Social Items

TIONG LI maklum bahwa biarpun adu kepandaian seperti ini nampaknya tidak apa-apa karena tangan merekapun tidak saling menyentuh, akan tetapi sesungguhnya amatlah berbahaya. Kalau seorang di antara mereka sampai tidak kuat menahan dan tenaga yang lain terlanjur mendesak, maka yang tidak kuat itu dapat menderita luka parah!

Karena itu, diapun hanya bertahan saja dan tidak mau mendesak maju. Karena itu, Sin Gi Tosu merasa seolah-olah kedua telapak tangannya menolak sebuah bukit karang yang amat kokoh kuat. Betapapun dia mengerahkan tenaga, dia tidak mampu mendorong mundur kedua tangan pemuda itu. Sampai beberapa lamanya keduanya hanya saling bertahan.

Dan perlahan-lahan muka Sin Gi Tosu menjadi kemerahan dan berkeringat. Dia merasa penasaran sekali. Dia yang sudah berlatih selama puluhan tahun, harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda yang pantas menjadi cucunya? Dia lalu mengeluarkan suara bentakan panjang dan kedua tangannya mendorong sepenuh tenaga.

Tiong Li yang hanya bertahan, terdorong ke belakang, akan tetapi kedudukan kuda-kuda kakinya masih tetap tidak bergeming. Sebaliknya, Sin Gi Toso kehabisan tenaga dan dia terhuyung kedepan, terengah-engah. Dia tidak sampai terluka karena Tiong Li tidak mendorongkan tenaganya, hanya terguncang karena tenaganya yang bertemu tenaga yang lebih kuat itu membalik. Cepat Sin Gi Tosu duduk bersila dan mengatu pernapasan untuk menjaga agar di dalam tubuhnya tidak sampai terluka. Kemudiian dia bangkit berdiri dan wajahnya penuh kagum.

"Siancai...! Dalam hal tenaga sin-kang, engkaupun telah mewarisi tenaga yang luar biasa sekali, Tan-sicu Pinto mengaku kalah."

Tiba-tiba Im Seng Cu tertawa. "Ha ha, engkau yang begini muda sudah berhasil menundukkan kami tiga orang tua, Tan-sicu. Akan tetapi andaikata kami belum menyadari kekeliruan kami dan kami bertiga maju bersama, engkau tentu akan kalah dan mungkin engkau dapat tewas di tangan kami. Kami bersalah, dan kami mengaku kalah, selamat tinggal, sicu. Teruskanlah perjuanganmu demi membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajah,"

Setelah berkata demikian, tiga orang tosu itu lalu melompat pergi tanpa menengok lagi dan mereka langsung saja pulang ke utara, dan tidak singgah lagi di ruman kediaman Perdana Menteri Jin Kui. Peristiwa itu diintai oleh mata-mata Jin Kui yang segera melapor! kepada Perdana Menteri itu sehingga dia menjadi semakin marah dan mendendam kepada Tiong Li.

Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi juga meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan usaha mereka mencari Ban-tok Sian-li.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Di lereng bukit Thai-mu-san terdapat sebuah perkampungan yang merupakan pusat dari perkumpulan Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih). Perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang cukup besar, dengan anggauta lebih dari dua ratus orang. Mereka itu selain merupakan perguruan silat, juga membuka perusahaan piau-kiok (pengawalan kiriman barang) yang terkenal ditakuti para penjahat sehingga banyak langganan mereka yang mengirim barang melalui piauw-kiok ini.

Hanya dengan bendera yang bergambar garuda putih di atas gerobak barang, para perampok tidak berani mengganggu. Perusahaan piau-kiok mereka berada di kota Nan-king, tak jauh dari bukit itu, juga di Nan-king ini mereka membuka perguruan silat yang memungut bayaran. Dari hasil perguruan dan piauw-kiok, keadaan perkumpulan ini cukup makmur.

Pek-eng-pang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Thio Cin Kang, seorang pendekar yang gagah perkasa. Ketua ini berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya gagah sekali. Wajah yang jantan dan sikapnya berwibawa namun lembut.

Selain itu, ilmu kepandaian Thio Cin Kang ini juga tinggi. Dia pernah menjadi murid Kun-lun-pai, akan tetapi juga pernah mempelajari ilmu silat berbagai aliran sehingga dia mahir banyak macam ilmu silat sehingga menjadi seorang ahli silat yang tangguh.

Akan tetapi biarpun dia lihai dan tubuhnya tinggi besar wajahnya jantan gagah, Thio Cin Kang ini memiliki perangai yang lembut dan bijaksana. Tidak mengherankan kalau semua anak buahnya tunduk kepadanya dan amat taat.

Akan tetapi, biarpun hidupnya serba kecukupan dengan hasil usahanya, namun kehidupan rumah tangga ketua ini sungguh menyedihkan. Setelah menikah selama belasan tahun, isterinya tidak mempunyai keturunan dan baru beberapa bulan yang lalu, isterinya yang akhirnya mengandung itu keguguran yang berakibat matinya isteri itu! Dia kehilangan isterinya dan masih juga belum mempunyai keturunan. Peristiwa ini memukul hebat batin Thio Cin Kang sehingga dia menjadi kurus dan muram.

Setelah lewat setengah tahun kematian isterinya, para pembantunya dengan halus mencoba membujuknya agar dia menikah lagi untuk menyambung keturunan, akan tetapi dia selalu menolak dan mengatakan tidak mungkin dia dapat hidup berbahagia dengan seorang wanita lain karena tentu tidak akan cocok wataknya. Dan semenjak itu dia menaruh dendam kepada para perampok.

Kematian isterinya itu dianggapnya akibat dari ulah para perampok. Sebetulnya, ketika sedang mengandung, isterinya mengadakan perjalanan pulang ke dusun untuk menengok orang tuanya. Karena perjalanan itu tidak terlalu jauh, dan dia mempunyai banyak kesibukan, Thio Cin Kang tidak mengantarkan, hanya menyuruh pembantu-pembantunya mengawal kepergian isterinya. Dan ditengah perjalanan, rombongan itu dihadang perampok!

Agaknya gerombolan perampok yang baru datang dari lain daerah sehingga belum mengenal Pek-eng-piauw-kiok. Para perampok itu menyerang dan sempat membakar kereta sehingga isteri Thio Cin kang buru-buru turun dari kereta dan berlindung. Akhirnya gerombolan perampok dapat dipukul dan melarikan diri. Akan tetapi isteri Thio Cin Kang mengalami kekagetan dan inilah yang dianggap oleh Thio Cin Kang menjadi penyebab keguguran isterinya. Dan sejak itu, seringkali dia pergi seorang diri untuk menghajar gerombolan perampok!

Thio Cin Kang Juga simpati kepada perjuangan. Dia menganjurkan agar anak buahnya membantu kalau melihat para pejuang bertempur melawan pasukan Kin yang melanggar perbatasan. Walaupun tidak langsung aktip dalam perjuangan, akan tetapi Thio Cin Kang mendukung perjuangan itu dan siap membantu sewaktu-waktu. Oleh karena itu namanya juga dihormati di kalangan para pejuang dan karena dia tidak aktip, pemerintah tidak memusuhinya sebagai pemberontak.

Pada suatu pagi. Seperti biasa Thio Cin Kang yang belum pulih dari kesedihannya ditinggal mati isterinya dengan pedang di punggung, berkeliaran menuruni bukit Thian-mu-san. Tiba-tiba dia mendengar suara ribut dan melihat bahwa terjadi pertempuran di sebuah hutan. Ketika dia lari mendekati, dia melihat seorang wanita cantik sedang dikeroyok oleh dua puluh lebih orang yang tinggi besar dan nampak garang.

Melihat sikap mereka, piauw-su (pengawal barang) yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia berhadapan dengan gerombolan perampok yang sedang mengganggu seorang wanita. Wanita itu cantik bukan main, jelita dan juga lihai ilmu silatnya. Dengan sebatang golok di tangan, wanita itu mengamuk dan sudah merobohkan beberapa orang. Akan tetapi pengeroyoknya yang banyak itu mengepungnya dengan ketat.

Melihat ini, tanpa banyak cakap lagi Thlo Cin Kang membentak, nyaring. "Perampok-perampok laknat!" Seolah olah dia melihat isterinya sendiri dikeroyok dan terancam oleh para perampok maka setelah mencabut pedangnya dia lalu mengamuk! Dia tidak memperkenalkan diri karena dia memang ingin membasmi para perampok itu.

Wanita itu bukan lain adalah Ban-tok Sian-li Souw Hian Li. Sebagai wanita sakti yang angkuh, ia merasa tidak senang melihat ada orang membantunya, apa lagi yang mengamuk demikian hebatnya sehingga sebentar saja telah merobohkan lima orang. Iapun tidak mau kalah dan menggerakkan Mestika Golok Naga dengan hebat sehingga kedua orang itu seperti berlumba saja merobohkan kawanan perampok yang mengeroyok mereka. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua perampok yang berjumlah tiga puluh orang itu telah roboh semua, malang melintang dan mandi darah!

Ban tok Sian-li telah menyimpan kembali goloknya, demikian pula Thio Cin Kang telah menyimpan pedangnya. Mereka berdiri saling pandang Thio Cin Kang tidak menyembunyikan kekagumannya, bukan hanya kagum akan kecantik jelitaan wanita itu, melainkan lebih-lebih lagi akan kegagahannya. Juga Ban tok Sian Li melihat seorang pria yang jantan dan gagah, namun sinar matanya lembut. Biarpun demikian, ia mengerutkan alisnya dan merasa tidak senang.

"Kenapa engkau membantuku?" tanyanya tidak ramah.

Thio Cin Kang cepat menghampiri dan mengangkat kedua tangan depan dada. "Harap suka memaafkan aku, nona. Melihat seorang wanita di kepung dan di keroyok penjahat-penjahat laknat ini, terpaksa aku turun tangan membantu, sungguhpun sekarang aku menyadari bahwa tanpa dibantu sekalipun engkau akan dapat membasmi mereka." Ucapan ketua itu lembut dan ramah.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"

"Aku tahu, nona. Akan tetapi baru sekarang aku tahu. Tadi aku khawatir kalau-kalau nona terancam bahaya maka aku membantu. Harap sekali lagi suka memaafkan aku."

Sikap orang itu sungguh menyenangkan hati dan karena hatinya merasa senang itulah Ban-tok Sian-Li menjadi semakin marah. Ia marah kepada diri sendiri yang merasa tertarik dan suka disertai kegum kepada pria asing itu!

"Enak saja engkau minta maaf. Engkau sengaja memamerkan kepandaianmu kepadaku! Engkau memandang rendah kepadaku. Nah aku ingin tahu sampai di mana tingginya kepandaianmu!" Setelah berkata demikian, wanita itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang dengan tamparan tangan kanannya.

Thio Cin Kang terkejut dan cepat mengelak. Akan tetapi luputnya tamparan itu membuat Ban-tok Sian-li semakin penasaran dan menganggap orang itu menantangnya, maka ia terus bergerak menyerang secara bertubi-tubi!

Terpaksa Thio Cin Kang tidak hanya mengelak, melainkan harus menangkis karena Serangan-serangan itu semakin lama semakin dahsyat! Mulai timbul kegembiraan di hati Thio Cin Kang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diapun memiliki penyakit yang sama, yaitu suka bertanding silat, apa lagi dia tertarik sekali kepada wanita ini dan ingin menguji sampai di mana kelihaiannya. Dia menganggap wanita ini seperti orang-orang kang-ouw lainnya, hendak mengujinya.

Maka, mulailah dia balas menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya. Akan tetapi tentu saja hanya untuk menguji, bukan untuk mencelakai wanita yang begitu bertemu telah membuat dia tertarik! sekali itu. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan wanita yang demikian cantik jelita dan sekaligus demikian tinggi ilmu silatnya.

Kalau Thio Cin Kang hanya hendak mengaji kepandaian wanita itu, sebaliknya Ban-tok Sian-li yang merasa ditantang, menyerang dengan sungguh-sungguh dan ia mulai jengkel setelah lewat lima puluh jurus ia belum juga mampu mengalahkannya dengan ilmu silat, akan tetapi setelah ternyata pria itu cukup tangguh sehingga agaknya kalau hanya mengandalkan ilmu silat ia tidak akan mampu mengalahkannya, mulailah ia mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya mengandung hawa beracun yang amat jahat!

Thio Cin Kang terkejut bukan main ketika menangkis tangan wanita itu, merasa kulit lengannya panas dan perih, kemudian ketika tangan wanita itu berhasil menggores kulit lengannya, terasa gatal dan panas seperti dibakar. Dia terkejut dan gerakan refleksnya membuat dia mengeluarkan ilmu tendangannya yang amat hebat, yaitu iImu tendangan Thai-lek-tui (Tendangan Kilat) sehingga Ban-tok Sian-li tidak dapat mengelak dan pahanya tertendang. Untung baginya Thio Cin Kang membatasi tenaganya sehingga ia hanya terhuyung saja.

"Ah, maafkan aku, nona...!" katanya.

"Aku belum kalah !" bentak Ban-tok Sian-li dengan marah sekail dan ia sudah mendesak maju lagi dan tangan kirinya menghantam ke dada.

Thio Cin Kang mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia merasa dadanya nyeri sekali dan dia terpelanting jatuh, dadanya telah terluka ketika bajunya ditembusi jarum Ban-tok Sian-li! Sambil mendekap dadanya dia mencoba bangkit dan memandang kepada Ban-tok Sian-li.

"Engkau.....engkau hebat sekali, nona. Aku mengaku kalah!" katanya dengan kagum, sedikitpun tidak merasa menyesal telah dilukai sedemikian rupa oleh wanita itu.

"Hemm, engkau telah terluka oleh Ban-tok-ciam dan dalam waktu dua puluh empat jam engkau akan mati. Tidak ada obat di dunia ini dapat menyelamatkan mu..."

Akan tetapi gertakan ini tidak membuat pria itu ketakutan, bahkan dia tersenyum sambil menyeringai menahan sakit. "Kalau begitu, selamat tinggal dunia yang penuh kesedihan dan kepalsuan ini. Selamat tinggal duka dan sengsara!"

Ban-tok Sian-li terbelalak heran. Belum pernah ia melihat orang bersikap seperti ini menghadapi siksaan dan kematian yang mengerikan. "Engkau tidak takut dan tidak sedih menghadapi kematian?"

"Kenapa mesti takut dan sedih? Kematian merupakan kebebasan dari alam kesengsaraan bagiku. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Engkau membebaskan aku dari duka. Mati di tanganmu tidak mendatangkan penasaran, bagiku. Engkau begini cantik, engkau begini lihai..."

"Engkau akan mati dan anak isterimu akan menangisimu. Mereka akan berkabung dan bersedih. Apa engkau tidak kasihan kepada anak isterimu?"

Thio Cin Kang kembali tersenyum dan Ban-tok Sian-li merasa aneh. Orang ini mengobral senyum dalam menghadapi maut! "Tidak ada seorangpun yang akan menangisi kematianku, nona. Aku tidak mempunyai anak dan isteriku telah meninggal dunia setengah tahun yang lalu. Aku hanya mohon kepadamu, kalau nona sudi memenuhi permohonan terakhir dariku..."

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya, ia merasa heran kepada diri sendiri kenapa tidak ditinggalkan saja sejak tadi orang itu, seperti biasa kalau ia membunuh orang, melainkan dilayaninya bicara panjang lebar, bahkan kini orang itu mengajukan permohonan dan ia masih melayaninya!

"Permohonan apakah itu?"

"Di lereng bukit ini terdapat sebuah perkumpulan Pek-eng-pang. Akulah ketua perkumpulan itu dan tolonglah... beri tahu kepada mereka bahwa aku mati di sini agar mereka dapat mengetahui dan menguburkan. Sudikah engkau, nona yang baik?"

Ban-tok Sian-li makin kaget. la sudah mendengar akan nama besar Pek-eng pang sebagai perkumpulan gagah perkasa yang suka membantu para pejuang, la makin gemas karena pria itu tidak memakinya, tidak mencacinya, bahkan menyebutnya nona yang baik!

"Aku bukan nona yang baik! Aku kejam, aku telah meracunimu, aku telah membunuhmu. Lupakah engkau akan kenyataan ini?"

"Sudah kukatakan, aku tidak mendendam. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Maukah... maukah engkau memenuhi permohonanku tadi?"

Orang aneh! Orang gagah! Orang jantan yang berani mati. Orang sengsara yang hidup sebatang kara tanpa isteri tanpa anak, tidak ada yang menyedihi kematiannya. Tiba-tiba Ban-tok Sian-li berlutut di dekat orang itu dan mendorongnya.

"Rebahlah telentang!" perintahnya.

"Eh, ada apa...? Engkau... engkau mau apa?"

"Cerewet! Diamlah dan telentanglah!" Kembali ia memerintah.

Thio Cin Kang menjatuhkan diri telentang. Jari-jari yang mungil itu dengan cekatan lalu membuka kancing baju itu sehingga nampak dada yang bidang dan tegap itu telanjang. Ban-tok Sian-li lalu menotok dengan telunjuknya ke arah sekeliling luka di dada untuk menghentikan jalan darahnya, kemudian tanpa ragu lagi ia lalu menempelkan bibirnya pada dada yang terluka, menghisap keluar Jarum yang mengeram ke dalam daging.

Thio Cin Kang memejamkan matanya. Bukan karena nyerinya. Nyerinya dapat dia pertahankan, bahkan lebih dari itupun dia dapat menahannya. Akan tetapi, muka yang halus itu, rambut yang harum itu, dan terutama bibir hangat yang menempel dan menghisap di dadanya itu. Tidak kuat dia membuka matanya karena itu semua. Dia merasa seperti dalam mimpi indah. Wanita itu menghisap lukanya! Luka beracun di dadanya yang telanjang. Benar-benarkah hal seperti ini dapat terjadi? Hisapan itu berhenti dan bau harum itu menjauh. Dia membuka matanya. Wanita itu memandang kepadanya.

"Jarum itu sudah keluar, akan tetapi tanpa obat pemunah dariku, engkau tetap saja akan mati."

"Kuserahkan nyawaku di tanganmu, nona... eh, nyonya... maafkan aku..." Wanita yang usianya tentu sudah lebih, dari pada tampaknya itu tentu saja sudah bersuami. Betapa bodohnya membayangkan yang bukan-bukan. Tidak tahu malu!

"Plaakkk...!" Tiba-tiba pipinya ditampar! Dia terkejut dan terbelalak! Baru saja menyedot racun dari luka didadanya dan kini sudah menghadiahi sebuah tamparan keras! Betapa anehnya wanita ini.

"Ehh, kenapa...?" tanyanya gagap.

"Aku belum pernah menikah dan engkau berani menyebutku nyonya?"

"Aih, maafkan aku, nona. Eh, aku... aku sungguh tidak tahu, dan agaknya sekarang aku dapat menduga siapa adanya nona. Bukankah nona yang berjuluk Ban-tok Sian-li?"

"Hemm, engkau sudah mengenal namaku. Baik sekali, engkau akan mati dengan mengenal siapa pembunuhmu. Aku memang Ban-tok Sian-li Souw Hian Li, majikan dari Lembah Maut..." Tiba-tiba suaranya melemah karena ketika menyebutkan tempat itu, ia teringat betap tempat itu telah terbasmi habis.

"Aku akan mati dengan mata terpejam, nona."

"Tidak, engkau tidak akan mati. Kau kira percuma saja aku menyedot keluar jarum tadi?" la mengeluarkan bubuk obat penawar racun itu dan membubuhkan obat itu kepada luka di dada, menekan-nekannya, kemudian ia mengeluarkan sebotol kecil arak dan menyuruh minum arak bercampur obat. Setelah diobati dan minum arak obat, Thio Cin Kang tidak merasa sakit lagi pada dadanya. Dia mengancingkan lagi bajunya, kemudian ikut pula berdiri seperti Ban-tok Sian-li.

"Nona Souw, aku Thio Cin Kang menghaturkan banyak terima kasih kepadamu yang sudah mengampuni aku dan menyelamatkan aku dari maut. Telah lama aku mendengar nama besar nona sebagai seorang yang membantu perjuangan dan aku kagum sekali kepadamu, nona."

"Hemm, tadi engkau berterima kasih karena aku hendak membunuhmu, sekarang berterima kasih karena aku menyelamatkanmu. Sebenarnya, apa yang kau kehendaki? Engkau tadi ingin mati, sekarang ingin hidup!"

Thio Cin Kang menarik napas panjang. "Nona Souw, setengah tahun yang lalu, isteriku keguguran dan meninggal dunia. Aku sudah menjadi putus asa, tidak mempunyai isteri tidak mempunyai anak, dan biarpun semua orang membujukku untuk menikah lagi, aku tidak menemukan orang yang cocok. Aku bosan hidup dan ingin mati saja. Akan tetapi setelah bertemu denganmu, nona. Aku kagum bukan main! Aku rela mati di tanganmu, dan sungguh amat berbahagia bahwa nona tidak membunuhku bahkan menyelamatkan aku. Nona memberi harapan baru bagiku. Kalau saja nona sudi memberi kesempatan kepadaku untuk membantumu, membantu apa saja, aku rela mengorbankan nyawaku untuk membantu dan membelamu, nona Souw."

Souw Hian Li menjadi merah sekali wajahnya, la bukan anak kecil, ia tahu apa yang tersembunyi di balik dada yang bidang itu, yang terkandung di dalam hati pria ini. Akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya,

"Thio-pangcu, mengapa engkau begitu mati-matian percaya kepadaku dan menyerahkan nyawamu kepadaku? Mengapa pula engkau rela berkorban untuk membantuku, rela berkorban nyawa sekalipun untuk membelaku? Mengapa? Aku suka akan sikap yang terus terang, tidak bersembunyi-sembunyi dan bertele-tele!"

Thio Cin Kang menelan ludahnya untuk memberanikan dirinya. "Mungkin mendengar ucapanku, nona akan menjadi begitu marah dan turun tangan membunuhku. Kalau begitu halnya, aku siap menerima kematian di tanganmu. Terus terang saja, nona. Begitu bertemu denganmu, melihatmu dan melihat sikapmu, mendengar suaramu, aku langsung jatuh cinta kepadamu, nona Souw. Kalau ada wanita di dunia ini yang kuingin mengambil sebagai isteriku, engkaulah wanita itu dan tidak ada lain wanita lagi!"

Mendengar pengakuan yang demikian jujur dan gagahnya, Souw Hian Li tercengang dan tertegun, walaupun ia sudah menduganya bahwa pria itu jatuh cinta kepadanya, la menanyai hatinya sendiri dan harus diakuinya bahwa pria ini lain dari pada pria lain. Begitu jantan, begitu gagah, begitu jujur. Kelembutan hatinya sebagai wanita tersentuh sebagaimana yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan ia menundukkan mukanya yang kemerahan dengan sikap tersipu malu, seperti seorang gadis belasan tahun menerima pernyataan cinta seorang perjaka!

Thio Cin Kang juga bukan seorang pria muda. Usianya sudah empat puluh tahun dan sungguhpun dia bukan tergolong pria yang mata keranjang, namun dia sudah dapat membaca isi hati wanita yang berdiri di depannya dengan muka ditundukkan dan tersipu itu.

"Li-moi...!" Dia berbisik.

Souw Hian Li terkejut. Panggilan itu begitu terasa asing baginya, asing akan tetapi begitu merdu dan manis, la mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu, bertaut sampai lama, kemudian Hian Li menunduk lagi.

"Pang-cu, jangan begitu tergesa..."

"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau menghendaki keterus-terangan? Dan aku sudah membukakan pintu hatiku, mengeluarkan semua rahasia hatiku kepadamu. Aku jatuh cinta kepadamu, Li-moi, dan kalau engkau sudi, aku ingin sekali hidup bersamamu, sebagai suami isteri, membentuk kehidupan baru yang penuh damai dan ketenteraman. Sudikah engkau, Li-moi?"

"Nanti dulu, Thio-pangcu..."

"Mohon jangan sebut aku pang-cu Li-moi. Terdengarnya begitu asing. Maukah engkau menyebut toako kepadaku?"

"Baiklah, Thio-twako. Akan tetapi kukatakan bahwa engkau tidak perlu tergesa-gesa. Kalau memang kita berjodoh, tidak akan ada yang menghalanginya. Aku hidup seorang diri dan engkau juga seorang diri, jadi apa halangannya? Engkau cinta padaku dan aku... aku kagum dan suka kepadamu. Akan tetapi kita baru saja bertemu dan aku masih mempunyai tugas yang harus kuselesaikan."

"Tugas apakah itu, Li moi? Aku akan membantumu!"

"Tugas membunuh Perdana Menteri Jin Kui!"

Thio Cin Kang terkejut dan terbelalak memandang kepada wanita itu. "Engkau bersungguh-sungguhkah, Li-moi? Membunuh Perdana Menteri Jin Kui?"

"Ya! Mengapa? Engkau takut?"

"Tidak seujung rambutpun aku takut dalam membantu dan membelamu, Li moi. Aku hanya terkejut karena tugas itu sungguh sama sekali tidak ringan dan amat sukar. Perdana Menteri Jin Kui yang jahat dan licik itu terlindung oleh jagoan-jagoan yang tinggi ilmunya. Akan tetapi lebih dulu aku ingin tahu, mengapa engkau hendak membunuhnya?"

"Mengapa? Dia menyuruh pasukan dan para jagoannya untuk membasmi tempat tinggal kami. Lembah Maut di Sungai Yang-ce. Karena dia anak buahku banyak yang tewas dan tempat tinggalku dirampok dan dibakar. Aku harus membunuh anjing penjilat dan pengkhianat itu!"

"Hampir semua pejuang mempunyai keinginan yang sama. Akan tetapi betapa sukarnya. Biarpun demikian, aku akan membantumu, Li-moi. Biar untuk itu kukorbankan nyawaku, aku siap membantumu. Akan tetapi agar usaha kita tidak mengalami kegagalan seperti yang pernah dilakukan para pejuang, kita harus mempergunakan siasat dan mengatur yang matang. Marilah, Li-moi. Marilah engkau singgah di tempat kami agar kita dapat membicarakan rencana siasat itu lebih matang lagi."

"Baik, twako. Dengan bantuanmu, kuharap akan dapat membalas dendamku kepada pengkhianat itu!"

"Ada Satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepadamu, Li-moi. Aku akan selalu merasa penasaran sebelum mendapat keteranganmu."

"Hal apakah itu? Tanyakanlah, akan kujawab."

"Tentang senjatamu itu. Kalau aku tidak salah sangka, bukankah itu yang disebut Mestika Golok Naga, golok milik istana yang telah dicuri orang? Bagaimana dapat berada padamu? Aku tidak percaya bahwa engkau..."

"Kenapa berhenti bicara? Katakan saja bahwa engkau menduga aku pencuri golok pusaka itu, bukan? Engkau keliru, Bukan aku pencuri golok pusaka itu. Pencurinya adalah seorang kaki tangan Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin bernama Hak Bu Cu dan aku telah menewaskannya. Golok ini telah diserahkan kepada Panglima Wu Chu dan... dan akhirnya Jatuh ketanganku."

Tentu saja Ban-tok Sian-Li Souw Hian Li tidak mau menceritakan cara ia merampas golok itu dari tangan Tan Tiong Li, dengan cara licik, yaitu melukai puteri Sung Hiang Bwee kemudian menukar keselamatan gadis itu dengan golok pusaka.

"Golok pusaka itu harus dikembalikan kepada Kaisar, Li-moi."

"Kelak kalau sudah tercapai maksudku membunuh Perdana Menteri Jin Kui..."

Mestika Golok Naga Jilid 17

TIONG LI maklum bahwa biarpun adu kepandaian seperti ini nampaknya tidak apa-apa karena tangan merekapun tidak saling menyentuh, akan tetapi sesungguhnya amatlah berbahaya. Kalau seorang di antara mereka sampai tidak kuat menahan dan tenaga yang lain terlanjur mendesak, maka yang tidak kuat itu dapat menderita luka parah!

Karena itu, diapun hanya bertahan saja dan tidak mau mendesak maju. Karena itu, Sin Gi Tosu merasa seolah-olah kedua telapak tangannya menolak sebuah bukit karang yang amat kokoh kuat. Betapapun dia mengerahkan tenaga, dia tidak mampu mendorong mundur kedua tangan pemuda itu. Sampai beberapa lamanya keduanya hanya saling bertahan.

Dan perlahan-lahan muka Sin Gi Tosu menjadi kemerahan dan berkeringat. Dia merasa penasaran sekali. Dia yang sudah berlatih selama puluhan tahun, harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda yang pantas menjadi cucunya? Dia lalu mengeluarkan suara bentakan panjang dan kedua tangannya mendorong sepenuh tenaga.

Tiong Li yang hanya bertahan, terdorong ke belakang, akan tetapi kedudukan kuda-kuda kakinya masih tetap tidak bergeming. Sebaliknya, Sin Gi Toso kehabisan tenaga dan dia terhuyung kedepan, terengah-engah. Dia tidak sampai terluka karena Tiong Li tidak mendorongkan tenaganya, hanya terguncang karena tenaganya yang bertemu tenaga yang lebih kuat itu membalik. Cepat Sin Gi Tosu duduk bersila dan mengatu pernapasan untuk menjaga agar di dalam tubuhnya tidak sampai terluka. Kemudiian dia bangkit berdiri dan wajahnya penuh kagum.

"Siancai...! Dalam hal tenaga sin-kang, engkaupun telah mewarisi tenaga yang luar biasa sekali, Tan-sicu Pinto mengaku kalah."

Tiba-tiba Im Seng Cu tertawa. "Ha ha, engkau yang begini muda sudah berhasil menundukkan kami tiga orang tua, Tan-sicu. Akan tetapi andaikata kami belum menyadari kekeliruan kami dan kami bertiga maju bersama, engkau tentu akan kalah dan mungkin engkau dapat tewas di tangan kami. Kami bersalah, dan kami mengaku kalah, selamat tinggal, sicu. Teruskanlah perjuanganmu demi membebaskan tanah air dan bangsa dari penjajah,"

Setelah berkata demikian, tiga orang tosu itu lalu melompat pergi tanpa menengok lagi dan mereka langsung saja pulang ke utara, dan tidak singgah lagi di ruman kediaman Perdana Menteri Jin Kui. Peristiwa itu diintai oleh mata-mata Jin Kui yang segera melapor! kepada Perdana Menteri itu sehingga dia menjadi semakin marah dan mendendam kepada Tiong Li.

Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi juga meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan usaha mereka mencari Ban-tok Sian-li.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Di lereng bukit Thai-mu-san terdapat sebuah perkampungan yang merupakan pusat dari perkumpulan Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih). Perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang cukup besar, dengan anggauta lebih dari dua ratus orang. Mereka itu selain merupakan perguruan silat, juga membuka perusahaan piau-kiok (pengawalan kiriman barang) yang terkenal ditakuti para penjahat sehingga banyak langganan mereka yang mengirim barang melalui piauw-kiok ini.

Hanya dengan bendera yang bergambar garuda putih di atas gerobak barang, para perampok tidak berani mengganggu. Perusahaan piau-kiok mereka berada di kota Nan-king, tak jauh dari bukit itu, juga di Nan-king ini mereka membuka perguruan silat yang memungut bayaran. Dari hasil perguruan dan piauw-kiok, keadaan perkumpulan ini cukup makmur.

Pek-eng-pang dipimpin oleh ketuanya yang bernama Thio Cin Kang, seorang pendekar yang gagah perkasa. Ketua ini berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya gagah sekali. Wajah yang jantan dan sikapnya berwibawa namun lembut.

Selain itu, ilmu kepandaian Thio Cin Kang ini juga tinggi. Dia pernah menjadi murid Kun-lun-pai, akan tetapi juga pernah mempelajari ilmu silat berbagai aliran sehingga dia mahir banyak macam ilmu silat sehingga menjadi seorang ahli silat yang tangguh.

Akan tetapi biarpun dia lihai dan tubuhnya tinggi besar wajahnya jantan gagah, Thio Cin Kang ini memiliki perangai yang lembut dan bijaksana. Tidak mengherankan kalau semua anak buahnya tunduk kepadanya dan amat taat.

Akan tetapi, biarpun hidupnya serba kecukupan dengan hasil usahanya, namun kehidupan rumah tangga ketua ini sungguh menyedihkan. Setelah menikah selama belasan tahun, isterinya tidak mempunyai keturunan dan baru beberapa bulan yang lalu, isterinya yang akhirnya mengandung itu keguguran yang berakibat matinya isteri itu! Dia kehilangan isterinya dan masih juga belum mempunyai keturunan. Peristiwa ini memukul hebat batin Thio Cin Kang sehingga dia menjadi kurus dan muram.

Setelah lewat setengah tahun kematian isterinya, para pembantunya dengan halus mencoba membujuknya agar dia menikah lagi untuk menyambung keturunan, akan tetapi dia selalu menolak dan mengatakan tidak mungkin dia dapat hidup berbahagia dengan seorang wanita lain karena tentu tidak akan cocok wataknya. Dan semenjak itu dia menaruh dendam kepada para perampok.

Kematian isterinya itu dianggapnya akibat dari ulah para perampok. Sebetulnya, ketika sedang mengandung, isterinya mengadakan perjalanan pulang ke dusun untuk menengok orang tuanya. Karena perjalanan itu tidak terlalu jauh, dan dia mempunyai banyak kesibukan, Thio Cin Kang tidak mengantarkan, hanya menyuruh pembantu-pembantunya mengawal kepergian isterinya. Dan ditengah perjalanan, rombongan itu dihadang perampok!

Agaknya gerombolan perampok yang baru datang dari lain daerah sehingga belum mengenal Pek-eng-piauw-kiok. Para perampok itu menyerang dan sempat membakar kereta sehingga isteri Thio Cin kang buru-buru turun dari kereta dan berlindung. Akhirnya gerombolan perampok dapat dipukul dan melarikan diri. Akan tetapi isteri Thio Cin Kang mengalami kekagetan dan inilah yang dianggap oleh Thio Cin Kang menjadi penyebab keguguran isterinya. Dan sejak itu, seringkali dia pergi seorang diri untuk menghajar gerombolan perampok!

Thio Cin Kang Juga simpati kepada perjuangan. Dia menganjurkan agar anak buahnya membantu kalau melihat para pejuang bertempur melawan pasukan Kin yang melanggar perbatasan. Walaupun tidak langsung aktip dalam perjuangan, akan tetapi Thio Cin Kang mendukung perjuangan itu dan siap membantu sewaktu-waktu. Oleh karena itu namanya juga dihormati di kalangan para pejuang dan karena dia tidak aktip, pemerintah tidak memusuhinya sebagai pemberontak.

Pada suatu pagi. Seperti biasa Thio Cin Kang yang belum pulih dari kesedihannya ditinggal mati isterinya dengan pedang di punggung, berkeliaran menuruni bukit Thian-mu-san. Tiba-tiba dia mendengar suara ribut dan melihat bahwa terjadi pertempuran di sebuah hutan. Ketika dia lari mendekati, dia melihat seorang wanita cantik sedang dikeroyok oleh dua puluh lebih orang yang tinggi besar dan nampak garang.

Melihat sikap mereka, piauw-su (pengawal barang) yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia berhadapan dengan gerombolan perampok yang sedang mengganggu seorang wanita. Wanita itu cantik bukan main, jelita dan juga lihai ilmu silatnya. Dengan sebatang golok di tangan, wanita itu mengamuk dan sudah merobohkan beberapa orang. Akan tetapi pengeroyoknya yang banyak itu mengepungnya dengan ketat.

Melihat ini, tanpa banyak cakap lagi Thlo Cin Kang membentak, nyaring. "Perampok-perampok laknat!" Seolah olah dia melihat isterinya sendiri dikeroyok dan terancam oleh para perampok maka setelah mencabut pedangnya dia lalu mengamuk! Dia tidak memperkenalkan diri karena dia memang ingin membasmi para perampok itu.

Wanita itu bukan lain adalah Ban-tok Sian-li Souw Hian Li. Sebagai wanita sakti yang angkuh, ia merasa tidak senang melihat ada orang membantunya, apa lagi yang mengamuk demikian hebatnya sehingga sebentar saja telah merobohkan lima orang. Iapun tidak mau kalah dan menggerakkan Mestika Golok Naga dengan hebat sehingga kedua orang itu seperti berlumba saja merobohkan kawanan perampok yang mengeroyok mereka. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua perampok yang berjumlah tiga puluh orang itu telah roboh semua, malang melintang dan mandi darah!

Ban tok Sian-li telah menyimpan kembali goloknya, demikian pula Thio Cin Kang telah menyimpan pedangnya. Mereka berdiri saling pandang Thio Cin Kang tidak menyembunyikan kekagumannya, bukan hanya kagum akan kecantik jelitaan wanita itu, melainkan lebih-lebih lagi akan kegagahannya. Juga Ban tok Sian Li melihat seorang pria yang jantan dan gagah, namun sinar matanya lembut. Biarpun demikian, ia mengerutkan alisnya dan merasa tidak senang.

"Kenapa engkau membantuku?" tanyanya tidak ramah.

Thio Cin Kang cepat menghampiri dan mengangkat kedua tangan depan dada. "Harap suka memaafkan aku, nona. Melihat seorang wanita di kepung dan di keroyok penjahat-penjahat laknat ini, terpaksa aku turun tangan membantu, sungguhpun sekarang aku menyadari bahwa tanpa dibantu sekalipun engkau akan dapat membasmi mereka." Ucapan ketua itu lembut dan ramah.

"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"

"Aku tahu, nona. Akan tetapi baru sekarang aku tahu. Tadi aku khawatir kalau-kalau nona terancam bahaya maka aku membantu. Harap sekali lagi suka memaafkan aku."

Sikap orang itu sungguh menyenangkan hati dan karena hatinya merasa senang itulah Ban-tok Sian-Li menjadi semakin marah. Ia marah kepada diri sendiri yang merasa tertarik dan suka disertai kegum kepada pria asing itu!

"Enak saja engkau minta maaf. Engkau sengaja memamerkan kepandaianmu kepadaku! Engkau memandang rendah kepadaku. Nah aku ingin tahu sampai di mana tingginya kepandaianmu!" Setelah berkata demikian, wanita itu tanpa banyak cakap lagi lalu menyerang dengan tamparan tangan kanannya.

Thio Cin Kang terkejut dan cepat mengelak. Akan tetapi luputnya tamparan itu membuat Ban-tok Sian-li semakin penasaran dan menganggap orang itu menantangnya, maka ia terus bergerak menyerang secara bertubi-tubi!

Terpaksa Thio Cin Kang tidak hanya mengelak, melainkan harus menangkis karena Serangan-serangan itu semakin lama semakin dahsyat! Mulai timbul kegembiraan di hati Thio Cin Kang. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diapun memiliki penyakit yang sama, yaitu suka bertanding silat, apa lagi dia tertarik sekali kepada wanita ini dan ingin menguji sampai di mana kelihaiannya. Dia menganggap wanita ini seperti orang-orang kang-ouw lainnya, hendak mengujinya.

Maka, mulailah dia balas menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya. Akan tetapi tentu saja hanya untuk menguji, bukan untuk mencelakai wanita yang begitu bertemu telah membuat dia tertarik! sekali itu. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan wanita yang demikian cantik jelita dan sekaligus demikian tinggi ilmu silatnya.

Kalau Thio Cin Kang hanya hendak mengaji kepandaian wanita itu, sebaliknya Ban-tok Sian-li yang merasa ditantang, menyerang dengan sungguh-sungguh dan ia mulai jengkel setelah lewat lima puluh jurus ia belum juga mampu mengalahkannya dengan ilmu silat, akan tetapi setelah ternyata pria itu cukup tangguh sehingga agaknya kalau hanya mengandalkan ilmu silat ia tidak akan mampu mengalahkannya, mulailah ia mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya mengandung hawa beracun yang amat jahat!

Thio Cin Kang terkejut bukan main ketika menangkis tangan wanita itu, merasa kulit lengannya panas dan perih, kemudian ketika tangan wanita itu berhasil menggores kulit lengannya, terasa gatal dan panas seperti dibakar. Dia terkejut dan gerakan refleksnya membuat dia mengeluarkan ilmu tendangannya yang amat hebat, yaitu iImu tendangan Thai-lek-tui (Tendangan Kilat) sehingga Ban-tok Sian-li tidak dapat mengelak dan pahanya tertendang. Untung baginya Thio Cin Kang membatasi tenaganya sehingga ia hanya terhuyung saja.

"Ah, maafkan aku, nona...!" katanya.

"Aku belum kalah !" bentak Ban-tok Sian-li dengan marah sekail dan ia sudah mendesak maju lagi dan tangan kirinya menghantam ke dada.

Thio Cin Kang mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia merasa dadanya nyeri sekali dan dia terpelanting jatuh, dadanya telah terluka ketika bajunya ditembusi jarum Ban-tok Sian-li! Sambil mendekap dadanya dia mencoba bangkit dan memandang kepada Ban-tok Sian-li.

"Engkau.....engkau hebat sekali, nona. Aku mengaku kalah!" katanya dengan kagum, sedikitpun tidak merasa menyesal telah dilukai sedemikian rupa oleh wanita itu.

"Hemm, engkau telah terluka oleh Ban-tok-ciam dan dalam waktu dua puluh empat jam engkau akan mati. Tidak ada obat di dunia ini dapat menyelamatkan mu..."

Akan tetapi gertakan ini tidak membuat pria itu ketakutan, bahkan dia tersenyum sambil menyeringai menahan sakit. "Kalau begitu, selamat tinggal dunia yang penuh kesedihan dan kepalsuan ini. Selamat tinggal duka dan sengsara!"

Ban-tok Sian-li terbelalak heran. Belum pernah ia melihat orang bersikap seperti ini menghadapi siksaan dan kematian yang mengerikan. "Engkau tidak takut dan tidak sedih menghadapi kematian?"

"Kenapa mesti takut dan sedih? Kematian merupakan kebebasan dari alam kesengsaraan bagiku. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Engkau membebaskan aku dari duka. Mati di tanganmu tidak mendatangkan penasaran, bagiku. Engkau begini cantik, engkau begini lihai..."

"Engkau akan mati dan anak isterimu akan menangisimu. Mereka akan berkabung dan bersedih. Apa engkau tidak kasihan kepada anak isterimu?"

Thio Cin Kang kembali tersenyum dan Ban-tok Sian-li merasa aneh. Orang ini mengobral senyum dalam menghadapi maut! "Tidak ada seorangpun yang akan menangisi kematianku, nona. Aku tidak mempunyai anak dan isteriku telah meninggal dunia setengah tahun yang lalu. Aku hanya mohon kepadamu, kalau nona sudi memenuhi permohonan terakhir dariku..."

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya, ia merasa heran kepada diri sendiri kenapa tidak ditinggalkan saja sejak tadi orang itu, seperti biasa kalau ia membunuh orang, melainkan dilayaninya bicara panjang lebar, bahkan kini orang itu mengajukan permohonan dan ia masih melayaninya!

"Permohonan apakah itu?"

"Di lereng bukit ini terdapat sebuah perkumpulan Pek-eng-pang. Akulah ketua perkumpulan itu dan tolonglah... beri tahu kepada mereka bahwa aku mati di sini agar mereka dapat mengetahui dan menguburkan. Sudikah engkau, nona yang baik?"

Ban-tok Sian-li makin kaget. la sudah mendengar akan nama besar Pek-eng pang sebagai perkumpulan gagah perkasa yang suka membantu para pejuang, la makin gemas karena pria itu tidak memakinya, tidak mencacinya, bahkan menyebutnya nona yang baik!

"Aku bukan nona yang baik! Aku kejam, aku telah meracunimu, aku telah membunuhmu. Lupakah engkau akan kenyataan ini?"

"Sudah kukatakan, aku tidak mendendam. Aku bahkan berterima kasih kepadamu, nona. Maukah... maukah engkau memenuhi permohonanku tadi?"

Orang aneh! Orang gagah! Orang jantan yang berani mati. Orang sengsara yang hidup sebatang kara tanpa isteri tanpa anak, tidak ada yang menyedihi kematiannya. Tiba-tiba Ban-tok Sian-li berlutut di dekat orang itu dan mendorongnya.

"Rebahlah telentang!" perintahnya.

"Eh, ada apa...? Engkau... engkau mau apa?"

"Cerewet! Diamlah dan telentanglah!" Kembali ia memerintah.

Thio Cin Kang menjatuhkan diri telentang. Jari-jari yang mungil itu dengan cekatan lalu membuka kancing baju itu sehingga nampak dada yang bidang dan tegap itu telanjang. Ban-tok Sian-li lalu menotok dengan telunjuknya ke arah sekeliling luka di dada untuk menghentikan jalan darahnya, kemudian tanpa ragu lagi ia lalu menempelkan bibirnya pada dada yang terluka, menghisap keluar Jarum yang mengeram ke dalam daging.

Thio Cin Kang memejamkan matanya. Bukan karena nyerinya. Nyerinya dapat dia pertahankan, bahkan lebih dari itupun dia dapat menahannya. Akan tetapi, muka yang halus itu, rambut yang harum itu, dan terutama bibir hangat yang menempel dan menghisap di dadanya itu. Tidak kuat dia membuka matanya karena itu semua. Dia merasa seperti dalam mimpi indah. Wanita itu menghisap lukanya! Luka beracun di dadanya yang telanjang. Benar-benarkah hal seperti ini dapat terjadi? Hisapan itu berhenti dan bau harum itu menjauh. Dia membuka matanya. Wanita itu memandang kepadanya.

"Jarum itu sudah keluar, akan tetapi tanpa obat pemunah dariku, engkau tetap saja akan mati."

"Kuserahkan nyawaku di tanganmu, nona... eh, nyonya... maafkan aku..." Wanita yang usianya tentu sudah lebih, dari pada tampaknya itu tentu saja sudah bersuami. Betapa bodohnya membayangkan yang bukan-bukan. Tidak tahu malu!

"Plaakkk...!" Tiba-tiba pipinya ditampar! Dia terkejut dan terbelalak! Baru saja menyedot racun dari luka didadanya dan kini sudah menghadiahi sebuah tamparan keras! Betapa anehnya wanita ini.

"Ehh, kenapa...?" tanyanya gagap.

"Aku belum pernah menikah dan engkau berani menyebutku nyonya?"

"Aih, maafkan aku, nona. Eh, aku... aku sungguh tidak tahu, dan agaknya sekarang aku dapat menduga siapa adanya nona. Bukankah nona yang berjuluk Ban-tok Sian-li?"

"Hemm, engkau sudah mengenal namaku. Baik sekali, engkau akan mati dengan mengenal siapa pembunuhmu. Aku memang Ban-tok Sian-li Souw Hian Li, majikan dari Lembah Maut..." Tiba-tiba suaranya melemah karena ketika menyebutkan tempat itu, ia teringat betap tempat itu telah terbasmi habis.

"Aku akan mati dengan mata terpejam, nona."

"Tidak, engkau tidak akan mati. Kau kira percuma saja aku menyedot keluar jarum tadi?" la mengeluarkan bubuk obat penawar racun itu dan membubuhkan obat itu kepada luka di dada, menekan-nekannya, kemudian ia mengeluarkan sebotol kecil arak dan menyuruh minum arak bercampur obat. Setelah diobati dan minum arak obat, Thio Cin Kang tidak merasa sakit lagi pada dadanya. Dia mengancingkan lagi bajunya, kemudian ikut pula berdiri seperti Ban-tok Sian-li.

"Nona Souw, aku Thio Cin Kang menghaturkan banyak terima kasih kepadamu yang sudah mengampuni aku dan menyelamatkan aku dari maut. Telah lama aku mendengar nama besar nona sebagai seorang yang membantu perjuangan dan aku kagum sekali kepadamu, nona."

"Hemm, tadi engkau berterima kasih karena aku hendak membunuhmu, sekarang berterima kasih karena aku menyelamatkanmu. Sebenarnya, apa yang kau kehendaki? Engkau tadi ingin mati, sekarang ingin hidup!"

Thio Cin Kang menarik napas panjang. "Nona Souw, setengah tahun yang lalu, isteriku keguguran dan meninggal dunia. Aku sudah menjadi putus asa, tidak mempunyai isteri tidak mempunyai anak, dan biarpun semua orang membujukku untuk menikah lagi, aku tidak menemukan orang yang cocok. Aku bosan hidup dan ingin mati saja. Akan tetapi setelah bertemu denganmu, nona. Aku kagum bukan main! Aku rela mati di tanganmu, dan sungguh amat berbahagia bahwa nona tidak membunuhku bahkan menyelamatkan aku. Nona memberi harapan baru bagiku. Kalau saja nona sudi memberi kesempatan kepadaku untuk membantumu, membantu apa saja, aku rela mengorbankan nyawaku untuk membantu dan membelamu, nona Souw."

Souw Hian Li menjadi merah sekali wajahnya, la bukan anak kecil, ia tahu apa yang tersembunyi di balik dada yang bidang itu, yang terkandung di dalam hati pria ini. Akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya,

"Thio-pangcu, mengapa engkau begitu mati-matian percaya kepadaku dan menyerahkan nyawamu kepadaku? Mengapa pula engkau rela berkorban untuk membantuku, rela berkorban nyawa sekalipun untuk membelaku? Mengapa? Aku suka akan sikap yang terus terang, tidak bersembunyi-sembunyi dan bertele-tele!"

Thio Cin Kang menelan ludahnya untuk memberanikan dirinya. "Mungkin mendengar ucapanku, nona akan menjadi begitu marah dan turun tangan membunuhku. Kalau begitu halnya, aku siap menerima kematian di tanganmu. Terus terang saja, nona. Begitu bertemu denganmu, melihatmu dan melihat sikapmu, mendengar suaramu, aku langsung jatuh cinta kepadamu, nona Souw. Kalau ada wanita di dunia ini yang kuingin mengambil sebagai isteriku, engkaulah wanita itu dan tidak ada lain wanita lagi!"

Mendengar pengakuan yang demikian jujur dan gagahnya, Souw Hian Li tercengang dan tertegun, walaupun ia sudah menduganya bahwa pria itu jatuh cinta kepadanya, la menanyai hatinya sendiri dan harus diakuinya bahwa pria ini lain dari pada pria lain. Begitu jantan, begitu gagah, begitu jujur. Kelembutan hatinya sebagai wanita tersentuh sebagaimana yang belum pernah dirasakan sebelumnya dan ia menundukkan mukanya yang kemerahan dengan sikap tersipu malu, seperti seorang gadis belasan tahun menerima pernyataan cinta seorang perjaka!

Thio Cin Kang juga bukan seorang pria muda. Usianya sudah empat puluh tahun dan sungguhpun dia bukan tergolong pria yang mata keranjang, namun dia sudah dapat membaca isi hati wanita yang berdiri di depannya dengan muka ditundukkan dan tersipu itu.

"Li-moi...!" Dia berbisik.

Souw Hian Li terkejut. Panggilan itu begitu terasa asing baginya, asing akan tetapi begitu merdu dan manis, la mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu, bertaut sampai lama, kemudian Hian Li menunduk lagi.

"Pang-cu, jangan begitu tergesa..."

"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau menghendaki keterus-terangan? Dan aku sudah membukakan pintu hatiku, mengeluarkan semua rahasia hatiku kepadamu. Aku jatuh cinta kepadamu, Li-moi, dan kalau engkau sudi, aku ingin sekali hidup bersamamu, sebagai suami isteri, membentuk kehidupan baru yang penuh damai dan ketenteraman. Sudikah engkau, Li-moi?"

"Nanti dulu, Thio-pangcu..."

"Mohon jangan sebut aku pang-cu Li-moi. Terdengarnya begitu asing. Maukah engkau menyebut toako kepadaku?"

"Baiklah, Thio-twako. Akan tetapi kukatakan bahwa engkau tidak perlu tergesa-gesa. Kalau memang kita berjodoh, tidak akan ada yang menghalanginya. Aku hidup seorang diri dan engkau juga seorang diri, jadi apa halangannya? Engkau cinta padaku dan aku... aku kagum dan suka kepadamu. Akan tetapi kita baru saja bertemu dan aku masih mempunyai tugas yang harus kuselesaikan."

"Tugas apakah itu, Li moi? Aku akan membantumu!"

"Tugas membunuh Perdana Menteri Jin Kui!"

Thio Cin Kang terkejut dan terbelalak memandang kepada wanita itu. "Engkau bersungguh-sungguhkah, Li-moi? Membunuh Perdana Menteri Jin Kui?"

"Ya! Mengapa? Engkau takut?"

"Tidak seujung rambutpun aku takut dalam membantu dan membelamu, Li moi. Aku hanya terkejut karena tugas itu sungguh sama sekali tidak ringan dan amat sukar. Perdana Menteri Jin Kui yang jahat dan licik itu terlindung oleh jagoan-jagoan yang tinggi ilmunya. Akan tetapi lebih dulu aku ingin tahu, mengapa engkau hendak membunuhnya?"

"Mengapa? Dia menyuruh pasukan dan para jagoannya untuk membasmi tempat tinggal kami. Lembah Maut di Sungai Yang-ce. Karena dia anak buahku banyak yang tewas dan tempat tinggalku dirampok dan dibakar. Aku harus membunuh anjing penjilat dan pengkhianat itu!"

"Hampir semua pejuang mempunyai keinginan yang sama. Akan tetapi betapa sukarnya. Biarpun demikian, aku akan membantumu, Li-moi. Biar untuk itu kukorbankan nyawaku, aku siap membantumu. Akan tetapi agar usaha kita tidak mengalami kegagalan seperti yang pernah dilakukan para pejuang, kita harus mempergunakan siasat dan mengatur yang matang. Marilah, Li-moi. Marilah engkau singgah di tempat kami agar kita dapat membicarakan rencana siasat itu lebih matang lagi."

"Baik, twako. Dengan bantuanmu, kuharap akan dapat membalas dendamku kepada pengkhianat itu!"

"Ada Satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepadamu, Li-moi. Aku akan selalu merasa penasaran sebelum mendapat keteranganmu."

"Hal apakah itu? Tanyakanlah, akan kujawab."

"Tentang senjatamu itu. Kalau aku tidak salah sangka, bukankah itu yang disebut Mestika Golok Naga, golok milik istana yang telah dicuri orang? Bagaimana dapat berada padamu? Aku tidak percaya bahwa engkau..."

"Kenapa berhenti bicara? Katakan saja bahwa engkau menduga aku pencuri golok pusaka itu, bukan? Engkau keliru, Bukan aku pencuri golok pusaka itu. Pencurinya adalah seorang kaki tangan Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin bernama Hak Bu Cu dan aku telah menewaskannya. Golok ini telah diserahkan kepada Panglima Wu Chu dan... dan akhirnya Jatuh ketanganku."

Tentu saja Ban-tok Sian-Li Souw Hian Li tidak mau menceritakan cara ia merampas golok itu dari tangan Tan Tiong Li, dengan cara licik, yaitu melukai puteri Sung Hiang Bwee kemudian menukar keselamatan gadis itu dengan golok pusaka.

"Golok pusaka itu harus dikembalikan kepada Kaisar, Li-moi."

"Kelak kalau sudah tercapai maksudku membunuh Perdana Menteri Jin Kui..."