Social Items

SERANGAN paku ke arah tubuh bagian atas lawan itu merupakan gertakan untuk mengalihkan perhatian saja, karena begitu Liong-li memutar pedang menangkis, Kui-bo sudah meloncat ke depan, tubuhnya merendah dan pedangnya meluncur, menyapu ke arah kedua kaki Liong-li. Serangan tiba-tiba ini amat berbahaya karena pada saat itu, Liong-li sedang memutar pedang menangkis paku-paku itu.

Namun, Liong-li tidak pernah lengah dan begitu nampak sinar pedang menyapu ke arah kakinya, dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat ke atas, berjungkir balik di udara dan tubuh itu meluncur turun bagaikan seekor naga, kepala di depan dan didahului putaran pedangnya menyerang ke arah kepala Kui-bo. Nenek iblis terpaksa menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

“Tranggg...!”

Tubuh Liong-li terpental dam wanita ini berjungkir balik beberapa kali baru tubuhnya meluncur turun kembali ke atas lantai di depan Tiat-thouw Kui-bo. Nenek itu sendiri terhuyung ke belakang dan dari akibat benturan pedang itu saja dapat diketahui bahwa dalam hal kekuatan sin-kang, mereka berimbang! Hanya Liong-li lebih pandai mengatur keseimbangan dirinya sehingga akibat benturan tenaga itu dapat diatasinya dengan baik, membuat gerakannya nampak indah sedangkan nenek itu terhuyung seperti hendak jatuh.

Tiat-thouw Kui-bo menjadi semakin marah. Ia memang amat membenci Liong-li. Pendekar wanita itu bersama Pek-liong telah membunuh dua orang rekannya, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam) di daerah Lok-yang, dan Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa) di Bukit Merak daerah Po-yang. Seperti juga ia dan Lam-hai Mo-ong, dua orang rekannya itu adalah anggauta Kiu Lo-mo, maka tentu saja, Kui-bo mendendam kepada Liong-li.

Kalau selama ini ia dan Lam-hai Mo-ong belum bertindak melakukan pembalasan, hal itu adalah karena ia sedikit banyak merasa jerih terhadap pendekar wanita itu. Melakukan penyerangan ke rumah pendekar wanita itu amat berbahaya karena rumah itu diperlengkapi alat-alat rahasia dan perangkap yang sukar diatasi. Ia dan Mo-ong hanya menanti kesempatan baik saja.

Ketika melihat Liong-li di istana, kesempatan itu muncul, akan tetapi ia dan Mo-ong sibuk dengan urusan yang lebih besar, yaitu mencari kekuasaan di istana. Kini, kesempatan itu tiba, akan tetapi keadaannya terjepit dan terkepung, bahkan disaksikan oleh Kaisar dan Permaisuri. Tiada jalan lain baginya kecuali melawan dengan nekat dan mati-matian.

“Hyaaattt...!” Nenek itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya diputar cepat, berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ke arah Liong-li. Namun, wanita cantik berpakaian serba hitam itu menyambut dengan gerakan tenang dan mantap. Berkali-kali kedua pedang itu bertemu dan menimbulkan pijar bunga api.

Keduanya sudah saling serang dengan hebatnya. Hanya ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya dapat mengikuti gerakan mereka yang amat cepat. Bagi mereka yang tidak mengenal ilmu silat, dua orang .yang sedang bertanding itu seolah-olah merupakan dua bayangan yang berkelebatan dan menjadi satu digulung dua sinar pedang, sukar dibedakan mana Liong-li mana Kui-bo.

Pada suatu saat, ketika Liong-li menyerang dengan bacokan pedangnya dari atas menyambar ke arah kepala lawan. Kui-bo menyambutnya dengan tangkisan ke atas. Kedua pedang bertemu dan melekat karena pengerahan sin-kang kedua pihak. Saat kedua pedang melekat di udara itu, Kui-bo menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Liong-li. Pukulan maut ini berbahaya sekali karena mengandung hawa beracun.

Namun, Liong-li sudah siap dan ia sudah mengerahkan tenaga istimewa yang membuat tangan kirinya menjadi merah. Itulah Hiat-tok-ciang (Tangan Racun Darah), satu diantara ilmu-ilmu yang dikuasai Liong-li.

“Desss...!” Dua buah telapak tangan bertemu, keduanya mengandung pukulan beracun dan akibatnya, Kui-bo terhuyung ke belakang sambil menyeringai karena telapak tangan kirinya terasa panas. Sebaliknya, Liong-li juga tergetar hebat dan keduanya kini sudah siap untuk melanjutkan pertandingan mati-matian itu.

Melihat keadaan rekannya agaknya tidak akan dapat menang dengan mudah, tentu saja Lam-hai Mo-ong merasa khawatir sekali. Satu-satunya kawan yang dapat diandalkannya menghadapi Pek-liong dan Liong-li hanyalah Kui-bo. Anak buahnya, walaupun memiliki kepandaian cukup tinggi, bukanlah tandingan sepasang pendekar itu. Maka, diapun sudah meloncat ke depan Pek-liong.

“Pek-liong-eng, mari kita mengadu nyawa, bukan hanya menjadi penonton saja!” teriaknya dan diapun sudah melolos rantai bajanya.

“Hemm, majulah, Mo-ong,” kata Pek-liong dan sekali tangan kanannya bergerak, nampak sinar putih berkelebat dan Pedang Naga Putih telah berada di tangannya.

Lam-hai Mo-ong tidak banyak cakap lagi, segera mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang dan diapun sudah memutar rantai bajanya dan menyerang dengan dahsyat. Namun, Pek-liong sudah siap siaga dan dengan lincah sekali pendekar ini sudah mengelak dari sambaran rantai dan membalas dengan tusukan pedangnya.

Namun, lawannya adalah seorang datuk yang lihai, dan dapat pula menghindarkan tusukan pedang dengan mudah sambil menggerakkan rantainya menyapu ke arah kaki Pek-liong yang meloncat ke atas. Perkelahian mati-matian segera terjadi antara Lam-hai Mo-ong dan Pek-liong-eng.

Kini para penonton mengagumi dua perkelahian yang amat hebat. Kaisar sendiri walaupun pernah mempelajari ilmu silat di waktu mudanya, menjadi pening juga menyaksikan gerakan empat orang itu yang terlalu cepat baginya. Namun, para jagoan istana dan para perwira memandang penuh kagum. Belum pernah mereka menyaksikan pertandingan silat yang demikian hebatnya.

“Kui-bo, kita bertukar lawan!” tiba-tiba Mo-ong berteriak, rantainya kini menyeleweng dan menyambar ke arah Liong-li ketika dua orang wanita yang sedang bertanding itu tiba di dekatnya.

Tiat-thouw Kui-bo agaknya sudah mengenal benar siasat rekannya itu, maka tubuhnya sudah mencelat ke kanan dan pedangnya menyerang Pek-liong. Diserang secara mendadak oleh musuh yang berganti tempat itu, baik Liong-li maupun Pek-liong menjadi agak bingung dan hampir saja Liong-li terkena sambaran rantai baja.

Biarpun ia sudah mengelak dengan cepat membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan, tetap saja ia terhuyung dan kini dikurung oleh gulungan sinar rantai yang panjang. Akan tetapi, wanita perkasa itu segera dapat menguasai dirinya, memutar Hek-liong-kiam dan dapat mengimbangi rangkaian serangan lawan. Demikian pula Pek-liong sempat terkejut dan terdesak oleh pedang Kui-bo, namun diapun segera dapat mengembalikan keseimbangannya.

Akan tetapi, beberapa kali kakek dan nenek iblis itu bertukar tempat dan setiap mereka berganti tempat, Pek-liong dan Liong-li dibuat bingung dari terdesak. Agaknya memang pertukaran tempat yang berganti-ganti itu merupakan siasat kakek dan nenek itu.

“Pek-liong, sudah tiba saatnya kita mainkan Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti)!” tiba-tiba Liong-li berseru dan iapun meloncat ke dekat Pek-liong dan mereka saling membelakangi.

Kini baru kakek dan nenek itu tahu bahwa siasat mereka tadi hanya memancing dua orang itu mengeluarkan ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama, yang merupakan inti dari kehebatan sepasang naga putih dan naga hitam itu! Kalau saja Mo-ong menantang Pek-liong untuk bertanding pula, belum tentu mereka akan mengeluarkan ilmu ini.

Dan begitu Pek-liong dan Liong-li memainkan Sin-liong-kiam yang mereka ciptakan bersama, dua orang kakek dam nenek itupun menjadi terkejut dan terdesak hebat. Ilmu pedang itu memang merupakan ilmu pedang gabungan dari semua kepandaian mereka, dan dengan bekerja sama mereka itu seolah-olah hanya mempunyai satu hati, satu pikiran dan satu perasaan!

Gulungan sinar pedang putih dan hitam itu saling membantu, saling memperkuat dan mengisi kekosongan masing-masing dan biarpun lawan mereka merupakan dua orang datuk yang lihai sekali. Kini dua orang itu terdesak dan terkepung gulungan sinar pedang hitam putih dan mereka hanya dapat menangkis saja tanpa sempat membalas karena mereka masih bingung oleh gerakan dua batang pedang yang saling bantu dengan gerakan aneh dan hebat itu.

Agaknya, kalau saja dua orang pendekar ini tidak bekerja sama dengan ilmu pedang ciptaan mereka, kiranya tidak akan mudah bagi mereka mengalahkan lawan masing-masing, karena kekuatan mereka sesungguhnya seimbang. Mereka memang menang cepat karena memang masih muda, akan tetapi kemenangan ini diimbangi oleh kemenangan pihak lawan dalam hal pengalaman.

