Social Items

PADA saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawan-kawannya membakar api besar di dekat pintu gerbang rumah kediaman Jin Kui. Ketika melihat api berkobar dan melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu untuk menghadapi para perusuh.

Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul dan tidak kurang dari tiga puluh orang pasukan jaga melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan segera melarikan diri. Tak seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya memancing saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu gerbang.

Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke sebelah dalam tembok pagar. Dia menyusup ke dalam taman sehingga tidak nampak, bersembunyi dan menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon yang tumbuh di dalam taman itu. Akhirnya, tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui.

Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengintai ke bawah. Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak yang lihai!

"Bagaimana? Apa yang terjadi di luar?" tanya Perdana Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak.

Tang Boa Lu melapor. "Hanya ada belasan orang pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang agaknya hendak mencoba untuk menyerang para penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu melarikan diri."

"Ah, para pemberontak itu memperhebat pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang puteri..."

"Aih, apa yang mereka ketahui, tai-jin? Puteri Sung Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yaog mengetahui, harap tai-jin jangan khawatir."

Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan juga Kui To Cin-jin.

"Sungguh celaka. Di kota raja terdapat belasan orang pemberontak dan kalian tidak mengetahuinya. Ini sungguh berbahaya sekali."

"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah dapat menangkap para pengacau itu?"

"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka itu lenyap dalam kegelapan malam, tai-jin," Ciang Sun Hok melapor.

Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata, "Jangan khawatir, tai-jin. Besok pagi saya akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hek-tung Kai-pang."

"Ada apa dengan mereka? Bukankah selama ini para pengemis Hek-tung Kai-pang tidak pernah melakukan pelanggaran?" tanya Jin Kui.

"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini amat berbahaya karena siapa tahu diam-diam mereka itu membantu para pemberontak!"

"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"

"Baik, tai-jin."

Tiong Li sudah mendengar cukup. Pertama, dia sudah tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hiang Bwee dan kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari kerajaan Kin. Siapa lagi yang punya ulah seperti itu kalau bukan Perdana Menteri Jin Kui? Tiong Li mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!

Dan berita kedua juga amat penting. Besok pagi akan diadakan penggeledahan di Hek-tung Kai-pang yang mulai dicurigai! Dia harus memberitahu kepada Kok Bu secepatnya. Karena itu, dengan hati-hati dia meninggalkan gedung itu dan memasuki taman.

Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup. Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam dan luar tembok sehingga tidak mungkin dia keluar tanpa diketahui orang. Akan tetapi dia tidak perduli. Dengan menggunakan iImu Jouw-sang-hui, dia melompat ke atas tembok. Para penjaga melihat dan mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang terdekat segera roboh begitu Tiong Li menggerakkan kakinya. Dan sebelum para penjaga lain dapat menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera melaporkan kepada Perdana Menteri Jin Kui. Perdana Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam tembok pagar rumahnya.

Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya! Padahal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu. Dan mereka semua tidak mengetahuinya. Ini hanya membuktikan betapa lihainya orang yang menyusup masuk tadi. Dan mungkin orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia dan para pembantunya.

"Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!" teriaknya kepada para pembantunya.

Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam kegelepan malam tanpa menemukan siapa- siapa!

Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali ke rumah gedung kosong di mana Gan Kok Bu sudah menantinya.

"Bagaimana hasilnya, taihiap?"

"Ada berita amat penting dapat kudengar," kata Tiong Li. "Puteri Sung Hiang Bwee itu ternyata diculik untuk diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!"

"Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat busuk!"

"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian," kata Tiong Li. "Besok pagi-pagi panglima pengawal dari Jin Kui akan mengadakan pembersihan terhadap Hek-Tung Kai-pang."

"Ah, apa alasannya?" seru Kok Bu terkejut sekali.

"Agaknya Hek-tung Kai-pang mulai dicurigai karena anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan dilakukan pernggeledahan di sarang Hek-tung Kai-pang. Kalau bertemu senjata tajam akan disita dan kalau sikap kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan!"

"Terima kasih, Tan-taihiap. Berita ini memang penting sekali untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok pagi."

Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu juga meninggalkan kоta raja. Untung baginya bahwa kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai kepada para petugas jaga di pintu gerbang sehingga dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang tanpa banyak halangan.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Perkumpulan Ceng-liong-pang yang berpusat di pegunungan Ceng-liong-san adalah sekelompok pejuang yang gigih. Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang patriot sejati. Biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih, memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin. Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Ceng-liong-pang untuk mengganggu pasukan Kin.

Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami kesulitan untuk membasmi kelompok ini. Setiap kali diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di pegunungan Ceng-liong-san, dan mengadakan perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang hendak membasmi mereka.

Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Butong-pai yang berkepandaian tinggi, juga berwatak gagah. Dalam waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi. Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.

Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan semua anggauta Ceng-liong-pang merasa heran melihat sikaр ketua mereka begitu pendiam, tidak seperti biasanya. Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi mengadakan pertemuan dengan para murid dan pembantunya untuk membicarakan рerjangan.

Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan berwibawa dia berkata kepada mereka, "Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhiku aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita harus membantu kerajaan untuk membasmi para pemberontak!"

Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua yang hidup sebatang kara dan tidak berkeluarga itu kelihatan amat berubah!

"Akan tetapi, pangcu," kata seorang sutenya. "Apakah itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"

"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus memusuhinya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boleh menentangnya. Pendeknya, kita harus bekerja untuk Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan pendiriannya!"

Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja keputusan ini amat menghebohkan para angguta Ceng-liong- pang. Selama ini perkumpulan itu disegani kawan dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan kini tahu-tahu ketuanya membanting haluan ke arah yang berlawanan!

Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari kota raja para pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan tentang pembasmian para pemberontak!

Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liong-pang menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute dari Hui Kong Sek. Mereka merasa curiga dan hendak melakukan penyelidikan. Akan tetapi, pada malam hari itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang ketua yang segera memanggil semua anggauta dan menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata,

"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi contoh kepada kalian. Siapa yang hendak berkhianat akan mengalami nasib yang sama! Nah, siapa lagi yang hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi para pemberontak?"

Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani membantah. Bukan itu saja. Setelah Gui Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan Kin. Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok pejuang yang dapat dibasmi. Sarang mereka diserbu atas petunjuk ketua Ceng-liong-pang itu, bahkan para anggauta Ceng-liong-pang dipaksa untuk ikut menyerbu.

Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah kekuasaan Ceng-liong-pang. Selagi dia berjalan seorang diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak keluar dari kota raja, mendadak bermunculan dua puluh orang lebih yang menghadangnya.

Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampok-perampok, akan tetapi melihat pakaian mereka yang pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang. Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok orang itu.

"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda sekalian menghadang perjalananku?"

Mendadak seorang di antara mereka berseru, "Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang melarikan puteri istana itu!"

"Tangkap dia!"

"Jangan sampai lolos pemberontak ini!"

Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus senjata, mengepung Tiong Li.

Tiong Li berusaha menyabarkan mereka, "Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar gambarku terpampang di papan pengumuman di mana-mana, akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak menculik puteri Istana."

"Bohong...!"

"Mana ada maling mengaku pencuri?"

"Serang dia! Bunuh!"

Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi, beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li. Pemuda itu mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki, para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun kering di terbangkan angin!

Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.

Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat semua orang yang berjumlah dua puluh tiga orang itu telah roboh semua! Dia memang tidak bermaksud membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat ataupun tewas.

Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu bertanya, "Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa memusuhiku? Kulihat kalian bukan perampok."

Si tinggi kurus maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kesaktian. "Kami adalah anggauta Ceng-liong-pang."

"Hemmm...!" Tiong Li mengerutkan alisnya dengan heran. "Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iiong-pang adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"

Si tinggi kurus itu menghela napas panjang, "Ini semua atas perintah pang-cu. Entah apa yang terjadi, pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan Kin!"

"Ah...!" Tiong Li terkejut sekali. "Apa yang telah terjadi?"

Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan gurunya, apalagi setelah kedua orang paman gurunya tewas oleh gurunya sendiri. Kini, bertemu dengan seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat membongkar rahasia apa yang terkandung di balik perubahan sikaр ketua mereka itu.

"Terjadinya beberapa bulan yang lalu. Setelah keluar dari tempat samadhinya, pangcu menjadi berubah sama sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia menerima utusan dari Menteri Jin Kui, dan utusan dari pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."

"Apa alasannya?"

"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar berbaik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu pasukan Sung untuk membasmi kaum pejuang. Hal ini amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak berdaya, tai-hiap."

"Ah, sungguh mencuгigakan!" kata Tiong Li. "Mungkin ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus menyelidiki persoalan ini!"

Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua anak buahnya. "Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh sendiri oleh ketua kami."

"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku menghadap dia!"

Dua puluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar Tiong Li ke sarang mereka. Kedatangan mereka disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah kurang lebih duaratus orang itu, dan ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tiong Li yang di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang sekali.

Ada memang beberapa orang di antara mereka yang berpihak ke pada sang ketua, akan tetapi jumlah mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki perubahan sikaр ketua mereka. Berbondong-bondong mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong Sek, ketua mereka.

Gui Kong Sek sedang berbincang- bincang dengan seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang datang ke marin. Tamu ini adalah seorang utusan panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang, seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan nampaknya kuat sekal! Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua Ceng-liong-pang bersama tamunya lalu berlari keluar.

Mereka melihat para angguta berbondong datang mengiringkan seorang pemuda tampan. Melihat pemuda ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.

"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap dia!"

Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak, dan Tiong Li sambil tersenyum melangkah maju menghampiri Gui Kong Sek. "Anak buahmu tidak akan menangkap aku, pangcu. Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu. Harap pangcu menjawab terus terang saja semua pertanyaanku."

Gui Kong Sek mengerutkan alisnya. "Bicara denganmu? Bicara apa lagi!? Engkau seorang pemberontak laknat!"

"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui. Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-liong-pang untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah sikaр mu sebagai seorang pejuang? Engkau bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi. Apa artinya ini semua?"

"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada pemerintah. Kami bukan pemberontak melainkan pejuang yang membela kepentingan Kerajaan Sung."

"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?"

"Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin, melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"

"Urusan dalam perkumpulan Ceng-liong-pang adalah urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air. Engkau telah berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin? Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"

Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah menjadi marah dan tidak sabar lagi. "Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan aku yang mengusirnya untukmu!"

"Jangan usir, melainkan tangkap hidup atau mati karena dia seorang buronan pemerintah Sung!" kata Gui Kong Sek.

Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Ceng-liong-pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin, maka dia memandang dengan mata bersinar. "Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami! Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"

Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok yang besar dan mengkilap tajam, membentak, "Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata, jangan banyak mulut tagi!" Dan diapun sudah menyerang dengan goloknya. Serangannya dahsyat sekali karena memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar.

Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan yang juga dapat dielakkan lawan. Ternyata raksasa itu adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang cukup tangguh. Akan tetapi lawannya adalah Tiong Li, seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali harus mengelak ke sana sini.

Pertandingan seru itu menjadi perhatian semua anggauta Ceng-liong-pang dan melihat betapa tamunya belum juga berhasil merobohkan Tiong Li, mendadak Gui Kong Seng mengeluarkan teriakan nyaring dan dia sudah melompat ke depan menggunakan pedangnya untuk mengeroyok!

Pada saat itulah para murid dan anggauta Ceng-liong-pang memandang heran. Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang dimainkan ketua mereka! Bukan ilmu pedang dari Ceng-liong-pang yang dimainkan ketua itu, melainkan ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu pedang itupun dahsyat sekali!

Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong, namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak. Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu...

Mestika Golok Naga Jilid 11

PADA saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawan-kawannya membakar api besar di dekat pintu gerbang rumah kediaman Jin Kui. Ketika melihat api berkobar dan melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu untuk menghadapi para perusuh.

Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul dan tidak kurang dari tiga puluh orang pasukan jaga melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan segera melarikan diri. Tak seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya memancing saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu gerbang.

Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke sebelah dalam tembok pagar. Dia menyusup ke dalam taman sehingga tidak nampak, bersembunyi dan menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon yang tumbuh di dalam taman itu. Akhirnya, tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui.

Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengintai ke bawah. Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak yang lihai!

"Bagaimana? Apa yang terjadi di luar?" tanya Perdana Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak.

Tang Boa Lu melapor. "Hanya ada belasan orang pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang agaknya hendak mencoba untuk menyerang para penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu melarikan diri."

"Ah, para pemberontak itu memperhebat pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang puteri..."

"Aih, apa yang mereka ketahui, tai-jin? Puteri Sung Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yaog mengetahui, harap tai-jin jangan khawatir."

Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan juga Kui To Cin-jin.

"Sungguh celaka. Di kota raja terdapat belasan orang pemberontak dan kalian tidak mengetahuinya. Ini sungguh berbahaya sekali."

"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah dapat menangkap para pengacau itu?"

"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka itu lenyap dalam kegelapan malam, tai-jin," Ciang Sun Hok melapor.

Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata, "Jangan khawatir, tai-jin. Besok pagi saya akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hek-tung Kai-pang."

"Ada apa dengan mereka? Bukankah selama ini para pengemis Hek-tung Kai-pang tidak pernah melakukan pelanggaran?" tanya Jin Kui.

"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini amat berbahaya karena siapa tahu diam-diam mereka itu membantu para pemberontak!"

"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"

"Baik, tai-jin."

Tiong Li sudah mendengar cukup. Pertama, dia sudah tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hiang Bwee dan kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari kerajaan Kin. Siapa lagi yang punya ulah seperti itu kalau bukan Perdana Menteri Jin Kui? Tiong Li mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!

Dan berita kedua juga amat penting. Besok pagi akan diadakan penggeledahan di Hek-tung Kai-pang yang mulai dicurigai! Dia harus memberitahu kepada Kok Bu secepatnya. Karena itu, dengan hati-hati dia meninggalkan gedung itu dan memasuki taman.

Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup. Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam dan luar tembok sehingga tidak mungkin dia keluar tanpa diketahui orang. Akan tetapi dia tidak perduli. Dengan menggunakan iImu Jouw-sang-hui, dia melompat ke atas tembok. Para penjaga melihat dan mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang terdekat segera roboh begitu Tiong Li menggerakkan kakinya. Dan sebelum para penjaga lain dapat menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera melaporkan kepada Perdana Menteri Jin Kui. Perdana Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam tembok pagar rumahnya.

Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya! Padahal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu. Dan mereka semua tidak mengetahuinya. Ini hanya membuktikan betapa lihainya orang yang menyusup masuk tadi. Dan mungkin orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia dan para pembantunya.

"Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!" teriaknya kepada para pembantunya.

Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam kegelepan malam tanpa menemukan siapa- siapa!

Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali ke rumah gedung kosong di mana Gan Kok Bu sudah menantinya.

"Bagaimana hasilnya, taihiap?"

"Ada berita amat penting dapat kudengar," kata Tiong Li. "Puteri Sung Hiang Bwee itu ternyata diculik untuk diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!"

"Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat busuk!"

"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian," kata Tiong Li. "Besok pagi-pagi panglima pengawal dari Jin Kui akan mengadakan pembersihan terhadap Hek-Tung Kai-pang."

"Ah, apa alasannya?" seru Kok Bu terkejut sekali.

"Agaknya Hek-tung Kai-pang mulai dicurigai karena anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan dilakukan pernggeledahan di sarang Hek-tung Kai-pang. Kalau bertemu senjata tajam akan disita dan kalau sikap kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan!"

"Terima kasih, Tan-taihiap. Berita ini memang penting sekali untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok pagi."

Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu juga meninggalkan kоta raja. Untung baginya bahwa kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai kepada para petugas jaga di pintu gerbang sehingga dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang tanpa banyak halangan.

********************

Cerita silat Mestika Golok Naga karya kho ping hoo

Perkumpulan Ceng-liong-pang yang berpusat di pegunungan Ceng-liong-san adalah sekelompok pejuang yang gigih. Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang patriot sejati. Biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih, memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin. Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Ceng-liong-pang untuk mengganggu pasukan Kin.

Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami kesulitan untuk membasmi kelompok ini. Setiap kali diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di pegunungan Ceng-liong-san, dan mengadakan perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang hendak membasmi mereka.

Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Butong-pai yang berkepandaian tinggi, juga berwatak gagah. Dalam waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi. Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.

Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan semua anggauta Ceng-liong-pang merasa heran melihat sikaр ketua mereka begitu pendiam, tidak seperti biasanya. Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi mengadakan pertemuan dengan para murid dan pembantunya untuk membicarakan рerjangan.

Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan berwibawa dia berkata kepada mereka, "Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhiku aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita harus membantu kerajaan untuk membasmi para pemberontak!"

Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua yang hidup sebatang kara dan tidak berkeluarga itu kelihatan amat berubah!

"Akan tetapi, pangcu," kata seorang sutenya. "Apakah itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"

"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus memusuhinya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boleh menentangnya. Pendeknya, kita harus bekerja untuk Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan pendiriannya!"

Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja keputusan ini amat menghebohkan para angguta Ceng-liong- pang. Selama ini perkumpulan itu disegani kawan dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan kini tahu-tahu ketuanya membanting haluan ke arah yang berlawanan!

Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari kota raja para pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan tentang pembasmian para pemberontak!

Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liong-pang menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute dari Hui Kong Sek. Mereka merasa curiga dan hendak melakukan penyelidikan. Akan tetapi, pada malam hari itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang ketua yang segera memanggil semua anggauta dan menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata,

"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi contoh kepada kalian. Siapa yang hendak berkhianat akan mengalami nasib yang sama! Nah, siapa lagi yang hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi para pemberontak?"

Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani membantah. Bukan itu saja. Setelah Gui Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan Kin. Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok pejuang yang dapat dibasmi. Sarang mereka diserbu atas petunjuk ketua Ceng-liong-pang itu, bahkan para anggauta Ceng-liong-pang dipaksa untuk ikut menyerbu.

Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah kekuasaan Ceng-liong-pang. Selagi dia berjalan seorang diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak keluar dari kota raja, mendadak bermunculan dua puluh orang lebih yang menghadangnya.

Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampok-perampok, akan tetapi melihat pakaian mereka yang pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang. Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok orang itu.

"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda sekalian menghadang perjalananku?"

Mendadak seorang di antara mereka berseru, "Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang melarikan puteri istana itu!"

"Tangkap dia!"

"Jangan sampai lolos pemberontak ini!"

Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus senjata, mengepung Tiong Li.

Tiong Li berusaha menyabarkan mereka, "Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar gambarku terpampang di papan pengumuman di mana-mana, akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak menculik puteri Istana."

"Bohong...!"

"Mana ada maling mengaku pencuri?"

"Serang dia! Bunuh!"

Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi, beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li. Pemuda itu mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki, para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun kering di terbangkan angin!

Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.

Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat semua orang yang berjumlah dua puluh tiga orang itu telah roboh semua! Dia memang tidak bermaksud membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat ataupun tewas.

Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu bertanya, "Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa memusuhiku? Kulihat kalian bukan perampok."

Si tinggi kurus maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kesaktian. "Kami adalah anggauta Ceng-liong-pang."

"Hemmm...!" Tiong Li mengerutkan alisnya dengan heran. "Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iiong-pang adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"

Si tinggi kurus itu menghela napas panjang, "Ini semua atas perintah pang-cu. Entah apa yang terjadi, pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan Kin!"

"Ah...!" Tiong Li terkejut sekali. "Apa yang telah terjadi?"

Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan gurunya, apalagi setelah kedua orang paman gurunya tewas oleh gurunya sendiri. Kini, bertemu dengan seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat membongkar rahasia apa yang terkandung di balik perubahan sikaр ketua mereka itu.

"Terjadinya beberapa bulan yang lalu. Setelah keluar dari tempat samadhinya, pangcu menjadi berubah sama sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia menerima utusan dari Menteri Jin Kui, dan utusan dari pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."

"Apa alasannya?"

"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar berbaik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu pasukan Sung untuk membasmi kaum pejuang. Hal ini amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak berdaya, tai-hiap."

"Ah, sungguh mencuгigakan!" kata Tiong Li. "Mungkin ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus menyelidiki persoalan ini!"

Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua anak buahnya. "Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh sendiri oleh ketua kami."

"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku menghadap dia!"

Dua puluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar Tiong Li ke sarang mereka. Kedatangan mereka disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah kurang lebih duaratus orang itu, dan ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tiong Li yang di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang sekali.

Ada memang beberapa orang di antara mereka yang berpihak ke pada sang ketua, akan tetapi jumlah mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki perubahan sikaр ketua mereka. Berbondong-bondong mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong Sek, ketua mereka.

Gui Kong Sek sedang berbincang- bincang dengan seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang datang ke marin. Tamu ini adalah seorang utusan panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang, seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan nampaknya kuat sekal! Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua Ceng-liong-pang bersama tamunya lalu berlari keluar.

Mereka melihat para angguta berbondong datang mengiringkan seorang pemuda tampan. Melihat pemuda ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.

"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap dia!"

Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak, dan Tiong Li sambil tersenyum melangkah maju menghampiri Gui Kong Sek. "Anak buahmu tidak akan menangkap aku, pangcu. Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu. Harap pangcu menjawab terus terang saja semua pertanyaanku."

Gui Kong Sek mengerutkan alisnya. "Bicara denganmu? Bicara apa lagi!? Engkau seorang pemberontak laknat!"

"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui. Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-liong-pang untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah sikaр mu sebagai seorang pejuang? Engkau bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi. Apa artinya ini semua?"

"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada pemerintah. Kami bukan pemberontak melainkan pejuang yang membela kepentingan Kerajaan Sung."

"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?"

"Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin, melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"

"Urusan dalam perkumpulan Ceng-liong-pang adalah urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air. Engkau telah berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin? Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"

Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah menjadi marah dan tidak sabar lagi. "Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan aku yang mengusirnya untukmu!"

"Jangan usir, melainkan tangkap hidup atau mati karena dia seorang buronan pemerintah Sung!" kata Gui Kong Sek.

Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Ceng-liong-pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin, maka dia memandang dengan mata bersinar. "Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami! Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"

Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok yang besar dan mengkilap tajam, membentak, "Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata, jangan banyak mulut tagi!" Dan diapun sudah menyerang dengan goloknya. Serangannya dahsyat sekali karena memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar.

Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan yang juga dapat dielakkan lawan. Ternyata raksasa itu adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang cukup tangguh. Akan tetapi lawannya adalah Tiong Li, seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali harus mengelak ke sana sini.

Pertandingan seru itu menjadi perhatian semua anggauta Ceng-liong-pang dan melihat betapa tamunya belum juga berhasil merobohkan Tiong Li, mendadak Gui Kong Seng mengeluarkan teriakan nyaring dan dia sudah melompat ke depan menggunakan pedangnya untuk mengeroyok!

Pada saat itulah para murid dan anggauta Ceng-liong-pang memandang heran. Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang dimainkan ketua mereka! Bukan ilmu pedang dari Ceng-liong-pang yang dimainkan ketua itu, melainkan ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu pedang itupun dahsyat sekali!

Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong, namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak. Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu...