Si Bayangan Iblis Jilid 06

KOMANDAN jaga itu menceritakan betapa semalam, ketika sebagian anak buahnya berjaga dan meronda dan sebagian lagi mengaso di gardu, tiba-tiba mereka yang berada di luar gardu berjatuhan tanpa mengeluarkan suara. Ketika para penjaga lainnya keluar, mereka disambut oleh bayangan yang berkelebatan dan merekapun roboh satu demi satu.

“Saya sendiri ketika itu sedang berada di belakang. Mendengar suara berisik di depan, saya segera berlari keluar dan sempat melihat anak buah saya terakhir roboh dan berkelebatnya bayangan...”

“Seperti apa bayangan itu?” tanya Cian Hui.

Wajah komandan jaga itu semakin pucat dan dengan gelisah dia mengerling ke arah Liong-li, Hatinya diliputi keraguan melihat adanya seorang nenek yang tidak dikenalnya di situ, ikut mendengarkan percakapan yang memalukan itu.

“Hayo katakan. Ini bibiku sendiri, tidak perlu kau sungkan!” kata pula Cian Hui. “Seperti apa bayangan itu?”

“Dia dia tinggi besar, bertanduk Si Bayangan Iblis...” suaranya gemetar.

“Lalu apa yang kau lakukan?”

“Saya mencabut pedang dan menyerang keluar, mengejar Si Bayangan Iblis dengan nekat. Akan tetapi, tiba-tiba saja pedang saya terlepas dan mata saya menjadi gelap. Tahu-tahu pagi tadi saya siuman seperti yang lain, seperti baru bangun tidur saja.”

Liong-li yang ikut mendengarkan dapat memaklumi peristiwa itu. Si Bayangan Iblis memang lihai bukan main dan memiliki keringanan tubuh dan kegesitan yang luar biasa. Para penjaga itu adalah perajurit-perajurit biasa, bukan pasukan khusus, maka tentu saja dengan mudah dapat dirobohkan Si Bayangan Iblis tanpa mereka mampu mengenalnya. Kalau pasukan khusus yang terdiri dari perajurit-perajurit pilihan tentu akan lain lagi halnya, setidaknya para perajurit pasukan khusus tentu akan dapat melakukan perlawanan dan lebih banyak kemungkinan mereka akan dapat mengenal bayangan itu.

Agaknya Cian Hui juga berpendapat demikian, maka setelah dia melirik ke arah Liong-li yang nampak tidak tertarik, dia lalu berkata, “Sudahlah, engkau boleh pergi. Aku tidak akan melaporkan ke atasan, akan tetapi mulai sekarang, kalau terjadi hal-hal mencurigakan di pintu gerbang, engkau harus cepat melaporkannya kepadaku atau menyampaikan kepada pembantuku Teng Gun.”

Komandan jaga itu nampak girang mendengar ini. Bagaikan seekor ayam makan padi, kepalanya mengangguk-angguk dan diapun berpamit lalu pergi dari situ dengan hati lega.

“Bagaimana pendapatmu, Li-hiap?” setelah mereka hanya berdua saja, Cian Hui bertanya.

Liong-li mengerutkan alisnya. “Jelas bahwa Si Bayangan Iblis bukan hanya satu orang saja dan pembunuhan-pembunuhan misterius itu tentulah didalangi orang pandai yang mempunyai banyak anak buah! Dan mengingat bahwa mereka itu mampu bergerak leluasa dam menghilang penuh rahasia, aku semakin condong menduga bahwa mereka tentu bersembunyi di dalam istana, atau setidaknya, pemimpinnya berada di dalam istana. Bagaimana Ciang-kun, tentang rencana kita agar aku dapat diseludupkan ke istana?”

“Beres, Li-hiap! Sore hari ini juga engkau dapat dibawa ke istana. Sudah kuhubungi para pejabat di istana yang kukenal baik. Aku menceritakan bahwa engkau keponakanku dari dusun yang ingin sekali menjadi dayang, dan akhirnya kepala Thai-kam (laki-laki kebiri) yang mengepalai para dayang, yaitu Bong Thai-kam, dapat menerimamu. Ketika dia menanyakan namamu, aku mengatakan bahwa engkan she Kim bernama Siauw Hwa, akan tetapi sejak kecil biasa disebut Akim.”

“Bagus sekali nama itu, Ciang-kun!” Liong-li memuji.

“Ah, aku hanya ingat bahwa namamu memakai huruf Kim (emas), maka kupergunakan nama itu yang juga bisa dipakai sebagai nama keturunan. Sudah kupersiapkan perlengkapan yang harus kau bawa sebagai seorang gadis dusun, dan sebaiknya kalau engkau menyamar sebagai gadis dusun yang tidak terlalu cantik akan tetapi juga jangan terlalu buruk.”

