Social Items

MENDIANG gurunya yang juga suaminya pernah memesan agar dia berhati-hati dan tidak memandang rendah kepada empat macam orang, yaitu pertama wanita yang tampaknya lemah walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ke dua kaum pendeta yang juga kelihatan lemah lembut, ke tiga pengemis yang nampaknya saja lemah dan sengsara, dan ke empat sastrawan, karena mereka ini kadang-kadang menyembunyikan ilmu yang tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya.

Yang amat mengesankan hatinya bukan ke tampanan pria itu, melainkan tiupan sulingnya. Biarpun kini sudah tidak terdengar lagi suara sulingnya, namun masih terngiang di telinganya suara yang meliuk-liuk merdu dan mengharukan itu. Lamunan Bi Lan dan kantuk Lan Lan dalam pondongannya terganggu ketika mendadak muncul sepuluh orang yang berloncatan dari balik batang pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu. Begitu melihat, Bi Lan mengerti bahwa ia berhadapan denagn gerombolan penjahat!

Sikap mereka saja sudah jelas menunjukkan bahwa mereka bukan orang baik-baik dan termasuk gerombolan yang suka memaksakan kehendak mengandalkan kekerasan. Juga mereka semua itu menyeringai menjemukan dengan sepasang mata yang membayangkan kecabulan. Seorang di antara mereka yang gendut dan segala-galanya bundar, kepalanya, hidungnya, matanya , bentuk mulutnya, perutnya, semua bundar, melangkah maju. Sebatang golok besar tergantung di pinggangnya dan sejenak dia mengamati wajah dan tubuh Bi Lan, kemudian tertawa bergelak dengan girang.

"Ha-ha-ha, inilah orangnya yang pantas menjadi isteriku! Kawan-kawan, bagaimana pendapat kalian? Sudah patutkah perempuan ini kalau duduk bersanding denganku sebagai isteriku?"

Sembilan orang anak buahnya juga tertawa-tawa dan menyengir-nyengir dengan sikap ceriwis sekali. "Sudah cocok sekali, toako! Akan tetapi hati-hati, ia membawa anak dan dipunggungnya ada sepasang pedang!"

"Ha-ha-ha, anak inipun mungil sekali. Kalau anaknya, anak ini menjadi anak isteriku yang manis. Kalau adiknya, kebetulan! Dan tentang sepasang pedangnya, ha-ha-ha, itu hanya untuk menakut-nakuti orang saja. Bukankah begitu, manis?"

Dapat dibayangkan betapa marahnya Bi Lan melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat menghina itu. Kalau saja ia tidak sedang memondong Lan Lan, tentu ia sudah mengamuk dan membunuh semua orang itu. Akan tetapi, ia memondong Lan Lan yang kini sudah terbangun dari kantuknya. Ia harus berhati-hati dan melindungi anak itu. Maka ia menahan sabar, karena kemarahan hanya akan merugikan dirinya, mengurangi kewaspadaannya.

"Kalian adalah sepuluh laki-laki, kenapa begitu rendah menghadang dan mengganggu seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan? Minggirlah, aku tidak ingin mencari keributan." Katanya dengan nada suara yang dibikin setenang mungkin.

"Ha-ha-ha, manis. Siapa yang akan mengganggumu? Aku bahkan meminangmu. Aku ingin melamarmu menjadi isteriku, sayang. Marilah ikut baik-baik denganku dan kita merayakan hari perkawinan kita. Anakmu itu akan menjadi anakku juga," kata si gendut dengan keramahan yang dibuat-buat.

"Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan siapapun. Minggirlah!" kini dalam suara Bi Lan terdengar bentakan.

"Nona manis, aku harus menjadi suamimu. Engkau mau atau tidak, harus menjadi isteriku. Nah, tinggal kau pilih saja. Engkau menurut dengan baik-baik atau ingin dipaksa?" kini si gendut mengancam.

"Sudah kuduga. Kalian tentu segerombolan anjing yang suka mempergunakan kekerasan melakukan kejahatan! Majulah kalau engkau minta mati!" bentak Bi Lan dan ia menggunakan sabuk suteranya untuk menggendong Lan Lan dipunggung setelah melolos sepasang pedangnya dan menggantungnya di pinggang. Anak itu duduk di atas buntalan pakaian dan diikat dengan sabuk sutera yang biasanya menjadi senjata pula bagi Bi Lan.

Kini, kedua tangan wanita itu bebas, walaupun gerakannya tentu saja kurang leluasa dengan adanya Lan Lan di punggungnya. Yang membuatnya kagum, anak itu tidak menangis, tidak kelihatan takut walaupun menghadapi sepuluh orang laki-laki yang kelihatan beringas dan Kejam. Pantas memang Lan Lan menjadi puteri suami isteri pendekar besar.

"Ho-ho-ha-ha-ha! Perempuan ini bernyali juga! Aku makin tergila-gila kepadanya!" kata si gendut. "Aku paling jemu dengan kuda betina yang jinak, aku ingin yang liar seperti ini, ha-ha-ha!"

Dia masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba menyerbu ke depan. Sungguh merupakan serangan yang amat curang, menggunakan kesempatan selagi dia masih tertawa sehingga lawan akan menjadi lengah. Akan tetapi, Bi Lan sama sekali tidak lengah. Tidak percuma menjadi murid dan isteri Si Rajawali Sakti. Dari suaminya itu ia telah mendapatkan ilmu silat yang tangguh dan kokoh kuat.

Begitu si gendut menubruk dengan kedua lengan berkembang, seperti seekor beruang menyerang, tubuh Bi Lan sudah mengelak ke kiri dan kaki kanannya melakukan tendangan ke arah perut gendut itu. Demikian cepat gerakan Bi Lan sehingga tendangan itu tidak mungkin dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si gendut.

"Bukk...! Duuuuuuttt...!" perut itu ternyata kebal, akan tetapi karena tendangannya mengandung sin-kang yang kuat, tidak urung isi perutnya terguncang dan tak tertahankan lagi si gendut kelepasan membuang gas dengan bunyi kentut yang nyaring.

Mendengar suara kentut itu, Lan Lan berseru. "Ihhhh... kentut bau...!" dan dengan lucunya, bukan pura-pura Lan Lan memijat hidungnya dengan tangan kiri.

Mau tidak mau, kawanan perampok itu tertawa geli, dan baru mereka berhenti tertawa ketika pimpinan mereka yang merasa perutnya agak mulas itu membentak mereka.

"Apa tertawa! Hayo tangkap perempuan ini! Awas, jangan lukai, aku tidak ingin pengantinan dengan mempelai yang luka-luka!"

Sembilan orang anak buah itu menerima perintah ini dengan gembira. Siapa yang tidak ingin menangkap wanita cantik itu? Biarpun akhirnya diserahkan kepada pimpinan mereka, setidaknya yang menangkapnya mempunyai kesempatan untuk merangkul, memeluk dan setidaknya mencolek tubuh yang montok itu!

Mereka maju dengan cepat seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang, berlomba untuk dapat menangkap Bi Lan. Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi teriakan-teriakan kesakitan ketika Bi Lan membagi-bagi tamparan dan tendangan dengan cepat sebelum ada tangan yang mampu menyentuhnya.

Para pengeroyok itu berpelantingan terhuyung dan biarpun tidak ada yang roboh dan terluka parah, namun sedikitnya mereka menjadi gentar. Ada yang pipinya bengkak membiru, bibirnya pecah atau perutnya mulas seketika karena usus buntunya tercium ujung sepatu Bi Lan. Ada yang terpincang-pincang karena sambungan lututnya terkena gajulan yang cukup kuat.

Melihat betapa sembilan orang anak buahnya mundur semua, si gendut menjadi marah. Dia lupa bahwa dia sendiri pun tadi terkena tendangan sampai terkentut-kentut walaupun perut gendutnya yang kebal membuat dia tidak jatuh dan memaki-maki anak buahnya.

"Kalian ini gentong-gentong kosong melompong yang tiada gunanya!" Akan tetapi agaknya dia menyadari bahwa wanita itu ternyata bukan makanan empuk, maka dia menambahkan, "Hayo keroyok, robohkan dengan senjata! Aku tidak perduli berpengantinan dengan mempelai luka!"

Para anak buahnya yang juga marah mencabut senjata mereka. Ada yang bersenjata golok, ada yang memegang pedang, tombak dan lain-lain. Dan mereka mengepung Bi Lan.

Bi Lan merasa khawatir. Kalau ia tidak menggendong Lan Lan, tentu pengerokan orang-orang kasar itu tidak membuat ia gentar. Kini ia khawatir akan keselamatan Lan Lan. "Lan Lan, rangkul leher ibu kuat-kuat!" teriaknya sambil mencabut sepasang pedang yang tergantung di pinggang.

Anak itu memang tabah bukan main. Melihat "ibunya" berkelahi, ia tidak takut sama sekali dan mendengar perintah ibunya, iapun cepat merangkulkan kedua lengannya yang kecil ke leher Bi Lan.

Sepuluh orang perampok itu menyerang dan Bi Lan memutar kedua pedangnya. Gerakan pedangnya cepat dan juga mengandung tenaga sin-kang yang membuat setiap senjata lawan yang bertemu pedangnya terpental. Semua perampok terkejut dan mereka mengepung dan mengeroyok dengan hati-hati, maklum bahwa wanita cantik ini benar-benar amat lihai.

Namun, dengan adanya Lan Lan di gendongannya, tentu saja Bi Lan menjadi kurang leluasa dan ia lebih mengutamakan perlindungan terhadap anak itu sehingga daya serangnya berkurang. Si perut gendut melihat hal ini dan diapun berteriak kepada teman-temannya,

"Serang anak di gendongan itu!"

Bi Lan terkejut. Kini para pengeroyok menujukan serangan mereka ke arah punggungnya! Tentu saja ia hanya dapat memutar sepasang pedang untuk membentuk benteng sinar yang menjadi perisai dan melindungi punggungnya dari sambaran senjata para pengeroyok! Karena ia hanya bertahan, tidak berani lengah untuk balas menyerang, ia segera terdesak!

Pada saat itu, terdengar suara halus namun lantang berwibawa, "Nona, lemparkan anak itu kepadaku. Biar aku yang sementara menjaganya untukmu!"

Bi Lan melirik dan melihat bahwa yang berteriak itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian biru bercaping lebar. Pemuda peniup suling tadi! Entah mengapa, ia percaya sepenuhnya kepada pemuda itu, dan memang Lan Lan terancam bahaya, maka iapun memutar pedang kanannya, menggunakan tangan kiri untuk menurunkan Lan Lan dari gendongan.

"Lan Lan, engkau ikut paman itu dulu!" katanya dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, anak itu dilemparkan ke arah pemuda peniup suling. Dan hatinya lega melihat betapa sigapnya pemuda itu menyambut Lan Lan yang mendarat dengan empuk dalam pondongannya.

"Nah, disini lebih enak, kan? Kita nonton pertempuran!" kata pemuda itu sambil menurunkan Lan Lan dan berdiri di situ, menggandeng tangan Lan Lan. Biarpun tadi ia dilempar, Lan Lan tetap tabah dan sama sekali tidak berteriak, apa lagi menangis.

Setelah melihat Lan Lan berada dengan pemuda itu dan ia tidak lagi dibebani tugas melindungi Lan Lan, Bi Lan mengamuk. Pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan dalam beberapa gebrakan saja, robohlah dua orang pengeroyok dengan pundak dan paha terluka parah.

"Aih, jangan bunuh mereka, nona...!" Pemuda itu berkata dan tiba-tiba dia memondong tubuh Lan Lan. Dia sendiri, dengan Lan Lan dipondongan, bergerak ke depan, kedua kakinya menyambar-nyambar dan setiap kali kakinya menyambar, seorang pengeroyok roboh!

Bi Lan merobohkan dua orang lagi, dan selebihnya, yang enam orang, roboh oleh tendangan kaki pemuda itu! Bi Lan yang marah sekali, menggerakkan sepasang pedangnya hendak mengirim serangan maut membunuh sepuluh orang itu, akan tetapi pemuda itu sekali berkelebat sudah berdiri di depannya.

"Nona, jangan membunuh mereka!"

Bi Lan memandang tajam penuh selidik. "Hem, kenapa? Bukankah mereka itu orang-orang jahat yang hanya membahayakan kehidupan orang-orang lain? Kalau tidak dibunuh, mereka tentu aka mencelakai orang lain."

Pemuda itu menarik napas panjang lalu menurunkan Lan Lan. Anak itupun menghampiri Bi Lan dan memegang tangan Bi Lan yang masih memegang pedang. "Nona, kalau setiap orang yang melakukan kejahatan di dunia ini kau bunuh, kiraku tidak akan ada yang tinggal hidup. Adakah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya? Adakah manusia yang tidak berdosa?"

Bi Lan mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, tidak semua orang menjadi perampok, pengganggu wanita dan pembunuh!"

"Nona, manusia itu lemah lahir batin. Bukan hanya lahirnya saja, tubuhnya saja yang lemah dan suka diserang penyakit. Juga batinnya lemah dan suka sakit. Semua orang mengalami penyakit batin ini, hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang ringan dan ada yang berat. Orang yang menyeleweng dari kebenaran, yang menjadi penjahat, sebenarnya hanyalah orang yang sedang sakit batinnya. Orang yang sakit harus kita tolong, kita obati, yaitu kalau yang sakit badannya. Kalau yang sakit batinnya, kitapun harus menolong dengan obat berupa nasihat, atau kalau perlu ancaman. Akan tetapi, bukan lalu membunuhnya. Ingat, nona, orang sakit dapat sembuh, dan yang sehat dapat jatuh sakit. Orang yang berbuat jahat dapat sembuh, dan yang sekarang kelihatan baik-baik saja, sekali waktu dapat jatuh dan berbuat jahat. Semua orang pernah sakit, nona. Termasuk aku sendiri. Sakitku amat berat, dan mudah-mudahan sekarang telah sembuh."

Ucapan itu berkesan di hati Bi Lan. Bahkan gurunya yang juga suaminya pernah mengakui bahwa gurunya itu dahulu juga pernah "sakit" parah, yaitu menderita sakit batin karena dendam! Ucapan pemuda berpakaian biru itu sungguh berkesan di hati dan tanpa cakap lagi ia lalu menyimpan kembali sepasang pedangnya, memondong Lan Lan dan membungkuk kepada pemuda itu.

"Mengingat bahwa engkau telah membantuku, biarlah aku menuruti nasihatmu dan tidak membasmi mereka. Terima kasih atas bantuanmu dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian, Bi Lan pergi meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu masih berdiri seperti patung, tersenyum-senyum seorang diri, dan dia seperti tidak melihat atau tidak perduli ketika sepuluh orang perampok itu tertatih-tatih meninggalkan tempat itu dengan hati gentar. Sampai lama pemuda itu berdiri, bahkan lalu menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung dan kadang menengok ke arah perginya Bi Lan.

Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai karena dia bukan lain adalah Hong San! Putera mendiang Cui-beng Sai kong datuk besar dunia hitam itu, seperti kita ketahui, tadinya membantu pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong. Akan tetapi karena semua gerakan bekas pangeran itu gagal, Cian Bu Ong membubarkan para pembantunya dan Can Hong San juga pergi meninggalkan bekas pangeran itu, merantau seorang diri membawa bekal banyak emas yang diterimanya sebagai hadiah dari Pangeran Cian Bu Ong.

Berbulan lamanya Can Hong San berdiam di puncak bukit merenungi keadaan hidupnya. Segala usaha yang dilakukannya gagal belaka! Hanya kepahitan dan kekalahan yang dideritanya. Mulailah dia melihat bahwa jalan yang ditempuhnya selama ini tidak menguntungkan, menuruti nafsu-nafsunya, hanya menyeretnya ke lembah kegagalan belaka. Timbul niatnya untuk mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan jalan sesat dan memilih jalan kebenaran. Mungkin sebagai seorang pendekar, dia akan dapat memanfaatkan kepandaiannya dan mendapatkan nama besar yang harum!

