Social Items

MELIHAT keadaan suhunya ini, Han Beng merasa terkejut, heran dan juga terharu. Dia merasa bersalah, mengira ihwa karena dia tidak mentaati gurunya maka orang tua itu kini merasa menyesal dan menangis. Dia segera berlutut dan menyentuh ujung sepatu gurunya.

"Suhu, ampunkan teecu...!"

Liu Bhok Ki menangis semakin sedih, sampai terisak-isak dan sesenggukan, kedua tangan menutupi mukanya. Air mata mengalir keluar dengan derasnya melalui celah-celah jari tangannya. Seolah-olah semua gumpalan yang tadinya membeku di dalam dirinya telah mencair dan menjadi air mata, kini tertumpah keluar semua. Dadanya terasa lapang dan dia lalu menurunkan kedua tangannya, memegang kedua pundak muridnya dan menariknya berdiri.

"Han Beng, kau maafkan Suhumu... Kemudian dia menyentuh kepala Sian Lee dan Lan Ci sambil berkata, "Kalian... kalian maafkanlah semua perbuatanku yang lalu..."

"Lo-cian-pwe...!" Sim Lan Ci kini menangis, tidak dapat menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.

Liu Bhok Ki kini membungkuk mengangkat Thian Ki dalam pondongannya. Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu dan terdengar suaranya yang merdu.

"Kong-kong (Kakek), kenapa engkau menangis?"

Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Liu hok Ki, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu. Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak-gelak. Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa orang tua itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.

"Ha-ha-ha... Cucu yang baik, siapakah namamu?" Dia mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.

"Namaku Coa Thian Ki, Kong-kong." kata anak itu manja.

"Bagus! Terima kasih, Thian Ki, terima kasih Cucu yang baik...!" Dia menurunkan anak itu, kemudian menoleh kepada Han Beng.

"Han Beng, engkau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu."

"Teecu akan mentaati pesan Suhu."

"Dan kalian, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau engkau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!" Setelah berkati demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang, maklum bahwa tentu kakek itu sejak kemarin membayangi mereka sehingga mendengar pula percakapan mereka tentang maksud mereka untuk tidak memperkenalkan Thian Ki dengan ilmu silat dan kekerasan. Kemudian mereka teringat akan keadaan mereka, lalu mereka berdua menghampiri Han Beng yang juga sudah bangkit berdiri.

"Kami harap Si Siauw-te suka tinggal di sini bersama kami. Kami sunggu berterima kasih sekali, Siauw-te. Ternyata engkau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu." kata Siang Lee, sedangkan Sim Lan Ci juga mengangguk-angguk membenarkan dan memandang kepada pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa syukur, sedangkan Thian Ki berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.

"Sudahlah, Toako. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian."

Siang Lee dan isterinya saling pandang. "Kami tidak akan pindah, Siauw-te. Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami."

Isterinya mengangguk membenarkan. Apa perlunya pindah? Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami. Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati.

Han Beng mengangguk-angguk. Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka. Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan sin-kang untuk kalian, karena dengan sin-kang yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua."

Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main. Setelah Thian Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.

Pada keesokan harinya, setelah lewat tengah hari, barulah Han Beng meninggalkan suami isteri yang amat berterima kasih kepadanya itu. Bahkan Coa Siang Lee berhasil membujuk Han Beng mau mengaku sebagai saudara angkat. Upacara sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang. Han Beng menyebut toako dan so-so (kakak ipar perempuan) kepada suami isteri itu dan mereka menyebutnya siauw-te. Thian Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.

Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan. Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Kota Siong-an hari itu nampak ramai. Kota yang berada dekat tepi Sunga Huang-ho ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang. Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu mengamuk dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air. Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba. Selain itu, juga menjadi penampung barang dagangan yang datang melalui sungai.

Sebagai kota dagang yang banya dikunjungi pedagang dari kota lain, yang terutama sekali membutuhkan bahan bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.

Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal. Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan. Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan.

Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Huang-ho atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin. Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang. Ada belasan orang pelayan yang sigap dan terampil, seorang kasir yang ramah dan juru-juru masak yang berpengalaman.

Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar. Juga di restoran itu dijual arak Hang-couw yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut.

Hari itu, sejak pagi kota Siong-an sudah ramai sekali karena hari itu orang orang sibuk mempersiapkan pesta perayaan tahun baru Imlek! Seperti biasa jauh hari sebelumnya, pasar mendadak menjadi lebih ramai, toko-toko juga penuh dengan orang yang berbelanja untuk keperluan sembahyang dan pakaian baru. Dan hari itu merupakan hari terakhir karena besok adalah hari tahun baru.

Restoran Hotin, sejak pagi sudah kebanjiran tamu. Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu. Kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan.

Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka. Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna merah muda. Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain kuning. Ujung kain itu diikatkan di dadanya.

Dari sikap, juga dari buntalan kain kuning di punggung, mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wajah yang demikian cantik jelita dan bentuk tubuh yang demikian indahnya? Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu.

Namun, gadis berpakaian merah muda itu tidak peduli. Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli. Ia tahu bahwa sekali dilayani atau ditanggapi, kekurangajaran para pria itu akan semakin melonjak. Bukan ia tidak berani menanggung akibatnya, akan tetapi kalau ia harus menghajar setiap orang pria yang bersikap kurang ajar, maka setiap langkah tentu ia akan berurusan dengan seorang pria!

Ketika seorang pelayan restoran itu menyambutnya dengan sikap hormat dan ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak dipinggir. Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku. Gadis itu menurunkan buntalan kuning, meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya, ia memesan makanan kepada Si Pelayan.

"Masakan apa saja yang paling lezat di rumah makan ini?" tanyanya kepada pelayan itu.

Pelayan itu mengerutkan alisnya, mengamati gadis itu penuh perhatian. Bukan seorang gadis miskin, akan tetapi juga tidak dapat dikatakan seorang gadis bangsawan atau kaya raya, melihat pakaian dan perhiasan yang dipakainya. Akan tetapi dia harus berhati-hati karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang kadang-kadang dapat bersikap galak.

"Nona, restoran kami menyediakan segala macam makanan, dari yang paling murah sampai yang paling lezat, harganya amat mahal."

Gadis itu tersenyum dan banyak pria menelan ludah. Senyum itu! Manisnya! Lesung pipit yang mungil dan lucu muncul di kanan kiri mulut, dan sinar mata yang jeli itu seperti menari-nari.

"Tentu saja, yang lezat itu mahal. Dan aku berani pesan yang mahal tentu mampu pula membayarnya. Hayo katakan, apa saja yang paling lezat?"

