mukanya hampir melekat ke muka pemuda remaja itu.

Biarpun sejak kecil sudah biasa dia bermain main dengan Kui Eng, akan tetapi kini dia menyadari bahwa Kui Eng sudah mulai besar, bukan anak kecil lagi dan dia tahu benar bahwa Kui Eng bukan apa-apa dengan dia, berbeda ayah berbeda ibu. Maka rangkulan yang demikian akrab dan mesranya membuat Thian Ki menjadi tersipu dan mukanya kemerahan, akan tetapi dia tidak berani melarang adiknya.

"Eh, Kui Eng, engkau seperti anak kecil saja. Bagaimana bisa menjadi jasaku?" tanyanya.

Kui Eng melepaskan rangkulannya. "Tentu saja! Kalau engkau tidak menjadi tok-tong, kalau ayah dan ibu tidak menghendaki engkau dibimbing nenek, belum tentu kita pesiar ke timur."

Thian Ki tertawa. Ayah dan ibu merekapun tertawa. Dan beberapa hari kemudian keluarga inipun meninggalkan dusun Ke-cung, menunggang empat ekor kuda menuju ke timur. Perjalanan pada masa itu amatlah sukar. Tidak mungkin menggunakan kereta yang besar karena harus melalui bukit-bukit, kadang harus menyeberangi sungai. Akan tetapi keluarga itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa dengan kehidupan di alam terbuka, pandai pula menunggang kuda dan berkat latihan ilmu silat membuat tubuh mereka kuat dan kebal terhadap serangan angin, hawa dingin atau panas. Juga tidak mudah lelah.

Perjalanan yang sukar itu bahkan membuat mereka bergembira sekali, terutama Kui Eng yang selalu bercanda dan gadis cilik yang lincah ini membuat kakaknya, ayah dan ibunya, selalu merasa gembira. Sebelum berangkat, dengan sungguh-sungguh Cian Bu memesan kepada isteri dan kedua orang anaknya agar tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah keluarga yang pandai ilmu silat.

"Kalau orang-orang tahu bahwa kita adalah keluarga ahli silat, hal itu hanya akan mendatangkan kecurigaan dan perhatian saja, membuat perjalanan kita mengalami banyak gangguan dan menjadi tidak leluasa lagi." demikian dia mengakhiri pesannya.

"Tapi, bagaimana kalau kita diganggu orang, ayah? Apakah kita harus diam saja, membiarkan kita diganggu? Bagaimana kalau ada perampok?" Kui Eng yang selalu membantah kalau dianggapnya pesan siapa saja tidak tepat itu bertanya dan diam-diam Thian Ki menyetujui pertanyaan itu walaupun dia sendiri tidak akan berani menyangkal seperti itu.

Cian Bu tersenyum. Dia mengenal baik watak puterinya itu, watak yang disukainya, cocok dengan dia. Tak pernah menyembunyikan sesuatu yang membuat hati penasaran. "Ha-ha-ha, kalau terjadi seperti yang kau katakan itu, diamlah saja, bersabarlah, dan serahkan saja kepadaku untuk mengatasinya. Mengerti."

"Mengerti, ayah," kata Kui Eng, akan tetapi alisnya berkerut. "Eh, kenapa engkau masih saja cemberut, Kui Eng." tanya ibunya.

"Habis, pesan ayah ini aneh sih! Bagaimana kita harus diam dan bersabar saja kalau ada orang jahat mengganggu. Kenapa sih kita harus berpura-pura tak berdaya, penakut dan lemah."

Cian Bu menjadi bingung untuk menjawab, akan tetapi isterinya yang cerdik segera membantu suaminya. "Kui Eng, ketahuilah bahwa ayah dan ibumu dahulu adalah ahli-ahli silat yang suka bertualang dan karenanya, kami telah merobohkan banyak lawan dan karena itu tentu saja banyak yang merasa dendam dan akan memusuhi kita. Dari pada banyak halangan di perjalanan yang hanya akan menyulitkan dan melelahkan, lebih baik tidak ada yang mengenal kita sehingga kita dapat berpesiar dengan gembira dan dapat cepat tiba di tempa tinggal nenekmu. Nah, mengertikah engkau?"

Kui Eng mengangguk-angguk dan alasan itu lebih dapat diterimanya. Ia hanya tidak suka kalau akan dianggap penakut menghadapi gangguan orang jahat. Akan tetapi kalau hanya untuk menjaga agar perjalanan mereka dapat lancar, maka ia pun dapat menerimanya!

Perjalanan dilakukan dengan gembira, tidak tergesa-gesa, bahkan kalau mereka melewati daerah yang indah, mereka berhenti untuk menikmat keindahan daerah itu. Juga kalau melewati kota yang ramai, mereka berhenti dan bermalam sampai dua tiga malam untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mereka, terutama sekali Kui Eng, untuk bersenang senang.

Kui Eng memang belum pernah melihat barang-barang yang dianggapnya amat indah menarik yang terdapat di kota-kota besar. Tidak demikian dengan Thian Ki. Ketika meninggalkan rumah bersama ayah ibunya, dia sudah berusia lima tahun lebih dan dia sudah melalui banyak kota. Juga mengenai alasan yang disembunyikan Cian Bu dari Kui Eng, dia lebih tahu.

Dia sudah tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang bekas pangeran yang pernah dicari-cari pasukan pemerintah. Ayahnya yang berilmu tinggi tentu saja tidak takut menghadapi gangguan penjahat, namun khawatir kalau sampai dikenal oleh pasukan pemerintah karena hal itu pasti akan mendatangkan kesukaran bear, bahkan bahaya besar.

Sikap mereka yang bersahaja, sebagai keluarga biasa yang sedang melakukan perjalanan, memang tidak menarik perhatian orang. Pakaian mereka sederhana dan tidak nampak memakai perhiasan mahal, juga tidak membawa banyak barang kecuali buntalan pakaian. Juga Sim Lan Ci biarpun masih cantik, namun ia sudah setengah tua, hampir empatpuluh tahun usianya, sedangkan Kui Eng juga masih terlalu kecil untuk menarik perhatian laki-laki mata keranjang. Semua ini membuat perjalanan mereka menjadi aman, tidak pernah diganggu orang.

Pada suatu sore, mereka memasuki kota Wu-han yang besar, kota terbesar yang pernah mereka lalui. Tempat yang mereka tuju adalah kuil Thian-ho-tang yang terletak di luar dusun Mo-kim-cung, di lereng Coa-san (Bukit Ular). Tempat itu tidak jauh lagi dari Wu-han, hanya perjalanan sehari lagi saja dengan kuda. Mereka memasuki kota Wuhan dan karena kuda mereka sudah lelah, mereka sendiripun perlu beristirahat dan hari sudah menjelang senja, Cian Bu lalu menyewa dua buah kamar untuk mereka. Sebuah kamar untuk dia dan Thian Ki, sebuah kamar lain untuk Kui Eng dan ibunya.

Setelah mendapatkan kamar, mereka mandi dan berganti pakaian bersih. Kemudian Cian Bu mengajak keluarganya makan malam di sebuah rumah makan yang paling besar di kota itu. Rumah makan ini telah ada sejak dia masih menjadi pangeran, hanya sekarang yang mengelola adalan anak dari pemilik dahulu yang sudah meninggal dunia. Ada di antara pelayan tua yang masih diingat oleh Cian, Bu.

Akan tetapi tentu saja mereka itu tidak mengenalnya karena dahulu dia adalah seorang pangeran yang kalau datang berkereta, dengan pakaian mewah, diiringkan pengawal dan sekarang dia hanya seorang laki-laki yang membawa anak isterinya makan di situ. Cian Bu masin ingat masakan apa yang istimewa dari rumah makan ini. Dia memesan masakan-masakan itu dan merekapun makan dengan gembira. Apalagi Kui Eng, anak ini gembira bukan main karena merasakan masakan-masakan yang luar biasa, baru dan lezat baginya.

Sejak tadi, Cian Bu dan isterinya sudah melihat adanya dua orang laki-laki yang duduk di ruangan rumah makan itu, di sudut terpisah dua meja dari tempat duduk mereka. Dua orang laki-laki ini tentu akan luput dari perhatian mereka kalau saja dua orang itu tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan. Sejak tadi dua orang itu memperhatikan mereka, terutama sekali memperhatikan Kui Eng yang makan minum dengan gembira.

Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka kuda, sedangkan orang ke dua bertubuh tinggi besar dengan muka bopeng bekas cacar, mereka memperhatikan Kui Eng lalu berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah Kui Eng yang kebetulan duduknya menghadap mereka.

Sebagai suami isteri yang sudah berpengalaman, sikap kedua orang itu amat mencurigakan. Mereka berdua tahu bahwa di dunia kangouw, di dalam dunia sesat terdapat orang-orang yang keji dan aneh, orang-orang yang mempunyai selera rendah yang amat mesum. Ada penjahat cabul yang suka menculik dan mempermainkan gadis-gadis cilik, adapula bahkan yang suka menculik pemuda-pemuda remaja!

Memang jarang sekali manusia macam ini, akan tetapi kenyataannya memang ada dan suami isteri itu dalam petualangannya dahulu pernah bertemu dengan manusia seperti itu. Maka kini melihat sikap mereka ketika memandang ke arah Kui Eng, cukup membuat mereka waspada.

Setelah selesai makan dan membayar harga makanan dan minuman, Cian Bu mengajak isterinya untuk berpesiar ke sebuah taman rakyat yang berada di pinggir kota. Taman itu cukup indah dan terpelihara baik-baik. Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke tempat itu.

Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu penerangan berupa lentera beraneka warna yang menerangi tempat itu, terdapat pula bulan yang hampir purnama. Kui Eng berteriak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari. Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan puteri mereka itu bergembira.

Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan tetapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng. Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga teratai dan ikan-ikan emas. Ditimpa sinar bulan dan sinar lentera yang dipasang di tepi kolam, memang bunga teratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali.

"Wah, ikan-ikan beraneka warna. Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah... indah sekali!"

Kui Eng berteriak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya...