Setelah mereka bekerja sama, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Hal ini bukan hanya karena ilmu pedang Sin-liong-kiam-sut, memang ciptaan mereka, namun antara Pek-liong dan Liong-li memang terdapat hubungan yang amat aneh. Mereka itu sekali saling pandang saja seperti telah dapat membaca isi hati masing-masing, dan begitu mereka berdekatan, mereka seperti sudah saling bantu dan jalan pikiran mereka searah, juga perasaan mereka sama peka terhadap rekannya.

Inilah kelebihan Pek-liong dan Liong-li yang tidak ada pada kedua orang lawan mereka sehingga mereka mampu membuat Kui-bo dan Mo-ong menjadi repot sekali. Ketika Kui-bo terhuyung oleh sambaran pedang Pek-liong, kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk menerjang ke depan. Pedangnya diputar cepat ketika ia melihat Kui-bo yang sudah kewalahan itu menangkis sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pedang di tangan Kui-bo terlepas.

Kui-bo menjadi terkejut dan marah, tangan kirinya bergerak dan tiga batang paku beracun terakhir yang masih dimilikinya meluncur dan menyambar ke arah Liong-li. Liong-li sudah menduga akan hal ini, pedangnya berkelebat menangkis dengan pukulan sehingga tiga batang paku itu membalik dan menyambar ke arah Tiat-thouw Kui-bo sendiri.

“Aughhh...!” Nenek itu kena disambar pakunya sendiri yang tepat mengenai lehernya. Ia terjengkang dan berkelonjotan sekarat.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Lam-hai Mo-ong menjadi gentar. Dia mencoba untuk meloncat ke kiri, untuk melarikan diri, akan tetapi dia berhadapan dengan tombak para perajurit pengawal. Dia memutar rantai mengamuk dan robohlah dua orang perajurit. Akan, tetapi Pek-liong sudah menghadapinya lagi.

“Iblis tua, jangan pengecut! Engkau hendak lari ke mana?” Pek-liong sudah mendesak dengan pedangnya.

Lam-hai Mo-ong menjadi semakin panik. Dia telah membunuh dua orang perajurit, maka dia tahu bahwa tentu tidak ada ampun baginya. Melihat Pek-liong menyerangnya, diapun meloncat ke belakang, kemudian sambil mengambil ancang-ancang, dia bahkan melompat tinggi ke arah Pek-liong dengan rantai baja diputar.

Melihat ini, Pek-liong juga meloncat menyambutnya. Nampaknya ke dua orang itu hendak berbenturan di udara. Akan tetapi, akhirnya tubuh kakek itu terpelanting dan ketika tiba di atas tanah, dia terbanting keras. Rantainya terlempar dan kedua tangannya mendekap perut, matanya terbelalak dan ternyata perutnya robek oleh pedang Pek-liong. Hanya sebentar kakek itu sekarat, lalu tewas seperti rekannya, Tiat-thouw Kui-bo yang telah tewas lebih dahulu karena paku beracun menancap di tenggorokannya.

Melihat betapa dua orang pimpinan mereka itu tewas, gerombolan penjahat itu menjadi ketakutan. Agaknya tadi Pek-mau-kwi Ciong Hu dan dua orang bersaudara Huang-ho Siang-houw sudah saling berbisik mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Begitu melihat Lam-hai Mo-ong roboh, mereka bertiga sudah mencabut pedang dan serentak mereka meloncat ke arah tempat duduk permaisuri Bu Cek Thian! Mereka tadi sudah mengatur siasat bahwa untuk dapat meloloskan diri, mereka harus dapat menyandera seorang penting.

Kaisar sendiri terjaga kuat, akan tetapi mereka melihat betapa permaisuri hanya dilindungi oleh dua orang pengawal wanita, dua orang gadis kembar. Mereka mengira bahwa tentu mereka akan dapat dengan mudah menyandera permaisuri dan mereka akan memaksa kaisar untuk membebaskan mereka, menukar nyawa mereka dengan keselamatan sang permaisuri.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika mereka meloncat dekat Permaisuri Bu Cek Thian, dua orang gadis kembar yang menjadi pengawal pribadi permaisuri itu, menyambut Huang-ho Siang-houw dengan pedang mereka dan gerakan dua orang gadis kembar ini amat cepat dan kuat! Segera Huang-ho Siang-houw terlibat dalam perkelahian pedang melawan dua orang gadis kembar ini, sedangkan Pek-mau-kwi sendiri ternyata tahu-tahu dihadang oleh Liong-li!

Pek-mau-kwi menyerang mati-matian karena maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, yang baru saja merobohkan Tiat-thouw Kui-bo. Akan tetapi, memang tingkatnya kalah jauh dibandingkan Liong-li, maka dalam beberapa gebrakan saja Pek-mau-kwi roboh dengan dada tertembus pedang Naga Hitam.

Dua orang Huang-ho Siang-houw juga repot menghadapi sepasang gadis kembar murid-murid Bu-tong-pai yang lihai itu. Merekapun roboh dan tewas oleh pedang Bi Cu dan Bi Hwa. Sementara itu, melihat robohnya tiga orang pembantu utama pimpinan mereka, belasan orang anak buah gerombolan Si Bayangan Iblis sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyerah. Mereka semua ditangkap dan diseret ke dalam penjara untuk diadili kelak.

Pek-liong dan Liong-li segera memasuki pintu rahasia, diikuti oleh para jagoan istana. Dan di dalam ruangan di bawah tanah itu mereka melihat Cian Hui dan Sui In yang roboh pingsan, juga dua orang hwesio Gwat Kong Hosiang dan Kwan Seng Hwesio yang terluka parah. Seperti dengan sendirinya, Liong-li menghampiri Cian Hui dan Pek-liong menghampiri Sui In. Setelah memeriksa dan mendapatkan kenyataan bahwa Cian Hui dan Sui In menderita luka dalam karena pukulan beracun, Liong-li dan Pek-liong menotok beberapa jalan darah di tubuh mereka sehingga mereka siuman, lalu kedua orang pendekar itu memapah mereka yang terluka keluar dari ruangan bawah tanah.

Melihat Kaisar dan Permaisuri sendiri berada di kuil yang menjadi medan perkelahian itu, Cian Hui yang terluka parah lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti Sui In dan juga Pek-liong dan Liong-li. Kaisar tersenyum, gembira dan memuji-muji mereka berempat.

Ketika mendengar betapa Cian Hui dan Sui In terluka pukulan beracun dan bahwa Liong-li dan Pek-liong hendak mengobati mereka, Kaisar memerintahkan untuk memberi kamar-kamar untuk tamu agung bagi mereka. Juga dia memerintahkan permaisuri untuk membagi-bagi hadiah yang layak bagi mereka berempat yang sudah berjasa membongkar rahasia gerombolan Si Bayangan Iblis, bahkan telah membasmi gerombolan itu. Kemudian Kaisar dan Permaisuri kembali ke istana.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 19 karya kho ping hoo

Semalam suntuk, baik Pek-liong maupun Liong-li, di kamar masing-masing dalam istana, kamar yang besar dan indah, mengerahkan sin-kang mereka dan mengobati Cian Hui dan Sui In. Mereka melakukan cara pengobatan yang sama. Cian Hui duduk bersila di atas pembaringan, Liong-li duduk di belakangnya dan menempelkan telapak kedua tangannya di punggung perwira itu dan menyalurkan sin-kang untuk mengusir hawa beracun dan memulihkan tubuh yang terluka.

Demikian pula cara Pek-liong mengobati Sui In di kamarnya. Bagi orang lain, tentu terasa janggal dan aneh melihat betapa Pek-liong yang mengobati Sui In dan bukan Liong-li, dan demikian sebaliknya Liong-li yang mengobati Cian Hui. Akan tetapi bagi sepasang pendekar itu, hal ini tidak ada halangannya. Liong-li memang lebih dekat dengan Cian Hui, sedangkan Pek-liong datang ke kota raja bersama Sui In.

Pada keesokan harinya, dua orang yang terluka itu sudah hampir sembuh. Hawa beracun sudah dibersihkan dan mereka tinggal beristirahat beberapa hari saja, maka mereka akan sembuh sama sekali. Di kamar Liong-li, Cian Hui memegang kedua tangan Liong-li dengan pandang mata terharu.

“Li-hiap, tanpa bantuanmu bukan saja gerombolan Si Bayangan Iblis tidak mungkin dapat dibasmi, bahkan akupun tentu sudah tewas. Bagaimana aku dapat membalas budimu selain mengabdi kepadamu selama hidupku. Li-hiap, sekali lagi kuulangi permohonanku kepadamu. Sudilah kiranya engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi isteriku, dan aku akan menumpahkan seluruh perasaan kasih sayang dan baktiku kepadamu.”

Liong-li tersenyum dan dengan lembut melepaskan kedua tangannya yang digenggam oleh perwira yang gagah perkasa itu. Akan tetapi ia masih duduk di atas pembaringan berhadapan dengan perwira itu. Senyumnya lembut dan manis sekali.

“Ciang-kun, sudah berkali-kali sejak malam tadi engkau mengajukan lamaran dan sudah berkali-kali pula terpaksa aku menolaknya. Aku tahu, setiap orang wanita yang bijaksana, akan merasa bangga dan berbahagia sekali dapat menjadi isterimu. Engkau seorang pria yang gagah perkasa dan setia, dan engkau seorang pria yang hebat. Akan tetapi maafkan, aku tidak dapat mengikatkan diriku dalam suatu pernikahan. Aku ingin bebas. Terus terang saja Ciang-kun, akupun kagum kepadamu, dan aku suka kepadamu. Kalau engkau menghendaki diriku, Ciang-kun, akupun akan menyambutnya dengan gembira. Akan tetapi pernikahan? Tidak! Aku tidak ingin terikat.”