Pelayan itu mengangguk-angguk, takut gadis itu tersinggung, lalu menghitung dengan jari tangannya. "Pertama ada cakar daging burung Hong, ada goreng lidah ki-lin, ada pula sup sirip raja hiu atau tim buntut badak, juga sup cakar harimau atau sup daging naga."

Gadis itu bengong, lalu alisnya berkerut dan mukanya berubah merah, karena ia merasa dipermainkan pelayan itu. "Apakah otakmu belum miring? Jangan kau main-main!"

Pelayan itu yang kini bengong karena dia sama sekali tidak merasa bersalah tiba-tiba dimaki orang. Mukanya berubah merah dan dia menjawab dengan sungguh-sungguh dan juga dengan suara mengandung penasaran. "Aih, Nona. Siapa yang main-main? Kalau tidak percaya lihat saja ini daftar makanan, tentu saja kalau Nona pandai membaca!" Ucapan terakhir itu untuk membalas karena biasanya, gadis kang-ouw yang kasar mana dapat membaca tulisan?

Akan tetapi, gadis itu menyambar daftar makanan yang disodorkan, membacanya lalu tersenyum. Manisnya. "Wah, kau maafkan aku, ya? Habis, siapa percaya ada masakan cakar daging burung Hong, kiranya daging burung ayam! Lidah ki-lin adalah lidah sapi, sirip raja hiu hanya sirip hiu biasa, tim buntut badak hanyalah buntut kerbau, cakar harimau hanya cakar domba dan daging naga hanya daging ular, hi-hik!"

Gadis itu tertawa tanpa menutupi mulutnya, namun tidak nampak kasar karena tawanya tidak terbahak, lebih mirip senyum lebar nampak deretan giginya yang putih mengkilap. "Nah, kalau begitu, cepat hidangkan masakan butir-butir mutiara sawah, otot-otot dewa digoreng basah, gule daging singa, ditambah buah sian-to (buah to dewa) dan minuman sorga!"

Pelayan itu bengong, sejenak tak mampu bicara dan memandang kepada gadis itu, mulai curiga jangan-jangan gadis itu yang miring otaknya.

Melihat pelayan itu bengong, gadis itu kembali tertawa. "Hi-hik, sekarang engkau yang bengong! Kenapa bengong dan bingung? butir mutiara sawah adalah nasi putih, otot-otot dewa adalah bakmi, daging singa adalah daging kambing. Buah sian-to adalah apel dan minuman sorga adalah minuman anggur, tolol kau!"

Pelayan itu tertawa dan tersipu, dan beberapa orang tamu yang mejanya berdekatan dan mendengar percakapan itu tertawa. Setelah pelayan itu pergi untuk memesankan makanan kepada koki, gadis itu duduk seorang diri dan tidak mempedulikan pandang mata banyak pria yana ditujukan kepadanya. Bahkan mereka yang duduk membelakanginya, kini memutar leher seperti leher burung bangau, ada yang memandang dari samping, melirik sampai matanya seperti juling.

Tiba-tiba dua orang laki-laki muda, berusia kurang lebih dua puluh tahun dan agaknya sudah setengah mabuk karena agak terhuyung, menghampiri meja gadis itu sambil menyeringai. Mereka harus diakui memiliki wajah yang cukup tampan dan melihat pakaian mereka jelas bahwa mereka adalah pemuda pemuda yang kaya.

"Nona, bolehkah kami menemanimu? Kasihan engkau seorang diri saja makan minum, tentu kurang menggembirakan, he-he!" kata yang seorang.

"Ha-ha, benar sekali, Nona. Jangan khawatir, semua makanan dan minuman untukmu kami yang akan bayar!" kata yang ke dua.

Gadis berpakaian merah muda itu mengangkat muka memandang dan ia tersenyum, sama sekali tidak marah, bahkan senyumannya manis dan penuh kesabaran. "Terima kasih," katanya lembut. "Kalian baik sekali, akan tetapi sayang, saat ini aku ingin makan seorang diri saja dan tidak ingin diganggu."

"Tapi, Nona, kami tidak mengganggu, bahkan ingin menggembirakan hati Nona! Kami...!"

Belum habis seorang di antara dua pemuda itu bicara, terdengar suara orang membentak, "Kalian ini tikus-tikus kecil sungguh tak tahu diri! Nona kalian tidak mau diganggu, mengerti?"

Dua orang pemuda setengah mabuk itu membalikkan tubuhnya dan mereka hendak marah. Akan tetapi melihat bahwa yang berada di belakang mereka dan menegur itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh! seperti raksasa, keduanya menjadi ke takutan.

"Maafkan, kami tidak ingin mengganggu..."

Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar itu, Si Raksasa sudah mencengkeram tengkuk dua orang pemuda itu dan mengangkatnya, lalu membawanya pergi, keluar dari ruangan itu! Kemudian dia melemparkan dua orang pemuda itu keluar restoran, diiringi suara ketawa di sana-sini. Melihat betapa raksasa itu mampu mengangkat dua orang pemuda dan melemparkan mereka seperti itu, dapat dilihat betapa kuat tenaganya. Si raksasa itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis in sambil tersenyum.

Gadis itu pun tersenyum, hanya memandang. Kiranya raksasa itu mempunyai lima orang teman dan seorang di antaranya berpakaian seperti seorang hartawan, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan yang lain agaknya merupakan pengawal, anak buah atau tukang pukulnya karena mereka itu lagak dan pakaiannya sama dengan raksasa tadi. Gadis itu melihat betapa pria yang berpakaian mewah itu memandang kepadanya, lalu mengedipkan mata kanannya dengan cara yang genit sekali, la pun tidak peduli dan membuang muka.

Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, wajahnya yang cantik jelita dan manis itu hanya dipolesi bedak tipis, dan ia memiliki senyum memikat. Siapakah ia? Bukan lain adalah Bu Giok Cu! Seperti kita ketahui, Giok Cu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, dan biarpun sejak berusia sepuluh tahun ia hidup di antara golongan sesat selama lima tahun lebih, namun bagaikan setangkai bunga teratai yang hidup di lumpur, ia tetap bersih dan berjiwa gagah.

Akhirnya, ia bentrok dengan Ban-tok Mo-li karena melihat Subonya itu tergila-gila kepada Hok-houw lim to Lui Seng Cu dan aliran agama barunya. Ia menentang subonya, yang melakukan pembunuhan keji terhadap muda mudi tak berdosa dan akhirnya ia bahkan dimusuhi gurunya dan hendak dibunuh. Untung ia tertolong oleh Hek-bin Hwesio, seorang pertapa sakti dari Himalaya dan ia lalu menjadi murid hwesio gendut berkulit hitam itu.