Naga Beracun Jilid 14

"Pangeran... aihhh, pangeran... kenapa paduka berkata demikian? Hamba diharuskan membunuh paduka dengan racun? Lebih baik hamba yang mati!"

Pangeran Li Si Bin memandang dengan mulut tersenyum dan wajah berseri, pandang matanya lembut dan mesra. "Bi Lan, engkau mempertaruhkan nyawamu untuk keselamatan Lan Lan karena engkau mencintanya, lalu engkau lebih baik mati daripada membunuhku untuk menyelamatkan Lan Lan. Apakah ini berarti bahwa engkaupun cinta padaku?"

Dalam kebingungan dan kegelisahannya, Bi Lan tersipu. "Pangeran, mana hamba... berani...?" Ia tergagap.

Dan pada saat itu Pangeran Li Si Bin sudah membungkuk, merangkul pundaknya dan menariknya bangkit berdiri, lalu pangeran itu mendekap wajahnya dalam rangkulan. Bi Lan menyerah saja dan sejenak ia menangis di dada pangeran itu. Pangeran Li Si Bin membiarkannya sejenak, lalu dituntunnya Bi Lan dan disuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan dia.

"Duduklah, dan tenangkan hatimu. Sejak bertemu, akupun sudah amat kagum kepadamu, dan sejak engkau menyelamatkan aku dari racun yang disuguhkan bekas thai-kam itu, aku sudah jatuh cinta padamu, Bi Lan. Nah, setelah kita mengetahui perasaan hati masing-masing, mari kita bicara tentang Lan Lan dan ancaman si penculik. Jangan khawatir, aku mempunyai akal untuk menyelamatkan puterimu itu."

Pangeran Li Si Bin mengajak Bi Lan memasuki kamar yang aman, tidak akan terdengar orang lain percakapan mereka dan di tempat ini mereka berbicara dengan serius. Bi Lan mendengarkan siasat yang diatur oleh pangeran itu. Pangeran Li Si Bin adalah seorang panglima, seorang ahli siasat yang pandai, maka menghadapi ancaman surat itupun dia bersikap tenang dan dingin, dan menemukan cara untuk menanggulangi dan mengatasinya.

Hati Bi Lan lega bukan main setelah ia keluar dari istana pada sore hari itu. Bukan saja ia telah mendapatkan ketenangan karena siasat yang diatur oleh putera mahkota, akan tetapi juga ada sinar kebahagiaan di pancaran matanya, karena pengakuan putera mahkota yang juga mencintanya!

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Suasana di istana tercekam kegelisahan. Betapa tidak? Putra mahkota, juga panglima besar, Pangeran Li Si Bin, jatuh sakit parah! Sambil berbisik-bisik semua penghuni istana membicarakannya. Terpetik berita dari tabib yang menangani perawatan putera mahkota bahwa pangeran itu telah keracunan hebat dan sukar disembuhkan. Bahkan Kaisar dan permaisuri, juga para selir menjadi gelisah. Hanya tiga orang saja yang tahu bahwa putera mahkota hanya pura-pura sakit!

Memang, dia pucat sekali dan nampak sakit berat, akan tetapi semua itu akibat obat yang diberikan tabib kepadanya. Hanya Pangeran Li Si Bin, Bi Lan, dan sang tabib kepercayaan sajalah, yang tahu bahwa putera mahkota sebenarnya tidak menderita penyakit apapun juga. Dia sehat-sehat saja. Akan tetapi selain mereka bertiga, semua orang percaya bahwa putera mahkota sakit berat, keracunan dan bahkan agaknya tidak dapat disembuhkan lagi!

Pada malam hari ke tiga, ketika Pangeran Li Si Bin rebah seperti orang pingsan, dengan muka pucat sekali, ditunggui tabib yang tidak memperkenankan orang lain mendekat, masuklah seorang thai-kam yang berlutut di ambang pintu itu. Tabib Song yang tua dan terkenal pandai itu mengerutkan alisnya dan memandang thai-kam itu.

"Hemm, mau apa engkau masuk ke sini? Jangan mengganggu sang pangeran!"

"Maafkan hamba, Tabib Mulia," kata thai-kam (orang kebiri) itu dengan suara gemetar, "Hamba diutus oleh Permaisuri untuk menengok keadaan Putera Mahkota."

"Keadaannya gawat dan jangan diganggu!" kata pula tabib itu dan di ambang pintu, para pengawal sudah siap dengan tombak dan pedang mereka untuk mengusir thai-kam itu kalau menerima perintah dari tabib. Dalam keadaan seperti itu, kaisar sendiri yang memberi kekuasaan sepenuhnya kepada tabib untuk menjaga dan merawat putera mahkota, dan siapapun harus tunduk kepada sang tabib.

"Maafkan hamba... akan tetapi Sang Permaisuri mengutus hamba untuk melihat keadaan Pangeran dan menanyakan bagaimana keadaannya, apakah masih ada harapan... ampun, hamba hanya utusan..." Dan thai-kam itu merangkak mendekat.

Tabib yang sudah menjalankan siasat seperti yang diatur oleh putera mahkota sendiri membiarkan thai-kam itu mendekat dan membiarkan thai-kam itu mengangkat muka memandang kepada sang pangeran yang rebah terlentang seperti mayat.

"Hemm, kalau begitu laporkan kepada Hong houw (Permaisuri) bahwa keadaan Putera Mahkota amat gawat. Lihat saja, wajahnya semakin pucat dan kebiruan, itu tanda bahwa racunnya masih bekerja dan biarpun aku sudah berusaha memberi obat penawar, tetap saja hawa beracun itu tidak dapat diusir semua. Ludahnya berwarna hitam dan matanya merah, napasnya terengah. Laporkan kepada Sang Permaisuri bahwa agaknya putera mahkota tidak dapat tertolong lagi, mungkin tinggal satu dua hari lagi..."

Thai kam itu menahan tangisnya, lalu mengundurkan diri dari kamar itu. Dia terisak ketika keluar dan melewati penjaga yang mengawal di luar pintu kamar, sehingga semua orang menganggap dia seorang thai-kam yang setia dan mencitai putera mahkota sehingga tidak dapat menahan kesedihannya ketika menjenguk dan melihat keadaan sang pangeran yang sedang sakit payah itu.

Mulai malam itu, tiada seorangpun diperbolehkan memasuki kamar itu yang selalu ditutup, dengan alasan bahwa keadaan penyakit sang pangeran sudah terlalu gawat, sehingga sama sekali tidak boleh diganggu. Hanya tabib itu saja yang diperbolehkan menjaga di dalam kamar, sedangkan di luar kamar, penjagaan pengawal diperketat.

Sementara itu, Bi Lan setiap hari menangis di istana Pangeran Li Siu Ti. Pangeran Tua inipun hanya pada hari pertama putera mahkota jatuh sakit saja diperbolehkan menengok. Siauw Can beberapa kali datang untuk menghibur Bi Lan dan bertanya mengapa wanita itu demikian berduka. Dengan singkat Bi Lan berkata,

"Bagaimana aku tidak akan berduka? Lan Lan diculik penjahat, dan kini Putera Mahkota yang kuharapkan dapat membantuku mencari Lan Lan, jatuh sakit..."

Bi Lan menangis sambil menundukkan mukanya dan ia tidak melihat betapa Siauw Can tersenyum puas. "Masih ada aku di sini, Lan-moi. Akulah yang akan membantumu mencari Lan Lan sampai dapat."

"Kalau benar begitu, pergilah dan cari Lan Lan, bukan bicara saja di sini. Pergi dan jangan ganggu aku."

Siauw Can meninggalkannya dan Bi Lan cepat menghentikan tangisnya. Ia hanya menangis kalau ada orang lain melihatnya, karena tangisnya ini hanya merupakan pelaksanaan siasat yang diatur oleh putera mahkota. Sekarang sudah hari ke tiga dan ia harus siap-siaga karena orang yang menculik Lan Lan tentu akan mengembalikan Lan Lan setelah mendengar bahwa sang pangeran menderita sakit keracunan hebat.

Tidak sukar baginya untuk menangis, karena bagaimanapun juga ia memang bersedih karena Lan Lan diculik. Dan sekarang ia sudah siap siaga untuk menangkap penculik itu kalau Lan Lan dikembalikan. Akan tetapi, sampai malam tiba, tidak ada berita dari penculik itu. Bi Lan sudah hampir putus asa ketika tiba-tiba ia mendengar suara Lan Lan memanggilnya dari arah belakang, dari taman.

"Ibu...! Ibu...!"

"Lan Lan...!!" Bi Lan meloncat keluar dari kamarnya dan seperti terbang memasuki taman. Benar saja, ia menemukan Lan Lan di tengah taman, dalam keadaan sehat! Ia menyambar tubuh Lan Lan, dipondongnya dan didekapnya, diciuminya dan kembali Bi Lan tak dapat menahan banjirnya air mata, air mata kebahagiaan. Ia sendiri merasa heran mengapa setelah ia jatuh cinta, begini mudah ia menangis!

Ia membawa Lan Lan ke kamarnya, menutup pintu kamar dan dengan lembut dan penuh rasa sayang, ia menanyai Lan Lan kemana saja ia pergi selama tiga hari itu. Lan Lan adalah seorang anak yang usianya baru tiga tahun, masih belum dapat memberi keterangan dengan jelas. Ia hanya mengatakan bahwa ia ditempatkan dalam sebuah kamar, diberi banyak barang-barang mainan, dilayani oleh seorang laki laki yang baik hati.

Bi Lan tentu saja tidak dapat mengharapkan keterangan jelas siapa penculik anak itu, dan tentu anak itu ditotok ketika diculik dan dikembalikan sehingga tidak tahu apa-apa. Dengan hati-hati Bi Lan menjaga Lan Lan malam itu di kamarnya dan pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah memondong Lan Lan keluar dari istana Pangeran Tua, menuju ke istana kaisar!

