Social Items

DENGAN cepat sekali Hek-bin Hwesio berlari turun dari Siong-san (Gunung Siong) sebelah selatan. Bagaikan terbang saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Siauw-lim-pai melawan belasan orang tosu. Para murid Siauw-Iim-pai itu dipimpin oleh seorang Hwesio tua tinggi besar yang dikenalnya sebagai Thian Gi Hwesio, yaitu sute dari Thian-cu Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai.

Biarpun antara Hek-bin- Hwesio dan Thian-cu Hwesio, ada hubungan persaudaraan seperguruan, namun dengan Thian Gi Hwesio, hwesio bermuka hitam itu tidak ada hubungan perguruan karena kalau dia satu perguruan dengan Thian-cu Hwesio ketika menjadi murid pertapa sakti di Himalaya, sebaliknya Thian Ci Hwesio men jadi saudara seperguruan dari Thia Hwesio dalam perguruan Siauw-lim Karena itu, Thian Gi Hwesio adalah orang yang ahli dalam ilmu silat Si-lim-pai dan terutama sekali, dia ahli bermain toya dalam ilmu silat Lo-kun.

Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid Siauw-Lim-pai melawan seorang tosu yang lewat di tempat itu. Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak, maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan perkelahian. Akan tetapi, teman-teman to-su itu berdatangan dan mengeroyok. Hal ini diketahui oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang Siauw- lim-pai melawan belasan orang to-su.

Karena para murid Siauw-lim-pai yang terlibat dalam pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin sendiri oleh Thian-Gi Hwesio, sedangkan para tosu itu pun orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, maka pertempuran itu seru bukan main dan sungguhpun ketika Hek-bin Hwesio tiba disitu belum ada yang terluka parah, namun kakek ini maklum bahwa kalau dilanjutkan tentu kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi.

Dia juga melihat betapa Thian-Gi Hwesio yang amat lihai itu memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu seorang tosu berjenggot panjang yang memainkan sepasang pedang dengan amat baiknya. Tongkat atau toya di tangan Thian Gi Hwesio yang digerakkan amat cepat berubah menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan gulungan sinar pedang di tangan kanannya.

Pertempuran itu sudah mem¬pergunakan senjata dan sewaktu-waktu Musti jatuh korban kalau dia tidak se¬gera turun tangan, pikir Hek-bin Hwesio. Dan satu-satunya usaha terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih dahulu.

"Saudara-saudaraku dari Siauw-lim-pai, kuminta kepada kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!" Berkata demikian, Hek-bin Hwesio melompat ke medan pertempuran dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan dorongan-dorongan ke arah Thian-Gi Hwcsio dan para murid Siauw-lim-pai. Dari kedua tangannya menyambar hawa yang lembut namun amat kuatnya, membuat para murid Siauw-lim-pai terkejut dan terdorong mundur!

Pada saat itu, terdengar suara lembut. "Siancai... orang-orang penganut To tidak akan menggunakan kekerasan menentang kekuasaan Alam atas diri manusia, mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!"

Dan sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang dilakukan Hek-bin Hwesio, bayangan putih ini pun mendorong ke arah para tosu sehingga mereka terpaksa mundur. Maka, berhentilah pertempuran mati-matian itu.

Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya merasa penasaran melihat ada orang menghalangi mereka, ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah hwesio tua bermuka hitam, mereka terkejut. Biarpun baru dua kali mereka bertemu dengan Hek-bin Hwesio, mereka semua telah mengenalnya sebagai suheng dari ketua mereka dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua mereka.

Maka kemarahan Thian Gi Hwesio lenyap, berubah menjadi keheranan dan juga penasaran mengapa suheng dari ketua Siauw-lim-pai ini, yang biarpun bukan anggauta Siauw-lim, akan tetapi juga seorang pendeta Buddha, melerai perkelahian itu dan tidak membantu para murid Siauw-lim-pai!

Sementara itu, para tosu juga terkejut melihat bayangan putih yang melarai dan mengundurkan mereka, akan tetapi ketika mereka mengenal tosu berjenggot panjang dan berjubah putih itu, mereka pun terkejut dan segera memberi hormat. Tosu itu memang terkenal sekali di antara para penganut Agama To, terutama sekali di kalangan para tokoh besarnya karena tosu itu merupakan seorang datuk Agama To yang berilmu tinggi. Nama julukannya adalah Pek I Tojin (Penganut To Berbaju Putih).

Dia amat sederhana, bahkan julukannya hanya memakai Tojin (Penganut To) dan jelas julukan itu hanya menunjuk pakaiannya yang putih sebagai identitasnya. Dia seorang pertapa di puncak Gunung Thai-san, dan kadang-kadang merantau mengunjungi kuil-kuil Agama To untuk bertemu dengan para ketuanya, memberikan pengarahan dalam Agama To, dan juga memberi petunjuk dalam ilmu silat. Baik ilmu silatnya maupun ilmu pengetahuannya dalam Agama To, amat luas.

Setelah kedua pihak menghentikan pertempuran, bahkan mundur berkelompok di tempat masing-masing, dua orang kakek itu kini saling berhadapan dalam jarak hanya dua meter. Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan Hek-bin Hwesio yang lebih dulu tertawa.

“Ha-ha-ha...” sungguh menyenangkan telah bertemu dengan seorang bijaksana, apakah pin-ceng berhadapan dengan Pek-I-Tojin."

Pek-I Tojin mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya. "Sian cai ... sudah lama mendengar nama besar Hek-bin Hwesio dan sungguh bahagia rasa pinto hari ini dapat berhadapan demgan dia."

Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka masing-masing mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak masing-masing.

"Omitohud Pek I Tojin benar-benar mengenakan pakaian putih sesuai dengan ita julukannya!"

"Benar, dan Hek-bin Hwesio juga mempunyai muka hitam sesuai dengan jukannya!" Kembali keduanya tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mengenakan pakaian putih, mungkin julukanmu bukan lagi Pek I Tojin, akan tetapi, engkau akan tetap engkau!"

"Siancai, benar sekali! Kalau muka mu tidak hitam, mungkin julukanmu bukan Hek-bin Hwesio, akan tetapi tentu pun engkau tetap engkau!"

Keduanya tertawa lagi, melangkah maju dan saling berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai! Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan yang membuka kebenaran. Mereka itu hendak mengatakan bahwa segala bentuk lahir belaka dan sama sekali tidak hubungannya dengan dirinya. Boleh saja muka diubah-ubah, pakaian diganti-ganti dan nama diganti-ganti pula, namun orangnya tetap itu-itu juga, manusia yang hidup di dunia tanpa dikehendakinya sendiri! Mereka kini saling berpegangan tangan sambil tertawa.

"Siancai, Hek-bin Hwesio, engkau, aku tiada bedanya!"

"Memang, engkau dan aku sama juga. Karena itu, sungguh menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam, saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita bicarakan baik-baik, Pek I Tojin!"

"Engkau benar sekali, Hek-bin Hwesio, mari kita duduk dan bicara."

Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas tanah.

“Hek-bin Hwesio, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, pinto harap engkau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para tosu yang bodoh. Mengapa antara para penganut Agama Buddha dan para pemeluk Agama To terdapat permusuhan?"

"Omitohud , semoga Sang Buddha menuntun kita semua ke jalan terang, saudaraku yang baik, Pek I Tojin, kalau menurut apa yang pinceng lihat, segala bentuk permusuhan timbul karena kebodohan! Kalau permusuhan timbul antara kedua kelompok yang beragama, jika hal itu tentu dikarenakan kefanatikan dan kefanatikan adalah kebodohan! Apakah maksud kita memasuki suatu agama? Bukan lain untuk meninggal segala macam kejahatan dan mengambil jalan bersih dalam hidup kita. Kita dapat memulai hidup baru,mengalami jalan kehidupan yang bersih kalau meninggalkan semua kotoran dari perbuatan kita di masa lalu! Perbuatan kotor itu termasuk perbuatan yang dasari nafsu, termasuk kebencian, sekarang, dua kelompok orang beragama saling bermusuhan dan saling membenci. Bukankah ini berarti bahwa kita tidak meninggalkan jalan kotor, melainkan meninggalkan jalan baru yang bersih kembali ke jalan kotor? Mungkin tidak menyadari akan hal ini, mengingat bahwa apa yang kita lakukan ini benar dengan alasan-alasan dan pembelaan pun juga untuk membenarkan yang salah ini, untuk membersihkan yang kotor ini. Namun, jelas bahwa kebencian dan permusuhan adalah jalan kotor yang salah. Kita, dalam bakaran nafsu pementingan diri sendiri yang meluas menjadi kentingan kelompok, agama dan lain-lain, menjadi buta dan lupa bahwa inti ajaran agama kita masing-masing adalah mencari kedamaian dan meninggalkan segala bentuk pertentangan! Dan kita, dengan nafsu kita, bahkan menyeret agama ke dalam kebencian dan permusuhan. Hal inilah yang perlu kita sadari, kita harus membuka mata melihat kenyataan dan berani melihat kesalahan dalam diri sendiri, bukan selalu membuka mata melihat kesalahan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain. Bagaimana Pendapat mu, Pek I Tojin?"

"Siancai! Saudara-saudaraku penganut Agama To, apakah kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari mulut Hek-bin Hwesio tadi? Kalau sudah mendengar dan mengerti, kerjakanlah! Buang semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari dalam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain, rundingkanlah dengan damai, dengan musyawarah seperti yang sepatutnya dilakukan orang-orang beragama yang taat kepada ajaran agamanya!"

Setelah berkata demikian kepada para tosu di belakangnya, Pek I Tojin lalu menghadap hwesio muka hitam itu lagi dan berkata, "Hek-bin Hwesio, semua penjelasanmu tentang kefanatikan yang bodoh itu memang tepat sekali. Pinto juga melihat akan kebenaran ini. Sayangnya bahwa kita mempunyai suatu penyakit lain, yaitu selain kefanatikan juga kemunafikan. Kita adalah oran-orang munafik! Ini pun suatu kebodohan besar karena kita tidak sadar bahwa kita adalah orang-orang munafik, selalu berpura-pura, tidak ada kesatuan antara ucapan, pikiran, dan perbuatan! Kita menutupi kekotoran diri dengan bermacam cara. Kekotoran badan kita tertutup dengan pakaian bersih, perbuatan kalau kita ditutupi dengan alasan-alasan bersih, demi ini dan demi itu. Seorang bijaksana tidak akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak membiarkan si-AKU merajalela karena selagi si-AKU merajalela, maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan aku. Si-AKU ini dapat membesar menjadi milikku, keluargaku, kelompokku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Seorang bijaksana akan selalu waspada akan si-AKU dalam dirinya karena pikiran dan nafsu yang mencipta si-AKU itulah satu-satunya musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah demikian keadaannya, sahabatku Hek-bin Hwesio?"

"Omitohud...!” mendengar engkau bicara seperti mendengar hati nurani kita sendiri yang bicara, sahabatku Pek I tojin..."

Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid Siauw-Iim-pai. “Saudara-saudaraku dari Siauw-Iim-pai, indahkah kalian mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Pek I Tojin tadi? Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan si-AKU merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Kalau Keinginan-keinginan si-AKU dari diri kita masing-masing itu kita kejar dalam pelaksanaan, maka akan terjadi bentrokan antara keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebencian. Apakah kalian sebagai penganut Agama Buddha yang menuntun kita arah jalan terang dan kasih sayang, mau membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam dan permushhan?"

Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai terkejut dan mereka pun menggeleng kepala. Percakapan antara kedua orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.

"Lo-cianpwe berdua menggugah kesadaran kami," demikian Thian Gi Hw sio berkata, suaranya lantang dan tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. "Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi, hendaknya ji-wi Lo-cian-pwe melihat kenyataan bahwa para murid Siauw-lim-pai menuruti bisikan jiwa untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga banyak jatuh korban. Apakah menurut Ji wi Lo-cian-pwe (Dua Orang Tua Gagah) kita harus tinggal diam saja melihat betapa rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?"

Mendengar ucapan wakil ketua Siauw-iim- pai itu, para murid Siauw-lim-pai mengangguk tanda setuju karena mereka pun menjadi bingung dan sangsi karena ada¬nya kenyataan itu. Tiba-tiba tosu jenggot panjang yang pandai menggunakan pedang dan yang tadi menjadi lawan tangguh Thian Gi Hwesio, berseru dengan lantang pula.

"Siancai ,bukan maksud pin-to untuk membantah siapa pun. Pinto dan para murid juga mengerti akan kebenar-kebenaran yang tadi diucapkan oleh dua orang Lo-cianpwe, akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang yang bernegara, dan negara mempunyai pemerintah yang patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah, kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak, tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha pemerintah menggali terusan yang menghubungi Huang-ho dan Yang-ce-kiang adalah suatu usaha yang amat baik, walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan berat. Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu. Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu. Nah,demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokan-bentrokan, maka bagaimaa baiknya, harap Ji-wi Lo-cianpwe sudi memberi petunjuk kepada kami."

Hek-bin Hwesio dan Pek I Tojin saling pandang, kemudian tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.

"Pek I Tojin, apakah engkau melihat kelucuan ini?" tanya Hek-bin Hwesio.

Tosu tua itu mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Sama, tapi tidak serupa, serupa, tapi tidak sama!"

"Ha-ha-ha, memang lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi buta oleh berkilauannya tujuan. Semua tujuan itu baik, semua cita-cita itu baik, tentu saja. Mana ada cita-cita yang buruk? Akan tetapi orang terlalu memperhatikan dan mementingkan tujuannya sehingga tidak melihat lagi apakah pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu benar atau tidak! Para hwesio mempunyai tujuan untuk melindungi rakyat, sebaliknya para to-su juga ingin membela pemerintah demi kebaikan rakyat! Keduanya jelas mempunyai tujuan yang baik. Akan tetapi mengapa mereka sampai bermusuhan walaupun mempunyai tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan rakyat? Karena cara Mereka untuk melaksanakan tujuan itu yang berbeda, bahkan bertentangan! Kalian lupa bahwa yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya, pelaksanaannya. Pelaksanaan inilah perbuatan, inilah kehidupan, sedangkan cita-cita dan tujuan itu hanyalah khayalan belaka. Yang harus diperhatikan justeru pelaksan ini, justeru cara yang melahirkan perbuatan ini. Apapun tujuannya betapa luhur cita-citanya, kalau dilaksanakan dengan cara yang tidak benar, akhirnya akan melahirkan hal yang tidak benar pula! Nah, sekarang kalian sudah melihat bahwa tujuan kalian sama, mengapa tidak mencari persamaan pula dalam cara melaksanakannya?"

Kedua pihak yang mendengarkan menjadi tertarik dan semakin tergugah kesadaran mereka.

"Siancai... memang Hek-bin Hwesio hanya mukanya saja, hanya kulitnya saja yang hitam! Akan tetapi isinya alangkah putih bersihnya! Nah, kalian semua sudah mendengar dan pinto akan merasa heran kalau belum juga terbuka mata batin kalian. Mata batin baru dapat terbuka kalau batin itu sendiri bebas dari segala bentuk kotoran, dan batin bersih dan bebas kalau di situ sudah tidak ada lagi penonjolan si-aku dengan segala dendam kebenciannya, iri hatinya, kecewaannya, harapan-harapannya kekuasaannya, dan segala macam kepentingan diri sendiri. Nah, marilah mulai detik ini kita buang jauh-jauh segala rasa dendam dan kebencian, seolah-olah semua itu telah mati dan kita hidup baru dengan segala kebersihan dan kebebasan batin!"

Kini semua orang dari kedua pihak itu bangkit dan saling menghampiri, tanpa diberi contoh lagi, dengan spontan mereka saling memberi hormat, saling memberi maaf dan saling mengaku salah, dipelopori oleh Thian Gi Hwesio dan tosu berjenggot yang tadi menjadi lawannya. Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio menjadi girang sekali dan mereka berdua lalu saling bergantian memberi wejangan-wejangan kepada lebih dari tiga puluh orang itu.

