Social Items

WANITA itu terbelalak. Kini dia telah selesai menyanggul rambutnya, biar pun masih kasar dan kacau kusut. "Aihh, kiranya aku berhadapan dengan Huang-ho Sam Sian (Tiga Dewa Sungai Kuning)? Baiklah Sam Sian, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi akan tiba saatnya aku mencari kalian untuk menebus kekalahan ini!"

"Heiii, kamu! Siapa namamu agar kelak aku membalas penghinaan ini!" anak perempuan itu pun bertanya kepada Sin Wan.

"Aku… aku tidak punya nama," jawab Sin Wan. Ia tidak menghendaki anak itu mengingat namanya sebagai musuh dan kelak mencarinya seperti yang dikatakan wanita itu kepada ketiga orang gurunya.

"Kau tidak bernama? Kau kerbau sapi kuda babi anjing kucing...! Mana di antara itu yang menjadi namamu?" Anak perempuan yang galak itu memaki saking marahnya.

"Semua itu namaku," jawab Sin Wan sambil tersenyum.

"Kau jahat...!" anak perempuan itu mengepal tinju dan hendak menyerang lagi.

"Li Li, mari kita pergi!" kata gurunya dan wanita cantik itu berkelebat, menyambar lengan muridnya lalu dia pun lari sepertl terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

"Siancai... seorang gadis yang amat berbahaya!" kata Pek-mau-sian Thio Ki.

"Benar, ilmu pedangnya pun hebat. Kelak dia pasti akan merupakan lawan yang sangat sukar dikalahkan," sambung Kiam-sian Louw Sun.

"Sayang, kita tidak tahu siapa wanita itu," kata pula Ciu-sian Tong Kui.

"Suhu, teecu tahu siapa nama wanita tadi...!" Sin Wan menghampiri tiga orang gurunya. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ringkik kuda dan dua ekor kuda di depan kereta itu roboh!

Tiga orang pendeta itu cepat meloncat ke dekat kereta untuk menjaga agar peti pusaka tidak diambil orang, dan mereka masih melihat berkelebatnya bayangan wanita tadi yang kini melarikan diri amat cepatnya. Mereka segera memeriksa. Dua kuda itu sudah mati, leher mereka ditembusi pisau kecil yang beracun, tepat mengenai jalan darah besar sehingga racun cepat membunuh dua ekor binatang itu.

"Hemm, dia membunuh kuda kita," kata Dewa Arak.

"Pinto tahu maksudnya. Tentu dia bermaksud agar perjalanan kita ke kota raja membawa pusaka–pusaka itu menjadi lambat," sambung Dewa Pedang.

"Siancai...!” Benar sekali. Ini berarti bahwa wanita ganas itu masih ingin mencoba untuk merampas pusaka. Dia sangat lihai, akan berbahaya sekali apa bila dia membawa teman-teman yang banyak,. Kita harus mencari jalan agar dapat menyelamatkan pusaka-pusaka ini. Kalau sampai terjatuh ke tangan golongan sesat, maka akan sukarlah merampasnya kembali," kata Dewa Rambut Putih.

"Aku tahu jalannya!" Dewa Arak berseru sambil tersenyum gembira. "Tidak jauh dari sini terdapat benteng pasukan penjaga keamanan tapal batas. Kalau kita datang ke sana dan menunjukkan tek-pai (bambu tanda kuasa) dari Kaisar, tentu komandan pasukan itu akan suka memberi pasukan untuk mengawal keamanan pusaka untuk dikirim kembali ke kota raja.”

"Itu bagus sekali!" kata Kiam-sian, "Kalau begitu mari kita cepat membawa pusaka itu ke sana!"

Mereka lalu membuka peti pusaka, mengambil isinya dan membagi belasan buah benda pusaka itu menjadi tiga bagian, menyimpan dalam bungkusan masing-masing kemudian menggendongnya di punggung.

"Kau tadi mengatakan bahwa engkau mengetahui nama wanita itu. Siapakah namanya, Sin Wan?" tanya Dewa Rambut Putih.

"Ketika dia memukul teecu, dia mengatakan bahwa dia tidak membunuh teecu agar teecu dapat memberi tahu Se Jit Kong bahwa wanita yang bernama Bi-coa Sian-li akan datang membunuh Se Jit Kong!"

"Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik)?" Dewa Arak berkata sambil tertegun. "Belum pernah aku mendengar julukan itu. Akan tetapi kalau melihat kelihaiannya, mungkin sekali masih ada hubungannya dengan See-thian Coa-ong (Raja Ular Daerah Barat)!"

"Siancai..." Dewa Pedang berseru. "Raja Ular itu memang memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Akan tetapi dia bukanlah golongan sesat, bukan orang jahat walau pun dia merupakan datuk yang memiliki watak luar biasa.”

"Wanita tadi pun belum tentu jahat walau pun dia ganas dan kejam. Buktinya dia mencari Se Jit Kong untuk dibunuhnya. Siapa pun yang memusuhi Se Jit Kong agaknya tidak bisa dianggap sebagai golongan sesat."

Tiga orang kakek itu lalu melakukan perjalanan cepat. Bahkan Sin Wan digendong secara bergantian oleh mereka supaya perjalanan bisa dilakukan secepat mungkin. Hal ini harus dilakukan agar mereka dapat segera tiba di benteng pasukan penjaga keamanan sebelum datang serangan dari orang-orang yang hendak merampas pusaka istana.

Perhitungan mereka memang tepat. Sesudah melakukan perjalanan sehari penuh, pada sore harinya mereka sampai di benteng itu. Dan komandan benteng menyambut mereka dengan penuh kehormatan sesudah ketiga orang itu memperlihatkan tek-pai dan memberi keterangan bahwa mereka adalah utusan kaisar untuk mencari dan merampas kembali pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana.

Sesudah bermalam satu malam di benteng itu, pada keesokan harinya mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Tetapi sekali ini perjalanan dilakukan dengan kereta dan dikawal oleh seratus orang prajurit!

Tentu saja orang-orang golongan sesat yang tadinya hendak menghadang dan merampas pusaka menjadi mundur teratur melihat pengawalan yang ketat itu. Menghadapi Sam Sian saja adalah merupakan usaha yang berbahaya dan berat, apa lagi bila ditambah pasukan seratus orang prajurit itu! Andai kata mereka memberanikan diri menyerbu pasukan itu, mereka akan dicap pemberontak dan selanjutnya kehidupan mereka tidak akan aman lagi, menjadi orang-orang buruan atau musuh pemerintah!

Tiga orang pertapa itu bersama Sin Wan merasa tenang, dan mereka dapat tiba di Nan-king, kota raja yang baru dari Dinasti Beng-tiauw dengan selamat.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada saat itu yang menjadi kaisar dari Kerajaan Beng adalah Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama atau pendiri dari Dinasti Beng-tiauw. Pendiri Kerajaan Beng (Terang) ini berasal dari keluarga petani. Dia dilahirkan pada tahun 1328 di dusun yang terletak antara Sungai Huai dan Sungai Kuning, di daerah pertanian, dari keluarga petani biasa.

Ketika dia baru berusia enam tahun, di dusun tempat tinggalnya berjangkit wabah yang membunuh banyak keluarga para petani di dusun itu. Keluarga anak yang kini menjadi Kaisar Thai-cu, dan yang dulunya bernama Cu Goan Ciang ini pun terbasmi habis. Ayah ibunya dan saudara-saudaranya mati semua oleh wabah. Hanya tinggal Cu Goan Ciang seorang diri yang tinggal. Dia menjadi seorang anak berusia enam tahun yang yatim piatu dan hidup sebatang kara!