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan tanpa menilai, akan tampaklah dengan jelas bagaimana lihai, licin dan liciknya hati akal pikiran bekerja, hati akal pikiran yang sudah diperalat oleh nafsu-nafsu daya rendah. Bagaimanapun pikiran berkiprah, selalu tujuannya untuk mencari kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Keputusan apapun yang diambil oleh pikiran, selalu pasti mempunyai pamrih, yaitu demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Can Hong San sejak muda hidup bergelimang dosa, mengambil jalan sesat dan menjadi seorang yang terbiasa melakukan segala macam bentuk kejahatan. Semua ini hasil dari ulah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang sudah dicengkeram oleh nafsu daya rendah yang selalu mengejar kesenangan sehingga dalam pengejaran itu, Hong San tidak memperdulikan lagi caranya. Cara apapun akan ditempuhnya demi tercapainya kesenangan yang dikejarnya. Itulah pekerjaan nafsu daya rendah!

Kemudian, pikiran melihat betapa semua perbuatan jahatnya tidak menguntungkan, bahkan merugikan! Maka, pikiran yang sudah bergelimang nafsu lalu mencari jalan lain. Untuk menghindarkan akibat yang tidak menguntungkan, untuk dapat mencapai kesenangan melalui jalan dan cara lain, kini pikiran Hong San membujuknya untuk mengambil jalan yang berlawanan menjadi seorang pendekar! Menjadi orang yang melakukan kebaikan, menentang kejahatan, yang tentu saja dengan pamrih agar mencapai kesenangan dan keuntungan!

Jelaslah bahwa kebaikan yang disengaja, diatur dan direncanakan, bukanlah kebaikan lagi namanya. Itu hanya hasil dari pikiran bergelimang nafsu. Yang dinamakan perbuatan baik hanya dijadikan cara untuk mendapatkan kesenangan belaka. Kebaikan yang direncanakan pikiran adalah kebaikan palsu, pura-pura. Kalau ada orang yang "ingin menjadi orang baik", pada hakekatnya dia hanya ingin mendapatkan balas jasa atas kebaikannya itu.

Kebaikan atau kebajikan adalah suatu sifat dari perbuatan yang tidak 1agi terdorong nafsu daya rendah. Perbuatan yang tidak didorong oleh pemikiran yang matang, melainkan perbuatan yang spontan, seketika karena terdorong kekuasaan yang murni dan suci, karena terdorong oleh kasih sayang! Kasih sayang bekerja selama pikiran sebagai si aku tidak muncul merajalela.

Kasih sayang berubah menjadi nafsu menyenangkan diri sendiri begitu si AKU masuk dan campur tangan. Aku ingin senang, aku ingin untung, aku tidak mau susah, aku tidak mau rugi, aku ingin... aku ingin... aku ingin... demikianlah sifat nafsu dari daya-daya rendah yang mencengkeram dan mempengaruhi hati akal pikiran.

Oleh karena itu, keinginan hati akal pikiran untuk mengubah diri menjadi "orang baik" hanya tipuan belaka, bukan menjadi "orang baik" melainkan menjadi "orang senang melalui perbuatan baik" yang pada hakekatnya hanya membuat kita menjadi munafik! Hati akal pikiran yang bergelimang nafsu tidak mungkin membersihkan diri sendiri!

Satu-satunya harapan hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih! Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengubah seseorang, membersihkan batin seseorang, mengembalikannya ke jalan benar. Kita hanya dapat mohon ampun... mohon bimbingan, dan menyerah dengan sabar, ikhlas, dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Can Hong San tersenyum gembira. Wajahnya cerah karena dia merasa memperoleh jalan yang baik. Setelah mengambil keputusan untuk mengubah cara hidupnya, dia turun gunung dan kebetulan bertemu dengan Kwa Bi Lan yang menggendong seorang anak perempuan yang mungil. Begitu bertemu, hati Hong San berdebar dan tertarik sekali. Bukan tertarik yang menimbulkan nafsu berahi seperti yang sudah-sudah. Wanita yang dijumpainya ini lain!

Memang cantik jelita dan menggairahkan, akan tetapi dia tertarik bukan hanya karena itu. Bukan gejolak berahi yang timbul di hatinya, melainkan kekaguman yang penuh pesona. Menurut pandangannya, belum pernah selama hidupnya dia berjumpa dengan wanita yang dapat menarik dan mengguncang perasaan hatinya seperti wanita yang mukanya bulat, berkulit putih mulus, berhidung mancung dan bermata tajam itu.

Diam-diam Hong San mengikuti, bahkan lalu mendahuluinya dan sengaja meniup suling untuk menarik perhatian gadis itu. Juga untuk menguji bagaimana sikap gadis itu. Akan tetapi, gadis itu hanya melihat sebentar lalu melanjutkan perjalanan, acuh saja. Hal ini membuat dia semakin kagum. Gadis yang alim, pikirnya, bertata susila dan menjaga martabat dan kehormatan. Dia membayangi lagi dari jauh.

Ketika dia melihat gadis yang menimbulkan rasa kagum luar biasa di hatinya itu dikeroyok sepuluh orang perampok, dia menjadi semakin kagum. Kiranya gadis itu bukan saja cantik jelita dan memiliki harga diri yang tinggi, akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang cukup hebat! Dia segera turun tangan membantu ketika melihat anak dalam gendongan itu terancam bahaya, dan ketika dia melihat gadis itu hendak membunuh semua perampok, ia pun cepat turun tangan mencegahnya dengan merobohkan para perampok dan membujuk gadis itu agar tidak membunuh mereka.

Semua ini dia lakukan dengan perhitungan, bukan karena dia merasa kasihan kepada sepuluh orang perampok rendah itu, melainkan karena dia ingin menjadi seorang "pendekar" dan ingin kelihatan baik budi di mata gadis yang dikaguminya itu. Mulailah hati akal pikiran dengan cerdik dan liciknya membujuk Hong San menjadi seorang munafik!

Setelah Bi Lan pergi bersama Lan Lan, Hong San termenung. Gadis hebat! Dia betul-betul baru sekali ini merasa jatuh cinta, bukan jatuh berahi, melainkan jatuh cinta sungguh-sungguh. Kalau saja dia dapat berdampingan selamanya dengan gadis itu, dapat menjadi suami isteri, membentuk rumah tangga berkeluarga! Alangkah akan bahagianya!

"Ihh, khayal!" Hong San mencela diri sendiri dan dia teringat bahwa sudah terlalu lama dia membiarkan gadis pujaan hatinya itu pergi. Dia harus cepat mengejar kalau tidak mau kehilangan. Sambil berlari Hong San merasa heran sendiri terhadap perasaan hatinya.

Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis itu, atau setidaknya pernah melihatnya! Akan tetapi dia lupa lagi entah dimana. Sudah terlalu banyak dia bertemu gadis atau wanita muda yang cantik, maka dia tidak ingat lagi di mana dia bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, yang membuat dia merasa pernah bertemu terutama sekali adanya permainan sepasang pedang itu!

Bi Lan melanjutkan perjalanan dengan cepat sambil menggendong Lan Lan yang tertidur. Hari telah menjelang senja dan ia harus mendapatkan sebuah rumah penginapan, di kota, atau mondok di rumah penduduk dusun. Juga keributan tadi membuat ia tidak dapat memberi makan kepada Lan Lan, maka sore hari ini mereka harus mencari makanan.

Ia merasa jengkel terhadap diri sendiri mengapa belum juga bayangan pemuda itu lenyap dari depan matanya. Masih terus terbayang wajahnya, terngiang suaranya. Heran, ia merasa pernah melihat pemuda itu, entah di mana dan kapan. Bi Lan dan juga Hong San lupa bahwa mereka bukan saja pernah saling berjumpa bahkan pernah saling serang!

Ketika Hong San berkelahi menghadapi pengeroyokan Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa, muncul Bi Lan yang membantu Lie Koan Tek, pamannya itu. Memang hanya merupakan perkelahian singkat, karena Hong San tidak mau melayani pengeroyokan mereka bertiga dan segera melarikan diri begitu Bi Lan muncul dan membantu dua orang yang mengeroyoknya.

Matahari telah condong ke barat ketika Bi Lan memasuki kota Peng-lu di pantai selatan Huang-ho. Kota di pantai Sungai Kuning ini cukup besar dan ramai, dan dengan mudah Bi Lan mendapatkan sebuah kamar di hotel yang cukup bersih. Ia sudah membelikan pakaian untuk Lan Lan di kota yang dilewatinya beberapa hari yang lalu. Setelah memandikan Lan Lan dan mengganti pakaian anak itu, dan ia sendiripun sudah mandi dan bertukar pakaian bersih, ia mengajak Lan Lan keluar dari rumah penginapan dan mencari rumah makan.

Kebetulan sekali tak jauh dari rumah penginapan itu terdapat sebuah rumah makan yang tidak begitu penuh tamu. Bi Lan memondong Lan Lan memasuki rumah makan itu disambut oleh seorang pelayan tua dengan ramah. Bi Lan memilih di sudut yang kosong dan memesan makanan, nasi sayur dan minuman teh. Tak lama kemudian, ia sudah menyuapi Lan Lan yang makan dengan lahapnya karena anak ini memang lapar, sejak pagi tadi belum makan.

Sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan juga makan. Karena asyik makan sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Tiga pasang mata mengamatinya secara langsung dari sebuah meja terbesar di rumah makan itu, mata dari tiga orang yang berpakaian seperti perwira yang gagah dan gemerlapan. Ada pula sepasang mata mengamatinya dari tempat gelap di luar rumah makan, yaitu mata dari Can Hong San.

Pemuda ini tidak mau memasuki rumah makan karena dia tidak ingin dianggap membayangi gadis itu. Baginya asal dapat melihat dan tahu dimana gadis itu berada sudah cukup. Akan tetapi, Hong San juga tahu bahwa tiga orang berpakaian perwira tinggi itu mengamati si gadis dengan sinar mata seperti singa kelaparan. Diapun memperhatikan mereka.

Seorang di antara mereka berusia kurang lebih lima puluh tahun, pakaian perwiranya dihias benang emas gemerlapan dan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya amat indah, seperti emas pula dan terukir, dengan gagang yang diukir kepala burung dan ada ronce-ronce benang sutera merah. Dua orang lainnya berusia kurang lebih empatpuluh tahun, dan agaknya merupakan perwira-perwira yang pangkatnya lebih rendah. Sikap merekapun merendah terhadap perwira tinggi yang lebih tua.

Hong San memperhatikan perwira tinggi yang berusia lima puluh tahun itu. Dari sikap dan pandang matanya saja diapun dapat menduga bahwa perwira itu seorang yang cerdik dan agaknya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedangkan dua orang pembantunya juga orang-orang yang berpakaian rapi dan bersikap gagah. Perwira tinggi itu bertubuh tinggi, agak kurus dengan tulang pipi menonjol di bawah kanan kiri mata, hidungnya tinggi dan mulutnya yang lebar dengan bibir tebal membayangkan gairah yang besar. Mulut itu sebagian tertutup kumis tebal yang berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya. Jenggotnya terpelihara rapi, digunting pendek. Kepalanya memakai topi perwira yang dihias sulaman benang emas pula.

Tiga orang perwira itu sudah berada di dalam rumah makan ketika Bi Lan dan Lan Lan masuk ke situ, dan begitu wanita muda itu masuk, mereka sudah memandang dengan penuh perhatian. Karena pimpinan mereka nampak tertarik sekali, maka dua orang perwira pembantu itupun tertarik dan mereka membicarakan Bi Lan sambil berbisik-bisik.

Mereka adalah tiga orang perwira yang datang dari Lok-yang Mereka merupakan perwira-perwira tinggi yang bertugas melakukan inspeksi ke daerah-daerah, dan ketika tiba di kota Peng-lu, mereka kemalaman, bermalam di rumah kepala daerah dan malamnya mereka keluar untuk jalan jalan dan membeli makanan. Andaikata mereka memasuki rumah makan itu bersama kepala daerah, tentu para karyawan rumah makan itu akan menyambut mereka dengan cara lain.

Akan tetapi, biarpun pangkat mereka lebih tinggi dari pada kepala daerah Peng-lu, akan tetapi tidak ada yang mengenal mereka, maka mereka dianggap seperti tamu saja dan hanya diberi meja besar di rumah makan itu karena penampilan mereka yang mewah dan berwibawa. Perwira tinggi itu adalah seorang panglima bernama Su Ki Seng, terkenal dengan sebutan Su-ciangkun (perwira Su) dan dia memang terkenal sebagai seorang panglima yang pandai dan juga lihai.

Seluruh kepala daerah di wilayah Propinsi He-nan takut belaka kepadanya. Panglima ini pandai menemukan kesalahan-kesalahan para kepala daerah dan karena dia berkuasa dan berpengaruh di kota raja, maka para kepala daerah tunduk kepadanya. Mereka selalu menyambut kunjungannya dengan berbagai hadiah untuk menyenangkan hati panglima itu sehingga dia tidak akan mengganggu mereka dan menutup mata saja kalau terdapat kejanggalan atau kesalahan. Keadaan seperti itu membuat Su-ciangkun menjadi kaya raya dan dia hidup sebagai bangsawan yang kaya raya di Lok-yang, dengan rumah gedung besar dan indah megah seperti istana, mempunyai seorang isteri dan belasan orang selir dan dayang.

Namun, seperti kebiasaan para pejabat yang suka melakukan tugas keliling ke luar kota dan luar daerah pada masa itu, Su-ciangkun yang biasanya hanya dikawal beberapa orang pembantunya dan tidak membawa keluarganya, dia selalu seperti seekor kucing kelaparan. Harta benda dia sudah punya lebih dari cukup, dan semua hadiah dan sumbangan yang diterimanya dari para pejabat daerah, akan diurus oleh para pembantunya. Akan tetapi yang membuat dia kehausan adalah wanita!

Su-ciangkun seorang pria yang mata keranjang dan tidak pernah puas dengan isteri dan belasan orang selirnya. Kalau dia sedang melakukan perjalanan ke luar kota Lok-yang, dia selalu mencari sasaran dan korban untuk memuaskan hasrat dan gairahnya. Wataknya inipun diketahui oleh para kepala daerah dan setiap kali dia datang, tentu para kepala daerah yang ingin menyenangkan hatinya, menyediakan wanita hiburan untuknya!

Akan tetapi, sekali ini Su-ciangkun merasa bosan dengan wanita hiburan. Dia mengajak dua orang pembantunya yang juga merupakan pengawal dan pesuruhnya, untuk keluar dari rumah kepala daerah, makan di restoran dan tentu saja mencari kesempatan kalau kalau dapat bertemu dengan wanita yang menarik hatinya.

Dan kebetulan sekali, ketika mereka makan di rumah makan, Bi Lan masuk dan segera perwira ynng mata keranjang itu terbetot semangatnya! Matanya yang berminyak tak pernah melepaskan Bi Lan, diamatinya wanita itu, wajahnya dan seluruh tubuhnya. Makin diamati, makin tergila-gila. Bahkan ketika Bi Lan makanpun, nampak begitu menggairahkan bagi Su-ciangkun.

"Apakah tai-ciangkun suka padanya?" bisik seorang pembantunya yang bermuka hitam dan dikenal dengan sebutan Lu-ciangkun.

"Agaknya dia wanita baik-baik, harus dilakukan pendekatan dengan halus," kata pula Ji-ciangkun, pembantu lain yang matanya sipit.

Su-ciangkun mengangguk-angguk dan meraba jenggotnya. "Hebat, ia sungguh menarik. Aku akan berbahagia sekali kalau malam ini dapat membawanya ke kamarku."

"Apa sukarnya?" kata pembantu yang mukanya hitam. "Beritahu saja kepala daerah, tentu dia akan dapat memaksa wanita ini menemani tai-ciangkun."

"Hussh, aku tidak mau ramai-ramai," cela Su-ciangkun. "Memalukan kalau sampai terdengar umum kita membuat keributan di sini."

"Memang sebaiknya kita membuat pendekatan. Kita undang ia ke sini atau kita yang mendatangi mejanya untuk belajar kenal. Kalau kita sudah mengetahui keadaannya, baru dilakukan penjajagan apakah kiranya ia dapat dibawa dengan cara halus tanpa paksaan," kata Ji-clangkun si mata sipit.

