Social Items

“TARIAN pedang?“ tiba-tiba Pangeran Souw Cun bertanya.

“Ah, bukan, Pangeran. Tarian biasa,” jawab Siauw Cu atau Liong-li tanpa berani mengangkat mukanya.

“Bagus, kalau begitu, suruh ia menari agar dapat kumelihatnya, adinda Souw Han!”

Pangeran Souw Han mengerutkan alisnya. Dia ingin agar kakaknya itu cepat pergi saja supaya tidak mengganggu Liong-li lebih lama lagi. Pula, diapun tidak yakin apakah benar Liong-li pandai menari, dan jangan-jangan gerak tarinya akan mengandung gerak silat sehingga akan menimbulkan kecurigaan pada kakaknya.

“Kakanda, ia baru saja datang, masih lelah. Biarlah lain hari saja ia menari.”

“Tidak mengapa, Pangeran. Hambapun senang sekali kalau paduka menggembirakan hati saudara tua paduka,” kata Liong-li.

Ucapan ini saja sudah cukup melegakan hati Pangeran Souw Han. “Baiklah kalau begitu. Aku akan mengiringi tarianmu dengan yang-kim. Engkau tentu mau meniup sulingnya, bukan, kakanda?”

“Baik, Tapi, tarian apa yang akan ditarikan selirmu itu?”

“Hamba akan menarikan tarian rakyat dari daerah selatan, tarian para petani bekerja di sawah ladang,” kata Liong-li.

Tak lama kemudian, terdengarlah paduan suara suling dan yang-kim, dengan irama yang lambat dan halus. Liong-li sudah mengambil sebuah sabuk sutera merah panjang dari almari pakaian atas petunjuk Pangeran Souw Han dan iapun mulailah menari, seirama suara suling dan yang-kim.

Dan kini kedua orang pangeran itu terpesona! Jangan Souw Cun yang penuh curiga itu, bahkan Souw Han yang sudah tahu bahwa “selirnya” itu seorang pendekar wanita, terbelalak kagum melihat betapa tubuh wanita itu meliuk-liuk lemah gemulai, menarik dengan amat indahnya! Bagaikan seorang bidadari saja selirnya itu! Setelah selesai menari dan dua orang pangeran itu menghentikan permainan alat musik mereka, Pangeran Souw Cun bertepuk tangan memuji.

“Wah, sekarang aku mengerti mengapa engkau suka kepada selirmu ini, adinda. Ternyata suaranya merdu, permainan yang-kimnya pandai, dan tariannya pun indah. Dan tubuhnya itu! Amboi, betapa akan nikmatnya malam nanti akan kau rasakan dalam pelukkannya, adindaku.”

“Kakanda! Harap jangan ganggu kami lagi dan kupersilakan kakanda meninggalkan kami!” Pangeran Souw Han berseru marah.

Akan tetapi kakaknya hanya tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, hampir aku lupa! Engkau belum pernah bergaul dengan wanita, tentu ia akan mengajarimu, atau kalau engkau memang tidak suka, biarlah kalau malam ia bersamaku, kalau siang ia bersamamu. Dan engkau pun boleh minta tukar untuk malam ini dengan beberapa saja selirku. Boleh kau pilih dan berapa banyaknya pun boleh untuk ditukar dengan ia!”

“Kakanda! Pergilah! Keluar dari sini!” Pangeran Souw Han berteriak dan Pangeran Souw Cun tertawa, akan tetapi meninggalkan kamar itu dengan langkah tenang dan berlenggang penuh gaya.

Setelah pangeran itu pergi, Pangeran Souw Han menutup pintu kamar, lalu menjatuhkan diri duduk di atas kursi. Dadanya bergelombang, mukanya merah dan napasnya memburu karena dia tadi menahan amarahnya. Sejak tadi Liong-li mengamatinya, dan ia tersenyum lalu menghampiri dan duduk di atas kursi dekat dengan pangeran itu. “Sudahlah, Pangeran. Tenangkan hati paduka. Bahaya telah lewat dan agaknya dia tidak mencurigai kita.

Pangeran Souw Han mengepal tinju. “Akan tetapi penghinaan-penghinaan itu! Terutama sekali kepadamu! Sungguh tidak patut!”

Liong-li tersenyum. Memang tadi iapun merasa marah sekali. Pangeran Souw Cun tidak pantas menjadi pangeran, pantasnya menjadi seorang berandal, seorang penjahat yang tidak tahu malu, yang siap menukarkan selir-selirnya dengan selir adiknya, begitu cabul, begitu jorok dan hina.

“Bagaimanapun juga, paduka telah berhasil mengusirnya, Pangeran, dan kita aman sudah. Saya yakin dia tidak akan berani lagi datang mengganggu.”

“Hemm, aku belum begitu yakin. Engkau tidak mengenal siapa Pangeran Souw Cun itu, enci Cu. Kalau sudah menginginkan seorang wanita, sebelum berhasil, akan dia lakukan segala daya, segala muslihat untuk mendapatkan wanita itu! Dan dia memiliki tukang-tukang pukul yang lihai. Engkau sekarang harus lebih berhati-hati, enci Cu, karena kulihat bahwa kakanda Souw Cun itu sangat menginginkanmu tadi. Selain si Bayangan Iblis, engkau akan menghadapi musuh lain, yaitu kakanda Souw Cun dan kaki tangannya.”

Liong-li tersenyum. “Saya tidak khawatir, Pangeran. Sudah terbiasa saya oleh kepungan orang-orang yang menjadi hamba nafsu iblis, dan selalu saya dapat mengatasi mereka.”

“Mudah-mudahan begitulah. Hanya pesanku, malam nanti, malam pertama engkau melakukan penyelidikan, engkau harus berhati-hati. Bagaimanapun juga, aku takkan dapat tidur karena gelisah sebelum engkau kembali ke kamar ini.”

“Aihh, kalau begitu, malam nanti bukan saya saja yang bergadang, akan tetapi paduka juga rupanya!” Liong-li berkelakar. “Sebaiknya sekarang paduka tidur mengaso agar malam nanti tidak terlalu payah.”

“Dan engkau sendiri? Nanti malam engkau akan melakukan tugas yang amat berat dan berbahaya! Engkaulah yang perlu mengaso.”

Liong-li tersenyum. “Aku tidak pernah tidur siang, Pangeran. Dan untuk memulihkan tenaga dan menguatkan tubuh, cukup dengan samadhi beberapa jam saja sambil mengatur pernapasan.”

“Kalau begitu, lakukanlah samadhimu, dan aku akan tiduran sambil membaca kitab.”

Liong-li tidak sungkan-sungkan lagi, melepaskan sepatunya dan naik ke atas pembaringan, lalu duduk bersila dan mengatur pernapasan. Pangeran Souw Han sendiri lalu membawa kitab sajak dan membaca kitab sambil rebahan di atas lantai yang bertilamkan permadani dan ditambah dengan beberapa buah bantal.

Mereka hanya berhenti ketika dua orang dayang mengetuk pintu kamar dan mengantar hidangan makan siang. Kemudian mereka melanjutkan kesibukan masing-masing dan sampai hari menjadi malam, sedikitpun juga sang pangeran tidak pernah mengganggu Liong-li, baik dengan perbuatan, kata-kata bahkan dengan pandang mata sekalipun.

Dan kembali ada perasaan penasaran dan kecewa di dalam hati Liong-li. Ia merasa seperti menjadi sebuah kursi atau meja kembali. Sebuah kitab sajak agaknya jauh lebih menarik bagi pamgeran itu dari pada dirinya! Sungguh keterlaluan!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 13 karya kho ping hoo

Malam tiba. Sejak sore tadi, sejak mereka makan malam bersama, sang pangeran sudah nampak gelisah dan berulang kali dia memperingatkan Liong-li agar berhati-hati. Kemudian, setelah mendekati tengah malam, Liong-li mengenakan pakaian serba hitam, menutupi pula mukanya dengan saputangan hitam, tidak lupa membawa Hek-liong-kiam yang disembunyikan di balik jubah hitam.

Melihat dandanan wanita itu, Pangeran Souw Han memandang dengan kagum, akan tetapi juga dengan sinar mata gelisah. “Engkau nampak gagah sekali, enci Cu, dan... dan mengerikan. Kuharap engkau dapat segera menyelesaikan penyelidikanmu dan kembali ke kamar ini dengan selamat.”

“Tenangkanlah hati paduka dan tidurlah, Pangeran. Paling lambat besok pagi-pagi sebelum matahari terbit saya sudah akan kembali ke sini.”

“Engkau keluar melaksanakan tugas yang berat, menghadapi ancaman bahaya dan aku disuruh tidur enak-enak di sini? Bagaimana mungkin, enci Cu?”

“Akan tetapi, bukankah biasanya setiap malam paduka juga tidur seorang diri di sini dan tidak pernah gelisah?”

“Ketika itu belum ada engkau di sini enci Cu. Sudahlah, harap engkau berhati-hati dan aku ikut mendoakan.”

“Terima kasih, Pangeran. Aku pergi!” kata Liong-li yang sudah membuka daun jendela, dan sekali berkelebat, ia sudah lenyap dari depan pangeran itu, seperti seekor burung terbang saja lewat jendela yang terbuka.

Pangeran Souw Han terbelalak, sejenak hanya melongo memandang ke arah jendela, lalu menarik napas panjang dan menutupkan kembali daun jendela. Sudah sering dia melihat jagoan-jagoan istana bermain silat dan memamerkan kelihaian mereka, akan tetapi baru sekarang dia melihat ada gadis dapat menghilang begitu saja dari depan matanya.

Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Liong-li melompat ke luar jendela dan langsung saja tubuhnya melayang ke atas genteng, Begitu kedua kakinya menginjak genteng bangunan, ia mendekam dan sepasang matanya yang tajam menyapu keadaan sekelilingnya. Sunyi dan cuacanya remang-remang karena bulan sepotong sudah naik tinggi.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang di atas genteng bangunan-bangunan besar di kompleks istana itu, ia lalu mengeluarkan sehelai saputangan hitam dan ditutupnya mukanya bagian bawah. Hanya dahi yang putih halus dan sepasang mata yang tajam mencorong saja yang nampak dan ia sengaja membiarkan sebagian anak rambut menutupi dahi. Takkan ada orang yang mengenal wajahnya sekarang.

Bagaikan seekor burung walet saja, Liong-li meronda di atas atap kelompok rumah besar itu. Tubuhnya berkelebat dan karena ia memakai pakaian hitam, maka gerakannya sukar diikuti pandang mata, apa lagi dari bawah. Setiap kali meloncat dari satu ke lain wuwungan, ia mendekam dan mengintai sampai puluhan menit lamanya. Hawa udara malam itu dingin sekali, akan tetapi tidak dirasakan oleh Liong-li. Ia mengintai dan menanti dengan penuh kesabaran. Beberapa kali ia mendengus lirih dan mengomeli diri sendiri karena pikirannya selalu teringat kepada Pangeran Souw Han! Gila benar, ia sudah tergila-gila kepada pangeran itu!

Bukan main pangeran itu, dan kalau dipertimbangkan, tidak bisa ia terlalu menyalahkan perasaannya yang tertarik kepada pangeran itu. Baru pertama kali berjumpa, melihat wajahnya yang tampan, sikapnya yang halus dan sopan, budi bahasanya yang lembut itu saja sudah membuat ia kagum. Ketika mereka lebih dekat, ia mendapat kenyataan bahwa bukan itu saja kelebihan pangeran ini. Juga seorang sasterawan, seorang seniman, dan baik budi, ramah dan penuh perhatian! Betapa mudahnya membiarkan hati ini jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han, ia, melamun.