Karena ia dikenal baik sebagai guru silat yang melatih para dayang di istana, dengan mudah ia diperbolehkan masuk dan langsung saja Bi Lan menju ke kamar di mana Putera Mahkota "dirawat" oleh tabib. Dan dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pangeran Li Si Bin ketika melihat Bi Lan datang sambil memondong Lan Lan yang dalam keadaan sehat dan selamat! Dan berakhirlah "penyakit" putera mahkota itu pada hari itu juga.

Seluruh penghuni istana menjadi gembira bukan main. Demikian pula kaisar ketika mendengar bahwa puteranya telah sembuh sama sekali. Yang mendapatkan jasa besar adalah Tabib Song tentu saja. Dia dianggap berjasa telah dapat mengobati dan menyembuhkan putera mahkota!

Pada hari itu juga. Bi Lan ditahan di istana atas kehendak putera mahkota. Dengan alasan bahwa Bi Lan diangkat menjadi pengawal pribadi Putera Mahkota, maka wanita itu bersama puterinya tidak perlu lagi kembali ke istana Pangera Tua, bahkan barang-barangnya lalu diminta agar diantar ke istana! Bukan itu saja. Bahkan tak lama kemudian Putera Mahkota secara berterang mengangkat Bi Lan menjadi selirnya, merangkap pengawal pribadi! Karena ibunya menjadi selir pangeran, tentu saja dengan sendirinya Lan Lan juga menjadi seorang puteri!

********************

"Tabib Song keparat itu!" Pangeran Li Siu Ti mondar-mandir di dalam kamarnya, kadang mengepal tinju dan wajahnya muram. Hatinya kecewa bukan main mendengar bahwa Putera Mahkota telah sembuh dari sakitnya. "Bagaimana mungkin? Padahal, menurut keterangan thai kam Ciu, keadaan pangeran Li Si Bin sudah parah sekali, sudah sekarat. Bagaimana tiba-tiba dapat menjadi sembuh?"

Poa Kiu dan Siauw Can yang berada di kamar itu, saling pandang dan mereka berdua juga merasa kecewa dan heran. Mereka sudah mengembalikan Lan Lan kepada Bi Lan karena mereka sudah merasa yakin bahwa putera mahkota pasti akan mati. Mereka menganggap bahwa Bi Lan terpaksa harus mentaati bunyi surat, yaitu meracuni Pangeran Li Si Bin untuk menyelamatkan nyawa Lan Lan. Mereka sudah percaya sepenuhnya bahwa usaha itu berhasil dan kini tahu-tahu pangeran itu sembuh, dan Bi Lan ditarik ke istana menjadi pengawal pribadi!

"Jangan-jangan adik misanmu itu yang berkhianat," kata Pangeran Tua kepada Siauw Can atau Can Hong San. "Buktinya. Putera Mahkota tidak tewas dan setelah Lan Lan dikembalikan, ia segera membawa Lan Lan ke istana dan diangkat menjadi pengawal pribadi."

"Saya kira tidak demikian, pangeran." kata Hong San. "Banyak saksinya bahwa putera mahkota benar-benar keracunan, bahkan banyak yang melihat dia sakit payah, hampir mati. Tentu tabib sial itu telah menemukan obat penawar yang amat mujarab. Tentang diangkatnya Bi Lan menjadi pengawal pribadi, hal itupun tidak aneh. Pangeran Li Si Bin agaknya suka kepada Bi Lan dan sudah lama Bi Lan telah diberi tugas untuk melatih para dayang."

"Keterangan Siauw Can memang benar, pangeran. Kalau saja tabib Song tidak menemukan obat yang ampuh, tentu usaha itu berhasil baik dan tentu sekarang putera mahkota telah tewas. Bagaimanapun juga, Siauw Can telah membuat jasa dan dapat dikatakan bahwa tugasnya mengusahakan kematian Pangeran Li Si Bin telah dilaksanakan dengan baik."

Pangeran Tua Li Siu Ti mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya. Dia tahu apa maksud ucapan kedua orang pembantu utamanya itu. Tentu mengenai hubungan pembantu muda yang tampan dan pandai ini dengan puterinya, Ai Yin.

"Aku mengerti, dan akupun tidak akan menyalahi janji. Agaknya engkau dengan Ai Yln sudah saling mencinta, Siauw Can. Baiklah, engkau akan kujodohkan dengan Ai Yin dan pertunangannya akan segera diumumkan setelah engkau berhasil dengan sebuah tugas lagi yang amat penting, akan tetapi tidak begitu sukar bagimu."

Di dalam hatinya, Can Hong San merasa gembira sekali, akan tetapi juga mendongkol, tercapai cita-citanya menjadi mantu seorang pangeran yang memiliki kekuasaan besar! Akan tetapi kembali dia diserahi tugas, itulah yang membuat dia mendongkol. "Harap paduka katakan saja, apa tugas itu.Akan saya laksanakan dengan baik, pangeran."

"Engkau harus cepat menyingkirkan thai-kam Ciu. Dia harus mati secepatnya!"

"Akan tetapi, kenapa, pangeran? Bukankah ia telah berhasil diselundupkan dan amat berguna bagi paduka sebagai mata-mata di sana?" tanya Poa Kiu terkejut, karena dia yang mengusulkan diselundupkannya thai-kam itu ke istana.

"Saya mengerti maksud paduka." kata Hong San, sambil menoleh kepada Poa Kiu dengan senyum memandang rendah. "Paman Poa, lupakah paman bahwa kita menyuruh thai-kam Ciu untuk menyelidiki keadaan Pangeran Li Si Bin pada hari ketiga? Dia berhasil melihat keadaan putera mahkota, dan siapa tahu, perbuatannya itu akan dilaporkan oleh Tabib Song dan Putera Mahkota akan merasa curiga kepadanya. Padahal, dialah satu-tunya orang yang mengetahui rahasia kita dan dapat membocorkannya."

"Akan tetapi, tidak mungkin dia mengkhianati kita," kata pula Poa Kiu.

"Siauw Can benar," kata Pangeran Tua. "Poa Kiu, lupakah engkau akan kamar siksaan dimana setiap orang, betapapun kuat dan setianya, akan mengakui segala perbuatannya kalau dia disiksa? Kurasa thai-kam Ciu tidak terkecuali. Kalau dia dicurigai, lalu ditangkap dan disiksa, pasti dia tidak tahan dan akan mengaku, membongkar semua rahasia kita."

Wajah Poa Kiu menjadi pucat. "Kalau begitu... kalau begitu..."

"Jangan khawatir, Paman Poa. Aku akan menghabisinya sekarang juga. Serahkan saja urusan ini kepadaku, pasti beres!"

Senanglah hati Pangeran Tua Li Siu Ti, "Jangan sekarang, Siauw Can. Kita harus menunggu sampai keadaan menjadi tenang. Tunggu tiga empat hari, setelah semua tenang baru engkau turun tangan melenyapkan thai-kam Ciu. Dan setelan tugas itu berhasil, pertunanganmu dengan Ai Yin akan kurayakan."

Bukan main senangnya hati Can Hong San. Dia segera menemui Li Ai Yin dan pada malam itu dia berhasil mengajak Ai Yin bicara berdua saja di dalam taman. "Yin-moi," sejak Ai Yin menyambut cintanya Hong San selalu menyebutnya Yin moi (dinda Yin) dan hanya menyebut nona kalau berada di depan keluarga pangeran tua itu. "Mulai hari ini, kita telah bertunangan!" Dia lalu menceritakan janji ayah gadis itu.

Ai Yin tersenyum senang dan membiarkan ke dua tangannya dipegang oleh pemuda yang dikaguminya itu. "Kenapa terjadi perubahan yang tiba tiba ini, Can ko? Bukankah ayah masih prihatin dengan peristiwa di istana, dimana kakanda pangeran mahkota hampir saja tewas keracunan? Dan Lan Lan juga menjadi korban penculikan, untung sudah dikembalikan. Kemudian, kepergian enci Bi Lan yang demikian tiba-tiba, pindah ke istana. Semua ini membuat aku bingung. Akan tetapi ayah malah hendak membuat pesta pertunangan."

"Aih, jadi engkau sudah tahu?" tanya Hong San gembira.

Gadis itu mengangguk dan mengerling manja. "Tentu saja. Kau kira ayah akan merahasiakan? Dia sudah memberitahukan dan menanyakan kepadaku, minta persetujuanku untuk ditunangkan denganmu."

"Dan bagaimana jawabanmu, Yin-moi?"

Wajah itu berseri, kedua pipinya berubah merah dan senyumnya genit manja, tangannya mencubit lengan Hong San. "Kau kira bagaimana jawabanku?"

"Ha, tentu jawabanmu begini...!" Hong San lalu maju merangkul dan mencium puteri pangeran itu.

Ai Yin tertawa manja dan malu, akan tetapi karena ia sudah mendengar sendiri betapa ayahnya menyetujui pemuda ini menjadi calon suaminya, iapun tidak menolak. Akan tetapi ketika Hong San berbuat terlalu berani, iapun mendorong muka pemuda itu.

"Hemm, apa yang kau lakukan ini!"

Can Hong San adalah putera mendiang Cui beng Sai-kong dan biarpun tidak sekuat mendiang ayahnya, dia telah menguasai ilmu sihir. Melihat betapa gadis bangsawan itu menolaknya, diapun merasa penasaran. Kalau saja dia tidak ditolak Bi Lan, tentu diapun tidak bermaksud untuk menggauli Li Ai Yin sebelum mereka menjadi suami isteri, karena dia ingin menjadi mantu pangeran secara terhormat.

Akan tetapi, dia telah dikecewakan Bi Lan, maka gejolak nafsunya hendak dia puaskan dengan gadis bangsawan yang oleh ayahnya telah diserahkan kepadanya itu. Dia memegang kedua pundak gadis itu dengan lembut, menatap wajahnya dengan tajam dan suaranya mengandung getaran kuat.

"Li Ai Yin, pandanglah aku baik-baik! Lihatlah betapa besar kasihku kepadamu dan engkau akan menyerah, tunduk dan menuruti semua kemauanku. Aku cinta padamu, Ai Yin dan engkaupun cinta padaku..."

Ai Yin terbelalak, kemudian iapun menjadi lemas dan ia pun bertekuk lutut dan tidak terdapat perlawanan sedikitpun lagi dalam hatinya. Ia menurut saja segala kehendak Hong San yang terus merayunya, menurut dan menyerah saja ketika ia digandeng dan dituntun memasuki kamarnya.

********************

Empat hari kemudian. Masih dalam rangka siasat Pangeran Li Si Bin, keadaan di istana seolah-olah telah tenang kembali. Tidak ada bekas ketegangan sebagai akibat sakitnya putera mahkota yang kabarnya keracunan hebat itu. Sang pangeran melarang siapa saja bicara tentang hal itu, dan Bi Lan juga tidak memperlihatkan kecurigaan apapun.

Wanita itu secara resmi diangkat menjadi pengawal pribadi putera mahkota sehingga tidak ada seorangpun yang menduga hal yang bukan-bukan kalau melihat wanita cantik dan perkasa ini berduaan saja dengan putera mahkota, bercakap-cakap dengan akrab sekali.

Tadinya memang putera mahkota hanya menginginkan Bi Lan menjadi pengawal pribadinya, akan tetapi karena masing-masing mengetahui akan isi hatinya, tahu bahwa mereka saling mengagumi dan saling mencinta, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian putera mahkota akan mengangkat Bi Lan menjadi seorang selir terkasih.

Bi Lan tahu diri. Ia hanya seorang wanita biasa, bahkan seorang janda yang sudah yatim piatu. Dibandingkan dengan putera mahkota, ia bagaikan seekor burung gagak bersanding dengan burung Hong. Oleh karena itu, dengan hati penuh penyerahan, penuh pengabdian dan cinta kasih, ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan hatinya, rela untuk dijadikan selir merangkap pengawal pribadi.

Karena tugasnya sebagai pengawal inilah, ia jauh lebih dekat dan lebih sering berdekatan dengan putera mahkota dibandingkan selir lainnya, kemudian. Dan iapun sudah merasa berbahagia sekali kalau berada di dekat pria yang dijunjungnya dan dicintanya itu.

Menjadi kelanjutan siasat mereka kalau Bi Lan bersikap seolah sudah melupakan peristiwa penculikan puterinya dan jatuh sakitnya putera mahkota. Akan tetapi sesungguhnya, ia tidak pernah lengah sebentarpun. Ia selalu waspada dan memperhatikan setiap orang yang berada di dalam istana, memperhatikan setiap kejadian yang sekecil apapun, dan diam-diam mencurigai setiap orang!

Ketekunan dan ketelitiannya itu akhirnya berhasil. Pada suatu malam, secara sembunyi Bi lan meronda ke bagian belakang daerah keputren. Ia sudah diceritakan oleh putera mahkota tentang sikap thai-kam Ciu yang dahulu diutus permaisuri untuk menengoknya ketika dia sakit atau lebih tepat berpura-pura sakit.

Malam ini, Bi Lan sengaja mencari thai-kam itu untuk menyelidiki keadaan dirinya. Sore tadi ia melihat thai-kam itu seperti orang gelisah, wajahnya pucat, rambut dan pakaiannya kusut dan ketika berjumpa dengannya, orang itu menunduk, pura-pura tidak melihat dan tampak gugup.

Ketika ia menyelinap mendekati tempat tinggal para thai-kam, tiba-tiba ia melihat thai-kam Ciu membuka pintu dan keluar menuju ke taman dengan sikap hati-hati sekali. Bi Lan membayangi dari jauh agar jangan sampai terlihat. Karena inilah, maka ketika memasuki taman, ia kehilangan bayangan thai-kam Ciu. Selagi ia kebingungan, mencari-cari kemana perginya orang yang dicurigainya itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh-aduh dan suara sambaran senjata tajam berdesing.

Cepat Bi Lan melompat dan lari ke arah suara itu dan ia masih sempat melihat seseorang diserang orang lain dengan sebatang pedang. Orang yang diserang itu agaknya sudah terluka, akan tetapi masih berusaha mengelak dan berloncatan ke sana-sini, akan tetapi ketika Bi Lan muncul, penyerang itu berhasil menusukkan pedangnya lagi dan orang itupun roboh.

"Heiii, tahan senjata!" bentak Bi Lan dan si penyerang itu agaknya terkejut, menarik kembali pedangnya dan meloncat jauh, lenyap dalam kegelapan malam.

Sinar lampu penerangan taman itu agak jauh dan sinarnya hanya remang-remang saja mencapai tempat itu, namun cukup bagi Bi Lan untuk melihat bahwa korban itu berpakaian sebagai seorang thai-kam dan ketika ia berjongkok untuk memeriksanya, ia terkejut ketika mengenalnya sebagai thai-kam Ciu yang dicurigai oleh putera mahkota!

Orang itu sudah payah, luka tusukan pedang membuat tubuhnya berlepotan darah dan napasnya tinggal satu-satu. Ia harus bertindak cepat sebelum terlambat. Ditotoknya beberapa bagian tubuh orang itu dan iapun bertanya. "Cepat katakan siapa pembunuhmu dan apa hubungannya dengan penculik anakku dan musuh putera mahkota!"

Karena totokan-totokan itu, thai-kam Ciu dapat mengerahkan tenaga terakhir dan dengan suara penuh penyesalan dan rasa penasaran, diapun berkata, "Semua diatur oleh Pangeran Tua... dibantu Poa Kiu dan Siauw Can..."

kemudian bibirnya hanya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara dan tak lama kemudian diapun terkulai, tewas. Akan tetapi keterangan itu sudah cukup bagi Bi Lan. Keterangan yang membuat kedua kakinya gemetar dan tubuhnya lemas, yang membuat ia sampai lama tidak mampu bangkit berdiri, termangu-mangu. Pangeran Tua Li Siu Ti? Dan Siauw Can...?

Kini mengertilah ia, walaupun ia masih terkejut karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua peristiwa itu diatur oleh orang-orang yang selama ini dianggapnya baik dan dipercaya sepenuhnya. Yang membuat hatinya sakit seperti ditusuk adalah Siauw Can. Pemuda yang dianggapnya sebagai seorang pendekar itu, bahkan yang pernah dikagumi dan dicintanya, telah menculik Lan Lan dan hendak memaksanya untuk membunuh putera mahkota!

Ia dapat menduga bahwa tentu Siauw Can diperalat oleh Pangeran Tua, akan tetapi kenapa pemuda yang katanya mencintanya itu mau melakukan perbuatan keji dengan menculik Lan Lan dan memaksanya membunuh putera mahkota, sungguh membuatnya penasaran bukan main. Ingin rasanya saat itu juga ia lari mencari Siauw Can atau Can Hong San untuk memaki dan menyerangnya.

Akan tetapi ia teringat bahwa pemuda itu adalah seorang lawan yang amat tangguh, apalagi tentu dia akan dibantu oleh anak buah Pangeran Tua. Tidak, urusan ini terlalu besar untuk ia tangani sendiri. Cepat ia meninggalkan taman dan malam itu juga ia mencari Pangeran Li Si Bin.

Pangeran Li Si Bin tidak terkejut mendengar laporan Bi Lan. Memang pangeran ini pernah mempunyai kecurigaan terhadap pamannya, Pangeran Tua, hanya karena belum ada bukti maka dia tidak dapat melakukan sesuatu. Kini tahulah dia akan rahasia itu dan pada malam itu juga dia memanggil para panglima yang membantunya dan pasukan khusus dikerahkan.

Tanpa membuang waktu lagi Pangeran Li Si Bin sendiri, dibantu para panglimanya dan tidak ketinggalan Bi Lan sendiri, lalu menyerbu ke istana Pangeran Tua Li Siu Ti. Gegerlah di kota raja. Terjadi pertempuran yang hanya pendek saja karena Pangeran Li Siu Ti sama sekali tidak mengira bahwa malam itu akan terjadi penyerbuan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh putera mahkota!

Dan penyerbuan itupun sudah direstui kaisar yang malam itu juga mendengar laporan puteranya. Mereka yang berani melakukan perlawanan segera dibabat roboh dan yang lain cepat melempar senjata dan menjatuhkan diri berlutut. Pangeran Li Siu Ti sekeluarga ditangkap. Akan tetapi, dengan hati yang lega Bi Lan mendengar bahwa Ai Yin lolos dari penangkapan. Disamping kelegaan hatinya, juga ia merasa penasaran karena Can Hong San juga lolos.

Kiranya pemuda inilah yang melarikan Ai Yin dan Bi Lan dapat menduga bahwa bayangan yang dilihatnya membunuh thai-kam Ciu tentulah Can Hong San. Pemuda itu tentu sudah merasa khawatir melihat perbuatannya ketahuan, sudah dapat menduga bahwa mungkin saja Bi Lan akan melapor dan thaikam Ciu membuka rahasia. Hong San tentu sudah dapat menduga kemungkinan datangnya serbuan dari putera mahkota, maka begitu tiba di istana Pangeran Tua, dia segera mengajak Ai Yin pergi dan tidak lupa membawa barang-barang berharga dari istana itu.

Ketika Ai Yin mendesak dan minta keterangan kepadanya, Can Hong San tidak mau mengaku dan setengah memaksa gadis yang telah ditunangkan dengannya itu meninggalkan istana secepatnya, bahkan malam itu juga mereka kabur keluar dari pintu gerbang kotaraja, menunggang dua ekor kuda pilihan. Keluarga Pangeran Tua Li Siu Ti ditangkap dan dipenjara, kemudian setelah diadili, pangeran itu dijatuhi hukuman mati sedangkan keluarganya dihukum buang.

Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Lan makin disayang dan dipercaya oleh Pangeran Li Si Bin dan iapun menyerah dengan senang hati ketika putera mahkota itu mengangkatnya sebagai selir terkasih dan terpercaya. Dengan sendirinya Lan Lan yang kini diaku sebagai puteri sang pangeran dengan nama menjadi Li Hong Lan, mendapat perlakuan sebagai seorang puteri dan pendidikan dan perawatannya diserahkan kepada para ahli yang di istana bertugas untuk mendidik para puteri yang masih kecil.