Hidup adalah belajar. Belajar adalah hidup. Mempelajari isi kehidupan ini tidak seperti mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang harus dihafal dan diulang-ulang. Hidup bukanlah suatu perulangan sehari-hari. Hidup seperti sungai mengalir, seperti awan berger diangkasa, setiap saat berubah, setiap detik berbeda. Tidak mungkin mengambarkan kehidupan sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang mandek.

Mempelajari hidup berlaku selama hidup sendiri. Dengan membuka mata. Dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan, penuh perhatian. Bukan dengan menjiplak pelajaran yang sudah ada, karena penjiplakan adalah pemaksaan dan karenanya palsu, betapapun baik nampaknya. Dan yang palsu itu, betapapun indah kelihatannya, tetap saja palsu dan karenanya tidak wajar lagi, tidak bersih lagi.

Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari, tidak mungkin dapat dihafalkan. Kebaikan yang dipelajari dan dihafalkan, hanyalah suatu kemunafikan suatu kepalsuan karena kebaikan seperti itu pasti berpamrih. Dan pamrih ingin baik, dan kalau yang ingin baik itu si-AKU, sudah pasti karena si-AKU melihat suatu keuntungan dalam kebaikan itu!

Si-AKU ini tidak mungkin dapat bernuat tanpa pamrih demi keuntungan diri sendiri, betapapun kadang-kadang pamrih itu diselundupkan, disusupkan, disembunyikan dan diberi pakaian dan sebutan macam-macam. Tetap saja pamrih, tetap saja akhirnya demi kepentingan si-AKU. Amat cerdiklah si-AKU ini sengga kadang-kadang Sang pamrih dapat disulap sedemikian rupa sehingga titak nampak sebagai pamrih lagi. Akan rapi, disulap bagaimanapun juga, tetap perbuatan yang didorong oleh si-AKU, sudah pasti berpamrih.

Perbuatan baru bebas dari si-AKU, bersih dari pamrih, kalau perbuatan itu didasari cinta kasih, didorong bukan oleh nafsu, pikiran atau si-AKU, melainkan terdorong oleh getaran perasaan yang tersentuh, oleh iba hati, oleh keharuan dan cinta kasih, dan cinta kasih bukan lagi cinta kalau sudah ada si-AKU bercokol di situ, karena yang disangka cinta kasih itu hanyalah cinta kasih birahi semata, cinta nafsu yang selalu mengharapkan balas jasa demi kepentingan, kebaikan kesenangan diri sendiri pada akhirnya.


********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan. Mereka yang sedang mendengarkan uraian kata-kata penuh wejangan penting dari dua orang sakti itu pun lupa akan waktu. Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba muncul seorang murid Siauw-lim-pai berlari-larian.

"Su-siok celaka...! Siauw-lim-pai diserbu pasukan pemerintah!" demikian kata mereka kepada Thian Gi Hwesio.

Tentu Thian Gi Hwesio dan para murid Sia lim-pai terkejut sekali dan mereka baru ingat bahwa pada tengah hari, Siauw-Iim-si akan diadakan pertempuran antara para murid Siauw-lim-pai untuk membicarakan tentang penderitaan rakyat jelata berhubung dengan digali terusan itu. Dan mereka semua begitu tertarik oleh wejangan kedua orang kek sakti itu sehingga lupa waktu kini tiba-tiba dikejutkan dengan berita bahwa Siauw-lim-si diserbu oleh pas pemerintah!

"Ji-wi Lo-cianpwe, maafkan kami!" kata Thian Gi Hwesio dan dia cepat bangkit dan meloncat lari mendaki bukit, diikuti oleh belasan orang murid Siauw-lim-pai.

"Siancai! Kita harus membantu para sahabat dari Siauw-lim-si kalau mereka terancam bahaya!" kata tosu berjenggot panjang dan dia pun meloncat dan lari diikuti belasan orang tosu lainnya.

Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio menarik napas panjang dan saling pandang, kemudian Hek-bin Hwe-sio berkata, "Omitohud, segala sesuatu telah digariskan menurut Karma, dan manusia takkan dapat terlepas dari karmanya."

"Yang penting adalah saat ini. Kemarin sudah berlalu dan biarkan berlalu. Esok hanyalah bayangan dan biarkan esok datang seperti apa adanya. Saat ini yang penting, dan apa pun yang terjadi saat ini, itulah yang harus kita hadapi dengan penuh kewaspadaan yang akan menimbulkan kebijaksanaan," kata Pek I Tojin.

"Benar sekali, To-tiang. Mari kita lihat apa yang terjadi di sana." Katanya lalu bangkit dan mendaki bukit itu.

Ketika mereka melihat asap mengepul puncak bukit, keduanya berhenti memandang dengan alis berkerut. "Hemmm, terjadi kebakaran di sana kata Pek I Tojin.

"Omitohud haruskah sampai begitu?" Hek-bin Hwesio berkata seperti bertanya kepada diri sendiri. Mereka lalu berlari dengan cepat mendaki bukit menuju ke Siauw-hm-si.

Apakah yang telah terjadi di Sia lim-si, di vihara yang megah dan biasanya amat sunyi penuh kedamaian itu. Seperti kita ketahui, Thian-cu Hwesio ketua Siauw-lim-pai pada saat itu dangan mempersiapkan pertemuan dengan para murid Siauw-lim-pai yang tinggal luar kuil, satu dan lain untuk membicarakan tentang pertentangan antara para murid Siauw-lim-pai dan petugas pengumpulan tenaga untuk bekerja proyek besar penggalian terusan.

Thian-cu Hwesio adalah seorang yang berwatak keras berdisiplin. Memang watak seperti ini dibutuhkan seorang ketua yang memimpin banyak murid. Tanpa disiplin, maka tidak akan ada ketertiban, walaupun disiplin ini mengandung kerasaan pula. Disiplin yang dipaksakan pihak lain, apalagi disiplin yang melindungi ancaman hukuman, pasti mendatangkan konflik. Berbeda dengan dsisiplin diri, yang timbul karena kebijaksanaan, karena pengertian mendalam dari kewaspadaan. Disiplin diri memang perlu, mutlak perlu bagi kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.

Ketika mendengar laporan dari para muridnya tentang kekejaman para petugas terhadap rakyat jelata, betapa banyak rakyat harus melarikan diri mengungsi agar jangan sampai diambil secara paksa oleh para petugas yang diperkuat oleh pasukan pemerintah, betapa isteri dan anak-anak ditinggal suami, orang-orang tua yang membutuhkan pelayanan ditinggal putera-putera mereka, betapa para pekerja disuruh bekerja siang malam, diperlakukan sebagai para hukuman yang melaksanakan kerja-paksa, mendengar semua ini, Thian-cu Hwesio merjadi marah.

Akan tetapi, selagi mendengar laporan seorang demi seorang dari banyak murid itu, tiba-tiba masuk seorang murid penjaga yang dengan muka pucat melaporkan bahwa ada pasukan pemerintah datang menuju ke Siauw-lim-si! Mendengar ini, para murid Siauw-lim-pai menjadi kaget dan bersiap-siap, akan tetapi Thian-cu Hwesio memperingatkan mereka agar jangan melakukan kekerasan.

"Ingat, tanpa perintahku, tidak boleh ada yang melawan pasukan pemerintah, demikian katanya. "Pinceng sendiri akan menemui komandan pasukan dan bicara dengan dia. Bagaimanapun juga, kita membela rakyat sebagai pendekar, bukan sebagai pemberontak. Kita bukan pemberontak, karena itu, jangan ada yang menyerang pasukan itu kalau merka datang ke sini!"

Biarpun merasa khawatir sekali, para pendekar Siauw-lim-pai itu menyatakan taat kepada pemimpin mereka.

"Dan ingat, mereka yang pernah bentrok degan para petugas dan dikenal, sebaik bersembunyi di dalam saja dan jangan memperlihatkan diri agar tidak menimbulkan keributan." pesan pula Thian-cu Hwesio sebelum dia keluar dari ruangan pertemuan itu, menuju ke ruangan depan.

Ternyata laporan murid itu benar, sebuah pasukan yang terdiri dari kurang lebih lima ratus orang telah mengepung vihara Siauw-lim, dan kini rombongan perwira yang memimpin pasukan sudah turun dari atas punggung kuda mereka dan menuju ke pintu gerbang. Yang mengepalai mereka adalah seorang panglima berusia lima puluhan tahun, pakaian gagah gemerlapan, bersikap acuh dan dengan pedang tergantung di pinggang dia melangkah menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh belasan orang perwira pembantu. Beberapa orang pengawalnya memegang bendera dan tanda pangkatnya.

Panglima ini bukan orang asing bagi para murid Siauw-lim pai. Dia adalah Ciong Hak Ki, seorang panglima yang sudah seringkah berkunjung ke Siauw- lim-si, baik sebagai utusan pemerintah atau sebagai tamu dari ketua Siauw-lim-pai. Akan tetapi sekarang sikapnya tidak seperti seorang sahabat atau seorang tamu yang baik. Dia kelihatan marah, congkak, bahkan ketika para penjaga pintu gerbang memberi hormat, dia tidak menanggapi, melainkan dengan angkuhnya terus melangkah masuk melalui pintu gerbang yang sudah dibuka, diiringi belasan orang pembantunya yaitu rata-rata memasang wajah yang kaku dan keras.

Ketika rombongan perwira ini tiba serambi depan, mereka berhenti karena melihat Thian-cu Hwesio yang mengenakan pakaian ketua Siauw-lim-pai lengkap, dengan jubah berwarna kuning berkotak-kotak merah, dan tongkat ketua di tangan, telah berdiri menyambut di ruangan depan itu ditemani para hwesio pembantunya dan murid-murid kepala yang sebagian besar adalah para hwesio yan sudah tinggi ilmunya. Para murid yang berdatangan dari luar vihara, tidak memperlihatkan diri. Jumlah para Hwesio, dari para pimpinan sampai dengan para petugas rendahan, semua ada kurang lebih lima puluh orang.

Akan tapi, yang kini berada diluar kuil bersama Thian-cu Hwesio untuk meng¬hadapi para tosu ada belasan orang sehingga yang berada di kuil tinggal tiga puluh orang lebih. Para murid yang berdatangan dari luar kuil berjumlah dua puluh orang lebih sehingga pada saat itu, jumlah murid Siauw-lim-pai yang berada di kuil kurang lebih enam puluh orang.

Melihat ketua Siauw-lim-pai sudah berdiri menyambutnya, bersama murid-murid Siauw-lim-pai, Ciong Hap Ki atau Ciong Ciangkun (Perwira Ciong), me¬mandang tajam. Matanya mengerling kekanan kiri mencari-cari, seolah-olah dia hendak mencari orang-orang yang bersembunyi di dalam kuil. Sementara itu, Thian-cu Hwesio dapat melihat betapa sikap Ciong Ciangkun tidak bersahabat, maka dia pun mendahului dengan angkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, suaranya halus.

"Omitohud selamat datang, Ciong Ciangkun. Kunjungan Ciangkun sekali ini mengejutkan, tiba-tiba dan membawa pasukan. Ada urusan apakah gerangan, Ciangkun?"

Ciong Hap Ki adalah panglima sudah terkenal pandai dalam ilmu perang dan ilmu silat. Karena dia seorang ahli silat yang pandai, maka dia bersahabat dengan ketua Siauw-lim. Akan tetapi dia pun seorang yang berwatak keras, sesuai dengan kedudukannya sebagai panglima perang yang selalu dihadapkan kekerasan. Karena dia sudah berprasangka buruk dan memandangi Siauw-lim-pai pada saat itu sebagai lawan dan musuh, sikapnya pun nampak keras. Lenyap semua keramahannya yang terhadap sahabatnya itu.

"Lo-suhu," katanya, suaranya lantang dan mengandung kekerasan. "Pelukah lagi berpura-pura? Sudah berbulan-bulan lamanya Siauw-lim-si memperlihatkan sikap bermusuhan, bahkan akhir-akhir ini para murid Siauw-lim-pai bertindak sebagai musuh! Apakah Lo-suhu hendak menyangkal dan kini berpu-pura tanya lagi apa maksud kedatanganku dengan pasukan?"

"Omitohud, Ciong Ciangkun. Belum pernah pihak Siauw-lim-pai mempunyai sedikit pun maksud untuk melawan pemerintah. Harap Ciangkun jelaskan, dalam hal bagaimana Ciangkun menganggap kami bertindak sebagai musuh?"

“Thian-cu Hwesio!" Ciong Ciang membentak, suaranya menggelegar. "Engkau telah membiarkan murid-murid menentang pemerintah, bahkan menggunakan kekerasan membunuh banyak pasukan pengawal para petugas yang melaksanakan pekerjaan galian terusan. Apakah engkau hendak menyangkal itu? Siauw-lim-pai hendak memberontak. Betapa rendahnya budi orang-orang yang tidak ingat akan kebaikan orang. Bukankah vihara Siauw-lim-pai dibangun karena bantuan pemerintah pula? sekarang, Siauw-lim-pai hendak menentang pemerintah, hendak memberontak?"

"Omitohud... harap Ciangkun suka bersikap sabar dan tenang. Ciangkun sudah cukup mengenal kami, apakah kami orang-orang yang berjiwa pemberontak terhadap pemerintah? Sama sekali tidak Mungkin. Kami tidak memberontak, tidak menentang pemerintah.Yang dilakukan oleh anak murid Siauw-lim-pai hanyalah suatu kewajaran saja, melihat rakyat yang ditekan dan dipaksa harus kerja tanpa perhitungan, tanpa perikemanusiaan. Siauw-lim-pai menentang dasan, bukan menentang pemerintah!”

"Akan tetapi melawan para petugas pemerintah berarti melawan pemerintah! Itulah, tidak perlu banyak cakap lagi. Kami tahu bahwa para pemberontak itu, yang telah menentang pemerintah dan lakukan pembunuhan terhadap banyak tugas pemerintah, kini bersembunyi di kuil! Thian-cu Hwesio, kami masih memandang muka para pimpinan Siauw-lim-si yang tidak berdosa. Keluarkan semua pemberontak yang bersembunyi itu untuk kami tangkap, dan para anggauta Siauw-Iim-pai yang lain akan dibiar tinggal di vihara seperti biasa, tidak akan kami ganggu. Kami hanya akan menangkap mereka yang menentang pemerintah...!"

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 11

DENGAN cepat sekali Hek-bin Hwesio berlari turun dari Siong-san (Gunung Siong) sebelah selatan. Bagaikan terbang saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Siauw-lim-pai melawan belasan orang tosu. Para murid Siauw-Iim-pai itu dipimpin oleh seorang Hwesio tua tinggi besar yang dikenalnya sebagai Thian Gi Hwesio, yaitu sute dari Thian-cu Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai.

Biarpun antara Hek-bin- Hwesio dan Thian-cu Hwesio, ada hubungan persaudaraan seperguruan, namun dengan Thian Gi Hwesio, hwesio bermuka hitam itu tidak ada hubungan perguruan karena kalau dia satu perguruan dengan Thian-cu Hwesio ketika menjadi murid pertapa sakti di Himalaya, sebaliknya Thian Ci Hwesio men jadi saudara seperguruan dari Thia Hwesio dalam perguruan Siauw-lim Karena itu, Thian Gi Hwesio adalah orang yang ahli dalam ilmu silat Si-lim-pai dan terutama sekali, dia ahli bermain toya dalam ilmu silat Lo-kun.

Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid Siauw-Lim-pai melawan seorang tosu yang lewat di tempat itu. Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak, maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan perkelahian. Akan tetapi, teman-teman to-su itu berdatangan dan mengeroyok. Hal ini diketahui oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang Siauw- lim-pai melawan belasan orang to-su.

Karena para murid Siauw-lim-pai yang terlibat dalam pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin sendiri oleh Thian-Gi Hwesio, sedangkan para tosu itu pun orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, maka pertempuran itu seru bukan main dan sungguhpun ketika Hek-bin Hwesio tiba disitu belum ada yang terluka parah, namun kakek ini maklum bahwa kalau dilanjutkan tentu kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi.

Dia juga melihat betapa Thian-Gi Hwesio yang amat lihai itu memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu seorang tosu berjenggot panjang yang memainkan sepasang pedang dengan amat baiknya. Tongkat atau toya di tangan Thian Gi Hwesio yang digerakkan amat cepat berubah menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan gulungan sinar pedang di tangan kanannya.

Pertempuran itu sudah mem¬pergunakan senjata dan sewaktu-waktu Musti jatuh korban kalau dia tidak se¬gera turun tangan, pikir Hek-bin Hwesio. Dan satu-satunya usaha terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih dahulu.

"Saudara-saudaraku dari Siauw-lim-pai, kuminta kepada kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!" Berkata demikian, Hek-bin Hwesio melompat ke medan pertempuran dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan dorongan-dorongan ke arah Thian-Gi Hwcsio dan para murid Siauw-lim-pai. Dari kedua tangannya menyambar hawa yang lembut namun amat kuatnya, membuat para murid Siauw-lim-pai terkejut dan terdorong mundur!

Pada saat itu, terdengar suara lembut. "Siancai... orang-orang penganut To tidak akan menggunakan kekerasan menentang kekuasaan Alam atas diri manusia, mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!"

Dan sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang dilakukan Hek-bin Hwesio, bayangan putih ini pun mendorong ke arah para tosu sehingga mereka terpaksa mundur. Maka, berhentilah pertempuran mati-matian itu.

Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya merasa penasaran melihat ada orang menghalangi mereka, ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah hwesio tua bermuka hitam, mereka terkejut. Biarpun baru dua kali mereka bertemu dengan Hek-bin Hwesio, mereka semua telah mengenalnya sebagai suheng dari ketua mereka dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua mereka.

Maka kemarahan Thian Gi Hwesio lenyap, berubah menjadi keheranan dan juga penasaran mengapa suheng dari ketua Siauw-lim-pai ini, yang biarpun bukan anggauta Siauw-lim, akan tetapi juga seorang pendeta Buddha, melerai perkelahian itu dan tidak membantu para murid Siauw-lim-pai!

Sementara itu, para tosu juga terkejut melihat bayangan putih yang melarai dan mengundurkan mereka, akan tetapi ketika mereka mengenal tosu berjenggot panjang dan berjubah putih itu, mereka pun terkejut dan segera memberi hormat. Tosu itu memang terkenal sekali di antara para penganut Agama To, terutama sekali di kalangan para tokoh besarnya karena tosu itu merupakan seorang datuk Agama To yang berilmu tinggi. Nama julukannya adalah Pek I Tojin (Penganut To Berbaju Putih).

Dia amat sederhana, bahkan julukannya hanya memakai Tojin (Penganut To) dan jelas julukan itu hanya menunjuk pakaiannya yang putih sebagai identitasnya. Dia seorang pertapa di puncak Gunung Thai-san, dan kadang-kadang merantau mengunjungi kuil-kuil Agama To untuk bertemu dengan para ketuanya, memberikan pengarahan dalam Agama To, dan juga memberi petunjuk dalam ilmu silat. Baik ilmu silatnya maupun ilmu pengetahuannya dalam Agama To, amat luas.

Setelah kedua pihak menghentikan pertempuran, bahkan mundur berkelompok di tempat masing-masing, dua orang kakek itu kini saling berhadapan dalam jarak hanya dua meter. Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan Hek-bin Hwesio yang lebih dulu tertawa.

“Ha-ha-ha...” sungguh menyenangkan telah bertemu dengan seorang bijaksana, apakah pin-ceng berhadapan dengan Pek-I-Tojin."

Pek-I Tojin mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya. "Sian cai ... sudah lama mendengar nama besar Hek-bin Hwesio dan sungguh bahagia rasa pinto hari ini dapat berhadapan demgan dia."

Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka masing-masing mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak masing-masing.

"Omitohud Pek I Tojin benar-benar mengenakan pakaian putih sesuai dengan ita julukannya!"

"Benar, dan Hek-bin Hwesio juga mempunyai muka hitam sesuai dengan jukannya!" Kembali keduanya tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau engkau tidak mengenakan pakaian putih, mungkin julukanmu bukan lagi Pek I Tojin, akan tetapi, engkau akan tetap engkau!"

"Siancai, benar sekali! Kalau muka mu tidak hitam, mungkin julukanmu bukan Hek-bin Hwesio, akan tetapi tentu pun engkau tetap engkau!"

Keduanya tertawa lagi, melangkah maju dan saling berpegang kedua tangan dengan sikap yang penuh damai! Kata-kata yang keluar dari mulut dua orang sakti itu seperti kelakar saja, namun sesungguhnya mengandung pernyataan yang membuka kebenaran. Mereka itu hendak mengatakan bahwa segala bentuk lahir belaka dan sama sekali tidak hubungannya dengan dirinya. Boleh saja muka diubah-ubah, pakaian diganti-ganti dan nama diganti-ganti pula, namun orangnya tetap itu-itu juga, manusia yang hidup di dunia tanpa dikehendakinya sendiri! Mereka kini saling berpegangan tangan sambil tertawa.

"Siancai, Hek-bin Hwesio, engkau, aku tiada bedanya!"

"Memang, engkau dan aku sama juga. Karena itu, sungguh menyedihkan melihat saudara-saudara kita saling hantam, saling benci dan berusaha untuk saling bunuh. Mari kita bicarakan baik-baik, Pek I Tojin!"

"Engkau benar sekali, Hek-bin Hwesio, mari kita duduk dan bicara."

Keduanya lalu duduk bersila di atas tanah, saling berhadapan dan melihat ini, kedua kelompok yang sejak tadi berdiri melihat dan mendengarkan, ikut pula duduk di atas tanah.

“Hek-bin Hwesio, sekarang selagi kita mempunyai keberuntungan untuk saling bertemu, pinto harap engkau tidak pelit dan suka memberi penerangan kepada kami para tosu yang bodoh. Mengapa antara para penganut Agama Buddha dan para pemeluk Agama To terdapat permusuhan?"

"Omitohud , semoga Sang Buddha menuntun kita semua ke jalan terang, saudaraku yang baik, Pek I Tojin, kalau menurut apa yang pinceng lihat, segala bentuk permusuhan timbul karena kebodohan! Kalau permusuhan timbul antara kedua kelompok yang beragama, jika hal itu tentu dikarenakan kefanatikan dan kefanatikan adalah kebodohan! Apakah maksud kita memasuki suatu agama? Bukan lain untuk meninggal segala macam kejahatan dan mengambil jalan bersih dalam hidup kita. Kita dapat memulai hidup baru,mengalami jalan kehidupan yang bersih kalau meninggalkan semua kotoran dari perbuatan kita di masa lalu! Perbuatan kotor itu termasuk perbuatan yang dasari nafsu, termasuk kebencian, sekarang, dua kelompok orang beragama saling bermusuhan dan saling membenci. Bukankah ini berarti bahwa kita tidak meninggalkan jalan kotor, melainkan meninggalkan jalan baru yang bersih kembali ke jalan kotor? Mungkin tidak menyadari akan hal ini, mengingat bahwa apa yang kita lakukan ini benar dengan alasan-alasan dan pembelaan pun juga untuk membenarkan yang salah ini, untuk membersihkan yang kotor ini. Namun, jelas bahwa kebencian dan permusuhan adalah jalan kotor yang salah. Kita, dalam bakaran nafsu pementingan diri sendiri yang meluas menjadi kentingan kelompok, agama dan lain-lain, menjadi buta dan lupa bahwa inti ajaran agama kita masing-masing adalah mencari kedamaian dan meninggalkan segala bentuk pertentangan! Dan kita, dengan nafsu kita, bahkan menyeret agama ke dalam kebencian dan permusuhan. Hal inilah yang perlu kita sadari, kita harus membuka mata melihat kenyataan dan berani melihat kesalahan dalam diri sendiri, bukan selalu membuka mata melihat kesalahan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain. Bagaimana Pendapat mu, Pek I Tojin?"