Huh, engkau bertugas, menghadapi urusan penting yang berbahaya, bukan waktunya untuk melamunkan yang muluk-muluk dan yang mesra-mesra! Demikian ia menegur diri sendiri dan kembali perhatiannya ia tujukan ke luar, pandang matanya mengamati dengan tajam keadaan sekelilingnya.

Tiba-tiba jantungnya berdebar. Sesosok bayangan berkelebat jauh di depan sana, di atas wuwungan atap bangunan lain. Sekarang saatnya menangkap Si Bayangan lblis, pikirnya dan dengan mengerahkan gin-kangnya, Liong-li meloncat dan berlari cepat dengan loncatan-loncatan jauh menuju ke atap itu.

Bayangan hitam itu agaknya hendak membuka genteng untuk melakukan pengintaian ke bawah. Terkejutlah bayangan itu ketika tiba-tiba ada angin menyambar dan sebuah tangan meluncur ke arah pundaknya. Akan tetapi, ternyata bayangan itu memiliki gerakan yang cepat. Tubuhnya sudah telentang dan bergulingan, lalu meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Dia seorang yang tubuhnya tinggi besar, pakaian serba hitam dan mukanya tertutup topeng merah yang ada dua lubang kecil untuk matanya.

Sejenak Liong-li dan orang itu berdiri saling pandang. Sepasang mata di balik kedok itu mencorong pula seperti mata Liong-li. Kemudian, tanpa mengeluarkan suara, bayangan hitam berkedok itu menerjang ke arah Liong-li. Dalam cuaca yang remang-remang itu, Liong-li masih dapat melihat kilauan sebatang pedang yang menusuk perutnya. Iapun mengelak dengan loncatan ke samping dan begitu sebelah kakinya turun ke atas genteng, kaki yang lain sudah melayang dengan tendangan layang ke arah kepala lawan! Orang itu terkejut, namun dapat pula mengelak.

Melihat gerakan orang, Liong-li maklum bahwa lawannya cukup lihai, namun tidak cukup untuk membuat ia harus mencabut pokiamnya (pedang pusakanya). Kalau tidak perlu sekali, ia tidak akan mencabut Hek-liong-kiam, karena sekali dicabut, ada kemungkinan lawan akan mengenal pedang itu dan sekali pedangnya dikenal, maka dirinyapun pasti akan dikenal sebagai Hek-liong-li! Iapun mendesak dengan pukulan dan tendangan di antara kilatan pedang lawan.

Bayangan hitam yang tinggi besar itu agaknya tidak begitu bernafsu untuk berkelahi terus. Memang besar bahayanya kalau berkelahi terlalu lama di atas wuwungan, karena tentu akan menarik perhatian para penjaga keamanan dan kalau mereka melihatnya, tentu keadaan menjadi berbahaya.

Dengan gerakan cepat dan kuat sekali, tiba-tiba pedang itu menyambar dengan ganasnya ke arah leher Liong-li. Pendekar wanita ini terkejut. Ini merupakan serangan yang amat berbahaya, maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang sambil meloncat dan berjungkir balik sampai tiga kali sebelum tubuhnya turun kembali ke atas genteng. Akan tetapi, ketika ia sudah turun, dilihatnya lawannya tadi melarikan diri dengan cepat ke arah timur.

Iapun mengejar sambil mengerahkan ginkangnya. Akan tetapi bayangan itu lenyap di balik pagar tembok yang memisahkan istana bagian pria dengan istana bagian wanita. Bayangan itu datang dari balik pagar, dari istana bagian wanita! Sejenak ia berdiri termenung. Siapakah bayangan itu? Seorang wanitakah? Akan tetapi tubuhnya begitu tinggi besar! Iapun teringat akan keterangan Pangeran Souw Han bahwa Permaisuri mempunyai banyak jagoan yang lihai!

Ia lalu berloncatan lagi dan bersembunyi di balik sebuah wuwungan yang tinggi sambil mengenang peristiwa yang baru saja terjadi. Mungkin seorang anak buah permaisuri, pikirnya. Bagaimanapun juga, harus dicatat bahwa ada orang mencurigakan di bagian puteri. Bukan tidak mungkin pemimpin gerombolan, yaitu Kwi-eng-cu, berada di bagian puteri, mungkin sang permaisuri sendiri! Siapa tahu?

Kini ia mendekam di atas wuwungan tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Ia sudah mempelajari letak tempat tinggal para pangeran dari Pangeran Souw Han, maka kini ia dapat mengetahui bahwa ia berada di atas atap bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Dengan sabar ia mendekam dan mengintai di situ. Akhirnya, lewat tengah malam, dia melihat sesosok bayangan meloncat keluar dari dalam bangunan itu!

Sekali ini, bayangan yang juga berpakaian serba hitam, bertubuh tegap tidak begitu tinggi, akan tetapi juga mukanya ditutup kedok yang berwarna hitam pula walaupun berbeda modelnya dengan yang tadi. Liong-li cepat menyergap untuk menangkapnya. Karena ia muncul dengan tiba-tiba dan penuh perhitungan karena tidak mau gagal lagi, Liong-li berhasil mencengkeram pundak orang itu.

“Ihhh...!” Liong-li berseru lirih saking kagetnya ketika jari-jari tangannya bertemu dengan pundak yang keras dan licin seperti besi sehingga cengkeramannya hanya merobek baju dan meleset!

“Ahhhh...!” Orang itu agaknya juga terkejut dan kakinya menendang ke arah perut Liong-li. Namun Liong-li kini mengerahkan tenaga dan sengaja menangkis untuk mengukur tenaga lawan.

“Dukkk...!” Orang itu kembali mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Akan tetapi dia sudah meloncat ke balik wuwungan dan ketika Liong-li cepat mengejar, bayangan itu sudah lenyap, mungkin turun kembali ke dalam bangunan itu!

Liong-li termenung sejenak! Orang itu jelas bukan yang pertama tadi, akan tetapi juga amat lihai! Kalau yang pertama tadi menghilang di balik tembok istana bagian puteri, kini orang kedua ini menghilang ke dalam bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun! Hemm, siapakah di antara mereka itu Kwi-eng-cu? Ataukah hanya anak buah saja? Siapakah yang memiliki peran dalam urusan rahasia Si Bayangan Iblis ini? Sang Permaisuri ataukah Pangeran Souw Cun?

Kembali Liong-li melakukan perondaan dan pengintaian, Namun, tidak ada sesuatu terjadi, tidak ada bayangan hitam muncul. Ketika dari atas wuwungan ia melihat di ufuk timur sana ada cahaya merah sang matahari, masih amat lembut, ia mengambil keputusan untuk kembali ke tempat tinggal Pangeran Souw Han sebelum fajar menyingsing. Akan tetapi tiba-tiba ia menyelinap ke balik wuwungan.

Dari arah barat nampak sesosok bayangan hitam, berlari cepat sekali, berloncatan dari wuwungan ke wuwungan yang lain. Kini bayangan itu tubuhnya tinggi kurus, berbeda pula dengan yang tadi. Liong-li tidak menyerang, hanya berniat membayangi. Akan tetapi, bayangan yang satu inipun, lihai sekali. Agaknya tahu bahwa ada orang yang membayanginya, maka tiba-tiba saja tubuhnya meluncur ke arah Liong-li yang membayangi sambil bersembunyi dan menyelinap di bilik wuwungan, Tiba-tiba si bayangan hitam yang tinggi kurus sudah menerjangnya dari atas seperti seekor burung garuda!

“Hemm...!” Liong-li menyambut pukulan kedua tangan terbuka itu dengan kedua tangannya sendiri yang juga dibuka.

“Dessss...!”Akibatnya, tubuh Liong-li terjengkang dan untung ia masih mampu berjungkir balik sehingga tidak terbanting! Akan tetapi lawannya yang tadi menyerangnya dari atas juga terpental ke belakang dan seperti juga Liong-li, orang tinggi kurus ini berjungkir balik dan dapat hinggap di atas genteng tanpa cidera. Keduanya sejenak saling pandang dari balik topeng, kemudian orang tinggi kurus itu, menggerakkan kedua tangan. Benda-benda kecil hitam menyambar ke arah tubuh Liong-li, dari kepala sampai kaki!

Pendekar ini kembali terkejut dan maklum betapa berbahayanya senjata-senjata rahasia yang menyambar dengan cepat itu. Iapun menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak dengan loncatan ke samping, akan tetapi tangannya menyambar, dan ia berhasil menangkap sebuah benda hitam yang ternyata hanyalah pecahan genteng!

Senjata seperti ini dapat dipergunakan setiap orang dan tidak dapat ia jadikan bukti untuk kelak mengenal siapa lawannya.” Ia melihat tubuh lawan sudah melayang menjahuinya. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangan, mengembalikan “senjata rahasia” itu ke arah pemiliknya. Lalu ia mengejar.

Ternyata orang ketiga ini malah lebih lihai dibandingkan dua orang pertama. Tanpa menoleh, sambil tetap berlari, ia menjulurkan tangan ke belakang dan menangkis pecahan genteng yang menyambarnya. Liong-li mengejar terus dan melihat orang itu lenyap di balik wuwungan sebuah bangunan, yang ia tahu adalah tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, yaitu seorang di antara mantu kaisar!

Liong-li tertegun. Malam ini ia bertemu tiga orang yang lihai dan ia tahu bahwa di istana ini berkeliaran banyak jagoan yang lihai, orang-orang berkedok yang penuh rahasia. Akan tetapi ia tidak tahu yang mana Si Bayangan Iblis dan di mana sembunyinya.

Betapapun juga, ia merasa puas karena malam pertama ini ia dapat bertemu dengan tiga orang berkedok yang melarikan diri ke arah tiga tempat yang berlainan. Iapun cepat pulang dengan cara menyelinap ke sana-sini dan yakin bahwa tidak ada orang yang tahu ketika ia melayang turun ke tempat tinggal Pangeran Souw Han. Ia membuka daun jendela tanpa menimbulkan suara, meloncat ke dalam dengan hati-hati agar tidak mengejutkan Pangeran Souw Han yang ia tahu pasti masih tidur nyenyak.

“Enci Cu...! Akhirnya engkau kembali juga...!”

“Ehhh...” Liong-li melepas sapu tangan dari mukanya dan memandang kepada pangeran itu dengan mata terbelalak. Kiranya pangeran itu masih duduk di atas lantai dengan sebuah kitab di tangannya. “Pangeran, sepagi ini paduka sudah bangun dari tidur?”

Pangeran itu tersenyum. Masih ada kegelisahan yang bersisa di sudut matanya, namun senyumnya cerah, wajahnya membayangkan kegembiraan. “Enci Cu, bagaimana mungkin aku dapat tidur? Semalam suntuk aku gelisah menanti-nanti kembalimu!”

“Aduh, pangeran! Paduka bergadang pula semalam suntuk?” Ada rasa haru dan gembira menyelinap di dalam hati wanita itu. Bagaimana hatinya tidak akan terharu dan bangga, juga gembira melihat kenyataan betapa pangeran yang ganteng ini begitu mengkhawatirkan dirinya sehingga semalam suntuk tidak tidur untuknya dan selalu mengharapkan kembalinya? Ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Pangeran Souw Han mencintanya!

Pangeran itu agak tersipu. “Sudah kuusahakan untuk memejamkan mata, namun sia-sia. Bahkan membacapun tidak dapat kucerna, karena pikiran ini selalu membayangkan engkau berada dalam ancaman bahaya besar. Enci Cu, kini hatiku demikian lega dan aku merasa lelah dan mengantuk sekali.”