********************

Anak laki-laki itu berusia kurang lebih duabelas tahun, namun tubuhnya tinggi tegap seperti orang dewasa saja. Juga wajahnya yang tampan itu nampak dewasa, dengan mata yang tajam mencorong penuh pengertian, mulut yang membayangkan keteguhan hati dan ketabahan. Kalau ada ahli silat melihatnya pada saat dia berlatih itu, tentu ahli silat itu akan terkagum-kagum.

Anak berusia duabelas tahun itu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing yang ditanam di tanah setinggi satu meter. Kedua kakinya bertelanjang dan dengan kedua kaki bertelanjang itu dia bersilat di atas bambu-bambu yang runcing. Gerakannya demikian gesit dan tangkas, kedua kakinya yang melangkah ke kanan kiri, depan belakang, bahkan kadang melompati sebatang bambu runcing dan hinggap di atas bambu runcing berikutnya, tak pernah meleset.

Orang akan merasa ngeri karena sekali terpeleset, anak itu akan terjatuh dan bambu-bambu runcing akan menyambut perut dan dadanya atau punggungnya. Dan mengingat betapa kedua kaki telanjang itu berloncatan di atas bambu-bambu runcing, sungguh mengerikan dan sekaligus mengagumkan.

Tak jauh dari situ, di bawah pohon yang tumbuh di belakang sebuah pondok baru, duduk seorang pria tua yang tinggi besar bermuka kemerahan dan jenggotnya panjang. Pria berusia sekitar lima puluh delapan tahun itu masih nampak gagah dan berwibawa. Dari wajah dan sikapnya mudah diduga bahwa dia bukan orang sembarangan. Dia mengelus jenggotnya dan mulutnya tersenyum, kepalanya mengangguk-angguk melihat kelincahan anak laki-laki remaja yang berlatih silat itu.

Dari gerakan-gerakannya saja, jelas nampak bahwa anak itu memang memiliki bakat yang besar sekali. Gerakannya demikian lentur dan indah, tidak kaku dan setiap gerakan mengandung tenaga yang tepat penggunaannya, tidak berlebihan juga tidak lemah.

Pria tinggi besar itu adalah bekas Pangeran Cian Bu Ong! Selama beberapa tahun ini, semenjak Kerajaan Sui jatuh diganti Kerajaan Tang, kurang lebih sembilan tahun yang lalu, Cian Bu Ong berusaha untuk menegakkan kembali Kerajaan Sui yang telah jatuh. Namun semua usahanya gagal, bahkan dia yang oleh Kerajaan Tang dianggap pemberontak, menjadi orang buruan. Hidupnya tidak aman, karena dia dikejar-kejar oleh pasukan Tang.

Terutama sekali karena yang menjadi panglima adalah putera mahkota sendiri, yaitu Pangeran Li Si Bin yang amat cerdik dan pandai, Cian Bu Ong harus menjadi pelarian yang tidak dapat tinggal terlalu lama di suatu tempat. Setelah dia bertemu dengan Sim Lan Ci yang kemudian menjadi isterinya, barulah dia menghentikan usahanya untuk memberontak.

Namun, bersama Sim Lan Ci dan putera janda itu, Coa Thian Ki, dan juga puterinya sendiri, Cian Kui Eng, dia harus selalu berpindah-pindah tempat tinggal, khawatir kalau jejaknya ditemukan para penyelidik Kerajaan Tang.

Cian Bu Ong menganggap Thian Ki sebagai puteranya sendiri. Dia amat mencinta Sim Lan Ci yang telah menjadi isterinya dan dia sayang pula kepada Thian Ki karena dia tidak mempunyai anak laki-laki. Anaknya yang tunggal dengan isteri pertama yang tewas oleh pasukan Tang adalah seorang perempuan, yaitu Cian Kui Eng yang kini berusia sebelas tahun.

Cian Bu Ong menggembleng kedua orang anak itu, bahkan dia lebih tekun mengajarkan ilmu-ilmunya kepada Thian Ki, karena selain anak ini memiliki bakat yang lebih besar dibandingkan Kui Eng, akan tetapi juga bekas pangeran itu memiliki cita-cita tinggi terhadap Thia Ki. Dia mengharapkan anak tiri yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kelak dapat menjadi orang besar, kalau mungkin di kalangan pemerintahan, kalau tidakpun menjadi tokoh besar di dunia persilatan, agar dapat mengangkat kembali namanya yang telah jatuh bersama runtuhnya Kerajaan Sui.

Baru setelah panglima besar dan putera mahkota, yaitu Pangeran Li Si Bin yang menjadi tokoh utama Kerajaan Tang menggantikan ayahnya dan menjadi kaisar (tahun 627) Cian Bu Ong dapat hidup tenang bersama isterinya dan kedua orang anaknya, di sebuah dusun kecil yang terletak di tempat yang amat indah pemandangan alamnya, yaitu di tepi Sungai Huang-ho, di kaki Kim San (Bukit Emas).

Setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar dan berjuluk Tang Tai Cung, kaisar ini lebih banyak memperhatikan urusan pemerintahan, tidak lagi memikirkan pemberontak-pemberontak buronan yang sudah kehilangan pasukan, seperti halnya Cian Bu Ong yang dianggap tidak berbahaya lagi.

Di dusun Ke-cung itu, yang penduduknya hanya puluhan keluarga saja dan semua adalah petani dan nelayan sederhana, Cian Bu Ong mendirikan sebuah rumah besar dan hidup tenang dan tenteram bersama Sim Lan Ci dan kedua orang anak mereka, yaitu Thian Ki dan Kui Eng.

Pada pagi hari itu, Thian Ki sudah berlatih silat di bawah pengawasan Cian Bu Ong, ayah tirinya, juga gurunya. Dulu, ketika dia masih hidup bersama ayah kandungnya, mendiang Coa Siang Lee, ayah dan ibunya selalu menekankan perasaan tidak suka akan ilmu silat dan penggunaan kekerasan sehingga biarpun dia menjadi anak suami isteri yang pandai ilmu silat, Thian Ki sendiri tidak pernah mempelajari ilmu silat.

Akan tetapi, tanpa diketahui ayah ibunya, neneknya, yaitu Lo Nikouw yang dahulu terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li, telah menggembleng tubuhnya dengan ramuan racun, sehingga tanpa disadarinya sendiri, Thian Ki telah menjadi seorang tok-tong (anak beracun). Di luar kehendaknya sendiri, dia telah melakukan hal-hal yang akan menggemparkan dunia kangouw kalau diketahui orang.

Yaitu dia telah membunuh atau lebih tepat lagi menyebabkan kematian tokoh-tokoh kangouw yang amat lihai seperti Kui bwe Houw Gan Lui, si golok gergaji Thio Ki Lok, pegulat Turki Gulana. Mereka semua tewas keracunan karena berani menyerang dan menyentuh tubuh Thian Ki yang sudah penuh dengan hawa beracun yang amat kuat itu!

Semula, karena melihat tok-tong inilah maka Cian Bu Ong tertarik. Dia ingin memiliki anak beracun itu untuk membantu gerakannya dan usahanya menegakkan kembali Kerajaan Sui. Akan tetapi setelah dia menikah dengan ibu anak itu, dan melihat bahwa cita-citanya itu tidak akan mungkin terlaksana karena Kerajaan Tang yang baru semakin kuat, dan untuk berjuang menumbangkan pemerintahan dia harus mempunyai pasukan yang besar sekali.

Hal yang tidak mungkin dimilikinya, maka diapun membuang cita-cita itu. Kini dia menggembleng Thian Ki dengan cita-cita lain. Dia ingin anak tirinya yang juga muridnya itu kelak menjadi orang penting, berkedudukan tinggi atau menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia kangouw, pendeknya dia ingin agar Thian Ki kelak dapat menjadi terkenal dan karenanya akan mengangkat tinggi nama besar Pangeran Cian Bu Ong. Oleh karena itu, maka dia menggembleng Thian Ki dengan amat tekunnya.

Anak itu sendiri sekarang juga rajin berlatih dan suka sekali mempelajari ilmu silat. Hal ini merupakan perubahan yang amat besar. Selain ibunya, Sim Lan Ci sekarang tidak lagi melarangnya belajar silat, bahkan ibu inipun mengajarkan ilmu-ilmunya sendiri, juga karena pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah merupakan pelajaran bagi Thian Ki, bahwa memiliki kekuatan dan kepandaian silat amat perlu baginya, untuk dapat membela diri dalam hidup ini. Terlalu banyak orang jahat berkeliaran di bumi ini dan amat sukarlah mengharapkan perlindungan dari orang lain.

Dalam usia duabelas tahun, Thian Ki sudah mampu berlatih silat di atas bambu-bambu runcing. Hal ini sungguh mengagumkan sekali. Tanpa memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi, sungguh amat berbahaya latihan seperti itu. Namun, Thian Ki sudah dapat berloncatan dengan cekatan di atas bambu-bambu runcing itu. Tentu saja hal ini amat menggembirakan hati Pangeran Cian Bu Ong. Dia sendiri mengakui bahwa dalam usia semuda itu, dia tidak dapat mencapai tingkat seperti yang dimiliki Thian Ki sekarang ini. Dia merasa bangga dan girang sekali melihat kemajuan Thian Ki.

Puterinya sendiri, Kui Eng. juga tekun dan cerdas, akan tetapi dibandingkan Thian Ki, anak itu kalah jauh. Apalagi kalau diingat bahwa tubuh Thian Ki beracun, dan keadaan ini saja sudah amat berbahaya bagi lawannya. Lawan yang amat lihai sekalipun akan dapat tewas sendiri kalau berani menyentuh tubuh tok-tong, si anak beracun itu. Cian Bu Ong yang bercita-cita tinggi itu bahkan telah memilihkan sebuah nama julukan bagi anak tiri dan muridnya, yaitu Tok-liong (Naga Beracun)!