“Kenapa begitu, ciang-kun?” Liong-li menatap wajah perwira itu sambil tersenyum. “Bagaimana kalau aku membiarkan wajahku yang aseli?”

“Wah, jangan! Berbahaya kalau begitu. Baru sehari saja di sana tentu para pangeran akan saling memperebutkanmu, engkau pantas menjadi seorang puteri!”

“Ih, engkau memuji atau merayu, ciang-kun?”

“Boleh kau anggap kedua-duanya. Akan tetapi aku bicara serius. Di istana penuh dengan pangeran-pangeran mata keranjang, dan aku mendengar di sana penuh dengan hubungan-hubungan gelap dan kotor karena para pangeran itu tidak malu atau segan untuk mengganggu selir dan dayang ayah mereka.”

“Hemmm...” Liong-li mengangguk-ngangguk. Hal inipun tidak aneh baginya karena sudah banyak mendengar akan kehidupan kotor di balik gemerlapnya kedudukan tinggi dan penuh kehormatan itu.

“Oleh karena itulah maka amat berbahaya kalau engkau kelihatan terlalu cantik di istana, Li-hiap. Bukan saja niatmu melakukan penyelidikan akan menemui banyak rintangan, juga dirimu sendiri menjadi pusat perhatian dan akan datang gangguan yang akan menyulitkan keadaan dirimu. Sebaliknya, kalau penyamaranmu itu kelihatan terlalu jelek, juga akan mencurigakan, karena bagaimana mungkin seorang gadis yang buruk rupa dapat diterima sebagai dayang?”

“Tidak terlalu cantik akan tetapi tidak terlalu buruk, hemmm, memang sukar sekali, akan tetapi aku tahu apa yang kau maksudkan, Ciang-kun. Jangan khawatir, aku tidak akan nampak terlalu buruk, akan tetapi setiap orang pria di istana kalau bertemu dengan aku, sudah pasti tidak akan tertarik.”

“Harap engkau jangan khawatir, Li-hiap. Aku yang telah menerima bantuanmu, tentu tidak akan membiarkan engkau begitu saja. Syukur kalau penyelidikanmu berhasil dan rahasia pembunuhan itu dapat dipecahkan. Andaikata engkau menemui kesulitan di istana dan tidak ada jalan keluar lagi, akulah yang akan menghadap kaisar sendiri, dan aku yang akan bertanggung jawab, akan kuceritakan semua kepada kaisar sebab kehadiranmu di istana dan aku yakin, mengingat akan jasa-jasaku, kaisar akan suka memenuhi permohonanku untuk mengampuni dan membebaskanmu.”

Terharu juga hati Liong-li mendengar janji ini. Ia tahu bahwa ucapan itu bukan sekedar janji kosong. Orang segagah Cian Hui ini tentu tidak akan mundur dari tanggung jawab. Akan tetapi ia tidak menghendaki tugas ini gagal seperti itu.

“Kalau aku menemui kesulitan, tidak perlu engkau menghadap kaisar, Cian Ciang-kun, akan tetapi sampaikan saja suratku ini kepada rekanku.”

“Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih)?” Cian Ciang-kun segera menduga.

Liong-li tidak merasa heran. Memang dunia kang-ouw sudah mengetahui belaka bahwa Hek-liong-li dan Pek-liong-eng adalah dua sekawan yang tak terpisahkan, apa lagi kalau menghadapi lawan tangguh dan bahaya besar.

“Benar, apakah engkau sudah tahu di mana harus mencari dan menemuinya, Ciang-kun?”

Cian Ciang-kun mengangguk. Sebagai seorang penyelidik terkenal di kota raja, tentu saja dia sudah menyelidiki di mana alamat pendekar luar biasa yang menjadi rekan dari Hek-liong-li itu. “Dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-Ouw di Hang-kouw?”

Liong-li mengangguk kagum. Orang ini memang pantas menjadi seorang penyelidik besar yang terkenal di kota raja. Ia menyerahkan sesampul surat yang sudah ia persiapkan kepada perwira itu. “Hanya kalau engkau mendengar bahwa aku menghadapi kesulitan dan terancam bahaya saja kau serahkan surat ini kepadanya. Kalau tidak, harap jangan engkau mengganggu ketenteramannya, Cian Ciang-kun!”

Siang hari itu, Liong-li beristirahat dan tidur untuk memulihkan kembali tenaganya dan menghilangkan lelahnya. Ia menghadapi pekerjaan besar dan berbahaya dan ia harus memiliki tubuh yang sehat dan pikiran yang jernih kalau masuk ke dalam istana sore nanti.

********************

Cerita silat serial sepasang naga penakluk iblis Episode Si Bayangan Iblis jilid 06 karya kho ping hoo

Dusun Kim-tang merupakan dusun terakhir di sepanjang jalan panjang menuju ke Telaga See-ouw dan karena semua pelancong yang menuju ke Telaga See-ouw yang indah itu harus melewati dusun ini, maka dusun menjadi ramai dan penghuninya semakin banyak. Mereka membuka kedai-kedai minuman dan makanan, bahkan ada pula yang membuka rumah penginapan sederhana. Kalau ada pelancong kemalaman di tengah perjalanan, tentu mereka akan merasa senang sekali mendapatkan rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan di dalam dusun ini.

Karena dusun itu seringkali dikunjungi pelancong-pelancong dari kota yang hendak pesiar ke Telaga See-ouw, maka para penghuni dusun itu sudah biasa melihat orang-orang kota yang berpakaian mewah, melihat pria-pria tampan, dan wanita-wanita cantik. Itulah sebabnya, ketika seorang wanita yang amat menarik memasuki sebuah rumah makan di dusun itu pada suatu sore.

Tidak ada yang merasa heran, walaupun hampir setiap orang pria yang melihat wanita ini, otomatis mengangkat muka dan sepasang mata mereka mengeluarkan sinar penuh kagum. Seorang wanita yang cantik manis dengan tubuh yang penuh lekuk lengkung yang matang menggairahkan! Seorang wanita yang membuat setiap orang pria yang berpapasan dengannya tak dapat menahan diri untuk tidak menoleh dan memandang sekali lagi penuh kagum.

Wanita itu memasuki rumah makan dengan langkah perlahan dan lenggang yang gontai, tanda bahwa ia lelah. Namun lenggang yang seenaknya itu bahkan membuat pinggulnya menari-nari dengan indahnya, tidak dibuat-buat, dan pinggang yang ramping itu seperti batang pohon yang-liu tertiup angin ribut sehingga meliuk-liuk ke kanan kiri dengan lenturnya!

Usianya sekitar dua puluh enam tahun. Wajahnya manis dan jelita, terutama sekali yang indah dan penuh daya tarik adalah mata dan mulutnya. Mata itu demikian jeli dan kocak, dengan kerling-kerling yang amat tajam. Mata yang sipit namun lebar itu agaknya dapat melihat ke semua arah tanpa menggerakkan leher. Bulu matanya yang lebat melindungi mata itu sehingga ke mana arah lirikannya tidak begitu menyidik.

Dan mulutnya! Melihat mulut itu saja, bagi seorang pria yang panas, sudah merupakan suatu penglihatan yang menantang dan mendebarkan, seolah-olah mulut itu menantang untuk dicinta dan dicium. Sepasang bibir yang penuh dan lembut, dengan garis bibir melengkung seperti gendewa dipentang, kulit bibir tipis dan kemerahan selalu nampak kebasah-basahan, segar seperti buah masak dan lekuk-lekuk tipis membayang di kanan kiri mulut. Deretan gigi putih kadang-kadang mengintai dari balik belahan bibir kalau ia bicara. Bukan main!

Akan tetapi, ada sesuatu pada wanita itu yang membuat para pria yang memandang kagum, tidak berani sembarangan memperlihatkan kekaguman mereka secara kurang ajar atau tidak sopan. Wanita itu mengenakan pakaian serba hijau yang ketat, yang membuat keindahan bentuk tubuhnya nampak nyata, dengan lekuk lengkung sempurna di tempat-tempat tertentu.

Dan di punggungnya, selain tergendong sebuah buntalan pakaian dari kain kuning, juga nampak gagang sepasang pedang yang disatukan! Dan sikap tenang itu, di samping sepasang pedangnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga tidak boleh dibuat sembarangan. Seorang wanita kang-ouw!

Dugaan itu tidak keliru. Wanita ini bukan lain adalah wanita yang pernah dibicarakan oleh Cian Hui kepada Hek-liong-li. Ia adalah Cu Sui In, keponakan dari isteri CiokTai-jin di kota raja. Cu Sui In memang benar murid Kun-lun-pai, yang boleh dibilang sudah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari Kun-lun-pai.

Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa wanita ini sejak berusia lima tahun, telah digembleng oleh seorang di antara pimpinan Kun-lun-pai. Sampai berusia duapuluh tahun, selama limabelas tahun ia belajar ilmu-ilmu yang tinggi dan ditambah pula dengan bakatnya, maka setelah dewasa iapun menjadi seorang pendekar wanita Kun-lun-pai.

Selain lihai ilmu silat tangan kosongnya, dan pandai memainkan delapanbelas macam senjata, Sui In memiliki keistimewaan dalam ilmu pedang pasangan dan iapun menerima hadiah sepasang pedang yang amat baik dari para pimpinan Kun-lun-pai ketika ia meninggalkan perguruan Kun-lun-pai yang terkenal itu.

Setelah meninggalkan perguruan, iapun diajak oleh bibinya ke kota raja. Bibinya menjadi isteri Pembantu Menteri Pajak, Ciok Tai-jin, dan tentu saja sebagai seorang gadis yang amat cantik, sebentar saja pinangan datang bagaikan hujan. Akhirnya, mengingat usianya yang sudah duapuluh tahun, dan dalam keadaan yatim piatu, dia tidak menolak ketika bibinya dan pamannya memilihkan jodoh untuknya.

Jodohnya itu seorang terpelajar yang sudah lulus ujian negara dan telah diangkat menjadi seorang pejabat yang memiliki masa depan yang amat baik. Dia seorang pemuda she Cia dan tentu saja pilihan seorang pejabat tinggi yang jujur seperti Ciok Tai-jin, pemuda Cia inipun seorang pejabat yang jujur dan aetia. Dan memang benar pilihan Ciok Tai-jin, dalam waktu lima tahun saja, kedudukan, suami Sui In meningkat tinggi karena dia dipercaya oleh kaisar dan merupakan seorang pejabat yang amat baik.

Karena suaminya seorang yang lembut dan baik, maka setelah menjadi isteri Cia, Sui In mencintai suaminya dengan sepenuh hatinya. Hanya sayang, setelah menikah selama lima tahun, mereka tidak dikurniai putera. Dan hal inilah agaknya yang menciptakan kerenggangan, dalam hubungan suami isteri itu. Cia Tai-jin, yang masih muda itu, baru berusia tigapuluhan tahun, mula-mula mengambil seorang selir dengan alasan agar mendapatkan keturunan. Akan tetapi dari seorang, lalu bertambah sampai belasan orang!

Sui In merasa terpukul dan tersiksa batinnya mulailah terdapat kerenggangan dalam hubungan di antara mereka. Sui In kecewa. Kecewa karena tidak mempunyai anak, kemudian kecewa karena ia kehilangan suaminya pula, kehilangan cintanya yang membuat hatinya merasa hambar dan akhirnya iapun tidak lagi mempunyai gairah cinta kepada suaminya kecuali hanya sebagai seorang wanita yang harus bersikap manis kepada seorang pria yang telah menjadi suaminya.

Hubungan di antara mereka hanya tinggal hubungan kewajiban belaka, tanpa kasih sayang lagi. Kemudian, terjadilah malapetaka itu! Suaminya terbunuh, menjadi korban dari Kwi-eng-cu Si Bayangan Iblis yang sedang mengamuk dan melakukan serangkaian pembunuhan di kota raja! Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi Sui In yang mendapatkan dirinya menjadi seorang janda tanpa anak!

Kalau saja suaminya tidak mempunyai banyak selir, kalau hubungan di antara mereka masih seperti dahulu, belum tentu suaminya akan terbunuh penjahat! Ia tentu akan mampu melindungi suaminya. Akan tetapi suaminya mati terbunuh ketika tidur bersama seorang di antara selir-selirnya, terbunuh bersama selirnya pula. Dan iapun tidak dapat berbuat sesuatu!

Memang ada juga perasaan marah dan ia sudah berusaha untuk mencari pembunuh suaminya. Namun, seperti juga usaha semua orang yang bertugas mencari pembunuh itu, usahanya gagal dan ia tidak pernah mampu menemukan Si Bayangan Iblis walaupun pernah ia menggagalkan usaha Si Bayangan Iblis untuk membunuh pamannya, yaitu Ciok Tai-jin!

Ketika itu, iapun hanya melihat berkelebatnya bayangan yang menyeramkan itu. Ia mengejar, namun tidak berhasil menemukannya. Dan sejak itu, setelah tahu bahwa pamannya juga terancam, Sui In selalu berjaga-jaga dan ia mendapatkan sebuah kamar berdampingan dengan kamar paman dan bibinya. Rasa kecewa, duka dan marah membuat Sui In tidak enak makan tidak nyenyak tidur. Kalau saja ia mempunyai anak, maka ditinggal mati suaminya ini tentu tidak begitu hebat. Kini ia hidup menjanda, baru berusia dua puluh enam tahun, namun tidak mungkin menikah lagi!

Pada jaman itu, bagi seorang janda, apa lagi janda seorang pejabat tinggi, tentu saja merupakan hal yang memalukan dan merendahkan kalau ia menikah lagi! Setiap orang janda dipaksa oleh lingkungan dan keadaan dan kesusilaan untuk tinggal menjanda selama hidup!

Dan ia baru berusia dua puluh enam tahun, cantik manis dan bagaikan setangkai bunga sedang semerbak harum, sedang mekar-mekarnya membuat para kumbang mabok kepayang. Ia merasa seperti seekor burung dalam sangkar emas yang sempit. Ia ingin terbang, ingin bebas di udara. Akan tetapi, pamannya perlu dijaga dan dilindungi keselamatannya! Pamannya orang yang amat baik hati dan ia telah berhutang banyak budi kepada pamannya.

Dan memang Ciok Tai-jin seorang yang bijaksana. Pembesar ini cukup waspada dan dia tahu benar betapa keponakan isterinya yang kini menjadi janda setiap hari termenung dan tenggelam dalam duka, maka pada suatu malam, dia dan isterinya mengajak janda muda ini bicara dari hati ke hati.

“Sui In,” kata Ciok Tai-jin. “Sudah beberapa bulan sejak suamimu meninggal dunia, engkau pindah ke rumah kami dan engkau menjaga keselamatanku, terutama di waktu malam. Akan tetapi kami melihat engkau tenggelam dalam duka dan engkau jelas kelihatan tidak betah tinggal di sini. Engkau jarang makan dan setiap malam menjaga keamanan, hanya tidur sebentar di waktu siang. Sui In, katakanlah, apa yang kaukehendaki! Jangan sampai kami orang-orang tua yang menjadi penghalang kebahagiaanmu, kami tahu betapa nasibmu gelap dipenuhi duka, dan kami tidak ingin menambah beban penderitaan batin yang kau pikul dengan memaksamu bertugas seperti ini.”

Ditanya demikian, Sui In menangis. Bibinya merangkulnya dan setelah dapat mengatur pernapasannya yang penuh duka, Sui In lalu memberi homat kepada paman dan bibinya. “Sebetulnya, sudah lama saya ingin bicara, akan tetapi saya takut kalau dianggap sebagai orang yang kejam dan tidak mengenal budi. Paman terancam penjahat, bagaimana mungkin saya meninggalkan paman? Ah, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan atau saya perbuat. Kalau saja saya dapat mengetahui siapa si laknat Kwi-eng-cu itu! Tentu akan saya tantang untuk mengadu nyawa!”

“Sui In, katakan saja apa sebenarnya yang kau kehendaki. Mengenai diriku dan keselamatanku, tidak perlu kau pikirkan benar. Kalau perlu, aku dapat minta bantuan panglima untuk mengirim beberapa orang jagoan agar menjadi pengawal pribadiku. Katakanlah, apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Paman, saya ingin mencari pembunuh suamiku itu sampai dapat, agar saya dapat membalas kematian suamiku!” kata Sui In penuh semangat.

“Bukankah selama ini engkau sudah berusaha mencarinya? Bahkan bukan hanya engkau yang mencarinya. Pemerintah juga mencari dan aku mendengar bahwa Cian Ciang-kun sendiri yang turun tangan untuk mencari dan membongkar rahasia Si Bayangan Iblis.”

“Akan tetapi sampai kini tidak ada hasilnya, paman. Si Bayangan Iblis itu terlalu lihai dan agaknya saya harus mencari bantuan.”

“Bantuan siapa, Sui In?”

“Saya mempunyai seorang susiok (paman guru) yang pandai, paman, dan dia kini kabarnya bertapa di bukit sunyi dekat Telaga See-ouw. Saya ingin mencari dia dan minta bantuannya. Dengan bantuannya, tentu saya akan dapat menemukan Si Bayangan Iblis yang mengacau di kota raja itu.”

Ciok Tai-jin mengangguk-angguk dan meraba-raba jenggotnya. “Hemm, pikiran yang bagus, Sui In. Kenapa engkau tidak mencarinya?”

“Itulah paman, yang menjadi pemikiranku. Aku tahu bahwa paman juga terancam Si Bayangan Iblis, maka saya tidak berani meninggalkan paman. Saya harus selalu melindungi paman dari serangannya.”

“Engkau benar sekali, Sui In keponakanku yang baik, kalau bukan engkau yang melindungi keselamatan pamanmu, habis siapa lagi yang dapat kami percaya?” kata bibinya yang merasa khawatir sekali akan keselamatan suaminya.

“Ah, engkau ini hanya mementingkan diri sendiri saja!” tegur Ciok Tai-jin kepada isterinya, lalu memandang keponakannya. “Sui In, mengenai diriku, jangan khawatir. Aku akan mengundang beberapa orang jagoan untuk melindungiku. Kalau kau pikir, dengau bantuan susiokmu itu engkau akan dapat menangkap Si Bayangan Iblis, pergilah mencarinya. Apakah engkau memerlukan pasukan untuk menemanimu?”

Bukan main girang dan lega rasa hati Sui In. “Tidak perlu, paman. Saya dapat pergi sendiri saja. Kalau sudah bertemu susiok, saya akan mengajaknya ke sini, paman. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih tinggi dari saya, maka dengan bantuannya, tentu kami akan dapat meringkus Si Bayangan Iblis dan kematian suami saya dapat terbalas.”

Demikianlah, dengan bekal pakaian, uang dan membawa sepasang pedangnya Sui In meninggalkan rumah gedung pamannya dan melakukan perjalanan ke See-ouw. Ia tidak tahu bahwa beberapa hari setelah ia pergi, rumah gedung Pamannya diserbu Si Bayangan Iblis dan seperti telah kita ketahui, serbuan itu gagal berkat kehadiran Liong-li. Andaikata tidak ada Liong-li, walaupun di situ terdapat beberapa orang jagoan pengawal yang diundang Ciok Tai-jin sebagai pengganti Sui In, tentu keselamatan Wakil Menteri Pajak itu terancam bahaya maut.

Sui In yang melakukan perjalanan, pada suatu sore tiba di dusun Kim-tang dan karena sehari itu ia melakukan perjalanan cukup jauh tanpa berhenti, bahkan tidak makan siang, perutnya terasa lapar dan iapun memasuki sebuah rumah makan di dusun yang ramai itu. Biarpun ia tahu betapa banyak pasang mata pria melemparkan pandangan kagum kepadanya, Sui In yang sudah terbiasa akan hal itu, tidak perduli lalu menghampiri meja kosong yang ditunjukkan seorang pelayan yang menyambutnya.

“Toanio hendak memesan apakah? Makanan? Minuman?” tanya pelayan muda itu dan pandang matanya yang menatap wajah tamu itupun penuh dengan kekaguman.

“Aku lapar dan ingin makan. Beri nasi putih dan masakan apakah yang paling lezat dan terkenal di rumah makan ini?” Sui In sehari tidak makan dan ia ingin makan enak.

Pelayan itu segara menjawab tanpa dipikir lagi karena pertanyaan seperti itu seringkali dia dengar dari para pelancong yang datang dari kota. “Masakan kami yang paling lezat dan terkenal adalah Ikan Lee dimasak jahe, nona. Ikan Lee dari Telaga See-ouw aseli, gemuk dan semua tulangnya dibersihkan. Juga masakan kami Udang Saus tomat amat sedap. Sup ayam jamur kami juga enak.”

“Cukup sudah. Beri aku masakan tiga macam itu, nasi putih dan air teh.”

“Arak, toanio (nyonya)?”

“Tidak, atau... kalau ada anggur merah yang tidak begitu keras boleh juga beri sebotol kecil saja.”

Pelayan itu mundur dan Sui In termenung. Ketika ia menjadi pengantin baru, pernah suaminya mengajaknya pesiar ke Telaga See-ouw. Rumah makan ini belum ada, akan tetapi suaminya juga menyuruh beli masakan-masakan yang lezat dan mereka makan di perahu. Pedih rasa hati Sui In. Betapa lamanya sudah peristiwa yang mesra itu lewat, hanya tinggal kenangan. Jauh sebelum suaminya meninggal dunia, kemesraan itu sudah lenyap tak berbekas lagi. Tidak, ia tidak menyalahkan suaminya, hanya menyalahkan nasib dirinya. Andaikata ia dikurniai putera, tentu suaminya tidak mau menengok wanita lain dan kemesraan itu dapat dipertahankan.

Sudah, ia tidak mau lagi mengenangkan semua itu. Dan baru setelah suaminya tewas, ia menemukan dirinya sendiri. Ketika menikah dengan suaminya itu, tidak ada rasa cinta dalam batinnya. Itu masalahnya cintanya adalah cinta yang ia paksakan, untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang isteri. Dan suaminya memang seorang yang bijaksana. Banyak sudah budi diterimanya dari suaminya, bahkan kini sebagian besar harta peninggalan suaminya diberikan kepadanya. Ia menjadi seorang janda yang muda dan kaya.

Hartanya itu ia titipkan kepada pamannya, Pembantu Menteri Pajak. Dan pihak mertuanya juga mau membebaskannya, tidak mengikatnya, karena memang ia tidak mempunyai anak dari keluarga Cia. Mereka itu amat baik kepadanya. Ia berhutang budi kepada keluarga Cia. Karena itu, ia baru mencari pembunuh suaminya dan membalas dendam itu!

Tak lama kemudian, lamunannya membuyar ketika pelayan datang membawakan masakan yang dipesannya. Masih mengepul panas tiga macam masakan itu dihidangkan di depannya, berikut nasi putih, air teh dan sebotol anggur merah. Hidungnya kembang kempis. Masakan itu mengepulkan uap yang sedap, juga anggur merah itu ketika dibuka tutupnya, menghamburkan bau yang harum dan lezat. Perutnya segera berkeruyuk menghadapi tantangan itu.

Sui In makan seorang diri. Pelayan tadi tidak membual. Masakan ikan Lee dengan jahe itu sedap bukan main. Daging ikannya lunak dan sama sekali tidak ada tulangnya. Gurih bukan main, dan cocok dimakan dengan bumbu penyedap kecap manis. Nasi putihnya juga hangat dan harum. Ketika ia mencoba masakan lain, ia girang dan kagum. Udang saus tomat itupun enak. Udangnya sebesar jari kaki, dagingnya putih kemerahan dan terasa manis, dan tidak berbau amis. Juga ikan Lee itu tidak berbau amis. Pandai memang tukang masaknya. Dan sup ayam dengan jamur itupun sedap dan segar. Kuahnya enak sekali.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, biarpun sedang tenggelam dalam kenikmatan dan kelezatan makan, tetap saja Sui In tidak pernah lengah dan baik telinganya, maupun kerling matanya, tidak pernah melepaskan perhatian terhadap keadaan di sekelilingnya. Oleh karena itu, iapun tahu ketika ada tiga orang tamu baru saja masuk dan duduk di meja sudut kiri dalam, hanya terpisah lima meja saja dari tempat duduknya.

Dengan kerling mata ke kiri, ia melihat bahwa tiga orang itu adalah laki-laki yang berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, ketiganya berpakaian mewah namun masih jelas dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan. Yang seorang, paling tua berusia lima puluhan tahun, bertubuh jangkung dan rambutnya sudah putih semua walaupun mukanya masih nampak muda. Senyumnya anggun dan sikapnya berwibawa, sinar matanya tajam dan memerintah. Di punggungnya nampak gagang sebatang pedang.

Dua orang kawannya bersikap sebagai orang bawahan, usia mereka kurang lebih empatpuluh sampai empatpuluh lima tahun. Seorang di antara mereka bertubuh gendut dan mukanya dipenuhi tawa, cerah dan lucu, akan tetapi matanya menyinarkan kekejaman. Orang kedua pendek kurus condong ke arah cebol, akan tetapi mukanya bengis. Dua orang inipun membawa pedang yang tergantung di punggung.

“Heii, pelayan! Bawa arak seguci besar! Cepaaatt!!” terdengar si gendut berteriak.

Pelayan berlari-lari mendatangi dan pria jangkung itu dengan suara lembut namun tegas dan galak, memesan masakan. Sui In tidak mau memperhatikan lagi karena si gendut itu terang-terangan memandangnya dengan sikap kurang ajar. Apalagi pada saat itu, perhatiannya tertarik oleh seorang tamu baru yang memasuki ruangan itu. Seorang pria yang bukan main! Pria itu usianya kurang lebih duapuluh tujuh tahun.

Tubuhnya sedang saja, namun tegak dan gagah. Wajahnya tampan dan jantan, wajah yang agaknya sudah digembleng kekerasan hidup. Namun pakaiannya yang terbuat dari sutera putih-putih itu berpotongan pakaian seorang pelajar atau sasterawan. Pakaian itulah yang membayangkan kelembutan seorang siu-cai (sarjana), namun lekuk di dagunya membayangkan kejantanan yang kuat.

Biarpun hanya memandang sepintas lalu, diam-diam Sui In kagum. Rasa kewanitaannya tersentuh. Seorang pria yang jantan dan penuh daya tarik, pikirnya. Akan tetapi perasaan itupun hanya lewat saja, karena ia bukanlah seorang wanita yang mudah terguncang ketampanan seorang pria. Akan tetapi ia masih sempat melihat betapa pria itupun ketika duduk di mejanya, hanya terpisah dua meja dari tempatnya, menatap kepadanya dan diam-diam ia terkejut. Tatapan mata itu sungguh luar biasa.

Sepasang mata yang mencorong penuh wibawa, akan tetapi karena mulutnya tersenyum, maka wajah itu nampak lembut. Orang muda itu tentu seorang sarjana yang lembut dan pintar, pikir Sui In, akan tetapi tentu saja lemah. Seperti mendiang suaminya. Akan tetapi suaminya memang lemah sekali, bahkan lembut seperti wanita.

Pria di depannya ini jantan, walaupun hanya seorang sasterawan atau seorang terpelajar. Tidak membawa senjata, juga tidak nampak bayangan kekerasan. Bahkan pakaiannya yang serba putih, itu nampak bersih sekali. Sungguh jauh bedanya dengan tiga orang pria yang pertama itu, penuh kekerasan.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dari meja di sudut kanan. Di sana sejak tadi memang ada empat orang laki-laki muda sedang makan minum dan kini agaknya mereka sudah mabok-mabokan. Sui In tadipun sudah melihat mereka. Empat orang pemuda dari kota, mungkin putera-putera orang kaya atau orang berpangkat. Usia mereka antara duapuluh sampai duapuluh empat tahun dan lagak mereka menjemukan. Jelas bahwa mereka adalah orang-orang muda yang royal, tidak pandai cari uang akan tetapi pandai menghamburkannya.

Tadi pun mereka memandang ke arah Sui In dengan sinar mata mengandung kekurangajaran, akan tetapi Sui In tidak memperdulikan mereka, bahkan selanjutnya tidak pernah melirik ke arah meja mereka karena ia tahu bahwa pemuda-pemuda hidung belang seperti itu, sekali dilirik tentu akan menjadi semakin berani dan semakin kurang ajar. Ia tentu saja tidak takut kepada mereka, akan tetapi iapun tidak ingin memancing keributan.

“Ha-ha-ha, setiap orang dapat saja membawa pedang, untuk perhiasan!”

“Ha-ha, atau mungkin juga untuk lagak saja, untuk menakut-nakuti!”

Empat orang pemuda itu tertawa-tawa lagi. Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar, terang-terangan kini memandang kepada Sui In dan bicaranya kini lebih berani. “Ia makan minum seorang diri saja, sayang seorang secantik itu. Biar kuajaknya ia makan minum bersama kita.”

“Huh, kau takkan berani! Ia tentu sudah bersuami,” kata seorang temannya yang kurus.

“Apa? Aku tidak berani mengajak seorang wanita? Hemm, biar ia gadis atau isteri orang, kalau Ji-kongcu (tuan muda Ji) yang mengajaknya, pasti ia mau! Ha-ha-ha, kalian lihat saja!”

Si kepala besar ini bangkit berdiri ditertawai oleh si kurus yang berpakaian mewah. Dua orang kawan lain yang berpakaian seperti orang-orang ahli silat hanya tersenyum-senyum saja. Agaknya mereka ini hanya pengikut dan memang mereka adalah tukang-tukang pukul pemuda she Ji itu.

Pada saat itu, Sui In sudah selesai makan dan ia merasa lega bahwa gangguan itu datang setelah ia selesai makan, karena kalau tidak tentu akan mengganggu selera makannya. Ia merasa kenyang dan puas. Ikan Lee itu memang lezat sekali, dan jahe itu membuat perutnya terasa hangat, apa lagi ditambah anggur merah.

Ia tahu bahwa gangguan datang karena percakapan yang terang-terangan dan tidak lirih itu jelas ditujukan kepadanya. Di rumah makan itu, hanya ia seoranglah wanita yang makan sendirian. Ada pula beberapa orang wanita akan tetapi mereka makan dengan keluarga mereka dan kebetulan wanita yang masih muda hanya ia seorang. Siapa lagi kalau bukan ia yang mereka maksudkan?

Iapun tidak merasa heran ketika pemuda berpakaian mewah yang kepalanya besar itu dengan jalan terhuyung karena setengah mabok, menghampiri mejanya. Ia pura-pura tidak tahu, bersikap tenang saja sambil menghirup teh panas yang harum dari mangkok teh yang kecil. Akan tetapi karena kebetulan duduknya menghadap ke arah meja di mana duduk pemuda berpakaian putih, untuk pertama kalinya sejak ia melihat pemuda ini masuk, ia memandang dan pada saat itu, si pemuda berpakaian putih juga sedang memandang ke arah mejanya.

Alis yang tebal hitam dari pemuda berpakaian putih itu sedikit berkerut ketika dia melihat si kepala besar mendekati meja Sui In sambil cengar cengir. Akan tetapi, hanya sebentar saja pandang mata mereka saling bertemu karena keduanya segera mengalihkan pandang mata.

Sui In harus memperhatikan pemuda mewah yang kini sudah bediri dekat mejanya, bahkan kedua tangannya diletakkan di tepi mejanya, dengan jari-jari direntangkan seolah-olah hendak memamerkan cincin yang. memenuhi semua jari kedua tangannya, kecuali, ibu jarinya...!

Thanks for reading Si Bayangan Iblis Jilid 06 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »