Social Items

DEMIKIANLAH pula dengan Liong-li. Karena hatinya dibakar dendam kemarahan, ia lupa akan keadaan dirinya, lupa bahwa ia sedang dalam penyamaran, sedang melakukan tugas penyelidikan. Yang memenuhi ingatannya hanyalah bahwa pangeran yang disayangnya telah dibunuh secara kejam dan ia harus membalas dendam terhadap pembunuhnya!

Hal ini mengurangi kewaspadaannya sehingga ia tidak tahu sama sekali bahwa ia seperti masuk dalam perangkap yang dipasang orang-orang yang amat cerdik dan lihai. Tidak ada lagi kecurigaan penuh kewaspadaan yang selalu menyertai dirinya, dan ia menjadi semberono. Begitu saja ia melompat ke atas wuwungan rumah, kemudian dengan penuh keberanian karena marah ia melayang turun ke pekarangan samping gedung tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Begitu kedua kakinya turun menginjak tanah, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dari sekelilingnya dan bermunculan banyak sekali orang, ada belasan orang jumlahnya.

“Tangkap Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)!”

“Dia telah membunuh Pangeran Souw Han!”

“Tangkap penjahat!”

“Bunuh Si Bayangan Iblis!”

Liong-li yang tadinya marah sekali, kini terkejut bukan main mendengar teriakan-terikan ini. Ia disangka Si Bayangan Iblis! Bukan itu saja, ia malah dituduh pembunuh Pangeran Souw Han! Ini merupakan perangkap yang berbahaya sekali! Jelas bahwa mereka sudah tahu akan kematian Pangeran Souw Han dan ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Pangeran Souw Cun dan antek-anteknya.

Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir tentang ini karena pada saat itu dirinya sudah dikepung. Ketika ia hendak meloncat kembali naik ke atas wuwungan, ia melihat di atas genteng telah berdiri beberapa bayangan orang pula. Ia telah terkepung di sekelilingnya, bahkan di atasnya! Dan pada saat itu, beberapa orang sudah mulai menyerangnya dengan senjata tajam dan melihat gerakan mereka, ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang lihai.

Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal dan jagoan-jagoan peliharaan Pangeran Souw Cun, Di antara mereka terdapat pula dua orang yang pagi tadi menangkapnya, bahkan kemudian mencambuknya. Masih nampak jalur-jalur merah di muka mereka ketika Pangeran Souw Han membalas dengan mencambuki mereka itu. Ingatan ini saja mendatangkan kembali kenangan manis betapa Pangeran Souw Han membelanya dan menyayangnya. Timbullah kemarahannya lagi.

“Jahanam-jahanam busuk!” bentaknya dan sekali tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat, disusul sinar itu bergulung-gulung dan dua orang yang pagi tadi mencambukinya itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan mereka pun jatuh bergulingan, sengaja menggulingkan tubuh menjauh sambil mengaduh-aduh karena lengan kanan yang memegang pedang telah terbabat sinar hitam dan putus! Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang yang mengeroyoknya.

“Aha! Kiranya Hek-liong-li...!”

Liong-li membalik dan melihat siapa yang berseru itu. Sesosok bayangan tinggi kurus agak bongkok melayang turun dari atas genteng dan ketika bayangan itu tiba di depannya, ia mengenalnya sebagai Bouw Sian-seng, guru sastra yang nampak lemah dan tolol itu, yang pagi tadi juga telah menyiksanya!

Karena agaknya para pengawal terkejut dan gentar mendengar disebutnya Hek-liong-li, apa lagi melihat betapa dua orang kawan mereka kehilangan lengan kanan dalam segebrakan saja begitu Hek-liong-li menggerakkan pedangnya, kini mereka menahan serangan dan hanya memandang dengan penuh perhatian kepada wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, bertopeng sapu tangan sutera hitam dan memegang sebatang pedang hitam yang memiliki sinar mengiriskan itu.

“Dan kiranya engkau yang menyamar sebagai guru tolol yang menjadi pemimpin para penjahat di istana!” Liong-li berseru.

“Ha-ha! Yang menjadi Si Bayangan Iblis ternyata Hek-liong-li. Kepung! Tangkap atau bunuh!” Bouw Sian-seng dengan suaranya yang parau berteriak dan dia sendiri sudah melolos sebatang rantai baja yang tadinya dijadikan sabuk, lalu memutar rantai baja itu, menyerang dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali.

Liong-li sudah menjadi marah bukan main. Ia datang untuk membalas kematian Pangeran Souw Han kepada Pangeran Souw Cun dan kaki tangannya, akan tetapi kini ia malah dituduh sebagai pembunuh Pangeran Souw Han, dan juga dituduh sebagai Kwi-eng-cu!

“Keparat!” bentak Liong-li dan iapun menggerakkan pedang Hek-liong-kiam untuk menangkis, mengerahkan tenaga agar rantai baja terbabat putus.

“Tranggg...!!” Bunga api berpijar dan Liong-li terkejut sekali. Rantai baja itu tidak putus, membuktikan bahwa rantai itu terbuat dari baja pilihan yang dapat menahan Hek-liong-kiam, juga ia merasa betapa lengan kanannya tergetar.

Kiranya si kurus agak bongkok yang kelihatan sebagai seorang sasterawan lemah ini memiliki sin-kang yang hebat, mengingatkan ia akan bayangan hitam yang pernah dilawannya dan yang menyerangnya dengan paku! Jelas bahwa bayangan hitam yang tadi bertubuh kurus pendek, tidak jangkung seperti ini. Akan tetapi, Bouw Sian-seng ini ternyata lihai sekali dan kini rantai baja itu sudah menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya. Iapun memutar pedangnya menangkis dan balas menyerang.

Anak buah Bouw Sian-seng yang datang mengeroyok rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi dan karena tingkat kepandaian Bouw Sian-seng seimbang dengannya, maka dikeroyok belasan orang lihai itu, Liong-li mulai terdesak. Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya dan memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), belasan orang pengeroyok itu terkejut karena kembali ada dua orang pengeroyok yang terluka oleh sambaran sinar pedang.

Ilmu pedang ini memang hebat sekali, apa lagi kalau dimainkan bersama Pek-liong karena ilmu ini adalah hasil rekaan Liong-li dan Pek-liong yang mengambil inti sari dari ilmu pedang masing-masing, mengambil yang kuat membuang atau menutupi yang lemah dan menggabungkannya menjadi ilmu pedang itu.

“Kepung ketat, jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dengan marah sekali dan diapun mempercepat putaran rantai bajanya, menyerang dengan marah. Para pembantunya mendesak pula dan kepungan mereka semakin rapat sehingga kembali Liong-li sibuk sekali karena datangnya serangan seperti hujan membuat ia hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk membalas.

“Trang-trang-tranggg...!” Pedang pusaka Naga Hitam menangkisi banyak senjata para pengeroyok dan dua batang golok patah-patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam. Akan tetapi karena terpaksa menangkis banyak senjata, Liong-li tidak sempat lagi mengelak dengan baik ketika rantai yang bergulung-gulung itu menghantam dengan totokan maut ke arah dadanya. Ia hanya mampu merendahkan tubuh dan miring sedikit, namun ini tidak cukup dan ujung rantai masih mengenai pangkal lengan kirinya bagian luar sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengucurkan darah.

Liong-li terkejut dan mengelebatkan pedangnya ke arah leher Bouw Sian-seng yang ternyata lihai sekali itu. Bouw Sian-seng terpaksa harus mundur karena sambaran pedang itu dapat memenggal lehernya dan dari belakang sebuah tendangan menyambar keras dan biarpun sudah dielakkan tetap saja mengenai paha kanan Liong-li bagian belakang.

Pendekar wanita itu terhuyung dan untung ia masih sempat memutar pedangnya menghalau rantai yang kembali sudah menyambar dahsyat. Akan tetapi, luka di pangkal lengannya terasa nyeri dan juga bekas tendangan tadi cukup keras membuat ia tidak leluasa lagi memainkan Liu-seng-pouw sehingga gerakannya tidaklah selincah tadi. Ia dalam bahaya!

Melihat ini, Bouw Sian-seng tertawa, “Ha-ha-ha, Hek-liong-li, sekali ini engkau tidak akan dapat lolos dari tanganku! Engkau telah berani menjadi Kwi-eng-cu yang mengacaukan istana, bahkan berani membunuh Pangeran Souw Han!”

Teriakan ini cukup lantang dan terdengarlah para pengawal itu berteriak-teriak. “Basmi Kwi-eng-cu!”

“Tangkap pembunuh Pangeran Souw Han!”

“Bunuh saja siluman ini!”

Gawat keadaannya, pikir Liong-li. Ia berada di situ untuk menyelidiki Kwi-eng-cu, dan iapun hendak membalas dendam atas kematian Pangeran Souw Han. Akan tetapi sebaliknya ia malah dituduh membunuh Pangeran Souw Han dan disangka Kwi-eng-cu. Sikap Bouw Sian-seng dan para anak buahnya itu, pembantu-pembantu Pangeran Souw Cun, sungguh membuat ia menjadi bingung. Sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka tidak membunuh Pangeran Souw Han, juga Bouw Sian-seng bukan Kwi-eng-cu. Ataukah semua itu hanya sandiwara belaka!

Pikirannya tidak dapat bekerja banyak, karena seluruh perhatiannya harus ia curahkan kepada gerakan tubuhnya untuk menyelamatkan diri dari pengepungan yang demikian ketatnya. Tiba-tiba nampak sesosok bayangan hitam lain menyambar turun dari atas genteng dan begitu bayangan ini meluncur turun ketengah-tengah medan perkelahian, bagaikan seekor naga menyambar turun dari angkasa.

Dua orang pengeroyok berseru kaget dan merekapun roboh terpelanting ke kanan kiri oleh tamparan tangan orang itu. Kemudian, orang itu sudah mencabut sebatang pedang, memutarnya dan nampaklah gulungan sinar putih membantu sinar hitam pedang Hek-liong-kiam. Melihat ini, Bouw Sian-seng terkejut bukan main.

“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)...!”

Mendengar ucapan ini, semua pengeroyok kembali terkejut. Tentu saja mereka pernah mendengar nama besar Pek-liong-eng yang merupakan pasangan dari Hek-liong-li! Akan tetapi hanya sebentar saja Bouw Sian-seng terkejut. Kini terdengar lagi suaranya, dan suara itu terdengar gembira bercampur tegang, seperti pemburu yang melihat masuknya dua ekor harimau ke dalam perangkap.

“Kurung mereka, jangan sampai lolos! Cepat pukul tanda bahaya umum. Cepat...!” Dan Bouw Sian-seng sendiri menyerang Pek-liong dengan rantai bajanya. Gerakannya memang dahsyat sekali dan melihat ini, Pek-liong menangkis dengan pedangnya.

“Tranggg...!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan Bouw Sian-seng meloncat ke belakang, kaget karena lengannya yang memegang rantai tergetar hebat. Juga Pek-liong maklum akan kekuatan lawan, maka menggunakan kesempatan selagi lawan mundur, dia mendekati Liong-li yang sudah mengamuk dan merobohkan dua orang pengeroyok lagi itu.

“Mari kita pergi dari sini!”

Liong-li tadi tentu saja gembira bukan main melihat munculnya orang yang paling dipercaya di dunia ini. Biarpun Pek-liong mengenakan pakaian serba hitam dan, menutupi muka dengan sapu tangan, pada hal biasanya dia selalu berpakaian putih, namun belum juga pedang Pek-liong-kiam dicabut, baru melihat gerakannya meluncur turun saja ia sudah menduga siapa orangnya.

Tentu saja hatinya menjadi besar. Dengan Pek-liong di sampingnya, ia berani menantang dan menentang siapapun juga! Hatinya menjadi besar dan dengan bantuan Pek-liong, ia merasa yakin akan mampu membasmi Pangeran Souw Cun dengan semua kaki tangannya untuk membalaskan kematian Pangeran Souw Han.

“Tidak! Bantu aku membasmi Pangeran Souw Cun dan semua anteknya! Aku harus membalaskan kematian Pangeran Souw Han!” serunya dan Pek-liong terkejut dan heran sekali mendengar suara dan melihat sikap rekannya itu. Baru sekarang ini dia melihat rekannya itu kehilangan ketenangannya, kehilangan keseimbangannya dan dipengaruhi perasaan dendam dan marah yang hebat!

“Heiiiii! Apa yang membuat engkau menjadi lemah? Jangan tenggelam ke dalam perasaan, bangunlah dari mimpi dan lihat bahwa kalau sampai tanda bahaya umum dipukul, kita berdua takkan mampu menyelesaikan tugas dengan baik!”

Ucapan Pek-liong ini langsung menembus jantung Liong-li. Kalau ia diingatkan akan ancaman bahaya, belum tentu ia akan menjadi sadar. Akan tetapi, diingatkan bahwa ia menjadi lemah oleh perasaannya, dan bahwa tugasnya belum selesai, Liong-li merasa seperti kepalanya disiram air es! Ia segera menyadari kebodohannya yang timbul karena emosi karena dendam dan amarah.

“Engkau benar, mari kita pergi!” katanya pendek dan mereka berdua menggabungkan sinar pedang hitam dan putih.

Begitu dua gulungan sinar pedang ini menyambar-nyambar, Bouw Sian-seng dan para pembantunya terkejut dan mundur. Ada kekuatan dahsyat dari dua gulungan sinar pedang yang bergabung itu sehingga empat orang yang mencoba untuk menerjangnya terlempar dan terbanting pingsan. Liong-li dan Pek-liong melompat dan menghilang ke dalam kegelapan yang masih bersisa.

“Kejar! Jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dan memimpin anak buahnya untuk mengejar. Akan tetapi ia tidak berani mendahului anak buahnya, karena kalau dia hanya seorang diri saja menghadapi Liong-li dan Pek-liong, dia merasa gentar.

Dan pada saat itu, tanda bahaya umum berupa canang yang dipukul terdengar gencar, menggegerkan seluruh kompleks istana di pagi buta itu. Para jagoan dari semua pangeran keluar, juga pengawal dan jagoan dari kaisar sehingga ramailah kompleks istana pada saat itu. Akan tetapi mereka tidak melihat bayangan penjahat, tidak melihat Si Bayangan Iblis walaupun semua orang menjadi geger ketika mendengar bahwa yang menjadi Kwi-eng-cu atau Si Bayangan Iblis adalah pasangan pendekar yang amat terkenal di dunia persilatan, yaitu Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam) dan Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)!

Dan lebih gager lagi keadaan di dalam istana ketika terdengar berita bahwa Pangeran Souw Han dan lima orang dayang-dayangnya telah dibunuh orang, juga bahwa wanita cantik yang baru saja dijadikan selir pangeran itu telah lenyap. Berita bersimpang siur dan kacau balau, akan tetapi mereka mendengar bahwa selir itu bukan lain adalah Hek-liong-li atau juga seorang dari Bayangas Iblis! Tentu saja keadaan menjadi gempar.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 16 karya kho ping hoo

Karena tidak mungkin kembali ke rumah Pangeran Souw Han setelah kini diketahui rahasianya bahwa ia adalah Hek-liong-li, bahkan ia dituduh membunuh pangeran itu di samping tuduhan bahwa ia adalah Si Bayangan Iblis, juga tidak mungkin melarikan diri ke luar dari kompleks istana karena tanda bahaya umum, sudah dicanangkan dan semua jagoan istana sudah keluar, maka terpaksa Liong-li menurut saja ketika Pek-liong mengajaknya bersembunyi di bagian pemeliharaan kuda yang luas itu.

Di tempat itu dipelihara puluhan ekor kuda, tempatnya luas sekali dan agak jauh dari istana karena baunya yang tentu akan mengganggu para bangsawan. Untung bahwa di tempat itu, para pekerja masih belum bangun. Hari masih terlampau pagi. Liong-li diajak bersembunyi ke dalam gudang ransum kuda di mana terdapat tumpukan jerami kering dan banyak bahan makanan kuda. Setelah menutupkan daun pintu gudang itu, Pek-liong baru mengajak Liong-li bercakap-cakap dengan berbisik, sambil duduk di atas jerami.

Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan di bawah sinar lampu yang masuk dari luar melalui lubang-lubang di atas pintu. Kemudian Pek-liong, mengeluarkan seguci arak, menuangkan dalam dua cawan dan mereka minum sedikit arak untuk menghangatkan badan.

“Engkau luka?” dengan singkat Pek-liong bertanya.

“Luka kecil, tidak berarti. Pangkal lengan kiriku lecet dan paha belakang yang kanan kena tendang.”

“Biar kuperiksa sebentar,” kata Pek-liong dan dua orang yang sudah demikian akrab hubungan mereka secara batiniah itu memang tidak pernah banyak bicara. Dari pandang mata dan gerak gerik saja mereka seperti dapat mengetahui kehendak masing-masing.

Liong-li menghabiskan arak dalam cawannya, lalu rebah menelungkup, Pek-liong memeriksa luka di pangkal lengan kiri melalui baju yang robek. Kulit pangkal lengan yang putih mulus itu tersobek sepanjang satu jari, akan tetapi untung tidak begitu dalam lukanya.

Pek-liong menggunakan obat bubuk untuk luka, ditaburkan luka-luka itu sampai tertutup semua dan menekannya sedikit, lalu membalut lengan itu dengan kain putih bersih setelah merobek baju yang memang sudah robek bagian lengan itu. Ia mengeluarkan sebuah baju hitam lain dan Liong-li segera bertukar baju, lalu menelungkup kembali setelah melepaskan ikat pinggangnya.

Tanpa raga-ragu sedikitpun nampak di antara keduanya, Pek-liong menurunkan celana panjang dari pinggang yang ramping itu. Biarpun kini pinggul dan paha nampak, sedikitpun Pek-liong tidak memperhatikan, penglihatan yang pada umumnya amat menarik hati pria itu. Dia bahkan seperti tidak melihat pinggul itu dan yang kelihatan hanyalah luka di belakang paha kanan.

Memang telah terjalin hubungan yang amat aneh dan luar biasa antara kedua orang muda ini. Mereka ita saling mencinta, saling menyayang, saling mengagumi dan menghormati. Bagi Pek-liong tidak ada wanita di dunia ini yang lebih disayangnya dari pada Liong-li, dan demikian sebaliknya. Akan tetapi, di dalam kasih sayang ini, sedikitpun tidak pernah mereka membiarkan gairah nafsu berahi memasukinya!

Bahkan mereka seperti telah merasa yakin bahwa sekali mereka membiarkan gairah itu masuk dalam kasih sayang mereka, sekali mereka saling mencinta seperti dua orang kekasih dan menumpahkan perasaan mereka dalam hubungan asmara, maka ikatan batin yang kokoh kuat itu akan putus atau goyah! Karena itu, keduanya tidak pernah terjerumus. Lebih baik mereka mencari pasangan lain untuk memenuhi kebutuhan gairah mereka, dari pada mencemari hubungan mereka yang lebih dekat dari pada suami isteri, lebih dekat dari pada saudara, lebih dekat dari pada sahabat itu.

Aneh memang! Karena itulah, maka kini biarpun nampak pinggul telanjang Liong-li, sedikitpun Pek-liong tidak tergerak gairahnya, tidak terangsang, bahkan hebatnya, tidak melihatnya! Diapun memeriksa luka memar itu. Kulit yang putih mulus di paha belakang itu nampak dihiasi tanda membiru bekas tendangan. Dia cepat menggunakan jari-jari tangannya yang ahli untuk memijat sana-sini, mengurut sana-sini di sekitar tempat yang tertendang, memperlancar jalan darah sehingga darah segar dapat membanjiri daerah yang tertendang dan dalam waktu singkat saja paha itupun pulih kembali, rasa nyeripun hilang.

“Terima kasih,” kata Liong-li singkat sambil membetulkan kembali pakaiannya. “Sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat muncul di sini. Apakah Cian Ciang-kun yang menyampaikan suratku?”

Pek-liong mengangguk. “Baru pagi kemarin aku diselundupkan masuk oleh Cian Ciang-kun sebagai pekerja di bagian pemeliharaan kuda. Malam tadi aku melakukan penyelidikan dan bertemu dengan bayangan hitam yang kemudian lari menyelinap ke dalam bangunan Pangeran Kim Ngo Him.” Dengan singkat Pek-liong menceritakan pengalaman malam tadi.

“Ketika aku hendak kembali ke istal, tadi aku melihat engkau dikeroyok. Keadaan tadi berbahaya sekali dan terpaksa sehari ini engkau harus bersembunyi di sini.”

Liong-li mengangguk dan menundukkan mukanya, menghela napas panjang untuk menekan perasaan duka yang timbul ketika ia teringat akan Pangeran Souw Han. Pek-liong kembali mengerutkan alisnya. Belum pernah dia melihat wanita yang dikaguminya ini, wanita yang diakuinya bahkan lebih cerdik dari padanya, mungkin lebih berani dan tabah, menghela napas seperti itu.

“Liong-li, engkau tadi bicara tentang kematian Pangeran Souw Han...?”

Liong-li mengangkat mukanya dan benar saja. Melalui sinar yang masuk ke gudang itu, Pek-liong melihat betapa sepasang mata yang biasanya penuh semangat itu, kini nampak sayu! Ini hanya berarti bahwa kematian pangeran itu amat mendukakan hati Liong-li, berarti pula bahwa wanita luar biasa ini telah jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han! Sungguh hebat tentunya pangeran itu, yang telah dapat menjatuhkan hati seorang wanita seperti Liong-li!

“Dia terbunuh, Pek-liong. Pangeran itu... ah, dia sama sekali bersih, tidak berdosa seperti anak bayi, tidak ikut memperebutkan kekuasaan, bahkan tidak perduli dan tidak berat sebelah, tidak memihak, dia begitu baik budi, bijaksana dan lembut. Dan orang tega membunuhnya, bersama lima orang pelayannya!” Liong-li mengepal tinju tanda bahwa hatinya masih merasa nyeri sekali.

“Pangeran Souw Cun yang melakukannya?”

“Tadinya kusangka demikian. Kini aku ragu-ragu. Mereka itu tadi mengenalku melalui pedang dan menuduh akulah Kwi-eng-cu dan aku pula pembunuh Pangeran Souw Han.” Wanita itu menggeleng kepala.

“Memang ada dua kemungkinan! Mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Pangeran Souw Han atau mereka itu pura-pura tidak tahu?”

Liong-li mengangguk. Begitu menyenangkan kalau ada Pek-liong di dekatnya. Tidak perlu bicara berbelit-belit. Pria ini mampu menangkap semua isi hatinya tanpa kata sekalipun!

“Akan tetapi aku condong dugaan kedua. Kematian Pangeran Souw Han baru kuketahui sendiri. Semua penghuni rumah itu tewas dan tidak ada orang lain yang tahu. Dan begitu mereka mengeroyokku, ada yang meneriakkan bahwa aku telah membunuh Pangeran Souw Han. Mereka telah tahu!”

Pek-liong meraba-raba dagunya dan Liong-li tahu bahwa gerakan itu menunjukkan bahwa rekannya ini sedang berpikir keras. Iapun membiarkan dia berpikir mengasah otak dan ia terus saja mengalirkan keterangan-keterangan yang diperolehnya selama ia melakukan penyelidikan. Tentang Permaisuri Bu Cek Thian, tentang Pangeran Souw Han, tentang Pangeran Souw Cun, dan tentang Pangeran Kim Ngo Him.

“Jadi kalau menurut pendapatmu, yang patut dicurigai menjadi dalang semua kekacauan yang ditimbulkan Kwi-eng-cu, semua pembunuhan, juga pembunuhan terhadap Pangeran Souw Han, adalah dua orang, yaitu Pangeran Souw Cun atau Pangeran Kim Ngo Him?”

“Tepat. Tadinya juga aku mencurigai Permaisuri, akan tetapi setelah melihat dari dekat, aku tidak yakin bahwa ia terlibat. Jelas bahwa ia menentang Kwi-eng-cu yang menggelisahkan hatinya pula. Itulah sebabnya ia mempergunakan aku untuk menyelidik dan menyerahkan aku kepada Pangeran Souw Han.”

“Atau ada kemungkinan ke tiga!”

Liong-li menatap wajah yang tampan gagah itu dengan penuh selidik. Sinar matahari mulai muncul dan cuaca dalam gudang itu semakin cerah. Melihat wajah pria ini saja sudah menimbulkan ketenangan di hatinya dan mengingatkannya bahwa ia sedang berada di tengah kancah pelaksanaan tugas yang berbahaya sehingga tidak ada waktu untuk membiarkan diri terseret arus perasaan.

“Pihak dari luar istana yang menyusup ke dalam?” tanyanya.

Pek-liong mengangguk. “Keadaan di istana, menurut cerita Cian Ciang-kun sedang keruh. Menguntungkan sekali bagi mereka yang suka mengail di air keruh.”

Liong-li mengangguk-angguk. “Engkau mempunyai alasan untuk mencurigai sesuatu?”

“Nanti dulu. Coba jelaskan siapa orang tinggi kurus yang memimpin pengeroyokkan terhadap dirimu tadi?”

“Yang bersenjata rantai baja?”

“Benar, dia lihai sekali.”

“Di hari-hari biasa, dia menyamar sebagai guru sastera dari Pangeran Souw Cun. Namanya atau nama panggilannya Bouw Sian-seng.”

“Jelas dia bukan orang biasa, bukan pula tokoh biasa dalam dunia persilatan. Ilmu silatnya tinggi, tenaga sin-kangnya juga amat kuat. Dia tentu seorang tokoh besar, seorang datuk! Coba, kuingat-ingat. Siapa orang tua tinggi kurus yang agak bongkok, bersenjata rantai baja dan... pandai sastera...? Hemm, aku ingat sekarang!”

Pendekar itu menatap wajah Liong-li penuh selidik sehingga Liong-li merasa seolah-olah sinar mata itu menjenguk ke dalam dadanya dan mengaduk-aduk di sana mencari sesuatu.

“Liong-li, katakan, apakah engkau mengenal suaranya? Katakan dari mana kiranya dia berasal, kalau didengar dari logat bicaranya?”

“Nanti dulu...” Liong-li mengerutkan alisnya dan tangan kirinya menggosok, mengelus dan menggosok batang hidungnya yang mancung, tanda bahwa ia sedang tenggelam ke dalam pemikiran mendalam.

“Kalimatnya yang terpanjang hanya ketika tadi memerintahkan anak buahnya mengepung ketat, tidak membiarkan aku lolos, dan untuk memukul tanda bahaya umum. Dalam keadaan tegang itu tentu dia tidak dapat menyembunyikan logat bicaranya yang aseli. Ya, aku ingat! Dia tentu datang dari selatan, jelas ketika tadi ia menyebut kata kepung dengan kata kurung. Itu kebiasaan bahasa orang dari selatan...!”

“Tepat dugaanku! Wah, Liong-li, kalau tidak keliru perhitunganku, kita berhadapan dengan musuh besar. Pantas dia berusaha mati-matian untuk membunuhmu. Keadaannya, senjatanya, kelihaiannya, dan logat bicaranya mengingatkan aku akan Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan)!”

Liong-li tertegun. “Aihhh! Seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua)?”

Tentu saja wanita perkasa ini terkejut bukan main mendengar dugaan Pek-liong bahwa Bouw Sian-seng itu mungkin sekali Lam-hai Mo-ong. Pada waktu itu, sejak beberapa tahun yang lalu di dunia kang-ouw muncul Kiu Lo-mo yang menggemparkan dunia persilatan. Mereka adalah sembilan orang datuk sesat yang selama duapuluh tahun lebih menghilang dari dunia persilatan.

Akan tetapi, selama beberapa tahun ini mereka turun gunung dan menjadi datuk-datuk sesat. Selama ini, Pek-liong dan Liong-li pernah bertentangan dengan dua orang di antara mereka, yaitu pertama dengan Hek Sim Lo-mo (Baca Sepasang Naga Penakluk Iblis) dan Siauw-bin Ciu-kwi (Baca Rahasia Patung Emas).

Masih ada tujuh orang lagi yang sewaktu-waktu dapat saja muncul untuk memusuhi mereka karena tentu mereka itu tidak akan tinggal diam saja mendengar bahwa Hek Sim Lo-mo dan Siauw-bin Ciu-kwi, dua orang di antara mereka tewas di tangan Pek-liong dan Liong-li. Dan kini, tiba-tiba saja dalam menyelidiki Kwi-eng-cu, mereka dihadapkan kepada seorang di antara Kiu Lo-mo. Walaupun ini baru dugaan saja dari Pek-liong, namun kalau pendekar ini menduga, maka dugaan itu bukan hanya ngawur belaka dan biasanya tentu tidak keliru.

Tiba-tiba pendengaran mereka yang tajam menangkap langkah kaki di depan gudang. Pek-liong hendak memberi isyarat kepada Liong-ji, namun wanita itu sudah tahu pula apa yang harus ia lakukan dan tubuhnya bergerak cepat menyusup ke dalam tumpukan jerami kering. Juga ia sudah menyambar dua batang pedang Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam yang tadi diletakkan di atas lantai, juga pakaian hitam yang tadi dipakai Pek-liong, dibawa masuk ke dalam tumpukan jerami.

“A-cin! Haii, A-cin, di mana kamu?” terdengar teriakan orang di luar gudang itu.

Pek-liong tadi sudah menyambar sebatang garpu bergagang panjang yang biasa dipergunakan untuk mengumpulkan dan mengatur jerami kering. “Aku di sini...!” jawabnya sambil menuju ke arah pintu gudang, lalu membukanya dengan tangan kanan masih memegang gagang garpu.

Kiranya orang itu adalah seorang mandor di bagian pemeliharaan kuda itu, tubuhnya gendut dan matanya sipit, seperti mata babi. Dengan mata sipitnya dia memeriksa keadaan dalam gudang itu, lalu mengangguk-angguk. Mulutnya yang tadinya cemberut kini menyeringai senang. Kini sikapnya seperti orang yang penuh ketegangan akan tetapi juga kegembiraan bahwa dia datang membawa berita yang mengejutkan.

“Kukira engkau masih tidur di gudang ini, A-cin. Kiranya sepagi ini engkau telah menggarpu jerami!”

“Toako, kalau ingin maju orang harus kerja keras,” kata Pek-liong dengan muka yang bodoh dan lugu. Untung dia tidak pernah melepaskan penyamarannya sebagai seorang dusun yang bodoh, dengan kulit badan yang kini berubah kecoklatan tanda sering terbakar sinar matahari.

“Engkau benar dan aku girang memperoleh seorang pembantu seperti engkau. Nah, hari ini kita menghadapi pekerjaan yang banyak! Kita harus kerja keras, pagi-pagi ini harus mempersiapkan kuda, memberi makan dan membersihkan bulu mereka, mempersiapkan pelananya karena setiap waktu kuda-kuda itu akan dipakai.”

“Eh? Apakah yang terjadi, toako? Apakah istana hendak mengadakan pesta? Atau perburuan? Aku sering mendengar bahwa kalau para bangsawan hendak pergi berburu, maka hampir semua kuda di sini dipergunakan.”

“Pesta? Berburu? Ha-ha, memang ada benarnya. Apa bedanya upacara kematian dengan upacara kelahiran atau pernikahan dan yang lain? Ramai-ramai, makan-makan, perayaan dan upacara. Dan memang ada perburuan besar, A-cin, bukan binatang buas yang diburu, melainkan mahluk yang lebih menyeramkan lagi, mahluk pembunuh yang...“ Si gendut itu menghentikan kata-katanya dan menengok keluar seperti orang yang tiba-tiba teringat dan menjadi ketakutan.

“Eh, kenapa toako? Siapa yang mati? Siapa pula yang diburu?”

“Sudahlah, A-cin. Aku tidak berani banyak bercerita. Jangan-jangan kepalaku ini yang akan dipenggal kalau banyak mengobrol. Akan tetapi, engkau orang baru dan tidak banyak tahu, maka perlu kauketahui bahwa semalam, Pangeran Souw Han dibunuh orang, dan sekarang seluruh jagoan dan pengawal istana akan mencari pembunuh itu yang diduga masih bersembunyi di dalam kompleks istana. Nanti dilakukan upacara penguburan, maka banyak kuda akan dipakai.”

“Toako, siapakah itu Pangeran Souw Han dan mengapa dia dibunuh orang? Siapa pembunuhnya?” Dengan lagak yang bodoh dan jujur, Pek-liong memancing.

“Pangeran Souw Han adalah pangeran yang paling baik di seluruh istana. Dia tampan sekali, halus budi pekertinya, dermawan. Bahkan terhadap pekerja-pekerja kasar seperti kitapun dia bersikap ramah dan halus, sering memberi hadiah. Entah kenapa ada orang yang tega membunuhnya. Kabarnya yang membunuhnya adalah... eh, Kwi-eng-cu yang diketahui adalah seorang wanita cantik.”

“Ehhh...?”

“Wanita itu kabarnya berjuluk Hek-liong-li, dan ia telah menyusup ke dalam istana, bahkan menjadi seorang selir Pangeran Souw Han yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita. Heran, sungguh heran, bagaimana seorang wanita tega membunuhnya....... eh, sudahlah, A-cin, engkau banyak bertanya saja. Nah bekerjalah dengan baik. Setelah selesai membersihkan gudang, cepat engkau bantu aku mempersiapkan kuda-kuda itu bersama para pembantuku yang lain. Kita akan kekurangan tenaga!” Setelah berkata demikian, si gendut meninggalkan Pek-liong.

Pek-liong menutupkan lagi pintu gudang, lalu menghampiri Liong-li yang sudah keluar dari tumpukan jerami. “Engkau sudah mendengar semua tadi?”

Liong-li mengangguk sambil membersihkan pakaiannya dari jerami yang menempel. “Tentu berita tentang aku menjadi Kwi-eng-cu dan membunuh Pangeran Souw Han sudah mereka sebar-sebarkan secara luas. Anehnya namamu tidak disebut, padahal mereka sudah mengenalmu pula dari pedangmu, Pek-liong.”

“Mungkin juga si gendut itu tidak mendengarnya. Bagaimanapun juga, untuk sementara ini engkau tidak boleh memperlihatkan diri, Liong-li. Semua jagoan istana mencarimu. Di sini engkau aman dan malam nanti kita lanjutkan penyelidikan kita. Kita menyelidiki Bouw Sian-seng. Kalau benar dugaanku bahwa dia itu Lam-hai Mo-ong, kita harus memperingatkan Pangeran Souw Cun, karena mungkin saja dia sengaja diperalat oleh iblis tua itu.”

Liong-li mengangguk-angguk. “Dia diperalat atau memperalat. Itu saja pilihannya. Betapapun juga, aku yakin bahwa yang membunuh pangeran Souw Han tentulah tidak ada bedanya dengan pelaku pembunuhan yang terjadi selama ini.”

“Kwi-eng-cu?”

“Mungkin itu hanya nama palsu belaka. Bayangan Iblis tidak pernah mengaku dengan nama itu. Nama itu hanya pemberian mereka di kota raja saja. Siapa tahu dugaanmu benar? Lam-hai Mo-ong menyamar sebagai Bouw Sian-seng di waktu siang, sedangkan malamnya dia menjadi Si bayangan Iblis. Mungkin diperalat Pangeran Souw Cun, mungkin juga dia memperalat pangeran itu untuk menimbulkan kekacauan di istana.”

“Hemmm, memang bisa saja Pangeran Souw Cun ingin menjatuhkan para saingannya. Akan tetapi juga amat mungkin Lam-hai Mo-ong menimbulkan kekacauan dan kekeruhan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.”

“Bagaimanapun juga, kita harus membongkar rahasia Si Bayangan Iblis ini!” kata Liong-li mengepal tinju karena ia teringat lagi kepada Pangeran Souw Han yang menjadi korban.

“Engkau sehari ini bersembunyi saja di gudang ini. Kalau ada orang masuk, engkau menyusup ke dalam tumpukan jerami. Bawa pula pedangku, dan nanti kukirimkan makanan. Aku masih menanti berita dari Cian Ciang-kun, dan juga dari Cu Sui In.”

“Siapa ia? Engkau belum menceritakan.”

Dengan singkat Pek-liong menceritakan tentang keponakan isteri Ciok Tai-jin itu, yang suaminya juga menjadi korban pembunuhan Si Bayangan Iblis. “Ia akan menyelundup ke dalam istana pula, menyamar sebagai adik misanmu dan mencarimu, tadinya ia yang akan bertugas menjadi perantara dari kita dan Cian Ciang-kun. Ia murid Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya lumayan, boleh diandalkan.”

“Bagus! Kalau begitu, kita menanti berita dari mereka sebelum kita turun tangan. Malam nanti kita hanya melakukan penyelidikan saja.”

“Aku juga ingin mencari, apakah di antara para jagoan di istana ada Pek-mau-kwi Ciong Hu yang membunuh Giam Sun, paman Cu Sui In itu. Dialah yang dapat menunjukkan siapa adanya Si Bayangan Iblis karena sebelum mati, Giam Sun menuliskan dua nama, yaitu Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu. Nah, sekarang aku mau bekerja di luar membantu si gendut agar jangan menimbulkan kecurigaan.”

Liong-li mengangguk, akan tetapi ketika Pek-liong hendak pergi, ia memanggil lirih. Pek-liong menoleh. “Pek-liong, kalau nanti kebetulan engkau dapat melihat peti jenazah... Pangeran Souw Han, tolong engkau bersembahyang dalam hati untukku, katakan bahwa aku merasa menyesal dan mohon maaf bahwa dia telah menjadi korban karena aku.”

Pek-liong memandang serius dan mengangguk, di dalam hatinya merasa kasihan sekali kepada wanita yang paling disayang dan dihormatinya itu. Diapun pergi dan Liong-li menyelinap di balik tumpukan jerami, siap untuk sewaktu-waktu menyusup masuk ke dalam tumpukan jerami itu kalau ada orang lain masuk gudang.

********************

Cian Hui dan Cu Sui In diterima oleh Kaisar sendiri yang didampingi Permaisuri Bu Cek Thian di dalam sebuah ruangan khusus. Kaisar Tang Kao Cung dan Permaisuri Bu Cek Thian duduk berdampingan di atas kursi gading berselaput emas dan tidak ada seorang pun ponggawa diperkenankan hadir.

Hanya ada selosin pengawal pribadi Kaisar yang merupakan orang-orang kepercayaan kaisar, lihai namun tuli dan gagu dan yang tugasnya hanyalah menjaga keselamatan kaisar dan menerima perintah melalui gerakan tangan, dan dua orang pengawal pribadi Bu Cek Thian, yaitu gadis kembar Bi Cu dan Bi Hwa. Hanya mereka ini yang hadir, berdiri di belakang kaisar dan permaisuri.

Kaisar nampak marah. Alisnya berkerut dan mukanya merah, sedangkan Cian Hui dan Cu Sui In berlutut sambil menundukkan mukanya. “Sekali lagi kami tekankan, Cian Hui!” kata Kaisar. “Kalau sekali ini engkau tidak mampu menangkap iblis yang disebut Kwi-eng-cu itu, tidak dapat menangkap pembunuh Pangeran Souw Han, kami akan memberi hukuman berat kepadamu! Kami beri waktu sampai tiga hari dan selama tiga hari kami beri wewenang kepadamu untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan di komplek istana...”

“Cian Ciang-Kun,” kata pula permaisuri itu yang sejak tadi mendengarkan saja. “Tindakan Kwi-eng-cu memang sudah keterlaluan. Bahkan, usahamu menyelundupkan Hek-liong-li nampaknya sia-sia belaka. Karena Hek-liong-li menyusup sebagai selir Pangeran Souw Han, malah hal ini membuat Souw Han menjadi korhan dan kini Hek- liong-li entah berada di mana. Engkau harus membongkar semua rahasia ini!”

“Mohon yang mulia Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) sudi melimpahkan pengampunan kepada hamba. Hamba akan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan hamba untuk membikin terang perkara ini. Hamba telah menyelundupkan Hek-liong-li, bahkan Pek-liong-eng, dan hamba mengandalkan kemampuan mereka untuk membantu hamba menangkap Kwi-eng-cu. Di sini hamba menyertakan nona Cu Sui In untuk membantu hamba. Biar ia yang akan mencari Hek-liong-li dan mengaku sebagai saudara misan Liong-li yang menyamar sebagai Siauw Cu. Sedangkan hamba sendiri bersama Pek-liong-eng akan melakukan penyelidikan dengan seksama. Dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh paduka, mohon hamba diberi wewenang untuk semua pasukan pengawal kalau saatnya tiba.”

“Permintaanmu kami kabulkan. Kamu akan kami beri tek-pai (bambu bertulis tanda kekuasaan) dan dengan tanda wewenang itu engkau boleh menghubungi para komandan pasukan pengawal yang tentu akan melakukan semua perintahmu. Nah, laksanakanlah!”

“Biarkan Sui In bersamaku. Ia dapat menyelundup ke bagian putera bersama para dayang yang kuperintahkan untuk membantu pengurusan upacara pemakaman jenazah Pangeran Souw Han agar tidak kentara. Ia dapat menyamar sebagai seorang di antara para dayangku,” kata sang permaisuri.

Setelah diperkenankan keluar, Cian Hui segera menghubungi para komandan pasukan pengawal, memperlihatkan tek-pai itu dan semua komandan menyambutnya dengan hormat sebagai wakil kaisar sendiri. Bersama mereka, Cian Hui mengatur siasat. Dia memerintahkan mereka membuat barisan tersembunyi, tidak bergerak sebelum ada perintah khusus dan selanjutnya bersiap siaga agar setiap saat dia dapat mengharapkan bantuan mereka...

Si Bayangan Iblis Jilid 16

DEMIKIANLAH pula dengan Liong-li. Karena hatinya dibakar dendam kemarahan, ia lupa akan keadaan dirinya, lupa bahwa ia sedang dalam penyamaran, sedang melakukan tugas penyelidikan. Yang memenuhi ingatannya hanyalah bahwa pangeran yang disayangnya telah dibunuh secara kejam dan ia harus membalas dendam terhadap pembunuhnya!

Hal ini mengurangi kewaspadaannya sehingga ia tidak tahu sama sekali bahwa ia seperti masuk dalam perangkap yang dipasang orang-orang yang amat cerdik dan lihai. Tidak ada lagi kecurigaan penuh kewaspadaan yang selalu menyertai dirinya, dan ia menjadi semberono. Begitu saja ia melompat ke atas wuwungan rumah, kemudian dengan penuh keberanian karena marah ia melayang turun ke pekarangan samping gedung tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Begitu kedua kakinya turun menginjak tanah, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dari sekelilingnya dan bermunculan banyak sekali orang, ada belasan orang jumlahnya.

“Tangkap Kwi-eng-cu (Si Bayangan Iblis)!”

“Dia telah membunuh Pangeran Souw Han!”

“Tangkap penjahat!”

“Bunuh Si Bayangan Iblis!”

Liong-li yang tadinya marah sekali, kini terkejut bukan main mendengar teriakan-terikan ini. Ia disangka Si Bayangan Iblis! Bukan itu saja, ia malah dituduh pembunuh Pangeran Souw Han! Ini merupakan perangkap yang berbahaya sekali! Jelas bahwa mereka sudah tahu akan kematian Pangeran Souw Han dan ini membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Pangeran Souw Cun dan antek-anteknya.

Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir tentang ini karena pada saat itu dirinya sudah dikepung. Ketika ia hendak meloncat kembali naik ke atas wuwungan, ia melihat di atas genteng telah berdiri beberapa bayangan orang pula. Ia telah terkepung di sekelilingnya, bahkan di atasnya! Dan pada saat itu, beberapa orang sudah mulai menyerangnya dengan senjata tajam dan melihat gerakan mereka, ia tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang lihai.

Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal dan jagoan-jagoan peliharaan Pangeran Souw Cun, Di antara mereka terdapat pula dua orang yang pagi tadi menangkapnya, bahkan kemudian mencambuknya. Masih nampak jalur-jalur merah di muka mereka ketika Pangeran Souw Han membalas dengan mencambuki mereka itu. Ingatan ini saja mendatangkan kembali kenangan manis betapa Pangeran Souw Han membelanya dan menyayangnya. Timbullah kemarahannya lagi.

“Jahanam-jahanam busuk!” bentaknya dan sekali tangannya bergerak, nampak sinar hitam berkelebat, disusul sinar itu bergulung-gulung dan dua orang yang pagi tadi mencambukinya itu mengeluarkan teriakan kesakitan dan mereka pun jatuh bergulingan, sengaja menggulingkan tubuh menjauh sambil mengaduh-aduh karena lengan kanan yang memegang pedang telah terbabat sinar hitam dan putus! Tentu saja hal ini mengejutkan semua orang yang mengeroyoknya.

“Aha! Kiranya Hek-liong-li...!”

Liong-li membalik dan melihat siapa yang berseru itu. Sesosok bayangan tinggi kurus agak bongkok melayang turun dari atas genteng dan ketika bayangan itu tiba di depannya, ia mengenalnya sebagai Bouw Sian-seng, guru sastra yang nampak lemah dan tolol itu, yang pagi tadi juga telah menyiksanya!

Karena agaknya para pengawal terkejut dan gentar mendengar disebutnya Hek-liong-li, apa lagi melihat betapa dua orang kawan mereka kehilangan lengan kanan dalam segebrakan saja begitu Hek-liong-li menggerakkan pedangnya, kini mereka menahan serangan dan hanya memandang dengan penuh perhatian kepada wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, bertopeng sapu tangan sutera hitam dan memegang sebatang pedang hitam yang memiliki sinar mengiriskan itu.

“Dan kiranya engkau yang menyamar sebagai guru tolol yang menjadi pemimpin para penjahat di istana!” Liong-li berseru.

“Ha-ha! Yang menjadi Si Bayangan Iblis ternyata Hek-liong-li. Kepung! Tangkap atau bunuh!” Bouw Sian-seng dengan suaranya yang parau berteriak dan dia sendiri sudah melolos sebatang rantai baja yang tadinya dijadikan sabuk, lalu memutar rantai baja itu, menyerang dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali.

Liong-li sudah menjadi marah bukan main. Ia datang untuk membalas kematian Pangeran Souw Han kepada Pangeran Souw Cun dan kaki tangannya, akan tetapi kini ia malah dituduh sebagai pembunuh Pangeran Souw Han, dan juga dituduh sebagai Kwi-eng-cu!

“Keparat!” bentak Liong-li dan iapun menggerakkan pedang Hek-liong-kiam untuk menangkis, mengerahkan tenaga agar rantai baja terbabat putus.

“Tranggg...!!” Bunga api berpijar dan Liong-li terkejut sekali. Rantai baja itu tidak putus, membuktikan bahwa rantai itu terbuat dari baja pilihan yang dapat menahan Hek-liong-kiam, juga ia merasa betapa lengan kanannya tergetar.

Kiranya si kurus agak bongkok yang kelihatan sebagai seorang sasterawan lemah ini memiliki sin-kang yang hebat, mengingatkan ia akan bayangan hitam yang pernah dilawannya dan yang menyerangnya dengan paku! Jelas bahwa bayangan hitam yang tadi bertubuh kurus pendek, tidak jangkung seperti ini. Akan tetapi, Bouw Sian-seng ini ternyata lihai sekali dan kini rantai baja itu sudah menyambar-nyambar dengan ganas dan dahsyatnya. Iapun memutar pedangnya menangkis dan balas menyerang.

Anak buah Bouw Sian-seng yang datang mengeroyok rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi dan karena tingkat kepandaian Bouw Sian-seng seimbang dengannya, maka dikeroyok belasan orang lihai itu, Liong-li mulai terdesak. Akan tetapi begitu ia menggerakkan pedangnya dan memainkan Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), belasan orang pengeroyok itu terkejut karena kembali ada dua orang pengeroyok yang terluka oleh sambaran sinar pedang.

Ilmu pedang ini memang hebat sekali, apa lagi kalau dimainkan bersama Pek-liong karena ilmu ini adalah hasil rekaan Liong-li dan Pek-liong yang mengambil inti sari dari ilmu pedang masing-masing, mengambil yang kuat membuang atau menutupi yang lemah dan menggabungkannya menjadi ilmu pedang itu.

“Kepung ketat, jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dengan marah sekali dan diapun mempercepat putaran rantai bajanya, menyerang dengan marah. Para pembantunya mendesak pula dan kepungan mereka semakin rapat sehingga kembali Liong-li sibuk sekali karena datangnya serangan seperti hujan membuat ia hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk membalas.

“Trang-trang-tranggg...!” Pedang pusaka Naga Hitam menangkisi banyak senjata para pengeroyok dan dua batang golok patah-patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam. Akan tetapi karena terpaksa menangkis banyak senjata, Liong-li tidak sempat lagi mengelak dengan baik ketika rantai yang bergulung-gulung itu menghantam dengan totokan maut ke arah dadanya. Ia hanya mampu merendahkan tubuh dan miring sedikit, namun ini tidak cukup dan ujung rantai masih mengenai pangkal lengan kirinya bagian luar sehingga bajunya terobek dan kulitnya terluka mengucurkan darah.

Liong-li terkejut dan mengelebatkan pedangnya ke arah leher Bouw Sian-seng yang ternyata lihai sekali itu. Bouw Sian-seng terpaksa harus mundur karena sambaran pedang itu dapat memenggal lehernya dan dari belakang sebuah tendangan menyambar keras dan biarpun sudah dielakkan tetap saja mengenai paha kanan Liong-li bagian belakang.

Pendekar wanita itu terhuyung dan untung ia masih sempat memutar pedangnya menghalau rantai yang kembali sudah menyambar dahsyat. Akan tetapi, luka di pangkal lengannya terasa nyeri dan juga bekas tendangan tadi cukup keras membuat ia tidak leluasa lagi memainkan Liu-seng-pouw sehingga gerakannya tidaklah selincah tadi. Ia dalam bahaya!

Melihat ini, Bouw Sian-seng tertawa, “Ha-ha-ha, Hek-liong-li, sekali ini engkau tidak akan dapat lolos dari tanganku! Engkau telah berani menjadi Kwi-eng-cu yang mengacaukan istana, bahkan berani membunuh Pangeran Souw Han!”

Teriakan ini cukup lantang dan terdengarlah para pengawal itu berteriak-teriak. “Basmi Kwi-eng-cu!”

“Tangkap pembunuh Pangeran Souw Han!”

“Bunuh saja siluman ini!”

Gawat keadaannya, pikir Liong-li. Ia berada di situ untuk menyelidiki Kwi-eng-cu, dan iapun hendak membalas dendam atas kematian Pangeran Souw Han. Akan tetapi sebaliknya ia malah dituduh membunuh Pangeran Souw Han dan disangka Kwi-eng-cu. Sikap Bouw Sian-seng dan para anak buahnya itu, pembantu-pembantu Pangeran Souw Cun, sungguh membuat ia menjadi bingung. Sikap mereka itu menunjukkan bahwa mereka tidak membunuh Pangeran Souw Han, juga Bouw Sian-seng bukan Kwi-eng-cu. Ataukah semua itu hanya sandiwara belaka!

Pikirannya tidak dapat bekerja banyak, karena seluruh perhatiannya harus ia curahkan kepada gerakan tubuhnya untuk menyelamatkan diri dari pengepungan yang demikian ketatnya. Tiba-tiba nampak sesosok bayangan hitam lain menyambar turun dari atas genteng dan begitu bayangan ini meluncur turun ketengah-tengah medan perkelahian, bagaikan seekor naga menyambar turun dari angkasa.

Dua orang pengeroyok berseru kaget dan merekapun roboh terpelanting ke kanan kiri oleh tamparan tangan orang itu. Kemudian, orang itu sudah mencabut sebatang pedang, memutarnya dan nampaklah gulungan sinar putih membantu sinar hitam pedang Hek-liong-kiam. Melihat ini, Bouw Sian-seng terkejut bukan main.

“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)...!”

Mendengar ucapan ini, semua pengeroyok kembali terkejut. Tentu saja mereka pernah mendengar nama besar Pek-liong-eng yang merupakan pasangan dari Hek-liong-li! Akan tetapi hanya sebentar saja Bouw Sian-seng terkejut. Kini terdengar lagi suaranya, dan suara itu terdengar gembira bercampur tegang, seperti pemburu yang melihat masuknya dua ekor harimau ke dalam perangkap.

“Kurung mereka, jangan sampai lolos! Cepat pukul tanda bahaya umum. Cepat...!” Dan Bouw Sian-seng sendiri menyerang Pek-liong dengan rantai bajanya. Gerakannya memang dahsyat sekali dan melihat ini, Pek-liong menangkis dengan pedangnya.

“Tranggg...!” Bunga api berpijar menyilaukan mata dan Bouw Sian-seng meloncat ke belakang, kaget karena lengannya yang memegang rantai tergetar hebat. Juga Pek-liong maklum akan kekuatan lawan, maka menggunakan kesempatan selagi lawan mundur, dia mendekati Liong-li yang sudah mengamuk dan merobohkan dua orang pengeroyok lagi itu.

“Mari kita pergi dari sini!”

Liong-li tadi tentu saja gembira bukan main melihat munculnya orang yang paling dipercaya di dunia ini. Biarpun Pek-liong mengenakan pakaian serba hitam dan, menutupi muka dengan sapu tangan, pada hal biasanya dia selalu berpakaian putih, namun belum juga pedang Pek-liong-kiam dicabut, baru melihat gerakannya meluncur turun saja ia sudah menduga siapa orangnya.

Tentu saja hatinya menjadi besar. Dengan Pek-liong di sampingnya, ia berani menantang dan menentang siapapun juga! Hatinya menjadi besar dan dengan bantuan Pek-liong, ia merasa yakin akan mampu membasmi Pangeran Souw Cun dengan semua kaki tangannya untuk membalaskan kematian Pangeran Souw Han.

“Tidak! Bantu aku membasmi Pangeran Souw Cun dan semua anteknya! Aku harus membalaskan kematian Pangeran Souw Han!” serunya dan Pek-liong terkejut dan heran sekali mendengar suara dan melihat sikap rekannya itu. Baru sekarang ini dia melihat rekannya itu kehilangan ketenangannya, kehilangan keseimbangannya dan dipengaruhi perasaan dendam dan marah yang hebat!

“Heiiiii! Apa yang membuat engkau menjadi lemah? Jangan tenggelam ke dalam perasaan, bangunlah dari mimpi dan lihat bahwa kalau sampai tanda bahaya umum dipukul, kita berdua takkan mampu menyelesaikan tugas dengan baik!”

Ucapan Pek-liong ini langsung menembus jantung Liong-li. Kalau ia diingatkan akan ancaman bahaya, belum tentu ia akan menjadi sadar. Akan tetapi, diingatkan bahwa ia menjadi lemah oleh perasaannya, dan bahwa tugasnya belum selesai, Liong-li merasa seperti kepalanya disiram air es! Ia segera menyadari kebodohannya yang timbul karena emosi karena dendam dan amarah.

“Engkau benar, mari kita pergi!” katanya pendek dan mereka berdua menggabungkan sinar pedang hitam dan putih.

Begitu dua gulungan sinar pedang ini menyambar-nyambar, Bouw Sian-seng dan para pembantunya terkejut dan mundur. Ada kekuatan dahsyat dari dua gulungan sinar pedang yang bergabung itu sehingga empat orang yang mencoba untuk menerjangnya terlempar dan terbanting pingsan. Liong-li dan Pek-liong melompat dan menghilang ke dalam kegelapan yang masih bersisa.

“Kejar! Jangan sampai lolos!” Bouw Sian-seng berseru dan memimpin anak buahnya untuk mengejar. Akan tetapi ia tidak berani mendahului anak buahnya, karena kalau dia hanya seorang diri saja menghadapi Liong-li dan Pek-liong, dia merasa gentar.

Dan pada saat itu, tanda bahaya umum berupa canang yang dipukul terdengar gencar, menggegerkan seluruh kompleks istana di pagi buta itu. Para jagoan dari semua pangeran keluar, juga pengawal dan jagoan dari kaisar sehingga ramailah kompleks istana pada saat itu. Akan tetapi mereka tidak melihat bayangan penjahat, tidak melihat Si Bayangan Iblis walaupun semua orang menjadi geger ketika mendengar bahwa yang menjadi Kwi-eng-cu atau Si Bayangan Iblis adalah pasangan pendekar yang amat terkenal di dunia persilatan, yaitu Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam) dan Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)!

Dan lebih gager lagi keadaan di dalam istana ketika terdengar berita bahwa Pangeran Souw Han dan lima orang dayang-dayangnya telah dibunuh orang, juga bahwa wanita cantik yang baru saja dijadikan selir pangeran itu telah lenyap. Berita bersimpang siur dan kacau balau, akan tetapi mereka mendengar bahwa selir itu bukan lain adalah Hek-liong-li atau juga seorang dari Bayangas Iblis! Tentu saja keadaan menjadi gempar.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 16 karya kho ping hoo

Karena tidak mungkin kembali ke rumah Pangeran Souw Han setelah kini diketahui rahasianya bahwa ia adalah Hek-liong-li, bahkan ia dituduh membunuh pangeran itu di samping tuduhan bahwa ia adalah Si Bayangan Iblis, juga tidak mungkin melarikan diri ke luar dari kompleks istana karena tanda bahaya umum, sudah dicanangkan dan semua jagoan istana sudah keluar, maka terpaksa Liong-li menurut saja ketika Pek-liong mengajaknya bersembunyi di bagian pemeliharaan kuda yang luas itu.

Di tempat itu dipelihara puluhan ekor kuda, tempatnya luas sekali dan agak jauh dari istana karena baunya yang tentu akan mengganggu para bangsawan. Untung bahwa di tempat itu, para pekerja masih belum bangun. Hari masih terlampau pagi. Liong-li diajak bersembunyi ke dalam gudang ransum kuda di mana terdapat tumpukan jerami kering dan banyak bahan makanan kuda. Setelah menutupkan daun pintu gudang itu, Pek-liong baru mengajak Liong-li bercakap-cakap dengan berbisik, sambil duduk di atas jerami.

Sejenak mereka duduk berhadapan dan saling berpandangan di bawah sinar lampu yang masuk dari luar melalui lubang-lubang di atas pintu. Kemudian Pek-liong, mengeluarkan seguci arak, menuangkan dalam dua cawan dan mereka minum sedikit arak untuk menghangatkan badan.

“Engkau luka?” dengan singkat Pek-liong bertanya.

“Luka kecil, tidak berarti. Pangkal lengan kiriku lecet dan paha belakang yang kanan kena tendang.”

“Biar kuperiksa sebentar,” kata Pek-liong dan dua orang yang sudah demikian akrab hubungan mereka secara batiniah itu memang tidak pernah banyak bicara. Dari pandang mata dan gerak gerik saja mereka seperti dapat mengetahui kehendak masing-masing.

Liong-li menghabiskan arak dalam cawannya, lalu rebah menelungkup, Pek-liong memeriksa luka di pangkal lengan kiri melalui baju yang robek. Kulit pangkal lengan yang putih mulus itu tersobek sepanjang satu jari, akan tetapi untung tidak begitu dalam lukanya.

Pek-liong menggunakan obat bubuk untuk luka, ditaburkan luka-luka itu sampai tertutup semua dan menekannya sedikit, lalu membalut lengan itu dengan kain putih bersih setelah merobek baju yang memang sudah robek bagian lengan itu. Ia mengeluarkan sebuah baju hitam lain dan Liong-li segera bertukar baju, lalu menelungkup kembali setelah melepaskan ikat pinggangnya.

Tanpa raga-ragu sedikitpun nampak di antara keduanya, Pek-liong menurunkan celana panjang dari pinggang yang ramping itu. Biarpun kini pinggul dan paha nampak, sedikitpun Pek-liong tidak memperhatikan, penglihatan yang pada umumnya amat menarik hati pria itu. Dia bahkan seperti tidak melihat pinggul itu dan yang kelihatan hanyalah luka di belakang paha kanan.

Memang telah terjalin hubungan yang amat aneh dan luar biasa antara kedua orang muda ini. Mereka ita saling mencinta, saling menyayang, saling mengagumi dan menghormati. Bagi Pek-liong tidak ada wanita di dunia ini yang lebih disayangnya dari pada Liong-li, dan demikian sebaliknya. Akan tetapi, di dalam kasih sayang ini, sedikitpun tidak pernah mereka membiarkan gairah nafsu berahi memasukinya!

Bahkan mereka seperti telah merasa yakin bahwa sekali mereka membiarkan gairah itu masuk dalam kasih sayang mereka, sekali mereka saling mencinta seperti dua orang kekasih dan menumpahkan perasaan mereka dalam hubungan asmara, maka ikatan batin yang kokoh kuat itu akan putus atau goyah! Karena itu, keduanya tidak pernah terjerumus. Lebih baik mereka mencari pasangan lain untuk memenuhi kebutuhan gairah mereka, dari pada mencemari hubungan mereka yang lebih dekat dari pada suami isteri, lebih dekat dari pada saudara, lebih dekat dari pada sahabat itu.

Aneh memang! Karena itulah, maka kini biarpun nampak pinggul telanjang Liong-li, sedikitpun Pek-liong tidak tergerak gairahnya, tidak terangsang, bahkan hebatnya, tidak melihatnya! Diapun memeriksa luka memar itu. Kulit yang putih mulus di paha belakang itu nampak dihiasi tanda membiru bekas tendangan. Dia cepat menggunakan jari-jari tangannya yang ahli untuk memijat sana-sini, mengurut sana-sini di sekitar tempat yang tertendang, memperlancar jalan darah sehingga darah segar dapat membanjiri daerah yang tertendang dan dalam waktu singkat saja paha itupun pulih kembali, rasa nyeripun hilang.

“Terima kasih,” kata Liong-li singkat sambil membetulkan kembali pakaiannya. “Sekarang ceritakan bagaimana engkau dapat muncul di sini. Apakah Cian Ciang-kun yang menyampaikan suratku?”

Pek-liong mengangguk. “Baru pagi kemarin aku diselundupkan masuk oleh Cian Ciang-kun sebagai pekerja di bagian pemeliharaan kuda. Malam tadi aku melakukan penyelidikan dan bertemu dengan bayangan hitam yang kemudian lari menyelinap ke dalam bangunan Pangeran Kim Ngo Him.” Dengan singkat Pek-liong menceritakan pengalaman malam tadi.

“Ketika aku hendak kembali ke istal, tadi aku melihat engkau dikeroyok. Keadaan tadi berbahaya sekali dan terpaksa sehari ini engkau harus bersembunyi di sini.”

Liong-li mengangguk dan menundukkan mukanya, menghela napas panjang untuk menekan perasaan duka yang timbul ketika ia teringat akan Pangeran Souw Han. Pek-liong kembali mengerutkan alisnya. Belum pernah dia melihat wanita yang dikaguminya ini, wanita yang diakuinya bahkan lebih cerdik dari padanya, mungkin lebih berani dan tabah, menghela napas seperti itu.

“Liong-li, engkau tadi bicara tentang kematian Pangeran Souw Han...?”

Liong-li mengangkat mukanya dan benar saja. Melalui sinar yang masuk ke gudang itu, Pek-liong melihat betapa sepasang mata yang biasanya penuh semangat itu, kini nampak sayu! Ini hanya berarti bahwa kematian pangeran itu amat mendukakan hati Liong-li, berarti pula bahwa wanita luar biasa ini telah jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han! Sungguh hebat tentunya pangeran itu, yang telah dapat menjatuhkan hati seorang wanita seperti Liong-li!

“Dia terbunuh, Pek-liong. Pangeran itu... ah, dia sama sekali bersih, tidak berdosa seperti anak bayi, tidak ikut memperebutkan kekuasaan, bahkan tidak perduli dan tidak berat sebelah, tidak memihak, dia begitu baik budi, bijaksana dan lembut. Dan orang tega membunuhnya, bersama lima orang pelayannya!” Liong-li mengepal tinju tanda bahwa hatinya masih merasa nyeri sekali.

“Pangeran Souw Cun yang melakukannya?”

“Tadinya kusangka demikian. Kini aku ragu-ragu. Mereka itu tadi mengenalku melalui pedang dan menuduh akulah Kwi-eng-cu dan aku pula pembunuh Pangeran Souw Han.” Wanita itu menggeleng kepala.

“Memang ada dua kemungkinan! Mereka sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Pangeran Souw Han atau mereka itu pura-pura tidak tahu?”

Liong-li mengangguk. Begitu menyenangkan kalau ada Pek-liong di dekatnya. Tidak perlu bicara berbelit-belit. Pria ini mampu menangkap semua isi hatinya tanpa kata sekalipun!

“Akan tetapi aku condong dugaan kedua. Kematian Pangeran Souw Han baru kuketahui sendiri. Semua penghuni rumah itu tewas dan tidak ada orang lain yang tahu. Dan begitu mereka mengeroyokku, ada yang meneriakkan bahwa aku telah membunuh Pangeran Souw Han. Mereka telah tahu!”

Pek-liong meraba-raba dagunya dan Liong-li tahu bahwa gerakan itu menunjukkan bahwa rekannya ini sedang berpikir keras. Iapun membiarkan dia berpikir mengasah otak dan ia terus saja mengalirkan keterangan-keterangan yang diperolehnya selama ia melakukan penyelidikan. Tentang Permaisuri Bu Cek Thian, tentang Pangeran Souw Han, tentang Pangeran Souw Cun, dan tentang Pangeran Kim Ngo Him.

“Jadi kalau menurut pendapatmu, yang patut dicurigai menjadi dalang semua kekacauan yang ditimbulkan Kwi-eng-cu, semua pembunuhan, juga pembunuhan terhadap Pangeran Souw Han, adalah dua orang, yaitu Pangeran Souw Cun atau Pangeran Kim Ngo Him?”

“Tepat. Tadinya juga aku mencurigai Permaisuri, akan tetapi setelah melihat dari dekat, aku tidak yakin bahwa ia terlibat. Jelas bahwa ia menentang Kwi-eng-cu yang menggelisahkan hatinya pula. Itulah sebabnya ia mempergunakan aku untuk menyelidik dan menyerahkan aku kepada Pangeran Souw Han.”

“Atau ada kemungkinan ke tiga!”

Liong-li menatap wajah yang tampan gagah itu dengan penuh selidik. Sinar matahari mulai muncul dan cuaca dalam gudang itu semakin cerah. Melihat wajah pria ini saja sudah menimbulkan ketenangan di hatinya dan mengingatkannya bahwa ia sedang berada di tengah kancah pelaksanaan tugas yang berbahaya sehingga tidak ada waktu untuk membiarkan diri terseret arus perasaan.

“Pihak dari luar istana yang menyusup ke dalam?” tanyanya.

Pek-liong mengangguk. “Keadaan di istana, menurut cerita Cian Ciang-kun sedang keruh. Menguntungkan sekali bagi mereka yang suka mengail di air keruh.”

Liong-li mengangguk-angguk. “Engkau mempunyai alasan untuk mencurigai sesuatu?”

“Nanti dulu. Coba jelaskan siapa orang tinggi kurus yang memimpin pengeroyokkan terhadap dirimu tadi?”

“Yang bersenjata rantai baja?”

“Benar, dia lihai sekali.”

“Di hari-hari biasa, dia menyamar sebagai guru sastera dari Pangeran Souw Cun. Namanya atau nama panggilannya Bouw Sian-seng.”

“Jelas dia bukan orang biasa, bukan pula tokoh biasa dalam dunia persilatan. Ilmu silatnya tinggi, tenaga sin-kangnya juga amat kuat. Dia tentu seorang tokoh besar, seorang datuk! Coba, kuingat-ingat. Siapa orang tua tinggi kurus yang agak bongkok, bersenjata rantai baja dan... pandai sastera...? Hemm, aku ingat sekarang!”

Pendekar itu menatap wajah Liong-li penuh selidik sehingga Liong-li merasa seolah-olah sinar mata itu menjenguk ke dalam dadanya dan mengaduk-aduk di sana mencari sesuatu.

“Liong-li, katakan, apakah engkau mengenal suaranya? Katakan dari mana kiranya dia berasal, kalau didengar dari logat bicaranya?”

“Nanti dulu...” Liong-li mengerutkan alisnya dan tangan kirinya menggosok, mengelus dan menggosok batang hidungnya yang mancung, tanda bahwa ia sedang tenggelam ke dalam pemikiran mendalam.

“Kalimatnya yang terpanjang hanya ketika tadi memerintahkan anak buahnya mengepung ketat, tidak membiarkan aku lolos, dan untuk memukul tanda bahaya umum. Dalam keadaan tegang itu tentu dia tidak dapat menyembunyikan logat bicaranya yang aseli. Ya, aku ingat! Dia tentu datang dari selatan, jelas ketika tadi ia menyebut kata kepung dengan kata kurung. Itu kebiasaan bahasa orang dari selatan...!”

“Tepat dugaanku! Wah, Liong-li, kalau tidak keliru perhitunganku, kita berhadapan dengan musuh besar. Pantas dia berusaha mati-matian untuk membunuhmu. Keadaannya, senjatanya, kelihaiannya, dan logat bicaranya mengingatkan aku akan Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan)!”

Liong-li tertegun. “Aihhh! Seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua)?”

Tentu saja wanita perkasa ini terkejut bukan main mendengar dugaan Pek-liong bahwa Bouw Sian-seng itu mungkin sekali Lam-hai Mo-ong. Pada waktu itu, sejak beberapa tahun yang lalu di dunia kang-ouw muncul Kiu Lo-mo yang menggemparkan dunia persilatan. Mereka adalah sembilan orang datuk sesat yang selama duapuluh tahun lebih menghilang dari dunia persilatan.

Akan tetapi, selama beberapa tahun ini mereka turun gunung dan menjadi datuk-datuk sesat. Selama ini, Pek-liong dan Liong-li pernah bertentangan dengan dua orang di antara mereka, yaitu pertama dengan Hek Sim Lo-mo (Baca Sepasang Naga Penakluk Iblis) dan Siauw-bin Ciu-kwi (Baca Rahasia Patung Emas).

Masih ada tujuh orang lagi yang sewaktu-waktu dapat saja muncul untuk memusuhi mereka karena tentu mereka itu tidak akan tinggal diam saja mendengar bahwa Hek Sim Lo-mo dan Siauw-bin Ciu-kwi, dua orang di antara mereka tewas di tangan Pek-liong dan Liong-li. Dan kini, tiba-tiba saja dalam menyelidiki Kwi-eng-cu, mereka dihadapkan kepada seorang di antara Kiu Lo-mo. Walaupun ini baru dugaan saja dari Pek-liong, namun kalau pendekar ini menduga, maka dugaan itu bukan hanya ngawur belaka dan biasanya tentu tidak keliru.

Tiba-tiba pendengaran mereka yang tajam menangkap langkah kaki di depan gudang. Pek-liong hendak memberi isyarat kepada Liong-ji, namun wanita itu sudah tahu pula apa yang harus ia lakukan dan tubuhnya bergerak cepat menyusup ke dalam tumpukan jerami kering. Juga ia sudah menyambar dua batang pedang Pek-liong-kiam dan Hek-liong-kiam yang tadi diletakkan di atas lantai, juga pakaian hitam yang tadi dipakai Pek-liong, dibawa masuk ke dalam tumpukan jerami.

“A-cin! Haii, A-cin, di mana kamu?” terdengar teriakan orang di luar gudang itu.

Pek-liong tadi sudah menyambar sebatang garpu bergagang panjang yang biasa dipergunakan untuk mengumpulkan dan mengatur jerami kering. “Aku di sini...!” jawabnya sambil menuju ke arah pintu gudang, lalu membukanya dengan tangan kanan masih memegang gagang garpu.

Kiranya orang itu adalah seorang mandor di bagian pemeliharaan kuda itu, tubuhnya gendut dan matanya sipit, seperti mata babi. Dengan mata sipitnya dia memeriksa keadaan dalam gudang itu, lalu mengangguk-angguk. Mulutnya yang tadinya cemberut kini menyeringai senang. Kini sikapnya seperti orang yang penuh ketegangan akan tetapi juga kegembiraan bahwa dia datang membawa berita yang mengejutkan.

“Kukira engkau masih tidur di gudang ini, A-cin. Kiranya sepagi ini engkau telah menggarpu jerami!”

“Toako, kalau ingin maju orang harus kerja keras,” kata Pek-liong dengan muka yang bodoh dan lugu. Untung dia tidak pernah melepaskan penyamarannya sebagai seorang dusun yang bodoh, dengan kulit badan yang kini berubah kecoklatan tanda sering terbakar sinar matahari.

“Engkau benar dan aku girang memperoleh seorang pembantu seperti engkau. Nah, hari ini kita menghadapi pekerjaan yang banyak! Kita harus kerja keras, pagi-pagi ini harus mempersiapkan kuda, memberi makan dan membersihkan bulu mereka, mempersiapkan pelananya karena setiap waktu kuda-kuda itu akan dipakai.”

“Eh? Apakah yang terjadi, toako? Apakah istana hendak mengadakan pesta? Atau perburuan? Aku sering mendengar bahwa kalau para bangsawan hendak pergi berburu, maka hampir semua kuda di sini dipergunakan.”

“Pesta? Berburu? Ha-ha, memang ada benarnya. Apa bedanya upacara kematian dengan upacara kelahiran atau pernikahan dan yang lain? Ramai-ramai, makan-makan, perayaan dan upacara. Dan memang ada perburuan besar, A-cin, bukan binatang buas yang diburu, melainkan mahluk yang lebih menyeramkan lagi, mahluk pembunuh yang...“ Si gendut itu menghentikan kata-katanya dan menengok keluar seperti orang yang tiba-tiba teringat dan menjadi ketakutan.

“Eh, kenapa toako? Siapa yang mati? Siapa pula yang diburu?”

“Sudahlah, A-cin. Aku tidak berani banyak bercerita. Jangan-jangan kepalaku ini yang akan dipenggal kalau banyak mengobrol. Akan tetapi, engkau orang baru dan tidak banyak tahu, maka perlu kauketahui bahwa semalam, Pangeran Souw Han dibunuh orang, dan sekarang seluruh jagoan dan pengawal istana akan mencari pembunuh itu yang diduga masih bersembunyi di dalam kompleks istana. Nanti dilakukan upacara penguburan, maka banyak kuda akan dipakai.”

“Toako, siapakah itu Pangeran Souw Han dan mengapa dia dibunuh orang? Siapa pembunuhnya?” Dengan lagak yang bodoh dan jujur, Pek-liong memancing.

“Pangeran Souw Han adalah pangeran yang paling baik di seluruh istana. Dia tampan sekali, halus budi pekertinya, dermawan. Bahkan terhadap pekerja-pekerja kasar seperti kitapun dia bersikap ramah dan halus, sering memberi hadiah. Entah kenapa ada orang yang tega membunuhnya. Kabarnya yang membunuhnya adalah... eh, Kwi-eng-cu yang diketahui adalah seorang wanita cantik.”

“Ehhh...?”

“Wanita itu kabarnya berjuluk Hek-liong-li, dan ia telah menyusup ke dalam istana, bahkan menjadi seorang selir Pangeran Souw Han yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita. Heran, sungguh heran, bagaimana seorang wanita tega membunuhnya....... eh, sudahlah, A-cin, engkau banyak bertanya saja. Nah bekerjalah dengan baik. Setelah selesai membersihkan gudang, cepat engkau bantu aku mempersiapkan kuda-kuda itu bersama para pembantuku yang lain. Kita akan kekurangan tenaga!” Setelah berkata demikian, si gendut meninggalkan Pek-liong.

Pek-liong menutupkan lagi pintu gudang, lalu menghampiri Liong-li yang sudah keluar dari tumpukan jerami. “Engkau sudah mendengar semua tadi?”

Liong-li mengangguk sambil membersihkan pakaiannya dari jerami yang menempel. “Tentu berita tentang aku menjadi Kwi-eng-cu dan membunuh Pangeran Souw Han sudah mereka sebar-sebarkan secara luas. Anehnya namamu tidak disebut, padahal mereka sudah mengenalmu pula dari pedangmu, Pek-liong.”

“Mungkin juga si gendut itu tidak mendengarnya. Bagaimanapun juga, untuk sementara ini engkau tidak boleh memperlihatkan diri, Liong-li. Semua jagoan istana mencarimu. Di sini engkau aman dan malam nanti kita lanjutkan penyelidikan kita. Kita menyelidiki Bouw Sian-seng. Kalau benar dugaanku bahwa dia itu Lam-hai Mo-ong, kita harus memperingatkan Pangeran Souw Cun, karena mungkin saja dia sengaja diperalat oleh iblis tua itu.”

Liong-li mengangguk-angguk. “Dia diperalat atau memperalat. Itu saja pilihannya. Betapapun juga, aku yakin bahwa yang membunuh pangeran Souw Han tentulah tidak ada bedanya dengan pelaku pembunuhan yang terjadi selama ini.”

“Kwi-eng-cu?”

“Mungkin itu hanya nama palsu belaka. Bayangan Iblis tidak pernah mengaku dengan nama itu. Nama itu hanya pemberian mereka di kota raja saja. Siapa tahu dugaanmu benar? Lam-hai Mo-ong menyamar sebagai Bouw Sian-seng di waktu siang, sedangkan malamnya dia menjadi Si bayangan Iblis. Mungkin diperalat Pangeran Souw Cun, mungkin juga dia memperalat pangeran itu untuk menimbulkan kekacauan di istana.”

“Hemmm, memang bisa saja Pangeran Souw Cun ingin menjatuhkan para saingannya. Akan tetapi juga amat mungkin Lam-hai Mo-ong menimbulkan kekacauan dan kekeruhan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.”

“Bagaimanapun juga, kita harus membongkar rahasia Si Bayangan Iblis ini!” kata Liong-li mengepal tinju karena ia teringat lagi kepada Pangeran Souw Han yang menjadi korban.

“Engkau sehari ini bersembunyi saja di gudang ini. Kalau ada orang masuk, engkau menyusup ke dalam tumpukan jerami. Bawa pula pedangku, dan nanti kukirimkan makanan. Aku masih menanti berita dari Cian Ciang-kun, dan juga dari Cu Sui In.”

“Siapa ia? Engkau belum menceritakan.”

Dengan singkat Pek-liong menceritakan tentang keponakan isteri Ciok Tai-jin itu, yang suaminya juga menjadi korban pembunuhan Si Bayangan Iblis. “Ia akan menyelundup ke dalam istana pula, menyamar sebagai adik misanmu dan mencarimu, tadinya ia yang akan bertugas menjadi perantara dari kita dan Cian Ciang-kun. Ia murid Kun-lun-pai. Ilmu kepandaiannya lumayan, boleh diandalkan.”

“Bagus! Kalau begitu, kita menanti berita dari mereka sebelum kita turun tangan. Malam nanti kita hanya melakukan penyelidikan saja.”

“Aku juga ingin mencari, apakah di antara para jagoan di istana ada Pek-mau-kwi Ciong Hu yang membunuh Giam Sun, paman Cu Sui In itu. Dialah yang dapat menunjukkan siapa adanya Si Bayangan Iblis karena sebelum mati, Giam Sun menuliskan dua nama, yaitu Pek-mau-kwi dan Kwi-eng-cu. Nah, sekarang aku mau bekerja di luar membantu si gendut agar jangan menimbulkan kecurigaan.”

Liong-li mengangguk, akan tetapi ketika Pek-liong hendak pergi, ia memanggil lirih. Pek-liong menoleh. “Pek-liong, kalau nanti kebetulan engkau dapat melihat peti jenazah... Pangeran Souw Han, tolong engkau bersembahyang dalam hati untukku, katakan bahwa aku merasa menyesal dan mohon maaf bahwa dia telah menjadi korban karena aku.”

Pek-liong memandang serius dan mengangguk, di dalam hatinya merasa kasihan sekali kepada wanita yang paling disayang dan dihormatinya itu. Diapun pergi dan Liong-li menyelinap di balik tumpukan jerami, siap untuk sewaktu-waktu menyusup masuk ke dalam tumpukan jerami itu kalau ada orang lain masuk gudang.

********************

Cian Hui dan Cu Sui In diterima oleh Kaisar sendiri yang didampingi Permaisuri Bu Cek Thian di dalam sebuah ruangan khusus. Kaisar Tang Kao Cung dan Permaisuri Bu Cek Thian duduk berdampingan di atas kursi gading berselaput emas dan tidak ada seorang pun ponggawa diperkenankan hadir.

Hanya ada selosin pengawal pribadi Kaisar yang merupakan orang-orang kepercayaan kaisar, lihai namun tuli dan gagu dan yang tugasnya hanyalah menjaga keselamatan kaisar dan menerima perintah melalui gerakan tangan, dan dua orang pengawal pribadi Bu Cek Thian, yaitu gadis kembar Bi Cu dan Bi Hwa. Hanya mereka ini yang hadir, berdiri di belakang kaisar dan permaisuri.

Kaisar nampak marah. Alisnya berkerut dan mukanya merah, sedangkan Cian Hui dan Cu Sui In berlutut sambil menundukkan mukanya. “Sekali lagi kami tekankan, Cian Hui!” kata Kaisar. “Kalau sekali ini engkau tidak mampu menangkap iblis yang disebut Kwi-eng-cu itu, tidak dapat menangkap pembunuh Pangeran Souw Han, kami akan memberi hukuman berat kepadamu! Kami beri waktu sampai tiga hari dan selama tiga hari kami beri wewenang kepadamu untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan di komplek istana...”

“Cian Ciang-Kun,” kata pula permaisuri itu yang sejak tadi mendengarkan saja. “Tindakan Kwi-eng-cu memang sudah keterlaluan. Bahkan, usahamu menyelundupkan Hek-liong-li nampaknya sia-sia belaka. Karena Hek-liong-li menyusup sebagai selir Pangeran Souw Han, malah hal ini membuat Souw Han menjadi korhan dan kini Hek- liong-li entah berada di mana. Engkau harus membongkar semua rahasia ini!”

“Mohon yang mulia Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) sudi melimpahkan pengampunan kepada hamba. Hamba akan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan hamba untuk membikin terang perkara ini. Hamba telah menyelundupkan Hek-liong-li, bahkan Pek-liong-eng, dan hamba mengandalkan kemampuan mereka untuk membantu hamba menangkap Kwi-eng-cu. Di sini hamba menyertakan nona Cu Sui In untuk membantu hamba. Biar ia yang akan mencari Hek-liong-li dan mengaku sebagai saudara misan Liong-li yang menyamar sebagai Siauw Cu. Sedangkan hamba sendiri bersama Pek-liong-eng akan melakukan penyelidikan dengan seksama. Dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh paduka, mohon hamba diberi wewenang untuk semua pasukan pengawal kalau saatnya tiba.”

“Permintaanmu kami kabulkan. Kamu akan kami beri tek-pai (bambu bertulis tanda kekuasaan) dan dengan tanda wewenang itu engkau boleh menghubungi para komandan pasukan pengawal yang tentu akan melakukan semua perintahmu. Nah, laksanakanlah!”

“Biarkan Sui In bersamaku. Ia dapat menyelundup ke bagian putera bersama para dayang yang kuperintahkan untuk membantu pengurusan upacara pemakaman jenazah Pangeran Souw Han agar tidak kentara. Ia dapat menyamar sebagai seorang di antara para dayangku,” kata sang permaisuri.

Setelah diperkenankan keluar, Cian Hui segera menghubungi para komandan pasukan pengawal, memperlihatkan tek-pai itu dan semua komandan menyambutnya dengan hormat sebagai wakil kaisar sendiri. Bersama mereka, Cian Hui mengatur siasat. Dia memerintahkan mereka membuat barisan tersembunyi, tidak bergerak sebelum ada perintah khusus dan selanjutnya bersiap siaga agar setiap saat dia dapat mengharapkan bantuan mereka...