"Thian Ki." kata bekas pangeran itu berulang kali, "Namamu yang biasa adalah Thian Ki, Cian Thian Ki," dia memberi tekanan kepada nama keluarga Cian itu. Dia mengakui Thian Ki sebagai anak sendiri, maka dia menekankan kepada anak itu dan ibunya agar menggunakan she (nama keluarga) Cian! "Akan tetapi, di dunia kangouw, tidak perlu engkau memperkenalkan diri sebagai Cian Thian Ki, melainkan Tok-liong-eng (Pendekar Naga Beracun), ha-ha ha!"

Karena ucapan itu berulang-ulang dikatakan gurunya yang juga ayahnya karena dia menyebut ayah kepada gurunya itu, maka sebutan Tok-liong (Naga Beracun) itu mendatangkan kesan di hati Thian Ki dan setelah beberapa tahun dia menganggap Tok-liong sebagai namanya yang ke dua. Apalagi ayah tiri dan ibunya sendiri sering menyebut Tok-liong kepadanya.

Baru beberapa bulan Cian Bu Ong tinggal di dusun Ke-cung itu. Setelah mendengar bahwa Kaisar Tang Kao Cu diganti oleh Pangeran Li Si Bin yang kini menjadi Kaisar Tang Tai Cung, baru ia merasa aman dan tinggal di dusun lembah sungai yang indah itu. Penduduk dusun menyambut keluarga ini dengan gembira. Mereka tidak mengenal siapa keluarga ini dan Cian Bu Ong sudah mengubah namanya menjadi Cian Bu saja.

Penduduk hanya menduga bahwa Cian Bu adalah seorang hartawan atau pejabat yang telah mengundurkan diri dan mencari tempat tinggal yang tenang di dusun itu. Karena keluarga baru ini selain kaya juga ringan tangan membantu penduduk, maka keluarga ini disambut dengan baik dan Cian Bu dikenal sebagai hartawan Cian, bahkan beberapa bulan kemudian, melihat dia seorang yang kaya dan pandai, luas pengetahuannya dan suka menolong penduduk, puluhan keluarga penghuni dusun Ke-cung segera mengangkatnya menjadi ketua dusun.

Demi keamanan, Cian Bu menerima pengangkatan itu, walaupun dalam hatinya dia tersenyum pahit. Dia, pangeran adik kaisar terakhir Kerajaan Sui yang bercita-cita menegakkan kembali Kerajaan Sui dimana dia yang akan menjadi kaisar barunya, kini hanya diangkat menjadi ketua dusun! Inipun dusun yang kecil sekali dan pengangkatan itupun tidak resmi dari pemerintahan.

Karena rumah dan pekarangan berikut sebuah kebun dan taman yang luas milik keluarga Cian itu dikelilingi pagar dinding yang tinggi, maka tak seorangpun pernah melihat kalau keluarga itu berlatih silat. Tiga orang pelayan keluarga ini adalah bekas anak buah yang setia dari bekas pangeran itu, dan mereka maklum bahwa mereka tidak boleh membuka rahasia majikan mereka kepada siapapun juga.

Selagi Thian Ki berlatih, kini tidak lagi di atas bambu-bambu runcing melainkan di atas tanah di mana dia bersilat dengan amat cepat dan kuatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan berusia sebelas tahun datang berlari-lari. Melihat Thian Ki masih bersilat dengan tangan kosong, dengan baju dilepas sehingga tubuh atasnya telanjang dan berkilauan karena keringat.

Anak perempuan itu mengeluarkan bentakan nyaring dan iapun melompat dengan sigapnya mendekati Thian Ki dan langsung saja menyerangnya dengan jari tangan menotok ke arah tubuh Thian Ki, menyerang jalan-jalan darah secara cepat sekali! Thian Ki cepat mengelak ke sana sini, lalu meloncat jauh ke belakang. Ketika anak itu yang bukan lain adalah Cian Kui Eng, hendak mengejar dan mendesak, ayahnya membentak.

"Kui Eng, berhenti!"

Anak perempuan itu berhenti menyerang, menoleh kepada ayahnya dan iapun membanting-banting kaki dan merajuk. "Aihhh, ayah, aku ingin berlatih dengan kakak Thian Ki, selalu tidak boleh!"

Anak berusia sebelas tahun itu berwajah manis dan bertubuh ramping. Matanya tajam dan galak, mulutnya yang cemberut itu menjadi pemanis yang utama dari wajahnya yang bulat telur. Rambutnya agak keriting, membuat rambut itu nampak tebal.

"Kui Eng, sudah berulang kali kukatakan kepadamu. Engkau tidak boleh berlatih dengan kakakmu. Itu berbahaya sekali!" kata Cian Bu Ong, atau yang nama barunya Cian Bu saja itu.

Pada saat itu, Sim Lan Ci muncul dan mendengar percakapan itu, iapun lari menghampiri dan merangkul Kui Eng yang bersungut-sungut. "Kui Eng, engkau sudah seringkali kuberi tahu agar jangan berlatih dengan kakakmu. Engkau tentu tahu bahwa kakakmu adalah seorang yang berbahaya, karena disebut Naga Beracun. Dia seorang tok-tong..."

Dalam usianya yang hampir empatpuluh tahun, Sim Lan Ci masih nampak cantik. Hal ini adalah karena selama menjadi isteri Cian Bu Ong, ia merasa hidupnya berbahagia walaupun ia ikut melarikan diri dan bersembunyi bersama suaminya selama tujuh tahun ini. Cian Bu amat mencintanya juga ia mencinta Kui Eng seperti mencinta Thian Ki anak kandungnya. Suaminya seorang yang amat baik, bahkan jauh lebih sakti dari pada suaminya yang pertama, dan juga berwibawa dan jantan.

"Ibu, kenapa sih toako disebut Tok-liong (Naga Beracun), dan apa sih artinya tok-tong?"

"Dia disebut tok-tong karena tubuhnya mengandung hawa beracun yang amat kuat, Kui Eng. Beradu tangan dengan dia, bahkan menyentuh tubuhnya pun kalau kebetulan hawa beracun itu bekerja, orang akan mati seketika."

"Tapi... kenapa toako bisa seperti itu?"

Suami isteri itu saling pandang. Sudah tiba saatnya mereka memberi tahu anak-anak mereka akan kejadian yang sebenarnya tentang diri Thian Ki. Bahkan anak itu sendiri belum tahu dengan jelas. Melihat pandang mata isterinya, Cian Bu menghela napas panjang dan mengangguk, lalu dia duduk di atas bangku di taman itu.

"Ibu, akupun ingin sekali mengetahui mengapa tubuhku jadi beracun? Ibu dan ayah tidak pernah mau menceritakan," kata pula Thian Ki yang memakai kembali bajunya dan mendekati ibunya.

Sejak berusia lima tahun, dia dipesan oleh ibunya agar berhati-hati kalau bermain-main dengan Kui Eng, agar dia tidak mengerahkan tenaga dan sekali-kali tidak boleh berlatih silat dengan adiknya itu. Biarpun perintah ibunya itu tentu saja membuat dia tidak dapat bergembira dan bermain-main sebebasnya dengan adiknya, namun dia selalu mentaati karena dia sendiri tahu bahwa dalam dirinya terdapat rahasia aneh. Sudah dia melihat sendiri beberapa orang yang amat lihai ilmu silatnya tewas ketika menyerangnya, tewas ketika digigitnya, bahkan tewas ketika mencengkeramnya.

Sim Lan Ci menarik napas panjang, lalu menggandeng tangan kedua anaknya, diajaknya duduk di bangku dekat suaminya. Kemudia ia mulai bercerita. "Thian Ki dan Kui Eng, ingat baik-baik apa yang akan kuceritakan ini agar kelak tidak sampai terjadi sesuatu pada diri kalian. Thian Ki, engkau telah menjadi seorang tok-tong. Di dalam tubuhmu terdapat racun yang amat hebat, seluruh darahmu mengandung racun, juga tubuhmu penuh dengan hawa beracun yang dapat membunuh siapa saja, bahkan orang-orang seperti aku dan ayahmu dapat saja terbunuh oleh racun di tubuhmu itu."

"Wah, hebat kalau begitu! Ibu, kalau kakak Thian Ki mempunyai tubuh sehebat itu, kenapa aku tidak? Ibu dan ayah, jadikanlah aku seperti dia, aku ingin mempunyai tubuh beracun seperti itu agar dapat kubasmi semua orang jahat di dunia ini!"

"Ih, Kui Eng, enak saja kau bicara!" Thian Ki menegur adiknya. "Apa sih senangnya punya tubuh beracun? Lihat saja aku. Aku ingin bermain-main denganmu, berlatih silat denganmu tidak bisa! Kalau racun di tubuhku ini dapat lenyap, aku akan berbahagia sekali!"

"Ibu, kenapa kakak Thian Ki menjadi Tok-tong? Bagaimana terjadinya!" tanya pula Kui Eng, tidak perduli akan keluhan kakaknya.

"Semua ini gara-gara nenekmu, Lo Nikouw..."

"Aih, nenek Lo Nikouw. Ibu dari ibu yang jarang ibu ceritakan itu? Bagaimana nenek bisa menjadi gara-gara keadaan toako ibu?"

"Ibuku, nenek kalian itu adalah seorang ahli racun yang tiada keduanya di empat penjuru sehingga ia dikenal sebagai Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun)..."

"Ihhhh! Julukannya mengerikan benar!" seru Kui Eng.

"Julukannya itu adalah ketika ia belum menjadi seorang nikouw, Kui Eng. Sekarang ia dikenal sebagai Lo Nikouw yang pekerjaannya hanya berdoa. Nenek kalian itulah yang diluar tahuku telah membuat Thian Ki menjadi tok-tong, dengan cara merendam tubuh Thian Ki ketika masih kecil ke dalam ramuan obat beracun. Aku mengetahui hal itu setelah terlambat."

"Aih, kenapa nenek begitu jahat terhadap Thian Ki, Ibu?" Kui Eng berseru dengan penasaran.