“Pangeran, paduka harus tidur. Kasihan sekali, tidurlah di atas pembaringan itu, pangeran, dan saya...” Liong-li tersenyum dan menghentikan ucapannya, lalu menghampiri.

Pangeran itu telah tertidur! Tertidur dengan tarikan napas yang halus dan mulutnya masih mengembangkan senyum, tangannya masih memegang sebuah kitab. Dengan lembut, Liong-li mengambil kitab yang hampir terlepas di tangan kiri itu, lalu mengambil selimut dari atas pembaringan karena hawa udara yang dingin menembus ke dalam kamar, lalu dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh pangeran itu dari kaki sampai ke leher.

Melihat betapa pangeran itu tidur pulas sekali, dan kepalanya tidak berbantal, ia lalu mengambil sebuah bantal dari pembaringan, dan dengan hati-hati ia memasukkan lengan kiri ke bawah leher sang pangeran, mengangkat kepala itu dan mendorongkan bantal ke bawah kepala. Kepala yang berada di rangkulan lengan kiri itu ketika ia angkat, berada dekat sekali dengan mukanya. Maka pangeran itu nampak demikian tampan, demikian lembut.

Perasaan haru dan mesra menyelinap di dalam hati Liong-li membuat ia makin menunduk dan hampir ia mencium pipi atau bibir itu. Akan tetapi, keteguhan hatinya bergerak menolak dan menentang. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang!

Ia perlahan-lahan menurunkan kepala itu ke atas bantal, lalu cepat-cepat ia bangkit berdiri. Dadanya masih tergetar oleh gairah dan ia cepat melangkah mundur. Ia tidak boleh berada di sini selagi sang pangeran tidur, bukan saja ia tidak mau mengganggu pangeran yang kelelahan dan kurang tidur itu, juga ia menganggap terlalu berbahaya. Ia juga takkan dapat beristirahat kalau berada di kamar itu, harus selalu berjuang melawan gairah nafsunya sendiri.

Setelah memandang sekali lagi ke arah wajah itu dan tersenyum, dengan pandang mata menjadi lembut mengandung kasih sayang. Liong-li berganti pakaian dan meninggalkan kamar itu, menutupkan pintunya perlahan dan iapun pergi ke ruangan para dayang.

Pagi itu lima orang dayang telah terbangun dan sedang sibuk bekerja. Ada yang menyiapkan sarapan pagi untuk pangeran, ada yang mencuci pakaian, membersihkan lantai, membersihkan semua perabot rumah, menyapu pekarangan dan sebagainya.

Melihat sang “selir” pangeran sudah terbangun sepagi itu, mereka merasa heran, akan tetapi menyambut majikan baru ini dengan hormat dan ramah. Mereka menghaturkan selamat pagi dan menawarkan sarapan pagi, tidak tahu apakah selir pangeran itu akan sarapan pagi hersama pangeran nanti kalau sudah bangun tidur, atau makan pagi sendirian.

“Aku ingin sarapan di sini saja, beberapa butir telur dan bubur, dan air teh panas. Juga tolong sediakan air hangat, aku ingin mandi. Pangeran masih tidur, harap jangan membuat gaduh dekat kamar.”

Liong-li mandi air hangat dan merasa segar kembali walaupun semalam ia tidak tidur sama sekali. Dan sarapan itu membuat kekuatan tubuhnya pulih, akan tetapi sehabis makan, datanglah rasa kantuk. Selagi ia berniat untuk kembali ke kamar dan melepas kantuknya, tiba-tiba muncul Pangeran Souw Cun bersama dua orang pengawalnya, dua orang laki-laki berusia empatpuluh tahunan yang berpakaian ringkas dan bertubuh tegap.

Lima orang dayang tentu saja terkejut dan mereka segera memberi hormat dengan membungkuk hampir berlutut. Akan tetapi Souw Cun tidak memperdulikan mereka, melainkan memandang kepada Liong-li yang sedang duduk. Sikapnya tidak seperti kemarin, ramah gembira. Kini wajahnya berkerut marah.

“Nah ini ia orangnya! Tangkap ia!” perintahnya kepada dua orang pengawal. Agaknya ia sudah memberitahu kepada dua orang pengawalnya bahwa yang akan ditangkap adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi, agar mereka berdua berhati-hati.

Kini melihat bahwa yang harus mereka tangkap itu seorang wanita yang cantik dan lembut, dua orang pengawal itu saling pandang dan merasa heran. Akan tetapi mereka tidak berani melanggar perintah majikan mereka dan sekali meloncat mereka sudah berada di kanan kiri Liong-li dan sekali menggerakkan tangan mereka sudah menangkap lengan Liong-li. Cengkeraman mereka itu kuat sekali.

Kalau Liong-li menghendaki, tentu saja ia akan mampu membela diri, bahkan merobohkan dua orang laki-laki itu, akan tetapi ia tidak berani membocorkan rahasia dirinya, karena hal itu bukan saja akan membahayakan dirinya sendiri, bahkan juga membahayakan Pangeran Souw Han. Maka, biarpun cengkeraman itu menyakitkan lengannya, ia tidak mau mengerahkan tenaga sin-kang dan bahkan merintih kesakitan.

“Auhhh... lepaskan... ah, apa kesalahanku, Pangeran? Lepaskan saya!”

Ketika merasa betapa tangan mereka mencengkeram sebuah lengan yang lunak dan tidak bertenaga, dua orang pengawal itu merasa heran dan tentu saja mereka segera mengendurkan cengkeraman. Mereka adalah jagoan-jagoan, tentu saja merasa malu kalau harus menggunakan kepandaian untuk menghadapi seorang wanita yang lemah.

“Hemm, engkau mata-mata busuk! Diam kau!” bentak Pangeran Souw Cun kepada. Liong-li, kemudian mengangguk kepada dua orang pengawalnya, “Bawa ia!”

Liong-li meronta dan pura-pura ketakutan, namun dua orang pengawal itu menarik dan setengah menyeretnya pergi dari situ, diikuti oleh Pangeran Souw Cun. Diam-diam Liong-li merasa girang karena ia mengharapkan terbongkarnya rahasia Kwi-eng-cu. Apakah pangeran congkak ini yang memegang peran dalam rahasia Si Bayangan Iblis?

Ia tentu akan tahu nanti. Ia tidak khawatir karena kalau tiba saat terakhir, di mana nyawanya terancam, tentu ia akan memberontak dan membela diri. Bahkan sekarangpun kalau ia mau, ia dapat menjerit dan tentu Pangeran Souw Han akan menolongnya. Akan tetapi ia sengaja tidak menjerit, pura-pura tidak berani menjerit seperti halnya lima orang dayang itu. Belum saatnya ia membutuhkan pertolongan Pangeran Souw Han.

Liong-li dibawa ke dalam tempat tinggal Pangeran Souw Cun, dan ketika mereka memasuki ruangan dalam, dua orang pengawal itu mendorongnya masuk. Dorongan itu cukup kuat dan Liong-li terpaksa harus pura-pura tersungkur ke atas lantai ruangan itu, merintih dan mengaduh.

“Heh-heh-heh, nona. Tidak perlu lagi bermain sandiwara seperti itu, heh-heh!” terdengar suara parau.

Liong-li pura-pura terkejut ketakutan, mengangkat mukanya dan memandang dalam keadaan masih terduduk di atas lantai. Kiranya di dalam kamar itu terdapat seorang laki-laki tua berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian seperti seorang sasterawan. Tubuhnya tinggi kurus dan agak bongkok. Kakek ini adalah Bouw Sian-seng, yaitu guru yang mengajarkan sastera kepada Pangeran Souw Cun.

“Heh-heh, Pangeran. Ia hanya pura-pura. Jangan paduka terkena tipuannya, heh-heh!” katanya lagi.

Kini dia sudah bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan kedua tangan yang berlengan lebar itu. Pakaiannya mewah, bahkan ada hiasan emas pada kancing bajunya, dan juga pada rambutnya. Akan tetapi Liong-li melihat betapa kumis dan jenggot orang ini kotor dan tidak terawat baik, tanda bahwa di balik kemewahan pakaian itu, sebenarnya dia seorang yang jorok.

“Ketika pertama kali bertemu, akupun sudah menduga begitu, Sian-seng. Ia tentu berbahaya sekali, sudah berhasil menyelundup ke istana!” Pangeran itu kini duduk di atas kursi, dan dua orang pengawalnya berdiri di belakangnya, siap membela majikan mereka. Hanya ada empat orang, pikir Liong-li yang masih menangis lirih. Dua orang pengawal itu tidak ada artinya baginya. Yang perlu dihadapi dengan hati-hati adalah pangeran itu sendiri dan agaknya kakek inipun menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya.

Ia mengingat-ingat siapakah gerangan kakek ini, apakah seorang tokoh kang-ouw, tokoh dunia sesat? Ia tidak pernah bertemu dengan kakek ini. Dia inikah yang menjadi dalang keributan Si Bayangan Iblis itu? Semua kemungkinan ada selama rahasia itu belum dapat ia pecahkan.

“Sudah, tidak perlu berpura-pura menangis, pura-pura sebagai seorang wanita lemah!” bentak Pangeran Souw Cun. “Hayo mengaku saja terus terang siapa engkau sebenarnya, dan apa maksudmu menyelundup ke dalam istana?”

Dengan air mata bercucuran, Liong-li mengangkat muka memandang pangeran itu. “Saya... hamba... tidak mengerti apa maksud paduka...? Hamba bernama Siauw Cu, hamba tadinya seorang dayang Yang Mulia Permaisuri... hamba lalu diberikan kepada Pangeran Souw Han... hamba hanya melaksanakan perintah... dan semua sudah paduka ketahui...”

“Bohong!” Pangeran Souw Cun membentak marah. “Semua itu bohong! Engkau tentu mata-mata yang diselundupkan ke sini!”

“Hamba tidak berbohong...!”

“Heh-heh, ia memang pandai bersandiwara, Pangeran. Tentu ada hubungannya dengan gadis yang bekerja di dapur istana itu... heh-heh...”

Diam-diam Liong-li terkejut. Kakek bongkok itu ternyata cerdik sekali. Menghubungkan ia sebagai dayang dengan gadis di dapur yang tentu dimaksudkan Akim, gadis penyamarannya pula.

“Hayo katakan, engkau tentu mengenal. Akim, gadis pelayan di dapur itu, bukan?”

“Hamba tidak... tidak tahu, hamba tidak mengenal siapapun didapur istana.”

“Heh-heh-heh, Pangeran, tidak ada cara yang lebih manjur untuk memaksa seorang wanita muda mengaku dosanya dari pada mengancamnya dengan perkosaan!”

“Hayo mengaku kau! Kalau tidak, aku akan menyuruh beberapa orang pengawalku untuk memperkosamu bergiliran!” bentak pula Pangeran Souw Cun, lalu dia menghampiri Liong-li, tangannya meraih dan mencengkeram baju wanita itu di bagian dada. Liong-li mempertahankan bajunya, berlagak ketakutan.

“Jangan, Pangeran... ah, jangan...!”

Pangeran Souw Cun mengerahkan tenaga menarik baju itu dengan sentakan kuat. “Brett...!” Baju itupun robek dan nampaklah dada Liong-li yang sengaja tidak mempertahankan bajunya. Ia hanya dapat menangis dan menutupi dada dengan kedua tangannya, menarik-narik baju yang terobek itu untuk menutupi dadanya yang terbuka.