Riwayat kaisar pertama Dinasti Beng ini ketika masih kecilnya memang sangat menarik, di samping miskin hidupnya juga penuh dengan kesengsaraan! Setelah hidup seorang diri dan sebatang kara, dia lalu bekerja sebagai penggembala kerbau. Kemudian dia bahkan mengikuti seorang hwesio tua ke kuil dan menjadi seorang hwesio kecil berkepala gundul.

Bertahun-tahun dia tekun mempelajari ilmu bun (sastera) dan bu (silat) di kuil itu, berguru kepada para hwesio (pendeta Buddha) sehingga dia menjadi pandai, bukan saja bertubuh kuat dan pandai ilmu silat, bersemangat, juga pandai dalam hal membaca dan menulis. Tapi kehidupan sebagai pendeta di kuil tidak memuaskan hatinya. Dia pun meninggalkan kuil, hidup terlunta-lunta dan dalam usia belasan tahun itu, dia bahkan pernah mengikuti seorang pengemis sakti, hidup sebagai seorang pengemis!

Akhirnya, karena kegagahan serta kepandaiannya, karena bakatnya menjadi pemimpin, setelah bertualang di dunia kang-ouw dia pun berhasil diangkat menjadi seorang bengcu (pemimpin rakyat). Dia telah menjadi dewasa, berpengalaman dan berpengetahuan luas, sudah lenyap sama sekali bekas-bekas kehidupan petani di pedesaan.

Dia memperkuat kedudukannya, memperkuat para pengikut yang dihimpunnya menjadi sebuah pasukan, melatihnya dan dalam usia dua puluh delapan tahun dia sudah demikian kuatnya dan memperoleh dukungan dari rakyat jelata, mulai dari golongan rendah sampai menengah, memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Mongol yang telah menjajah Cina selama hampir seratus tahun.

Ia memimpin pasukan rakyatnya menyerbu dan menguasai kota Nan-king yang kemudian menjadi pusat kekuasaannya, bahkan kemudian menjadi kota rajanya. Pada tahun 1368, dalam usia empat puluh tahun, dia sudah berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Mongol di daratan Cina. Dia kemudian mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Beng dan dia menjadi kaisar pertamanya yang bernama Kaisar Thai-cu.

Semenjak itu Kaisar Thai-cu terus mengadakan pembersihan, mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal Su Ta, yaitu seorang panglima yang menjadi tangan kanannya, jauh ke utara dan barat untuk mengejar sisa-sisa pasukan Mongol, bahkan membakar kota raja Karakorum, kota raja lama yang dulu menjadi pusat kekuasaan pendiri Kerajaan Mongol, yaitu Jenghis Khan.

********************

Pada saat Sam Sian dan Sin Wan diperkenankan menghadap kaisar untuk menyerahkan pusaka-pusaka yang berhasil ditemukan kembali oleh Tiga Dewa itu, Kaisar Thai-cu telah tujuh tahun menjadi kaisar (1375). Tentu saja Kaisar Thai-cu gembira bukan main ketika menerima Sam Sian dan melihat betapa semua pusaka yang dicuri maling itu telah dapat ditemukan kembali.

Kaisar yang sebelum menjadi kaisar sudah sering bertualang di dunia kang-ouw ini tahu benar bahwa jika mengandalkan pasukan saja akan sukar untuk dapat menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang. Oleh karena itulah maka dia mengutus Sam Sian untuk mencari dan membawa kembali pusaka-pusaka itu.

Saking gembiranya Kaisar Thai-cu lalu menawarkan kedudukan kepada mereka bertiga. Ketika Sam Sian menolaknya dengan halus, Kaisar Thai-cu yang sudah mengenal watak-watak para tokoh dan datuk persilatan, tidak menjadi marah.

"Kalau begitu, kalian pilih sebuah di antara pusaka-pusaka yang dapat ditemukan kembali ini. Pilihlah sebuah yang paling disukai, dan kami hadiahkan pusaka itu kepada kalian."

Karena penawaran itu berlaku untuk perorangan, Dewa Arak kemudian berkata, “Hamba tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah minum arak."

Kaisar Thai-cu tertawa dan dia langsung mengutus seorang petugas untuk mengambilkan sebuah guci arak yang merupakan benda pusaka pula karena guci itu terbuat dari sejenis batu kumala yang berkhasiat. Bukan saja arak yang disimpan dalam guci itu akan menjadi semakin lezat, juga kalau ada racun terkandung dalam minuman atau makanan, begitu dimasukan ke dalam guci yang warnanya putih kebiruan itu akan menjadi hitam! Tentu saja Dewa Arak merasa gembira sekali menerima guci arak yang ada gantungannya itu, apa lagi guci itu diisi arak yang paling tua di istana. Dia cepat menghaturkan terima kasih.

Ketika sampai giliran Dewa Rambut Putih, dia cepat memberi hormat, "Hamba juga tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah membaca kitab, meniup suling dan membuat sajak."

Kaisar Thai-cu mengangguk-angguk senang dan memandang kagum. Lalu dia mengutus petugas lain untuk mengambilkan sebuah kitab kumpulan huruf-huruf (semacam kamus) dan sebuah suling yang terbuat dari perak dan mempunyai suara yang amat nyaring dan merdu. Mendapatkan hadiah yang baginya lebih bernilai dari pada segala macam pusaka, Dewa Rambut Putih menghaturkan terima kasih dengan hati gembira.

Tinggal Dewa Pedang yang ditawari memilih salah satu di antara pusaka yang ditemukan kembali. Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, tentu saja dia mengincar pedang yang dianggapnya paling hebat di antara pusaka-pusaka itu, yaitu Gin-kong-kiam (Pedang Sinar Perak) yang pernah dipergunakan mendiang Se Jit Kong melawan pedangnya, yaitu Jit-kong-kiam dan ternyata pedang pusaka kerajaan itu tak kalah ampuhnya dibandingkan pedangnya sendiri.

Namun dia teringat akan Sin Wan. Pernah Sin Wan bercerita kepadanya tentang Pedang Tumpul, yaitu pedang buruk yang pernah dilihat anak itu dan bahkan Se Jit Kong pernah menuturkan riwayat pedang itu kepada Sin Wan. Sin Wan mengatakan kepadanya bahwa anak itu sangat suka dengan Pedang Tumpul. Ketika ditanya mengapa menyukai pedang tumpul yang tentu kurang bermanfaat sebagai pedang, anak itu membantah.

"Suhu, teecu telah bersumpah kepada ibu bahwa teecu tak akan menjadi jahat dan kejam seperti mendiang Se Jit Kong. Bahkan di depan makam ibu teecu telah bersumpah tidak akan melakukan pembunuhan. Pedang tumpul itu cocok sekali untuk teecu. Karena tidak tajam dan tidak runcing, maka pedang itu tidak berbahaya bagi nyawa lawan, akan tetapi cukup baik untuk dipakai membela diri. Apa lagi menurut mendiang Se Jit Kong, pedang itu dulu bernama Pedang Asmara yang sudah dirombak, pedang yang menjadi lambang kasih sayang."

Sekarang, ketika Kaisar Thai-cu menawarkan sebuah di antara pusaka-pusaka itu untuk dipilihnya, dia pun memberi hormat. "Apa bila paduka mengijinkan, hamba mohon diberi hadiah Pedang Tumpul ini." Dia menunjuk ke arah pedang di antara tumpukan pusaka itu.

"Apa? Pedang yang buruk ini pilihanmu, totiang (bapak pendeta)?" Kaisar bertanya sambil mengangkat pedang yang sangat buruk itu, kemudian menghunusnya. "Aihhh, pedang ini bukan saja gagang dan sarungnya amat sederhana, akan tetapi pedangnya sendiri tumpul dan buruk!"