Dan hampir lima tahun gadis ini digembleng sehingga bukan saja ilmu silatnya yang sudah lihai itu menjadi semakin tinggi juga ia semakin mendalami soal-soal kebatinan atau rohaniah. Bahkan ia pernah menyatakan keinginan hatinya kepada Hek-bin Hwesio untuk menjadi nikouw (pendeta wanita), namun dilarang oleh gurunya yang melihat bahwa ia tidak berbakat menjadi nikouw.

Demikianlah, Giok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun alam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya. Pengalaman-pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu subonya, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi pria!

Kalau saja ia belum menjadi murid Hek-bin Hwesio dan tidak memiliki kesabaran besar, dan masih menjadi murid Ban tok Mo-li, tentu tadi sudah dihajarnya dua orang pemuda itu. Akan tetap setelah menjadi murid Hek-bin Hwesio ia menjadi seorang gadis yang penyabar dan tidak mudah turun tangan menggunakan kekerasan. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa ia diam saja kalau ada yang berani mengganggunya. Hanya ia tidaklah sekeras dan segalak sebelum menjadi murid hwesio hitam itu. Bahkan ia mewarisi kejenakaan kakek gendut itu, suka tertawa dan bergurau.

"Nona, Cukong (Majikan) kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong-cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Cukong kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya."

Giok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan, maka ia hanya menjawab, "Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri."

"Boleh, boleh, Nona Manis," kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti raksasa tadi, "A-lok, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri, bukan?"

A-lek, Si Raksasa itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Giok Cu. Gadis itu diam-diam mendongkol sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja. Ketika A-lok hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan sin-kang yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja. A-lok menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat. Akan tetapi, dia terkejut bukan main!

Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya. Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai. Di menjadi penasaran. Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya! Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.

“A-loK, pindahkan meja itu ke sini!" teriak lagi cukongnya karena seperti orang lain, dia belum tahu akan peristiwa aneh itu. Hanya Alok sendiri yang merasakan keanehan itu. Dia, yang dengan mudahnya mengangkat dua orang pemuda tadi dan melemparkan mereka, kini tidak kuat mengangkat sebuah meja kecil yang ringan! Siapa yang akan dapat percaya?

“Hei, kerbau gila! Jangan ganggu Nona itu!" Ucapan ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang duduk bersama dua orang pria lain di meja sebelah kanan Giok Cu.

Mendengar dia dimaki kerbau gila, tentu saja Alok menjadi marah bukan main. Dia adalah tukang pukul nomor itu dari hartawan Teng dari kota Siong-cu, dan di kota itu dia terkenal ditakuti orang, bahkan nama besarnya sudah banyak didengar orang di Siong-an. Bagaikan seekor kerbau gila benar, dia membalikkan tubuh meninggalkan meja depan Giok Cu dan memandang ke arah tiga orang yang duduk makan minum di meja itu.

Mereka adalah tiga orang pria yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Wajah dan bentuk badan mereka biasa saja, tidak mengesankan, akan tetapi warna pakaian mereka yang menarik perhatian karena mereka bertiga memakai pakaian yang berwarna kuning, seperti pakaian seragam saja.

Melihat bahwa orang yang memakinya hanya orang "biasa", kemarahan Alok memuncak. "Siapa di antara kalian bertiga yang telah berani memaki aku tadi?"

"Memaki engkau apa?" Serentak tiga orang berpakaian kuning itu bertanya.

"Memaki aku kerbau gila!" kata Alok dan tiga orang itu pun tertawa bergelak, juga beberapa orang tamu yang mendengarkan ikut tertawa. Tadinya Alok tidak menyadari, akan tetapi kemudian ia teringat bahwa jawabannya tadi menjadi pengakuan bahwa dia kerbau gila! Dia telah dipancing dan dipermainkan tiga orang berpakaian kuning itu.

"Keparat, kalau kalian memang laki-laki dan bukan pengecut, hayo maju kesini!" tantang Alok dengan marah sekali.

Orang termuda dari tiga orang pria berpakaian kuning itu bangkit berdiri. Hemmm, kau ini kerbau gila hendak jual lagak di sini, ya?" Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan nampaklah sebuah cambuk berwarna kuning emas.

"Tar-tarrr-tarrrrr...!" Cambuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak dan sinar kuning emas menyambar-nyambar ke arah tubuh Alok. Raksasa itu terkejut dan mencoba mengelak, akan tetapi te¬tap saja ujung cambuk itu mematuk-matuk dan pakaiannya robek di sana-sini ditambah kulit tubuhnya nyeri seperti disengat lebah!

Dia pun bergulingan ke tas lantai dan ketika dia sudah meloncat bangun, dia sudah mencabut golok besarnya. Dengan marah dia lalu menerjang ke arah orang yang memegang cambuk dan yang berdiri sambil tertaw tawa itu. Akan tetapi, sebelum tubuhnya mendekat, Si Baju Kuning itu sudah menggerakkan cambuknya lagi.

"Tar-tarr-tarrr...!" Golok yang berada di tangan Alok terbang dan terlepas dari pegangannya, dan kembali dia menjadi bulan-bulanan lecutan cambuk itu yang bertubi-tubi. Pakaian Alok kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.

"Kim-bwe Sam-houw... (Tiga Harimau Ekor Emas)!”

Terdengar seorang di diantara lima tukang pukul hartawan Teng dari Siong-Cu itu berseru dan barulah Alok sadar bahwa yang dihadapinya adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal lihai dan ditakuti semua orang kang-ouw di daerah itu!

"Bagus, kalian sudah mengenal kami! kata Si Baju Kuning yang menghajar Alok tadi. "Hayo cepat kalian pergi!"

Dan cambuknya kembali menyambar-menyanbar, kali ini ke arah hartawan Teng dari empat orang tukang pukulnya yang lain. Mereka mengaduh-ngaduh dan setelah cambuk itu berhenti menari-nari, lima orang itu masing-masing mendapat tanda guratan melintang pada muka mereka, guratan yang cukup dalam sehingga nampak merah dan ada pula yang berdarah! Tanpa banyak cakap lagi hartawan Teng dan lima orang tukang pukulnya meninggalkan restoran itu dan membayar uang makanan di luar. Yang paling parah adalah Alok sehingga dia harus dipapah oleh seorang rekannya.

Tadi, banyak diantara para tamu yang ketakutan. Akan tetapi setelah enam orang itu pergi dan suasana kembali tenang, mereka melanjutkan makan dengan tergesa-gesa dan ada pula yang segera meninggalkan tempat itu. Akan tapi, makanan yang dipesan Giok Cu baru tiba dan gadis itu pun makan minum dengan tenangnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di dekatnya. Hanya diam-diam ia memperhatikan tiga orang berpakaian kuning yang disebut Kim-bwe Sam-houw itu, dan merasa penasaran karena tidak suka melihat kekejaman mereka ketika menghajar enam orang tadi.

Si raksasa tadi memang pantas dihajar, akan tetapi lima orang lainnya tidak melakukan sesuatu yang pantas membuat mereka menjadi korban cambuk. Juga ia melihat kesombongai membayang di wajah tiga orang berpakaian kuning itu, apalagi ketika mereka itu memandang kepadanya dengan senyum yang angkuh namun tetap saja mengandung kegenitan.

"Hemmm, cantik dan manisnya memang mengagumkan. Akan tetapi sayang sekali, orangnya begitu cantik namun tidak mengenal budi orang!"

Suara ini lirih akan tetapi terdengar jelas oleh Giok Cu dan ia tahu bahwa yang bicara adalah seorang di antara tiga pria berpakaian kuning itu, dan ia merasa bahwa ialah yang dimaksudkan oleh orang yang bicara itu.

"Memang ia tidak sopan, padahal baru saja kami membebaskannya dari cengkeraman sekelompok serigala." suara kedua.

"Aihhhhh, mungkin ia malu. Sebaiknya malam nanti kita berkunjung ke kamarnya." suara ke tiga menyusul dan ucapan terakhir ira membuat muka Giok Cu menjadi agak kemerahan karena ia tersinggung sekali.

"Memang sebaiknya begitu, akan tetapi sekarang juga kita dapat memberinya peringatan agar malam nanti ia tidak sombong dan tidak banyak rewel lagi, bersikap ramah kepada kita," kata pula suara pertama.

Giok Cu semakin mendongkol, akan tetapi ia sudah banyak menerima gemblengan batin dari Hek-bin Hwesio maka ia mampu membiarkan kemarahannya lewat tanpa mempengaruhinya. Ia tetap makan walaupun kini ia waspada sekali terhadap tiga orang pria berpakaian kuning itu.

Tiga orang pria itu masing-masing menjumput sebutir kacang goreng di atas meja mereka, kemudian mereka mempergunakan telunjuk menyentil kacang itu ke arah Giok Cu. Tentu saja mereka membidik sasaran bagian tubuh yang tidak akan membahayakan, dan mengatur tenaga sentilan mereka karena mereka hanya ingin memperingatkan gadis itu bukan hendak menyerangnya.

Begitu tiga butir kacang itu meluncur, Giok Cu yang sudah mengetahuinya lalu menggerakkan tangan kirinya, gerakan seperti orang mengusir lalat dan mengomel, "Ihh begini banyak lalat di sini!"

Tiga orang yang terkenal dengan julukan Kim-bwe Sam-houw itu terkejut bukan main ketika melihat betapa tiga butir kacang yang mereka sentil ke arah gadis itu tiba-tiba meluncur kembali ke arah mereka dengan cepat sekali. Mereka terpaksa merendahkan tubuh sehingga tiga butir kacang itu lewat di atas kepala! Giok Cu melihat hal ini dan ia terkejut bukan main melihat betapa tiga butir kacang itu kini meluncur ke arah seorang pemuda yang mengenakan sebuah caping lebar dan yang kebetulan duduk di meja sebelah tiga orang berpakaian ku¬ning itu!

Lebih kaget dan kagum hatinya melihat betapa pemuda itu, yang mukanya tersembunyi di balik caping lebar, tanpa menggerakkan kepala sehingga tentu dia tidak melihat datangnya tiga butir kacang yang menyambar, menjulurkan tangan kirinya dan sekali tangan kiri itu menggapai, tiga butir kacang itu telah ditangkapnya!

Kini, caping itu merosot turun ke punggung dan nampaklah wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dengan sepasang mata yang lincah jenaka dan tajam sinarnya. Hidungnya besar mancung dan bibirnya merah penuh gairah. Pakaian pemuda itu menunjukkan bahwa dia seorang pelajar atau pakaian yang biasa dipakai para sastrawan dan terpelajar. Pemuda itu memandang kearah Giok Cu dan senyumnya amat menarik sehingga Giok Cu memandang dengan kagum. Hanya sebentar saja pemuda itu memandang Giok Cu. Lalu ia memandang kepada tiga orang pria berpakaian kuning itu dan ia tersenyum lebar.

"Aha, memang banyak lalat, terutama tiga ekor lalat kuning yang amat menjemukan harus diusir agar tidak mengurangi selera makan!" berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tiga butir kacang itu sudah meluncur dengan kecepatan kilat kearah Kim bwe Sam-houw.

Tiga orang ini sama sekali tidak menduganya. Mereka tadi tidak melihat betapa pemuda bercaping itu menangkap tiga butir kacang, maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, mereka menengok pada saat tiga butir kacang itu meluncur. Mereka tidak mungkin mengelak lagi dan tiga butir kacang itu dengan tepat mengenai muka mereka!

Seorang terkena hidungnya, seorang terkena pipinya dan orang ke tiga terkena dahinya. Mereka menahan teriakan karena biarpun hanya kacang goreng, akan tetapi karena dilepas dengan kekuatan yang hebat, maka muka yang terkena kacang itu terasa cukup nyeri, terutama dia yang terkena hidungnya. Ada tanda merah pada hidung, dahi dan pipi itu. Serentak mereka bangkit berdiri dan memandang kepada pemuda bercaping itu dengan marah.

"Jahanam! Apakah telingamu tuli matamu buta?" bentak orang pertama dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan karang pada hidungnya. "Andaikata engkau tuli, tentu engkau tidak buta dan dapat melihat dengan siapa engkau berhadapan. Kami adalah Kim-bwe Sam-houw, dan berani engkau mengganggu kami?"

Pemuda itu menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya, agaknya tidak tergesa-gesa menjawab walaupun dia sudah memandang kepada mereka bertiga. Setelah daging itu hancur lembut dan ditelannya, barulah dia menjawab,

"Tidak ada yang mengganggu tiga ekor lalat kuning! Biasanya, lalat kuning yang suka mengganggui orang!"

Jawaban itu membuat Giok Cu tersenyum. Pemuda itu sungguh berani dan jenaka, dan melihat cara dia tadi melempar tiga butir kacang, mudah diduga bahwa tentu pemuda bercaping yang tampan itu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Betapapun juga, ia pun tahu betapa lihainya cambuk emas dari tiga orang pria berpakaian kuning itu, maka diam-diam Giok Cu mengambil keputusan untuk melindungi pemuda bercaping kalau-kalau dia terancam bahaya...

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 30

MELIHAT keadaan suhunya ini, Han Beng merasa terkejut, heran dan juga terharu. Dia merasa bersalah, mengira ihwa karena dia tidak mentaati gurunya maka orang tua itu kini merasa menyesal dan menangis. Dia segera berlutut dan menyentuh ujung sepatu gurunya.

"Suhu, ampunkan teecu...!"

Liu Bhok Ki menangis semakin sedih, sampai terisak-isak dan sesenggukan, kedua tangan menutupi mukanya. Air mata mengalir keluar dengan derasnya melalui celah-celah jari tangannya. Seolah-olah semua gumpalan yang tadinya membeku di dalam dirinya telah mencair dan menjadi air mata, kini tertumpah keluar semua. Dadanya terasa lapang dan dia lalu menurunkan kedua tangannya, memegang kedua pundak muridnya dan menariknya berdiri.

"Han Beng, kau maafkan Suhumu... Kemudian dia menyentuh kepala Sian Lee dan Lan Ci sambil berkata, "Kalian... kalian maafkanlah semua perbuatanku yang lalu..."

"Lo-cian-pwe...!" Sim Lan Ci kini menangis, tidak dapat menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.

Liu Bhok Ki kini membungkuk mengangkat Thian Ki dalam pondongannya. Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu dan terdengar suaranya yang merdu.

"Kong-kong (Kakek), kenapa engkau menangis?"

Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Liu hok Ki, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu. Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak-gelak. Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa orang tua itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.

"Ha-ha-ha... Cucu yang baik, siapakah namamu?" Dia mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.

"Namaku Coa Thian Ki, Kong-kong." kata anak itu manja.

"Bagus! Terima kasih, Thian Ki, terima kasih Cucu yang baik...!" Dia menurunkan anak itu, kemudian menoleh kepada Han Beng.

"Han Beng, engkau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu."

"Teecu akan mentaati pesan Suhu."

"Dan kalian, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau engkau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!" Setelah berkati demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang, maklum bahwa tentu kakek itu sejak kemarin membayangi mereka sehingga mendengar pula percakapan mereka tentang maksud mereka untuk tidak memperkenalkan Thian Ki dengan ilmu silat dan kekerasan. Kemudian mereka teringat akan keadaan mereka, lalu mereka berdua menghampiri Han Beng yang juga sudah bangkit berdiri.

"Kami harap Si Siauw-te suka tinggal di sini bersama kami. Kami sunggu berterima kasih sekali, Siauw-te. Ternyata engkau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu." kata Siang Lee, sedangkan Sim Lan Ci juga mengangguk-angguk membenarkan dan memandang kepada pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa syukur, sedangkan Thian Ki berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.

"Sudahlah, Toako. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian."

Siang Lee dan isterinya saling pandang. "Kami tidak akan pindah, Siauw-te. Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami."

Isterinya mengangguk membenarkan. Apa perlunya pindah? Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami. Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati.

Han Beng mengangguk-angguk. Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka. Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan sin-kang untuk kalian, karena dengan sin-kang yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua."

Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main. Setelah Thian Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.

Pada keesokan harinya, setelah lewat tengah hari, barulah Han Beng meninggalkan suami isteri yang amat berterima kasih kepadanya itu. Bahkan Coa Siang Lee berhasil membujuk Han Beng mau mengaku sebagai saudara angkat. Upacara sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang. Han Beng menyebut toako dan so-so (kakak ipar perempuan) kepada suami isteri itu dan mereka menyebutnya siauw-te. Thian Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.

Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan. Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.

********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Kota Siong-an hari itu nampak ramai. Kota yang berada dekat tepi Sunga Huang-ho ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang. Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu mengamuk dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air. Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba. Selain itu, juga menjadi penampung barang dagangan yang datang melalui sungai.

Sebagai kota dagang yang banya dikunjungi pedagang dari kota lain, yang terutama sekali membutuhkan bahan bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.

Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal. Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan. Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan.

Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Huang-ho atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin. Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang. Ada belasan orang pelayan yang sigap dan terampil, seorang kasir yang ramah dan juru-juru masak yang berpengalaman.

Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar. Juga di restoran itu dijual arak Hang-couw yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut.

Hari itu, sejak pagi kota Siong-an sudah ramai sekali karena hari itu orang orang sibuk mempersiapkan pesta perayaan tahun baru Imlek! Seperti biasa jauh hari sebelumnya, pasar mendadak menjadi lebih ramai, toko-toko juga penuh dengan orang yang berbelanja untuk keperluan sembahyang dan pakaian baru. Dan hari itu merupakan hari terakhir karena besok adalah hari tahun baru.

Restoran Hotin, sejak pagi sudah kebanjiran tamu. Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu. Kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan.

Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka. Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna merah muda. Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain kuning. Ujung kain itu diikatkan di dadanya.

Dari sikap, juga dari buntalan kain kuning di punggung, mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wajah yang demikian cantik jelita dan bentuk tubuh yang demikian indahnya? Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu.

Namun, gadis berpakaian merah muda itu tidak peduli. Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli. Ia tahu bahwa sekali dilayani atau ditanggapi, kekurangajaran para pria itu akan semakin melonjak. Bukan ia tidak berani menanggung akibatnya, akan tetapi kalau ia harus menghajar setiap orang pria yang bersikap kurang ajar, maka setiap langkah tentu ia akan berurusan dengan seorang pria!

Ketika seorang pelayan restoran itu menyambutnya dengan sikap hormat dan ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak dipinggir. Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku. Gadis itu menurunkan buntalan kuning, meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya, ia memesan makanan kepada Si Pelayan.

"Masakan apa saja yang paling lezat di rumah makan ini?" tanyanya kepada pelayan itu.

Pelayan itu mengerutkan alisnya, mengamati gadis itu penuh perhatian. Bukan seorang gadis miskin, akan tetapi juga tidak dapat dikatakan seorang gadis bangsawan atau kaya raya, melihat pakaian dan perhiasan yang dipakainya. Akan tetapi dia harus berhati-hati karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang kadang-kadang dapat bersikap galak.

"Nona, restoran kami menyediakan segala macam makanan, dari yang paling murah sampai yang paling lezat, harganya amat mahal."

Gadis itu tersenyum dan banyak pria menelan ludah. Senyum itu! Manisnya! Lesung pipit yang mungil dan lucu muncul di kanan kiri mulut, dan sinar mata yang jeli itu seperti menari-nari.

"Tentu saja, yang lezat itu mahal. Dan aku berani pesan yang mahal tentu mampu pula membayarnya. Hayo katakan, apa saja yang paling lezat?"

Pelayan itu mengangguk-angguk, takut gadis itu tersinggung, lalu menghitung dengan jari tangannya. "Pertama ada cakar daging burung Hong, ada goreng lidah ki-lin, ada pula sup sirip raja hiu atau tim buntut badak, juga sup cakar harimau atau sup daging naga."

Gadis itu bengong, lalu alisnya berkerut dan mukanya berubah merah, karena ia merasa dipermainkan pelayan itu. "Apakah otakmu belum miring? Jangan kau main-main!"

Pelayan itu yang kini bengong karena dia sama sekali tidak merasa bersalah tiba-tiba dimaki orang. Mukanya berubah merah dan dia menjawab dengan sungguh-sungguh dan juga dengan suara mengandung penasaran. "Aih, Nona. Siapa yang main-main? Kalau tidak percaya lihat saja ini daftar makanan, tentu saja kalau Nona pandai membaca!" Ucapan terakhir itu untuk membalas karena biasanya, gadis kang-ouw yang kasar mana dapat membaca tulisan?

Akan tetapi, gadis itu menyambar daftar makanan yang disodorkan, membacanya lalu tersenyum. Manisnya. "Wah, kau maafkan aku, ya? Habis, siapa percaya ada masakan cakar daging burung Hong, kiranya daging burung ayam! Lidah ki-lin adalah lidah sapi, sirip raja hiu hanya sirip hiu biasa, tim buntut badak hanyalah buntut kerbau, cakar harimau hanya cakar domba dan daging naga hanya daging ular, hi-hik!"

Gadis itu tertawa tanpa menutupi mulutnya, namun tidak nampak kasar karena tawanya tidak terbahak, lebih mirip senyum lebar nampak deretan giginya yang putih mengkilap. "Nah, kalau begitu, cepat hidangkan masakan butir-butir mutiara sawah, otot-otot dewa digoreng basah, gule daging singa, ditambah buah sian-to (buah to dewa) dan minuman sorga!"

Pelayan itu bengong, sejenak tak mampu bicara dan memandang kepada gadis itu, mulai curiga jangan-jangan gadis itu yang miring otaknya.

Melihat pelayan itu bengong, gadis itu kembali tertawa. "Hi-hik, sekarang engkau yang bengong! Kenapa bengong dan bingung? butir mutiara sawah adalah nasi putih, otot-otot dewa adalah bakmi, daging singa adalah daging kambing. Buah sian-to adalah apel dan minuman sorga adalah minuman anggur, tolol kau!"

Pelayan itu tertawa dan tersipu, dan beberapa orang tamu yang mejanya berdekatan dan mendengar percakapan itu tertawa. Setelah pelayan itu pergi untuk memesankan makanan kepada koki, gadis itu duduk seorang diri dan tidak mempedulikan pandang mata banyak pria yana ditujukan kepadanya. Bahkan mereka yang duduk membelakanginya, kini memutar leher seperti leher burung bangau, ada yang memandang dari samping, melirik sampai matanya seperti juling.

Tiba-tiba dua orang laki-laki muda, berusia kurang lebih dua puluh tahun dan agaknya sudah setengah mabuk karena agak terhuyung, menghampiri meja gadis itu sambil menyeringai. Mereka harus diakui memiliki wajah yang cukup tampan dan melihat pakaian mereka jelas bahwa mereka adalah pemuda pemuda yang kaya.

"Nona, bolehkah kami menemanimu? Kasihan engkau seorang diri saja makan minum, tentu kurang menggembirakan, he-he!" kata yang seorang.

"Ha-ha, benar sekali, Nona. Jangan khawatir, semua makanan dan minuman untukmu kami yang akan bayar!" kata yang ke dua.

Gadis berpakaian merah muda itu mengangkat muka memandang dan ia tersenyum, sama sekali tidak marah, bahkan senyumannya manis dan penuh kesabaran. "Terima kasih," katanya lembut. "Kalian baik sekali, akan tetapi sayang, saat ini aku ingin makan seorang diri saja dan tidak ingin diganggu."

"Tapi, Nona, kami tidak mengganggu, bahkan ingin menggembirakan hati Nona! Kami...!"

Belum habis seorang di antara dua pemuda itu bicara, terdengar suara orang membentak, "Kalian ini tikus-tikus kecil sungguh tak tahu diri! Nona kalian tidak mau diganggu, mengerti?"

Dua orang pemuda setengah mabuk itu membalikkan tubuhnya dan mereka hendak marah. Akan tetapi melihat bahwa yang berada di belakang mereka dan menegur itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh! seperti raksasa, keduanya menjadi ke takutan.

"Maafkan, kami tidak ingin mengganggu..."

Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar itu, Si Raksasa sudah mencengkeram tengkuk dua orang pemuda itu dan mengangkatnya, lalu membawanya pergi, keluar dari ruangan itu! Kemudian dia melemparkan dua orang pemuda itu keluar restoran, diiringi suara ketawa di sana-sini. Melihat betapa raksasa itu mampu mengangkat dua orang pemuda dan melemparkan mereka seperti itu, dapat dilihat betapa kuat tenaganya. Si raksasa itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis in sambil tersenyum.

Gadis itu pun tersenyum, hanya memandang. Kiranya raksasa itu mempunyai lima orang teman dan seorang di antaranya berpakaian seperti seorang hartawan, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan yang lain agaknya merupakan pengawal, anak buah atau tukang pukulnya karena mereka itu lagak dan pakaiannya sama dengan raksasa tadi. Gadis itu melihat betapa pria yang berpakaian mewah itu memandang kepadanya, lalu mengedipkan mata kanannya dengan cara yang genit sekali, la pun tidak peduli dan membuang muka.

Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, wajahnya yang cantik jelita dan manis itu hanya dipolesi bedak tipis, dan ia memiliki senyum memikat. Siapakah ia? Bukan lain adalah Bu Giok Cu! Seperti kita ketahui, Giok Cu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, dan biarpun sejak berusia sepuluh tahun ia hidup di antara golongan sesat selama lima tahun lebih, namun bagaikan setangkai bunga teratai yang hidup di lumpur, ia tetap bersih dan berjiwa gagah.

Akhirnya, ia bentrok dengan Ban-tok Mo-li karena melihat Subonya itu tergila-gila kepada Hok-houw lim to Lui Seng Cu dan aliran agama barunya. Ia menentang subonya, yang melakukan pembunuhan keji terhadap muda mudi tak berdosa dan akhirnya ia bahkan dimusuhi gurunya dan hendak dibunuh. Untung ia tertolong oleh Hek-bin Hwesio, seorang pertapa sakti dari Himalaya dan ia lalu menjadi murid hwesio gendut berkulit hitam itu.

Dan hampir lima tahun gadis ini digembleng sehingga bukan saja ilmu silatnya yang sudah lihai itu menjadi semakin tinggi juga ia semakin mendalami soal-soal kebatinan atau rohaniah. Bahkan ia pernah menyatakan keinginan hatinya kepada Hek-bin Hwesio untuk menjadi nikouw (pendeta wanita), namun dilarang oleh gurunya yang melihat bahwa ia tidak berbakat menjadi nikouw.

Demikianlah, Giok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun alam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya. Pengalaman-pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu subonya, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi pria!

Kalau saja ia belum menjadi murid Hek-bin Hwesio dan tidak memiliki kesabaran besar, dan masih menjadi murid Ban tok Mo-li, tentu tadi sudah dihajarnya dua orang pemuda itu. Akan tetap setelah menjadi murid Hek-bin Hwesio ia menjadi seorang gadis yang penyabar dan tidak mudah turun tangan menggunakan kekerasan. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa ia diam saja kalau ada yang berani mengganggunya. Hanya ia tidaklah sekeras dan segalak sebelum menjadi murid hwesio hitam itu. Bahkan ia mewarisi kejenakaan kakek gendut itu, suka tertawa dan bergurau.

"Nona, Cukong (Majikan) kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong-cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Cukong kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya."

Giok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan, maka ia hanya menjawab, "Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri."

"Boleh, boleh, Nona Manis," kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti raksasa tadi, "A-lok, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri, bukan?"

A-lek, Si Raksasa itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Giok Cu. Gadis itu diam-diam mendongkol sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja. Ketika A-lok hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan sin-kang yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja. A-lok menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat. Akan tetapi, dia terkejut bukan main!

Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya. Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai. Di menjadi penasaran. Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya! Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.

“A-loK, pindahkan meja itu ke sini!" teriak lagi cukongnya karena seperti orang lain, dia belum tahu akan peristiwa aneh itu. Hanya Alok sendiri yang merasakan keanehan itu. Dia, yang dengan mudahnya mengangkat dua orang pemuda tadi dan melemparkan mereka, kini tidak kuat mengangkat sebuah meja kecil yang ringan! Siapa yang akan dapat percaya?

“Hei, kerbau gila! Jangan ganggu Nona itu!" Ucapan ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang duduk bersama dua orang pria lain di meja sebelah kanan Giok Cu.

Mendengar dia dimaki kerbau gila, tentu saja Alok menjadi marah bukan main. Dia adalah tukang pukul nomor itu dari hartawan Teng dari kota Siong-cu, dan di kota itu dia terkenal ditakuti orang, bahkan nama besarnya sudah banyak didengar orang di Siong-an. Bagaikan seekor kerbau gila benar, dia membalikkan tubuh meninggalkan meja depan Giok Cu dan memandang ke arah tiga orang yang duduk makan minum di meja itu.

Mereka adalah tiga orang pria yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Wajah dan bentuk badan mereka biasa saja, tidak mengesankan, akan tetapi warna pakaian mereka yang menarik perhatian karena mereka bertiga memakai pakaian yang berwarna kuning, seperti pakaian seragam saja.

Melihat bahwa orang yang memakinya hanya orang "biasa", kemarahan Alok memuncak. "Siapa di antara kalian bertiga yang telah berani memaki aku tadi?"

"Memaki engkau apa?" Serentak tiga orang berpakaian kuning itu bertanya.

"Memaki aku kerbau gila!" kata Alok dan tiga orang itu pun tertawa bergelak, juga beberapa orang tamu yang mendengarkan ikut tertawa. Tadinya Alok tidak menyadari, akan tetapi kemudian ia teringat bahwa jawabannya tadi menjadi pengakuan bahwa dia kerbau gila! Dia telah dipancing dan dipermainkan tiga orang berpakaian kuning itu.

"Keparat, kalau kalian memang laki-laki dan bukan pengecut, hayo maju kesini!" tantang Alok dengan marah sekali.

Orang termuda dari tiga orang pria berpakaian kuning itu bangkit berdiri. Hemmm, kau ini kerbau gila hendak jual lagak di sini, ya?" Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan nampaklah sebuah cambuk berwarna kuning emas.

"Tar-tarrr-tarrrrr...!" Cambuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak dan sinar kuning emas menyambar-nyambar ke arah tubuh Alok. Raksasa itu terkejut dan mencoba mengelak, akan tetapi te¬tap saja ujung cambuk itu mematuk-matuk dan pakaiannya robek di sana-sini ditambah kulit tubuhnya nyeri seperti disengat lebah!

Dia pun bergulingan ke tas lantai dan ketika dia sudah meloncat bangun, dia sudah mencabut golok besarnya. Dengan marah dia lalu menerjang ke arah orang yang memegang cambuk dan yang berdiri sambil tertaw tawa itu. Akan tetapi, sebelum tubuhnya mendekat, Si Baju Kuning itu sudah menggerakkan cambuknya lagi.

"Tar-tarr-tarrr...!" Golok yang berada di tangan Alok terbang dan terlepas dari pegangannya, dan kembali dia menjadi bulan-bulanan lecutan cambuk itu yang bertubi-tubi. Pakaian Alok kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.

"Kim-bwe Sam-houw... (Tiga Harimau Ekor Emas)!”

Terdengar seorang di diantara lima tukang pukul hartawan Teng dari Siong-Cu itu berseru dan barulah Alok sadar bahwa yang dihadapinya adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal lihai dan ditakuti semua orang kang-ouw di daerah itu!

"Bagus, kalian sudah mengenal kami! kata Si Baju Kuning yang menghajar Alok tadi. "Hayo cepat kalian pergi!"

Dan cambuknya kembali menyambar-menyanbar, kali ini ke arah hartawan Teng dari empat orang tukang pukulnya yang lain. Mereka mengaduh-ngaduh dan setelah cambuk itu berhenti menari-nari, lima orang itu masing-masing mendapat tanda guratan melintang pada muka mereka, guratan yang cukup dalam sehingga nampak merah dan ada pula yang berdarah! Tanpa banyak cakap lagi hartawan Teng dan lima orang tukang pukulnya meninggalkan restoran itu dan membayar uang makanan di luar. Yang paling parah adalah Alok sehingga dia harus dipapah oleh seorang rekannya.

Tadi, banyak diantara para tamu yang ketakutan. Akan tetapi setelah enam orang itu pergi dan suasana kembali tenang, mereka melanjutkan makan dengan tergesa-gesa dan ada pula yang segera meninggalkan tempat itu. Akan tapi, makanan yang dipesan Giok Cu baru tiba dan gadis itu pun makan minum dengan tenangnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di dekatnya. Hanya diam-diam ia memperhatikan tiga orang berpakaian kuning yang disebut Kim-bwe Sam-houw itu, dan merasa penasaran karena tidak suka melihat kekejaman mereka ketika menghajar enam orang tadi.

Si raksasa tadi memang pantas dihajar, akan tetapi lima orang lainnya tidak melakukan sesuatu yang pantas membuat mereka menjadi korban cambuk. Juga ia melihat kesombongai membayang di wajah tiga orang berpakaian kuning itu, apalagi ketika mereka itu memandang kepadanya dengan senyum yang angkuh namun tetap saja mengandung kegenitan.

"Hemmm, cantik dan manisnya memang mengagumkan. Akan tetapi sayang sekali, orangnya begitu cantik namun tidak mengenal budi orang!"

Suara ini lirih akan tetapi terdengar jelas oleh Giok Cu dan ia tahu bahwa yang bicara adalah seorang di antara tiga pria berpakaian kuning itu, dan ia merasa bahwa ialah yang dimaksudkan oleh orang yang bicara itu.

"Memang ia tidak sopan, padahal baru saja kami membebaskannya dari cengkeraman sekelompok serigala." suara kedua.

"Aihhhhh, mungkin ia malu. Sebaiknya malam nanti kita berkunjung ke kamarnya." suara ke tiga menyusul dan ucapan terakhir ira membuat muka Giok Cu menjadi agak kemerahan karena ia tersinggung sekali.

"Memang sebaiknya begitu, akan tetapi sekarang juga kita dapat memberinya peringatan agar malam nanti ia tidak sombong dan tidak banyak rewel lagi, bersikap ramah kepada kita," kata pula suara pertama.

Giok Cu semakin mendongkol, akan tetapi ia sudah banyak menerima gemblengan batin dari Hek-bin Hwesio maka ia mampu membiarkan kemarahannya lewat tanpa mempengaruhinya. Ia tetap makan walaupun kini ia waspada sekali terhadap tiga orang pria berpakaian kuning itu.

Tiga orang pria itu masing-masing menjumput sebutir kacang goreng di atas meja mereka, kemudian mereka mempergunakan telunjuk menyentil kacang itu ke arah Giok Cu. Tentu saja mereka membidik sasaran bagian tubuh yang tidak akan membahayakan, dan mengatur tenaga sentilan mereka karena mereka hanya ingin memperingatkan gadis itu bukan hendak menyerangnya.

Begitu tiga butir kacang itu meluncur, Giok Cu yang sudah mengetahuinya lalu menggerakkan tangan kirinya, gerakan seperti orang mengusir lalat dan mengomel, "Ihh begini banyak lalat di sini!"

Tiga orang yang terkenal dengan julukan Kim-bwe Sam-houw itu terkejut bukan main ketika melihat betapa tiga butir kacang yang mereka sentil ke arah gadis itu tiba-tiba meluncur kembali ke arah mereka dengan cepat sekali. Mereka terpaksa merendahkan tubuh sehingga tiga butir kacang itu lewat di atas kepala! Giok Cu melihat hal ini dan ia terkejut bukan main melihat betapa tiga butir kacang itu kini meluncur ke arah seorang pemuda yang mengenakan sebuah caping lebar dan yang kebetulan duduk di meja sebelah tiga orang berpakaian ku¬ning itu!

Lebih kaget dan kagum hatinya melihat betapa pemuda itu, yang mukanya tersembunyi di balik caping lebar, tanpa menggerakkan kepala sehingga tentu dia tidak melihat datangnya tiga butir kacang yang menyambar, menjulurkan tangan kirinya dan sekali tangan kiri itu menggapai, tiga butir kacang itu telah ditangkapnya!

Kini, caping itu merosot turun ke punggung dan nampaklah wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dengan sepasang mata yang lincah jenaka dan tajam sinarnya. Hidungnya besar mancung dan bibirnya merah penuh gairah. Pakaian pemuda itu menunjukkan bahwa dia seorang pelajar atau pakaian yang biasa dipakai para sastrawan dan terpelajar. Pemuda itu memandang kearah Giok Cu dan senyumnya amat menarik sehingga Giok Cu memandang dengan kagum. Hanya sebentar saja pemuda itu memandang Giok Cu. Lalu ia memandang kepada tiga orang pria berpakaian kuning itu dan ia tersenyum lebar.

"Aha, memang banyak lalat, terutama tiga ekor lalat kuning yang amat menjemukan harus diusir agar tidak mengurangi selera makan!" berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tiga butir kacang itu sudah meluncur dengan kecepatan kilat kearah Kim bwe Sam-houw.

Tiga orang ini sama sekali tidak menduganya. Mereka tadi tidak melihat betapa pemuda bercaping itu menangkap tiga butir kacang, maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, mereka menengok pada saat tiga butir kacang itu meluncur. Mereka tidak mungkin mengelak lagi dan tiga butir kacang itu dengan tepat mengenai muka mereka!

Seorang terkena hidungnya, seorang terkena pipinya dan orang ke tiga terkena dahinya. Mereka menahan teriakan karena biarpun hanya kacang goreng, akan tetapi karena dilepas dengan kekuatan yang hebat, maka muka yang terkena kacang itu terasa cukup nyeri, terutama dia yang terkena hidungnya. Ada tanda merah pada hidung, dahi dan pipi itu. Serentak mereka bangkit berdiri dan memandang kepada pemuda bercaping itu dengan marah.

"Jahanam! Apakah telingamu tuli matamu buta?" bentak orang pertama dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan karang pada hidungnya. "Andaikata engkau tuli, tentu engkau tidak buta dan dapat melihat dengan siapa engkau berhadapan. Kami adalah Kim-bwe Sam-houw, dan berani engkau mengganggu kami?"

Pemuda itu menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya, agaknya tidak tergesa-gesa menjawab walaupun dia sudah memandang kepada mereka bertiga. Setelah daging itu hancur lembut dan ditelannya, barulah dia menjawab,

"Tidak ada yang mengganggu tiga ekor lalat kuning! Biasanya, lalat kuning yang suka mengganggui orang!"

Jawaban itu membuat Giok Cu tersenyum. Pemuda itu sungguh berani dan jenaka, dan melihat cara dia tadi melempar tiga butir kacang, mudah diduga bahwa tentu pemuda bercaping yang tampan itu memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Betapapun juga, ia pun tahu betapa lihainya cambuk emas dari tiga orang pria berpakaian kuning itu, maka diam-diam Giok Cu mengambil keputusan untuk melindungi pemuda bercaping kalau-kalau dia terancam bahaya...