“Ampun, Pangeran. Jangan perkosa saya... ah, mengapa paduka melakukan ini kepada hamba? Hamba sudah menjadi selir Pangeran Souw Han, beliau amat mencinta hamba... dan hamba bekas dayang kesayangan Yang Mulia Permaisuri. Kalau hamba diperkosa di sini, kalau hamba dibunuh, tentu Pangeran Souw Han dan Permaisuri akan marah sekali... jangan hamba yang tidak berdosa ini disiksa...”

Pangeran Souw Cun bermain mata dengan Bouw Sian-seng. Kakek itu memberi isyarat dengan gelengan kepala. Mereka berdua tahu betapa benarnya ucapan wanita itu. Kalau sampai ia diperkosa atau dibunuh, tentu akan mereka hadapi akibatnya yang cukup hebat dan menambah kacau keadaan. Tentu Pangeran Souw Han akan marah sekali, juga permaisuri takkan tinggal diam. Hal itu amat merugikan.

“Huh, siapa yang mau memperkosa seorang mata-mata, seorang wanita palsu seperti engkau? Aku hanya ingin memberi hajaran agar engkau mengaku!” Lalu kepada dua orang pengawalnya, Pangeran Souw Cun berkata, “Hajar ia dengan sepuluh kali cambukan!”

Dua orang pengawal yang sudah biasa bertindak sebagai algojo itu cepat maju. Seorang dari mereka memaksa Liong-li untuk berlutut dan bertiarap dengan punggung dan pinggul telanjang, dan seorang lagi lalu mengayun sebatang cambuk.

“Tarrr...!“ Pecut panjang itu untuk pertama kali menyambar dan menyengat punggung Liong-li.

Nampak guratan merah pada kulit yang putih mulus itu. Liong-li menjerit dan merintih kesakitan. Akan tetapi cambuk itu menyambar lagi, dua kali, tiga kali, mengenai pinggul, punggung sampai lima kali! Liong-li terkulai, dan Pangeran Souw Cun mengangkat tangan.

“Cukup!” Dan cambukan keenam tidak dilakukan. Punggung dan pinggul yang berkulit putih mulus itu kini penuh jalur-jalur merah, bahkan di sana-sini terluka, kulitnya pecah berdarah.

“Engkau masih belum mau mengaku siapa dirimu sebenarnya dan siapa yang memperalat kamu menjadi mata-mata. Kalau tidak mau mengaku, akan kusuruh cambuk lagi sampai engkau mampus!” kata Pangeran Souw Cun, kini kata-katanya tidak “terpelajar” lagi, melainkan kasar.

Liong-li tidak bermain sandiwara kalau ia menyeringai kesakitan. Memang bukan main nyerinya dicambuki seperti itu. Perih, panas dan rasa nyeri hampir tak tertahankan. Ia menggeleng kepala. “Hamba tidak bohong, hamba Siauw Cu... dayang permaisuri... selir Pangeran Souw Han...”

“Heh-heh, Pangeran. Saya mempunyai cara lain yang membuat ia harus mengaku. Ia tidak akan dapat menahan rasa nyerinya!”

Terbongkok-bongkok Bouw Sian-seng menghampiri Liong-li, lalu menjambak rambut pada pelipis kanan kiri dengan kedua tangannya. “Nona, kalau engkau tidak mau mengaku, akan kucabut rambut ini dari pelipismu sampai kulitnya terkupas! Katanya sambil menyeringai dan dia mulai menarik rambut di kedua pelipis itu.

Liong-li terbelalak saking nyerinya. Kiut miut rasanya, rasa nyeri yang menyengat sampai ke ubun-ubun kepalanya. Hampir saja ia menggerakkan tangan. Sekali pukul saja tentu ia akan dapat membunuh kakek yang menyiksanya ini. Akan tetapi belum saatnya. Ia tahu bahwa kakek itu hanya menggertak. Pelipisnya tidak akan robek. Mereka tidak akan berani membunuhnya.

“Saya... saya tidak tidak bohong...”

“Kanda Souw Cun !” Tiba-tiba terdengar teriakan di luar pintu.

Mendengar ini, Bouw Sian-seng cepat melepaskan rambut di kedua pelipis Liong-li dan pendekar wanita inipun jatuh terkulai, merintih lirih, akan tetapi hatinya lega bukan main mendengar suara Pangeran Souw Han di pintu.

“Nah, dia datang...” bisik Souw Cun, pangeran yang kini berbalik merasa khawatir.

“Katakan saja ia kurang ajar terhadap paduka, memandang rendah...” bisik Bouw Sian-seng.

Daun pintu kamar itu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Souw Han dengan muka pucat. Dia segera melihat Liong-li yang mendekam di atas lantai dengan tubuh bagian belakang telanjang dan berdarah.

“Ya Tuhan! Kanda Souw Cun, apa yang kau lakukan ini? Siauw Cu...!” Pangeran Souw Han menubruk dan merangkul Liong-li.

Wanita ini menangis tersedu-sedu. “Pangeran...”

Pangeran Souw Han menanggalkan baju luarnya dan menyelimuti tubuh Liong-li dengan jubahnya, menariknya bangkit berdiri. Dengan lunglai wanita itu bersandar kepadanya dan Pangeran Souw Han merangkulnya, kemudian Pangeran Souw Han kembali memandang Pangeran Souw Cun dengan mata bernyala karena marah.

“Kanda Souw Cun, apa artinya ini? Engkau... engkau sudah berani menghinaku! Siauw Cu ini selirku, kenapa engkau berani menangkapnya dan... dan apa yang kaulakukan kepadanya ini? Jawab! Kenapa? Atau kulaporkan kepada Ibunda Permaisuri, kepada Sribaginda?”

Dan sinar matanya yang penuh kemarahan itu juga memandang kepada Bouw Sian-seng yang berdiri agak jauh sambil menundukkan mukanya. Dua orang pengawal Pangeran Souw Cun juga diam seperti patung. Mereka tidak merasa khawatir karena mereka hanyalah pelaksana perintah Pangeran Souw Cun.

Pangeran Souw Cun tersenyum. “Adikku. yang baik, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud menghinamu. Akan tetapi sudah kuperingatkan engkau. Wanita ini... ia bersikap kurang ajar kepadaku, bahkan ia berani merayuku...”

“...tidak benar, Pangeran...!” Liong-li Membantah.

“Ha-ha-ha, tentu saja ia ingkar dan tidak berani mengaku. Akan tetapi, Bouw Sian-seng, ini dan dua orang pengawalku menjadi saksinya!”

Souw Han menegakkan kepalanya. Kalau dia melaporkan kepada Permaisuri dan Kaisar tentu akan terjadi heboh, dan kakak tirinya yang licik ini dapat mengajukan tiga orang itu sebagai saksi dan dia akan tersudut.

“Hemm, kanda Souw Cun. Aku mengenal selirku, ia tidak mungkin berani berbuat seperti itu! Siauw Cu, katakan, apa yang telah dilakukan kanda Souw Cun kepadamu! Engkau tidak... tidak dihina, di... nodai, bukan? Aku tidak terima begitu saja!”

Liong-li maklum bahwa Pangeran Souw Han marah sekali. Tidak baik kalau dibiarkan begini. Berbahaya sekali bagi pangeran yang disayangnya itu. “Tidak, Pangeran... saya... saya hanya dicambuk... lima kali!” kata Liong-li lirih.

“Mana orangnya yang mencambukmu?”

Liong-li memandang kepada dua orang pengawal yang masih berdiri tegak. “Mereka itu? Jahanam busuk, kalian harus menerima pembalasan!” Pangeran Souw Han mengambil cambuk yang masih terletak di situ, lalu menggunakan cambuk itu untuk mencambuki dua orang pengawal.

Dua orang pengawal itu tidak berani melawan, bahkan tidak berani mengelak, terpaksa menerima cambukan-cambukan dari pangeran yang sedang marah dan mengamuk itu. Sampai cabik-cabik pakaian mereka dan ada jalur-jalur merah di muka mereka.

“Cukup dinda Souw Han! Selirmu dicambuk lima kali dan engkau sudah membalas belasan kali!”

Souw Han melempar cambuk itu ke atas lantai. Mukanya merah karena marah dan dia menuding kepada kakaknya dengan mata melotot. “Untung bukan engkau yang mencambuki Siauw Cu, kanda Souw Cun. Kalau engkau sekali pun, pasti akan kubalas! Tak seorang pun boleh menghina Siauw Cu, berarti menghina aku. Kanda tahu bahwa aku tidak pernah memusuhimu atau siapapun. Aku pura-pura tidak tahu saja akan segala kebusukkan yang terjadi di sini! Aku tahu bahwa engkau juga bersaing memperebutkan kekuasaan. Aku tidak perduli semua itu, akan tetapi mengapa engkau berani mengganggu Siauw Cu?”

Liong-li melihat dari sudut matanya betapa Pangeran Souw Cun bertukar pandang dengan Bouw Sian-seng. Ia tidak perlu melapor kepada Pangeran Souw Han bahwa Bouw Sian-seng tadi menyiksanya. Kakek itu berbahaya sekali.

“Adikku Souw Han. Engkau lebih memberatkan selirmu dari pada kakakmu, aku? Aih, sudahlah. Maafkan. Kalau tadi aku menghukumnya adalah karena aku merasa dihina, dan bukan karena ia hanya seorang bekas dayang, seorang janda... dan ah, terus terang saja tadinya kami mencurigai selirmu ini. Kami mengira bahwa ia seorang mata-mata yang menyelundup. Aku melakukannya karena sayang kepadamu adikku. Kalau ia mata-mata yang menyelundup ke dalam istana dan menipu Ibunda Permaisuri dan juga menipumu, bukankah itu berbahaya sekali, dinda? Karena itu, hukuman cambuk tadi sesungguhnya hanya untuk mengujinya, apakah ia seorang mata-mata berbahaya yang memiliki kepandaian tinggi dan berniat jahat atau bukan.”

“Hemm, betapa kejamnya! Dan bagaimana kenyataannya? Lihat, punggung selirku luka-luka berdarah! Dan ia sama sekali tidak berdosa. Ia wanita pertama dan satu-satunya yang kucinta, dan engkau menyuruh algojo-algojomu mencambukinya.”

“Sudahlah, adinda yang baik. Aku sudah minta maaf, bukan? Ini hanya kesalah pahaman saja. Biarlah lain hari aku memberi hadiah untuk selirmu ini, untuk menyatakan penyesalan dan maafku.”

“Hemm...!” Pangeran Souw Han menggandeng lengan dan merangkul pundak Liong-li lalu dipapahnya wanita itu keluar dari situ, terus menuju ke tempat tinggalnya sendiri. Dia menyesal sekali mengapa para dayangnya tadi terlambat membangunkannya.

Para dayang itu tadi kebingungan melihat Liong-li ditangkap Pangeran Souw Cun. Untuk melaporkan hal itu kepadanya, mereka tidak berani karena tidak berani mengganggu dia yang sedang tidur. Akhirnya, mereka itu setelah saling dorong, memberanikan diri beramai-ramai memasuki kamarnya dan membangunkannya, melaporkannnya.

Dia terkejut sekali dan cepat berlari mengejar ke tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Namun sudah agak terlambat. Liong-li telah dicambuk lima kali sampai leher, punggung dan pinggulnya luka-luka...!

Si Bayangan Iblis Jilid 13

“TARIAN pedang?“ tiba-tiba Pangeran Souw Cun bertanya.

“Ah, bukan, Pangeran. Tarian biasa,” jawab Siauw Cu atau Liong-li tanpa berani mengangkat mukanya.

“Bagus, kalau begitu, suruh ia menari agar dapat kumelihatnya, adinda Souw Han!”

Pangeran Souw Han mengerutkan alisnya. Dia ingin agar kakaknya itu cepat pergi saja supaya tidak mengganggu Liong-li lebih lama lagi. Pula, diapun tidak yakin apakah benar Liong-li pandai menari, dan jangan-jangan gerak tarinya akan mengandung gerak silat sehingga akan menimbulkan kecurigaan pada kakaknya.

“Kakanda, ia baru saja datang, masih lelah. Biarlah lain hari saja ia menari.”

“Tidak mengapa, Pangeran. Hambapun senang sekali kalau paduka menggembirakan hati saudara tua paduka,” kata Liong-li.

Ucapan ini saja sudah cukup melegakan hati Pangeran Souw Han. “Baiklah kalau begitu. Aku akan mengiringi tarianmu dengan yang-kim. Engkau tentu mau meniup sulingnya, bukan, kakanda?”

“Baik, Tapi, tarian apa yang akan ditarikan selirmu itu?”

“Hamba akan menarikan tarian rakyat dari daerah selatan, tarian para petani bekerja di sawah ladang,” kata Liong-li.

Tak lama kemudian, terdengarlah paduan suara suling dan yang-kim, dengan irama yang lambat dan halus. Liong-li sudah mengambil sebuah sabuk sutera merah panjang dari almari pakaian atas petunjuk Pangeran Souw Han dan iapun mulailah menari, seirama suara suling dan yang-kim.

Dan kini kedua orang pangeran itu terpesona! Jangan Souw Cun yang penuh curiga itu, bahkan Souw Han yang sudah tahu bahwa “selirnya” itu seorang pendekar wanita, terbelalak kagum melihat betapa tubuh wanita itu meliuk-liuk lemah gemulai, menarik dengan amat indahnya! Bagaikan seorang bidadari saja selirnya itu! Setelah selesai menari dan dua orang pangeran itu menghentikan permainan alat musik mereka, Pangeran Souw Cun bertepuk tangan memuji.

“Wah, sekarang aku mengerti mengapa engkau suka kepada selirmu ini, adinda. Ternyata suaranya merdu, permainan yang-kimnya pandai, dan tariannya pun indah. Dan tubuhnya itu! Amboi, betapa akan nikmatnya malam nanti akan kau rasakan dalam pelukkannya, adindaku.”

“Kakanda! Harap jangan ganggu kami lagi dan kupersilakan kakanda meninggalkan kami!” Pangeran Souw Han berseru marah.

Akan tetapi kakaknya hanya tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, hampir aku lupa! Engkau belum pernah bergaul dengan wanita, tentu ia akan mengajarimu, atau kalau engkau memang tidak suka, biarlah kalau malam ia bersamaku, kalau siang ia bersamamu. Dan engkau pun boleh minta tukar untuk malam ini dengan beberapa saja selirku. Boleh kau pilih dan berapa banyaknya pun boleh untuk ditukar dengan ia!”

“Kakanda! Pergilah! Keluar dari sini!” Pangeran Souw Han berteriak dan Pangeran Souw Cun tertawa, akan tetapi meninggalkan kamar itu dengan langkah tenang dan berlenggang penuh gaya.

Setelah pangeran itu pergi, Pangeran Souw Han menutup pintu kamar, lalu menjatuhkan diri duduk di atas kursi. Dadanya bergelombang, mukanya merah dan napasnya memburu karena dia tadi menahan amarahnya. Sejak tadi Liong-li mengamatinya, dan ia tersenyum lalu menghampiri dan duduk di atas kursi dekat dengan pangeran itu. “Sudahlah, Pangeran. Tenangkan hati paduka. Bahaya telah lewat dan agaknya dia tidak mencurigai kita.

Pangeran Souw Han mengepal tinju. “Akan tetapi penghinaan-penghinaan itu! Terutama sekali kepadamu! Sungguh tidak patut!”

Liong-li tersenyum. Memang tadi iapun merasa marah sekali. Pangeran Souw Cun tidak pantas menjadi pangeran, pantasnya menjadi seorang berandal, seorang penjahat yang tidak tahu malu, yang siap menukarkan selir-selirnya dengan selir adiknya, begitu cabul, begitu jorok dan hina.

“Bagaimanapun juga, paduka telah berhasil mengusirnya, Pangeran, dan kita aman sudah. Saya yakin dia tidak akan berani lagi datang mengganggu.”

“Hemm, aku belum begitu yakin. Engkau tidak mengenal siapa Pangeran Souw Cun itu, enci Cu. Kalau sudah menginginkan seorang wanita, sebelum berhasil, akan dia lakukan segala daya, segala muslihat untuk mendapatkan wanita itu! Dan dia memiliki tukang-tukang pukul yang lihai. Engkau sekarang harus lebih berhati-hati, enci Cu, karena kulihat bahwa kakanda Souw Cun itu sangat menginginkanmu tadi. Selain si Bayangan Iblis, engkau akan menghadapi musuh lain, yaitu kakanda Souw Cun dan kaki tangannya.”

Liong-li tersenyum. “Saya tidak khawatir, Pangeran. Sudah terbiasa saya oleh kepungan orang-orang yang menjadi hamba nafsu iblis, dan selalu saya dapat mengatasi mereka.”

“Mudah-mudahan begitulah. Hanya pesanku, malam nanti, malam pertama engkau melakukan penyelidikan, engkau harus berhati-hati. Bagaimanapun juga, aku takkan dapat tidur karena gelisah sebelum engkau kembali ke kamar ini.”

“Aihh, kalau begitu, malam nanti bukan saya saja yang bergadang, akan tetapi paduka juga rupanya!” Liong-li berkelakar. “Sebaiknya sekarang paduka tidur mengaso agar malam nanti tidak terlalu payah.”

“Dan engkau sendiri? Nanti malam engkau akan melakukan tugas yang amat berat dan berbahaya! Engkaulah yang perlu mengaso.”

Liong-li tersenyum. “Aku tidak pernah tidur siang, Pangeran. Dan untuk memulihkan tenaga dan menguatkan tubuh, cukup dengan samadhi beberapa jam saja sambil mengatur pernapasan.”

“Kalau begitu, lakukanlah samadhimu, dan aku akan tiduran sambil membaca kitab.”

Liong-li tidak sungkan-sungkan lagi, melepaskan sepatunya dan naik ke atas pembaringan, lalu duduk bersila dan mengatur pernapasan. Pangeran Souw Han sendiri lalu membawa kitab sajak dan membaca kitab sambil rebahan di atas lantai yang bertilamkan permadani dan ditambah dengan beberapa buah bantal.

Mereka hanya berhenti ketika dua orang dayang mengetuk pintu kamar dan mengantar hidangan makan siang. Kemudian mereka melanjutkan kesibukan masing-masing dan sampai hari menjadi malam, sedikitpun juga sang pangeran tidak pernah mengganggu Liong-li, baik dengan perbuatan, kata-kata bahkan dengan pandang mata sekalipun.

Dan kembali ada perasaan penasaran dan kecewa di dalam hati Liong-li. Ia merasa seperti menjadi sebuah kursi atau meja kembali. Sebuah kitab sajak agaknya jauh lebih menarik bagi pamgeran itu dari pada dirinya! Sungguh keterlaluan!

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis episode si bayangan iblis jilid 13 karya kho ping hoo

Malam tiba. Sejak sore tadi, sejak mereka makan malam bersama, sang pangeran sudah nampak gelisah dan berulang kali dia memperingatkan Liong-li agar berhati-hati. Kemudian, setelah mendekati tengah malam, Liong-li mengenakan pakaian serba hitam, menutupi pula mukanya dengan saputangan hitam, tidak lupa membawa Hek-liong-kiam yang disembunyikan di balik jubah hitam.

Melihat dandanan wanita itu, Pangeran Souw Han memandang dengan kagum, akan tetapi juga dengan sinar mata gelisah. “Engkau nampak gagah sekali, enci Cu, dan... dan mengerikan. Kuharap engkau dapat segera menyelesaikan penyelidikanmu dan kembali ke kamar ini dengan selamat.”

“Tenangkanlah hati paduka dan tidurlah, Pangeran. Paling lambat besok pagi-pagi sebelum matahari terbit saya sudah akan kembali ke sini.”

“Engkau keluar melaksanakan tugas yang berat, menghadapi ancaman bahaya dan aku disuruh tidur enak-enak di sini? Bagaimana mungkin, enci Cu?”

“Akan tetapi, bukankah biasanya setiap malam paduka juga tidur seorang diri di sini dan tidak pernah gelisah?”

“Ketika itu belum ada engkau di sini enci Cu. Sudahlah, harap engkau berhati-hati dan aku ikut mendoakan.”

“Terima kasih, Pangeran. Aku pergi!” kata Liong-li yang sudah membuka daun jendela, dan sekali berkelebat, ia sudah lenyap dari depan pangeran itu, seperti seekor burung terbang saja lewat jendela yang terbuka.

Pangeran Souw Han terbelalak, sejenak hanya melongo memandang ke arah jendela, lalu menarik napas panjang dan menutupkan kembali daun jendela. Sudah sering dia melihat jagoan-jagoan istana bermain silat dan memamerkan kelihaian mereka, akan tetapi baru sekarang dia melihat ada gadis dapat menghilang begitu saja dari depan matanya.

Dengan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, Liong-li melompat ke luar jendela dan langsung saja tubuhnya melayang ke atas genteng, Begitu kedua kakinya menginjak genteng bangunan, ia mendekam dan sepasang matanya yang tajam menyapu keadaan sekelilingnya. Sunyi dan cuacanya remang-remang karena bulan sepotong sudah naik tinggi.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang di atas genteng bangunan-bangunan besar di kompleks istana itu, ia lalu mengeluarkan sehelai saputangan hitam dan ditutupnya mukanya bagian bawah. Hanya dahi yang putih halus dan sepasang mata yang tajam mencorong saja yang nampak dan ia sengaja membiarkan sebagian anak rambut menutupi dahi. Takkan ada orang yang mengenal wajahnya sekarang.

Bagaikan seekor burung walet saja, Liong-li meronda di atas atap kelompok rumah besar itu. Tubuhnya berkelebat dan karena ia memakai pakaian hitam, maka gerakannya sukar diikuti pandang mata, apa lagi dari bawah. Setiap kali meloncat dari satu ke lain wuwungan, ia mendekam dan mengintai sampai puluhan menit lamanya. Hawa udara malam itu dingin sekali, akan tetapi tidak dirasakan oleh Liong-li. Ia mengintai dan menanti dengan penuh kesabaran. Beberapa kali ia mendengus lirih dan mengomeli diri sendiri karena pikirannya selalu teringat kepada Pangeran Souw Han! Gila benar, ia sudah tergila-gila kepada pangeran itu!

Bukan main pangeran itu, dan kalau dipertimbangkan, tidak bisa ia terlalu menyalahkan perasaannya yang tertarik kepada pangeran itu. Baru pertama kali berjumpa, melihat wajahnya yang tampan, sikapnya yang halus dan sopan, budi bahasanya yang lembut itu saja sudah membuat ia kagum. Ketika mereka lebih dekat, ia mendapat kenyataan bahwa bukan itu saja kelebihan pangeran ini. Juga seorang sasterawan, seorang seniman, dan baik budi, ramah dan penuh perhatian! Betapa mudahnya membiarkan hati ini jatuh cinta kepada Pangeran Souw Han, ia, melamun.

Huh, engkau bertugas, menghadapi urusan penting yang berbahaya, bukan waktunya untuk melamunkan yang muluk-muluk dan yang mesra-mesra! Demikian ia menegur diri sendiri dan kembali perhatiannya ia tujukan ke luar, pandang matanya mengamati dengan tajam keadaan sekelilingnya.

Tiba-tiba jantungnya berdebar. Sesosok bayangan berkelebat jauh di depan sana, di atas wuwungan atap bangunan lain. Sekarang saatnya menangkap Si Bayangan lblis, pikirnya dan dengan mengerahkan gin-kangnya, Liong-li meloncat dan berlari cepat dengan loncatan-loncatan jauh menuju ke atap itu.

Bayangan hitam itu agaknya hendak membuka genteng untuk melakukan pengintaian ke bawah. Terkejutlah bayangan itu ketika tiba-tiba ada angin menyambar dan sebuah tangan meluncur ke arah pundaknya. Akan tetapi, ternyata bayangan itu memiliki gerakan yang cepat. Tubuhnya sudah telentang dan bergulingan, lalu meloncat berdiri dan memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Dia seorang yang tubuhnya tinggi besar, pakaian serba hitam dan mukanya tertutup topeng merah yang ada dua lubang kecil untuk matanya.

Sejenak Liong-li dan orang itu berdiri saling pandang. Sepasang mata di balik kedok itu mencorong pula seperti mata Liong-li. Kemudian, tanpa mengeluarkan suara, bayangan hitam berkedok itu menerjang ke arah Liong-li. Dalam cuaca yang remang-remang itu, Liong-li masih dapat melihat kilauan sebatang pedang yang menusuk perutnya. Iapun mengelak dengan loncatan ke samping dan begitu sebelah kakinya turun ke atas genteng, kaki yang lain sudah melayang dengan tendangan layang ke arah kepala lawan! Orang itu terkejut, namun dapat pula mengelak.

Melihat gerakan orang, Liong-li maklum bahwa lawannya cukup lihai, namun tidak cukup untuk membuat ia harus mencabut pokiamnya (pedang pusakanya). Kalau tidak perlu sekali, ia tidak akan mencabut Hek-liong-kiam, karena sekali dicabut, ada kemungkinan lawan akan mengenal pedang itu dan sekali pedangnya dikenal, maka dirinyapun pasti akan dikenal sebagai Hek-liong-li! Iapun mendesak dengan pukulan dan tendangan di antara kilatan pedang lawan.

Bayangan hitam yang tinggi besar itu agaknya tidak begitu bernafsu untuk berkelahi terus. Memang besar bahayanya kalau berkelahi terlalu lama di atas wuwungan, karena tentu akan menarik perhatian para penjaga keamanan dan kalau mereka melihatnya, tentu keadaan menjadi berbahaya.

Dengan gerakan cepat dan kuat sekali, tiba-tiba pedang itu menyambar dengan ganasnya ke arah leher Liong-li. Pendekar wanita ini terkejut. Ini merupakan serangan yang amat berbahaya, maka terpaksa ia melempar tubuh ke belakang sambil meloncat dan berjungkir balik sampai tiga kali sebelum tubuhnya turun kembali ke atas genteng. Akan tetapi, ketika ia sudah turun, dilihatnya lawannya tadi melarikan diri dengan cepat ke arah timur.

Iapun mengejar sambil mengerahkan ginkangnya. Akan tetapi bayangan itu lenyap di balik pagar tembok yang memisahkan istana bagian pria dengan istana bagian wanita. Bayangan itu datang dari balik pagar, dari istana bagian wanita! Sejenak ia berdiri termenung. Siapakah bayangan itu? Seorang wanitakah? Akan tetapi tubuhnya begitu tinggi besar! Iapun teringat akan keterangan Pangeran Souw Han bahwa Permaisuri mempunyai banyak jagoan yang lihai!

Ia lalu berloncatan lagi dan bersembunyi di balik sebuah wuwungan yang tinggi sambil mengenang peristiwa yang baru saja terjadi. Mungkin seorang anak buah permaisuri, pikirnya. Bagaimanapun juga, harus dicatat bahwa ada orang mencurigakan di bagian puteri. Bukan tidak mungkin pemimpin gerombolan, yaitu Kwi-eng-cu, berada di bagian puteri, mungkin sang permaisuri sendiri! Siapa tahu?

Kini ia mendekam di atas wuwungan tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Ia sudah mempelajari letak tempat tinggal para pangeran dari Pangeran Souw Han, maka kini ia dapat mengetahui bahwa ia berada di atas atap bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Dengan sabar ia mendekam dan mengintai di situ. Akhirnya, lewat tengah malam, dia melihat sesosok bayangan meloncat keluar dari dalam bangunan itu!

Sekali ini, bayangan yang juga berpakaian serba hitam, bertubuh tegap tidak begitu tinggi, akan tetapi juga mukanya ditutup kedok yang berwarna hitam pula walaupun berbeda modelnya dengan yang tadi. Liong-li cepat menyergap untuk menangkapnya. Karena ia muncul dengan tiba-tiba dan penuh perhitungan karena tidak mau gagal lagi, Liong-li berhasil mencengkeram pundak orang itu.

“Ihhh...!” Liong-li berseru lirih saking kagetnya ketika jari-jari tangannya bertemu dengan pundak yang keras dan licin seperti besi sehingga cengkeramannya hanya merobek baju dan meleset!

“Ahhhh...!” Orang itu agaknya juga terkejut dan kakinya menendang ke arah perut Liong-li. Namun Liong-li kini mengerahkan tenaga dan sengaja menangkis untuk mengukur tenaga lawan.

“Dukkk...!” Orang itu kembali mengeluarkan seruan kaget dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Akan tetapi dia sudah meloncat ke balik wuwungan dan ketika Liong-li cepat mengejar, bayangan itu sudah lenyap, mungkin turun kembali ke dalam bangunan itu!

Liong-li termenung sejenak! Orang itu jelas bukan yang pertama tadi, akan tetapi juga amat lihai! Kalau yang pertama tadi menghilang di balik tembok istana bagian puteri, kini orang kedua ini menghilang ke dalam bangunan tempat tinggal Pangeran Souw Cun! Hemm, siapakah di antara mereka itu Kwi-eng-cu? Ataukah hanya anak buah saja? Siapakah yang memiliki peran dalam urusan rahasia Si Bayangan Iblis ini? Sang Permaisuri ataukah Pangeran Souw Cun?

Kembali Liong-li melakukan perondaan dan pengintaian, Namun, tidak ada sesuatu terjadi, tidak ada bayangan hitam muncul. Ketika dari atas wuwungan ia melihat di ufuk timur sana ada cahaya merah sang matahari, masih amat lembut, ia mengambil keputusan untuk kembali ke tempat tinggal Pangeran Souw Han sebelum fajar menyingsing. Akan tetapi tiba-tiba ia menyelinap ke balik wuwungan.

Dari arah barat nampak sesosok bayangan hitam, berlari cepat sekali, berloncatan dari wuwungan ke wuwungan yang lain. Kini bayangan itu tubuhnya tinggi kurus, berbeda pula dengan yang tadi. Liong-li tidak menyerang, hanya berniat membayangi. Akan tetapi, bayangan yang satu inipun, lihai sekali. Agaknya tahu bahwa ada orang yang membayanginya, maka tiba-tiba saja tubuhnya meluncur ke arah Liong-li yang membayangi sambil bersembunyi dan menyelinap di bilik wuwungan, Tiba-tiba si bayangan hitam yang tinggi kurus sudah menerjangnya dari atas seperti seekor burung garuda!

“Hemm...!” Liong-li menyambut pukulan kedua tangan terbuka itu dengan kedua tangannya sendiri yang juga dibuka.

“Dessss...!”Akibatnya, tubuh Liong-li terjengkang dan untung ia masih mampu berjungkir balik sehingga tidak terbanting! Akan tetapi lawannya yang tadi menyerangnya dari atas juga terpental ke belakang dan seperti juga Liong-li, orang tinggi kurus ini berjungkir balik dan dapat hinggap di atas genteng tanpa cidera. Keduanya sejenak saling pandang dari balik topeng, kemudian orang tinggi kurus itu, menggerakkan kedua tangan. Benda-benda kecil hitam menyambar ke arah tubuh Liong-li, dari kepala sampai kaki!

Pendekar ini kembali terkejut dan maklum betapa berbahayanya senjata-senjata rahasia yang menyambar dengan cepat itu. Iapun menggunakan keringanan tubuhnya untuk mengelak dengan loncatan ke samping, akan tetapi tangannya menyambar, dan ia berhasil menangkap sebuah benda hitam yang ternyata hanyalah pecahan genteng!

Senjata seperti ini dapat dipergunakan setiap orang dan tidak dapat ia jadikan bukti untuk kelak mengenal siapa lawannya.” Ia melihat tubuh lawan sudah melayang menjahuinya. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangan, mengembalikan “senjata rahasia” itu ke arah pemiliknya. Lalu ia mengejar.

Ternyata orang ketiga ini malah lebih lihai dibandingkan dua orang pertama. Tanpa menoleh, sambil tetap berlari, ia menjulurkan tangan ke belakang dan menangkis pecahan genteng yang menyambarnya. Liong-li mengejar terus dan melihat orang itu lenyap di balik wuwungan sebuah bangunan, yang ia tahu adalah tempat tinggal Pangeran Kim Ngo Him, yaitu seorang di antara mantu kaisar!

Liong-li tertegun. Malam ini ia bertemu tiga orang yang lihai dan ia tahu bahwa di istana ini berkeliaran banyak jagoan yang lihai, orang-orang berkedok yang penuh rahasia. Akan tetapi ia tidak tahu yang mana Si Bayangan Iblis dan di mana sembunyinya.

Betapapun juga, ia merasa puas karena malam pertama ini ia dapat bertemu dengan tiga orang berkedok yang melarikan diri ke arah tiga tempat yang berlainan. Iapun cepat pulang dengan cara menyelinap ke sana-sini dan yakin bahwa tidak ada orang yang tahu ketika ia melayang turun ke tempat tinggal Pangeran Souw Han. Ia membuka daun jendela tanpa menimbulkan suara, meloncat ke dalam dengan hati-hati agar tidak mengejutkan Pangeran Souw Han yang ia tahu pasti masih tidur nyenyak.

“Enci Cu...! Akhirnya engkau kembali juga...!”

“Ehhh...” Liong-li melepas sapu tangan dari mukanya dan memandang kepada pangeran itu dengan mata terbelalak. Kiranya pangeran itu masih duduk di atas lantai dengan sebuah kitab di tangannya. “Pangeran, sepagi ini paduka sudah bangun dari tidur?”

Pangeran itu tersenyum. Masih ada kegelisahan yang bersisa di sudut matanya, namun senyumnya cerah, wajahnya membayangkan kegembiraan. “Enci Cu, bagaimana mungkin aku dapat tidur? Semalam suntuk aku gelisah menanti-nanti kembalimu!”

“Aduh, pangeran! Paduka bergadang pula semalam suntuk?” Ada rasa haru dan gembira menyelinap di dalam hati wanita itu. Bagaimana hatinya tidak akan terharu dan bangga, juga gembira melihat kenyataan betapa pangeran yang ganteng ini begitu mengkhawatirkan dirinya sehingga semalam suntuk tidak tidur untuknya dan selalu mengharapkan kembalinya? Ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Pangeran Souw Han mencintanya!

Pangeran itu agak tersipu. “Sudah kuusahakan untuk memejamkan mata, namun sia-sia. Bahkan membacapun tidak dapat kucerna, karena pikiran ini selalu membayangkan engkau berada dalam ancaman bahaya besar. Enci Cu, kini hatiku demikian lega dan aku merasa lelah dan mengantuk sekali.”

“Pangeran, paduka harus tidur. Kasihan sekali, tidurlah di atas pembaringan itu, pangeran, dan saya...” Liong-li tersenyum dan menghentikan ucapannya, lalu menghampiri.

Pangeran itu telah tertidur! Tertidur dengan tarikan napas yang halus dan mulutnya masih mengembangkan senyum, tangannya masih memegang sebuah kitab. Dengan lembut, Liong-li mengambil kitab yang hampir terlepas di tangan kiri itu, lalu mengambil selimut dari atas pembaringan karena hawa udara yang dingin menembus ke dalam kamar, lalu dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh pangeran itu dari kaki sampai ke leher.

Melihat betapa pangeran itu tidur pulas sekali, dan kepalanya tidak berbantal, ia lalu mengambil sebuah bantal dari pembaringan, dan dengan hati-hati ia memasukkan lengan kiri ke bawah leher sang pangeran, mengangkat kepala itu dan mendorongkan bantal ke bawah kepala. Kepala yang berada di rangkulan lengan kiri itu ketika ia angkat, berada dekat sekali dengan mukanya. Maka pangeran itu nampak demikian tampan, demikian lembut.

Perasaan haru dan mesra menyelinap di dalam hati Liong-li membuat ia makin menunduk dan hampir ia mencium pipi atau bibir itu. Akan tetapi, keteguhan hatinya bergerak menolak dan menentang. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang!

Ia perlahan-lahan menurunkan kepala itu ke atas bantal, lalu cepat-cepat ia bangkit berdiri. Dadanya masih tergetar oleh gairah dan ia cepat melangkah mundur. Ia tidak boleh berada di sini selagi sang pangeran tidur, bukan saja ia tidak mau mengganggu pangeran yang kelelahan dan kurang tidur itu, juga ia menganggap terlalu berbahaya. Ia juga takkan dapat beristirahat kalau berada di kamar itu, harus selalu berjuang melawan gairah nafsunya sendiri.

Setelah memandang sekali lagi ke arah wajah itu dan tersenyum, dengan pandang mata menjadi lembut mengandung kasih sayang. Liong-li berganti pakaian dan meninggalkan kamar itu, menutupkan pintunya perlahan dan iapun pergi ke ruangan para dayang.

Pagi itu lima orang dayang telah terbangun dan sedang sibuk bekerja. Ada yang menyiapkan sarapan pagi untuk pangeran, ada yang mencuci pakaian, membersihkan lantai, membersihkan semua perabot rumah, menyapu pekarangan dan sebagainya.

Melihat sang “selir” pangeran sudah terbangun sepagi itu, mereka merasa heran, akan tetapi menyambut majikan baru ini dengan hormat dan ramah. Mereka menghaturkan selamat pagi dan menawarkan sarapan pagi, tidak tahu apakah selir pangeran itu akan sarapan pagi hersama pangeran nanti kalau sudah bangun tidur, atau makan pagi sendirian.

“Aku ingin sarapan di sini saja, beberapa butir telur dan bubur, dan air teh panas. Juga tolong sediakan air hangat, aku ingin mandi. Pangeran masih tidur, harap jangan membuat gaduh dekat kamar.”

Liong-li mandi air hangat dan merasa segar kembali walaupun semalam ia tidak tidur sama sekali. Dan sarapan itu membuat kekuatan tubuhnya pulih, akan tetapi sehabis makan, datanglah rasa kantuk. Selagi ia berniat untuk kembali ke kamar dan melepas kantuknya, tiba-tiba muncul Pangeran Souw Cun bersama dua orang pengawalnya, dua orang laki-laki berusia empatpuluh tahunan yang berpakaian ringkas dan bertubuh tegap.

Lima orang dayang tentu saja terkejut dan mereka segera memberi hormat dengan membungkuk hampir berlutut. Akan tetapi Souw Cun tidak memperdulikan mereka, melainkan memandang kepada Liong-li yang sedang duduk. Sikapnya tidak seperti kemarin, ramah gembira. Kini wajahnya berkerut marah.

“Nah ini ia orangnya! Tangkap ia!” perintahnya kepada dua orang pengawal. Agaknya ia sudah memberitahu kepada dua orang pengawalnya bahwa yang akan ditangkap adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi, agar mereka berdua berhati-hati.

Kini melihat bahwa yang harus mereka tangkap itu seorang wanita yang cantik dan lembut, dua orang pengawal itu saling pandang dan merasa heran. Akan tetapi mereka tidak berani melanggar perintah majikan mereka dan sekali meloncat mereka sudah berada di kanan kiri Liong-li dan sekali menggerakkan tangan mereka sudah menangkap lengan Liong-li. Cengkeraman mereka itu kuat sekali.

Kalau Liong-li menghendaki, tentu saja ia akan mampu membela diri, bahkan merobohkan dua orang laki-laki itu, akan tetapi ia tidak berani membocorkan rahasia dirinya, karena hal itu bukan saja akan membahayakan dirinya sendiri, bahkan juga membahayakan Pangeran Souw Han. Maka, biarpun cengkeraman itu menyakitkan lengannya, ia tidak mau mengerahkan tenaga sin-kang dan bahkan merintih kesakitan.

“Auhhh... lepaskan... ah, apa kesalahanku, Pangeran? Lepaskan saya!”

Ketika merasa betapa tangan mereka mencengkeram sebuah lengan yang lunak dan tidak bertenaga, dua orang pengawal itu merasa heran dan tentu saja mereka segera mengendurkan cengkeraman. Mereka adalah jagoan-jagoan, tentu saja merasa malu kalau harus menggunakan kepandaian untuk menghadapi seorang wanita yang lemah.

“Hemm, engkau mata-mata busuk! Diam kau!” bentak Pangeran Souw Cun kepada. Liong-li, kemudian mengangguk kepada dua orang pengawalnya, “Bawa ia!”

Liong-li meronta dan pura-pura ketakutan, namun dua orang pengawal itu menarik dan setengah menyeretnya pergi dari situ, diikuti oleh Pangeran Souw Cun. Diam-diam Liong-li merasa girang karena ia mengharapkan terbongkarnya rahasia Kwi-eng-cu. Apakah pangeran congkak ini yang memegang peran dalam rahasia Si Bayangan Iblis?

Ia tentu akan tahu nanti. Ia tidak khawatir karena kalau tiba saat terakhir, di mana nyawanya terancam, tentu ia akan memberontak dan membela diri. Bahkan sekarangpun kalau ia mau, ia dapat menjerit dan tentu Pangeran Souw Han akan menolongnya. Akan tetapi ia sengaja tidak menjerit, pura-pura tidak berani menjerit seperti halnya lima orang dayang itu. Belum saatnya ia membutuhkan pertolongan Pangeran Souw Han.

Liong-li dibawa ke dalam tempat tinggal Pangeran Souw Cun, dan ketika mereka memasuki ruangan dalam, dua orang pengawal itu mendorongnya masuk. Dorongan itu cukup kuat dan Liong-li terpaksa harus pura-pura tersungkur ke atas lantai ruangan itu, merintih dan mengaduh.

“Heh-heh-heh, nona. Tidak perlu lagi bermain sandiwara seperti itu, heh-heh!” terdengar suara parau.

Liong-li pura-pura terkejut ketakutan, mengangkat mukanya dan memandang dalam keadaan masih terduduk di atas lantai. Kiranya di dalam kamar itu terdapat seorang laki-laki tua berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian seperti seorang sasterawan. Tubuhnya tinggi kurus dan agak bongkok. Kakek ini adalah Bouw Sian-seng, yaitu guru yang mengajarkan sastera kepada Pangeran Souw Cun.

“Heh-heh, Pangeran. Ia hanya pura-pura. Jangan paduka terkena tipuannya, heh-heh!” katanya lagi.

Kini dia sudah bangkit berdiri dan menggerak-gerakkan kedua tangan yang berlengan lebar itu. Pakaiannya mewah, bahkan ada hiasan emas pada kancing bajunya, dan juga pada rambutnya. Akan tetapi Liong-li melihat betapa kumis dan jenggot orang ini kotor dan tidak terawat baik, tanda bahwa di balik kemewahan pakaian itu, sebenarnya dia seorang yang jorok.

“Ketika pertama kali bertemu, akupun sudah menduga begitu, Sian-seng. Ia tentu berbahaya sekali, sudah berhasil menyelundup ke istana!” Pangeran itu kini duduk di atas kursi, dan dua orang pengawalnya berdiri di belakangnya, siap membela majikan mereka. Hanya ada empat orang, pikir Liong-li yang masih menangis lirih. Dua orang pengawal itu tidak ada artinya baginya. Yang perlu dihadapi dengan hati-hati adalah pangeran itu sendiri dan agaknya kakek inipun menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya.

Ia mengingat-ingat siapakah gerangan kakek ini, apakah seorang tokoh kang-ouw, tokoh dunia sesat? Ia tidak pernah bertemu dengan kakek ini. Dia inikah yang menjadi dalang keributan Si Bayangan Iblis itu? Semua kemungkinan ada selama rahasia itu belum dapat ia pecahkan.

“Sudah, tidak perlu berpura-pura menangis, pura-pura sebagai seorang wanita lemah!” bentak Pangeran Souw Cun. “Hayo mengaku saja terus terang siapa engkau sebenarnya, dan apa maksudmu menyelundup ke dalam istana?”

Dengan air mata bercucuran, Liong-li mengangkat muka memandang pangeran itu. “Saya... hamba... tidak mengerti apa maksud paduka...? Hamba bernama Siauw Cu, hamba tadinya seorang dayang Yang Mulia Permaisuri... hamba lalu diberikan kepada Pangeran Souw Han... hamba hanya melaksanakan perintah... dan semua sudah paduka ketahui...”

“Bohong!” Pangeran Souw Cun membentak marah. “Semua itu bohong! Engkau tentu mata-mata yang diselundupkan ke sini!”

“Hamba tidak berbohong...!”

“Heh-heh, ia memang pandai bersandiwara, Pangeran. Tentu ada hubungannya dengan gadis yang bekerja di dapur istana itu... heh-heh...”

Diam-diam Liong-li terkejut. Kakek bongkok itu ternyata cerdik sekali. Menghubungkan ia sebagai dayang dengan gadis di dapur yang tentu dimaksudkan Akim, gadis penyamarannya pula.

“Hayo katakan, engkau tentu mengenal. Akim, gadis pelayan di dapur itu, bukan?”

“Hamba tidak... tidak tahu, hamba tidak mengenal siapapun didapur istana.”

“Heh-heh-heh, Pangeran, tidak ada cara yang lebih manjur untuk memaksa seorang wanita muda mengaku dosanya dari pada mengancamnya dengan perkosaan!”

“Hayo mengaku kau! Kalau tidak, aku akan menyuruh beberapa orang pengawalku untuk memperkosamu bergiliran!” bentak pula Pangeran Souw Cun, lalu dia menghampiri Liong-li, tangannya meraih dan mencengkeram baju wanita itu di bagian dada. Liong-li mempertahankan bajunya, berlagak ketakutan.

“Jangan, Pangeran... ah, jangan...!”

Pangeran Souw Cun mengerahkan tenaga menarik baju itu dengan sentakan kuat. “Brett...!” Baju itupun robek dan nampaklah dada Liong-li yang sengaja tidak mempertahankan bajunya. Ia hanya dapat menangis dan menutupi dada dengan kedua tangannya, menarik-narik baju yang terobek itu untuk menutupi dadanya yang terbuka.