Su-ciangkun mengangguk setuju dengan cara itu. "Sebaiknya engkau yang pergi mendekatinya dan bicara dengannya secara halus," kata Su-ciangkun kepada pembantunya yang bermata sipit itu.

Pembantunya ini memang pandai bicara, tidak main kasar seperti rekannya yang bermuka hitam. Ji-ciangkun mengangguk, lalu bangkit dan menghampiri meja Bi Lan yang kebetulan sudah selesai makan. Melihat ada orang menghampirinya, Bi Lan mengangkat muka memandang dan alisnya berkerut ketika melibat bahwa yang menghampirinya adalah seorang yang berpakaian perwira. Akan tetapi, perwira yang bermata sipit itu bersikap hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada dan berkata dengan sikap yang sopan.

"Maafkan saya kalau mengganggu, nona. Bolehkah saya bicara sebentar?"

Bi Lan adalah seorang gadis kangouw yang tidak pemalu seperti gadis pingitan. Ia sudah berpengalaman dan tabah, maka biarpun ada laki-laki yang tidak dikenalnya mendekat dan mengajak bicara, ia sama sekali tidak merasa sungkan atau kehilangan akal. Ia mengangguk. "Silakan, apa yang akan dibicarakan?" tanyanya.

Ji-ciangkun merasa mendapat hati. Ia pun melihat sepasang pedang yang berada di atas meja, dan dia menduga bahwa dia berhadapan dengan wanita kangouw. Hal ini akan lebih memudahkan, jauh lebih mudah daripada kalau berhadapan dengan wanita yang pemalu. Maka, dia lalu duduk di depan Bi Lan, terhalang meja.

"Perkenalkan, nona. Nama saya Ji Kun. Saya pembantu dari panglima yang duduk di sana itu. Beliau adalah Su-tai-ciangkun yang berkedudukan tinggi di kota raja, kaya raya dan bangsawan besar. Yang bermuka hitam itu adalah rekan saya, Lu-ciangkun. Kami bertiga bertugas ke luar kota raja dan sekarang menjadi tamu-tamu kehormatan dari kepala daerah di Peng-lu ini."

Kerut di antara kedua alis Bi Lan semakin dalam. Biarpun suaranya halus, namun mengandung teguran. "Ji-ciangkun, apa artinya semua ini? Mengapa ciang-kun menceritakan semua itu kepadaku? Semua itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan aku. Katakan, apa maksud ciangkun menghampiriku dan bicara denganku? Apa yang perlu dibicarakan?"

Sikap tegas ini, walaupun dikeluarkan dengan suara lembut, membuat Ji-ciangkun agak gugup juga. Tadinya dia mengira bahwa wanita yang dihadapinya akan bersikap dua macam, pertama, menerimanya dengan malu-malu kucing dan kedua dengan keras menolak. Akan tetapi wanita ini demikian tenang dan tegas, sama sekali tidak merasa rendah diri walaupun berhadapan dengan seorang perwira tinggi!

"Maaf, nona. Bolehkah kami mengetahui nama nona yang terhormat?"

Pertanyaan itu tidak pada tempatnya. Seorang laki-laki asing menanyakan nama gadis yang baru dijumpainya dan yang tidak dikenalnya. Akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan kata-kata yang sopan, dan karena Bi Lan tidak begitu terikat oleh sopan santun palsu, maka hal ini tidak menyinggung hatinya dan dengan tenang iapun memperkenalkan diri, apalagi mengingat bahwa orang itu telah memperkenalkan diri, bahkan juga nama dua orang temannya.

"Namaku Kwa Bi Lan. Kenapa ciangkun ingin tahu namaku?"

Ji-ciangkun tersenyum lebar. "Nona Kwa, bukankah sudah jamak kalau orang-orang yang saling berkenalan saling bertanya nama? Terus terang saja, nona, aku diutus oleh atasanku, yaitu Su ciangkun yang duduk di sana itu bahwa beliau amat kagum kepadamu. Beliau ingin sekali berkenalan dan kalau nona tidak berkeberatan, nona dipersilakan datang dan duduk semeja dengan beliau, atau beliau yang akan datang ke sini..."

Bi Lan sudah merasa betapa dadanya mekar dan panas. Dengan cara yang sopan bagaimanapun juga, jelas bahwa undangan itu bermaksud mesum. Mukanya mulai merah dan alisnya berkerut. Melihat gelagat ini, Ji-ciangkun yang cukup berpengalaman segera melanjutkan kata-katanya.

"Harap nona jangan salah mengerti. Atasan kami itu, Su-ciangkun, selain menjadi panglima tinggi yang berkedudukan tinggi dan berkuasa besar, juga merupakan seorang jagoan istana, seorang ahli silat yang suka sekali berkenalan dengan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Maka, melihat nona tadi masuk sambil membawa siang-kiam (sepasang pedang), beliau sudah tertarik sekali dan ingin berbincang-bincang dengan nona mengenai dunia kangouw dan ilmu silat, terutama ilmu pedang karena beliau juga ahli silat pedang."

Memang cerdik sekali Ji-ciangkun itu. Dengan ucapan seperti itu, tentu saja tidak ada alasan berniat kurang ajar, melainkan seorang ahli silat yang tertarik kepadanya karena ia membawa pedang, bukan laki-laki kurang ajar tertarik kepada kecantikan wanita dan berniat mesum!

"Ah, begitukah? Su-ciangkun terlalu merendahkan diri. Aku hanya orang yang pernah belajar sedikit ilmu pedang, tidak ada apa-apa yang patut dibicarakan."

"Tapi, Kwa-lihiap (pendekar wanita Kwa). Kuharap li-hiap tidak menolak undangan Su-tai-ciangkun, karena menolak berarti memandang rendah kepada beliau. Kalau lihiap merasa sungkan, biarlah kami yang datang ke meja li-hiap. Bersediakah lihiap menerima kunjungan Su-tai-ciangkun ke sini?"

Bi Lan tersudut dan tidak mampu menolak lagi. Pula, timbul keinginan hatinya untuk mengetahui, apa yang akan dikatakan seorang panglima besar kepadanya! Ia mengangguk dan berkata lirih, "Silakan!" Dan iapun duduk memangku Lan Lan yang bermain-main dengan sepasang sumpit bersih.

Ji-ciangkun menghampiri atasannya dengan wajah berseri, lalu berbisik lirih. "Kwa-lihiap sudah setuju untuk menerima paduka di mejanya. Silakan, tai ciangkun!"

Su-ciangkun girang bukan main. Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap bibir, kumis dan jenggot agar nampak bersih, lalu menggosok-gosok kedua tangan. Dari ucapan pembantunya tadi saja dia tahu bahwa gadis yang amat menarik hatinya itu adalah seorang wanita kangouw, maka disebut lihiap oleh Ji-ciangkun.! Dia bangkit dan menghampiri meja Bi Lan di sudut, diikuti oleh kedua orang pembantunya.

Su-ciangkun yang sudah berpengalaman itu mengangkat kedua tangan di dada sebagai penghormatan. "Kwa-lihiap maafkan kalau kami mengganggu."

"Su-ciangkun, silakan duduk dan jangan menyebut lihiap kepadaku karena aku belum tepat untuk disebut pendekar."

"Aih, lihiap merendahkan diri. Dari gerak-gerik lihiap saja aku sudah dapat menduga bahwa lihiap tentu lihai sekali memainkan siang-kiam ini." Dia duduk dan menunjuk ke arah sepasang pedang di atas meja.

"Siang-kiam ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau di tengah perjalanan aku bertemu dengan srigala atau harimau yang ganas, ciangkun."

"Kalau boleh aku mengetahui, lihiap dari perguruan manakah? Dan siapakah gurumu?" Su-ciangkun pura-pura bicara tentang ilmu silat, padahal di dalam hatinya dia tentu saja memandang rendah kepandaian seorang muda seperti Bi Lan yang usianya baru duapuluh tahun lebih itu, dan dia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi kecantikan dan kemontokan tubuh wanita itu tanpa mendatangkan kesan kurang ajar.

Sebetulnya, Bi Lan tidak suka bicara tentang dirinya, dan dia tidak suka pula berbincang-bincang dengan perwira yang tidak dikenalnya ini. Akan tetapi karena tiga orang itu bersikap sopan, apalagi mereka bicara sebagai orang-orang dari dunia persilatan, ia merasa tidak enak juga kalau tidak menanggapi. Terlebih lagi, ia tidak suka menyebut nama mendiang gurunya yang juga suaminya, maka dengan sederhana dan sambil lalu iapun menjawab,

"Aku pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari seorang murid Siauw lim-pai..."

"Ah, kiranya seorang murid Siauw-lim pai yang gagah!" Su-ciangkun berseru, pura-pura kaget dan diapun bangkit berdiri, "Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Kwa-lihiap.!"

Bi Lan juga bergegas membalas penghormatan itu. "Su-ciangkun terlalu memuji. Aku hanya murid tingkat rendahan saja, mana bisa disamakan dengan ahli-ahli silat yang lihai dari Siauw-lim pai?"

"Harap Kwa-lihiap tidak terlalu merendah, dan tidak pula terlalu pelit untuk memberi petunjuk tentang ilmu pedang kepadaku. Kupersilakan lihiap untuk singgah di tempat kediaman kami dan memberi petunjuk ilmu pedang, dan untuk itu sebelumnya aku menghaturkan banyak terima kasih."

Bi Lan terkejut. Orang ini terlalu jauh melangkah, pikirnya. "Tapi aku... aku dan... anakku ini ingin beristirahat, besok pagi akan melanjutkan perjalanan..."

"Kami jemput dan antar dengan kereta, lihiap. Jangan khawatir, karena beliau ini tamu kehormatan dari kepala daerah," kata Ji-ciangkun membujuk.

"Kwa-lihiap tentu tidak akan tega menolak ajakan Su-tai-ciangkun, mengingat bahwa kita sama-sama dari dunia persilatan yang selalu menghargai orang lain yang ingin menguji ilmu silat." Lu-ciangkun ikut pula membujuk.

Bi Lan menjadi serba salah. Melihat keraguan wanita itu, Su-ciangkun lalu membujuk lagi, "Nona... eh, nyonya tidak perlu ragu-ragu. Kami mengundang lihiap dengan hormat, pula, lihiap berkunjung ke tempat kami bersama puteri lihiap yang mungil ini. Bagi kita orang-orang kangouw, hal ini sudah wajar, bukan?"

Ji-ciangkun sudah berlari keluar mempersiapkan kereta dan akhirnya Bi Lan tidak dapat menolak lagi. Bagaimanapun juga, perwira itu mengundang dengan sikap hormat, dan iapun tidak takut. Mereka ini bukan perampok, bukan penjahat, melainkan orang-orang berpangkat, orang-orang bangsawan yang terhormat. Tidak mungkin mereka akan melakukan hal-hal yang tidak patut.

"Baiklah, akan tetapi sebentar saja, hanya untuk menguji ilmu pedang sebentar, karena aku harus segera kenbali ke kamar hotel untuk menidurkan anakku," katanya dan iapun memondong Lan Lan, membawa pedang dan mengikuti Su-ciangkun dan dua orang pembantunya keluar dari rumah makan, naik ke kereta yang sudah disiapkan di depan, lalu pergi ke rumah kepala daerah.

Makin lega rasa hati Bi Lan ketika melihat betapa di rumah kepala daerah kota Peng-lu, Su-ciangkun dan dua orang pembantunya benar-benar disambut dengan segala kehormatan. Dan sebagai tamu agung, agaknya Su-ciangkun tidak begitu mengindahkan kepala daerah yang menyambutnya dengan tubuh membungkuk-bungkuk! Bahkan Su-ciangkun menyatakan bahwa dia tidak ingin diganggu karena dia hendak menjamu tamunya, yaitu Kwa lihiap!

Langsung saja Su-ciangkun bersama dua orang pembantunya memasuki bangunan sebelah kanan yang memang dikosongkan dan disediakan untuk tamu-tamu agung itu. Ketika Su-ciangkun memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan, Bi Lan mengerutkan alisnya dan menolak halus. "Ciangkun sendiri melihat bahwa aku dan anakku baru saja makan di rumah makan itu, bagaimana mungkin kami dapat menerima hidangan makanan lagi?"

"Bukan hidangan makanan berat, lihiap, hanya makanan ringan dan terutama sekali anggur yang sedap dan lezat. Kepala daerah kota ini menyimpan anggur yang sudah tua dan enak sekali," kata Su-ciangkun dan Bi Lan tidak membantah lagi. Ia tidak begitu suka minum arak, akan tetapi kalau anggur itu tidak terlalu keras, boleh juga ia minum beberapa cawan.

Ji-ciangkun dan Lu ciangkun menyuruh pelayan menyingkirkan meja kursi di ruangan belakang yang luas itu, karena tempat itu akan dijadikan tempat mengadu ilmu pedang. Ketika anggur dikeluarkan, benar saja anggur itu manis dan tidak terlalu keras, namun halus dan tidak mencekik leher. Bi Lan membatasi diri, hanya minum dua cawan.

"Sudah cukup, ciangkun. Sebaiknya mari kita cepat menguji ilmu pedang karena sungguh aku tidak dapat berlama-lama di sini. Anakku sudah kelihatan mengantuk." Bi Lan memandang Lan Lan yang ia dudukkan di bangku panjang. Anak itu bermain-main dengan sebuah boneka puteri yang dipakai sebagai hiasan di ruangan itu.

Su-ciangkun tertawa. "Ha-ha, lihiap tergesa-gesa saja. Dan sungguh mati, lihiap, tadinya kami tidak mengira sama sekali bahwa anak yang manis ini adalah puteri lihiap. Agaknya... maaf lihiap belum cocok untuk menjadi seorang ibu. Sekali lagi maaf..."

Ucapan itu agak melanggar susila, akan tetapi karena berkali-kali perwira itu minta maaf, maka Bi Lan tersenyum. "Tidak apa, ciangkun. Mari kita mulai. Lan Lan, kau duduk dulu di sini, ya? Ibu ingin latihan sebentar."

Lan Lan yang sudah mengantuk itu mengangkat muka memandang ibunya, lalu bertanya, "Ibu akan berlatih pedang?" Lan Lan sudah biasa melihat orang bersilat, dan ia paling senang kalau ayah atau ibunya berlatih silat pedang.

"Ha-ha-ha, ibunya pendekar wanita, anaknya yang masih sekecil ini sudah mengerti ilmu pedang. Tentu kepandaian lihiap hebat sekali!" Su-ciangkun memuji, walaupun dalam hatinya tetap memandang rendah. Semua ini dia lakukan hanya untuk beramah-tamah dan basa-basi saja, karena pada dasarnya, yang dia inginkan adalah tidur dengan wanita muda itu!

Bi Lan yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu, sudah meloncat ke tengah ruangan yang telah dibersihkan itu, menjura ke arah tuan rumah dan berkata, "Marilah, ciangkun, kita berlatih sebentar seperti yang ciangkun kehendaki agar aku tidak kemalaman membawa anakku ke rumah penginapan."

"Mengapa lihiap tergesa-gesa? Bermalam di sinipun ada tempatnya, bahkan lebih bersih dan nyaman dibandingkan rumah penginapan. Akan tetapi baiklah, aku ingin sekali mendapat petunjuk ilmu pedang darimu." Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuh, Su-ciangkun telah meloncat dan berada di depan wanita itu. Gerakannya cukup lincah, tanda bahwa dia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup baik.

Tanpa basa-basi lagi, Bi Lan mencabut sepasang pedangnya dan melihat cara wanita itu mencabut pedang saja tahulah Su-ciangkun bahwa wanita itu menggunakan pedang bukan sekedar untuk pamer. Memang cara mencabut pedang itu saja sudah menunjukkan keahlian. Maka diapun mencabut pedangnya yang berkilauan karena pedang itu adalah pemberian kaisar, merupakan sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik sekali.

"Silakan, ciangkun."

"Aku adalah tuan rumah dan engkau tamuku, lihiap. Silakan lihiap menyerang lebih dulu."

"Maafkan aku, ciangkun. Lihat pedang!" Bi Lan membuka serangan dengan pedang kirinya yang meluncur ke depan menusuk dada, disusul pedang kanan menyambar dari atas membacok kepala dengan jurus Angin bertiup kilat menyambar yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga lembut namun kuat.

"Bagus!" Su Ki Seng yang mahir ilmu pedang campuran Butong-pai dan Kun-lun-pai, cepat mengelak dengan loncatan mundur sambil menangkis yang membacok dari atas. Terdengar suara nyaring dan perwira itu terkejut. Ketika pedangnya bertemu dengan pedang kanan wanita itu, dia merasa betapa lengannya tergetar!

Kekagetannya disusul kekaguman ketika Bi Lan memainkan sepasang pedangnya, wanita itu bukan saja memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi juga ilmu pedangnya amat hebat! Kalau tadinya Su-ciangkun kagum akan kecantikannya dan merindukan wanita ini karena berahi, kini terjadi perubahan besar dalam hatinya. Dia adalah seorang bangsawan yang selalu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

Kini, melihat bahwa wanita yang cantik ini memiliki ilmu silat yang amat lihai, diapun membayangkan betapa akan senangnya kalau wanita seperti ini dapat menjadi pengawal pribadinya! Bukan lagi ingin memanfaatkan kecantikannya, melainkan kepandaiannya. Kalau yang pertama untuk memuaskan gairah berahinya, yang terakhir ini untuk menjamin keamanan pribadinya.

"Trang-trang-singg....!" Bunga api berpijar-pijar ketika Su-ciangkun memutar pedangnya menangkis sepasang pedang yang mendesaknya bagaikan dua ekor kumbang yang melayang-layang dan siap untuk menyengatnya itu.

"Bukan main! Ilmu pedang yang hebat...!" Dia berseru dan seruan ini merupakan isyarat kepada dua orang pembantunya. Mereka memang sudah siap dan sejak tadi, mereka menonton pertandingan itu sambil mendekati Lan Lan.

Bi Lan ingin cepat menyudahi pertandingan itu, maka sengaja ia mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk mengalahkan perwira itu agar ia dapat segera pergi bersama Lan Lan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, Su-ciangkun ternyata bukan orang lemah dan dapat menjaga diri dengan baik sehingga setelah lewat limapuluh jurus, ia hanya mampu mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas.

Tiba-tiba Su-ciangkun meloncat jauh ke belakang sambil berseru, "Kwa-lihiap, tahan dulu!" Bi Lan menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan memandang kepada perwira itu sambil tersenyum. Tentu perwira itu mengaku kalah dan ia akan segera pergi dari situ.

"Kwa-lihiap, ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku kagum sekali dan terimalah hormatku!" kata perwira itu dengan suara sungguh-sungguh, bahkan dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Ah, Su-ciangkun terlalu merendah. Ilmu pedangmu juga hebat dan terima kasih bahwa engkau telah mengalah," kata Bi Lan, menggunakan sikap dan bicara yang merendah dari para ahli persilatan yang saling menguji ilmu. "Sekarang terpaksa aku berpamit, akan kembali ke kamar hotel bersama anakku, karena ia harus segera mengaso dan tidur."

"Kwa-lihiap, sekarang aku ingin berterus terang kepadamu. Kuharap engkau dan puterimu suka bermalam saja di rumah kepala daerah ini, dan aku akan mengutus orang untuk mengambil barang-barangmu dari kamar hotel. Besok akan kuantar engkau ke kotaraja."

Bi Lan terbelalak, lalu alisnya berkerut. "Ciangkun, apa artinya ini? Apa maksudmu?"

"Kami membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian sepertimu, lihiap. Percayalah, kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan memperoleh kedudukan dan kemuliaan. Untuk langkah pertama, engkau menjadi pengawal pribadiku di gedungku, kemudian lambat laun aku akan memperkenalkan engkau kepada Pangeran Mahkota yang membutuhkan orang-orang pandai..."

"Tidak, aku tidak mau! Aku akan pergi dengan Lan Lan sekarang juga!" kata Bi Lan dan ia menengok ke arah Lan Lan. Wajahnya berubah dan ia marah sekali. Dua orang perwira pembantu tadi telah berdiri di kanan kiri Lan Lan dengan pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!

"Kwa-lihiap, ini merupakan perintah seorang petugas negara!" kata Ji-ciangkun membujuk. "Lihiap boleh memberitahu dimana suami lihiap, dan kami akan mengundangnya pula. Keluargamu akan memperoleh kedudukan yang baik di istana."

Wajah Bi Lan menjadi merah mendengar suaminya disebut-sebut. "Tidak, aku tidak ingin bekerja di kota raja!"

"Engkau tidak ada pilihan lain, lihiap. Ini perintah petugas negara!" kata Su-ciangkun.

Dan pada saat itu, muncullah puluhan orang perajurit mengepung tempat itu dengan senjata lengkap. Kiranya dua orang pembantu Su-ciangkun tadi diam-diam telah mengatur dan minta bantuan pasukan keamanan dari kepala daerah.

Bi Lan menjadi marah bukan main, "Hemm, kalian menggunakan cara gerombolan penjahat saja! Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"

Su-ciangkun tersenyum. "Ini siasat pasukan, bukan siasat gerombolan, lihiap. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami tangkap engkau dan puterimu dan memaksamu menghadap yang berwenang di kota raja."

Pada saat itu, terdengar suara suling melengking. Semua orang terkejut, dan Bi Lan mengangkat muda dengan girang karena ia tahu bahwa kembali si peniup suling datang membantunya. Ia sedang tersudut dan tidak berdaya, sungguh amat membutuhkan bantuan.

"Minta seseorang bekerja tidak boleh menggunakan paksaan!" terdengar suara orang setelah lengking suling itu berhenti dan muncullah Can Hong San. Begitu bayangannya berkelebat, tahu-tahu dia telah melayang ke arah Lan Lan dan dua orang perwira Lu dan Ji yang memegang pedang, siap menyambutnya dengan serangan. Akan tetapi, demikian cepatnya gerakan suling di tangan Hong San sehingga tahu-tahu dua orang itu-pun roboh terkulai, tertotok sulingnya dan di lain saat, Hong San telah memondong Lan Lan!

"Nona, mari kita pergi saja dari sini!" katanya. "Akan tetapi ingat, jangan membunuh orang!"

Bi Lan tersenyum. Bukan main lega rasa hatinya. Ia sendiri tidak takut menghadapi pengepungan dan pengeroyokan itu, akan tetapi ia tadi sungguh tidak berdaya melihat Lan Lan ditodong dua orang perwira pembantu. Ia tahu bahwa tidak mungkin dalam keadaan dikepung itu ia akan mampu membebaskan Lan Lan. Dan ternyata pemuda itu telah menyelamatkan Lan Lan, karena selain gerakannya amat cepat, juga orang tidak menduga bahwa pemuda itu datang-datang merampas Lan Lan dari todongan dua orang perwira.

Ia tersenyum karena pemuda itu masih sempat mengingatkannya agar tidak membunuh orang. Ketika melihat pemuda itu sudah membuka jalan dengan tendangan kakinya dan gerakan sulingnya, iapun segera meloncat ke dekat pemuda itu dan membantunya membuka jalan keluar dari gedung itu. Hong San yang memondong Lan Lan sambil memainkan sulingnya, diam-diam merasa kagum sekali kepada Bi Lan. Juga kagum kepada puterinya, yaitu anak perempuan mungil yang berada di pondongannya itu, yang disangkanya tentulah anak wanita cantik perkasa itu.

Betapa dia tidak akan kagum melihat Lan Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu, sama sekali tidak nampak ketakutan. Juga tidak menangis walaupun berada dalam pondongan orang yang tidak dikenalnya dan pemondongnya itu dikeroyok banyak orang! Dan diapun kagum melihat ibu anak itu benar-benar tidak membunuh orang, hanya menggunakan pedangnya untuk membuat para pengeroyok melepaskan senjata, dan menendang atau menampar dengan tangan kiri, merobohkan para pengeroyok yang menghalang di depan akan tetapi sama sekali tidak membunuh orang, seperti yang dipesankan tadi.

Karena ilmu kepandaian mereka memang tinggi, maka tidak sukar bagi mereka berdua untuk lolos dari kepungan, melarikan diri keluar dari rumah gedung kepala daerah. Mereka tanpa banyak cakap lagi lari ke tempat penginapan dan setelah Bi Lan mengambil buntalan pakaiannya dan membayar sewa kamar, ia dan Hong San segera keluar kota Peng-lu atas ajakan Hong San.

"Setelah peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi kita untuk tinggal di dalam kota ini," demikian pemuda itu berkata. "Mereka adalah perwira-perwira dari kota raja, dan menjadi tamu kepala daerah. Mereka tidak akan mau sudah begitu saja dan pasukan tentu akan mencari kita di seluruh kota."

"Malam hampir tiba, lalu kami harus bermalam di mana? Lan Lan juga sudah mulai mengantuk," kata Bi Lan yang menggendong buntalan pakaian di punggung dan memondong Lan Lan yang sudah melenggut karena kelelahan dan mengantuk.

"Di luar kota Peng-lu ini terdapat sebuah dusun dan aku pernah bermalam di rumah seorang petani miskin yang baik hati. Malam ini kita bermalam di sana dan besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan menjauhi kota Peng-lu. Aku akan mencarikan kereta dan kuda untukmu, nona."

Mereka sudah berada di luar kota dan berjalan perlahan-lahan karena malam mulai tiba dan cuaca menjadi gelap hanya diterangi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.

"Kenapa, nona?" Hong San bertanya, juga berhenti.

Mereka berdiri di jalan raya yang diapit persawahan yang luas. Sunyi sekali di tempat itu, dan yang terdengar hanyalah bunyi katak di sawah yang riuh rendah saling sahut seperti paduan suara yang kacau kalau diperhatikan, namun serasi dan 'hidup' kalau tidak diperhatikan.

"Kenapa berhenti, nona?"

"Kenapa engkau begini memperhatikan kami, begini baik kepada kami?"

Pertanyaan Bi Lan itu lembut, namun suaranya mengandung tuntutan dan kecurigaan. Baru saja timbul dalam pikiran Bi Lan betapa baiknya orang ini kepadanya. Mengapa begitu baiknya? Padahal mereka belum berkenalan. Kalau hanya menolongnya dari kepungan penjahat, hal itu tidaklah aneh karena setiap pendekar tentu akan melakukannya. Akan tetapi kebaikan orang ini sudah berlebihan, bukan saja menyelamatkannya dan mengajaknya melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi bahkan hendak menyediakan kuda dan kereta! Ini sudah melampaui batas dan menimbulkan kecurigaan.

Sejenak Hong San tertegun karena kaget mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti suatu serangan kilat itu. Untung bahwa malam gelap menyembunyikan wajahnya. Dia segera dapat menenangkan hatinya yang tadi khawatir kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang kehidupannya. Dia tertawa kecil dan berkata dengan suara halus.

"Aih, benar juga engkau, nona. Kita belum berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku. Nah, perkenalkan, aku Can Hong San..." Dia berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan namanya. Akan tetapi sunyi saja dan tidak ada tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka diapun melanjutkan dengan hati lega.

"Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas lepas seperti seekor burung di udara. Kebetulan saja di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu, nona. Aku tertarik dan kasihan ketika melihat engkau dikeroyok perampok. Dan kebetulan pula di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah makan itu. Kemudian melihat nona pergi bersama para perwira naik kereta. Aku merasa curiga dan membayangi, kemudian turun tangan membantumu. Nah, demikianlah, nona. Dan tentang memperhatikanmu dan baik kepada kalian, ehh... kenapa? Bukankah sudah seharusnya hidup ini saling tolong?"

"Tapi... tapi... kalau engkau hidup sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal, hendak membeli kuda dan kereta untuk kami seperti seorang hartawan besar saja?" Bi Lan menatap tajam, akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, tentu saja ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas.

"Oooooh, itukah?" Hong San tertawa, "Pantas, saja engkau curiga, nona. Aku bukan seorang hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya. Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan rombongan saudagar kaya dari serbuan para perampok. Mereka membawa barang dagangan yang banyak dan berharga sekali. Karena senangnya, mereka memaksaku menerima sekantung emas permata walaupun aku menolak dan tidak mengharapkan apa-apa. Melihat kerelaan dan kesungguhan hati mereka, agar tidak mengecewakan, aku menerimanya. Tadinya aku bingung, untuk apa harta itu bagiku, akan tetapi sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian dari itu untuk membantumu. Engkau membawa anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau menggunakan kereta."

Lega rasa hati Bi Lan. Memang ia tidak mencurigai orang yang telah dua kali menyelamatkannya dari ancaman bahaya, akan tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia harus berhati-hati. "Kalau begitu, maafkanlah aku, taihiap (pendekar besar), dan mari kita lanjutkan perjalanan ke dusun itu."

"Ehhhh? Engkau belum memperkenalkan dirimu, nona..." kata Hong San sambil mengejar ke depan.

"Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di sana. Anak ini sudah tertidur."

Mereka melangkah, menuju ke dusun yang sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di kejauhan. Melihat wanita itu diam saja, Hong San merasa khawatir.

"Maaf, nona. Mungkin aku tadi keliru menyebut anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu atau keponakanmu..."

Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum. "Ini anakku, namanya Lan Lan." katanya singkat.

"Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya, bukan nona...! Kenapa nyonya melakukan perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?"

"Sudahlah, nanti saja kita bicara."

Hong San maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin keras hati. Maka diapun tidak mau banyak bicara lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang berdiri di ujung jalan dusun itu. Dia mengetuk daun pintu sambil memanggil.

"Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!"

Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang laki-laki berusia limap uluhan tahun, berpakaian petani sederhana, menyambut mereka. Begitu melihat Hong San, dia tersenyum ramah. "Aih, kiranya Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang! Bersama siapakah nona ini? Dan dari mana malam-malam begini...?"

"Paman Gu, ini adikku dan puterinya. Aku akan menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu, untuk adikku dan keponakanku ini tidur. Aku sendiri dapat tidur bersama paman di kamar paman."

"Ah, baiklah, kongcu. Hemm, anak ini sudah pulas, sebaiknya cepat ditidurkan saja. Mari, nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang kini ikut suaminya. Tidurlah di sini bersama anakmu..." Petani itu membukakan pintu sebuah kamar sederhana yang cukup bersih...

Naga Beracun Jilid 09

MENDIANG gurunya yang juga suaminya pernah memesan agar dia berhati-hati dan tidak memandang rendah kepada empat macam orang, yaitu pertama wanita yang tampaknya lemah walaupun memiliki ilmu yang tinggi, ke dua kaum pendeta yang juga kelihatan lemah lembut, ke tiga pengemis yang nampaknya saja lemah dan sengsara, dan ke empat sastrawan, karena mereka ini kadang-kadang menyembunyikan ilmu yang tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya.

Yang amat mengesankan hatinya bukan ke tampanan pria itu, melainkan tiupan sulingnya. Biarpun kini sudah tidak terdengar lagi suara sulingnya, namun masih terngiang di telinganya suara yang meliuk-liuk merdu dan mengharukan itu. Lamunan Bi Lan dan kantuk Lan Lan dalam pondongannya terganggu ketika mendadak muncul sepuluh orang yang berloncatan dari balik batang pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu. Begitu melihat, Bi Lan mengerti bahwa ia berhadapan denagn gerombolan penjahat!

Sikap mereka saja sudah jelas menunjukkan bahwa mereka bukan orang baik-baik dan termasuk gerombolan yang suka memaksakan kehendak mengandalkan kekerasan. Juga mereka semua itu menyeringai menjemukan dengan sepasang mata yang membayangkan kecabulan. Seorang di antara mereka yang gendut dan segala-galanya bundar, kepalanya, hidungnya, matanya , bentuk mulutnya, perutnya, semua bundar, melangkah maju. Sebatang golok besar tergantung di pinggangnya dan sejenak dia mengamati wajah dan tubuh Bi Lan, kemudian tertawa bergelak dengan girang.

"Ha-ha-ha, inilah orangnya yang pantas menjadi isteriku! Kawan-kawan, bagaimana pendapat kalian? Sudah patutkah perempuan ini kalau duduk bersanding denganku sebagai isteriku?"

Sembilan orang anak buahnya juga tertawa-tawa dan menyengir-nyengir dengan sikap ceriwis sekali. "Sudah cocok sekali, toako! Akan tetapi hati-hati, ia membawa anak dan dipunggungnya ada sepasang pedang!"

"Ha-ha-ha, anak inipun mungil sekali. Kalau anaknya, anak ini menjadi anak isteriku yang manis. Kalau adiknya, kebetulan! Dan tentang sepasang pedangnya, ha-ha-ha, itu hanya untuk menakut-nakuti orang saja. Bukankah begitu, manis?"

Dapat dibayangkan betapa marahnya Bi Lan melihat sikap dan mendengar ucapan yang amat menghina itu. Kalau saja ia tidak sedang memondong Lan Lan, tentu ia sudah mengamuk dan membunuh semua orang itu. Akan tetapi, ia memondong Lan Lan yang kini sudah terbangun dari kantuknya. Ia harus berhati-hati dan melindungi anak itu. Maka ia menahan sabar, karena kemarahan hanya akan merugikan dirinya, mengurangi kewaspadaannya.

"Kalian adalah sepuluh laki-laki, kenapa begitu rendah menghadang dan mengganggu seorang wanita yang sedang melakukan perjalanan? Minggirlah, aku tidak ingin mencari keributan." Katanya dengan nada suara yang dibikin setenang mungkin.

"Ha-ha-ha, manis. Siapa yang akan mengganggumu? Aku bahkan meminangmu. Aku ingin melamarmu menjadi isteriku, sayang. Marilah ikut baik-baik denganku dan kita merayakan hari perkawinan kita. Anakmu itu akan menjadi anakku juga," kata si gendut dengan keramahan yang dibuat-buat.

"Aku tidak mau menikah denganmu atau dengan siapapun. Minggirlah!" kini dalam suara Bi Lan terdengar bentakan.

"Nona manis, aku harus menjadi suamimu. Engkau mau atau tidak, harus menjadi isteriku. Nah, tinggal kau pilih saja. Engkau menurut dengan baik-baik atau ingin dipaksa?" kini si gendut mengancam.

"Sudah kuduga. Kalian tentu segerombolan anjing yang suka mempergunakan kekerasan melakukan kejahatan! Majulah kalau engkau minta mati!" bentak Bi Lan dan ia menggunakan sabuk suteranya untuk menggendong Lan Lan dipunggung setelah melolos sepasang pedangnya dan menggantungnya di pinggang. Anak itu duduk di atas buntalan pakaian dan diikat dengan sabuk sutera yang biasanya menjadi senjata pula bagi Bi Lan.

Kini, kedua tangan wanita itu bebas, walaupun gerakannya tentu saja kurang leluasa dengan adanya Lan Lan di punggungnya. Yang membuatnya kagum, anak itu tidak menangis, tidak kelihatan takut walaupun menghadapi sepuluh orang laki-laki yang kelihatan beringas dan Kejam. Pantas memang Lan Lan menjadi puteri suami isteri pendekar besar.

"Ho-ho-ha-ha-ha! Perempuan ini bernyali juga! Aku makin tergila-gila kepadanya!" kata si gendut. "Aku paling jemu dengan kuda betina yang jinak, aku ingin yang liar seperti ini, ha-ha-ha!"

Dia masih tertawa ketika tubuhnya tiba-tiba menyerbu ke depan. Sungguh merupakan serangan yang amat curang, menggunakan kesempatan selagi dia masih tertawa sehingga lawan akan menjadi lengah. Akan tetapi, Bi Lan sama sekali tidak lengah. Tidak percuma menjadi murid dan isteri Si Rajawali Sakti. Dari suaminya itu ia telah mendapatkan ilmu silat yang tangguh dan kokoh kuat.

Begitu si gendut menubruk dengan kedua lengan berkembang, seperti seekor beruang menyerang, tubuh Bi Lan sudah mengelak ke kiri dan kaki kanannya melakukan tendangan ke arah perut gendut itu. Demikian cepat gerakan Bi Lan sehingga tendangan itu tidak mungkin dapat dielakkan atau ditangkis lagi oleh si gendut.

"Bukk...! Duuuuuuttt...!" perut itu ternyata kebal, akan tetapi karena tendangannya mengandung sin-kang yang kuat, tidak urung isi perutnya terguncang dan tak tertahankan lagi si gendut kelepasan membuang gas dengan bunyi kentut yang nyaring.

Mendengar suara kentut itu, Lan Lan berseru. "Ihhhh... kentut bau...!" dan dengan lucunya, bukan pura-pura Lan Lan memijat hidungnya dengan tangan kiri.

Mau tidak mau, kawanan perampok itu tertawa geli, dan baru mereka berhenti tertawa ketika pimpinan mereka yang merasa perutnya agak mulas itu membentak mereka.

"Apa tertawa! Hayo tangkap perempuan ini! Awas, jangan lukai, aku tidak ingin pengantinan dengan mempelai yang luka-luka!"

Sembilan orang anak buah itu menerima perintah ini dengan gembira. Siapa yang tidak ingin menangkap wanita cantik itu? Biarpun akhirnya diserahkan kepada pimpinan mereka, setidaknya yang menangkapnya mempunyai kesempatan untuk merangkul, memeluk dan setidaknya mencolek tubuh yang montok itu!

Mereka maju dengan cepat seperti sekumpulan anjing memperebutkan tulang, berlomba untuk dapat menangkap Bi Lan. Akan tetapi, kegembiraan mereka segera berubah menjadi teriakan-teriakan kesakitan ketika Bi Lan membagi-bagi tamparan dan tendangan dengan cepat sebelum ada tangan yang mampu menyentuhnya.

Para pengeroyok itu berpelantingan terhuyung dan biarpun tidak ada yang roboh dan terluka parah, namun sedikitnya mereka menjadi gentar. Ada yang pipinya bengkak membiru, bibirnya pecah atau perutnya mulas seketika karena usus buntunya tercium ujung sepatu Bi Lan. Ada yang terpincang-pincang karena sambungan lututnya terkena gajulan yang cukup kuat.

Melihat betapa sembilan orang anak buahnya mundur semua, si gendut menjadi marah. Dia lupa bahwa dia sendiri pun tadi terkena tendangan sampai terkentut-kentut walaupun perut gendutnya yang kebal membuat dia tidak jatuh dan memaki-maki anak buahnya.

"Kalian ini gentong-gentong kosong melompong yang tiada gunanya!" Akan tetapi agaknya dia menyadari bahwa wanita itu ternyata bukan makanan empuk, maka dia menambahkan, "Hayo keroyok, robohkan dengan senjata! Aku tidak perduli berpengantinan dengan mempelai luka!"

Para anak buahnya yang juga marah mencabut senjata mereka. Ada yang bersenjata golok, ada yang memegang pedang, tombak dan lain-lain. Dan mereka mengepung Bi Lan.

Bi Lan merasa khawatir. Kalau ia tidak menggendong Lan Lan, tentu pengerokan orang-orang kasar itu tidak membuat ia gentar. Kini ia khawatir akan keselamatan Lan Lan. "Lan Lan, rangkul leher ibu kuat-kuat!" teriaknya sambil mencabut sepasang pedang yang tergantung di pinggang.

Anak itu memang tabah bukan main. Melihat "ibunya" berkelahi, ia tidak takut sama sekali dan mendengar perintah ibunya, iapun cepat merangkulkan kedua lengannya yang kecil ke leher Bi Lan.

Sepuluh orang perampok itu menyerang dan Bi Lan memutar kedua pedangnya. Gerakan pedangnya cepat dan juga mengandung tenaga sin-kang yang membuat setiap senjata lawan yang bertemu pedangnya terpental. Semua perampok terkejut dan mereka mengepung dan mengeroyok dengan hati-hati, maklum bahwa wanita cantik ini benar-benar amat lihai.

Namun, dengan adanya Lan Lan di gendongannya, tentu saja Bi Lan menjadi kurang leluasa dan ia lebih mengutamakan perlindungan terhadap anak itu sehingga daya serangnya berkurang. Si perut gendut melihat hal ini dan diapun berteriak kepada teman-temannya,

"Serang anak di gendongan itu!"

Bi Lan terkejut. Kini para pengeroyok menujukan serangan mereka ke arah punggungnya! Tentu saja ia hanya dapat memutar sepasang pedang untuk membentuk benteng sinar yang menjadi perisai dan melindungi punggungnya dari sambaran senjata para pengeroyok! Karena ia hanya bertahan, tidak berani lengah untuk balas menyerang, ia segera terdesak!

Pada saat itu, terdengar suara halus namun lantang berwibawa, "Nona, lemparkan anak itu kepadaku. Biar aku yang sementara menjaganya untukmu!"

Bi Lan melirik dan melihat bahwa yang berteriak itu adalah seorang pemuda tampan berpakaian biru bercaping lebar. Pemuda peniup suling tadi! Entah mengapa, ia percaya sepenuhnya kepada pemuda itu, dan memang Lan Lan terancam bahaya, maka iapun memutar pedang kanannya, menggunakan tangan kiri untuk menurunkan Lan Lan dari gendongan.

"Lan Lan, engkau ikut paman itu dulu!" katanya dan sekali ia menggerakkan tangan kiri, anak itu dilemparkan ke arah pemuda peniup suling. Dan hatinya lega melihat betapa sigapnya pemuda itu menyambut Lan Lan yang mendarat dengan empuk dalam pondongannya.

"Nah, disini lebih enak, kan? Kita nonton pertempuran!" kata pemuda itu sambil menurunkan Lan Lan dan berdiri di situ, menggandeng tangan Lan Lan. Biarpun tadi ia dilempar, Lan Lan tetap tabah dan sama sekali tidak berteriak, apa lagi menangis.

Setelah melihat Lan Lan berada dengan pemuda itu dan ia tidak lagi dibebani tugas melindungi Lan Lan, Bi Lan mengamuk. Pedangnya menyambar-nyambar dahsyat dan dalam beberapa gebrakan saja, robohlah dua orang pengeroyok dengan pundak dan paha terluka parah.

"Aih, jangan bunuh mereka, nona...!" Pemuda itu berkata dan tiba-tiba dia memondong tubuh Lan Lan. Dia sendiri, dengan Lan Lan dipondongan, bergerak ke depan, kedua kakinya menyambar-nyambar dan setiap kali kakinya menyambar, seorang pengeroyok roboh!

Bi Lan merobohkan dua orang lagi, dan selebihnya, yang enam orang, roboh oleh tendangan kaki pemuda itu! Bi Lan yang marah sekali, menggerakkan sepasang pedangnya hendak mengirim serangan maut membunuh sepuluh orang itu, akan tetapi pemuda itu sekali berkelebat sudah berdiri di depannya.

"Nona, jangan membunuh mereka!"

Bi Lan memandang tajam penuh selidik. "Hem, kenapa? Bukankah mereka itu orang-orang jahat yang hanya membahayakan kehidupan orang-orang lain? Kalau tidak dibunuh, mereka tentu aka mencelakai orang lain."

Pemuda itu menarik napas panjang lalu menurunkan Lan Lan. Anak itupun menghampiri Bi Lan dan memegang tangan Bi Lan yang masih memegang pedang. "Nona, kalau setiap orang yang melakukan kejahatan di dunia ini kau bunuh, kiraku tidak akan ada yang tinggal hidup. Adakah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya? Adakah manusia yang tidak berdosa?"

Bi Lan mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, tidak semua orang menjadi perampok, pengganggu wanita dan pembunuh!"

"Nona, manusia itu lemah lahir batin. Bukan hanya lahirnya saja, tubuhnya saja yang lemah dan suka diserang penyakit. Juga batinnya lemah dan suka sakit. Semua orang mengalami penyakit batin ini, hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang ringan dan ada yang berat. Orang yang menyeleweng dari kebenaran, yang menjadi penjahat, sebenarnya hanyalah orang yang sedang sakit batinnya. Orang yang sakit harus kita tolong, kita obati, yaitu kalau yang sakit badannya. Kalau yang sakit batinnya, kitapun harus menolong dengan obat berupa nasihat, atau kalau perlu ancaman. Akan tetapi, bukan lalu membunuhnya. Ingat, nona, orang sakit dapat sembuh, dan yang sehat dapat jatuh sakit. Orang yang berbuat jahat dapat sembuh, dan yang sekarang kelihatan baik-baik saja, sekali waktu dapat jatuh dan berbuat jahat. Semua orang pernah sakit, nona. Termasuk aku sendiri. Sakitku amat berat, dan mudah-mudahan sekarang telah sembuh."

Ucapan itu berkesan di hati Bi Lan. Bahkan gurunya yang juga suaminya pernah mengakui bahwa gurunya itu dahulu juga pernah "sakit" parah, yaitu menderita sakit batin karena dendam! Ucapan pemuda berpakaian biru itu sungguh berkesan di hati dan tanpa cakap lagi ia lalu menyimpan kembali sepasang pedangnya, memondong Lan Lan dan membungkuk kepada pemuda itu.

"Mengingat bahwa engkau telah membantuku, biarlah aku menuruti nasihatmu dan tidak membasmi mereka. Terima kasih atas bantuanmu dan selamat tinggal." Setelah berkata demikian, Bi Lan pergi meninggalkan tempat itu.

Pemuda itu masih berdiri seperti patung, tersenyum-senyum seorang diri, dan dia seperti tidak melihat atau tidak perduli ketika sepuluh orang perampok itu tertatih-tatih meninggalkan tempat itu dengan hati gentar. Sampai lama pemuda itu berdiri, bahkan lalu menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung dan kadang menengok ke arah perginya Bi Lan.

Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai karena dia bukan lain adalah Hong San! Putera mendiang Cui-beng Sai kong datuk besar dunia hitam itu, seperti kita ketahui, tadinya membantu pemberontakan Pangeran Cian Bu Ong. Akan tetapi karena semua gerakan bekas pangeran itu gagal, Cian Bu Ong membubarkan para pembantunya dan Can Hong San juga pergi meninggalkan bekas pangeran itu, merantau seorang diri membawa bekal banyak emas yang diterimanya sebagai hadiah dari Pangeran Cian Bu Ong.

Berbulan lamanya Can Hong San berdiam di puncak bukit merenungi keadaan hidupnya. Segala usaha yang dilakukannya gagal belaka! Hanya kepahitan dan kekalahan yang dideritanya. Mulailah dia melihat bahwa jalan yang ditempuhnya selama ini tidak menguntungkan, menuruti nafsu-nafsunya, hanya menyeretnya ke lembah kegagalan belaka. Timbul niatnya untuk mengubah jalan hidupnya untuk meninggalkan jalan sesat dan memilih jalan kebenaran. Mungkin sebagai seorang pendekar, dia akan dapat memanfaatkan kepandaiannya dan mendapatkan nama besar yang harum!

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning Episode Naga Beracun karya kho ping hoo

Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan tanpa menilai, akan tampaklah dengan jelas bagaimana lihai, licin dan liciknya hati akal pikiran bekerja, hati akal pikiran yang sudah diperalat oleh nafsu-nafsu daya rendah. Bagaimanapun pikiran berkiprah, selalu tujuannya untuk mencari kesenangan dan menjauhi ketidaksenangan. Keputusan apapun yang diambil oleh pikiran, selalu pasti mempunyai pamrih, yaitu demi kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Can Hong San sejak muda hidup bergelimang dosa, mengambil jalan sesat dan menjadi seorang yang terbiasa melakukan segala macam bentuk kejahatan. Semua ini hasil dari ulah hati akal pikiran yang bergelimang nafsu, yang sudah dicengkeram oleh nafsu daya rendah yang selalu mengejar kesenangan sehingga dalam pengejaran itu, Hong San tidak memperdulikan lagi caranya. Cara apapun akan ditempuhnya demi tercapainya kesenangan yang dikejarnya. Itulah pekerjaan nafsu daya rendah!

Kemudian, pikiran melihat betapa semua perbuatan jahatnya tidak menguntungkan, bahkan merugikan! Maka, pikiran yang sudah bergelimang nafsu lalu mencari jalan lain. Untuk menghindarkan akibat yang tidak menguntungkan, untuk dapat mencapai kesenangan melalui jalan dan cara lain, kini pikiran Hong San membujuknya untuk mengambil jalan yang berlawanan menjadi seorang pendekar! Menjadi orang yang melakukan kebaikan, menentang kejahatan, yang tentu saja dengan pamrih agar mencapai kesenangan dan keuntungan!

Jelaslah bahwa kebaikan yang disengaja, diatur dan direncanakan, bukanlah kebaikan lagi namanya. Itu hanya hasil dari pikiran bergelimang nafsu. Yang dinamakan perbuatan baik hanya dijadikan cara untuk mendapatkan kesenangan belaka. Kebaikan yang direncanakan pikiran adalah kebaikan palsu, pura-pura. Kalau ada orang yang "ingin menjadi orang baik", pada hakekatnya dia hanya ingin mendapatkan balas jasa atas kebaikannya itu.

Kebaikan atau kebajikan adalah suatu sifat dari perbuatan yang tidak 1agi terdorong nafsu daya rendah. Perbuatan yang tidak didorong oleh pemikiran yang matang, melainkan perbuatan yang spontan, seketika karena terdorong kekuasaan yang murni dan suci, karena terdorong oleh kasih sayang! Kasih sayang bekerja selama pikiran sebagai si aku tidak muncul merajalela.

Kasih sayang berubah menjadi nafsu menyenangkan diri sendiri begitu si AKU masuk dan campur tangan. Aku ingin senang, aku ingin untung, aku tidak mau susah, aku tidak mau rugi, aku ingin... aku ingin... aku ingin... demikianlah sifat nafsu dari daya-daya rendah yang mencengkeram dan mempengaruhi hati akal pikiran.

Oleh karena itu, keinginan hati akal pikiran untuk mengubah diri menjadi "orang baik" hanya tipuan belaka, bukan menjadi "orang baik" melainkan menjadi "orang senang melalui perbuatan baik" yang pada hakekatnya hanya membuat kita menjadi munafik! Hati akal pikiran yang bergelimang nafsu tidak mungkin membersihkan diri sendiri!

Satu-satunya harapan hanyalah menyerah kepada Tuhan Maha Kasih! Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengubah seseorang, membersihkan batin seseorang, mengembalikannya ke jalan benar. Kita hanya dapat mohon ampun... mohon bimbingan, dan menyerah dengan sabar, ikhlas, dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Can Hong San tersenyum gembira. Wajahnya cerah karena dia merasa memperoleh jalan yang baik. Setelah mengambil keputusan untuk mengubah cara hidupnya, dia turun gunung dan kebetulan bertemu dengan Kwa Bi Lan yang menggendong seorang anak perempuan yang mungil. Begitu bertemu, hati Hong San berdebar dan tertarik sekali. Bukan tertarik yang menimbulkan nafsu berahi seperti yang sudah-sudah. Wanita yang dijumpainya ini lain!

Memang cantik jelita dan menggairahkan, akan tetapi dia tertarik bukan hanya karena itu. Bukan gejolak berahi yang timbul di hatinya, melainkan kekaguman yang penuh pesona. Menurut pandangannya, belum pernah selama hidupnya dia berjumpa dengan wanita yang dapat menarik dan mengguncang perasaan hatinya seperti wanita yang mukanya bulat, berkulit putih mulus, berhidung mancung dan bermata tajam itu.

Diam-diam Hong San mengikuti, bahkan lalu mendahuluinya dan sengaja meniup suling untuk menarik perhatian gadis itu. Juga untuk menguji bagaimana sikap gadis itu. Akan tetapi, gadis itu hanya melihat sebentar lalu melanjutkan perjalanan, acuh saja. Hal ini membuat dia semakin kagum. Gadis yang alim, pikirnya, bertata susila dan menjaga martabat dan kehormatan. Dia membayangi lagi dari jauh.

Ketika dia melihat gadis yang menimbulkan rasa kagum luar biasa di hatinya itu dikeroyok sepuluh orang perampok, dia menjadi semakin kagum. Kiranya gadis itu bukan saja cantik jelita dan memiliki harga diri yang tinggi, akan tetapi juga gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang cukup hebat! Dia segera turun tangan membantu ketika melihat anak dalam gendongan itu terancam bahaya, dan ketika dia melihat gadis itu hendak membunuh semua perampok, ia pun cepat turun tangan mencegahnya dengan merobohkan para perampok dan membujuk gadis itu agar tidak membunuh mereka.

Semua ini dia lakukan dengan perhitungan, bukan karena dia merasa kasihan kepada sepuluh orang perampok rendah itu, melainkan karena dia ingin menjadi seorang "pendekar" dan ingin kelihatan baik budi di mata gadis yang dikaguminya itu. Mulailah hati akal pikiran dengan cerdik dan liciknya membujuk Hong San menjadi seorang munafik!

Setelah Bi Lan pergi bersama Lan Lan, Hong San termenung. Gadis hebat! Dia betul-betul baru sekali ini merasa jatuh cinta, bukan jatuh berahi, melainkan jatuh cinta sungguh-sungguh. Kalau saja dia dapat berdampingan selamanya dengan gadis itu, dapat menjadi suami isteri, membentuk rumah tangga berkeluarga! Alangkah akan bahagianya!

"Ihh, khayal!" Hong San mencela diri sendiri dan dia teringat bahwa sudah terlalu lama dia membiarkan gadis pujaan hatinya itu pergi. Dia harus cepat mengejar kalau tidak mau kehilangan. Sambil berlari Hong San merasa heran sendiri terhadap perasaan hatinya.

Dia merasa seperti pernah bertemu dengan gadis itu, atau setidaknya pernah melihatnya! Akan tetapi dia lupa lagi entah dimana. Sudah terlalu banyak dia bertemu gadis atau wanita muda yang cantik, maka dia tidak ingat lagi di mana dia bertemu dengan gadis itu. Akan tetapi, yang membuat dia merasa pernah bertemu terutama sekali adanya permainan sepasang pedang itu!

Bi Lan melanjutkan perjalanan dengan cepat sambil menggendong Lan Lan yang tertidur. Hari telah menjelang senja dan ia harus mendapatkan sebuah rumah penginapan, di kota, atau mondok di rumah penduduk dusun. Juga keributan tadi membuat ia tidak dapat memberi makan kepada Lan Lan, maka sore hari ini mereka harus mencari makanan.

Ia merasa jengkel terhadap diri sendiri mengapa belum juga bayangan pemuda itu lenyap dari depan matanya. Masih terus terbayang wajahnya, terngiang suaranya. Heran, ia merasa pernah melihat pemuda itu, entah di mana dan kapan. Bi Lan dan juga Hong San lupa bahwa mereka bukan saja pernah saling berjumpa bahkan pernah saling serang!

Ketika Hong San berkelahi menghadapi pengeroyokan Lie Koan Tek dan Poa Liu Hwa, muncul Bi Lan yang membantu Lie Koan Tek, pamannya itu. Memang hanya merupakan perkelahian singkat, karena Hong San tidak mau melayani pengeroyokan mereka bertiga dan segera melarikan diri begitu Bi Lan muncul dan membantu dua orang yang mengeroyoknya.

Matahari telah condong ke barat ketika Bi Lan memasuki kota Peng-lu di pantai selatan Huang-ho. Kota di pantai Sungai Kuning ini cukup besar dan ramai, dan dengan mudah Bi Lan mendapatkan sebuah kamar di hotel yang cukup bersih. Ia sudah membelikan pakaian untuk Lan Lan di kota yang dilewatinya beberapa hari yang lalu. Setelah memandikan Lan Lan dan mengganti pakaian anak itu, dan ia sendiripun sudah mandi dan bertukar pakaian bersih, ia mengajak Lan Lan keluar dari rumah penginapan dan mencari rumah makan.

Kebetulan sekali tak jauh dari rumah penginapan itu terdapat sebuah rumah makan yang tidak begitu penuh tamu. Bi Lan memondong Lan Lan memasuki rumah makan itu disambut oleh seorang pelayan tua dengan ramah. Bi Lan memilih di sudut yang kosong dan memesan makanan, nasi sayur dan minuman teh. Tak lama kemudian, ia sudah menyuapi Lan Lan yang makan dengan lahapnya karena anak ini memang lapar, sejak pagi tadi belum makan.

Sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan juga makan. Karena asyik makan sambil menyuapi Lan Lan, Bi Lan tidak tahu bahwa sejak tadi ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Tiga pasang mata mengamatinya secara langsung dari sebuah meja terbesar di rumah makan itu, mata dari tiga orang yang berpakaian seperti perwira yang gagah dan gemerlapan. Ada pula sepasang mata mengamatinya dari tempat gelap di luar rumah makan, yaitu mata dari Can Hong San.

Pemuda ini tidak mau memasuki rumah makan karena dia tidak ingin dianggap membayangi gadis itu. Baginya asal dapat melihat dan tahu dimana gadis itu berada sudah cukup. Akan tetapi, Hong San juga tahu bahwa tiga orang berpakaian perwira tinggi itu mengamati si gadis dengan sinar mata seperti singa kelaparan. Diapun memperhatikan mereka.

Seorang di antara mereka berusia kurang lebih lima puluh tahun, pakaian perwiranya dihias benang emas gemerlapan dan sarung pedang yang tergantung di pinggangnya amat indah, seperti emas pula dan terukir, dengan gagang yang diukir kepala burung dan ada ronce-ronce benang sutera merah. Dua orang lainnya berusia kurang lebih empatpuluh tahun, dan agaknya merupakan perwira-perwira yang pangkatnya lebih rendah. Sikap merekapun merendah terhadap perwira tinggi yang lebih tua.

Hong San memperhatikan perwira tinggi yang berusia lima puluh tahun itu. Dari sikap dan pandang matanya saja diapun dapat menduga bahwa perwira itu seorang yang cerdik dan agaknya memiliki ilmu kepandaian tinggi, sedangkan dua orang pembantunya juga orang-orang yang berpakaian rapi dan bersikap gagah. Perwira tinggi itu bertubuh tinggi, agak kurus dengan tulang pipi menonjol di bawah kanan kiri mata, hidungnya tinggi dan mulutnya yang lebar dengan bibir tebal membayangkan gairah yang besar. Mulut itu sebagian tertutup kumis tebal yang berjuntai ke bawah di kanan kiri mulutnya. Jenggotnya terpelihara rapi, digunting pendek. Kepalanya memakai topi perwira yang dihias sulaman benang emas pula.

Tiga orang perwira itu sudah berada di dalam rumah makan ketika Bi Lan dan Lan Lan masuk ke situ, dan begitu wanita muda itu masuk, mereka sudah memandang dengan penuh perhatian. Karena pimpinan mereka nampak tertarik sekali, maka dua orang perwira pembantu itupun tertarik dan mereka membicarakan Bi Lan sambil berbisik-bisik.

Mereka adalah tiga orang perwira yang datang dari Lok-yang Mereka merupakan perwira-perwira tinggi yang bertugas melakukan inspeksi ke daerah-daerah, dan ketika tiba di kota Peng-lu, mereka kemalaman, bermalam di rumah kepala daerah dan malamnya mereka keluar untuk jalan jalan dan membeli makanan. Andaikata mereka memasuki rumah makan itu bersama kepala daerah, tentu para karyawan rumah makan itu akan menyambut mereka dengan cara lain.

Akan tetapi, biarpun pangkat mereka lebih tinggi dari pada kepala daerah Peng-lu, akan tetapi tidak ada yang mengenal mereka, maka mereka dianggap seperti tamu saja dan hanya diberi meja besar di rumah makan itu karena penampilan mereka yang mewah dan berwibawa. Perwira tinggi itu adalah seorang panglima bernama Su Ki Seng, terkenal dengan sebutan Su-ciangkun (perwira Su) dan dia memang terkenal sebagai seorang panglima yang pandai dan juga lihai.

Seluruh kepala daerah di wilayah Propinsi He-nan takut belaka kepadanya. Panglima ini pandai menemukan kesalahan-kesalahan para kepala daerah dan karena dia berkuasa dan berpengaruh di kota raja, maka para kepala daerah tunduk kepadanya. Mereka selalu menyambut kunjungannya dengan berbagai hadiah untuk menyenangkan hati panglima itu sehingga dia tidak akan mengganggu mereka dan menutup mata saja kalau terdapat kejanggalan atau kesalahan. Keadaan seperti itu membuat Su-ciangkun menjadi kaya raya dan dia hidup sebagai bangsawan yang kaya raya di Lok-yang, dengan rumah gedung besar dan indah megah seperti istana, mempunyai seorang isteri dan belasan orang selir dan dayang.

Namun, seperti kebiasaan para pejabat yang suka melakukan tugas keliling ke luar kota dan luar daerah pada masa itu, Su-ciangkun yang biasanya hanya dikawal beberapa orang pembantunya dan tidak membawa keluarganya, dia selalu seperti seekor kucing kelaparan. Harta benda dia sudah punya lebih dari cukup, dan semua hadiah dan sumbangan yang diterimanya dari para pejabat daerah, akan diurus oleh para pembantunya. Akan tetapi yang membuat dia kehausan adalah wanita!

Su-ciangkun seorang pria yang mata keranjang dan tidak pernah puas dengan isteri dan belasan orang selirnya. Kalau dia sedang melakukan perjalanan ke luar kota Lok-yang, dia selalu mencari sasaran dan korban untuk memuaskan hasrat dan gairahnya. Wataknya inipun diketahui oleh para kepala daerah dan setiap kali dia datang, tentu para kepala daerah yang ingin menyenangkan hatinya, menyediakan wanita hiburan untuknya!

Akan tetapi, sekali ini Su-ciangkun merasa bosan dengan wanita hiburan. Dia mengajak dua orang pembantunya yang juga merupakan pengawal dan pesuruhnya, untuk keluar dari rumah kepala daerah, makan di restoran dan tentu saja mencari kesempatan kalau kalau dapat bertemu dengan wanita yang menarik hatinya.

Dan kebetulan sekali, ketika mereka makan di rumah makan, Bi Lan masuk dan segera perwira ynng mata keranjang itu terbetot semangatnya! Matanya yang berminyak tak pernah melepaskan Bi Lan, diamatinya wanita itu, wajahnya dan seluruh tubuhnya. Makin diamati, makin tergila-gila. Bahkan ketika Bi Lan makanpun, nampak begitu menggairahkan bagi Su-ciangkun.

"Apakah tai-ciangkun suka padanya?" bisik seorang pembantunya yang bermuka hitam dan dikenal dengan sebutan Lu-ciangkun.

"Agaknya dia wanita baik-baik, harus dilakukan pendekatan dengan halus," kata pula Ji-ciangkun, pembantu lain yang matanya sipit.

Su-ciangkun mengangguk-angguk dan meraba jenggotnya. "Hebat, ia sungguh menarik. Aku akan berbahagia sekali kalau malam ini dapat membawanya ke kamarku."

"Apa sukarnya?" kata pembantu yang mukanya hitam. "Beritahu saja kepala daerah, tentu dia akan dapat memaksa wanita ini menemani tai-ciangkun."

"Hussh, aku tidak mau ramai-ramai," cela Su-ciangkun. "Memalukan kalau sampai terdengar umum kita membuat keributan di sini."

"Memang sebaiknya kita membuat pendekatan. Kita undang ia ke sini atau kita yang mendatangi mejanya untuk belajar kenal. Kalau kita sudah mengetahui keadaannya, baru dilakukan penjajagan apakah kiranya ia dapat dibawa dengan cara halus tanpa paksaan," kata Ji-clangkun si mata sipit.

Su-ciangkun mengangguk setuju dengan cara itu. "Sebaiknya engkau yang pergi mendekatinya dan bicara dengannya secara halus," kata Su-ciangkun kepada pembantunya yang bermata sipit itu.

Pembantunya ini memang pandai bicara, tidak main kasar seperti rekannya yang bermuka hitam. Ji-ciangkun mengangguk, lalu bangkit dan menghampiri meja Bi Lan yang kebetulan sudah selesai makan. Melihat ada orang menghampirinya, Bi Lan mengangkat muka memandang dan alisnya berkerut ketika melibat bahwa yang menghampirinya adalah seorang yang berpakaian perwira. Akan tetapi, perwira yang bermata sipit itu bersikap hormat, mengangkat kedua tangan ke depan dada dan berkata dengan sikap yang sopan.

"Maafkan saya kalau mengganggu, nona. Bolehkah saya bicara sebentar?"

Bi Lan adalah seorang gadis kangouw yang tidak pemalu seperti gadis pingitan. Ia sudah berpengalaman dan tabah, maka biarpun ada laki-laki yang tidak dikenalnya mendekat dan mengajak bicara, ia sama sekali tidak merasa sungkan atau kehilangan akal. Ia mengangguk. "Silakan, apa yang akan dibicarakan?" tanyanya.

Ji-ciangkun merasa mendapat hati. Ia pun melihat sepasang pedang yang berada di atas meja, dan dia menduga bahwa dia berhadapan dengan wanita kangouw. Hal ini akan lebih memudahkan, jauh lebih mudah daripada kalau berhadapan dengan wanita yang pemalu. Maka, dia lalu duduk di depan Bi Lan, terhalang meja.

"Perkenalkan, nona. Nama saya Ji Kun. Saya pembantu dari panglima yang duduk di sana itu. Beliau adalah Su-tai-ciangkun yang berkedudukan tinggi di kota raja, kaya raya dan bangsawan besar. Yang bermuka hitam itu adalah rekan saya, Lu-ciangkun. Kami bertiga bertugas ke luar kota raja dan sekarang menjadi tamu-tamu kehormatan dari kepala daerah di Peng-lu ini."

Kerut di antara kedua alis Bi Lan semakin dalam. Biarpun suaranya halus, namun mengandung teguran. "Ji-ciangkun, apa artinya semua ini? Mengapa ciang-kun menceritakan semua itu kepadaku? Semua itu tidak ada hubungannya sedikitpun dengan aku. Katakan, apa maksud ciangkun menghampiriku dan bicara denganku? Apa yang perlu dibicarakan?"

Sikap tegas ini, walaupun dikeluarkan dengan suara lembut, membuat Ji-ciangkun agak gugup juga. Tadinya dia mengira bahwa wanita yang dihadapinya akan bersikap dua macam, pertama, menerimanya dengan malu-malu kucing dan kedua dengan keras menolak. Akan tetapi wanita ini demikian tenang dan tegas, sama sekali tidak merasa rendah diri walaupun berhadapan dengan seorang perwira tinggi!

"Maaf, nona. Bolehkah kami mengetahui nama nona yang terhormat?"

Pertanyaan itu tidak pada tempatnya. Seorang laki-laki asing menanyakan nama gadis yang baru dijumpainya dan yang tidak dikenalnya. Akan tetapi karena pertanyaan itu diajukan dengan kata-kata yang sopan, dan karena Bi Lan tidak begitu terikat oleh sopan santun palsu, maka hal ini tidak menyinggung hatinya dan dengan tenang iapun memperkenalkan diri, apalagi mengingat bahwa orang itu telah memperkenalkan diri, bahkan juga nama dua orang temannya.

"Namaku Kwa Bi Lan. Kenapa ciangkun ingin tahu namaku?"

Ji-ciangkun tersenyum lebar. "Nona Kwa, bukankah sudah jamak kalau orang-orang yang saling berkenalan saling bertanya nama? Terus terang saja, nona, aku diutus oleh atasanku, yaitu Su ciangkun yang duduk di sana itu bahwa beliau amat kagum kepadamu. Beliau ingin sekali berkenalan dan kalau nona tidak berkeberatan, nona dipersilakan datang dan duduk semeja dengan beliau, atau beliau yang akan datang ke sini..."

Bi Lan sudah merasa betapa dadanya mekar dan panas. Dengan cara yang sopan bagaimanapun juga, jelas bahwa undangan itu bermaksud mesum. Mukanya mulai merah dan alisnya berkerut. Melihat gelagat ini, Ji-ciangkun yang cukup berpengalaman segera melanjutkan kata-katanya.

"Harap nona jangan salah mengerti. Atasan kami itu, Su-ciangkun, selain menjadi panglima tinggi yang berkedudukan tinggi dan berkuasa besar, juga merupakan seorang jagoan istana, seorang ahli silat yang suka sekali berkenalan dengan orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi. Maka, melihat nona tadi masuk sambil membawa siang-kiam (sepasang pedang), beliau sudah tertarik sekali dan ingin berbincang-bincang dengan nona mengenai dunia kangouw dan ilmu silat, terutama ilmu pedang karena beliau juga ahli silat pedang."

Memang cerdik sekali Ji-ciangkun itu. Dengan ucapan seperti itu, tentu saja tidak ada alasan berniat kurang ajar, melainkan seorang ahli silat yang tertarik kepadanya karena ia membawa pedang, bukan laki-laki kurang ajar tertarik kepada kecantikan wanita dan berniat mesum!

"Ah, begitukah? Su-ciangkun terlalu merendahkan diri. Aku hanya orang yang pernah belajar sedikit ilmu pedang, tidak ada apa-apa yang patut dibicarakan."

"Tapi, Kwa-lihiap (pendekar wanita Kwa). Kuharap li-hiap tidak menolak undangan Su-tai-ciangkun, karena menolak berarti memandang rendah kepada beliau. Kalau lihiap merasa sungkan, biarlah kami yang datang ke meja li-hiap. Bersediakah lihiap menerima kunjungan Su-tai-ciangkun ke sini?"

Bi Lan tersudut dan tidak mampu menolak lagi. Pula, timbul keinginan hatinya untuk mengetahui, apa yang akan dikatakan seorang panglima besar kepadanya! Ia mengangguk dan berkata lirih, "Silakan!" Dan iapun duduk memangku Lan Lan yang bermain-main dengan sepasang sumpit bersih.

Ji-ciangkun menghampiri atasannya dengan wajah berseri, lalu berbisik lirih. "Kwa-lihiap sudah setuju untuk menerima paduka di mejanya. Silakan, tai ciangkun!"

Su-ciangkun girang bukan main. Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengusap bibir, kumis dan jenggot agar nampak bersih, lalu menggosok-gosok kedua tangan. Dari ucapan pembantunya tadi saja dia tahu bahwa gadis yang amat menarik hatinya itu adalah seorang wanita kangouw, maka disebut lihiap oleh Ji-ciangkun.! Dia bangkit dan menghampiri meja Bi Lan di sudut, diikuti oleh kedua orang pembantunya.

Su-ciangkun yang sudah berpengalaman itu mengangkat kedua tangan di dada sebagai penghormatan. "Kwa-lihiap maafkan kalau kami mengganggu."

"Su-ciangkun, silakan duduk dan jangan menyebut lihiap kepadaku karena aku belum tepat untuk disebut pendekar."

"Aih, lihiap merendahkan diri. Dari gerak-gerik lihiap saja aku sudah dapat menduga bahwa lihiap tentu lihai sekali memainkan siang-kiam ini." Dia duduk dan menunjuk ke arah sepasang pedang di atas meja.

"Siang-kiam ini hanya untuk penjagaan kalau-kalau di tengah perjalanan aku bertemu dengan srigala atau harimau yang ganas, ciangkun."

"Kalau boleh aku mengetahui, lihiap dari perguruan manakah? Dan siapakah gurumu?" Su-ciangkun pura-pura bicara tentang ilmu silat, padahal di dalam hatinya dia tentu saja memandang rendah kepandaian seorang muda seperti Bi Lan yang usianya baru duapuluh tahun lebih itu, dan dia mendapatkan kesempatan untuk mengagumi kecantikan dan kemontokan tubuh wanita itu tanpa mendatangkan kesan kurang ajar.

Sebetulnya, Bi Lan tidak suka bicara tentang dirinya, dan dia tidak suka pula berbincang-bincang dengan perwira yang tidak dikenalnya ini. Akan tetapi karena tiga orang itu bersikap sopan, apalagi mereka bicara sebagai orang-orang dari dunia persilatan, ia merasa tidak enak juga kalau tidak menanggapi. Terlebih lagi, ia tidak suka menyebut nama mendiang gurunya yang juga suaminya, maka dengan sederhana dan sambil lalu iapun menjawab,

"Aku pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari seorang murid Siauw lim-pai..."

"Ah, kiranya seorang murid Siauw-lim pai yang gagah!" Su-ciangkun berseru, pura-pura kaget dan diapun bangkit berdiri, "Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Kwa-lihiap.!"

Bi Lan juga bergegas membalas penghormatan itu. "Su-ciangkun terlalu memuji. Aku hanya murid tingkat rendahan saja, mana bisa disamakan dengan ahli-ahli silat yang lihai dari Siauw-lim pai?"

"Harap Kwa-lihiap tidak terlalu merendah, dan tidak pula terlalu pelit untuk memberi petunjuk tentang ilmu pedang kepadaku. Kupersilakan lihiap untuk singgah di tempat kediaman kami dan memberi petunjuk ilmu pedang, dan untuk itu sebelumnya aku menghaturkan banyak terima kasih."

Bi Lan terkejut. Orang ini terlalu jauh melangkah, pikirnya. "Tapi aku... aku dan... anakku ini ingin beristirahat, besok pagi akan melanjutkan perjalanan..."

"Kami jemput dan antar dengan kereta, lihiap. Jangan khawatir, karena beliau ini tamu kehormatan dari kepala daerah," kata Ji-ciangkun membujuk.

"Kwa-lihiap tentu tidak akan tega menolak ajakan Su-tai-ciangkun, mengingat bahwa kita sama-sama dari dunia persilatan yang selalu menghargai orang lain yang ingin menguji ilmu silat." Lu-ciangkun ikut pula membujuk.

Bi Lan menjadi serba salah. Melihat keraguan wanita itu, Su-ciangkun lalu membujuk lagi, "Nona... eh, nyonya tidak perlu ragu-ragu. Kami mengundang lihiap dengan hormat, pula, lihiap berkunjung ke tempat kami bersama puteri lihiap yang mungil ini. Bagi kita orang-orang kangouw, hal ini sudah wajar, bukan?"

Ji-ciangkun sudah berlari keluar mempersiapkan kereta dan akhirnya Bi Lan tidak dapat menolak lagi. Bagaimanapun juga, perwira itu mengundang dengan sikap hormat, dan iapun tidak takut. Mereka ini bukan perampok, bukan penjahat, melainkan orang-orang berpangkat, orang-orang bangsawan yang terhormat. Tidak mungkin mereka akan melakukan hal-hal yang tidak patut.

"Baiklah, akan tetapi sebentar saja, hanya untuk menguji ilmu pedang sebentar, karena aku harus segera kenbali ke kamar hotel untuk menidurkan anakku," katanya dan iapun memondong Lan Lan, membawa pedang dan mengikuti Su-ciangkun dan dua orang pembantunya keluar dari rumah makan, naik ke kereta yang sudah disiapkan di depan, lalu pergi ke rumah kepala daerah.

Makin lega rasa hati Bi Lan ketika melihat betapa di rumah kepala daerah kota Peng-lu, Su-ciangkun dan dua orang pembantunya benar-benar disambut dengan segala kehormatan. Dan sebagai tamu agung, agaknya Su-ciangkun tidak begitu mengindahkan kepala daerah yang menyambutnya dengan tubuh membungkuk-bungkuk! Bahkan Su-ciangkun menyatakan bahwa dia tidak ingin diganggu karena dia hendak menjamu tamunya, yaitu Kwa lihiap!

Langsung saja Su-ciangkun bersama dua orang pembantunya memasuki bangunan sebelah kanan yang memang dikosongkan dan disediakan untuk tamu-tamu agung itu. Ketika Su-ciangkun memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan hidangan, Bi Lan mengerutkan alisnya dan menolak halus. "Ciangkun sendiri melihat bahwa aku dan anakku baru saja makan di rumah makan itu, bagaimana mungkin kami dapat menerima hidangan makanan lagi?"

"Bukan hidangan makanan berat, lihiap, hanya makanan ringan dan terutama sekali anggur yang sedap dan lezat. Kepala daerah kota ini menyimpan anggur yang sudah tua dan enak sekali," kata Su-ciangkun dan Bi Lan tidak membantah lagi. Ia tidak begitu suka minum arak, akan tetapi kalau anggur itu tidak terlalu keras, boleh juga ia minum beberapa cawan.

Ji-ciangkun dan Lu ciangkun menyuruh pelayan menyingkirkan meja kursi di ruangan belakang yang luas itu, karena tempat itu akan dijadikan tempat mengadu ilmu pedang. Ketika anggur dikeluarkan, benar saja anggur itu manis dan tidak terlalu keras, namun halus dan tidak mencekik leher. Bi Lan membatasi diri, hanya minum dua cawan.

"Sudah cukup, ciangkun. Sebaiknya mari kita cepat menguji ilmu pedang karena sungguh aku tidak dapat berlama-lama di sini. Anakku sudah kelihatan mengantuk." Bi Lan memandang Lan Lan yang ia dudukkan di bangku panjang. Anak itu bermain-main dengan sebuah boneka puteri yang dipakai sebagai hiasan di ruangan itu.

Su-ciangkun tertawa. "Ha-ha, lihiap tergesa-gesa saja. Dan sungguh mati, lihiap, tadinya kami tidak mengira sama sekali bahwa anak yang manis ini adalah puteri lihiap. Agaknya... maaf lihiap belum cocok untuk menjadi seorang ibu. Sekali lagi maaf..."

Ucapan itu agak melanggar susila, akan tetapi karena berkali-kali perwira itu minta maaf, maka Bi Lan tersenyum. "Tidak apa, ciangkun. Mari kita mulai. Lan Lan, kau duduk dulu di sini, ya? Ibu ingin latihan sebentar."

Lan Lan yang sudah mengantuk itu mengangkat muka memandang ibunya, lalu bertanya, "Ibu akan berlatih pedang?" Lan Lan sudah biasa melihat orang bersilat, dan ia paling senang kalau ayah atau ibunya berlatih silat pedang.

"Ha-ha-ha, ibunya pendekar wanita, anaknya yang masih sekecil ini sudah mengerti ilmu pedang. Tentu kepandaian lihiap hebat sekali!" Su-ciangkun memuji, walaupun dalam hatinya tetap memandang rendah. Semua ini dia lakukan hanya untuk beramah-tamah dan basa-basi saja, karena pada dasarnya, yang dia inginkan adalah tidur dengan wanita muda itu!

Bi Lan yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu, sudah meloncat ke tengah ruangan yang telah dibersihkan itu, menjura ke arah tuan rumah dan berkata, "Marilah, ciangkun, kita berlatih sebentar seperti yang ciangkun kehendaki agar aku tidak kemalaman membawa anakku ke rumah penginapan."

"Mengapa lihiap tergesa-gesa? Bermalam di sinipun ada tempatnya, bahkan lebih bersih dan nyaman dibandingkan rumah penginapan. Akan tetapi baiklah, aku ingin sekali mendapat petunjuk ilmu pedang darimu." Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tubuh, Su-ciangkun telah meloncat dan berada di depan wanita itu. Gerakannya cukup lincah, tanda bahwa dia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup baik.

Tanpa basa-basi lagi, Bi Lan mencabut sepasang pedangnya dan melihat cara wanita itu mencabut pedang saja tahulah Su-ciangkun bahwa wanita itu menggunakan pedang bukan sekedar untuk pamer. Memang cara mencabut pedang itu saja sudah menunjukkan keahlian. Maka diapun mencabut pedangnya yang berkilauan karena pedang itu adalah pemberian kaisar, merupakan sebatang pedang yang terbuat dari baja yang baik sekali.

"Silakan, ciangkun."

"Aku adalah tuan rumah dan engkau tamuku, lihiap. Silakan lihiap menyerang lebih dulu."