"Siancai! Saudara-saudaraku penganut Agama To, apakah kalian sudah mendengar semua kebenaran yang keluar dari mulut Hek-bin Hwesio tadi? Kalau sudah mendengar dan mengerti, kerjakanlah! Buang semua pertikaian dan permusuhan, lenyapkan kebencian dari dalam batin, dan kalau ada persoalan dengan pihak lain, rundingkanlah dengan damai, dengan musyawarah seperti yang sepatutnya dilakukan orang-orang beragama yang taat kepada ajaran agamanya!"

Setelah berkata demikian kepada para tosu di belakangnya, Pek I Tojin lalu menghadap hwesio muka hitam itu lagi dan berkata, "Hek-bin Hwesio, semua penjelasanmu tentang kefanatikan yang bodoh itu memang tepat sekali. Pinto juga melihat akan kebenaran ini. Sayangnya bahwa kita mempunyai suatu penyakit lain, yaitu selain kefanatikan juga kemunafikan. Kita adalah oran-orang munafik! Ini pun suatu kebodohan besar karena kita tidak sadar bahwa kita adalah orang-orang munafik, selalu berpura-pura, tidak ada kesatuan antara ucapan, pikiran, dan perbuatan! Kita menutupi kekotoran diri dengan bermacam cara. Kekotoran badan kita tertutup dengan pakaian bersih, perbuatan kalau kita ditutupi dengan alasan-alasan bersih, demi ini dan demi itu. Seorang bijaksana tidak akan membiarkan kepicikan pikiran menguasai dirinya, tidak membiarkan si-AKU merajalela karena selagi si-AKU merajalela, maka segala perbuatan pasti berpamrih demi kepentingan aku. Si-AKU ini dapat membesar menjadi milikku, keluargaku, kelompokku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya. Seorang bijaksana akan selalu waspada akan si-AKU dalam dirinya karena pikiran dan nafsu yang mencipta si-AKU itulah satu-satunya musuh berbahaya selama hidupnya. Bukankah demikian keadaannya, sahabatku Hek-bin Hwesio?"

"Omitohud...!” mendengar engkau bicara seperti mendengar hati nurani kita sendiri yang bicara, sahabatku Pek I tojin..."

Kakek bermuka hitam itu lalu menoleh kepada para murid Siauw-Iim-pai. “Saudara-saudaraku dari Siauw-Iim-pai, indahkah kalian mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Pek I Tojin tadi? Kita harus menyadari bahwa selama kita membiarkan si-AKU merajalela, maka hidup kita akan penuh keinginan. Kalau Keinginan-keinginan si-AKU dari diri kita masing-masing itu kita kejar dalam pelaksanaan, maka akan terjadi bentrokan antara keinginan-keinginan yang saling bertentangan. Dan bentrokan ini menimbulkan permusuhan, dendam dan kebencian. Apakah kalian sebagai penganut Agama Buddha yang menuntun kita arah jalan terang dan kasih sayang, mau membiarkan diri kita bcrlepotan kotoran berupa benci, dendam dan permushhan?"

Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai terkejut dan mereka pun menggeleng kepala. Percakapan antara kedua orang sakti itu menggugah kesadaran mereka yang selama ini dibutakan oleh nafsu kemarahan dan dendam.

"Lo-cianpwe berdua menggugah kesadaran kami," demikian Thian Gi Hw sio berkata, suaranya lantang dan tegas, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar. "Kami menyadari kesalahan kami dan mulai detik ini akan berusaha kembali ke jalan benar yang terang. Akan tetapi, hendaknya ji-wi Lo-cian-pwe melihat kenyataan bahwa para murid Siauw-lim-pai menuruti bisikan jiwa untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh adanya kerja-paksa sehingga banyak jatuh korban. Apakah menurut Ji wi Lo-cian-pwe (Dua Orang Tua Gagah) kita harus tinggal diam saja melihat betapa rakyat jelata yang sudah serba kekurangan hidupnya itu kini diperas, ditekan dan dijadikan korban kekejaman para petugas? Melihat orang lain menderita dan kita diam berpangku tangan saja bukankah itu merupakan suatu dosa yang besar pula? Apalagi bagi seorang pendekar, pantaskah dia disebut pendekar kalau tidak turun tangan menolong?"

Mendengar ucapan wakil ketua Siauw-iim- pai itu, para murid Siauw-lim-pai mengangguk tanda setuju karena mereka pun menjadi bingung dan sangsi karena ada¬nya kenyataan itu. Tiba-tiba tosu jenggot panjang yang pandai menggunakan pedang dan yang tadi menjadi lawan tangguh Thian Gi Hwesio, berseru dengan lantang pula.

"Siancai ,bukan maksud pin-to untuk membantah siapa pun. Pinto dan para murid juga mengerti akan kebenar-kebenaran yang tadi diucapkan oleh dua orang Lo-cianpwe, akan tetapi, ada kenyataan lain yang membuat kami merasa bingung. Bagaimanapun juga, kita semua adalah orang-orang yang bernegara, dan negara mempunyai pemerintah yang patut dipatuhi dan dibela karena tanda adanya pemerintah, kehidupan rakyat jelata akan menjadi kacau balau rusak, tanpa ada ketertiban lagi. Dan kita melihat betapa usaha pemerintah menggali terusan yang menghubungi Huang-ho dan Yang-ce-kiang adalah suatu usaha yang amat baik, walaupun merupakan pekerjaan besar yang amat sukar dan berat. Kalau usaha itu sudah jadi, maka rakyat pulalah yang akan menikmati hasilnya. Kemudian, kita melihat betapa ada golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah itu. Kami sebagai rakyat yang baik, tentu tidak mendiamkan hal ini terjadi kami bangkit untuk membantu pemeritah, menentang mereka yang hendak menghalangi pekerjaan besar itu. Nah,demikianlah keadaannya sehingga timbul bentrokan-bentrokan, maka bagaimaa baiknya, harap Ji-wi Lo-cianpwe sudi memberi petunjuk kepada kami."

Hek-bin Hwesio dan Pek I Tojin saling pandang, kemudian tiba-tiba keduanya tertawa bergelak.

"Pek I Tojin, apakah engkau melihat kelucuan ini?" tanya Hek-bin Hwesio.

Tosu tua itu mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Sama, tapi tidak serupa, serupa, tapi tidak sama!"

"Ha-ha-ha, memang lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi buta oleh berkilauannya tujuan. Semua tujuan itu baik, semua cita-cita itu baik, tentu saja. Mana ada cita-cita yang buruk? Akan tetapi orang terlalu memperhatikan dan mementingkan tujuannya sehingga tidak melihat lagi apakah pelaksanaan untuk mencapai tujuan itu benar atau tidak! Para hwesio mempunyai tujuan untuk melindungi rakyat, sebaliknya para to-su juga ingin membela pemerintah demi kebaikan rakyat! Keduanya jelas mempunyai tujuan yang baik. Akan tetapi mengapa mereka sampai bermusuhan walaupun mempunyai tujuan yang sama, yaitu demi kebaikan rakyat? Karena cara Mereka untuk melaksanakan tujuan itu yang berbeda, bahkan bertentangan! Kalian lupa bahwa yang terpenting bukanlah tujuannya, melainkan caranya, pelaksanaannya. Pelaksanaan inilah perbuatan, inilah kehidupan, sedangkan cita-cita dan tujuan itu hanyalah khayalan belaka. Yang harus diperhatikan justeru pelaksan ini, justeru cara yang melahirkan perbuatan ini. Apapun tujuannya betapa luhur cita-citanya, kalau dilaksanakan dengan cara yang tidak benar, akhirnya akan melahirkan hal yang tidak benar pula! Nah, sekarang kalian sudah melihat bahwa tujuan kalian sama, mengapa tidak mencari persamaan pula dalam cara melaksanakannya?"

Kedua pihak yang mendengarkan menjadi tertarik dan semakin tergugah kesadaran mereka.

"Siancai... memang Hek-bin Hwesio hanya mukanya saja, hanya kulitnya saja yang hitam! Akan tetapi isinya alangkah putih bersihnya! Nah, kalian semua sudah mendengar dan pinto akan merasa heran kalau belum juga terbuka mata batin kalian. Mata batin baru dapat terbuka kalau batin itu sendiri bebas dari segala bentuk kotoran, dan batin bersih dan bebas kalau di situ sudah tidak ada lagi penonjolan si-aku dengan segala dendam kebenciannya, iri hatinya, kecewaannya, harapan-harapannya kekuasaannya, dan segala macam kepentingan diri sendiri. Nah, marilah mulai detik ini kita buang jauh-jauh segala rasa dendam dan kebencian, seolah-olah semua itu telah mati dan kita hidup baru dengan segala kebersihan dan kebebasan batin!"

Kini semua orang dari kedua pihak itu bangkit dan saling menghampiri, tanpa diberi contoh lagi, dengan spontan mereka saling memberi hormat, saling memberi maaf dan saling mengaku salah, dipelopori oleh Thian Gi Hwesio dan tosu berjenggot yang tadi menjadi lawannya. Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio menjadi girang sekali dan mereka berdua lalu saling bergantian memberi wejangan-wejangan kepada lebih dari tiga puluh orang itu.

Hidup adalah belajar. Belajar adalah hidup. Mempelajari isi kehidupan ini tidak seperti mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang harus dihafal dan diulang-ulang. Hidup bukanlah suatu perulangan sehari-hari. Hidup seperti sungai mengalir, seperti awan berger diangkasa, setiap saat berubah, setiap detik berbeda. Tidak mungkin mengambarkan kehidupan sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang mandek.

Mempelajari hidup berlaku selama hidup sendiri. Dengan membuka mata. Dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan, penuh perhatian. Bukan dengan menjiplak pelajaran yang sudah ada, karena penjiplakan adalah pemaksaan dan karenanya palsu, betapapun baik nampaknya. Dan yang palsu itu, betapapun indah kelihatannya, tetap saja palsu dan karenanya tidak wajar lagi, tidak bersih lagi.

Kebaikan tidak mungkin dapat dipelajari, tidak mungkin dapat dihafalkan. Kebaikan yang dipelajari dan dihafalkan, hanyalah suatu kemunafikan suatu kepalsuan karena kebaikan seperti itu pasti berpamrih. Dan pamrih ingin baik, dan kalau yang ingin baik itu si-AKU, sudah pasti karena si-AKU melihat suatu keuntungan dalam kebaikan itu!

Si-AKU ini tidak mungkin dapat bernuat tanpa pamrih demi keuntungan diri sendiri, betapapun kadang-kadang pamrih itu diselundupkan, disusupkan, disembunyikan dan diberi pakaian dan sebutan macam-macam. Tetap saja pamrih, tetap saja akhirnya demi kepentingan si-AKU. Amat cerdiklah si-AKU ini sengga kadang-kadang Sang pamrih dapat disulap sedemikian rupa sehingga titak nampak sebagai pamrih lagi. Akan rapi, disulap bagaimanapun juga, tetap perbuatan yang didorong oleh si-AKU, sudah pasti berpamrih.

Perbuatan baru bebas dari si-AKU, bersih dari pamrih, kalau perbuatan itu didasari cinta kasih, didorong bukan oleh nafsu, pikiran atau si-AKU, melainkan terdorong oleh getaran perasaan yang tersentuh, oleh iba hati, oleh keharuan dan cinta kasih, dan cinta kasih bukan lagi cinta kalau sudah ada si-AKU bercokol di situ, karena yang disangka cinta kasih itu hanyalah cinta kasih birahi semata, cinta nafsu yang selalu mengharapkan balas jasa demi kepentingan, kebaikan kesenangan diri sendiri pada akhirnya.


********************

Cerita silat serial Naga Sakti Sungai Kuning karya kho ping hoo

Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan. Mereka yang sedang mendengarkan uraian kata-kata penuh wejangan penting dari dua orang sakti itu pun lupa akan waktu. Matahari mulai condong ke barat ketika tiba-tiba muncul seorang murid Siauw-lim-pai berlari-larian.

"Su-siok celaka...! Siauw-lim-pai diserbu pasukan pemerintah!" demikian kata mereka kepada Thian Gi Hwesio.

Tentu Thian Gi Hwesio dan para murid Sia lim-pai terkejut sekali dan mereka baru ingat bahwa pada tengah hari, Siauw-Iim-si akan diadakan pertempuran antara para murid Siauw-lim-pai untuk membicarakan tentang penderitaan rakyat jelata berhubung dengan digali terusan itu. Dan mereka semua begitu tertarik oleh wejangan kedua orang kek sakti itu sehingga lupa waktu kini tiba-tiba dikejutkan dengan berita bahwa Siauw-lim-si diserbu oleh pas pemerintah!

"Ji-wi Lo-cianpwe, maafkan kami!" kata Thian Gi Hwesio dan dia cepat bangkit dan meloncat lari mendaki bukit, diikuti oleh belasan orang murid Siauw-lim-pai.

"Siancai! Kita harus membantu para sahabat dari Siauw-lim-si kalau mereka terancam bahaya!" kata tosu berjenggot panjang dan dia pun meloncat dan lari diikuti belasan orang tosu lainnya.

Melihat ini, Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio menarik napas panjang dan saling pandang, kemudian Hek-bin Hwe-sio berkata, "Omitohud, segala sesuatu telah digariskan menurut Karma, dan manusia takkan dapat terlepas dari karmanya."

"Yang penting adalah saat ini. Kemarin sudah berlalu dan biarkan berlalu. Esok hanyalah bayangan dan biarkan esok datang seperti apa adanya. Saat ini yang penting, dan apa pun yang terjadi saat ini, itulah yang harus kita hadapi dengan penuh kewaspadaan yang akan menimbulkan kebijaksanaan," kata Pek I Tojin.

"Benar sekali, To-tiang. Mari kita lihat apa yang terjadi di sana." Katanya lalu bangkit dan mendaki bukit itu.

Ketika mereka melihat asap mengepul puncak bukit, keduanya berhenti memandang dengan alis berkerut. "Hemmm, terjadi kebakaran di sana kata Pek I Tojin.

"Omitohud haruskah sampai begitu?" Hek-bin Hwesio berkata seperti bertanya kepada diri sendiri. Mereka lalu berlari dengan cepat mendaki bukit menuju ke Siauw-hm-si.

Apakah yang telah terjadi di Sia lim-si, di vihara yang megah dan biasanya amat sunyi penuh kedamaian itu. Seperti kita ketahui, Thian-cu Hwesio ketua Siauw-lim-pai pada saat itu dangan mempersiapkan pertemuan dengan para murid Siauw-lim-pai yang tinggal luar kuil, satu dan lain untuk membicarakan tentang pertentangan antara para murid Siauw-lim-pai dan petugas pengumpulan tenaga untuk bekerja proyek besar penggalian terusan.

Thian-cu Hwesio adalah seorang yang berwatak keras berdisiplin. Memang watak seperti ini dibutuhkan seorang ketua yang memimpin banyak murid. Tanpa disiplin, maka tidak akan ada ketertiban, walaupun disiplin ini mengandung kerasaan pula. Disiplin yang dipaksakan pihak lain, apalagi disiplin yang melindungi ancaman hukuman, pasti mendatangkan konflik. Berbeda dengan dsisiplin diri, yang timbul karena kebijaksanaan, karena pengertian mendalam dari kewaspadaan. Disiplin diri memang perlu, mutlak perlu bagi kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.

Ketika mendengar laporan dari para muridnya tentang kekejaman para petugas terhadap rakyat jelata, betapa banyak rakyat harus melarikan diri mengungsi agar jangan sampai diambil secara paksa oleh para petugas yang diperkuat oleh pasukan pemerintah, betapa isteri dan anak-anak ditinggal suami, orang-orang tua yang membutuhkan pelayanan ditinggal putera-putera mereka, betapa para pekerja disuruh bekerja siang malam, diperlakukan sebagai para hukuman yang melaksanakan kerja-paksa, mendengar semua ini, Thian-cu Hwesio merjadi marah.

Akan tetapi, selagi mendengar laporan seorang demi seorang dari banyak murid itu, tiba-tiba masuk seorang murid penjaga yang dengan muka pucat melaporkan bahwa ada pasukan pemerintah datang menuju ke Siauw-lim-si! Mendengar ini, para murid Siauw-lim-pai menjadi kaget dan bersiap-siap, akan tetapi Thian-cu Hwesio memperingatkan mereka agar jangan melakukan kekerasan.

"Ingat, tanpa perintahku, tidak boleh ada yang melawan pasukan pemerintah, demikian katanya. "Pinceng sendiri akan menemui komandan pasukan dan bicara dengan dia. Bagaimanapun juga, kita membela rakyat sebagai pendekar, bukan sebagai pemberontak. Kita bukan pemberontak, karena itu, jangan ada yang menyerang pasukan itu kalau merka datang ke sini!"

Biarpun merasa khawatir sekali, para pendekar Siauw-lim-pai itu menyatakan taat kepada pemimpin mereka.

"Dan ingat, mereka yang pernah bentrok degan para petugas dan dikenal, sebaik bersembunyi di dalam saja dan jangan memperlihatkan diri agar tidak menimbulkan keributan." pesan pula Thian-cu Hwesio sebelum dia keluar dari ruangan pertemuan itu, menuju ke ruangan depan.

Ternyata laporan murid itu benar, sebuah pasukan yang terdiri dari kurang lebih lima ratus orang telah mengepung vihara Siauw-lim, dan kini rombongan perwira yang memimpin pasukan sudah turun dari atas punggung kuda mereka dan menuju ke pintu gerbang. Yang mengepalai mereka adalah seorang panglima berusia lima puluhan tahun, pakaian gagah gemerlapan, bersikap acuh dan dengan pedang tergantung di pinggang dia melangkah menuju ke pintu gerbang, diikuti oleh belasan orang perwira pembantu. Beberapa orang pengawalnya memegang bendera dan tanda pangkatnya.

Panglima ini bukan orang asing bagi para murid Siauw-lim pai. Dia adalah Ciong Hak Ki, seorang panglima yang sudah seringkah berkunjung ke Siauw- lim-si, baik sebagai utusan pemerintah atau sebagai tamu dari ketua Siauw-lim-pai. Akan tetapi sekarang sikapnya tidak seperti seorang sahabat atau seorang tamu yang baik. Dia kelihatan marah, congkak, bahkan ketika para penjaga pintu gerbang memberi hormat, dia tidak menanggapi, melainkan dengan angkuhnya terus melangkah masuk melalui pintu gerbang yang sudah dibuka, diiringi belasan orang pembantunya yaitu rata-rata memasang wajah yang kaku dan keras.

Ketika rombongan perwira ini tiba serambi depan, mereka berhenti karena melihat Thian-cu Hwesio yang mengenakan pakaian ketua Siauw-lim-pai lengkap, dengan jubah berwarna kuning berkotak-kotak merah, dan tongkat ketua di tangan, telah berdiri menyambut di ruangan depan itu ditemani para hwesio pembantunya dan murid-murid kepala yang sebagian besar adalah para hwesio yan sudah tinggi ilmunya. Para murid yang berdatangan dari luar vihara, tidak memperlihatkan diri. Jumlah para Hwesio, dari para pimpinan sampai dengan para petugas rendahan, semua ada kurang lebih lima puluh orang.

Akan tapi, yang kini berada diluar kuil bersama Thian-cu Hwesio untuk meng¬hadapi para tosu ada belasan orang sehingga yang berada di kuil tinggal tiga puluh orang lebih. Para murid yang berdatangan dari luar kuil berjumlah dua puluh orang lebih sehingga pada saat itu, jumlah murid Siauw-lim-pai yang berada di kuil kurang lebih enam puluh orang.

Melihat ketua Siauw-lim-pai sudah berdiri menyambutnya, bersama murid-murid Siauw-lim-pai, Ciong Hap Ki atau Ciong Ciangkun (Perwira Ciong), me¬mandang tajam. Matanya mengerling kekanan kiri mencari-cari, seolah-olah dia hendak mencari orang-orang yang bersembunyi di dalam kuil. Sementara itu, Thian-cu Hwesio dapat melihat betapa sikap Ciong Ciangkun tidak bersahabat, maka dia pun mendahului dengan angkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, suaranya halus.

"Omitohud selamat datang, Ciong Ciangkun. Kunjungan Ciangkun sekali ini mengejutkan, tiba-tiba dan membawa pasukan. Ada urusan apakah gerangan, Ciangkun?"

Ciong Hap Ki adalah panglima sudah terkenal pandai dalam ilmu perang dan ilmu silat. Karena dia seorang ahli silat yang pandai, maka dia bersahabat dengan ketua Siauw-lim. Akan tetapi dia pun seorang yang berwatak keras, sesuai dengan kedudukannya sebagai panglima perang yang selalu dihadapkan kekerasan. Karena dia sudah berprasangka buruk dan memandangi Siauw-lim-pai pada saat itu sebagai lawan dan musuh, sikapnya pun nampak keras. Lenyap semua keramahannya yang terhadap sahabatnya itu.

"Lo-suhu," katanya, suaranya lantang dan mengandung kekerasan. "Pelukah lagi berpura-pura? Sudah berbulan-bulan lamanya Siauw-lim-si memperlihatkan sikap bermusuhan, bahkan akhir-akhir ini para murid Siauw-lim-pai bertindak sebagai musuh! Apakah Lo-suhu hendak menyangkal dan kini berpu-pura tanya lagi apa maksud kedatanganku dengan pasukan?"

"Omitohud, Ciong Ciangkun. Belum pernah pihak Siauw-lim-pai mempunyai sedikit pun maksud untuk melawan pemerintah. Harap Ciangkun jelaskan, dalam hal bagaimana Ciangkun menganggap kami bertindak sebagai musuh?"

“Thian-cu Hwesio!" Ciong Ciang membentak, suaranya menggelegar. "Engkau telah membiarkan murid-murid menentang pemerintah, bahkan menggunakan kekerasan membunuh banyak pasukan pengawal para petugas yang melaksanakan pekerjaan galian terusan. Apakah engkau hendak menyangkal itu? Siauw-lim-pai hendak memberontak. Betapa rendahnya budi orang-orang yang tidak ingat akan kebaikan orang. Bukankah vihara Siauw-lim-pai dibangun karena bantuan pemerintah pula? sekarang, Siauw-lim-pai hendak menentang pemerintah, hendak memberontak?"

"Omitohud... harap Ciangkun suka bersikap sabar dan tenang. Ciangkun sudah cukup mengenal kami, apakah kami orang-orang yang berjiwa pemberontak terhadap pemerintah? Sama sekali tidak Mungkin. Kami tidak memberontak, tidak menentang pemerintah.Yang dilakukan oleh anak murid Siauw-lim-pai hanyalah suatu kewajaran saja, melihat rakyat yang ditekan dan dipaksa harus kerja tanpa perhitungan, tanpa perikemanusiaan. Siauw-lim-pai menentang dasan, bukan menentang pemerintah!”

"Akan tetapi melawan para petugas pemerintah berarti melawan pemerintah! Itulah, tidak perlu banyak cakap lagi. Kami tahu bahwa para pemberontak itu, yang telah menentang pemerintah dan lakukan pembunuhan terhadap banyak tugas pemerintah, kini bersembunyi di kuil! Thian-cu Hwesio, kami masih memandang muka para pimpinan Siauw-lim-si yang tidak berdosa. Keluarkan semua pemberontak yang bersembunyi itu untuk kami tangkap, dan para anggauta Siauw-Iim-pai yang lain akan dibiar tinggal di vihara seperti biasa, tidak akan kami ganggu. Kami hanya akan menangkap mereka yang menentang pemerintah...!"