“Ampun, Pangeran. Jangan perkosa saya... ah, mengapa paduka melakukan ini kepada hamba? Hamba sudah menjadi selir Pangeran Souw Han, beliau amat mencinta hamba... dan hamba bekas dayang kesayangan Yang Mulia Permaisuri. Kalau hamba diperkosa di sini, kalau hamba dibunuh, tentu Pangeran Souw Han dan Permaisuri akan marah sekali... jangan hamba yang tidak berdosa ini disiksa...”

Pangeran Souw Cun bermain mata dengan Bouw Sian-seng. Kakek itu memberi isyarat dengan gelengan kepala. Mereka berdua tahu betapa benarnya ucapan wanita itu. Kalau sampai ia diperkosa atau dibunuh, tentu akan mereka hadapi akibatnya yang cukup hebat dan menambah kacau keadaan. Tentu Pangeran Souw Han akan marah sekali, juga permaisuri takkan tinggal diam. Hal itu amat merugikan.

“Huh, siapa yang mau memperkosa seorang mata-mata, seorang wanita palsu seperti engkau? Aku hanya ingin memberi hajaran agar engkau mengaku!” Lalu kepada dua orang pengawalnya, Pangeran Souw Cun berkata, “Hajar ia dengan sepuluh kali cambukan!”

Dua orang pengawal yang sudah biasa bertindak sebagai algojo itu cepat maju. Seorang dari mereka memaksa Liong-li untuk berlutut dan bertiarap dengan punggung dan pinggul telanjang, dan seorang lagi lalu mengayun sebatang cambuk.

“Tarrr...!“ Pecut panjang itu untuk pertama kali menyambar dan menyengat punggung Liong-li.

Nampak guratan merah pada kulit yang putih mulus itu. Liong-li menjerit dan merintih kesakitan. Akan tetapi cambuk itu menyambar lagi, dua kali, tiga kali, mengenai pinggul, punggung sampai lima kali! Liong-li terkulai, dan Pangeran Souw Cun mengangkat tangan.

“Cukup!” Dan cambukan keenam tidak dilakukan. Punggung dan pinggul yang berkulit putih mulus itu kini penuh jalur-jalur merah, bahkan di sana-sini terluka, kulitnya pecah berdarah.

“Engkau masih belum mau mengaku siapa dirimu sebenarnya dan siapa yang memperalat kamu menjadi mata-mata. Kalau tidak mau mengaku, akan kusuruh cambuk lagi sampai engkau mampus!” kata Pangeran Souw Cun, kini kata-katanya tidak “terpelajar” lagi, melainkan kasar.

Liong-li tidak bermain sandiwara kalau ia menyeringai kesakitan. Memang bukan main nyerinya dicambuki seperti itu. Perih, panas dan rasa nyeri hampir tak tertahankan. Ia menggeleng kepala. “Hamba tidak bohong, hamba Siauw Cu... dayang permaisuri... selir Pangeran Souw Han...”

“Heh-heh, Pangeran. Saya mempunyai cara lain yang membuat ia harus mengaku. Ia tidak akan dapat menahan rasa nyerinya!”

Terbongkok-bongkok Bouw Sian-seng menghampiri Liong-li, lalu menjambak rambut pada pelipis kanan kiri dengan kedua tangannya. “Nona, kalau engkau tidak mau mengaku, akan kucabut rambut ini dari pelipismu sampai kulitnya terkupas! Katanya sambil menyeringai dan dia mulai menarik rambut di kedua pelipis itu.

Liong-li terbelalak saking nyerinya. Kiut miut rasanya, rasa nyeri yang menyengat sampai ke ubun-ubun kepalanya. Hampir saja ia menggerakkan tangan. Sekali pukul saja tentu ia akan dapat membunuh kakek yang menyiksanya ini. Akan tetapi belum saatnya. Ia tahu bahwa kakek itu hanya menggertak. Pelipisnya tidak akan robek. Mereka tidak akan berani membunuhnya.

“Saya... saya tidak tidak bohong...”

“Kanda Souw Cun !” Tiba-tiba terdengar teriakan di luar pintu.

Mendengar ini, Bouw Sian-seng cepat melepaskan rambut di kedua pelipis Liong-li dan pendekar wanita inipun jatuh terkulai, merintih lirih, akan tetapi hatinya lega bukan main mendengar suara Pangeran Souw Han di pintu.

“Nah, dia datang...” bisik Souw Cun, pangeran yang kini berbalik merasa khawatir.

“Katakan saja ia kurang ajar terhadap paduka, memandang rendah...” bisik Bouw Sian-seng.

Daun pintu kamar itu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Souw Han dengan muka pucat. Dia segera melihat Liong-li yang mendekam di atas lantai dengan tubuh bagian belakang telanjang dan berdarah.

“Ya Tuhan! Kanda Souw Cun, apa yang kau lakukan ini? Siauw Cu...!” Pangeran Souw Han menubruk dan merangkul Liong-li.

Wanita ini menangis tersedu-sedu. “Pangeran...”

Pangeran Souw Han menanggalkan baju luarnya dan menyelimuti tubuh Liong-li dengan jubahnya, menariknya bangkit berdiri. Dengan lunglai wanita itu bersandar kepadanya dan Pangeran Souw Han merangkulnya, kemudian Pangeran Souw Han kembali memandang Pangeran Souw Cun dengan mata bernyala karena marah.

“Kanda Souw Cun, apa artinya ini? Engkau... engkau sudah berani menghinaku! Siauw Cu ini selirku, kenapa engkau berani menangkapnya dan... dan apa yang kaulakukan kepadanya ini? Jawab! Kenapa? Atau kulaporkan kepada Ibunda Permaisuri, kepada Sribaginda?”

Dan sinar matanya yang penuh kemarahan itu juga memandang kepada Bouw Sian-seng yang berdiri agak jauh sambil menundukkan mukanya. Dua orang pengawal Pangeran Souw Cun juga diam seperti patung. Mereka tidak merasa khawatir karena mereka hanyalah pelaksana perintah Pangeran Souw Cun.

Pangeran Souw Cun tersenyum. “Adikku. yang baik, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud menghinamu. Akan tetapi sudah kuperingatkan engkau. Wanita ini... ia bersikap kurang ajar kepadaku, bahkan ia berani merayuku...”

“...tidak benar, Pangeran...!” Liong-li Membantah.

“Ha-ha-ha, tentu saja ia ingkar dan tidak berani mengaku. Akan tetapi, Bouw Sian-seng, ini dan dua orang pengawalku menjadi saksinya!”

Souw Han menegakkan kepalanya. Kalau dia melaporkan kepada Permaisuri dan Kaisar tentu akan terjadi heboh, dan kakak tirinya yang licik ini dapat mengajukan tiga orang itu sebagai saksi dan dia akan tersudut.

“Hemm, kanda Souw Cun. Aku mengenal selirku, ia tidak mungkin berani berbuat seperti itu! Siauw Cu, katakan, apa yang telah dilakukan kanda Souw Cun kepadamu! Engkau tidak... tidak dihina, di... nodai, bukan? Aku tidak terima begitu saja!”

Liong-li maklum bahwa Pangeran Souw Han marah sekali. Tidak baik kalau dibiarkan begini. Berbahaya sekali bagi pangeran yang disayangnya itu. “Tidak, Pangeran... saya... saya hanya dicambuk... lima kali!” kata Liong-li lirih.

“Mana orangnya yang mencambukmu?”

Liong-li memandang kepada dua orang pengawal yang masih berdiri tegak. “Mereka itu? Jahanam busuk, kalian harus menerima pembalasan!” Pangeran Souw Han mengambil cambuk yang masih terletak di situ, lalu menggunakan cambuk itu untuk mencambuki dua orang pengawal.

Dua orang pengawal itu tidak berani melawan, bahkan tidak berani mengelak, terpaksa menerima cambukan-cambukan dari pangeran yang sedang marah dan mengamuk itu. Sampai cabik-cabik pakaian mereka dan ada jalur-jalur merah di muka mereka.

“Cukup dinda Souw Han! Selirmu dicambuk lima kali dan engkau sudah membalas belasan kali!”

Souw Han melempar cambuk itu ke atas lantai. Mukanya merah karena marah dan dia menuding kepada kakaknya dengan mata melotot. “Untung bukan engkau yang mencambuki Siauw Cu, kanda Souw Cun. Kalau engkau sekali pun, pasti akan kubalas! Tak seorang pun boleh menghina Siauw Cu, berarti menghina aku. Kanda tahu bahwa aku tidak pernah memusuhimu atau siapapun. Aku pura-pura tidak tahu saja akan segala kebusukkan yang terjadi di sini! Aku tahu bahwa engkau juga bersaing memperebutkan kekuasaan. Aku tidak perduli semua itu, akan tetapi mengapa engkau berani mengganggu Siauw Cu?”

Liong-li melihat dari sudut matanya betapa Pangeran Souw Cun bertukar pandang dengan Bouw Sian-seng. Ia tidak perlu melapor kepada Pangeran Souw Han bahwa Bouw Sian-seng tadi menyiksanya. Kakek itu berbahaya sekali.

“Adikku Souw Han. Engkau lebih memberatkan selirmu dari pada kakakmu, aku? Aih, sudahlah. Maafkan. Kalau tadi aku menghukumnya adalah karena aku merasa dihina, dan bukan karena ia hanya seorang bekas dayang, seorang janda... dan ah, terus terang saja tadinya kami mencurigai selirmu ini. Kami mengira bahwa ia seorang mata-mata yang menyelundup. Aku melakukannya karena sayang kepadamu adikku. Kalau ia mata-mata yang menyelundup ke dalam istana dan menipu Ibunda Permaisuri dan juga menipumu, bukankah itu berbahaya sekali, dinda? Karena itu, hukuman cambuk tadi sesungguhnya hanya untuk mengujinya, apakah ia seorang mata-mata berbahaya yang memiliki kepandaian tinggi dan berniat jahat atau bukan.”

“Hemm, betapa kejamnya! Dan bagaimana kenyataannya? Lihat, punggung selirku luka-luka berdarah! Dan ia sama sekali tidak berdosa. Ia wanita pertama dan satu-satunya yang kucinta, dan engkau menyuruh algojo-algojomu mencambukinya.”

“Sudahlah, adinda yang baik. Aku sudah minta maaf, bukan? Ini hanya kesalah pahaman saja. Biarlah lain hari aku memberi hadiah untuk selirmu ini, untuk menyatakan penyesalan dan maafku.”

“Hemm...!” Pangeran Souw Han menggandeng lengan dan merangkul pundak Liong-li lalu dipapahnya wanita itu keluar dari situ, terus menuju ke tempat tinggalnya sendiri. Dia menyesal sekali mengapa para dayangnya tadi terlambat membangunkannya.

Para dayang itu tadi kebingungan melihat Liong-li ditangkap Pangeran Souw Cun. Untuk melaporkan hal itu kepadanya, mereka tidak berani karena tidak berani mengganggu dia yang sedang tidur. Akhirnya, mereka itu setelah saling dorong, memberanikan diri beramai-ramai memasuki kamarnya dan membangunkannya, melaporkannnya.

Dia terkejut sekali dan cepat berlari mengejar ke tempat tinggal Pangeran Souw Cun. Namun sudah agak terlambat. Liong-li telah dicambuk lima kali sampai leher, punggung dan pinggulnya luka-luka...!