"Maafkan aku, ciangkun. Lihat pedang!" Bi Lan membuka serangan dengan pedang kirinya yang meluncur ke depan menusuk dada, disusul pedang kanan menyambar dari atas membacok kepala dengan jurus Angin bertiup kilat menyambar yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga lembut namun kuat.

"Bagus!" Su Ki Seng yang mahir ilmu pedang campuran Butong-pai dan Kun-lun-pai, cepat mengelak dengan loncatan mundur sambil menangkis yang membacok dari atas. Terdengar suara nyaring dan perwira itu terkejut. Ketika pedangnya bertemu dengan pedang kanan wanita itu, dia merasa betapa lengannya tergetar!

Kekagetannya disusul kekaguman ketika Bi Lan memainkan sepasang pedangnya, wanita itu bukan saja memiliki sinkang yang kuat, akan tetapi juga ilmu pedangnya amat hebat! Kalau tadinya Su-ciangkun kagum akan kecantikannya dan merindukan wanita ini karena berahi, kini terjadi perubahan besar dalam hatinya. Dia adalah seorang bangsawan yang selalu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.

Kini, melihat bahwa wanita yang cantik ini memiliki ilmu silat yang amat lihai, diapun membayangkan betapa akan senangnya kalau wanita seperti ini dapat menjadi pengawal pribadinya! Bukan lagi ingin memanfaatkan kecantikannya, melainkan kepandaiannya. Kalau yang pertama untuk memuaskan gairah berahinya, yang terakhir ini untuk menjamin keamanan pribadinya.

"Trang-trang-singg....!" Bunga api berpijar-pijar ketika Su-ciangkun memutar pedangnya menangkis sepasang pedang yang mendesaknya bagaikan dua ekor kumbang yang melayang-layang dan siap untuk menyengatnya itu.

"Bukan main! Ilmu pedang yang hebat...!" Dia berseru dan seruan ini merupakan isyarat kepada dua orang pembantunya. Mereka memang sudah siap dan sejak tadi, mereka menonton pertandingan itu sambil mendekati Lan Lan.

Bi Lan ingin cepat menyudahi pertandingan itu, maka sengaja ia mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan semua tenaga untuk mengalahkan perwira itu agar ia dapat segera pergi bersama Lan Lan meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, Su-ciangkun ternyata bukan orang lemah dan dapat menjaga diri dengan baik sehingga setelah lewat limapuluh jurus, ia hanya mampu mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas.

Tiba-tiba Su-ciangkun meloncat jauh ke belakang sambil berseru, "Kwa-lihiap, tahan dulu!" Bi Lan menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan memandang kepada perwira itu sambil tersenyum. Tentu perwira itu mengaku kalah dan ia akan segera pergi dari situ.

"Kwa-lihiap, ilmu pedangmu sungguh hebat. Aku kagum sekali dan terimalah hormatku!" kata perwira itu dengan suara sungguh-sungguh, bahkan dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Ah, Su-ciangkun terlalu merendah. Ilmu pedangmu juga hebat dan terima kasih bahwa engkau telah mengalah," kata Bi Lan, menggunakan sikap dan bicara yang merendah dari para ahli persilatan yang saling menguji ilmu. "Sekarang terpaksa aku berpamit, akan kembali ke kamar hotel bersama anakku, karena ia harus segera mengaso dan tidur."

"Kwa-lihiap, sekarang aku ingin berterus terang kepadamu. Kuharap engkau dan puterimu suka bermalam saja di rumah kepala daerah ini, dan aku akan mengutus orang untuk mengambil barang-barangmu dari kamar hotel. Besok akan kuantar engkau ke kotaraja."

Bi Lan terbelalak, lalu alisnya berkerut. "Ciangkun, apa artinya ini? Apa maksudmu?"

"Kami membutuhkan seorang yang memiliki kepandaian sepertimu, lihiap. Percayalah, kalau engkau ikut dengan aku, engkau akan memperoleh kedudukan dan kemuliaan. Untuk langkah pertama, engkau menjadi pengawal pribadiku di gedungku, kemudian lambat laun aku akan memperkenalkan engkau kepada Pangeran Mahkota yang membutuhkan orang-orang pandai..."

"Tidak, aku tidak mau! Aku akan pergi dengan Lan Lan sekarang juga!" kata Bi Lan dan ia menengok ke arah Lan Lan. Wajahnya berubah dan ia marah sekali. Dua orang perwira pembantu tadi telah berdiri di kanan kiri Lan Lan dengan pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!

"Kwa-lihiap, ini merupakan perintah seorang petugas negara!" kata Ji-ciangkun membujuk. "Lihiap boleh memberitahu dimana suami lihiap, dan kami akan mengundangnya pula. Keluargamu akan memperoleh kedudukan yang baik di istana."

Wajah Bi Lan menjadi merah mendengar suaminya disebut-sebut. "Tidak, aku tidak ingin bekerja di kota raja!"

"Engkau tidak ada pilihan lain, lihiap. Ini perintah petugas negara!" kata Su-ciangkun.

Dan pada saat itu, muncullah puluhan orang perajurit mengepung tempat itu dengan senjata lengkap. Kiranya dua orang pembantu Su-ciangkun tadi diam-diam telah mengatur dan minta bantuan pasukan keamanan dari kepala daerah.

Bi Lan menjadi marah bukan main, "Hemm, kalian menggunakan cara gerombolan penjahat saja! Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?"

Su-ciangkun tersenyum. "Ini siasat pasukan, bukan siasat gerombolan, lihiap. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami tangkap engkau dan puterimu dan memaksamu menghadap yang berwenang di kota raja."

Pada saat itu, terdengar suara suling melengking. Semua orang terkejut, dan Bi Lan mengangkat muda dengan girang karena ia tahu bahwa kembali si peniup suling datang membantunya. Ia sedang tersudut dan tidak berdaya, sungguh amat membutuhkan bantuan.

"Minta seseorang bekerja tidak boleh menggunakan paksaan!" terdengar suara orang setelah lengking suling itu berhenti dan muncullah Can Hong San. Begitu bayangannya berkelebat, tahu-tahu dia telah melayang ke arah Lan Lan dan dua orang perwira Lu dan Ji yang memegang pedang, siap menyambutnya dengan serangan. Akan tetapi, demikian cepatnya gerakan suling di tangan Hong San sehingga tahu-tahu dua orang itu-pun roboh terkulai, tertotok sulingnya dan di lain saat, Hong San telah memondong Lan Lan!

"Nona, mari kita pergi saja dari sini!" katanya. "Akan tetapi ingat, jangan membunuh orang!"

Bi Lan tersenyum. Bukan main lega rasa hatinya. Ia sendiri tidak takut menghadapi pengepungan dan pengeroyokan itu, akan tetapi ia tadi sungguh tidak berdaya melihat Lan Lan ditodong dua orang perwira pembantu. Ia tahu bahwa tidak mungkin dalam keadaan dikepung itu ia akan mampu membebaskan Lan Lan. Dan ternyata pemuda itu telah menyelamatkan Lan Lan, karena selain gerakannya amat cepat, juga orang tidak menduga bahwa pemuda itu datang-datang merampas Lan Lan dari todongan dua orang perwira.

Ia tersenyum karena pemuda itu masih sempat mengingatkannya agar tidak membunuh orang. Ketika melihat pemuda itu sudah membuka jalan dengan tendangan kakinya dan gerakan sulingnya, iapun segera meloncat ke dekat pemuda itu dan membantunya membuka jalan keluar dari gedung itu. Hong San yang memondong Lan Lan sambil memainkan sulingnya, diam-diam merasa kagum sekali kepada Bi Lan. Juga kagum kepada puterinya, yaitu anak perempuan mungil yang berada di pondongannya itu, yang disangkanya tentulah anak wanita cantik perkasa itu.

Betapa dia tidak akan kagum melihat Lan Lan yang baru berusia dua tahun lebih itu, sama sekali tidak nampak ketakutan. Juga tidak menangis walaupun berada dalam pondongan orang yang tidak dikenalnya dan pemondongnya itu dikeroyok banyak orang! Dan diapun kagum melihat ibu anak itu benar-benar tidak membunuh orang, hanya menggunakan pedangnya untuk membuat para pengeroyok melepaskan senjata, dan menendang atau menampar dengan tangan kiri, merobohkan para pengeroyok yang menghalang di depan akan tetapi sama sekali tidak membunuh orang, seperti yang dipesankan tadi.

Karena ilmu kepandaian mereka memang tinggi, maka tidak sukar bagi mereka berdua untuk lolos dari kepungan, melarikan diri keluar dari rumah gedung kepala daerah. Mereka tanpa banyak cakap lagi lari ke tempat penginapan dan setelah Bi Lan mengambil buntalan pakaiannya dan membayar sewa kamar, ia dan Hong San segera keluar kota Peng-lu atas ajakan Hong San.

"Setelah peristiwa tadi, sungguh tidak aman bagi kita untuk tinggal di dalam kota ini," demikian pemuda itu berkata. "Mereka adalah perwira-perwira dari kota raja, dan menjadi tamu kepala daerah. Mereka tidak akan mau sudah begitu saja dan pasukan tentu akan mencari kita di seluruh kota."

"Malam hampir tiba, lalu kami harus bermalam di mana? Lan Lan juga sudah mulai mengantuk," kata Bi Lan yang menggendong buntalan pakaian di punggung dan memondong Lan Lan yang sudah melenggut karena kelelahan dan mengantuk.

"Di luar kota Peng-lu ini terdapat sebuah dusun dan aku pernah bermalam di rumah seorang petani miskin yang baik hati. Malam ini kita bermalam di sana dan besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan menjauhi kota Peng-lu. Aku akan mencarikan kereta dan kuda untukmu, nona."

Mereka sudah berada di luar kota dan berjalan perlahan-lahan karena malam mulai tiba dan cuaca menjadi gelap hanya diterangi bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Tiba-tiba Bi Lan berhenti melangkah.

"Kenapa, nona?" Hong San bertanya, juga berhenti.

Mereka berdiri di jalan raya yang diapit persawahan yang luas. Sunyi sekali di tempat itu, dan yang terdengar hanyalah bunyi katak di sawah yang riuh rendah saling sahut seperti paduan suara yang kacau kalau diperhatikan, namun serasi dan 'hidup' kalau tidak diperhatikan.

"Kenapa berhenti, nona?"

"Kenapa engkau begini memperhatikan kami, begini baik kepada kami?"

Pertanyaan Bi Lan itu lembut, namun suaranya mengandung tuntutan dan kecurigaan. Baru saja timbul dalam pikiran Bi Lan betapa baiknya orang ini kepadanya. Mengapa begitu baiknya? Padahal mereka belum berkenalan. Kalau hanya menolongnya dari kepungan penjahat, hal itu tidaklah aneh karena setiap pendekar tentu akan melakukannya. Akan tetapi kebaikan orang ini sudah berlebihan, bukan saja menyelamatkannya dan mengajaknya melarikan diri dari kota Peng-lu, akan tetapi bahkan hendak menyediakan kuda dan kereta! Ini sudah melampaui batas dan menimbulkan kecurigaan.

Sejenak Hong San tertegun karena kaget mendengar pertanyaan yang dirasakannya seperti suatu serangan kilat itu. Untung bahwa malam gelap menyembunyikan wajahnya. Dia segera dapat menenangkan hatinya yang tadi khawatir kalau-kalau gadis ini mengetahui latar belakang kehidupannya. Dia tertawa kecil dan berkata dengan suara halus.

"Aih, benar juga engkau, nona. Kita belum berkenalan, dan tentu saja nona curiga kepadaku. Nah, perkenalkan, aku Can Hong San..." Dia berhenti lagi dan mencoba untuk menatap wajah cantik itu melalui kegelapan malam untuk melihat reaksi wanita itu ketika dia memperkenalkan namanya. Akan tetapi sunyi saja dan tidak ada tanda bahwa wanita itu mengenal namanya, maka diapun melanjutkan dengan hati lega.

"Aku hidup sebatangkara di dunia ini bebas lepas seperti seekor burung di udara. Kebetulan saja di dalam perjalanan, aku bertemu denganmu, nona. Aku tertarik dan kasihan ketika melihat engkau dikeroyok perampok. Dan kebetulan pula di Peng-lu aku melihat nona memasuki rumah makan itu. Kemudian melihat nona pergi bersama para perwira naik kereta. Aku merasa curiga dan membayangi, kemudian turun tangan membantumu. Nah, demikianlah, nona. Dan tentang memperhatikanmu dan baik kepada kalian, ehh... kenapa? Bukankah sudah seharusnya hidup ini saling tolong?"

"Tapi... tapi... kalau engkau hidup sebatangkara, bagaimana engkau demikian royal, hendak membeli kuda dan kereta untuk kami seperti seorang hartawan besar saja?" Bi Lan menatap tajam, akan tetapi karena cuaca hanya remang-remang, tentu saja ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas.

"Oooooh, itukah?" Hong San tertawa, "Pantas, saja engkau curiga, nona. Aku bukan seorang hartawan, bahkan rumahpun aku tidak punya. Akan tetapi sebulan yang lalu, aku menyelamatkan rombongan saudagar kaya dari serbuan para perampok. Mereka membawa barang dagangan yang banyak dan berharga sekali. Karena senangnya, mereka memaksaku menerima sekantung emas permata walaupun aku menolak dan tidak mengharapkan apa-apa. Melihat kerelaan dan kesungguhan hati mereka, agar tidak mengecewakan, aku menerimanya. Tadinya aku bingung, untuk apa harta itu bagiku, akan tetapi sekarang aku girang dapat menggunakan sebagian dari itu untuk membantumu. Engkau membawa anakmu yang masih kecil, maka sebaiknya kalau menggunakan kereta."

Lega rasa hati Bi Lan. Memang ia tidak mencurigai orang yang telah dua kali menyelamatkannya dari ancaman bahaya, akan tetapi karena ia belum mengenal pemuda ini, ia harus berhati-hati. "Kalau begitu, maafkanlah aku, taihiap (pendekar besar), dan mari kita lanjutkan perjalanan ke dusun itu."

"Ehhhh? Engkau belum memperkenalkan dirimu, nona..." kata Hong San sambil mengejar ke depan.

"Nanti saja kita bicara lagi kalau sudah tiba di sana. Anak ini sudah tertidur."

Mereka melangkah, menuju ke dusun yang sudah kelihatan lampu-lampunya berkelap-kelip di kejauhan. Melihat wanita itu diam saja, Hong San merasa khawatir.

"Maaf, nona. Mungkin aku tadi keliru menyebut anak ini sebagai anakmu, mungkin ini adikmu atau keponakanmu..."

Dalam kegelapan itu Bi Lan tersenyum. "Ini anakku, namanya Lan Lan." katanya singkat.

"Ah, maaf, kalau begini anda seorang nyonya, bukan nona...! Kenapa nyonya melakukan perjalanan seorang diri bersama anak nyonya?"

"Sudahlah, nanti saja kita bicara."

Hong San maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang pendiam dan mungkin keras hati. Maka diapun tidak mau banyak bicara lagi dan menjadi penunjuk jalan memasuki dusun itu dan menghampiri sebuah rumah kecil yang berdiri di ujung jalan dusun itu. Dia mengetuk daun pintu sambil memanggil.

"Paman Gu, buka pintu, ini aku yang datang!"

Daun pintu dibuka dari dalam dan seorang laki-laki berusia limap uluhan tahun, berpakaian petani sederhana, menyambut mereka. Begitu melihat Hong San, dia tersenyum ramah. "Aih, kiranya Can-kongcu (tuan muda Can) yang datang! Bersama siapakah nona ini? Dan dari mana malam-malam begini...?"

"Paman Gu, ini adikku dan puterinya. Aku akan menyewa kamar itu, bekas kamar anakmu itu, untuk adikku dan keponakanku ini tidur. Aku sendiri dapat tidur bersama paman di kamar paman."

"Ah, baiklah, kongcu. Hemm, anak ini sudah pulas, sebaiknya cepat ditidurkan saja. Mari, nyonya muda, inilah bekas kamar anakku yang kini ikut suaminya. Tidurlah di sini bersama anakmu..." Petani itu membukakan pintu sebuah kamar sederhana yang cukup bersih...