Social Items

DIAM-DIAM Akim mulai mempertimbangkan ucapan pemuda yang tampan dan gagah itu. Rasanya tidak mungkin seorang yang bersalah bersikap seberani itu. Dan kemungkinan pemalsuan dan fitnah itu memang ada.

"Bhok Ci Han, katakan, bukankah Sin Wan merupakan calon mantu ayahmu?"

Mendengar pertanyaan ini Ci Han tertegun. dan setelah mendengar disebutnya nama Sin Wan, tiba-tiba dia pun teringat siapa gadis ini. "Ahh…, sekarang aku ingat. Engkau tentu nona Ouwyang Kim yang dulu pernah datang ke rumah kami bersama Sin Wan!"

Akim tersenyum mengejek, hatinya semakin panas diingatkan peristiwa itu karena pada saat itu dia masih mencinta Sin Wan dan mengharapkan pemuda itu membalas cintanya. "Memang aku Ouwyang Kim. Nah, jawablah pertanyaanku tadi. Bukankah Sin Wan calon mantu ayahmu?"

"Ya, dulunya memang begitu, akan tetapi..." Ci Han merasa ragu-ragu karena tidak perlu dia menceritakan urusan keluarganya kepada orang luar.

"Sumoi, sudah jelas bahwa para prajurit itu adalah anak buah Bhok Cun Ki. Perlu apa lagi bertanya-tanya? Paksa dia menulis surat. Biar aku yang menyiksanya dan memaksanya!” Maniyoko berkata.

Mendengar jawaban sepotong tadi, Akim menjadi yakin bahwa tentu Bhok Cun Ki yang menyuruh anak buahnya menangkapnya karena mengira dia hendak menggoda Sin Wan. Hatinya menjadi panas sekali, kemudian dia menatap wajah Ci Han dengan sinar mata mencorong.

"Katakan kepada ayahmu, aku tak sudi menggoda calon suami orang! Aku tidak serendah itu. Tunggu saja, kuberi waktu sampai besok pagi. Kalau engkau belum juga mau menulis surat kepada ayahmu, aku akan menyerahkan engkau kepada suheng-ku ini dan jangan katakan bahwa aku kejam!"

Setelah berkata demikian dia lalu menoleh kepada suheng-nya. "Suheng, aku pusing dan hendak beristirahat. Jaga dia baik-baik, akan tetapi jangan ganggu, tunggu sampai besok pagi." Gadis itu lalu memasuki ruangan di dalam pondok itu dan merebahkan diri di dipan yang sederhana.

Maniyoko memandang kepada Ci Han dan senyumnya membayangkan kekejaman. "Aku akan senang sekali bila engkau mencoba untuk melarikan diri agar aku mendapat alasan untuk menyiksa dan membunuhmu sekarang juga." Setelah berkata demikian Maniyoko duduk bersila dan memejamkan mata, seolah memberi kesempatan kepada Ci Han untuk mencoba melarikan diri.

Ci Han bukan pemuda bodoh. Dari pertemuan tenaga tadi dia tahu bahwa pemuda ini kuat dan lihai sekali. Kalau dia nekat melarikan diri, berarti dia membunuh diri. Apa lagi gadis yang lihai itu pun berada di dekat sini.

Gadis itu adalah puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin, demikian keterangan yang pernah dia dengar dari Sin Wan. Dan tentu pemuda pendek ini adalah murid datuk itu. Sungguh berbahaya, dan dia pun menjadi gelisah memikirkan ayahnya. Ayahnya difitnah, ataukah kedua orang ini sengaja berpura-pura supaya dapat memancing ayahnya ke sana untuk mereka bunuh?

Sayang, dia menghela napas panjang. Gadis tadi kelihatan demikian manis, bahkan dari sikapnya ketika melarang suheng-nya bersikap kasar terhadap dirinya, dia tidak percaya bahwa gadis seperti itu berhati jahat. Dia maklum bahwa melarikan diri tidak ada gunanya, maka dia pun duduk pula bersila untuk menghimpun tenaga yang mungkin dia perlukan pada hari esok.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Karena menderita tekanan batin, Akim gelisah di atas dipan. Diam-diam harus diakuinya bahwa pemuda tawanan itu amat menarik hatinya. Pemuda itu demikian tabah, pemberani dan gagah, terutama sekali pandang matanya yang demikian lembut namun mengandung keberanian luar biasa. Benar-benar seorang yang jantan, pikirnya, dan hal ini membuat dia semakin gelisah.

Andai kata benar Bhok Cun Ki yang menyuruh anak buahnya untuk menawannya karena panglima itu marah kepadanya, mengira bahwa dia menggoda Sin Wan, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Bhok Ci Han. Akhirnya dia dapat jatuh pulas pula, dan diganggu mimpi mengenai seorang pemuda yang wajahnya berubah-ubah, seperti wajah Maniyoko, kemudian Sin Wan, dan akhirnya wajah Bhok Ci Han.

Tiba-tiba saja dia dikejutkan dan dibangunkan oleh suara ribut-ribut. Ketika dia membuka mata, dia mendengar suara orang berkelahi di ruangan depan. Cepat dia meloncat turun kemudian keluar dari ruangan dalam. Dilihatnya Maniyoko sedang mendesak Bhok Ci Han dengan serangan-serangan maut yang membuat Ci Han repot sekali melindungi dirinya.

"Dukk!" Akhirnya sebuah pukulan mengenai dada kanan Ci Han hingga membuat pemuda itu terpelanting.

"Suheng, tahan!" Akim membentak dan meloncat ke depan untuk melerai.

"Sumoi, biar kubunuh jahanam ini! Dia tetap tidak mau menulis surat untuk ayahnya. Biar kusiksa dia sampai dia mau menulisnya!"

Maniyoko melompat ke depan lagi hendak menghajar Ci Han yang sudah bangkit duduk sambil menekan dada kanannya yang terasa nyeri. Tangan Maniyoko sudah menyambar hendak mencengkeram rambut Ci Han, akan tetapi Akim cepat bergerak ke depan.

"Plakk!" tangan Maniyoko terpental oleh tangkisan Akim.

"Suheng, engkau hendak melawanku?!" bentak Akim marah sekali. Maniyoko mengendur.

"Aihhh, sumoi, bagaimana engkau masih mau melindungi pemuda ini? Dia adalah putera Bhok Cun Ki yang telah menghinamu!"

"Cukup, suheng! Ini adalah urusanku, engkau tidak berhak mencampuri. Bila engkau tidak suka, pergilah dan biar kuselesaikan sendiri urusan ini!" Akim menantang dan Maniyoko bersungut-sungut.

"Baiklah, baiklah... aku tidak akan mencampuri lagi, sumoi...," katanya dan dia pun berdiri di sudut sambil memandang kepada Ci Han dengan sinar mata penuh kemarahan.

Melihat Ci Han menyeringai kesakitan, Akim cepat menghampiri kemudian membantunya bangkit, lalu membawanya duduk ke atas bangku.

"Parahkah lukamu?" tanyanya lembut hingga membuat Ci Han merasa heran bukan main. Dia menggelengkan kepalanya.

"Nah, Bhok Ci Han, engkau akan rugi sendiri jika tidak mau memenuhi permintaanku. Aku tidak akan memusuhimu, aku hanya ingin berhadapan dengan Bhok Cun Ki untuk minta pertanggung jawabannya atas perbuatan anak buahnya kepadaku kemarin dulu. Tulislah surat itu, undang dia ke sini dan engkau tidak akan kuganggu lagi."

Melihat betapa kembali nona penawannya itu menyelamatkannya dari ancaman siksaan dan pembunuhan yang hendak dilakukan suheng-nya, juga mendengar kata-katanya yang lembut, Ci Han menarik napas panjang. "Nona Ouwyang, kalau aku disuruh menulis surat kepada ayah untuk memancing dan menjebaknya ke sini, walau disiksa sampai mati pun tidak akan kulakukan. Kalau aku diharuskan menulis surat kepada ayah, akan kuceritakan semua yang telah kualami, dan kuperingatkan supaya dia berhati-hati. Jadi percuma saja. Kalau memang engkau hendak membunuhku, silakan, tetapi aku takkan mau mencelakai ayah."

"Bhok Ci Han, jangan kau sangka bahwa aku seorang pengecut yang curang! Aku ingin berhadapan dengan ayahmu sendiri, bukan menjebaknya."

"Sumoi, kalau kau biarkan dia menulis surat seperti itu, tentu ayahnya akan datang sambil membawa pasukan besar dan kita akan celaka," kata Maniyoko.

"Bhok Ci Han, aku tidak akan menjebaknya, hanya ingin dia datang seorang diri agar aku dan dia membuat perhitungan atas perbuatan anak buahnya!" kata lagi Akim.

Pada saat itu pula terdengar suara dari luar rumah. "Nona, aku sudah datang seorang diri. Keluarlah kalau ingin bicara denganku!"

"Ayah...! Kau sudah datang!" kata Ci Han, gembira akan tetapi juga khawatir. Dia bangkit dan hendak keluar. Maniyoko bergerak hendak menangkapnya, akan tetapi dicegah Akim. Gadis ini lalu memegang lengan Ci Han dan berkata,

"Mari kita keluar, aku hanya tidak ingin ayahmu berbuat curang!"

Ketika mereka bertiga keluar, benar saja yang berdiri di situ adalah Bhok Cun Ki, seorang diri. Pada waktu Ci Han ditawan lalu dilarikan Maniyoko dan Akim, ternyata ada seorang penjaga yang melihat bayangan mereka. Penjaga yang tidak sempat mengejar ini segera melapor ke dalam.

Mendengar ini, Bhok Cun Ki segera melakukan pengejaran sendiri, demikian pula Cu Sui In. Ci Hwa dilarang melakukan pengejaran, tetapi disuruh menjaga dan melindungi ibunya di rumah. Bhok Cun Ki dan Cu Sui In melakukan pengejaran secara berpencar.

Setelah semalam itu berputar-putar mencari jejak orang-orang yang menculik puteranya, pada keesokan harinya akhirnya Bhok Cun Ki melihat pondok di dalam hutan itu dan dia merasa curiga. Setelah dia menghampiri kemudian mengintai, dia sempat mendengarkan percakapan antara seorang gadis dengan puteranya yang menjadi tawanan, maka dia pun segera berteriak memanggil.

Melihat Ci Han keluar digandeng seorang gadis cantik sambil diiringkan seorang pemuda tampan yang bertubuh pendek, hati Bhok-ciangkun merasa lega melihat puteranya dalam keadaan selamat.

"Nona muda, aku Bhok Cun Ki sudah datang dan berhadapan denganmu, kenapa engkau belum juga melepaskan puteraku?" tanya Bhok Cun Ki, suaranya tenang dan berwibawa.

"Bhok Cun Ki, aku tidak akan melanggar janji. Sesudah engkau berhadapan seorang diri denganku, tentu Bhok Ci Han ini akan kubebaskan. Akan tetapi aku belum yakin apakah orang seperti engkau ini dapat dipercaya. Siapa tahu engkau datang bersama pasukanmu dan begitu puteramu kubebaskan, pasukanmu akan datang menyerbu."

"Nona," Ci Han memprotes, "kenapa nona memandang rendah ayahku seperti ini? Ayah adalah seorang panglima, seorang pendekar, seorang gagah yang takkan sudi melakukan kecurangan!"

"Hemmm, kita lihat saja nanti," kata Akim tanpa melepaskan tangannya yang memegang lengan pemuda itu sehingga nampaknya mereka seperti bergandengan dengan mesra.

"Bhok Cun Ki, kenapa kemarin dulu engkau mengutus seorang kakek dan seorang nenek berpakaian putih serta enam orang prajurit untuk menangkap aku dan menyuruh mereka membunuhku setelah menghina dan menyiksaku lebih dahulu? Kalau tidak ada suheng-ku ini yang datang menolong, tentu sekarang aku telah menjadi korban kekejianmu!"

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya, dan matanya mencorong. "Nona, omongan apa yang kau keluarkan ini? Aku Bhok Cun Ki selamanya tidak pernah melakukan perbuatan sehina itu! Aku selamanya tidak mengenalmu, mengapa aku harus melakukan hal seperti itu?"

"Ayah, dia adalah nona Ouwyang Kim, puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin dan pemuda itu adalah murid Tung-hai-liong," kata Ci Han.

Bhok Cun Ki tertegun. "Aih, kiranya puteri Ouwyang Cin. Sudah lama aku mengenal nama besar Ouwyang Cin. Walau pun dia seorang datuk sesat, akan tetapi belum pernah aku mendengar dia melakukan hal-hal yang kurang patut, apa lagi menentang pemerintah. Di antara kami tidak pernah ada permusuhan, kenapa aku harus melakukan perbuatan hina seperti itu kepada puterinya? Nona Ouwyang, tuduhanmu itu tidak berdasar."

"Tapi... orang-orang yang menawanku itu, mereka berpakaian prajurit dan mengaku anak buahmu, suruhanmu..."

"Semua orang bisa saja mengaku demikian, nona."

"Sumoi, jangan percaya padanya! Mana ada maling yang mengaku maling! Bhok Cun Ki, menyerahlah engkau kalau engkau tidak ingin melihat puteramu mati di ujung pedangku!" Maniyoko sudah mencabut samurainya kemudian menodongkan senjata itu di punggung Ci Han.

"Suheng, jangan...!”

"Sumoi, jangan bersikap lemah. Mereka adalah musuh-musuh kita. Ingat betapa mereka telah menghinamu. Jika kemarin tidak ada aku yang datang menolong, tentu engkau telah diperkosa mereka beramai-ramai sebelum dibunuh!"

"Tapi... tapi..." Akim menjadi bingung dan ragu. Kalau teringat akan apa yang dialaminya kemarin dulu, hatinya panas bukan main, akan tetapi jika melihat sikap Ci Han dan Bhok Cun Ki, timbullah keraguan di dalam hatinya. Sikap ayah dan anak itu bukan sikap orang yang bersalah.

Maniyoko maklum sepenuhnya akan kelihaian Bhok-ciangkun, maka dia merasa khawatir sekali melihat keraguan sumoi-nya. Jika sampai sumoi-nya tidak berpihak kepadanya dan panglima itu turun tangan, maka dia akan celaka. Dia sudah mendengar betapa panglima Bhok ini memiliki tingkat kepandaian yang seimbang dengan gurunya!

"Bhok Cun Ki, sekarang saatnya maut menjemputmu!" bentaknya dan ini adalah isyarat kepada sekutunya untuk turun tangan.

Terdengar suara tawa ha-ha-ha..hi-hi dan muncullah Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, juga enam orang yang pernah menyamar sebagai prajurit anak buah Bhok Cun Ki. Melihat sepasang iblis itu, Bhok Cun Ki terkejut bukan main. Ang-bin Moko tertawa sambil menudingkan golok gergajinya ke arah muka panglima itu.

“Bhok Cun Ki, tiba saatnya bagimu untuk membayar hutangmu kepada kami, ha-ha-ha!"

"Hemm, kiranya Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli yang berdiri di belakang layar. Dua orang datuk besar, sepasang iblis yang dulu pernah mengguncang dunia kang-ouw kini agaknya telah menjadi anjing penjilat orang-orang Mongol! Betapa menjijikkan!"

Akim terbelalak memandang pada delapan orang itu. "Akan tetapi... kalian... kalian yang menawan aku dan mengaku disuruh Bhok Cun Ki...”

Pek-bin Moli, wanita bermuka putih pucat itu terkekeh genit. "Maniyoko, pemuda ganteng, cepat kau bunuh dulu putera panglima itu!"

Maniyoko cepat menggerakkan pedang samurainya, hendak membacok tubuh Ci Han dari belakang. Pemuda ini menggeser kaki mengelak dan Akim menggerakkan pedangnya.

"Trang...!" Pedang itu menangkis pedang samurai suheng-nya dan sepasang mata Akim mencorong penuh kemarahan.

"Suheng! Kau… kau bersekongkol dengan mereka?"

"Sumoi, aku hanya melanjutkan usaha suhu untuk bekerja sama dengan mereka!" bantah Maniyoko. "Biarkan aku membunuh dia!" Maniyoko menyerang lagi ke arah Ci Han.

Akan tetapi pedang Akim segera menyambar, maka terpaksa Maniyoko menyambut dan terjadilah perkelahian seru antara suheng dan sumoi ini.

"Bantu aku menangkapnya!" Maniyoko berteriak kepada sekutunya karena dia kewalahan sekali menghadapi Goat-im-kiam yang mendatangkan hawa dingin itu. Enam orang anak buah sepasang iblis itu segera membantunya dan mengeroyok Akim.

"Jangan bunuh, tangkap dia hidup-hidup!" seru Maniyoko yang merasa sayang bila gadis yang selama ini membuatnya tergila-gila itu sampai terbunuh. Melihat Akim dikeroyok, Ci Han lalu membantu Akim.

"Ci Han, kau pergunakan pedang ini!" kata ayahnya. Ci Han meloncat ke dekat ayahnya, menerima sebatang pedang.

Kiranya Bhok Cun Ki sudah dipancing oleh sepasang iblis yang telah menduga bahwa Ci Han tentu tidak dapat dipaksa menulis surat. Oleh karena itu mereka lalu membuat surat kepada Bhok Cun Ki dan minta supaya panglima itu datang sendiri ke situ. Tetapi malam itu mereka melihat Bhok Cun Ki berkeliaran di hutan, maka mereka hanya mengintai dan menanti, untuk membantu Akim dan Maniyoko.

Pada saat melakukan pengejaran terhadap para penculik puteranya, Bhok Cun Ki sengaja membawa pedang cadangan. Dia sudah bisa menduga bahwa setelah dapat diculik, tentu puteranya itu tidak membawa senjata lagi, karena itu dia sengaja membawakan sebatang pedang untuk puteranya dan kini ternyata benar bahwa puteranya membutuhkannya.

Dengan pedang di tangan, sekarang Ci Han membantu Akim mengamuk. Karena tingkat kepandaiannya masih jauh kalau dibandingkan Maniyoko dan Akim, maka dia pun hanya membendung pengeroyokan enam orang anak buah sepasang iblis sehingga Akim dapat mencurahkan tenaga untuk menghadapi suheng-nya.

Sementara itu, ketika melihat betapa Akim dan Ci Han sudah dikeroyok, sepasang iblis itu lalu tertawa lagi. "Bhok Cun Ki, belasan tahun yang lalu kami pernah kalah olehmu, akan tetapi sekarang tiba saatnya pembalasan kami. Juga engkau harus mati karena engkau merupakan gangguan bagi gerakan Yang Mulia," kata Ang-bin Moko.

"Anjing penjilat Mongol!" Bhok Cun Ki membentak dan dia pun segera mencabut Ceng-kong-kiam. Nampak sinar kehijauan menyilaukan mata ketika pedangnya tercabut.

Bhok Cun Ki adalah seorang ahli pedang Butong-pai yang sudah memiliki tingkat tinggi. Di samping mahir ilmu pedang Butong-pai, juga dia adalah seorang ahli yang sudah memiliki banyak sekali pengalaman bertanding sehingga gerakannya telah matang dan tangguh.

Akan tetapi yang dihadapi sekarang adalah sepasang iblis yang amat berbahaya. Tingkat kepandaian salah seorang di antara dua iblis itu saja sudah setingkat dengan dia, maka kini dikeroyok dua, apa lagi kini sepasang iblis itu telah melatih diri dengan ilmu-ilmu keji, maka dia tahu bahwa dia terancam bahaya dan harus mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaian untuk dapat mengimbangi mereka.

"Singg…! Singg…! Singgg...!”

Golok gergaji di tangan Ang-bin Moko mulai menyerang bertubi-tubi, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung elang mencari mangsa. Namun Bhok Cun Ki pernah dijuluki Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti), maka dia pun mengelebatkan pedangnya dan sambil mengelak pedangnya juga membabat ke arah pergelangan tangan yang memegang golok sehingga terpaksa lawannya menarik kembali serangannya dan mulai menyerang dengan jurus baru.

Sementara itu, bagaikan seekor ular yang hidup, sabuk ular di tangan Pek-bin Moli sudah menyambar-nyambar. Tercium bau amis ketika sabuk itu menyambar lewat dekat kepala Bhok Cun Ki. Seperti juga tadi, Bhok Cun Ki mengelak dan membalas dengan serangan ke arah lengan lawan.

"Syuuuuuuttt...!" Angin yang aneh menyambar.

Bhok Cun Ki cepat melempar tubuh ke samping, maklum bahwa yang menyambarnya itu adalah hawa pukulan beracun yang jahat bukan main. Itulah Toat-beng-tok-ciang, pukulan beracun jarak jauh yang amat berbahaya. Kini sambil menggerakkan senjata menyerang, kedua iblis itu juga menyelingi dengan pukulan tangan beracun jarak jauh, juga jari tangan kiri mereka kadang kala menyerang dengan totokan Touw-kut-ci (Jari Penembus Tulang).

Secara diam-diam Bhok Cun Ki terkejut. Pukulan beracun dan totokan jari itu tidak kalah bahayanya dibanding golok gergaji dan sabuk ular. Dia pun memutar pedangnya sehingga terbentuk gulungan sinar yang melingkar-lingkar melindungi tubuhnya dan kadang-kadang saja dari gulungan sinar itu mencuat ujung pedangnya untuk membalas. Namun dia hanya mendapatkan kesempatan sedikit saja untuk dapat membalas hujan serangan lawan.

Sementara itu Akim dan Ci Han terdesak hebat oleh Maniyoko beserta enam orang anak buah sepasang iblis yang juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup kuat. Sesungguhnya Akim lebih lihai dibandingkan suheng-nya dan andai kata Maniyoko maju seorang diri, dia pasti akan kalah oleh sumoi-nya itu. Akan tetapi Maniyoko dibantu dua orang yang cukup lihai, sedahgkan Ci Han dikeroyok empat orang yang membuat dia terdesak pula.

Biar pun dirinya terdesak oleh suheng-nya dan dua orang pengeroyok, namun Akim selalu memperhatikan keadaan Ci Han. Ketika ia melihat Ci Han terdesak hebat dan pemuda itu hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya dari hujan senjata yang digerakkan empat orang pengeroyoknya, Akim merasa khawatir bukan main sehingga beberapa kali dia menengok. Perhatiannya terpecah sehingga ketika sebatang pedang pengeroyoknya menyambar leher, gadis ini terlambat mengelak sehingga ujung pedang itu masih melukai pundak kirinya.

Akim terkejut, akan tetapi bukan karena pundaknya terluka, melainkan karena melihat Ci Han terkena tendangan sehingga tubuhnya terpelanting. Tanpa mempedulikan keadaan diri sendiri, Akim meloncat dan pedangnya bergerak cepat menerjang empat orang yang sudah hendak mengirim serangan susulan yang akan mematikan Ci Han.

"Trang-tranggg...!"

Seorang pengeroyok terjungkal dengan dada terluka pedang Gwat-im-kiam. Ci Han yang sudah mengeluarkan keringat dingin karena tadi nyawanya terancam, kini meloncat lagi.

"Terima kasih...!" Ci Han berkata dan Akim merasa terharu.

Dia sekarang melihat bahwa dia sudah tertipu oleh Maniyoko yang bersekongkol dengan mata-mata Mongol. Tahulah dia bahwa peristiwa dia ditawan, lalu ditolong Maniyoko dan pengakuan para penculiknya bahwa mereka disuruh oleh Bhok Cun Ki, semua itu bohong belaka. Semuanya itu merupakan siasat yang sudah diatur Maniyoko bersama sekutunya sehingga dia kena dikelabui dan memusuhi keluarga Bhok. Bahkan bersama suheng-nya itu dia sudah menculik Ci Han! Dan pemuda itu agaknya sama sekali tidak mendendam kepadanya!

"Cepat ke sini, kita saling melindungi!" katanya kepada Ci Han.

Pemuda itu mengerti dan dia khawatir sekali melihat pundak kiri gadis itu terluka. Bajunya sudah berlumuran darah! Cepat dia meloncat, lantas berdiri saling membelakangi dengan Akim. Dengan cara demikian mereka bisa saling melindungi dan tidak dapat dibokong dari belakang.

Kini mereka berdiri sambil memasang kuda-kuda, sedangkan Maniyoko beserta sisa anak buah sepasang iblis, yaitu tinggal lima orang karena yang seorang telah roboh oleh Akim, mengepung sambil bergerak perlahan mengitari dua orang muda itu.

“Bunuh pemuda ini, tangkap gadisnya," kata pula Maniyoko yang membuat Akim marah bukan main. Sejak kecil suheng-nya ini dipelihara ayahnya, dididik dan disayang. Kiranya sekarang telah menjadi pengkhianat yang berniat buruk terhadap dirinya.

"Maniyoko, engkau manusia berhati binatang, manusia tak mengenal budi!" bentak Akim akan tetapi segera dia bersama Ci Han harus memutar senjata untuk melindungi diri dan menangkis sambaran senjata enam orang pengeroyok itu.

Pada saat itu pula terdengar bentakan nyaring dan serangkum hawa menyambar ke arah enam orang pengeroyok. Lima orang anak buah itu terjengkang, ada pun Maniyoko sendiri terhuyung ke belakang. Bukan main kagetnya ketika pemuda Jepang ini melihat bahwa yang muncul dan menyerang dengan dorongan jarak jauh itu bukan lain adalah gurunya sendiri, Tung-hai-liong Ouwyang Cin!

Sebaliknya, Akim girang bukan main melihat ayahnya. Tak disangkanya bahwa ayahnya akan muncul, dan tahulah dia bahwa diam-diam ayahnya agaknya merasa tidak enak lalu menyusulnya ke kota raja. Dia pun teringat akan keadaan Bhok Cun Ki yang kini didesak hebat oleh kakek dan nenek mengerikan itu.

"Ayah, Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli hampir saja berhasil menyiksa dan membunuhku. Aku telah dihina mereka. Balaskan, ayah. Malah mereka juga menghina dan mencemooh ayah, menganggap ayah takut kepadanya. Dan Maniyoko binatang tak mengenal budi ini bersekongkol dengan mereka...!"

Asmara Si Pedang Tumpul Jilid 31

DIAM-DIAM Akim mulai mempertimbangkan ucapan pemuda yang tampan dan gagah itu. Rasanya tidak mungkin seorang yang bersalah bersikap seberani itu. Dan kemungkinan pemalsuan dan fitnah itu memang ada.

"Bhok Ci Han, katakan, bukankah Sin Wan merupakan calon mantu ayahmu?"

Mendengar pertanyaan ini Ci Han tertegun. dan setelah mendengar disebutnya nama Sin Wan, tiba-tiba dia pun teringat siapa gadis ini. "Ahh…, sekarang aku ingat. Engkau tentu nona Ouwyang Kim yang dulu pernah datang ke rumah kami bersama Sin Wan!"

Akim tersenyum mengejek, hatinya semakin panas diingatkan peristiwa itu karena pada saat itu dia masih mencinta Sin Wan dan mengharapkan pemuda itu membalas cintanya. "Memang aku Ouwyang Kim. Nah, jawablah pertanyaanku tadi. Bukankah Sin Wan calon mantu ayahmu?"

"Ya, dulunya memang begitu, akan tetapi..." Ci Han merasa ragu-ragu karena tidak perlu dia menceritakan urusan keluarganya kepada orang luar.

"Sumoi, sudah jelas bahwa para prajurit itu adalah anak buah Bhok Cun Ki. Perlu apa lagi bertanya-tanya? Paksa dia menulis surat. Biar aku yang menyiksanya dan memaksanya!” Maniyoko berkata.

Mendengar jawaban sepotong tadi, Akim menjadi yakin bahwa tentu Bhok Cun Ki yang menyuruh anak buahnya menangkapnya karena mengira dia hendak menggoda Sin Wan. Hatinya menjadi panas sekali, kemudian dia menatap wajah Ci Han dengan sinar mata mencorong.

"Katakan kepada ayahmu, aku tak sudi menggoda calon suami orang! Aku tidak serendah itu. Tunggu saja, kuberi waktu sampai besok pagi. Kalau engkau belum juga mau menulis surat kepada ayahmu, aku akan menyerahkan engkau kepada suheng-ku ini dan jangan katakan bahwa aku kejam!"

Setelah berkata demikian dia lalu menoleh kepada suheng-nya. "Suheng, aku pusing dan hendak beristirahat. Jaga dia baik-baik, akan tetapi jangan ganggu, tunggu sampai besok pagi." Gadis itu lalu memasuki ruangan di dalam pondok itu dan merebahkan diri di dipan yang sederhana.

Maniyoko memandang kepada Ci Han dan senyumnya membayangkan kekejaman. "Aku akan senang sekali bila engkau mencoba untuk melarikan diri agar aku mendapat alasan untuk menyiksa dan membunuhmu sekarang juga." Setelah berkata demikian Maniyoko duduk bersila dan memejamkan mata, seolah memberi kesempatan kepada Ci Han untuk mencoba melarikan diri.

Ci Han bukan pemuda bodoh. Dari pertemuan tenaga tadi dia tahu bahwa pemuda ini kuat dan lihai sekali. Kalau dia nekat melarikan diri, berarti dia membunuh diri. Apa lagi gadis yang lihai itu pun berada di dekat sini.

Gadis itu adalah puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin, demikian keterangan yang pernah dia dengar dari Sin Wan. Dan tentu pemuda pendek ini adalah murid datuk itu. Sungguh berbahaya, dan dia pun menjadi gelisah memikirkan ayahnya. Ayahnya difitnah, ataukah kedua orang ini sengaja berpura-pura supaya dapat memancing ayahnya ke sana untuk mereka bunuh?

Sayang, dia menghela napas panjang. Gadis tadi kelihatan demikian manis, bahkan dari sikapnya ketika melarang suheng-nya bersikap kasar terhadap dirinya, dia tidak percaya bahwa gadis seperti itu berhati jahat. Dia maklum bahwa melarikan diri tidak ada gunanya, maka dia pun duduk pula bersila untuk menghimpun tenaga yang mungkin dia perlukan pada hari esok.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Karena menderita tekanan batin, Akim gelisah di atas dipan. Diam-diam harus diakuinya bahwa pemuda tawanan itu amat menarik hatinya. Pemuda itu demikian tabah, pemberani dan gagah, terutama sekali pandang matanya yang demikian lembut namun mengandung keberanian luar biasa. Benar-benar seorang yang jantan, pikirnya, dan hal ini membuat dia semakin gelisah.

Andai kata benar Bhok Cun Ki yang menyuruh anak buahnya untuk menawannya karena panglima itu marah kepadanya, mengira bahwa dia menggoda Sin Wan, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Bhok Ci Han. Akhirnya dia dapat jatuh pulas pula, dan diganggu mimpi mengenai seorang pemuda yang wajahnya berubah-ubah, seperti wajah Maniyoko, kemudian Sin Wan, dan akhirnya wajah Bhok Ci Han.

Tiba-tiba saja dia dikejutkan dan dibangunkan oleh suara ribut-ribut. Ketika dia membuka mata, dia mendengar suara orang berkelahi di ruangan depan. Cepat dia meloncat turun kemudian keluar dari ruangan dalam. Dilihatnya Maniyoko sedang mendesak Bhok Ci Han dengan serangan-serangan maut yang membuat Ci Han repot sekali melindungi dirinya.

"Dukk!" Akhirnya sebuah pukulan mengenai dada kanan Ci Han hingga membuat pemuda itu terpelanting.

"Suheng, tahan!" Akim membentak dan meloncat ke depan untuk melerai.

"Sumoi, biar kubunuh jahanam ini! Dia tetap tidak mau menulis surat untuk ayahnya. Biar kusiksa dia sampai dia mau menulisnya!"

Maniyoko melompat ke depan lagi hendak menghajar Ci Han yang sudah bangkit duduk sambil menekan dada kanannya yang terasa nyeri. Tangan Maniyoko sudah menyambar hendak mencengkeram rambut Ci Han, akan tetapi Akim cepat bergerak ke depan.

"Plakk!" tangan Maniyoko terpental oleh tangkisan Akim.

"Suheng, engkau hendak melawanku?!" bentak Akim marah sekali. Maniyoko mengendur.

"Aihhh, sumoi, bagaimana engkau masih mau melindungi pemuda ini? Dia adalah putera Bhok Cun Ki yang telah menghinamu!"

"Cukup, suheng! Ini adalah urusanku, engkau tidak berhak mencampuri. Bila engkau tidak suka, pergilah dan biar kuselesaikan sendiri urusan ini!" Akim menantang dan Maniyoko bersungut-sungut.

"Baiklah, baiklah... aku tidak akan mencampuri lagi, sumoi...," katanya dan dia pun berdiri di sudut sambil memandang kepada Ci Han dengan sinar mata penuh kemarahan.

Melihat Ci Han menyeringai kesakitan, Akim cepat menghampiri kemudian membantunya bangkit, lalu membawanya duduk ke atas bangku.

"Parahkah lukamu?" tanyanya lembut hingga membuat Ci Han merasa heran bukan main. Dia menggelengkan kepalanya.

"Nah, Bhok Ci Han, engkau akan rugi sendiri jika tidak mau memenuhi permintaanku. Aku tidak akan memusuhimu, aku hanya ingin berhadapan dengan Bhok Cun Ki untuk minta pertanggung jawabannya atas perbuatan anak buahnya kepadaku kemarin dulu. Tulislah surat itu, undang dia ke sini dan engkau tidak akan kuganggu lagi."

Melihat betapa kembali nona penawannya itu menyelamatkannya dari ancaman siksaan dan pembunuhan yang hendak dilakukan suheng-nya, juga mendengar kata-katanya yang lembut, Ci Han menarik napas panjang. "Nona Ouwyang, kalau aku disuruh menulis surat kepada ayah untuk memancing dan menjebaknya ke sini, walau disiksa sampai mati pun tidak akan kulakukan. Kalau aku diharuskan menulis surat kepada ayah, akan kuceritakan semua yang telah kualami, dan kuperingatkan supaya dia berhati-hati. Jadi percuma saja. Kalau memang engkau hendak membunuhku, silakan, tetapi aku takkan mau mencelakai ayah."

"Bhok Ci Han, jangan kau sangka bahwa aku seorang pengecut yang curang! Aku ingin berhadapan dengan ayahmu sendiri, bukan menjebaknya."

"Sumoi, kalau kau biarkan dia menulis surat seperti itu, tentu ayahnya akan datang sambil membawa pasukan besar dan kita akan celaka," kata Maniyoko.

"Bhok Ci Han, aku tidak akan menjebaknya, hanya ingin dia datang seorang diri agar aku dan dia membuat perhitungan atas perbuatan anak buahnya!" kata lagi Akim.

Pada saat itu pula terdengar suara dari luar rumah. "Nona, aku sudah datang seorang diri. Keluarlah kalau ingin bicara denganku!"

"Ayah...! Kau sudah datang!" kata Ci Han, gembira akan tetapi juga khawatir. Dia bangkit dan hendak keluar. Maniyoko bergerak hendak menangkapnya, akan tetapi dicegah Akim. Gadis ini lalu memegang lengan Ci Han dan berkata,

"Mari kita keluar, aku hanya tidak ingin ayahmu berbuat curang!"

Ketika mereka bertiga keluar, benar saja yang berdiri di situ adalah Bhok Cun Ki, seorang diri. Pada waktu Ci Han ditawan lalu dilarikan Maniyoko dan Akim, ternyata ada seorang penjaga yang melihat bayangan mereka. Penjaga yang tidak sempat mengejar ini segera melapor ke dalam.

Mendengar ini, Bhok Cun Ki segera melakukan pengejaran sendiri, demikian pula Cu Sui In. Ci Hwa dilarang melakukan pengejaran, tetapi disuruh menjaga dan melindungi ibunya di rumah. Bhok Cun Ki dan Cu Sui In melakukan pengejaran secara berpencar.

Setelah semalam itu berputar-putar mencari jejak orang-orang yang menculik puteranya, pada keesokan harinya akhirnya Bhok Cun Ki melihat pondok di dalam hutan itu dan dia merasa curiga. Setelah dia menghampiri kemudian mengintai, dia sempat mendengarkan percakapan antara seorang gadis dengan puteranya yang menjadi tawanan, maka dia pun segera berteriak memanggil.

Melihat Ci Han keluar digandeng seorang gadis cantik sambil diiringkan seorang pemuda tampan yang bertubuh pendek, hati Bhok-ciangkun merasa lega melihat puteranya dalam keadaan selamat.

"Nona muda, aku Bhok Cun Ki sudah datang dan berhadapan denganmu, kenapa engkau belum juga melepaskan puteraku?" tanya Bhok Cun Ki, suaranya tenang dan berwibawa.

"Bhok Cun Ki, aku tidak akan melanggar janji. Sesudah engkau berhadapan seorang diri denganku, tentu Bhok Ci Han ini akan kubebaskan. Akan tetapi aku belum yakin apakah orang seperti engkau ini dapat dipercaya. Siapa tahu engkau datang bersama pasukanmu dan begitu puteramu kubebaskan, pasukanmu akan datang menyerbu."

"Nona," Ci Han memprotes, "kenapa nona memandang rendah ayahku seperti ini? Ayah adalah seorang panglima, seorang pendekar, seorang gagah yang takkan sudi melakukan kecurangan!"

"Hemmm, kita lihat saja nanti," kata Akim tanpa melepaskan tangannya yang memegang lengan pemuda itu sehingga nampaknya mereka seperti bergandengan dengan mesra.

"Bhok Cun Ki, kenapa kemarin dulu engkau mengutus seorang kakek dan seorang nenek berpakaian putih serta enam orang prajurit untuk menangkap aku dan menyuruh mereka membunuhku setelah menghina dan menyiksaku lebih dahulu? Kalau tidak ada suheng-ku ini yang datang menolong, tentu sekarang aku telah menjadi korban kekejianmu!"

Bhok Cun Ki mengerutkan alisnya, dan matanya mencorong. "Nona, omongan apa yang kau keluarkan ini? Aku Bhok Cun Ki selamanya tidak pernah melakukan perbuatan sehina itu! Aku selamanya tidak mengenalmu, mengapa aku harus melakukan hal seperti itu?"

"Ayah, dia adalah nona Ouwyang Kim, puteri Tung-hai-liong Ouwyang Cin dan pemuda itu adalah murid Tung-hai-liong," kata Ci Han.

Bhok Cun Ki tertegun. "Aih, kiranya puteri Ouwyang Cin. Sudah lama aku mengenal nama besar Ouwyang Cin. Walau pun dia seorang datuk sesat, akan tetapi belum pernah aku mendengar dia melakukan hal-hal yang kurang patut, apa lagi menentang pemerintah. Di antara kami tidak pernah ada permusuhan, kenapa aku harus melakukan perbuatan hina seperti itu kepada puterinya? Nona Ouwyang, tuduhanmu itu tidak berdasar."

"Tapi... orang-orang yang menawanku itu, mereka berpakaian prajurit dan mengaku anak buahmu, suruhanmu..."

"Semua orang bisa saja mengaku demikian, nona."

"Sumoi, jangan percaya padanya! Mana ada maling yang mengaku maling! Bhok Cun Ki, menyerahlah engkau kalau engkau tidak ingin melihat puteramu mati di ujung pedangku!" Maniyoko sudah mencabut samurainya kemudian menodongkan senjata itu di punggung Ci Han.

"Suheng, jangan...!”

"Sumoi, jangan bersikap lemah. Mereka adalah musuh-musuh kita. Ingat betapa mereka telah menghinamu. Jika kemarin tidak ada aku yang datang menolong, tentu engkau telah diperkosa mereka beramai-ramai sebelum dibunuh!"

"Tapi... tapi..." Akim menjadi bingung dan ragu. Kalau teringat akan apa yang dialaminya kemarin dulu, hatinya panas bukan main, akan tetapi jika melihat sikap Ci Han dan Bhok Cun Ki, timbullah keraguan di dalam hatinya. Sikap ayah dan anak itu bukan sikap orang yang bersalah.

Maniyoko maklum sepenuhnya akan kelihaian Bhok-ciangkun, maka dia merasa khawatir sekali melihat keraguan sumoi-nya. Jika sampai sumoi-nya tidak berpihak kepadanya dan panglima itu turun tangan, maka dia akan celaka. Dia sudah mendengar betapa panglima Bhok ini memiliki tingkat kepandaian yang seimbang dengan gurunya!

"Bhok Cun Ki, sekarang saatnya maut menjemputmu!" bentaknya dan ini adalah isyarat kepada sekutunya untuk turun tangan.

Terdengar suara tawa ha-ha-ha..hi-hi dan muncullah Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, juga enam orang yang pernah menyamar sebagai prajurit anak buah Bhok Cun Ki. Melihat sepasang iblis itu, Bhok Cun Ki terkejut bukan main. Ang-bin Moko tertawa sambil menudingkan golok gergajinya ke arah muka panglima itu.

“Bhok Cun Ki, tiba saatnya bagimu untuk membayar hutangmu kepada kami, ha-ha-ha!"

"Hemm, kiranya Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli yang berdiri di belakang layar. Dua orang datuk besar, sepasang iblis yang dulu pernah mengguncang dunia kang-ouw kini agaknya telah menjadi anjing penjilat orang-orang Mongol! Betapa menjijikkan!"

Akim terbelalak memandang pada delapan orang itu. "Akan tetapi... kalian... kalian yang menawan aku dan mengaku disuruh Bhok Cun Ki...”

Pek-bin Moli, wanita bermuka putih pucat itu terkekeh genit. "Maniyoko, pemuda ganteng, cepat kau bunuh dulu putera panglima itu!"

Maniyoko cepat menggerakkan pedang samurainya, hendak membacok tubuh Ci Han dari belakang. Pemuda ini menggeser kaki mengelak dan Akim menggerakkan pedangnya.

"Trang...!" Pedang itu menangkis pedang samurai suheng-nya dan sepasang mata Akim mencorong penuh kemarahan.

"Suheng! Kau… kau bersekongkol dengan mereka?"

"Sumoi, aku hanya melanjutkan usaha suhu untuk bekerja sama dengan mereka!" bantah Maniyoko. "Biarkan aku membunuh dia!" Maniyoko menyerang lagi ke arah Ci Han.

Akan tetapi pedang Akim segera menyambar, maka terpaksa Maniyoko menyambut dan terjadilah perkelahian seru antara suheng dan sumoi ini.

"Bantu aku menangkapnya!" Maniyoko berteriak kepada sekutunya karena dia kewalahan sekali menghadapi Goat-im-kiam yang mendatangkan hawa dingin itu. Enam orang anak buah sepasang iblis itu segera membantunya dan mengeroyok Akim.

"Jangan bunuh, tangkap dia hidup-hidup!" seru Maniyoko yang merasa sayang bila gadis yang selama ini membuatnya tergila-gila itu sampai terbunuh. Melihat Akim dikeroyok, Ci Han lalu membantu Akim.

"Ci Han, kau pergunakan pedang ini!" kata ayahnya. Ci Han meloncat ke dekat ayahnya, menerima sebatang pedang.

Kiranya Bhok Cun Ki sudah dipancing oleh sepasang iblis yang telah menduga bahwa Ci Han tentu tidak dapat dipaksa menulis surat. Oleh karena itu mereka lalu membuat surat kepada Bhok Cun Ki dan minta supaya panglima itu datang sendiri ke situ. Tetapi malam itu mereka melihat Bhok Cun Ki berkeliaran di hutan, maka mereka hanya mengintai dan menanti, untuk membantu Akim dan Maniyoko.

Pada saat melakukan pengejaran terhadap para penculik puteranya, Bhok Cun Ki sengaja membawa pedang cadangan. Dia sudah bisa menduga bahwa setelah dapat diculik, tentu puteranya itu tidak membawa senjata lagi, karena itu dia sengaja membawakan sebatang pedang untuk puteranya dan kini ternyata benar bahwa puteranya membutuhkannya.

Dengan pedang di tangan, sekarang Ci Han membantu Akim mengamuk. Karena tingkat kepandaiannya masih jauh kalau dibandingkan Maniyoko dan Akim, maka dia pun hanya membendung pengeroyokan enam orang anak buah sepasang iblis sehingga Akim dapat mencurahkan tenaga untuk menghadapi suheng-nya.

Sementara itu, ketika melihat betapa Akim dan Ci Han sudah dikeroyok, sepasang iblis itu lalu tertawa lagi. "Bhok Cun Ki, belasan tahun yang lalu kami pernah kalah olehmu, akan tetapi sekarang tiba saatnya pembalasan kami. Juga engkau harus mati karena engkau merupakan gangguan bagi gerakan Yang Mulia," kata Ang-bin Moko.

"Anjing penjilat Mongol!" Bhok Cun Ki membentak dan dia pun segera mencabut Ceng-kong-kiam. Nampak sinar kehijauan menyilaukan mata ketika pedangnya tercabut.

Bhok Cun Ki adalah seorang ahli pedang Butong-pai yang sudah memiliki tingkat tinggi. Di samping mahir ilmu pedang Butong-pai, juga dia adalah seorang ahli yang sudah memiliki banyak sekali pengalaman bertanding sehingga gerakannya telah matang dan tangguh.

Akan tetapi yang dihadapi sekarang adalah sepasang iblis yang amat berbahaya. Tingkat kepandaian salah seorang di antara dua iblis itu saja sudah setingkat dengan dia, maka kini dikeroyok dua, apa lagi kini sepasang iblis itu telah melatih diri dengan ilmu-ilmu keji, maka dia tahu bahwa dia terancam bahaya dan harus mengerahkan seluruh tenaga serta kepandaian untuk dapat mengimbangi mereka.

"Singg…! Singg…! Singgg...!”

Golok gergaji di tangan Ang-bin Moko mulai menyerang bertubi-tubi, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung elang mencari mangsa. Namun Bhok Cun Ki pernah dijuluki Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti), maka dia pun mengelebatkan pedangnya dan sambil mengelak pedangnya juga membabat ke arah pergelangan tangan yang memegang golok sehingga terpaksa lawannya menarik kembali serangannya dan mulai menyerang dengan jurus baru.

Sementara itu, bagaikan seekor ular yang hidup, sabuk ular di tangan Pek-bin Moli sudah menyambar-nyambar. Tercium bau amis ketika sabuk itu menyambar lewat dekat kepala Bhok Cun Ki. Seperti juga tadi, Bhok Cun Ki mengelak dan membalas dengan serangan ke arah lengan lawan.

"Syuuuuuuttt...!" Angin yang aneh menyambar.

Bhok Cun Ki cepat melempar tubuh ke samping, maklum bahwa yang menyambarnya itu adalah hawa pukulan beracun yang jahat bukan main. Itulah Toat-beng-tok-ciang, pukulan beracun jarak jauh yang amat berbahaya. Kini sambil menggerakkan senjata menyerang, kedua iblis itu juga menyelingi dengan pukulan tangan beracun jarak jauh, juga jari tangan kiri mereka kadang kala menyerang dengan totokan Touw-kut-ci (Jari Penembus Tulang).

Secara diam-diam Bhok Cun Ki terkejut. Pukulan beracun dan totokan jari itu tidak kalah bahayanya dibanding golok gergaji dan sabuk ular. Dia pun memutar pedangnya sehingga terbentuk gulungan sinar yang melingkar-lingkar melindungi tubuhnya dan kadang-kadang saja dari gulungan sinar itu mencuat ujung pedangnya untuk membalas. Namun dia hanya mendapatkan kesempatan sedikit saja untuk dapat membalas hujan serangan lawan.

Sementara itu Akim dan Ci Han terdesak hebat oleh Maniyoko beserta enam orang anak buah sepasang iblis yang juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup kuat. Sesungguhnya Akim lebih lihai dibandingkan suheng-nya dan andai kata Maniyoko maju seorang diri, dia pasti akan kalah oleh sumoi-nya itu. Akan tetapi Maniyoko dibantu dua orang yang cukup lihai, sedahgkan Ci Han dikeroyok empat orang yang membuat dia terdesak pula.

Biar pun dirinya terdesak oleh suheng-nya dan dua orang pengeroyok, namun Akim selalu memperhatikan keadaan Ci Han. Ketika ia melihat Ci Han terdesak hebat dan pemuda itu hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya dari hujan senjata yang digerakkan empat orang pengeroyoknya, Akim merasa khawatir bukan main sehingga beberapa kali dia menengok. Perhatiannya terpecah sehingga ketika sebatang pedang pengeroyoknya menyambar leher, gadis ini terlambat mengelak sehingga ujung pedang itu masih melukai pundak kirinya.

Akim terkejut, akan tetapi bukan karena pundaknya terluka, melainkan karena melihat Ci Han terkena tendangan sehingga tubuhnya terpelanting. Tanpa mempedulikan keadaan diri sendiri, Akim meloncat dan pedangnya bergerak cepat menerjang empat orang yang sudah hendak mengirim serangan susulan yang akan mematikan Ci Han.

"Trang-tranggg...!"

Seorang pengeroyok terjungkal dengan dada terluka pedang Gwat-im-kiam. Ci Han yang sudah mengeluarkan keringat dingin karena tadi nyawanya terancam, kini meloncat lagi.

"Terima kasih...!" Ci Han berkata dan Akim merasa terharu.

Dia sekarang melihat bahwa dia sudah tertipu oleh Maniyoko yang bersekongkol dengan mata-mata Mongol. Tahulah dia bahwa peristiwa dia ditawan, lalu ditolong Maniyoko dan pengakuan para penculiknya bahwa mereka disuruh oleh Bhok Cun Ki, semua itu bohong belaka. Semuanya itu merupakan siasat yang sudah diatur Maniyoko bersama sekutunya sehingga dia kena dikelabui dan memusuhi keluarga Bhok. Bahkan bersama suheng-nya itu dia sudah menculik Ci Han! Dan pemuda itu agaknya sama sekali tidak mendendam kepadanya!

"Cepat ke sini, kita saling melindungi!" katanya kepada Ci Han.

Pemuda itu mengerti dan dia khawatir sekali melihat pundak kiri gadis itu terluka. Bajunya sudah berlumuran darah! Cepat dia meloncat, lantas berdiri saling membelakangi dengan Akim. Dengan cara demikian mereka bisa saling melindungi dan tidak dapat dibokong dari belakang.

Kini mereka berdiri sambil memasang kuda-kuda, sedangkan Maniyoko beserta sisa anak buah sepasang iblis, yaitu tinggal lima orang karena yang seorang telah roboh oleh Akim, mengepung sambil bergerak perlahan mengitari dua orang muda itu.

“Bunuh pemuda ini, tangkap gadisnya," kata pula Maniyoko yang membuat Akim marah bukan main. Sejak kecil suheng-nya ini dipelihara ayahnya, dididik dan disayang. Kiranya sekarang telah menjadi pengkhianat yang berniat buruk terhadap dirinya.

"Maniyoko, engkau manusia berhati binatang, manusia tak mengenal budi!" bentak Akim akan tetapi segera dia bersama Ci Han harus memutar senjata untuk melindungi diri dan menangkis sambaran senjata enam orang pengeroyok itu.

Pada saat itu pula terdengar bentakan nyaring dan serangkum hawa menyambar ke arah enam orang pengeroyok. Lima orang anak buah itu terjengkang, ada pun Maniyoko sendiri terhuyung ke belakang. Bukan main kagetnya ketika pemuda Jepang ini melihat bahwa yang muncul dan menyerang dengan dorongan jarak jauh itu bukan lain adalah gurunya sendiri, Tung-hai-liong Ouwyang Cin!

Sebaliknya, Akim girang bukan main melihat ayahnya. Tak disangkanya bahwa ayahnya akan muncul, dan tahulah dia bahwa diam-diam ayahnya agaknya merasa tidak enak lalu menyusulnya ke kota raja. Dia pun teringat akan keadaan Bhok Cun Ki yang kini didesak hebat oleh kakek dan nenek mengerikan itu.

"Ayah, Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli hampir saja berhasil menyiksa dan membunuhku. Aku telah dihina mereka. Balaskan, ayah. Malah mereka juga menghina dan mencemooh ayah, menganggap ayah takut kepadanya. Dan Maniyoko binatang tak mengenal budi ini bersekongkol dengan mereka...!"