"Hush, jangan berkata begitu, Kui Eng!" tiba-tiba Cian Bu yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, berseru kepada puterinya. "Nenekmu melakukan hal itu justeru karena ia menyayang Thian Ki. Ia ingin membuat Thian Ki menjadi orang yang tak terkalahkan, dan dalam hal ini, ia telah banyak membantu dan usahanya itu berhasil. Kalau bukan seorang ahli yang amat pandai, bagaimana mungkin ia dapat membuat cucunya menjadi tok-tong? Orang lain yang tubuhnya mengandung racun seperti Thian Ki, takkan mampu bertahan hidup lagi. Nenekmu itu memang hebat!"

"Akan tetapi aku tidak suka menjadi tok-tong! Aku tidak ingin menjadi orang yang tak terkalahkan!" teriak Thian Ki.

"Aih, toako. Kenapa engkau begitu bodoh. Sepantasnya engkau berterima kasih kepada nenek. Kalau aku yang menjadi seperti engkau, wah, aku akan merasa bangga dan senang sekali. Akan kukalahkan seluruh jagoan di dunia ini! Ibu, bawa aku kepada nenek biar aku juga dijadikan seorang anak beracun!"

"Hemm, kau kira mudah menjadikan seseorang beracun seperti itu? Hanya anak yang masih kecil dan berbakat saja yang akan mampu hidup menjadi anak beracun. Engkau sudah besar, Kui Eng, tidak mungkin menjadi anak beracun lagi. Baru Thian Ki saja menjadi tok-tong kami sudah bingung, masa engkau ingin menjadi anak beracun lagi!" kata Sim Lan Ci.

Sementara itu, Cian Bu menghela napas panjang. Dia mencita-citakan Thian Ki kelak menjadi seorang jagoan nomor satu di dunia. Thian Ki telah menjadi tok-tong, berbakat baik dan telah digemblengnya dengan sungguh sungguh, akan tetapi ternyata anak itu tidak suka menjadi jagoan seperti yang dia idamkan. Kalau saja Thian Ki mempunyai semangat seperti yang diucapkan Kui Eng tadi! Thian Ki berwatak lemah, terlalu baik, tidak suka akan kekerasan, tidak ingin menjadi jagoan tak terkalahkan, padahal dia memiliki kemampuan untuk itu. Sebaliknya semangat Kui Eng berkobar-kobar.

"Ibu, kenapa nenek memperlakukan aku seperti ini? Aku juga ingin bertemu dengan nenek, akan kuminta agar dia melenyapkan racun dari tubuhku!" kata Thian Ki.

"Tidak semudah itu, Thian Ki. Racun itu telah menjadi satu dengan darahmu, biar nenekmu sendiri tidak akan dapat melenyapkannya. Hanya satu cara saja..." Wanita cantik itu menghentikan kata-katanya, menyadari bahwa ia telah terlanjur bicara.

Thian Ki segera menyambar kesempatan itu. "Ibu, katakan. Apa caranya akan kutempuh segala cara untuk membuat aku menjadi manusia biasa. Katakanlah, apa cara yang satu-satunya itu?"

Karena sudah terlanjur bicara. Sim Lan Ci memandang suaminya, lalu berkata. "Caranya hanya menularkan racun itu kepada orang lain. Sedikitnya kepada sepuluh orang dan mereka itu akan tewas. Biarpun setiap orang hanya menerima sepersepuluh bagian saja, cukup untuk membuat ia tewas. Nah, setelah menewaskan belasan orang, barulah ada kemungkinan racun itu akan lenyap dari tubuhmu."

Mendengar ini, Thian Ki termenung dan wajahnya dibayangi kedukaan. "Kalau begitu... selama hidupku sampai mati... aku tidak akan dapat melenyapkan racun keparat ini dari tubuhku..." Ucapan ini saja menyatakan bahwa ia tidak suka membunuh orang, biar hal itu demi keselamatan diri sendiri.

Melihat ini, Cian Bu lalu menghibur. "Sebetulnya tidak perlu dilenyapkan, apa lagi kalau caranya demikian sulit. Asalkan Thian Ki dapat menguasai racun itu, dapat menekannya sehingga racun itu tidak bekerja, kecuali hanya kalau diperlukan saja, maka tentu dia akan hidup seperi orang biasa. Hanya pada saat tertentu saja dia dapat mengerahkan kekuatan racun itu. Sayang, sudah kucoba, namun aku belum menemukan caranya untuk mengajar dia dapat mengendalikan hawa beracun itu."

Mendengar ini, Thian Ki memandang ibunya "Ibu, dapatkah nenek mengajariku agar aku dapat menguasai racun ini? Biarpun tidak dapat lenyap, kalau aku dapat menguasainya seperti dikatakan ayah, sudah lumayan..."

Sim Lan Ci mengerutkan alisnya. Sudah tujuh tahun lebih ia meninggalkan ibunya yang berada di kuil Thian ho-tong di luar dusun Mo-kim-cung. Bahkan rumahnyapun ia tinggalkan. Sejak ia dan almarhum suaminya, Coa Siang Lee meninggalkan dusun Mo-kim cung berkunjung ke pusat Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung, yaitu tempat tinggal keluarga almarhum suaminya, ia tidak pernah lagi kembali ke Mo-kim cung.

Terlalu banyak peristiwa terjadi sejak ia dan suami pertamanya itu meninggalkan Mo-kim-cung. Di Hek-houw-pang itulah terjadinya malapetaka yang membuat suaminya tewas dan ia bersama Thian Ki ikut Cian Bu Ong dan kemudian bahkan menjadi isteri bekas pangeran itu yang kini bernama Cian Bu. Tujuh tahun lebih telah lewat dari kini percakapan tentang ibunya membuat ia teringat akan semua itu.

"Bagaimana, ibu?" Thian Ki mendesak ketika melihat ibunya termenung. "Aku masih ingat, nenek adalah seorang nikouw yang ramah dan baik budi, selalu bersikap baik kepadaku. Beliau tentu akan suka menolongku, ibu."

Wanita itu menghela napas panjang. "Tidak tahulah, Thian Ki. Aku memang pernah mempelajari ilmu-ilmu dari ibuku tentang ilmu-ilmu pukulan beracun, akan tetapi aku tidak pernah diajari ilmu membuat seseorang menjadi tok-tong, juga tidak tahu menahu tentang cara menguasai hawa beracun dalam tubuh. Ilmu pukulan beracun memang hanya timbul hawa beracun itu kalau ilmu itu dipergunakan untuk berkelahi, kalau pengerahan tenaga sakti dilakukan dengan cara tertentu disamping latihan yang menggunakan racun. Akan tetapi racun yang sudah menjadi satu dengan darah seperti yang kau alami, biasanya hanya membuat orang itu mati. Engkau sebaliknya hidup dengan sehat dan kuat, dan racun itu bekerja di luar kehendakmu. Aku tidak tahu..."

"Kalau begitu, kenapa tidak ke sana saja? Kita semua pergi ke sana mencari ibumu, minta agar ia suka mengajari Thian Ki menguasai racun di dalam dirinya, dan kita sekalian berpesiar ke timur. Anak-anak ini perlu mendapatkan pengalaman, juga aku ingin sekali melihat keadaan di sana sekarang ini. Tentu ramai sekali."

Sim Lan Ci terkejut, akan tetapi juga wajahnya berseri gembira sekali. "Benarkah...? Tidak... tidak akan ada halangannyakah?" Ia memandang suaminya dengan khawatir. Suaminya pernah menjadi seorang buruan pemerintah, kalau sekarang mereka menuju ke timur, bukankah itu sama saja dengan ular mencari pemukul...?

Cian Bu menggeleng kepala dan meraba jenggotnya yang dipotong pendek. Dia mengerti apa yang dimaksudkan isterinya, dan diapun tersenyum yakin akan dirinya sendiri bahwa keadaannya sudah berubah sama sekali. Dahulu dia bertubuh tinggi besar dengan jenggot panjang dan pakaian bangsawan. Akan tetapi sekarang, biarpun dia masih tinggi besar, namun perutnya agak gendut, dan jenggotnya pendek.

Juga dia mengenakan pakaian biasa, pakaian seorang petani kaya. Juga rambut di kepalanya dibiarkan tidak tertutup, digelung ke atas, tidak pernah memakai penutup kepala yang biasa dipakai para bangsawan. Pula, sejak lama tidak pernah ada pasukan yang mencarinya, dan setelah Pangeran Li Si Bin menjadi kaisar, dia merasa lebih aman.

"Tidak akan ada halangan. Hari kita pergi mengunjungi ibumu dan mudah-mudahan saja ia akan dapat membimbing Thian Ki sehingga dia dapat menguasai hawa beracun di dalam tubuhnya..."

Mendengar bahwa ayah ibunya akan mengajak ia dan kakaknya pesiar ke timur, ke kota-kota besar yang ramai, Kui Eng bersorak gembira. Anak perempuan berusia sebelas tahun itu kadang-kadang masih amat kekanak-kanakan. Ia meloncat-loncat dan merangkul Thian Ki.

"Kita pesiar...! Horee, kita pesiar. Toako, alangkah senangnya dan ini semua jasamu!" Ia merangkul leher Thian Ki sehingga mukanya hampir melekat ke muka pemuda remaja itu.

Biarpun sejak kecil sudah biasa dia bermain main dengan Kui Eng, akan tetapi kini dia menyadari bahwa Kui Eng sudah mulai besar, bukan anak kecil lagi dan dia tahu benar bahwa Kui Eng bukan apa-apa dengan dia, berbeda ayah berbeda ibu. Maka rangkulan yang demikian akrab dan mesranya membuat Thian Ki menjadi tersipu dan mukanya kemerahan, akan tetapi dia tidak berani melarang adiknya.

"Eh, Kui Eng, engkau seperti anak kecil saja. Bagaimana bisa menjadi jasaku?" tanyanya.

Kui Eng melepaskan rangkulannya. "Tentu saja! Kalau engkau tidak menjadi tok-tong, kalau ayah dan ibu tidak menghendaki engkau dibimbing nenek, belum tentu kita pesiar ke timur."

Thian Ki tertawa. Ayah dan ibu merekapun tertawa. Dan beberapa hari kemudian keluarga inipun meninggalkan dusun Ke-cung, menunggang empat ekor kuda menuju ke timur. Perjalanan pada masa itu amatlah sukar. Tidak mungkin menggunakan kereta yang besar karena harus melalui bukit-bukit, kadang harus menyeberangi sungai. Akan tetapi keluarga itu adalah orang-orang yang sudah terbiasa dengan kehidupan di alam terbuka, pandai pula menunggang kuda dan berkat latihan ilmu silat membuat tubuh mereka kuat dan kebal terhadap serangan angin, hawa dingin atau panas. Juga tidak mudah lelah.

Perjalanan yang sukar itu bahkan membuat mereka bergembira sekali, terutama Kui Eng yang selalu bercanda dan gadis cilik yang lincah ini membuat kakaknya, ayah dan ibunya, selalu merasa gembira. Sebelum berangkat, dengan sungguh-sungguh Cian Bu memesan kepada isteri dan kedua orang anaknya agar tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah keluarga yang pandai ilmu silat.

"Kalau orang-orang tahu bahwa kita adalah keluarga ahli silat, hal itu hanya akan mendatangkan kecurigaan dan perhatian saja, membuat perjalanan kita mengalami banyak gangguan dan menjadi tidak leluasa lagi." demikian dia mengakhiri pesannya.

"Tapi, bagaimana kalau kita diganggu orang, ayah? Apakah kita harus diam saja, membiarkan kita diganggu? Bagaimana kalau ada perampok?" Kui Eng yang selalu membantah kalau dianggapnya pesan siapa saja tidak tepat itu bertanya dan diam-diam Thian Ki menyetujui pertanyaan itu walaupun dia sendiri tidak akan berani menyangkal seperti itu.

Cian Bu tersenyum. Dia mengenal baik watak puterinya itu, watak yang disukainya, cocok dengan dia. Tak pernah menyembunyikan sesuatu yang membuat hati penasaran. "Ha-ha-ha, kalau terjadi seperti yang kau katakan itu, diamlah saja, bersabarlah, dan serahkan saja kepadaku untuk mengatasinya. Mengerti."

"Mengerti, ayah," kata Kui Eng, akan tetapi alisnya berkerut. "Eh, kenapa engkau masih saja cemberut, Kui Eng." tanya ibunya.

"Habis, pesan ayah ini aneh sih! Bagaimana kita harus diam dan bersabar saja kalau ada orang jahat mengganggu. Kenapa sih kita harus berpura-pura tak berdaya, penakut dan lemah."

Cian Bu menjadi bingung untuk menjawab, akan tetapi isterinya yang cerdik segera membantu suaminya. "Kui Eng, ketahuilah bahwa ayah dan ibumu dahulu adalah ahli-ahli silat yang suka bertualang dan karenanya, kami telah merobohkan banyak lawan dan karena itu tentu saja banyak yang merasa dendam dan akan memusuhi kita. Dari pada banyak halangan di perjalanan yang hanya akan menyulitkan dan melelahkan, lebih baik tidak ada yang mengenal kita sehingga kita dapat berpesiar dengan gembira dan dapat cepat tiba di tempa tinggal nenekmu. Nah, mengertikah engkau?"

Kui Eng mengangguk-angguk dan alasan itu lebih dapat diterimanya. Ia hanya tidak suka kalau akan dianggap penakut menghadapi gangguan orang jahat. Akan tetapi kalau hanya untuk menjaga agar perjalanan mereka dapat lancar, maka ia pun dapat menerimanya!

Perjalanan dilakukan dengan gembira, tidak tergesa-gesa, bahkan kalau mereka melewati daerah yang indah, mereka berhenti untuk menikmat keindahan daerah itu. Juga kalau melewati kota yang ramai, mereka berhenti dan bermalam sampai dua tiga malam untuk memberi kesempatan kepada anak-anak mereka, terutama sekali Kui Eng, untuk bersenang senang.

Kui Eng memang belum pernah melihat barang-barang yang dianggapnya amat indah menarik yang terdapat di kota-kota besar. Tidak demikian dengan Thian Ki. Ketika meninggalkan rumah bersama ayah ibunya, dia sudah berusia lima tahun lebih dan dia sudah melalui banyak kota. Juga mengenai alasan yang disembunyikan Cian Bu dari Kui Eng, dia lebih tahu.

Dia sudah tahu bahwa ayah tirinya adalah seorang bekas pangeran yang pernah dicari-cari pasukan pemerintah. Ayahnya yang berilmu tinggi tentu saja tidak takut menghadapi gangguan penjahat, namun khawatir kalau sampai dikenal oleh pasukan pemerintah karena hal itu pasti akan mendatangkan kesukaran bear, bahkan bahaya besar.

Sikap mereka yang bersahaja, sebagai keluarga biasa yang sedang melakukan perjalanan, memang tidak menarik perhatian orang. Pakaian mereka sederhana dan tidak nampak memakai perhiasan mahal, juga tidak membawa banyak barang kecuali buntalan pakaian. Juga Sim Lan Ci biarpun masih cantik, namun ia sudah setengah tua, hampir empatpuluh tahun usianya, sedangkan Kui Eng juga masih terlalu kecil untuk menarik perhatian laki-laki mata keranjang. Semua ini membuat perjalanan mereka menjadi aman, tidak pernah diganggu orang.

Pada suatu sore, mereka memasuki kota Wu-han yang besar, kota terbesar yang pernah mereka lalui. Tempat yang mereka tuju adalah kuil Thian-ho-tang yang terletak di luar dusun Mo-kim-cung, di lereng Coa-san (Bukit Ular). Tempat itu tidak jauh lagi dari Wu-han, hanya perjalanan sehari lagi saja dengan kuda. Mereka memasuki kota Wuhan dan karena kuda mereka sudah lelah, mereka sendiripun perlu beristirahat dan hari sudah menjelang senja, Cian Bu lalu menyewa dua buah kamar untuk mereka. Sebuah kamar untuk dia dan Thian Ki, sebuah kamar lain untuk Kui Eng dan ibunya.

Setelah mendapatkan kamar, mereka mandi dan berganti pakaian bersih. Kemudian Cian Bu mengajak keluarganya makan malam di sebuah rumah makan yang paling besar di kota itu. Rumah makan ini telah ada sejak dia masih menjadi pangeran, hanya sekarang yang mengelola adalan anak dari pemilik dahulu yang sudah meninggal dunia. Ada di antara pelayan tua yang masih diingat oleh Cian, Bu.

Akan tetapi tentu saja mereka itu tidak mengenalnya karena dahulu dia adalah seorang pangeran yang kalau datang berkereta, dengan pakaian mewah, diiringkan pengawal dan sekarang dia hanya seorang laki-laki yang membawa anak isterinya makan di situ. Cian Bu masin ingat masakan apa yang istimewa dari rumah makan ini. Dia memesan masakan-masakan itu dan merekapun makan dengan gembira. Apalagi Kui Eng, anak ini gembira bukan main karena merasakan masakan-masakan yang luar biasa, baru dan lezat baginya.

Sejak tadi, Cian Bu dan isterinya sudah melihat adanya dua orang laki-laki yang duduk di ruangan rumah makan itu, di sudut terpisah dua meja dari tempat duduk mereka. Dua orang laki-laki ini tentu akan luput dari perhatian mereka kalau saja dua orang itu tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan. Sejak tadi dua orang itu memperhatikan mereka, terutama sekali memperhatikan Kui Eng yang makan minum dengan gembira.

Mereka adalah dua orang laki-laki yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan muka meruncing seperti muka kuda, sedangkan orang ke dua bertubuh tinggi besar dengan muka bopeng bekas cacar, mereka memperhatikan Kui Eng lalu berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah Kui Eng yang kebetulan duduknya menghadap mereka.

Sebagai suami isteri yang sudah berpengalaman, sikap kedua orang itu amat mencurigakan. Mereka berdua tahu bahwa di dunia kangouw, di dalam dunia sesat terdapat orang-orang yang keji dan aneh, orang-orang yang mempunyai selera rendah yang amat mesum. Ada penjahat cabul yang suka menculik dan mempermainkan gadis-gadis cilik, adapula bahkan yang suka menculik pemuda-pemuda remaja!

Memang jarang sekali manusia macam ini, akan tetapi kenyataannya memang ada dan suami isteri itu dalam petualangannya dahulu pernah bertemu dengan manusia seperti itu. Maka kini melihat sikap mereka ketika memandang ke arah Kui Eng, cukup membuat mereka waspada.

Setelah selesai makan dan membayar harga makanan dan minuman, Cian Bu mengajak isterinya untuk berpesiar ke sebuah taman rakyat yang berada di pinggir kota. Taman itu cukup indah dan terpelihara baik-baik. Di tengah taman itu terdapat pula sebuah danau kecil yang cukup untuk dipakai berperahu oleh anak-anak yang berkunjung ke tempat itu.

Malam ini suasana di situ cukup ramai karena selain lampu-lampu penerangan berupa lentera beraneka warna yang menerangi tempat itu, terdapat pula bulan yang hampir purnama. Kui Eng berteriak-teriak gembira ketika memasuki taman dan ia mendahului kakak dan orang tuanya, masuk lebih dulu sambil setengah berlari. Ayah dan ibunya hanya tersenyum saja, membiarkan puteri mereka itu bergembira.

Thian Ki mempercepat langkahnya untuk menemani adiknya, akan tetapi dia yang merasa sudah besar malu untuk berlari-lari seperti Kui Eng. Anak perempuan itu berteriak kegirangan menghampiri sebuah kolam ikan di mana terdapat bunga-bunga teratai dan ikan-ikan emas. Ditimpa sinar bulan dan sinar lentera yang dipasang di tepi kolam, memang bunga teratai dan ikan-ikan itu nampak indah sekali.

"Wah, ikan-ikan beraneka warna. Lihat itu, ada yang putih, kuning, merah... indah sekali!"

Kui Eng berteriak-teriak, ia tidak tahu bahwa ada dua orang pria menghampirinya dan seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dengan muka seperti kuda menyentuh lengannya...