Cian Hui mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang cantik jelita itu dan dalam pandang matanya terbayang keheranan dan keraguan. “Akan tetapi, mengapa, li-hiap? Kalau engkau tidak menolakku, berarti engkau cinta pula kepadaku. Kenapa tidak dengan pernikahan?”

Liong-li tersenyum lagi dan menggeleng kepalanya. “Panjang ceritanya, akan tetapi cukup kalau kau ketahui bahwa aku tidak berharga menjadi isterimu, Cian Ciang-kun. Aku seorang petualang, hidupku penuh musuh penuh ancaman bahaya...”

“Kalau aku menjadi suamimu, aku akan melindungimu, li-hiap. Aku akan mengubah hidupmu, menjadi seorang ibu rumah tangga yang hidup tenang dan tenteram, penuh kasih sayang dari suami dan anak-anakmu...”

Liong-li tertawa, tertawa lepas tanpa menutup mulutnya seperti biasanya para wanita bersopan-sopan. Akan tetapi karena kewajarannya itu, dalam pandangan Cian Hui yang sudah tergila-gila, Liong-li nampak semakin menarik dan menggairahkan.

“Ha-ha, Ciang-kun. Membayangkan aku menjadi seperti itu sungguh membuat aku merasa ngeri! Rasanya aku menjadi seperti boneka hidup. Hidup penuh damai dan tenteram, tanpa tantangan tanpa ancaman. Aih, betapa menjemukan kehidupan seperti itu bagiku, Ciang-kun! Tidak, terus terang saja, aku suka padamu, aku suka bercintaan denganmu, akan tetapi hanya itu, tidak ada ikatan cinta kasih yang membuat kita menjadi suami isteri. Tidak, aku tidak dapat menikah dan menjadi isterimu, Ciang-kun. Aku tidak cinta padamu seperti itu, aku hanya suka kepadamu sebagai seorang pria yang jantan dan mengairahkan.”

Cian Hui terbelalak. “Kalau begitu, engkau telah mencinta pria lain, Li-hiap!”

Sepasang alis Liong-li yang indah itu berkerut. “Tidak tahulah.”

“Ah, sekarang aku mengerti! Li-hiap, engkau tentu mencinta Pek-liong-eng! Dapat kurasakan itu, dapat kulihat dari sikap kalian. Dan hal itu tidak aneh. Li-hiap kalian saling mencinta!”

Kerut merut di antara sepasang alis itu makin mendalam. “Pek-liong? Ah, tentu saja aku sayang padanya, aku dan dia adalah satu hati satu pikiran, Ciang-kun. Aku mau mengorbankan nyawa untuknya dan diapun demikian. Hal itu kami anggap wajar.”

“Kalau begitu kenapa li-hiap tidak menikah dengan dia? Pasangan yang amat serasi! Benar, kalian saling mencinta dan kalian harus menjadi suami isteri...”

“Cukup! Tidak ada yang mengharuskan kami!! Dan hubungan kami bahkan lebih akrab dari pada hanya sepasang kekasih. Sudahlah, engkau tidak perlu mencampuri urusan kami. Aku masih bersedia menyambutmu kalau engkau hendak membuktikan kasih sayangmu kepadaku, Ciang-kun.”

Wanita itu memandang dan tersenyum dengan sikap menantang dan penuh daya pikat. Sejenak jantung dalam dada Cian Hui terguncang dan ingin sekali dia menubruk dan mendekap wanita yang amat menggairahkan hatinya itu. Namun, dia menahan diri, bahkan dia meloncat turun dari atas pembaringan.

“Li-hiap, kauanggap aku ini laki-laki yang tidak dapat menghargai wanita? Li-hiap, aku cinta kepadamu. Cinta yang tumbuh dari sanubariku, bukan sekedar hendak melampiaskan nafsu berahi saja. Aku cinta padamu, ingin membahagiakanmu, ingin berdampingan selamanya denganmu, ingin menjadi ayah anak-anakmu. Aku menghormatimu, kagum kepadamu dan lebih baik aku mati dari pada harus menghinamu dengan perbuatan yang tidak sopan. Li-hiap, curahan cinta kasih hanya dapat kulakukan jika li-hiap telah menjadi isteriku.”

Wajah Liong-li berubah merah. Baru sekarang ia bertemu seorang pria yang menolak begitu saja, pada hal ia melakukannya dengan suka rela, dengan senang hati. Sungguh perwira ini seorang pria yang hebat dan ucapannya yang lembut itu seperti pedang menikam perasaannya, membuat ia merasa malu, merasa rendah dan kotor. Akan tetapi, ia menyimpan perasaan itu dan iapun tersenyum cerah.

“Lengkaplah sudah segala sifat baik pada dirimu, Ciang-kun. Sungguh aku merasa kagum sekali dan ini juga membuktikan betapa jauh bedanya antara kita, dan betapa aku sungguh tidak patut menjadi isterimu. Nah, kalau begitu, selamat berpisah dan selamat tinggal, Cian Ciang-kun. Hadiah dari Sribaginda untukku kuberikan kepadamu. Kauterimalah sebagai tanda peringatan dariku. Aku pergi, Ciang-kun!”

“Li-hiap...!” Cian Hui berseru, akan tetapi wanita itu hanya menoleh sambil tersenyum dan mengedipkan matanya, tanda bahwa ia sama sekali tidak menyesal atau marah. Cian Hui terhenyak di kursi dan termenung, berulang kali menghela napas panjang dan dia merasa jantungnya kosong dan sunyi.

Sementara itu, di kamar lain yang tidak begitu jauh dari situ, kamar yang sama indahnya, Pek-liong juga duduk berhadapan di atas pembaringan dengan Cu Sui In. Janda muda ini sudah sembuh dan kini ia memandang pendekar itu dengan sinar mata penuh kagum dan terima kasih.

“Tai-hiap, sungguh besar budi yang telah tai-hiap limpahkan kepadaku. Karena bantuan tai-hiap maka dendamku dapat terbalas, dan kalau tidak ada tai-hiap yang menolongku berulang kali, tentu aku sudah tewas di tangan orang jahat. Tai-hiap, bagaimana aku dapat membalas budimu yang besar itu?”

Pek-liong menjulurkan lengan dan tangannya menyentuh dagu yang halus meruncing manis itu. “Tidak ada budi tidak ada balas, adik yang manis. Aku senang sekali dapat membantumu. Engkau seorang wanita muda yang bernasib malang, masih muda sudah menjadi janda. Engkau cantik jelita dan manis, bahkan memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, cerdik dan berani. Aku suka sekali kepadamu, adik Sui In.”

Wajah wanita itu menjadi kemerahan. Memang sejak pertama kali bertemu dengan pendekar ini, ia sudah jatuh hati. Pria ini terlalu hebat dan ia kagum sekali. “Tai-hiap terlalu memuji. Sebaliknya, tai-hiap adalah seorang pendekar besar yang amat mengagumkan. Tai-hiap, aku ingin sekali membalas semua budimu. Kalau tai-hiap sudi menerimaku, aku ingin melayanimu selama hidupku.”

“Aih, apa maksudmu, adik Sui In?” Pek-liong menyentuh kedua pundak Sui In dan wanita itupun merebahkan diri dalam dekapannya, menyandarkan muka di dada yang bidang itu.

“Tai-hiap, aku akan berbahagia sekali untuk menjadi sisihanmu, menjadi isterimu, atau selirmu, atau pelayanmu...”

Pek-liong mengangkat muka yang bersandar di dadanya itu dan mengecup bibirnya. Menerima ciuman ini, Sui In memejamkan matanya dan langit bagaikan runtuh baginya. Ia sudah siap menyerahkan segala-galanya untuk pria yang dikaguminya dan dicintanya itu.

“Adik Sui In, apa yang kaukatakan itu, akupun kagum dan suka padamu, engkau seorang wanita yang hebat. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mau terikat oleh siapapun. Kalau kita berdua saling menyukai dan dengan suka rela menyerahkan diri untuk saling mencinta, aku akan senang sekali. Akan tetapi aku tidak mau diikat dengan pernikahan, atau dengan ikatan apapun. Setelah ini, kita harus berpisah dan mengambil jalan masing-masing, dan semua ini hanya merupakan kenangan indah saja bagi kita.”

Mendengar ini, Sui In merasa seperti dilempar kembali ke bumi dari langit ke tujuh. Ia membelalakkan matanya, memisahkan diri dari dada Pek-liong, menghadapi pemuda itu dan memandang seperti orang yang tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

“Tai-hiap, engkau tidak... tidak cinta padaku...?”

Pek-liong tersenyum. “Aku suka padamu, aku cinta padamu, akan tetapi bukan cinta yang harus dilanjutkan dengan ikatan.”

“Ahhh... ahhh...!” Wanita muda itu terisak dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis lirih.

Pek-liong mengerutkan alisnya dan diapun turun dari atas pembaringan. “Adik Sui In, kenapa engkau menangis?”

Dari balik kedua tangannya, Sui In menahan isaknya. “Tai-hiap, maafkan aku... Kusangka tai-hiap mencintaku seperti aku mencintamu. Aku mengharapkan untuk dapat menghabiskan sisa hidupku di sampingmu. Aku dengan bahagia akan menyerahkan diri, menyerahkan segalanya untukmu, bukan sekedar membalas budi, melainkan karena aku... aku cinta padamu. Akan tetapi tai-hiap tidak suka menerimaku...”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Aku tahu sekarang, Sui In. Engkau memang seorang wanita yang amat baik, juga terhormat. Dan aku akan mengutuk diri sendiri kalau menyeretmu melakukan hal yang tidak kausukai, yang akan kauanggap sebagai suatu perbuatan aib. Aku seorang petualang, adik In, aku tidak ingin terikat dengan pernikahan, aku ingin hidup sendiri.

“Nah, selamat tinggal, adik Sui In, dan jangan menangis. Aku semakin kagum dan hormat padamu. Sampaikan hormatku kepada Sribaginda dan kalau aku diberi hadiah, biarlah hadiah itu untuk engkau dan Cian Ciang-kun. Kalian lebih berhak menerimanya!”

“Tai-hiap...!” Akan tetapi Pek-liong sudah meloncat keluar dan lenyap.

Sui In menangis sedih. Ia merasa kehilangan. Ia tidak mengharapkan hadiah. Ia hanya ingin dapat hidup di samping pendekar yang dikagumi dan dicintanya itu, untuk selamanya. Akan tetapi pendekar itu menolaknya! Pek-liong mau bermesraan dengannya, akan tetapi tidak mau menikahinya. Dan pendekar itu demikian jujur, berterus terang, dan sama sekali tidak mau menjamahnya lagi setelah ia mengharapkan ikatan. Padahal, sekali saja pendekar itu merangkulnya, ia akan jatuh bertekuk lutut, dengan atau tanpa janji ikatan.

“Tai-hiap ah, tai-hiap...” Ia terhuyung keluar dari dalam kamar itu, untuk mencarinya, untuk mobon kepada Pek-liong agar mengasihani dirinya. Akan tetapi, ia tidak melihat pendekar itu di luar. Hatinya terasa perih dan kosong, dan ia tentu akan terhuyung roboh kalau saja tidak ada lengan yang kuat merangkul pinggangnya. Ia menoleh dan melihat bahwa yang merangkulnya sehingga tidak sampai roboh itu adalah Cian Hui!

“Tenangkan hatimu, In-moi... kulihat Tan tai-hiap sudah pergi...”

Karena kepalanya terasa pening, Sui In terpaksa bersandar kepada perwira itu dan membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam kamarnya kembali. “Duduklah dan tenangkan dirimu, agaknya lukamu belum sembuh, In-moi,” kata perwira itu dan membantu Sui In duduk di atas pembaringan. Dia sendiri duduk di atas kursi yang berdekatan.

“Dia... dia menolakku... dia tidak mau menerima pengabdianku... dia tidak cinta padaku...” seperti mengigau Sui In berbisik.

Cian Hui tersenyum pahit. Betapa sama nasib wanita ini dengan dia. Wanita ini seorang janda, diapun seorang duda. Wanita ini agaknya tidak diterima ketika menyatakan ingin menjadi isteri Pek-liong dan dia sendiri ditolak Liong-li yang tidak mau terikat dengannya!

“In-moi, tenangkan hatimu. Mereka itu bukanlah orang-orang biasa seperti kita. Mereka adalah petualang-petualang, pendekar-pendekar yang tidak mau terikat dengan pernikahan, tidak mau terkurung dalam rumah tangga.”

Sui In mengangkat muka menoleh ke arah perwira itu sambil menyusut air matanya. “...mereka...?” tanyanya.

Sambil tersenyum pahit perwira itu mengangguk. “Benar, mereka, In-moi. Li-hiap Hek-liong-li juga menolak lamaranku untuk menjadi isteriku! Mereka orang-orang aneh, In-moi, berbeda dengan kita...”

Sui In terbelalak, tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Ahhh... betapa sama nasib kita. Kalau begitu... mereka itu, mereka saling mencinta!”

Cian Hui mengangguk. “Aku yakin begitu. Akan tetapi mereka orang-orang aneh, cinta merekapun aneh.”

Dua orang yang bernasib sama ini saling pandang, kemudian keduanya tersenyum. Mereka sama maklum dan mereka merasa terhibur mendengar nasib yang lain, seolah-olah dalam penderitaan dan kekecewaan mereka, ada teman yang senasib, ada kawan dan ini merupakan hiburan besar. Mereka saling menghibur dan melihat betapa masa depan mereka cerah, karena mereka saling merasa kasihan dan timbul suatu niat ingin saling mengisi kekosongan hati masing-masing. Yang seorang duda, seorang lagi janda, keduanya tidak mempunyai anak. Apa lagi yang menghalang?

Dua orang pengawal datang mengetuk pintu dan menyampaikan perintah kaisar yang memanggil mereka berdua, juga memanggil Pek-liong dan Liong-li. Mereka segera menghadap, melaporkan tentang kepergian dua orang pendekar itu dan betapa mereka itu meninggalkan pesan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan jasa.

Kaisar merasa kagum sekali dan melimpahkan semua anugerahnya kepada Cian Hui dan Sui In. Duda dan janda ini meninggalkan istana dengan hadiah mereka, dengan hati yang gembira dan penuh harapan yang gemilang.

Mereka tidak tahu bahwa hancurnya gerombolan Si Bayangan Iblis itu mendatangkan keuntungan yang besar sekali kepada satu orang, yaitu Permaisuri Bu Cek Thian! Peristiwa itu membuat para pangeran menjadi jera dan tidak ada lagi yang berani memperebutkan pengaruh di istana. Dengan demikian maka kekuataan Bu Cek Thian menjadi semakin besar.

Sementara itu, jauh di luar kota raja, Pek-liong dan Liong-li menunggang kuda berdampingan. Mereka menjalankan kuda dengan perlahan dan sejak mereka bertemu di pintu gerbang istana, Liong-li melihat betapa wajah Pek-liong agak muram, tidak berseri seperti biasanya. Akan tetapi mereka tidak banyak bicara dan mereka keluar istana, membeli dua ekor kuda dan melanjutkan perjalanan naik kuda keluar dari kota raja.

“Bagaimana dengan Cu Sui In?” tiba-tiba Liong-li bertanya, untuk memancing omongan.

Tanpa menoleh Pek-liong balas bertanya, “Ada apa dengannya?”

“Apakah ia merupakan seorang kekasih yang menyenangkan?”

Pek-liong menoleh dan pandang mata mereka bertemu sejenak, lalu Pek-liong menunduk kembali. “Ia seorang wanita yang hebat, wanita yang terhormat, aku kagum padanya.”

Wajah Liong-li herseri dan mulutnya membayangkan senyum ditahan, ia sudah mengenal isi hati rekannya itu seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Pek-liong menyebut Sui In wanita terhormat, dan wajahnya muram, dan ia teringat akan pengalamannya sendiri dengan Cian Hui.

“Ahh? Ia... ia menolak cintamu?”

“Tidak, ia hanya seorang wanita terhormat. Ia ingin menjadi isteriku, terpaksa menolak dan kami berpisah sebagai sahabat, bukan sebagai kekasih. Engkau tentu lebih berhasil.”

Liong-li tertawa sampai terkekeh-kekeh dan mula-mula Pek-liong memandang heran dengan alis berkerut, akan tetapi tidak lama kemudian diapun tertawa bergelak karena dari sikap wanita itu diapun dapat menjenguk isi hatinya dan dapat menduga apa yang telah terjadi.

“Ha-ha-ha, diapun menolak karena ingin melamarmu menjadi isterinya?”

Liong-li mengangguk. “Nasib kita sama. Baru sekali ini aku ditolak seorang pria.”

“Akupun demikian. Akan tetapi sungguh mengagumkan. Dia pria dan dia sungguh cinta padamu. Akan tetapi dia mampu menolakmu. Hebat!”

Liong-li menggeleng kepalanya, “Tidak ada yang hebat. Dia pria yang terikat oleh hukum dan peraturan, tidak bebas seperti kita. Hanya ada sedikit ucapannya yang sampai sekarang menjadi pemikiran.”

“Ucapan apakah itu?”

“Dia bilang bahwa kita saling mencinta...”

“Memang kita saling mencinta!” kata Pek-liong cepat dan tegas tanpa keraguan.

“Tapi dia bilang semestinya kita menikah!”

“Menikah?” Pek-liong menunduk dan mengerutkan alisnya seperti orang yang sedang berpikir keras. Akan tetapi dia melarikan kudanya sehingga Liong-li terpaksa juga harus melarikan kudanya. Mereka berdiam diri, hanya melarikan kuda. Dalam keadaan seperti itu, keduanya tidak dapat mengetahui apa isi hati masing-masing. Tidak tahu akan persamaan perasaan yang membuat mereka masing-masing menjadi bingung dan melamun.

Setiap kali berada dalam pelukan seorang pria, Liong-li selalu menganggap pria itu Pek-liong, atau setidaknya, ada sedikit bagian dari Pek-liong berada pada pria itu! Sebaliknya, setiap kali merangkul seorang wanita, Pek-liong juga selalu teringat kepada Liong-li dan merasa bahwa seolah Liong-li yang dirangkulnya, bukan wanita lain!

Mereka membalapkan kuda dengan lamunan masing-masing, untuk kemudian berpencar kembali ke tempat tinggal masing-masing, namun lamunan itu masih akan berkepanjangan dan akan menimbulkan lain kisah sepasang pendekar itu.

T A M A T

Episode Selanjutnya:
DENDAM SEMBILAN IBLIS TUA

Si Bayangan Iblis Jilid 19

SERANGAN paku ke arah tubuh bagian atas lawan itu merupakan gertakan untuk mengalihkan perhatian saja, karena begitu Liong-li memutar pedang menangkis, Kui-bo sudah meloncat ke depan, tubuhnya merendah dan pedangnya meluncur, menyapu ke arah kedua kaki Liong-li. Serangan tiba-tiba ini amat berbahaya karena pada saat itu, Liong-li sedang memutar pedang menangkis paku-paku itu.

Namun, Liong-li tidak pernah lengah dan begitu nampak sinar pedang menyapu ke arah kakinya, dengan gerakan ringan sekali tubuhnya sudah meloncat ke atas, berjungkir balik di udara dan tubuh itu meluncur turun bagaikan seekor naga, kepala di depan dan didahului putaran pedangnya menyerang ke arah kepala Kui-bo. Nenek iblis terpaksa menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

“Tranggg...!”

Tubuh Liong-li terpental dam wanita ini berjungkir balik beberapa kali baru tubuhnya meluncur turun kembali ke atas lantai di depan Tiat-thouw Kui-bo. Nenek itu sendiri terhuyung ke belakang dan dari akibat benturan pedang itu saja dapat diketahui bahwa dalam hal kekuatan sin-kang, mereka berimbang! Hanya Liong-li lebih pandai mengatur keseimbangan dirinya sehingga akibat benturan tenaga itu dapat diatasinya dengan baik, membuat gerakannya nampak indah sedangkan nenek itu terhuyung seperti hendak jatuh.

Tiat-thouw Kui-bo menjadi semakin marah. Ia memang amat membenci Liong-li. Pendekar wanita itu bersama Pek-liong telah membunuh dua orang rekannya, yaitu Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam) di daerah Lok-yang, dan Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa) di Bukit Merak daerah Po-yang. Seperti juga ia dan Lam-hai Mo-ong, dua orang rekannya itu adalah anggauta Kiu Lo-mo, maka tentu saja, Kui-bo mendendam kepada Liong-li.

Kalau selama ini ia dan Lam-hai Mo-ong belum bertindak melakukan pembalasan, hal itu adalah karena ia sedikit banyak merasa jerih terhadap pendekar wanita itu. Melakukan penyerangan ke rumah pendekar wanita itu amat berbahaya karena rumah itu diperlengkapi alat-alat rahasia dan perangkap yang sukar diatasi. Ia dan Mo-ong hanya menanti kesempatan baik saja.

Ketika melihat Liong-li di istana, kesempatan itu muncul, akan tetapi ia dan Mo-ong sibuk dengan urusan yang lebih besar, yaitu mencari kekuasaan di istana. Kini, kesempatan itu tiba, akan tetapi keadaannya terjepit dan terkepung, bahkan disaksikan oleh Kaisar dan Permaisuri. Tiada jalan lain baginya kecuali melawan dengan nekat dan mati-matian.

“Hyaaattt...!” Nenek itu mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya diputar cepat, berubah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar ke arah Liong-li. Namun, wanita cantik berpakaian serba hitam itu menyambut dengan gerakan tenang dan mantap. Berkali-kali kedua pedang itu bertemu dan menimbulkan pijar bunga api.

Keduanya sudah saling serang dengan hebatnya. Hanya ahli-ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya dapat mengikuti gerakan mereka yang amat cepat. Bagi mereka yang tidak mengenal ilmu silat, dua orang .yang sedang bertanding itu seolah-olah merupakan dua bayangan yang berkelebatan dan menjadi satu digulung dua sinar pedang, sukar dibedakan mana Liong-li mana Kui-bo.

Pada suatu saat, ketika Liong-li menyerang dengan bacokan pedangnya dari atas menyambar ke arah kepala lawan. Kui-bo menyambutnya dengan tangkisan ke atas. Kedua pedang bertemu dan melekat karena pengerahan sin-kang kedua pihak. Saat kedua pedang melekat di udara itu, Kui-bo menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Liong-li. Pukulan maut ini berbahaya sekali karena mengandung hawa beracun.

Namun, Liong-li sudah siap dan ia sudah mengerahkan tenaga istimewa yang membuat tangan kirinya menjadi merah. Itulah Hiat-tok-ciang (Tangan Racun Darah), satu diantara ilmu-ilmu yang dikuasai Liong-li.

“Desss...!” Dua buah telapak tangan bertemu, keduanya mengandung pukulan beracun dan akibatnya, Kui-bo terhuyung ke belakang sambil menyeringai karena telapak tangan kirinya terasa panas. Sebaliknya, Liong-li juga tergetar hebat dan keduanya kini sudah siap untuk melanjutkan pertandingan mati-matian itu.

Melihat keadaan rekannya agaknya tidak akan dapat menang dengan mudah, tentu saja Lam-hai Mo-ong merasa khawatir sekali. Satu-satunya kawan yang dapat diandalkannya menghadapi Pek-liong dan Liong-li hanyalah Kui-bo. Anak buahnya, walaupun memiliki kepandaian cukup tinggi, bukanlah tandingan sepasang pendekar itu. Maka, diapun sudah meloncat ke depan Pek-liong.

“Pek-liong-eng, mari kita mengadu nyawa, bukan hanya menjadi penonton saja!” teriaknya dan diapun sudah melolos rantai bajanya.

“Hemm, majulah, Mo-ong,” kata Pek-liong dan sekali tangan kanannya bergerak, nampak sinar putih berkelebat dan Pedang Naga Putih telah berada di tangannya.

Lam-hai Mo-ong tidak banyak cakap lagi, segera mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang dan diapun sudah memutar rantai bajanya dan menyerang dengan dahsyat. Namun, Pek-liong sudah siap siaga dan dengan lincah sekali pendekar ini sudah mengelak dari sambaran rantai dan membalas dengan tusukan pedangnya.

Namun, lawannya adalah seorang datuk yang lihai, dan dapat pula menghindarkan tusukan pedang dengan mudah sambil menggerakkan rantainya menyapu ke arah kaki Pek-liong yang meloncat ke atas. Perkelahian mati-matian segera terjadi antara Lam-hai Mo-ong dan Pek-liong-eng.

Kini para penonton mengagumi dua perkelahian yang amat hebat. Kaisar sendiri walaupun pernah mempelajari ilmu silat di waktu mudanya, menjadi pening juga menyaksikan gerakan empat orang itu yang terlalu cepat baginya. Namun, para jagoan istana dan para perwira memandang penuh kagum. Belum pernah mereka menyaksikan pertandingan silat yang demikian hebatnya.

“Kui-bo, kita bertukar lawan!” tiba-tiba Mo-ong berteriak, rantainya kini menyeleweng dan menyambar ke arah Liong-li ketika dua orang wanita yang sedang bertanding itu tiba di dekatnya.

Tiat-thouw Kui-bo agaknya sudah mengenal benar siasat rekannya itu, maka tubuhnya sudah mencelat ke kanan dan pedangnya menyerang Pek-liong. Diserang secara mendadak oleh musuh yang berganti tempat itu, baik Liong-li maupun Pek-liong menjadi agak bingung dan hampir saja Liong-li terkena sambaran rantai baja.

Biarpun ia sudah mengelak dengan cepat membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan, tetap saja ia terhuyung dan kini dikurung oleh gulungan sinar rantai yang panjang. Akan tetapi, wanita perkasa itu segera dapat menguasai dirinya, memutar Hek-liong-kiam dan dapat mengimbangi rangkaian serangan lawan. Demikian pula Pek-liong sempat terkejut dan terdesak oleh pedang Kui-bo, namun diapun segera dapat mengembalikan keseimbangannya.

Akan tetapi, beberapa kali kakek dan nenek iblis itu bertukar tempat dan setiap mereka berganti tempat, Pek-liong dan Liong-li dibuat bingung dari terdesak. Agaknya memang pertukaran tempat yang berganti-ganti itu merupakan siasat kakek dan nenek itu.

“Pek-liong, sudah tiba saatnya kita mainkan Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti)!” tiba-tiba Liong-li berseru dan iapun meloncat ke dekat Pek-liong dan mereka saling membelakangi.

Kini baru kakek dan nenek itu tahu bahwa siasat mereka tadi hanya memancing dua orang itu mengeluarkan ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama, yang merupakan inti dari kehebatan sepasang naga putih dan naga hitam itu! Kalau saja Mo-ong menantang Pek-liong untuk bertanding pula, belum tentu mereka akan mengeluarkan ilmu ini.

Dan begitu Pek-liong dan Liong-li memainkan Sin-liong-kiam yang mereka ciptakan bersama, dua orang kakek dam nenek itupun menjadi terkejut dan terdesak hebat. Ilmu pedang itu memang merupakan ilmu pedang gabungan dari semua kepandaian mereka, dan dengan bekerja sama mereka itu seolah-olah hanya mempunyai satu hati, satu pikiran dan satu perasaan!

Gulungan sinar pedang putih dan hitam itu saling membantu, saling memperkuat dan mengisi kekosongan masing-masing dan biarpun lawan mereka merupakan dua orang datuk yang lihai sekali. Kini dua orang itu terdesak dan terkepung gulungan sinar pedang hitam putih dan mereka hanya dapat menangkis saja tanpa sempat membalas karena mereka masih bingung oleh gerakan dua batang pedang yang saling bantu dengan gerakan aneh dan hebat itu.

Agaknya, kalau saja dua orang pendekar ini tidak bekerja sama dengan ilmu pedang ciptaan mereka, kiranya tidak akan mudah bagi mereka mengalahkan lawan masing-masing, karena kekuatan mereka sesungguhnya seimbang. Mereka memang menang cepat karena memang masih muda, akan tetapi kemenangan ini diimbangi oleh kemenangan pihak lawan dalam hal pengalaman.

Setelah mereka bekerja sama, kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Hal ini bukan hanya karena ilmu pedang Sin-liong-kiam-sut, memang ciptaan mereka, namun antara Pek-liong dan Liong-li memang terdapat hubungan yang amat aneh. Mereka itu sekali saling pandang saja seperti telah dapat membaca isi hati masing-masing, dan begitu mereka berdekatan, mereka seperti sudah saling bantu dan jalan pikiran mereka searah, juga perasaan mereka sama peka terhadap rekannya.

Inilah kelebihan Pek-liong dan Liong-li yang tidak ada pada kedua orang lawan mereka sehingga mereka mampu membuat Kui-bo dan Mo-ong menjadi repot sekali. Ketika Kui-bo terhuyung oleh sambaran pedang Pek-liong, kesempatan itu dipergunakan oleh Liong-li untuk menerjang ke depan. Pedangnya diputar cepat ketika ia melihat Kui-bo yang sudah kewalahan itu menangkis sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pedang di tangan Kui-bo terlepas.

Kui-bo menjadi terkejut dan marah, tangan kirinya bergerak dan tiga batang paku beracun terakhir yang masih dimilikinya meluncur dan menyambar ke arah Liong-li. Liong-li sudah menduga akan hal ini, pedangnya berkelebat menangkis dengan pukulan sehingga tiga batang paku itu membalik dan menyambar ke arah Tiat-thouw Kui-bo sendiri.

“Aughhh...!” Nenek itu kena disambar pakunya sendiri yang tepat mengenai lehernya. Ia terjengkang dan berkelonjotan sekarat.

Sementara itu, melihat rekannya roboh, Lam-hai Mo-ong menjadi gentar. Dia mencoba untuk meloncat ke kiri, untuk melarikan diri, akan tetapi dia berhadapan dengan tombak para perajurit pengawal. Dia memutar rantai mengamuk dan robohlah dua orang perajurit. Akan, tetapi Pek-liong sudah menghadapinya lagi.

“Iblis tua, jangan pengecut! Engkau hendak lari ke mana?” Pek-liong sudah mendesak dengan pedangnya.

Lam-hai Mo-ong menjadi semakin panik. Dia telah membunuh dua orang perajurit, maka dia tahu bahwa tentu tidak ada ampun baginya. Melihat Pek-liong menyerangnya, diapun meloncat ke belakang, kemudian sambil mengambil ancang-ancang, dia bahkan melompat tinggi ke arah Pek-liong dengan rantai baja diputar.

Melihat ini, Pek-liong juga meloncat menyambutnya. Nampaknya ke dua orang itu hendak berbenturan di udara. Akan tetapi, akhirnya tubuh kakek itu terpelanting dan ketika tiba di atas tanah, dia terbanting keras. Rantainya terlempar dan kedua tangannya mendekap perut, matanya terbelalak dan ternyata perutnya robek oleh pedang Pek-liong. Hanya sebentar kakek itu sekarat, lalu tewas seperti rekannya, Tiat-thouw Kui-bo yang telah tewas lebih dahulu karena paku beracun menancap di tenggorokannya.

Melihat betapa dua orang pimpinan mereka itu tewas, gerombolan penjahat itu menjadi ketakutan. Agaknya tadi Pek-mau-kwi Ciong Hu dan dua orang bersaudara Huang-ho Siang-houw sudah saling berbisik mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Begitu melihat Lam-hai Mo-ong roboh, mereka bertiga sudah mencabut pedang dan serentak mereka meloncat ke arah tempat duduk permaisuri Bu Cek Thian! Mereka tadi sudah mengatur siasat bahwa untuk dapat meloloskan diri, mereka harus dapat menyandera seorang penting.

Kaisar sendiri terjaga kuat, akan tetapi mereka melihat betapa permaisuri hanya dilindungi oleh dua orang pengawal wanita, dua orang gadis kembar. Mereka mengira bahwa tentu mereka akan dapat dengan mudah menyandera permaisuri dan mereka akan memaksa kaisar untuk membebaskan mereka, menukar nyawa mereka dengan keselamatan sang permaisuri.

Akan tetapi, betapa kaget hati mereka ketika mereka meloncat dekat Permaisuri Bu Cek Thian, dua orang gadis kembar yang menjadi pengawal pribadi permaisuri itu, menyambut Huang-ho Siang-houw dengan pedang mereka dan gerakan dua orang gadis kembar ini amat cepat dan kuat! Segera Huang-ho Siang-houw terlibat dalam perkelahian pedang melawan dua orang gadis kembar ini, sedangkan Pek-mau-kwi sendiri ternyata tahu-tahu dihadang oleh Liong-li!

Pek-mau-kwi menyerang mati-matian karena maklum bahwa dia menghadapi lawan yang amat tangguh, yang baru saja merobohkan Tiat-thouw Kui-bo. Akan tetapi, memang tingkatnya kalah jauh dibandingkan Liong-li, maka dalam beberapa gebrakan saja Pek-mau-kwi roboh dengan dada tertembus pedang Naga Hitam.

Dua orang Huang-ho Siang-houw juga repot menghadapi sepasang gadis kembar murid-murid Bu-tong-pai yang lihai itu. Merekapun roboh dan tewas oleh pedang Bi Cu dan Bi Hwa. Sementara itu, melihat robohnya tiga orang pembantu utama pimpinan mereka, belasan orang anak buah gerombolan Si Bayangan Iblis sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyerah. Mereka semua ditangkap dan diseret ke dalam penjara untuk diadili kelak.

Pek-liong dan Liong-li segera memasuki pintu rahasia, diikuti oleh para jagoan istana. Dan di dalam ruangan di bawah tanah itu mereka melihat Cian Hui dan Sui In yang roboh pingsan, juga dua orang hwesio Gwat Kong Hosiang dan Kwan Seng Hwesio yang terluka parah. Seperti dengan sendirinya, Liong-li menghampiri Cian Hui dan Pek-liong menghampiri Sui In. Setelah memeriksa dan mendapatkan kenyataan bahwa Cian Hui dan Sui In menderita luka dalam karena pukulan beracun, Liong-li dan Pek-liong menotok beberapa jalan darah di tubuh mereka sehingga mereka siuman, lalu kedua orang pendekar itu memapah mereka yang terluka keluar dari ruangan bawah tanah.

Melihat Kaisar dan Permaisuri sendiri berada di kuil yang menjadi medan perkelahian itu, Cian Hui yang terluka parah lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti Sui In dan juga Pek-liong dan Liong-li. Kaisar tersenyum, gembira dan memuji-muji mereka berempat.

Ketika mendengar betapa Cian Hui dan Sui In terluka pukulan beracun dan bahwa Liong-li dan Pek-liong hendak mengobati mereka, Kaisar memerintahkan untuk memberi kamar-kamar untuk tamu agung bagi mereka. Juga dia memerintahkan permaisuri untuk membagi-bagi hadiah yang layak bagi mereka berempat yang sudah berjasa membongkar rahasia gerombolan Si Bayangan Iblis, bahkan telah membasmi gerombolan itu. Kemudian Kaisar dan Permaisuri kembali ke istana.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 19 karya kho ping hoo

Semalam suntuk, baik Pek-liong maupun Liong-li, di kamar masing-masing dalam istana, kamar yang besar dan indah, mengerahkan sin-kang mereka dan mengobati Cian Hui dan Sui In. Mereka melakukan cara pengobatan yang sama. Cian Hui duduk bersila di atas pembaringan, Liong-li duduk di belakangnya dan menempelkan telapak kedua tangannya di punggung perwira itu dan menyalurkan sin-kang untuk mengusir hawa beracun dan memulihkan tubuh yang terluka.

Demikian pula cara Pek-liong mengobati Sui In di kamarnya. Bagi orang lain, tentu terasa janggal dan aneh melihat betapa Pek-liong yang mengobati Sui In dan bukan Liong-li, dan demikian sebaliknya Liong-li yang mengobati Cian Hui. Akan tetapi bagi sepasang pendekar itu, hal ini tidak ada halangannya. Liong-li memang lebih dekat dengan Cian Hui, sedangkan Pek-liong datang ke kota raja bersama Sui In.

Pada keesokan harinya, dua orang yang terluka itu sudah hampir sembuh. Hawa beracun sudah dibersihkan dan mereka tinggal beristirahat beberapa hari saja, maka mereka akan sembuh sama sekali. Di kamar Liong-li, Cian Hui memegang kedua tangan Liong-li dengan pandang mata terharu.

“Li-hiap, tanpa bantuanmu bukan saja gerombolan Si Bayangan Iblis tidak mungkin dapat dibasmi, bahkan akupun tentu sudah tewas. Bagaimana aku dapat membalas budimu selain mengabdi kepadamu selama hidupku. Li-hiap, sekali lagi kuulangi permohonanku kepadamu. Sudilah kiranya engkau menjadi teman hidupku selamanya, menjadi isteriku, dan aku akan menumpahkan seluruh perasaan kasih sayang dan baktiku kepadamu.”

Liong-li tersenyum dan dengan lembut melepaskan kedua tangannya yang digenggam oleh perwira yang gagah perkasa itu. Akan tetapi ia masih duduk di atas pembaringan berhadapan dengan perwira itu. Senyumnya lembut dan manis sekali.

“Ciang-kun, sudah berkali-kali sejak malam tadi engkau mengajukan lamaran dan sudah berkali-kali pula terpaksa aku menolaknya. Aku tahu, setiap orang wanita yang bijaksana, akan merasa bangga dan berbahagia sekali dapat menjadi isterimu. Engkau seorang pria yang gagah perkasa dan setia, dan engkau seorang pria yang hebat. Akan tetapi maafkan, aku tidak dapat mengikatkan diriku dalam suatu pernikahan. Aku ingin bebas. Terus terang saja Ciang-kun, akupun kagum kepadamu, dan aku suka kepadamu. Kalau engkau menghendaki diriku, Ciang-kun, akupun akan menyambutnya dengan gembira. Akan tetapi pernikahan? Tidak! Aku tidak ingin terikat.”