"Ampun, Paduka. Keburukan melahirkan kebaikan, dan kebaikan melahirkan keburukan, keduanya tidak terpisahkan. Akan tetapi hamba lebih memilih yang buruk kulitnya namun baik isinya, dari pada yang baik kulitnya akan tetapi buruk isinya."

Kaisar Thai-cu tertawa senang. "Ha-ha-ha-ha, totiang benar. Pedang ini memang gagal pembuatannya sehingga terlihat buruk, akan tetapi kabarnya pedang ini terbuat dari pada batu bintang hijau. Nah, terimalah, totiang, dan mudah-mudahan bukan saja isinya yang baik, akan tetapi juga kegunaannya."

Kiam-sian gembira sekali, dan dia pun menerima pedang itu sambil menghaturkan terima kasih dengan sikap hormat. Kemudian mereka mendapat ijin untuk mengundurkan diri.

Sin Wan yang diajak guru-gurunya menghadap kaisar, diam-diam merasa kagum bukan main. Selama hidupnya belum pernah dia melihat gedung yang begitu indah seperti istana itu, juga melihat perabot-perabot dan barang-barang yang luar biasa sehingga dia merasa seperti dalam mimpi saja.

Ketika Sam Sian dan Sin Wan keluar dari pintu gerbang istana yang terakhir dan sedang berjalan menuju ke jalan umum, di luar pintu gerbang itu tampak seorang anak perempuan yang ditemani seorang wanita setengah tua. Agaknya kedua orang ini memang sengaja menunggu mereka keluar karena begitu melihat Sam Sian, anak perempuan itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas tanah di tepi jalan.

"Sam-wi locianpwe (tiga orang tua gagah), saya Lim Kui Siang mohon agar dapat diterima sebagai murid sam-wi."

Tentu saja tiga orang kakek itu saling bertukar pandang dan merasa heran sekali. Mereka segera mengamati anak perempuan itu. Seorang anak perempuan yang usianya sembilan atau sepuluh tahun, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang anak bangsawan atau hartawan, dan wajahnya yang cantik manis dengan kulit putih mulus itu nampak berduka.

"Nona kecil, jangan begitu. Kami tidak menerima murid, dan jangan berlutut di tepi jalan, nanti akan menjadi tontonan orang," kata Dewa Arak sambil menghampiri anak itu hendak mengangkatnya bangun.

"Sam-wi locianpwe, sebelum sam-wi bersedia menerima saya sebagai murid maka saya akan tetap berlutut di sini sampai mati!"

Tentu saja ucapan ini membuat tiga orang kakek itu terkejut bukan kepalang. Akan tetapi mereka lantas tersenyum dan di dalam hati mereka tidak percaya bahwa anak perempuan yang jelas anak seorang bangsawan ini akan benar-benar senekat itu.

"Nona, sudah kami katakan bahwa kami tidak menerima murid. Bangkitlah dan pulanglah, nona," kata pula Dewa Arak dan kepada wanita setengah tua yang berpakaian pelayan itu dia pun berkata, “Ajaklah nonamu pulang. Tidak baik membiarkan dia bersikap seperti ini di tempat umum."

Akan tetapi wanita pelayan itu memberi hormat dan berkata dengan suara sedih. "Sudah sejak di rumah tadi saya mencoba untuk membujuk siocia (nona), bahkan paman-paman dan bibi-bibinya juga telah membujuk. Akan tetapi siocia tetap berkeras hati."

"Kalau begitu, biarkan sajalah kalau dia ingin berlutut di sini sampai mati," kata pula Dewa Arak dan dia pun memberi isyarat kepada dua orang rekannya untuk meninggalkan pintu gerbang itu, tidak mau menoleh lagi.

Sin Wan yang beberapa kali menoleh! Melihat betapa anak itu masih tetap berlutut, tidak bergerak sama sekali, dia merasa kasihan sekali. "Kenapa suhu bertiga membiarkan dia berlutut di sana terus? Bagaimana kalau dia benar-benar tidak mau bangkit lagi dan akan berlutut terus di sana sampai mati seperti yang dia katakan tadi?”

"Ha-ha-ha!” Dewa Arak berkata, "Dia anak bangsawan yang tentu sejak kecil dimanja dan setiap keinginannya harus dipenuhi. Dia hanya menggertak saja."

"Siancai... pinto (aku) belum pernah mendengar, apa lagi melihat sendiri ada anak sekecil itu begitu teguh hati akan berlutut terus sampai mati kalau permintaannya tidak dipenuhi," kata Kiam-sian si Dewa Pedang.

“Ia tentu dibuai khayal, mendengar bahwa kita telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu, lalu dia bermimpi untuk kelak menjadi seorang pendekar wanita. Seorang anak bangsawan yang biasanya hidup mewah dan senang, mana mungkin mampu menghadapi kehidupan sulit di pertapaan?" kata pula Si Dewa Rambut Putih.

Akan tetapi Sin Wan tidak setuju dengan pendapat ketiga orang gurunya. Dia tadi melihat betapa anak perempuan itu nampak bersedih dan sinar matanya seperti orang yang putus harapan. Dalam keadaan seperti itu tidak akan aneh apa bila anak itu berlaku nekat dan benar-benar akan berlutut di sana sampai mati!

"Suhu, hati teecu merasa tidak enak. Bagaimana kalau dia benar-benar berlutut di sana sampai mati? Kalau hal itu terjadi, apakah suhu bertiga tidak akan merasa berdosa dan menyesal?"

Tiga orang kakek itu berhenti melangkah. Pintu gerbang istana sudah tertinggal jauh dan tidak nampak lagi, akan tetapi mereka menengok ke belakang seolah-olah hendak melihat apakah anak perempuan itu masih berlutut di sana.

"Hemmm, Sin Wan. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa kami harus menerima anak itu menjadi murid?" tanya Dewa Pedang sambil menatap tajam wajah Sin Wan.

Wajah Sin Wan menjadi kemerahan dan dia menjawab, "Tentu saja keputusan itu terserah kepada suhu bertiga. Teecu hanya hendak mengatakan bahwa anak itu bersikap seperti tadi tentu ada alasan dan sebabnya yang kuat. Setidaknya, alangkah baiknya kalau suhu bertiga mengetahui sebabnya, dan sebelum kita meninggalkannya, kita dapat membujuk agar dia tidak bersikap nekat seperti itu."

Tiga orang kakek itu saling pandang. Mereka bukanlah orang-orang yang bersikap kejam dan acuh. Mereka pun tertarik melihat sikap anak perempuan itu, akan tetapi mereka tadi bersikap seakan-akan mereka acuh justru untuk menguji dan mengetahui bagaimana Sin Wan menghadapi peristiwa itu.

"Ha-ha-ha, kalau begitu biar kita tunggu dan lihat nanti. Kalau dia hanya berlutut selama semalaman ini saja, kurasa dia tidak akan mati karena itu. Besok pagi-pagi baru kita lihat apakah dia masih berada di sana. Ha-ha-ha-ha, agaknya memang sudah takdir bahwa kita harus tinggal semalam lagi di kota raja."

Mereka tidak mau bermalam di rumah penginapan. Berita tentang mereka yang berhasil menemukan kembali pusaka istana yang hilang tentu sudah tersiar sehingga jika mereka bermalam di tempat umum, tentu hanya akan menarik perhatian orang.

Dewa Arak yang mempunyai banyak pengalaman di kota raja lalu mengajak dua rekannya dan Sin Wan melewatkan malam itu di sebuah kuil tua yang sudah tak terpakai lagi, yang terletak di daerah pinggiran yang terpencil. Kuil tua itu kini menjadi tempat bermalam para pengemis dan mereka yang tidak memiliki rumah, atau pendatang dari luar kota raja yang tidak mampu membayar sewa kamar penginapan yang mahal.

Malam itu Sin Wan gelisah tidak dapat pulas. Bukan karena tempatnya yang buruk. Sejak mengikuti tiga orang gurunya, anak ini sudah terbiasa hidup seadanya, tidur di mana saja, bahkan di tempat terbuka. Bukan karena tempat itu yang membuat dia tidak dapat tidur, melainkan dia selalu teringat kepada anak perempuan itu! Akan tetapi tiga orang gurunya tidur dengan nyenyaknya!

Dia tak bermaksud melakukan sesuatu di luar tahu guru-gurunya. Akan tetapi kini mereka telah pulas dan dia tidak ingin mengganggu mereka. Maka dengan amat hati-hati Sin Wan meninggalkan ruangan di bagian belakang kuil itu, mengambil jalan dari samping supaya tidak mengganggu mereka yang tidur di ruangan tengah dan depan, lantas meninggalkan kuil itu, pergi menuju ke arah istana!

Begitu dia keluar, hujan turun rintik-rintik. Akan tetapi Sin Wan melanjutkan perjalanannya melalui pinggiran rumah ke rumah sehingga pakaiannya tidak basah kuyup. Akhirnya dia pun tiba di depan pintu gerbang istana yang menghadap jalan raya.

Anak perempuan itu masih di sana! Jantungnya seperti ditusuk karena haru dan iba. Anak perempuan itu masih berlutut seperti tadi siang! Pelayan wanita setengah tua tadi pun masih di belakangnya, dan kini memegang sebuah payung terbuka untuk memayungi anak perempuan itu, melindunginya dari air hujan rintik-rintik. Akan tetapi anak perempuan itu tidak peduli, masih berlutut padahal air hujan sudah menggenangi tempat dia berlutut sehingga kaki dan pakaiannya menjadi basah dan kotor oleh lumpur.

"Siocia marilah kita pulang dahulu. Hari sudah malam dan hujan turun. Besok boleh siocia lanjutkan lagi," berulang kali pelayan itu membujuk dengan suara hampir menangis. Akan tetapi anak perempuan itu sama sekali tidak bergerak atau menjawab.

Sebuah kereta berhenti di dekat tempat itu, lantas empat orang turun dari kereta. Mereka adalah dua pasang suami isteri yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, berpakaian seperti hartawan. Empat orang itu menghampiri si gadis kecil dan mereka pun membujuk-bujuk, mengajak anak perempuan itu pulang.

Akan tetapi anak itu tetap tidak bergerak dan tidak menjawab. Ketika dua orang pria yang menyebut diri sendiri sebagai paman kepada anak perempuan itu hendak memaksanya, menarik lengannya untuk dipaksa pulang, pelayan wanita ini lalu mencegah dengan suara memohon.

"Harap siocia jangan dipaksa. Tadi siocia telah mengatakan kepada saya bahwa kalau dia dipaksa pulang, maka begitu sampai di rumah siocia akan membunuh diri!"

Mendengar ucapan itu, dua orang pria itu terkejut dan langsung melepaskan tangan anak perempuan itu yang terus berlutut sambil menundukkan mukanya. Akhirnya, karena hujan turun semakin deras, dua pasang suami isteri itu naik ke dalam kereta dan kereta itu pun meninggalkan tempat itu. Anak perempuan itu masih terus berlutut, ada pun pembantunya masih berdiri di belakangnya sambil memayunginya.

Sin Wan tidak dapat menahan keharuan hatinya, maka dia pun nekat menempuh hujan, menghampiri anak perempuan itu. Dilihatnya anak itu masih berlutut seperti patung, sama sekali tidak bergerak dan mukanya menunduk. Biar pun wanita itu memayunginya, namun angin membuat air hujan menyiram dari samping sehingga pakaian anak itu sudah basah kuyup, demikian pula rambutnya. Air menetes-netes dari dagunya yang hampir menempel dada.

"Nona, kenapa engkau berkeras hendak menjadi murid tiga orang locianpwe itu?”

Anak perempuan itu diam saja, mengangkat muka pun tidak, apa lagi menjawab.

"Nona, tak baik menyiksa diri seperti ini. Engkau bisa masuk angin dan jatuh sakit. Kalau hanya ingin belajar ilmu silat, bukankah di kota raja ini terdapat banyak guru silat? Kenapa nona berkeras hendak belajar dari tiga orang locianpwe itu?" Sin Wan kembali bertanya, suaranya lembut. Namun yang ditanyanya tidak menjawab, bergerak pun tidak.

"Orang muda, harap jangan ganggu siocia. Siapa pun yang mengajaknya bicara, dia tidak akan mau menjawab, kecuali kalau tiga orang kakek tadi yang datang bicara dengannya,” kata pelayan yang memayungi.

Akhirnya Sin Wan meninggalkan anak itu, dalam hatinya dia mencela tiga orang gurunya yang dianggap kejam dan acuh terhadap seorang anak yang mempunyai tekad demikian hebatnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Sin Wan yang malam itu sama sekali tidak tidur, sudah menyambut tiga orang gurunya yang baru bangun dengan permintaan agar mereka segera menengok anak perempuan yang berlutut di depan pintu gerbang istana!

"Marilah, suhu. Kasihan anak perempuan yang berlutut semalam suntuk di sana, padahal semalam hujan turun...”

Dewa Arak tertawa. "Ha-ha-ha. bagaimana engkau tahu bahwa dia masih berada di sana, Sin Wan? Siapa tahu tadi malam dia sudah pulang dan tidur nyenyak di kamarnya yang indah dan hangat."

"Tidak suhu. Memang semalam suntuk dia terus berlutut di sana, Maaf, tadi malam teecu sudah menengok ke sana. Teecu tidak dapat memberi tahu kepada suhu bertiga karena suhu sudah tidur pulas. Bahkan teecu telah membujuknya supaya dia mau menghentikan kenekatannya, tetapi sia-sia. Dia tak akan mau bangkit sebelum suhu bertiga datang dan mengajaknya seperti yang dikatakannya kemarin."

Tentu saja tiga orang sakti sudah mengetahui semua ini. Semalam mereka menggunakan kepandaian mereka untuk membayangi murid mereka sehingga mereka pun telah melihat semuanya. Kalau kini mereka berpura-pura, hal itu mereka lakukan untuk menguji sampai di mana kejujuran murid mereka.

"Hemm, baiklah. Sekarang marilah kita pergi ke sana," kata Dewa Rambut Putih dan Sin Wan ingin bersicepat, bahkan berjalan paling dulu untuk segera tiba di pintu gerbang itu.

Benar saja. Anak perempuan itu masih berlutut di situ! Pelayan wanita juga masih di sana, menangis! Dan mulailah banyak orang datang merubung karena tentu saja amat menarik melihat seorang anak perempuan bangsawan berlutut di sana, apa lagi mendengar bahwa anak itu berlutut di situ sejak kemarin siang, dan semalam bahkan berhujan-hujan di situ...!

Si Pedang Tumpul Jilid 09

WANITA itu terbelalak. Kini dia telah selesai menyanggul rambutnya, biar pun masih kasar dan kacau kusut. "Aihh, kiranya aku berhadapan dengan Huang-ho Sam Sian (Tiga Dewa Sungai Kuning)? Baiklah Sam Sian, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi akan tiba saatnya aku mencari kalian untuk menebus kekalahan ini!"

"Heiii, kamu! Siapa namamu agar kelak aku membalas penghinaan ini!" anak perempuan itu pun bertanya kepada Sin Wan.

"Aku… aku tidak punya nama," jawab Sin Wan. Ia tidak menghendaki anak itu mengingat namanya sebagai musuh dan kelak mencarinya seperti yang dikatakan wanita itu kepada ketiga orang gurunya.

"Kau tidak bernama? Kau kerbau sapi kuda babi anjing kucing...! Mana di antara itu yang menjadi namamu?" Anak perempuan yang galak itu memaki saking marahnya.

"Semua itu namaku," jawab Sin Wan sambil tersenyum.

"Kau jahat...!" anak perempuan itu mengepal tinju dan hendak menyerang lagi.

"Li Li, mari kita pergi!" kata gurunya dan wanita cantik itu berkelebat, menyambar lengan muridnya lalu dia pun lari sepertl terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

"Siancai... seorang gadis yang amat berbahaya!" kata Pek-mau-sian Thio Ki.

"Benar, ilmu pedangnya pun hebat. Kelak dia pasti akan merupakan lawan yang sangat sukar dikalahkan," sambung Kiam-sian Louw Sun.

"Sayang, kita tidak tahu siapa wanita itu," kata pula Ciu-sian Tong Kui.

"Suhu, teecu tahu siapa nama wanita tadi...!" Sin Wan menghampiri tiga orang gurunya. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ringkik kuda dan dua ekor kuda di depan kereta itu roboh!

Tiga orang pendeta itu cepat meloncat ke dekat kereta untuk menjaga agar peti pusaka tidak diambil orang, dan mereka masih melihat berkelebatnya bayangan wanita tadi yang kini melarikan diri amat cepatnya. Mereka segera memeriksa. Dua kuda itu sudah mati, leher mereka ditembusi pisau kecil yang beracun, tepat mengenai jalan darah besar sehingga racun cepat membunuh dua ekor binatang itu.

"Hemm, dia membunuh kuda kita," kata Dewa Arak.

"Pinto tahu maksudnya. Tentu dia bermaksud agar perjalanan kita ke kota raja membawa pusaka–pusaka itu menjadi lambat," sambung Dewa Pedang.

"Siancai...!” Benar sekali. Ini berarti bahwa wanita ganas itu masih ingin mencoba untuk merampas pusaka. Dia sangat lihai, akan berbahaya sekali apa bila dia membawa teman-teman yang banyak,. Kita harus mencari jalan agar dapat menyelamatkan pusaka-pusaka ini. Kalau sampai terjatuh ke tangan golongan sesat, maka akan sukarlah merampasnya kembali," kata Dewa Rambut Putih.

"Aku tahu jalannya!" Dewa Arak berseru sambil tersenyum gembira. "Tidak jauh dari sini terdapat benteng pasukan penjaga keamanan tapal batas. Kalau kita datang ke sana dan menunjukkan tek-pai (bambu tanda kuasa) dari Kaisar, tentu komandan pasukan itu akan suka memberi pasukan untuk mengawal keamanan pusaka untuk dikirim kembali ke kota raja.”

"Itu bagus sekali!" kata Kiam-sian, "Kalau begitu mari kita cepat membawa pusaka itu ke sana!"

Mereka lalu membuka peti pusaka, mengambil isinya dan membagi belasan buah benda pusaka itu menjadi tiga bagian, menyimpan dalam bungkusan masing-masing kemudian menggendongnya di punggung.

"Kau tadi mengatakan bahwa engkau mengetahui nama wanita itu. Siapakah namanya, Sin Wan?" tanya Dewa Rambut Putih.

"Ketika dia memukul teecu, dia mengatakan bahwa dia tidak membunuh teecu agar teecu dapat memberi tahu Se Jit Kong bahwa wanita yang bernama Bi-coa Sian-li akan datang membunuh Se Jit Kong!"

"Bi-coa Sian-li (Dewi Ular Cantik)?" Dewa Arak berkata sambil tertegun. "Belum pernah aku mendengar julukan itu. Akan tetapi kalau melihat kelihaiannya, mungkin sekali masih ada hubungannya dengan See-thian Coa-ong (Raja Ular Daerah Barat)!"

"Siancai..." Dewa Pedang berseru. "Raja Ular itu memang memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Akan tetapi dia bukanlah golongan sesat, bukan orang jahat walau pun dia merupakan datuk yang memiliki watak luar biasa.”

"Wanita tadi pun belum tentu jahat walau pun dia ganas dan kejam. Buktinya dia mencari Se Jit Kong untuk dibunuhnya. Siapa pun yang memusuhi Se Jit Kong agaknya tidak bisa dianggap sebagai golongan sesat."

Tiga orang kakek itu lalu melakukan perjalanan cepat. Bahkan Sin Wan digendong secara bergantian oleh mereka supaya perjalanan bisa dilakukan secepat mungkin. Hal ini harus dilakukan agar mereka dapat segera tiba di benteng pasukan penjaga keamanan sebelum datang serangan dari orang-orang yang hendak merampas pusaka istana.

Perhitungan mereka memang tepat. Sesudah melakukan perjalanan sehari penuh, pada sore harinya mereka sampai di benteng itu. Dan komandan benteng menyambut mereka dengan penuh kehormatan sesudah ketiga orang itu memperlihatkan tek-pai dan memberi keterangan bahwa mereka adalah utusan kaisar untuk mencari dan merampas kembali pusaka yang hilang dari gudang pusaka istana.

Sesudah bermalam satu malam di benteng itu, pada keesokan harinya mereka berangkat melanjutkan perjalanan. Tetapi sekali ini perjalanan dilakukan dengan kereta dan dikawal oleh seratus orang prajurit!

Tentu saja orang-orang golongan sesat yang tadinya hendak menghadang dan merampas pusaka menjadi mundur teratur melihat pengawalan yang ketat itu. Menghadapi Sam Sian saja adalah merupakan usaha yang berbahaya dan berat, apa lagi bila ditambah pasukan seratus orang prajurit itu! Andai kata mereka memberanikan diri menyerbu pasukan itu, mereka akan dicap pemberontak dan selanjutnya kehidupan mereka tidak akan aman lagi, menjadi orang-orang buruan atau musuh pemerintah!

Tiga orang pertapa itu bersama Sin Wan merasa tenang, dan mereka dapat tiba di Nan-king, kota raja yang baru dari Dinasti Beng-tiauw dengan selamat.

********************

Cerita silat serial Si Pedang Tumpul karya kho ping hoo

Pada saat itu yang menjadi kaisar dari Kerajaan Beng adalah Kaisar Thai-cu, yaitu kaisar pertama atau pendiri dari Dinasti Beng-tiauw. Pendiri Kerajaan Beng (Terang) ini berasal dari keluarga petani. Dia dilahirkan pada tahun 1328 di dusun yang terletak antara Sungai Huai dan Sungai Kuning, di daerah pertanian, dari keluarga petani biasa.

Ketika dia baru berusia enam tahun, di dusun tempat tinggalnya berjangkit wabah yang membunuh banyak keluarga para petani di dusun itu. Keluarga anak yang kini menjadi Kaisar Thai-cu, dan yang dulunya bernama Cu Goan Ciang ini pun terbasmi habis. Ayah ibunya dan saudara-saudaranya mati semua oleh wabah. Hanya tinggal Cu Goan Ciang seorang diri yang tinggal. Dia menjadi seorang anak berusia enam tahun yang yatim piatu dan hidup sebatang kara!

Riwayat kaisar pertama Dinasti Beng ini ketika masih kecilnya memang sangat menarik, di samping miskin hidupnya juga penuh dengan kesengsaraan! Setelah hidup seorang diri dan sebatang kara, dia lalu bekerja sebagai penggembala kerbau. Kemudian dia bahkan mengikuti seorang hwesio tua ke kuil dan menjadi seorang hwesio kecil berkepala gundul.

Bertahun-tahun dia tekun mempelajari ilmu bun (sastera) dan bu (silat) di kuil itu, berguru kepada para hwesio (pendeta Buddha) sehingga dia menjadi pandai, bukan saja bertubuh kuat dan pandai ilmu silat, bersemangat, juga pandai dalam hal membaca dan menulis. Tapi kehidupan sebagai pendeta di kuil tidak memuaskan hatinya. Dia pun meninggalkan kuil, hidup terlunta-lunta dan dalam usia belasan tahun itu, dia bahkan pernah mengikuti seorang pengemis sakti, hidup sebagai seorang pengemis!

Akhirnya, karena kegagahan serta kepandaiannya, karena bakatnya menjadi pemimpin, setelah bertualang di dunia kang-ouw dia pun berhasil diangkat menjadi seorang bengcu (pemimpin rakyat). Dia telah menjadi dewasa, berpengalaman dan berpengetahuan luas, sudah lenyap sama sekali bekas-bekas kehidupan petani di pedesaan.

Dia memperkuat kedudukannya, memperkuat para pengikut yang dihimpunnya menjadi sebuah pasukan, melatihnya dan dalam usia dua puluh delapan tahun dia sudah demikian kuatnya dan memperoleh dukungan dari rakyat jelata, mulai dari golongan rendah sampai menengah, memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Mongol yang telah menjajah Cina selama hampir seratus tahun.

Ia memimpin pasukan rakyatnya menyerbu dan menguasai kota Nan-king yang kemudian menjadi pusat kekuasaannya, bahkan kemudian menjadi kota rajanya. Pada tahun 1368, dalam usia empat puluh tahun, dia sudah berhasil menguasai seluruh wilayah kekuasaan Mongol di daratan Cina. Dia kemudian mendirikan dinasti baru, yaitu Dinasti Beng dan dia menjadi kaisar pertamanya yang bernama Kaisar Thai-cu.

Semenjak itu Kaisar Thai-cu terus mengadakan pembersihan, mengirim pasukan di bawah pimpinan Jenderal Su Ta, yaitu seorang panglima yang menjadi tangan kanannya, jauh ke utara dan barat untuk mengejar sisa-sisa pasukan Mongol, bahkan membakar kota raja Karakorum, kota raja lama yang dulu menjadi pusat kekuasaan pendiri Kerajaan Mongol, yaitu Jenghis Khan.

********************

Pada saat Sam Sian dan Sin Wan diperkenankan menghadap kaisar untuk menyerahkan pusaka-pusaka yang berhasil ditemukan kembali oleh Tiga Dewa itu, Kaisar Thai-cu telah tujuh tahun menjadi kaisar (1375). Tentu saja Kaisar Thai-cu gembira bukan main ketika menerima Sam Sian dan melihat betapa semua pusaka yang dicuri maling itu telah dapat ditemukan kembali.

Kaisar yang sebelum menjadi kaisar sudah sering bertualang di dunia kang-ouw ini tahu benar bahwa jika mengandalkan pasukan saja akan sukar untuk dapat menemukan kembali pusaka-pusaka yang hilang. Oleh karena itulah maka dia mengutus Sam Sian untuk mencari dan membawa kembali pusaka-pusaka itu.

Saking gembiranya Kaisar Thai-cu lalu menawarkan kedudukan kepada mereka bertiga. Ketika Sam Sian menolaknya dengan halus, Kaisar Thai-cu yang sudah mengenal watak-watak para tokoh dan datuk persilatan, tidak menjadi marah.

"Kalau begitu, kalian pilih sebuah di antara pusaka-pusaka yang dapat ditemukan kembali ini. Pilihlah sebuah yang paling disukai, dan kami hadiahkan pusaka itu kepada kalian."

Karena penawaran itu berlaku untuk perorangan, Dewa Arak kemudian berkata, “Hamba tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah minum arak."

Kaisar Thai-cu tertawa dan dia langsung mengutus seorang petugas untuk mengambilkan sebuah guci arak yang merupakan benda pusaka pula karena guci itu terbuat dari sejenis batu kumala yang berkhasiat. Bukan saja arak yang disimpan dalam guci itu akan menjadi semakin lezat, juga kalau ada racun terkandung dalam minuman atau makanan, begitu dimasukan ke dalam guci yang warnanya putih kebiruan itu akan menjadi hitam! Tentu saja Dewa Arak merasa gembira sekali menerima guci arak yang ada gantungannya itu, apa lagi guci itu diisi arak yang paling tua di istana. Dia cepat menghaturkan terima kasih.

Ketika sampai giliran Dewa Rambut Putih, dia cepat memberi hormat, "Hamba juga tidak membutuhkan pusaka, karena kesukaan hamba hanyalah membaca kitab, meniup suling dan membuat sajak."

Kaisar Thai-cu mengangguk-angguk senang dan memandang kagum. Lalu dia mengutus petugas lain untuk mengambilkan sebuah kitab kumpulan huruf-huruf (semacam kamus) dan sebuah suling yang terbuat dari perak dan mempunyai suara yang amat nyaring dan merdu. Mendapatkan hadiah yang baginya lebih bernilai dari pada segala macam pusaka, Dewa Rambut Putih menghaturkan terima kasih dengan hati gembira.

Tinggal Dewa Pedang yang ditawari memilih salah satu di antara pusaka yang ditemukan kembali. Bagi seorang ahli pedang seperti Kiam-sian, tentu saja dia mengincar pedang yang dianggapnya paling hebat di antara pusaka-pusaka itu, yaitu Gin-kong-kiam (Pedang Sinar Perak) yang pernah dipergunakan mendiang Se Jit Kong melawan pedangnya, yaitu Jit-kong-kiam dan ternyata pedang pusaka kerajaan itu tak kalah ampuhnya dibandingkan pedangnya sendiri.

Namun dia teringat akan Sin Wan. Pernah Sin Wan bercerita kepadanya tentang Pedang Tumpul, yaitu pedang buruk yang pernah dilihat anak itu dan bahkan Se Jit Kong pernah menuturkan riwayat pedang itu kepada Sin Wan. Sin Wan mengatakan kepadanya bahwa anak itu sangat suka dengan Pedang Tumpul. Ketika ditanya mengapa menyukai pedang tumpul yang tentu kurang bermanfaat sebagai pedang, anak itu membantah.

"Suhu, teecu telah bersumpah kepada ibu bahwa teecu tak akan menjadi jahat dan kejam seperti mendiang Se Jit Kong. Bahkan di depan makam ibu teecu telah bersumpah tidak akan melakukan pembunuhan. Pedang tumpul itu cocok sekali untuk teecu. Karena tidak tajam dan tidak runcing, maka pedang itu tidak berbahaya bagi nyawa lawan, akan tetapi cukup baik untuk dipakai membela diri. Apa lagi menurut mendiang Se Jit Kong, pedang itu dulu bernama Pedang Asmara yang sudah dirombak, pedang yang menjadi lambang kasih sayang."

Sekarang, ketika Kaisar Thai-cu menawarkan sebuah di antara pusaka-pusaka itu untuk dipilihnya, dia pun memberi hormat. "Apa bila paduka mengijinkan, hamba mohon diberi hadiah Pedang Tumpul ini." Dia menunjuk ke arah pedang di antara tumpukan pusaka itu.

"Apa? Pedang yang buruk ini pilihanmu, totiang (bapak pendeta)?" Kaisar bertanya sambil mengangkat pedang yang sangat buruk itu, kemudian menghunusnya. "Aihhh, pedang ini bukan saja gagang dan sarungnya amat sederhana, akan tetapi pedangnya sendiri tumpul dan buruk!"

"Ampun, Paduka. Keburukan melahirkan kebaikan, dan kebaikan melahirkan keburukan, keduanya tidak terpisahkan. Akan tetapi hamba lebih memilih yang buruk kulitnya namun baik isinya, dari pada yang baik kulitnya akan tetapi buruk isinya."

Kaisar Thai-cu tertawa senang. "Ha-ha-ha-ha, totiang benar. Pedang ini memang gagal pembuatannya sehingga terlihat buruk, akan tetapi kabarnya pedang ini terbuat dari pada batu bintang hijau. Nah, terimalah, totiang, dan mudah-mudahan bukan saja isinya yang baik, akan tetapi juga kegunaannya."

Kiam-sian gembira sekali, dan dia pun menerima pedang itu sambil menghaturkan terima kasih dengan sikap hormat. Kemudian mereka mendapat ijin untuk mengundurkan diri.

Sin Wan yang diajak guru-gurunya menghadap kaisar, diam-diam merasa kagum bukan main. Selama hidupnya belum pernah dia melihat gedung yang begitu indah seperti istana itu, juga melihat perabot-perabot dan barang-barang yang luar biasa sehingga dia merasa seperti dalam mimpi saja.

Ketika Sam Sian dan Sin Wan keluar dari pintu gerbang istana yang terakhir dan sedang berjalan menuju ke jalan umum, di luar pintu gerbang itu tampak seorang anak perempuan yang ditemani seorang wanita setengah tua. Agaknya kedua orang ini memang sengaja menunggu mereka keluar karena begitu melihat Sam Sian, anak perempuan itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas tanah di tepi jalan.

"Sam-wi locianpwe (tiga orang tua gagah), saya Lim Kui Siang mohon agar dapat diterima sebagai murid sam-wi."

Tentu saja tiga orang kakek itu saling bertukar pandang dan merasa heran sekali. Mereka segera mengamati anak perempuan itu. Seorang anak perempuan yang usianya sembilan atau sepuluh tahun, pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang anak bangsawan atau hartawan, dan wajahnya yang cantik manis dengan kulit putih mulus itu nampak berduka.

"Nona kecil, jangan begitu. Kami tidak menerima murid, dan jangan berlutut di tepi jalan, nanti akan menjadi tontonan orang," kata Dewa Arak sambil menghampiri anak itu hendak mengangkatnya bangun.

"Sam-wi locianpwe, sebelum sam-wi bersedia menerima saya sebagai murid maka saya akan tetap berlutut di sini sampai mati!"

Tentu saja ucapan ini membuat tiga orang kakek itu terkejut bukan kepalang. Akan tetapi mereka lantas tersenyum dan di dalam hati mereka tidak percaya bahwa anak perempuan yang jelas anak seorang bangsawan ini akan benar-benar senekat itu.

"Nona, sudah kami katakan bahwa kami tidak menerima murid. Bangkitlah dan pulanglah, nona," kata pula Dewa Arak dan kepada wanita setengah tua yang berpakaian pelayan itu dia pun berkata, “Ajaklah nonamu pulang. Tidak baik membiarkan dia bersikap seperti ini di tempat umum."

Akan tetapi wanita pelayan itu memberi hormat dan berkata dengan suara sedih. "Sudah sejak di rumah tadi saya mencoba untuk membujuk siocia (nona), bahkan paman-paman dan bibi-bibinya juga telah membujuk. Akan tetapi siocia tetap berkeras hati."

"Kalau begitu, biarkan sajalah kalau dia ingin berlutut di sini sampai mati," kata pula Dewa Arak dan dia pun memberi isyarat kepada dua orang rekannya untuk meninggalkan pintu gerbang itu, tidak mau menoleh lagi.

Sin Wan yang beberapa kali menoleh! Melihat betapa anak itu masih tetap berlutut, tidak bergerak sama sekali, dia merasa kasihan sekali. "Kenapa suhu bertiga membiarkan dia berlutut di sana terus? Bagaimana kalau dia benar-benar tidak mau bangkit lagi dan akan berlutut terus di sana sampai mati seperti yang dia katakan tadi?”

"Ha-ha-ha!” Dewa Arak berkata, "Dia anak bangsawan yang tentu sejak kecil dimanja dan setiap keinginannya harus dipenuhi. Dia hanya menggertak saja."

"Siancai... pinto (aku) belum pernah mendengar, apa lagi melihat sendiri ada anak sekecil itu begitu teguh hati akan berlutut terus sampai mati kalau permintaannya tidak dipenuhi," kata Kiam-sian si Dewa Pedang.

“Ia tentu dibuai khayal, mendengar bahwa kita telah berhasil menemukan kembali pusaka-pusaka itu, lalu dia bermimpi untuk kelak menjadi seorang pendekar wanita. Seorang anak bangsawan yang biasanya hidup mewah dan senang, mana mungkin mampu menghadapi kehidupan sulit di pertapaan?" kata pula Si Dewa Rambut Putih.

Akan tetapi Sin Wan tidak setuju dengan pendapat ketiga orang gurunya. Dia tadi melihat betapa anak perempuan itu nampak bersedih dan sinar matanya seperti orang yang putus harapan. Dalam keadaan seperti itu tidak akan aneh apa bila anak itu berlaku nekat dan benar-benar akan berlutut di sana sampai mati!

"Suhu, hati teecu merasa tidak enak. Bagaimana kalau dia benar-benar berlutut di sana sampai mati? Kalau hal itu terjadi, apakah suhu bertiga tidak akan merasa berdosa dan menyesal?"

Tiga orang kakek itu berhenti melangkah. Pintu gerbang istana sudah tertinggal jauh dan tidak nampak lagi, akan tetapi mereka menengok ke belakang seolah-olah hendak melihat apakah anak perempuan itu masih berlutut di sana.

"Hemmm, Sin Wan. Apakah engkau ingin mengatakan bahwa kami harus menerima anak itu menjadi murid?" tanya Dewa Pedang sambil menatap tajam wajah Sin Wan.

Wajah Sin Wan menjadi kemerahan dan dia menjawab, "Tentu saja keputusan itu terserah kepada suhu bertiga. Teecu hanya hendak mengatakan bahwa anak itu bersikap seperti tadi tentu ada alasan dan sebabnya yang kuat. Setidaknya, alangkah baiknya kalau suhu bertiga mengetahui sebabnya, dan sebelum kita meninggalkannya, kita dapat membujuk agar dia tidak bersikap nekat seperti itu."

Tiga orang kakek itu saling pandang. Mereka bukanlah orang-orang yang bersikap kejam dan acuh. Mereka pun tertarik melihat sikap anak perempuan itu, akan tetapi mereka tadi bersikap seakan-akan mereka acuh justru untuk menguji dan mengetahui bagaimana Sin Wan menghadapi peristiwa itu.

"Ha-ha-ha, kalau begitu biar kita tunggu dan lihat nanti. Kalau dia hanya berlutut selama semalaman ini saja, kurasa dia tidak akan mati karena itu. Besok pagi-pagi baru kita lihat apakah dia masih berada di sana. Ha-ha-ha-ha, agaknya memang sudah takdir bahwa kita harus tinggal semalam lagi di kota raja."

Mereka tidak mau bermalam di rumah penginapan. Berita tentang mereka yang berhasil menemukan kembali pusaka istana yang hilang tentu sudah tersiar sehingga jika mereka bermalam di tempat umum, tentu hanya akan menarik perhatian orang.

Dewa Arak yang mempunyai banyak pengalaman di kota raja lalu mengajak dua rekannya dan Sin Wan melewatkan malam itu di sebuah kuil tua yang sudah tak terpakai lagi, yang terletak di daerah pinggiran yang terpencil. Kuil tua itu kini menjadi tempat bermalam para pengemis dan mereka yang tidak memiliki rumah, atau pendatang dari luar kota raja yang tidak mampu membayar sewa kamar penginapan yang mahal.

Malam itu Sin Wan gelisah tidak dapat pulas. Bukan karena tempatnya yang buruk. Sejak mengikuti tiga orang gurunya, anak ini sudah terbiasa hidup seadanya, tidur di mana saja, bahkan di tempat terbuka. Bukan karena tempat itu yang membuat dia tidak dapat tidur, melainkan dia selalu teringat kepada anak perempuan itu! Akan tetapi tiga orang gurunya tidur dengan nyenyaknya!

Dia tak bermaksud melakukan sesuatu di luar tahu guru-gurunya. Akan tetapi kini mereka telah pulas dan dia tidak ingin mengganggu mereka. Maka dengan amat hati-hati Sin Wan meninggalkan ruangan di bagian belakang kuil itu, mengambil jalan dari samping supaya tidak mengganggu mereka yang tidur di ruangan tengah dan depan, lantas meninggalkan kuil itu, pergi menuju ke arah istana!

Begitu dia keluar, hujan turun rintik-rintik. Akan tetapi Sin Wan melanjutkan perjalanannya melalui pinggiran rumah ke rumah sehingga pakaiannya tidak basah kuyup. Akhirnya dia pun tiba di depan pintu gerbang istana yang menghadap jalan raya.

Anak perempuan itu masih di sana! Jantungnya seperti ditusuk karena haru dan iba. Anak perempuan itu masih berlutut seperti tadi siang! Pelayan wanita setengah tua tadi pun masih di belakangnya, dan kini memegang sebuah payung terbuka untuk memayungi anak perempuan itu, melindunginya dari air hujan rintik-rintik. Akan tetapi anak perempuan itu tidak peduli, masih berlutut padahal air hujan sudah menggenangi tempat dia berlutut sehingga kaki dan pakaiannya menjadi basah dan kotor oleh lumpur.

"Siocia marilah kita pulang dahulu. Hari sudah malam dan hujan turun. Besok boleh siocia lanjutkan lagi," berulang kali pelayan itu membujuk dengan suara hampir menangis. Akan tetapi anak perempuan itu sama sekali tidak bergerak atau menjawab.

Sebuah kereta berhenti di dekat tempat itu, lantas empat orang turun dari kereta. Mereka adalah dua pasang suami isteri yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, berpakaian seperti hartawan. Empat orang itu menghampiri si gadis kecil dan mereka pun membujuk-bujuk, mengajak anak perempuan itu pulang.

Akan tetapi anak itu tetap tidak bergerak dan tidak menjawab. Ketika dua orang pria yang menyebut diri sendiri sebagai paman kepada anak perempuan itu hendak memaksanya, menarik lengannya untuk dipaksa pulang, pelayan wanita ini lalu mencegah dengan suara memohon.

"Harap siocia jangan dipaksa. Tadi siocia telah mengatakan kepada saya bahwa kalau dia dipaksa pulang, maka begitu sampai di rumah siocia akan membunuh diri!"

Mendengar ucapan itu, dua orang pria itu terkejut dan langsung melepaskan tangan anak perempuan itu yang terus berlutut sambil menundukkan mukanya. Akhirnya, karena hujan turun semakin deras, dua pasang suami isteri itu naik ke dalam kereta dan kereta itu pun meninggalkan tempat itu. Anak perempuan itu masih terus berlutut, ada pun pembantunya masih berdiri di belakangnya sambil memayunginya.

Sin Wan tidak dapat menahan keharuan hatinya, maka dia pun nekat menempuh hujan, menghampiri anak perempuan itu. Dilihatnya anak itu masih berlutut seperti patung, sama sekali tidak bergerak dan mukanya menunduk. Biar pun wanita itu memayunginya, namun angin membuat air hujan menyiram dari samping sehingga pakaian anak itu sudah basah kuyup, demikian pula rambutnya. Air menetes-netes dari dagunya yang hampir menempel dada.

"Nona, kenapa engkau berkeras hendak menjadi murid tiga orang locianpwe itu?”

Anak perempuan itu diam saja, mengangkat muka pun tidak, apa lagi menjawab.

"Nona, tak baik menyiksa diri seperti ini. Engkau bisa masuk angin dan jatuh sakit. Kalau hanya ingin belajar ilmu silat, bukankah di kota raja ini terdapat banyak guru silat? Kenapa nona berkeras hendak belajar dari tiga orang locianpwe itu?" Sin Wan kembali bertanya, suaranya lembut. Namun yang ditanyanya tidak menjawab, bergerak pun tidak.

"Orang muda, harap jangan ganggu siocia. Siapa pun yang mengajaknya bicara, dia tidak akan mau menjawab, kecuali kalau tiga orang kakek tadi yang datang bicara dengannya,” kata pelayan yang memayungi.

Akhirnya Sin Wan meninggalkan anak itu, dalam hatinya dia mencela tiga orang gurunya yang dianggap kejam dan acuh terhadap seorang anak yang mempunyai tekad demikian hebatnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Sin Wan yang malam itu sama sekali tidak tidur, sudah menyambut tiga orang gurunya yang baru bangun dengan permintaan agar mereka segera menengok anak perempuan yang berlutut di depan pintu gerbang istana!

"Marilah, suhu. Kasihan anak perempuan yang berlutut semalam suntuk di sana, padahal semalam hujan turun...”

Dewa Arak tertawa. "Ha-ha-ha. bagaimana engkau tahu bahwa dia masih berada di sana, Sin Wan? Siapa tahu tadi malam dia sudah pulang dan tidur nyenyak di kamarnya yang indah dan hangat."

"Tidak suhu. Memang semalam suntuk dia terus berlutut di sana, Maaf, tadi malam teecu sudah menengok ke sana. Teecu tidak dapat memberi tahu kepada suhu bertiga karena suhu sudah tidur pulas. Bahkan teecu telah membujuknya supaya dia mau menghentikan kenekatannya, tetapi sia-sia. Dia tak akan mau bangkit sebelum suhu bertiga datang dan mengajaknya seperti yang dikatakannya kemarin."

Tentu saja tiga orang sakti sudah mengetahui semua ini. Semalam mereka menggunakan kepandaian mereka untuk membayangi murid mereka sehingga mereka pun telah melihat semuanya. Kalau kini mereka berpura-pura, hal itu mereka lakukan untuk menguji sampai di mana kejujuran murid mereka.

"Hemm, baiklah. Sekarang marilah kita pergi ke sana," kata Dewa Rambut Putih dan Sin Wan ingin bersicepat, bahkan berjalan paling dulu untuk segera tiba di pintu gerbang itu.

Benar saja. Anak perempuan itu masih berlutut di situ! Pelayan wanita juga masih di sana, menangis! Dan mulailah banyak orang datang merubung karena tentu saja amat menarik melihat seorang anak perempuan bangsawan berlutut di sana, apa lagi mendengar bahwa anak itu berlutut di situ sejak kemarin siang, dan semalam bahkan berhujan-hujan di situ...!