Cian Hui mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang cantik jelita itu dan dalam pandang matanya terbayang keheranan dan keraguan. “Akan tetapi, mengapa, li-hiap? Kalau engkau tidak menolakku, berarti engkau cinta pula kepadaku. Kenapa tidak dengan pernikahan?”

Liong-li tersenyum lagi dan menggeleng kepalanya. “Panjang ceritanya, akan tetapi cukup kalau kau ketahui bahwa aku tidak berharga menjadi isterimu, Cian Ciang-kun. Aku seorang petualang, hidupku penuh musuh penuh ancaman bahaya...”

“Kalau aku menjadi suamimu, aku akan melindungimu, li-hiap. Aku akan mengubah hidupmu, menjadi seorang ibu rumah tangga yang hidup tenang dan tenteram, penuh kasih sayang dari suami dan anak-anakmu...”

Liong-li tertawa, tertawa lepas tanpa menutup mulutnya seperti biasanya para wanita bersopan-sopan. Akan tetapi karena kewajarannya itu, dalam pandangan Cian Hui yang sudah tergila-gila, Liong-li nampak semakin menarik dan menggairahkan.

“Ha-ha, Ciang-kun. Membayangkan aku menjadi seperti itu sungguh membuat aku merasa ngeri! Rasanya aku menjadi seperti boneka hidup. Hidup penuh damai dan tenteram, tanpa tantangan tanpa ancaman. Aih, betapa menjemukan kehidupan seperti itu bagiku, Ciang-kun! Tidak, terus terang saja, aku suka padamu, aku suka bercintaan denganmu, akan tetapi hanya itu, tidak ada ikatan cinta kasih yang membuat kita menjadi suami isteri. Tidak, aku tidak dapat menikah dan menjadi isterimu, Ciang-kun. Aku tidak cinta padamu seperti itu, aku hanya suka kepadamu sebagai seorang pria yang jantan dan mengairahkan.”

Cian Hui terbelalak. “Kalau begitu, engkau telah mencinta pria lain, Li-hiap!”

Sepasang alis Liong-li yang indah itu berkerut. “Tidak tahulah.”

“Ah, sekarang aku mengerti! Li-hiap, engkau tentu mencinta Pek-liong-eng! Dapat kurasakan itu, dapat kulihat dari sikap kalian. Dan hal itu tidak aneh. Li-hiap kalian saling mencinta!”

Kerut merut di antara sepasang alis itu makin mendalam. “Pek-liong? Ah, tentu saja aku sayang padanya, aku dan dia adalah satu hati satu pikiran, Ciang-kun. Aku mau mengorbankan nyawa untuknya dan diapun demikian. Hal itu kami anggap wajar.”

“Kalau begitu kenapa li-hiap tidak menikah dengan dia? Pasangan yang amat serasi! Benar, kalian saling mencinta dan kalian harus menjadi suami isteri...”

“Cukup! Tidak ada yang mengharuskan kami!! Dan hubungan kami bahkan lebih akrab dari pada hanya sepasang kekasih. Sudahlah, engkau tidak perlu mencampuri urusan kami. Aku masih bersedia menyambutmu kalau engkau hendak membuktikan kasih sayangmu kepadaku, Ciang-kun.”

Wanita itu memandang dan tersenyum dengan sikap menantang dan penuh daya pikat. Sejenak jantung dalam dada Cian Hui terguncang dan ingin sekali dia menubruk dan mendekap wanita yang amat menggairahkan hatinya itu. Namun, dia menahan diri, bahkan dia meloncat turun dari atas pembaringan.

“Li-hiap, kauanggap aku ini laki-laki yang tidak dapat menghargai wanita? Li-hiap, aku cinta kepadamu. Cinta yang tumbuh dari sanubariku, bukan sekedar hendak melampiaskan nafsu berahi saja. Aku cinta padamu, ingin membahagiakanmu, ingin berdampingan selamanya denganmu, ingin menjadi ayah anak-anakmu. Aku menghormatimu, kagum kepadamu dan lebih baik aku mati dari pada harus menghinamu dengan perbuatan yang tidak sopan. Li-hiap, curahan cinta kasih hanya dapat kulakukan jika li-hiap telah menjadi isteriku.”

Wajah Liong-li berubah merah. Baru sekarang ia bertemu seorang pria yang menolak begitu saja, pada hal ia melakukannya dengan suka rela, dengan senang hati. Sungguh perwira ini seorang pria yang hebat dan ucapannya yang lembut itu seperti pedang menikam perasaannya, membuat ia merasa malu, merasa rendah dan kotor. Akan tetapi, ia menyimpan perasaan itu dan iapun tersenyum cerah.

“Lengkaplah sudah segala sifat baik pada dirimu, Ciang-kun. Sungguh aku merasa kagum sekali dan ini juga membuktikan betapa jauh bedanya antara kita, dan betapa aku sungguh tidak patut menjadi isterimu. Nah, kalau begitu, selamat berpisah dan selamat tinggal, Cian Ciang-kun. Hadiah dari Sribaginda untukku kuberikan kepadamu. Kauterimalah sebagai tanda peringatan dariku. Aku pergi, Ciang-kun!”

“Li-hiap...!” Cian Hui berseru, akan tetapi wanita itu hanya menoleh sambil tersenyum dan mengedipkan matanya, tanda bahwa ia sama sekali tidak menyesal atau marah. Cian Hui terhenyak di kursi dan termenung, berulang kali menghela napas panjang dan dia merasa jantungnya kosong dan sunyi.

Sementara itu, di kamar lain yang tidak begitu jauh dari situ, kamar yang sama indahnya, Pek-liong juga duduk berhadapan di atas pembaringan dengan Cu Sui In. Janda muda ini sudah sembuh dan kini ia memandang pendekar itu dengan sinar mata penuh kagum dan terima kasih.

“Tai-hiap, sungguh besar budi yang telah tai-hiap limpahkan kepadaku. Karena bantuan tai-hiap maka dendamku dapat terbalas, dan kalau tidak ada tai-hiap yang menolongku berulang kali, tentu aku sudah tewas di tangan orang jahat. Tai-hiap, bagaimana aku dapat membalas budimu yang besar itu?”

Pek-liong menjulurkan lengan dan tangannya menyentuh dagu yang halus meruncing manis itu. “Tidak ada budi tidak ada balas, adik yang manis. Aku senang sekali dapat membantumu. Engkau seorang wanita muda yang bernasib malang, masih muda sudah menjadi janda. Engkau cantik jelita dan manis, bahkan memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, cerdik dan berani. Aku suka sekali kepadamu, adik Sui In.”

Wajah wanita itu menjadi kemerahan. Memang sejak pertama kali bertemu dengan pendekar ini, ia sudah jatuh hati. Pria ini terlalu hebat dan ia kagum sekali. “Tai-hiap terlalu memuji. Sebaliknya, tai-hiap adalah seorang pendekar besar yang amat mengagumkan. Tai-hiap, aku ingin sekali membalas semua budimu. Kalau tai-hiap sudi menerimaku, aku ingin melayanimu selama hidupku.”

“Aih, apa maksudmu, adik Sui In?” Pek-liong menyentuh kedua pundak Sui In dan wanita itupun merebahkan diri dalam dekapannya, menyandarkan muka di dada yang bidang itu.

“Tai-hiap, aku akan berbahagia sekali untuk menjadi sisihanmu, menjadi isterimu, atau selirmu, atau pelayanmu...”

Pek-liong mengangkat muka yang bersandar di dadanya itu dan mengecup bibirnya. Menerima ciuman ini, Sui In memejamkan matanya dan langit bagaikan runtuh baginya. Ia sudah siap menyerahkan segala-galanya untuk pria yang dikaguminya dan dicintanya itu.

“Adik Sui In, apa yang kaukatakan itu, akupun kagum dan suka padamu, engkau seorang wanita yang hebat. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mau terikat oleh siapapun. Kalau kita berdua saling menyukai dan dengan suka rela menyerahkan diri untuk saling mencinta, aku akan senang sekali. Akan tetapi aku tidak mau diikat dengan pernikahan, atau dengan ikatan apapun. Setelah ini, kita harus berpisah dan mengambil jalan masing-masing, dan semua ini hanya merupakan kenangan indah saja bagi kita.”

Mendengar ini, Sui In merasa seperti dilempar kembali ke bumi dari langit ke tujuh. Ia membelalakkan matanya, memisahkan diri dari dada Pek-liong, menghadapi pemuda itu dan memandang seperti orang yang tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

“Tai-hiap, engkau tidak... tidak cinta padaku...?”

Pek-liong tersenyum. “Aku suka padamu, aku cinta padamu, akan tetapi bukan cinta yang harus dilanjutkan dengan ikatan.”

“Ahhh... ahhh...!” Wanita muda itu terisak dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis lirih.

Pek-liong mengerutkan alisnya dan diapun turun dari atas pembaringan. “Adik Sui In, kenapa engkau menangis?”

Dari balik kedua tangannya, Sui In menahan isaknya. “Tai-hiap, maafkan aku... Kusangka tai-hiap mencintaku seperti aku mencintamu. Aku mengharapkan untuk dapat menghabiskan sisa hidupku di sampingmu. Aku dengan bahagia akan menyerahkan diri, menyerahkan segalanya untukmu, bukan sekedar membalas budi, melainkan karena aku... aku cinta padamu. Akan tetapi tai-hiap tidak suka menerimaku...”

Pek-liong mengangguk-angguk. “Aku tahu sekarang, Sui In. Engkau memang seorang wanita yang amat baik, juga terhormat. Dan aku akan mengutuk diri sendiri kalau menyeretmu melakukan hal yang tidak kausukai, yang akan kauanggap sebagai suatu perbuatan aib. Aku seorang petualang, adik In, aku tidak ingin terikat dengan pernikahan, aku ingin hidup sendiri.

“Nah, selamat tinggal, adik Sui In, dan jangan menangis. Aku semakin kagum dan hormat padamu. Sampaikan hormatku kepada Sribaginda dan kalau aku diberi hadiah, biarlah hadiah itu untuk engkau dan Cian Ciang-kun. Kalian lebih berhak menerimanya!”

“Tai-hiap...!” Akan tetapi Pek-liong sudah meloncat keluar dan lenyap.

Sui In menangis sedih. Ia merasa kehilangan. Ia tidak mengharapkan hadiah. Ia hanya ingin dapat hidup di samping pendekar yang dikagumi dan dicintanya itu, untuk selamanya. Akan tetapi pendekar itu menolaknya! Pek-liong mau bermesraan dengannya, akan tetapi tidak mau menikahinya. Dan pendekar itu demikian jujur, berterus terang, dan sama sekali tidak mau menjamahnya lagi setelah ia mengharapkan ikatan. Padahal, sekali saja pendekar itu merangkulnya, ia akan jatuh bertekuk lutut, dengan atau tanpa janji ikatan.

“Tai-hiap ah, tai-hiap...” Ia terhuyung keluar dari dalam kamar itu, untuk mencarinya, untuk mobon kepada Pek-liong agar mengasihani dirinya. Akan tetapi, ia tidak melihat pendekar itu di luar. Hatinya terasa perih dan kosong, dan ia tentu akan terhuyung roboh kalau saja tidak ada lengan yang kuat merangkul pinggangnya. Ia menoleh dan melihat bahwa yang merangkulnya sehingga tidak sampai roboh itu adalah Cian Hui!

“Tenangkan hatimu, In-moi... kulihat Tan tai-hiap sudah pergi...”

Karena kepalanya terasa pening, Sui In terpaksa bersandar kepada perwira itu dan membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam kamarnya kembali. “Duduklah dan tenangkan dirimu, agaknya lukamu belum sembuh, In-moi,” kata perwira itu dan membantu Sui In duduk di atas pembaringan. Dia sendiri duduk di atas kursi yang berdekatan.

“Dia... dia menolakku... dia tidak mau menerima pengabdianku... dia tidak cinta padaku...” seperti mengigau Sui In berbisik.

Cian Hui tersenyum pahit. Betapa sama nasib wanita ini dengan dia. Wanita ini seorang janda, diapun seorang duda. Wanita ini agaknya tidak diterima ketika menyatakan ingin menjadi isteri Pek-liong dan dia sendiri ditolak Liong-li yang tidak mau terikat dengannya!

“In-moi, tenangkan hatimu. Mereka itu bukanlah orang-orang biasa seperti kita. Mereka adalah petualang-petualang, pendekar-pendekar yang tidak mau terikat dengan pernikahan, tidak mau terkurung dalam rumah tangga.”

Sui In mengangkat muka menoleh ke arah perwira itu sambil menyusut air matanya. “...mereka...?” tanyanya.

Sambil tersenyum pahit perwira itu mengangguk. “Benar, mereka, In-moi. Li-hiap Hek-liong-li juga menolak lamaranku untuk menjadi isteriku! Mereka orang-orang aneh, In-moi, berbeda dengan kita...”

Sui In terbelalak, tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Ahhh... betapa sama nasib kita. Kalau begitu... mereka itu, mereka saling mencinta!”

Cian Hui mengangguk. “Aku yakin begitu. Akan tetapi mereka orang-orang aneh, cinta merekapun aneh.”

Dua orang yang bernasib sama ini saling pandang, kemudian keduanya tersenyum. Mereka sama maklum dan mereka merasa terhibur mendengar nasib yang lain, seolah-olah dalam penderitaan dan kekecewaan mereka, ada teman yang senasib, ada kawan dan ini merupakan hiburan besar. Mereka saling menghibur dan melihat betapa masa depan mereka cerah, karena mereka saling merasa kasihan dan timbul suatu niat ingin saling mengisi kekosongan hati masing-masing. Yang seorang duda, seorang lagi janda, keduanya tidak mempunyai anak. Apa lagi yang menghalang?

Dua orang pengawal datang mengetuk pintu dan menyampaikan perintah kaisar yang memanggil mereka berdua, juga memanggil Pek-liong dan Liong-li. Mereka segera menghadap, melaporkan tentang kepergian dua orang pendekar itu dan betapa mereka itu meninggalkan pesan bahwa mereka tidak mengharapkan imbalan jasa.

Kaisar merasa kagum sekali dan melimpahkan semua anugerahnya kepada Cian Hui dan Sui In. Duda dan janda ini meninggalkan istana dengan hadiah mereka, dengan hati yang gembira dan penuh harapan yang gemilang.

Mereka tidak tahu bahwa hancurnya gerombolan Si Bayangan Iblis itu mendatangkan keuntungan yang besar sekali kepada satu orang, yaitu Permaisuri Bu Cek Thian! Peristiwa itu membuat para pangeran menjadi jera dan tidak ada lagi yang berani memperebutkan pengaruh di istana. Dengan demikian maka kekuataan Bu Cek Thian menjadi semakin besar.

Sementara itu, jauh di luar kota raja, Pek-liong dan Liong-li menunggang kuda berdampingan. Mereka menjalankan kuda dengan perlahan dan sejak mereka bertemu di pintu gerbang istana, Liong-li melihat betapa wajah Pek-liong agak muram, tidak berseri seperti biasanya. Akan tetapi mereka tidak banyak bicara dan mereka keluar istana, membeli dua ekor kuda dan melanjutkan perjalanan naik kuda keluar dari kota raja.

“Bagaimana dengan Cu Sui In?” tiba-tiba Liong-li bertanya, untuk memancing omongan.

Tanpa menoleh Pek-liong balas bertanya, “Ada apa dengannya?”

“Apakah ia merupakan seorang kekasih yang menyenangkan?”

Pek-liong menoleh dan pandang mata mereka bertemu sejenak, lalu Pek-liong menunduk kembali. “Ia seorang wanita yang hebat, wanita yang terhormat, aku kagum padanya.”

Wajah Liong-li herseri dan mulutnya membayangkan senyum ditahan, ia sudah mengenal isi hati rekannya itu seperti mengenal telapak tangannya sendiri. Pek-liong menyebut Sui In wanita terhormat, dan wajahnya muram, dan ia teringat akan pengalamannya sendiri dengan Cian Hui.

“Ahh? Ia... ia menolak cintamu?”

“Tidak, ia hanya seorang wanita terhormat. Ia ingin menjadi isteriku, terpaksa menolak dan kami berpisah sebagai sahabat, bukan sebagai kekasih. Engkau tentu lebih berhasil.”

Liong-li tertawa sampai terkekeh-kekeh dan mula-mula Pek-liong memandang heran dengan alis berkerut, akan tetapi tidak lama kemudian diapun tertawa bergelak karena dari sikap wanita itu diapun dapat menjenguk isi hatinya dan dapat menduga apa yang telah terjadi.

“Ha-ha-ha, diapun menolak karena ingin melamarmu menjadi isterinya?”

Liong-li mengangguk. “Nasib kita sama. Baru sekali ini aku ditolak seorang pria.”

“Akupun demikian. Akan tetapi sungguh mengagumkan. Dia pria dan dia sungguh cinta padamu. Akan tetapi dia mampu menolakmu. Hebat!”

Liong-li menggeleng kepalanya, “Tidak ada yang hebat. Dia pria yang terikat oleh hukum dan peraturan, tidak bebas seperti kita. Hanya ada sedikit ucapannya yang sampai sekarang menjadi pemikiran.”

“Ucapan apakah itu?”

“Dia bilang bahwa kita saling mencinta...”

“Memang kita saling mencinta!” kata Pek-liong cepat dan tegas tanpa keraguan.

“Tapi dia bilang semestinya kita menikah!”

“Menikah?” Pek-liong menunduk dan mengerutkan alisnya seperti orang yang sedang berpikir keras. Akan tetapi dia melarikan kudanya sehingga Liong-li terpaksa juga harus melarikan kudanya. Mereka berdiam diri, hanya melarikan kuda. Dalam keadaan seperti itu, keduanya tidak dapat mengetahui apa isi hati masing-masing. Tidak tahu akan persamaan perasaan yang membuat mereka masing-masing menjadi bingung dan melamun.

Setiap kali berada dalam pelukan seorang pria, Liong-li selalu menganggap pria itu Pek-liong, atau setidaknya, ada sedikit bagian dari Pek-liong berada pada pria itu! Sebaliknya, setiap kali merangkul seorang wanita, Pek-liong juga selalu teringat kepada Liong-li dan merasa bahwa seolah Liong-li yang dirangkulnya, bukan wanita lain!

Mereka membalapkan kuda dengan lamunan masing-masing, untuk kemudian berpencar kembali ke tempat tinggal masing-masing, namun lamunan itu masih akan berkepanjangan dan akan menimbulkan lain kisah sepasang pendekar itu.

T A M A T

Episode Selanjutnya:
DENDAM SEMBILAN IBLIS TUA